UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ASERTIF MELALUI LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL MENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling pada Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Gratis

0
0
174
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ASERTIF MELALUI LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL MENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling pada Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Novita Dian Ratnasari NIM: 101114068 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO PERSEMBAHAN Penulis mempersembahkan skripsi ini untuk: Tuhan YME Keluarga tercinta Prodi BK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta SMP Negeri 1 Tretep, Temanggung iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Peningkatan Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Melalui Bimbingan Pribadi-Sosial Menggunakan Metode Sosiodrama (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling pada Kelas VIIB SMPN 1 Tretep, Temanggung Tahun Ajaran 2013/2014) Novita Dian Ratnasari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2014 Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif dan melihat seberapa banyak peningkatan kemampuan komunikasi asertif serta validitas peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui layanan bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMPN 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) yang dilaksanakan selama 2 siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan. Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep, Temanggung Tahun Ajaran 2013/2014 dengan jumlah 20 siswa. Data hasil penelitian diperoleh dari kuesioner komunikasi asertif siswa yang didukung oleh hasil observasi selama kegiatan bimbingan berlangsung, wawancara, dan dokumentasi. Nilai reliabilitas instrumen 0.820. Data dianalisis dengan menggunakan pengkategorisasian lima jenjang ordinal. Uji beda dilakukan dengan menggunakan non parametrik test dengan metode uji dua sampel berpasangan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui kegiatan layanan bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama. Peningkatan komunikasi asertif tampak dalam data berikut: (1) Pada tahap pra penelitian terdapat 2 siswa (6%) yang kemampuan komunikasi asertifnya rendah, 11 siswa (55%) komunikasi asertifnya sedang dan 7 siswa (35%) kemampuan komunikasi asertifnya tinggi. (2) Kemudian pada siklus 1 meningkat menjadi 5 siswa (25%)yang kemampuan komunikasi asertifnya sedang, 13 siswa (65%) kemampuan komunikasi asertifnya tinggi dan 2 siswa (10%) memiliki kemampuan komunikasi asertif sangat tinggi. (3) Pada perbaikan siklus 2 menjadi 13 siswa (65%) memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi dan 7 siswa (35%) memiliki kemampuan komunikasi asertif sangat tinggi. Berdasarkan hasil uji beda, didapat bahwa Ho ditolak sehingga kesimpulannya adalah ada peningkatan kemampuan komunikasi asertif melalui layanan bimbingan pribadisosial dengan menggunakan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep, Temanggung Tahun Ajaran 2013/2014. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The Enhancement of Assertive Communicative Skill of Students Through Social-Private Guidance Using Socio-drama Method ( The Research Toward The Action of Guidance And Counseling of Class VIIB Students at SMPN 1 Tretep, Temanggung, School Year 2013/2014) Novita Dian Ratnasari Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 This research is aims at increasing assertive communication skill students and seeing how much of an increase in assertive communication skills as well as the validity of the increase in assertive communication skills through socialprivate guidance using sociodrama method counseling of class VIIB students at SMPN 1 Tretep, Temanggung, school year 2013/2014. The type of this research is the research toward the action of guidance and counseling (PTBK) conducted for two cycles. Each cycle was conducted in one meeting. The subject of this reseach is class VIIB students at SMPN 1 Tretep,Temanggung, school year 2013/2014. The number of the students who became the subject was 20. The research result data was achieved from students’ assertive communicative questionnaire which was supported by the result of ibservation during the guidance, interview and documentation. The instrument reliability value was 0,820. The data was analized using ordinal five-level categorization. The test of differentiation was conducted using non-parametric test with the method of testing Wilcoxon two passed – samples. The result of the research showed that there is enhancement of assertive communication skill of students through social-private guidance using sociodrama method. The enhancement of assertive communicative skill appeared in the data follow: (1) At the stage of pre-research, there were two students (6%) who had low assertive communicative skill, 11 students (55%) who had medium assertive communicative skill and 7 students (35%) who had high assertive communicative skill. (2) Then, at the first cycle, it became 5 students (25%) had medium assertive communicative skill, 13 students (65%) had high assertive communicative skill and 2 students (35%) had very high assertive communicative skill.(3) At the second cycle, it became 13 students (65%%) had high assertive communicative skill and 7 students (35%) had very high assertive communicative skill. Based on the tesult of testing differentiation, it showed that Ho was rejected so that the conclusion is there was enhancement of assertive communicative skill of students through social-private guidance using sociodrama method of class VIIB students at SMPN 1 Tretep, Temanggung, school year 2013/2014. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala ramhat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai tugas akhir memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar saarjana Pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Konseling. Penulis mendapat pengalaman banyak selama proses penyelesaian skripsi ini. Baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Semua pengalaman itu menjadi pelajaran yang amat sangat penting dalam perkembangan diri penulis. Penulis menyadari bahwa semua pengalaman yang dialami saat mengerjakan skripsi ini merupakan bagian dari perjalanan pengembangan diri penulis dan tentunya atas kuasa Tuhan YME. Skripsi ini diselesaikan dengan baik berkat bantuan, dukungan, perhatian, dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada: 1. Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Dr. M.M. Sri Hastuti, M.si., selaku dosen pembimbing yang telah mendampingi, memotivasi, dan mengarahkan dengan penuh kesabaran dan kerja keras dalam memberikan masukan-masukan yang bermanfaat kepada penulis selama mengerjakan skripsi. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis dengan pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dalam penulisan skripsi ini. 4. St. Priyatmoko atas segala bantuan administrasinya selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini. 5. Isa Briawan, S.Pd., selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Tretep yang telah mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian. 6. Wasino, S.Pd selaku koordinator BK yang telah membantu memberikan masukan kepada penulis sehingga skripsi ini terselesaikan. 7. Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Tretep yang telah meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner dan menjadi subjek dalam penelitian ini. 8. Orang Tua yang tercinta yang selalu memberikan dukungan baik lewat doa maupun secara materi. 9. Mbak Yani sekeluarga, bapak Rio, Kak Ina sekeluarga, kak Icak sekeluarga, Kak Yo sekeluarga, Kak Rin sekeluarga, Kak Siska sekeluarga, dan Kak Rian yang telah memberikan Do’a dan dukungan kepada peneliti. 10. Sahabat terbaikku, kakak terbaikku, dan kekasih hatiku Yulius Petro Genok yang telah memberikan dukungan dalam proses mengerjakan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. ...................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................ ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................. iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ......... vi ABSTRAK....................................................................................... vii ............................................................................... viii ABSTRACT KATA PENGANTAR ..................................................................... ix DAFTAR ISI ................................................................................... xii DAFTAR TABEL ........................................................................... xvi DAFTAR GRAFIK ......................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah................................................................ 6 C. Tujuan Penelitian ................................................................. 6 D. Manfaat Penelitian ............................................................... 7 E. Definisi Operasional ............................................................ 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Asertif ........................................................................................ 9 1. Pengertian Komunikasi Asertif ........................................... 9 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Komponen Komunikasi Asertif ........................................... 10 3. Unsur Komunikasi Asertif ................................................... 13 4. Manfaat Komunikasi Asertif ............................................... 15 5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Asertif .... 16 B. Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial Menggunakan Metode Sosiodrama ................................................................................ 18 1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial .................................. 18 2. Pengertian Sosiodrama ........................................................ 19 C. Masa Remaja ............................................................................. 23 D. Hipotesis Tindakan .................................................................... 23 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian .......................................................................... 24 B. Subyek dan Obyek Penelitian .................................................... 25 C. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................... 26 D. Setting Penelitian ....................................................................... 26 1. Partisipan Dalam Penelitian................................................. 26 2. Topik Bimbingan ................................................................. 27 3. Pengorganisasian Kelas ....................................................... 28 E. Prosedur Penelitian .................................................................... 28 F. Tahapan Penelitian ................................................................... 31 1. Identifikasi Masalah ............................................................ 31 2. Siklus I ................................................................................. 32 3. Siklus II ............................................................................... 35 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI G. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 36 1. Angket ................................................................................. 36 2. Observasi ............................................................................. 36 3. Wawancara ......................................................................... 37 4. Studi Dokumen .................................................................... 37 H. Instrumen Penelitian .................................................................. 37 1. Jenis Instrumen .................................................................... 38 2. Validitas dan Reabilitas Instrumen ...................................... 41 I. Teknik Analisis Data ................................................................ 47 1. Analisis Data skala Asertif .................................................. 47 2. Analisis Data Wawancara, Pengamatan, Studi Dokumen ... 49 J. Kriteria Keberhasilan ................................................................. 50 1. Secara Kuantitatif ................................................................ 50 2. Secara Kualitatif .................................................................. 52 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ........................................................................ 53 1. Pra Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling ........... 53 2. Siklus I .................................................................................. 60 3. Siklus II ................................................................................ 70 4. Ketercapaian Kriteria Keberhasilan .................................... 77 5. Hasil Uji Hipotesis .............................................................. 78 B. Pembahasan ............................................................................... 80 C. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 84 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................ 85 B. Saran .......................................................................................... 86 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 88 LAMPIRAN .................................................................................... 91 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1: Norma Blue Print Penyusunan Kuesioner Kemampuan Komunikasi Asertif Sebelum Uji Coba............................ 38 Tabel 2: Kriteria Panduan Pengamatan ........................................... 40 Tabel 3 : Kriteria Panduan Wawancara Terstruktur Siswa ............. 41 Tabel 4: Kisi-Kisi Instrumen Asertif setelah Uji Coba ................... 44 Tabel 5: Daftar Indeks Korelasi Reabilitas...................................... 46 Tabel 6: Norma Kategorisasi Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertivitas Siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep ......... 48 Tabel7: Norma Kategorisasi Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertivitas Siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep ......... 49 Tabel 8: Kriteria Keberhasilan ........................................................ 51 Tabel 9: Prosentase Skala Kemampuan Komunikasi Asertif .......... 55 Tabel 10:Ketercapaian Kriteria Keberhasilan ................................. 78 Tabel 11: Hasil Uji Non Parametrik Tes ......................................... 78 Tabel 12: Peningkatan Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa.... 85 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GRAFIK Grafik1: Skor Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Pra Tindakan ...................................................................... 56 Grafik 2: Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Pra Tindakan ................... 57 Grafik3 : Skor Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Pra Penelitian dan Siklus 1 65 Grafik 4: Skor Masing-Masing Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Pada Pra Tindakan dan Siklus 1........... 66 Grafik 5: Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Pra Penelitian dengan Siklus 1 67 Grafik6: Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Masing-Masing Siswa Kelas VIIB pada Pra Penelitian dengan Siklus 1 .... 67 Grafik7: Skor Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Siklus II ........................... 73 Grafik8: Skor Masing-Masing Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB pada Siklus II ....................................... xvii 74

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Grafik 9: Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Siklus II ........................... 74 Grafik10:Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Masing-Masing Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi pada Siklus II ........ xviii 75

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Silabus .......................................................................... 91 Lampiran 2: Satuan Layanan Bimbingan.......................................... 94 Lampiran 3 : Kisi-Kisi Penelitian ..................................................... 118 Lampiran 4: Instrumen Penelitian ..................................................... 124 Lampiran 5: Rekapitulasi Data Penelitian ........................................ 131 Lampiran 6: Tabulasi Data Penelitian ............................................... 135 Lampiran 7: Hasil Uji SPSS 15......................................................... 140 Lampiran 8: Presensi Siswa .............................................................. 145 Lampiran 9: Foto-Foto Penelitian ..................................................... 149 Lampiran 10:Surat Izin Penelitian ................................................... 153 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi paparan secara berurutan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Dalam kehidupan sosial, individu tidak lepas dalam pergaulan dengan individu lainnya, karena sebagai makhluk sosial individu harus berinteraksi dengan individu lainnya. Begitu pula masa remaja. Bagi seorang remaja sudah mulai terjadi usaha pencarian jati diri dalam bentuk keinginan untuk berada didalam kelompok dengan cara bergaul dengan orang lain disekitarnya. Remaja adalah saat manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anakanak menuju dewasa atau masa dimana seorang anak memiliki keinginan untuk mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam menentukan apa yang ingin dilakukannya. Agar kebebasan yang mereka miliki tidak terabaikan oleh pihak lain maka perlulah dikembangkan keterampilan berperilaku asertif. Perilaku asertif itu sendiri didefinisikan sebagai suatu pengungkapan ekspresi secara langsung dan jujur yang 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 memungkinkan kita untuk mempertahankan hak-hak pribadi kita tanpa melakukan tindakan. Komunikasi asertif sangat penting bagi remaja awal, apabila seorang remaja awal tidak memiliki keterampilan untuk berperilaku asertif atau bahkan tidak dapat berperilaku asertif, disadari ataupun tidak, remaja awal ini akan kehilangan hak-hak pribadi sebagai individu dan cenderung tidak dapat menjadi individu yang bebas dan akan selalu berada dibawah kekuasaan orang lain. Selain itu, apabila seorang remaja tidak asertif maka remaja tersebut akan merasa rendah diri dan tidak berani mengemukakan pikiran dan perasaannya kepada orang lain karena merasa apa yang disampaikannya selalu tidak dipedulikan orang lain. Alasan seorang remaja awal tidak dapat berkomunikasi asertif adalah karena mereka belum menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku asertif. Remaja awal dipilih, karena pada masa ini terdapat keraguan akan identitas diri sebagai seorang remaja awal karena pada masa ini individu telah merasa dewasa namun masih ada orang-orang disekelilingnya yang menyebutnya “anak remaja”. Komunikasi asertif berbeda dengan perilaku agresif, karena dalam berperilaku asertif, kita dituntut untuk tetap menghargai orang lain dan tanpa melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal. Sedangkan Komunikasi agresif cenderung untuk menyakiti orang lain apabila kehendaknya tidak dituruti. Remaja awal belum dapat mengkomunikasikan perasaan yang dirasa

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kepada orang lain secara jujur, mereka menganggap mereka tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. Dampak lain dari kurangnya kemampuan komunikasi asertif pada remaja adalah potensi untuk menjadi korban dari tindak kriminalitas terutama kekerasan seksual. Menurut Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2006, sebanyak 3,07% perempuan dan 3,02% anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Adapun data Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2006 menyebutkan, terjadi 788 kasus kekerasan terhadap anak dan setiap bulannya 15 remaja putri menjadi korban pemerkosaan. Pihak kepolisian memperkirakan masih banyak lagi kasus pelecehan seksual yang belum terungkap atau belum dilaporkan kepada pihak kepolisian. Menurut Tjhin Wiguna (Kompas, 2014 ), perkosaan atau pelecehan seksual tidak hanya menimbulkan trauma mendalam, tetapi juga berakibat pada gangguan fisik dan kognitif pada korban. Ia berharap bahwa korban atau keluarganya tidak menutupi kasus kekerasan seksual dengan alasan malu. Korban atau keluarganya harus segera melapor supaya pelaku ditindak dan menimbulkan efek jera. Ditaksir masih banyak kasus yang belum terungkap dan dilaporkan kepada pihak kepolisian untuk ditindak lanjuti. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya kemampuan korban (di kalangan remaja/anak) untuk menggunakan haknya. Dalam kasus ini asertifitas sangat berperan penting, dengan adanya sikap saling terbuka maka kasus pelecehan atau kasus-kasus lainnya dapat segera mendapat penanganan.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Peneliti tertarik meneliti kemampuan komunikasi asertif lebih jauh karena peneliti melihat banyaknya remaja yang enggan berkomunikasi asertif. Mereka merasa suara dan keinginan mereka akan terabaikan oleh figur orang tua, guru, bahkan teman sebaya. Selain itu, alasan pentingnya penelitian ini dilakukan karena berdasarkan pengalaman peneliti ketika melakukan kegiatan observasi dan wawancara guru BK di SMPN 1 Tretep, peneliti melihat masih banyak siswa SMPN 1 Tretep yang merasa tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan teman karena tidak berani mengungkapkan perasaannya. Mereka memilih tetap diam walaupun sebenarnya tidak nyaman menjalani hubungan yang tidak baik. Bahkan ada siswa kelas VII yang hanya diam ketika dimarahi dan diganggu oleh teman sekelasnya. Para siswa SMPN 1 Tretep perlu dibimbing agar memiliki kemampuan komunikasi asertif. Pada penelitian ini difokuskan pada kelas VII karena berdasarkan pengamatan peneliti ketika berada disekolah. Peneliti melihat masih banyak siswa-siswi kelas VII yang kurang mampu untuk berperilaku asertif. Bahkan kedua kasus yang peneliti sampaikan sebelumnya merupakan siswa kelas VII. Kegiatan belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP), tidak hanya berfokus pada pelajaran bidang studi saja akan tetapi juga tentang pada bidang bimbingan dan konseling yang berfungsi untuk membantu para siswa memenuhi tugas perkembangannya. Di dalam proses bimbingan dan konseling maka, guru pembimbing atau konselor harus memiliki metode yang tepat untuk mengatasi siswa yang memiliki masalah apalagi siswa yang

