Coping strategy ibu untuk mengatasi stress dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome - USD Repository

Gratis

1
1
272
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI COPING STRATEGY IBU UNTUK MENGATASI STRESS DALAM MERAWAT DAN MEMBESARKAN ANAK DOWN SYNDROME SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Veronica Hesti Nur Endahsari 089114064 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI COPING STRATEGY IBU UNTUK MENGATASI STRESS DALAM MERAWAT DAN MEMBESARKAN ANAK DOWN SYNDROME SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Veronica Hesti Nur Endahsari 089114064 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO “Jadilah orang yang berani untuk mengambil tantangan dan resiko maka kamu akan mengetahui sejauh mana kamu dapat berjuang!” “Lihat pohon kelapa itu, makin tinggi makin kencang angin menerpanya. Begitulah kita, tapi jangan takut karena angin kencang itu yang menguatkan akarnya.” (Dahlan Iskan) “Aku gelisah, tetapi di dalam Engkau ada damai Di dalam aku ada rasa pahit, di dalam Engkau ada kesabaran Aku tidak mengerti jalan-jalan-Mu, tetapi Engkau tahu jalanku” (D. Bonhoeffer) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan bagi, Tuhan Yesus Yang Maha Asik, Maha Oke, Maha Penghibur yang selalu melindungi, mendampingi , menyemangati dan memberikan pertolongan pada setiap proses hidupku. Ibu dan bapak yang selalu memberikan dukungan, doa, semangat serta cinta yang tulus untukku. Kakakku Anna yang selalu memberikan motivasi untukku Nathan, malaikat kecil yang selalu menghibur dan pelepas lelah. Serta sahabat-sahabat terbaik dalam hidupku, yang selalu mendukung dan sayang padaku. v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI COPING STRATEGY IBU UNTUK MENGATASI STRESS DALAM MERAWAT DAN MEMBESARKAN ANAK DOWN SYNDROME Veronica Hesti Nur Endahsari ABSTRAK Ibu yang memiliki anak down syndrome pasti merasa syok, terpukul, takut, dan tidak dapat menerima kenyataan sebenarnya. Hal ini merupakan perasaan yang dialami ibu ketika mengetahui kondisi anak, terlebih lagi ibu harus mengajarkan berbagai hal mengenai pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara mandiri kepada anak. Selain itu, ibu juga dihadapkan pada reaksi lingkungan sekitar tentang kondisi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Apa saja stres yang dialami ibu yang memiliki anak down syndrome? 2) Bagaimana ibu mengatasi situasi yang menekan/stress terkait hubungannya dalam merawat dan membesarkan anak dengan down syndrome?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Pengambilan data menggunakan metode wawancara semi-terstruktur dengan melibatkan 4 orang ibu yang memiliki anak down syndrome usia 6-11 tahun dan duduk dibangku sekolah, subjek dipilih menggunakan criterion sampling. Validitas yang digunakan yaitu validitas komunikatif dan validitas argumentatif. Hasil yang diperoleh yaitu bahwa bentuk stres yang dialami ibu dengan anak down syndrome dapat bersumber dari luar diri dan dari dalam diri. Bentuk stres dari luar diri dapat bersumber dari: 1) Keterbatasan anak yang mencakup keterbatasan perkembangan fisik, keterbatasan perkembangan kognitif, keterbatasan perkembangan emosi, keterbatasan perkembangan sosial, dan keterbatasan perkembangan moral. 2) Lingkungan keluarga, 3) Lingkungan masyarakat, dan 4) Lingkungan sekolah. Stres dari dalam diri dapat bersumber dari: 1) Perasaan bersalah, 2) Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal, dan 3) Kekhawatiran akan masa depan anak. Situasi stres tersebut menyebabkan ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan negatif antara lain: merasa khawatir, merasa sedih, merasa sakit hati, merasa ragu, merasa bingung, merasa keberatan, merasa kecewa, merasa kesulitan, merasa tersinggung, merasa tidak fokus berpikir, dan merasa tidak siap. Ibu menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping dalam mengatasi bentuk stres yang dialami. Problem focused coping yang paling dominan digunakan ibu untuk mengatasi bentuk stres yang dialami yaitu active coping, Planning, Suppression of competing activities, Seeking social support for instrumental action. Emotion focused coping yang dominan digunakan ibu untuk mengatasi bentuk stres yang dialami yaitu seeking social support for emotional reason, positif reinterpretation and growth, acceptance, dan turning to religion. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa koping tersebut lebih efektif bagi ibu dalam mengatasi stres. Kata kunci: Ibu dengan anak Down syndrome, sumber stres, bentuk stres, dan coping strategy vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTHER COPING STRATEGY TO DEAL WITH STRESS IN CARING AND RISING A DOWN SYNDROME CHILD Veronica Hesti Nur Endahsari ABSTRACT Mother who had Down syndrome child certainly feel shock, powerless, scared, and cannot receive the truth. Every mother would have same feeling when they know about their child condition, especially mother should have to teach many thing for their child to fulfill their daily need independently. In addition, mothers were exposed to environments reaction about her child condition. The purpose of this study aimed to determine 1) what kinds of stress from mother who had down syndrome child? 2) How does mother cope with stressful situation related to caring for and raising down syndrome child? This study used a qualitative method with phenomenology descriptive design. We used semi-structure interview method to collect the data involved four mother who had down syndrome child in 6 until 11 years old for the range of the age and they have formal study in the school, used criterion sampling to choose the subject. Kinds of validation of this study are communication and argumentation validation. Result of the study is many kinds of stress that mother who had Down syndrome child feel come from inside and the outside of their self. Kinds of stress from the outside come from 1) inadequacy of the child include physic, cognitive, emotion, social, and moral inadequacy development, 2) family, 3) society, and 4) school. Kinds of stress from the inside come from 1) feels of guilty, 2) loose of trust to have a normal child, 3) worried about their child future. That kinds of situation makes mother feel stressful with negative feeling like worried, sad, painful, doubt, confuse, heaviness, disappointed, difficult, offend, cannot mind focus, and feel unready. Mother used problem focused coping and emotion focused coping to face of the stress. Dominant problem focused coping that mother used to cope with stress are active coping, planning, suppression of competing activities, seeking social support for instrumental action. Dominant emotion focused coping that mother used to cope with stress are seeking social support for emotional reason, positive reinterpretation and growth, acceptance, and turning to religion. Overall, it can be conclude that kind of coping is more effective to cope with stress. Key words: Mother with a Down syndrome child, sources of stress, forms of stress, and coping strategy viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yesus atas segala penyertaan dan berkah yang melimpah sehingga Skripsi dengan judul “Coping Strategy Ibu Untuk Mengatasi Stress Dalam Merawat dan Membesarkan Anak Down Syndrome” ini dapat diselesaikan dengan baik. Selama menulis Skripsi ini, penulis menyadari bahwa ada begitu banyak pihak yang telah berkontribusi besar dalam proses pengerjaan Skripsi ini. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi. 2. Ibu Agnes Indar Etikawati M. Si., Psi selaku dosen pembimbing akademik yang selalu mendorong untuk menyelesaikan skripsi. 3. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih atas bimbingan, kerjasama, ilmu, perhatian, dan support yang telah diberikan hingga Skripsi ini selesai pada waktu yang telah ditentukan-Nya. 4. Ibu Agnes Indar Etikawati, M. Si., Psi dan bapak V. Didik Suryo Hartoko, M. Si selaku dosen penguji skripsi. 5. Mas Gandung, Ibu Nanik, Mas Doni, dan Mas Muji, Pak Gie, terima kasih atas keramahan dan pelayanan yang begitu hangat selama menimba ilmu di Fakultas Psikologi 6. SL, SH, SG, dan RT selaku subjek penelitian ini. Terima kasih atas kesediaannya untuk berbagi pengalaman dan informasi dengan penulis. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Segenap keluarga Fx. Hadi Sudarto dan Hiring Joyo Rejo atas dukungannya dari awal saya memilih jurusan hingga saat ini. 8. Sahabatku tercinta Priscilla Pritha Pratiwindya, S.psi yang selalu mendukung, mendoakan, menghibur, dan terima kasih atas persahabatan yang indah ini. 9. Sahabat–sahabat saya Teyo, Obi, dan Ryo untuk kebersamaan, keceriaan, semangat, pengalaman yang telah terjalin selama ini. 10. Geng Rempong: Noni, Dian, Sita, Valle, Sari, Ledita, Selly, Cik Grace, Anggita, Lusi, Riana, Jose, Anggito terima kasih atas segala kebersamaan, dukungan, dan pengalaman yang telah diberikan. 11. Anggit, Andre, dan Martinus bersama kalian aku dapat menjadi diriku sendiri. 12. Pihak SLB YPAA Prambanan yang telah merekomendasikan subjek kepada peneliti. 13. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan skripsi ini, terima kasih. Saya menyadari dalam pembuatan skripsi ini ada kesalahan yang saya perbuat. Oleh karena itu saya mengucapkan maaf kepada semua pihak yang telah dirugikan. Penelitian ini juga masih jauh dari kata sempurna sehingga besar harapan saya untuk mendapatkan kritik dan saran yang membangun demi perkembangan penelitian selanjutnya. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih. Yogyakarta, 8 Agustus 2014 Penulis, Veronica Hesti Nur Endahsari xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN MOTTO .................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ................. vi ABSTRAK ...................................................................................................... vii ABSTRACT .................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR BAGAN.......................................................................................... xv DAFTAR TABEL ......................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................ 9 C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 9 D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 9 1. Manfaat Teoritis ............................................................................... 9 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Manfaat Praktis ................................................................................ 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 11 A. Down Syndrome .................................................................................. 11 1. Pengertian Down Syndrome ............................................................. 11 2. Karakteristik Anak Down Syndrome ................................................ 12 a. Perkembangan Fisik..................................................................... 12 b. Perkembangan Kognitif ............................................................... 15 c. Perkembangan Emosi .................................................................. 18 d.Perkembangan Sosial .................................................................... 19 e. Perkembangan Moral ................................................................... 20 3. Penyebab Down Syndrome ............................................................... 21 B. Stress .................................................................................................... 23 1. PengertianStress ............................................................................... 23 2. Bentuk Stres ..................................................................................... 24 3. Sumber Stres Pada Ibu yang Memiliki anak Down Syndrome......... 25 C. Coping Strategy Ibu Untuk Mengatasi Berbagai Stress Dalam Mengasuh Anak Down Syndrome ........................................................ 32 D. Kerangka Konseptual ........................................................................... 38 BAB III. METODE PENELITIAN .............................................................. 43 A. Desain Penelitian .................................................................................. 43 B. Fokus Penelitian ................................................................................... 44 C. Subjek Penelitian .................................................................................. 45 D. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 46 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Metode Analisis Data ........................................................................... 50 F. Kredibilitas Data ................................................................................... 52 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................ 54 A. Proses Penelitian ..................................................................................... 54 1. Persiapan Penelitian ......................................................................... 54 2. Pelaksanaan Penelitian ..................................................................... 55 3. Proses Analisis Data ......................................................................... 56 4. Jadwal Pengambilan Data ............................................................... 58 B. Hasil Penelitian................................................................................ 60 C. Subjek 1 (SL) .......................................................................................... 62 1. Deskripsi subjek 1(SL) ..................................................................... 62 2. Stres dan coping strategy SL ............................................................ 64 3. Kesimpulan stres yang dialami dan coping strategy yang digunakan SL .................................................................................................... 82 D. Subjek 2 (SH) ......................................................................................... 86 1. Deskripsi subjek SH ......................................................................... 86 2. Stres dan coping strategy SH ........................................................... 88 3. Kesimpulan stres yang dialami dan coping strategy yang digunakan SH .................................................................................................... 100 E. Subjek 3 (SG) ........................................................................................ 104 1. Deskripsi subjek SG ......................................................................... 104 2. Stres dan coping strategy SG ........................................................... 106 3. Kesimpulan stres yang dialami dan coping strategy yang digunakan xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SG .................................................................................................... 118 F. Subjek 4 (RT) ....................................................................................... 122 1. Deskripsi subjek RT ......................................................................... 122 2. Stres dan coping strategy RT ........................................................... 124 3. Kesimpulan stres yang dialami dan coping strategy yang digunakan RT .................................................................................................... 147 G. Analisis Antar subjek ........................................................................... 152 1. Persamaan Bentuk Stres dan Coping Strategy 4 Subjek Penelitian . 152 2. Perbedaan Data Hasil Analisis 4 Subjek Penelitian ........................ 159 H. Pembahasan .......................................................................................... 162 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 173 A. Kesimpulan .......................................................................................... 173 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................ 177 C. Saran .................................................................................................... 177 1. Bagi Peneliti Selanjutnya………………………………………….. 177 2. Peneliti Selanjutnya .......................................................................... 177 3. Bagi Sekolah Berkebutuhan Khusus/SLB ....................................... 178 4. Bagi Ibu Dengan Anak Down Syndrome ......................................... 178 5. Bagi Masyarakat............................................................................... 178 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 179 LAMPIRAN .................................................................................................... 182 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Bentuk Mata dan Wajah Anak Down Syndrome ............................ 13 Gambar 2. Bentuk Kepala dan Leher Anak Down Syndrome.......................... 13 Gambar 3. Bentuk Jari dan Garis Tangan Anak Down Syndrome ................... 14 Gambar 4. Bentuk Kaki Anak Down Syndrome .............................................. 14 DAFTAR BAGAN Bagan 1. Kerangka Konseptual Penelitian ....................................................... 38 Bagan 2. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres dan Strategi Koping Subjek 1 (SL) .................................................................................... 85 Bagan 3. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 2 (SH) .................................................................................... 103 Bagan 4. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 3 (SG)..................................................................................... 121 Bagan 5. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 4 (RT) .................................................................................... 151 Bagan 6. Bagan Kesimpulan Stres dan Coping Strategy 4 Subjek ................. 161 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Panduan Pertanyaan Wawancara ....................................................... 47 Tabel 2. Jadwal Wawancara ............................................................................. 58 Tabel 3. Analisis Verbatim Subjek 1 (SL) ....................................................... 183 Tabel 3. Analisis Verbatim Subjek 2 (SH)....................................................... 196 Tabel 4. Analisis Verbatim Subjek 3 (SG) ...................................................... 207 Tabel 5. Analisis Verbatim Subjek 4 (RT)....................................................... 220 Tabel 6. Pembagian Stres dan Coping Strategy ............................................... 236 \ DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Analisis Verbatim Subjek 1 (SL)................................................. 183 Analisis Verbatim Subjek 2 (SH) ............................................... 196 Analisis Verbatim Subjek 3 (SG) .............................................. 207 Analisis Verbatim Subjek 4 (RT) ............................................... 220 Pembagian Stres dan Coping Strategy ........................................ 236 Lampiran 2. Informed Concent Form .............................................................. 246 Lampiran 3. Surat Keterangan Keabsahan Hasil Wawancara ......................... 250 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang wanita akan bahagia dan bangga ketika mengetahui bahwa ia hamil dan akan melahirkan seorang anak. Seorang calon ibu pasti mengidamkan anak yang normal baik fisik maupun mental, namun bagaimana jika bayi yang dilahirkan tidak sesempurna dan seideal yang didambakan? Pada hal ini anak terlahir dengan kondisi down syndrome. Tentu saja tidak semua orang dapat menerima keadaan anak yang demikian. Reaksi umum yang terjadi saat mengetahui kondisi anak adalah merasa kaget, takut, sedih, kecewa, merasa bersalah, dan menolak karena sulit untuk mempercayai retardasi mental anaknya. Kondisi tersebut memicu tekanan dan kesedihan terhadap orang tua khususnya ibu sebagai figur terdekat dan umumnya lebih banyak berinteraksi langsung dengan anak (Mawardah, dkk. 2012). Down syndrome (DS) merupakan suatu bentuk kelainan kromosom yang paling sering terjadi. Menurut suatu penelitian, DS menimpa satu diantara 700 ribu kelahiran hidup. Terdapat 300 ribu kasus di Indonesia dan pada umumnya jumlah kromosom manusia adalah 46 namun jumlah kromosom penyandang DS sejumlah 47 kromosom. Kromosom nomor 21 tidak sepasang melainkan tiga. Oleh karena itu disebut trisomi 21. Akibatnya, terjadi guncangan dalam metabolisme sel yang memicu timbulnya DS (Anonim, Mengenali Down Syndrome. 2011). Karakteristik anak DS secara umum yaitu wajah seperti orang mongol, mata berbentuk oval dan condong keatas, tubuh pendek dan 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 gemuk, lipatan kelopak mata bagian atas yang memanjang melewati sudut bagian dalam mata, hidung lebar dan datar, dan rambut yang lurus yang tipis dan halus. Telinga berbentuk persegi, lidah menjulur keluar karena mulut yang kecil dengan langit-langit yang rendah, serta tangan pendek dengan lebar jarijari yang pendek juga. (Davidson, Neale, & Kring, 2006). Malony dan Holt (dalam Prasadio, 1978) memaparkan bahwa reaksi orang tua dalam menghadapi anak mereka yang retardasi mental berintikan 3D yaitu depression, denial, dan displacement. Depresi tersebut disebabkan oleh perasaan malu, perasaan bersalah telah melahirkan anak dengan kondisi demikian, merasa kecewa, dan merasa kehilangan harga diri. Denial/tidak mau mengakui kenyataan membuat orang tua lalai dan megabaikan instruksiinstruksi atau nasihat yang diberikan. Displacement yaitu kadang orang tua menyalahkan dokter yang membuat diagnosa atas anak mereka dan kemudian menjadi sangat peka terhadap segala bentuk kritik sehingga bersikap berlebihan kepada anak (Prasadio, 1978). Hadirnya anak down syndrome menimbulkan rasa tidak percaya pada ibu akan kondisi sebenarnya anak mereka. Pada tabloid Ayah Bunda edisi 27 Januari-9 Februari 2001 diangkat kisah ibu AW yang merupakan salah satu dari sejumlah ibu yang sempat bingung dan panik ketika menghadapi kenyataan bahwa putrinya menyandang down syndrome. Kenyataan itu ia ketahui ketika anaknya menginjak usia 2 bulan karena kelainan kromosom itu tidak segera nampak pada waktu lahir. Syok, terpukul, takut, dan tidak dapat menerima kenyataan sebenarnya adalah perasaan yang dialami ketika

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 mengetahui hal tersebut. Tak jarang pula ibu menyembunyikan dan memingit anak. Anak disembunyikan dari dunia luar agar orang lain tidak mengetahui, misalnya dengan mengunci anak di dalam kamar dalam kurun waktu berharihari tanpa memperhatikan keperluan dan kebutuhan anak. Sikap ibu yang cenderung menolak anak akan semakin menjadi-jadi apabila hal tersebut didorong oleh kondisi ibu yang sedang memilki persoalan-persoalan dalam membina rumah tangga, sehingga dapat memicu proteksi yang berlebihan pada anak. Proteksi yang berlebihan terhadap anak dapat membuat ibu lalai terhadap keberadaan dan kebutuhan anggota keluarga yang lain. Kesenangan dan kebahagiaan anggota keluarga yang lain sering dikorbankan demi memenuhi kebutuhan anak tersebut. (Prasadio, 1978). Kabid Dikdas Dinas Pendidikan DIY (Kedaulatan rakyat, 2007) menyebutkan bahwa terdapat sebanyak ± 3000 anak berkebutuhan khusus usia 4-15 tahun yang sudah bersekolah di 58 SLB yang tersebar di Yogyakarta. Jumlah anak retardasi mental yang sudah bersekolah di SLB yang tersebar di Yogyakarta tahun 2005/2006 ± 1928 orang. Jumlah ini belum termasuk yang tidak di sekolahkan orang tuanya di SLB ataupun yang tidak terdata sama sekali. Pendidikan anak juga merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan anak penyandang DS tentu memerlukan penanganan khusus karena anak memiliki kelemahan dalam proses pengolahan informasi, interaksi sosial, bahasa, keterampilan reseptif, kemampuan motorik, dan motivasi anak. Ketidakmampuan anak untuk mengikuti pelajaran disekolah normal tentu berimbas pada prestasi, seperti tidak dapat naik kelas. Pada beberapa kasus,

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 orang tua anak tersebut meminta agar anak mereka dapat naik kelas dan diikutkan dalam beberapa pelajaran tambahan. Hal itu dilakukan karena orang tua anak tersebut mengenal wali kelas anak dan menginginkan anak agar tetap bersekolah disekolah umum (Roslina dalam Gunarsa (2006)). Perasaan cemas ibu akan masa depan anak juga bersumber dari adanya tuntutan untuk mengajarkan dan mempersiapkan anak agar menjadi mandiri dan dapat melakukan bantu diri. Mengajarkan untuk berbicara meski yang anak katakan sulit untuk dipahami dikarenakan ciri fisik yang khas yaitu memiliki lidah yang lebih panjang sehingga menyulitkan untuk berbicara seperti halnya orang normal pada umumnya, mengajarkan cara untuk makan, berpakaian, dan mandi juga merupakan hal yang tidak mudah. Diperlukan ketelatenan dan kesabaran dalam melatih kemandirian anak. Tenaga, waktu, perhatian, dan finansial yang dibutuhkan lebih besar daripada merawat anak normal seperti umumnya. Tantangan terbesar ibu yaitu membawa anak agar dapat bersosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan sosisalnya. Perasaan khawatir akan diterima atau tidaknya anak dalam masyarakat pasti tertanam dibenak ibu. Seperti yang diungkapkan dalam tabloid Nova edisi 19 Februari 2011 bahwa anggapan masyarakat tentang anak yang memiliki kelainan, termasuk DS merupakan sebuah kutukan yang dikarenakan dosa dari suami atau istri. Hal tersebut dapat menimbulkan perselisihan dalam keluarga yang berdampak pada orang tua yang saling tuding dan menyalahkan kondisi anak.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Perjalanan kehidupan sosial anak down syndrome tidak semulus dan sebaik anak normal pada umumnya (Sulistyasti, 2011). Masyarakat maupun orang-orang yang sering bergaul dengan ibu yang memiliki anak DS seringkali mengolok-olok dengan sebutan idiot. Anak down syndrome juga dapat menjadi sasaran empuk bagi teman sebaya untuk diejek dan digoda, sehingga tak jarang orang tua sering tidak mengijinkan anak mereka untuk bermain dengan teman sebayanya. Tanggapan masyarakat terhadap anak down syndrome sangat beragam dan bahkan mendiskriminasi keberadaan anak down syndrome. Anak down syndrome sering dicemooh, dianggap sampah masyarakat, dianggap sebagai orang yang perlu untuk dikasihani, dan sebagai orang yang tidak berguna atau tidak dibutuhkan. Lebih ekstrimnya, masyarakat dapat menolak anak berkebutuhan khusus ini untuk menjadi bagian dari komunitas dan meniadakan keberadaannya. Bahkan ada oknum yang rela memanfaatkan ketidaksempurnaan anak down syndrome untuk meminta-minta dan diperlakukan semena-mena sehingga keberadaan mereka menjadi semakin tersisih. Umumnya masyarakat masih memandang penyandang disabilitas dengan sebelah mata dan dianggap tidak mampu untuk berprestasi seperti anak normal lainnya. Kenyataannya, banyak dari anak down syndrome mampu berprestasi dengan baik dan dapat mengembangkan diri ditengah keterbatasan meskipun melewati sarana rehabilitasi sosial atau pendidikan. Sikap masyarakat yang demikian tentu dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak dan dapat membuat anak cenderung menutup diri dari lingkungan sebab

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 mereka merasa bahwa mereka “berbeda” dengan lingkungan sekelilingnya. Hal ini dapat menghambat anak down syndrome untuk mengembangkan potensi diri karena kesempatan untuk belajar menjadi sangat terbatas atau bahkan tidak memiliki kesempatan sama sekali. Sikap masyarakat yang demikian membuat orang tua menjadi lebih protektif terhadap anak dan kemungkinan anak untuk dapat hidup mandiri secara sosial dan ekonomi menjadi sangat jauh didepan mata. Sedikit anak dengan “keluarbiasaannya” dapat hidup secara mandiri dan kebanyakan masih tergantung pada orang lain baik secara sosial maupun ekonomi. Kenyataannya, anak berkebutuhan khusus termasuk anak DS perlu untuk dididik dan dilatih karena mereka memiliki hak yang sama sebagai anggota masyarakat (Anonim, 2011). Penyesuaian diri terhadap kondisi anak, usaha untuk mempersiapkan masa depan anak, dan menghadapi sikap masyarakat terhadap kondisi anak merupakan kondisi yang penuh dengan tantangan dan tekanan yang berat. Situasi tersebut dapat menjadi sumber stres bagi ibu dan dapat membuat ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan negatif seperti perasaan sedih, cemas, khawatir, dan perasaan bersalah. Menurut Hardjana (1994), stres dapat disebabkan oleh beragam hal antara lain peristiwa hidup, hubungan dengan keluarga, menghadapi anak/keluarga dengan sakit kronis, mengasuh anak yang memiliki keterbatasan/kebutuhan khusus, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, dan lain sebagainya. Kelahiran anak baru terutama anak down syndrome dapat menimbulkan stres bagi ibu dalam kehamilan, kelahiran, dan pengasuhan anak. Respon terhadap stres yang ada

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 umumnya berupa perasaan negatif seperti merasa sedih, merasa gelisah, merasa cemas, mudah menangis, merasa tidak aman, merasa tidak nyaman, mood mudah berubah, merasa sakit hati, dan lain sebagainya. Ibu sebagai orang tua pasti disibukan dengan mencari sebanyakbanyaknya informasi mengenai cara untuk menghadapi kekhususan anak, termasuk mencari informasi mengenai sekolah yang sosok untuk anak. Menurut Lessenberry & Rehfeldt, (2004, dalam Semiawan., Conny, & Magungsong, 2010) ibu dari anak-anak berkebutuhan khusus seringkali bergelut dengan perasaan bersalah atas kondisi anaknya. Dalam kebanyakan kasus, rasa bersalah merupakan salah satu bentuk stres perasaan negatif yang paling banyak dialami. Ibu dapat menjadi sangat rapuh terhadap kritik dari pihak lain tentang bagaimana menangani masalah anak, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan anak sehari-hari. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, ibu yang memiliki anak down syndrome mengalami stres yang lebih berat dibandingkan dengan orang tua lainnya. Stres yang dialami bukan karena rangkaian kejadian yang tidak menyenangkan. Melainkan tekanan terhadap konsekuensi pengasuhan anak sehari-hari. (Semiawan, Conny, & Magungsong, 2010). Agar keadaan menjadi lebih nyaman, ibu perlu untuk mengatasi bentuk stres yang muncul yaitu berupa perasaan negatif. Penting bagi ibu untuk mengetahui strategi koping dalam mengatasi bentuk-bentuk stres yang dialami. Koping sering dimaknai sebagai apa yang dilakukan individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ancaman. Koping

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi (Siswanto. 2007). Pola coping ini diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul misalnya kurangnya pengetahuan dan informasi ibu mengenai anak down syndrome sehingga membutuhkan langkah aktif seperti perencanaan terhadap perawatan dan penanganan anak down syndrome sehingga ibu tidak merasa putus asa terhadap masa depan anaknya yang yang bisa di antisipasi lebih awal. Sejalan dengan perencanaan diatas ibu bisa lebih memiliki pemikiran dan tindakan yang positif dan menjadi lebih optimis terhadap anak down syndrome ini dengan bimbingan ibu dan tenaga profesional akan bisa berfungsi terhadap kehidupan anak down syndrome dengan lebih baik. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: a. Apa sajakah bentuk stres yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome? b. Bagaimana ibu mengatasi bentuk stres yang dialami terkait hubungannya dalam merawat dan membesarkan anak dengan down syndrome? C. Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain: a. Untuk mengetahui bentuk stress yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 b. Mengetahui strategi koping yang dilakukan ibu untuk mengatasi stres yang muncul seiring usahanya dalam merawat dan membesarkan anak Down Syndrome D. Manfaat 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memberikan informasi pengetahuan dalam bidang psikologi, terutama psikologi klinis karena nantinya akan diketahui gambaran coping stress ibu dalam merawat dan membesarkan anak Down Syndrome. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Ibu dengan Anak Down Syndrome Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai Strategy coping stres yang baik bagi ibu dalam merawat anak Down Syndrome. Sehingga dapat digunakan sebagai bahan evalusi bagi ibu untuk lebih menignkatkan usahanya dalam merawat anak. b. Bagi Instansi Pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada tenaga pengajar khususnya, supaya dapat lebih memperhatikan dan peka terhadap anak berkebutuhan khsusus. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi agar pendidikan bagi anak berkebutuhan khsusus, dalam hal ini Down Syndrome semakin ditingkatkan.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 c. Bagi Masyarakat Luas Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menjadi wacana mendalam mengenai anak down syndrome, serta memberikan gambaran mengenai bagaimana merawat anak down syndrome melalui pengalaman ibu dalam mengatasi permasalahan dalam merawat anak. Serta dapat menjadikan gambaran dalam memperlakukan anak Down Syndrome sama seperti anak pada umumnya.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Down Syndrome 1. Pengertian Down Syndrome Tanda-tanda klinis down syndrome pertama kali ditemukan oleh dokter berkebangsaan Inggris, Langdon Down pada tahun 1866. Secara normal manusia memiliki 46 kromosom, 23 kromosom diturunkan oleh ayah dan 23 kromosom lainnya diturunkan oleh ibu. Para penderita Sindroma Down pada umumnya memiliki 47 kromosom dan bukan 46 kromosom. Ketika terjadi pematangan telur, dua kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu kromosom terkecil, gagal membelah diri. Jika telur bertemu sperma, akan terdapat 3 kromosom 21 atau yang lebih sering didengar dengan istilah trisomi 21. Sekitar 40 persen anak-anak dengan down syndrome memiliki masalah jantung, sejumlah kecil dapat mengalami penyumbatan saluran pencernaan, dan sekitar 1 dari 6 anak meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun. Angka kematian tinggi setelah usia 40 tahun. Down Syndrome biasanya terdapat pada 1,5 dalam 1000 kelahiran yang segera dapat diidentifikasi melalui ciri fisiknya berupa tengkorak yang kecil, lidah besar dengan mulut yang relatif kecil, dan bentuk mata seperti buah almond. Ciri fisik yang sangat kentara ini membuat anak DS tampak berbeda dari anak lainnya. Zalweger (dalam Prasadio, 1978) juga

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 mengungkapkan bahwa down syndrome dapat ditemukan pada lebih dari seorang anak dalam satu keluarga. 2. Karakteristik Anak Down Syndrome a. Perkembangan fisik Anak-anak atau orang-orang yang mengalami down syndrome pada umumnya memiliki tanda-tanda fisik yang khas, antara lain: wajahnya lebar, hidung pesek atau tumpul dan lebar, letak matanya miring, lubang matanya sempit dan sipit, mulutnya menganga terbuka, kulit halus berlemak dan otot-otot atau uratnya lemah, lidahnya tebal dan besar tetapi lunak, biasanya selalu menjulur keluar. Lidahnya kecil sekali, runcing, kasar, juga terbelah-belah. Otaknya tidak tumbuh dengan sempurna karena ada kerusakan pada alat pernapasan; ada oedema (pembengkakan yang mengandung air) pada otak sehingga sistem saraf mengalami kerusakan. Ada disfungsi pada kelenjar tiroid, kekurangan zat-zat lendir atau terlalu banyak zat lendir. Kepalanya kecil bulat dan ceper, tidak sempurna. Ubun-ubun tidak lekas tertutup, menjadi keras, bahkan sering tidak pernah bisa tertutup sama sekali. Bentuk giginya abnormal, tulang-tulang rusuk dan tulang-tulang punggung sering mengalami kelainan (Semium, 2006). Anak down syndrome memiliki letak telinga rendah dengan ukuran kanal telinga yang kecil sehingga mudah terserang infeksi. Anak down syndrome memiliki rambut yang lemas, tipis, halus, dan susunan rambut yang jarang (lihat pada gambar

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 1). Bentuk kepala mereka cenderung peyang dengan leher yang pendek (lihat pada gambar 2). Gambar 1. Bentuk mata yang condong kearah atas dan jarak mata yang berjauhan, hidung lebar dan datar dan tidak ada jembatan hidung. Rambut lemas dan tipis, pertumbuhan gigi yang tidak beratuan. Sumber: wandarisakotta.blogspot.com Gambar 2. Bentuk leher yang pendek dan kepala yang cenderung peyang. Sumber: dokumen pribadi Tangan anak DS lebih pendek dengan lebar jari-jari yang pendek (Davidson, Neale, & Kring. 2006). Anak down syndrome juga memiliki kelingking yang bengkok. Pada kelingking orang normal, terdapat tiga ruas tulang maka pada anak down syndrome ruas kedua jari kelingking mereka kadang tumbuh miring atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Telapak tangan anak down syndrome biasanya hanya terdapat satu garis urat yang dinamakan “simian crease” (lihat gambar 3). Bentuk kaki anak down syndrome cenderung agak pendek dan jarak antara ibu jari kaki dengan jari kedua lebih lebar (lihat pada gambar 4).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Anak DS juga memiliki otot yang lemah sehingga tidak mampu menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan gerakan-gerakan kasar. Gambar 3: bentuk jari dan simian crease/ garis telapak tangan Sumber: www.anak-spesial.blogspot.com dan http://mycommunicationforum.wordpress.com/category/down-syndrome/ Gambar 4: Bentuk kaki, jarak antara ibu jari dengan jari lainnya lebih lebar. Sumber: http://mycommunicationforum.wordpress.com/category/down-syndrome/ Keadaan fisik ini berpengaruh terhadap proses pembelajaran anak mengenai gerak-gerak fungsional yang merupakan dasar bagi semua keterampilan gerak yang lain. Keterampilan gerak fungsional memberikan dasar-dasar keterampilan yang diperlukan untuk socioleisure, daily living, dan vocasional tasks, keterampilan gerak fundamental penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak down syndrome. Anak normal dapat belajar keterampilan gerak-gerak fundamental secara instingtif pada saat bermain, sementara anak down syndrome perlu dilatih secara khusus. Anak down syndrome memiliki kesulitan dalam artikulasi, kualitas suara, dan ritme berbicara. Hal ini dikarenakan ciri fisik berupa lidah yang besar, berkerut, dan menjulur

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 keluar karena mulut yang kecil dengan langit-langit yang rendah. Keterbatasan fisik tersebut membuat anak menjadi tergantung pada orang tua maupun orang terdekat dalam melakukan kegiatan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari (Semium, 2006). Pada perkembangan seksualitasnya, anak down syndrome tidak mengenal seksualitas atau masa pubertas yang biasanya mengganggu. Anak down syndrome tidak diliputi perasaan cemas dan tidak mengalami perwujudan perasaan yang menuju kedewasaan. Anak perempuan membutuhkan lebih banyak pendampingan dan bantuan ketika sedang mengalami masa-masa menstruasi. Semium, 2006 mengungkapkan bahwa anak-anak gadis mengalami saat menstruasi yang sangat lambat. Ia sangat sensitif terhadap temperatur serta mudah sekali jatuh sakit. b. Perkembangan Kognitif Inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak yang mengalami keterbelakangan mental memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya cenderung

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 tanpa pengertian atau cenderung membeo. Meskipun mengalami retardasi mental, beberapa diantara anak-anak tersebut mampu belajar membaca, menulis, dan mengerjakan aritmetika (Davidson, Neale, & Kring. 2006). Robinson&Robinson ((1976) dalam Davidson, Neale, & Kring. 2006) menyebutkan bahwa menurut DSM IV-TR terdapat empat level retardasi mental, antara lain: retardasi mental ringan (IQ 50-55 hingga 70), retardasi mental sedang (IQ 35-40 hingga 50-55), retardasi mental berat (IQ 20-25 hingga 35-40), dan retardasi mental sangat berat (IQ dibawah 20-25). Menurut Stoller (dalam Prasadio, 1978), anak penyandang Down Syndrome paling banyak ditemukan dan termasuk dalam kategori retardasi mental sedang (moderately retarded) dengan rentang IQ 35-40 hingga 50-55 dan sebagian kecil termasuk dalam kategori retardasi mental ringan/mildly retarded dengan rentang IQ 50-55 hingga 70. Pada rentangan ini, kerusakan otak dan berbagai patologi lain sering terjadi. Orang-orang yang mengalami retardasi mental dapat memiliki kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik yang normal, seperti memegang dan mewarnai dan keterampilan motorik kasar seperti berlari dan memanjat (Davidson, Neale, & Kring. 2006). Secara akademik anak down syndrome sangat sulit atau bahkan tidak dapat belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun masih dapat menulis secara sosial misalnya menulis nama dan alamat, dll. Anak masih dapat dididik untuk mengurus diri seperti mandi, berpakaian,

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Untuk kehidupan sehari-hari, anak down syndrome membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Mereka juga masih dapat bekerja di termpat kerja terlindung/sheltered workshop (Soemantri, 2007). Anak normal memiliki keterampilan kognitif yang lebih unggul daripada anak down syndrome, anak normal memiliki kaidah dan strategi dalam memecahkan masalah sedangkan anak down syndrome bersifat trial and eror. Anak down syndrome jauh ketinggalan oleh anak normal dalam kecepatan belajar karena anak lebih banyak memerlukan ulangan tentang bahan tersebut. Walaupun demikian, anak tunagrahita dapat mencapai presatasi lebih baik dalam tugas-tugas diskriminasi misalnya mengumpulkan bentuk-bentuk dan pola yang berbeda apabila dilakukan dengan penuh pengertian. Ketepatan (keakuratan) respon anak down syndrome kurang daripada respon anak normal. Zaenal Alimin (1993, dalam Soemantri, 2007) melaporkan hasil penelitian mengenai kecepatan merespon anak down syndrome terhadap gambar yang tidak lengkap. Pada umumnya, MA anak pada rentang kurang lebih 6,5 tahun memiliki performance yang hampir sama dengan anak norma berumur 6 tahun, dalam mengenali gambar yang tidak lengkap. Perbedaannya terletak pada kecepatan menjawab soal. Anak terbelakang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan anak normal. Anak juga kurang mampu memanfaatkan informasi (isyarat) yang ada untuk menjawab soal-soal

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dan tidak memiliki strategi dalam menyelesaikan tugas itu. Fleksibilitas mental yang kurang mengakibatkan kesulitan dalam pengorganisasian bahan yang akan dipelajari, sehingga sukar menangkap informasi yang kompleks. c. Perkembangan Emosi Magungsong (1998) menyebutkan bahwa anak DS memiliki emosi yang datar, kurang mendalam, dan cepat kabur. Kadang-kadang dapat menjadi sedih dan marah, tetapi pada umumnya suasana hati semacam ini akan mudah hilang. Anak down syndrome memang anakanak yang gembira dan akan menjadi lebih gembira lagi apabila berada dalam lingkungan yang menyenangkan hatinya. Anak tunagrahita berat tidak dapat menunjukkan dorongan pemeliharaan dirinya sendiri, tidak bisa menunjukkan rasa lapar atau haus, dan tidak dapat menghindari bahaya. Pada anak tunagrahita sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan emosinya terbatas pada emosi-emosi sederhana. Pada anak terbelakang ringan, kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal akan tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu serta dapat mengekspresikan kegembiraan, namun sulit mengungkapkan kegaguman. Dari penelitian yang dilakukan Mac Iver dengan menggunakan Children‟s Personality Questionare ternyata anak tunagrahita memiliki

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 beberapa kekurangan. Anak tunagrahita pria memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsif, lancang, dan merusak. Anak tunagrahita wanita mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, dan cenderung melanggar ketentuan. Penyesuaian diri merupakan proses psikologi yang terjadi ketika kita menghadapi berbagai situasi. Seperti anak normal, anak tunagrahita menghayati suatu emosi jika kebutuhannya terhalangi. Selain itu, dalam hubungan kesebayaan, seperti halnya anak kecil, anak tunagrahita menolak anak yang lain. Setelah bertambah umur, anak akan mengadakan kontak dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat kerjasama. Berbeda dengan anak normal, anak tunagrahita jarang diterima, sering ditolak oleh kelompok, serta jarang menyadari posisi diri dalam kelompok. d. Perkembangan Sosial Anak yang terbelakang mentalnya juga mengalami kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat sehingga sangat memerlukan bantuan. Perlu waktu lama bagi anak untuk menyelesaikan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Anak akan menunjukkan reaksi terbaik bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari ke hari, namun tidak dapat menghadapi suatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama. Penguasaan bahasa pun terbatas,

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 bukan karena adanya masalah kerusakan artikulasi namun pusat pengolahan perbendaharaan kata yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Maka anak memerlukan kata-kata konkret dalam mendengarkan sesuatu. Perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang. Latihan seperti mengajarkan konsep keras dan lemah, besar dan kecil, pertama, kedua, dan terakhir perlu menggunakan pendekatan yang konkret. Kemampuan dalam membedakan mana yang baik dan buruk, mempertimbangkan sesuatu, dan membedakan yang benar dan yang salah juga masih sangat kurang. Ini semua karena kemampuannya yang terbatas sehingga anak dengan keterbelakangan mental tidak dapat membayangkan konsekuensi dari suatu perbuatan. Kergantungan terhadap orang tua sangat besar dan anak tidak mampu memikul tanggungjawab sosial dengan bijaksana, sehingga harus selalu dibimbing dan diawasi. Anak cenderung mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. e. Perkembangan Moral Kata moral berasal dari kata latin “Mores” yang berarti tatacara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dapat diartikan sebagai perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep peraturan tentang perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota dari suatu budaya. Perilaku tak bermoral

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku ini dapat terjadi karena adanya ketidaksetujuan dengan standar sosial atau karena adanya perasaan wajib untuk menyesuaikan diri. Perilaku amoral atau nonmoral lebih disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa diantara perilaku salah anak kecil lebih bersifat amoral daripada tidak bermoral. Belajar berperilaku dengan cara yang disetujui masyarkat merupakan proses yang panjang dan lama yang terus berlanjut hingga masa remaja. Terdapat beberapa pokok dalam mempelajari sikap moral antara lain mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggota sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan, mengembangkan hati nurani atau kemampuan untuk mengenali yang baik dan yang buruk, belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok. Selain itu juga memiliki kesempatan untuk interaksi sosial dan belajar mengenai apa saja yang diharapkan kelompok. 3. Penyebab Down Syndrome Down syndrome disebabkan oleh adanya sebuah kromosom ke-21 ekstra dan sering disebut dengan trisomy-21. Selama pembelahan sel menjadi dua dan kromosom-kromosom ke-21 tetap lengket, tak terbelah (kondisi ini disebut nondisjunction) dan menciptakan sel dengan satu

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 salinan sel yang mati dan satu sel dengan tiga kopi yang membelah sehingga menghasilkan orang dengan Down Syndrome (Durand&Barlow. 2007). Down syndrome juga dapat disebabkan oleh faktor usia ibu ketika mengandung. Semakin tua usia ibu maka semakin tinggi peluang ibu untuk melahirkan anak dnegan down syndrome. Perempuan yang berumur 20 tahun memiliki peluang 1 per 2000 untuk memiliki anak dengan Down Syndrome. Pada usia 35 tahun resiko ini dapat meningkat menjadi 1 per 500, dan pada usia 45 tahun resikonya dapat mencapai 1 per 18 kelahiran (Evans dan Hammerton, 1985; Hook, 1982 dalam Durand&Barlow. 2007). Sebagian orang menduga bahwa perempuan yang lebih tua terpapar lebih banyak zat beracun, radiasi, dan substansi-substansi yang mungkin merugikan dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding dengan mereka yang lebih muda. Paparan ini mungkin mengganggu meiosis (proses pembelahan) kromosom yang normal, sehingga menciptakan kromosom ekstra pada kromosom 21 (Pueschel dan Goldstein, 1991 dalam Durand&Barlow. 2007). Sebagian lainnya percaya bahwa perubahan hormonal yang terjadi ketika perempuan beranjak tualah yang bertanggungjawab atas terjadinya kesalahan dalam pembelahan sel ini (Crowley, Hayden, dan Gulati (1982) dalam Durand&Barlow, 2007). Usia dapat menjadi penyebab karena adanya kemungkinan bahwa sel-sel telur dari wanita yang lebih tua mengalami mati suri untuk jangka waktu yang lama, maka sel telur

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 tersebut telah diekspos kepada stres-stres lingkungan yang bsia mengganggu mitosis secara normal (Semium, 2006). Selain itu, usia ibu yang terlalu tua ketika mengandung juga mempengaruhi kurangnya produksi lendir-lendir, hormon-hormon, dan zat lainnya. Hal tersebut dapat memicu lahirnya anak yang tidak sempurna dan biasanya sering terjadi pada anak bungsu. Penyebab lain yaitu karena terjadinya pendarahan pada vagina atau gangguan pada kandungan/rahim ibu. Faktor ayah tidak begitu besar pengaruhnya tetapi faktor ibu sangat menentukan sekali. Faktor lain yaitu karena keturunan/faktor biologis. Pada umumnya mereka lahir secara normal dan gejala-gejala mogoloid baru tampak ketika anak menginjak kira-kira usia 6 bulan. Hal pertama yang nampak yaitu perkembangan jasmani yang lambat, ukuran badan yang kurang dan pertumbuhan mental yang lambat. B. STRESS 1. Pengertian stres Stres menurut Locker dan Terry (2005) merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, misalnya berada dibawah tekanan yang terlampau besar atau terlampau kecil, merasa frustasi atau bosan, berada dalam situasi yang dirasakan tidak bisa diatasi atau dikendalikan, menganggap semua itu adalah sebuah kegagalan, mengalami ketidakharmonisan perkawinan, kematian seseorang atau masalah-masalah keuangan. Secara umum, stres

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 dapat didefinisikan sebagai sebuah keadaan yang kita alami ketika ada sebuah ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk mengatasinya. 2. Bentuk Stres Hardjana (1994) mengungkapkan bahwa stres dapat disebabkan oleh beragam hal antara lain peristiwa hidup, hubungan dengan keluarga, menghadapi anak/keluarga dengan sakit kronis, mengasuh anak yang memiliki keterbatasan/berkebutuhan khusus, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, dan lain sebagainya. Kelahiran anak baru terutama anak down syndrome yang dapat menimbulkan stres bagi ibu dalam kehamilan, kelahiran, dan pengasuhan anak. Selain itu, pendidikan anak dan masa depan anak juga dapat menyebabkan stres bagi ibu. Perhatian yang diberikan juga pasti akan terbagi dan dapat menimbulkan kecemburuan anak kandung lainnya. Respon stres yang dialami ibu dengan anak down syndrome beragam dan dapat berpengaruh secara psikologis dan fisiologis. Respon terhadap stres juga dapat disebut tekanan/ketegangan. Respon individu terhadap stres menurut Hardjana (1994) antara lain: orang yang mengalami stres secara psikologis menderita tekanan dan ketegangan yang membuat pola berpikir, emosi, perilakunya kacau, menjadi gugup, dan gelisah (nervous). Secara fisiologis, kegugupan atau kegelisahan itu menggejala pada degup jantung yang cepat, perut mual, mulut kering dari air liur, keringat yang mengucur disekujur tubuh. Stres juga membawa

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 dampak bagi fisik (sakit kepala, mual, perubahan selera makan, dll), emosi (merasa sedih, gelisah, cemas, mudah menangis, merasa tidak aman, merasa tidak nyaman, mood mudah berubah, merasa sakit hati, dll), intelektual (susah berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, pikiran kacau, melamun berlebihan, produktivitas menurun, dll). Stres membawa dampak pada hubungan interpersonal baik di dalam atau diluar rumah (kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, mengambil sikap terlalu membentengi diri dari orang lain, mudah membatalkan janji/ingkar janji). 3. Sumber Stres Pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome Stres merupakan reaksi dari adanya stresor atau sumber stres. Stesor atau sumber stres yaitu situasi di lingkungan yang dapat mengaktivasi respon stres bagi individu. Stres dapat bersumber dari luar diri dan dari dalam diri. Pada ibu dengan anak down syndrome yang menjadi sumber stres dari luar diri yaitu keterbatasan perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral anak. Disebut dengan keterbatasan anak karena dalam perkembangannya, anak down syndrome lebih lamban/terlambat jika dibandingkan dengan anak normal. Sumber stres lain yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Terkait dengan perkembangan fisik, orang tua masih harus mencari informasi mengenai tempat terapi fisik dan terapi wicara demi kemajuan anak meskipun tetap lamban dibandingkan dengan anak normal umumnya (Triana&Andriyani, 2005). Orang tua juga

