Peranan sakramen perkawinan untuk membentuk kehidupan keluarga Katolik ideal di Lingkungan Paulus Gatak Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
158
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN UNTUK MEMBENTUK KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK IDEAL DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Gregorius Pramudhito Aji Prasetyo NIM: 091124032 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk: ayahku (Stephanus Wahyuntoro), ibuku (Maria Veronica Endang Hariningsih), kakakku (Fransiska Niken Prasetyowati), kekasihku (Cornelia Novi Herawati), dan semua sahabat. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Judul skripsi ini adalah PERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN, UNTUK MEMBENTUK KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK IDEAL, DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK, PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan kenyataan yang terjadi saat ini, yaitu maraknya ketidakharmonisan yang muncul di dalam keluarga. Ketidakharmonisan ini juga muncul di keluarga katolik. Hal ini menjadi salah satu penyebab tidak terwujudnya keluarga katolik yang ideal seperti yang dicita-citakan oleh Gereja. Keterbatasan pengetahuan tentang sakramen perkawinan juga merupakan faktor yang mempengarui terwujudnya keluarga katolik yang ideal. Hal ini bukan semata-mata kurangnya pengetahuan dari calon pasangan yang akan menikah, namun juga dari katekis yang mungkin kurang referensi untuk memberikan pelajaran saat kursus perkawinan. Ketidakharmonisan tidak muncul atau setidaknya dapat diminimalisir jika calon pasangan yang akan menerima sakramen perkawinan benar-benar mempersiapkan, mengikuti dan menerapkan apa yang didapat saat kursus perkawinan. Sakramen adalah lambang nyata relasi Kristus dengan Gerejanya. Sakramen perkawinan merupakan wujud nyata kasih Allah kepada manusia, dimama lewat sakramen perkawinan membuat manusia semakin dekat dengan Allah karena rahmat sakramen perkawinan diberikan sendiri kepada mereka. Sakramen perkawinan membuat keluarga-keluarga katolik memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Katekese merupakan pewartaan sabda Allah demi pendidikan menuju kedewasaan iman. Lewat katekese umat bisa menggali pengalaman hidup rohani, dari pengalaman pribadi ataupun dari pengalaman orang lain. Lewat pengalaman rohani tersebut mereka dapat belajar merefleksikan dan memaknai apa yang dialami dalam hidupnya sehari-hari. Sakramen perkawinan akan membentuk dan mengembangkan iman bagi mereka yang menerimanya dan semakin tergerak untuk bertanggungjawab bagi dirinya sendiri atau pun bagi pasangannya. Namun, tidak menutup kemungkinan masalah muncul saat perjalanan membangun keluarga yang ideal. Maka katekese diperlukan untuk meminimalisir terjadinya masalah ataupun salah paham diantara anggota keluarga. Materi yang cocok untuk para umat di Lingkungan Paulus Gatak adalah tentang kasih, karena dasar dari semua hal adalah kasih. Untuk keperluan itu penulis menawarkan usulan program katekese dalam rangka membentuk keluarga katolik yang ideal di Lingkungan Paulus Gatak Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The title of this thesis is THE ROLE OF A MARRIAGE SACRAMENT IN FORMING AN IDEAL CATHOLIC FAMILY IN PAULUS GATAK SAINT PETRUS AND PAULUS KELOR PARISH, WONOSARI, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA. The title was selected based on the fact that the case today, the rise of emerging disharmony in the family. This disharmony also appeared in the Catholic family. This has led to the realization not ideal Catholic family as aspired by the Church. Limited knowledge about the sacrament of marriage is also a factor that affects the realization of the ideal Catholic family. It is not merely a lack of knowledge of the prospective wedding couples, but also of the catechists who may lack references to give a lesson when the course of marriage. disharmony does not show up or at least be minimized if the potential partner who will receive the sacrament of marriage really prepare, follow and apply what is gained when the course of marriage. Sacrament is a real symbol of Christ's relationship with church. Sacrament of marriage is a tangible manifestation of the love of God to man, be chewed through the sacrament of marriage make people closer to God because of the grace of the sacrament of marriage given himself to them. Sacrament of marriage makes Catholic families have a responsibility to realize the kingdom of God in the world. Catechesis is the proclamation of God’s word for the sake of education toward faith maturity. Through catechesis, people can explore the spiritual life experience, from personal experience or from the others experience. Through the spiritual experiences they can learn to reflect on and interpret what is experienced daily life. Through the spiritual experiences they can learn to reflect on and interpret what is experienced in everyday life. Sacrament of marriage will shape and develop the faith to those who receive it and the more motivated to take responsibility for himself or for his partner. However, some problem might be appeared in the way they an ideal family. So catechesis is needed to minimize the occurrence of problems or misunderstanding between family members. The appropriate materials for the people in Paulus Gatak is about love. Because the foundation of all things is love. For this purpose the author offers suggestions and examples catechetical program implementation in order to establish the ideal Catholic family in Paulus Gatak Parish of Santo Petrus and Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Allah bapa karena berkat cintakasih-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN, UNTUK MEMBENTUK KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK IDEAL, DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA. Skripsi ini merupakan bentuk keprihatinan yang dilihat oleh penulis yang meilihat banyaknya fenomena ketidakharmonisan keluarga dapat dilihat di lingkungan tempat tinggal ataupun dilihat dari berita-berita di televisi tidak terkecuali bagi keluarga katolik. Ketidakharmonisan dalam keluarga ini, dapat juga dipicu oleh pengetahuan yang kurang tentang sakramen perkawinan yang mereka terima di dalam gereja. Sakramen perkawinan yang mereka terima memiliki konsekuensi yang tidak mudah, jika dipahami sakramen perkawinan ini berperan dalam pembentukan keluarga katolik yang ideal, tentunya tanpa muncul kata-kata ketidakharmonisan dalam keluarga. Selain itu, skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini tersusun berkat kerja sama penulis dengan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada: 1. Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen pembimbing akademik serta pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dan perhatian, memberi x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI motivasi, arahan dan tantangan, serta dengan sabar membimbing penulisan skripsi ini hingga selesai. 2. Bpk. Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd., selaku penguji 2 yang senantiasa memberi dorongan, bimbingan dan perhatian kepada penulis hingga penulisan skripsi ini selesai. 3. Bpk. P. Banyu Dewa, HS, S.Ag., M.Si, selaku dosen penguji 3 yang telah menguji dengan penuh senyum serta memberi dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Maria Veronica Endang Hariningsih yang tidak lain adalah ibu saya dan ketua Lingkungan Paulus Gatak, yang mengijinkan penulis untuk melaksanakan penelitian di Lingkunga Paulus Gatak sehingga skripsi ini dapat tersusun lengkap. 5. Bpk. St. Wahyuntoro dan Fransisca Niken Prasetyowati selaku keluarga yang memberikan dukungan baik material maupun formal dan semangat agar penulis dapat menyelesaikan studi. 6. Cornelia Novi Herawati, yang selalu memberi perhatian dan semangat saat malas mengerjakan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 7. Teman-teman mahasiswa angkatan 2009, Antonius Guruh Adi Siaga, Dominikus Dance dan kakak angkatan Ade Mardiana dan staf dosen dan karyawan, Mas Robertus Sudiono dan Bapak Patrik Subari yang selalu mendatangi dan menyemangati lewat canda tawa dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah membantu selama penulis menyelesaikan skripsi ini. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv HALAMAN MOTTO ...................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................... vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xvii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. xviii BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................... 5 C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 5 D. Manfaat Penulisan ........................................................................... 6 BAB II. SITUASI UMUM KELUARGA KATOLIK LINGKUNGAN PAULUS GATAK PAROKI ST. PETRUS DAN PAULUS KELOR,WONOSARI, GUNUNGKIDUL ...................................... 7 A. Situasi Paroki St. Petrus Dan Paulus Kelor .................................... 7 1. Letak Geografis Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor ................... 8 2. Situasi Umum Umat Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor ............. 9 B. Situasi Kehidupan Keluarga Lingkungan Paulus Gatak ................. 9 1. Jumlah Umat Keluarga Katolik di Lingkungan Paulus Gatak ............................................................................... 10 2. Gambaran Kegiatan Menggereja Umat Lingkungan Paulus Gatak ............................................................................... 11 a. Doa Lingkungan .................................................................... 11 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Tugas Koor............................................................................ 12 c. Menghias atau Mendekor gereja ........................................... 12 d. Ziarah ................................................................................... 13 e. Kerja Bakti di Kapel.............................................................. 13 f. Tabungan Cinta Kasih ........................................................... 13 g. Pendalaman Iman Lingkungan .............................................. 14 C. Penelitian Peranan Sakramen Perkawinan Untuk Membentuk Keluarga Katolik Yang Ideal di Lingkungan Paulus Gatak Paroki santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul ... 14 1. Latar Belakang Penelitian ........................................................ 15 2. Metode Penelitian .................................................................... 16 3. Responden Penelitian .................................................................. 16 4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data .................................. 17 5. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 18 6. Prosedur Pengolahan data .......................................................... 18 7. Variabel Penelitian ..................................................................... 18 8. Hasil dan Pembahasan Penelitian Peranan sakramen Perkawinan untuk Membentuk Kehidupan Keluarga Katolik Ideal di Lingkungan Paulus Gatak Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul .......................................................... 19 a. Pemahaman Tentang Sakramen Perkawinan ......................... 19 b. Peran Sakramen Perkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal ................................................... 24 c. Makna dan Konsekuensi Penerimaan Sakramen Perkawinan Terhadap Keluarga Baru Mereka ...................... 28 d. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja .............................. 32 e. Faktor Penghambat dan Pendukung untuk Terlibat dalam Hidup Menggereja.................................................................. 35 f. Harapan Terhadap Gereja ...................................................... 38 9. Kesimpulan Hasil Penelitian ..................................................... 41 a. Pemahaman Tentang Sakramen Perkawinan ......................... 41 b. Peran Sakramen Perkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal ................................................. 43 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. Makna dan Konsekuensi Penerimaan Sakramen Perkawinan Terhadap Keluarga Baru Mereka ...................... 44 d. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja .............................. 45 e. Faktor Penghambat dan Pendukung untuk Terlibat dalam Hidup Menggereja ................................................................. 46 f. Harapan Terhadap Gereja ....................................................... 47 BAB III. SAKRAMEN PERKAWINAN DALAM KELUARGA KATOLIK YANG IDEAL ............................................................. 49 A. Sakramen Perkawinan Dalam Gereja Katolik ............................ 49 1. Pengertian Perkawinan ......................................................... 50 a. Perkawinan menurut Kitab suci ....................................... 50 b. Perkawinan menurut Pandangan Teologis ....................... 58 2. Hakikat dan Tujuan Perkawinan............................................ 61 a. Hakikat Perkawinan ........................................................ 62 b. Sifat-Sifat perkawinan ...................................................... 63 c. Tujuan Perkawinan ........................................................... 67 3. Sakramen Perkawinan sebagai cirikhas Perkawinan Gereja Katolik .................................................................................. 71 a. Pengertian Sakramen Perkawinan .................................... 71 b. Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik ................... 73 c. Pentingnya Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik bagi Calon Keluarga ........................................................ 74 B. Pengertian Keluarga Katolik ..................................................... 75 1. Pengertian Keluarga pada Umumnya ................................... 76 2. Pengertian Keluarga Kristiani .............................................. 77 C. Peran Sakramen Perkawinan .................................................. 79 1. Peran Sakramen Perkawinan dalam Keluarga Katolik ......... 80 2. Peran Sakramen Perkawinan dalam Mewujudkan Keluarga Katolik yang Ideal ................................................................ 82 3. Keluarga Katolik yang Beriman yang Menghayati Sakramen Perkawinan .......................................................... 84 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV. USAHA UNTUK MENINGKATKAN PERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN DEMI TERWUJUDNYA KELUARGA KATOLIK IDEAL DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK, PAROKI SANTO PETRUS PAULUS KELOR, GUNUNGKIDUL ........................................................ 89 A. Latar Belakang Pemilihan Program Katekese ......................... 89 B. Alasan Pemilihan Tema .......................................................... 91 C. Penjabaran Usulan Program Katekese ........................................ 94 D. Petunjuk Pelaksanaan Program ............................................... 98 E. Contoh Persiapan Katekese ..................................................... 98 1. Identitas Katekese ............................................................. 98 2. Pemikiran Dasar................................................................... 99 3. Pengembangan Langkah-Langkah ....................................... 100 BAB V. PENUTUP ........................................................................................ 112 A. Kesimpulan ................................................................................ 112 B. Saran ........................................................................................... 114 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 117 LAMPIRAN ..................................................................................................... 118 Lampiran 1: Surat izin penelitian .................................................... (1) Lampiran 2: Surat Pernyataan penelitian......................................... (2) Lampiran 3: Bukti Penelitian Pedoman .......................................... (3) Lampiran 4: Pedoman Wawancara ................................................. (7) Lampiran 5: Pedoman Wawancara ............................................... (8) Lampiran 6: Rangkuman Hasil Wawancara ................................. (9) Lampiran 7: Rangkuman Hasil Wawancara ................................. (12) Lampiran 8: Kuisioner .................................................................. (14) Lampiran 9: Kumpulan Lagu-lagu.................................................. (19) xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Variabel penelitian .......................................................................... 19 Tabel 2. Pemahaman Sakramen Perkawinan (N=50) ................................... 20 Tabel 3. Peran sakramen perkawinan untuk membentuk keluarga katolik yang ideal (N=50) ........................................................................... 24 Tabel 4. Makna dan konsekuensi penerimaan sakramen perkawinan terhadap keluarga baru mereka (N=50) .......................................... 28 Tabel 5. Pemahaman tentang hidup menggereja (N=50) ............................. 32 Table 6. Faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja (N=50) ......................................................................... 35 Tabel 7. Harapan terhadap Gereja (N=50) ................................................... 38 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republic Indonesia dalam Rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hlm. 8. B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979 GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965. KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964. C. Singkatan Lain Art : Artikel Bdk : Bandingkan Dsb : Dan sebagainya xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hlm : Halaman IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KK : Kepala Keluarga KWI : Konferensi Waligereja Indonesia No : Nomor OMK : Orang Muda Katolik PASUTRI : Pasangan Suami Istri SCP : Shared Christian Praxis SD : Sekolah Dasar TK : Taman Kanak-Kanak St : Santo xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini situasi jaman yang begitu rumit, banyak sekali masalahmasalah yang timbul, salah satunya adalah kasus kawin cerai, hal ini terjadi di banyak kalangan tidak terkecuali umat katolik. Hal ini menjadi sebuah keprihatinan bagi saya sebagai penulis.Saya mengandaikan perceraian tersebut seperti halnya akar pohon rapuh yang digunakan sebagai pegangan bagi pohon itu sendiri. Pohon ini diandaikan sebagai satu keluarga, dan akarnya adalah iman, iman yang mereka dapat sejak kecil dan dari sakramen-sakramen yang mereka terima selama mereka hidup termasuk sakramen perkawinan. Banyak keluarga yang mengakhiri permasalahan dalam keluarganya dengan berpisah atau bercerai demi kepentingan atau kepuasan pribadi menuruti emosi.Berita-berita televisi juga banyak menyiarkan tentang pasangan yang harus keluar masuk ruang sidang karena mengurus perceraiannya.Keharmonisan keluarga yang dijanjikan saat akan menuju pelaminan dan diimpikan benar-benar hanya tinggal impian karena masalah yang dihadapi diselesaikan dengan jalan pintas yaitu lewat perpisahan. Di dalam agama katolik kita tahu, bahwa seharusnya tidak boleh ada perceraian. Namun, ada hal yang dikhususkan sehingga pasangan yang sudah menikah menerima sakramen perkawinan bisa berpisah dengan bebagai pertimbangan dan faktor-faktor tertentu. Namun kenyataan yang terjadi tidak demikian, disekitar kita, banyak pasangan katolik yang lebih memilih berpisah

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 atau pergi ketempat lain dan meninggalkan istri serta anaknya tanpa ada yang tahu keberadaan salah satu pasangan tersebut. Muncul pertanyaan ketika hal ini menimpa keluarga katolik, “Apa gunanya kursus persiapan perkawinan selama ini? Apa pengaruh perjanjian nikah yang diucapkan di depan altar? Jika kenyataan yang terjadi perkawinan harus diakhiri dengan perpisahan. Apakah hanya sebagai formalitas saja lalu tidak dipertanggungjawabkan dalam kehidupan berkeluarga itu sendiri?” pengandaiannya,sakramen perkawinan hanya digunakan mainan semata, sebagai formalitas demi sahnya suatu hubungan di dalam gereja, sehingga mereka memiliki hak untuk melakukan dan memiliki apa yang didapat setelah mendapat sakramen tersebut. Rahmat yang diberikan saat melangsungkan perkawinan adalah rahmat yang suci, rahmat yang luar biasa yang tentunya dapat membuat yang menerima memiliki hak istimewa di dalamnya. Pasangan suami-istri terkadang kurang memahami dan menghayati arti dan makna sakramen itu sendiri. Sakramen perkawinan merupakan hal yang penting bagi calon pasangan, Keluarga yang mereka bangun akan semakin kuat karenasakramen perkawinan merupakan pondasi janji sehidup semati bagi pasangan tersebut. Menurut E. Martasudjita, Pr (2003: 357). Melalui sakramen perkawinan, terbentuk dan berkembanglah sel-sel Gereja atau umat beriman yang paling kecil. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa lewat sakramen perkawinan Gereja akan semakin kaya dan berkembang lewat pasangan-pasangan yang menerima sakramen perkawinan secara sah. Dari pasangan yang akan membentuk keluarga baru ini, mereka akan mendapatkan rahmat yang akan membuat mereka semakin beriman dan mendapat tugas yang kudus. Hal ini didukung oleh pendapat Yeremias Pito Duan yang menyatakan sebagai berikut:

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Berkat sakramen perkawinan, keluarga senantiasa disegarkan lagi dan di panggil untuk selalu terlibat dalam dialog dengan Tuhan melalui sakramen, persembahan hidup dan doa. Sakramen perkawinan menjadi sumber khusus dan sarana pengudusan bagi pasangan suami-istri dan keluarga kristen, yang telah dimulai dalam pembabtisan. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta suami-istri disucikan dan dikuduskan, cinta yang mampu dan berdaya-guna menyembuhkan, menyempurnakan, serta mendatangkan rahmat (Pito Duan, 2003:48). Pasangan suami-istri yang baru menerima sakramen perkawinan mempunyai tugas baru untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia, dengan cara aktif untuk ikut terlibat dalam kegiatan menggereja, berdialog dengan Tuhan lewat doa dan melayani sesama. Yesus Kristus yang wafat demi menebus dosa manusia, dan bangkit sesuai janji Allah, hal ini merupakan wujud nyata cinta kasih Allah kepada umatnya, dan cinta yang dirasakan oleh pasangan suami istri merupakancinta kasih Allah yang nyata yang turun untuk semua manusia lewat orang lain dan cara masing-masing. Secara kongkret, perkawinan menjadi sakramental jika pasangan suami istri sanggup menerima sakramen atau kalau mereka telah dipermandikan. Bagi pasangan yang telah dibabtis, ketika mereka saling meberikan consensus atau perjanjian, maka perkawinan mereka menjadi sah sekaligus sakramen. Sesebaliknya, apabila salah seorang dari pasangan yang tidak dibabtis, perkawianan tersebut bukan perkawinan sakramental (Konigsmann, 1989:25). Tidak semata-mata melimpahkan tugas dan menyalahkan katekis di paroki namun terkadang katekis di parokikurang menguasai bahkan tidak paham materi yang diberikan saat kursus persiapan perkawinan, karena kurangnya pengalaman, belajar dan dukungan dari pihak Gereja. Hanya menyuruh dan tidak memberi apapun itu yang terkadang dikeluhkan para katekisdilapangan,

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 tidak mudah memang namun disisi lain kita juga memaklumi sulitnya tenaga pastoral untuk mengeyam tugas sebagai katekis yang mengajar dan mempersiapkan pasangan keluarga untuk menuju perkawinan kudus di Gereja. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang perkawinan katolik terkhusus untuk persiapan calon keluarga katolik saat mempersiapakan semua sebelum menuju pemberkatan kudus di gereja. Perkawinan dapat dikatakan sebagai persekutuan hidup antara seoang pria dan seorang wanita, atas dasar ikatan cinta kasih yang total, dengan persetujuan bebas dari keduanya yang tidak dapat ditarik kembali dengan tujuan, kelangsungan bangsa, perkembangan pribadi, kesejahteraan keluarga (Purwa Hadiwardoyo, 1990: 16). Apakah pernyataan diatas masih dipegang teguh oleh suami dan istri di saat mereka menghadapi masalah? Awal perkawinan tentu indah, menyenangkan dan serba berdua, sangat tidak menutup kemungkinan masalah muncul saat mereka membahas masalah ekonomi, kerja, orang tua, bahkan anak yang belum lahir pun akan memicu sebuah permasalahan. Di mana peran Gereja sebagai tempat mereka memulai membangun pondasi rumah tangga lewat kursus perkawinan? Pertanyaan demi pertanyaan muncul maka oleh sebab itu sangatlah penting penghayatan perkawinan dengan rencana yang sedemikian matang untuk semua pasangan laki-laki dan perempuan yang akan membangun sebuah bahtera rumah tangga. Bertitik tolak dari hal-hal diatas maka penulis akan membahas lebih lanjut hal ini dalam skripsi yang berjudulPERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN, UNTUK MEMBENTUK KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK YANG IDEAL, DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK PAROKI

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Apakah keluarga-keluarga katolik di Lingkungan Paulus Gatak cukup memahami makna sakramen perkawinan? 2. Apa peranan sakramen perkawinan terhadap kehidupan berkeluarga demi terwujudnya keluarga katolik yang ideal? 3. Apa saja usaha yang akan dilakukan umat Lingkungan Paulus Gatak, untuk menghayati maknasakramen perkawinan dalam membangun keluarga yang ideal? C. Tujuan Penulisan Tujuan penelitian dari rumusan masalah diatas adalah : 1. Untuk mengetahui apakah keluarga-keluarga katolik di Lingkungan Paulus Gatak cukup memahami makna sakramen perkawinan. 2. Untuk mengetahui peranan sakramen perkawinan terhadap kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan keluarga katolik yang ideal. 3. Untuk mengetahui usaha apa saja yang akan dilakukan oleh keluarga-keluarga katolik dalam menghayati makna dan konsekuensisakramen perkawinan. 4. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 D. Manfaat Penulisan Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan mengenai peranan sakramenperkawinan untuk membentuk kehidupan keluarga yang ideal. Adapun harapan tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang sakramen perkawinan itu sendiri. 2. Memberikan gambaran pentingnya sakramen pernikahan bagi calon pasutri. 3. Mendalami dan mendapatkan wawasan yang lebih luas dari pada sebelumnya agar semakin tahu tentang sakramen perkawinan. 4. Mengembangkan diri dengan setia dan tekun dalam menanggapi panggilan hidup beriman sebagai suami-istri sesuai yang tertulis di dalam Kitab Suci.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 BAB II SITUASI UMUM KELUARGA KATOLIK LINGKUNGAN PAULUS GATAK PAROKI ST. PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL Gereja yang kokoh memiliki pondasi keluarga-keluarga kecil di dalamnya. Hal ini tentunya sama bagi Gereja yang ada di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Keluarga merupakan hal penting bagi Gereja, karena lewat keluarga Gereja semakin berkembanglewat kesadaran setiap anggota keluarga untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan menggereja yang dilaksanakan oleh Paroki. Faktor yang mempengarui keterlibatan umat di paroki tentunya tergantung situasi umat di Wilayah tersebut. Beraneka ragam situasi umat di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor ini karena paroki ini terdiri dari 8 Wilayah, tentunya banyak perbedaan situasi umatnya. A. Situasi Paroki St. Petrus Dan Paulus Kelor Menurut Tim Penyusun Buku Lustrum 1 (2011: 23),Paroki Kelor merupakan paroki desa yang berlindung pada santo Petrus dan Paulus. Kehidupan umat dan dinamikanya sangat diwarnai oleh keadaan alam dan sosial masyarakat pedesaan. Situasi alam pedesaan yang masih kental dan melekat di dalam masyarakat tentunya berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari baik di wilayah maupun di Gereja. Semangat kegotong-royongan dan kentalnya budaya jawa menjadi warna yang khas dari Paroki Kelor. Dalam banyak kesempatan mereka tidak melupakan saling menyapa dan saling membantu

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 bahkan tanpa dimintai bantuan sebelumnya. Hal ini mereka lakukan secara cuma-cuma dalam artian tidak mengharap imbalan dari orang yang telah ditolong, hal ini mereka lakukan karena mereka masih menjadi warga desa yang alami, yang menjunjung tinggi kebersamaan. 1. Letak Geografis Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor Menurut Buku Lustrum 1 Paroki Kelor, umat Paroki Kelor tersebar di empat Kecamatan, yaitu Kecamatan Karangmojo, Ponjong, Ngawen, dan Semin. Pusat Paroki berada di desa Kelor, kecamatan Karangmojo ± 7 km dari Wonosari ke arah timur. Data statistik tahun 2011, jumlah umat ada 2.714 jiwa. Jumlah tersebut tersebar di 8 wilayah yaitu Wilayah Kelor, Wilayah Jaranmati, Wilayah Ngawen, Wilayah Sambeng, Wilayah Semin, Wilayah Wonosari Jurangjero, Wilayah Candirejo. Letak geografis bisa dibilang cukup strategis karena berada di jalur ramai yang menghubungkan Wonosari ke Semin, Klaten, Sukoharjo, Solo, Manyaran dan Wonogiri. Jarak dari pusat Paroki ke Wilayahwilayah dan Lingkungan-lingkungan bervariasi, secara geografis Lingkungan Paulus Gatak berada di sebelah timur paroki ± 3Km dari pusat Paroki Kelor. Jarak yang relatif dekat membuat mudah dalam aktifitas menggereja yang dilaksanakan di paroki. Wilayah Wonosari Jurangjero, merupakan Wilayah yang paling jauh dari pusat Paroki, hal ini menjadi sedikit kendala untuk mengikuti kegiatan di paroki, karena alasan jarak, medan dan waktu yang harus ditempuh, meskipun demikian ada beberapa umat yang tetap aktif ikut ambil bagian kegiatan gereja yang dilaksanakan di paroki (Tim Penyusun Buku Lustrum 1, 2011: 23).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 2. Situasi Umum Umat Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor ditetapkan sebagai paroki, pada tanggal 2 Agustus 2006. Semula Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor merupakan bagian dari Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari. Rintisan untuk menjadi paroki sebenarnya sudah dimulai sejak 1 Januari 1998, ketika Stasi Kelor ditetapkan sebagai Paroki Administratif. Paroki Kelor berada di desa Kelor, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Umat Paroki Kelor adalah umat pedesaan, sebagian besar dari umat bekerja sebagai petani, selebihnya bekerja sebagai pegawai negeri, guru, pedakang atau pengusaha. Dengan banyak latar belakang pekerjaan, mereka adalah umat yang senantiasa ikut serta aktif ambil bagian dalam tugas menggereja, mereka ikut ambil bagian saat tugas-tugas yang dilimpahkan kepada lingkungan. Dari tugas-tugas itu, mereka semakin tahu tentang liturgi, dan pewartaan di dalam Gereja. Dilihat dari segi ekonomi umat di Paroki Kelor termasuk golongan menengah ke bawah. Hanya beberapa keluarga yang bisa dibilang termasuk berekonomi menengah ke atas. Umat masih menjunjung tinggi nilai-nilai kegotongroyongan dan kebersamaan sebagai mana umumnya orang hidup di pedesaan. Jika ada keluarga atau kepentingan sosial yang membutuhkan tenaga, masyarakat sekitar dengan iklas hati melakukan bantuan bahkan tanpa ada komando untuk melakukan bantuan(Tim Penyusun Buku Lustrum 1, 2011: 24) B. Situasi Kehidupan Keluarga Lingkungan Paulus Gatak Keluarga Lingkungan Paulus Gatak merupakan bagian dari umat di Paroki Kelor dan masyarakat di kecamatan Karangmojo, setiap keluarga

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 memiliki anggota bervariasi, masing masing anggota keluarga juga memiliki matapencaharian yang bervariasi, mayoritas keluarga-keluarga katolik di Lingkungan Paulus Gatak bekerja sebagai petani,selebihnya ada yang bekerja sebagai guru, wiraswata, buruh pabrik dan pekerja serabutan. Kehidupan ekonomi bisa dibilang seimbang ada yang berekonomi menengah ke atas dan ada yang menengah kebawah. Keadaan ekonomi masyarakat yang berbeda-beda tidak mempengarui kegiatan sosial di masyarakat, sebagai contoh, bila ada kerja bakti di desa maupun di Paroki mereka saling bahu membahu dan tidak membedakan status ekonomi mereka, karena pada dasarnya tujuan mereka sama yaitu untuk saling membantu.Dalam hal yang berhubungan dengan iman, mereka juga tidak saling membedakan, misalnya saat ada doa lingkungan mereka yang hadir mendapat porsi yang sama untuk saling mengutarakan pendapat, dan mereka menyimpulkan juga secara bersama-sama. Tentunya kehidupan orang desa sangat terasa dikarenakan tidak ada sekat yang dirasakan mengganggu[Lampiran 3: (3)]. 1. Jumlah Umat Keluarga Katolik di Lingkungan Paulus Gatak Menurut hasil wawancara dengan ketua Lingkungan Paulus Gatak, umat di Lingkungan Paulus Gatak berjumlah 70 orang dengan 25 kepala keluarga. Jumlah tersebut adalah jumlah umat yang tinggal menetap di Lingkungan Paulus Gatak. Menurut ketua lingkungan Paulus Gatak sebenarnya umat di Lingkungan ini lebih dari 70 orang, beberapa diantaranya merantau keluar kota untuk bekerja namun masih dianggap sebagai anggota umat katolik Lingkungan Paulus Gatak yang tidak aktif.Dari jumlah tersebut terdapat 25 laki-laki, perempuan 25, dan 16 masih bersekolah SD, TK,dan balita [Lampiran 6: (9)].

