PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI

Gratis

0
0
254
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Yohana Fransiska Lintang Natalia NIM : 151134259 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ini peneliti persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria sebagai sumber kekuatanku. 2. Kedua orangtuaku, Yohanes Hari Pracoyo dan Maria Yosefina Sareng yang selalu mendukung dan selalu memberikan yang terbaik. 3. Kakakku Angela Ryzki Litania Kartika Sari yang selalu memberikan semangat dan dukungan. 4. Adikku Yubilium Agung Traiger Hari Mardono yang selalu memberikan semangat dan dukungan ketika lelah. 5. Sahabat-sahabatku yang bersama berjuang menyelesaikan sarjana Agnes Putri Wiraswasti dan Cordula Anggraeni Oktadayani. 6. Universitas Sanata Dharma untuk almamater yang saya banggakan. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “When you want something, all universe conspires in helping you to achieve it”. (Paulo Coelho) “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5:16) “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta,21 Desember 2019 Peneliti Yohana Fransiska Lintang Natalia vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yohana Fransiska Lintang Natalia Nomor Mahasiswa : 151134259 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD” Dengan demikian saya memberikan kepada Pepustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya mapupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal : 21 Desember 2018 Yang menyatakan Yohana Fransiska Lintang Natalia vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD Yohana Fransiska Lintang Natalia Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah keprihatinan rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam mata pelajaran IPA. Masalah ini terlihat berdasarkan studi yang dilakukan PISA tahun 2012 dan 2015 yang menyatakan bahwa peringkat literasi IPA siswa di Indonesia masih berada pada peringkat 10 terbawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengekplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD. Penelitian ini merupakanpenelitian quasi experimental tipe pretest-posttest non-equivalent group design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD sebanyak 42 siswa. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas V.2 sebagai kelompok kontrol sebanyak 21 siswa dan kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen sebanyak 21 siswa. Treatment yang diterapkan di kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki lima langkah yaitu penyajian materi (presentation class), kelompok (teams), permainan (games), kompetisi (tournament) dan pengakuan kelompok (team regocnition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,12, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai kelompok kontrol (M= 0,55, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t(40) = -3,01 dan p = 0,004 (p < 0,05); dengan r = 0,430 atau 18,5 % yang setara dengan efek menengah. 2) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,07, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai kelompok kontrol (M= 0,60, SE = 0,12). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t(40) = -2,708 dan p = 0,010 (p < 0,05); dengan r = 0,394 atau 15,4% yang setara dengan efek menengah. Kunci: model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), kemampuan berpikir kritis, kemampuan mengeksplanasi, kemampuan meregulasi diri, mata pelajaran IPA. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF IMPLEMENTING COOPERATIVE LEARNING TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TYPE ON THE ABILITY TO EXPLAIN AND SELF- REGULATE IN ELEMENTARY SCHOOL CLASS V Yohana Fransiska Lintang Natalia SanataDharmaUniversity 2019 This research concerns on the lack of high order thinking skill of students in science subjects. A study by PISA which was conducted in 2012 and 2015 shows that science literacy rating of Indonesian students is still in the 10th position from the bottom. This study aims to investigate the effect of implementing cooperative learning model type Teams Games Tournament (TGT) toward the ability to explain and self-regulate of the fifth grade student. The research employed quasi-experimental to conduct this study. Specifically, this study used pre-test and posttest non-equivalent group design. The participants of this study were 42 students of the fifth-grade in Elementary School of Yogyakarta. The participants were classified into two groups. The first group was class V.2 (n=21) as the control group and the second group was class V.1 (n=21) as the experimental group. The treatment applied in the experimental group was the cooperative learning model type Teams Games Tournament (TGT). There are five steps in the cooperative learning model on Teams Games Tournament type, namely, class presentation, teams, games, tournament, and team’s recognition. The results of the study show that 1) the implementation of the cooperative learning model type Teams Games Tournament (TGT) affects the explanatory ability. The mean score of the experimental group (M = 1.12, SE = 0.12) was higher than the mean score of the control group (M = 0.55, SE = .14). It means that there is a significant difference in the mean score in both control and experimental group with t (40) = -3.01 and p = 0.004 (p <0.05); r = 0.430 or 18.5% which is equivalent to medium effects. 2) The implementation of the cooperative learning model type Teams Games Tournament (TGT) affects the students’ ability to regulate themselves. The mean score of the experimental group (M = 1.07, SE = 0.12) was higher than the mean score of the control group (M = 0.60, SE = 0.12). The score difference is significant with t (40) = -2.708 and p = 0.010 (p <0.05); r = 0.394 or 15.4% which is equivalent to medium effects. Keywords: Cooperative Learning Model type Teams Games Tournament (TGT), critical thinking skill, ability to explain, ability to self-regulate, science subjects. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S., BST., M.A selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dengan penuh perhatian. 6. Laurensia Aptik Evanjeli, S.Psi., M.A. selaku dosen penguji III yang telah memberikan masukan pada penulisan penelitian ini. 7. Ari Kristiani, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Budya Wacana I Yogyakarta yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian. 8. Ch. Wiji Widiastuti, S.Pd. selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. 9. Siswa kelas V.1 dan V.2 SD Budya Wacana I Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang telah bersedia terlibat dalam penelitian. 10. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses perizinan penelitian skripsi. 11. Kedua orangtua, Yohanes Hari Pracoyo dan Maria Yosefina Sareng yang dengan sabar mendampingi serta selalu menyertai perjuanganku melalui doa. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Kakakku Angela Ryzki Litania Kartika Sari, kakakku Ricky Prananta, adikku Yubilium Agung Treiger Hari Mardono yang telah memberi penghiburan dan penyemangat. 13. Teman-teman PPL Rika, Yutta, Deta, Rani, Agnes, Koko dan Om Jacob SD Budya Wacana I Yogyakarta atas kerjasama dan dukungannya di sekolah. 14. Sahabat penelitian kolaboratif bersama Rani, Agnes, Halimah, Anggun, Niken, Herlin, Clara, Poppy, Melsa, Felis, Erine yang telah memberikan bantuan selama melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi ini. 15. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu namun telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan peneliti. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi menyempurnakan skripsi ini. Peneliti berharap semoga skripsi ini berguna bagi semua pihak. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMANPERSEMBAHAN............................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN LEMBARPUBLIKASI KARYA ILMIAHUNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii BAB IPENDAHULUAN ....................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 6 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 7 1.5 Definisi Operasional ........................................................................................ 7 BAB IILANDASAN TEORI ................................................................................ 9 2.1 Kajian Pustaka ................................................................................................. 9 2.1.1 Teori yang Mendukung.................................................................................. 9 2.1.1.1 Perkembangan Anak ................................................................................... 9 2.1.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ............................................................... 16 2.1.1.3 Tipe Teams Games Tournament (TGT) .................................................... 20 2.1.1.4 Kemampuan Berpikir Kritis ...................................................................... 23 2.1.1.5 Kemampuan Mengeksplanasi.................................................................... 25 2.1.1.6 Kemampuan Meregulasi Diri .................................................................... 26 2.1.1.7 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam .............................................................. 27 2.1.1.8 Materi Pembelajaran ................................................................................. 27 2.1.2 Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................................... 29 2.1.2.1 Penelitian tentang pembelajaran kooperatif tipe TGT .............................. 29 2.1.2.2 Penelitian tentang Kemampuan Berpikir Kritis ........................................ 30 2.2 Kerangka Berpikir .......................................................................................... 34 2.3 Hipotesis Penelitian ....................................................................................... 35 BAB IIIMETODE PENELITIAN ..................................................................... 36 3.1 Jenis Penelitian............................................................................................... 36 3.2 Setting Penelitian ........................................................................................... 38 3.2.1 Lokasi Penelitian ......................................................................................... 38 3.2.2 Waktu Penelitian.......................................................................................... 38 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.3 Populasi dan Sampel ...................................................................................... 39 3.3.1 Populasi ....................................................................................................... 39 3.3.2 Sampel ......................................................................................................... 39 3.4 Variabel Penelitian ......................................................................................... 40 3.4.1 Variabel Independen .................................................................................... 40 3.4.2 Variabel dependen ....................................................................................... 41 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 41 3.6 Instrumen Penelitian ...................................................................................... 42 3.7 Teknik Pengujian Instrumen .......................................................................... 43 3.7.1 Uji Validitas ................................................................................................. 43 3.7.1.1 Validitas Isi ............................................................................................... 44 3.7.1.2 Validitas Muka .......................................................................................... 44 3.7.1.3 Validitas Konstruk..................................................................................... 45 3.7.2 Uji Reliabilitas ............................................................................................. 46 3.8 Teknik Analisis Data ...................................................................................... 47 3.8.1 Uji Pengaruh Pelakuan ................................................................................. 47 3.8.1.1 Uji Asumsi ................................................................................................ 47 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................. 49 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................................ 50 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan .................................................................. 50 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut .................................................................................. 52 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ........................... 52 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan ...................................................................... 53 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I ................................................. 55 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan................................................................ 56 3.8.3 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian ........................................ 57 BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................... 63 4.1 Hasil Penelitian .............................................................................................. 63 4.1.1 Implementasi Penelitian ............................................................................ 63 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ..................................................................... 63 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ...................................................... 64 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data................................................................................ 69 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi ................................................................... 69 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi diri ..................................................................... 71 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ............................................................................. 72 4.1.3.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................................ 73 4.1.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan................................................................... 79 4.3.1.3 Analisis Lebih Lanjut ................................................................................ 80 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II ........................................................................... 88 4.1.4.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................................ 89 4.1.4.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan .................................................................. 94 4.1.4.3 Analisis Lebih Lanjut ................................................................................ 95 4.2 Pembahasan .................................................................................................. 103 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian ........................ 104 4.2.2 Pembahasan Terhadap Hipotesis ............................................................... 108 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.2.1 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Terhadap Kemampuan Mengeksplanasi ............................. 108 4.2.2.2 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Terhadap Kemampuan Meregulasi Diri ............................. 112 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori .................................................. 116 BAB VKESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 120 5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 120 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................ 121 5.3 Saran ............................................................................................................ 121 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 122 LAMPIRAN ........................................................................................................ 128 CURRICULUM VITAE ....................................................................................... 235 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTARTABEL Tabel 2. 1 Dimensi Kognitif dan Kecakapan berpikir Kritis ................................ 25 Tabel 3. 1 Waktu penelitian…………………….…………….………...………..39 Tabel 3. 2 Matriks Pengembangan Instrumen....................................................... 43 Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Mengeskplanasi dan Meregulasi Diri ........................................................................................................................ 46 Tabel 3. 4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ........................................................... 46 Tabel 3. 5Kriteria Besar Pengaruh ........................................................................ 52 Tabel 4. 1 Sebaran Data Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol…….69 Tabel 4. 2 Sebaran Data Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Eksperimen .. 70 Tabel 4. 3 Sebaran Data Kemampuan Meregulasi diri Kelompok Kontrol .......... 71 Tabel 4. 4 Sebaran Data Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Eksperimen .. 72 Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest ................... 74 Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest ............................ 74 Tabel 4. 7 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Eksplanasi .............. 75 Tabel 4. 8 Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I .................... 76 Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Pretest – Posttest I................. 77 Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 77 Tabel 4. 11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan mengeksplanasi .. 79 Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ............................................................................................................................. 80 Tabel 4. 13 Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 80 Tabel 4. 14 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I................... 83 Tabel 4. 15 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................. 84 Tabel 4. 16 Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I ..................... 84 Tabel 4. 17 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Mengeksplanasi .............................................................. 85 Tabel 4. 18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ............................................... 86 Tabel 4. 19 Hasil Analisis Perbedaan Skor Pretest dan Posttest II ...................... 87 Tabel 4. 20 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi Diri ..................................................................................................... 89 Tabel 4. 21 Hasil Uji Homogenitas Varian Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi diri ......................................................................................................................... 90 Tabel 4. 22 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi Diri .... 90 Tabel 4. 23 Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I .................. 92 Tabel 4. 24 Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri ................................................................................ 92 Tabel 4. 25 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri ......................................................................................................................... 93 Tabel 4. 26 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri ... 94 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 27 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ............................................................................................................................. 95 Tabel 4. 28Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Meregulasi diri ............................................................................................................................... 96 Tabel 4. 29 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I................... 98 Tabel 4. 30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri .............................................................................. 99 Tabel 4. 31 Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I ................... 100 Tabel 4. 32 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Meregulasi Diri............................................................. 101 Tabel 4. 33 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ............................................. 101 Tabel 4. 34 Hasil Analisis Perbedaan Skor Pretest dan Posttest II .................... 103 Tabel 4. 35 Ancaman Terhadap Validitas Internal ............................................. 107 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Bagan Tahapan Perkembangan Kognitif.......................................... 12 Gambar 2. 2 Zona Perkembangan Kognitif .......................................................... 16 Gambar 2. 3 Penempatan pada meja tounamen .................................................... 23 Gambar 2. 11 Literature map ................................................................................ 33 Gambar 3. 1 Rumus Pengaruh Perlakuan…………………………………..........37 Gambar 3. 2 Desain Penelitian .............................................................................. 37 Gambar 3. 3 PemetaanVariabel Penelitian............................................................ 41 Gambar 3. 4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal ............................................ 51 Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal .................................. 51 Gambar 3. 6 Rumus persentase pengaruh perlakuan ............................................ 52 Gambar 3. 7 Rumus Besar persentase uji peningkatan skor pretest-postet I ........ 52 Gambar 3. 8 Rumus Gain Score ........................................................................... 53 Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I untuk Data Normal .......................................................................................................... 54 Gambar 3. 10 Rumus Efek peningkatan rerata pretest ke posttest I untuk data tidak normal .......................................................................................................... 54 Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Efek Peningkatan ................................... 55 Gambar 3. 12 Skema Ancaman Sejarah (History) ................................................ 58 Gambar 4. 1 Rerata Skor Pretest-Postest I Kemampuan Mengeksplanasi............78 Gambar 4. 2 Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I .................... 78 Gambar 4. 3 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I .......... 81 Gambar 4. 4 Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi ....................................... 82 Gambar 4. 5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ..................... 87 Gambar 4. 6 Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi diri ...................................................................................................... 93 Gambar 4. 7 Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi diri ...................................................................................................... 94 Gambar 4. 8 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I .......... 96 Gambar 4. 9Gain Score Kemampuan Meregulasi diri .......................................... 97 Gambar 4. 10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ................. 102 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 1 Surat Izin Penelitian..................................................................... 129 Lampiran 1. 2 Surat Izin Validasi Soal ............................................................... 130 Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Kontrol……………………………………...131 Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Eksperimen ................................................... 134 Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol............. 138 Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ...... 143 Lampiran 3. 1 Soal Uraian……………………………………………………...153 Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban ............................................................................. 160 Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian .......................................................................... 171 Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgment ............................................ 177 Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgment ................................... 181 Lampiran 3. 6 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas ............................................... 190 Lampiran 3. 7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas ........................................... 192 Lampiran 3. 8 Data Uji Validitas Instrumen Variabel Mengeskplanasi Dan Meregulasi Diri ................................................................................................... 193 Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen……………………………………………………..194 Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ................................................................................. 195 Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Data ................................................. 196 Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................ 197 Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ....................... 203 Lampiran 4. 6 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan ......................... 204 Lampiran 4. 7 Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1......... 205 Lampiran 4. 8 Hasil SPSS Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I ............................................................................................................................. 208 Lampiran 4. 9 Hasil SPSS Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I ................ 211 Lampiran 4. 10 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ............................. 212 Lampiran 4. 11 Lembar Hasil Pretest dan Posttest Siswa ................................. 216 Lampiran 5. 1 Foto-foto kegiatan………………………………………….........232 Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Validasi ................................... 233 Lampiran 5. 3 Surat Keterangan Melaksanakan Peneliti .................................... 234 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini akan dibahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi oprasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara sadar oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan pembelajaran, bimbingan, serta latihan yang dilakukan sekolah maupun di luar sekolah untuk mempersiapkan siswa dalam melakukan perannya di masa yang akan datang (Triwiyanto, 2014: 22). Pendidikan memiliki berbagai macam tujuan. Salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk siswa yang mampu memecahkan masalah dengan berpikir kritis dan berpikir kreatif (Ahmadi, 2014: 44). Berpikir kritis termasuk ke dalam berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, dan produktif dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. Melalui berpikir kritis hendaknya anak peka terhadap berbagai hal yang terjadi pada lingkungan, kemudian menganalisis, dan memahami sehingga berpikir, berperasaan dan bertindak secara terkendali dan teraktualisasikan dalam perilaku yang sehat, berkualitas, dan terjaga integritasnya (Tawil & Liliasari, 2013: 2). Pandangan lain mengungkapkan berpikir kritis adalah sebuah proses yang jelas dan terarah sebagai bentuk kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian (Johnson, 2008: 185). Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis penting dimilikioleh anak untuk berpikir secara logis, peka, dan mampu menganalisis serta memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Facione (1990) membagi berpikir kritis dalam enam unsur kemampuan yang terdiri dari kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Keenam kemampuan tersebut saling berkaitan satu sama lain. Anak diharapkan memiliki kemampuan untuk memberikan suatu alasan dari hasil pemikiran sendiri tentang suatu konsep untuk menarik kesimpulan dan mampu mengoreksi cara berpikirnya sendiri. 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kemampuan tersebut berkaitan dengan kemampuan mengeskplanasi dan meregulasi diri. Kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri merupakan kemampuan kognitif yang paling kompleks. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan masalah, menjelaskan, dan memberikan suatu alasan dari hasil pemikiran sendiri maupun orang lain tentang suatu konsep, metode, kriteria dan konteks yang digunakan dalam menarik kesimpulan. Sedangkan, kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2015). Kemampuan mengeksplanasi dan mergulasi diri penting dimiliki oleh anak untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan abad 21 ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerja sama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang Kemdikbud, dalam Wijaya, Sudjimat & Nyoto, 2016: 266). Pembelajaran abad 21 ini tentunya perlu di terapkan sejak anak berada pada usia SD. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) adalah jenjang pendidikan formal yang menjadi dasar pendidikan selanjutnya. Pada umumnya, siswa SD berusia 712 tahun. Dimana sesuai dengan usianya, pembelajaran perlu diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa yang pada gilirannya kegiatan berpikir itu dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri (Wijaya, Sudjimat, & Nyoto, 2016: 270). Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan Jean Piaget yang menyatakan bahwa anakanak usia SD berada tahap kemampuan berpikir secara konkret. Pemahaman anak tentang aneka konsep akan dipermudah apabila berdasarkan pada pengalaman dan melalui proses mengonstruksi yang dilakukan sendiri oleh anak bertolak dari pengalaman nyata. Usia anak SD juga tidak lepas dari konteks sosial dalam memerlukan bantuan dari pihak lain. Bantuan tersebut tentunya dapat berasal dari teman sebaya, guru, maupun warga sekolah. Hal ini sependapat dengan teori 2

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vygotsky yang menyatakan bahwa anak mengembangkan pengetahuan dengan mengonstruksinya melalui interaksi lingkungan sosial (Supratiknya, 2006: 60). Keyakinan Vygotskty mengenai pentingnya pengaruh sosial tercermin pada konsep zona perkembangan proksimal atau Zone of Proximal Development (ZDP). ZDP adalah istilah Vygotsky untuk kiasan tugas-tugas yang sulit saat sang anak melakukannya sendiri, tetapi dapat dipelajari dengan bimbingan dan bantuan dari orang dewasa (Santrock, 2009: 62). Pekembangan-perkembangan ini perlu disesuaikan dengan pembelajaran yang diberikan pada anak terutama pada pelajaran IPA yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia dan membutuhkan kemampuan berpikir kritis. IPA adalah pengetahuan yang rasional dan obyektif terhadap alam semesta dengan segala isinya (Samatowa, 2011: 2). IPA tidak hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau mahluk hidup tetapi memerlukan cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah (Winaputra, dalam Samatowa, 2011: 3). IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar dengan alasan: 1) IPA berfaedah bagi suatu bangsa karena kesejahteraan materi suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, 2) IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis, 3) IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan, dan 4) mata pelajaran IPA 3 memiliki nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara utuh (Samatowa, 2011: 3). Alasan tersebut tentunya mampu menjadikan pembelajaran IPA di SD dapat melatih kemapuan berpikir kritis dengan cara kerja yang tepat, cara berpikir yang rasional dan obyektif serta cara memecahkan persoalan yang bersifat ilmiah di lingkungannya. Permasalahannya mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian salah satu organisasi yaitu Program for International Student Assessment (PISA) di bawah naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) telah mengadakan survei mengenai sistem pendidikan dan kemampuan siswa yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Studi ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam matematika, membaca, dan sains. Hasil PISA 2009 menunjukkanIndonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara di dunia pada 3

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mata pelajaran IPA (OECD, 2009: 1). Hasil PISA pada tahun 2012 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara di dunia dengan skor 382 untuk literasi sains (OECD, 2013: 5). Hasil PISA berikutnya pada tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 61 dari 70 negara di dunia dengan skor 403. Hasil penelitian PISA pada tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan, namun masih berada pada peringkat 10 besar terbawah dari 70 peserta negara PISA (OECD, 2016: 5). Hasil penelitian PISA tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mengalami permasalahan dalam bidang sains.Fakta yang diungkapkan oleh PISA menunjukkan bahwa kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA masih rendah. Rendahnya kemampuan siswa tersebut bisa dipengaruhi oleh proses belajar yang kurang sesuai untuk mengembangkan kemampuan siswa. Proses belajar mengajar umumnya kurang mendorong pada pencapaian kemampuan berpikir kritis. Ada faktor penyebab berpikir kritis tidak berkembang selama pendidikan yaitu aktivitas pembelajaran di kelas yang selama ini dilakukan oleh guru tidak lain merupakan penyampaian informasi dengan lebih mengaktifkan guru, sedangkan siswa pasif mendengarkan dan menyalin (Ahmatika, 2016 : 396).Untuk mengantisipasi masalah tersebut, perlu dicarikan suatu alternatif model pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Para guru hendaknya terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai cara yang variasi agar siswa tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran IPA, salah satunya dapat dilakukan melalui model pembelajaran kooperatif (Ahmatika, 2016: 396). Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab peserta didik akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan serta tanggung jawab individu (Daryanto & Rahardjo, 2012: 229). Ada berbagai tipe dalam pembelajaran kooperatif di antaranya adalah Jigsaw, Student Team Achievement Division (STAD), Teams Games Tournament (TGT), Think-Pair-Share (TPS), Numbered Head Together (NHT) dan model-model lainnya (Trianto, 2007: 49). Peneliti memilih model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) dalam penelitian ini. Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang 4

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI beranggotakan 5-6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda (Slavin, 2008: 166). Dalam pelaksanaannya pembelajaran kooperatif tipe TGT menggunakan 5 langkah yaitu presentasi di kelas yang dilakukan guru dengan memberikan materi, belajar bersama dalam tim guna mempersiapkan anggota untuk mengikuti game akademik dan selanjutnya guru memberikan soal pretest untuk menentukan kelompok homogen, games dimana guru mempersiapkan pertanyaan yang anak pakai untuk tournament, kemudian tournament yang dilakukan oleh kelompok homogen, selanjutnya perhitungan skor dan pemberian reward kepada kelompok yang memperoleh skor tertinggi. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGTdiharapkan siswa memiliki pemahaman mendalam terhadap materi pembelajaran, memiliki kebebasan untuk berinteraksi dalam kelompok, meningkatkan percaya diri, memiliki motivasi belajar tinggi (Taniredja & Faridli, 2014: 72) dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis khususnya mengeksplanasi dan meregulasi diri. Penelitian-penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan pengaruh terhadap hasil belajar IPA (Widayanti & Slameto, 2016). Pembelajaran kooperatif tipe TGT juga berpengaruh terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan IPS (Novianti, I Ketut & Gede, 2017). Pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) juga berpengaruh pada hasil belajar IPA siswa kelas VIII ditinjau dari kerjasama siswa (Ismah & Ernawati, 2018).Berbagai jurnal juga diterbitkan untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis. Fuad, Zubaidah, Mahanal dan Suarsini (2016) meneliti tentang meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP berdasarkan ujian tiga model pembelajaran yang berbeda. Hal serupa dilakukan oleh Retnosari, Susili dan Suwono (2016) yang meneliti pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan multimedia interaktif terhadap berpikir kritis siswa kelas IX SMA Negeri di Bojonegoro. Kemudian, Jariyah (2017) meneliti efektivitas pembelajaran inkuiri dipadu sains teknologi masyarakat (STM) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA. 5

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan hasil beberapa penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh dan meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa. Peneliti belum menemukan penelitian yang membahas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Peneliti juga belum menemukan penelitian untuk mengembangkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Sehingga, peneliti akan meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD pada mata pelajaran IPA materi sistem pernapasan hewan. Peneliti memilih salah satu SD swasta di Yogyakarta sebagai tempat penelitian karena, SD tersebut memiliki kelas paralel yang tepat digunakan untuk penelitian eksperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian quasi experimentaldesign dengan tipe pretest posttest nonequivalent group design. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 6

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Siswa memperoleh pengalaman belajar yang baru dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) sehingga dapat mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 1.4.2 Bagi Peneliti Peneliti memperoleh pengalaman baru tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), sehingga dengan pengalaman tersebut peneliti dapat menguasai model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament dan dapat menerapkannya ketika mengajar di kelas. 1.4.3 Bagi Guru Guru memahami model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dan dapat menerapkannya pada pembelajaran lain, sehingga guru lebih termotivasi untuk menerapkan pembelajaran yang lebih bervariasi, sehingga penyampaian materi pelajaran menjadi lebih menarik. 1.4.4 Bagi Sekolah Sekolah dapat mengembangkan wawasan tentang pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah pengajaran kepada siswa di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan serta bahan informasi yang direncanakan oleh siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran. 7

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompokkelompok belajar yang beranggotakan lima sampai enam orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda dengan 5 langkah yaitu presentasi kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kegiatan yang menganalisis informasi dan ide secara hati-hati dan logis yang digunakan sebagai penilaian untuk tujuan tertentu untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan dari bukti tertentu. 1.5.4 Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan masalah, menjelaskan dan memberikan suatu alasan dari hasil pemikiran sendiri maupun orang lain tentang suatu konsep, metode, kriteria dan konteks yang digunakan dalam menarik kesimpulan 1.5.5 Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri 1.5.6 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah mata pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dengan materi sistem pernapasan pada hewan. 8

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II berisi kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian dan hasil penelitian sebelumnya yang berisi pengalaman penelitian yang pernah ada. Selanjutnya dirumuskan kerangka berpikir dan hipotesis penelitian yang berisi dugaan sementara atau jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung Teori-teori yang mendukung dalam penelitian ini adalah teori perkembangan anak dari Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh ini merupakan tokoh konstruktivisme. Teori konstruktivisme menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan (konstruksi) orang itu sendiri (Suparno, 2001: 122) Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain. Teori Piaget ini diambil karena mengingat perkembangan kognitif anak SD yang berada tahap operasional konkret. Sementara teori Vygotsky diambil karena pada tahap perkembangan anak tentunya memiliki pengaruh sosial khusunya pengajaran pada perkembangan kognitif anak tercermin pada konsep zona perkembangan proksimal. 2.1.1.1 Perkembangan Anak Manusia pada umumnya mengalami perkembangan. Perkembangan adalah pola pergerakan atau perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung selama masa hidup manusia. Pola tersebut bersifat kompleks karena merupakan hasil dari proses biologis, kognitif dan sosioemosi. Proses biologis menghasilkan perubahan yang berkaitan dengan sifat dasar fisik individu. Gengen yang diwariskan orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat badan mencerminkan pengaruh dari proses biologis terhadap perkembangan. Proses kognitif merujuk pada perubahan pemikiran, inteligensi dan bahasa dari individu. Sedangkan proses sosioemosi merupakan perubahan dalam relasi individu dengan 9

