Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru SD Afiliasi Katholik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
1
284
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SD AFILIASI KATHOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Lucia Dian Rosita NIM : 101134033 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SD AFILIASI KATHOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Lucia Dian Rosita NIM : 101134033 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya yang sederhana dan jauh dari sempurna ini kupersembahkan bagi : Tuhan Yesus Kristus yang menjadi kekuatan dalam hidup saya Ibu Catur Rismiati dan Ibu Andri Anugrahana yang selalu sabar dalam membimbing saya Bapak, Ibu dan adikku yang selalu setia memberikan dukungan dan perhatian yang besar kepadaku Almamaterku, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Menjadi kuat itu sulit, tetapi adanya kalian membuatku selalu berusaha untuk menjadi kuat. Apakah saya gagal atau sukses Bukanlah hasil perbuatan orang lain. Sayalah yang menjadi pendorong diri sendiri. -Elaine Maxwell- Kita yakin kita semua bisa, yang kita perlu sekarang cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, Leher yang akan sering melihat keatas, Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, Serta mulut yang akan selalu berdoa. (5 cm) v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATHOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA Oleh: Lucia Dian Rosita NIM: 101134033 Pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan dilakukan dengan menyempurnakan kurikulum. Kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik yang dianggap sesuai dengan karakteristik dan kemampuan siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Katolik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta dan perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah dan pengalaman mengajar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2014 di Kota Yogyakarta khususnya di sekolah dasar katholik, kristen dan nasional. Penelitian ini menggunakan desain penelitian non eksperimental cross sectional dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru pengampu kelas bawah SD Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru, sampel sejumlah 54 guru diambil menggunakan teknik purposive random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan Rumus Sturges dan uji independent sampel t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru-guru pengampu kelas bawah SD Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta masuk dalam kategori rendah; 2) ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah Sig. (2-tailed) 0,001 < α (0,05); 3) tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar Sig. (2-tailed) 0,360 > α (0,05). Kata kunci : Pembelajaran tematik, kurikulum, demografi, guru pengampu kelas bawah viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC INSTRUCTION CONDUCTED BY LOWER (1st – 3rd) GRADE TEACHERS: A SURVEY OF ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS AFFILIATED WITH PRIVATE CATHOLIC, PROTESTANT, AND NATIONAL SCHOOLS IN YOGYAKARTA By: Lucia Dian Rosita NIM: 101134033 Education in Indonesia continuously improves and changes its curriculum. The current curriculum development which is closely paid into attention is the development of thematic learning. The thematic learning integrates concepts from various subjects into a theme. It emphazises how the students successfully organize their learning experiences directly. This study aims to investigate the implementation level of thematic instruction conducted by lower (1st-3rd) grade elementary school teachers affiliated with private catholic, protestant, and national schools in Yogyakarta. Furthermore, it seeks to examine the difference of the implementation level of the thematic instruction by considering the demographic factors, namely the principal’s supports and teaching experiences. This research was conducted in January-February 2014. This research employed a non-experimental cross sectional design, by using a survey method. The population was 111 1st-3rd grade elementary school teachers at private catholic, protestant, and national schools in Yogyakarta. The researcher chose 54 teachers as the samples by using a purposive random sampling technique. To analyze the data, the researcher employed Sturges' formula and independent-samples t-test. The results indicated that the implementation level of the thematic instruction was categorized as low. The findings also demonstrated that the implementation of the thematic instruction differed based on the principal’s supports (Sig. (2tailed) 0.001<0.05), while it did not differ based on the teaching experience (Sig. (2-tailed) 0.360>0.05). Key words: thematic instruction, curriculum, demography, lower grade teachers ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang telah melimpahkan berkat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATHOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi tugas dan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Peneliti menyadari dalam penyusunan ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang telah melimpahkan berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. 2. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma. 3. Romo G. Ari Nugrahanta selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 4. Ibu Catur Rismiati selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh kesabaran. 5. Ibu Andri Anugrahana selaku dosen pembimbing II yang dengan penuh ketelitian memeriksa skripsi ini. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Kedua orangtuaku, Bapak Bernadus Sumardiman dan Ibu Bernadetta Sumarsilah yang tidak pernah lelah memberikan kasih sayang, dukungan baik moril maupun material serta semangat kepada penulis. 7. Adikku Yohanes Hendy Wijaya yang telah memberikan doa dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini. 8. Simbah Sumirah Wirodarsono dan Simbah Harjo Suwarno yang telah memberikan doa. 9. Om, Bulik, Pakdhe dan Budhe yang selalu memberikan dukungan dan doa. 10. Klara, Agnes, Aryo dan Ryno yang selalu memberikan semangat. 11. Yohanes Prasetya Jati yang telah memberikan doa, semangat dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini. 12. Teman-teman kelompok studi survei tematik: Anis, Ria, Tessa, Aji, Amel, Dian, Deo, terima kasih atas kebersamaan dan kerjasama dalam proses penyelesaian skripsi ini. 13. Sahabat-sahabatku terkasih: Avi, Yogi, Sasa, Pendol, yang selalu memberikan semangat kepada saya. Terima kasih sudah menjadi teman berkeluh kesah selama ini. 14. Teman-teman kelas E angkatan 2010, terima kasih atas dukungan dan perhatiannya selama ini. 15. Priyatno Ardi yang telah membantu peneliti dalam menyusun abstract. 16. Keluarga Vocastella Voice yang selalu memberikan semangat. 17. Semua pihak dan teman-teman yang telah membantu penyusunan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv MOTTO ............................................................................................................ v SURAT PERNYATAAN ................................................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBILKASI........................................... vii ABSTRAK ........................................................................................................ viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 B. Batasan Masalah.................................................................................. 5 C. Rumusan Masalah ............................................................................... 5 D. Tujuan Penelitian ................................................................................ 6 E. Manfaat Penelitian .............................................................................. 6 F. Definisi Operasional............................................................................ 7 BAB II KAJIAN TEORI ................................................................................ 9 A. Tinjauan Teoritik 1. Reformasi Pendidikan secara Global ........................................... 9 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia ............................................. 10 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia .............................................. 11 4. Kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 ........................................... 15 5. Pembelajaran Terpadu ................................................................... 18 6. Pembelajaran Tematik .................................................................. 22 7. Implikasi Pembelajaran Tematik .................................................. 27 8. Karakteristik Pembelajaran Tematik ............................................ 29 9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi ........................ 31 B. Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................... 35 C. Kerangka Berpikir .............................................................................. 40 D. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 41 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 42 A. Jenis dan Desain Penelitian ................................................................ 42 B. Waktu dan Tempat ............................................................................. 44 C. Variabel Penelitian ............................................................................. 44 D. Populasi dan Sampel .......................................................................... 45 E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 46 F. Instrumen Penelitian/Alat Ukur ......................................................... 47 G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen .................................................. 52 1. Validitas ....................................................................................... 52 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Reliabilitas .................................................................................... 67 H. Prosedur Analisis Data ....................................................................... 69 1. Menentukan Hipotesis Statistik .................................................... 69 2. Pengelolaan Data .......................................................................... 71 3. Analisis Data Deskriptif ................................................................ 73 4. Menentukan Taraf Signifikansi .................................................... 75 5. Menguji Asumsi Klasik ............................................................... 75 6. Uji Hipotesis ................................................................................ 81 I. Jadwal Penelitian ............................................................................... 86 BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........ 88 A. Deskripsi Penelitian ........................................................................... 88 B. Tingkat Pengembalian Kuesioner ...................................................... 89 C. Hasil Penelitian .................................................................................. 89 D. Pembahasan ........................................................................................ 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 115 A. Kesimpulan ........................................................................................ 115 B. Keterbatasan ....................................................................................... 116 C. Saran ................................................................................................... 116 DAFTAR REFERENSI .................................................................................. 118 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994 ............................ 14 Tabel 2.2 Perubahan Kurikulum di Indonesia.................................................... 15 Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 ....................................... 17 Tabel 2.4 Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulum 2013 ......... 18 Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik ....................................................... 24 Tabel 3.1 Pengukuran Kuesioner item positif dan item negatif ......................... 48 Tabel 3.2 Sebaran item positif dan item negatif ................................................ 49 Tabel 3.3 Indikator Kuesioner............................................................................ 51 Tabel 3.4 Kriteria Revisi .................................................................................... 53 Tabel 3.5Hasil Expert Judgement: Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa .......................................................................... 54 Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement: Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar .................................................................... 55 Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement: Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran Tidak Begitu Jelas.............................................................. 56 Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement:Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran....................................................... 57 Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement :Pembelajaran Bersifat Fleksibel ................ 58 Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement :Hasil Pembelajaran yang Sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa ................................................. 60 Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement :Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan Bagi Siswa ............................................................. 61 Tabel 3.12 Validitas Muka ................................................................................ 63 Tabel 3.13 Hasil Validitas Implementasi Pembelajaran Tematik ...................... 65 Tabel 3.14 Hasil Validitas Item Dukungan Kepala Sekolah.............................. 67 Tabel 3.15 Tingkat Koefisien dan Tingkat Hubungan ....................................... 68 Tabel 3.16 Hasil Reliabilitas Implementasi Tematik ......................................... 69 Tabel 3.17 Hasil Reliabilitas Dukungan Kepala Sekolah .................................. 69 Tabel 3.18 Contoh Coding Data ........................................................................ 72 Tabel 3.19 Jadwal Penelitian.............................................................................. 86 Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval ....................................................................... 90 Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi ............................................. 90 Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Rendah ................. 92 Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Tinggi ................... 95 Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Dukungan Kepala Sekolah ........................... 99 Tabel 4.6 Hasil Uji Independent Sample t-test Dukungan Kepala Sekolah ....... 100 Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Junior .......................... 103 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Senior .......................... 106 Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Pengalaman Mengajar .................................. 109 Tabel 4.10 Hasil Uji Independent Sample t-test Pengalaman Mengajar ............ 110 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan ................................................. 39 Gambar 3.1 Alur Penelitian ............................................................................... 43 Gambar 3.2 Rumus Product Moment ................................................................ 65 Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach ............................................... 68 Gambar 3.4 Rumus Jarak atau Rentangan ........................................................ 74 Gambar 3.5 Rumus Sturges ............................................................................... 74 Gambar 3.6 Rumus Panjang Kelas Interval ...................................................... 74 Gambar 3.7 Rumus Uji Normalitas ................................................................... 78 Gambar 3.8 Rumus Lavene’s test ..................................................................... 80 Gambar 3.9 Rumus Uji t-dua sample ................................................................ 82 Gambar 3.10 Rumus Independent sample t-test ............................................... 82 Gambar 3.11 Rumus Man Whitney ................................................................... 83 Gambar 3.12 Rumus Effect Size Data Normal .................................................. 84 Gambar 3.13 Rumus Effect Size Data Tidak Normal ........................................ 84 Gambar 3.14 Rumus Koefisien Determinasi .................................................... 85 Gambar 4.1 Uji Normalitas P-P Plot Dukungan Kepala Sekolah Rendah ........ 93 Gambar 4.2 Uji Normalitas Histogram Dukungan Kepala Sekolah Rendah ..... 94 Gambar 4.3 Uji Normalitas PP Plot Dukungan Kepala Sekolah Tinggi............ 96 Gambar 4.4 Uji Normalitas Histogram Dukungan Kepala Sekolah Tinggi....... 97 Gambar 4.5 Perhitungan Effect Size ................................................................... 101 Gambar 4.6 Uji Normalitas P-P Plot Pengalaman Mengajar Junior ................. 103 Gambar 4.7 Uji Normalitas Histogram Pengalaman Mengajar Junior .............. 104 Gambar 4.8 Uji Normalitas P-P Plot Pengalaman Mengajar Senior ................. 106 Gambar 4.9 Uji Normalitas Histogram Pengalaman Mengajar Senior .............. 107 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian .............................................................................. 122 Lampiran 2 Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian ................................................. 128 Lampiran 3 Expert Judgement ................................................................................. 131 Lampiran 4 Validitas Muka ..................................................................................... 206 Lampiran 5 Data Validitas Implementasi Tematik .................................................. 217 Lampiran 6 Hasil Validitas Implementasi Tematik ................................................. 218 Lampiran 7 Data Reliabilitas Implementasi Tematik .............................................. 219 Lampiran 8 Hasil Reliabilitas Implementasi Tematik ............................................. 220 Lampiran 9 Data Validitas Dukungan Kepala Sekolah ........................................... 222 Lampiran 10 Hasil Validitas Dukungan Kepala Sekolah .......................................... 224 Lampiran 11 Hasil Reliabilitas Dukungan Kepala Sekolah ...................................... 225 Lampiran 12 Data Asli............................................................................................... 227 Lampiran 13 Hasil Distribusi Frekuensi Implementasi Tematik ............................... 228 Lampiran 14 Hasil Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Kategori 1............... 229 Lampiran 15 Hasil Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Kategori 2............... 234 Lampiran 16 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Kategori 1...................... 239 Lampiran 17 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Kategori 2...................... 244 Lampiran 18 Hasil Uji Independent Sample t-test Dukungan Kepala Sekolah ......... 249 Lampiran 19 Hasil Uji Independent Sample t-test Pengalaman Mengajar ................ 250 Lampiran 20 Tabel r Product Moment ...................................................................... 251 Lampiran 21 Tabel Krejcie ........................................................................................ 252 Lampiran 22 Kuesioner Penelitian ............................................................................ 253 Lampiran 23 Contoh Kuesioner yang Sudah diisi ..................................................... 259 Lampiran 24 Data Coding ......................................................................................... 263 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 25 Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner .............................................. 264 Lampiran 26 Biodata Peneliti .................................................................................... 265 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I dalam penelitian ini membahas tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa ini dihadapkan pada berbagai persoalan ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Persoalan tersebut menjadi tugas kita untuk menjawab tantangan globalisasi ini melalui pendidikan (Uno, 2007: 1). Menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang terjadi di era global ini, perlu dilakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara utuh dan menyeluruh berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja (Mulyasa, 2013: 1). Perubahan ini dilakukan karena sistem dan mutu pendidikan di negara kita masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain. (Mendiknas) Abdul Malik Fajar pun mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangatlah terburuk di kawasan Asia, seperti yang diberitakan KOMPAS, 5 September 2001 (Sukorini, 2009). Bank Dunia melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar (SD) di beberapa Negara Asia. Hasil tes membaca murid kelas IV SD di Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia, berada di bawah Hongkong 75,5%, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filipina 52,6% dan Indonesia 51,7%. Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa siswa di Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 bacaan yang dibacanya. Direktorat Pendidikan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional tahun 2000/2001 juga melaporkan bahwa rata-rata daya serap kurikulum secara nasional masih rendah, yaitu 5,1 untuk lima mata pelajaran (Majid, 2014: 5). Hasil survey “Trends in International Math and Science” tahun 2007 yang dilakukan Global Institute, menunjukkan hanya 5% peserta didik Indonesia yang mampu mengerjakan soal penalaran berkategori tinggi. Peserta didik Korea dapat mencapai 71 persen. Data lain diungkapkan oleh Programme International Student Assessment (PISA), hasil studinya tahun 2009 menempatkan Indonesia pada peringkat 10 terbawah, dari 65 negara peserta PISA (Mulyasa, 2013: 60). Pendidikan di Indonesia kurang memperhatikan faktor hak-hak anak, serta kurangnya pemberian kesempatan kepada mereka untuk melakukan pengembangan dalam aktivitas pendidikannya. Anak yang belum memahami suatu pelajaran, terlalu cepat untuk dinyatakan sebagai anak bodoh yang menjadi penyebab mereka kehilangan jati diri (Uno, 2007: 9). Kondisi ini menunjukkan bahwa reformasi dalam dunia pendidikan nasional kita sudah menjadi suatu keharusan dan tidak bisa ditunda lagi, terutama pada jenjang pendidikan dasar (Majid, 2014: 5). Perubahan pendidikan yang bersifat mendasar diperlukan dalam kehidupan pada era global seperti saat ini. Perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen pendidikan lain (Mulyasa, 2012: 2-5). Kurikulum berasal dari bahasa Yunani Curir yang artinya pelari, dan Curere artinya tempat berpacu atau tempat lomba. Curriculum berarti “jarak”

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 yang harus ditempuh. Perkembangan selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan dan pengajaran (Trianto, 2012: 13). Kurikulum mengalami perubahan pada sistem pengajarannya, seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan tersebut dimulai dari Kurikulum 1947 yang bersifat politis. Kurikulum selanjutnya adalah kurikulum 1968 yang bersifat materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Kurikulum 1984 mengusung process skill approach, pendidikan harus mampu mencetak tenaga terdidik, kreatif, bermutu dan efisien bekerja. Kurikulum 1994 memberlakukan kurikulum muatan lokal serta penyempurnaan tiga kemampuan dasar : membaca, menulis, dan menghitung yang fungsional. Kurikulum 2004 menekankan pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik. Kurikulum 2006 sering disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi (Trianto, 2012: 54). Kurikulum 2006 atau Kurikulum Satuan Tingkat Satuan Pendidikan menggunakan dua model pembelajaran yaitu : model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Pendekatan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik (Trianto, 2011: 139). Pembelajaran tematik lebih menekankan pada konsep belajar sambil melakukan sesuatu, sesuai dengan teori Gestalt dan Piaget (1950) yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak (Depdiknas, 2009). Keberhasilan kurikulum atau kegagalan implementasi kurikulum di sekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah. Dua figur tersebut merupakan kunci yang menentukan serta menggerakkan berbagai komponen yang ada di sekolah. Implementasi KTSP perlu ditunjang oleh guru yang berkualitas. KTSP perlu ditunjang pula oleh kepala sekolah yang professional, demokratis, dan transparan, sehingga mampu bekerjasama dan meningkatkan kualitas pembelajaran (Mulyasa, 2008: 46). Supardi (2013: 8) mengatakan bahwa salah satu kunci sukses pelaksanaan kurikulum adalah guru. Peran guru dalam penyelenggaraan pendidikan sangat dominan terhadap pencapaian kualitas pendidikan. Supardi (2013: 51) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu faktor individual (dari dalam) dan faktor situasional (dari luar). Faktor individual meliputi umur, tingkat pendidikan, lamanya training, pengalaman mengajar, keahlian guru, pengalaman berinovasi, pengalaman guru terhadap materi, dan waktu. Faktor situasional yang dimaksud meliputi dukungan kepala sekolah ataupun ukuran dari setiap kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari informasi tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari dukungan kepala sekolah dan pengalaman mengajar karena keberhasilan kurikulum atau kegagalan implementasi kurikulum di sekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 B. Batasan Masalah Penelitian ini difokuskan pada guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Guru merupakan kunci sukses berlangsungnya pembelajaran, maka penelitian ini difokuskan pada guru. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru kelas bawah yaitu kelas 1, 2, dan 3 yang sudah menerapkan pembelajaran tematik sesuai dengan kurikulum 2006 (KTSP) yang sudah mensyaratkan pelaksanaan pembelajaran tematik. C. Rumusan Masalah Rumusan Masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta? 2. Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah? 3. Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar guru?

