Pengembangan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar - USD Repository

Gratis

0
0
234
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM SUB TEMA 4 HIDUP RUKUN DI MASYARAKAT MENGACU KURIKULUM 2013 UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Yovita Irma Wijayanti NIM: 151134075 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus Sahabat yang selalu membimbing dan menemani dalam penyelesaian penelitian ini. Kedua orang tau tercinta Bapak Heribertus Sumarto dan Yustina Puji Lestari yang menjadikanku sebagai orang yang kuat dan memotivasi untuk semakin berproses menjadi lebih baik. Sahabat-sahabat yang selalu membantu dan memotivasi peneliti selama menyelesaikan skripsi ini. Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku Universitas Sanata Dharma. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Ketika kita sedang “diproses”, jangan mencari manusia untuk dapat menolongmu, tapi carilah Allah karea ketika engkau mencari Allah maka Dia akan menjadi pembelamu. Roma 8:31 Hidup ini seperti sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak. Albert Eistein Yakinlah kau bisa dan kau sudah separuh jalan menuju ke sana. Theodore Roosevelt v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 14 Februari 2019 Peneliti Yovita Irma Wijayanti vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yovita Irma Wijayanti Nomor Mahasiswa : 151134075 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Dengan demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 14 Februari 2019 Yang menyatakan Yovita Irma Wijayanti vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM SUB TEMA 4 HIDUP RUKUN DI MASYARAKAT MENGACU KURIKULUM 2013 UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR Yovita Irma Wijayanti Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan yang menunjukkan perlunya contoh perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013. Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan suatu produk berupa perangkat pembelajaran inovatif untuk siswa kelas II Sekolah Dasar mengacu Kurikulum 2013. Peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall. Ada 10 (sepuluh) langkah pengembangan penelitian menurut Borg and Gall namun peneliti membatasi sampai 7 (tujuh) langkah, yaitu 1) potensi dan masalah (wawancara dan observasi), 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain (evaluasi formatif), 5) revisi desain, 6) ujicoba produk (evaluasi sumatif), 7) revisi produk, sampai menghasilkan produk akhir berupa perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013. Berdasarkan hasil validasi yang dilaksanakan oleh dua pakar pembelajaran inovatif dengan menggunakan model quantum learning dan inquiry diperoleh skor rerata yaitu 4,22 dengan kategori “sangat baik”. Sedangkan hasil validasi uji coba yang divalidasi oleh dua orang pelaksanakan Kurikulum 2013, yaitu satu guru kelas II SD dan satu teman sejawat melalui uji coba terbatas, maka diperoleh skor rerata yaitu 4,79 dengan kategori “sangat baik”. Dari keseluruhan pelaksanaan dua validasi, yaitu validasi produk perangkat pembelajaran dan validasi uji coba maka dapat diperoleh skor rerata keseluruhan yaitu 4,50 dengan kategori “sangat baik”. Kata Kunci: Pembelajaran inovatif, perangkat pembelajaran, Kurikulum 2013 viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE DEVELOPMENT OF INNOVATIVE LEARNING DEVICES IN SUB THEME 4 HIDUP RUKUN DI MASYARAKAT REFERRING TO CURRICULUM 2013 FOR GRADE II ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Yovita Irma Wijayanti Sanata Dharma University 2019 This research was conducted based on needs analysis which shows the need for examples of innovative learning devices referring to the Curriculum 2013. The main objective of this research is to produce a product in the form of innovative learning tools for grade II elementary school students referring to the curriculum 2013. The researcher used the research and development steps of Borg and Gall. There are 10 (ten) steps in developing research according to Borg and Gall, but researchers limit to 7 (seven) steps, namely 1) potential and problems (interview and observation), 2) data collection, 3) product design, 4) design validation (evaluation formative), 5) design revisions, 6) product trials (summative evaluation), 7) product revisions, to produce final products in the form of innovative learning devices referring to the Curriculum 2013. Based on the results of the validation carried out by two innovative learning experts using the quantum learning and inquiry models obtained an average score of 4.22 with the category "very good". While the results of the trial validation validated by two people implementing the curriculum 2013, namely one grade II elementary school teacher and one colleague through a limited trial, then obtained a mean score of 4.79 with the category "very good". From the overall implementation of the two validations, namely the validation of learning device products and trial validation, the overall average score of 4.50 can be obtained with the category "very good". Keywords: Innovative learning, learning devices, Curriculum 2013 ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar dapat peneliti selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, peneliti mendapat banyak bantuan, bimbingan dan dukungan dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Maka dari itu, pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi PGSD. 4. Drs. Puji Purnomo, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberi dukungan sehingga peneliti menyelesaikan skripsi ini. 5. Nur Fitriana, M.A., selaku guru kelas II SDN Deresan sebagai validator pakar pembelajara inovatif yang telah memberikan bantuan dalam penelitian ini dengan melakukan validasi produk penelitian dan membantu peneliti dalam melakukan uji coba produk serta memberi nilai uji coba produk. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Widi Susanti, S.Pd., selaku validator pakar pembelajara inovatif yang telah memberikan bantuan dalam penelitian ini dengan melakukan validasi produk penelitian 7. Lucia Andriana., selaku teman sejawat yang telah membantu peneliti dalam melakukan uji coba produk serta memberi nilai uji coba produk. 8. Indah Lestari, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN Deresan yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di SD tersebut. 9. Heribertus Sumarto dan Yustina Puji Lestari selaku orang tua peneliti yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan doa. 10. Marius Wahyu Bagas Putranto dan Adrianus Rehan Juliartono selaku adik peneliti yang telah memberikan dukungan. motivasi, dan doa. 11. Sahabat peneliti yang telah memberikan motivasi, dukungan, dan doa kepada peneliti. 12. Teman-teman mahasiswa payung pembelajaran inovatif yang selalu memberikan bantuan dan motivasi kepada peneliti. 13. Segenap pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih untuk bantuan dan dukungannya. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak keterbatasan dan kekurangan, maka peneliti membutuhkan kritik dan saran dari berbagai pihak. Akhir kata, semoga skripsi ini berguna bagi pihak pembaca. Yogyakarta, 14 Februari 2019 Peneliti Yovita Irma Wijayanti xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI ..................................................................................................................... Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................................ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................................... iv HALAMAN MOTTO ...................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ..............................................................vii PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................vii ABSTRAK .....................................................................................................................viii ABSTRACT ...................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................................xiii DAFTAR TABEL .......................................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................xvii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah .........................................................................................1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................................5 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................................5 D. Manfaat Penelitian .................................................................................................6 E. Definisi Operasional ...............................................................................................6 F. Spesifikasi Produk ..................................................................................................7 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................ 12 A. Kajian Pustaka...................................................................................................... 12 1. Karakteristik Kurikulum SD 2013 ....................................................................12 2. Keterampilan Dasar Abad 21 ...........................................................................19 3. Perangkat Pembelajaran ...................................................................................27 4. Pembelajaran Inovatif.......................................................................................44 B. Penelitian yang Relevan ....................................................................................... 65 C. Kerangka Pikir ..................................................................................................... 69 D. Pertanyaan Penelitian ........................................................................................... 71 BAB III METODE PENELITIAN................................................................................ 72 A. Jenis Penelitian ..................................................................................................... 72 B. Setting Penelitian ................................................................................................. 75 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Prosedur Pengembangan ...................................................................................... 75 D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................................... 78 1. Wawancara .......................................................................................................78 2. Observasi ..........................................................................................................79 3. Kuesioner .........................................................................................................79 E. Uji Coba Terbatas ................................................................................................ 79 1. Subjek Uji Coba Terbatas .................................................................................79 2. Instrumen Penelitian .........................................................................................80 F. Teknik Analisis Data ............................................................................................ 81 1. Data kualitatif ...................................................................................................81 2. Data kuantitatif .................................................................................................82 G. Jadwal Penelitian .................................................................................................. 85 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................................... 86 A. Analisis Kebutuhan .............................................................................................. 86 1. Hasil Wawancara..............................................................................................87 2. Hasil Observasi ................................................................................................94 3. Pembahasan Hasil Wawancara dan Observasi beserta Analisis Kebutuhan .....97 B. Desain Awal Produk............................................................................................. 98 C. Validasi Ahli dan Revisi Produk ........................................................................ 106 1. Data Validasi Pakar Pembelajaran Inovatif ....................................................106 2. Revisi Produk .................................................................................................115 D. Uji Coba Terbatas .............................................................................................. 116 1. Data Uji Coba Terbatas ..................................................................................116 2. Revisi Produk .................................................................................................120 E. Kajian Produk Akhir .......................................................................................... 121 F. Hasil Penelitian dan Pembahasan ....................................................................... 128 1. Hasil Penelitian ..............................................................................................128 2. Pembahasan ....................................................................................................129 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENGEMBANGAN, DAN SARAN . 139 A. Kesimpulan ........................................................................................................ 139 B. Keterbatasan Pengembangan .............................................................................. 140 C. Saran .................................................................................................................. 140 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 141 LAMPIRAN ................................................................................................................. 145 Biodata Peneliti ............................................................................................................ 217 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Konversi Nilai Skala Lima…………………………………..... 82 Tabel 3.2 Konversi Skala Lima dengan Kategori………………………... 84 Tabel 3.3 Jadwal Penelitian…………………………………………....... 85 Tabel 4.1 Komentar dan Saran Pakar Pembelajaran Inovatif beserta Revisi Model Quantum Learning……………………………... 109 Tabel 4.2 Komentar dan Saran Pakar Pembelajaran Inovatif beserta Revisi Model Inquiry…………….…………………………….. Tabel 4.3 112 Komentar Guru SD Kelas II beserta Revisi Model Quantum Learning…………………………………………………......... 118 Tabel 4.4 Komentar Guru SD Kelas II beserta Revisi Model Inquiry…... 119 Tabel 4.5 Komentar Teman Sejawat beserta Revisi Model Quantum Learning…………………………………………………......... 119 Tabel 4.6 Komentar guru SD Kelas II beserta Revisi Model Inquiry......... 119 Tabel 4.7 Rekapitulasi Validasi Pakar Kurikulum SD 2013 dan Pakar Pelaksana Kurikulum SD 2013……………………………….. 129 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Literatur Map………………………………………………. 68 Gambar 2.2 Kerangka Berpikir…………………………………………. Gambar 3.1 Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan menurut 70 Borg dan Gall………………………………………………. 72 Gambar 3.2 Prosedur Pengembangan…………………………………… 76 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara dan Observasi……………………….. 146 Lampiran 2 Laporan Hasil Wawancara dan Observasi ………………….. 149 Lampiran 3 Pernyataan Validasi Produk Perangkat Pembelajaran Inovatif……………………………………………………… 169 Lampiran 4 Pernyataan Validasi Uji Coba Produk Perangkat Pembelajaran Inovatif……………………………………..... 174 Lampiran 5 Hasil Validasi Produk Pakar A (Model Pembelajaran Kuantum)…………………………………………………… 175 Lampiran 6 Hasil Validasi Produk Pakar A (Model Inquiry)……………. 182 Lampiran 7 Hasil Validasi Produk Pakar B (Model Pembelajaran Kuantum)…………………………………………………… 189 Lampiran 8 Hasil Validasi Produk Pakar B (Model Inquiry)…………….. 196 Lampiran 9 Hasil Validasi Uji Coba Guru SD Kelas II (Model Pembelajaran Kuantum)……………………………………. 203 Lampiran 10 Hasil Validasi Uji Coba Guru SD Kelas II (Model Inquiry)… 206 Lampiran 11 Hasil Validasi Uji Coba Teman Sejawat (Model Pembelajaran Kuantum)……………………………………. 209 Lampiran 12 Hasil Validasi Uji Coba Teman Sejawat (Model Inquiry)…... 211 Lampiran 13 Surat Ijin Penelitian…………………………………………. 213 Lampiran 14 Surat Pernyataan Kepala Sekolah…………………………... 214 Lampiran 15 Dokumentasi Uji Coba Produk……………………………... 217 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia memiliki berbagai standar yang harus dipenuhi agar dapat mewujudkan tujuan dari pendidikan. Salah satunya pada standar pengelolaan yang di dalamnya membahas mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan (Mulyasa, 2017:29). Perancaanaan yang dilakukan salah satunya mengenai kurikulum yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran. Kurikulum adalah rancangan pendidikan yang digunakan untuk mempersiapkan generasi muda bangsa dalam menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang (Sundayana, 2014:22). Kurikulum memiliki peranan penting pada proses pembelajaran dan hasil yang akan diperoleh. Hal itu disebabkan karena kurikulum menyangkut semua kegiatan yang akan dilakukan atau dialami peserta didik dalam setiap perkembangannya, baik secara formal maupun informal dengan tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan pendidikan (Trianto, 2011:103). Kurikulum akan mengalami perkembangan atau perubahan seiring dengan tuntutan zaman. Di Indonesia, pergantian kurikulum telah beberapa kali dilakukan, mulai dari pertama kali munculnya kurikulum yaitu tahun 1947 sampai dengan yang sedang dilaksanakan pada saat ini yaitu Kurikulum 2013. Perubahan kurikulum ini dirancang dengan matang dengan adanya tujuan yaitu untuk membaharui dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar lebih efektif untuk mempersiapkan generasi muda yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 mengimplementasikan kurikulum baru dengan tujuan untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP menjadi Kurikulum 2013 (Kunandar, 2015:21). Pada Kurikulum 2013, khususnya yang berkaitan dengan Sekolah Dasar (SD) pendekatan yang digunakan beserta 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI landasannya menganut pendekatan terintegrasi melalui pendekatan tematik, atau yang biasa disebut tematik integratif (Sundayana, 2014:21). Tematik integratif merupakan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran menjadi suatu tema (Prastowo, 2014:45). Inilah salah satu perubahan Kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya. Selain itu, dalam Kurikulum 2013 lebih menuntut peserta didik untuk mampu mengembangkan tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Peserta didik juga diharapkan dapat aktif selama proses pembelajaran, karena selama proses pembelajaran peserta didik akan dinilai. Penilaian ini dilakukan secara otentik yang menilai tiga aspek, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran dilakukan melalui pengalaman langsung yang dilakukan oleh peserta didik sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Adanya pengalaman tersebut, diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami materi yang dipelajari dan dapat tercapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang demikian, akan menuntut guru untuk mampu memberikan pembelajaran yang inovatif. Penerapan pembelajaran inovatif diharapkan dapat membuat proses pembelajaran menjadi bermakna. Pelaksanaan pembelajaran inovatif harus dipersiapkan terlebih dahulu. Persiapan dilakukan karena program pembelajaran tersebut belum pernah dilakukan atau ada program pembelajaran yang sejenis sedang dijalankan akan tetapi dirubah karena disesuaikan dengan kondisi nyata dalam pembelajaran, sehingga menjadi hal yang baru bagi guru (Suharmanto, 2008:10). Pembelajaran inovatif ditandai dengan adanya penggunaan rancangan pembelajaran baru. Rancangan tersebut berbeda dengan pembelajaran pada umumnya dengan tujuan memberikan pengalaman yang berharga bagi peserta didik. Penggunaan pembelajaran inovatif ini menuntut guru mempersiapkan dengan baik perangkat pembelajaran yang akan digunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan efektif. 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perangkat pembelajaran atau perencanaan pengajaran akan menjadi pedoman bagi guru untuk melakukan proses pembelajaran yang dilakukan. Perencanaan pengajaran adalah langkah awal yang berfungsi untuk memandu guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar peserta didik agar lebih terarah pada tujuan pembelajaran (Majid, 2009:22). Macam-macam perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan yaitu Program Tahunan (prota), Program Semester (prosem), Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada pelaksanaanya, penyusunan perangkat pembelajaran masih menjadi masalah bagi guru. Kondisi ini dibuktikan ketika peneliti melakukan wawancara dan observasi pada bulan April. Wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan 2 (dua) guru kelas II SD di wilayah Sleman dan 1 (satu) guru di wilayah Kota Yogyakarta yang menerapkan Kurikulum 2013. Hasil dari wawancara dan observasi peneliti diperoleh bahwa terdapat 3 (tiga) guru yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran terutama Rencana Pelaksana Pembelajaran (RPP) Kurikulum 2013. Para guru sudah melakukan beberapa kali pelatihan yang dilaksanakan pemerintah untuk mempelajari tentang Kurikulum 2013 yang sedang berlangsung. Namun faktanya penguasaan guru mengenai teori sudah baik, hanya saja dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 masih kurang sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013. Pembelajaran yang dilaksanakan juga kurang bervariatif karena guru kurang menguasai berbagai macam model pembelajaran inovatif. Guru biasanya hanya melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan buku guru yang digunakan sebagai pedoman. Oleh sebab itu, guru menyatakan bahwa masih membutuhkan contoh untuk perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013. Melihat kondisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa guru-guru memerlukan contoh pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang baik mengacu pada Kurikulum SD 2013 khususnya sub tema 4 hidup rukun di masyarakat untuk kelas II. Peneliti memilih kelas II sebagai subjek 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penelitian karena peserta didik kelas II merupakan kelas bawah yang masih membutuhkan penyesuaian dalam belajar dengan adanya penerapan pembelajaran inovatif diharapkan peserta didik memiliki semangat belajar yang meningkat sehingga tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran di Sekolah Dasar. Oleh karena itu, peneliti akan memberikan pembelajaran yang inovatif dengan menerapkan 2 (dua) pembelajaran inovatif dalam pengembangan ini, yaitu quantum learning dan inquiry. Model pembelajaran quantum dalam pandangan DePorter (dalam Sugiyanto, 2010:75) bermakna “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua kehidupan adalah energi”. Artinya dengan model quantum, guru ingin mengubah semua kemampuan dan bakat alamiah peserta didik menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Sedangkan model inquiry menurut Hanafiah (dalam Nurdyansyah dan Fahyuni, 2016: 137), adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk aktif mencari dan menyelidiki segala materi pembelajaran secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai sesuai dengan pemahaman masing-masing peserta didik. Kedua model tersebut disesuaikan dengan karakteristik Kurikulum SD 2013 dan karakteristik peserta didik. Sub tema yang dipilih yaitu sub tema 4 hidup rukun di masyarakat dipilih oleh peneliti agar peserta didik meningkatkan interaksi yang rukun dengan bersosialisasi bersama masyarkat melalui berbagai kegiatan. Dalam sub tema ini akan dibahas mengenai kegiatan yang dapat dilakukan bersama masyarakat dengan rukun. Oleh sebab itu, pemilihan sub tema 4 hidup rukun di masyarakat diharapkan peserta didik dapat menerapkan pembelajaran yang dipelajari di sekolah untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat dengan rukun sebagai makhluk sosial. Contoh pengembangan ini bermanfaat agar guru mendapat wawasan dan referensi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas khususnya menyangkut Kurikulum 2013 dan pembelajaran inovatif. Oleh karena itu, peneliti melakukan 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar”. Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan yaitu Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pengembangan ini akan membantu guru terutama dalam menyusun RPP menggunakan indikator dengan kata kerja operasional berpikir tingkat tinggi, agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tingkat memahami saja, tetapi sampai kepada tingkat mencipta. Selain itu, dalam RPP juga akan menerapkan keterampilan abad 21 yang sangat dibutuhkan untuk menyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman. Maka dari itu, pengembangan perangkat ini akan membantu guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran khususnya RPP yang mengacu pada Kurikulum 2013. B. Rumusan Masalah Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar? C. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut: 1. Bagi Guru Guru mendapatkan referensi untuk mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif khususnya dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu pada kurikulum 2013 kelas II Sekolah Dasar. 2. Bagi Peneliti Peneliti mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam menyusun penelitian, khususnya pada pengembangan dan penerapan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu pada kurikulum 2013 kelas II Sekolah Dasar. 3. Bagi Sekolah Sekolah mendapatkan referensi untuk mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif khususnya dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu pada kurikulum 2013 kelas II Sekolah Dasar, sehingga sekolah mampu memfasilitasi agar dapat mendukung pengembangan perangkat pembelajaran. 4. Bagi Prodi PGSD Prodi PGSD mendapatkan referensi dalam mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat mengacu pada kurikulum 2013 kelas II Sekolah Dasar. E. Definisi Operasional 1. Pembelajaran Inovatif Adalah pembelajaran yang memiliki rancangan langkah-langkah dan metode pembelajaran baru yaitu penerapan model pembelajaran yaitu quantum learning dan inquiry, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta keterampilan belajar abad 21 dengan tujuan meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Perangkat Pembelajaran Adalah alat atau perlengkapan meliputi Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang digunakan pendidik untuk melaksanakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran demi kemajuan hasil belajar peserta didik. 3. Kurikulum 2013 Adalah kurikulum baru yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya dengan tujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan yang diperlukan untuk kehidupan masa kini dan masa depan dengan adanya penerapan dalam proses pembelajaran, yaitu pendekatan saintifik, pembelajaran terpadu, pendidikan karakter, penilaian otentik, berpusat pada siswa, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan berbasis kompetensi. 4. Model Pembelajaran Inquiry Adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran dengan melibatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki untuk aktif mencari tahu atau menyelidiki suatu permasalahan agar menemukan jawaban atau merumuskan hasil penemuan. 