Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru Sekolah dasar pengampu kelas bawah:survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
315
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU SEKOLAH DASAR PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Dimas Prasetyo Aji NIM :101134039 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU SEKOLAH DASAR PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Dimas Prasetyo Aji NIM :101134039 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas curahan berkat, rahmat, dan kerahiman-Nya. 2. Bundaku tercinta, Almarhum Ibu Anastasia Sugiyanti yang tak pernah lelah menghaturkan doa sederhana untuk perjalanan hidupku dan pendidikanku hingga saat ini, selama hidupnya membimbingku, mendoakanku, memberi teladan yang baik buatku, dan aku akan selalu merindukanmu, Ayahku tercinta, Yohanes Kuswanhadi yang tak pernah lelah menghaturkan doa sederhana untuk perjalanan hidupku dan pendidikanku hingga saat ini, suri tauladan bagi hidupku, kekuatan dan dukungan untukku yang tak pernah lelah. 3. Mas Andi Kusworo, Mas Dwi Maryanto, dan Mas Agus Sasongko kakakku yang tersayang senantiasa memotivasi dan mendoakan aku. 4. Para sahabat dan teman terkasih yang selalu ada dalam segala kondisiku. 5. Para pembaca yang budiman. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO “Think big, and act now” “Do your best at any moment that you have” “The more you give, the more you will get “ v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU SEKOLAH DASAR PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA Oleh Dimas Prasetyo Aji NIM 101134039 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan peneliti tentang tingkat pelaksanaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan Nasional di kota Yogyakarta. Peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan perbedaan implementasi pembelajaran tematik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pelaksanaan pembelajaran tematik serta perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik yang ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik oleh para guru pengampu kelas bawah di Kota Yogyakarta. Desain penelitian ini non eksperimental cross sectional dengan metode survey. Sampel penelitian ini 54 guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta. Teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan Strurges dan analisis statistik Independent – Sample T Test Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pembelajaran tematik oleh guru SD pengampu kelas bawah di kota Yogyakarta masuk kriteria cukup (Frekuensi=13Presentase=24,08%).Independent-Sampel T Test menghasilkan nilai t = - 1,234, df = 42.106 dan 𝜌 > 0,05 dengan ρ = 0,224. Berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Hasil taraf signifikansi yang didapat sebesar t = - 2,947, df = 26.499 dan ρ<0,05 dengan ρ = 0,007. Hasil tersebut menjelaskan bahwa taraf signifikansi lebih kecil ρ = 0,05 dan r = -0,413. Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Artinya ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik dari jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik. Kata kunci : pembelajaran tematik, demografi guru viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC INSTRUCTION BY LOWER GRADE TEACHERS: SURVEY TO CHATOLICS CHRISTIAN AND NATIONAL PRIVATE ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS IN YOGYAKARTA By: Dimas Prasetyo Aji NIM. 101134039 This research was conducted based on the researcher’s curiousity on the implementation of thematic learning by Chatolics Christian and National Private elementary schools in Yogyakarta. The researcher wants to observe the differentiate factor in doing the implementation The purposes of the research were to know the implementation level of thematic instruction by middle-low class teachers of Chatolics Christian and National Private elementary schools in Yogyakarta, know the differences of the implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of Chatolics Christian and National Private elementary schools in Yogyakarta seen from number of students and know the differences of the implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of Chatolics Christian and National Private elementary schools in Yogyakarta seen from number of teachers who used thematic instruction. This non-experimental research used cross sectional design in survey method. The population included 111 middle-low class teachers of elementary schools in Yogyakarta and the sample used was 54 teachers. The data collection used was questionnaire.The data analysis used Strurges and anlysis statics used Independent – Sample T Test. The results of the research showed that the implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of Chatolics Christian and National Private elementary schools in Yogyakarta elementary schools in Yogyakarta was moderate (Frequence=13, percentage=24,08%). The result score, t= -1,234, df = 42.106 dan 𝜌 > 0,05 with ρ = 0,224, showed the implementation level of the thematic instructional not difference according the number of students. The results of the research t = - 2,947, df = 26.499 dan ρ<0,05 with ρ = 0,007, showed the implementation level of the thematic instructional differed according the number of teachers who used thematic instruction. Key words : themathic instruction, the theachers demography ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv HALAMAN MOTTO ..............................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................. vii ABSTRAK ........................................................................................................... viii ABSTRACT ............................................................................................................. ix PRAKATA ...............................................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xvi DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xviii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xix BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................................1 B. Batasan Masalah .............................................................................................8 C. Rumusan Masalah ...........................................................................................8 D. Tujuan Penelitian ............................................................................................9 E. Manfaat Penelitian ..........................................................................................9 F. Definisi Operasional......................................................................................10 BAB II KAJIAN TEORI .....................................................................................12 A. Tinjauan Teoritik ..........................................................................................12 1. Reformasi Pendidikan Secara Global .......................................................12 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia ..........................................................16 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia Sejak Tahun 1947-2013 ...................16 4. Kurikulum 2013 Dan Kurikulum 2006 ..................................................20 5. Pembelajaran Terpadu ..............................................................................28 5. Pembelajaran Tematik ..............................................................................31 B. Penelitian Relevan ........................................................................................40 C. Kerangka Berpikir ........................................................................................44 D. Hipotesis Penelitian………………………………………………………..45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................46 A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian .........................................................46 B. Waktu dan Tempat Penelitian .......................................................................47 1. Waktu Penelitian.......................................................................................47 2. Tempat Penelitian .....................................................................................47 1) Variabel Independen.................................................................................48 2) Variabel Dependen ...................................................................................48 C. Populasi dan Sampel .....................................................................................48 D. Teknik Pengumpulan Data ...........................................................................49 E. Instrumen Penelitian .....................................................................................50 F.Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen .............................................55 H. Prosedur Analisis Data .................................................................................47 BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............93 A. Deskripsi Penelitian ......................................................................................93 B. Tingkat Pengembalian Kuesioner .................................................................94 C. Hasil Penelitian .............................................................................................95 D. Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................................120 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................127 A. Kesimpulan .................................................................................................127 B. Keterbatasan ...............................................................................................129 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Saran ...........................................................................................................130 DAFTAR REFERENSI .....................................................................................131 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.0 Reformasi Kurikulum di Indonesia Sejak Tahun 1947-2013 .................. 19 Tabel 2.1 Kondisi Kompetensi Lulusan ....................................................................... 24 Tabel 2.2 Penyempurnaan Pola pikir Kurikulum ..................................................25 Tabel 2.3 Bagan Elemen Perubahan .....................................................................27 Tabel 2.4 Ragam Model Pembelajaran Terpadu ...................................................29 Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik ..........................................................32 Tabel 3.1 Penjabaran skor item positif dan negatif ...............................................50 Tabel 3. 2 Sebaran item positif dan item negatif ...................................................51 Tabel 3.3 Indikator Instrumen ...............................................................................53 Tabel 3.4 Kriteria Revisi ........................................................................................56 Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa ...........................................................................56 Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar .....................................................................58 Tabel 3.7Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Materi Pelajaran tidak Begitu Jelas..................................................................59 Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran ...........................................................60 Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel ....61 Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa...................................................63 Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa .........................................................64 Tabel 3.12 Tabel validitas muka ............................................................................65 Tabel 3.13 Hasil validitas implementasi pembelajaran tematik ............................68 Tabel 3.14 Koefisien korelasi reliabiltas ..............................................................71 Tabel 3.15 Hasil reliabilitas data implikasi pembelajaran tematik.......................71 Tabel 3.16 Contoh Pengkodean .............................................................................74 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.17 Jadwal Penelitian.................................................................................91 Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval ..........................................................................96 Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi .....................................................96 Tabel 4.3 Hasil Uji normalitas jumlah siswa kelompok banyak ............................99 Tabel 4.4 Hasil uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa kelompok sedikit ................................102 Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pegnampu Kelas Bawah SD Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Faktor Jumlah Siswa ..................................106 Tabel 4.6 Hasi uji Independent- Sample T Test Jumlah siswa ............................107 Tabel 4.7 Uji normalitas Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru banyak yang menggunakan pembelajaran tematik. .........110 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru Kelompok Sedikit ................ 114 Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah SD Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Faktor Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik ................................................117 Tabel 4.10 Hasi Uji Independent- Sample T Test Jumlah Rekan Guru ..............119 Tabel 4.11 Hasil uji Effect size .......................................................................... 120 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan ....................................................43 Gambar 3.1 Diagram Hubungan Antar Variabel .................................................47 Gambar 3.2 Rumus Product Moment ................................................................... 68 Gambar 3.3 Rumus Cronbach Alpha ....................................................................70 Gambar 3.4 Rumus Uji Normalitas ...................................................................... 82 Gambar 3.5 Rumus Lavene’s test ......................................................................... 85 Gambar 3.6 Rumus Jarak atau Rentangan .......................................................... 86 Gambar 3.7 Rumus Struges .................................................................................. 86 Gambar 3.8 Rumus Panjang Kelas Interval ......................................................... 87 Gambar 3.9 Rumus Uji t-Dua Sampel .................................................................. 88 Gambar 3.10 Rumus Independent Sample T-test ................................................. 88 Gambar 3.11 Rumus Mann Whitney .................................................................... 89 Gambar 3.12 Rumus Effect size data normal ....................................................... 90 Gambar 3.13 Rumus Effect size data tidak normal ................................................91 Gambar 3.14 Rumus Koefisien Determinasi ........................................................ 91 Gambar 4.1 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari Faktor Demografi jumlah siswa banyak .................. 100 Gambar 4. 2 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari faktor demografi Jumlah Siswa Banyak ...................101 Gambar 4.3 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok Sedikit .......................103 Gambar 4. 4 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok sedikit ......................104 Gambar 4.5 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari Faktor Demografi jumlah rekan guru Banyak ........ 111 Gambar 4. 6 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari faktor demografi Jumlah Rekan guru Banyak ..........112 Gambar 4.7 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari Faktor Demografi jumlah rekan guru Sedikit ......... 114 Gambar 4. 8 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari faktor demografi Jumlah rekan guru sedikit ........... 115 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1Surat Ijin Penelitian .................................................................................... 132 Lampiran 2 Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian ...................................................... 142 Lampiran 3 Expert Judgement ...................................................................................... 154 Lampiran 4 Validitas Muka ......................................................................................... 241 Lampiran 5 Data Validitas ............................................................................................ 253 Lampiran 6 Hasil Validitas ........................................................................................... 254 Lampiran 7 Data Reliabilitas ........................................................................................ 255 Lampiran 8 Hasil Reliabilitas ......................................................................................... 256 Lampiran 9 Data Asli ................................................................................................... 261 Lampiran 10 Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi Implementasi Pembelajaran Tematik .................................................................................................. 262 Lampiran 11 Hasil Uji Normalitas Jumlah Siswa Banyak ..................................... 264 Lampiran 12 Uji Normalitas Faktor Demografi Jumlah siswa sedikit ................ 268 Lampiran 13 Uji Independent-Sampel T Test Faktor demografi Jumlah Siswa . 272 Lampiran 14 Hasil Uji Normalitas Demografi Jumlah Rekan Guru Banyak ........ 273 Lampiran 15 Hasil Uji Normalitas Demografi Jumlah Rekan Guru Sedikit.......... 277 Lampiran 16 Uji Independent-Sampel T Test Faktor demografi Jumlah Rekan Guru ........................................................................................................ 281 Lampiran 17 Tabel Krejcie ................................................................................... 282 Lampiran 18 Kuesioner Penelitian............................................................................... 283 Lampiran 19 Contoh Kuesioner yang Sudah diisi .................................................... 289 Lampiran 20 Data Coding .............................................................................................. 294 Lampiran 21 Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner.................................................... 295 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I ini membahas latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Manusia membutuhkan pendidikan dari sejak ia dalam kandungan, lahir dan selama hidup di dunia ini (long life education). Pendidikan abad ke-21 menuntut masyarakat untuk sadar akan perkembangan zaman yang cepat dalam hal ilmu dan teknologi. Kondisi ini menuntut seseorang untuk terus-menerus belajar agar memperoleh dasar pendidikan yang kuat (Tilaar,1997: 153). Abad ke-21 merupakan abad perkembangan industri yang pesat ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Tilaar dan Nugroho, 2012: 32-33). Abad ke-21 adalah era globalisasi dengan ciri-ciri adanya saling keterbukaan dan ketergantungan antarnegara. Keterbukaan dan ketergantungan ditambah informasi yang sangat cepat mengakibatkan kompetisi antarnegara akan semakin ketat (Wiwik, 2012 : 47). Globalisasi abad ke- 21 membuat kita hidup dalam dunia terbuka perdagangan bebas semakin meningkatnya kerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Tantangan abad ke-21 inilah peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi sumber daya manusia yang berkualitas bagi kebutuhan domestik maupun global (Wiwik, 2012: 47). 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan menghadapi tantangan yang komplek untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam era global ini. Pendidikan adalah kunci utama solusi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermutu tinggi (Trianto, 2009: 3). Berbagai sumber tersebut menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan merupakan hal yang penting pada abad ke 21. Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dalam perubahan zaman yang semakin modern membuat manusia benar-benar membutuhkan pendidikan sebagai bekal kehidupan. Pengaruh globalisasi memberikan dampak bagi sistem pendidikan nasional Indonesia yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena yang terjadi ialah lalu lintas informasi yang praktis yang tidak terbatas, IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang berfungsi sebagai sarana atau prasarana sarat dengan tawaran, persaingan yang kuat dalam sektor jasa maupun produk, kelangsungan hidup organisasi yang tergantung dengan daya asing, dan maraknya tawaran bisnis melalui media massa (Pekerti, 1998: 180-181). Survei Internasional juga memperlihatkan pengaruh globalisasi yang mempengaruhi pendidikan nasional Indonesia dapat dilihat dalam beberapa laporan pendidikan menyebutkan tentang kondisi yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia dalam kancah internasional. Suatu studi internasional yang dilakukan oleh Global Institute pada tahun 2007, yaitu Trends in International Math and Science (TIMSS) mengenai kemampuan peserta didik Indonesia. Hasil studi ini menunjukkan bahwa lima persen peserta didik Indonesia mampu mengerjakan soal penalaran berkategori tinggi, sedangkan peserta didik Korea dapat mencapai

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 71 persen (Mulyasa, 2013: 61). Hasil survei selain dalam studi internasional TIMSS, juga dilakukan survei dari The Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Hasil survei PERC yang dipublikasikan dalam The Jakarta Post terbitan 3 September 2001 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12 negara Asia di bawah Vietnam, Malaysia, dan Thailand (Suyanto, 2006: 3) . Hasil prestasi belajar siswa yang kurang begitu memuaskan, maka perlu pembelajaran yang baik dan efektif agar siswa Indonesia mulai meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil studi TIMSS dan hasil survei yang dilakukan oleh PERC menjadi pertimbangan perlunya perubahan dan pengembangan kurikulum pembelajaran di Indonesia. Reformasi pendidikan adalah langkah yang perlu dilakukan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan ini perlu dilakukan sejak dini karena pendidikan dasar masa depan adalah sebuah paspor untuk hidup (Depdiknas, 2007: 3). Delors (dalam Dediknas, 2007: 3) menyatakan bahwa pendidikan dasar adalah paspor yang sangat diperlukan individu untuk hidup dan mampu memilih apa yang mereka lakukan, mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat masa depan secara kolektif, dan terus menerus belajar. Reformasi pendidikan di Indonesia dalam pengembangan kurikulum seperti Kurikulum 1947, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan Kurikulum 2006 sudah dicanangkan dan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Indonesia mulai melakukan perbaikan sistem pendidikan pada tahun 2013 sampai dengan 2014. Perbaikan sistem pendidikan dinilai baik untuk melaksanakan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 reformasi pendidikan khususnya dalam praktek pengajaran di tingkat sekolah dasar. Standar Pendidikan Nasional khususnya Standar Proses dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 41/200, Standar Isi dalam Keputusan Menteri Pendidikan No 22 / 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan dalam Keputusan Menteri Pendidikan No 23/2006 yang dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Indonesia dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan dan munculnya program untuk mereformasi kurikulum pendidikan Indonesia yang baru. Keputusan Menteri Pendidikan ini mendukung adanya Kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau Kurikulum Tingkat Sekolah) serta yang terbaru Kurikulum 2013. Kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 sudah mulai menggunakan pembelajaran tematik terintegrasi. Pembelajarannya mulai saling berkaitan dan yang terakhir yaitu Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 mulai tematik terintegrasi dalam semua pelajaran yang mampu membangun karakter peserta didik. Tematik terintegrasi adalah salah satu pendekatan pembelajaran dimana kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap ) dari berbagai mapel digabungkan menjadi satu untuk merumuskan pemahaman yang lebih bermakna tentang yang dikuasai siswa (Kemendikbud: 2013) Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2006: 4-5). Melalui pembelajaran tematik diharapkan memberikan keuntungan bagi siswa untuk belajar dengan fokus pada suatu tema tertentu. Siswa mampu mempelajari berbagai pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 pelajaran dalam tema yang sama. Pemahaman materi pelajaran lebih mendalam dan lebih merasakan manfaat serta makna belajar yang disajikan dalam konteks tema. Siswa merasakan gairah belajar yang lebih, karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata dan guru dapat menghemat waktu (Depdiknas, 2006 : 5). Depdiknas (dalam Sudrajat, 2008: 6) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik sesuai untuk siswa Sekolah Dasar (SD) sebab pembelajaran tematik menekankan adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Siswa diharapkan mampu mendapatkan pengalaman langsung dan terlatih sejak dini memperoleh pengetahuan secara mandiri. Siswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep yang sedang dipelajari serta mampu mengaitkannya dengan konsep-konsep lain yang telah dipahaminya setelah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Secara umum, Piaget ( dalam Trianto, 2012: 70-71) menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pembelajaran tematik juga menekankan pada implementasi konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing) (Depdiknas, 2009 : 6). Kebermaknaan belajar siswa dipengaruhi oleh cara guru mengemas dan merancang pengalaman belajar bagi siswa. Pengalaman belajar siswa yang mampu menunjukkan kaitannya dengan konsep-konsep yang sedang dipelajari akan menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konsep-konsep tersebut akan membentuk sebuah skema pengetahuan sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat utuh dan bulat. Penerapan pembelajaran tematik sesuai untuk siswa sekolah dasar karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang menyeluruh (holistik).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Pembelajaran tematik di kelas dapat berjalan dengan efektif apabila guru dapat menyusun rencana atau rancangan pembelajaran yang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional di Indonesia, yaitu terdapat 13% guru yang mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik (Depdiknas, 2008: 5). Peran guru sebagai pendidik diharapkan mampu menyajikan pembelajaran yang baik dan efektif. Pembelajaran yang baik dan efektif tidak terlepas dari peran guru yang berkompeten. Departemen Pendidikan Nasional (2008: 5) menyebutkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), selain itu guru masih kesulitan dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru juga masih mengalami dalam proses penilaian. Kemampuan guru dalam mengembangan silabus dari kompetensi dasar ke indikator juga belum baik. Cara untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah perlu menentukan langkah perbaikan agar guru mampu menyusun perangkat pembelajaran yang baik sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru sebaiknya perlu diperhatikan dalam dukungan guru melaksanakan pembelajaran seperti usia, status kepegawaian, dukungan kepala sekolah, pengalaman mengajar, pengalaman menggunakan pembelajaran terpadu, jumlah jam training pembelajaran terpadu, jumlah siswa, dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Guru menjadi pengelola pembelajaran (Learning manager), guru berperan menciptakan kondisi belajar yang menantang kreativitas dan aktivitas siswa. Guru sebagai manajerial dituntut untuk mengatur, mengorganisasikan, mengawasi,

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 memimpin dan merencanakan segala sesuatu yang harus mereka berikan kepada siswa (Rusman, 2013: 20). Mulai dari perencanaan pembelajaran, mengalokasikan waktu pembelajaran, menentukan sumber-sumber yang diperlukan dan berpikir kreatif serta inovatif. Guru membimbing, mendorong, dan mengawasi siswa dalam proses pembelajaran. Guru mengusahakan peristiwa-peristiwa yang sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Melalui berbagai permasalahan dari pengaruh globalisasi terhadap pendidikan yang mengakibatkan prestasi Indonesia masih rendah, maka perlu adanya reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan sudah mulai dilakukan oleh Indonesia dengan adanya kurikulum baru yaitu kurikulum 2006 sampai kurikulum 2013. Penyelenggaran pendidikan dengan perubahan kurikulum tidak akan terlaksana dengan baik oleh peran penting guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan secara nyata di lapangan. Penelitian ini dilakukan karena melihat berbagai permasalahan dan pemecahan masalah pelaksanaan pendidikan di Indonesia yang diungkapkan oleh berbagai survei studi internasional, maka peneliti ingin mengetahui sejauh mana tingkat pelaksanaan program pembelajaran tematik. Pendekatan tematik sebagai pendekatan pembelajaran oleh BSNP diharapkan mutu pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik. Keberhasilan program ini pastilah erat hubungannya dengan kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk mencari informasi tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah. Faktor yang berpengaruh terhadap implementasi pembelajaran tematik terhadap jumlah siswa dalam kelas saat

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 melaksanakan pembelajaran tematik dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. B. Batasan Masalah Penelitian tentang implementasi pembelajaran tematik ini hanya difokuskan pada guru kelas bawah. Guru kelas bawah yang diteliti adalah guru yang disyaratkan melaksanakan pembelajaran tematik sejak diberlakukannya kurikulum 2006 dan memiliki faktor demografi khusus. Faktor demografi yang dimaksud adalah jumlah siswa yang diampu setiap kelas (dalam hal ini kelas bawah) dan jumlah rekan guru yang melaksanakan pembelajaran tematik di kelas bawah Sekolah Dasar Swasta Afiliasi Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasannya, rumusan masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar katolik kristen dan nasional di kota Yogyakarta? 2. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas pengampu bawah Sekolah Dasar Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa ? 3. Apakah terdapat perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan tematik ?

