Pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD - USD Repository

Gratis

0
7
257
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN VAN HIELE TERHADAP KEMAMPUAN MEMAHAMI PADA KONSEP GEOMETRI BANGUN DATAR DALAM PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Putri El Pareka NIM: 101134150 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini Penulis persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai, membimbing, dan memberkati setiap langkah ku. 2. Alm. Ayah yang selalu mendoakan di surga, dan Ibu yang selalu menemani. 3. Kakak yang selalu memberikan semangat. 4. Sahabat yang selalu setia. 5. Teman-teman yang selalu memberikan motivasi. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Untuk menikmati hidup kita harus banyak berkarya -Alit Susanto – Bila kegagalan itu bagaikan bakteri dan keberhasilan bagaikan antibodi, maka kita butuh keduanya untuk mendapat immunity -dr. Ferdinan Sirait- v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 10 Juli 2014 Penulis, Putri El Pareka vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Putri El Pareka NIM : 101134150 Demi pengembangan ilmu pengetahuan , saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN VAN HIELE TERHADAP KEMAMPUAN MEMAHAMI PADA KONSEP GEOMETRI BANGUN DATAR DALAM PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SD Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 10 Juli 2014 Yang menyatakan Putri El Pareka vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Pareka, Putri El. 2014. Pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan tipe Nonequivalent control group design. Penelitian ini dilakukan di SD N Ungaran I Yogyakarta, tanggal 3 Maret sampai dengan tanggal 7 April 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD N Ungaran I sebanyak 124 siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas VA sebagai kelas kontrol sebanyak 32 siswa, dan VB sebagai kelas eksperimen sebanyak 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Van Hiele berpengaruh terhadap kemampuan memahami. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan hasil analisis statistik parametrik Independent Samples T-test pada perbandingan selisih skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,69, SE = 0,06, SD = 0,36 dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05). Peningkatan kemampuan memahami pada kelompok eksperimen sebesar 98% dengan efek besar yaitu r = 0,99. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,07, SE = 0,05, SD = 0,32 dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,213 (atau p > 0,05). Peningkatan kemampuan memahami pada kelompok kontrol sebesar 4% dengan efek kecil yaitu r = 0,22. Kata Kunci: Model Pembelajaran Van Hiele, kemampuan memahami, konsep geometri bangun datar, mata pelajaran matematika. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Pareka, Putri El. 2014. The effects of Van Hiele’s teaching model to fith grade students’ competence in understranding the geometrical concepts of plane figures. Thesis. Yogyakarta: Elementary School Teacher Education, Sanata Dharma University. This research was directed to observe the effects of Van Hiele’s teaching methods toward students’ ability in understanding the concepts of plane figures. This research was quasi experimental research with a Nonequivalent control group design type.The research was conducted in SD N Ungaran I Yogyakarta, from March 3 to April 7 2014. There were 124 students in the population, from which 32 students of VA class taken as the control samples, while 32 students from VB class chosen to be the experimental class. The result showed that the teaching model used affected the ability to comprehend. It was obvious based on statistical analytic of the Independent Sample T-test toward the score difference in the pretest and posttest of the experiment and control groups. In experimental group obtained M = 0,69, SD = 0,36, and SE = 0,06 with price of sig. (2-tailed) in amount 0,000 (or p< 0,05). Understanding ability rising in experimental group in amount 98% by big effect from r = 0,99. In Control group obtained M = 0,07, SE = 0,05, SD = 0,32 with price sig. (2-tailed) in amount 0,213 (or p > 0,05). Understanding ability rising in control group amount 4% by small effect from r = 0,22. Keywords: Van Hiele’s teaching model, understanding the geometrical concepts of plane figures, mathematics. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PRAKATA Terima kasih atas semua berkat, karunia dan rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus karena penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul: “PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN VAN HIELE TERHADAP KEMAMPUAN MEMAHAMI PADA KONSEP GEOMETRI BANGUN DATAR DALAM PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SD.” Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan berbagai pihak, sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., selaku Kaprodi PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan dosen Pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis. 3. Laurensia Aptik Evanjeli, S.Psi., Ma., selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan dukungan kepada penulis. 4. Dra. Haniek Sri Pratini, M.pd., selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan demi hasil skripsi yang lebih baik. 5. Segenap dosen dan staf Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, USD, yang telah memberikan pengetahuan dan dukungan dalam menyelesaikan studi Strata 1. 6. Kuswandi, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SD Negeri Ungaran I yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian di SD tersebut. 7. Mulyono, selaku Guru kelas VA yang telah bersedia memberikan masukkan untuk instrumen soal dan RPP yang akan digunakan. 8. Siswa-siswa kelas VA, VB, dan VC SD Negeri Ungaran I yang telah ikut berpartisipasi sebagai subjek penelitian. 9. Teman-teman PPL SD Negeri Ungaran I atas kerjasamanya di sekolah. 10. Sahabat-sahabat tersayang (Shintia, Wulan, Lidia, Ocha, Ayu, dan Henri) yang banyak membantu agar karya ilmiah ini dapat selesai cepat waktu. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Partini selaku ibu yang selalu setia dalam doa, memberi dukungan dan motivasi. 12. Risa Pareka Yuniati selaku kakak yang selalu memberikan semangat, dan Gideon Tegoeh yang selalu mendoakan dari jauh. 13. Keponakan tercinta Duhita Ruci Sahasika yang selalu menjadi motivasi agar karya ilmiah ini dapat selesai cepat waktu. Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini belum sempurna karena masih banyak kekurangan karena keterbatasan kemampuan. Oleh karena itu, peneliti terbuka terhadap masukan, kritik dari semua pihak yang membaca. Peneliti juga berharap semoga karya ilmiah ini berguna bagi semua pihak yang membacanya. Penulis Putri El Pareka xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv HALAMAN MOTTO ..................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Penelitian .................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 4 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 4 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 4 1.4.1 Manfaat Teoretis ............................................................................. 4 1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................................... 5 1.5 Definisi Operasional .............................................................................. 5 BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 7 2.1 Tinjauan Pustaka .................................................................................. 7 2.1.1 Karakteristik Siswa SD .................................................................... 7 2.1.2 Model Pembelajaran ........................................................................ 8 2.1.2.1 Model Pembelajaran Van Hiele ................................................. 10 2.1.2.2 Karakteristik Teori Van Hiele .................................................... 11 2.1.2.3 Tahap-tahap Teori Van Hiele ..................................................... 12 2.1.2.4 Tahap-tahap Belajar Menurut Van Hiele ................................... 14 2.1.2.5 Implikasi Model Pembelajaran Van Hiele Terhadap Pengajaran .................................................................................. 16 2.1.3 Pemahaman ..................................................................................... 19 2.1.3.1 Konsep ....................................................................................... 19 2.1.3.2 Taksonomi Bloom ........................................................................ 20 2.1.3.3 Kategori dalam Dimensi Kognitif ................................................ 23 2.1.3.4 Proses-proses Kognitif dalam Kemampuan Memahami .............. 24 2.1.4 Matematika ....................................................................................... 26 2.1.4.1 Pembelajaran Matematika ........................................................... 27 2.1.4.2 Tujuan Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar .................. 28 2.1.5 Geometri ........................................................................................... 29 2.1.5.1 Bangun Datar .............................................................................. 31 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan ......................................................... 33 2.1.7 Literature Map ................................................................................. 36 2.2 Kerangka Berpikir ................................................................................. 37 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.3 Hipotesis ................................................................................................ 38 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 39 3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................... 39 3.2 Setting Penelitian ................................................................................... 41 3.2.1 Lokasi Penelitian .............................................................................. 41 3.2.2. Waktu Pengambilan Data ................................................................ 42 3.3 Populasi dan Sampel ............................................................................. 43 3.4 Variabel Penelitian ................................................................................ 44 3.5 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 45 3.6 Instrumen Penelitian .............................................................................. 46 3.7 Teknik Pengujian Instrumen ................................................................. 51 3.7.1 Penentuan Validitas .......................................................................... 52 3.7.2 Penentuan Reliabilitas ...................................................................... 54 3.8 Teknik Analisis Data ............................................................................. 55 3.8.1 Uji Normalitas Distribusi Data ......................................................... 55 3.8.2 Uji Pengaruh Perlakuan .................................................................... 56 3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................... 56 3.8.2.2 Selisih Skor Pretest dan Posttest ................................................ 57 3.8.3. Analisis Lebih Lanjut ...................................................................... 58 3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest .................................. 58 3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) .............................. 59 3.8.3.3 Dampak Perlakuan Pada Siswa .................................................. 60 3.8.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut ......................................................... 63 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 64 4.1 Implementasi Pembelajaran .................................................................. 64 4.1.1 Kelompok Eksperimen ..................................................................... 64 4.1.2 Kelompok Kontrol ........................................................................... 67 4.2 Hasil Penelitian ...................................................................................... 68 4.2.1 Uji Pengaruh Penggunaan Model Pembelarajan Van Hiele Terhadap Kemampuan Memahami .................................................. 68 4.2.1.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................... 70 4.2.1.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest ........................................... 71 4.2.2. Analisis Lebih Lanjut ...................................................................... 72 4.2.2.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest .................................... 72 4.2.2.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) ............................... 74 4.3 Pembahasan ........................................................................................... 74 4.3.1 Kemampuan Memahami .................................................................. 74 4.3.2 Dampak Perlakuan Terhadap Siswa ................................................. 76 4.3.2.1 Hasil Observasi ........................................................................... 76 4.3.2.1.1 Kelas Kontrol .......................................................................... 76 4.3.2.1.2 Kelas Eksperimen .................................................................. 77 4.3.3.1 Hasil Wawancara ........................................................................ 79 4.3.3.1.1 Hasil Wawancara Guru .......................................................... 79 4.3.3.1.2.Hasil wawancara Siswa .......................................................... 80 4.3.3 Konsekuensi Lebih Lanjut ................................................................ 81 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 83 5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 83 5.2 Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 83 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.3 Saran ...................................................................................................... 84 DAFTAR REFERENSI .................................................................................. 85 CURRICULUM VITAE ................................................................................. 240 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ................................................................ 42 Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen .................................................. 46 Tabel 3.3 Batasan Perilaku dan Kompetensi .................................................. 47 Tabel 3.4 Rubrik Penilaian .............................................................................. 48 Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Soal ................................................................... 53 Tabel 3.6 Klasifikasi Koefisien Korelasi Reliabilitas Alat Ukur .................... 54 Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Soal Essai ..................................................... 54 Tabel 3.8 Tahap Perkembangan Siswa ........................................................... 61 Tabel 3.9 Karakteristik Penggunaan Model Pembelajaran Van Hiele ............ 62 Tabel 3.10 Pedoman Wawancara Siswa ......................................................... 63 Tabel 3.11 Pedoman Wawancara Guru ........................................................... 63 Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas pada Kemampuan Memahami dengan Kolmogorov-Smirnov ......................................................................... 70 Tabel 4.2 Hasil Uji Perbandingan Skor Pretestt Kemampuan Memahami ................................................................................. 71 Tabel 4.3 Hasil Uji Selisih Skor Kemampuan Memahami ............................. 71 Tabel 4.4 Hasil Uji Perbandingan Skor Kemampuan Memahami .................. 73 Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Besarnya Pengaruh pada Kemampuan Memahami ................................................................................. 74 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Teori Van Hiele tentang Berpikir Geometri ................................ 18 Gambar 2.2 Macam-macam Bangun Datar ..................................................... 33 Gambar 3.1 Desain Penelitian ......................................................................... 40 Gambar 3.2 Skema Variabel Penelitian .......................................................... 44 Gambar 3.3 Rumus Besar Efek (Effect Size) untuk Data Normal ................... 59 Gambar 3.4 Rumus Besar Efek (Effect Size) untuk Data Tidak Normal ............................................................................... 60 Gambar 4.1 Peningkatan skor pretest ke posttest pada kemampuan memahami .......................................................................... 72 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. RPP Kelompok Eksperimen ....................................................... 90 Lampiran 2. RPP Kelompok Kontrol ............................................................... 127 Lampiran 2.1 Soal Essai penelitian ................................................................. 160 Lampiran 2.2 Kunci Jawaban ........................................................................... 165 Lampiran 2.3 Instrumen Validasi Desain Pembelajaran ................................. 169 Lampiran 2.4 Penilaian Terhadap Instrumen Tes ........................................... 170 Lampiran 2.5 Instrumen Validasi Observasi ................................................... 171 Lampiran 3.1 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas ............................................. 172 Lampiran 3.2 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas ........................................ 175 Lampiran 4.1 Hasil Observasi Kelas Eksperimen ........................................... 176 Lampiran 4.2 Hasil Observasi Kelas Kontrol .................................................. 194 Lampiran 4.3 Transkrip Wawancara Guru....................................................... 203 Lampiran 4.4 Transkrip Wawancara Siswa .................................................... 204 Lampiran 5.1 Tabulasi Nilai Pretest dan Posttest ............................................ 206 Lampiran 5.2 Hasil Selisih Skor ...................................................................... 210 Lampiran 6.1 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Memahami ......................... 211 Lampiran 6.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................. 212 Lampiran 6.3 Selisih Skor Pretest dan Posttest Kemampuan Memahami ................................................................................. 213 Lampiran 6.4 Perbandingan Skor Pretest ke Posttest ...................................... 214 Lampiran 6.5 Uji Besar Efek Pengaruh (Effect Size) Kemampuan Memahami ................................................................................. 215 Lampiran 7.1 Hasil Pekerjaan Pretest Siswa ................................................. 216 Lampiran 7.2 Hasil Pekerjaan Posttest Siswa ................................................. 226 Lampiran 8.1 Foto-foto Kegiatan .................................................................... 236 Lampiran 9.1 Surat Keterangan Penelitian ..................................................... 238 Lampiran 9.2 Surat Bukti Telah Melakukan Penelitian .................................. 239 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Dalam bab 1 ini peneliti akan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penilitian, dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002: 263). Pendidikan di sekolah merupakan aspek yang penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan akan melahirkan generasi baru yang cerdas secara kognitif dan mampu mengembangkan potensi dirinya lebih optimal. Di sekolah, siswa akan mempelajari beberapa mata pelajaran, salah satunya matematika. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2001: 7). Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui pembelajaran matematika siswa dapat memahami konsep dasar perkalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan. Konsep tersebut dapat diterapkan di dalam materi pembelajaran matematika seperti, pengerjaan hitung bilangan bulat, perhitungan jarak, waktu, dan kecepatan, pecahan, serta geometri bangun datar dan bangun ruang. Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas (Dahlan dalam Isjoni, 2011: 49). Model pembelajaran juga merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran (Dahlan dalam Isjoni, 2011: 49). Hal tersebut dimaksudkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Guru kelas mempunyai tugas yang penting untuk mendesain pembelajaran, yaitu menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk suatu materi pembelajaran. Guru diberikan kebebasan untuk memilih model pembelajaran apapun yang akan digunakan di kelas. Tidak semua guru menggunakan model pembelajaran yang bersifat 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konvensional. Ada beberapa guru yang sudah mulai menggunakan model pembelajaran inovatif seperti cooperative learning, namun dalam pelaksanaannya di kelas model pembelajaran tersebut belum berjalan sesuai dengan tujuannya. Keadaan tersebut seperti yang peneliti temukan dalam observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 25 September 2013 di sebuah Sekolah Dasar. Masalah-masalah pendidikan di Indonesia kini semakin banyak, sehingga kinerja guru akan dipertanyakan kembali. Mutu pendidikan di Indonesia tahun 2012 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2009. Pada tanggal 3 Desember 2012, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development atau OECD) meluncurkan hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (Program for International Student Assessment atau PISA) tahun 2012. Hasil PISA menunjukkan bahwa di antara 65 negara, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah. Hal ini merupakan penurunan dari hasil PISA tahun 2009 di mana saat itu Indonesia menduduki peringkat 57. Banyak investasi yang dikeluarkan untuk mendukung sektor pendidikan, namun sistem pendidikan di Indonesia tidak mengalami perbaikan. PBB juga melakukan sebuah penelitian tentang pendidikan di Indonesia. Hasil penelitian PBB (Chang, dkk, 2014: 5) menjelaskan bahwa pembiayaan reformasi telah dimungkinkan melalui dana yang berasal dari amanat konstitusi yang mengharuskan pemerintah menghabiskan 20% anggarannya untuk pendidikan. Ini merupakan nilai yang tinggi untuk persentase anggaran yang dihabiskan untuk gaji guru dan profesional. Besarnya penghasilan guru akan disayangkan jika tidak diimbangi dengan kinerjanya. Usaha pemerintah untuk melakukan pembenahan kualitas pendidikan tidak kena sasaran karena guru yang dalam hal ini berada dalam posisi yang paling dekat dengan siswa tidak secara langsung memperbaharui model pembelajarannya. Pengetahuan guru mengenai model pembelajaran harus lebih ditingkatkan, agar tidak menggunakan model pembelajaran yang sama untuk beberapa materi pelajaran. Model pembelajaran harus disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa guru kurang mengerti berbagai model pembelajaran, sehingga guru menggunakan model pembelajaran cooperative learning untuk 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI beberapa mata pelajaran seperti, IPA (Ilmu pengetahuan Alam), matematika, dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Model pembelajaran ini sebenarnya merupakan model pembelajaran yang baik, karena sistem belajar menggunakan kelompokkelompok kecil berjumlah 4 sampai 6 siswa sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar (Isjoni, 2011: 15). Jika model pembelajaran ini digunakan dan diaplikasikan terus menerus ke dalam beberapa mata pelajaran, khususnya mata pelajaran matematika pada konsep geometri bangun datar, model pembelajaran ini belum tepat karena, memahami konsep geometri bangun datar dibutuhkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan tahapan berpikir siswa bukan hanya melalui kerja sama atau diskusi di dalam suatu kelompok. Selama kegiatan pembelajaran matematika berlangsung, siswa belum diarahkan oleh guru untuk mampu memahami suatu konsep dari hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks. Siswa menerima suatu konsep dalam materi yang diberikan oleh guru tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Ketika kegiatan akhir, guru bertanya kepada siswa mengenai materi pelajaran hari ini, dan beberapa siswa saja yang mampu menjawab. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa masih menghafal dan belum mampu memahami konsep dari materi yang diberikan oleh guru. Berdasarkan kenyataan yang ada, peneliti ingin menguji model pembelajaran untuk mata pelajaran matematika khususnya dalam materi geometri bangun datar yaitu model pembelajaran Van Hiele. Pembelajaran matematika dapat menggunakan model pembelajaran Van Hiele untuk membantu proses pembelajaran matematika pada konsep geometri bangun datar kelas V. Taksonomi Bloom ranah kognitif digunakan sebagai acuan dalam proses memahami konsep. Model pembelajaran Van Hiele mengandung teori Van Hiele yang menerapkan beberapa tahapan kemampuan berpikir yang diawali dari tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih rumit atau kompleks. Teori Van Hiele hampir sama dengan taksonomi Bloom, namun taksonomi Bloom menggunakan kata kerja operasional ranah ranah kognitif dalam kemampuan memahami, sedangkan dalam teori Van Hiele menggunakan tahapan teorinya. Jika digabungkan antara teori Van Hiele dengan taksonomi Bloom kemampuan memahami ranah kognitif, akan sangat membantu siswa untuk mengembangkan proses pemahaman yang dimulai dari hal sederhana menuju hal yang lebih kompleks. Model pembelajaran Van 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hiele digunakan sebagai acuan agar teori Van Hiele dan taksonomi Bloom ranah kognitif dapat berjalan secara beriringan sehingga siswa diarahkan untuk memahami konsep dari hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD. Penelitian ini fokus pada Standar Kompetensi 6. Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun dan Komptensi Dasar 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bidang datar. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada mata pelajaran matematika berpengaruh terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada mata pelajaran matematika terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis Hasil penelitian tersebut dapat menjadi salah satu wacana mengenai pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD. 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4.2 Manfaat praktis 1. Bagi kepala sekolah, membantu kepala sekolah untuk lebih mengetahui sejauh mana penggunaan model pembelajaran Van Hiele dalam pelajaran matematika khususnya konsep bangun datar di SD N Ungaran I. 2. Bagi guru, membantu guru untuk mengetahui manfaat model pembelajaran Van Hiele dalam kemampuan memahami melalui konsep geometri bangun datar. 3. Bagi siswa yang terlibat, membantu siswa untuk lebih mengembangkan kemampuan memahami pada mata pelajaran matematika dan membantu membentuk konsep secara mandiri melalui masalah yang diberikan. 4. Bagi peneliti, menambah pengetahuan serta pengalaman mengenai model pembelajaran Van Hiele dalam membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran adalah sebuah sarana untuk membantu proses kegiatan pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 1.5.2 Model pembelajaran Van Hiele adalah model pembelajaran yang berdasarkan pada teori Van Hiele yang terdiri dari lima tahapan belajar yaitu: tahap informasi, tahap orientasi, tahap eksplisitasi, tahap orientasi bebas, dan tahap integrasi. 1.5.3 Kemampuan memahami adalah suatu kemampuan dalam menghubungkan pengetahuan ‘baru’ dan pengetahuan lama, proses-proses kognitif kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom meliputi menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. 1.5.4 Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata 1.5.5 Geometri bangun datar adalah penyajian abstraksi dari pengalaman visual dan spasial misalnya bidang, pola, pengukuran, dan pemetaan, sedangkan 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari sudut pandang matematis geometri merupakan pendekatan- pendekatan dalam pemecahan masalah misalnya melalui gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi. 1.5.6 Bangun datar adalah bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau lengkung . 1.5.7 Matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaiian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan merupakan ilmu pasti. 1.5.8 Siswa SD adalah siswa kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2013/2014 yang menjadi subyek penelitian. 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II landasan teori berisi tinjauan pustaka, kerangka berpikir, dan hipotesis. Tinjauan pustaka membahas teori-teori yang relevan dan beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan terdahulu. Kemudian dirumuskan dengan kerangka berpikir dan hipotesis yang berisi dugaan sementara atau jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Karakteristik Siswa SD Pada umunya siswa SD berada di antara umur 7-12 tahun, sehingga perkembangan kognitif siswa berada pada tahap operasional konkrit (Suparno, 2010: 11). Lebih jelas lagi Sunarto (2008: 24) menjelaskan teori perkembangan kognitif dari Piaget yang terdiri dari tiga tahapan yaitu, masa pra-operasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasinal formal. Piaget mengkategorikan beberapa tahap-tahap berpikir anak seperti berikut: (1) Masa pra-operasional (2-7 tahun) ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Contohnya, seseorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008: 24). Piaget membagi perkembangan kognitif tahap pra-operasional dalam dua bagian: (a) Umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran logis. Piaget membedakan antara “simbol” dan “tanda” dengan “indeks” dan sinyal. Simbol adalah suatu hal yang lebih menyamai dengan yang disimbolkan seperti gambaran dan bayangan. Tanda lebih merupakan sembarang benda yang digunakan tanpa ada kesamaan dengan yang ditandakan. (b) Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif. Menurut Piaget, pemikiran anak pada umur 4-7 tahun berkembang pesat secara bertahap ke arah konsep aktualisasi. Dalam hal ini, anak masih mengambil keputusan hanya dengan aturan-aturan intuitif yang masih mirip dengan tahap sensorimotor. Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia luar tetapi tanpa di nalar terlebih dahulu. Kelemahan pemikiran ini adalah bahwa pemikiran nya searah 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (centred) dimana anak hanya dapat melihat dari satu segi saja. Pada pemikiran ini anak belum dapat melihat pluralitas gagasan tetapi hanya satu persatu. Apabila beberapa gagasan digabungkan, maka pemikiran anak menjadi kacau. Anak pada tahap ini belum dapat berpikir decentred yaitu melihat berbagai segi dalam setu kesatuan. (2) Tahap operasional konkret (7-11 tahun) tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Tahap operasi konkret tetap ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan sesuatu yang kelihatan nyata atau konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis. (3) Tahap operasional formal tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini mereka sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoretis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu. Sebagai contoh, ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti: Kalau sepeda A lebih mahal daripada sepeda B, sedangkan sepeda C lebih murah daripada sepeda B, maka ia dapat menyimpulkan sepeda mana yang paling mahal dan yang mana yang paling murah. Kesimpulannya, ketika mempelajari geometri, siswa akan mempelajari secara efektif apabila pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa seperti yang dikemukakan oleh Piaget. Sesuai dengan teori tingkat perkembangan anak, maka siswa kelas V berada pada periode operasional konkret yang pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan yang logis serta masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkrit, belum bersifat nyata apalagi hopotesis. 2.1.2 Model Pembelajaran Model pembelajaran merupakan sebuah sarana untuk membantu proses kegiatan pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. (Dahlan dalam Isjoni, 2011: 49) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Joyce dan Weil (1980) mengemukakan bahwa setiap model belajar mengajar atau model 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran harus memiliki empat unsur, Pertama sintak (syntax) penjelasan dari pelaksanaan model pembelajaran dalam pelaksanaan dari kegiatan awal, kegiatan inti sampai kegiatan penutup. Kedua sistem sosial (the social system) merupakan hubungan antara guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Setiap model pembelajaran mempunyai variasi yang berbeda berkaitan dengan cara kepemimpinan guru. Pada suatu model guru dapat berperan sebagai fasilitator dan pada model lainnya guru dapat berperan menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi siswa. Ketiga prinsip reaksi (principles of reaction) merupakan respon guru terhadap siswa atau bagaimana cara guru memperlakukan siswa. Setiap model pembelajaran juga mempunyai variasi yang berbeda. Pada suatu model pembelajaran guru memberikan reward terhadap sesuatu yang telah dilaksanakan siswa dengan baik, namun pada model pembelajaran lain guru tidak memberikan reward. Keempat sistem pendukung (support system) merupakan seluruh sarana, bahan dan alat yang dapat digunakan untuk mendukung model pembelajaran tersebut. Berpedoman pada pemikiran Ismail (dalam Widdiharto, 2004: 3), model pembelajaran mempunyai ciri-ciri yang tidak dipunyai oleh strategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Strategi pembelajaran lebih menekankan pada penerapannya di kelas, sedangkan model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Strategi dan model pembelajaran biasanya disesuaikan dengan model pembelajaran yang telah dipilih. Guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya (Sudirman, 2004: 165). Kesimpulannya, guru mempunyai tugas yang sangat penting untuk mendesain suatu proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam suatu materi pembelajaran. Model pembelajaran merupakan sebuah sarana yang berupa kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran harus disesuaikan dengan materi pembelajaran, sehingga guru perlu memahami berbagai model pembelajaran agar 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengetahui ciri-ciri, karakteristik serta tujuan dari model pembelajaran tersebut, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. 2.1.2.1 Model Pembelajaran Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika di Belanda. Model pembelajaran Van Hiele merupakan model pembelajaran yang berdasarkan pada teori Van Hiele yang digunakan dalam pelajaran matematika khususnya geometri. Nur‟aeni (2008: 126-127) mengemukakan bahwa teori Van Hiele bermula dari Van Hiele dan istrinya Dina Van Hiele Geldof yang memperhatikan kesulitan yang dialami oleh siswa ketika mereka belajar mengenai geometri. Pada tahun 1957-1959 pasangan suami istri tersebut mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan kognitif yang dialami oleh siswa ketika mempelajari geometri. Melalui pengamatan ini mengarahkan mereka untuk meneliti dan mengembangkan teori yang melibatkan tingkat pemikiran dalam geometri mulai dari pengenalan sebuah gambar hingga mampu menulis bukti geometri formal. Nur‟aeni (2008: 126) juga mengemukakan bahwa teori Van Hiele menjelaskan kenapa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pelajaran geometri terutama dalam bukti formal. Van Hiele meyakini bahwa untuk menuliskan suatu bukti yang formal memerlukan tingkat pemikiran yang relatif tinggi. Siswa perlu mempunyai banyak pengalaman dalam pemikiran pada tingkat yang lebih rendah dahulu sebelum mempelajari konsep-konsep geometri formal. Van Hiele (dalam Pitajeng, 2006: 41) mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat tiga unsur utama dalam pembelajaran geometri. Ketiga unsur ini terdiri dari, (1) waktu, (2) materi pembelajaran, dan (3) metode pengajaran yang diterapkan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah model pembelajaran Van Hiele merupakan model pembelajaran yang berdasarkan pada teori Van Hiele. Teori Van Hiele terdiri dari beberapa tahapan pemikiran dari yang sederhana menuju hal yang lebih rumit, sehingga siswa perlu mempunyai banyak pemikiran dan pengalaman pada tingkat yang lebih rendah dulu sebelum mempelajari konsep geometri formal. Teori Van Hiele sangat cocok digunakan dalam pelajaran matematika khususnya geometri. 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.2 Karakteristik Teori Van Hiele Clements dan Battista (1992: 426-427) menyatakan bahwa teori Van Hiele mempunyai karakteristik, yaitu (1) belajar adalah suatu proses, terdapat “lompatan” dalam kurva belajar seseorang, (2) tahap-tahap tersebut bersifat terurut dan hirarki, (3) konsep yang dipahami secara implisit pada suatu tahap akan dipahami secara ekplisit pada tahap berikutnya, dan (4) setiap tahap mempunyai makna atau arti sendiri-sendiri. Pada tahap kedua teori Van Hiele yang dikemukakan oleh Clements dan Battista (1992: 426-427) yaitu, tahap-tahap bersifat terurut atau hirarki, dijabarkan lagi oleh Crowley (1987: 4) yang mengemukakan beberapa karakteristik teori Van Hiele secara lebih jelas lagi, yaitu (1) setiap tingkatan bersifat rangkaian yang berurutan, (2) setiap tingkatan mempunyai simbol dan bahasa sendiri, (3) yang implisit pada satu tingkatan akan menjadi eksplisit pada tingkatan berikutnya, (4) bahan yang diajarkan pada siswa diatas tingkatan pemikiran mereka akan dianggap sebagai reduksi tingkatan, (5) kemajuan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya lebih tergantung pada pengalaman pembelajaran bukan pada kematangan usia, (6) siswa melangkah melalui berbagai tahapan dalam melalui satu tingkatan menuju tingkatan berikutnya, (7) siswa tidak dapat memiliki pemahaman pada satu tingkatan tanpa melalui tingkatan sebelumnya, dan (8) peran guru dan peranan bahasa dalam konstruksi pengetahuan siswa sebagai suatu yang krusial. Kesimpulannya, karakteristik utama dalam teori Van Hiele adalah adanya tingkatan atau tahapan yang harus dilalui oleh siswa secara bertahap karena terdapat rangkaian yang berurutan. Siswa tidak dapat mencapai tingkatan yang lebih tinggi jika tingkatan yang rendah belum berhasil dilalui. Peran guru adalah sebagai pendamping karena siswa tidak dapat mencapai setiap tahapan atau tingkatan jika tidak di arahkan oleh guru. 