Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
333
10 months ago
Preview
Full text

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK

OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

  

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  

Disusun Oleh:

Septyawati Ria Utami

101134139

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2014

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  i

  

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK

OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  

Disusun Oleh:

Septyawati Ria Utami

101134139

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2014

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSEMBAHAN

  iv

  Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

  1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai, memberkati, dan membimbing dalam hidupku.

  2. Almamater tercinta, Universitas Sanata Dharma.

  3. Ibu Catur Rismiati dan Ibu Andri Anugrahana yang menjadi pembimbing penyelesaian skripsi ini.

  4. Ayahku Abdul Khabib yang selalu memberikan semangat dan doa, ibuku Surwanti yang telah menemani, menyemangati, dan mengingatkanku, terimakasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang kalian untukku.

  5. Adikku Yusak Dwi Kurniawan si troublemaker.

  6. Surya Efrata yang selalu memberikan semangat, perhatian, serta bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  7. Sahabat-sahabatku Yohana Nicoli Melina, Chrisna Murti Irawan, dan Karolina Rina Adventin yang selalu mendukung dan memberikan semangat.

  8. Teman-teman payung, Deo, Aji, Anis, Sita, Tessa, Amel, dan Dian yang membantu dan mendukung menyelesaikan skripsi ini bersama-sama.

  9. Teman-teman Kelas A PGSD USD 2010 yang memberikan dukungan serta semangat.

  10. Guru-guru kelas bawah SD Negeri se-Kota Yogyakarta yang bersedia membantu pelaksanaan penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • Theodore Roosevelt- Banyak kegagalan dalam hidup, mereka tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
  • Thomas Edison-

  v

  

MOTTO

Do what you can, with what you have, where you are.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  vii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK

OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

  Oleh: Septyawati Ria Utami

  NIM: 101134139 Sistem pendidikan nasional di Indonesia terus mengalami perubahan agar kualitas pendidikan semakin baik. Perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia terjadi pada penyempurnaan kurikulum. Kurikulum 2013 menjadi salah satu bukti dari penyempurnaan kurikulum. Proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) seberapa tinggi tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta, (2) perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru, dan (3) perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan cross sectional desain melalui metode survei. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 328 guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta. Sampel yang digunakan berjumlah 175 guru. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purpossive random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru-guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta termasuk dalam kategori tinggi, 2) tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru (H(3) = 3,797) dan dengan = 0,284; dan 3) tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru U = 2904,500, z = -1,400 dan dengan = 0, 162.

  Kata kunci: Kurikulum, pembelajaran tematik viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  

IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC INSTRUCTION BY LOWER

GRADE TEACHERS: A SURVEY TO ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS

IN YOGYAKARTA

  By: Septyawati Ria Utami

  101134139 The national education system in Indonesia has changing in order to get a good education quality. The changing of education system in Indonesia was completion of the curriculum. Curriculum 2013 was the evidence of the completion curriculum. The process in the class which apply the Curriculum 2013 was uses a thematic instructional. The purposes of the research were to (1) know the implementation level of thematic instruction by lower grade teachers of elementary schools in Yogyakarta, (2) know the differences of the implementation level of thematic instruction lower grade teachers of elementary schools in Yogyakarta seen from the teachers’ educational background and (3) know the differences of the implementation level of thematic instruction by lower grade teachers of elementary schools in Yogyakarta seen from teachers’ employment status.

  This non-experimental research used cross sectional design in survey method. The population included 328 lower grade teachers of elementary schools in Yogyakarta. The sample used was 175 teachers. Sampling technique used in this research was purposive random sampling. The data collection used was questionnaire.

  The results of the research showed that 1) the implementation level of thematic instruction lower grade teachers of elementary schools in Yogyakarta was moderate (M = 97,96 SD = 6,031); 2) the implementation level of the thematic instructional differed according to the teacher s’ educational background (H(5)=3,797) and <

  0,05 which = 0,284; 3) the implementation level of the thematic instructional was not differed according to the t eachers’ employment status U = 2904,500, z = -1,400 and > 0,05 which = 0,162.

  Keywords: Curriculum, Thematic instructional ix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Puji dan syukur kepada Tuhan atas segala berkat, rahmat, dan penyertaan-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Sebuah Survei bagi Guru- guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta

  ”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan program studi S-1 PGSD Universitas Sanata Dharma serta dapat bermanfaat bagi semua pihak. Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Peneliti berterima kasih kepada:

  1. Tuhan Yesus Kristus yang telah membimbing dan memberkati segala usaha dalam penyelesaian skripsi ini.

  2. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  3. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., SS., BST., M.A selaku Ketua Program Studi S-1 PGSD Universitas Sanata Dharma.

  4. Ibu E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D selaku Wakil Program Studi S-1 PGSD Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing I yang telah dengan sabar membimbing dan membantu dalam penyusunan skripsi ini.

  5. Ibu Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dan membantu penyusunan skripsi ini.

  6. Ibu Briggita Erlita Tri A, S.Psi., M.Psi selaku dosen penguji III yang telah bersedia menjadi dosen penguji untuk penelitian ini.

  7. Semua dosen dan karyawan PGSD yang tidak dapat disebutkan satu per satu dan sudah banyak membantu.

  8. Semua guru SD Negeri di Kota Yogyakarta yang telah bersedia membantu dalam pelaksanaan kegiatan penelitian.

  9. Mbak Eti Astuti yang telah membantu serta memberikan dukungan.

  10. Bapak, Ibu, Yusak, Simbah, Pakdhe, Budhe, Oom, dan Bulik yang selalu memberikan dukungan dan doa. x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  xi

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i

  

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... iv

MOTTO ................................................................................................................. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................. vii

ABSTRAK ............................................................................................................. viii

ABSTRACT ............................................................................................................ ix

KATA PENGANTAR ........................................................................................... xi

DAFTAR ISI .......................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ................................................................................................. xiii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xv

  

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 B. Batasan Masalah ....................................................................................... 6 C. Rumusan Masalah .................................................................................... 6 D. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 7 E. Manfaat Penelitian ................................................................................... 7 F. Definisi Operasional ................................................................................. 8

BAB II KAJIAN TEORI ...................................................................................... 9

A. Tinjauan Teoritik ...................................................................................... 9

  1. Reformasi Pendidikan secara Global ................................................. 9

  2. Reformasi Pendidikan di Indonesia ................................................... 10

  3. Reformasi Kurikulum di Indonesia .................................................... 12

  4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ............ 25

  5. Pembelajaran Terpadu ........................................................................ 33

  6. Pembelajaran Tematik ........................................................................ 40

  7. Implikasi Pembelajaran Tematik ........................................................ 46

  8. Karakteristik Pembelajaran Tematik .................................................. 58

  9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Reformasi .............. 60

  B. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................. 64

  C. Kerangka Berpikir .................................................................................... 69

  D. Hipotesis Penelitian .................................................................................. 70

  

BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................... 71

A. Jenis dan Desain Penelitian ...................................................................... 71 B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................. 72 C. Variabel Penelitian ................................................................................... 73

  1. Variabel bebas (independent variable) .............................................. 73

  2. Variabel terikat (dependent variable) ................................................ 73 xii

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  D. Populasi dan Sampel ................................................................................ 73

  E. Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 74

  F. Instrumen Penelitian ................................................................................. 75

  G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ........................................................ 80

  a. Validitas ............................................................................................. 80

  1. Validitas isi (content validity) ...................................................... 81

  2. Validitas muka (face validity) ...................................................... 91

  3. Validitas konstruk (construct validity) ......................................... 93

  b. Reliabilitas ......................................................................................... 96

  H. Prosedur Analisis Data ............................................................................. 98

  1. Menentukan Hipotesis Statistik .......................................................... 98

  2. Pengelolaan Data ................................................................................ 100

  3. Menganalisis Data Deskriptif ............................................................. 103

  4. Menentukan Taraf Signifikansi .......................................................... 104

  5. Menguji Asumsi Klasik ..................................................................... 104

  6. Uji Hipotesis ...................................................................................... 110

  I. Jadwal Penelitian ...................................................................................... 116

  

BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............. 117

A. Deskripsi Penelitian ................................................................................. 117 B. Tingkat Pengembalian Kuesioner ............................................................ 118 C. Hasil Penelitian ........................................................................................ 118 D. Pembahasan .............................................................................................. 143

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 149

A. Kesimpulan .............................................................................................. 149 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................ 150 C. Saran ......................................................................................................... 150

DAFTAR REFERENSI ........................................................................................ 151

  xiii

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keunggulan KBK dengan Kurikulum 1994 .......................................... 17Tabel 2.2 Perubahan Kurikulum di Indonesia ...................................................... 24Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 .......................................... 27Tabel 2.4 Perbedaan Esensial Kurikulum SD ....................................................... 31Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik ......................................................... 41Tabel 3.1 Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif ............................................ 76Tabel 3.2 Sebaran Item Positif dan Item Negatif .................................................. 77Tabel 3.3 Indikator Kuesioner .............................................................................. 79Tabel 3.4 Kriteria Revisi Pernyataan ................................................................... 81Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang

  Berpusat pada Siswa ............................................................................. 82

Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman

  Langsung dalam Belajar ....................................................................... 83

Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap

  Mata Pelajaran tidak Begitu Jelas ........................................................ 85

Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang

  Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran ..................................... 86

Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement Indikator

  Pembelajaran Bersifat Fleksibel ........................................................... 87

Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang

  sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa .......................................... 89

Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil

  Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa ............................................ 90

Tabel 3.12 Hasil Validitas Muka ............................................................................ 92Tabel 3.13 Hasil Validitas Konstruk ....................................................................... 95Tabel 3.14 Koefisien Reliabilitas ............................................................................ 97Tabel 3.15 Hasil Reliabilitas ................................................................................... 97Tabel 3.16 Contoh Coding Data ............................................................................. 100Tabel 3.17 Jadwal Penelitian .................................................................................. 116Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval ......................................................................... 119Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi ..................................................... 120Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov S

  Latar Belakang Pendidikan Guru ......................................................... 121

Tabel 4.4 Uji Normalitas Shapiro Wilk ................................................................. 122Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Homogenitas ................................................................ 132Tabel 4.6 Hasil Uji Kruskal Wallis Faktor Demografi

  ......................................................... 134

  Latar Belakang Pendidikan Guru

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov

  Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian .................................................................. 135

Tabel 4.8 Uji Normalitas Shapiro Wilk ................................................................. 136 xiv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel 4.9 Tabel Hasil Uji Homogenitas ................................................................ 141Tabel 4.10 Hasil Uji Mann Whitney Faktor Demografi

  Status Kepegawaian Guru .................................................................... 143

  xv

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan .................................................... 68Gambar 3.1 Desain Penelitian ............................................................................. 72Gambar 3.2 Rumus Product Moment ................................................................... 94Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach .................................................... 96Gambar 3.4 Rumus Menghitung Jumlah Kelas .................................................... 103Gambar 3.5 Rumus Menghitung Panjang Kelas Interval ..................................... 103Gambar 3.6 Rumus Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov ................................... 107

  Gambar 3.7

  Rumus Lavene’s Test ........................................................................ 109

Gambar 3.8 Rumus Uji Kruskall Wallis ............................................................... 111Gambar 3.9 Rumus Effect Size .............................................................................. 112Gambar 3.10 Rumus Koefisien Determinasi .......................................................... 113Gambar 3.11 Rumus Mann Whitney ....................................................................... 114Gambar 4.1 Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data

   Latar Belakang Pendidikan SPG ...................................................... 124

Gambar 4.2 Visualisasi Histogram Uji Normalitas

   Data Latar Belakang Pendidikan SPG ............................................. 125

Gambar 4.3 Visualisasi P-P Plot Data Latar Belakang Pendidikan

   Sarjana non-PGSD ........................................................................... 126

Gambar 4.4 Visualisasi Histogram Data Latar Belakang Pendidikan

   Sarjana non-PGSD ........................................................................... 127

Gambar 4.5 Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang

   Pendidikan Sarjana D2 PGSD ......................................................... 128

Gambar 4.6 Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data

   Latar Belakang Pendidikan Sarjana D2 PGSD ............................... 129

Gambar 4.7 Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas

   Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana PGSD ............................ 130

Gambar 4.8 Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data

   Latar Belakang Pendidikan Sarjana PGSD ..................................... 131

Gambar 4.9 Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Status

   Pegawai tidak Tetap Yayasan ........................................................... 137

Gambar 4.10 Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Status Pegawai tidak

  Tetap Yayasan ................................................................................... 138

Gambar 4.11 Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data

  Status Pegawai Negeri ...................................................................... 139

Gambar 4.12 Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data

  Status Pegawai Negeri ...................................................................... 140

  xvi

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian dan Surat Telah Melakukan Penelitian .......... 155 Lampiran 2 Expert Judgement ............................................................................ 159 Lampiran 3 Validitas Muka ................................................................................ 245 Lampiran 4 Data Validitas .................................................................................. 256 Lampiran 5 Hasil Validitas ................................................................................. 258 Lampiran 6 Data Reliabilitas .............................................................................. 259 Lampiran 7 Hasil Reliabilitas ............................................................................. 261 Lampiran 8 Data Asli ......................................................................................... 263 Lampiran 9 Hasil Perhitungan Sturges ............................................................... 269 Lampiran 10 Hasil Uji Normalitas Latar Belakang Pendidikan ........................... 270 Lampiran 11 Hasil Uji Homogenitas Latar Belakang Pendidikan ....................... 287 Lampiran 12 Hasil Uji Kruskall Wallis Latar Belakang Pendidikan .................... 288 Lampiran 13 Hasil Uji Normalitas Status Kepegawaian ...................................... 289 Lampiran 14 Hasil Uji Homogenitas Status Kepegawaian ................................... 298 Lampiran 15 Hasil Uji Mann Whitney Status Kepegawaian ................................ 299 Lampiran 16 Tabel Krejcie .................................................................................... 300 Lampiran 17 Tabel r .............................................................................................. 301 Lampiran 18 Kuesioner Penelitian Sebelum dan Sesudah direvisi ....................... 302 Lampiran 19 Contoh Kuesioner yang sudah diisi ................................................. 308 Lampiran 20 Tabel Pengembalian Kuesioner ....................................................... 313

  

BIODATA .............................................................................................................. 315

  xvii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN Bab I akan membahas enam bagian pendahuluan dari penelitian ini. Enam

  bagian tersebut yaitu latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, definisi operasional, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

A. Latar Belakang Masalah

  Dictionary of Psychology (dalam Syah, 2002: 11) memaknai pendidikan

  sebagai “The institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes, etc.

  ” Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifat kelembagaan dimana dalam kegiatan tersebut dapat menyempurnakan atau membentuk perkembangan individu dalam hal pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya. Pengetahuan, kebiasaan, dan sikap merupakan hal yang saling terkait dimana ketiganya saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Setiap individu tentu akan mengalami perkembangan ataupun perubahan dalam pengetahuan, kebiasaan, atau sikapnya. Tidak hanya manusia saja yang mengalami perubahan dan perkembangan, suatu negara pun juga akan mengalami sebuah perubahan dan perkembangan. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, telah melakukan banyak perubahan atau reformasi, salah satunya dalam bidang pendidikan (Kemendiknas, 2010: 1).

  Trianto (2012: 12) menyebutkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 meletakkan sistem pendidikan nasional di Indonesia sebagai sistem yang mampu meningkatkan iman dan takwa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan

  2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas tidak ditinjau dari pengetahuan yang luas saja, namun juga ditinjau dari iman, taqwa, serta akhlak. Trianto (2012: 12) mengemukakan bahwa terdapat dua cara untuk mewujudkan tujuan sistem pendidikan nasional di Indonesia. Pertama, melalui implementasi pendidikan desentralisasi pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang tersebut mengalami perubahan menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta dengan peraturan pelaksanaannya. Kedua, melalui penyempurnaan kurikulum dengan adanya pembaharuan kurikulum yang telah dilakukan berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan peraturan pelaksanaannya dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  Terdapat dua landasan hukum yang berpengaruh pada perubahan kebijaksanaan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik. Landasan hukum tersebut adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. Perubahan kebijaksanaan pengelolaan pendidikan tersebut juga berpengaruh pada penyempurnaan kurikulum di jenjang sekolah dasar dan menengah. Dikti (2012: 47) menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan nasional di Indonesia telah mengalami beberapa kali penyempurnaan yaitu pada tahun 1945, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004, dan 2006. Seiring

  3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berjalannya waktu, kurikulum 2006 juga mengalami penyempurnaan yaitu kurikulum 2013.

  Mulyasa (2013: 163-164) menjelaskan bahwa melalui lahirnya Kurikulum 2013 diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang produktif, kreatif, dan inovatif karena kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi. Kurikulum 2013 diharapkan tidak hanya mengutamakan kognitif saja namun juga dapat membentuk karakter siswa melalui proses pembelajaran. Misalnya, dalam proses pembelajaran siswa diminta untuk bekerja kelompok, tentu saja kerjasama antar siswa dalam satu kelompok sangat dibutuhkan. Kemampuan setiap siswa tentu berbeda, oleh karena itu siswa yang merasa mempunyai pengetahuan lebih dapat berbagi pengetahuan yang ia miliki dengan teman dalam satu kelompok. Ketika siswa sudah dapat berkomunikasi dengan baik, maka siswa juga telah berhasil bersosialisasi. Kurikulum 2013 disajikan melalui pembelajaran tematik.

  Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang mengaitkan beberapa mata pelajaran dengan menggunakan tema tertentu sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa (Poerwodarminto dalam Sudrajat, 2008). Pengalaman-pengalaman tersebut tentunya akan sangat membantu siswa dalam membentuk pengetahuan baru yang akan atau sedang dipelajari. Pengetahuan siswa akan diperoleh secara utuh apabila siswa dapat aktif dan kreatif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebelum diterapkannya pembelajaran tematik di sekolah dasar, pembelajaran yang dilaksanakan masih berdiri sebagai satu mata pelajaran, belum terlihat adanya kesatuan di setiap mata pelajaran.

  4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) (dalam Sudrajat, 2008: 6) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik sesuai untuk siswa Sekolah Dasar (SD) sebab pembelajaran tematik menekankan adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas sehingga diharapkan siswa mampu mendapatkan pengalaman langsung dan terlatih sejak dini memperoleh pengetahuan secara mandiri. Setelah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan, siswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep yang sedang dipelajari serta mampu mengaitkannya dengan konsep-konsep lain yang telah dipahaminya. Secara umum, Piaget (dalam Trianto, 2012: 70-71) menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.

  Pembelajaran tematik juga menekankan pada implementasi konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Kebermaknaan belajar siswa dipengaruhi oleh cara guru mengemas dan merancang pengalaman belajar bagi siswa. Pengalaman belajar siswa yang mampu menunjukkan kaitannya dengan konsep- konsep yang sedang dipelajari akan menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.

  Kaitan konsep-konsep tersebut akan membentuk sebuah skema pengetahuan sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat utuh dan bulat. Penerapan pembelajaran tematik diterapkan untuk siswa sekolah dasar karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang menyeluruh (holistik).

  Pembelajaran tematik di kelas dapat berjalan dengan efektif apabila guru dapat menyusun rencana atau rancangan pembelajaran yang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional di Indonesia, hanya terdapat

  5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  13% guru yang mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik (Depdiknas, 2008). Fullan (dalam Rismiati 2012) mengatakan bahwa terdapat dua masalah utama yang dihadapi oleh sekolah, salah satunya adalah fragmentasi dan beban berlebih. Fragmentasi yang dimaksud berupa ketidakpastian dan ketidakstabilan lingkungan sekolah. Sekolah juga memiliki tambahan tanggung jawab yaitu dalam perubahan-perubahan yang tidak diperlukan dalam kebijakan dan penerapan. Tambahan tanggung jawab tersebut menjadi beban lebih bagi sekolah. Peran guru sebagai pendidik tentu diharapkan mampu menyajikan pembelajaran yang baik dan efektif.

  Pembelajaran yang baik dan efektif tentu tidak terlepas dari peran guru yang berkompeten. Depdiknas (2008) menyebutkan bahwa sebagian guru mengalami kesulitan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), selain itu guru masih kesulitan dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru juga masih mengalami kesulitan dalam proses penilaian. Selain itu, masih ada faktor-faktor yang sebaiknya perlu diperhatikan oleh pemerintah seperti usia, status kepegawaian, dukungan kepala sekolah, pengalaman mengajar, pengalaman menggunakan pembelajaran terpadu, jumlah jam training pembelajaran terpadu, jumlah siswa, dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik.

  Faktor-faktor tersebut perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah karena seorang guru yang baik dapat menyajikan pembelajaran dengan baik dan efisien.

  Penelitian ini hanya membahas tentang faktor latar belakang pendidikan dan status kepegawaian berdasarkan hasil pembagian dengan kelompok studi. Hal

  6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tersebut yang mendasari penulis menyusun sebuah penelitian yang berjudul “Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Sebuah Survei Bagi Guru- Guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta”.

  B. Batasan Masalah

  Penelitian ini membatasi permasalahan pada guru sekolah dasar negeri pengampu kelas bawah di Kota Yogyakarta. Guru sekolah dasar pengampu kelas bawah menjadi fokus penelitian ini sebab guru pengampu kelas bawah telah menerapkan pembelajaran tematik sejak diberlakukannya Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Selain guru sekolah dasar pengampu kelas bawah, penelitian ini hanya berfokus pada dua faktor demografi yang dapat mempengaruhi terjadinya reformasi. Kedua faktor tersebut adalah latar belakang pendidikan dan status kepegawaian.

  C. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik di kelas oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta?

  2. Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru?

  3. Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru?

  7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D.

   Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini dirancang untuk mencapai tujuan sebagai berikut:

  1. Mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta.

  2. Mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  3. Mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

E. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi calon guru sekolah dasar, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang sejauh mana implementasi pembelajaran tematik di sekolah- sekolah dasar. Sehingga ketika sudah benar-benar menjadi seorang guru, mampu menerapkan pembelajaran tematik dengan baik dan benar.

  2. Bagi guru sekolah dasar, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tambahan yang berguna terkait dengan pembelajaran tematik.

  Sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki jika pembelajaran tematik yang dilakukan dirasa masih kurang baik.

  8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Bagi Program Studi PGSD, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi peneliti ilmiah atau mahasiswa yang akan meneliti tentang implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah.

F. Definisi Operasional

  Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

  1. Pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu yang mengintegrasikankan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan menggunakan tema-tema tertentu (disebut juga dengan pembelajaran tematik integratif).

  2. Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan.

  3. Demografi adalah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku atau tingkah laku seseorang.

  4. Reformasi adalah sebuah perubahan yang drastis sebagai bentuk perbaikan sesuatu yang telah ada sebelumnya.

  5. Guru kelas bawah adalah seorang pendidik yang memiliki kemampuan untuk mengampu siswa di kelas 1, 2, dan 3 sekolah dasar.

  6. Implementasi adalah pelaksanaan dari sebuah rencana yang telah disusun.

  7. Survei adalah suatu cara pemgumpulan data dari sebagian populasi.

  8. Latar belakang pendidikan adalah proses jangka panjang dimana seseorang mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum.

  9. Status kepegawaian adalah keterikatan perjanjian kerja seseorang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II KAJIAN TEORI Bab II ini menguraikan kajian teori yang akan digunakan untuk memecahkan

  masalah dalam penelitian ini. Pembahasan tentang kajian teori ini terdiri dari empat bagian, yaitu tinjauan teoritik, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis.

A. Tinjauan Teoritik 1. Reformasi Pendidikan secara Global

  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Depdiknas, 2008: 1154) menyebutkan bahwa reformasi adalah perubahan drastis sebagai sebuah perbaikan (bidang sosial, politik, dan agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Perbaikan dapat dilakukan dalam bidang sosial, politik, agama, dan tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Salah satu caranya dengan penyempurnaan kurikulum yang ada. Reformasi atau perbaikan dalam bidang pendidikan dilakukan oleh pemerintah dalam upaya menciptakan generasi penerus yang berkualitas.

  Reformasi merupakan kata kunci dalam membenahi tatanan hidup berbangsa dan bernegara termasuk reformasi di bidang pendidikan. Banyak hal yang dibahas dan tidak sedikit pula persoalan yang memerlukan jawaban ketika berbicara tentang reformasi pendidikan. Pendidikan juga berusaha menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul di masyarakat sebagai sebuah konsekuensi dari sebuah perubahan (Suyanto dan Hisyam dalam Sanaky, 2009: 1).

  10

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reformasi pendidikan merupakan hukum alam yang akan mencari jejak jalannya sendiri (Sanaky, 2009: 1). Pendidikan suatu wilayah dapat dikatakan dengan baik apabila wilayah tersebut mampu memenuhi persyaratan kualitas global. Era sekarang ini siapa saja yang tidak mampu memenuhi persyaratan kualitas global tersebut akan tersingkir dengan sendirinya. Abad 19-20 merupakan masa dimana terjadi persaingan global yang sangat ketat. Semua yang terlibat dalam persaingan tersebut harus berusaha dengan sebaik mungkin agar tidak tersingkir dan berusaha untuk menjadi pelopor dalam bidang pendidikan.

  Kesiapan mental sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat. Kesiapan mental tersebut ditunjukkan dengan tidak lagi menjadi manusia yang reaktif. Manusia reaktif yang dimaksud adalah seseorang hanya menunggu dan menghindari setiap persoalan yang ada, namun dalam persaingan global manusia dituntut untuk menjadi manusia yang pro-aktif. Manusia pro-aktif merupakan manusia yang memiliki toleransi dan inisiatif yang baik untuk melakukan suatu tindakan berkaitan dengan perubahan yang telah terjadi (Sanaky, 2009: 2).

2. Reformasi Pendidikan di Indonesia

  Tilaar dalam Sanaky (2009: 2) menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sedang dalam masa reformasi. Lahirnya era reformasi membuat masyarakat Indonesia melakukan perubahan dalam semua aspek kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Perubahan atau reformasi pendidikan sebenarnya telah dimulai sejak Kabinet Indonesia Bersatu (Kemendiknas, 2010: 1). Reformasi tersebut dilaksanakan berlandaskan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah

  11

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (RPJM) dimana Kementrian Pendidikan Nasional 2010-2014 merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025. Fokus dalam RPJP tersebut adalah meningkatkan kualitas layanan (Kemendiknas, 2010:1). Peningkatan kualitas layanan dilakukan dengan memperhatikan target yang harus dicapai dan harapan masyarakat yang berkaitan dengan pemanfaatan anggaran fungsi pendidikan.

  Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatan kualitas manusia Indonesia melalui olah batin, olah pikir, dan olah kinerja. Ketiga aspek tersebut diperlukan agar manusia memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global (Trianto, 2012: 3). Pendidikan nasional di Indonesia memiliki beberapa masalah dalam menghadapi tantangan global. Djohar (2006: 1-3) menguraikan masalah- masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan nasional Indonesia. Pertama, adanya kapitalisme pendidikan. Pendidikan di Indonesia terjebak dalam pola pikir kapitalis dimana pendidikan hanya untuk orang berada saja. Pendidikan untuk rakyat kecil belum begitu diperhatikan. Kedua, terjadi diskriminasi pendidikan.

  Bentuk diskriminasi pendidikan sangat beragam, diantaranya melalui program akselerasi. Program akselerasi diperuntukkan hanya untuk siswa yang memiliki kemampuan kognitif yang baik, untuk siswa yang memiliki kemampuan kognitif kurang tentu saja sangat sulit untuk bisa masuk dalam program akselerasi. Ketiga, pendidikan di Indonesia tidak membangun individu belajar, budaya belajar, dan budaya ilmu. Pendidikan di Indonesia masih bersifat tekstual atau hafalan. Sifat tekstual tidak mendukung pembangunan individu belajar. Siswa hanya dijejali berbagai macam materi tanpa melakukan suatu kegiatan diskoveri atau penemuan

  12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengetahuan secara mandiri. Setiap siswa tentu memiliki pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi yang diberikan, namun guru juga masih tekstual dimana pemecahan masalah dari pertanyaan siswa juga hanya berdasarkan teori yang ada. Sebenarnya pemecahan masalah tidak hanya melulu berdasarkan teori yang ada, siswa diajak untuk berdiskusi dan mengungkapkan pendapatnya sudah cukup membantu dalam membangun budaya belajar dan budaya ilmu. Keempat, pendidikan di Indonesia masih bersifat sentralistik. MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang telah dicanangkan belum dapat mengubah pendidikan di Indonesia yang masih bersifat sentralistik. Pembuatan kurikulum masih dilakukan di tingkat pusat saja. Kewenangan sekolah untuk mandiri belum terlaksana sepenuhnya. Pembelajaran juga masih belum mengangkat adanya keberagaman bangsa.