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI orang lain, perubahan emosi, dan perubahan kepribadian. Proses biologis, kognitif dan sosioemosi saling terkait dan membentuk suatu jalinan (Santrock, 2012: 16). Setiap anak mengalami perkembangan. Dalam hidupnya anak akan mengalami perkembangan yang dialami setiap anak secara berbeda-beda. Salah satu teori yang membahas mengenai perkembangan khusunya perkembangan kognitif anak adalah Piaget. Tokoh lain yang membahas perkembangan anak berdasarkan sosiohistorisnya adalah Vygotsky. 1. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget (1896-1980) lahir di Neuchatel, Swiss. Ayahnya seorang sejarawan spesialisai sejarah abad pertengahan (Crain, 2007: 167). Sejak kecil Piaget sangat tertarik pada alam. Ia gemar mengamati burung-burung, ikan-ikan, dan hewan lainnya. Itu sebabnya, ia sangat tertarik pada pelajaran biologi. Pada usia 10 tahun, ia sudah menerbitkan artikel tentang burung albino dalam majalah Ilmu Pengetahuan Alam. Pada 1916, Piaget menyelesaikan pendidikan sarjana bidang biologi di Universitas Neuchatel. Selang dua tahun, ia menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar doktor filsafat. Usai menempuh pendidikan, ia memutuskan untuk mendalami psikologi. Pada 1920 Piaget bekerja bersama Dr. Theophile Simon di Laboratorium Binet, Paris dengan tugas mengembangkan tes penalaran. Dari pengalamannya itu, Piaget menyimpulkan bahwa pemikiran anak yang lebih dewasa berbeda dengan anak yang lebih muda. Dengan kata lain cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Hal tersebut memacu Piaget untuk meneliti kedua anaknya. Hasilnya, Piaget mengelompokkan perkembangan kognitif menjadi empat tahap yaitu, tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal (Suparno, 2001: 11). Selain mengelompokkan perkembangan kognitif menjadi empat tahap, Piaget juga menekankan bahwa perkembangan kognitif anak mengalami skema, asimilasi, akomodasi, ekuilibrium, dan disekuilibrium. Skema adalah pola hubungan tindakan dan perilaku yang dapat digeneralisasikan dan digunakan oleh anak dalam situasi yang berbeda-beda (Meggit, 2013: 223). Setelah itu, asimilasi ialah penyatuan (pengintegrasian) informasi, persepsi, konsep, dan pengalaman baru ke dalam yang sudah ada dalam 10

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI benak seseorang (Sanjaya, 2010: 132). Dalam proses asimilasi anak menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menghadapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungannya (Wilis, 2011: 135).Setelah mengalami proses asimilasi, anak mengalami proses akomodasi. Akomodasi ialah individu mengubah dirinya agar bersesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya (Surya, 2003: 56). Sebagai proses penyesuaian atau penyusunan kembali skema ke dalam situasi yang baru (Yatim, 2009: 123). Proses penyerapan ini saling berkaitan. Sebagai contoh ketika seorang anak belum mengetahui atau mengenal api, suatu hari anak merasa sakit karena terkena percikan api, maka berdasarkan pengalamannya terbentuk struktur penyesuaian skema pada struktur kognitif anak tentang “api” bahwa api adalah sesuatu yang membahayakan oleh karena itu harus dihindari, ini dinamakan adaptasi. Dengan demikian, ketika ia melihat api, secara refleks ia akan menghindar. Semakin anak dewasa, pengalaman anak tentang api bertambah pula. Ketika anak melihat ibunya memasak memakai api, ketika anak melihat bapaknya merokok menggunakan api, maka skema yang telah terbentuk semakin sempurna, bahwa api bukan harus dihindari tetapi dapat dimanfaatkan. Proses penyesuaian skema tentang api yang dilakukan oleh anak itu dinamakan asimilasi. Semakin anak dewasa, pengalaman itu semakin bertambah pula. Ketika anak melihat bahwa pabrik-pabrik memerlukan api, setiap kendaraan memerlukan api, dan lain sebagainya, maka terbentuklah skema baru tentang api. Bahwa api bukan harus dihindari dan juga bukan hanya sekedar dapat dimanfaatkan, akan tetapi api sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia. Proses penyempurnaan skema itu dinamakan proses akomodasi (Sanjaya, 2010: 132). Setelah penyempurnaan skema tersebut anak mengalami yang dinamakan ekuilibrasi. Pengaturan sendiri atau ekuilibrasi adalah kemampuan untuk mencapai kembali keseimbangan (equilibrium) selama periode ketidakseimbangan (disequlibrium). Ekuilibrasi merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat-tingkat berfungsi kognitif yang lebih tinggi melalui asimilasi dan akomodasi tingkat demi tingkat (Jarvis, 2011: 143). Jika pengaturan sendiri sudah dimiliki anak, ia mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan anak dari lingkungannya, kondisi ini dinamakan equilibrium. Ketika anak menghadapi 11

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pengaturan diri yang sudah ada, anak mengalami sensasi disequlibrium yang tidak menyenangkan. Secara naluriah, kita disarankan untuk memperoleh pemahaman tentang dunia dan menghindari disequlibrium (Jarvis, 2011: 142). Berikut merupakan bagan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget : (Sumber : https://www.slideshare.net/satyayoga96/belajar-dan-pembelajaran-kognitifdan-konstruktivisme-59658784) Gambar 2. 1Bagan Tahapan Perkembangan Kognitif Piaget menemukan bahwa anak-anak melewati tahapan-tahapan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Piaget membedakan perkembangan kognitif menjadi empat tahap yaitu, tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal. Anak-anak selalu melewati tahapan-tahapan tersebut dengan urutan yang tidak pernah berubah atau dengan keteraturan yang sama. Piaget meyakini tahapan urutan perkembangan sudah diatur oleh gen-gen dan bahwa pentahapan itu berjalan menurut rancangan waktu batiniah anak-anak (Crain, 2007: 171). a. Tahap sensorimotor (0-2 tahun) Tahap sensorimotor berlangsung mulai dari lahir hingga usia sekitar 2 tahun adalah tahap pertama menurut Piaget. Pada tahap ini bayi membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengoordinasikan pengalaman-pengalaman secara sensori (Santrock, 2012: 28). Masa ini adalah ketika di mana bayi mulai mempergunakan sistem pengindraan dan aktivitas-aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya mengenal objek. Meskipun ketika dilahirkan seorang bayi masih sangat tergantung 12

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat inderanya sudah langsung bisa berfungsi (Suparno, 2001: 26). Pada tahap sensorimotor dibagi menjadi beberapa sub-tahap. Sub tahap pertama (lahir-1 bulan) anak memang belum mengetahui apa yang dilakukan dan apa yang di sekelilingnya tetapi anak melakukan sesuatu hal yang biasanya disebabkan oleh refleks-refleks bawaan. Refleks yang paling jelas anak bisa otomatis menghisap kapanpun bibir mereka di sentuh. Kemudian di sub tahap kedua (1-4 bulan), di mana pada sub tahap ini rekasi terjadi ketika anak menghadapi sebuah pengalaman baru dan berusaha mengulanginya. Sub tahap ketiga (4-10 bulan) dan keempat (1012 bulan) merupakan sub tahap dimana anak mulai mengetahui dan mencari apa yang ingin di cari, anak sudah mampu menemukan barang yang sengaja mereka sembunyikan. Sementara, pada sub tahap kelima (1218 bulan) anak mulai dapat berekperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Di tahap keenam (18 bulan-2 tahun) anak anak yang sudah mulai bereksperimen dengan tindakannya, anak kelihatannya mulai bervariasi dari tindakannya (Crain, 2007: 173). b. Tahap pra-operasional (2-7 tahun) Tahap praoperasional berlangsung kurang lebih usia 2 hingga 7 tahun. Dalam tahap ini anak mulai merepresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan, dan gambar. Anak-anak membentuk konsep yang stabil dan mudah bernalar. Pada saat egosentrisme dan keyakinan magis mendominasi dunia anak. Tahap ini diapat dibagi ke dalam dua subtahapan yaitu sub tahapan fungsi simbolik dan subtahapan pemikiran intuitif. Pada sub tahapan fungsi simbolik merupakan subtahapan pertama yang terjadi pada usia 2-4 tahun. Pada sub tahap ini anak memperoleh kemampuan untuk membayangkan penampilan objek yang tidak hadir secara fisik. Meskipun dalam sub tahap ini anak sudah memiliki kemajuan yang berarti tetapi pemikiran mereka masih terbatas, dua bentukketerbatasan ini adalah egosentrisme dan animisme. Egosentrisme 13

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah ketidakmampuan membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif oranglain. Sedangkan animisme adalah keyakinan bahwa benda-benda mati memiliki kualitas seolah-olah hidup. Pada subtahapan kedua adalah berpikir intuitif yang terjadi sekitar usia 4 sampai 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin mengetahui jawaban terhadap segala jenis pertanyaan (Santrock, 2012: 248). c. Tahap operasional konkret (7-11 tahun) Pada tahap ini, anak sudah dapat memandang dunia secara objektif, mulai berpikir secara operasional, mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, serta mempergunakan hubungan sebab akibat dapat memahami suatu konsep (Suparno, 2001: 69). Oprasional konkret adalah tindakan mental anak yang bisa bolak balik dan berkaitan dengan objek yang nyata dan konkret. Operasional konkret memungkinkan anak untuk mengkoordinasi beberapa karakteristik daripada berfokus pada suatu sifat benda (Santrock, 2009: 55). d. Tahap oprasional formal (11-dewasa) Tahap oprasional formal terjadi pada usia anak 11 tahun sampai dewasa. Pada tahap ini, pemikiran oprasional formal lebih bersifat abstrak dibandingkan pemikiran oprasional konkret. Pemahaman remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman yang konkret. Mereka mampu merekayasa menjadi seakan-akan benar-benar terjadi terhadap berbagai situasi atau peristiwa. Selain berpikir abstrak dan idealistik, anak cenderung memecahkan masalah melalui trial and error, anak juga mulai berpikir sebagaimana ilmuan berpikir, membuat rencana untuk memecahkan masalah (Santrock, 2012: 423). Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget, siswa kelas V SD berada di tahap ke 3 yaitu pada tahap operasional konkret yang terletak pada usia 7-11 tahun. Tahap oprasional konkret merupakan tahap dimana anak telah 14

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengembangkan sistem pemikiran logis yang dapat diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret (Suparno, 2001: 69). 2. Teori pembelajaran sosiohistoris Vygotsky Perkembangan anak bukan hanya melalui aspek kognitif saja melainkan juga melalui aspek sosial. Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) merupakan pemikir Rusia. Vygotsky tumbuh besar di Gomel, Rusia. Ayahnya adalah seorang eksklusif bank dan ibunya adalah seorang guru. Vygotsky sejak kecil sudah suka membaca mengenai sejarah, karya sastra dan puisi. Semakin dewasa pada tahun 1924 Vygotsky melakukan perjalan ke Leningrad untuk memberikan kuliah terbuka tentang psikologi. Vygotsky memahami manusia dalam konteks lingkungan sosial histori di mana Vygotsky memadukan dua garis utama perkembangan yaitu garis alamiah yang muncul dari dalam diri manusia dan garis sosial historis yang mempengaruhi manusia sejak kecil tanpa bisa dihindari (Crain, 2007: 224). Vygotsky menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep yang lebih sistematis, logis, rasional yang merupakan hasil dari dialog bersama orang lain. Vygotsky menyatakan orang lain dan bahasa memainkan peran kunci dalam perkembangan kognitif seorang anak. Keyakinan Vygotskty mengenai pentingnya pengaruh sosial khususnya pengajaran pada perkembangan kognitif anak tercermin pada konsep zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal adalah istilah Vygotsky untuk kiasan tugas-tugas yang sulit saat sang anak melakukannya sendiri, tetapi dapat dipelajari dengan bimbingan dan bantuan dari orang dewasa. Selain itu, Vygotsky berpendapat bahwa individu memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual (batas bawah) dan tingkat perkembangan potensial (batas atas). Batas bawah adalah tingkat keterampilan yang dapat diraih oleh anak yang dilakukan secara mandiri. Sementara, batas atas adalah tanggung jawab tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan pengajar yang kompeten (Santrock, 2009: 62) Zona yang terletak di antara kedua tingkat tersebut dinamakan dengan zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development). Dalam zona ini anak berada dalam proses perkembangan dalam proses perkembangan mereka perlu bantuan yang tepat dari guru dan teman sebaya yang lebih mampu mencapai zona 15

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tersebut (Santrock, 2014: 57). Dalam zona ini, pembelajaran terjadi dengan optimal jika didukung dengan suatu perancah (scaffolding). Perancah (scaffolding) sendiri ialah teknik yang digunakan oleh pendidik untuk membangun sebuah jembatan bantuan sementara yang diberikan kepada anak antara hal yang sudah diketahui anak dengan apa yang seharusnya anak ketahui. Scaffolding dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak yang dapat memungkinkan terjadinya perkembangan (Salkind, 2009: 381). Berikut ini adalah gambar zona perkembangan menurut Vygotsky adalah sebagai berikut. (Sumber : http://zakysa.blogspot.com/2013/03/bingung-sedihdan-hilang-semangat.html) Gambar 2. 2Zona Perkembangan Kognitif 2.1.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik (Davidson & Warsham, dalam Isjoni, 2013: 28). Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran kelompok yang menuntut diterapkannya pendekatan belajar di mana siswa sentris, humanistik, dan demokratis yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan lingkungan belajarnya (Djahri, dalam Wahyuni, 2016:38). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan pengajaran kepada siswa di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan serta bahan informasi yang direncanakan oleh siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran. 16

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe diantaranya Jigsaw, Student Teams Achievement Division (STAD), Group Investigation (GI), Teams Games Tournamnet (TGT), Numbered Head Together (NHT), Think Pair Share (TPS), dan sebagainya (Trianto, 2007: 49). 1. Perspektif teoretis model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif memiliki perspektif teoretis yang mendasari model pembelajaran kooperatif ini. Perspektif teoretis tersebut adalah sebagai berikut: a. Perspektif motivasional (motivational perspective) Perspektif motivasional berasumsi bahwa usaha-usaha kooperatif harus berdasarkan pada penghargaan kelompok (group reward) dan struktur tujuan (goal structure). Menurut perspektif motivasional, aktivitas model pembelajaran kooperatif dapat menciptakan kondisi di setiap anggota kelompok yang berkeyakinan bahwa semua anggota kelompok tersebut bisa sukses mencapai tujuan kelompoknya hanya jika temanteman yang lain juga sukses mencapai tujuan tersebut. Asumsi semacam ini tentu akan memotivasi anggota kelompok lain demi mencapai tujuan mereka bersama-sama. Bahkan mereka dapat mendorong temannya untuk memberikan usaha maksimal untuk mencapai tujuan tersebut (Huda, 2012: 34). b. Perspektif kohesi sosial (social cohesion perspective) Perspektif lain yang berhubungan dengan perspektif motivasional adalah perspektif kohesi sosial. Perspektif ini menegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif hanya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa jika dalam kelompok kooperatif terjalin suatu kohevisitas antar anggota di dalamnya. Kohevisitas ini dapat dimaknai sebagai suatu kondisi di mana setiap anggota kelompok saling membantu satu sama lain karena mereka merasa peduli pada yang lain dan ingin sama-sama sukses. Perspektif ini mirip dengan perspektif motivasional. Akan tetapi dalam perspektif motivasional siswa tidak sepenuhnya membantu pembelajaran teman-teman satu kelompoknya karena mereka menyadari bahwa diri mereka memiliki motivasi intrinsik yang berbeda satu sama lain. 17

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sebaliknya dalam perspektif sosial siswa sepenuhnya membantu pembelajaran tema-temannya karena mereka merasa peduli pada kesuksesan kelompoknya (Huda, 2012: 37). c. Perspektif kognitif (Cognitive perspective) Perspektif kognitif berpandangan bahwa interaksi antar siswa akan meningkatkan prestasi belajar mereka selama mereka mampu memproses informasi secara pikiran daripada secara motivasional. 2. Unsur pembelajaran model kooperatif Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran model kooperatif. Terdapat lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan. Lima unsur tersebut yaitu 1) positive interdependence atau saling ketergantungan positif yang menunjukkan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama mempelajari bahan yang ditugaskan dan kedua menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan. 2) personal responsibility atau tanggung jawab perseorangan yang berarti kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. 3) face to face promotion atau berarti interaksi promotif. Hal ini berarti salah satu unsur penting karena menghasilkan saling ketergantungan positif yang memiliki ciri saling membantu secara efektif dan efisien 4) keterampilan sosial digunakan untuk mengoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan, 5) pemrosesan kelompok merupakan tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan anggota kelompok yang mana siapa diantara anggota kelompok yang sangat membantu dan siapa yang tidak membantu (Suprijono, 2009: 58). Adapun unsur-unsur dasar model pembelajaran kooperatif yang lain yaitu 1) siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompok, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan 18

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Rusman, 2017: 300). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka unsur dalam model pembelajaran kooperatif yaitu siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga orang lain, siswa memiliki tujuan yang sama dalam anggota kelompoknya, siswa diberikan evaluasi atau penghargaan yang juga diberikan untuk semua anggota, siswa memiliki keterampilan sosial untuk belajar bersama mencapai tujuannya. 3. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif Ciri-ciri model model pembelajaran kooperatif adalah 1) pembelajaran secara tim, 2) manajemen kooperatif, 3) kemauan untuk bekerja sama, 4) keterampilan bekerja sama (Rusman, 2017: 207). Sedangkan Taniredja, dkk (2014: 59), mengatakan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah 1) belajar bersama teman, 2) selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, 3) saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok, 4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, 5) belajar dalam kelompok kecil, 6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, 7) keputusan tergantung pada siswa sendiri, dan 8) siswa menjadi aktif. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat dilihat bahwa ciri-ciri model model pembelajaran kooperatif adalah 1) pembelajaran di lakukan dalam kelompok, 2) kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, 3) apabila memungkinkan, kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda. 4. Manfaat model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif memiliki berbagai manfaat, yaitu meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa. Selain itu mereka juga menjabarkan manfaat model pembelajaran kooperatif sebagai berikut. 1) siswa akan memperoleh hasil yang maksimal, 2) siswa akan memiliki sikap harga diri yang lebih tinggi dan memiliki motivasi yang lebih besar untuk belajar, 3) siswa menjadi lebih peduli kepada teman-temannya, dan akan terbangun sikap ketergantungan yang positif dalam belajar, 4) meningkatkan rasa toleransi antar 19

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa yang memiliki latar belakang, ras, dan etnis yang berbeda (Sadker bersaudara, dalam Huda, 2012: 66). Manfaat model pembelajaran kooperatif diantaranya adalah 1) meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, 2) memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandanganpandangan, 3) memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, 4) memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen, 5) menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri, 6) membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa, 7) mengajarkan berbagai keterampilan sosial untuk memelihara hubungan saling membutuhkan, 8) meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama, 9) meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif, 10) meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik, dan 11) meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas (Sugiyanto, 2009: 43). Selain itu, menurut Daryanto & Muljo (2012: 242) mengatakan bahwa manfaat model pembelajaran kooperatif adalah 1) meningkatkan hasil belajar siswa, 2) dapat menerima berbagai macam keberagaman dari teman-temannya, serta 3) pengembangan keterampilan. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif memberikan berbagai manfaat yaitu 1) meningkatkan kemampuan kognitif siswa, 2) meningkatkan rasa persaudaraan diantara siswa dan teman-temannya, dan 3) mengembangkan keterampilan dalam diri siswa. 2.1.1.3 Tipe Teams Games Tournament (TGT) Teams Games Tournament (TGT) memiliki banyak kesamaan dinamika dengan STAD tetapi menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah satu sama lain, tetapi waktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh membantu, memastikan telah terjadi tanggungjawab individual. Materi yang sama digunakan dalam STAD dapat digunakan juga 20

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam TGT. Sebagian guru lebih memilih TGT karena faktor menyenangkan dan kegiatannya, sementara yang lain memilih yang murni bersifat kooperatif saja yaitu STAD, dan banyak juga yang mengkombinasi keduanya (Slavin, 2008 : 14). 1. Pengertian teams games tournament(TGT) Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan lima sampai enam orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda (Rusman, 2017: 224). 2. Langkah-langkah tahapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament Dua bentuk model pembelajaran kooperatif yang paling tua dan paling banyak diteliti adalah STAD dan TGT. STAD dan TGT memang memiliki kemiripan, satu-satunya perbedaan antara keduanya adalah STAD mengunakan kuis-kuis individual pada akhir pelajaran sementara TGT menggunakan gamegame akademik (Slavin, 2008: 143). Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam teams games tournament adalah sebagai berikut : a. Presentasi di kelas (Class presentation) Materi diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pelajaran langsung atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual (Slavin, 2008: 143). Presentasi di kelas merupakan pembelajaran langsung yang dipimpin oleh guru. Presentasi ini dilakukan untuk menerangkan materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa oleh guru. b. Tim (Teams) Tim terdiri atas empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Setelah guru selesai menyampaikan materi, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya. Tim ini berfungsi untuk memastikan semua anggota tim benar-benar belajar, khususnya untuk mempersiapkan mengerjakan kuis (Slavin, 2008: 144). 21

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Game (Games) Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperoleh dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Game dimainkan di atas meja turnamen terdiri atas siswa dari perwakilan tim yang berbeda. Seorang siswa mengambil sebuah kartu bernomor dan harus menjawab pertanyaan sesuai nomor yang tertera pada kartu tersebut. Terdapat aturan tentang penantang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban masing-masing (Slavin, 2008: 166). d. Turnamen (Tournament) Turnamen berlangsung setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melakukan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen pertama, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen. Kompetisi ini memungkinkan semua siswa untuk berkontribusi terhadap skor tim mereka. Setelah turnamen pertama, siswa akan bertukar meja tergantung pada kinerja mereka pada turnamen terakhir. Pemenang pada tiap meja “naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi; skor tertinggi kedua tetap tinggal pada meja yang sama; dan yang skornya paling rendah “diturunkan”. Dengan cara ini, jika awalnya siswa sudah salah ditempatkan, untuk seterusnya mereka akan terus 20 dinaikkan atau diturunkan sampai mereka mencapai tingkat kinerja mereka (Slavin, 2008: 166). e. Rekognisi tim (Team recognition) Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu (Slavin, 2008: 146). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diartikan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan lima sampai enam orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda dengan 5 langkah yaitu presentasi kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. Berikut ini adalah gambar penempatan pada meja turnamen saat menerapkan model model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (Slavin, 2008: 168). 22

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TEAM A TEAM B TEAM C (Sumber : http://zakwaan-priaji.blogspot.com/2013/10/langkah-langkah-cooperativelearning.html) Gambar 2. 3Penempatan pada meja tounamen 3. Manfaat tipe Teams Games Tournament Manfaat penggunaan tipe Teams Games Tounament adalah sebagai berikut 1) siswa dapat menikmati bagaimana suasana dalam tournament di dalam kegiatan pembelajaran, 2) siswa berkompetisi dengan kelompok yang memiliki kemampuan setara, 3) kompetisi dalam TGT dirasa lebih fair dibandingkan dengan pembelajaran tradisional pada umumnya (Huda, 2012: 117) Selain itu, manfaat lain dari Teams Games Tournament adalah 1) di dalam kelas kooperatif siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapat, 2) rasa percaya diri siswa menjadi lebih tinggi, 3) motivasi belajar siswa bertambah, 4) pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang di pelajari, 5) perilaku menggangu terhadap siswa lain menjadi lebih kecil, dan 6) meningkatkan rasa simpati antar siswa dan kepada guru (Taniredja, Faridli, & Harmianto, 2011: 72). 2.1.1.4 Kemampuan Berpikir Kritis Berpikir merupakan suatu proses kognitif atau suatu aktivitas mental yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Proses berpikir memiliki keterkaitan dengan pola perilaku di mana keduanya memerlukan keterlibatan aktif pemikir melalui hubungan kompleks yang berkembang melalui kegiatan berpikir. Berdasarkan prosesnya berpikir dapat dikelompokkan dalam berpikir dasar dan berpikir kompleks. Berpikir dasar merupakan proses berpikir dari sederhana menuju yang kompleks. Berpikir kompleks merupakan proses berpikir tingkat tinggi yang terdiri dari berpikir kritis, berpikir kreatif, pemecahan masalah dan 23

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengambilan keputusan (Costa dalam Tawil & Liliasari, 2013: 4). Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan membahas mengenai berpikir kritis. Berpikir kritis adalah sebuah proses yang jelas dan terarah sebagai bentuk dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah (Johnson, 2007: 185). Sedangkan Silverman dan Smith mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir yang memiliki maksud, masuk akal, dan berorientasi tujuan serta kecakapan untuk menganalisis suatu informasi dan ide secara hati-hati dan logis dari berbagai macam perspektif (Tawil & Liliasari, 2013: 8). Facione (1990) mengemukakan bahwa kegiatan berpikir kritis berarti kegiatan membuat penilaian yang menghasilkan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi dan menarik kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria atau konteks tertentu yang digunakan sebagai penilaian untuk tujuan tertentu. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat dipahami bahwa berpikir kritis adalah kegiatan yang menganalisis informasi dan ide secara hati-hati dan logis yang digunakan sebagai penilaian untuk tujuan tertentu untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan dari bukti tertentu. Tujuan berpikir kritis adalah memaksimalkan kemampuan siswa untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Kelebihan dari berpikir kritis adalah 1) memungkinkan siswa untuk mempelajarai masalah secara sistematis, 2) memungkinkan siswa untuk dapat menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, 3) memungkinkan siswa untuk dapat merumuskan pertanyaan yang inovatif, dan 4) memungkinkan siswa untuk merancang solusi berdasarkan hasil pemikirannya sendiri (Johnson, 2007: 201). Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa pentingnya kemampuan berpikir kritis khususnya dalam kehidupan manusia. Kemampuan berpikir kritis tidak dapat berkembang seiring dengan perkembangan jasmani tiap individu. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah secara kreatif dan berpikir logis sehingga menghasilkan pertimbangan dan keputusan yang tepat (Tinio, dalam Farikiyah, 2014). Facione (1990: 6), mengungkapkan kecakapan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu 24

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dimensi kognitif dan dimensi disposisi afektif. Berikut tabel yang berisi dimensi kognitif dari kecakapan berpikir kritis. No 1 2 3 4 5 6 Tabel 2. 1Dimensi Kognitif dan Kecakapan berpikir Kritis Skills Sub-skills Membuat kategori Memahami arti Menginterpretasi Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis Menganalisis argumen-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Mengevaluasi Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menarik Menerka alternatif-alternatif Kesimpulan Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Mengeksplanasi Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Refleksi diri Meregulasi diri Koreksi diri Sedangkan dimensi disposisi akfetif dari kecakapan berpikir kritis dapat berupa sikap rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai permasalahan, berusaha untuk selalu mendapatkan informasi yang baik, percaya akan kemampuan diri sendiri untuk bernalar, pikiran terbuka terhadap kenyataan pandangan yang berbeda-beda, fleksibilitas untuk mempertimbangkan alternatif, memahami opini orang lain dan menghargai penalaran (Facione, 1990: 13). 2.1.1.5 Kemampuan Mengeksplanasi Kemampuan mengeksplanasi merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan masalah, menjelaskan dan memberikan suatu alasan dari hasil pemikiran sendiri maupun orang lain tentang suatu konsep, metode, kriteria dan konteks yang digunakan dalam menarik kesimpulan (Facione, 2015). Kemampuan mengeksplanasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen-argumen yang digunakan. Contoh dari menjelaskan hasil penalaran adalah menjelaskan alasan mengapa memegang keyakinan tertentu, menyampaikan penerapan suatu gagasan di masa yang akan datang, menjelaskan temuan-temuan dari hasil penelitian, menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan, merumuskan pernyataan atau deskripsi yang tepat dari hasil menganalisis, mengevaluasi, 25