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 2. Gambaran Kegiatan Menggereja Umat Lingkungan Paulus Gatak Paguyuban umat di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor semakin berkembang hal ini terbukti dari tugas liturgi yang diberikan kepada Lingkungan, baik yang ditugaskan Wilayah maupun Paroki berjalan lancar. Umat lingkungan Paulus Gatak merupakan bagian dari umat Paroki Kelor, tentunya juga ikut ambil bagian dari tugas-tugas menggereja. Sebelumnya umat Lingkungan Gatak hanya mendapat tugas di Wilayah, mereka hanya bertugas di kapel. Namun sekarang baik di Wilayah dan Paroki semua umat mendapat kesempatan yang sama untuk ikut ambil bagian bertugas di Paroki. a. Doa Lingkungan Umat Lingkungan Paulus Gatak menyadari bahwa kegiatan mereka banyak, namun mereka masih menyempatkan untuk melaksanakan doa Lingkungan. Doa Lingkungan ini berlangsung setiap Jumat malam Sabtu pukul 19.00, dilaksanakan secara bergantian dari rumah ke rumah. Dari sekian umat katolik yang ada, yang hadir dalam setiap doa tidak selalu sama kadang banyak kadang sedikit. Rata-rata dalam setiap doa lingkungan yang hadir ±30-35 orang. Dari jumlah umat yang hadir hanya 2-3 OMK yang hadir ikut doa Lingkungan tersebut. Ketua Lingkungan Paulus Gatak menyadari bahwa OMK merasa terlalu jauh jarak umurnya sehingga kalaupun datang OMK hanya sering diam dan sekedar mengikuti saja.Doa Lingkungan dilaksanakan secara terjadwal, dengan pembagian petugas yang sudah ditentukan [Lampiran 6 :(10)].

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 b. Tugas Koor Menurut ketua Lingkungan Paulus Gatak Lingkungan Paulus Gatak memiliki potensi dalam hal tarik suara, hal ini memudahkan umat di Lingkungan Paulus Gatak untuk melaksanakan tugas koor di Wilayah pada hari Sabtu ke 2 atau ke 4 maupun tugas koor di Paroki pada hari Minggu. Sebelum hari tugas tiba, umat lingkungan Paulus Gatak melakukan latian, dan latian itu dilaksanakan seminggu sebelum bertugas latian rutin setiap hari, kecuali malam sabtu karena malam sabtu digunakan untuk doa Lingkungan. Umat yang ikut ambil bagian dalam tugas koor tidak begitu banyak, umat mengatakan minder karena suaranya tidak begitu bagus. Dalam setiap tugas koor umat yang ikut ambil bagian ±25 orang, kebanyakan yang tugas adalah bapak dan ibu, sedangkan muda-mudi katolik di Lingkungan ini hanya 4 orang yang sering ikut ambil bagian dalam tugas koor [Lampiran 6: (10)]. c. Menghias atau Mendekor gereja Dalam waktu tertentu Lingkungan Paulus Gatak juga mendapat tugas untuk menghias gereja. Natal tahun 2013, Lingkungan Paulus Gatak mendapat tugas untuk mendekor kapel. Bila mendapat tugas untuk menghias atau mendekor gereja, ketua Lingkungan menghubungi OMK di Lingkungan untuk mengerjakannya. Namun, para bapak dan ibu tetap turut ikut membantu. Hal ini merupakan upaya untuk melibatkan OMK lingkungan agar ikut aktif dalam tugas yang diberikan kepada Lingkungan. Umat yang ikut dalam menghias atau mendekor gereja ini ±7 orang [Lampiran 6: (10)].

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 d. Ziarah Kegiatan ziarah dilaksanakan setiap setahun sekali, saat bulan rosario. Hal ini disepakati dan diikuti oleh semua anggota umat Lingkungan Paulus Gatak, dengan mengadakan ziarah ini mereka juga semakin mengenal satu dengan yang lain, pada tahun ini umat Lingkungan Paulus Gatak ziarah ke Goa Maria Tritis dan diikuti oleh seluruh anggota Lingkungan Paulus Gatak [Lampiran 6: (10)]. e. Kerja Bakti di Kapel Kerja bakti ini merupakan ide dari ketua Lingkungan Paulus Gatak, beliau menyadari bahwa umat terkadang hanya meresa memiliki tanpa merawat. Sehingga umat menyapakati diadakannya piket yang bertugas menjaga kebersihan lingkungan kapel. Hal ini dilaksanakan setiap hari sabtu pagi dan diikuti oleh ±5 orang secara bergiliran setiap minggunya. Piket rutin yang dilakukan umat ini mendapat apresiasi dari pihak pengurus wilayah dan paroki. Lewat pengalaman Lingkungan Paulus Gatak, kemudian Wilayah menganjurkan kepada semua Lingkungan untuk melakukan hal yang sama [Lampiran 6: (10)]. f. Tabungan Cinta Kasih Tabungan cinta kasih ini dilakukan oleh ibu-ibu Lingkungan, diikuti oleh semua ibu-ibu Lingkungan Paulus Gatak, hal ini dilakukan setiap satu bulan sekali. Setiap kali pertemuan jumlah uang yang disetorkan adalah Rp. 50.000,00. Selain menabung maksud dari adanya kegiatan ini adalah untuk

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 membantu orang-orang yang kurang mampu dari segi ekonomi. Bunga yang di dapat dari tabungan ini dikumpulkan dan diberikan kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu [Lampiran 6: (10)]. g. Pendalaman Iman Lingkungan Dengan resmi berdirinya Paroki Kelor, umat juga semakin merindukan kehadiran sosok Allah sendiri, karena merasa ingin semakin diperhatikan dalam kehidupan dan perkembangan iman mereka mengenai Gereja dan Allah. Umat lingkungan Paulus Gatak memilki harapan agar iman umat semakin berkembang, lewat kegiatan-kegiatan yang menyangkut iman mereka sebagai orang katolik. Misalnya dengan kegiatan rekoleksi yang membahas tentang iman, ataupun lewat doa-doa yang selama ini belum banyak dikenal umat Lingkungan seperti kharismatik dll. Selain itu diharapkan adanya sapaan kepada kaum jompo/lansia oleh pastur paroki agar umat merasa dianggap sebagai anggota paroki Kelor yang membutuhkan perhatian lebih untuk membina iman lebih lanjut [Lampiran 6: (10-11)]. C. Penelitian Peranan Sakramen Perkawinan Untuk Membentuk Kehidupan Keluarga Katolik Yang Ideal Di Lingkungan Paulus Gatak, Paroki Santo Petrus Dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul Perkawinan merupakan keinginan dari Allah sendiri, karena lewat perkawinan manusia dapat disempurnakan. Sakramen perkawinan merupakan hal yang sakral, karena sakramen ini diberikan langsung oleh Allah

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 sendiri.Sakramen perkawinan membawa dampak dan konsekuensi bagi mereka yang menerimanya. Tentunya di banyak hal termasuk lewat anak yang akan dititipkan Allah kepada pasangan tersebut.Sakramen perkawinan juga berperan dalam membentuk keluarga katolik yang ideal. 1. Latar Belakang Penelitian Pisah ranjang, ketidakcocokan yang membuat pasangan sering bertengkar, komunikasi yang tidak baik merupakan bentuk ketidakharmonisan keluarga-keluarga yang sudah dibangun sejak awal. Hal-hal diatas mungkin saja memicu perceraian dan jalan perkawinan yang dipilih tidak lagi harmonis dan mereka lebih memilih cerai. Jika dilihat dari sudut pandang Gereja, tentunya Gereja menolak adanya perceraian ini, namun ada beberapa faktor yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengabulkan perceraian tersebut. Perceraian bertolak belakang dengan apa yang tertulis dalam kutipan Kitab Suci yang menyatakan “yang telah dipersatukan Allah, hendaknya jangan diceraikan manusia”, apa yang mereka alami (pasangan suami istri), entah masalah seberat apapun hendaknya bisa dibicarakan dengan kepala dingin, karena sejak mereka menerima sakramen perkawinan mereka sudah menjadi satu daging, menjadi pasangan yang sah. Sakramen perkawinan seakan menjadi hal yang bisa dimanipulasi, terkadang sakramen perkawinan hanya dijadikan sebagai formalitas saja supaya sah atau unuk menghindarkan diri dari kata zinah atau yang lain. Kurangnya pemahaman pasangan untuk sakramen perkawinan ini sedikit banyak merupakan pengaruh dari pendampingan katekis paroki saat kursus perkawianan, tidak mudah memang ketika harus mengajarkan hal yang

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 manusiawi apalagi hal baik untuk calon keluarga baru ini. Terkadang apa yang dimiliki katekis tidak cukup banyak sehingga pemahaman calon suami istri ini kurang dalam hal memaknai sakramen perkawinan. Bukan salah katekis tentunya, namun kita juga menyadari betapa banyaknya orang yang tinggkat pemahaman mereka berbeda, paroki dan romo parokipun ikut ambil bagian untuk pelaksanaan pelajaran yang dilakukan saat mempersiapkan perkawinan. Pengaruh dukungan dari orang-orang yang berkecimpung dalam hal ini juga besar, keingintahuan dari pasangan juga berpengaruh, namun tidak semua pasangan memikirkan hal tersebut. Jadi pasangan hanya ikut pelajaran dan jarang yang menambah materi sendiri atau belajar sendiri untuk mengetahui lebih jauh soal perkawinan. 2. MetodePenelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodepenelitian kualitatif, menggunakan wawancara dan kuesioner. Wawancara diadakan dengan ketua Lingkungan Paulus Gatak dan 3 keluarga. Data hasil berupa jawaban-jawaban disusun secara sistematis dan diajukan dalam suatu daftar untuk dijawab responden. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang benar-benar hanya memaparkan apa yang terjadi dalam sebuah lapangan atau keadaan tertentu, data yang diperoleh diklasifikasikan atau dikelompokkan setelah datanya lengkap, kemudian dibuat kesimpulan. 3. Responden Penelitian Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama dalam mengumpulkan data dan menginterpretasikan data dengan dibimbing oleh

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 pedoman wawancara dan pedoman kuesioner. Dengan mengadakan wawancara, peneliti dapat memahami makna interaksi sosial, mendalami perasaan dan nilainilai yang tergambar dalam ucapan dan perilaku responden. Penelitian yang dilakukan penulis ini dilakukan terhadap semua keluarga katolik yang ada di Lingkungan Paulus Gatak yang berjumalah 25 kepala keluarga menggunakan kuesioner, dan 5 keluarga yang diwawancarai dalam artian peneliti menggunakan penelitian populasi. Populasi yang dipakai adalah keseluruhan obyek penelitian. 4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Data penelitian ini dikumpulkan melalui 2 cara yaitu kuesioner dan wawancara. Kuesioner diberikan kepada umat Lingkungan di Paulus Gatak. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam artian laporan tentang pribadinya atau hal lain yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 1997: 128). Wawancara dilasanakan kepada ketua lingkungan dan beberapa tokoh di Lingkungan Paulus Gatak. Wawancara adalah sebuah dialog lisan yang dilakukan antara dua orang atau lebih untuk memperoleh informasi. Penulis menggunakan wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja tanpa melupakan data yang ingin diketahui lewat wawancara ini. Peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mendapatkan jawaban valid dari informan sehingga peneliti harus bertatap muka dan bertanya langsung dengan informan. Dalam hal ini yang memungkinkan menjadi orang yang mempunyai informasi/responden adalah umat Lingkungan Paulus Gatak dan ketua Lingkungan Paulus Gatak.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 5. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dengan kuesioner dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2014 tempat penelitian di Lingkungan Paulus Gatak, Paroki Santo Petrus Paulus Kelor. Penulis memanfaatkan waktu saat doa rutin lingkungan untuk memberikuesioner tersebut pada hari Jumat, pukul 19.00. Kemudian para responden mengisi kuesioner tersebut dan akan diambil penulis.Sedangkan wawancara dilaksanakan pada tanggal 20 dan 30 Maret. Penulis memanfaatkan hari Minggu saat mengambil kuesioner di masing-masing rumah responden. 6. Prosedur Pengolahan data Dari data-data yang terkumpul selanjutnya penulis akan mengelompokkan berdasarkan jawaban-jawaban responden, kemudian mendeskripsikan jawabanjawaban dari responden yang memilih jawaban yang disediakan. Dari jawaban kuesioner yang diberikan pada responden, selanjutnya penulis berusaha untuk menafsirkan maksud dari jawaban-jawaban responden, mendiskripsikan atas apa yang dijawab oleh para responden.Dalam pengolahan data ini, prosentasi suara responden diperoleh dengan cara membagi frekuensi suara masuk (F) dengan jumlah responden keseluruhannya (N) kemudian dikalikan dengan 100%, atau dengan rumus : F/N x 100% 7. Variabel Penelitian Variabel merupakan suatu dimensi konsep yang dapat diukur yang mempunyai nilai lebih (Dapiyanta, 2004: 29). Yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu pengaruh sakramen perkawinan terhadap keluarga

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 katolik yang beriman di Lingkungan Paulus Gatak Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Adapun variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah: Tabel 1. Variabel penelitian No Variabel yang diungkap No. Pernyataan (1) (2) (3) 1. Pemahaman tentang 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 sakramen perkawinan. 2. Peran sakramen 11,12,13,14,15,16,17,18 perkawinan untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. 3. Makna dan konsekuensi 19,20,21,22,23,24,25,26, penerimaan sakramen 27,28 perkawinan terhadap keluarga baru mereka. 4. Pemahaman tentang 29,30,31,32,33,34,35 hidup menggereja. 5. Faktor penghambat dan 36,37,38,39,40,41,42 pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja. 6. Harapan terhadap Gereja 43,44,45,46,47,48,49,50 Jumlah Total Pernyataan 8. Jumlah Item (4) 10 8 10 7 7 8 50 Hasil dan Pembahasan Penelitian Peranansakramen Perkawinan untuk Membentuk Kehidupan Keluarga Katolik yang Ideal di Lingkungan Paulus Gatak, Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul a. Pemahaman Tentang Sakramen Perkawinan Pada bagian ini memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Lingkungan Paulus Gatak memahami soal Sakramen perkawinan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Tabel 2 : Pemahaman Sakramen Perkawinan (N=50) No Item (1) 1. 2. 3. 4. 5. Pernyataan (2) Saya mengetahui tentang perkawinan kristiani lewat buku rohani yang membahas tentang perkawinan. Saya dan pasangan saya semakin memahami dan mensyukuri menjadi keluarga katolik setelah dikukuhkan dalam sebuah sakramen perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawian itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri, lewat perkawinan ini segala ciptaan Allah menjadi sempurna. Saya mengetahui tentang sifat-sifat perkawinan yaitu Unitas(kesatuan), Monogam(antara lakilaki dan perempuan) dan Indissolubilitas(tak terceraikan). Perkawinan suami-istri Kristiani merupakan ikatan sakramental yang artinya ikatan menjadi simbol yang menghadirkan Allah sendiri kepada umatNya Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 32 9 4 5 Persen (%) (5) 64 18 8 10 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 50 0 0 0 100 0 0 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 25 1 24 0 50 2 48 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 25 2 23 0 50 4 46 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 35 0 15 0 70 0 30 0 Jumlah (4)

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 (1) 6. (2) Menurut saya sakramen perkawinan memiliki peran terhadap kehidupan keluarga katolik yang ideal. 7. Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya. 8. Peranan sakramen perkawinan yang saya rasakan tersebut berupa dorongan dan tanggung jawab dalam keluarga yang saya bangun. 9. Beriman adalah menanggapi wahyu Allah kepada manusia. Dalam hal berkeluarga adalah hidup seturut kehendak Allah. 10. Dengan kehadiran Allah yang memberikan rahmat perkawinan ini, saya dan pasangan saya bukan hanya mencari ke-absah-an perkawinan namun juga untuk keterlibatan kami dalam hidup menggereja. (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 35 6 9 0 (4) 70 12 18 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 39 0 11 0 78 0 22 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 50 0 0 0 100 0 0 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 45 5 0 0 90 10 0 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 38 0 14 0 76 0 24 0 Pada pernyataan nomor 1 menunjukkan bahwa 32 (64%) (5) responden menyatakan bahwa tahu tentang sakramen perkawinan lewat buku rohani. 9 (18%) responden menyatakan kurang setuju, 4 (8%) responden ragu-ragu, dan 5 (10%)

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 responden menyatakan tidak setuju. Secara garis besar responden menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa besar keinginan dari umat untuk mengetahui lebih dalam tentang sakramen perkawinan dengan cara mencari informasi sendiri. Pada pernyataan nomor 2 seluruh responden sebanyak 50 (100%) menyatakan setuju dengan pernyataan berkat sakramen perkawinan saya disadarkan akan tanggung jawab hidup bukan hanya pribadi tapi juga pasangan saya, hal ini menunjukkan bahwa umat sadar dan tahu akan tanggung jawabnya sebagai pasangan yang sudah menerima sakramen perkawinan. Pada pernyataan nomor 3 tentang perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawinan itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri, lewat perkawinan ini segala ciptaan Allah menjadi sempurna, sebanyak 25 (50%) responden menyatakan setuju, 1 (2%) responden menyatakan kurang setuju, 24 (46%) menyatakan ragu-ragu. Dari jawaban yang menyatakan setuju dan ragu-ragu dari responden tentang pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian umat masih menyatakan keraguannya tentang perkawinan luhur, diberkati dan dihendaki Allah sendiri, disini muncul sedikit gambaran bahwa masih ada umat yang sebenarnya belum paham tentang hal itu. 25 responden yang setuju dapat dilihat ada umat yang tahu, paham dan menyadari akan hal itu. Pada pernyataan nomor 4, jawaban responden antara setuju dan raguragu sama yaitu sebanyak 25 (50%), 2 (4%) menyatakan kurang setuju atas pernyataan tersebut dan 23 (46%) menyatakan ragu-ragu. Pernyataan nomer 4 ini membahas tentang sifat sakramen perkawinan yaitu Unitas, monogam, dan indissolubilitas.dari perbandingan jawaban umat yang sama, dapat digambarkan

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 mengenai pengetahuan mereka tentang sifat-sifat perkawinan, masih ada umat yang ragu-ragu atau mungkin lupa dengan pelajaran yang dulu pernah diterima saat kursus perkawinan. Namun ada sebagian umat yang setuju dengan pernyataan tersebut dan dapat digambarkan bahwa mereka tahu tentang sifatsifat perkawinan ini. Pada pernyataan nomor 5, sebanyak 35 (70%) responden menyatakan setuju dan 15 (30%) responden menyatakan ragu-ragu. Dilihat dari prosentase jawaban reponden, umat setuju bahwa perkawinan kristiani merupakan ikatan sakramental yang menjadi simbol hadirnya Allah kepada umatnya. Pada pernyataan nomor 6, sebanyak 35 (70%) menyatakan setuju bahwa sakramen perkawinan memiliki peran terhadap keluarga katolik yang ideal. 6 (12%) responden menyatakan kurang setuju dan 9(18%) responden menyatakan ragu-ragu. Dapat digambarkan bahwa kebanyakan umat setuju bahwa keluarga yang ideal dipengarui oleh sakramen perkawinan. Pada pernyataan nomor 7, sejumlah 39(78%) menyatakan setuju dengan pernyataan suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya.11(22%) responden menyatakan ragu-ragu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tahu suami dan istri merupakan tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi mereka satu dengan yang lain. Pada pernyataan nomor 8, 50 (100%) responden menyadari bahwa peran sakramen perkawinan yang mereka rasakan merupakan tanggung jawab untuk membangun dan menjalankan keluarga yang mereka bangun. Pada pernyataan nomor 9, sebanyak 45 (90%) responden menyatakan setuju dengan pernyataan beriman adalah menanggapi wahyu Allah kepada

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 manusia. Dalam hal keluarga yaitu hidup seturut Allah. Ada 5(10%) responden yang kurang setuju dengan pernyataan tersebut. Dilihat dari jumlah prosentase jawaban dari responden dapat digambarkan bahwa umat setuju dan tahu tentang apa arti iman dalam hidup berkeluarganya. Pada pernyataan nomor 10, sebanyak 38 (76%) responden menyatakan setuju dengan pernyataan dengan kehadiran Allah yang memberikan rahmat perkawinan ini, saya dan pasangan saya bukan hanya mencari ke-absah-an perkawinan namun juga untuk keterlibatan kami dalam hidup menggereja. Namun ada juga 14(24%)responden yang menyatakan keragu-raguannya tentang pernyataan tersebut. Tidak ada responden yang memilih alternatif jawaban kurang setuju ataupun tidak setuju. b. Peran Sakramen Perkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal Pada tabel 3, memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Lingkungan Paulus Gatak mengetahui peran sakramen perkawinan untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 3: Peran SakramenPerkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal(N=50) No Item (1) 11. Pernyataan (2) Lewat janji perkawinan yang saya ucapkan, saya yakin bahwa Allah akan menyertai dan mengingatkan keluarga kami. Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju Jumlah (4) 38 0 12 0 Persen (%) (5) 76 0 24 0

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 (1) 12. 13. 14. 15. 16. 17. (2) keluarga adalah “ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu dengan yang lain”. Keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan dan iman akan Yesus. Dengan dibantu rahmat sakramen perkawinan berupa ruang lingkup bekerjasama dengan Tuhan, saya dan keluarga saya semakin berkembang dalam hal iman. Keyakinan saya terhadap Tuhan membuat perkawinan yang saya bangun sampai saat ini baikbaik saja dan membantu saya mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Sakramen perkawinan yang saya terima dengan pasangan saya menjadi hal yang istimewa sebagai wujud kepercayaan Tuhan terhadap kami membeangun kehidupan rumah tangga. Keluarga katolik yang ideal merupakan keluarga yang memaknai dan hidup sesuai kehendak Tuhan sendiri. (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 40 0 10 0 (4) 80 0 20 0 (5) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 42 4 4 0 84 8 8 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 32 6 12 0 64 12 24 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 38 0 12 0 76 0 24 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 43 0 7 0 86 0 14 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2)Ragu-ragu (1) Tidak setuju 39 0 11 0 78 0 22 0

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 (1) 18. (2) Kehidupan berkeluarga tidak mudah, banyak tantangan, namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kami. (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) 40 4 0 6 (5) 80 8 0 12 Pada pernyataan nomor 11, 38 (76%) responden menyatakan setuju atas pernyataan lewat janji perkawinan yang saya ucapkan, saya yakin bahwa Allah akan menyertai dan mengingatkan keluarga kami. 12 (24%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan tersebut. Alternatif jawaban kurang setuju dan tidak setuju 0%. Dapat digambarkan bahwa sebagian besar umat sudah menyadari dan tahu tentang Allah sendiri yang hadir dan membantu mengingatkan tentang janji perkawinan yang mereka ucapkan. Pada pernyataan nomor 12, sebanyak 40 (80%) memilih setuju untuk pernyataan keluarga merupakan tempat atau ruang dimana kita belajar satu dengan yang lain. 10 (20%) responden menyatakan ragu-ragu tidak ada yang memilih alternatif jawaban kurang setuju dan tidak setuju. Dari prosentase tersebutdapat digambarkan umat menyadari keluarga adalah awal dimana semua dimulai dan belajar apapun yang dapat digunakan sebagai bekal hidup. Pada pernyataan nomor 13, 42 (84%) responden menyatakan setuju dengan pernyataan keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan, iman dan kasih akan Yesus. 4 (8%) responden menyatakan tidak setuju. 4 (8%) memilih ragu-ragu, tidak ada yang memilih alternatif jawaban kurang setuju. Dapat digambarkan bahwa umat tahu tentang keluarga kristiani, keluarga dimana dapat membangun persekutuan hidup berdasar persaudaraan iman dan kasih.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Pada pernyataan nomor 14, 32 (64%) memilih setuju atas pernyataan Dengan dibantu rahmat sakramen perkawinan berupa ruang lingkup bekerjasama dengan Tuhan, saya dan keluarga saya semakin berkembang dalam hal iman. 6 (12%) responden kurang setuju dan 12 (24%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan tersebut. Pada pernyataan nomor 15, 39 (76%) setuju, 12 (24%) ragu-ragu atas pernyataan keyakinan saya terhadap Tuhan membuat perkawinan yang saya bangun sampai saat ini baik-baik saja dan membantu saya mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Tidak ada yang memilih alternatif jawaban kurang setuju dan tidak setuju. Dari prosentase yang didapat umat di Lingkungan Paulus Gatak memang setuju bahwa kenyakinan terhadap Tuhan merupakan hal yang penting yang dapat membantu mereka mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Pada pernyataan nomor 16, 43 (86%) menyatakan setuju, 7 (14%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan sakramen perkawinan yang saya terima dengan pasangan saya menjadi hal yang istimewa sebagai wujud kepercayaan Tuhan terhadap kami membangun kehidupan rumah tangga. Tidak ada yang memilih aternatif jawaban kurang setuju ataupun tidak setuju. Dapat digambarkan bahwa umat menyadari dan merasakan bahwa sakramen perkawinan merupakan hal istimewa yang diberikan Tuhan untuk mereka di dalam keluarga. Pada pernyataan nomor 17, 39 (78%) responden menyatakan setuju, 11 (22%) responden ragu-ragu untuk pernyataan keluarga katolik yang ideal merupakan keluarga yang memaknai dan hidup sesuai kehendak Tuhan sendiri. Lewat prosentasi 78% menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut dapat digambarkan bahwa umat tahu tentang keluarga katolik yang ideal, walaupun

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 ada yang ragu-ragu prosentase setuju lebih besar sehingga hanya beberapa orang saja yang masih ragu tentang keluarga katolik yang ideal. Pada pernyataan nomor 18, 40 (80%) responden memilih setuju, 4 (8%) memilih kurang setuju, dan 6 (12%) menyatakan tidak setuju untuk pernyataan kehidupan berkeluarga tidak mudah, banyak tantangan, namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kami. Tidak ada yang memilih alternatif jawaban ragu-ragu. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada umat yang belum menyadari tentang kuasa Tuhan yang akan membebaskan mereka dari masalah. c.Makna dan KonsekuensiPenerimaan SakramenPerkawinan Terhadap Keluarga Baru Mereka Pada tabel 4, memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Lingkungan Paulus Gatak mengetahui makna dan konsekuensi penerimaan sakramen perkawinan yang ditujukan untuk keluarga baru mereka. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4: Makna dan KonsekuensiPenerimaan SakramenPerkawinan Terhadap Keluarga Baru Mereka(N=50) No Pernyataan Item (1) (2) 19. Saya mendapat kesempatan lebih dalam hal kegiatan menggereja (kewajiban sebagai seorang katolik) setelah saya mendapat sakramen perkawinan. 20. Janji perkawinan yang saya ucapkan tulus dari dalam lubuk hati saya. Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 31 10 0 9 Persen (%) (5) 62 20 0 18 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 38 0 12 0 76 0 24 0 Jumlah (4)

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 (1) 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. (2) Saya memahami sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana dari Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sakramen perkawinan yang saya terima menjadikan saya semakin berkembang dalam kehidupan iman. Saya mendidik anak-anak saya dengan cara katolik, sesuai dengan janji pernikahan yang saya ucapkan. Saya bekerja sama dengan pasangan saya untuk mendidik anak-anak kami. (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 35 9 6 0 (4) 70 18 12 0 (5) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 38 6 8 0 76 12 16 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 45 0 5 0 90 0 10 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) Setuju Saya merasa kehidupan keluarga yang saya bangun (3)Kurang Setuju telah pada tahap “keluarga (2) Ragu-ragu katolik yang ideal” (1) Tidak setuju (kepentingan keluarga dan Gereja seimbang) Saya sadar setelah saya (4) Setuju meneima sakramen (3)Kurang Setuju perkawinan, membuat (2) Ragu-ragu saya bertanggung jawab (1) Tidak setuju terhadap Tuhan dalam segala hal. (4) Setuju Saya dan pasangan saya (3)Kurang Setuju berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ikut (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju kegiatan gereja, misal misa, doa lingkungan dan doa keluarga. Saya mengajak anggota (4) Setuju keluarga saya untuk saling (3)Kurang Setuju melengkapi dan saing (2) Ragu-ragu mengingatkan ketika salah (1) Tidak setuju satu dari kami malas dan jauh dari Tuhan. 50 0 0 0 38 5 6 1 100 0 0 0 76 10 12 2 50 0 0 0 100 0 0 0 36 4 10 0 72 8 20 0 41 4 5 0 82 8 10 0