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Tahap-tahap Teori Van Hiele Di dalam teori Van Hiele terdapat lima tahapan untuk memahami geometri. Lima tahapan tersebut mulai dari tahap 0 hingga tahap 4 yang tingkatannya sesuai dengan tahapan berpikir siswa secara berurutan (Nur‟aeni, 2008: 127-128). Walle (2008, 151-154) menjabarkan tahapan dalam teori Van Hiele yaitu, pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi dan akurasi, sebagai berikut: 1. Tahap 0 Pengenalan (Visualisasi/Recognition) Pada tahap ini siswa mulai mengenali gambar-gambar geometri melalui pengamatan saja. Siswa memandang bangun geometri sebagai suatu keseluruhan. Siswa mampu mengenal nama-nama bangun namun belum dapat mengetahui sifat dari masing-masing bangun maupun ciri-ciri dari setiap bangun (Walle 2008: 151152). Misalnya, siswa mengetahui bahwa ini suatu bangun persegi, namun ia belum mampu mengetahui sifat-sifat dari bangun persegi tersebut. Dalam tahap ini, peran guru sangatlah penting. Guru harus mampu mengetahui karakter setiap siswa pada tahap pengenalan karena masing-masing siswa mempunyai karakter yang berbeda-beda. Perlu diingat oleh setiap guru, bahwa dalam hal ini siswa mampu mengenal nama-nama bangun dari hafalan bukan dengan sebuah pengertian. 2. Tahap 1 Analisis Pada tahap ini siswa sudah mampu mengenali sifat-sifat dari setiap bangun geometri, tetapi siswa belum mampu melihat hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain (Walle, 2008: 152-153). Contohnya, siswa mampu menggambar bangun persegi, kemudian ia menyebutkan beberapa sifat bangun persegi seperti, mempunyai 4 sisi yang sama panjang dan mempunyai empat sudut siku-siku, namun siswa belum mampu melihat keterkaitan antara bangun persegi dengan bangun yang lain seperti, persegi merupakan persegi panjang, dan persegi panjang merupakan jajar genjang. 3. Tahap 2 Pengurutan (Abstraksi/Informal Deduction/Ordering) Pada tahap ini kemampuan siswa terhadap kemampuan pemahaman geometri sudah lebih meningkat lagi (Walle, 2008: 153-154). Dalam tahap ini, siswa sudah mampu mengetahui hubungan keterkaitan antara bangun geometri 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang satu dengan bangun geometri yang lain. Siswa juga sudah mampu memahami pengurutan bangun-bangun geometri. Contohnya, pesegi merupakan persegi panjang karena kedua bangun geometri tersebut mempunyai sifat yang sama. Siswa dapat menciptakan definisi yang bermakna dan memberi argument informal untuk membenarkan penalaran mereka. 4. Tahap 3 Deduksi Pada tahap ini siswa sudah mampu mengambil kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus (Walle, 2008: 153-154). Siswa mampu mengkontruksi suatu bukti, memahami peran aksioma dan definisi namun, dalam tahap ini siswa belum mampu memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Sebagai contoh, siswa menunjukkan jumlah sudut segitiga dari bangun persegi panjang. 5. Tahap 4 Akurasi (Rigor) Pada tahap ini siswa sudah mampu memahami aspek-aspek formal dari deduksi, seperti pembentukan dan pembandingan sistem matematika (Walle, 2008: 153-154). Contohnya, siswa pada tahap ini sudah memahami postulat atau dalil yang mendasari bahwa jumlah sudut-sudut segitiga adalah 180 derajat, namun tahap ini merupakan tahapan tertinggi dalam memahami geometri, sehingga memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Biasanya tahap akurasi ini diterapkan di Sekolah Mengah Atas (SMA). Melalui penjabaran tahap-tahap teori Van Hiele tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tahap-tahap dalam teori Van Hiele dimulai dari pemikiran yang sederhana hingga mampu memahami suatu konsep geometri yang lebih kompleks atau rumit yaitu, pengenalan, analisis, pengurutan, desuksi, dan akurasi. Tahapan dalam teori Van Hiele memang menuntut adanya peningkatan proses berpikir siswa, namun siswa sendiri yang akan menentukan kapan saatnya untuk mencapai setiap tingkatannya. Walaupun demikian, siswa tidak akan mencapai kemajuan proses berpikir tanpa bantuan guru. Oleh sebab itu, munculah suatu model pembelajaran Van Hiele yang ditetapkan dalam fase-fase sejalan dengan tahapan dalam teori Van Hiele yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran untuk memcapai tujuan yang telah ditentukan. 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.4 Tahap-tahap Belajar Menurut Van Hiele Kemajuan tingkat berpikir siswa dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya meliputi lima tahapan (Agustine dan Smith, 1992: 227). Crowley (1987: 5) juga berpendapat bahwa kemajuan berpikir siswa dalam geometri meliputi lima tahapan. Kemajuan dari satu tingkatan berpikir menuju tingkatan berpikir selanjutnya tergantung pada pengalaman belajar masing-masing siswa,namun pengalaman belajar ini dapat pula menghambat kemajuan tingkat berpikir siswa jika ia menerima tahapan yang salah atau tidak semestinya. Nur‟aeni (2008: 129) menjabarkan tahapan model pembelajaran Van Hiele untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar matematika khususnya geometri, yang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Tahap 1 Informasi (Information) Guru mengidentifikasi segala hal yang sudah ataupun yang belum diketahui oleh siswa (Nur‟aeni, 2008: 129). Biasanya, cara guru untuk mengidentifikasi hal ini adalah dengan melakukan diskusi dan tanya jawab. Melalui diskusi, siswa dan guru akan terlibat aktif dalam suatu percakapan, pengamatan, kemudian berbagai pertanyaan baru mengenai materi geometri yang akan dipelajari akan mulai muncul dan ditanyakan oleh siswa. Melalui tanya jawab, guru menyampaikan konsep-konsep awal tentang materi yang akan dipelajari. Hal ini bertujuan agar melalui pertanyaan, siswa mampu menyatakan kaitan antara konsep dengan materi geometri yang akan dipelajari. Informasi dari diskusi dan tanya jawab tersebut akan membantu guru untuk mengetahui segala hal yang dimiliki oleh siswa seperti, perbendaharaan bahasa dan interprestasi atas konsepsi-konsepsi awal siswa, sehingga guru mempunyai gambaran terhadap materi yang akan disampaikan selanjutnya. Bagi siswa, diskusi dan tanya jawab yang dilakukan akan membantu siswa untuk memberi arahan mengenai pembelajaran selanjutnya. 2. Tahap 2 Orientasi terarah atau terpadu (Guided Orientation) Siswa mulai mempelajari objek-objek pembelajaran dan tugas-tugas yang distrukturkan secara cermat dan teliti (Nur‟aeni, 2008: 129). Guru mengarahkan siswa untuk memasuki konsep-konsep spesifik dengan tepat. Contohnya, guru meminta siswa untuk mengamati beberapa gambar bangun datar, kemudian 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dikelompokan sesuai dengan jenisnya, apakah termasuk bangun segitiga atau segiempat. Hal ini bertujuan agar memotivasi siswa untuk aktif mengeksplorasi objek-objek dengan melihat sifat-sifat dari masing-masing bangun, sehingga siswa mampu menemukan hubungan antara bentuk dan sifat bangun. Tahap orientasi ini juga bertujuan agar siswa mampu menemukan konsep khusus dari bangun geometri. 3. Tahap 3 Eksplisitasi (Explicitation) Siswa mulai menggambarkan objek-objek (ide geometri, hubungan, pola dan sebagainya) yang telah ia pelajari (Nur‟aeni, 2008: 129). Tugas seorang guru pada tahap ini adalah membantu siswa dalam memilih dan menggunakan kosa kata yang akurat yang dilakukan melalui diskusi. Guru juga mempunyai tugas untuk memperkenalkan istilah-istilah dalam matematika yang relevan. 4. Tahap 4 Orientasi bebas (Free orientation) Pada tahap ini siswa diarahkan untuk memecahkan masalah dengan caranya sendiri (Nur‟aeni, 2008: 129). Siswa akan diberikan tugas-tugas yang lebih kompleks dari tugas sebelumnya. Hal ini bertujuan agar siswa mampu melihat hubungan dan sifat antar bangun, sehingga siswa mampu memperoleh pengalaman baru dengan menggunakan strateginya sendiri. Peran guru adalah memilih materi dan masalah yang sesuai dengan kemampuan siswa untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 5. Tahap 5 Integrasi (Integration) Siswa membuat ringkasan dan mengintegrasikan apa yang telah dipelajari (Nur‟aeni, 2008: 129). Peran guru adalah merancang suatu pembelajaran yang sesuai dengan materi agar siswa mampu merangkum kegiatan pembelajaran melalui proses mengamati, tanya jawab, dan diskusi. Guru juga akan meminta siswa untuk membuat refleksi dan mengklarifikasi pengetahuan siswa yang bertujuan agar menguatkan tekanan pada penggunaan struktur matematika. Model pembelajaran Van Hiele ditetapkan ke dalam fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah fase inkuiri atau informasi, fase orientasi terarah, fase uraian, fase orientasi bebas, dan fase integrasi. Berdasarkan 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tahap-tahap dalam model pembelajaran Van Hiele dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran Van Hiele terdapat proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Proses eksplorasi terjadi pada tahap informasi dan orientasi terarah. Proses elaborasi terjadi pada tahap eksplisitasi dan orientasi bebas. Kemudian, proses konfirmasi terjadi pada tahap integrasi. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap model pembelajaran Van Hiele tidak bertentangan dengan pedoman pelaksanaan pembelajaran yang menyatakan bahwa suatu proses pembelajaran dalam kegiatan inti harus terdapat proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. 2.1.2.5 Implikasi Model Pembelajaran Van Hiele Terhadap Pengajaran Setiap guru harus mampu meninjau perkembangan siswa dalam pemikiran geometri untuk pembelajaran setiap tahunnya. (Walle, 2011: 155-156), menekankan pentingnya pengajaran pada tingkat pemikiran siswa terutama jika menggunakan teori Van Hiele. Penggunaan materi-materi yang terlihat secara fisik dan gambar-gambar merupakan suatu keharusan yang digunakan pada setiap tingkatan dalam teori Van Hiele. Tahapan berpikir kognitif siswa kelas V SD menurut Piaget termasuk dalam kategori operasional konkret, sehingga menggunakan tingkatan teori Van Hiele sampai pada tingkat ke 2 yaitu pengurutan. Walle (2011: 155-156) mengemukakan kegiatan pengajaran pada level 0 dalam geometri yang tepat berupa: (1) pemilihan dan pengelompokan. Meninjau bagaimana bentuk dapat serupa atau berbeda adalah fokus utama pada tingkat 0. Pada tahap-tahap awal siswa akan berbicara tentang sifat-sifat yang kedengarannya bukan sebagai sifat geometri seperti “besar” atau bahkan warna pada tiap-tiap bagian. Ketika siswa belajar lebih banyak materi, jenis benda-benda yang ia perhatikan akan menjadi lebih rumit. (2) Mengandung keragaman contoh yang cukup sehingga aspek-aspek yang tidak relevan tetap penting. Siswa membutuhkan banyak waktu untuk menggambar, membangun, membuat, menggolongkan dan memisahkan bentuk bangun geometri. Kegiatan seperti ini akan lebih baik jika dibuat sekitar karakteristik sifat bangun tertentu, sehingga siswa mampu mengembangkan pemahaman akan sifat-sifat bangun geometri dan mulai menggunakannya secara alami. Bantuan yang dapat diberikan kepada siswa 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk membantu ia berkembang dari tingkat 0 ke tingkat 1 dapat menggunakan sebuah tantangan yang bertujuan untuk menguji ide-ide tentang bentuk bangun geometri dari kategori tertentu. Contohnya, siswa diminta untuk menggambar sebuah segitiga yang tidak mempunyai sudut siku-siku. Kegiatan pengajaran pada level 1 yang tepat berupa: (1) Fokus pada sifatsifat bentuk daripada identifikasi sederhana. Ketika siswa belajar konsep geometri yang baru, maka jumlah sifat-sifat dan bentuk-bentuk bangun geometri dapat dikembangkan. (2) Menerapkan ide ke seluruh kelompok bentuk dengan pemilihan kata “semua” daripada model-model bentuk per individu. Contohnya, semua persegi, semua persegi panjang, semua segitiga dan lain sebagainya. Kemudian, menganalisis kelompok-kelompok bentuk untuk menemukan sifatsifat baru (Walle, 2011: 155-156). Bantuan yang dapat diberikan kepada siswa agar mampu naik dari tingkat 1 ke tingkat 2 adalah dengan memberikan siswa tantangan melalui pertanyaan-pertanyaa. Contohnya, „dimana letak perbedaan antar persegi dan persegi panjang?‟. Kegiatan pengajaran pada level 2 yang tepat berupa: (1) mendorong pengujian hipotesis atau perkiraan. Contohnya, „apakah segitiga yang mempunyai tiga sisi yang sama panjang bisa disebut segitiga sama kaki atau hanya boleh disebut dengan segitiga sama sisi?‟. (2) Menggunakan bahasa deduksi informal seperti: beberapa, semua, jika, maka, tidak satupun, dan sebagainya. (3) Mendorong siswa mencari bukti-bukti informal. Guru dapat meminta siswa untuk memperjelas bukti-bukti informal yang siswa lain atau guru usulkan (Walle, 2011: 155-156). Pada setiap level dari berpikir geometri, ide yang dibuat menjadi fokus pada objek pemikiran untuk level selanjutnya. Seperti pada gambar 2.1 berikut ini. 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bentuk Golongangolongan bentuk Sifat-sifat bentuk Hubungan Di antara sifat Sistem deduktif Analisis sistem Dari sifat sistem deduktif Gambar 2.1 Teori Van Hiele tentang Berpikir Geometri Melalui gambar tersebut, perpindahan tingkat dalam implikasinya terhadap pengajaran harus berkaitan. Seolah-olah berpindah tingkatan namun dengan cara yang tersamarkan, sehingga jika level 0 akan berpindah ke tingkat 1 ada sebuah penghubung yang harus dilalui oleh siswa, hal ini berlaku pada tingkat-tingkat selanjutnya. Kesimpulannya, tahapan berpikir siswa kelas V SD menurut Piaget berada dalam tahap operasional konkrit sehingga menggunakan tingkatan pada teori Van Hiele sampai tahap 2 yaitu, pengurutan. Pengajaran pada level 0 dalam geometri berupa, pemilihan dan pengelompokan. Pengajaran level 1 berupa Fokus pada sifat-sifat bentuk daripada identifikasi sederhana. Pengajaran level 2 berupa mendorong pengujian hipotesis atau perkiraan. Perpindahan level 0 sampai 2 dalam pengajaran harus berkaitan satu sama lain, misalanya dari level 0 akan berpindah ke level 1 akan ada bantuan yang digunakan untuk membantu siswa berpindah level. Begitu juga pada level seterusnya. Level 1 tidak bisa dilalui jika level 0 belum selesai dilalui. 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.3 Pemahaman Pemahaman adalah suatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar (Chaniago, 2002: 427-428). Arikunto (2009: 118-137) mendefinisikan pemahaman (comprehension) adalah bagaimana siswa mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Melalui pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep. Gulo (2005) membedakan tiga jenis pemahaman berdasarkan tahapan berpikir kognitif dalam taksonomi Bloom, yaitu: (1) Translation (pengubahan) yaitu pengalihan dari bahasa konsep ke dalam bahasa sendiri atau pengalihan dari konsep abstrak ke suatu model atau simbol, misalnya mampu mengubah soal kata-kata ke dalam simbol atau sebaliknya. (2) Interpretation (mengartikan) yaitu, menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan bukan pokok, misalnya mampu mengartikan suatu kesamaan. (3) Ekstrapolation (perkiraan) misalnya mampu memperkirakan sesuatu kecenderungan atau gambar. Dengan ektrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat sesuatu dari yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalah. Kesimpulannya, siswa membutuhkan waktu dalam proses memahami. Pemahaman merupakan proses mengerti sesuatu yang dianggap benar. Peran guru adalah membantu siswa agar mampu membentuk suatu konsep secara mandiri dengan cara memahami bukan hanya menghafal. Jika siswa mampu membuktikan suatu konsep, maka ia sudah mampu memahami materi yang merupakan bagian dari konsep tersebut. 2.1.3.1 Konsep Pengertian konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap existensinya. Konsep juga dapat diartikan pembawa arti. Menurut Soedjadi (2000: 14) pengertian konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata. Bahri (2011: 30) pengertian konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa). Guru harus mampu memahami suatu konsep dalam suatu materi pembelajaran sebelum ia mengajarkannya kepada siswa. Konsep yang akan diberikan kepada siswa dimulai dari pemberian materi yang sederhana menuju materi yang lebih kompleks, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa konsep adalah ide yang dinyatakan dengan rangkaian kata dan merupakan bagian yang penting dalam setiap mata pelajaran sesuai dengan kajian ilmu pengetahuan. Sebelum membuat perencanaan pembelajaran, guru harus memahami konsep yang terdapat dalam materi pelajaran yang akan ia sampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. 2.1.3.2 Taksonomi Bloom Utari (2011) menjelaskan pengertian taksonomi yang berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan nomosyang berarti aturan, sehingga taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasaratau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran. Utari (2011) juga menjelaskan mengenai biografi Bloom. Bloom lahir pada tanggal 21 Februari1913 di Lansford, Pennsylvania dan berhasil meraih doktor di bidang pendidikan dari The University of Chicago pada tahun 1942. Sejarah taksonomi Bloom bermula sejak awal tahun 1950 dalam Konferensi Asosiasi. Pada tahun 1956 Bloom, Englehart, Furst, Hill, dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan kemampuan 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi (Anderson dan Krathwohl, 2010: 6). Level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain atau ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Bloom (dalam Anderson dan Krathwohl, 2010: 6) menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai ranah kognitif yang terdiri atas enam level, sebagai berikut: (1) knowledge (pengetahuan), (2) comprehension (pemahaman atau persepsi), (3) application (penerapan), (4) analysis (penguraian atau penjabaran), (5) synthesis (pemaduan), dan (6) evaluation (penilaian). Pada tingkat pengetahuan, siswa menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. Soal yang diberikan menuntut jawaban yang berdasarkan hafalan. Pada tingkat pemahaman: siswa dituntut untuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh suatu prinsip atau konsep. Soal yang diberikan menuntut pembuatan pernyataan masalah dengan kata-kata penjawab sendiri, pemberian contoh prinsip atau contoh konsep. Pada tingkat aplikasi, siswa dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam suatu situasi yang baru. Soal yang diberikan menuntut penerapan prinsip dan konsep dalam situasi yang belum pernah diberikan. Pada tingkat analisis, siswa diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat, dan menemukan hubungan sebab dan akibat. Soal yang diberikan menuntut uraian informatif, penemuan asumsi pembedaan antara fakta dan pendapat, dan penemuan sebab akibat. Pada tingkat sintesis, siswa dituntut menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis, atau teorinya sendiri, dan mengsintesiskan pengetahuan. Soal yang diberikan menuntut pembuatan cerita, karangan, hipotesis dengan memadukan berbagai pengetahuan atau ilmu. Pada tingkat evaluasi, siswa mengevaluasi informasi, seperti bukti sejarah, editorial, teori-teori, dan termasuk di dalamnya melakukan judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. Soal yang diberikan menuntut pembuatan keputusan dan kebijakan , dan penentuan “nilai” informasi. Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dijelaskan oleh Retno Utari (2011) sebagai berikut: Pertama, pada level 1 knowledge diubah menjadi remembering (mengingat). Kedua, pada level 2 comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami). Ketiga, pada level 3 application diubah menjadi applying (menerapkan). Keempat, pada level 4 analysis menjadi analyzing (menganalisis). Kelima, pada level 5 synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta). Keenam, pada level 6 Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai). Lebih lanjut lagi, Utari (2011) menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang harus digunakan dalam menerapkan Taksonomi Bloom, yaitu: (1) Tentukan tujuan pembelajaran. (2) Tentukan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapaiapakah peningkatan knowledge, skills atau attitude. (3) Tentukan ranah kemampuan intelektual dengan kompetensi pembelajaran. (4) Gunakan kata kerja kunci yang sesuai,untuk menjelaskan instruksi kedalaman materi, baik padatujuan program diklat, kompetensi dasar dan indikator pencapaian. Kesimpulannya, ranah kognitif dalam taksonomi Bloom terdiri dari enam level atau tingkatan yang sudah mengalami revisi yaitu, pada level 1 knowledge diubah menjadi remembering (mengingat). Pada level 2 comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami). Pada level 3 application diubah menjadi applying (menerapkan). Pada level 4 analysis menjadi analyzing (menganalisis). Pada level 5 synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta). Pada level 6 Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai). Ranah kognitif dalam taksonomi Bloom yang digunakan sampai sekarang adalah ranah kognitif yang sudah direvisi. Setiap level saling berkaitan sehingga, jika level pertama belum selesai dipahami oleh siswa maka level kedua belum boleh dipelajari, begitu juga untuk level selanjutnya. 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.3.3 Kategori dalam Dimensi Proses Kognitif Ada enam kategori pada dimensi proses kognitif yang termuat dalam taksonomi Bloom (Anderson dan Krathwohl, 2010: 43-45). Pertama, mengingat yaitu proses mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang. Pengetahuan yang dibutuhkan seperti pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, atau metakognitif. Dalam kemampuan mengingat, guru dapat memberikan pertanyaan mengenali atau mengingat kembali dalam kondisi yang sama persis dengan kondisi siswa belajar materi yang diujikan. Pengetahuan mengingat penting sebagai bekal untuk belajar yang bermakna dan menyelesaikan masalah karena pengetahuan tersebut dipakai dalam tugas-tugas yang lebih kompleks. Kemampuan mengingat terdiri dari mengenali dan mengingat kembali. Kemampuan mengenali merupakan proses membandingkan informasi yang lama dengan informasi yang baru saja diterima. Dalam mengenali, siswa mencari suatu informasi dalam memori jangka panjang yang identik atau mirip sekali dengan informasi yang baru diterima. Kemampuan mengingat kembali merupakan proses mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang dan mencari informasi ke memori kerja untuk diproses . Istilah lain untuk mengingat kembali adalah mengambil. Kedua, memahami adalah suatu kemampuan dalam menghubungkan pengetahuan „baru‟ dan pengetahuan lama. Pengetahuan yang baru dipadukan dengan skema-skema dan kerangka-kerangka kognitif yang telah ada. Pengetahuan konseptual menjadi dasar untuk memahami. Ketiga, mengaplikasikan adalah penggunaan prosedur-prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah. Mengimplementasikan berlangsung saat siswa memilih dan menggunakan sebuah prosedur untuk menyelesaikan masalah yang masih asing atau tidak familier. Mengimplementasikan terjadi bersama kategori-kategori proses kognitif lain, seperti memahami dan mencipta. Keempat, menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian-bagian kecil dan menentukan hubungan antara setiap bagian menjadi suatu struktur keseluruhan. Kategori proses menganalisis meliputi proses-proses kognitif membedakan, mengorganisasi, dan mengatribusikan. Kegiatan yang 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan dalam membedakan melibatkan proses-proses memilah bagian-bagian yang relevan atau penting dari sebuah struktur. Mengorganisasi melibatkan proses mengidentifikasi elemen-elemen komunikasi atau situasi dan proses mengenali bagian-bagian untuk membentuk sebuah struktur yang koheren. Mengatribusikan melibatkan proses dekonstruksi, yang di dalamnya siswa menentukan tujuan. Kelima, mengevaluasi didefinisikan sebagai kegiatan membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar. Kriteria-kriteria yang paling sering digunakan adalah kualitas, efektifitas, efisiensi, dan konsistensi. Kategori proses mengevaluai meliputi proses-proses kognitif memeriksa dan mengkritik. Kegiatan memeriksa merupakan proses menguji inkonsistensi atau kesalahan internal dalam suatu operasi atau produk. Kegiatan mengkritik merupakan proses penilaian suatu produk atau proses berdasarkan kriteria sdan standar eksternal. Keenam, mencipta melibatkan proses menyusun elemen-elemen menjadi sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional. Kegiatan mencipta umumnya sejalan dengan pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya yang mengharuskan cara berpikir kreatif. Kesimpulannya, keenam kategori dalam dimensi proses kognitif mempunyai tujuan masing-masing yang akan dicapai. Keenam kategori tersebut meliputi proses mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Kategori-kategori tersebut merupakan tahapan yang harus dilewati satu persatu. Jika kategori pertama belum tercapai tujuannya, maka kategori kedua dan kategori selanjutnya tidak dapat dilewati. 2.1.3.4 Proses-proses Kognitif dalam Kemampuan Memahami Anderson dan Krathwohl (2010: 99-133) menjelaskan lebuh lanjut mengenai proses-proses kognitif kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom yaitu meliputi: kegiatan menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. Menafsirkan: terjadi ketika siswa dapat mengubah informasi dari satu bentuk ke bentuk lain. Menafsirkan berupa pengubahan kata-kata jadi kata-kata lain. Dalam menafsirkan, ketika diberi informasi dalam bentuk tertentu, siswa dapat mengubahnya jadi bentuk lain. 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mencontohkan terjadi ketika siswa memberikan contoh tentang konsep atau prinsip umum. Mencontohkan melibatkan proses identifikasi ciri-ciri pokok dari konsep atau prinsip umum. Contohnya, segitiga sama kaki harus mempunyai dua sisi yang sama panjang, dengan menggunakan ciri-ciri segitiga tersebut siswa mampu memilih atau membuat contoh misalnya, siswa mampu memilih segitiga sama kaki dati tiga segitiga yang ditunjukan. Dalam proses kognitif mencontohkan, siswa diberi sebuah konsep dan mereka harus memilih atau membuat contohnya yang belum pernah mereka jumpai dalam pembelajaran. Mengklasifikasikan, proses ini terjadi ketika siswa mengetahui bahwa sesuatu (misalnya, suatu contoh) termasuk dalam kategori tertentu (misalnya, konsep atau prinsip). Mengklasifikasikan melibatkan proses mendeteksi ciri-ciri atau pola-pola yang “sesuai” dengan contoh dan konsep atau prinsip tersebut. mengklasifikasikan adalh proses kognitif yang melengkapi proses mencontohkan. Merangkum, proses kognitif ini terjadi ketika siswa mengemukakan satu kalimat yang mempresentasikan informasi yang diterima atau mengabstraksikan sebuah tema. Merangkum melibatkan proses membuat ringkasan informasi. Siswa diberikan suatu informasi, kemudian mereka membuat rangkuman atau mengabstraksikan sebuah tema. Nama lain untuk merangkum adalah menggeneralisasi dan mengabstraksi. Menyimpulkan, proses kognitif ini menyertakan proses menemukan pola dalam sejumlah contoh. Menyimpulkan terjadi ketika siswa dapat mengabstraksikan sebuah konsep atau prinsip yang menerangkan contoh-contoh tersebut dengan mencermati ciri-ciri setiap contohnya dan, yang palin penting, dengan menarik hubungan di antara ciri-ciri tersebut. Proses menyimpulkan melibatkan proses kognitif membandingkan keseluruhan contohnya. Membandingkan, melibatkan proses mendeteksi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek, peristiwa, ide, masalah, atau situasi. Siswa diberi informasi baru, kemudian mereka mendeteksi keterkaitannya dengan pengetahuan yang sudah mereka peroleh sebelumnya. Nama lain dari membandingkan adalah mengontraskan,memetakan dan mencocokan. 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menjelaskan, proses ini berlangsung ketika siswa dapat membuat dan menggunakan model sebab-akibat dalam sebuah sistem. Dalam menjelaskan, ketika siswa diberi gambaran tentang sebuah sistem, mereka menciptakan dan menggunakan model sebab-akibatnya. Nama lain dari menjelaskan adalah membuat model. Kesimpulannya, proses-proses kognitif kemampuan memahami terdiri dari kegiatan menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. Proses-proses kognitif tersebut merupakan suatu proses yang berurutan dari kegiatan yang satu menuju kegiatan selanjutnya. Masing-masing kegiatan dalam proses kognitif kemampuan memahami mempunyai hubungan keterkaitan, sehingga dapat membantu siswa dalam memahami suatu materi dari kegiatan yang sederhana terlebih dahulu menuju kegiatan yang lebih kompleks. 2.1.4 Matematika Matematika mempunyai arti “belajar atau hal yang dipelajari” (Susanto, 2013: 183-185). Dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2001: 7). Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antar konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada pemikiran tertentu, tetapi pemikiran ini tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argumen yang konsisten. Susanto (2013: 185) dalam bukunya yang berjudul “Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar” menyampaikan pendapatnya lebih dalam lagi bahwa matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaiian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI matematika sebagai ilmu dasar perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak usia sekolah dasar. Kesimpulannya, matematika merupakan ilmu pasti yang bekerja melalui penalaran deduktif yang bekerja atas asumsi atau kebenaran konsistensi. Matematika perlu ditanamkan kepada siswa sejak usia sekolah dasar karna akan sangat membantu kemampuan berpikir dan berargumentasi siswa dalam penyelesaiian masalah sehari-hari. 2.1.4.1 Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu (Corey dalam Sagala, 2013). Pembelajaran dalam pandangan Corey sebagai upaya menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa berubah tingkah lakunya. Adapun menurut Dimyati (2006), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran berarti aktivitas guru dalam merancang bahan pengajaran agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif, yakni siswa dapat belajar secara aktif dan bermakna. Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika (Susanto, 2013: 186). Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa bersamasama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif. Pada hakikatnya, matematika tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, dalam arti matematika memiliki kegunaan yang praktis dalam kegiatan seharihari. Menurut Hans Freudental dalam Marsigit (2008), matematika merupakan aktivitas jasmani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI demikian, matmatika merupakan cara berpikir logis yang dipresentasikan dalam bilangan, ruang, dan aktivitas insani tersebut. Kesimpulannya, proses pembelajaran matematika dapat terlaksana dengan baik apabila melibatkan seluruh siswa dan guru sebagai pelakunya. Semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan masalah secara cermat dan teliti mau tidak mau harus berpalng kepada matematika. 2.1.4.2 Tujuan Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Secara umum, tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah agar siswa mampu terampil menggunakan matematika (Susanto, 2013: 189) . Menurut Depdiknas (2001), kompetensi atau kemampuan umum pembelajaran matematika di sekolah dasar, sebagai berikut: 1) Melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian beserta operasi campurannya, termasuk yang melibatkan pecahan. 2) Menentukan sifat dan unsur berbagai bangun datar dan bangun ruang sederhana, termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan voleme. 3) Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat. 4) Menggunakan pengukuran satuan, kesetaraan antar satuan, dan penaksiran pengukuran. 5) Menentukan dan menafsirkan data sederhana seperti: ukuran tertinggi, terendah, rata-rata, modus, mengumpulkan, dan menyajikan. 6) Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengkomunikasikan gagasan secara matematika. Secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar, sebagaimana yang disajikan oleh Depdiknas (2001), sebagai berikut: 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solisi yang diperoleh. 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel. Diagram, atau media lain untuk menyelesaikan keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kesimpulannya, tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai apabila seorang guru menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif membentuk, menemukan, dan mengembangkan pengetahuannya. 2.1.5 Geometri Salah satu materi pelajaran dalam mata pelajaran matematika di SD adalah geometri dan pengukuran. Burger dan Shaughnessy (1993: 140) berpendapat bahwa dari sudut pandang psikologi geometri merupakan penyajian abstraksi dari pengalaman visual dan spasial misalnya bidang, pola, pengukuran, dan pemetaan. Sedangkan dari sudut pandang matematis geometri merupakan pendekatanpendekatan dalam pemecahan masalah misalnya melalui gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi. Usiskin (1987: 26-27) mengemukakan 4 unsur dalam geometri yaitu: (1) geometri merupakan cabang matematika yang mempelajari pola-pola visual, (2) geometri merupakan cabang matematika yang menghubungkan matematika dengan dunia fisik atau dunia nyata, (3) geometri adalah suatu cara penyajian fenomena yang tidak tampak atau tidak bersifat fisik, dan (4) geometri merupakan suatu contoh sistem matematika. Melalui pembelajaran geometri, siswa mampu berpikir logis, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, serta dapat mendukung banyak fenomena lain dalam matematika (Kennedy, 1994). Budiarto (2000: 439) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran geometri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, mengembangkan intuisi keruangan, menanamkan pengetahuan untuk menunjang materi yang lain, dan dapat membaca serta menginterpretasikan argumen-argumen matematik. Materi geometri di sekolah dasar terkandung dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Berikut merupakan pemetaan kompetensi dasar geometri dan pengukuran dalam bagan 2.1 berikut. 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Geometri dan Pengukuran Pengukuran Kelas 1 2. Menggunakan pengukuran waktu dan panjang. 5. Menggunakan pengukuran berat. Kelas 2 2. Menggunakan pengukuran waktu, panjang, berat, dalam pemecahan masalah. Kelas 3 2. Menggunakan pengukuran waktu, panjang dan berat dalam pemecahan masalah. Konsep bangun datar dan bangun ruang Kelas 2 4. Mengenal unsur-unsur bangun sederhana/. Kelas 3 4. Memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana. 5. Menghitung keliling, luas persegi dan persegi panjang, serta penggunaannya dalam pemecahan masalah. Kelas 4 3. Menggunakan pengukuran sudut, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah. Kelas 5 2. Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak dan kecepatan dalam pemecahan masalah. Kelas 6 2. Menggunakan pengukuran volume/waktu dalam pemecahan masalah. 6. Menggunakan system koordinat dalam pemecahan masalah. Kelas 4 4. Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah. 8. Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar. Kelas 5 3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. 4. Menghitung volume kubus dan balok dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. 6. Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun. Kelas 6 3. Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga. Bagan 2.1 Geometri dan Pengukuran 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Geometri dalam mata pelajaran matematika di sekolah dasar dibedakan menjadi dua yaitu, pertama geometri bangun datar, kedua geometri bangun ruang. Jika dilihat dari pemetaan kompetensi dasar tersebut, materi geometri bangun datar dan bangun ruang sudah diberikan sejak siswa kelas satu hingga kelas enam. Dari pemetaan tersebut terlihat bahwa konsep geometri yang diberikan kepada siswa dimulai dari materi yang sederhana kemudian berlanjut ke materi yang lebih konpleks. Geometri bangun datar merupakan studi tentang titik, garis, sudut, dan bangun-bangun geometri yang terletak pada sebuah bidang datar. 2.1.5.1 Bangun Datar Bangun datar dapat didefinisikan sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal (Walle, 2008: 125). Soenarjo (2007: 225) mendefinisikan bangun datar merupakan bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau lengkung. Dalam kehidupan sehari-hari mengambil contoh bangun datar tidaklah mudah. Misalkan diambil contoh kertas koran, jika diamati benda tersebut mempunyai panjang dan lebar namun juga memiliki tebal dan tinggi. Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa bangun datar adalah abstrak. Soenarjo (2007: 226) menjelaskan bahwa ada dua jenis bangun, yaitu bangun datar dan bangun ruang. Bangun datar disebut juga bangun 2 dimensi (2D), dan bangun ruang disebut juga bangun 3 dimensi (3D). Tiap bangun mempunyai sifat-sifat, yang membedakan dengan bangun lainnya. Bangun datar berbeda dengan bangun ruang, karena sifatnya yang berbeda. Bahkan di antara bangun-bangun datar, atau bangun-bangun ruang sendiri, terdapat sifat-sifat yang berbeda. Sumanto (2007: 128-144) menjelaskan pengertian dari masing-masing bangun datar tersebut yaitu, 1) Segitiga adalah bangun datar yang memiliki tiga sisi dan tiga titik sudut. Segitiga terdiri dari beberapa jenis seperti: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, segitiga siku-siku, dan segitiga sembarang. Masingmasing jenis bangun segitiga mempunyai sifat yang berbeda-beda. Segitiga sama sisi mempunyai tiga sisi yang sama panjang dan masing-masing sisi besarnya 60 . Segitiga sama kaki mempunyai dua sisi yang sama panjang. Segitiga siku-siku mempunyai salah satu sudut yang besarnya 90 . Segitiga sembarang mempunyai 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ketiga sisi yang besarnya berbeda. 