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi membiayai terapi yang mungkin dilakukan lebih dari sekali dalam seminggu. Tentu saja orang tua juga harus dapat melatih fisik dan wicara anak dirumah agar stimulasi yang diperoleh anak tidak hanya didapat dari terapi dan kemajuan anak dapat tercapai (Triana &Andriyani, 2005). Perkembangan kognitif anak yang berada dibawah rata-rata dan mengalami keterbelakangan, pasti membuat orang tua mengalami bentuk stres berupa perasaan khawatir akan masa depan anak, terlebih lagi jika anak belum bisa mandiri dan belum memiliki keahlian/keterampilan. Orang tua masih harus mencari sekolah yang menyediakan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita, terlebih lagi sekolah yang memfokuskan pada pengembangan keahlian/keterampilan anak (Triana&Andriany, 2005). Perkembangan emosi anak juga dapat menjadi sumber stres karena anak anak down syndrome memiliki emosi yang mudah kabur. Stres juga dapat bersumber dari perkembangan sosial anak, orang tua harus dapat selalu mengawasi anak sebab anak tidak mampu jika harus memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana. Ketergantungan mereka terhadap figur orang tua sangatlah besar. Terlebih lagi orang tua harus mampu dalam memberikan pengarahan mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sebab anak tunagrahita pada umumnya mudah untuk dipengaruhi dan cenderung melakukan suatu hal tanpa memikirkan resiko atau akibatnya (Soemantri, 2007). Pada dasarnya anak-anak mongol mudah sering tertawa dan cepat melekat pada seseorang serta ramah tamah. Stres juga dapat

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 bersumber dari perkembangan moral anak dimana ibu harus mengajarkan mengenai kesopanan, kedisiplinan, dan hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Secara fisiologis, orang tua menghabiskan banyak waktu, energi, dan kesabaran untuk merawat anak. Harus mengelola kesehatan anak, emosi anak, dan masalah perilaku serta mengajarkan anak tentang cara merawat diri sehari-hari. Hal tersebut menyebabkan orang tua sering membatasi waktu untuk diri mereka sendiri (Barnett&Boyce, 1995; Shek & Tsang, 1993; Singhi, Goyal, Pershad, & Walia, 1990 dalam Lam & Mackenzie, 2002). Sumber stres lain adalah lingkungan keluarga. Lahirnya anak cacat (down syndrome) selalu merupakan tragedi dan reaksi ibu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor, misalnya apakah kecacatan tersebut dapat segera diketahui atau terlambat diketahui (Soemantri, 2007). Sama seperti yang dialami oleh orang tua, saudara kandung dapat dan sering kali mengalami reaksi emosional seperti takut, marah, rasa bersalah dan sebagainya. Bahkan dalam beberapa hal saudara kandung lebih memiliki masalah yang sulit dibandingkan dengan orang tuanya dalam menyesuaikan diri dengan perasaan-perasaan ini, terutama pada saat mereka berusia belia. Bahkan anak yang memiliki saudara kandung penyandang down syndrome dapat merasa diduakan. Berpikir bahwa kasih sayang yang diberikan orang tua berbeda dan lebih mengutamakan saudaranya yang down syndrome, sehingga menimbulkan kecemburuan. Konflik sibling rivalry yang dialami oleh anak-anak yang memiliki saudara berkebutuhan khusus biasanya lebih

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 besar dari rata-rata anak lain karena seringkali saudara kandung melihat perhatian dan perlakuan orang tua yang berbeda terhadap dirinya dengan saudara kandungnya yang memiliki kebutuhan khusus (Semiawan&Magungsong. 2010). Hal ini dapat menjadi sumber stres bagi ibu karena orang tua harus memikirkan cara untuk mengasuh anak-anak mereka agar tidak timbul rasa iri. Tak jarang ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan sedih karena adanya kecemburuan antar anak. Lingkungan masyarakat pada umumnya sulit menerima individu yang berkekurangan termasuk individu penyandang keterbelakangan mental. Anak down syndrome dianggap tidak mampu dalam bermasyarakat dan seringkali tidak diikutkan dalam berbagai kegiatan, contohnya karang taruna. Masyarakat sering beranggapan bahwa keadaan anak tersebut dikarenakan oleh dosa orang tua mereka. Orang tua dari anak yang berkebutuhan khusus berada dalam situasi yang sulit karena sebagai seorang ibu, mereka mungkin merasa malu karena anak mereka berbeda dan perasaan malu itu mungkin mengakibatkan anak itu ditolak secara terangterangan atau tidak terang-terangan. Banyak keluarga yang secara drastis mengubah cara hidup mereka karena kehadiran anak yang cacat mental di dalam keluarga dan hampir sama sekali menarik diri dari kegiatan-kegiatan mayarakat (Semium, 2006). Pengalaman stres ibu juga dapat bersumber dari dalam diri antara lain perasaan bersalah Reaksi orang tua atau kerabat ketika anak salah satu anggota keluarga dinyatakan terbelakang mental sngat bervariasi. Ada yang

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 menolak kondisi tersebut bahkan tak jarang menyesali dan terpukul dalam menghadapinya. Tidak sedikit pula orang tua saling menyalahkan, mengingat beberapa kondisi keterbelakangan mental memang dipengaruhi oleh faktor keturunan (Verauli dalam Gunarsa (2006)). Adanya perasaan bersalah melahirkan anak DS memicu praduga yang berlebihan dalam hal keturunan, perasaan tidak beres dengan keturunan ini memicu timbulnya suatu perasaan depresi. Selain itu, orang tua menjadi merasa kurang mampu dalam mengasuh anak sehingga perasaan ini dapat menghilangkan kepercayaan kepada diri sendiri dalam mengasuhnya (Soemantri, 2007). Orang tua biasanya tidak memiliki gambaran mengenai masa depan anaknya yang mengalami keterbelakangan, tidak mengetahui layanan yang dibutuhkan oleh anaknya yang tersedia di masyarakat. Perasaan malu juga merupakan sumber stres ibu. Harga diri yang menurun pada orang tua yang memiliki anak Down Syndrome terlihat dari perasaan malu yang dialami oleh orang tua terhadap kehadiran anak mereka yang cacat (Magungsong, dkk, 1998 dalam Maulina&Sutatminingsih, 2005). Perasaan malu yang dialami orang tua dapat terlihat dari adanya orang tua yang memasukan dan meninggalkan anaknya di asrama atau menyembunyikan anak tersebut dirumah untuk menghindari ejekan dari masyarakat (Maulina&Sutatminingsih, 2005). Bahkan dari perasaan malu yang timbul itu tak jarang orang tua menolak hadirnya anak mereka. Hal tersebut dapat menyebabkan orang tua berlebihan dalam merawat anak sebagai kompensasi terhadap perasaan menolak. Selain itu, karena adanya

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 rasa malu yang timbul tak jarang orang tua memiliki kewajiban untuk merawat anak mereka namun melakukannya tanpa memberikan kehangatan (Soemantri, 2007). Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal juga merupakan sumber stres ibu. Timbul kekhawatiran dalam diri ibu akan kehadiran anak berikutnya dengan kelainan yang sama. Sebagaimana diketahui bahwa lahirnya anak down syndrome jika dilihat dari penyebabnya dapat menimbulkan resiko berulangnya kelahiran anak dengan kondisi yang sama dalam sebuah keluarga (Norhidayah, dkk. 2013). Mula-mula ibu mampu menyesuaikan diri sebagai orang tua anak tunagrahita, akan tetapi ibu terganggu lagi saat menghadapi peristiwa-peristiwa kritis yang terjadi ketika orang tua mengetahui untuk pertama kali bahwa anak mereka cacat. Peristiwa kritis juga terjadi ketika memasuki usia sekolah, kemampuan anak untuk bersekolah sebagai tanda bahwa anak tersebut normal. Kemudian situasi ketika anak meninggalkan sekolah dan orang tua yang semakin menua sehingga tidak mampu lagi merawat anak (Soemantri, 2007). Beberapa sumber stres yang ada tentu saja menimbulkan adanya reaksi ibu terhadap stres. Reaksi terhadap stres ini meliputi bentuk stres berupa perasaan negatif seperti timbulnya merasa sedih, gelisah, cemas, mudah menangis, merasa tidak aman, merasa tidak nyaman, mood mudah berubah, merasa sakit hati, dll. Respon terhadap stres juga berupa susah berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, pikiran kacau, melamun berlebihan, produktivitas menurun, dll (Hardjana, 1994). Menurut Malony

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 & Holt (dalam Prasadio, 1978) bentuk stres ibu yang memiliki anak keterbelakangan mental, dalam hal ini down syndrome berintikan 3D: “Depression”, “Denial”, “Displacement”. Timbulnya depresi mungkin disebabkan karena macam-macam sebab seperti perasaan malu, merasa salah telah melahirkan anak yang demikian, merasa kecewa, dan merasa kehilangan harga diri. Denial atau tidak mau mengakui kenyataan, menyebabkan orang-orang mengaharapkan suatu keajaiban penyembuhan serta mengakibatkan kelalaian dan pengabaian instruksi-instruksi atau nasihat-nasihat yang diberikan. Disini, displacement dimaksudkan bahwa orang tua kemudian menyalahkan dokter/psikiater yang membuat diagnosa bahwa secara mental anak mereka terbelakang. Kemudian orang tua menjadi peka terhadap segala bentuk kritik dan bersikap berlebihan kepada anak (overprotection & over rejection). Ada berbagai reaksi orang tua atau kerabat ketika menyadari bahwa anaknya tergolong luar biasa. Ketika anaknya dinyatakan berbakat kebanyakan orang tua merasa bangga dan bahagia karena memiliki anggota keluarga yang berada diatas batas anak normal pada umumnya. Ketika seorang anak dinyatakan memiliki keterbelakangan mental, sebagian besar orang tua akan merasa terpukul dan menyesali keadaan si anak maupun dirinya sendiri, bahkan menyangkal kondisi tersebut ketika anaknya dianggap berbeda karena berada dibawah batas anak normal pada umumnya (Verauli, dalam Gunarsa (2006)).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Little ((2002) dalam Maulina 2005) menyebutkan bahwa bentuk stres yang dialami ibu ternyata tidak hanya karena permasalahan anak tetapi juga karena adanya perasaan pesimis ibu akan masa depan anak. Secara psikologi stress dipahami sebagai proses yang dijalani seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungan. Deater-Deckard (2004 dalam Lestari 2012) mendefinisikan stress pengasuhan sebagai rangkaian proses yang membawa kondisi psikologis tidak disukai dan reaksi psikologis yang muncul dari dalam diri sebagai upaya beradaptasi dengan tuntutan peran sebagai orang tua. Stress merupakan situasi yang penuh tekanan yang terjadi pada pelaksanaaan tugas pengasuhan anak. Pengasuhan anak bukan proses yang mudah, sehingga dapat dikatakan bahwa pemicu stress antara lain karena masalah anak, dalam hal ini anak down syndrome. Orang tua harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk mendampingi dan mengajarkan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bantu diri. C. Coping Strategy Ibu Untuk Mengatasi Berbagai Stress Dalam Mengasuh Anak Down Syndrome Ibu menghadapi berbagai stress baik internal maupun eksternal dalam merawat dan membesarkan anak dengan Down Syndrome. Stresor dari luar diri ibu antara lain karena keterbatasan anak yang mencakup perkembangan fisik anak yang secara khas menampakkan ciri-ciri mongoloid, perkembangan kognitif anak yang tentu jauh lebih lamban dibandingkan anak-anak normal

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 pada umumnya, perkembangan emosi dimana emosi anak DS lebih bersifat kabur dan dapat dengan mudah merasakan gembira maupun marah. Kemudian keterbatasan sosial, perkembangan moral anak juga merupakan hal yang penting dimana anak harus menyesuaikan diri dengan masyarakat serta mengenali norma/peraturan dan konsep baik/buruk beserta konsekuensinya. Lingkungan keluarga juga merupakan stresor bagi ibu terlebih lagi jika anak DS tersebut memiliki saudara kandung. Tentu saja perhatian dan perlakuan orang tua yang berbeda akan menimbulkan rasa kesenjangan serta timbulnya perasaan terbebani dan malu akan kondisi saudara kandungnya yang DS. Lingkungan masyarakat pada umumnya juga sulit menerima anak dengan keterbelakangan mental, seringkali mereka ditinggalkan/tidak diikut sertakan dalam kegiatan kemasyarakatan. Stres yang bersumber dari dalam diri yang meliputi adanya perasaan bersalah karena melahirkan anak DS, perasaan malu orang tua sehingga ada pula orang tua yang memilih untuk menyembunyikan anak dari masyarakat, dan kehilangan kepercayaan akan memiliki anak yang normal sehingga membuat orang tua menjadi mudah marah dan dapat menimbulkan perilaku agresif. Tidak semua orang tua, termasuk para ibu siap menerima kenyataan ketika anak yang dilahirkan kondisinya berbeda dengan anak-anak lain. Ada yang menyembunyikan dari publik karena malu dan ada yang tega membuang anak tersebut karena dianggap sebagai aib dalam keluarga. Tentu saja dalam benak orang tua akan muncul rasa marah dan bahkan depresi. Oleh karena itu,

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 penting bagi orang tua untuk dapat menerima kenyataan mengenai kondisi anak dengan apa adanya (Adiyanto, dkk. 2010). Untuk mengatasi stres yang ada maka ibu memerlukan strategi koping yang sesuai. Coping bermakna harafiah sebagai pengatasan/penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi). Koping sering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ancaman (Siswanto, 2007). Lazarus (dalam Carver, Scheier, dan Weintraub, 1989) berpendapat bahwa stres terdiri dari tiga proses. Proses pertama merupakan proses memahami ancaman/stres bagi diri sendiri. Proses kedua yaitu proses membawa situai yang tidak menyenangkan/ancaman ke dalam pikiran untuk merespon situasi. Proses ketiga yaitu mengeksekusi respon itu. Terdapat dua jenis cara mengatasi stres, yang pertama yaitu problem focused coping yang bertujuan untuk mengubah sumber stres. Jenis koping ini cenderung mendominasi ketika sesorang berpikir bahwa sesuatu yang konstruktif dapat dilakukan untuk mengatasi efek yang ditimbulkan oleh stressor. Kedua, emotion focused coping yaitu merupakan usaha individu untuk mengelola tekanan emosional yang berhubungan dengan stressor dan cenderung mendominasi ketika orang merasa bahwa stressor adalah sesuatu yang harus dijalani (Folkman & Lazarus, 1980). Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui koping ibu dalam mengatasi stres terkait usahanya merawat anak down syndrome. Melalui pemahaman tersebut dapat

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 diketahui bentuk koping konstruktif yang dapat dilakukan ibu untuk mengatasi stres dan dapat diketahui pula usaha ibu untuk mengelola tekanan emosional terkait dengan stressor, terutama karena down syndrome merupakan kondisi yang tidak dapat diubah. Carver, Scheier, dan Weintraub (1989) membagi dua jenis koping menjadi beberapa bentuk, yaitu: 1) Problem-focused Coping Koping ini bertujuan untuk memecahkan masalah atau melakukan sesuatu untuk mengubah sumber stres. Aktivitas yang termasuk dalam problem-focused problem meliputi: a) Active coping: Proses pengambilan langkah aktif dalam usaha untuk menghilangkan stresor atau untuk memperbaiki efek yang diberikan stresor. Mengatasi secara aktif mencakup memulai aksi langsung, meningkatkan upaya seseorang, dan mencoba untuk menjalankan upaya koping dalam mode bertahap. b) Planning: Memikirkan bagaimana mengatasi stresor, pemikiran mengenai langkah apa yang harus diambil dan cara terbaik dalam mengatasi masalah. Seperti halnya dalam menentukan pendidikan bagi anak DS, ibu mulai memikirkan mengenai sekolah mana yang cocok dan alternatif untuk mengembangkan keterampilan yang anak minati saat ini. c) Suppression of competing activities: Mengesampingkan masalah lain sehingga dapat berdamai dengan stresor.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 d) Restraint coping : Menahan diri dan tidak bertindak prematur. Secara tidak langsung mengajak individu untuk berlatih menahan/mengendalikan diri. e) Seeking social support for instrumental reasons: Individu mencari nasihat, bantuan, atau informasi dari orang lain. Contohnya, menanyakan kepada kerabat atau teman tentang tempat terapi dan sekolah yang mendukung bagi tumbuh kembang anak DS. 2) Emotion-focused coping Koping ini ditujukan untuk mengurangi atau mengelola tekanan emosional yang berhubungan dengan situasi dan cenderung mendominasi ketika orang merasa bahwa stressor merupakan sesuatu yang harus dijalani (Folkman & Lazarus , 1980 dalam Carver, Scheier, dan Weintraub 1989). Respon emotional-focused coping antara lain: a) Positif reinterpretation and growth: Berusaha mengatur emosi distres, daripada mengatasi stresor. Dilakukan dengan menafsirkan stresor dalam arti yang positif. b) Acceptance: Menerima stressor, dalam arti mengakomodasinya karena mungkin keadaan permasalahan tersebut sulit diubah. Contohnya, seorang ibu yang memiliki anak DS yang pada awalnya sulit menerima keadaan anaknya lambat laun dapat beradaptasi dan menerima kenyataan atas kondisi anaknya dengan meyakininya sebagai “karunia Tuhan”.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Dengan keyakinan itu ia berusaha untuk selalu mencari alternatif atas kesulitan yang dihadapinya. c) Denial: Menyangkal realita agar tidak terlalu menyakiti perasaan (menjaga agar emosi stabil). d) Behavioral disengagement: Agak menyerah dalam hal tindakan dalam melakukan usaha mengatasi permasalahan. e) Mental disengagement: Agak menyerah (secara mental), bahkan menggunakan aktivitas alternatif untuk melupakan masalah. f) Turning to Religion: Seseorang dapat beralih ke agama atau kepercayaan saat berada dalam tekanan untuk berbagai macam alasan. Agama atau kepercayaan dapat menyediakan sumber dukungan emosional. g) Focus on venting emotion: Memfokuskan pada segala sesuatu yang menyedihkan dan mengekspresikan perasaan tersebut. h) Seeking social suppot for emotional reason: Individu mendapatkan dukungan moral, seperti simpati atau pengertian yang terkadang digunakan sebagai media untuk mencurahkan perasaan seseorang. Dalam mengatasi segala persoalan yang timbul dalam usahanya merawat dan membesarkan anak DS orang tua pasti memerlukan strategi koping. Seperti halnya dalam perkembangan fisik anak, orang tua harus mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang terapi yang cocok untuk perkembangan wicara dan gerak fisiknya. Kemudian mencari sekolah yang memadai untuk perkembangan kognitif anak dan dapat mengembangkan keterampilannya. Selain itu, orang tua juga harus menjadi peka terhadap emosi

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 anak yang mudah kabur. Strategi koping yang dilakukan orang tua ini dapat bersifat problem focused maupun emotional focused coping. Selain mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang perawatan anak, dukungan sosial dari lingkungan terdekat bagi anak dan ibu untuk dapat bertahan dalam situasi yang sulit juga sangat perlu. Dengan demikian, keadaan yang semakin parah dapat dicegah sebab jika keadaan dibiarkan semakin parah, akan semakin sulit bagi orang tua untuk menerima keadaan anaknya (Adiyanto, dkk. 2010). D. Kerangka konseptual Down Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh adanya kromosom ekstra pada kromosom 21. Sehingga jumlah kromosom menjadi 47 bukan 46. Mereka terbatas dalam beberapa aspek yaitu fisik, kognitif, emosi, dan sosial. Dalam perkembangan fisik mereka memiliki ciri khas yaitu berparas mongoloid, perkembangan otot yang lemah, lidah besar dan menjulur keluar karena mulut mereka yang kecil. Dalam Perkembangan kognitifnya, mereka memiliki keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Ketepatan merespon yang kurang dibandingkan anak normal dan kecepatan belajar yang kurang dibandingkan anak normal. Sedangkan dalam perkembangan emosi, emosi anak DS cenderung datar, kurang mendalam dan cepat kabur. Anak down syndrome cenderung mudah dipengaruhi dan melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Pada perkembangan moral, anak tidak dapat membedakan baik dan buruk. Situasi ini dapat membuat ibu

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 mengalami berbagai bentuk stres. Bentuk stres yang dialami dapat bersumber dari luar diri ibu dan dari dalam diri ibu. Sumber stres dari luar diri bersumber dari keterbatasan anak dalam perekembangan fisik sehingga ibu harus dapat mengawasi anak. Mencari terapi untuk melatih fisik dan wicara anak. Stres juga dapat bersumber dari perkembangan kognitif anak yang dapat membuat ibu mengalami bentuk stres seperti perasaan khawatir akan masa depan anak, terlebih jika anak belum memiliki keterampilan dan kemandirian. Orang tua harus mencari sekolah yang cocok untuk anak, terlebih yang dapat mengembangkan keterampilan anak. terkait dengan perkembangan emosi, ibu sebagau orang tua harus menjadi lebih peka terhadap apa yang dirasakan dan diinginkan anak. Anak down syndrome memiliki ketidakmampuan untuk mengurus diri sendiri dalam masyarakat sehingga harus selalu diawasi/didampingi. Ketidakmampuan anak untuk membedakan mana yang baik dan buruk sehingga mudah dipengaruhi. Sumber stres juga dapat bersumber dari kurangnya pemahaman anak terhadap penguasaan tentang baik/buruk. Kemampuan disiplin anak dan kemampuan dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat termasuk penyesuaian norma/peraturan dalam masyarakat. Tidak hanya keterbatasan perkembangan anak yang dapat menjadi sumber stres bagi ibu, bentuk stres yang dialami ibu juga dapat bersumber dari lingkungan keluarga yang meliputi penerimaan saudara kandung dan reaksi keluarga terhadap kehadiran anak. Lingkungan masyarakat juga merupakan sumber stres bagi ibu dengan anak down syndrome

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 karena perasaan negatif seperti kekhawatiran tentang penyesuaian diri anak dan penerimaan masyarakat terhadap kondisi anak pasti terlintas dalam benak ibu. Sumber stres yang bersumber dari dalam diri ibu yaitu meliputi perasaan bersalah dan perasaan malu yang dapat memicu ibu untuk menyembunyikan anak dari masyarakat. Hal tersebut dilakukan karena perasaan malu jika diejek oleh orang lain. Sehingga orang tua menjadi kurang hangat dalam merawat anak. Kehilangan kepercayaan akan mempunyai anak normal yang dapat membuat ibu menjadi cepat marah dan meyebabkan tingkah laku agresif. Ibu juga menjadi takut untuk hamil sebab khawatir jika melahirkan anak dengan kondisi yang sama. Sesuai denga tujuan pertama penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bentuk stres yang dialami ibu dengan anak down syndrome. Bentuk stres yang dimaksud merupakan perasaan stres yang dapat berimbas pada psikologis, fisik, dan hubungan interpersonal ibu. Secara psikologis, mungkin ketegangan atau tekanan yang dialami ibu dapat membuat pola pikir, emosi, dan perilakunya kacau. Mudah merasa sedih, gelisah, merasa sakit hati, merasa tidak nyaman, merasa sulit berkonsentrasi, dan produktivitas menurun merupakan bentuk stres yang dapat dialami ibu. Secara fisiologis stres dapat menyebabkan mual, keringan dingin, degup jantung cepat, dll. Pada hubungan interpersonal stres dapat membawa dampak pada sikap seperti halnya mudah ingkar janji bahka menutup diri dari dunia luar. Untuk mengatasi bentuk stres yang mungkin dialami ibu dalam merawat anak down syndrome, tentu saja ibu membutuhkan strategi koping.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Strategi koping tersebut dapat merupakan Problem-Focused Coping yang meliputi Active coping (mengambil langkah aktif), Planning (memikirkan langkah yang harus diambil), Supression of competing activities (mengesampingkan masalah lain), Restraint coping (tidak bertindak buruburu), dan Seeking of instrumental social support (mencari nasihat/bantuan/informasi). Atau dalam bentuk Emotional-focused coping yang meliputi Seeking emotional social support (mendapatkan dukungan moral/simpati), Positive reinterpretation (berusaha mengatur emosi distres), Acceptance (menerima kenyataan), Denial, dan Turning to religion (mengalihkan diri pada agama/kepercayaan). Hal ini sesuai dengan tujuan kedua penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana koping ibu dalam mengatasi bentuk stres yang dialami. Kerangka pikir diatas dapat disajikan dalam bagan berikut:

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Bagan 1. Bagan Kerangka Konseptual Penelitian Ibu Memiliki anak Down Syndrome StresSumber yang dialami Stres Stresluar yangdiri: bersumber dari luar Dari diri:Keterbatasan anak 1. 4. Keterbatasan anak fisik a. Perkembangan f. fisik b. Perkembangan kognitif g. Perkembangan kognitif c. emosi h. Perkembangan soaial emosi d. i. Perkembangan moral soaial e. Perkembangan moral 2. j. Lingkungan keluarga 5. Lingkungan masyarakat keluarga 3. 6. Lingkungan masyarakat Stres yangdiri: bersumber dari Dari dalam diri: bersalah 1.dalam Perasaan 2. Perasaan 4. Perasaanmalu bersalah 3. Kehilangan kepercayaan 5. Perasaan malu akan memiliki 6. Kehilangan anak yang normal kepercayaan akan memiliki anak yang normal Bentuk stres yang dialami Perasaan stres: - Psikologis - Fisik - Hubungan interpersonal Coping Strategy Problem Focused Coping Emotion Focused Coping

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping itu juga tentang peranan oraganisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian data dapat dihitung sebagaimana data sensus namun analisisnya bersifat kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, beberapa peneliti mengumpulkan data melalui wawancara dan pengamatan (dua teknik yang biasa dikaitkan dengan metode kualitatif). Data yang diperoleh juga dapat melalui dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya sensus (Strauss&Corbin. 2009). Penelitian kualitatif fenomenologi adalah teknik penelitian yang bertujuan untuk membuat pengalaman sadar seseorang dapat diteliti (Fisher, 2006). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Patton (2002) menjelaskan bahwa fenomenologi berfokus pada eksplorasi tentang bagaimana seseorang mengubah pengalamannya ke kesadaran. Selain itu, tujuan dari fenomenologi adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang makna dari pengalaman hidup sehari-hari (Smith. 2009). Pada penelitian ini, peneliti ingin 43

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 mengetahui stres yang dialami ibu yang memiliki anak down syndrome dan bagaimana ibu mengatasi situasi-situasi yang penuh stres dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome. Seajalan dengan pendekatan fenomenologi, peneliti menggunakan teknik wawancara sehingga pengalaman sadar ibu dapat lebih tergali dan dapat diteliti. B. Fokus Penelitian Fokus dalam penelitian ini mencakup dua hal, yaitu: 1. Fokus pertama dalam penelitian ini adalah bentuk stres pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Bentuk stres yang akan diungkap ini dilihat dari sumbernya baik bersumber dari luar diri yaitu keterbatasan anak yang meliputi keterbatasan perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral. Bentuk stres yang bersumber dari luar diri juga bersumber dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Bentuk stres yang bersumber dari dalam diri dapat bersumber dari adanya perasaan bersalah, perasaan malu, dan hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal. 2. Fokus kedua yaitu untuk mengetahui strategi koping yang dipakai oleh ibu terkait dengan bentuk stres yang dialami oleh ibu dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 C. Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di salah satu SLB Swasta di Kabupaten Klaten. SLB tersebut merupakan sekolah yang dimulai dari jenjang SD hingga SMA. Terkait dengan penelitian yang akan dilakukan, peneliti menggunakan teknik sampling berupa Criterion Sampling. Patton (2002) menjelaskan bahwa, Criterion Sampling bertujuan untuk meninjau dan mempelajari semua kasus yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti supaya sesuai dengan tujuan penelitian. Subjek penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah subjek dengan kriteria tertentu, yaitu ibu yang memiliki anak Down Syndrome usia 6-11 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Siswa yang dinyatakan Down Syndrome dan memenuhi kriteria usia yang telah ditentukan berjumlah 9 siswa, namun hanya 4 subjek yang peneliti peroleh karena ada 2 ibu yang tinggal di luar kota, 1 ibu memiliki kelainan jiwa, dan 2 ibu lainnya tidak bersedia untuk menjadi subjek penelitian. Subjek yang dipilih adalah ibu karena ibu memiliki kelekatan yang lebih kuat dengan anak. Ibu yang melahirkan anak baik anak tersebut normal atau tidak. Jika anak yang dilahirkan tersebut tidak sama seperti anak lain pasti ibu yang merasakan beban yang lebih mendalam. Usia 6-11 tahun merupakan masa pertengahan sampai masa akhir kanak-kanak. Dalam usia tersebut juga anak pada umumnya sudah bersekolah dan merupakan masa menuju masa remaja awal. Kriteria subjek dipilih karena peneliti yakin bahwa pengalaman ibu akan lebih kaya dan tentu saja dengan usia dan kondisi anak, ibu akan menghadapi berbagai permasalahan yang dapat menimbulkan stress baginya.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 D. Metode Pengumpulan Data Metode utama dalam pengumpulan data adalah wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas jawaban itu (Moleong, 2010). Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan wawancara. Pertanyaan yang disusun dapat dimodifikasi menurut respon partisipan sehingga memungkinkan peneliti dan partisipan untuk melakukan dialog. Disamping itu, peneliti dapat menyelidiki lebih jauh tentang hal-hal menarik dan penting yang mungkin muncul dalam wawancara. Dalam wawancara ini terdapat usaha peneliti untuk menumbuhkan hubungan baik dengan reesponden, urutan pertanyaan kurang begitu penting, pewawancara lebih memiliki kebebasan untuk menanyakan lebih jauh berbagai wilayah menarik yang muncul, dan wawancara dapat mengikuti minat atau perhatian responden, sehingga cenderung menghasilkan data yang lebih kaya (Smith, 2009). Peneliti menggunakan bantuan alat perekam selama proses wawancara berlangsung. Disamping itu peneliti juga mencatat perilaku nonverbal dari subjek selama proses wawancara berlangsung. Setelah data terkumpul peneliti melakukan transkrip wawancara dari hasil perekaman tersebut. Berikut adalah blue print wawancara yang digunakan sebagai acuan:

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Tabel 1. Tabel Panduan Wawancara Panduan Wawancara Topik Aspek Stress yang bersumber dari luar diri ibu (eksternal stressor) Stres yang bersumberl dari keterbatasan anak DS, antara lain terkait dengan: a. Perkembanga n fisik anak 1. 2. 3. 4. 5. 6. b. Perkembang 1. an kognitif 2. c. Perkembanga 1. n emosi 2. Pertanyaan Sumber Stres Coping strategy Keadaan umum dan Bagaimanakah cara kesehatan anak anda dalam Pertumbuhan anak, mengatasi stres penampilan anak yang tersebut? khas Gerakan-gerakan dasar/motorik Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Kemandirian Seksualitas Pemahaman tentang hal Bagaimanakah cara sehari-hari: anda dalam - memahami mengatasi stres perintah tersebut? - Larangan - kesadaran akan bahaya - komunikasi/ bicara) Kecerdasan dalam belajar: - Kemampuan dalam membaca - Kemampuan dalam menulis - Kemampuan dalam berhitung - Kemampuan menangkap pelajaran disekolah Keadaan emosi secara Bagaimanakah cara umum (perubahan anda dalam mood) mengatasi stres Perubahan emosi tersebut? secara khusus (temper tantrum/ suka marahmarah

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Topik Aspek Pertanyaan Sumber Stres Coping strategy 3. Kemampuan mengungkapkan perasaan 4. Kemampuan mengendalikan emosi 5. Reaksi terhadap frustasi/stres d. Perkembanga 1. Mudah bergaul/ n sosial cenderung menyendiri 2. Kerjasama 3. Kekerasan dalam pergaulan e. Perkembang 1. Pemahaman an moral baik/buruk 2. Pemahaman tentang sopan santun 3. Kedisiplinan Stres yang 1. Reaksi keluarga besar bersumber dari terhadap kondisi anak lingkungan (bagaimana keluarga keluarga dan besar memperlakukan masyarakat: anak) 1. Stres yang 2. Reaksi keluarga inti bersumber terhadap kondisi anak dari 3. Hubungan anak keluarga dengan kakak/adik kandung 4. Bentuk stres yang muncul seperti apa 2. Stres yang 1. Reaksi masyarakat bersumber terhadap kondisi anak dari 2. Bagaimana lingkungan masyarakat masyarakat memperlakukan anak Bagaimanakah cara anda dalam mengatasi stres yang muncul tersebut? Bagaimanakah cara anda dalam mengatasi stres yang muncul tersebut? Bagaimanakah usaha ibu dalam mengatasi reaksi dari keluarga tersebut? Bagaimanakah usaha ibu dalam mengatasi stres yang muncul dari reaksi dari masyarakat tersebut?

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Topik Aspek 3. 4. Stress yang bersumber dari dalam diri ibu dengan anak DS (internal stessor) Stres yang 1. bersumber dari orang tua sendiri: 1. Perasaan 2. bersalah 3. 2. Perasaan malu 1. 2. 3 3. Kehilangan 1. kepercayaan akan 2. memiliki anak yang 3. normal Pertanyaan Sumber Stres Coping strategy Keterlibatan anak dalam masyarakat Bentuk stres yang dirasakan ibu terkait sikap/perlakuan masyarakat terhadap anak Perasaan orang tua Bagaimanakah cara ketika mengetahui anda dalam bahwa anak mereka mengatasi stres yang DS muncul tersebut? Kemungkinan orang tua saling menyalahkan kondisi anak Permasalahan ketika mengandung (kurang menjaga kesehatan, keturunan) Perasaan ketika Bagaimanakah cara mengakui anaknya anda dalam yang DS mengatasi stres yang Reaksi masyarakat muncul tersebut? terhadap kondisi anak Stres yang timbul Reaksi sikap ibu Bagaimanakah cara terhadap kondisi anak anda dalam Ketakutan untuk mengatasi stres yang memiliki anak lagi muncul tersebut? Saling menyalahkan atas kondisi anak

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Proses wawancara ini melalui beberapa tahap, antara lain: 1. Mencari subjek yang sesuai dengan kriteria dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. 2. Membangun raport, menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan dan memastikan kembali kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian. 3. Menyusun kesepakatan jadwal dilakukannya wawancara antara peneliti dan subjek. 4. Menyusun panduan wawancara 5. Melaksanakan wawancara sesuai kesepakatan peneliti dan subjek Wawancara direkam dengan menggunakan digital recorder dan kemudian disalin dalam bentuk transkrip wawancara. E. Metode Analisis Data Dalam penelitian kualitatif tidak terdapat rumusan baku atau peraturan yang absolut tentang mengolah dan menganalisis data, yang terpenting adalah melakukannya sebaik mungkin. Patton (dalam Poerwandari 2005) menyatakan bahwa yang harus selalu diingat dan diperhatikan oleh peneliti kualitatif adalah bagaimanapun analisis itu dilakukan, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses serta prosedur analisis data sejujur dan selengkap mungkin. Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan pada 2 taraf yaitu analisis per subjek dan analisis antar subjek. Berikut ini adalah langkah-langkah analisis dalam penelitian ini:

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 1) Organisasi data Organisasi data diawali dengan memindahkan hasil wawancara dari setiap subjek dari digital voice recorder ke dalam bentuk transkrip verbatim dan berbentuk kolom. 2) Pengkodean (koding) Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Dalam tahap ini peneliti melakukan penomoran secara urut pada baris-baris transkrip verbatim yang telah dibuat. 3) Interpretasi Maksud interpretasi dalam penelitian ini yaitu peneliti melakukan analisis tematik yang memungkinkan peneliti menemukan pola yang tidak dapat dilihat pihak lain secara jelas. Pola atau tema tersebut tampil seolah secara acak dalam tumpukan informasi yang tersedia. Setelah menemukan pola, kita akan mengklasifikasikan atau mengkodekan dengan memberi label, definisi, atau deskripsi (Boyatzis dalam Poerwandari 2005). 4) Mengelompokkan tema-tema Setelah peneliti melakukan pengkodean dan menemukan tema-tema dalam data maka peneliti dapat menyusun „master‟ berisikan tema-tema ke dalam tabel sehingga menunjukkan pola hubungan antar kategori.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 F. Kredibilitas Data Dalam penelitian kualitatif istilah kredibilitas menjadi istilah yang paling banyak dipilih untuk mengganti konsep validitas. Kredibilitas digunakan untuk menguji kualitas penelitian kualitatif. Suatu penelitian kualitatif dapat mencapi kredibilitas yang baik apabila mampu mencapai maksud dari eksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks dengan berbagai aspek (Poerwandari, 2005). Berikut adalah strategi-strategi validitas yang digunakan dalam penelitian ini: a. Validitas komunikatif Upaya untuk mencapai kredibilitas antara lain dengan mengkonfirmasikan kembali transkrip hasil wawancara beserta analisisnya terhadap subjek penelitian untuk menguji keakuratan temuan penelitian. Pada tahap ini, peneliti melakukan konfirmasi ulang mengenai data subjek, peneliti meminta subjek untuk memberikan komentar terhadap analisis data yang dilakukan peneliti dan subjek diminta mengkonfirmasi ulang apabila terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan maksud mereka atau tidak sesuai dengan keadaan sebenar-benarnya mereka. b. Validitas argumentatif Yaitu dengan membuktikan hasil temuan dan kesimpulan penelitian dengan melihat kembali pada data mentah. Untuk mencapai validitas ini, peneliti melakukan konfirmasi dengan beberapa orang yang dianggap berkompeten untuk memberikan penilaian terhadap penelitian ini. Validitas argumentatif dilakukan dengan melakukan cross-check data dengan sumber

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 lain yakni wawancara dengan anak kandung lainnya, suami, dan guru. Peneliti juga meminta bantuan rekan sesama peneliti untuk melakukan cross-check apakah koding yang dilakukan peneliti tepat atau belum. crosscheck dilakukan dengan membaca kembali data mentah (verbatim) dan kategori yang telah dibuat peneliti.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Proses Penelitian 1. Persiapan Penelitian Peneliti melakukan persiapan sebelum melakukan penelitian. Proses persiapan yang dilakukan peneliti adalah: a. Peneliti mencari subjek, ibu yang memiliki anak Down Syndrome usia sekolah dengan rentan usia 6-12 tahun. Ibu dengan anak usia sekolah karena usia tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke usia remaja dan diharapkan banyak pengalaman yang dapat diperoleh peneliti. Peneliti mendatangi SLB dan diperoleh 3 subjek penelitian serta 1 subjek yang diperoleh berdasarkan informasi teman. Setelah informasi tentang subjek didapatkan, peneliti melakukan rapport dengan cara bertemu langsung maupun melalui SMS. b. Setelah melakukan rapport dan beberapa kali berbincang-bincang dengan calon subjek mengenai tujuan penelitian, peneliti meminta kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian. c. Setelah subjek bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian, peneliti meminta subjek untuk membaca surat persetujuan untuk terlibat dalam penelitian sebelum memberikan tanda tangan. Peneliti juga mengatakan secara langsung kepada subjek bahwa identitas dan data subjek akan 54

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 sepenuhnya dirahasiakan karena hanya diperlukan untuk kepentingan penelitian saja. d. Peneliti mempersiapkan digital voice recorder yang akan digunakan peneliti untuk merekam proses wawancara. Peneliti juga mempersiapkan alat perekam cadangan untuk mengantisipasi apabila alat perekan utama mengalami masalah selama proses wawancara. e. Peneliti membuat janji secara langsung dengan subjek untuk melakukan wawancara. 2. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian melewati beberapa tahapan mulai dari meminta persetujuan wawancara, pelaksanaan wawancara, dan menunjukkan hasil verbatim dan analisis kepada subjek untuk mendapatkan surat keterangan keabsahan hasil wawancara. Berikut akan dijabarkan secara rinci proses pelaksanaan penelitian: a. Peneliti melakukan wawancara dengan keempat subjek sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Sebelum dimulai wawancara, subjek diminta untuk membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara. Jumlah sesi wawancara masing-masing subjek berbeda karena menyesuaikan dengan kesediaan waktu subjek. Tempat pelaksanaan wawancara pada subjek pertama dan keempat dilakukan dirumah masing-masing subjek sedangkan untuk subjek kedua dan ketiga dilakukan di sekolah. Dalam proses waancara peneliti bertatap muka

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 secara langsung dengan subjek dan untuk membantu kelancaran proses wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara yang telah disusun sebelumnya. Proses perekaman menggunakan digital voice recorder. b. Setelah proses analisis data selesai dilakukan, peneliti bertemu dengan subjek untuk menunjukkan verbatim hasil wawancara dan hasil analisis data guna memastikan apakah hasil wawancara sudah sesuai dengan realita yang dilami subjek. Selanjutnya, peneliti meminta subjek untuk membaca dan menandatangi surat keabsahan hasil wawancara. 3. Proses Analisis Data Proses analisis data meliputi pengorganisasian data, pengkodean, interpretasi, dan pengelompokkan tema-tema. Berikut akan dijelaskan secara rinci tentang proses analisis data yang dilakukan oleh peneliti: a. Setelah wawancara dengan masing-masing subjek, peneliti melakukan pengorganisasian data yang diawali dengan memindahkan hasil wawancara masing-masing subjek dari digital voice recorder ke dalam bentuk transkrip verbatim dan bentuk kolom. Tabel verbatim yang digunakan terdiri dari 2 kolom. Kolom pertama berisi penomoran setiap pertanyaan peneliti dan jawaban subjek. Kolom kedua berisi pertanyaan peneliti dan jawaban subjek. b. Setelah proses verbatim selesai dilakukan, peneliti melakukan tahap selanjutnya yaitu tahap pengkodean (koding) data. Koding dimaksudkan

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 untuk mengorganisasikan dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehinggal dapat memunculkan gambaran tentang topik yang akan dipelajari. Dalam tahap ini peneliti membuat transkrip verbatim kedalam 7 kolom. Koding dilakukan dengan memberikan garis bawah pada kolom verbatim yang dianggap relevan dengan fokus penelitian. c. Selanjutnya, peneliti membagi kedalam 7 kolom. Kolom pertama berisi penomoran verbatim, kolom kedua berisi verbatim subjek yang dianggap relevan dengan penelitian. Pada kolom ini peneliti mengkhususkan pada stress dan stressor yang dialami subjek. Kolom ketiga berisi penulisan kembali (mendeskripsikan) kalimat/kata-kata subjek yang sesuai dengan fokus penelitian. Penulisan yang dilakukan tidak mengubah sedikitpun esensi dari kolom koding pertama. Kolom keempat berisi analisis tema yang muncul. Kolom kelima berisi verbatim yang menggambarkan coping strategy yang dilakukan subjek untuk mengatasi stress yang dialami. Kemudian, kolom keenam berisi penggambaran kembali (deskripsi) kalimat/kata-kata subjek yang dilakukan tanpa mengubah esensi dari peryataan subjek. Pada kolom ketujuh berisi tentang analisis dari deskripsi mengenai coping strategy yang dilakukan subjek. d. Kemudian peneliti mencoba melakukan analisis dari hasil koding untuk menemukan kemungkinan tema-tema yang muncul. e. Pada tahap terakhir, peneliti membuat ringkasan yang berisikan kelompok tema-tema yang muncul dari masing-masing subjek. Peneliti membuat riangkasa persubjek untuk memudahkan dalam membaca data

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 hasil temuan. Pada ringkasan tersebut peneliti menyajikannya dalam bentuk tabel yang telah dipisahkan berdasarkan bentuk indikator yang telah disusun sesuai dengan panduan wawancara. 4. Jadwal Pengambilan Data Berikut adalah jadwal pengambilan data dan pemeriksaan keabsahan data: Tabel 2. Jadwal wawancara Subjek SL Hari/ Tanggal Kamis, 18 Oktober 2012 Sabtu, 20 Oktober 2012 Rabu, 24 Oktober 2012 SH Kamis, 25 Oktober 2012 Wakt Tempat Kegiatan u 13.00- Rumah subjek - Memastikan kembali 14.00 kesediaan subjek untuk menjadi partisipan dalam penelitian - Mengatur waktu untuk melakukan pengambilan data (wawancara) 12.00- Rumah subjek - Meminta subjek untuk 13.30 membaca dan menandatangani surat persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian - Menanyakan data pribadi subjek - Menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian. 13.00- Rumah subjek - Melengkapi data wawancara 15.30 - Meminta subjek membaca verbatim hasil wawancara yang telah dibuat oleh peneliti - Meminta subjek untuk membaca dan menandatangi surat keabsahan hasil wawancara 9. 30- SLB C, C1 - Memastikan kembali 10.00 YPA ALB kesediaan subjek untuk Prambanan, menjadi partisipan dalam Klaten, Jawa penelitian Tengah - Mengatur waktu untuk melakukan pengambilan data (wawancara)

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Sabtu, 27 Oktober 2012 SG RT 09.46- SLB C, C1 - Meminta SL untuk membaca 10.35 YPA ALB dan menandatangani surat Prambanan, persetujuan untuk Klaten, Jawa berpartisipasi dalam penelitian Tengah - Menanyakan data pribadi subjek - Menanyakan hal- hal yang berkaitan dengan penelitian. Selasa, 30 9.00- SLB C, C1 - Melengkapi data wawancara Oktober 11.00 YPA ALB - Meminta subjek membaca 2012 Prambanan, verbatim hasil wawancara Klaten, Jawa yang telah dibuat oleh peneliti Tengah - Meminta subjek untuk membaca dan menandatangi surat keabsahan hasil wawancara Kamis, 25 10.30- SLB C, C1 - Memastikan kembali Oktober 11.00 YPA ALB kesediaan subjek untuk 2012 Prambanan, menjadi partisipan dalam Klaten, Jawa penelitian Tengah - Mengatur waktu untuk melakukan pengambilan data (wawancara) Sabtu, 10.30- SLB C, C1 - Meminta SL untuk membaca 27 11.00 YPA ALB dan menandatangani surat Oktober Prambanan, persetujuan untuk 2012 Klaten, Jawa berpartisipasi dalam penelitian Tengah - Menanyakan data pribadi subjek - Menanyakan hal- hal yang berkaitan dengan penelitian. Senin, 12.00– SLB C, C1 - Melanjutkan sesi wawancara 29 12.30 YPA ALB yang tertunda Oktober Prambanan, 2012 Klaten, Jawa Tengah Kamis, 2 10.00- SLB C, C1 - Melengkapi data wawancara November 12.00 YPA ALB - Meminta subjek membaca 2012 Pramba-nan, verbatim hasil wawancara Klaten, Jawa yang telah dibuat oleh peneliti Tengah - Meminta subjek untuk membaca dan menandatangi surat keabsahan hasil wawancara Minggu, 4 10.00- Rumah - Memastikan kembali November 11.30 subjek kesediaan subjek untuk

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 2012 - Selasa, 6 November 2012 14.2015.10 Rumah subjek - Jumat, 9 November 2012 13.0016.05 Rumah subjek - - menjadi partisipan dalam penelitian Mengatur waktu untuk melakukan pengambilan data (wawancara) Meminta SL untuk membaca dan menandata-ngani surat persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian Menanyakan data pribadi subjek Menanyakan hal- hal yang berkaitan dengan penelitian. Memastikan kembali kesediaan subjek untuk menjadi partisipan dalam penelitian Mengatur waktu untuk melakukan pengambilan data (wawancara) B. Hasil Penelitian Uraian hasil penelitian akan dipaparkan dalam 2 tahap analisis yang mencakup analisis per subjek dan analisis antar subjek. Pada analisis per subjek penelitian akan dipaparkan mengenai stres yang dialami ibu dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome dan coping strategy ibu dalam mengatasi stres yang muncul. Stres yang muncul dapat disebabkan oleh faktor dari luar diri ibu seperti halnya perkembangan fisik anak, perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan sosial, dan perkembangan moral anak. Selain karena keterbatasan anak, sumber stress dari luar diri subjek juga dapat disebabkan oleh reaksi dari lingkungan keluarga akan hadirnya anak Down Syndrome. Lingkungan keluarga yang dimaksudkan yaitu mencakup lingkungan keluarga inti (reaksi suami dan anak yang lain) serta lingkungan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 keluarga besar (mencakup saudara-saudara ibu dan ayah). Lingkungan masayarakat juga merupakan sumber stres bagi ibu. Stres dapat timbul karena reaksi dan perlakuan masyarakat terhadap anak down syndrome. Stres yang dialami subjek juga dapat bersumber dari dalam diri subjek sendiri (internal stress). Dalam hal ini yaitu adanya perasaan bersalah, adanya perasaan malu, dan kehilangan kepercayaan akan memiliki anak yang normal. Untuk mengatasi stress yang muncul, tentu saja ibu memerlukan coping strategy (strategi pemecahan masalah). Strategi koping ini terdiri dari problem focused coping dan emotional focused coping. Problem focused coping yaitu tindakan untuk merubah sumber stress. Dengan kata lain, subjek melakukan tindakan yang bersifat konstruktif seperti mengambil tindakan langsung, perencanaan, mencari bantuan/pertolongan, dan menahan diri untuk tidak bertindak secara gegabah. Jenis-jenis koping yang termasuk dalam problem focused coping menurut Carver, Scheier, dan Weintraub (1989) yaitu: Active coping, Planning, Suppression of competing activities, Restraint coping, dan Seeking social support for instrumental reasons. Emotional focused coping ditujukan untuk mengurangi atau mengelola tekanan emosional yang berhubungan dengan situasi. Folkman&Lazarus (dalam Scheier&Weintraub, 1989) mengungkapkan bahwa emotional focused coping cenderung mendominasi ketika orang merasa bahwa stressor merupakan sesuatu yang harus dijalani. Jenis koping yang termasuk dalam emotional focused coping yaitu: Positif reinterpretation and growt, Acceptance, Denial, Behavioral