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menarik kesimpulan. Kemudian contoh pada bagian membenarkan prosedur yang digunakan adalah menguraikan langkah-langkah yang teliti dalam menyelesaikan suatu permasalahan, menjelaskan pilihan penggunaan alat ukur tertentu untuk analisis data, menjelaskan standar yang digunakan untuk menilai sumber informasi, menjelaskan konsep kunci yang berguna untuk penelitian lebih lanjut, menunjukkan bahwa syarat-syarat metode tertentu sudah terpenuhi, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, memaparkan grafik yang menunjukkan penggunaan bukti kuantitatif. Contoh dari memaparkan argumen-argumen yang digunakan adalah menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu, mengantisipasi dan menjawab kemungkinan-kemungkinan kritik yang akan muncul dan akan diucapkan, memaparkan argumen-argumen yang pro maupun kontra terhadap pemikiran sendiri sebagai cara berpikir dialektis, memberikan alasan-alasan mengapa menerima klaim tertentu, menjawab keberatan-keberatan terhadap metode, konsep, kriteria, atau bukti yang digunakan dalam menganalisis, menyimpulkan dan mengevaluasi suatu argumen. 2.1.1.6 Kemampuan Meregulasi Diri Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2015: 5). Facione membagi kecakapan regulasi diri menjadi 2 bagian yaitu refleksi diri dan koreksi diri. Refleksi diri misalnya dilakukan dengan menguji pandangan sendiri terhadap masalah-masalah yang kontroversial untuk mengetahui apakah posisi yang dipegangnya itu mengandung bias pribadi, menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan apakah ada yang terlalu ditonjolkan sehingga berat sebelah dan tidak seimbang. Kemudian, menguji kembali apakah fakta, opini, atau asumsi yang digunakan untuk mendukung sudut pandang tertentu sungguh dapat diterima, menilai kembali proses penalaran yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverifikasi hasil, aplikasi, dan 26

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelaksanaan kegiatan berpikir, membuat penilaian diri yang objektif terhadap gagasan sendiri. Serta melihat apakah ada ketimpangan-ketimpangan berpikir yang berasal dari prasangka, steriotip atau emosi yang tidak rasional, dan menilai motivasi, nilai, sikap atau minat apakah adil, objektif, hormat pada kebenaran, dan rasional. Kedua yaitu koreksi diri misalnya dilakukan dengan berani mengoreksi kelemahan-kelemahan metodologi atau data-data yang digunakan, merencanakan prosedur yang masuk akal untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan, dan memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya (Facione, 1990: 10) 2.1.1.7 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam Istilah Ilmu Pengetahuan Alam dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains berasal dari bahasa latin yaitu scientia yang berarti “saya tahu” dan science dalam bahasa Inggris yang berarti pengetahuan. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan alam. Ilmu yang mempelajari segala peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini (Samatowa, 2011: 3). Pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip, dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah (Mariana, 2009: 13). Sains (IPA) merupakan pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspeknya yang bersifat empiris (Putra, 2013: 51). Dalam pembelajaran IPA, siswa dilatih untuk belajar mengeksplorasi lingkungan, dan melakukan penemuan-penemuan ilmiah. Ruang lingkup bahan kajian dalam IPA untuk SD/MI meliputi beberapa aspek yaitu makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/materi beserta sifat dan kegunaannya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta (BSNP, 2006: 167). 2.1.1.8 Materi Pembelajaran Materi pembelajaran pada penelitian ini diambil dari Tema 2 yaitu “Udara bersih bagi kesehatan” dengan subtema 1 “Cara tubuh Mengelola Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 2 27

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada kelas V, yaitu pada kompetensi dasar 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Seperti manusia, hewan juga bernapas untuk mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida. Sistem pernapasan pada hewan berbeda dari manusia. Bahkan, sistem pernapasan pada hewan pun berbeda-beda sesuai jenisnya (Kemendikbud, 2017: 4). Berdasarkan jenisnya, cacing tidak mempunyai alat pernapasan khusus, cacing bernapas melalui permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen dari udara. Berbeda dengan alat dan sistem pernapasan pada serangga (Insekta). Serangga bernapas dengan mengisap oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Alat pernapasan serangga berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh.Kemudian, alat pernapasan pada ikan berupa insang. Insang berbentuk lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Insang terdapat tepat di belakang rongga mulut pada kedua sisi kepala ikan. Insang juga berfungsi sebagai alat pengeluaran garam-garam dan sebagai penyaring makanan. Selain itu, alat dan sistem pernapasan pada hewan amfibi ada dua. Katak termasuk hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Saat masih berupa kecebong, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. Insang dalam akan menyusut seiring mulai berfungsinya paru-paru dan katak muda pun tumbuh menjadi katak dewasa. Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru. Kemudian, alat dan sistem pernapasan pada reptil seperti ular, kadal, cecak, buaya, dan biawak. Reptil bernapas mengunakan paru-paru.Burung juga bernapas dengan sepasang paru-paru. tidak menghirup udara. Udara diembuskan dari kantong udara ke paru-paru. Tetapi yang membedakannya ialah burung (aves) memiliki kantong udara. Kantong udara burung berfungsi sebagai tempat menyimpan udara. Saat tidak terbang, burung menghirup udara sebanyakbanyaknya. Udara yang dihirup itu kemudian disimpan dalam kantong udara. Saat terbang, burung tidak menghirup udara melainkan mengambil dari kantong udara.Selain burung dan repitil, hewan mamalia juga bernapas menggunakan paru-paru. Ada dua jenis mamalia, yaitu mamalia darat dan mamalia air. Alat pernapasan mamalia darat terdiri atas hidung, pangkal tenggorok, batang tenggorok, dan paru-paru. Pada mamalia air, hidungnya dilengkapi dengan katup. 28

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saat mamalia tersebut menyelam, katup akan menutup. Sebaliknya, saat mamalia tersebut muncul ke permukaan air, katup terbuka. Saat itulah mamalia air tersebut akan menghirup oksigen serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. 2.1.2 Hasil Penelitian yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian tentang pembelajaran kooperatif tipe TGT Widayanti dan Slameto (2016) melakukan penelitian dengan mendeskripsikan tujuan penelitian untuk membuktikan perbedaan yang signifikan antara penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament berbantuan permainan dadu dengan metode pembelajaran diskusi terhadap pencapaian hasil belajar IPA pada siswa kelas 3 SDN Lemahireng 02 Bawen semester II tahun ajaran 2015/2016 sehingga siswa menjadi tertarik dan merasa senang mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament berbantuan permainan dadu dengan metode pembelajaran diskusi terhadap pencapaian hasil belajar IPA pada siswa kelas 3 SDN Lemahireng 02 Bawen. Hal ini dikarenakan siswa tertarik dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran dan dibuktikan dengan hasil rata-rata nilai posttest setelah diberikan perlakuan menggunakan modelTeams Games Tournament berbantuan permainan dadu yaitu sebesar 72,1 dibandingkan dengan rata-rata pretest sebelum diberikan perlakuan yaitu sebesar 57. Novianti, I Ketut dan Gede (2017) melakukan penelitian yang mendeskirpsikan tujuan yaitu untuk mengetahui perbedaan yang signifikan penguasaan kompetensi IPS pada siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) bebantuan media question card dengan siswa dengan pembelajaran konvensional di kelas IV Gugus Letkol Wisnu Denpasar tahun ajaran 2016/1017. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy eksperiment dengan desain nonequivalent control group design. Populasi yang digunakan dari penelitian tersebut adalah seluruh siswa kelas IV Gugus letkol Wisnu Denpasar dengan jumlah 345 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perpedaan yang signifikan penguasaan kompetensi pengetahuan IPS antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams 29

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Games Tournament (TGT) berbantuan media question card dengan siswa yang menggunakan dengan pembelajaran konvensional. 2) Rerata gain score penguasaan kompetensi pengetahuan IPS kelompok eksperimen yaitu 0,39 dan 0,24 untuk kelompok kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media Question Card berpengaruh terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan IPS siswa kelas IV Gugus Letkol Wisnu Denpasar tahun ajaran 2016/1017. Ismah dan Ernawati (2018) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP N 3 Kasihan ditinjau dari kerjasama siswa. Penelitian ini adalah quasi eksperiment. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes, teknik angket, dan teknik dokumentasi. Hasil perhitungan diperoleh Fhitung = 9,315 dengan p = 0,004 dan rerata hasil belajar sebesar 20,192, rerata hasil angket sebesar 77,846. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan rerata hasil belajar dan hasil angket, ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VIII di tinjau dari kerjasama siswa. 2.1.2.2 Penelitian tentang Kemampuan Berpikir Kritis Fuad, Zubaidah, Mahanal, dan Suarsini (2016) meneliti tentang meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP berdasarkan ujian tiga model pembelajaran yang berbeda. Tujuan penelitian adalah 1) untuk mengetahui keterampilan berpikir kritis di antara siswa yang diberi tiga model pembelajaran yang berbeda. Adapun model pembelajaran tersebut adalah inkuiri dikombinasikan dengan mind map, model inkuiri, dan model konvensional. 2) Untuk menemukan perbedaan keterampilan berpikir kritis di antara siswa laki-laki dan perempuan. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan design pretest posttest nonequivalent control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan keterampilan yang berbeda dalam berpikir kritis dengan model pembelajaran yang berbeda. Keterampilan berpikir kritis dengan hasil tertinggi dicapai oleh siswa yang diberi model pembelajaran ikuiri dikombinasikan dengan mind map. Selain itu, ada perbedaan dalam kemampuan berpikir siswa laki-laki dan perempuan. 30

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Retnosari, Susili, dan Suwono (2016) meneliti tentang pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan multimedia interaktif terhadap berpikir kritis siswa kelas IX SMA Negeri di Bojonegoro. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaruh inkuiri terbimbing berbantuan multimedia interaktif terhadap keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini merupakan quasi experiment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkuiri terbimbing berbantuan multimedia interaktif berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil uji LSD menunjukkan keterampilan berpikir kritis siswa meningkat sebesar 400,2% pada kelas inkuiri terbimbing dan 416,8% pada kelas inkuiri terbimbing berbantuan multimedia. Jariyah (2017) meneliti tentang efektivitas pembelajaran inkuiri dipadu sains teknologi masyarakat (STM) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui rerata peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum dan sesudah melakukan pembelajaran inkuiri dipadu STM, serta mengetahui tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran inkuiri dipadu STM. Penelitian ini adalah “pre eksperimental design” dengan desain “the group pretestt posttest design”. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik SMP Negeri 3 Peterongan. Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas VII tahun ajaran 2013-2014, yaitu kelas VII D sebanyak 33 orang dan kelas VII J sebanyak 27 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah penerapan bahan ajar berbasis inkuiri dipadu STM. Berdasarkan hasil angket respon peserta didik diperoleh bahwa peserta didik memberikan respon yang positif terhadap proses pembelajaran inkuiri dipadu STM. Penelitian-penelitian di atas menggunakan populasi siswa SD, SMP, dan SMA. Dari penelitian-penelitian sebelumnya terdapat banyak model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament yang digunakan sebagai variabel independen dalam penelitian. Dalam penggunaannya, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap variabel dependen yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian yang berbeda dan belum banyak diteliti dari penelitian yang sudah dilakukan yaitu 31

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI suatu penelitian eksperimen untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament terhadap kemampuan mengeksplanasidan meregulasi diri siswa kelas V di SD. 32

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature Map Penelitian tentang Teams Games Tournament Penelitian tentang berpikir kritis Widayanti & Slameto (2016) Fuad, Zubaidah, Mahanal & Suarsini (2016) Penerapan Teams Games Tournament Terhadap Hasil Belajar IPA Kemampuan Berpikir Kritis Berdasarkan Ujian Tiga Model Pembelajaran Yang Berbeda. Novianti, I Ketut & Gede (2017) Retnosari, Susili & Suwono (2016) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Terhadap IPSPenguasaan Kompetensi Pengetahuan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Multimedia Interaktif Terhadap Berpikir Kritis . Ismah & Ernawati (2018) Jariyah (2017) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Terhadap Hasil Belajar IPA Ditinjau Dari Kerjasama Siswa Pembelajaran Inkuiri Dipadu STM Terhadap Berpikir Kritis Pelajaran IPA. Yang akan diteliti: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT - Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi diri Gambar 2. 4Literature map 33

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Teori perkembangan anak menurut Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak terbagi dalam 4 tahap yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal. Perkembangan kognitif anak usia SD berada pada tahap oprasional konkret (7 tahun sampai 11 tahun). Pada tahap ini ditandai dengan adanya penalaran yang logis namun hanya dalam situasi yang nyata. Selain Piaget, Vygotsky memiliki pandangan bahwa perkembangan kognitif dan sosial pada anak akan berjalan secara berdampingan. Vygotsky mengemukakan bahwa perkembangan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial. Interaksi sosial berperan penting dalam perkembangan kognisi. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan teori konstruktivisme adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif memiliki berbagai macam jenis-jenis. Salah satu tipe model kooperatif adalah Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran kooperatif dengan tipe Teams Games Tournament (TGT) merupakan salah satu model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil dan setiap kelompok akan bersaing untuk menjadi kelompok terbaik. Proses belajar dalam kelompok heterogen melibatkan siswa untuk saling berkomunikasi, saling berbagi, dan saling melengkapi kemampuannya dengan siswa lain. Pada meja tournament siswa mengumpulkan skor sebanyak-banyaknya demi kelompoknya, sehingga kelompok dengan skor terbanyak akan mendapatkan sebuah penghargaan. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan dan khususnya dalam kemampuan eksplanasi dan regulasi diri.Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang kuat. Indikator untuk kemampuan mengeksplanasi yaitu menjelaskan pernyataan yang tepat dari hasil analisis, mejelaskan alasan mengambil posisi tertentu dan mejelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. 34

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kemampuan meregulasi diri yaitu kemampuan yang secara sadar memonitor aktifitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut dan hasilnya sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. Indikator dalam kemampuan meregulasi diri yaitu membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri, menilai kembali data yang digunakan dan menguji pandangan sendiri terhadap suatu masalah. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran di Sekolah Dasar. Salah satu mata pelajaran yang perlu dikritisi adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. IPA memiliki cakupan materi yang luas. Ruang lingkup IPA untuk SD terbagi dalam beberapa konsep. Salah satu konsep yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu materi mengenai alat pernapasan manusia dan hewan. Materi yang dipilih dalam pembelajaran adalah alat pernafasan hewan. Kompetensi dasar yang dipilih adalah 3.2 menjelaskan organ pernafasan dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Kemampuan berpikir kritis yang berkembang akan membuat anak mampu merefleksikan permasalahan secara mendalam, melihat sesuatu dari berbagai perspektif, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dan tidak menerima ide begitu saja. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran IPA di SD disebabkan pembelajaran IPA memiliki cakupan materi yang luas dan dapat dikritisi. Jika model pembelajaran kooperatif tipe TGT diterapkan pada pembelajaran di SD kelas V pada materi sistem pernapasan hewan maka penerapan model TGT akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa yaitu mengeksplanasi dan meregulasi diri. 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 2.3.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament(TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 35

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab III ini peneliti membahas tentang jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design tipe pretest-posttest non equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Penelitan eksperimental adalah satu-satunya metode penelitian yang dapat menguji hipotesis menyangkut hubungan kausal atau hubungan sebab akibat (Gay dalam Emzie, 2009: 64). Seorang filsuf Inggris bernama John Stuart Mill (1806-1873) menjelaskan hubungan sebab akibat jika 1) sebab terjadi mendahului akibat, 2) sebab memang sungguh memiliki hubungan rasional dengan akibat, dan 3) tidak ditemukan faktor lain (no plausible alternative explanation) yang mempengaruhi akibat selain sebab yang dimaksud (Shadish, Cook, & Campbell, 2002: 6). Quasi experimental design merupakan desain penelitian yang mempunyai kelompok kontrol, namun tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabelvariabel luar yang mempengaruhi eksperimen (Sugiyono, 2015: 114). Sebuah eksperimen melibatkan perbandingan pengaruh dari perlakuan (treatment) tertentu dengan perlakuan yang berbeda atau tanpa perlakuan (Best & Kahn, 2006: 166). Kelompok pembanding tidak diberikan perlakuan khusus selain dengan model tradisional berupa ceramah karena memang hanya diperlukan sebagai pembanding bagi kelompok-kelompok lain yang diberi perlakuan. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu perlakuan (Taniredja & Mustafidah, 2011: 53). Penelitian tipe pretest-posttest non equivalent group design terdiri dari dua kelompok yaitu, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penentuan kelompok pada penelitian quasi-experimental tidak dilakukan secara random tetapi menggunakan kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menerima perlakuan atau 36

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai kelompok pembanding dari kelompok yang menerima perlakuan berbeda. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang menerima perlakuan (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 266). Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol akan diberipretest dan posttest. Pretest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal dari masing-masing kelompok atau untuk memeriksa apakah ada perbedaan kemampuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Lodico, Spaulding, & Voegtle, 2006: 185). Sedangkan posttest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang sudah dilakukan pada kelompok eksperimen (Lodico, Spaulding, & Voegtle, 2006: 186). Champbell dan Stanley menjelaskan pengaruh perlakukan dihitung dengan menggunakan tiga cara, yaitu 1) skor posttest dikurangi skor pretest pada kelompok eksperimen menghasilkan skor 1, 2) skor posttest dikurangi skor pretest pada kelompok kontrol menghasilkan skor 2, dan 3) skor 1 dikurangi skor 2 (Champbell & Standley, dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276). Berdasarkan pengertian dari Champbell dan Standley di atas, maka pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus: (O2 - O1) - (O4 - O3) Gambar 3. 1 Rumus Pengaruh Perlakuan Jika hasil perhitungan bernilai lebih besar dari nol, maka ada perbedaan, apakah perbedaannya signifikan diketaui dengan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Jika hasilnya signifikan maka ada pengaruh perlakuan. Jika hasilnya tidak signifikan maka tidak ada pengaruh. Desain quasi experimental design dengan tipe pretest-posttest non equivalent group design yang paling umum digunakan dalam penelitian pendidikan sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Eksperimental O1 X O2 -----------------------Kontrol O3 O4 Gambar 3. 2Desain Penelitian 37

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: O1 = Rerata skor pretest pada kelompok eksperimen O2 = Rerata skor posttestpada kelompok eksperimen X = Perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament O3 = Rerata skor pretest pada kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttestpada kelompok kontrol Garis putus-putus pada gambar desain penelitian pretest-posttest nonequivalent group design mempunyai arti bahwa penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Garis putus-putus tersebut juga memiliki fungsi untuk memisahkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di salah satu sekolah dasar swasta di Yogyakarta yang beralamat di Jl. Kranggan No. 11, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233. SD tersebut memiliki guru dan karyawan di sebanyak 37 orang. SD tersebut memiliki kelas sebanyak VI kelas, mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI yang terdiri dari 14 kelas pararel. Kurikulum yang diterapkan adalah Kurikulum 2013. SD tersebut memiliki beberapa fasilitas yang dapat mendukung proses pembelajaran. Fasilitas tersebut di antaranya adalah perpustakaan, kamar mandi guru, kamar mandi siswa perempuan, kamar mandi siswa laki-laki, laboratorium komputer, halaman sekolah, tempat parkir. Peneliti memilih SD tersebut sebagai tempat penelitian karena SD ini mempunyai kelas paralel sehingga tepat untuk penelitian eksperimental. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Waktu pengambilan data disesuaikan dengan jadwal kalender pendidikan SD yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan penelitian. Penelitian dilakukan selama kurun waktu 2 minggu. Penelitian eksperimental dilakukan dalam waktu relatif singkat 38

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa history, mortality, dan maturation (Krathwohl, 2004: 547). Jadwal pengambilan data yang dilakukan peneliti di SD ditunjukkan pada tabel berikut. Kelompok Kontrol Eksperimen Alokasi waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit Tabel 3. 1Waktu penelitian Hari, tanggal Selasa, 14 Agustus 2018 Selasa, 4 September 2018 2 x 35 menit Kamis, 6 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 7 September 2018 Jumat, 14 September 2018 Selasa, 14 Agustus 2018 Selasa, 4 September 2018 2 x 35 menit Jumat, 7 September 2018 2 x 35 menit Senin, 10 September 2018 2x 35 menit 2 x 35 menit Rabu, 12 September 2018 Selasa, 18 September 2018 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Materi Mengerjakan pretest Pertemuan I (Alat pernapasan hewan mamalia, reptil, serangga dan unggas) Pertemuan II (Pernapasan hewan amfibi, cacing, ikan) Postest I Postest II Mengerjakan pretest Pertemuan I (Alat pernapasan hewan mamalia, reptil, serangga dan unggas) Pertemuan II (Pernapasan hewan amfibi, cacing, ikan) Pertemuan III Pelaksanaan TGT PostestI Postest II Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010: 173). Populasi adalah sebuah kelompok (murid, guru, atau yang lainnya) yang memiliki karakteristik tertentu (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 92). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 80). Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa populasi merupakan wilayah generalisasi dari keseluruhan subjek atau objek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu untuk diteliti olah peneliti. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas V di salah satu SD di Yogyakarta yang berjumlah 42 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tertentu (Sugiyono, 2016: 81). Sampel adalah sebagian atau wakil yang 39

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diteliti (Arikunto, 2010: 174). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia bagi penelitian. Peneliti tidak memilih sampel secara acak namun menggunakan kelas yang sudah ada (Creswell, 2015: 294). Sampel ditentukan dengan cara diundi yang disaksikan oleh guru kelas V. Hasil pengundian terpilih kelas V.1 dengan jumlah 21 siswa sebagai kelompok kontrol dan kelas V.2 dengan jumlah 21 siswa sebagai kelompok eksperimen. Pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan dilaksanakan oleh guru yang sama. Hal ini dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa implementasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 3.4 Variabel Penelitian Variabel adalah suatu konsep atau gagasan yang difokuskan oleh peneliti menjadi sebuah objek penelitian yang ingin diteliti (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel adalah suatu konsep atau gagasan yang difokuskan menjadi sebuah objek penelitian (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa sja yang ditetakan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 38). 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai vaiabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2012: 39). Variabel ini disebut variabel bebas karena tidak tergantung dengan ada tidaknya variabel lain atau biasa disebut stimulus atau pengaruh. Dalam penelitian bidang pendidikan, sebuah variabel independen berupa metode belajar, jenis materi ajar, atau a reward (Best & Kahn, 2006: 168). Variabel independen dari penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). 40

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.2 Variabel dependen Variabel dependen adalah variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas (Jonathan, 2006: 54). Variabel dependen sering di sebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering di sebut variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengarui atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012: 39). Variabel dependen adalah variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas (Sarwono, 2006: 54). Variabel dependen pada penelitian ini adalah kemampuan mengeskplanasi dan kemampuan regulasi diri. Variabel penelitian dapat dilihat pada bagan berikut. Variabel independen Variabel dependen Kemampuan mengeskplanasi Teams Games Tournament (TGT) Kemampuan meregulasi diri Gambar 3. 3PemetaanVariabel Penelitian 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2014:127). Tes diartikan juga sebagai sejumlah pertanyaan yang harus diberi tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes (Mansur dkk, 2009: 21). Dalam penelitian ini menggunakan tes dalam bentuk uraian atau esai. Tes uraian atau esai adalah tes yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengorganisasikan jawabannya secara bebas sesuai dengan kemampuannya dengan bahasannya sendiri atas sejumlah item yang relatif kecil dan tuntutan jawaban yang benar, relevan, lengkap, berstruktur, jelas (Masidjo, 2010: 46). Bentuk tes esai memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan bentuk tes esai adalah 1) tes esai tepat untuk menilai proses berpikir yang 41

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi dan tidak semata-mata hanya mengingat dan memahami fakta atau konsep saja, 2) tes esai memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan jawabannya ke dalam bahasa yang runtut sesuai dengan gayanya sendiri, 3) tes esai memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempergunakan pikirannya sendiri dan kurang memberikan kesempatan untuk bersikap untung-untungan, 4) bentuk tes esai mudah disusun, maka tidak menghabiskan banyak waktu (Nurgiyantoro, 2010: 118). Kelemahan dari bentuk tes esai yaitu 1) kadar validitas dan reliabilitas yang rendah, 2) keterbatasan bahan yang diteskan, dapat terjadi hal-hal yang juga bersifat kebetulan, 3) penilaian yang dilakukan terhadap jawaban peserta didik tidak mudah ditentukan standarnya, 4) membutuhkan waktu yang relatif lama untuk memeriksa pekerjaan peserta didik (Nurgiyantoro, 2010: 118). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan soal esai melaui pretest dan posttes baik pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilakukan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Setelah data diperoleh dari pretest, pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan (treatment) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan khusus. Selanjutnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan posttest I. Posttest I diberikan untuk mengukur ada tidaknya pengaruh dari pemberian perlakuan (treatment) pada kelompok eksperimen dengan yang tidak diberikan perlakuan (treatment) pada kelompok kontrol. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut dengan variabel penelitian (Sugiyono, 2012: 148). Instrumen penelitian ini terdapat 18 soal esai yang masing-masing nomor mewakili tingkat pemahaman yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeskplanasi dan meregulasi diri. Tes esai yang digunakan oleh peneliti memuat dua kemampuan yaitu kemampuan mengeskplanasi dan kemampuan 42

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meregulasi diri yaitu soal nomor 5a, 5b, 5c, 6a ,6b, dan 6c. Berikut adalah matriks pengembangan instrumen. No. Variabel Tabel 3. 2Matriks Pengembangan Instrumen Aspek Indikator Hasil penalaran 1 Mengeskplanasi Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. 5b Membenarkan prosedur Menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. 5c Memaparkan argumen-argumen Merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri. 6a Refleksi diri 2 Meregulasi diri Koreksi diri 3.7 Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar Nomor item soal 5a Memastikan apakah koreksikoreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya 6b 6c Teknik Pengujian Instrumen Sebelum diberikan kepada responden yang akan digunakan untuk penelitian, instrumen penelitian ini perlu diuji coba. Teknik pengujian instrumen adalah untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Teknik pengujian instrumen yaitu uji validitas dan uji reliabilitas. Berikut adalah penjabaran uji validitas dan uji reliabilitas instrumen. 3.7.1 Uji Validitas Validitas suatu instrumen adalah suatu derajat yang menunjukkan di mana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur (Rachman, 1993: 94). Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid (Sugiyono, 2012: 121). Validitas instrumen berupa tes harus memenuhi validitas 43

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konstruksi dan validitas isi. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi, validitas muka dan validitas konstruk. 3.7.1.1 Validitas Isi Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen mengukur isi (konsep) yang harus diukur. Ini berarti suatu alat ukur mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur (Siregar, 2012: 46). Validitas isi dicapai dengan penilaian dari para ahli atau expert judgment. Validitas isi tes dalam penelitian ini diperoleh dari tiga expert judgment yaitu satu dosen mata kuliah biologi dan dua guru kelas V SD. Soal nomor 5 dari ketiga validator memberikan penilaian yang sangat baik dan instrumen layak untuk diimplementasikan dengan skor rerata 4; 3,67; 3,67 sedangkan untuk soal nomor 6 dengan skor rerata 3,67; 3,67; 3,67. Rerata skor dari validator 1 untuk semua variabel yaitu 3,72, rerata skor dari validator 2 untuk semua variabel yaitu 3,67, dan rerata skor dari validator 3 untuk semua variabel yaitu 3,11. Hal tersebut berarti bahwa validator 1, 2 dan 3 memberikan penilaian dalam kategori instrumen penelitian layak diimplementasikan dengan perbaikan. Hasil dari expert judgement dapat dilihat pada lampiran 3.4 3.7.1.2 Validitas Muka Validitas muka menunjuk pada segi “rupa sebuah alat ukur”, suatu alat pengukur tampak mengukur apa yang akan diukur (Martono, 2014: 101). Validitas muka adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukur atau instrumen penelitian dari segi rupanya. Validitas muka lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen (Siregar, 2012: 46). Validitas muka dilakukan untuk mengetahui kejelasan tiap butir soal. Pada penelitian ini, peneliti meminta pada ahli atau expert judgment untuk menilai. Validitas permukaan diperoleh dari 3 ahli yaitu dua guru kelas V SD dan dosen biologi salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Pada instrumen penelitian nomor 5a, 5b, 5c, 6a,6b, 6c masih ada beberapa kalimat yang harus diperbaiki, sehingga dampaknya lebih baik dan konsisten. 44