5. Model Pembelajaran Quantum Adalah kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi yang bertujuan untuk menggunakan bakat, kemampuan, dan pengalaman yang telah diperoleh untuk dikelola bersama guru dan berbagai sumber pembelajaran agar menjadi ilmu yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. F. Spesifikasi Produk Spesifikasi produk yang akan dihasilkan sebagai berikut. 1. Cover Produk Dalam cover depan produk terdapat logo universitas; judul pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yaitu Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar; gambar yang mencerminkan hidup rukun; nama penulis; keterangan yang berisikan Program Studi yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan yaitu Ilmu Pendidikan, Fakultas yaitu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas yaitu Sanata Dharma Yogyakarta. Cover bagian belakang berisikan sinopsis dan bio data singkat penulis. 2. Ukuran kertas Produk ini dicetak menggunakan kertas ukuran A4 dengan berat 70gr. Sedangkan sampul/cover dicetak dengan kertas ivory 230 supaya terlihat kokoh. 3. Format Tulisan Produk ditulis menggunakan theme font “times new rowman” dengan spasi 1,5 supaya setiap bagian dalam RPP terlihat jelas. 4. Kata Pengantar Dalam kata pengantar berdapat ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa; penjelasan singkat tentang kerangka berpikir seputar pembelajaran inovatif model quantum learning dan inquiry, ucapan terimakasih kepada pihak yang telah bersedia membantu dan terlibat dalam penyusunan produk dan kesediaan penulis untuk menerima kritik dan saran yang terkait dengan produk yang dikembangkan. 5. Daftar Isi Di dalam daftar isi terdapat referensi dari berbagai sumber dan berisikan halaman yang digunakan untuk menyusun perangkat pembelajaran inovatif. 6. Perangkat Pembelajaran Program Tahunan Produk perangkat pembelajaran Program Tahunan disusun untuk kelas II semester gasal dan genap. Program Tahunan disusun untuk tahun ajaran 2018/2019. Komponen yang terdapat di dalam Program Tahunan, yaitu (a) identitas yang meliputi nama satuan pendidikan, kelas, semester, tahun ajaran dan (b) format isian yang meliputi tema, subtema, alokasi waktu (MBE). 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Perangkat Pembelajaran Program Semester Produk perangkat pembelajaran Program Semester disusun untuk kelas II semester gasal. Program Semester disusun untuk tahun ajaran 2018/2019. Komponen dalam Program Semester, yaitu (a) identitas yang berisikan nama satuan pendidikan, kelas/semester, tahun ajaran dan (b) format isian yang meliputi tema, subtema, pembelajaran, alokasi waktu, bulan yang terinci perminggu, keterangan. 8. Perangkat Pembelajaran Silabus Produk perangkat pembelajaran Silabus disusun untuk kelas II semester gasal pada Tema 1 yaitu Hidup Rukun. Silabus disusun untuk tahun ajaran 2018/2019. Komponen pada silabus, yaitu (a) identitas sekolah, (b) kompetensi inti, (c) tema, (d) kompetensi dasar, (e) materi pembelajaran, (f) pembelajaran, (g) penilaian, (h) alokasi waktu, dan (i) sumber belajar. 9. Perangkat Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Produk perangkat pembelajaran RPP disusun untuk kelas II semester gasal pada Tema 1 Hidup Rukun Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat dengan jumlah RPP sebanyak 6 (enam) buah. RPP disusun untuk tahun ajaran 2018/2019. Komponen dalam RPP yaitu (a) identitas RPP, (b) tujuan pembelajaran, (c) Kompetensi Inti (KI), (d) Kompetensi Dasar (KD) dan indikator, (e) materi ajar, (f) pendekatan, model, dan metode, (g) langkah-langkah kegiatan, (h) media, alat/bahan, dan sumber belajar, (i) penilaian, dan (j) lampiran. Di dalam lampiran berisikan yang berisikan video/bacaan literasi, lagu, materi pembelajaran, media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), instrumen penskoran dan rubrik penskoran KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4, lembar refleksi, soal pengayaan dan lembar pengayaan, lembar remedial, dan sintaks model quantum learning dan inquiry. 10. Pendekatan Saintifik Produk Rencana menerapkan Pelaksanaan pendekatan Pembelajaran saintifik dalam disusun pembelajaran dengan yang 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dapat diperoleh dimana serta kapan saja melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. 11. Pembelajaran Terpadu Produk Rencana Pelaksanaan Pembelajran disusun dengan menerapkan pembelajaran terpadu yaitu dengan adanya keterkaitan antarketerampilan dalam mata pelajaran yang dikelompokkan pada sebuah tema. 12. Pendidikan Karakter Proses pembelajaran menerapkan adanya pendidikan karakter yang dilakukan pada pendidikan dasar dengan harapan peserta didik dapat memiliki pengetahuan tentang moral (moral knowing), tindakan moral (moral action), dan perasaan moral (moral feeling). 13. Penilaian Otentik Proses pembelajaran yang berlangsung akan dinilai dengan menggunakan penilaian otentik yang menilai peserta didik dari aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap mulai dari proses hingga hasil ahkir. Penilaian dilengkapi dengan adanya instrumen penilaian yang memuat kisi-kisi soal tertulis, kunci jawaban dari soal tertulis, pedoman penskoran, lembar penskoran unjuk kerja/produk, dan rubrik penskoran. 14. Keterampilan Abad 21 Proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan adanya keterampilan abad 21 yang ditandai dengan penerapan 4C yaitu critical thinking, communication, collaboration, dan creativity. 15. Menerapkan High Order Thinking Skill (HOTS) Indikator mengacu pada kata kerja operasional yang dikembangkan oleh Taksonomi Bloom yang telah direvisi. Kata kerja operasional yang digunakan dalam penyusunan RPP diambil dari kompetensi tingkat tinggi, yaitu pada menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. Penjelasan Pembelajaran Inovatif Penjelasan pembelajaran inovatif terdiri dari hakikat pembelajaran inovatif, prinsip pembelajaran inovatif, keunggulan dari pembelajaran inovatif, dan model pembelajaran inovatif, yaitu quantum learning untuk pembelajaran 1, 4, dan 5 dan inquiry untuk pembelajaran 2, 3, dan 6. 17. RPP yang Dikembangkan sesuai dengan Prisnip Pembelajaran Inovatif RPP yang dikembangkan sesuai dengan prinsip pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik dengan adanya rancangan langkah-langkah dan metode pembelajaran baru dengan tujuan meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Prinsip pada pembelajaran inovatif ini adalah berpusat pada siswa, berbasis masalah dengan tujuan peserta didik dapat memecahkan masalah, terintegrasi antartopik yang sama, berbasis masyarakat, memberikan pilihan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan pilihannya, tersistem dengan pembelajaran yang berurutan, dan berkelanjutan dengan pembahasan yang selanjutnya. 18. Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Penyusunan perangkat pembelajaran memperhatikan ketentuan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang meliputi tanda baca, huruf kapital, nama orang, nama tempat, dan kata penghubung yang digunakan. 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Karakteristik Kurikulum SD 2013 Sebuah proses pembelajaran dijalankan berdasar pada rancangan dalam kurikulum yang digunakan. Pada saat ini, Indonesia menggunakan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Perbedaan yang ada disesuaikan dengan kebutuhan pada masa yang akan datang agar generasi muda dapat menghadapi dengan baik perubahan zaman. Kurikulum 2013 adalah kurikulum baru dengan tujuan untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP menjadi Kurikulum 2013 (Kunandar, 2015:21). Kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan berbangsa, bernegara, dan dalam peradaban dunia (Kunandar, 2015:16). Sejalan dengan pendapat Kunandar, Sundayana (2014:23) juga berpendapat bahwa Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum baru yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP dengan tujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan yang diperlukan untuk kehidupan masa kini dan masa depan. Kurikulum 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2013 memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya, sebagai berikut. a. Pendekatan Pembelajaran Terpadu Kurikulum 2013 menganut pembelajaran terpadu yang berarti semua elemen antarmata pelajaran terpadu melalui keterkaitan oleh pemilahan tema atau keterkaitan antarketerampilan oleh pemilihan tema yang sesuai (Sundayana: 2014:8). Pemaparan dari Sundayana (2014:26) mengenai isi dalam Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar menggunakan tema sebagai perekat berbagai bidang studi yang berfungsi mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam struktur kurikulum SD. Sependapat oleh Murfiah (2017:7) bahwa pembelajaran terpadu memberikan sebuah pemahaman dari beberapa materi menghasilkan sebuah wajah baru yang disebut tema, isitilah tema yang dikembangkan saat ini terutama dalam pendekatan Kurikulum 2013 merupakan perpaduan dari beberapa mata pelajaran. Dari pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu adalah adanya keterkaitan antarketerampilan dalam mata pelajaran yang dikelompokkan pada sebuah tema. b. Pendidikan Karakter Pada Kurikulum 2013, selain mengembangkan 3 aspek, juga perlu mengembangkan pendidikan karakter. Adanya pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013, maka pembelajaran yang ada di dalamnya lebih berorientasi pada peserta didik yang memiliki peluang pada pengembangan karakter peserta didik (Yani dan Ruhimat, 2018:36). Pendapat lain dijabarkan oleh Sani (2014:27) bahwa Kurikulum 2013 menekankan pada pentingnya pembentukan karakter peserta didik di sekolah, terutama pada pendidikan dasar. Sani (2014:28) menambahkan hasil belajar 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang diharapkan dengan melakukan pendidikan karakter di sekolah adalah pengetahuan tentang moral (moral knowing), tindakan moral (moral action), dan perasaan moral (moral feeling). Dari pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter mulai dilakukan pada pendidikan dasar dengan harapan peserta didik dapat memiliki pengetahuan tentang moral (moral knowing), tindakan moral (moral action), dan perasaan moral (moral feeling). c. Pendekatan Saintifik Pada Kurikulum 2013 pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah pendekatan saintifik. Di Indonesia pendekatan saintifik direkomendasikan untuk digunakan pada setiap mata pelajaran dan pada semua jenjang pendidikan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebubayaan No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan (Yani dan Ruhimat, 2018:3). Yani dan Ruhimat (2018:6) menambahkan bahwa dalam pelaksanaannya pendekatan saintifik tidak murni diarahkan untuk mengembangkan kemampuan dalam pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi juga digunakan untuk mengembangkan karakter peserta didik. Daryanto (2014:51) mengemukakan bahwa pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Sependapat dengan Sani (2014:53) bahwa berdasarkan teori Dyer, dapat dikembangkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran yang memiliki komponen proses pembelajaran antara lain: 1) mengamati; 2) menanya; 3) mencoba/ mengumpulkan informasi; 4) menalar/ asosiasi; 5) membentuk jejaring 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (melakukan komunikasi). Berikut ini akan dijelaskan mengenai komponen proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik. 1) Mengamati Yani dan Ruhimat (2018:99) berpendapat bahwa dalam tahapan mengamati guru akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengoptimalkan kelima panca indera yang dimilikinya untuk menangkap dan memahami masalah. 2) Menanya Yani dan Ruhimat (2018:106) berpendapat bahwa tahap menanya adalah suatu tahap lanjutan setelah memahami masalah dan atau mengamati. Kegiatan menanya ini bisa diawali dengan pertanyaan 5W + 1H. 3) Mencoba Tahap mencoba adalah tahapan mencari informasi yang melatih peserta didik agar mampu menggali informasi dan data (Yani dan Ruhimat, 2018:114). Penjelasan lebih lanjut oleh Meliawati (dalam Yani dan Ruhimat, 2018:114) keterampilan yang dikembangkan dalam kegiatan ini adalah pengamatan, penemuan, pengesahan data, dan menjelaskan tentang fakta dan kebenaran. 4) Menalar Tahap menalar/mengasosiasi adalah kegiatan memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dan keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang telah ditemukan (Yani dan Ruhimat, 2018:121) 5) Mengomunikasikan Kegiatan mengomunikasikan adalah tahap terakhir yang berperan untuk menyebarkan hasil dari menalar dari satu 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peserta didik ke peserta didik lainnya (Yani dan Ruhimat, 2018:131) Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik mengarahkan untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dapat diperoleh dimana serta kapan saja melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. d. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thinking Skills) Orientasi pendidikan kurikulum sebelumnya, pendidikan lebih difokuskan pada ranah kognitif yang dikembangkan oleh Bloom, itupun yang dikembangkan hanya pada ranah kognitif tingkat rendah (Mulyasa, 2017:3). Sesuai dengan adanya penerapan keterampilan Abad 21, dijelaskan bahwa pada penerapan keterampilan tersebut harus mampu menerapkan kemampuan berpikir lebih tinggi (High Order Thinking Skills) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan global (Sutanto, 2017:5). Dijelaskan kembali oleh Sutanto (2017:11) bahwa kegiatan pembelajaran tidak sekaligus dilaksanakan, tetapi sedikit demi sedikit ada perubahan dari kapasitas LOTS (Low Order Thinking Skills) yang banyak sedikit demi sedikit dikurangi dan menambah kapasitas HOTS, sehingga pada akhirnya kapasitas HOTS menjadi karakter peserta didik. Sejalan dengan pendapat Sutanto, Saputra (2016:91) juga berpendapat bahwa HOTS merupakan suatu proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi dikembangkan dari beberapa konsep dan metode kognitif dan taksonomi pembelajaran. Kemampuan yang termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi adalah menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran mulai menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan adanya beberapa konsep dan metode yang disesuaikan dengan Taksonomi Bloom dari tingkatan C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, dan C6 mencipta. e. Penilaian Otentik Penilaian otentik adalah jenis penilaian yang mengajak peserta didik untuk menampilkan atau mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang akan dihadapi dalam dunia nyata (Sani, 2016:23). Ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 (dalam Yani dan Ruhimat, 2018:171) tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah memberi rambu-rambu bahwa Kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan penilaian otentik (authentic assessment). Kurikulum 2013 mempertegas adanya perubahan dalam melakukan penilaian, yakni penilaian yang awalnya melalui tes untuk mengukur hasil dari kompetensi pengetahuan saja, diubah menjadi penilaian autentik yang mengukur tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dinilai berdasarkan proses dan hasil akhir yang diperoleh (Kunandar, 2015:36). Dapat disimpulkan bahwa pada Kurikulum 2013 penilaian yang digunakan yaitu penilaian autentik yang menilai dari aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap mulai dari proses hingga hasil ahkir. 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI f. Berpusat pada Siswa Pembelajaran pada Kurikulum 2013 dilakukan dengan peserta didik yang menjadi subjek atau berpusat pada siswa (Sundayana, 2014:27). Dijelaskan pula bahwa kurikulum ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik menempati posisi sentral yang menjadi pusatnya dalam proses pembelajaran dan diharapkan mampu membuat peserta didik menjadi aktif dalam belajar (Kunandar, 2015:28). Pemaparan lain dijelaskan oleh Sani (2016:71) bahwa pembelajaran dalam Kurikulum 2013 lebih difokuskan pada aktivitas peserta didik, sehingga dalam penilaian yang dilakukan diperlukan peserta didik yang aktif agar penilaian yang dihasilkan dapat maksimal. Dari uraian tersebut dijelaskan bahwa selama proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 lebih difokuskan pada peserta didik yang aktif atau menjadi subjek belajar, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. g. Berbasis Kompetensi Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi yang dimaksud menurut Sundayana (2014:25) mencakup kompetensi yang memadukan sikap dan perilaku (karakter), pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum berbasis kompetensi ini dirancang untuk mampu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk bersikap, berpikir, berketerampilan, dan bertindak dengan baik. Pendapat lain dipaparkan oleh Kunandar (2015:26) bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah “outcones-based curriculum” dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan untuk pencapaian kompetensi yang sesuai dengan rumusan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Hal serupa juga diungkapan oleh Mulyasa (2017:68) bahwa Kurikulum 2013 berbasis kompetensi 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang dimaknai sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Dari pernyataan tersebut, dapat disumpulkan bahwa pada Kurikulum 2013 menekankan adanya pengembangan kemampuan dalam ranah afektif, kognitif, dan psikomotor dengan harapan dapat memperoleh penguasaan tertentu setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari Kurikulum 2013, yaitu pembelajaran terpadu, pembentukan karakter siswa, menggunakan pendekatan saintifik, kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), penilaian otentik, berpusat pada siswa, dan berbasis kompetensi. 2. Keterampilan Dasar Abad 21 Dunia pendidikan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman melalui adanya pergantian kurikulum. Pada Kurikulum 2103 ini, siswa harus memulai untuk mengembangkan berbagai macam keterampilan yang ada, tidak hanya keterampilan berpikir saja. Berdasarkan Metiri Group (dalam Dewi, 2015:2) dengan adanya perubahan yang sangat cepat dalam dunia digital, manusia harus mampu bertahan dan berkompetisi dengan perubahan tersebut, maka perlu disiapkan keterampilan-keterampilan baru untuk mendukung perubahan tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, Yani dan Ruhimat (2018:42) menyatakan adanya beberapa keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik di era digital pada abad-21, yaitu soft skill dan hard skill (keterampilan teknis). Soft skill yang perlu dikembangkan adalah kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan problem solving, komunikasi dan kolaborasi. 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sedangkan untuk keterampilan teknis yang perlu dikembangkan yaitu keterampilan berpikir fungsional dan kritis seperti, literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT (Informasi, Komunikasi, dan Teknologi). Sedangkan menurut Sutanto (2017:4) pembelajaran Abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan (HOTS), keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Kecakapan yang dibutuhkan di Abad 21 juga merupakan keterampilan berpikir lebih tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan global. Adanya pembelajaran abad ke-21 ini menjadi inspirasi bagi pengembangan Kurikulum 2013 agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mengembangkan berbagai keterampilan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dunia global yaitu kemampuan literasi, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan penguasan TIK atau teknologi sehingga diharapkan mampu menghadapi tantangan global. a. Karakteristik Pembelajaran Abad 21 Adanya penerapan kurikulum baru, maka terdapat pula perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan dilaksanakanya penerapan kurikulum baru. Kemendikbud memaparkan (dalam Murfiah, 2017:44) bahwa kompetensi lulusan pada setiap jenjang dikembangkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kompetensi Abad 21, persaingan yang semakin mengglobal dan kebutuhan lokal serta nasional Indonesia. Oleh karena itu, guru sebagai pelaksana proses pembelajaran menjadi salah satu pendukung untuk mampu menyiapkan generasi muda di masa yang akan datang. 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pembelajaran yang diberikan oleh guru harus benar-benar dapat dipahami dan bermanfaat oleh peserta didik. Hosnan (2014:85) berpendapat adanya strategi yang harus diimplementasikan di dalam kelas harus mempunyai beberapa karakteritik, antara lain (1) pembelajaran berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreativitas peserta didik; (3) menciptakan suasana yang menarik, menyenangkan, dan bermakna; (4) mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai dan makna; (5) belajar melalui berbuat, yakni peserta didik yang aktif berbuat; (6) menekankan pada penggalian, penemuan, dan penciptaan; serta (7) menciptakan pembelajaran dalam situasi nyata dan konteks sebenarnya. Pendapat tersebut sesuai dengan karakteristik keterampilan Abad 21 menurut Sutanto (2017:22-23) sebagai berikut. 1) Berpusat pada peserta didik; guru harus lebih banyak mendengarkan peserta didik yang saling berinteraksi, berargumen, berdebat, dan berkolaborasi. Fungsi guru dari pengajar berubah dengan sendirinya menjadi fasilitator bagi peserta didik. 2) Mekanisme pembelajaran harus terdapat interaksi multi-arah yang cukup dalam berbagai bentuk komunikasi serta menggunakan berbagai sumber belajar yang kontekstual sesuai dengan materi pembelajaran. Guru harus berusaha menciptakan pembelajaran melalui berbagai pendekatan, metode, atau model pembelajaran, termasuk penggunaan TIK. 3) Peserta didik disarankan untuk lebih aktif dengan cara memberikan berbagai pertanyaan dan melakukan penyelidikan, serta menuangkan ide-ide, baik lisan, tulisan, dan perbuatan. 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4) Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan harus dapat memfasilitasi peserta didik untuk dapat bekerjasama antar sesamanya (kolaboratif dan kooperatif). 5) Semua kompetensi (KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4) harus dibelajarkan secara terintegrasi dalam suatu mata pelajaran, sehingga peserta didik memiliki kompetensi yang utuh. 6) Pembelajaran harus memperhatikan karakteristik tiap individu dengan keunikannya masing-masing, sehingga dalam perencanaan pembelajaran harus sudah diprogramkan pelayanan untuk peserta didik dengan karakteristik masingmasing (normal, remedial, dan pengayaan). 7) Guru harus dapat memotivasi peserta didik untuk memahami interkoneksi antar konsep, baik dalam mata pelajaranya dan antar mata pelajaran, serta aplikasinya dalam dunia nyata. 8) Sesuai dengan karakter pendidikan Abad 21 (4K atau 4C), maka pembelajaran yang dikembangkan harus dapat mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir lebih tinggi (High Order Thinking Skills = HOTS). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakteristik keterampilan Abad 21 yaitu (1) berpusat pada peserta didik, (2) pembelajaran dengan interaksi multi-arah, (3) peserta didik aktif, (4) peserta didik mampu berkolaboratif dan kompetitif, (5) kompetensi utuh, (6) pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik, (7) guru sebagai motivator, dan (8) HOTS. b. Keterampilan Abad 21 Keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran abad ke21 terdapat 4 macam (Yani dan Ruhimat, 2018:47) yaitu critical thinking, communication, collaboration, dan creativity atau 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang biasa disebut 4C. Untuk penjelasan mengenai 4C akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini. 1) Critical Thinking (Berpikir Kritis) Berpikir kritis adalah proses kognitif untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi yang diperoleh. Berpikir kritis dapat dilakukan ketika mendapatkan pertanyaan “bagaimana” atau “mengapa” yang menuntut jawaban dengan penjelasan yang tepat dan jelas. Kemampuan ini dikembangkan karena dapat melatih untuk mampu menyelesaikan masalah, mencari solusi, mempermudah pekerjaan, dan mampu menentukan keterkaitan satu dengan yang lainnya dengan akurat. Pencarian jawaban atau solusi dari permasalahan dilakukan dengan kegiatan pengamatan (observasi), penalaran, analisis, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi (Yani dan Ruhimat, 2018:47). Jika mampu melakukan berpikir kritis, maka dapat pula melakukan kegiatan-kegiatan berikut (Sutanto, 2017:6). a) Menggunakan berbagai tipe pemikiran/penalaran atau alasan dengan tepat dan sesuai situasi. b) Memahami interkoneksi antara satu konsep dengan konsep yang lain dalam suatu mata pelajaran dan keterkaitan antarkonsep antara suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. c) Melakukan penilaian dan menentukan keputusan secara efektif dalam mengolah data dan menggunakan argumen. d) Menguji hasil dan membangun koneksi antara informasi dan argumen. e) Mengolah informasi yang diperoleh melalui simpulan awal dan mengujinya lewat analisis terbaik. 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI f) Membuat solusi dari berbagai permasalahan, baik dengan cara yang umum, maupun dengan caranya sendiri. g) Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan. h) Menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan suatu masalah. Semua itu dapat dilakukan ketika dalam proses pembelajaran peserta didik diajak untuk berpikir kritis yang merupakan salah satu proses dari berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Diharapkan dengan pembiasaan tersebut maka dapat membentuk sistem konseptual yang baik. Pelaksanaan kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan pemberian pengalaman yang berkesan bagi peserta didik yang dapat membantu dalam proses mengingat. Pengalaman yang dilakukan bisa melalui kegiatan berdiskusi yang mampu membuat peserta didik melakukan kegiatan berpikir kritis. 2) Communication (Komunikasi) Raymond Ross (dalam Sutanto, 2017:7) mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator”. Walaupun komunikasi terlihat seperti pembahasan yang sederhana, tetapi semua orang belum tentu mampu berkomunikasi dengan baik. Menurut Yani dan Ruhimat (2018:48) seseorang yang memiliki kompetensi komunikasi dapat dipastikan memiliki pemahaman terhadap proses komunikasi dengan berbagai informasi yang akan disampaikan. Mereka akan mampu melakukan komunikasi 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI baik secara verbal maupun nonverbal secara tepat dan positif terhadap komunikasi dan memahami apa yang harus dilakukan dalam berbagai peristiwa ketika melakukan kegiatan komunikasi. Terdapat beberapa kecakapan komunikasi yang dimaksud di dalam proses pembelajaran menurut Sutanto (2017:7) antara lain sebagai berikut. a) Memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. b) Menggunakan kemampuan untuk mengutarakan ideidenya, baik itu pada saat berdiskusi, di dalam dan di luar kelas, maupun dalam tulisan. c) Menggunakan bahasa lisan yang sesuai konten dan konteks pembicaraan dengan lawan bicara atau yang diajak berkomunikasi. d) Diperlukan juga sikap untuk dapat mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, selain pengetahuan terkait konten dan konteks pembicaraan. e) Menggunakan alur pikir yang logis, terstruktur sesuai dengan kaidah yang berlaku. f) Dalam Abad 21 komunikasi tidak terbatas hanya pada satu bahasa, tetapi kemungkinan multi-bahasa. 