  Munculnya masalah-masalah yang dihadapi pendidikan nasional Indonesia, pemerintah perlu melakukan upaya reformasi agar pendidikan di Indonesia memiliki kualitas yang semakin baik lagi. Caranya dengan memperbaiki kurikulum yang diterapkan. Kurikulum merupakan sarana yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Ladjid, 2005: 5).

3. Reformasi Kurikulum di Indonesia

  Trianto (2010: 54) menyebutkan bahwa kurikulum untuk sekolah dasar pada umumnya meliputi keseluruhan pembelajaran yang ditempuh siswa dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun yang dimulai dari kelas I sampai dengan kelas VI. Kurikulum tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan. Trianto (2010: 54) juga menguraikan perubahan kurikulum ke dalam masa orde lama,

  13

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masa orde baru, dan masa orde reformasi. Kurikulum pertama yang berlaku pada masa awal kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah Rencana Pelajaran 1947.

  Rencana Pelajaran 1947 tersebut bersifat politis yang tidak lagi memandang dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang dibuat oleh Belanda. Saat itu, situasi perpolitikan masih bergejolak dengan adanya perang di berbagai wilayah di Indonesia, maka Rencana Pelajaran 1947 baru diterapkan pada tahun 1950.

  Rencana Pelajaran 1947 juga sering disebut dengan kurikulum 1950.

  Susunan dalam kurikulum 1950 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok saja, yaitu daftar mata pelajaran beserta dengan alokasi waktunya dan garis-garis besar pengajarannya. Garis-garis besar pengajarannya pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara siswa mempelajari sebuah materi.

  Rencana Pelajaran 1947 atau kurikulum 1950 lebih mengutamakan dalam hal pendidikan watak atau karakter, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi yang disajikan dalam Rencana Pelajaran 1947 atau kurikulum 1950 dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kesenian, dan pendidikan jasmani (Trianto, 2010: 55).

  Memasuki masa orde baru, kurikulum di Indonesia juga mengalami beberapa kali perubahan. Trianto (2010: 56) menyebutkan bahwa pada masa orde baru, kurikulum di Indonesia mengalami empat kali perubahan, yakni kurikulum 1968, 1975, 1984, dan 1994. Kurikulum 1968 lahir dengan adanya pertimbangan politik ideologis. Tujuan pendidikan dalam kurikulum 1968 adalah menciptakan masyarakat yang sosialis, pada masa ini lebih ditekankan pada pembentukan manusia pancasila sejati. Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum

  14

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang artinya bahwa materi pembelajaran pada tingkat bawah memiliki hubungan dengan kurikulum sekolah lanjutan (Trianto, 2010: 57).

  Bidang studi atau mata pelajaran dalam kurikulum 1968 dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Materi dalam bidang studi tersebut bersifat teoritis, tidak lagi menghubungkannya dengan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

  Metode pembelajaran masih dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan psikologi (Trianto, 2010: 57).

  Kurikulum 1968 kemudian mengalami perubahan menjadi kurikulum 1975 (Trianto, 2010: 57). Kurikulum 1975 lebih lengkap dibandingkan dengan kurikulum 1968. Dalam kurikulum 1975 terdapat tujuh unsur pokok yang disajikan dalam tiga buku. Tujuh unsur tersebut adalah struktur program kurikulum, GBPP (Garis Besar Pokok Pembelajaran), sistem penyajian, sistem penilaian, sistem bimbingan dan penyuluhan, pedoman supervisi, dan administrasi.

  Kurikulum 1975 lebih menekankan pada tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien. Kurikulum 1975 didasari oleh konsep SAS (struktural, analisis, sintesis). Melalui konsep SAS tersebut siswa diharapkan menjadi pandai karena mereka mampu memahami dan menganalisis suatu hal yang dihubungkan dengan pelajaran di sekolah. Munculnya kurikulum 1975 tentu juga memiliki sisi positif dan sisi negatif. Trianto (2010: 59) menyebutkan sisi positif dari kurikulum ini adalah ilmu-ilmu dasar yang diserap oleh siswa SD pada saat itu menjadi semakin berkembang karena adanya tambahan jam pelajaran per minggunya. Sisi negatif

  15

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dari kurikulum 1975 ini adalah tidak sedikit guru yang menghabiskan waktunya untuk keperluan tugas administrasi dibandingkan dengan pendalaman materi yang akan diberikan kepada siswa (Trianto, 2010: 58).

  Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0461/U/1983 menyebutkan bahwa kurikulum di Indonesia kembali mengalami perubahan (Trianto, 2010: 60). Kurikulum 1975 diperbaiki kemudian berganti nama menjadi kurikulum 1984. Kurikulum 1984 ini mengusung process skill approach selaras dengan tuntutan GBHN 1983 bahwa pendidikan harus mampu mencetak manusia yang kreatif, bermutu, dan efisien bekerja. Pencanangan kurikulum 1984 tidak semata-mata mengubah segala sesuatu yang ada pada kurikulum 1975 karena walaupun mengutamakan proses tetapi faktor tujuan tetap dianggap penting.

  Kurikulum 1984, memposisikan siswa sebagai subjek belajar (Trianto, 2010: 60). Proses belajar lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Hal-hal tersebut yang disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Apabila CBSA ini diaplikasikan dalam proses pembelajaran, maka CBSA akan menghasilkan Zone of Proximality

  

Development (ZPD) yang berarti bahwa setiap manusia memiliki potensi yang

  berbeda-beda. Potensi tersebut akan dapat teraktualisasi melalui ketuntasan belajar tertentu. Terdapat daerah abu-abu (grey area) pada potensi dan aktualisasi.

  Tugas guru adalah menjadikan daerah abu-abu tersebut dapat teraktualisasi melalui belajar kelompok.

  Pelita (Pembangunan Lima Tahun) VI dilaksanakan pada April 1994 sampai Maret 1999. Kurikulum 1994 diberlakukan pada awal Pelita VI (Trianto, 2010:

  16

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  61). Perbedaan antara kurikulum 1994 dengan kurikulum sebelumnya terletak pada pelaksanaan pendidikan dasar sembilan tahun, menerapkan kurikulum muatan lokal, dan penyempurnaan tiga kemampuan dasar (membaca, menulis, dan berhitung). Lahirnya kurikulum 1994 bersamaan dengan lahirnya UU No. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional. UU tersebut menjelaskan bahwa tujuan dari pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Berdasarkan struktur kurikulum, kurikulum 1994 berusaha menggabungkan kurikulum 1975 yang identik dengan pendekatan tujuannya dengan kurikulum 1984 yang identik dengan tujuan pendekatan proses.

  Memasuki masa orde reformasi, kurikulum telah mengalami dua kali perubahan atau penyempurnaan. Trianto (2010: 62) memaparkan tentang dua kurikulum yang ada di masa orde reformasi, pertama kurikulum 2004 atau dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kedua kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lahir sebagai jawaban atas kritikan masyarakat terhadap kurikulum 1994 serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja.

  Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah suatu kurikulum yang mengutamakan pengembangan kemampuan penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Trianto, 2010: 63). Kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge, understanding, skill, value, attitude, dan interest. Apabila aspek-aspek tersebut dapat dikembangkan dengan baik maka siswa akan

  17

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memahami, menguasai, dan menerapkan di dalam kehidupan mereka sehari-hari materi-materi yang telah mereka dapat di sekolah. KBK dinilai lebih baik daripada kurikulum 1994. Tabel 2.1 menjelaskan tentang keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994.

  Tabel 2.1

  Keunggulan KBK dengan Kurikulum 1994 Subjek 1994 KBK

  Utama Penguasaan materi Hasil dan kompetensi Paradigma pembelajaran Versi UNESCO: belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri. Silabus Silabus disamakan Silabus menjadi kewenangan guru.

Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam per minggu, tetapi jumlah mata

pelajaran belum dapat dikurangi. Metode pembelajaran Keterampilan proses PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan CTL

  (Contextual Teaching learning)

Sistem penilaian Memfokuskan pada aspek Penilaian dilakukan dengan memadukan

kognitif keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menekankan nilai yang berbasis kelas.

  Sumber: Trianto (2010: 64) Tabel 2.1 menjelaskan tentang keunggulan KBK dengan kurikulum 1994.

  Kurikulum 1994 mengutamakan penguasaan materi sedangkan KBK lebih mengutamakan hasil dan kompetensi yang dimiliki siswa. Silabus dalam kurikulum 1994 disamakan atau telah disusun oleh pemerintah sedangkan dalam KBK pembuatan silabus menjadi kewenangan guru. Jumlah jam pelajaran dalam Kurikulum 1994 sebanyak 40 jam per minggu, sedangkan dalam KBK sebanyak 32 jam pelajaran namun jumlah jam mata pelajaran belum dapat dikurangi.

  Kurikulum 1994 menerapkan metode pembelajaran keterampilan proses, KBK menerapkan PAKEM dan CTL sebagai metode pembelajaran. Sistem penilaian dalam kurikulum 1994 difokuskan pada aspek kognitif saja, sedangkan dalam KBK antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dinilai secara seimbang.

  18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  KBK memiliki empat komponen, diantaranya adalah Kurikulum dan Hasil Belajar (KHB), Penilaian Berbasis Kelas (PBK), Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) (Trianto, 2010: 65). KHB berisi tentang perencanaan pengembangan kompetensi siswa yang akan dicapai secara keseluruhan. PBK adalah proses penilaian yang dilakukan secara seimbang di tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotor) dengan menggunakan instrumen tes dan non tes. KBM diarahkan pada kegiatan siswa yang aktif, guru hanya sebagai motivator dan fasilitator saja. Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) berisi tentang berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan kualitas hasil belajar.

  Jalal (dalam Trianto, 2010: 66) menyebutkan bahwa kurikulum 2006 tidak mengubah KBK namun sebagai penegas dari KBK. Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan dari KBK yang telah diuji coba kelayakannya secara publik melalui beberapa sekolah. Kurikulum 2006 atau yang sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan pandangan baru dalam pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi kepada satuan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah.

  Trianto (2010: 67) menyebukan ada tujuh prinsip pengembangan KTSP, (1) berpusat pada potensi, pengembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dengan lingkungannya. KTSP memiliki prinsip bahwa siswa memiliki posisi sentral umtuk mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada siswa; (2)

  19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  beragam dan terpadu. Pengembangan KTSP memperhatikan keragaman karakteristik siswa. Tidak ada pembedaan mengenai SARA (Suku, Ras, dan Agama). Pengembangan kurikulum disusun secara terpadu dalam keterkaitan dan berkesinambungan; (3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. IPTEK dan seni berkembang secara dinamis. Kurikulum memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan IPTEK dan seni; (4) berkaitan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan tidak hanya oleh guru dan kepala sekolah saja. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan seluruh

  

stakeholders (masyarakat, komite sekolah, guru, dll) agar sesuai dengan

  kebutuhan hidup termasuk dalam kehidupan kemasyarakatan; (5) menyeluruh dan berkesinambungan. Isi dari kurikulum mencakup keseluruhan kompetensi bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan; (6) long life education. Proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan siswa berlangsung sepanjang hayat. Lingkungan yang selalu berkembang menuntun untuk menjadi manusia yang seutuhnya; dan (7) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

  Pengembangan kurikulum perlu memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah bisa saling mengisi sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

  Kurikulum pertama setelah kemerdekaan adalah kurikulum 1947 atau yang dikenal dengan Rencana Pelajaran 1947. Dikti (2012: 71) menyebutkan bahwa pada tahun 1947 kondisi pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi oleh sistem

  20

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pendidikan kolonial Belanda dan Jepang. Rencana Pelajaran 1947 diterapkan di sekolah-sekolah pada tahun 1950. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan karakter daripada kemampuan akademik peserta didik. Pendidikan karakter tersebut berupa kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, dan memiliki fokus terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

  Rencana Pelajaran 1947 mengalami penyempurnaan pada tahun 1952. Tahun 1952, lahirlah kurikulum baru yang diberi nama Rencana Pelajaran Terurai 1952 (Dikti, 2012: 71) menyebutkan bahwa yang menjadi ciri dari kurikulum 1952 ini adalah setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran dalam Rencana Pelajaran Terurai 1952 diklasifikasikan menjadi lima, yaitu moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmaniah.

  Dikti (2012: 73) menyebutkan bahwa setelah Rencana Pelajaran Terurai 1952 lahir kurikulum baru yang diberi nama Rencana Pendidikan 1964. Rencana Pendidikan 1964 mengusung konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran tersebut membimbing siswa agar mampu memiliki kemampuan memecahkan masalah sendiri (problem solving). Rencana Pendidikan 1964 juga berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral.

  Dikti (2012: 74) mengungkapkan bahwa dalam Rencana Pendidikan 1964, pemerintah menerapkan hari Sabtu sebagai hari krida dimana pada hari Sabtu siswa diberi kebebasan berlatih kegiatan di bidang kebudayaan, kesenian, olah

  21

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  raga, dan permainan sesuai dengan minat siswa. Rencana Pendidikan 1964 juga merupakan Separated Subject Curriculum yang memisahkan setiap mata pelajarannya. Mata pelajaran dipisahkan berdasarkan lima kelompok bidang studi (pancawardhana). Kelima bidang studi tersebut adalah moral, kecerdasan, emosional/artistik, keterampilan, dan jasmaniah.

  Rencana Pendidikan 1964 mengalami penyempurnaan lagi yang diberi nama kurikulum 1968. Perubahan yang dilakukan adalah pada struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 bersifat Correlated Subject

  

Curriculum yang berarti bahwa materi pada pendidikan tingkat dasar mempunyai

  korelasi dengan kurikulum di pendidikan tingkat lanjut. Mata pelajaran dalam kurikulum ini berjumlah 9 yang hanya memuat mata pelajaran pokok saja. Konten dari mata pelajaran tersebut bersifat teoritis, tidak lagi mengkaitkan dengan masalah faktual yang ada di sekitar (Dikti, 2012: 75).

  Dikti (2012: 96) menyebutkan bahwa kurikulum 1975 lahir sebagai tuntutan Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973. Struktur program untuk sekolah dasar meliputi bidang studi Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Bahasa Indonesia,

  IPS, Matematika, IPA, Olahraga dan Kesehatan, Kesenian, dan Keterampilan Khusus. Format yang digunakan dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) sangat rinci. GBPP tersebut berisi tujuan kurikuler, Tujuan Instruksional Umum, pokok bahasan dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran untuk siswa agar tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

  22

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kurikulum 1975 kemudian mengalami penyempurnaan yang disebut sebagai kurikulum 1984. Dikti (2012: 90) menguraikan secara umum tentang dasar perubahan kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sebagai berikut, beberapa unsur GBHN 1983 yang belum tertuang dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, ada ketidakserasian antara materi kurikulum dengan kemampuan siswa, ada kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah, konten kurikulum yang padat dan harus diajarkan ke setiap jenjang pendidikan. Kurikulum 1984 merupakan perbaikan dari kurikulum 1975. Ciri-ciri dari kurikulum 1984 adalah berorientasi pada tujuan instruksional, pendekatan pengajaran berpusat pada siswa melalui Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), materi pelajaran diberikan dengan menggunakan pendekatan spiral (semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam pula materi yang diberikan), pemberian konsep di awal pembelajaran, materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan dan kematangan siswa, dan menggunakan pendekatan keterampilan proses (Dikti, 2012: 91).

  Kurikulum 1984 kemudian mengalami penyempurnaan, kurikulum tersebut dikenal sebagai Kurikulum 1994. Dikti (2012: 94) menyebutkan bahwa pelaksanaan Kurikulum 1994 sesuai dengan UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran dari sistem semester diubah menjadi sistem caturwulan. Melalui sistem caturwulan ini diharapkan siswa dapat menerima materi lebih banyak karena dalam satu tahun dibagi menjadi tiga tahap (Cawu I, Cawu II, dan Cawu III).

  23

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kurikulum 2004 yang dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi dan merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1994. (Dikti, 2012: 101) menyebutkan bahwa kurikulum 2004 ini lahir sebagai tuntutan reformasi. Kurikulum 2004 tidak lagi berfokus pada proses belajar namun yang terpenting adalah siswa mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Kompetensi dapat meliputi beberapa aspek, diantaranya knowledge (pengetahuan), understanding (pemahaman), skill (keterampilan), value (penilaian), attitude (sikap), dan interest (minat). Apabila siswa mampu mengembangkan aspek dalam kompetensi tersebut, maka siswa diharapkan mampu mengkaitkan permasalahan yang ada di sekitar dengan materi yang diterimanya.

  Kurikulum 2004 belum sepenuhnya mampu mengubah sistem pendidikan nasional di Indonesia. Upaya penyempurnaan terus dilakukan oleh pemerintah, penyempurnaan kurikulum selanjutnya disebut kurikulum 2006 atau sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dikti (2012: 109) menguraikan bahwa penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum 2006 dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.

  Trianto dan Dikti telah menguraikan perubahan kurikulum yang telah ada di Indonesia, yaitu tahun 1947, 1950 atau 1952, 1964 atau 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Karakteristik setiap kurikulum berbeda-beda. Setiap kurikulum juga memiliki kekurangan dan kelebihan maka perlu dilakukan sebuah

  24

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penyempurnaan agar kualitas pendidikan di Indonesia semakin baik. Tabel 2.2 mendeskripsikan secara singkat tentang perubahan kurikulum di Indonesia.

  Tabel 2.2

  

Perubahan Kurikulum di Indonesia

Tahun Nama Kurikulum Ide pokok

  1947 Rencana Pembelajaran Rencana Pembelajaran 1947 memuat dua hal pokok, 1947 yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Garis-garis besar pengajaran menekankan pada cara guru mengajar dan murid memahami materi. Orde Baru Kurikulum 1968 Pendidikan pada masa ini lebih ditekankan untuk membentuk manusia Pancasila sejati. 1968 1975 Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Kurikulum 1975 mempertegas tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran. 1984 Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 memposisikan siswa sebagai subjek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar. Proses inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif. 1994 Kurikulum 1994 Kurikulum 1994 menggunakan pendekatan proses.

  Kurikulum ini memasukkan muatan lokal yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa berdasarkan kebutuhan daerahnya. Orde Kurikulum 2004 Kurikulum ini menekankan kepada pengembangan Reformasi kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya 2004 dapat dirasakan oleh peserta didik.

  

2006 Kurikulum 2006 Kurikulum 2006 memiliki strategi untuk mewujudkan

sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran.

Tabel 2.2 mendeskripsikan secara singkat tentang perubahan kurikulum di

  Indonesia. Kurikulum 1947 atau dikenal dengan Rencana Pembelajaran 1947 memuat dua hal pokok yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Kurikulum 1968 lebih menekankan pada pembentukan manusia Pancasilais. Tujuan pembelajaran lebih dipertegas

  25 lagi dalam Kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memposisikan siswa sebagai subjek belajar yang kemudian dikenal dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Mata pelajaran muatan lokal yang belum ada sebelumnya kemudian dimasukkan dalam kurikulum 1994. Kurikulum 2004 lebih menekankan pada kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Kurikulum 2006 bertujuan agar dapat mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Setiap kurikulum memiliki kekhasan masing-masing. Terjadinya perubahan kurikulum tidak semata-mata karena kurikulum sebelumnya buruk tetapi sebagai pelengkap dari kurikulum sebelumnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

  Kurikulum hendaknya bersifat dinamis serta mampu melakukan perubahan dan pengembangan agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Perubahan dan perkembangan kurikulum dilaksanakan tentu dibekali visi dan misi yang baik agar jelas akan dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut.

  Lahirlah sebuah kurikulum baru yakni kurikulum 2013 sebagai jawabannya. Sebuah hal yang baru tentu juga memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan sesuatu yang pernah ada sebelumnya (Mulyasa, 2013: 59).

  Mulyasa (2013: 163-164) menyebutkan bahwa kurikulum 2013 diharapkan mampu menghasilkan manusia produktif, kreatif, dan inovatif karena Kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi. Berdasarkan hal tersebut kurikulum 2013 memiliki tiga keunggulan. Pertama, Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual) sebab fokus dari kurikulum ini adalah pada pengembangan berbagai kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang

  26

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dimiliki masing-masing siswa. Kurikulum 2013 memposisikan siswa sebagai subjek belajar yang secara aktif menggali dan mengalami proses belajar bukan karena transfer pengetahuan. Kedua, kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi dimana ke dua hal tersebut mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Kemampuan yang berkembang tidak hanya kemampuan dalam bidang akademik saja namun juga kemampuan bersosialisasi siswa dapat berkembang. Ketiga, ada bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi terutama yang berkaitan dengan keterampilan. Jadi, dari ketiga keunggulan Kurikulum 2013 tersebut mengembangkan kemampuan siswa tidak hanya dalam bidang akademik namun juga dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

  Kurikulum 2013 memiliki landasan atau dasar dalam proses pengembangannya. Mulyasa (2013: 64-65) menyebutkan ada tiga landasan pengembangan Kurikulum 2013 seperti yang dijelaskan pada tabel 2.3. Ketiga landasan memiliki pengaruh dalam proses perkembangannya.

  27 Tabel 2.3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a. Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.

  b. Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.

  

a. Rencana Pembangunan Jangka

Menengah (RPJM) 2010-2014

Sektor Pendidikan, tentang

perubahan metodologi

pembelajaran dan penataan

kurikulum.

  

c. Instruktur Presiden (INPRES)

No. 1 Tahun 2010, tentang

percepatan pelaksanaan

prioritas pembangunan

nasional, penyempurnaan

kurikulum dan metode

pembelajaran aktif berdasarkan

nilai-nilai budaya bangsa untuk

membentuk daya saing dan

karakter bangsa.

  a. Relevansi pendidikan (link and match ).

  b. Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter.

  

Landasan Pengembangan Kurikulum 2013

Landasan Filosofis Landasan Yuridis Landasan Konseptual

b. Peraturan Pemerintah (PP) No.

19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.

  d. Pembelajaran aktif (Student Active Learning ).

  e. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.

  Pengembangan kurikulum 2013 dilakukan berdasarkan landasan seperti tabel

  2.3. Landasan-landasan yang digunakan tidak hanya bersumber pada peraturan dari pemerintah saja namun juga bersumber pada nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat serta berlandaskan pada teori-teori dalam bidang pendidikan (Mulyasa, 2010: 65). Ketiga landasan dalam tabel 2.2 mendasari lahirnya reformasi dalam bidang pendidikan khususnya dalam penyempurnaan kurikulum.

  Kurikulum 2013 muncul karena memperbaiki atau melanjutkan pengembangan dari kurikulum sebelumnya, dimana pada kurikulum sebelumnya mata pelajaran tertentu hanya sesuai dengan kompetensi tertentu juga. Kemudian mulai diadakan perbaikan dimana setiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan). Pembelajaran dalam kurikulum 2006 disajikan secara tematik namun belum integratif. Pembelajaran dalam kurikulum 2013 tetap disajikan tematik, hanya saja tematik di Kurikulum 2013 sudah integratif (Mulyasa, 2010: 66).

  c. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning ).

  28

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004.

  Penyempurnaan tersebut mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Trianto (2012: 12) menyebutkan bahwa isu pokok dalam mewujudkan Sistem Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter. Pembentukan karakter tersebut bertujuan agar potensi siswa dapat berkembang. Tujuan lainnya adalah membantu dalam proses menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.

  Pembentukan karakter dibutuhkan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seiring dengan adanya perkembangan dan perubahan di masyarakat (Trianto, 2012: 11). Perkembangan dan perubahan secara terus menerus juga menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum. Penyempurnaan kurikulum 2006 dilakukan mengacu pada standar nasional dan tujuan pendidikan serta memperhatikan perbedaan potensi yang dimiliki siswa.

  Kurikulum 2006 dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan yang berpedoman pada standar kompetensi lulusan, standar isi, serta panduan penyusunan kurikulum. Trianto (2012: 21) menyebutkan bahwa pengembangan kurikulum didasarkan pada tujuh prinsip. Tujuh prinsip tersebut adalah berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, beragam dan terpadu, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,

  29

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pengembangan kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dengan lingkungannya (Trianto, 2012: 21).

  Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa siswa mempunyai posisi sentral untuk mengembangkan potensinya agar tujuan pendidikan yang menekankan pada pembentukan karakter. Pembentukan karakter diperlukan dalam mencapai tujuan pendidikan, maka pengembangan kemampuan siswa harus disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

  Prinsip yang kedua adalah beragam dan terpadu (Trianto, 2012: 21). Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik siswa, kondisi daerah, jenjang pendidikan, dan jenis pendidikan. Pengembangan kurikulum dilakukan tanpa membedakan SARA (Suku, Ras, dan Agama) maupun status sosial dan gender.

  Prinsip ketiga adalah tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Trianto, 2012: 21). Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sangat dinamis. Berdasarkan perkembangan tersebut, isi kurikulum hendaknya mendorong siswa untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

  Prinsip pengembangan kurikulum yang keempat adalah relevan dengan kebutuhan hidup (Trianto, 2012: 22). Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan stakeholders atau pemangku kepentingan. Stakeholders tersebut adalah masyarakat, komite sekolah, guru, kepala sekolah, dll. Apabila masyarakat

  30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  telah dilibatkan dalam pengembangan kurikulum, maka life skill (kecakapan hidup) siswa diperlukan sebab mereka nantinya juga akan hidup bermasyarakat.

  Prinsip pengembangan kurikulum kelima adalah menyeluruh dan berkesinambungan (Trianto, 2012: 22). Konten kurikulum hendaknya mencakup keseluruhan kompetensi dalam bidang keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan. Konten kurikulum hendaknya juga disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

  Prinsip pengembangan kurikulum yang keenam adalah belajar sepanjang hayat (Trianto, 2012: 22). Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum merupakan cerminan dari unsur-unsur pendidikan formal, informal, dan nonformal dengan memperhatikan kondisi serta tuntutan lingkungan yang selalu berkembang agar menjadikan manusia seutuhnya.

  Prinsip pengembangan kurikulum yang ketujuh adalah seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah (Trianto, 2012: 22). pengembangan kurikulum dilakukan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah hendaknya saling mengisi dan melengkapi agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

  Berdasarkan uraian di atas, maka kurikulum 2013 merupakan perbaikan atau penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Jadi, tidak semata-mata Kurikulum 2013 merupakan pengganti kurikulum 2004 (KBK) atau kurikulum 2006. Namun, kurikulum 2013 juga memiliki perbedaan yang esensial dengan kurikulum yang

  31 sebelumnya. Mulyasa (2013: 169) menguraikan beberapa perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum 2006 seperti pada tabel 2.4.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 2.4

  

Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulum 2013

Kurikulum 2006 Kurikulum 2013

  Mata pelajaran tertentu hanya mendukung kompetensi tertentu.

  Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan). Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri.

  Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi

inti di setiap kelas.

Bahasa Indonesia sejajar dengan mata pelajaran lain.

  Bahasa Indonesia sebagai penarik mata pelajaran lain (sikap dan keterampilan berbahasa) Tiap mata pelajaran disajikan dengan pendekatan yang berbeda.

  Semua mata pelajaran disajikan menggunakan pendekatan yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mendemonstrasikan. Tiap jenis isi pembelajaran disajikan terpisah (separated curriculum).

  Berbagai jenis isi pelajaran disajikan secara berkaitan dan terpadu satu sama lain (cross curriculum atau integrated curriculum ).

  Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya. Tematik untuk kelas I sampai kelas III (belum integratif).

  Tematik terintegratif untuk kelas I sampai kelas VI.

Tabel 2.4 menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang berbeda dari kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada aspek

  afektif dengan penilaian yang ditekankan pada nontes dan portofolio. Mata pelajaran satu dengan yang lainnya saling terkait kemudian disatukan menggunakan kompetensi inti. Pembelajaran dilakukan secara tematik terintegratif mulai dari kelas I sampai kelas VI.

  Pembelajaran dalam kurikulum 2006 juga dilakukan secara tematik namun belum terintegratif. Pembelajaran tematik diterapkan hanya untuk kelas I sampai kelas III. Mata pelajaran satu dan lainnya masih terlihat berdiri sendiri, belum nampak keterkaitannya. Mata pelajaran juga hanya mendukung salah satu kompetensi saja.