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.1.3 Validitas Konstruk Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep. Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2012: 47). Dalam penelitian ini peneliti mengujikan soal kepada siswa kelas V salah satu sekolah dasar swasta di Yogyakarta untuk memperoleh validitas konstruk. SD tersebut beralamat di Sengkan, Jl. Kaliurang km 7, Condongcatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti memilih SD tersebut berdasarkan beberapa alasan yaitu sekolah ini memiliki kelas paralel. Validitas konstruk digunakan melalui uji empiris atau pengalaman. Peneliti mengujikan soal tes kepada siswa kelas V untuk memperoleh validitas konstruk. Peneliti memilih SD tersebut sebagai SD untuk uji validitas konstruk karena beberapa alasan yaitu (1) SD tersebut memiliki akreditasi A, sama seperti SD yang digunakan sebagai tempat penelitian, (2) SD tersebut memiliki kelas paralel, dan (3) SD tersebut menerapkan kurikulum 2013 sama seperti yang digunakan sebagai tempat penelitian. Pengerjaan soal dilaksanakan pada hari Senin, 4 Juni 2018 dengan waktu 2 x 35 menit. Jumlah responden adalah 32 siswa. Setelah diujikan data tersebut ditabulasi kemudian peneliti menghitung validitasnya menggunakan rumus korelasi dari Pearson.Uji validitas konstruk dilakukan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows untuk mempermudah dalam perhitungan. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Kriteria yang digunakan 1) jika harga p < 0,05 maka suatu item dinyatakan valid, sedangkan p > 0,05 maka suatu item dikatakan tidak valid (Field, 2009: 177) atau 2) jika harga rhitung>rtabel artinya suatu item dinyatakan valid. Hasil uji validitas instrumen dan hasil uji validitas dari variabel mengeskplanasi dan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 3.6). 45

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3. 3Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Mengeskplanasi dan Meregulasi Diri No. 1. 2. Variabel Mengeskplanasi Regulasi Diri Aspek rtabel rhitung P Keterangan Hasil penalaran 0,361 0,623** 0,000 Valid 0,361 0,795** 0,000 Valid 0,361 0,631** 0,000 Valid 0,361 0,690** 0,000 Valid Refleksi diri 0,361 0,775** 0,000 Valid Koreksi diri 0,361 0,842** 0,000 Valid Membenarkan prosedur Memaparkan argumen-argumen Refleksi diri Berdasarkan hasil uji validitas di atas, peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel mengeskplanasi dan meregulasi diri dengan harga p< 0,05 dan rhitung>rtabel, maka semua soal dari variabel mengeskplanasi dan meregulasi diri dinyatakan valid. Hasil uji validitas tersebut menunjukkan bahwa semua item soal dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula (Siregar, 2012: 55). Alat pengukur dikatakan reliabel bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan menunjukkan hasil yang sama (Nasution, dalam Taniredja & Mustafidah, 2012: 43). Penelitian ini menggunakan instrumen soal tes berbentuk uraian dalam pengumpulan data. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Suatu konstruk termasuk reliabel jika harga Apha Cronbach> 0,60 (Nunnally, dalam Ghozali, 2009: 46). Berikut ini adalah hasil dari uji reliabilitas instrumen. Tabel 3. 4Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Reliability Statistics Cronbach's Alpha Uji Reliabilitas Instrumen 0.747 N of Items 6 Keterangan Reliabel 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh reliabilitas dari keenam variabel yang valid nilai Alpha Cronbach> 0,60 yaitu sebesar 0,747 sehingga instrumen tersebut dapat dikatakan reliabel atau konsisten dan layak digunakan dalam penelitian ini. 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data pada penelitian kuantitatif dapat dilakukan secara manual dengan menghitung menggunakan rumus statistik atau menggunakan program bantu statistik. Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiyono, 2013: 207). Analisis yang dilakukan oleh peneliti menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam teknik analisis data ini ada langkah analisis data yang akan dilakukan sebagai berikut. 3.8.1 Uji Pengaruh Pelakuan 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji normalitas distribusi data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Jika data terdistribusi tidak normal maka analisis data dilakukan dengan statistik non parametrik (Priyatno, 2012: 11). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian dilakukan dengan Kolmogorov Smirnov test. Analisis data uji normalitas distribusi data menggunakan hipotesis sebagai berikut: Hnull : Tidak ada deviasi dari normalitas Hi : Ada deviasi dari normalitas Kriteria yang digunakan untuk mengetahui data tersebut normal atau tidak normal adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 136). 1. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya distribusi data normal. 47

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Jika harga p > 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima maka distribusi data tidak normal. Data untuk uji normalitas distribusi data diambil dari seluruh skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan eskperimen. Apabila distribusi data normal maka analisis uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya Paired samples t-test, sedangkan apabila distribusi data tidak normal maka dilakukan uji statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney U-testatau Wilcoxon signed-ranks (Priyatno, 2012:141). 2. Uji homogenitas varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah varian dari kedua kelompok yang berbeda tersebut homogen. Teknik uji homogenitas varian dapat menggunakan Levene’s test pada program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Apabila data berdistribusi normal, hasil Levene’s test dapat dilihat di output SPSS pada Independent samples t-test. Apabila data tidak berdistribusi normal, hasil Levene’s test didapat dari menu explore (Field, 2009: 151). Jika varian homogen, data yang digunakan adalah data pada baris pertama dalam analisis outputIMB SPSSStatistics 22 for Windows yang sebaris dengan keterangan equal variances assumed dan jika varian tidak homogen, data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances nonassumed (Field, 2009: 340). Data uji homogenitas varian diambil dari skor pretest dan selisih pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data uji normalitas distribusi data menggunakan hipotesis sebagai berikut: Hnull : tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 37). 48

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. 2. Jika harga p> 0,05 maka diterima dan ditolak. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut homogen. 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan menganalisis hasil pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, sehingga kemampuan dua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini dilakukan dengan menghitung rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara, maka kemungkinan bias kecil (Neuman, 2013: 238). Jika data tidak terdistribusi normal maka menggunakan uji Mann Whitney U-test, sedangkan jika distribusi data normal menggunakan Independent samples t-test (Priyatno, 2012: 136). Analisis data uji perbedaan kemampuan menggunakan hipotesis sebagai berikut: Hnul : Tidak ada perbedaan rerata pretest yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan rerata pretest yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menentukan uji perbedaan rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 23). 1. Jika harga p> 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Jika harga p< 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 49

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model TGT terhadap kemampuan mengeskplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan dari rerata skor selisih posttest dan pretest dari kedua kelompok. Uji ini diperoleh dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttestkepretest pada kelompok kontrol (Sugiyono, 2012: 76). Uji ini menggunakan rumus (O2 - O1) - (O4 - O3). Jika hasil selisih skor pretest-posttest I diatas 0 maka ada pengaruh. Uji statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) Independen samples t-test jika data terdistribusi normal. 2) Mann-Witney U-test jika data terdistribusi dengan tidak normal (Field, 2009: 345). Data untuk uji signifikansi pengaruh perlakuan diambil dari skor selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik analisis data menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut: Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-postest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. 2. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan modep pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengeskplanasi dan meregulasi diri. Mengukur uji besar 50

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengaruh dapat dilihat dengan mencari effect size. Effect size adalah ukuran objektif dan standarisasi dari sebuah besarnya ukuran yang diamati (Field, 2009: 56). Teknik yang digunakan adalah koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala antara 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Effect size ini berguna untuk memberikan ukuran yang objektif tentang pentingnya efek suatu perlakuan (Field, 2009: 57). Untuk uji besar pengaruh perlakuan, jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 332). √ Gambar 3. 4Rumus Besar Efek untuk Data Normal Keterangan: r = besar pengaruh (effect size) perlakuan dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson. t = harga uji t df = harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 550). √ Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal Keterangan: r = korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z = skor Z N = jumlah total responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Berikut adalah kriteria dalam menentukan effect size (Cohen, 1988, 1992, dalam Field, 2009: 57). r = 0,10 (efek kecil) : setara dengan 1% r = 0,30 (efek menengah) : setara dengan 9% 51

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI r = 0,50 (efek besar) : setara dengan 25% Fraenkel, Wallen, dan Hyun (2012: 253) menjelaskan sebagai berikut. Tabel 3. 5Kriteria Besar Pengaruh r 0,00-0,40 0,41 - 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, boleh jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi Efek cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting, tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan Kemungkinan terjadi kesalahan dalam perhitungan; jika tidak, efeknya sangat besar Jika akan mengubah ke dalam bentuk persen, koefisien determinasi (R2) dikalikan dengan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3. 6 Rumus persentase pengaruh perlakuan 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan rerata skor dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I menggunakan rumus sebagai berikut. Presentase peningkatan = Gambar 3. 7 Rumus Besar persentase uji peningkatan skor pretest-posttest I Analisis persentase peningkatan menggunakan data rerata skor pretest dan posttest I, jika data terdistribusi normal maka menggunakan Paired samples t-test (Field, 2009: 326), sedangkan jika distribusi data tidak normal menggunakan Wilcoxon signed-ranks test (Field, 2009: 345). Uji statistik menggunakan IBM SPSS statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dengan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 52

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Adapun kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 31). 1. Jika harga p> 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada peningkatan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Jika harga p< 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada peningkatan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui persentase selisih rerata skor pretest ke posttest I (gain score) dapat menggunakan rumus sebagai berikut. Gain score = Gambar 3. 8 Rumus Gain Score Gain score yang diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi dari selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Frekuensi gain score diperoleh dari jumlah siswa yang melebihi gain score. Pada gain score terdapat grafik poligon yang menunjukkan bahwa perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Analisis uji besar efek peningkatan menggunakan data rerata skor pretest dan posttest I. Teknik analisis yang digunakan jika data terdistribusi normal adalah Paired samples t-test, sedangkan jika data terdistribusi tidak normal adalah Wilcoxon signed-rank test (Field, 2009: 345). Analisis statistik dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Field, 2009: 53). 53

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eskperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eskperimen. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p> 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Jika harga p< 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data terdistribusi normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 332). √ Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I untuk Data Normal Keterangan: r = korelasi Pearson untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t = harga uji t df = harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 550). √ Gambar 3. 10 Rumus Efek peningkatan rerata pretest ke posttest I untuk data tidak normal Keterangan: r = korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z = skor Z (output dari SPSS Man-Whitney U test) 54

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk mengubah r menjadi persen, koefisien determinasi (R2 ) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase Pengaruh = R2 x 100% Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Efek Peningkatan 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi dimaksudkan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Regresi statistik dapat terjadi apabila alat ukur yang digunakan tidak reliabel, sehingga menyebabkan pengukuran skor subjek tidak konsisten antara pretest dan posttest. Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik ini dapat diperjelaskan sebagai berikut. Kencenderungan umum yang terjadi bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya jika hasil pretest sangat rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi (Johnson & Cristensen, 2017: 263). Korelasi antara rerata pretest dan posttest I positif apabila semakin tinggi pretest maka semakin tinggi pula posttest. Apabila kolerasi antara rerata pretest dan posttest I negatif berarti semakin tinggi pretest maka semakin rendah pula posttest. Sedangkan korelasinya signifikan jika hasil skor tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Data untuk uji korelasi diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis uji korelasi rerata skor pretest dan posttest I menggunakan Pearson’s correlation jika data berdistribusi normal(Field, 2009: 177). Jika data tidak berdistribusi normal maka menggunakan Spearman’s correlation (Field, 2009: 179). Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q atau P = Q. Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q atau P ≠Q Keterangan: P : jika harga p< 0,05 55

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Q : jika r negatif Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. 1. Jika hasilnya P dan Q, maka Hnull diterima dan Hi diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik. 2. Jika hasilnya bukan P dan Q, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih sekuat setelah satu minggu dilakukan perlakuan (treatment). Posttest II yang dilakukan beberapa waktu sesudah posttest I bisa digunakan untuk memastikan dengan lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Dalam beberapa kasus posttest I yang dilakukan langsung sesudah treatment sering kurang akurat menggambarkan hasil yang sesungguhnya, karena efek emosi positif (euphoria) yang timbul terhadap treatment. Treatment tersebut bisa jadi merupakan metode yang baru dan belum pernah dialami responden. Untuk itu dilakukan posttest II dalam jangka waktu seminggu sesudah posttest I. Sehingga ada jeda waktu yang cukup untuk dapat menetralisir efek emosi yang mungkin timbul. Data yang digunakan yaitu data dari skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji statistik yang digunakan adalah Paired samples t test jika distribusi data normal, sedangkan jika distribusi data tidak normal, digunakan Wilcoxon signed-rank test (Field, 2009: 345). Teknik analisis data menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II padakelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Hi : Ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. 56

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kriteria yang digunakan untuk memastikan retensi perlakuan masih sekuat posttest I adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p< 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. 2. Jika harga p> 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. 3.8.3 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian Sesudah data di analisis menggunakan statistik program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows, maka sebelum menarik kesimpulan akhir penelitian perlu diperiksa dahulu apakah ancaman terhadap validitas penelitian dapat dikendalikan.Hal ini dilakukan untuk memastikan pengaruh yang terjadi pada variabel dependen sungguh disebabkan hanya oleh variabel independen dan bukan variabel lain di luar variabel independen.Penarikan kesimpulan dalam penelitian eksperimental memerlukan kehati-hatian. Variabel lain di luar perlakuan dapat mempengaruhi hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik dalam kesimpulan penelitian (Johnson & Christesen, 2008: 258). Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968) dan Lewis-Beck (1993), menyatakan bahwa ancaman terjadi lebih besar pada penelitian quasi experimental apabila dibandingkan dengan eksperimental murni. Hal ini karena dalam eksperimental murni sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Berikut merupakan 11 jenis ancaman penelitian quasi eksperimental dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah Setiap perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian dapat mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Cohen, Manion, & Morrison, 2007:15). Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian di 57

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lakukan dalam jangka waktu lama (bulan atau tahun). Berikut gambar 4.6 yang merupakan skema ancaman sejarah (history). Kejadian lain di luar treatment penelitian Pretest Posttest Gambar 3. 12 Skema Ancaman Sejarah (History) Perubahan atau peningkatan hasil yang terjadi pada salah satu kelompok tersebut disebabkan bukan melulu karena treatment penelitian, tetapi oleh faktor lain diluar treatment sehingga tidak bisa diklaim murni sebagai pengaruh treatment penelitian. Misalnya, mengikuti bimbingan belajar di luar kelas, ekstrakulikuler, acara TV, workshop, dan sebagainya. Di mana dengan materi yang sama yang digunakan selama treatment. Jika kelompok kontrol dan eksperimen juga sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012:283). 2. Disfusi treatment atau kontaminasi (disffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi serta sama-sama mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusinya adalah kedua kelompok betulbetul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah hingga menengah. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi jika treatment yang diberikan di kelompok eksperimen dirasa sangat berharga dan diketahui juga oleh oleh kelompok yang tidak mendapatkan treatment tersebut. Karena merasa didevaluasi kelompok kontrol bisa jadi 1) berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras atau 2) mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Solusinya adalah kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesuah penelitian mereka juga mendapatkan treatment yang sama. Jika 58

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (Maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian bisa berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christesen, 2018: 261). Misalnya perubahan yang terjadi karena penuaan, kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Solusinya, saat pretest dan posttest I sama pada kelompok kontrol dan eksperimen. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi statistik Regresi statistik adalah kecenderungan responden memperoleh skor pretest yang sangattinggi biasanya akan memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Hasil pretest atau posttest belum tentu 100% mencerminkan kemampuan objektif. Bisa jadi karena faktor lain ikut berpengaruh saat menjalani pretest atau posttest. Misalnya stress saat mengerjakan tes, kurang konsentrasi, kurang istirahat, salah menginterpretasikan pertanyaan dan sebagainya. Ancaman ini dapat dikontrol dengan menggunakan uji kolerasi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas Mortalitas adalah perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Solusi yang dapat digunakan untuk menangani ancaman mortalitas adalah mengisi skor siswa yang tidak hadir dengan rerata skor kelompok. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian dapat mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi daripada tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 156). Dengan mengerjakan pretest kelompok yang diteliti sudah 59

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tahu tentang apa yang ditargetkan, sudah memiliki pengalaman awal, dan menjadi familiar dengan materi tes sehingga lebih fokus terhadap apa yang nantinya dikerjakan saat posttest. Setelah mengerjakan pretest siswa bisa saja menyadari kesalahan yang telah dikerjakan dan mengantisipasi untuk mengerjakan posttest lebih baik lagi. Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christesen, 2008: 262). Solusinya dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman terhadap validitas internal ini adalah pengggunaan kelompok kontrol yang samasama mengerjakan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrument pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christesen, 2008: 262). Terdapat tiga kategori terjadinya ancaman instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan mengalami kerusakan. Solusi untuk ancaman ini adalah dilakukan pengecekan ulang dan perbaikan setiap ada perubahan sehingga antara pretest dan posttest sama. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini rendah. b. Instrumen yang digunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk pretest dan posttest berbeda. Solusi untuk mengatasi ancaman ini adalah menggunakan instrumen yang sama untuk kedua kelompok dan sama untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini menengah. c. Alat pengumpul data dapat bias apabila menggunakan teknik observasi. Solusinya adalah melakukan training yang sungguh-sungguh terhadap observer atau observer tidak diberi tahu sama sekali mana kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini tinggi. 60

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Lokasi (Location) Ancaman ini terjadi apabila lokasi yang digunakan baik untuk pretest maupun posttest untuk implementasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlalu berbeda. Misalnya ukuran ruangan, kenyamanan ruangan, fasilitas dalam ruangan dan sebagainya. Solusi untuk ancaman ini adalah dengan menggunakan ruangan yang kurang lebih sama. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik subjek Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Analisis ini dapat dikelompokkan dalam dua bagian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282) sebagai berikut. a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Untuk mengendalikan ancaman ini, perlu adanya pemilihan sampel secara random. Apabila pengambilan sampel tidak dilakukan secara random perlu dicek dengan pretest apakah kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang setara. Jika dalam pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan ancaman terhadap validitas internal penelitian ini termasuk kategori tinggi. b. Jumlah kelompok gender yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada pretest. Untuk mengendalikan ancaman ini, perlu dilakukan penyetaraan jumlah laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini termasuk kategori menengah. 11. Implementasi Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan eksperimen bisa berpengaruh pada skor pretest karena bedanya gaya mengajar (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Solusinya adalah menggunakan guru yang sama ketika menerapkan pembelajaran di kedua kelompok. Sebelum penelitian, peneliti sudah 61

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memilih salah satu guru dari kedua kelas yang cocok dan berkenan menjadi guru mitra. Jika diabaikan tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini termasuk kategori tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 62

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian dan hasil analisis data. Hasil penelitian berisi implementasi penelitian berisi implementasi penelitian yang meliputi deskripsi populasi dan deskripsi implementasi pembelajaran. Hasil analisis data berisi uji hipotesis penelitian I dan II yang meliputi analisis pengaruh perlakuan dan analisis lebih lanjut. Pada pembahasan diuraikan pengaruh perlakuan beserta dampaknya. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Penelitian Penelitian ini menggunakan dua kelas yang digunakan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara undian yang disaksikan oleh guru mitra. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non probability sampling tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah kelompok dari individuindividu yang tersedia untuk dijadikan sampel (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 99). Hasil pengundian menyatakan bahwa kelas V.2 sebagai kelompok kontrol dan V.1 sebagai kelompok eksperimen. Pendeskripsikan populasi penelitian pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan dijelaskan selanjutnya. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas V dari salah satu sekolah dasar swasta di Yogyakarta yang berjumlah 42 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas V.2 sebagai kelompok kontrol dan V.1 sebagai kelompok eksperimen. Kelas V.2 sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 21 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan sedangkan kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 21 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Sampel pertama adalah kelas V.2 sebagai kelompok kontrol. Siswa pada kelompok kontrol rata-rata berasal dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi menengah ke atas dengan pekerjaan orang tua sebagai wiraswasta, PNS, karyawan 63

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI swasta, dan pebisnis. Latar pendidikan orang tua kelas V.2 antara lain adalah SMA dan S1. Pada saat treatment, semua siswa hadir di kelas. Sampel kedua dalam penelitian ini adalah kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen. Siswa pada kelompok eksperimen rata-rata berasal dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi menengah ke atas dengan pekerjaan orangtua sebagai wisaswasta, PNS, karyawan swasta dan pebisnis. Pada saat treatment, semua siswa hadir di kelas. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Pelaksanaan penelitian dimulai dengan dilakukannya pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest bertujuan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Soal yang diberikan berupa soal uraian berjumlah 6 butir yang merupakan 6 kemampuan berpikir. Pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Agustus 2018 selama 2 jam pembelajaran (2 x 35 menit). Sebelum siswa mengerjakan soal, guru memberikan arahan pengerjaan soal. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengerjakan soal pretest didampingi oleh guru mitra. Peneliti berperan sebagai pengamat, membantu menyiapkan pelaksanaan pretest dan mendokumentasikan kegiatan kedua kelompok tersebut. Deskripsi implementasi kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebagai berikut. 1. Deskripsi implementasi pembelajaran kelompok kontrol Pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Pembelajaran dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Waktu yang dibutuhkan pada setiap pertemuan adalah 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 4 September 2018 pukul 07.10-08.20 WIB. Materi yang dipelajari yaitu sistem pernapasan hewan mamalia, reptil, serangga dan unggas. Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab kepada siswa terkait dengan pengalaman siswa melihat hewan dengan golongan mamalia, reptil, serangga dan unggas. Saat kegiatan inti, siswa dijelaskan materi tentang golongan mamalia, reptil, serangga dan unggas. Siswa mendengarkan penjelasaan guru dan mencatat 64

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hal penting berdasarkan penjelasan guru di buku masing-masing. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait materi yang telah di pelajari. Siswa juga diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk membuat langkah-langkah dalam mengganti akuarium menggunakan gayung, jaring, dan tangan. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 6 September 2018 pukul 09.10-10.20 WIB. Materi yang dipelajari yaitu sistem pernapasan hewan amfibi, cacing dan ikan. Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab kepada siswa terkait dengan pengalaman siswa melihat hewan dengan golongan amfibi, cacing dan ikan. Saat kegiatan inti, siswa dijelaskan materi tentang golongan amfibi, cacing dan ikan. Siswa mendengarkan penjelasaan guru dan mencatat hal penting berdasarkan penjelasan guru di buku masing-masing. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait materi yang telah di pelajari. Siswa juga diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk membuat gambar alat pernapasan Pada hari Jumat, 7 September 2018 siswa pada kelompok kontrol melaksanakan posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Kemudian, posttest II dilaksanakan 7 hari setelah posttest I yaitu pada tanggal Jumat, 14 September 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah beberapa minggu mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Soal posttest I dan posttest II dikerjakan oleh siswa yang sama dengan soal yang sama seperti soal pretest. Soal nomor 5 digunakan untuk meneliti variabel mengeksplanasi dari 3 sub soal yaitu nomor 5a, 5b, dan 5c. soal nomor 6 digunakan untuk meneliti variabel meregulasi diri yang terdiri dari 3 sub soal yaitu nomor 6a, 6b, dan 6c. 2. Deskripsi implementasi pembelajaran kelompok eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Pembelajaran dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan materi yang berbeda-beda. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Waktu yang dibutuhkan pada setiap pertemuan adalah 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit. 65

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pelaksanaan pembelajaran pada kelompok eksperimen dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yang meliputi tiga kegiatan yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan berupa salam, doa, apersepsi, orientasi, dan motivasi. Kegiatan inti berisi lima langkah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yaitu penyajian materi (class presentation), kelompok (teams), Permainan (games), kompetisi (tournament), danpengakuan kelompok (teams recognition). Kegiatan penutup berisi kesimpulan, refleksi, tindak lanjut, doa dan salam penutup. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 4 September 2018 pada pukul 09.10 – 10.20 WIB. Materi yang di pelajari yaitu tentang sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, reptil, serangga dan unggas. Pada kegiatan awal, diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pengetahuan awal siswa mengenai sistem pernapasan pada hewan yang ada di lingkungan sekitar. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi), dan memotivasi siswa agar bersemangat untuk mengikuti pembelajatan (motivasi). Kegiatan inti, yang pertama adalah penyajian materi oleh guru mitra. guru mitra menjelaskan materi mengenai sistem pernapasan golongan hewan mamalia, reptil, serangga dan unggas. Siswa juga diminta mengamati secara langsung beberapa hewan yang dibawa oleh guru. Siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal penting pada buku catatan. Kegiatan inti yang kedua yaitu teams (kelompok). Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok heterogen untuk belajar dalam kelompok. Kelompok heterogen terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda. Siswa saling berdiskusi terkait materi pelajaran dan memastikan semua anggota heterogen memahami materi tersebut. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait materi yang telah di pelajari oleh siswa. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 7 September 2018 pada pukul 08.00–09.10 WIB. Materi yang di pelajari yaitu tentang sistem pernapasan pada golongan hewan amfibi, cacing, ikan. Pada kegiatan awal, diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait 66

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan pengetahuan awal siswa mengenai sistem pernapasan pada hewan yang ada di lingkungan sekitar. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi), dan memotivasi siswa agar bersemangat untuk mengikuti pembelajatan (motivasi). Kegiatan inti, yang pertama adalah penyajian materi oleh guru mitra. guru mitra menjelaskan materi mengenai sistem pernapasan golongan hewan amfibi, cacing, ikan. Siswa juga diminta mengamati secara langsung beberapa hewan yang dibawa oleh guru. Siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal penting pada buku catatan. Kegiatan inti yang kedua yaitu teams (kelompok). Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok heterogen untuk belajar dalam kelompok. Kelompok heterogen terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda. Siswa saling berdiskusi terkait materi pelajaran dan memastikan semua agnggota heterogen memahami materi tersebut. Pada pelaksanaan kegiatan tournament (kompetisi) dilaksanakan pada pertemuan ketiga. Hal ini karena di dalam pertemuan pertama dan kedua digunakan untuk kegiatan pembahasan materi. Dengan alasan waktu yang tersedia kurang memadai. Sehingga, pada pertemuan ketiga ini memfokuskan pada kegiatan tournament (kompotisi). Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait materi yang telah di pelajari oleh siswa. Pertemuan ketiga dilakukan pada hari Senin, 10 September 2018 pada pukul 08.00-09.10 WIB. Pada pertemuan pertama dan kedua sudah dilaksanakan langkah 1 dan 2 model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Langkah selanjutnya yaitu games, tournament dan teamsrecognition. Pada pertemuan ketiga kegiatan diawali dengan apersepsi, dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya. Kegiatan inti pada pertemuan ini melaksanakan langkah TGT yang ketiga yaitu games. Games terdiri atas pertanyaan-pertanyaan untuk menguji penguasaan siswa terhadap materi presentasi kelas dan pelaksanaan kerja tim. Pertanyaan ditulis dalam kartu kecil yang sudah disiapkan. Games dimainkan di meja yang terdiri dari tiga orang siswa yang mewakili masing-masing tim yang berbeda. Dilakukan pengundian untuk menentukan siswa yang berperan sebagai pembaca soal, penantang I dan penantang II. Kegiatan inti selanjutnya yaitu tournament (kompetisi). Tournament merupakan proses berlangsungnya games. 67