3) Colllaboration (Kolaborasi) Kolaborasi menurut pendapat Yani dan Ruhimat (2018:50) adalah bentuk interaksi sosial yaitu aktivitas kerja sama yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami tugas masingmasing. Kegiatan ini melibatkan adanya kerja sama dan pembagian tugas yang harus dikerjakan dengan tanggung jawab, sehingga kegiatan dilakukan secara berkelompok dan 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melibatkan adanya diskusi. Kecakapan yang terkait dengan kolaborasi dalam pembelajaran (Sutanto, 2017:8) antara lain. a) Memiliki kemampuan dalam bekerja sama dalam kelompok. b) Beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab secara produktif dengan yang lain. c) Memiliki empati dan menghormati perspektif berbeda antaranggota kelompok. d) Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam kelompok demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. 4) Creativity (Kreativitas) Kreativitas (Yani d an Ruhimat, 2018:51) adalah proses mental yang merupakan pemikiran berdaya cipta (creative thinking) yang menghasilkan gagasan atau konsep baru, atau memberikan hubungan antara gagasan dengan konsep yang sudah ada sehingga menghasilkan gagasan baru yang usulanya digunakan untuk menghadapi masalah. Menurut Semiawan (dalam Yani dan Ruhimat 2018:51) ciri orang yang kreatif antara lain berani mengambil risiko, mampu mendefinisikan dan merumuskan masalah, berperan dalam mengatasi masalah, toleran dalam menghadapi masalah yang membingungkan, dan menghargai sesama di lingkungan sekitar. Sedangkan menurut Munandar (dalam Yani dan Ruhimat, 2018:52) ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu, ciri kognitif dan ciri nonkognitif. Ciri kognitif menunjukkan orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran, dan elaboratif. Sedangkan non-kognitif menunjukkan sikap kreatif, motivasi, dan kepribadian. Beberapa kecakapan terkait kreativitas menurut Sutanto (2017:8) yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut. 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a) Memiliki kemampuan dalam mengembangkan, melaksanakan dan menyampaikan gagasan-gagasan baru secara lisan dan tertulis. b) Bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif yang baru dan berbeda. c) Mampu mengemukakan ide-ide secara konseptual dan praktikal. d) Menggunakan konsep-konsep atau pengetahuanya dalam situasi baru dan berbeda, baik dalam mata pelajaran terkait, antarmata pelajaran, maupun dalam persoalan kontekstual. e) Menggunakan kegagalan sebagai wahana pembelajaran. f) Memiliki kemampuan dalam menciptakan kebaharuan berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki. g) Mampu beradaptasi dalam situasi baru dan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan. Berdasarkan penjelasan di atas, pembelajaran pada abad 21 lebih menekankan pada 4 kompetensi dasar (4C) yaitu berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas agar mampu mengikuti perkembangan zaman. 3. Perangkat Pembelajaran Persiapan dalam pelaksanaan pembelajaran perlu dilaksanakan mulai dari peserta didik sebagai pelaksana proses pembelajaran dan perangkat pembelajaran sebagai pendukung serta pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Persiapan tersebut akan memengaruhi proses pembelajaran yang dilaksanakan dan hasil dari proses pembelajaran. Menurut Zuhdan (dalam Alwi, 2015:70), salah satu kewajiban sebagai seorang guru adalah menyusun perangkat pembelajaran secara lengkap dan sistematis sesuai dengan pedoman yang akan digunakan untuk melaksanakan 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI proses pembelajaran agar berlangsung secara menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hobri (dalam Santi, 2015:85) berpendapat bahwa perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan peserta didik dan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Pendapat lain dijabarkan oleh Prasetyo dkk (3011:16) bahwa perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lebih lanjut dijelaskan oleh Ibrahim (dalam Trianto, 2012:96) bahwa perangkat pembelajaran yang dimaksud bisa berupa buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan instrumen evaluasi atau Tes Hasil Belajar (THB). Sesuai dengan pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan yang digunakan pendidik untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang harus disusun oleh guru sebelum melakukan pembelajaran diantaranya: (1) program tahunan, (2) program semester, (3) silabus, dan (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Kunandar, 2014:3). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016:36) berpendapat bahwa Program Tahunan dipersiapkan dan dikembangkan sebelum tahun pelajaran karena Program Tahunan merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, seperti Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berikut ini dijelaskan mengenai beberapa perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan oleh guru. 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Program Tahunan Perangkat pembelajaran yang pertama kali dibuat yaitu program tahunan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016:36) berpendapat bahwa program tahunan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran secara umum yang memuat pelajaran yang akan dipelajari dengan alokasi waktu satu tahun pembelajaran. Pendapat lain dari Kunandar (2014:3) menyatakan bahwa program tahunan adalah program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan sebagai pedoman bagi pengembangan program-program selanjutnya, seperti program semester, program mingguan, dan program harian, atau program pembelajaran setiap pokok bahasan. Program tahunan ini harus dibuat terlebih dahulu sebagai pedoman dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang lainnya, yaitu program semester, silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa program tahunan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran yang dikembangkan sebagai pedoman untuk pengembangan program-program selanjutnya. Langkah-langkah perancangan program tahunan menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016:36), sebagai berikut. 1) Menelaah tema dan subtema untuk setiap kelas. 2) Menandai hari-hari libur, permulaan tahun pelajaran, minggu efektif pada kalender akademik. Hari-hari libur meliputi: jeda tengah semester, jeda akhir semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, hari libur khusus, dan kegiatan khusus satuan pendidikan. 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3) Menghitung jumlah Minggu Belajar Efektif (MBE) dalam satu tahun. 4) Mendistribusikan alokasi waktu Minggu Belajar Efektif (MBE) ke dalam setiap subtema. Penyusunan program tahunan harus memuat beberapa komponen yang sudah ditentukan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016:36) sebagai berikut. 1) Identitas, yang meliputi satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. 2) Format isian, yang meliputi tema, subtema, dan alokasi waktu (MBE). b. Program Semester Setelah program tahunan disusun, maka selanjutnya dapat menyusun program semester dengan berpedoman pada program tahunan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016:38) berpendapat bahwa program semester adalah penjabaran dari program tahunan selama satu semester pembelajaran. Pendapat lain dari Kunandar (2014:3) menyatakan bahwa program semester adalah program yang berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa program semester adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun berdasarkan program tahunan dengan alokasi waktu satu semester. Berikut ini akan dijabarkan langkah-langkah perancangan program semester menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016:38). 1) Menelaah kalender pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan tingkat satuan pendidikan. 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2) Menandai hari-hari libur, permulaan tahun pelajaran, minggu pembelajaran efektif, dan waktu pembelajaran efektif (per minggu). Hari-hari libur meliputi: jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, hari libur khusus, dan kegiatan khusus satuan pendidikan. 3) Menghitung jumlah Hari Belajar Efektif (HBE) dan Jam Belajar Efektif (JBE) setiap bulan dan semester dalam satu tahun. 4) Menghitung Jumlah Jam Pembelajaran (JP) sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada struktur kurikulum yang berlaku. Jam pelajaran untuk Sekolah Dasar, yaitu 35 menit (1JP). 5) Mendistribusikan alokasi waktu yang disediakan untuk suatu subtema serta mempertimbangkan waktu untuk penilaian serta review materi. Penyusunan program semester harus sesuai dengan komponen yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah komponen yang terdapat dalam program semester menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016: 39). 1) Identitas yang meliputi nama satuan pendidikan, kelas/semester, dan tahun ajaran. 2) Format isian yang meliputi tema, sub tema, pembelajaran, alokasi waktu, bulan yang terinci perminggu, dan keterangan yang diisi kapan pelaksanaan pembelajaran berlangsung. 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Silabus 1) Pengertian Silabus Silabus dapat mulai disusun dengan berpedoman pada program tahunan dan program semester yang telah disusun. Silabus merupakan garis besar dari program pembelajaran yang akan dilaksanakan (Akbar, 2013:7). Yani dan Ruhimat (2018:140) berpendapat bahwa silabus merupakan rencana pelaksanaan pembelajaran yang digunakan untuk satu tahun pelajaran. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses berpendapat bahwa silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pelaksanaan pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Dalam Kurikulum 2013, jenis silabus dibagi menjadi dua yaitu silabus yang dikembangkan di tingkat nasional dan silabus yang dikembangkan oleh guru yang disebut silabus tingkat satuan pendidikan (Yani dan Ruhimat, 2018:140). Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa silabus adalah ringkasan acuan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisikan tentang satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran. 2) Prinsip Penyusunan Silabus Penyusunan silabus dilakukan berdasarkan pada prinsip yang telah ditentukan. Berikut ini akan dijabarkan mengenai prinsip penyusunan silabus menurut Yani dan Ruhimat (2018:140). a) Ilmiah, artinya keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b) Relevan, artinya cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik. c) Sistematis, artinya harus berurutan, saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. d) Konsisten, artinya ajeg antara Kompetensi Dasar, indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian. e) Memadai, artinya cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian Kompetensi Dasar. f) Aktual, artinya harus memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi. g) Fleksibel, artinya mengakomodasi variasi peserta didik, pendidikan, dan dinamika perubahan yang terjadi di sekolah maupun tuntutan masyarakat. h) Menyeluruh, artinya mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor) i) Desentralistik, artinya pengembangan silabus merupakan kewenangan bagi guru dan sekolah masingmasing. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip penyusunan silabus adalah ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual, kontekstual, fleksibel, menyeluruh, dan desentralistik. 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3) Komponen Silabus Penyusunan silabus perlu memerhatikan beberapa komponen yang ada di dalamnya agar sesuai dan dapat mendukung proses pembelajaran. Berikut ini akan dijelaskan mengenai komponen silabus menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016. a) Identitas mata pelajaran (khusus untuk SMP/MTs/ SMPLB/ Paket B dan SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK/ Paket C/Paket C Kejuruan). b) Identitas sekolah, meliputi nama satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. c) Kompetensi Inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. d) Tema (khusus untuk SD/MI/SDLB/Paket A). e) Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun. f) Kompetensi Dasar merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait dengan muatan atau mata pelajaran. g) Materi pembelajaran yang memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan yang ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator. h) Kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. i) Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI j) Sumber belajar yang digunakan berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam silabus terdapat beberapa komponen yaitu identitas mata pelajaran, identitas sekolah, kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, tema, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. d. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pelaksaanaan kegiatan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik sebelum melakukan proses pembelajaran. Salah satu cara persiapan yaitu dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP ini dijabarkan berdasarkan silabus yang mengarah pada kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (Amri, 2013:50). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses berpendapat bahwa RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan selama satu pertemuan atau lebih. Sependapat dengan Daryanto (2014:84) bahwa RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan mengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP ini wajib dibuat oleh semua guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah pedoman yang digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran selama satu pertemuan atau lebih untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam silabus. 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI RPP dipersiapkan dengan baik agar mampu memberikan pembelajaran yang menyenangkan, menantang, memotivasi dalam belajar, mengasah kreativitas dan kemandirian, serta mampu mengembangkan tiga aspek yaitu kognitif, afektif, serta psikomotor. Pembuatan RPP disesuaikan dengan karakteristik siswa supaya siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan pembelajaran menjadi efektif. Oleh sebab itu, pembuatan RPP harus disusun oleh guru itu sendiri yang lebih mengerti kondisi peserta didiknya. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada prinsip penyusunan RPP beserta komponenya adalah sebagai berikut. 1) Prinsip penyusunan RPP Penyusunan RPP disesuaikan dengan prinsip yang ada, sehingga guru tidak bisa membuat RPP tanpa memerhatikan prinsip. Berikut ini Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016 akan menguraikan prinsip dalam penyusunan RPP. a) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan dari peserta didik. b) Partisipasi aktif dari peserta didik. c) Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat dalam belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian. d) Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI e) Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remidial. f) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. g) Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. h) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun RPP harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu: (1) memperhatikan perbedaan individu peserta didik; (2) mendorong partisipasi aktif peserta didik; (3) berpusat pada peserta didik; (4) mengembangkan budaya membaca dan menulis; (5) memberikan umpan balik dan tindak lanjut; (5) keterkaitan dan keterpaduan; (6) mengakomodasi pembelajaran tematikterpadu; dan (7) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. 2) Tahapan Penyusunan RPP Langkah-langkah dalam mempersiapkan perencanaan pembelajaran menurut Sani (2014:285) adalah sebagai berikut. a) Langkah 1: mempelajari SKL, KI, dan KD yang ditetapkan dalam kurikulum. b) Langkah 2: mempelajari karakteristik peserta didik. 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c) Langkah 3: memilih materi ajar. d) Langkah 4: memilih metode dan teknik penilaian. e) Langkah 5: memilih proses instruksional (pendekatan, model, dan metode pembelajaran). f) Langkah 6: menyusun RPP. 3) Komponen RPP RPP dibuat sebagai panduan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. RPP ini disusun untuk dapat dilaksanakan dalam satu kali pembelajaran atau lebih. Komponen RPP menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016 adalah sebagai berikut. a) Identitas sekolah, yaitu nama satuan pendidikan. b) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema. c) Kelas/semester. d) Materi pokok. e) Alokasi waktu yang ditentukan sesuai keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai. f) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. g) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi. h) Materi pembelajaran yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi. i) Metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai. j) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran. k) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. l) Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan melalui 3 (tiga) tahapan, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. m) Penilaian hasil pembelajaran. RPP disusun berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) atau subtema (Yani dan Ruhimat, 2018:147). Kompetensi Dasar menurut Kunandar (2014:26) adalah kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu. Kompetensi Dasar ini digunakan sebagai pedoman dalam menyusun indikator. Indikator menurut Majid (2014:125) adalah ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator pencapaian kompetensi dijabarkan dari kompetensi dasar yang ingin dicapai. Indikator yang dibuat mencakup kompetensi dalam ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Indikator ini digunakan sebagai acuan dalam penilaian pembelajaran (Prastowo, 2015:162). Menurut Sani (2014:287) dalam penyusunan indikator dirumuskan menggunakan kata kerja operasional dalam Taksonomi Bloom. Taksonomi tujuan pendidikan menurut Miller (dalam Endrayanto dan Yustiana, 2014:343) menjadi pedoman bagi guru untuk mengembangkan indikator ketercapaian kompetensi dan mengidentifikasi serta mengklasifikasi 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI seluruh hasil belajar siswa di sekolah. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. a) Aspek Kognitif (Pengetahuan) Anderson (dalam Endrayanto dan Yustiana, 2014:34) merevisi aspek kognitif pada taksonomi bloom, pada bagian ranah pengetahuan diubah menjadi dimensi tersendiri yang disebut dimensi pengetahuan. Dimensi pengetahuan menunjukkan kata benda yang mencerminkan bahan atau materi yang akan dipelajari. Sedangkan dimensi proses kognitif merupakan kata kerja yang mencerminkan aktivitas pembelajaran siswa. (1) Dimensi proses kognitif menunjukkan keterampilan berpikir yang hendak dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Dimensi proses kognitif meliputi, mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. (2) Dimensi pengetahuan, yang terdiri dari 1) pengetahuan faktual, 2) pengetahuan konseptual, 3) pengetahuan prosedural, dan 4) pengetahuan metakognitif. (a) Pengetahuan faktual adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, istilah, dan rincian dari suatu bahan/materi pembelajaran. (b) Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan tentang cara bahwa ide/gagasan dapat diklasifikasi/ dikelompokan, dikategorikan, atau dikembangkan menjadi prinsip, model, atau teori. (c) Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan tentang proses atau prosedur dalam melakukan suatu kegiatan. 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (d) Pengetahuan metakognitif yaitu pengetahuan tentang proses kognitif dan kesadaran diri untuk berpikir secara mandiri. b) Aspek Afektif (Sikap) Aspek sikap atau afektif menurut Krathwohl (dalam Endrayanto dan Yustiana, 2014:48) meliputi kategori menerima, menanggapi atau merespon, menilai atau menghargai, mengorganisasikan, dan karakterisasi menurut nilai. c) Aspek Psikomotorik (Keterampilan) Aspek psikomotorik menurut Endrayanto dan Yustiana (2014:52) merupakan aspek pembelajaran yang melibatkan sistem saraf dan otot, fungsi psikis mulai dari pergerakan refleks yang sederhana sampai yang kompleks, serta kreativitas. Kata kerja operasional dalam aspek keterampilan meliputi meniru, menipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. Setelah indikator disusun, kemudian mulai menyusun tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah rumusan pernyataan spesifik yang menjelaskan tentang apa hasil perubahan yang akan diperoleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dan melalui cara bagaimana proses pembelajaran tersebut dilakukan (Prastowo, 2015:186). Tujuan pembelajaran yang dibuat berkaitan dengan indikator pencapaian kompetensi yang telah ditentukan. Perumusan tujuan pembelajaran menurut Sani (2014:287) harus memperhatikan audiensi (audience) yaitu siswa, tindakan atau perilaku yang dapat diamati dan diukur (behavior), kondisi berupa batasan materi, tempat, bantuan (conditions), dan kriteria kinerja yang diharapkan (degree), yang biasa disingkat A-B-C-D. 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Langkah kegiatan dibagi menjadi tiga, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Berikut ini akan dijelasakan mengenai masingmasing tahapan menurut Sani (2014:281). (1) Kegiatan pendahuluan merupakan aktivitas untuk mengarahkan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Aktivitas tersebut berupa motivasi, apersepsi, orientasi, dan pemberian acuan. Movitasi dilakukan dengan tujuan meningkatkan semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Apersepsi dilakukan untuk memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan dipelajari. Orientasi dimaksudkan untuk memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dipelajari. Pemberi acuan dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. (2) Kegiatan inti merupakan tahapan utama dalam belajar, dimana peserta didik harus aktif mencari dan mengolah informasi Kegiatan untuk yang mengonstruksi dilakukan harus pengetahuannya. sesuai dengan pendekatan, model, dan metode yang telah ditentukan dalam penyusunan RPP. (3) Kegiatan penutup merupakan aktivitas pemantapan untuk penguasaan materi ajar yang telah dipelajari. Kegiatan yang dilakukan berupa pengarahan untuk membuat kesimpulan, refleksi untuk menemukan manfaat pembelajaran, melakukan kegiatan umpan balik, menginformasikan kegiatan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya, pemberian tes atau tugas, arahan 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tindak lanjut, remidial, dan pengayaan. Menurut Kunandar (2014:331) remidial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Sedangkan pengayaan menurut Kunandar (2014:338) adalah pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan dalam proses belajar. Selama melaksanakan kegiatan pembelajaran, peserta didik akan dinilai. Penilaian dilakukan berpedoman pada indikator yang telah dibuat yang kemudian dijabarkan kedalam instrumen (Majid, 2014:132). Metode penilaian yang harus dilakukan di sekolah telah ditetapkan dalam Permendikbud No.23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian yang digunakan harus mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ranah sikap dapat dilakukan dengan observasi, penilaian diri, penilaian antarteman, dan jurnal. Ranah pengetahuan bisa dengan tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Ranah keterampilan bisa dengan kinerja, produk, dan proyek. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen RPP terdiri dari identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, materi pokok, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, langkah-langkah pembelajaran, dan penilaian. 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Pembelajaran Inovatif a. Hakikat Pembelajaran Inovatif Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru harus dipersiapan dan dirancang menarik serta menyenangkan agar peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Dengan demikian, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pelaksanaan pembelajaran agar dapat menjadi menarik dan menyenangkan, maka guru dapat menerapkan adanya pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif terdiri dari dua kata, yaitu pembelajaran dan inovatif. Mulyasa (2016:254) berpendapat bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan inovatif (Mulyasa, 2016:252) merupakan sesuatu yang baru bagi seseorang, sekelompok orang atau bagi masyarakat tertentu. Pendapat lain diutarakan oleh Shoimin (2014:20) merupakan upaya penemuan atau pembaharuan dalam sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik agar lebih efektif dan efesien. Sejalan dengan pendapat Shoimin, Suyatno (2009:6) juga berpendapat bahwa pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dikemas guru atas dorongan gagasan baru untuk melakukan langkah-langkah belajar dengan metode baru sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang memiliki rancangan langkah-langkah dan metode pembelajaran baru dengan tujuan meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik, sehingga kualitas pendidikan menjadi lebih efektif dan efesien. 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Prinsip Pembelajaran Inovatif Guru dalam melaksanakan pembelajaran inovatif harus sesuai dengan prinsip pembelajaran inovatif. Berikut ini akan dijelaskan mengenai prinsip pembelajaran inovatif menurut Suyatno (2009:8). 1) Berpusat pada siswa Berpusat pada siswa mengandung arti bahwa pembelajaran menerapkan strategi pedagogi yang mengorientasikan peserta didik pada pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dunia nyata, dan menyediakan sumber belajar, bimbingan, petunjuk bagi pembelajar ketika mereka mengembangkan pengetahuan tentang materi pelajaran yang dipelajari sekaligus keterampilan dalam memecahkan masalah. 2) Berbasis masalah Dengan pembelajaran yang berbasis masalah, peserta didik akan belajar suatu konsep dan prinsip sekaligus memecahkan masalah. Dengan demikian, tercapailah hasil dari belajar, yaitu jawaban terhadap masalah (produk) dan cara memecahkan masalah (proses). 3) Terintegrasi Dalam inovasi pembelajaran, pendekatan terintegrasi lebih diharapkan dalam pelaksanaan pembelajaran. Pendekatan terintegrasi dilaksanakan dengan memberikan sebuah materi yang memiliki keterkaitan dengan materi yang memiliki topik sama. Pendekatan ini dianggap lebih efektif karena peserta didik akan mempelajari kaitan ilmu yang dipelajari dengan disiplin ilmu lainya. 4) Berbasis masyarakat Berbasis masyarakat memiliki arti dengan mengajak peserta didik untuk mengimplementasikan materi yang telah 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipelajari dari dalam kelas ke konteks masyarakat. Atau bisa juga sebaliknya, mengambil masalah-masalah yang terjadi di masyarakat sebagai bahan untuk belajar keterampilan dan pengetahuan yang lebih dalam yang merupakan proses pembelajaran bermakna. Dengan proses belajar yang demikian, maka peserta didik akan lebih cepat untuk menyimpan materi dalam memorinya jika materi tersebut berbasis pengalaman nyata di masyarakat. 5) Memberikan pilihan Setiap peserta didik memiliki berbagai macam perbedaan dalam hal belajar. Maka, dalam pembelajaran inovatif ini, guru memberikan pilihan kepada peserta didik untuk belajar. Keterampilan psikomotor, keterampilan kognitif, keterampilan sosial, dan keterampilan memecahkan masalah serta sikap memiliki strategi pembelajaran yang berbedabeda untuk mencapai tujuanya. Dengan demikian, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan pilihanya. 6) Tersistem Dalam pembelajaran inovatif, untuk mempelajari materi tertentu harus membutuhkan pengetahuan lain sebagai prasyarat yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mempelajari materi tersebut. Suatu pengetahuan harus dilaksanakan secara berurutan. Setiap langkahnya adalah sebuah prasyarat untuk melanjutkan kelangkah selanjutnya. 