  Perbedaan lainnya antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya (Mulyasa, 2013: 170-171):

  32

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a. Tematik-integratif Pembelajaran tematik integratif sebelumnya hanya diterapkan untuk kelas bawah, di kelas atas mata pelajaran yang disajikan terkesan terpisah atau berdiri sendiri. Saat ini dalam implementasi kurikulum 2013, pembelajaran disajikan berdasarkan tema dimana satu mata pelajaran dengan yang lainnya saling berkaitan. Kesan bahwa mata pelajaran terpisah-pisah dan berdiri sendiri dapat berkurang karena dalam proses pembelajaran siswa mempelajari banyak materi.

  b. Delapan mata pelajaran Terdapat 10 mata pelajaran yang diajarkan untuk tingkat sekolah dasar, diantaranya Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,

  Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri. Seiring dengan lahirnya Kurikulum 2013, ke-sepuluh mata pelajaran tersebut dipadatkan menjadi 8 mata pelajaran. Ke-delapan mata pelajaran tersebut adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Seni Budaya, IPA, dan IPS.

  c. Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib Pramuka merupakan ekstrakurikurikuler wajib yang diatur dalam Undang- undang sehubungan diterapkannya kurikulum 2013. Ekstrakurikuler ini tidak hanya diwajibkan untuk pendidikan tingkat dasar namun juga untuk pendidikan tingkat menengah. Kemendikbud bekerja sama dengan Kemenpora untuk meningkatkan layanan secara profesional dalam implementasi Pramuka.

  33

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d. Bahasa inggris hanya ekstrakurikuler Penghapusan Bahasa Inggris dari kurikulum SD didasari kekhawatiran akan membebani siswa dan memprioritaskan terhadap penguasaan Bahasa Indonesia.

  Bahasa Inggris di SD kemudian dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sama seperti Pramuka, PMR, dll.

  e. Belajar di sekolah lebih lama Pemadatan mata pelajaran dalam kurikulum 2013 bukan mengurangi jam belajar, namun membuat lama siswa belajar di sekolah. Pemadatan mata pelajaran dan pembelajaran tematik siswa tidak akan kerepotan membawa buku banyak, sebab dalam buku pelajaran kurikulum 2013 semua mata pelajaran dijadikan satu.

  Perbedaan-perbedaan tersebut ada sebagai pelengkap kurikulum satu dengan yang lainnya. Tujuannya agar kualitas pendidikan nasional Indonesia semakin baik melalui penyempurnaan kurikulum. Pengembangan kurikulum 2013 adalah sebagai penyempurna kurikulum sebelumnya, namun juga tidak semata-mata kurikulum 2013 jauh lebih baik daripada kurikulum yang ada sebelumnya.

5. Pembelajaran Terpadu

  Departemen Pendidikan Nasional (2009: 6), pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai sarana menggabungkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa ketika belajar. Proses pembelajaran tematik menekankan bahwa siswa dituntut untuk menjadi aktif dalam menggali informasi dari suatu materi agar ia mampu mendapatkan pengalaman dan pengetahuan secara mandiri.

  34

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Trianto (2010: 41) menyebutkan bahwa pembelajaran terpadu dengan model

  

webbed merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik

  dimana pengembangan pendekatan tersebut dilakukan dengan menentukan tema terlebih dulu. Sebagaimana telah dijelaskan, pembelajaran tematik merupakan bagian dari pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai alat atau sarana untuk menggabungkan beberapa mata pelajaran dan menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar sehingga siswa mampu memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara mandiri dan bermakna. Hakikatnya, pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individu maupun kelompok menggali informasi atau pengetahuan dari suatu mata pelajaran secara holistik dan autentik (Depdikbud, 1996: 3).

  Pelaksanaan pembelajaran terpadu menjembatani siswa untuk memperoleh pengalaman langsung sehingga dapat menerima dan menerapkan konsep yang sedang dipelajarinya. Cara pengemasan pengalaman belajar yang direncanakan oleh guru akan sangat berpengaruh pada kebermaknaan pengalaman belajar bagi siswa (Trianto, 2010: 42). Pembelajaran terpadu dapat dikemas dengan menggunakan tema yang dapat dibahas dan ditilik dari berbagai macam mata pelajaran yang mudah dipahami dan dikenali oleh siswa. Faktanya, pelaksanaannya di sekolah-sekolah sebagian besar pembelajaran masih disajikan atau dilaksanakan secara terpisah. Pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar masih dilakukan sesuai dengan masing-masing bidang studi atau mata pelajaran. Pembelajaran terpadu menekankan bahwa guru hendaknya mampu

  35

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membuat sebuah jaring-jaring tema pembelajaran agar dapat dengan mudah memahami dan menyajikan materi (Trianto, 2010: 43).

  Karli dan Margaretha (dalam Indrawati, 2009: 22) menyebutkan ada tiga ciri- ciri pembelajaran terpadu. Ciri yang pertama adalah holistik. Suatu hal yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu yang dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu peristiwa dari segala sisi. Ciri pembelajaran terpadu yang kedua adalah bermakna. Konsep-konsep yang memiliki hubungan satu dengan yang lainnya akan memperkuat kebermaknaan konsep yang dipelajari sehingga siswa mampu menerapkan konsep yang diperoleh untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ciri yang ketiga adalah aktif. pembelajaran terpadu menekankan bahwa siswa dapat secara aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal tersebut secara tidak langsung akan memotivasi siswa untuk belajar.

  Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menyebutkan bahwa ada sepuluh model pembelajaran terpadu. Sepuluh model tersebut adalah fragmented, connected,

  

nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan

networked . Sepuluh model pembelajaran terpadu memiliki karakteristik yang

  berbeda-beda.

  Model pembelajaran terpadu yang pertama adalah model penggalan (fragmented). Prastowo (2013: 109) menjelaskan bahwa model penggalan ditandai dengan adanya pemaduan yang terbatas hanya pada satu mata pelajaran saja. Materi pembelajaran dalam model penggalan (fragmented) disajikan secara terpisah pada jam yang berbeda-beda. Contoh dari penerapan model penggalan

  36

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  adalah pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Materi pelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi pelajaran keterampilan berbahasa. Penyajian dari setiap materi dilakukan secara terpisah dan pada jam yang berbeda pula. Indrawati (2009: 19) menyebutkan bahwa model

  

fragmented memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya berupa terdapat

kejelasan dan sudut pandang yang terpisah dalam suatu mata pelajaran.

  Kelemahannya adalah keterkaitan tidak jelas dan transfer pembelajaran yang dilakukan lebih sedikit.

  Model pembelajaran terpadu yang kedua adalah model keterhubungan (connected). Prastowo (2013: 110) menjelaskan bahwa model keterhubungan berlandaskan pada butir-butir pembelajaran yang dipayungkan dengan induk mata pelajaran tertentu. Topik dalam suatu disiplin ilmu memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Indrawati (2009: 19) menyebutkan bahwa model connected memiliki tiga kelebihan dan dua kelemahan. Ketiga kelebihan tersebut yaitu diantaranya konsep-konsep utama saling terkait. Kelebihan yang kedua adalah menekankan pada pengulangan (review) dan kelebihan yang ketiga adalah gagasan-gagasan digabungkan dalam suatu disiplin. Model keterhubungan juga memiliki dua kelemahan yaitu disiplin-disiplin ilmu yang tidak berkaitan dan isi dari pembelajaran tetap berfokus pada satu disiplin ilmu.

  Model pembelajaran terpadu yang ketiga adalah model sarang (nested). Prastowo (2013: 111) menyebutkan bahwa model sarang (nested) merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui proses pembelajaran. Keterampilan sosial, berpikir, dan konten pada model sarang ini

  37

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dicapai dalam satu mata pelajaran. Indrawati (2009: 19) menjelaskan bahwa model nested memiliki kelebihan dan kelemahan. berupa pemberian perhatian lebih pada berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan sekaligus memperkaya dan memperluas pembelajaran. Kelemahan model sarang yaitu siswa menjadi bingung dalam memahami konsep-konsep utama dalam pembelajaran.

  Model pembelajaran terpadu yang keempat adalah model urutan atau rangkaian (sequenced). Prastowo (2013: 111-112) menguraikan bahwa model urutan merupakan pemaduan topik-topik antarmata pelajaran yang berbeda secara paralel. Persamaan-persamaan dalam mata pelajaran yang berbeda diajarkan secara bersamaan. Indrawati (2009: 20) menguraikan bahwa model sequenced memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model urutan adalah dapat memfasilitasi pemberian materi pembelajaran melalui beberapa mata pelajaran. Kelemahannya adalah membutuhkan kolaborasi secara terus-menerus dan keluwesan yang tinggi.

  Model pembelajaran terpadu yang kelima adalah model bagian (shared). Prastowo (2013: 112) menjelaskan bahwa model bagian merupakan bentuk pemaduan mata pelajaran akibat adanya tumpang tindih konsep atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Contoh adanya tumpang tindih (overlapping) dalam mata pelajaran adalah pada mata pelajaran PKn dan pendidikan agama. Materi tentang toleransi terdapat dalam mata PKn dan pendidikan agama. Indrawati (2009: 20) menyebutkan bahwa model shared memiliki kelebihan dan kelemahan Kelebihan model bagian adalah guru dapat dengan mudah berkolaborasi.

  38

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kelemahannya adalah membutuhkan waktu, keluwesan, komitmen, dan kompromi.

  Model pembelajaran terpadu keenam adalah model jaring laba-laba (webbed). Prastowo (2013: 113) menyebutkan bahwa pemaduan mata pelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan tematik dilakukan dengan menggunakan tema untuk mengikat kegiatan-kegiatan pembelajaran. Indrawati (2009: 20) menjelaskan bahwa model webbed memiliki kelebihan dan kelemahan.

  Kelebihan dari model jaring laba-laba adalah dapat memotivasi siswa dan membantu siswa dalam melihat keterkaitan antargagasan. Kelemahannya adalah tema yang digunakan hendaknya dipilih secara selektif agar menjadikan pembelajaran bermakna dan relevan dengan konten.

  Model pembelajaran terpadu ketujuh adalah model galur (threaded). Prastowo (2013: 114) menjelaskan bahwa model galur merupakan model pemaduan bentuk keterampilan. Keterampilan sosial, berpikir, dan belajar direntangkan melalui berbagai disiplin ilmu. Indrawati (2009: 21) menjelaskan bahwa model threaded memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model galur ini adalah siswa mampu mempelajari cara mereka belajar dan memfasilitasi transfer pembelajaran selanjutnya. Kelemahannya adalah disiplin-disiplin ilmu yang terkait tetap terpisah satu sama lain.

  Model pembelajaran terpadu kedelapan adalah model keterpaduan (integrated). Prastowo (2013: 114-115) menguraikan bahwa model keterpaduan merupakan pemaduan sejumlah topik dari berbagai macam mata pelajaran yang berbeda tetapi memiliki kesamaan esensi. Setiap mata pelajaran memiliki prioritas

  39

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang saling tumpang tindih (overlapping), kemudian dicari keterampilan, konsep, dan sikap-sikap yang sama. Indrawati (2009: 21) menyebutkan bahwa model

  

integrated memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model keterpaduan

  ini adalah mendorong siswa untuk melihat keterkaitan dan ketersalinghubungan diantara disiplin-disiplin ilmu. Kelemahan yang dimiliki model keterpaduan adalah model ini membutuhkan tim antarbidang studi yang memiliki perencanaan dan waktu pengajaran yang sama.

  Model pembelajaran terpadu yang kesembilan adalah model celupan (immersed). Prastowo (2013: 115-116) menjelaskan bahwa model celupan dirancang untuk membantu siswa menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan kemudian dihubungkan dengan penerapannya. Tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman sangat dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran yang menerapkan model celupan. Indrawati (2009: 21) menjelaskan bahwa model immersed memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model celupan ini adalah keterpaduan berlangsung di dalam diri siswa itu sendiri. Kelemahannya adalah model ini dapat mempersempit fokus siswa.

  Model pembelajaran terpadu kesepuluh adalah model jaringan (networked). Prastowo (2013: 116-117) menjelaskan bahwa model jaringan merupakan pemaduan topik yang akan dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya. Indrawati (2009: 22) menjelaskan bahwa model networked memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model jaringan adalah pembelajaran bersifat proaktif sehingga siswa terstimulasi oleh informasi, keterampilan, dan

  40

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  konsep baru. Model jaringan juga memiliki kelemahan yaitu dapat memecah perhatian siswa dan upaya-upaya yang dilakukan menjadi tidak efektif.

  Penjelasan kesepuluh model pembelajaran terpadu dapat menunjukkan bahwa setiap model pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihan. Model pembelajaran tertentu yang dapat diterapkan di sekolah dasar, seperti model jaring laba-laba (connected). Penggunaan tema dapat membantu guru dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

6. Pembelajaran Tematik

  a. Pengertian Pembelajaran Tematik Depdiknas (2009: 6) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik merupakan salah satu pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai alat untuk menggabungkan dan mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga pengetahuan yang diterima oleh siswa dapat menyeluruh. Penggabungan beberapa mata pelajaran yang dilakukan maka pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh siswa lebih bervariasi. Siswa dapat menemukan bahwa mata pelajaran satu memiliki hubungan dengan mata pelajaran yang lain.siswa dapat menemukan hubungan tersebut apabila siswa tersebut secara aktif menggali sendiri pengetahuannya sehingga materi dapat dipelajari secara mendalam dan bermakna.

  Pembelajaran lebih bermakna merupakan salah satu tujuan dari pembelajaran tematik. Depdiknas (2009: 7) menyebutkan ada lima tujuan pembelajaran tematik, diantaranya:

  “(1) memudahkan peserta didik untuk memusatkan perhatian pada suatu tema

  tertentu karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas ; (2) peserta

  41

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  didik dapat mempelajari berbagai macam mata pelajaran dan kompetensi dasar yang disajikan dalam tema yang sama ; (3) pemahaman materi dapat lebih mendalam dan bermakna ; (4) kompetensi dasar dapat dikembangkan dengan baik karena mengaitkan mata pelajaran dengan pengalaman pribadi siswa dan diikat dalam tema tertentu ; dan (5) lebih hemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan kemudian siswa waktu yang masih ada dapat digunakan untuk kegiatan remedial atau pengayaan

  .” Setiap kurikulum tentu memiliki landasan diterapkannya kurikulum tersebut.

  Depdiknas (2009: 8) menyebutkan ada tiga landasan diterapkannya pembelajaran tematik. Landasan tersebut antara lain landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis. Penjelasan mengenai ketiga landasan tersebut ada pada tabel 2.5.

  Tabel 2.5

  

Landasan Pembelajaran Tematik

Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Yuridis

  a. Progresivisme, aliran ini

  

a. Psikologi perkembangan,

  a. UU No. 23 Tahun 2002 pasal 9

memandang bahwa proses psikologi ini diperlukan untuk tentang perlindungan anak

pembelajaran lebih ditekankan menentukan isi dari materi yang menyebutkan bahwa

pada pembentukan kreativitas, pembelajaran yang disajikan setiap anak berhak

pemberian sejumlah kegiatan, agar tingkat keluasan dan mendapatkan pendidikan dan

suasana yang alamiah, dan kedalamannya sesuai dengan pengajaran sesuai dengan bakat

memperhatikan pengalaman tahap perkembangan siswa. dan minatnya agar pribadi dan

siswa.

  b. Psikologi belajar, diperlukan tingkat kecerdasannya b. Konstruktivisme, kunci utama untuk mengetahui bagaimana berkembang dengan baik. dalam pembelajaran adalah suatu materi disajikan dan

  b. UU No. 20 Tahun 2003 bab V

pengalaman langsung siswa. bagaimana siswa pasal 1-b tentang Sistem

c. Humanisme, melihat siswa dari mempelajarinya. Pendidikan Nasional

keunikan/kekhasannya, potensi, menyatakan bahwa setiap

dan motivasi yang dimilikinya. peserta didik pada setiap

satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya.

Tabel 2.5 menunjukkan bahwa pembelajaran tematik memiliki tiga landasan.

  

Pertama , landasan filosofis berisi tentang teori-teori para ahli yang sesuai dengan

  42

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pembelajaran tematik. Kedua, landasan psikologis berisi tentang teori psikologi yang sesuai dengan pembelajaran tematik. Ketiga, landasan yuridis berisi Undang-Undang yang mendasari lahirnya pembelajaran tematik.

  b. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik Trianto (2010: 42) menyebutkan beberapa kekurangan dan kelebihan pembelajaran tematik. Kelebihan pembelajaran tematik yang pertama adalah pemilihan tema yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa akan memotivasi anak untuk belajar. Siswa akan termotivasi untuk terus belajar apabila materi yang dipelajari sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Apabila siswa sudah termotivasi untuk belajar, maka hasil pembelajaran yang dicapai juga akan optimal.

  Kelebihan yang kedua adalah bagi guru yang berpengalaman, pembelajaran tematik mudah untuk dilaksanakan. Pengalaman guru memang turut membantu dalam berjalannya sebuah pembelajaran tematik (Trianto, 2010: 42). Bagi guru yang sudah memiliki banyak pengalaman tentang pembelajaran tematik, hal itu bukan lagi hal yang usah untuk dilakukan. Berbeda dengan guru yang masih memiliki pengalaman yang kurang tentang pembelajaran tematik. Menjadi hal yang susah karena guru harus mampu menggabungkan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema.

  Kelebihan yang ketiga memudahkan penyusunan rencana pembelajaran (Trianto, 2010: 42). Penyusunan rencana pembelajaran menjadi mudah sebab kegiatan pembelajaran yang dilakukan sudah mencakup indikator-indikator dari

  43

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  beberapa mata pelajaran gabungan. Indikator yang digabung merupakan indikator yang hampir sama pada mata pelajaran satu dengan yang lainnya.

  Kelebihan keempat adalah mampu memotivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran tematik dikemas sebaik mungkin untuk memotivasi siswa dalam belajar (Trianto, 2010: 42). Kreativitas guru sangat diperlukan untuk dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa.

  Kelebihan yang kelima memudahkan siswa dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang saling terkait (Trianto, 2010: 42). Pembelajaran tematik tersusun dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan. Setiap mata pelajaran tentu memiliki kegiatan dan ide yang berbeda-beda. Melalui pembelajaran tematik ini siswa dibantu untuk melihat bahwa dari kegiatan dan ide yang berbeda ternyata memiliki keterkaitan dengan mata pelajaran lain.

  Kekurangan yang dimiliki pembelajaran tematik menurut Trianto (2010: 42) diantaranya: (1) sulit dalam pemilihan tema. Pemilihan tema dilakukan apabila standar kompetensi dan kompetensi dasar telah dipadukan. Tentu saja ada kompetensi dasar sisa yang belum dipadukan. Apabila semua sisa kompetensi dasar tersebut dipadukan, belum tentu akan menemukan tema cocok; (2) cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal. Dangkalnya tema yang dibuat oleh guru membuat siswa cepat bosan dalam pembelajaran. Tema yang dangkal tentu hanya memiliki sedikit kegiatan pembelajaran; dan (3) dalam proses pembelajaran, guru akan lebih memperhatikan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan daripada pengembangan konsep yang akan diterima oleh siswa.

  Guru sering tidak memperhatikan pengembangan konsep yang yang akan diterima

  44

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  siswa. Pengembangan konsep lebih penting daripada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Guru hanya memperhatikan kegiatan pembelajaran agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sebenarnya kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan luwes (flexible), sehingga tanpa diperhatikan secara detail pun pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

  Depdiknas (2009: 7-8) menyebutkan ada tujuh keuntungan dari pembelajaran tematik. Keuntungan pertama adalah memudahkan siswa dalam hal pemusatan perhatian pada suatu tema tertentu. Perhatian siswa menjadi lebih fokus sebab siswa hanya akan belajar yang berkaitan dengan tema pada hari tersebut.

  Kedua, siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam satu tema yang sama (Depdiknas, 2009: 7). Siswa dapat mengembangkan kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran sekaligus. Pengetahuan yang diterima pun semakin banyak sebab tidak hanya satu mata pelajaran yang dipelajari.

  Ketiga, pemahaman materi pembelajaran dapat lebih mendalam dan bermakna (Depdiknas, 2009: 7). Pembelajaran tematik memposisikan siswa pada posisi sentral. Posisi sentral yang dimaksud adalah pembelajaran berpusat pada siswa.

  Siswa aktif dalam menemukan konsep secara mandiri.

  Keempat, kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran dengan pengalaman pribadi siswa (Depdiknas, 2009: 7). Siswa dapat menemukan berbagai macam pengetahuan yang membantu dalam proses pembentukan konsep melalui pengalaman pribadi. Kompetensi dasar dapat dikembangkan dengan baik.

  45

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kelima, siswa mendapatkan manfaat dan makna belajar sebab materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas (Depdiknas, 2009: 8). Penentuan tema diharapkan membantu siswa dalam memahami materi. Tema yang telah ditentukan hendaknya berkaitan dengan konteks siswa sehari-hari.

  Keenam, siswa dapat lebih antusias karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata guna mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain (Depdiknas, 2009: 8). Ketika siswa belajar satu mata pelajaran, secara tidak langsung siswa juga mempelajari mata pelajaran lain yang terkait. Kemampuan yang dilatih tidak hanya berfokus pada satu mata pelajaran saja namun mencakup semua mata pelajaran terkait.

  Ketujuh, lebih efisien waktu sebab mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, sisa waktu dapat digunakan untuk remedial, pemantapan, atau pengayaan (Depdiknas, 2009: 8). Materi yang disajikan dalam pembelajaran tematik cenderung lebih cepat selesai. Indikator yang berkaitan digabung kemudian diberikan kepada siswa secara bersamaan.

  Berdasarkan uraian mengenai kekurangan dan kelebihan pembelajaran tematik, pembelajaran tematik dapat dilakukan dengan lebih baik lagi. Ada banyak kelebihan dari pembelajaran tematik daripada pembelajaran yang belum tematik. Kekurangan yang ada hendaknya dapat ditutupi dengan banyaknya kelebihan. Tidak memungkiri juga kekurangan tersebut diperbaiki untuk mendapatkan kelebihan-kelebihan lainnya.

  46

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7.

   Implikasi Pembelajaran Tematik

  Trianto (2010: 117-142) menyebutkan bahwa penerapan pembelajaran tematik memiliki implikasi yang disadari oleh semua pihak. Implikasi tersebut diibaratkan sebuah pedang bermata dua, di satu sisi dapat memberikan keuntungan tetapi di sisi lain dapat memberikan konsekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi oleh penanggungjawab pendidikan. Implikasi tersebut adalah:

  a. Eksistensi Guru dan Peserta Didik 1) Eksistensi Guru

  Pembelajaran tematik merupakan gabungan dari berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan (holistic) dan keterpaduan (integralistic). Depdiknas (dalam Trianto, 2010: 118) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik menuntut guru yang kreatif entah dalam hal menyiapkan pengalaman belajar siswa maupun dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran serta mengemas sebuah pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa. Sehingga dalam pembelajaran tematik ini, beban guru lebih berat dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

  Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah pada umumnya guru-guru di sekolah dasar merupakan guru-guru disiplin ilmu atau guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran akan sulit beradaptasi dengan pengintegrasian beberapa bidang studi sebab mereka hanya memiliki latar belakang satu bidang ilmu saja sehingga tidak optimal pada bidang ilmu yang lain. Pembelajaran tematik menimbulkan sebuah konsekuensi pada berkurangnya beban jam pelajaran yang diemban oleh

  47

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  guru-guru yang tergabung dalam bidang ilmu yang serumpun sementara kewajiban jam pelajaran minimal 24 jam khususnya untuk standar guru bersertifikat pendidik (Trianto, 2010: 118).

  Pemenuhan jam pelajaran yang ditentukan dan efektivitas materi, pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) team teaching dan (2) guru tunggal. Trianto (2010: 119) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik dapat diajarkan dengan membentuk tim guru. Pembelajaran dilakukan oleh lebih dari seorang guru. Setiap guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan bidang keahlian dan kesepakatan. Team teaching ini memiliki kelebihan antara lain kompetensi dasar pada setiap topik pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Setiap tim terdiri atas beberapa ahli dalam setiap bidang kajiannya, pemahaman dan pengalaman belajar yang didapat oleh siswa akan lebih banyak dibandingkan apabila dilakukan oleh seorang guru. Satu tim dapat mengungkapkan berbagai konsep dan pengalaman serta siswa akan lebih cepat dalam memahami materi sebab diskusi akan didampingi oleh narasumber dari berbagai disiplin ilmu.

  Team teaching juga memiliki kekurangan, diantaranya jika kurang

  terkoordinasi dengan baik maka setiap guru dalam tim akan mengandalkan guru lain sehingga kemungkinan kompetensi dasar yang ditentukan tidak dapat tercapai (Trianto, 2010: 119). Apabila persiapan yang dilakukan oleh tim belum baik dan matang maka pada saat pelaksanaan pembelajaran tidak akan berjalan lancar karena tidak berjalan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Para guru tidak tahu apa yang harus dilakukan di dalam

  48

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kelas. Ada baiknya jika dilakukan simulasi terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan buruk terjadi. Koordinasi yang baik pun sangat dibutuhkan dalam sistem team teaching ini.

  Cara selanjutnya, (2) guru tunggal. Pembelajaran dengan guru tunggal merupakan hal ideal untuk dilakukan, namun perlu ditinjau ulang untuk dilaksanakannya sebuah pembelajaran tematik. Trianto (2010: 120) mengungkapkan kelebihan dengan guru tunggal adalah suatu bidang ilmu merupakan satu mata pelajaran atau bidang studi. Kelebihan selanjutnya adalah guru dapat menyusun sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan topik yang akan dikembangkan tanpa konsultasi dengan guru lain. Guru dapat dengan bebas mengekspresikan topik pembelajaran ke dalam RPP. Sikap saling mengandalkan pun tidak akan muncul sebab tanggungjawab pembelajaran ditanggung oleh seorang guru saja.

  Trianto (2010: 121) mengungkapkan bahwa teknik guru tunggal juga memiliki kekurangan. Kekurangan tersebut adalah guru-guru yang berlatarbelakang guru disiplin ilmu akan kesulitan dalam menggabungkan mata pelajaran dalam pembelajaran tematik sebab mata pelajaran dalam pembelajaran tematik merupakan hal yang baru. Seorang guru yang mempunyai latar belakang guru disiplin ilmu atau mata pelajaran tentu tidak menguasai secara detail mata pelajaran yang lain sehingga pembelajaran cenderung didominasi satu mata pelajaran saja. Standar kompetensi dan kompetensi dasar tidak akan tercapai apabila pembelajaran dilaksanakan tidak menggunakan metode yang inovatif sehingga pembelajaran terasa tidak menyenangkan dan bermakna bagi siswa.

  49

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2) Peserta Didik UU No. 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa peserta didik adalah “anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada ja lur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”.

  Majid (2014: 189) menyebutkan bahwa peserta didik atau siswa sebagai subjek dalam pembelajaran tematik hendaknya dapat dikondisikan dengan baik sehingga siswa siap mengikuti proses pembelajaran yang dalam pelaksanaannya siswa diminta untuk bekerja. Siswa bekerja secara individu, pasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Siswa hendaknya siap mengikuti proses pembelajaran yang bervariasi misalnya dengan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah. Proses pembelajaran dalam pembelajaran tematik menempatkan siswa sebagai subjek sehingga siswa dapat dengan aktif menemukan konsep dari materi yang sedang dipelajari secara mandiri.

  b. Analisis Kebutuhan Bahan Ajar, Sarana Prasarana Penunjang, dan Sumber Belajar serta Media Trianto (2010: 122-131) menguraikan tentang bahan ajar, sarana prasarana penunjang, sumber belajar, dan media. Proses penemuan dan penggalian konsep dan prinsip akan berhasil apabila terdapat bahan ajar, sarana prasarana, sumber belajar serta media pembelajaran yang mendukung proses tersebut. Pembelajaran tematik menekankan pada keaktifan peserta didik baik secara berkelompok maupun individu dalam menemukan dan menggali konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik.

  50

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bahan ajar memiliki peran penting dalam pembelajaran tematik (Trianto, 2010: 122). Pembelajaran tematik merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu maka memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan pembelajaran konvensional lainnya. Bahan yang digunakan dapat berbentuk buku sumber utama maupun buku penunjang lainnya. Semakin lengkap bahan yang terkumpul maka semakin luas pula pengetahuan dan pemahaman guru terhadap suatu materi pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Bahan yang sudah terkumpul kemudian dipilah, dikelompokkan, dan disusun ke dalam indikator dari suatu kompetensi dasar.

  Sarana dan prasarana yang menunjang, sama halnya dengan pembelajaran konvensional lainnya, pembelajaran tematik pun memerlukan sarana dan prasarana yang dapat mendukung berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Sarana dan prasarana dalam pembelajaran tematik mempunyai kekhasan tersendiri dimana guru harus cermat dalam memilih media yang akan digunakan (Trianto, 2010: 123). Media yang baik tentu memiliki nilai guna sehingga dapat dimanfaatkan oleh beberapa bidang studi yang terkait dan terpadu. Penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang dipadukan oleh tema.