2) Persegi panjang adalah bangun datar yang sisi berhadapan sama panjang dan keempat sudutnya siku-siku. Persegi panjang mempunyai beberapa sifat yaitu, sisi yang berhadapan sama panjang atau mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang, dan keempat sudutnya siku-siku atau besar keempat sudutnya 90 . 3) Persegi adalah bangun datar yang keempat sisinya sama panjang dan keempat sudutnya siku-siku. Persegi mempunyai beberapa sifat yaitu, mempunyai empat sisi yang sama panjang, dan keempat sudutnya siku-siku atau besar keempat sudutnya 90 . 4) Trapesium adalah bangun datar segiempat yang dua buah sisi yang berhadapan sejajar. Sifat yang dimiliki bangun trapesium adalah mempunyai dua buah sisi yang berhadapan sejajar. 5) Jajar genjang adalah bangun datar segiempat dengan sisi-sisinya yang berhadapan sama panjang. Jajar genjang mempunyai beberapa sifat yaitu, mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang atau sisisisi yang berhadapan sama panjang, dan keempat sudutnya bukan siku-siku. 6) Belah Ketupat adalah bangun datar segiempat yang keempat sisinya sama, dan sudut-sudut yang berhadapan sama besar. Belah ketupat mempunyai beberapa sifat, yaitu empunyai empat sisi yang sama panjang, sudut-sudut yang berhadapan sama besar, dan kedua diagonal berpotongan tegak lurus dan saling membagi dua sama panjang. 7) Layang-layang adalah bangun datar segiempat yang salah satu diagonalnya memotong tegak lurus sumbu diagonal lainnya. Layang-layang mempunyai beberapa sifat yaitu, mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang atau sisi-sisi yang berhadapan sama panjang, mempunyai satu sumbu simetri, mempunyai sepasang sudut yang berhadapan sama besar, dan salah satu diagonalnya memotong tegak lurus diagonal lainnya. 8) Lingkaran adalah bangun datar yang jarak setiap titik pada sisinya dengan pusat lingkaran selalu sama. Lingkaran mempunyai beberapa sifat yang dimiliki yaitu, mempunyai titik pusat (P), mempunyai jari-jari (r) dan mempunyai diameter (d). Jari-jari adalah ruas garis yang menghubungkan pusat lingkaran ke seberang titik pada lingkaran. Diameter adalah tali busur yang melalui pusat lingkaran. Macammacam bangun datar seperti pada gambar 2.2 berikut ini. 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 2 4 1 7 r P r 6 5 8 d Gambar 2.2 Macam-macam Bangun Datar Keterangan: 1 (bangun datar segitiga), 2 (bangun datar persegi panjang), 3 (bangun datar persegi), 4 (bangun datar trapesium), 5 (bangun datar jajargenjang), 6 (bangun datar belah ketupat), 7 (bangun datar layang-layang), 8 (lingkaran). Kesimpulannya, bangun datar merupakan bangun dua dimensi yang terdiri dari bangun datar segitiga, persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan lingkaran. Kedelapan bangun datar tersebut mempunyai pengertian yang berbeda karena masing-masing bangun datar mempunyai sifat yang berbeda pula. Bangun datar tersebut merupakan materi geometri bangun datar yang dipelajari di sekolah dasar. 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan Nur‟aeni (2008) meneliti penggunaan teori Van Hiele dalam komunikasi matematika. Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang diajarkan di SD. Banyak siswa SD yang masih mengalami kesulitan dalam mempelajari dan memahami konsep geometri. Berkenaan dengan masalah tersebut ada suatu teori pembelajaran yaitu teori Van Hiele yang mampu membantu siswa untuk mempelajari dan memahami konsep geometri. Model pembelajaran dengan 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan teori Van Hiele merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat membantu siswa SD dalam memahami konsep dasar geometri dan komunikasi matematik. Wahyuni (2012) meneliti efektifitas penerapan model pembelajaran Van Hiele terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya perbedaan antara rata-rata pretest dan posttest. Penelitian merupakan penelitian eksperimen, jenis Pre-Eksperimental Design. Desain penelitian eksperimen ini adalah One-Group Pretest Posttest Design. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika, dan variable bebasnya adalah model pembelajaran Van Hiele. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VB SD N Bringin 01. Rata-rata hitung (mean) pretest adalah 59,25 sedangkan posttest adalah 82, 50 setelah diberikan beberapa penerapan teori Van Hiele. Hasil penelitian dalam uji t menunjukkan signifikasi 0,05 t lebih besar daripada t (22,366 0,000 dan 2,069). Kesimpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran Van Hiele efektif digunakan dalam pelajaran matematika siswa kelas V SD N Beringin 01 semester II tahun pelajaran 2011/2012. Huzaifah (2011) meneliti peningkatkan pemahaman konsep geometri siswa dengan menggunakan teori Van Hiele. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan pemahaman konsep geometri khususnya bangun datar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep dari setiap siklusnya, yaitu pada siklus I sebesar 63,3 dan siklus II sebesar 71,8. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penggunaan teori Van Hiele dapat meningkatkan pemahaman konsep geometri siswa. Sari (2012) meneliti taksonomi Bloom ranah pengetahuan kognitif Marzano. Jurnal ini bertujuan untuk melihat bagaimana perbedaan taksonomi Bloom yang belum direvisi dan yang sudah direvisi, serta menjelaskan ranah kognitif marzano. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dalah sebagai berikut: 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada level 1 knowledge diubah menjadi remembering (mengingat). Pada level 2 comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami). Pada level 3 application diubah menjadi applying (menerapkan). Pada level 4 analysis menjadi analyzing (menganalisis). Pada level 5 synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta). Pada level 6 Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai). Sampai saat ini yang digunakan adalah hasil revisi ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Gunawan dan Retno Palupi (2011) meneliti taksonomi Bloom revisi ranah kognitif. Taksonomi Bloom ranah kognitif merupakan landasan dasar pengkategorian tujuan-tujuan pembelajaran. Tingkatan dalam taksonomi Bloom terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Revisi dari taksonomi Bloom dilakukan oleh Krathwohl dan Anderson menjadi mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, dan mencipta. Hasil penelitian relevan yang tertulis di atas dilakukan di SD. Penelitian tentang model pembelajaran Van Hiele dan kemampuan memahami pada taksonomi Bloom ranah kognitif di atas merupakan penelitian dalam skripsi dan jurnal. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian eksperimen, dan penelitian tindakan kelas. Semua hasil penelitian relevan yang diungkapkan menunjukkan bahwa ada peningkatan dan terdapat pengaruh pada penelitian yang dilakukan. Walaupun hasil penelitian yang yang tertulis sudah relevan namun penelitian-penelitian tersebut belum ada yang membahas pengaruh model pembelajaran Van Hiele untuk kemampuan memahami konsep geometri bangun datar. Maka dari itu, peneliti akan membuat penelitian baru untuk memperkaya, memberi sudut pandang dan memberi sumbangan dalam penelitian sebelumnya. 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5.2 Literature Map Model PembelajaranVan Hiele Nur’aeni (2008) Teori Van Hiele dan komunikasi matematika Kemampuan Memahami Sari (2012) Taksonomi Bloom ranah pengetahuan kognitif Marzano Wahyuni (2012) Penerapan model pembelajaran Van Hiele terhadap hasil belajar matematika bagi siswa kelas V SD Gunawan dan Retno Palupi (2011) Taksonomi Bloom revisi ranah kognitif: kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran dan penilaian Huzaifah (2011) Pemahaman konsep geometri siswa dengan menggunakan teori Van Hiele Yang perlu diteliti: Model pembelajaran Van Hiele - kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar Bagan 2.2 Penelitian Sebelumnya 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Model pembelajaran Van Hiele mempunyai tahapan atau tingkatan berpikir siswa secara kognitif. Kemampuan memahami diperoleh dari taksonomi Bloom dalam ranah kognitif. Kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom dapat berjalan beriringan dengan teori Van Hiele, karena mempunyai tahapan berpikir yang hampir sama. Model pembelajaran Van Hiele dipilih oleh peneliti karena masih banyak siswa yang salah konsep ketika mereka belajar geometri bangun datar. Memahami konsep dimulai dari materi atau hal yang sederhana menuju hal atau materi yang lebih kompleks. Guru harus memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi geometri bangun datar, agar siswa dilatih untuk memahami suatu konsep melalui materi yang sederhana terlebih dahulu. Model pembelajaran Van Hiele merupakan model pembelajaran yang sesuai untuk mengolah kemampuan memahami siswa dalam konsep geometri bangun datar karena di dalam model pembelajaran Van Hiele terdapat tahap-tahap belajar yang memfasilitasi kemampuan memahami siswa dalam ranah kognitif taksonomi Bloom. Tahapan-tahapan belajar ini dimulai dari hal-hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks. Jika guru ingin menerapkan model pembelajaran Van Hiele ke dalam materi geometri bangun datar, maka guru harus mengerti tahapan model pembelajaran ini. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) disusun dengan berpedoman pada kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom ranah kognitif yang digunakan untuk membuat indikator-indikator yang akan dicapai oleh siswa. Kelas eksperimen dan kelas kontrol ditentukan oleh peneliti dengan cara undian. Jika tahapan dalam model pembelajaran Van Hiele diterapkan sejalan dengan teori Van Hiele, dan telah disesuaikan dengan kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom, maka akan ada kemungkinan bahwa siswa mampu mengembangkan kemampuan memahami dalam konsep geometri bangun datar secara optimal. Salah konsep yang banyak terjadi di SD mengenai geometri bangun datar dapat dibenarkan dan diarahkan menuju konsep yang tepat. Oleh sebab itu peneliti memilih judul penelitian “Penerapan Model Pembelajaran Van 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hiele Terhadap Kemampuan Memahami Pada Konsep Geometri Bangun Datar Dalam Pelajaran Matematika Kelas V SD”. Model Pembelajaran Van Hiele Teori Van Hiele Kemampuan Memahami Tahap-tahap Belajar Konsep Geometri Bangun Datar Skema 2.1 Kerangka Berpikir 2.3 Hipotesis 2.3.1 Penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada pelajaran matematika berpengaruh terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab III dibahas metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, jenis penelitian, populasi dan sampel, waktu penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas instrument, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif, dengan metode penelitian yang digunakan yaitu Quasi experimental tipe nonequivalent control group design. Ada empat jenis penelitian eksperimen menurut Sugiyono (2011: 109-118) yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu Pre-Experimental Design, True Experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design. Desain penelitian Quasi experimental mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2011: 116-117). Kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random, karena peneliti tidak memiliki wewenang untuk merubah komposisi kelas, sehingga kelompok yang digunakan sesuai dengan kelas yang ada. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD. Dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan diberi pretest dan posttest. Treatment hanya dilakukan pada kelompok eksperimen (Cresswell, 2003: 242). Pretest dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan awal dari masing-masing kelompok. Dengan kata lain, pretest ini menjadi tolak ukur yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa. Kelompok eksperimen akan diberi treatment dalam pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Pengaruh treatment dihitung dalam tiga langkah: (1) kurangi rerata skor posttest dengan pretest untuk kelompok eksperimen agar menghasilkan skor 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1; (2) kurangi rerata skor posttest dengan pretest untuk kelompok kontrol untuk menghasilkan skor 2; dan (3) kurangi skor 1 dengan skor 2 (Campbell dan Stanley Cohen, 2007: 276). Efek dari intervensi eksperimental akan menghasilkan rumus: (O2 - O1) – (O4 – O3). Jika hasilnya negatif maka tidak ada pengaruh dan sebaliknya jika hasilnya positif maka terdapat pengaruh. Berdasarkan penjelasan di atas, rancangan penelitian dengan tipe nonequivalent control group desain mengenai pengaruh model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar dalam pelajaran matematika kelas V SD adalah (O2-O1)-(O4-O3). Lebih jelasnya lagi adalah seperti gambar 3.1 berikut (Sugiyono, 2011: 118). O1 X O2 --------------------------- O3 O4 Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan : X = Treatment yaitu model pembelajaran Van Hiele O1 = Rerata skor pretest kelompok eksperimen O2 = Rerata skor posttest kelompok eksperimen O3 = Rerata skor pretest kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttest kelompok kontrol O1 dan O3 merupakan kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa sebelum treatment perlakuan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Van Hiele. O2 adalah kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Van Hiele. O4 adalah kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Pada akhir penelitian siswa akan diberi posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk mengetahui perbedaan kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa antara kedua kelompok tersebut. Hasil 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol menjadi data yang akan dianalisis. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD N Ungaran I semester genap tahun ajaran 2013/2014. SD N Ungaran 1 Yogyakarta adalah salah satu SD teladan yang berada di Yogyakarta. Lingkungan dan fasilitas sekolah sangat mendukung terciptanya iklim belajar mengajar yang baik. SD N Ungaran I terletak di jalan Serma Taruna ( sebelah selatan ) dan di jalan Pattimura (sebelah utara) berada di wilayah kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kodya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti memilih SD ini karena selain bersamaan dengan program PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma, peneliti juga tertarik untuk meneliti pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar kelas V karena dari hasil observasi yang dilakukan guru mengunakan model pembelajaran yang sama untuk beberapa materi pembelajaran, padahal model pembelajaran harus disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. Selain hal itu, sekolah ini mempunyai kelas dengan paralel yang banyak yaitu kelas A sampai D sehingga dapat digunakan untuk penelitian jenis eksperimen, karena dalam penelitian eksperimen membutuhkan lebih dari satu kelas yaitu sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Gedung SD N Ungaran I dibangun secra permanen yang terdiri dari 2 lantai. Pada lantai 1 terdiri dari kelas I AC1, I B, I C, I D, I E, II AC1, II B, II C, II D, II E, III A, III B, IV A, IV B, IV C, IV D, IV E, V B, V C, dan VD. Ruangan lain yang ada di lantai di antaranya ruang kepala sekolah,ruang guru, ruang TU, Dapur, UKS, kamar mandi, perpustakaan, kantin, dan koperasi sekolah. Pada lantai 2 terdiri dar kelas III C, III D, III E, V A, VI A, VI B, VI C, VI D, dan VI E. Ruangan lain yang ada di lantai 2 di antaranya ruang komputer, aula, ruang 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perpustakaan, dan kamar mandi. Ukuran ruangan sudah mencukupi untuk jumlah siswa yang rata-rata berjumlah 30-37 siswa. Sekolah ini memiliki 87 guru dan karyawan, serta 840 siswa. Penentuan masing-masing kelas di setiap tingkatnya yaitu A, B, C dan D juga tidak ditentukan dengan prestasi sehingga sekolah ini mendukung untuk penelitian jenis eksperimen. Fasilitas di SD N Ungaran I cukup lengkap seperti: ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang kelas, perpustakaan, ruang komputer, ruang kesenian, mushola, kamar mandi, ruang pertemuan, UKS, koperasi sekolah, dapur, ruang tata usaha, ruang fotokopi, kantin, pos satpam, ruang tunggu bagi orangtua murid, tempat parkir, telpon umum, dan wifi. SD ini sangat luas karena sebelumnya merupakan gabungan dari SD N ungaran 1, 2 dan, 3. 3.2.2 Waktu Pengambilan Data Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan selama bulan Maret April 2014. Berikut adalah jadwal pengambilan data pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada tabel 3.1. Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data Hari / tanggal Senin / 3 Maret 2014 Jumat / 14 Maret 2014 Senin / 17 Maret 2014 Kelompok Kelas VC Kontrol (VA) Kontrol (VA) Selasa / 18 Maret 2014 Kontrol (VA) Rabu / 19 Maret 2014 Kontrol (VA) Kamis / 20 Maret 2014 Sabtu / 22 Maret 2014 Kontrol (VA) Eksperimen (VB) Eksperimen (VB) Senin / 24 Maret 2014 Selasa / 25 Maret 2014 Eksperimen (VB) Kegiatan Melaksanakan uji coba soal Melaksanakan pretest Pertemuan pertama Materi: bentuk-bentuk dan sifat bangun datar Pertemuan kedua Materi: mengklasifikasikan dan membandingkan bentukbentuk bangun datar berdasarkan sifatnya Pertemuan ketiga Materi: definisi dan hubungan definisi setiap bangun datar Melaksanakan posttest Melaksanakan pretest Alokasi Waktu 12.00 - 13.10 07.00 - 08.10 07.35 - 08.45 Pertemuan pertama Materi: bentuk-bentuk dan sifat bangun datar Pertemuan kedua Materi: mengklasifikasikan dan membandingkan bentukbentuk bangun datar. 07.35 - 08.45 07.00 - 08.10 07.00 - 08.10 09.35 - 10.10 09.35 - 10.10 09.00 - 10.10 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hari / tanggal Kamis / 27 Maret 2014 Kelompok Eksperimen (VB) Jumat / 28 Maret 2014 Eksperimen (VB) Kegiatan Pertemuan ketiga Materi: definisi dan hubungan definisi setiap bangun datar Melaksanakan posttest Alokasi Waktu 10.10 – 11.20 07.00 - 08.10 3.3 Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010: 119). Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2010: 120). Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah siswa kelas V Sekolah Dasar di daerah Yogyakarta. Peneliti memilih SD N Ungaran I karena SD ini memiliki kelas pararel yang cukup banyak, yakni dari kelas A sampai D, sehingga memungkinkan peneliti untuk menggunakan sekolah ini sebagai obyek penelitian Quasi experimental design tipe nonequivalent control group. Peneliti menguji pengaruh model pembelajaran Van Hiele pada pelajaran matematika ke dalam konsep geometri bangun datar. Pemilihan kelas V sebagai kelas dalam penelitian didasarkan pada jenis materi konsep bangun datar kelas V yang dapat menggunakan model pembelajaran Van Hiele saat kegiatan pembelajaran. Bentuk soal yang digunakan adalah essai karena dianggap dapat membantu peneliti untuk mengetahui kemampuan memahami konsep geometri bangun datar pada siswa. Standar kompetensi yang digunakan adalah SK 6. Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun, serta kompetensi dasar yang digunakan adalah KD 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bidang datar, yang pada proses pembelajarannya akan menuntut siswa untuk meningkatkan serta mengolah kemampuan memahami konsep geometri bangun datar. Populasinya adalah seluruh siswa kelas V dan jumlah seluruh kelas ada 4 maka dipilih 2 kelas yang mempunyai karakteristik yang sama untuk dijadikan sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas V B sebagai kelompok eksperimen, sementara sampel untuk kelompok kontrol adalah siswa kelas V A. 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penentuan kelompok ini dilakukan dengan menggunakan undian gulungan kertas. Kertas yang keluar pertama dijadikan kelas eksperimen dan untuk kertas kedua dijadikan kelas kontrol. Pengundian sendiri dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2014 yang disaksikan oleh guru-guru dari kelas VA, VB, dan VC. Desain kelas untuk penelitian ini tidak dipilih secara acak. Dikatakan demikian karena dalam penentuan kelas, peneliti tidak menciptakan kelas baru melainkan menggunakan kelas yang telah ada sebelumnya. 3.4 Variabel Penelitian Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 63-64). Penelitian menggunakan dua variabel yang terdiri dari variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Variabel inependent merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat, sedangkan variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akubat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011: 64). Dalam penelitian ini independent variabel adalah model pembelajaran Van Hiele, sedangkan dependent variabel adalah kemampuan memahami konsep geometri bangun datar. Berikut adalah gambar 3.2 yang merupakan skema variabel penelitian. Variabel Independen Model pembelajaran Van Hiele Variabel Dependen Kemampuan memahami konsep geometri bangun datar Gambar 3.2 Skema Variabel Penelitian 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar pada pelajaran matematika jika menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Teknik pengumpulan data dilakukan di awal sebelum adanya perlakuan dan setelah adanya perlakuan dengan menggunakan tes. Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto, 2002: 53). Tes prestasi dalam penelitian ini dilakukan dengan instrumen pretest dan posttest dengan menggunakan soal yang sama. Tes prestasi adalah salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua kawasan tujuan pendidikan, Benyamin S. Bloom (dalam Azwar, 2003: 51). Tujuan diberikannya tes prestasi ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep geometri bangun datar pada pelajaran matematika kelas V SD. Hasil posttest juga akan digunakan untuk membandingkan hasil belajar siswa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen. Kelas eksperimen merupakan kelas yang diberikan perlakuan pada proses pembelajarannya yaitu menggunakan model pembelajaran Van Hiele, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang hanya menggunakan cara mengajar seperti biasanya dan tidak diberikan perlakuan. Proses pembelajaran pada kedua kelas dilaksanakan oleh peneliti selama tiga minggu. Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas kontrol pada minggu keempat bulan Maret, sedangakan kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen dilaksanakan pada minggu kelima bulan Maret. Pada penelitian ini, selain menggunakan tes tertulis peneliti juga menggunakan pengumpulan data triangulasi secara kualitatif agar lebih dapat dipahami sudut pandang subjek yang diteliti terkait perlakuan dan variabelvariabel yang diteliti Krathwohl (2004: 546). Triangulasi yang digunakan berupa observasi, wawancara guru dan wawancara siswa sebelum dan sesudah adanya perlakuan. Observasi merupakan suatu teknik pengamatan yang dilaksanakan secara teliti terhadap suatu gejala dalam situasi di suatu tempat (Sugiyono, 2011: 196). Wawancara merupakan laporan tentang diri sendiri, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi (Sugiyono, 2011: 188). 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6 Instrumen Penelitian Sugiyono (2010: 147-148) mengemukakan bahwa instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini tes. Soal pretest dan posttest terdiri dari 15 soal essai. Penyusunan soal berdasarkan pada 7 indikator yang disesuaikan dengan tahapan teori Van Hiele dalam geometri bangun datar serta kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom ranah kognitif. Standar kompetensi yang digunakan adalah SK.6 Memahami sifat-sifat bangun datar dan hubungan antar bangun, dan KD yang digunakan adalah 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bidang datar. Berikut ini merupakan matriks pengembangan instrumen pada tabel 3.2, batasan perilaku dan kompetensi pada tabel 3.3, dan rubrik penilaian pada tabel 3.4. Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen SK: 6. Memahami sifat-sifat bangun datar dan hubungan antar bangun KD: 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bidang datar No 1 2 3 4 Nomor Item 1,2 5% a. Menafsirkan sifat-sifat bangun datar b. Mencontohkan sifat-sifat bangun datar c. Mengklasifikasikan sifat-sifat bangun datar d. Membandingkan sifat-sifat bangun datar a. Menjelaskan definisi setiap bangun datar 3,4 5,6 7,8 10% 10% 10% 9,10 11,12 15% 20% a. Menyimpulkan hubungan definisi setiap bangun datar 13,14,15 30% 15 100% Materi Bentuk-bentuk bangun datar Sifat-sifat bangun datar Definisi setiap bangun datar Menyimpulkan hubungan antar bangun datar Indikator a. Menyebutkan bentuk-bentuk bangun datar Jumlah Skor 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.3 Batasan Perilaku dan Kompetensi No 1 Tujuan Instruksional Menyebutkan bentukbentuk bangun datar Definisi Operasional a. b. 2 Menafsirkan sifat-sifat bangun datar a. 3 Mencontohkan sifat-sifat bangun datar b. a. b. 4 Mengklasifikasikan sifat bangun datar sifat- a. b. 5 Membandingkan sifat-sifat bangun datar a. b. 6 7 Menjelaskan definisi setiap bangun datar Menyimpulkan hubungan definisi setiap bangun datar a. b. a. b. Siswa dapat menunjukkan bentuk bangun datar dalam gambar Siswa dapat menunjukkan benda yang bentuknya merupakan bangun datar Siswa dapat menyebutkan sifat yang dimiliki segitiga dan segiempat Siswa dapat menyebutkan sifat yang dimiliki lingkaran Siswa dapat memberikan contoh bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya Siswa dapat memberikan contoh sifat bangun datar dari gambar yang ditunjukan Siswa dapat mengklasifikasikan macam-macam bangun segitiga berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki Siswa dapat mengklasifikasikan macam-macam bangun segiempat berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki Siswa dapat menyebutkan perbedaan dari bangun datar yang satu dengan bangun datar yang lain Siswa dapat menjelaskan persamaan bangun datar yang satu dengan bangun datar yang lain Siswa dapat menjelaskan definisi segitiga dan segiempat Siswa dapat menjelaskan definisi lingkaran Siswa dapat menyimpulkan hubungan antar bangun segitiga Siswa dapat menyimpulkan hubungan antar bangun segiempat 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.4 Rubrik Penilaian No 1 2 3 4 Keterangan 1 Skor 2 3 4 Sebutkan 5 benda yang ada di sekitarmu yang bentuknya menyerupai bangun datar dan sebutkan bentuk bendanya! 1:siswa mampu menyebutkan 1 benda yang bentuknya menyerupai bangun datar 2: siswa mampu menyebutkan 2 benda yang bentuknya menyerupai bangun datar 3: siswa mampu menyebutkan 3-4 benda yang bentuknya menyerupai bangun datar 4: siswa mampu menyebutkan 5 benda yang bentuknya menyerupai bangun datar Sebutkan nama bangun datar di bawah ini! 1: siswa mampu menyebutkan 1 sampai 2 nama bangun datar dengan tepat 2: siswa mampu menyebutkan 3 sampai 6 nama bangun datar dengan tepat 3: siswa mampu menyebutkan 7 nama bangun datar dengan tepat 4: siswa mampu menyebutkan 8 nama bangun datar dengan tepat Sebutkan nama bangun datar di atas dan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar tersebut! 1: siswa tidak mampu menyebutkan nama bangun dan sifat pada masing-masing bangun dengan tepat 2: siswa hanya mampu menyebutkan 3 nama bangun dengan tepat tanpa menyebutkan sifat pada masing-masing bangun 3: siswa mampu menyebutkan 3 nama bangun dan 1 sifat pada masingmasing bangun dengan tepat 4: siswa mampu menyebutkan 3 nama bangun dan 2 sifat pada masingmasing bangun dengan tepat Isilah titik-titik di bawah ini dengan tepat! a). Mempunyai 3 sisi yang sama panjang, mempunyai 3 titik sudut dan masing-masing sudut besarnya , merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh bangun datar . . . b). Mempunyai 3 sisi, mempunyai 3 titik sudut dan salah satu sudut besarnya merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh bangun datar . . . c). Mempunyai 3 sisi tetapi hanya 2 sisi yang sama panjang dan mempunyai 3 titik sudut, merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh bangun datar . . . 1: siswa tidak dapat menyebutkan nama bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang telah dijabarkan 2: siswa dapat menyebutkan 1 nama bangun datar berdasarkan sifatsifat yang telah dijabarkan 3: siswa dapat menyebutkan 2 nama bangun datar berdasarkan sifatsifat yang telah dijabarkan 4: siswa dapat menyebutkan 3 nama bangun datar berdasarkan sifatsifat yang telah dijabarkan 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 5 6 7 8 Keterangan 1 Skor 2 3 4 Gambarlah bangun datar sesuai dengan sifat-sifat yang dimiliki berikut ini! a). Bangun datar 1: mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang dan keempat sudutnya bukan siku-siku. b). Bangun datar 2: mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang, dan keempat sudutnya siku-siku atau besar keempat sudutnya 90 1: siswa tidak dapat menggambar bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki 2:siswa dapat menggambar 1 bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki namun belum tepat 3: siswa dapat menggambar 1 bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki dengan tepat 4: siswa dapat menggambar 2 bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki dengan tepat Sifat-sifat yang dimiliki : mempunyai 4 sisi yang sama panjang, dan besar keempat sudutnya 90 . a). Sebutkan nama bangun datar yang sesuai dengan sifat tersebut! b). Sebutkan nomor gambar bangun datar yang dimaksud! 1: siswa tidak mampu menyebutkan nama bangun datar sesuai dengan sifatnya dan tidak mampu menyebutkan nomor gambar bangun datar 2: siswa mampu menyebutkan nomor gambar bangun datar dengan tepat namun belum mampu menyebutkan nama bangun datar dengan tepat 3: siswa mampu menyebutkan nama bangun datar sesuai dengan sifatnya namun belum mampu menyebutkan nomor gambar bangun datar dengan tepat 4: siswa mampu menyebutkan bangun datar sesuai dengan sifatnya dan mampu menyebutkan nomor gambar bangun datar dengan tepat Perhatikan gambar beberapa bangun datar di bawah ini! Pilihlah gambar yang termasuk bangun datar segi empat serta sebutkan nama bangun datarnya! 1: siswa tidak mampu menyebutkan bangun datar segi empat dengan tepat 2: siswa mampu menyebutkan 1 bangun datar segi empat dengan tepat 3: siswa mampu menyebutkan 2 bangun datar segi empat dengan tepat 4: siswa mampu menyebutkan 3 bangun datar segi empat dengan tepat Perhatikan gambar di bawah ini! Sebutkan nama-nama bangun datar segitiga dari gambar 1, gambar 2, gambar 3 dan gambar 4 di atas secara berurutan! 1: siswa mampu menyebutkan 1 gambar bangun datar segitiga dengan tepat 2: siswa mampu menyebutkan 2 sampai 3 gambar bangun datar segitiga secara berurutan dengan tepat 3: siswa mampu menyebutkan 4 gambar bangun datar segitiga dengan tepat namun tidak berurutan 4: siswa mampu menyebutkan 4 gambar bangun datar segitiga secara berurutan dengan tepat 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 9 10 11 12 13 Keterangan 1 Skor 2 3 4 Bandingkanlah kedua gambar bangun datar di bawah ini dengan menyebutkan 1 perbedaan dan 1 persamaan yang dimiliki kedua bangun datar tersebut! (bangun datar persegi dan persegi panjang) 1: siswa tidak mampu membandingkan kedua bangun datar tersebut 2: siswa mampu membandingkan kedua bangun datar dengan menyebutkan 1 sifat yang sama dan satu sifat yang berbeda yang dimiliki kedua bangun datar tersebut namun belum tepat atau terbalik 3: siswa mampu membandingkan kedua bangun datar dengan menyebutkan persamaan yang dimiliki kedua bangun datar tersebut 4: siswa mampu membandingkan kedua bangun datar dengan menyebutkan 1 sifat yang sama dan satu sifat yang berbeda yang dimiliki kedua bangun datar tersebut Sebutkan perbedaan antara bangun datar layang-layang dan belah ketupat dengan melengkapi tabel berikut! 1: siswa tidak mampu menyebutkan aspek kedua bangun datar tersebut 2: siswa mampu menyebutkan 1 aspek kedua bangun datar tersebut dengan tepat 3: siswa mampu menyebutkan 2 aspek yang dimiliki kedua bangun datar tersebut dengan tepat 4: siswa mampu menyebutkan ketiga aspek (sisi,sudut dan diogonal) yang dimiliki kedua bangun datar tersebut dengan tepat Perhatikan gambar di bawah ini! Sebutkan bentuk bangun datar dari masing-masing gambar dan jelaskan masing-masing definisinya! 1: siswa tidak mampu menjelaskan definisi dari salah satu bangun datar tersebut 2: siswa mampu menjelaskan 1 definisi dari bangun datar tersebut dengan tepat 3: siswa mampu menjelaskan 2 definisi dari bangun datar tersebut dengan tepat 4: siswa mampu menjelaskan 3 definisi dari bangun datar tersebut dengan tepat Jelaskan definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat dan berilah 3 contoh pada masing-masing bangun datarnya! 1: siswa tidak mampu menjelaskan definisi bangun datar segitiga dan segi empat dengan tepat namun sudah mampu memberikan minimal 1 contoh pada masing-masing bangun datar 2: siswa mampu menjelaskan definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat namun belum tepat dengan memberikan minimal 1 contoh pada masing-masing bangun datar 3: siswa mampu menjelaskan definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat dengan memberikan 2 contoh pada masing-masing bangun datar 4: siswa mampu menjelaskan definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat dengan memberikan 3 contoh pada masing-masing bangun datar Pahami definisi beberapa bangun datar berikut! Dari beberapa definisi bangun datar di atas, sebutkan definisi bangun datar yang benar! 1: siswa tidak mampu memilih bangun datar yang tepat sesuai dengan definisinya 2: siswa mampu memilih 1 bangun datar yang tepat sesuai dengan definisinya 3: siswa mampu memilih 2 bangun datar yang tepat sesuai dengan definisinya 4: siswa mampu memilih 3 bangun datar yang tepat sesuai dengan definisinya 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Keterangan 14 Perhatikan gambar di bawah ini! Dari sifat-sifat yang dimiliki kedua bangun tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persegi adalah belah ketupat. Jelaskan pendapatmu dengan memahami sifat-sifat yang dimiliki kedua bangun tersebut! 1:siswa tidak mampu mengambil kesimpulan dan menjelaskan pendapatnya mengenai definisi serta sifat yang dimiliki masingmasing bangun tersebut. 2:siswa mampu mengambil kesimpulan dan menjelaskan pendapatnya mengenai definisi tanpa menyebutkan sifat yang dimiliki masingmasing bangun tersebut. 3:siswa mampu mengambil kesimpulan dan menjelaskan pendapatnya mengenai definisi serta 1 sifat yang dimiliki masing-masing bangun tersebut. 4:siswa mampu mengambil kesimpulan dan menjelaskan pendapatnya mengenai definisi serta 2 sifat yang dimiliki masing-masing bangun tersebut. Perhatikan pernyataan berikut ini! Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki bangun datar persegi dan persegi panjang, sebutkan dan jelaskan kesimpulan yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut! 1:siswa tidak mampu membuat kesimpulan dengan menjelaskan sifat yang dimiliki kedua bangun datar tersebut 2:siswa mampu membuat kesimpulan dengan menjelaskan 1 sifat yang dimiliki kedua bangun datar tersebut 3:siswa mampu membuat kesimpulan dengan menjelaskan 2 sifat yang dimiliki kedua bangun datar tersebut 4:siswa mampu membuat kesimpulan dengan menjelaskan 3 sifat yang dimilik kedua bangun datar tersebut 15 1 Skor 2 3 4 3.7 Teknik Pengujian Instrumen Penentuan validasi soal essai dilakukan melalui expert judgemet atau pendapat para ahli (Sugiyono, 2008: 125). Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang disusun. Kemungkinan keputusan yang diberikan para ahli adalah instrumen dapat digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan dan mungkin diganti total. Pengujian konstruksi oleh para ahli, selanjutnya diteruskan dengan uji coba instrumen. Soal-soal yang sudah dikerjakan oleh siswa kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan soal essai karena soal essai mempunyai kelebihan yaitu dapat membantu seseorang untuk mengungkapkan kemampuan pengorganisasian pikiran dan menyatakan pengetahuan secara lengkap (Azwar, 2008: 106). Soal-soal essai yang digunakan untuk pretest dan posttest diujicobakan di kelas VC dengan jumlah siswa 30 anak. Kelas VC dipilih karena 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hanya kelas ini yang diijikan oleh guru untuk digunakan sebagai kelas uji coba soal. Peneliti menggunakan responden minimal 30 siswa untuk memastikan bahwa data berdistribusi normal (Field, 2009: 42). Keterbatasan soal essai adalah sulit untuk mencapai validitas dan reliabilitas yang tinggi. Hal ini dikarenakan jawaban yang diberikan siswa yang satu dengan yang lain bervariasi dan penilaian yang dilakukan bisa bersifat subjektif. Berikut penentuan kriteria penilaian soal essai (Lihat lampiran 2.1). 3.7.1 Penentuan Validitas Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid mempunyai arti bahwa instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur Sugiyono (2010: 168). Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data sesungguhnya pada objek yang diteliti. Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian adalah validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi bertujuan untuk menunjukkan apakah alat tes itu mempunyai kesejajaran dengan tujuan dan deskripsi materi pelajaran yang diajarkan (Anzwar, 2012: 42). Validitas konstruk bertujuan untuk menunjukkan apakah alat tes tersebut sesuai dengan konsep atau teori yang mendasari disusunnya alat tes tersebut (Anzwar, 2012: 116). Validitas isi ditempuh melalui expert judgement. Dosen mata pelajaran matematika di PGSD USD dan guru kelas V SD N Ungaran I merupakan ahli yang akan membantu peneliti untuk melakukan validasi dari instrumen yang telah dibuat oleh peneliti, sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Hasil validasi akan digunakan peneliti untuk memperbaiki instrumen pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini. Validitas konstruk merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mengetahui kesejajaran yang dapat dilakukan dengan mengkorelasikan hasil pengukuran dengan kriteria. Teknik korelasi yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment dari Carl Pearson dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for Windows. Penggunaan teknik korelasi dari Pearson sendiri karena soal yang digunakan menggunakan interval 1-4 dalam penskorannya, peneliti ingin memastikan bahwa 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI data berdistribusi normal, dan untuk mengecek kognitif yang lebih tinggi karena soal yang digunakan berbentuk essai. Untuk mempermudah perhitungan validitas isi peneliti menggunakan program SPSS 20 atau sekarang lebih dikenal dengan PASW 20 for Windows (Predictive Analytics Software). Aitem terdiri dari lima belas soal essai yang diujikan pada siswa kelas VC SD N Ungaran I, dengan jumlah siswa 30 anak. Kriteria yang digunakan untuk menilai validitas suatu item adalah jika harga rhitung > rtabel atau jika harga sig. (2tailed) < 0,05 (Sugiyono, 2012: 174). Nilai r product moment untuk taraf signifikansi 5% dengan jumlah N=30 adalah 0,361. Maka bila harga r hitung > r tabel, soal tersebut valid (Sugiyono, 2012: 613). Hasil uji coba soal diperoleh hasil uji validitas sebagai berikut (Lihat lampiran 3.1). Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Soal r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 r hitung 0,110 0,581 0,473 0,106 0,241 0,417 0,632 0,148 0,630 0,566 0,343 0,625 0,332 0,798 0,580 Sig.(2-tailed) 0,562 0,001 0,008 0,575 0,199 0,022 0,000 0,436 0,000 0,001 0,063 0,000 0,073 0,000 0,001 Keterangan Tidak valid Valid Valid Tidak valid Tidak valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak valid Valid Valid Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari 15 soal yang berkaitan dengan tujuh indikator kemampuan memahami menunjukkan bahwa rata-rata probabilitasnya di bawah 0,05 (p < 0,05) sehingga sebanyak sembilan soal yaitu soal nomor: 2,3,6,7,9,10,12,14 dan 15 dinyatakan valid (Sugiyono, 2010: 177183). Sedangkan soal yang tidak valid adalah soal nomor 1,4,5,8,11 dan 13. Soal yang dipakai dalam penelitian ini adalah soal yang valid yaitu nomor 2,3,6,7,9,10,12,14, dan 15. 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.2 Penentuan Reliabilitas Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai di mana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil (Sukardi, 2008: 43). Reliabilitas pada dasarnya menunjukkan pada konsep sejauh mana suatu pengukuran dapat dipercaya dan tetap. Koefisien korelasi (rxy) pengujian reliabilitas berkisar pada bilangan antara 1,00 sampai dengan 1,00 yang dikelompokkan dari sangat rendah sampai sangat tinggi. Masidjo (2007: 209) menyampaikan klasifikasi koefisien korelasi reliabilitas suatu tes seperti berikut ini. Berikut adalah klasifikasi koefisien reliabilitas alat ukur pada tabel 3.6. Tabel 3.6 Klasifikasi Koefisien Korelasi Reliabilitas Alat Ukur Koefisien Korelasi ±0,91 – ±1,00 ±0,71 – ±0,90 ±0,41 – ±0,70 ±0,21 – ±0,40 0 – ±0,20 Kualifikasi Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah Penentuan reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach. Nunnally menjelaskan bahwa suatu konstruk dinyatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60 (Ghozali, 2009: 46). Perhitungan menggunakan Alpha Cronbach sendiri karena dapat digunakan untuk data yang ganjil maupun genap. Hasil perhitungan reliabilitas dihitung dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 20 for Windows untuk pengujian di SD N Ungaran I adalah sebagai berikut (Lihat Lampiran 3.2). Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Soal Essai Cronbach’s Alpha 0,786 Cronbach’s Alpha Based on Standardized items 0,795 N of Items 9 Tabel di atas merupakan tabel hasil uji reliabilitas soal essai. Soal yang diujikan untuk reliabilitas adalah soal yang valid, yaitu sebanyak 9 soal. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa reliabilitas soal essai termasuk dalam kategori tinggi. Hal tersebut dilihat dari koefisien Cronbach’s Alpha sebesar 0,795 yang termasuk 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam kategori tinggi. Instrumen yang dibuat dapat digunakan karena sudah memenuhi syarat instrumen yang valid dan reliabel. 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta. Peneliti menganalisis data pretest dan posttest menggunakan jenis statistik inferensial. Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi (Sugiyono, 2012: 201). Statistik inferensial dibagi menjadi dua jenis statistik yaitu parametrik dan nonparametrik. Statistik parametrik digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik atau menguji ukuran populasi melalui data sampel (Sugiyono, 2012: 201). Pengujian menggunakan parametrik jika memenuhi asumsi-asumsi sebagai berikut yaitu data berdistribusi normal, memiliki homogenitas varian dan mengharuskan adanya dua kelompok atau lebih yang diuji, sedangkan statistik non parametrik tidak menuntut terpenuhinya banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis tidak selalu dalam keadaan normal. Data yang akan diolah yaitu kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. 3.8.1 Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2010: 36). Uji normalitas data dilakukan dengan statistik non parametrik yaitu menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Test. Uji normalitas tersebut untuk menentukan jenis uji statistik yang akan digunakan dalam analisis data responden dengan berdasarkan kriteria sebagai berikut Priyatno (2010: 58-93). Jika nilai signifikasi atau harga sig. (2-tailed) 0,05, distribusi data dikatakan normal, sehingga analisis data diuji menggunakan statistik parametrik independent samples t-test atau paired samples t-test. Jika nilai signifikasi atau harga sig. (2-tailed) 0,05, distribusi data dikatakan tidak normal. Jika distribusi data tidak normal, analisis data di uji menggunakan statistik non parametrik Mann-Whitney U test atau Wilcoxon signed ranks test. 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah data diuji normalitasnya maka dapat dilakukan analisis selanjutnya. Perhitungan uji normalitas data dilakukan dengan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for Windows dengan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan tingkat kepercayaan 95%. 3.8.2 Uji Pengaruh Perlakuan 3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan skor pretest dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan awal dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Uji perbedaan ini dilakukan dengan membandingkan dan menganalisis skor pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis dilakukan dengan program komputer IBM Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Statistik parametrik Independent samples t-test digunakan untuk distribusi data normal dan statistik non parametrik Mann-Whitney U test digunakan untuk distribusi data tidak normal, untuk menguji perbedaan rata-rata dari dua kelompok data atau sampel (Priyatno, 2010: 93). Kedua data pretest tersebut dikatakan tidak memiliki perbedaan yang signifikan jika harga sig. (2tailed) > 0,05 (Priyatno, 2010: 40). Hipotesis statistik yang dilakukan adalah sebagai berikut. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Yulius, 2010: 85). 1. Jika harga sig.(2-tailed) , Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. 2. Jika harga sig.(2-tailed) , Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. Kondisi yang ideal dalam melakukan penelitian adalah jika tidak ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan dari kelompok eksperimen dan 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol. Dengan kata lain kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok tersebut bisa dibandingkan. 3.8.2.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest Uji selisih skor dilakukan untuk melihat ada atau tidak adanya pengaruh model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami. Cohen (2007: 276) mengatakan bahwa untuk mendapatkan perhitungan selisih skor dapat dilakukan dengan menggunakan rumus (O2 - O1) – (O4 – O3) dengan cara mengurangkan selisih skor posttest dan skor pretest pada kelompok kontrol dengan selisih skor posttest dan skor pretest pada kelompok eksperimen. Analisis statistik dilakukan dengan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi dengan normal digunakan Independent samples t-test dan jika data terdistribusi dengan tidak normal digunakan Mann-Whitney U-test. Analisis data pada kedua kelompok tersebut menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut (Priyatno, 2010: 99). Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. 1. Jika harga sig.(2- tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretestposttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran Van Hiele berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. 2. Jika harga sig.(2- tailed) > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretestposttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran Van Hiele tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.3 Analisis lebih lanjut 3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest Uji peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan untuk melihat ada atau tidak adanya kenaikan skor yang signifikan antara skor pretest ke posttest, baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Dari uji perbandingan antara skor pretest ke posttest akan diperlihatkan persentase kenaikan masingmasing kelompok. Uji perbandingan ini berkaitan dengan uji normalitas. Analisis statistik dilakukan dengan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi dengan normal digunakan statistik parametrik yaitu Paired samples t-test atau jika data terdistribusi dengan tidak normal digunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon signed ranks test (Priyatno, 2010: 102). Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen atau kelompok kontrol. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen atau kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2010: 108). 1. Jika harga sig.(2- tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest. 2. Jika harga sig.(2- tailed) > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest. Untuk mengetahui persentase peningkatan skor pretest ke posttest digunakan rumus seperti berikut. 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) Uji pengaruh perlakuan digunakan untuk melihat besarnya pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami. Teknik pengujian klasik untuk mengetahui signifikansi pengaruh tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah pengaruh tersebut cukup substantif atau tidak. Pentingnya suatu pengaruh disebut sebagai effect size. Effect size adalah suatu ukuran objektif dan dijadikan standar atau tolak ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56-57). Untuk mengetahui effect size dapat diketahui dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson dengan kriteria r = 0,10 (efek kecil) yang setara dengan 1% pengaruh yang diakibatkan oleh variabel independen, r = 0,30 (efek menengah) yang setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25% (Field, 2009: 57-179). Koefisien korelasi r dipilih karena koefisien korelasi ini cukup mudah digunakan untuk mengetahui besarnya efek yang terentang antara harga 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Cara untuk mengetahui koefisien korelasi adalah sebagai berikut. Jika distribusi data normal, harga t diubah menjadi harga r dengan rumus sebagai berikut (Field, 2009: 332). r t t 2 2  df Gambar 3.3 Rumus Besar Efek (Effect Size) untuk Data Normal Keterangan : r : besarnya pengaruh (effect size) menggunakan koefisien korelasi Pearson t : harga uji t df : harga derajad kebebasan (degree of freedom) 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika distribusi data tidak normal digunakan rumus berikut (Field, 2009: 550). r Z N Gambar 3.4 Rumus Besar Efek (Effect Size) untuk Data Tidak Normal Keterangan: Z = harga konversi standar deviasi (dari uji statistik Wilcoxon) N = Jumlah total observasi (2 x jumlah siswa) 3.8.3.3 Dampak Perlakuan Pada Siswa Elemen kualitatif merupakan hal yang dianjurkan pada setiap penelitian eksperimental agar lebih dapat dipahami sudut pandang subjek yang diteliti terkait perlakuan dan variabel-variabel yang diteliti (Krathwohl, 2004: 547). Pada penelitian ini, selain menggunakan data tes tertulis peneliti juga menggunakan triangulasi data. Triangulasi data adalah pengumpulan data dengan menggabungkan dari berbagai teknik dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2011: 327). Bentuk triangulasi data yang peneliti gunakan berupa observasi, wawancara kepada guru, dan wawancara kepada siswa. Observasi dilakukan saat penelitian berlangsung, dan wawancara dilakukan setelah posttest. Observasi dilakukan untuk melihat bagaimana peneliti melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, serta melihat bagaimana kondisi siswa di kelas. Observasi cara guru mengajar hanya dilakukan di kelas eksperimen, karena untuk melihat apakah model pembelajaran Van Hiele dapat berjalan dengan semestinya atau tidak, sedangkan observasi kondisi siswa di kelas dilaksanakan di kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Wawancara yang akan digunakan oleh peneliti adalah wawancara tidak terstuktur yang merupakan wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono, 2011: 191). Wawancara 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan setelah pelaksanaan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen selesai. Subyek wawancara adalah guru dan siswa dari kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Berikut adalah pedoman observasi dan garis besar wawancara. Pedoman observasi pada tabel 3.8 yang merupakan tahap perkembangan siswa, dan tabel 3.9 yang merupakan karakteristik penggunaan model pembelajaran Van Hiele. Pedoman wawancara pada tabel 3.10 yang merupakan daftar wawancara kepada siswa, dan tabel 3.11 yang merupakan daftar wawancara kepada guru. Tabel 3.8 Tahap Perkembangan Siswa No. 1 2 Aspek Narasi Singkat Tahap 0 Pengenalan (Visualisasi/Recognition). Mengenali gambar-gambar bangun datar melalui pengamatan. Mengenali nama-nama bangun datar melalui pengamatan. Menyebutkan nama-nama bangun datar melalui pengamatan. Tahap 1 Analisis. Mengenali sifat-sifat bangun datar melalui pengamatan. Menafsirkan sifat-sifat bangun datar melalui tanya jawab. Mencontohkan sifat-sifat bangun datar melalui diskusi. 3 Mengklasifikasikan sifat-sifat bangun datar melalui pengamatan. Membandingkan jenis-jenis bangun datar melalui pengamatan. Tahap 2 Pengurutan (Abstraksi/Informal Deduction/Ordering). Mengetahui hubungan keterkaitan antar bangun datar melalui diskusi. Menjelaskan hubungan keterkaitan antar bangun datar melalui tanya jawab. 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.9 Karakteristik Penggunaan Model Pembelajaran Van Hiele No. 1 2 3 4 5 Aspek Tahap 1 Informasi. a. Guru mengidentifikasi halhal yang sudah atau yang belum diketahui oleh siswa melalui tanyab. b. Guru mengidentifikasi halhal yang sudah atau yang belum diketahui oleh siswa melalui diskusi. Tahap 2 Orientasi terarah atau terpadu (Guided Orientation). a.Guru mengarahkan siswa untuk memasuki konsepkonsep spesifik dengan tepat. a.Guru memotivasi siswa untuk aktif mengeksplorasi objek-objek dengan melihat sifat-sifat dari masingmasing bangun, sehingga siswa mampu menemukan hubungan antara bentuk dan sifat bangun. Tahap 3 Eksplisitasi (Explicitation). a. Guru membantu siswa dalam memilih dan menggunakan kosa kata yang akurat yang dilakukan melalui diskusi. b. Guru mengarahkan siswa untuk menggambarkan objek-objek (ide geometri, hubungan, pola dan sebagainya) yang telah siswa pelajari. Tahap 4 Orientasi bebas (Free orientation). a. Guru memilih materi dan masalah yang sesuai dengan kemampuan siswa untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. b. Guru mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah dengan caranya sendiri. Tahap 5 Integrasi (Integration). a. Guru mengarahkan siswa untuk membuat ringkasan dan mengintegrasikan apa yang telah dipelajari. Narasi Singkat 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.10 Pedoman Wawancara Siswa No 1 Indikator Keaktifan 2 Proses pembelaran 3 Pemahaman 4 Hasil belajar Topik Peran serta di dalam kelas Perasaan ketika mengikuti proses pembelajaran Hal-hal yang membingungkan selama pembelajaran Materi yang disampaikan Kepuasan setelah mengikuti proses pembelajaran Cara memahami konsep geometri bangun datar Kesulitan-kesulitan dalam memahami konsep Cara mengatasi kesulitan Kemajuan dalam belajar proses Tabel 3.11 Pedoman Wawancara Guru No 1 Indikator Hasil belajar 2 Pemahaman 3 Ketertarikan menggunakan model pembelajaran Van Hiele Topik Perasaan guru ketika melihat hasil belajar siswa Bagaimana model pembelajaran Van Hiele Apakah tertarik atau tidak pembelajaran Van Hiele Berniat untuk menggunakan matematika atau tidak menggunakan ke dalam model pelajaran 3.8.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut Penelitian ini akan menguji uji normalitas data. Setelah data diketahui normal tidaknya, lalu dilakukan uji kemampuan awal untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Setelah kelompok eksperimen memperoleh perlakuan, lalu dilakukan uji selisih, uji peningkatan, dan uji besar perlakuan. Setelah itu diketahui pula dampak yang terjadi pada masingmasing kelompok dan konsekuensi lebih lanjut. 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada mata pelajaran matematika terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. Pada hasil penelitian akan dijelaskan deskripsi data dan analisis data yang dilakukan. Analisis dan deskripsi data tersebut akan dijelaskan dalam subbab-subbab berikut. 4.1 Implementasi Pembelajaran Penelitian dilaksanakan pada dua kelas yaitu kelas VA dan kelas VB. Kelas VA merupakan kelas kontrol, dan kelas VB merupakan kelas eksperimen. Pemilihan kelas ini berdasarkan pada undian yang dilakukan oleh peneliti dan guru kelas. Pemberian treatment atau perlakuan dilaksanakan masing-masing satu minggu pada kedua kelompok (kontrol dan eksperimen). Kelas VB sebagai kelas eksperimen diberikan treatment dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele, sedangkan kelas VA sebagai kelas kontrol menggunakan proses pembelajaran klasikal seperti biasanya. Jumlah siswa kelas VA dan VB adalah 32 siswa. Pada penelitian ini, peneliti merupakan guru yang terlibat langsung di dalam kelas. Observer yang akan mengobservasi proses pembelajaran yang dilakukan peneliti di kelas berjumlah dua orang. Observer tersebut adalah mahasiswa semester delapan. Berikut adalah gambaran kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 4.1.1 Kelompok Eksperimen Kegiatan pembelajaran dimulai dari pemberian soal pretestt pada kelas eksperimen yaitu kelas VB. Pemberian pretestt dilakukan pada hari Sabtu, 22 Maret 2014 dengan menggunakan 9 soal essai. Pertemuan dilaksanakan tiga kali selama satu minggu. Pertemuan pertama dilakukan pada hari Senin, 24 Maret 2014 dengan berpedoman pada RPP yang telah disusun dan media yang telah disediakan. Pada pertemuan pertama, kegiatan dilakukan dengan mengingat kembali materi bangun datar yang pada kelas III dan IV pernah diberikan kepada siswa, lalu guru meminta siswa untuk mengamati benda-benda yang ada di sekitar 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelas. Langkah selanjutnya, guru meminta siswa untuk menyebutkan benda-benda yang ada di kelas yang bentuknya menyerupai bangun datar. Kegiatan tersebut dilakukan oleh guru sebagai kegiatan eksplorasi. Setelah siswa menyebutkan beberapa benda di kelas yang bentuknya menyerupai bangun datar, guru meminta siswa untuk mencari sifat-sifat yang dimiliki dari benda-benda tersebut, lalu guru mengarahkan siswa agar melalui kegiatan eksplorasi tersebut, siswa mampu mendapatkan informasi berupa beberapa pengertian bangun datar dilihat dari sifatsifat yang dimilikinya. Pada saat masuk kegiatan orientasi bebas, guru meminta siswa untuk bekerja di dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diminta guru berdiskusi untuk memberikan contoh bangun datar melalui sifat-sifat yang dimilikinya. Kegiatan tersebut dibantu dengan menggunakan media berupa delapan bentuk bangun datar yang diberikan pada masing-masing kelompok. Masuk ke dalam kegiatan integrasi, guru meminta siswa untuk memberikan contoh tentang konsep bangun datar dengan menghubungkan sifat-sifat yang dimiliki pada masing-masing bangun datar. Kegiatan tersebut masuk ke dalam kegiatan konfirmasi. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama diakhiri dengan presentasi masing-masing kelompok ke depan kelas, menyimpulkan materi, evaluasi, dan pemberian kuis lisan. Pertemuan kedua dilakukan pada hari Selasa, tanggal 25 Maret 2014. Kegiatan pertama yang dilakukan guru adalah membahas sedikit mengenai materi yang sudah disampaikan pada pertemuan pertama, kemudian guru melakukan tanya jawab mengenai persamaan dan perbedaan antar bangun datar. Kegiatan tanya jawab tersebut dilakukan guru sebagai kegiatan eksplorasi pada bagian informasi. Informasi yang akan diterima oleh siswa adalah persamaan dan perbedaan bangun datar yang ditemukan oleh siswa secara mandiri. Orientasi langsung dilakukan dengan menggunakan media berupan delapan jenis bangun datar. Tujuan penggunaan media tersebut adalah agar siswa mampu menemukan perbedaan dan persamaan setiap bangun datar. Masuk ke dalam kegiatan orientasi bebas, guru meminta siswa untuk berdiskusi secara kelompok untuk membandingkan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Kegiatan konfirmasi dilakukan oleh guru untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pada pertemuan kedua ini. Integrasi yang dilakukan pada kegiatan konfirmasi 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah guru meminta siswa untuk menghubungkan perbedaan dan persamaan antar bangun datar sehingga siswa mampu membandingkan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Kegiatan pada pertemuan kedua diakhiri dengan presentasi masing-masing kelompok ke depan kelas, menyimpulkan materi, evaluasi, dan pemberian kuis lisan. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari, Kamis 27 Maret 2014. Kegiatan pertama dilakukan dengan mengingat kembali materi yang telah disampaikan pada pertemuan kedua yaitu tentang mengklasifikasikan dan membandingkan bentuk-bentuk bangun datar berdasarkan sifatnya. Kemudiaan, dalam kegiatan eksplorasi guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil, dan membagikan media berupa delapan bentuk bangun datar pada masing-masing kelompok. Informasi yang diperoleh dari kegiatan eksplorasi adalah menggunakan tanya jawab. Melalui tanya jawab guru menyampaikan pengertian setiap bangun datar melalui sifat-sifat yang dimilikinya. Kegiatan selanjutnya adalah elaborasi yang terdiri dari orientasi langsung dan orientasi bebas. Kegiatan orientasi langsung dilakukan siswa bersama dengan kelompok dengan mengamati media yang digunakan untuk mencari definisi setiap bangun datar dilihat dari bentuk dan sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Kegiatan orientasi bebas dilakukan siswa bersama teman sekelompoknya untuk saling menjelaskan definisi setiap bangun datar dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya. Kemudian masuk ke dalam kegiatan konfirmasi yang terdiri dari kegiatan integrasi. Kegiatan integrasi bertujuan agar siswa mampu menemukan hubungan definisi antar bangun datar dengan menghubungkan definisi setiap bangun datar. Konsep seluruhnya mengenai geometri bangun datar akan terbentuk pada pertemuan ketiga. Kegiatan pada pertemuan ketiga diakhiri dengan presentasi masing-masing kelompok ke depan kelas, menyimpulkan materi, evaluasi, dan pemberian kuis lisan. Pertemuan keempat dilakukan pada hari, Jumat 28 Maret 2014. Kegiatan yang dilakukan adalah pemberian soal posttest pada kelas eskperimen yaitu kelas VB. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 07.00-08.00 (2JP). 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2 Kelompok kontrol Kegiatan pembelajaran dimulai dari pemberian soal pretestt pada kelas kontrol yaitu kelas VA. Pemberian pretestt dilakukan pada hari Jumat, 14 Maret 2014 dengan menggunakan 9 soal essai. Pertemuan dilaksanakan tiga kali selama satu minggu menggunakan RPP dari guru kelas yang telah disesuaikan oleh peneliti. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari, Senin 17 Maret 2014. Kegiatan pertama, guru mengajak siswa untuk menyebutkan bentuk-bentuk bangun datar yang sebelumnya sudah diketahui oleh siswa kemudian guru memberikan contoh bentuk-bentuk bangun datar menggunakan benda-benda yang ada di sekitar kelas. Kegiatan selanjutnya, guru menjelaskan mengenai sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Kemudian guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk menuliskan kembali sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya. Setelah setiap kelompok selesai presentasi, guru bersama siswa membuat kesimpulan mengenai bentuk dan sifat-sifat bangun datar. Soal evaluasi menggunakan buku paket matematika pada halaman 182-183, dan beberapa soal yang sudah peneliti buat sebelumnya. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari, Selasa 18 Maret 2014. Kegiatan pertama, guru mengajak siswa untuk mengingat kembali materi yang telah diajarkan sebelumnya. Masuk ke dalam kegiatan initi, guru meminta siswa untuk menyebutkan bentuk-bentuk bangun datar beserta sifat yang dimilikinya, kemudian guru menjelaskan persamaan dan perbedaan yang dimiliki antar bangun datar. Kegiatan selanjutnya, guru meminta siswa untuk berkelompok seperti pada pertemuan pertama. Guru meminta setiap kelompok untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk bangun datar sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya, kemudian setiap kelompok mempresentasikan di depan kelas. Setelah itu, guru bersama siswa menyimpulkan keseluruhan materi yang dipelajari hari ini. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari, Rabu 19 Maret 2014. Kegiatan pertama yang dilakukan guru adalah mengajak siswa untuk mengingat kembali mengenai materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Masuk ke dalam kegiatan inti, guru menjelaskan kepada siswa mengenai definisi bangun datar berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Setelah itu, guru 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjelaskan lagi mengenai hubungan definisi setiap bangun datar menggunakan skema segiempat. Setelah guru selesai menjelaskan materi yang disampaikan hari ini, guru memberikan soal evaluasi yang harus dikerjakan siswa secara individu. Soal evaluasi kemudian dikumpulkan, lalu guru bersama siswa menyimpulkan keseluruhan materi yang telah dipelajari pada pertemuan ketiga. Pertemuan keempat dilakukan pada hari, Kamis 20 Maret 2014. Kegiatan yang dilakukan adalah pemberian soal posttest pada kelas kontrol yaitu kelas VA. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.35-10.10 (2JP). 4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Uji Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Kemampuan Memahami Penelitian dilakukan pada siswa SD untuk membuktikan pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami siswa pada konsep bangun datar antara lain: menyebutkan, menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Peneliti akan lebih memfokuskan pembahasan penelitian tentang kemampuan siswa dalam memahami konsep geometri bangun datar. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti merupakan penelitian kuasi eksperimental yang menggunakan dua kelompok. Kelompok tersebut terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan atau treatment, sedangkan kelompok eksperimen merupakan kelompok yang mendapatkan perlakuan. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1) pada kedua kelompok tersebut (kelompok kontrol dan kelompok eksperimen) diberi pretestt yang berupa sembilan soal essai yang menyangkut tujuh aspek kemampuan memahami dalam taksonomi Bloom. Pretest yang diberikan bertujuan untuk mengetahui kondisi kemampuan awal antara kedua kelompok. 2) Setelah diberikan pretest pada kedua kelompok, kemudian kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberi materi pelajaran yang sama dengan perbedaan treatment. Kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran dengan berpedoman pada RPP yang dibuat oleh guru kelas (klasikal) namun sudah 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI disesuaikan oleh peneliti, sedangkan kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Model pembelajaran Van Hiele merupakan treatment atau perlakuan yang membedakan antara kedua kelompok. 3) Pada akhir pertemuan dimana materi sudah tersampaikan, pada kedua kelompok diberi posttest sebagi tes untuk mengetahui pengaruh treatment yang telah diberikan, serta untuk membandingkan hasil dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok penelitian dipilih dengan ditentukan kelas VA sebagai kelompok kontrol dan kelas VB sebagai kelompok eksperimen. Instrumen yang digunakan oleh peneliti merupakan sembilan soal essai yang sudah dikonsultasikan dengan ahli, serta telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Observasi dan wawancara digunakan sebagai data pendukung selama proses pembelajaran berlangsung. Sembilan soal tersebut digunakan sebagai instrumen pokok dalam memperoleh data penelitian. Soal tersebut digunakan saat pretest dengan tujuan memperoleh data untuk mengetahui kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tersebut berbeda atau tidak. Pada posttest instrumen (sembilan soal essai) tersebut digunakan untuk mengetahui 1) Kenaikan antara nilai sebelum mempelajari materi dan nilai sesudah mempelajari materi pada masing-masing kelompok. 2) Perbandingan antara nilai kelompok kontrol sesudah menggunakan pembelajaran klasikal, dan kelompok eksperimen sesudah menggunakan model pembelajaran Van Hiele mempunyai perbedaan yang signifikan atau tidak. Signifikasi hasil tersebut dapat diukur menggunakan analisis statistik dengan membandingkan nilai posttest kelompok kontrol dengan nilai posttest kelompok eksperimen. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variabel independent yaitu model pembelajaran Van Hiele terhadap variabel dependent yaitu kemampuan memahami, serta untuk membuktikan pengaruh model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar yang berdasarkan pada hipotesis bahwa model pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan kemampuan memahami siswa secara signifikan. Data yang diperoleh dari pretest dan posttest untuk kemampuan memahami pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dianalisis dengan uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan program komputer 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PASW (SPSS) 20 for Windows. Berdasarkan kriteria di atas diperoleh data seperti pada tabel 4.1 di bawah ini (Lihat Lampiran 6.1). Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas pada Kemampuan Memahami dengan Kolmogorov-Smirnov No 1 2 3 4 5 6 Aspek Rerata skor pretestt kelompok eksperimen Rerata skor posttest kelompok eksperimen Rerata skor pretestt kelompok kontrol Rerata skor posttest kelompok kontrol Selisih skor pretest-posttest eksperimen Selisih skor pretest-posttest kontrol Sig. (2-tailed) 0,869 0,757 0,994 0,765 0,253 0,446 Keterangan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Berdasarkan analisis data tersebut menunjukkan bahwa hasil pretest, posttest, dan selisih skor dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol memiliki harga sig.(2-tailed) > 0,05. Hal ini menunjukkan data yang digunakan pada kemampuan memahami berdistribusi data normal. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik Independent samples t-test atau Paired samples t-test sesuai dengan kebutuhannya. 4.2.1.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal skor pretest kemampuan memahami pada kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik dalam hal ini Independent samples t-test. Uji perbedaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan yang sama, meskipun tidak digunakan pemilihan setiap anggota kelompok dengan teknik random. Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05 tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test dengan tingkat signifikansi 95% menunjukkan harga F = 0,105 dan harga sig. 0,747 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan uji statistik Independent samples ttest untuk analisis selanjutnya. Berikut adalah Tabel 4.2 Hasil Uji Perbandingan Skor Pretest Kemampuan Memahami (Lihat Lampiran 6.2). 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.2 Hasil Uji Perbandingan Skor Pretest Kemampuan Memahami Hasil Pretest Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Kemampuan Memahami Sig. (2-tailed) 0,385 Keterangan Tidak berbeda Berdasarkan analisis uji perbandingan skor pretestt, diperoleh M pada kelompok eksperimen = 2,4084, N = 32, SD = 0,44478, dan SE = 0,07863. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 2,3078, N = 32, SD = 0,47448, dan SE = 0,08388. Hasil uji perbandingan skor pretestt kemampuan inferensi menunjukkan bahwa t = 0,875, df = 62, harga sig. (2-tailed) sebesar 0,385 (atau p > 0,05) sehingga Hnull diterima dan Hi ditolak, maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok kontrol dan pretest kelompok eksperimen, dengan kata lain kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang sama sehingga bisa dibandingkan. 4.2.1.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest Uji selisih skor pretest dan posttest dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran Van Hiele berpengaruh terhadap kemampuan memahami. Uji selisih skor pretest dan posttest kemampuan memahami pada kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik dalam hal ini Independent samples t-test. Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 ada homogenitas variansi pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig.< 0,05 tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test dengan tingkatkepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,084 dan harga sig. 0,773 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan uji statistik Independent samples ttest untuk analisis selanjutnya. Berikut adalah Tabel 4.3 hasil Uji Selisih Kemampuan Memahami (Lihat Lampiran 6.3). Tabel 4.3 Hasil Uji Selisih Skor Kemampuan Memahami Hasil Uji Selisih Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Sig. (2-tailed) 0,000 Keterangan Berbeda 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan analisis uji perbandingan skor pretest, diperoleh M pada kelompok eksperimen = 3,0100, N = 32, SD = 0,45178, dan SE = 0,07987. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,4794, N = 32, SD =0,45111, dan SE = 0,07974. Hasil analisis statistik signifikasi data harga sig.(2-tailed) 0,05 yaitu 0,000, maka Hnull ditolak dan mengafirmasi hipotesis bahwa model pembelajaran Van Hiele berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. 4.2.2 Analisis Lebih Lanjut 4.2.2.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest Uji peningkatan skor pretest dan posttest dilakukan untuk melihat ada atau tidak adanya kenaikan skor yang signifikan antara skor pretestt ke posttest, baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Dari uji perbandingan antara skor pretest ke posttest akan diperlihatkan persentase kenaikan masingmasing kelompok. Uji peningkatan ini berkaitan dengan uji normalitas. Pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen harga sig.(2-tailed) pada pretest dan posttest 0,05 sehingga data tersebut dikatakan normal. Analisis statistik yang digunakan untuk data normal adalah Paired t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Berikut adalah grafik peningkatan skor pretest ke posttest pada kemampuan memahami. 3,5 3 2,5 3,01 2,4 2,3 2,38 2 Eksperimen 1,5 Kontrol 1 0,5 0 Pretest Posttest Gambar 4.1 Peningkatan skor pretest ke posttest pada kemampuan memahami 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut adalah Tabel Hasil Uji Perbandingan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Memahami (Lihat Lampiran 6.4). Tabel 4.4 Hasil Uji Perbandingan Skor Kemampuan Memahami No Kelompok 1 Kontrol Rerata Pretest 2,3078 Peningkatan Sig. (2- (%) tailed) Posttest 2,3812 7,4 0,213 Keputusan Tidak berbeda 2 Eksperimen 2,4084 3,0100 61 0,000 Berbeda Untuk melihat ada tidaknya perlakuan dan seberapa besar peningkatannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: untuk melihat peningkatannya. Jika hasilnya negatif maka dapat dipastikan bahwa terjadi penurunan dan sebaliknya jika hasilnya positif maka dapat dipastikan terjadi peningkatan. Secara umum hasil uji peningkatan skor pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis di atas diketahui terjadi peningkatan yang signifikan sebesar 61% di kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diketahui terjadi peningkatan, namun tidak signifikan yaitu sebesar 7,4%. Tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan memahami pada kelompok kontrol tidak terdapat kenaikan yang signifikan antara pretest ke posttest. Hal itu ditunjukan dengan harga sig.(2-tailed) pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) 0,05, yaitu 0,213. Maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan kata lain tidak ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara pretest dan posttest pada kelompok kontrol. Kemampuan memahami pada kelompok eksperimen terdapat kenaikan yang signifikan antara pretest ke posttest. Hal itu ditunjukan dengan harga sig.(2-tailed) pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) 0,05, yaitu 0,000. Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan kata lain ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara pretest dan posttest pada kelompok eksperimen. 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.2.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) Uji besar pengaruh dilakukan untuk melihat besarnya pengaruh model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami. Hal ini juga untuk memastikan apakah ada perbedaan antara skor posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pentingnya suatu pengaruh disebut sebagai effect size. Hal yang digunakan untuk mengetahui effect size adalah koefisien korelasi Pearson dengan kriteria r = 0,10 (efek kecil) yang setara dengan 1%, r = 0,30 (efek menengah) yang setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25%. Cara yang digunakan untuk mengetahui koefisien korelasi yaitu dengan mengubah harga t menjadi harga r karena data yang digunakan berdistribusi normal. Berikut adalah hasil perhitungan besar pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada kemampuan memahami (Lihat Lampiran 6.5). Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Besarnya Pengaruh pada Kemampuan Memahami Kelompok t t2 df Sig. (2-tailed) r R2 Persentase (%) Keterangan Eksperimen 10,90 118,81 31 0,000 0,99 0,98 98 Efek Besar Kontrol 1,27 1,61 31 0,231 0,2 0,04 4 Efek Kecil Hasil perhitungan besar efek pengaruh model pembelajaran Van Hiele di atas, diketahui besarnya effect size pada kelompok eksperimen sebesar 0,99 dan kelompok kontrol sebesar 0,19. Berdasarkan kriteria yang digunakan, besarnya effect size dengan mengkuadratkan nilai r, pada kelompok eksperimen sebesar 98% dan hal itu menunjukkan bahwa model pembelajaran Van Hiele memiliki efek besar terhadap kemampuan memahami. Begitu pula dengan kelompok kontrol, besarnya effect size yaitu 4% dan hal itu menunjukkan bahwa model pembelajaran konvensional memiliki efek kecil terhadap kemampuan memahami. 4.3 Pembahasan 4.3.1 Kemampuan Memahami Hasil penelitian yang telah diperoleh dari hasil analisis data menggunakan program PASW (SPSS) 20 for Windows. Pada tahap pertama dengan melakukan uji perbedaan kemampuan awal menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berada pada kondisi yang sama atau berada pada titik pijak 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang sama karena harga sig.(2-tailed) 0,05 adalah 0,385. Pada uji kedua dilakukan dengan uji selisih skor pretest ke posttest diperoleh signifikasi data harga sig.(2-tailed) 0,05 yaitu 0,000. Sehingga Hnull ditolak dengan kata lain mengafirmasi hipotesis bahwa model pembelajaran Van Hiele berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. Pada uji ketiga dilakukan dengan uji peningkatan skor pretest ke posttest. Perbandingan skor pretest ke posttest dari masing-masing kelompok diperoleh data bahwa pada kelompok kontrol tidak terdapat peningkatan yang signifikan karena berada 0,05 (lebih dari 0,05) yaitu 0,213. Sedangkan kondisi pada kelompok eksperimen lebih meningkat dan harga signifikasinya 0,05 (kurang dari 0,05) yaitu 0,000. Hal tersebut terjadi karena dalam kegiatan pembelajaran, kelompok eksperimen diberikan perlakuan yang berbeda dengan kelompok kontrol. Kegiatan pembelajaran yang digunakan pada kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional yang biasanya digunakan oleh guru kelas, sedangkan model pembelajaran yang digunakan pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Maka kenaikan skor dari pretest ke posttest pada kelompok eksperimen mengalami kenaikan yang signifikan, sedangkan skor pretest ke posttest pada kelompok kontrol tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Pada uji keempat dilakukan uji besar pengaruh perlakuan (effect size) diperoleh data bahwa besarnya effect size pada kelompok eksperimen sebesar 98% dan hal itu menunjukkan bahwa model pembelajaran Van Hiele memiliki efek besar terhadap kemampuan memahami, sedangkan kelompok kontrol, besarnya effect size yaitu 4% dan hal itu menunjukkan bahwa model pembelajaran konvensional memiliki efek kecil terhadap kemampuan memahami. Penggunaan model pembelajaran Van Hiele sangat membantu siswa dalam memahami konsep geometri bangun datar. Hal itu didukung oleh D’Agustine dan Smith (1992: 227), kemajuan tingkat berpikir siswa dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya meliputi lima tahapan. Kemajuan dari satu tingkatan berpikir menuju tingkatan berpikir selanjutnya tergantung pada pengalaman belajar masing-masing siswa, namun pengalaman belajar ini dapat pula menghambat kemajuan tingkat berpikir siswa jika ia menerima tahapan yang salah atau tidak semestinya. Model pembelajaran Van Hiele mempunyai tahapan yang harus 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan secara bertahap dan bersifat mutlak. Model pembelajaran Van Hiele akan membantu siswa dalam memahami konsep geometri bangun datar selama pembelajaran berlangsung dari tahap yang sederhana menuju tahap yang lebih kompleks. 4.3.2 Dampak Perlakuan terhadap Siswa Penelitian ini selain menggunakan tes tertulis yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan memahami konsep geometri bangun datar, peneliti juga menggunakan pengumpulan data triangulasi secara kualitatif. Triangulasi data diperoleh berdasarkan observasi saat peneliti mengajar di kelas, wawancara guru, wawancara siswa. 4.3.2.1 Hasil Observasi 4.3.2.1.1 Kelas Kontrol Tahap perkembangan siswa pada pertemuan pertama berada pada tahap 0, yaitu pengenalan. Siswa mulai mengenali beberapa bangun datar melalui pengamatan benda-benda di sekelilingnya. Siswa mengenali nama-nama bangun datar melalui pengamatan dan penjelasan dari guru. Saat menyebutkan namanama bangun datar, masih ada beberapa siswa yang terbalik antara bangun datar trapesium dan jajar genjang, serta belah ketupat dan layang-layang. Pada pertemuan kedua, hanya beberapa siswa yang sudah mampu mengembangkan kemampuan memahami pada tahap 1, yaitu analisis. Beberapa siswa yang sudah mampu pada tahap 1 mulai dapat mengenali sifat-sifat bangun datar melalui pengamatan. Ketika menafsirkan (mengubah gambar menjadi pernyataan dan sebaliknya) sudah banyak siswa yang mampu. Siswa juga sudah mampu mencontohkan sifat-sifat bangun datar melalui diskusi kelompok. Mereka saling bertanya dan bertukar pemahaman terhadap materi sifat-sifat bangun datar. Dalam hal mengklasifikasikan sifat-sifat bangun datar, masih ada beberapa siswa yang belum paham antara jenis-jenis segitiga dan jenis-jenis segiempat. Ada beberapa siswa yang masih mempunyai pemahaman bahwa belah ketupat dan layanglayang termasuk bangun datar segitiga. Pada pertemuan ketiga, beberapa siswa yang sudah mampu melewati tahap 1 mulai masuk ke tahap 2 yaitu pengurutan. 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan pada tahap 2 ini diarahkan pada diskusi kelompok karna dinilai lebih mudah. Siswa dapat bertanya kepada temannya atau kepada guru jika memang belum paham. Saat berdiskusi, siswa sudah mampu mengetahui hubungan keterkaitan antar bangun datar serta menjelaskan hubungan keterkaitan antar bangun datar. Saat menyimpulkan hubungan definisi setiap bangun datar, masih banyak siswa yang merasa kesulitan. Kesalahan-kesalahan dalam menyimpulkan hubungan definisi setiap bangun datar masih terlihat ketika guru mengajukan pertanyaan kepada siswa seperti ‘apakah persegi merupakan bagian dari persegi panjang?’ banyak siswa yang menjawab bukan atau tidak. 4.3.2.1.2 Kelas Eksperimen Pada pertemuan pertama tahap perkembangan siswa berada pada tahap 0 yaitu pengenalan. Siswa mulai mengenali gambar-gambar bangun datar melalui pengamatan benda-benda di sekelilingnya. Mengenali nama-nama bangun datar juga dilakukan siswa dengan cara mengamati benda-benda serta gambar yang ditunjukan guru kepada siswa, sehingga siswa mampu dengan lancar menyebutkan nama-nama bangun datar dengan benar. Pada pertemuan kedua, sebagian besar siswa mulai masuk pada tahap 1, yaitu analisis. Siswa masih melakukan pengamatan untuk mengenali sifat-sifat bangun datar. Saat menafsirkan, mencontohkan dan mengklasifikasikan sifat-sifat bangun datar lebih banyak dilakukan siswa dalam kelompok. Siswa dibimbing oleh guru untuk masuk ke dalam tahap-tahap tersebut dengan pelan-pelan, sehingga saat membandingkan jenis-jenis bangun datar, tidak ada siswa yang masih salah konsep atau pemahamannya. Pada pertemuan ketiga, seluruh siswa sudah bisa masuk dalam tahap 2, yaitu pengurutan. Kegiatan pada tahap 2 ini juga dilakukan melalui diskusi kelompok. Siswa sudah mampu mengetahui hubungan keterkaitan antar bangun datar serta menjelaskan hubungan keterkaitan antar bangun datar. Hal ini dapat dibuktikan dengan soal evaluasi yang diberikan oleh guru dapat dijawab siswa dengan benar. Saat menyimpulkan hubungan definisi setiap bangun datar, hampir seluruh siswa sudah mampu membuat kesimpulan. Pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga, guru selalu menggunakan langkah-langkah pembelajaran dalam model pembelajaran Van 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hiele. Langkah-langkah pembelajaran ini merupakan langkah yang harus dilakukan dengan urut. Pada pertemuan pertama guru meminta siswa untuk mengamati benda-benda yang ada di sekitar ruangan kelas kemudian siswa diminta menyebutkan beberapa benda yang bentuknya menyerupai bangun datar. Kegiatan tersebut dilakukan guru saat kegiatan eksplorasi. Informasi yang diperoleh adalah beberapa pengertian bangun datar dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya. Orientasi langsung pada kegiatan elaborasi dilakukan guru dengan meminta siswa melihat bentuk bangun datar yang diberikan guru pada masingmasing kelompok. Bentuk bangun datar tersebut merupakan media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Kegiatan orientasi bebas dilakukan siswa dengan cara berdiskusi bersama teman sekelompoknya untuk memberikan contoh bangun datar melalui sifat-sifat yang dimilikinya. Integrasi yang dilakukan guru saat kegiatan konfirmasi adalah meminta siswa untuk memberikan contoh tentang konsep setiap bangun datar dengan menghubungkan sifat-sifat yang dimiliki pada masing-masing bangun datar. Pada pertemuan kedua, kegiatan eksplorasi saat informasi dilakukan guru dengan melakukan tanya jawab tentang cara mencari perbedaan dan persamaan antar bangun (mengklasifikasikan). Orientasi langsung pada pertemuan kedua masih sama dengan pertemuan pertama yaitu menggunakan media pembelajaran berupa bentuk-bentuk bangun datar. Tujuan mengunakan media tersebut agar siswa mampu mencari perbedaan dan persamaan yang dimiliki setiap bangun datar. Orientasi bebas dilakukan dengan berdiskusi untuk membandingkan sifatsifat yang dimiliki setiap bangun datar. Integrasi dilakukan dengan menghubungkan perbedaan dan persamaan antar bangun datar agar dapat membandingkan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar. Pada pertemuan ketiga, kegiatan eksplorasi saat informasi dilakukan guru dengan melakukan tanya jawab untuk menyampaikan pengertian setiap bangun datar melalui sifat-sifat yang dimiliki. Orientasi langsung dilakukan guru dengan menggunakan media bentuk-bentuk bangun datar untuk mencari definisi setiap bangun datar dilihat dari sifat-sifat yang dimiliki. Orientasi bebas dilakukan guru dengan meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman sekelompoknya untuk saling menjelaskan definisi setiap bangun datar dilihat dari sifat yang dimilikinya. 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan integrasi dilakukan dengan menghubungkan definisi setiap bangun datar agar siswa mampu menemukan hubungan definisi antar bangun datar. Tugas utama guru saat pembelajaran adalah mengarahkan siswa agar siswa mampu memahami konsep bangun datar melalui hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang lebih kompleks dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele. 4.3.3.1 Hasil Wawancara Wawancara dilakukan kepada guru dan siswa. Peneliti memilih wawancara tidak terstruktur sebagai pedoman dalam wawancara. Wawancara kepada guru dilakukan setelah guru menerima hasil belajar siswa, sedangkan wawancara kepada siswa dilakukan beberapa hari setelah siswa selesai mengerjakan posttest. 4.3.3.1.1 Hasil Wawancara Guru Wawancara dilakukan pada hari, Selasa 1 April 2014. Peneliti melakukan tanya jawab kepada guru mengenai model pembelajaran Van Hiele yang telah peneliti laksanakan. Hal pertama yang ditanyakan oleh peneliti adalah bertanya bagaimana perasaan anda ketika melihat hasil belajar siswa. “Saya tidak menyangka ternyata nilai anak-anak dalam pelajaran matematika pada materi bangun datar lebih bagus dibandingkan jika saya menggunakan model pembelajaran yang biasanya”, ungkap guru kelas VB yang merupakan kelas eksperimen. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa guru kaget sekaligus senang melihat hasil belajar siswa. Kemudian peneliti bertanya kepada guru mengenai ketertarikan beliau menggunakan model pembelajaran Van Hiele untuk materi bangun datar selanjutnya. Guru menjawab “Saya akan mencoba menggunakan model pembelajaran Van Hiele ini juga mbak, siapa tahu nilai anak-anak tetap bagus seperti ini ke depannya. Tetapi saya belum terlalu paham bagaimana langkah-langkah dalam model pembelajarannya. Saya takut nanti saya malah salah langkah, saya mau dong mbak dikasih tahu tentang model pembelajaran Van Hiele”, ungkap guru. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa guru tertarik untuk menggunakan model pembelajaran Van Hiele , tetapi beliau belum paham mengenai langkah-langkah dalam pembelajaran Van Hiele. Pertanyaan 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI selanjutnya, peneliti bertanya kepada guru apakah model pembelajaran Van Hiele mempunyai kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki, dan jawaban beliau “Saya rasa tidak ada kekurangan mbak. Sangat cocok untuk pelajaran matematika bangun datar. Kalau saya tahu tentang model pembelajaran Van Hiele ini dari awal, saya pasti akan menggunakannya dari dulu”, ungkap guru. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pendapat guru sesuai dengan pendapat peneliti, model pembelajaran Van Hiele mempunyai pengaruh terhadap kemampuan memahami siswa pada konsep geometri bangun datar. 4.3.3.1.2 Hasil Wawancara Siswa Wawancara kepada siswa dilakukan pada hari, Kamis 3 April 2014. Peneliti melakukan tanya jawab kepada siswa mengenai proses pembelajaran yang telah peneliti lakukan. Peneliti bertanya kepada beberapa siswa mengenai perasaan siswa selama mengikuti proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh peneliti. Siswa pertama menjawab “Aku senang-senang aja mbak, asyik kok. Kapan-kapan mau diajarin lagi”. Siswa kedua menjawab “Senang mbak, pelajarannya jadi kelihatan gampang”. Siswa ketiga menjawab “Senang sekali, aku jadi lebih mudah nerima pelajarannya”. Berdasarkan jawaban dari ketiga siswa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa mereka senang selama proses pembelajaran berlangsung, dan materi yang disampaikan menjadi lebih mudah. Pertanyaan selanjutnya yang peneliti ajukan kepada siswa adalah mengenai bagaimana cara siswa memahami konsep bangun datar. Siswa pertama menjawab “Memahaminya pelan-pelan mbak, seperti yang mbak ajarkan. Mulai dari melihat benda-benda nyata dulu, terus tahu bentuknya, sifatnya, dan hubungannya”. Siswa kedua menjawab “Ya seperti yang mbak Putri ajarin kemarin, dari melihat benda di sekitar ruangan dulu, terus kerja sama di kelompok buat mencari sifat-sifatnya”. Siswa ketiga menjawab “Memahaminya bukan dihafalin mbak, kalau dihafalin aku cepat lupa”. Berdasarkan jawaban dari ketiga siswa tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka memahami konsep geometri bangun datar dimulai dari hal-hal yang sederhana terlebih dahulu menuju hal-hal yang lebih kompleks. Masih berhubungan dengan pertanyaan tersebut, kemudian peneliti menanyakan apakah ada kesulitan yang siswa alami 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam memahami konsep geometri bangun datar. Siswa pertama menjawab “Kalau pakai cara yang mbak ajarin kemarin, aku gampang memahami materinya”. Siswa kedua menjawab “Gampang kok mbak, enggak ada yang susah”. Siswa ketiga menjawab “Enggak susah mbak, malah lebih gampang kayak yang diajarin mbak kemari”. Berdasarkan jawaban dari ketiga siswa tersebut dapat disimpulkan, bahwa menggunakan model pembelajaran Van Hiele tidak akan membuat siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep geometri bangun datar. Pertanyaan terakhir yang peneliti ajukan kepada siswa adalah mengenai hasil belajarnya. Siswa pertama menjawab “Wah, aku nggak nyangka mbak biasanya aku dapat nilai 6 sekarang aku bisa dapat nilai 8”. Siswa kedua menjawab “Nilaiku bagus mbak, makasih ya. Kapan-kapan ngajar lagi dong”. Siswa ketiga menjawab “Nilaiku kemarin bagus mbak, padahal aku enggak terlalu pintar matematika”. Berdasarkan jawaban dari ketiga siswa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar mereka menunjukkan adanya kenaikan, hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran Van Hiele memberikan pengaruh yang positif jika digunakan ke dalam pelajaran matematika khususnya pada konsep geometri bangun datar. 4.3.3 Konsekuensi Lebih Lanjut Masalah-masalah pendidikan di Indonesia kini semakin banyak. Pada tanggal 3 Desember 2012, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Developmen atau OECD) meluncurkan hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (Program for Internasional Student Assesment atau PISA) tahun 2012. Hasil PISA menunjukkan bahwa diantara 65 negara, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah. Hal tersebut merupakan penurunan dari hasil PISA tahun 2009 di mana saat itu Indonesia menduduki peringkat 57. Banyak investasi yang dikeluarkan untuk mendukung sektor pendidikan, namun sistem pendidikan di Indonesia tidak mengalami perbaikan. Hasil penelitian PBB menjelaskan bahwa pembiayaan reformasi menghasilkan 20% anggaran untuk pendidikan. Besarnya penghasilan guru akan disayangkan jika tidak diimbangi dengan kinerjanya. 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Salah satu upaya untuk memberbaiki mutu pendidikan adalah dengan memperluas pengetahuan guru mengenai dunia pendidikan, karena dalam hal ini guru berada dalam posisi yang paling dekat dengan siswa. Fokus utama yang harus diperhatikan adalah penggunaan model pembelajaran. Model pembelajaran harus disesuaikan dengan materi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, khususnya dalam pelajaran matematika pada konsep geometri bangun datar. Memahami konsep geometri bangun datar membutuhkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan tahapan berpikir siswa, salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Model pembelajaran Van Hiele mempunyai tahapan-tahapan berpikir yang sesuai dengan teori Van Hiele. Melalui model pembelajaran Van Hiele siswa diarahkan untuk memahami konsep geometri dari hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks. Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Van Hiele berpengaruh terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar. Pada penelitian ini, peneliti khusus meneliti tentang pengaruh penggunaan model pembelajaran Van Hiele terhadap kemampuan memahami pada konsep geometri bangun datar siswa kelas V SD N Ungaran I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kemampuan memahami harga sig.(2-tailed) 0,05 yaitu 0,000 dengan niai t = 10,90 dan df = 31, sehingga Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran Van Hiele berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penggunaan model pembelajaran Van Hiele pada mata pelajaran matematika berpengaruh terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar siswa kelas V SD N Ungaran I Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Hal tersebut ditunjukan berdasarkan hasil analisis statistik parametrik independent samples t-test pada perbandingan selisih skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen skor yang diperoleh lebih tinggi dengan nilai M = 0,69, SE = 0,06, SD = 0,36, sedangkan kelompok kontrol dengan nilai M = 0,07, SE = 0,05, SD = 0,32. Diperoleh harga sig.(2-tailed) 0,05 pada kelompok eksperimen yaitu 0,000 dengan nilai t= 10,90 dan df= 31, sehingga Hnull ditolak, dengan kata lain mengafirmasi hipotesis bahwa model pembelajaran Van Hiele berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami. Model pembelajaran Van Hiele mempunyai efek yang besar terhadap kemampuan memahami konsep geometri bangun datar, hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data koefisien korelasi r yaitu 0,99 dengan persentase pengaruh sebesar 98%. Model pembelajaran Van Hiele dapat digunakan di SD N Ungaran 1 Yogyakarta pada mata pelajaran matematika dalam materi bangun datar kelas V. Model pembelajaran Van Hiele akan dapat membantu siswa memahami konsep geometri bangun datar secara bertahap, dan jika digunakan oleh guru akan bermanfaat bagi peningkatan hasil belajar siswa siswa. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Tidak ada media yang digunakan di kelas kontrol karena RPP merupakan RPP yang berpedoman pada guru kelas, sehingga peneliti sedikit kesulitan dalam menerangkan materi bangun datar. 5.2.2 Posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen hanya dilakukan satu kali sehingga tidak ada uji retensi pengaruh perlakuan. 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.3 Saran 5.3.1 Perlu penggunaan media di kelas kontrol sekalipun RPP yang digunakan berpedoman pada RPP guru kelas, agar memudahkan peneliti untuk menerangkan materi bangun datar. 5.3.2 Perlu diadakan uji retensi untuk melihat pengaruh yang ditimbulkan posttest II apakah masih sekuat posttest I atau tidak. 5.1.1 pada kelompok eksperimen dengan nilai t 3, 262 dan df = 76 yang berarti penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan eksplanasi. Metode mind map mempunyai efek yang besar terhadap kemampuan eksplanasi, hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data koefisien korelasi r yaitu 0,72 dengan persentase pengaruh sebesar 51%. 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Abdurohman, M. (1999). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Pustaka. Abdussakir. (2010). Pembelajaran geometri sesuai Van Hiele. Jakarta: Bumi Aksara. Agustine, D, & Smith. (1992). Teaching elementary school mathematics. New York: Harper Collins Publisher. Aisiyah, N. (2008). Pengembangan pelajaran matematika SD. Jakarta: Ditjen Dikti, Depdiknas. Amran, C. (2002). Kamus Lengkap bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia. Anderson L.W. & Krathwohl D. R. (2010). Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan assemen revisi taksonomi pendidikan Bloom. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2002). Dasar-dasar evaluasi pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara. Azwar, S. (2003). Test prestasi: fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Liberty. Azwar, S. (2008). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Bahri. (2011). Konsep matematika dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of educational objectives: handbook 1, cognitive domain. New York: David McKay. Budiarto, M. T. (2000). Pembelajaran geometri dan berpikir geometri. dalam prosiding seminar nasional matematika “Peran matematika memasuki milenium III”. Jurusan Matematika FMIPA ITS Surabaya. Surabaya, 2 November. Burger, W. F. & Shaughnessy, J.M.. (1986). Characterizing the van Hiele levels of development in geometry. Journal for Research in Mathematics Education. 17 (I): 31-48. 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Chang, M. (2014). Teacher reform in Indonesia: The role of politics and evidence in policy making. Washington, D.C: The World Bank. Chaniago. (2002). Memahami konsep dalam pelajaran matematika. Jakarta: Bumi Aksara. Clements, D. H. & Battista, M. T. (1992). Geometry and spatial reasoning. Dalam Grouws, D.A. (ed). Handbook of research on mathematics teaching and learning. New York: MacMillan Publishing Company. Cresswell, John W.(2003). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches.Thousands Oaks: SAGE Publications, Inc. Crowley, L. M. (1987) “The Van Hiele model of the development of geometric thought.” Dalam Learning and teaching Geometry, K-12. National of teacher of mathematics (NCTM). United State of America. Depdiknas. (2005). Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Depdiknas. (2006a). KTSP: Kerangka dasar. Jakarta: Pusat Kurikulum. Depdiknas. (2006b). Peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi. Jakarta: Depdiknas. Field, A. P. (2009). Discovering statistics using spss. London: SAGE. Gatot, M. (2008). Materi pokok pembelajaran matematika SD. Universitas Terbuka. Jakarta: Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Gulo. W. (2005). Strategi belajar mengajar. Jakarta : Grasindo. Gunawan I., & Palupi A. R. (2012). Taksonomi Bloom revisi ranah kognitif: kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran dan penilaian. PGSD FIP IKIP PGRI Madiun. Hamzah, B. U. (2009). Model pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Huzaifah, E. (2011). Upaya meningkatkan pemahaman konsep geometri siswa dengan menggunakan teori Van Hiele. Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah. Isjoni. (2011). Cooperative learning efektivitas pembelajaran kelompok. Bandung: Alfabeta. 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Joyce, W. (1980). Models of teaching. New Jersey : Prentice-Hall. Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research, and intergreted approach (second edition). Illinois: Waveland Press. Mailizar. (2013). PISA 2012: pembelajaran untuk Indonesia. Diakses pada tanggal 31 Mei 2014 dari: http://acdpindonesia.wordpress.com/2013/12/09/pisa-2012-pembelajaranuntuk-indonesia/ Masidjo, I. (2007). Penilaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Mulin, N. (2008). Pembelajaran geometri berdasarkan tahapan Van Hiele. http://mulin-unisma-blogspot.com/2008/07/pembelajaran-geometriberdasarkan-tahap//, diakses tanggal 14 April 2014. Nur’aeni, E. (2008). Teori Van Hiele dan komunikasi matematika (apa, mengapa dan bagaimana). Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar. UPI Kampus Tasikmalaya. Priyatno, D. (2008). Mandiri belajar SPSS.Yogyakarta: Media Kom. Priyatno, D. (2010). Teknik mudah dan cepat melakukan analisis data penelitian dengan SPSS dan tanya jawab ujian pendadaran. Yogyakarta: Gava Media. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Sadirman, A. M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali. Sagala. (2013). Proses pembelajaran matematika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sari, I. P. (2012) Taksonomi Bloom ranah pengetahuan kognitif Marzano. Jakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya. Sarwono. (2010). Belajar statistik menjadi mudah dan cepat. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya (Pemahaman Konsep).pdf. Soedjadi, R. (2000). Kiat pendidikan matematika di indonesia: konstatasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan. Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi. Soenarjo. 2007. Matematika 5 : untuk kelas V SD/MI. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sugiyono. (2008). Metode penelitian kualitatis, kuantitatif dan kombinasi. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2010). Metode penelitian kualitatis, kuantitatif dan kombinasi. Bandung: Alfabeta. Sukardi, H. M. (2008). Evaluasi pendidikan prinsip dan operasionalnya. Yogyakarta: P.T Bumi Aksara. Sunarto. (2008). Perkembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Susanto, A. (2013). Teori Belajar & pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Media Group. Syaiful, B. D. (2011). Psikologi belajar (edisi revisi 2011). Jakarta: Rineka Cipta. Trianto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Jakarta: Kencana. Trihendradi. (2012). SPSS 20: Analisis data statistik. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Utari, R. (2011). Taksonomi Bloom: apa dan bagaimana cara menggunakannya. Widyaiswara Madya. Pusdiklat KNKP. Walle, J.A (2008). Matematika sekolah dasar dan menengah. Jakarta: Erlangga. Wahyuni, R.A. (2012). Evektivitas penerapan model pembelajaran van hiele terhadap hasil belajar matematika bagi siswa kelas v SD Negri Bringin 01 Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang semester II Tahun Pelajaran 2011/2012. Universitas Kristen Satyawacana Salatiga. Yulius, O. (2010). Kompas IT kreatif SPSS 18. Yogyakarta: Panser Pustaka. 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. RPP Kelompok Eksperimen 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. RPP Kelompok Kontrol 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.1 Soal Essai penelitian Nama : Kelas : No. Absen : 1. Sebutkan nama bangun datar di bawah ini! No Bentuk Bangun Nama Bangun 1. .................... 2. ................... 3. ................... 4. .................... 5. ................... 6. .................... 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. .................... 8. r P r .................... d 2. Perhatikan gambar di bawah ini! 1 3 2 Sebutkan nama bangun datar di atas dan sifat-sifat yang dimiliki setiap bangun datar tersebut! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 3. Perhatikan beberapa bangun gambar di bawah ini! 1 2 3 4 Sifat-sifat yang dimiliki : mempunyai 4 sisi yang sama panjang, dan besar keempat sudutnya 90 . a). Sebutkan nama bangun datar yang sesuai dengan sifat tersebut! 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI _______________________________________________________________ b). Sebutkan nomor gambar bangun datar yang dimaksud! _______________________________________________________________ 4. Perhatikan gambar beberapa bangun datar di bawah ini! 1 2 3 4 5 6 7 Pilihlah gambar yang termasuk bangun datar segi empat serta sebutkan nama bangun datarnya! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 5. Bandingkanlah kedua gambar bangun datar di bawah ini dengan menyebutkan 1 perbedaan dan 1 persamaan yang dimiliki kedua bangun datar tersebut! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Sebutkan perbedaan antara bangun datar layang-layang dan belah ketupat dengan melengkapi tabel berikut! Aspek Layang-layang Belah ketupat Sisi Sudut Diagonal 7. Jelaskan definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat dan berilah 3 contoh bangun datar yang termasuk segitiga dan segi empat! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 8. Perhatikan gambar di bawah ini! Dari sifat-sifat yang dimiliki kedua bangun tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persegi adalah belah ketupat. Jelaskan pendapatmu dengan memahami sifat-sifat yang dimiliki kedua bangun tersebut! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 9. Perhatikan pernyataan berikut ini! Persegi Mempunyai 4 sisi yang sama panjang Persegi panjang Mempunyai 2 pasang sisi yang berhadapan sama panjang Mempunyai sudut siku-siku Mempunyai sudut siku-siku Termasuk bangun datar segiempat Termasuk bangun datar segiempat Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki bangun datar persegi dan persegi panjang, sebutkan dan jelaskan kesimpulan yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut! ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Kunci Jawaban Kunci Jawaban 1. Nama-nama bangun datar No Bentuk Bangun Nama Bangun 1. Persegi 2. Segitiga sama sisi 3. Trapesium sama kaki 4. Layang-layang 5. Jajargenjang 6. Persegi panjang 7. Belah ketupat 8. r P r Lingkaran d 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Nama bangun beserta sifatnya. = Persegi panjang 1 Sifat-sifat yang dimiliki = Sisi yang berhadapan sama panjang / mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang. Keempat sudutnya siku-siku / besar keempat sudutnya 90 . = Segitiga sama sisi 2 Sifat-sifat yang dimiliki = Mempunyai tiga sisi yang sama panjang dan masingmasing sisi besarnya 60 . 3 = Persegi Sifat-sifat yang dimiliki = Mempunyai empat sisi yang sama panjang. Keempat sudutnya siku-siku / besar keempat sudutnya 90 . 3. Sifat-sifat yang dimiliki : mempunyai 4 sisi yang sama panjang, dan besar keempat sudutnya 90 . a). Nama bangun datar yang sesuai dengan sifat tersebut adalah bangun datar persegi. b). Nomor gambar yang dimaksud adalah nomor 2 4. Gambar yang termasuk bangun datar segi empat dan menyebutkan nama bangunnya. 1 = trapesium 2 = jajargenjang 4 = belahketupat 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Membandingkan kedua gambar bangun datar dengan menyebutkan 1 perbedaan dan 1 persamaan yang dimiliki kedua bangun datar tersebut! Sisi yang berhadapan sama panjang / mempunyai dua pasang sisi yang berhadapan sama panjang. Keempat sudutnya siku-siku / besar keempat sudutnya 90 . Mempunyai empat sisi yang sama panjang Keempat sudutnya siku-siku / besar keempat sudutnya 90 . 6. Perbedaan antara layang-layang dan belah ketupat dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya. Aspek Layang-layang Mempunyai dua pasang sisi yang Sisi berhadapan sama panjang / sisi-sisi Belah ketupat Mempunyai empat sisi yang sama panjang yang berhadapan sama panjang. Sudut Diagonal Mempunyai sepasang sudut yang berhadapan sama besar Salah satu diagonalnya memotong tegak lurus diagonal lainnya Mempunyai sepasang sudut yang berhadapan sama besar Kedua diagonal berpotongan tegak lurus dan saling membagi dua sama panjang 7. Definisi dari bangun datar segitiga dan segi empat. a). Segitiga adalah bangun datar yang memiliki tiga sisi dan tiga titik sudut. Contoh = segitiga sama kaki, segitiga sama sisi, dan segitiga siku-siku. b). Segi empat adalah bangun datar yang terdiri dari empat garis lurus yang tidak terputus. Contoh = persegi, persegi panjang, dan trapesium. 167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Hubungan definisi dari bangun datar persegi dan belah ketupat dengan memahami sifat-sifat yang dimilikinya. 1). Persegi adalah bangun datar yang keempat sisinya sama panjang dan keempat sudutnya siku-siku. 2). Belah ketupat adalah bangun datar segiempat yang keempat sisinya sama, dan sudut-sudut yang berhadapan sama besar. 3). Sifat-sifat yang dimiliki persegi dan belah ketupat mempunyai banyak persamaan yaitu: mempunyai empat sisi yang sama panjang dan sudut-sudut yang berhadapan sama besar. 4). Bangun datar persegi jika diputar 90 akan terbentuk bangun datar belah ketupat. 9. Kesimpulan yang dapat diperoleh adalah persegi merupakan bagian dari persegi panjang, karena sifat-sifat yang dimiliki kedua bangun tersebut hampir sama seperti mempunyai sudut siku-siku, sisi yang berhadapan sama panjang dan termasuk bangun datar segi empat. 168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Instrumen Validasi Desain Pembelajaran A. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) NO. KOMPONEN PENILAIAN SKOR KOMENTAR 1. Kelengkapan komponen RPP 4 Tidak ada komentar 2. Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD 5 Tidak ada komentar 3. Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator 4 Tidak ada komentar 4. Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD 5 Tidak ada komentar 5. Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran 5 Tidak ada komentar 6. Tingkat kesesuaian langkah-langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode 4 Tidak ada komentar 7. Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai 5 Tidak ada komentar 8. Kelengkapan sumber belajar yang digunakan 5 Tidak ada komentar 9. Kelengkapan instrument penilaian 5 Tidak ada komentar 10. Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku 4 Tidak ada komentar Jumlah 46 B. SOAL EVALUASI No. KOMPONEN PENILAIAN SKOR KOMENTAR 1 Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator 4 Tidak ada komentar 2 Kejelasan instruksi dalam soal evaluasi 5 Tidak ada komentar 3 Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa 5 Tidak ada komentar 4 Pembobotan item soal dan penyebarannya 4 Tidak ada komentar 5 Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku 4 Tidak ada komentar 6 Ketepatan penggunaan opsi jawaban 4 Tidak ada komentar Jumlah 26 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4. Penilaian Terhadap Instrumen Tes No 1. 2. Komponen Penilaian 1 Kesesuaian antara standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indicator Kesesuaian indikator 1a dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 2a dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 2b dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 2c dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 2d dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 3a dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 4a dengan item soal yang diberikan Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis Baku 4 Penguji 2 Skor 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 3 2 3 2 11 Kejelasan perintah pengerjaan soal Kualitas pedoman penilaian BentuK face instrumen tes yang disajikan 3 3 12 Kualitas pedoman penilaian 3 2 44 39 83 3. 4. 5. 6 7 8 9 10 Jumlah skor Total skor Komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Tidak ada komentar Penguji I Cek kembali kata atau kalimat yang mungkin dapat menimbulkan makna ambigu Tidak ada komentar Penguji I Dapat dibuat lebih menarik Tidak ada komentar 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.5 Instrumen Validasi Observasi No. KOMPONEN PENILAIAN SKOR KOMENTAR 1. Kelengkapan komponen observasi 4 Tidak ada komentar 2. Kesesuaian antara teori Van Hiele dalam tahap perkembangan siswa 5 Tidak ada komentar 3. Kesistematisan langkah-langkah model pembelajaran Van Hiele 5 Tidak ada komentar 4. Kelengkapan kegiatan siswa sesuai dengan teori Van Hiele dalam tahap perkembangan siswa 5 Tidak ada komentar 5. Kelengkapan kegiatan guru dalam melaksanakan langkah-langkah model pembelajaran Van Hiele 4 Tidak ada komentar 6. Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku 4 Tidak ada komentar 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas Correlations item item item item item item item item item item item item item item item Total Total Pearson Correlation Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item2 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item3 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item4 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item5 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N 3 4 .581 .473 ** ** 5 6 .106 .241 7 8 .417 .632 * ** 9 .148 10 11 .630 .566 ** ** 12 .343 13 .625 ** 14 .332 15 .798 .580 ** ** .562 .001 .008 .575 .199 .022 .000 .436 .000 .001 .063 .000 .073 .000 .001 tailed) item1 2 1 .110 Sig. (2- N 1 30 .110 30 1 .130 .562 30 30 30 30 - - - .067 .107 .179 .494 .725 .572 .345 30 ** .581 .130 30 30 30 ** .067 30 1 .308 .001 .494 .473 30 .106 .049 30 .308 30 30 30 - - .107 .049 30 .241 30 .179 30 1.00 0 30 .021 .225 30 30 .259 .051 30 .213 30 30 30 30 30 30 30 30 .473 - - - - - ** .116 .171 .238 .059 .251 30 30 .134 .123 .702 .008 .540 .367 .205 .759 .181 .479 .518 30 30 .965 .368 ** * 30 .021 .359 .193 1 30 1.00 0 30 .308 .714 30 30 30 30 30 30 30 .315 .168 30 .045 30 .318 30 .061 30 .311 30 .064 30 30 30 30 30 30 30 .048 30 .412 * 30 .150 .106 .462 .450 .692 .639 .297 .521 .024 .428 30 30 1 .193 .070 .000 .172 .199 .345 .911 .051 .308 30 .000 .073 30 1 .213 .359 .000 .301 .140 .143 .076 .089 .197 .122 .575 .572 .798 .259 30 30 30 .098 .798 .911 .232 .000 .045 .090 .375 .814 .087 .747 .094 .738 .008 .725 .098 30 30 30 1.00 0 30 .084 30 - 30 30 30 30 30 30 - .398 - - - - .290 .136 * .308 .100 .077 .013 .365 .119 .475 .030 .097 .599 .687 .945 30 30 - - .256 .014 30 30 .273 .103 30 30 - - .058 .114 30 30 .103 .200 .803 .659 .172 .941 .144 .587 .761 .547 .589 .289 30 30 30 30 30 30 30 30 30 172 30 30