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Pada pernyataan nomor 19, 31 (62%) responden memilih setuju, 10 (20%) kurang setuju dan 9 (18%) responden tidak setuju dengan pernyataan,saya mendapat kesempatan lebih dalam hal kegiatan menggereja (kewajiban sebagai seorang katolik) setelah saya mendapat sakramen perkawinan. Dapat dikatakan bahwa umat di Lingkungan Paulus Gatak merasa mendapat kesempatan yang lebih setelah mereka mendapat sakramen perkawinan. Namun masih ada yang kurang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Pada pernyataan nomor 20, 38 (76%) responden setuju,dan 12 (24%) responden ragu-ragu dengan pernyataan,janji perkawinan yang saya ucapkan tulus dari dalam lubuk hati saya. Tidak ada yang memilih alternatif jawaban kurang dan tidak setuju. Dilihat dari hasil prosentase setuju, umat di Lingkungan Paulus Gatak menunjukkan keseriusan atas perkawinan mereka, namun ada 6 responden yang masih ragu dalam pilihan itu. Pada pernyataan nomer 21, 35 (70%) reresponden memilih setuju, 9 (18%) responden memilih kurang setuju, 6 (12%) ragu-ragu atas pernyataan, saya memahami sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana dari Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa umat Paulus Gatak memahami bahwa sakramen perkawinan merupakan tanda dan sarana Tuhan untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Pada pernyataan nomor 22, 28 (76%) responden menyatakan setuju, 6 (12%) menyatakan kurang setuju, 8 (16%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan, sakramen perkawinan yang saya terima menjadikan saya semakin berkembang dalam kehidupan iman. Dapat dilihat bahwa masih beragam

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 jawaban yang muncul dari umat walaupun banyak yang memilih setuju dengan pernyataan tersebut, namun ada beberapa yang kurang setuju dan ragu bahwa iman mereka semakin berkembang lewat sakramen perkawinan. Pada pernyataan nomor 23, 45 (90%) responden memilih setuju, dan 5 (10%) lainnya ragu untuk pernyataan, saya mendidik anak-anak saya dengan cara katolik, sesuai dengan janji pernikahan yang saya ucapkan. Besarnya prosentasi responden yang memilih setuju dapat digambarkan bahwa umat memang setia dengan apa yang mereka ucapkan saat janji perkawinan. Pada pernyataan nomor 24, seluruh responden sejumlah 45 (90%) menyatakan setuju dengan pernyataan, saya bekerja sama dengan pasangan saya untuk mendidik anak-anak kami. Hal ini menunjukkan bahwa umat yang menerima sakramen perkawinan akan berusaha untuk mendidik anak mereka secara bersama. Pada pernyataan nomor 25, 38 (76%) responden memilih setuju, 5 (10%) responden memilih kurang setuju, 6 (12%) responden ragu-ragu dan 1 (2%) memilih tidak setuju dengan pernyataan, saya merasa kehidupan keluarga yang saya bangun telah pada tahap “keluarga katolik yang ideal” (kepentingan keluarga dan Gereja seimbang). Dari jumlah prosentase terbanyak menunjukkan umat merasa keluarga yang mereka bangun sudah masuk dalam tahapan ideal. Pada pernyataan nomer 26, seluruh reponden 50 (100%) menyatakan setuju dengan pernyataan, saya sadar setelah saya meneima sakramen perkawinan, membuat saya bertanggung jawab terhadap Tuhan dalam segala hal. Hal ini menunjukkan bahwa umat sadar akan peran sakramen perkawinan yang diantaranya membuat mereka bertanggung jawab terhadap Tuhan dan segala hal.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Pada pernyataan nomor 27, 36 (72%) responden menyatakan setuju, 4 (8%) responden menyatakan kurang setuju dan 10 (20%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan, saya dan pasangan saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ikut kegiatan gereja, misal misa, doa lingkungan dan doa keluarga. Besar kemauan umat di Lingkungan Paulus Gatak untuk mengikuti kegiatankegiatan gereja hal ini ditunjukkan oleh jumlah umat yang memilih setuju untuk pernyataan tersebut. Pada pernyataan nomor 28, 41 (82%) responden memilih setuju, 4 (8%) responden memilih kurang setuju, dan 5 (10%) responden ragu-ragu untuk pernyataan, saya mengajak anggota keluarga saya untuk saling melengkapi dan saling mengingatkan ketika salah satu dari kami malas dan jauh dari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada umat yang kurang peduli dengan anggota keluarganya masing-masing. Namun hal itu tertutup oleh 41 responden yang memilih setuju dengan menjalin komunikasi yang baik dalam keluarga yang berhubungan dengan Tuhan. d. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja Pada tabel 5, memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Lingkungan Paulus Gatak paham tentang hidup menggereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5: Pemahaman Tentang Hidup Menggereja(N=50) No Pernyataan Item (1) (2) 29. Saya selalu belajar sendiri (rohani) unyuk semakin memperkuat iman saya. Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju Jumlah (4) 41 2 5 2 Persen (%) (5) 82 4 10 4

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 (1) 30. (2) Saya mendorong keluarga saya untuk selalu mengucap syukur bersama-sama dalam keadaan apapun (doa pribadi keluarga). Salah satu wujud terima kasih saya terhadap rahmat yang diberikan Tuhan adalah dengan cara berpartisipasi akif dalam kegiatan menggereja. Saya aktif dalam kegiatan yang diadakan lingkungan (doa lingkungan, koor, dan lain-lain). Tanggung jawab setiap keluarga adalah untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Saya mendorong anakanak saya untuk aktif mengikuti kegiatan menggereja (doa, koor, OMK). Keterlibatan saya dalam hidup menggereja membuat orang lain menjadi tergerak untuk mengikuti hal yang sama. 31. 32. 33. 34. 35. (3) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 43 0 7 0 (4) 86 0 14 0 (5) (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 30 4 16 0 60 8 32 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 32 0 0 18 64 0 0 36 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 43 4 3 0 38 0 12 0 86 8 6 0 76 0 24 0 (4) Setuju (3)Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 31 5 7 5 62 10 14 10 Pada pernyataan nomor 29, 41 (82%) responden menyatakan setuju, 2 (4%) kurang setuju, 5 (10%) ragu-ragu dan 2 (4%) tidak setuju. Jawaban dari responden bervariatif untuk pernyataan, saya selalu belajar sendiri (rohani) untuk semakin memperkuat iman saya. Jika dilihat dari besarnya prosentase responden yang memilih setuju, dapat digambarkan bahwa umat di Lingkungan Paulus Gatak memiliki keingintahuan besar untuk belajar sendiri mengenai hidup rohani mereka.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Pada pernyataan nomor 30, 43 (86%) responden memilih setuju, dan 7 (14%) responden ragu-ragu untuk pernyataan, Saya mendorong keluarga saya untuk selalu mengucap syukur bersama-sama dalam keadaan apapun (doa pribadi keluarga). Prosentase ini menunjukkan bahwa umat satu dengan yang lain saling memberikan dorongan untuk selalu mengucap syukur, namun ada juga yang masih ragu-ragu dalam hal ini. Pada pernyataan nomor 31, 30 (60%) responden menyatakan setuju, 4 (8%) menyatakan kurang setuju, 16 (32%) ragu-ragu atas pernyataan, Salah satu wujud terima kasih saya terhadap rahmat yang diberikan Tuhan adalah dengan cara berpartisipasi akif dalam kegiatan menggereja. Keterlibatan umat dapat dilihat dari prosentase yang muncul, ada 30 responden yang menyatakan setuju berarti dia ikut aktif ambil bagian dalam kegiatan menggereja, namun ada juga yang masih ragu untuk ikut aktif ambil bagian dalam kegiatan menggereja. Pada pertanyaan nomor 32, 32 (64%) responden memilih setuju, dan 18 (36%) memilih tidak setuju untuk pernyataan, saya aktif dalam kegiatan yang diadakan lingkungan (doa lingkungan, koor, dan lain-lain). 32 responden aktif dalam kegiatan lingkungan, 18 responden menytakan tidak setuju, dapat dilihat jumlah umat yang aktif dan tidak untuk setiap kegiatan yang diadakan Lingkungan. Pada pernyataan nomer 33, 43 (86%) menyatakan setuju, 4 (8%) menyatakan kurang setuju, dan 3 (6%) ragu-ragu untuk pernyataan, tanggung jawab setiap keluarga adalah untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Dari jumlah prosentasi banyak dari alernatif jawaban setuju dapat digambarkan bahwa umat menyadari bahwa merekalah yang akan membangun kerajaan Allah di dunia.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Pada pernytaan nomor 34, 38 (76%) responden menyatakan setuju, dan 12 (24%) ragu-ragu atas pernyataan, saya mendorong anak-anak saya untuk aktif mengikuti kegiatan menggereja (doa, koor, OMK). Seperti pada kenyaan ada orang tua yang mendukung ada pula yang kurang mendukung untuk mengijinkan anaknya mengikuti kegiatan omk. Dilihat dari prosentase ragu-ragu sebanyak 24% memang masih belum menyadari pentingnya kaum muda bagi gereja. Pada pernyataan nomor 35, 31 (62%) menyatakan setuju, 5 (10%) menyatakan kurang setuju, 7 (14%) ragu-ragu dan 5 (10%) menyatakan tidak setuju atas pernyataan, keterlibatan saya dalam hidup menggereja membuat orang lain menjadi tergerak untuk mengikuti hal yang sama. Hal ini menunjukkan ada orang yang memang tahu dan menyadari bahwa keterlibatan mereka penting, namun ada juga yang belum tergerak untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan gereja. e. Faktor Penghambat dan Pendukung untuk Terlibat dalam Hidup Menggereja Pada tabel 6, memaparkan hasil yang menunjukkan faktor penghambat dan pendukung bagi umat di Lingkungan Paulus Gatak untuk terlibat hidup menggereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini: Table 6: Faktor Penghambat dan Pendukung untuk Terlibat dalam Hidup Menggereja(N=50) No Pernyataan Item (1) (2) 36. Muncul dalam diri saya untuk melayani Tuhan, namun belum saya lakukan. Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju Jumlah (4) 40 3 7 0 Persen (%) (5) 80 6 14 0

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 (1) 37. 38. 39. 40. 41. 42. (2) Romo paroki dan katekis yang terkait dalam perkawinan dan keluarga selalu memantau keadaan umatnya. Dengan adanya pemantauan dan lewat kesadaran pribadi saya dan keluarga saya mau berkembang bersama dalam hal iman katolik. Waktu saya tersita pada pekerjaan saya sehingga waktu untuk Tuhan juga terbatas. Gereja mewajibkan saya untuk selalu ikut ambil bagian di dalamnya. Alat transportasi yang menghambat saya dan keluarga untuk mengikuti setiap doa lingkungan ataupun misa di paroki. Rasa malas dalam diri saya terkendali, dan saya tetap mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hidup rohani saya. (3) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 28 5 7 10 (4) 56 10 14 20 (5) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 25 7 7 11 50 14 14 22 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 7 10 5 28 0 7 10 33 0 7 5 38 14 20 10 56 0 14 20 66 0 14 10 76 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 38 0 12 0 76 0 24 0 Pada pernyataan nomor 36, 40 (80%) menyatakan setuju, 3 (6%) kurang setuju, 7 (14%) ragu atas pernyataan, muncul dalam diri saya untuk melayani Tuhan, namun belum saya lakukan. Dari jumlah prosentase yang didapat dari responden yang menyatakan setuju dapat digambarkan bahwa umat memiliki keinginan untuk melayani Tuhan, namun masih ada yang kurang setuju dan raguragu untuk melakukan hal tersebut. Secara garis besar umat memiliki kemau untuk melayani Tuhan.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Pada pernyataan nomor 37, 28 (56%) responden memilih setuju, 5 (10%) memilih kurang setuju, 7 (10%) ragu-ragu dan 10 (20%) tidak setuju dengan pernyataan, romo paroki dan katekis yang terkait dalam perkawinan dan keluarga selalu memantau keadaan umatnya. Dilihat dari prosentase yang muncul sebagian umat merasa bahwa romo memantau keadaan keluarga, namun ada yang merasa romo belum masuk ke dalam keluarga untuk pembimbingan lebih lanjut. Secara garis besar umat merasa dipantau keadaan keluarganya. Pada pernyataan nomor 38, 25 (50%) responden memilih setuju, 7 (14%) responden memilih kurang setuju, 7 (14%) ragu-ragu dan 10 (20%) responden memilih tidak setuju untuk pernyataan, dengan adanya pemantauan dan lewat kesadaran pribadi saya dan keluarga saya mau berkembang bersama dalam hal iman katolik. Dari prosentase yang muncul secara garis besar umat menginginkan pemantauan dari romo agar keluarga mereka dapat berkembang secara iman. Pada pernyataan nomor 39, 7 (14%) responden memilih setuju, 10 (20%) memilih kurang setuju, 5 (10%) responden memilih ragu-ragu dan 28 (56%) responden memilih kurang setuju untuk pernyataan, waktu saya tersita pada pekerjaan saya sehingga waktu untuk Tuhan juga terbatas. Secara garis besar umat tidak setuju jika ada orang yang menyatakan waktu mereka tersita pekerjaan, dapat dilihat jika umat tidak berpandangan seperti itu, hal ini bukan penghambat untuk dekat dengan Tuhan. Pada pernyataan nomor 40, 7 (14%) menyatakan kurang setuju, 10 (20%) ragu dan 33 (66%) menyatakan tidak setuju dengan pernyataan, gereja mewajibkan saya untuk selalu ikut ambil bagian di dalamnya. Umat menyadari bahwa gereja tidak mewajibkan umatnya untuk ikut ambil bagian karena ini soal iman, kesadaran dan kemauan.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Pada pernyataan nomor 41, 7 (14%) menyatakan kurang setuju, 5 (10%) ragu-ragu, dan 38 (76%) menyatakan tidak setuju untuk pernyataan, alat transportasi yang menghambat saya dan keluarga untuk mengikuti setiap doa lingkungan ataupun misa di paroki. Secara garis besar umat di Lingkungan Paulus Gatak menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan bahwa alat transportasi bukan penghambat untuk mereka mengikuti kegiatan menggereja. Pada pernyataan nomor 42, 38 (76%) menyatakan setuju, 12 (23%) raguragu atas pernyataan, rasa malas dalam diri saya terkendali, dan saya tetap mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hidup rohani saya. Secara garis besar umat mampu mengatasi rasa malasnya untuk mengikuti kegiatan menggereja atau yang berhubungan dengan hidup rohani mereka. f. Harapan Terhadap Gereja Pada tabel 7, memaparkan hasil yang menunjukkan harapan umat Lingkungan Paulus Gatak terhadap Gereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 7: Harapan Terhadap Gereja(N=50) No Pernyataan Item (1) (2) 43. Turun ke umat, mendatangi dan menanyakan, adalah hal baik yang bisa dilakukan romo paroki untuk membentuk iman kami. 44. Saya setuju dengan diadakannya rekoleksi pasutri. Alternatif jawaban (3) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 40 0 7 3 Persen (%) (5) 80 0 14 6 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 43 0 7 0 86 0 14 0 Jumlah (4)

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 (1) 45. 46. 47. 48. 49. 50. (2) Iman kami berkembang lewat doa-doa Lingkungan dan misa pada hari minggu. Katekis di lingkungan ini kurang, sehingga kami kesulitan untuk mengembangkan iman kami. Gereja merupakan dukungan material untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Saya ingin mengikuti proses belajar tentang perkawinan katolik, walaupun saya sudah cukup lama menikah. Saya dan pasangan saya berharap Gereja memberikan jadwal rutin untuk mengadakan pertemuan yang membahas tentang perkawinan yang bisa membantu kami semakin mengerti tentang perkawinan katolik. Sharing antar keluarga yang didampingi romo tentunya hal yang positif bagi kami para pasutri. (3) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 33 13 3 1 21 5 0 24 (4) 66 26 6 2 42 10 0 48 (5) (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 32 6 0 12 64 12 0 24 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 46 0 0 4 92 0 0 8 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 48 0 0 2 96 0 0 4 (4) Setuju (3) Kurang Setuju (2) Ragu-ragu (1) Tidak setuju 42 6 0 2 84 12 0 4 Pada pernyataan nomor 43, 40 (80%) reponden menyatakan setuju, 7 (14%) responden memilih ragu dan 3 (6%) tidak setuju atas pernyataan, turun ke umat, mendatangi dan menanyakan, adalah hal baik yang bisa dilakukan romo paroki untuk membentuk iman kami. Hal ini menunjukkan keinginan dan harapan kepada pihak Gereja dan pastor paroki untuk datang dan mendampingi umat untuk mengembangkan iman mereka.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Pada pernyataan nomor 44, 43 (86%) responden memilih setuju, 7 (14%) responden menyatakan ragu-ragu atas pernyataan, saya setuju dengan diadakannya rekoleksi pasutri. Dari jumlah reponden yang memilih setuju, dapat disimpulkan bahwa umat menginginkan adanya rekoleksi pasutri. Pada pernyataan nomor 45, 33 (66%) responden memilih setuju, 13 (26%) responden memilih kurang setuju, 3 (6%) responden memilih ragu dan 1 (2%) memilih tidak setuju atas pernyataan, iman kami berkembang lewat doa-doa Lingkungan dan misa pada hari minggu. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti doa lingkungan dan misa pada hari minggu secara tidak langsung mengembangkan iman umat. Pada pernyataan nomor 46, 21 (42%) menyatakan setuju, 5 (10%) responden menyatakan kurang setuju, 24 (48%) menyatakan tidak setuju atas perntyataan, katekis di lingkungan ini kurang, sehingga kami kesulitan untuk mengembangkan iman kami. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah katekis sebenarnya mencukupi karena jumlah responden yang menyakan tidak setuju dengan pernyataan tersenut sebanyak 24 responden. Pada pernyataan nomor 47, 32 (64%) menyatakan setuju, 6 (12%) responden menyatakan kurang setuju, 12 (24%) responden menyatakan tidak setuju atas pernyataan, Gereja merupakan dukungan material untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Hal ini menunjukkan bahwa umat menyetujui bahwa adanya gereja sangant membantu untuk melaksanakan kegiatan rohani. Pada pernyataan nomor 48, 46 (92%) responden menyatakan setuju, 4 (8%) memilih tidak setuju dengan pernyataan, saya ingin mengikuti proses belajar tentang perkawinan katolik, walaupun saya sudah cukup lama menikah. Hal ini

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 menunjukkan keinginan umat dan harapan kepada gereja untuk mengadakan semacam kursus atau pelajaran yang membahas tentang perkawinan katolik. Pada pernyataan nomor 49, 48 (96%) responden menyatakan setuju, dan 2 (4%) responden menyatakan tidak setuju dengan pernyataan, saya dan pasangan saya berharap Gereja memberikan jadwal rutin untuk mengadakan pertemuan yang membahas tentang perkawinan yang bisa membantu kami semakin mengerti tentang perkawinan katolik. Hal ini menunjukkan bahwa umat antusias untuk mengadakan dan mengikuti keiatan yang berhubungan dengan perkawinan mereka. Pada pernyataan nomor 50, 42 (84%) menyatakan setuju, 6 (12%) menyatakan kurang setuju dan 2 (4%) responden menyatakan tidak setuju dengan pernyataan, sharing antar keluarga yang didampingi romo tentunya hal yang positif bagi kami para pasutri. Secara garis besar umat menginginkan adanya sharing antar umat dan romo agar keluarga yang mereka bangun menjadi keluarga katolik yang ideal. 9. Kesimpulan Hasil Penelitian Pada bagian ini merupakan kesimpulan penelitian mengenai peranan sakramen perkawinan demi terwujudnya keluarga katolik yang ideal di Lingkungan Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul. Adapun urutan kesimpulannya sebagai berikut: a. Pemahaman Tentang Sakramen Perkawinan Penelitian tentang variabel menunjukkan bahwa 32 (64%) pemahaman sakramen perkawinan responden menyatakan bahwa tahu tentang

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 sakramen perkawinan lewat buku rohani. Sebanyak 50 (100%) menyetujui bahwa lewatsakramen perkawinan, mereka disadarkan akan tanggung jawab hidup bukan hanya pribadi tapi juga pasangannya. Sebanyak 25 (50%) responden menyatakan setuju bahwa perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawian itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri, lewat perkawinan ini segala ciptaan Allah menjadi sempurna. Sebanyak 25 (50%) responden menunjukkan setuju sifat sakramen perkawinan yaitu Unitas, monogam, dan indissolubilitas. Namun ada juga yang ragu-ragu sebanyak 25 (50%), masih ada umat yang ragu-ragu atau mungkin lupa dengan pelajaran yang dulu pernah diterima saat kursus perkawinan. Sebanyak 35 (70%) responden menyatakan setuju bahwa perkawinan kristiani merupakan ikatan sakramental yang menjadi simbol hadirnya Allah kepada umatnya.Sebanyak 35 (70%) menyatakan setuju bahwa sakramen perkawinan memiliki peran terhadap keluarga katolik yang ideal. Sejumlah 39 (78%) menyatakan setuju dengan pernyataan Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya.Sebanyak 50 (100%) responden menyadari bahwa peran sakramen perkawinan yang mereka rasakan merupakan tanggung jawab untuk membangun dan menjalankan keluarga yang mereka bangun. Sebanyak 45 (90%) responden menyatakan setuju dengan pernyataan beriman adalah menanggapi wahyu Allah kepada manusia. Dalam hal keluarga yaitu hidup seturut Allah. Sebanyak 38 (76%) responden menyatakan setuju bahwa kehadiran Allah yang memberikan rahmat perkawinan. Pembahasan diatas menunjukkan hasil penelitian menyatakan pada variabel 1 tentang pemahaman sakramen perkawinan menunjukkan bahwa umat

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 tahu tentang sakramen perkawinan hal ini ditunjukkan pada pernyataan nomer 1 sampai 10. Dengan prosentase besar pada alternatif jawaban setuju. b. Peran Sakramen Perkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal Penelitian tentang variabel peran sakramen perkawinan untuk keluarga katolik yang beriman menunjukkan sebanyak 38 (76%) responden menyatakan setuju bahwa lewat janji perkawinan yang mereka ucapkan, mereka yakin bahwa Allah akan menyertai dan mengingatkan keluarga mereka. Sebanyak 40 (80%) memilih setuju bahwa keluarga merupakan tempat atau ruang dimana kita belajar satu dengan yang lain. Sebanyak 42 (84%) responden menyatakan setuju bahwa keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan, iman dan kasih akan Yesus. Sebanyak 32 (64%) memilih setuju bahwa dengan dibantu rahmat sakramen perkawinan berupa ruang lingkup bekerjasama dengan Tuhan, saya dan keluarga saya semakin berkembang dalam hal iman. Sebanyak 39 (76%) setuju bahwa keyakinan mereka terhadap Tuhan membuat perkawinan yang mereka bangun sampai saat ini baik-baik saja dan membantu mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Sebanyak 43 (86%) menyatakan setuju, bahwa sakramen perkawinan yang mereka terima dengan pasangan, menjadi hal yang istimewa sebagai wujud kepercayaan Tuhan terhadap pembangunan kehidupan rumah tangga. Sebanyak 39 (78%) responden menyatakan bahwa keluarga katolik yang ideal merupakan keluarga yang memaknai dan hidup sesuai kehendak Tuhan sendiri. Sebanyak 40 (80%) responden menyatakan bahwa kehidupan berkeluarga tidak mudah, banyak tantangan, namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kami.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Pembahasan diatas menunjukkan tentang hasil penelitian menyatakan pada variabel 2 tentang peran sakramen perkawinan untuk membentuk keluarga katolik yang ideal yang menunjukkan bahwa umat di lingkungan Paulus Gatak belum sepenuhnya memahami peran sakramen perkawinan, karena masih ada beberapa orang yang belum menyadari peran sakramen dan kehadiran Tuhan dalam keluarga mereka. Namun disisi lain banyak juga yang mengetahui dan menyadari soal peran sakramen perkawinan untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Hal itu dibuktikan jumlah prosentase alternatif jawaban setuju yang lebih banyak dari pada alternatif jawban lain. c.Makna dan KonsekuensiPenerimaan SakramenPerkawinan Terhadap Keluarga Baru Mereka Penelitian dari variabel makna dan konsekuensi peneriamaan sakramen perkawinan terhadap keluarga baru yang mereka bangun menunjukkan bahwa responden memilih setuju bahwa mereka mendapat kesempatan lebih dalam hal kegiatan menggereja (kewajiban sebagai seorang katolik) setelah mereka mendapat sakramen perkawinan. Sebanyak 38 (76%) responden menyatakanjanji perkawinan yang mereka ucapkan tulus dari dalam lubuk hati mereka. Sebanyak 35 (70%) responden menyatakan bahwa sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana dari Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Sebanyak 28 (76%) responden menyatakan bahwa sakramen perkawinan yang mereka terima menjadikan mereka semakin berkembang dalam kehidupan iman.Sebanyak 45 (90%) responden menyatakan mereka mendidik anak-anak mereka dengan cara katolik, sesuai dengan janji pernikahan yang saya ucapkan. Besarnya prosentasi

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 responden menyatakan bahwa umat memang setia dengan apa yang mereka ucapkan saat janji perkawinan. Sejumlah 45 (90%) menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan pasangan untuk mendidik anak-anak kami.Sebanyak 38 (76%) responden menyatakan bahwa keluarga yang saya bangun telah pada tahap “keluarga katolik yang ideal” (kepentingan keluarga dan Gereja seimbang). Sebanyak reponden 50 (100%) menyatakan sakramen perkawinan yang mereka terima, membuat mereka bertanggung jawab terhadap Tuhan dalam segala hal.Sebanyak 36 (72%) responden menyatakanbahwa mereka berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ikut kegiatan gereja, misal misa, doa lingkungan dan doa keluarga.Sebanyak 41 (82%) responden menyatakan mereka saling melengkapi dan saling mengingatkan ketika salah satu dari mereka malas dan jauh dari Tuhan. Pembahasan diatas menunjukkan tentang hasil penelitian menyatakan pada variabel 3 tentang makna dan konsekuensipenerimaansakramen perkawinan yang ditujukan untuk keluarga baru mereka dilihat dari jumlah prosentase responden yang memilih setuju dengan pernyataan yang diajukan, hal ini menunjukkan bahwa umat tahu dan sadar akan konsekuensi yang diterima setelah mereka mendapat sakramen perkawinan. d. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja Hasil penelitian tentang variabel pemahaman tentang hidup menggereja sebanyak 41 (82%) responden menyatakan bahwa mereka belajar sendiri (rohani) untuk semakin memperkuat iman mereka. Sebanyak 43 (86%) responden menyatakan bahwa mereka selalu mengucap syukur bersama-sama dalam keadaan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 apapun (doa pribadi keluarga). Sebanyak 30 (60%) responden menyatakan bahwa, salah satu wujud terima kasih mereka terhadap rahmat yang diberikan Tuhan adalah dengan cara berpartisipasi akif dalam kegiatan menggereja. Sebanyak 32 (64%) responden menyatakan bahwa mereka aktif dalam kegiatan yang diadakan Lingkungan. Sebanyak 43 (86%) menyatakan bahwa tanggung jawab setiap keluarga adalah untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Sebanyak 38 (76%) responden menyatakan sbahwa mereka mendorong anak-anak mereka untuk aktif mengikuti kegiatan menggereja (doa, koor, OMK). Sebanyak 31 (62%) menyatakan bahwa keterlibatan mereka dalam hidup menggereja membuat orang lain menjadi tergerak untuk mengikuti hal yang sama. Pembahasan di atas, memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Lingkungan Paulus Gatak paham tentang hidup menggereja dari pernyataan-pernyataan yang diajukan dapat digambarkan bahwa umat di Lingkungan Paulus Gatak paham tentang hidup menggereja, namun ada juga yang belum paham sehingga kurang menyadari konsekuensi dari hidup menggereja. e. Faktor Penghambat dan Pendukung untuk Terlibat dalam Hidup Menggereja Penelitian terhadap variabel faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat hidup menggereja menunjukkan bahwa 40 (80%) responden menyatakan bahwa muncul dalam diri mereka untuk melayani Tuhan, namun belum dilakukan. Sebanyak 28 (56%) responden menyatakan bahwa romo paroki dan katekis yang terkait dalam perkawinan dan keluarga selalu memantau keadaan umatnya.Sebanyak 25 (50%) responden menyatakan dengan adanya pemantauan

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dan lewat kesadaran pribadi, keluarga yang mereka bangun mau berkembang bersama dalam hal iman katolik. Sebanyak 28 (56%) responden memilih kurang setuju jika waktu mereka tersita pada pekerjaan, sehingga waktu untuk Tuhan juga terbatas.Sebanyak 33 (66%) menyatakan tidak setuju bahwa Gereja mewajibkan mereka untuk selalu ikut ambil bagian di dalamnya.Sebanyak 38 (76%) menyatakan tidak setuju bahwa alat transportasi yang menghambat untuk mengikuti setiap doa lingkungan ataupun misa di paroki. Sebanyak 36 (72%) menyatakan bahwa mereka dapat mengendalikan rasa malas dalam diri pribadi sehingga mereka tetap mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hidup rohani mereka. Pembahasan di atas, memaparkan hasil yang menunjukkan faktor penghambat dan pendukung bagi umat di Lingkungan Paulus Gatak untuk terlibat hidup menggereja dari pernyataan-pernyataan yang diajukan dapat digambarkan secara garis besar bahwa umat di Lingkungan Paulus Gatak tidak terhambat untuk mengikuti kegiatan menggereja yang berhubungan dengan hidup keluarga ataupun hidup rohani mereka. f. Harapan Terhadap Gereja Hasil penelitian pada variabel harapan tentang Gereja menunjukkan bahwa 40 (80%) reponden menyatakan bahwa turun ke umat, mendatangi dan menanyakan, adalah hal baik yang bisa dilakukan romo paroki untuk membentuk iman keluarga mereka. Sebanyak 43 (86%) responden menyatakan bahwa merekasetuju dengan diadakannya rekoleksi pasutri. Sebanyak 33 (66%)