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. 2. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah. 3. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar guru. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi Guru, Mahasiswa dan Peneliti. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagi Guru Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu Guru untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pembelajaran tematik. 2. Bagi mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar untuk mengetahui sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 3. Bagi Program Studi PGSD Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan referensi bagi peneliti selanjutnya. Memberikan informasi bagi mahasiswa FKIP untuk mengetahui sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. F. Definisi Operasional 1. Pembelajaran tematik adalah pendekatan yang mengintegrasikan kompetensi pembelajaran menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik di SD kelas rendah (disebut juga pembelajaran tematik integratif). 2. Kurikulum adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam proses pembelajaran. 3. Demografi adalah faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang antara lain dukungan kepala sekolah, pengalaman mengajar, pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, jumlah siswa, jumlah rekan yang menerapkan pembelajaran tematik, status kepegawaian, dan latar belakang pendidikan terakhir. 4. Reformasi adalah suatu bentuk perbaikan menuju ke arah yang lebih baik. 5. Guru kelas bawah adalah seorang pendidik yang memiliki kemampuan untuk mendidik siswa kelas bawah (kelas 1, 2, 3). 6. Implementasi adalah pelaksanaan dari kurikulum yang telah dibuat.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 7. Survei adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari sebagian populasi. 8. Afiliasi adalah hubungan sebagai anggota cabang. 9. Kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin sekolah dan bertanggung jawab memajukan sekolah. 10. Pengalaman mengajar adalah masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini membahas enam bagian pendahuluan dari penelitian ini, yaitu: definisi operasional, manfaat penelitian, tujuan penelitian, batasan masalah, rumusan masalah, dan latar belakang masalah. Bagian- bagian tersebut akan diajabarkan sebagai berikut: A. Tinjauan Teoritik 1. Pentingnya Reformasi Pendidikan secara Global Reformasi merupakan istilah yang sangat populer pada masa ini dan menjadi kata kunci dalam membenahi tatanan hidup bangsa termasuk bidang pendidikan (Suyanto dan Hisyam, 2000). Abad ke 19-20 kehidupan berada pada tingkat persaingan global yang sangat ketat. Globalisasi menyebabkan informasi bergerak amat cepat, materi pembelejaran yang selama ini menjadi penguasaan guru kini dapat diakses siapa saja melalui internet (Kunandar, 2007: 18). Siapa saja yang tidak memenuhi persyaratan kualitas global, akan tersingkir secara sendirinya (Suyanto dan Hisyam, 2000). Kehidupan dalam era global menuntut berbagai perubahan pendidikan yang bersifat mendasar (Mulyasa, 2013: 4). Bidang pendidikan memerlukan perubahan dengan tetap berpegang pada tantangan masa depan yang penuh persaingan global (Suyanto dan Hisyam dalam Sanaky, 2009). Perubahan-perubahan tersebut antara lain : perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat global, perubahan kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, dan perubahan dari pertumbuhan ekonomi ke perkembangan kemanusiaan (Mulyasa, 2013). Timbul pemikiran baru 9

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 terhadap status pendidikan di seluruh dunia pada masa kini. Pendidikan diterima dan dihayati sebagai kekayaan yang sangat berharga dan sangat produktif, karena pekerjaan produktif saat ini didasarkan pada akal (Kunandar, 2007). Pembentukan orang-orang terdidik merupakan modal suatu bangsa, sehingga hamper di semua Negara menjadikan pendidikan sebagai pokok perhatian (Kunandar, 2007: 9). 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia Tenaga ahli yang dimiliki kurang cukup memadai untuk bersaing di tingkat global. Angkatan kerja saat ini masih memprihatinkan dilihat dari pendidikannya. Sebagian besar angkatan kerja (53%) tidak berpendidikan, yang berpendidikan dasar sebanyak 34% , berpendidikan menengah 11% dan berpendidikan tinggi hanya 2% (Boediono dalam Suyanto dan Hisyam, 2000: 3). Masyarakat Indonesia kini sedang berada dalam masa reformasi. Era reformasi telah lahir dan masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam semua aspek kehidupannya. Sektor pendidikan memiliki peran yang strategis dan fungsional dalam upaya membangun suatu masyarakat (Tilaar dalam Sanaky, 2009). Era reformasi mempunyai tujuan mengembalikan pendidikan pada fungsinya yaitu memberdayakan masyarakat. Pendidikan nasional perlu direformasi untuk mewujudkan visi baru masyarakat Indonesia yaitu suatu masyarakat madani Indonesia (Tilaar dalam Sanaky, 2009). Indonesia sudah mulai mengalami perubahan-perubahan untuk menuju ke tingkat yang lebih baik dalam menghadapi era reformasi pendidikan. Pemerintah sudah mulai memperbaiki kurikulum mulai dari kurikulum orde lama, orde baru

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dan orde reformasi. Perubahan-perubahan ini dilakukan untuk meningkatkan hasil sehingga masyarakat Indonesia siap menghadapi persaingan global. 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia Kurikulum sekolah dasar di Indonesia telah mengalami perubahan. Perubahan pertama dilakukan pada masa orde lama. Triyanto (2010: 55) menjelaskan bahwa kurikulum yang pertama kali dilaksanakan pada masa kemerdekaan bernama Rencana Pembelajaran 1947 . Rencana pembelajaran bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Susunan Rencana pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Garis-garis besar pengajarannya pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan murid mempelajari (Trianto, 2012). Rencana Pembelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani merupakan hal yang diutamakan dalam Rencana pelajaran 1947 (Muzamiroh, 2013: 41). Kurikulum juga mengalami beberapa kali perubahan kurikulum pada masa orde baru, yaitu kurikulum 1968, 1975, 1984 dan 1994 (Trianto, 2010: 56). Perubahan Kurikulum pendidikan era orde baru dimulai dengan adanya TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966 tentang agama, pendidikan, dan kebudayaan atau disebut kurikulum 1968. Kurikulum 1968 melahirkan rumusan konkret bagaimana pendidikan harus membentuk manusia Pancasilais sejati (Yamin, 2012:123).

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikulum ini dikelompokkan pada tiga kelompok besar : pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9, dan hanya memuat mata pelajaran pokok saja. Muatan materi pelajarannya sendiri hanya teoritis, tak lagi mengaitkannya dengan permasalahan faktual di lingkungan sekitar (Trianto, 2012). Kurikulum 1975 mempunyai konsep, pendidikan ditentukan dari pusat, para pengajar tidak perlu berpikir membuat konsep sendiri bagaimana pola pengajaran yang baik harus dilaksanakan dalam kelas (Yamin, 2012: 125). Metode, materi dan tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975 tertuang secara gamblang dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), melalui PPSI kemudian lahir satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan bahasan memiliki unsur-unsur : petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 didasari konsep SAS (struktural, analisis, sintesis). Anak menjadi pintar karena paham dan mampu menganalisis sesuatu yang dihubungkan dengan mata pelajaran di sekolah. Dampak kurikulum 1975 adalah banyak guru menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas administrasi, seperti membuat TIU, TIK dan lain-lain (Trianto,2012). Kurikulum 1984 mengusung process skill approach, bahwa pendidikan harus mampu mencetak tenaga terdidik yang kreatif, bermutu, dan efisien bekerja. Kurikulum 1984 disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Siswa diposisikan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 sebagai subyek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). CBSA didasarkan pada disertasi Conny R. Semiawan yang didasarkan pada pandangan Sikortsky (Trianto,2012). Sekolah-sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA, yang terlihat adalah suasana kelas gaduh karena siswa berdiskusi, sehingga menyebabkan terjadinya penolakan CBSA (Muzamiroh, 2013: 44). Pendidikan dasar pada kurikulum 1994 dipatok menjadi sembilan tahun (SD dan SMP). Kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1984 dengan tujuan pendekatan proses. Muatan lokal dimasukkan dalam kurikulum ini, fungsinya untuk mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerahnya. Beban belajar siswa dalam kurikulkum 1984 dinilai terlalu berat, karena ada muatan nasional dan lokal (Trianto,2012). Kurikulum juga mengalami penyempurnaan pada orde reformasi, diantaranya kurikulum 2004 dan kurikulum 2006. Kurikulum 2004 sering disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK memfokuskan pada pemerolehan kompetensi tertentu yang dilakukan oleh siswa. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2003: 38).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan kepada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Trianto,2011: 131). Tabel 2.1 menunjukkan keunggulan KBK dibandingkan dengan kurikulum 1994. Tabel 2.1 Keunggulan KBK dengan Kurikulum 1994 Subjek Utama Paradigma pembelajaran 1994 Penguasaan materi Silabus Jumlah jam pelajaran Metode pembelajaran Silabus disamakan 40 jam per minggu Sistem penilaian Memfokuskan pada aspek kognitif Keterampilan proses KBK Hasil dan kompetensi Versi UNESCO: belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri. Silabus menjadi kewenangan guru. 32 jam per minggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum dapat dikurangi. PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan CTL (Contextual Teaching learning) Penilaian dilakukan dengan memadukan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menekankan nilai yang berbasis kelas. Tabel 2.1 menunjukkan bahwa KBK lebih memadukan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jumlah jam pelajaran pada KBK lebih sedikit dibandingkan pada kurikulum 1994, sehingga mengurangi beban siswa serta guru. KBK juga lebih mengedepankan PAKEM dan CTL. Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum 2006 mempunyai dua model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Model pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik (Trianto,2011: 139). Tabel 2.2 Reformasi Pendidikan di Indonesia Tahun 1947 Nama Kurikulum Rencana Pembelajaran 1947 Orde Baru 1968 1975 Kurikulum 1968 1984 Kurikulum 1984 1994 Kurikulum 1994 Orde Reformasi 2004 Kurikulum 2004 2006 Kurikulum 2006 Kurikulum 1975 Ide pokok Memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Garis-garis besar pengajarannya pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan murid mempelajari Pendidikan pada masa ini lebih ditekankan untuk membentuk manusia pancasila sejati. Menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Kurikulum 1975 mempertegas tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran. Dalam kurikulum 1984 siswa diposisikan sebagai subyek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif. Kurikulum 1994 menggunakan pendekatan proses. Kurikulum ini pun dimasukkan muatan lokal, yang berfungsi mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerahnya. Kurikulum ini menekankan kepada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Strategi pengembangan dalam kurikulum 2006 mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Tabel 2.2 menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia kearah yang lebih baik. Kurikulum 2006 merupakan kurikulum penyempurnaan yang mulai menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. 4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum 2006 mempunyai dua model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Model pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik (Trianto, 2011: 139). Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan (Majid, 2014). Berkaitan dengan perubahan kurikulum, berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter. Peserta didik dibekali dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi. Kurikulum 2013 ditekankan pada pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar, yang akan menjadi fondasi bagi tingkat berikutnya (Mulyasa, 2013: 6-7). Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) (Majid, 2014). Diperlukan berbagai pelatihan dan sosialisasi yang matang kepada berbagai pihak, agar orientasi kurikulum baru dapat dipahami dan diterapkan secara optimal (Mulyasa,2013: 10). Perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum lain, kurikulum 2013 lebih fokus dan berangkat dari karakter serta kompetensi yang akan dibentuk, baru memikirkan tujuan yang akan dicapai (Mulyasa, 2013: 12).

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kurikulum 2013 memiliki landasan atau dasar dalam 17 proses pengembangannya. Mulayasa (2013: 64) menyebutkan ada tiga landasan pengembangan Kurikulum 2013 seperti yang dijelaskan pada tabel 2.3. Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 Landasan Filosofis Landasan Yuridis a. Filosofis Pancasila yang a. Rencana Pembangunan memberikan berbagai Jangka Menengah (RPJM) prinsip dasar dalam 2010-2014 Sektor pembangunan Pendidikan, tentang pendidikan. perubahan metodologi pembelajaran dan b. Filosofi pendidikan yang penataan kurikulum. berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, b. Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005 kebutuhan peserta didik, tentang standar nasional dan masyarakat. pendidikan. c. Instruktur Presiden (INPRES) No. 1 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Landasan Konseptual a. Relevansi pendidikan (link and match). b. Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter. c. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). d. Pembelajaran aktif (Student Active Learning). e. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh. Tabel 2.3 menunjukkan tiga landasan kurikulum 2013, yaitu landasan filosofis, landasan yuridis dan landasan konseptual. Dilihat dari landasan filosofis, kurikulum 2013 berbasis pada Pancasila dan nilai-nilai luhur serta nilai akademik. Landasan yuridis pada kurikulum 2013 adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Peraturan Pemerintah dan Instruktur Presiden. Landasan konseptual kurikulum 2013, pembelajaran bersifat aktif dan kontekstual serta berbasis pada kompetensi dan karakter. Mulyasa (2013: 169) menguraikan beberapa perbedaan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 2006 seperti pada tabel 2.4.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Tabel 2.4 Perbedaan Esensial Kurikulum SD Kurikulum 2006 Mata pelajaran tertentu hanya mendukung kompetensi tertentu. Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri. Bahasa Indonesia sejajar dengan mata pelajaran lain. Tiap mata pelajaran disajikan dengan pendekatan yang berbeda. Tiap jenis isi pembelajaran disajikan terpisah (separated curriculum). Konten ilmu pengetahuan Tematik untuk kelas I sampai kelas III (belum integratif). Kurikulum 2013 Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan). Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti di setiap kelas. Bahasa Indonesia sebagai penarik mata pelajaran lain (sikap dan keterampilan berbahasa) Semua mata pelajaran disajikan menggunakan pendekatan yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mendemonstrasikan. Berbagai jenis isi pelajaran disajikan secara berkaitan dan terpadu satu sama lain (cross curriculum atau integrated curriculum). Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya. Tematik terintegratif untuk kelas I sampai kelas VI. Sumber : Mulyasa, 2013: 169 Tabel 2.4 menunjukkan pembelajaran dalam kurikulum 2006 masih terpisah antar mata pelajaran, dan pembelajaran tematik baru diterapkan dikelas bawah. Pembelajaran dalam kurikulum 2013 dirancang saling terkait dan terpadu. Pembelajaran tematik diterapkan untuk kelas I-IV. 5. Pembelajaran Terpadu a. Pengertian Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya. Hal ini membantu siswa untuk belajar menghubungkan apa yang telah dipelajari dan apa yang sedang dipelajari (Beans dalam Syaefudin, 2006: 4). Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran (Sukayati dalam Prastowo, 2013: 106)

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 “Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Maka pada umumnya pembelajaran tematik/terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan antara beberapa isi mata pelajaran dan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa” (Hadi Subroto, 2000: 9). Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang memerhatikan dan menyesuaikan pemberian konsep sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran tematik yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak (Depdikbud dalam Prabowo, 2000). Pembelajaran Terpadu merupakan model pembelajaran yang memadukan keterampilan, konsep dan pokok bahasan dalam satu mata pelajaran maupun antar pelajaran. Pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran yang efektif karena mampu mengaitkan pokok bahasan yang tumpang tindih. Siswa juga lebih proaktif karena pembelajaran ini sesuai dengan karakteristiknya. b. Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu Ciri-ciri pembelajaran terpadu menurut (Karli dan Margaretha dalam Indrawati, 2009) yaitu sebagai berikut : holistic, suatu peristiwa yang menjadi