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah dilakukan pengundian, siswa yang berperan sebagai pembaca soal mengambil kartu bernomor yang telah disediakan dan membacakan soal serta pilihan jawaban dengan keras dan mencoba menjawab. Sesuai arah jarum jam, siswa yang di sebelah kirinya (penantang I) boleh memberikan jawaban yang berbeda atau pass (jika jawaban sama atau ragu). Siswa sebelah kirinya lagi (penantang II) boleh memberikan jawaban jika penantang I melewatinya atau jika ia mau memberikan jawaban yang berbeda dari dua jawaban sebelumnya. Sesudah penatang I dan II memberikan jawaban atau pass, penantang II memeriksa lembar kunci jawaban yang sudah tersedia di atas meja tournament. Jika pembaca soal menjawab dengan benar, pembaca soal mendapat 1 skor dan jika salah tidak mendapatkan sanksi. Jika salah satu penantang benar, penantang tersebut mendapat 1 skor tetapi jika salah, penantang tersebut dikurangi 1 skor sebagai hukuman. Masing-masing siswa mencatat di lembar skor yang sudah disediakan. Kartu soal di simpan oleh siswa yang dapat menjawab dengan benar. Putaran berikutnya, bisa dilakukan sesuai dengan arah jarum jam. Pembaca soal menjadi penantang I, penantang I menjadi penantang II, penantang II menjadi pembaca soal. Permainan pada tournament pertama selesai jika kartu soal sudah habis. Sesudah selesai permainan, setiap siswa mencatat skor yang diperoleh. Untuk tournament kedua, siswa dengan skor paling tinggi naik ke tingkat meja dengan nomor urut yang lebih kecil (kecuali meja nomor 1), siswa dengan skor paling rendah turun tingkat ke meja dengan nomor urut yang lebih besar (kecuali meja nomor 7), dan siswa dengan skor tidak tertinggi dan tidak terendah tetap berada pada meja tournament tersebut. Perpindahan itu dilakukan hingga tournament yang ketiga. Setelah siswa selesai mengikuti tournament, siswa kembali ke kelompok asal masing-masing. Kegiatan inti yang selanjutnya yaitu teams recognition (pengakuan tim). Pada kelompok asal, semua siswa menghitung perolehan skor yang didapatkan. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi pertama mendapatkan penghargaan yaitu tim tersuper. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi kedua mendapatkan penghargaan yaitu tim terhebat. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi ketiga mendapatkan penghargaan yaitu tim terbaik. Pada 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan pembelajaran dan melakukan refleksi. Pada hari Rabu, 12 September 2018 siswa pada kelompok eksperimen melaksanakan posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Kemudian, posttestII dilaksanakan 6 hari setelah posttestI yaitu pada tanggal Selasa, 18 September 2018. PosttestII bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah beberapa minggu mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Soal posttestI dan posttestII dikerjakan oleh siswa yang sama dengan soal yang sama seperti soal pretest. Soal nomor 5 digunakan untuk meneliti variabel mengeksplanasi dari 3 sub soal yaitu nomor 5a, 5b, dan 5c. Soal nomor 6 digunakan untuk meneliti variabel meregulasi diri yang terdiri dari 3 sub soal yaitu nomor 6a, 6b, dan 6c. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. Hasil sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut. 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 1Sebaran Data Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol No Skor Pretest Indikator Total 1 2 3 4 1 Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar 10 10 1 0 2 Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. 11 7 2 3 Menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. 10 6 31 23 Jumlah Frekuensi Skor Post Test I Total 1 2 3 4 21 5 8 5 3 21 1 21 6 6 6 3 21 3 2 21 5 10 3 3 21 6 3 63 16 24 14 9 63 Tabel 4.1 tersebut memperlihatkan hasil sebaran data kelompok kontrol pada pretest dan posttest I. Sebaran data pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. 69

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 31 siswa, yang mendapat nilai 2 sebanyak 23 siswa, yang mendapat nilai 3 sebanyak 6 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 3 siswa. Nilai yang sering muncul pada pretest adalah nilai 1 yaitu sebanyak 23 siswa. Sebaran data untuk posttest I pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 16 siswa, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 24 siswa, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 14 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 9 siswa. Nilai yang sering muncul pada posttest I adalah nilai 2 yaitu sebanyak 24 siswa. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4. 2Sebaran Data Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Eksperimen No Indikator 1 Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar 2 3 Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. Menuliskan alasanalasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. Jumlah Frekuensi Skor Pretest 1 2 3 4 10 7 3 0 7 11 3 9 8 26 26 Total Skor Posttest I Total 1 2 3 4 21 2 2 7 7 21 0 21 3 6 3 9 21 4 0 21 1 10 5 5 21 10 0 63 6 18 15 21 63 Tabel 4.2 tersebut memperlihatkan hasil sebaran data kelompok eksperimen pada pretest dan posttestI. Sebaran data pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 26 siswa, yang mendapat nilai 2 sebanyak 26 siswa, yang mendapat nilai 3 sebanyak 10 siswa dan siswa yang mendapat nilai 0 sebanyak 3 siswa. Nilai yang sering muncul pada pretest adalah nilai 1 dan 2 yaitu sebanyak 26 siswa. Sebaran data untuk posttestI pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 6 siswa, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 18 siswa, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 15 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 21 siswa. Nilai yang sering muncul pada posttest I adalah nilai 4 yaitu sebanyak 21 siswa. 70

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi diri 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 3 Sebaran Data Kemampuan Meregulasi diri Kelompok Kontrol No Indikator Skor Pretest Total 1 2 3 4 1 Refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir 7 10 3 1 2 Refleksi diri : Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri. 11 5 5 3 Koreksi diri : Memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya 10 10 Jumlah Frekuensi 28 25 Skor Posttest I Total 1 2 3 4 21 5 10 5 1 21 0 21 1 10 10 0 21 1 0 21 2 10 6 3 21 9 1 63 8 30 21 4 63 Tabel 4.3 tersebut memperlihatkan hasil sebaran data kelompok kontrol pada pretest dan posttest I. Sebaran data pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 28 siswa, yang mendapat nilai 2 sebanyak 25 siswa, yang mendapat nilai 3 sebanyak 9 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 1 siswa. Nilai yang sering muncul pada pretest adalah nilai 1 yaitu sebanyak 28 siswa. Sebaran data untuk posttestI pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 8 siswa, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 30 siswa, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 21 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 4 siswa. Nilai yang sering muncul pada posttestI adalah nilai 2 yaitu sebanyak 30 siswa. 71

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. No 1 2 3 Kelompok Eksperimen Tabel 4. 4 Sebaran Data Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Eksperimen Skor Pretest Skor Posttest I Indikator Total 1 2 3 4 1 2 3 4 Refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, 5 13 3 0 0 10 4 7 21 memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir Refleksi diri : Menilai apakah ada kekeliruan 5 11 5 0 0 6 9 6 21 dalam cara berpikir sendiri. Koreksi diri : Memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah 9 7 5 0 0 6 7 8 21 posisi yang dipegang sebelumnya Jumlah Frekuensi 19 31 13 0 63 0 22 20 21 Total 21 21 21 63 Tabel 4.4 tersebut memperlihatkan hasil sebaran data kelompok eksperimen pada pretest dan posttestI. Sebaran data pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 19 siswa, yang mendapat nilai 2 sebanyak 31 siswa, yang mendapat nilai 3 sebanyak 13 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 0 siswa. Nilai yang sering muncul pada pretest adalah nilai 2 yaitu sebanyak 31 siswa. Sebaran data untuk posttestI pada ketiga indikator adalah sebagai berikut. Siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 0 siswa, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 22 siswa, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 20 siswa dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 21 siswa. Nilai yang sering muncul pada post testI adalah nilai 2 yaitu sebanyak 22 siswa. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi di kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan mengeksplanasi sedangkan variabel independen yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri atas 3 nomor soal yaitu item 5 yang mengandung indikator menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar, memaparkan strategi 72

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak. Setelah uji asumsi kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi dan uji besar pengaruh. Kemudian dilanjutkan analisis lebih lanjut, dengan melakukan uji presentase peningkatan dan besar efek peningkatan, lalu melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttestI dan uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 1. Uji perbedaan kemampuan awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan mengeksplanasi. Pengambilan sampel penelitian tidak diakukan secara random, maka kemampuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238). a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Kemudian dilakukan lagi uji homogenititas varians untuk memastikan 73

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak homogen. Uji normalitas data dilakukan dengan uji One-Sample KolmogrorovSmirnov test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 5Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok p Keputusan Kontrol 0,050 Normal Eksperimen 0,197 Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, hal tersebut menunjukkan bahwa skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal. b. Uji asumsi homogenitas varians Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, kemudian dilakukan uji homogenitas varians. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperiman pada kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.1.2). Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Mengeksplanasi Uji statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test Equality 0,264 1 0,40 0,911 Homogen of Variances 74

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Leneve’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan F (1,40) = 0,264 dan p = 0,911. Data tersebut menunjunjukkan bahwa terdapat homogenitas data karena p > 0,05. c. Uji statistik Berdasarkan hasil uji asumsi tersebut, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik independent samples t-test karena distribusi data normal pada kelompok kontrol dan eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menolak yaitu jika p < 0,05, artinya ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji perbedaan kemampuan awal untuk rerata pretest kelompok kontrol dan eksperiman dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.3.1) Tabel 4. 7Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Eksplanasi Uji statistik p Keputusan Independent sample t-test 0,610 Tidak ada perbedaan Analisis dengan menggunakan statistik parametrik independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,610, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05. 2. Uji signifikansi Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan dari rerata skor selisih posttest dan pretest dari kedua kelompok. Uji ini diperoleh dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok kontrol dengan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok eksperimen (Sugiyono, 2012: 76). Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan rumus (O2 - O1) - (O4 - O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok kontrol. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada pengaruh perlakuan. 75

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil perhitungan menunjunjukkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen kontrol dan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok . Hasil perhitungan diperoleh hasil angka 0,571 atau positif (diperoleh dari selisih 1,1272 – 0,5562). Sehingga terdapat perbedaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest dalam kemampuan mengeksplanasi pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian dilakukan diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 8Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok p Keputusan Kontrol 0,51 Normal Eksperimen 0,120 Normal Tabel 4.8 menunjukkan kedua harga p > 0,05 sehingga data dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terdistribusi normal. b. Uji asumsi homogenititas varians Setelah diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka perlu dilakukan uji asumsi dengan Leneve’s test untuk mengetahui homogenitas varians. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretestposttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan 76

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengeksplanasi dapat dilihat dalam tabel 4.9 tersebut (lihat Lampiran 4.4.1.3). Tabel 4. 9Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Pretest – Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Uji statistik F Sig. Levene’s test Keputusan Levene’s Test Equality of Variances 9,086 0,716 Homogen Levene’s Test dengan tingkatkepercayaan 95% menunjukkan harga F = 9,086 dan harga Sig. Levene’s test = 0,716. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. c. Uji Statistik Analisis selanjutnya menggunakan analisis parametrik independent samples t-test. Analisis parametrik independent samples t-test digunakan karena data berdistribusi normal dan homogen. Kriteria yang digunakan adalah untuk menolak adalah jika harga p < 0,05 (Priyanto, 2012: 24). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel 4.10 (lihat Lampiran 4.5.1) Tabel 4. 10Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi Uji Statistik p Keputusan independent sample ttest 0,004 Signifikan Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,12, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M= 0,55, SE = 0,14). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -3,01 dan p = 0,004. Hasil tersebut menunjukkan harga p < 0,05 maka ditolak dan diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih antara kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.1 dan 4.2 berikut. 77

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35.000 30.000 29.048 Rerata 25.000 17.776 22.543 20.000 15.000 Kontrol 16.981 Eksperimen 10.000 5.000 0 Pretest Posttest I Gambar 4. 1 Rerata Skor Pretest-Postest I Kemampuan Mengeksplanasi Grafik 4.1 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,69 dan rerata skor posttest I adalah 2,25. Sedangkan rerata skor pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,77 dan rerata skor posttestI adalah 2,90. Hasil perbandingan rerata selisih skor posttest I-pretest pada kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat diagram berikut. Gambar 4. 2 Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi 78

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,55 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,12. Kelompok kontrol memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih rendah daripada kelompok eksperimen. 4.1.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan modep pembelajaran tipe TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Dalam menghitung effect size, diperlukan beberapa tahapan. Independent samples t-test digunakan untuk memperoleh t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Sedangkan untuk memperoleh persentase pengaruh perlakuan didapatkan dengan menghitung koefisien determinasi dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien Pearson yang di dapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut ini hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 11Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan mengeksplanasi Kategori Variabel t df r (Effect size) % Efek Eksplanasi -3,014 9,084 40 0,430 18,5 Menengah Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan mengeksplanasi sebesar 0,430 yang setara dengan efek menengah. Harga yaitu 0,185 sehingga jika dikalikan dengan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi yaitu 18,5 %. Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan pengaruh sebesar 18,5% terhadap kemampuan mengeksplanasi. Sedangkan, sebesar 81,5% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain atau diluar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). 79

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3.1.3 Analisis Lebih Lanjut 1. Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan rerata skor yang signifikan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 12Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Pretest 0,50 Normal Posttest I 0,197 Normal Eksperimen Pretest 0,178 Normal Posttest I 0,158 Normal Tabel 4.12 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. b. Uji statistik Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan penggunakan paired samples t-test karena hasil analisis data normal. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut (lihat Lampiran 4.7.1). Tabel 4. 13Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Mengeksplanasi No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Postest I 1,69 1,77 2,25 2,90 Persentase (%) p Signifikansi 33 63 0,04 0,04 Signifikan Signifikan 80

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.13 menunjukkan peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi. Hasil pretest kelompok kontrol sebesar 1,69 dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,77. Nilai rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,25 dan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,90. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 33% sedangkan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 63%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I terhadapkemampuan mengeksplanasi.Grafik perbandingan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. 3,5 2,9 3 2,25 Rerata 2,5 2 1,69 1,77 Pretest 1,5 Posttest I 1 0,5 0 Kontrol Eksperimen Gambar 4. 3 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I Gambar 4.3 menunjukkan bahwa hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,004. Sedangkan hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,004. Kedua kelompok sama-sama memiliki harga p sebesar 0,004, artinya p < 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini berarti bahwa ada peningkatan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. c. Gain score Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas pada gambar 4.4 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut 81

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.7.3). Frekuensi Grafik Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Mengeksplanasi 8 7 6 5 4 4 3 2 2 1 1 1 0 -0,67 -0,33 0 7 6 4 3 3 2 2 1,33 1,67 2 3 1 2 1 0,33 0,67 1 Gain Score Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Gambar 4. 4Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi Gambar 4.4 di atas menunjukkan bahwa grafik gain terendah pada kelompok kontrol adalah -0,67, sedangkan gain terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,00. Kedua kelompok memiliki frekuensi paling tinggi pada gain score 0,67. Gain tertinggi pada kelompok kontrol adalah 1,67 sedangkan gain tertinggi pada kelompok eksperimen adalah 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa selisih pretest-posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol. Frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,67 pada kelompok eksperimen ada 19 siswa, sedangkan pada kelompok kontrol 13 siswa. Nilai 0,67 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ pada kelompok kontrol sebesar 61,19%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 90,04%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen model pembelajaran kooperatif TGT memberi dampak pengaruh lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 82

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Uji yang digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, hal ini karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan pada uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I adalah 95%.Hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terdapat pada tabel 4.14 berikut (lihat Lampiran 4.8.1.1). Tabel 4. 14Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek No 1 Kontrol -3,912 20 0,65 0,433 43,3 Besar 2 Eksperimen -9,029 20 0,89 0,802 80,2 Besar Tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen pada saat posttest I (M = 2,90) lebih besar daripada pretest (M = 1,77) dengan harga t = -9,029, r = 0,89 atau setara dengan efek besar. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol pada saat posttest I (M= 2,25) lebih besar daripada pretest (M = 1,69) dengan harga t = -3,912, r = 0,65 atau setara dengan efek besar. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol sebesar 43,3% dengan kategori efek besar dan pada kelompok eksperimen sebesar 80,2% dengan kategori besar. 2. Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik jika kolerasinya negatif dan signifikan. a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum melakukan analisis perhitungan uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data 83

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 15Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Pretest 0,50 Normal Posttest I 0,197 Normal Eksperimen Pretest 0,178 Normal Posttest I 0,158 Normal Tabel 4.15 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. b. Uji statistik Data untuk uji korelasi skor pretest dan posttest I diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan statistik parametrik Pearson’s correlation karena distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p <0,05 (Priyanto, 2012: 45). Berikut merupakan tabel hasil uji kolerasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.9.1). No 1 2 Tabel 4. 16Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Pearson’s Kelompok p Keputusan Correlation Kontrol 0,040 0,863 Positif dan tidak signifikan Eksperimen 0,325 0,151 Positif dan tidak signifikan Tabel 4.16 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,863 (p>0,05) dan harga p pada kelompok eksperimen 0,151 (p>0,05), artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Analisis hasil uji kolerasi menunjukkan bahwa tidak ada kolerasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi 84

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil Pearson’s Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,040 dan hasil Pearson’s Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,325 yang berarti korelasi antara pretest dan posttest I menunjukkan hasil yang positif. Hasil Pearson’s Correlation positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi, begitu juga sebaliknya. Hasil uji kolerasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diatas menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kolerasi positif dan tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini. 3. Uji retensi pengaruh perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih akurat kekuatannya setelah satu minggu dilakukan perlakuan (treatment). Uji retensi pengaruh dilakukan dengan memberikan posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Posttest II dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan posttest I. a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum melakukan analisis perhitungan uji retensi pengaruh perlakuan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor posttest I dan skor posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 17Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest IIKemampuan Mengeksplanasi Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Posttest I 0,197 Normal Posttest II 0,128 Normal Eksperimen Posttest I 0,158 Normal Posttest II 0,140 Normal 85

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.17 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. b. Uji statistik Analisis data menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistrinusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II. Artinya terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini (lihat Lampiran 4.10.1) No Tabel 4. 18Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Rerata Peningkatan Kelompok (%) Posttest I Posttest II p Keterangan 1 Kontrol 2,2543 2,1424 -5,22 0,576 Tidak Signifikan 2 Eksperimen 2,9048 2,7781 -4,56 0,619 Tidak Signifikan Tabel 4.18 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,576 (p> 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehinggga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -5,22%. Pada kelompok ekspreimen menunjukkan harga p sebesar 0,619 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehinggga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen sebesar -4,56%. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada gambar 4.5 berikut. 86

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3,5 2,9048 3 2,7781 Rerata 2,5 2 1,5 1,7776 2,1424 1,6981 2,2543 kontrol eksperimen 1 0,5 0 pretest posttest I posttest II Gambar 4. 5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest IIKemampuan Mengeksplanasi. Grafik perbandingan skor pretest, posttest I dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,6 sedangkan kelompok eksperimen 1,77. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 2,25 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,9. Rerata posttest II pada kelompok kontrol adalah 2,14 sedangkan kelompok ekperimen adalah 2,77. Rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami peningkatan, sedangkan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan apakah capaian skor rerata posttest II berbeda atau tidak berbeda dengan kondisi awal pada pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dengan posttest II dengan menggunakan statistik parametrik Paired samples t-testkarena data yang diuji adalah data berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II yang dapat dilihat pada tabel 4.19 (lihat Lampiran 4.10.1.3). Tabel 4. 19Hasil Analisis Perbedaan Skor Pretest dan Posttest II No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Pretest 1,6981 1,7776 Rerata Posttest II 2,1424 2,7781 p Keterangan 0,067 0,000 Tidak Signifikan Signifikan 87

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.19 diatas menunjukkan bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan mengeksplanasi menunjukkan harga p sebesar 0,067 (p > 0,05) artinya Hnull diterima dan Hi ditolak, sehingga tidak terjadi penurunan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,000 (p < 0,05) artinya Hnull ditolak dan Hi diterima, sehingga ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini berarti bahwa kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan mengeksplanasi daripada kelompok kontrol dengan model ceramah. 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan meregulasi diri, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel meregulasi diri terdiri dari 3 soal uraian yaitu item soal nomor 6 yang mengandung indikator refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, refleksi diri: menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, dan koreksi diri: memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak. Setelah uji asumsi kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi dan uji besar pengaruh. Kemudian dilanjutkan analisis lebih lanjut, 88

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan melakukan uji presentase peningkatan dan besar efek peningkatan, lalu melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttestI dan uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 1. Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan mengeksplanasi. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random, maka kemampuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238). a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Kemudian dilakukan lagi uji homogentitas varians untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak homogen. Uji normalitas data dilakukan dengan uji One-Sample KolmogrorovSmirnov test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas skor pretest kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 20Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata PretestKemampuan Meregulasi Diri Kelompok p Keputusan Kontrol 0,103 Normal Eksperimen 0,092 Normal 89

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.20 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, hal tersebut menunjukkan bahwa skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal. b. Uji Homogenitas Varians Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, kemudian dilakukan uji homogenitas varians. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperiman pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.2.1). Tabel 4. 21Hasil Uji Homogenitas Varian Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Leneve’s Test Equality of Variances 1,615 1 40 0,757 Homogen Leneve’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F (1,40) = 1,615 dan p = 0,757. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga p > 0,05. c. Uji Statistik Berdasarkan hasil uji asumsi tersebut, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test karena distribusi data normal pada kelompok kontrol dan eksperimen. Data yang digunakan adalah data pretest. Kriteria yang digunakan untuk menolak yaitu jika p < 0,05, artinya ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji perbedaan kemampuan awal untuk rerata pretest kelompok kontrol dan eksperimen kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut (lihat Lampiran 4.4.3.2). Tabel 4. 22Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi Diri Uji statistik p Keputusan Independent sample t-test 0,211 Tidak ada perbedaan 90

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis dengan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,211, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05. 2. Uji signifikansi Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan dari rerata skor selisih posttest dan pretest dari kedua kelompok. Uji ini diperoleh dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok kontrol dengan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok eksperimen (Sugiyono, 2012: 76). Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan rumus (O2 - O1) - (O4 - O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok kontrol. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada pengaruh perlakuan. Hasil perhitungan menunjukkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,0795 dan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol sebesar 0,6029. Hasil perhitungan diperoleh hasil angka 0,4767 atau positif (diperoleh dari selisih 1,0795 – 0,6029). Sehingga terdapat perbedaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan meregulasi diri. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest dalam kemampuan meregulasi diri pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian dilakukan diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. a. Uji asumsi normalitas distribusi data Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Uji 91

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.23 berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 23Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Kelompok p Keputusan Kontrol 0,156 Normal Eksperimen 0,200 Normal Tabel 4.23 menunjukkan kedua harga p > 0,05 sehingga data dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terdistribusi normal. b. Uji asumsi homogenititas varians Setelah diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka perlu dilakukan uji asumsi dengan Leneve’s test untuk mengetahui homogenitas varians. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p<0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest-posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat dalam tabel 4.24 tersebut (lihat Lampiran 4.4.2.3). Tabel 4. 24Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri Uji statistik F Sig. Levene’s test Keputusan Levene’s Test Equality of Variances 7,331 0,930 Homogen Levene’s Test dengan tingkatkepercayaan 95% menunjukkan harga F = 7,331 dan harga Sig. Levene’s test = 0,930. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. c. Uji statistik Analisis selanjutnya menggunakan analisis parametrik independent samples t-test. Analisis parametrik Independent samples t-test digunakan 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI karena data berdistribusi normal dan homogen. Kriteria yang digunakan untuk menolak adalah jika harga p < 0,05 (Priyanto, 2012: 24). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel 4.25 berikut (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4. 25Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik p Keputusan 0,010 independent sample t-test Signifikan Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,07, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M= 0,60, SE = 0,12). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -2,708 dan p = 0,010. Hasil tersebut menunjukkan harga p < 0,05 maka ditolak dan diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih antara kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.6 dan 4.7 berikut. 3,5 2,9838 3 Rerata 2,5 2 1,5 2,3333 1,9043 Kontrol 1,7295 Eksperimen 1 0,5 0 Pretest Post Test 1 Gambar 4. 6Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri Grafik 4.6 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,72 dan rerata skor posttest I adalah 2,33. Sedangkan rerata skor pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,90 dan rerata skor posttestI adalah 2,98. Hasil perbandingan rerata selisih skor posttest I pretest ke terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada diagram berikut. 93

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4. 7Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,60 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,07. Kelompok kontrol memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih rendah daripada kelompok eksperimen. 4.1.4.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan modep pembelajaran tipe TGT terhadap kemampuan meregulasi diri. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Dalam menghitung effect size, diperlukan beberapa tahapan. Independent samples t-test digunakan untuk memperoleh t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Sedangkan untuk memperoleh persentase pengaruh perlakuan didapatkan dengan menghitung koefisien determinasi dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut ini hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 26Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri Variabel t df r (Effect size) % Kategori Efek Meregulasi -2,708 7,333 40 0,393 0,154 15,4% Menengah Diri 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan meregulasi diri sebesar 0,393 yang setara dengan efek menengah. Harga yaitu 0,154 sehingga jika dikalikan dengan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi yaitu 15,4 %. Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan pengaruh sebesar 15,4% terhadap kemampuan meregulasi diri. Sedangkan, sebesar 84,6% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain atau diluar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). 4.1.4.3 Analisis Lebih Lanjut 1. Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan rerata skor yang signifikan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. a. Uji asumsi normalitas data Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.27 berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 27Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Pretest 0,103 Normal Posttest I 0,74 Normal Eksperimen Pretest 0,92 Normal Posttest I 0,183 Normal 95

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.27 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. b. Uji statistik Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan penggunakan paired samples t-test karena hasil analisis data normal. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel 4.28 berikut (lihat Lampiran 4.7.1). Tabel 4. 28Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Meregulasi diri No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Postest I 1,72 2,33 1,90 2,98 Persentase (%) p Signifikansi 35 57 0,010 0,010 Signifikan Signifikan Tabel 4.28 menunjukkan peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri. Hasil pretest kelompok kontrol sebesar 1,72 rerata dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,90. Nilai rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,33 dan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,98. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 35% sedangkan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 57%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I terhadapkemampuan meregulasi diri.Grafik perbandingan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Rerata Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 3,50 3,00 2,50 2,00 1,50 1,00 0,50 0,00 2,98 2,33 1,72 1,90 Pretest Posttest I Kontrol Eksperimen Gambar 4. 8Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,61 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,08. Kelompok eksperimen memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I terhadapkemampuan meregulasi diri. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,010. Sedangkan hasil Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,010. Kedua kelompok sama-sama memiliki harga p sebesar 0,010, artinya p < 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini berarti bahwa ada peningkatan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. c. Gain score Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas pada gambar 4.9 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.7.3.2). Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Regulasi Diri 6 5 5 Frekuensi 5 4 4 4 3 3 3 3 4 3 Kontrol 3 2 2 1 1 1 Eksperimen 1 0 -0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 2,00 Gambar 4. 9Gain Score Kemampuan Meregulasi diri 97

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.9 di atas menunjukkan bahwa grafik gain terendah pada kelompok kontrol adalah -0,33, sedangkan gain terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,00. Kelompok kontrol memiliki frekuensi paling tinggi pada gain score 0,00. Sedangkan kelompok eksperimen memiliki frekuensi paling tinggi pada gain score 1,00. Gain tertinggi pada kelompok kontrol adalah 1,67 sedangkan gain tertinggi pada kelompok eksperimen adalah 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa selisih pretest-posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol. Frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,67 pada kelompok eksperimen ada 17 siswa, sedangkan pada kelompok kontrol 11 siswa. Nilai 0,67 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,67 pada kelompok kontrol sebesar 52,38%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 80,95%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen model pembelajaran kooperatif TGT memberi dampak pengaruh lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 1. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Uji yang digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, hal ini karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan pada uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I adalah 95%.Hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terdapat pada tabel 4.29 berikut (lihat Lampiran 4.8.1.2 ). No Tabel 4. 29Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek 1 Kontrol -4,895 23,6 20 0,65 0,545 54,5 Besar 2 Eksperimen -8,571 73,46 20 0,89 0,786 78,6 Besar 98

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.30 di atas menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol pada saat posttest I (M = 2,33) lebih besar daripada pretest (M = 1,72) dengan harga t = -4,895, r = 0,65 atau setara dengan efek besar. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen pada saat posttest I (M= 2,98) lebih besar daripada pretest (M = 1,90) dengan harga t = -8,571, r = 0,89 atau setara dengan efek besar. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol sebesar 54,5% dengan kategori efek besar dan pada kelompok eksperimen sebesar 78,6% dengan kategori besar. 2. Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik jika kolerasinya negatif dan signifikan. a. Uji asumsi normalitas data Sebelum melakukan analisis perhitungan uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak < 0,05 maka jika harga p ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.29 berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 30Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I p 0,103 0,074 0,092 0,183 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.30 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. 99

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji statistik Data untuk uji korelasi skor pretest dan posttest I diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan statistik parametrik Pearson’s correlation karena distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p <0,05 (Priyanto, 2012: 45). Berikut merupakan tabel hasil uji kolerasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.9.2). No 1 2 Tabel 4. 31Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Pearson’s Kelompok p Keputusan Correlation Kontrol 0,277 0,224 Positif dan tidak signifikan Eksperimen 0,183 0,427 Positif dan tidak signifikan Tabel 4.31 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,224 (p>0,05) dan harga p pada kelompok eksperimen 0,427 (p>0,05), artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Analisis hasil uji kolerasi menunjukkan bahwa tidak ada kolerasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil Pearson’s Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,277 dan hasil Pearson’s Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,183 yang berarti korelasi antara pretest dan posttest I menunjukkan hasil yang positif. Hasil Pearson’s Correlation positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi, begitu juga sebaliknya. Hasil uji kolerasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diatas menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kolerasi positif dan tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini. 3. Uji retensi pengaruh perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih akurat kekuatannya setelah satu minggu dilakukan 100