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 disengagement, Mental disengagement, Turning to Religion, Focus on venting emotion, dan Seeking social suppot for emotional reason. Pada analisis antar subjek, peneliti akan memaparkan hasil analisis keempat subjek dalam penelitian. Pemaparan data hasil penelitian mencakup persamaan data dan perbedaan data dari keempat subjek penelitian. Berikut ini akan dipaparkan secara rinci mengenai 2 pokok bahasan dalam hasil penelitian yang sudah dijelaskan diatas. Berikut uraiannya: C. Subjek 1 (SL) 1. Deskripsi subjek 1 (SL) SL, berusia 46 tahun dan memiliki perawakan kurus dan tidak terlalu tinggi. SL adalah peibadi yang ramah terutama dengan orang yang baru dikenal. Misalnya dengan peneliti yang baru berjumpa dengan peneliti dua kali namun dapat menyambut peneliti dengan ramah. SL juga mengatakan bahwa ia senang dapat membantu peneliti meski sebisanya. SL mampu menceritakan pengalamannya dengan terbuka dan lancar. Kontak mata juga sering terjadi ketika proses wawancara berlangsung. Namun, SL sempat meminta ijin untuk menyiapkan makan siang untuk anaknya yang baru pulang sekolah. Terkadang SL juga mengajak peneliti untuk sedikit bersenda gurau. SL bekerja sebagai wiraswasta yaitu dengan membuat tempe bersama suami. SL menekuni usahanya selama 10 tahun. SL juga merupakan ibu rumah tangga yang tidak dapat berdiam diri. Buktinya, meskipun memiliki beberapa karyawan untuk memproduksi tempe, SL tetap

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 turun tangan untuk membantu mengolah kedelai menjadi tempe. Selain itu, SL juga mengantarkan sendiri pesanan tempe meskipun jarak tempuhnya jauh. SL memiliki dua anak laki-laki yaitu F (18 tahun) dan P (10 tahun). P didiagnosis menyandang Down Syndrome semenjak lahir. Selama mengandung, SL mengalami kegagalan KB suntik sehingga sering merasakan badan yang menjadi lemas selama hamil. SL awalnya tidak mengetahui jika hamil dan hanya memeriksakan diri ke dokter. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan jika SL hamil namun diagnosa dokter mengatakan bahwa sSL mengalami beberpa penyakit dalam. Bidan menyatakan bahwa SL hanya masuk angin. Dokter mengatakan bahwa ginjal SL bermasalah. Kemudian SL dianjurkan mengkonsumsi obat selama 1 bulan. SL baru mengetahui bahwa ia hamil ketika usia kandungan menginjak 2 bulan. Meskipun demikian tidak terpikirkan oleh SL bahwa kondisi anak akan seperti sekarang, berbeda dengan anak lainnya. Dalam perkembangannya, anak mengalami keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Anak dapat berjalan ketika berusia 2 tahun 5 bulan. Dalam usianya yang menginjak 10 tahun, anak mampu melakukan bantu diri dan memahami perintah yang diberikan orang tua. Namun dalam berbicara, anak masih kurang jelas dan hanya akan berbicara seperlunya saja. SL menuturkan bahwa semua keinginan anak harus terpenuhi. Jika tidak dipenuhi maka anak akan terus menerus menagih kepada orang tua. SL memandang anaknya sebagai anak yang memiliki jiwa sosial yang tinggi

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 dan penyayang meskipun termasuk anak berkebutuhan khsusus. Dalam keseharian, SL mengasuh anak dengan penuh cinta meskipun terkadang keras namun SL tetap bersabar untuk selalu mendukung anak agar maju. Ada kekhawatiran mengenai jodoh dan masa depan anak nantinya namun SL mencoba untuk ikhlas dan berserah kepada Tuhan sehingga mampu menerima kondisi anak seutuhnya. SL juga menanamkan keyakinan bahwa anaknya pasti dapat menjadi orang yang maju. 2. Stres dan coping strategy SL a. Stres yang Bersumber Dari Luar Diri SL dan Coping Strategy yang Digunakan SL Stres dari luar diri SL bersumber dari keterbatasan anak, lingkungan keluarga, dan ditemukan data baru yaitu stress yang bersumber dari lingkungan sekolah. Berikut uraian stres dan coping strategy SL: 1. Keterbatasan anak a. Perkembangan fisik Beberapa bentuk stres yang dialami SL terkait dengan perkembangan fisik anak yaitu: 1) Suhu tubuh anak mudah berubah SL mengungkapkan bahwa suhu tubuh anak terkadang berubah menjadi dingin dan seperti tidak kembali lagi seperti semula meski sudah dihangatkan dengan selimut.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 “Cuman dulu itu kadang-kadang dingin badannya terus kalau misal udah diangetin/dislimutin gitu kayak gak mbalik gitu suhu tubuhnya” (18) Untuk mengatasi suhu tubuh anak yang mendadak menjadi dingin, SL berusaha menghangatkan tubuh anak dengan selimut (problem focused coping-active coping). Usaha SL ini dilakukan untuk mencegah tubuh anak menjadi semakin dingin. 2) Penampilan fisik anak yang khas menjadi pusat perhatian orang SL merasa tidak nyaman ketika penampilan fisik anak yang berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya diperhatikan oleh orang. SL merasa khawatir jika anak dijahati oleh orang yang tidak bertanggungjawab. “Rasa itu ya sebagai orang tua kadang yang paling berat kadang kan anak dilihat lama sama orang. Apalagi sampai menyakiti ya terutama perkataan. Yang selalu dilihat selalu tampilan fisik P. Saya harus lebih ekstra memperhatikan ya kalau-kalau nanti dijahati. Orang tua tu ya kekhawatirannya kalau dinakalin baik diejek atau dicubit.” (99-103) “Hanya kadang kalau pergi itu orang suka liatin dari bawah sampai atas. Ya memang anaknya begini mau gimana. Saya sebagai ibu ya rasanya kalau liat anak diliatin begitu kok nggak nyaman.” (544-545) Dalam mengatasi situasi tersebut, SL lebih meningkatkan perhatian kepada anak (problem focused coping-active coping) untuk mengantisipasi supaya anak tidak dijahati oleh orang lain. “kalau misal main ya belum pulang ya saya cari. Kalau dinakalin ya saya suka ngasih tahu sama temennya. Kalau pulang nangis saya tanya kenapa, dinakalin siapa.” (106-108) “Ya saya cuman liat orangnya tapi diam aja. Kalau saya rasa saya juga nggak nyaman ya saya ajak P pergi.” (548-549)

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 3) Tidak bisa mengikuti kegesitan teman sebaya SL merasa sedih dan merasa kasihan ketika melihat anak bermain dengan teman-temannya karena ia susah mengikuti kegesitan teman-temannya. “Nggak ada ya mbak saya rasa, ya paling kalau main kejarkejaran sama main bola saya suka kasian. Temen-temennya bisa lari kenceng nah Putra susah mengikutinya. Ya cuman itu sih.”(261-263) Untuk mengatasi perasaan sedih dan kasihan karena melihat anak yang selalu tertinggal dari teman-temannya, SL lebih bersabar, tidak berputus asa, dan menyemangati anak (problem focused coping-active coping). “Saya selalu menyemangati P untuk tetap bangga akan dirinya. Tetap menghibur P dan bersabar. Saya selalu menaruh harapan bahwa anak saya bisa seperti mereka, makanya saya nggak mau putus asa.” (265-267) 4) Mengalami keterlambatan dalam kemampuan berjalan Anak juga mengalami keterlambatan dalam berjalan. SL menuturkan bahwa anak baru dapat berjalan ketika berusia 2 tahun. “Nah begitu anak lahir dengan perkembangan yang lambat dan belum bisa jalan baru terasa kenapa kok anak ini perkembangannya terlambat sekali. Telat-telatnya kan 11 bulan bisa jalan kalau dia 2 tahun baru jalan. Bicaranya juga terlambat” (407-410) Keterlambatan anak dalam berjalan membuat SL merasa sedih dan hal tersebut mendorong SL untuk mencari informasi mengenai terapi berjalan dan wicara untuk anak (problem

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 focused coping-planning). Seperti yang diungkapkan subjek berikut: “Fokus mikirin anak ini besok gimana, harus dibawa kemana untuk memajukan perkembangan.” (411-413) “Ya memfokuskan diri untuk masa depan anak saja. Dulu saya sering mencari informasi tentang terapi biar bisa jalan dan bicara.” (434-435) 5) Kurang mampu dalam kemampuan motorik (tidak berani naik tangga) SL mengungkapkan bahwa anak tidak berani untuk menaiki tangga seorang diri sehingga keadaan ini menimbulkan rasa khawatir jika anak terjatuh. “Saya khawatir kalau di sekolah kalau mau naik tangga suka takut” (53) Ketika anak akan menaiki tangga maka SL akan menuntun anak supaya anak tidak terjatuh (problem focused coping-active coping). “kalau dituntun ayo naik gak apa-apa gitu dia bisa, berani.” (54) 6) Kemampuan bantu diri masih kurang (makan, menggunakan toilet) Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mengambil makan anak masih memerlukan bantuan orang dewasa dan SL selalu menaruh makanan dilemari makanan paling atas sehingga hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa anak bisa jatuh jika tidak dapat menggapainya.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 “Ambil makan juga bisa sendiri cuman kadang kan makanan diatas nah itu baru minta tolong. Cuman kadang orang tua kan khawatir kalau nanti jatuh jadi kadang kalau mau ditinggal kerjaan ah bentar deh tak siapin sek daripada manjat-manjat nanti jatuh.” (60-62) Untuk menghindari kemungkinan anak akan terjatuh, SL memilih untuk menyiapkan makanan terlebih dahulu sebelum ditinggal beraktivitas (problem focused coping-active coping). Stres yang dialami SL sehubungan dengan perkembangan fisik anak disebabkan oleh suhu tubuh anak yang mudah berubah, penampilan fisik anak yang menjadi perhatian, anak yang tidak bisa mengikuti kegesitan teman sebaya, mengalami keterlambatan kemampuan berjalan, kurangnya kemampuan motorik (tida bisa menaiki tangga), dan kurangnya kemampuan bantu diri. Bentuk stres yang dialami SL yaitu perasaan khawatir, perasaaan tidak nyaman, perasaan sedih, dan perasaan kasihan. Untuk mengatasi bentuk stres yang timbul, SL lebih cenderung menggunakan problem focused coping jenis active coping. Langkah aktif ini SL gunakan untuk menghilangkan efek yang ditimbulkan oleh stresor. Langkah aktif ini antara lain yaitu tindakan SL untuk menghangatkan anak dengan selimut ketika suhu tubh anak menjadi dingin, meningkatkan perhatian kepada anak, mencari tempat terapi, menuntun anak menaiki tangga, dan menyiapkan makanan untuk anak sebelum bekerja.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 b. Perkembangan kognitif 1) Kurangnya kesadaran akan bahaya Dalam pemahaman hal sehari-hari, kesadaran anak akan bahaya masih kurang. Kebiasaan anak yang senang ngeyel bermain dekat api membuat SL merasa khawatir dan takut anak akan terkena api. “Tapi kadang suka ngeyel aja, saya takutnya kena api.” (132) Untuk mengatasi rasa khawatir dan takut jika anak terkena api, SL berusaha mengingatkan anak dan mengawasi jika anak sedang bermain (problem focused coping-active coping). “Kadang kalau ngeyel saya suka ingatkan jangan nanti kena panas. Atau kalau main gunting saya suka awasi.” (133-134) 2) Kemampuan berbicara yang belum lancar Anak juga memiliki kekurangan dalam kemampuan berbicara, anak terkadang tidak jelas ketika sedang berbicara sehingga harus diulang-ulang agar orang yang diajak berbicara dapat memahami. Agar memahami maksud anak, maka SL selalu meminta anak untuk mengulang pembicaraan supaya tidak salah mengartikan maksud anak (problem focused copingactive coping). Berikut cuplikan wawancaranya: “Heeh alhamdulilah bisa mbak. Cuman itu tadi kadang omongannya jelas namun kadang harus diulang opo to piye to.” (117-118)

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 3) Kurangnya kemampuan menulis, membaca, dan berhitung Dalam hal akademik, kesulitan yang dialami anak antara lain membaca dan berhitung yang belum lancar, serta belum sempurna dalam menulis. Anak juga mengalami kesulitan dalam menghafal. “Dia bisa bergaul biasa dengan teman-teman hanya pelajaran tertentu yang sulit seperti matematika, baca itu dia kadang kan males. Jadi kurang tanggap.” (30-32) “Ya menulis bisa hanya belum sempurna. Membaca juga sudah bisa sedikit-sedikit hanya belum lancar. Kan dia masih dalam taraf belajar. Tapi saya yakin nanti insya allah pasti bisa. Kalau untuk hafalan belum begitu bisa karena kan kalau hafalan mengumpulkan banyak pikiran ya mbak. Hehe. Jadi masih terbata-bata. Berhitung ya bisa tapi masih lompatlompat. “ (137-141) SL berusaha untuk menyediakan waktu untuk mengajari anak setiap harinya dan mengusahakan agar anak mempunyai jadwal belajar setiap sore (problem focused coping-active coping). SL pun menanamkan keyakinan positif pada dirinya bahwa anak pasti bisa (emotion focused coping-positif reinterpretation and growth). “Jadi setiap hari harus ada waktu untuk belajar dan sebagai orang tua harus selalu mendampingi dan mengajarkan anak.” (34-35) “Ya tiap hari, tiap duduk, tiap selo. Kalau dia mau juga selalu diajarin. Misalkan sapu, s-a sa p-u pu, sapu. (subjek mengeja). Terus misal ada koran atau majalah ya nyuruh latihan baca begitu terus. Kalau sore harus ada waktu belajar.” (162-165) SL mengalami stres yang bersumber dari perkembangan kognitif anak. Penyebab stres tersebut antara lain kurangnya

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 kesadaran anak akan bahaya, kemampuan berbicara yang belum lancar, dan kurangnya kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Bentuk stres yang dialami SL yaitu perasaan khawatir. Dalam mengatasi bentu stres yang muncul, SL cenderung menggunaan strategi koping problem focused coping-active coping. Langah aktif yang dilakukan SL yaitu mengingatan dan mengawasi ketika anak bermain, meminta ana mengulang pembicaraan agar tidak salah paham, dan menjadwalkan anak belajar setiap sore. Selain itu, SL juga menggunakan emotion focused coping-reinterpretation and growth dalam mengatasi perasaan khawatir yaitu dengan menanamkan keyakinan pada diri SL bahwa anak pasti bisa. c. Perkembangan emosi 1) Mood anak mudah berubah Anak mengalami perubahan mood yang cukup membuat SL bingung. Ketika anak tidak dalam suasana hati yang baik maka anak tidak akan mau melakukan hal apapun, mood belajar anak juga mudah berubah. “Ya kalau nggak mood ya cuman diem, nggak mau ngapangapain. Ditanya-tanyain diam saja, bingung juga saya ini anak kenapa.” (174-176) “Kemudian kalau lagi mood belajarnya buruk. Wah harus putar otak ya orang tuanya kalau lagi semangat ya semangat banget belajar.” (315-317)

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Ketika mood belajar anak mulai kendor, SL memberikan selingan seperti halnya belajar sembari menonton TV atau mengemas tempe (problem focused coping-active coping). “Kalau lagi belajar misal dia lagi nggak mood atau lagi bosan yasudah istirahat dulu, kalau nggak sembari mengemas tempe atau nonton TV gitu dilanjutin. Jadi nggak bosen dia kan ada selingan.” (321-324) 2) Keinginan anak kuat dan harus terpenuhi Jika anak memiliki keinginan maka harus segera dipenuhi, tidak peduli ibunya sibuk atau tidak. Keadaan demikian membuat SL merasa keberatan karena anak akan terus menagih sampai apa yang diinginkannya tercapai. “Itu dia mbak apapun lah kalau dia pengen harus ada. Kalau nggak ya bu beliin to beliin. Minta terus dia sampai dapat.Nagih terus ya bu ya?Heem mbak, kalau orang jawa bilang ngedrel.“ (195-198) “Kalau minta apa-apa harus beli. Masih taraf wajar sih mbak keinginananya, nggak yang aneh-aneh” (207-208) Untuk mengatasinya, SL membelikan apa yang diinginkan anak (problem focused coping-active coping). “Misalkan nonton TV ada iklan es krim baru nah dia pengen ya harus dibelikan sampai dapat seperti yang diiklan.” (209-210) Stres yang dialami SL disebabkan oleh mood anak yang mudah berubah dan keinginan anak yang harus dipenuhi. Hal tersebut membuat SL merasa bingung dan merasa keberatan. Untuk mengatasi stres yang timbul, SL cenderung menggunakan problem focused coping-active coping yaitu dengan memberikan

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 selingan belajar bagi anak (dengan menonton TV dan mengemas tempe) dan memenuhi apa yang diinginkan oleh anak. d. Perkembangan sosial SL menuturkan ketika anak bermain sepeda dan temannya ingin meminjam maka anak akan mengalah padahal sebenarnya ia masih ingin menggunakannya. Dengan pengalaman itu maka timbul kekhawatiran dalam diri SL yaitu adanya rasa khawatir jika anak dimanfaatkan oleh teman sebaya. “kadangkala dapat nggak menyenangkan. Ya, saya khawatir ya kadang. Misalkan dia ngalah, nah kadang malah dimanfaatkan teman-temannya. Misalkan main sepeda, sepeda dipinjem dipakai temennya ya dia ngalah padahal dia sendiri sebenernya kepengen main sepeda.” (243-247) Dengan adanya rasa khawatir jika anak dimanfaatkan oleh teman sebaya maka SL berusaha untuk mengawasi jika anak bermain dan selalu mengingatkan teman-teman sebaya anak supaya tidak saling nakal (problem focused coping-active coping). “Temen-temennya suka saya ingatkan kalau main jangan saling nakal. Saya dari jauh juga mengamati. Main sama siapa, dimana, dan nggak nangis berarti udah aman. Ya mengawasi bukan berarti harus terus memantau tapi setidaknya tahu dimana anak bermain dan dengan siapa.” (252-255) Bentuk stres yang dialami SL yaitu perasaan khawatir jika anak dimanfaatkan teman sebaya dan untuk mengatasi stres tersebut, SL menggunakan strategi koping problem focused copingactive coping.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 2. Lingkungan keluarga 1) Penerimaan suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak Ketika suami SL ketika pertama kali mengetahui bahwa anak kedua mereka dinyatakan Down Syndrome, suami subjek merasakan kesedihan dan terkejut. “Penerimaan bapak ketika mengetahui bahwa anak kedua didiagnosis down syndrome seperti apa bu? Ya sempat kaget juga ya, sedih pasti, sempat down. Tapi yasudah mau diapain lagi.” (482-484) Namun kesedihan yang dirasakan tidak berlarut dan justru suami dapat menerima keadaan anak dan memaknai keadaan anak sebagai karunia dari Tuhan yang harus dijaga dan dirawat (Emotion Focused coping-Acceptance). “Ya menerima dengan ikhlas, itu yang dikasih Tuhan untuk kami, harus kami rawat.” (486-487) 2) Asumsi negatif anak pertama tentang SLB Anak pertama mengajukan keberatan karena adiknya akan disekolahkan di SLB yang menurut pemahamannya adalah sekolah untuk anak yang benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. “Pas mau nyekolahin P juga kakaknya sempat protes, kok di SLB? Tahunya dia kan khusus untuk orang-orang yang nggak bisa ngapa-ngapain, yang tingkah lakunya aneh-aneh.” (491-493) SL memberikan pengertian mengenai sekolah anak berkebutuhan khsusus kepada anak bungsunya dan meyakinkan bahwa SLB yang dipilih untuk adiknya adalah sekolah yang tepat (Problem Focused Coping-Active Coping).

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 “Ya menjelaskan, orang awam kan belum tahu tentang SLB ya. Padahal tidak seperti itu gambarannya, kan SLB sudah ada kelasnya sendiri ya misalnya yang tempat Putra sekolah kan memang khusus untuk yang keterbelakangan mental yang masih bisa diajarin.” (497-500) 3) Anak sering bertengkar dengan saudara kandung karena berebut sesuatu Anak bungsu subjek juga tidak mau mengalah karena berantem dengan adiknya meskipun karena hal sepele. Subjek merasa kesal ketika melihat anak mereka berebut makanan atau berebut laptop. “Ya kadang berantem tapi berantem yang nggak serius cuman karena hal sepele, rebutan laptop atau makanan biasanya. sampai kesal saya lihatnya.” (515-516) Untuk menghentikan kedua anak yang bertengkar, subjek berusaha memberikan pemahaman kepada anak bungsu agar lebih memahami kondisi adiknya dan mau untuk mengalah (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kalau udah begitu ya masnya yang tak kasih tau buat ngalah, tak lerai. Bukan membedakan tapi supaya masnya tau kondisi adeknya dan bsia ngertiin.” (517-519) Stres yang dialami SL disebabkan oleh reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak, asumsi negatif anak pertama tentang SLB, dan anak yang selalu bertengkar dengan saudara kandung demi memperebutkan sesuatu. Bentuk stres yang dialami SL yaitu perasaan sedih dan merasa kesal. Untuk mengatasi stres yang timbul, SL menggunakan problem focused coping-active

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 coping yaitu dengan memberikan pengertian kepada anak pertama bahwa SLB adalah sekolah yang tepat untuk adiknya dan menasehati anak pertama supaya mau mengalah dari adiknya. Selain itu dalam menghadapi stres yang disebabkan oleh reaksi suami terhadap kondisi anak, SL menggunakan emotion focused coping-acceptance yaitu dengan memaknai anak sebagai karunia Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. 3. Lingkungan sekolah Stres SL yang bersumber dari lingkungan sekolah disebabkan oleh guru yang terlalu memandang rendah anak-anak DS dan kurang berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu. Hal tersbut membuat SL merasa tersinggung dan merasa jengkel. “Ya kadang orang lain juga ya kadang menyampaikannya itu kurang pas dan kurang hati-hati, kurang memahami keadaan tu menyakitkan sekali. Contohnya guru juga ada yang begitu, jelas anak ini nggak bisa mau diajarin juga tetep sama aja. Nah gitu, kan sok jengkel ya sebagai orang tua.” (448-452) SL berusaha berfikir positif bahwa mungkin ada unsur ketidaksengajaan dan tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan orang tua (Emotion Focused Coping-Positif Reinterpretation and Growth). “Ya kalau lagi diluar atau pergi kemana gitu kalau orang lain komentar tentang anakku aneh atau kok begini to anaknya kadang suka sakit dengernya. Mungkin ya mereka nggak menyadari kalau berbicara atau berkomentar itu menyakiti hati orang tuanya tidak, kalau misal aku yang dikomentari begitu aku sakit hati nggak. Kan kadang orang begitu ya, nggak berpikir dulu tapi keceplosan. Atau mungkin bermaksud tidak menyakiti.” (453-458)

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Stres yang bersumber dari lingkungan sekolah disebabkan oleh guru yang memandang rendah anak down syndrome dan kurang berhatihati dalam menyampaikan sesuatu. Bentuk stres yang dialami SL yaitu SL merasa tersinggung dan merasa kesal. Untuk mengatasi stres yang timbul, SL lebih menggunakan emotion focused coping-positive reinterpretation and growth yaitu dengan berpikir positif bahwa guru tidak bermaksud untuk menyinggung. 4. Tenaga medis 1) Kesalahan diagnosis dokter Penyebab stress tidak lebih dikarenakan adanya pemeriksaan dokter yang kurang tepat. SL merasa kecewa terhadap hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan dirinya tidak hamil namun terkena penyakit ginjal dan maag. Akibat pemeriksaan yang kurang tepat tersebut, SL harus meminum obat-obatan dengan dosis beragam dan baru ketahuan hamil ketika usia kehamilan menginjak 4 bulan. “Dokter A bilang saya cuman maag, Dokter B bilang saya kena ginjal, bidannya sendiri bilang masuk angin. Saya kan jadi lari kesana kesini, mana obatnya kan dosisnya beragam.” (344-346) “takut akan efek obat ya, yang namanya orang hamil ibunya makan apa kan bayinya juga ikut makan. Soalnya pas dites itu nggak hamil mbak nah pas 4 bulan tahu kalau ternyata isi.” (403-405) SL berpasrah kepada Tuhan ketika perasaan kecewa menggelayutinya. Sebab menurut SL menyalahkan dokter pun tidak

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 akan merubah situasi (Emotion Focused Coping-Acceptance). SL juga berdoa kepada Tuhan, berharap semoga tidak terjadi sesuatu terhadap bayi yang SL kandung (Emotion Focused Coping-Turning to Religion). “Kalau mau menyalahkan dokter atau bidannya kan nggak ada fungsinya ya mbak, jadi ya kita pasrah saja semoga nggak ada apa-apa. Mungkin Tuhan memberinya lewat jalan itu.” (346-348) “Ya kalau dibilang kecewa saya kecewa sekali tapi kan dihibur sendiri mudah-mudahan nggak kenapa-kenapa, berdoa juga nggak putus.” (405-407) Selain kekecewaan karena diagnosis dokter yang keliru, SL juga merasa tidak terima ketika ada dokter yang memvonis bahwa anaknya tidak akan bisa berjalan. “Ya dulu memang ada dokter ya memvonis anak ini nggak bisa jalan. Lha jengkel kami, marah kami. Dokter kan seharusnya menghibur ya biar kami nggak syok. Minimal berbicara dengan halus nggak lagsung anak ini nggak bisa jalan! Dia juga bukan Tuhan kan?” (440-444) Menghadapi pernyataan dokter yang mengatakan bahwa anaknya tidak akan bisa berjalan, SL hanya bisa berdoa dan meminta kepada Tuhan supaya anaknya dapat berjalan. SL meyakini bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya (Emotion Focused CopingTurning to Religion). “Yang namanya kita punya Tuhan kan hanya berdoa dan meminta kan Tuhan yang mengabulkan.” (446-447) 2) Ketidakpuasan terhadap terapi tumbuh kembang SL juga merasa tidak puas dengan terapi tumbuh kembang disalah satu RS di Yogyakarta karena dianggap tidak efisien. Anak

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 hanya diajarkan mengatakan “bu” dengan berkali-kali meniup lilin dan diberikan kejutan listrik untuk memicu saraf. “Tapi saya rasa kurang begitu efisien. Antara tenaga dan uang kok kurang memuaskan. Kalau terapinya begitu saya dirumah juga bisa ngajarin. Masa cuman disuruh niup lampu senthir (subjek mempraktekan meniup senthir). Biar bisa bilang „ibu‟. Itu dsuruh niup biar bisa bilang „bu‟. Udah biayanya mahal, waktunya lama terbuang cuman bisa bilang „bu‟. Nah saya liatnya jadi kasian ya suruh berdiri, dikasih kejutan listrik, dipaksa mpe nangis kekejer.” (415-421) SL juga merasa kasihan ketika melihat anak diberi terapi kejutan listrik hingga membuat anak menangis. Setelah itu, SL menghentikan terapi di Rumah Sakit tersebut dan memutuskan untuk mengajarkan secara mandiri dirumah (Problem Focused CopingActive Coping). “Jadi saya cuman beberapa kali habis itu udah nggak lagi, diajarkan sendiri dirumah.” (422-423) Stres yang bersumber dari tenaga medis yang dialami SL disebabkan oleh adanya kesalahan diagnosa dokter yang menyatakan SL tidak hamil, vonis dokter bahwa anaknya tidak akan bisa berjalan, dan ketidakpuasan terhadap terapi tumbuh kembang. Bentuk stres yang dialami SL yaitu SL merasa kecewa, merasa tidak terima, dan merasa tidak puas. Dalam mengatasi stres yang timbul SL lebih menggunakan 2 jenis emotion focused coping. Pertama, acceptance yang ditunjukkan dengan penerimaan SL terhadap diagnosa dokter dan berpasrah. Kedua, turning to religion yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tidak terima subjek terhadap

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 diagnosa dan vonis dokter. SL berdoa supaya kehamilannya baikbaik saja dan anaknya kelak dapat berjalan. Selain emotion focused coping, SL juga menggunakan 1 jenis problem focused coping yaitu active coping yang ditunjukkan dengan keputusan untuk mengajari anak berbicara dan berjalan secara mandiri dirumah. 5. Kemandirian anak Dari segi kemandirian, anak bersikeras untuk berangkat sekolah sendiri dengan mengendarai sepeda. Namun SL belum yakin untuk melepas anak begitu saja. “Dia sering bilang pengen berangkat sendiri naik sepeda tapi kan saya belum yakin kalau mau lepas.” (301-302) SL juga mengambil langkah aktif untuk rasa tidak yakin untuk membiarkan anak berangkat sekolah sendiri, SL memutuskan untuk mengantar sekolah dan menjemput anak (problem focused copingactive coping). “Jadi setiap hari saya mengantarkan dia, jemput juga iya. Lebih baik saya yang capek daripada anak kenapa-kenapa di jalan.” (302-304) Stres yang dialami subjek yaitu bersumber dari anak yang bersikeras berangkat sekolah sendiri. Hal ini menimbulkan perasaan tidak yakin dalam diri subjek. Dalam mengatasi perasaan tidak yakin subjek menggunakan problem focused coping-active coping, yaitu dengan mengantar dan menemput anak ketika sekolah.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 b. Stres yang Bersumber Dari Dalam Diri SL dan Coping Strategy yang Digunakan SL 1. Perasaan bersalah SL merasa sedih, down, dan tidak fokus dalam berpikir ketika mengetahui bahwa anaknya Down Syndrome. “Ya waktu dulu ya pikirannya kemana-mana. Dulu kan saya sampai kurus banget mbak saya nggak seperti sekarang. Sedih, selalu bertanya kok bisa?, down banget.” (327-329) Subjek menyadari bahwa kondisi anak yang demikian tidak dapat diubah dan anak tidak mengalami sakit yang cukup serius. Dengan demikian, subjek hanya bisa mengikhlaskan dan menerima anak sebagai amanah serta rejeki dari Tuhan (Emotion Focused CopingAcceptance). “Tapi seiring berjalannya waktu ya dan nggak ada sakit serius ya sudah mulai biasa saja dan ikhlas.” (329-330) “Cuman mungkin Tuhan memberikan kami seperti ini ya kami terima sebagai amanah dan rejeki untuk kami.” (333-335) 2. Kekhawatiran terhadap masa depan anak SL merasa resah karena memikirkan masa depan anak, pekerjaan apa yang cocok untuknya. “Kalau untuk masa depannya saya hanya kepikiran dengan pekerjaan yang cocok buat dia.” (521-523) Untuk mengatasi situasi ini, subjek memikirkan rencana untuk masa depan anak. Subjek menyiapkan lahan bagi anak untuk berwiraswasta (problem focused coping-planning).

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 “Kalau untuk masa depannya saya hanya kepikiran dengan pekerjaan yang cocok buat dia. Sebagai orang tua itu ya sekarang sudah siap untuk masa depan anak. Udah menyiapkan lahan untuk Putra berwiraswasta.” (522-524) Stres yang bersumber dari dalam diri antara lain adanya perasaan bersalah dan kekhawatiran akan masa depan anak. Dalam mengatasi stres yang muncul, SL menggunakan problem focused coping-planning yaitu dengan menyiapkan lahan untuk anak berwiraswasta kelak dan emotion focused coping-acceptance yaitu dengan memaknai anak sebagai rejeki dari Tuhan. 3. Kesimpulan Stres yang Dialami SL dan Coping Strategy yang Digunakan SL SL lebih banyak mengalami stres yang berasal dari luar diri daripada stres dari dalam diri. Stres dari luar diri tersebut paling banyak bersumber dari keterbatasan anak antara lain disebabkan oleh perkembangan anak dimana penampilan fisik anak menjadi perhatian orang lain, suhu tubuh yang mudah berubah dingin, tidak bisa mengikuti kegesitan teman sebaya, mengalami keterlambatan kemampuan berjalan, dan kurang mampu dalam kemampuan bantu diri. Selain itu dalam perkembangan kognitif yang menjadi sumber stres bagi SL yaitu kurangnya kesadaran anak akan bahaya, kemampuan berbicara yang kurang lancar, dan kurangnya kemampuan anak dalam akademik (membaca, menulis, dan berhitung). Jika dilihat dari perkembangan emosi anak, stres yang dialami SL bersumber dari mood

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 anak yang mudah berubah dan anak yang memiliki keinginan kuat (harus terpenuhi). Perkembangan sosial anak juga merupakan sumber stres bagi SL. Rasa sosial yang tinggi pada anak menjadi sumber stres bagi SL karena anak yang lebih mengutamakan teman membuat SL merasa khawatir jika anak dimanfaatkan. Lingkungan keluarga juga merupakan sumber stres bagi SL. Reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak, asumsi negatif anak pertama tentang SLB, dan anak yang sering bertengkar dengan saudara kandungnya utnuk memperebutkan sesuatu. Stres yang bersumber dari lingkungan sekolah dikarenakan oleh guru yang memandang rendah anak dan kurang berhati-hati dalam mengungkapkan sesuatu. Bentuk stres yang dialami SL yaitu merasa tidak nyaman, merasa sedih, merasa kesal, merasa tersinggung, merasa kasihan, merasa bingung, merasa keberatan, dan merasa khawatir. Kesalahan diagnosa dokter dan ketidakpuasan terhadap terapi tumbuh kembang merupakan sumber stres bagi SL. Bentuk stres yang dialami SL yaitu merasa kecewa, merasa tidak terima, dan merasa tidak puas. SL juga mengalami stres yang bersumber dari dalam diri SL sendiri yaitu penerimaan SL ketika pertama kali mengetahui kondisi anak dan kekhawatiran terhadap masa depan anak. Terkait hal tersebut, SL yaitu perasaan sedih, resah, dan tidak fokus dalam berpikir. Dalam mengatasi bentuk stres yang muncul, SL menggunakan problem focused coping-active coping. Contoh langkah aktif yang

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 dilakukan SL antara lain menghangatkan tubuh anak dengan selimut ketika suhu tubuh anak menjadi dingin, meningkatkan perhatian kepada anak, menyemangati anak, mengawasi ketika anak bermain, mengajari anak belajar setiap sore, memberikan selingan kepada anak ketika belajar, dan memenuhi keinginan anak. Problem focused copingplanning yaitu dengan menyiapkan lahan bagi anak berwiraswasta. Selain itu, SL juga menggunakan emotion focused coping-positive reinterpretation and growth dalam mengatasi perasaan khawatir. SL menanamkan keyakinan pada dirinya bahwa anak pasti bisa membaca, menulis, dan berhitung. SL juga meyakinkan diri bahwa guru tersebut tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan SL. SL juga menggunakan emotion focused coping-acceptance dan turning to religion. Bentuk koping acceptance SL tunjukkan dengan berpasrah dan merasa bahwa tidak ada gunanya menyalahkan dokter, serta memaknai anak sebagai rejeki dari Tuhan. Jenis koping turning to religion SL tunjukkan dengan berdoa supaya kehamilannya berjalan dengan baik dan kelak anak dapat berjalan. Berikut bagan kesimpulan yang berisi sumber stres, bentuk stres, serta koping subjek SL:

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Bagan 2. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres dan Strategi Koping Subjek 1 (SL) Sumber stres dari luar diri Keterbatasan anak: a. Perkembangan fisik Suhu tubuh anak mudah berubah Penampilan fisik anak menjadi pusat perhatian orang Tidak bisa mengikuti kegesitan teman sebaya Keterlambatan dalam berjalan Tidak berani menaiki tangga Kemampuan bantu diri masih kurang b. Perkembangan kognitif Kurangnya kesadaran anak akan bahaya Kemampuan berbicara yang belum lancar Korangnya kemampuan menulis, membaca, dan berhitung c. Perkembangan emosi Mood anak mudah berubah Keinginan anak kuat dan harus terpenuhi d. Perkembangan sosial Kekhawatiran anak dimanfaatkan teman sebaya Lingkungan keluarga: 1. Penerimaan suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak 2. Asumsi negatif anak pertama tentang SLB 3. Anak sering bertengkar dengan saudara kandung karena berebut sesuatu Lingkungan Sekolah: Guru yang terlalu memandang rendah anak 2. Tenaga medis: 1. Kesalahan diagnosis dokter 2. Ketidakpuasan terhadap terapi tumbuh kembang Kemandirian anak Anak bersikeras berangkat sekolah sendiri Subjek 1 (SL) Sumber stres dari dalam diri: 1. perasaan bersalah 2. kekhawatiran terhadap masa depan anak Bentuk Stres yang Dialami Subjek 1 (SL) 1. 2. 3. 4. Merasa khawatir Merasa tidak nyaman Merasa sedih Merasa kasihan 5. Merasa bingung 6. Merasa keberatan 7. Merasa kesal 8. Merasa tersinggung 9. Merasa kecewa 10. Merasa tidak terima 11. Merasa tidak puas 12. Meraa Takut 13. Merasa tidak fokus berpikir Coping Strategy subjek Problem Focused Coping: Active Coping, Planning Emotion Focused Coping: Positive Reinterpretation and growth, Acceptance, Turning to religion

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 D. Subjek 2 (SH) 1. Deskripsi Subjek 2 (SH) SH berusia 42 tahun dan merupakan ibu rumah tangga. Suami SH bekerja sebagai karyawan swasta. SH adalah pribadi yang ramah. Hal ini terlihat dari cara bicara SH yang apa adanya dan sesekali tersenyum ketika sedang berbincang-bincang. SH mengaku bahwa dirinya mudah grogi. Hal itu terlihat dari tangan SH yang gemetar dan muka tegang. Kemudian untuk mencairkan suasana peneliti mengajak SH untuk mengobrol dan ketika SH sudah mulai rileks maka wawancara dimulai. Sesekali SH mengelap keringat karena memang cuaca sangat panas. Meski demikian wawancara dapat berjalan lancar tanpa hambatan. Setiap hari SH bertugas mengantar dan menjemput anak sekolah. dan memiliki dua orang anak, yang pertama terlahir normal dan bersekolah di salah satu sekolah menengah kejuruan di Klaten. Sedangkan anak kedua bersekolah di SLB C di Klaten dan masih dalam kelas percobaan, sebab anak yang masuk sekolah pertama kali belum ditentukan untuk menempati jenjang kelas tertentu. SH tidak menyangkan jika akan melahirkan anak dengan kondisi Down Syndrome. SH baru mengetahui kondisi anak ketika anak dilahirkan. SH sendiri tidak mengetahui apa penyebab anak keduanya terlahir dengan kondisi demikian karena tidak ada keturunan Down Syndrome dalam keluarga subjek. Menurut SH, perkembangan A sangat terlambat dibandingkan dengan anak seusianya. A tidak pernah mengalami sakit

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 serius, namun pernah mengalami patah tulang ketika terjatuh dari motor SH. Dalam berkomunikasi A masih belum lancar, dapat mengucapkan kata-kata pendek namun jika dalam bentuk kalimat A belum bisa. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan, dan memakai baju masih harus dengan bimbingan orang tua. A dapat berjalan ketika menginjak usia 20 bulan. Dengan kondisi A yang demikian SH sempat berpikiran mungkinkah A seperti anak-anak normal lainnya. SH sangat sabar dalam merawat A. Suami pun sangat mendukung SH dan dapat dengan ikhlas menerima kondisi A. Ketika mengetahui bahwa A didiagnosis Down Syndrome, subjek sempat memiliki ketakutan jika suatu saat hamil lagi dan melahirkan anak dengan kondisi yang sama. Keluarga besar sangat menyayangi A, lingkungan sekitar juga bersikap baik dengan kondisi A. Meskipun lingkungan sekitar terlihat bersikap baik dengan A, terkadang SH merasa sakit hati karena banyak yang memanggil A dengan sebutan “pego” (anak bodoh). A dapat bergaul dengan anak yang lebih tua/lebih muda. Kemampuan A dalam membaca, menulis, dan berhitung masih kurang. Meskipun A sulit namum SH selalu berusaha agar anaknya mampu dalam akademik dengan mengajarkan menulis, membaca, dan berhitung. Selama ini SH berusaha menghibur diri jika banyak gunjingan menghampiri. SH selalu berusaha memikirkan hal-hal positif yang membuat hati senang daripada memikirkan hal-hal negatif yang membuat sakit hati dan sedih. Jika mendapat celaan maka subjek hanya mendengarkannya, masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Dalam kegiatan

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 masyarakat A juga dapat mengikuti. Seperti gotong royong maupun membersihkan masjid. SH berharap anaknya seperti anak normal lainnya namun SH sadar bahwa tidak semua hal dapat A lakukan. 2. Stres dan Coping Strategy SH a. Stres yang Bersumber Dari Luar Diri SH dan Coping Strategy yang Digunakan SH 1. Keterbatasan anak Stres yang bersumber dari keterbatasan anak dalam hal ini yaitu karena adanya keterbatasan pada perkembangan anak. Pada SH, stres yang bersumber dari keterbatasan anak yaitu karena adanya keterbatasan anak pada perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial. Berikut pemaparannya: a. Perkembangan Fisik Stres yang bersumber dari perkembangan fisik anak yang dialami SH disebabkan oleh kurangnya kemampuan bantu diri anak. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, anak masih harus disuapi oleh SH dan masih harus dibantu jika ke toilet. “Dalam memenuhi kebutuhan keseharian hal apa sajakah yang harus selalu dibantu? Makan masih diambilkan, terus ke kamar mandi juga masih dibantu gitu. Terutama kalau eek kan dia belum bisa cebok sendiri, tapi kalau nyiramnya bisa. Terus kalau makan itu di sekolah mau makan sendiri, tapi kalau dirumah seringnya minta disuapin. Mungkin kalau disekolah nggak ada yang bisa dimintain tolong nyuapin jadi makan sendiri.” (47-53)

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Mengingat anak yang belum begitu bisa untuk membersihkan diri ketika menggunakan toilet, maka SH membantu anak dalam membersihkan diri setelah buang air. Selain itu SH juga membantu anak untuk mengambil makanan ketika saatnya waktu makan (Problem Focused Coping-Acive Coping). “Makan masih diambilkan, terus ke kamar mandi juga masih dibantu gitu. Terutama kalau eek kan dia belum bisa cebok sendiri” (49-50) Stres yang bersumber dari perkembangan fisik yang dialami SH yaitu kemampuan bantu diri anak yang masih kurang. Anak masih harus dibantu untuk makan dan meggunakan toilet. Dalam mengatasi stres yang muncul, SH menggunakan problem focused coping-active coping, yaitu dengan membantu anak untuk menggunakan toilet dan menyiapkan makanan. b. Perkembangan Kognitif 1) Kurangnya kesadaran akan bahaya Anak kurang paham jika bermain didekat kompor menyala itu berbahaya dan hal ini membuat SH merasa khawatir. “dia nggak ngeh kalau kompor menyala itu bisa membahayakan. Main ya main aja kalau dia. Malah ibunya yang was-was.” (104-105) Hal tersebut mendorong SH untuk lebih meningkatkan perhatiannya kepada anak. SH sering mengingatkan anak supaya

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 tidak bermain didekat api dan mengawasi ketika anak sedang bermain (Problem Focused Coping-Active Coping). “Malah ibunya yang was-was. Saya sok triak heh jangan nanti kena api. Jangan mainan pisau nanti berdarah, sakit(mempraktekan jari teiris pisau). Jadi saya harus selalu awasi dia kalau bermain.” (105-108) 2) Kurangnya kemampuan menulis, membaca, dan berhitung Kemampuan seperti membaca, menulis, dan berhitung juga belum dikuasai dengan baik oleh anak. “Kemampuan dek A dalam membaca, menulis, dan berhitung seperti apa bu?Nah kalau itu bu guru yang lebih tahu. Kalau untuk membaca dan menulis belum bisa. Mungkin kalau berhitung sudah bisa, sampai angka 10 sudah bisa. Kalau pengenalan huruf belum bisa.”(109-113) Untuk membantu anak supaya dapat membaca, menulis, dan berhitung SH juga berusaha untuk mengajarkannya sendiri dirumah. SH juga membelikan beberapa sarana belajar antara lain buku yang dikhususkan untuk menebalkan huruf (Problem Focused Coping-Active Coping). “Saya mengajarkan di rumah juga iya. Tak ajarkan ini huruf A besar, ini A kecil tapi ya nggak bisa. Kalau disuruh menebalkan bisa. Tapi kalau disuruh nulis sendiri belum bisa. Sampai tak belikan buku buat menebalkan tu tiap sore mau belajar. Kalau nebalkan bisa, kalau disuruh sendiri belum. Belum tahu ini A ini apa. Artinya A itu dia nggak tahu (subjek geleng-geleng kepala) cuman menebalkan aja, lainnya nggak mau dia. Semaunya aja kadang siang kadang sore.” (121-127) 3) Kemampuan komunikasi/berbicara belum lancar Anak belum lancar dalam kemampuan berbicara dan belum bisa mengucapkan kata dalam bentuk kalimat. Hal ini

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 membuat SH merasa bingung karena ketika anak meminta makan pun anak hanya memeragakan layaknya orang yang sedang memasukkan makanan ke mulut. Untuk mengatasi perasaan bingung tersebut, SH berusaha untuk lebih memperhatikan dengan cermat apa yang dibicarakan anak supaya tidak salah paham (Problem Focused Coping-Active Coping). “Gimana yo, perkembangannya itu susah tu lho. Kalau berbicara belum bisa lancar, lama. Nggak bisa yang kalimat panjang kalau cuman 2 kata bisa misalnya bapak mama. Yang sulit itu misalnya kalau maem gitu nggak langsung bilang maem tapi cuman gini aja (memperagakan orang yang sedang memasukan makanan ke mulut). Ya paling itu mbak. Bingung sendiri kadang dan harus memperhatikan dengan cermat, anak bicara apa”. (34-39) c. Perkembangan Emosi 1) Suasana hati/mood mudah berubah Suasana hati anak yang mudah berubah, jika sedang dalam suasana hati yang baik anak akan berlaku lembut dan jika suasana hati anak sedang buruk maka anak akan mudah marah. Hal ini membuat SH sedih dan bingung untuk mengatasi karena tidak mungkin jika harus memarahi anak. “anaknya kan ya suka mutungan gitu kalau moodnya lagi baik ya baik. Kalau moodnya lagi jelek yaudah gini terus, marahmarah.” (79-81) “Untuk perubahan suasana hati dari dek Adit sendiri seperti apa bu, apakah sering berubah-ubah atau bagaimana? Yaa.. kadang-kadang keras, kadang-kadang lembut. Kalau lagi lembut ya diam. Apa-apa ngikut, kalau nggak yaudah ngamuk.” (136-139)

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Dalam mengatasi perubahan suasana hati anak, SH lebih meningkatkan usahanya dalam menelateni anak dan berbicara kepada anak dengan menggunakan bahasa yang halus. Cara ini dilakukan SH supaya kemarahan anak mereda (Problem Focused Coping-Active Coping). “Jadi ya harus lebih ditelateni juga merawatnya.” (81) “Yaa kita sebagai orang tua terutama saya sebagai ibu yang harus sabar. Ya, ngomongnya yang halus. Kalau dikasarin sedikit dia nggak mau. Kalau dikasarin malah marah-marah” (169-171) 2) Kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak) Jika anak sedang dalam suasana hati yang tidak bagus maka anak akan mudah marah. Anak akan membanting pintu dan mengomel. Hal ini membuat SH menjadi sedih dan bingung dalam menghadapi situasi seperti itu. “Kadang dirumah itu pintunya dibanting, deeerrrrr. Nek nggak di jalan pas pulang sekolah itu sering ngomel-ngomel nggak jelas.” (146-148) “Paling kalau dia marah-marah tu ya mbak saya suka sedih, mau marahin juga gak mungkin.” (182-183) Dalam mengatasi perasaan sedih dan bingung ketika anak marah, SH lebih memaknai kondisi anak sebagai takdir dan kondisi yang memang seharusnya dijalani (Emotion Focused Coping-Acceptance). “Mungkin udah takdirnya ya dia begitu kondisinya. Jadi yaudah diterima aja.” (183-184)