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya. Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri-inkuiri. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar. c. Model Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu memiliki sepuluh cara atau model, yaitu fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked (Robin Fogarty dalam Prastowo, 2013). Model Penggalan (Fragmented), model ini ditandai dengan pemanduan yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran. Misalnya, dalam pembelajaran bahasa Indonesia, materi pelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran keterampilan berbahasa (Prastowo, 2013). Model Keterhubungan (Connected), topik-topik pembelajaran dalam model ini dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Contoh, pembelajaran kosa kata, membaca, mengarang dapat dipayungkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Topik-topik dalam satu disiplin ilmu berhubungan satu sama lain.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Model Sarang (Nested) merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Keterampilan sosial, berpikir, dan konten dicapai di dalam satu mata pelajaran. Mata pelajaran yang berbeda dalam dicapai dalam waktu yang bersamaan. Model Rangkaian (Sequenced) merupakan model pemaduan topik-topik antar mata perlajaran yang berbeda secara paralel. Persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan, meskipun termasuk dalam pelajaran yang berbeda. Model Bagian (Shared) merupakan model pemaduan pembelajaran akibat adanya kesamaan ide pada dua mata pelajaran yang sama. Materi yang ada pada satu pelajaran missal PKn sama dengan materi yang ada di mata pelajaran IPS. Model ini melibatkan dua disiplin ilmu dalam satu pembelajaran. Model Laba-laba (Webbed) merupakan model pemaduan dengan menggunakan pendekatan tematik. Pembelajaran tematik menggunakan satu tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin mata pelajaran. Tema yang digunakan harus dipilih secara selektif agar menjadi berarti dan relevan dengan konten. Model Galur (Threaded) model ini merupakan model perpaduan bentuk keterampilan. Siswa mampu mempelajarai cara mereka belajar dan memfasilitasi transfer pembelajaran selanjutnya. Model Keterpaduan (Integrated) merupakan model perpaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda-beda. Materi pelajaran yang tumpang tindih dalam berbagai disiplin ilmu dijadikan satu topik. Model ini mendorong siswa untuk melihat keterkaitan antar disiplin ilmu.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Model Celupan (Immersed) model ini dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan pemakaiannya. Model ini mendorong siswa untuk saling tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman. Siswa memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pembelajaran melalui perspektif yang disukai. Model Jaringan (Networked) merupakan model perpaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa melakukan studi lapangan dalam situasi yang berbeda-beda. Model pembelajaran ini menjadikan siswa bersifat proaktif. Siswa terstimulasi oleh informasi, keterampilan dan konsep-konsep baru. Prabowo (dalam Prastowo, 2013) menyatakan bahwa dari sepuluh model pembelajaran terpadu tersebut yang layak dan tidak terlalu sulit dikembangkan di sekolah dasar adalah model keterhubungan, jaring laba-laba dan keterpaduan. 6. Pembelajaran Tematik a. Pengertian Pembelajaran Tematik Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran (Prastowo, 2013: 117). Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan (Depdiknas, 2009: 6). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta dalam Depdiknas, 2009). Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis dari model pembelajaran terpadu yang dikenal dengan model jaring laba-laba (webbed). Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa Depdiknas, (2006: 5). Pembelajaran tematik sebagai suatu model pembelajaran dengan fokus pada bahan ajaran. Bahan ajaran disusun secara terpadu dan dirumuskan dalam bentuk tema-tema pembelajaran. Tema yang dimaksud adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi inti pembicaraan (Sukmadinata dalam Trianto, 2011). Pembelajaran tematik pada dasarnya dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran dengan memadukan materi dari beberapa mata pelajaran dalam suatu tema. Dengan demikian, pelaksanaan dalam pembelajaran tematik dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran yang disajikan dalam satu pertemuan. Pembelajaran tematik sebagai suatu konsep dapat dikatakan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 sebagai suatu pendekatan belajar yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Bermakna karena dalam pembelajaran tematik siswa akan dapat memahami konsep yang dipelajari melalui pengamatan langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang dipahaminya (Sukandi dalam Trianto, 2011). Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas, model pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema. Tema tersebut digunakan untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik di sekolah dasar kelas rendah. Pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran. Depdiknas (2009: 8) menyebutkan ada tiga landasan diterapkannya pembelajaran tematik. Landasan tersebut antara lain landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis. Penjelasan mengenai ketiga landasan tersebut ada pada tabel 2.5. Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Yuridis a. Progresivisme, aliran ini a. Psikologi a. UU No. 23 Tahun memandang bahwa perkembangan, 2002 pasal 9 tentang proses pembelajaran psikologi ini perlindungan anak lebih ditekankan pada diperlukan untuk yang menyebutkan pembentukan kreativitas, menentukan isi dari bahwa setiap anak pemberian sejumlah materi pembelajaran berhak mendapatkan kegiatan, suasana yang yang disajikan agar pendidikan dan alamiah, dan tingkat keluasan dan pengajaran sesuai memperhatikan kedalamannya sesuai dengan bakat dan pengalaman siswa. dengan tahap minatnya agar pribadi b. Konstruktivisme, kunci perkembangan siswa. dan tingkat utama dalam b. Psikologi belajar, kecerdasannya pembelajaran adalah diperlukan untuk berkembang dengan pengalaman langsung mengetahui bagaimana baik.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Yuridis siswa. suatu materi disajikan b. UU No. 20 Tahun c. Humanisme, melihat dan bagaimana siswa 2003 bab V pasal 1-b siswa dari mempelajarinya. tentang Sistem keunikan/kekhasannya, Pendidikan Nasional potensi, dan motivasi menyatakan bahwa yang dimilikinya. setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya. Tabel 2.5 menunjukkan bahwa pembelajaran tematik memiliki tiga landasan, yaitu landasan filosofis berisi tentang teori-teori para ahli yang sesuai dengan pembelajaran tematik. Landasan psikologis berisi tentang teori psikologi yang sesuai dengan pembelajaran tematik. Landasan yuridis berisi UndangUndang yang mendasari lahirnya pembelajaran tematik. b. Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik Keuntungan pembelajaran tematik di antaranya: a) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, b) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama, c) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, d) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, e) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas (Depdiknas, 2009). Keuntungan pembelajaran tematik menurut ( Panduan KTSP, 2007: 253) sebagai berikut : a) memudahkan pemusatan perhatian pada satu tema tertentu, b)

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan 26 berbagai kompetensi dasar antar isi mata pelajaran dalam tema yang sama, c) pemahaman materi mata pelajaran lebih mendalam dan berkesan, d) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, e) lebih dapat dirasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, f) siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam suatu mata pelajaran dan sekaligus dapat mempelajari mata pelajaran lain, g) guru dapat menghemat waktu sebab mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus, dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, dan waktu selebihnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan materi. Puskur (Majid, 2014: 93) mengidentifikasi beberapa aspek keterbatasan pembelajaran tematik yaitu : a) guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan, b) pembelajaran tematik akan sulit diterapkan apabila tidak menekankan pada kemampuan analitis, kemampuan asosiatif, kemampuan eksploratif dan elaboratif, c) pembelajaran tematik memerlukan sarana prasarana yang cukup banyak untuk menunjang pengembangan wawasan, d) kurikulum berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik, e) penilaian dilakukan secara menyeluruh

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 7. Implikasi Pembelajaran Tematik Depdiknas (2009: 11) mengatakan Implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup : Pertama, Implikasi terhadap guru: Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. Kedua, Implikasi bagi siswa : a) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal, b) Siswa juga harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang bervariasi akan meningkatkan kemampuan belajar peserta didik lebih baik, baik dalam aspek intelegensi maupun kreativitas. Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan metode yang bervariasi supaya tidak membosankan. Pembelajaran juga lebih banyak berpusat pada siswa agar dapat mengembangkan kemampuan siswa. Ketiga, Implikasi terhadap saran, prasarana, sumber belajar dan media : a) Pembelajaran tematik pada kakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik, b) pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization), c) pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak, d) penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi. Keempat, pengaturan ruangan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik meliputi : a) ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan, b) susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung, c) peserta didik tidak selalu di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet, d) kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, e) dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar, f) alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali. Kelima, Implikasi terhadap pemilihan metode : sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, Tanya jawab dan demonstrasi, bercakap-cakap (Depdiknas, 2009: 11).

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 8. Karakteristik Pembelajaran Tematik Majid, (2014) mengemukakan Pembelajaran tematik merupakan suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar yang memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut : Berpusat pada siswa, pembelajaran tematik dilaksanakan dengan berpusat pada siswa (student centered) yang dalam hal ini siswa berperan sebagai subjek pembelajaran dan guru berperan hanya sebagai fasilitator. Siswa harus mampu mengembangkan keterampilan untuk menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajari. Guru sebagai fasilitator bertugas sebagai pembimbing dan mengarahkan siswa dalam mencari pengetahuan. Memberikan pengalaman langsung, pembelajaran tematik memberikan pengalaman langsung kepada para siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Siswa dihadapkan pada sesuatu yang yang nyata atau konkret melalui pengalaman langsung sebagai alat bantu untuk memahami hal-hal abstrak. Siswa yang berlajar melalui pengalaman langsung, akan selalu mengingat apa yang didapatnya melalui pengalaman yang pernah dialami. Pemisahan mata pelajaran pembelajaran tematik tidak begitu jelas, berfokus pada tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Kehidupan sehari-hari bersifat konkret dan siswa pernah mengalami. Materi pelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari mempermudah siswa dalam memahami materi. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran; dalam suatu proses pembelajaran tematik mengandung konsep-konsep dari banyak mata pelajaran.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Dengan disajikannya konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran tersebut, siswa diharapkan mampu untuk memahami konsep secara komprehensif. Hal tersebut akan berguna bagi siswa untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari; Pembelajaran tematik memiliki sifat fleksibel dimana bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dapat dikaitkan oleh guru. Tidak hanya mata pelajaran saja yang dapat dikaitkan, namun juga dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa dan lingkungan siswa berada. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, melalui pembelajaran tematik siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan talenta atau potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Siswa yang belajar tidak sesuai dengan minat dan kebutuhannya, maka hasil pembelajaran pun tidak maksimal. Sesuatu yang dilakukan tanpa rasa suka pasti hasilnya kurang optimal Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan, pembelajaran tematik dapat dilaksanakan dengan berbagai macam cara diantaranya melalui permainan, diskusi, dan lain-lain. Konsep pembelajaran yang telah dirancang bertujuan agar anak merasa senang ketika belajar. Guru yang menerapkan pembelajaran tematik diharapkan dapat mengemas pembelajaran secara bervariasi sehingga dapat menarik perhatian siswa. Siswa menjadi tertarik untuk terus belajar. Karakteristik pembelajaran tematik sangat sesuai dengan anak usia sekolah dasar. Anak usia sekolah dasar masih belum bisa memahami hal yang bersifat abstrak, sehingga pembelajaran tematik mengkaitkan materi dengan kehidupan

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 sehari-hari siswa agar mudah dipahami. Pembelajaran tematik juga memiliki prinsip belajar sambil bermain supaya siswa tidak mudah bosan dalam pembelajaran. 9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Pembelajaran Tematik Supardi (2013: 8) mengatakan bahwa peran guru dalam penyelenggaraan pendidikan sangat dominan terhadap pencapaian kualitas pendidikan. Salah satu kunci sukses pelaksanaan kurikulum adalah guru. Sukmadinata (Supardi, 2013: 12) mengatakan bahwa : “implementasi kurikulum semua tergantung kepada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru” Pemahaman guru terhadap kurikulum mempengaruhi kinerja guru. Guru dituntut memiliki kemampuan mengimplementasikan kurikulum (Supardi, 2013: 12). Salah satu faktor individu yang mempengaruhi kinerja guru adalah Demografis (Supardi, 2013: 14). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008: 309) mendefinisikan demografi sebagai ilmu yang meberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial. Data susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk dapat diambil dengan menggunakan statistik dan penggolongan. Penggolongan tersebut berdasarkan pada kelas sosial, agama, umur, tempat, pendidikan, dan sebagainya. Setiap anggota masyarakat memiliki status yang berbeda-beda apabila dilihat berdasarkan penggolongan di atas. Supardi (2013: 51) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 faktor individual (dari dalam) dan faktor situasional (dari luar). Faktor individual meliputi umur, tingkat pendidikan, lamanya training, pengalaman mengajar, keahlian guru, pengalaman berinovasi, pengalaman guru terhadap materi, dan waktu. Faktor situasional yang dimaksud meliputi dukungan kepala sekolah ataupun ukuran dari setiap kelas. Rismiati (2012: 12) menjabarkan faktor demografi yang mempengaruhi pembelajaran tematik antara lain dukungan kepala sekolah, pengalaman mengajar menggunakan pembelajaran tematik, status kepegawaian, jumlah jam training, jumlah siswa, jumlah rekan guru yang menggunakan tematik dan pengalaman mengajar. Pelaksanaan tugas profesional guru memerlukan bimbingan dari berbagai pihak khususnya kepala sekolah (Supardi, 2013). Tingkat keberhasilan kinerja yang dicapai guru, dapat diketahui melalui kegiatan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Supervisi kepala sekolah adalah segala kegiatan pemberian pengarahan dan bantuan dengan cara membimbing langsung kegiatan guru dalam pembelajaran (Supardi,2013). Peter (dalam Supardi, 2013; 9) mengatakan : “Rendahnya motivasi dan prestasi guru yang mempengaruhi profesi guru tidak terlepas dari rendahnya kontribusi kepala sekolah dalam membina guru di sekolah melalui kegiatan supervisi”. Jadi, salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah dukungan kepala sekolah. Tinggi rendahnya hasil kinerja guru sangat dipengaruhi oleh dukungan kepala sekolah. Dukungan yang diberikan kepala

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 sekolah seperti bimbingan akan berpengaruh terhadap guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pendidikan memberikan pengetahuan tentang pelaksanaan tugas. Pendidikan juga landasan untuk mengembangkan diri serta kemampuan memanfaatkan semua sarana yang ada di sekitar kita untuk kelancaran tugas. Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi produktivitas kerja (Arfrida dalam Widjayanti, 2012: 18). Semakin tinggi pendidikan seseorang, akan semakin tinggi produktivitas kerjanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mudah mereka menerima dan mengembangkan pengetahuan dan teknologi (Simanjuntak dalam Widjayanti, 2012: 18). Siagian (Widjayanti, 2012: 19) menyatakan bahwa masa kerja menunjukkan berapa lama seseorang bekerja pada masing-masing pekerjaan atau jabatan. Semakin lama pengalaman kerja seseorang, maka semakin terampil. Seseorang yang sudah lama masa kerjanya semakin mudah memahami tugas dan tanggungjawabnya, sehingga memberi peluang meningkatkan prestasi kerja (Anderson dalam Widjayanti, 2012: 20). Saherian (Cahyaningtyas, 2007: 28) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan status kepegawaian guru adalah kedudukan guru dilihat dari prototype-nya dalam suatu sistem sosial. Status guru dalam pendidikan menurut Sahertian (Cahyaningsih, 2007: 29) terdiri dari guru negeri dan guru swasta. Guru negeri adalah guru-guru yang diangkat dan digaji oleh Negara, meskipun dipekerjakan pada instansi swasta. Guru swasta adalah guru yang diangkat oleh yayasan

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 tertentu dan digaji oleh yayasan tersebut. Guru swasta dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu : guru honorer, guru yayasan, guru tidak tetap. Pelatihan adalah suatu proses yang membantu memperoleh skill dan pengetahuan (Good dalam Chaerunniza, 2012: 14). Pelatihan merupakan proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu agar guru semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan lebih baik (Chaerunniza, 2012: 14). Pelatihan merupakan proses memperoleh pengetahuan, pengalaman dan keterampilan untuk mengembangkan keahlian yang telah dimiliki. Semakin sering seorang guru mengikuti pelatihan, maka semakin banyak pengetahuan baru yang didapatkan. Semakin banyak pengetahuan yang didapatkan akan memberikan peluang untuk meningkatkan kinerja guru tersebut. Mulyasa (2003: 115) menyatakan pengetahuan Kepala sekolah tercermin dalam kemampuan memahami kondisi tenaga kependidikan, memahami karakteristik siswa, memahami program pengembangan tenaga kependidikan, memahami karakteristik siswa, memahami program pengembangan tenaga kependidikan, dan memahami kritik dan saran. Professional skills dapat tercermin dalam kemampuan dalam mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi. Kepala sekolah sebagai pemimpin bertugas mengarahkan guru, siswa serta komponen sekolah lainnya agar mau berprestasi dan mempunyai motivasi tinggi, sehingga tujuan pendidikan tercapai. Supardi (2013) menyatakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah pembinaan oleh kepala sekolah melalui supervisi. Peter (dalam Supardi,2013) menyatakan bahwa :

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 “Rendahnya motivasi, dan prestasi guru yang mempengaruhi profesi guru tidak terlepas dari rendahnya kontribusi kepala sekolah dalam membina guru di sekolah melalui kegiatan supervisi” Pengalaman mengajar pada hakekatnya merupakan rangkuman dari pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dialami dalam mengajar, sehingga hal-hal yang dialami tersebut telah dikuasainya, baik tentang pengetahuan, ketrampilan maupun nilai-nilai yang menyatu padanya (Widoyoko dalam Yuliyani, 2010). Guru-guru yang berpengalaman di bawah tiga tahun cenderung kurang efektif dalam mengajar (Rice dalam Donald, 2014). Ainley dan Luntley (dalam Donald, 2014) juga menyatakan bahwa guru-guru yang berpengalaman lebih mampu mengatasi apa pun yang terjadi dalam kelas dan menggunakan halhal yang mereka amati untuk menyesuaikan metode pengajaran mereka. Peneliti melakukan pembatasan pada indikator faktor demografi. Indikator yang akan dibahas dan diteliti lebih lanjut adalah faktor dukungan kepala sekolah dan lama mengajar. B. Hasil Penelitian yang Relevan Penelitian tentang implementasi pembelajaran tematik untuk meningkatkan aktivitas peserta didik yang dilaksanakan oleh Hayama (2012) merumuskan sebuah masalah yaitu “bagaimanakah pengimplementasian model pembelajaran tematik pada peserta didik kelas III Madrasah Ibitidaiyah swasta nurul islam pontianak barat” yang rendah aktivitasnya dalam pembelajaran penyelesaian soal cerita pada ilmu pengetahuan alam data penelitian ini berupa data proses pembelajaran dan data hasil tindakan yang diperoleh dari hasil

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 pengamatan dan komunikasi langsung. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran soal cerita dengan menggunakan metode deskriptif. Instrumen pertama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul data dengan menggunakan instrumen penunjang berupa lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan mengikuti alur analisis data yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pelaksanaan tindakan pembelajaran penyelesaian soal-soal bergambar dengan menggunakan metode pemecahan masalah pada setiap siklusnya selalu mengalami peningkatan yaitu pada siklus I rata-rata indikator 60% dan pada siklus II rata-rata indikator 88%. Kesimpulan bahwa diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru yang profesional dan memperbaiki mutu aktivitas peserta didik dengan implementasi pembelajaran tematik. Penelitian tentang pembelajaran tematik lainnya dilaksanakan oleh Sukini (2012) tentang pembelajaran tematik di Sekolah Dasar kelas rendah dan pelaksanaannya. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menetapkan bahwa pendekatan dalam pembelajaran di SD kelas rendah (kelas I, II, dan III) adalah pembelajaran tematik. Sementara itu, di pihak lain banyak guru disekolah dasar yang belum memahami pembelajaran tematik sehingga menjadi kendala tersendiri bagi pelaksanaan pembelajaran di SD kelas rendah. Ditinjau dari komponen guru, dalam pelaksanaan pembelajaran tematik ditemukan adanya beberapa permasalahan sebagai berikut : (1) Guru masih kurang memahami langkahlangkah melakukan pemetaan KD dengan tema dari beberapa mata pelajaran terkait. (2) Guru masih kurang memahami perancangan pembelajaran yang berupa