  Trianto (2010: 124) menyebutkan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan belajar yang dapat digunakan untuk membantu mengoptimalisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar tidak hanya dilihat dari hasil belajar (output) tetapi dapat dilihat dari proses yang berupa interaksi siswa dengan berbagai sumber yang mendukung dalam kegiatan belajarnya. Sumber

  51

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  belajar memiliki dua sifat yaitu sumber belajar yang didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design) dan tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). Pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran telah tercantum dalam kurikulum. Proses pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila di dalamnya menggunakan berbagai macam sumber belajar.

  Trianto (2010: 128) menyebutkan bahwa penggunaan media secara optimal dalam pembelajaran tematik yang bervariasi dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak. Penggunaan media dalam pembelajaran tematik dapat menjadikan guru yang kreatif karena guru disarankan dapat mengemas materi pelajaran dengan menarik. Siswa juga dituntut untuk menjadi aktif dalam pembelajaran dengan aktif menggunakan media pelajaran yang disediakan oleh guru sehingga dapat memahami konsep-konsep yang diberikan guru. Media pembelajaran merupakan jembatan atau sarana guru dalam memberikan konsep-konsep yang abtrak sehingga dapat diterima dengan mudah oleh siswa.

  Majid (2014: 190) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik menekankan kepada siswa untuk aktif menemukan konsep dan prinsip secara holistik dan otentik. Proses pelaksanaannya tentu memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. Siswa yang belajar dengan sarana dan prasaran lengkap, akan lebih mudah dalam mencari konsep dan prinsip secara holistik dan otentik. Pembelajaran tematik perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design)

  52

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  maupun sumber yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by

  

utilization ). Media pembelajaran yang bervariasi perlu digunakan secara optimal

agar dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.

  Ketika siswa secara aktif mencari dan menemukan sendiri konsep yang dipelajari, maka konsep tersebut akan lebih lama mengendap. Penggunaan media bervariasi akan menarik perhatian siswa untuk belajar (Majid, 2014: 190).

  Berdasarkan paparan dari kedua ahli, sarana, prasarana, sumber belajar, dan media perlu digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik. Tujuannya agar siswa terbantu dalam mencari dan menemukan konsep yang sedang dipelajari secara mandiri. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.

  c. Model Pengaturan Ruangan Pengaturan ruangan perlu dilakukan agar dapat tercipta suasana belajar yang kondusif. Trianto (2010: 132) menyebutkan ada enam pengaturan ruang yaitu pengaturan ruang disesuaikan dengan tema yang dilaksanakan, susunan bangku siswa dapat diubah-ubah berdasarkan kebutuhan pembelajaran, siswa tidak harus selalu duduk di kursi namun juga dapat duduk beralas tikar atau karpet, kegiatan pembelajaran hendaknya dapat bervariasi, dilakukan di dalam atau di luar kelas, hasil karya siswa dapat dipajang pada dinding kelas, dan alat, sarana, dan sumber belajar hendaknya dapat dikelola dengan baik sehingga siswa mudah menggunakan dan menyimpannya kembali.

  Pengaturan ruang yang pertama adalah pengaturan ruang disesuaikan dengan tema yang dilaksanakan. Pengaturan ruang yang disesuaikan dengan tema

  53

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pembelajaran dapat memudahkan siswa dalam proses pembentukan konsep (Trianto, 2010: 132). Gambar-gambar atau benda yang berkaitan dengan tema hari tertentu dapat ditampilkan atau dipajang di ruang kelas agar menarik perhatian siswa untuk belajar.

  Pengaturan ruang yang kedua adalah susunan bangku siswa dapat diubah-ubah berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Susunan bangku siswa bisa diubah-ubah dengan tujuan agar siswa dapat dengan leluasa bergerak (Trianto, 2010: 132). Susunan bangku juga dapat divariasi contohnya dengan menggunakan susunan menyerupai huruf U.

  Pengaturan ruang yang ketiga adalah siswa tidak harus selalu duduk di kursi namun juga dapat duduk beralas tikar atau karpet (Trianto, 2010: 132). Kursi tidak harus selalu digunakan untuk siswa duduk. Siswa dapat saja duduk dengan menggunakan karpet sehingga bisa lebih dekat dengan teman-temannya.

  Pengaturan ruang yang keempat adalah kegiatan pembelajaran hendaknya dapat bervariasi, dilakukan di dalam atau di luar kelas (Trianto, 2010: 132). Guru hendaknya dapat dengan kreatif mengemas kegiatan pembelajaran agar dapat tercipta suasana yang kondusif untuk siswa belajar. Sesekali siswa dapat diajak untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas. Selain mendapatkan suasana yang lebih segar, pembelajaran dapat berlangsung secara kontekstual.

  Pengaturan ruang yang kelima adalah hasil karya siswa dapat dipajang pada dinding kelas (Trianto, 2010: 132). Setiap mata pelajaran tentu memiliki tugas yang berbeda-beda. Tugas-tugas siswa dapat dikumpulkan kemudian ditampilkan

  54

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  di dinding kelas agar siswa dapat melihat hasil pekerjaan miliknya sendiri dan milik teman-temannya.

  Pengaturan ruang yang keenam adalah alat, sarana, dan sumber belajar hendaknya dapat dikelola dengan baik sehingga siswa mudah menggunakan dan menyimpannya kembali (Trianto, 2010: 132). Pengelolaan alat, sarana, dan sumber belajar hendaknya dilakukan dengan baik. Siswa tidak akan kesulitan dalam menggunakansumber belajar apabila telah dikelola dengan baik.

  Majid (2014: 190-191) menyebutkan pengaturan ruang perlu dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi penataan ruang perlu disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan, susunan bangku siswa dapat diubah sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang sedang berlangsung. Siswa tidak melulu hanya duduk di kursi, bisa saja siswa duduk di tikar atau karpet.

  Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya siswa dan dapat juga digunakan sebagai sumber belajar. Alat, sarana, dan sumber belajar hendaknya dikelola dengan baik sehingga memudahkan siswa untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.

  d. Strategi Pemilihan Metode Trianto (2010: 132) menyebutkan bahwa metode merupakan bentuk upaya yang dilakukan guru dalam mengimplementasikan rencana yang telah disusun agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Metode berfungsi sebagai sarana untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan member latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran belum tentu

  55

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Trianto (2010: 133-142) menguraikan ada enam metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, diantaranya (1) metode diskusi; (2) metode tanya jawab; (3) metode demonstrasi; (4) metode ceramah plus; (5) metode percobaan; dan (6) metode simulasi.

  Metode diskusi sebagai metode pembelajaran yang memiliki hubungan dengan pemecahan masalah (problem solving). Metode ini sering juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan tesitasi bersama (socialized

  

recitation ). Metode diskusi diterapkan dalam proses pembelajaran bertujuan agar

  siswa dapat berpikir kritis. Siswa juga diberi kesempatan untuk mengekspresikan pendapatnya dengan bebas (Trianto, 2010: 133). Setiap siswa yang telah mampu mengekspresikan pendapatnya, siswa tentu juga akan berlatih untuk mengambil satu jawaban untuk memecahkan suatu masalah.

  Metode tanya jawab adalah metode pembelajaran yang dapat memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat timbal balik sebab dalam waktu yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa (Trianto, 2010: 133). Tujuan diterapkannya metode tanya jawab adalah sebagai tolok ukur sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa (Trianto, 2010: 134). Kemampuan setiap siswa dalam menguasai materi tentu berbeda-beda. Guru dapat melakukan tanya jawab untuk mengetahui kemampuan setiap siswa setelah mempelajari materi yang diberikan oleh guru. Siswa dengan sendirinya akan mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahaminya.

  Metode demonstrasi merupakan metode yang menggunakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan sebagai alat peraganya (Syah dalam

  56

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Trianto, 2010: 134). Metode ini juga digunakan untuk menunjukkan cara kerja suatu alat atau benda yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari.

  Manfaat dari diterapkannya metode demonstrasi adalah perhatian siswa dapat lebih dipusatkan, proses belajar siswa lebih terarah, dan pengalaman sebagai hasil belajar lebih melekat dalam diri siswa (Trianto, 2010: 135). Metode demonstrasi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba sendiri alat atau benda yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Pengalaman yang didapat oleh siswa setelah melakukan demonstrasi tentu akan menjadi pengetahuan bagi siswa.

  Trianto (2010: 135) mendefinisikan metode ceramah plus sebagai metode gabungan antara metode ceramah dengan metode lainnya. Trianto membagi metode ceramah plus menjadi tiga yaitu metode ceramah plus tanya jawab dan tugas, metode ceramah plus diskusi dan tugas, serta metode ceramah plus demonstrasi dan latihan. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas merupakan metode gabungan antara ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Metode ini biasanya dilakukan dengan pemberian materi terlebih dahulu oleh guru, lalu diadakan tanya jawab, kemudian pemberian tugas.

  Metode ceramah plus yang kedua adalah metode ceramah plus diskusi dan tugas (Trianto, 2010: 136). Metode ini hampir sama dengan metode ceramah plus tanya jawab dan tugas, hanya berbeda dalam pengkombinasiannya. Metode ini dilakukan dengan penjelasan materi dari guru, kemudian diadakan diskusi, lalu terakhir pemberian tugas. Metode ceramah plus yang ketiga adalah metode ceramah plus demonstrasi dan latihan. Metode ini dilakukan dengan pemberian

  57

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  materi di awal, kemudian siswa memperagakan atau mendemontrasikan, kemudian siswa diberi latihan (drill).

  Djamarah (dalam Trianto, 2010: 137) mendefinisikan metode percobaan atau metode eksperimen merupakan cara penyajian materi dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri apa yang sedang dipelajari. Apabila siswa mengalami sendiri proses belajarnya maka konsep yang diserap akan mengendap lebih lama. Metode eksperimen diterapkan agar dapat membantu siswa dalam memahami sebuah konsep. Siswa diharapkan mampu memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan materi yang sedang dipelajari.

  Trianto (2010: 139) menyebutkan bahwa metode simulasi merupakan metode yang digunakan guru dalam menyajikan materi dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat dijadikan metode dalam pembelajaran dengan asumsi bahwa tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Ada lima jenis simulasi yaitu sosiodrama, psikodrama, role playing,

  peer teaching, dan simulasi game (Trianto, 2010: 140-141).

  Majid (2014: 191) menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik memerlukan kegiatan yang bervariasi. Variasi kegiatan tentu dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar. Metode pembelajaran yang digunakan hendaknya sesuai dengan model pembelajaran yang dipilih dan sesuai dengan kompetensi dasar, indikator, serta tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

  58

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Penilaian Majid (2014: 191-192) menambahkan satu implikasi pembelajaran tematik yaitu implikasi terhadap penilaian. Penilaian dalam pembelajaran dilakukan untuk memperoleh informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan siswa melalui kegiatan pembelajaran.

  Penilaian bisa dilakukan dengan teknik tes dan nontes.

  Teknik tes meliputi tes tertulis dan lisan, sedangkan teknik nontes meliputi tes perbuatan, catatan harian perkembangan siswa (observasi), dan portofolio. Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan siswa berbentuk soal-soal yang perlu dijawab oleh siswa. Penilaian teknik nontes diperoleh apabila guru memberikan tugas atau portofolio (Majid, 2014: 192).

  Pembelajaran tematik memiliki implikasi terhadap subjek atau objek di dalamnya. Implikasi terhadap guru; siswa; sarana, prasarana, sumber belajar, dan media; pengaturan ruangan; pemilihan metode; dan penilaian. Semua implikasi tersebut bisa dijadikan sebagai pedoman oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik di kelas. Apabila semua implikasi telah diperhatikan dan dilaksanakan, maka pembelajaran tematik yang dilaksanakan akan berjalan dengan baik.

8. Karakteristik Pembelajaran Tematik

  Depdiknas (2009: 9) menyebutkan bahwa karakteristik pembelajaran tematik dapat dilihat dari dua sisi yaitu perkembangan anak usia kelas awal dan cara belajar siswa. Perkembangan anak usia kelas awal juga memiliki karakteristik yang lebih khusus atau spesifik. Karakteristik pertama adalah berpusat pada siswa,

  59

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pembelajaran tematik dilaksanakan dengan berpusat pada siswa (student centered) yang dalam hal ini siswa berperan sebagai subjek pembelajaran dan guru berperan hanya sebagai fasilitator.

  Karakteristik kedua adalah memberikan pengalaman langsung, pembelajaran tematik berisikan kegiatan-kegiatan yang mampu memberikan pengalaman langsung kepada para siswa (Depdiknas, 2009: 9). siswa dihadapkan pada sesuatu yang yang nyata atau konkret sebagai alat bantu untuk memahami hal-hal abstrak melalui pengalaman langsung tersebut.

  Karakteristik ketiga adalah pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas (Depdiknas, 2009: 9). Pembelajaran tematik berfokus pada tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari.

  Karakteristik keempat adalah menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran (Depdiknas, 2009: 9). Suatu proses pembelajaran tematik mengandung konsep- konsep dari banyak mata pelajaran. Konsep-konsep yang disajikan dari berbagai mata pelajaran tersebut merupakan jembatan bagi siswa, sehingga siswa diharapkan mampu untuk memahami konsep secara komprehensif. Hal tersebut akan berguna bagi siswa untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.

  Karakteristik kelima adalah bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik memiliki sifat luwes (flexible) dimana bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dapat dikaitkan oleh guru (Depdiknas, 2009: 9). Mata pelajaran dapat dikaitkan dengan kehidupan dan lingkungan siswa berada.

  60

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Karakteristik yang keenam adalah hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa (Depdiknas, 2009: 9). Pembelajaran tematik memberi kesempatan bagi siswa untuk mengoptimalkan talenta atau potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Siswa yang belajar tidak sesuai dengan minat dan kebutuhannya, hasil pembelajaran yang diperoleh juga tidak maksimal.

  Karakteristik ketujuh adalah menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Depdiknas, 2009: 9). Pembelajaran tematik dapat dilaksanakan dengan berbagai macam cara diantaranya melalui permainan, diskusi, dll. Konsep pembelajaran yang telah dirancang bertujuan agar anak merasa senang ketika belajar. Guru yang menerapkan pembelajaran tematik diharapkan dapat mengemas pembelajaran secara bervariasi sehingga dapat menarik perhatian siswa. Siswa menjadi tertarik untuk terus belajar.

9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Reformasi

  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008: 309) mendefinisikan demografi sebagai ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial. Data susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk dapat diambil dengan menggunakan statistik dan penggolongan. Penggolongan tersebut berdasarkan pada kelas sosial, agama, umur, tempat, pendidikan, dan sebagainya. Setiap anggota masyarakat memiliki status yang berbeda-beda apabila dilihat berdasarkan penggolongan di atas.

  Chairunniza (2012: 10) menyebutkan bahwa ada tujuh karakteristik demografi pegawai. Ketujuh karakteristik demografi pegawai tersebut yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status kepegawaian, masa kerja,

  61

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dan pelatihan yang diikuti. KBBI (2008: 1526) menyebutkan bahwa umur adalah lama waktu hidup atau ada. Syaiin (dalam Chairunniza, 2012: 11) mengemukakan bahwa bertambahnya usia seseorang maka kedewasaan, keadaan psikologis, dan kematangan jiwa seseorang juga meningkat. Seiring bertambahnya usia seseorang, maka kemampuan seseorang dalam pengambilan keputusan, berpikir rasional, pengendalian emosi, dan toleransi terhadap pendapat orang lain juga akan meningkat. Peningkatan kemampuan yang dimiliki seseorang tentu akan mempengaruhi pada tingkat motivasinya.

  Syaiin (dalam Chairunniza, 2012: 11) menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara pegawai wanita dengan pria. Pegawai pria akan menambah jumlah jam kerja perminggu karena memiliki beban keluarga yang tinggi. Sebaliknya, pegawai wanita akan mengurangi jam kerja perminggu sebab memiliki beban keluarga yang tinggi. Lubis (dalam Chairunniza, 2012: 12) juga menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang ebrarti dalam produktivitas antara laki-laki dan perempuan.

  Syaiin (dalam Chairunniza, 2012: 12) menyebutkan bahwa latar belakang pendidikan dan masa kerja seseorang dapat mempengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhannya. Tingkat pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda dapat mempengaruhi motivasi kerja seseorang. Seseorang yang mempunyai motivasi kerja tinggi maka kebutuhannya akan tercukupi.

  Sihombing (dalam Chairunniza, 2012: 12) mendefinisikan tingkat pendidikan sebagai suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir dimana dalam proses tersebut seseorang mempelajari pengetahuan

  62

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  konseptual dan teoritis untuk tujuan-tujuan umum. Semakin banyak tingkatan pendidikan yang ditempuh oleh seseorang, maka semakin banyak pula pengetahuan yang diperolehnya dimana pengetahuan tersebut berguna dalam dunia kerja. Kualitas kerja seseorang akan baik sebab ia telah menguasai berbagai teori yang berkaitan dengan bidang yang digelutinya. Sama halnya dengan guru, semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh seorang guru, maka pengetahuan guru tentang mendidik siswa akan lebih banyak. Guru yang baik tidak hanya berkualitas dalam bidang akademik atau pengetahuan namun juga berkualitas dalam afektifnya. Jadi, antara pengetahuan dan afektif guru sangat berpengaruh terhadap kualitas pengajaran dan pendidikan yang dilakukannya.

  Karakteristik demografi selanjutnya adalah status kepegawaian. UU Ketenagakerjaan (dalam Chairunniza, 2012: 13) menyebutkan bahwa ada dua macam status kepegawaian. Pertama, pegawai tetap. Pegawai tetap merupakan seseorang yang memiliki keterikatan perjanjian kerja untuk kurun waktu yang tidak ditentukan. Kedua, pegawai kontrak. Pegawai kontrak adalah seseorang yang memiliki keterikatan perjanjian kerja untuk kurun waktu yang telah ditentukan. Guru termasuk dalam pegawai kontrak dimana jika seseorang telah memasuki usia tertentu maka masa kerjanya dianggap telah habis.

  Suwondo (dalam Minarmi, 2008) membedakan status kepegawaian tenaga kependidikan menjadi dua yaitu guru tetap dan tidak tetap. Guru tetap adalah guru yang telah diangkat menjadi pegawai tetap pada suatu instansi pendidikan yang memiliki kewajiban mengajar 24 jam per minggu dan melaksanakan tugas administrasi lainnya. Guru tetap dapat berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau

  63

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  non-PNS. Guru tidak tetap adalah guru yang belum diangkat menjadi pegawai tetap pada suatu instansi pendidikan. Guru tidak tetap dapat memiliki status guru bantu.

  Surani (dalam Chairunniza, 2012: 13) menjelaskan bahwa masa kerja atau pengalaman kerja merupakan bekal yang sangat penting dan berpengaruh pada produktivitas pegawai. Semakin banyak pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang pegawai, maka produktivitas kerja yang dimiliki akan semakin tinggi.

  Pengalaman kerja merupakan keseluruhan pelajaran yang didapat oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.

  Karakteristik demografi pegawai selanjutnya adalah pelatihan relevan dengan tugas. Pelatihan bagi pegawai adalah sebuah proses mengajarkan pengetahuan, keterampilan tertentu, dan sikap agar karyawan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik (Chairunniza, 2012: 14). Pelatihan biasanya merujuk pada suatu keterampilan yang dapat digunakan dengan segera dalam suatu pekerjaan. Pelatihan juga dapat meningkatkan pengetahuan yang akan digunakan sekarang atau di masa depan. Surani (dalam Chairunniza, 2012: 15) menyebutkan bahwa pelatihan atau training merupakan suatu bentuk proses pendidikan dimana melalui

  

training , sasaran belajar atau pendidikan akan mendapat pengalaman baru

  kemudian menimbulkan perubahan perilaku mereka. Training yang dilakukan berupa kegiatan informal yang mendukung dalam pelaksanaan tugas pegawai.

  Penjelasan karakteristik demografi pegawai menunjukkan bahwa setiap karakteristik memiliki pengaruh pada produktivitas kerja seseorang. Karakteristik demografi yang dimiliki seorang pegawai berbeda satu dengan yang lainnya.

  64

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penelitian ini hanya berfokus pada karakteristik demografi latar belakang pendidikan dan status kepegawaian. Karakteristik yang lain merupakan bagian dari anggota kelompok studi.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

  Prasetyo (2012) melakukan penelitian pelaksanaan pembelajaran tematik untuk kelas 3 SD. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengidentifikasi pelaksanaan pembelajaran terpadu model tematik kelas 3 sekolah dasar dimana guru memiliki peran penting dalam implementasi pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan efisien. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru serta faktor penunjang yang lain sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.

  Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif karena dalam penelitian ini tidak menguji hipotesis atau mencari hubungan dari beberapa variabel, namun memaparkan fakta yang diperoleh di lapangan. Subjek penelitian adalah guru kelas 3 sekolah dasar di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri.

  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran terpadu model tematik sudah dilaksanakan di semua kelas 3 sekolah dasar Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan, salah satunya adalah dalam hal

  65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengatasi mata pelajaran yang sulit untuk ditematikkan. Masih banyak sekolah dasar yang mengalami kesulitan tersebut.

  Minarmi (2008) melakukan penelitian tentang persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan yang ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan dan status kepegawaian. Penelitian yang dilakukan Minarmi relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian Minarmi memiliki empat tujuan. Pertama, untuk mengetahui perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja. Kedua, mengetahui perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan. Ketiga, mengetahui perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari golongan jabatan. Keempat, mengetahui perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian.

  Penelitian ini merupakan penelitian survei. Populasi yang digunakan adalah seluruh guru sekolah dasar se-Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten dan berjumlah 252 guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja; (2) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan; (3) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari golongan jabatan; dan (4) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian.

  66

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penelitian yang dilakukan Mashudi (2010) tentang implementasi pembelajaran tematik di kelas II sekolah dasar juga relevan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di SDN Sonoageng II Kecamatan Prambon. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah purpossive sampling. Teknik analisis data yang digunakan berupa teknik analisis interaktif yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi pengorganisasian pembelajaran tematik dilaksanakan dengan mengadaptasi dan memilih isi pembelajaran berupa tema; (2) strategi penyampaian pembelajaran tematik dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber belajar; (3) faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran tematik dapat dipengaruhi dari aspek sisi guru, kebijakan terkait, karakteristik mata pelajaran yang bervariasi, ketersedian fasilitas pendukung, kemampuan siswa yang beragam, jadwal waktu dan tempat pembelajaran, dan jumlah rombongan belajar dalam kelas; (4) prestasi belajar siswa meningkat.

  Astuti (2012) juga melakukan penelitian serupa tentang implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas awal. Tujuan penelitian yang dilakukan oleh Astuti adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru kelas awal di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Srandakan.

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif.

  Populasi penelitian ini adalah seluruh guru kelas awal yang berada di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Srandakan. Metode pengumpulan data yang

  67

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan dalam penelitian ini adalah angket, wawancara, dan dokumentasi.

  Teknik analisis data yang digunakan berupa analisis deskriptif dengan presentase kemudian menggunakan interpretasi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran tematik oleh guru SD Negeri kelas awal termasuk dalam kategori sangat baik dengan presentase 86.66%.

  Dilek (2002) melakukan penelitian tentang penggunaan pembelajaran tematik berdasarkan kemampuan dan minat siswa. Penelitian ini menginvestigasi bagaimana guru ilmu kependudukan dapat memperkenalkan kegiatan yang berpusat pada siswa dalam situasi kelas yang gaduh. Teknik penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan dilakukan di program studi Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan SD Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian ini didasarkan pada bagaimana siswa menggunakan antusiasme, minat, dan keterampilan dalam belajar subjek-subjek ilmu kependudukan dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas yang menggunakan pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

  68

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Minarmi, 2008.

  

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa tidak ada perbedaan

persepsi guru terhadap

sertifikasi guru dalam jabatan

  Mashudi. 2010. Prasetyo. 2012.

ditinjau dari masa kerja,

Hasil penelitian menunjukkan

  Hasil penelitian

tingkat pendidikan, golongan

bahwa pembelajaran tematik menunjukkan bahwa

jabatan, dan status

telah diterapkan dan prestasi pembelajaran tematik sudah

kepegawaian.

belajar siswa dapat meningkat. diterapkan di semua kelas III namun masih terdapat kekurangan.

  Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei

  Bagi Guru-Guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota

  Yogyakarta Astuti. 2012.

  Dursun Dilek. 2002. Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi bahwa kelas yang pembelajaran tematik oleh menggunakan pembelajaran guru sd negeri kelas awal tematik dapat meningkatkan termasuk dalam kategori prestasi belajar siswa. sangat baik dengan presentase 86.66%.

Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang RelevanGambar 2.1 menjelaskan posisi penelitian diantara penelitian-penelitian yang relevan. Lima penelitian yang relevan merupakan penelitian tentang implementasi

  pembelajaran tematik. Kelima penelitian tersebut menjadi acuan bagi peneliti dalam melakukan penelitian dengan judul Implementasi Pembelajaran Tematik

  

oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei bagi Guru-guru Pengampu Kelas

Bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta . Penelitian ini berbeda dengan

  penelitian yang telah ada. Penelitian ini membandingkan tingkat pembelajaran tematik di SD kelas bawah ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan dan status kepegawaian guru.

  69

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C.

   Kerangka Berpikir

  Pemerintah telah banyak melakukan reformasi untuk memajukan Bangsa Indonesia ini. Segala bidang telah mengalami banyak reformasi, tidak terkecuali pendidikan. Pemerintah melakukan reformasi di bidang pendidikan dengan tujuan memperbaiki sistem pendidikan nasional yang telah berlaku. Sistem nasional pendidikan di Indonesia hanya menjadikan siswa sebagai objek dalam proses pembelajaran dimana siswa hanya memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru tanpa melakukan kegiatan berkaitan dengan materi yang diberikan. Cara seperti itu menjadikan siswa pasif dan materi yang diserap tidak dapat bertahan lama dan bermakna sebab siswa tidak menggali sendiri pengetahuan berkaitan dengan materi yang diberikan oleh guru.

  Perbaikan kurikulum tersebut dengan menerapkan pembelajaran tematik dimana siswa diberi kesempatan untuk menggali dan mencari sendiri pengetahuan tentang materi yang diberikan oleh guru. Penerapan pembelajaran tematik menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat mengendap lebih lama dan bermakna. Pembelajaran tematik memiliki karakteristik tertentu yang sesuai dengan kondisi peserta didik di Indonesia.

  Pembelajaran tematik akan terlaksana dengan baik tidak hanya berdasarkan karakteristik yang dimiliki, namun juga dapat ditinjau dari faktor demografi guru.

  Faktor demografi latar belakang pendidikan guru mungkin dapat mempengaruhi tingkat implementasi pembelajaran tematik. Guru yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi mungkin lebih baik dalam penerapan pembelajaran tematik

  70

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dibandingkan dengan guru yang memiliki latar belakang pendidikan rendah.

  Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin banyak pula pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Selain latar belakang pendidikan, status kepegawaian guru dapat saja mempengaruhi implementasi pembelajaran tematik.

D. Hipotesis Penelitian

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

  1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta masuk dalam kategori tinggi.

  2. Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  3. Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODE PENELITIAN Bagian metode penelitian ini, memaparkan tentang jenis penelitian, setting

  penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, serta prosedur analisis data.

A. Jenis dan Desain Penelitian

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan cross

  

sectional design melalui metode survei. John & Christensen (dalam Rismiati,

  2014: 21) menyebutkan bahwa dalam penelitian non eksperimental desain, variabel independen tidak bisa dimanipulasi dan tidak ada “random assignment” yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan populasi besar atau kecil, namun data yang digunakan merupakan sampel dari populasi sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis (Kerlinger dalam Sugiyono, 2011: 12). Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di Sekolah Dasar Negeri se-Kota Yogyakarta dan mengetahui hubungan antara faktor demografi guru dengan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah di sekolah dasar se-Kota Yogyakarta.

  72

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  X

1 Y

  X

  2 Gambar 3.1 Desain Penelitian

  Keterangan:

  X

  1 : Latar belakang pendidikan

  X

  2 : Status kepegawaian

  Y : Implementasi pembelajaran tematik

Gambar 3.1 menjelaskan tentang desain peneletian ini. Desain penelitian menunjukkan bahwa X

  1 merupakan latar belakang pendidikan yang dimiliki guru

  dapat memberikan perbedaan atau tidak terhadap Y atau implementasi pembelajaran tematik. Sama halnya dengan X

  1 , X 2 yang merupakan status

  kepegawaian guru dapat memberikan perbedaan atau tidak terhadap Y atau implementasi pembelajaran tematik.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

  1. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan September 2013 sampai Maret 2014.