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 responden menyatakan bahwa, iman mereka berkembang lewat doa-doa Lingkungan dan misa pada hari Minggu. Sebanyak 21 (42%) menyatakan setuju, 24 (48%) menyatakan tidak setuju mengenaipernyataan katekis di Lingkungan kurang, sehinggamereka kesulitan untuk mengembangkan iman. Sebanyak 32 (64%) menyatakan bahwa Gereja merupakan dukungan material untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Sebanyak 46 (92%) responden menyatakan bahwa merekaingin mengikuti proses belajar tentang perkawinan katolik, walaupun sudah cukup lama menikah.Sebanyak 48 (96%) responden menyatakan bahwa mereka berharap Gereja memberikan jadwal rutin untuk mengadakan pertemuan yang membahas tentang perkawinan yang bisa membantu mereka semakin mengerti tentang perkawinan katolik. Sebanyak 42 (84%) menyatakan bahwa sharing antar keluarga yang didampingi romo tentunya hal yang positif bagi keluarga. Pembahasan di atas menunjukkan hasil dari variabel tentang harapan umat kepada Gereja, dari pernyataan-pernyataan yang diajukan dapat digambarkan secara garis besar umat di Lingkungan Paulus Gatak memiliki harapan kepada Gereja dan pastor paroki untuk turun ke umat, mendengarkan dan memberikan sesuatu yang berkaiatan dengan hidup rohani ataupun hidup berkeluarga, hal ini dapat berupa rekoleksi pasutri atau bimbingan lanjut untuk pasutri yang sudah menikah.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 BAB III SAKRAMEN PERKAWINAN DALAM KELUARGA KATOLIK YANG IDEAL Persatuan laki-laki dan perempuan yang diikat dalam cinta kasih dalam sakramen perkawinan merupakan ciri khas perkawinan secara katolik, lewat sakramen yang diberikan kepada pasangan suami istri ini mereka memiliki dan menerima rahmat istimewa yang membuat mereka lebih mampu menjadi suci dan mendidik anak mereka secara katolik. Pasangan yang menerima sakramen perkawinan di Gereja Katolik dan sah akan membentuk sebuah keluarga yang beriman yang memiliki kewajiban lebih untuk memenuhi janji perkawianan mereka dihadapan Allah dan Gereja. A. Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik Sakramen perkawinan merupakan sakramen yang diberikan Allah sendiri kepada pasangan suami istri yang menikah di Gereja katolik. Allah memberikan rahmat berlimpah bagi kesejahteraan dan keselamatan, selain untuk meneruskan keturunan manusia, perkawinan juga ditunjukkan untuk menyempurnakan dan memudahkan hidup suami-istri, dengan saling membantu meringankan beban hidup masing-masing dengan cara saling mencintai.Cinta dan kesetiaan yang dimiliki pasangan suami istri tentu penting bagi mereka, dengan cinta kasih yang mereka miliki tidak hanya mempersatukan pasangan namun juga mempersatukan dua keluarga yang tentunya berbeda. Cinta kasih dan setia dalam perkawinan merupakan wujud nyata cinta kasih Kristus kepada GerejaNya.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 1. Pengertian Perkawinan Ada begitu banyak pandangan tentang pengertian perkawinan, pandangan tersebut muncul dari ajaran Yesus dan ajaran para rasul, dan dari abad ke abad masih terus berkembang. Salah satunya pandangan tentang perkawinan muncul dari Kitab Suci dan pandangan beberapa tokoh besar dalam Gereja. a. Perkawinan menurut Kitab Suci Perkawinan merupakan hal yang sakral, yang diterima baik lakilakimaupun perempuan yang diciptakan sesuai dengan citra Allah sendiri, dapat dikatakan bahwa perkawinan merupakan kehendak dari Allah sendiri. Perkawianan dalam Kitab Suci tertulis dalam Kitab Kejadian, Kidung Agung, Matius, Markus, Efesus, dan 1 Korintus. 1) Kej 2:18-25 Laki-laki dan perempuan adalah orang yang diberkati oleh Allah, sehingga laki laki dan perempuan diciptakan seturut citra Allah. Kata “diberkati” dapat memberi kesan bahwa keduanya dinikahkan oleh Allah sendiri. Seperti yang ditulis dalam kejadian pada bab pertama perkawinan diberkati, direstui, dan didukung oleh Allah sendiri. Dan mereka diberi tugas oleh-Nya untuk meneruskan keturunan manusia dan memelihara dunia. Dalam Kej 2 pertemuan seorang wanita dan seorang pria dalam perkawinan terjadi karena Allah sendiri. Karena mereka diciptakan untuk saling melengkapi karena seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Satu dengan yang lain saling melengkapi.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Allah sendiri yang mengginkan hal tersebut karena dasarnya mereka telah terberkati. “Seorang laki-laki meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”(Kej 2:24). Hal ini menunjukkan bahwa mereka (laki-laki dan perempuan) tersebut menjadi manusia baru. Dalam buku Perkawinan dalam Tradisi Katolik Purwa Hadiwardoyo (1988:13-14), menuliskan pandangannya sebagai berikut: Wanita diciptakan dari “tulang rusuk” pria. Hal ini menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki unsur kesatuan, unsur ini sudah melekat sejak pertama manusia diciptakan, dapat dikatakan bahwa kesatuan ini merupakan keinginan Allah sendiri yang membentuk unsur kodrati pria dan wanita menjadi satu. Menjadi satu daging saat mereka berdua telah mangalami pertemuan dalam perkawinan yang sah di gereja katolik. “pertemuan seorang pria dan wanita dalam perkawinan terjadi karena dorongan Allah sendiri. Karena itu tidak mengherankan bahwa pria mengakui wanita sebagai istrinya sendiri, sebagai seseorang yang amat akrab dengannnya, sebagai orang yang bersatu secara erat dengannya”. Kutipan di atas menunjukkan bahwa pria dan wanita merupakan satu unsur kesatuan. Hal ini diperkuat oleh kalimat “wanita diciptakan dari tulang rusuk pria”mereka telah diciptakan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain, supaya mereka bersatu dalam sebuah perkawinan yang tentunya dikehendaki dan diberkati oleh Allah.Dengan terjadinya relasi antra pria dan wanita tersebut akan menimbulkan cinta kasih yang muncul dengan sendirinya, cinta kasih yang diperlihatkan oleh pria dan wanita tersebut merupakan cinta yang nyata dari Allah sendiri. 2) Kid 3:1-4 Kidung Agung merupakan lukisan cinta yang luar biasa, dalam hal ini antara pria dan wanita, pasangan pria dan wanita di dalam Kidung Agung terdapat gambaran yang sangat jelas bagaimana sayang, cinta, ada dan nyata

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 lewat panggilan bagi pasangannya maupun cara mereka saling mengungkapkan sayang mereka terhadap pasangannya. Tidak hanya hubungan sebagai suami dan istri namun juga tergambar hubungan yang baik antara Allah dengan Israel. Dalam Kidung Agung lebih nyata menggambarkan cinta dan perkawinan yang lebih rinci dan nyata. Dalam Kidung Agung banyak sekali kalimat yang menunjukkan hubungan yang sungguh erat dari pria dan wanita itu sendiri, mempelai perempuan memuji mempelai pria yang dicintai memanggil dengan sebutan “Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu” (Kid 1:15). Mempelai perempuan menyebut pria sebagai “milik”nya sendiri dan dirinya sebagai “milik” kekasihnya. “Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku…”(Kid 2:8-10). Perempuan dan lakilaki menjadi miliknya, rasa takut kehilangan merupakan cara menggambarkan bagaimana hubungan baik mereka. “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.....”(Kid 3:1-4). Mempelai pria menyebut kekasihnya sebagai “cinta, saudari,kebun”nya yang tertutup bagi orang lain dan hanya untuknya. “Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead…..”(Kid 4:1-4). Rasa takut kehilangan, kekhawatiran muncul dalam bab ini menyebut kekasihnya sebagai teman. “Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya…..”(Kid 5:6). Mereka mengalami apa yang disebut dengan kegembiraan, yang berisi tentang mempelai perempuan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 “berjanji ia akan memberikan cinta”. “Kepunyaan kekasihku adalah aku, kepadaku gairahnya tertuju, Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!....” (Kid 7:10-13). Dan pada akhir bab di dalam Kidung Agung berisikan tentang kekuatam dari cinta yang kuat seperti maut, api yang tak terpadamkan. “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!”(Kid 8:6) Purwa Hadiwardoyo (1988:20)berpendapat bahwa : Penulis Kidung Agung menunjukkan segi manusiawi dari cinta antara pria dan wanita dan wanita yang siap menjadi suami istri. Perkawinan harus berdasarkan cinta yang kuat, tulus adn suci dan diharapkan akan menyempurnakan cinta itu. Hanya antara seorang pria dan seorang wanita saja. Perkawinan harus menyatukan suami-istri seerat mungkin, dan membawa kegembiraan bagi keduanya. Kidung Agung merupakan tempat yang tepat dimana kita dapat mencari hal-hal yang indah, hal yang membuat kita takjub atas kekuatan cinta, dan kekuatan cinta itu tentu ada dan nyata di perkuat oleh sebuah ikatan perkawinan. Perkawinan menyatukan dua orang antara pria dan wanita dan menjadi satu, apa yang dikehendaki Allah dan wujud cinta-Nya terhadap umatnya jelas dapat dilihat di Kidung Agung. 3) Mat 19:1-2 Injil Matius tidak banyak membahas tentang perkawinan, dalam Matius 19:1-2 lebih membicarakan tentang perceraian namun jika dicermati dalam kutipan injil tersebut Yesus juga membicarakan tentang hakikat perkawinan. Menurut Yesus perkawinan merupakan hal yang dikehendaki dan dipersatukan oleh Allah sendiri.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Perkawinan tersebut menyatukan antara pria dan wanita yang saling mencinta.Mereka tidak lagi menjadi dua melainkan menjadi satu daging. Selain itu Yesus juga menegaskan bahwa tidak semua pria dan wanita harus menikah.Ada dua alasan yang melatarbelakangi hal itu yakni tentang mereka yang tidak menikah memang dengan alasan tidak mampu sejak lahir dan alasan yang kedua yaitu pria dan wanita yang terpanggil untuk kemuliaan kerajaan Allah. Purwa Hadiwardoyo (1988: 22-23) berpendapat bahwa: Allah sendiri yang telah menyatukan suami dan istri, agar mereka menjadi “satu daging”. Dengan kata lain Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu menurut kehendak Allah sendiri dan harus berciri “takterceraikan”. Karena itu, orang yang menceraikan suami atau istrinya dan menikah dengan orang lain pantas dianggap dia telah melakukan perbuatan “zinah”. Dalam injil Matius terdapat kutipan kalimat injil yang menyatakan bahwa seorang pria dan seorang wanita yang telah melangsungkan perkawinan mereka tidak lagi menjadi pribadi yang berbeda lagi. Mereka telah dipersatukan oleh Allah sendiri, mereka yang telah menerima sakramen perkawinan telah menjadi satu daging, sehingga perkawinan tersebut tidak dapat terceraikan. Dalam injil Matius Yesus juga menegaskan bahwa seorang pria ataupun wanita tidak harus menikah dikarenakan faktor tertentu, yang kita tahu bahwa seorang pria ataupun wanita yang tidak menikah adalah mereka yang terpanggil untuk kerajaan Allah, memuji dan melayani Allah sepenuh hati dengan cara menjadi biarawan ataupun biarawati.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 4) Mrk 10:2 Pada hakekatnya kedua Injil Matius dan Markus lebih membicarakan tentang penolakan Yesus terhadap perceraian. Tertulis sedikit hal yang menyangkut tentang perkawinan, kalimat yang menyangkut tentang perkawinan ini bisa dikatakan hampir mirip keduanya sama-sama mengatakan bahwa pasangan yang telah menerima sakramen perkawinan mereka tidak lagi dua melainkan satu, dihubungkan dengan pertanyaan orang farisi terhadap Yesus yang menanyakan "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" (Mrk 10:2) kepada-Nya untuk mencobai Dia, namun jelas bahwa tertulis apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia. Purwa Hadiwardoyo (1988: 22) berpendapat bahwa: Yesus menafsirkan izin perceraian yang diberikan oleh hukum Musa sebagai izin yang terpaksa diberikan karena ketegaran hati orang yahudi. Jadi bukan karena nabi Musa sendiri menghendakinya. Sebab, kata Yesus, Allah sendiri yang telah mempersatukan suami-istri sedemikian erat sehingga mereka bukan lagi dua melainkan satu sehingga perkawinan adalah kesatuan erat antara dua orang yaitu pria dan wanita yang dipersatukan oleh Allah sendiri. Namun, disisi lain Yesus juga memahami bahwa perceraian sebenarnya dari keinginan manusia sendiri yang merasa berat dan tidak mampu menjalani perkawinannya, mungkin karena perkawinan tersebutadalah suatu paksaan, hal ini tentunya melawan dengan rencana Allah dimana Allah sendiri yang menghendaki mereka untuk saling memiliki dan bersatu diberkati oleh Allah sendiri. Karena eratnya hubungan mereka mereka tidak lagi dua melainkan satu, hal ini menunjukkan pada sifat perkawinan yang tak terceraikan, dan apabila manusia melanggar hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa manusia

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 melanggar rencana Allah, kehendak Allah untuk mempersatukan pria dan wanita. 5) Ef 5:21-33 Efesus tidak banyak membicarakan tentang perkawinan, berbeda dengan Matius dan Markus, dalam kitab ini menceritakan tentang bagaimana hubungan seorang suami kepada istri dan istri kepada suami. Hal ini terdapat dalam Ef5:21-33,seperti Gereja yang menaati Kristus sebagai kepalanya, yang tertulis dalam Efesus tentang kehidupan keluarga ini adalah bahwa seorang istri harus tunduk terhadap suami, dalam artian menghormati dan menaati suaminya. Karena dengan perkawinan mereka tidak lagi dua melainkan satu. Maka suami harus mencintai istrinya seperti mencintai dirinya sendiri, begitu pula sebaliknya. Dari sedikit paparan tersebut dapat dipahami bahwa perkawinan merupakan kesatuan erat antara pria dan wanita yang saling mengasihi seperti hubungan Kristus dan Gereja-Nya. Purwa Hadiwardoyo (1988: 24) menegaskan bahwa : Hubungan erat antara Kristus dan Gereja itu merupakan sebuah rahasia, yakni bagian penting dari rencana keselamatan. Orang-orang Kristen merupakan bagian-bagian yang hidup dari Gereja. Hal ini berarti, bahwa suami dan istri Kristen sebagai bagian dari gereja juga menerima keselamatan dari Kristus, Penyelamat Gereja. Dan mereka mendapat kewajiban yang khusus dari Allah sendiri untuk Gereja-Nya. Kesatuan antara pria dan wanita dalam sebuah perkawinan merupakan sebuah rencana Allah untuk keselamatan, tidak selesai begitu saja saat pasangan ini telah resmi mendapat sakramen perkawinan, namun setelah mereka mendapat sakramen perkawinan mereka mendapatkan tugas khusus dari

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Allahuntuk kelanjutan keturunan dari pasangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa suami dan istri menerima keselamatan dari Allah, mereka diberkati dan dipersatukan oleh Allah sendri sehingga mereka tidak dapat terceraikan dihadapan Allah, dapat digambarkan bahwa perkawinan tersebut merupakan simbol dari hubungan Allah dan Gereja. 6) 1 Kor 7:2-5 1 Kor 7 Paulus mengajak untuk para pasangan suami istri untuk tidak tergoda dalam bujukan rayuan untuk mengingini milik orang lain, seperti yang tertulis dalam Kor 7:2 “tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap lakilaki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri”. Secara jelas dikatakan bahwa pasangan suami istri harus menghindari percabulan, menghindari hubungan seksual dengan orang lain baik dengan istri maupun suami orang lain, karena tubuh istri adalah milik suaminya, dan tubuh suami adalah milik istrinya. Perkawinan adalah sarana yang paling tepat untuk menghindarkan seseorang berbuat cabul, karena dalam kehidupan tentunya banyak sekali godaan-godaan yang muncul. Paulus menuliskan bahwa suami dan istri boleh berpisah sementara waktu (tidak tidur bersama) untuk “berdoa” bukan untuk mencari kesenangan pribadi seperti yang tertulis pada ayat 5 yaitu Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Melalui 1 Kor 7:2-5 hal-hal positif diungkapkan Paulus baik dari segi pasangan, suami dan istri bagaimana mereka memperlakukan pasangan mereka, bagaimana cara hidup dalam menyelesaikan masalah dengan cara berdoa dan setelahnya berkomunikasi, menganjurkan para janda untuk tidak menikah lagi namun dengan catatan jika mereka tidak kuat menahan nafsunya bisa menikah lagi dan dilaksanakan secara Kristen, dan menghindarkan orang dari percabulan. Dalam bukunya Perkawinan dalam tradisi Katolik Purwa Hadiwardoyo (1988: 26)menuliskan pandangannya sebagai berikut : Dari seluruh 1Kor7 ini, pandangan Paulus tentang hakikat perkawinan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut: perkawinan merupakan kesatuan erat antara seorang pria dan seorang wanita, yang memberikan kepada kepadan keduanya hak atas hubungan seksual dengan partnerya, dan menjauhkan keduanya dari bahaya percabulan; suami istri menikah karena kharisma yang mereka terima dari Allah sendiri; dengan perkawinan, orang Kristen toh tidak mampu lagi mencurahkan perhatiannyapada Allah, dan karena itu Paulus lebih senang kalau orang Kristen tidak menikah demi kerajaan-Nya. Korintus mengajarkan kepada para pasangan suami istri bagaimana mereka harus memperlakukan pasangan mereka seharusnya. Tidak hanya itu segi yang lain seperti cara berdoa dan menyelesaikan masalah juga dibahas disini. Bagaimana seharusnya pasangan suami istri tersebut selalu membicarakan apa yang terjadi, jika mereka benar-benar belum menemukan jalan keluar mereka harus saling menyendiri, bukan dalam artian untuk berpisah atau bercerai melainkan untuk berdoa dan merenungkan apa yang mereka perbuat dan mencari jalan keluar dengan bantuan Allah dengan cara berdoa. b. Perkawinan menurut Pandangan Teologis Pria dan wanita yang sepakat untuk menempuh hidup baru lewat perkawinan yang kemudian dilaksanakan di dalam Gereja Katolik, mereka

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 berdua yang menerima sakramen perkawinan ini menandakan bahwa adanya campur tangan Allah sendiri, adanya misteri kesatuan cinta kasih yang subur antara Kristus dan Gereja, dan secara tidak langsung mereka atau pasangan tersebut ikut ambil dalam misteri kesatuan cinta kasih Kristus sendiri. E. Martasudjita, Pr (2003: 358)dalam Sakramen-sakramen Gerejayang mengutip pernyataanPetrus Lombardus bahwa: Suatu teologi perkawianan,seumpama ia mengajarkan bahwa perkawinan itu suatu sakramen. Sebagai sakramen perkawinan menjadi tanda dan sarana dari hubungan Kristus dan Gereja. Perkawinan itu dikehendaki Allah bahkan sudah didirikan Allah sejak manusia masih di firdaus dan belum berdosa (Kej 2:24). Di situ perkawinan berfungsi untuk memperbanyak keturunan (officium). Tetapi, dengan adanya dosa (Adam), perkawinan tetap baik yakni mengobati (remedium). Consensus timbal balik membuat adanya perkawinan, dan hubungan seksual antara suami dan istri melambangkan kesatuan Kristus dan Gereja yang tak terbatalkan. Tujuan perkawinan pertama-tama adalah demi keturunan dan tujuan kedua ialah untuk menghindari zinah. Perkawinan menghadirkan misteri kesatuan dan kasih antara Kristus dan Gereja, melalui perkawinan suami-istri dikuduskan dan dipanggil menjadi suci. Mereka mempunyai tugas untuk keturunan. Masih dalam buku yang sama E. Martasudjita Pr (2003: 358-359), juga mengutip pernyataan Thomas Aquinasyang menyatakan : Dalam teologi sebelumnya, para teolog tidak melihat adanya rahmat sakramen perkawinan. Maka, aslinya terjadi suatu inkonsistensi pada pemikiran tokoh-tokok Skolastik awal, yakni mereka memasukkan perkawinan sebagai sakramen, padahal namanya sakramen dipahami mereka sebagai tanda yang menghasilkan apa yang ditandakan. Thomas memikirkan adanya rahmat sakramen perkawinan, yakni rahmat yang memberikan bantuan agar orang dapat melakukan yang baik dalam perkawinan. Sayangnya, Thomas tidak menyatakan bahwa sakramen perkawinan memberikan rahmat pengudusan sehingga orang dapat ambil bagian dalam hidup ilahi Allah seperti sakramen-sakramen lain. Perkawinan dipandang sebagai suatu panggilan dari Allah, Allah sendiri yang menghendaki adanya perkawinan tersebut, maka kehidupan baru pasangan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 suami-istri inipun merupakan suatu karunia yang luar biasa, rahmat yang luar biasa yang diberikan Allah kepada mereka, baik pasangan dan keluarga mereka maupun bagi Gereja. Allah menganugrahkan keluarga baru kepada Gereja, dimana iman harus dihayati dan diteruskan. Perkawianan merupakan panggilan hidup orang kristiani yang memilih jalan lain selain melayani Allah dengan seluruh hidupnya, perkawinan juga merupakan panggilan bagi orang beriman kristiani pula, karena dengan menerima sakramen perkawian kita juga ikut ambil bagian dalam karya Allah di dunia, sebagai orang kristiani kita mendapat rahmat yang berlimpah dari Allah sendiri, lewat keluarga-keluarga yang menerima sakramen perkawinan, kita juga dipilih Allah untuk menjadi saksi cinta kasih Allah yang nyata kepada semua orang. Dari pandangan Agustinus yang termuat dalam buku E. Martasudjita, Pr, (2003: 357) Agustinus menyebutkan tiga kebaikan dari perkawinan itu sendiri yaitu fides (kesetiaan), proles (keturunan), sacramentum (sakramen).Fides (kesetiaan) yang berarti suami istri harus setia satu sama lain, tidak ada pihak lain kecuali mereka berdua dan anak yang nantinya dipercayakan Allah untuk mereka rawat. Proles (keturunan) yang berarti perkawinan itu demi kebaikan demi keturunan, yakni anak, dan anak harus diasuh dengan baik dan murah hati. Allah sendiri yang bersabda untuk memenui bumi dengan keturunan dan keturunan mereka hendaknya dididik dengan cara katolik seperti yang telah mereka janjikan pada saat perkawinan. Sacramentum (sakramen)yang berarti perkawinan itu tak terceraikan, dan bila tidak ada keturunan pun suami-istri tetap tak terpisahkan, mereka dipersatukan sendri oleh Allah, diberkati dan

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 dikuduskan lewat penerimaan sakramen perkawinan karena apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia. Perkawinan merupakan salah satu bentuk panggilan kehidupan untuk menjadikan pria dan wanita suci dan turut ambil bagian dalam misteri karya cinta kasih Allah kepada manusia. Secara teologis, perkawinan bukanlah hal sosial manusia semata, melainkan institusi religius yang memiliki dimensi ilahi. Sifat sakramental tersebut terletak pada penghayatan iman dan kerangka teologis tertentu. Perkawinan katolik adalah sakramen sama dengan mengatakan bahwa orang-orang katolik menikah dalam suatu penghayatan tertentu yang khas. Penghayatan iman itu bertumpu pada kasih Allah. Allah sendiri mengangkat peristiwa sebagai sakramen, tanda atau lambang kehadiran-Nya, yang terungkap dalam relasi kasih Kristus dengan Gereja-Nya. Sebagai tanda dan sarana kehadiran Allah, perkawinan kristiani tidak dapat diceraikan/dipisahkan oleh siapapun kecuali oleh kematian. 2. Hakekat dan Tujuan Perkawinan Perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawinan itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri. Hubungan mesra kedua anak manusia ini merupakan lambang nyata kasih Allah terhadap umatNya, walaupun umatnya sering kali meninggalkan-Nya. Dari dasar inilah, tujuan perkawinan yang sederhana dapat diciptakan yaitu tentang nilai dalam perkawinan itu sendiri.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 a. Hakekat Perkawinan Hidup keluarga adalah sebuah realitas manusiawi. Melalui perkawinan seorang pria dan wanita membentuk hidup berkeluarga. Realitas manusiawi yang disebut perkawinan itu direalisasikan dalam bentuk beragam. Mengingat beragamnya wujud perkawinan itu, maka C. Groenen (1993: 19). mengusulkan suatu definisi tentang perkawinan. Perkawinan adalah hubungan yang kurang lebih mantab dan stabil antara pria dan wanita, yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutann (masyarakat sekitarnya) yang sedikit banyak diatur, diakui dan dilegalisasikan. Definisi perkawinan diatas sangat umum dan dimaksudkan memberi tempat bagi bentuk hidup dalam berbagai budaya. Dalam bentuk lahiriah dan penampilan sosialnya, perkawinan orang-orang kristen tidak terlalu mencolok berbeda dengan perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat. Orang kristiani melaksanakanperkawinan menurut pola budaya dimana mereka hidup. Hanya saja yang membedakan adalahpemahaman orang kristiani tentang apa artinya dihubungkan satu dengan yang lain “di dalam Tuhan“. Persekutuan hidup pria dan wanita di dalam perkawinan kemudian direfeksikan lebih lanjut dalam ajaran Gereja. Sebelum muncul Konsili Vatikan II, Gereja masih memandang dimensi persekutuan hidup pria dan wanita dalam perkawinan itu lebih sebagai kontrak. Dengan kontrak dimaksudkan persetujuan antara dua orang atau beberapa orang yang saling mewajibkan diri untuk memberikan, melakukan atau menghindarkan sesuatu. Perkawinan merupakan sebuah kontrak karena didirikan dengan adanya persetujuan bilateral antara seorang pria dan wanita (Rubiyatmoko, 2001:3). Namun Konsili Vatikan II yang

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 tercantum dalam Gaudium et Spes tidak menggunakan kata kontrak perkawinan, dan yang mereka gunakan adalah forma (kesepakatan pribadi antara seorang pria dan wanita), objek (kebersamaan seluruh hidup, dan akibat (hak atas persetubuhan dan kebersamaan seluruh hidup). Dalam KHK kanon 1055 kedua istilah tersebut justru digunakan untuk menunjuk kedua unsur pokok dari perkawinan, yaitu sebagai foedus dan sekaligus contractus (Rubiyatmoko, 2001:4). Elemen paling esensial yang membentuk perkawinan kristiani adalah cinta suami istri. Karena dasarnya adalah cinta suami istri, maka hakikat perkawinan kristiani adalah persekutuan antara dua pribadi, pria dan wanita, untuk saling menerima dan saling mencintai seumur hidup, dengan kewajibankewajiban dan hak-haknya yang khas (Gilarso, 2003: 89). Hakekat perkawinan adalah sebuah perjanjian atau tindakan yang dilakukan berdasarkan kemauan antara seorang pria dan wanita untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup (KHK kanon 1055). b. Sifat-Sifat Perkawinan Dari penjabaran hakekat perkawinan tersebut mucul sifat-sifat hakiki perkawinan, yang dimaksud dengan sifat-sifat perkawinan dalam uraian ini terutama menyangkut ciri-ciri relasi antara suami-istri, sifat sifat tersebut adalah unitas, monogam, dan indissolubilitas. 1) Unitas Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. “Seorang laki-laki meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”(Kej 2:24). Purwa Hadiwardoyo (1988: 14-15) menyatakan bahwa “perkawinan adalah kesatuan erat antara pria dan wanita, atas dorongan Allah sendiri, yang mendorong suami mampu dan mau meninggalkan ayah-ibunya serta hidup bersatu dengan istrinya sedemikian eratnya sehingga keduanya akan menjadi satu manusia baru”. Persatuan suami istri itu sudah mempunyai dasar pada seksualitas mereka, bahwa pria dan wanita itu dikehendaki Allah menjadi “teman yang sepadan” hal ini menekan tujuan unitif dari perkawinan yakni: kesatuan erat antara suami-istri itu sendiri.Melalui unsur unitif ini, suami istri menjadi satu persona, yaitu suamiistri. Mereka menjadi sejiwa seraga. Dalam bahasa Jawa kita mengenal adanya istilah “garwa”dapat diartikan sebagai “sigaraning nyawa” =”belahan jiwa”. Kesatuan (unitas) dalam perkawinan menunjuk suatu kebaharuan dalam hidup suami istri, mereka telah menjadi satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suami. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan seluruh hidup, jiwa, raga (KWI, 1996: 436). Kesatuan itu menunjuk pada kesatuan cinta suami dan istri yang tak terbagi kepada orang lain, dan mereka secara leluasa dapat saling memahami dan mencintai satu dengan yang lain secara pribadi. 2) Monogam Monogam merupakan ciri perkawinan yang mutlak. Unsur yang harus ada dan tidak bisa ditawar, karena dalam unsur monogam menunjukkan bahwa perkawinan yang sah jika ada satu pasangan, yaitu laki-laki dan perempuan. Dengan hal ini tentunya Gereja menolak perkawinan yang poligami, ataupun