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 mempunyai sikap agresif. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik dan teori-teori bimbingan dan konseling dengan baik dan benar . Teknik atau metode bimbingan dan konseling adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara menangani berbagai kasus atau masalah sesuai dengan teknik atau metode yang benar. Pengertian lain ialah sebagai teknik bimbingan dan konseling yang dikuasai oleh guru pembimbing untuk membantu atau melaksanakan bimbingan dan konseling kepada siswa yang mangalami masalah, agar permasalahan tersebut dapat terselesaikan dengan baik, sehingga siswa yang bermasalah dapat memahami dirinya dengan baik. Dalam memberikan bimbingan terhadap siswa/ remaja para guru BK mempunyai berbagai metode dalam memberikan layanan bimbingan pada siswa salah satunya adalah dengan menggunakan teknik sosiodrama. Sosiodrama merupakan salah satu tehnik dalam bimbingan kelompok yaitu role playing atau teknik bermain peran dengan cara mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Sosiodrama merupakan dramatisasai dari persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan dengan orang lain, tingkat konflik- konflik yang dialami dalam pergaulan sosial (Winkel,2004 :470). Belum terlalu banyak bimbingan klasikal maupun bimbingan yang menggunakan metode sosiodrama apalagi dalam meningkatkan kemampuan asertif mereka. Berdasarkan masalah di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “peningkatkan kemampuan asertif melalui bimbingan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 pribadi-sosial dengan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014” B. Rumusan Masalah Dari latar belakang permasalahan tersebut, maka perumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1. Apakah kemampuan komunikasi asertif dapat ditingkatkan melalui bimbingan pribadi sosial menggunakan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung Tahun Ajaran 2013/2014?” 2. Seberapa besar peningkatan kemampuan komunikasi asertif pada setiap siklus ? 3. Apakah peningkatan kemampuan komunikasi asetif siswa dapat diuji taraf signifikansinya? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. meningkatkan kemampuan komunikasi asertif melalui bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung Tahun Ajaran 2013/2014. 2. Mendiskripsikan peningkatan kemampuan komunikasi asertif pada setiap siklus. 3. Mendiskripsikan signifikansi peningkatan kemampuan komunikasi asetif siswa.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 D. Manfaat Penelitian Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ini diharapkan dapat memberi manfaat: 1. Teoritis Memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan bidang pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling. Sehingga pendidikan, terutama layanan bimbingan pribadi sosial akan semakin berkembang dengan menggunakan metode sosiodrama dan memunculkan inspirasi dalam penggunaan metode bimbingan yang lainnya. 2. Praktis a. Bagi Siswa Meningkatkan keasertifan siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti layanan bimbingan sosial personal. b. Bagi Guru Pembimbing Hasil Penelitian ini diharapakan dapat memberikan informasi agar dalam melakukan layanan bimbingan secara kreatif dengan menggunakan beberapa metode seperti metode sosiodrama yang melibatkan siswa secara langsung dalam pemberian layanan. c. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber referensi serta memberikan inspirasi untuk penelitian selanjutnya.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 E. Definisi Operational 1. Komunikasi Asertif : ekspresi yang langsung (verbal dan non-verbal), jujur dan pada tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan atau hak-hak individu (siswa kelas VII SMPN 1 Tretep) tanpa kecemasan yang tidak beralasan. 2. Sosiodrama : suatu teknik dalam bimbingan yang juga dapat dikatakan sebagai alat yang digunakan dalam memberikan layanan kepada siswa (kelas VIIB SMPN 1 Tretep) berkaitan dengan pemecahan masalahmasalah yang berkaitan dengan fenomena sosial dengan cara mengajak mereka memerankan peran-peran tertentu yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. 3. Bimbingan : proses pemberian bantuan kepada Siswa (kelas VIIB SMPN 1 Tretep) yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya Siswa tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keluarga serta masyarakat. 4. Masa Remaja : peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa atau masa seorang anak memiliki keinginan untuk mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam menentukan apa yang ingin dilakukannya.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN Bab ini berisi uraian tentang Komunikasi asertif, sosiodrama, remaja dan bimbingan pribadi sosial A. Komunikasi Asertif 1. Pengertian Komunikasi Asertif Adams & Lenz (1995 :28) menyatakan bahwa asertif berarti mengerti apa yang dilakukan dan di inginkan, menjelaskannya pada orang lain, bekerja dengan cara kita sendiri untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri sambil tetap menunjukkan rasa hormat kepada orang lain. Orang asertif merupakan orang yang berani berinisiatif tanpa merugikan/menyakiti orang lain. Alberti dan Emmons (2002: 41) mengatakan bahwa perilaku yang asertif mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia, yang memungkinkan kita untuk bertindak menurut kepentingan kita sendiri, untuk membela diri sendiri tanpa kecemasan yang tidak semestinya, untuk mengenkspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman, untuk menerapkan hak-hak pribadi kita tanpa menyangkal hak-hak orang lain. Orang yang memiliki kemampuan komunikasi asertif merupakan pribadi yang dapat mengakui dan membedakan adanya hak pribadi maupun hak orang lain. Asertif adalah ekspresi yang langsung, jujur, dan pada tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak kita tanpa kecemasan yang berlebihan (Cawood D, 1997: 13). Sedangkan menurut Jay (2007: 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 95), asertivitas merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang di inginkan secara jujur, tidak menyakiti orang lain dan menyakiti diri sendiri serta mendapatkan apa yang kita inginkan. Asertif merupakan kemampuan seseorang untuk dapat menyampaikan atau merasa bebas untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya, serta dapat berkomunikasi dengan semua orang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa asertivitas adalah kemampuan seseorang menyangkut ekspresi atau pengungkapan pikiran, perasaan dan keinginan yang tepat, jujur, terbuka, mempunyai sikap yang tegas, positif dan mampu bersikap netral serta dapat mengutarakan akan sesuatu secara objektif tanpa menyinggung perasaan orang lain. 2. Komponen Komunikasi Asertif Alberti dan Emmons (2002) juga menyebutkan komponenkomponen komunikasi asertif. Komponen-komponen tersebut adalah: a. Kontak Mata (Eye Contact) Saat berbicara individu yang asertif menunjukkan kontak mata dengan menatap langsung dengan lawan bicaranya, sehingga akan membantu dalam mengkomunikasikan ketulusan, menunjukkan perhatian dan penghormatan kepada orang lain serta meningkatkan kelangsungan pesan yang disampaikan.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 b. Sikap Tubuh (Body Posture) Sikap tubuh yang ditunjukkan oleh individu yang asertif adalah sikap tubuh yang aktif dan tegak. Sikap berdiri yang membungkuk dan pasif, menandakan kurangnya keasertifan seseorang. c. Jarak atau Kontak Fisik (Distance atau Physical Contact) Individu yang asertif mempunyai kemampuan dalam menjaga jarak ketika berinteraksi dengan orang lain. Kedekatan di antara orangorang yang terlibat pembicaraan akan memiliki dampak yang cukup besar dalam komunikasi. Akan tetapi apabila terlalu dekat mungkin dapat menyinggung perasaan orang lain. d. Isyarat (Gesture) Isyarat yang ditunjukkan oleh individu yang asertif dapat menambah ketegasan, keterbukaan, kehangatan, rasa percaya diri dan spontanitas dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh anggukan kepala dapat mencerminkan bentuk persetujuan atau penerimaan. e. Ekspresi Wajah (Facial Expression) Dalam berbicara dengan orang lain, individu yang asertif mampu mengekspresikan wajah sesuai dengan pesan atau hal apa yang akan disampaikan. Sebagai contoh, orang asertif akan tersenyum ketika dia merasa bahagia/ senang.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 f. Nada, Modulasi, Volume Suara Saat mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal, individu yang asertif menggunakan intonasi suara yang tepat. Orang asertif mampu menyesuaikan intonasi bicaranya sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Sebagai contoh, ketika berbicara ditempat yang ramai ia akan berbicara dengan intones yang tinggi agar didengar oleh lawan bicaranya. g. Penetapan Waktu (Timing) Individu yang asertif mampu menyatakan sesuatu kepada orang lain secara tepat sesuai dengan waktu dan tempat. h. Mendengarkan (Listening) Individu yang asertif mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dengan seksama ketika lawan bicaranya sedang berbicara, sehingga mampu menahan diri untuk tidak mengekspresikan diri sesaat. i. Isi (Content) Individu yang asertif mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan memilih kalimat yang tepat dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh, orang asertif akan menyatakan permintaan maaf pada awal pembicaraan ketika ia tidak sependapat dengan lawan bicaranya.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 3. Unsur Komunikasi Asertif Alberti dan Emmons (2002) menyebutkan unsur komunikasi asertif. Unsur-unsur tersebut adalah: a. Mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia Mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia berarti menempatkan kedua belah pihak secara setara, memulihkan keseimbangan kekuatan dengan cara memberikan kekuatan pribadi terhadap “si underdog” serta menjadikannya mungkin bagi setiap orang untuk menang dan tak ada seorangpun yang merugi. Orang asertif menjunjung tinggi persamaam derajat manusia dalam segala bentuk interaksinya. Orang asertif menunjukkan dukungan, dan mengusahakan setiap pihak diuntungkan dalam berbagai interaksi sosial. b. Bertindak menurut kepentingan anda sendiri Bertindak menurut kepentingan anda sendiri mengacu pada kesanggupan untuk membuat keputusan anda sendiri tentang karier, hubungan, gaya hidup, dan jadwal untuk berinisiatif mengawali pembicaraan dan mengorganisir kegiatan, untuk mempercayai penilaian anda sendiri, untuk menetapkan tujuan dan berusaha untuk meraih itu semua, untuk meminta bantuan dari orang lain, untuk berpartisipasi dalam pergaulan. Orang yang asertif mampu mengambil keputusannya dan percaya pada apa yang dikemukakan.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 c. Membela diri sendiri Membela diri anda sendiri mencakup perilaku seperti berkata tidak, menentukan batas-batas bagi waktu dan energy, menaggapi kritik, hinaan atau amarah, mengekspresikan atau membela sebuah pendapat. Orang yang asertif mampu menanggapi hinaan dan amarah orang lain terhadapnya dengan tenang tanpa menyakiti perasaan orang lain. d. Mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman Mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman berarti kesanggupan untuk kurang setuju, menunjukkan amarah, memperlihatkan kasih sayang atau persahabatan, mengakui rasa takut atau cemas, mengekspresikan persetujuan dan dukungan. Orang asertif mampu bersikap spontan tentang apa yang ia rasakan dan pikirkan tanpa adanya rasa cemas yang menyakitkan. e. Menerapkan hak-hak pribadi Menerapkan hak-hak pribadi berhubungan dengan kesanggupan sebagai warga negara, sebagai konsumen, sebagai anggota dari sebuah organisasi atau sekolah atau kelompok kerja. Orang yang asertif akan mampu mengekspresikan gagasan, kritik secara adil dan mampu menanggapi pelanggaran terhadap dirinya maupun orang lain.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 f. Tidak mengabaikan hak-hak orang lain Tidak menyangkali hak-hak orang lain adalah mampu mengekspresikan hak-hak pribadi tanpa kritik yang tidak adil terhadap orang lain, tanpa perilaku yang menyakitkan terhadap orang lai, tanpa menjuluki, tanpa intimidasi, tanpa manipulasi serta tanpa mengendalikan orang lain. Orang yang asertif mampu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan diri apa adanya. 4. Manfaat Komunikasi Asertif Manfaat berkomunikasi asertif antara lain: a. Asertivitas membuat orang semakin mengenal dirinya sendiri dengan baik. Oleh karena itu orang yang berperilaku asertif akan bertindak lebih kongkret pada apa yang dirasakan dan dengan demikian orang yang asertif memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dengan cara-cara baru dan menggairahkan (Adams & Lenz 1995: 29-30) b. Orang yang asertif akan hidup dalam kekinian. Orang yang asertif akan dapat memenuhi kebutuhannya sekarang (Adams & Lenz 1995: 30) c. Bertambahnya harga diri, sebab mampu mengungkapkan perasaan dan ide-ide dengan jujur kepada orang lain (Adams & Lenz 1995: 30). Hal senada juga dikatakan oleh Jay (2005:96) bahwa orang

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 yang asertif akan memperoleh penghargaan dari orang lain atas ideide yang dikemukakan. d. Membuat orang lain juga semakin terbuka untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya. Orang yang asertif bersedia untuk terbuka dengan orang lain sehingga membuka jalan bagi orang lain juga untuk terbuka (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Jay (2005:96) bahwa orang lain akan mampu mengekspresikan pandangan, harapan dan perasaan mereka terhadap orang yang asertif. e. Dapat mencegah terjadinya keretakan hubungan. Orang yang asertif akan mampu untuk mengugkapkan kebutuhannya dan mampu memahami kebutuhan orang lain (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Jay (2005:96) bahwa Orang yang asertif juga sangat menghargai orang lain yang membuat dirinya juga dihargai oleh orang lain sehinga membuat hubungan menjadi semakin baik. 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Asertif Faktor-faktor yang mempengaruhi asertivitas adalah sebagai berikut : a. Pola asuh orang tua Kualitas perilaku asertif individu sangat dipengaruhi oleh interaksi individu tersebut dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Hal tersebut akan menentukan pola respon individu dalam merespon masalah. Anak yang di didik dengan polah asuh demokratis akan mempuyai kepercayaan diri yang besar, dapat

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 mengkomunikasikan segala keinginannya secara wajar, dan tidak memaksakan kehendak (Santosa, 1999). Hal ini dibenarkan juga oleh hasil penelitian tentang asertivitas yang dilakukan oleh setiono dan Pramadi (dalam Nafisah, 2010) yang memeliti tentang pelatihan asertif dan peningkatan perilaku asertif pada siswa-siwi SMP. Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa individu yang mengalami peningkatan skor asertivitas yang pesat adalah individu yang dididik dengan polah asuh yang demokratis. b. Konsep Diri Konsep diri dan perilaku asertif mempunyai hubungan yang sangat erat. Individu yang mempunyai konsep diri yang kuat akan mampu berperilaku asertif. Sebaliknya individu yang mempunyai konsep diri yang lemah, maka perilaku asertifnya juga rendah (Santosa, 1999). Hal ini juga dibenarkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Ulfa (2013) menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan asertivitas. Tingginya konsep diri akan mempengaruhi asertivitas. c. Penyesuaian Sosial Individu yang asertif ditandai dengan adanya penyesuain sosial yang dapat mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Seseorang yang memiliki penyesuaian sosial yang baik mampu untuk mengungkapkan perasaan dengan tepat dan menghargai orang lain sehingga mampu menjalin relasi yang baik (Gunarsa, 2007).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Hal ini juga dibenarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Ulfa (2013) menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara penyesuaian sosial dengan asertivitas. Tingginnya penyesuain sosial akan mempengaruhi asertivitas. B. Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial Menggunakan Metode Sosiodrama 1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial Menurut Winkel (1997: 118) bimbingan pribadi sosial merupakan sarana untuk membantu individu dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosialnya. Bimbingan pribadi-sosial membantu siswa agar menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri, sehat jasmani dan rohani serta mampu mengenal dengan baik dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara bertanggung jawab. Bimbingan pribadi-sosial pribadi diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi serta ragam permasalahan yang dialami oleh individu. Adapun masalah yang terhimpun dalam persoalan pribadi-sosial meliputi masalah hubungan interaksi dengan orang lain (orang tua, saudara, teman, guru dan masyarakat di lingkungan individu) Winkel (1997: 118).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Topik yang digunakan dalam layanan bimbingan untuk meningkatkan kemampuan asertif siswa adalah aspek pribadi-sosial. Topik tersebut berisikan mengenai cara mengkomunikasikan perasaan, emosi, pendapat secara tepat tanpa menyinggung atau menghina orang lain. 2. Pengertian Sosiodrama Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya Depdiknas 2012 ( dalam Abdullah, 2013). Sociodrama is a learning method that creates deep understanding of the social systems that shape us individually and collectively (Brown, 2005). Artinya, sosiodrama adalah metode belajar yang menciptakan pemahaman yang mendalam mengenai sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif. Sejalan dengan definisi Brown mengenai sosiodrama, Trefingger (dalam Waluyo: 2001) mendefinisikan “Sociodrama” is a dramatic enactment of real life situations or conflicts that often go unresolved”. Sosiodrama adalah diberlakukannya dramatis situasi kehidupan nyata atau konflik yang belum terselesaikan. Sosiodrama a

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 group problem solving enactment that focuses on a problems involving human relation dalam sosiodrama ini masalah hubungan antar manusia merupakan yang ditonjolkan. Menurut Winkel (2004) sosiodrama merupakan dramatisasi dari berbagai persoalan yang sering dialami dalam pergaulan sosial. Metode sosiodrama merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan guru. Dari penjelasan tentang sosiodrama di atas dapat disimpulkan bahwa sosiodrama adalah kegiatan bermain peran yang didalamnya mengulas mengenai masalah yang biasa terjadi dalam hubungan sosial. Dalam kegiatan sosiodrama, beberapa siswa memerankan tokoh yang terdapat dalam skenario dan yang lainnya mengamati dan menganalisis interaksi antara pemeran. Bimbingan memiliki peran dalam merencanakan, menstruktur, memfasilitsi dan memonitor jalannya sosiodrama. Selain itu, peran penting lainnya adalah membimbing untuk menindaklanjuti pembahasan isi dari sosiodrama. Pada masa sekarang ini istilah metode selalu dihubungkan dengan masalah pendidikan yang bertujuan merubah tingkah laku siswa, serta dapat memotivasi siswa supaya dapat berbuat dengan tujuan pendidikan. Metode sosiodrama dalam aplikasinya melibatkan beberapa siswa untuk memainkan peranannya terhadap suatu tokoh, dan didalam

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 memainkan peranan siswa tidak perlu menghafal naskah, mempersiapkan diri, dan sebagainya. Pemain hanya berpegangan pada judul dan garis besar skenarionya. Mereka dibawa ke dalam perristiwa seperti yang perah terjadi dan mereka belajar untuk memahami dan menghayati setiap kisah agar dapat mengaplikasikan kemudian. Abdullah (2013: 108) mengungkapkan keunggulan metode sosiodrama adalah sebagai berikut: a. Menumbuhkan rasa empati dan memperkaya siswa dalam berbagai pengalaman situasi sosialisasi yang bersifat problematik. b. Memperkaya pengetahuan dan pengalaman semua siswa mengenai cara menghafal dan memecahkan sesuatu masalah. c. Dengan bermain peran siswa memperoleh kesempatan untuk belajar mengekspresikan penghayatan mereka mengenai suatu problema sosial. d. Memupuk keberanian siswa untuk tampil didepan umum tanpa kehilangan keseimbangan pribadi. e. Merupakan suatu hiburan bagi siswa dengan melakukan/melihat permainan peranan. Sosiodrama dalam arti luas mempertunjukkan atau mempertontonkan keadaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah laku orang. Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan atau

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 mempertontonkan atau mendemontrasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Berdasarkan pengertian di atas penulis berusaha memanfaatkan layanan bimbingan pribadi sosial sebagai upaya meningkatkan kemampuan asertif siswa. Pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan tentang kemampuan asertif akan ditingkatkan menggunakaan bimbingan dan konseling layanan bimbingan pribadi sosial dengan kegiatan sosiodrama. Melalui kegiatan sosiodrama siswa dapat memahami karakter seseorang, cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain, serta mengungkapkan perasaan secara baik dan benar. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Deni A dan Nurhenti (2011), metode sosiodrama digunakan dalam peningkatan perilaku saling menghargai pada kelompok A2 TK Mentari Nusa PG Nganjuk. Hasil dari penelitian tindakan tersebut mencapai ketuntasan pada siklus 1 sebanyak 65,26%, pada siklus 2 mencapai 71,16% dan siklus 3 mencapai 86,21%. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa metode sosiodrama dapat meningkatkan perilaku saling menghormati. Deni dan Nurhenti (2011) menjelaskan bahwa penggunaan metode sosiodrama dalam penelitian memerlukan persiapan yang cukup matang terlebih ketepatan dalam memilih judul yang sesuai dengan tema dan melibatkan anak dalam memerankan tokoh didalam drama sehingga siswa tidak merasa bosan.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 C. Masa Remaja Menurut Hurlock (1991) masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir. Menurut hukum Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun, dan bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya (Hurlock, 1991). Pada usia ini, umumnya anak sedang duduk dibangku sekolah menengah. Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa latin adolescence yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Arti yang lebih luas dari adolescence mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). D. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan maka hipotesis tindakan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Ha : kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung dapat ditingkatkan melalui bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama. Ho : kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung tidak dapat ditingkatkan melalui bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, waktu dan tempat, peran dan posisi peneliti, prosedur penelitian hasil intervensi tindakan yang diharapkan dan teknik pengumpulan data. A. Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka rancangan dan penelitian yang dipergunakan adalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK). Penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian yang berbasis kelas atau sekolah untuk melakukan pemecahan berbagai permasalahan yang digunakan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Penelitian tindakan kelas atau Classroom Action Research (CAR) adalah proses pengkajian masalah bimbingan didalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut (Sanjaya, 2009:26). Menurut Joni (1998: 5) Penelitian tindakan kelas didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tinakan-tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakantindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi dimana pembelajaran 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 tersebut dilakukan. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang bersifat reflektif, terencana dan dilaksanakan secara sistematis guna memperbaiki suatu masalah yang ada pada kelas tertentu sehingga masalah tersebut dapat diatasi dan kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara optimal. Arikunto (2008) menjelaskan frasa penelitian tindakan kelas dari unsur kata pembentuknya, yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian mengacu pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara atau aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan mengacu pada suatu gerak kegiatan yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian tindakan kelas tindakan itu berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. Dengan menggabungkan batasan pengertian ketiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan dan bersifat reflektif. B. Subyek dan Obyek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP N I Tretep Temanggung semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Adapun jumlah siswa dimaksud adalah 20 orang siswa, terdiri dari 9 siswa laki-laki dan sebanyak 11 siswa perempuan.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Obyek penelitian ini yaitu pelaksanaan dan hasil layanan bimbingan pribadi sosial dengan menggunakan metode sosiodrama sebagai upaya meningkatkan sikap asertif siswa kelas VIII diSMP N I Tretep Temanggung. C. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan pada jam bimbingan bimbingan klasikal yang diadakan pada setiap hari Rabu tiap minggunya. Pelaksanaannya pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 pada bulan Mei hingga Juli 2014. Tempat penelitian ini adalah kelas VII B SMP N I Tretep Temanggung. D. Setting penelitian Setting penelitian ini menggunakan setting kelas dan setting kelompok. Data diperoleh pada saat proses bimbingan klasikal yang dilaksanakan didalam kelas dan kelompok. 1. Partisipan dalam penelitian Pelaksanaan penelitian ini dibantu oleh mitra kolaboratif dan beberapa pengamat, yaitu: a. Mitra Kolaboratif Nama : Wasino, S.Pd NIP :197105151992071005 Jabatan :Koordinator BK SMP N 1 Tretep