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perlakuan (treatment). Uji retensi pengaruh dilakukan dengan memberikan posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Posttest II dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan posttest I. a. Uji normalitas distribusi data Sebelum melakukan analisis perhitungan uji retensi pengaruh perlakuan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor posttest I dan skor posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.32 berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 32Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Posttest I 0,074 Normal Posttest II 0,084 Normal Eksperimen Posttest I 0,183 Normal Posttest II 0,129 Normal Tabel 4.32 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal. b. Uji statistik Analisis data menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II. Artinya terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada tabel 4.33 berikut ini (lihat Lampiran 4.10.2) No 1 2 Tabel 4. 33Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Rerata Kelompok p Posttest Persentase (%) Posttest I II Kontrol 2,3333 1,9838 -14,97% 0,039 Eksperimen 2,9838 2,6829 -10,08% 0,164 Keterangan Signifikan Tidak signifikan 101

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.33 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,039 (p< 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehinggga ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -14,97%. Pada kelompok ekspreimen menunjukkan harga p sebesar 0,164 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehinggga tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen sebesar -10,08%. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada gambar 4.10 berikut. 3,5 2,9838 3 2,6829 Rerata 2,5 2 1,5 1,9043 1,7295 2,3333 1,9838 Kontrol Eksperimen 1 0,5 0 Pretest Posttest 1 Posttest 2 Gambar 4. 10Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Meregulasi diri. Grafik perbandingan skor pretest, posttest I dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,72 sedangkan kelompok eksperimen 1,90. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 2,33 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,98. Rerata posttest II pada kelompok kontrol adalah 1,98 sedangkan kelompok ekperimen adalah 2,68. Rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami peningkatan, sedangkan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan apakah capaian skor rerata posttest II berbeda atau tidak berbeda dengan kondisi awal pada pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dengan posttest II dengan menggunakan statistik parametrik Paired samples t-testkarena data yang diuji adalah data 102

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II yang dapat dilihat pada tabel 4.34 (lihat Lampiran 4.10.2.3). No 1 2 Tabel 4. 34Hasil Analisis Perbedaan Skor Pretest dan Posttest II Rerata Kelompok p Keterangan Pretest Posttest II Kontrol 1,7295 1,9838 0,084 Tidak signifikan Eksperimen 1,903 2,6829 0,000 Signifikan Tabel 4.34 diatas menunjukkan bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan meregulasi diri menunjukkan harga p sebesar 0,084 (p > 0,05) artinya Hnull diterima dan Hi ditolak, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,000 (p < 0,05) artinya Hnull ditolak dan Hi diterima, sehingga ada perbedaan yang sifnifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini berarti bahwa kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan meregulasi diri daripada kelompok kontrol dengan model ceramah. 4.2 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan ekplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan model quasi experimental dengan tipe pretest-posttest nonequivalent group design dilakukan dengan menerapkan model ceramah pada kelompok kontrol dan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) pada kelompok eksperimen. Treatment yang diberikan kepada kelompok kontrol dan eksperimen adalah treatment yang berbeda. Siswa pada kelompok konrol mendengarkan penjelasan materi dari guru dan mencatat apa yang dituliskan guru di papan tulis. Siswa pada kelompok eksperimen mengikuti pembelajaran dengan aktif dan bersemangat melalui kegiatan teams games tournament dengan di damping guru. 103

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siswa pada kelompok eksperimen memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mengembangkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Hal ini dikarenakan siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan. Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif bertanya mengenai apa yang tidak mereka ketahui, dan siswa kelompok eksperimen membuktikan secara langsung tentang sistem pernapasan hewan seperti ikan dan serangga. Ketika pelaksanaan tournament siswa secara bergantian menjadi pembaca soal, panantang 1, dan penantang 2. Suasana kelas menjadi ramai ketika pelaksanaan tournament dilaksanakan. Apabila waktu untuk menjawab setiap soal habis maka guru akan meniup peluit untuk siswa berputar searah jarum jam untuk bergantian menjadi pembaca soal, panantang 1, dan penantang 2. Siswa yang berhasil menjawab soal dengan benar boleh membawa kartu soal tersebut. Sedangkan apabila penantang 1 dan penangtang 2 salah dalam menjawab soal maka skor akan di kurangi satu. Begitu seterusnya hingga pelaksaan tournament selesai. 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian Penarikan kesimpulan dalam penelitian eksperimental memerlukan kehati- hatian. Variabel lain di luar perlakuan dapat mempengaruhi hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang di tarik dalam kesimpulan penelitian (Johnson & Christesen, 2008: 258). Berikut merupakan 11 jenis ancaman penelitian quasi eksperimental dan cara pengendaliannya dalam penelitian ini. 1. Sejarah Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian di lakukan dalam jangka waktu lama (bulan atau tahun). Pada penelitian ini dilakukan dengan kurun waktu yang singkat yaitu selama 2 minggu sehingga ancaman terhadap validitas internal penelitian dapat terkendali dengan baik. 2. Difusi treatment atau kontaminasi (disffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diamdiam saling berkomunikasi serta sama-sama mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan 104

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok eksperimen betul-betul dipisahkan saat kelompok eksperimen diberikan treatment. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi jika treatment yang diberikan di kelompok eksperimen dirasa sangat berharga dan diketahui juga oleh oleh kelompok yang tidak mendapatkan treatment tersebut. Pada penelitian ini, hanya kelompok eksperimen saja yang mendapatkan treatment model pembelajaran kooperatif tipe TGT sedangkan kelompok kontrol tidak. Sehingga, ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat terkendali dengan baik. 4. Maturasi (Maturation) Pada penelitian ini, pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan pada waktu yang hamper berdekatan. Penelitian ini juga dilakukan dengan kurun waktu yang singkat yaitu selama 2 minggu sehingga ancaman terhadap validitas internal penelitian dapat terkendali dengan baik. 5. Regresi statistik Hasil uji kolerasi pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada kemampuan mengeksplanasi memiliki kolerasi rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol dan eksperimen adalah positif dan tidak signifikan. Pada kemampuan meregulasi diri kolerasi rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol dan eksperimen adalah positif dan tidak signifikan. Kondisi ideal jika kolerasinya positif. Ancaman terhadap validitas internal tidak dapat dikendalikan apabila negatif dan signifikan. Sehingga, ancaman terhadap validitas internal penelitian ini berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 6. Mortalitas Pada penelitian ini, ancaman terhadap validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan dengan baik karena seluruh siswa hadir saat pretest, posttest I, dan posttest II. 7. Pengujian (testing) Dalam penelitian ini acaman terhadap validitas internal berupa pengujian (testing) dapat dikendalikan dengan baik, karena kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mendapatkan pretest. 105

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Instrumentasi (instrumentation) Pada peneitian ini, instrumen yang digunakan untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sama. Penelitian ini merupakan penelitian paying sehingga instrumen terdiri dari 18 soal esai, yang masing-masing mewakili kemampuan berpikir kritis yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi dan meregulasi diri. Siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama mengerjakan instrumen yang sama, sehingga ancaman terhadap validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan dengan baik. 9. Lokasi (Location) Ancaman ini terjadi apabila lokasi yang digunakan baik untuk pretest maupun posttest untuk implementasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlalu berbeda. Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan ruang kelas dengan kondisi yang kurang lebih sama sehingga ancaman terhadap validias internal berupa lokasi dapat dikendalikan dengan baik. 10. Karakteristik subjek Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Analisis ini dapat dikelompokkan dalam dua bagian sebagai berikut. a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Jika diabaikan ancaman terhadap validitas internal penelitian ini termasuk kategori tinggi. Pada penelitian ini, kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan kemampuan awal yang setara. Sehingga ancaman terhadap validitas internal dapat dikendalikan dengan baik. b. Jumlah kelompok gender yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada pretest. Pada penelitian ini, jumlah gender berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol terdiri atas kelompok kontrol dengan jumlah 21 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Sedangkan kelompok eksperimen dengan jumlah 21 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Walaupun terdapat perbedaan gender 106

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI baik antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tetapi apabila dilihat dari hasil posttest, skor posttest 4 siswa laki-laki di kelompok kontrol lebih besar dari rerata posttest seluruh siswa kelompok kontrol. Sehingga ancaman terhadap validitas internal dapat dikendalikan dengan baik. 11. Implementasi Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan eksperimen bisa berpengaruh pada skor pretest karena bedanya gaya mengajar. Sebelum penelitian, peneliti sudah memilih salah satu guru dari kedua kelas yang cocok dan berkenan menjadi guru mitra. Berikut adalah tabel ancaman validitas internal yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan dengan baik. Tabel 4. 35Ancaman Terhadap Validitas Internal No Ancaman Validitas Internal Sejarah (history) Tingkat Ancaman Rendah Terkendali (Ya / Tidak) Ya 2. Difusi treatment atau kontaminasi (disffusion of treatment or contamination) RendahMenengah Ya 3. Perilaku kompensatoris RendahMenengah Tidak 4. Maturasi (maturation) Rendah Ya 5. Regresi Statistik Rendah Ya 6. Mortalitas Menengah Ya 7. Pengujian Rendah Ya 1. Cara Pengendalian - Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama ±2 minggu - Kedua kelompok tidak ada komunikasi tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT secara sistematis dan berjanji agar tidak slaing mempelajari treatment pada kelompok eksperimen - Kelompok kontrol tidak diberi model pembelajaran kooperatif tipe TGT sesudah penelitian selesai - Penelitian dilakukan dengan kurun waktu yang singkat yaitu selama 2 minggu - Hasil uji kolerasi pretest posttest I tidak negative - Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama ±2 minggu - Seluruh siswa hadir saat pretest, posttest I, posttest II. - Kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama diberi pretest 107

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Instrumentasi (instrumentation) RendahMenengahTinggi Ya 9. Lokasi (location) Menegah Ya 10. Karakteristik Subjek (kemampuan awal) Tinggi Ya Perbedaan Gender Tinggi Ya Implementasi Tinggi Ya 11. - Memeriksa kelayakan instrumen - Menggunakan instrumen yang sama saat pretest dan posttest - Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama - Kelompok kontrol dan eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama - Kelompok kontrol dan eksperimen memiliki jumlah siswa yang sama - Pembelajaran di kelas kelompok kontrol dan eksperimen menggunakan guru yang sama Berdasarkan tabel 4.35 dan penjelasannya, dapat diketahui ada sebelas ancaman terhadap valitas internal penelitian. Dari sebelas ancaman tersebut, ada sepuluh ancaman yang dapat dikendalikan dengan baik yaitu sejarah, difusi, maturasi, regresi statistik, moralitas, pengujian, instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, implementasi. Ada satu ancaman yang tidak dapat dikendalikan dengan baik yaitu perilaku kompensatoris. Perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan karena kelompok kontrol tidak diberikan treatment yang sama dengan kelompok eksperimen setelah penelitian selesai. Satu ancaman yang tidak dapat dikendalikan ini tidak berdampak sistematik terhadap kesimpulan penelitian. Hampir semua ancaman terhadap validitas internal penelitian dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ada temuan data yang menunjukkan ancaman yang berdampak sistemik. Sehingga kredibilitas penelitian terjamin. 4.2.2 Pembahasan Terhadap Hipotesis 4.2.2.1 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Terhadap Kemampuan Mengeksplanasi Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT)terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Siswa kelas V SD pada umumnya berusia 11 sampai 12 tahun. Berdasarkan teori perkembangan kognitif menurut Piaget, siswa 108

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelas V termasuk dalam tahap oprasional konkret. Pada tahap ini, anak sudah dapat memandang dunia secara objektif, mulai berpikir secara operasional, mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, serta mempergunakan hubungan sebab akibat dapat memahami suatu konsep (Suprano, 2001: 69). Dengan demikian pembelajaran akan efektif jika siswa belajar melalui hal-hal yang konkret. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori konstruktivisme Vygotsky, yang menyatakan bahwa dismensi sosial merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran. Untuk mengoptimalkan suatu pembelajaran perlu adanya perancah (scaffolding). Scaffolding dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak yang dapat memungkinkan terjadinya perkembangan (Salkind, 2009: 381). Pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai scaffolding. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan kemampuan mengeksplanasi. Untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi digunakan instrumen yang sama pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Instrumen ini juga sama pada saat pretest, posttest I dan posttest II yaitu nomor soal 5a, 5b, dan 5c. Hasil sebaran data untuk kemampuan mengeskplanasi kelompok kontrol yang menggunakan model ceramah mengalami peningkatan dari pretest ke posttest I. Soal nomor 5a membahas tentang membuat analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar. Pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 10 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 5 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 8 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 10 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 2 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 3 dan 4 yaitu sebanyak 7 siswa. Soal nomor 5b membahas tentang memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. Pada kelompok kontrol menunjukkan 109

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 11 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 6 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 1, 2, dan 3 yaitu sebanyak 6 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 11 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 6 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 4 yaitu sebanyak 9 siswa. Soal nomor 5c membahas tentang menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. Pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 10 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 5 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 1 yaitu sebanyak 10 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 9 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 1 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 10 siswa. Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat dilihat dari rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 1,7776 dan kelompok kontrol sebesar 1,6981. Perbedaan rerata pretest tidak signifikan dengan harga p sebesar 0,610 (p < 0,05) artinya artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal dapat dikendalikan dengan baik. Setelah dilakukan treatment, hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Hal tersebut dapat dilihat dari harga p sebesar 0,004 (p < 0,05) artinya Hnull ditolak dan Hi diterima. Hasil analisis tersebut menggarisbawahi bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruhterhadap kemampuan mengeksplanasi. Model pembelajaran TGT memberikan pengaruh sebesar 18,5 % terhadap kemampuan mengeksplanasi. Sedangkan 81,5% sisanya 110

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merupakan pengaruh variabel lain diluar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya intelegensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Hasil temuan penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Novianti, I Ketut dan Gede (2017) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media question card berpengaruh terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan IPS. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Ismah & Ernawati (2018) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP N 3 Kasihan ditinjau dari kerjasama siswa. Widayanti dan Slameto (2016) juga meneliti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) berbantuan permainan dadu dengan metode pembelajaran diskusi terhadap pencapaian hasil belajar. Meskipun demikian, penelitian tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT). Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.3. Pada gambar tersebut terlihat selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest ke posttest I kelompok kontrol. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan yang signifikan pada kemampuan mengeksplanasi antara rerata skor pretest ke posttest I. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan 63% dengan harga p sebesar 0,04 (p < 0,05). Sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan 33% dengan harga p sebesar 0,04 (p < 0,05). Pada uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eskperimen sama-sama mengalami peningkatan. Skor kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 43,3% dengan kategori besar. Skor kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 80,2% dengan kategori besar. Berdasarkan hasil tersebut skor kelompok eksperimen meningkat lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. 111

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada uji kolerasi skor, kedua kelompok memiliki kolerasi yang positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Positif memiliki arti bahwa siswa yang mendapat skor tinggi pada pretest akan mendapat skor tinggi pula pada posttest I dan sebaliknya. Tidak signifikan berarti bahwa hasil temuan tidak dapat digeralisasikan untuk populasi. Setelah lebih dari seminggu mengerjakan soal posttest I, kedua kelompok mengerjakan posttest II dengan tujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Kelompok kontrol mengalami penurunan sebesar 5,22%. Kelompok eksperimen mengalami penurunan sebesar 4,56%. Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol kegiatan pembelajaran menggunakan model ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Siswa pada kelompok kontrol menerima pembelajaran melalui penjelasan guru mitra. Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Rerata skor posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada rerata skor posttest I pada kelompok kontrol. Siswa pada kelompok eksperimen dapat mengembangkan kemampuan mengeskplanasi dalam indikator menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, dan menuliskan alasanalasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. 4.2.2.2 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Terhadap Kemampuan Meregulasi Diri Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT)terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Siswa kelas V SD pada umumnya berusia 11 sampai 12 tahun. Berdasarkan teori perkembangan kognitif menurut Piaget, siswa kelas V termasuk dalam tahap oprasional konkret. Pada tahap ini, anak sudah dapat memandang dunia secara objektif, mulai berpikir secara operasional, 112

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, serta mempergunakan hubungan sebab akibat dapat memahami suatu konsep (Suprano, 2001: 69). Dengan demikian pembelajaran akan efektif jika siswa belajar melalui hal-hal yang konkret. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori konstruktivisme Vygotsky, yang menyatakan bahwa dismensi sosial merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran. Untuk mengoptimalkan suatu pembelajaran perlu adanya perancah (scaffolding). Scaffolding dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak yang dapat memungkinkan terjadinya perkembangan (Salkind, 2009: 381). Pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai scaffolding. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan kemampuan meregulasi diri. Untuk mengukur kemampuan meregulasi diri digunakan instrumen yang sama pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Instrumen ini juga sama pada saat pretest, posttest I dan posttest II yaitu nomor soal 6a, 6b, dan 6c. Hasil sebaran data untuk kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol yang menggunakan model ceramah mengalami peningkatan dari pretest ke posttest I. Soal nomor 6a membahas tentang refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri. Pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 10 siswa dan saat posttest I tidak mengalami penurunan. Siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 10 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 13 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 10 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 10 siswa. Soal nomor 6b membahas tentang refleksi diri: menilai kekeliruan cara berpikir. Pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 11 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 10 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 1 dan 2 yaitu 113

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebanyak 10 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 11 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 6 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 9 siswa. Soal nomor 6c membahas tentang koreksi diri: memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. Pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 dan 2 sebanyak 10 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 2 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 10 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 9 siswa dan saat posttest I mengalami penurunan sebanyak 0 siswa. Siswa paling banyak mendapat nilai 4 yaitu sebanyak 8 siswa. Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat dilihat dari rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 1,9043 dan kelompok kontrol sebesar 1,7295. Perbedaan rerata pretest tidak signifikan dengan harga p sebesar 0,211 (p < 0,05) artinya artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal dapat dikendalikan dengan baik. Setelah dilakukan treatment, hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri. Hal tersebut dapat dilihat dari harga p sebesar 0,010 (p < 0,05) artinya Hnull ditolak dan Hi diterima. Hasil analisis tersebut menggarisbawahi bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruhterhadap kemampuan meregulasi diri. Model pembelajaran TGT memberikan pengaruh sebesar 15,4 % terhadap kemampuan mengeksplanasi. Sedangkan 84,6% sisanya merupakan pengaruh variabel lain diluar variabel yang diteliti. Variabel lain 114

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tersebut misalnya intelegensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Hasil temuan penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Novianti, I Ketut dan Gede (2017) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media question card berpengaruh terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan IPS. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Ismah & Ernawati (2018) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP N 3 Kasihan ditinjau dari kerjasama siswa. Widayanti dan Slameto (2016) juga meneliti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) berbantuan permainan dadu dengan metode pembelajaran diskusi terhadap pencapaian hasil belajar. Meskipun demikian, penelitian tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT). Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.8. Pada gambar tersebut terlihat selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest ke posttest I kelompok kontrol. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan yang signifikan pada kemampuan mengeksplanasi antara rerata skor pretest ke posttest I. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan 57% dengan harga p sebesar 0,010 (p < 0,05). Sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan 35% dengan harga p sebesar 0,010 (p < 0,05). Pada uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eskperimen sama-sama mengalami peningkatan. Skor kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 54,5% dengan kategori besar. Skor kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 78,6% dengan kategori besar. Berdasarkan hasil tersebut skor kelompok eksperimen meningkat lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Pada uji kolerasi skor, kedua kelompok memiliki kolerasi yang positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. 115

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Positif memiliki arti bahwa siswa yang mendapat skor tinggi pada pretest akan mendapat skor tinggi pula pada posttest I dan sebaliknya. Tidak signifikan berarti bahwa hasil temuan tidak dapat digeralisasikan untuk populasi. Setelah lebih dari seminggu mengerjakan soal posttest I, kedua kelompok mengerjakan posttest II dengan tujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Kelompok kontrol mengalami penurunan sebesar 14,97%. Kelompok eksperimen mengalami penurunan sebesar 10,08%. Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol kegiatan pembelajaran menggunakan model ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Siswa pada kelompok kontrol menerima pembelajaran melalui penjelasan guru mitra. Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Rerata skor posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada rerata skor posttest I pada kelompok kontrol. Siswa pada kelompok eksperimen dapat mengembangkan kemampuan meregulasi diri dalam indikator refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir, refleksi diri : menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, koreksi diri : memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengeskplanasi dan meregulasi diri. Pada penelitian sebelumnya diperlihatkan: 1) model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media question card berpengaruh terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan IPS (Novianti, I Ketut dan Gede, 2017), 2) penggunaan model pembelajaran Teams Game Tournament (TGT) berbasis teka-teki silang 116

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif (Rosady, Yasinta dan Markus, 2017), 3) terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) berbantuan permainan dadu dengan metode pembelajaran diskusi terhadap pencapaian hasil belajar (Widayanti dan Slameto, 2016). Pembelajaran kooperatif tipe TGT sama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen, dimana pada penelitian ini variabel dependennya adalah kemampuan mengeskplanasi dan regulasi diri. Meskipun demikian, ada unsur baru yang ditemukan melalui penelitian ini yang berbeda dengan penelitian sebelumnya, yaitu 1) adanya populasi penelitian yang merupakan siswa kelas V SD, 2) ada materi baru yang diteliti mengenai sistem pernapasan hewan. Penelitian ini membuat siswa berusaha memahami pengetahuan melalui pengalaman langsung dan melalui objek yang konkret. Hal ini sejalan dengan teori Piaget pada tahap operasional konkret menyatakan oprasional konkret adalah tindakan mental anak yang bisa bolak balik dan berkaitan dengan objek yang nyata dan konkret. Operasional konkret memungkinkan anak untuk mengkoordinasi beberapa karakteristik daripada berfokus pada suatu sifat benda (Santrock, 2009: 55). Selain itu, perkembangan anak bukan hanya melalui aspek kognitif saja melainkan juga melalui aspek sosial. Vygotsky menyatakan orang lain dan bahasa memainkan peran kunci dalam perkembangan kognitif seorang anak (Santrock, 2009: 62). Sependapat dengan teori Vygotsky, perkembangan kognitif siswa dibantu dengan adanya interaksi dengan orang lain yang lebih berpengetahuan seperti guru dan teman sebaya. Guru mampu mengembangkan kemampuan kognitif siswa tersebut salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memiliki manfaat antara lain di dalam kelas kooperatif siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapat dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang di pelajari (Taniredja, Faridli, & Harmianto, 2011: 72). Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), baik antara siswa dan guru atau siswa dengan siswa yang lain saling berinteraksi. Setiap siswa memiliki tanggung jawab, berperan dalam pembagian tugas dan tercipta interaksi serta komunikasi antar siswa. Interaksi dan 117

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI komunikasi ini memungkinkan terjadinya pertukaran informasi saat belajar dalam tim pada salah satu langkah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Pada langkah games dan tournament dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa. Hal ini terjadi karena kelompok pada meja tournament terdiri dari siswa yang berlatar belakang dan kemampuan akademis yang berbeda. Pada penelitian ini siswa berusaha memahami pengetahuan mengenai sistem pernapasan hewan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan masalah, menjelaskan dan memberikan suatu alasan dari hasil pemikiran sendiri maupun orang lain tentang suatu konsep, metode, kriteria dan konteks yang digunakan dalam menarik kesimpulan (Facione, 2015). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) siswa dapat menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, dan menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. Meregulasi diri kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2015 : 5). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) siswa dapat merefleksikan cara berpikirnya sendiri, menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, dan memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu memecahkan masalah pendidikan di Indonesia khususnya pada bidang sains berdasarkan hasil studi 118

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PISA. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang bernaung pada Organization Economic Cooperation and Development (OECD). Setiap tiga tahun sekali, PISA melakukan survei untuk mengetahui sistem pendidikan dan hasil belajar siswa di berbagai Negara dengan focus mata pelajaran IPA, membaca dan matematika. Pada tahun 2009, Indonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara di dunia dengan skor IPA 383 (OCED, 2010: 8). Kemudian pada tahun 2012, mutu pendidikan Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009. Pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara dengan skor IPA 382 (OCED, 2013: 5). Pada tahun 2015, Indonesia berada pada urutan ke 62 dari 70 negara dengan skor perolehan IPA 403 (OECD, 2016: 5). Hasil penelitian PISA tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia mengalami permasalahan khususnya pada mata pelajaran IPA. Hasil ini sangat memprihatinkan karena Indonesia masih berada di peringkat 10 besar terbawah. Dengan demikian, perlu adanya usaha perbaikan dalam pembelajaran IPA di sekolah. Penggunaan model pembelajaran yang membuat siswa aktif bisa menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pembelajaran IPA. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pembelajaran IPA di Indonesia. 119

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Kesimpulan berisi hasil penelitian yang mengafirmasi hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan selama penelitian dilakukan. Saran berisi masukan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent Samples t-test menunjukkan Hnull ditolak. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,12, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai kelompok kontrol (M= 0,55, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t(40) = -3,01 dan p = 0,004 (p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeskplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Besar pengaruh perlakuan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi adalah r = 0,430 atau 18,5 % yang setara dengan efek menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent Samples t-test menunjukkan Hnull ditolak. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,07, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai 120

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol (M= 0,60, SE = 0,12). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t(40) = -2,708 dan p = 0,010 (p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Besar pengaruh perlakuan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan meregulasi diri adalah r = 0,394 atau 15,4% yang setara dengan efek menengah. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris (kelompok kontrol merasa didevaluasi) tidak dapat dikendalikan dengan baik, meskipun demikian kelompok yang tidak mendapatkan treatment sudah diberikan pengertian sehingga tidak mengalami demoralisasi. 5.2.2 Hasil penelitian terbatas pada siswa kelas V salah satu sekolah dasar swasta di Yogyakarta sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan ke semua sekolah. 5.3 Saran 5.3.1 Penelitian selanjutnya sebaiknya meyakinkan kepada kelompok kontrol akan mendapatkan treatment yang sama dengan kelompok eksperimen. 5.3.2 Penelitian ini perlu diujicobakan ke sekolah lain dengan penelitian yang serupa. 121

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, R.(2014). Pengantar pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Ahmatika, D.(2016). Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dengan pendekatan inquiry/discovery.Bandung : Universitas Islam Nusantara. Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2014). Dasar-dasar evluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Best, J. W., & Kahn, J. V. (2006). Research in education (10th ed.). Boston: Pearson. BSNP.(2006). Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Jakarta: BSNP. Crain. (2007). Teori perkembangan: Konsep dan aplikasi edisi ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. W. (2015). Educational research: planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research, fifth edition. Boston: Pearson Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K.(2007). Research methods in education (6th ed.). London: Routledge. Daryanto & Muljo. (2012). Model pembelajaran kooperatif. Yogyakarta : Gava Media. Emzie. (2009). Metodologi penelitian pendidikan: Kuantitatif dan kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Facione. (1990). Critical Thinking: a statement of expert consensus for purpose of educational assessment and instruction, the Delphi report. Diakses tanggal 6 Maret 2018, dari www.insightassessment.com/pdf _files/DEXadobe.PDF Facione.(2015). Critical Thinking: What it is and why it counts. San Francisco: Insight Assesment. Diakses tanggal 7 Maret 2018, dari www.insightassessment.com/pdf_files/what&why2006.pdf Farikiyah.(2014). Penerapan problem based learning dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Jurnal pendidikan IPA 2014 : 95-101. Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (third edition). Los Angles: Sage. 122

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). New York: McGraw Hill. Fuad, Zubaidah, Mahanal & Suarsini. (2017). Improving junior high school critical thinking skills based on test three different models of learning. International Journal of Instruction Vol.10 No. 1. Diakses tanggal 28 April 2018 dari https://eric.ed.gov/?id=EJ1125163 Huda, M. (2012). Cooperative learning : Metode, teknik, sktruktur, dan model penerapan. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Isjoni. (2013). Pembelajaran kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Ismah, Z & Ernawati, T. (2018) Pengaruh model pembelajaran teams games tournament (tgt) terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP ditinjau dari kerjasama siswa.Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,J.Pijar MIPA, Vol. XIII No. 1. Diakses tanggal 30 April 2018 dari http://jurnalfkip.unram.ac.id/index.php/JPM/article/view/576/673 Jariyah, I.A. (2017). Efektivitas pembelajaran inkuiri dipadu sains teknologi masyarakat(STM) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA. Jurnal Pendidikan biologi Indonesia, Volume 3 No 1 tahun 2017. Diakses pada tanggal 28 April 2018 dari http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jpbi/article/view/3888/4602 Jarvis, M.(2011). Teori-teori psikologi. Bandung: Nusa Media. Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. Ed.). California: Sage Publications. Johnson. (2010). Contextual teaching and learning: Menjadikan kegiatan belajar mengajar mengasyikan dan bermakna. Bandung: Kaifa. Johnson, R. B., & Christensen, L. (2017). Educational research:Quantitative, qualitative, and mixed approaches (6th ed.). Los Angeles: SAGE Publications. Jonathan, S. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Kasmadi& Sunariah, N. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Kemendikbud. (2017). Buku siswa tema II kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. 123