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 poliandri yaitu seorang perempuan yang mempunyai suami lebih dari satu, maupun poligini yaitu seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu. Dalam unsur ini sangat ditekankan bahwa seorang laki-laki harus memilih seorang wanita saja untuk menjadi istrinya, dan seorang perempuan hanya memilih satu pasangan seorang laki-laki untuk menemani dirinya sebagai seorang suami. Pasangan suami-istri ini tidak boleh mempunyai kesepakatan baru yang mereka inginkan. Misalnya, mereka bersepakat akan berpisah dan mencari jalan masingmasing dengan cara memiliki pasangan baru yang mereka inginkan (Christie, 2013: 9). 3) Indissolubilitas Cinta menuntut kepastian, dan kepastian berarti memberikan jaminan bahwa cinta itu tidak hanya berlaku sementara atau hanya bersifat percobaan belaka. Maka Kristus menegaskan, “apa yang telah dipersatukan Allah, Janganlah diceraikan oleh manusia” (Mrk 10:9). Sifat tak dapat diputuskan perkawinan (indissolubilitas) mempunyai dasar dan kekuatannya dalam Kristus. Yesus Kristus sendiri menghendaki ikatan perkawinan yang bersifat tak terputuskan itu (Mat 19:6 bdk; Mrk 10:9). Ciri tak terceraikan (indissolubilitas) berarti sekali perkawinan yang dilangsungkan secara sah mempinyai akibat tetap dan eksklusif (Christie, 2013: 20). Dalam artian bahwa ikatan nikah tersebut tidak ada perceraian atau perpisahan kecuali oleh kematian. Tetap berarti ikatan nikah tersebut bertahan sampai akhir kehidupan tidak ada perceraian dan perpisahan. Ekslusif berarti ikatan nikah tersebut hanya antara suami dan istri dimanapun mereka berada dan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 sampai kapanpun sebelum maut yang memisahkan mereka. Setia terhadap pasangannya dan tidak ada pihak lain, tidak ada orang lain kecuali pasangan suami-istri tersebut. Di mana di dalam perkawinan katolik memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen. Ciri tak terceraikan ini masih dibagi menjadi dua, yaitu “indissolubilitas absoluta” dan “indissolubilitas relativa”.Indissolubilitas absoluta adalah ikatan perkawinan yang tidak dapat diputuskan kecuali oleh kematian(Christie, 2013: 10). Perkawinan ini tidak dapat diputuskan bila perkawinan sah sakramen dan disertai dengan hubungan seksual atau sering disebut dengan ratum et consummatum. Dalam buku yang sama Anthony Christie juga menuliskan, indissolubilitas relativa adalah ikatan perkawinan yang tidak dapat diceraikan kecuali oleh otoritas Gereja dan karena alasan tertentu berdasarkan hukum. Misalnya dalam kasus tertentu ada pasangan yang menikah karena paksaan dari satu pihak dengan ancaman tertentu yang dilontarkan. Perkawinan yang seperti ini dapat diceraikan melalui otoritas Gereja yang berlaku. Walaupun perkawinan yang ratum et consummatum melambangkan persatuan yang utuh antara kasih Kristus dan setianya kepada Gereja, mungkin saja melalui otoritasnya Gereja dapat memutuskan perkawinan tersebut(Christie, 2013: 10). Dewasa ini banyak orang beranggapan bahwa dalam hidup perkawinan sulit untuk dilaksanakan, karena banyaknya tantangan dan segala macam masalah yang mereka lihat dari pengalaman orang lain, begitu pula yang dipikirkan ketika pasangan katolik yang akan menikah harus mengikuti kursus dan lulus tes. Maka, amatlah penting untuk mewartakan kabar gembira, bahwa

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Allah mencintai manusia dengan cintanya yang definitiv dan tak terbatalkan. Suami istri justru mengambil bagian dalam cinta ini. Dengan pengungkapan cinta mereka yang definitf dan tak terbatalkan, suami istri menjadi saksi-saksi cinta Allah kepada manusia (KGK, no. 16648). c. Tujuan Perkawinan Hidup bersama dalam sebuaah keluarga bukanlah masalah sendiri atau tidak sendiri melainkan tentang kesepakatan dan tujuan dari hidup bersama tersebut. Tentunya hidup bersama ini disahkan dalam sebuah perkawinan. 1) Tujuan Perkawinan Secara Umum Banyak yang mengatakan tujuan dari perkawinan adalah untuk menghasilkan keturunan, namun tidak hanya itu jika fokus dari tujuan perkawinan adalah untuk anak “keturunan” maka orang kurang memahami arti sesungguhnya tentang apa yang diingikan dari perkawinan itu sendiri. Perkawinan merupakan perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk kebersamaan hidup. Perkawinan sebagai kebersamaan hidup terjadi sejak pasangan atau calonmempelai mengucapkan janji nikah, saling menerima satu dengan yang lain dan disaksikan saksi nikah hingga perkawinan tersebut berakhir kematian. Perkawinan bukan hanya sekedar hidup bersama melainkan membangun sebuah kebersamaan hidup, dengan segala hal yang telah disepakati saat mengucapkan janji perkawinan, untuk setia dalam keadaan apapun,bersedia untuk ada disaat untung maupun malang, sedih ataupun bahagia dan mendidik

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 anak secara katolik, belum lagi masalah yang akan muncul saat mulai menjalani kehidupan keluarga sepenuhnya. 2) Tujuan Perkawinan dalam Gereja Katolik Suami istri tidak hanya sekedar membentuk sebuah persekutuan hidup dalam ikatan perkawinan. Dalam KHK kanon 1055 disebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk kebahagiaan atau kesejahteraan suami istri (bonum coniugum) serta keterbukaan pada kelahiran (bonum prolis) dan pendidikan anak. Di samping itu, perkawinan juga diarahkan untuk mengembangkan kehidupan (bonum religionis), dan untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat (bonum societatis) (Rubiyatmoko, 2001:4). Perkawinan merupakan salah satu bentuk panggilan kehidupan untuk menggapai kesucian dan kekudusan yang menjadi panggilan semua orang beriman. Dalam Lumen Gentium 40 ditegaskan bahwa bagi semua saja jelaslah bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status dan corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Dalam Konsili Vatikan II memberikan tekanan juga dalam hal perkawinan, yang termuat dalamGS50 : Dalam tugas menyalurkan hidup manusiawi serta mendidiknya, yang harusdipandang sebagai perutusan mereka yang khas, suami isteri menyadari diri sebagaimitra kerja cinta kasih Allah pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya. Maka dari ituhendaknya mereka menunaikan tugas mereka penuh tanggung jawab manusiawi sertakristiani. Hendaknya mereka penuh hormat dan patuh-taat kepada allah, sehati sejiwadan dalam kerja sama, membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baikkesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 yang sudah lahirmaupun yang mereka perkirakan masih akan ada; sementara itu hendaknya merekamempertimbangkan juga kondisi-kondisi zaman dan status hidup mereka yang bersifatjasmani maupun rohani; akhirnya hendaknya mereka memperhitungkan kesejahteraanrukun keluarga, masyarakat di dunia, serta Gereja sendiri. Konsili Vatikan II menegaskan lewat GS 2 bahwaperkawinan menghadirkan misteri kesatuan dan kasih antara Kristus dan Gereja. Melalui perkawinan itu, suami-istri dikuduskan dan dipanggil menjadi suci. Mereka memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dititipkan Allah kepada mereka. Tujuan perkawinan kristiani yaitu tentang kesejahteraan pasangan, terbuka pada keturunan dan mengembangkan kehidupan iman, yang dijabarkan sebagai berikut: a) Kesejahteraan Pasangan (bonum coniugum) Dalam hal ini kesejahteraan pasangan tidak hanya dalam hal lahir saja melainkan dalam hal batin juga. Kesejahteraan dalam hal lahir misalnya menyangkut keharmonisan dan hubungan seksual suami-istri. hal lahir ini juga berpengaruh dalam kehidupan keluarga karena hal duniawi tersebut merupakan salah satu alasan juga orang melaksanakan perkawinan. Dalam perjanjian nikah pasangan suami istri merupakan pasangan hidup sebagai tanda cinta kasih Tuhan. Maka sebagai syukur, pasangan tersebut juga harus mencintai pasangan mereka sampai maut yang memisahkan mereka. Cinta kasih suami istri itu ada karena personalnya, dan atas gairah kehendak pribadi menuju kepada pribadi lain, mencakup kesejahteraan hidup pribadi (Sujoko, 2002:48). Cinta yang demikian mampu juga memperkaya ungkapan-ungkapan jiwa maupun raga dengan keluhuran yang khas mulia sebgai tanda keakraban suami istri.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 b) Terbuka pada Keturunan (bonum prolis) Hubungan kesejahteraan lahir yang menyangkut tentang seksual tentunya pasangan suami-istri akan selalu terbuka pada keturunan (memiliki anak). Kesejahteraan ini akan mengalir ke anak mereka dapat dicontohkan anak hasil keturunan mereka merupakan anugrah titipan dari Tuhan yang harus dididik dan dibesarkan dalam budaya dan iman katolik seperti yang telah dijanjikan dalam perjanjian nikah. Orang tua merupakan pendidik yang utama dan pertama, maka peran orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak mereka dalam budaya dan iman katolik pertama-tama merupakan tugas orang tua dan orang tua bertanggung jawab penuh dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara jasmani maupun rohani.Panggilan menjadi suami-istri merupakan salah satu bentuk panggilan untuk kesucian, dan mereka wajib mengajarkan kepada anaknya untuk dididik secara kristiani. Tujuan ini secara spontan disadari oleh setiap pasangan yang mau menikah. Walaupun kadang ada beberapa pasangan yang sulit untuk mendapatkan keturunan, dan tentunya menuntut untuk mau menjadi alat untuk Tuhan sebagai sarana penciptaan kehidupan baru. Dengan cara itu suami istri menjadi mitra kerja cinta kasih Allah Sang Pencipta (Sujoko, 2002: 48). c) Mengembangkan Kehidupan Iman Orang yang menikah mulai sungguh-sungguh menentukan jalan hidupnya. Dalam perkawinan, suami istri disadarkan bahwa hidup berkeluarga juga bertujuan untuk saling membantu dalam hal iman. Kalau waktu sebelum

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 menikah suami istri kurang memperhatikan hidup iman kini mereka wajib untuk saling mengingatkan supaya lebih sugguh-sungguh menghayati iman. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk mendidik anak-anak, terutama di bidang penghayatan iman (Sujoko, 2002:49). 3. Sakramen Perkawinan sebagai Ciri Khas Perkawinan Gereja Katolik Gereja menjadi sakramen dan melambangkan relasi nyata kasih Allah dan menghadirkan bahwa Kristus sendiri adalah kepala dunia, relasi yang nyata ini dihadirkan dalam sakramen perkawinan yang diterima oleh pasangan suami istri, oleh sebab itu sangatlah penting ketika para pasangan dari keluhuran martabat perkawinan yang mereka terima yang dikuduskan dan diberkati oleh Allah sendiri, sehingga perkawinan yang dilaksanakan di Gereja katolik bukan hanya sebagai formalitas namun juga merupakan hal yang khas yang diberikan kepada pasangan lewat berkat sakramen perkawinan yang mereka terima. a. Pengertian Sakramen Perkawinan Sakramen perkawinan merupakan hal yang sakral yang diterimakan kepada pasangan suami istri. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka kadang kurang memahami apa yang dimaksud dengan sakramen perkawinan tersebut. 1). Sakramen secara teknis Secara teknis perkawinan sah terjadi antara dua orang yang telah dibaptis (katolik atau non katolik). (KHK kanon 1061). Hal ini juga termuat dalam kanon

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 1055, dalam kanon disebutkan bahwa Kristus telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen, sehingga sifat perkawinan di antara orang-orang yang dibaptis adalah sakramen (Rubiyatmoko, 2001:4-5). Perkawinan menjadi sakramen kalau pasangan suami istri sanggup menerima sakramen atau kalau mereka telah dibaptis. Perkawinan antara dua orang yang belum dibaptis belum sakramen. Bagi pasangan consensus atau perjanjian, maka perkawinan mereka menjadi sah sekaligus sakramen. Sebaliknya, apabila salah seorang dari pasangan tidak dibaptis, perkawinan itu pun bukan sakramental. Gereja katolik juga mengakui baptisan dalam Gereja kristen. Karena itu, perkawinan antara seorang katolik dengan orang kristen juga bersifat sakramental, dengan catatan ada bukti pembaptisan di Gereja lain (kristen) (Rubiyatmoko, 2001: 10) 2). Sakramen dalam Arti Teologis Sakramen merupakan lambang nyata relasi kasih Kristus dan Gereja.Berdasarkan Ef 5:22-23 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”. Suami merupakan kepala rumah tangga yang memiliki tanggungjawab penuh untuk melindungi keluarganya, demikian pula dengan Kristus yang menjadi kepala jemaat yang akan melindungi dan bertanggungjawab terhadap jemaatnya. Hal nyata inilah yang membuat sakramen perkawinan semakin nyata dalam kehidupan pasangan dan bagi Gereja.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Pasangan menjadi tanda kasih Allah, melalui pasangan mencintai Allah. Relasi suami dan istri berpolakan pada relasi Kristus dan Gereja, yang dilandasi cinta yang semakin subur dan kesetiaan total sampai mati.Secara teologis dengan sifat sakramental perkawinan dimaksudkan bahwa perkawinan bukanlah institusi sosial manusia semata, melainkan institusi religious. b. SakramenPerkawinan dalam Gereja Katolik Perkawinan suami-istri Kristiani merupakan ikatan sakramental yang artinya ikatan menjadi simbol yang menghadirkan Allah sendiri kepada umatNya. Persekutuan yang dibentuk oleh perkawinan menandakan hubungan yang tak terpisahkan antara Allah dan umat-Nya. Sakramentalitas perkawinan terjadi pada orang-orang yang dibaptis (keduanya baik laki-laki maupun perempuan). Dalam KHK kanon 1055 menyebutkan bahwa kristus telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen sehingga sifat perkawinan antara orang-orang yang telah dibaptis adalah sakramen. Kanon ini menandakan adanya identitas antara perjanjian perkawinan orang-orang dibaptis dengan sakramen (KHK kanon 1055). Perkawinan yang sakramental ini disempurnakan melalui persetubuhan yang dilakukan setelah pernikahan tersebut sah. Dengan demikian, perawinan disebut ratum, sacramentum et consummatum. Perkawinan demikian bersifat tidak dapat diceraikan secara absolut (indissolubilitas absolut) (Rubiyatmoko, 2001: 5) Gereja menjadi sakramen kebersamaan dengan Kristus, yang secara nyata melambangkan Kristus yang hadir dalam dunia. Relasi yang dekat ini

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 dihadirkan pula dalam kehidupan perkawinan kristiani. Pasangan yang menerima sakramen perkawinan perlu menyadari keagungan dan keluhuran. Martabat perkawinan yang mereka terima, dalam ikatan yang sungguh manusiawi yang mereka jalin dan bina dalam hidup perkawinan, hadirlah misteri agung yakni relasi yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Hal ini menunjukkan kesetiaan dan kasih setia Allah kepada umat-Nya, dan pasangan suami istri yang menerima sakramen perkawinan di dalam Gereja mempunyai tanggung jawab untuk terus menghayati, melaksanakan dan mewartakan apa yang dilambangkan (Martasudjita, 2003 : 364-365). c. Pentingnya Sakramen CalonKeluarga Perkawinan dalam Gereja Katolik bagi Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya (Rubiyatmoko, 2001:5). Purwa Hadiwardoyo (1988:58-59) mengutip dari J. M. Scheeben, dalam sakramen perkawinan terdapat 3 unsur penting yaitu: “sacramentum tantum”, “sacramentum simul et res”, dan “res tantum”. “sacramentum tantum” yakni kontrak perkawinan sebagai tanda yang kelihatan dari sakramen perkawinan. “sacramentum simul et res” yakni akibat atau buah yang khas dari sakramen perkawinan bagi suami istri yang menerima ikatan adikodrati antara suami istri, yang melambangkan dan menghadirkan hubungan cinta antara kristus dan Gereja-Nya, menyucikan keduanya, menjadikan keduanya anggota vital Gereja dan membuat mereka mampu hidup demi Kristus. “res tantum” yakni rahmat sakramen yang membuat mereka mampu melaksanakan tugas hidup mereka

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 sebagai suami istri kristiani rahmat itu memurnikan atau menyembuhkan cinta mereka menggangkat cinta mereka, sehingga menyerupai cinta Kristus sendiri. Purwa Hadiwardoyo berpandangan tentang sakramen perkawinan bagi calon suami istri yaitu sakramenperkawinan tidak boleh dilihat hanya sebagai kontrak perkawinan, melainkan sebagai sesuatu yang “hakiki” bagi perkawinan itu sendiri; kontrak perkawinan” tidaklah terpisahkan dari “sakramen perkawinan”, sebab kontrak itulah yang telah diangkat Kristus menjadi sakramen (Purwo Hadiwardoyo 1988:59). Pentingnya sakramen perkawinan bagi calon suami istri, dilihat dari fungsi atau akibat yang ditimbulkan sakramen perkawinan kita dapat melihat bahwa sakramen perkawinan membuat mereka menjadi tanda yang kelihatan nyata dari rahmat kehadiran Kristus, melambangkan hubungan yang sangat dekat antara Kristus dan Gereja, selain itu juga membuat pasangan suami-istri tersebut menjadi anggota vital di Gereja dan mampu hidup demi Kristus. Setelah calon suami istri tersebut menerima sakramen perkawinan mereka akan mampu melaksanakan tugas hidup mereka sebagai orang katolik, mereka juga memiliki kewajiban untuk membangun dan mewujudkan kerajaan Allah di dunia, setidaknya yang mereka lakukan di keluarga baru mereka, tidak hanya mereka berdua namun keluarga besar kedua pasangan dan keturunan yang akan mereka dapat setelah mereka menikah. B. Pengertian Keluarga Katolik Keluarga adalah sel terkecil dalam masyarakat, karena dari keluargalah seluruh jaringan hubungan sosial mulai dibentuk. Melalui peran serta masingmasing anggota, keluarga menjadi tempat asal untuk membentuk masyarakat

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 yang manusiawi dan rukun. Begitu pula dengan keluarga katolik yang sudah dibina sejak lahir, sehingga keluarga katolik diharapkan dapat menyumbangkan keutamaan-keutamaan nilai katolik yang dimiliki dan dihayati untuk menanamkan nilai positif untuk anak-anak mereka sejak kecil. 1. Pengertian Keluarga pada Umumnya Keluarga adalah “bapak-ibu dengan anak-anaknya, seisi rumah”. Keluarga adalah “keluarga inti (suami-ayah; istri-ibu dan anak-anak) yang hidup terpisah dari orang lain di tempat tinggal mereka sendiri dan para anggotanya satu sama lain terikat secara khusus”. Pengertian keluarga juga dijelaskan oleh Melly G. Tan (1995: 288) menyatakan bahwa: Secara konvensional keluarga dilihat sebagai kesatuan sosial terkecil dalam masyarakat. Juga sebagai benteng pertahanan pertama dan utama untuk kelangsungan hidup suatu masyarakat, Negara dan bangsa. Secara konvensional pula, keluarga dianggap terdiri dari seorang lakilaki sebagai suami/ayah, seorang perempuan sebagai istri/ibu dan anak yang kahir dari hubungan mereka. Walaupun ini merupakan bentuk kebanggaan keluarga, namun ada variasi yang menyimpang dari bentuk yang dianggap umum ini, sehingga perlu diperhatikan dan diperhitungkan kehadiran serta implikasinya. Variasi dari keragaman bentuk keluarga ini bisa terjadi karena perceraiaan hidup atau mati, sehingga keluarga kehilangan salah satu orang tuanya. Akibatnya adalah keluarga berbentuk “keluarga satu orang tua” atau Single parent family”. Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (1996:54) keluarga adalah “ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu dengan yang lain”. Maka, di dalam keluarga ketaatan saja tidak cukup, pengorbanan perhatian, kasih sayang dan saling menghormati kepada setiap anggota keluarga mereka juga harus belajar berkorban satu bagi yang lain dan harus saling mengasihi. Setiap anggota keluarga seharusnya dapat saling mewujudkan cinta

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 kasih agar keluarga tersebut harmonis itu semua dilakukan agar terjadi keutuhan sebuah keluarga. Cinta yang amat besar dari kedua orang tua akan mempengarui psikologis anak, dan anak yang sejak kecil dirawat dan disayang oleh orang tuanya akan mudah juga untuk menyanyangi anggota keluarga lain. Keluarga terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan anak-anak. Mereka hidup terpisah dari orang lain di tempat lain di tempat tinggal mereka sendiri dan annggotanya dalam ikatan khusus yang disebut keluarga, disitu kita belajar untuk saling menyayangi, taat, setia belajar berkorban dan mengasihi antara satu dengan yang lain. 2. Pengertian Keluarga Kristiani Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu daging dalam sebuah keluarga, dengan melahirkan kehidupan baru (keturunan) maka suami istri telah mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah sendiri, dalam karya penciptaan tersebut suami istri berperan sebagai mitra kerja Allah di dunia dalam kehidupan berkeluarga. Keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan dan iman akan Yesus. T. Gilarso, SJ (1996: 13) menyatakan “keluarga kristiani adalah Gereja mini artinya merupakan persekutuan dasar iman dan tempat persemaian iman sejati. Maka dalam keluarga katolik, pertama-tama diharapkan agar berkembanglah iman yang menghangatkan suasana”. KGK no. 533 menyatakan keluarga kristen adalah satu penampilan dan pelaksanaan khusus dari persekutuan Gereja. Dalam keluarga kristiani ditampilkan persekutuan pribadi-pribadi, satu tanda dan citra persekutuan Bapa

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 dan Putra dalam roh kudus. Keluarga dipanggil, supaya mengambil bagian dalam doa dan kurban Kristus. Keluarga kristiani mempunyai suatu tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil. Kasih nyata yang diberikan orang tua merupakan kasih nyata Kristus kepada Gereja-Nya, dan setiap anggota keluarga memiliki hak yang sama dalam memperoleh kasih sayang tersebut. Lewat sakramen perkawinan yang diterima oleh orang tua maka rahmat Allah pun bekerja pada setiap anggota keluarga. Konsili Vatikan II dalam(GS 48) Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Dewasa Ini menyatakan tentang keluarga kristiani. Keluarga Kristiani merupakan gambar dan partisipasi perjanjian cinta kasih antara Kristus dan gereja, akan menampakkan kepada semua orang kehadiran Sang Penyelamat yang sungguh nyata di dunia dan hakekat Gereja yang sungguhnya, baik melalui kasih suami istri, melalui kesuburan yang dijiwai semangat berkorban, melalui kesatuan dan kesetiaan, maupun melalui kerjasama yang penuh kasih antara semua anggotanya. Purwa Hadiwardoyo (1994: 8)mengemukakan bahwa hidup berkeluarga merupakan salah satu sarana penting untuk kelangsungan masyarakat. Suatu masyarakat hanya mempunyai masa depan bila anggotanya bersedia menurunkan anak dan mendididk mereka sebaik mungkin. Tentang tujuan hidup berkeluarga Purwa Hadiwardoyo (1994: 11) menyatakan sebagai berikut : Dalam masyarakat agraris dan kolektif, hidup berkeluargaterutama ditujukan demi kepentingan “keluarga besar” atau bahkan seluruh masyarakat lokal. Dalam masyarakat seperti itu, baik persiapan maupun kelangsungan perkawinan diatur oleh keluarga besar atau seluruh masyrakat. Kepentingan individual dari suami dan istri maupun anakanak mereka tidak mendapat perhatian yang besar. Keluarga sungguhsungguh lebih berfungsi sebagai suatu”bagian kecil” saja dari masyarakatnya, bagian kecil yang harus melayani kelompok yang besar. Dalam masyarakat industrial dan individualis, hidup berkeluarga terutama ditujukan demi kepentingan “keluarga inti”, yakni suami, istri

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 dan anak-anak mereka. Dalam masyarakat tersebut hidup berkeluarga terutama dijalani dan diarahkan untuk memberikan kebahagiaan pada masing-masing anggota keluarga inti itu sendiri. Keluarga juga bagian dari masyarakat luas, keluarga adalah tiang dalam masayarakat, lewat keluarga masyarakat semakin terbantu dalam pelayanan di kelompok yang lebih bersar. Selain keluarga bagian dari masyarakat keluarga merupakan bagian penting dari Gereja, lewat keluarga Gereja semakin kokoh karena setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab yang sama dalam hal kehidupan menggereja. Keluarga merupakan pelaksana dari persatuan Gereja, mereka merupakan pribadi yang siap diutus demi terwujudnya kerajaan Allah di dunia, secara tidak langsung mereka mengambil bagian dari kurban Kristus. Pegertian keluarga Kristiani disini adalah keluarga yang membangun persekutuan yang membangun hidup berdasarkan persaudaraan dan iman akan Yesus. Dalam keluarga Kristen ditampakkan kasih suami istri melalui kesediaan untuk berkorban, kesetian dan kerja sama yang penuh kasih antara semua anggotanya. Suami-istri yang telah memiliki keturunan mereka bersedia untuk mendidik anak-anak mereka dengan cara katolik, dan anak-anak inilah yang nantinya menjadi penopang Gereja di masa depan. Dengan demikian keluarga tersebut menampilkan cinta kasih Allah kepada Gereja-Nya. C. Peran Sakramen Perkawinan Keberadaan keluarga muncul dari kesepakatan perkawinan, dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan diri dan saling menerima. Kesepakatan perkawinan itu muncul dari masing-masing pribadi pasangan. Mereka bersedia meninggalkan semua dan bersatu dengan pasangannya seperti yang termuat dalam Kej 2:24 “sebab itu seorang laki-laki akan