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI item6 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item7 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item8 Sig. (2tailed) N Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item10 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item11 .022 30 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N 1.00 0 30 ** .632 .073 .232 30 .965 ** 1.00 0 30 30 .148 30 30 .473 .368 ** * .048 1 .278 .205 .234 .148 .714 .803 30 .301 .000 .084 .278 1 30 30 1.00 0 30 .140 .172 30 .659 .137 30 .256 30 .205 30 .369 * 30 ** - .630 .116 30 30 .315 .143 30 30 - - .290 .014 30 30 30 ** - .566 .171 30 30 .168 .076 30 .136 30 30 .369 * 30 .234 .295 30 30 .295 .251 30 .343 30 30 - - .238 .045 30 .089 30 30 .273 .148 .251 .398 * 30 .103 30 .019 30 30 30 30 30 1 .026 .254 .047 30 .026 30 30 .321 .024 30 - - - - .107 .324 .347 .166 30 .107 30 30 1 30 .383 .022 * 30 .094 .324 30 .442 * 30 - - - .037 .019 .347 30 .099 30 30 30 30 .712 .461 .502 ** * ** 30 .273 .014 .604 .000 .010 .005 .145 30 - .442 30 30 30 .574 .081 .061 .380 .037 .907 .621 30 30 .307 30 * 30 30 30 1 .196 30 .099 .196 30 30 .474 ** 30 .300 30 30 .461 .363 * * .299 .008 .107 .010 .049 30 30 30 30 30 1 .274 .272 .276 .063 .205 .814 .639 .030 .587 .844 .921 .061 .604 .299 30 30 30 .001 .367 .375 .692 .475 .144 .436 .182 .081 .014 30 .037 .068 30 .000 .540 .090 .450 .119 .941 .214 .114 .574 30 - .045 .114 .182 .921 .099 .892 .084 .900 .436 .008 .045 .462 .365 .172 .278 .045 30 - .137 .278 .214 .436 .844 .723 .893 .176 .804 30 .000 .702 .000 .106 Pearson Correlation item9 * .417 .000 .225 .000 .070 30 .524 ** .143 .145 .140 .003 30 30 30 173 30 30