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 penyusunan silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan menggunakan pendekatan tematik. (3) Guru belum dapat menyampaikan pembelajaran tematik. Pembelajaran yang disampaikan masih terkotak-kotak dalam berbagai mata pelajaran yang ditematikkan. (4) Guru belum mampu menyusun instrumen penilaian untuk pembelajaran tematik. Adanya beberapa permasalahan penting itu perlu segera dicarikan jalan keluarnya oleh berbagai pihak terkait, seperti dinas pendidikan, MGMP, KKG, forum guru, dan sebagainya melalui pemberian pelatihan pembelajaran tematik pada para guru SD yang mengajar di kelas rendah. Hal ini penting dilakukan agar guru benar-benar paham akan seluk beluk pembelajaran tematik, dapat menerapkan pembelajaran tematik itu dalam kegiatan pembelajaran sehingga mampu menghasilkan pengalaman belajar yang holistik, efektif, dan bermakna bagi siswa SD kelas rendah. Penelitian lainnya yang dilaksanakan oleh Ni Wayan Sadri (2012) tentang studi evaluasi implementasi pembelajaran tematik pada Sekolah Dasar Gugus I Denpasar Timur di Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan situasi dan kondisi dalam implementasi pembelajaran tematik di Sekolah Dasar Gugus I Denpasar Timur di Denpasar dan kendala-kendala yang dihadapi ditinjau dari : konteks, input, proses, dan produk. Hasil penelitian ini adalah implementasi pembelajaran tematik pada sekolah dasar gugus I Denpasar Timur di Denpasar dilihat dari variable konteks, input, proses dan produk tergolong tidak efektif. Untuk itu perlu diadakan perbaikan-perbaikan, baik dari konteks, input, proses maupun produk.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Penelitian selanjutnya dilaksanakan oleh Wanto (2012) tentang Supervisi Pembelajaran Tematik pada Guru di SD Negeri Donorojo I Pacitan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini melihat karakteristik supervisor pembelajaran tematik di SD Negeri Donorojo I Pacitan dan melihat karakteristik aktivitas guru dalam pembelajaran tematik di SD Negeri Donorojo I Pacitan. Hasil dari penelitian karakteristik guru kelas bawah ini, guru menggunakan satu tema saling berkaitan dengan mata pelajaran lain dan menggabungkan beberapa mata pelajaran yang materinya saling berkaitan. Model pembelajaran tematik yang digunakan bisa menimbulkan minat anak. Penelitian juga dilakukan oleh Dursun Dilek (2002) tentang Using a Thematic Teaching Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Studies Teaching. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini melihat bagaimana guru menerapkan kegiatan yang berpusat pada siswa dalam situasi kelas yang kurang kondusif. Penelitian ini lakukan di Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan Sekolah Dasar Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian ini didasarkan pada keaktifan, antusiasme, minat dan keterampilan dalam belajar ilmu kependudukan dan sejarah.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Sukini. 2012. Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar Kelas Rendah dan Pelaksanaannya. Hayama 2012.Implementasi Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Aktivitas Peserta Didik. Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survey Bagi Guru-Guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Swasta Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta Ni Wayan Sadri . 2012.“Studi Evaluasi Implementasi Pembelajaran Tematik Pada Sekolah Dasar Gugus I Denpasar Timur Di Denpasar”. Wanto. 2012. Supervisi Pembelajaran Tematik pada Guru di SD Negeri Donorojo I Pacitan. Dursun Dilek. 2002. Using a Thematic Teaching Approach Based on Pupil’s Skill and interest in Social Studies Teaching. Gambar 2.1 Literatur Map Gambar 2.1 menjelaskan posisi penelitian diantara lima penelitian yang relevan. Lima penelitian yang relevan merupakan penelitian tentang implementasi pembelajaran tematik. Kelima penelitian tersebut menjadi acuan bagi peneliti dalam melakukan penelitian yang berjudul Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei bagi Guru-guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah ada. Penelitian ini membandingkan tingkat pembelajaran tematik di SD kelas bawah ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah dan pengalaman mengajar. C. Kerangka Berpikir Pendidikan di negara Indonesia sudah mulai berkembang mengikuti sistem pendidikan negara-negara maju. Perkembangan ini ditandai dengan terus adanya perubahan kurikulum. Masing-masing kurikulum menggunakan sistem pengajaran yang berbeda-beda, untuk itu dalam setiap kurikulum memliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kurikulum terdahulu, pembelajaran lebih banyak berpusat pada guru. Guru menjelaskan dan siswa mendengarkan, sehingga kurang terlihat aktifitas dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan siswa tidak mengalami sendiri proses pemerolehan informasi sehingga informasi yang didapat hanya bersifat statis atau tidak mampu mengendap dalam jangka waktu yang lama. Pemerintah Indonesia memperbarui sistem pendidikan serupa dengan memperbarui kurikulum yang digunakan. Perubahan kurikulum di Indonesia ini belum diimbangi dengan perubahan hasil dan kualitas lulusan. Hasil dan kualitas lulusan masih kurang terlihat adanya peningkatan. Perubahan kurikulum 2006 terutama adanya model pembelajaran tematik, diharapkan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik. Salah satunya adalah kurikulum 2006 yang menggunakan model pembelajaran tematik untuk kelas bawah. Kurikulum 2006 kemudian mengalami penyempurnaan menjadi kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan tematik integratif. Pembelajaran tematik lebih banyak

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 berpusat pada siswa, siswa mengalami sendiri sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga mampu meningkatkan hasil belajar. Keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah guru. Kinerja seorang guru akan sangat mempengaruhi pelaksanaan mempengaruhi tinggi kurikulum. rendahnya Kinerja implementasi guru yang kurikulum baik yang akan sedang dilaksanakan. Guru dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi antara lain : tinggi rendahnya dukungan kepala sekolah yang akan berpengaruh terhadap kinerja guru, pengalaman mengajar, status kepegawaian, tingkat kependidikan, jumlah siswa, pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, dan jumlah jam training. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta.adalah tinggi. 2. Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah. 3. Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bagian III berisi delapan bagian yaitu tentang jenis penelitian, setting penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, serta prosedur analisis data. A. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental cross sectional metode survey. John & Christensen (Rismiati, 2014: 21) menyebutkan bahwa dalam penelitian non eksperimental desain, variabel independent tidak bisa dimanipulasi dan tidak ada “random assignment” yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan populasi besar atau kecil, namun data yang digunakan merupakan sampel dari populasi sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubunganhubungan relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis (Kerlinger dalam Sugiyono, 2011: 12). Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa tinggi tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dan mengetahui hubungan antara faktor demografi guru dengan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Penelitian ini termasuk dalam kerangka penelitian yang kerangka 42

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 teorinya sudah ada dan dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menginterpretasikan data. Gambar 3.1 menjelaskan alur pada penelitian ini. X1 Y X2 Gambar 3.1 Alur Penelitian Keterangan: X1 : Dukungan Kepala Sekolah X2 : Lama Mengajar Y : Implementasi pembelajaran tematik Gambar 3.1 menggambarkan bahwa penelitian melihat bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru-guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Penelitian mencoba melihat apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru-guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Penelitian ini juga mencoba melihat apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guruguru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 10 bulan. Penelitian dimulai sejak bulan September 2013 sampai dengan bulan Juli 2014. Kegiatan yang dilakukan selama penelitian adalah menyusun bab 1 sampai bab 3, menyebar kuesioner penelitian, presentasi bab 1 sampai bab 3, mengolah dan menganalisis data penelitian, presentasi bab 1 sampai bab 5, simulasi ujian skripsi, dan yang terakhir ujian skripsi. 2. Tempat Penelitian Penelitian mengambil tempat SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta sejumlah 18 sekolah. Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti sebelum pengambilan data, ditemukan 18 SD yang termasuk dalam SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Hasil penyebaran surat ijin, terdapat 5 SD yang menolak untuk dilakukan penelitian dengan berbagai alasan maka diputuskan bahwa penelitian dilakukan hanya pada 13 SD. C. Variabel Penelitian Sugiyono (2011: 38) menyatakan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian adalah data dari objek dari penelitian yang nantinya akan dipakai sebagai pedoman dalam penelitian tersebut. Variabel dalam penelitian ini ada 2 jenis, yaitu:

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 1. Variabel Bebas Variabel bebas (independent) pada penelitian ini adalah faktor demografi berupa dukungan kepala sekolah dan pengalaman mengajar guru. Variabel Independent adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat) (Sugiyono, 2011: 39). 2. Variabel Terikat Variabel terikat (dependent) pada penelitian ini adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independent (Sugiyono, 2011: 39). D. Populasi dan Sampel Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 297). Sampel adalah sebagian dari populasi itu (Sugiyono, 2011: 297). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru. Data diperoleh dari wawancara dengan masing-masing sekolah. Sampel yang ditentukan dalam penelitian ini adalah guru pengampu kelas bawah sekolah dasar karena pembelajaran tematik diterapkan pada kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Table Krejcie (Usman dan Akbar, 2008: 362) menentukan sampel yang dibutuhkan untuk populasi 111 adalah 86 responden. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 54 responden karena adanya penolakan dari pihak sekolah untuk pengisian kuesioner. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik Purpossive Random Sampling atau gabungan antara purpossive sampling dan simple random sampling. Purpossive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan pertimbangan atau tujuan tertentu. Simple random sampling merupakan teknik penentuan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi tersebut (Sugiyono, 2009: 85). Peneliti mengambil sampel secara acak karena peneliti tidak memperhatikan latar belakang yang dimiliki responden. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011: 192). Kuesioner yang disusun berisi pertanyaan dan pernyataan-pernyataan berskala menggunakan skala Likert lima pilihan (Sugiyono, 2011: 136). Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136). Kuesioner mempunyai 7 indikator yang terdiri dari item positif dan negatif.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 F. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner. Lembar kuesioner yang digunakan adalalah lembar kuesioner yang dikembangkan oleh Rismiati (2012). Kuesioner tersusun atas 43 item yang terbagi dalam 2 bagian, 28 item tentang implementasi pembelajaran tematik, 6 item tentang faktor demografi dukungan kepala sekolah serta 8 item tentang latar belakang demografi guru. Kuesioner untuk tingkat implementasi pembelajaran tematik tersusun atas 7 indikator pembelajaran tematik dalam 28 item pernyataan tertutup dengan mengembangkan karakteristik pembelajaran tematik menurut Depdiknas (2009: 9). Kuesioner untuk mengetahui demografi guru tersusun dalam 6 item pernyataan tertutup untuk faktor dukungan kepala sekolah dan 9 item pertanyaan terbuka untuk faktor pengalaman mengajar, status kepegawaian, pendidikan, jumlah jam training, lama menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah rekan kerja yang menggunakan pembelajaran tematik. Kuesioner ini disusun dengan “summate raiting scale (skala likert)” (Furchan, 2007: 278). Skala ini diubah dengan lima pilihan jawaban yaitu pilihan skor 1-5. Item positif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat Setuju” dengan pilihan skor 1-5. Item negatif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju” dengan pilihan skor 5-1. Pengukuran kuesioner ini dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu untuk item positif dan juga untuk item negatif. Kategori pengukuran item positif dan item negatif dapat dilihat pada tabel 3.1.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Tabel 3.1 Pengukuran Kuesioner Item Positif dan Negatif No. 1 Kategori Item Positif 2 Item Negatif Skor 1 2 3 4 5 5 4 3 2 1 Keterangan Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu-ragu Setuju Sangat Setuju Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu-ragu Setuju Sangat Setuju Tabel 3.1 menunjukkan item positif dan item negatif dari kuesioner implementasi pembelajaran tematik yang telah disusun. Skor 1 pada item positif berarti bahwa responden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 2 memiliki arti bahwa responden tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 3 memiliki arti bahwa responden ragu-ragu dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 4 memiliki arti bahwa responden setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 5 memiliki arti bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 5 pada item negatif berarti bahwa respoden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 4 memiliki arti bahwa responden tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 3 memiliki arti bahwa responden raguragu dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 2 memiliki arti bahwa responden setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 1 memiliki arti bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Sebaran item positif dan item negatif dapat dilihat pada tabel 3.2.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Tabel 3.2 Sebaran Item Positif dan Item Negatif Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Item 2. 3. 4. Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 5. 6. 7. 8. Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 10. 11. 12. Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 13. Item Positif Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa). Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran No Item 1. Item Negatif Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 16 Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indikator No Item 14. 15 Pembelajaran bersifat fleksibel 17. 18. 19. 20. Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 21. 23. 24. Prinsip belajar sambil belajar dan bermain yang menyenangkan bagi siswa 25. 26. 27. 28. Item Positif sekaligus. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, No Item 50 Item Negatif mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Item Indikator Item Positif No Item 51 Item Negatif STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. Tabel 3.2 menunjukkan di dalam kuesioner pembelajaran tematik terdapat 7 indikator. Indikator pertama memiliki 3 item positif (item nomor 2, 3, 4) dan 1 item negatif (item nomor 1). Indikator kedua memiliki 4 item positif (item nomor 5, 6, 7, dan 8). Indikator ketiga memiliki 3 item positif (item nomor 10. 11, 12) dan 1 item negatif (item nomor 9). Indikator keempat memiliki 3 item positif (item nomor 13, 14, 15) dan 1 item negatif (item nomor 16). Indikator kelima memiliki 3 item positif ( item nomor 17, 18, 19, 20). Indikator keenam memiliki 3 item positif (item nomor 21, 23, 24) dan 1 item negatif (item nomor 22). Indikaor ketujuh memiliki 4 item positif (item nomor 25, 26, 27, dan 28). Seluruh item berjumlah 28 item. Kisi-kisi instrumen penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.3 Tabel 3.3 Kisi-kisi Indikator Instrumen Variabel Tingkat implementasi pembelajaran tematik Faktor Demografi Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Dukungan dari kepala sekolah No. Item 1, 2, 3, 4 Pengalaman mengajar 35 Jenjang kelas yang diampu 36 Lama mengajar tematik 37 Jenis Variabel 5, 6, 7, 8 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16 Variabel Terikat 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 29, 30, 31, 32, 33, 34 Variabel Bebas

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel Indikator No. Item Pengalaman training pembelajaran tematik 38 Jumlah siswa yang diajar menggunakan pembelajaran tematik 39 Pendidikan terakhir guru 40 Status kepegawaian guru 41 Jumlah rekan guru yang secara bersama-sama mengajar tematik 42 Status kurikulum 43 52 Jenis Variabel Tabel 3.3 menunjukkan bahwa dalam instrumen penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu implementasi pembelajaran tematik (variabel terikat) dan faktor demografi (variabel bebas). Implementasi pembelajaran tematik memiliki 7 indikator dan pada setiap indikator terdapat 4 item pertanyaan. Variabel faktor demografi mempunyai 9 indikator. Indikator pertama yaitu dukungan dari kepala sekolah terdapat 6 item pernyataan. Indikator pengalaman mengajar terdapat 2 item pertanyaan. Indikator lama mengajar menggunakan tematik, pengalaman training, jumlah siswa, pendidikan terakhir guru, status kepegawaian masingmasing terdapat 1 item pertanyaan. Indikator yang terakhir yaitu jumlah rekan guru yang bersama-sama mengajar tematik terdapat 2 item pertanyaan. Item nomor 43 berisi pernyataan status kurikulum 2013 di sekolah. Seluruh indikator faktor demografi termasuk dalam variabel bebas. G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian (Sugiyono, 2011: 266). Suatu tes dikatakan valid apabila alat ukur tersebut melakukan fungsi ukurnya. Hasil yang dicapai pun sesuai dengan tujuan dilakukannya sebuah tes. Alat ukur yang valid tidak hanya mampu mengungkap