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research, an integrated approach (2nd ed.). Illinois: Waveland. Lodico, M. G., Spaulding, D. T. & Voegtle, K. H. (2006). Methods in educational research: From theory to practice. San Francisco: Jossey-Bass. Mansur, dkk. (2009). Assesmen pembelajaran di sekolah. Yogyakarta: Multi. Mariana, M. (2009). Hakikat IPA dan pendidikan IPA. Bandung : PPPPTK IPA. Martono, N. (2010). Metode penelitian kuantitatif analisis isi dan analisis data sekunder. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Masidjo. (2010). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Meggit, C.(2013). Memahami perkembangan anak. Jakarta: PT Indeks. Novianti, I Ketut & Gede.(2017). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe tgt berbantuan media question card terhadap penguasaan kompetensi pengetahuan ips.e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Mimbar PGSD Vol: 5 No: 2 Tahun: 2017, diakses tanggal 8 April 2018 dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/viewFile/10807/69 09 Nurgiyantoro. (2011). Penilaian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: BPFE. Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Eds.7. Penerjemah: Edina T. S. Jakarta: PT Indeks. OECD. (2010). PISA 2009 result: Executive summary. Diaskes tanggal 24 Maret 2018, dari https://www.oecd.org/pisa/pisaproducts/46619703.pdf OECD. (2013). PISA 2012 result in focus: What 15-years-old know and what they can do with what the know. Diaskes tanggal 24 Maret 2018, dari https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf OECD. (2016). PISA 2015 result in focus. Diaskes tanggal 24 Maret 2018, dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf Priyanto, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan non parametrik dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media. Putra. (2013). Desain belajar mengajar kreatif berbasis sains. Yogyakarta: DIVA Press. Rachman, A. (1993). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana. 124

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rusman. (2017). Belajar dan proses pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana. Retnosari, Susilo & Suwono. (2016). Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan multimedia interaktif terhadap berpikir kritis siswa kelas XI SMA Negeri di Bojonegoro. Jurnal Pendidikan: Teori, penelitian dan pengembangan, Volume 1 Nomor 8 Bulan Agustus tahun 2016. Diakses tanggal 27 April 2018 dari http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/view/6635/2839 Salkind.(2009). Teori teori perkembangan manusia. Bandung : Nusa Media Sanjaya, W.(2010). Strategi pembelajaran berorientasi pendidikan, cet. VII. Jakarta: Prenada Media Group. standar proses Santrock, J.(2012). Life-span development: Perkembangan masa hidup edisi ketigabelas jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga. Santrock. (2009). Psikologi pendidikan edisi 3 buku 1. Jakarta: Salemba Humanika. Santrock. (2014). Psikologi pendidikan edisi 5. Jakarta: Salemba Humanika. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di sekolah dasar. Jakarta: Indeks. Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Siregar, S. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Slavin, R. E. (2008). Cooperative learning: Teori, riset dan praktik. Bandung : Nusa Media. Sudijono. (2011). Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyanto. (2010). Model-model pembelajaran inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka bekerjasama dengan FKIP UNS. Sugiyono. (2012). Memahami penelitian kuantitatif. Bandung: CV ALFABETA. Sugiyono. (2015). Metode penelitian pendidikan. Bandung : ALFABETA. Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. 125

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Shadish, W. R., Cook, T. D., & Campbell, D. T. (2002). Experimental and quasiexperimental designs for generalized causal inference. Boston: Houghton Mifflin Co. Suparno. (2000). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Supratiknya, A. (2006). Menggugat sekolah: Kumpulan esai tentang psikologi dan pendidikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Suprijono, A. (2009). Cooperative learning teori dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Surya, Mohamad. (2003). Psikologi pembelajaran dan pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya. Tawil & Liliasari. (2013). Berpikir kompleks dan implementasinya dalam mata pelajaran IPA. Makasar: Badan Penerbir Universitas Negeri Makasar. Taniredja, T., & Faridli. (2014). Model-model pembelajaran inovatif. Bandung: Alfabeta. Taniredja, T., & Mustafidah, H. (2011). Penelitian kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Taniredja, Faridli & Harmianto. (2011). Model-model pembelajaran inovatif. Bandung: Alfabeta. Triwiyanto, T. (2014). Pengantar pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatifberorientasi konstruktivisme. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Wahyuni, R. (2016). Pembelajaran kooperatif bukan pembelajaran kelompok konvensional.Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3, No. 1, Maret 2016. Wilis, R. (2011). Theories belajar dan pembelajaran, Cet. V, Jakarta: Erlangga. Wijaya, Sudjimat & Nyoto. (2016). Transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan pengembangan sumbed daya manusia di era digital. Volume 1 Tahun 2016 ISSN 2528-259X. Diakses tanggal 24 November 2018 dari http://repository.unikama.ac.id/840/32/263278%20TRANSFORMASI%20PENDIDIKAN%20ABAD%2021%20SEB AGAI%20TUNTUTAN%20PENGEMBANGAN%20SUMBER%20DAYA %20MANUSIA%20DI%20ERA%20GLOBAL.pdf 126

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Widayanti & Slameto. (2016). Pengaruh penerapan metode teams games tournament berbantuan permainan dadu terhadap hasil belajar IPA. Junal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 6 No. 3 tahun 2016 diakses tanggal 8 Agustus 2018 dari http://ejournal.uksw.edu/scholaria/article/view/544/351 Wonorahardjo, S. (2010). Dasar-dasar sains: Menciptakan masyarakat sadar sains. Jakarta: PT Indeks. Yatim, R. (2009). Paradigma pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group. 127

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 128

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 1Surat Izin Penelitian 129

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 2Surat Izin Validasi Soal 130

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 1Silabus Kelompok Kontrol 131

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 2Silabus Kelompok Eksperimen 134

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 3Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 138

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 4Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 143

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 1Soal Uraian Soal Uraian Petunjuk pengerjaan soal: 1. Siswa tidak diperbolehkan berdiskusi dengan teman lain! 2. Siswa tidak diperbolehkan membawa dan membuka buku catatan/pelajaran! 3. Siswa menjawab soal pada lembar soal! 4. Semua soal wajib dikerjakan! 5. Waktu pengerjaan soal 100 menit! Bacalah soal-soal di bawah ini dan jawablah dengan tepat! 1. Nana pergi bertamasya ke kebun binatang. Di sana Nana melihat berbagai macam hewan. Seperti macan, jangkrik, katak, monyet, belalang, kupu-kupu, ular, kuda nil, kijang, lebah, harimau, ikan, kumbang, burung, nyamuk, gajah, kecoa, cacing, kuda, lintah dan unta. a. Dapatkah kamu membantu Nana untuk mengelompokkan dengan menuliskan minimal empat hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea, sesuai dengan hewan yang telah dilihat oleh Nana di kebun binatang! Hewan yang bernapas dengan paru-paru Hewan yang bernapas dengan trakea b. Perhatikan gambar alat pernapasan paru-paru pada hewan mamalia di bawah ini, kemudian berilah nama pada setiap bagian yang diberi tanda di bawah ini! 153

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. 2. 3. 4. 5. c. Jelaskandua tahap pernapasan ikan dengan bahasamu sendiri! Tahapan inspirasi adalah Jawab:……………………………………………………………………… …………………………….............................................................................. ...................................................................................................................... Tahapan ekspirasi adalah Jawab:……………………………………………………………………… …………………………….............................................................................. .......................................................................................................................... 2. a. Jelaskan minimal empat ciri hewan mamalia dan serangga! Ciri-ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru dan hidup di darat Jawab:……………………………………………………………………… ……………...……………………………………………………………....... ...................................................…………………………………………… Ciri-ciri hewan serangga yang bernapas dengan trakea Jawab:……………………………………………………………………… ……………..……………………………………………………………….... .................................................……………………………………………… 154

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Dodi memiliki ikan arwana yang diletakkan di dalam akuarium. Ketika libur sekolah, Dodi membersihkan akuarium tersebut. Dodi memindahkan ikan arwana tersebut ke dalam baskom berukuran kecil yang berisi air kotor. Setelah selesai membersihkan akuarium Dodi melihat ikan tersebut sudah lemas. Berdasarkan cerita di atas, apa penyebab ikan arwana milik Dodi lemas? Tuliskan minimal dua jawabanmu! Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… c. Berdasarkan cerita Dodi diatas apa nama bagian tubuh ikan dan organ pernapasan ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika berada di dalam baskom? Tuliskan dua jawabanmu! Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 3. Tentukan benar atau salah pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan alasannya! a. Katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas dengan insang (Benar/Salah). Alasan: .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... b. Paus merupakan golongan ikan yang bernapas menggunakan paruparu(Benar/Salah) Alasan: .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... c. Tentukan benar atau salah kesimpulan pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan alasannya! Mayor: Hewan amfibi bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit Minor: Katak dewasa merupakan hewan amfibi 155

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kesimpulan: Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. (Benar/Salah) Alasan: .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... 4. Jawablah pertanyaan di bawah ini! a. Rino akan mengganti air dalam akuarium yang sudah kotor. Rino menggunakan tiga alat yaitu gayung, jaring, dan tangan. Tuliskan langkah-langkah mengganti air dalam akuarium dengan gayung, jaring, dan tangan tersebut agar ikan tidak mati! Jawab: .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... b. Seandainya jarak antara akuarium dengan wadah sementara agak jauh, manakah dari gayung, jaring, dan tangan yang paling efektif? Tuliskan dua alasanmu! Jawab: .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... 156

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Perhatikan gambar di bawah ini! Akurium Rino menggunakan filter yang menghasilkan gelembunggelembung air. Filter di dalam akuarium dapat menyaring kotoran yang ada di dalam air. Jadi filter dapat menggantikan tugas Rino. Berdasarkan cerita di atas, buatlah tiga kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium! Jawab: ……………………………………………………………………………… ………….......................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... 5. Perhatikan gambar di bawah ini! 157

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Ceritakan isi gambar di atas minimal dengan tiga kalimat yang berhubungan dengan sistem pernapasan kupu-kupu ! Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… b. Setujukah kamu dengan yang dilakukan oleh Tina dan Tini pada gambar di atas terkait dengan sistem pernapasan kupu-kupu! Berikan alasanmu! Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… …………………………......………………………………………………… c. Perhatikan gambar berikut! Ketika ikan berenang di dalam akuarium, ikan sering membukadan menutup mulutnya dan mengeluakan gelembung-gelembung. Mengapa ikan harus membuka dan mentup mulutnya serta mengeluarkan gelembung saat berenang di dalam akuarium ? Sebutkan dua alasan! Jawab : ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 6. Ketika kamu dan adikmu sedang bermain. Kamu melihat anak ayam yang tercebur ke dalam kolam yang berisi air sedalam setengah meter. Anak ayam tersebut tidak dapat berenang dan terlihat kesulitan untuk bernapas. a. Cara apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan anak ayam tersebut ? Sebutkan minimal dua alasan! Jawab : 158

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… b. Apabila setelah kamu menyelamatkan anak ayam tersebut. Ternyata adikmu melihat anak ayam itu kedinginan dan untuk menghangatkannya adikmu memegang leher anak ayam itu dengan kencang. Sehingga anak ayam itu tidak dapat bernapas dengan baik. Apakah : 1) Kamu menegur adikmu, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu untuk penghangat 2) Kamu mengikuti adikmu menggenggam anak ayam itu dengan kencang supaya anak ayam itu tidak kedinginan Alasan: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… c. Apakah tindakan yang kamu lakukan itu sudah tepat ? Berikan minimal dua alasan! Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 159

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 2Kunci Jawaban 1. Menginterpretasi Nana pergi bertamasya ke kebun binatang. Di sana Nana melihat berbagai macam hewan. Seperti macan, jangkrik, katak, monyet, belalang, kupu-kupu, ular, kuda nil, kijang, lebah, harimau, ikan, kumbang, burung, nyamuk, gajah, kecoa, cacing, kuda, lintah dan unta. a. Dapatkah kamu membantu Nana untuk mengelompokkan dengan menuliskan minimal eempat hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea, sesuai dengan hewan yang telah dilihat oleh Nana di kebun binatang! (Membuat kategori: membuat klasifikasi atas data-data dengan menggunakan skema tertentu) Kunci jawaban : Hewan yang bernapas dengan paru- Hewan yang bernapas dengan paru trakea Macan Jangkrik Monyet Belalang Gajah Kupu-kupu Kuda Nil Lebah Kijang Nyamuk Kuda Kumbang Harimau Kecoa b. Perhatikan gambar alat pernapasan paru-paru pada hewan mamalia di bawah ini, kemudian berilah nama pada setiap bagian yang ditandai atau diberi tanda di bawah ini!(Memahami arti: Menginterpretasikan gambar) 160

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. 2. 3. 4. 5. Kunci jawaban: 1. Trakea 2. Bronkiolus 3. Alveolus 4. Alveolus diliputi pe,mbuluh darah 5. Bronkus c. Jelaskan dua tahap pernapasan ikan dengan bahasamu sendiri! (Menjelaskan makna: Membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula) Kunci jawaban: Tahapan Inspirasi merupakan tahapan pengambilan air terhadap insang. Proses tahap inspirasi insang menutup, mulut terbuka sehingga air masuk kedalam rongga mulut. Tahap Ekspirasi adalah tahap pengeluaran air. Setelah air masuk kerongga mulut celah mulut menutup, tutup insang membuka. Hal ini menyebabkan air keluar melawati celah insang. Pertukaran antara O2 dan CO2 terjadi pada tahap ekspirasi. 2. Menganalisis a. Jelaskan minimal empat ciri hewan dibawah ini!(Menguji gagasangagasan: mendefinisikan istilah yang abstrak) Ciri-ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru danhidup di darat Jawab:……………………………………………………………………… 161

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ……….……..……………………………………………………………....... .......................................................................................................................... Ciri hewan yang bernapas dengan trakea Jawab:……………………………………………………………………… ………..……..……………………………………………………………….. .......................................................................................................................... Kunci jawaban : Ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru dan hidup di darat : 1. Berkembangbiak dengan beranak 2. Berambut 3. Memiliki daun telinga 4. Memiliki ekor 5. Memiliki tulang belakang 6. Berdarah panas Ciri-ciri hewan yang bernapas dengan trakea 1. Tubuhnya beruas-ruas terbagi menjadi 3 bagian yaitu kepala, dada, dan perut 2. Memiliki 3 pasang kaki yang pangkalnya menyatu 3. Memiliki sepasang antena 4. Mata majemuk 5. Berkembangbiak dengan cara bertelur b. Dodi memiliki ikan arwana yang diletakkan di dalam akuarium. Ketika libur sekolah, Dodi membersihkan akuarium tersebut. Dodi memindahkan ikan arwana tersebut ke dalam baskom berukuran kecil yang berisi air kotor. Setelah selesai membersihkan akuarium Dodi melihat ikan tersebut sudah lemas. Berdasarkan cerita di atas, jelaskan dua penyebab ikan arwana milik Dodi lemas? (Mengidentifikasi argument: menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di Koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu). Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……….……………………………………………………………………… 162

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kunci Jawaban: 1. Baskom terlalu kecil untuk menampung ikan arwana 2. Air baskom yang digunakan kotor 3. Ikan arwana kekurangan oksigen 4. Jangka waktu dalam memindahkan ikan arwana terlalu lama c. Berdasarkan cerita Dodi diatas apa nama bagian tubuh ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika ikan berada di dalam baskom? Tuliskan dua jawaban beserta alasannya! (Menganalisis argument: menganalisis rangkaian argument yang dikembangkan dan yang digunakan pengarang sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tertentu) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………...……………….................................................................................. Kunci jawaban: 1. Insang. karena oksigennya sedikit, 2. Mulut( karena tidak dapat bergerak dengan leluasa untuk menghirup udara), 3. Ekor (karena tidak leluasa untuk bergerak). 4. Sirip (karena sirip ikan tertekan oleh baskom yang kecil) 3. Mengvaluasi Tentukan benar atau salah pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang tepat! Tuliskan dua alasannya!(Menilai sah tidaknya klaim-klaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki) a. Katakdewasa adalah hewan amfibi yang bernapas dengan insang (Benar/Salah). Kunci Jawaban: Salah. Karena katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. b. Paus merupakan golongan ikan yang bernapas menggunakan paruparu(Benar/Salah) Kunci jawaban: 163

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Salah, karena paus tergolong hewan mamalia yang bernapas menggunakan paru-paru dan hidup di air. c. Tentukan benar atau salah kesimpulan pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan dua alasannya!(Menilai sah tidaknya argumen-argumen: menilai apakah suatu kesimpulan ditarik dari premis-premis yang benar) Mayor: Hewan amfibi bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit Minor: Katak dewasa merupakan hewan amfibi Kesimpulan: Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. (Benar/Salah) Kunci jawaban: Benar, karena katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. Katak dewasa dapat hidup di air dan darat sama seperti buaya. 4. Menarik Kesimpulan a. Jawablah pertanyaan di bawah ini! Rino akan mengganti air dalam akuarium yang sudah kotor. Rino menggunakan tiga alat yaitu gayung, jaring, tangan. Tuliskan cara mengganti air dalam akuarium dengan tiga alat tersebut agar ikan tidak mati! (Menguji bukti-bukti: menguji informasi-informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan) Kunci jawaban: Cara 1 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan gayung yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) 164

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Cara 2 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan jaring yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) Cara 3 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan tangan yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) b. Seandainya jarak antara akuarium dengan wadah sementara agak jauh, manakah dari gayung, jaring, dan tangan yang paling efektif? Tuliskan dua alasanmu!(Menerka alternatif-alternatif: merumuskan berbagai alternativeuntuk memecahkan suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan) Kunci jawaban: Memindahkan ikan dengan menggunakan gayung Alasan: Ikan tidak terlempar atau melompat apabila dipindahkan menggunakan gayung Seluruh bagian tubuh ikan dapat masuk ke dalam gayung dengan sempurna Saat memindahkan menggunakan gayung, ikan masih bisa menghirup oksigen karena terdapat air di dalam gayung 165

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Perhatikan gambar di bawah ini! Rino mempunyai akuarium. Di dalam akuarium itu terdapat filter air, dengan adanya filter air Rino tidak perlu sering mengganti air yang ada di dalam akuarium. Filter air juga memberikan gelembung di dalam akuarium. Filter dapat memperlancar sirkulasi air pada akuarium. Jadi filter dapat menggantikan tugas Rino. Berdasarkan cerita di atas, buatlah tiga kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium!(Menarik kesimpulan: menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan) Kunci jawaban: 1. Filter dapat membantu untuk menambah oksigen pada akuarium 2. Filter air dapat menyaring kotoran yang ada di dalam akuarium 3. Filter dapat membuat suhu air pada akuarium sesuai dengan suhu yang dibutuhkan ikan 4. Filter dapat memperlancar sirkulasi air 166

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Mengeskplanasi Perhatikan gambar di bawah ini! a. Ceritakan isi gambar di atas minimal dengan tiga kalimat yang berhubungan dengan sistem pernapasan kupu-kupu ! (Menjelaskan hasil penalaran: Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… Kunci Jawaban: Tina dan Tini menangkap kupu-kupu di taman saat mereka bermain. Kemudian Tina dan Tini memasukkan kupu-kupu tersebut ke dalam toples. Toples tersebut tidak diberi lubang sirkulasi udara. Hal ini tentunya menganggu sistem pernapasan kupu-kupu karena tidak adanya sirkulasi udara. Apabila dibiarkan terus-menerus, kupu-kupu tersebut akan mati. b. Setujukah kamu dengan yang dilakukan oleh Tina dan Tini pada gambar di atas terkait dengan sistem pernapasan kupu-kupu! (Membenarkan prosedur yang digunakan: Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… Kunci Jawaban: Tidak. Karena toples tidak diberi lubang sirkulasi udara untuk bernapasnya 167

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kupu-kupu. c. Perhatikan gambar berikut! Ketika ikan berenang di dalam aquarium, ikan sering membuka dan menutup mulutnya dan mengeluarkan gelembung-gelembung. Mengapa ikan harus membuka dan menutup mulutnya serta mengeluarkan gelembung saat berenang di dalam akuarium ? Sebutkan dua alasan! (Memaparkan argumen-argumen yang digunakan : Menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… Kunci Jawaban: 1. Mulut ikan selalu membuka dan menutup karena ikan sedang bernafas,denga memasukkan air ke dalam insang agar oksigen di air bisa disaring dan diedarkan ke seluruh tubuh ikan. Karena itu ikan akan terus membuka dan menutup mulutnya agar air bisa terus masuk. 2. Ikan mengeluarkan gelembung karena oksigen yang dihirup oleh insang ikan sudah tidak berbentuk gas namun berwujud oksigen yang sudah terlarut di air. Karbon dioksida yang dikeluarkan dari insang pun sudah tidak berwujud gas tetapi gelembung. 6. Meregulasi diri Ketika kamu dan adikmu sedang bermain. Kamu melihat anak ayam yang tercebur ke dalam kolam yang berisi air sedalam setengah meter. Anak ayam tersebut tidak dapat berenang dan terlihat kesulitan untuk bernapas. a. Cara apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan anak ayam tersebut ? Sebutkan minimal dua alasan! (Refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir) 168

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… Kunci Jawaban: 1. Menolong anak ayam keluar dari kolam dengan cara: 2. Menggunakan galah untuk menggiring anak ayam keluar dari kolam. 3. Turun ke kolam untuk mengambil anak ayam keluar dari kolam. b. Apabila setelah kamu menyelamatkan anak ayam tersebut. Ternyata adikmu melihat anak ayam itu kedinginan dan untuk menghangatkannya adikmu memegang leher anak ayam itu dengan kencang. Sehingga anak ayam itu tidak dapat bernapas dengan baik. (Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri) Apakah : 1. Kamu menegur adikmu, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu untuk penghangat 2. Kamu mengikuti adikmu menggenggam anak ayam itu dengan kencang supaya anak ayam itu tidak kedinginan Alasan:……………………………………………………………………… ……………………………….......................................................................... Kunci Jawaban: Apabila adik saya memegang leher anak ayam tersebut dengan kencang maka saya akan: Saya menegur adik saya, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu Karena apabila dibiarkan lama dan digenggam lehernya dengan kencang maka anak ayam tersebut tidak dapat bernapas dengan baik dan akan mati. Kemudian saya juga memasukkan ke dalam kardus yang sudah ada lampunya agar anak ayam itu tidak kedinginan dan tidak mati. c. Apakah tindakan yang kamu lakukan itu sudah tepat ? Berikan minimal dua alasan! (Koreksi diri : memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya) 169

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… Kunci Jawaban: Ya, tindakan yang saya lakukan sudah tepat karena : 1. Anak ayam tidak bisa bernapas bila di genggam lehernya dengan kencang maka genggaman tangan harus di lepaskan. Selain itu apabila anak ayam dibiarkan digenggam dengan kencang maka anak ayam tersebut dapat mati karena kehabisan oksigen utuk bernapas. 2. Meletakan anak ayam yang kedinginan di dalam kardus yang sudah diberi lampu dapat membuat tubuh anak ayam itu hangat. 170

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 3Rubrik Penilaian No Soal 1 Variabel Indikator Kriteria Jika mengelompokkan dengan menuliskan 8 jawabandengan benar Jika mengelompokkan dengan menuliskan 6 Mengelompokkan jawabandengan benar dengan menuliskan Jika mengelompokkan hewan yang dengan menuliskan 4 bernapas dengan jawabandengan benar paru-paru dan trakea Jika mengelompokkan dengan menuliskan 2 jawabandengan benar atau tidak ada jawaban yang benar Jika menuliskan 5 jawabandengan benar pada gambar paru-paru hewan mamalia Jika menuliskan 4 jawabandengan benar pada gambar paru-paru Memahami nama hewan mamalia Menginterpretasi pada gambar paruJika menuliskan 3 paru hewan jawabandengan benar mamalia pada gambar paru-paru hewan mamalia Jika menuliskan 2 jawabandengan benar pada gambar paru-paru hewan mamalia atau jawaban salah Jika menjelaskan 2 tahap pernapasan ikan dengan benar Jika menjelaskan 1 tahap pernapasan ikan Menjelaskan dengan benar dan 1 pengertian tahapan tahapan kurang tepat insprirasi dan tahapan ekspirasi Jika menjelaskan 1tahap pernapasan ikan dengan benar dan 1 tahapan tidak tepat Jika menjelaskan 2 Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 171

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menjelaskan ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru hidup di darat dan ciri hewan yang bernapas dengan trakea Menjelaskan penyebab ikan arwana lemas dari suatu bacaan 2 Menganalisis Menjelaskan bagian tubuh ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika ikan berada di dalam baskom yang berukuran kecil tahap pernapasan tidak tepat Jika menjelaskan 8 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 6 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 4 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 2 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan2 penyebab ikanlemas dengan benar Jika menjelaskan2 penyebab ikanlemas tetapi 1 penyebab kurang tepat Jika menjelaskan1 penyebab ikanlemas dengan benar Jika menjelaskan penyebab ikanlemas dengan tidak tepat atau tidak menjawab dengan benar Jika menjelaskan 2 jawaban dengan benar dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjelaskan2 jawaban dengan benar dan memberikan alasan kurang tepat Jika menjelaskan1 jawaban dengan benar dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjelaskan jawaban dengan tidak tepat atau tidak 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 172

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjawab soal Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada ikan Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada paus 3 Mengevaluasi Menilai kebenaran penarikan kesimpulan mengenai pernapasan katak Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan salah Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan salah Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasankurang tepat 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 173

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium 4 Membuat alternatif pemecahan masalah tentang pemilihan alat memindahkan Menginferensi ikan Membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium 5 Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menarik kesimpulan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menuliskan 3 alat dan langkah-langkah yang tepat Jika menuliskan 2 alat dan langkah-langkah yang tepat Jika menuliskan 1 alat dan langkah-langkah yang tepat Jika menuliskan 1 alat dan langkah-langkah yang kurang tepat Jika memilih alat benar dan 2 alasan dengan tepat Jika memilih alat benar dan 1 alasan tepat Jika memilih alat benar dan alasan kurang tepat Jika memilih alat salah dan alasan kurang tepat Jika menuliskan 3 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan 2 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan 1 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan kesimpulan dengan tidak tepat Jika mampu menuliskan 3 Menjelaskan analisis kalimat dengan tepat dan penilaian Jika mampu menuliskan 2 terhadap suatu kalimat dengan tepat Mengeksplanasi permasalahan Jika mampu menuliskan 1 melalui gambar kalimat dengan tepat Jika tidak menjawab sama 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 174

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Meregulasi Diri sekali atau tidak menjawab dengan tepat Jika menjawab dengan benar dan memberikan alasan yang sangat tepat Memaparkan Jika menjawab dengan strategi yang benar dan memberikan digunakan untuk alasan yang tepat mengambil Jika menjawab dengan keputusan secara benar tanpa memberikan rasional. alasan Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan Jika menjawab dengan benar dan memberikan 2 alasan yang sangat tepat Menuliskan alasan- Jika menjawab dengan benar dan memberikan 1 alasan mengapa alasan yang tepat mengambil posisi atau kebijakan Jika menjawab dengan tertentu. benar tanpa memberikan alasan Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan Jika menjawab benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Refleksi diri: Jika menjawab benar merefleksikan cara namun salah satu alasan berpikirnya sendiri, kurang tepat memverfikasi hasil, Jika menjawab benar dan aplikasi, dan memberikan 2 alasan pelaksanaan namun keduanya kurang kegiatan berpikir tepat Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan Jika memilih jawaban tepat dengan alasan yang sangat tepat. Refleksi diri : Menilai apakah ada Jika memilih jawaban kekeliruan dalam tepat dengan alasan yang cara berpikir sendiri. tepat. Jika memilih jawaban tepat dengan alasan yang kurang tepat. 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 175