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI item12 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item13 Sig. (2tailed) N Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item15 ** Pearson Correlation Sig. (2tailed) N .059 .318 .197 - - - .308 .058 .068 .307 - .712 .474 .166 ** ** .274 1 .339 .000 .759 .087 .297 .097 .761 .723 .099 .380 .000 .008 .143 30 Pearson Correlation item14 .625 .332 30 30 - - 30 30 - - 30 - 30 - .461 30 30 .067 .000 .006 30 30 30 30 .073 .181 .747 .521 .599 .547 .893 .892 .037 .010 .107 .145 .067 .135 .088 30 30 30 ** .798 .134 .311 30 30 .412 - * .077 30 30 .026 30 .383 30 ** 1 .279 .317 .100 .114 .026 30 ** .300 .272 .339 .251 .061 .122 30 .647 .492 * * 30 .103 .254 .321 .022 30 30 .502 .461 ** * 30 .276 30 .647 ** 30 30 .279 1 .000 .479 .094 .024 .687 .589 .176 .084 .907 .005 .010 .140 .000 .135 30 30 30 - ** .580 .123 .064 30 .150 30 .013 30 30 30 .200 .047 .024 30 .094 30 .273 30 30 30 .363 .524 .492 * ** ** 30 .317 30 .564 ** .001 30 .564 ** 30 1 .001 .518 .738 .428 .945 .289 .804 .900 .621 .145 .049 .003 .006 .088 .001 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 174 30 30