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui pelaksanaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar katolik kristen dan nasional di kota Yogyakarta. 2. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar katolik kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa. 3. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar katolik kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi institusi,guru, dan mahasiswa. 1. Bagi Institusi Penelitian ini diharapkan membantu institusi-institusi terkait seperti sekolah ataupun dinas pendidikan atau negara sebagai acuan dalam pelaksanaan program pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik di lapangan. Penelitian ini diharapkan institusi-institusi pendidikan dapat melihat kelemahan-kelemahan atau kendala yang dihadapi guru di lapangan dalam menggunakan pendekatan tematik di sekolah dasar.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Bagi Guru Penelitian ini diharapkan memberikan bantuan guru dalam memahami dan lebih mengerti mengenai pendekatan tematik, karena tanpa pemahaman yang mendalam mengenai pembelajaran tematik guru pastilah tidak akan bisa melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tematik. Proses pembelajaran akan berjalan secara konvensional dan mutu atau kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan berkembang. 3. Bagi Mahasiswa Penelitian ini diharapkan memberi informasi bagi mahasiswa mengenai tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru-guru pengampu kelas bawah. Selain itu dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa akan lebih mengerti tentang pembelajaran tematik sehingga dapat mempersiapkan diri kelak saat menjadi seorang guru. F. Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu yang memadukan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan menggunakan tema-tema tertentu dan saling berkaitan satu sama lain(disebut juga pembelajaran tematik integratif). 2. Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. 3. Demografi adalah penggolongan sekelompok objek berdasarkan dukungan kepala sekolah, pengalaman mengajar, pengalaman menggunakan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 pembelajaran terpadu, jumlah jam training pembelajaran tematik, jumlah siswa, jumlah rekan yang menerapkan pembelajaran tematik, status kepegawaian, dan latar belakang pendidikan terakhir. 4. Reformasi adalah sebuah perubahan yang drastis sebagai bentuk perbaikan sesuatu yang telah ada sebelumnya. 5. Guru kelas bawah adalah seorang pendidik yang memiliki kemampuan untuk mengampu siswa di kelas 1, 2, dan 3. 6. Survei adalah teknik riset atau penelitian dalam memperoleh informasi melalui peninjauan data yang jelas di lapangan. 7. Implementasi adalah melaksanakan sesuatu teknik yang diterapkan secara nyata dan jelas di lapangan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI Bab II membahas empat bagian inti yaitu tinjauan teoritik, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Tinjauan teoritik dibagi dalam sub bab reformasi pendidikan secara global, reformasi pendidikan di Indonesia, reformasi kurikulum di Indonesia, kurikulum 2013 dan kurikulum 2006, pembelajaran tematik, implikasi pembelajaran tematik, karakteristik pembelajaran tematik, pembelajaran terpadu dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kurikulum. A. Tinjauan Teoritik Sub bab ini akan dipaparkan mengenai reformasi pendidikan secara global, reformasi pendidikan di Indonesia, reformasi kurikulum di Indonesia sejak tahun 1947-2013, kurikulum 2013 dan kurikulum 2006, pembelajaran tematik, faktorfaktor yang mempengaruhi implementasi pelaksanaan reformasi, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. 1. Reformasi Pendidikan Secara Global Sujarwo (2008: 1) menngungkapkan bahwa era globalisai yang melanda dunia yang semakin pesat telah menimbulkan dampak global untuk membuka diri menghadapi bangsa-bangsa lain. Persaingan antar bangsa semakin ketat dan kompetetif, terutama dalam bidang ekonomi dan IPTEK. Globalisasi dalam dunia ekonomi ditandai dengan terbentuknya kawasan perdagangan bebas di AsiaPasifik pada tahun 2020 dan kawasan perdagangan bebas (AFTA) ASEAN yang dilaksanakan sejak tahun 2003 yang telah disepakati dalam persetujuan GATT 12

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 yang diratifikasi WTO serta dilanjutkan dengan kesepakatan APEC di Bogor tahun 1994 dan di Osaka tahun 1995. Perkembangan teknologi informasi juga merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh masyarakat yang akan memenangkan persaingan di kompetisi global. Globalisasi tidak hanya terjadi di bidang ekonomi dan IPTEK, namun juga terjadi pada segala aspek kehidupan manusia seperti bidang sosial, pendidikan, hankam dan budaya. Kondisi ini menuntut sumber daya manusia yang memiliki keunggulan komperatif dan keunggulan kompetetif. Salah satu wahana yang sangat krusial dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan. John Dewey mengatakan bahwa : “Education is fundamental method of social progress and reform. All reform which rest simply upon changes in mechanical or outward arrangements, are transitory and futile. Education is regulation of the process of coming to share in the social consciousness; and that the adjustment of individual activity on the basic of this social consciousness is the only sure method of social reconstruction”( Tilaar, 1999: 6). Pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, ekonomi, politik dan kenegaraan secara simultan (Depdiknas, 2007: 5). Pendidikan untuk abad ke 21 melalui UNESCO membentuk sebuah komisi Internasional yaitu The International Commision on Education for the TwentyFirst Century. Komisi Pendidikan untuk abad ke 21 melihat bahwa pendidikan adalah paspor untuk hidup. Paspor hidup adalah sebuah tiket seseorang untuk melakukan dan memilih apa yang mereka lakukan (Depdiknas, 2007: 7). Perubahan dalam bidang pendidikan dilaksanakan sejak tahun 1998. UNESCO telah berpendapat bahwa terdapat dua basis landasan. Dua basis landasan tersebut

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 diantaranya pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar hidup dalam kebersamaan, belajar menjadi diri sendiri dan belajar seumur hidup (Mulyasa, 2013: 2). Perkembangan jaman dan segala pengaruh globalisasi diharapkan dapat merubah dan memperbaiki pendidikan secara global. 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia Argo (2010: 3) mengungkapkan era globalisasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi selalu menjadi fokus utama yang sering diperbincangkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Sekolah di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Terlihat pada sekolah-sekolah yang dikenal dengan bilingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin menjadi mata pelajaran wajib sekolah dan dibukanya perguruan tinggi yang membuka program kelas Internasional. Globalisasi Pendidikan diharapkan mampu menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat untuk Indonesia. Indonesia diharapkan mampu memajukan kualitas pendidikan jika dilihat dari kondisi pendidikan secara global. Negara Indonesia sebenarnya kurang siap dalam menghadapi persaingan global. Tenaga ahli atau sering disebut dengan angkatan kerja di bidang pendidikan dianggap kurang memadai. Sebanyak 53% angkatan kerja adalah tidak berpendidikan, berpendidikan dasar sebanyak 34%, berpendidikan menengah sebanyak 11%, dan berpendidikan tinggi sebanyak 11% (Boediono dalam Sanaky, 2009: 82). Data

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 yang didapat mengenai angkatan kerja tersebut semakin memperjelas bahwa Indonesia kurang mempunyai tenaga kerja yang memadai. Era reformasi memiliki tujuan mengembalikan pendidikan pada fungsinya. Fungsi dari tujuan era reformasai yaitu memberdayakan masyarakat untuk menjadi lebih maju dan mapan. Begitu pula dengan pendidikan nasional perlu direformasi untuk mewujudkan visi baru masyarakat Indonesia yaitu masyarakat madani Indonesia (Tilaar dalam Sanaky, 2009: 2). Masyarakat madani sendiri berarti masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Indonesia perlu mewujudkan masyarakat madani dalam hal pendidikannya. Masyarakat Indonesia melakukan perubahan dalam semua aspek termasuk aspek pendidikan. Kendala dalam aspek pendidikan Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan dilihat dari prestasi siswa-siswi Indonesia. Kendala berikutnya yaitu rendahnya tingkat relevansi pendidikan terhadap kebutuhan. Banyaknya lulusan sekolah yang mengganggur menjadi penanda akan rendahnya relevansi pendidikan terhadap kebutuhan. Kondisi pendidikan terdapat ketidakserasian antara kebutuhan dunia kerja dan hasil pendidikan. Lulusan pendidikan tinggi tidak menjamin pekerjaan yang mapan. Ketidakserasian tersebut disebabkan karena kurikulum dengan materi yang kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Kendala lain yaitu masih rendahnya efisiensi pendidikan nasional jika dilihat dari penyebaran guru yang tidak merata dan juga masalah rendahnya anggaran pendidikan terhadap APBN. Reformasi dalam dunia pendidikan perlu

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 diadakan berdasarkan masalah-masalah yang telah diuraikan. Tujuan lain dari reformasi pendidikan adalah menciptakan manusia yang lebih baik dan menciptakan manusia yang memiliki kualitas yang lebih tinggi. 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia Sejak Tahun 1947-2013 a) Kurikulum SD di Masa Orde Lama Rencana Pembelajaran 1947 bersifat politis, yang berorientasi dari pendidikan Belanda kepada kepentingan nasional (Hidayat, 2013: 2). Kurikulum 1947 dilandasi oleh semangat merebut kemerdekaan Indonesia, maka pendidikan .Pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani merupakan hal yang diutamakan dalam rencana pembelajaran 1947 (Muzamiroh, 2013: 41). b) Kurikulum SD di Masa Orde Baru (Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984 dan Kurikulum 1994) Kurikulum pendidikan pada masa Era Orde Baru dimulai dengan adanya TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966 tentang agama, pendidikan dan kebudayaan atau disebut kurikulum 1968. Kurikulum 1968 melahirkan rumusan konkret bagaimana pendidikan harus membentuk manusia Pancasilais sejati (Yamin, 2012: 123). Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikulum ini dikelompokkan pada tiga kelompok besar yaitu pembinaan pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus. Jumlah pelajaran dalam kurikulum 1968 terdapat 9 mata pelajaran, yang memuat mata pelajaran

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 pokok saja. Muatan materi pelajarannya sendiri hanya teoritis, dan tidak mengaitkannya dengan permasalahan faktual di lingkungan sekitar (Hidayat, 2013: 4). Kurikulum 1975 mempunyai konsep, pendidikan ditentukan dari pusat, para pengajar tidak perlu berpikir membuat konsep sendiri bagaimana pola pengajaran yang baik harus dilaksanakan dalam kelas (Yamin, 2012:125). Metode, materi dan tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975 tertuang secara gamblang dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Melalui PPSI kemudian lahir satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan bahasan memiliki unsur-unsur : petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 didasari konsep SAS (struktural, analisis, sintesis). Kurikulum 1984 mengusung process skill approach yang berarti, bahwa pendidikan harus mampu mencetak tenaga terdidik yang kreatif, bermutu, dan efisien bekerja. Kurikulum 1984 disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Siswa diposisikan sebagai subjek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Trianto (2012) menjelaskan bahwa CBSA didasarkan pada disertasi Conny R. Semiawan yang mengambil pada pandangan Sikortsky. Sekolahsekolah kurang mampu menafsirkan CBSA yang terlihat dari suasana kelas gaduh karena siswa berdiskusi. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya penolakan CBSA (Muzamiroh, 2013: 44).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Pendidikan dasar pada kurikulum 1994 dipatok menjadi sembilan tahun (SD dan SMP). Struktur kurikulum pada kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1984 dengan tujuan pendekatan proses. Kurikulum ini pun dimasukkan muatan lokal, yang berfungsi mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerahnya. Trianto (2012) berpendapat bahwa pada kurikulum ini beban belajar siswa dinilai terlalu berat, karena ada muatan nasional dan lokal pada kurikulum sekolah dasar di Masa Orde Reformasi (Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006) Kurikulum 2004 atau sering disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2003: 38). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan kepada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Trianto, 2011: 131). Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum 2006 mempunyai dua model

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Model pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik (Trianto, 2011: 139). Tabel 2.0 Reformasi Kurikulum di Indonesia Sejak Tahun 1947-2006 No 1 Kurikulum Kurikulum 1947 2 Kurikulum 1968 3 Kurikulum 1975 4 Kurikulum 1984 Ciri-ciri kurikulum 1.Sifat kurikulum Separated Subject Curriculum ( 1946-1947 ) 2.Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah 3.Jumlah mata pelajaran : Sekolah Rakyat (SR)-16 bidang studi, Sekolah Menengah Pertam ( SMP )-17 bidang studi, Penjurusan di SMA dilakukan di kelas II, dan disederhanakan menjadi 2 jurusan Sastra Sosial Budaya dan Ilmu Pasti Pengetahuan Alam 5. Kurikulum masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang 6.Pendidikan sebagai development conformism, bertujuan untuk membentuk karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi 7.Menggunakan kurikulum 1950. Pendidikan yang diutamakan adalah pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat 8.Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani 1.Dilakukannya pendekatan pengorganisasian materi pelajaran dengan pengelompokan suatu pelajaran yang berbeda, yang dilakukan secara korelasional (correlated subject curriculum). 2.Mata pelajaran yang satu dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain walaupun batas demarkasi antar mata pelajaran masih terlihat jelas. 3.Muatan materi masih teoritis belum mengaitkan dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar. 4.Kurikulum yang berbasis jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. 5.Kurikulum ini adalah perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. 6.Kurikulum bertujuan pada upaya untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama 1.Kurikulum ini menganut pendekatan yang berorientasi tujuan, pendekatan integrative keseluruhan sistem pengajaran terpadu, dan pendekatan sistem pendidikan merupakan suatu sistem. Pendekatan sistem pendidikan merupakan suatu sistem, artinya merupakan suatu totalitas yang komponennya saling berkaitan dan mempengaruhi 2.Kurikulum ini menggunakan metode PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), satuan pelajaran yang berupa rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Kurikulum ini bersifat Integrated Curriculum Organization 1. Kurikulum 1984 merupakan penyempurnaan kurikulum 1975. Kurikulum ini bersifat Content Based Curriculum, ada 11 bidang studi SD dan SMP, penjurusan SMA dibagi atas 5 jurusan, kemudian ada perubahan lagi yaitu penjurusan dilakukan di kelas 2, dan jurusan dibagi atas 3, yaitu jurusan IPA,IPS, dan Bahasa

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 No 5 Kurikulum Kurikulum 1994 6 Kurikulum 2004 7 Kurikulum (KTSP) 2006 Ciri-ciri kurikulum Ciri-ciri kurikulum 1994 adalah sebagai berikut : (a) sifat kurikulum Objective Based Curriculum (b) nama SMP dan SLTP Kejuruan diganti menjadi SLTP (c) mata pelajaran PSBP dan ketrampilan ditiadakan, program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran, nama SMA menjadi SMU (d) SMU ada 10 Mata pelajaran (e) penjurusan SMU dilakukan di kelas II (f) penjurusan dibagi atas 3, yaitu jurusan IPA,IPS, dan Bahasa (g) SMK memperkenalkan program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) 1.Kurikulum ini dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini memiliki cirri-ciri : (a) sifatnya Competency Based Curriculum, (b) penyebutan SLTP menjadi SMP, (c) SMU menjadi SMA, (d) ada 7 mata pelajaran di SD, 11 mapel di SMP, 17 mapel di SMA, (e) penjurusan SMU dilakukan di kelas II, (f) penjurusan dibagi atas 3, yaitu jurusan IPA,IPS, dan Bahasa 2.Kurikulum KBK memfokuskan aspek kompetensi siswa sehingga pembelajarannya berpusat pada siswa dengan menggunakan pendekatan menyeluruh dan mengutamakan pembelajaran kontekstual 1.KTSP merupakan penyempurnaan kurikulum 2004(KBK) dalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan sekolah. Pada KTSP kewenangan tingkat satuan pendidikan (sekolah) untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum lebih diperbesar. Tabel 2.0 tersebut berisi mengenai perubahan-perubahan kurikulum di Indonesia beserta ide pokok pada setiap kurikulum yang digunakan. Perubahanperubahan kurikulum tersebut dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia sejak tahun 1947 sampai tahun 2006. 4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 Pentingnya perubahan dan pengembangan kurikulum 2013. Kurikulum itu bersifat dinamis, sehingga harus dilakukan perubahan dan pengembangan kurikulum. Hal ini bertujuan agar kurikulum mampu mengikuti pengembangan dan tantangan zaman. Dalam pelaksanaannya, perubahan dan pengembangan kurikulum harus dilakukan secara sistematis dan terarah. Perubahan dan pengembangan kurikulum harus memiliki tujuan yang jelas sehingga siapapun yang akan melaksanakan kurikulum tersebut tahu akan arah kemana sistem

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 pendidikan nasional dengan kurikulum yang sudah mengalami perubahan dan pengembangan tersebut. Hidayat (2013: 2) menyatakan bahwa kurikulum merupakan salah satu instrumental input dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yang dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Semua kurikulum nasional yang dikembangkan harus mengacu pada landasan yuridis Pancasila dan UUD 45. Kurikulum yang bersifat dinamis tidak serta merta asal berubah. Perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis, memiliki visi dan arah yang jelas (Mulyasa, 2013: 59). Perubahan kurikulum yang sedang dilaksanakan di Indonesia saat ini adalah perubahan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Mulyasa (2013: 60) menyatakan bahwa perlunya perubahan kurikulum karena berdasarkan beberapa hasil studi internasional tentang kemampuan peserta didik Indonesia dalam kancah internasional. Menurut hasil survey oleh Global Institute, peserta didik di Indonesia sebanyak 78 persen hanya mampu mengerjakan soal hapalan tingkat rendah. Berdasarkan data Programme for International Student Assesment, peserta didik Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level tiga saja, sementara banyak peserta didik negara lain mampu menguasai sampai level empat, lima , bahkan level enam. Hasil kedua survey tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi peserta didik Indonesia tertinggal dan terbelakang. Perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya kelemahan kurikulum KTSP. Kelemahan kurikulum sebelumnya antara lain yaitu Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, kurikulum belum mengembangkan kompetensi

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 secara utuh sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi yang dikembangkan di dominasi olehaspek pengetahuan. Kompetensi yang sesuai dengan perkembangan masyarakat seperti karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran kontruktifistik, keseimbangan antara soft dan hard skill. Jiwa wirausaha belum terakomodasi, kurikulum belum peka terhadap berbagai perubahan sosial, proses pendidikan belum menggambarkan urutan pembelajaran yang terperinci, penilaian belum menggunakan standar penilaian berbasisi kompetensi. Selain kelemahan yang dikemukakan, perubahan dan pengembangan kurikulum diperlukan karena adanya kesenjangan kurikulum yang berlaku sekarang yaitu kurikulum 2006. Mulyasa (2013: 163-164) menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 diharapkan mampu menghasilkan manusia produktif, kreatif, dan inovatif karena Kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi. Berdasarkan hal tersebut Kurikulum 2013 memiliki tiga keunggulan. Pertama, Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual) sebab fokus dari kurikulum ini adalah pada pengembangan berbagai kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing siswa. Kurikulum 2013 memposisikan siswa sebagai subjek belajar yang secara aktif menggali dan mengalami proses belajar bukan karena transfer pengetahuan. Kedua, Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi yang mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Kemampuan yang berkembang tidak hanya kemampuan dalam bidang akademik saja namun juga kemampuan bersosialisasi siswa. Ketiga, ada bidang studi atau mata pelajaran