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk saling memberi cintakasih melalui tindakan konkrit untuk kebahagiaan keluarga karena tanpa cinta kasih keluarga tidak mengalami keharmonisan. Keharmonisan tersebut dapat direalisasikan lewat tindakan konkrit misalnya dalam bentuk perhatian, menghargai, menghormati dan saling membantu meringankan tugas setiap anggota keluarga. Lewat cinta kasih dari masing-masing anggota keluarga tentunya akan membentuk sebuah Gereja mini yang beriman yang sejak awal mereka telah diajarkan iman sebagai seorang katolik. 1. Peran Sakramen Perkawinan dalam Keluarga Katolik Berkat sakramen perkawinan, suami istri menerima anugerah dan tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan kesucian itu dalam kehidupan mereka sehari hari, sehingga hidup mereka menjadi suatu persembahan yang kudus bagi Allah. Hanya di dalam iman mereka mampu menemukan serta mengagumi penuh rasa syukur dan gembira berkat kemurahan Allah yag dianugrahkan kepada keluarga, Allah memanggil mereka ke arah pernikahan, apa yang mereka alami melalui peristiwa, masalah, kesulitan dan kenyataan hidup sehari-hari, Allah tetap berpartisipasi memberikan berkat yang senantiasa membantu mereka untuk hidup dalam kemurahan Allah, dan memanggil mereka dalam tugas perutusan membangun kerajaan Allah di dunia.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Dalam bukunya Purwa Hadiwardoyo (1994: 41) menyatakan bahwa perkawinan merupakan “sacramentum” yang melambangkan kesatuan antara Kristus dan Gereja, yang sekaligus mengambil bagian bagian dalam kenyataan luhur yang dilambangkan itu, sejauh perkawinan kristiani menyebabkan suamiistri menjadi anggota vital Gereja, Tubuh dari Kristus itu. Sakramen perkawinan membuat pasangan suami istri ikut serta mengambil bagian penting dalam tugas perutusan Gereja. Suami-istri yang telah menerima sakramen perkawinan mendapatkan tugas khusus dan istimewa dalam mewujudkan kerajaan Allah di dunia Masih dalam buku yang sama Purwa Hadiwardoyo (1988: 130-131) mengatakan bahwa: Berkat sakramen perkawinan keluarga Kristen wajib membentuk Gereja, dengan membentuk diri menjadi Gereja mini. Ia dibantu Gereja lewat pewartaan injil dan peneguhan iman. Ia membantu Gereja dengan menghayati dan mewartakan injil. Sebagai komunitas hidup dan cinta, keluarga membangun umat Allah dengan membangun diri sebagai umat pula, yang dipersatukan oleh iman dan kasih sejati (GS 48). Karena sakramen baptis, penguatan, dan perkawinan, keluarga mempunyai tugas missioner terhadap anggota keluarga yang kurang beriman, keluarga yang kurang beriman, dan akhirnya kepada dunia luas seluruhnya untuk membantu mereka menjadi beriman. Sakramen perkawinan memberikan kepada suami istri rahmat kesucian seumur hidup mereka dan dari sana diharapkan terbentuk keluarga yang beriman dan terbentuknya spiritualitas di dalam keluarga tersebut. Peran Sakramen Perkawinan yang pada intinya mulai dari pribadi pasangan dan kemudian diajarkan kepada keturunannya. Sakramen perkawinan tidak hanya memberi rahmat, melainkan juga memberi rahmat yang berupa bantuan adikodrati bagi suami istri kristiani agar mereka mampu menjalani tugas mereka sebagai suami istri.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Sakramen perkawinan mengajarkan pasangan suami istri untuk membentuk keluarga yang beriman yang memiliki kesetiaan, cinta kasih, dan penyempurnaan timbal balik suami-istri. Semakin suami-istri itu bersatu secara rohani, semakin mereka disatukan dengan Allah dan dengan Kristus(Purwo Hadiwardoyo, 1998: 43-46). Konsili Vatikan II juga menegaskan dalam GS 48 bahwa cinta kasih suami istri dengan segala dimensinya dilimpahi anugerahanugerah yang mengalir dari sumber cinta-kasih Ilahi dan dibangun oleh kristus menurut teladan persatuan cinta kasih-Nya dengan Gereja. Pasangan yang telah menerima sakramen perkawinan akan mendapatkan rahmat khusus dari Allah tentunya untuk kerajaan Allah, untuk melayani Tuhan dengan cara mereka, dengan mengajarkan keturunan dari hubungan mereka menjadi seseorang yang berguna yang juga akan mengambil bagian dari misteri penyelamatan Kristus di dunia, dari situ jelas bahwa Kristus tinggal bersama suami istri dan memberi mereka rahmat kekuatan untuk mengikuti-Nya beserta anggotanya (anak-anak) untuk senantiasa berada di dalam jalannya dan mengembangkan iman mereka seturut kehendah Allah sendiri. 2. Peran Sakramen Perkawinan dalam Mewujudkan Keluarga Katolik yang Ideal Sakramen perkawinan tidak hanya sebagai tanda nyata wujud cinta kasih Allah kepada Gereja-Nya,namun, sakramen perkawinan juga membantu para keluarga-keluarga yang sudah menikah secara sah untuk mendapatkan hak yang lebih dari sekedar hidup bersama dengan pasangannya.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Keluarga baru yang telah menerima sakramen perkawinan ini mendapat rahmat, diaman rahmat yang mereka terima akan mendukung terwujudnya keluarga katolik yang beriman, keluarga katolik yang utuh yang diberkati oleh Allah. Rahmat yang ada dalam sakramen perkawinan antara lain memberikan rahmat pengudusan, memberikan rahmat yang istimewa yang menyempurnakan cinta suami dan istri, serta rahmat yang perlu untuk melaksanakan tugas sebagai suami-istri (Purwo Hadiwardoyo, 1988: 57). Suami istri hendaknya menyadari bahwa perkawinan bukan hanya pemenuhan kebutuhan psikologis dan biologis, namun mengandung tugas perutusan yang menghadirkan cinta kasih nyata oleh Allah di dunia yang diwujudkan dalam tindakan konkret seperti sabar, murah hati, tidak pencemburu, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong. Sakramen perkawinan yang diberikan lewat pernikahan merupakan rencana Allah, dan lewat sakramen perkawinan Allah sendiri ikut ambil bagian dari kelangsungan hidup berkeluarga tersebut, jika dilihat secara langsung, tidak begitu jelas bagaimana sakramen perkawinan mewujudkan keluarga yang beriman. Namun hal ini dapat dilihat dari kesediaan pasangan nikah untuk mendidik anak mereka secara katolik seperti yang telah disebutkan saat perjanjian nikah. Keluarga memiliki tugas perutusan untuk menjaga, menyatakan dan menyampaikan cinta kasih. Hal itu merupakan pencerminan hidup dan pertisipasi nyata dalam kasih Allah kepada umatnya. Tentunya dari kesedian mereka tersebut akan berakibat pada kehidupan kerohanian mereka

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 dalam keluarga, hubungan yang akrab, kemauan untuk ikut ambil bagian dalam Gereja (KWI, 2011: 8) Sakramen perkawinan menampilkan arti khusus bagi keluarga. Mereka menemukan dalam iman dosa bertentangan tidak hanya dengan perjanjian dengan Allah, tetapi juga dengan perjanjian di antara suami-istri dan komunikasi keluarga, pasangan suami-istri dan anggota keluarga lain diantar untuk berjumpa dengan Allah yang adalah “kaya akan belas kasih” (Ef 2:4), yang telah menanugrhakan cinta-Nya yang jauh lebih kuat dari dosa untuk membawa pasangan tersebut menuju kesempurnaan cinta, perkawinan dan keluarga (Pito Duan, 2003: 64). Pasangan suami-istri yang telah menerima sakramen perkawinan akan mendapatkan rahmat yang luar biasa yang dapat membuat mereka berjumpa dengan Kristus. Iman yang mereka miliki akan mengarahkan mereka untuk berbuat seturut kehendak Allah sendiri. Berkat sakramen perkawinan, keluarga senantiasa disegarkan kembali dan dipanggil untuk terlibat dalam dialog dengan Tuhan melalui sakramen, melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta suami-istri disucikan dan dikuduskan, cinta yang mampu dan berdaya guna menyembuhkan, menyempurnakan, serta mendatangkan rahmat iman yang luar biasa terhadap keluarga. 3. Keluarga Katolik Perkawinan yang Beriman yang Menghayati Sakramen Keluarga kristiani ikut menghayati kehidupan misi Gereja, yang mendengarkan sabda Allah dengan khidmat serta mewartakan dengan penuh

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 kepercayaan (Pito Duan, 2003: 31). Begitulah peran keluarga kristiani yang menyambut dengan setulus hati dan menyiarkan sabda Allah. Keluarga dari hari ke hari semakin berkembang sebagaipersekutuan yang beriman yang mewartakan injil. Sakramen perkawinan merupakan hal yang penting bagi iman suami istri. Karena perayaan sakramental pernikahan sendiri adalah pewartaan sabda Allah, maka harus berupa pengingkaran iman juga di dalam dan bersama Gereja sebagai persekutuan iman, yang dengan berbagai cara ikut merayakannya Lewat penghayatan mereka untuk sakramen perkawinan bagi keluarga, keluarga menjadi jantung dan subyek evangelisasi. Karena keluarga menyatakan dan mengungkapkan kehadiran Kristus yang memberi dirinya bagi dunia, secara nyata dan khusus dalam cinta suami-istri, dalam cinta orang tua kepada anaknya, dalam kesetiaan dan solidaritas satu sama lain. Dengan demikian, keluarga menampilkan dan melaksanakan juga tugas panggilannya sebagai komunitas pendidikan (Pito Duan, 2003: 32-34) Keluarga merupakan tempat awal yang tepat diamana Gereja akan semakin berkembang lewat setiap anggota keluarga yang tentunya ikut ambil bagian dalam tugas perutusannya di Gereja. Sakramen perkawinan akan membuat keluarga ini semakin terlibat dalam hidup menggereja. Mereka akan menampakkan ciri Gereja yang hidup dalam persekutuan (koinonia) yang paling kecil dan mendasar mulai dari keluarga, Sebagai orang beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan sesama manusia melalui Yesus Kristus, PuteraNya, dalam kuasa Roh Kudus. Melalui bidang karya ini, dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 kehadiran Kristus. Hal ini berhubungan dengan menyatukan jemaat sebagai Tubuh Mistik Kristus. Oleh karena itu diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam menghayati hidup menggereja baik secara territorial (Keuskupan, Paroki, Stasi/Lingkungan, keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam Gereja (KWI, 2011: 15). Mewartakan iman melalui doa dan peribadatan (leiturgia), berarti mengamalkan tiga tugas pokok Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Dalam kehidupan menggereja, peribadatan menjadi sumber dan pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini, setiap anggota menemukan, mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan dengan doa, simbol, lambang-lambang dan dalam kebersamaan umat. Partisipasi aktif dalam bidang ini diwujudkan dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin Ibadat Sabda/Doa Bersama; membagi komuni menjadi lektor, pemazmur, organis, misdinar, paduan suara, penghias Altar dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap perayaan dengan berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan (KWI, 2011: 16). Mewujudkan pelayanan (diakonia), melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggungjawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empati, partisipasi dan keiklasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan seluruh jemaat melalui tindakan nyata dengan masayarakat dan Gereja (KWI, 2011: 17).

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Memberi kesaksian (martyria), hal ini dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (KWI, 2011: 17). Membawa Kabar Gembira bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya(kerygma)melalui bidang karya ini, diharapkan dapat membantu Umat Allah untuk mendalami kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injili, dan mengusahakan pengenalan yang semakin mendalam akan pokok iman Kristiani supaya tidak mudah goyah dan tetap setia. Beberapa karya yang termasuk dalam bidang ini, misalnya: pendalaman iman, katekese para calon baptis dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen lainnya(KWI, 2011: 15-16). Pendidikan bagi anak merupakan salah satu perjanjian yang disepakati oleh pasangan suami istri untuk mendidik anak mereka secara katolik. Sakramen perkawinan juga mengambil peran dalam hal tersebut. Sakramen perkawinan memberikan peran perndidik dan menjadi pelayan bagi Gereja demi pengabdian terhadap anggota-anggotanya. Kesadaran penuh yang mereka terima membuat tugas perutusan dalam sakramen perkawinan untuk siap sedia mengabdikan pendidikan anak mereka

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 dengan penuh kesungguhan dan kepercayaan, dan juga dengan rasa tanggug jawab di hadapan Allah, yang memanggil dan memberi mereka perutusan untuk membangun Gereja dalam diri anak mereka. Maka bagi orang yang telah lahir, mendapat sakramen baptis, dan dipanggil Tuhan untuk menerima sakramen perkawinan mereka adalah Gereja yang utuh, sekaligus guru dan ibu(FC 18).Keluarga kristiani adalah tempat anakanak menerima pewartaan pertama mengenai iman. Persekutuan rahmat dan doa, sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih kristiani. Sakramen perkawinantidak hanya dimaksudkan untuk suami istri yang bersangkutan saja, tetapi juga untuk seluruh umat, terutama untuk keluarga katolik.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 BAB IV USAHA UNTUK MENINGKATKAN PERANAN SAKRAMEN PERKAWINAN DEMI TERWUJUDNYA KELUARGA KATOLIK YANG IDEAL DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK, PAROKI SANTO PETRUS PAULUS KELOR, GUNUNGKIDUL Melalui katekese menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP), SCP merupakan bentuk katekese yang bertitik tolak dari pengalaman peserta yang dimaknai dalam nilai-nilai kristiani. Katekese merupakan salah satu usaha mengembangkan hidup beriman Kristiani. Katekese ini akan memberalternatif untuk meningkatkan peranan sakramen perkawinan demi terwujudnya keluarga katolik yang ideal. Dengan demikian, sakramen perkawinan yang diterima oleh pasangan suami-istri tersebut dapat lebih dihayati dan dapat mempengarui kehidupan iman mereka, dan dapat menjalankan tugas panggilan sebagai suami istri. A. Latar Belakang Pemilihan Program Katekese Program katekese melalui model SCP ini didasari oleh fakta yang terjadi dilapangan bahwa masih banyak keluarga katolik yang acuh tak acuh terhadap sakramen perkawinan yang sudah mereka terima. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga-keluarga katolik juga tidak menghayati secara penuh tentang penerimaan sakramen perkawinan saat misa kudus perkawinan mereka dilakukan, hal ini tentunya akan sedikit banyak berpengaruh terhadap iman mereka dalam hidup berkeluarga.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Dalam kehidupan berkeluarga yang seperti itu akan semakin memperjauh hubungan baik mereka (pasangan suami istri) dengan Allah sendiri, dan mereka juga berpengaruh dalam penghayatan mereka sebagai orang katolik yang secara sah menerima sakramen perkawinan. Sangat disayangkan jika pasangan suami istri ini hanya sekedar mengikuti proses dari Gereja tanpa mendalami dan memakai aturan dan tujuan dari sakramen tersebut Tuhan memang memberikan rahmat penuh ketika pasangan suami istri tersebut menerima sakramen perkawinan yang memungkinkan mereka mampu menjalani panggilan itu dengan penuh suka cita sehingga mengalami kegembiraan dan kebahagiaan hidup. Tanpa bantuan rahmat Allah kiranya hal tersebut menjadi sulit untuk terealisasi, namun usaha manusia juga diperlukan sebab rahmat dari Allah itu bekerja melalui dan di dalam usaha manusia itu sendiri. Menyadari banyak fakta-fakta yang muncul dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut tentang sakramen perawinan dan kehidupan keluarga terutama di Lingkungan Paulus Gatak, perlulah diusahakan sejumlah hal yang kiranya dapat membantu suami istri menghayati sakramen perkawinan yang mereka terima dan menghayati hidup perkawinan mereka dengan baik. Maka dari itu penulis megusulkan adanya pendampingan/pendalaman berupa katekese dalam model SCP agar mereka dapat secara nyata dan sadar memaknai apa yang sudah mereka terima. Model SCP ini dipilih karena SCP lebih menekankan pada pengalaman nyata peserta, sesuai dengan hidup peserta, jadi akan lebih menarik karena membahas hal yang nyata yang mereka alami, kemudian dari pengalaman tersebut akan dimaknai dengan nilai-nilai kristiani.Penulis mengusulkan beberapa tema yang dapat digunakan untuk mengisi kegiatan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 rekoleksi pasutri agar mereka semakin mampu menghayati sakramen perkawinan yang sudah mereka terima dan dapat menjalankan panggilan hidup mereka demi terwujudnya kerajaan dan janji Allah di dunia lewat keluarga. B. Alasan Pemilihan Tema Banyak pasangan suami istri yang menerima sakramen perkawinan, namun mereka kurang menghayati apa makna yang sesungguhnya dari sakramen perkawinan tersebut, sehingga mereka kurang menghayati panggilan hidup mereka sebagai pasangan suami-istri. Keluarga yang mereka bangun juga tidak sepenuhnya indah, memang mereka menerima rahmat dari Tuhan, namun rahmat ini tidak akan bekerja jika mereka juga tidak berusaha. Selain usaha dari masing-masing pribadi suami-istri, Gereja juga dapat ikut ambil bagian untuk membantu mereka lebih menghayati sakramen perkawinan yang akan berpengaruh terhadap kehidupan iman mereka.Pada dasarnya Gereja menjadi saksi terbentuknya keluarga baru tersebut, tidak hanya keluarga baru, namun banyak keluarga yang berusia lama, mereka juga kurang menghayati sakramen yang mereka terima saat itu. Sekedar formalitas dan mencari kesah-an di gereja dan negara untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan, banyak alasan orang untuk memutuskan menikah banyak yang memang sudah siap dan yakin untuk memulai hidup berkeluarga dan siap melayani Tuhan, tapi tidak sedikit pula yang hanya mengejar materi atau untuk memenuhi hawa nafsu dalam dirinya. Lewat penghayatan sakramen perkawinan pasangan sami istri akan semakin terbantu dalam menjalani hidup mereka, menjalani hidup dan tugas

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 panggilan mereka sebagai suami istri. Tema-tema yang dipilih yang dipilih berdasarkan yang dilihat oleh penulis kiranya pas dengan siatuasi dan kondisi keluarga di Lingkungan Paulus Gatak, tentunya tema-tema ini hanya sebagai contohpengembangannya dapat dilakukan saat survey lebih lanjut tentang keluarga masing-masing, apa yang mereka butuhkan. Disini dipaparkan beberapa tema yang kiranya dapat membantu mewujudkan keluarga beriman yang menghayati sakramen perkawinan di Lingkungan Paulus Gatak. Usulan program katekese ini disusun sebagai salah satu bentuk penjelasan bahwa sakramen perkawinan memiliki peranan besar dalam membentuk keluarga katolik yang ideal, khususnya di Lingkungan Paulus Gatak, paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul. Usulan program katekese ini tersusun dalam satu tema, tema ini dibagi dalam tiga sub tema untuk enam kali pertemuan. Dapat dipaparkan sebagai berikut: Tema umum : Mengenal Sakramen Perkawinan untuk menuju keluargakatolik yang ideal. Tujuan umum : Membantu peserta memberigambaran secara umum tentang apa itu sakramenperkawinan sehinggasakramen perkawinan dapat mengembangkan iman dan memperkokoh keluarga katolik agar menjadi keluarga katolik yang ideal. Tema 1 : Anugrah Tuhan Luar Biasa Bagi Keluargaku. Tujuan 1 : Membantu peserta untuk lebih menyadari anugrah dari Tuhan sehingga peserta dapat selalu bersyukur atas apa yang diterima.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Tema 2 : Kasih itu Sesuci Perjanjian Perkawinan. Tujuan 2 : Membantu Peserta untuk memahani tentang janji perkawinan sehingga dapat menuju keluarga katolik yang ideal. Tema 3 : Bangkit dan Berkembang Bersama Pasangan Hidup. Tujuan 3 : Membantu peserta untuk menyadari kehadiran suami/istri sehingga dapat berubahmenjadi lebih baik untuk semakin berkembang iman dalam dirinya dan keluarganya.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT C. Penjabaran Usulan Program Katekese Tema Umum : Mengenal Sakramen Perkawinan untuk menuju keluarga katolik yang ideal Tujuan : Membantu peserta memberi gambaran secara umum tentang apa itu sakramen perkawinan sehingga sakramen perkawinan dapat mengembangkan iman dan memeperkokoh keluarga katolik agar menjadi keluarga katolik yang ideal. No Tema (1) (2) 1 Anugrah Tuhan Luar Biasa Bagi Keluargaku Tujuan Tema (3) Membantu peserta untuk lebih menyadari anugrah dari Tuhan sehingga dapat selalu bersyukur atas apa yang diterima. Judul Pertemuan (4) a. Kasih adalah Anugrah Tujuan Pertemuan (5) Membantu peserta untuk menyadari anugrah kasih yang diberikan Tuhan sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik bagi keluarganya. Uraian Materi Metode Sarana (6) • Memahami bahwa Suami/Istri adalah anugrah • Memberikan pandangan bahwa Tuhan memberikan anugrah kasih yang luar biasa (7) • Sharing • Diskusi • Membaca cerita • Bernyanyi lagu “Kasih pasti lemah lembut” dan teks lagu “Kasih yang sempurna” • Informasi (8) • Kitab Suci • Teks cerita • laptop dan speker • Teks lagu “kasih pasti lemah lembut” dan teks “kasih yang sempurna” Sumber Bahan (9) • Kej 2:1824 • Skripsi, hlm 51 94

(114) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) 2 (2) (3) Kasih itu sesuci Perjanjian Perkawinan Membantu peserta untuk memahami tentang janji perkawinan sehingga dapat menuju keluarga katolik yang ideal (4) b.Tuhan a.Saksi perjanjian Cinta (5) Membantu peserta untuk menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang menyapa, sehingga mereka dapat menghargai panggilan Tuhan untuk keluarga mereka. Membantu peserta menyadari tentang cinta dari Tuhan sehingga menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang telah menyatukan mereka untuk saling melengkapi (6) • Makna kehadiran Tuhan • Tuhan hadir dalam keadaan apapun (7) • Sharing • Diskusi • Membaca cerita • Bernyanyi lagu “Tuhanlah Gembalaku ” dan lagu “Panggilan Tuhan” • Informasi • Makna sakramen perkawinan • Ciri perkawinan ideal • Tuhan bagi semua orang • • • • • (8) • Kitab Suci • Kertas cerita • Teks lagu lagu “Tuhanlah Gembalaku ” dan lagu “Panggilan Tuhan” (9) Sharing • Kitab Suci • Mat 19:112 Diskusi • video • Skripsi, Video • Teks lagu Hlm 54 lagu “Bagai Menulis rajawali” Bernyanyi dan lagu lagu “Bagai “Kasihmu rajawali” seperti dan lagu fajar” “Kasihmu seperti fajar” • Informasi 95

(115) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) 3 (2) (3) (4) b.Aku mencintaim u Bangkit dan Berkemban g Bersama Pasangan Hidup Membantu peserta untuk menyadari kehadiran suami/istri sehingga dapat berubah mnjadilebih baik untuk semakin berkembang iman dalam dirinya dan keluarganya. a.Kami ikut jalan-Mu Tuhan (5) Membantu peserta untuk lebih mengenal pasangan mereka sehingga menyadari bahwa pasangan mereka adalah kiriman Tuhan yang terbaik untuk saling melengkapi hidup mereka Membantu peserta untuk menyadari bahwa Tuhan telah memberi jalan bagi keluarganya sehingga mau mengikuti jalan dari Tuhan (6) • Perhatian dan saling menghormati • kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya • Jalan Tuhan bagi umatnya • Iman, sakramen perkawinan dan keluarga ideal (7) Sharing Diskusi Video Menulis Bernyanyi lagu “betapa hatiku” dan lagu “ajaib ing astaMu” • Informasi (8) • Kitab Suci • Teks cerita • Teks lagu lagu “Betapa hatiku” dan lagu “Ajaib ing astaMu” (9) • Luk 8:415 • Sharing • Diskusi • Membacak an cerita • Bernyanyi lagu “Tuhan buka jalan” • Informasi • Kitab Suci • Teks cerita • Teks lagu lagu “Tuhan buka jalan” • Mat18:12 -14 • Skripsi, hlm54-55 • • • • • 96

(116) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) (2) (3) (4) b.Sadar dan mulai ku bangun lagi keluarga ini seturut kehendakMu (5) (6) Membantu • Keluarga peserta untuk katolik yang mulai ideal membangun • Tugas dan keluarga tanggung yang ideal jawab untuk sehingga sakramen peran dari perkawinan sakramen perkawinan terwujud bagi diri sendiri dan keluarganya • • • • • (7) (8) Sharing • Kitab Suci Diskusi • video Video • Teks lagu lagu “Kasih Bernyanyi yang lagu “Kasih sempurna” yang sempurna” Informasi (9) • Mat 18:21-35 97

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 D. Petunjuk Pelaksanaan Program Program pendampingan ini dilaksanakan bagi pasutri di Lingkungan paulus Gatak Paroki Santo Petrus dan Paulus kelor. Program dilaksanakan dua kali setiap bulan, mengambil waktu pada saat doa Lingkungan di malam Jumat ke 2 dan ke 3. Katekese ini dilaksanakan fokus kepada peserta, pemimpin hanya sebagai moderator dan perantara demi berjalanya keatekese ini. Peserta aktif ambil bagian dan sharing untuk memudahkan proses sharing sudah ada panduan pertanyaan bagi peserta seputar hal yang dibahas. Langkah dalam SCP ini meliputi 5 langkah yaitu: mengungkapkan pengalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman iman kristiani, menerapkan iman kristiani dalam hidup peserta konkrit, dan mengusahakan suatu aksi konkrit. E. Contoh Persiapan Katekese 1. Identitas Katekese a). Judul Pertemuan : Kasih adalah anugrah b). Tujuan : Membantu peserta untuk menyadari anugrah kasih yang diberikan Tuhan sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik. c). Peserta : Umat Lingkungan Paulus Gatak, Paroki Santo Petrus dan paulus Kelor d). Model : Shared Christian Praxis e). Waktu : 90 menit f). Tempat : Rumah Ibu Endang Hariningsih g). Metode : -Sharing

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 -Diskusi -Membaca cerita -Bernyanyi lagu “kasih pasti lemah lembut” dan teks lagu “kasih yang sempurna” -Informasi h). Sarana : -Kitab Suci -Teks cerita - Laptop dan speker -Teks Lagu “kasih pasti lemah lembut” dan teks lagu “kasih yang sempurna” i). Sumber Bahan : -Kej 2:18-24 - Skripsi, hlm 51 2. Pemikiran Dasar Dewasa ini banyak dari kita yang kurang menyadari akan kasih Tuhan yang besar untuk mereka, mereka terkadang masih mengeluh tentang apa yang diberikan Tuhan untuk mereka, kadang kala dirasa bahwa apa yang didapat saat ini masih kurang, tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Kita masih saja merasa bahwa Tuhan tidaklah adil, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, percayalah Tuhan tidak tidur, kasih Tuhan selalu berlimpah kepada orang yang mau berusaha, kepada orang yang setia terhadapNya. Dengan usaha, ketekunan, keuletan dan kesabaran, segala proses yang kita lakukan akan mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kej 2:18-24, akan menghantarkan kita dalam pertemuan ini untuk semakin menyadari bahwa kasih Tuhan tidak berkesudahan, kasih yang begitu besar, kasih

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 yang tidak meminta balasan. Kasih itu terwujud dalam kehadiran pasangan kita, suami dan istri kita masing-masing. Kasih Tuhan tidak mengenal siapa orang itu, usianya dan apa pekerjaannya. Kasih Tuhan merata untuk semua orang yang percaya dan mengasihinya, ditekankan kita sebagai manusia harus percaya dengan setiap apa yang kita alami adalah semua berkat, kasih setia yang dimiliki oleh Tuhan tidak lain adalah untuk kita. Dari pertemuan kali ini kita berharap akan menyadari bagaimana Tuhan memberi kasihNya tanpa batas kepada kita, kasih yang begitu sempurna kepada kita untuk membuat hidup kita semakin baik dan berharga untuk kita sendiri, dengan penuh syukur untuk Tuhan, kita akan sedikit demi sedikit membuka lembaran baru mulai malam ini khusus untuk menyadari bahwa Tuhan selalu mengasihi kita di setiap langkah kita tanpa menghitung seberapa banyak hal yang kita minta padaNya. 3. Pengembangan Langkah a. Pembukaan 1). Pengantar Keluarga merupakan tempat di mana kita mulai belajar, dari keluarga pula kita mengenal kasih, cinta, munculnya harapan dan segala hal baik. Di dalam sebuah keluarga terdapat seorang suami, seorang istri dan anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita. Suami adalah anugrah untuk istri dan begitu pula sebaliknya. Setiap anggota keluarga adalah anugrah dari Tuhan, janji Allah untuk menyelamatkan manusia lewat putranya yang rela disalib untuk menebus dosa manusia adalah wujud nyata kasih allah kepada umatnya. Di dalam

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 keluarga kita belajar untuk saling mengenal, mamahami, memperhatikan dan saling menghormati, entah suami kepada istri ataupun sebaliknya. Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lain, kasih yang luar bisa dapat kita rasakan dari Allah lewat orang-orang disekeliling kita. Tidak terkecuali lewat orang yang kita pilih sebagai pasangan hidup kita. Kita dapat belajar pengalaman menggali dan menggolah pengaman lewat kesaksian orang lain, anggota keluarga, bahkan lewat orang yang selama ini tidak kita perhatikan, karena kita tahu kalau kasih dari Allah adalah kasih yang sempurna dan tanpa batas. Kita berkumpul kembali biasanya untuk doaLingkungan, latian koor dan tugas lain, tapi malam ini kita akan mencoba menyadari kasih Tuhan di setiap langkah kita di kehidupan kira-kira sehari-hari, kita akan bersama-sama berproses untuk menyadari anugrah kasih yang diberikan Tuhan sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik bagi tentunya bagi keluarga kita masing-masing. 2). Lagu Pembukaan : “Kasih Pasti Lemah Lembut” 3). Doa Pembukaan : Allah Bapa yang Maha Kasih, selamat malam ya Bapa terima kasih atas berkatMu untuk masing-masing dari kami, untuk rahmat, berkat dan kasih yang telah Engkau berikan kepada kami, sehingga kami dapat berkumpul ditempat ini. Kami menyadari muncul banyak masalah yang terkadang kami sendiri tidak mau tahu dengan masalah tersebut, tidak mau tanggung jawab atas apa yang kami perbuat, hal ini terkadang memicu salah paham dan memunculkan ketidakharmonisan antara anggota keluarga, terutama kami yang selama ini sudah

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 berkeluarga. Maka kami mohon kehadiranmu mala mini untukmembantu kami percaya bahwa kasihMu tidak berkesudahan, kaish yang Engkau berikan adalah kasih yang sungguh sempurna, bantulah kami Tuhan untuk sejenak bisa menyadari kasih itu bersama kami umat di lingkungan Paulus Gatak ini. Hadirlah di tengah-tengah kami, bantu kami untuk semakin menyadari kasih yang telah Engkau berikan kepada kami. Semoga Engkau berkenan hadir dan mendampingi kami dalam pendalaman iman kami ini. Demi Kristus, Tuhan dan Juru selamat kami. Amin. b. Langkah I: Mengungkapkan pengalaman hidup peserta 1. Mendengarcerita sebuah kesaksian yang berjudul “Kasih”. 2. Penceritaan kembali isi kesaksian: pendamping meminta salah satu peserta untuk menceritakan apa yang di dengar dalam kesaksian tadi. Intisari kesaksian “Kasih”: Wanda Irene merupakan anak sekolah yang duduk di bangku SMP, waktu itu dia sudah berpacaran dengan seorang pemuda bernama Arman yang duduk di bangku SMA. Waktu yang terus berjalan membuat mereka satu dengan yang lain merasa nyaman, tapi suatu sore saat mereka pulang sekolah Arman mengajak Irene utnuk pergi ke hutan yang sepi, entah apa yang mempengaruhi mereka akhirnya Arman mengajak Irene untuk melakukan hubungan intim, awalnya Irene tidak mau, tapi dengan segala bujuk rayu Arman mereka berdua melakukan itu dan sampai ketahuan bahwa Irene mengandung.Irene mengalami salah pergaulan, dia tidak lagi berpegang pada Tuhan, tak ada lagi yang dapat dia percaya,