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 b. Mitra Kolaboratif Nama :Bwidi Noor Fathoni, S.Pd NIP :197805152008011007 Jabatan :Guru BK SMP N 1 Tretep c. Mitra Kolaboratif Nama : Robertus Sandi Purnaputra NIM :101114066 Status :Mahasiswa 2. Topik Bimbingan Upaya perbaikan dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus adalah 1 kali pertemuan selama 40 menit. Adapun topik bimbingan pada setiap siklus perbaikan sebagai berikut: a. Siklus 1 Fokus penelitian : meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama Topik bahasan :Mengatasi Sikap pasif-agresif Waktu : Rabu, 02 Juli 2014 Tempat :Ruang Kelas VII B SMP N I Tretep Temanggung Jumlah siswa : 20 siswa

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 b. Siklus 2 Fokus penelitian : meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama Topik bahasan :Komunikasi Asertif Waktu : Rabu, 09 Juli 2014 Tempat :Ruang Kelas VII B SMP N I Tretep Temanggung Jumlah siswa : 20 siswa 3. Pengorganisasian Kelas Pengorganisasian kelas dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pembahas atau pengamat dan kelompok yang bertugas untuk mempraktekkan skenario drama di depan kelas. E. Prosedur Penelitian Menurut model Hopkins (dalam Wiriatmadja, 2005: 66) PTK mencakup empat langkah utama yang diawali dengan adanya identifikasi masalah. Keempat langkah utama tersebut yaitu: 1) perencanaan (planning), 2) tindakan (acting), 3) Pengamatan (observing), 4) refleksi (reflecting). Keempat langkah tersebut bersifat spiral dan dipandang sebagai satu siklus. Keempat langkah tersebut tergambar dalam bagan di bawah ini:

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Gambar 1. Bagan Penelitian Tindakan Model Hopkins Hasil penelitian akan sesuai dengan kriteria keberhasilan PTK bergantung pada pelaksanaan disetiap tahapan seperti tertera pada bagan diatas. Berdasarkan bagan PTK dapat diketahui bahwa kegiatan penelitian diawali dari tahap identifikasi masalah. Tahap identifikasi masalah.Tahap identifikasi masalah dilakukan oleh peneliti dengan teknik wawancara, FGD (Focus Group Discussion) dan observasi. FGD dilakukan pada tanggal 14 Juni 2014 dalam sebuah kelompok yang terdiri dari guru kelas VIIB dan Guru BK kelas VII untuk mendiskusikan permasalahan yang ditemui di SMP N 1 Tretep tersebut. Hasil dari FGD adalah pernyataan guru kelas dan guru BK mengenai kurangnya kemampuan siswa dalam berperilaku asertif. Hal tersebut dapat terlihat dari kepasifan siswa dalam mengikuti pelajaran, siswa takut untuk bertanya mengenai materi yang

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 tidak jelas, siswa malu untuk menegur kesalahan guru . Fenomena tersebut banyak ditemui pada siswa kelas VII. Identifikasi masalah dilakukan dengan tujuan terangkatnya akar permasalahan yang akan mempermudah peneliti dalam membuat tahap perencanaan. Tahap perencanaan disusun berdasarkan hasil dari indentifikasi masalah. Tahap ini juga digunakan sebagai acuan pemberian tindakan bimbingan. Tahap tindakan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Pada tahap penelitian ini peneliti memberikan tindakan kepada siswa sesuai dengan pokok pada pelaksanaan tahapan tindakan ini peneliti tetap melakukan observasi, wawancara dan membagikan angket untuk mengetahui hasil yang dicapai melalui tindakan yang diberikan. Pada tahapan ini peneliti akan melihat kesesuaian proses dengan pelaksanaan dan membuat refleksi pada setiap siklusnya. Refleksi merupakan tahap yang paling akhir, yang dilakukan setelah pelaksanaan tindakan. Refleksi berisikan renungan dari peneliti dan hasil yang diperoleh melalui observasi. Selain renungan dan hasil penelitian, evaluasi proses juga tertera dalam refleksi. Jika pada tahap ini peneliti masih belum mencapai tujuan yang didasarkan pada patokan yang telah ditentukan maka peneliti akan melaksanakan siklus selanjutnya dengan perbaikan yang telah dilakukan.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 F. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian tindakan bimbingan dan konseling dapat dijabarkan sesuai dengan bagan PTK diatas. Bagan penelitian tindakan Hopkins dapat diuraikan dibawah ini. 1. Identifikasi masalah Identifikasi masalah diperoleh melalui hasil wawancara dengan guru maupun hasil observasi. Dari hasil wawancara diperoleh bahwa keterampilan komunikasi asertif siswa kurang. Guru kelas dan guru BK sependapat bahwa siswa kelas VII memiliki kemampuan yang rendah dalam hal bertanya mengenai materi pelajaran yang tidak dipahaminya. Ketika diberikan kesempatan untuk bertanya mereka memilih untuk diam. Terlebih saat guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal, mereka tidak mau mengerjakannya dan hanya diam. Siswa memilih diam karena mereka tidak paham dengan cara mengerjakan soal yang diberikan tetapi mereka takut untuk bertanya. Hal tersebut di kuatkan dengan hasil observasi yang menunjukkan bahwa peneliti melihat masih banyak siswa SMPN 1 Tretep yang merasa tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan teman karena tidak berani mengungkapkan perasaannya. Mereka memilih tetap diam walaupun sebenarnya tidak nyaman menjalani hubungan yang tidak baik. Bahkan ada siswa kelas VII yang hanya

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 diam ketika dimarahi dan diganggu oleh teman sekelasnya. Para siswa SMPN 1 Tretep perlu dibimbing agar memiliki kemampuan komunikasi asertif. Pada penelitian ini difokuskan pada kelas VII karena berdasarkan pengamatan peneliti ketika berada disekolah. Peneliti melihat masih banyak siswa-siswi kelas VII yang kurang mampu untuk berperilaku asertif. Bahkan beberapa guru mengatakan bahwa sebagian besar siswa kelas VII takut untuk bertanya kepada guru perihal materi pelajaran dan mereka lebih memilih untuk diam. 2. Siklus 1 Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas tersebut dijabarkan sebagai berikut. a. Perencanaan Adapun kegiataan yang dilakukan pada tahap ini sebagai berikut: 1) Menyiapkan Satuan Pelayanan Bimbingan serta scenario sosiodrama yang telah dibuat 2) Mempersiapkan lembar observasi kegiatan bimbingan, lembar pedoman wawancara yang akan digunakan untuk mengetahui dan sebagai catatan aktifitas siswa selama proses bimbingan berlangsung.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 3) Mempersiapkan angket untuk melihat keasertifan siswa dalam proses bimbingan ketika menggunakan metode sosiodrama. 4) Mempersiapkan alat-alat untuk dokumentasi seperti kamera dan catatan lapangan. b. Pelaksanaan Tindakan 1) Pengenalan awal dan penjelasan tujuan layanan bimbingan pribadi-sosial 2) Ice breaker sebagai penyegar suasana 3) Tanya jawab dan penjelasan singkat terkait dengan materi yang disampaikan 4) Kegiatan inti berupa bermain peran yang dilakukan oleh beberapa siswa didalam kelas 5) Evaluasi dan refleksi mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan 6) Penjelasan layanan bimbingan yang dikaitkan dengan hasil refleksi siswa 7) Penutupan berupa pengisian angket untuk mengukut skala asertif. Waktu yang digunakan dalam pelaksanaan sesuai dengan rencana bimbingan yang telah tercantum dalam satuan layanan bimbingan, tercatat 40 menit.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 c. Pelaksanaan Observasi (Pengamatan) Tahap ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti bersama observer pendamping untuk melakukan pengamatan terhadap siswa. Observasi (pengamatan) tersebut dilakukan untuk mengenali, merekam dan mengumpulkan data dari setiap indikator mengenai unjuk kerja siswa dalam proses memainkan sosiodrama. Adapun fungsi dilakukannya observasi (pengamatan) tersebut adalah untuk mengetahui sejauhmana perhatian dan aktivitas proses sosiodrama dilakukan. Adapun instrumen yang dipergunakan untuk melakukan observasi (pengamatan) tersebut adalah lembar penilaian yang telah ditetapkan. Objek dilakukannya observasi (pengamatan) itu adalah sikap/perilaku siswa dalam proses sosiodrama ini dilakukan dengan melihat indikator penilaian yang ditetapkan. d. Refleksi Refleksi merupakan kegiatan analisis sintesis, interpretasi dan eksplanasi (penjelasan) terhadap semua data atau informasi yang dikumpulkan dari Hasil refleksi akan digunakan peneliti untuk memperbaiki kinerja di siklus selanjutnya. Penelitian tindakan yang dilaksanakan. Dalam tahap ini keterlibatan mitra kolaborasi dan pengamat

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 lain sangat dibutuhkan. Data yang telah terkumpul kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan analisis dan diinterpretasi, sehingga dapat diketahui akan hasil dari pelaksanaan tindakan yang dilakukan. Hasil analisis dan interpretasi tersebut sebagai dasar untuk melakukan evaluasi sehingga dapat diketahui akan berhasil tidaknya terhadap tindakan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang diharapkan. 3. Siklus 2 Setelah melakukan refleksi dan evaluasi dari upaya perbaikan siklus 1 maka disusun upaya perbaikan siklus 2 sebagai berikut: a. Tahap perencanaan 1) Menyiapkan SPB sebagai skenario jalannya kegiatan bimbingan pribadi sosial serta menyiapkan naskah sosiodrama 2) Menyiapkan instrumen penelitian berupa skala asertif, pedoman wawancara, pedoman observasi. 3) Menyiapkan dokumentasi berupa kamera dan lembar catatan lapangan. b. Tahap pelaksanaan Pelaksanaan upaya perbaikan siklus 2 dilakukan sesuai dengan tahapan dalam satuan layanan bimbingan dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus sebelumnya.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 c. Tahap pengamatan Pada tahap ini, mitra kolaborasi dan pengamat lain mengamati proses jalannya kegiatan layanan bimbingan didalam kelas. d. Tahap refleksi Seperti upaya perbaikan siklus 1, peneliti bersama dengan mitra kolaboratif dan pengamat lain melakukan diskusi untuk mendapatkan unpan balik dari upaya perbaikan yang telah dilaksanakan. G. Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini berupa: a. Angket Angket yang digunakan merupakan skala komunikasi asertif yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang telah dipaparkan oleh ahli. Skala disebarkan di setiap pelaksanaan kegiatan bimbingan klasikal pada saat berakhirnya tiap siklus. Skala komunikasi asertif di isi oleh siswa setelah mengikuti bimbingan klasikal. Melaui skala komunikasi asertif akan diketahui tanggapan siswa yang kemudian akan digunakan untuk membandingkan hasil pre-test dan post-test. b. Observasi Lembar pengamatan yang disusun pada penelitian ini didasarkan atas aspek-aspek yang dipaparkan oleh ahli. Lembar pengamatan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 berguna untuk merekam data secara langsung oleh pengamat sehingga akan diketahui perubahan-perubahan yang terjadi selama proses pelaksanaan layanan bimbingan klasikal. Lembar pengamatan diisi oleh pengamat atau observer. c. Wawancara Wawancara dilakukan setiap berakhirnya kegiatan layanan bimbingan klasikal.Wawancara dilakukan dengan tujuan mengetahui tanggapan siswa setelah dilaksanakan bimbingan pribadi sosial dengan menggunakan media sosiodrama. d. Studi dokumen Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto selama proses penelitian tindakan bimbingan dan konseling berlangsung dengan catatan lapangan yang disusun oleh mitra kolaboratif dan pengamat lain. H. Instrumen Penelitian Penyusunan instrument dalam penelitian ini berdasarkan unsurunsur sikap asertif yang telah dimodifikasi dan disesuaikan menjadi komunikasi asertif. Berdasarkan unsur-unsur sikap asertif yang dipaparkan oleh Alberti dan Emmons (2002) maka disusun instrumen untuk mengungkap kemampuan komunikasi asertif siswa dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial dengan metode sosiodrama di kelas VIIB SMPN 1 Tretep,Temanggung tahun ajaran 2013/2014.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 1. Jenis Instrumen a. Skala Komunikasi Asertif Skala komunikasi asertif dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan komunikasi asertif siswa dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial. Skala komunikasi asertif ini merupakan alat ukur utama yang digunakan dalam penelitian ini. Melalui skala, diharapkan akan mendapat gambaran secara objektif mengenai tingkat kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB dalam bimbingan pribadi sosial di SMPN 1 Tretep. Skala ini disusun oleh peneliti berdasarkan unsur komunikasi asertif. Unsur komunikasi asertif dapat dituliskan pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1 Blue Print Penyusunan Kuesioner Kemampuan Komunikasi Asertif Sebelum Uji Coba NO 1 ASPEK Kesetaraan dalam hubungan INDIKATOR a. Menempatkan setiap Nomor item + 1,2 3,4 Jumla h 4 pribadi secara setara b. Memberikan dukungan 5,6,7 8 4 9 10,11 3 12,13, 15 4 kepada orang lain 2 Bertindak sesuai dengan keinginan sendiri a. Mampu membuat keputusan b. Mampu menentukan tujuan dan berusaha mencapainya 14

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 3 4 5 6 Mengungkapka n perasaan dengan jujur dan nyaman Pertahanan diri Menyatakan pendapat Perhatian terhadap hakhak orang lain a. Mampu menyatakan perasaannya dengan jujur b. Mampu mengungkapkan kebutuhan dan keinginan dengan nyaman a. Mempertahankan hak dan pendapat pribadi tanpa menyerang orang lain b. Mampu menanggapi kritik, celaan, dan kemarahan dari orang lain secara terbuka a. Mampu mengemukakan ide atau gagasan b. Mampu menyampaikan kritik secara adil tanpa merugikan orang lain 16,17 18 3 19,20, 21 22,23 5 24 25,26 3 27,28, 29 30 4 31,32, 33 37,38 34,35, 36 39,40 6 4 41,42 43 3 44 45 2 26 19 45 a. Mampu menghargai hak, keinginan, dan perasaan oran lain b. Membiarkan orang lain mengungkapkan diri apa adanya Jumlah b. Pedoman dan Pengamatan/Observasi Pedoman pengamatan/ observasi merupakan pendekatan utama dalam penelitian kualitatif. Observasi merupakan suatu pengamatan yang khusus dan yang ditujukan pada satu atau beberapa fase masalah dengan maksud untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam pemecahan suatu masalah. Untuk kegiatan observasi, peneliti di dibantu oleh teman sejawat dan guru BK sebagai mitra kolaboratif.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Lembar observasi/pengamatan kemampuan asertif siswa berisi pedoman dalam melaksanakan pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti layanan bimbingan di dalam kelas. Lembar pengamatan perubahan digunakan yang untuk terjadi mengamati selama perubahan- kegiatan bimbingan berlangsung. Lembar observasi dibuat oleh peneliti dan di isi oleh mitra kolaboratif dan pengamat lain pada setiap pelaksanaan kegiatan bimbingan. Kriteria panduan pengamatan terdapat pada Tabel 2 dibawah ini. Tabel 2. Kriteria Panduan Pengamatan No 1 Hal-Hal yang Diamati Kemampuan siswa dalam mendengarkan intruksi/perintah pembimbing 2 Kemampuan siswa dalam mendengarkan teman saat berbicara 3 Kemampuan siswa dalam mengungkapkan pendapat Kemampuan siswa dalam menanggapi kritikan teman Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan Keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan tanpa ditunjuk Kemampuan siswa untuk memberikan pujian/tepuk tangan kepada teman Kepercayaan diri siswa untuk mengawali pembicaraan Keberanian siswa untuk memberikan kritikan kepada pembimbing/teman Kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan layanan (melaksanakan tugas yang diberikan oleh pembimbing) 4 5 6 7 8 9 10 Baik Cukup Kurang Keterangan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 c. Pedoman Wawancara Menurut Nasir (1988:234) wawancara adalah teknis dalam upaya menghimpun data yang akurat tentang keperluan melaksanakan proses pemecahan masalah tertentu yang sesuai dengan data. Wawancara dilakukan kepada 2 orang siswa yang mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial. Wawancara dilakukan setelah kegiatan layanan bimbingan dilaksanakan sehingga objektif. Data wawancara akan digunakan untuk mendukung data angket dan data pengamatan. Kriteria panduan wawancara terdapat pada Tabel 3 dibawah ini. Tabel 3 Kriteria Panduan Wawancara Terstruktur Siswa Aspek Indikator Sumber Respon siswa a. Materi bimbingan Siswa kelas terhadap layanan b. Sosiodrama VII B bimbingan pribadi- c. Ketercapaian kemampuan sosial dengan komunikasi asertif yang metode sosiodrama tinggi d. Studi Dokumen Dokumentasi dalam penelitian ini adalah catatan lapangan dan foto-foto selama proses layanan bimbingan pribadi sosial. 2. Validitas dan Reabilitas Instrumen a. Validitas Instrumen Validitas berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Suatu instrumen pengukur dapat dikatakan mempunya validitas yang

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurannya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2006:05). Jenis validitas yang digunakan adalah validitas isi (Contens Validity). Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment. Pernyataan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana itemitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan objek yang hendak diukur” atau “sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur” (Azwar, 2006:45). Instrument yang digunakan dalam penelitian ini telah diuji oleh ahli yaitu Prias Hayu Purbaning Tyas M.Pd. Hasil yang diperoleh melalui uji ahli tersebut yaitu perlu dilakukan perbaikan pada butirbutir kuesioner agar setiap butir kuesioner menjadi kalimat yang efektif sehingga mudah dipahami dan butir kuesioner secara logis sesuai dengan kisi-kisi kuesioner. Instrument yang valid mempunyai tingkat validitas yang tinggi, dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Menguji tingkat validitas dari kuesioner dengan taraf signifikan (α = 5%) dapat menggunakan rumus koefisien korelasi product moment (Surapranata, 2004:65) sebagai berikut:

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 ∑ 2 ∑ ∑ 2 ∑ ∑ ∑ 2 ∑ Keterangan : = korelasi skorproduk momen N = jumlah subyek X = skor sub total kuesioner Y = skor total butir-butir kuesioner Menurut Sugiyono (2011:178) bila korelasi tiap faktor tersebut positif besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat. Berdasarkan analisis faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas konstruk yang baik. Apabila kurang daripada 0,3 maka dianggap sebagai tidak memuaskan (Azwar, 2011:103). Dapat dikatakan jika item kurang dari 0,3 maka tidak valid sehingga harus diperbaiki atau dibuang. Hasil ujicoba dihitung menggunaka rumus korelasi product-moment dengan jumlah subyek (n) sebanyak 33 siswa. Perhitungan validitas dilakukan dengan menggunakan SPSS 15.0. Berdasarkan perhitungan melalui SPSS 15 didapatkan 11 item tidak valid. Item yang tidak valid kemudian dibuang untuk mendapatkan item-item yang valid sehingga tersisa 34 item