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 data namun mampu memberikan gambaran yang cermat mengenai data yang telah diuji. Penelitian ini menggunakan 3 jenis validitas, yaitu : a. Validitas isi (content validity) Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen dalam mengukur isi (konsep) yang harus diisi (Siregar, 2010: 163). Suatu alat ukur diharapkan mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Kuesioner penelitian ini mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik pada SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Validitas isi dilakukan dengan expert judgment pada orang yang ahli dalam mengukur konsep ini. Validitas isi dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen, kepala sekolah, dan guru. Dosen, kepala sekolah, dan guru dipilih karena merupakan ahli-ahli dalam pembelajaran tematik. Tabel 3.4 Kriteria Revisi Pernyataan Kriteria > 2.5 ≥ 2.5 ≤ 2.5 < 2.5 Pernyataan/Komentar Positif Negatif Positif Negatif Revis/Tidak Revisi Tidak Revisi Revisi Revisi Tidak Revisi Tabel 3.4 menjelaskan bahwa apabila rata-rata skor yang diperoleh dari masing-masing nomor item dalam setiap indikator > 2.5 berisi pernyataan positif berarti pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Apabila rata-rata skor yang diperoleh ≥ 2.5 namun berisi pernyataan negatif, maka pernyataan perlu dilakukan revisi. Rata-rata skor 2.5 dan berisi pernyataan positif maka perlu dilakukan revisi. Skor yang memiliki rata-rata < 2.5 dan berisi pernyataan negatif, maka pernyataan tidak perlu direvisi.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 2 3 4 Rata-rata No Validator 1 Dosen a 3 4 4 4 3.75 2 Dosen b 1 3 4 3 2.75 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 2 3 4 4 3.25 5 Guru b 3 4 3 4 3.5 6 Guru c 3 2 3 4 3 7 Kepsek a 3 4 4 4 3.75 8 Kepsek b Rata-rata 4 4 4 4 4 2.75 3.375 3.625 3.75 1 Tabel 3.5 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan item nomor 1 sebesar 2.75. Ratarata item nomor 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item nomor 1 yaitu “pernyataan sudah jelas, sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam pembelajaran”. Item nomor 2 memiliki rata-rata sebesar 3.375. Rata-rata item nomor 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 yaitu “kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”. Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar No Validator 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 4 4 4 4 4 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 3 4 3 3.5 5 Guru b 3 3 3 4 3.25 6 Guru c 4 4 4 3 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 3 3 4 3.5 3.875 3.625 3.75 3.75 Rata-rata Tabel 3.6 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar dengan nomor item 1 sebesar 3.875. Ratarata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 “pernyataan sudah bagus, sudah diberi contoh pembelajaran learning by doing itu yang seperti apa?”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang contoh sumber belajar macam apa yang dimaksud?”. Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran tidak Begitu Jelas No Validator Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 3 3 4 4 3.5 2 Dosen b 1 4 3 4 3 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 3 3 4 4 3.5 5 Guru b 3 4 3 3 3.25 6 Guru c 4 3 4 4 3.75 7 Kepsek a 4 3 3 4 3.5 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 3.125 3.375 3.5 3.75 Rata-rata Tabel 3.7 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas dengan nomor item 1 sebesar 3.125. Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan ini bertentangan dengan indikator, lebih baik diganti (saya mengajar materi lima bidang studi

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 secara terpadu)”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.375. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 yaitu “pada RPP hendaknya dirancang betul atau dikondisikan adanya keterkaitan”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.5. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 3 yaitu “kata (atau lebih) lebih baik dihilangkan”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran No Validator Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 1 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 3 3.75 1 Dosen a 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 3 3 3 3 3 5 Guru b 4 3 4 3 3.5 6 Guru c 4 4 3 4 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 3.875 3.75 3.75 3.625 Rata-rata Tabel 3.8 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran dengan nomor item 1 sebesar

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 3.875. Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup baik, dan bisa dimengerti maksudnya oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan sudah jelas karena sudah diberi keterangan dalam kurung”. Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel No Validator 1 Dosen a 2 Dosen b 3 Dosen c 4 Guru a 5 Guru b 6 Guru c Pembelajaran bersifat fleksibel 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 4 2 4 4 3.5 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3.5 4 3 4 4 3.75 4 3 4 4 3.75

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Validator 7 Kepsek a 8 Kepsek b Rata-rata 59 Pembelajaran bersifat fleksibel 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 4 3 4 4 3.75 3.875 3 4 4 Tabel 3.9 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran bersifat fleksibel dengan nomor item 1 sebesar 3.875. Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan sudah bagus, menanyakan tentang kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya tentang lingkungan, bisa kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 “pernyataan yang dibuat sudah bagus, kalimat jelas dan mudah dipahami maksudnya”.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa No Validator 1 Dosen a 2 Dosen b 3 Dosen c 4 Guru a 5 Guru b 6 Guru c 7 Kepsek a 8 Kepsek b Rata-rata Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3.25 3 4 3 3 3.25 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.5 3.625 3.875 3.875 Tabel 3.10 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa dengan nomor item 1 sebesar 3.5. Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan masih ngawang. Mungkin lebih dijelaskan lagi kebutuhan setiap siswa yang seperti apa. Pernyataan yang mengukur minat siswa belum kelihatan. Indikator: hasil pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan berisi tentang penilaian. Usul: indikator diubah menjadi penilaian hasil pembelajaran”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 yaitu “yang lebih mendekati kebutuhan siswa itu tes esai”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.875. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 memiliki ratarata sebesar 3.875. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas serta mudah dipahami”. Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa 1 Dosen a Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa 1 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 4 4 2 Dosen b 4 4 3 0 2.75 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 4 3 3 3.5 5 Guru b 4 3 3 3 3.25 6 Guru c 4 4 3 4 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 4 3.875 3.5 3.25 No Validator Rata-rata Tabel 3.11 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa dengan nomor item 1 sebesar 4. Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan yang dibuat sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.875. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dimengerti”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.5. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup baik”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.25. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan model kelompok”. b. Validitas muka (face validity) Validitas muka adalah kemampuan suatu instrumen untuk mengukur konten yang diukur (Siregar, 2010:163). Pengukuran validitas muka yang dilakukan tampak baik dengan melihat indikator pengukuran yang digunakan. Validitas muka menunjukkan kualitas suatu indikator tampak beralasan atau logis untuk mengukur suatu variabel (Morrisan, 2012:104). Tabel 3.12 menunjukkan hasil validitas muka.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Tabel 3.12 Hasil Validitas Muka No Indikator 1 Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 2 Siswa mengalami pengalami pengalaman langsung dalam belajar 3 Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 4 Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 5 Pembelajaran bersifat fleksibel 6 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 7 Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Rata-rata No item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Skor untuk pernyataan 3 3 4 3 2 2 4 3 2 3 4 4 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3.29 Tabel 3.12 menunjukkan skor untuk tiap indikator dan tiap item. Validator tidak memberikan komentar pada item 1 sampai item 4 dalam indikator pertama yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Terdapat dua komentar untuk indikator kedua yaitu siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Komentar yang pertama untuk item 5 adalah “presentasi tidak sesuai jika dilakukan di kelas rendah”. Komentar kedua untuk item 6 “perjelas nama-nama barang yang harus dibawa oleh siswa”. Indikator ketiga yaitu siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar terdapat satu komentar pada item 9. Komentar pada item 9 yaitu “dalam

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 penyampaian pembelajaran tematik selalu berkaitan dengan beberapa pelajaran dan tidak boleh menyebut mata pelajaran yang disampaikan”. Indikator keempat yaitu pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak memuat komentar untuk memperbaiki item. Indikator kelima yaitu pembelajaran bersifat fleksibel hanya berisi satu komentar pada item 18. Komentarnya adalah “masalah dalam pernyataan item 18 terlalu luas untuk siswa kelas bawah”. Indikator keenam yaitu hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak ada komentar khusus untuk perbaikan. c. Validitas konstruk (construct validity) Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2010: 163). Validitas konstruk memiliki teknik pengukuran yang paling kompleks. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa validitas konstruk merupakan upaya menghubungkan suatu instrument pengukuran dengan keseluruhan kerangka kerja teroretis. Hal itu dilakukan untuk memastikan penelitian yang dilakukan memiliki hubungan logis dengan konsep lainnya yang ada dalam kerangka kerja teoretis yang bersangkutan. Peneliti mampu menyatakan berbagai hubungan antara konsep yang tengah diukur dengan variabel lainnya. Peneliti menunjukkan hubungan tersebut benar untuk menunjukkan adanya validitas konstruk (Morrisan, 2012: 107). Instrumen bagian pertama tentang implementasi pembelajaran tematik dalam penelitian ini memiliki 28 item pernyataan dengan jumlah sampel sebanyak 61. Penentuan sampel dilakukan secara acak. Proses analisis data

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 menggunakan Product Moment dengan bantuan SPSS 16. Rumus yang digunakan (Martono, 2010: 243) adalah: Gambar 3.2 Rumus Product Moment keterangan: rxy = koefisien korelasi ∑x = jumlah skor dalam sebaran x (skor butir) ∑y = jumlah skor dalam sebaran y (skor total) ∑ xy = jumlah hasil kali skor x dan skor y berpasangan ∑ x2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x ∑ y2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y N = banyaknya subjek Setelah dilakukan analisis menggunakan Product Moment SPSS 16 terdapat 4 item pernyataan yang tidak valid. Item pernyataan yang tidak valid adalah nomor 9, 16, 18 dan 22. Hasil uji validitas implementasi pembelajaran tematik dapat dilihat pada tabel 3.13 Tabel 3.13 Tabel hasil validitas implementasi pembelajaran tematik No. Item r hitung r tabel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Item 1 Item 2 Item 3 Item 4 Item 5 Item 6 Item 7 Item 8 Item 9 0,310* 0,522** 0,356* 0,598** 0,655** 0,426** 0,393** 0,673** 0,141 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No. Item r hitung r tabel 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Item 10 Item 11 Item 12 Item 13 Item 14 Item 15 Item 16 Item 17 Item 18 Item 19 Item 20 Item 21 Item 22 Item 23 Item 24 Item 25 Item 26 Item 27 Item 28 -0,426** 0,598** 0,653** 0,668** 0,698** 0,634** -0,034 0,655** -0,243 0,533** 0,768** 0,480** -0,170 0,744** 0,660** 0,741** 0,698** 0,453** 0,589** 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 66 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 3.13 menunjukkan bahwa terdapat empat item yang tidak valid yaitu item 9, 16, 18, dan 22. Item valid dan tidak valid dianalisis dengan membandingkan antara rhitung > rtabel (Sugiyono, 2011: 631). Penentuan rtabel menurut Sugiyono dilakukan dengan melihat jumlah sampel yang diperoleh. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 61, setelah melihat sampel yang diperoleh kemudian menentukan rtabel pada taraf signifikansi 5% yang sesuai dengan sampel 61. Nilai rtabel untuk jumlah sampel 61 adalah 0,254. Item nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28 merupakan item-item yang valid. 24 item yang valid memiliki nilai rhitung > rtabel. Item yang valid dan memiliki tanda (*) memiliki taraf kepercayaan sebesar 95%. Item yang valid dan memiliki tanda (*) adalah item 1 dan 3. Item valid dan memiliki tanda (**) memiliki taraf kepercayaan sebesar 99%. Item valid dan memiliki tanda (**) adalah item 2, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28. Hasil validitas konstruk terdapat 4 item yang tidak

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 valid, maka penelitian hanya menggunakan 24 item untuk menganalisis perhitungan-perhitungan selanjutnya (lampiran 6 halaman 218). Faktor demografi dukungan kepala sekolah juga diuji validitasnya. Item pernyataan pada faktor demografi dukungan kepala sekolah berjumlah 6 item. Enam item tersebut di uji validitas dengan menggunakan program spss dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 3.14 berikut ini: Tabel 3.14 Validitas Item Dukungan Kepala Sekolah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Item Item 29 Item 30 Item 31 Item 32 Item 33 Item 34 r hitung 0,659** 0,715** 0,771** 0,796** 0,719** 0,495** r tabel 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 3.14 menunjukkan hasil uji validitas pada faktor demografi dukungan kepala sekolah. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua item pada faktor demografi dukungan kepala sekolah adalah valid. Semua item dalam faktor demografi dukungan kepala sekolah adalah valid sehingga tidak ada item yang dihapus. 2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah indikator tingkat keandalan atau kepercayaan terhadap suatu hasil pengukuran (Morrisan, 2012: 99). Suatu pengukuran disebut reliable atau memiliki keandalan jika konsisten memberikan jawaban yang sama. Penelitian ini menggunakan rumus alpha Cronbach. Peneliti menggunakan rumus koefisien alpha dari Cronbach (Jogiyanto, 2008:50). Berikut rumus koefisien Alpha Cronbach:

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Gambar 3.3 Rumus koefisiensi Alpha Cronbach Keterangan: varian dari total skor Crobach’s coefficient alpha jumlah pecahan = total dari varian masing-masing pecahan varian dari total skor Tabel 3.15 Koefisien Korelasi reliabilitas Interval Koefisien 0,91-1,00 0,71-0,90 0,41-0,70 0,21-0,40 Negatif-0,20 Sumber : Masidjo (1995: 209) Tingkat Hubungan Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah Tabel 3.15 menguraikan skor interval koefisien dan tingkat hubungan korelasi reliabilitas. Interval 0,91-1,00 memiliki tingkat hubungan yang sangat tinggi. Interval 0,71-0,90 memiliki tingkat hubungan tinggi. Interval 0,41-0,70 memiliki tingkat hubungan cukup. Interval 0,21-0,40 memiliki tingkat hubungan yang rendah. Interval negatif -0,20 memiliki tingkat hubungan yang sangat rendah. Pengujian reliabilitas instrumen dibantu pengerjaannya menggunakan SPSS 16. Hasil dari uji reliabilitas dipaparkan pada tabel 3.16.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Tabel 3.16 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Implementasi Pembelajaran Tematik Nilai Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Item N of item 0,891 0,898 24 Tabel 3.16 menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891. Masidjo (1995: 209) mengkategorikan (α = 0,898) termasuk dalam kategori tinggi (lampiran 8 halaman 220). Tabel 3.17 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Faktor Demografi Dukungan Kepala Sekolah Nilai Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Item N of item 0,717 0,778 6 Tabel 3.17 menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,717. Masidjo (1995: 209) mengkategorikan (α = 0,778) termasuk dalam kategori tinggi. Hasil SPSS dapat dilihat pada lampiran 11 halaman 225. H. Prosedur Analisis Data Prosedur analisis data pada penelitian ini ada empat tahap. Tahap pertama adalah menentukan hipotesis statistik, pengelolaan data, menentukan taraf signifikansi, dan menguji asumsi klasik uji hipotesis. 1. Menentukan Hipotesis Statistik Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dapat disusun hipotesis statistik untuk penelitian ini.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Rumusan masalah 1 70 : Bagaimana implementasi pembelajaran tematik di kelas oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah? Rumusan masalah ini tidak memiliki hipotesis karena jawaban dari pertanyaan ini adalah deskriptif. b. Rumusan masalah 2 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah?”. Variabel faktor demografi dukungan kepala sekolah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok tinggi (µ 1) dan kelompok rendah (µ 2). Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah (µ 1 = µ 2). Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah (µ 1 ≠ µ2).

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Rumusan masalah 3 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru?”. Variabel pengalaman mengajar guru dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok junior (µ 1) dan kelompok senior (µ 2). Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru (µ 1=µ 2). Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru (µ 1≠µ2). 2. Pengelolaan Data Pengelolaan data dalam penelitian ini ada empat yaitu coding, editing, data entry, dan data cleaning. Coding adalah pemberian kode tertentu pada tiaptiap data yang memiliki kategori sama (Siregar, 2010: 207). Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk angka atau huruf untuk membedakan data. Kode bisa berupa angka atau huruf dan bertujuan untuk membedakan antara data atau identitas data yang akan dianalisis. Coding yang dilakukan dalam penelitian ini

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 adalah berupa pemberian kode pada kuesioner. Tujuannya untuk membedakan data antara guru satu dengan lainnya dalam sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda. Contoh coding data dapat dilihat pada tabel 3.18 Tabel 3.18 Contoh Coding Data No 1 SD TAMANSISWA JETIS Kode guru kelas 1 E.1 2 SD TARAKANITA BUMIJO 1 F.1.1 Tabel Nama Sekolah 3.17 menjelaskan bahwa Kode guru kelas II E.2 Guru kelas III E.3 F.2.1 F.3.1 untuk SD Tamansiswa Jetis menggunakan kode huruf E. Kode untuk guru pengampu kelas 1 adalah kode E.1, berarti bahwa kuesioner tersebut berasal dari SD Tamansiswa Jetis yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 1. Kode E.2 digunakan untuk kuesioner yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 2. Kode E.3 digunakan untuk kuesioner yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 3. Editing adalah proses pemeriksaan data yang telah berhasil dikumpulkan karena kemungkinan adanya data yang tidak memenuhi syarat atau tidak dibutuhkan (Siregar, 2010: 206). Editing dalam penelitian ini dilakukan dengan memeriksa kembali kesesuaian data dengan jawaban pada lembar kuesioner. Data editing juga dilakukan terhadap data dari seorang responden yang mengisi kuesioner kurang dari 80% dari total seluruh item (American Association for Public Opinion dalam Rismiati, 2014:130). Keseluruhan item berjumlah 34 buah, jadi 80% dari 34 item adalah 27 item. Sebanyak 27 item harus terisi di dalam kuesioner, apabila isi kuesioner kurang dari 27 item dinyatakan responden gugur. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dilihat satu persatu dan didapatkan 1 responden dinyatakan gugur. Gugurnya

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 responden tersebut dikarenakan kuesioner hanya terisi 19 item dan dinyatakan jauh dari kriteria untuk dianggap layak. Penghapusan seorang responden maka dapat mempengaruhi jumlah sampel yang seharusnya 55 responden menjadi 54 responden. Data entry adalah proses memasukkan data yang telah diperiksa kelengkapannya ke dalam Microsoft Excel 2007 dan dihitung validitas dan reliabilitasnya menggunakan Program SPSS 16. Setelah mengetetahui valid atau tidaknya data, proses selanjutnya adalah data cleaning. Data cleaning adalah proses pembersihan data yang tidak terpakai dalam penelitian. Proses data cleaning dalam penelitian ini dilakukan dengan menghilangkan item-item kuesioner yang tidak valid. Peneliti melakukan data cleaning terhadap 2 responden karena tidak mengisi pada bagian faktor pengalaman mengajar. Data cleaning hanya dilakukan terhadap data yang tidak diisi. Data outlier tidak di cleaning, karena jumlah sampel yang didapat hanya 63% dari jumlah sampel yang seharusnya, yaitu hanya 54 data dari 86 data sampel yang dibutuhkan. Jika dilakukan data cleaning pada data outlier, maka sampel akan semakin sedikit dan tidak memenuhi syarat untuk analisis data. 3. Menganalisis Data Deskriptif Analisis data deskriptif digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang pertama. Jawaban dari rumusan masalah 1 menggunakan statistik deskriptif berdasarkan rumus Sturges pada distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi pembelajaran tematik dikelompokkan menjadi lima kelompok, yakni sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 (Masidjo, 1995: ). Distribusi frekuensi dilakukan dalam tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70-72). Tahap yang pertama dengan mengurutkan data dari yang terkecil sampai terbesar. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Rumus menghitung jarak atau rentangan dapat dilihat pada gambar 3.4. R = data tertinggi-data terendah Gambar 3.4 Rumus Jarak atau Rentangan Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K) menggunakan rumus Sturges. Rumus Sturges dapat dilihat pada gambar 3.5. K = 1 + 3,3 log. 70 Gambar 3.5 Rumus Sturges Tahap keempat menghitung panjang kelas interval (P). Rumus panjang kelas interval dapat dilihat pada gambar 3.6. P= Gambar 3.6 Rumus Panjang Kelas Interval Tahap kelima menentukan batas kelas interval panjang kelas. Tahap keenam menghitung urutan interval kelas. Tahap terakhir memindahkan semua angka distribusi ke hasil akhir. Distribusi frekuensi digunakan untuk menentukan interval. Tahapan distribusi frekuensi dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. 75 Menentukan Taraf Signifikansi Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi α = 5% = 0.05. Peneliti mentolerir kesalahan sebesar 0,05. Azwar (2005: 6) mengatahan pemilihan taraf signifikansi 1% atau 5% berdasarkan kesepakatan peneliti. Field (2009: 252) menjelaskan bahwa taraf signifikansi (α) menunjukkan peluang kesalahan yang dapat dialami peneliti dalam pengambilan keputusan. 5. Menguji Asumsi Klasik Uji Hipotesis a. Uji normalitas Santoso (2012: 34) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk mengetahui distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas menggunakan 3 cara yaitu menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Tes Kolmogorov Smirnov merupakan test yang digunakan dalam penelitian ini. Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Uji normalitas ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan 3. Rumusan masalah kedua : Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah? Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal).