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 kehancuran, keputusasaan dan keraguan yang membuatnya tak lagi memohon bantuan kepada orang disekitarnya, namun disaat tak ada lagi harapan banyak orang yang datang, ada pastor yang membantu memberi harapan baru pada Irene dan menyuruh Irene meminta kepada Tuhan minta kekuatan dan jalan, Irene pun melakukan hal itu, Irene merasakan bahwa dia adalah orang yang paling berdosa, melalui pastor-pastor dia meninggalkan pernyataannya tersebut dan menyakini bahwa Tuhan selalu mengasihinya, mencintainya dan menerima apapun yang dilakukannya serta selalu memaafkannya. 3. Pengungkapan pengalaman: peserta diajak mendalami, merenungkan kesaksian tadi dengan menjawab pertanyaan: a). Ceritakan apa yang dialami oleh Irene sebelum dia merasakan kasih dari Tuhan? b). Ceritakan apakahBapak dan Ibu pernah merasakan hidup jauh dari kasih Tuhan? Arah Rangkuman Dalam kesaksian tadi kita tahu bahwa Irene mengalami keragu-raguan, kegelisahan yang luar biasa, yang tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan hingga akhirnya dia sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat dia andalkan saat sekarang ini. Lewat pengalaman yang di ceritakan oleh bapak dan ibu merupakan pengalaman yang berharga, tak jarang kita tak menyadari tentang kasih Allah untuk kita. Akhirnya juga menyadari tidak ada yang lebih bisa diandalkan, tidak ada yang lebih dapat diharapkan kecuali Tuhan, lewat doa-doa yang kita lakukan membuat kita kuat dan menjadi orang yang lebih kuat.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 c. Langkah II : Mendalami pengalaman hidup peserta 1. Peserta diajak untuk merefleksikan kesaksian pengalaman perjalanan hidup Irene tadi dengan bantuan pertanyaan: a). Mengapa Bapak Ibujauh dari kasih dari Tuhan? Rangkuman singkat (ditambah jawaban peserta) Bapak ibu dan teman-teman yang terkasih dalam Kristus, kita tadi sudah bersama-sama mendengarkan sharing dari bapak dan ibu bagaimana kasih itu hadir kepada kita, hadir kepada orang-orang yang membutuhkan, kehilangan harapan seperti yang dialami oleh Irene tadi. Kasih dari Allah yang tidak berkesudahan membuat kita dimampukan untuk bangkit dan saling membantu satu dengan yang lain, tentunya tanpa syarat. Pengalaman dari bapak ibu yang disharingkan merupakan pengalaman rohani masing-masing, tentunya dengan pengalaman tersebut kita dapat saling mendorong diri kita dari masalah dan mendorong orang lain untuk berkembang. Berkembang tidak hanya dalam diri sendiri, tapi bagi setiap anggota keluarga, tidak hanya kehadiran saja, namun komonikasi antara suami istri juga sangat diperlukan. Komunikasi yang baik juga muncul dari kasih Allah sendri. Pasangan yang disatukan lewat sakramen pernikahan merupakan kenangan dan nubuat. Sebagai kenangan, sakramenmemberi merekarahmat dan kewajiban mengenang karya-karya agung Allah, dan memberi kewajiban melaksanakan tugas panggilan mereka, tuntutan cinta kasih yang memberi mereka rahmat dan kewajiban untuk hidup dan memberi pengampunan. Sebagai nubuat, sakramenmemberi mereka rahmat dan kewajiban hidup dan memberi kesaksian tentang harapan akan perjumpaaan dengan Kristus di masa mendatang. (ditambah sharing dari peserta)

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 d. Langkah III : Menggali pengalaman iman Kristiani 1. Pendamping meminta salah satu peserta untuk membacakan perikopKitab Suci dari Kej 2:18-24. 2. Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan: a). Ayat-ayat manakah yang menunjukkan anugrah Tuhan kepada kita? b). Sikap-sikap apa yang ingin ditanamkan oleh Tuhan sebagai tanda kasih dari Tuhan untuk kita lewat Kitab Suci tadi? 3. Peserta secara pribadi diajak untuk mencari dan menemukan pesan inti perikop sehubungan dengan jawaban atas 3 pertanyaan di atas. 4. Pendamping memberi tafsir dari Kej 2:18-24 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, wanita ada untuk melengkapi hidup seorang laki-laki, dalam perjanjian lama, penolong berarti seseorang yang memberikan dukungan atau kekuatan. Laki-laki dan perempuan merupakan makluk yang sepadan, tidak ada yang lebih kuat dan lebih lemah di mata Tuhan, semua yang diciptakan baik adanya. Begitu pula sebaliknya, laki-laki berperan sebagai pelindung bagi wanita, dalam kitab Kej ditulis bahwa laki-laki akan meinggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya, tentunya hal ini dilakukan untuk melindungi orang yang dicibtia yaitu wanita. Kisah penciptaan ini merupakan penciptaan yang luar bisa, makluk yang sempurna. Laki-laki dan perempuan adalah orang yang diberkati oleh Allah, sehingga laki laki diciptakan seturut citra Allah. Kata “diberkati” dapat memberi kesan bahwa keduanya dinikahkan oleh Allah sendiri. Seperti yang ditulis dalam kejadian pada bab

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 pertama perkawinan diberkati, direstui, dan didukung oleh Allah sendiri. Dan mereka diberi tugas oleh-Nya untuk meneruskan keturunan manusia dan memelihara dunia. Dalam Kej 2 pertemuan seorang wanita dan seorang pria dalam perkawinan terjadi karena Allah sendiri. Karena mereka diciptakan untuk saling melengkapi karena seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Satu dengan yang lain saling melengkapi apa yang mereka butuhkan, Allah sendiri yang mengginkan hal tersebut karena dasarnya mereka telah terberkati. “Seorang laki-laki meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”(Kej 2:24). Hal ini menunjukkan bahwa mereka (laki-laki dan perempuan) tersebut menjadi manusia baru.Wanita diciptakan dari “tulang rusuk” pria. Hal ini menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki unsur kesatuan, unsur ini sudah melekat sejak pertama manusia diciptakan, dapat dikatakan bahwa kesatuan ini merupakan keinginan Allah sendiri yang membentuk unsurkodrati pria dan wanita menjadi satu. Menjadi satu daging saat mereka berdua telah mangalami pertemuan dalam perkawinan yang sah di gereja katolik. pertemuan seorang pria dan wanita dalam perkawinan terjadi karena dorongan Allah sendiri. Karena itu tidak mengherankan bahwa pria mengakui wanita sebagai istrinya sendiri, sebagai seseorang yang amat akrab dengannnya, sebagai orang yang bersatu secara erat dengannya. e. Langkah IV : Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta konkrit 1. Pengantar : Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi kita sudah menemukan sikap-sikap mana dan cara hidup yang dilakukan yang seharusnya kita lakukan kepada sesama kita, bahkan kepada diri kita sendiri. Bagaimana kita diajak untuk selalu saling

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 mengasihi, saling memperhatikan sesama kita, terutama anggota keluarga dan pasangan hidup kita. Diantara kita tentu banyak yang tahu tentang bagaimana cara memberi kasih yang indah sesama kita. Karena kasih merupakan anugrah bagi kita semua. Di Lingkungan kita inipun kita diajak untuk saling mengasihi dan memperhatikan satu dengan yang lain, misalnya saja jika ada keluarga yang sedang mengalami kesusahan, bagaimana kita membantu mereka walaupun bukan Katolik, kita diajak untuk menyabarkan kasih Tuhan kasih setia, kasih yang mesra, kasih untuk saling memperhatikan untuk kita terutama kita di Lingkungan Paulus Gatak ini. 2. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menyadari panggilan sebagai keluarga dengan meneladan Yesus sebagai Sang Gembala Sejati dalam mendampingi murid-muridnya dengan mencoba merenungkan pertanyaan berikut: • Apakahanugrah kasih yang diberikan Allah kepada kita, akan kita syukuri agar menjadi pribadi yang lebih baik terutama di Lingkungan Paulus Gatak ini? 3. Arah rangkuman penerapan pada situasi peserta Bapak, Ibu dan teman-teman yang terkasih dalam Kristus, tadi kita sudah mendengarkan bersama-sama jawaban dari pertanyaan di atas. Bapak, Ibu memang semakan disadarkan bahwahadirnya kaish Tuhan untuk kita. Walaupun kita tahu bahwa itu sulit untuk dilakaukan tapi betapa indahnya jika kita bisa mewujudnyatakan hal ini untuk sesma kita di sekitar kita ini. Mulai dari keluarga kita sendiri mari kita mencoba membudayakan kasih di antara kita. Sehingga kita semakin peka terhadap lingkungan sekitar kita dan berani berkorban demi

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 membantu sesama kita yang sedang mengalami dan membutuhkan bantuan dan pertolongan. Gembala yang baik tidak akan meninggalkan domba-dombanya begitu pula yang terjadi di keluarga kristen, Tuhan sebagai gembala dan manusia mendapat panggilan khusus untuk meyatakan dan mengungkapkan perjajian kristus dengan terus menerus memancarkan kegembiraan cinta dan harapan dari setiap pasangan. Tidak dipungkiri jika cinta yang diberikan Allah kepada manusia itu lambat laun akan semakin memudar dan bahkan hilang, hilangnya rasa itu muncul karena adanya keegoisan diri masing-masing setiap pasangan. Karena memikirkan diri sendiri maka cinta kasih suami istri menjadi rapuh dan hidup bersamatidak lagi indah dan membahagiakan. Hal ini juga terapkan di Lingungan Paulus Gatak ini maka dari itu suami istri harus selalu menimba rahmat dan kekuatan sumbernya, dari Kristus sendiri, lewat doa dan pengampunan yang memberi hidup seutuhnya.Laki-laki dan perempuan adalah makluk yang sempurna, yang diciptakan oleh Tuhan, bukan untuk saling membenci namun untuk saling mamahami dan melengkapi satu dengan yang lain. Hal ini juga terapkan di Lingungan Paulus Gatak ini. f. Langkah V : Mengusahakan suatu aksi konkrit 1. Pengantar : Bapak, Ibu dan teman-teman setelah kita mendengar kesaksian tadi. Kita tahu bagaimana Irene menyadari bahwa hanya Tuhan yang Maha kasih yang dapat dia harapkan, lewat semua masalah-masalah yang dia alami. Pergulatan hidup Irene

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 saat itu memang berat, apa yang dialami oleh Irene merupakan tantangan untuk imannya, karena jalan yang paling benar adalah mencari Tuhan, bukan hanya saat terdesak tapi di setiap saat apa yang kita alami. Irene membuktian imannya dengan memohon kepada Tuhan agar mencarikan jalan terbaik untuknya, dan Tuhan pun menjawab doanya. Begitu pula dengan hidup kita sehari-hari banyak hal yang kita alami. Banyak permasalahan yang terkadang membuat kita putus asa dan mendorong kita untuk berbuat yang tidak seharusnya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih dari kekuatan hambaNya dankita selalu dapat mengandalkanNya. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, hal ini menandakan bahwa mereka ada untuk saling melengkapi seperti yang kita dengar pada bacaan di kitab Kej tadi.Tuhan adalah mazmurku dan keselamatanku. Marilah sekarang kita memikirkan niat dan tindakan yang seperti apa yang dapat kita lakukan untuk berusaha semakin menyadari kasih Tuhan kepada kita. 2. Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan kita yang baru untuk lebih meningkatkan kesadaran dan motivasi kita khususnya dalam hal kasih Tuhan untuk kita, dengan pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat: a). Niat apa yang hendak Bapak, Ibu dan teman-teman lakukan supaya kita bisa semakin menyadari kasih Tuhan, dan bersyukur atas anugrah penciptaan ini untuk kita yang nantinya bisa kita terapkan untuk keluarga dan sesama kita terutama di Lingkungan Paulus Gatak ini? b). Hal-hal apa yang perlu kita perhatikan untuk mewujudkan niat-niat tersebut? 3. Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-sendiri tentang nilai-nilai pribadi/bersama yang akan dilakukan.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 4. Niat-niat bersama dapat didiskusikan dalam kelompok kecil dan pleno untuk saling meneguhkan, kemudian pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama menentukan niat konkrit bersama, yang dapat segera diwujudkan demi terbangunnya persatuan sebagai saudara untuk saling membantu dan menolong sesama yang membutuhkan. g. Penutup 1. Memberi kesempatan kepada peserta untuk hening sejenak untuk meresapkan semua rangkaian pendalaman iman. Kemudia lilin dan salib diletakkan di depan dan lilin dinyalakan. Bapak, Ibu yang terkasih di depan kita telah ada salib dan lilin yang menyala, Dialah yang rela disalib untuk kita. Dia adalah sumber dari segala kasih, maka marilah kita memohon kepadaNya. 2. Memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan doa permohonan secara spontan yang diawali oleh pemimpin, dan ditutup dengan doa penutup. a). Doa Penutup Allah Bapa yang Maha murah dan Maha kasih. Engkau selalu menuntun dan melindungi umatMu. Kami menghaturkan puji dan syukur kepadaMu atas segala kebaikan dan anugerahMu yang selalu kami terima di dalam hidup kami melalui pendalaman iman ini. Tuhan kami telah diberi kesempatan untuk mendengar kisah Irene, mendengar kisah kami masing-masing dan menceritakan kisah kami, kami banyak belajar dan semakin tahu bagaimana kasihmu kau limpahkan pada kami,kami berproses untuk semakin menyadari betapa besar kasihMu, betapa besar rahmat yang Kau berikan kepada kami. Menyadari akan

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 kasihmu bukanlah hal mudah, menyadari akan kasihmu butuh perjuangan maka kami juga memohon agar niat-niat yang telah kmai sepakati bersama tadi dapat benar-benar terwujud untuk hidup kami sehari-hari. Tuhan kini kami menyerahkan semua hari ke depan kepadaMu, berkati kami agar semua yang kami lakukan untuk kami sendiri, untuk orang-orang di sekitar kami, Engkau sendiri yang bekerja melalui Roh Kudus Mu. doa ini kami haturkan ke dalam tanganMu yang kudus demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin b). Sesudah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan lagu penutup “Kasih yang Sempurna”.

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 BAB V PENUTUP Setelah mengalami proses penelitian dan pembahasan, pada bab V penulis akan memaparkan beberapa kesimpulan dan saran. Dalam kesimpulan akan dipaparkan manfaat penulisan skripsi bertolak dari hasil penelitian. Sedangkan dalam saran, penulis mengajukan saran yang diharapkan dapat terwujud dan terlaksana. A. Kesimpulan Sakramen perkawinan memiliki peranan terhadap pembangunan keluarga katolik yang ideal. Berawal dari kursus perkawinan yang disiapkan jauh sebelum menikah merupakan persiapan yang matang ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan akan menerima sakramen perekawinan yang kudus di dalam Gereja. Berdasaran rumusan masalah dan hasil penelitian umat di Lingkungan Paulus Gatak sudah memahami tentang sakramen perkawinan, sakramen perkawinan diberikan Allah sendiri kepada pasangan calon suami istri. Lewat cinta kasih suami istri Allah berkarya, lewat janji perkawinan yang mereka ucapkan di depan altar merupakan janji manusia terhadap Allah. Berkat sakramen perkawinan pasangan ini menerima rahmat yang lebih karena mereka telah diberkati dan dipersatukan sendiri oleh Allah. Hal ini merupakan wujud nyata cinta kasih Allah terhadap Gereja-Nya lewat sakramen perkawinan tersebut, selain itu pasangan suami istri yang telah menerima sakramen perkawinan menjadi anggota vital dalam gereja yang akan hidup demi Kristus.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Pasangan ini akan menerima konsekuensi yang lebih berat untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia, yang akan mereka mulai dari keluarga baru yang mereka bangun. Sakramen perkawinan berperan sebagai wujud nyata kasih Allah kepada manusia, leawat sakramen perkawinan keluarga baru ini memiliki peran yang penting untuk menwujudkan kerajaan Allah di dunia, tidak hanya untuk keluarganya tapi bagi sesamanya. Konsekuensi penerimaan sakramen perkawinan tidak begitu jelas jika hanya dilihat tapi perlu dipahami, karena karya Tuhan bekerja lewat sakramen perkawinan tersebut yang pailing mendasar tentunya bagi mereka sendiri yang menjadi satu daging. Hal yang mempengarui keluarga untuk menjadi sosok keluarga katolik yang ideal salah satunya adalah keterlibatan mereka dalam hidup menggereja, banyak faktor yang mendukung tapi ada juga faktor yang menghambat untuk ikut masuk terlibat aktif dalam hidup menggereja. Jika dilihat dari hasil penelitian, umat di Lingkungan Paulus Gatak merupakan umat yang menyadari pentingnya terlibat dalam hidup menggereja. Hambatan kecil seperti alat transportasi, kemauan dan kesibukan disebutkan bisa diatasi dan tetap berjalan untuk ikut terlibat dalam kegiatan menggereja. Pemahaman tentang hidup menggereja tentunya juga menjadi faktor yang mempengarui kemauan dan keterlibatan umat, umat menyadari bahwa tidak mudah membagi waktu antara pekerjaan dan keterlibatan dalam Gereja. hidup menggereja dapat didisikripsikan sebagai keterlibatan umat terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh Gereja, tentunya tidak hanya itu namun juga tentang hidup rohani pribadi umat.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Umat memiliki harapan besar terhadap Gereja, pastor paroki dan para katekis yang berkecimpung dalam hal pembentukan iman mereka sebagai keluarga katolik untuk menjadi keluarga katolik yang ideal. Dari hasil penelitian, kemauan umat dalam mengetahui lebih dalam lagi tentang sakramen perkawinan dan keluarga katolik terbukti dari usaha mereka referensi sendiri dalam hal perkawinan dan keluarga katolik. Umat di Lingkungan Paulus Gatak menginginkan untuk turun ke umat, mendengarkan dan memberikan sesuatu yang berkaiatan dengan hidup rohani ataupun hidup berkeluarga, hal ini dapat berupa rekoleksi pasutri atau bimbingan lanjut untuk pasutri yang sudah menikah. Kemauan umat dalam mengetahui lebih dalam lagi tentang sakramen perkawinan dan keluarga katolik terbukti dari usaha mereka referensi sendiri dalam hal perkawinan dan keluarga katolik. B. Saran Dalam rangkah mewujudkan peran sakramen perkawinan untuk membentuk kehidupan keluarga katolik yang ideal di Lingkunag Paulus Gatak, Paroki Santo Petrus dan paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, penulis mengajukan beberapa saran, yaitu: 1. Bagi Para Pasangan yang akan Menerima Sakramen Perkawinan a. Persiapan kursus perkawinan bukan semata-mata formalitas, keseriusan dan keingintahuan membuat pasangan yang akan menerima sakramen perkawinan menjadi sungguh tahu apa yang akan diterima, peran dan konsekuensi setelah menerimanya.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 b. Sakramen perkawinan merupakan hal yang sakral karena diberikan dan diberkati langsung oleh Allah, setulus hati melakukan dan mengucapkan janji perkawinan perlu dilakukan agar benar-benar bisa memaknai tentang apa maksud dari janji perkawinan tersebut. c. Cinta bukan sekedar kata yang terucap, tapi cinta tentang perbuatan, ketulusan dan keiklasan hati. Keputusan menikah adalah keputusan yang sangat besar dan semua yang dialami haruslah sesuai dengan kehendak hati dan Tuhan akan membantu menjalani keputusan tersebut. d. Pasangan berusaha menciptakan sebuah komitmen sebagai pegangan yang ingin dicapai, kepastian dalam melangkah dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. 2. Bagi Keluarga yang Sudah Lama Menikah a. Keluarga yang sudah menikah lebih berusaha saling mengenal satu dengan yang lain. b. Komunikasi yang baik merupakan kunci dari harmonisnya keluarga yang dibangun. c. Anggota keluarga aling mengingatkan, saling mengajak untuk melakukan hal yang positif merupakan usaha untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. d. Semua permasalahan yang muncul memiliki solusi, karena Tuhan tidak memberi cobaan diluar kemampuan hambanya. 3. Bagi Para Katekis a. Umat membutuhkan pemantauan dari katekis dalam kaitannya tentang perkawinan dan keluarga yang mereka bangun.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 b. Katekis perlu menambah reverensi dan mau untuk belajar bersama umat untuk semakin berkembang dan melengkapi. c. Kemauan umat besar, dan katekis berusaha untuk semakin berkembang lewat pelayanan yang mereka lakukan. 4. Bagi Pastor Paroki a. Pastor paroki mengadakan kunjungan umat yang diisi dengan sharing antara pastor paroki dan pasangan keluarga agar pastor paroki mengetahui keadaan keluarga yang sesungguhnya sehingga tahu langkah apa yang akan dilakukan ke depan demi terwujudnya keluarga katolik yang ideal. b. Pastor paroki mengadakan kegiatan rohani tentang keluarga misalnya rekoleksi pasutri atau kursus lanjutan mengenai sakramen perkawinan.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 DAFTAR PUSTAKA Arikunto Suharsimi. (2013). Prosedur Penelitian. Jakarta: Bina Aksara. Catur Raharso, Alfonso. (2006). Paham Perkawinan dalam Hukum Gereja Katolik. Malang: Dioma. Christie, Anthony. (2013). Menikah di Gereja. Yogyakarta: Charissa Publiser. Dapiyanta, F. X. (2008). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Buku Ajar Mahasiswa IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Gilarso,T. SJ. (1996). Membangun Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. Groenen, C. OFM. (1990). Sakramentologi. Yogyakarta: Kanisius. Juanda. http://Katolisitas.org/257/indah-dan-dalamnya-makna-sakramenperkawinan-katolik. akses 17 Desember 2013. accessed on+des+17, 2013. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Jakarta: OBOR. _______________. (2006) Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). Bogor: Grafika Mardi Yuwana. _______________. (2011). Pedoman Pasoral Keluarga. Jakarta: Obor. Konigsmann, Yosef. (1989). Pedoman Hukum Perkawinan Gereja Katolik. Ende: Nusa indah. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (dokumen asli diterbitkan tahun 1965). Martasudjita, E. Pr. (2003). Sakramen-sakramen Gereja. Yogyakarta: Kanisius. Pito Duan, Yeremias, MSF. (2003). Keluarga Kristiani. Yogyakarta:Kanisius. Purwa Hadiwardoyo, MSF. (1988). Perkawinan dalam Tradisi Katolik, Yogyakarta: Kanisius. _______________. (1990). Perkawinan Menurut Islam dan Katolik. Yogyakarta: Kanisius. _______________. (1994). Perkawinan Katolik. Yogyakarta: Kanisius. Rubiyatmoko, Robertus. (2011). Perkawian Katolik Menurut Kitab Hukum Kanonik. Yogyakarta: Kanisius. Sujoko, Y. (2002). Perkawinan Katolik. Jakarta: Obor. Sumarno Ds., M. (1999). Pendalaman Iman Orang Dewasa. Yogyakarta: Puskat. Tan, Melly G. (1995).Keluarga dan Masyarakat. Yogyakarta: Charissa Publiser. Tim Brayat Minulyo. (2007). Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga. Yogyakarta: Kanisius. Tim Penyusun Buku Lustrum. (2011). Buku Lustrum 1 Paroki Kelor. Yogyakarta: Araya. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta Dokpen KWI. (Dokumen asli diternitkan tahun 1979) _______________. (1994). Amanat Apostolik Familiaris ConsortioKeluarga Kristiani dalam Dunia Moderen. Yogyakarta: Kanisius.

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian untuk Ketua Lingkungan Paulus Gatak (1)

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2: Surat Pernyataan dari Ketua Lingkungan Paulus Gatak Kepada : Kaprodi IPPAK di Tempat Hal : Pelaksanaan Izin Penelitian Menyatakan bahwa : 1. Nama : Gregorius Pramudhito Aji Prasetyo 2. Universitas : Sanata Dharma Yogyakarta Telah melaksanakan penelitian di Lingkungan Paulus Gatak pada tanggal 13 Juli 2014, guna menyelesaikan penulisan Skripsi berjudul : “Peranan Sakramen Perkawinan untuk Membentuk Keluarga Katolik yang Ideal di Lingkungan Paulus Gatak, Paroki Santo Petru dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta” Demikian surat Pelaksanaan penelitian ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Yogyakarta, 17 Juli 2014 (2)

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3: Bukti Penelitian INSTRUMEN PENELITIAN “PENGARUH SAKRAMEN PERKAWINAN TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK YANG BERIMAN DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK, PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL” IDENTITAS Nama Nama Suami/istri Agama : : : PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER Berilah Cheklis (√) sesuai pemahaman anda pada pernyataan dibawah ini ! Keterangan : S KS RR TS : bila anda setuju dengan pernyataan yang tersedia : bila anda kurang setuju dengan pernyataan yang tersedia : bila anda ragu-ragu dengan pernyataan yang tersedia : bila anda tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia No 1 Pernyataan Saya mengetahui tentang perkawinan kristiani lewat buku rohani yang membahas tentang perkawinan. Saya dan pasangan saya semakin memahami dan mensyukuri menjadi keluarga katolik setelah dikukuhkan dalam sebuah sakramen perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawian itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri, lewat perkawinan ini segala ciptaan Allah menjadi sempurna. Saya mengetahui tentang sifat-sifat perkawinan yaitu Unitas(kesatuan), Monogam (antara laki-laki dan perempuan), dan Indissolubilitas(tak terceraikan). Perkawinan suami-istri Kristiani merupakan ikatan sakramental yang artinya ikatan menjadi simbol yang menghadirkan Allah sendiri kepada umat-Nya Menurut saya sakramen perkawinan memiliki peran terhadap kehidupan keluarga katolik yang ideal. 2 3 4 5 6 (3) S KS RR TS

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19. Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya. Peranan sakramen perkawinan yang saya rasakan tersebut berupa dorongan dan tanggung jawab dalam keluarga yang saya bangun. Beriman adalah menanggapi wahyu Allah kepada manusia. Dalam hal berkeluarga adalah hidup seturut kehendak Allah. Dengan kehadiran Allah yang memberikan rahmat perkawinan ini, saya dan pasangan saya bukan hanya mencari ke-absah-an perkawinan namun juga untuk keterlibatan kami dalam hidup menggereja. Lewat janji perkawinan yang saya ucapkan, saya yakin bahwa Allah akan menyertai dan mengingatkan keluarga kami. keluarga adalah “ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu dengan yang lain”. Keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan dan iman akan Yesus. Dengan dibantu rahmat sakramen perkawinan berupa ruang lingkup bekerjasama dengan Tuhan, saya dan keluarga saya semakin berkembang dalam hal iman. Keyakinan saya terhadap Tuhan membuat perkawinan yang saya bangun sampai saat ini baikbaik saja dan membantu saya mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Sakramen perkawinan yang saya terima dengan pasangan saya menjadi hal yang istimewa sebagai wujud kepercayaan Tuhan terhadap kami membeangun kehidupan rumah tangga. Keluarga katolik yang ideal merupakan keluarga yang memaknai dan hidup sesuai kehendak Tuhan sendiri. Kehidupan berkeluarga tidak mudah, banyak tantangan, namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kami. Saya mendapat kesempatan lebih dalam hal kegiatan menggereja (kewajiban sebagai seorang katolik) setelah saya mendapat sakramen perkawinan. (4)

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. Janji perkawinan yang saya ucapkan tulus dari dalam lubuk hati saya. Saya memahami sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana dari Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sakramen perkawinan yang saya terima menjadikan saya semakin berkembang dalam kehidupan iman. Saya mendidik anak-anak saya dengan cara katolik, sesuai dengan janji pernikahan yang saya ucapkan. Saya bekerja sama dengan pasangan saya untuk mendidik anak-anak kami. Saya merasa kehidupan keluarga yang saya bangun telah pada tahap “keluarga katolik yang ideal” (kepentingan keluarga dan Gereja seimbang) Saya sadar setelah saya meneima sakramen perkawinan, membuat saya bertanggung jawab terhadap Tuhan dalam segala hal. Saya dan pasangan saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ikut kegiatan gereja, misal misa, doa Lingkungan dan doa keluarga. Saya mengajak anggota keluarga saya untuk saling melengkapi dan saing mengingatkan ketika salah satu dari kami malas dan jauh dari Tuhan. Saya selalu belajar sendiri (rohani) unyuk semakin memperkuat iman saya. Saya mendorong keluarga saya untuk selalu mengucap syukur bersama-sama dalam keadaan apapun (doa pribadi keluarga). Salah satu wujud terima kasih saya terhadap rahmat yang diberikan Tuhan adalah dengan cara berpartisipasi akif dalam kegiatan menggereja. Saya aktif dalam kegiatan yang diadakan Lingkungan (doa Lingkungan, koor, dan lain-lain). Tanggung jawab setiap keluarga adalah untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Saya mendorong anak-anak saya untuk aktif mengikuti kegiatan menggereja (doa, koor, OMK). Keterlibatan saya dalam hidup menggereja membuat orang lain menjadi tergerak untuk mengikuti hal yang sama. Muncul dalam diri saya untuk melayani Tuhan, namun belum saya lakukan. (5)