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 3) Keinginan anak kuat dan harus terpenuhi Menurut SH, anak juga memiliki sikap keras dan semua keinginan anak harus segera terpenuhi. Jika keinginan anak tidak terpenuhi maka anak anak teriak-teriak. “Yahh mungkin kalau minta ini, minta itu harus dituruti. Kalau dia bilang aku mau maianan ya harus dibelikan. Kalau nggak dia marah-marah. Dia keras anaknya. Kalau mainan yang dia pengenin ya harus dibelikan.” (160-162) “Misalkan keinginannya tidak terpenuhi seperti apa bu reaksi dek A? Hmm.. marah. Dia marah, triak-triak huuuu gitu. Jadi ya harus diberikan apa yang diinginkannya.” (163-165) Dalam mengatasi kemauan anak yang harus segera dipenuhi maka SH mengusahakan diri untuk memenuhi apa yang diminta anak (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kalau mainan yang dia pengenin ya harus dibelikan.” (162) “Dia marah, triak-triak huuuu gitu. Jadi ya harus diberikan apa yang diinginkannya.” (164-165) Stres yang dialami SH disebabkan oleh mood anak yang mudah berubah, kontrol emosi anak yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak), dan keinginan anak yang kuat (harus terpenuhi). Bentuk stres yang dialami SH yaitu perasaan sedih dan perasaan bingung. Untuk mengatasi stres yang muncul, SH menggunakan 2 jenis coping strategy yaitu problem focused coping-active coping dan emotion focused coping-acceptance. Active coping ysng dilakukan SH yaitu berusaha untuk berbicara dengan anak menggunakan bahasa yang halus dan berusaha memenuhi semua keinginan anak. Acceptance SH tunjukkan

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 dengan memaknai kontrol emosi anak yang buruk sebagai suatu takdir yang ahrus SH jalani. d. Perkembangan Sosial Dalam relasi antar teman sebaya, anak sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikatai pego (bodoh) dan dicubit. Hal ini tentu membuat subjek merasa kesal jika anak diperlakukan demikian. “Biasanya seperti apa bu perlakuan tidak menyenangkannya? Biasanya dikata-katain. Kadang di cubit. Tapi ya biasa. Kadang dikatain kowe ki pego (kamu itu bodoh). Hah, sudah pasti terlontar kata itu.” (219-221) SH yang merasa tidak terima dengan ejekan yang ditujukan kepada anaknya, maka SH memberikan pengertian kepada temanteman sebaya anak agar tidak saling menyakiti (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kemudian apa yang ibu lakukan melihat anak ibu sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya? Ya yang sabar. Palingan saya bilangin eee yo ojo ngono, kuwi kan ya kancane. Nek kekancan ora oleh nakal-nakalan. (eee.. ya jangan gitu, itu kan ya temennya, kalau berteman nggak boleh saling nakal). Saya kasih pengertian kalau memang kondisi A seperti itu kok masih aja dikata-katain pego (bodoh).” (222-228) SH mengalami stres yang disebabkan oleh perlakuan kurang menyenangkan dari teman sebaya anak kepada anaknya. Hal ini membuat SH merasa kesal. Untuk mengatasi perasaan kesal tersebut, SH menggunakan problem focused coping-active coping. Langkah aktif yang dilakukan SH yaitu dengan berusaha

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 memberikan pengertian kepada teman sebaya anak agar tidak saling menyakiti ketika bermain. 2. Lingkungan keluarga Stres yang dialami subjek dikarenakan oleh anak pertama yang sering mengejek adiknya dan anak yang sering bertengkar karena memperebutkan sesuatu. Berikut uraiannya: 1) Anak sering diejek oleh saudara kandung SH mengungkapkan bahwa anak sering diejek oleh anak pertamanya. SH merasa tidak suka ketika anak sulungnya memanggil adiknya dengan sebutan pego (bodoh). “Malahan sama dia dipanggil pego (bodoh). Pego, buatke kopi. Saya ya ngasih tahu mbok manggilnya yang bagus. Tapi ya tetep aja begitu. Sukanya njarak (sengaja).” (374-376) SH berusaha untuk memberikan pengertian kepada anak bungsunya supaya tidak memanggil adiknya dengan sebutan pego lagi (Problem Focused Coping-Active Coping). “Saya suka kasih pengertian, udah tahu adiknya kondisinya begitu kok masih suka dipanggil pego.” (377-378) 2) Anak sering bertengkar dengan saudara kandung SH juga sering merasa jengkel karena kedua anaknya sering bertengkar karena hal sepele seperti berebut remote TV dan anak sulung tidak mau mengalah. “ya kadang berantem wong kakaknya juga nggak mau ngalah. Masalah kecil aja berantem. Remote TV aja bisa jadi berantem.” (380-381)

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Melihat kedua anak sering bertengkar dan berebut barang, SH melerai mereka dan memarahi anak bungsu supaya mengalah dengan adiknya (Problem Focused Coping-Active Coping). “Oo.. lalu seperti apa cara ibu dalam mengatasi kalau mereka berantem?Yang gede yang tak marahin. Kowe ki uwes gede, adiknya masih kecil kondisinya begini kok ya masih nggak ngertingerti.” (382-384) Stres yang dialami subjek disebabkan oleh sikap anak pertama yang sering mengejek adiknya dengan sebutan "pego" dan kedua anak yang sering bertengkar karena memperebutkan sesuatu. Bentuk stres yang dialami SH yaitu perasaan jengkel dan perasaan tidak suka. Dalam mengatasi stres tersebut, SH menggunakan problem focused coping-active coping. Langkah aktif yang dilakukan SH yaitu dengan memberitahukan kepada anak pertama supaya berhenti mengejek adiknya dan memarahi anak pertama ketika bertengkar memperebutkan sesuatu. 3. Lingkungan masyarakat SH mengungkapkan bahwa anak kadang dimarahi oleh tetangga-tetangga karena anak tidak paham terhadap sesuatu kemudian anak dipanggil dengan sebutan pego (bodoh) oleh para tetangga. Hal ini tentu saja membuat SH merasa sakit hati. “Ya itu tadi kadang ada yang ngomel, kowe ki piye mung ngono wae rak dong. Trus kata-kata pego (bodoh) itu sering terdengar. Selalu begitu. Nylekit sakjane.” (403-405)

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Dengan adanya perlakuan tidak menyenangkan tersebut, SH berusaha untuk tidak memasukannya ke dalam hati karena SH merasa tidak bisa untuk melawan (Problem Focused CopingSuppression of Competing Activities). “Ya itu tadi masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Nggak tak masukin hati. Ya gimana lagi adanya anak itu. Sabar, tabah. Mau nglawan juga nggak bisa.” (414-415) Stres dari lingkungan masyarakat yang dialami SH disebabkan oleh perlakuan tidak menyenangkan yang diperoleh anak. Anak kadang-kadang dimarahi oleh tetangga karena tidak paham terhadap sesuatu. Hal ini membuat SH merasa sakit hati. Dalam mengatasi sakit hati ini, SH menggunakan problem focused coping-suppression of competing activities dengan tidak memasukan sikap tetangga-tetangga kepada anak. b. Stres yang Bersumber Dari Dalam Diri SH dan Coping Strategy yang Digunakan SH 1. Perasaan bersalah Ketika SH mengetahui bahwa anaknya Down Syndrome, SH merasakan kesedihan karena anaknya terlahir tidak seperti anak normal pada umumnya. SH menganggap kondisi anak sebagai ganjaran baginya. “Kadang saya tu mikir kok anakku nggak kayak temen-temennya, itu saya juga sedih ngliatnya. Tapi ya sudahlah emang mungkin sudah ganjaran saya. Ya kan mbak? (subjek menatap peneliti dengan mata berkaca-kaca). Ya ada rasa takut ya mbak, mereka

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 bisa begini begitu tapi anak saya kok nggak bisa. Nek gitu kan saya rasanya duh.. anak saya kok begini.” (232-337) SH hanya bisa pasrah menerima keadaan anak keduanya dan berusaha untuk tabah, serta berharap anak menjadi anak yang soleh (Emotion Focused Coping-Acceptance). “Berusaha menerima aja ya, yang sabar. Sedih pasti ada tapi yang tabah. Semoga anakku bisa jadi anak yang bagus, soleh.” (376378) SH menganggap kondisi anak sebagai ganjaran atas dosa yang SH perbuat dimasa lalu. Hal ini membuat SH merasa sedih dan untuk mengatasi perasaan sedih tersebut, SH menggunakan emotion focused coping-acceptance. Koping ini SH pilih karena SH merasa bahwa sumber stres merupakan situasi yang memang seharusnya SH jalani, sehingga SH berpasrah dan berusaha untuk tabah. 2. Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak normal Dengan mempunyai pengalaman memiliki anak Down Syndrome, timbul perasaan takut bagi SH untuk hamil lagi. Ketakutan itu muncul karena khawatir jika nantinya akan melahirkan anak dengan kondisi yang sama (Down Syndrome). “Saat mengetahui anak kedua ibu DS adakah rasa takut jika suatu saat hamil lagi? Dulu sempat iya, takut anak saya begini lagi kalau hamil lagi.” (349-351) Dalam mengatasi rasa takut hamil lagi, SH memfokuskan diri untuk merawat anak sehingga ketakutan untuk hamil lagi tidak

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 dirasakan oleh SH (Problem Focused Coping-Suppression of Competing Activities). “Ya mungkin karena serius nelateni anak ya mbak jadinya saya nggak mikirin takut hamil lagi. Hehe” (405-406) Stres yang dialami SH disebabkan oleh hilangnya kepercayaan SH untuk memiliki anak yang normal. SH merasa takut untuk hamil lagi karena khawatir akan melahirkan anak down syndrome lagi. Untuk mengatasi stres yang timbul, SH menggunakan problem focused coping-suppression of competing activities yaitu dengan memfokuskan diri merawat anak sehingga perasaan takut jika hamil lagi hilang begitu saja. 3. Kekhawatiran terhadap masa depan anak 1) Harapan supaya anak dapat menjalani kehidupan secara normal SH juga selalu berangan-angan apakah anak dapat menjalani kehidupan secara normal seperti anak normal pada umumnya. Dengan mengingat kondisi anak, tentu saja ini membuat SH merasa ragu-ragu akan harapannya. “Ndak ada sih mbak, paling ya saya yang kepikiran wah nanti anakku bisa kayak anak normal nggak ya. Bisa menjalani kehidupan dengan normal.” (72-73) SH hanya bisa bersabar dan berdoa kepada Tuhan supaya harapannya dapat terkabul (Emotion Focused Coping-Turning to Religion). “Ya kita harus sabar (subjek mengelus dada dan memejamkan mata) gitu. Dibawa dalam doa saja semoga anakku tidak dijahati atau dimanfaatkan orang lain.” (77-79)

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 2) Harapan agar anak menjadi anak yang patuh SH juga mempunyai suatu impian supaya anaknya dapat menjadi anak yang pintar dan patuh terhadap orang tua. “Kalau ibu tu ya pengennya anak sekolah yang pinter, ngikuti apa kata orang tua.” (130-131) Untuk harapannya ini, SH memilih untuk menerima keadaan anak dan bersabar (Emotion Focused CopingAcceptance) “Yasudah mbak, hanya bisa sabar. Menerima saja kondisinya.” (135) Masa depan anak juga dapat menimbulkan stres bagi SH. Stres yang dialami SH dikarenakan oleh harapan SH agar anak dapat menjalani kehidupan secara normal dan harapan agar anak dapat menjadi anak yang patuh. Bentuk stre syang dialami SH yaitu perasan ragu-ragu dan untuk mengatasi bentuk stres ini, Sh menggunakan 2 jenis emotion focused coping yaitu acceptance dan turning to religion. SH berusaha menerima keadaan anak dan berdoa kepada Tuhan semoga harapanya tercapai. 3. Kesimpulan Stres yang Dialami SH dan Coping Strategy yang Digunakan SH SH mengalami stres yang bersumber dari luar dan dari dalam diri. Stres yang bersumber dari luar diri disebabkan oleh keterbatasan anak yang meliputi keterbatsan dalam perkembangan fisik dimana anak masih

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 kurang dalam hal bantu diri. Keterbatsan anak dalam perkembangan kognitif yang dapat menyebabkan stres bagi SH yaitu kurangnya kesadaran anak akan bahaya, kemampuan berbicara yang belum lancar, dan kemampuan akademik yang masih kurang (membaca, menulis, dan berhitung). Jika dilihat dari perkembangan emosi anak, situasi yang dapat menimbulkan stres yaitu mood anak yang mudah berubah, kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak),dan keinginan anak yang kuat dan harus dipenuhi. Selain itu, dalam perkembangan sosialnya anak mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya. Selain keterbatsaan dalam perkembangan anak, lingkungan keluarga juga dapat menjadi sumber stres bagi SH. Situasi yang menyebabkan stres yaitu bahwa anaksering diejek oleh kakaknya dan mereka sering bertengkar dalam memperebutkan sesuatu. Tidak hanya lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat juga merupakan sumber stres bagi SH. Tak jarang anak dimarahi oleh tetangga karena sulit dalam memahami sesuatu. Stres yang bersumber dari dalam diri SH antara lain disebabkan oleh adanya perasaan bersalah memiliki anak down syndrome, kehilangan kepercayaan akan memiliki anak yang normal sehingga membuat SH merasa takut untuk hamil, dan kekhawatiran terhadap masa depan anak. Sumber stres dan situasi yang menekan tersebut tentu saja menimbulkan stres nagi SH. Bentuk stres yang dialami SH yaitu SH merasa sedih, merasa khawatir, merasa bingung, merasa tidak suka, merasa jengkel, merasa sakit hati, merasa takut, dan merasa ragu-ragu.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Dalam mengatasi stres dan bentuk stres yang muncul, SH lebih banyak menggunakan problem focused coping. SH menggunakan 2 jenis problem focused coping yaitu active coping dan suppression of competing activities. Contoh Active coping yang dilakukan SH yaitu mengambilkan makanan anak, membantu anak ketika menggunakan toilet, mengajarkan anak berlajar mengenal huruf, memenuhi keinginan anak, dan memberi pengertian agar anak pertama berhenti mengejek adiknya. Contoh suppression of compering activities yang dilakukan SH yaitu berusaha tidak memasukan kedalam hati sikap tetangga yang kurang menyenangkan dan fokus untuk merawat anak sehingga perasaan takut hamil hilang begitu saja. Selain itu, SH juga menggunakan 2 jenis emotion focused coping yaitu acceptance dan turning to religion. Acceptance SH gunakan ketika SH merasa bahwa sumber stres merupakan situasi yang memang harus SH jalani. SH berpasrah ketika SH menganggap bahwa kondisi anak sebagai ganjaran atas dosa dan ketika SH merasa ragu-ragu akan harapannya agar anak dapat menjalani kehidupan secara normal. Turning to religion SH gunakan ketika SH menganggap bahwa agama/kepercayaan dapat memeberikan dukungann sosial. Contohnya ketika SH merasa ragu akan harapannya supaya anak dapat emnjalan kehidupan secara normal, SH berdoa supaya harapannya terpenuhi. Berikut adalah bagan kesimpulan yang berisi sumber stres, bentuk stres, dan koping yang digunakan subjek SH:

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Bagan 3. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 2 (SH) Sumber stres dari luar diri a. Perkembangan fisik: Kesehatan mudah terganggu Kemampuan bantu diri masih kurang (menggunakan toilet&makan) b. Perkembangan kognitif: Kurangnya kesadaran akan bahaya Membaca, menulis, dan berhitung belum lancar c. Perkembangan emosi: Kontrol emosi yang buruk, Keinginan anak kuat&harus terpenuhi d. Perkembagan sosial: Perlakuan kurang menyenangkan dari teman sebaya (diejek) e. Lingkungan keluarga: Anak sering diejek kakaknya, Anak sering bertengkar&berebut sesuatu dengan kakaknya f. Lingkungan masyarakat: Mendapat perlakuan kurang menyenangkan (diejek) 1. Merasa khawatir 2. Merasa sedih 3. Merasa bingung Subjek 2 (SH) 4. Merasa tidak terima 5. Merasa tidak suka 6. Merasa jengkel Sumber stres dari dalam diri 1. Perasaan bersalah 2. Kehilangan kepercayaan memiliki anak normal 3. Harapan terhadap anak: Harapan agar anak menjalani kehidupan seperti anak normal Harapan agar anak menjadi anak yang patuh&pintar 7. Merasa sakit hati 8. Merasa takut 9. Merasa ragu-ragu Coping Strategy subjek 2 Problem Focused Coping: Active coping, Planning, Suppression of competing activities Emotion Focused Coping: Acceptance, Turning to Religion

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 E. Subjek 3 (SG) 1. Deskripsi Subjek 3 (SG) SG merupakan ibu rumah tangga yang berusia 40 tahun. SG mengenyam pendidikan hingga bangku SMA. SG merupakan ibu rumah tangga, suami SG bekerja sebagai karyawan swasta. SG sangat terbuka dengan orang baru dan murah senyum. Ketika pertama kali bertemu dengan peneliti, SG membicarakan banyak hal termasuk kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. SG juga antusias dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peneliti. Wawancara dilakukan dua kali yaitu 27 Oktober 2012 dan 29 Oktober 2012. Wawancara dilakukan dua kali karena pada wawancara pertama anak kedua SG rewel sehingga wawancara terpaksa dihentikan. Walaupun demikian, SG tetap kooperatif dan wawancara dapat berjalan lancar. SG dan suami dianugrahi dua orang anak perempuan dan laki-laki. Anak pertama bernama AS yang berusia 9 tahun dan terlahir dengan kondisi sebagai anak Down Syndrome. AS bersekolah di SLB C di Klaten dan masih duduk dikelas percobaan/kelas observasi. Anak kedua SG bernama R dan terlahir dengan kondisi normal. Anak kedua berusia 4 tahun dan belum bersekolah. Anak pertama terlahir Down Syndrome bukan karena keturunan gen namun karena virus tokso berlebih ketika SG mengandung. SG mengandung anak pertamanya ketika berusia 30 tahun. Ketika mengetahui kondisi anaknya yang Down Syndrome SG merasa down dan terus-terusan menangis. Berbeda dengan SG, suami SG dapat lebih sabar

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 dan tidak terpuruk seperti subjek. AS bisa berjalan pada usia 5 tahun 5 bulan dan begitu bisa berjalan, SG memasukkan AS ke SLB. Anak yang kedua adalah anak laki-laki yang bernama R dan berusia 4 tahun. R lahir normal seperti anak-anak lainnya. SG tidak mengajarkan AS untuk berjalan tetapi AS dapat berjalan sendiri secara mendadak. Meskipun sudah dapat berjalan namun masih agak lambat, belum bisa berjalan dengan cepat. Menurut SG, AS mampu memahami perintah yang diberikan kepadanya namun masih kesulitan dalam berbicara. Sejauh ini perkembangan motoriknya baik. Disekolah guru melatih motorik anak dengan melakukan permainan atau melatih keterampilan seperti meronce manik-manik. Selain mengajarkan keterampilan tangan dengan meronce anak diharapkan mampu mengenali warna-warna. SG memiliki kekhawatiran terkait kondisi AS terutama ketika nanti sudah mengalami menstruasi dan memasuki masa puber. Subjek sering memikirkan bagaimana nantinya AS melewati masa-masa itu terlebih AS belum paham tentang menstruasi dan masa puber. Berkaitan dengan hal tersebut, sejak sekarang SG mencoba memberikan penjelasan kepada anaknya tentang menstruasi dan lebih ketat dalam menjaga anak. SG juga mengusulkan kepada pihak sekolah agar anak-anak diberikan pembekalan tentang menstruasi dan masa puber. Disamping itu, ketakutan yang dirasakan SG yaitu perasaan takut jika nanti anaknya dijahati oleh orangorang tidak bertanggung jawab. Ketakutan itu muncul karena SG sering melihat berita atau mendengar kabar bahwa banyak anak perempuan

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 menyandang keterbelakangan mental yang dijahati oleh orang tidak bertanggungjawab. Karena ketakutan yang dirasakan itu, SG tidak memperkenankan AS untuk memakai pakaian yang ketat. 2. Stres dan Coping Strategy SG a. Stres yang Bersumber Dari Luar Diri SG dan Coping Strategy yang Digunakan SG 1. Keterbatasan anak Stres yang bersumber dari keterbatasan anak dalam hal ini yaitu stres yang disebabkan karena adanya keterbatasan pada perkembangan anak. Pada subjek 2 stres yang bersumber dari keterbatasan anak yaitu karena adanya keterbatasan anak pada perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial. Berikut pemaparannya: a. Perkembangan Fisik Stres yang dialami SG yaitu adanya gangguan kesehatan anak dan keterlambatan kemampuan berjalan, dan ketidaksiapan SG jika anak menstruasi. Berikut uraiannya: 1) Gangguan kesehatan Berdasarkan pengalaman SG, ketika berusia 3 tahun anak pernah mengalami sakit saluran kencing sehingga harus memakai kateter. “Ini tu dulu pernah nggak bisa kencing harus kemana-mana pake selang, pake kateter. Mungkin tadinya jatuh ininya dulu

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 (nunjuk pinggul) mungkin owah (berubah) opo piye ya.. nggak tau pantat dulu atau apa dulu yang jatuh wong jatuh dari tempat tidur. Tau-tau nggak bisa kencing.” (15-18) “Ooo.. itu usia berapa bu pas sakit itu? Usia 3 tahun” (19-20) “Dulunya kan pake pampers tu lho mbak, mau pipis ditahantahan jadinya kayak membatu, mampet pipisnya.” (25-27) Berawal dari sakit anak tersebut SG tidak pernah lagi memakaikan pampers karena takut hal yang sama akan terjadi lagi (Problem Focused Coping-Active Coping). Kesehatan anak menurut SG lebih penting dan subjek merasa harus lebih mengutamakan kesehatan anak. Sehingga hal tersebut mendorong SG untuk mencari pengobatan yang terbaik untuk anak. “Ya, bagaimanapun anak yaudah ya harus ditelatenin. Maunya diturutin. Ya untuk kesehatannya saya utamakan.” (442-443) Oleh karena itu, SG berusaha untuk mencari informasi tempat pengobatan yang terbaik untuk anak (Problem Focused Coping-Planning). “Berobat kemana saja ya didatengin yang penting sehat. Dulu pas belum bisa jalan orang nyaranin disuruh bawa kesana, urut disana. Ya didatangi. Orang pintar ya iya. Ya sekiranya masih bisa dijangkau ya saya datangi.” (443-446) 2) Keterlambatan kemampuan berjalan Selain gangguan, kesehatan anak juga anak yang mengalami pernah mengalami keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Anak baru dapat berjalan ketika menginjak usia 5 tahun 5 bulan.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 “Naik tangga bisa, cuman jalannya agak lama 5 tahun 5 bulan baru bisa jalan tapi ya masih gruyuh-gruyuh (belum seimbang). Dulu bisa sendiri jalannya. Alhamdulilah pas hamil adeknya dia mau berdiri sambil liatin TV trus lamalama jalan sendiri. Adeknya keluar itu udah bisa jalan walaupun jatuh-jatuh.” (61-65) Melihat anak yang mulai berjalan sedikit demi sedikit, membuat SG berinisiatif untuk membuat tiang penyangga dari bambu (Problem Focused Coping-Active Coping) “Mrembet-mrembet itu sampe tak bikinin bambu untuk pegangan dikanan kirinya.” (66) 3) Ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi Seturut dengan perkembangan seksualitas anak, anak yang akan menginjak usia remaja tentu saja akan mengalami menstruasi. Dengan situasi ini, SG merasakan kecemasan apabila anak mendapatkan menstruasi lebih cepat/lebih awal. “Makanya aku kan suka bilang sama bu guru kalau cepat atau lambat kan pasti dapet (mens) mbak. Nah hati ini tu kadang suka khawatir.” (82-83) “Tapi saya suka kepikiran ya ampun anakku udah 10 tahun, 2 atau 3 tahun lagi pasti kan mens tapi kan nggak tahu ya mbak anak jaman sekarang itu lebih cepet mensnya.” (85-87) Perasaan cemas yang muncul ini mendorong SG untuk mengusulkan kepada guru supaya memberikan pembekalan diri kepada anak. Selain mengusulkan kepada guru, SG juga mengajarkan secara dirumah tentang bagaimana memakai pembalut (Problem Focused Coping-Active Coping). “Saya suka minta guru untuk ngasih pembekalan diri cara pake pembalut bagaimana, bersihinnya bagaimana.” (83-85)

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 “Makanya kalau dirumah ya suka tak kasih tahu sedikitsedikit.” (87-88) 4) Perubahan perkembangan fisik anak Semakin berubahnya perkembangan fisik anak, terutama anak perempuan membuat SG merasa khawatir jika anak dijahati oleh orang lain. “Sama kalau semakin dewasa ya mbak ya. Saya takutnya sama orang-orang yang nggak bener itu, takut dijahatin apalagi kan fisiknya udah mulai berubah ya, udah gede.” (93-95) Dalam mengatasi kekhawatiran jika anak dijahati oleh orang lain maka SG selalu mengingatkan anak agar tidak bermain terlalu jauh dan tidak memakai baju ketat. (Problem Focused Coping-Active Coping) “Paling saya ingetin bajunya ya mbak kalau anak sekolah, anak cewek kan resikonya besar apalagi dengan keadaannya begini. Jadi kalau pake baju nggak boleh yang ketat-ketat.” (101-103) Selain subjek yang selalu mengingatkan anak, kakak subjek juga selalu mengingatkan A agar tidak bermain terlalu jauh dari rumah (problem focused coping-active coping). “Budhenya juga suka ingetin awas mainnya nggak jauh-jauh.” (103-104) Stres yang dialami SG terkait dengan perkembangan fisik anak yaitu perasaan takut karena anak pernah emngalami gangguan saluran kencing, merasa harus mengutamakan kesehatan anak, keterlambatan kemampuan berjalan, dan perasaan tidak siap jika anak mendapatkan menstruasi. Untuk mengatasi stres yang muncul, SG lebih menggunakan strategi koping Problem Focused Coping-Active Coping yaitu dengan tidak memakaikan

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 pampers, membuatkan tiang penyangga untuk pegangan bagi anak ketika berjalan, dan mengajarkan cara memakai pembalut. Selain itu SG juga menggunakan Problem Focused Coping-Planning, yaitu dengan mencari informasi tempat pengobatan yang terbaik untuk anak. b. Perkembangan Kognitif Stres yang timbul terkait dengan perkembangan kognitif yaitu kurang mampunya anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. “Oh belum kalau itu mbak. Nulis paling cuman angka 1 aja. Semaunya kalau nulis. Maunya belajar tapi pindah-pindah. Coret-coret sukanya. Kalau sampai rumah yang dicari kertas sama polpen, katanya belajar. Coret-coret macem-macem. Kalau baca dan hitung belum bisa.” (131-134) Dengan kekurangan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung ini maka SG berusaha untuk mengajarkan kepada anak. Selain diajarkan di sekolah, SG juga berusaha mengajarkan kepada anak dirumah (Problem Focused Coping-Active Coping). “Ya diajarin mbak pelan-pelan tapi seringnya malah ngajari ibunya.” (146) Stres yang dialami SG disebabkan oleh kurangnya kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Dalam emngatasii stres yang muncul, SG menggunakan problem focused coping-active coping. SG mengajarkan anak belajar secara mandiri dirumah. c. Perkembangan Emosi Stres yang dialami SG disebabkan oleh kuatnya keinginan anak. Semua keinginan anak harus segera terpenuhi, jika tidak maka anak akan marah dan memukul SG. Selain itu anak juga akan membanting

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 pintu atau mengunci diri di dalam ruangan. Sehingga keadaan ini membuat SG merasa khawatir kalau kejadian seperti masa lalu terulang yaitu anak terkunci didalam ruangan dan tidak bisa keluar. “Kalau ngambek mbak. Minta apa tapi mamanya lagi repot kerjaan rumah. Cepet, cepet (menirukan anak ketika meminta sesuatu dengan segera) mamanya digablok (ditabok) trus ditariktarik.” (151-153) “Bagaimana reaksi anak jika keinginan anak tidak terpenuhi? Ngamuk. Ngamuk tapi ya nggak yang medeni ya cuman mukulin mamanya. Trus ini model baru kalau marah, pintu dibantingbanting. Dulu nggak pernah, jadi saya kadang mikir apa semakin gede dia semakin tahu apa ya. Marah sama adeknya juga langsung pintu itu ditutup. Saya tu takut soalnya dulu pernah kekunci dan nggak bisa buka pintunya trus bapaknya lewat atap baru bisa masuk.” (170-176) SG berusaha memenuhi semua keinginan A dan memberi pengertian kepada A bahwa membanting pintu itu tidak baik (Problem Focused Coping-Active Coping). “Jadi kalau dia minta sesuatu ya harus segera diturutin biar nggak marah-marah” (156-157) “Ya suka saya kasih tahu kalau banting-banting pintu nggak baik. Ya kalau apa yang diminta bisa saya jangkau ya saya kasih. Gitu.” (196-197) Stres yang dialami SG terkait dengan perkembangan emosi anak yaitu perasaan khawatir anak terkunci didalam ruangan karena anak akan mengunci diri jika keinginannya tidak terpenuhi. Untuk mengatasi stres tersebut, SG menggunakan Problem Focused CopingActive Coping yaitu dengan memberitahukan kepada anak bahwa membanting pintu itu tidak baik.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 d. Perkembangan Sosial Dalam relasi sosialnya, anak juga pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya dan menunjukkan bagian tubuh yang sakit kepada ibunya. Hal ini membuat SG menjadi takut kalau anak dijahati oleh orang lain. “Takut itu mbak.. gimana ya.. mau ngomongnya malah bingung aku. Takutnya ya kalau dijahatin orang, soalnya kan dia diem.Kalau ngadu sama mamanya ya diem, nangis trus meluk mamanya. Kalau ditanya kan dia nggak bisa ngomongnya tapi tahu mbak siapa yang jahatin. Trus nunjukkin mana aja yang sakit, kalau tangan yang sakit ya dia pegang tangan sambil nunjuk.” (231-236) Oleh karena timbulnya rasa takut jika anak dijahati, maka SG akan mencari anak sampai ketemu apabila anak tidak menyahut kalau dipanggil (Problem Focused Coping-Active Coping). “Yaaa.. kalau main agak jauh ya tak cari. Kalau dipanggilpanggil nggak nyaut ya langsung tak cari mbak sampai ketemu.” (239-240) Stres yang dialami subjek terkait dengan perkembangan sosial yaitu perasaan khawatir jika anak dijahati. Untuk mengatasi stres tersebut, SG mengatasi dengan Problem Focused Coping-Active Coping. SG akan mencari anak jika anak tidak menyahut kalau dipanggil. e. Perkembangan moral Stres yang dialami SG bersumber dari kurangnya pemahaman anak mengenai hal baik dan buruk. Berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali baik dan buruk, SG menuturkan bahwa anak suka lari-

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 larian sehabis mandi dan belum memakai baju. Menurut SG, anak cenderung sulit dinasehati dan tak jarang hal itu membuat SG sedih. “Terus dia kan mandinya suka sembarang, belum pake baju suka lari-lari. Pake baju susah. Dalam hati saya ya Allah anakku udah besar mana dikasih tahu ngeyel.” (540-542) Dengan kesulitan yang dihadapi SG yaitu anak yang cenderung sulit diberitahu maka SG mengusulkan kepada guru di sekolah supaya diberikan pembekalan diri pada anak dan mengarahkan jika dirumah (Problem Focused Coping-Active Coping). “Makanya saya mengusulkan supaya ada pembekalan diri, saya juga ngarahkan kalau dirumah.” (542-543) Stres yang dialami SG disebabkan oleh kurangnya pemahaman anak akan hal baik dan buruk. Hal ini membuat SG merasa sedih dan untuk mengatasi bentuk stres yang muncul, SG menggunakan problem focused coping-active coping. Langkah aktif yang dilakukan SG yaitu dengan mengusulkan kepada guru supaya diberikan pembekalan diri di sekolah dan SG juga mengarahkan anak ketika dirumah. 2. Lingkungan keluarga Stres yang dialami SG dikarenakan oleh reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak. Selain SG, suami SG juga mengalami kesedihan ketika mengetahui bahwa anaknya dinyatakan Down Syndrome. Namun, SG mengatakan bahwa kesedihan yang dirasakan suami tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesedihan yang SG rasakan. “Ya sempat down juga saya dan bapaknya. Bapaknya cuman nggerutu penyakit opo meneh kuwi. Hehe. Bapaknya nggak begitu mikir, tapi saya yang benget ngrasainnya sempat sedih banget.” (398-400)

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Meskipun suami juga merasakan kesedihan akan kondisi anak, namun SG justru mendapatkan dukungan dari suaminya agar tidak membedakan dalam merawat anak (Emotion Focused Coping-Seeking social support for emotional reason). “Kalau bapaknya alhamdulilah menerima sekali, dia pengen punya anak cewek dan dikasihnya anak cewek. Bijak malahan ngasih tahu saya jangan membedakan kasih sayang mbak dan adeknya. Takutnya saya memperlakukan mbaknya begini trus memperlakukan adeknya begitu, nggak sama. Kata saya ya nggak lah wong sama-sama anakku. Cuman pesen sama saya jangan sampai membedakan kasih sayang.” (400-406) Stres yang dialami SG dikarenakan oleh reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak mereka. Bentuk stres yang dirasakan SG yaitu perasaan sedih dan untuk mengatasinya, SG didukung oleh suami untuk tidak membedakan dalam merawat anak (Emotion Focused CopingSeeking social support for emotional reason). b. Stres yang Bersumber Dari Dalam Diri SG dan Coping Strategy yang Digunakan SG 1. Perasaan bersalah SG mengalami stres yang disebabkan oleh penerimaan SG ketika pertama kali mengetahui kondisi anak. SG merasakan kesedihan mendalam ketika mengetahui kondisi anak. Ketika pertama kali mengetahui bahwa anaknya dinyatakan Down Syndrome, SG menangis terus menerus ketika mengetahui kenyataan yang harus dihadapinya.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 “Perasaan ibu seperti apa ketika mengetahui bahwa anak petama yang ibu lahirkan menyandang Down Syndrome? Ya down mbak aku.. nangis terus sampai kakak saya itu bilang ngopo nangis terus nggak punya duit opo gimana (subjek tertawa). Kan begitu lahir sudah dikasih tahu sama dokternya kalau ini ada, istilahnya ada cacat. Saya batin, ada cacat apa.” (385-390) Untuk memastikan tentang kondisi anak, SG memeriksakan anak ke dokter dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi anak (Problem Focused Coping-Seeking social support for instrumental action). “Terus saya dirujuk kerumah sakit islam lalu dirujuk lagi ke Sardjito. Eh mau di CT-Scan kepalanya kan takutnya ada apa itu yang kepalanya gede? Oh takutnya Hydrocepallus? Nah iya itu mbak. Tapi ternyata enggak terus dokter yang menangani bilang kalau oh ini nggak ada hydrocepallus tapi katanya waktu itu Sindrom Down gitu. Itu terus nggak kenapakenapa, dokternya bilang ini nggak ada obatnya cuman saya harus ngasih makanannya yang bergizi. Ini nggak kenapa-kenapa.” (390398) Stres yang dialami SG yaitu perasaan sedih yang mendalam ketika mengetahui kondisi anak. Untuk mengatasi stres yang muncul, SG menggunakan Problem Focused Coping-Seeking social support for instrumental action yaitu dengan memeriksakan anak ke dokter dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi anak yang sebenarnya. 2. Kehilangan kepercayaan akan memiliki anak normal SG merasa takut hamil lagi karena SG takut jika nanti anak yang dikandungnya akan sama kondisinya, sama-sama DS.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 “Enggak mbak, sehat-sehat saja. Kan ini mbak, dulu saya pas hamil 3 bulan kan saya pelihara burung puyuh terus kata bidan kena itu virus dari burung. Tapi kalau kata dokter enggak, karena gen. Makanya pas hamil ini (merangkul Asih) saya juga takut orang katanya kalau kena Sindrom Down tu bisa karena virus toxo ya, nah harus diperiksa dulu kalau mau hamil lagi. Nanti takutnya begitu lagi anaknya.” (415-420) “Sempat ragu-ragu ya mbak.. pikiran itu jangan-jangan anak saya seperti yang pertama. Tapi seandainya saya nggak hamil lagi nanti usia keburu tua. Kalau nggak hamil lagi kasihan mbaknya nggak ada yang jagain. Kan saya nggak bisa selamanya ada, nanti siapa yang jagain pokoknya saya harus punya anak lagi lah.” (409-503) Walaupun diliputi perasaan takut, namun SG berusaha untuk memastikan kondisi kesehatan dengan melakukan tes virus tokso (Problem Focused Coping-Active Coping). “Makanya pas hamil ini (merangkul A) saya juga takut orang katanya kalau kena Sindrom Down tu bisa karena virus tokso ya, nah harus diperiksa dulu kalau mau hamil lagi. Nanti takutnya begitu lagi anaknya.” (417-420) Stres yang dialami SG yaitu dikarenakan hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal sehingga SG merasa takut untuk hamil lagi. Untuk mengatasi perasaan takut, SG memastikan kondisi kesehatan dengan melakukan tes virus tokso (Problem Focused Coping-Active Coping). 3. Kekhawatiran terhadap masa depan anak 1) Kekhawatiran tidak ada yang mengurus anak jika subjek meninggal Stres yang dialami SG yaitu adanya kekhawatiran tidak ada yang mengurus anak apabila subjek meninggal. “Saya tu takutnya kan saya nggak selamanya ada. Gimana ya mbak ya (mata subjek berkaca-kaca) yang merawat sapa.” (91-92)

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Dalam mengatasi ketakutan yang muncul tersebut, SG memberitahukan kepada anak kedua sejak dini supaya kelak menjaga kakaknya jika subjek meninggal. (Problem Focused Coping-active coping) “Paling adiknya yang suka tak kasih tau nanti kamu ikut jagain mbakmu.” (92-93) 2) Bakat anak yang belum diketahui SG merasa khawatir tentang masa depan anak karena sampai sekarang SG belum dapat mengenali bakat anak. “Kalau itu sih, orang beranggapan apa nggak terlalu saya pikirkan ya mbak, saya biarkan saja. Saya lebih khawatir masa depannya bagaimana nantinya, bakatnya apa.” (572-574) Untuk mengatasi kekhawatiran mengenai masa depan anak, SG berusaha mengenali bakat anak sejak dini dan mengarahkan anak pada bakatnya (Problem Focused Coping-Active Coping). “Saya masih pelajari soalnya belum terlihat. Jadi saya lebih konsentrasi ke itu.” (574-575) “Saya masih mengamati bakat anak ya mbak, dia suka gambargambar di buku juga. Tapi saya belum yakin jadi masih saya amati. Saya akan konsentrasikan A ke bakatnya agar bisa untuk bekal dia nanti.” (582-584) Stres dari dalam diri yang dialami SG yaitu adanya perasaan khawatir tidak ada yang mengurus anak jika SG meninggal dan perasaan khawatir tentang masa depan anak, bakat apa yang dimiliki anak. SG merasa khawatir karena sampai sekarang SG belum dapat mengenali bakat anak. Dalam mengatasi stres yang muncul, SG lebih menggunakan

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Problem Focused Coping-Active Coping. Tindakan SG untuk mengatasi stres yaitu dengan memberitahukan kepada anak semenjak dini untuk menjaga kakaknya kelak. SG juga berkonsentrasi untuk mengenali bakat anak dan berencana untuk mengembangkan bakat tersebut supaya berguna untuk masa depan anak. 3. Kesimpulan Stres yang Dialami SG dan Coping Strategy yang Digunakan SG Stres yang berasal dari luar diri SG antara lain karena keterbatasan anak yang dapat dilihat dari beberapa aspek. Jika dilihat dari perkembangan fisik, stres yang dialami SG yaitu gangguan kesehatan pada anak (sakit saluran kencing), keharusan untuk mengutamakan kesehatan anak, keterlambatan anak dalam kemampuan berjalan, ketidaksiapan jika anak mengalami menstruasi, dan perubahan perkembangan fisik anak. Bentuk stres yang dialami SG terkait hal tersebut yaitu perasaan takut, perasaan harus untuk mengutamakan kesehatan anak, perasaan cemas, dan perasaan khawatir. Jika dilihat dari aspek perkembangan kognitif stres yang dialami SG disebabkan oleh kurangnya kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut menimbulkan stres bagi SG yaitu perasaan bingung. Jika dilihat dari perkembangan emosi, stres yang dialami SG bersumber dari kuatnya keinginan anak, jika keinginan anak tidak terpenuhi maka anak akan marah. Bentuk stres yang dialami SG terakit hal ini yaitu perasaan khawatir. Stres yang bersumber dari perkembangan sosial yaitu

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya. Bentuk stres yang dialami SG karena hal tersebut yaitu perasaan takut jika anak dijahati. Stres yang bersumber dari perkembangan moral anak yaitu kurangnya pemahaman baik dan buruk anak dan anak yang kurang disiplin. Bentuk stres yang dialami SG terkait hal tersebut yaitu perasaan sedih, dan perasaan bingung. Selain keterbatasan anak, sumber stres dari luar diri SG yaitu lingkungan keluarga. Stres yang dialami SG dikarenakan oleh reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak. Bentuk stres yang dialami SG karena hal tersebut yaitu perasaan sedih. Stres yang dialami SG tidak hanya dari luar diri namun juga bersumber dari dalam diri SG sendiri. Sumber stres tersebut antara lain adanya perasaan bersalah, hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal, dan kekhawatiran akan masa depan anak. Kekhawatiran akan masa depan anak yaitu meliputi kekhawatiran tidak ada yang mengurus anak jika SG meninggal dan bakat anak yang sampai sekarang belum diketahui. Bentuk stres yang dirasakan SG terkait hal tersebut yaitu perasaan sedih, perasaan takut, dan perasaan khawatir. Untuk mengatasi stres yang dialami, SG menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping, namun dalam kenyataannya SG lebih banyak menggunakan problem focused coping. Jenis Problem focused coping yang sering digunakan SG yaitu active coping, planning, dan seeking social support for instrumental action. Sebagai contoh, active coping digunakan SG ketika anak sakit yaitu tidak memakaikan pampers,

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 membuatkan penyangga untuk pegangan anak ketiak berjalan, mengajarkan anak memakai pembalut, mengingatkan anak untuk tidak memakai baju ketat, menasehati anak agar tidak membanting pintu, mencari anak jika anak bermain jauh dari rumah, mengecek buku pelajaran anak, mengajari anak belajar, dan memeriksakan kehamilan ketika mengandung anak kedua. Selain itu, SG juga menggunakan koping jenis planning. tindakan mengatasi stres yang termasuk dalam jenis koping ini yaitu mencari tempat pengobatan yang terbaik bagi anak. Selain itu, SG juga menggunakan emotion focused coping untuk mengatasi stres yang dialami. Koping ini digunakan SG ketika SG merasa perlu untuk mengelola tekanan emosional yang berkaitan dengan stres. Jenis koping yang digunakan yaitu seeking social support for emotional reason dan turning to religion. Seeking social support for emotional reason yang diperoleh SG yaitu adanya dukungan dari kakak yang selalu mengingatkan anak agar tidak terlalu jauh ketika bermain, suami SG yang juga selalu mengingatkan untuk tidak membedakan anak, dan dukungan yang diperoleh dari dokter yang meyakinkan supaya SG tidak takut untuk hamil lagi. Turning to Religion digunakan SG ketika hamil anak kedua, SG berdoa kepada Tuhan supaya diyakinkan hamil lagi dan anak yang dikandungnya terlahir dengan kondisi normal. Berikut bagan kesimpulan sumebr stres, bentuk stres, dan koping strategi SG:

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Bagan 4. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 3 (SG) Sumber stres dari luar diri Perkembangan Fisik: Gangguan kesehatan pada anak, keterlambatan kemampuan berjalan, keharusan untuk megutamakan kesehatan anak, harapan agar anak dapat mengurus diri sendiri, merasa cemas jika anak mendapat menstruasi, dan berubahnya perkembangan fisik anak Perkembangan kognitif: Kurang mampu dalam membaca, menulis, dan berhitung Perkembangan emosi: Kontrol emosi yang buruk dan keinginan anak kuat&harus terpenuhi Perkembangan sosial: Mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya (dicubit) Subjek 3 (SG) Perkembangan moral: Pemahaman baik dan buruk masih kurang, sulit bangun pagi, dan tidak teratur dalam mencatat pelajaran Lingkungan keluarga: Suami merasa sedih mengetahui kondisi anak Sumber stres dari dalam diri 1.Perasaan bersalah: Kesedihan mendalam ketika mengetahui kondisi anak 2.kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal 3.kekhawatiran akan masa depan anak: Kekhawatiran tidak ada yang mengurus anak. Bakat anak yang belum diketahui. Kekhawatiran masa depan anak: Khawatir tidak ada yang mengurus anak jika subjek meninggal 1. Merasa takut 2. Merasa khawatir Bentuk Stress yang Dialami Subjek 3 (SG) 3. Merasa cemas 5. Merasa sedih 4. Merasa bingung 6. Merasa ragu Coping Strategy subjek 3 Problem Focused Coping: Active coping, Planning, dan Seeking social support for instrumental action Emotion Focused Coping: Seeking Social Support For Emotional Reason dan Turning to religion

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 F. Subjek 4 (RT) 1. Deskripsi Subjek 4 (RT) Subjek keempat dalam penelitian ini yaitu RT yang sekarang berusia 50 tahun. RT bekerja sebagai aktivis perempuan meski sekarang sudah tidak seaktif dulu. RT adalah orang yang kooperatif. Dalam proses wawancara yang berlangsung selama 50 menit, RT dapat menjawab setiap pertanyaan dengan antusias. Selama proses wawancara RT dan peneliti duduk berhadapan diruang tamu yang lumayan terang meskipun tanpa lampu. RT juga memiliki selera humor yang tinggi dan senang mengobrol. Sesekali RT mengajak peneliti bercanda namun tetap fokus pada pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Z, anak RT yang Down Syndrome juga sesekali mengajak bercanda dan memperlihatkan kepiawaiannya dalam menari dan menyanyi meskipun ucapannya tidak jelas. RT dan suami dikaruniai 3 orang anak perempuan. Anak pertama bernama C yang berusia 24 tahun dan sudah menikah, anak kedua bernama S yang berusia 14 tahun dan duduk dibangku SMP, sedangkan anak ketiga bernama Z yang berusia 10 tahun bersekolah di salah satu SLB swasata di Yogayakarta dan duduk dikelas 3. Anak ketiga subjek terlahir dengan Down Syndrome karena virus tokso dalam diri subjek yang berlebih ketika mengandung anak. Suami RT bekerja sebagai karyawan di Universitas swasta di Yogyakarta. RT pernah mengalami sakit parah setelah melahirkan anak ketiga sehingga sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah.

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 RT hamil anak ketiga yaitu Z ketika berusia 39 tahun. RT tidak menyangka jika anak yang dilahirkannya menyandang down syndrome. RT mengaku tidak pernah mengalami masalah ketika hamil Z. RT memeriksakan kehamilan pada bidan yang tak jauh dari rumahnya dan bidan tersebut mengatakan tidak ada masalah. Ketika melahirkan pun RT merasa tidak kesulitan karena tidak sesakit hamil anak pertama dan kedua. Setelah melahirkan, RT terkena pendarahan karena ari-ari bayi lengket dan harus diambil (kuret). Z sendiri juga terkena flek paru-paru sehingga sering panas dan pilek. Namun sulit untuk minum obat sehingga harus diuap. RT meminumkan teh tersebut secara rutin setiap hari dan Z tidak sakit lagi selama 2 bulan pengobatan. Biasanya Z sering tidak masuk sekolah, setiap bulan pasti ada bolosnya karena panas dan pilek. Z yang sekarang duduk di kelas 3 SLB pernah cuti sekolah selama 2 tahun karena RT mengalami sakit serius. Subjek mengalami sakit jantung dan paru-paru sehingga harus dirawat dirumah sakit Juanda. RT berkeinginan untuk memindahkan Z namun pihak sekolah tidak memperbolehkan dan memberi kesempatan untuk Z melanjutkan. RT mengaku sering keluar masuk rumah sakit setelah melahirkan Z. Sebelum RT dirawat di Juanda, RT dirawat rutin di salah satu Rumah Sakit swasta di Yogyakarta dan baru mengetahui jika virus tokso dalam dirinya berlebih. Kemudian RT meminta dirujuk untuk ke Juanda dan disana dijelaskan bahwa anak keturunan ke 3 atau 4 dapat juga terkena dampak virus ini. Dari situ RT baru menyadari bahwa keadaan Z sekarang karena tokso.