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 tertentu yang lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi terutama yang berkaitan dengan keterampilan. Ketiga keunggulan Kurikulum 2013 tersebut mengembangkan kemampuan siswa tidak hanya dalam bidang akademik namun juga dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 dianggap penting karena ditemukan adanya beberapa kelemahan dalam Kurikulum 2006. Kelemahan tersebut adalah masih terlalu padat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran banyaknya materi yang kesukaran dan keluasannya melampaui tingkat perkembangan usia anak. Kurikulum 2006 belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, sehingga pribadi peserta didik belum sepenuhnya tergambarkan (pengetahuan, keterampilan, sikap). Kurikulum 2006 belum mengakomodir berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat seperti pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran konstruktifistik, keseimbangan soft skills and hard skills, serta jiwa kewirausahaan. Kurikulum 2006 belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional maupun global. Standar proses pembelajaran dalam Kurikulum 2006 belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru. Penilaian dalam Kurikulum 2006 belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi dan belum tegas memberikan layanan remediasi serta pengayaan secara berkala.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Majid (2014: 28) menjelaskan bahwa kurikulum 2013 yang akan diberlakukan ini sejalan dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Pengembangan kurikulum sesuai dengan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya perubahan kurikulum baru, landasan filosofis dan landasan empiris (Majid, 2014: 29). Landasan yuridis atau yang menjadi dasar untuk mengembangkan kurikulum yaitu Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi. Landasan filosofis pada pengembangan kurikulum 2013 yakni pancasila. Pancasila digunakan sebagai falsafah bangsa dan negara yang menjadi sumber utama dan penentu arah yang akan dicapai dalam kurikulum. Selain beberapa kelemahan yang telah dikemukakan di atas, perubahan dan pengembangan kurikulum diperlukan karena adanya beberapa kesenjangan kurikulum yang terdapat pada Kurikulum 2006. Adapun beberapa kesenjangan sebagai berikut pada tabel 2.1 : Tabel 2.1 Kondisi Kompetensi Lulusan KONDISI SAAT INI KONSEP IDEAL A. KOMPETENSI LULUSAN 1. Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter 2 Belum menghasilkan keterampilan sesuai . kebutuhan 3. Pengetahuan-pengetahuan lepas A. KOMPETENSI LULUSAN 1. Berkarakter mulia 2. Keterampilan yang relevan 3 Pengetahuan-pengetahuan terkait

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 . B. MATERI PEMBELAJARAN 1. Belum relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan 2. Beban belajar terlalu berat 3. Terlalu luas, kurang mendalam B. MATERI PEMBELAJARAN 1. Relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan 2. Materi esensial 3. Sesuai dengan tingkat perkembangan siswa C. PROSES PEMBELAJARAN 1. Berpusat pada guru 2. Proses pembelajaran berorientasi pada buku teks 3. Buku teks hanya memuat materi bahasan C. PROSES PEMBELAJARAN 1. Berpusat pada peserta didik 2. Sifat pembelajaran yang kontekstual 3. Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian sertakompetensi yang diharapkan D. PENILAIAN D. PENILAIAN 1. Menekankan aspek kognitif 2. Tes menjadi cara penilaian yang dominan 1. Menekankan aspek kogniif, psikomotor, afektif secara proporsional 2. Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 1. Memenuhi kompetensi profesi saja 1. Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, social, dan personal 2. Motivasi mengajar 2. Focus pada ukuran kinerja PTK F. E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENGELOLAAN KURIKULUM 1. Satuan pendidikan mempunyai pembebasan dalam pengelolaan kurikulum 2. Masih terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3. Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran F. PENGELOLAAN KURIKULUM 1. Pemerinyah pusat dan derah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan 2. Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3. Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman Sumber: Materi Uji Publik Kurikulum 2013 Kondisi yang telah disebutkan di tabel 2.1, maka dilakukan beberapa penyempurnaan pola pikir dapat dilihat pada tabel 2.2 Tabel 2.2 Penyempurnaan Pola Pikir Perumusan Kurikulum No. Kurikulum 2004 Kurikulum 2006 Kurikulum 2013 1. Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan 2. Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Standar Isi diturunkan dari standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 3. Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, pembentuk pengetahuan Semua mata pelajaran harus berkontribusi pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan terhadap 4. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai 5. Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas) Sumber: Materi Uji Publik Kurikulum 2013 Pengembangan kurikulum 2013 perlu dilakukan dalam kerangka ini karena untuk menghadapi berbagai masalah dan tantangan masa depan yang semakin rumit dan kompleks. Tantangan masa depan tersebut berkaitan dengan globalisasi, masalah lingkungan, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, ekonomi berbasis ilmu pengetahuan, bangkitnya industri kreatif dan budaya, dan pergeseran kekuatan ekonomi dunia (Permendikbud, 2013: 2). Untuk menghadapi tantangan tersebut, kurikulum hendaknya mampu membekali peserta didik dengan berbagai kompetensi. Pengaplikasian kurikulum 2013 ini diharapkan mampu mempersiapkan peserta didik untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. a. Karakteristik Kurikulum 2013 Permendikbud (2013: 3) memaparkan bahwa kurikulum 2013 dirancang supaya menyeimbangkan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan intelektual dan psikomotorik. Sekolah juga dituntut untuk menjadi bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan untuk diterapkan dalam berbagai situasi di masyarakat dan sekolah. Kompetensi disajikan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 kompetensi dasar mata pelajaran, dan kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian kompetensi dasar untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti. Kompetensi dasar juga dikembangkan yang didasari oleh prinsip akumulatif, saling memperkuat (Reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (orgaisasi horizontal dan vertikal). b. Elemen Perubahan Kurikulum SD ( Sekolah Dasar ) 2013 Penataan terhadap Standar Nasional Pendidikan diperlukan dalam pengembangan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar. Penataan tersebut terutama dilakukan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013. Elemen perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.3 Tabel 2.3 Bagan Elemen Perubahan DESKRIPSI ELEMEN PERUBAHAN DI SEKOLAH DASAR Kompetensi Lulusan Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan Kedudukan Mata Pelajaran Kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran (Isi) berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi Pendekatan (Isi) Kompetensi dikembangkan melalui tematik integratif dalam semua mata pelajaran Struktur Kurikulum (mata - Holistik dan integratif berfokus pada alam, sosial dan pelajaran dan alokasi budaya waktu) Isi - Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan sains - Jumlah mata pelajaran 6 dari semula 10 mata pelajaran - Jumlah jam pelajaran bertambah 4 jam pelajaran per minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran Proses pembelajaran - Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, meyimpulkan, dan mencipta - Belajar terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat, tidak hanya di dalam kelas - Guru bukan satu-satunya sumber belajar - Sikap diajarkan melalui sikap dan teladan, tidak hanya secara verbal - Proses pembelajaran berlangsung secara tematik dan ELEMEN

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 ELEMEN Penilaian Ekstrakurikuler DESKRIPSI ELEMEN PERUBAHAN DI SEKOLAH DASAR terpadu - Penilaian berbasis kompetensi - Pergeseran dari penilaian melalui tes mengukur kompetensi pengetahuan berdasar hasil saja) menuju penilaian otentik( mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil) - Memperkuat Penilaian Acuan Patokan, yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal) - Penilaian tidak hanya pada level KD, namun juga pada Kompetensi Inti dan SKL - Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian - Pramuka (wajib) - UKS - PMR - B. Inggris 5. Pembelajaran Terpadu Kurikulum terpadu merupakan model kurikulum yang dikembangkan untuk mengacu pada pengajaran yang bersifat interdisipliner, pengajaran tematis, dan sinergis. Pengertian kurikulum terpadu menurut Humphreys adalah studi dimana para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari lingkungan mereka (Indrawati, 2009:17). Indrawati (2009: 18) mengungkapkan bahwa kurikulum terpadu adalah pendekatan edukasional yang mempersiapkan siswa untuk menghadapi pembelajaran seumur hidup. Sekolah hendaknya mulai membangun pandangan pendidikan sebagai proses mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan abad ke-21, bukan terbagi-bagi dalam departemendepartemen yang berbeda. Kurikulum terpadu atau kurikulum interdisipliner mencakup adanya kombinasi mata pelajaran, penekanan pada proyek, sumber di luar buku teks, keterkaitan antarkonsep, unit-unit tematis sebagai prinsip-prinsip organisasi, jadwal yang fleksibel, dan pengelompokan siswa yang fleksibel.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Fogarty mendeskripsikan sepuluh level integrasi kurikulum (1991). Integrasi kesepuluh tersebut yaitu : Tabel. 2.4 Ragam Model Pembelajaran Terpadu No Nama Model Deskripsi Kelebihan Kelemahan 1 Terpisah (Fragmented) Berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan saling terpisah Adanya kejelasan dan pandangan yang terpisah dalam mata pelajaran Keterhubungan menjadi tidak jelas, lebih sedikit transfer pembelajaran 2 Keterkaitan/ Keterhubungan (connected) Topik-topik dalam satu disiplin ilmu berhubungan satu sama lain Konsep-konsep utama saling terhubung mengarah pada pengulangan (review), rekonseptualisai, dan asimilasi gagasangagasan dalam suatu disiplin Disiplin-disiplin ilmu tidak berkaitan: kontent tetap terfokus pada satu disiplin ilmu 3 Berbentuk Sarang/Kumpulan (Nested) Ketrampilanketrampilan sosial, berpikir, dan kontent (Contents skill) dicapai di dalam satu mata pelajaran(Subject area) Memberi perhatian pada berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, memperkaya dan memperluas pembelajaran Pelajar dapat menjadi bingung dan kehilangan arah mengenai konsepkonsep utama dari suatu kegiatan atau pelajaran 4 Dalam rangkaian (sequence) Persamaanpersamaan yang ada diajarkan secara bersamaan, meskipun termasuk ke dalam mata pelajaran yang berbeda Menfasilitasi transfer pembelajaran melintasi beberapa mata pelajaran Membutuhkan kolaborasi yang terus menerus dan kelenturan (Fleksibilitas) yang tinggi karena guruguru memiliki lebih otonomi untuk mengurutkan (merancang) kurikula 5 Terbagi (Shared) Perencanaan tim dan atau pengajaran yang melibatkan dua disiplin difokuskan pada konsep, keterampilan, dan sikap-sikap (attitudes) yang sama Terdapat pengalamanpengalaman intruksional bersama: dengan dua orang guru di dalam satu tim, akan lebih mudah untuk berkolaborasi Membutuhkan waktu, kelenturan, komitmen, dan kompromi 6 Berbentuk jaring laba-laba (Webbed) Pengajaran tematis, menggunakan suatu tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin Dapat memotivasi muridmurid membantu muridmurid untuk melihat keterhubungan antar gagasan Tema yang digunakan harus dipilih baik-baik secara selektif agar menjadi berarti, jkuga relevan satu

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 No Nama Model Deskripsi Kelebihan mata pelajaran 7 Dalam satu (Threaded) 8 alur Kelemahan dengan kontent Keterampilanketerampilan sosial, berpikir, berbagai jenis kecerdasan, dan keterampilan belajar “direntangkan” melalui berbagai disiplin Murid-murid mempelajari cara mereka belajar, memfasilitasi transfer pembelajaran selanjutnya Disiplin-disiplin ilmu yang bersangkutan tetapterpisah satu sama lain Terpadu (integrated) Dalam berbagai prioritas yang saling tumpang tindih dalam berbagai disiplin ilmu, dicari keterampilan, konsep, dan sikapsikap yang sama Mendorong murid-murid untuk melihat keterkaitan dan kesalingterhubungan di antara disiplin-disiplin ilmu: murid-murid termotivasi dengan melihat berbagai keterkaitan tersebut Membutuhkan tim antardepartemen yang memiliki perencanaan dan waktu pengajaran yang sama. 9 Immerced Pelajar memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pengajaran melalui perspektif bidang yang disukai (area of interest) Keterpaduan berlangsung di dalam pelajar itu sendiri Dapat mempersempit fokus pelajar tersebut 10 Membentuk jejaring (networked) Pelajar melakukan proses pemaduan topik yang dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya Bersifat proaktif, pelajar terstimulasi oleh informasi, keterampilan, atau konsep-konsep baru Dapat memecah perhatian pelajar: upaya-upaya menjadi tidak efektif Sumber : Indrawati (2009 : 21-22) Melihat tabel 2.4 menjelaskan bahwa ada berbagai model kurikulum terpadu yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran. Tampak dalam model-model tersebut dikaji dari dua sisi, yaitu dalam satu bidang ilmu (interdisipliner) maupun dari bidang ilmu yang berbeda (antardisiplin ilmu). Pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena pada dasarnya tidak ada permasalahan (konsep) yang dapat ditinjau dari satu sisi saja.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 6. PEMBELAJARAN TEMATIK Kurikulum tematik diartikan sebagai kurikulum yang memuat konsep pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik (Hajar, 2013 : 21). Trianto (2011 : 147) pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Pendapat lain dikemukakan oleh Depdiknas (dalam Trianto, 2011: 147) pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Departemen Pendidikan Nasional (2009: 6), pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai sarana menggabungkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa ketika belajar. Peneliti menyimpulkan dari pandangan para ahli tersebut bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran menggunakan tema menjadi pokok bahasan, sehingga siswa memperoleh pengetahuannya dari pengalaman yang bermakna dalam proses belajar. Siswa dalam proses belajar dituntut untuk menjadi aktif dalam menggali informasi dari suatu materi agar ia mampu mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang didapat akan lebih lama. Depdiknas (2009: 8) menyebutkan ada tiga landasan diterapkannya pembelajaran tematik. Landasan tersebut antara lain landasan filosofis, landasan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 psikologis, dan landasan yuridis. Penjelasan mengenai ketiga landasan tersebut ada pada tabel 2.5. Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Yuridis a. a. a. b. c. Progresivisme, aliran ini memandang bahwa proses pembelajaran lebih ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah, dan memperhatikan pengalaman siswa. Konstruktivisme, kunci utama dalam pembelajaran adalah pengalaman langsung siswa. Humanisme, melihat siswa dari keunikan/kekhasann ya, potensi, dan motivasi yang dimilikinya. b. Psikologi perkembangan, psikologi ini diperlukan untuk menentukan isi dari materi pembelajaran yang disajikan agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Psikologi belajar, diperlukan untuk mengetahui bagaimana suatu materi disajikan dan bagaimana siswa mempelajarinya. b. UU No. 23 Tahun 2002 pasal 9 tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan bakat dan minatnya agar pribadi dan tingkat kecerdasannya berkembang dengan baik. UU No. 20 Tahun 2003 bab V pasal 1-b tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya. Tabel 2.5 menjelaskan bahwa pembelajaran tematik memiliki tiga landasan, yaitu landasan filosofis berisi tentang teori-teori para ahli yang sesuai dengan pembelajaran tematik, landasan psikologis berisi tentang teori psikologi yang sesuai dengan pembelajaran tematik, dan landasan yuridis berisi Undang-Undang yang mendasari lahirnya pembelajaran tematik. Model pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: Depdiknas (2009: 9) menyebutkan bahwa karakteristik pembelajaran tematik dapat dilihat dari dua sisi yaitu perkembangan anak usia kelas awal dan cara belajar siswa. Dalam

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 perkembangan anak usia kelas awal juga terdapat karakteristik yang lebih khusus atau spesifik lagi, diantaranya: (1) Berpusat pada siswa, pembelajaran tematik dilaksanakan dengan berpusat pada siswa (student centered) yang dalam hal ini siswa berperan sebagai subjek pembelajaran dan guru berperan hanya sebagai fasilitator; (2) memberikan pengalaman langsung, pembelajaran tematik berisikan kegiatan-kegiatan yang mampu memberikan pengalaman langsung kepada para siswa (Direct experience) (Trianto, 2011: 163). Pengalaman langsung tersebut, siswa dihadapkan pada sesuatu yang yang nyata atau konkret sebagai alat bantu untuk memahami hal-hal abstrak; (3) pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, pembelajaran tematik berfokus pada tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Oleh karena itu, pemisahan antarmata pelajaran tidak begitu jelas; (4) menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, dalam suatu proses pembelajaran tematik mengandung konsep-konsep dari banyak mata pelajaran. Konsep-konsep disajikan dengan berbagai mata pelajaran tersebut, siswa diharapkan mampu untuk memahami konsep secara komprehensif. Hal tersebut akan berguna bagi siswa untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari; (5) bersifat fleksibel, pembelajaran tematik memiliki sifat luwes (flexible) bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dapat dikaitkan oleh guru. Tidak hanya mata pelajaran saja yang dapat dikaitkan, namun juga dapat mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan lingkungan siswa berada; (6) hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, melalui pembelajaran tematik siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan talenta atau potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya; dan (7)

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan, pembelajaran tematik dapat dilaksanakan dengan berbagai macam cara diantaranya melalui permainan, diskusi, dll. Konsep pembelajaran yang telah dirancang bertujuan agar anak merasa senang ketika belajar.Karakter-karakteristik ini yang dijadikan pedoman dalam pembuatan indikator kuesioner dalam implementasi pembelajaran tematik di penelitian ini. Implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup :(1) Implikasi Bagi Guru, (2) Implikasi bagi Siswa, (3) Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media,(4) Implikasi Terhadap Pengaturan Ruangan dan (5) Implikasi terhadap pemilihan metode. Implikasi terhadap guru meliputi : pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. Implikasi bagi siswa meliputi : (1) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal, (2) Siswa juga harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah. Implikasi terhadap saran, prasarana, sumber belajar dan media meliputi : (1) Pembelajaran tematik pada kakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistic dan otentik, (2) pembelajaran ini perlu

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization), (3) pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak, (4) penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi. Pengaturan ruangan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik meliputi : (1) ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan, (2) susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung, (3) peserta didik tidak selalu di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet, (4) kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, (5) dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar, (6) alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali. Implikasi terhadap pemilihan metode meliputi : sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, Tanya jawab dan demonstrasi, bercakap-cakap (Depdiknas, 2009:11).

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Panduan KTSP (2007: 253) menyatakan bahwa pembelajaran tematik yang merupakan bagian dari pembelajaran terpadu memiliki keuntungan yang dapat dicapai, antara lain: memudahkan pemusatan perhatian pada satu tema tertentu. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi antara isi mata pelajaran dalam tema yang sama. Pemahaman materi mata pelajaran lebih mendalam dan berkesan. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa. Lebih dapat dirasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam suatu mata pelajaran dan sekaligus dapat mempelajari mata pelajaran lain. Guru dapat menghemat waktu sebab mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus, dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan remedial, pemantapan atau pengayaan materi. 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Pelaksanaan Reformasi Faktor yang mempengaruhi reformasi salah satunya adalah faktor demografi. Faktor demografi merupakan ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 309). Data susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk dapat diambil dengan menggunakan statistik, dan penggolongan. Penggolongan tersebut berdasarkan pada kelas sosial, agama, umur, tempat,

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 pendidikan, dan sebagainya. Setiap anggota masyarakat memiliki status yang berbeda-beda apabila dilihat berdasarkan penggolongan di atas. Chairunniza (2012: 10) menyebutkan bahwa karakteristik demografi pegawai yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status kepegawaian, masa kerja, dan pelatihan yang diikuti. Faktor-faktor demografi yang mempengaruhi proses pelaksaan pembelajaran di kelas bawah oleh guru sekolah dasar kelas bawah antara lain :(1) Dukungan kepala sekolah. Kepala sekolah yang menjadi pengawas dan sekaligus manajerial dalam sekolah harus dapat memberikan dukungan penuh supaya iklim kerja yang dilakukan guru dapat memberikan motivasi dalam pelaksanaan pembelajaran (Supratiningrum,2013: 293) . Supervisi pengajaran sama dengan segala usaha yang dilakukan oleh administrator pendidikan maupun administrator sekolah dalam upaya menolong dan memperbaiki serta meningkatkan keahlian guru dalam melakukan tugasnya. Menstimulasi pertumbuhan dan pengembangan profesi guru, pemilihan revisi tujuan-tujuan pendidikan, materi pengajaran, metode pengajaran, metode mengajar, serta evaluasi. (2) Pengalaman mengajar adalah segala pengetahuan, ketrampilan, dan sikap selama proses mengajar yang dikaji, ditelaah, dipelajari, dan dianalaisis selama proses belajar mengajar dalam setiap kegagalan dan keberhasilan yang akan diperoleh (Suprihatiningrum, 2013: 222). Masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan yang memiliki keterikatan dengan lembaga pendidikan. Guru yang berkualitas dan mumpuni penting untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran. Diharapkan dalam

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 pengalaman mengajar ini akan mendapatkan sesuatu yang baru tenang pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional, dan okupasional dalam rentang waktu tertentu. (3)Bidang ketenagaan di sekolah merupakan upaya dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru yang diharapkan dapat memperoleh keunggulan kompetitif dan dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya (Suprihatiningrum, 2013: 220). Kegiatan pelatihan (training) adalah bagian yang integral dari manajemen sekolah. Salah satunya adalah bidang ketenagaan. Jumlah jam terbang ataupun dalam kepelatihan yaitu kerangka dalam meningkatkan serta mengembangkan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. (4) Faktor demografi yang keempat adalah tingkat pendidikan. Sihombing dalam Chaerunniza (2012: 12) mengartikan tingkat pendidikan merupakan suatu proses jangka panjang yang menggunakan aturan yang sistematis dimana pekerja mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum. Latar belakang pendidikan dapat dipenuhi dengan membandingkan kemampuan dapat atau tidaknya seorang menempuh pendidikan yang tinggi. (5) Faktor demografi yang kelima adalah status kepegawaian. Status kepegawaian dibagi menjadi dua macam. Undang-undang ketenagakerjaan yang membagi status kepegawaian menjadi dua yaitu pegawai terikat atau pegawai kontrak. Pegawai terikat adalah seseorang yang bekerja dalam suatu instansi dengan perjanjian kerja yang tentu. Pegawai kontrak adalah seseorang yang bekerja dalam suatu instansi dengan perjanjian kerja yang tidak tentu.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 (6) Holloway (2002) mengungkapkan bahwa guru-guru yang mengajar kelas kecil (kelas dengan jumlah siswa yang sedikit) ternyata kurang menerapkan disiplin dan lebih meluangkan waktu untuk belajar dan bekerjasama dengan para individu dan kelompok kecil (Cruickshank, Jenkins, & Metcalf, 2014: 14). Finn, dkk (2003) berpendapat bahwa siswa-siswa dalam kelas kecil pada pendidikan dasar cenderung terlibat dalam proses belajar dan kurang menunjukkan perilaku mengganggu. Mereka menjadi dekat dengan guru dan memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap perilaku mereka (Cruickshank, dkk, 2014: 13). Penelitian yang dilakukan oleh Holloway dan Finn menjelaskan bahwa perbedaan jumlah siswa dalam kelas tidak mengarah kepada perbedaan signifikan dalam cara pengajaran (7) Jumlah rekan guru yang menggunakan tematik, rekan kerja berpengaruh dalam meningkatkan interaksi dan kolaborasi. Cara terstruktur ketika guru melakukan kolaborasi dan mempengaruhi satu sama lain dan bekerja sama, maka akan mencapai tujuan dan kebutuhan siswa (Cruickshank, dkk, 2014: 13). Goddard & Tschnnen-Moran tahun 2007 berpendapat bahwa efek dari kolaborasi antar guru dapat meningkatkan kemampuan sekolah untuk mendorong prestasi para siswa (Cruickshank, dkk, 2014: 16). Guru yang kredibel dan dipandang dapat percaya akan memperoleh dampak. Kita cenderung percaya dan mengikuti bimbingan, mungkin bahkan meniru mereka. Kita tidak hanya melakukan apa yang mereka katakan, tetapi bahkan berperilaku seperti mereka (Cruickshank, dkk, 2014: 16).