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. Romo paroki dan katekis yang terkait dalam perkawinan dan keluarga selalu memantau keadaan umatnya. Dengan adanya pemantauan dan lewat kesadaran pribadi saya dan keluarga saya mau berkembang bersama dalam hal iman katolik. Waktu saya tersita pada pekerjaan saya sehingga waktu untuk Tuhan juga terbatas. Gereja mewajibkan saya untuk selalu ikut ambil bagian di dalamnya. Alat transportasi yang menghambat saya dan keluarga untuk mengikuti setiap doa Lingkungan ataupun misa di paroki. Rasa malas dalam diri saya terkendali, dan saya tetap mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hidup rohani saya. Turun ke umat, mendatangi dan menanyakan, adalah hal baik yang bisa dilakukan romo paroki untuk membentuk iman kami. Saya setuju dengan diadakannya rekoleksi pasutri. Iman kami berkembang lewat doa-doa Lingkungan dan misa pada hari minggu. Katekis di Lingkungan ini kurang, sehingga kami kesulitan untuk mengembangkan iman kami. Gereja merupakan dukungan material untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Saya ingin mengikuti proses belajar tentang perkawinan katolik, walaupun saya sudah cukup lama menikah. Saya dan pasangan saya berharap Gereja memberikan jadwal rutin untuk mengadakan pertemuan yang membahas tentang perkawinan yang bisa membantu kami semakin mengerti tentang perkawinan katolik. Sharing antar keluarga yang didampingi romo tentunya hal yang positif bagi kami para pasutri. (6)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4 : Pedoman Wawancara Untuk ketua Lingkungan Paulus Gatak 1. 2. 3. 4. 5. Menurut data yang ada, jumlah umat yang ada di Lingkungan Paulus Gatak ini ada berapa? Menurut anda bagaimana kehidupan sehari hari dilihat dari segi ekonomi maupun sosial di Lingkungan Paulus Gatak? Apakah anda melihat adanya jurang pemisah status sosial ketika umat katolik LingkunganPaulus Gatak ini melakukan gotong royong? Menurut pandangan anda, bagaimana tentang keterlibatan umat di Lingkungan Paulus Gatak? Apakah seluruh umat yang ada, aktif mengikuti kegiatan menggereja baik di paroki ataupun di Lingkungan? (7)

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5: Pedoman wawancara Untuk keluarga 1. 2. 3. 4. Apa yang bapak atau ibu ketahui tentang sakramen perkawinan? Menurut bapak atau ibu apakah sakramen perkawinan tersebut berpengaruh terhadap kehidupan keluarga yang telah anda bina selama ini? Dalam hal apa? Menurut bapak atau ibu apakah keluarga yang anda bangun sudah memasuki taraf ideal sebuah keluarga katolik? Apakah katekis dan romo paroki berperan dalam pembentukan keluarga katolik yang ideal? (8)

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6: Rangkuman Hasil Wawancara Wawancara Tempat wawancara Responden Hariningsih : Kamis, 20 dan 30 Maret 2014 : Rumah ketua Lingkungan Paulus Gatak : Ketua Lingkungan paulus Gatak Ibu M.V. Endang 1. Menurut data yang ada, jumlah umat yang ada di Lingkungan Paulus Gatak ini ada berapa? Menurut data yang saya pegang, umat LingkunganPaulus Gatak ini berjumlah 70 orang dengan 25 kepala keluarga. Jumlah tersebut adalah jumlah umat yang tinggal menetap di Lingkungan Paulus Gatak. Dari jumlah tersebut terdapat 25 laki-laki, perempuan 25 , dan 16 masih bersekolah SD, TK, dan balita 2. Menurut anda bagaimana kehidupan sehari hari dilihat dari segi ekonomi maupun sosial di Lingkungan Paulus Gatak? Umat katolik di desa Gatak menurukan masayarakat mayoritas, dari jumlah warga yang ada di desa ini, lebih dari 50% adalah warga yang beragama katolik. Kehidupan mereka bermacam-macam jika dilihat dari berbagai sudut pandang misal dari segi ekonomi memang masyarakat disini mayoritas berekonomi menengah kebawah karena sebagian besar dari mereka adalah petani. Hanya beberapa orang saja yang memiliki pendapatan pasti seperti PNS, dan wirausaha. Dilihat dari status sosial mereka saya rasa warga di desa Gatak merupakan warga yang tidak mempermasalahkan agama, saya bisa mengatakan seperti itu karena kepala desa dari desa Gatak beragama katolik, jadi saya pikir masyarakat disini tidak fanatik terhadap agama. Selama saya tinggal disini, saya belum pernah mendengar ada perselisihan antar warga yang parah sampai dibawa ke kantor polisi dan sebagainya, ya pasti ada perselisihan mungkin karena iri, namun hal itu tidak menjadikan warga yang bersangkutan menjadi sombong atau “rame”, marah sampai adu pukul saya belum menjumpai hal seperti itu. 3. Apakah anda melihat adanya jurang pemisah status sosial ketika umat katolik Lingkungan Paulus Gatak ini melakukan gotong royong? Seperti yang saya ungkapkan tadi bahwa diantara satu warga dengan warga yang lain saling hormat menghormati, tidak ada kata musuh atau yang lainnya, saat ada kerja bakti kami warga katolik dan warga umat bergama yang lain juga bahu membahu, karena pada dasarnya kami melakukan hal ini (kerja bakti) dengan tujuan yang sama, tidak ada yang namanya kepala sekolah, anggota DPR, petani dan lain-lain, tapi kami bekerja atas dasar tujuan kami yang sama, jadi semua dianggap sama. Tidak ada “rikuh pekewuh” (rasa tidak enak hati) antara satu dengan yang lain. 4. Menurut pandangan anda, bagaimana tentang keterlibatan umat di Lingkungan Paulus Gatak? (9)

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Setiap orang mempunyai porsi masing-masing dalam setiap kegiatan, ada yang terlibat tapi juga ada yang kurang terlibat, hal ini menjadi maklum karena mereka sibuk dan banyak kerjaan lain selain kegiatan yang berhubungan dengan Gereja. Kegiatan di Lingkungan ini ada yang rutin dan ada yang kami laksanakan setiap taun sekali misalnya saja Doa Lingkungan, Tugas koor, Tata rias altar, Ziarah, Kerja bakti rutin, Tabungan cinta kasih Doa Lingkungan ini dilaksanakan setiap malam sabtu pukul 19.00, dilaksanakan secara bergantian dari rumah ke rumah.. Rata-rata dalam setiap doa Lingkungan yang hadir ±30-35 orang. Sayangnya dari jumlah yang hadir hanya 2-3 OMK yang hadir ikut doa Lingkungan tersebut. Lingkungan Paulus Gatak memiliki potensi dalam hal tarik suara, baik untuk tugas koor di wilayah pada sabtu ke 2 atau ke 4 maupun tugas koor diparoki pada hari minggu. Sebelum tugas pasti ada jadwal latian, dan Umat yang ikut ambil bagian dalam tugas koor tidak begitu banyak, terkadang umat mengatakan minder suaranya tidak begitu bagus. Dalam setiap tugas koor terdapat ±25 anggota umat yang ikut ambil bagian dalamtugas koor ini, kebanyakan yang tugas adalah bapak dan ibu, muda-mudi katolik di Lingkungan ini hanya 4 orang yang ikut ambil bagian dalam tugas koor ini. Dalam waktu tertentu Lingkungan Paulus Gatak juga mendapat tugas untuk menghias gereja. Bila mendapat tugas untuk menghias atau mendekor gereja, biasanya ketua Lingkungan menghubungi OMK di Lingkungan untuk mengerjakannya. Namun, para bapak dan ibu tetap turut ikut membantu. Ziarah kami laksanakan setiap setahun sekali, saat bulan rosario. Hal ini disepakati dan diikuti oleh semua anggota umat Lingkungan Paulus Gatak, dengan mengadakan ziarah ini mereka juga semakin mengenal satu dengan yang lain. Selain itu ada juga yang baru sekitar 3 bulan kami lakukan ini yaitu Kerja bakti. Kerja bakti ini dilakukan dengan sukarela, saya merasa kurang enak ketika memiliki tapi tidak merawat, seakan dipakai kalau ada fungsi dan diletakkan dibiarkan begitu saja setelah pemakaian. Piket rutin yang dilakukan umat ini mendapat apresiasi dari pihak pengurus wilayah dan paroki, dari wilayah kemudian mereka ikut menerapkan hal yang sama di setiap Lingkungan Ada lagi Tabungan cinta kasih, kegiatan ini dilakukan oleh ibu-ibu Lingkungan, selain menabung maksud dari adanya kegiatan ini adalah untuk membantu orang-orang yang kurang mampu dari segi ekonomi. Bunga yang di dapat dari tabungan ini dikumpulkan dan diberikan kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu, umat juga semakin merindukan kehadiran sosok Allah sendiri, karena merasa ingin semakin diperhatikan dalam kehidupan dan perkembangan iman mereka mengenai Gereja dan Allah. Selain itu diharapkan adanya sapaan kepada kaum jompo/lansia oleh pastur paroki. Dengan resmi berdirinya paroki kelor, umat juga semakin merindukan kehadiran sosok Allah sendiri, karena merasa ingin semakin diperhatikan dalam kehidupan dan perkembangan iman mereka mengenai Gereja dan Allah. Umat Lingkungan Paulus Gatak memilki harapan agar iman umat semakin berkembang, lewat kegiatan-kegiatan yang menyangkut iman mereka sebagi orang katolik. Misalnya dengan kegiatan rekoleksi yang membahas tentang (10)

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iman, ataupun lewat doa-doa yang selama ini belum banyak dikenal umat Lingkungan seperti kharismatik dll. Selain itu diharapkan adanya sapaan kepada kaum jompo/lansia oleh pastur paroki agar umat merasa di anggap sebagai anggota paroki Kelor yang membutuhkan perhatian lebih untuk membina iman lebih lanjut. 5. Apakah seluruh umat yang ada, aktif mengikuti kegiatan menggereja baik di paroki ataupun diLingkungan? Ini yang menjadi keprihatinan saya selama menjadi ketua Lingkungan disini, memang tidak semua aktif dalam kegiatan seperti halnya dalam kegiatan doa lingkngan ataupun latian koor. Dalam doa Lingkungan kadang ada beberapa umat yang beralasan capek, banyak kegiatan sehingga mereka tidak hadir dalam doa Lingkungan. Ya saya sendiri memaklumi hal tersebut namun sejauh yang saya alami selama ini setiap orang punya kegiatan dan setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatur waktu mereka. Koor pun juga seperti itu, ada beberapa kaum muda namun yang terlibat juga sedikit. Sebenarnya saya dpernah berbincang-bincang dengan beberapa anggota umat yang memiliki pengaruh cukup besar diLingkungan ini bahwa sebenarnya umat juga merindukan kehadiran sosok Allah sendiri, karena merasa ingin semakin diperhatikan dalam kehidupan dan perkembangan iman mereka mengenai Gereja dan Allah umat khususnya Lingkungan Paulus Gatak memilki harapan agar iman umat semakin berkembang dengan diadakannya kegiatan-kegiatan yang menyangkut iman mereka sebagi orang katolik. Selain itu diharapkan adanya sapaan kepada kaum jompo/lansia oleh pastur paroki (11)

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7: Rangkuman Hasil Wawancara 2 Waktu wawancara Tempat wawancara Responden : Minggu, 30 Maret 2014 : Rumah uamt Paulus Gatak : 3 keluarga 1. Apa yang bapak atau ibu ketahui tentang sakramen perkawinan? Keluarga 1 : Menurut hemat saya sakramen perkawinan adalah berkat yang diberikan Allah kepada setiap pasangan saat mengesahkan perkawinan yang dilaksanakan di gereja. Keluarga 2 : Yang saya ketahui tentang sakramen perkawinan adalah tanda dan sarana yang diberikan Allah kepada pasangan suami istri, sebagai tanda dan sarana kehadiran nyata kasih Allah kepada manusia. Tuhan menciptakan pria untuk menemani wanita dan begitu sebaliknya, itu yang saya maksud sebagai tanda sarana kasih Allah lewat perkawinan yang disahkan di dalam gereja. Keluarga 3: menurut saya sakramen perkawinan merupakan sebuah misteri, misteri kasih Allah kepada umatnya, misteri tentang kesatuan Kristus dan Gerejanya, kemudian Tuhan memanggil seiap orang untuk dikuduskan dalam sebuah perkawinan. 2. Menurut bapak atau ibu apakah sakramen perkawinan tersebut berpengaruh terhadap kehidupan keluarga yang telah anda bina selama ini? Dalam hal apa? Keluarga 1 : secara pribadi saya merasakan bahwa sakramen perkawinan berpengaruh dalam kehidupan keluarga saya, misalnya saja ketika kami diminta untuk menghadiri sebuah syukuran atau doa-doa Lingkungan, saya merasa saya lebih dihargai sebagai orang katolik yang berkeluarga maksudnya saya, saya mendapat tugas lebih setelah saya menerima sakramen perkawinan itu. Keluaga 2 : berpengaruh banyak menurut saya karena saya dan istri saya mendapat kesempatan diberi rahmat khusus oleh Tuhan, untuk merasakan hidup berkeluarga, tanggung jawab yang saya emban pun juga semakin besar karena saya telah berjanji di hadapan Allah saat mengucapkan janji perkawinan yang saya lakukan. Saya pribadi semakin berkembang dan merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan keluarga saya menjadi keluarga yang harmonis dan beriman. Keluarga 3 : sangat berpengaruh, dai sakamen yang saya terima di gereja dengan istri saya, saya menjadi kepala rumah tangga, yang memiliki tanggung jawab besar, bukan hanya memikirkan diri saya sendiri tapi kini saya memikirkan istri dan anak saya, sesuai janji perkawinan yang saya ucapkan saya mharus menjadi setia terhadap istri saya saat untung dan malang, senang dan susah, kepada anak-anak saya, yang saya didik secara katolik, mengajarkan kebaikan dan berusaha berkembang bersama mewujudkan keluarga yang beriman. (12)

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Menurut bapak atau ibu apakah keluarga yang anda bangun sudah memasuki taraf ideal sebuah keluarga katolik? Keluarga 1 : belum, karena saya merasa saya masih terlalu memikirkan keluarga saya, bahkan terkadang kami lupa mengucap syukur atas apa yang kami terima. Padahal kami tahu kalau Tuhan tidak ikut campur tangan kami tidak akan mengalami hal itu. Keluarga 2 : masih terlau jauh dengan keta ideal, karena kami masih memikirkan duniawi, yang kami cari materi bukan roh. Kami terlalu egois untuk memikirkan apa yang kami butuhkan dan terus berusaha mengejarnya sampai yang kami inginkan kami dapatkan. Keluarga 3 : saya rasa belum, karena sulit menjadi keluarga katolik yang ideal, harus seimbang dengan apa yang kami lakukan sehari-hari dengan apa yang kami lakukan untuk Tuhan. 4. Apakah katekis dan romo paroki berperan dalam pembentukan keluarga katolik yang ideal? Keluarga 1 : saya merasa romo dan katekis masih belum begitu terlihat mengurusi hal ini namun kami juga menyadari kalao romo juga punya tugas lain, banyak yang lebih penting. Keluarga 2 : ada peran, namun tidak begitu teras, tapi keluarga di paroki ini kan banyak seakli jadi mau tidak mau ya kami saling belajar satu dengan yang lain atau mencari informasi sendri. Keluarga 3 : sudah ada peran, hanya saja untuk bertemu dengan romo secara langsung dan sharing kami belum pernah. Saya merasa romo dan katekis berperan saat kursus perkawinan, selain itu saat rekoleksi pasutri namun yang saya tahu itu sudah lama sekali tidak dilaksanakan lagi. (13)

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8: Kuisioner Kepada Ytk Bapak-ibu Keluarga Katolik Di Lingkungan Paulus Gatak “Salam damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus” Pada kesempatan ini saya sangat mengharapkan kesediaan bapak dan ibu umat Lingkungan Paulus Gatak meluangkan waktu untuk mengisi daftar pertanyaan yang terlampir bersama surat ini. Bapak dan ibu yang terkasih , Dewasa ini kita menghadapi situasi jaman yang begitu rumit, banyak sekali masalah-masalah yang timbul, salah satunya adalah kasus kawin cerai, hal ini terjadi di banyak kalangan tidak terkecuali umat katolik. Di dalam agama katolik kita tahu bahwa seharusnya tidak boleh ada perceraian, memang ada hal yang dikhususkan sehingga pasangan yang sudah menikah menerima sakramen perkawinan bisa berpisah dengan bebagai pertimbangan dan factor-faktor tertentu. Namun kenyataan yang terjadi tidak demikian, disekitar kita, banyak pasangan katolik yang lebih memilih berpisah atau pergi ketempat lain dan meninggalkan istri serta anaknya tanpa ada yang tahu keberadaan salah satu pasangan tersebut. Muncul pertanyaan ketika hal ini menimpa keluarga katolik, “Apa gunanya kursus persiapan perkawinan selama ini? apa pengaruh perjanjian nikah yang diucapkan di depan altar? Jika kenyataan yang terjadi perkawinan harus diakhiri dengan perpisahan. apakah hanya sebagai formalitas saja lalu tidak dipertanggungjawabkan dalam kehidupan berkeluarga itu sendiri?” Untuk mengetahui jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul, saya mengadakan penelitian dengan menyebar kuisioner kepada bapak dan ibu sekalian. Maka dari itu saya mengharapkan kesediaan bapak dan ibu untuk membet=ri keterangan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada kuisioner yang terlampir ini. Jawaban apapun yang anda berikan bebas dari penilaian. Oleh karena itu istilah kuisioner ini secara sungguh-sungguh, jujur dan teliti sesuai dengan keadaan dan kenyataan yang bapak dan ibu alami. Atas kerja sama dan kesediaan bapak dan ibu mengisi kuisioner ini, saya mengucapkan terima kasih. Yogyakarta, 17 juli 2014 Pemohon, Gregorius Pramudhito Aji Prasetyo (14)

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INSTRUMEN PENELITIAN “PENGARUH SAKRAMEN PERKAWINAN TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK YANG BERIMAN DI LINGKUNGAN PAULUS GATAK, PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS KELOR, WONOSARI, GUNUNGKIDUL” IDENTITAS Nama Nama Suami/istri Agama : : : PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER Berilah Cheklis (√) sesuai pemahaman anda pada pernyataan dibawah ini ! Keterangan : S KS RR TS : bila anda setuju dengan pernyataan yang tersedia : bila anda kurang setuju dengan pernyataan yang tersedia : bila anda ragu-ragu dengan pernyataan yang tersedia : bila anda tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia No 1 Pernyataan S Saya mengetahui tentang perkawinan kristiani lewat buku rohani yang membahas tentang perkawinan. Saya dan pasangan saya semakin memahami dan mensyukuri menjadi keluarga katolik setelah dikukuhkan dalam sebuah sakramen perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah kenyataan hidup yang luhur, karena perkawian itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah sendiri, lewat perkawinan ini segala ciptaan Allah menjadi sempurna. Saya mengetahui tentang sifat-sifat perkawinan yaitu Unitas(kesatuan), Monogam (antara laki-laki dan perempuan), dan Indissolubilitas(tak terceraikan). Perkawinan suami-istri Kristiani merupakan ikatan sakramental yang artinya ikatan menjadi simbol yang menghadirkan Allah sendiri kepada umat-Nya Menurut saya sakramen perkawinan memiliki peran terhadap kehidupan keluarga katolik yang ideal. Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi istrinya, dan istri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya. 2 3 4 5 6 7 (15) KS RR TS

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19. 20. 21. Peranan sakramen perkawinan yang saya rasakan tersebut berupa dorongan dan tanggung jawab dalam keluarga yang saya bangun. Beriman adalah menanggapi wahyu Allah kepada manusia. Dalam hal berkeluarga adalah hidup seturut kehendak Allah. Dengan kehadiran Allah yang memberikan rahmat perkawinan ini, saya dan pasangan saya bukan hanya mencari ke-absah-an perkawinan namun juga untuk keterlibatan kami dalam hidup menggereja. Lewat janji perkawinan yang saya ucapkan, saya yakin bahwa Allah akan menyertai dan mengingatkan keluarga kami. keluarga adalah “ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu dengan yang lain”. Keluarga kristiani adalah keluarga yang membangun persekutuan hidup berdasarkan persaudaraan dan iman akan Yesus. Dengan dibantu rahmat sakramen perkawinan berupa ruang lingkup bekerjasama dengan Tuhan, saya dan keluarga saya semakin berkembang dalam hal iman. Keyakinan saya terhadap Tuhan membuat perkawinan yang saya bangun sampai saat ini baikbaik saja dan membantu saya mewujudkan keluarga katolik yang ideal. Sakramen perkawinan yang saya terima dengan pasangan saya menjadi hal yang istimewa sebagai wujud kepercayaan Tuhan terhadap kami membeangun kehidupan rumah tangga. Keluarga katolik yang ideal merupakan keluarga yang memaknai dan hidup sesuai kehendak Tuhan sendiri. Kehidupan berkeluarga tidak mudah, banyak tantangan, namun Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kami. Saya mendapat kesempatan lebih dalam hal kegiatan menggereja (kewajiban sebagai seorang katolik) setelah saya mendapat sakramen perkawinan. Janji perkawinan yang saya ucapkan tulus dari dalam lubuk hati saya. Saya memahami sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana dari Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. (16)

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Sakramen perkawinan yang saya terima menjadikan saya semakin berkembang dalam kehidupan iman. Saya mendidik anak-anak saya dengan cara katolik, sesuai dengan janji pernikahan yang saya ucapkan. Saya bekerja sama dengan pasangan saya untuk mendidik anak-anak kami. Saya merasa kehidupan keluarga yang saya bangun telah pada tahap “keluarga katolik yang ideal” (kepentingan keluarga dan Gereja seimbang) Saya sadar setelah saya meneima sakramen perkawinan, membuat saya bertanggung jawab terhadap Tuhan dalam segala hal. Saya dan pasangan saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ikut kegiatan gereja, misal misa, doa Lingkungan dan doa keluarga. Saya mengajak anggota keluarga saya untuk saling melengkapi dan saing mengingatkan ketika salah satu dari kami malas dan jauh dari Tuhan. Saya selalu belajar sendiri (rohani) unyuk semakin memperkuat iman saya. Saya mendorong keluarga saya untuk selalu mengucap syukur bersama-sama dalam keadaan apapun (doa pribadi keluarga). Salah satu wujud terima kasih saya terhadap rahmat yang diberikan Tuhan adalah dengan cara berpartisipasi akif dalam kegiatan menggereja. Saya aktif dalam kegiatan yang diadakan Lingkungan (doa Lingkungan, koor, dan lain-lain). Tanggung jawab setiap keluarga adalah untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Saya mendorong anak-anak saya untuk aktif mengikuti kegiatan menggereja (doa, koor, OMK). Keterlibatan saya dalam hidup menggereja membuat orang lain menjadi tergerak untuk mengikuti hal yang sama. Muncul dalam diri saya untuk melayani Tuhan, namun belum saya lakukan. Romo paroki dan katekis yang terkait dalam perkawinan dan keluarga selalu memantau keadaan umatnya. Dengan adanya pemantauan dan lewat kesadaran pribadi saya dan keluarga saya mau berkembang bersama dalam hal iman katolik. Waktu saya tersita pada pekerjaan saya sehingga waktu untuk Tuhan juga terbatas. (17)

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. Gereja mewajibkan saya untuk selalu ikut ambil bagian di dalamnya. Alat transportasi yang menghambat saya dan keluarga untuk mengikuti setiap doa Lingkungan ataupun misa di paroki. Rasa malas dalam diri saya terkendali, dan saya tetap mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hidup rohani saya. Turun ke umat, mendatangi dan menanyakan, adalah hal baik yang bisa dilakukan romo paroki untuk membentuk iman kami. Saya setuju dengan diadakannya rekoleksi pasutri. Iman kami berkembang lewat doa-doa Lingkungan dan misa pada hari minggu. Katekis di Lingkungan ini kurang, sehingga kami kesulitan untuk mengembangkan iman kami. Gereja merupakan dukungan material untuk membentuk keluarga katolik yang ideal. Saya ingin mengikuti proses belajar tentang perkawinan katolik, walaupun saya sudah cukup lama menikah. Saya dan pasangan saya berharap Gereja memberikan jadwal rutin untuk mengadakan pertemuan yang membahas tentang perkawinan yang bisa membantu kami semakin mengerti tentang perkawinan katolik. Sharing antar keluarga yang didampingi romo tentunya hal yang positif bagi kami para pasutri. (18)

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8: Kumpulan lagu-lagu 1. Kasih Pasti lemah Lembut Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan Kasih pasti murah hati Kasihmu, kasihmu oh Tuhan Reff : Ajarilah kami ini saling mengasihi Ajarilah kami ini saling mengampuni Ajarilah kami ini kasih-Mu ya Tuhan Kasihmu, kudus tiada batasnya 2. Allah Peduli banyak perkara yang tak dapat kumengerti mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini satu perkara yang ku simpan dalam hati tiada sesuatu 'kan terjadi tanpa allah peduli allah mengerti, allah peduli segala persoalan yang kita hadapi tak akan pernah dibiarkannya ku bergumul sendiri s'bab allah peduli 3. Tuhanlah Gembalaku Tuhanlah gembelaku, aku terjamin selalu Jikalau tuhanku berkenan, menjadi gembala Makan minum tiada henti, tuhan yang member Disana jalanku memebentang Allah bapa melindungi 4. Panggilan Tuhan Panggilan Tuhan bagi umatnya, diatas bumu ciptaanya Api cintanya, nyala kasihnya, sumber semnagat bagi kita Wartakan semnagat cinta-Nya bagi orang yang didambakan kasihnya.’ Mari kita puji Tuhan yang telah mengutus Putra-Nya (19)

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Bagai Rajawali Tuhan,adalah kekuatan ku bersama Dia,ku tak akan goyah ku kan terbang tinggi... bagai rajawali... melakukan perbuatan yg besar(2x) Reff:ku kan terbang tinggi bagai rajawali... dan melayang tinggi... dalam kemuliaan-Nya biar bumi bergoncang dan badai menerpa ku kan terbang tinggi bersama Dia 6. Janji-Mu Seperti Fajar Ketika ku hadapi kehidupan ini jalan mana yang harus ku pilih ku tahu ku tak mampu , kutahu ku sanggup hanya Kau Tuhan tempat jawabanku.... Akupun tahu ku tak pernah sendiri sebab Engkau Allah yang menggendongku tanganMu membelaiku, cinta Mumemuaskanku Kau mengangkatku ke tempat yang tinggi JanjiMu seperti fajar pagi hari dan tiada pernah terlambat bersinar cintaMu seperti sungai yang mengalir dan ku tahu betapa dalam kasihMu Akupun tahu ku tak pernah sendiri sebab Engkau Allah yang menggendongku tanganMu membelaiku, cintaMumemuaskanku Kau mengangkatku ke tempat yang tinggi JanjiMu seperti fajar pagi hari dan tiada pernah terlambat bersinar cintaMu seperti sungai yang mengalir dan ku tahu betapa dalam kasihMu (20)

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Betapa Hatiku Betapa hatiku berterimakasih Yesus Kau mengasihiku Kau memilikiku Hanya ini Tuhan persembahanku Segenap hidupku jiwa dan ragaku Sbab tak kumiliki harta kekayaan Yang cukup berarti tuk ku persembahkan Hanya ini Tuhan permohonanku Terimalah Tuhan persembahanku Pakailah hidupku sebagai alatMu Seumur hidupku 8. SabdaMu Bapa Bagai air Segar SabdaMu Bapa bagai air segar sejuk dan damai saat ku dengar mengalir tenang, tiada henti sumber hidup dan kasisetiaMu Dorong diriku ini jadi saksi kasih ilahi berbekal sabdaMu wartakan janji bekerja di ladangMu jadi abdi abadi hari ini sampai akhir nanti SabdaMu Bapa bagai air segar membasahi menyuburkan bumi menggugah jiwa segarkan hati kobarkan nurani 'tuk bersaksi Dorong diriku ini jadi saksi kasih ilahi berbekal sabdaMu wartakan janji bekerja di ladangMu jadi abdi abadi hari ini sampai akhir nanti (21)

(159)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu.
1
8
141
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta.
3
24
162
Pendampingan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan Misdinar di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
2
138
Upaya peningkatan tanggungjawab keluarga Katolik di Paroki Santo Petrus Pekalongan terhadap pendidikan iman anak.
0
4
153
Pastoral kunjungan keluarga sebagai jalan membantu umat Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan memperkembangkan iman mereka.
1
10
185
Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu
1
9
139
Upaya peningkatan hidup rohani keluarga kristiani di Lingkungan Santo Paulus Maguwoharjo Paroki Marganingsih Yogyakarta melalui katekese keluarga.
0
1
150
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta
0
13
160
Peran film video untuk memperlancar proses pembinaan iman kaum muda di wilayah ST. Paulus Sambeng, Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta - USD Repository
0
0
183
Penghayatan spiritulaitas perkawinan Katolik oleh keluarga-keluarga Katolik di lingkungan St. Yohanes Paulus Paroki St. antonius Kotabaru Yogyakarta dalam mewujudkan keluarga Katolik yang beriman - USD Repository
0
1
102
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Usaha meningkatkan spiritualitas kerasulan awam bagi prodiakon paroki di wilayah Santo Yusup Sendangsari-Sendangrejo, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta, melalui katekese model Shared Christian Praxis - USD Repository
0
1
121
Pengaruh model pendampingan kooperatif tipe student teams achievement divisions dalam persiapan komuni pertama terhadap keterlibatan anak dalam perayaan ekaristi di Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
1
184
Peranan doa bersama dalam keluarga Katolik bagi pembentukan karakter remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta - USD Repository
0
3
159
Deskripsi kunjungan keluarga oleh suster-suster MASF sebagai anggota tim pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus kleco Surakarta - USD Repository
0
0
194
Show more