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 RT mengaku bahwa Z anak yang riang dan sudah bisa melakukan bantu diri sendiri namun kemampuan berbicara, membaca, menulis, dan berhitung belum lancar. Menurut RT, Z lebih dekat dengan papanya dibandingkan dengan mamanya. Hubungan Z dengan kakak-kakak RT juga sangat baik. Hanya saja anak kedua RT iri karena kasih sayang yang diberikan orang tua kepada Z lebih besar daripada kasih sayang yang diberikan kepadanya. Untuk menghindari celaan atas kondisi anak, RT selalu membawa Z kemanapun ia pergi. RT mengaku tidak minder dan menurutnya jika mengajak Z bertemu orang banyak, secara tidak langsung juga mengajarkan anak untuk bersosialisasi. Menurut RT, Z takut akan gelap, ketinggian, naik, dan turun. Selama ini RT didukung penuh oleh keluarga besar baik dari suami maupun keluarga besar subjek. Sejauh ini subjek merasa semua orang dapat memperlakukan Z dengan baik. 2. Stres dan Coping Strategy RT a. Stres yang Bersumber Dari Luar Diri RT dan Coping Strategy yang Digunakan RT 1. Keterbatasan anak a. Perkembangan fisik 1) Kesehatan anak mudah terganggu Menurut RT, anak sering mengalami gangguan kesehatan seperti panas dan pilek. Keadaan anak yang seperti ini

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 tentu saja membuat RT merasa khawatir karena setiap mengalami pilek dan panas anak harus ijin tidak masuk sekolah. “Kalau Z sendiri sakitnya itu seringnya panas dan pilek.”(4647) “Biasanya sampai nggak masuk sekolah. Karena apa? Karena pilek, panas.” (50-51) Dalam mengatasi kesehatan anak yang mudah terganggu, RT memberikan teh sarang semut kepada anak (Problem Focused Coping-Active Coping). Setelah meminun teh herbal tersebut RT mengatakan bahwa ada hasil yang ditunjukkan. Sudah hampir 2 bulan setelah mengkonsumsi teh tersebut anak tidak sakit-sakitan lagi. “Hampir tiap bulan itu pasti pilek dan panas. Tapi semenjak konsumsi tehnya itu udah hampir 2 bulan ini nggak sakit lagi.” (49-50) Ketika sakit, anak tidak bisa minum obat meskipun dipaksa. Hal ini membuat RT sedih dan merasa kebingungan karena harus menangani anak ketika sakit dan tidak mau meminum obat. “Kalau obat sama sekali nggak bisa. Saya itu sampai nangis. Sampai bingung menangani Z ini. Kalau obat mau dipaksa kayak apa tetep aja nggak bisa. Semakin dipaksa semakin nolak si Z ini.” (73-75) Dengan kondisi anak yang sama sekali tidak bisa meminum obat, RT langsung membawa anak ke RS untuk diuap (Problem Focused Coping-Active Coping). “Jadi kalau pilek, batuk gitu saya bawa ke Panti Rini cuman di uap.” (72-73)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 2) Badan anak tidak bisa gemuk RT juga merasa heran terhadap anak yang sampai saat ini badannya tidak bisa gemuk padahal RT memberikan gizi yang cukup pada anak. “Kalau pertumbuhannya ini ya mbak gizi cukup banget tapi kok nggak gemuk-gemuk.” (70-71) Demi pemenuhan gizi anak, RT membelikan anak berbagai suplemen penunjang kesehatan yang sesuai bagi anak (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kalau untuk gizi wah nggak tanggung-tanggung ya mbak. Saya beliin terus. Kemarin saya beliin suplemen untuk merangsang otak yang dari Tiens. Terus tropolis. Pokoknya apa yang bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan dia saya belabelain.” (76-79) 3) Mengalami keracunan makanan Menurut RT, anak juga pernah mengalami sakit karena keracunan makanan yaitu sate yang dagingnya sudah tidak layak. Setelah memakan sate tersebut anak mengalami sakit perut dan muntah-muntah. Kejadian tersebut membuat RT kecewa karena anak menjadi sakit setelah membeli sate. “Biasanya kalau sore minta sate. Tapi mungkin beberapa waktu lalu dapet sate yang kurang bagus. Terus muntah-muntah, sakit perut. Sekarang kapok nggak pernah mau makan sate yang kelilingan itu.” (406-408) RT kemudian berencana untuk memberitahu tukang sate bahwa anaknya sakit setelah membeli sate yang mungkin

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 dagingnya sudah tidak layak (Problem Focused CopingPlanning). "Kalau lewat lagi mau tak kasih tau kok itu yang jual sate, kalau anakku pernah dapat sate yang udah gak bagus sampai muntah-muntah." (409-410) 4) Kelainan pada pertumbuhan tulang Dalam perkembangannya, anak juga pernah mengalami kelainan pada tulang. Kelainan tersebut yaitu belum tumbuhnya mata kaki dan tulang kaki yang terlalu lentur sehingga kaki bisa diletakkan dibelakang kepala. “Kalau tulang itu dulu mata kaki belum tumbuh.” (91) “Trus ini kakinya bisa ditaruh dibelakang kepala karena lentur mungkin ya.” (98-99) Untuk mengatasi kelainan pada tulang tersebut, RT membawa anak ke pengobatan alternatif (Problem Focused Coping-Active Coping). RT juga berkonsultasi dengan dokter mengenai tulang ekor anak yang tidak dapat menopang tubuh dan kaki yang terlalu lentur. (Problem Focused Coping-Active Coping) “Trus ke pengobatan alternatif dikasih tahu nanti usia 3-4 tahun akan tumbuh dan bisa jalan.” (92-93) “Kalau kata dokter sih karena kekurangan zat kapur.” (99) 5) Keterlambatan kemampuan berjalan RT juga mengatakan bahwa anak mengalami keterlambatan berjalan. Anak baru dapat berjalan saat berusia 3 tahun.

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 “Jadi nggak bisa jalan sampai usia 3 tahun. 3 tahun persis itu baru bisa jalan.” (22-23) Untuk mengatasi anak yang mengalami keterlambatan dalam kemampuan berjalan, RT mendatangi klinik tumbuh kembang salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta dan mendatangi pengobatan alternatif. (Problem Focused Coping-Active Coping) “Saya sudah ke tumbuh kembang yang di Sardjito dan yang alternatif.” (23-24) 6) Kurangnya kemampuan bantu diri Kemampuan bantu diri anak yang masih kurang dan harus dibantu dalam beberapa hal. “Kalau pertumbuhannya belum begitu maju ya. Harusnya usia 10 tahun kan udah bisa semuanya sendiri ya kayak anak normal. Dia belum, masih harus dibantu. Jadi belum kelihatan banget. Harusnya 10 tahun itu udah kelas 3 atau 4, dia masih kelas 2.” (103-106) Mengingat anak masih kurang mampu dalam bantu diri, RT membantu anak dalam menyiapkan beberapa keperluan misalnya keperluan mandi. RT juga mencoba mengajarkan mengenai bantu diri sejak dini (Problem Focused Coping-Active Coping). “Mandi saya siapin sikat gigi, handuk, sabun.” (138) “melatihnya sejak dini ya biar tahu kalau mandi tu gini, gini. Jadi saya nggak repot.” (140-141) 7) Ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi Mengingat anaknya perempuan dan akan memasuki masa remaja pastilah anak akan melewati masa menstruasi. RT

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 mencemaskan hal ini karena RT merasa belum siap jika anak mengalami menstruasi. “Nah itu mbak, makanya saya ya suka mikirin waduh nanti nek udah mens gimana. Kan ada temennya Zefo namanya Jacky. Dia udah mens. Ibunya cerita kalau repot mbak. Trus aku mikir duh terus aku besok gimana kalau Zefo mens.” (167170) Dalam mengatasi perasaan kurang siap RT, RT berdiskusi dengan teman yang juga memiliki anak penyandang Down Syndrome. RT berdiskusi mengenai bagaimana merawat anak jika anak mulai menstruasi agar memiliki gambaran jika anak mulai mengalami menstruasi (Problem Focused CopingSeeking social support for instrumental action). “Trus aku mikir duh terus aku besok gimana kalau Z mens. Saya tanya-tanya sama ibunya Jacky temennya Z gimana mengatasinya. Pertamanya saya cuman iseng aja tanyanya trus jadi tahu gimana mengatasinya.” (169-172) Stres yang dialami RT terkait dengan perkembangan fisik anak yaitu kesehatan anak yang mudah terganggu, badan anak yang tidak bisa gemuk, kelainan pada pertumbuhan tulang, keracunan makanan, keterlambatan kemampuan berjalan, kurangnya kemampuan bantu diri dan ketidaksiapan jika anak mendapatkan menstruasi. Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa khawatir, merasa sedih, merasa bingung, merasa heran, merasa kecewa, dan merasa belum siap. Untuk mengatasi stres yang muncul, RT menggunakan 3 jenis problem focused coping yaitu active coping, planning, dan Seeking social support for instrumental action.

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Contoh Active Coping yang dilakukan RT yaitu dengan memberikan teh sarang semut kepada anak, membawa anak untuk berobat ke Rumash Sakit dan pengobatan alternatif, membelikan suplemen penunjang kesehatan, dan mengajari anak tentang bantu diri. Contoh koping jenis planning yang dilakukan RT yaitu berencana untuk memberitahukan penjual sate bahwa anaknya pernah sakit karena mendapat daging yang sudah tidak bagus. Seeking social support for instrumental action yang dilakukan RT yaitu dengan bertanya kepada teman yang juga mempunyai anak down syndrome tentang pengalamannya ketika anak mendapat menstruasi. b. Perkembangan kognitif 1) Kemampuan berbicara yang belum lancar Anak belum bisa mengucapkan kata secara jelas sehingga menimbulkan kekhawatiran dalam diri RT, karena di usia 3 tahun anak belum bisa berbicara. Selain timbul kekhawatiran, RT juga merasa terbebani karena anak belum lancar berbicara. “Udah 3 tahun kok anak ini susah ngomong, kok nggak bisa ngomong ya cuman a u a u.” (28-29) “Jadi bebannya cuman satu ya, ngomongnya aja. Cuman kadang kalau dipanggil nyautnya lama.” (133-134) Dalam mengatasi kekhawatiran karena anak belum bisa berbicara, RT mencoba berpikir positif bahwa anaknya pasti dapat berbicara karena dilahirkan dari orang tua yang bisa

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 berbicara dengan lancar. (Emotion Focused Coping-Positif Reinterpretation and Growth) “Pikir saya, ah anaknya orang bisa ngomong pasti nanti bisa ngomong gitu ya kalau pikirnya orang jawa (subjek tersenyum dan melihat ke peneliti).” (29-30) Selain berpikiran positif bahwa anak dapat berbicara, RT juga membawa anak ke pengobatan alternatif dan berusaha membiasakan diri memperhatikan lafal bicara anak. RT juga mengkoreksi dan mengeja pelan-pelan apa yang dikatakan anak (Problem Focused Coping-Active Coping). “Ya ngomong juga belum gitu lancar sih, masih ngak jelas. Untuk berbicaranya itu dulu pas pijet di alternatif itu kan udah kayak saudara ya. Dikasih tahu sama yang mijet tenang mbak ratna besok usia 9 tahun pasti udah bisa bicara. Nah beneran. Usia 9 tahun persis udah bisa manggil mama nana, papa nono, kalau manggil Clara kakaknya yang besar kak yaya, kalau manggil Sekar itu kakak. Padhe dedi manggilnya Dhe Dedi, manggil pak Seger tetangga depan itu Pak Gel. Bisa dia ya cuman harus yang terbiasa ya karena kan bicaranya tidak jelas.” (124-131) “Kalau berbicara saya sering benerin ya kalau Z salah ngucapin. Pelan-pelan sambil dieja.” (195-196) 2) Masih kurang dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung Selain anak yang belum mampu berbicara, stress lain yang timbul juga disebabkan oleh belum mampunyai anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Tak jarang hal ini membuat RT merasa kesulitan dalam mengajari anak. “Kalau membaca itu begini, oh kalau begini itu kebalik gitu tahu. Mbaca itu ya gak jelas apa yang diucapkan, kayak bisa aja dia ini. Kalau ada koran gitu suka nyuruh saya dengarin

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 dia baca. Padahal ya berantakan omongannya. Buku itu sehari nggak cukup 2 karena suka coret-coret.” (347-350) “Cuman kalau berhitung itu diajarin susah. Lompat-lompat. Satu, dua, tiga, empat, lima, tujuh. Kadang kalau sampai angka 5 terus dada-dada (subjek menirukan anaknya dada). Abjad bisa ngikutin dari a sampai z.” (352-355) Untuk membantu kelancaran dan kemudahan anak dalam belajar, RT membelikan anak berupa poster abjad dan angka. Menurut RT, dengan poster dapat memudahkan dalam mengajari anak belajar (Problem Focused Coping-Active Coping). “Sampai saya ini sering beliin kayak poster yang abjad sama angka biar buat belajar dia.” (355-356) 3) Tidak patuh terhadap perintah orang tua Anak juga tidak patuh terhadap perintah yang diberikan RT. Jika RT menyuruh anak untuk mandi dan anak tidak mau untuk mandi maka anak akan membanting remot tv sehingga hal tersebut sering membuat RT menjadi kesal. “Tapi kalau disuruh mandi kadang ngeyel itu remot juga masih jadi sasaran, langsung dibanting mpe rusak. Jadi remot itu sering ganti. Ndak nangis tapi hanya cemberut.” (388-390) RT mengatasi rasa kesal karena anak sering membanting remot saat tidak mau disuruh mandi dengan memberikan pengertian kepada anak bahwa membanting remot itu tidak baik. RT membujuk anak dengan membolehkan menonton tv lagi setelah selesai mandi (Problem Focused Coping-Active Coping).

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 “Saya juga kasih tahu kalau nggak boleh banting-banting remote, mahal belinya. Kalau disuruh mandi nggak mau ya saya bujuk, ayo mandi dulu nanti nonton TV lagi.” (396-398) Stres yang dialami RT yang bersumber dari perkembangan kognitif anak yaitu belum lancarnya kemampuan berbicara anak, anak yang tidak patuh terhadap perintah orang tua, dan kurangnya kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Bentuk dtres yang dialami RT yaitu merasa kesal, merasa kesulitan dalam mengajari anak belajar, dan merasa terbebani. Dalam mengatasi stres yang timbul karena belum lancarnya kemampuan berbicara anak, RT menggunakan emotion focused coping-positif reinterpretation and growth yaitu dengan menanamkan keyakinan bahwa anaknya pasti dapat berbicara. RT juga menggunakan koping problem focused coping-active coping dalam mengatasi stres yang muncul. Langkah aktif yang dilakukan RT yaitu membelikan poster abjad untuk media belajar anak, dan memberikan pengertian bahwa membanting remot itu tidak baik. c. Perkembangan emosi 1) Mood anak mudah berubah Stres yang dirasakan RT juga berasal dari mood anak yang mudah berubah terutama anak yang mudah bosan jika sedang belajar. “Kalau diajarin itu bosenan misal nulis atau berhitung. Tapi kalau nari sama gambar nggak bosen.” (374-375)

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 RT mengatasi perubahan mood anak ketika belajar dengan memberikan hadiah berupa es krim jika anak mau belajar (Problem Focused Coping-Active Coping). “Biasanya kan kalau disuruh makan atau bobok kan susah jadi kadang saya suka bohong ayo nanti kalau mau habis ini beli es krim. Biar dia ada motivasi buat mau. Belajar juga gitu biar dia nggak bosenan dan mau belajar lagi.” (377-380) Selain itu, RT juga mendapatkan dukungan dari suami dan keluarga lainnya. Baik suami, anak kandung lainnya, maupun kakak RT juga membantu dalam mengajari anak belajar (Emotion Focused Coping- Seeking social support for emotional reason). “Nanti kan kalau dirumah yang ngajarin nggak cuman saya tapi ada kakaknya, ada bapaknya, pakdhenya. Jadi gantigantian ngajarinnya.” (380-381) 2) Kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak) RT juga menuturkan bahwa anak memiliki kontrol emosi yang buruk. Anak sering membanting barang-barang seperti gelas dan HP ketika sedang marah. “Sekalinya marah-marah apa-apa dibanting. HP juga langsung dibuang gitu aja. Gelas juga dipecah. Tapi nggak sering ya cuman pas dia lagi jengkel se jengkel-jengkelnya.” (385-387) Untuk mengatasi anak yang sering membanting barang ketika sedang marah, RT berusaha memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak bahwa barang yang dibanting dapat

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 rusak dan mahal untuk membeli lagi yang baru (Problem Focused Coping-Active Coping). “Sekarang udah berkurang karena saya kasih tahu ini mahal, nanti pecah, rusak.” (387-388) Stres yang bersumber dari perkembangan emosi yang dialami RT disebabkan oleh mudahnya perubahan suasana hati (mood) anak dan anak yang memiliki kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak). Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa bingung dan merasa tidak nyaman. Untuk mengatasi stres tersebut, RT menggunakan koping problem focused copingactive coping dan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason. Active coping dan yang dilakukan RT yaitu memberikan hadiah kepada anak jika anak mau belajar dan memberikan pengertian kepada anak ketika anak marah bahwa membanting barang itu tidak baik. Emotion focused coping-seeking social support for emotional reason yang digunakan RT yaitu RT mendapat dukungan dari keluarga besar dalam membantu mengajari anak belajar sehingga anak tidak mudah bosan. d. Perkembangan sosial 1) Anak dijauhi oleh teman sebaya Dalam relasi dengan teman sebaya, anak mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti dijauhi oleh teman sebayanya. Sehingga hal ini membuat RT merasa sedih karena ada anak yang tidak mau bermain dengan anaknya.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 “ya kadang ada satu atau dua anak yang suka bilang nggak mau main sama Z gitu juga ada.” (447-448) Meskipun demikian, RT menyadari kondisi anaknya yang berbeda dengan anak lainnya dan memaklumi jika ada jarak antara anak yang normal dengan anaknya yang Down Syndrome (Emotion Focused Coping-Acceptance). “Aku juga menyadari bahwa memang anakku kayak gitu. Mungkin kalau aku punya anak normal ya mungkin nggak sampai segitunya tapi jarak itu pasti ada.” (457-459) 2) Anak tidak dapat berbagi mainan dengan teman sebaya Anak juga tidak bisa berbagi mainan dengan teman sebayanya. Anak tidak akan memberikan mainan yang paling ia sukai. “cuman kalau ada mainan yang disukai dia nggak boleh diganggu. Disembunyiin. Kalau mainan banyak dia bisa main bareng-bareng sama temen-temennya tapi kalau dia suka banget sama permainan yang dimainkan maka nggak mau diganggu apa dipinjem.”(434-437) Dalam mengatasi hal tersebut, RT berusaha membujuk anak supaya mau berbagi mainan dengan teman-temannya (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kadang saya suka bujuk ayo to Fo, mainannya buat barengan.” (437-438) Stres yang bersumber dari perkembangan sosial anak yang RT alami yaitu dikarenakan oleh adanya anak normal yang tidak mau bermain dengan anak dan anak tidak bisa berbagi mainan dengan teman sebayanya. Bentuk stres yang dialami RT yaitu

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 merasa sedih dan kesal. Untuk mengatasi stres yang timbul, RT menggunakan koping emotion focused coping-acceptance yaitu dengan memahami kondisi anak dan memahami jika ada jarak antara anak yang normal dengan anaknya yang down syndrome. RT juga menggunakan problem focused coping-active coping yaitu dengan membujuk anak supaya mau berbagi mainan dengan teman sebayanya. e. Perkembangan moral 1) Anak sering mengambil barang orang lain tanpa ijin Menurut RT, pemahaman tentang baik dan buruk anak juga masih kurang. Hal ini terbukti dari kebiasaan anak mengambil barang orang lain tanpa ijin pemiliknya terlebih dahulu. RT merasa khawatir jika hal tersebut nantinya menjadi kebaisaan bagi anak “Dia suka ngambil barang orang lain. Bukan ngambil mungkin ya maksud dia. Jadi ada temennya di sekolah bawa kaset, tempat kasetnya diambil sama dia, tahu-tahu sudah dirumah.” (54-57) Merasa khawatir jika perilaku anak dapat menjadi kebiasaan, RT mendiskusikan hal tersebut dengan suami untuk mencari pemecahan masalah yang tepat (Problem Focused Coping-Seeking social support for instrumental action). “Takutnya kebiasaan nanti. Saya sampai bilang ke bapaknya, pak iki piye pak.” (57-58)

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 2) Kesal dengan perilaku anak mengambil barang orang lain tanpa ijin RT terkadang juga merasa kesal dengan perilaku anak yang suka mengambil barang orang lain tanpa meminta ijin yang punya. “Nek dimarahin kan percuma to mbak anak begini? Bapaknya suka bentak tapi saya sok menggak/nyegah. Tapi saya juga sok emosi gitu lho ini anak gimana sih (subjek memegang dada).” (59-61) Meskipun terkadang RT merasa kesal dengan perilaku anak dan merasa percuma jika memarahi anak, namun keluarga besar memberikan dukungan kepada RT dan memberikan kasih sayang yang melimpah kepada RT dan anak (Emotion Focused Coping-Seeking social support for emotional reason). “Tapi ya berkat kasih sayang dari keluarga, saduara kan lebih ya. Lebih dari yang lain jadi saya lebih bisa sabar.” (61-63) 3) Anak sering membuang-buang makanan Selain itu, sopan santun anak juga kurang karena anak sering membuang-buang makanan ketika diajak menghadiri acara. RT merasa tidak nyaman dengan kebiasaan anak mengambil makanan namun tidak dimakan. “Tapi sekarang kan saya 24 jam dirumah jadi kemana aja saya bawa. Kecuali kalau ke kondangan selain sodara karena Zefo suka ambil makanan tapi nggak mau makan. Jadi kan malah buang-buang makanan. Bukan karena malu tapi karena seneng buang-buang makanan.” (188-191)

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Dengan kebiasaan anak yang senang menyia-nyiakan makanan, RT tidak mengajak anak untuk menghadiri acara selain acara keluarga dan teman dekat RT karena merasa tidak enak dengan pihak yang mengadakan acara karena kebaisaan anak mengambil makanan namun tidak dimakan (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kalau suka nelantarin makanan ya itu saya jarang ajak kalau ke pesta yang selain saudara atau temen deket saya. Karena nggak enak sama yang punya gawe, makanan diambil tapi nggak dimakan.” (196-198) Stres yang bersumber dari perkembangan moral anak yang dialami RT adanya kebiasaan anak yang suka mengambil barang orang lain tanpa ijin sehingga membuat RT merasa kesal. Anak juga senang membuang-buang makanan ketika diajak menghadiri undangan sehingga membuat RT merasa merasa tidak enak hati dengan orang yang memiliki acara. Dalam mengatasi stres tersebut, RT menggunakan Problem Focused Coping-Seeking social support for instrumental action yaitu dengan berdiskusi bersama suami tentang kebiasaan anak mengambil barang tanpa ijin, Emotion Focused Coping-Seeking social support for emotional reason yaitu dengan mendapat dukungan dari keluarga sehingga lebih bersabar, dan Problem Focused Coping-Active Coping yaitu dengan tidak mengajak anak menghadiri acara selain acara keluarga.

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 2. Lingkungan keluarga 1) Anak kedua mengalami kecemburuan atas perhatian orangtua kepada anak yang down syndrome Timbul rasa kecemburuan antara anak kedua dengan anak ketiga. Anak kedua menganggap bahwa ibunya lebih memperhatikan adiknya yang berkebutuhan khsusus daripada dia. Sikap anak kedua ini membuat RT merasa kesal karena menganggap perhatian yang diberikan berbeda. “Karena menurut S, Z itu lebih disayang daripada dia.” (589) Dalam mengatasi kecemburuan antar anak kandung tersebut, RT berusaha memberikan pengertian kepada anak keduanya bahwa adiknya tidak bisa jika seperti dirinya yang terlahir normal. Adiknya harus banyak dibantu dalam keseharian, sedangkan S sudah besar dan bisa melakukan segala sesuatu sendiri. (Problem Focused Coping-Active Coping) “Saya sama suami suka mengingatkan kalau kamu jadi Z gimana. Kamu kan bisa apa-apa sendiri sedangkan Z kan masih harus dibantu. Makanan aja kamu bisa minta beli burger, nah kalau Z kan harus ditawarin dulu. Motor kamu minta beli vario, kamu bisa pakainya kalau Z kan palingan cuman bonceng. Mau po kamu jadi Z, sini gantian. Saya sama suami suka ngasih tahu ya kalau Z ini nggak bisa kayak Sekar. “ (594-599) 2) Anak sering bertengkar dengan saudara kandung karena berebut sesuatu

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 RT mengungkapkan bahwa anaknya yang normal (S) dan Z yang mengalami down syndrome sering bertengkar karena berebut fasilitas seperti laptop. “Tapi kalau sama S sering berantem. Berantem karena rebutan remot sama laptop. Kalau makanan enggak tapi lebih ke fasilitas.” (587-589) Untuk mengatasi anak yang sering bertengkar karena berebut fasilitas yang diberikan orang tua, RT akan meneriaki anak keduanya dan mengingatkan bahwa adiknya tidak bisa seperti dia yang normal. Sehingga harus saling mengerti (Problem Focused Coping-Active Coping). “Kalau pas berantem saya suka teriak S (mempraktekan kalau memanggil S). Saya sama suami suka mengingatkan kalau kamu jadi Z gimana. Kamu kan bisa apa-apa sendiri sedangkan Z kan masih harus dibantu.” (594-596) Stres yang bersumber dari lingkungan keluarga yang dialami RT yaitu disebabkan oleh adanya kecemburuan anak yang normal atas perhatian orang tuanya kepada anak yang down syndrome dan anak yang sering bertengkar dengan saudara kandung karena memperebutkan sesuatu. Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa kesal. Untuk mengatasi persaan kesal tersebut, RT menggunakan koping problem focused coping-active coping. RT memebritahukan kepada anaknya yang normal untuk tidak cemburu atas perhatian orangtua dan memberi pengertian supaya anak mau mengalah dari saudaranya.

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 3. Lingkungan masyarakat RT memiliki pengalaman dikala anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari tetangga mereka. RT menuturkan bahwa anak sering dinakali oleh teman sebaya anak. "Karena kalau dilingkungan rumah orang-orangnya nggak enak lah. Suka dinakali." (550-551) Adanya ketidaknyamanan tersebut RT merasa bahwa orangorang sekitar rumahnya tidak menyenangkan dan hal tersebut membuat RT membatasi sosialisasi. RT hanya bersosialisasi ketika ada kegiatan keagamaan (sembahyangan) saja. Hal ini RT lakukan untuk menghindari perlakuan yang tidak menyenangkan (Problem Focused Coping-Active Coping). “Tapi kalau dilingkungan paling cuman sembayangan." (550) "Kalau saya marah nanti kan nggak pantes ya mosok saya marah sedangkan yang tak marahi anak kecil. Ntar malah ribut sama orang tuanya kan nggak enak. Untungnya saya juga nggak seneng main jadi anak juga betah dirumah.” (551-554) 4. Lingkungan sekolah Menurut RT, anak kurang diperhatikan oleh guru karena guru tidak memastikan apakah anak dapat memahami pelajaran atau tidak. RT menganggap bahwa guru kurang mampu mengajar dan kurang memperhatikan anak. Situasi ini membuat RT merasa kesal. “Masih susah karena dia itu kurang diperhatikan sama guru. Kalau sekolah kan ada jadwal pelajaran ya setiap hari. Misalkan hari selasa itu berhitung gitu ya, guru kan seharusnya nyari cara supaya anak itu bisa bagaimana caranya wong dia jurusannya di SLB kok ndak bisa.” (360-363)

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Hal tersebut mendorong RT untuk berencana memberikan kritikan kepada guru. RT sedang memikirkan penyampaian kritik yang tepat (Problem Focused Coping-Planning). “Saya itu sampai mikir gimana ya caranya ngasih tahu ke gurunya. Kalau pelajaran diluar itu misalkan nari, olah raga, gerak jalan gitu dia bisa. Tapi kan dia bisa karena dia melihat ya. Sedangkan untuk pelajaran seperti berhitung dan membaca kan harus gurunya ya yang mengajarkan.” (365-368) b. Stres yang Bersumber Dari Dalam Diri RT dan Coping Strategy yang Digunakan RT 1. Perasaan bersalah 1) Kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa RT beranggapan bahwa kondisi anaknya yang Down Syndrome merupakan ganjaran atas dosa yang diperbuat RT dan suami “Saya berpikir apa sih salahku kok anakku begini. Itu pasti kepikiran.” (511) “Saya bilang sama bapaknya dosaku ini apa, jangan-jangan ini anak besok ndak bisa ngomong.” (515-516) RT mengatasi perasaan bersalah dengan mencari dukungan melalui bercerita dan berdiskusi dengan kakaknya mengenai anak (Problem Focused Coping-Seeking Social Support For Instrumental Action). RT juga berdoa Novena dan mendatangi tempat ziarah untuk berdoa demi kebaikan keluarganya, serta rajin mengikuti misa harian di gereja (Emotion Focused Coping-Turning to Religion). RT juga mendapatkan dukungan secara emosional dari suaminya yaitu

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 merasa disemangati oleh suami untuk bersama-sama memberikan yang terbaik untuk anak mereka (Emotion Focused Coping-Seeking Social Support For Emotional Reason). “Aku sampai ngeluh sama kakak yang di Jakarta, kakak saya juga bingung. Saya sampai ditanyain sama kakak saya itu duh kamu dulu pas hamil ngomongin orang atau gimana sih. Saya telusur ya ndak pernah. Ndak pernah saya ini ngomongin orang wong keluar rumah aja ndak pernah.” (511-514) “Doa dimana saja untuk kebaikan keluarga saya dan saya sendiri terutama ya. Misa harian jam 5 pagi itu berbulan-bulan saya ikut.” (517-518) “Bapaknya bilang sama saya anak itu rejeki sendiri-sendiri tinggal bagaimana kita merawat. Kan kita nggak tahu ya masa depan Z nanti bagaimana, yang penting kan kita ngasih yang terbaik untuk anak.” (529-532) 2) Permasalahan ketika mengandung RT mengalami permasalahan ketika mengandung yaitu virus tokso di dalam tubuh RT terlalu tinggi dan menyebabkan kelainan pada anak. “Nah beberapa bulan kemudian saya sakit sempat nggak tertolong lagi karena jantung dan paru-paru di Panti Rini. Saya opnam, pulang sebulan kemudian saya opnam lagi dan disitu saya baru tahu kalau saya kena tokso.” (31-34) “Saya kan kelebihan virusnya 1000an waktu itu.” (40) Mengetahui hal itu, RT bercerita kepada teman mengenai kondisi yang dialaminya dan teman RT tersebut menganjurkan supaya RT menjalani perawatan di RS Juanda Surabaya (Problem Focused Coping-Seeking Social Support For Instrumental Action). “Terus saya ke Juanda, karena saya kena Tokso dan saya cerita sama salah satu orang gereja dan dia ngasih tahu kalau ke Juanda saja.” (38-40)

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 RT juga mendapat perhatian dari teman dan dianjurkan untuk mengkonsumsi teh sarang semut (Emotion Focused Coping-Seeking Social Support For Emotional Reason). “Tapi nggak sampai habis obatnya dari Juanda saya dikasih tahu kalau ada obat manjur namanya sarmut.” (41-42) Bentuk stres yang bersumber dari adanya perasaan bersalah meliputi persepsi RT bahwa kondisi anak dianggap sebagai ganjaran dosa masa lalu. Selain itu, RT juga mengalami gangguan ketika kehamilan. Virus tokso dalam tubuh RT melebihi batas normal sehingga berpengaruh terhadap kondisi janin yaitu mengalami down syndrome. Bentuk stres yang dialami RT atas situasi ini yaitu merasa berdosa. Untuk mengatasi stres yang timbul, RT menggunakan 1 jenis problem focused coping dan 2 jenis emotion focused coping. Problem focused coping yang digunakan RT yaitu seeking social support for instrumental action, jenis koping ini digunakan RT untuk mengatasi perasaan berdosa RT dengan bercerita kepada kakak dan bercerita kepada teman ketika RT mengetahui bahwa ia terkena virus tokso. Emotion focused coping yang digunakan RT yaitu seeking social support for emotional reason, RT mendapat dukungan semangat dari suami dan teman ketika mengetahui kondisi anak mereka yang down syndrome.

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 2. Perasaan malu Munculnya perasaan malu dalam diri RT membuat RT mengambil keputusan untuk tidak pernah keluar rumah karena khawatir anak diejek dan dijelek-jelekan. “Tapi saya dan bapaknya itu kadang sok khawatir piye ya nek anak‟e dilokne (gimana ya kalau anaknya nanti di jelek-jelekan). Kan sakit hati ya sebagai orang tua kalau anaknya dijelek-jelekan. Kalau ada orang itu rasanya nggak enak apalagi kalau anak disepelekan. Makanya jarang sekali saya untuk keluar atau pergi main ke tetangga kecuali kalau ada kumpulan atau arisan saya baru ikut.” (82-87) Dengan adanya perasaan khawatir anak akan diejek atau dijelek-jelekan, RT memilih untuk membatasi hubungan sosialnya dengan lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal (Problem Focused Coping-Active Coping). RT hanya sesekali keluar rumah untuk menghadiri arisan atau pertemuan. “Makanya jarang sekali saya untuk keluar atau pergi main ke tetangga kecuali kalau ada kumpulan atau arisan saya baru ikut. Bukan saya menjaga jarak itu nggak, cuman kalau anaknya main trus ada orang tua yang nggak bolehin anaknya main sama Z daripada saya sakit hati lebih baik saya dirumah.” (86-89) Perasaan malu dalam diri RT karena memiliki anak down syndrome membuat RT merasa khawatir jika nantinya anak akan dijahati oleh orang-orang sekitar tempat tinggalnya. Oleh karena itu RT menggunakan problem focused coping-active coping, RT tidak pernah keluar rumah kecuali untuk mengikuti kegiatan keagamaan dan arisan.

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 Stres yang bersumber dari dalam diri RT antara lain persepsi RT bahwa kondisi anak merupakan ganjaran atas dosa masa lalu sehingga membuat RT merasa berdosa. Selain itu, RT juga mengalami gangguan kehamilan yaitu virus tokso yang melebihi ambang normal. Perasaan malu terhadap kondisi anak yang berujung pada persaan khawatir jika anak dijelek-jelekkan orang lain juga merupakan stres yang dialami RT. Untuk mengatasi stres yang timbul, RT menggunakan 2 jenis problem focused coping yaitu active coping dan seeking social support for instrumental action. RT juga menggunakan Emotion focused coping dalam mengatasi stres yang timbul. Emotion focused coping yang digunakan yaitu seeking social support for emotional reason dan Turning to Religion 3. Kesimpulan Stres yang Dialami RT dan Coping Strategy yang Digunakan RT Stres yang bersumber dari luar diri yang dialami RT yaitu bersumber dari keterbatasan anak yang meliputi keterbatasan anak dalam perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan sosial, dan perkembangan moral. Stres yang bersumber dari perkembanagn fisik anak disebabkan oleh kesehatan anak yang mudah terganggu, keterlambatan dalam berjalan, kelainan dalam pertumbuhan tulang, keracunan makanan, kurangnya kemampuan bantu diri, dan ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi. Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa sedih, merasa

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 khawatir, merasa bingung, merasa kecewa, merasa heran, dan merasa belum siap. Stres yang bersumber dari perkembangan kognitif anak yaitu belum lancarnya kemampuan berbicara anak, kemampuan akademik (membaca, menulis, dan berhitung) yang masih kurang, dan ketidakpatuhan terhadap perintah orangtua. Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa khawatir dan merasa terbebani. Sumber stres yang bersumber dari perkembangan emosi anak yaitu mood yang mudah berubah dan kontrol emosi yang buruk (kemarahan meledak-ledak). Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa bingung dan merasa tidak nyaman. Jika dilihat dari perkembangan sosial anak, sumber stres bagi RT yaitu anak dijauhi oleh teman sebaya yang normal dan anak yang tidak bisa berbagi mainan dengan teman. Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa sedih. Perkembangan moral anak juga dapat menjadi sumber stres bagi RT, situasi yang menyebabkan stres antara lain kurangnya pemahaman baik dan buruk (mengambil barang tanpa ijin pemilik) serta kurangnya kesopanan anak (senang membuang makanan ketika menghadiri acara). Bentuk stres yang dialami RT yaitu merasa kesal, merasa khawatir, dan merasa tidak nyaman. Stres yang dialami RT juga bersumber dari dalam diri, stres tersebut disebabkan oleh adanya perasaan bersalah dimana kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa masa lalu, adanya gangguan kehamilan yaitu virus tokso yang melebihi batas normal, dan perasaan malu karena memiliki anak down syndrome. Bentuk stres yang dialami RT yaitu perasaan khawatir dan perasaan berdosa.

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Dalam mengatasi stres yang timbul, RT menggunakan 3 jenis strategi koping problem focused coping yaitu active coping, planning, dan Seeking social support for instrumental action. Contoh Active Coping yang dilakukan RT yaitu dengan memberikan teh sarang semut kepada anak, membawa anak untuk berobat ke Rumah Sakit dan pengobatan alternatif, dan mengajari anak tentang bantu diri. Contoh koping jenis planning yang dilakukan RT yaitu berencana untuk memberitahukan penjual sate bahwa anaknya pernah sakit karena mendapat daging yang sudah tidak bagus. Seeking social support for instrumental action yang dilakukan RT yaitu dengan bertanya kepada teman yang juga mempunyai anak down syndrome tentang pengalamannya ketika anak mendapat menstruasi. RT juga menggunakan 4 jenis emotional focused coping dalam mengatasi stres yang dialami. Koping jenis positif reinterpretation and growth RT gunakan untuk menumbuhkan pemikiran positif dalam dirinya bahwa suatu saat anak pasti dapat berbicara dengan lancar. Koping jenis seeking social support for emotional reason terlihat ketika RT mengatasi mood belajar anak yang udah berubah yaitu dengan mendapat dukungan dan bantuan dari suami, anak, dan keluarga dalam mengajari anak belajar. Koping jenis turning to religion RT gunakan untuk mengatasi stres ketika muncul perasaan bersalah dan menganggap kondisi anak sebagai ganjaran atas dosa, RT berdoa dengan mengunjungi tempat ziarah dan mengikuti misa harian di gereja. Koping jenis acceptance terlihat digunakan RT ketika anak dijauhi oleh teman sebaya, RT berusaha menerima dan memahami jika ada jarak antara anak yang normal dan anaknya yang

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 down syndrome. Berikut bagan kesimpulan sumber stres, bentuk stres, dan koping strategi RT:

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 Bagan 5. Bagan Kesimpulan Sumber Stres, Bentuk Stres, dan Strategi Koping Subjek 4 (RT) Sumber stres dari luar diri Perkembangan fisik Gangguan kesehatan (panas dan pilek), anak tidak bisa meminum obat, badan anak tidak bisa gemuk, keracunan makanan, kelaianan pada tulang, keterlambatan dalam kemampuan berjalan, dan cemas jika anak mendapatkan menstruasi Perkembangan kognitif Anak belum lancar berbicara, belum lancar dalam membaca, menulis, dan berhitung, dan anak tidak patuh terhadap perintah Perkembangan emosi Mood belajar yang mudah berubah dan kontrol emosi yang buruk Perkembangan sosial Mendapat perlakuan kurang menyenangkan (dijauhi teman sebaya) dan anak tidak dapat berbagi dengan orang lain Perkembangan Moral Mengambil barang tanpa ijin dan anak sering membuangbuang makanan Lingkungan keluarga Anak kedua merasa diperlakukan berbeda dan anak dering bertengkar&berebut sesuatu (laptop) Lingkungan masyarakat Mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan Lingkungan sekolah: Guru dianggap kurang memperhatikan anak Sumber stres dari dalam diri Perasaan Bersalah: Kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa masa lalu Perasaan Malu: Khawatir anak disepelekan dan diejek orang lain Subjek 4 (RT) bentuk stres yang dialami RT 1. Merasa khawatir 2. Merasa sedih 3. Merasa bingung 4. Merasa cemas 5. Merasa kesal 6. Merasa kesulitan 7. Merasa kecewa Coping Strategy Subjek 4 (RT) Problem Focused Coping Active Coping, Planning, Seeking social support for instrumental action Emotion Focused Coping: Positif Reinterpretation and Growth, Seeking social support for emotional reason, Acceptance, Turning to religion

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 G. Analisis Antar Subjek Fokus penelitian ini yaitu apa saja stres yang dialami ibu dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome dan bagaimana coping strategy ibu dalam mengatasi stres yang timbul. Pada hasil analisis 4 subjek dalam penelitian ini akan dipaparkan data mengenai stres yang dialami dan coping strategy yang telah dirangkum oleh peneliti. Peneliti juga akan memaparkan perbedaan data keempat subjek dan penemuan data baru dari penelitian yang telah dilakukan. Berikut uraiannya: 1. Persamaan Bentuk stres dan coping strategy 4 subjek penelitian Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti maka diperoleh gambaran umum mengenai stres dan koping 4 subjek penelitian. Stres yang dialami subjek bersumber dari luar diri subjek yang mencakup keterbatasan anak, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah (eksternal stresor). Selain itu, stres yang dialami subjek juga bersumber dari dalam diri subjek yang meliputi perasaan bersalah, kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal, dan kekhawatiran mengenai masa depan anak. Berikut pemaparan bentuk stres yang bersumber dari luar diri subjek dan koping strategi yang digunakan subjek: 1. Keterbatasan anak Stres yang bersumber dari keterbatasan anak antara lain meliputi perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral. Berikut uraiannya: a. Perkembangan fisik

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 Stres yang dialami subjek terkait dengan perkembangan fisik anak dikarenakan gangguan kesehatan pada anak yang dialami oleh 3 subjek (SL, SG, dan RT), keterlambatan kemampuan berjalan (SL, SG, dan RT), ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi (SG dan RT), dan kurangnya kemampuan bantu diri anak (SL, SH, dan RT). Bentuk stres yang dialami subjek yaitu merasa khawatir, merasa sedih, merasa cemas, dan merasa belum siap. Dalam mengatasi stres yang timbul, keempat subjek menggunakan problem focused coping-active coping (PAC) dan problem focused copingseeking social support for instrumental reason (PSS). Keempat subjek penelitian lebih banyak menggunakan problem focused coping-active coping (PAC), misalnya menyiapkan keperluan mandi anak, mengajarkan kepada anak cara memakai pembalut, dan membawa anak ke Rumah Sakit untuk di uap ketika batuk. Koping jenis problem focused coping-seeking social support for instrumental reason (PSS) digunakan RT untuk mengatasi ketidaksiapan jika anak menstruasi dengan berdiskusi bersama teman yang juga memiliki anak DS tentang bagaimana menangani anak jika anak menstruasi. b. Perkembangan kognitif Stres yang bersumber dari perkembangan kogntiif anak yaitu kurangnya kesadaran anak akan bahaya (SL dan SH), kemampuan berbicara anak yang belum lancar (SL, SH, RT), dan kurangnya kemampuan anak dala membaca, menulis, dan

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 berhitung (SL, SH, SG, RT). Situasi tersebut menyebabkan subjek mengalami bentuk stres berupa merasa khawatir, bingung, terbebani, dan merasa kesulitan dalam mengajari anak belajar. Dalam mengatasi stres yang timbul, 4 subjek lebih menggunakan problem focused coping-active coping (PAC) misalnya dengan mengawasi ketika anak bermain, membelikan poster untuk media belajar anak, dan mengkoreksi jika anak salah mengucapkan kata. Selain itu, subjek juga menggunakan emotion focused coping-positif reinterpretation and growth (EPR) yang digunakan RT untuk mengatasi perasaan bingung dan terbebani dengan menanamkan keyakinan dalam diri bahwa anak pasti dapat berbicara. c. Perkembangan emosi Stres yang dialami 4 subjek terkait dengan perkembangan emosi anak yaitu mood anak yang mudah berubah (SL, SH, dan RT), keinginan anak yang kuat dan harus terpenuhi (SL, SH, SG), dan kontrol emosi anak yang buruk (kemarahan mudah meledakledak) yang dialami SH dan RT. Situasi yang penuh stres tersebut menyebabkan subjek mengalami bentuk stres berupa perasaan bingung, perasaan sedih, perasaan khawatir, dan merasa keberatan dalam memenuhi keinginan anak. Dalam mengatasi stres tersebut, subjek lebih banyak menggunakan problem focused coping-active coping (PAC) yaitu dengan memberikan apa yang anak inginkan, memberikan selingan ketika belajar, menasehati anak untuk

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 tidak membanting barang. Selain itu, subjek juga menggunakan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason (ESS) seperti RT yang mendapatkan dukungan dari keluarga untuk membantu mengajari anak dalam belajar. Emotional focused copingacceptance (EA) juga digunakan SH dalam mengatasi perasaan sedih karena kemarahan anak yang meledak-ledak dengan berusaha menerima kondisi anak dan mengganggap sebagai takdir yang harus diterima. d. Perkembangan sosial Stres yang bersumber dari lingkungan sosial anak yaitu adanya perlakuan kurang menyenangkan dari teman sebaya (SH, SG, RT). Hal tersebut membuat subjek merasa kesal, sedih dan takut jika anak dijahati. Untuk mengatasi stres yang muncul, SH dan SG menggunakan problem focused coping-active coping (PAC) dan emotion focused coping-acceptance (EA). e. Perkembangan moral Stres yang bersumber dari perkembangan moral anak yaitu kurangnya pemahaman hal baik dan buruk (boleh dan tidak boleh dilakukan) yang dialami oleh SG dan RT. Hal ini membuat SG dan RT merasa sedih, merasa khawatir, merasa kesal, dan merasa percuma. Dalam mengatasi stres yang timbul, SG lebih menggunakan problem focused coping-active coping (PAC) dan RT menggunakan 2 jenis koping yaitu problem focused coping-seeking social support for

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 instrumental reason (PSS) dan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason (ESS). 2. Lingkungan keluarga Stres yang bersumber dari lingkungan keluarga yang dialami subjek disebabkan oleh penerimaan suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak (SL dan SG) yang membuat subjek merasa sedih dan untuk mengatasi perasaan sedih tersebut, SL lebih menggunakan emotion focused coping-acceptance (EA) dan SG lebih menggunakan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason (ESS). Stres juga bersumber dari anak yang sering bertengkar dengan saudara kandung karena memperebutkan sesuatu (SL, SH, dan RT) sehingga membuat ketiga subjek merasa kesal dan jengkel, untuk mengatasi stres yang timbul ketiga subjek lebih menggunakan Problem focused coping-active coping. 3. Lingkungan masyarakat Stres yang dialami subjek yaitu karena adanya perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan masyarakat yang dialami oleh SH dan RT sehingga membuat subjek merasa sakit hati dan merasa tidak nyaman. Untuk mengatasi stres yang timbul, subjek lebih menggunakan problem focused coping jenis suppression of competing activities dan active coping.

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 4. Lingkungan sekolah Data mengenai lingkungan sekolah merupakan penemuan data baru dalam penelitian ini. Stres yang dialami dikarenakan oleh adanya perlakuan yang kurang menyenangkan dari guru (SL) dan guru dianggap kurang memperhatikan anak (RT). Bentuk stres yang dialami yaitu timbulnya perasaan tersinggung dan jengkel. Untuk mengatasi perasaan tersinggung dan jengkel, SL menggunakan problem focused coping-planning (PP) dan RT menggunakan emotion focused coping-positive reinterpretation and growth (EPR). Stres yang bersumber dari dalam diri antara lain disebabkan oleh adanya perasaan bersalah, kehilangan kepercayaan akan memiliki anak yang normal, dan kekhawatiran akan masa depan anak. Berikut uraiannya: 1. Perasaan bersalah 1) Kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa Hal ini dialami oleh SH dan RT sehingga membuat kedua subjek merasa sedih. SH mengatasi perasaan sedih dengan emotion focused coping-acceptance dan RT menggunakan 2 jenis emotion focused coping yaitu seeking social support for emotional reason dan turning to religion. RT juga menggunakan 1 jenis problem focused coping yaitu seeking social support for instrumental action.

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 2) Penerimaan ketika pertama kali mengetahui kondisi anak Kedua subjek dalam penelitian ini yaitu SL dan SG merasa sedih dan tidak fokus dalam berpikir ketika mengetahui kondisi anak yang sebenarnya. Untuk mengatasinya, SL lebih menggunakan emotion focused coping-acceptance dan SG lebih menggunakan problem focused coping-seeking social support for instrumental action. 2. Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal Perasaan akan hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal dialami oleh SH dan SG. Subjek merasa takut untuk hamil lagi karena khawatir jika melahirkan anak dengan kondisi down syndrome lagi. Untuk mengatasi perasaan takut, SH menggunakan problem focused coping-seeking social support for instrumental action dan SG menggunakan problem focused coping-active coping. 3. Kekhawatiran akan masa depan anak Kekhawatiran akan masa depan anak merupakan penemuan data baru dalam penelitian ini. Hal tersebut mencakup pekerjaan yang cocok untuk anak yang dialami SL dan SL mengatasi dengan problem focused coping-planning, kekhawatiran tidak ada yang merawat anak yang dialami SG dan SG mengatasi dengan problem focused copingactive coping, dan keinginan supaya anak dapat menjalani kehidupan secara normal yang dialami SH dan SH mengatasi dengan emotion foucsed coping-turning to religion.