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Koreksi diri : Memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya Jika memilih jawaban salah Jika menjawab dengan tepat dengan 2 alasan yang sangat tepat. Jika menjawab dengan tepat dengan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menjawab dengan tepat dengan 1 alasan yang tepat. Jika menjawab dengan tidak tepat atau tidak mejawab sama sekali 1 4 3 2 1 176

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 4Hasil Rekap Nilai Expert Judgment Validator Variabel Indikator 1 2 3 Rerata Membuat kategori: membuat klasifikasi atas 3 4 3 3,33 data-data dengan menggunakan skema tertentu Memahami arti: Menginterpretasik 2 4 3 3 Menginterpret an gambar asi Menjelaskan makna: Membahasakan ulang apa yang dikatakan orang 3 3 4 3,33 lain dengan katakata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula Menguji gagasangagasan: mengidentifikasi 4 3 2 3 istilah yang abstrak Mengidentifikasi argument: menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di Koran atau suatu 3 4 4 3,67 paragraf sebuah Menganalisis buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu Menganalisis argument: menganalisis rangkaian 3 4 4 3,67 argument yang dikembangkan dan digunakan pengarang Saran - Bagus dalam data-data dalam skema dan klasifikasinya - Persempit contoh hewan yang disebutkan dalam soal - Perbaiki kalimat pertanyaan - Perbaiki kalimat pertanyaan. - Kalimat sudah benar sesuai dengan bahasa yang baku - Tambahkan contoh hewan atau gambar - Soal sudah sesuai - Soal sudah sesuai 177

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mengevaluasi Menarik Kesimpulan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan) Menilai sah tidaknya klaimklaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa 2 dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki Menilai sah tidaknya klaimklaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa 3 dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki Menilai sah tidaknya argumen-argumen: menilai apakah suatu 3 kesimpulan ditarik dari premis-premis benar Menguji buktibukti: menguji informasi3 informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan Menerka alternatifalternatif: merumuskan berbagai alternatif untuk memecahkan 3 suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan - Soal sudah sesuai 4 4 3,33 - Dalam menilai klaimklaim sudah dapat dibenarkan 4 4 4 4 4 3 3,67 3,67 3,33 - Pahami konsep amfibi dan reptil keduanya golongan hewan yang berbeda - Instrumen sudah layak diujicobakan - Bukti yang diajukan kurang relevan dengan informasi yang dibuat - Sudah tepat dalam merumuskan alternatif pemecahan masalah 3 4 3,33 178

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mengeskplana si Meregulasi Diri Menarik kesimpulan: menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran: Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan Membenarkan prosedur yan digunakan: Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional Memaparkan argumen-argumen yang digunakan : Menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu Refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri Koreksi diri : memastikan apakah koreksi- - Perbaiki kalimat pertanyaan 4 3 4 3,67 - Penalaran sudah dapat dijelaskan dengan tepat 4 4 4 4 - Strategi yang digunakan sudah tepat 3 3 4 4 4 4 3,67 3,67 - Instrument sudah layak diujicobakan - Alasan-alasan yang ditulis sudah cocok dengan argument - Cukup bagus dalam merefleksikan cara berpikir sendiri 4 3 4 3,67 3 4 4 3,67 3 4 4 3,67 - Cukup bagus dalam menilai kekeliruan cara berpikir sendiri - Perbaiki kalimat pertanyaan 179

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya 180

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgment 3.5.1 Hasil Uji Validasi oleh Dosen 181

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.2 Hasil Uji Validasi oleh Guru 184

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 6Hasil Analisis SPSS Uji Validitas 3.6.1 Hasil Uji Validitas Semua Variabel Correlations TOTAL Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL2 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL3 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL4 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL5 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N SOAL6 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). TOTAL 1 32 .615** .000 32 .594** .000 32 .538** .001 32 .657** .000 32 .639** .000 32 .721** .000 32 190

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6.2 Hasil Uji Validitas Setiap Aspek Kemampuan 3.6.2.1 Validitas Kemampuan Mengeskplanasi Correlations Total Total Skor5a Pearson Correlation .795** .631** .000 .000 .000 32 32 32 32 .623** 1 .252 .079 .163 .669 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .000 N Skor5b Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 32 32 32 32 .795** .252 1 .280 .000 .163 32 32 32 32 .631** .079 .280 1 .000 .669 .121 32 32 32 N Skor5c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Skor5c .623** 1 Sig. (2-tailed) Skor5a Skor5b N .121 32 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 3.6.2.2 Validitas Kemampuan Meregulasi Diri Correlations Total Total Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Skor6a Skor6b .842** .000 .000 .000 32 32 32 32 ** 1 .221 .690 ** Skor6c ** 1 .775 N Skor6a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .690 .000 * .356 .224 .046 N Skor6b Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 32 32 32 32 ** .221 1 .584** .000 .224 32 32 .775 .000 N Skor6c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ** .842 .000 .356 * 32 32 ** 1 .584 .046 .000 32 32 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 32 N 32 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 191

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 7Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N Cases Valid % 32 100.0 0 0.0 32 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .747 N of Items 6 192

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 8Data Uji Validitas Instrumen Variabel Mengeskplanasi Dan Meregulasi Diri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 a 1 1 3 3 4 4 4 3 3 3 1 1 1 2 2 2 3 3 2 2 4 4 2 3 2 3 2 3 2 2 4 2 Mengeksplanasi Soal 5 b c 1 2 2 2 2 4 2 4 4 4 4 1 2 3 1 3 1 2 1 3 1 2 1 2 2 3 2 2 4 3 1 4 1 2 2 2 4 2 1 4 4 4 2 2 4 3 1 1 1 2 4 4 1 2 2 2 4 4 1 2 1 2 1 4 Total 4 5 9 9 12 9 9 7 6 7 4 4 6 6 9 7 6 7 8 7 12 8 9 5 5 11 5 7 10 5 7 7 a 1 3 2 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 2 3 2 4 3 4 3 2 2 2 1 4 4 1 4 4 2 3 3 Meregulasi Diri Soal 6 b c 2 2 1 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 2 2 3 4 3 3 2 2 2 2 1 1 2 4 4 3 2 4 2 2 3 2 2 3 3 4 3 3 4 4 2 1 3 3 3 4 3 2 4 2 4 4 3 2 2 3 3 3 Total 5 6 10 12 12 12 10 11 8 9 9 6 7 4 9 9 10 7 9 8 9 8 10 4 10 11 6 10 12 7 8 9 193

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 1Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 194

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 195

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 3Hasil SPSS Uji Normalitas Data 4.3.1 Kemampuan Mengeskplanasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test PlanKonPre PlanKonPost1 PlanKonSel PlanKonPost2 PlanEksPre PlanEksPost1 PlanEksSel PlanEksPost2 N Normal Mean a,b Parameters Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative 21 21 21 21 21 21 21 21 1.6981 2.2543 .5567 2.1424 1.7776 2.9048 1.1276 2.7781 .51529 .41992 .65292 .77161 .48668 .49759 .57195 .93895 .188 .156 .188 .167 .159 .162 .169 .165 .188 .156 .145 .118 .159 .162 .169 .097 -.097 -.143 -.188 -.167 -.127 -.128 -.117 -.165 .188 .156 .188 .167 .159 .162 .169 .165 c c c c c c c Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed) .050 .197 .051 .128 .178 .158 .120 c .140 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test RegKonPre RegKonPost1 RegKonSel N Normal Mean a, Parameters Std. b Deviation Most Absolute Extreme Positive Differences Negative Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed) RegKonPost2 RegEksPre RegEksPost1 RegEksSel RegEksPost2 21 21 21 21 21 21 21 21 1.7295 2.3333 .6029 1.9838 1.9043 2.9838 1.0795 2.6829 .44193 .49554 .56368 .61006 .44938 .45370 .57719 .71177 .173 .180 .162 .177 .175 .158 .133 .167 .173 .106 .162 .108 .175 .136 .126 .137 -.151 -.180 -.140 -.177 -.162 -.158 -.133 -.167 .173 c .103 .180 .074 c .162 c .156 .177 c .084 .175 c .092 .158 c .183 .133 .167 c,d c .200 .129 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 196

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 4Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Mengeskplanasi 4.4.1.1 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Descriptives Statistic Kelompok PlanKonEksPre Eksplanasi Mean Kontrol Pretest 95% Lower Bound Confidence Interval for Upper Bound Mean 5% Trimmed Mean 1.6981 .11245 1.4635 1.9327 1.6663 Median 1.6700 Variance .266 Std. Deviation .51529 Minimum 1.00 Maximum 3.00 Range 2.00 Interquartile Range Eksplanasi Eksperimen Pretest Std. Error .67 Skewness .717 .501 Kurtosis .496 .972 1.7776 .10620 Mean 95% Lower Bound Confidence Interval for Upper Bound Mean 5% Trimmed Mean 1.7547 Median 1.6700 1.5561 1.9992 Variance .237 Std. Deviation .48668 Minimum 1.00 Maximum 3.00 Range 2.00 Interquartile Range .67 Skewness .518 .501 Kurtosis .605 .972 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Kelompok Statistic PlanKonEk Eksplanasi .188 sPre Kontrol Eksplanasi .159 Eksperime Correction a. Lilliefors Significance df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. 21 .050 .925 21 .112 21 .178 .942 21 .236 197

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.1.2 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Pretest Kemampuan Mengeskplanasi Test of Homogeneity of Variances PlanKonEksPre Levene Statistic df1 .013 df2 1 Sig. 40 .911 ANOVA PlanKonEksPre Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df F .066 1 .066 10.048 40 .251 10.114 41 Sig. .264 .610 4.4.1.3 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Selisih Kemampuan Mengeksplanasi Test of Homogeneity of Variances PlanKonEksSel Levene Statistic df1 .134 df2 1 Sig. 40 .716 ANOVA PlanKonEksSel Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df 3.423 1 3.423 15.069 40 .377 18.492 41 F 9.086 Sig. .004 198

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.4.2.1 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Descriptives Statistic Kelompok RegKonEksPre Regulasi Diri Mean Kontrol 95% Lower Pretest Confidence Bound Interval for Upper Mean Bound 5% Trimmed Mean Std. Error 1.7295 .09644 1.5284 1.9307 1.7367 Median 1.6700 Variance .195 Std. Deviation .44193 Minimum 1.00 Maximum 2.33 Range 1.33 Interquartile Range .84 Skewness .029 Kurtosis Regulasi Diri Mean Eksperimen 95% Lower Pretest Confidence Bound Interval for Upper Bound Mean 5% Trimmed Mean .501 -1.100 .972 1.9043 .09806 1.6997 2.1088 1.8937 Median 2.0000 Variance .202 Std. Deviation .44938 Minimum 1.33 Maximum 2.67 Range 1.34 Interquartile Range .83 Skewness Kurtosis .168 .501 -1.172 .972 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic Kelompok RegKonEksPre Regulasi Diri Kontrol Pretest Regulasi Diri Eksperimen Pretest df a Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. .173 21 .103 .901 21 .037 .175 21 .092 .901 21 .036 a. Lilliefors Significance Correction 199

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.2.2 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Pretest Kemampuan Regulasi Diri Test of Homogeneity of Variances RegKonEksPre Levene Statistic df1 .097 df2 1 Sig. 40 .757 ANOVA RegKonEksPre Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df .321 1 .321 7.945 40 .199 8.266 41 F 1.615 Sig. .211 4.4.2.3 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Selisih Kemampuan Meregulasi Diri Test of Homogeneity of Variances RegKonEksSel Levene Statistic df1 .008 df2 1 Sig. 40 .930 ANOVA RegKonEksSel Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df 2.386 1 2.386 13.018 40 .325 15.403 41 F 7.331 Sig. .010 200

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.3 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest 4.4.3.1 Kemampuan Mengeskplanasi Group Statistics Kelompok N PlanKonEksPre Mengeskplanasi Kontrol Pretest 21 Mengeskplanasi Eksperimen 21 Pretest Mean Std. Std. Error Deviation Mean 1.6981 .51529 .11245 1.7776 .48668 .10620 Independent Samples Test for Equality of Variances F PlanKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed .013 Sig. .911 t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -.514 40 .610 -.07952 .15467 -.39213 .23308 -.514 39.870 .610 -.07952 .15467 -.39216 .23311 201

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics N Kelompok RegKonEksPre Regulasi Diri Kontrol Pretest Regulasi Diri Eksperimen Pretest Std. Deviation Mean Std. Error Mean 21 1.7295 .44193 .09644 21 1.9043 .44938 .09806 Independent Samples Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference F RegKonEksPre Equal variances assumed Equal variances not assumed .097 Sig. .757 t Sig. (2tailed) df Mean Difference Std. Error Difference Lower Upper -1.271 40 .211 -.17476 .13754 -.45274 .10321 -1.271 39.989 .211 -.17476 .13754 -.45274 .10322 202

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 5Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.5.1 Kemampuan Mengeskplanasi Group Statistics Kelompok N PlanKonEksSel Mengeskplanasi 21 Kontrol Selisih Mengeskplanasi Mengeskplanasi 21 Selisih Mean Std. Std. Error Deviation Mean .5567 .65292 .14248 1.1276 .57195 .12481 Independent Samples Test for Equality of Variances F PlanKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Sig. .134 t .716 Std. Error Sig. (2- Mean Differen tailed) Difference ce df 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -3.014 40 .004 -.57095 .18941 -.95377 -.18813 -3.014 39.319 .004 -.57095 .18941 -.95398 -.18793 4.5.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics N Kelompok RegKonEksSel Mean Std. Deviation Std. Error Mean 1 21 .6029 .56368 .12300 2 21 1.0795 .57719 .12595 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of F RegKonEksSel Equal variances assumed Equal variances not assumed .008 Sig. .930 t-test for Equality of Means t Sig. (2tailed) df Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -2.708 40 .010 -.47667 .17605 -.83248 -.12085 -2.708 39.978 .010 -.47667 .17605 -.83249 -.12085 203

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 6Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect Size Kemampuan Mengeskplanasi √ √ √ √ Effect Size Kemampuan Meregulasi Diri √ √ √ √ √ √ = 0,4302019822 Presentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan Mengeskplanasi : = = = 0,18 Presentase pengaruh = x 100% = 0,18x 100% = 18% Presentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan Meregulasi Diri : = = 0,154928339 = 0,15 Presentase pengaruh = x 100% = 0,1549x 100% = 15,4% 204

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 7Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1 4.7.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1 Persentase Peningkatan Rerata Pretest Ke Posttest 1 Kemampuan Mengeskplanasi Kelompok kontrol Kelompok eksperimen Peningkatan Peningkatan = = x 100% x 100% = = x 100% = x 100% = x 100% x 100% = 0,634113411 x100% = 0,327542547x 100% = 0,63 x 100% = 0,33x 100 % = 63% = 33% Persentase Peningkatan Rerata Pretest Ke Posttest 1 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok kontrol Kelompok eksperimen = x 100% = x 100% = = = = 35 % x 100% = x 100% x 100% x 100% = =0,566874967 =0,57 x 100% =57% x 100% 4.7.2 Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.7.2.1 Kemampuan Mengeskplanasi Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPost1 Std. Deviation N Std. Error Mean 2.2543 21 .41992 .09163 PlanKonPre 1.6981 21 .51529 .11245 PlanEksPost1 2.9048 21 .49759 .10858 PlanEksPre 1.7776 21 .48668 .10620 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 PlanKonPost1 & PlanKonPre PlanEksPost1 & PlanEksPre Correlation Sig. 21 .040 .863 21 .325 .151 205

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPre PlanKonPost1 PlanEksPre PlanEksPost1 t Sig. (2tailed) df -.55619 .65156 .14218 -.85278 -.25960 -3.912 20 .001 -1.12714 .57207 .12484 -1.38754 -.86674 -9.029 20 .000 4.7.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri Paired Samples Statistics Mean Pair 1 RegKonPre RegKonPost1 Pair 2 RegEksPre RegEksPost1 Std. Deviation N Std. Error Mean 1.7295 21 .44193 .09644 2.3333 21 .49554 .10814 1.9043 21 .44938 .09806 2.9838 21 .45370 .09901 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 RegKonPre & RegKonPost1 RegEksPre & RegEksPost1 Correlation Sig. 21 .277 .224 21 .183 .427 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Mean Pair 1 Pair 2 RegKonPre RegKonPost1 RegEksPre RegEksPost1 Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t Sig. (2tailed) df -.60381 .56527 .12335 -.86112 -.34650 -4.895 20 .000 -1.07952 .57720 .12595 -1.34226 -.81679 -8.571 20 .000 4.7.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.7.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengeskplanasi Kontrol Gain Score Frekuensi -0,67 1 -0,33 2 0 4 0,33 1 Eksperimen Gain Score Frekuensi -0,67 0 -0,33 0 0 1 0,33 1 206

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 0,67 1 1,33 1,67 2 7 2 2 2 0 0,67 1 1,33 1,67 2 6 3 4 3 3 4.7.3.2 Tabulasi Gain Score Kemampuan Regulasi Diri Kontrol Gain Score Frekuensi -0,33 1 0,00 5 0,33 4 0,67 3 1,00 4 1,33 3 1,67 1 Eksperimen Gain Score Frekuensi 0,00 1 0,33 3 0,67 3 1,00 5 1,33 3 1,67 4 2,00 2 4.7.3.3 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,67 Kemampuan Mengeskplanasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥1,00 sebanyak 6 Frekuensi gain score ≥0,67 sebanyak siswa 13 siswa x 100% x 100% Persentase = Persentase = = x 100% = 0,619047619 x 100% = 61,90 % = x 100% = 0,9047619 x 100% = 90,47 % 4.7.3.4 Perhitungan persentase Gain Score ≥1,00 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥1,00 sebanyak 8 Frekuensi gain score ≥1,00 sebanyak siswa 14 siswa Persentase = Persentase = x 100% x 100% = x 100% = 0,523809 x 100% = 52,38 % = x 100% = 0,809523809 x 100% = 80,95 % 207

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 8 Hasil SPSS Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I 4.8.1 Perhitungan manual besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I 4.8.1.1 Kemampuan Mengeskplanasi Kelompok Kontrol √ √ √ √ Kelompok Eksperimen √ √ √ √ √ 0,89610267 √ = 0,658397939 =0,65 Presentase peningkatan rerata pretest ke Presentase peningkatan rerata pretest ke posttest I: posttest I: = = 0,433487847 = 0,433 Presentase pengaruh = x 100% = 0,433x 100% = 43% = = = 0,802 Presentase pengaruh = x 100% = 0,802x 100% = 80% 208

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.1.2 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol √ √ √ √ Kelompok Eksperimen √ √ √ √ √ 0,886571701 √ = 0,738276069 =0,73 Presentase peningkatan rerata pretest ke Presentase peningkatan rerata pretest ke posttest I: posttest I : = = = = = 0,786 = 0,545 Presentase pengaruh = x 100% = 0,545x 100% = 54,5% Presentase pengaruh = x 100% = 0,786x 100% = 78,6% 209

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.2 Hasil SPSS Uji Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.8.2.1 Kemampuan Mengeskplanasi Paired Samples Test Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPre PlanKonPost1 PlanEksPre PlanEksPost1 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean t Sig. (2tailed) df -.55619 .65156 .14218 -.85278 -.25960 -3.912 20 .001 -1.12714 .57207 .12484 -1.38754 -.86674 -9.029 20 .000 4.8.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Mean Pair 1 Pair 2 RegKonPre RegKonPost1 RegEksPre RegEksPost1 Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t Sig. (2tailed) df -.60381 .56527 .12335 -.86112 -.34650 -4.895 20 .000 -1.07952 .57720 .12595 -1.34226 -.81679 -8.571 20 .000 210

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 9Hasil SPSS Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I 4.9.1 Kemampuan Mengeskplanasi 4.9.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Correlations PlanKonPr PlanKonPo e st1 PlanKonPr e Pearson Correlation Sig. (2tailed) N PlanKonPo Pearson st1 Correlation Sig. (2tailed) N PlanEksPr e Pearson Correlation Sig. (2tailed) N PlanEksPo Pearson st1 Correlation Sig. (2tailed) N 1 PlanEksPr e PlanEksPo st1 .040 .316 .122 .863 .162 .597 21 21 21 21 .040 1 -.304 -.147 .863 .181 .525 21 21 21 21 .316 -.304 1 .325 .162 .181 21 21 21 21 .122 -.147 .325 1 .597 .525 .151 21 21 21 .151 21 4.9.2 Kemampuan Regulasi Diri 4.9.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Correlations RegKonPre RegKonPre Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegKonPost1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegEksPre Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegEksPost1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 RegKonPost1 RegEksPre RegEksPost1 .277 .367 .116 .224 .102 .616 21 21 21 21 .277 1 .124 -.122 .593 .597 .224 21 21 21 21 .367 .124 1 .183 .102 .593 21 21 21 21 .116 -.122 .183 1 .616 .597 .427 21 21 21 .427 21 211

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 10Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan 4.10.1 Kemampuan Mengeskplanasi 4.10.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPo st1 PlanKonPo st2 PlanEksPo st1 PlanEksPo st2 Std. Deviation N Std. Error Mean 2.2543 21 .41992 .09163 2.1424 21 .77161 .16838 2.9048 21 .49759 .10858 2.7781 21 .93895 .20490 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 PlanKonPo st1 & PlanKonPo st2 PlanEksPo st1 & PlanEksPo st2 Correlation Sig. 21 -.066 .775 21 -.201 .382 Paired Samples Test Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPost1 PlanKonPost2 PlanEksPost1 PlanEksPost2 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean t Sig. (2tailed) df .11190 .90263 .19697 -.29897 .52278 .568 20 .576 .12667 1.14768 .25044 -.39575 .64909 .506 20 .619 4.10.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Persentase = x Persentase = x 100% = 100% = x 100% = x 100% = -0,052231142 x 100% = - 5,22 % = x 100% x 100% = -0,0045606709 x 100% = -4,56 % 212

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 PlanKonPre PlanKonPost2 Pair 2 PlanEksPre PlanEksPost2 Std. Deviation N Std. Error Mean 1.6981 21 .51529 .11245 2.1424 21 .77161 .16838 1.7776 21 .48668 .10620 2.7781 21 .93895 .20490 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 PlanKonPre & PlanKonPost2 PlanEksPre & PlanEksPost2 Correlation Sig. 21 -.304 .180 21 .302 .183 Paired Samples Test Mean Pair 1 Pair 2 PlanKonPre PlanKonPost2 PlanEksPre PlanEksPost2 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean t Sig. (2tailed) df -.44429 1.05007 .22914 -.92227 .03370 -1.939 20 .067 -1.00048 .91791 .20031 -1.41831 -.58265 -4.995 20 .000 213

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.10.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 RegKonPost1 RegKonPost2 Pair 2 RegEksPost1 RegEksPost2 Std. Deviation N Std. Error Mean 2.3333 21 .49554 .10814 1.9838 21 .61006 .13313 2.9838 21 .45370 .09901 2.6829 21 .71177 .15532 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 RegKonPost1 & RegKonPost2 RegEksPost1 & RegEksPost2 Correlation Sig. 21 .148 .523 21 -.309 .172 Paired Samples Test Mean Pair 1 Pair 2 RegKonPost1 RegKonPost2 RegEksPost1 RegEksPost2 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean t Sig. (2tailed) df .34952 .72699 .15864 .01860 .68045 2.203 20 .039 .30095 .95517 .20844 -.13384 .73574 1.444 20 .164 4.10.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Persentase = x Persentase = x 100% = 100% = x 100% = x 100% = -0,149787854 x 100% = - 14,97 % = x 100% x 100% = -0,10084456 x 100% = -10,08 % 214

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 RegKonPre RegKonPost2 Pair 2 RegEksPre RegEksPost2 Std. Deviation N Std. Error Mean 1.7295 21 .44193 .09644 1.9838 21 .61006 .13313 1.9043 21 .44938 .09806 2.6829 21 .71177 .15532 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 RegKonPre & RegKonPost2 RegEksPre & RegEksPost2 Correlation Sig. 21 .291 .201 21 .038 .870 Paired Samples Test Mean Pair 1 Pair 2 RegKonPre RegKonPost2 RegEksPre RegEksPost2 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean t Sig. (2tailed) df -.25429 .64084 .13984 -.54599 .03742 -1.818 20 .084 -.77857 .82717 .18050 -1.15509 -.40205 -4.313 20 .000 215

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 11Lembar Hasil Pretest dan Posttest Siswa 4.11.1 Hasil Pretest 216

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 217

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 219

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 222

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.2 Hasil Posttest 224

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 231

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 1Foto-foto kegiatan 232

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 2Surat Keterangan Melaksanakan Validasi 233

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 3Surat Keterangan Melaksanakan Peneliti 234

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Yohana Fransiska Lintang Natalia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Selong, Lombok Timur, 6 Januari 1997 dari pasangan Yohanes Hari Pracoyo, S.H. dan Maria Yosefina Sareng, S.Pd. Pendidikan dimulai dari Taman Kanak-Kanak Kemala Bhayangkari tahun 1999-2002. Pada tahun 2002-2005 peneliti melanjutkan pendidikan di SD Negeri 3 Selong. Kemudian, pada tahun 2005-2006 peneliti melanjutkan pendidikan di SD Kanisius Sawangan. Tahun 2006-2008 peneliti melanjutkan pendidikan di SD Negeri 5 Kalinegoro. Pendidikan selanjutnya dilanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Tarakanita Magelang hingga lulus tahun 2011. Peneliti menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas Sedes Sapientiae Bedono tahun 2011 hingga lulus tahun 2014. Pada tahun 2014-2015 peneliti pernah menempuh pendidikan di Program Studi Akuntasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata. Tetapi tahun 2015 peneliti memilih keluar dari Universitas Katolik Soegijapranata dan melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. Semasa menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma, peneliti pernah mengikuti berbagai kegiatan. Berikut ini daftar kegiatan yang pernah diikuti peneliti selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nama Kegiatan Inisiasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Inisiasi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I (PPKM I) Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa II (PPKM II) Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar (KMD) Traveling and Teaching 1000 Guru Semarang Talkshow SALT (Student’s Action For Life and Trust) Dies Natalis Unit Kegiatan Mahasiswa Tahun Peran 2015 Peserta 2015 Peserta 2015 Peserta 2016 Peserta 2016 Peserta 2015 Peserta 2015 Peserta 2015 Anggota Divisi 235

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengabdian Masyarakat Edutraxtion “Workshop Public Speaking 9. dan Broadcasting” 10. Weekend Moral 11. Seminar Nasional “Reforming Pedagogy” Kuliah Umum “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” Seminar Kurikulum untuk 13. Terstandarisasi (Cambridge) 14. Pekan Ilmiah Fakultas 12. 15. Dekan Cup 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Insiasi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar English Club 4th Organisasi Montessori Indonesia (OMI) Montessori Conference Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) Pelepasan Calon Wisudawan/Wisudawati Periode April 2017 Insiasi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Seminar Life Revolution Workshop “Mitos dan Fakta Tentang Emosi serta Bagaimana Mengeskpresikannya” Usaha Dana 2015 Peserta 2016 Peserta Anggota Divisi Acara dan Dampok 2016 2016 Peserta 2016 Ketua 2016 Peserta Anggota Divisi Usaha Dana 2016 2016 Bendahara 2017 Peserta 2017 Panitia 2017 Peserta 2017 Sekretaris 2018 Ketua Bidang Acara Peserta 2018 Peserta 2017 236

(255)

Dokumen baru

Download (254 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DI KELAS X-8 SMA NEGERI 21 MEDAN.
0
2
14
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA.
0
2
15
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI ANAK DAN KOSAKATA SISWA KELAS V SD LABSCHOOL UPI BANDUNG.
2
25
42
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP PRESTASI BELAJAR ILMU STATIKA DAN TEGANGAN SISWA KELAS X SMKN 5 BANDUNG.
0
0
40
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP.
0
1
34
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN PENERAPAN KONSEP BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS V SDN SE-KECAMATAN JATIYOSO TAHUN 2013.
0
0
20
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN KONSEP BANGUN RUANG.
0
0
4
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V MI YAPPI PLANJAN CILACAP.
0
7
186
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS 4
0
0
15
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MELATIH PEMAHAMAN KONSEP SISWA
0
0
8
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
0
1
11
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SD
0
1
5
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)
0
0
202
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
258
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
248
Show more