7) Berkelanjutan Setiap proses pembelajaran yang dilakukan meletakan dasar bagi pembelajaran berikutnya. Setiap konsep yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya harus dirangkai dengan konsep baru yang diperoleh, sehingga membentuk jalinan 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konsep. Untuk itu, pembelajaran inovatif berorientasi pada pembelajaran yang berkelanjutan sampai pada tingkat kedalaman dan keluasan materi. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip dalam pembelajaran inovatif adalah berpusat pada siswa, berbasis masalah, terintegrasi, berbasis masyarakat, memberikan pilihan, tersistem, dan berkelanjutan. c. Keunggulan Pembelajaran Inovatif Pembelajaran pembelajaran inovatif karena diterapkan memiliki dalam beberapa proses keunggulan berdasarkan pemaparan Uno dan Nurdin (2011:311), yaitu sebagai berikut. 1) Lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. 2) Proses pembelajaran disusun, dirancang, dan dikondisikan untuk peserta didik agar belajar. 3) Pembelajaran aktif yang dilaksanakan oleh guru menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasanya. 4) Pembelajaran yang menyenangkan berkaitan dengan suasana belajar yang menyenangkan. 5) Pembelajaran efektif dengan penggunaan yang digunakan model pembelajaran. 6) Sumber belajar dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan masalah yang sedang dipelajari. 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7) Adanya aktivitas belajar yang dilakukan oleh peserta didik, maka peserta didik dapat menemukan caranya sendiri untuk memperdalam hal-hal yang sedang dipelajari. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inovatif memiliki beberapa keunggulan, yaitu (1) berpusat pada peserta didik, (2) peserta didik dituntut untuk belajar, (3) pembelajaran aktif, (4) menyenangkan, (5) efektif, (6) sumber belajar bervariasi, dan (7) peserta didik dapat menemukan informasi sendiri. d. Berbagai Model Pembelajaran Inovatif yang Digunakan dalam Pengembangan Perangkat Pembelajaran Proses pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada peserta didik selalu dipersiapkan sebaik mungkin. Tujuan jangka panjang dalam kegiatan pembelajaran adalah membantu siswa mencapai kemampuan secara optimal untuk dapat belajar lebih mudah dan efektif di masa datang. Oleh sebab itu, guru perlu memberikan pembelajaran yang bermakna melalui penggunaan model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran menurut Ngalimun (2012:27) adalah suatu perencanaan program pembelajaran atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas disertai dengan menentukan perangkat yang digunakan berupa buku, media, dan program yang mendukung. Sejalan dengan pendapat Ngalimun, Prastowo (2015:246) juga berpendapat bahwa model pembelajaran adalah pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu pembelajaran yang digunakan sebagai pola kegiatan pedoman dalam 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas untuk mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran. Terdapat banyak model pembelajaran yang dikembangkan untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa. Pembelajaran Diantaranya Kooperatif, adalah model Kontekstual, Pembelajaran Quantum, Pembelajaran Inquiry, Pembelajaran Terpadu dan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). Peneliti dalam penelitian ini menggunakan dua model yaitu quantum learning dan inquiry. Pemilihan dua ini disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013. Berikut ini akan dijelaskan mengenai dua model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti. 1) Model Pemebelajaran Quantum (Quantum Learning) a) Pengertian Model Pembelajaran Quatum Model pembelajaran quantum dalam pandangan DePorter (dalam Sugiyanto, 2010:75) bermakna “interaksiinteraksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua kehidupan adalah energi”. Artinya dengan model quantum, guru ingin mengubah semua kemampuan dan bakat alamiah peserta didik menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Sedangkan pendapat Shoimin (2014:138) quantum adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansa yang ada di dalam kegiatan pembelajaran. Dikatakan meriah karena dalam pembelajaran ini mengikutsertakan segala kaitan antara interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan pengetahuan yang dilakukan selama proses pembelajaran. Sependapat dengan DePorter (dalam Hartono, 2014:466) model pembelajaran kuantum merupakan gabungan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar. Strategi pembelajaran yang digunakan pada 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran kuantum ini dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan merujuk pada kealamiahan proses belajar, yaitu mulai dari pengenalan dengan sesuatu yang menarik, menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalaman siswa, memberi kesempatan siswa untuk menunjukan kemampuanya, kegiatan pengulangan untuk memantapkan pengetahuan yang telah dipelajari oleh siswa, sampai akhirnya bermuara pada kegiatan perayaan yang diadakan sebagai bentuk penghargaan pada siswa atas kerja kerasnya dalam belajar. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran quantum adalah kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi yang bertujuan untuk mengubah semua kemampuan, bakat, dan pengalaman awal yang dimiliki oleh peserta didik menjadi ilmu yang akan bermanfaat dalam kehidupan seharai-hari bagi dirinya sendiri dan orang lain. b) Karakteristik Umum Model Pembelajaran Quantum Pembelajaran kuantum memiliki karakteristik umum yang berbeda dengan model pembelajaran lainya. Ngalimun (2012:58) berpendapat terdapat 13 karakteristik model pembelajaran quantum. Berikut akan dijelaskan mengenai karakteristik umum yang terdapat dalam pembelajaran quantum. (1) Pembelajaran berpangkal pada psikologi kognitif yaitu tentang pandangan pembelajaran, belajar, dan pembelajar yang diturunkan dan dikembangkan dari teori kognitif bukan teori fisika. (2) Bersifat humanistis, artinya kesalahpahaman dipandang sebagai hal yang manusiawi dan manusia 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memiliki potensi kemampuan pikir, daya, motivasi, dan sebagainya. Jadi semua yang ada pada diri manusia dilihat dalam perspektif humanistis. (3) Bersifat konstruktivis(tis), karena menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang optimal dan efektif, sehingga memudahkan dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran. (4) Memadukan, menyinergikan, mengolaborasikan potensi dan manusia selaku pembelajar dengan lingkungan sebagai konteks pembelajaran. (5) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, karena pembelajaran kuantum memberikan tekanan pada pentingnya interaksi bermutu dan bermakna. Interaksi yang diharapkan dapat mengubah energi kemampuan pikir dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. (6) Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini berbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk, dan sebagainya agar mendukung pemercepatan pembelajaran. (7) Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi dengan baik agar dapat tercipta proses pembelajaran yang alamiah dan wajar. 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (8) Menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Hal itu dapat diwujudkan dengan mengajak siswa untuk belajar mengenai pengalaman yang pernah dialami guru atau bisa juga dengan belajar mengenai pengalaman yang pernah dialami oleh siswa. Hal itu perlu dilakukan secara seimbang agar pembelajaran dapat tercapai dengan makna dan mutu yang baik. (9) Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran dengan seimbang secara fungsional yang akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi. (10) Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. Maka dari itu, kurikulum harus disusun dengan baik agar dapat mewujudkan kombinasi dari keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. (11) Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Misalnya menanamkan nilai dan keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda telah belajar. Nilai dan keyakinan seperti inilah yang harus dikembangkan dan dimantapkan agar kemungkinan keberhasilan dalam pembelajaran semakin tinggi. (12) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan karena memang perlu disingkirkan penyeragaman gaya belajar di sekolah. Hal itu disebabkan adanya keberagaman dalam pola pikir, maka keseragaman dalam belajar harus dihilangkan, supaya siswa 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sendiri juga dapat menikmati proses pembelajaran sesuai keinginan mereka. (13) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran yang menyebabkan pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal. Berdasarkan pemaparan di atas mengenai karakteristik model pembelajaran quantum, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 13 katakteristik, yaitu (1) berpangkal pada psikologi kognitif, (2) bersifat humanistis, (3) bersifat konstruktivis(tis), (4) memadukan pembelajaran dengan lingkungan, (5) memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, (6) pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi, (7) kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, (8) kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran, (9) memadukan konteks dan isi pembelajaran, (10) memusatkan pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material, (11) nilai dan keyakinan penting dalam proses pembelajaran, (12) mengutamakan keberagaman dan kebebasan, dan (13) mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran. c) Sintaks Model Pembelajaran Quantum Pada pembelajaran (Sugiyanto, 2010:78) kuantum dikenalkan dengan konsep “TANDUR” yang merupakan akronim dari: Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, dan Rayakan. Berikut ini dijelaskan mengenai kerangka perancangan pembelajaran kuantum TANDUR. 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (1) Tumbuhkan Kegiatan awal yang harus dilakukan yaitu membuat suasana yang menumbuhkan dekat minat dan hangat dengan siswa untuk memulai pembelajaran. Bisa dimulai dengan apersepsi, memberikan motivasi untuk menarik perhatian siswa, memfokuskan siswa dengan berbagai cara misalnya penyajian gambar, video, dan cerita menarik atau bebas sesuai kreativitas guru untuk menumbuhkan permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Ketika suasana dan pemikiran siswa sudah masuk kedalam topik pembahasan materi, maka bisa dilanjutnya ketahap selanjutnya. (2) Alami Tahap selanjutnya yaitu dengan memberikan siswa pengalaman belajar, tumbuhkan “kebutuhan untuk mengetahui”. Melalui pengalaman awal pada “tumbuhkan” maka dapat dikaitkan dengan konsep materi yang sudah dipelajari. Tahap ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa dan dikaitan dengan materi yang akan dipelajari. Lalu dapat mulai dengan mengembangkan informasi atau mengumpulkan informasi yang dapat membantu siswa untuk memaknai pengalaman tersebut. Bisa dengan melakukan tanya jawab, pengamatan, dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut membangun keingintahuan siswa, menciptakan pertanyaan- pertanyaan yang membuat mereka penasaran dan mulai memberikan nama pada tahap selanjutnya. 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (3) Namai Pada tahap namai, mulai dengan memberikan “data” untuk menjawab penasaran mengenai permasalahan sebelumnya. Bisa dimulai dengan memberikan konsep, kata kunci, model, rumus, atau strategi atas pengalaman yang telah dilewati. Penamaaan adalah tahap dimana mulai mengenalkan konsep-konsep pokok dari materi pelajaran. Disinilah mulai menciptakan makna dan keterkaitan dalam belajar antara pengalaman awal yang dimiliki dengan materi yang baru saja diterima. Pemberian nama setelah pengamalan akan menjadi sesuatu yang lebih bermakna bagi siswa. mendapatkan informasi, mendapatkan pengalaman Disini selain siswa siswa juga harus yang benar-benar membuat pengetahuan tersebut menjadi berarti dan dilanjutkan ketahap selanjutnya. (4) Demonstrasikan Tahap demosntrasi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendemostrasikan apa yang dipelajari akan menanamkan pengetahuan dan pengalaman dalam memori siswa. Tahap demonstrasi ini dapat dilakukan dengan panyajian hasil pekerjaan di depan kelas, permainan, dan melakukan tanya jawab dengan guru. (5) Ulangi Setelah mengetahui keterkaitan materi dengan pengalaman, maka mulai dengan mengulangi gambaran keseluruhan materi. Ini dapat dilakukan melalui pengulangan pembelajaran dengan teman atau melalui latihan soal yang diberikan guru. Setelah 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI selesai, tetap harus dipastikan bahwa siswa sudah menguasai materi yang telah dipelajari. (6) Rayakan Tahap yang terakhir yaitu dengan memberikan perayaan dari pelaksanaan pembelajaran. Perayaan ini akan menambahkan semangat belajar yang positif. Hal itu akan memperkuat kesuksesan dan memberi motivasi untuk mencobanya berulangulang. Bisa dilakukan dengan tepuk tangan, pemberian pujian, dan bernyanyi bersama. Berdasarkan pemaparan diatas mengenai sintaks model pembelajaran quantum, maka dapat disimpulkan bahwa sintaks model pembelajaran quantum, yaitu “TANDUR” yang artinya (1) tumbuhkan, (2) alami, (3) namai, (4) demonstrasi, (5) ulangi, dan (6) rayakan. d) Kelebihan Model Pembelajaran Quantum Model pembelajaran quantum memiliki delapan kunci keunggulan berdasarkan pemaparan DePorter (dalam Sambi, 2016:371). Berikut ini akan dijelaskan mengenai keunggulan tersebut. (1) Integritas, yaitu bersifat jujur, tulus, dan menyeluruh serta menyelaraskan perilaku dengan nilai-nilai yang diterapkan. (2) Kegagalan merupakan awal dari kesuksesan, artinya dengan memahami bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi untuk sukses. Kegagalan itu tidak ada, tetapi yang ada hasil dan umpan balik. (3) Bicaralah dengan nait baik, yaitu dengan pengertian positif, bertanggung jawab untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus, dan menghidari gosip. 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (4) Hidup saat ini, artinya dengan memusatkan perhatian pada saat sekarang dan memanfaatkan waktu sebaikbaiknya serta mengerjakan setiap tugas sebaik mungkin. (5) Komitmen, artinya dengan memenuhi janji dan kewajiban, melaksanakan visi serta melakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. (6) Tanggung jawab, yaitu bertanggung jawab pada segala tindakan. (7) Sikap luwes atau fleksibel, artinya bersikap terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu memperoleh hasil yang diinginkan. (8) Keseimbangan, artinya menjaga keselarasan pikiran, tubuh dan jiwa serta menyisihkan waktu untuk membangun, memelihara tiga bidang tersebut. Dengan adanya rasa kebersamaan, serta rasa saling memiliki peserta didik akan merasa bahwa mereka adalah bagian terpenting dalam proses pembelajaran. Sepandapat dengan DePorter, Shoimin (2014:145) mengemukakan pembelajaran tujuh quantum. kelebihan Berikut dari akan model dijelaskan kelebihan tersebut. (1) Pembimbingan yang diberikan kepada siswa dilakukan dalam satu saluran pikiran sama. (2) Saat proses pembelajaran, siswa lebih dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting sebagai permasalahan berdasarkan pengalaman, sehingga hal yang penting akan diamati dengan teliti. (3) Gerakan dan proses selama pembelajaran dipertunjukan maka tidak memerlukan keteranganketerangan atau catatan yang banyak. 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (4) Proses pembelajaran lebih nyaman dan menyenangkan. (5) Siswa dirangsang agar aktif mencari, mengamati, dan menyesuaikan antara teori dengan kenyataan kemudian dipraktikan dalam kehidupan. (6) Merangsang guru agar selalu kreatif dalam setiap pembelajaran. (7) Pembelajaran diringkas dan disajikan dengan mudah yang dapat diterima siswa dengan baik. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model quantum learning memiliki beberapa kelebihan, yaitu (1) integritas, (2) kegagalan awal kesuksesan, (3) bicaralah dengan niat baik, (4) hidup saat ini, (5) komitmen, (6) tanggung jawab, (7) fleksibel, dan (8) keseimbangan. 2) Model Pembelajaran Inquiry a) Pengertian Model Pembelajaran Inquiry Model pembelajaran inqury menurut Hanafiah (dalam Nurdyansyah dan Fahyuni, 2016: 137), adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk aktif mencari dan menyelidiki segala materi pembelajaran secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sesuai dengan pemahaman masing-masing peserta didik. Sedangkan pendapat dari Mudlofir dan Rusydiyah (2015:66) pembelajaran inkuiri adalah suatu kegiatan pembelajaran yang selalu melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan yang dimiliki siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu yang ingin dicari berdasarkan materi yang sedang 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipelajari (benda, manusia, atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan penemuanya dengan penuh percaya diri. Pendapat lain dikemukakan oleh Ngalimun (2012:33) pembelajaran inquiry adalah suatu strategi pembelajaran yang mengajak siswa untuk mau menemukan sesuatu dan mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah dalam suatu penyelidikan yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan pemaparan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif mencari tahu atau menyelidiki suatu permasalahan agar dapat menemukan jawaban atau merumuskan hasil penemuan, sehingga mereka memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan berdasarkan hasil dan proses selama melakukan penyelidikan. b) Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Pada model pembelajaran inquiry terdapat berbagai macam tipe. Salah satu tipe dari model pembelajaran inquiry adalah model inquiry terbimbing. Menurut I Ketut Neka (dalam Nurdyansyah dan Fahyuni, 2016: 136) menyatakan model pembelajaran inquiry terbimbing memberikan peluang kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam menemukan dan memanfaatkan sumber belajar yang telah disediakan. Dengan begitu, maka peserta didik dapat memperoleh pengalaman yang lebih bermakna dan akan lebih mudah 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipahami. Akibatnya akan berdampak positif pada hasil belajar yang diperoleh. Sependapat dengan pendapat Nurdyansyah dan Fahyuni, (2016: 137) melalui model pembelajaran inquiry terbimbing guru harus merancang agar pembelajaran dapat melibatkan peserta didik aktif dimana pada proses awal pembelajaran guru memberikan banyak bimbingan kemudian secara teratur guru akan mulai mengurangi frekuensi bimbingan. Dengan demikian, maka peserta didik dapat mulai untuk mencari informasi secara mandiri. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry terbimbing adalah model pembelajaran yang pada awal kegiatan guru akan mendampingi proses pembelajaran, tetapi selanjutnya guru memberikan peluang kepada peserta didik untuk mencari tahu secara mandiri mengenai materi yang sedang dibahas. c) Karakteristik Model Pembelajaran Inquiry Model pembelajaran inquiry memiliki beberapa katakteristik. Menurut pendapat Sanjaya (dalam Nurdyansyah dan Fahyuni, 2016: 141-142), ada beberapa hal yang menjadi karakteristik utama dalam pembelajaran inkuiri, yaitu sebagai berikut. (1) Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan jawaban dari pertanyaan atau permasalahan. Disini siswa tidak hanya menerima materi yang diberikan apa adanya melalui penjelasan guru dalam proses pembelajaran, tetapi siswa berperan untuk 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Hasil materi yang ditemukan digunakan untuk menjawab persoalan yang sedang dialami. (2) Aktivitas yang dilakukan selama proses pembelajaran mengajak siswa untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri. Jawaban dicari berdasarkan berbagai kegiatan, misalnya melalui pengamatan atau diskusi. Jawaban yang diperoleh diharapkan mampu menjawab persoalan atau permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian, metode pembelajaran inkuiri menempatkan siswa sendiri yang menjadi sumber belajar sedangkan guru sebagai fasilitator. (3) Pembelajaran inquiry mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. Selain itu terdapat pendapat lain yang diutarakan oleh Mudlofir dan Rusydiyah (2016:67) bahwa model pembelajaran inquiry memliki tiga karakteristik sebagai berikut. (1) Model pembelajaran inquiry lebih menekankan kepada aktivitas untuk mencari tahu atau menemukan pengetahuan. Maka dari itu, peserta didik ditempatkan sebagai subjek belajar dan guru hanya sebagai fasilitator. 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (2) Aktivitas selama proses pembelajaran diarahkan pada kegiatan mencari tahu dan menemukan jawaban dari permasalahan atau pertanyaan. (3) Tujuan dari adanya model pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara sistematis, logis, kritis, dan analitis. Berdasarkan disimpulkan pendapat bahwa diatas, karakteristik maka dapat dari model pembelajaran inquiry ada tiga yaitu (1) adanya aktivitas mencari tahu dan menemukan jawaban atau pengetahuan sendiri oleh siswa, (2) adanya jawaban yang telah ditemukan untuk menjawab pertanyaan, dan (3) mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis, dan analitis. d) Sintaks Model Pembelajaran Inquiry Sintaks model pembelajaran inquiry menurut Sanjaya (dalam Yani dan Ruhimat 2018: 66) dijelaskan sebagai berikut. (1) Orientasi Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena dan siswa melakukan pengamatan yang bisa memunculkan masalah bagi siswa. Biasanya permasalahan diangkat dari hal-hal yang sederhana dan menarik minat peserta didik untuk mau belajar dan mencari tahu. (2) Merumuskan Masalah Guru membimbing siswa untuk memahami dan menyadari suatu persoalan yang sedang dihadapi dan mulai untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikan. Pertanyaan 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang diberikan menuntut siswa untuk menjawab dengan menggunakan data yang telah diolah sebagai penguat jawaban. (3) Merumuskan Hipotesis Guru mulai melakukan pembahasan dari masalah yang telah diperoleh untuk mendapatkan jawaban sementara atau hipotesis. Adanya hipotesis akan merangsang siswa untuk menguji kebenaran hipotesis yang telah dibuat. Disini peran guru membimbing siswa untuk merencanakan penyelidikan, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kegiatan untuk menguji. (4) Mengumpulkan Data Guru membimbing siswa melaksanakan penyelidikan dan memfasilitasi pengumpulan data. Data yang dikumpulkan digunakan untuk menjawab pertanyaan dari permasalahan yang sedang dibahas. (5) Menguji Hipotesis Guru membantu siswa menganalisis data dengan melakukan kegiatan diskusi untuk menentukan jawaban yang dianggap sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh dari pengumpulan data. Data tersebut dianalisis dengan pengetahuan awal atau hipotesis sementara yang telah dibuat, apakah sesuai dengan hasil yang telah diperoleh atau tidak. (6) Merumuskan Kesimpulan Guru membantu siswa dalam membuat kesimpulan berdasarkan hasil kegiatan. Caranya dengan adanya proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan pengujian hipotesis dan diskusi 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok. Rumusan kesimpulan yang diperoleh siswa disampaikan memberikan kepada penguatan guru dengan dan guru menambah penjelasan apabila dirasa perlu dari hasil yang telah disampaikan supaya hasil yang diperoleh semakin kuat. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa sintaks dalam model pembalajaran inquiry adalah (1) orientasi, (2) merumuskan masalah, (3) merumuskan hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, dan (6) merumuskan kesimpulan. e) Kelebihan Model Pembelajaran Inquiry Model pembelajaran inquiry ini memiliki empat kelebihan menurut Shoimin (2014:86), diantaranya: (1) Dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna karena seluruh aspek dikembangkan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, (2) Siswa dapat belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing. (3) Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang mengutamakan pengalaman dalam belajar, dan (4) Mampu melayani kebutuhan belajar bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Pendapat lain dari Yani dan Ruhimat (2018: 67) mengenai kelebihan dari model pembelajaran inquiry yaitu dapat memperkuat dan mempercayai siswa untuk mampu menemukan teori, kaidah, rumusan, dan prinsip pada materi ketika belajar. Dengan itu maka, siswa juga 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mampu berpikir untuk mencari tahu sendiri jawaban atau permasalahan yang sedang dialami. Kuhlthau (dalam Nurdyansyah dan Fahyuni, 2016: 148) juga berpendapat mengenai kelebihan model pembelajaran inquiry, yaitu sebagai berikut. (1) Peserta didik dapat mengembangkan keterampilan bahasa, membaca dan keterampilan sosial. (2) Peserta didik dapat membangun pemahaman sendiri. (3) Peserta didik mendapatkan kebebasan dalam melakukan penelitian. (4) Peserta didik dapat meningkatkan motivasi belajar dan mengembangkan strategi belajar untuk menyelesaikan masalah. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari model pembelajaran inquiry adalah memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mampu mencari tahu jawaban dan permasalahan dengan mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dengan gaya belajarnya masing-masing. B. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian pengembangan ini dapat dipaparkan sebagai berikut. 1. Baun (2015) melakukan penelitian tentang Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mengacu Kurikulum SD 2013 Pada Subtema Pemanfaatan Energi Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Penelitian ini pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan sehingga dapat membantu perangkat guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang baik mengacu kurikulum SD 2013 terutama dalam mengembangkan penilaian otentik. Berdasarkan validasi dua orang Pakar Kurikulum 2013 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menghasilkan skor 3,62 (baik) dan 3,86 (baik), dua guru kelas IV menghasilkan skor 3,97 (baik) dan skor 4,20 (baik). Perangkat pembelajaran tersebut memperoleh rerata skor 3,91 dan termasuk kategori “baik”. 2. Susilowati (2015) melakukan penelitian mengenai Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terpadu Tipe Threaded untuk Siswa Kelas IV SD Mengacu Kurikulum 2013. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kualitas produk. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu kualitas perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded untuk siswa kelas IV di Sekolah Dasar menurut pakar pembelajaran terpadu (A) termasuk dalam kategori “sangat baik” dengan skor 4,84 dan pakar pembelajaran terpadu (B) memberi skor 4,02 dengan kategori “baik”. Skor tersebut menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas IV Sekolah memiliki kualitas “sangat baik” yang ditinjau dari hasil validasi kualitas perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded. Sedangkan kualitas perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded untuk siswa kelas IV menurut guru sekolah dasar melalui uji coba terbatas. Guru kelas IV SD (A) memberikan skor 4,03 dengan kategori “baik” dan guru kelas IV SD (B) memberikan skor 4,15 dengan kategori “baik”. Skor tersebut menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas IV Sekolah memiliki kualitas “baik” yang ditinjau dari hasil validasi uji coba perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded. 3. Alwi (2013) melakukan penelitian mengenai Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Berbasis Kontekstual pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan perangkat pembelajaran IPA berbasis kontekstual di Sekolah Dasar dan mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual yang dikembangkan peneliti ditinjau dari komponen buku model, komponen buku guru, komponen buku siswa, komponen RPP, dan komponen LKS menurut tim ahli dan validator secara umum berkategori baik. (2) respon siswa terhadap penggunaan perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual menunjukkan presentase rata-rata 93,83% siswa senang terhadap pembelajaran berbasis kontekstual, 96,29% menyatakan bahwa pembelajaran dengan perangkat ini baru bagi mereka. 