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 siap digunakan. Hasil uji validitas pada SPSS selengkapnya terdapat pada lampiran. Tabel 4. Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Komunikasi Asertif Setelah Uji Coba NO ASPEK INDIKATOR nomor item + 1 2 3 4 5 Kesetaraan dalam hubungan (menempatkan kedua belah pihak pada posisi yang sama tanpa ada yang merasa dirugikan) Bertindak sesuai dengan keinginan sendiri (mampu membuat dan menentukan keputusan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi, berinisiatif mengawali pembicaraan, menetapkan tujuan, berpartisipasi dalam pergaulan dan mempercayai penilaian diri sendiri) Mengungkapkan perasaan dengan jujur dan nyaman (mampu mengkomunikasikan perasaan dan pikiran secara tepat) jumlah - a. Menempatkan setiap pribadi secara setara 1,2 3 3 b. Memberikan dukungan kepada orang lain a. Mampu membuat keputusan 4,5 - 2 6 7,8 3 b. Mampu menentukan tujuan dan berusaha mencapainya 9,10 - 2 a. Mampu menyatakan perasaannya dengan jujur 11,1 2 - 2 b. Mampu mengungkapkan kebutuhan dan keinginan dengan nyaman a. Mempertahankan hak Pertahanan diri dan pendapat pribadi (mampu tanpa menyerang orang mempertahankankan/ membela sebuah lain pendapat ) b.Mampu menanggapi kritik, celaan, dan kemarahan dari orang lain secara terbuka Menyatakan pendapat a Mampu (mampu mengungkapkan mengemukakan ide atau gagasan pribadi) gagasan b. Mampu menyampaikan kritik secara adil tanpa merugikan orang lain 13,1 4,15 - 3 16 17 2 18,1 9,20 21 4 22,2 3,24 25,2 6 5 27,2 8 29 3

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 6 Perhatian terhadap hak-hak orang lain (mampu mengekspresikan gagasan pribadi tanpa memaksakan dan mengintimidasi orang lain serta tanpa mengendalikan orang lain) a. Mampu menghargai hak, keinginan, dan perasaan oran lain b. Membiarkan orang lain mengungkapkan diri apa adanya 30,3 1 32 3 33 34 2 Jumlah 34 b. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas sebenarnya mengacu pada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur (Azwar, 2006:83). Reliabilitas mengukur sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Bila dilakukan pengukuran di waktu yang berbeda pada kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama untuk mengukur reabilitas kuesioner digunakan dua rumus. Rumus yang pertama adalah rumus dari Pearson yaitu rumus korelasi productmoment. Hasil dari perhitungan rumus Pearson kemudian dimasukkan ke dalam rumus Spearman Brown. Rumus koefisien skor-skor belahan ganjil-genap dengan teknik korelasi Productmomen disajikan sebagai berikut: rXY = N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) {N ∑ X 2 }{ − (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 Keterangan : rXY = koefisien reabilitas belahan ganjil-genap N = jumlah siswa X = belahan genap 2 }

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Y = belahan ganjil Koefisen korelasi antar item-item ganjil dan item-item genap yang diperoleh dari hasil perhitungan rumus di atas baru mencerminkan taraf reliabilitas separuh atau setengah tes. Untuk memperoleh taraf reliabilitas satu tes digunakan formula koreksi Spearman Brown. Rumusnya adalah sebagai berikut: ri= 2rb 1+rb Keterangan: ri = reliabilitas internal seluruh instrumen rb = korelasi product moment antara belahan ganjil-genap Kemudian ditentukan derajat reliabilitas dengan pedoman dengan daftar indeks korelasi reliabilitas (Masidjo, 1995 :209) seperti yang disajikan dalam tabel 4. Hasil perhitungan reliabilitas selengkapnya terdapat pada lampiran. Tabel 5. Daftar Indeks Korelasi Reabilitas Koefisien Korelasi ± 0,91 - ± 1,00 ± 0,71 - ± 0,90 ± 0,41 - ± 0,70 ± 0,21 - ± 0,40 0,00 - ± 0,20 Kualifikasi Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Jadi, hasil perhitungan reliabilitas instrumen adalah 0,82 dengan klasifikasi tinggi menurut kriteria Guilford. Jadi dapat

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dikatakan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya. I. Teknik Analisis Data Analisis data kuantitatif digunakan untuk data yang berasal dari skala komunkasi asertif sedangkan analisis kualitatif digunakan pada data yang diperoleh dari pengamatan, wawancara dan studi dokumen. 1. Analisis data skala komunikasi asertif Skala komunikasi asertif pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan pengkategorisasian lima jenjang ordinal. Azwar (2011:6) menjelaskan bahwa mengkategorikan subjek dan butir item berdasarkan kriteria kategori. Oleh karena itu perlu dihitung untuk mendapatkan rentang kategori subjek dan rentang kategori butir item. Perhitungannya adalah sebagai berikut: 1) Kategori skor subjek pengkategorian ini bertujuan untuk menentukan nilai skor tiap subjek berada dalam daerah kategori tertentu. Kategori skor subjek didapat berdasarkan perhitungan berikut ini: X maksimum : 4 x 34 = 136 Xminimum :1 x 34 = 34 Luas Jarak :136-34 = 102 Standar deviasi (σ / sd): 102 : 6 = 17 Mean teoritik (µ) : (136+34) : 2 = 85

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Hasil perhitungan analisis data skor subyek disajikan dalam norma kategorisasi tingkat asertif siswa kelas VIIB SMP N I Tretep sebagai berikut Tabel 6. Norma Kategorisasi Tingkat Komunikasi Asertivitas Siswa Kelas VIIB SMPN I Tretep Norma/Kriteria Skor X≤ µ 1,5σ µ - 1,5 σ 111 Sangat Tinggi 2) Kategori Skor Item Kategori skor item ini ditujukan agar mudah untuk menentukan tinggi rendahnya suatu item. Dari data tersebut dapat dilihat item terendah yang dijadikan sebagai pedoman perbaikan di siklus berikutnya. Kategori skor item di dapat melalui perhitungan berikut: X maksimum : 4 x 20 = 80 Xminimum :1 x 20 = 20 Luas Jarak : 80-20 = 60 Standar deviasi (σ / sd): 60 : 6 = 10 Mean teoritik (µ) : (80 + 20) : 2 = 50

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Hasil perhitungan analisis data skor item asertivitas disajikan dalam norma kategorisasi sebagai berikut: Tabel 7. Norma Kategorisasi Tingkat Komunikasi Asertivitas Siswa Kelas VIIB SMPN I Tretep Norma/Kriteria Skor X≤ µ 1,5σ µ - 1,5 σ 65 Sangat Tinggi 2. Analisis data wawancara, pengamatan dan studi dokumen Data kualitatif diperoleh dari lembar pengamatan, wawancara siswa dan guru serta studi dokumen. Data kualitatif diperoleh kemudian diolah sehingga menjadi paparan data yang sistematis. Data yang diperoleh melalui wawancara, pengamatan dan studi dokumen ini dianalisis dengan teknik triagulasi data. Analisis kualitatif bersifat induktif (Sugiono,2011). Proses analisis data dilakukan sejak sebelum penelitian, proses penelitian dan setelah selesai penelitian. Dalam analisis data kualitatif diperlukan validitas dan reliabilitas. Validitas dan reliabilitas dalam analisis data kualitatif disebut dengan uji keabsahan dan uji dependability.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Reliabilitas dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Audit tersebut dilakukan oleh Yulius Petro Genok sebagai auditor untuk mengetahui proses yang terjadi dalam penelitian. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya manipulasi data dalam penelitian. J. Kriteria Keberhasilan Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ini memiliki kriteria keberhasilan pada tiap pelaksanaan perbaikan. Kriteria keberhasilan sebagai tolak ukur keberhasilan yang akan dicapai. Kriteria keberhasilan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Secara Kuantitatif Secara kuantitatif dapat diperoleh data yang menunjukkan peningkatan dari pra penelitian dengan setelah dilaksanakan penelitian. Rata-rata kuesioner skor subyek pra penelitian diperoleh 90,5%. Setelah dilakukan tahap perbaikan 1 skor meningkat menjadi 100%. Peningkatan skor kuesioner subyek kemampuan asertif siswa juga terdapat pada tahap perbaikan 2, persentase peningkatan menjadi 109,7%.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Tabel 8. Kriteria Keberhasilan Kriteria Keberhasilan Peubah Indikator Kemampuan Rata-rata komunikasi kuesioner skor asertif subyek Pra Penelitian 90,5% Siklus Siklus 2 1 100% 109,7% Untuk melihat perbedaan pra penelitian – siklus I – siklus II dilakukan uji beda non parametrik (Uji dua sampel berpasangan Wilcoxon). Peneliti menggunakan uji dua sampel berpasangan karena subyek yang diukur sama, namun diberi dua macam perlakuan. Uji dua sampel berpasangan Wilcoxon dipilih karena jumlah sampel hanya 20 siswa yang berarti sampel <30. Keputusan diambil dengan membandingkan angka z hitung dengan z tabel. Z hitung dapat dicari dengan rumus berikut: 1 1 2 1 Keterangan: T : Selisih terkecil antara sesudah dengan sebelum penelitian N : Jumlah sampel Jika z hitung < z tabel, maka Ho diterima dan kebalikannya jika z hitung > z tabel maka Ho ditolak.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 2. Secara Kualitatif a. Kemampuan siswa dalam mengakui adanya kesetaraan dalam hubungan manusia. Siswa menjunjung tinggi persamaan derajat manusia dalam segala bentuk interaksinya. Siswa menunjukkan dukungan dan mengusahakan setiap pihak diuntungkan dalam berbagai interaksi sosial. b. Kemampuan siswa untuk bertindak menurut kebutuhannya Siswa dapat mengambil keputusan dan percaya pada apa yang dikemukakan. c. Kemampuan siswa untuk membela diri Siswa mampu menanggapi hinaan dan amarah orang lain terhadapnya dengan tenang tanpa menyakiti perasaan orang lain. d. Kemampuan siswa untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman. Siswa dapat bersikap spontan tentang apa yang ia rasakan dan pikirkan tanpa adanya rasa cemas yang menyakitkan.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisikan paparan secara berurutan mengenai hasil penelitian, pembahasan, dan keterbatasan penelitian. Hasil penelitian terdiri dari hasil pra penelitian, siklus I dan siklus II. A. Hasil Penelitian Hasil penelitian tindakan bimbingan dan konseling diuraikan dalam tiga bagian, yaitu: pra tindakan, siklus I, siklus II. Data hasil penelitian ini kemudian dijadikan bahan untuk dijabarkan dalam pembahasan. 1. Pra Penelitian Tindakan Bimbingan a. Perencanaan Tahap perencanaan dalam pra penelitian ini berfungsi untuk mempermudah peneliti untuk melakukan tindakan bimbingan pada siklus I. Tahap ini berisi rancangan kegiatan yang akan dilakukan peneliti saat pelaksanaan pra penelitian. Perencanaan pra penelitian tindakan bimbingan berisi kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat pengambilan data awal penelitian. Data awal yang diperoleh melalui pra penelitian ini dijadikan sebagai tolok ukur ketercapaian kriteria peningkatan kemampuan komunikasi asertif dengan menggunakan metode sosiodrama. b. Pelaksanaan pra penelitian Tahap pelaksanaan pra penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: rekaman fakta, kuesioner asertif, dan hasil pengamatan. 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 1) Hasil rekaman fakta a) Pembukaan Peneliti membuka pelaksanaan pra tindakan dengan memberikan salam pembuka dilanjutkan dengan pemberian ice breaker untuk mencairkan suasana kelas menjadi lebih santai. b) Inti Kegiatan inti dalam tahap ini adalah sesi perkenalan. Peneliti menggunakan sesi perkenalan untuk mengenal lebih jauh setiap siswa. Dalam sesi ini peneliti juga mendapat gambaran tentang kemampuan komunikasi asertif siswa. Peneliti juga tidak lupa menyampaikan alasan peneliti melakukan penelitian. c) Penutup Setelah sesi perkenalan, dilanjutkan dengan pengisian angket yang telah dibagikan oleh peneliti. Peneliti menjelaskan intruksi yang harus dilakukan dalam pengisian angket tersebut, siswa diharapkan mampu mengisi angket sesuai dengan keadaannya saat ini dan tidak dianjurkan untuk bertanya kepada teman sebelah, melainkan dianjurkan untuk langsung bertanya kepada peneliti mengenai hal yang kurang jelas. Diakhir pertemuan peneliti mengucapkan salam serta ucapan terimakasih

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 karena telah membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian. 2) Hasil skala komunikasi asertif Skala komunikasi asertif disusun berdasarkan teori yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Dari hasil skala komunikasi asertif pada pra penelitian diperoleh data skor item dan data skor subjek. Tabel 9. Prosentase Skala Kemampuan Komunikasi Asertif Kategori Indikator Skor Item Skor Subyek Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 2% 13% 36% 20% 4% - - 55% 45% - Data skor item bertujuan untuk menunjukkan item yang memiliki nilai kurang sehingga menjadi titik fokus perbaikan. Rekapitulasi hasil skor item dapat dilihat pada grafik berikut ini:

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 40% 35% 30% 25% 20% 15% 10% 5% 0% 36% 20% 13% 4% 2% sangat rendah rendah sedang tinggi skor item sangat tinggi kategori Grafik 1. Skor Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Pra Tindakan Berdasarkan kategori diperoleh data 2% item menunjukkan kategori sangat rendah, 13% item menunjukkan kategori rendah dan 36% item menunjukkan kategori sedang yang berarti item-item tersebut menjadi fokus perbaikan. 20% item berada pada kategori tinggidan 4% item berada dalam kategori sangat tinggi yang berarti item tersebut tidak perlu untuk diperbaiki. Tabel data skor dan kategori skor item selengkapnya terdapat pada lampiran. Data skor subyek merupakan data yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan komunikasi asertif siswa. Rekapitulasi hasil skor subyek dapat dilihat pada grafik berikut ini:

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 55% 0.6 45% 0.5 0.4 0.3 0.2 skor subyek 0.1 0 sangat rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi kategori Grafik 2. Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada Pra Tindakan Pada skor subyek diperoleh 55% siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif sedang dan 45% siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi. Tabel skor subjek dan tabel kategori skor subyek selengkapnya terdapat dalam lampiran. 3) Hasil pengamatan dan hasil wawancara a) Hasil pengamatan Hasil pengamatan dalam pra penelitian menunjukkan bahwa 2 dari 33 siswa berani untuk memulai pembicaraan pada saat mengikuti kegiatan perkenalan. Selain itu sebagian besar siswa tidak memperhatikan intruksi yang diberikan oleh pembimbing sehingga mereka kebingungan dalam mengerjakan intruksi yang diberikan oleh pembimbing.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Beberapa siswa menunjukkan perilaku bullying dengan mengejek nama temannya menggunakan nama samaran, sedangkan siswa yang diejek tidak memiliki keberanian untuk menegur teman yang sudah membuatnya terganggu. b) Hasil wawancara Wawancara dilakukan dengan menggunakan wawancara terstruktur. Wawancara pada pra penelitian ini dilakukan kepada dua siswa kelas VIIB. Dasar pemilihan siswa didasarkan atas hasil refleksi siswa (hasil belajar) dan skor subyek serta skor item. Hasil wawancara dalam pra penelitian digunakan untuk memperkuat data pengamatan, skala asertif dan studi dokumen yang telah didapatkan oleh peneliti. Hasil wawancara dengan siswa diperoleh data bahwa siswa senang dengan diadakannya kegiatan layanan bimbingan. Menurut mereka materi yang disampaikan pada saat bimbingan sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak adanya materi yang dijadikan ulangan mengikuti dengan harian membuat kegiatan adanya memanfaatkannya mereka layanan ice lebih antusias bimbingan. Terlebih breaker sebagai mereka kegiatan yang dapat dapat

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 membuat mereka lebih semangat dalam menghadapi pelajaran di jam berikutnya. Kelemahan kegiatan bimbingan adalah materi yang diberikan tidak dipakai dalam ulangan sehingga siswa tidak begitu memperhatikan isi materi. Ketika siswa tidak menerima manfaat dari kegiatan bimbingan maka tujuan bimbingan tidak tercapai. 4) Hasil refleksi dan evaluasi Pra tindakan bimbingan dan konseling dalam upaya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa telah dilakukan dengan baik. Refleksi dilakukan oleh peneliti, mitra kolaboratif serta pengamat lain berdasarkan data yang diperoleh pada saat kegiatan layanan berlangsung. Strategi peneliti untuk memanajemen kelas sudah baik. Dengan kegiatan yang melibatkan semua siswa dikelas membuat mereka tidak bosan untuk mengikuti kegiatan layanan bimbingan. Penggunaan metode tanya jawab juga sangat membantu peneliti dalam mengukur seberapa tinggi kemampuan komunikasi asertif siswa. Berbeda dengan kegiatan bimbingan yang diberikan oleh guru BK sebelumnya. Penggunaan metode ceramah dirasa kurang efektif untuk siswa kelas VIIB. Agar materi tersampaikan maka perlu digunakan metode lain. Peneliti memilih metode sosiodrama karena

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 metode ini mengajak siswa berperan aktif dalam kegiatan bimbingan. Peneliti berharap ketika siswa ikut berperan aktif dalam kegiatan layanan bimbingan maka materi kegiatan akan lebih mudah ditanggap. 2. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus I Siklus 1 dalam penelitian tindakan bimbingan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB. Pada siklus 1 ini hal-hal yang diperhatikan oleh peneliti adalah fokus data yang perlu diperbaiki pada pra penelitian. Fokus yang perlu diperbaiki dalam siklus 1 ini adalah siswa berani menegur teman yang merugikannya, siswa dapat mengutarakan kritik kepada orang lain dengan tidak menyinggung perasaan orang lain serta siswa mampu berkata jujur. a. Perencanaan Tahap perencanaan yang disiapkan oleh peneliti adalah dengan membuat susunan kegiatan, satuan layanan bimbingan, membuat skenario sosiodrama, lembar evaluasi dan refleksi, skala asertif, dokumentasi serta panduan observasi dan wawancara. Pada siklus 1 peneliti menggunakan topik mengatasi sikap pasif-agresif sebagai topik bimbingan untuk kelas VIIB. Siklus ini dilaksanakan pada tanggal 02 juli 2014 pada pukul 07.30-08.10 WIB. Metode yang digunakan dalam tindakan perbaikan ini adalah dengan sosiodrama (Role play). Bimbingan dilaksanakan di dalam kelas. Data satuan layanan bimbingan selengkapnya terdapat pada lampiran.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan bimbingan siklus 1 berjalan sesuai dengan perencanaan. Rancangan kegiatan pada siklus 1didasarkan atas data hasil pra penelitian tindakan. Pelaksanaan tindakan perbaikan 1 ini peneliti dibantu oleh dua observer atau pengamat yaitu guru bimbingan dan konseling serta teman mahasiswa. Berikut data hasil pelaksanaan tindakan bimbingan dan pengamatan. 1) Rekaman fakta a) Pembukaan Setelah bel jam pelajaran dimulai peneliti bergegas untuk masuk kelas VII B, peneliti menemukan ada beberapa siswa belum masuk kelas. Sambil menunggu semua siswa hadir peneliti berbasa-basi dengan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai mata pelajaran favorit. Setelah semua hadir, peneliti membuka kegiatan bimbingan dengan mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Peneliti juga menjelaskan tujuan dari pemberian bimbingan dan juga mengenai metode sosiodrama. Beberapa siswa terlihat penasaran untuk mengikuti kegiatan sehingga suasana kelas tampak ribut. Peneliti memberikan ice breaking yang bertujuan agar suasana kelas lebih santai dan siswa akan lebih nyaman dalam menerima materi bimbingan. Ice breaking

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 yang digunakan adalah “mengatasi gangguan”, siswa dibagi atas 4 kelompok dan diberi tugas untuk membuat menara dari korek api. Setiap kelompok menunjuk satu siswa untuk menjadi pengganggu untuk kelompok lain. Intruksinya adalah ketika peneliti menepuk tangan sekali pengganggu melaksanakan tugasnya, dan ketika menepuk dua kali pengganggu berhenti mengganggu. Setelah ice breaker selesai siswa terihat menjadi lebih semangat. Peneliti menjelaskan materi secara singkat mengenai perilaku pasif agresif. Pada saat pemberian materi, peneliti menggunakan metode tanya-jawab kepada siswa mengenai contoh perilaku pasif-agresif dan cara mengatasinya menurut pandangan siswa. Setelah mendapatkan jawabannya barulah peneliti memberikan peneguhan atas jawaban siswa yang tepat dan memberikan umpan balik atas jawaban siswa yang kurang tepat serta memberikan penjelasan mengenai materi menurut pandangan ahli. b) Inti Setelah pemberian materi siswa diberikan skenario drama yang akan diperankan oleh beberapa siswa yang akan ditunjuk oleh peneliti. Siswa yang ditunjuk adalah siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif yang