  2. Tempat Penelitian Peneliti melakukan penelitian di seluruh Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta yang berjumlah 97 sekolah.

  73

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C.

   Variabel Penelitian

  Sugiyono (2009: 38) mengatakan bahwa variabel merupakan kelengkapan suatu objek yang mempunyai variasi tertentu yang telah ditetapkan yang kemudian ditarik kesimpulannya. Penelitian ini mengemukakan 2 macam variabel, yaitu:

  1. Variabel bebas (independent variable) Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor demografi status kepegawaian dan latar belakang pendidikan guru. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau variabel yang menjadi sebab perubahan variabel terikat (Sugiyono 2009: 39). Variabel bebas juga merupakan penyebab timbulnya variabel terikat.

  2. Variabel terikat (dependent variable) Variabel terikat dalam penelitian adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi sebab adanya variabel bebas (Sugiyono 2009: 39). Variabel terikat sering disebut dengan variabel kriteria atau konsekuen.

D. Populasi dan Sampel

  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta berjumlah 328 guru. Data berjumlah 328 guru diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta (Lihat lampiran 1).

  Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek dalam ruang lingkup yang akan

  74

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diteliti (Martono, 2010: 15). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 190 guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta. Sampel merupakan bagian dari anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi (Martono, 2010: 15). Jumlah minimal sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan tabel Krejcie adalah 175 (Usman dan Akbar, 2006: 362).

  Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purpossive

  

random sampling atau gabungan dari dua teknik sampling yaitu Purpossive

sampling dan Random sampling. Purpossive sampling adalah teknik penentuan

  sampel dengan menggunakan pertimbangan atau tujuan tertentu. Random

  

sampling merupakan teknik penentuan sampel yang dilakukan secara acak tanpa

memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi tersebut (Sugiyono, 2009: 85).

  Sampel yang ditentukan dalam penelitian ini adalah guru pengampu kelas bawah sekolah dasar karena pembelajaran tematik diterapkan pada kelas bawah sekolah dasar.

E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.

  Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2011: 142). Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner dapat berupa pertanyaan terbuka atau tertutup. Kuesioner dalam penelitian ini berisi pertanyaan dan pernyataan berskala menggunakan Skala Likert lima pilihan. Alasan

  75

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penggunaan Skala Likert dalam penelitian ini adalah jawaban dari pernyataan atau pertanyaan pada kuesioner berupa pendapat. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang mengenai tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136).

F. Instrumen Penelitian

  Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik. Lembar kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi lembar kuesioner yang dilakukan oleh Rismiati (2012). Lembar kuesioner tersebut tersusun atas 2 bagian, bagian pertama berisi tentang implementasi pembelajaran tematik dan bagian kedua berisi tentang faktor-faktor demografi guru. Lembar kuesioner berisi 43 item yang terdiri dari 28 item penyataan tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik dan 15 pertanyaan tentang faktor demografi guru. Kedua bagian lembar kuesioner juga memiliki 37 item pernyataan tertutup yaitu item 1 sampai item 34 dan item 40, 41, serta 43.

  Pernyataan terbuka adalah item 35, 36, 37, 38, 39, dan 42. Alasan penelitian ini menggunakan lembar kuesioner tersebut karena penelitian ini ingin menguji kembali tingkat validitas dan reliabilitas lembar kuesioner yang telah dilakukan sebelumnya.

  Lembar kuesioner implementasi pembelajaran dalam penelitian ini terdiri dari 7 indikator di mana pada tiap indikatornya terdiri dari item positif dan juga item negatif. Lembar kuesioner ini tidak hanya mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik, namun juga melihat perbedaan implementasi pembelajaran

  76

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tematik ditinjau dari faktor demografi. Pernyataan untuk faktor demografi berjumlah 15 item. Keseluruhan pernyataan berjumlah 43 item yang terdiri dari 38 item positif dan 5 item negatif. Lembar kuesioner ini disusun dengan

  “summate raiting scale (skala likert) (Furchan, 2007: 278-280). Skala ini diubah dengan

  lima pilihan jawaban yaitu pilihan skor 1-5. Item positif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat Setuju” dengan pilihan skor 1-5.

  Item neg atif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju” dengan pilihan skor 5-1.

  Pengukuran lembar kuesioner ini dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu untuk item positif dan juga untuk item negatif. Tabel 3.1 menjabarkan skor untuk item positif dan skor untuk item negatif.

  Tabel 3.1

  

Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif

No. Kategori Skor Keterangan

  1 Sangat tidak setuju

  2 Tidak setuju

  1. Item positif

  3 Ragu-ragu

  4 Setuju

  5 Sangat setuju

  5 Sangat tidak setuju

  4 Tidak setuju

  2. Item negatif

  3 Ragu-ragu

  2 Setuju

  1 Sangat setuju

Tabel 3.1 menunjukkan penjabaran skor untuk item positif dan negatif. Skor 1 pada item positif berarti bahwa responden sangat tidak setuju dengan pernyataan

  pada lembar kuesioner. Skor 2 memiliki arti bahwa responden tidak setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 3 memiliki arti bahwa responden ragu- ragu dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 4 memiliki arti bahwa

  77

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  responden setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 5 memiliki arti bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner.

  Skor 5 pada item negatif berarti bahwa respoden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 4 memiliki arti bahwa responden tidak setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 3 memiliki arti bahwa responden ragu-ragu dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 2 memiliki arti bahwa responden setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner. Skor 1 memiliki arti bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada lembar kuesioner.

Tabel 3.2 menunjukkan item positif dan item negatif dari lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik yang telah disusun.

  Tabel 3.2

  

Sebaran Item Positif dan Item Negatif

No No

  

Indikator Item Positif Item Negatif

Item Item Kegiatan

2. Saya memberi pilihan

  1. Saya menggunakan pembelajaran yang kepada siswa untuk ceramah sebagai metode berpusat pada menentukan cara mereka utama untuk siswa belajar. menyampaikan materi.

  3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran.

  4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. Siswa mengalami

  5. Saya menggunakan kegiatan pengalaman “belajar dengan melakukan langsung dalam atau belajar dengan belajar mengalami” (learning by doing ) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi.

  6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran.

  7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam

  78

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  No No Indikator Item Positif Item Negatif Item Item menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa).

  8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. Pemisahan pada

  10. Ketika saya menggunakan

  9. Saya mengajar materi lima setiap mata Pembelajaran Tematik, bidang studi ke-SD-an pelajaran tidak siswa saya dapat mengerti secara terpisah begitu jelas adanya keterkaitan antar (Matematika, Bahasa, mata pelajaran. PPKn, IPA dan IPS).

  11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. Saya mengembangkan

  12. Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Pembelajaran yang

  13. Saya merancang

  16 Jadwal mengajar saya menyajikan konsep pembelajaran dalam suatu adalah jadwal per mata dari satu mata tema sentral untuk pelajaran (misalnya Senin pelajaran membantu siswa belajar mengajar IPA dan berbagai mata pelajaran Matematika, Selasa sekaligus. mengajar IPS dan Bahasa

  14. Saya menggunakan Indonesia, dst). pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran.

  15 Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. Pembelajaran

  17. Saya mengaitkan tema dan bersifat fleksibel materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam.

  18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll.

  19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa.

  20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan

  79

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  No No

Indikator Item Positif Item Negatif

Item Item pengalaman hidup dan budaya para siswa.

  Hasil pembelajaran

  21. Saya menggunakan materi

  22. Saya menggunakan tes yang sesuai dengan atau alat penilaian yang tertulis (misalnya esai,

minat dan sesuai dengan kebutuhan pilihan ganda, benar salah)

kebutuhan siswa setiap siswa. sebagai metode utama

  23. Saya menggunakan dalam menilai hasil belajar penilaian unjuk kerja untuk siswa. menilai hasil belajar siswa.

  24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Prinsip belajar

  25. Saya menggunakan sambil belajar dan permainan, bermain peran, bermain yang simulasi dan strategi menyenangkan pembelajaran lainnya yang bagi siswa melibatkan siswa secara aktif.

  26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar.

  27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar.

  28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya.

Tabel 3.2 menunjukkan bahwa terdapat empat item negatif dalam instrumen penelitian. Item negatif tersebut yaitu item 1, 9, 16, dan 22. Sebaran nomor item

  positif dan item negatif pada tabel 3.2 dapat dilihat pada tabel 3.3 mengenai kisi- kisi kuesioner.

  Tabel 3.3

  

Indikator Kuesioner

Variabel Indikator No. Item Jenis Variabel

  Tingkat implementasi Kegiatan pembelajaran yang 1, 2, 3, 4 pembelajaran tematik berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalaman 5, 6, 7, 8 langsung dalam belajar

Pemisahan pada setiap mata 9, 10, 11, 12

Variabel Terikat pelajaran tidak begitu jelas

Pembelajaran yang menyajikan 13, 14, 15, 16

konsep dari satu mata pelajaran

Pembelajaran bersifat fleksibel 17, 18, 19, 20

  80

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Variabel Indikator No. Item Jenis Variabel

Hasil pembelajaran yang 21, 22, 23, 24

sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa

Prinsip belajar sambil bermain 25, 26, 27, 28

yang menyenangkan bagi siswa

  Faktor Demografi Dukungan dari kepala sekolah 29, 30, 31, 32, 33,

  34 Pengalaman mengajar

  35 Jenjang kelas yang diampu

  36 Lama mengajar tematik

  37 Pengalaman training

  38 pembelajaran tematik Jumlah siswa yang diajar

  39 Variabel Bebas menggunakan pembelajaran tematik Latar belakang pendidikan

  40 guru Status kepegawaian guru

  41 Jumlah rekan guru yang secara

  42 bersama-sama mengajar tematik Penerapan Kurikulum 2013

  43 Tabel 3.3 menunjukkan sebaran nomor item pada kuesioner penelitian.

  Penelitian ini hanya menggunakan faktor demografi latar belakang pendidikan dan status kepegawaian guru atau pada item nomor 40 dan 41. Faktor demografi yang lainnya merupakan bagian dari anggota kelompok studi.

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen a. Validitas

  Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian (Sugiyono, 2011: 266). Suatu tes dikatakan valid apabila alat ukur tersebut melakukan fungsi ukurnya. Hasil yang dicapai pun sesuai dengan tujuan dilakukannya sebuah tes. Alat ukur yang valid tidak hanya mampu mengungkap

  81

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  data namun mampu memberikan gambaran yang cermat mengenai data yang telah diuji.

  Penelitian ini hanya menggunakan tiga teknik pengukuran validitas. Ketiga teknik itu adalah validitas isi, validitas muka, dan validitas konstruk. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing validitas:

  1. Validitas isi (content validity) Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen dalam mengukur isi (konsep) yang harus diisi (Siregar, 2010: 163). Suatu alat ukur diharapkan mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Kuesioner penelitian ini mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik pada Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta. Validitas isi dilakukan dengan

  

expert judgement pada orang yang ahli dalam mengukur konsep ini. Validitas isi

  dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen, kepala sekolah, dan guru. Dosen, kepala sekolah, dan guru dipilih karena merupakan ahli-ahli dalam pembelajaran tematik. Kuesioner yang telah kembali kemudian diolah untuk mengetahui perlu tidaknya dilakukan revisi. Revisi pernyataan item didasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria revisi dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan kelompok studi.

  Tabel 3.4

  

Kriteria Revisi Pernyataan

Kriteria Pernyataan Revisi/Tidak Revisi

  

> 2,5 Positif Tidak Revisi

Negatif Tidak Revisi ≥ 2,5 Positif Revisi

  ≤ 2,5 < 2,5 Negatif Revisi

Tabel 3.4 menjelaskan bahwa apabila rata-rata skor yang diperoleh dari masing-masing nomor item dalam setiap indikator > 2,5 berisi pernyataan positif

  82

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berarti pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Apabila rata-rata skor yang diperoleh ≥ 2,5 namun berisi pernyataan negatif, maka pernyataan tidak perlu dilakukan revisi.

  Rata-rata skor

  2,5 dan berisi pernyataan positif maka perlu dilakukan revisi. Skor yang memiliki rata-rata < 2,5 dan berisi pernyataan negatif, maka pernyataan perlu direvisi. Hasil expert judgement setiap indikator tertera pada tabel 3.5.

  Tabel 3.5

  

Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada

Siswa

Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  3

  4

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  1

  3

  4 3 2,75

  3 Dosen c

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Guru a

  2

  3

  4 4 3,25

  5 Guru b

  3

  4

  3 4 3,5

  6 Guru c

  3

  2

  3

  4

  3

  7 Kepsek a

  3

  4

  4 4 3,75

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata

2,75 3,375 3,625 3,75

Tabel 3.5 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan nomor item 1 sebesar 2,75. Rata-

  rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komen tar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan sudah jelas, sudah

  

bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam

pembelajaran

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,375. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk

  83

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  item 2 yaitu “kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena

  kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,625. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan bisa

  dipahami oleh guru

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa tidak diperlukan revisi.

  Tabel 3.6

  

Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung

dalam Belajar

Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4

  4

  4

  2 Dosen b

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  4

  3

  4 3 3,5

  5 Guru b

  3

  3

  3 4 3,25

  6 Guru c

  4

  4

  4 3 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  3

  3 4 3,5 3,875 3,625 3,75 3,75 Rata-rata

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar dengan nomor item 1 sebesar 3,875. Rata-rata

  nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar

  84

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  positif. Komentar untuk item 1 “pernyataan sudah bagus, sudah diberi contoh

  pembelajaran learning by doing itu yang seperti apa?

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,625. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah baik, mudah

  dipahami oleh guru ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah

  

baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang contoh sumber belajar macam

apa yang dimaksud?

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar tidak diperlukan revisi.

  85

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 3.7

  

Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran tidak

Begitu Jelas

Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas

  

No Validator Rata-rata

  1

  2

  3

  4

  1 Dosen a

  3

  3

  4 4 3,5

  2 Dosen b

  1

  4

  3

  4

  3

  3 Dosen c

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Guru a

  3

  3

  4 4 3,5

  5 Guru b

  3

  4

  3 3 3,25

  6 Guru c

  4

  3

  4 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  3

  3 4 3,5

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 3,125 3,375 3,5 3,75 Rata-rata

Tabel 3.7 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas dengan nomor item 1 sebesar 3,125. Rata-rata

  nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan ini bertentangan dengan

  

indikator, lebih baik diganti (saya mengajar materi lima bidang studi secara

terpadu)

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,375. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 yaitu “pada RPP hendaknya dirancang betul atau dikondisikan adanya

  keterkaitan ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,5. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 3 yaitu “kata (atau lebih) lebih baik dihilangkan”. Item nomor 4 memiliki

  86

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah baik,

  jelas, dan mudah dipahami oleh guru

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas tidak diperlukan revisi.

  Tabel 3.8

  

Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari

Satu Mata Pelajaran

Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4 3 3,75

  2 Dosen b

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  3

  3

  3

  3

  3

  5 Guru b

  4

  3

  4 3 3,5

  6 Guru c

  4

  4

  3 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 3,875 3,75 3,75 3,625 Rata-rata

Tabel 3.8 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran dengan nomor item 1 sebesar 3,875.

  Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan sudah baik, jelas, dan

  mudah dipahami oleh guru

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar

  87

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh

  guru ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup baik, dan bisa dimengerti maksudnya oleh

  guru

  ”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,625. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan

  sudah jelas karena sudah diberi keterangan dalam kurung

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak diperlukan revisi.

  Tabel 3.9

  

Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel

Pembelajaran bersifat fleksibel No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  3

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  4

  2

  4

  4

  3.5

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  3

  3

  4 4 3,5

  5 Guru b

  4

  3

  4 4 3,75

  6 Guru c

  4

  3

  4 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  3

  4 4 3,75

  8 Kepsek b

  4

  3

  4 4 3,75 Rata-rata

  3,875

  3

  4

  4 Tabel 3.9 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran bersifat

  fleksibel dengan nomor item 1 sebesar 3,,875. Rata-rata nomor item 1

  88

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif.

  Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan sudah bagus, menanyakan tentang

  

kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya tentang lingkungan, bisa

kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 4. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yai tu “pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 4. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif.

  Komentar untuk item 4 “pernyataan yang dibuat

  sudah bagus, kalimat jelas dan mudah dipahami maksudnya

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator pembelajaran bersifat fleksibel tidak diperlukan revisi.

  89

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 3.10

  

Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat

dan Kebutuhan Siswa

Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  3

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  3

  4

  4 4 3,75

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  3

  2

  4 4 3,25

  5 Guru b

  3

  4

  3 3 3,25

  6 Guru c

  3

  4

  4 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata

3,5 3,625 3,875 3,875

Tabel 3.10 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa dengan nomor item 1 sebesar 3,5.

  Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan masih ngawang.

  

Mungkin lebih dijelaskan lagi kebutuhan setiap siswa yang seperti apa.

Pernyataan yang mengukur minat siswa belum kelihatan. Indikator: hasil

pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan berisi tentang penilaian. Usul:

indikator diubah menjadi penilaian hasil pembelajaran

  ”. Item 2 memiliki rata- rata sebesar 3,625. Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 yaitu “yang lebih mendekati kebutuhan

  siswa itu tes esai ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,875. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa

  90

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,875. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar posit if. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas

  serta mudah dipahami

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuha siswa tidak diperlukan revisi.

  Tabel 3.11

  

Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang

Menyenangkan bagi Siswa

Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4

  4

  4

  2 Dosen b

  4

  4 3 2,75

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  4

  4

  3 3 3,5

  5 Guru b

  4

  3

  3 3 3,25

  6 Guru c

  4

  4

  3 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 4 3,875 3,5 3,25 Rata-rata

Tabel 3.11 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa dengan nomor item 1 sebesar 4.

  Rata-rata nomor item 1 menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu “pernyataan yang dibuat sudah

  bagus, jelas, dan dapat dimengerti ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,875.

  Rata-rata nomor item 2 menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi.

  91

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif.

  Komentar untuk item 2 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah

  dimengerti ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,5. Rata-rata nomor item 3 menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup baik”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,25. Rata-rata nomor item 4 menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Alasannya bahwa komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas,

  

dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan model

kelompok

  ”. Jadi, secara keseluruhan keempat item untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa tidak diperlukan revisi.

  2. Validitas muka (face validity) Validitas muka adalah kemampuan suatu instrumen untuk mengukur konten yang diukur (Siregar, 2010: 163). Pengukuran validitas muka yang dilakukan tampak baik dengan melihat indikator pengukuran yang digunakan. Validitas muka menunjukkan kualitas suatu indikator tampak beralasan atau logis untuk mengukur suatu variabel (Morrisan, 2012: 104). Validitas muka dalam penelitian ini dilakukan pada seorang guru kelas I. alasan pemilihan validator karena guru tersebut tahu dan paham tentang pembelajaran tematik. Tabel 3.12 menunjukkan hasil validitas muka.

  92

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 3.12

  

Hasil Validitas Muka

No Skor untuk No Indikator item pernyataan

  1

  3

  2

  3 Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada

  1 siswa

  3

  4

  4

  3

  5

  2

  6

  2 Siswa mengalami pengalami pengalaman

  2 langsung dalam belajar

  7

  4

  8

  3

  9

  2

  10

  3 Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak

  3 begitu jelas

  11

  4

  12

  4

  13

  4

  14

  4 Pembelajaran yang menyajikan konsep dari

  4 satu mata pelajaran

  15

  3

  16

  3

  17

  3

  18

  2

5 Pembelajaran bersifat fleksibel

  19

  3

  20

  3

  21

  3

  22

  4 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat

  6 dan kebutuhan siswa

  23

  4

  24

  4

  25

  4

  26

  4 Prinsip belajar sambil bermain yang

  7 menyenangkan bagi siswa

  27

  3

  28

  4 Rata-rata

  3.29 Tabel 3.12 menunjukkan skor untuk tiap indikator dan tiap item. Validator

  tidak memberikan komentar pada item 1 sampai item 4 dalam indikator pertama yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Terdapat dua komentar untuk indikator kedua yaitu siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar.

  93

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Komentar yang pertama untuk item 5 adalah “presentasi tidak sesuai jika

  dilakukan di kelas rendah

  ”. Komentar kedua untuk item 6 “perjelas nama-nama

  barang yang harus dibawa oleh siswa ”.

  Indikator ketiga yaitu pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas terdapat satu komentar pada item 9. Komentar pada item 9 yaitu “dalam

  

penyampaian pembelajaran tematik selalu berkaitan dengan beberapa pelajaran

dan tidak boleh menyebut mata pelajaran yang disampaikan

  ”. Indikator keempat yaitu pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak memuat komentar untuk memperbaiki item. Indikator kelima yaitu pembelajaran bersifat fleksibel hanya berisi satu komentar pada item 18. Komentarnya adalah “masalah dalam pernyataan item 18 terlalu luas untuk siswa kelas bawah”. Indikator keenam yaitu hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak ada komentar khusus untuk perbaikan. Indikator ketujuh yaitu prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa juga tidak ada komentar untuk dilakukan sebuah revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  3. Validitas konstruk (construct validity) Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2010: 163).

  Validitas konstruk memiliki teknik pengukuran yang paling kompleks. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa validitas konstruk merupakan upaya menghubungkan suatu instrumen pengukuran dengan keseluruhan kerangka kerja teroretis. Hal itu dilakukan untuk memastikan penelitian yang dilakukan memiliki

  94

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  hubungan logis dengan konsep lainnya yang ada dalam kerangka kerja teoretis yang bersangkutan (Morrisan, 2012: 107).

  Instrumen bagian pertama tentang implementasi pembelajaran tematik dalam penelitian ini memiliki 28 item pernyataan dengan jumlah sampel sebanyak 61.

  Penentuan sampel dilakukan secara acak. Proses analisis data menggunakan

  

Product Moment dengan bantuan SPSS 16 mengingat keterbatasan waktu yang

  dimiliki oleh peneliti. Formulasi yang digunakan (Martono, 2010: 243) adalah:

Gambar 3.2 Rumus Product Moment

  Keterangan: r xy = koefisien korelasi ∑ x = jumlah skor dalam sebaran x (skor butir) ∑ y = jumlah skor dalam sebaran y (skor total) ∑ xy = jumlah hasil kali skor x dan skor y berpasangan

  2

  = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x ∑ x

  2

  = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y ∑ y N = banyaknya subjek

Gambar 3.2 menunjukkan hasil perhitungan validitas konstruk dengan menggunakan Product Moment. Apabila hasil perhitungan yang diperoleh > r tabel

  maka dapat dinyatakan bahwa item valid. Apabila hasil perhitungan yang

  95 diperoleh < r

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  maka dapat dinyatakan bahwa item tidak valid (Sugiyono, 2011: 631).

  24 Item 24 0,660** 0,254 Valid

  

18 Item 18 -0,243 0,254 Tidak valid

  19 Item 19 0,533** 0,254 Valid

  20 Item 20 0,768** 0,254 Valid

  21 Item 21 0,480** 0,254 Valid

  

22 Item 22 -0,170 0,254 Tidak valid

  23 Item 23 0,744** 0,254 Valid

  25 Item 25 0,741** 0,254 Valid

  

16 Item 16 -0,034 0,254 Tidak valid

  26 Item 26 0,698** 0,254 Valid

  27 Item 27 0,453** 0,254 Valid

  28 Item 28 0,589** 0,254 Valid

Tabel 3.13 menunjukkan bahwa terdapat empat item yang tidak valid yaitu item 9, 16, 18, dan 22. Item valid dan tidak valid dianalisis dengan

  membandingkan antara r hitung > r tabel (Sugiyono, 2012: 613). Penentuan r tabel menurut Sugiyono dilakukan dengan melihat jumlah sampel yang diperoleh.

  Sampel yang digunakan dalam uji empiris berjumlah 61. Nilai r tabel yang digunakan untuk jumlah sampel 61 adalah 0,254. Item nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28 merupakan item-item yang valid. 24 item yang valid memiliki nilai > r tabel . Item yang valid dan

  17 Item 17 0,655** 0,254 Valid

  15 Item 15 0,634** 0,254 Valid

  Tabel 3.13

  6 Item 6 0,426** 0,254 Valid

  

Hasil Validitas Konstruk

No. Item Pearson Correlation r tabel Valid / Tidak valid

  1 Item 1 0,310* 0,254 Valid

  2 Item 2 0,522** 0,254 Valid

  3 Item 3 0,356* 0,254 Valid

  4 Item 4 0,598** 0,254 Valid

  5 Item 5 0,655** 0,254 Valid

  7 Item 7 0,393** 0,254 Valid

  tabel

  8 Item 8 0,673** 0,254 Valid

  

9 Item 9 0,141 0,254 Tidak valid

  10 Item 10 -0,426** 0,254 Valid

  11 Item 11 0,598** 0,254 Valid

  12 Item 12 0,653** 0,254 Valid

  13 Item 13 0,668** 0,254 Valid

  14 Item 14 0,698** 0,254 Valid

  96

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memiliki tanda (*) memiliki taraf kepercayaan sebesar 95%. Item yang valid dan memiliki tanda (*) adalah item 1 dan 3. Item valid dan memiliki tanda (**) memiliki taraf kepercayaan sebesar 99%. Item valid dan memiliki tanda (**) adalah item 2, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28. Hasil validitas konstruk terdapat 4 item yang tidak valid, maka penelitian hanya menggunakan 24 item untuk menganalisis perhitungan- perhitungan selanjutnya. (Lihat lampiran 5)

b. Reliabilitas

  Reliabilitas adalah indikator tingkat keandalan atau kepercayaan terhadap suatu hasil pengukuran (Morrisan, 2012: 99). Suatu pengukuran disebut reliable atau memiliki keandalan jika konsisten memberikan jawaban yang sama. Penelitian ini menggunakan rumus alpha Cronbach. Peneliti menggunakan rumus koefisien alpha dari Cronbach (Jogiyanto, 2008: 50). Berikut rumus koefisien

  Alpha Cronbach :

Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach

  Keterangan:

  97

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Masidjo (1995: 209) menyatakan bahwa koefisien reliabilitas dinyatakan pada bilangan koefisien antara -1.00 sampai dengan 1.00. Koefisien reliabilitas ditunjukkan pada tabel 3.14.

  Tabel 3.14

  

Koefisien Reliabilitas

Koefisien Korelasi Kualifikasi

  0.91 Sangat Tinggi

  • – 1.00

  

0.71 Tinggi

  • – 0.90

  

0.41 Cukup

  • – 0.70

  

0.21 Rendah

  • – 0.40

    Negatif Sangat Rendah

    – 0.20

Tabel 3.14 menguraikan bahwa skor interval koefisien perhitungan reliabilias

  0.91-1.00 memiliki tingkat hubungan yang sangat tinggi. Skor interval koefisien antara 0.71-0.90 memiliki tingkat hubungan yang tinggi. Skor interval koefisien berkisar antara 0.41-0.70 memiliki tingkat hubungan yang cukup. Interval koefisien yang memiliki skor antara 0.21-0.40 tingkat hubungannya rendah. Skor interval koefisien berkisar antara negatif-0.20 memiliki tingkat hubungan yang sangat rendah. Item-item kuesioner yang sudah di analisis kemudian diambil item yang valid. Item-item yang valid berjumlah 26 item. Item-item yang valid tersebut diolah reliabilitasnya menggunakan program SPSS.16. Hasil dari pengolahan dapat dilihat pada tabel 3.15.

  Tabel 3.15

  

Hasil Reliabilitas

Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items N of Items

  

.891 .898

  24

  98

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel 3.15 menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891.

  Sugiyono (1995: 209) mengkategorikan (α = 0,891) termasuk dalam kategori tinggi. Hasil SPSS dapat dilihat pada lampiran 7.

H. Prosedur Analisis Data

  Prosedur analisis data pada penelitian ini ada empat tahap. Empat tahap tersebut adalah menentukan hipotesis statistik, pengelolaan data, menentukan taraf signifikansi, dan menguji hipotesis.

  1. Menentukan Hipotesis Statistik Penelitian ini menggunakan tiga rumusan masalah. Rumusan masalah yang pertama adalah “Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta?”. Rumusan masalah pertama tidak disertai dengan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Rumusan masalah pertama menggunakan pembahasan yang bersifat deskriptif.

  Rumusan masalah kedua adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan?”. Variabel latar belakang pendidikan guru dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama yaitu SPG atau

  1 , kelompok kedua adalah sarjana non-PGSD atau 2 , kelompok ketiga

  adalah sarjana D2 PGSD atau , dan kelompok keempat adalah sarjana PGSD

  3

  atau . Berikut adalah hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah kedua:

  4

  99

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. (

  1 =

  2

  3

4 )

  = = Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah

  Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. (

  1

  2

  3 4 )

  ≠ ≠ ≠ Rumusan masalah ketiga adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di

  Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian ?”. Variabel status kepegawaian guru dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah pegawai tidak tetap yayasan atau

  1 dan kelompok kedua adalah pegawai negeri atau 2 .