100% menyatakan berminat untuk mengikuti pembelajaran dengan perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual, 98,77% diantaranya mengerti dan memahami bahasa yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual yang dikembangkan dapat dikatakan efektif terhadap pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Berdasarkan ketiga penelitian tersebut, relevan dengan penelitan yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu pengembangan perangkat pembelajaran. Lebih tepatnya penelitian yang peneliti lakukan adalah pengembangan perangkat pembelajaran inovatif mengacu pada Kurikulum 2013. Peneliti menggunakan ketiga penelitan tersebut sebagai acuan dalam melakukan pengembangan perangkat pembelajaran yaitu menyusun “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar”. 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Literature Map dari ketiga penelitian tersebut pada diliat pada gambar di bawah ini: Baun (2015) “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mengacu Kurikulum SD 2013 Pada Subtema Pemanfaatan Energi Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar” Kualitas perangkat pembelajaran menurut dua pakar Kurikulum 2013 memiliki kualitas “baik” sedangkan menurut dua guru kelas IV SD juga memiliki kualitas “baik” Susilowati (2015) Alwi (2013) “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terpadu Tipe Threaded untuk Siswa Kelas IV SD Mengacu Kurikulum 2013” “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Berbasis Kontekstual pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar” Kualitas perangkat pembelajaran terpadu tipe threaded menurut pakar pembelajaran terpadu memiliki kualitas “sangat baik” sedangkan menurut guru kelas IV SD juga memiliki kualitas “baik”. Perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual berkategori baik dan respon siswa terhadap penggunaan perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual juga sangat baik Wijayanti (2018) “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam SubTema 4 Hidup Rukun di Masyrakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar” Gambar. 2.1 Literature Map 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Kerangka Pikir Pendidikan sangat tergantung pada kurikulum yang digunakan. Kurikulum digunakan sebagai pedoman atau panduan bagaimana guru akan melaksanakan proses pembelajaran. Seiring berubahnya zaman yang semakin maju dan modern, kurikulum juga harus mengalami perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum baru yang sekarang sedang digunakan yaitu Kurikulum 2013. Pelaksanaan Kurikulum 2013 harus dilakukan dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang inovatif. Penggunaan perangkat pembelajaran yang inovatif akan semakin mendukung terlaksananya Kurikulum 2013. Penggunaan ini akan lebih mempermudah pemahaman peserta didik mengenai materi yang akan disampaikan oleh guru. Pembelajaran inovatif ini memang harus dipersiapkan dengan baik sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Persiapan yang dilakukan yaitu dengan menyusun perangkat pembelajaran yang inovatif. Perangkat pembelajaran tersebut berupa Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Salah satu perangkat pembelajaran yang dapat dirancang dengan Pembelajaran Pelaksanaan (RPP) inovatif yaitu Rencana Pelaksanaan dengan pembelajaran menggunakan inovatif dapat Kurikulum dilakukan 2013. dengan penggunaan model pembelajaran yang bervariasi dalam setiap pembelajaran. Beberapa guru Sekolah Dasar yang telah diwawancara oleh peneliti belum menguasai mengenai perangkat pembelajaran inovatif karena penggunaan model pembelajaran kurang bervariasi. Guru memerlukan contoh mengenai perangkat pembelajaran yang inovatif mengacu pada Kurikulum 2013. Adanya fakta tersebut mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan perangkat pembelajaran inovatif mengacu pada Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar. Langkah yang peneliti lakukan yaitu dengan menganalisis kebutuhan, pengembangan produk untuk 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjawab kebutuhan guru yaitu berupa pengembangan perangkat pembelajaran inovatif, validasi produk, validasi produk sebelum diujicobakan, uji coba produk dan evaluasi produk. Kurikulum mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Kurikulum baru yang sekarang digunakan adalah Kurikulum 2013 Pembelajaran inovatif tersusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang inovatif Perlu adanya pembelajaran yang inovatif yang disesuaikan dengan kurikulum 2013 Perangkat pembelajaran yang inovatif yaitu Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mengacu Kurikulum 2013 Perangkat pembelajaran inovatif ditandai dengan penggunaan model pembelajaran yang bervariasi Guru membutuhkan contoh pengembangan perangkat pembelajaran inovatif mengacu pada Kurikulum 2013 Faktanya guru belum menguasai penerapan model pembelajaran yang bervariasi Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 dalam sub tema 4 hidup rukun di masyarakat untuk siswa kelas II Sekolah Dasar Gambar 2.2 Kerangka Berpikir 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan uraian teori diatas maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut. 1a. Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar menurut pakar Kurikulum 2013? b. Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar menurut guru SD berdasarkan hasil uji coba terbatas? 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D). Research and Development menurut Sugiyono (2015:407) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu kemudian diuji keefektifan produk tersebut. Produk yang dikembangkan bermacam-macam, bisa berupa perangkat keras yaitu buku, modul, buku cerita, media pembelajaran, dan bisa juga berupa perangkat lunak yaitu berupa program di dalam komputer. Peneliti menggunakan prosedur pengembangan menurut Borg dan Gall (Sugiyono, 2015:409) yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi massal. Berikut pemaparan mengenai penjelasan pada setiap langkahnya. Potensi dan Masalah Pengumpulan Data Uji Coba Pemakaian Revisi Produk Revisi Produk Desian Produk Uji coba Produk Validasi Desain Revisi Desain Produksi Massal Gambar 3.1 Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan menurut Borg and Gall 1. Potensi dan Masalah Potensi adalah suatu keadaan yang dapat meningkat kualitasnya apabila digunakan atau dikembangkan dengan baik. Sedangkan 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masalah adalah hal yang tidak sesuai dengan rencana atau kondisi awal. Masalah ini dapat dijadikan sebagai sebuah potensi jika dapat diatasi dengan baik. Masalah ini akan diselesaikan dengan penelitian R&D. Pada penelitian R&D ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas agar lebih efektif dan efesien. 2. Mengumpulkan Data Informasi Setelah ditemukan potensi dan masalah maka akan dilanjutkan pengumpulan data. Data atau informasi yang telah diperoleh digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan produk tertentu yang meningkatkan kualitas atau mengatasi masalah yang ada. 3. Desain Produk Data informasi yang diperoleh digunakan peneliti dalam melakukan penelitian dan pengembangan yaitu pembuatan produk baru yang lengkap dengan spesifikasinya dengan harapan dapat meningkatkan kualitas. 4. Validasi Desain Validasi desain adalah proses kegiatan bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap rancangan produk, apakah sudah sesuai dengan kegunaan dan fungsi serta apakah lebih efektif atau tidak. Validasi yang dilakukan ini dikatakan rasional karena validasi ini masih bersifat penilaian yang terbatas pada pemikiran rasional, sehingga belum melakukan penilaian secara langsung atau fakta lapangan. Validasi dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang telah dibuat. 5. Revisi Produk Revisi produk atau perbaikan dilakukan setelah diketahui kekurangan dari produk yang telah dibuat dan divalidasi oleh pakar atau ahli. Adanya kekurangan pada produk bisa berupa kritik dan saran yang diberikan oleh pakar dan harus diperbaiki oleh peneliti. 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perbaikan ini bertujuan agar produk yang dihasilkan menjadi lebih baik sesuai dengan kritik dan saran yang telah diberikan. 6. Uji Coba Produk Pengujian produk dilakukan dengan cara eksperimen untuk mengetahui kualitas produk yang dihasilkan, apakah sudah efektif dan efesien untuk digunakan atau belum. Eksperimen ini juga dilakukan untuk membandingkan keadaan sebelum penggunaan produk dan keadaan setelah menggunakan produk. 7. Revisi Produk Setelah dilakukan pengujian produk yang pertama atau tahap awal, maka peneliti akan mendapatkan hasil apakah produk tersebut perlu direvisi lagi atau tidak. Apabila harus direvisi lagi maka hasil revisi tersebut akan diujicobakan lagi pada siswa secara lebih luas. 8. Uji Coba Pemakaian Setelah produk direvisi lagi, maka selanjutnya produk tersebut akan diujicobakan lagi secara lebih luas. Produk tersebut harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul untuk memperbaiki lebih lanjut. 9. Revisi Produk Revisi ini dilakukan apabila dalam pemakaian produk masih terdapat kekurangan dari yang diharapkan. Pada revisi ini dilakukan dengan adanya evaluasi kinerja terlebih dahulu untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada, sehingga dapat digunakan untuk menyempurnakan produk. 10. Pembuatan Produk Massal Pembuatan produk secara massal ini dilakukan apabila produk tersebut sudah direvisi berdasarkan kekurangan dan diujicobakan berulang kali, sehingga dinyatakan efektif dan efesien serta sudah layak untuk diproduksi secara massal. 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. Setting Penelitian 1. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Deresan yang beralamatkan di Jalan Cempaka CT X, Deresan, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas II SD Negeri Deresan tahun ajaran 2018/2019. 3. Obyek Penelitian Obyek di dalam penelitian ini yaitu pengembangan perangkat pembelajaran inovatif pada tema 1 subtema 4 kelas II SD. 4. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 9 bulan tahun ajaran 2018/2019 yaitu pada bulan April-Januari. C. Prosedur Pengembangan Pada penelitian ini, peneliti menggunakan prosedur pengembangan dari Brog dan Gall. Borg dan Gall (Sugiyono, 2015:408-426) mengemukakan beberapa langkah dalam penelitian dan pengembangan yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi massal. Peneliti tidak mengambil sepuluh langkah dari prosedur pengembangan dari Brog dan Gall, tetapi hanya mengambil menjadi tujuh langkah saja, yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, dan (7) revisi produk. Pembatasan ini dilakukan karena peneliti tidak melakukan produksi massal ke seluruh sekolah dasar. Hal itu sebabkan karena akan membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak. Maka dari itu, dari sepuluh langkah pengembangan, peneliti membatasi menjadi tujuh langkah pengembangan. 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut akan dijelaskan langkah-langkah pengembangan dari Brog dan Gall oleh peneliti: Langkah 1 Potensi dan Masalah Analisis Kebutuhan Wawancara dan Observasi Langkah 2 Hasil Wawancara Pengumpulan Data Hasil Observasi Langkah 3 Desain Produk 1. 2. 3. 4. Membuat Program Tahunan (Prota) Membuat Program Semester (Prosem) Membuat Silabus Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Langkah 5 Langkah 4 Validasi Desain Evaluasi Formatif Revisi Produk (Prota, Prosem, Silabus, RPP) Langkah 7 Revisi Produk (Prota, Prosem, Silabus, RPP) Langkah 6 Uji Coba Produk Terbatas Evaluasi Sumatif Gambar 3.2 Prosedur Pengembangan 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Potensi Masalah Peneliti melakukan analisis masalah di SD melalui wawancara dan observasi di SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan SD Negeri Tegalrejo 3 yang menggunakan Kurikulum 2013. Wawancara dan observasi ini dilakukan untuk mengetahui adanya fakta dan masalah yang terjadi sekolah tersebut. Fakta yang dicari terkait tentang kebutuhan contoh pengembangan perangkat pembelajaran inovatif. 2. Pengumpulan Data/Informasi Peneliti mengumpulkan data atau informasi dengan melakukan observasi dan wawancara terhadap guru kelas II di SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan SD Negeri Tegalrejo 3. Data yang diperoleh akan digunakan untuk membuat desain produk. 3. Desain Produk Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu pada Kurikulum 2013. Langkah-langkahnya sebagai berikut: (1) pembuatan program tahunan, (2) pembuatan program semester, (3) pembuatan silabus, dan (4) pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 4. Validasi Produk Peneliti menggunakan validasi pakar pembelajaran inovatif sebagai pengevaluasi produk yang telah dibuat. Pengembangan perangkat pembelajaran inovatif ini divalidasi oleh 2 (dua) ahli. Validasi ini digunakan untuk mengetahui kelayakan dan kelemahan dari produk yang telah dibuat. Selain itu, validasi ahli juga akan memberikan data berupa kritik dan saran dari produk guna untuk memperbaiki atau melakukan revisi terhadap produk. 5. Revisi Desain Peneliti melakukan revisi produk berdasarkan kekurangan berupa kritik dan saran yang diberikan oleh validator. Revisi dilakukan 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk memperbaiki kekurangan produk agar produk yang dihasilkan dapat mendukung proses uji coba produk. 6. Uji Coba Produk Uji coba produk ini dilakukan di SD Negeri Deresan untuk siswa kelas II dengan jumlah siswa sebanyak 25. Melalui uji coba ini, peneliti melakukan evaluasi dari guru SD kelas II dan teman sejawat. Evaluasi dilakukan dengan memberikan instrumen validasi uji coba produk yang telah disiapkan kepada guru kelas II dan teman sejawat. Berdasarkan evaluasi ini peneliti mengetahui kekurangan berupa kritik dan saran dari produk yang dikembangkan. 7. Revisi Produk Berdasarkan uji coba produk dan evalusi dari pakar validator dan mendapatkan kekurangan dari produk, maka peneliti melakukan revisi terhadap produk tersebut. Revisi ini merupakan revisi akhir yang dilakukan dengan tujuan menyempurnakan produk berdasarkan kekurangan berupa kritik dan saran validator guru kelas II SD Negeri Deresan dan teman sejawat. D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data bisa dilakukan dengan berbagai setting, sumber, dan cara. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik penggumpulan data dengan wawancara, observasi dan kuesioner. 1. Wawancara Arikunto (2012:44) berpendapat bahwa wawancara atau interview adalah cara atau metode yang digunakan untuk memperoleh jawaban melalui kegiatan tanya jawab tentang informasi yang ingin diketahui. Peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas II SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SD Negeri Tegalrejo 3 yang menggunakan Kurikulum 2013. Sebelum melakukan wawancara, peneliti telah menyusun pedoman wawancara. Pedoman ini digunakan untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan analisis kebutuhan guru SD tentang pengembangan perangkat pembelajaran inovatif. 2. Observasi Arikunto (2012:45) berpendapat bahwa observasi atau pengamatan merupakan suatu kegiatan mencari tahu informasi yang dilakukan dengan teknik mengamati atau melihat melalui pencatatan yang sistematis. Peneliti melakukan observasi kepada wali kelas II SD mengenai kegiatan pembelajaran yang berlangsung di SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan SD Negeri Tegalrejo 3. Observasi yang dilakukan oleh peneliti ini berkaitan dengan cara guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan Kurikulum 2013. Hasil dari observasi ini akan digunakan sebagai analisis kebutuhan guru SD tentang pengembangan perangkat pembelajaran inovatif. 3. Kuesioner Arikunto (2012:42) berpendapat bahwa kuesioner merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi untuk menilai sesuatu yang akan diukur. Peneliti melakukan kuesioner untuk menilai kualitas produk yang telah dikembangkan dalam penelitian. Kuesioner ini diberikan kepada 4 (empat) ahli untuk memvalidasi produk yang dikembangkan yaitu 2 (dua) pakar pembelajaran inovatif dan pakar pelaksana Kurikulum 2013. E. Uji Coba Terbatas 1. Subjek Uji Coba Terbatas Subjek uji coba terbatas pada penelitian pengembangan ini adalah semua siswa kelas IIA SD Negeri Deresan yang berjumlah 25 siswa pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Penelitian 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI akan dilaksanakan selama 5 hari pada tanggal 20, 21, 23, 24, dan 25 Agustus 2018. 2. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian (Sanjaya, 2011:83). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan data kualitatif. a. Pedoman Wawancara Pedoman wawancara digunakan sebagai acuan untuk memperoleh informasi mengenai perangkat pembelajaran inovatif yang diketahui dan digunakan oleh guru untuk mendukung proses pembelajaran. Selain itu, peneliti juga ingin mengetahui informasi berkaitan dengan desain produk yang akan dirancang oleh peneliti. Sebelum melakukan wawancara, peneliti membuat kisi-kisi pedoman wawancara yang akan digunakan. b. Lembar Observasi Lembar observasi digunakan untuk memperoleh informasi berkaitan dengan pembelajaran inovatif yang diketahui guru dan cara guru mengajar dengan menggunakan pembelajaran inovatif. Informasi ini digunakan oleh peneliti untuk merancang desain produk pembelajaran inovatif yang akan dikembangkan. Sebelum melakukan observasi, peneliti telah menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan. c. Kuesioner Kuesioner yang digunakan berupa instrumen validasi yang memuat pernyataan untuk memvalidasi produk. Lembar validasi produk menggunakan skala Likert 1 sampai dengan 5. Artinya apabila semakin besar nilainya maka semakin valid pula pernyataan tersebut. Peneliti membuat kuesioner sebanyak 2 (dua), yaitu berupa validasi produk dan validasi uji coba produk. 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Aspek-aspek yang terdapat dalam lembar validasi produk meliputi (1) Program Tahunan, (2) Program Semester, (3) Silabus, (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (5) media, (6) LKPD, dan (7) bahasa. Sedangkan untuk validasi uji coba yang dilaksanakan oleh guru kelas II SD terdapat beberapa komponen, yaitu (1) sesuai dengan makna dan karakteristik model pembelajaran, (2) pembelajaran sesuai dengan sintaks, (3) pendekatan saintifik, (4) keterampilan belajar dasar abad 21, (5) penguasaan materi, (6) guru sebagai motivator dan fasilitator, (7) pembelajaran berpusat pada siswa, (8) media beragam, (9) kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), (10) kegiatan bervariasi, (11) pendidikan karakter, (12) pembelajaran terpadu landai, (13) suasana pembelajaran menyenangkan, dan (14) penilaian autentik. Selain itu validasi juga dilaksanakan oleh teman sejawat dengan beberapa komponen, yaitu (1) pencapaian indikator pembelajaran, (2) siswa terlibat aktif, (3) siswa melaksanakan 5M, (4) siswa senang, (5) siswa asyik dalam pembelajaran, (6) siswa terlibat menggunakan media, (7) siswa memperoleh pengalaman langsung, dan (8) siswa mengembangkan kemampuan 4C. F. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis data kualitatif dan kuantitatif. 1. Data kualitatif Data kualitatif ini berupa komentar yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru SD kelas II untuk menganalisis kebutuhan yang ada. Data kualitatif juga didapat dari kritik dan saran yang dikemukakan oleh ahli atau pakar pembelajaran inovatif yang telah memvalidasi produk penelitian. Hasil kritik dan saran digunakan 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk mengetahui kelayakan produk sebelum diuji coba. Selain itu, data diperoleh dari masukan beberapa kritik dan saran yang diberikan oleh pakar pelaksana Kurikulum 2013 berdasarkan uji coba produk yang telah dilakukan. 2. Data kuantitatif Data kuantitatif merupakan skor validasi yang diberikan oleh pakar pembelajaran inovatif yang memvalidasi produk dan pakar pelaksana Kurikulum 2013 yang memvalidasi uji coba produk. Data yang dianalisis sebagai dasar dari hasil penilaian kuesioner yang telah diberikan dan diisi oleh validator, kemudian diubah menjadi data interval. Skala penilaian terhadap perangkat pembelajaran inovatif yang dikembangkan, yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sangat kurang baik (1). Setelah skor diperoleh dari validator, kemudian peneliti menganalisis rata-rata skor. Berikut ketentuan dalam menghitung rata-rata skor. Rata-rata (x): 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚 𝑠𝑘𝑜𝑟 Skor yang diperoleh kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima menurut Sukardjo (2008:101) sebagai acuan konversi nilai skala lima untuk menilai kualitas produk yang telah dibuat oleh peneliti. Tabel 3.3 Konversi Nilai Skala Lima Interval Skor X > 𝑋̅𝑖 + 1,80Sbi 𝑋̅𝑖 + 0,60Sbi < X ≤ 𝑋̅ 𝑖 +1,80Sbi 𝑋̅𝑖 – 0,60Sbi < X ≤ 𝑋̅𝑖 + 0,60Sbi 𝑋̅𝑖 – 1,80Sbi < X ≤ 𝑋̅𝑖 – 0,60Sbi X < 𝑋̅ 𝑖 – 1,80Sbi Kategori Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan 1 𝑋̅𝑖 (Rerata ideal) = 2 (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) X = skor aktual 1 Sbi (Simpangan baku ideal) = 6 (skor maksimal ideal – skor minimal ideal) Berdasarkan rumus konversi skala lima di atas, maka peneliti menggunakan rumus tersebut untuk memperoleh data kualitatif berdasarkan data kuantitatif. Terdapat ketentuan dalam rumus kualitatif pengembangan yang diterapkan sebagai berikut: Diketahui: Skor maksimal :5 Skor minimal :1 Rerata ideal (𝑋̅𝑖) : Simpangan baku ideal (Sbi) : Ditanyakan: 1 2 1 6 (5+1) = 3 (5-1) = 0,67 Interval skor kategori, yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik. Jawaban: Kategori sangat baik = X > 𝑋̅𝑖 + 1,80Sbi = X > 3 (1,80 . 0,67) = X > 3 + (1,21) = X > 4,21 Kategori baik = 𝑋̅ 𝑖 + 0,60Sbi < X ≤ 𝑋̅𝑖 +1,80Sbi = 3 + (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67) = 3 + (0,40) < X ≤ 3 + (1,21) = 3,40 < X ≤ 4,21 Kategori cukup baik = 𝑋̅ 𝑖 – 0,60Sbi < X ≤ 𝑋̅ 𝑖 + 0,60Sbi = 3 – (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67) = 3 – (0,40) < X ≤ 3 + (0,40) = 2,60 < X ≤ 3,40 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kategori kurang baik = 𝑋̅ 𝑖 – 1,80Sbi < X ≤ 𝑋̅ 𝑖 – 0,60Sbi = 3 – (1,80 . 0,67) < X ≤ 3 – (0,60 . 0,67) = 3 – (1,21) < X ≤ 3 – (0,40) = 1,79 < X ≤ 2,60 Kategori sangat kurang baik = X ≤ 𝑋̅𝑖 – 1,80Sbi = X ≤ 3 – (1,80 . 0,67) = X ≤ 3 – (1,21) = X ≤ 1,79 Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima sebagai berikut: Tabel 3.4 Konversi Skala Lima dengan Kategori Interval Skor X > 4,21 3,40 < X ≤ 4,21 2,60 < X ≤ 3,40 1,79 < X ≤ 2,60 X ≤ 1,79 Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang baik Sangat kurang baik 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI G. Jadwal Penelitian Tabel 3.5 Jadwal Penelitian Jadwal Penelitian Perangkat Pembelajaran Inovatif √ √ √ √ √ Februari 2019 Januari 2018 Agustus 2018 Juli 2018 √ Desember 2018 5. 6. 7. 8. 9. √ November 2018 4. √ Okbober 2018 3. √ September 2018 2. Wawancara dan Observasi pra penelitian Menyusun Proposal Pembuatan produk Validasi pakar pembelajaran inovatif Revisi produk Uji coba produk Revisi Produk Ujian Skripsi Revisi Akhir Juni 2018 1. Kegiatan Mei 2018 No April 2018 Waktu (Bulan) √ √ √ √ √ 85 √ √