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Guru menjadi pribadi yang profesional (Rusman, 2013: 19). Profesionalisme guru merupakan faktor penentu proses pendidikan yang berkualitas. Guru yang berkualitas akan dapat melaksanakan tugas sebagai pendidik, dan pengembang kurikulum sehingga dapat melaksanakan pembelajaran tematik dengan baik. Guru juga diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Guru yang profesional harus memiliki beberapa aspek kompetensi (Rusman, 2013: 23). Kompetensi yang dimaksud ialah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki setiap guru tersebut dapat memberikan pengaruh yang lebih. Pengaruh akan terlihat apabila guru-guru saling berkolaborasi terutama dalam menggunakan pembelajaran tematik.. Penelitian ini akan mencari ada perbedaan atau tidaknya jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. B. PENELITIAN RELEVAN Sub bab ini akan dipaparkan beberapa penelitian dari Ibrahim (2012), Zulfitharani,Marzuki,Asran (2013), Hayama (2012), dan Dursun Dilek (2002). Ibrahim (2012) dalam penelitian berjudul Pengembangan Pembelajaran Tematik dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran tematik untuk siswa sekolah dasar kelas III, mendeskripsikan pengaruh produk pembelajaran tematik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ini adalah Research and Development.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Penelitian ini mengembangkan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model pengembangan 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel yang telah dimodifikasi sehingga hanya memuat tahap Define, Design, dan Develop. Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran tematik khususnya pada mata pelajaran matematika materi pokok keliling dan luas persegi dan persegi panjang. Perangkat yang dihasilkan adalah perangkat pembelajaran seperti Rencana Perencanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa ( LKS), dan Tes Hasil Belajar (THB). Hasil kesimpulan penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran tematik yang dikembangkan berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dan layak digunakan sebagai sumber belajar. Zulfitharani, Marzuki, Asran(2013) dalam penelitian yang berkaitan dengan Peningkatan Aktivitas Belajar Melalui Pembelajaran Tematik ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar melalui pembelajaran tematik di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri 4 Kecamatan Terentang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan bentuk penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan pada dua siklus dan setiap siklus dilakukan 2 kali pertemuan untuk mendeskripsikan rancangan RPP Tematik (IPKG I), mendeskripsikan aktivitas fisik, mental dan emosional peserta didik melalui pembelajaran Tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan pembelajaran tematik dapat meningkatkan aktivitas dan kebermaknaan belajar peserta didik kelas 1 Sekolah Dasar Negeri 4 Kecamatan. Dilek(2002) dalam judul penelitian “Using a thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching”. Penelitian ini

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 menginvestigasi guru ilmu kependudukan yang dapat memperkenalkan kegiatan yang berpusat pada siswa dalam situasi kelas yang ramai. Teknik penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan dilakukan di program studi Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan SD Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian ini didasarkan pada bagaimana siswa menggunakan antusiasme, minat, dan keterampilan dalam belajar subjek-subjek ilmu kependudukan dan sejarah. Hayama(2012) dalam judul penelitian Implementasi Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Aktivitas Peserta Didik. Masalah penelitian ini adalah bahwa “bagaimanakah pengimplementasian model pembelajaran tematik pada peserta didik kelas 3 Madrasah Ibitidaiyah Swasta Nurul Islam Pontianak Barat yang rendah aktivitasnya dalam pembelajaran penyelesaian soal cerita pada ilmu pengetahuan alam data penelitian ini berupa data proses pembelajaran dan data hasil tindakan yang diperoleh dari hasil pengamatan dan komunikasi langsung. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran soal cerita dengan menggunakan metode deskriptif. Instrumen pertama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul data dengan menggunakan instrumen penunjang berupa lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan mengikuti alur analisis data yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pelaksanaan tindakan pembelajaran penyelesaian soal-soal bergambar dengan menggunakan metode pemecahan masalah pada setiap siklusnya selalu

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 mengalami peningkatan yaitu pada siklus 1 rata-rata indikator 60% dan pada siklus 2 rata-rata indikator 88%. Berdasarkan studi literatur tentang penelitian-penelitian sebelumnya bahwa diharapkan dengan cara metode atau pembelajaran yang baru yaitu pembelajaran tematik mampu mengubah proses pembelajaran yang baik. Pembelajaran tematik sebagai metode atau prosesnya dapat dilakukan pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses memperoleh pengetahuan siswa yang dapat dialami secara nyata dan konkret. Pembelajran yang inovatif ini juga dapat meningkatkan kinerja guru yang profesional dan memperbaiki mutu aktivitas peserta didik dengan implementasi pembelajaran tematik. Gambar 2.1 dipaparkan skema penelitian yang relevevan dengan penelitian ini. Selanjutnya dapat dilihat pada gambar 2.1 IBRAHIM.2012.Pengembangan Pembelajaran Tematik dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Dasar Zulfitharani,Marzuki,Asran.2013.Peni ngkatan Aktivitas Belajar Melalui Pembelajaran Tematik.Pontianak Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survey Bagi Guru-Guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Swasta Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta Hayama (2012).Skripsi.Implementas i Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Aktivitas Peserta Didik. Dursun Dilek. 2002. Using a Thematic Teaching Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Studies Teaching. Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 C. Kerangka Berpikir Reformasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia merupakan suatu upaya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Pembelajaran dengan gaya bank siswa pasif hanya mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru tanpa melakukan kegiatan belajar penemuan dirasa tidak efektif dalam proses pemerolehan informasi dan pengalaman bagi siswa. Hal tersebut dikarenakan siswa tidak mengalami sendiri proses pemerolehan informasi sehingga informasi yang didapat hanya bersifat statis atau tidak mampu mengendap dalam jangka waktu yang lama. Pemerintah Indonesia memperbarui sistem pendidikan serupa dengan memperbaharui kurikulum yang digunakan. Kurikulum di Indonesia terus mengalami pembaruan kurikulum. Pembaruan kurikulum dilakukan bertujuan untuk menciptakan generasi penerus dan membangun manusia yang berkualitas sehingga mutu pendidikan di Indonesia juga sedikit demi sedikit mulai meningkat. Indonesia belum mengimbangi dengan adanya perbaikan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa masih terdapat di bawah Standar Kompetensi Lulusan (SKL), hanya sedikit siswa yang mampu mencapai nilai di atas SKL. Pembaruan kurikulum melalui penerapan pembelajaran tematik diharapkan mampu meningkatkan kualitas lulusan. Pembelajaran tematik menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar. Siswa dituntut untuk aktif dalam menemukan pengalaman dan pengetahuan sehingga dapat lebih bermakna. Perlu diketahui bahwa pembelajaran tematik juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Selain itu, pembelajaran tematik juga memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan pembelajaran lainnya. D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan permasalahan yang telah diuraikan di dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Tingginya pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. 2. Ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. 3. Ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab III berisi delapan bagian, yaitu jenis penelitian, seting penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, dan prosedur analisis data. A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah non experimental cross sectional dengan metode survey. Christensen (Rismiati, 2014: 21) menyebutkan bahwa dalam penelitian non eksperimental desain, variabel independen tidak bisa dimanipulasi dan tidak ada “random assignment” yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan populasi besar atau kecil, namun data yang digunakan merupakan sampel dari populasi sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis (Kerlinger dalam Sugiyono, 2011: 12). Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dan mengetahui hubungan antara faktor demografi guru dengan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta 46

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 X1 Y X2 Gambar 3.1 Diagram Hubungan Antar Variabel Keterangan: X1 : Jumlah siswa X2 : Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik Y : Implementasi pembelajaran tematik B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 11 bulan dimulai bulan September 2013 sampai dengan bulan Juli 2014. 2. Tempat Penelitian Penelitian mengambil tempat SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta sejumlah 24 sekolah. C. Variabel Penelitian Sugiyono (2011: 38) menyatakan bahwa, variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian adalah data objek dari penelitian yang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 nantinya akan dipakai sebagai pedoman dalam penelitian tersebut. Ada 2 jenis variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1) Variabel Independen Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor demografi guru. Faktor demografi gurunya adalah jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Variabel Independen adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2011: 39). 2) Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2011: 39). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. D. Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah seluruh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru. Tabel Krecjie ( Usman & Akbar, 2008:36) menetapkan minimal sampel untuk populasi dari jumlah 111 adalah 86.Data tersebut diperoleh dari wawancara masing-masing sekolah. Sampel yang terkumpul dalam penelitian ini sebanyak 57,29% dari 111 responden maka 55 guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta yang menggunakan teknik purposive random sampling. Kuesioner yang disebarkan pada guru sejumlah 95

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 kuesioner, namun hanya 57,29% yang bersedia menerima dan mengembalikan kuesioner yang disebarkan. Purposive random sampling adalah gabungan purposive sampling dan random sampling. Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:297). Sampel adalah sebagian dari populasi itu (Sugiyono, 2011:297). Purpossive sampling ialah metode pengambilan sampel dengan mempertimbangkan apa yang dianggap relevan. Random sampling adalah teknik penentuan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi tersebut. Sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan menggunakan pertimbangan atau tujuan tertentu (Sugiyono, 2009:85). Arikunto (2006: 131) juga menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah populasi yang diteliti. Penentuan sampel pada penelitian ini dibantu dengan menggunakan table Krajcie yang dapat dilihat pada lampiran 17. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011: 192). Kuisioner yang berisi pertanyaan dan pernyataan-pernyataan berskala menggunakan skala Likert lima pilihan dan 2 pernyataan terbuka faktor demografi. Kuesioner terdiri dari 7 indikator yang terdiri dari item positif dan item negatif. Skala Likert digunakan untuk mengukur

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136). F. Instrumen Penelitian Alat ukur pada penelitian ini menggunakan lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan lembar kuisioner yang telah dikembangkan oleh Rismiati (2012). Kuesioner tersebut tersusun atas 43 item yang terdiri dari 28 item penyataan tertutup tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik, 6 item pernyataan tertutup tentang dukungan kepala sekolah pada pembelajaran tematik, dan 9 pertanyaan terbuka tentang faktor demografi guru. Kuisioner implementasi pembelajaran dalam penelitian ini terdiri dari 7 indikator dimana pada setiap indikatornya terdiri dari item positif dan juga item negatif. Kuisioner ini tidak hanya mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik , tetapi juga melihat perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi. Pernyataan untuk faktor demografi berjumlah 15 item. Keseluruhan pernyataan berjumlah 43 item yang terdiri dari 37 item positif dan 6 item negatif. Kuesioner ini disusun dengan “summate rating scale (skala Likert)” (Sugiyono, 2011: 136). Skala ini diubah dengan lima pilihan jawaban yaitu pilihan skor 1-5. Berikut akan dijabarkan skor untuk item positif dan skor untuk item negatif pada tabel 3.1 Tabel 3.1 Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif No 1. Kategori Item Positif 2. Item Negatif Skor 1 2 3 4 5 1 2 Keterangan Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu-ragu Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 No Kategori Skor 3 4 5 Keterangan Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Tabel 3.1 menjelaskan bahwa pengukuran kuesioner ini dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu untuk item positif dan juga untuk item negatif. Item positif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat Setuju” dengan pilihan skor 1-5. Item negatif diberi skor yang bergerak dari kategori “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju” dengan pilihan skor 5-1 Tabel 3.2 menunjukkan item positif dan item negatif yang terdapat dalam kuesioner implementasi pembelajaran tematik. Tabel 3.2 Sebaran item positif dan item negatif Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Item 2. 3. 4. Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 5. 6. 7. 8. Item Positif - Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. - Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. -Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. - Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. - Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. - Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa). - Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga No Item 1. Item Negatif - Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Indikator Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas No Item 10. 11 12. Indikator Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran No Item 13. 14 15 Pembelajaran bersifat fleksibel 17. 18 19 20 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 21. 23 24 Indikator Prinsip belajar sambil belajar dan bermain yang menyenangkan bagi siswa No Item 25. 26 Item Positif siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. - Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. - Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. - Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Item Positif -Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. -Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. -Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. - Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. -Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. -Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. - Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. - Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. - Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. -Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Item Positif -Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. -Saya menggunakan nyanyian, No Item 9. No Item 16 22. No Item Item Negatif - Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SDan secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). Item Negatif -Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). -Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. Item Negatif

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Indikator No Item 27 28. No Item Item Positif Item Negatif tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. -Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. -Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. Tabel 3.2 menjelaskan terdapat item negatif pada nomor item 1, 9, dan 22. Item positif tersebar pada nomor item 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28. Jumlah item terdapat 28 item yang terdiri dari 3 item negatif dan 25 item positif. Berdasarkan karakteristik pembelajaran tematik dan faktor demografi yang telah dibahas pada bab II, maka disusunlah kisi-kisi indikator instrumen pada tabel 3.3. Tabel 3.3 Indikator Instrumen Variabel Tingkat implementasi pembelajaran tematik Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa No. Item 1, 2, 3, 4 Jenis Variabel 5, 6, 7, 8 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16 Variabel Terikat 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 25,26,27,28

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Variabel Faktor Demografi Indikator Dukungan dari kepala sekolah No. Item 29, 30, 31, 32, 33, 34 Pengalaman mengajar 35, 36 Lama mengajar tematik 37 Pengalaman training pembelajaran tematik 38 Jumlah siswa yang diajar menggunakan pembelajaran tematik 39 Pendidikan terakhir guru 40 Status kepegawaian guru 41 Jumlah rekan guru yang secara bersama-sama mengajar tematik 42,43 Jenis Variabel Variabel Bebas Jumlah kisi-kisi yang disebar yaitu 43 item dengan 28 item pada 7 indikator tingkat implementasi pembelajaran tematik, dan 15 item pada 8 indikator faktor demografi. Keseluruhan faktor demografi dalam tabel merupakan faktor demografi yang akan diteliti bersama dengan kelompok studi. Faktor demografi yang digunakan untuk penelitian ini yaitu faktor demografi jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah siswa dalam pembelajaran tematik.Faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dalam penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok sedikit dan kelompok banyak menurut penelitian yang dilakukan Holloway (Cruickshank,dkk, 2014: 13). Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan jumlah rekan yang sedikit dan kelompok dengan jumlah rekan yang banyak. Pengelompokkan tersebut berdasarkan atas distribusi frekuensi menggunakan rumus Strurges (Riduwan, 2008: 70-72).

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 F.Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesalahan suatu tes. Tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria (Arikunto,1999: 65). Alat ukur yang valid tidak hanya mampu mengungkap data namun mampu memberikan gambaran yang cermat mengenai data yang telah diuji. Morrisan (2012: 104) menyebutkan bahwa ada lima tipe pengukuran validitas, (1) validitas muka (face validity); (2) validitas prediktif (predictive validity); (3) validitas konkuren (concurrent validity); (4) validitas konstruk (construck validity); dan (5) validitas isi (content validity). Penelitian ini hanya menggunakan tiga teknik pengukuran validitas. Ketiga teknik itu adalah: Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen dalam mengukur isi atau konsep yang harus diisi (Siregar, 2010: 163). Suatu alat ukur diharapkan mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Content validity (validitas isi) merupakan pengukuran dalam suatu pengukuran yang memiliki kesesuaian dalam mengukur objek yang akan diukur (Margono, 2010: 187) Kuesioner penelitian ini mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik pada sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta. Validitas isi dilakukan dengan expert judgement pada orang yang ahli dalam mengukur konsep ini. Validitas isi dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen, kepala sekolah, dan guru. Dosen, kepala sekolah, dan guru dipilih karena merupakan ahli-ahli dalam pembelajaran tematik. Hasil expert judgment dapat dilihat pada

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Pernyataan-pernyataan kuesioner pada indikator tersebut kemudian dilakukan lampiran 3 halaman 157.revisi berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Tabel 3.3 menjelaskan tentang kriteria revisi yang digunakan dalam kuesioner adalah sebagai berikut: Tabel 3.4 Kriteria Revisi Kriteria > 2,5 ≥ 2,5 ≤ 2,5 < 2,5 Pernyataan/ Komentar Positif Negatif Positif Negatif Revis/Tidak Revisi Tidak Revisi Tidak Revisi Revisi Revisi Tabel 3.4 menjelaskan cara melakukan revisi untuk setiap item yang telah diperiksa oleh para ahli. Skor yang diperoleh masing-masing item lebih dari 2.5 berisi pernyataan atau komentar positif berarti pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Skor yang diperoleh lebih atau sama dengan 2.5 berisi pernyataan negatif, maka pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Skor kurang dari atau sama dengan 2.5 dan berisi pernyataan positif maka perlu dilakukan revisi. Skor yang diperoleh kurang dari 2.5 dan berisi pernyataan negatif, maka pernyataan perlu direvisi. Tabel 3.5 sampai tabel 3.11 menjabarkan hasil dari validasi isi untuk masingmasing indikator. Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa No Validator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 3 4 4 4 3.75 2 Dosen b 1 3 4 3 2.75 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 2 3 4 4 3.25 5 Guru b 3 4 3 4 3.5 6 Guru c 3 2 3 4 3

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 No Validator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 1 2 3 4 Rata-rata 7 Kepsek a 3 4 4 4 3.75 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 2.75 3.375 3.625 3.75 Tabel 3.5 menunjukkan rata-rata indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan nomor item 1 sebesar 2.75. Rata-rata item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator “Pernyataan sudah jelas, sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam pembelajaran”. Rata-rata untuk item nomor 2 sebesar 3.375. Rata-rata item nomor 2 menunjukkan item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasan tidak perlu dilakukan revisi karena skor lebih dari 2,5 dan komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 dari salah satu validator adalah “Kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rata-rata item nomor 3 sebesar 3.625. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 dari salah satu validator adalah “Pernyataan sudah cukup bagus”. Rata-rata item nomor 4 sebesar 3.75. Rata-rata item nomor 4 dan validator memberikan komentar positif menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator adalah

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 “Pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar No Validator 1 Dosen a 1 4 2 4 3 4 4 4 Rata-rata 4 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 3 4 3 3.5 5 Guru b 3 3 3 4 3.25 6 Guru c 4 4 4 3 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 3 3 4 3.5 Rata-rata 3.875 3.625 3.75 3.75 Tabel 3.6 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar dengan nomor item 1 sebesar 3.875. Rata-rata item nomor 1 dan komentar validator berisi komentar positif menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 1 adalah “Pernyataan sudah bagus, sudah diberi contoh pembelajaran learning by doing itu yang seperti apa?”. Rata-rata item nomor 2 sebesar 3.625. Rata-rata nomor item 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 2 adalah “Pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rata-rata item nomor 3 sebesar 3.75. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif yang diberikan validator menunjukkan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan sudah