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 kurang, data siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif rendah tersebut diperoleh dari hasil pra tindakan kelas. 4 siswa ditunjuk untuk memerankan tokoh yang ada pada skenario, dan yang lain bertugas untuk mengamati dan memberikan umpan balik dari isi atau materi sosiodrama yang diperankan. Peneliti bertugas sebagai sutradara yang mengatur jalannya drama. Peneliti harus menghentikan jalannya drama ketika ada adegan yang harus dievaluasi yang menunjukkan adegan tersebut mencerminkan komponen perilaku asertif atau tidak. Evaluasi dilakukan oleh siswa yang bertugas untuk mengamati, beberapa siswa berusaha untuk mengungkapkan pendapat dan pandangannya mengenai adegan yang dievaluasi, tetapi beberapa siswa terlihat masih malu untuk mengungkapkan gagasannya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh siswa, sebagian besar mereka memberikan pandangan yang tepat. Mereka dapat membedakan antara perilaku asertif dan perilaku non-asertif dalam adegan tersebut. Setelah sesi evaluasi selesai peneliti memberikan peneguhan atas materi atau isi sosiodrama. Peneliti juga menanyakan kepada siswa mengenai manfaat kejujuran dan berani menegur teman apabila tindakannya merugikan diri sendiri yang merupakan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 komponen dari perilaku asertif dalam kehidupan seharihari. Beberapa siswa mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa yang pasif dengan menunjuk mereka agar mereka dapat mengungkapkan pendapatnya. Meskipun masih terlihat malu, tetapi mereka mampu memberikan pendapatnya. c) Penutup Peneliti kembali menjelaskan secara singkat mengenai manfaat yang didapat ketika kita mampu bersikap asertif terlebih berani menegur teman apabila tindakannya merugikan. Peneliti dibantu oleh teman pengamat membagikan secarik kertas kepada seluruh siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan kembali manfaat dari bersikap jujur serta mampu menegur teman ketika tindakannya merugikan. Peneliti menunjuk 2 siswa untuk membacakan hasil pekerjaannya didepan kelas. Pemberian umpan balik dan peneguhan juga diberikan peneliti saat 2 siswa tersebut selesai memberikan jawabannya. Peneliti dibantu dengan teman pengamat membagikan angket komunikasi asertif dan membacakan intruksi sebelum siswa mengisinya. Suasana kelas tampak

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 sunyi karena siswa terlihat bersungguh--sungguh dalam mengisi angket yang diberikan. Setelah sem emua siswa selesai mengisi angket, peneliti menutup kegia giatan bimbingan dengan salam dan ucapan terimakasih kepad ada para siswa. 2) Skala la komunikasi k asertif Skala komunikasi asertif pada siklus 1 ini in memiliki dua data pokok po yaitu data skor item dan data skor subyek. sub Data skor item pada p siklus ini dijadikan perbandingan sk skor dengan pra penelit litian. Hal tersebut dilakukan guna meng engetahui adanya pening ngkatan atau menurunan kemampuan kom omunikasi asertif siswa. a. Data skor item pada siklus 1 menunjukkan kan bahwa 20,6% item be berada pada kategori sedang, 73,5% item berad rada pada kategori tinggi gi dan 5,9% berada dalam kategori sangat at tinggi. Angka tersebu but telah menunjukkan peningkatan skor item ite yang cukup baik. 74 80 frekuensi 60 36 40 21 pra penelitian 20 13 20 2 0 4 6 0 siklus 1 0 SR R S T ST kategori Grafik 3. Skor Item m Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas Ke VIIB Berdasark arkan Kategorisasi Pada Pra Penelitian dan n Siklus 1

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Data skor sk item pada pra penelitian - siklus I menun unjukkan bahwa 5 item aserti rtif mengalami penurunan skor, yaitu pada item ite nomor 9, 15, 25, 32 dan 33. 1 item nomor 3 tidak mengalami peru erubahan skor. 28 item lainnnya mengalami kenaikan skor pada sikluss II. Analisis butir skor item instrument ent dapat dilihat pada grafik berikut: 80 70 60 50 40 30 20 10 0 pra penelitian siklus 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 siswa Grafik 4. Skor Masing ing-Masing Item Kemampuan Komunikasii Asertif A Siswa K Kelas VIIB Pada Pra Tindakan dan Sikluss 1 Ha data skor subyek dapat dilihat melalui kategorisasi. Hasil ka Dari kategorisas isasi diperoleh data bahwa tidak ada siswa ya yang berada pada kategorii sangat sa rendah dan rendah. Pada kelas VIIB IB ada 25% siswa yang berad rada pada kategori sedang, 65% ada pada kate ategori tinggi dan 10% berad rada pada kategori sangat tinggi.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI frekuensi 67 65 70 60 50 40 30 20 10 0 55 35 25 pra penelitian 10 6 0 0 0 SR R siklus 1 0 S T ST kategori Grafik 5. Tingka gkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswaa Kelas VIIB Berdasa sarkan Kategorisasi Pada Pra Penelitian Dengan Den Siklus 1 Da Data skor subyek pada pra penelitian dengan de siklus I menunjukk ukkan bahwa 3 siswa mengalami penurunan sk skor dan 17 siswa mengalam mi peningkatan kemampuan komunikasi asertif. a Analisis subyek dapat dap dilihat pada grafik berikut: 120 skor subyek 100 80 60 pra penelitian 40 siklus 1 20 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 siswa Grafik 6. Tingkat at Kemampuan Komunikasi Asertif Masing--Masing Siswa K Kelas VIIB Pada Pra Penelitian Dengan Siklus Si 1

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 3) Hasil pengamatan dan hasil wawancara a) Hasil pengamatan Hasil pengamatan pada siklus 1 menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan yang cukup dalam mendengarkan intruksi pembimbing. Terdapat pula 18 dari 33 siswa yang bertanya mengenai hal-hal yang kurang jelas, baik itu mengenai materi bimbingan maupun berkenaan dengan sosiodrama. Kegiatan sosiodrama berjalan dengan baik. Siswa dapat memperagakan tokoh yang terdapat pada skenario dengan bimbingan pembimbing. Siswa juga mampu mengevaluasi materi sosiodrama walaupun hanya beberapa siswa yang mampu mengungkapkan pendapat dan gagasannya. Beberapa siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menegur teman yang mengganggunya. Beberapa kemampuan siswa tersebut yang menjadi fokus dalam tahap perbaikan selanjutnya. b) Hasil wawancara Wawancara dalam siklus 1 dilakukan kepada siswa. Peneliti melakukan wawancara terstruktur kepada 2 siswa, hasil data wawancara menunjukkan bahwa: siswa merasakan manfaat dari layanan bimbingan pribadi-sosial, materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, serta penggunaan sosiodrama sangat efektif karena siswa dapat memperagakan dan langsung

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 mengevaluasi, tetapi satu diantara siswa tersebut mengakui bahwa ia tidak dapat fokus pada kegiatan bimbingan Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa metode sosiodrama dapat meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa. Siswa lebih mudah memahami materi ketika materi dapat dipraktekkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari melauimetode sosiodrama. c. Hasil refleksi siklus 1 dan evaluasi Berdasarkan hasil refleksi siklus 1 ini peneliti merasa bahwa kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi sosial meningkat. Peneliti merasakan bahwa sebagian besar siswa mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya. Peneliti merasakan adanya kekurangan seperti kurang tegas dalam memberikan perintah serta masih gugup dalam menghadapi siswa. Peneliti harusmemperhatikan manajemen waktu untuk tiap-tiap sesi kegiatan agar semua rancangan kegiatan dapat berjalan dengan baik. Hasil evaluasi yang dilakukan bersama dengan pengamat menunjukkan adanya perbaikan dalam pemberian bimbingan sehingga secara langsung materi bimbingan dapat tersampaikan dengan baik dan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi asertif. Menurut pengamat siswa merasa antusias dan bersemangat dengan metode yang digunakan dalam pemberian layanan.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 d. Keputusan Tahap terakhir dalam siklus 1 ini adalah memberikan keputusan. Keputusan yang diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil data penelitian siklus 1. Adanya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama. Hal ini membuat peneliti ingin memastikan bahwa metode tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan asertif siswa. Peneliti memutuskan untuk melakukan perbaikan pada siklus II. Kenaikan skor item dan skor subyek tampak jelas dalam pembahasan sebelumnya. Tetapi dalam tahap perbaikan II ini ada beberapa hal yang harusdiperbaiki, yaitu: kemampuan untuk mengekspresikan rasa marah kepada teman yang mengganggunya, keberanian untuk berkata jujur saat siswa merasa takut, serta keberanian untuk menyampaikan pendapat atau gagasan tanpa menyakiti orang lain. 3. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus II a. Perencanaan Tahap perencanaan yang disiapkan oleh peneliti adalah dengan membuat susunan kegiatan, satuan layanan bimbingan, membuat skenario sosiodrama, lembar evaluasi dan refleksi, skala komunikasi asertif, dokumentasi serta panduan observasi dan wawancara. Pada siklus II peneliti menggunakan topik Komunikasi asertif sebagai topik

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 bimbingan untuk kelas VIIB. Tahap ini dilakukan pada tanggal 09 Juli 2014 pada pukul 07.30-08.10 WIB. Metode yang digunakan dalam tindakan perbaikan ini adalah dengan metode sosiodrama. Bimbingan dilaksanakan didalam ruang kelas VIIB. Data satuan layanan bimbingan pribadi-sosial selengkapnya terdapat pada lampiran. b. Pelaksanaan tindakan Peneliti melaksanakan kegiatan bimbingan sesuai dengan skenario dalam SPB. Hasil perbaikan pada siklus kedua adalah sebagai berikut: 1) Rekaman fakta a) Pembukaan Seperti pada siklus sebelumnya, peneliti mengawali kegiatan layanan bimbingan dengan ice breaking “Kili-Kili”. Setelah melakukan ice breaking peneliti menyampaikan materi yang akan diberikan dan menjelaskan tujuannya. Peneliti menggunakan topik Komunikasi yang efektif pada siklus II. Peneliti selanjutnya mengajukan pertanyaan untuk membangun ingatan (recall) siswa berkenaan dengan seputar komunikasi. b) Inti Seperti pada pertemuan sebelumnya, peneliti membagi kelompok menjadi dua. Kelompok pengamat dan kelompok yang memperagakan sosiodrama yang telah disiapkan oleh peneliti. Dalam sesi evaluasi adegan peneliti lebih

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 memperhatikan siswa yang kemampuan komunikasi asertifnya masih kurang yang diperoleh dari data siklus sebelumnya. Peneliti mengajak siswa untuk merefleksikan kegiatan dan materi sosiodrama yang telah diperagakan dengan mengambil manfaat dari materi sosiodrama tersebut. Disinilah peneliti menggunakan strategi tanya jawab untuk melihat sejauh mana siswa mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara efektif. c) Penutup Setelah memberikan penegasan dan penguatan atas jawaban siswa berkenaan dengan refleksi, peneliti membagikan angket untuk kembali diisi oleh siswa. Suasana kelas tampak berbeda dengan saat mereka diberi kesempatan untuk merefleksikan kegiatan dan materi sosiodrama. Kelas terlihat tenang karena masing-masing siswa terlihat sibuk untuk mengisi angket asertif. Setelah semuanya selesai mengisi angket, peneliti mengucapkan terimakasih dan menutup kegiatan dengan salam penutup. 2) Hasil angket asertif Data angket menunjukkan dua hal utama yang menjadi sorot perhatian dalam penelitian ini yaitu skor item dan skor subyek. Skor item menunjukkan bahwa 64,7% item berada pada kategori tinggi dan 35,3% item berada pada kategori sangat tinggi.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Berdas asarkan rekapitulasi data skor item menunjuk ukkan bahwa skor item pa pada siklus II lebih baik dibandingkan dengan an skor item pada sikluss I. Secara detailpun item-item pada siklu lus II meningkat diband ndingkan dengan upaya perbaikan siklus I. 74 65 80 70 frekuensi 60 50 36 40 30 21 200 00 46 0 pra penelitian siklus 1 20 13 20 10 35 siklus 2 0 SR R S T ST kategori Grafik 7. Skor Ite Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa swa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada Siklus us II Da skor item asertif menunjukkan bahwa item Data em nomor 2, 3, 23 dan 34 tida tidak mengalami perubahan skor dari siklus I- siklus s II. 30 item lainnya m mengalami peningkatan skor pada siklus II. Analisis butir instrument ent dapat dilihat pada grafik berikut:

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 80 70 skor item 60 50 40 pra penelitian 30 siklus 1 20 siklus 2 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 siswa Grafik 8. Skor Masing ing-Masing Item Kemampuan Komunikasi si Asertif A Siswa Kelas VIIB Pada Siklus II Pa upaya perbaikan siklus II, skor subyek se Pada sebagai indikator asertif sisw siswa menunjukkan hasil 65% siswa memili iliki kemampuan komunikas kasi asertif tinggi dan 35% siswa memili iliki kemampuan komunikas kasi asertif sangat tinggi. 6565 70 55 Frekuensi 60 50 35 40 35 pra penelitian 25 30 siklus 1 20 10 10 6 000 00 0 0 siklus 2 0 SR R S T ST Kategori Grafik 9. Tingk gkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa wa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada Siklu lus II

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Da skor subyek pada siklus II menunjukkan Data kan bahwa semua siswa men engalami kenaikan kemampuan komunikas asi asertif dalam mengikuti uti layanan bimbingan pribadi-sosial dengan de metode sosiodrama ma. Analisis subyek dapat dilihat pada grafikk berikut: b 140 120 skor subyek 100 80 pra penelitian 60 siklus 1 40 siklus 2 20 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 siswa Grafik 10. Tingkat kat Kemampuan Komunikasi Asertif Masing ing-Masing Siswa K Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada da Siklus II il pengamatan p dan wawancara 3) Hasil a) Hasil Ha Pengamatan nunjukkan bahwa Hasil pengamatan pada siklus 2 menun seb sebagian siswa memiliki kemampuan menden dengarkan dengan bai saat pembimbing atau teman lain berbica baik icara. Siswa mulai me menunjukkan ekspresi ketidaknyamanannya dengan d menegur tem teman yang me menyampaikan membuatnya pendapatnya terganggu. pada saat Saat Saa siswa evaluasi e lain materi sos sosiodrama, siswa tampak tenang dan menden dengarkan dengan

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 sungguh-sungguh. Bahkan siswa telah mampu menanggapi pendapat dengan memberikan saran maupun kritikan. b) Hasil Wawancara Wawancara pada siklus II dilakukan kepada seorang siswa yang memiliki kemampuan asertif kurang berdasarkan hasil perhitungan kuesioner. Wawancara dilakukan dengan wawancara tidak terstruktur. Siswa tersebut merasa lebih senang dengan adanya metode sosiodrama yang digunakan dalam bimbingan. Ia juga merasa terbantu dalam memahami materi dengan terlibat langsung dalam pelaksanaan sosiodrama. Siswa memberikan penjelasan mengenai kondisi orangtuanya yang otoriter. Siswa berasal dari keluarga priyayi yang memiliki aturan bahwa anak tidak boleh membantah orangtua melainkan harus mengikuti semua perintah orang tua. Nilai tersebut yang telah mendarah daging dalam diri siswa, sehingga berpengaruh pada sikapnya terhadap orang lain. c. Hasil Refleksi siklus II dan evaluasi Upaya perbaikan siklus II telah usai dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Peneliti melihat ada perkembangan pada diri siswa dimana mereka lebih aktif dalam mengikuti kegiatan layanan bimbingan dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Siswa jauh lebih tertarik ketika mereka mempraktekkan sendiri materi bimbingan dengan menggunakan metode sosiodrama. Dengan metode sosiodrama

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 ini siswa diajak untuk merasakan langsung dan memberikan umpan balik atas materi yang berkenaan dengan komunikasi asertif. Peneliti merasakan bahwa sebagai pembimbing, menyiapkan layanan bimbingan dengan materi yang mengena dibutuhkan kerja keras. Namun jika melihat perkembangan siswa berkenaan dengan kemampuan komunikasi asertif maka terasa puas. d. Keputusan Peneliti melihat kriteria keberhasilan yang telah berhasil dicapai pada siklus II ini maka peneliti memutuskan untuk menghentikan upaya perbaikan pada siklus II. Diharapkan hasil yang telah dicapai tidak hanya menjadi ketercapaian yang sifatnya tentatif saja namun akan bersifat konstan melalui metode sosiodrama yang lebih variatif. 4. Ketercapaian Kriteria Keberhasilan Untuk mengetahui lebih jelas berikut ini disajikan ketercapaian kriteria keberhasilan setelah dilaksanakan upaya perbaikan hingga siklus II. Ketercapaian dilihat dari rekapitulasi skor subyek. Hasil data skor subyek pada pra penelitian diperoleh 90,5%. Peneliti menetapkan target ketercapaian pada siklus 1 lebih tinggi 5% dari data hasil pra penelitian Sedangkan pada siklus 2 ditargetkan lebih tinggi 10% dari data hasil pra penelitian.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Tabel 10. Ketercapaian Kriteria Keberhasilan Kriteria Keberhasilan Peubah Indikator Siklus I Target Komunikasi asertif angket Siklus II Pra 90,5% 95,5% Capaian 100% Target 100,5% Capaian 109,7% 5. Hasil uji hipotesis Uji hipotesis merupakan tahap akhir pengujian data untuk mendapatkan hasil penelitian. Uji beda didapat berdasarkan hasil perhitungan SPSS non parametrik tes dengan memakai uji dua sampel berpasangan Wilcoxon. Hasil uji beda dengan menggunakan SPSS dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 11. Hasil Uji Non Parametrik Tes V1 - pra V2 - V1 Z -3.881(a) -4.788(a) Asymp. Sig. (2-tailed) .000 .000 Output SPSS menjelaskan bahwa nilai Z pada pra penelitian- siklus I adalah -3,881 dan Asym Sig (2-tailed) adalah 0,00. Pada siklus I – siklus II nilai Z adalah -4,788 dan Asym Sig (2-tailed) adalah 0.00. Jika 0,00 < 0,05 maka Ho ditolak, jadi kesimpulannya ada peningkatan kemampuan komunikasi komunikasi asertif melalui bimbingan pribadi-sosial dengan metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014. Hasil uji SPSS selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 B. Pembahasan Upaya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui layanan bimbingan pribadi-sosial dengan menggunakan metode sosiodrama telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan. Penelitian tindakan yang terdiri dari 2 siklus perbaikan menghasilkan beragam data mengenai kondisi nyata siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014. Beragam data tersebut telah terangkum pada hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya. Data tersebut dijadikan sebagai tolok ukur mengenai keberhasilan dalam penelitian tindakan ini. Data yang disampaikan melalui berbagai macam teknik pengumpulan data dan menghasilkan data yang variatif pula namun terlihat sejalan. Sejatinya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui bimbingan pribadi-sosial tidaklah mudah. Layanan bimbingan melalui metode konvensional membuat siswa mudah bosan sehingga materi tidak dapat ditangkap oleh siswa. Hal tersebut terjadi karena berbagai macam faktor diantaranya guru bimbingan dan konseling kurang kreatif dalam menerapkan variasi metode, kondisi fisik dan psikis siswa yang lelah, serta kurangnya interaksi dan peran serta siswa dalam penyampaian materi bimbingan. Penelitian dengan metode sosiodrama ditujukan agar siswa mampu berperan serta dalam kegiatan layanan. Kegiatan pra penelitian yang diisi dengan perkenalan dapat memberikan gambaran kepada peneliti mengenai kemampuan komunikasi asertif siswa. Dalam sesi perkenalan tersebut banyak siswa yang enggan