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hipotesis alternatif (Ha) 76 : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Data faktor demografi dukungan kepala sekolah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok sedikit dan banyak. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok, apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik dan apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik. Rumusan masalah ketiga : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar? Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal).

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hipotesis alternatif (Ha) 77 : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Data faktor demografi pengalaman mengajar dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok senior dan junior. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok, apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik dan apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik. Uji normalitas juga diketahui menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak normal. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data. Apabila titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 maka dapat dinyatakan data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Perhitungan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan pogram SPSS 16. Rumus uji normalitas dapat dilihat pada gambar 3.9 (Uyanto, 2009: 54). Gambar 3.7 Rumus Uji Normalitas Keterangan: = fungsi distribusi empiris = fungsi distribusi kumulatif b. Uji Homogenitas Siregar (2013: 167) menyebutkan bahwa tujuan dilakukannya uji homogenitas adalah untuk mengetahui kesamaan varian dalam objek yang diteliti. Uji homogenitas pada penelitian ini dilakukan pada variabel total implementasi pembelajaran tematik terhadap rumusan masalah 2 dan rumusan masalah . Rumusan masalah kedua : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah? Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Katholik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas, apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Rumusan masalah ketiga : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar guru? Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dan pengalaman mengajar.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hipotesis alternatif (Ha) 80 : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dan pengalaman mengajar. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas, apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Uji homogenitas dilakukan menggunakan Lavene’s test. Rumus Lavene’s test dapat dilihat pada gambar 3.8 (Nordstokke, 2011: 3). Gambar 3.8 Rumus Lavene’s test Keterangan: n = jumlah observasi k = banyaknya kelompok = rata-rata dari kelompok ke i = rata-rata dari kelompok dari Z = rata-rata menyeluruh

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 6. Uji Hipotesis Penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah, namun uji hipotesis hanya dilakukan pada rumusan masalah kedua dan ketiga. Rumusan masalah satu tidak menggunakan uji hipotesis karena data bersifat deskriptif. Santoso (2010:79) menjelaskan bahwa uji hipotesis digunakan untuk menguji kuat atau tidaknya data dari sampel untuk menjelaskan populasinya. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah?”. Variabel dukungan kepala sekolah dibagi menjadi 2 kelompok, yatu kelompok dukungan kepala sekolah rendah (µ 1) dan kelompok dukungan kepala sekolah tinggi (µ 2). Hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah 2 adalah : Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah (µ 1 = µ 2). Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah (µ 1≠µ2).

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan 82 dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika Sig.(2-tailed) < 0,05maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Data faktor demografi merupakan data interval atau rasio. Data faktor demografi dukungan kepala sekolah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan dukungan kepala sekolah sekolah yang tinggi dan rendah. Pengelompokkan data faktor dukungan kepala berdasarkan teori yang dikemukakan oleh (Peter dalam Supardi, 2013: 9). Data faktor demografi merupakan data interval atau rasio. Pembagian interval kelas dilakukan dengan distribusi frekuensi menggunakan rumus Sturges lihat Gambar 3.6 (Riduwan, 2008: 70). Susanto (2012: 94) menjelaskan bahwa data bersifat interval atau rasio dan berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan untuk menguji dua kelompok adalah Independent sample t-tes (Field, 2009: 336) Gambar 3.9 Rumus uji t-Dua Sampel Dimana Sp : Gambar 3.10 Rumus Independent- Sample T-test

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Keterangan: dan = jumlah sampel = rata-rata sampel ke-1 = rata-rata sampel ke-2 = standar deviasi sampel ke-1 ` = standar deviasi sampel ke-2 = varian sampel ke-1 = varian sampel ke-2 Sp = Standar Deviasi gabungan Uji hipotesis juga dapat menggunakan uji Mann-Whitney. Mann-Whitney Test merupakan uji statistika non-parametrik yang digunakan untuk membandingkan dua sampel independent dengan skala ordinal atau skala interval tetapi tidak berdistribusi normal. Santoso (2012: 94) menjelaskan bahwa uji Mann Whitney mempunyai tujuan yang sama dengan uji t pada statistik parametrik. Rumus pengujian hipotesis yang menggunakan uji Mann Whitney adalah: Gambar 3.11 Rumus Mann Whitney

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Keterangan: = jumlah peringkat sampel pertama = jumlah sampel 1 = jumlah sampel 2 Hasil perbedaan yang didapat, kemudian di uji dengan effect size. Effect size adalah suatu ukuran objektif dan dijadikan standar atau tolak ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 57). Rumus untuk mencari effect size adalah sebagai berikut (Field, 2009: 332). t r t 2 2  df Gambar 3.12 Rumus Effect size jika data normal Keterangan : r : Besarnya pengaruh (effect size) menggunakan koefisien korelasi Pearson. t : Harga uji t. df : Harga derajad kebebasan (degree of freedom). Jika distribusi data tidak normal, maka untuk menghitung effect size digunakan rumus berikut (Field, 2009: 550). r t t 2 2  df Gambar 3.13 Rumus Effect size jika data tidak normal

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Keterangan: Z = harga konversi standar deviasi. N = Jumlah total observasi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek (Field, 2009: 179) adalah: 0,10 – 0,29 = small effect (kecil) 0,30 – 0,49 = medium effect (sedang) 0,50 – 1,00 = large effect (besar) Effect size yang sudah didapat kemudian digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Rumus koefisien determinasi dapat dilihat pada gambar 3.13 R2 = r2 x 100% Gambar 3.14 Rumus koefisien determinasi Rumusan masalah ketiga adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru?”. Variabel pengalaman mengajar dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok junior (µ 1) dan kelompok senior (µ 2). Hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah 3 adalah : Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik Kristen dan Nasional di

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru (µ 1=µ 2). Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar guru (µ 1≠µ2). Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Johari (2012: 39) mengatakan semakin lama guru mengajar maka seharusnya guru akan lebih banyak mendapatkan pengalaman yang bermanfaat, begitu pula sebaliknya. Uji hipotesis rumusan masalah ketiga ini dilakukan dengan mengelompokkan data menjadi dua kelompok yaitu senior dan junior. Pembagian data menjadi dua kelompok dengan menggunakan sturges. Rumus sturges dapat dilihat pada gambar 3.6. Langkah-langkah analisis data untuk rumusan masalah ketiga ini sama dengan langkah-langkah analisis data rumusan masalah kedua. I. Jadwal Penelitian Tabel 3.19 Tabel Jadwal Penelitian No. Kegiatan 1. Penyusunan proposal Sep Okt Nov Des Jan Bulan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No. Kegiatan 2. Konsultasi Bab I-III Bimbingan dengan dosen pembimbing Meminta surat ijin ke Dinas Melakukan penelitian Revisi Bab IIII Analisis data Menyusun Bab IV-V Ujian Skripsi 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sep Okt Nov Des Jan Bulan Feb Mar Apr Mei Jun 87 Jul Tabel 3.19 menjelaskan jadwal kegiatan dalam penelitian ini. Penelitian dimulai pada bulan September 2013 dengan kegiatan menyusun proposal (Bab IIII) dan bimbingan dengan dosen pembimbing. Penyusunan Bab I-III dan bimbingan dilakukan hingga bulan Desember 2013. Bulan November 2013 peneliti membuat surat ijin penelitian di Prodi PGSD dan Dekan FKIP. Bulan Desember 2013, peneliti meminta ijin melakukan penelitian di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional. Penelitian dilakukan dengan menyebar kuesioner pada bulan Desember 2013 hingga Februari 2014. Bulan Maret 2014 peneliti melakukan revisi atau perbaikan pada Bab I-III. Analisis data juga dilakukan bulan April hingga Mei. Penyusunan bab IV-V dilakukan pada bulan April hingga Mei. Kegiatan dalam penelitian diakhiri dengan ujian skripsi pada bulan Juli 2014.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV DESKRIPSI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV dalam penelitian ini membahas tentang deskripsi responden, tingkat pengembalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan. A. Deskripsi Penelitian Penelitian non eksperimental cross sectional yang dilakukan oleh peneliti berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei bagi guru-guru SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta”. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta, (2) mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah, (3) mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah non eksperimental cross sectional dengan metode survei. Penelitian dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada guru kemudian membuat jadwal pengambilan kuesioner. Pembagian kuesioner serta pengambilannya berlangsung dari bulan Januari 2013 hingga Februari 2014. Rekap data yang diperoleh dari keseluruhan respondan yang berjumlah 54 responden terdapat 10 orang responden (18,52%) yang sekolahnya sudah menerapkan kurikulum 2013, 1 responden (1,85%) responden tidak 88

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 memberikan jawaban dan 43 responden (79,63%) belum menerapkan kurikulum 2013. B. Tingkat Pengembalian Kuesioner Jumlah guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta sebanyak 111 guru, maka sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini berjumlah 86 responden. Peneliti menyediakan 115 buah kuesioner dalam melakukan pengumpulan data. Kuesioner yang disebarkan kepada guru sejumlah 96 kuesioner, namun hanya 55 responden atau 57,29% guru yang bersedia menerima dan mengembalikan kuesioner yang disebarkan. Hal ini dikarenakan beberapa sekolah menolak untuk dijadikan tempat penelitian dengan alasan sekolah tersebut sudah digunakan untuk tempat penelitian dan guru sedang sibuk menyelesaikan administrasi (menulis rapor dan mempersiapkan ujian sekolah). Tingkat pengembalian kuesioner dapat dilihat pada lampiran 25 halaman 264. C. 1. Hasil Penelitian Hasil analisis implementasi pembelajaran tematik Data implementasi pembelajaran tematik yang diperoleh dan diolah menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan kategori dari yang terkecil yang tebesar. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan (R) dihitung dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang didapat menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 12.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas telah ditetapkan menurut Masidjo (1995: 153). Jumlah kelas tersebut terdiri dari lima kelas yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Panjang kelas interval (P) dihitung dengan membagi rentangan dan jumlah kelas. Panjang kelas interval diperoleh hasil sebesar 6. Tahap kelima dengan menentukan kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval Panjang Kelas 104-109 98-103 92-97 85-91 79-84 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Tahap ketujuh dengan memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Kategori Panjang Kelas Sangat Tinggi 104-109 Tinggi 98-103 Cukup 92-97 Rendah 85-91 Sangat Rendah 79-84 Total Frekuensi 3 5 13 23 10 54 Presentase 5,55% 9,25% 24,08% 42,60% 18,52% 100% Tabel 4.2 menunjukkan bahwa frekuensi yang diperoleh dari 54 responden terdapat 3 responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi dengan presentase 5,55%.Frekuensi yang masuk dalam kategori tinggi sebanyak 5 responden (9,25%), frekuensi yang masuk dalam kategori cukup sebanyak 13 responden

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 (24,08%), frekuensi yang masuk dalam kategori rendah sebanyak 23 responden (42,60%) dan frekuensi yang masuk dalam kategori sangat rendah sebanyak 10 responden (18,52%). Peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti dalam penelitian ini termasuk dalam kategori rendah dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. 2. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah. Analisis data untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah dilakukan menggunakan bantuan dari program SPSS 16. Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Pengujian normalitas pada rumusan masalah kedua ini dilakukan pada dua kelompok data. Kelompok data pertama adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan KolmogorovSmirnov dalam program SPSS 16. Hipotesis untuk uji normalitas adalah : Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Tabel 4.3 Hasil uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah) Variabel Dukungan kepala sekolah kategori 1 Sig. (2-tailed) 0,856 Keterangan Data berdistribusi normal Tabel 4.3 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah). Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2 – tailed) sebesar 0,856. Nilai Sig.(2 – tailed) sebesar 0,856 > 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti data berdistribusi normal (lampiran 14 halaman 229). Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.1.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Gambar 4.1 Hasil uji normalitas P-P Plot data implementasi dengan dukungan kepala sekolah rendah. Gambar 4.1 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah). Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah) berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.2.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Gambar 4.2 Hasil uji normalitas histogram data implementasi dengan dukungan kepala sekolah rendah. Gambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah). Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 1 (rendah) berdistribusi normal. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah tinggi. Data tingkat

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 2 (tinggi) di uji normalitasnya dengan SPSS 16. Pengujian dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis untuk uji normalitas adalah : Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan Dukungan Kepala Sekolah Kategori 2 (Tinggi) Variabel Dukungan kepala sekolah kategori 2 Sig.(2-tailed) 0,972 Keterangan Data berdistribusi normal

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Tabel 4.4 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 2 (tinggi). Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,972. Nilai Sig.(2-tailed) Sebesar 0,972>0,05, yang berarti data berdistribusi normal(lampiran 15 halaman 234). Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.4 Gambar 4.3 Hasil Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi dengan Dukungan Kepala Sekolah Tinggi. Gambar 4.3 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah Kategori 2 (Tinggi). Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis,

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 2 (tinggi) berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.4 Gambar 4.4 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Dukungan Kepala Sekolah Tinggi. Gambar 4.4 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 2 (tinggi). Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.4 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah kategori 2 (tinggi). berdistribusi normal. Pengujian normalitas telah dilakukan pada kedua kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan dukungan kepala sekolah rendah mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta berdistribusi normal. Kedua data berdistribusi normal maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan dengan Lavene’s test menggunakan SPSS 16. Hipotesis dalam uji homogenitas ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas, apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau Dari Faktor Dukungan Kepala Sekolah Variabel Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor dukungan kepala ekolah Asymp. Sig. Keterangan 0,023 Data tidak homogen Tabel 4.5 menunjukkan hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Uji homogenitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,023. Nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,023 < 0,05, yang berarti data tidak homogen (lampiran 18 halaman 249). Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah telah di uji normalitas. Uji normalitas mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Data juga telah di uji homogenitasnya dan hasilnya data tidak homogen. Data berdistribusi normal tetapi tidak homogen, maka di uji dengan independent sample t test dengan melihat Sig.(2-tailed) pada equal variance not assumed. Hipotesis yang di uji dalam pengolahan data ini adalah:

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hipotesis nol (Ho) 100 : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Pengambilan keputusan ditentukan dari besaran signifikansi (α). Hasil dari pengolahan dikatakan Ho gagal ditolak dan Ha ditolak apabila nilai α = 5% atau 0,05, didapatkan nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05. Hasil dari pengolahan dikatakan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak apabila nilai Sig.(2-tailed) < 0,05. Hasil pengolahan data menggunakan Independent Sample t-test dapat dilihat pada tabel 4.6 Tabel 4.6 Hasil Uji Independent Sample t-test Faktor demografiDukungan Kepala Sekolah Sig. (2-tailed) Nilai Keterangan Equal variances not assumed 0,001 Ho ditolak Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji Independent sample t-test mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,001. Sig.(2-tailed) 0,001 < (0,05) maka Ho ditolak dan Ha gagal di tolak. Ho ditolak, hal ini berarti tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah ada perbedaan, maka dilakukan uji effect size dan uji koefisien determinasi.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Hasil uji hipotesis menggunakan Independent sample t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari dukungan kepala sekolah. Analisis selanjutnya adalah dilakukan uji besar perlakuan (Effect Size). Effect size adalah suatu ukuran objektif dan dijadikan standar atau tolak ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56). Hasil perhitungan effect size dapat dilihat pada gambar 4.5 Gambar 4.5 Perhitungan Effect Size Dukungan Kepala Sekolah Gambar 4.5 menunjukkan hasil perhitungan effect size. Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek (Field, 2009: 179) adalah: 0,10–0,29= small effect (kecil), 0,30–0,49 = medium effect (sedang), 0,50–1,00 = large effect (besar). Hasil perhitungan mendapatkan nilai r=0,68 berarti besarnya dukungan kepala sekolah mempunyai efek besar dalam implementasi pembelajaran tematik. Effect size yang didapat berikutnya digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2) yang didapat adalah 46,24%.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 3. Analisis perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor pengalaman mengajar Analisis data untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah dilakukan menggunakan bantuan dari program SPSS 16. Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Pengujian normalitas pada rumusan masalah kedua ini dilakukan pada dua kelompok data. Kelompok data pertama adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 1 (junior). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS 16. Hipotesis untuk uji normalitas adalah : Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Faktor Pengalaman Mengajar Kategori 1(junior) Variabel Pengalaman mengajar kategori 1 Asymp. Sig. 0,302 Keterangan Data berdistribusi normal Tabel 4.7 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari pengalaman mengajar kategori 1 (junior). Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2- tailed) sebesar 0,302. Nilai Sig.(2- tailed) 0,302> 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti data berdistribusi normal (lampiran 16 halaman 239). Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.6. Gambar 4.6 Hasil Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi dengan Pengalaman Mengajar Junior.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Gambar 4.6 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari pengalaman mengajar kategori 1 (junior). Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.6 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari pengalaman mengajar kategori 1 (junior) berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.7. Gambar 4.7 Hasil uji normalitas Histogram data implementasi dengan pengalaman mengajar junior. Gambar 4.7 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 kategori 1 (senior). Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.7 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan faktor pengalaman mengajar kategori 1 (junior) berdistribusi normal. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari pengalaman mengajar kategori 2 (senior). Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional ditinjau dari pengalaman mengajar kategori 2 (senior) di uji normalitasnya dengan SPSS 16. Pengujian dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis untuk uji normalitas adalah : Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Faktor Pengalaman Mengajar Kategori 2(senior) Variabel Pengalaman mengajar kategori Asymp. Sig. 0,927 Keterangan Data berdistribusi normal Tabel 4.8 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 2 (senior). Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,927. Nilai Sig.(2-tailed) 0,927 > 0,05, yang berarti data berdistribusi normal (lampiran 17 halaman 244). Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titiktitik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.8. Gambar 4.8 Hasil uji normalitas P-P Plot data implementasi dengan pengalaman mengajar senior.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Gambar 4.8 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 2 (senior). Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.8 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 2 (senior) berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.9. Gambar 4.9 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi dengan Pengalaman Mengajar Senior. Gambar 4.9 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 2 (senior). Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.9 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan pengalaman mengajar kategori 2 (senior) berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan dengan Lavene’s test menggunakan SPSS 16. Hipotesis dalam uji homogenitas ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar Katholik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman mengajar. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas, apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau Dari Faktor Pengalaman Mengajar Variabel Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor pengalaman mengajar Asymp. Sig. Keterangan 0,827 Data homogen Tabel 4.9 menunjukkan hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar. Uji homogenitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,827. Nilai Sig.(2-tailed) 0,827 >0,05, yang berarti data homogen (lampiran 19 halaman 250). Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah telah di uji normalitas. Uji normalitas mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Data juga telah di uji homogenitasnya dan hasilnya data homogen. Data berdistribusi normal dan homogen, maka di uji dengan independent t test dengan melihat Asym. Sig pada equal variance assumed. Hipotesis yang di uji dalam pengolahan data ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar. Pengambilan keputusan ditentukan dari besaran signifikansi (α). Hasil dari pengolahan dikatakan Ho gagal ditolak dan Ha ditolak apabila nilai α = 5% atau 0,05, didapatkan nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05. Hasil dari pengolahan dikatakan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak apabila Sig.(2-tailed) < 0,05. Hasil pengolahan data menggunakan Independent Sample t-test dapat dilihat pada tabel 4.10 Tabel 4.10 Hasil Uji Independent Sample T-Test Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau Dari Faktor Pengalaman Mengajar Sig. (2-tailed) Nilai Keterangan Equal variances assumed 0,360 Ho gagal ditolak Tabel 4.10 menunjukkan hasil uji Independent sample t-test mendapatkan hasil nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,360. Sig.(2-tailed) 0,360 > 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha di tolak. Ho gagal ditolak, hal ini berarti tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor pengalaman mengajar tidak memiliki perbedan. Guru dengan pengalaman mengajar kategori senior dan kategori junior sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang rendah, maka tidak dilakukan uji effect size dan uji koefisien determinasi.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 4. Pembahasan Pembahasan hasil analisis data terhadap tiga rumusan masalah dalam penelitian ini, dijabarkan sebagai berikut : 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah Sekolah dasar katholik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta. Data tingkat implementasi tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dianalis menggunakan rumus Sturges dan didapatkan hasil : 10 responden masuk kategori “sangat rendah”, 23 responden masuk kategori “rendah”, 13 responden masuk kategori “cukup”, 5 responden masuk dalam kategori “tinggi”, dan 3 responden masuk dalam kategori “sangat tinggi”. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa secara keseluruhan guru kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta masuk dalam kategori rendah. Tingkat implementasi pembelajaran tematik dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya faktor demografi guru. Rusman (2013: 19) juga menyatakan bahwa guru harus menjadi pribadi yang profesional. Profesionalisme guru merupakan faktor penentu proses pendidikan yang berkualitas. Guru yang profesional akan lebih dapat menjalankan tugas mereka sebagai seorang pendidik dan pengembang kurikulum sehingga dapat melaksanakan pembelajaran tematik dengan baik dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah pembinaan oleh kepala sekolah melalui supervisi. Peter (dalam Supardi,2013) menyatakan bahwa :

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 “Rendahnya motivasi, dan prestasi guru yang mempengaruhi profesi guru tidak terlepas dari rendahnya kontribusi kepala sekolah dalam membina guru di sekolah melalui kegiatan supervisi” Tingkat implementasi pembelajaran tematik, dipengaruhi oleh kinerja guru. Kinerja guru merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum pendidikan. Kinerja guru yang baik akan menghasilkan implementasi yang tinggi begitu sebaliknya. Kinerja guru dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain seperti dukungan kepala sekolah dan lama mengajar. Faktor-faktor tersebut akan dibahas pada pembahasan rumusan masalah kedua dan ketiga. a. Perbedaan Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Faktor Dukungan Kepala Sekolah Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji independent t-test yang mendapatkan hasil Sig.(2-tailed) 0,001 < 0,05. Supardi (2013: 8) menyatakan salah satu kunci sukses pelaksanaan kurikulum adalah guru. Peran guru dalam penyelenggaraan pendidikan sangat dominan terhadap pencapaian kualitas pendidikan. Surya (dalam Supardi: 2013) mengatakan bahwa “dalam tingkatan operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, instruksional, dan eksperensial”

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah pembinaan oleh kepala sekolah melalui supervisi. Peter (dalam Supardi, 2013) menyatakan bahwa: “Rendahnya motivasi, dan prestasi guru yang mempengaruhi profesi guru tidak terlepas dari rendahnya kontribusi kepala sekolah dalam membina guru di sekolah melalui kegiatan supervisi” Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi dukungan kepala sekolah. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru dalam implementasi pembelajaran tematik dipengaruhi oleh dukungan dari kepala sekolah. b. Perbedaan Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Faktor Pengalaman Mengajar Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar. Hal ini dibuktikan dengan uji independent t test yang mendapatkan hasil Sig.(2-tailed) 0,360 > 0,05. Pengalaman mengajar pada hakekatnya merupakan rangkuman dari pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dialami dalam mengajar, sehingga hal-hal yang dialami tersebut telah dikuasainya, baik tentang pengetahuan, ketrampilan maupun nilai-nilai yang menyatu padanya (Widoyoko dalam Yuliyani, 2010). Guru-guru yang berpengalaman di bawah tiga tahun cenderung kurang efektif dalam mengajar (Rice dalam Donald, 2014). Ainley dan Luntley (dalam Donald, 2014) juga menyatakan bahwa guru-guru yang berpengalaman

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 lebih mampu mengatasi apa pun yang terjadi dalam kelas dan menggunakan halhal yang mereka amati untuk menyesuaikan metode pengajaran mereka. Teori-teori yang ada menyatakan bahwa lama mengajar seorang guru menentukan kemampuan dan penguasaannya dalam melakukan pembelajaran. Guru yang mempunyai pengalaman mengajar yang lebih lama mempunyai pengalaman yang lebih banyak tentang pembelajaran. Teori yang ada, bertolak belakang dengan hasil analisis yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar. Barnes (Donald, 2013: 5) mengatakan guru-guru pemula memiliki kecenderungan untuk menerima inovasi dan perubahan dengan lebih mudah. Supardi (2013: 40) juga menyatakan bahwa kinerja guru adalah kemampuan dan keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran yang ditunjukkan oleh indikator-indikator : kemampuan menyusun rencana dan program pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengadakan hubungan antar pribadi, kemampuan melaksanakan penilaian, kemampuan melaksanakan program pengayaan dan kemampuan melaksanakan program remedial. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar. Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa teori yang menunjukkan bahwa pengalaman mengajar tidak berpengaruh terhadap kinerja guru.

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab V dalam penelitian ini membahas tentang kesimpulan, keterbatasan, dan saran. A. Kesimpulan 1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru-guru kelas bawah di SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta, apakah terdapat perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari dukungan kepala sekolah, dan apakah terdapat perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman mengajar guru. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil perhitungan untuk rumusan pertama diketahui bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru-guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta termasuk dalam kriteria rendah. 2. Tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah diketahui bahwa ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katholik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji independent t-test yang mendapatkan hasil Sig.(2-tailed) 0,001 < 0,05. 115

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 3. Tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor pengalaman mengajar diketahui bahwa tidak ada perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi pengalaman mengajar. Hal ini dibuktikan dengan uji independent t test yang mendapatkan hasil Sig.(2-tailed) 0,360 > 0,05. B. Keterbatasan Keterbatasan yang dialami oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga peneliti tidak dapat mengukur kejujuran responden. Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri oleh responden. 2. Penelitian dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan sehingga kesulitan dalam membagi waktu dalam penyebaran kuesioner. 3. Sampel yang dibutuhkan tidak sesuai dengan tabel krecjie, dikarenakan beberapa responden tidak mau menerima dan terdapat beberapa kuesioner yang tidak kembali. 4. Indikator dalam instrument penelitian yang disusun masih bisa dikembangkan lagi. C. Saran Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Instrumen pengambilan data tidak hanya menggunakan kuesioner, namun bisa ditambahkan observasi dan mengumpulkan dokumen RPP.

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 2. Penelitian sebaiknya dilakukan sebelum pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan. 3. Penelitian sebaiknya tidak hanya dilakukan di Kota Yogyakarta, sehingga responden yang didapatkan bisa lebih banyak. 4. Instrumen disusun berdasarkan karakteristik pembelajaran tematik terintegrasi sedangkan beberapa sekolah masih menggunakan kurikulum 2006 yang belum menerapkan pembelajaran tematik terintegrasi. 5. Peneliti berikutnya dapat melakukan lebih detil tentang kualitas kuesioner dengan melakukan analisis faktor.

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Azwar, S. 2005. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cahyaningsih, Wulan Cicilia. Persepsi Guru Terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Status Kepegawaian dan Lama Menjalani Profesi Guru. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. Chairunniza. 2011. Pengaruh Karakteristik Demografi dan Motivasi Kerja terhadap Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Aceh Utara. Jakarta: Universitas Terbuka. Depdiknas. 2006. Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur Balitbang __________. 2008. Laporan hasil diskusi: Kajian kurikulum pendidikan dasar. Jakarta: Puskur Balitbang. Dilek, Dursun. 2002. Using a thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching. Istanbul: Marmara University (Thesis). Djohar. 2006. Pengembangan pendidikan nasional menyongsong masa depan. Yogyakarta: CV. Grafika Indah. Field, Andy. 2009. Discovering statistics using SPSS (Third Edition). Dubai: Oriental Press. 118

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Indrawati. 2009. Model pembelajaran terpadu di sekolah dasar untuk guru SD. Jakarta: PPPPTK IPA (BERMUTU). Jogiyanto. (2008). Pedoman survei kuesioner. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. Krejcie dan Morgan. 1970. Determining sample size for research activities. Penelitian. University of Minnesota. Kunandar, S.Pd., M.Si. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran tematik terpadu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Martono, Nanang. 2010. Statistik Sosial : Teori dan Aplikasi Program SPSS. Yogyakarta: Gava Media Masidjo.1995. Penilian Pencapaian Hasil Belajar di Sekolah.Yogyakarta: Penerbit Kanisius Morrisan. 2012. Metode penelitian survei. Jakarta: PT. Kencana Prenadamedia Mulyasa, H.E. 2010. Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nordstokke. 2011. The operating characteristics od the non parametric Lavene’s Test for equal variances with assessment and evaluation data. Practical assessment, rearch and evaluation. 10 (5, P. 1-8.) Prastowo, Andi. 2013. Pengembangan bahan ajar tematik. Yogyakarta: Diva Press Riduwan. 2008. Dasar-dasar statistika. Bandung : Alfabeta

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Rismiati, Catur. 2012. Teachers’ concerns regarding the implementation of integrated thematic instruction: a study of primary grade teachers in Kanisius Catholic Schoolsin Yogyakarta, Indonesia. Loyola University Chicago. __________. 2014. Pemilu 2014 sebagai wahana pendidikan karakter bangsa menuju masyarakat madani: Sebuah survei pada sikap mahasiswa PGSD di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. Sadri, Ni Wayan.2012. Studi Evaluasi Implementasi Pembelajaran Tematik Pada Sekolah Dasar Gugus I Denpasar Tiimur Di Denpasar.Skripsi Sanaky, Hujair. A.H. 2009. Reformasi pendidikan suatu keharusan untuk memasuki milenium III (Suatu renungan untuk pendidikan Islam). Makalah. Santoso, Singgih. 2012. Aplikasi SPSS pada Statistik Nonparametrik. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo Siregar, Syofian. Statistika deskriptif untuk penelitian: dilengkapi perhitungan manual dan aplikasi SPSS versi 17. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Sugiyono. 2009. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. __________. 2011. Metodologi penelitian kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Supardi. 2013. Kinerja Guru. Jakarta : Rajawali Pers Suyanto dan Hisyam. 2000. Refleksi dan reformasi pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta : Adi Cita Karya Nusa. Trianto. 2012. Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 __________. 2010. Mengembangkan model pembelajaran tematik. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya __________. 2011. Desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini TK/RA/dan anak kelas awal SD/MI. Jakarta : Kencana. Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta : Bumi Aksara Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2006. Pengantar statistika. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Uyanto, Stanislaus S. 2009. Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Yogyakarta: Graha Ilmu Yuliyani, Hana. 2010. Hubungan antara Pengalaman Mengajar dan Motivasi Mengajar dengan Kompetensi Guru Pendidikan Pacasila dan Kewarganegaraan di SMP di Kabupaten Karanganyar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian 122

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2 Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian 128

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3 Expert Judgement 131

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 203

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 204

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 205

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4 Validitas Muka 206

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 207

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 208

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 209

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 210

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 211

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 212

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 213

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 214

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 215

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 216

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5 Data Validitas Implementasi 217

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6 Hasil Validitas Implementasi 218

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7 Data Reliabilitas Implementasi 219

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220 Lampiran 8 Hasil Reliabilitas Implementasi Summary Item Statistics Maximum / Mean Item Means Item Variances Minimum Maximum Range Minimum Variance N of Items 3.623 2.778 4.019 1.241 1.447 .110 24 .805 .434 1.281 .847 2.953 .062 24

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation Alpha if Item Deleted item_1 83.87 127.209 .218 .510 .893 item_2 83.48 120.443 .467 .486 .887 item_3 83.00 126.377 .280 .600 .892 item_4 83.19 117.890 .608 .725 .883 item_5 83.35 119.213 .615 .603 .883 item_6 83.70 123.609 .372 .589 .890 item_7 82.94 128.091 .261 .439 .891 item_8 83.26 120.498 .672 .776 .883 item_10 84.19 147.701 -.612 .792 .917 item_11 83.44 121.006 .597 .705 .884 item_12 83.72 116.242 .610 .737 .883 item_13 83.78 117.384 .684 .844 .881 item_14 83.44 114.516 .726 .781 .880 item_15 83.30 120.137 .623 .685 .884 item_17 82.94 122.846 .598 .718 .885 item_19 82.94 122.204 .515 .550 .886 item_20 83.20 115.260 .745 .751 .879 item_21 83.17 125.349 .353 .661 .890 item_23 83.15 119.563 .719 .833 .882 item_24 83.37 118.049 .589 .843 .884 item_25 83.02 120.547 .674 .777 .883 item_26 83.00 120.604 .657 .782 .883 item_27 83.13 124.832 .406 .589 .889 item_28 83.56 122.855 .529 .751 .886

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9 Data Validitas Dukungan Kepala Sekolah 29 30 31 32 33 34 5 4 4 . 5 5 5 3 5 5 5 4 4 5 4 5 5 5 4 5 4 4 5 5 4 5 5 4 5 4 4 4 5 5 5 3 3 5 3 4 4 . 4 4 4 3 5 3 4 4 4 5 4 4 4 4 5 5 4 3 5 5 5 5 5 4 5 3 5 4 5 5 5 3 4 4 5 4 4 . 5 4 5 3 5 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 5 4 3 5 5 3 3 4 4 5 3 3 2 5 5 5 4 4 4 5 4 4 . 5 4 5 3 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 5 4 3 3 5 5 2 4 3 4 4 4 2 5 5 5 4 4 3 4 4 4 . 5 4 5 3 5 5 4 4 4 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 5 4 5 4 5 3 5 5 5 4 5 3 2 2 4 . 1 4 5 4 3 3 4 4 4 5 5 4 3 4 4 3 3 2 4 1 3 4 3 3 1 4 3 1 5 5 5 5 1 3 total 24 22 24 0 25 25 29 19 28 24 25 24 24 30 27 25 27 26 25 28 23 19 27 26 25 24 26 22 25 22 24 16 30 30 30 23 21 22 222

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 30 31 32 33 34 5 4 5 5 4 4 3 5 2 4 5 2 4 5 5 4 5 3 3 4 5 5 4 2 3 4 4 3 4 3 4 3 4 5 4 2 5 5 3 4 2 4 4 4 5 4 5 3 3 4 4 3 3 4 2 4 4 4 3 4 5 4 3 2 4 4 3 5 4 3 3 3 4 3 3 3 4 2 4 4 4 3 4 5 3 5 3 4 4 4 5 4 5 3 5 3 4 4 3 3 3 5 5 3 4 4 5 3 5 3 4 4 5 4 4 2 3 1 3 3 3 3 4 2 5 4 4 3 4 2 4 5 2 3 4 3 1 4 total 22 19 21 23 21 21 18 24 14 26 27 21 19 26 27 21 27 15 22 24 24 25 24 223