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 Berdasarkan data yang telah ditemukan, stres yang dialami keempat subjek lebih banyak bersumber dari luar diri yakni bersumber dari keterbatasan anak, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Keempat subjek juga memiliki persamaan dalam mengatasi stres yaitu lebih banyak menggunakan koping problem focused coping-active coping. Keempat subjek menggunakan koping jenis ini baik untuk mengatasi stres yang bersumber dari luar diri maupun dari dalam diri. 2. Perbedaan data hasil analisis 4 subjek penelitian Dari data penelitian yang ada, keempat subjek dalam penelitian ini mengalami stres yang sama namun menggunakan coping strategy yang berbeda bahkan menggunakan dua sampai tiga bentuk koping dalam mengatasi stres. Seperti subjek keempat (RT) dalam penelitian ini yang menggunakan 2 sampai 3 bentuk koping dalam mengatasi stres. RT menggunakan koping problem focused coping-active coping dan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason dalam mengatasi mood anak yang mudah berubah. RT menggunakan koping problem focused coping-seeking social support for instrumental action dan emotion focused coping-seeking social support for emotional reason dalam mengtasi stres yang bersumber dari kurangnya pemahaman anak tentang hal baik dan buruk,. Begitu juga ketika RT mengatasi stres dimana kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa masa lalu, RT menggunakan koping

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 emotion focused coping yaitu seeking social support for emotional reason dan problem focused coping yaitu seeking social support for instrumental action. Secara umum, ketiga subjek (SL, SH, RT) lebih cenderung menggunakan emotion focused coping-acceptance, seeking social support for emotional reason, dan turning to religion dalam mengatasi stres yang bersumber dari dalam diri, sedangkan SG lebih cenderung menggunakan problem focused coping-active coping dalam mengatasi stres yang bersumber dari dalam diri. Berikut bagan kesimpulan keempat subjek:

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 Bagan 6. Bagan Kesimpulan Stres dan Coping Strategy 4 Subjek Stres yang bersumber dari luar diri Perkembangan Fisik Kesehatan anak mudah terganggu (SL, SG, RT) Keterlambatan kemampuan berjalan (SL, SG, RT) Ketidaksiapan jika anak mendapatkan menstruasi (SG, RT) Kurangnya kemampuan bantu diri (SL, SH, RT) Perkembangan kognitif: Kurangnya kesadaran akan bahaya (SL, SH) Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung masih belum lancar (SL, SH, SG, RT) Kemampuan berbicara yang belum lancar (SL, SH, RT) Perkembangan emosi: Keinginan anak kuat&harus dipenuhi (SL, SH, SG) Kontrol emosi yang buruk (SH, RT) Mood mudah berubah (SL, SH, RT) Perkembangan sosial: Mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya (SH, SG, RT) Perkembangan moral: Kurangnya pemahaman baik&buruk (SG, RT) Lingkungan keluarga: Anak sering bertengkar dengan saudara kandung (SL, SH, RT) Reaksi suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak (SL, SG) Lingkungan masyarakat: Mendapat perlakuan kurang menyenangkan (SH, RT) Lingkungan sekolah: Mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari guru (SL, RT) Stres yang bersumber dari dalam diri SL SH SG RT 1) Perasaan bersalah: 1. Memaknai kondisi anak sebagai ganjaran atas dosa masa lalu 2. Kesedihan mendalam ketika mengetahui kondisi anak 2) Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak normal 3) Kekhawatiran terhadap masa depan anak Bentuk stres yang dialami Merasa khawatir, merasa jengkel, merasa tidak nyaman, merasa sedih, merasa sakit hati, merasa ragu, merasa bingung, merasa keberatan, merasa kecewa, merasa kesulitan, merasa tersinggung, dan merasa tidak fokus berpikir, merasa tidak siap Coping strategy subjek 1, 2, 3, dan 4 Problem Focused Coping: Active coping Planning, Suppression of competing activities, Seeking social support for instrumental action Emotion Focused Coping: Positive reinterpretation and growth, Seeking Social Support For Emotional Reason, Acceptance, Turning to religion

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 H. PEMBAHASAN Down syndrome disebabkan oleh adanya kromosom ke-21 ekstra atau lebih sering disebut trisomy 21. Selain karena pembelahan sel yang tidak sempurna, Down Syndrome dapat disebabkan oleh faktor usia ibu ketika mengandung. Semakin tua usia ibu, semakin berpeluang melahirkan anak Down Syndrome (Evans dan Hammerton (1985); Hook (1982) dalam Durand & Barlow, 2007). Jika melihat kembali latar belakang subjek, pernyataan tersebut sesuai dengan subjek 2 (SH), subjek 3 (SG), dan subjek 4 (RT) yang hamil ketika menginjak usia diatas 30 tahun dan tidak memiliki keturunan Down Syndrome dalam keluarga. Berdasarkan keterangan subjek, ketiga subjek terkena virus tokso ketika hamil. Pueschel dan Goldstein ((1991) dalam Durand & Barlow, 2007) mengungkapkan bahwa perempuan yang lebih tua lebih banyak terpapar zat beracun, radiasi, dan substansi-substansi yang mungkin merugikan dalam jangka waktu lama dibandingkan dengan mereka yang muda. Paparan ini mengganggu meiosis (proses pembelahan) kromosom normal, sehingga menciptakan kromosom ekstra pada kromosom 21. Hal ini sesuai dengan subjek 1 (SL) yang mengalami kegagalan KB suntik dan mengalami kesalahan diagnosis. Dokter tidak mengatakan jika SL hamil, tetapi mengalami beberapa penyakit dalam sehingga diharuskan mengkonsumsi obat dengan dosis tinggi. Kehamilan baru diketahui ketika menginjak usia 2 bulan. Hal tersebut membuat SL merasa kecewa terhadap diagnosis dokter yang keliru dan menimbulkan stres baginya. Seiring dengan perkembangannya, anak down

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 syndrome tentu berbeda dengan anak normal pada umumnya. Perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral yang terbatas tentu saja dapat menimbulkan stres bagi masing-masing subjek. Sesuai dengan fokus penelitian ini yaitu utnuk mengetahui stres yang dialami ibu dan coping strategy yang digunakan ibu untuk mengatasi stres, dibawah ini pertama-tama peneliti akan diuraikan mengenai stres yang bersumber dari luar diri antara lain keterbatasan anak (perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral), lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Jika dilihat dari perkembangan fisik anak, stres yang dialami keempat subjek antara lain dikarenakan oleh kesehatan anak yang mudah terganggu. Subjek 1 (SL) merasa khawatir karena suhu tubuh anak dapat mendadak berubah dingin, subjek 2 (SG) merasa khawatir karena anak pernah mengalami gangguan saluran kencing, dan RT yang merasa khawatir karena anak mudah terkena batuk dan pilek serta tidak bisa meminum obat. Selain itu, stres juga disebabkan oleh Keterlambatan kemampuan berjalan. Anak DS juga memiliki otot yang lemah sehingga membuat mereka tidak mampu menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan gerakan-gerakan kasar (Semium, 2006). Hal ini sejalan dengan subjek 1 (SL), subjek 3 (SG), dan subjek 4 (RT) dalam penelitian ini dimana anak mereka mengalami keterlambatan dalam berjalan, rata-rata anak dapat berjalan diatas usia 2 tahun. SL mengungkapkan bahwa anak baru dapat berjalan ketika anak berusia 2 tahun, SG mengatakan bahwa anak baru dapat berjalan ketika usia 5 tahun 5 bulan, dan RT mengungkapkan bahwa anak baru dapat berjalan ketika usia 3

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 tahun. Stres yang dialami subjek juga disebabkan oleh Ketidaksiapan jika anak mendapatkan menstruasi. Semium, 2006 mengungkapkan bahwa anakanak gadis mengalami saat menstruasi yang sangat lambat. Ia sangat sensitif terhadap temperatur serta mudah sekali jatuh sakit. Seperti yang dialami oleh SG dan RT, mereka merasa tidak siap jika anak mendapatkan menstruasi. Dalam mengatasi ketidaksiapannya, SG mengusulkan kepada guru di sekolah supaya memberikan pembekalan diri kepada anak. Berbeda dengan SG, RT mengatasi ketidaksiapannya dengan mencari informasi melalui diskusi dengan teman mengenai bagaimana menangani anak ketika menstruasi sehingga RT dapat mengantisipasi ketidaksiapannya. Jika dilihat dari perkembangan kognitif, stres yang dialami dikarenakan oleh kurangnya kesadaran anak akan bahaya yang dialami SL dan SH sehingga harus diawasi terutama ketika bermain api, gunting, dan oisau. Stres yang dialami keempat subjek dalam penelitian ini yaitu bahwa anak belum dapat menulis, membaca, dan berhitung dengan lancar. Hal ini didukung oleh pendapat Soemantri (2007) yang menuturkan bahwa kapasitas belajar anak down syndrome yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung membeo. Kemampuan berbicara anak yang belum lancar juga dapat menimbulkan stres bagi 3 subjek (SL, SH, dan RT). Kurang lancarnya kemampuan berbicara anak dikarenakan ciri fisik anak berupa lidah yang besar dan berkerut, yang menjulur keluar karena mulut yang

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 kecil dengan langit-langit yang rendah. Hal tersebut membuat anak mengalami kesulitan dalam artikulasi, kualitas suara, dan ritme berbicara (Semium, 2006). Dalam perkembangan emosi, SL, SH, dan RT merasa sedih serta bingung terhadap mood/suasana hati yang mudah berubah. Hal ini didukung oleh pendapat Magungsong (1998) bahwa anak down syndrome memiliki emosi yang datar, kurang mendalam, dan cepat kabur. Mereka kadang-kadang dapat menjadi sedih dan marah, tetapi pada umumnya suasana hati semacam ini akan mudah hilang. Keadaan emosi anak yang demikian sesuai dengan yang dialami oleh SH dan RT yang mengalami stres karena anak memiliki kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak). SL dan SH merasa keberatan karena keinginan anak yang kuat dan harus terpenuhi. Seperti halnya anak normal, anak tunagrahita mengahayati suatu emosi jika kebutuhannya terhalangi (Magungsong, 1998). Seperti halnya SG yang merasa khawatir anak akan mengamuk jika keinginan tidak dipenuhi. Bersumber dari perkembangan sosial anak, SH dan SG merasa kesal serta takut karena anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya. Perlakuan tidak menyenangkan ini karena anak down syndrome berbeda dengan anak normal, anak tunagrahita jarang diterima dan sering ditolak oleh kelompok (Magungsong, 1998). Penolakan ini juga dialami oleh RT dan membuatnya merasa sedih karena ada anak normal yang tidak mau bergaul dengan anaknya yang down syndrome. Perkembangan moral anak juga menimbulkan stres bagi SG dan RT yaitu kurangnya pemahaman baik dan buruk (hal yang boleh/tidak boleh dilakukan). Soemantri (2007)

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 menyebutkan bahwa orang tua juga harus memberikan pengarahan mengenai hal yang baik dan buruk karena pada umumnnya anak tunagrahita melakukan suatu hal tanpa memikirkan resiko atau akibatnya. Seperti RT yang mengaku khawatir perilaku anak mengambil barang orang lain tanpa ijin dapat menjadi kebiasaan sehingga mendorongnya dan suami untuk mencari pemecahan masalah. Begitu juga SG yang merasa sedih karena anak senang berlarian tanpa bsuana setelah mandi. Stres yang dialami subjek juga dapat bersumber dari lingkungan keluarga yang meliputi penerimaan suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak. Seperti yang diungkapkan SL yang mengungkapkan bahwa suami merasa terkejut namun dapat menerima kondisi anak. SG juga mengalami hal serupa namun ia justru mendapat dukungan suami untuk semangat dalam merawat anak. Stres yang juga dialami oleh SL, SH, dan RT yaitu anak sering bertengkar dengan saudara kandung karena berebut sesuatu sehingga membuat ketiga subjek merasa jengkel. Semiawan&Magungsong (2010) mengungkapkan bahwa sibling rivalry dapat terjadi karena anak kandung yang normal melihat perlakuan orang tua yang berbeda, perhatian orang tua kepada saudaranya yang Down Syndrome dinilai lebih besar. Misalnya, RT yang mengungkapkan bahwa anak yang normal merasa dibedakan oleh orangtuanya dan adiknya yang down syndrome dianggap lebih diistimewakan sehingga hal ini menyebabkan kedua anaknya sering bertengkar walau karena hal kecil.

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 Stres yang bersumber dari lingkungan masyarakat dipicu oleh penerimaan dan reaksi masyarakat terhadap kondisi anak yang berbeda dengan anak normal. Stres yang dialami subjek yaitu adanya perlakuan kurang menyenangkan dari masyarakat sekitar tempat tinggal terhadap anak. Seperti subjek 2 (SH) yang merasa sakit hati saat mengetahui anak dipanggil „pego‟ (bodoh). Untuk mengatasi perasaan sakit hati, SH berusaha mengesampingkan tanggapan orang lain dan tidak memasukannya ke dalam hati. Keadaan serupa juga dialami subjek 4 (RT), ada beberapa anak yang nakal dan RT merasa jengkel dan tidak mungkin memarahi karena nantinya bisa saja malah para orang tua yang akan bertengkar. RT memilih untuk menarik diri dari lingkungan dan tidak pernah keluar rumah kecuali jika mengikuti acara keagamaan. Uraian tersebut sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Semium (2006), bahwa banyak keluarga yang secara drastis mengubah cara hidup mereka karena kehadiran anak yang cacat mental di dalam keluarga dan hampir sama sekali menarik diri dari kegiatan-kegiatan mayarakat. Tidak hanya menarik diri dari lingkungan masyarakat karena anak mendapat perlakan tidak menyenangkan, namun menarik diri untuk menghindari perasaan sakit hati. Lingkungan sekolah juga merupakan sumber stres bagi SL dan RT. RT merasa jengkel karena guru kurang memperhatikan anak dan SL merasa tersinggung karena guru melontarkan pernyataan yang menyinggung hati orang tua. Tidak hanya lingkungan di luar diri subjek yang mempu memicu stress. Stressor dapat muncul dari dalam diri subjek, misal munculnya perasaan bersalah subjek terhadap kondisi anak. Verauli (dalam Gunarsa, 2006)

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 mengungkapkan bahwa ketika seorang anak yang dilahirkan dinyatakan berbeda atau keterbelakangan mental sebagian besar orang tua akan merasa terpukul dan menyesali keadaan si anak maupun dirinya sendiri. Kesedihan mendalam ketika mengetahui kondisi anak ini selain sedih yang dirasakan SG, SL pun menjadi tidak fokus dalam berpikit/sulit berkonsentrasi. Oleh adanya perasaan bersalah melahirkan anak down syndrome maka tak jarang muncul praduga yang berlebihan dalam hal keturunan (Soemantri, 2007). Hal ini sejalan dengan SH dan RT yang merasa sedih karena kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa masa lalu. Stres juga disebabkan oleh hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal, yang dialami SH dan SG. Mereka merasa takut untuk hamil karena khawatir akan melahirkan anak dengan kondisi yang sama (down syndrome). SL, SH, dan SG merasakan kekhawatiran terhadap masa depan anak. Khawatir mengenai siapa yang akan merawat anak jika subjek meninggal dan pekerjaan apa yang cocok untuk anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Soemantri (2007), perasaan khawatir terhadap masa depan anak muncul karena orang tua tidak mengetahui layanan masyarakat yang dibutuhkan anak dan tidak memiliki gambaran mengenai masa depan anaknya. Untuk mengatasi bentuk stres yang dialami dari adanya berbagai sumber stres pasti subjek memerlukan coping strategy, coping strategy dapat dipahami sebagai usaha yang dilakukan individu dalam mengatasi situasi yang dinilai sebagai tantangan/luka/kehilangan/ancaman (Siswanto, 2007). Dalam mengatasi stres yang bersumber dari luar diri dan dari dalam diri, subjek dalam

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 penelitian ini lebih dominan menggunakan koping problem focused copingactive coping. Koping jenis ini ditujukan untuk memecahkan masalah atau melakukan sesuatu untuk mengubah sumber stres. Active coping bertujuan untuk memperbaiki efek yang ditimbulkan oleh stresor. Sebagai contoh, untuk mengatasi perasaan khawatir jika anak terjatuh ketika mengambil makanan maka sebelum beraktivitas subjek menyiapkan makanan untuk anak. Contoh lainnya yaitu subjek yang segera memenuhi keinginan anak supaya anak tidak mengamuk karena meminta sesuatu serta mengawasi anak ketika bermain didekat api atau menggunakan gunting. Problem focused coping yang juga digunakan subjek yaitu planning, koping jenis ini bertujuan untuk memikirkan langkah terbaik yang harus diambil dalam mengatasi stres. Koping jenis ini digunakan subjek untuk mengatasi perasaan jengkel dan perasaan tersinggung kepada guru yang kurang memperhatikan anak dengan berencana memberikan kritik kepada guru. Problem focused coping-suppression of competing activities yang merupakan usaha untuk mengesampingkan hal lain yang dianggap tidak perlu dan berdamai dengan stressor digunakan subjek untuk mengatasi perasaan sakit hati karena perlakuan masyarakat terhadap anak. SH memilih untuk tidak mempedulikan perlakuan masyarakat dan tidak memasukan kedalam hati. Problem focused coping-Seeking of instrumental social support (mencari nasehat, bantuan, dan informasi dari orang lain) juga digunakan subjek dalam mengatasi stres, sebagai contoh subjek mengumpulkan informasi mengenai cara menangani anak jika anak mendapat menstruasi. Informasi

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170 diperoleh dengan berdiskusi bersama teman yang juga memiliki anak down syndrome dan telah mengalami menstruasi. Emotion focused coping juga digunakan subjek dalam mengatasi stres yang bersumber dari luar diri maupun dari dalam diri. Koping ini digunakan ketika subjek merasa bahwa stresor merupakan situasi yang tidak dapat diubah dan harus dijalani. Bentuk emotion focused coping yang digunakan yaitu Positif reinterpretation and growth, subjek menafsirkan stressor dalam arti yang positif, sehingga akhirnya dapat mengarahkan seseorang untuk melanjutkan tindakan yang lebih problem focused. Bentuk koping ini digunakan subjek untuk mengatasi perasaan tersinggung karena ucapan guru yang tidak menyenangkan. Subjek menanamkan pikiran positif bahwa guru pasti tidak bermaksud menyinggung perasaan. Bentuk koping ini juga digunakan subjek untuk mengatasi perasaan khawatir karena anak belum lancar berbicara. Tindakan yang dilakukan subjek yaitu dengan berusaha menanamkan keyakinan positif bahwa anak pasti dapat berbicara. Bentuk emotion focused coping yang juga dominan digunakan subjek untuk mengatasi bentuk stres yang dilami yaitu seeking social support for emotional reason, yaitu subjek mendapatkan simpati dan dukungan moral dari lingkungan sekitarnya ketika mengetahui kondisi anak. subjek mendapat dukungan moral dari suami, kakak dan keluarga besar dalam merawat serta membesarkan anak. Emotion focused coping-acceptance juga merupakan bentuk koping yang dominan digunakan subjek dalam mengatasi bentuk stres berupa perasaan sedih karena kontrol emosi anak yang buruk. Subjek

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171 mengatasi bentuk stres dengan berusaha menerima, bersabar, dan menganggap kondisi anak sebagai kondisi yang memang harus subjek dijalani. Bentuk koping ini juga digunakan subjek untuk mengatasi perasaan sedih karena anak mengalami penolakan oleh teman sebaya, subjek berusaha memahami bahwa ada jarak antara anak yang normal dengan anaknya yang down syndrome. Bentuk koping ini juga digunakan subjek untuk mengatasi perasaan sedih yang timbul dari persepsi bahwa kondisi anak merupakan ganjaran atas dosa. Subjek berusaha untuk tabah dan berpasrah karena menyadari kondisi tersebut tidak dapat diubah. Emotion focused coping-turning to religion digunakan subjek untuk mengatasi bentuk stres berupa perasaan sedih atas kondisi anak yang dianggap sebagai ganjaran atas dosa, hal ini ditunjukkan subjek dengan rajin mengkuti misa harian dan mendatangi tempat ziarah untuk berdoa demi kebaikan keluarganya. Subjek dalam penelitian ini menggunakan beberapa bentuk coping strategy dalam mengatasi stres, namun keempat subjek lebih dominan menggunakan koping problem focused coping karena subjek merasa bahwa subjek mampu untuk melakukan tindakan yang konstruktif untuk memecahkan, mengubah sumber stres, dan mengatasi efek yang dapat ditimbulkan oleh stresor (Carver, Scheier, Weintraub. 1989). Bentuk problem focused coping yang dominan digunakan subjek untuk mengatasi bentuk stres yang dialami antara lain active coping, planning, suppression of competing activities, dan seeking of instrumental social support. Subjek juga dominan menggunakan

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172 koping Emotion focused coping yang bertujuan untuk mengurangi atau mengelola tekanan emosional yang berhubungan dengan situasi. Koping ini sering digunakan oleh subjek karena subjek merasa bahwa stressor adalah sesuatu yang harus dijalani (Folkman & Lazarus, 1980). Bentuk emotion focused coping yang sering digunakan oleh subjek yaitu seeking social support for emotional reason, acceptance, dan turning to religion.

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis keempat subjek dalam penelitian yang terkait dengan stres ibu yang memiliki anak Down Syndrome dan Coping Strategy ibu dalam mengatasi stres yang muncul seiring usahanya membesarkan anak Down Syndrome, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Seiring usahanya dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome, ibu mengalami stress berupa situasi yang menekan dan bentuk stres berupa perasaan negatif baik bentuk stres yang bersumber dari luar diri maupun bentuk stres yang bersumber dari dalam diri. 2. Bentuk stres dari luar diri bersumber dari keterbatasan anak yang meliputi keterbatasan dalam perkembangan fisik yaitu keterlambatan kemampuan berjalan, ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi, dan kurangnya kemampuan bantu diri anak. Hal tersebut membuat ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan tidak siap, perasaan khawatir, perasaan sedih, dan perasaan cemas. Kemampuan berjalan anak yang lebih lambat dari anak normal membuat subjek mengalami bentuk stres berupa perasaan sedih dan cemas karena anak belum sepenuhnya mampu bantu diri. Stres juga bersumber dari perkembangan kognitif yaitu kurangnya kesadaran anak akan bahaya, kemampuan berbicara yang belum lancar, dan kurangnya kemampuan anak dalam akademik (membaca, menulis, dan berhitung). 173

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174 Bentuk stress yang dialami yaitu perasaan kesulitan dalam mengajari anak belajar, perasaan terbebani, dan perasaan khawatir. Stress yang bersumber dari keterbatasan anak dalam perkembangan emosi yaitu mood anak yang mudah berubah, keinginan anak kuat dan harus terpenuhi, dan kontrol emosi yang buruk (kemarahan mudah meledak-ledak). Kondisi tersebut membaut ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan bingung, perasaan sedih, merasa khawatir, dan merasa keberatan dalam memenuhi keinginan anak. Stress yang bersumber dari keterbatsan anak dalam perkembangan sosial yaitubersumber dari adanya perlakuan kurang menyenangkan dari teman sebaya sehingga ibu mengalami bentuk stres berupa persaan sedih dan perasaan takut jika anak dijahati. Stres yang bersumber dari keterbatasan anak dalam perkembangan moral yaitu bersumber dari kurangnya pemahaman hal baik dan buruk (hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan). Stres yang dialami ibu juga bersumber dari lingkungan keluarga yaitu bersumber dari penerimaan suami ketika pertama kali mengetahui kondisi anak, bentuk stres yang dialami ibu yaitu merasa sedih karena melihat suami terpukul. Stres juga bersumber dari lingkungan masyarakat yaitu adanya perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan masyarakat, bentuk stres yang dialami ibu yaitu merasa sakit hati dan tidak nyaman. Stres yang bersumber dari lingkungan sekolah yaitu adanya perlakuan kurang menyenangkan dari guru dan guru dianggap kurang memperhatikan anak, bentuk stres yang dialami yaitu merasa jengkel dan tersinggung.

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175 3. Stres dari dalam diri ibu bersumber dari adanya perasaan bersalah yaitu kondisi anak yang dianggap sebagai ganjaran atas dosa dan penerimaan ibu ketika pertama kali mengetahui kondisi anak. Bentuk stres yang dialami yaitu merasa sedih dan membuat ibu merasa tidak tidak fokus dalam berpikir. Stres juga bersumber dari hilangnya kepercayaan untuk memiliki anak yang normal sehingga ibu mengalami bentuk stres berupa perasaan takut untuk hamil lagi dan merasa khawatir melahirkan anak dengan kondisi down syndrome lagi. Stres juga bersumber dari kekhawatiran ibu terhadap masa depan anak yang meliputi kekhawatiran tidak ada yang merawat anak jika ibu meninggal, mencemaskan pekerjaan yang cocok bagi anak, dan adanya harapan agar anak dapat menjalani kehidupan secara normal seperti anak normal lainnya. Bentuk stres yang dialami bu yaitu merasa bingung dan merasa khawatir anak dapat menjalani kehidupan secara normal atau tidak. 4. Ibu yang memiliki anak down syndrome menggunakan 2 jenis koping, baik problem focused coping maupun emotion focused coping dalam mengatasi stres yang timbul seiring usahanya dalam merawat dan membesarkan anak down syndrome. 5. Bentuk problem focused coping yang dominan digunakan ibu untuk mengatasi bentuk stres yang dialami antara lain active coping yaitu dengan menyiapkan makan untuk anak sebelum ditinggal beraktivitas dan menuruti kemauan anak supaya anak tidak marah-marah, membelikan poster abjad untuk membantu anak belajar, mengawasi ketika anak bermain didekat api atau menggunakan gunting, melakukan tes tokso ketika dinyatakan hamil lagi. Planning yang

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176 dilakukan ibu yaitu dengan berencana mengkritik guru yang kurang memperhatikan murid dan menyiapkan lahan untuk anak berwiraswasta kelak. Suppression of competing activities yang dilakukan ibu yaitu dengan memilih tidak keluar rumah untuk menghindari celaan dari tetangga. Seeking social support for instrumental action yang dilakukan ibu yaitu dengan berdiskusi mengenai penanganan anak ketika menstruasi bersama teman yang juga mempunyai anak down syndrome. 6. Bentuk Emotion Focused Coping yang sering digunakan ibu untuk mengatasi bentuk stres yang timbul yaitu seeking social support for emotional reason yang terlihat dari dukungan keluarga dan suami kepada ibu untuk lebih bersabar dalam merawat anak. Acceptance dilakukan oleh ibu dengan berusaha pasrah dan menerima anak, memaknai anak sebagai pemberian Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Positif reinterpretation and growth yang dilakukan ibu yaitu dengan berpikiran positif bahwa anak dapat berbicara dan menanamkan keyakinan positif bahwa guru tidak bermaksud menyakiti anak dan tidak bermaksud menyinggung orangtua. Turning to religion yang dilakukan ibu yaitu dengan mengunjungi tempat ziarah dan berdoa demi kebaikan keluarga. 7. Penyebab lahirnya anak Down Syndrome rata-rata disebabkan oleh virus tokso dan usia ibu melebihi 30 tahun ketika mengandung anak. Kesimpulan-kesimpulan penelilitian keterbatasan peneltian berikut ini. diatas dapat dipahami dalam

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177 B. Keterbatasan Penelitian Seharunya peneliti lebih banyak menggunakan pertanyaan terbuka dalam proses pengambilan data, namun pada kenyataannya peneliti masih banyak menggunakan pertanyaan tetutup selama proses pengambilan data. Penggunaan pertanyaan terbuka yang lebih banyak mungkin dapat membantu menggali data yang lebih kaya mengenai stres yang bersumber dari dalam diri daripada hasil penelitian yang telah ditemukan oleh peneliti. C. Saran 1. Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya peneliti menggunakan pertanyaan terbuka supaya data mengenai teori stress pada ibu dalam merawat dan membesarkan anak Down Syndrome serta teori mengenai coping strategy ibu dalam mengatasi stres dapat lebih tergali kekhasannya. 2. Bagi sekolah berkebutuhan khusus/SLB Melihat SLB dimana peneliti melakukan penelitian, disarankan untuk memisahkan kelas bagi tiap-tiap anak berkebutuhan khusus meskipun masih dalam tahap kelas observasi.Hal ini perlu diperhatikan karena setiap anak berkebutuhan khusus memerlukan penanganan yang berbeda, misalnya dengan memisahkan anak down syndrome dan autis. Disarankan supaya sekolah dapat memberikan keterampilan yang beragam misalnya melukis, musik, olahraga, dan lain sebagainya. Fasilitas mengenai keterampilan dapat berguna untuk anak sehingga anak dapat

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178 mengembangkan talenta yang mereka miliki dan dapat berguna untuk masa depan anak. Ibu dengan anak Down Syndrome juga mengeluhkan guru di SLB yang kurang memperhatikan anak, sehingga penting bagi guru untuk lebih memperhatikan anak terutama pemahaman anak dalam menyerap pelajaran. 3. Bagi Ibu dengan Anak Down Syndrome Bagi ibu dengan anak Down Syndrome, mungkin ibu dapat lebih memperhatikan tumbuh kembang anak, melihat stres yang dialami lebih banyak bersumber dari perkembangan anak. Mungkin ibu dapat melanjutkan/mencari tempat terapi yang bagus untuk anak, karena melalui terapis anak dapat lebih tertangani dengan baik. Melihat anak belum menunjukkan bakat tertentu, mungkin ibu dapat mengajari anak keterampilan tertentu sehingga dapat menjadi bekal bagi anak dan berguna bagi masa depan anak nantinya. 4. Bagi masyarakat Semoga dengan penelitian ini masyarakat pada umumnya lebih dapat bertoleransi dengan orang-orang berkebutuhan khusus, terutama anak down syndrome. Anak down syndrome memang memiliki ciri fisik yang khas, namun bukan berarti menganggap mereka aneh.Semoga masyarakat lebih dapat membantu mereka untuk berdinamika dan dapat memperlakukan mereka layaknya orang normal pada umumnya.

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179 DAFTAR PUSTAKA Adiyanto, dkk. (2010). Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif 2. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka. Bania Maulina & Raras Sutatminingsih. (2005). Stres Ditinjau Dari Harga Diri Pada Ibu yang Memiliki Anak Penyandang Retardasi Mental. Psikologia, Vol. I No. 1. 8-15. Juni 2005. Carver, Charles S. Scheier, Michael F. & Weintraub, Kumari Jagdish. (1989). Assessing Coping Strategies: A Theoretically Based Approach . Journal of Personality and Social Psychology 1989, Vol. 56, No. 2, 267-283. American Psychological Association, Inc. Davison, Gerald C; Neale, John M; & Kring, Ann M. (2006). Psikologi Abnormal, ed. 9(Fajar Noermalasari, terj). Jakarta: Raja Grafindo Persada. Disabilitas dan Pandangan Masyarakat. (2011, November 14). Dipungut 5 Maret, 2011, dari http://www.edipirianblog.com. Durand, Mark, V & Barlow, H, David. (2007). Intisari Psikologi Abnormal ed. keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fischer, T Constance. (2006). Qualitative Research Methods For Psychologist: Introduction Through Empirical Studies. Burlington: Academic Press. Gunarsa, Singgih D. (2006). Dari anak sampai usia lanjut: bunga rampai psikologi perkembangan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Hardjana, A. M. (1994). Stres Tanpa Distres: Seni Mengelola Stres. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Lam, Lai-wah & Mackenzie, Ann E. (2002). Coping With a Child With Down Syndrome: The Experiences of Mothers in Hong Kong. Qualitative Health Research, Vol. 12, No. 2. February 2002. Sage Publication. Lestari, Sri. (2012). Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan penanganan Konflik dalam Keluarga Edisi Pertama. Jakarta: Kencana Prenada Group. Looker, Terry & Gregson Olga. (2005). Managing Stress. Yogyakarta: Penerbit: BACA!. Mawardah, Umi; Siswati; & Hidayati, Farida. (2012). Relationship Between Active Coping With Parenting Stress in Mother Of Mentally Retarded child. Jurnal Psikologi, Vol.1, No. 1.

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180 Mengenali Down Syndrome. Dipungut tanggal 4 Desember, 2011, dari http://www.potads.com//downsyndrome.php. Moleong, J. Lexy. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Norhidayah; Wasilah, Siti; & Husein, Achyar Nawi. (2013). Gambaran Kejadian Kecemasan Pada Ibu Penderita Retardasi Mental Sindromik di SLB-C Banjarmasin. Jurnal Berkala Kedokteran Vol. 9, No. 1. April 2013. Patton, Michael Quinn. (2002). Qualiative Research And Evaluation Methods. London: Saga Publications. Poerwandari, E. Kristi. (1998). Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi. Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI. Prasadio, Triman. (1978). Anak-anak yang Terlupakan: Liku-Liku Anak Terbelakang. Surabaya: Airlangga University Press. Semium, Yustinus. (2006). Simptom Khusus, Gangguan Penyesuaian Diri AnakAnak Luar Biasa, dan Gangguan Mental yang Berat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Semiawan, Conny R & Mangungsong Frieda. (2010). Keluarbiasaan Ganda (Twice Exceptionality): Mengeksplorasi, Mengenal, Mengidentifikasi, dan Menanganinya. Jakarta: Prenada Media Group. Siswanto. (2007). Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: penerbit ANDI. Smith, Jonathan, A. (2009). Psikologi kualitatif (penerjemah: Budi Santoso S. psi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Gramedia Widiaswara Indonesia. Soemantri, T. Sutjihati. (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama. Sulistyasti, Rini. (2011). Kisah Yustina Membesarkan DS (2). Dipungut 22 oktober, 2011 dari www.tabloidnova.com.

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181 Strauss, Anselm & Corbin, Juliet. (2009). Dasar-dasar Penelitian KualitatifTatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data (Muhammad Shodiq & Imam Muttaqein, terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://lovelyteacherrita.blogspot.com. Dipungut pada tanggal 11 April 2012

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182 LAMPIRAN 1 Tabel analisis subjek 1(SL) Tabel analisis subjel 2 (SH) Tabel analisis subjek 3 (SG) Tabel analisis subjek 4 (RT) Tabel pembagian stres dan coping strategy 4 subjek

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183 TABEL 3. ANALISIS SUBJEK 1 (SL) Stress ibu dalam merawat dan membesarkan anak DS Dekripsi Analisis 1. Cuman dulu kadang-kadang Suhu tubuh Suhu tubuh dingin badannya (18) anak sering anak sering berubah berubah menjadi dingin menjadi dingin Anak kesulitan dalam matematika dan membaca karena kadang malas Anak kurang mampu dalam matematika dan membaca Coping strategy Deskripsi Kalau misal udah Subjek berusaha diangeti/diselimutin gitu menghangatkan kayak nggak mbalik gitu badan anak suhu tubuhnya. (19) dengan selimut 2. Dia bisa bergaul dengan teman-teman hanya pelajaran tertentu yang suit, seperti matematika. Baca itu dia kadang males jadi kurang tanggap (30-32) Ya kami sebagai orang tua juga menyadari hal itu. Dia bisa sih bisa namun kurang cepat menangkap pelajaran. Jadi setiap hari harus ada waktu untuk belajar dan sebagai orang tua juga harus selalu mendampingi dan mengajarkan anak. (34-35) Subjek menyadari kekurangan anak dalam mtematika dan membaca, subjek selalu mendampingi anak belajar 3. Saya khawatir kalau Subjek Subjek merasa Tapi kalau dituntun ayo Menuntun anak disekolah kalau mau naik khawatir anak khawatir anak naik nggak apa-apa gitu untuk menaiki tangga suka takut (53) takut naik takut naik dia bisa, berani. (54) tangga Analisis Problem focused copingactive coping: Untuk mengatasi suhu tubuh anak yang sering berubah dingin, subjek berusaha mengahangatkan dengan selimut Problem focused copingactive coping: Subjek menyadari anaknya kurang mampu dalam matematika dan membaca dan mendampingi anak belajar setiap hari Problem focused copingactive coping:

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184 tangga tangga 4. Ambil makanan juga bisa sendiri cuman kadang kan makanan diatas nah itu baru minta tolong. Cuman kadang orang tua kan khawatir kalau nanti jatuh. (60-62) Khawatir anak Subjek merasa jatuh khawatir anak mengambil jatuh makanan Kalau mau ditinggal kerjaan ah bentar deh tak siapin sek daripada manjat-manjat nanti jatuh. (62-63) 5. Rasa itu ya sebagai orang tua kadang yang paling berat kadang kan anak dilihat lama sama orang. Apalagi sampai menyakiti terutama perkataan. Yang selalu dilihat selalu tampilan fisik putra. Orang tua tu ya kekhawatirannya kalau Tidak nyaman penampilan fisik anak diperhatikan orang. Merasa khawatir anak diejek/dicubit Saya harus lebih ekstra memperhatikan ya kalaukalau nanti dijahati. Kalau misal main belum pulang ya saya cari. Kalau dinakalin ya saya suka ngasih tahu sama temennya. Kalau pulang nangis ya saya tanya kenapa, dinakali siapa. Subjek merasa tidak nyaman penampilan fisik anak diperhatikan dan khawatir anak diejek/dicubit Subjek menuntun nak menaiki tangga karena merasa khawatir anak akan jatuh Menyiapkan Problem foused makanan coping-active sebelum coping: Subjek ditinggal mengatasi bekerja kekhawatiran anak akan jatuh dengan menyiapkan makanan sebelum ditinggal bekerja Meningkatkan problem perhatian focused copingkepada anak. active coping: Mencari anak Subjek jika belum meningkatkan perhatian kepada pulang, anak menanyakan penyebab jika anak menangis. Menasihati

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185 6. dinakalin baik diejek atau dicubit. (99-103) Cuman itu tadi kadang Anak belum Anak belum omongannya tidak jelas, lancar lancar harus diulang opo to piye to. berbicara berbicara (117-118) (106-108) Kalau diulang 2 atau 3 kali ya bisa, meski kadang susah menyampaikan namun paham apa yang disampaikan orang ke dia. (118-120) suka nanti kalau suka teman anak yang nakal. Meminta anak mengulang untuk memahami apa yang akan anak sampaikan 7. Untuk kesadarannya akan sesuatu yang membahayakan bagi dia seperti apa bu? Misalnya main deket kompor nyala gitu kan bahaya ya Ya paham sih mbak, tapi ya kadang suka ngeyel aja, saya takutnya kena api (132) Anak kadang ngeyel bermain dekat kompor menyala. Subjek takut anak kena api Subjek merasa khawatir anak terkena api karena ngeyel bermain didekat kompor Kalau ngeyel saya ingatkan jangan kena, panas. Atau main gunting saya awasi (133-134) Mengingatkan anak jika anak ngeyel, mengawasi jika anak bermain gunting 8. Ya menulis bisa hanya belum sempurna. Membaca juga sudah bisa sedikitsedikit hanya belum lancar. (137-141) Anak belum lancar dalam menulis, menghafal, membaca, dan Anak belum lancar dalam menulis, membaca, berhitung Kan dia masih taraf -Subjek yakin belajar. Tapi saya yakin anak pasti bisa. nanti insya allah pasti bisa (138-139). problem focused copingactive coping: Meminta mengulang untuk memahami apa yang anak sampaikan Problem focused copingactive coping: mengingatkan anak jika ngeyel bermain dekat kompor menyala karena subjek taut anak terkena api,mengawasi jika anak bermain gunting - Emotion focused coping-positif reinterpretati on and

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186 Kalau untuk hafalan belum berhitung begitu bisa karena kan kalau hafalan mengumpulkan banyak pikiran ya mbak. Jadi masih terbata-bata. Berhitung ya bisa tapi masih lompat-lompat. (139-141) 9. growth: berpikir positif bahwa anak pasti bisa -Setiap sore - Problem harus ada waktu focused belajar. coping-active coping: membantu anak belajar, harus ada waktu belajar setiap sore. Ya tiap hari, tiap duduk, tiap selo. Kalau dia mau juga selalu diajarin. Misalkan sapu, s-a sa p-u pu, sapu. (subjek mengeja).terus msial ada koran atau majalah ya nyuruh latihan baca, begitu terus. Kalau sore harus ada waktu belajar. Kalau dia nggak mau ya gimana caranya kita membujuk. Yang penting ada waktu belajar untuk dia. Belajar kan bisa dimanapun dan kapanpun ya mbak, jadi sembari mengerjakan kerjaan pun bisa ngajarin dia untuk menghitung atau membaca. (162-169) Ya kalau nggak mood ya Subjek Subjek merasa Kalau udah kayak gitu Mengatasi cuman diem, nggak mau bingung ketika bingung yaudah saya diamkan saja, perubahan ngapa-ngapain. Ditanya- suasana hati dengan biasanya tak ajak jalan- suasana Problem focused copinghati active coping:

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187 tanyain diam saja, bingung anak sedang perubahan jalan atau nonton TV. anak dengan juga saya ini anak kenapa. buruk. suasana Nanti terus bisa biasa lagi. mengajak jalan(174-176) hati/mood anak. (179-180) jalan dan menonton TV. 10. Itu dia mbak, apapun lah kalau dia pengen harus ada. Kalau nggak ya bu beliin to beliin. Minta terus dia sampai dapat. Kalau orang jawa bilang “ngedrel” (195-198) Kalau minta apa-apa harus beli. Masih taraf wajar sih mbak keinginannya, nggak aneh-aneh. (207-208) 11. Ya itu dia, kadangkala dapat nggak menyenangkan. Ya saya khawatir ya kadang. Misalkan dia ngalah, nah kadang malah dimanfaatkan teman-temannya. Misalkan main sepeda, sepeda dipinjam dipakai temennya ya dia ngalah padahal dia Mengatasi perubahan suasana hati/mood anak dengan mengajak jalanjalan dan menonton TV. Semua Subjek merasa Ya harus dibelikan sampai Memenuhi dan Problem keinginan keberatan dapat seperti yang dia membelikan focused copinganak harus karena semua pengen. Biar nggak nagih semua active coping: memenuhi dan terpenuhi. keinginan anak terus. Selama masih wajar keinginan anak membelikan harus seperti bakso atau es krim semua keinginan terpenuhi. atau mainan ya anak dibelikan.(209-210) Kekhawatiran subjek jika anak dimanfaatkan temantemannya Subjek merasa takut anak dimanfaatkan teman sebaya Temen-temennya suka saya ingatkan kalau main jangan saling nakal. Saya dari jauh juga mengamati. Main sama siapa, dimana, dan nggak nangis berarti udah aman. Ya mengawasi bukan berarti harus terus memantau tapi setidaknya Subjek sering mengingatkan teman sebaya anak untuk tidak saling nakal. Mengamati dimana dan dengan siapa anak bermain. Problem focused copingActive coping: mengingatkan untuk tidak saling nakal, mengawasi dimana dan dengan siapa

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188 sendiri kepengen (243-247) sebenernya main sepeda. 12. ya paling kalau main kejarkejaran sama main bola saya suka kasian. Tementemennya bisa lari kenceng nah Putra susah mengikutinya. Ya cuman itu sih. (261-263) Kasihan melihat anak tertinggal dengan temantemannya Subjek merasa sedih karena anak selalu tertinggal dari anak-anak lainnya 13. Dia sering bilang pengen berangkat sendiri naik sepeda tapi kan saya belum yakin kalau mau lepas. (301-302) Subjek belum yakin anak berangkat sekolah sendiri Subjek merasa belum yakin membiarkan anak berangkat sendiri 14. Wah ya itu tadi ya kalau Anak susah Subjek merasa pagi kadang susah dibangunkan kesulitan dibangunin. (315-317) di pagi hari membangunkan anak tahu dimana anak bermain dan dengan siapa. Misal main bola dirumah temennya sama ini sama itu. (252-255) Saya selalu menyemangati Putra untuk tetap bangga akan dirinya. Tetap menghibur Putra dan bersabar. Saya selalu menaruh harapan bahwa anak saya bisa seperti mereka, makanya saya nggak mau putus asa. (265-267) Jadi setiap hari saya mengantarkan dia, jemput juga iya. Lebih baik saya yang capek daripada anak kenapa-kenapa di jalan. (302-304) Kalau susah dibangunkan ya terus ya dibangunin sampai berkali-kali banguninnya kadang dia jengkel tapi terus biasa anak bermain Menyemangati anak, menghibur anak, selalu bersabar, dan tidak putus asa Emotional focused copingpositive reinterpretation and growth: Menyemangati anak, menghibur anak, bersabar, tidak putus asa Setiap hari problem mengantar dan focused copingmenjamput anak active coping: mengatasi rasa sekolah. belum yakin dengan mengantar jemput anak. Subjek Problem membangunkan focused copinganak hingga active coping: anak susah bangun dibangunkan d

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189 saja. (320-321) 15. Kemudian kalau lagi mood belajarnya buruk. Wah harus putar otak ya orang tuanya kalau lagi semangat ya semangat banget belajar. (315-317) Bingung mengatasi mood belajar anak yang sedang buruk Subjek merasa bingung mengatasi mood belajar anak yang sedang buruk 16. Ya waktu dulu ya pikirannya kemana-mana. Dulu kan saya sampai kurus banget mbak saya nggak seperti sekarang. Sedih, selalu bertanya kok bisa?, down banget. (327-329) Subjek sedih dan turun berat badannya ketika mengetahui anaknya didiagnosis DS Subjek merasa sedih ketika mengetahui anak didiagnosis DS Kalau lagi belajar misal dia lagi nggak mood atau lagi bosan yasudah istirahat dulu, kalau nggak sembari mengemas tempe atau nonton TV gitu dilanjutin. Jadi nggak bosen dia kan ada selingan. (321-324) Mencari selingan supaya anak tetap mau belajar (sembari nonton TV atau mengemas tempe) Tapi seiring berjalannya - Subjek merasa waktu ya dan nggak ada ikhlas dengan sakit serius ya sudah saya kondisi anak. mulai biasa dan ikhlas. - Menerima anak (329-330) sebgai rejeki Cuman mungkin Tuhan dan amanah memberikan kami kami Tuhan seperti ini ya kami terima pagi hari dan subjek berusaha membangunkan hingga benarbenar bangun Problem focused copingactive coping: Subjek meningkatkan upaya untuk mengatasi rasa bosan anak saat belajar dengan memberikan selingan seperti belajar sembari mengemas tempe atau menonton TV Emotional focused copingAcceptance: Subjek merasa ikhlas. Menerima anak sebagai rejeki dan amanah

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190 sebagai amanah dan rejeki untuk kami. (333-335) 17. Dokter A bilang saya cuman Subjek kecewa Subjek merasa Kalau mau menyalahkan maag, Dokter B bilang saya dengan dokter kecewa dengan dokter atau bidannya kan kena ginjal, bidannya dan bidan dokter dan nggak ada fungsinya ya sendiri bilang masuk angin. yang hanya bidan mbak, jadi ya kita pasrah Saya kan jadi lari kesana mengira saja semoga nggak ada kesini, mana obatnya kan bahwa subjek apa-apa. Mungkin Tuhan dosisnya beragam. sakit, tidak memberinya lewat jalan (344-346) hamil itu.(346-348) Tuhan. Subjek menyadari bahwa menyalahkan dokter dan bidan tidak ada gunanya, lebih bersabar dan berdoa 18. Soalnya pas dites itu nggak hamil mbak nah pas 4 bulan tahu kalau ternyata isi. Ya kalau dibilang kecewa saya kecewa sekali. (403-405) Kecewa karena kehamilan baru dikatuhi setelah 4 bulan Subjek merasa kecewa dengan pemeriksaan dokter dan bidan Tapi kan dihibur sendiri Berharap tidak mudah-mudahan nggak terjadi sesuatu kenapa-kenapa, berdoa dan berdoa juga nggak putus. (405-407) 19. Nah begitu anak lahir dengan perkembangan yang lambat dan belum bisa jalan baru terasa kenapa kok anak Subjek terkejut dengan keterlambatan Subjek merasa sedih perkembangan anak lamban Tapi kalau terus menyesali ya enggak, udah ikhlas. Fokus mikirin anak ini besok gimana, harus Ikhlas dengan kondisi anak, memikirkan masa depan Emotional focused copingturning to religion: Berpasrah kepada Tuhan untuk mengatasi rasa kecewa terhadap dokter dan bidan. Emotional focused copingturning to religion: Mengatasi rasa kecewa atas pemeriksaan dokter dan bidan dengan berdoa dan berharap tidak terjadi sesuatu. Problem focused copingplanning: Memikirkan