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, beberapa siswa mengejek nama teman dengan memberikan julukan, siswa tidak menanggapi ejekan teman yang membuatnya terganggu, siswa tidak mau bertanya kepada teman saat sesi pertanyaan, Ketika tidak memahami intruksi mereka enggan bertanya kepada pembimbing melainkan mereka menanyakannya dengan teman sebangku. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil data pada skor item. Dalam data tersebut diperoleh beberapa item yang rendah yaitu item 7,16 dan 28. Ketiga item tersebut mengarah pada rendahnya kemampuan siswa dalam menegur/memprotes teman yang menimbulkan masalah bagi diri siswa, menyampaikan kritik kepada teman tanpa merasa tidak enak. Keadaan yang berbanding terbalik justru terlihat pada pelaksanaan perbaikan siklus I dan II dmana metode sosiodrama di aplikasikan. Data kuantitatif dan data kualitatif keduanya menunjukkan adanya perbedaan dibandingkan dengan pra penelitiannya. Topik sosiodrama pada tahap perbaikan dibuat berdasarkan item terendah yang diperoleh dari hasil angket yang di isi oleh siswa. Setelah dilaksanakan tahap perbaikan siswa dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan tidak menyakiti orang lain dengan memperhatikan bahasa yang dipakai dalam berkomunikasi. Siswa juga aktif dalam menjawab pertanyaan pembimbing maupun teman sekelasnya. Ketika mereka tidak jelas dengan intruksi yang diberikan pembimbing mereka tidak segan untuk menanyakannya. Disamping itu peneliti juga merasakan kepuasan pribadi melihat kondisi siswa yang terlihat banyak berkomunikasi dengan teman dan pembimbing serta menyatakan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 pendapatnya dalam kelompok. Siswa merasakan adanya manfaat dari bimbingan klasikal sehingga kompetensi yang ingin dicapai melalui bimbingan pribadi-sosial dapat dicapai. Nilai-nilai yang diharapkan tertanam dalam diri siswa semakin kuat melalui metode sosiodrama. Memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi akanmembantu siswa untuk semakin mengenal dirinya sendiri. Oleh karena itu siswa yang asertif akan bertindak lebih kongkret pada apa yang dirasakan dan dengan demikian orang yang asertif memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dengan cara-cara baru dan menggairahkan (Adams &Lenz 1995 : 29-30) Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi akan hidup dalam kekinian sehingga ia dapat memenuhi kebutuhannya sekarang. Bertambahnya harga diri juga akan dirasakan bagi siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif sebab ia mampu mengungkapkan perasaan dan ide-ide dengan jujur kepada orang lain (Adams & Lenz 1995: 30). Hal senada juga dikatakan oleh Ros Jay (2005:96) bahwa kemampuan komunikasi asertif yang tinggi akan memperoleh penghargaan dari orang lain atas ide-ide yang dikemukakan. Ketika siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif ia dapat membuat teman/orang lain juga semakin terbuka untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya. Siswa yang asertif bersedia untuk terbuka dengan teman/orang lain sehingga membuka jalan bagi orang lain juga untuk terbuka (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Ros Jay

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 (2005:96) bahwa orang lain akan mampu mengekspresikan pandangan, harapan dan perasaan mereka terhadap orang yang asertif. Dengan adanya komunikasi asertif didalam suatu hubungan maka hal tersebut dapat mencegah terjadinya keretakan hubungan. Siswa yang asertif akan mampu untuk mengungkapkan kebutuhannya dan mampu memahami kebutuhan orang lain (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Ros Jay (2005:96) bahwa orang yang asertif sangat menghargai orang lain yang membuat dirinya juga dihargai oleh orang lain sehinga membuat hubungan menjadi semakin baik. Metode sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brown (2005) yang menyatakan bahwa Sosiodrama adalah metode belajar yang menciptakan pemahaman yang mendalam mengenai sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi asertif telah dibahas pada bab sebelumnya. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pola asuh orangtua sangat berpengaruh pada kemampuan komunikasi asertif anak. Kualitas perilaku asertif individu sangat dipengaruhi oleh interaksi individu tersebut dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Hal tersebut akan menentukan pola respon individu dalam merespon masalah. Anak yang di didik dengan polah asuh demokratis akan mempuyai kepercayaan diri yang besar, dapat mengkomunikasikan segala keinginannya secara wajar, dan tidak

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 memaksakan kehendak (Santosa, 1999). Hal ini dibenarkan juga oleh hasil penelitian tentang asertivitas yang dilakukan oleh setiono dan Pramadi (dalam Nafisah, 2010) yang memeliti tentang pelatihan asertif dan peningkatan perilaku asertif pada siswa-siwi SMP. Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa individu yang mengalami peningkatan skor asertivitas yang pesat adalah individu yang dididik dengan polah asuh yang demokratis Penggunaan metode sosiodrama memiliki beberapa keunggulan diantaranya: Menumbuhkan rasa empati dan memperkaya siswa dalam berbagai pengalaman situasi sosialisasi yang bersifat problematik. Memperkaya pengetahuan dan pengalaman semua siswa mengenai cara menghafal dan memecahkan sesuatu masalah. Dengan bermain peran siswa memperoleh kesempatan untuk belajar mengekspresikan penghayatan mereka mengenai suatu problema sosial. Memupuk keberanian siswa untuk tampil didepan umum tanpa kehilangan keseimbangan pribadi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menyumbangkan gagasan pada kemajuan bimbingan dan konseling khususnya pada bimbingan pribadisosial. Dengan penggunaan metode sosiodrama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa akan membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan aspek pribadi maupun sosial dan diharapkan siswa mampu berkembang secara utuh.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 C. Keterbatasan penelitian Penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang dilakukan di SMP N 1 Tretep, Temanggung mengalami keterbatasan, yaitu: 1. Kelengkapan data dan paparan hasil perolehan data belum sempurna sehingga harus diperbaiki 2. Penggunaan metode sosiodrama memerlukan banyak waktu sehingga berpengaruh pada variatif kasus yang diangkat kedalam skenario sosiodrama. 3. Instrument yang digunakan dalam penelitian belum sempurna sebagai alat ungkap kemampuan komunikasi asertif siswa dalam mengikuti kegiatan layanan bimbingan pribadi-sosial.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 BAB V PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan akhir dari penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan. Bab ini disertakan pada implikasi dan saransaran yang bertujuan untuk semakin memperbaiki metode sosiodrama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi asertif A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa: 1. Komunikasi asertif dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi sosial dapat ditingkatkan melalui metode sosiodrama pada kelas VIIB SMPN 1 Tretep tahun ajaran 2013/2014. 2. Peningkatan kemampuan asertif siswa dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial sudah baik, hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan skor kemampuan komunikasi asertif siswa antar siklus dan pengamatan yang telah dilakukan. Tabel 12. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa (Pengkategorisasian Skor Subyek) Kategorisasi SR R S T ST Pra Penelitian Siklus 1 Siklus 2 0 0 0 6 0 0 55 25 0 35 65 65 0 10 35 85

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Peningkatan Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa (Pengkategorisasian Skor item) Kategorisasi SR Pra Penelitian Siklus 1 Siklus 2 3. R 2 0 0 S 13 0 0 T 36 21 0 ST 20 74 65 4 6 35 Berdasarkan uji hipotesis Ho ditolak sehingga didapat hasil bahwa ada peningkatan kemampuan komunikasi asertif dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial melalui metode sosiodrama pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014. B. Saran Berdasarkan kesimpulan dari penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan serta demi terciptanya kualitas bimbingan pribadi-sosial yang semakin baik maka peneliti mengemukakan beberapa saran, diantaranya adalah: 1. Bagi Guru Pembimbing Guru pembimbing diharapkan mampu mempertimbangkan hasil penelitian ini. Dengan berlatih peran akan membantu siswa untuk mengatasi masalah pribadi-sosialnya. Guru pembimbing juga diharapkan mampu untuk terus menghasilkan metode yang lebih variatif sehingga peserta didik tidak bosan tetapi justru akan memperkaya pengalaman peserta didik dalam mengikuti layanan bimbingan dan konseling.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 2. Bagi Siswa Siswa diharapkan mampu terus memupuk kemampuan komunikasi asertif dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki kemampuan komunikasi asertif yang tinggi akan mempermudah siswa dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Bagi Peneliti Lain Bagi peneliti diharapkan mampu memilih judul sosiodrama yang sesuai dengan tema agar materi yang diberikan dapat tersampaikan. Perencanaan yang matang pada tiap siklus akan mempermudah peneliti dalam memberikan layanan bimbingan.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Ridwan. 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Adams, Linda & Lenz, Elinor. 1995. Jadilah Diri Anda Sendiri = Be Yourbest. Efektivitas Pribadi dalam Hidup dan Hubungn Anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Alberti, R & Emmons, M. 2002. Your Perfect Right, Hidup Lebih Bahagia dengan Menggunakan Hak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Azwar, Syaifudin. 2006. Reabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Syaifudin. 2011. Reabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cawood, D. 1997. Manajer yang Asertif Terampil Mengelola Orang dan Efektif dalam Komunikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Deni & Nurhenti. 2011. Penerapan metode sosiodrama untuk meningkatkan perilaku saling menghormati pada kelompok A2 TK Mentari Nusa PG Lestari Nganjuk. Portal Garuda Journal Unesa. Desmita, M.Si. 2009. Psikologi Pekembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Gunarsa, S.D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia. Hidayat, dede rahmat & Aip badrujaman. 2012. Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT indeks. Hurlock, Elizabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Jakarta: Erlangga. Jay, Ros. 2007. How To Manage Your Boss = Bagaimana Menyikapi Bos Anda: Membangun Hubungan Kerja yang Sempurna. Jakarta: Esensi. Joni, T. 1998. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah Depdikbud Dirjen Dikti. Kekerasan Seksual Tinggalkan Trauma dan Gangguan Perkembangan.(12 Mei 2014). www.kompas.com 88

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Disekolah. Yogyakarta: Kanisius. Nafisah, A. 2010. Perbedaan Asertivitas Antara Santri Yang Menempuh Pendidikan Formal Dengan Santri Yang Tidak Menempuh Pendidikan Formal Di Pondok Pesantren As-Salafiyah Mlangi. Skripsi (Tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Nasir, Moh. 1988. Metodologi penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Panuju, Panut, dan Umami, Ida. 2005. Psikologi Remaja. Yogyakarta: PT Tiana Wacana Yoga. Purwanto. 2007. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan.Yogyakarta: Pustaka pelajar. Sanjaya, Wina. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Kencana Prenada Media Group. Santosa. J.S. 1999. Peran Orang Tua dalam Mengajarkan Asertivitas Pada Remaja. Anima: Indonesia Psycological Journal. Sugiono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Surapranata, Sumarna. 2004. Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes : Implementasi Kurikulum 2004. Remaja Rosadakarya: Bandung. Suwandi, Sarwiji. 2009. Penelitian Kindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya ilmiah. Surakarta: Yuma Pressindo. Ulfa, M. 2013. Hubungan Pola Asuh Demokratis Orang Tua, Konsep Diri, dan Penyesuaian Sosial Dengan Perilaku Asertif Siswa SMK Muhammadiyah 1 Sleman Yogyakarta. Jurnal Psikolgia. Waluyo. 2001. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Winkel, W.S dan Hastuti, Sri. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta : Gramedia. Winkel, W.S dan Hastuti, Sri. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta : Media Abadi. Wiriadmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas: Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Zulkaida, A. 2006. Tingkah Laku Asertif yang Bertanggung Jawab. Makalah: (Ditampilkan pada Seminar Pelatihan Tingkah Laku Asertif). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 LAMPIRAN 91

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 1 Silabus

(112) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 93 SILABUS Satuan Pendidikan No 1 2 Tugas Perkembangan Bidang Bimbingan Siswa memiliki keterampilan pribadi yang mendukung akademik Pribadi-Sosial Memperluas hubungan antar pribadi (berkomunikasi/b ergaul) dengan orang lain Pribadi-Sosial : SMP Negeri 1 Tretep Kelas/ Semester : VIIB/II Waktu : 2x40 Menit Materi Pengembangan Layanan Sumber Siswa mampu mengatasi perilaku pasif-agresif, mengembangkan perilaku asertif Mengatasi perilaku pasif-agresif Bimbingan Klasikal Metode : Sosiodrama Siswa mampu berkomunikasi dengan baik Komunikasi yang efektif Kompetensi Dasar Stein, Steven & Howard. 2004. Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Bandung: PT Mizan Pustaka Bimbingan Klasikal Metode : Sosiodrama Muryanto. 2009. Menciptakan Pribadi Anak Mudah Bergaul. Semarang: CV. Ghyas Putra Supratiknya. 1995. Komunikasi Antarpribadi. Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Kanisius.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 2 Satuan Layanan Bimbingan

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 RENCANA PELAYANAN BIMBINGAN A. Topik / Pokok Bahasan : Mengatasi perilaku pasif-agresif B. Bidang bimbingan : Pribadi-sosial C. Jenis layanan : Bimbingan kelompok/klasikal D. Fungsi layanan : Pemahaman dan pengembangan E. Kompetensi dasar (tujuan umum) : Siswa semakin memahami dirinya sendiri dan mampu mengatasi perilaku pasif agresif F. Indikator (tujuan khusus) : Agar peserta didik : 1. Dapat menjelaskan pengertian perilaku pasif-agresif 2. Dapat menyebutkan dan menjelaskan karakteristik perilaku pasif-agresif 3. Dapat menjelaskan cara mengatasi perilaku pasif-agresif G. Tujuan global : Peserta didik menyatakan /menunjukkan bahwa kegiatan yang diikuti bermanfaat baginya. H. Sasaran pelayanan bimbingan (binimbing/konseli) : Siswa SMP kelas VII B SMP N1 Tretep Temanggung I. Materi pelayanan : 1. Pengertian perilaku pasif-agresif 2. Karakteristik perilaku pasi-agresif 3. Cara mengatasi perilaku pasif-agresif J. Prosedur/proses : 1. Metode (pendekatan) : membaca, ceramah eksperiensial, Tanya- jawab, diskusi.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 2. Kegiatan dan langkah-langkah (prosedur) : No Intrakurikuler Kokurikuler 1. Membagikan hand out dan Siswa mengisi Waktu kuisioner menjelaskan isi materi bimbingan sebagai alat pengukur skala asertif yang telah disediakan 15 menit mengenai : a. Pengertian perilaku pasif- pada setiap akhir kegiatan. agresif b. Cirri-ciri perilaku pasi- agresif c. Cara mengatasi perilaku pasif-agresif 2. Memberikan kesempatan bertanya kepada peserta didik mengenai hal-hal yang belum 5 menit mereka ketahui /materi bimbingan yang kurang jelas. 3. Membagi 2 kelompok, yaitu kelompok yang memperagakan sosiodrama dan kelompok pembahas. Kelompok peraga akan memperagakan sesuai dengan scenario yang telah ditentukan oleh pembimbing sedangkan 10 menit

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 kelompok pembahas akan membahas alur dan cerita yang diperagakan sesuai atau tidak dengan topik bimbingan. 4. Menjelaskan tugas (kegiatan kokurikuler) 10 menit K. Tempat penyelenggaraan : Ruang Kelas VII B L. Waktu (tanggal, jumlah menit) : 02 Juli 2014, 40 menit M. Penyelenggara pelayanan : Novita Dian Ratnasari N. Alat : 1. Hand out 2. Skenario sosiodrama 3. Lembar kuisioner O. Evaluasi : 1. Spesifik a. Jelaskan pengertian perilaku pasif-agresif b. Sebut dan jelaskan karakteristik perilaku pasif-agresif c. Jelaskan bagaimana cara mengatasi perilaku pasif-agresif 2. Global Dalam kertas tersendiri – nama boleh ditulis, boleh tidak – peserta diminta menuliskan seberapa banyak manfaat kegiatan yang telah diikuti

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 bagi dirinya sendiri, dengan memilih salah satu alternative jawaban berikut : A. Kurang bermanfaat B. Bermanfaat C. Sangat bermanfaat P. Rencana tindak lanjut : dengan melakukan wawancara personal berkenaan dengan aspek yang rendah, dapat juga ditindak lanjuti dengan konseling individual maupun konseling kelompok terhadap siswa yang memiliki skala asertif rendah. Q. Sumber : Stein Steven & Howard. 2000. 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Bandung: PT mizan pustaka, Mengetahui : Koordinator BK Praktikan Wasino, S.Pd Novita Dian R

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 HANDOUT “Perilaku Pasif-Agresif Vs Asertif” Assertiveness atau dalam bahasa Indonesianya adalah asertif, merupakan satu dari tiga gaya merespon dalam melakukan interaksi sosial (hubungan sosial yang timbal balik) dengan orang lain. Selain asertif dikenal juga gaya merespon secara agresiveness (agresif) dan non-assertiveness (non-asertif). Ketiga gaya merespon tersebut pertama kali dirumuskan oleh Alberti dan Emmons pada tahun 1970. Manfaat dari mengenal dan mempelajari ketiga gaya merespon ini adalah untuk dapat meningkatkan efektifitas dan kenyamanan dalam berhubungan sosial dan berkomunikasi dengan orang lain. 1. Pengertian Umum Pasif, Agresif dan Asertif Untuk dapat mengenal lebih jauh ketiga gaya merespon tersebut, maka di bawah ini akan dikemukakan pengertiannya secara umum: a. Agresif : meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan keyakinannya dengan cara menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Seseorang dapat bersikap agresif karena terfokus pada kemenangan diri sendiri (egois) dan berusaha untuk mendominasi orang lain, serta memandang kebutuhan, keinginan, dan perasaan orang lain secara inferior (menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya).

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 b. Non-Asertif (Pasif) : meliputi tindakan menyakiti kepentingan dan keinginannya sendiri dengan cara menekan dan memendam perasaan, pemikiran, dan keyakinannya serta membiarkan orang lain menyakitinya. Selain itu orang yang bertipe ini cenderung untuk mengekspresikan suatu pemikiran atau perasaan secara apoligik, malu-malu, dan tidak bisa menonjolkan kemampuan dirinya sendiri, sehingga orang lain dengan mudah dapat mengendalikan orang yang asertif ini. Seseorang yang nonasertif cenderung menuruti tuntutan orang lain dan berupaya untuk menghindari konflik. Selain itu ia pun menganggap segala kebutuhan, keinginan, dan pendapatnya tidaklah penting serta memandang orang lain lebih superior dari dirinya sendiri. c. Asertif (kelugasan atau ketegasa): meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, keyakinan, dan perasaannya secara langsung, jujur, dan dengan cara yang tepat tanpa menyinggung atau menyakiti kepentingan orang lain maupun dirinya sendiri. 2. Karakteristik Pasif, Agresif dan Asertif Agar dapat lebih mengenal karakteristik dari ketiga gaya merespon tersebut, maka kita dapat mengidentifikasi atau menelaahnya menggunakan dua komponen asertif, yaitu: komponen verbal dan komponen non-verbal. Komponen verbal terdiri dari bahasa lisan sedangkan komponen non-verbal terdiri dari bahasa non-lisan (bahasa tubuh).