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV ini berisi tentang urain hasil penelitian dan pembahasan mengenai perangkat pembelajaran inovatif kelas II SD mengacu Kurikulum 2013. Hasil penelitian dan pembahasan akan diuraikan sebagai berikut. A. Analisis Kebutuhan Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas II SD ini adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang dijelaskan pada bab III, yaitu dengan melakukan wawancara dan observasi. Wawancara dan observasi yang pertama dilakukan dengan ibu F sebagai wali kelas II SDN Deresan yang beralamat di Jalan Cempaka CT X Deresan Catur Tunggal Depok, Sleman pada tanggal 10 April 2018. Wawancara dan observasi yang kedua dilakukan dengan bapak Y sebagai wali kelas II SDN Dayuharjo yang beralamat di Jalan Damai Tambakan Sinduharjo, Sleman pada tanggal 18 April 2018. Sedangkan wawancara dan observasi ketiga dilakukan dengan ibu A sebagai wali kelas II SDN Tegalrejo 3 yang beralamat di Jalan Magelang Jatimulyo Kricak Tegalrejo, Yogyakarta pada tanggal 22 April 2018. Wawancara dan observasi ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui bagaimana pemahaman dan pengimplementasian perangkat pembelajaran inovatif di sekolah tersebut. Setelah mengetahui hasil dari wawancara dan observasi, maka peneliti dapat melakukan pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas II SD. 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Hasil Wawancara Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas II di SDN Deresan, SDN Dayuharjo, dan SDN Tegalrejo 3. Wawancara ini berpedoman pada 22 butir pertanyaan analisis kebutuhan mengenai perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas II SD. Hasil wawancara dengan guru kelas II dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 pada tiga SD akan dijabarkan setiap butir. Butir pertanyaan pertama mengenai penggunaan Kurikulum 2013 di sekolah. Terdapat satu SD yang menggunakan Kurikulum 2013 sejak tahun ajaran 2014/2015. Sedangkan dua SD lainnya menggunakan pada tahun ajaran 2015/2016. Kurikulum 2013 dapat terlaksana dengan baik pada tiga SD hingga sekarang pada tahun ajaran 2018/2019. Butir pertanyaan kedua mengenai keikutsertaan guru dalam kegiatan pelatihan Kurikulum SD 2013. Terdapat satu guru yang mengikuti pelatihan sebanyak tiga kali yang membahas mengenai Kurikulum 2013, perangkat pembelajaran, penilaian, dan proses pembelajaran. Sedangkan dua guru lainnya melaksanakan satu kali pelatihan yang membahas mengenai Kurikulum 2013. Butir pertanyaan ketiga mengenai pemahaman guru terhadap Kurikulum SD 2013. Guru pertama berpendapat bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat membuat pembelajaran menjadi menyenangkan karena proses pembelajaran yang fleksibel. Tetapi masih mengalami kesulitan pada bagian penilaian yang masih dianggap rumit dengan adanya penilaian untuk setiap KD dalam setiap aspek. Guru merasa perlu adanya pelatihan lagi untuk membahas mengenai penilaian. Guru kedua berpendapat bahwa Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Penyempurnaan tersebut diantaranya guru lebih berperan sebagai fasilitator, pendekatan yang digunakan yaitu 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI saintifik, dan adanya pembelajaran terpadu yang memadukan antarmata pelajaran ke dalam satu tema. Sedangkan guru ketiga berpendapat bahwa adanya proses pembelajaran yang menggunakan tema dalam setiap pembelajaran. Materi yang disampaikan lebih jelas dan lebih mudah dipahami oleh peserta didik karena adanya keterkaitan dengan mata pelajaran yang lainnya. Butir pertanyaan keempat mengenai pengetahuan guru terhadap karakteristik Kurikulum SD 2013. Dua guru berpendapat dalam Kurikulum 2013 memiliki karakteristik, yaitu adanya tiga aspek yang harus dikembangkan dan adanya pendidikan karakter. Pada Kurikulum 2013 ada tiga aspek yang harus dikembangkan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor yang harus seimbang dikembangkan dalam proses pembelajaran. Pengembangan tersebut diiringi dengan adanya pendidikan karakter yang disesuaikan dengan materi atau proses pembelajaran. Sedangkan satu guru lainnya berpendapat mengetahui beberapa karakteristik Kurikulum 2013, yaitu mengajak guru dan siswa untuk mampu berpikir kreatif, inovatif, dan diharapkan peserta didik dapat lebih mandiri. Butir pertanyaan kelima mengenai pemahaman guru terkait dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Dua guru mengetahui adanya pendekatan saintifik yang di dalamnya terdapat 5M sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. 5M tersebut mencakup mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Sedangkan satu guru lainnya berpendapat mengetahui adanya pendekatan saintifik, yaitu pendekatan yang berhubungan dengan ilmu kependidikan mengacu pada media visual, teknologi, dan mengikuti perkembangan zaman. Butir pertanyaan keenam mengenai cara guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik. Dua guru melakukan cara yaitu, guru terlebih dahulu melihat silabus yang digunakan sebagai pedoman. Kemudian 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dikembangkan ke dalam materi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Penyesuaian ini melibatkan kondisi lingkungan atau memanfaatkan lingkungan untuk mendukung proses pembelajaran. Diharapkan dengan adanya keterkaitan dengan lingkungan akan semakin mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran karena sudah sesuai dengan kemampuan siswa. Setelah mengetahui keterkaitan lingkungan dengan materi, barulah guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran. Sedangkan satu guru lainnya dengan cara membuat indikator sesuai dengan Kompetensi Dasar dan berhubungan dengan pokok pembelajaran. Para guru di SD Dayuharjo biasanya tidak membuat RPP dan perangkat pembelajaran, karena semua sudah disediakan oleh pusat. Namun saat KTSP semua perangkat pembelajarannya harus dibuat sendiri. Perangkat pembelajaran dari pusat tersebut adalah perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru yang sudah diseleksi perangkat pembelajaran paling baik dan layak digunakan. Perangkat pembelajaran yang sudah dibuat tersebut dapat digunakan selama satu tahun. Butir pertanyaan ketujuh mengenai cara guru menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran. Penyampaian pendidikan karakter dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru disesuaikan dengan Kurikulum 2013 yang digunakan. Pendidikan karakter diberikan ketika proses pembelajaran berlangsung. Ketiga guru memberikan pendidikan karakter dengan pembiasaan hal-hal yang sederhana di sekolah. Misalnya dengan berdoa sebelum memulai suatu kegiatan, jujur, disiplin, menghargai teman, tidak membeda-bedakan antarteman, selalu datang sekolah tepat waktu, dan adanya kerja sama dalam kelompok, maka peserta didik dapat belajar cara menghargai serta mau bekerja sama dengan siapa saja. Cara tersebut secara tidak 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI langsung peserta didik akan mendapatkan dan mengembangkan pendidikan karakter selama proses pembelajaran. Butir pertanyaan kedelapan mengenai penggunaan model pembelajaran yang berbeda dalam RPP yang dibuat. Penggunaan model pembelajaran yang digunakan oleh dua guru selalu dibuat bervariasi dengan tujuan peserta didik dapat menikmati proses pembelajaran. Walaupun hanya 2 (dua) model pembelajaran yang dipahami oleh guru, yaitu cooperative learning dan PBL, tetapi guru selalu membuat proses pembelajaran menjadi bervariasi dengan model yang digunakan. Sedangkan satu guru lainnya pernah mencoba menggunakan model pembelajaran, tetapi karena adanya Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik sudah dianggap cukup untuk melaksanakan proses pembelajaran dan membuat peserta didik lebih aktif, maka guru tidak menggunakan model pembelajaran lagi. Butir pertanyaan kesembilan mengenai pengembangan tujuan pembelajaran yang mengupayakan tercapainya pendidikan karakter. Ketiga guru selalu mengupayakan adanya pengembangan pendidikan karakter dalam setiap proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter selalu diupayakan untuk mengiringi selama proses pembelajaran berlangsung. Terdapat satu guru yang mengupayakan pengembangan pendidikan karakter dalam tujuan pembelajaran. Sedangkan dua guru lainnya, kurang memerhatikan adanya penulisan dalam upaya pengembangan pendidikan karakter. Butir pertanyaan kesepuluh mengenai pengetahuan guru tentang keterampilan yang harus dikuasai pada abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan komunikatif. Ketiga guru sudah mengetahui mengenai keterampilan abad 21. Tetapi dalam penerapan proses pembelajaran terdapat dua guru yang belum maksimal diterapkan dalam setiap proses pembelajaran. Sedangkan satu guru lainnya 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tidak menerapkan karena masih cukup sulit untuk diterapkan di kelas bawah. Butir pertanyaan kesebelas mengenai pembuatan RPP yang sudah dilengkapi dengan perumusan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan abad 21. Terdapat dua guru yang dalam pembuatan RPP dilengkapi dengan perumusan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan abad 21. Sedangkan untuk satu guru lainnya belum dilengkapi. Butir pertanyaan kedua belas mengenai penggunaan metode ceramah dalam proses pembelajaran di kelas. Ketiga guru sudah tidak mendominasi penggunaan metode ceramah. Ceramah hanya digunakan ketika materi yang dianggap perlu dijelaskan dengan menggunakan metode ceramah. Sedangkan selebihnya lebih menggunakan metode lain yang mendukung proses belajar yang berpusat pada peserta didik. Butir pertanyaan ketiga belas mengenai guru yang menggunakan model pembelajaran inovatif yang lainnya. Model pembelajaran inovatif yang biasanya digunakan oleh dua guru yaitu cooperative learning dan PBL. Sedangkan untuk satu guru lainnya tidak menggunakan model pembelajaran inovatif. Butir pertanyaan keempat belas mengenai pengetahuan guru tentang pembelajaran inovatif. Terdapat dua guru yang mengetahui mengenai pembelajaran inovatif, yaitu pembelajaran yang dirancang dengan adanya pembaharuan atau bersifat baru dan berbeda dengan pembelajaran yang sebelumnya dan penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Sedangkan untuk satu guru lainnya masih kurang mengetahui, sehingga dalam proses pembelajaran pun guru juga tidak menerapkan pembelajaran inovatif. Biasanya guru hanya menerapkan pembelajaran sesuai dengan buku guru. 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Butir pertanyaan kelima belas mengenai kesulitan yang dialami guru dalam pembuatan model pembelajaran yang inovatif. Terdapat satu guru yang tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan model pembelajaran inovatif, karena guru telah mendapat banyak inspirasi. Inspirasi diperoleh dari buku, internet dan bahkan guru. Setelah mendapatkan inspirasi, guru tinggal menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sehingga kesulitan hanya dialami ketika penyesuaian model pembelajaran inovatif dengan karakteristik peserta didik. Sedangkan dua guru lainnya mengalami kesulitan ketika perangkat pembelajaran yang digunakan kurang sesuai dengan kondisi nyata. Pada perangkat pembelajaran biasanya diterapkan adanya berpikir tingkat tinggi, padahal peserta didik masih kesulitan untuk berpikir tingkat tinggi, sehingga itulah yang menyebabkan guru kesulitan untuk menyesuaikan. Butir pertanyaan keenam belas mengenai cara guru mengatasi kesulitan dalam pembuatan model pembelajaran inovatif. Kesulitan tersebut diatasi oleh ketiga guru dengan mencari berbagai refernsi mulai dari buku, internet, dan guru agar memperoleh model pembelajaran inovatif. Kemudian model pembelajaran inovtaif yang telah diperoleh disesuaikan dengan karakteristik peserta didik agar dapat benar-benar mampu meningkatkan kualitas hasil belajar. Butir pertanyaan ketujuh belas mengenai tersedianya contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 di sekolah. Terdapat tiga sekolah yang sudah menyediakan contoh mengenai perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Tetapi, dalam pengaplikasiannya guru masih mengalami kesulitan. Butir pertanyaan kedelapan belas mengenai guru yang membutuhkan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 dengan model PBL, inquiry, cooperative learning, quantum learning, dan lain sebagainya. Ketiga guru 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membutuhkan contoh, karena guru hanya mengetahui beberapa model pembelajaran saja. Dengan adanya contoh, maka guru mendapatkan inspirasi mengenai model baru yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Butir pertanyaan kesembilan belas mengenai peserta didik yang merasa bosan atau tidak ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas. Dua guru sering menerapkan pembelajaran inovatif di kelas. Hal itu berdampak positif bagi peserta didik, karena peserta didik merasa senang dan menikmati proses pembelajaran. Bahkan tidak jarang peserta didik ingin mengulangi pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inovatif tersebut untuk diterapkan lagi pada pembelajaran yang akan datang. Sedangkan satu guru merasakan bahwa peserta didik bosan ketika pembelajaran yang sama berulang kali diterapkan. Akhirnya guru harus mengganti dengan pembelajaran yang lainnya. Butir pertanyaan kedua puluh mengenai rencana yang dimiliki guru untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Ketiga guru sangat ingin mengembangkan pembelajaran inovatif, karena peserta didik juga menyukai adanya pembelajaran inovatif ketika proses pembelajaran. Penggunaan pembelajaran inovatif ini juga berdampak pada meningkatnya prestasi peserta didik. Oleh sebab itu, guru mempunyai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Butir pertanyaan kedua puluh satu mengenai pendapat guru tentang pentingnya perangkat pembelajaran inovatif jika diterapkan dalam proses pembelajaran dewasa ini. Ketiga guru berpendapat bahwa perangkat pembelajaran inovatif ini sangat dibutuhkan karena sesuai dengan Kurikulum 2013. Selain itu, karakter peserta didik juga sudah bisa menyesuaikan dengan penggunaan Kurikulum 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2013, salah satu contohnya yaitu peserta didik yang aktif. Maka dari itu, penerapan tersebut dianggap penting karena akan memfasilitasi peserta didik dalam belajar. Butir pertanyaan kedua puluh dua mengenai pengetahuan guru tentang tes jenis belajar menurut Taksonomi Bloom yang direvisi. Ketiga guru sudah mengetahui mengenai Taksonomi Bloom yang telah direvisi. Guru juga sudah megetahui mengenai tentang tes jenis belajar tersebut. Tetapi, terkadang guru masih mengalami kesulitan ketika membuat soal sesuai dengan Taksonomi Bloom yang telah direvisi, terutama untuk kemampuan tingkat tinggi atau HOTS. 2. Hasil Observasi Peneliti melaksanakan observasi dengan 3 (tiga) guru kelas II di SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan SD Negeri Tegalrejo 3. Observasi dilakukan kepada guru dan peserta didik selama melaksanakan proses pembelajaran. Observasi dengan guru berpedoman pada 30 butir pernyataan, sedangkan observasi dengan peserta didik berpedoman pada 10 pertanyaan. Hasil dari observasi tersebut digunakan untuk melakukan analisis kebutuhan perangkat pembelajaran. Berikut ini dijelaskan hasil observasi dengan guru kelas II dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 SD Negeri Deresan, SD Negeri Dayuharjo, dan SD Negeri Tegalrejo 3. Pada proses pembelajaran kegiatan awal, tiga guru tersebut membuka pembelajaran dengan berdoa. Dilanjutkan dua guru mengadakan presensi kepada peserta didik, sedangkan satu guru lainnya tidak melakukan presensi. Ketiga guru menggunakan apersepsi untuk menuju pada materi yang akan diajarkan sebagai pengantar memulai pembelajaran. Tetapi, ketiga guru tidak menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru langsung memberikan motivasi kepada peserta didik. 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kegiatan inti, ketiga guru tidak menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan. Selama proses pembelajaran, guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari. Dua guru juga menggunakan media pembelajaran dan sumber pembelajaran dengan tepat, sedangkan satu guru lainnya tidak. Metode yang digunakan juga sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik. Model yang digunakan oleh dua guru sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik, sedangkan satu guru lainnya kurang sesuai. Selama pembelajaran berlangsung, guru menerapkan 5M pada peserta didik. Tetapi, bahasa yang digunakan oleh dua guru tidak baku, karena lebih menggunakan bahasa sehari-hari, sedangkan satu guru lainnya menggunakan bahasa yang baku. Walaupun begitu, artikulasi dan volume ketiga guru sangat jelas. Pakaian yang digunakan juga rapi dan berwibawa. Guru selalu memusatkan perhatian peserta didik saat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal. Selama proses pembelajaran, terdapat dua guru yang tidak terpaku pada satu tempat, sedangkan untuk satu guru lainnya hanya terpaku pada satu tempat. Pemberian contoh dalam menjelaskan materi disampaikan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Ketika peserta didik mendapat prestasi, guru selalu memberikan apresiasi kepada peserta didik. Sumber pembelajaran yang digunakan oleh satu guru berbasis teknologi, sedangkan untuk dua guru lainnya tidak menggunakan sumber berbasis teknologi. Pengondisian kelas yang dilakukan guru sangat baik. Guru juga selalu menekankan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran. Suasana selama proses pembelajaran sangat menyenangkan dan menarik dilaksanakan oleh satu guru, sedangkan pelaksanaan oleh dua guru lainnya kurang menarik dan menyenangkan. Selama proses pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator. 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kegiatan penutup, guru selalu membuat ringkasan secara lisan dan tertulis. Sumber yang digunakan selama proses pembelajaran tidak ditunjukkan oleh ketiga guru. Refleksi selalu diberikan oleh dua guru yang telah memperoleh pengalaman belajar, sedangkan untuk satu guru lainnya tidak memberikan refleksi. Motivasi diberikan kepada peserta didik yang belum berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran. Evaluasi tidak diberikan oleh ketiga guru kepada peserta didik. Tetapi guru memberikan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang telah disampaikan. Hasil untuk observasi dengan peserta didik pada 3 (tiga) kelas yang berbeda, akan dijelaskan berikut ini. Selama proses pembelajaran, peserta didik selalu berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik juga memberikan umpan balik apersepsi dari guru. Peserta didik selalu memerhatikan guru saat menyampaikan materi pembelajaran. Ketika materi kurang dipahami, peserta didik akan mengajukan pertanyaan kepada guru. Selama ada kegiatan berkelompok, satu kelas mampu bekerja sama dengan baik, sedangkan dua kelas kurang mampu bekerja sama. Kemudian hasil diskusi dapat disampaikan dengan baik oleh satu kelas, sedangkan untuk dua kelas lainnya belum dapat dapat disampaikan dengan baik. Peserta didik selalu antusias selama mengikuti proses pembelajaran. Peserta didik dapat memahami penjelasan yang telah disampaikan guru. Ketika guru merangkum materi yang telah dipelajari, peserta didik akan membantu guru membuat rangkuman, baik secara lisan maupun tertulis. 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Pembahasan Hasil Wawancara dan Observasi beserta Analisis Kebutuhan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dijabarkan diatas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa sekolah sudah sekitar dua tahun menerapkan Kurikulum 2013. Guru juga sudah mengikuti pelatihan mengenai Kurikulum SD 2013. Setelah mengikuti beberapa kali pelatihan, guru memahami mengenai Kurikulum SD 2013 beserta karakteristiknya dan pendekatan saintifik yang terdapat pada Kurikulum 2013. Walaupun guru sudah mengikuti pelatihan, guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013. Kesulitan yang dihadapi adalah ketika merencanakan pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif, merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran yang mengupayakan pendidikan karakter dan keterampilan abad 21. Guru sudah mengetahui mengenai model pembelajaran inovatif, tetapi dalam penerapannya masih mengalami kesulitan. Sedangkan dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru masih kurang memerhatikan menyampaikan tujuan pembelajaran pada awal kegiatan. Model dan metode yang digunakan juga kurang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Maka, suasana pembelajaran di kelas juga kurang menarik dan menyenangkan. Penggunaan sumber belajar hanya terpaku pada buku siswa dan buku guru, sedangkan sumber yang berbasis teknologi masih kurang digunakan. Dari pelaksanaan observasi dengan peserta didik, peneliti mengetahui bahwa peserta didik masih kurang terbiasa dengan adanya kerja sama dengan teman. Selama proses pembelajaran mereka lebih sering belajar secara individu. Oleh sebab itu, peserta didik kurang mampu berdiskusi dalam kelompok. Akibatnya, peserta didik juga belum terbiasa untuk mengomunikasikan hasil diskusi karena peserta didik belum terbiasa dan kurang percaya diri. 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kurikulum 2013 mengharuskan adanya pendidikan karakter dan keterampilan abad 21 dalam proses pembelajaran. Dilengkapi pula dengan penerapan model pembelajaran inovatif yang mampu membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Terdapat banyak model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan untuk mendukung proses pembelajaran. Model pembelajaran tersebut yaitu quantum learning dan inquiry. Guru sudah mengetahui mengenai model pembelajaran inquiry, tetapi dalam penerapannya guru masih mengalami kesulitan. Sedangkan untuk model pembelajaran quantum learning, guru belum mengetahui secara utuh mengenai konsep, karakteristik, dan kelebihan dari model tersebut. Oleh sebab itu, guru membutuhkan perangkat pembelajaran inovatif dengan menggnakan model pembelajaran inovatif quantum learning dan inquiry. Guru memiliki harapan dengan adanya contoh perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013, maka dapat membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran inovatif dan membantu guru dalam memahami model pembelajaran inovatif yang lainnya. B. Desain Awal Produk Pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan pembelajaran inovatif yaitu quantum learning dan inquiry. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti mencoba mengembangkan RPP dengan menerapkan pendekatan saintifik dan menggunakan kata kerja operasional sesuai dengan Taksonomi Bloom. Peneliti menggunakan kata kerja operasional dalam tingkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang sesuai dengan Taksonomi Bloom. Selain itu, peneliti juga menerapkan keterampilan abad 21 dalam pengembangan RPP, yaitu berpikir kritis, berpikir kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Penyusunan yang dilakukan peneliti berpedoman pada buku guru dan buku siswa Kurikulum 2013 untuk kelas II SD edisi revisi 2017. 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perangkat pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti yaitu untuk kelas II Sekolah Dasar Tema 1 Subtema 4 Hidup Rukun di Masyarakat. Peneliti memilih kelas II Sekolah Dasar yang digunakan sebagai subjek penelitian karena peserta didik kelas II merupakan kelas bawah yang masih membutuhkan penyesuaian dalam belajar, sehingga masih membutuhkan bimbingan dan motivasi untuk lebik baik lagi dalam belajar. Tema yang dipilih oleh peneliti yaitu tema 1 hidup rukun karena hidup rukun merupakan masalah yang harus benar-benar ditanamkan kepada peserta didik sekolah dasar sejak dini untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pemilihan subtema 4 yaitu hidup rukun di masyarakat dipilih oleh peneliti agar peserta didik meningkatkan interaksi yang rukun dengan bersosialisasi bersama masyarkat melalui berbagai kegiatan. Dalam sub tema ini akan dibahas mengenai kegiatan yang dapat dilakukan bersama masyarakat dengan rukun. Oleh sebab itu, pemilihan sub tema 4 hidup rukun di masyarakat diharapkan peserta didik dapat menerapkan pembelajaran yang dipelajari di sekolah untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat dengan rukun sebagai makhluk sosial. Langkah awal penyusunan perangkat pembelajaran yaitu menyusun Program Tahunan (prota). Peneliti menyusun prota untuk tahun ajaran 2018/2019. Peneliti menyusun prota dengan cara melihat tema dan subtema dari buku kelas II Kurikulum 2013 edisi revisi 2017. Selanjutnya peneliti menyusun prota berdasarkan komponen yang harus disertakan dalam penyusunan prota. Prota memiliki 2 (dua) komponen, yaitu identitas dan format isian. Pada bagian identitas disertakan satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. Sedangkan di bagian format isian terdapat 8 tema yang terdiri dari 32 subtema dan alokasi waktu. Setiap subtema dilaksanakan dalam satu minggu belajar efektif (MBE). Perangkat pembelajaran kedua yang disusun oleh peneliti yaitu Program Semester (prosem). Prosem yang disusun oleh peneliti hanya untuk semester 1 pada tahun ajaran 2018/2019. Peneliti menyusun prosem berdasarkan prota yang telah dibuat dan buku kelas II Kurikulum 2013 edisi 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI revisi 2017. Selanjutnya peneliti menyusun prosem berdasarkan komponen yang harus disertakan di dalam penyusunan prosem. Peneliti juga menyesuaikan prosem yang disusun dengan kalender pendidikan yang terdapat di sekolah. Prosem memiliki 2 (dua) komponen, yaitu identitas dan format isian. Di dalam identitas terdapat satuan pendidikan, kelas/semester, dan tahun ajaran. Pada bagian format isian terdapat tema, sub tema, pembelajaran, alokasi waktu, bulan yang terinci perminggu, dan keterangan. Peneliti menyusun prosem dengan 4 tema yang terdiri dari 16 subtema yang pada setiap subtema terdapat 6 pembelajaran. Alokasi yang dibutuhkan untuk setiap subtema adalah 30JP. Jadwal masuk sekolah pada tahun ajaran baru dimulai pada tanggal 16 Juli 2018. Sedangkan untuk jadwal akhir belajar untuk semester gasal yaitu pada tanggal 17 November 2018. Hari efektif belajar pada semester 1 terdapat 96 hari dan selebihnya digunakan untuk Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS), hari libur Nasional, dan kegiatan lainnya. Perangkat pembelajaran ketiga yang disusun oleh peneliti yaitu silabus. Silabus yang disusun oleh peneliti hanya pada 1 tema yaitu Hidup Rukun dengan 4 subtema yaitu Hidup Rukun di Rumah, Hidup Rukun di Tempat Bermain, Hidup Rukun di Sekolah, dan Hidup Rukun di Masyarakat. Penyusunan silabus dilakukan dengan pengembangan prosem yang telah dibuat. Peneliti menyusun silabus berdasarkan komponen yang terdapat pada silabus. Pada perangkat pembelajaran Silabus terdapat 9 (sembilan) komponen, yaitu identitas sekolah, kompetensi inti, tema, kompetensi dasar, materi pembelajaran, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Pertama, yaitu identitas sekolah yang terdiri dari nama satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. Kedua, Kompetensi Inti (KI) yang berupa gambaran kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. KI ini terdiri dari 4 (empat), yaitu KI 1 untuk aspek spiritual, KI 2 untuk aspek sosial, KI 3 untuk pengetahuan, dan KI 4 untuk keterampilan. 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ketiga, yaitu tema yang akan dipelajari berdasarkan buku guru dan buku siswa. Keempat, alokasi waktu yang akan digunakan persubtema yaitu 30JP. Kelima, Kompetensi Dasar (KD) yang merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahun, dan keterampilan yang terkait dengan muatan tertentu yang harus dipelajari peserta didik yang pelaksanaannya berdasarkan buku guru dan buku siswa. Keenam, materi pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik. Materi pembelajaran ini ditulis ke dalam pokok pembahasan secara singkat. Ketujuh, kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Kegiatan ini dijabarkan menjadi butir-butir kegiatan pelaksanaan pembelajaran secara singkat. Kedelapan, yaitu penilaian yang disesuaikan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Aspek yang dinilai yaitu mulai dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kesembilan, yaitu sumber belajar yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sumber belajar ini diperoleh dari buku, pengalaman, lingkungan, dan internet. Perangkat pembelajaran keempat yang disusun oleh peneliti yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti menyusun RPP pada tema 1 subtema 4 Hidup Rukun di Masyarakat. Jumlah RPP yang disusun oleh peneliti yaitu sebanyak 6 (enam) buah. Sedangkan untuk model pembelajaran yang diterapkan yaitu model quantum learning dan model inquiry. Model pembelajaran pertama yaitu quantum learning diterapkan oleh peneliti karena sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013. Selain itu, pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik memberikan ruang untuk mengolah pengalaman dan lingkungan yang diperoleh untuk disesuaikan dengan teori dari materi yang sedang pelajari. Kemudian hasil dari pembelajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan peserta didik lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan dan mengetahui manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Model quantum learning diterapkan pada 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran 1, 4, dan 5 karena dalam pembelajaran tersebut materi diberikan dengan bantuan media yang dikaitkan dalam kehidupan seharihari. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan juga diarahkan untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran yang kedua yaitu inquiry diterapkan oleh peneliti karena sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013 yaitu adanya 3 (tiga) aspek yang dikembangkan diantaranya kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu, dalam model pembelajaran inquiry peserta didik tidak dibatasi dalam memperoleh materi yang dipelajari. Peserta didik diberikan kebebasan dalam mencari tahu materi yang dipelajari dengan harapan dapat memberikan pengalaman yang bermakna, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada peserta didik. Guru hanya sebagai motivator dan fasilitator selama pembelajaran berlangsung. Model inquiry diterapkan pada pembelajaran 2, 3, dan 6 karena penerapan media pada pembelajaran tersebut lebih mengarahkan peserta didik untuk aktif mencari dan menemukan teorinya sendiri. Langkah yang dilakukan peneliti untuk menyusun RPP adalah dengan menganalisis Kompetensi dasar (KD) dalam satu semester gasal. Selanjutnya peneliti melakukan pemetaan KD sesuai dengan tema dan subtema yang ada dalam Kurikulum 2013. KD yang telah diperoleh, kemudian diturunkan ke dalam indikator pembelajaran yang ingin dicapai oleh peneliti. Penyusunan indikator pembelajaran dengan cara menggunakan kata kerja operasional dalam Taksonomi Bloom, khususnya dalam tingkatan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Peneliti mulai membuat Rancana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada pemetaan KD dan indikator yang telah disusun. RPP dibuat sebagai rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan selama satu hari penuh. RPP dibuat secara lengkap dengan adanya lampiran penjabaran materi yang akan disampaikan, media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) beserta dengan soal evaluasi, pedoman penilaian, lembar refleksi, soal pengayaan, lembar pengayaan dan lembar remidi. 