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. (

  1 2 )

  = Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah

  Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. (

  1 2 )

  ≠

  100

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2. Pengelolaan Data Pengelolaan data dalam penelitian ini ada empat yaitu coding, editing, data

  

entry, dan data cleaning. Coding adalah pemberian kode tertentu pada tiap-tiap

  data yang memiliki kategori sama (Siregar, 2010: 207). Kode bisa berupa angka atau huruf dan bertujuan untuk membedakan antara data atau identitas data yang akan dianalisis. Coding yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa pemberian kode pada lembar kuesioner. Tujuannya untuk membedakan data antara guru satu dengan lainnya dalam sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda. Tabel 3.16 merupakan contoh coding data dalam penelitian ini.

  Tabel 3.16

  

Contoh Coding Data

Kode Guru Kode Guru Kode Guru Nama Sekolah Kode Sekolah Kelas I Kelas II Kelas III

  SD N Dmgn

  11

  11.1.1

  11.2.1

  11.3.1 SD N Ky Mj

  30

  30.1.1

  30.2.1

  30.3.1 Tabel 3.16 menjelaskan bahwa untuk SD N Dmgn menggunakan kode 11.

  Kode untuk guru pengampu kelas 1 adalah kode 11.1.1, berarti bahwa lembar kuesioner tersebut berasal dari SD N Dmgn yang telah diisi oleh guru pengampu kelas I guru pertama. Apabila SD N Dmgn memiliki kelas yang paralel, maka kode untuk guru kedua adalah 11.1.2. Kode 11.2.1 digunakan untuk lembar kuesioner dari SD N Dmgn yang telah diisi oleh guru pengampu kelas II. Kode 11.3.1 diberikan kepada guru pengampu kelas III dari SD N Dmgn. Apabila terdapat dua guru pengampu kelas I di SD N Dmgn maka kode yang akan diberikan adalah 11.1.2 dan seterusnya.

  Kode yang kedua adalah SD N Ky Mj yaitu 30. SD N Ky Mj memiliki teknik pengkodean yang sama dengan SD N Dmgn. Kode untuk guru pengampu kelas I

  101

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  adalah 30.1.1 yang berarti bahwa lembar kuesioner tersebut berasal dari SD N Ky Mj dan diisi oleh guru pengampu kelas I dan guru pertama. Apabila SD N Ky Mj memiliki kelas yang paralel, maka kode untuk guru kedua pengampu kelas I yaitu

  30.1.2. Teknik pengkodean juga berlaku untuk guru kelas II dan III. Kode untuk guru pengampu kelas II dan guru pertama adalah 30.2.1. kode untuk guru pengampu kelas III dan merupakan guru pertama yaitu 30.3.1.

  Editing adalah proses pemeriksaan data yang telah berhasil dikumpulkan

  karena kemungkinan adanya data yang tidak memenuhi syarat atau tidak dibutuhkan (Siregar, 2010: 206). Data yang telah terkumpul kemudian diperbaiki kesalahan atau kekurangan yang ada pada catatan lapangan. Editing dalam penelitian ini dilakukan dengan memeriksa kembali data yang tidak sesuai dengan jawaban pada lembar kuesioner. Editing juga dilakukan terhadap data dari seorang responden yang mengisi kuesioner kurang dari 80% dari total seluruh item

  

American Association for Public Opinion (dalam Rismiati, 2014: 130).

  Keseluruhan item setelah dilakukan validitas terdapat 24 item valid ditambah dengan 2 item faktor demografi, jadi 80% dari 26 item adalah 21 item. Sebanyak 21 item harus terisi di dalam kuesioner, apabila isi kuesioner kurang dari 21 item dinyatakan responden gugur. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dilihat satu persatu dan didapatkan 1 responden dinyatakan gugur. Gugurnya responden tersebut dikarenakan kuesioner hanya terisi 19 item dan dinyatakan jauh dari kriteria untuk dianggap layak.

  Data entry adalah proses memasukkan data yang telah diperiksa

  kelengkapannya ke dalam Microsoft Excel 2007 dan dihitung validitas dan

  102

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  reliabilitasnya menggunakan Program SPSS 16. Setelah mengetahui valid atau tidaknya data, proses selanjutnya adalah data cleaning. Data cleaning yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pada lembar kuesioner bagian pertama tentang implementasi pembelajaran tematik dan kuesioner bagian kedua tentang faktor demografi.

  Data cleaning adalah proses pembersihan data yang tidak terpakai dalam

  penelitian. Proses data cleaning dalam penelitian ini dilakukan dengan menghilangkan item-item lembar kuesioner yang tidak valid. Data cleaning yang dilakukan pada lembar kuesioner bagian pertama tentang implementasi pembelajaran tematik adalah sampel dengan nomor urut 85. Alasan dihilangkan karena sampel nomor 85 hanya menjawab beberapa item pernyataan dalam lembar kuesioner. Data cleaning juga dilakukan untuk lembar kuesioner bagian kedua tentang faktor demografi. Faktor demografi yang dilakukan cleaning adalah latar belakang pendidikan. Sampel yang dihilangkan sebanyak 9 responden.

  Alasan sampel dihilangkan karena responden tidak mengisi lembar kuesioner pada bagian latar belakang pendidikan atau merupakan data outlier. Jumlah sampel setelah dilakukan data cleaning adalah 180. Faktor demografi status kepegawaian guru juga dilakukan proses cleaning. Jumlah sampel yang dihilangkan adalah 3 responden. Alasan sampel dihilangkan karena responden tidak mengisi kuesioner pada bagian status kepegawaian guru atau merupakan data outlier. Jumlah sampel setelah dilakukan data cleaning adalah 187.

  103

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Menganalisis Data Deskriptif Tahap menganalisis data deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah nomor 1. Data implementasi pembelajaran tematik dibagi menjadi lima kelompok. Lima kelompok tersebut adalah sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah (Masidjo, 1995: 253). Pengelompokan data implementasi pembelajaran tematik berdasarkan pada distribusi frekuensi menggunakan rumus Sturges (Riduwan, 2008: 70-72).

  Penentuan distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70-72). Tahap pertama yaitu mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar. Tahap kedua adalah menghitung jarak atau rentangan (R) dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Tahap ketiga adalah menghitung jumlah kelas (K).

  K = 1+3,3 log n

Gambar 3.4 Rumus Menghitung Jumlah Kelas

  Tahap keempat adalah menghitung panjang kelas interval (P). Rumus (P) dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5 Rumus Menghitung Panjang Kelas Interval

  Tahap kelima yaitu menentukan batas interval panjang kelas. Tahap keenam adalah menghitung urutan interval kelas. Tahap ketujuh adalah membuat urutan interval kelas menjadi acuan kategorisasi. Tujuh tahapan tersebut dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru

  104

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat.

  4. Menentukan Taraf Signifikansi Tahap penentuan taraf signifikansi digunakan untuk menjawab rumusan masalah nomor 2 dan 3. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi α = 5%

  (two tailed) yang berarti bahwa kesalahan ditolerir sebesar 5% (Hartono, 2012: 147). Penentuan taraf signifikansi sebesar 1% atau 5% berdasarkan kesepakatan peneliti (Azwar, 2005: 6). Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengambilan keputusan dari uji hipotesis adalah sebesar 5%. Taraf signifikansi 5% berarti bahwa pengambilan keputusan memiliki tingkat kepercayaan sebesar 95% dan kemungkinan kesalahan sebesar 5%.

  5. Menguji Asumsi Klasik Data yang diolah untuk uji asumsi klasik adalah data pada implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi. Faktor demografi yang diuji adalah latar belakang pendidikan dan status kepegawaian guru. Data latar belakang pendidikan dan status kepegawaian guru merupakan data ordinal maka analisis yang digunakan adalah analisis non parametrik (Sugiyono, 2009: 151). Uji asumsi klasik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji homogenitas.

  Uji normalitas dilakukan pada item 40 dan 41 tentang faktor demografi. Penelitian ini menggunakan faktor demografi latar belakang pendidikan dan status kepegawaian guru. Singgih (2002: 34) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya uji

  105

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  normalitas adalah untuk mengetahui distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal.

  Uji normalitas dilakukan pada rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3. Uji normalitas dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu Kolmogorov Smirnov, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Kolmogorov Smirnov merupakan tes yang sering digunakan dalam penelitian. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136). Persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136).

  Rumusan masalah 2 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyak arta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru?”. Data faktor latar belakang pendidikan guru dikelompokkan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama yaitu SPG atau

  1 , kelompok kedua adalah sarjana non-PGSD atau 2 ,

  kelompok ketiga adalah sarjana D2 PGSD atau , dan kelompok keempat adalah

  3

  sarjana PGSD atau . Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok

  4

  latar belakang pendidikan guru. Hipotesis yang digunakan dalam uji normalitas

  Kolmogorov Smirnov adalah:

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal).

  Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  106

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji normalitas. Data latar belakang pendidikan guru dalam rumusan masalah 2 merupakan data ordinal yang berarti bahwa jika data berdistribusi normal atau tidak normal maka analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik.

  Kriteria yang pertama adalah jika nilai sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal.

  Kriteria yang kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal.

  Data faktor demografi latar belakang pendidikan guru dikelompokkan menjadi empat kelompok. Empat kelompok tersebut adalah SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, dan sarjana PGSD. Apabila keempat kelompok memiliki data berdistribusi normal atau tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik sebab data latar belakang pendidikan guru bersifat ordinal.

  Rumusan masalah 3 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru?”. Data faktor status kepegawaian guru dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah pegawai tidak tetap yayasan atau

  1 dan kelompok kedua adalah pegawai

  negeri atau

  2 . Uji normalitas dilakukan pada setiap kelompok status kepegawaian

  guru. Hipotesis dalam uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah: Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal).

  107

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji normalitas. Data status kepegawaian dalam rumusan masalah 3 merupakan data ordinal yang berarti bahwa jika data berdistribusi normal atau tidak normal maka analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik. Kriteria yang pertama adalah jika nilai sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal. Kriteria yang kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal. Apabila keempat kelompok memiliki data berdistribusi normal atau tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik sebab data latar belakang pendidikan guru bersifat ordinal.

  Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16 dengan

  

Kolmogorov Smirnov . Penelitian ini menggunakan rumus uji normalitas

Kolmogorov Smirnov (Uyanto, 2009: 54):

Gambar 3.6 Rumus Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov

  Keterangan:

  : keterangan distribusi empiris : fungsi distribusi kumulatif

  Uji asumsi klasik selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk lebih meyakinkan analisis yang telah dilakukan oleh peneliti.

  108

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Siregar (2013: 167) menyatakan bahwa uji homogenitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya kesamaan varian dalam objek yang diteliti. Uji homogenitas dilakukan pada rumusan masalah 2 dan 3. Rumusan masalah 2 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru?”. Hipotesis yang digunakan dalam uji homogenitas rumusan masalah 2 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  Uji homogenitas rumusan masalah 2 memiliki dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign . ≥ 0,05 maka data memiliki varian sama yang berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka data memiliki varian berbeda yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

  Uji homogenitas juga dilakukan untuk rumusan masalah 3. Rumusan masalah 3 adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor

  109

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  status kepegawaian guru?”. Hipotesis yang digunakan dalam uji homogenitas rumusan masalah 3 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  Uji homogenitas rumusan masalah 3 memiliki dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign . ≥ 0,05 maka data memiliki varian sama yang berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka data memiliki varian berbeda yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

  Uji homogenitas pada rumusan masalah 2 dan 3 dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 Lavene Test. Rumus Lavene Test menurut Nordstokke (2011: 3) adalah:

Gambar 3.7 Rumus Lavene

  ’s Test

  110

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Keterangan: n = jumlah observasi

  k = banyaknya kelompok

  = rata-rata dari kelompok ke i = rata-rata dari kelompok dari Z

  = rata-rata menyeluruh

  6. Uji Hipotesis Uji hipotesis digunakan untuk menguji kekuatan data yang diperoleh dari sampel untuk menjelaskan populasi (Santoso, 2010: 79). Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kruskall Wallis dengan bantuan dari program SPSS 16.

  Rumusan masalah 2 dalam penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru?”. Variabel latar belakang pendidikan guru dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama yaitu SPG atau

  1 , kelompok kedua adalah sarjana

  non-PGSD atau

  2 , kelompok ketiga adalah sarjana D2 PGSD atau 3 , dan

  kelompok keempat adalah sarjana PGSD atau . Hipotesis yang digunakan dalam

  4

  rumusan masalah 2 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau

  111

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dari faktor latar belakang pendidikan guru. (

  1

  =

  2

  3 4 )

  = = Hipotesis alternatif (Ha) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru. (

  1

  2

  3

  ≠ ≠

  4 )

  ≠ Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Data latar belakang pendidikan guru merupakan data ordinal dan berjumlah empat kelompok (SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, dan sarjana PGSD). Sugiyono (2009: 151) menyebutkan bahwa apabila data dalam suatu penelitian merupakan data ordinal maka analisis yang dilakukan berupa uji non parametrik Kruskall Wallis. Rumus uji Kruskall Wallis yang digunakan dalam penelitian ini menurut Uyanto (2009: 337) adalah:

Gambar 3.8 Rumus Uji Kruskall Wallis

  Keterangan: = = jumlah peringkat (rank) sampel ke-j

  = besar sampel ke-j

  112

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hasil yang diperoleh dari analisis uji Kruskall Wallis kemudian digunakan untuk menguji besar efek. Field (2009: 57) menjelaskan bahwa effect size adalah suatu ukuran objektif yang digunakan sebagai standar atau tolok ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan. Kriteria dari effect size adalah apabila r = 0,10 (efek kecil) maka setara dengan 1% pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas, r = 0,30 (efek menengah) setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) setara dengan 25%. Rumus yang digunakan untuk menghitung effect size dalam penelitian ini adalah:

Gambar 3.9 Rumus Effect Size

  Keterangan: Z = Harga konversi standar deviasi N = Jumlah total observasi

  Field (2009:179) menentukan kriteria untuk mengetahui besar efek yang ditimbulkan. Kriteria yang ditentukan adalah efek kecil, sedang, dan besar. Hasil perhitungan effect size dapat dilihat dalam kriteria berikut:

  0,10-2,29 = small effect (efek kecil) 0,30-0,49 = medium effect (efek sedang) 0,50-1,00 = large effect (efek besar) Hasil perhitungan effect size yang diperoleh dapat digunakan untuk

  2

  menganalisis koefisien determinasi (R ). Field (2009: 179) menyebutkan bahwa koefisien determinasi adalah suatu ukuran jumlah variabilitas dalam satu variabel

  113

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang dibagikan pada yang lain. Rumus koefisien determinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  2

  2 R = r x 100%

Gambar 3.10 Rumus Koefisien Determinasi

  Analisis selanjutnya yang dilakukan setelah uji effect size adalah uji signifikansi atau Post Hoc dengan menggunakan Mann Whitney. Uji signifikansi atau Post Hoc dilakukan apabila hasil uji hipotesis menunjukkan adanya suatu perbedaan. Field (2009: 565) menyebutkan bahwa penentuan taraf signifikansi yang digunakan untuk mengetahui nilai perbedaan setiap kelompok adalah 0,05 dibagi dengan jumlah tes yang ada. Hasil uji Kruskall Wallis yang telah dilakukan digunakan untuk melihat Mean Rank tertinggi. Mean Rank tertinggi digunakan sebagai basis kontrol dalam pengujian Post Hoc.

  Uji hipotesis juga dilakukan pada rumusan masalah 3. Rumusan masalah 3 ad alah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru?”. Variabel status kepegawaian guru dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah pegawai tidak tetap yayasan atau dan

  1

  kelompok kedua adalah pegawai negeri atau . Hipotesis yang digunakan dalam

  2

  uji hipotesis rumusan masalah 3 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru. (

  1 2 )

  =

  114

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru. ( )

  1

  2

  ≠ Uji hipotesis dalam rumusan masalah 3 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Data status kepegawaian guru merupakan data ordinal dan terdapat dua kelompok (pegawai tidak tetap yayasan dan pegawai negeri). Uyanto (2009: 322) menyebutkan bahwa apabila data dalam suatu penelitian merupakan data ordinal dan berdistribusi tidak normal maka analisis yang dilakukan berupa uji non parametrik Mann Whitney. Rumus uji Mann Whitney yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah 3 dapat dilihat dalam gambar 3.9.

Gambar 3.11 Rumus Mann Whitney dengan:

  115

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Keterangan: = Jumlah peringkat sampel pertama

  = Jumlah sampel 1 = jumlah sampel 2

  Hasil yang diperoleh dari analisis uji Mann Whitney kemudian digunakan untuk menguji besar efek. Field (2009: 57) menjelaskan bahwa effect size adalah suatu ukuran objektif yang digunakan sebagai standar atau tolok ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan. Kriteria dari effect size adalah apabila r = 0,10 (efek kecil) maka setara dengan 1% pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas, r = 0,30 (efek menengah) setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) setara dengan 25%. Rumus yang digunakan untuk menghitung effect size dalam rumusan masalah 3 dapat dilihat pada gambar 3.9.

  Field (2009:179) menentukan kriteria untuk mengetahui besar efek yang ditimbulkan. Kriteria yang ditentukan adalah efek kecil, sedang, dan besar. Hasil perhitungan effect size dapat dilihat dalam kriteria berikut:

  0,10-2,29 = small effect (efek kecil) 0,30-0,49 = medium effect (efek sedang) 0,50-1,00 = large effect (efek besar) Hasil perhitungan effect size yang diperoleh dapat digunakan untuk

  2

  menganalisis koefisien determinasi (R ). Field (2009: 179) menyebutkan bahwa koefisien determinasi adalah suatu ukuran jumlah variabilitas dalam satu variabel yang dibagikan pada yang lain. Rumus koefisien determinasi yang digunakan dalam analisis rumusan masalah 3 dapat dilihat pada gambar 3.10.

  116

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

I. Jadwal Penelitian Jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel 3.17.

  

Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Bulan Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

  1. Penyusunan proposal

  2. Konsultasi Bab I-III

  3. Bimbingan dengan dosen pembimbing

  4. Meminta surat ijin ke Dinas

  5. Melakukan penelitian

  6. Revisi Bab I-

  Tabel 3.17

  7. Analisis data

  8. Menyusun Bab

IV-V

  9. Ujian Skripsi Tabel 3.17 menjelaskan tentang jadwal kegiatan dalam penelitian ini.

  Penelitian dimulai pada bulan September 2013 dengan kegiatan penyusunan proposal, konsultasi Bab I-III, dan bimbingan dengan dosen pembimbing.

  Konsultasi Bab I-III dilakukan hingga bulan Desember 2013. Bimbingan dengan dosen pembimbing berlangsung hingga bulan Juni 2014. Bulan November 2013 peneliti meminta surat ijin penelitian di Dinas Perijinan Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2013 hingga Februari 2014. Bulan Maret 2014 peneliti melakukan revisi atau perbaikan pada Bab I-III. Analisis data juga dilakukan bersamaan dengan revisi hingga bulan April. Penyusunan bab IV- V dilakukan pada bulan Maret hingga April. Kegiatan dalam penelitian diakhiri dengan ujian skripsi pada bulan Juli 2014.

  III

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV dalam penelitian ini membahas tentang deskripsi responden, tingkat pengembalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan. A. Deskripsi Penelitian Penelitian non eksperimental yang dilakukan oleh peneli

  ti berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Sebuah Survei bagi Guru- guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta” dilaksanakan mulai bulan Oktober tahun 2013. Bersama dengan anggota kelompok studi, peneliti meminta surat ijin ke Dinas Perijinan Kota Yogyakarta. Setelah mendapatkan surat ijin dari dinas, bulan Desember peneliti melakukan penelitian dengan membagikan kuesioner implementasi pembelajaran tematik ke seluruh SD Negeri di Kota Yogyakarta.

  Teknis pembagian kuesioner dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada guru kemudian membuat deadline untuk kapan kuesioner bisa diambil kembali.

  Pembagian kuesioner serta pengambilannya berlangsung dari bulan Desember 2013 hingga Februari 2014. Jumlah guru sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta berjumlah 328 guru. Penelitian dilakukan di SD Negeri di Kota Yogyakarta. Tidak semua guru bersedia untuk mengisi kuesioner yang diberikan dengan alasan sedang sibuk mengisi rapor.

  118

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B.

   Tingkat Pengembalian Kuesioner

  Jumlah guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta sebanyak 328 guru. Banyaknya guru pengampu kelas bawah tidak berarti semua bersedia mengisi kuesioner yang dibagikan. Peneliti menyediakan kuesioner berjumlah 328 buah. Kuesioner yang kembali berjumlah 251 responden. Alasan yang diberikan oleh responden atau guru pengampu kelas bawah adalah sekolah sedang sibuk mengurus administrasi sekolah (rapor). Alasan lainnya ada guru pengampu kelas bawah yang sedang cuti dan sakit (Lihat lampiran 20).

C. Hasil Penelitian

  Ada tujuh indikator yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini. Indikator pertama adalah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Indikator kedua adalah siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Indikator ketiga adalah pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas. Indikator keempat adalah pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Indikator kelima adalah pembelajaran bersifat fleksibel. Indikator keenam adalah hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Indikator ketujuh adalah prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Kuesioner kemudian diolah dan dianalisis.

  1. Hasil analisis implementasi pembelajaran tematik Pengolahan data implementasi pembelajaran tematik menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap distribusi frekuensi. Tahap pertama yaitu

  119

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengurutkan kategori dari yang terkecil sampai tebesar. Tahap kedua adalah menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan (R) dihitung dengan mengurangi data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang didapat menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 79. (Lihat lampiran 9)

  Tahap ketiga adalah menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas yang ditentukan mengacu pada pembagian menurut Masidjo (1995: 153). Jumlah kelas tersebut terdiri dari lima kelas yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Tahap keempat adalah menghitung panjang kelas interval (P).

  Panjang kelas interval (P) dihitung dengan membagi rentangan dan jumlah kelas. Panjang kelas interval diperoleh hasil sebesar 16. (Lihat lampiran 9)

  Tahap kelima adalah menentukan kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval

  Panjang Kelas Kategori

49-64 Sangat Rendah

65-80 Rendah

  

81- 96 Cukup

97-112 Tinggi

113-128 Sangat Tinggi

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa apabila panjang kelas berada di antara 48-64 maka memiliki kategori sangat rendah. Panjang kelas yang berada di antara 65-80

  memiliki kategori rendah. Panjang kelas berada di antara 81-96 memiliki kategori cukup. Panjang kelas yang berada di antara 97-112 memiliki kategori tinggi.

  Panjang kelas yang berada di antara 113-128 memiliki kategori sangat tinggi.

  Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Hasil dari perhitungan tahap keenam dapat dilihat pada lampiran 11. Tahap ketujuh dengan

  120

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2.

  Tabel 4.2

  Hasil Perhitungan Daftar Distribusi

Kategori Panjang Kelas Frekuensi Presentase

  Sangat Tinggi 113-128 34 17,99%

Tinggi 97-112 145 76,72%

Cukup 81-96 10 5,29%

Rendah 65-80 0%

  Sangat Rendah 49-64 0% Total 189 100%

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa data yang termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan panjang kelas 113-128 memiliki frekuensi 34 atau sebanyak

  17,99%. Data yang termasuk dalam kategori tinggi dengan panjang kelas 97-112 memiliki frekuensi 145 atau sebanyak 76,72%. Data yang termasuk dalam kategori cukup dengan panjang kelas 81-96 memiliki frekuensi 10 atau sebanyak 5,29%. Data yang termasuk dalam kategori rendah dengan panjang kelas 65-80 memiliki frekuensi 0 atau sebanyak 0%. Data yang termasuk dalam kategori sangat rendah dengan panjang kelas 49-64 memiliki frekuensi 0 atau sebanyak 0%.

  2. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi latar belakang pendidikan Analisis data untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi latar belakang pendidikan menggunakan bantuan dari program SPSS 16. Variabel latar belakang pendidikan guru dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama yaitu SPG atau , kelompok kedua adalah sarjana non-PGSD atau , kelompok ketiga

  1

  2

  adalah sarjana D2 PGSD atau

  3 , dan kelompok keempat adalah sarjana PGSD

  121

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  atau . Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji jomogenitas, dan

  4

  uji hipotesis menggunakan Kruskall-Wallis. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov dalam program SPSS 16. Berikut Ho dan Ha uji normalitas dalam penelitian ini: Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda tidak signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal).

  Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji normalitas. Data latar belakang pendidikan guru dalam rumusan masalah 2 merupakan data ordinal yang berarti bahwa jika data berdistribusi normal atau tidak normal maka analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik.

  Kriteria yang pertama adalah jika nilai sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal.

  Kriteria yang kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal.

Tabel 4.3 merupakan hasil uji normalitas setiap kelompok latar belakang pendidikan guru SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, dan sarjana PGSD.

  Tabel 4.3

  

Hasil Uji Normalitas Kolmogorov S Latar Belakang Pendidikan Guru

No. Variabel Sign. Keterangan

  1. SPG 0,200 Normal

  2. Sarjana non-PGSD 0,200 Normal

  3. Sarjana D2 PGSD 0,000 Tidak Normal

  4. Sarjana PGSD 0,070 Normal

  Hasil uji normalitas Kolmogorov Smirnov pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk latar belakang pendidikan SPG adalah 0,200 > 0,05. Hasil

  122

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal.

  Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD adalah 0,200 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi tidak normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana PGSD adalah 0,070 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil analisi yang diperoleh menunjukkan bahwa semua data latar belakang pendidikan berdistribusi normal, maka analisis data yang digunakan adalah statistik non parametrik sebab data bersifat ordinal (Lihat lampiran 10)

  Uji normalitas juga dilakukan dengan menggunakan Shapiro Wilk untuk lebih meyakinkan hasil penelitian yang diperoleh. Uji Shapiro Wilk dilakukan karena hasil yang diperoleh lebih akurat daripada Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.4 merupakan hasil analisis uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk.

Tabel 4.4 Uji Normalitas Shapiro Wilk No. Variabel Kolmogorov S Shapiro W Ket.

  

1. SPG 0,200 0,589 Normal

  

2. Sarjana non-PGSD 0,200 0,283 Normal

  

3. Sarjana D2 PGSD 0,000 0,000 Tidak Normal

  

4. Sarjana PGSD 0,070 0,068 Normal

  123

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa data latar belakang pendidikan SPG yang diuji menggunakan Shapiro Wilk memiliki hasil sign. untuk latar belakang pendidikan

  SPG adalah 0,589 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal. Data latar belakang pendidikan sarjana non- PGSD memiliki hasil sign. adalah 0,283 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi tidak normal. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana PGSD adalah 0,068 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal. Uji Shapiro Wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat satu latar belakang pendidikan yang memiliki data tidak normal. Analisis data yang digunakan tetap menggunakan analisis statistik non parametrik sebab data latar belakang pendidikan bersifat ordinal. (Lihat lampiran 10)

  Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik- titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.1 sampai 4.8 merupakan visualisasi P-P Plot dan histogram data latar belakang pendidikan.

  124

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.1

  

Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

SPG

Gambar 4.1 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan SPG. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data

  latar belakang pendidikan SPG. Data latar belakang pendidikan SPG berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.2. (Lihat lampiran 10)

  125

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.2

  

Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

SPG

Gambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar belakang pendidikan SPG. Data dapat dikatakan normal apabila histogram

  membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal. (Lihat lampiran 10) Kelompok kedua yaitu data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD.

  Kelompok kedua juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.3 dan gambar 4.4 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD.

  126

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.3

  

Visualisasi P-P Plot Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana non-PGSD

Gambar 4.3 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot

  merupakan data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.4. (Lihat lampiran 10)

  127

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.4

  

Visualisasi Histogram Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana non-PGSD

Gambar 4.4 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila

  histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.4 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. (Lihat lampiran 10) Kelompok ketiga yaitu data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD.

  Kelompok ketiga juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.5 dan gambar 4.6 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD.

  128

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.5

  

Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana D2 PGSD

Gambar 4.5 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot

  merupakan data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD menjauhi garis. Visualisasi berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi tidak normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.6. (Lihat lampiran 10)

  129

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.6

  

Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana D2 PGSD

Gambar 4.6 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila

  histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.6 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva tidak normal maka data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi tidak normal. (Lihat lampiran 10)

  Kelompok keempat yaitu data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Kelompok keempat juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.7 dan gambar 4.8 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan sarjana PGSD.