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 a. Komponen Verbal : No. Sikap Agresif 1. Terlalu banyak membuat permintaan terhadap orang lain dan terlalu banyak menyuruhnyuruh. 2. Selalu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan dari orang lain. Sikap Non-Asertif (Pasif) Tidak mampu membuat permintaan pada orang lain dan cenderung hanya menyimpannya di dalam hati. Sikap Asertif Mampu membuat permintaan pada orang lain secara wajar dan sopan. Tidak mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain, padahal di dalam hatinya ia tidak mau menuruti permintaan orang lain tersebut. Mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain secara sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain dan dirinya sendiri. b. Komponen Non-Verbal : No. Indikator Sikap Agresif 1. Eye Contact Pandangan mata melotot terhadap lawan bicaranya. 2. Gesture Bahasa tubuhnya kaku, jari menunjuknunjuk, dan tangan mengepalkan tinju. Sikap NonAsertif Kontak mata cepat dan menghindar serta tidak mampu menatap lawan bicaranya. Bahasa tubuhnya gugup, salah tingkah, dan tangan cenderung berkeringat. Sikap Asertif Melihat dan memandang lawan bicaranya secara wajar. Bahasa tubuhnya luwes, tenang, dan menunjukkan keakraban.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 3. Body Posture 4. Facial Expression 5. 6. 7. 8. Postur tubuhnya tegang, kaku, membusungkan dada. Postur tubuh Postur tubuh tegap, rileks, dan tampak bungkuk, cenderung lemah tenang. dan lemas. tampak tampak Muka Muka tampak Muka penuh memerah karena memerah tanda berseri, senyum, ekspresi menahan malu. menahan emosi. wajahnya wajar. Voice Tone Berbicara secara Berbicara secara Berbicara dengan and keras dan berapi- pelan dan nyaris volume yang wajar Volume api. tak terdengar. dan lembut. Speach Berbicara kasar, Berbicara terbata- Pola berbicara terkesan lancar dan Fluency menghina, dan bata, ragu, dan tak menjawab secara terdengar spontan. gemerutuk suara jelas. gigi. Timing Cenderung Tidak pernah bisa Selalu memaksa orang untuk memulai memperhatikan situasi dan kondisi untuk selalu berkomunikasi mendengarkan dengan orang lain lingkungan serta segala cerita dan dan cenderung keadaan orang lain keluhannya tanpa menunggu orang sebelum memulai memperhatikan lain untuk melakukan situasi orang lain. berbicara atau komunikasi. menyapa terlebih dahulu. Tidak mampu Berbicara pada isu Message Berbicara sedang Content melebihi isu berbicara sesuai yang dengan isu yang diperbincangkan, yang mengungkapkan diperbincangkan diperbincangkan cenderung perasaannya secara dan melebih- dan lebihkan dirinya diam karena takut terbuka, dan jujur. pada orang lain. sendiri.

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 3. Mengatasi Perilaku Pasif-Agresif Untuk dapat menggunakan gaya merespon yang tepat, maka tiap orang harus mampu untuk dapat menekan dan mengontrol sikap serta perasaan agresif dan non-asertif. Setelah itu adalah berusaha untuk menujukkan sikap perasaan, dan tingkah laku secara asertif. Untuk dapat melakukannya, setiap orang harus mempunyai keyakinan terlebih dahulu untuk bisa mengubah sikap, perasaan, dan tingkah lakunya yang agresif dan non-asertif tersebut. Lalu dibutuhkan latihan terus menerus agar sikap asertif tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 PERNYATAAN HASIL BELAJAR Setelah saya mengikuti kegiatan bimbingan, saya menjadi sadar /tahu bahwa: 1. ………………………………………………………………………….. 2. ………………………………………………………………………….. 3. …………………………………………………………………………..

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Skenario Sosiodrama 1 Fani merupakan siswi yang selalu medapatkan nilai sempurna pada setiap ulangan matematika, nilai tersebut didapat dari hasil ia mengikuti belajar tambahan dirumah bu Lina diluar jam sekolahnya. Fani megikuti les ditempat bu Lina karena rumah mereka berdekatan, sehingga ia tidak perlu menggunakan angkutann umum. karena bu Lina selalu memuji nilai Fani, hal tersebut membuat beberapa siswa merasa cemburu. Pada saat istirahat ke-2. Ani : Kalian merasa janggal ga sih dengan nilai-nilai ulangannya Fani?? Bella : Cerry : Ani Bella Ani : : : Cerry : Bella : Ani : Fani : Memangnya kenapa An? Dia kan memang rajin, makanya nilai ulangannya selalu mendapat pujian dari bu Lina Aku curiga, ada yang ga beres… Sudahlah jangan berburuk sangka dulu… Eh, dia kan anak kesayangannya bu Lina… ya pantas saja dia selalu mendapat nilai sempurna. Iya juga sih An, lagian rumah Fani dengan rumah bu Lina juga berdekatan. Pastinya orangtua Fani juga kenal baik dengan bu Lina.. Maksudmu Fani mendapat nilai baik karena orang tuanya kenal baik dengan bu Lina Cer? Bisa juga karena uang… Orangtua Fani kan kaya, jadi mungkinn saja mereka membayar bu Lina Asik sekali kalian membicarakan orang… Kalau mau mendapat nilai bagus itu belajar,, bukan malah ngegosip… Memangnya apa masalahnya untuk kalian kalau nilaiku bagus?? Kalian iri? Kalau kalian tidak tahu, jangan asal bicara.. Bella : tidak, siapa yang ngegosip…. kita sedang membicarakan soal ulangan matematika tadi… Ani : sudahlah, ayo kita pergi saja Bell….

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Dampak Apa keuntungan bagi masing-masing pemeran? Apa kerugian bagi masing-masing pemeran?

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Skenario Sosiodrama 2 Fani merupakan siswi yang selalu medapatkan nilai sempurna pada setiap ulangan matematika, nilai tersebut didapat dari hasil ia mengikuti belajar tambahan dirumah bu Lina diluar jam sekolahnya. Fani megikuti les ditempat bu Lina karena rumah mereka berdekatan, sehingga ia tidak perlu menggunakan angkutann umum. karena bu Lina selalu memuji nilai Fani, hal tersebut membuat beberapa siswa merasa cemburu. Ani : Bella : Cerry : Ani Bella Ani : : : Cerry : Kalian merasa janggal ga sih dengan nilai-nilai ulangannya Fani?? Memangnya kenapa An? Dia kan memang rajin, makanya nilai ulangannya selalu mendapat pujian dari bu Lina Aku curiga, ada yang ga beres… Sudahlah jangan berburuk sangka dulu… Eh, dia kan anak kesayangannya bu lina… ya pantas saja dia selalu mendapat nilai sempurna. Iya juga sih An, lagian rumah Fani dengan rumah bu Lina juga berdekatan. Pastinya orangtua Fani juga kenal baik dengan bu Lina.. Bella : Maksudmu Fani mendapat nilai baik karena orang tuanya kenal baik dengan bu Lina Cer? Bisa juga karena uang… Orangtua Fani kan kaya, jadi mungkinn saja mereka membayar bu Lina Ani : Fani : Hai… selamat siang.. Sepertinya kalian harus mengetahui sesuatu… soal nilai ulanngan matematikaku, sebenarnya bukan seperti yang kalian sangka. Bella : Eh Fani,… kamu mendengarnya? Fani : Iya, aku dengar… Cerry : Kami tidak bermaksud untuk… Fani : Tidak masalah untukku, mungkin kalian belum aku ceritakan, orangtuaku memberiku uang untuk biaya les ditempat bu Lina. Ani : Les? Iya, setiap pulang sekolah aku mengikuti les,

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Bella : Oh, begitu ya…. Kenapa tidak les diprimagama saja? Karena jarak rumahku dekat dengan rumah bu Lina jadi orangtuaku tidak repotrepot menjemputku. Lagi pula kalau ada materi yang aku ga ngerti, aku bisa tanyakan lagi kepada bu Lina Ani : Fani, kami minta maaf ya… tadi kami telah berprasangka buruk. Bella : Iya tidak apa-apa, aku sangat memahaminya…. Kalau kalian mau ikut les juga, kalian bisa datang setelah pulang sekolah. Karena setiap hari jumat bu Lina tidak akan memungut biaya.. Cerry : Terimakasih Fani, kamu baik banget… Dampak Apa keuntungan bagi masing-masing pemeran? Apa kerugian bagi masing-masing pemeran?

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 SATUAN PELAYANAN BIMBINGAN A. Topik : Komunikasi yang efektif B. Bidang bimbingan : Pribadi – sosial C. Jenis layanan : Bimbingan kelompok/klasikal D. Fungsi layanan : Pemahaman dan pengembangan E. Tujuan umum Agar siswa dapat memahami dan berkomunikasi secara efektif. F. Tujuan khusus : Setelah mengikuti kegiatan yang direncanakan ini, siswa dapat: 1. Spesifik : a. Menjelaskan pentingnya komunikasi efektif. b. Menyebutkan dan menjelaskan 10 tips berkomunikasi secara efektif. 2. Global : Agar siswa dapat menyebutkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini. G. . Sasaran : siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep H. Materi : 1. Pentingnya komunikasi efektif 2. 10 tips berkomunikasi secara efektif. I. Metode, Kegiatan / langkah-langkah : 1.Metode : sosiodrama, Experential Learning, diskusi, tanya jawab, ceramah.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 2.Kegiatan /langkah-langkah No. Intrakurikuler a. b Ko-kurikuler 5 menit Pengantar singkat (5 menit) dilanjutkan Menuliskan refleksi dan ice breaking (Killi-Killi) Siswa mengisi pembimbing menanyakan kepada siswa kuisioner sebagai 10 menit pengukur mengenai keterampilan komunikasinya alat dengan teman sekelas selama ini. skala asertif yang Kemudian dilanjutkan pennnjelasann telah disediakan pada setiap akhir materi oleh pembimbin. kegiatan. c pembimbing membagi dua kelompok dalam satu kelas. kelompok pemeran sosiodrama dan kelompok yang bertugas mengamati dan pembahas jalannya sosiodrama tersebut. setelah kelompok dibagi siswa memperagakan peran sesuai dengan skenario yang telah dibuat oleh peneliti. Setela peragaan sosiodrama selesai, pembimbing mengarahkan jalannya evaluasi sosiodrama yang telah diperagakan 20 menit d Sharing pernyataan hasil belajar dan pennutup. 5 menit J. Tempat penyelenggara : Ruang kelas VIIB K. Waktu : 09 Juli 2014, 40 menit L. Penyelenggara : Noivita Dian R M. Alat : Hand Out, Skenario sosiodrama, alat tulis, lembar Kuisioner.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 N. Evaluasi 1. Spesifik : a. Sebutkan pentingnya komunikasi efektif. b. Sebutkan 10 tips berkomunikasi secara efektif. 2. Global : Seberapa banyak manfaat kegiatan yang telah di ikuti hari ini bagi diri siswa, dengan memilih salah satu alternatif jawaban berikut: a. Kurang bermanfaat b. Bermanfaat c. Sangat bermanfaat O. Rencana tindak lanjut : dengan melakukan wawancara personal berkenaan dengan aspek yang rendah, dapat juga ditindak lanjuti dengan konseling individual maupun konseling kelompok terhadap siswa yang memiliki skala asertif rendah. P. Sumber : Muryanto. 2009. Menciptakan Pribadi Anak Mudah Bergaul. Semarang: CV. Ghyas Putra Supratiknya. 1995. Komunikasi Yogyakarta: Kanisius. Antarpribadi. Tinjauan Psikologis. Mengetahui : Koordinator BK Wasino, S.Pd Praktikan Novita Dian R

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 HANDOUT 1. Arti dan pentingnya komunikasi efektif. Komunikasi adalah proses penyampaian berita/pesan dari seorang pembawa berita (komunikator) kepada sang penerima berita (komunikan). Sebuah komunikasi dikatakan efektif bila berita yang ingin disampaikan oleh pembawa berita dapat diterima dengan baik oleh penerima berita atau apabila penerima menangkap pesan yang diterimanya sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim. Untuk itu, penting kiranya komunikasi yang efektif bagi manusia. Mengapa? a. Komunikasi membantu perkembangan intelektual dan sosial kita. b. Identitas dan jati-diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain. c. Untuk menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang realitas yang sama. d. Demi kesehatan mental agar tidak sedih, kecewa, cemas, dan frustrasi. 2. 10 tips berkomunikasi secara efektif. a. Cari waktu yang tepat. Jangan mencoba untuk memutuskan sesuatu yang penting dengan pasangan anda di klub malam atau keramaian, sisihkan waktu berdua saja, matikan TV dan konsentrasikan pada topik tersebut. b. Jangan terganggu hal lain. Pertahankan kontak mata sebanyak mungkin. Beberapa orang merasa hal ini dapat dicapai dengan baik di meja dapur daripada di sofa depan televisi, tapi pilihlah tempat yang paling anda berdua sukai. c. 'Saya rasa….' Mulailah pernyataan anda dengan, "Saya rasa…." Karena dengan demikian ada dua hal yang dapat anda capai. Anda dapat memikirkan apa yang anda rasakan dan akan menghentikan gangguan yang meningkat di

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 diri pasangan anda yang mungkin merasa takut anda akan memulai serangan verbal kapan saja. d. Dengarkan. Mendengar adalah suatu bentuk seni. Biarkan pasangan anda menyelesaikan apa yang hendak mereka utarakan, sabar dan hentikan pengulangan mental dalam benak anda mengenai cara anda membela diri sendiri setelah ia selesai berbicara. Karena bisa jadi ia mengatakan sesuatu yang penting saat berbicara e. Ikuti kata-katanya Cobalah untuk merangkum apa yang dikatakan pasangan anda saat anda mulai berkata setelah ia selesai berbicara. Cobalah mengatakan, "Kamu berkata…betul tidak ? dan saya rasa…." Ini akan membantu anda berdua untuk tahu apakah kamu berdua ada di jalur yang tepat. f. Bekerja sama. Jangan ulang apapun yang anda pernah dengar ke dalam pembicaraan saat pembicaraan tersebut mulai memanas. Tetaplah berpegang pada subjek saat itu dan carilah solusi menang-menang. Ini bukan kompetisi, ingatlah ! g. Lakukan sedikit demi sedikit. Jika anda harus mengambil keputusan besar atau mengatasi masalah sulit, pecahkan masalah itu menjadi bagian-bagian kecil. Selesaikan satu demi satu masalah tiap hari dan akhirnya permasalahan tersebut makin lama makin jelas. h. Buatlah segala sesuatunya jelas Keluarkan secara spesifik daripada gambaran besarnya. Contohnya, katakan "Saya ingin kamu mengisi bensin hari Rabu" daripada “Kamu kok tidak pernah merawat mobilku sih !” Pasangan anda akan tahu apa yang anda inginkan dan tidak merasa sakit hati daripada anda melancarkan kritik yang terbuka.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 i. Lihat moodnya/suasana hati. Tak apa kok untuk tertawa pada beberapa hal, tapi tiba-tiba tertawa dapat menyetop komunikasi dan membuat kita keluar dari topik pembicaraan. Jika pasangan anda sedang serius, ikuti keseriusannya. j. Jangan kecewakan dia. Mengatainya dan menghinanya, meskipun tidak sengaja, tidak bisa diterima dalam komunikasi yang baik. Tetap bicarakan poin penting dan jangan pernah mengecewakan pasangan anda.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 PERNYATAAN HASIL BELAJAR Setelah saya mengikuti kegiatan bimbingan, saya menjadi sadar /tahu bahwa: 4. ………………………………………………………………………….. 5. ………………………………………………………………………….. 6. …………………………………………………………………………..

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Skenario Sosiodrama 1 Dalam sebuah kendaraan umum ada tiga orang penumpang yang duduk bersebelahan, penumpang yang di tengah adalah seorang perokok berat (Rendi) yang emosional dan agresif. Sedangkan sebelah kirinya adalah ibu hamil (Dinda) yang pendiam (non-asertif) dan tidak mampu menegur si perokok yang ada di sebelahnya padahal dirinya merasa sangat terganggu. Penumpang yang satunya lagi adalah seorang pelajar (Bobi) yang memiliki sikap peduli terhadap ibu hamil tersebut dan mencoba memberitahu dan menegur si perokok itu untuk mematikan rokoknya itu. Bobi : Mas, tolong matikan saja rokoknya…. ini kendaraan uganggu umum, bukan mobil pribadi… kami merasa sangat terganggu dengan asapnya.. Rendi : Kau ini pelajar tidak tahu sopan santun… Umur baru seumur jagung saja sudah berani Saya beli rokok pakai uang sendiri,, jadi terserah saya mau merokok dimana saja. Bobi : Tapi saya dan penumpang lain merasa tergannggu dengan asap rokoknya Rendi : Kalau kau tak nyaman, pindah saja tempat duduk… Dampak Apa keuntungan bagi masing-masing pemeran? Apa kerugian bagi masing-masing pemeran?

(136) PLAGIAT TINDAKAN Skenario Sosiodrama TIDAK 2TIDAKTERPUJI PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TERPUJI 117 Dalam sebuah kendaraan umum ada tiga orang penumpang yang duduk bersebelahan, penumpang yang di tengah adalah seorang perokok berat (Rendi) yang emosional dan agresif. Sedangkan sebelah kirinya adalah ibu hamil (Dinda) yang pendiam (non-asertif) dan tidak mampu menegur si perokok yang ada di sebelahnya padahal dirinya merasa sangat terganggu. Penumpang yang satunya lagi adalah seorang pelajar (Bobi) yang memiliki sikap peduli terhadap ibu hamil tersebut dan mencoba memberitahu dan menegur si perokok itu untuk mematikan rokoknya itu. Bobi : Mohon maaf mas, bisakah anda mematikan rokoknya.. Ibu ini sedang hamil, saya rasa asap rokok tidak baik untuk perkembangan janinnya… Rendi : oh, maaf ya…. saya akan membuangnya. Bobi : Terimakasih atas pengertiannya mas… Rendi : Iya dek,… Saya minta maaf jika saya telah membuat kalian merasa tidak nyaman.. Bobi : Sama-sama mas Dinda : Terimakasih banyak ya nak… Bobi : Iya buk, Dampak Apa keuntungan bagi masing-masing pemeran? Apa kerugian bagi masing-masing pemeran?