(243) 224 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 10 Hasil Validitas Dukungan Kepala Sekolah Correlations total total Pearson Correlation KS1 1 .661 Sig. (2-tailed) N KS1 Pearson Correlation 188 .661 ** Sig. (2-tailed) .000 N 188 KS2 Pearson Correlation KS2 .557 ** ** 188 188 183 ** ** ** ** .012 1 .277 .613 .495 .580 .000 .000 .000 .000 .873 188 .277 ** 188 .613 ** 188 188 188 188 ** ** ** 1 .279 .378 .279 188 .279 ** 188 .000 .000 N 188 188 188 188 ** ** ** 188 188 ** ** 1 .726 .596 .000 .495 183 .182 * .000 .000 .000 .013 Sig. (2-tailed) ** ** 188 188 .753 ** 188 N KS4 Pearson Correlation ** 188 .000 ** ** .000 .000 .000 .000 .000 .000 .750 ** .557 .750 .753 .729 .539 .000 Sig. (2-tailed) KS3 Pearson Correlation KS3 KS4 KS5 KS6 183 .162 * .000 .000 .028 .378 .726 188 188 1 .642 ** 183 .163 * Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 N 188 188 188 188 188 ** ** ** 1 .140 .058 KS5 Pearson Correlation .729 ** .580 ** .000 .028 .279 .596 .642 188 183 Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 N 188 188 188 188 188 188 183 ** .012 .182 .162 .163 * * * .140 1 Sig. (2-tailed) .000 .873 .013 .028 .028 .058 N 183 183 183 KS6 Pearson Correlation .539 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 183 183 183 183

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 11 Hasil Reliabilitas Dukungan Kepala Sekolah Case Processing Summary N Cases Valid % 183 97.3 5 2.7 188 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .717 N of Items .778 6 Item Statistics Mean Std. Deviation N KS1 4.40 .502 183 KS2 4.14 .478 183 KS3 4.21 .481 183 KS4 4.17 .494 183 KS5 4.31 .507 183 KS6 3.73 .872 183 Inter-Item Correlation Matrix KS1 KS2 KS3 KS4 KS5 KS6 KS1 1.000 .275 .611 .493 .575 .012 KS2 .275 1.000 .282 .387 .280 .182 KS3 .611 .282 1.000 .725 .594 .162 KS4 .493 .387 .725 1.000 .640 .163 KS5 .575 .280 .594 .640 1.000 .140 KS6 .012 .182 .162 .163 .140 1.000 225

(245) 226 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Summary Item Statistics Maximum / Mean Minimum Maximum Range Item Means N of Minimum Variance Items 4.158 3.727 4.399 .672 1.180 .054 6 .329 .228 .760 .532 3.327 .045 6 .098 .005 .172 .167 33.168 .002 6 .368 .012 .725 .713 61.108 .048 6 Item Variances Inter-Item Covariances Inter-Item Correlations Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation Alpha if Item Deleted KS1 20.55 3.677 .506 .463 .665 KS2 20.81 3.943 .386 .179 .697 KS3 20.74 3.478 .666 .620 .624 KS4 20.78 3.428 .674 .619 .619 KS5 20.64 3.483 .614 .506 .634 KS6 21.22 3.581 .171 .070 .826 Scale Statistics Mean 24.95 Variance 4.904 Std. Deviation 2.215 N of Items 6

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 12 Data Asli 227

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 13 Hasil Distribusi Frekuensi Implementasi Tematik Perhitungan dengan daftar frekuensi: Jarak atau rentangan (R) = data tertinggi – data terendah = 109 - 79 = 30 Panjang kelas interval (K) = = =6 228

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229 Lampiran 14 Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Kategori 1 Kolmogorov Smirnov Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan 36 88.08 4.358 kepala sekolah One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah N Normal Parameters 36 a Most Extreme Differences Mean 88.08 Std. Deviation 4.358 Absolute .101 Positive .101 Negative -.066 Kolmogorov-Smirnov Z .606 Asymp. Sig. (2-tailed) .856 a. Test distribution is Normal. 79 98

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PPlot Case Processing Summary implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Series or Sequence Length 38 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 2 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Normal Distribution Location 88.08 Scale 4.358 The cases are unweighted. 230

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 231

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frequencies Statistics implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah N Valid Missing 36 2 implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Cumulative Frequency Valid Total Valid Percent Percent 79 1 2.6 2.8 2.8 80 1 2.6 2.8 5.6 83 3 7.9 8.3 13.9 84 3 7.9 8.3 22.2 85 3 7.9 8.3 30.6 86 2 5.3 5.6 36.1 87 3 7.9 8.3 44.4 88 3 7.9 8.3 52.8 89 4 10.5 11.1 63.9 90 3 7.9 8.3 72.2 91 2 5.3 5.6 77.8 92 5 13.2 13.9 91.7 96 1 2.6 2.8 94.4 97 1 2.6 2.8 97.2 98 1 2.6 2.8 100.0 36 94.7 100.0 2 5.3 38 100.0 Total Missing Percent System 232

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234 Lampiran 15 Uji Normalitas Dukungan Kepala Sekolah Kategori 2 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan 16 95.75 7.532 kepala sekolah One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah N Normal Parameters 16 a Most Extreme Differences Mean 95.75 Std. Deviation 7.532 Absolute .122 Positive .102 Negative -.122 Kolmogorov-Smirnov Z .487 Asymp. Sig. (2-tailed) .972 a. Test distribution is Normal. 80 109

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PPlot Case Processing Summary implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Series or Sequence Length 16 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Normal Distribution Location 95.75 Scale 7.532 The cases are unweighted. 235

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 236

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frequencies Statistics implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah N Valid 16 Missing 0 implementasi pembelajaran tematik terhadap dukungan kepala sekolah Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 80 1 6.2 6.2 6.2 85 1 6.2 6.2 12.5 88 1 6.2 6.2 18.8 92 2 12.5 12.5 31.2 93 1 6.2 6.2 37.5 95 3 18.8 18.8 56.2 99 2 12.5 12.5 68.8 100 1 6.2 6.2 75.0 102 1 6.2 6.2 81.2 104 2 12.5 12.5 93.8 109 1 6.2 6.2 100.0 Total 16 100.0 100.0 237

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 238

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 239 Lampiran 16 Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Kategori 1 Descriptive Statistics N tingkat implementasi Mean 36 pembelajaran tematik Std. Deviation 91.00 Minimum 6.594 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test tingkat implementasi pembelajaran tematik N Normal Parameters 36 a Most Extreme Differences Mean 91.00 Std. Deviation 6.594 Absolute .162 Positive .162 Negative -.061 Kolmogorov-Smirnov Z .972 Asymp. Sig. (2-tailed) .302 a. Test distribution is Normal. 80 Maximum 109

(259) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PPlot Case Processing Summary tingkat implementasi pembelajaran tematik Series or Sequence Length 36 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters tingkat implementasi pembelajaran tematik Normal Distribution Location 91.00 Scale 6.594 The cases are unweighted. 240

(260) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 241

(261) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frequencies Statistics tingkat implementasi pembelajaran tematik N Valid 36 Missing 0 tingkat implementasi pembelajaran tematik Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 80 2 5.6 5.6 5.6 83 1 2.8 2.8 8.3 84 2 5.6 5.6 13.9 85 2 5.6 5.6 19.4 86 1 2.8 2.8 22.2 87 3 8.3 8.3 30.6 88 2 5.6 5.6 36.1 89 4 11.1 11.1 47.2 90 2 5.6 5.6 52.8 91 2 5.6 5.6 58.3 92 5 13.9 13.9 72.2 93 1 2.8 2.8 75.0 95 2 5.6 5.6 80.6 96 1 2.8 2.8 83.3 99 2 5.6 5.6 88.9 100 1 2.8 2.8 91.7 104 2 5.6 5.6 97.2 109 1 2.8 2.8 100.0 Total 36 100.0 100.0 242

(262) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 243

(263) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 244 Lampiran 17 Uji Normalitas Pengalaman Mengajar Kategori 2 Descriptive Statistics N tingkat implementasi Mean 16 pembelajaran tematik Std. Deviation 89.19 Minimum 6.369 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test tingkat implementasi pembelajaran tematik N Normal Parameters 16 a Most Extreme Differences Mean 89.19 Std. Deviation 6.369 Absolute .136 Positive .136 Negative -.103 Kolmogorov-Smirnov Z .546 Asymp. Sig. (2-tailed) .927 a. Test distribution is Normal. 79 Maximum 102

(264) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PPlot Case Processing Summary tingkat implementasi pembelajaran tematik Series or Sequence Length 16 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters tingkat implementasi pembelajaran tematik Normal Distribution Location 89.19 Scale 6.369 The cases are unweighted. 245

(265) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 246

(266) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frequencies Statistics tingkat implementasi pembelajaran tematik N Valid 16 Missing 0 tingkat implementasi pembelajaran tematik Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 79 1 6.2 6.2 6.2 83 2 12.5 12.5 18.8 84 1 6.2 6.2 25.0 85 2 12.5 12.5 37.5 86 1 6.2 6.2 43.8 88 2 12.5 12.5 56.2 90 1 6.2 6.2 62.5 92 2 12.5 12.5 75.0 95 1 6.2 6.2 81.2 97 1 6.2 6.2 87.5 98 1 6.2 6.2 93.8 102 1 6.2 6.2 100.0 Total 16 100.0 100.0 247

(267) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 248

(268) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 249 Lampiran 18 Hasil Uji Independent Sample T Test Dukungan Kepala Sekolah Group Statistics duk_kep total_imp N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 18-24 38 94.97 4.624 .750 25-31 16 103.81 7.952 1.988 Independent Samples Test total_imp Equal variances Equal variances assumed Levene's Test for Equality of F Variances t-test for Equality of Means not assumed 5.510 Sig. .023 t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of Lowe the Difference r Uppe r -5.128 -4.160 52 19.415 .000 .001 -8.839 -8.839 1.724 2.125 -12.298 -13.279 -5.380 -4.398

(269) 250 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 19 Hasil Uji Independent Sample T Test Pengalaman Mengajar Group Statistics peng_men g total_impl N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 2-160 36 91.00 6.594 1.099 161-319 16 89.19 6.369 1.592 Independent Samples Test total_impl Equal variances Levene's Test for Equality of F Variances t-test for Equality of Means Equal variances not assumed assumed .048 Sig. .827 t .924 .937 50 29.800 .360 .356 Mean Difference 1.812 1.812 Std. Error Difference 1.961 1.935 df Sig. (2-tailed) 95% Confidence Interval of Lower -2.127 -2.140 the Difference Upper 5.752 5.765

(270) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 20 Tabel r Product Moment 251

(271) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 21 Tabel Krejcie 252

(272) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 253 Lampiran 22 Kuesioner Penelitian Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu. Hormat saya, Koordinator peneliti survei Dimas Prasetyo Aji (Phone 087739301502, Email ajidimas56@yahoo.com) Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251. emanuelacatur@gmail.com Phone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

(273) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 254 BAGIAN I. Skala Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataanpernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. Pernyataan Skala 1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 1 2 3 4 5 2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. 1 2 3 4 5 3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. 1 2 3 4 5 4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. 1 2 3 4 5 5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. 1 2 3 4 5 6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. 1 2 3 4 5 7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa) 1 2 3 4 5 8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SDan secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn,

(274) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 255 IPA dan IPS). 10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 1 2 3 4 5 14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. 1 2 3 4 5 15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 1 2 3 4 5 17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. 1 2 3 4 5 18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. 1 2 3 4 5 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5 20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para 1 2 3 4 5 12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

(275) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 256 siswa. 21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. 1 2 3 4 5 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 25. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. 1 2 3 4 5 26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. 1 2 3 4 5 27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. 1 2 3 4 5 28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. 1 2 3 4 5 Bagian II. Dukungan Administratif pada Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataan-pernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. 29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan 1 2 3 4 5

(276) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 257 pendekatan Pembelajaran Tematik. 30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat. 1 2 3 4 5 Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini. 35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun. 36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________ 37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun. 38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam.

(277) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 258 39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa. 40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini! A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK) B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah) D. Sarjana D2-PGSD E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) F. Master (S2) G. Lainnya 41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.) B. Pegawai Tetap Yayasan C. Pegawai Negeri 42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang. 43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013? A. Ya B. Tidak ***Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

(278) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 23 Contoh Kuesioner yang sudah diisi 259

(279) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 260

(280) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 261

(281) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 262

(282) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 24 Data Coding No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Sekolah SD PANGUDI LUHUR 1 SD PANGUDI LUHUR 2 SD PANGUDI LUHUR 3 SD PANGUDI LUHUR 4 SD BHINNEKA TUNGGAL IKA YOGYAKARTA SD BOPKRI GONDOLAYU SD BUDYA WACANA 1 SD BUDYA WACANA 2 SD TAMANSISWA JETIS SD TARAKANITA BUMIJO 1 SD TARAKANITA BUMIJO 2 SD Tumbuh 1 SD Tumbuh 2 SD Tumbuh 3 SD BOPKRI BINTARAN SD TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN TAMANSISWA SD BOPKRI KARANGWARU 2 SD KRISTEN KALAM KUDUS SD PIRI NITIKAN YOGYAKARTA SD BOPKRI WIROBRAJAN SD MARSUDIRINI 1 SD MARSUDIRINI 2 SD Netral A SD Netral D Kode guru kelas 1 A.1.1 A.1.2 A.1.3 A.1.4 B.1 Kode guru kelas II A.2.1 A.2.2 A.2.3 A.2.4 B.2 Guru kelas III A.3.1 A3.2 A.3.2 A.3.4 B.3 C.1 D.1.1 D.1.2 E.1 F.1.1 F.1.2 G.1.1 G.1.2 G.1.3 H.1 I.1 C.2 D.2.1 D.2.2 E.2 F.2.1 F.2.2 G.2.1 G.2.2 G.2.3 C.3 D.3.1 D.3.2 E.3 F.3.1 F.3.2 G.3.1 G.3.2 G.3.3 I.2 I.3 J.1 K.1 L.1 M.1 N.1.1 N.1.2 O.1.1 O.1.2 J.2 K.2 L.2 M.2 N.2.1 N.2.2 O.2.1 O.2.2 J.3 K.3 L.3 M.3 N.3.1 N.3.2 O.3.1 O.2.3 263

(283) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 264 Lampiran 25 Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner Responden Sebar Tidak kembali Ditolak Kembali SD Pangudi Luhur 3 SD BHINNEKA TUNGGAL IKA YOGYAKARTA 12 12 7 - 5 8 8 1 - 7 SD BOPKRI GONDOLAYU 6 6 2 - 4 SD BUDYA WACANA 6 - 6 - SD TAMANSISWA JETIS 3 3 - - 3 SD TARAKANITA BUMIJO 12 12 - - 12 SD Tumbuh 1 8 8 - 8 - SD Tumbuh 2 8 8 - 8 - SD Tumbuh 3 8 8 3 - 5 SD BOPKRI BINTARAN SD TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN TAMANSISWA 1 1 - 1 3 3 1 - 2 SD BOPKRI KARANGWARU 2 3 3 - - 3 SD KRISTEN KALAM KUDUS 9 - 9 - SD PIRI NITIKAN YOGYAKARTA 3 3 - 3 - SD BOPKRI WIROBRAJAN 3 3 - - 3 SD MARSUDIRINI 8 8 8 - SD Netral A 7 7 - - 7 SD Netral D 3 3 - - 3 111 96 Nama Sekolah Jumlah 55

(284) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 265 Lampiran 26 Biodata Peneliti BIODATA Lucia Dian Rosita dilahirkan di Bantul Yogyakarta pada tanggal 13 Desember 1992. Peneliti merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bernadus Sumardiman dan Bernadetta Sumarsilah. Pendidikan yang pernah ditempuh yaitu: SD Kanisius Kanutan lulus tahun 2004; SMP Kanisius Bambanglipuro lulus 2007 ; SMA Stella Duce Bantul lulus 2010. Peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma semenjak tahun 2010-2014, jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama perkuliahan, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan. Diantaranya PPKM-1, PPKM-2, yang diselenggarakan oleh Universitas dimana peneliti berperan sebagai peserta wajib dalam kegiatan tersebut. Kegiatan selanjutnya yang diikuti oleh peneliti adalah seminar diseminasi hasil (PHK), seminar sosok guru terbaikku, seminar dan whorkshop permainan tradisional, KMD yang merupakan khursus mahir dasar kepramukaan. Masa pendidikan diakhiri dengan menyusun skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar afiliasi Katolik Kristen Dan Nasional Di Kota Yogyakarta”.

(285)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Perbedaan persepsi guru terhadap implementasi kurikulum 2013 ditinjau dari pengalaman guru mengajar dan jenjang pendidikan guru : survei pada guru-guru di SMA yang telah mengimplementasikan kurikulum 2013 di Kabupaten Bantul.
2
15
199
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
2
147
Perbandingan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas XI SMA yang dikelola oleh dua orang guru - USD Repository
0
1
161
Teknik pembelajaran menulis bagi siswa kelas II SLB/C Bakti Siwi Sleman Yogyakarta - USD Repository
0
11
113
Persepsi guru terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, golongan jabatan, masa kerja, dan usia guru : survei guru-guru Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
191
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Representasi materi pembelajaran fisika oleh dua orang guru fisika di dua sma Yogyakarta dan pengetahuan yang diduga mendasarinya - USD Repository
0
7
226
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
321
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
333
Pengetahuan guru fisika tentang strategi mengajar dalam pembelajaran fisika yang dimiliki oleh 3 orang guru fisika SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
20
380
Show more