  130

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.7

  

Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana PGSD

Gambar 4.7 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot

  merupakan data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Data latar belakang pendidikan sarjana PGSD berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.8. (Lihat lampiran 10)

  131

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.8

  

Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan

Sarjana PGSD

Gambar 4.8 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila

  histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.8 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka data latar belakang pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. (Lihat lampiran 10)

  Analisis data kedua yang dilakukan adalah uji homogenitas. Rumusan masalah 2 yang telah diuji normalitasnya dan berdistribusi normal. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru diuji

  132

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  homogenitasnya dengan menggunakan

  Lavene’s Test. Hipotesis dalam uji

  homogenitas rumusan masalah 2 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  Uji homogenitas rumusan masalah 2 memiliki dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign . ≥ 0,05 maka data memiliki varian sama yang berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka data memiliki varian berbeda yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

Tabel 4.5 adalah hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau

  dari faktor latar belakang pendidikan guru.

Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Homogenitas

  Variabel Sign. Keterangan

Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu 0,071 Ho gagal ditolak

kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau

  dari faktor latar belakang pendidikan guru memiliki nilai sign. sebesar 0,071.

  133

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil tersebut berarti bahwa sign. > 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

  Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru memiliki varian yang sama. (Lihat lampiran 11)

  Analisis data ketiga yang dilakukan adalah uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari faktor latar belakang belakang pendidikan. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Kruskall

  Wallis . Berikut Ho dan Ha uji hipotesis dalam penelitian ini:

  Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. (

  1

  =

  2

  3

4 )

  = = Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah

  Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. (

  1

  2

  3 4 )

  ≠ ≠ ≠ Kriteria pengambilan keputusan uji hipotesis: a. Jika sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

  b. Jika sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

  134

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel 4.6 merupakan hasil uji Kruskall Wallis tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan latar belakang pendidikan.

  Tabel 4.6

  

Hasil Uji Kruskal Wallis Faktor Demografi Latar Belakang Pendidikan Guru

Nilai Keterangan

  

Asymp. Sig 0,284 Ho gagal ditolak

  Hasil uji hipotesis pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk latar belakang pendidikan guru yang diperoleh sebesar 0,284 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa Ho dalam data latar belakang pendidikan gagal ditolak. Kesimpulan yang diperoleh adalah tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru. Guru dengan latar belakang pendidikan SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, maupun sarjana PGSD sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang tinggi.

  (Lihat lampiran 12)

  3. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi status kepegawaian Sama halnya dengan hasil analisis pada nomor 2. Analisis data dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor status kepegawaian. Variabel status kepegawaian guru dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah pegawai tidak tetap yayasan atau

  1 dan kelompok kedua adalah pegawai negeri

  atau . Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji homogenitas, dan

  2

  uji hipotesis menggunakan Mann Whitney. Uji normalitas dilakukan dengan

  135

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggunakan Shapiro Wilk dalam program SPSS 16. Berikut Ho dan Ha uji normalitas dalam penelitian ini: Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda tidak signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal).

  Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji normalitas. Data dalam rumusan masalah 3 merupakan data ordinal yang berarti bahwa jika data berdistribusi normal atau tidak normal maka analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik. Data dalam rumusan 3 dibagi menjadi dua kelompok yaitu peagawai tidak tetap yayasan dan pegawai negeri. Kriteria yang pertama adalah jika nilai sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal. Kriteria yang kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal. Tabel 4.7 sampai merupakan hasil uji normalitas setiap kelompok status kepegawaian tidak tetap yayasan dan pegawai negeri.

  Tabel 4.7

  

Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov

Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian

No. Variabel Sign. Keterangan

  1. Pegawai tidak tetap yayasan 0,200 Normal

  2. Pegawai negeri 0,000 Tidak Normal

  Hasil uji normalitas pada tabel 4.7 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk kelompok pegawai tidak tetap yayasan adalah 0,200 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data kelompok pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal.

  136

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil sign.

  untuk status kepegawaian negeri adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data kelompok pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Data dua kelompok status kepegawaian telah diuji normalitasnya dan menunjukkan bahwa kedua data kelompok status kepegawaian berdistribusi normal. (Lihat lampiran 13)

  Uji normalitas juga dilakukan dengan menggunakan Shapiro Wilk untuk lebih meyakinkan hasil penelitian yang diperoleh. Uji Shapiro Wilk dilakukan karena hasil yang diperoleh lebih akurat daripada Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.8 merupakan hasil analisis uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk.

Tabel 4.8 Uji Normalitas Shapiro Wilk No. Variabel Kolmogorov S Shapiro W Ket.

  

1. Pegawai tidak tetap 0,200 0,288 Normal

yayasan

2. Pegawai negeri 0,000 0,000 Tidak normal

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa data latar belakang pendidikan SPG yang diuji menggunakan Shapiro Wilk memiliki hasil sign. untuk data kelompok pegawai

  tidak tetap yayasan adalah 0,288 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal. Data pegawai negeri memiliki hasil sign. adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Uji Shapiro Wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kedua status kepegawaian memiliki data tidak normal. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis statistik non parametrik sebab data latar belakang pendidikan bersifat ordinal dan berdistribusi tidak normal. (Lihat lampiran 13)

  137

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik- titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.9 sampai 4.12 merupakan visualisasi P-P Plot dan histogram data status kepegawaian.

  Gambar 4.9

  

Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Status Pegawai tidak Tetap Yayasan

Gambar 4.9 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data status pegawai yayasan tidak tetap. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data

  status pegawai tidak tetap. Data status pegawai tidak tetap berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data status pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram.

  138

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.10.

  Gambar 4.10

  

Visualisasi Uji Normalitas Histogram Data Status Pegawai tidak

Tetap Yayasan

Gambar 4.10 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas status pegawai tidak tetap yayasan. Data dapat dikatakan normal apabila histogram membentuk

  kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.10 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka data status pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal. (Lihat lampiran 13)

  Kelompok kedua yaitu data status pegawai negeri. Kelompok kedua juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.11 dan gambar 4.12 merupakan hasil visualisasi data status pegawai negeri.

  139

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.11

  

Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Status Pegawai Negeri

Gambar 4.11 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data status pegawai negeri. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data status

  pegawai negeri. Data status pegawai negeri garis. Visualisasi berarti bahwa data status pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.12. (Lihat lampiran 13)

  140

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 4.12

  

Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Status Pegawai Negeri

Gambar 4.12 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas status pegawai negeri. Data dapat dikatakan normal apabila histogram membentuk kurva normal

  (Field, 2009: 136). Gambar 4.12 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva tidak normal maka data status pegawai negeri berdistribusi tidak normal. (Lihat lampiran 13)

  Analisis data kedua yang dilakukan adalah uji homogenitas. Rumusan masalah 3 memiliki data yang tidak berdistribusi normal. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status guru diuji homogenitasnya dengan menggunakan

  Lavene’s Test. Hipotesis dalam uji homogenitas rumusan masalah 2 adalah:

  141

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  Uji homogenitas rumusan masalah 3 memiliki dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika sign . ≥ 0,05 maka data memiliki varian sama yang berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka data memiliki varian berbeda yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

Tabel 4.9 adalah hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau

  dari faktor status kepegawaian guru.

Tabel 4.9 Tabel Hasil Uji Homogenitas

  Variabel Sign. Keterangan

Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu 0,014 Ho gagal ditolak

kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau

  dari faktor status kepegawaian guru memiliki nilai sign. sebesar 0,014. Hasil tersebut berarti bahwa sign. < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha ditolak. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri

  142

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru memiliki varian yang sama. (Lihat lampiran 14) Analisis data ketiga yang dilakukan adalah uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari faktor status kepegawaian. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney.

  Berikut Ho dan Ha uji hipotesis dalam penelitian ini: Hipotesis nol (Ho) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah

  Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian. ( )

  1 =

  2 Hipotesis alternatif (Ha) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi

  pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian. ( )

  1

  2

  ≠ Kriteria pengambilan keputusan uji normalitas: a. Jika sign.

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

  b. Jika sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

Tabel 4.10 merupakan hasil uji Kruskall Wallis tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian.

  143

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 4.10

  

Hasil Uji Mann Whitney Faktor Demografi Status Kepegawaian Guru

Nilai Keterangan

  

Asymp. Sig 0,162 Ho gagal ditolak

  Hasil uji hipotesis pada tabel 4.10 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk status kepegawaian guru yang diperoleh sebesar 0,162 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kesimpulan yang diperoleh adalah tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian. Guru dengan status kepegawaian tidak tetap yayasan dan pegawai negeri sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang tinggi. (Lihat lampiran 15)

D. Pembahasan

  Penelitian ini memiliki tiga tujuan. Tujuan pertama untuk mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta. Kedua, mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru. Ketiga, mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru. Berikut adalah pembahasan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan melihat masing-masing rumusan masalah:

  144

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Bagaimana implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta Hasil penelitian dan pengukuran menggunakan rumus Sturges (Riduwan,

  2008: 70-72). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa ada 34 guru termasuk dalam kategori sangat tinggi pada implementasi pembelajaran tematik.

  Sebanyak 145 guru termasuk dalam kategori tinggi pada implementasi pembelajaran tematik. Ada 10 guru yang termasuk dalam kategori cukup pada implementasi pembelajaran tematik. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan yaitu sebagian besar guru termasuk dalam kategori tinggi pada implementasi pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik dirasa masih sulit diterapkan di kelas bawah.

  Pembelajaran tematik merupakan suatu terobosan baru di bidang pendidikan. Keberhasilan implementasi pembelajaran tematik ditentukan pada perencanaan dan pengemasan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik (Majid, 2014: 96). Pembelajaran hendaknya dikemas dan direncanakan agar dapat menarik perhatian siswa sehingga memunculkan suasana untuk terus belajar.

  Trianto (2010: 173) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik tidak mudah diterapkan sebab memerlukan kemampuan beradaptasi yang baik. Depdiknas (dalam Trianto, 2010: 118) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik menuntut guru menjadi kreatif entah dalam hal menyiapkan pengalaman belajar siswa maupun dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran serta mengemas sebuah pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa. Guru yang

  145

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mampu mengemas pembelajaran secara kreatif berarti guru telah mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

  Guru yang mampu menciptakan suasana belajar menyenangkan tentu mengetahui tahap-tahap dalam pelaksanaan pembelajaran tematik. Majid (2014: 129) menyebutkan bahwa ada tiga tahap dalam pelaksanaan pembelajaran tematik. Ketiga tahap tersebut adalah kegiatan awal (opening), kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Pembelajaran tematik dapat dikatakan berhasil apabila dilaksanakan sesuai dengan tahapan yang telah ditentukan.

  2. Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa (H(3) = 3,797) dan dengan = 0,284. Hasil yang diperoleh > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru. Latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dan dapat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang.

  Winaya (dalam Wartana, 2011:23) menyebutkan bahwa tenaga kerja yang berpendidikan lebih mudah mengerti, cepat tanggap, dan bersedia menerima balikan atau pendapat dari orang lain. Kaitannya dengan penelitian ini, guru dengan latar belakang pendidikan rendah memiliki peran yang sedikit dalam implementasi pembelajaran tematik. Informasi atau pengetahuan tentang

  146

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pembelajaran tematik yang dimiliki guru masih kurang. Pemerolehan informasi atau pengetahuan tentang pembelajaran tematik yang kurang optimal disebabkan salah satunya karena guru kurang mengerti akan pembelajaran tematik itu sendiri. Berbeda dengan guru yang berlatar pendidikan tinggi. Guru yang berlatar pendidikan tinggi memiliki informasi atau pengetahuan tentang pembelajaran tematik yang banyak. Banyaknya informasi atau pengetahuan yang dimiliki guru diperoleh dari jenjang pendidikan yang telah ditempuh guru.

  Syaiin (dalam Chairunniza, 2012:12) menyebutkan bahwa latar belakang pendidikan dan masa kerja seseorang dapat mempengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhannya. Kaitannya dengan penelitian ini, yang dimaksud dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan adalah kemampuan guru menerapkan pembelajaran tematik. Tingkat kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran tematik akan berpengaruh pada motivasi mengajar guru. Guru yang memiliki motivasi tinggi untuk mengajar akan pembelajaran tematik yang dilaksanakan akan berhasil.

  Buchori (dalam Supardi, 2013: 27) mengemukakan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi implementasi pembelajaran tematik. Pertama, jenis kewenangan yang diberikan kepada guru. Kedua, kualitas atasan yang mengawasi. Ketiga, kebebasan yang dberikan kepada guru. Keempat, hubungan guru dengan para siswa. Kelima, pengetahuan guru tentang dirinya sendiri dan kepercayaan diri yang dimiliki oleh guru. Buchori menjelaskan bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap implementasi pembelajaran tematik.

  147

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hasil penelitian tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wartana dan Chairunniza. Penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh Wartana dan Chairunniza menunjukkan bahwa faktor demografi latar belakang pendidikan guru memberikan perbedaan dalam implementasi pembelajaran tematik. Buchori mengemukakan bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh pada implementasi pembelajaran tematik. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti juga menunjukkan bahwa faktor demografi latar belakang pendidikan guru memberikan tidak perbedaan dalam implementasi pembelajaran tematik.

  3. Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru Hasil analisis yang diperoleh adalah U = 2904,500, z = -1,400 dan dengan = 0, 162. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru. Status kepegawaian yang dimiliki oleh guru tidak mempengaruhi berhasilnya penerapan pembelajaran tematik.

  Sari (2010) menyebutkan bahwa ada dua jenis status kepegawaian yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non PNS. Penelitian yang dilakukan oleh Sari menyebutkan bahwa PNS dan non PNS memiliki perbedaan situasi dan kondisi kaitannya dengan sikap kerja. Perbedaan yang berkaitan dengan sikap kerja dapat dipengaruhi oleh keadaan jasmani, intelegensi, kepribadian, minat, dan lain-lain.

  Keadaan yang berbeda itulah yang mendorong munculnya motivasi kerja pada

  148

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PNS dan non PNS. Hasil penelitian yang dilakukan Sari tidak sejalan dengan hasil penelitian ini.

  Minarmi (2008: 85) menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru ditinjau dari status kepegawaian. Hasil penelitian Minarmi menunjukkan bahwa terdapat kesamaan persepsi positif. Kesamaan persepsi yang diperoleh dalam penelitian Minarmi menolak teori yang menyebutkan bahwa pemberian stimulus yang sama maka persepsi yang dihasilkan berbeda karena adanya perbedaan pengalaman dan kemampuan berpikir setiap guru. UU tentang guru tahun 2005 (dalam Minarmi, 2008: 22) menjelaskan bahwa guru yang memiliki status sebagai guru tetap negeri ataupun yayasan memiliki pola pikir yang lebih baik dibandingkan dengan guru tidak tetap, honorer, atau guru bantu. Guru tetap tentu telah memiliki pengalaman lebih banyak dibandingkan dengan guru tidak tetap, honorer, atau guru bantu.

  Suwondo (dalam Minarmi, 2008: 17) menyebutkan bahwa guru tetap negeri atau yayasan memiliki kewajiban mengajar 24 jam per minggu dan melaksanakan tugas administrasi lainnya. Tugas administasi dapat berupa pelatihan, pengisian rapot, dan lain-lain. Guru tetap negeri atau yayasan memiliki pengalaman banyak dalam mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun yayasan. Contoh pelatihan dapat berupa pelatihan implementasi pembelajaran tematik di kelas bawah. Hasil penelitian implementasi pembelajaran tematik di kelas bawah sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Minarmi (2008).

  Penelitian yang dilakukan peneliti dan penelitian milik Minarmi tidak sejalan dengan sejalan dengan teori yang ada.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab V ini berisi tiga hal yang diuraikan oleh peneliti. Tiga hal yang diuraikan dalam bagian penutup adalah kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. A. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan

  yaitu:

  1. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 145 guru berada di kategori tinggi dengan persentase 76,72%. Kesimpulan yang diperoleh adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta termasuk dalam kategori tinggi.

  2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (H(3) = 3,797) dan dengan = 0,284. Hipotesis yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Jadi, kesimpulan yang diperoleh adalah tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru.

  3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa U = 2904,500, z = -1,400 dan dengan = 0,162. Hipotesis yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Jadi, kesimpulan yang diperoleh adalah tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor status kepegawaian guru.

  150

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B.

   Keterbatasan Penelitian

  Keterbatasan yang dialami oleh peneliti adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga peneliti tidak bisa mengukur kejujuran responden. Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri oleh responden.

  2. Waktu penelitian dilakukan setelah Ujian Akhir Semester (UAS) Gasal, sehingga responden merasa terbebani sebab bersamaan dengan kegiatan pengisian rapor. Hal ini berpengaruh pada tingkat pengembalian kuesioner.

  3. Indikator dalam instrumen penelitian yang disusun masih bisa dikembangkan lagi.

C. Saran

  Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Instrumen pengambilan data tidak hanya menggunakan kuesioner saja, namun bisa ditambahkan observasi dengan responden agar data yang diperoleh lebih dapat dipercaya.

  2. Waktu penelitian sebaiknya dilakukan sebelum Ujian Akhir Semester (UAS), agar responden lebih memiliki waktu untuk mengisi kuesioner yang diberikan.

  3. Peneliti berikutnya dapat melakukan lebih detil tentang kualitas kuesioner dengan melakukan analisis faktor.

  151

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR REFERENSI

  Astuti, I.P. 2012. Implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas awal di sekolah dasar negeri se-kecamatan Srandakan tahun ajaran 2011/2012 .

  Yogyakarta: Skripsi (Online) s 15 Januari 2014). Azwar, S. 2005. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdiknas. 2006. Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal Sekolah Dasar.

  Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Gramedia.

  Depdiknas. 2008. Laporan hasil diskusi: Kajian kurikulum pendidikan dasar.

  Jakarta: Puskur Balitbang. Djohar. 2006. Pengembangan pendidikan nasional menyongsong masa depan.

  Yogyakarta: CV. Grafika Indah. Dikti. 2012. Suplemen bahan ajar: Unit 4-Perkembangan kurikulum. Jakarta: Dikti.

  Dilek, D. 2002.

  Using a thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching. Istanbul: Marmara University (Thesis).

  Field, Andy. 2009. Discovering statistics using SPSS (Third Edition). Dubai: Oriental Press. Hague, P (Terjemahan Fery Dwi Nugroho). 1995. Merancang kuesioner. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Indrawati. 2009. Model pembelajaran terpadu di sekolah dasar untuk guru SD.

  Jakarta: PPPPTK IPA (BERMUTU). Jogiyanto. 2008. Pedoman survei kuesioner. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. Krejcie dan Morgan. 1970. Determining sample size for research activities.

  Penelitian . University of Minnesota.

  Majid, A. 2014. Pembelajaran tematik terpadu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Martono, N. 2010. Statistik sosial: Teori dan aplikasi program SPSS. Yogyakarta: Gava Media.

  152

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Mashudi. 2010. Implementasi pembelajaran tematik berdasarkan kurikulum

  tingkat satuan pendidikan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas

  II SDN Sonoageng 2 Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Surakarta: Tesis (Onlinekses 12 januari 2014).

  Masidjo. 1995. Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Minarmi, Yanita. 2008. Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan

  ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan, dan status kepegawaian: survey bagi guru-guru sekolah dasar se-Kecamatan Ngawen

Kabupaten Klaten . Yogyakarta: (Skripsi) Universitas Sanata Dharma.

  Morrisan. 2012. Metode penelitian survei. Jakarta: PT. Kencana Prenadamedia. Mulyasa, H.E. 2010. Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  Nordstokke. 2011. The

  operating characteristics od the non parametric Lavene’s Test for equal variances with assessment and evaluation data . Practical assessment, rearch and evaluation . 10 (5, P. 1-8.)

  Prasetyo, G. 2012. Pelaksanaan pembelajaran terpadu model tematik kelas 3

  sekolah dasar gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Yogyakarta : Skripsi (Online)

  (http://eprints.uny.ac.id/7784/1/cover%20-%2008108241020.pdf ‎ diakses 12 Januari 2014).

  Prastowo, A. 2013. Pengembangan bahan ajar tematik. Yogyakarta: Diva Press. Riduwan. 2008. Dasar-dasar statistika. Bandung: Alfa Beta. Rismiati, C. 2012.

  Teachers’ concerns regarding the implementation of integrated

thematic instruction: a study of primary grade teachers in Kanisius

Catholic Schoolsin Yogyakarta, Indonesia. Loyola University Chicago.

  Rismiati, C. 2014. Pemilu 2014 sebagai wahana pendidikan karakter bangsa

  menuju masyarakat madani: Sebuah survei pada sikap mahasiswa PGSD . Universitas Sanata Dharma. di Kabupaten Sleman, Yogyakarta

  Sanaky, H.A.H. 2009. Reformasi pendidikan suatu keharusan untuk memasuki milenium III (Suatu renungan untuk pendidikan Islam). Makalah. Santosa, S. 2012. Aplikasi SPSS pada statistic nonparametrik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

  153 Sari. 2011. Hubungan antara faktor predisposing dengan profesionalisme

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  perawat di RSUD Kabupaten Aceh Singkil . Universitas Sumatera Utara: Skripsi(online) ( repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22306/4/Chapter%20I I.pdf, diunduh pada 02 Juni 2014).

  Siregar, S. 2010. Statistika deskriptif untuk penelitian: dilengkapi perhitungan

manual dan aplikasi SPSS versi 17 . Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Sudrajat, Ahmad. 2008. Model tematik kelas awal. Makalah. Sugiyono. 2009. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2011. Metodologi penelitian kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Supardi. 2013. Kinerja Guru. Depok: PT Rajagrafindo Persada. Syah, M. 2002. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Trianto. 2010. Mengembangkan model pembelajaran tematik. Jakarta: PT.

  Prestasi Pustakaraya Trianto. 2011. Desain pengembangan pembelajaran

   tematik bagi anak usia dini TK/RA/dan anak kelas awal SD/MI . Jakarta: Kencana.

  Trianto. 2012. Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2006. Pengantar statistika. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

  Uyanto, Stanislaus. S. 2009. Pedoman analisis data dengan SPSS. Yogyakarta: Graha Ilmu. Wartana, I Made Hedy. 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan pada Como Shambala Estate at Begawan Giri Ubud Bali .

  Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya: Jurnal (Online) ada 02 Juni 2014).

  154

  

LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  155

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian dan Surat Telah Melakukan Penelitian

  156

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  157

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  158

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  159

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 2: Expert Judgement

  160

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  161

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  162

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  163

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  164

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  165

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  166

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  167

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  168

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  169

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  170

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  171

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  172

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  173

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  174

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  175

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  176

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  177

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  178

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  179

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  180

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  181

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  182

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  183

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  184

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  185

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  186

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  187

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  188

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  189

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  190

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  191

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  192

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  193

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  194

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  195

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  196

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  197

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  198

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  199

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  200

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  201

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  202

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  203

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  204

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  205

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  206

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  207

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  208

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  209

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  210

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  211

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  212

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  213

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  214

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  215

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  216

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  217

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  218

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  219

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  220

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  221

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  222

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  223

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  224

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  225

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  226

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  227

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  228

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  229

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  230

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  231

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  232

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  233

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  234

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  235

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  236

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  237

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  238

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  239

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  240

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  241

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  242

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  243

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  244

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  245

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 3: Validitas Muka

  246

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  247

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  248

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  249

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  250

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  251

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  252

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  253

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  254

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  255

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  256

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Lampiran 4: Data Validitas

  257

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  258

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  259

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Lampiran 6: Data Reliabilitas

  260

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  261

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 7: Hasil Reliabilitas

Summary Item Statistics

  Mean Minimum Maximum Range Maximum / Minimum Variance N of Items Item Means 3.623 2.778 4.019 1.241 1.447 .110

  24 Item Variances .805 .434 1.281 .847 2.953 .062

  24 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-

  Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item_1

  83.87 127.209 .218 .510 .893 item_2 83.48 120.443 .467 .486 .887 item_3 83.00 126.377 .280 .600 .892 item_4 83.19 117.890 .608 .725 .883 item_5 83.35 119.213 .615 .603 .883 item_6 83.70 123.609 .372 .589 .890 item_7 82.94 128.091 .261 .439 .891 item_8 83.26 120.498 .672 .776 .883 item_10 84.19 147.701 -.612 .792 .917 item_11 83.44 121.006 .597 .705 .884 item_12 83.72 116.242 .610 .737 .883 item_13 83.78 117.384 .684 .844 .881 item_14 83.44 114.516 .726 .781 .880 item_15 83.30 120.137 .623 .685 .884 item_17 82.94 122.846 .598 .718 .885 item_19 82.94 122.204 .515 .550 .886 item_20 83.20 115.260 .745 .751 .879 item_21 83.17 125.349 .353 .661 .890 item_23 83.15 119.563 .719 .833 .882 item_24 83.37 118.049 .589 .843 .884 item_25 83.02 120.547 .674 .777 .883 item_26 83.00 120.604 .657 .782 .883 item_27 83.13 124.832 .406 .589 .889 item_28 83.56 122.855 .529 .751 .886

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  262

  263

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Lampiran 8: Data Asli

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  265

DATA ASLI

  

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN

TEMATIK DENGAN LATAR

BELAKANG PENDIDIKAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  267

DATA ASLI

  

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN

TEMATIK DENGAN STATUS

KEPEGAWAIAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  269

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 9: Hasil Perhitungan Sturges Hasil Distribusi Frekuensi Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik

  Perhitungan dengan daftar frekuensi: Jarak atau rentangan (R) = data tertinggi

  • – data terendah = 128
  • – 49 = 79

  Panjang kelas interval (K) = = = 15,8 dibulatkan menjadi 16.

  Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi

Kategori Panjang Kelas Frekuensi Presentase

  Sangat Tinggi 113 34 17,99%

  • – 128 Tinggi

  97 145 76,72%

  • – 112 Cukup

  81 10 5,29%

  • – 96 Rendah

  65 0,00%

  • – 80 Sangat Rendah

  49 0,00%

  • – 64 Total 189 100,00%

  Keterangan:

  1. x 100% = 17,99% 2. x 100% = 76,72% 3. x 100% = 5,29% 4. x 100% = 0,00% 5. x 100% = 0,00%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  92.00 Variance 77.473 Std. Deviation 8.802 Minimum

  a. Lilliefors Significance Correction

  Total_Implementasi1 Selected .166 11 .200 * .946 11 .589

  Latar_Belakang_Pendidikan=2 (FILTER) Kolmogorov- Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  10 Skewness -.553 .661 Kurtosis .015 1.279

Tests of Normality

  30 Interquartile Range

  75 Maximum 105 Range

  91.62 Median

  270

  97.37 5% Trimmed Mean

  85.54 Upper Bound

  Latar_Belakang_Pendidikan=2 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi1 Selected Mean 91.45 2.654 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound

  N Percent N Percent N Percent

Total_Implementasi1 Selected 11 100.0% .0% 11 100.0%

Descriptives

  Latar_Belakang_Pendidikan=2 (FILTER) Cases Valid Missing Total

  Lampiran 10: Hasil Uji Normalitas Latar Belakang Pendidikan Uji Kolmogorov S Kelompok SPG

Case Processing Summary

  • . This is a lower bound of the true significance.

  271

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi P-P Plot

Model Description

  Model Name MOD_1 Series or Sequence

1 Total_Implementasi1

  2 Latar_Belakang_Pendidikan=2 (FILTER) Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

  

Location estimated

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_1

  

Case Processing Summary

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=2 (FILTER) Series or Sequence Length

  11

  11 Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing

  The cases are unweighted.