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Lampiran 3 Kisi-Kisi Penelitian

(138) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 119 Kisi-Kisi Penelitian NO 1 ASPEK Kesetaraan dalam hubungan (menempatkan kedua belah pihak pada posisi yang sama tanpa ada yang merasa dirugikan) INDIKATOR a. Menempatkan setiap pribadi secara setara ITEM 1. Saya berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika teman berbicara (+) 2. saya memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan pendapatnya (+) 3. Saya memotong pembicaraan ketika ada teman yang berbicara () 4. Saya sulit memuji hasil karya teman (-) b. Memberikan dukungan kepada orang lain 5. Saya segera menawarkan bantuan ketika ada teman yang membutuhkan bantuan (+) 6. Ketika ada teman yang sedang sedih, saya langsung mencoba untuk menghiburnya (+) 7. Saya memberikan pujian kepada teman yang mendapat nilai bagus (+) 8. Saya malu memberikan selamat kepada teman yang mendapatkan nilai bagus (-)

(139) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 120 NO 2 ASPEK Bertindak sesuai dengan keinginan sendiri (mampu membuat dan menentukan keputusan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi, berinisiatif mengawali pembicaraan, menetapkan tujuan, berpartisipasi dalam pergaulan dan mempercayai penilaian diri sendiri) INDIKATOR a. Mampu membuat keputusan ITEM 9. Saya mempertahankan pendapat saya yang saya anggap benar tanpa merendahkan pendapat orang lain (+) 10. Saya menegur teman apabila tindakan mereka menimbulkan masalah bagi saya (-) 11. Saya menolak ajakan teman untuk bermain karena saya harus segera menyelesaikan tugas sekolah (-) b. Mampu menentukan tujuan dan berusaha mencapainya 12. Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada orang yang baru dikenal (+) 13. Saya sanggup menolak ajakan teman yang tidak masuk akal (+) 14. Saya menegur teman yang tidak mengerjakan bagiannya dalam tugas kelompok (+) 15. Saya enggan berbicara dalam diskusi kelompok (-) 3 Mengungkapkan perasaan a. Mampu menyatakan dengan jujur dan nyaman (mampu perasaannya dengan jujur mengkomunikasikan perasaan dan pikiran secara tepat) 16. Saya mengungkapkan kekecewaan saya terhadap teman saya tanpa menyinggung perasaanya (+) 17. Ketika saya sedang merasakan ketakutan, saya akan membicarakannya dengan teman tanpa rasa malu (+) 18. Saya malu untuk bertanya mengenai materi pelajaran yang belum saya mengerti walaupun guru mempersilahkan siswa bertanya (-)

(140) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 121 NO ASPEK INDIKATOR b. Mampu mengungkapkan kebutuhan dan keinginan dengan nyaman ITEM 19. Saya mengatakan kepada teman dengan jujur mengenai hal-hal yang saya butuhkan (+) 20. Saya menyampaikan harapan dan keinginan saya terhadap teman dengan jujur tanpa merasa cemas (+) 21. Saya meminta bantuan teman ketika membutuhkan bantuan (+) 22. Saya malu untuk menanyakan hal yang belum saya pahami kepada teman (-) 23. Saya malu untuk mengungkapkan setiap keinginan saya karena takut tidak terpenuhi (-) 4 Pertahanan diri (mampu mempertahankankan/ membela sebuah pendapat ) a. Mempertahankan hak dan pendapat pribadi tanpa menyerang orang lain 24. saya memprotes jika orang lain memotong pembicaraan saya (+) 25. Saya merasa tidak enak ketika harus menolak ajakan teman (-) 26. Saya berani menolak pendapat teman yang kurang tepat tanpa merasa cemas (-) b. Mampu menanggapi kritik, celaan, dan kemarahan dari orang lain secara terbuka 27. Apabila ada teman yang mengkritik saya, saya dapat menanggapinya dengan tenang (+) 28. Saya sangat senang ketika saya deberi masukan atau dikritik oleh orang lain (+) 29. Ketika ada teman yang memarahi saya, saya akan tetap tenang dan tidak memarahinya (+) 30. Saya akan membalas memarahi teman yang memarahi saya (-)

(141) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 122 NO ASPEK 5 Menyatakan pendapat (mampu mengungkapkan gagasan pribadi) INDIKATOR a. Mampu mengemukakan ide atau gagasan ITEM 31. Ketika berdiskusi saya berani untuk mengungkapkan ide walaupun mendapat bantahan dari teman (+) 32. Ketika ada permasalahan dalam kelompok, saya akan menyampaikan ide sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut tanpa merasa cemas (+) 33. Saya merasa percaya diri ketika harus menyampaikan ide saya di depan umum (+) 34. Saya memilih untuk tidak menyampaikan ide saya daripada saya harus menghadapi konflik dengan teman (-) 35. Saya tidak akan menyampaikan pendapat saya sebelum saya diminta untuk melakukannya (-) 36. Saya malu menyampaikan pendapat saya karena takut dinilai salah (-) b. Mampu menyampaikan kritik secara adil tanpa merugikan orang lain 37. Saya akan memberikan masukan terhadap teman saya dengan tidak menjelek-jelekkannya (+) 38. Saya menyampaikan krtikan terhadap teman saya tanpa merasa tidak enak (+) 39. Saya memilih untuk tidak menyampaikan kritik saya daripada saya harus menghadapi konflik dengan teman (-) 40. Saya merasa kesulitan untk memberikan saran atau kritikan terhadap teman saya karena takut dibilang sombong (-)

(142) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 123 NO ASPEK 6 Perhatian terhadap hak-hak orang lain (mampu mengekspresikan gagasan pribadi tanpa memaksakan dan mengintimidasi orang lain serta tanpa mengendalikan orang lain) INDIKATOR a. Mampu menghargai hak, keinginan, dan perasaan oran lain ITEM 41. Ketika orang lain bercerita tentang hidupnya, saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh (+) 42. Saya menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat saya (+) 43. Saya merasa jengkel ketika teman tidak menuruti perkataan saya (-) b. Membiarkan orang lain mengungkapkan diri apa adanya 44. Ketika berdiskusi saya memberikan kesempatan kepada teman untuk menyampaikan pendapatnya (+) 45. Saya merasa iri ketika teman menunjukkan kelebihannya (-)

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Lampiran 4 Instrument Penelitian

(144) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 125 KUESIONER ASERTIVITAS KUESIONER ASERTIVITAS Para siswa yang terkasih, pada kesempatan ini saya memohon kesediaan anda untuk mengisi kuesioner ini. Informasi dari anda sangat berguna bagi layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Oleh karena itu silakan mengisi kuesioner ini dengan jujur sesuai dengan pengalaman masing-masing. Terimakasih atas kesediaannya. A. Identitas Diri Disusun Oleh Novita Dian Ratnasari 101114068 Nama Kelas Usia Jenis kelamin B. Petunjuk : : : : Laki-laki/Perempuan 1. Bacalah setiap pernyataan dengan teliti 2. Berilah tanda centang (√) pada kolom alternatif jawaban sesuai dengan yang kamu alami PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 C. Keterangan SS S J TP : Sangat Sering : Sering : Jarang : Tidak Pernah Selamat Mengerjakan

(145) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 126 PERNYATAAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 SS S J TP NO Saya berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika teman berbicara 12 aya memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan pendapatnya Saya sulit memuji hasil karya teman 13 S Saya segera menawarkan bantuan ketika ada teman yang membutuhkan bantuan Saya memberikan pujian kepada teman yang mendapat nilai bagus Saya mempertahankan pendapat saya yang saya anggap benar tanpa merendahkan pendapat orang lain Saya menegur teman apabila tindakan mereka menimbulkan masalah bagi saya Saya menolak ajakan teman untuk bermain karena saya harus segera menyelesaikan tugas sekolah Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada orang yang baru dikenal Saya menegur teman yang tidak mengerjakan bagiannya dalam tugas kelompok Saya mengungkapkan kekecewaan saya terhadap teman saya tanpa menyinggung perasaanya PERNYATAAN Ketika saya sedang merasakan ketakutan, saya akan membicarakannya dengan teman tanpa rasa malu Saya mengatakan kepada teman dengan jujur mengenai hal-hal yang saya butuhkan 14 Saya menyampaikan harapan dan keinginan saya terhadap teman dengan jujur tanpa merasa cemas 15 Saya meminta bantuan teman ketika membutuhkan bantuan 16 saya memprotes jika orang lain memotong pembicaraan saya 17 Saya merasa tidak enak ketika harus menolak ajakan teman 18 Apabila ada teman yang mengkritik saya, saya dapat menanggapinya dengan tenang 19 Saya sangat senang ketika saya deberi masukan atau dikritik oleh orang lain 20 Ketika ada teman yang memarahi saya, saya akan tetap tenang dan tidak memarahinya Saya akan membalas memarahi teman yang memarahi saya 21 SS S J TP

(146) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 127 NO PERNYATAAN 22 Ketika berdiskusi saya berani untuk mengungkapkan ide walaupun mendapat bantahan dari teman ketika ada permasalahan dalam kelompok, saya akan menyampaikan ide sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut tanpa merasa cemas Saya merasa percaya diri ketika harus menyampaikan ide saya didepan umum 31 Saya menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat saya 32 Saya merasa jengkel ketika teman tidak menuruti perkataan saya 33 Ketika berdiskusi saya memberikan kesempatan kepada teman untuk menyampaikan pendapatnya Saya memilih untuk tidak menyampaikan ide saya daripada saya harus menghadapi konflik dengan teman Saya malu menyampaikan pendapat saya karena takut dinilai salah 34 Saya merasa iri ketika teman menunjukkan kelebihannya 23 24 25 26 27 28 29 30 Saya akan memberikan masukan terhadap teman saya dengan tidak menjelek-jelekkannya Saya menyampaikan kritikan terhadap teman saya tanpa merasa tidak enak Saya merasa kesulitan untuk memberikan saran atau kritikan terhadap teman saya karena takut dibilang sombong Ketika orang lain bercerita tentang hidupnya, saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh SS S J TP NO PERNYATAAN SS S J TP

(147) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 128 PANDUAN OBSERVASI No Disusun Oleh Novita Dian Ratnasari 101114068 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 Hal-Hal Yang Diamati 1 Kemampuan siswa dalam mendengarkan intruksi/perintah pembimbing 2 Kemampuan siswa dalam mendengarkan teman saat berbicara 3 Kemampuan siswa dalam mengungkapkan pendapat 4 Kemampuan siswa dalam menanggapi kritikan teman 5 Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan 6 Keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan tanpa ditunjuk 7 Kemampuan siswa untuk memberikan pujian/tepuk tangan kepada teman Kepercayaan diri siswa untuk mengawali pembicaraan 8 9 Keberanian siswa untuk memberikan kritikan kepada pembimbing/teman 10 Kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan layanan Baik Cukup Kurang Keterangan

(148) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 129 PANDUAN WAWANCARA SISWA Nara Sumber : Kelas : Hari/Tanggal Wawancara : Topik Bimbingan : Pewawancara : A. Materi bimbingan B. Sosiodrama 1. Apakah kegiatan sosiodrama dapat membantu anda dalam kegiatan hari ini dapat membantu anda dalam memahami materi bimbingan? 2. Apakah kegiatan sosiodrama yang digunakan dalam topic bimbingan hari ini sudah sesuai dengan materi bimbingan? 1. Bagaimana komentar anda mengenai topik bimbingan hari ini? 2. Menurut anda materi yang diberikan guru BK sudah sesuai 3. Apakah anda merasa senang dengan sosiodrama yang digunakan guru BK dalam bimbingan hari ini? dengan kebutuhan siswa? 3. Apakah anda merasa terbantu dengan materi bimbingan hari ini? 4. Manfaat apa yang anda peroleh dari materi bimbingan hari ini? 4. Apakah anda tertarik dengan sosiodrama yang digunakan dalam kegiatan bimbingan hari ini?

(149) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 130 pendapat pribadi dan menanggapi sebuah kritikan orang C. Ketercapaian kemampuan komunikasi asertif yang tinggi 1. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat lain secara terbuka? membuat anda berpikir bahwa orang lain memiliki hak yang sama? 5. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat membuat anda berpikir bahwa anda perlu mengungkapkan 2. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat gagasan/ide? membuat anda berpikir bahwa anda perlu bertindak sesuai dengan keinginan sendiri? 6. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat membuat anda berpikir bahwa anda 3. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat 7. perlu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuat anda berpikir bahwa anda perlu mengungkapkan mengungkapkan diri apa adanya? pikiran dan perasaan dengan jujur? 8. Bagaimana komentarmu mengenai kegiatan bimbingan hari ini? 4. Apakah melalui kegiatan yang dilakukan hari ini dapat membuat anda berpikir bahwa anda perlu mempertahankan Catatan:

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Lampiran 5 Rekapitulasi Data Penelitian

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ahmad Andriawan David Ela Erika Fahrudin Feny Harison Heni Iva Kriswanto Lili Prapti Putrisya Rinda Saeful Sigid Siti Tri Umar Keterangan: ST T S R SR : Sangat Tinggi : Tinggi : Sedang : Rendah : Sangat Rendah Rekapitulasi Skor Subyek Siswa Dalam Mengikuti Layanan Pribadi-Sosial Pra Penelitian Siklus 1 Nilai Kategori Nilai Kategori 99 T 107 T 77 S 105 T 105 R 112 ST 92 S 91 S 96 S 97 T 83 R 92 S 92 T 101 T 81 S 94 S 89 T 98 T 97 S 98 T 88 S 86 S 75 T 104 T 98 S 103 T 97 T 105 T 83 T 95 T 90 S 105 T 90 T 104 T 101 S 106 T 90 S 113 St 87 S 84 S 1810 2000 90.5 100 Siklus 2 Nilai Kategori 113 St 115 St 114 St 110 T 110 T 108 T 109 T 107 T 108 T 101 T 101 T 113 St 113 St 110 T 111 T 112 St 107 T 109 T 120 ST 102 T 2193 109.65

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Rekapitulasi Skor Item Asertif Siswa Dalam Mengikuti Layanan Pribadi-Sosial Pra Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Nama Saya berusaha… Saya memberi… Saya sulit… Saya segera… Saya memberikan… Saya mempertahankan Saya menegur … Saya menolak … Saya memperkenalkan Saya menegur … Saya mengungkapkan Ketika saya sedang … Saya mengatakan.. Saya menyampaikan Saya meminta… saya memprotes… Saya merasa tidak … Apabila ada teman… Saya sangat senang… Ketika ada teman … Saya akan … Ketika berdiskusi … ketika ada … Saya merasa … Saya memilih untuk… Saya malu … Saya akan .. Saya menyampaikan Saya merasa … Ketika orang lain… Saya menghormati… Saya merasa jengkel… Ketika berdiskusi… Saya merasa iri… Keterangan: ST : Sangat Tinggi T : Tinggi S : Sedang R : Rendah SR : Sangat Rendah Siklus 1 Siklus 2 Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai 52 65 62 54 56 43 35 52 57 54 45 50 58 52 69 38 44 53 54 43 55 55 51 40 58 55 54 39 51 54 S T S T T S R S T T S S T S ST R R S S S T T T R T T T R S T 60 66 62 61 58 60 52 59 55 63 56 51 62 58 63 49 52 62 58 59 60 65 60 55 53 60 58 51 56 61 T ST T T T T ST T T T T S T T T S S T T T T T T S S T T S T T 68 66 62 62 61 67 63 64 65 66 62 69 68 62 67 64 69 67 64 65 64 66 60 62 67 62 62 61 63 62 ST ST T T T ST T T T ST T ST T T ST T ST ST T T T ST T T ST T T T T T 61 64 65 72 1810 53.23 ST T ST ST 66 63 64 62 2000 58.8 ST T T T 70 66 65 62 2193 64.5 ST ST T T

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Rekapitulasi Kategori Asertif Siswa Dalam Mengikuti Layanan Pribadi-Sosial No 1 2 3 4 5 KATEGORI Sangat Rendah (SR) Rendah (R) Sedang (S) Tinggi (T) Sangat Tinggi (ST) WAKTU PELAKSANAAN PRA PENELITIAN SIKLUS I SIKLUS II Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase 0 0 0 0 0 0 2 6% 0 0 0 0 11 55% 5 25% 0 0 7 35% 13 65% 13 65% 0 0 2 10% 7 35% Rekapitulasi Kategori item Asertif Siswa Dalam Mengikuti Layanan Pribadi-Sosial No 1 2 3 4 5 KATEGORI Sangat Rendah (SR) Rendah (R) Sedang (S) Tinggi (T) Sangat Tinggi (ST) WAKTU PELAKSANAAN PRA PENELITIAN SIKLUS I SIKLUS II Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase 1 6 16 9 2 2% 13% 36% 20% 4% 0 0 7 25 2 0 0 20.6% 73.5% 5.9% 0 0 0 22 12 0 0 0 65% 35%

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Lampiran 6 Tabulasi Data Penelitian

(155) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 136 Tabulasi Data Angket Uji Coba

(156) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 137 Skoring Pra Penelitian

(157) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 138 Skoring Siklus I

(158) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 139 Skoring Siklus II

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Lampiran 7 Hasil Uji SPSS

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Reliability Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N Cases Valid % 33 100.0 0 .0 Excludeda Total 33 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. 100.0 Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items Cronbach's Alpha .827 .820 45 Item Statistics No Item Mean VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 2.7273 3.0909 3.1515 2.9697 2.8788 2.8485 3.0303 2.8485 2.5758 2.2121 2.7576 2.9091 2.8788 3.0909 3.1212 Std. Deviation .80128 .72300 .56575 .63663 .81997 .83371 .80951 1.03444 1.03169 1.02340 .83030 .67840 .73983 .87905 .69631 N 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022 VAR00023 VAR00024 VAR00025 VAR00026 VAR00027 VAR00028 VAR00029 VAR00030 VAR00031 VAR00032 VAR00033 VAR00034 VAR00035 VAR00036 VAR00037 VAR00038 VAR00039 VAR00040 VAR00041 VAR00042 VAR00043 VAR00044 VAR00045 2.6364 2.6970 2.8788 3.0000 2.7273 3.5455 3.3030 3.2121 2.1515 2.3333 2.6364 2.8788 2.8788 2.5455 3.0303 3.0606 2.9697 2.3030 2.9394 3.0303 3.0303 2.8788 2.2424 2.7576 2.7576 3.0909 3.3030 3.1818 3.2727 3.5758 .96236 .95147 .99240 .75000 .80128 .56408 .72822 .81997 1.03444 .98953 .89506 .81997 .89294 .93845 .76994 .96629 .91804 .84723 .70442 .91804 .80951 .64988 .96922 .83030 .96922 .91391 .76994 .58387 .62614 .75126 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Summary Item Statistics Mean Item Means 2.888 Minimum Maximum Range 2.152 3.576 Maximum / Minimum Variance N of Items 1.424 1.662 .103 Scale Statistics Mean Variance 1.2994E2 164.871 Std. Deviation 12.84022 N of Items 45 45

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 Non Parametrik Tes Wilcoxon Signed Ranks Test Ranks Mean Rank N V1 pra V2 V1 Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Negative Ranks Positive Ranks Ties Total a V1 < pra b V1 > pra c V1 = pra d V2 < V1 e V2 > V1 f V2 = V1 Sum of Ranks 6(a) 10.58 63.50 27(b) 18.43 497.50 0(d) .00 .00 30(e) 15.50 465.00 1(c) 34 4(f) 34 Test Statistics(b) V1 - pra V2 - V1 -3.881(a) -4.788(a) Z Asymp. Sig. (2.000 .000 tailed) a Based on negative ranks. b Wilcoxon Signed Ranks Test

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 Lampiran 8 Presensi Siswa

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 DAFTAR HADIR PELAKSANAAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELAS VII B SMP NEGERI 1 TRETEP TAHUN AJARAN 2013/2014 Bidang Bimbingan Materi/Topik Hari/Tanggal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 :Pribadi-Sosial : Pra-Tindakan : Juni 2014 Nama Siswa Ahmad Asfendi Andriawan David Dwi R Ela Trimaya Erika Dwi C Fahrudin Feny Harisun Heni Lestari Iva Noviyanti Kriswanto Lili Listyani Prapti Putrisya Nugra R Rinda Stiyani Saiful Umam Sigit Yudha S Siti Khuyaimah Tri Mufathoni Umar Rendoin Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 DAFTAR HADIR PELAKSANAAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELAS VII B SMP NEGERI 1 TRETEP TAHUN AJARAN 2013/2014 Bidang Bimbingan Materi/Topik Hari/Tanggal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 :Pribadi-Sosial : Mengatasi Sikap Pasif-Agresif : 02 Juli 2014 Nama Siswa Ahmad Asfendi Andriawan David Dwi R Ela Trimaya Erika Dwi C Fahrudin Feny Harisun Heni Lestari Iva Noviyanti Kriswanto Lili Listyani Prapti Putrisya Nugra R Rinda Stiyani Saiful Umam Sigit Yudha S Siti Khuyaimah Tri Mufathoni Umar Rendoin Tanda Tangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 DAFTAR HADIR PELAKSANAAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELAS VII B SMP NEGERI 1 TRETEP TAHUN AJARAN 2013/2014 Bidang Bimbingan Materi/topik Hari/tanggal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 : Pribadi-Sosial : komunikasi asertif : 09 Juli 2014 Nama Siswa Ahmad Asfendi Andriawan David Dwi R Ela Trimaya Erika Dwi C Fahrudin Feny Harisun Heni Lestari Iva Noviyanti Kriswanto Lili Listyani Prapti Putrisya Nugra R Rinda Stiyani Saiful Umam Sigit Yudha S Siti Khuyaimah Tri Mufathoni Umar Rendoin Tanda Tangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Lampiran 9 Foto-Foto Penelitian

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 Kegiatan sosiodrama berlangsung…

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 Lampiran 10 Surat Izin Penelitian

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155

(175)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN
0
0
14
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS METODE EDUKASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DAGUSIB SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
0
1
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SEBAGAI SUATU STUDI KASUS Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Konseling
0
0
93
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Prog ram Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
104
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Bimbingan dan Konseling Program Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
88
LOWONGAN KERJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Informatika
0
0
168
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
Studi Kasus pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Nanggulan SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
146
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
159
KEBUTUHAN PRESENTASI DIRI REMAJA KONSUMEN DISTRO DAN IMPLIKASINYA PADA TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KELOMPOK (STUDI DESKRIPTIF) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
126
Show more