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N Cases Valid % 30 100.0 0 .0 30 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .786 N of Items .795 9 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Hasil Observasi Kelas Eksperimen 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Hasil Observasi Kelas Kontrol 194

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Transkrip Wawancara Guru No 1 Pertanyaan Jawaban Guru Setelah melihat hasil nilai yang siswa “Saya sangat kaget sekaligus senang sekali. peroleh bagaimana tanggapan bapak? Tidak menyangka bahwa nilai anak-anak pada materi bangun datar sebagus ini.” 2 Apakah bapak tertarik untuk “Ya, tentu saja, siapa tahu hasil nilai anak-anak menggunakan model pembelajaran Van bisa dipertahankan atau bahkan ditingkatkan Hiele? jika saya menggunakan model pembelajaran Van Hiele. Tetapi masalahnya saya kurang paham mengenai langkah-langkah yang terdapat dalam model pembelajaran tersebut.” 3 Sejauh mana pemahaman bapak “Saya kurang begitu paham. Yang saya baca mengenai model pembelajaran Van melalui RPP yang mbak buat, model Hiele? pembelajaran ini mempunyai langkah-langkah yang sistematis dan cocok bila digunakan ke dalam materi geometri bangun datar.” 4 Apakah bapak akan mulai mencoba “Ya tentu saja, saya akan membaca sumbernya menggunakan model pembelajaran Van dulu dan bertanya kepada mbak mengenai Hiele? beberapa hal yang belum saya paham, setelah itu saya akan mulai menggunakannya.” 5 Apakah bapak akan memberitahukan “Jelas mbak, saya akan memberitahu guru-guru informasi ini kepada guru yang lain? yang lain sebagai masukkan. Saya ingin kelas yang lain juga mencoba model pembelajaran Van Hiele.” 203

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.4 Transkrip Wawancara Siswa No 1 Pertanyaan Jawaban Siswa Bagaimana perasaanmu selama S1: “Senang sekali mbak.” mengikuti pembelajaran? S2: “Senang mbak, pelajarannya jadi gampang.” S3: “Senang sekali, aku jadi mudah menerima pelajarannya.” 2 Bagaimana peran sertamu jika bekerja di S1: “Aku ketuanya mbak.” dalam kelompok? S2: “Aku disuruh yang gambar bangun datar terus, soalnya gambarku bagus.” S3: “Aku kebagian yang sering ngerjain soal, yang lain enggak mau.” 3 Bagaimana materi yang disampaikan S1: “Materinya jadi lebih gampang, aku mau oleh guru? diajarin lagi dong mbak.” S2: “Materinya gampang-gampang susah.” S3: “Materinya asyik, mudah dipahami kalo mbak yang ngajar.” 4 Apakah ada hal-hal yang S1: “Enggak ada mbak, mudah kok.” membingungkan dari materi yang telah S2: “Awalnya agak bingung, tapi lama-lama disampaikan? mudah kalau udah tau caranya.” S3: “Enggak sih mbak, soalnya mbak yang ngajar tuh enak, jadi kayak lagi main sambil belajar.” 5 Bagaimana cara kamu memahami S1: “Memahaminya pelan-pelan mbak, seperti konsep geometri bangun datar? yang mbak ajarkan. Mulai dari melihat bendabenda nyata dulu, terus tahu bentuknya, sifatnya, dan hubungannya.” S2: “Ya seperti yang mbak Putri ajarin kemarin, dari melihat benda di sekitar ruangan dulu, terus kerja sama di kelompok buat mencari sifat-sifatnya.” S3: “Memahaminya bukan dihafalin mbak, kalau dihafalin aku cepat lupa.” 6 Apakah ada kesulitan yang kamu alami S1: “Kalau pakai cara yang mbak ajarin dalam memahami konsep geometri kemarin, aku gampang memahami materinya.” bangun datar? Jika iya sebutkan cara S2: “Gampang kok mbak, enggak ada yang kamu mengatasi kesulitan tersebut! susah.” 204

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI S3: “Enggak susah mbak, malah lebih gampang kayak yang diajarin mbak kemari.” 7 Bagaimana pendapatku ketita S1: “Wah, aku nggak nyangka mbak biasanya mengetahui hasil nilai yang telah kamu aku dapat nilai 6 sekarang aku bisa dapat nilai peroleh? 8.” S2: “Nilaiku bagus mbak, makasih ya. Kapankapan ngajar lagi dong.” S3: “Nilaiku kemarin bagus mbak, padahal aku enggak terlalu pintar matematika.” 205

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.1 Tabulasi Nilai Pretest dan Posttest a. Pretest Kelas Eksperimen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 1 4 3 2 1 3 4 2 4 3 3 4 4 3 2 4 3 3 1 3 4 4 1 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 4 1 4 1 4 3 3 4 4 4 1 1 4 1 4 3 4 2 4 4 2 4 3 4 3 4 3 3 2 4 4 1 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 4 4 3 5 3 3 2 4 3 3 2 2 3 3 3 3 4 1 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 4 1 3 3 6 1 3 1 1 3 3 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 1 1 2 3 1 1 2 3 1 1 2 2 2 1 1 1 7 1 4 2 1 3 3 1 2 1 3 3 3 3 1 2 2 1 1 3 3 2 2 3 2 2 1 1 2 3 2 1 1 8 1 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 Jumlah 1 17 1 27 1 17 3 21 3 28 3 25 2 21 4 22 1 20 1 23 3 27 1 23 2 26 1 15 3 26 3 26 4 16 1 15 3 27 3 27 1 19 1 18 1 22 2 24 1 21 2 22 2 20 2 22 2 24 1 17 2 22 1 15 Rata-rata 1,888889 3 1,888889 2,333333 3,111111 2,777778 2,333333 2,444444 2,222222 2,555556 3 2,555556 2,888889 1,666667 2,888889 2,888889 1,777778 1,666667 3 3 2,111111 2 2,444444 2,666667 2,333333 2,444444 2,222222 2,444444 2,666667 1,888889 2,444444 1,666667 Nilai 47 75 47 58 77 69 58 61 55 63 75 63 72 41 72 72 50 41 75 75 52 50 61 66 61 61 58 61 66 47 61 41 206

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Posttest Kelompok Eksperimen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 2 3 3 4 2 4 4 4 4 3 3 3 4 2 2 3 4 3 4 3 3 3 2 3 4 3 4 4 2 3 4 3 3 3 4 4 1 4 4 4 1 4 1 4 4 2 4 4 4 4 1 4 4 4 1 4 4 4 4 1 4 4 4 1 4 1 4 2 4 3 2 4 1 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 1 4 4 4 4 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 2 3 4 4 2 3 2 4 4 2 4 2 4 4 1 4 4 4 3 3 3 4 3 1 4 2 3 2 3 2 6 3 4 1 3 4 3 1 3 3 4 3 3 3 1 2 4 2 3 3 4 2 1 1 4 2 4 4 3 3 1 4 3 7 4 3 2 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 1 4 4 2 4 4 4 2 1 3 4 2 3 3 3 3 2 1 3 8 2 2 1 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 1 1 3 2 2 2 2 2 2 1 2 9 Jumlah 4 29 1 29 1 18 3 25 2 33 2 28 4 24 3 29 3 25 1 29 4 32 4 27 4 29 2 21 3 30 2 33 2 20 2 28 4 32 4 33 3 23 1 20 3 23 2 33 3 26 4 27 1 30 4 28 3 28 4 24 4 27 3 25 Rata-rata 3,222222 3,222222 2 2,777778 3,666667 3,111111 2,666667 3,222222 2,777778 3,222222 3,555556 3 3,222222 2,333333 3,333333 3,666667 2,222222 3,111111 3,555556 3,666667 2,555556 2,222222 2,555556 3,666667 2,888889 3 3,333333 3,111111 3,111111 2,666667 3 2,777778 Nilai 80 72 50 69 91 77 67 80 69 80 88 75 80 58 83 58 55 77 88 91 63 55 63 63 72 75 83 77 77 67 77 69 207

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Pretest Kelompok Kontrol No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 1 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 2 4 3 2 2 2 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 2 2 1 1 4 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 2 3 3 2 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 1 3 4 1 4 4 1 1 4 1 4 1 4 4 4 2 1 4 4 1 4 4 1 4 1 4 4 4 4 4 4 1 4 1 4 2 2 4 4 4 2 3 1 4 3 4 4 2 1 4 4 3 3 2 4 3 2 2 1 4 4 4 3 4 3 3 2 5 1 1 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 4 3 1 2 2 2 3 4 3 2 3 2 1 6 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 1 2 1 1 2 7 1 2 3 2 3 3 2 1 1 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 3 1 2 2 3 3 3 3 3 2 1 2 8 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 3 1 1 1 1 1 9 Jumlah 1 15 1 14 2 26 1 24 1 20 1 17 1 22 4 16 2 21 3 22 2 27 1 20 2 21 1 16 2 18 2 24 2 23 2 19 1 18 2 28 3 21 1 17 3 19 1 21 2 26 2 26 2 30 2 23 2 24 1 16 1 19 1 13 Rata-rata 1,666667 1,555556 2,888889 2,666667 2,222222 1,888889 2,444444 1,777778 2,333333 2,444444 3 2,222222 2,333333 1,777778 2 2,666667 2,555556 2,111111 2 3,111111 2,333333 1,888889 2,111111 2,333333 2,888889 2,888889 3,333333 2,555556 2,666667 1,777778 2,111111 1,444444 Nilai 41 38 72 63 55 47 61 50 58 61 75 55 58 44 50 66 63 52 50 77 58 47 52 58 72 72 83 63 66 44 52 36 208

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. Posttest Kelompok Kontrol No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 1 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 4 2 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 4 4 4 4 4 1 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 1 1 4 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 2 4 2 4 2 4 4 2 4 2 3 3 4 3 4 4 3 3 2 4 2 4 3 4 2 3 4 5 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 2 2 3 2 4 3 2 4 4 2 3 4 4 2 4 3 4 6 1 2 3 2 2 2 2 1 1 2 4 2 3 4 3 3 1 1 2 4 1 1 2 3 1 3 4 1 1 1 1 2 7 1 4 4 3 3 4 3 2 1 1 4 4 1 4 1 3 3 2 3 4 2 1 3 4 3 4 4 3 3 2 1 3 8 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 3 2 2 1 3 1 2 2 9 Jumlah 1 21 2 27 4 29 1 25 3 28 1 22 1 25 2 21 1 22 2 22 3 32 2 28 2 24 3 32 2 24 2 24 2 24 2 23 2 19 3 32 2 23 1 18 2 26 1 27 2 26 4 29 3 32 2 24 2 26 2 22 1 20 2 27 Rata-rata 2,333333 3 3,222222 2,777778 3,111111 2,444444 2,777778 2,333333 2,444444 2,444444 3,555556 3,111111 2,666667 3,555556 2,666667 2,666667 2,666667 2,555556 2,111111 3,555556 2,555556 2 2,888889 3 2,888889 3,222222 3,555556 2,666667 2,888889 2,444444 2,222222 3 Nilai 58 75 69 69 77 61 58 58 61 61 69 77 44 88 66 66 66 50 52 66 63 50 72 75 72 69 55 66 52 61 55 75 209

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.2 Hasil Selisih Skor Pretest dan Posttest a. Kelas Eksperimen Pre-Eksp 1,88 3 1,88 2,33 3,11 2,77 2,33 2,44 2,22 2,55 3 2,55 2,88 1,66 2,88 2,88 1,77 1,66 3 3 2,11 2 2,44 2,66 2,33 2,44 2,22 2,44 2,66 1,88 2,44 1,66 PostEksp 3,22 3,22 2 2,77 3,66 3,11 2,66 3,22 2,77 3,22 3,55 3 3,22 2,33 3,33 3,66 2,22 3,11 3,55 3,66 2,55 2,22 2,55 3,66 2,88 3 3,33 3,11 3,11 2,66 3 2,77 SelisihEksp 1,34 0,22 0,12 0,44 0,55 0,34 0,33 0,78 0,55 0,67 0,55 0,45 0,34 0,67 0,45 0,87 0,45 1,45 0,55 0,66 0,44 0,22 0,11 1 0,55 0,56 1,11 0,67 0,45 0,78 0,56 1,11 b. Kelas Kontrol PreKont 1,66 1,55 2,88 2,66 2,22 1,88 2,44 1,77 2,33 2,44 3 2,22 2,33 1,77 2 2,66 2,55 2,11 2 3,11 2,33 1,88 2,11 2,33 2,88 2,88 3,33 2,55 2,66 1,77 2,11 1,44 PostKont 2,33 3 3,22 2,77 3,11 2,44 2,77 2,33 2,44 2,44 3,55 3,11 2,66 3,55 2,66 2,66 2,66 2,55 2,11 3,55 2,55 2 2,88 3 2,88 3,22 3,55 2,66 2,88 2,44 2,22 3 SelisihKont 0,67 1,45 0,34 0,11 0,89 0,56 0,33 0,56 0,11 0 0,55 0,89 0,33 1,78 0,66 0 0,11 0,44 0,11 0,44 0,22 0,12 0,77 0,67 0 0,34 0,22 0,11 0,22 0,67 0,11 1,56 210

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6.1 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Memahami One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Selisih_ Pre_ Pre_ Post_ Post_ Eksp Cont Eksp Kont Eksp Kont 32 32 ,6044 ,4794 ,32279 ,45111 Absolute ,180 ,153 ,105 ,075 ,119 ,118 Positive ,180 ,153 ,101 ,075 ,075 ,118 Negative -,087 -,144 -,105 -,074 -,119 -,089 Mean Normal Parameters Selisih_ a,b Std. Deviation Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) 32 2,40 84 ,444 78 32 32 32 2,3078 3,0100 2,7872 ,47448 ,45178 ,42375 1,016 ,863 ,597 ,425 ,672 ,667 ,253 ,446 ,869 ,994 ,757 ,765 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. 211

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Group Statistics Kelas N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Eksperimen 32 2,4084 ,44478 ,07863 Kontrol 32 2,3078 ,47448 ,08388 Pretest Independent Samples Test Levene's t-test for Equality of Means Test for Equality of Variances F Sig. T df Sig. Mean (2-tailed) Difference Std. Error 95% Confidence Interval Difference of the Difference Lower Upper Equal variances ,105 ,747 ,875 62 ,385 ,10062 ,11497 -,12919 ,33044 ,875 61,743 ,385 ,10062 ,11497 -,12921 ,33046 assumed Pretest Equal variances not assumed 212

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6.3 Selisih Skor Pretest dan Posttest Kemampuan Memahami Group Statistics Kelas N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Eksperimen 32 3,0100 ,45178 ,07987 Kontrol 32 ,4794 ,45111 ,07974 Selisih Independent Samples Test Levene's Test t-test for Equality of Means for Equality of Variances F Sig. T df Sig. Mean Std. Error 95% Confidence (2-tailed) Difference Difference Interval of the Difference Lower Upper Equal variances ,084 ,773 22,422 62 ,000 2,53062 ,11286 2,30502 2,75623 22,422 62,000 ,000 2,53062 ,11286 2,30502 2,75623 assumed Selisih Equal variances not assumed 213

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6.4 Perbandingan Skor Pretest ke Posttest Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pre_Eks 2,4084 32 ,44478 ,07863 Post_Eks 3,1031 32 ,40745 ,07203 Pre_Kontrol 2,3078 32 ,47448 ,08388 Post_Kontrol 2,3812 32 ,43388 ,07670 Pair 1 Pair 2 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 Pre_Eks & Post_Eks 32 ,646 ,000 Pair 2 Pre_Kontrol & Post_Kontrol 32 ,745 ,000 Paired Samples Test Paired Differences Mean t Std. Std. 95% Confidence Deviation Error Mean Interval of the df Sig. (2-tailed) Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pre_Eks Post_Eks Pre_Kontrol Post_Kontrol Upper -,69469 ,36035 ,06370 -,82461 -,56477 -10,905 31 ,000 -,07344 ,32676 ,05776 -,19125 ,04437 -1,271 31 ,213 214

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6.5 Uji Besar Efek Pengaruh (Effect Size) Kemampuan Memahami Koefisien Korelasi pada Kelompok Koefisien Korelasi pada Kelompok Eksperimen Kontrol √ √ √ √ √ √ √ √ 2 Persentase Pengaruh Penggunaan Persentase Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map pada kelompok Metode Mind Map pada kelompok Eksperimen Kontrol R = r2 x 100% R = r2 x 100% R = 0,992 x 100% R = 0,222 x 100% R = 0,98 x 100% R = 0,04 x 100% R = 98% R = 4% 215

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7.1 Hasil Pekerjaan Pretest Siswa a. Kelas Eksperimen 216

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 217

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 219

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Kelas Kontrol 221

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 222

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7.2 Hasil Pekerjaan Posttest Siswa a. Kelas Eksperimen 226

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Kelas Kontrol 231

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8.1 Foto-foto Kegiatan a. Kelas Eksperimen 236

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Kelas Kontrol 237

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9.1 Surat Keterangan Penelitian 238

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9.2 Surat Bukti Telah Melakukan Penelitian 239

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Putri El Pareka merupakan anak kedua dari pasangan Alm. R. Eko Budi Saryanto dan Partini. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Juni 1992. Pendidikan awal dimulai di SD Kanisius Baciro, Yogyakarta pada tahun 1998-2004. Pendidikan dilanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama Pangudi Luhur 1, Yogyakarta, dan lulus pada tahun 2007. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas Pangudi Luhur, Yogyakarta dan lulus tahun 2010. Penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010. Berikut adalah daftar kegiatan yang pernah diikuti penulis selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1 2 3 4 Jenis Kegiatan Kepanitian Sebuah Kegiatan Seminar Umum Kuliah Umum Workshop, Pelatihan dan Lokakarya Nama Kegiatan Parade Gamelan Anak 2010 Se-DIY, Jateng, dan Jabar Pelaksanaan Pelatihan Pengembangan Mahasiswa I Pelaksanaan Pelatihan Pengembangan Mahasiswa II Lomba mewarnai & Menyanyi Tunggal Tingkat TK di SD Kanisius Demangan Baru Seminar “Desiminasi Hasil Program Hibah (PHK) S1 PGSD B Tahun 2010” Seminar “ Una Seminar and Workshop on Anti Bias Curriculum and Teaching” English Club Week-end Moral Workshop Mengdongeng “Menumbuhkan Kreatifitas Guru Melalui Mendongeng” Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I dan II Workshop Mendongeng “ Menumbuhkan Kreatifitas guru Melalui Mendongeng” Pelatihan “ kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD)” Inisiasi Mahasiswa Keguruan (SIMAK) 2010 Peran Dampok Co-Fasilitator Co-Fasilitator Panitia Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta 240

(258)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penerapan model pembelajaran van hiele terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas V SD Negeri Demangan Yogyakarta.
0
8
230
Pengaruh penerapan model pembelajaran van hiele terhadap kemampuan mengevaluasi dan mencipta pada konsep geometri bangun datar dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas V SD Negeri Demangan Yogyakarta.
0
0
223
Pengembangan prototipe perangkat pembelajaran geometri materi bangun ruang berdasarkan model van Hiele untuk siswa kelas V Sekolah Dasar.
0
1
207
Pengaruh penerapan model pembelajaran van hiele terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada konsep geometri bangun datar dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas V SD Negeri Demangan Yogyakarta.
0
1
225
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Sorowajan-Yogyakarta.
0
0
192
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta
0
2
190
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada pelajaran IPA SD Kanisius Sengkan Yogyakarta
0
0
144
Penggunaan teori pembelajaran Van Hiele untuk meningkatkan tingkat dan kualitas berpikir siswa kelas V SD Negeri Timbulharjo pada pokok bahasan bangun datar - USD Repository
0
3
275
Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada mata pelajaran IPA di SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
0
144
Pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan menganalisis dan mengevaluasi pada pelajaran IPA kelas V SD Kanisius, Wirobrajan - USD Repository
0
0
164
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengaplikasi dan menganalisis pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
0
168
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada mata pelajaran IPA SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
188
Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada mata pelajaran IPA SD BOPKRI Gondolayu Yogyakarta - USD Repository
0
0
146
Perbedaan kemampuan mengingat dan memahami atas penggunaan media timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem - USD Repository
0
0
206
Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan interpretasi dan analisis pada mata pelajaran IPA kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta - USD Repository
0
1
142
Show more