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191 ini perkembangannya anak dalam terlambat sekali. Telat- berjalan dan telatnya kan 11 bulan bisa berbicara jalan kalau dia 2 tahun baru jalan. Bicaranya juga terlambat. Ya memang likulikunya itu mbak. (407-410) dibawa kemana untuk memajukan perkembangan. (411-413) Ya memfokuskan diri untuk masa depan anak saja. Dulu saya sering mencari informasi tentang terapi biar bisa jalan dan bicara. Saya ikutkan terapi namun saya rasa nggak ada perkembangan ya saya berhenti dan melatih sendiri dirumah. (434-435) 20. Tapi saya rasa kurang begitu Tidak puas Subjek merasa Kalau menurut saya efisien. Antara tenaga dan dengan terapi tidak puas karena belum waktunya uang kok kurang tumbuh dengan terapi aja ya, buktinya bisa jalan memuaskan. Kalau kembang tumbuh tanpa ditetah atau terapinya begitu saya kembang ngrambat. Jadi saya cuman dirumah juga bisa ngajarin. beberapa kali habis itu Masa cuman disuruh niup udah nggak lagi, diajarkan lampu senthir (subjek sendiri dirumah. (422-423) mempraktekan meniup senthir). Biar bisa bilang „ibu‟. Itu dsuruh niup biar bisa bilang „bu‟. Udah biayanya mahal, waktunya lama terbuang cuman bisa bilang „bu‟. Nah saya anak. Mencari informasi tentang terapi berjalan dan wicara. masa depan anak dan mencari informai terapi berjalan dan wicara. Berhenti terapi dan mengajarkan sendiri di rumah Problem focused copingactive coping: Mengatasi rasa tidak puas dengan terapi tumbuh kembang dan memilih mengajarkan sendiri dirumah

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192 liatnya jadi kasian ya suruh berdiri, dikasih kejutan listrik, dipaksa mpe nangis kekejer. (415-421) 21. Ya dulu memang ada dokter ya memvonis anak ini nggak bisa jalan. Lha jengkel kami, marah kami. Dokter kan seharusnya menghibur ya biar kami nggak syok. Minimal berbicara dengan halus nggak lagsung anak ini nggak bisa jalan! Dia juga bukan Tuhan kan? (440-443) 22. Ya kadang orang lain juga ya kadang menyampaikannya itu kurang pas dan kurang hatihati, kurang memahami keadaan tu menyakitkan sekali. Contohnya guru juga ada yang begitu, jelas anak ini nggak bisa mau diajarin juga tetep sama aja. Nah gitu, kan sok jengkel ya sebagai orang tua. Anaknya Marah dengan dokter yang memvonis anak tidak bisa berjalan Subjek merasa tidak terima dengan dokter yang memvonis anak tidak bisa berjalan Yang namanya kita punya Tuhan kan hanya berdoa dan meminta kan Tuhan yang mengabulkan. Tapi alhamdulilah bisa. (446-447) Jengkel dengan perlakuan kurang menyenangkan dari guru Subjek merasa jengkel dengan perlakuan kurang menyenangkan dari guru Ya kalau lagi diluar atau pergi kemana gitu kalau orang lain komentar tentang anakku aneh atau kok begini to anaknya kadang suka sakit dengernya. Mungkin ya mereka nggak menyadari kalau berbicara atau berkomentar itu menyakiti hati orang tuanya tidak, kalau misal aku yang Berdoa dan Emotional meminta kepada focused copingTuhan supaya turning to anak bsia religion: Subjek berjalan mengatasi kemarahannya dengan berdoa dan meminta kepada Tuhan agar anak dapat berjalan Berpikir positif Emotion dan focused copingmengganggap positif bahwa orang reinterpretation lain tidak and growth: sengaja dan Mengatasi rasa tidak bermaksud jengkel dengan menyakiti hati berpikir positif bahwa orang lain subjek mungkin tidak sengaja dan tidak bermaksud

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193 nggak gimana-gimana lha gimana orang tuanya coba? (448-452) 23 Penerimaan bapak ketika mengetahui bahwa anak kedua didiagnosis down syndrome seperti apa bu? Ya sempat kaget juga ya, sedih pasti, sempat down. (484) dikomentari begitu aku menyakiti hati sakit hati nggak. Kan subjek kadang orang begitu ya, nggak berpikir dulu tapi keceplosan. Atau mungkin bermaksud tidak menyakiti. (452-458) Suami merasa Suami merasa Ya menerima dengan - Suami - Emotion sedih ketika sedih saat ikhlas, itu yang dikasih menerima focused mengetahui mengetahui Tuhan untuk kami, harus dengan ikhlas copinganak bahwa anaknya kami rawat.(485-486) dan memaknai acceptance: didiagnosis DS Selalu menyemangati saya anak sebagai Menerima kondisi anak DS supaya jangan merasa pemberian lelah merawat anak Tuhan yang dan memaknai anak sebagai dengan kondisi begini. harus dirawat. pemberian (486-487) Tuhan yang harus dirawat. - Suami - Emotion mendukung focused subjek untuk coping-seeking semangat emotional merawat anak social support: Subjek mendapatkan dukungan dari

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194 suami untuk tetap semangat dalam merawat anak 23. Kalau kakaknya Putra ketika mengetahui kondisi adiknya seperti ini bagaimana reaksinya bu? Pas mau nyekolahin Putra juga kakaknya sempat protes kok di SLB? Tahunya dia kan khusus untuk orangorang yang nggak bisa ngapa-ngapain, yang tingkah lakunya aneh-aneh. (491-493) 24. Nah hubungan antara dek Putra dan kakaknya seperti apa bu? Ya kadang berantem tapi berantem yang nggak serius cuman karena hal sepele, rebutan laptop atau makanan biasanya. Sampai kesal saya lihatnya. (514-516) Anak petama keberatan ketikan adiknya akan disekolahkan di SLB Subjek kesal melihat kedua anaknya sering bertengkar berebut makanan dan remot Anak pertama merasa keberatan ketika adiknya akan disekolahkan di SLB Ya menjelaskan, orang awam kan belum tahu tentang SLB ya. Padahal tidak seperti itu gambarannya, kan SLB sudah ada kelasnya sendiri ya misalnya yang tempat Putra sekolah kan memang khusus untuk yang keterbelakangan mental yang masih bisa diajarin. (497-500) Subjek merasa Kalau udah begitu ya kesal melihat masnya tak kasih tahu buat anak sering ngalah, tak lerai. Bukan bertengkar membedakan tapi supaya masnya tahu kondisi adeknya dan bisa ngertiin. (516-518) Subjek memberikan pengertian bahwa SLB yang dipilih adalah SLB yang sesuai. Melerai kedua anaknya dan memberikan pengertian pada anak sulung supaya mengalah dan mengerti kondisi adiknya. Problem focused copingactive coping: mengatasi sikap keberatan anak pertama dengan memberikan pengertian bahwa SLB yang dipilih adalah sekolah yang sesuai Problem focused copingactive coping: mengatasi kedua anak yang bertengkar dengan melerai dan memberikan pemahaman kepada anak sulung supaya

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195 Sejauh yang ibu rasakan sampai saat ini kekhawatiran seperti apa yang mungkin muncul terkait dengan kondisi anak? Kalau untuk masa depannya saya hanya kepikiran dengan pekerjaan yang cocok buat dia. (521-523) Resah mengenai pekerjaan apa yang cocok untuk anak Subjek merasa resah mengenai pekerjaan apa yang cocok dengan anak Sebagai orang tua itu ya sekarang sudah siap untuk masa depan anak. Udah menyiapkan lahan untuk Putra berwiraswasta. Entah mau buat ternak ayam atau bertani ya monggo. (522-524) Menyusun rencana untuk masa depan anak, menyiapkan lahan untuk anak berwiraswasta. Percaya bahwa nasib Tuhan yang mengatur 25. Pernahkan mendapat gunjingan/penolakan terkait dengan kondisi dek Putra? Nggak sih mbak saya rasa, nggak tahu dibelakang saya ya. Hanya kadang kalau pergi itu orang suka liatin dari bawah sampai atas. Ya memang anaknya begini mau gimana. Saya sebagai ibu ya rasanya kalau liat anak diliatin begitu kok Tidak nyaman jika orang lain melihat penampilan fisik anak dari atas sampai bawah. Subjek merasa tidak nyaman jika orang lain memperhatikan penampilan fisik anak yang berbeda Ya saya cuman liat orangnya tapi diam aja. Kalau saya rasa saya juga nggak nyaman ya saya ajak Putra pergi. (547-548) Melihat siapa yang memperhatikan anak dan memilih pergi saat merasa benar-benar tidak nyaman mengerti kondisi adiknya dan dapat mengalah. Problem focused copingplanning: Mengatasi rasa resah tentang pekerjaan apa yang cocok untuk anak dengan menyiapkan lahan bagi anak berwiraswasta. Problem focused copingrestraint coping: Memperhatikan siapa yang melihat penampilan fisik anak dan memilih pergi jika subjek benar-benar tidak nyaman.

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 196 nggak nyaman.(541-544) TABEL 4. ANALISIS SUBJEK 2 (SH) Stress ibu dalam merawat dan membesarkan anak DS No. Dekripsi Analisis 1. sering Baik, untuk pertama saya Anak sering anak mengalami ingin menanyakan mengalami dan batuk dan pilek tentang kondisi kesehatan batuk anak ibu, apakah dek pilek Adit pernah mengalami sakit serius/bahkan mempunyai sakit serius? Ndak sih mbak cuma batuk-batuk sama panas saja. Kalau yang sampai sakit lama alhamdulilah belum pernah (12-16) 2. Kalau ciri khas yang Perkembangan Subjek merasa lebih perkembangan tampak dari anak anak lebih perkembangan dek Adit lamban dibandingkan lamban seperti apa bu? lain dibandingkan Gimana yo, anak anak normal perkembangannya itu susah seusianya. tu lho. Kalau apa itu untuk Belum lancar Kemampuan berbicara belum bisa berbicara berbicara anak lancar.. lama.. bisa tapi terutama Coping strategy Deskripsi Analisis

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197 3. nggak bisa yang kalimat panjang kalau cuman 2 kata bisa misalnya bapak mama. Yang sulit itu misalnya kalau maem gitu nggak langsung bilang maem tapi cuman gini aja (memperagakan orang yang sedang memasukan makanan ke mulut). Ya paling itu mbak. (32-39) Dalam memenuhi kebutuhan keseharian hal apa sajakah yang harus selalu dibantu? Makan masih diambilkan, terus ke kamar mandi juga masih dibantu gitu. Terutama kalau eek kan dia belum bisa cebok sendiri, tapi kalau nyiramnya bisa. Terus kalau makan itu di sekolah mau makan sendiri, tapi kalau dirumah seringnya minta disuapin. Mungkin kalau disekolah nggak ada yang bisa dimintain tolong nyuapin belum bisa masih kurang mengucapkan kalimat. Anak terlambat berjalan Anak masih Kemampuan terus ke kamar mandi disuapi kalau bantu diri anak juga masih dibantu gitu. makan masih kurang Terutama kalau eek kan dia belum bisa cebok Anak masih sendiri (49-50) dibantu untuk ke toilet Subjek membantu anak untuk cebok karena anak belum dapat sepenuhnya menggunakan toilet Problem focused coping-active coping Subjek mengatasi anak yang belum dapat menggunakan toilet dengan membantu cebok ketika anak buang air

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198 4. 5. 6. jadi makan sendiri. (47-53) Saya ya khawatir ya apalagi dia beranjak besar dan dengan kondisi yang serba kurang, sedangkan orang diluar sana kan macammacam sifatnya ya. (64-65) Untuk ibu sendiri apakah ada beban yang dirasakan/muncul seiring perkembangan fisik dek Adit? paling ya saya yang kepikiran wah nanti anakku bisa kayak anak normal nggak ya. Bisa menjalani kehidupan dengan normal. (72-73) Mungkin ya eee.. anaknya kan ya suka mutungan gitu kalau moodnya lagi baik ya Subjek merasa khawatir deiring bertambahnya usia anak dan orang-orang dengan sifat beragam Subjek khawatir anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan Ya saya mulai dari sekarang pelan-pelan memberikan arahan yang ini salah nggak boleh dilakukan dan yang ini baik maka boleh dilakukan. Gitu sih mbak. Jadi jangan sampai nantinya anakku melakukan hal yang jelek dan melanggar norma.(6669) subjek memberikan arah tentang konsep baik dan buruk supaya anak tidak melakukan pelanggaran norma subjek kepikiran tentang apakah anak dapat menjalani kehidupan seperti anak normal. Subjek merasa pesimis anak dapat menjalani kehidupan seperti anak normal Usaha seperti apa yang ibu lakukan untuk mengatasi perasaan ibu tersebut? Ya kita harus sabar gitu. Dibawa dalam doa saja semoga anakku tidak dijahati atau dimanfaatkan orang lain. (77-79) Bersabar dan berdoa supaya anak tidak dijahati atau dimanfaatkan Jika suasana Subjek merasa Jadi ya harus hati anak sedih anaknya ditelateni buruk anak senang amarah- merawatnya. (81) lebih Lebih juga menelateni merawat anak Problem focused coping-active coping: Unruk mengatasi kekhawatiran subjek maka subjek mulai menanamkan konsep baik dan buruk agar anak tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma Emotion focused coping-turning to religion: Bersabar dan berdoa Problem focused coping-active coping:

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199 baik. Kalau moodnya lagi sering marah- marah saat jelek yaudah gini terus, marah suasana hatinya marah-marah. (79-81) buruk 7. 8. Lalu bagaimanakah pemahaman dek Adit terhadap adanya suatu bahaya, misalnya bermain di dekat kompor menyala kan bahaya nanti bisa kena api? Dia.. dia nggak Dia.. dia nggak ngeh kalau kompor menyala itu bisa membahayakan. Main ya main aja kalau dia. Malah ibunya yang was-was. (104-105) Kemampuan dek Adit dalam membaca, menulis, dan berhitung seperti apa bu? Kalau untuk membaca dan menulis belum bisa. Mungkin kalau berhitung sudah bisa, sampai angka 10 sudah bisa. Kalau pengenalan huruf belum Subjek waswas jika anak bermain dekat kompor. Subjek merasa khawatir jika anak bermain di dekat kompor yang menyala. Saya sok triak heh jangan nanti kena api. Jangan mainan pisau nanti berdarah, sakit. Jadi saya harus selalu awasi dia kalau bermain. (105-108) Mengingatkan anak supaya tidak bermain di dekat api atau bermain pisau. Mengawasi anak bermain. Anak belum bisa membaca dan menulis dan hanya mau menebalkan saja. Subjek merasa kemampuan anak dalam memabaca dan menulis masih kurang Nah ibu sendiri bagaimana mengatasi kekurangan dek Adit dalam kemampuannya membaca dan menulis? Saya mengajarkan di rumah juga iya. Tak ajarkan ini huruf A besar, ini A kecil tapi ya nggak bisa. Kalau disuruh Mengajarkan dirumah dan membelikan buku untuk menebalkan huruf Meningkatkan usahanya dalam menelateni dan merawat anak Problem focused coping-active coping: Mengatasi rasa khawatir jika anak bermain didekat kompor menyala dengan mengingatkan anak dan mengawasi ketika anak bermain. Problem focused coping-active coping: Mengajarkannya dirumah serta membelikan buku untuk menebalkan huruf-huruf.

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200 bisa. Menulis bisa, tapi hanya menebalkan itupun kadang mau kadang enggak. (109-113) 9. Seiring dengan perkembangan kecerdasan dek Adit beban seperti apa yang muncul/mungkin ibu rasakan? Kalau ibu tu ya pengennya anak sekolah yang pinter, ngikuti apa kata orang tua. Tapi ya mau bagaimana sih adanya anak cuman begitu. Subjek berharap anaknya dapat sekolah dan pintar serta mengikuti apa kata orang tua. menebalkan bisa. Tapi kalau disuruh nulis sendiri belum bisa. Sampai tak belikan buku buat menebalkan tu tiap sore mau belajar. Kalau nebalkan bisa, kalau disuruh sendiri belum. Belum tahu ini A ini apa. Artinya A itu dia nggak tahu (subjek gelenggeleng kepala) cuman menebalkan aja, lainnya nggak mau dia. Semaunya aja kadang siang kadang sore. (119124) Harapan agar Apa usaha yang ibu bersabar anak menjadi lakukan untuk anak patuh dan mengatasi beban yang pintar ibu rasakan tersebut? Yasudah mbak, hanya bisa sabar. Menerima saja kondisinya. (135) Emotion focused copingacceptance: Berharap anak bersekolah hingga pintar namun subjek hanya bisa bersabar

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201 10. 11. (128-130) Untuk perubahan suasana hati dari dek Adit sendiri seperti apa bu, apakah sering berubah-ubah atau bagaimana? Yaa.. kadang-kadang keras, kadang-kadang lembut. Kalau lagi lembut ya diam. Apa-apa ngikut, kalau nggak yaudah ngamuk. (136-138) Apakah dek Adit sering marah-marah tanpa alasan yang jelas? Ooo.. sering itu.. sering. Kadang dirumah itu pintunya dibanting, deeerrrrr. Nek nggak di jalan pas pulang sekolah itu Jika anak sedang tidak bagus suasana hatinya, anak sering mengamuk Anak akan membanting pintu dengan keras dan akan mengomel sendiri jika sedang marah Anak akan mengamuk ketika suasana hatinya tidak bagus Bagaimanakah kemampuan dek Adit dalam mengendalikan emosinya? Misalkan nggak nangis berlebihan/nahan marah. Yaa kita sebagai orang tua terutama saya sebagai ibu yang harus sabar. Ya, ngomongnya yang halus. Kalau dikasarin sedikit dia nggak mau. Kalau dikasarin malah marahmarah. Itu paling sering marah. Jadi kalau ngomongnya kita halus, dia juga bisa tenang. (169-170) kebiasaan ditanya kenapa? buruk anak Berantem ya? (148) ketika marah yaitun membanting pintu Subjek sabar menghadapi anak dan berbicara dengan nada yang halus Problem focused coping-active coping: Subjek mengatasi anak ketika mengamuk dengan bersabar dan berbicara dengan nada halus Subjek menanyakan kepada anak penyebab kemarahannya Problem focused coping-active coping: Ketika anak mengalami marah besar hingga membanting pintu, subjek

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202 12. 13. sering ngomel-ngomel nggak jelas. Kalau ditanya kenapa? Berantem ya? Diem aja. Kalau di sekolah pas ada yang nakal bilange cuman ma, bu guru nakal. (146-148) Minat/keinginan seperti apa saja yang harus dipenuhi? Yahh mungkin kalau minta ini, minta itu harus dituruti. Kalau dia bilang aku mau maianan ya harus dibelikan. Kalau nggak dia marahmarah. Dia keras anaknya. Kalau mainan yang dia pengenin ya harus dibelikan. (160-162) Misalkan keinginannya tidak terpenuhi seperti apa bu reaksi dek Adit? Hmm.. marah. Dia marah, triak-triak huuuu gitu. (163) Apakah dalam perkembangan emosi dek Adit yang ibu bilang tadi mencoba mencari tahu penyebabnya dengan menanyakan kepada anak Subjek mengganggap anak memiliki sifat yang keras dan harus dipenuhi semua keinginannya Anak memiliki sifat yang keras dan keinginan anak harus dipenuhi Kalau mainan yang dia Subjek pengenin ya harus memenuhi dibelikan. (162) keinginan anak Jadi ya harus diberikan apa yang diinginkannya. (164165) Problem focused coping-active coping: Subjek berusaha untuk memenuhi setiap keinginan anak Anak akan marah-marah jika keinginannya tidak terpenuhi Subjek merasa Subjek merasa Mungkin udah takdirnya - Subjek - Emotion sedih karena sedih karena ya dia begitu kondisinya. menganggap focused copinganak sering anak sering Jadi yaudah diterima aja. anak yang acceptance:

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 14. 15. sering berubah-ubah tersebut ada suatu beban yang muncul/ibu rasakan? Paling kalau dia marahmarah tu ya mbak saya suka sedih, mau marahin juga gak mungkin. (182183) Biasanya seperti apa bu perlakuan tidak menyenangkannya? Biasanya dikata-katain. Kadang di cubit. Tapi ya biasa. Kadang dikatain kowe ki pego (kamu itu bodoh). Hah, sudah pasti terlontar kata itu. (219-221) marah-marah Subjek mengatakan bahwa anak sering diejek dan di cubit marah-marah (183-184) Subjek merasa Kemudian apa yang ibu tidak terima lakukan melihat anak anak sering ibu sering mendapat diejek dan di perlakuan tidak cubit menyenangkan dari teman-temannya? Ya yang sabar. Palingan saya bilangin eee yo ojo ngono, kuwi kan ya kancane. Nek kekancan ora oleh nakal-nakalan. Saya kasih pengertian kalau memang kondisi Adit seperti itu kok masih aja dikata-katain pego (bodoh). (222-228) Melihat anak Subjek merasa Apakah ada hal lain yang Kemudian dapat sedih melihat bagaimanakah muncul/ibu rasakan dan lain usaha anaknya tidak ibu untuk mengatasi hal membebani ibu terkait berlarian sering marah takdir marahadalah Subjek sabar ketika mengetahui anak sering diejek dan di cubit dan memberi pengertian kepada temanteman anak bahwa dalam berteman tidak boleh nakal. Mengatasi kesedihan dengan menerima dan menganggap bahwa kondisi anak merupakan takdir Problem focused coping-active coping: Subjek mengetahui bahwa anak sering diejek dan di cubit dan mengatasi hal tersebut dengan memberi pengertian kepada teman sebaya anak bahwa dalam berteman tidak boleh saling nakal. Subjek pasrah Emotion focused karena diberikan copinganak dengan acceptance:

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204 16. 17. pergaulan dek Adit dengan teman-temannya? Kadang-kadang itu saya lihat anak-anak lainnya pada lari-larian, anak saya duduk sendiri. Kadang saya tu mikir kok anakku nggak kayak temen-temennya, itu saya juga sedih ngliatnya. Tapi ya sudahlah emang mungkin sudah ganjaran saya. Ya kan mbak? Ya ada rasa takut ya mbak, mereka bisa begini begitu tapi anak saya kok nggak bisa. Nek gitu kan saya rasanya duh.. anak saya kok begini. (232-337) Hmm.. baik, kalau boleh saya tahu bagaimana perasaan ibu ketika mengetahui bahwa dek Adit Down Syndrome? Campur aduk mbak. Antara percaya dan tidak. Sedih. (374-376) Saat mengetahui anak kedua ibu DS adakah namun anak seperti anak yang ibu rasakan kondisi subjek hanya normal lainnya tersebut? demikian. terdiam ya saya cuman bisa sabar, pasrah mbak. Memang dikasihnya begini jadi ya sebisa mungkin harus dijaga. (376-378) Merasa sedih dan tidak menyangka jika anaknya DS Subjek hamil Subjek merasa sedih ketika mengetahui anaknya DS Berusaha menerima aja ya, yang sabar. Sedih pasti ada tapi yang tabah. Semoga anakku bisa jadi anak yang bagus, soleh. (376-378) Menerima dengan sabar dan berharap agar anaknya menjadi anak yang soleh mengatasi rasa iri dengan lebih berpasrah dan menerima kondisi anak. Emotion focused copingacceptance: Subjek mengatasi kesedihan dengan berusaha menerima dengan sadar kondisi anak takut Subjek merasa Ketika perasaan takut Perasaan takut Problem focused lagi takut untuk itu muncul bagaimana untuk hamil lagi coping-

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205 rasa takut jika suatu saat karena takut hamil lagi jika anaknya hamil lagi? Dulu sempat iya, takut anak nanti DS lagi saya begini lagi kalau hamil lagi. (349-351) 18. ibu mengatasinya? Ya mungkin karena serius nelateni anak ya mbak jadinya saya nggak mikirin takut hamil lagi. (354-356) hilang karena subjek fokus untuk telaten mengurus anak. suppression of competing activities: Fokus telaten mengurus anak sehingga perasaan takut tersebut hilang dengan sendirinya. suka kasih Subjek sering Problem focused Kalau kakaknya dek Adit Anak pertama Subjek merasa Saya tidak suka anak pengertian, udah tahu memberi bagaimana bu reaksinya sering coping-active pertama adiknya kondisinya pengertian dan coping: ketika mengetahui bahwa mengejek memanggil begitu kok masih suka menyuruh untuk Subjek memberi dek Adit ternyata dengan pengertian kepada dipanggil pego.(424-428) tidak didiagnosis DS oleh sebutan pego pego anak pertama dan (bodoh) memanggil dokter? Ya biasa sih mbak nggak namun menyuruh untuk pego (bodoh) pernah yang namanya menerima tidak memanggil bilang wah adikku kok kondisi pego (bodoh) kayak gini. Malahan sama adiknya dia dipanggil pego (bodoh). Pego, buatke kopi. Saya ya ngasih tahu mbok manggilnya yang bagus. Tapi ya tetep aja begitu. Sukanya njarak (sengaja). Kakaknya menerima sih kalau adiknya adanya begitu ya sudah. (374-376)

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206 19. Hubungan dek Adit dengan kakaknya seperti apa bu? ya kadang berantem wong kakaknya juga nggak mau ngalah. Masalah kecil aja berantem. Remote TV aja bisa jadi berantem. (379-381) Anak pertama dan anak kedua subjek sering bertengkar meski hanya karena remote TV. Subjek merasa jengkel anak pertama tidak mau mengalah 20. Jika saya boleh tahu sejauh ini apakah ada suatu kekhawatiran yang menjadi beban bagi ibu terkait dengan kondisi anak? Kalau yang membebani itu ya bagaimana besok kalau anak saya nggak bisa mandiri. Kepikirannya ya itu terus. Kalau anak saya nggak bisa mandiri besok gimana. Sedih saya. (387-389) Saya mulai memikirkan juga sekarang bagaimana kalau saya sudah nggak Merasa khawatir jika anak tidak bisa mandiri kalau subjek meninggal Subjek merasa khawatir anak tidak dapat mandiri kalau subjek meninggal Oo.. lalu seperti apa cara ibu dalam mengatasi kalau mereka berantem? Yang gede yang tak marahin. Kowe ki uwes gede, adiknya masih kecil kondisinya begini kok ya masih nggak ngertingerti. (382-384) Kakaknya yang saya kasih tahu kalau besok saya sudah meninggal, kamu yang harus urus dan jaga adikmu. Saya pasrahin ke dia (393-394) Memarahi anak Problem focused pertama coping-active coping: subjek memarahi anak pertama jika bertengkar dengan adiknya Memberitahu sejak awal kepada anak pertamanya untuk merawat adiknya jika subjek meninggal nanti. Problem focused coping-planning: Mengatasi rasa khawatir jika anak tidak dapat mandiri kalau subjek meninggal dengan berpesan kepada anak pertamanya agar menjaga dan merawat adiknya kelak.

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207 21. ada. (392) Nah biasanya seperti apa bu contoh gunjingan itu? Ya itu tadi kadang ada yang ngomel, kowe ki piye mung ngono wae rak dong. Trus kata-kata pego (bodoh) itu sering terdengar. Selalu begitu. Nylekit sakjane tapi saya berusaha untuk tidak memasukkan ke hati. Biarin aja.(402-405) Subjek merasa sakit hati karena anak selalu dipanggil pego (bodoh) oleh tetangga dan saudara Subjek merasa sakit hati karena anak sering dipanggil pego oleh saudara dan tetangga. Kan sering dikatain pego dan kadang ada juga gunjingan dari sekitar yang menurut ibu nylekit, ibu sendiri seperti apa usahanya mengatasi hal tersebut? Ya itu tadi masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Nggak tak masukin hati. Ya gimana lagi adanya anak itu. Sabar, tabah. Mau nglawan juga nggak bisa. (514-515) TABEL 5. ANALISIS SUBJEK 3 (SG) Stress ibu dalam merawat dan membesarkan anak DS No. Dekripsi Analisis 1. Untuk kondisi kesehatan Usia 3 tahun anak Subjek merasa dapat kasihan kepada secara umum apakah belum anak karena dek Asih pernah mengangkat kepala dan subjek harus memakai mengalami kasihan kateter sakit/mempunyai sakit merasa Berusaha tidak memasukkan ke dalam hati dan bersabar. Merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Coping strategy Deskripsi Makanya saya habis itu Tidak pernah nggak pernah ngasih memakaikan pempers kalau nggak pampers kecuali kepepet pergi jauh. bepergian jauh Takutnya nanti nggak Problem focused copingsupression of competing activities: Subjek mengatasi sakit hati dengan mengesampignkan tanggapan orang tentang anaknya dan tidak memasukan ke dalam hati Analisis Problem focused copingactive coping: agar anak tidak mengalami sakit

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208 2. yang serius? Ini tu dulu pernah nggak bisa kencing harus kemana-mana pake selang, pake kateter. Mungkin tadinya jatuh ininya dulu (nunjuk pinggul) mungkin owah (berubah) opo piye ya.. nggak tau pantat dulu atau apa dulu yang jatuh wong jatuh dari tempat tidur. Tau-tau nggak bisa kencing. (15-18) Dulunya kan pake pampers tu lho mbak, mau pipis ditahan-tahan jadinya kayak membatu, mampet pipisnya. (25-27) Naik tangga bisa, cuman jalannya agak lama 5 tahun 5 bulan baru bisa jalan tapi ya masih gruyuh-gruyuh (belum seimbang). Dulu bisa sendiri jalannya. Alhamdulilah pas hamil adeknya dia mau berdiri melihatnya. Pernah mengalami sakit karena kencing yang membatu bisa pipis lagi. Kalau sekarang sih nggak pernah sakit-sakitan. (27-29) Usia 5 tahun 5 Anak terlambat bulan baru dalam berjalan berjalan dan belum kuat dan sering terjatuh. Mrembet-mrembet itu sampe tak bikinin bambu untuk pegangan dikanan kirinya. (66) yang sama lagi, subjek tidak pernah memakaikan pampers selain saat bepergian jauh. Membuatkan penyangga untuk membantu anak agar tidak jatuh saat berjalan Problem focused copingactive coping: Membuatkan penyangga untuk membantu anak agar tidak terjatuh saat berjalan

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209 3. 4. sambil liatin TV trus lama-lama jalan sendiri. Adeknya keluar itu udah bisa jalan walaupun jatuhjatuh. Malah alami ini nggak saya tetah. (61-65) Nah hati ini tu kadang suka khawatir (82-83) Tapi saya suka kepikiran ya ampun anakku udah 10 tahun, 2 atau 3 tahun lagi pasti kan mens tapi kan nggak tahu ya mbak anak jaman sekarang itu lebih cepet mensnya. (85-87) Mencemaskan jika anak akan segera menstruasi mengingat usianya sudah 9 tahun Subjek merasa cemas jika anak cepat mendapatkan menstruasi Saya suka minta guru untuk ngasih pembekalan diri cara pake pembalut bagaimana, bersihinnya bagaimana. (83-85) Makanya kalau dirumah ya suka tak kasih tahu sedikit-sedikit. (87-88) Saya tu takutnya kan saya Subjek takut jika Subjek merasa Paling adiknya Meminta kepada guru untuk memberikan pembekalan diri kepada anak. Subjek mengajarkan kepada anak bagaimana memakai pembalut yang Memberi Problem focused copingseeking of instrumental social support: Mengatasi rasa cemas dengan meminta kepada guru agar anak diberikan pembekalan diri. Problem focused copingactive coping: Mengatasi rasa cemas dengan mengajarkan dirumah bagaimana memakai pembalut tahu Problem

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210 5. nggak selamanya ada. Gimana ya mbak ya (mata subjek berkaca-kaca) yang merawat sapa. (9192) anak tidak ada yang mengurus kalau subjek sudah meninggal takut jika anak tidak ada mengurus kalau subjek sudah meninggal nanti suka tak kasih tau nanti kamu ikut jagain mbakmu. (92-93) kepada anak kedua untuk ikut menjaga kakaknya Sama kalau semakin dewasa ya mbak ya. Saya takutnya sama orangorang yang nggak bener itu, takut dijahatin apalagi kan fisiknya udah mulai berubah ya, udah gede. (93-95) Dengan perkembanagn fisik yang mulai berubah, subjek takut jika anak dijahati oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Subjek merasa khawatir jika anak dijahati oleh orang lain Mau saya awasi terus, mau saya kungkung (kekang) ya nggak mungkin. Untungnya ini kalau main nggak jauh ya cuman disekitaran rumah, paling ditempat budhenya. Pokoknya nggak sampai jauh. Nanti kalau dipanggil ya langsung pulang. Paling saya ingetin bajunya ya mbak kalau anak sekolah, anak cewek kan resikonya besar apalagi dengan keadaannya begini. Jadi kalau pake baju nggak boleh yang Mengingatkan anak untuk tidak bermain terlalu jauh dan mengingatkan untuk tidak memakai baju ketat. Budhe selalu mengingatkan anak agar tidak bermain terlalu focused copingplanning: Mengatasi rasa cemas dengan memberi tahukan sejak dini kepada anak kedua untuk menjaga kakaknya Problem focused copingactive coping: Mengatasi rasa khawatir jika anak dijahati dnegan mengingatkan kepada anak agar tidak bermain terlalu jauh dan tidak memakai baju ketat Emotion focused copingseeking emotional

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211 ketat-ketat. (101-103) jauh Budhenya juga suka ingetin awas mainnya nggak jauh-jauh. (98104) 6. 7. Bagaimanakah kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung? Oh belum kalau itu mbak. Nulis paling cuman angka 1 aja. Semaunya kalau nulis. Maunya belajar tapi pindah-pindah. Coretcoret sukanya. Kalau sampai rumah yang dicari kertas sama polpen, katanya belajar. Coretcoret macem-macem. Kalau baca dan hitung belum bisa. (131-134) Kalau ngambek mbak. Anak belum Kurangnya mampu membaca, kemampuan menulis, akademik anak berhitung. Ya diajarin mbak pelanpelan tapi seringnya malah ngajari ibunya. Kadang saya ngomong apa dia ngomong apa jadi kayak tebak-tebakan karena saya ya bingung yang bener yang mana. Hehehe. Jadi kadang marah-marah kalau saya salah mengartikan. (146) Subjek berusaha mengajari anak membaca, menulis, dan berhitung. Menerka-nerka jika sedang berbicara dengan anak karena anak belum lancar berbicara. Anak akan marah Subjek merasa Jadi kalau dia minta Segera social support: Subjek mendapatkan dukungan dari saudara, budhe yang selalu mengingatkan anak agar tidak bermain terlalu jauh Problem focused copingactive coping: Subjek mengatasi ketidak mampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung dengan mengajarkannya dirumah Problem

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212 8. Minta apa tapi mamanya lagi repot kerjaan rumah. Cepet, cepet mamanya digablok (ditabok) trus ditarik-tarik. (151-153) jika keinginannya tidak segera dipenuhi. Ia akan memukul dan menarik-narik mamanya. Bagaimana reaksi anak jika keinginan anak tidak terpenuhi? Ngamuk tapi ya nggak yang medeni ya cuman mukulin mamanya. Trus ini model baru kalau marah, pintu dibantingbanting. Dulu nggak pernah, jadi saya kadang mikir apa semakin gede dia semakin tahu apa ya. Marah sama adeknya juga langsung pintu itu ditutup. Saya tu takut soalnya dulu pernah kekunci dan nggak bisa buka pintunya trus Jika marah anak akan memukul mamanya dan membanting pintu kemudian mengunci pintu. Subjek takut jika anak akan terkunci karena dulu pernah terkunci dan tidak bisa keluar terbebani karen sesuatu ya harus segera aharus diturutin biar nggak memenuhi marah-marah (156-157) semua keinginan anak memenuhi keinginan anak agar anak tidak marah-marah focused copingactive coping: Untuk mengatasi anak yang sering marah dan memukul mamanya maka subjek segera menuruti apa yang menjadi keinginan anak. Subjek merasa Lalu seperti apa usaha Subjek sering Problem khawatir ibu untuk mengatasi memberi tahu focused copingkejadian masa dek Asih yang suka bahwa active coping: Memberitahukan lalu terulang banting pintu atau membanting anak (anak terkunci marah-marah ketika pintu itu tidak kepada bahwa kebaisaan didalam keinginannya tidak baik membanting ruangan dan terpenuhi? pintu itu tidak tidak dapat Ya suka saya kasih tahu kalau banting-banting baik keluar) pintu nggak baik. Ya kalau apa yang diminta bisa saya jangkau ya saya kasih. Gitu. (193197)

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213 10. 11. 12. bapaknya lewat atap baru bisa masuk. (170-176) Takutnya ya kalau dijahatin orang, soalnya kan dia diem. Kalau ngadu sama mamanya ya diem, nangis trus meluk mamanya. Kalau ditanya kan dia nggak bisa ngomongnya tapi tahu mbak siapa yang jahatin. Trus nunjukkin mana aja yang sakit, kalau tangan yang sakit ya dia pegang tangan sambil nunjuk. (232-236) Ya cuman itu ya mbak, susah bangunin (375) Maunya tu kalau nggak tak bimbing apa aja dicoret-coret semaunya. Kalau pulang sekolah tak Subjek takut anak dijahati orang lain karena anaknya merupakan anak pendiam. Jika dijahati maka anak hanya menunjukkan bagian tubuh yang sakit kemudian menangis dan memeluk subjek. Subjek merasa takut jika anaknya dijahati oleh orang lain Kalau main agak jauh ya tak cari. Kalau dipanggil-panggil nggak nyaut ya langsung tak cari mbak sampai ketemu. (239-240) Mencari anak sampai ketemu jika anak tidak menyahut jika dipanggil Anak susah Subjek dibangunkan jika mengeluhkan pagi aak yang susah dibangunkan Ya harus tetep dibangunin mpe bangun, kalau dibilang udah jam setengah 7 atau jam 7 gitu dia langsung bangun. (381-382) Anak sering berpindah-pindah buku dan tidak diberi tanggal. Saya suka kasih tanggalan mbak dibukunya, jadi saya juga kasih tahu dia Membangunkan sampai bangun dengan mengatakan kepada anak bahwa waktu menunjukkan pukul 7 Subjek menuliskan tanggal pada lembaran buku Subjek merasa bingung karena harus selalu mengecek buku Problem focused copingactive coping: Subjek mengatasi perasaan takut jika anak dijahati dengan mencari anak hingga ketemu jika anak tidak menyahut kalau dipanggil saat bermain. Problem focused copingactive coping: Membangunkan dan mengatakan bahwa waktu menujukkan pukul 7 Problem focused copingplanning: Subjek

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214 13. buka tasnya, tak cek ada PR enggak soalnya kadang nyelip, dia suka pindah-pindah buku kalau belajar. Kalau nggak ada tanggalnya nggak tau. (370-372) Tiap hari juga harus cek buku ada PR enggak. Ya cuman kebiasaannya aja kalau nulis ganti-ganti buku. Jadi bingung. (375-377) Perasaan ibu seperti apa ketika mengetahui bahwa anak petama yang ibu lahirkan menyandang Down Syndrome? Ya down mbak aku.. nangis terus sampai kakak saya itu bilang ngopo nangis terus nggak punya duit opo gimana (subjek tertawa). Kan begitu lahir sudah dikasih tahu sama dokternya kalau ini ada, istilahnya ada cacat. Saya Sehingga pelajaran anak nulisnya disini jadi saya sehingga subjek membuat subjek apakah ada PR juga tahu anak itu dapat kebingungan. atau tidak disekolah belajar apa mengontrol apa tadi. yang telah (382-384) dipelajari oleh anak di sekolah menuliskan terlebih dahulu tanggal pada lembaran buku yang kosong sehingga subjek dapat mengontrol apa yang dipelajari dan PR apa yang harus dikerjakan. Subjek sedih dan menangis terus menerus ketika mengetahui bahwa anak yang dilahirkannya DS. Problem focused copingseeking of instrumental social support: Subjek memeriksakan anak ke dokter dan mencari informasi tentang kondisi anak. Subjek merasa sedih ketika mengetahui anaknya DS. Terus saya dirujuk kerumah sakit islam lalu dirujuk lagi ke Sardjito. Eh mau di CT-Scan kepalanya kan takutnya ada apa itu yang kepalanya gede? Oh takutnya Hydrocepallus? Nah iya itu mbak Tapi ternyata enggak terus dokter yang menangani bilang kalau oh ini nggak ada hydrocepallus tapi katanya waktu itu Subjek memeriksakan anak ke dokter dan dokter memberikan pengertian bahwa DS tidak ada obatnya dan kesehatan anak baik.

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 215 batin, ada cacat apa. (385-390) 14. Ya sempat down juga saya dan bapaknya. Bapaknya cuman nggerutu penyakit opo meneh kuwi. Hehe. Bapaknya nggak begitu mikir, tapi saya yang benget ngrasainnya sempat sedih banget. (398-400) Sindrom Down gitu. Itu terus nggak kenapakenapa, dokternya bilang ini nggak ada obatnya cuman saya harus ngasih makanannya yang bergizi. Ini nggak kenapa-kenapa. (390-398) Suami subjek Subjek Kalau bapaknya merasa sedih merasakan alhamdulilah menerima mengetahui kesedihan yang sekali, dia pengen punya anaknya DS lebih dalam anak cewek dan namun subjek daripada suami dikasihnya anak cewek. merasa lebih sedih Bijak malahan ngasih daripada suaminya tahu saya jangan membedakan kasih sayang mbak dan adeknya. Takutnya saya memperlakukan mbaknya begini trus memperlakukan adeknya begitu, nggak sama. Kata saya ya nggak lah wong sama-sama anakku. Cuman pesen sama saya jangan sampai membedakan kasih Subjek selalu diberi nasihat oleh suaminya agar tidak membedakan anak dan memperlakukan anak sama satu sama lainya Emotion focused copingseeking emotional social support: Walaupun merasakan kesedihan yang mendalam subjek mendapat dukungan dari suami agar tidak membedabedakan anak

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 216 15. Enggak mbak, sehat-sehat saja. Kan ini mbak, dulu saya pas hamil 3 bulan kan saya pelihara burung puyuh terus kata bidan kena itu virus dari burung. Tapi kalau kata dokter enggak, karena gen. Makanya pas hamil ini (merangkul Asih) saya juga takut orang katanya kalau kena Sindrom Down tu bisa karena virus toxo ya, nah harus diperiksa dulu kalau mau hamil lagi. Nanti takutnya begitu lagi anaknya. (415-420) Takut hamil lagi Subjek merasa karena takut jika takut hamil anak kedua juga karena takut DS nanti anaknya DS lagi sayang. (400-406) Ehh tahu-tahu udah - Tahu-tahu - Problem hamil, mau tak tes urin hamil dan focused di bulan bintang, eh melakukan tes coping: Mengatasi rasa bulan sabit sana itu tapi darah untuk takut akan sananya nggak bisa. memastikan hadirnya anak Akhirnya ke RS agar tidak ada DS lagi Tegalyoso, yaudah deh virus tokso. dengan yang penting berdoa aja melakukan tes mosok mau begini semua kesehatan anaknya. Yaudahlah untuk sabar. memastikan (422-423) tidak terkena tokso - Berdoa agar - Emotion anak yang focused dikandung copingtidak DS. turning to religion: Mengatasi kekhawatiran kehamilan dengan berdoa agar tidak DS juga

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 217 - tapi kata dokter jangan - Diyakinkan takut harus hamil lagi oleh dokter kasihan mbaknya nanti untuk hamil kalau nggak ada lagi agar Asih temannya. ada temannya. (425-426) 16. Ya, bagaimanapun anak yaudah ya harus ditelatenin. Maunya diturutin. Ya untuk kesehatannya saya utamakan. (442-443) Memenuhi kebutuhan anak dan mengutamakan kesehatan anak. Subjek berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak dan mengutamakan kesehatan anak Berobat kemana saja ya didatengin yang penting sehat. Dulu pas belum bisa jalan orang nyaranin disuruh bawa kesana, urut disana. Ya didatangi. Orang pintar ya iya. Ya sekiranya masih bisa dijangkau ya saya datangi. (443-446) Sempat ragu-ragu ya Sempat ragu-ragu Subjek merasa Kejar target lah saya mbak.. pikiran itu jangan- untuk hamil lagi ragu untuk pokoknya. Yang penting jangan anak saya seperti hamil lagi meyakinkan diri dengan Mencari pengobatan yang terbaik untuk anak. Emotion focused copingseeking emotional social support: Mengatasi kekhawatiran dengan mendapatkan dukungan dari dokter. Problem focused copingplanning: Mengutamakan kesehatan anak dengan berusaha mencari tempat berobat yang terbaik. Meyakinan diri Emotion dengan berdoa focused copingagar dikasih turning to

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 218 17. yang pertama. Tapi seandainya saya nggak hamil lagi nanti usia keburu tua. Kalau nggak hamil lagi kasihan mbaknya nggak ada yang jagain. Kan saya nggak bisa selamanya ada, nanti siapa yang jagain pokoknya saya harus punya anak lagi lah. Mudah-mudahan sehat dan tidak kenapa-kenapa. (449-503) Terus dia kan mandinya suka sembarang, belum pake baju suka lari-lari. Pake baju susah. Dalam hati saya ya Allah anakku udah besar mana dikasih tahu ngeyel. Saya takut itu. (540-542) Merasa sedih karena anak ngeyel jika dinasehati dan sering lari-larian jika belum memakai baju. Subjek merasa sedih karena anak tidak memperhatikan jika dinasehati. berdoa dan berusaha biar kesehatan dikasih kesehatan. (511-512) religion: Mengatasi keraguan untuk hamil lagi dengan meyakinkan diri dan berdoa. Makanya saya mengusulkan supaya ada pembekalan diri, saya juga ngarahkan kalau dirumah. (542-543) Problem focused copingplanning: Mengatasi rasa sedih karena anak ngeyel dan senang lari-lari jika belum berpakaian dengan mengusulkan kepada guru agar diberikan pembekalan diri. Mengusulkan kepada guru agar anak diberikan pembekalan diri

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 219 18. Gak apa-apa nggak bisa baca tulis yang penting bisa mandiri. Bisa ngurusi diri sendiri, syukur-syukur bisa membantu mama dan adiknya. Udah bisa ngurus diri sendiri aja saya sudah senang. (543-546) Berharap anak Subjek dapat mengurus berharap anak diri sendiri dan dapat mandiri dapat membantu mamanya. 19. Kalau itu sih, orang Khawatir beranggapan apa nggak depan anak terlalu saya pikirkan ya mbak, saya biarkan saja. Saya lebih khawatir masa depannya bagaimana nantinya, bakatnya apa. (572-574) masa Subjek khawatir dengan masa depan anak Ya saya ngajarin sedikitsedikit mbak kalau pake pembalut begini, buangnya begini. Kalau mamanya pakai pembalut dia suka liat, biar ngerti. Saya juga kasih tahu kalau pakai baju jangan yang ketat. (549-551) Saya masih pelajari soalnya belum terlihat. Jadi saya lebih konsentrasi ke itu. (574-575) Mengajari anak cara memakai pembalut dan mengingatkan untuk tidak memakai baju yang ketat. Melihat bakat anak yang menonjol dan mengarahkan anak pada bakatnya. Tidak mau memikirkan tanggapan orang tentang Saya nggak mau kondisi pikirkan. Saya masih anaknya. mengamati bakat anak ya mbak, dia suka gambar-gambar di buku juga. Tapi saya belum Problem focused copingactive coping: Subjek mengajarkan kepada anak cara memakai pembalut dan mengingatkan anak agar tidak memakai baju ketat Problem focused copingactive coping: Mengatasi kekhawatiran tentang masa depan anak dengan mengenali dan mengarahkan anak pada bakatnya.