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik dan keterampilan abad 21. RPP merupakan pedoman yang digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran selama satu pertemuan atau lebih untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam silabus. Peneliti menyusun RPP berdasarkan komponen RPP, yaitu (1) identitas RPP, (2) tujuan pembelajaran, (3) Kompetensi Inti (KI), (4) Kompetensi Dasar (KD) dan indikator, (5) materi ajar, (6) pendekatan, model, dan metode, (7) langkah-langkah kegiatan, (8) media, alat/bahan, dan sumber belajar, (9) penilaian, dan (10) lampiran. Dalam lampiran berisikan video/bacaan literasi, lagu, materi pembelajaran, media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), instrumen penskoran dan rubrik penskoran KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4, lembar refleksi, soal pengayaan dan lembar pengayaan, lembar remedial, dan sintaks model quantum learning dan inquiry. RPP dibuat secara rinci dan mudah diimplementasikan oleh guru. RPP untuk satu hari mengajar dengan alokasi waktu 5JP (5 x 35 menit). Langkah-langkah pembelajaran yang dibuat sesuai dengan langkat-langkah dalam pendekatan saintifik dengan adanya 5M (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan). Penggunaan pendekatan saintifik dikarenakan agar sesuai dengan karakteristik dalam Kurikulum 2013. Selanjutnya pembelajaran yang disusun juga mengarah pada pengembangan keterampilan pada abad 21 yaitu 4C (critical thinking, communication, collaboration, dan creativity). Pengembangan keterampilan abad 21 diterapkan dikarena untuk mempersiapkan generasi yang sesuai dengan perkembangan zaman agar dapat menghadapi perubahan jaman. Kegiatan pembelajaran dibuat secara menarik dengan adanya media yang mendukung proses pembelajaran dan memungkinkan peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, selama proses pembelajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator. Peserta didik diberikan ruang untuk mencari tahu sendiri materi yang dipelajari 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan adanya media sebagai pendukung proses pembelajaran. Selanjutnya guru memberikan penguatan materi yang telah diperoleh peserta didik sekaligus memberikan motivasi. Dengan demikian, pembelajaran yang disusun sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013. RPP dibuat dalam 1 (satu) penggalan. Setiap penggalan berisikan materi pembelajaran yang terpadu antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya. Pelaksanaan tersebut disesuaikan dengan karakteristik Kurikulum 2013 yaitu adanya pembelajaran terpadu yang memadukan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema. Peneliti melengkapi adanya penjabaran materi pada bagian lampiran. Materi yang dijabarkan disesuaikan dengan Kompetensi Dasar (KD) dan indikator ketercapaian pembelajaran. Materi disusun secara ringkas, padat, dan jelas yang mencakup seluruh materi yang akan disampaikan dalam satu hari penuh (5JP). Sumber dari materi ini diperoleh dari pengalaman peserta didik, buku siswa dan buku guru kelas II Kurikulum 2013 edisi revisi 2017 serta internet. Peneliti melengkapi RPP dengan adanya media. Media yang dibuat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Tujuan dari adanya media ini untuk mendukung penyampaian materi agar lebih efektif. Selain itu, adanya media juga dapat membuat peserta didik menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, dan pembelajaran menjadi bervariasi. Media yang digunakan, diantaranya berbagai macam gambar, video, biji-bijian, kartu soal matematika dan angka soal matematika, dan LKPD. Peneliti menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk melengkapi RPP agar pembelajaran menjadi lebih bervariasi. LKPD yang dibuat oleh peneliti bervariasi. Adanya yang dikerjakan secara individu dan berkelompok. LKPD dikemas semenarik mungkin oleh peneliti agar peserta didik tidak mudah bosan. Tujuan dari pembuatan LKPD ini untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mencari tahu secara aktif jawaban dari LKPD yang memungkinkan tercapainya indikator dan tujuan pembelajaran. Di setiap akhir pembelajaran, peneliti memberikan soal 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI evaluasi. Soal evaluasi ini digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik selama proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Soal evaluasi juga dibuat menarik agar peserta didik lebih bersemangat dan tertarik untuk mengerjakan soal. Peneliti mendesain pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran yang telah ditentukan. Terdapat 2 (dua) model pembelajaran yang diterapkan yaitu model quantum learning dan inquiry. Adanya model pembelajaran ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran yang bervariasi, sehingga diharapkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan menyenangkan. Peneliti menjabarkan pula mengenai penilaian yang digunakan untuk menilai selama proses pembelajaran berlangsung. Terdapat instrumen dan rubrik penilaian yang digunakan sebagai pedoman penilaian. Penilaian yang digunakan sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013 yaitu berupa penilaian autentik. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran, mulai dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian berpedoman pada Kompetensi Inti (KI) setiap mata pelajaran, yaitu KI-1 untuk menilai aspek religius, KI-2 untuk menilai aspek sikap sosial, KI-3 untuk menilai pengetahuan, KI-4 untuk menilai keterampilan. Penilaian kognitif digunakan untuk menilai KI-3 pada 5 mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, PPKn, SBdP, dan PJOK. Jenis penilaian yang dilakukan berupa tes tertulis. Penilaian afektif digunakan untuk menilai KI-1 dan KI-2 pada mata pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama. Jenis penilaian yang digunakan berupa observasi. Penilaian keterampilan digunakan untuk menilai KI-4 pada semua mata pelajaran. Jenis penilaian yang digunakan berbeda-beda, bisa dengan unjuk kerja dan produk sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Penilaian unjuk kerja dilakukan apabila yang dinilai berupa kinerja peserta didik. Sedangkan penilaian produk dilakukan apabila yang dinilai berupa produk atau hasil karya peserta didik. Peneliti juga menyertakan refleksi yang dilakukan setiap akhir proses pembelajaran. Refleksi ini digunakan untuk membantu mengingat 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kembali materi yang telah diperoleh. Peneliti membuat refleksi dengan adanya penduan pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik secara lisan. Refleksi dilakukan secara lisan karena ingin mengajak peserta didik untuk lebih percaya diri dan aktif untuk menjawab pertanyaan refleksi. Isi dari refleksi ini berupa materi apa saja yang telah dipelajari, manfaat dari materi, tindakan selanjutnya yang akan dilakukan setelah belajar mengenai materi tersebut dan perasaan setelah melaksanakan pembelajaran bersama. Peneliti melengkapi pula dengan mengadakan remedial bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Remedial yang diberikan sesuai dengan materi yang dianggap belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Selain remedial, peneliti juga memberikan pengayaan bagi peserta didik yang melampaui kriteria ketuntasan belajar. Pengayaan diberikan berdasarkan soal yang telah disusun oleh peneliti. C. Validasi Ahli dan Revisi Produk 1. Data Validasi Pakar Pembelajaran Inovatif Produk awal yang dibuat oleh peneliti berupa perangkat pembelajaran yang meliputi Program Tahunan (prota), Program Semester (prosem), silabus, dan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Produk tersebut diserahkan kepada dua orang pakar pembelajaran inovatif untuk dilakukan validasi. Validasi ini dilakukan selama bulan Juni sampai dengan Juli. Tujuan dari kegiatan validasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kelayakan produk yang telah disusun. Validasi ini berpedoman pada instrumen penilaian yang telah disusun oleh peneliti. Dengan adanya validasi, maka peneliti akan mendapatkan kritik dan saran dari ahli pakar yang digunakan untuk memperbaiki produk. Setelah produk selesai diperbaiki atau direvisi, maka produk layak diujicobakan. Pakar pembelajaran inovatif yang menjadi validator adalah wali kelas II SDN Deresan Ibu F dan mahasiswa PPG Saudari W sebagai pelaksana pembelajaran inovatif. Validator tersebut akan melakukan 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI validasi perangkat pembelajaran yang meliputi Program Tahunan (prota), Program Semester (prosem), silabus dan 6 (enam) RPP sebanyak satu kali oleh validator. Produk divalidasi berdasarkan beberapa apspek, yaitu (1) Program Tahunan, (2) Program Semester, (3) Silabus, (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (5) Media, (6) LKPD, dan (7) Bahasa. Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh validator pakar pembelajaran inovatif dengan Ibu F, maka validator memberi rerata pada model quantum learning pembelajaran 1, 4, dan 5, yaitu 4,3 dengan kategori “sangat baik”. Ibu F sebagai validator memberikan komentar untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek RPP, (a) tujuan pembelajaran dan (b) penggunaan media pembelajaran, (2) dalam aspek media, kesesuaian penggunaan media (3) dalam aspek LKPD, desain LKPD, dan (4) dalam aspek bahasa, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan untuk model pembelajaran inquiry pembelajaran 2, 3, dan 6, validator memberikan rerata 4,43 dengan kategori “sangat baik”. Ibu F sebagai validator memberikan komentar untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek RPP, (a) tujuan pembelajaran dan (b) penggunaan media pembelajaran, (2) dalam aspek media, kesesuaian penggunaan media (3) dalam aspek LKPD, desain LKPD, dan (4) dalam aspek bahasa, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perangkat pembelajaran dinyatakan layak untuk digunakan atau diujicobakan oleh peneliti dengan adanya revisi sesuai dengan saran dari validator. Ibu F sebagai validator, memberikan komentar pada model quantum learning untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek RPP, (a) komponen ABCD dilengkapi dan (b) media pembelajaran dilengkapi, (2) dalam aspek media, media yang digunakan disesuaikan lagi, (3) dalam aspek LKPD, LKPD yang dibuat dihiasi agar menarik, dan (4) dalam aspek bahasa, kalimat yang digunakan diperjelas. Sedangkan untuk Ibu F sebagai validator, memberikan komentar pada model 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI inquiry untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek RPP, (a) komponen ABCD dilengkapi dan (b) media pembelajaran dilengkapi, (2) dalam aspek media, media yang digunakan disesuaikan lagi, (3) dalam aspek LKPD, LKPD yang dibuat dihiasi agar menarik, dan (4) dalam aspek bahasa, kalimat yang digunakan diperjelas. Validasi yang kedua dilakukan oleh validator Saudari W. Berdasarkan hasil validasi oleh pakar pembelajaran inovatif, yaitu dengan Saudari W diperoleh rerata pada model quantum learning pembelajaran 1, 4, dan 5, yaitu 4,05 dengan kategori “baik”. Saudari W sebagai validator memberikan komentar untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek silabus, kelengkapan isi silabus, (2) dalam aspek RPP, (a) perumusan indikator, (b) tujuan pembelajaran, (c) kesesuaian kegiatan dengan sintaks, dan (d) instrumen penilaian, (3) dalam aspek LKPD, (a) desain LKPD, (b) kelayakan bahasa, (c) kelayakan tampilan, (d) kelayakan penyajian, dan (4) dalam aspek bahasa, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan untuk model pembelajaran inquiry pembelajaran 2, 3, dan 6, validator memberikan rerata 4,06 dengan kategori “baik”. Saudari W sebagai validator memberikan komentar untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek silabus, kelengkapan isi silabus, (2) dalam aspek RPP, (a) perumusan indikator, (b) tujuan pembelajaran, dan (c) kesesuaian kegiatan dengan sintaks, (2) dalam aspek LKPD, (a) desain LKPD, (b) kelayakan bahasa, (c) kelayakan tampilan, (d) kelayakan penyajian, dan (4) dalam aspek bahasa, (a) bahasa yang komunikatif dan (b) penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perangkat pembelajaran dinyatakan layak untuk digunakan atau diujicobakan oleh peneliti dengan adanya revisi sesuai dengan saran dari validator. Saudari W sebagai validator, memberikan komentar pada model quantum learning untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek silabus, kegiatan pembelajaran diperbaiki, (2) dalam aspek RPP, (a) sesuaikan indikator dengan KD, (b) lengkapi komponen ABCD, (c) 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sesuaikan kegiatan pembelajaran dengan sintaks, dan (d) kriteria penskoran diperbaiki, (3) dalam aspek LKPD, (a) LKPD kurang menarik, (b) penggunaan bahasa diperbaiki, (c) belum ada sampul, (d) langkah kegiatan diperbaiki, dan (4) dalam aspek bahasa, perbaiki kalimat. Sedangkan untuk Saudari W sebagai validator, memberikan komentar pada model inquiry untuk beberapa aspek, yaitu (1) dalam aspek silabus, kegiatan pembelajaran diperbaiki, (2) dalam aspek RPP, (a) sesuaikan indikator dengan KD, (b) lengkapi komponen ABCD, dan (c) sesuaikan kegiatan pembelajaran dengan sintaks, (2) dalam aspek LKPD, (a) LKPD kurang menarik, (b) penggunaan bahasa diperbaiki, (c) belum ada sampul, (d) langkah kegiatan diperbaiki, dan (4) dalam aspek bahasa, (a) bahasa kurang komunikatif dan (b) perbaiki kalimat. Tabel 4.1 Komentar dan Saran Pakar Pembelajaran Inovatif beserta Revisi Model Quantum Learning No 2. 2. 3. Aspek yang dinilai Komentar Silabus Silabus memuat Kegiatan materi pokok, pembelajaran kegiatan diperbaiki. pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Revisi Memperbaiki kegiatan pembelajaran yang kurang lengkap. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kesesuaian Masih ada Menyusun kembali rumusan indikator indikator yang indikator yang dengan KI dan KD. kurang sesuai disesuaikan dengan dengan KD. KD. Tujuan Komponen ABCD Melangkapi pembelajaran dilengkapi. komponen ABCD. (kesesuaian tujuan dengan indikator, kata kerja dapat diukur, mencakup 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. 13. 16. 1. 1. komponen A (Audience), B (Behavior), C (Condition), D (Degree). Pemilihan media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan kondisi kelas). Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks (langkahlangkah) model pembelajaran kuantum Kelengkapan instrumen evaluasi (soal, kunci, rubrik pedoman penskoran). Media dilengkapi. Melengkapi media agar lebih bervariasi. Sesuaikan kegiatan Mengubah pembelajaran kegiatan dengan sintaks. pembelajaran dan disesuaikan dengan sintaks. Kriteria penskoran Memperbaiki diperbaiki. kriteria penskoran agar sesuai dengan indikator. Media Kesesuaian jenis Media yang Mengubah media media dengan digunakan yang digunakan kompetensi yang disesuaikan. agar sesuai dengan harus dicapai, tujuan materi yang pembelajaran. dibahas, strategi pembelajaran yang dipilih, karakteristik siswa, media terlihat atau terdengar dengan jelas (gambar, video, audio, animasi). Lembar Kerja Peserta Didik LKPD disajikan LKPD kurang Mengubah LKPD secara sistematis, menarik. agar menarik merupakan materi dengan atau tugas yang memberikan esensial, setiap gambar. kegiatan yang disajikan 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 3. 5. 6. mempunyai tujuan yang jelas, penyajian LKPD dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi, kegiatan yang disajikan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Kelayakan isi (sesuai dengan KI & KD, sesuai kemampuan siswa, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, keterkinian materi). Kelayakan bahasa (kalimat dengan kaidah Bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sesuai, struktur kalimat mudah dipahami, mendorong siswa untuk berfikir kritis, kemultitafsiran kalimat). Kelayakan tampilan (daya tarik sampul/ cover LKPD, kesesuaian kesesuaian huruf yang digunakan dalam LKPD, keseimbangan komposisi/ judul dan logo LKPD). Kelayakan penyajian (kemudahan langkah-langkah dalam kegiatan Sesuaikan dengan Mengubah isi KD. LKPD agar sesuai dengan KD yang ingin dicapai. Penggunaan bahasa diperbaiki. Memperbaiki penggunaan bahasa agar mudah dipahami oleh peserta didik. Belum ada sampul. Melengkapi LKPD dengan memberikan sampul agar tampilan lebih layak. Langkah kegiatan Memperbaiki diperbaiki. langkah kegiatan agar mudah dipahami oleh peserta didik. 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LKPD, penyajian materi LKPD yang disertai objek langsung, penempatan siswa dalam LKPD dalam subjek belajar). 4. Bahasa Kalimat yang Perbaiki kalimat. digunakan jelas dan mudah dimengerti. Memperbaiki penggunaan kalimat agar mudah dipahami oleh peserta didik. Tabel 4.2 Komentar dan Saran Pakar Pembelajaran Inovatif beserta Revisi Model Inquiry No 2. 2. 3. Aspek yang dinilai Komentar Revisi Silabus Silabus memuat Kegiatan Memperbaiki materi pokok, pembelajaran kegiatan kegiatan diperbaiki. pembelajaran yang pembelajaran, kurang lengkap. penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kesesuaian Masih ada Menyusun kembali rumusan indikator indikator yang indikator yang dengan KI dan KD. kurang sesuai disesuaikan dengan dengan KD. KD. Tujuan Komponen ABCD Melangkapi pembelajaran dilengkapi. komponen ABCD. (kesesuaian tujuan dengan indikator, kata kerja dapat diukur, mencakup komponen A (Audience), B (Behavior), C (Condition), D (Degree). 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. 13. 1. 1. Pemilihan media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan kondisi kelas). Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks (langkahlangkah) model pembelajaran inquiry. Media dilengkapi. Melengkapi media agar lebih bervariasi. Sesuaikan kegiatan Mengubah pembelajaran kegiatan dengan sintaks. pembelajaran dan disesuaikan dengan sintaks. Media Kesesuaian jenis Media yang Mengubah media media dengan digunakan yang digunakan kompetensi yang disesuaikan. agar sesuai dengan harus dicapai, tujuan materi yang pembelajaran. dibahas, strategi pembelajaran yang dipilih, karakteristik siswa, media terlihat atau terdengar dengan jelas (gambar, video, audio, animasi). Lembar Kerja Peserta Didik LKPD disajikan LKPD kurang Mengubah LKPD secara sistematis, menarik. agar menarik merupakan materi dengan atau tugas yang memberikan esensial, setiap gambar. kegiatan yang disajikan mempunyai tujuan yang jelas, penyajian LKPD dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi, kegiatan yang disajikan dapat 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 5. 6. 3. 4. menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Kelayakan bahasa (kalimat dengan kaidah Bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sesuai, struktur kalimat mudah dipahami, mendorong siswa untuk berfikir kritis, kemultitafsiran kalimat). Kelayakan tampilan (daya tarik sampul/ cover LKPD, kesesuaian kesesuaian huruf yang digunakan dalam LKPD, keseimbangan komposisi/ judul dan logo LKPD). Kelayakan penyajian (kemudahan langkah-langkah dalam kegiatan LKPD, penyajian materi LKPD yang disertai objek langsung, penempatan siswa dalam LKPD dalam subjek belajar). Penggunaan bahasa diperbaiki. Memperbaiki penggunaan bahasa agar mudah dipahami oleh peserta didik. Belum ada sampul. Melengkapi LKPD dengan memberikan sampul agar tampilan lebih layak. Langkah kegiatan Memperbaiki diperbaiki. langkah kegiatan agar mudah dipahami oleh peserta didik. Bahasa Bahasa yang Bahasa kurang Memperbaiki digunakan komunikatif. bahasa yang komunikatif. digunakan agar lebih komunikatif. Kalimat yang Perbaiki kalimat. Memperbaiki digunakan jelas dan penggunaan mudah dimengerti. kalimat agar mudah 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipahami oleh peserta didik. 2. Revisi Produk Revisi produk dilakukan berdasarkan kritik dan saran yang diberikan oleh kedua validator selaku pakar pembelajaran inovatif. Validator memberikan beberapa masukan pada model quantum learning pembelajaran 1, 4, dan 5 dengan aspek, yaitu (1) dalam aspek silabus, kegiatan pembelajaran diperbaiki. Peneliti memberbaiki kegiatan pembelajaran dalam silabus agar lebih singkat, mudah dipahami, dan jelas, (2) dalam aspek RPP, (a) sesuaikan indikator dengan KD. Masih terdapat beberapa indikator yang kurang sesuai dengan KD, sehingga peneliti mengubah indikator dengan disesuaikan KD agar tujuan pembelajaran tercapai, (b) lengkapi komponen ABCD. Peneliti kurang melengkapi komponen ABCD, khususnya D, yaitu degree, sehingga peneliti melengkapi agar tujuan pembelajaran semakin jelas untuk digunakan sebagai acuan penilaian, (c) media pembelajaran dilengkapi. Peneliti menambah media yang menarik dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, (d) sesuaikan kegiatan pembelajaran dengan sintaks. Beberapa kegiatan pembelajaran diubah dan disesuaikan kembali dengan sintaks model yang digunakan, dan (e) kriteria penskoran diperbaiki. Peneliti mengubah kriteria penskoran, terutama pada KI 4 yang disesuaikan dengan indikator dan tujuan pembelajaran, (3) dalam aspek LKPD, (a) LKPD kurang menarik. LKPD yang kurang menarik diberikan beberapa gambar agar peserta didik lebih tertarik, (b) penggunaan bahasa diperbaiki. Bahasa dalam LKPD diubah agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik, (c) belum ada sampul. Seluruh LKPD belum terdapat sampul, sehingga peneliti memberikan sampul dengan tema yang sesuai dengan materi, sehingga tampilan LKPD semakin layak, (d) langkah kegiatan diperbaiki. Peneliti mengubah langkah kegiatan dalam LKPD agar peserta didik dapat memahami langkah yang akan dilaksanakan, dan (4) dalam aspek bahasa, (a) bahasa 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kurang komunikatif. Masih terdapat beberapa bahasa yang kurang komunikatif, sehingga peneliti mengubah bahasa tersebut menjadi komunikatif dan (b) perbaiki kalimat. Bahasa yang digunakan diperbaiki agar peserta didik lebih mudah memahami. Kemudian peneliti memperbaiki kesalahan dalam penulisan dengan mengubah susunan kalimat tersebut menjadi kalimat yang efektif sehingga mudah untuk dimengerti. D. Uji Coba Terbatas 1. Data Uji Coba Terbatas Peneliti melakukan validasi produk perangkat pembelajaran melalui uji coba terbatas dengan satu orang guru SD kelas II dan satu orang teman sejawat. Guru tersebut adalah Ibu F selaku wali kelas IIA dari SD Negeri Deresan. Sedangkan teman sejawat tersebut adalah Saudari L sebagai mahasiswa Sanata Dharma Program Studi PGSD. Peneliti melakukan uji coba di SD Negeri Deresan pada tanggal 20, 21, 23, 24, dan 25 Agustus 2018 di kelas IIA. RPP yang diujicobakan sebanyak 5 (lima) RPP, yaitu dengan model quantum learning pada pembelajaran 1, 4, dan 5, sedangkan model pembelajaran inquiry pada pembelajaran 2 dan 3. Terdapat dua instrumen uji coba yaitu (1) instrumen untuk menilai guru atau peneliti saat uji coba perangkat pembelajaran dan (2) instrumen untuk menilai peserta didik saat uji coba perangkat pembelajaran. Instrumen uji coba yang digunakan peneliti dibedakan menurut model pembelajaran yang digunakan, yaitu quantum learning dan inquiry. Terdapat beberapa aspek yang dinilai dalam validasi uji coba oleh guru kelas IIA untuk menilai peneliti saat melaksanakan uji coba perangkat pembelajaran, yaitu (1) sesuai dengan makna dan karakteristik model pembelajaran, (2) pembelajaran sesuai dengan sintaks, (3) pendekatan saintifik, (4) keterampilan belajar dasar abad 21, (5) penguasaan materi, (6) guru sebagai motivator dan fasilitator, (7) 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran berpusat pada siswa, (8) media beragam, (9) kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), (10) kegiatan bervariasi, (11) pendidikan karakter, (12) pembelajaran terpadu landai, (13) suasana pembelajaran menyenangkan, dan (14) penilaian autentik. Berdasarkan hasil uji coba di kelas IIA, Ibu F memberikan skor rerata pada model quantum learning yaitu 4,78 dengan kategori “sangat baik”. Sedangkan hasil uji coba pada model pembelajaran inquiry memberikan skor rerata 4,82 dengan kategori “sangat baik”. Perangkat pembelajaran inovatif tersebut dinyatakan layak digunakan uji coba lapangan dengan revisi sesuai dengan kritik dan saran. Ibu F memberikan komentar pada komponen perangkat pembelajaran pada model quantum learning, yaitu (1) media pembelajaran. Komentar pada komponen perangkat pembelajaran model quantum learning, yaitu (1) media pembelajaran masih kurang bervariasi pada penggunaan alat dan bahan yang digunakan. Komentar juga diberikan pada beberapa komponen perangkat pembelajaran model pembelajaran inquiry, yaitu (1) media pembelajaran. Komentar yang diberikan oleh Ibu F pada model pembelajaran inquiry, yaitu (1) penggunaan media pembelajaran masih kurang bervariasi. Uji coba produk juga divalidasi oleh teman sejawat. Terdapat beberapa aspek yang dinilai dalam validasi uji coba oleh teman sejawat untuk menilai peneliti saat melaksanakan uji coba perangkat pembelajaran, yaitu (1) pencapaian indikator pembelajaran, (2) siswa terlibat aktif, (3) siswa melaksanakan 5M, (4) siswa senang, (5) siswa asyik dalam pembelajaran, (6) siswa terlibat menggunakan media, (7) siswa memperoleh pengalaman langsung, dan (8) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Berdasarkan hasil uji coba di kelas IIA, teman sejawat L memberikan skor rerata pada model quantum learning yaitu 4,79 dengan kategori “sangat baik”. Sedangkan pada model pembelajaran inquiry diberikan skor rerata 4,75 dengan kategori 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “sangat baik”. Perangkat pembelajaran inovatif tersebut dinyatakan layak untuk diujicobakan di lapangan dengan adanya perbaikan berdasarkan kritik dan saran. Teman sejawat L memberikan komentar pada beberapa komponen perangkat pembelajaran model quantum learning, yaitu (1) siswa memperoleh pengalaman langsung dan (2) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Komentar yang diberikan teman sejawat pada model quantum learning, yaitu (1) beberapa peserta didik belum mendapatkan pengalaman secara langsung dan (2) beberapa peserta didik belum mengembangkan seluruh kemampuan 4C. Komentar selanjutnya diberikan pada beberapa komponen model pembelajaran inquiry, yaitu (1) siswa asyik dalam pembelajaran, (2) siswa terlibat menggunakan media, dan (3) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Komentar yang diberikan oleh teman sejawat L pada beberapa komponen model pembelajaran inquiry, yaitu (1) siswa terlalu asyik dalam pembelajaran sehingga kurang fokus, (2) penggunaan media kurang menyeluruh, dan (3) beberapa peserta didik tidak mengembangkan keseluruhan kemampuan 4C. Perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan dan dinilai oleh satu orang guru direvisi sesuai dengan masukan yang diberikan. Komentar dan revisi tersebut akan dijabarkan dalam tabel berikut. Tabel 4.3 Komentar Guru SD Kelas II beserta Revisi pada Model Quantum Learning No 8. Aspek yang Dinilai Guru menggunakan beragam media dalam pembelajaran. Komentar Revisi Media pembelajaran masih kurang bervariasi pada penggunaan alat dan bahan yang digunakan. Penambahan media pembelajaran yang menambah variasi dalam kegiatan pembelajaran. 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.4 Komentar Guru SD Kelas II beserta Revisi pada Model Inquiry No 8. Aspek yang Dinilai Guru menggunakan beragam media dalam pembelajaran. Komentar Revisi Penggunaan media pembelajaran masih kurang bervariasi. Penambahan media pembelajaran yang sesuai agar lebih bervariasi. Tabel 4.5 Komentar Teman Sejawat beserta Revisi pada Model Quantum Learning No 7. 