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 4 dari salah satu validator “Pernyataan sudah baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang contoh sumber belajar macam apa yang dimaksud”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran tidak Begitu Jelas No Validator Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 3 3 4 4 3.5 2 Dosen b 1 4 3 4 3 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 3 3 4 4 3.5 5 Guru b 3 4 3 3 3.25 6 Guru c 4 3 4 4 3.75 7 Kepsek a 4 3 3 4 3.5 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 3.125 3.375 3.5 3.75 Tabel 3.7 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas item nomor 1 sebesar 3.125. Rata-rata nomor item 1 dan komentar dari validator berisi komentar negatif menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator adalah “Pernyataan ini bertentangan dengan indikator, lebih baik diganti (saya mengajar materi lima bidang studi secara terpadu)”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.375. Rata-rata item nomor 2 dan komentar negatif dari validator menunjukkan item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 komentar dari validator untuk item nomor 2 yaitu “Pada RPP hendaknya dirancang betul atau dikondisikan adanya keterkaitan”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rata-rata item nomor 3 sebesar 3.5. Rata-rata nomor item 3 dan komentar yang diberikan validator berisi komantar negatif maka diambil kesimpulan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 dari salah satu validator adalah “Kata (atau lebih) lebih baik dihilangkan”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran No Validator 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 4 4 4 3 3.75 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 3 3 3 3 3 5 Guru b 4 3 4 3 3.5 6 Guru c 4 4 3 4 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 3.875 3.75 3.75 3.625 Tabel 3.8 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Rata-rata item nomor 1 sebesar

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 3.875. Rata-rata item nomor 1 dan komenar positif dari validator menunjukkan item nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator adalah “Pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3.75. Rata-rata untuk item nomor 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 2 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rata-rata untuk item nomor 3 sebesar 3.75. Rata-rata nomor item 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 3 dari salah satu validator adalah “Pernyataan sudah cukup baik, dan bisa dimengerti maksudnya oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.625. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari salah satu validator menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan sudah jelas karena sudah diberi keterangan dalam kurung”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel Pembelajaran bersifat fleksibel No Validator 1 Dosen a 2 Dosen b 3 Dosen c 4 Guru a 5 Guru b 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 4 2 4 4 3.5 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3.5 4 3 4 4 3.75

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Pembelajaran bersifat fleksibel No Validator 6 Guru c 7 Kepsek a 8 Kepsek b Rata-rata 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 4 3 4 4 3.75 4 3 4 4 3.75 3.875 3 4 4 Tabel 3.9 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran bersifat fleksibel. Rata-rata untuk item nomor 1 sebesar 3.875. Rata-rata item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator adalah “Pernyataan sudah bagus, menanyakan tentang kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya tentang lingkungan, bisa kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll”. Rata-rata item nomor 2 sebesar 3. Rata-rata item nomor 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 2 dari adalah “Pernyataan sudah cukup bagus”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rata-rata item nomor 3 sebesar 4. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 yaitu “Pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 4. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 4 “Pernyataan yang dibuat sudah bagus, kalimat jelas dan mudah dipahami maksudnya”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa No Validator 1 Dosen a 2 Dosen b 3 Dosen c 4 Guru a 5 Guru b 6 Guru c 7 Kepsek a 8 Kepsek b Rata-rata Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3.25 3 4 3 3 3.25 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.5 3.625 3.875 3.875 Tabel 3.10 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa nomor item 1 sebesar 3.5. Ratarata item nomor 1 dan komentar negatif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan masih ngawang. Mungkin lebih dijelaskan lagi kebutuhan setiap siswa yang seperti apa. Pernyataan yang mengukur minat siswa belum kelihatan. Indikator: hasil pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan berisi tentang penilaian. Usul: indikator diubah menjadi penilaian hasil pembelajaran”. Rata-rata item nomor 2 sebesar 3.625. Rata-rata item nomor 2 dan komentar negatif dari validator menunjukkan item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 2 yaitu “yang lebih mendekati kebutuhan siswa itu tes esai”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.875. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 3 yaitu “Pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.875. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 4 yaitu “Pernyataan sudah bagus dan jelas serta mudah dipahami”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa No Validator 1 2 3 4 Rata-rata 1 Dosen a 4 4 4 4 4 2 Dosen b 4 4 3 0 2.75 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 4 3 3 3.5 5 Guru b 4 3 3 3 3.25 6 Guru c 4 4 3 4 3.75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 4 3.875 3.5 3.25 Tabel 3.11 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa item nomor 1 sebesar 4. Rata-rata item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan yang dibuat sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti”. Rata-rata item 2 sebesar 3.875. Rata-rata item nomor 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 2

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 dari salah satu validator yaitu “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dimengerti”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3.5. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 3 adalah “Pernyataan sudah cukup baik”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3.25. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 4 dari salah satu validator adalah “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan model kelompok”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Pengukuran validitas muka mengemukakan pendapat bahwa pengukuran yang dilakukan tampak baik dengan melihat indikator pengukuran yang digunakan. Validitas muka menunjukkan kualitas suatu indikator tampak beralasan atau logis untuk mengukur suatu variabel (Morrisan, 2012: 104). Tabel 3.12 Validitas Muka No 1 2 3 Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 1 Skor untuk pernyataan 3 2 3 3 4 4 3 5 2 6 2 7 4 8 3 9 2 10 3 11 4 12 4 No item

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 No 4 5 6 7 Indikator 13 Skor untuk pernyataan 4 14 4 15 3 16 3 17 3 18 2 19 3 20 3 21 3 22 4 23 4 24 4 25 4 26 4 27 3 28 4 No item Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Rata-rata 3.29 Tabel 3.12 menunjukkan skor untuk tiap indikator dan tiap item. Validitas muka yang digunakan merupakan penilaian dari guru. Guru tidak memberikan komentar pada item 1 sampai item 4 dalam indikator pertama kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Terdapat dua komentar untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Komentar yang pertama dari validator untuk item 5 berbunyi “Untuk kelas rendah anak belum bisa melakukan presentasi”. Komentar kedua pada indikator pertama untuk item 6 yaitu “Perjelas nama-nama barang yang harus dibawa oleh siswa”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. Indikator ketiga pemisahan pada setiap mata pelajaran terdapat satu komentar pada item 9. Komentar item nomor 9 yaitu “Tematik dalam penyampaian selalu berkaitan antara pelajaran yang satu dengan yang lain dan tidak boleh menyebut

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 mata pelajaran yang kita sampaikan”. Indikator keempat pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak terdapat komentar untuk memperbaiki item. Indikator kelima pembelajaran bersifat fleksibel hanya berisi satu komentar pada item nomor 18. Komentarnya adalah “yang kita hadapi adalah anak kelas 1-3 jadi masalah yang ada di lingkungan adalah seputar anak, misalnya tertib di rumah, di sekolah, dan masyarakat contoh gotong royong”. Indikator keenam yaitu hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak ada komentar untuk perbaikan. Indikator terakhir yaitu indikator ketujuh prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa tidak terdapat komentar untuk perbaikan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran lampiran 4. Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2010: 163). Validitas konstruk dilakukan untuk memastikan bahwa penelitian memiliki atau mengandung konsep teoritis yang tepat (Margono, 2010: 187). Validitas konstruk dalam penelitian ini dilakukan kepada 28 item pernyataan mengenai implementasi pembelajaran tematik dan 6 item pada faktor demografi dukungan kepala sekolah, sedangkan bagian demografi guru yang lain tidak dilakukan karena faktor demografi hanya mengandung single construct saja. Instrumen dalam penelitian ini memiliki 28 item pernyataan tentang implementasi pembelajaran tematik dan 6 item pernyataan tentang demografi dukungan kepala sekolah di ujikan validitas konstruknya dilakukan kepada 61 responden. Penentuan responden dilakukan secara acak. Validitas konstruk yang

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 di dapat dari 61 responden tersebut dianalisis menggunakan Product Moment SPSS 16 dengan rumus korelasi Product Moment. Rumus Product Moment yang digunakan adalah (Arikunto,2006: 170) Sebagai berikut: Gambar 3.2 Rumus Product Moment Keterangan: = koefisien korelasi = Jumlah skor X = Jumlah skor Y = Jumlah hasil kali antara X dan Y = Banyaknya sampel yang diuji Data hasil uji empiris yang diperoleh kemudian diolah dengan bantuan program SPSS 16 for windows untuk mengetahui valid atau tidaknya item-item pada kuesioner yang akan diujikan. Tabel 3.13 menunjukkan hasil uji empiris untuk variabel tingkat implementasi pembelajaran tematik, yaitu sebagai berikut: Tabel 3.13 Hasil Validitas Implementasi Pembelajaran Tematik No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No Item Item 1 Item 2 Item 3 Item 4 Item 5 Item 6 Item 7 Item 8 Item 9 Item 10 Item 11 Item 12 Pearson Correlation 0,310* 0,522** 0,356* 0,598** 0,655** 0,426** 0,393** 0,673** 0,141 -0,426** 0,598** 0,653** r tabel 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 No. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 No Item Item 13 Item 14 Item 15 Item 16 Item 17 Item 18 Item 19 Item 20 Item 21 Item 22 Item 23 Item 24 Item 25 Item 26 Item 27 Item 28 Pearson Correlation 0,668** 0,698** 0,634** -0,034 0,655** -0,243 0,533** 0,768** 0,480** -0,170 0,744** 0,660** 0,741** 0,698** 0,453** 0,589** r tabel 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 3.13 menunjukkan bahwa item nomor 9 dan 16 adalah item tidak valid. Item nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28 merupakan item-item yang valid. Item yang valid dengan tanda (*) dan memiliki taraf kepercayaan sebesar 95%. Seluruh item dengan tanda (**) dan memiliki taraf kepercayaan 99%. Hasil validitas konstruk terdapat 2 item yang tidak valid, maka penelitian hanya menggunakan 26 item untuk menganalisis perhitungan-perhitungan selanjutnya. Penggunaan rtabel dengan melihat rhitung>rtabel dan item dinyatakan valid. Penentuan rtabel dengan melihat jumlah populasi yang ada (Sugiyono, 2011: 631). Penentuan rtabel dalam penelitian ini dengan melihat jumlah sampel dalam uji empiris berjumlah 61. Hasil analisis uji validitas yang menggunakan program SPSS 16 secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 6. Reliabilitas menurut Effendi (2012: 141) adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya. Reliabilitas juga dapat diartikan sebagai pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula (Siregar, 2010: 175).

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Pengukuran dikatakan reliable atau memiliki keandalan jika konsisten memberikan jawaban yang sama. Reliabilitas adalah indikator tingkat keandalan atau kepercayaan terhadap suatu hasil pengukuran (Morrisan, 2012: 99). Suatu pengukuran disebut reliable atau memiliki keandalan jika konsisten memberikan jawaban yang sama. Masidjo (1995:209) menyatakan bahwa koefisien reliabilitas dinyatakan pada bilangan koefisien antara -1,00 sampai dengan 1,00. Penelitian ini menggunakan rumus alpha cronbach. Rumus yang digunakan menggunakan koefisien alpha dari cronbach (Siregar, 2012: 176), berikut adalah koefisien Alpha Cronbach: Gambar 3.3 Rumus Cronbach Alpha Keterangan : Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach dan dikerjakan dengan menggunakan rumus SPSS 16, setelah mendapatkan hasil dari SPSS maka akan dibandingkan tingkat koefisien dan tingkat hubungannya dengan tabel 3.14 dari Masidjo (1995: 209) berikut: Tabel 3.14 Koefisien Reliabilitas Koefisien Reliabilitas 0,91 – 1,00 Keterangan Sangat Tinggi

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Koefisien Reliabilitas 0,71 – 0,90 0, 41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20 Keterangan Tinggi Cukup Tinggi Kurang Tinggi Sangat Kurang Tinggi Sumber: Masidjo (1995:209) Tabel 3.14 menunjukkan apabila koefisien reliabilitas berada diantara 0,91 – 1,00 maka dinyatakan sangat tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara 0,71 – 0,90 maka dinyatakan tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara 0,41 – 0,70 maka dinyatakan cukup tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara 0,21 – 0,40 maka dinyatakan kurang tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara kurang dari 0,20 maka hubungan dinyatakan sangat kurang tinggi. Hasil analisis dari validitas yang berjumlah 26 item yang valid diolah reliabilitasnya. Item-item yang valid tersebut diolah reliabilitasnya menggunakan program SPSS 16. Hasil dari pengolahan dapat dilihat pada tabel 3.15. Tabel 3.15 Hasil Reliabilitas Cronbach's Alpha Based on Standardized Cronbach's Alpha Items .891 .898 N of Items 24 Tabel 3.15 menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891. Hasil dari analisis diperoleh α = 0,891, maka reliabilitas dinyatakan tinggi. Hasil analisis untuk uji reliabiltas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 8. H. Prosedur Analisis Data Prosedur analisis data pada penelitian ini ada lima tahap. Kelima tahap analisis data meliputi penentuan hipotesis statistik, pengelolaan data,menganalisis

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 data deskriptif, penentuan taraf signifikansi, dan pengujian asumsi klasik uji hipotesis. a) Menentukan Hipotesis Statistik Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dapat disusun hipotesis statistik untuk penelitian ini. Rumusan masalah pertama yaitu : Bagaimana implementasi pembelajaran tematik di kelas oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta?. Rumusan masalah ini tidak memiliki hipotesis karena jawaban dari pertanyaan adalah deskriptif. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini yaitu: Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Swasta Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik ?. Data untuk variabel jumlah siswa terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 untuk jumlah siswa banyak (µ 1) dan kelompok 2 untuk jumlah siswa sedikit (µ 2). Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan jumlah siswa dalam pembelajaran tematik.(µ 1 = µ 2) Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik.(µ 1 ≠ µ 2)

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Rumusan masalah ketiga pada penelitian ini yaitu : Apakah ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?. Data untuk variabel jumlah rekan guru terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 untuk jumlah rekan guru banyak (µ 1) dan kelompok 2 untuk jumlah rekan guru sedikit (µ 2). Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. (µ 1 = µ 2) Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.(µ 1 ≠ µ 2) b) Pengelolaan Data Pengolahan data dalam penelitian ini ada empat, yaitu : coding, editing, data entry, dan data cleaning (Irraosi dalam Rismiati, 2012:154). Coding adalah

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 pemberian kode tertentu pada tiap-tiap data yang memiliki kategori sama (Siregar, 2010: 207). Kode bisa berupa angka atau huruf dan bertujuan untuk membedakan antara data atau identitas data yang akan dianalisis. Coding yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa pemberian kode pada kuesioner. Tujuannya untuk membedakan data antara guru satu dengan lainnya dalam sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda. Contoh pemberian kode pada penelitian ini ditunjukkan pada tabel 3.16 berikut ini: Tabel 3.16 Contoh Pengkodean Nama Sekolah Kode Sekolah Kode Guru Kelas I Kode Guru Kelas II Kode Guru Kelas III SD BW 11 11.1 11.2 11.3 SD P L 12 12.1.1 12.2.1 12.3.1 Tabel 3.16 menjelaskan bahwa untuk SD BW menggunakan kode 11. Guru pengampu untuk kelas 1 menggunakan kode 11.1. Artinya, kode tersebut berasal dari SD BW yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 1 kode tersebut digunakan untuk guru pengampu kelas. Kode 11.2 berarti kuesioner berasal dari SD BW yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 2, dan begitupun seterusnya. Kode selanjutnya yaitu 12.1.1. kode tersebut menunjukkan bahwa sekolah tersebut mempunyai kelas paralel dan setiap kelas mempunyai jumlah guru lebih dari satu. Kode 12.1.1 berarti kuesioner berasal dari SD PL yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 1 guru pertama dan seterusnya. Editing adalah proses pemeriksaan data yang telah berhasil dikumpulkan karena kemungkinan adanya data yang tidak memenuhi syarat atau tidak dibutuhkan (Siregar, 2010: 206). Data yang telah terkumpul kemudian diperbaiki

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 kesalahan atau kekurangan yang ada pada catatan lapangan. Editing dalam penelitian ini dilakukan dengan memeriksa kembali data yang tidak sesuai dengan jawaban pada lembar kuesioner. Editing juga dilakukan terhadap data dari seorang responden yang mengisi kuesioner kurang dari 80% dari total seluruh item (American Association for Public Opinion dalam Rismiati, 2012:130). Keseluruhan item untuk implementasi pembelajaran tematik berjumlah 24 item valid ditambah 2 item faktor demografi menjadi 26 item. Item yang harus terisi 80% dari 26 item yaitu 21 item. Sebanyak 21 item harus terisi di dalam kuesioner, apabila isi kuesioner kurang dari 21 item dinyatakan responden gugur. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dilihat satu persatu dan didapatkan 1 responden dinyatakan gugur. Gugurnya responden tersebut dikarenakan kuesioner hanya terisi 15 item dan dinyatakan jauh dari kriteria untuk dianggap layak. Data entry adalah proses memasukkan data yang telah diperiksa kelengkapannya ke dalam Microsoft Excel 2007 dan dihitung validitas dan reliabilitasnya menggunakan Program SPSS v. 16. Setelah mengetetahui valid atau tidaknya data, proses selanjutnya adalah data cleaning. Data cleaning adalah proses pembersihan data yang tidak terpakai dalam penelitian. Proses data cleaning dalam penelitian ini dilakukan dengan menghilangkan item-item kuesioner yang tidak valid atau kuisioner yang tidak diisi oleh responden. Data cleaning dilakukan pada data implementasi pembelajaran tematik dan data demografi yaitu jumlah siswa dan jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik. Misalnya pada faktor demografi jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik, hasil data cleaning adalah pada item nomor 47, pada faktor

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 jumlah rekan guru terdapat 5 responden yang dihapus yaitu responden 17, 2, 33, 35, 40 karena pada item ini pertanyaan mengenai faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru tidak dijawab atau kosong. Data yang akan diolah dalam analisis selanjutnya untuk data implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah siswa berjumlah 53. Data implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor jumlah rekan guru dan data faktor demografi jumlah rekan guru berjumlah 49. d) Menganalisis data deskriptif Tahap ini untuk menganalisis data deskriptif atau dengan kata lain untuk menjawab rumusan masalah 1. Jawaban dari rumusan masalah 1 menggunakan statistik deskriptif berdasarkan pada distribusi frekuensi menggunakan rumus Sturges (Riduwan, 2008: 70-72). Hasil implementasi pembelajaran tematik dikategorikan menjadi lima kategori (Masidjo, 1995: 153). Lima kategori tersebut adalah sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Penentuan distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70-72). Tujuh tahap distribusi frekuensi adalah: a. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar. b. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Rumus menghitung jarak atau rentangan (R): Data tertinggi-data terendah. c. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). Rumus: 1+3,3 log n. d. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Rumus: e. Tahap kelima dengan menentukan batas interval panjang kelas.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 f. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. g. Tahap ketujuh dengan membuat urutan inetrval kelas menjadi acuan kategorisasi. Ketujuh tahapan distribusi frekuensi dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat. c) Menentukan Taraf Signifikansi Tahap ketiga dalam prosedur analisis data adalah menentukan taraf signifikansi. Taraf signifikansi digunakan dalam interprestasi data statistik. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi α = 5% = 0.05 (two tailed). Azwar (2005: 6) menjelaskan bahwa pemilihan taraf signifikansi 1% atau 5% hanya berdasarkan kesepakatan para peneliti tanpa sebab yang jelas. Taraf signifikansi (α) menunjukkan peluang kesalahan yang dapat terjadi ataupun dialami oleh peneliti dalam mengambil keputusan untuk mendukung atau menolak Ho (Field, 2009: 252). Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengambilan keputusan dari hipotesis sebesar 5%. Taraf signifikansi 5% memungkinkan tingkat kepercayaan dari pengambilan keputusan tersebut 95% dan kemungkinan kesalahan 5%. Dikatakan two tailed atau dua arah karena dalam penelitian ini pengujian terhadap suatu hipotesis belum diketahui arahnya. Hasil peninjauan teori pada bab dua menunjukkan dua teori yang bertolak belakang untuk teori faktor demografi jumlah siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Holloway dan Finn (Cruickshank, dkk, 2014 : 14) menunjukkan faktor demografi jumlah siswa mempengaruhi dan

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 tidak mempengaruhi pengajaran di dalam kelas. Tinjauan teori tersebut memperlihatkan hipotesis untuk faktor demografi jumlah siswa termasuk hipotesis dua pihak (two tailed). Peninjauan teori menunjukkan kecenderungan satu hasil untuk faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Penelitian menunjukkan adanya pengaruh tentang faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik terhadap pengajaran di dalam kelas. Tinjauan teori tersebut menunjukkan hipotesis untuk faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik termasuk hipotesis satu pihak (one tailed). Adanya kecenderungan hipotesis satu pihak tetapi penelitian ini tetap menggunakan dua pihak karena dalam banyak jurnal penelitian tetap menggunakan uji dua pihak (Christensen dan Johnson, 2008: 506). d) Menguji Asumsi Klasik Uji Hipotesis Data yang diolah untuk uji asumsi klasik adalah data pada implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi. Faktor demografi yang diuji adalah jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Pengukuran yang dilakukan peneliti untuk menghitung perbedaan pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dengan menghitung uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesisnya. Uji normalitas dilakukan dalam penelitian supaya hasil penelitian menjadi lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Uji data berikutnya setelah uji normalitas yaitu uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui sampel yang