  

Estimated Distribution Parameters

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=2 (FILTER) Normal Distribution Location

  91.45

  91.45 Scale 8.802 8.802 The cases are unweighted.

  272

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Latar_Belakang_ Total_Implement Pendidikan=2 asi1 (FILTER) N Valid

  11

  11 Missing Mean

  91.45

  1.00 Median

  92.00

  1.00 Mode

  98

  1 Std. Deviation 8.802 .000 Skewness -.553

Std. Error of Skewness .661 .661

Kurtosis .015

Std. Error of Kurtosis 1.279 1.279

Minimum

  75

  1 Maximum 105

  1

  273

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Percent Valid

  63.6

  9.1

  9.1

  54.5

  95

  1

  9.1

  9.1

  98

  92

  3

  27.3

  27.3

  90.9 105

  1

  9.1 9.1 100.0 Total 11 100.0 100.0

  

Latar_Belakang_Pendidikan=2 (FILTER)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  Percent Valid Selected 11 100.0 100.0 100.0

  1

  45.5

  75

  9.1

  1

  9.1

  9.1

  9.1

  79

  1

  9.1

  18.2

  

Total_Implementasi1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  88

  1

  9.1

  9.1

  27.3

  89

  2

  18.2

  18.2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  92.00 Variance 32.102 Std. Deviation 5.666 Minimum

  a. Lilliefors Significance Correction

  Total_Implementasi1 Selected .085 63 .200 * .977 63 .283

  Latar_Belakang_Pendidikan=3 (FILTER) Kolmogorov- Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  7 Skewness -.120 .302 Kurtosis 1.202 .595

Tests of Normality

  32 Interquartile Range

  75 Maximum 107 Range

  92.70 Median

  274

  94.08 5% Trimmed Mean

  91.22 Upper Bound

  Latar_Belakang_Pendidikan=3 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi1 Selected Mean 92.65 .714 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound

  N Percent N Percent N Percent

Total_Implementasi1 Selected 63 100.0% .0% 63 100.0%

Descriptives

  Latar_Belakang_Pendidikan=3 (FILTER) Cases Valid Missing Total

  Uji Kolmogorov S Kelompok Sarjana non-PGSD

Case Processing Summary

  • . This is a lower bound of the true significance.

  275

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi P-P Plot

Model Description

  Model Name MOD_2 Series or Sequence

1 Total_Implementasi1

  2 Latar_Belakang_Pendidikan=3 (FILTER) Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

  

Location estimated

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_2

  

Case Processing Summary

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=3 (FILTER) Series or Sequence Length

  63

  63 Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing

  The cases are unweighted.

  

Estimated Distribution Parameters

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=3 (FILTER) Normal Distribution Location

  92.65

  92.65 Scale 5.666 5.666 The cases are unweighted.

  276

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Latar_Belakang_ Total_Implement Pendidikan=3 asi1 (FILTER) N Valid

  63

  63 Missing Mean

  92.65

  1.00 Median

  92.00 a

  1.00 Mode

  91

  1 Std. Deviation 5.666 .000 Skewness

  • .120

    Std. Error of Skewness .302 .302

    Kurtosis 1.202

    Std. Error of Kurtosis .595 .595

    Minimum

  75

  1 Maximum 107

  1

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

  277

  11.1

  6.3

  4

  94

  60.3

  7.9

  7.9

  5

  93

  52.4

  11.1

  66.7

  7

  92

  41.3

  11.1

  11.1

  7

  91

  30.2

  4.8

  6.3

  95

  3

  6.3

  1.6

  1.6

  1

  88.9 100

  3.2

  3.2

  2

  99

  85.7

  6.3

  4

  4

  97

  79.4

  6.3

  6.3

  4

  96

  73.0

  6.3

  6.3

  4.8

  90

  

Total_Implementasi1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  3.2

  1.6

  1.6

  1

  83

  4.8

  1.6

  1.6

  1

  82

  1.6

  85

  1.6

  1

  81

  1.6

  1.6

  1.6

  1

  75

  Percent Valid

  6.3

  1

  25.4

  12.7

  7.9

  7.9

  5

  89

  17.5

  4.8

  4.8

  3

  88

  3.2

  1.6

  3.2

  2

  87

  9.5

  1.6

  1.6

  1

  86

  7.9

  1.6

  90.5 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  278

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Total_Implementasi1

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  101

  1

  1.6

  1.6

  92.1 102

  2

  3.2

  3.2

  95.2 103

  1

  1.6

  1.6

  96.8 105

  1

  1.6

  1.6

  98.4 107

  1

  1.6 1.6 100.0 Total 63 100.0 100.0

  

Latar_Belakang_Pendidikan=3 (FILTER)

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Selected 63 100.0 100.0 100.0 Uji Kolmogorov Kelompok Sarjana D2 PGSD

  

Case Processing Summary

Cases Valid Missing Total

  Latar_Belakang_Pendidikan=4 (FILTER) N Percent N Percent N Percent

Total_Implementasi1 Selected 31 100.0% .0% 31 100.0%

  

Descriptives

Latar_Belakang_Pendidikan=4 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi1 Selected Mean

  92.00 1.613 95% Confidence Interval Lower Bound 88.71 for Mean

  Upper Bound

  95.29 5% Trimmed Mean

  91.02 Median

  89.00 Variance 80.667 Std. Deviation 8.981 Minimum

  82 Maximum 120 Range

  38 Interquartile Range

  7 Skewness 1.901 .421 Kurtosis 3.787 .821

  279

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kolmogorov- Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

1 Total_Implementasi1

  31 Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing

  92.00 Scale 8.981 8.981 The cases are unweighted.

  92.00

  Latar_Belakang_ Pendidikan=4 (FILTER) Normal Distribution Location

  

Estimated Distribution Parameters

Total_Implement asi1

  The cases are unweighted.

  31

  Total_Implementasi1 Selected .242 31 .000 .794 31 .000

  

Tests of Normality

Latar_Belakang_Pendidikan=4 (FILTER)

  

Case Processing Summary

Total_Implement asi1

  

Location estimated

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_3

  2 Latar_Belakang_Pendidikan=4 (FILTER) Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

  

Model Description

Model Name MOD_3 Series or Sequence

  a. Lilliefors Significance Correction Visualisasi P-P Plot

  Latar_Belakang_ Pendidikan=4 (FILTER) Series or Sequence Length

  280

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Latar_Belakang_ Total_Implement Pendidikan=4 asi1 (FILTER) N Valid

  31

  31 Missing Mean

  92.00

  1.00 Median

  89.00 a

  1.00 Mode

  85

  1 Std. Deviation 8.981 .000 Skewness 1.901

Std. Error of Skewness .421 .421

  Kurtosis 3.787

Std. Error of Kurtosis .821 .821

Minimum

  82

  1 Maximum 120

  1

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

  281

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Percent Valid

  9.7

  96

  77.4

  3.2

  3.2

  1

  93

  74.2

  9.7

  3.2

  3

  92

  64.5

  9.7

  9.7

  3

  91

  54.8

  1

  3.2

  3.2

  3.2

  3.2 3.2 100.0 Total 31 100.0 100.0

  1

  96.8 120

  3.2

  3.2

  1

  93.5 118

  3.2

  1

  80.6 100

  90.3 103

  6.5

  6.5

  2

  83.9 101

  3.2

  3.2

  1

  3.2

  1

  82

  84

  9.7

  3

  85

  9.7

  3.2

  3.2

  1

  6.5

  19.4

  3.2

  3.2

  1

  83

  3.2

  3.2

  3.2

  1

  9.7

  86

  

Total_Implementasi1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  3

  51.6

  9.7

  9.7

  3

  89

  41.9

  9.7

  9.7

  88

  2

  32.3

  6.5

  6.5

  2

  87

  25.8

  6.5

  6.5

  90

  282

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Latar_Belakang_Pendidikan=4 (FILTER)

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Selected 31 100.0 100.0 100.0 Uji Kolmogorov S Kelompok Sarjana PGSD

  

Case Processing Summary

Cases Valid Missing Total

  Latar_Belakang_Pendidikan=5 (FILTER) N Percent N Percent N Percent

Total_Implementasi1 Selected 75 100.0% .0% 75 100.0%

  

Descriptives

Latar_Belakang_Pendidikan=5 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi1 Selected Mean

  91.71 .898 95% Confidence Interval Lower Bound 89.92 for Mean

  Upper Bound

  93.50 5% Trimmed Mean

  91.38 Median

  91.00 Variance 60.453 Std. Deviation 7.775 Minimum

  74 Maximum 114 Range

  40 Interquartile Range

  10 Skewness .631 .277 Kurtosis .496 .548

Tests of Normality

  Kolmogorov- a Smirnov Shapiro-Wilk Latar_Belakang_Pendidikan=5 (FILTER) Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  Total_Implementasi1 Selected .098 75 .070 .970 75 .068

  a. Lilliefors Significance Correction

  283

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi P-P PLot

Model Description

  Model Name MOD_4 Series or Sequence

1 Total_Implementasi1

  2 Latar_Belakang_Pendidikan=5 (FILTER) Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

  

Location estimated

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_4

  

Case Processing Summary

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=5 (FILTER) Series or Sequence Length

  75

  75 Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing

  The cases are unweighted.

  

Estimated Distribution Parameters

Total_Implement asi1

  Latar_Belakang_ Pendidikan=5 (FILTER) Normal Distribution Location

  91.71

  91.71 Scale 7.775 7.775 The cases are unweighted.

  284

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Latar_Belakang_Pendidikan=5 Total_Implementasi1 (FILTER) N Valid

  75

  75 Missing Mean

  91.71

  1.00 Median 91.00 a

  1.00 Mode

  85

  1 Std. Deviation 7.775 .000 Skewness .631

Std. Error of Skewness .277 .277

  Kurtosis .496

Std. Error of Kurtosis .548 .548

  Minimum

  74

  1 Maximum 114

  1

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

  285

  49.3

  8.0

  8.0

  6

  92

  53.3

  4.0

  4.0

  3

  91

  6.7

  93

  6.7

  5

  90

  42.7

  4.0

  4.0

  3

  89

  38.7

  61.3

  1

  6.7

  74.7

  2.7

  2.7

  2

  97

  76.0

  1.3

  1.3

  1

  96

  5.3

  1.3

  5.3

  4

  95

  69.3

  6.7

  6.7

  5

  94

  62.7

  1.3

  6.7

  5

  

Total_Implementasi1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  81

  10.7

  2.7

  2.7

  2

  82

  8.0

  5.3

  5.3

  4

  2.7

  1

  1.3

  1.3

  1

  80

  1.3

  1.3

  1.3

  1

  74

  Percent Valid

  83

  1.3

  88

  86

  32.0

  5.3

  5.3

  4

  87

  26.7

  5.3

  5.3

  4

  21.3

  1.3

  8.0

  8.0

  6

  85

  13.3

  1.3

  1.3

  1

  84

  12.0

  78.7 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  286

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Percent

  2.7

  2.7

  93.3 106

  1

  1.3

  1.3

  94.7 107

  2

  2.7

  97.3 113

  2

  1

  1.3

  1.3

  98.7 114

  1

  1.3 1.3 100.0 Total 75 100.0 100.0

  

Latar_Belakang_Pendidikan=5 (FILTER)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  Percent Valid Selected 75 100.0 100.0 100.0

  2.7

  90.7 103

  98

  84.0 100

  2

  2.7

  2.7

  81.3

  99

  2

  2.7

  2.7

  2

  

Total_Implementasi1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  2.7

  2.7

  86.7 101

  1

  1.3

  1.3

  88.0 102

  2

  2.7

  2.7

  287

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Total_Implementasi1 N Mean Std. Deviation Std.

  95.29 82 120

  9658.591 176 54.878 Total 9694.061 179

  Total_Implementasi1 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 35.470 3 11.823 .215 .886 Within Groups

  2.383 3 176 .071

ANOVA

  Total_Implementasi1 Levene Statistic df1 df2 Sig.

  93.15 74 120

Test of Homogeneity of Variances

  90.99

  93.50 74 114 Total 180 92.07 7.359 .549

  89.92

  75 91.71 7.775 .898

  5

  88.71

  Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound

  Lampiran 11: Uji Homogenitas Latar Belakang Pendidikan

Descriptives

  4

  94.08 75 107

  91.22

  63 92.65 5.666 .714

  3

  97.37 75 105

  85.54

  11 91.45 8.802 2.654

  2

  31 92.00 8.981 1.613

  288

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 12: Uji Kruskall Wallis Latar Belakang Pendidikan

Descriptive Statistics

  N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Total_Implementasi1 180 92.07 7.359 74 120 Latar_Belakang_Pendidikan 180

  3.94 1.007

  2

  5 Ranks Latar_B elakang _Pendi dikan N Mean Rank Total_Implementasi1

  2

  11

  93.41

  3

  63

  99.98

  4

  31

  80.34

  5

  75

  86.31 Total a,b 180 Test Statistics

  Total_Implement asi1

Chi-Square 3.797

df

  3 Asymp. Sig. .284

a. Kruskal Wallis Test

  b. Grouping Variable: Latar_Belakang_Pendidikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  92.00 Variance 24.500 Std. Deviation 4.950 Minimum

  a. Lilliefors Significance Correction

  Total_Implementasi2 Selected .088 49 .200 * .972 49 .288

  Status_Kepegawaian=1 (FILTER) Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  6 Skewness .172 .340 Kurtosis -.270 .668

Tests of Normality

  21 Interquartile Range

  81 Maximum 102 Range

  92.71 Median

  289

  94.14 5% Trimmed Mean

  91.29 Upper Bound

  Status_Kepegawaian=1 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi2 Selected Mean 92.71 .707 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound

  N Percent N Percent N Percent

Total_Implementasi2 Selected 49 100.0% .0% 49 100.0%

Descriptives

  Status_Kepegawaian=1 (FILTER) Cases Valid Missing Total

  Lampiran 13: Uji Normalitas Status Kepegawaian Uji Kolmogorov S Pegawai tidak Tetap Yayasan

Case Processing Summary

  • . This is a lower bound of the true significance.

  290

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi P-P Plot

Model Description

  Model Name MOD_5 Series or Sequence

  1 Status_Kepegawaian=1 (FILTER)

  2 Total_Implementasi2 Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

Location estimated

  

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_5

  

Case Processing Summary

Status_Kepegaw aian=1 (FILTER)

  Total_Implement asi2 Series or Sequence Length

  49

  49 Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing

  The cases are unweighted.

  

Estimated Distribution Parameters

Status_Kepegaw aian=1 (FILTER)

  Total_Implement asi2 Normal Distribution Location .

  92.71 Scale . 4.950 The cases are unweighted.

  291

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Status_Kepegaw Total_Implement aian=1 (FILTER) asi2 N Valid

  49

  49 Missing Mean

  1.00

  92.71 Median

  1.00

  92.00 Mode

  1

  92 Std. Deviation .000 4.950

Std. Error of Skewness .340 .340

Std. Error of Kurtosis .668 .668

Minimum

  1

  81 Maximum 1 102 Skewness .172 Kurtosis

  • .270

  292

  6.1

  67.3

  8.2

  8.2

  4

  94

  59.2

  6.1

  4

  3

  93

  53.1

  12.2

  12.2

  6

  92

  95

  8.2

  10.2

  2.0

  4.1

  4.1

  2

  98

  81.6

  2.0

  1

  8.2

  97

  79.6

  4.1

  4.1

  2

  96

  75.5

  40.8

  10.2

  

Status_Kepegawaian=1 (FILTER)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  85

  4

  86

  4.1

  2.0

  2.0

  1

  2.0

  8.2

  2.0

  2.0

  1

  81

  Percent Valid

  

Total_Implementasi2

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  Percent Valid Selected 49 100.0 100.0 100.0

  8.2

  12.2

  5

  28.6

  91

  30.6

  2.0

  2.0

  1

  90

  8.2

  88

  8.2

  4

  89

  20.4

  8.2

  8.2

  4

  85.7 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  293

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Total_Implementasi2

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  99

  1

  2.0

  2.0

  87.8 100

  1

  2.0

  2.0

  89.8 101

  1

  2.0

  2.0

  91.8 102

  4

  8.2 8.2 100.0 Total 49 100.0 100.0

  Uji Kolmogorov S Pegawai Negeri

Case Processing Summary

  Cases Valid Missing Total Status_Kepegawaian=3 (FILTER) N Percent N Percent N Percent

  

Total_Implementasi2 Selected 137 100.0% .0% 137 100.0%

Descriptives

  Status_Kepegawaian=3 (FILTER) Statistic Std. Error Total_Implementasi2 Selected Mean 91.91 .673 95% Confidence Interval Lower Bound 90.57 for Mean

  Upper Bound

  93.24 5% Trimmed Mean

  91.53 Median

  91.00 Variance 62.101 Std. Deviation 7.880 Minimum

  74 Maximum 120 Range

  46 Interquartile Range

  9 Skewness .842 .207 Kurtosis 1.578 .411

  294

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Tests of Normality

Status_Kepegawaian=3 (FILTER)

  Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Total_Implementasi2 Selected .116 137 .000 .956 137 .000

  a. Lilliefors Significance Correction Visualisasi P-P Plot

  

Model Description

Model Name MOD_6 Series or Sequence

  1 Status_Kepegawaian=3 (FILTER)

  2 Total_Implementasi2 Transformation None Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

Location estimated

  

Scale estimated

Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_6

  

Case Processing Summary

Status_Kepegaw aian=3 (FILTER)

  Total_Implement asi2

Series or Sequence Length 137 137

Number of Missing Values in the Plot User-Missing

  System-Missing The cases are unweighted.

  

Estimated Distribution Parameters

Status_Kepegaw aian=3 (FILTER)

  Total_Implement asi2 Normal Distribution Location .

  91.91 Scale . 7.880 The cases are unweighted.

  295

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Visualisasi Histogram

Statistics

  Status_Kepegaw Total_Implement aian=3 (FILTER) asi2

N Valid 137 137

Missing Mean

  1.00

  91.91 Median

  1.00

  91.00 Mode

  1

  92 Std. Deviation .000 7.880

Std. Error of Skewness .207 .207

Std. Error of Kurtosis .411 .411

Minimum

  1

  74 Maximum 1 120 Skewness .842 Kurtosis

  1.578

  296

  5.8

  19.0

  86

  5

  3.6

  3.6

  22.6

  87

  8

  5.8

  5.8

  28.5

  88

  8

  5.8

  34.3

  6.6

  89

  9

  6.6

  6.6

  40.9

  90

  9

  6.6

  6.6

  47.4

  91

  8

  5.8

  5.8

  6.6

  9

  

Status_Kepegawaian=3 (FILTER)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  5.8

  Percent

Valid Selected 137 100.0 100.0 100.0

Total_Implementasi2

  

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent Valid

  74 1 .7 .7 .7

  75

  2

  1.5

  1.5

  2.2

  80 1 .7 .7

  2.9

  81

  4

  2.9

  2.9

  82

  85

  4

  2.9

  2.9

  8.8

  83

  3

  2.2

  2.2

  10.9

  84

  2

  1.5

  1.5

  12.4

  53.3 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  297

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Percent

  2.9

  99

  3

  2.2

  2.2

  85.4 100

  3

  2.2

  2.2

  87.6 101

  3

  2.2

  2.2

  89.8 103

  4

  2.9

  2.9

  92.7 105

  2

  1.5

  1.5

  94.2 106 1 .7 .7

  94.9 107

  3

  2.2

  2.2

  97.1 113 1 .7 .7

  97.8 114 1 .7 .7

  98.5 118 1 .7 .7

  99.3 120 1 .7 .7 100.0 Total

  137 100.0 100.0

  83.2

  2.9

  92

  95

  12

  8.8

  8.8

  62.0

  93

  5

  3.6

  3.6

  65.7

  94

  5

  3.6

  3.6

  69.3

  6

  

Total_Implementasi2

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

  4.4

  4.4

  73.7

  96

  4

  2.9

  2.9

  76.6

  97

  5

  3.6

  3.6

  80.3

  98

  4

  298

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 14: Uji Homogenitas Status Kepegawaian

Descriptives

  Total_Implementasi2 95% Confidence Interval for Mean Std. Std. N Mean Deviation Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum

  1

  49 92.71 4.950 .707

  91.29

  94.14 81 102 3 137 91.91 7.880 .673

  90.57

  93.24 74 120 Total 186 92.12 7.221 .529

  91.07

  93.16 74 120

Test of Homogeneity of Variances

  Total_Implementasi2 Levene Statistic df1 df2 Sig.

  6.194 1 184 .014

ANOVA

  Total_Implementasi2 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 23.631 1 23.631 .452 .502 Within Groups

  9621.766 184 52.292 Total 9645.398 185

  299

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 15: Uji Mann Whitney Status Kepegawaian

Descriptive Statistics

  N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Total_Implementasi2 186 92.12 7.221 74 120 Status_Kepegawaian 186

  2.47 .883

  1

  3 Ranks Status_ Kepega waian N Mean Rank Sum of Ranks

  Total_Implementasi2

  1 49 102.72 5033.50 3 137 90.20 12357.50 Total

  186

Test Statistics

a

  Total_Implement asi2

Mann-Whitney U 2904.500

Wilcoxon W 12357.500

Z -1.400

Asymp. Sig. (2-tailed) .162

a. Grouping Variable: Status_Kepegawaian

  300

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 16: Tabel Krejcie

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  301

  Lampiran 17: Tabel r

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  302

  Lampiran 18: Kuesioner Penelitian Sebelum dan Sesudah direvisi

  Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey

  pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1)

  tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu.

  Hormat saya, Koordinator peneliti survei Agus Praditha Deo Agitya (Phone 085729886542, Email Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251.

  hone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  303

BAGIAN I. Skala Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataan-pernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. Pernyataan Skala

  1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode 1 2 3 4 5 utama untuk menyampaikan materi.

  2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk 1 2 3 4 5 menentukan cara mereka belajar.

  3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai 1 2 3 4 5 fasilitator pembelajaran.

  4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang 1 2 3 4 5 memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas.

  5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” ) untuk pembelajaran di kelas 1 2 3 4 5

  (learning by doing

  seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi.

  6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah 1 2 3 4 5 memahami materi pembelajaran.

  7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, 1 2 3 4 5 foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa)

  8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema 1 2 3 4 5 pembelajaran melalui berbagai cara dan material.

  9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD- 1 2 3 4 5 an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS).

  10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya 1 2 3 4 5 keterkaitan antar mata pelajaran.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  304

  11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih 1 2 3 4 5 mata pelajaran secara rutin.

  12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik 1 2 3 4 5 untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai 1 2 3 4 5 mata pelajaran sekaligus.

  14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema 1 2 3 4 5 untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran.

  15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata 1 2 3 4 5 pelajaran.

  16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan 1 2 3 4 5

  Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst).

  17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran 1 2 3 4 5 dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam.

  18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di 1 2 3 4 5 masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll.

  19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman 1 2 3 4 5 hidup siswa.

  20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai 1 2 3 4 5 dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa.

  21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian 1 2 3 4 5 yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.

  22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode 1 2 3 4 5 utama dalam menilai hasil belajar siswa.

  23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk 1 2 3 4 5 menilai hasil belajar siswa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

  305

  24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa.

  1 2 3 4 5

  28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya.

  1 2 3 4 5

  27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar.

  1 2 3 4 5

  26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar.

  1 2 3 4 5

  25. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif.

  1 2 3 4 5

Bagian II. Dukungan Administratif pada Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataan-pernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju.

  29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  306

  34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk 1 2 3 4 5 kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat.

  Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini.

  35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun.

  36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________

  37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun.

  38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam.

  39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa.

  40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini!

  A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK)

  B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P.

  Sejarah)

  D. Sarjana D2-PGSD

  E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

  F. Master (S2)

  G. Lainnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  307

  41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.)

  B. Pegawai Tetap Yayasan

  C. Pegawai Negeri

  42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang.

  43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013?

  A. Ya

  B. Tidak

  • Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  308

  Lampiran 19: Contoh Kuesioner yang sudah diisi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  309

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  310

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  311

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  312

  313

  9

  2

  

3

1 - -

  27 SDN PILAHAN

  3

  26 SDN KOTAGEDE 7 3 - - -

  3

  25 SDN KOTAGEDE 4 3 - - -

  24 SDN KOTAGEDE 1 9 - - -

  3

  3

  23 SDN KARANGMULYO 3 - - -

  3

  22 SDN DALEM KOTAGEDE 3 - - -

  3

  21 SDN VIDYA QASANA 3 - - -

  3

  20 SDN KYAI MOJO 3 - - -

  28 SDN RANDUSARI 3 - - -

  29 SDN REJOWINANGUN 1 6 - - -

  

3

  3

  38 SDN SURYODININGRATAN 2 3 - - -

  3

  37 SDN SURYODININGRATAN 1 3 - - -

  3

  36 SDN GEDONGKIWO 3 - - -

  3

  35 SDN KRATON 3 - - -

  34 SDN KEPUTRAN IV 3 - - -

  6

  3

  33 SDN KEPUTRAN A 3 - - -

  6

  32 SDN KEPUTRAN 2 6 - - -

  12

  31 SDN KEPUTRAN 1 12 - - -

  3

  30 SDN REJOWINANGUN 3 3 - - -

  3

  19 SDN JETISHARJO

  Lampiran 20: Tabel Pengembalian Kuesioner NO. Nama Sekolah Responden Tidak kembali Rusak Gagal Jumlah

  3

  8 SDN LANGENSARI 3 - - -

  3

  7 SDN KLITREN 3 - - -

  3

  6 SDN DEMANGAN 3 - - -

  3

  5 SDN BHAYANGKARA 3 - - -

  4 SDN SOSROWIJAYAN 3 - - -

  9 SDN SERAYU 12 - - -

  3

  

3

2 - -

  3 SDN GEDONGTENGEN

  6

  2 SDN TEGALPANGGUNG 6 - - -

  3

  

3

7 - -

  1 SDN LEMPUYANGWANGI

  3

  12

  3

  6

  18 SDN JETIS 2 3 - - -

  3

  17 SDN GONDOLAYU 3 - - -

  3

  16 SDN COKROKUSUMAN 3 - - -

  6

  15 SDN BUMIJO 6 - - -

  14 SDN BADRAN 6 - - -

  10 SDN TERBANSARI 1

  3

  13 SDN SAYIDAN 3 - - -

  3

  12 SDN NGUPASAN 3 - - -

  5

  

6

1 - -

  11 SDN UNGARAN 1

  

6

6 - - -

  3 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  314

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  39 SDN SURYODININGRATAN 3 6 - - -

  3

  53 SDN PINGIT 3 - - -

  3

  54 SDN TEGALREJO 2 3 - - -

  3

  55 SDN GLAGAH 3 - - -

  3

  56 SDN GOLO 6 - - -

  6

  57 SDN KOTAGEDE 3 3 - - -

  3

  58 SDN WARUNGBOTO 3 - - -

  59 SDN PATANGPULUHAN 3 - - -

  52 SDN KARANGREJO 3 - - -

  3

  60 SDN SINDUREJAN 3 - - -

  3

  61 SDN TAMANSARI 1 3 - - -

  3

  62 SDN TAMANSARI 2 3 - - -

  3

  63 SDN TAMANSARI 3 6 - - -

  6

  64 SDN TEGALMULYO 3 - - -

  3 JUMLAH 251

  3

  3

  6

  11

  40 SDN SURYOWIJAYAN

  

3

1 - -

  2

  41 SDN KARANGANYAR 3 - - -

  3

  42 SDN KINTELAN 2 3 - - -

  3

  43 SDN PRAWIROTAMAN 3 - - -

  3

  44 SDN PUJOKUSUMAN 1

  

13

2 - -

  45 SDN SUROKARSAN 3 - - -

  NO. Nama Sekolah Responden Tidak kembali Rusak Gagal Jumlah

  3

  46 SDN TIMURAN 3 - - -

  3

  47 SDN SERANGAN 3 - - -

  3

  48 SD PUROPAKUALAMAN 1 6 - - -

  6

  49 SDN MARGOYASAN 3 - - -

  3

  50 SDN TUKANGAN 6 - - -

  6

  51 SDN BANGUNREJO 1 3 - - -

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  315

  

BIODATA

  Septyawati Ria Utami, dilahirkan pada tanggal 20 September 1992, di Bogor, Jawa Barat. Telah menempuh pendidikan di SDN Sendangagung (1998-2004), SMPN 1 Godean (2004-2007), dan SMAN 2 Yogyakarta (2007-2010). Saat ini peneliti masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas

  Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2010-2014).

  Peneliti pernah mengikuti berbagai macam kegiatan kemahasiswaan, antara lain PPKM-1 dan PPKM-2 yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma dimana peneliti berperan sebagai peserta wajib dalam kegiatan tersebut. Kegiatan selanjutnya yang diikuti oleh peneliti adalah seminar diseminasi hasil (PHK), UNA seminar and

  

workshop on anti bias , seminar dan whorkshop permainan tradisional, serta KMD

  yang merupakan khursus mahir dasar kepramukaan. Masa pendidikan diakhiri dengan menyusun skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei bagi Guru-guru Sekolah Dasar Negeri d i Kota Yogyakarta”.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
1
171
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
2
147
Perbandingan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas XI SMA yang dikelola oleh dua orang guru - USD Repository
0
1
161
Teknik pembelajaran menulis bagi siswa kelas II SLB/C Bakti Siwi Sleman Yogyakarta - USD Repository
0
11
113
Persepsi guru terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, golongan jabatan, masa kerja, dan usia guru : survei guru-guru Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
191
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Identitas kebangsaan anak Sekolah Dasar di Yogyakarta - USD Repository
0
1
242
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Tingkat stres kerja guru Sekolah Luar Biasa - USD Repository
0
0
88
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
321
Show more