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 220 yakin jadi masih saya amati. Saya akan konsentrasikan Asih ke bakatnya agar bisa untuk bekal dia nanti. (582-585) TABEL 5. ANALISIS SUBJEK 4 (RT) Stress ibu dalam merawat dan membesarkan anak DS Dekripsi Analisis 1. Jadi nggak bisa jalan anak baru bisa Anak mengalami sampai usia 3 tahun. 3 berjalan pada usia keterlambatan berjalan tahun persis itu baru bisa 3 tahun → bisa berjalan usia 3 jalan (22-23) tahun 2. Coping strategy Deskripsi Saya sudah ke tumbuh Mendatangi kembang yang di klinik tumbuh Sardjito dan yang kembang RS. alternatif (23-24) Sardjito dan pengobatan alternatif Analisis Problem focused copingactive coping: Subjek mengatasi keterlambatan anak dalam berjalan dengan mendatangi klinik tumbuh kembang RS. Sardjito dan pengobatan alternatif Udah 3 tahun kok anak Anak belum dapat Subjek merasa Pikir saya, ah anaknya Berpikir Emotion ini susah ngomong, kok berbicara khawatir karena anak orang bisa ngomong sebagai orang focused copingnggak bisa ngomong ya belum bisa pasti nanti bisa jawa bahwa positif

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 221 berbicara→usia 3 ngomong gitu ya kalau pasti nanti anak tahun belum bisa pikirnya orang jawa dapat berbicara mengucapkan kata (29-30) karena orangtuanya dapat berbicara cuman a u a u. (28-29) 3. 4. beberapa bulan kemudian saya sakit sempat nggak tertolong lagi karena jantung dan paru-paru di Panti Rini. Saya opnam, pulang sebulan kemudian saya opnam lagi dan disitu saya baru tahu kalau saya kena tokso (31-34) Subjek baru mengetahui dan terkejut bahwa anak terkena tokso ketika subjek mengalami sakit parah Subjek merasa terkejut ketika mengetahui bahwa penyebab kondisi anaknya adalah virus tokso saya cerita sama salah - Subjek satu orang gereja dan menceritakan dia ngasih tahu kalau ke sakitnya Juanda saja (39-40) kepada teman gereja dan saya dikasih tahu kalau dianjurkan ada obat manjur untuk berobat namanya sarmut (41- di RS Juanda 42) - Subjek diberikan anjuran untuk mengkonsumsi teh sarang semut Kalau zefo sendiri Anak sering Subjek merasa Tapi semenjak Subjek sakitnya itu seringnya mengalami panas khawatir karena konsumsi tehnya itu memberikan teh panas dan pilek. (46-47) dan pilek sehingga kesehatan anak tidak udah hampir 2 bulan ini sarang semut reinterpretation and growth: Berusahab berpikir positif bahwa suatu saat anak dapat berbicara - Emotion focused copingseeking of instrumental social support: Subjek bercerita kepada teman ketika mengetahui bahwa terkena virus tokso dan dianjurkan utnuk berobat ke RS Juanda dan dianjurkan oleh teman untuk mengkonsumsi teh sarang semut Problem focused copingactive coping:

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 222 Hampir tiap bulan itu setiap bulan pasti stabil pasti pilek dan panas ada hari ijin karena (49) sakit Biasanya sampai nggak masuk sekolah. Karena apa? Karena pilek, panas (50-51) nggak sakit lagi (49-50) kepada anak dan hampir 2 bulan tidak sakit lagi 5. Dia suka ngambil barang orang lain. Bukan ngambil mungkin ya maksud dia. Jadi ada temennya di sekolah bawa kaset, tempat kasetnya diambil sama dia, tahu-tahu sudah dirumah. Takutnya kebiasaan nanti.(54-57) Saya sampai bilang ke bapaknya, pak iki piye pak. Ya dimarahin nanti keterusan kalau begitu, kata bapaknya. Nek dimarahin kan percuma to mbak anak begini? Bapaknya suka bentak tapi saya sok menggak/nyegah. (5760) Subjek berusaha untuk berdiskusi dengan suami tentang perilaku anak 6. Tapi saya juga sok Subjek emosi gitu lho ini anak merasa gimana sih (60-61) karena anak terkadang Subjek merasa kesal Tapi ya berkat kasih emosi dengan perilaku anak sayang dari keluarga, perilaku saduara kan lebih ya. Lebih dari yang lain Subjek mendapatkan dukungan dan kasih sayang Anak sering mengambil barang orang tanpa meminta ijin dan subjek takut hal tersebut akan menjadi kebiasaan Subjek merasa khawatir perilaku anak anak menjadi kebiasaan→mengambil barang orang lain tanpa ijin Subjek memberikan pertolongan kepada anak yang sering sekali mengalami panas dan pilek dengan memberikan teh sarang semut kepada anak Problem focused copingseeking of instrumental social support: Subjek mengajak suami berdiskusi tentang perilaku anak yang dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan jika dibiarkan Emotional focused copingseeking emotional

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223 7. 8. Kalau obat sama sekali nggak bisa. Saya itu sampai nangis. Sampai bingung menangani Zefo ini. Kalau obat mau dipaksa kayak apa tetep aja nggak bisa. Semakin dipaksa semakin nolak si Zefo ini. (73-75) Kalau pertumbuhannya ini ya mbak gizi cukup banget tapi kok nggak gemuk-gemuk. (70-71) Subjek sampai menangis ketika membujuk anak untuk meminum obat Subjek merasa memberikan gizi yang cukup kepada anak namun badan anak tidak bisa gemuk jadi saya bisa tetap keluarga focused coping: sabar (61-63) sehingga subjek Keluarga besar tetap bisa memberikan bersabar dukungan dan kasih sayang yang melimpah Subjek merasa sedih Jadi kalau pilek, batuk Subjek Problem karena anak tidak bisa gitu saya bawa ke Panti membawa anak focused copingmeminum obat Rini cuman di uap. ke RS. Panti active coping: meskipun dipaksa (72-73) Rini untuk Subjek diuap ketika membawa anak ke RS. Panti Rini anak sakit untuk diuap Subjek merasa heran dengan pertumbuhan anak yang tidak dapat gemuk Kalau untuk gizi wah nggak tanggungtanggung ya mbak. Saya beliin terus. Kemarin saya beliin suplemen untuk merangsang otak yang dari Tiens. Terus tropolis. Pokoknya apa yang bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan dia saya bela-belain. (76-79) Subjek membelikan suplemen penunjang gizi untuk anak Problem focused copingactive coping: Subjek membelikan berbagai suplemen penunjang gizi anak karena badan anak yang tidak dapat gemuk

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 224 9. Tapi saya dan bapaknya itu kadang sok khawatir piye ya nek anak‟e dilokne (gimana ya kalau anaknya nanti di jelekjelekan). Kan sakit hati ya sebagai orang tua kalau anaknya dijelekjelekan. Kalau ada orang itu rasanya nggak enak apalagi kalau anak disepelekan. (82-85) Subjek dan suami terkadang khawatir jika anak dijelekjelekan ketika anak berinteraksi dengan lingkungan sosial Subjek dan suami merasa kurang percaya diri dan khawatir anak dijelek-jelekan oleh orang lain Makanya jarang sekali saya untuk keluar atau pergi main ke tetangga kecuali kalau ada kumpulan atau arisan saya baru ikut. Bukan saya menjaga jarak itu nggak, cuman kalau anaknya main trus ada orang tua yang nggak bolehin anaknya main sama Zefo daripada saya sakit hati lebih baik saya dirumah. (8689) 10. Kalau tulang itu dulu Tulang mata kaki Kelainan pada Trus ke pengobatan mata kaki belum anak belum tulang→tulang mata alternatif dikasih tahu tumbuh. (91) tumbuh kaki anak belum nanti usia 3-4 tahun tumbuh akan tumbuh dan bisa jalan. (92-93) Subjek jarang keluar rumah kecuali mengikuti arisan dan menjaga jarak untuk menghindarkan penolakan orang lain terhadap kondisi anak Problem focused copingsuppression of competing activities: Subjek membatasi diri dalam hubungan sosial Subjek membawa anak ke pengobatan alternatif dan diberitahu bahwa usia 3-4 tahun tulang mata kaki anak anak tumbuh Problem focused copingactive coping: Subjek membawa anak ke pengobatan alternatif karena tulang mata kaki anak belum tumbuh dan diberitahu bahwa tulang akan tumbuh ketika

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 225 11. Jadi kan kalau duduk itu biasanya tegak ya? Nah Zefo ini nggak, tulang ekornya nggak bisa nopang jadinya lemes duduknya, bungkuk (subjek memperagakan saat Zefo duduk). (9496) Trus ini kakinya bisa ditaruh dibelakang kepala karena lentur mungkin ya. (98-99) 12. Harusnya usia 10 tahun kan udah bisa semuanya sendiri ya kayak anak normal. Dia belum, masih harus dibantu. Jadi belum kelihatan banget. Harusnya 10 tahun itu udah kelas 3 atau 4, dia masih kelas 2. Ya sifatnya masih kekanak-kanakan kayak anak TK. (103-106) Tulang anak tidak dapat menopang sehingga tidak dapat duduk tegak dan kaki yang terlalu lentur sehingga dapat ditekuk dibelakang kepala Subjek khawatir petumbuhan anak merasa Kalau kata dokter sih Subjek dengan karena kekurangan zat berkonsultasi tulang kapur. (99) dengan dokter Anak belum dapat Anak yang belum melakukan bantu dapat melakukan bantu diri sendiri hingga diri secara mandiri usia 10 tahun Mandi saya siapin sikat gigi, handuk, sabun. Bisa sikat gigi sendiri, cuci muka, terus sabun. Mandi juga tahu mana yang harus dibersihkan. Saya melatihnya sejak dini ya biar tahu kalau mandi tu gini, gini. Jadi saya nggak repot. Kalau renang itu dia seneng banget, bilas sendiri udah bisa. Subjek menyiapkan keperluan mandi anak dan mengajarkan sejak dini tentang bantu diri anak berusia 3-4 tahun Problem focused copingactive coping: Subjek berkonsultasi dengan dokter dan dikatakan bahwa anak kekurangan zat kapur Problem focused copingactive coping: subjek mengatasi kekurangan anak dalam hal bantu diri dengan menyiapkan keperluan mandi anak dan mengajarkan sejak dini tentang bantu diri

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 226 13. bebannya cuman satu ya, ngomongnya aja. Cuman kadang kalau dipanggil nyautnya lama. (133-134) Anak belum lancar Subjek merasa berbicara, lama terbebani dengan menanggapi jika kemampuan berbicara dipanggil anak 14. Nah itu mbak, makanya Subjek khawatir Subjek merasa tidak saya ya suka mikirin jika anak siap jika anak waduh nanti nek udah mendapatkan mendapatkan (137-141) Untuk berbicaranya itu dulu pas pijet di alternatif itu kan udah kayak saudara ya. Dikasih tahu sama yang mijet tenang mbak ratna besok usia 9 tahun pasti udah bisa bicara. Nah beneran. Usia 9 tahun persis udah bisa manggil mama nana, papa nono, kalau manggil Clara kakaknya yang besar kak yaya, kalau manggil Sekar itu kakak. Padhe dedi manggilnya Dhe Dedi, manggil pak Seger tetangga depan itu Pak Gel. Bisa dia ya cuman harus yang terbiasa ya karena kan bicaranya tidak jelas. (124-130) Saya tanya-tanya sama ibunya Jacky temennya Zefo gimana Membawa anak ke pengobatan alternatif dan membiasakan untuk lebih memperhatikan ketika anak berbicara karena lafal yang tidak jelas Problem focused copingactive coping: Subjek membawa anak ke pengobatan alternatif dan membiasakan diri untuk lebih memperhatikan lafal bicara anak Subjek bertanya Problem kepada teman focused copingyang juga seeking of

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 227 mens gimana. Kan ada temennya Zefo namanya Jacky. Dia udah mens. Ibunya cerita kalau repot mbak. Trus aku mikir duh terus aku besok gimana kalau Zefo mens. (167-169) mengatasinya. Pertamanya saya cuman iseng aja tanyanya trus jadi tahu gimana mengatasinya. Tapi si Zefo ini tahu lho gimana cara pakai pembalut. (169-172) Menurut subjek Subjek merasa tidak Kalau suka nelantarin anak sering nyaman dengan makanan ya itu saya membuang-buang kebiasaan anak jarang ajak kalau ke makanan membuang makanan pesta yang selain saudara atau temen deket saya. Karena nggak enak sama yang punya gawe, makanan diambil tapi nggak dimakan. (195-197) memiliki anak DS tentang penanganan ketika anak mulai menstruasi instrumental social support: Subjek berdiskusi dengan teman yang juga memiliki anak DS Jarang mengajak anak pergi ke acara selain acara teman dekat dan saudara karena subjek merasa tidak enak hati lantaran anak sering menyianyiakan makanan sih Menurut subjek Subjek mengeluhkan Kalau berbicara saya anak belum lancar anak yang belum sering benerin ya kalau dalam berbicara lancar berbicara Zefo salah ngucapin. Pelan-pelan sambil dieja (194-195) Subjek mengoreksi jika anak keliru dalam berbicara dengan mengeja Problem focused copingactive coping: Subjek tidak mengajak anak menghadiri acara selain acara saudara/teman dekat karena subjek merasa tidak enak hati dengan penyelenggara acara Problem focused copingactive coping: Subjek mengoreksi dan 15. Zefo suka ambil makanan tapi nggak mau makan. Jadi kan malah buang-buang makanan. (188-189) 16. Sama bicaranya mbak. (190) menstruasi, menstruasi bingung cara mengurus anak ketika menstruasi

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228 pelan-pelan 17. Kalau membaca itu begini, oh kalau begini itu kebalik gitu tahu. Mbaca itu ya gak jelas apa yang diucapkan, kayak bisa aja dia ini. Kalau ada koran gitu suka nyuruh saya dengarin dia baca. Padahal ya berantakan omongannya. (347-350) 18. Cuman kalau berhitung itu diajarin susah. Lompat-lompat. Satu, dua, tiga, empat, lima, tujuh. Kadang kalau sampai angka 5 terus dada-dada (subjek menirukan anaknya dada). Abjad bisa ngikutin dari a sampai z. (352-355) 19. Kemampuan dalam memahami pelajaran di sekolah seperti apa bu? mengeja pelanpelan Anak belum Anak belum lancar Abjad bisa ngikutin dari Subjek Problem mampu membaca dalam membaca a sampai z. Sampai saya membelikan focused copingdengan lancar ini sering beliin kayak poster yang active coping: Subjek poster yang abjad sama bertuliskan angka biar buat belajar abjad untuk membelikan dia. media anak poster bertuliskan abjad (355-356) belajar untuk media membaca anak belajar membaca Anak diajarkan berhitung sulit Subjek merasa Sampai saya ini sering belajar kesulitan mengajarkan beliin kayak poster anak berhitung yang abjad sama angka biar buat belajar dia. (355-356) Menurut subjek, anak kurang diperhatikan oleh guru disekolah. Subjek merasa kurang puas dengan cara guru mengajar dan subjek menganggap guru Sedangkan saya karena ibunya kan secara naluri harus bisa ngajarin. (363-364) Subjek membelikan poster yang berisi abjad dan angka sebagai media belajar anak Problem focused copingactive coping: Subjek membelikan media belajar berupa poster abjad dan angka Subjek merasa harus bisa dalam mengajari anak Problem focused copingplanning: Subjek

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 229 Masih susah karena dia itu kurang diperhatikan sama guru. Kalau sekolah kan ada jadwal pelajaran ya setiap hari. Misalkan hari selasa itu berhitung gitu ya, guru kan seharusnya nyari cara supaya anak itu bisa bagaimana caranya wong dia jurusannya di SLB kok ndak bisa. (359-363) 20. Kalau diajarin itu bosenan misal nulis atau berhitung. Tapi kalau nari sama gambar nggak bosen. (374-375) Menurut subjek, kurang berkompetensi guru di sekolah kurang bisa mengajari anak belajar Saya itu sampai mikir gimana ya caranya ngasih tahu ke gurunya. (365) belajar dan subjek memikirkan cara yang tepat untuk memberi tahu kepada guru meyakinkan diri bahwa subjek harus mampu mengajari anak dan berencana untuk memberikan kritikan kepada guru Subjek Subjek merasa bingung mengatakan bahwa karena anak mudah anak cepat bosan bosan belajar jika diajari menulis kadang saya suka bohong ayo nanti kalau mau habis ini beli es krim. Biar dia ada motivasi buat mau. Belajar juga gitu biar dia nggak bosenan dan mau belajar lagi. (377380) Nanti kan kalau dirumah yang ngajarin nggak cuman saya tapi ada kakaknya, ada bapaknya, pakdhenya. Jadi ganti-gantian Subjek memberi imingiming es krim agar anak mau untuk belajar. Problem focused copingactive coping: Subjek memberikan hadiah berupa es krim jika anak mau untuk belajar Dalam mengajari anak subjek dibantu oleh suami, anak kedua, dan Emotional focused copingseeking emotional social support:

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 230 ngajarinnya. (380-381) pakdhe. 21. Sekalinya marah-marah apa-apa dibanting. HP juga langsung dibuang gitu aja. Gelas juga dipecah. Tapi nggak sering ya cuman pas dia lagi jengkel se jengkeljengkelnya. (385-387) Subjek mengatakan jika anak akan membanting HP dan memecahkan gelas jika sedang marah. Subjek merasa tidak nyaman dengan kebiasaan anak membanting HP dan memecahkan gelas ketika sedang marah Sekarang udah berkurang karena saya kasih tahu ini mahal, nanti pecah, rusak. (387-388) Subjek memberi pengertian kepada anak bahwa gelas bisa pecah dan rusak. Mahal untuk membelinya lagi. 22. Tapi kalau disuruh mandi kadang ngeyel itu remot juga masih jadi sasaran, langsung dibanting mpe rusak. Jadi remot itu sering ganti. Ndak nangis tapi Menurut subjek anak sulit jika disuruh mandi dan biasanya membanting remote sehingga sering membeli Subjek merasa kesal karena anak sulit jika disuruh mandi dan suka membanting remot sehingga harus sering membeli remot baru. Saya juga kasih tahu kalau nggak boleh banting-banting remote, mahal belinya. Kalau disuruh mandi nggak mau ya saya bujuk, ayo mandi dulu nanti Subjek memberikan pengertian bahwa membanting remot itu tidak boleh, untuk Subjek mendapatkan dukungan dari keluarga dalam mendidik anak. Bergantian dalam mendampingi anak belajar sehingga anak tidak bsoan. Problem focused copingactive coping: Subjek memberikan pengertian bahwa barang nanti dapat rusak dan mahal untuk membeli yang baru. Problem focused copingactive coping: Subjek memberikan pengertian kepada anak

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 231 hanya cemberut. (388-390) 23. Dia paling kalau minta cuman es krim, jajanan. Tiap hari ndak pernah lepas dari pensil warna. Biasanya kalau sore minta sate. Tapi mungkin beberapa waktu lalu dapet sate yang kurang bagus. Terus muntah-muntah, sakit perut. Sekarang kapok nggak pernah mau makan sate yang kelilingan itu. (406-408) 24. Dia bisa berbagi, cuman kalau ada mainan yang disukai dia nggak boleh diganggu. Disembunyiin. Kalau remote yang baru. Menurut subjek, keinginan yang harus selalu dipenuhi yaitu makanan. Subjek mengatakan bahwa anak pernah muntah-muntah karena membeli sate keliling yang mungkin dagingnya sudah tidak bagus. Subjek merasa kecewa karena anak pernah muntah-muntah karena membeli sate keliling yang sudah tidak bagus dagingnya Menurut subjek, Subjek merasa kesal anak dapat karena anak tidak bermain bersama- dapat berbagi mainan sama temannya namun jika ada nonton TV lagi. Sambil membeli remot cemberut tapi ya mau. baru harganya (396-398) mahal. Subjek membujuk anak untuk mandi dahulu kemudian menonton TV lagi. Kalau lewat lagi mau Subjek tak kasih tau kok itu berencana yang jual sate, kalau memberi tahu anakku pernah dapat penjual sate jika sate yang udah gak bertemu akan bagus sampai muntah- memberi tahu muntah. (409-410) bahwa anaknya pernah untahmuntah karena mendapat sate yang sudah tidak bagus Kadang saya suka bujuk ayo to Fo, mainannya buat barengan. Tapi ya tetep gak mau. (388389) bahwa membanting remot itu tidak diperbolehkan, membujuk anak untuk mandi kemudian menonton TV lagi. Problem focused copingplanning: Subjek berencana memberi tahu penjual sate bahwa ia pernah membeli sate yang sudah tidak layak dimakan dan anaknya muntah-muntah setelah memakannya. Subjek Problem berusaha focused copingmembujuk anak active coping: agar mau untuk Subjek berusaha berbagi mainan membujuk anak

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 232 mainan banyak dia bisa main bareng-bareng sama temen-temennya tapi kalau dia suka banget sama permainan yang dimainkan maka nggak mau diganggu apa dipinjem. (385-388) 25. Sejauh ini baik-baik saja ya mbak, ya kadang ada satu atau dua anak yang suka bilang nggak mau main sama Zefo gitu juga ada. (398-399) mainan yang ia senangi maka ia tak mau berbagi Menurut subjek ada beberapa anak yang tidak mau bermain bersama Zefo dengan teman- supaya berbagi temannya mainan dengan teman-temannya. Subjek merasa sedih karena ada anak yang tidak mau bermain dengan anaknya 26. Saya berpikir apa sih Subjek berpikir Subjek salahku kok anakku memiliki dosa memiliki begini. Itu pasti sehingga anaknya sehingga Saya suka tanya kenapa nggak mau sama Zefo kan tadi dikasih makanannya Zefo. Nanti langsung baikin lagi, ayo Fo main sama aku. Gitu. Tapi aku ya nggak pernah ngancem ya mbak. Aku juga menyadari bahwa memang anakku kayak gitu. Mungkin kalau aku punya anak normal ya mungkin nggak sampai segitunya tapi jarak itu pasti ada. (406-410) merasa Aku sampai ngeluh dosa sama kakak yang di diakruniai Jakarta (463) Subjek menyadari kondisi anak yang berbeda dan memaklumi jika ada jarak antara yang normal dengan anak subjek yang DS Emotion focused copingacceptance: Subjek menyadari kondisi anak yang berbeda dan memaklumi jika ada jarak antara anak yang normal dengan anaknya yang DS Subjek berkeluh Problem kesah kepada focused copingkakaknya seeking

(251) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 233 kepikiran (462) DS anak DS Saya sampai Novena, doa di Ganjuran doa di Sendangsono. Doa dimana saja untuk kebaikan keluarga saya dan saya sendiri terutama ya. Misa harian jam 5 pagi itu berbulan-bulan saya ikut. (468-470) Subjek berdoa novena dab berdoa ditempat ziarah demi kebaikan keluarga, mengikuti misa harian setiap hari Bapaknya bilang sama saya anak itu rejeki sendiri-sendiri tinggal bagaimana kita merawat. Kan kita nggak tahu ya masa depan Zefo nanti bagaimana, yang penting kan kita ngasih yang terbaik untuk Subjek disemangati oleh suami dan diajak untuk memberikan yang terbaik bagi anak emotional social support: Mencari dukungan dengan bercerita kepada kakak Emotion focused copingturning to religion: Berdoa Novena dan berdoa ditempat ziarah demi kebaikan keluarga, mengikuti misa harian setiap hari. (468-470) Emotion focused copingseeking emotional social support: Disemangati suami dan diajak untuk memberi yang terbaik untuk anak

(252) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 234 27. Tapi kalau dilingkungan paling cuman sembayangan. Karena kalau dilingkungan rumah orang-orangnya nggak enak lah. Suka dinakali. (501-503) Membatasi relasi dengan lingkungan karena anak sering dinakali Subjek merasa tidak senang untuk berbaur dengan lingkungan sekitar tempat tinggal karena anak sering dinakali 28. Tapi kalau sama sekar sering berantem. Berantem karena rebutan remot sama laptop. Kalau makanan enggak tapi lebih ke fasilitas. (538-340) Anak sering berantem dengan kakak keduanya karena berebut fasilitas Subjek merasa bosan melihat anak bertengkar karena berebut fasilitas 29. Karena menurut sekar, Zefo itu lebih disayang daripada dia. Ya tahu kalau Zefo kondisinya lain jadi lebih Anak kedua Subjek merasa kesal menganggap karena anak berpikir bahwa orangtuanya orang tua pilih-pilih pilih kasih anak. (481-484) Kalau saya marah nanti kan nggak pantes ya mosok saya marah sedangkan yang tak marahi anak kecil. Ntar malah ribut sama orang tuanya kan nggak enak. Untungnya saya juga nggak seneng main jadi anak juga betah dirumah (503-506) Kalau pas berantem saya suka teriak sekaaarrrr (mempraktekan kalau memanggil sekar). (545) Saya sama suami suka ngasih tahu ya kalau Zefo ini nggak bisa kayak sekar. (551) Saya sama suami suka mengingatkan kalau kamu jadi Zefo gimana. Kamu kan bisa apa-apa sendiri sedangkan Zefo Subjek memilih tidak pernah keluar rumah untuk menghindari perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat Subjek akan meneriaki anak keduanya dan subjek juga memberi tahu bahwa adiknya tidak akan bisa sepertinya yang normal (481-484) Problem focused copingactive coping: Memilih untuk tidak pernah keluar rumah untuk menghindari perlakuan yang tidak menyenangkan Problem focused copingactive coping: Subjek meneriaki anak keduanya dan memberi pengertian bahwa adiknya tidak dapat seperti dia yang normal Subjek Problem memberi focused copingpengertian active coping: kepada anak Subjek memberi kedua bahwa ia pengertian

(253) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 235 diperhatikan tapi ya tetep aja itu tiap hari pasti berantem. (540542) kan masih harus dibantu. Makanan aja kamu bisa minta beli burger, nah kalau Zefo kan harus ditawarin dulu. Motor kmu minta beli vario, kamu bisa pakainya kalau Zefo kan palingan cuman bonceng. Mau po kamu jadi Zefo, sini gantian. (546-550) mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sedangkan adiknya harus dibantu untuk memenuhi kebutuhannya kepada anak kedua bahwa ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sedangkan adiknya harus dibantu untuk memenuhi kebutuhannya

(254) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 236 Tabel 6. Stres yang Bersumber Dari Luar Diri Subjek Tema Stressor SL SL Suhu tubuh anak mudah berubah menjadi dingin Mengalami gangguan saluran kencing ketika usia 3 tahun Anak sering panas dan pilek Anak tidak bisa meminum obat Terlambat berjalan SG Terlambat berjalan RT Terlambat berjalan SL Anak tidak bisa menggapai tempat tinggi untuk mengambil makanan Anak masih harus dibantu dalam hal toilet training Anak masih harus dibantu SG Kesehatan anak mudah terganggu Keterlambatan kemampuan berjalan Kurangnya kemampuan bantu diri Perkembangan fisik Stress Subjek RT SH RT Coping Strategy Menghangatkan dengan selimut Merasa Tidak memakaikan kasihan pampers kecuali bepergian Merasa Memberikan teh sarang khawatir semut kepada anak Merasa sedih Membawa anak ke RS untuk di uap Merasa sedih Mencari informasi tempat terapi Merasa Membatkan penyangga khawatir untuk pegangan ketika berjalan Mendatangi klinik tumbuh kembang Khawatir Menyiapkan makanan anak terjatuh sebelum ditinggal beraktivitas Membantu anak cebok ketika buang air Menyiapkan keperluan Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focsed coping-planning Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused

(255) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 237 Ketidaksiapan jika anak mendapat menstruasi SG RT Tema Kurangnya kesadaran akan bahaya Kurangnya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dalam menyiapkan keperluan mandi Mencemaskan jika anak mendapat menstruasi Merasa cemas Mengkhawatirkan jika anak mendapat menstruasi Merasa belum siap Perkembangan kognitif Subjek Stressor Stress SL Kurangnya kesadaran akan Merasa bahaya (ngeyel bermain khawatir didekat kompor) SH Kurangnya kesadaran akan Merasa bahaya (bermain di dekat khawatir kompor menyala) Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung belum lancar SL SH Kemampuan membaca, mandi anak coping-active coping Mengusulkan kepada guru untuk memberi pembekalan diri dan mengajarkan memakai pembalut Berdiskusi dengan teman yang juga memiliki anak DS Problem focused coping-active coping problem focused coping-seeeking instrumental social support Coping strategy Mengingatkan dan Problem focused mengawasi anak bermain coping-active coping Mengingatkan dan mengawasi ketika anak bermain Mendampingi dan membantu anak belajar berpikir positif anak pasti bisa Mengajarkan Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping bahwa emotion focused coping-positif reinterpretation and growth dirumah Problem focused

(256) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238 SG Kemampuan berbicara/komunika si yang belum lancar SL SH RT Tema Mood mudah berubah-ubah menulis, dan berhitung belum lancar Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung belum lancar Komunikasi/berbicara Merasa belum lancar bingung Kemampuan Merasa komunikasi/berbicara anak bingung belum lancar Komunikasi/berbicara Merasa belum lancar khawatir, merasa terbebani Perkembangan emosi Subjek Stressor Stress SL Suasana hati anak mudah Merasa berubah bingung Mood belajar buruk Merasa bingung SH dan membelikan buku coping-active coping Mengajarkan membaca, Problem focused menulis, dan berhitung coping-active coping Meminta anak mengulang kalimat, memahami apa yang disampaikan anak Memperhatikan dengan cermat apa yang dibicarakan anak Berpikir positif bahwa anak pasti bisa berbicara Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping emotion focused coping-positif reinterpretation and growth Membawa anak ke Problem focused pengobatan alternatif, coping-active coping mengoreksi dan mengeja pelan-pelan Coping strategy Mengajak anak jalan- Problem focused jalan dan menonton TV coping-active coping Memberikan selingan Problem focused sembari mengems tempe coping-active coping dan menonton TV Suasana hati anak mudah Merasa sedih Menignkatkan usaha Problem focused

(257) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 239 berubah RT SL Keinginan anak kuat dan harus terpenuhi SH SG Kontrol emosi yang buruk (kemarahan SH Anak mudah bosan belajar Keinginan dipenuhi anak Merasa bingung harus Merasa keberatan dalam menelateni anak, berbicara dengan nada halus Memberikan hadiah berupa es krim jika anak mau belajar Dibantu pakdhe, suami, dan anak dalam mengajari anak belajar coping-active coping Problem focused coping-active coping emotional focused coping-seeking emotional social support dan Problem focused semua coping-active coping Memenuhi membelikan keinginan anak Keinginan anak harus Merasa harus Berusaha memenuhi Problem focused terpenuhi memenuhi semua keinginan anak coping-active coping keinginan anak Semua keinginan anak Berusaha memenuhi Problem focused harus terpenuhi, jika tidak keinginan anak coping-active coping maka anak akan berteriakteriak Anak akan marah jika Merasa Menuruti semua Problem focused keinginan tidak terpenuhi terbebani keinginan anak coping-active coping Mengamuk dan mengunci Merasa Memberitahu kepada Problem focused diri jika keinginan tidak khawatir anak bahwa hal itu tidak coping-active coping terpenuhi baik anak senang marah-marah Merasa sedih Menganggap kondisi Emotion focused namun subjek tidak anak sebagai takdir coping-acceptance

(258) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 240 mudah meledakledak) RT Mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya SH Kurangnya pemahaman dan buruk SG SG baik RT mungkin kembali memarahi anak Anak senang membanting Merasa sedih Mencari tahu penyebab pintu jika marah kemarahan anak dengan bertanya kepada anak Membanting barang jika Merasa tidak Memberi pengertian sedang merasa jengkel nyaman bahwa perilakunya tidak baik Perkembangan sosial Dikatai „pego‟ dan dicubit Merasa tidak Memberikan pengertian terima bahwa dalam bermain tidak boleh saling nakal Mendapat perlakuan tidak Merasa takut Mencari anak jika anak menyenangkan dari teman teralu jauh bermain sebaya Perkembangan moral Pemahaman baik dan buruk Merasa sedih Mengusulkan kepada anak masih kurang→anak guru agar diberikan suka lari-larian padahal pembekalan diri belum memakai baju Anak mengambil barang Merasa Mendiskusikan tanpa ijin pemiliknya khawatir pemecahan masalah yang perilaku tepat dengan suami anak akan menjadi Keluarga besar kebiasaan memberikan dukungan Merasa kesal dan kasih sayang Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Problem focsed coping-planning Problem focused coping-active coping emotional focused coping-seeking emotional social

(259) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 241 Sering bertengkar dengan saudara kandung SL SH RT SL Suami mengalami kesedihan ketika mengetahui kondisi anak Mendapat perlakuan kurang menyenangkan SG SH melimpah support Kebiasaan mengambil Merasa tidak Tidak mengajak anak Problem focused makanan saat menghadiri nyaman menghadiri acara selain coping-active coping acara namum tidak dimakan acara keluarga Lingkungan Keluarga Anak sering bertengkar Merasa kesal Memberikan pemahaman Problem focused dengan saudara kandung agar mengerti kondisi coping-active coping karena hal sepele adiknya dan mengalah Anak sering bertengkar Merasa Memarahi anak pertama Problem focused karena hal kecil jengkel coping-active coping Anak sering bertengkar Merasa Meneriaki anak kedua Problem focused karena hal kecil bosan dan memberikan coping-active coping pengertian bahwa adiknya tidak seperti dia yang normal Suami kaget dan sedih Merasa sedih Menerima, memaknai emotion focused meihat kondisi anak anak sebagai pemberian coping-acceptance Tuhan yang harus dirawat Suami sedih dengan kondisi Subjek Subjek medapatkan Emotion focused anak merasa lebih dukungan dari suami agar coping-seeking social sedih dari tidak membedakan anak support for emotional suami reason Lingkungan masyarakat Anak dikatai “pego” Merasa sakit Mengesampingkan Problem focused hati tanggapan orang dan tidak coping-suppression memasukan ke dalam hati of competing activities

(260) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 242 Anak sering dinakali RT SL Mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari guru RT Kekhawatiran akan pekerjaan yang cocok untuk anak SL Kekhawatiran tidak ada yang mengurus anak jika subjek meninggal SH Merasa tidak Memilih untuk tidak pernah senang keluar rumah untuk menghindari perlakuan yang tidak menyenangkan Subjek dan suami khawatir Merasa Membatasi diri dalam anak akan disepelekan dan kurang hubungan sosial khawatir akan sakit hati percaya diri Problem focused coping-active coping Problem focused coping-suppression of competing activities Lingkungan sekolah Guru menganggap anak Merasa tidak bisa diajari jengkel Berpikir positif bahwa guru Emotion focused mungkin tidak bermaksud coping-positive menyakiti reinterpretation and growth Anak kurang diperhatikan Merasa Subjek berencana Problem focused guru, kurang puas dengan kurang puas memberikan kritikan kepada coping-planning cara guru mengajar guru Kekhawatiran akan masa depan anak Kepikiran pekerjaan yang Subjek Menyiapkan lahan bagi Problem focused cocok untuk anak merasa resah anak untuk berwiraswasta coping-planning dengan pekerjaan yang cocok untuk anak Anak bisa mendiri atau tidak. Memikirkan kalau ibu meninggal bagaimana dengan anak Subjek Berpesan kepada anak Problem focused merasa pertama untuk menjaga dan coping-planning khawatir merawat adiknya anak tidak

(261) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 243 SG bisa mandiri jika subjek sudah meninggal yang Merasa takut Memberitahukan kepada Problem focused anak kedua agar menjaga coping-planning kakaknya Takut tidak ada mengurus anak Stres yang Bersumber Dari Dalam Diri Kesedihan ketika mengetahui keadaan anak Kondisi anak dianggap sebagai ganjaran atas dosa Perasaan bersalah Merasa sedih SL Pikiran kemana-mana SG Menangis terus menerus SH Kondisi anak ganjaran atas dosa Kondisi anak ganjaran atas dosa RT Merasa sedih sebagai Merasa sedih sebagai Merasa berdosa Menerima dengan ikhlas, menerima anak sebagai amanah dan rejeki Tuhan Memeriksakan anak ke dokter dan mencari informasi tentang kondisi anak Berpasrah dan menerima kondisi anak Bercerita kepada kakak Berdoa novena, mendatangi tempat ziarah, mengikuti Emotion focused coping-acceptance Problem focused coping-seeking social support for instrumental action Emotion focused coping-acceptance Problem focused coping-seeking social support for instrumental action Emotion focused coping-turning to

(262) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 244 misa harian Disemangati suami dan diajak untuk memberi yang terbaik bagi anak SH Takut hamil lagi SG Kehilangan kepercayaan untuk memiliki anak yang normal Takut hamil karena Merasa takut Fokus dan telaten mengurus khawatir akan memiliki anak anak DS lagi Melakukan tes kesehatann untuk memastikan tidak terkena virus tokso Berdoa supaya anak yang Takut hamil karena Merasa dikandung tidak DS lagi khawatir memiliki anak DS takut, lagi merasa ragu Mendapatkan dukungan dari dokter untuk hamil lagi religion Emotion focused coping-seeking social support for emotional reason Problem focused coping-active coping Problem focused coping-active coping Emotion focused coping-turning to religion Emotion focused coping-seeking social support for emotional reason

(263) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 245 LAMPIRAN 2 Informed Concent Form

(264) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 246 INFORMED CONSENT FORM Pada kesempatan ini, saya selaku mahasiswa fakultas Psikologi yang sedang menyelesaikan tugas akhir memohon bantuan dan kesediaan Ibu untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini. Penelitian ini mengenai koping strategi ibu dalam merawat dan membesarkan anak dengan Down Syndrome. sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stres tekanan yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome dan untuk mengetahui cara ibu dalam mengatasi berbagai stres yang timbul. Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode wawancara secara personal. Wawancara dapat dilakukan kapanpun selama anda merasa nyaman untuk membagikan pengalaman anda. Proses wawancara akan berlangsung kurang lebih 60 menit. Namun peneliti dapat fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat proses wawancara. Kemudian nantinya proses wawancara akan direkam dengan menggunakan alat perekam digital. Hasil percakapan wawancara nantinya akan diubah dalam bentuk transkrip verbatim wawancara. Rekaman pembicaraan yang dituliskan nantinya akan digunakan sebagai data penelitian. Kerahasiaan identitas Anda akan terjamin. Peneliti tidak akan membagikan identitas dan hasil pengumpulan data kepada siapapun kecuali pada dosen pembimbing skripsi ini. Nama Anda juga akan dirahasiakan dengan menggunakan nama samaran atau inisial. Anda berhak untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum Anda berpartisipasi. Keikutsertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda juga berhak untuk tidak berpartisipasi atau mundur dari penelitian ini. Dengan berpartisipasi dalam penelitian ini anda juga memberikan sumbangsih yang berarti dalam penelitian dan pengembangan keilmuwan Psikologi pada khususnya guna meningkatkan penerimaan diri para orang tua terhadap kondisi anak Down Syndrome melalui strategi koping dalam menghadapi stres yang timbul dalam proses pengasuhan anak. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, Anda memutuskan secara sukarela untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan Anda menunjukkan kesediaan anda dalam berpartisipasi dalam penelitian ini setelah membaca dan memahami penjelasan yang diuraikan diatas. Anda juga memiliki kesempatan untuk mendiskusikan penelitian ini dengan peneliti. Peneliti Penelitian Veronica Hesti N. E Narasumber

(265) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 247 INFORMED CONSENT FORM Pada kesempatan ini, saya selaku mahasiswa fakultas Psikologi yang sedang menyelesaikan tugas akhir memohon bantuan dan kesediaan Ibu untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini. Penelitian ini mengenai koping strategi ibu dalam merawat dan membesarkan anak dengan Down Syndrome. sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stres tekanan yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome dan untuk mengetahui cara ibu dalam mengatasi berbagai stres yang timbul. Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode wawancara secara personal. Wawancara dapat dilakukan kapanpun selama anda merasa nyaman untuk membagikan pengalaman anda. Proses wawancara akan berlangsung kurang lebih 60 menit. Namun peneliti dapat fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat proses wawancara. Kemudian nantinya proses wawancara akan direkam dengan menggunakan alat perekam digital. Hasil percakapan wawancara nantinya akan diubah dalam bentuk transkrip verbatim wawancara. Rekaman pembicaraan yang dituliskan nantinya akan digunakan sebagai data penelitian. Kerahasiaan identitas Anda akan terjamin. Peneliti tidak akan membagikan identitas dan hasil pengumpulan data kepada siapapun kecuali pada dosen pembimbing skripsi ini. Nama Anda juga akan dirahasiakan dengan menggunakan nama samaran atau inisial. Anda berhak untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum Anda berpartisipasi. Keikutsertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda juga berhak untuk tidak berpartisipasi atau mundur dari penelitian ini. Dengan berpartisipasi dalam penelitian ini anda juga memberikan sumbangsih yang berarti dalam penelitian dan pengembangan keilmuwan Psikologi pada khususnya guna meningkatkan penerimaan diri para orang tua terhadap kondisi anak Down Syndrome melalui strategi koping dalam menghadapi stres yang timbul dalam proses pengasuhan anak. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, Anda memutuskan secara sukarela untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan Anda menunjukkan kesediaan anda dalam berpartisipasi dalam penelitian ini setelah membaca dan memahami penjelasan yang diuraikan diatas. Anda juga memiliki kesempatan untuk mendiskusikan penelitian ini dengan peneliti. Peneliti Penelitian Veronica Hesti N. E Narasumber

(266) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 248 INFORMED CONSENT FORM Pada kesempatan ini, saya selaku mahasiswa fakultas Psikologi yang sedang menyelesaikan tugas akhir memohon bantuan dan kesediaan Ibu untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini. Penelitian ini mengenai koping strategi ibu dalam merawat dan membesarkan anak dengan Down Syndrome. sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stres tekanan yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome dan untuk mengetahui cara ibu dalam mengatasi berbagai stres yang timbul. Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode wawancara secara personal. Wawancara dapat dilakukan kapanpun selama anda merasa nyaman untuk membagikan pengalaman anda. Proses wawancara akan berlangsung kurang lebih 60 menit. Namun peneliti dapat fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat proses wawancara. Kemudian nantinya proses wawancara akan direkam dengan menggunakan alat perekam digital. Hasil percakapan wawancara nantinya akan diubah dalam bentuk transkrip verbatim wawancara. Rekaman pembicaraan yang dituliskan nantinya akan digunakan sebagai data penelitian. Kerahasiaan identitas Anda akan terjamin. Peneliti tidak akan membagikan identitas dan hasil pengumpulan data kepada siapapun kecuali pada dosen pembimbing skripsi ini. Nama Anda juga akan dirahasiakan dengan menggunakan nama samaran atau inisial. Anda berhak untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum Anda berpartisipasi. Keikutsertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda juga berhak untuk tidak berpartisipasi atau mundur dari penelitian ini. Dengan berpartisipasi dalam penelitian ini anda juga memberikan sumbangsih yang berarti dalam penelitian dan pengembangan keilmuwan Psikologi pada khususnya guna meningkatkan penerimaan diri para orang tua terhadap kondisi anak Down Syndrome melalui strategi koping dalam menghadapi stres yang timbul dalam proses pengasuhan anak. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, Anda memutuskan secara sukarela untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan Anda menunjukkan kesediaan anda dalam berpartisipasi dalam penelitian ini setelah membaca dan memahami penjelasan yang diuraikan diatas. Anda juga memiliki kesempatan untuk mendiskusikan penelitian ini dengan peneliti. Peneliti Penelitian Veronica Hesti N. E Narasumber

(267) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 249 INFORMED CONSENT FORM Pada kesempatan ini, saya selaku mahasiswa fakultas Psikologi yang sedang menyelesaikan tugas akhir memohon bantuan dan kesediaan Ibu untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini. Penelitian ini mengenai koping strategi ibu dalam merawat dan membesarkan anak dengan Down Syndrome. sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stres tekanan yang dialami ibu yang memiliki anak Down Syndrome dan untuk mengetahui cara ibu dalam mengatasi berbagai stres yang timbul. Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode wawancara secara personal. Wawancara dapat dilakukan kapanpun selama anda merasa nyaman untuk membagikan pengalaman anda. Proses wawancara akan berlangsung kurang lebih 60 menit. Namun peneliti dapat fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat proses wawancara. Kemudian nantinya proses wawancara akan direkam dengan menggunakan alat perekam digital. Hasil percakapan wawancara nantinya akan diubah dalam bentuk transkrip verbatim wawancara. Rekaman pembicaraan yang dituliskan nantinya akan digunakan sebagai data penelitian. Kerahasiaan identitas Anda akan terjamin. Peneliti tidak akan membagikan identitas dan hasil pengumpulan data kepada siapapun kecuali pada dosen pembimbing skripsi ini. Nama Anda juga akan dirahasiakan dengan menggunakan nama samaran atau inisial. Anda berhak untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum Anda berpartisipasi. Keikutsertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda juga berhak untuk tidak berpartisipasi atau mundur dari penelitian ini. Dengan berpartisipasi dalam penelitian ini anda juga memberikan sumbangsih yang berarti dalam penelitian dan pengembangan keilmuwan Psikologi pada khususnya guna meningkatkan penerimaan diri para orang tua terhadap kondisi anak Down Syndrome melalui strategi koping dalam menghadapi stres yang timbul dalam proses pengasuhan anak. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, Anda memutuskan secara sukarela untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan Anda menunjukkan kesediaan anda dalam berpartisipasi dalam penelitian ini setelah membaca dan memahami penjelasan yang diuraikan diatas. Anda juga memiliki kesempatan untuk mendiskusikan penelitian ini dengan peneliti. Peneliti Penelitian Veronica Hesti N. E Narasumber

(268) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 250 LAMPIRAN 3 Surat Keabsahan Hasil Wawancara

(269) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 251 SURAT KETERANGAN KEABSAHAN HASIL WAWANCARA Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama (Inisial): Usia : Menyatakan bahwa telah diwawancarai sebagai subjek penelitian oleh mahasiswa Fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bernama: Nama : Veronica hesti Nur Endahsari NIM : 089114064 Dengan surat keterangan ini saya menyatakan bahwa data wawancara yang diperoleh peneliti adalah benar-benar jawaban yang saya berikan selama proses wawancara dalam…pertemuan. Saya sebagai subjek penelitian menjamin keabsahan hasil wawancara ini. Klaten,……. 2012 ………………….. Subjek Penelitian

(270) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 252 SURAT KETERANGAN KEABSAHAN HASIL WAWANCARA Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama (Inisial): Usia : Menyatakan bahwa telah diwawancarai sebagai subjek penelitian oleh mahasiswa Fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bernama: Nama : Veronica hesti Nur Endahsari NIM : 089114064 Dengan surat keterangan ini saya menyatakan bahwa data wawancara yang diperoleh peneliti adalah benar-benar jawaban yang saya berikan selama proses wawancara dalam…pertemuan. Saya sebagai subjek penelitian menjamin keabsahan hasil wawancara ini. Klaten,……. 2012 ………………….. Subjek Penelitian

(271) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 253 SURAT KETERANGAN KEABSAHAN HASIL WAWANCARA Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama (Inisial): Usia : Menyatakan bahwa telah diwawancarai sebagai subjek penelitian oleh mahasiswa Fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bernama: Nama : Veronica hesti Nur Endahsari NIM : 089114064 Dengan surat keterangan ini saya menyatakan bahwa data wawancara yang diperoleh peneliti adalah benar-benar jawaban yang saya berikan selama proses wawancara dalam…pertemuan. Saya sebagai subjek penelitian menjamin keabsahan hasil wawancara ini. Klaten,……. 2012 ………………….. Subjek Penelitian

(272) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 254 SURAT KETERANGAN KEABSAHAN HASIL WAWANCARA Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama (Inisial): Usia : Menyatakan bahwa telah diwawancarai sebagai subjek penelitian oleh mahasiswa Fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bernama: Nama : Veronica hesti Nur Endahsari NIM : 089114064 Dengan surat keterangan ini saya menyatakan bahwa data wawancara yang diperoleh peneliti adalah benar-benar jawaban yang saya berikan selama proses wawancara dalam…pertemuan. Saya sebagai subjek penelitian menjamin keabsahan hasil wawancara ini. Klaten,……. 2012 ………………….. Subjek Penelitian

(273)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Coping ibu Terhadap kematian anak
0
8
112
Coping stress orang tua yang memiliki anak kecanduan narkoba
0
8
173
Pelaksanaan program peningkatan interaksi sosial anak penyandang down syndrome di SLB Darma Asih
1
5
155
Tumbuh kembang motorik kasar pada anak down syndrome usia golden aage dalam bentuk buku ilustrasi
3
34
33
Hubungan antara persepsi komunikasi interpersonal anak dan ibu dengan coping stress pada remaja.
0
0
139
Cara mendidik dan membesarkan anak
0
0
24
Gambaran dukungan sosial orangtua terhadap anak down syndrome pada usia sekolah dasar - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Gambaran dukungan sosial orangtua terhadap anak down syndrome pada usia sekolah dasar - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
12
Dinamika resiliensi orangtua yang memiliki anak down syndrome - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
20
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Dinamika resiliensi orangtua yang memiliki anak down syndrome - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Dinamika resiliensi orangtua yang memiliki anak down syndrome - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
18
Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang penyakit diare dengan perilaku ibu dalam mengatasi dan mencegah diare pada anak di bawah umur 5 tahun - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
38
Pedoman Wawancara Latar Belakang Subyek: • Sebelum melahirkan anak down syndrome pernahkah anda melihat anak
0
1
32
Perbedaan tingkat kelekatan aman anak dilihat dari status pekerjaan ibu - USD Repository
0
0
131
Coping strategy remaja putri yang mengalami kehamilan di luar perkawinan - USD Repository
0
0
216
Show more