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 berasal dari populasi yang sama, karena banyak sampel yang diperkirakan berasal dari populasi yang sama ternyata tidak sama dan meyakinkan kembali kepada peneliti. 1. Uji Normalitas Keadaan data berdistribusi normal merupakan sebuah persyaratan yang harus terpenuhi (Sudaryono, 2012: 129). Tujuan dilakukannya uji normalitas ialah untuk mengetahui distribusi sebuah data mengikuti atau mendekatai distribusi normal (Santoso, 2012: 34). Uji normalitas menggunakan 3 cara yaitu menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Tes Kolmogorov Smirnov merupakan test yang digunakan dalam penelitian ini. Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Uji normalitas ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah kedua dan rumusan ketiga. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar Katolik Kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa dalam pembelajaran tematik?”. Rumusan masalah 2 :Apakah terdapat implementasi perbedaan penggunaan tingkat pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Data jumlah siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok jumlah siswa banyak (µ1) dan jumlah siswa sedikit (µ2). Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik. Apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik Rumusan masalah ketiga dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 bawah SD Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Rumusan masalah 3 : Apakah terdapat implementasi perbedaan penggunaan tingkat pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik? Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Data jumlah rekan guru dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok jumlah rekan guru banyak(µ1) dan jumlah rekan guru sedikit (µ2). Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik. Apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik. Uji normalitas juga diketahui menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak normal. Titiktitik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data. Apabila titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal maka dapat dinyatakan data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Perhitungan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan pogram SPSS 16. Rumus dari uji normalitas dapat dilihat pada gambar 3.4 (Uyanto, 2009: 54). Gambar 3.4 Rumus Uji Normalitas Keterangan: = fungsi distribusi empiris = fungsi distribusi kumulatif 2. Uji Homogenitas

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui objek yang diteliti mempunyai varian yang sama atau tidak (Siregar, 2013: 167). Uji homogenitas penelitian ini digunakan untuk menguji rumusan masalah kedua dan rumusan masalah yang ketiga. Rumusan masalah 2 : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa? Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa dalam pembelajaran tematik. Rumusan masalah 3 : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Kriteria kedua apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Uji homogenitas pada rumusan masalah kedua untuk penelitian ini dilakukan pada implementasi pembelajaran tematik terhadap jumlah siswa dengan faktor demografi jumlah siswa. Uji homogenitas juga dilakukan pada rumusan masalah ketiga yaitu implementasi pembelajaran tematik terhadap jumlah rekan guru yang

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 menggunakan tematik dengan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test.. Rumusan Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Rumus uji homogenitas dapat dilihat pada gambar 3.5 (Nordstokke, 2011: 3). Gambar 3.5 Rumus Lavene’s test Keterangan: n = jumlah observasi k = banyaknya kelompok = rata-rata dari kelompok ke i = rata-rata dari kelompok dari Z = rata-rata menyeluruh e) Uji Hipotesis Santoso (2010:79) menjelaskan bahwa uji hipotesis digunakan untuk menguji kuat atau tidaknya data dari sampel untuk menjelaskan populasinya. Uji hipotesis dilakukan setelah peneliti melakukan uji homogenitas dan uji normalitas. Data yang ada dikelompok menjadi 2 kelompok bagian. Pengelompokkan tersebut berdasarkan atas teori yang dikemukakan oleh Cruickshank (2014: 14-16) untuk data faktor demografi jumlah siswa. Data faktor demografi dikelompokkan

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan banyak siswa dan kelompok dengan jumlah siswa yang sedikit. Pengelompokkan data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik berdasarkan atas teori yang dikemukakan oleh Cruickshank (2014: 16). Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan jumlah rekan yang sedikit dan kelompok dengan jumlah rekan yang banyak. Pengelompokkan tersebut berdasarkan atas distribusi frekuensi menggunakan rumus Strurges (Riduwan, 2008: 70-72). Penentuan distribusi frekuensi dilakukan dalam tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70-72). Tahap yang pertama dengan mengurutkan data dari yang terkecil sampai terbesar. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Rumus menghitung jarak atau rentangan dapat dilihat pada gambar 3.6. R = data tertinggi – data terendah Gambar 3.6 Rumus Jarak atau Rentangan Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K) menggunakan rumus Struges. Rumus Struges dapat dilihat pada gambar 3.7. K = 1 + 3,3 log n Gambar 3.7 Rumus Strurges Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Rumus panjang kelas interval dapat dilihat pada gambar 3.8. P= Gambar 3.8 Rumus Panjang Kelas Interval

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Tahap kelima dengan menentukan batas kelas interval panjang kelas. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Tahap terakhir dengan memindahkan semua angka distribusi ke hasil akhir. Penghitungan distribusi frekuensi digunakan untuk menentukan rentangan data faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Santoso (2012: 94) menjelaskan bahwa data bersifat interval atau rasio dan distribusi data normal maka menggunakan statistik parametrik yaitu uji t dua sampel bebas (Independent Sample T Test). Apabila data bersifat nominal atau ordinal maupun data bersifat interval atau rasio namun distribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik. Statistik non parametrik yang digunakan adalah uji dua sampel bebas (uji Mann Whitney). Apabila hasil analisis menunjukkan data berdistribusi normal dan data bersifat bersifat nominal atau ordinal maupun data bersifat interval atau rasio maka menggunakan statistik parametrik. Data selanjutnya diolah menggunakan Independent Sample t-Test pada program SPSS 16. Sebaliknya jika data yang diolah berdistribusi tidak normal dan data tidak memiliki varian yang sama atau bersifat tidak homogen, maka data diolah menggunakan uji Mann Whitney pada program SPSS 16. Indpendent Sample T-Test atau uji t dua sampel digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok (Wiyono, 2011: 240). Uji ini biasanya digunakan untuk menguji pengaruh satu variabel independen terhadap satu atau lebih variabel dependen. Santoso (2014: 79) menjelaskan bahwa rata-rata dari dua grup yang tidak memiliki hubungan satu dengan yang lain. Tujuan dari perbandingan tersebut apakah kedua grup mempunyai rata-rata yang sama atau

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 tidak. Santoso (2014: 79) menjelaskan bahwa rata-rata dari dua grup yang tidak memiliki hubungan satu dengan yang lain. Tujuan dari perbandingan tersebut apakah kedua grup mempunyai rata-rata yang sama atau tidak. Rumus pengujian hipotesis menggunakan uji Independent Sample T-Test (Field, 2009: 336) Gambar 3.9 Rumus uji t-Dua Sampel Dimana Sp : Gambar 3.10 Rumus Independent- Sample T-test Keterangan: dan = jumlah sampel = rata-rata sampel ke-1 = rata-rata sampel ke-2 = standar deviasi sampel ke-1 ` = standar deviasi sampel ke-2 = varian sampel ke-1 = varian sampel ke-2 Sp = Standar Deviasi gabungan

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Selain uji hipotesis Indpendent Sample T-Test terdapat uji Mann Whitney. Uji Mann Whitney merupakan uji statistik non parametrik. Santoso (2012: 94) menjelaskan bahawa uji Mann Whitney mempunyai tujuan yang sama dengan uji t pada statistik parametrik. Tujuan tersebut yakni ingin mengetahui dua buah sampel yang bebas berasal daru populasi yang sama atau tidak. Uji Mann Whitney ekivalen dengan uji jumlah peringkat Wilcoxon (Wilcoxon Rank Sum Test). Uyanto (2009: 322) mengartikan uji Mann Whitney merupakan alternatif dari uji tdua sampel independen. Uji Mann Whitney digunakan untuk membandingkan dua sampel independen dengan skala ordinal atau skala interval tidak terdistrbusi normal (Uyanto, 2009: 322). Uji Mann Whitney berdasarkan jumlah peringkat dari data. Data dari kedua sampel digabungkan untuk diberi peringkat dari terkecil hingga terbesar. Pengujian ini termasuk dalam statistik non parametrik dengan program SPSS 16. Rumus dari uji Mann Whitney dapat dilihat pada gambar 3.11. Gambar 3.11 Rumus Mann Whitney dengan: Keterangan: = jumlah peringkat sampel pertama

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 = jumlah sampel 1 = jumlah sampel 2 f) Uji besar efek Apabila hasil uji hipotesis menggunakan Independent-Sample T-Test implementasi pembelajaran tematik dan faktor demograi jumlah siswa dan rekan guru menunjukkan adanya perbedaan maka selanjutnya dilakukan uji besar pengaruh. Uji besar efek dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh faktor demografi jumlah siswa dan rekan guru terhadap implementasi pembelajaran tematik. Analisis dilakukan menggunakan rumus effect size. Gambar 3.12 merupakan rumus untuk mengetahui effect size pada data berdistribusi normal menurut Field (2009: 332) sebagai berikut : Gambar 3.12 Rumus effect size data normal dengan, r = effect size t = harga uji t df = harga derajad kebebasan Jika data tidak normal dan uji hipotesis menggunakan Mann Whitney menurut Field( 2009: 550) digunakan rumus berikut : r Gambar 3.13 Rumus Effect size data tidak normal

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Keterangan : Z = Harga konversi Standar Deviasi N= Jumlah total observasi Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek (Field, 2009: 179) adalah: 0,10 – 2,29 = small effect (kecil) 0,30 – 0,49 = medium effect (sedang) 0,50 – 1,00 = large effect (besar) Persentase pengaruh dapat diketahui dengan menggunakan koefisien determinasi (𝑅2). Gambar 3.14 adalah gambar rumus koefisien determinasi. R2 = r2 x 100% Gambar 3.14 Rumus Koefisien Determinasi g) Waktu Penelitian Peneliti menyusun jadwal untuk melakukan penelitian sebagai berikut : Tabel 3.17 Tabel Jadwal Penelitian No. Kegiatan 1. Penyusunan proposal Konsultasi Bab I-III Bimbingan dengan dosen pembimbing Meminta surat ijin ke Sekolah Melakukan penelitian Revisi Bab IIII Analisis data Menyusun Bab IV-V Ujian Skripsi 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bulan Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Tabel 3.17 menunjukkan jadwal penelitian yang dimulai dari bulan September 2013 dan berakhir pada bulan Juli 2014. Penyusunan proposal dimulai pada bulan September 2013. Konsultasi bab I sampai bab III mulai bulan September 2013 sampai bulan Desember 2013. Bimbingan dengan dosen dimulai dari bulan September 2013 sampai bulan Mei 2014. Meminta surat ijin untuk melakukan penelitian ke sekolah dilakukan pada bulan Januari 2014. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai bulan Maret 2014. Revisi untuk bab I sampai bab III dilakukan pada bulan Maret 2014. Analisis data dilaksanakan pada bulan Maret 2014 dan April 2014. Penyusunan bab IV dan bab V dilakukan pada bulan Maret 2014 hingga bulan Juni 2014. Ujian skripsi dilaksanakan bulan Juli 2014.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV dalam penelitian ini membahas tentang deskripsi responden, tingkat pengembalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta”. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah 1) mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta; 2) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau faktor demografi jumlah siswa; 3) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah non eksperimental dengan cross sectional desain melaluui metode survei. Pelaksanaan dilaksanakan sejak bulan September 2013 sampai Juni 2013. Penyebaran dan pengambilan kuesioner dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai dengan 93 Maret 2014. Peneliti

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 bersama 3 anggota kelompok studi membuat surat ijin terlebih dahulu di sekretariat PGSD. Penyebaran kuesioner Implementasi Pembelajaran Tematik dimulai pada bulan Januari 2014. Teknik pembagian kuesioner dilakukan dengan cara mendatangi setiap sekolah dasar dan bertemu langsung dengan guru atas ijin Kepala Sekolah, setelah itu memberitahukan kepadsa guru bahwa pengambilan kuesioner diberi batas waktu hingga Maret 2014. Subjek penelitian ini adalah guru-guru kelas bawah pada Sekolah Dasar Afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Jumlah keseluruhan sekolah dasar ini sebanyak 24 SD yang terdiri dari sekolah dasar swasta-nasional dengan jumlah guru kelas bawah sebanyak 111 guru. Sekolah-sekolah tersebut tidak semuanya berkenan untuk dijadikan sebagai tempat penelitian. B. Tingkat Pengembalian Kuesioner Sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini berjumlah 111 responden, maka dibutuhkan 86 responden sebagai sampel. Banyak kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan penelitian berlangsung. Kendala-kendala tersebut diantaranya adanya sekolah-sekolah yang menolak untuk dijadikan tempat penelitian. Alasannya karena sekolah tersebut sudah sering atau sedang digunakan untuk tempat penelitian oleh penelliti lain. Alasan lain karena guru sedang sibuk mengurus suatu acara sekolah atau sibuk mempersiapkan ujian sekolah. Tingkat pengembalian kuesioner hanya 57,29% dari 115 kuesioner yang disediakan , yaitu sebanyak 55 kuesioner. Tidak semua guru di sekolah bersedia untuk dijadikan responden dalam penelitian ini. Sekolah yang bersediapun, tidak mengembalikan kuesioner sesuai dengan jumlah kuesioner yang dimasukkan

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 seperti; SD T M I P T, SD T 3, SD P L, dan SD B G. Data pengemmbalian kuesionner dapat dilihat pada lampiran 21. C. Hasil Penelitian Penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yaitu sebagai berikut : 1. Bagaimana mana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar di Kota Yogyakarta Indikator yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini ada tujuh. Pertama adalah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kedua adalah siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Ketiga adalah pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas. Keempat adalah pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Kelima adalah pembelajaran bersifat fleksibel. Keenam adalah hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Ketujuh adalah prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Kuesioner tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan data implementasi pembelajaran tematik yang diperoleh, diolah dengan menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Distribusi frekuensi mempunyai tujuh tahap. Data implementasi pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap dalam distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai data terbesar. Tahap kedua dengan dilakukan dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan diperoleh dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang diperoleh menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 30 pada lampiran 10.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Tahap ketiga menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas ditentukan berdasarkan teori masidjo (1995: 153). Jumlah kelas terdiri dari lima kelas, yakni sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, sangat rendah. Tahap keempat menghitung panjang kelas interval (P). Panjang kelas interval diperoleh dengan membagi rentangan dengan jumlah kelas. Panjang kelas interval yaitu 6, dapat dilihat selanjutnya pada lampiran 10. Tahap kelima menghitung kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval Panjang Kelas 79 - 84 85 – 91 92 – 97 98 – 103 104 – 109 Kategori Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Tabel 4.2 menunjukkan panjang interval dengan kategori tertentu. Kategori panjang kelas interval, dimulai dari sangat rendah, rendah, cukup, tinggi, sangat tinggi. Tahap keenam menghitung urutan interval kelas. Hasil dari perhitungan tahap keenam dapat dilihat pada lampiran 10, tahap ketujuh dengan memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Kategori Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Total Panjang Kelas 104 – 109 98 – 103 92 – 97 85 – 91 79 – 84 Frekuensi Presentase 3 5 13 23 5,55% 9,25% 24,08% 42,6% 10 5,55% 54 100%

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Melihat hasil perhitungan pada tabel 4.2, dapat diketahui bahwa frekuensi yang diperoleh sebanyak 54 responden. Responden yang memiliki kategori sangat tinggi dengan presentase sebesar 5,55% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi yang masuk dalam kategori tinggi sebanyak 5 responden dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 13 responden termasuk kategori cukup dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik dengan presentase sebesar 24,08%. Responden yang paling banyak adalah pada kategori rendah yaitu 23 dengan presentase 42,6%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden penelitian ini termasuk dalam kategori rendah dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. 2. Hasil analisis perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa dalam menggunakan pembelajaran tematik. Data faktor demografi jumlah siswa dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan langkah yang ada. Langkah pertama dengan mengurutkan data faktor demografi jumlah siswa. Data berjumlah 53 dengan data tertinggi 38 dan data terendah 2, maka didapatkan jarak atau rentangan sebesar 36. Langkah berikutnya menentukan jumlah kelas menggunakan rumus Sturges yaitu 2 kelas. Hasil perhitungannya adalah: Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah. = 38 – 2 = 36

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Banyak Kelas (K) =2 Interval Kelas (P) = = 36/2 = 18 Batas kelas interval : 2 – 19 20 – 37 = sedikit = Banyak Penetapan kelas berdasarkan atas teori dari Cruickshank (2014) yaitu siswa dengan jumlah sedikit dan banyak. Data kemudian ditentukan panjang kelas interval dan didapatkan hasil 18. Tahap terakhir dengan menentukan batas-batas kelas interval dan urutannya. Hasil yang didapat adalah data dengan jumlah siswa antara 2 sampai 19 siswa masuk ke dalam kategori sedikit. Jumlah siswa antara 20 sampai 37 masuk ke dalam kategori banyak. Pengolahan data dari data implementasi penggunaan pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah siswa. Pengolahan data bertujuan untuk mengetahui perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa. Data yang ada dianalisis menggunakan program SPSS 16 for Windows. Pengukuran data dilakukan dengan menghitung ujinormalitas dan uji homogenitas terlebih dahulu. Hasil perhitungan uji normalitas dengan program SPSS 16 for Windows menunjukkan data berdistribusi normal. Hasil SPSS 16 for Windows dari pengolahan uji normalitas jumlah siswa dan homogenitas jumlah siswa dapat dilihat pada lampiran 11. Hasil uji Normalitas dalam penelitian ini yaitu: Hipotesis nol (Ho) :Tingkat tematik implementasi ditinjau dari pembelajaran jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik tidak

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 berbeda secara signifikan dari distribusi normal. Hipotesis alternatif (Ha) :Tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik terdistribusi normal Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) > α = 0,05 berarti data normal. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) < α = 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal. Hasil dapat dilihat selanjutnya pada lampiran 11. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Hasil Uji normalitas jumlah siswa kelompok banyak No Variabel 1. Implementasi Pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa yang banyak Asymp. Sig. 0,348 Kesimpulan Keterangan Gagal tolak Ho Normal Hasil SPSS 16 for Windows data implementasi Tematik pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa yang banyak, memperoleh standar deviasi (SD) sebesar 5,553. Probabilitas yang dihasilkan sebesar 0,348 (ρ > 0,05). Keseluruhan nilai asymp.sig lebih besar dari 0,05. Berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, maka dapat disimpulkan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik adalah normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.1. Gambar 4.1 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari Faktor Demografi jumlah siswa banyak Gambar 4.1 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.2.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Gambar 4. 2 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari faktor demografi Jumlah Siswa Banyak Gambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak berdistribusi normal. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik,

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit di uji normalitasnya dengan SPSS 16 for Windows . Pengujian dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis dalam uji normalitas ini adalah : Hipotesis nol (Ho) : Distribusi signifikan sampel dari tidak distribusi berbeda normal. secara (data berdistribusi normal) Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal. (data tidak berdistribusi normal). Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) > α = 0,05 berarti data normal. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) < α = 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Hasil uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa kelompok sedikit Variabel Jumlah siswa sedikit Asymp. Sig. 0,933 Kesimpulan Gagal tolak Ho Keterangan Normal Tabel 4.5 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Asym. Sig (2 – tailed) sebesar 0,218. Nilai Asym. Sig. (2 – tailed) Sebesar 0,218 < α (0,05), yang berarti data berdistribusi normal. Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran12. Uji

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.3. Gambar 4.3 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok Sedikit Gambar 4.3 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field,

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.4. Gambar 4. 4 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok sedikit Gambar 4.4 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.4 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit berdistribusi normal. Pengujian normalitas telah dilakukan pada kedua kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah siswa mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta berdistribusi normal. Kedua data berdistribusi normal maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk lebih meyakinkan data yang diperoleh peneliti. Rumusan masalah kedua yang telah di uji normalitasnya dan berdistribusi normal, selanjutnya di uji homogenitasnya. Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta di uji homogenitasnya dengan SPSS 16. Pengujian menggunakan metode Lavene’s test. Hipotesis dalam uji hoomogenitas ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, terlihat nilai Sign. (2- tailed) > α = 0,05 berarti data homogen. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, terlihat nilai Sign (2- tailed) < α = 0,05 berarti data tidak homogen. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Ditinjau dari Faktor Jumlah Siswa Variabel Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor jumlah siswa Asymp. Sig. 0,036 Kesimpulan Ho ditolak Keterangan Tidak Homogen Tabel 4.5 menunjukkan bahwa data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumalh siswa tidak homogen. Terlihat nilai sign. (2 tailed)< α = 0,05 yaitu 0,036 berarti data tidak homogen. Hasil SPSS uji homogenitas dapat dilihat pada lampiran 13. Uji hipotesis implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa dalam pembelajaran tematik dengan pengolahan data menggunakan IndependentSample T Test. Pengolahan data menggunakan uji Independent- Sampel T Test , karena untuk membandingkan dua sampel independen dengan skala ordinal atau skala interval data normal. Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik. Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa menggunakan pembelajaran tematik Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05. Hasil pengolahan data dikatakan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak apabila (α), α = 5% atau 0,05, didapatkan sign (2- tailed)< α. Hasil pengolahan data menggunakan Independent-Sampel T Test dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Hasi uji Independent- Sample T Test Jumlah siswa Sig. (2 tailed) Equel variances not assummed Sig 0,224 T -1.234 Df 42.106 Keterangan Ho Gagal ditolak Tabel 4.7 menunjukkan hasil uji Independent-Sampel T Test jumlah siswa dan didapatkan hasil nilai t = - 1,234, df = 42.106 dan dengan ρ = 0,224 .Hal ini berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.Guru dengan jumlah siswa banyak dan jumlah siswa sedikit sama-sama memiliki implementasi pembelajaran rendah, maka tidak dilakukan uji efek besar. Hasil SPSS dari uji Independent-Sampel T Test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 13 halaman 264.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 3. Hasil analisis perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik. Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok jumlah rekan guru banyak dan jumlah rekan guru sedikit. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik. Apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik. Data faktor demografi jumlah siswa dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan langkah yang ada. Langkah pertama dengan mengurutkan data faktor demografi jumlah siswa. Data berjumlah 49 dengan data tertinggi 16 dan data terendah 1, maka didapatkan jarak atau rentangan sebesar 15. Langkah berikutnya menentukan jumlah kelas menggunakan rumus Sturges yaitu 2 kelas. Penetapan kelas berdasarkan atas teori dari Cruickshank (2014) yaitu rekan guru dengan jumlah sedikit dan banyak. Data kemudian ditentukan panjang kelas interval dan didapatkan hasil 7,5 dibulatkan menjadi 8. Tahap terakhir dengan menentukan batas-batas kelas interval dan urutannya. Hasil perhitungannya adalah: Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah. = 16 – 1 = 15 Banyak Kelas (K) =2

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Interval Kelas (P) = Batas kelas interval : 1 – 8 9 – 16 = 15/2 = 7,5 = 8 = sedikit = Banyak Hasil yang didapat adalah data dengan jumlah rekan guru antara 1 sampai 8 guru masuk ke dalam kategori sedikit. Jumlah guru antara 9 sampai 16 masuk ke dalam kategori banyak.Pengolahan data dari data implementasi penggunaan pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Pengolahan data bertujuan untuk mengetahui perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Data yang ada dianalisis menggunakan program SPSS 16 for Windows. Pengukuran data dilakukan dengan menghitung uji normalitas dan uji homogenitas terlebih dahulu. Hasil perhitungan uji normalitas dengan program SPSS 16 for Windows menunjukkan data berdistribusi normal. Hasil SPSS 16 for Windows dari pengolahan uji normalitas jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dan homogenitas jumlah rekan guru. Hasil uji Normalitas dalam penelitian ini yaitu: Hipotesis nol (Ho) :Tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru kelompok banyak yang menggunakan pembelajaran tematik tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Hipotesis alternatif (Ha) :Tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru kelompok banyak yang menggunakan pembelajaran tematik terdistribusi normal Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) > α = 0,05 berarti data normal. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) < α = 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Uji normalitas Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan Guru Banyak yang menggunakan pembelajaran tematik Variabel Jumlah rekan guru banyak Asymp. Sig. Kesimpulan Keterangan 0.922 Gagal tolak Ho Normal Tabel 4.8 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok banyak. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Asym. Sig (2 – tailed) sebesar 0,218. Nilai Asym. Sig. (2–tailed) Sebesar 0,218 < α (0,05), yang berarti data berdistribusi normal. Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 14. Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.5.

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Gambar 4.5 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru Banyak Gambar 4.5 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok banyak. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok banyak berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.6.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Gambar 4. 6 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Jumlah Rekan guru Banyak Gambar 4.6 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok banyak yang menggunakan pembelajaran tematik. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.6 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan rekan guru kelompok banyak yang menggunakan pembelajaran tematik banyak berdistribusi normal. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit yang menggunakan pembelajaran tematik di uji normalitasnya dengan SPSS 16 for Windows . Pengujian dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis dalam uji normalitas ini adalah : Hipotesis nol (Ho) : Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen Yogyakarta dan dengan kelompok sedikit signifikan dari nasional jumlah tidak di Kota rekan guru berbeda distribusi normal. secara (data berdistribusi normal) Hipotesis alternatif (Ha) : tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen Yogyakarta dan dengan nasional jumlah di Kota rekan guru kelompok sedikit berbeda secara signifikan dari distribusi normal. (data tidak berdistribusi normal). Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) > α = 0,05 berarti data normal. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, apabila nilai sign (2 – tailed) < α = 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.8.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jumlah Rekan Guru Kelompok Sedikit Variabel Jumlah siswa sedikit Asymp. Sig. 0,982 Kesimpulan Gagal tolak Ho Keterangan Normal Tabel 4.8 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit yang menggunakan pembelalajaran. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Asym. Sig (2 – tailed) sebesar 0,218. Nilai Asym. Sig. (2 – tailed) Sebesar 0,218 < α (0,05), yang berarti data berdistribusi normal. Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 15. Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.7. Gambar 4.7 P-P Plot Normalitas Data Implementasi Pembelajaran tematik ditinjau dari Faktor Demografi jumlah rekan guru Sedikit Gambar 4.7 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik,

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit berdistribusi normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.8. Gambar 4. 8 Histogram Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari faktor demografi Jumlah rekan guru sedikit Gambar 4.8 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.8 menunjukkan bahwa histogram

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru kelompok sedikit berdistribusi normal. Pengujian normalitas telah dilakukan pada kedua kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Uji hipotesis pada kelompok data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta berdistribusi normal. Kedua data berdistribusi normal maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk lebih meyakinkan data yang diperoleh peneliti. Rumusan masalah ketiga yang telah di uji nromalitasnya dan berdistribusi normal, selanjutnya di uji homogenitasnya. Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta di uji homogenitasnya dengan SPSS 16. Pengujian menggunakan metode Lavene’s test. Hipotesis dalam uji homogenitas ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran oleh guru

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05, terlihat nilai Sign. (2- tailed) > α = 0,05 berarti data homogen. Hasil dari pengolahan apabila nilai α = 5% atau 0,05, terlihat nilai Sign (2- tailed) < α = 0,05 berarti data tidak homogen. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik Faktor Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik Variabel Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor jumlah rekan guru Asymp. Sig. 0,005 Kesimpulan Ho ditolak Keterangan Tidak Homogen Tabel 4.9 menunjukkan bahwa data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta tidak homogen. Terlihat nilai sign. (2 tailed)< α = 0,05 yaitu 0,005

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 berarti data tidak homogen. Hasil SPSS uji homogenitas dapat dilihat pada lampiran 16. Uji hipotesis implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dengan pengolahan data menggunakan Independent- Sample T Test. Pengolahan data menggunakan uji independent- Sampel T Test, karena untuk membandingkan dua sampel independen dengan skala ordinal atau skala interval data normal. Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah rekan guru menggunakan pembelajaran tematik. Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini yaitu: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α), α = 5% atau 0,05. Hasil pengolahan data dikatakan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak apabila (α), α = 5% atau 0,05, didapatkan sign (2- tailed)< α. Hasil pengolahan data menggunakan Independent-Sampel T Test dapat dilihat pada tabel 4.10.

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Tabel 4.10 Hasi Uji Independent- Sample T Test Jumlah Rekan Guru Sig. (2 tailed) Equel variances not assummed Sig 0,007 T -2.947 Df 26.499 Keterangan Ho Ditolak Tabel 4.11 menunjukkan hasil uji Independent-Sampel T Test dan didapatkan hasil nilai t = - 2,947, df = 26.499 dan ρ<0,05 dengan ρ = 0,007 . Berarti Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Guru yang dengan jumlah rekan guru banyak dan jumlah rekan guru sedikit memiliki implementasi pembelajaran tematik yang berbeda, maka dilakukan uji efek besar. Hasil SPSS dari uji Independent- Sampel T Test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16. Analisis selanjutnya adalah dilakukan uji besar perlakuan (Effect Size). Effect size adalah suatu ukuran objektif dan dijadikan standar atau tolak ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56). Kriteria Effect size adalah jika r = 0,10 (efek kecil) yang setara dengan 1% pengaruh yang diakibatkan oleh variabel independen, r = 0,30 (efek menengah) yang setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25% (Field, 2009: 57179). Hasil dari uji Effect size dapat dilihat pada tabel 4.11.

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Tabel 4.11 Hasil uji Effect size Variabel Pengalaman mengajar guru Effect size r = 0,5 Keteragan Effek besar Tabel 4.11 menunjukkan perhitungan Effect size yang telah dilakukan. Perhitungan Effect size yang telah dilakukan diperoleh r sebesar 0,5. Hasil tersebut menyatakan jika besarnya pengaruh jumlah guru yang menggunakan pembelajaran tematik mempunyai efek besar terhadap implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Effect size yang didapat berikutnya digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2) yang didapat adalah 25%. D. Pembahasan Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian yang dilakukan untuk mengetahui: 1) tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta; 2) perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa; 3)perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditnjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Berikut akan dijabarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan melihat masing-masing rumusan masalah:

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 1. Tingkat implementasi pelaksanaan impelemntasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Hasil penelitian dan pengukuran dengan menggunakan tahapan distribusi frekuensi. Hasil perhitungan dari 54 responden, hanya 3 responden yang temasuk dalam kategori sangat tinggi dengan presentase sebesar 5,55% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 5 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase sebesar 9,25% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 13 responden termasuk dalam kategori cukup dengan presentasi sebesar 24,08%. Frekuensi sebanyak 23 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase sebesar 42,6% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 10 responden termasuk dalam kategori sangat rendah dengan presentase 18,5% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Yogyakarta adalah rendah. Pembelajaran tematik di sekolah dasar merupakan suatu hal yang relatif baru sehingga dalam implementasinya belum sesuai dengan yang diharapkan. Trianto (2011: 173) menyatakan bahwa model pembelajaran tematik tidak mudah untuk dilaksanakan karena memerlukan penyesuaian dan kemampuan adaptasi yang baik. Penerapan pembelajaran tematik membutuhkan guru yang kreatif dalam menyiapkan pembelajaran yang akan disampaikan supaya menjadi menarik, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa. Tuntutan guru menjadi lebih banyak

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 dan beban yang ditanggung oleh guru menjadi semakin berat. Beban lain yang ditanggung oleh guru yaitu guru harus mengubah kebiasaan mengajar, karena guru masih menyajikan kegiatan pembelajaran berdasarkan mata pelajaran/ bidang studi. Rusman (dalam Prastowo, 2013: 229-230) menyatakan bahwa terdapat sejumlah rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik. Rambu yang dimaksud ialah tidak semua mata pelajaran harus dipadukan; dimungkinkan akan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester; kompetensi yang tidak tercakup dalam tema tetap harus diajarkan melalui tema lain; pemilihan tema disesuaikan dengan karakteristik siswa. Penerapan pembelajaran tematik dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian atau evaluasi (Prastowo ,2013: 231). Hajar (2013: 83) menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tematik ditentukan oleh penyusunan perencanaan pembelajaran. Kesalahan-kesalahan dalam tahap perencanaan ini akan mempengaruhi proses berikutnya. Guru perlu dengan cermat ketika membuat perencanaan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam merumuskan pembelajaran tematik di sekolah menurut Hajar (2013: 83) yaitu guru harus mengenal standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran, memilih tema yang dapat memadukan kompetensi setiap kelas dan semester, membuat matriks hubungan kompetensi dasar yang sesuai dengan tema yang dipilih, membuat pemetaan pembelajaran tematik dalam bentuk jaringan topik, dan menyusun silabus dan rencana

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 pembelajaran yang disesuaikan dengan jaringan topik pembelajaran. Pembelajaran tematik dapat dikatakan berhasil apabila penerapan pembelajaran disesuaikan dengan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan. Pembelajaran tematik merupakan sesuatu yang baru maka dalam pengimplementasiannya masih dianggap kurang seperti yang diharapkan. Model pembelajaran tematik tidak mudah untuk diterapkan karena memerlukan penyesuaian dan adaptasi yang baik (Trianto, 2011:173). Pembelajaran tematik lebih menuntut guru untuk dapat menyampaikan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa. Tuntutan tersebut yang lebih membebani guru untuk tampil sesempurna mungkin selama mengajar. Rusman (2013:206) menjelaskan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik dipengaruhi oleh seberapa jauh suatu pembelajaran direncanakan sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh siswa. Guru harus dapat merencanakan sesuatu pembelajaran yang baik dan dianggap sesuai dengan kondisi siswanya. Tuntutan untuk guru tersebut dirasa masih kurang karena kurangnya penerapan konsep mengajar yang baik. 2. Perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Hasil penelitian didapatkan menunjukkan hasil uji Independent-Sampel T Test dan dan didapatkan hasil nilai t = - 1,234, df = 42.106 dan dengan ρ = 0,224 . Berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Cruickshank (2014:16) menjelaskan bahwa jumlah siswa di dalam kelas tampaknya mempengaruhi seberapa baik para siswa mengikuti pembelajaran dan berperilaku. Siswa dengan jumlah siswa yang relatif banyak cenderung tidak kondusif dan terasa sangat ramai. Sebaliknya apabila kelas dengan jumlah siswa relatif sedikit cenderung anak-anaknya tidak terlalu ramai karena masih dapat diatur oleh guru. Ukuran kelas atau jumlah siswa ini sangat berpengaruh dalam proses pengajaran di kelas. Penelitian dari Cruickshank (2014) didapatkan hasil bahwa jumlah siswa mempengaruhi proses pengajaran dan tidak sejalan dengan penelitian yang mendapatkan hasil bahwa jumlah siswa tidak mempengaruhi proses pengajaran yang terjadi di kelas khususnya penggunaan pembelajaran tematik. 3. Perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hasil uji Independent-Sampel T Test dan didapatkan hasil nilai t = - 2,947, df = 26.499 dan ρ<0,05 dengan ρ = 0,007 . Berarti Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Perhitungan Effect size yang telah dilakukan diperoleh r sebesar 0,5. Hasil tersebut menyatakan jika besarnya

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 pengaruh jumlah guru yang menggunakan pembelajaran tematik mempunyai efek besar terhadap implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Effect size yang didapat berikutnya digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2) yang didapat adalah 25%. Cruickshank (2014:16) menjelaskan bahwa cara terstruktur ketika guru-guru berkolaborasi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Guru-guru kelas saling bekerja sama unuk dapat memenuhi tujuan dan kebutuhan siswa. Efek samping dari kolaborasi antar guru dapat meningkatkan kemampuan sekolah untuk mendorong prestasi para siswa (Goddard dalam Cruickshank, 2014:16). Efek yang ditimbulkan dianggap sangat positif karena dianggap mampu meningkatkan mutu akademik. Hasil penelitian dari Cruickshank (2014) sejalan dengan hasil penelitian ini.

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab V ini akan membahas tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. A. Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk mengukur tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta, perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa, dan perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Hasil perhitungan yang telah dilakukan oleh peneliti dapat menjawab rumusan masalah yang pertama tentang tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta dengan data yang telah diolah melalui tujuh tahap dalam distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai data terbesar. Tahap kedua dengan dilakukan dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan diperoleh dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Diketahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta termasuk dalam kategori rendah. 126

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Rumusan masalah yang kedua yaitu tentang implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa dapat dijawab dengan data yang diolah menggunakan Independent-Sample T-Test melalui SPSS 16. Hasil tersebut menunjukkan bahwa taraf signifikansi yang didapatkan hasil nilai t = - 1,234, df = 42.106 dan dengan ρ = 0,224 .Hal ini berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta dari faktor demografi jumlah siswa. Guru dengan jumlah siswa banyak dan jumlah siswa sedikit sama-sama memiliki implementasi pembelajaran rendah. Rumusan masalah ketiga mengenai pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan tematik dapat dijawab dengan data yang telah diolah menggunakan Independent-Sampel T Test dengan SPSS 16. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hasil nilai t = - 2,947, df = 26.499 dan ρ<0,05 dengan ρ = 0,007 .Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pelaksanaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Guru yang dengan jumlah rekan guru banyak dan jumlah rekan guru sedikit memiliki implementasi

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 pembelajaran tematik yang berbeda, maka dilakukan uji Effect size. Perhitungan Effect size yang telah dilakukan diperoleh r sebesar 0,5. Hasil tersebut menyatakan jika besarnya pengaruh jumlah guru yang menggunakan pembelajaran tematik mempunyai efek besar terhadap implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di kota Yogyakarta. Effect size yang didapat berikutnya digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2) yang didapat adalah 25%. B. Keterbatasan Keterbatasan yang dialami oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga peneliti tidak bisa mengukur kejujuran responden. Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri oleh responden. 2. Penelitian dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan sehingga kesulitan dalam membagi waktu dalam penyebaran kuesioner. 3. Pihak sekolah tidak tepat waktu dalam pengembalian kuesioner sehingga penelitian sedikit mundur. 4. Penelitian ini baru pertama kali dilakukan dan data yang diperoleh belum memberikan hasil maksimal untuk kuesioner penelitian dan dibuat kembali supaya menjadi lebih baik. 5. Penelitian ini menggunakan sampel yang sedikit dan mempengaruhi hasil penelitian yang kurang memuaskan.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 C. Saran Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Instrumen pengambilan data tidak hanya menggunakan kuesioner saja, namun bisa ditambahkan wawancara serta observasi dengan responden agar data yang diperoleh lebih dapat dipercaya. 2. Penelitian sebaiknya dilakukan sebelum pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan. 3. Perlu perencanaan yang matang sehingga penelitian dapat berjalan tepat waktu, terutama dalam penyebaran kuesioner dan pengembalian kuesioner. 4. Penelitian selanjutnya untuk instrumen pengambilan data lebih diperbaiki kembali sesuai dengan fakta di lapangan. 5. Penelitian selanjutnya perlu sampel yang lebih banyak untuk memperoleh data yang baik.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 DAFTAR REFERENSI Arikunto,Suharsimi.2006.Prosedur Praktik.Jakarta:PT.Rineka Cipta Penelitian Suatu Pendekatan Chairunniza.2011.Pengnaruh Karakterristik Demografi dan Motivasi Kerja terhadap Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Aceh Utara.Jakarta:Universitas Terbuka Cruickshank Donaldn R, Jenkins Deborah Bainer, Metcalf Kim K.2014. The Act of Teaching,6th ed.Jakarta.Salemba Empat Depdiknas.2006.Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal sekolah Dasar.Jakarta _________.2007. Dilek,Dursun.2002.Using a thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching.Istanbul: Marmara University (Thesis). Field, A. 2009 .Discovery statistics using SPSS third edition. London: SAGE Publication ltd. Hajar,Ibnu.2013.Panduan Lengkap kurikulum tematik.Yogyakarta:Diva Press. Hidayat, Sholeh.2013. pengembangan Kurikulum Baru.Bandung : PT.Remaja Rosdakarya. Johnshon, B & Chistensen, L. 2008. Education research third edition. USA: SAGE Publication. Majid.2014.Pembelajaran tematik terpadu Bandung:PT Rosdakarya. Masidjo. 1995. Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Margono, S. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Morrisan.2012.Metode Penelitian Survei.Jakarta.Kencana Mulyasa.2013.Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset. Muzamiroh, Mida Latifatul.2013.Kupas Tuntas Kurikulum 2013.Jakarta:Kata Pena. Nordstokke. 2011.The operating characteristics od the non parametric Lavene’s test for equal variances with assesment and evaluation data. Practical assesment, rearch and evaluation.10(5), p.1-8.

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Nisfiannoor Muhammad.2009.Pendekatan Sosial.Jakarta.Salemba Humanika Statistik Modern Untuk Ilmu Permendikbud.2013.Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta Rismiati,Catur.2012.Teacher’s concern regarding the implementation of integrated thematic instruction:a study of primary grade teachers in Kanisius Catholic Schoolsin Yogyakarta,Indonesia.Loyola University Chicago. Riduwan.2008.Dasar-dasar statistika.Bandung:Alfabeta Rusman.2013.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. Sanaky, Hujair. A.H. 2009. Reformasi pendidikan suatu keharusan untuk memasuki milenium III (Suatu renungan untuk pendidikan Islam). Makalah. Santoso.Singgih.2010.Statistik Parametik.Jakarta:PT Elex Media Komputindo Siregar, S. 2010. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sihono.2011.Jurnal Ekonomi & Pendidikan “Upaya Menuju Demokratisasi Pendidikan”.Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta Suprihatiningrum.2013.Guru Profesional”Pedoman Kinerja,Kualifikasi, dan Kompetensi Guru”.Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA Sugiyono. 2011. Metodologi Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta _______. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta _______. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tilaar H.A.R & Nugroho Riant.2012.Kebijakan Pendidikan.Yogyakarta.Pustaka Pelajar Trianto.2009. mengembangkan model pembelajaran tematik.Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Trianto.2011.DesaiN Pengembangan Pembelajaran Tematik.Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Usman ,Husaini & Purnomo Setiadi Akbar.2008.Pengantar statistika.Jakarta:PT Bumi Aksara.

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 LAMPIRAN

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 Lampiran 2 Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 Lampiran 3. Expert Judgement

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 196

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 215

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 216

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 217

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 218

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 219

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 220

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 221

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 222

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 224

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 225

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 226

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 227

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 229

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 230

(251) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 231

(252) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 232

(253) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 233

(254) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 234

(255) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 235

(256) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 236

(257) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 237

(258) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238

(259) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 239

(260) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 240

(261) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 241

(262) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 242

(263) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 243 Lampiran 4. Validitas Muka

(264) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 244

(265) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 245

(266) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 246

(267) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 247

(268) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 248

(269) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 249

(270) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 250

(271) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 251

(272) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 252

(273) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 5. DATA VALIDITAS

(274) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 6. HASILVALIDITAS

(275) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 7. DATA RELIABILITAS

(276) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 256 Lampiran 8. Hasil Reliabilitas Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 54 88.5 7 11.5 61 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .891 Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .898 24

(277) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 257 Item Statistics Mean Std. Deviation N item_1 3.09 .896 54 item_2 3.48 1.059 54 item_3 3.96 .846 54 item_4 3.78 1.022 54 item_5 3.61 .920 54 item_6 3.26 .955 54 item_7 4.02 .658 54 item_8 3.70 .768 54 item_10 2.78 1.110 54 item_11 3.52 .818 54 item_12 3.24 1.132 54 item_13 3.19 .953 54 item_14 3.52 1.077 54 item_15 3.67 .847 54 item_17 4.02 .687 54 item_19 4.02 .835 54 item_20 3.76 1.008 54 item_21 3.80 .810 54 item_23 3.81 .779 54 item_24 3.59 1.037 54 item_25 3.94 .763 54 item_26 3.96 .776 54 item_27 3.83 .771 54 item_28 3.41 .765 54

(278) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(279) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 259 Summary Item Statistics Maximum / Mean Item Means Item Variances Minimum Maximum Range Minimum N of Variance Items 3.623 2.778 4.019 1.241 1.447 .110 24 .805 .434 1.281 .847 2.953 .062 24 Item-Total Statistics Squared Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Multiple Cronbach's Alpha Item Deleted Item Deleted Total Correlation Correlation if Item Deleted item_1 83.87 127.209 .218 .510 .893 item_2 83.48 120.443 .467 .486 .887 item_3 83.00 126.377 .280 .600 .892 item_4 83.19 117.890 .608 .725 .883 item_5 83.35 119.213 .615 .603 .883 item_6 83.70 123.609 .372 .589 .890 item_7 82.94 128.091 .261 .439 .891 item_8 83.26 120.498 .672 .776 .883 item_10 84.19 147.701 -.612 .792 .917 item_11 83.44 121.006 .597 .705 .884 item_12 83.72 116.242 .610 .737 .883 item_13 83.78 117.384 .684 .844 .881 item_14 83.44 114.516 .726 .781 .880 item_15 83.30 120.137 .623 .685 .884 item_17 82.94 122.846 .598 .718 .885 item_19 82.94 122.204 .515 .550 .886 item_20 83.20 115.260 .745 .751 .879 item_21 83.17 125.349 .353 .661 .890 item_23 83.15 119.563 .719 .833 .882 item_24 83.37 118.049 .589 .843 .884 item_25 83.02 120.547 .674 .777 .883 item_26 83.00 120.604 .657 .782 .883 item_27 83.13 124.832 .406 .589 .889

(280) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 260 Item-Total Statistics Squared Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Multiple Cronbach's Alpha Item Deleted Item Deleted Total Correlation Correlation if Item Deleted item_1 83.87 127.209 .218 .510 .893 item_2 83.48 120.443 .467 .486 .887 item_3 83.00 126.377 .280 .600 .892 item_4 83.19 117.890 .608 .725 .883 item_5 83.35 119.213 .615 .603 .883 item_6 83.70 123.609 .372 .589 .890 item_7 82.94 128.091 .261 .439 .891 item_8 83.26 120.498 .672 .776 .883 item_10 84.19 147.701 -.612 .792 .917 item_11 83.44 121.006 .597 .705 .884 item_12 83.72 116.242 .610 .737 .883 item_13 83.78 117.384 .684 .844 .881 item_14 83.44 114.516 .726 .781 .880 item_15 83.30 120.137 .623 .685 .884 item_17 82.94 122.846 .598 .718 .885 item_19 82.94 122.204 .515 .550 .886 item_20 83.20 115.260 .745 .751 .879 item_21 83.17 125.349 .353 .661 .890 item_23 83.15 119.563 .719 .833 .882 item_24 83.37 118.049 .589 .843 .884 item_25 83.02 120.547 .674 .777 .883 item_26 83.00 120.604 .657 .782 .883 item_27 83.13 124.832 .406 .589 .889 item_28 83.56 122.855 .529 .751 .886

(281) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 9 .DATA ASLI

(282) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 262 Lampiran 10. Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi Implementasi Pembelajaran Tematik Descriptive Statistics N Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation item_1 172 1 5 473 2.75 1.093 item_2 173 1 5 644 3.72 .891 item_3 174 1 5 728 4.18 .730 item_4 174 1 5 689 3.96 .675 item_5 174 3 5 733 4.21 .565 item_6 172 1 5 643 3.74 .799 item_7 174 3 5 745 4.28 .555 item_8 174 2 5 717 4.12 .591 item_10 173 1 4 353 2.04 .668 item_11 174 2 5 695 3.99 .521 item_12 174 1 5 664 3.82 .681 item_13 174 2 5 662 3.80 .596 item_14 174 3 5 731 4.20 .558 item_15 174 2 5 677 3.89 .574 item_17 173 2 5 724 4.18 .540 item_18 173 1 5 571 3.30 1.047 item_19 173 3 5 734 4.24 .549 item_20 173 2 5 715 4.13 .550 item_21 174 2 5 657 3.78 .776 item_22 173 1 5 672 3.88 .820 item_23 173 1 4 333 1.92 .517 item_24 174 3 5 715 4.11 .510 item_25 173 2 5 722 4.17 .595 item_26 174 3 5 724 4.16 .546 item_27 174 1 5 688 3.95 .625 item_28 169 2 5 636 3.76 .526 174 81 114 17045 97.96 6.031 total implementasi tematik Valid N (listwise) 158

(283) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 263 Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah. = 109 – 79 = 30 Banyak Kelas (K) =5 Interval Kelas (P) = = =6 Batas kelas interval : Panjang Kelas Kategori 79 - 84 Sangat Rendah 85 – 91 Rendah 92 – 97 Cukup 98 – 103 Tinggi 104 – 109 Sangat Tinggi

(284) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 264 LAMPIRAN 11 Hasil Uji Normalitas Jumlah Siswa Banyak Descriptive Statistics N Implementasi_tematik_juml Mean 28 ahsiswa Std. Deviation 89.39 Minimum 5.553 Maximum 79 109 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi_te matik_jumlahsis wa N 28 Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean 89.39 Std. Deviation 5.553 Absolute .177 Positive .177 Negative -.094 Kolmogorov-Smirnov Z .934 Asymp. Sig. (2-tailed) .348 a. Test distribution is Normal. P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_1 1 Implementasi_tematik_jumlah siswa Transformation None Non-Seasonal Differencing 0 Seasonal Differencing 0 Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal

(285) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 265 Location estimated Scale estimated Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_1 Case Processing Summary Implementasi_te matik_jumlahsis wa Series or Sequence Length 28 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi_te matik_jumlahsis wa Normal Distribution Location 89.39 Scale 5.553 The cases are unweighted.

(286) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 266 Histogram Statistics Implementasi_tematik_jumlahsiswa N Valid 28 Missing 0 Std. Error of Mean 1.049 Median 89.00 Std. Deviation 5.553 Variance 30.840 Skewness 1.512 Std. Error of Skewness .441 Range 30 Minimum 79 Maximum 109 Sum 2503 Implementasi_tematik_jumlahsiswa Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 79 1 3.6 3.6 3.6 83 1 3.6 3.6 7.1 84 2 7.1 7.1 14.3 85 3 10.7 10.7 25.0 86 1 3.6 3.6 28.6 87 1 3.6 3.6 32.1 88 3 10.7 10.7 42.9 89 4 14.3 14.3 57.1 90 3 10.7 10.7 67.9 91 2 7.1 7.1 75.0 92 3 10.7 10.7 85.7 95 1 3.6 3.6 89.3 96 1 3.6 3.6 92.9

(287) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 267 97 1 3.6 3.6 96.4 109 1 3.6 3.6 100.0 Total 28 100.0 100.0

(288) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 268 LAMPIRAN 12. Uji Normalitas Faktor Demografi Jumlah siswa sedikit Descriptive Statistics N Implementasi_tematik_juml Mean 24 ahsiswa Std. Deviation 91.67 Minimum 7.423 Maximum 80 104 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi_te matik_jumlahsis wa N 24 Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean 91.67 Std. Deviation 7.423 Absolute .110 Positive .110 Negative -.101 Kolmogorov-Smirnov Z .540 Asymp. Sig. (2-tailed) .933 a. Test distribution is Normal. P- P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_2 1 Implementasi_tematik_jumlahsi swa Transformation Non-Seasonal Differencing None 0

(289) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 269 Seasonal Differencing 0 Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal Location estimated Scale estimated Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_2 Case Processing Summary Implementasi_te matik_jumlahsis wa Series or Sequence Length 24 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi_te matik_jumlahsis wa Normal Distribution Location 91.67 Scale 7.423 The cases are unweighted.

(290) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 270 Statistics Implementasi_tematik_jumlahsiswa N Valid 24 Missing 0 Mean 91.67 Std. Error of Mean 1.515 Median 92.00 Mode 92 Std. Deviation 7.423 Variance 55.101 Skewness .104 Std. Error of Skewness .472 Range 24 Minimum 80 Maximum 104 Sum 2200 Implementasi_tematik_jumlahsiswa Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 80 2 8.3 8.3 8.3 83 2 8.3 8.3 16.7

(291) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 271 84 1 4.2 4.2 20.8 85 1 4.2 4.2 25.0 86 1 4.2 4.2 29.2 87 2 8.3 8.3 37.5 88 1 4.2 4.2 41.7 92 4 16.7 16.7 58.3 93 1 4.2 4.2 62.5 95 2 8.3 8.3 70.8 98 1 4.2 4.2 75.0 99 2 8.3 8.3 83.3 100 1 4.2 4.2 87.5 102 1 4.2 4.2 91.7 104 2 8.3 8.3 100.0 Total 24 100.0 100.0

(292) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 272 LAMPIRAN 13. Uji Lavene’s Test dan Independent-Sampel T Test Faktor demografi Jumlah Siswa Group Statistics rentang _jumlah siswa N Implementasi_tematik_juml 1 ahsiswa 2 Mean Std. Deviation Std. Error Mean 28 89.39 5.553 1.049 24 91.67 7.423 1.515 Independent Samples Test Implementasi_tematik_jumlah siswa Levene's Test for F Equality of Variances Sig. t-test for Equality of T Means Df Equal variances variances not assumed assumed 4.640 .036 Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Lower Interval of the Upper Difference Equal -1.261 -1.234 50 42.106 .213 .224 -2.274 -2.274 1.803 1.843 -5.895 -5.993 1.347 1.446

(293) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 273 LAMPIRAN 14. Hasil Uji Normalitas Demografi Jumlah Rekan Guru Banyak Descriptive Statistics N Implementasi_tematik_juml Mean 29 ahrekanguru Std. Deviation 88.17 Minimum 4.277 Maximum 79 98 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi_te matik_jumlahrek anguru N 29 Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean 88.17 Std. Deviation 4.277 Absolute .102 Positive .102 Negative -.079 Kolmogorov-Smirnov Z .551 Asymp. Sig. (2-tailed) .922 a. Test distribution is Normal. P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_4 1 Implementasi_tematik_jumlahr ekanguru Transformation None Non-Seasonal Differencing 0 Seasonal Differencing 0

(294) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 274 Length of Seasonal Period No periodicity Standardization Not applied Distribution Type Normal Location estimated Scale estimated Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_4 Case Processing Summary Implementasi_te matik_jumlahrek anguru Series or Sequence Length 29 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi_te matik_jumlahrek anguru Normal Distribution Location 88.17 Scale 4.277 The cases are unweighted.

(295) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 275 Histogram Statistics Implementasi_tematik_jumlahrekanguru N Valid 29 Missing 0 Mean 88.17 Std. Error of Mean .794 Median 88.00 Mode 88 Std. Deviation 4.277 Variance 18.291 Skewness .387 Std. Error of Skewness .434 Range 19 Minimum 79 Maximum 98 Sum 2557 Implementasi_tematik_jumlahrekanguru Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 79 1 3.4 3.4 3.4 83 2 6.9 6.9 10.3 84 3 10.3 10.3 20.7

(296) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 276 85 3 10.3 10.3 31.0 86 1 3.4 3.4 34.5 87 2 6.9 6.9 41.4 88 5 17.2 17.2 58.6 89 2 6.9 6.9 65.5 90 3 10.3 10.3 75.9 91 1 3.4 3.4 79.3 92 3 10.3 10.3 89.7 95 1 3.4 3.4 93.1 97 1 3.4 3.4 96.6 98 1 3.4 3.4 100.0 29 100.0 100.0 Total

(297) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 277 LAMPIRAN 15 Hasil Uji Normalitas Demografi Jumlah Rekan Guru Sedikit Descriptive Statistics N Implementasi_tematik_juml Mean 20 ahrekanguru Std. Deviation 93.95 Minimum 8.016 Maximum 80 109 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi_te matik_jumlahrek anguru N 20 Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean 93.95 Std. Deviation 8.016 Absolute .104 Positive .064 Negative -.104 Kolmogorov-Smirnov Z .465 Asymp. Sig. (2-tailed) .982 a. Test distribution is Normal. P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_5 1 Implementasi_tematik_jumlahr ekanguru Transformation None Non-Seasonal Differencing 0 Seasonal Differencing 0 Length of Seasonal Period No periodicity

(298) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278 Standardization Not applied Distribution Type Normal Location estimated Scale estimated Fractional Rank Estimation Method Blom's Rank Assigned to Ties Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_5 Case Processing Summary Implementasi_te matik_jumlahrek anguru Series or Sequence Length 20 Number of Missing Values in User-Missing 0 the Plot 0 System-Missing The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi_te matik_jumlahrek anguru Normal Distribution Location 93.95 Scale 8.016 The cases are unweighted.

(299) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 279 Histogram Statistics Implementasi_tematik_jumlahrekanguru N Valid Missing 20 0 Mean 93.95 Std. Error of Mean 1.792 Median 94.00 Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness 92 8.016 64.261 -.120 .512 Range 29 Minimum 80 Maximum 109 Sum 1879

(300) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 280 Implementasi_tematik_jumlahrekanguru Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 80 2 10.0 10.0 10.0 83 1 5.0 5.0 15.0 86 1 5.0 5.0 20.0 89 2 10.0 10.0 30.0 92 3 15.0 15.0 45.0 93 1 5.0 5.0 50.0 95 2 10.0 10.0 60.0 96 1 5.0 5.0 65.0 99 2 10.0 10.0 75.0 100 1 5.0 5.0 80.0 102 1 5.0 5.0 85.0 104 2 10.0 10.0 95.0 109 1 5.0 5.0 100.0 Total 20 100.0 100.0

(301) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 281 LAMPIRAN 16 Uji Lavene’s test dan Independent-Sampel T Test Faktor demografi Jumlah Rekan Guru Group Statistics rentang_j umlahrek anguru N Implementasi_tematik_jum 1 lahrekanguru 2 Mean Std. Deviation Std. Error Mean 29 88.17 4.277 .794 20 93.95 8.016 1.792 Independent Samples Test Implementasi_tematik_jumlahrekang uru Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Equal variances Equal variances assumed not assumed 8.658 Sig. .005 T -3.273 -2.947 df 47 26.499 .002 .007 -5.778 -5.778 1.765 1.961 Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval Lower -9.328 -9.804 of the Difference Upper -2.227 -1.751

(302) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 282 Lampiran 17. Tabel Krejcie

(303) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 283 Lampiran 18. Kuesioner Penelitian Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu. Hormat saya, Koordinator peneliti survei Dimas Prasetyo Aji (Phone 087739301502, Email ajidimas56@yahoo.com) Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251. emanuelacatur@gmail.com Phone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

(304) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 284 BAGIAN I. Skala Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataanpernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. Pernyataan Skala 1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 1 2 3 4 5 2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. 1 2 3 4 5 3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. 1 2 3 4 5 4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. 1 2 3 4 5 5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. 1 2 3 4 5 6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. 1 2 3 4 5 7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa) 1 2 3 4 5 8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. 1 2 3 4 5 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 1 2 3 4 5 10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara 1 2 3 4 5

(305) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 285 rutin. 12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 1 2 3 4 5 13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 1 2 3 4 5 14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. 1 2 3 4 5 15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 1 2 3 4 5 17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. 1 2 3 4 5 18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. 1 2 3 4 5 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5 20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. 1 2 3 4 5 21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. 1 2 3 4 5 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 25. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi 1 2 3 4 5

(306) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 286 pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. 26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. 1 2 3 4 5 27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. 1 2 3 4 5 28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. 1 2 3 4 5 Bagian II. Dukungan Administratif pada Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataan-pernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. 29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat. 1 2 3 4 5

(307) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 287 Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini. 35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun. 36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________ 37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun. 38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam. 39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa. 40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini! A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK) B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah) D. Sarjana D2-PGSD E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) F. Master (S2) G. Lainnya 41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.) B. Pegawai Tetap Yayasan C. Pegawai Negeri

(308) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 288 42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang. 43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013? A. Ya B. Tidak ***Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

(309) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 289 Lampiran 19. Contoh Kuesioner yang Sudah diisi

(310) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 290

(311) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 291

(312) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 292

(313) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 293

(314) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 294 Lampiran 20. Data Coding No Nama Sekolah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 SD P 1 SD P 2 SD P 3 SD P 4 SD BT SD BG SD BC 1 SD BC 2 SD TJ SD TB 1 SD TB 2 SD TBH 1 SD TBH 2 SD TBHh 3 SD BB SD TMBI SD BK SD KKK SD PR SD BW SD MRS 1 SD MRS 2 SD NA SD ND Kode guru kelas 1 A.1.1 A.1.2 A.1.3 A.1.4 B.1 C.1 D.1.1 D.1.2 E.1 F.1.1 F.1.2 G.1.1 G.1.2 G.1.3 H.1 I.1 J.1 K.1 L.1 M.1 N.1.1 N.1.2 O.1.1 O.1.2 Kode guru kelas II A.2.1 A.2.2 A.2.3 A.2.4 B.2 C.2 D.2.1 D.2.2 E.2 F.2.1 F.2.2 G.2.1 G.2.2 G.2.3 Guru kelas III A.3.1 A3.2 A.3.2 A.3.4 B.3 C.3 D.3.1 D.3.2 E.3 F.3.1 F.3.2 G.3.1 G.3.2 G.3.3 I.2 J.2 K.2 L.2 M.2 N.2.1 N.2.2 O.2.1 O.2.2 I.3 J.3 K.3 L.3 M.3 N.3.1 N.3.2 O.3.1 O.2.3

(315) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 295 Lampiran 21. Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner Responden Sebar Tidak kembali Ditolak Kembali SD Pangudi Luhur 3 SD BHINNEKA TUNGGAL IKA YOGYAKARTA SD BOPKRI GONDOLAYU 12 12 7 - 5 8 8 1 - 7 6 6 2 - 4 SD BUDYA WACANA 6 - 6 - SD TAMANSISWA JETIS SD TARAKANITA BUMIJO 3 3 - - 3 12 12 - - 12 SD Tumbuh 1 8 8 - 8 - SD Tumbuh 2 8 8 - 8 - SD Tumbuh 3 8 8 3 - 5 SD BOPKRI BINTARAN SD TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN TAMANSISWA SD BOPKRI KARANGWARU 2 SD KRISTEN KALAM KUDUS SD PIRI NITIKAN YOGYAKARTA SD BOPKRI WIROBRAJAN 1 1 - 1 3 3 1 - 2 3 3 - - 3 - 9 - Nama Sekolah 9 3 3 - 3 - 3 3 - - 3 SD MARSUDIRINI 8 8 8 - SD Netral A 7 7 - - 7 SD Netral D 3 3 - - 3 111 96 Jumlah 55

(316)

Dokumen baru

Download (315 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
0
171
Adopsi teknologi informasi dan komunikasi oleh guru dalam inovasi pembelajaran ekonomi Sekolah Menengah Atas di Daerah Istimewa Yogyakarta
0
31
475
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Identitas kebangsaan anak Sekolah Dasar di Yogyakarta - USD Repository
0
0
242
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Tingkat stres kerja guru Sekolah Luar Biasa - USD Repository
0
0
88
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
321
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
333
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru SD Afiliasi Katholik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
284
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
300
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
310
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru Sekolah Dasar afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
300
Show more