8. Aspek yang Dinilai Siswa memperoleh pengalaman langsung dalam pembelajaran. Komentar Revisi Beberapa peserta didik belum mendapatkan pengalaman secara langsung. Kegiatan pembelajaran disesuaikan agar seluruh peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung. Siswa Beberapa peserta Kegiatan berkembang didik belum pembelajaran kemampuan 4C- mengembangkan disesuaikan agar nya. seluruh kemampuan seluruh peserta 4C. didik diberikan kesempatan untuk mengembangkan seluruh kemampuan 4C. Tabel 4.6 Komentar Teman Sejawat beserta Revisi pada Model Inquiry No 5. Aspek yang Dinilai Siswa asyik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Komentar Revisi Siswa terlalu asyik dalam pembelajaran sehingga kurang fokus. Kegiatan pembelajaran disesuaikan agar peserta didik dapat tetap fokus dalam mengikuti pembelajaran. 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. 8. Siswa terlibat Penggunaan media dalam kurang menyeluruh. penggunaan media pembelajaran. Kegiatan pembelajaran disusun agar peserta didik diberikan kesempatan menggunakan media yang disediakan. Siswa Beberapa peserta Kegiatan berkembang didik tidak pembelajaran kemampuan 4C- mengembangkan disesuaikan agar nya. keseluruhan seluruh peserta kemampuan 4C. didik diberikan kesempatan untuk mengembangkan seluruh kemampuan 4C. 2. Revisi Produk Revisi produk dilakukan berdasarkan produk yang telah diujicobakan, sehingga diperoleh kritik saran yang diberikan oleh satu orang guru kelas II SD dan teman sejawat. Guru SD kelas II memberikan beberapa masukan dari produk yang telah diujicobakan pada model pembelajaran quantum learning, yaitu (1) penggunaan media pembelajaran masih kurang bervariasi. Peneliti menambah media pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan peserta didik untuk aktif, yaitu power point. Penggunaan power point dapat melibatkan peserta didik untuk aktif dalam diskusi mengenai materi yang disampaikan. Guru SD kelas II juga memberikan beberapa masukan dibagian produk yang telah diujicobakan pada model pembelajaran inquiry, yaitu (1) media pembelajaran yang digunakan masih kurang bervariasi. Peneliti menambahkan media yang memberikan kesempatan peserta didik untuk aktif dalam penggunaan media, yaitu permainan “Konsentrasi Hitung”. Teman sejawat memberikan beberapa masukan dari produk yang telah diujicobakan peneliti dengan menggunakan model quantum 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI learning, yaitu (1) siswa memperoleh pengalaman langsung. Peneliti menambah dan memperjelas kegiatan pembelajaran agar seluruh peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan (2) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Peneliti menambah dan memperjelas kegiatan pembelajaran serta disesuaikan agar seluruh peserta didik diberikan kesempatan untuk mengembangkan seluruh kemampuan 4C. Teman sejawat juga memberikan beberapa masukan pada model pembelajaran inquiry, yaitu (1) siswa asyik dalam pembelajaran. Peneliti menambah kegiatan yang tetap mengarah pada pokok pembahasan dan menyesuaikan dengan waktu yang telah disediakan agar tidak melebihi waktu yang telah ditentukan, sehingga pembelajaran tetap dapat dikondisikan dan sesuai dengan yang telah direncanakan, (2) siswa terlibat menggunakan media. Peneliti menambah waktu dan kegiatan yang memungkinkan bagi peserta didik untuk mampu menggunakan media yang telah disediakan, dan (3) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Peneliti menyesuaikan kegiatan yang dilakukan agar tertuju pada pengembangan kemampuan 4C dan dapat dilaksanakan oleh semua peserta didik. E. Kajian Produk Akhir Produk akhir diperoleh dari kritik dan saran perbaikan yang diberikan oleh satu guru kelas II SD, satu mahasiswa PPG sebagai pakar pembelajaran inovatif dan satu guru kelas II SD, satu teman sejawat sebagai pelaksana Kurikulum SD 2013. Peneliti melakukan revisi produk perangkat pembelajaran inovatif sebanyak 2 (dua) kali. Revisi pertama ini dilakukan pada produk awal berdasarkan kritik dan saran yang diberikan oleh 2 validator pakar pembelajaran inovatif. Kemudian peneliti melakukan uji coba produk yang telah direvisi di SD untuk siswa kelas II. Berdasarkan uji coba tersebut peneliti mendapatkan kritik dan saran dari satu guru SD kelas II dan satu teman sejawat. Masukan tersebut digunakan oleh peneliti untuk melakukan revisi tahap akhir terhadap produk yang telah disusun agar dapat 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjadi produk akhir. Produk akhir dikemas menjadi satu jilid Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas II SD. Produk akhir yang terdiri dari Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah direvisi sesuai dengan masukan yang diberikan untuk perbaikan. Peneliti memperbaiki produk sesuai dengan masukan berupa saran oleh pakar ahli pembelajaran inovatif dan teman sejawat. 1. Program Tahunan Pada perangkat pembelajaran Program Tahunan (prota) terdapat 2 (dua) komponen, yaitu identitas dan format isian. Komponen yang pertama yaitu identitas Program Tahunan berisikan nama satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. Satuan Pendidikan SD Negeri Deresan, kelas II, semester gasal dan genap, tahun ajaran 2018/2019. Sedangkan komponen yang kedua yaitu format isian yang meliputi tema, subtema, dan alokasi waktu (MBE). Terdapat 8 tema dengan 32 subtema dan alokasi waktu. Tema dan subtema disusun berdasarkan buku guru dan buku siswa yang digunakan, yaitu buku guru dan buku siswa kelas II Kurikulum 2013 edisi revisi 2017. Sedangkan untuk alokasi waktu ditentukan dalam setiap subtema yaitu 1 (satu) Minggu Belajar Efektif (MBE). 2. Program Semester Pada perangkat pembelajaran Program Semester (prosem) terdapat 2 (dua) komponen, yaitu identitas dan format isian. Komponen yang pertama yaitu identitas Program Semester berisikan nama satuan pendidikan, kelas/semester, dan tahun ajaran. Sedangkan komponen yang kedua yaitu format isian yang meliputi tema, subtema, pembelajaran, alokasi waktu, bulan yang terinci perminggu, dan keterangan. Tema dan subtema disusun berdasarkan prota yang telah disusun. Terdapat 4 tema yang terdiri dari 16 subtema. Pembelajaran dilaksanakan mulai dari pembelajaran 1 sampai dengan 6 yang termuat 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam 1 (satu) subtema. Alokasi waktu disusun berdasarkan kalender pendidikan. Alokasi yang dibutuhkan untuk setiap subtema adalah 30JP. Jadwal masuk sekolah pada tahun ajaran baru dimulai pada tanggal 16 Juli 2018. Sedangkan untuk jadwal akhir belajar untuk semester gasal yaitu pada tanggal 17 November 2018. Hari efektif belajar pada semester 1 terdapat 96 hari dan selebihnya digunakan untuk Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS), hari libur Nasional, dan kegiatan lainnya. Sedangkan untuk keterangan berisi tanggal, bulan, dan tahun yang dimaksudkan. 3. Silabus Silabus yang disusun oleh peneliti hanya pada 1 tema yaitu Hidup Rukun dengan 4 subtema yaitu Hidup Rukun di Rumah, Hidup Rukun di Tempat Bermain, Hidup Rukun di Sekolah, dan Hidup Rukun di Masyarakat. Pada perangkat pembelajaran Silabus terdapat 9 (sembilan) komponen, yaitu identitas sekolah, kompetensi inti, tema, kompetensi dasar, materi pembelajaran, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Pertama, yaitu identitas sekolah yang terdiri dari nama satuan pendidikan, kelas, semester, dan tahun ajaran. Kedua, Kompetensi Inti (KI) yang berupa gambaran kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. KI ini terdiri dari 4 (empat), yaitu KI 1 untuk aspek spiritual, KI 2 untuk aspek sosial, KI 3 untuk pengetahuan, dan KI 4 untuk keterampilan. Ketiga, yaitu tema yang akan dipelajari berdasarkan buku guru dan buku siswa. Keempat, alokasi waktu yang akan digunakan persubtema yaitu 30JP. Kelima, Kompetensi Dasar (KD) yang merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahun, dan keterampilan yang terkait dengan muatan tertentu yang harus dipelajari peserta didik yang pelaksanaannya berdasarkan buku guru dan buku siswa. Keenam, materi pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik. Materi 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran ini ditulis kedalam pokok pembahasan secara singkat. Ketujuh, kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Kegiatan ini dijabarkan menjadi butirbutir kegiatan pelaksanaan pembelajaran seacara singkat. Kedelapan, yaitu penilaian yang disesuaikan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Aspek yang dinilai yaitu mulai dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kesembilan, yaitu sumber belajar yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sumber belajar ini bisa dari buku, pengalaman, lingkungan, dan internet. 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pada penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), terdapat 12 (dua belas) komponen, yaitu (1) identitas RPP, (2) tujuan pembelajaran, (3) Kompetensi Inti (KI), (4) Kompetensi Dasar (KD) dan indikator, (5) materi ajar, (6) pendekatan, model, dan metode, (7) langkah-langkah kegiatan, (8) media, alat/bahan, dan sumber belajar, (9) penilaian, dan (10) lampiran. Pertama, identitas RPP berisikan nama satuan pendidikan, kelas/semester, tema, subtema, fokus pembelajaran, pokok bahasan, pembelajaran ke-, alokasi waktu, dan hari/tanggal. Kedua, tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan pembelajaran disusun dengan komponen A (Audience), B (Behavior), C (condition), dan D (Degree). Ketiga adalah Kompetensi Inti (KI). Kompetensi Inti adalah gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan kedalam aspek sikap, meliputi sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2), aspek pengetahuan (KI 3), dan aspek keterampilan (KI 4) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. Keempat adalah Kompetensi Dasar (KD) dan indikator. Kompetensi Dasar (KD) adalah kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu. Kompetensi Dasar 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ini digunakan untuk menyusun indikator. Indikator disusun ke dalam ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Khusus ranah sikap terdiri dari dua yaitu sikap spiritual dan sikap sosial untuk mata pelajaran PPKn serta Pendidikan Agama. Indikator ini disusun menggunakan kata kerja operasional dalam Taksonomi Bloom. Kelima adalah materi ajar yang berisi materi pokok pembelajaran. Keenam adalah pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Pendekatan yang digunakan yaitu tematik integratif dan saintifik. Model yang digunakan yaitu quantum learning untuk pembelajaran 1, 4, 5 dan inquiry untuk pembelajaran 2, 3, 6. Sedangkan metode yang digunakan yaitu penugasan, tanya jawab, diskusi, observasi, demonstrasi, dan permainan. Ketujuh adalah langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang merupakan urutan bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan. Langkah kegiatan ini terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiata penutup. Kegiatan awal berisikan motivasi, apersepsi, orientasi, dan pemberian acuan. Kegiatan inti berisikan langkah kegiatan ini didasarkan pada pendekatan, model, dan metode yang digunakan. Sedangkan kegiatan penutup berisikan pengarahan untuk membuat kesimpulan, refleksi untuk menemukan manfaat pembelajaran, melakukan kegiatan umpan balik, menginformasikan kegiatan pembelajaran untuk pertemuan selanjautnya, pemberian tes atau tugas, arahan tindak lanjut, remedial dan pengayaan. Kedelapan adalah media, alat/bahan, dan sumber belajar. Media yang digunakan bervariasi, yaitu power point, gambar makanan dari bijian, gambar banjir, gambar sketsa karya hiasan, gambar karya hiasan dari biji, biji kacang merah, biji jagung, biji kacang hijau, gambar simbol sila pertama dan kedua Pancasila, gambar permainan engklek, video lagu disini senang disana senang, gambar hidup rukun di lingkungan masyarakat, gambar melompat dan meloncat, permainan “Konsentrasi Hitung”, penggelompokkan kalimat, gambar simbol sila 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keempat dan kelima Pancasila, gambar penerapan sila keempat dan kelima Pancasila, kartu soal matematika, angka soal cerita, dan LKPD. Alat/bahan yang digunakan juga bervariasi, yaitu laptop, proyektor, speaker, kertas karton putih, biji-bijian, lem, pensil, penghapus, cup kecil, gacuk, gunting, peluit, sketsa, cangkang telur, dan kertas koran bekas. Sedangkan sumber belajar yang digunakan yaitu pengalaman peserta didik, buku guru, buku siswa, lingkungan, dan internet. Kesembilan adalah penilaian yang berisikan teknik penilaian dan instrumen penilaian. Teknik penilaian yang digunakan yaitu observasi untuk aspek sikap religius dan sikap sosial, tes tertulis untuk aspek pengetahuan, dan unjuk kerja serta produk untuk aspek keterampilan. Instrumen penilaian untuk ranah sikap yaitu lembar observasi dan rubrik penskoran. Ranah pengetahuan, yaitu kisi-kisi soal, soal tes isian, kunci jawaban, dan pedoman penskoran. Ranah keterampilan, yaitu lembar penskoran unjuk kerja/produk, rubrik penskoran, dan pedoman penskoran. Kesempuluh yaitu lampiran-lampiran yang berisikan (1) video/bacaan literasi, (2) lagu, (3) materi pembelajaran, (4) media pembelajaran, (5) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan kunci jawaban, (6) kisi-kisi, soal evaluasi, dan kunci jawaban, (7) pedoman penskoran dan rubrik penskoran KI 1, KI 2, KI 3, KI 4, (8) lembar refleksi, (9) soal pengayaan beserta lembar pengayaan, lembar remedial, dan (10) sintaks model quantum learning dan inquiry. Pertama bagian literasi, disediakan berupa bacaan yang akan didongengkan dan berupa video. Literasi ini dilakukan sebagai kegiatan awal sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Literasi yang disampaikan berisi nilai moral untuk membentuk karakter peserta didik yang baik sesuai dengan cerita dalam literasi. Kedua terdapat lirik lagu yang digunakan sebagai motivasi dalam kegiatan awal. Lirik lagu tersebut hanya terdapat pada beberapa pembelajaran karena pemberian motivasi yang diberikan bervariasi. Ketiga, yaitu materi pembelajaran 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang berisikan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Materi tersebut bersumber pada buku siswa, buku guru, dan internet. Keempat, media pembelajaran yang akan digunakan dilampirkan dalam bentuk gambar, sehingga memiliki gambaran mengenai media yang akan digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Kelima, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang akan digunakan peserta didik untuk belajar. LKPD ini terdiri dari sampul/cover, isi LKPD, dan kunci jawaban LKPD. LKPD dihias semenarik mungkin agar meningkatkan semangat dan motivasi peserta didik untuk mengerjakan LKPD. Keenam, soal evaluasi yang akan dikerjakan pada kegiatan penutup. Soal evaluasi ini disertai dengan kisi-kisi soal evaluasi dan kunci jawaban. Soal evaluasi juga dihias semenarik mungkin agar peserta didik tidak bosan untuk mengerjakan soal tersebut. Ketujuh, pedoman penskoran dan rubrik penskoran KI 1, KI 2, KI 3, KI 4. Pedoman penskoran dan rubrik penskoran dijabarkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan. Teknik penilaian yang digunakan yaitu observasi untuk aspek sikap religius dan sikap sosial, tes tertulis untuk aspek pengetahuan, dan unjuk kerja serta produk untuk aspek keterampilan. Lengkapi pula dengan lembar penskoran untuk setiap KI disesuaikan dengan ranah yang akan dinilai. Kedelapan, berisikan refleksi yang akan dilaksanakan pada kegiatan penutup. Refleksi ini digunakan untuk mengingat kembali apa saja yang telah dipelajari, kesulitan apa yang dialami, apa manfaatnya setelah belajar materi tersebut, dan bagaimana perasaannya selama mengikuti pembelajaran ini. Kesembilan, soal pengayaan beserta lembar penilaian pengayaan, dan lembar remidial. Kegiatan ini dilaksanakan pada kegiatan penutup. Pengayaan akan diterima oleh peserta didik yang nilai dari soal evaluasi diatas KKM. Soal dari pengayaan telah disediakan. Sedangkan remidial diberikan kepada peserta didik yang nilai dari soal evalausi berada dibawah KKM. Soal remidial tidak disertakan karena soal remedial yang akan diberikan hanya untuk 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI materi yang dianggap kurang dikuasai. Soal remidial tidak disertakan, tetapi terdapat lembar remidial yang dapat digunakan untuk mencatat peserta didik yang mengikuti remidial. Disini, peneliti tidak melaksanakan remidial karena nilai soal evaluasi peserta didik diatas KKM. Terakhir yaitu kesepuluh berisikan penjelasan mengenai model pembelajaran yang digunakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Model yang digunakan yaitu quantum learning dan inquiry. Penjelasan ini berisikan mengenai ringkasan model pembelajaran yang digunakan beserta dengan sintaks dari model tersebut. Tujuannya agar validator dapat memahami model pembelajaran yang digunakan dalam RPP tersebut, sehingga dapat melakukan validasi sekaligus belajar mengenai model pembelajaran inovatif. F. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian Peneliti melaksanakan pengembangan perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 berupa Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan 6 (enam) buah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut divalidasi oleh 2 (dua) pakar pembelajaran inovatif dan 2 (dua) pelaksana Kurikulum 2013. Peneliti melaksanakan uji coba perangkat pembelajaran di SD Negeri Deresan pada tanggal 20, 21, 23, 24, dan 25 Agustus 2018 di kelas IIA dan divalidasi oleh 2 (dua) pakar pelaksana Kurikulum 2013. Berikut ini diperoleh hasil validasi yang dilakukan oleh 2 (dua) pakar pembelajaran inovatif dan 2 (dua) pakar pelaksana Kurikulum 2013 untuk 2 model yang berbeda yaitu quantum learning dan inquiry. 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.7 Rekapitulasi Validasi Pakar Kurikulum SD 2013 dan Pakar Pelaksana Kurikulum SD 2013 No Validasi 1 Pakar Pembelajaran Inovatif (A) Model Quantum Learning 2 Pakar Pembelajaran Inovatif (A) Model Inquiry 3 Pakar Pembelajaran Inovatif (B) Model Quantum Learning 4 Pakar Pembelajaran Inovatif (B) Model Inquiry 5 Guru SD Kelas II (A) Model Quantum Learning 6 Guru SD Kelas II (A) Model Inquiry 7 Teman Sejawat (B) Model Quantum Learning 8 Teman Sejawat (B) Model Inquiry Jumlah Rerata (Jumlah total Responden) Kategori Perangkat Pembelajaran Skor Kategori 4,3 Sangat Baik 4,43 Sangat Baik 4,05 Baik 4,06 Baik 4,78 Sangat Baik 4,82 Sangat Baik 4,79 Sangat Baik 4,75 Sangat Baik 35,98 4,50 Sangat baik 2. Pembahasan Berdasarkan hasil validasi oleh 2 (dua) orang pakar pembelajaran inovatif dan 2 (dua) orang pelaksanakan Kurikulum 2013, yaitu 1 (satu) guru kelas II SD dan 1 (satu) teman sejawat bahwa perangkat pembelajaran inovatif tersebut masuk dalam kategori “sangat baik” dengan skor rerata 4,50. 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil skor validasi produk diperoleh dari jumlah skor validasi Program Tahunan, Program Semester, Silabus dan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yaitu 3 RPP menggunakan model pembelajara quantum learning dan 3 RPP lainnya menggunakan model pembelajara inquiry. Validasi tersebut dilakukan oleh dua validator perangkat pembelajaran inovatif. Sedangkan untuk validasi uji coba diperoleh dari jumlah skor Program Tahunan, Program Semester, Silabus dan 5 (lima) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah diujicobakan. Peneliti melakukan 5 uji coba dengan rincian 3 kali uji coba menggunakan RPP dengan menerapkan model quantum learning dan 2 kali uji coba menggunakan RPP dengan menerapkan model inquiry. Validasi dilakukan pada empat produk, yaitu Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Hasil validasi pembelajaran inovatif berpedoman pada 7 (tujuh) aspek, yaitu (1) Program Tahunan, (2) Program Semester, (3) Silabus, (4) Rencana Pelaksaan Pembelajaran, (5) media, (6) LKPD, dan (7) bahasa yang digunakan. Validasi uji coba produk untuk guru kelas II SD yang digunakan untuk menilai peneliti saat melakukan uji coba berpedoman pada 14 aspek, yaitu (1) sesuai dengan makna dan karakteristik model pembelajaran, (2) pembelajaran sesuai dengan sintaks, (3) pendekatan saintifik, (4) keterampilan belajar dasar abad 21, (5) penguasaan materi, (6) guru sebagai motivator dan fasilitator, (7) pembelajaran berpusat pada siswa, (8) media beragam, (9) kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), (10) kegiatan bervariasi, (11) pendidikan karakter, (12) pembelajaran terpadu landai, (13) suasana pembelajaran menyenangkan, dan (14) penilaian autentik. Validasi uji coba produk untuk teman sejawat yang digunakan untuk menilai peneliti saat melakukan uji coba berpedoman 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berpedoman pada 8 aspek, yaitu (1) pencapaian indikator pembelajaran, (2) siswa terlibat aktif, (3) siswa melaksanakan 5M, (4) siswa senang, (5) siswa asyik dalam pembelajaran, (6) siswa terlibat menggunakan media, (7) siswa memperoleh pengalaman langsung, dan (8) siswa mengembangkan kemampuan 4C. Pada validasi produk pembelajaran inovatif, pakar pembelajaran inovatif (A) model quantum learning memberikan skor 4,3 dengan kategori “sangat baik” dan pada model inquiry memberikan skor 4,43 dengan kategori “sangat baik”. Pakar pembelajaran inovtaif (B) model quantum learning memberikan skor 4,05 dengan kategori “baik” dan pada model inquiry memberikan skor 4,06 dengan kategori “baik”. Pada validasi uji coba produk, guru SD kelas II (A) model quantum learning memberikan skor 4,78 dengan kategori “sangat baik” dan pada model inquiry memberikan skor 4,82 dengan kategori “sangat baik”. Sedangkan teman sejawat (B) model quantum learning memberikan skor 4,79 dengan kategori “sangat baik” dan pada model inquiry memberikan skor 4,75 dengan kategori “sangat baik”. Keseluruhan hasil validasi produk dan uji coba produk tersebut didapatkan rerata 4,50 dengan kategori “sangat baik”. Perangkat pembelajaran dinyatakan “sangat baik” karena pada keempat produk memenuhi semua aspek dalam Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Pada produk pertama yaitu Program Tahunan yang dibuat memuat identitas prota yang lengkap, komponen prota lengkap, alokasi waktu dalam satu tahun yang efektif, dan proporsi pembagian waktu setiap tema dan subtema yang sesuai. Produk yang kedua yaitu Program Semester yang dibuat memuat identitas prosem yang lengkap, komponen prosem lengkap, dan materi pokok yang sesuai dengan KI dan KD dengan alokasi waktu yang proporsional. Produk ketiga yaitu silabus yang dibuat memuat identitas silabus 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang lengkap, komponen silabus lengkap, dan adanya keterkaitan antarkomponen dalam silabus sesuai. Produk keempat yaitu RPP yang dibuat memuat identitas RPP yang jelas dan lengkap, kesesuaian indikator dengan KI dan KD, perumusan tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator, kata kerja dapat diukur dengan unsur ABCD yang lengkap, pemilihan materi pembelajaran sesuai dengan KD dan indikator serta lengkap, perumusan tujuan pembelajaran dengan satu jenis tingkah laku, penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai, pemilihan media sesuai dengan tujuan, materi, dan kondisi kelas, pemilihan sumber belajar lengkap, sesuai, dan mutakhir, evaluasi dilakukan dengan lengkap dan sesuai, adanya pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada indikator, kesesuaian rancangan kegiatan pembelajaran dengan makna model pembelajaran, kesesuaian rancangan kegiatan pembelajaran dengan karakteristik model pembelajaran, kesesuaian rancangan kegiatan pembelajaran dengan sintaks model pembelajaran, adanya pengembangkan pendekatan saintifik (5M) pada langkah kegiatan pembelajaran, mengembangkan keterampilan abad 21 pada langkah kegiatan pembelajaran, dan kelengkapan instrumen penilaian. Media yang digunakan dan dibuat memuat adanya kesesuaian media dengan materi pembelajaran, kemudahan dalam penggunaan media, dan komposisi penyusun media (gambar, warna, dll) yang nampak. Lembar Kerja Peserta Didik dalam RPP juga dibuat dengan penyusunan LKPD yang sistematis, kelayakan isi dalam LKPD, kelayakan bahasa yang digunakan dalam LKPD, kelayakan kegiatan dalam LKPD, kelayakan tampilan dalam LKPD, dan kelayakan penyajian LKPD. Bahasa yang digunakan sesuai dengan PUEBI, sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, bahasa komunikatif, kalimat jelas dan mudah dimengerti, dan kejelasan petunjuk/arahan. 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Produk yang dikembangkan sesuai dengan spesifikasi produk dalam pemaparan pada bab I. Pertama, cover depan produk terdapat logo universitas; judul Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II; gambar yang mencerminkan hidup rukun; nama penulis; keterangan yang berisikan Program Studi yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan yaitu Ilmu Pendidikan, Fakultas yaitu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas yaitu Sanata Dharma Yogyakarta. Cover bagian belakang berisikan sinopsis dan bio data singkat penulis. Kedua, produk dicetak dalam ukuran kertas A4 dengan berat 70gr, supaya setiap bagian dalam RPP terlihat dengan jelas. Sedangkan sampul/cover dicetak dengan kertas ivory 230 supaya terlihat kokoh. Ketiga, produk ditulis menggunakan theme font “times new rowman” dengan spasi 1,5 supaya setiap bagian dalam RPP terlihat jelas. Keempat, kata pengantar berdapat ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa; penjelasan singkat tentang kerangka berpikir seputar pembelajaran inovatif model quantum learning dan inquiry, ucapan terimakasih kepada pihak yang telah bersedia membantu dan terlibat dalam penyusunan produk dan kesediaan penulis untuk menerima kritik dan saran yang terkait dengan produk yang dikembangkan. Kata pengantar yang dibuat tertera pada halaman iii. Kelima, daftar isi yang terdapat referensi dari berbagai sumber dan berisikan halaman yang digunakan untuk menyusun perangkat pembelajaran inovatif. Daftar isi tertera pada halaman vi. Keenam, produk Program Tahunan ditujukan untuk kelas II SD semester gasal dan genap. Program Tahunan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran yang dikembangkan sebagai pedoman untuk pengembangan program-program selanjutnya. Program Tahunan 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang disusun disesuaikan dengan kalender akademik tahun 2018/2019. Selain itu, Program Tahunan yang disusun juga memuat komponen yang sesuai dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: (1) identitas, yang meliputi satuan pendidikan, kelas, semester, tahun ajaran dan (2) format isian, yang meliputi tema, subtema, dan alokasi waktu (MBE). Ketujuh, produk Program Semester yang ditujukan untuk kelas II SD semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Program Semester yang disusun berpedoman pada Program Tahunan yang telah disusun. Program Semester adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun berdasarkan program tahunan dengan alokasi waktu satu semester. Penyusunan Program Semester disesuaikan dengan komponen yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: (1) identitas yang meliputi nama satuan pendidikan, kelas/semester, tahun ajaran dan (2) format isian yang meliputi tema, sub tema, pembelajaran, alokasi waktu, bulan yang terinci perminggu, dan keterangan yang diisi kapan pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Kedelapan, produk Silabus yang ditujukan untuk kelas II tema 1 Hidup Rukun yang terdiri dari 4 subtema tahun ajaran 2018/2019. Silabus yang disusun berpedoman pada Program Semester yang telah disusun. Silabus adalah ringkasan acuan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisikan tentang satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran. Penyusunan silabus disesuaikan oleh komponen menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016, yaitu identitas mata pelajaran, identitas sekolah, kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, tema, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Kesembilan, produk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang ditujukan untuk kelas II tema 1 Hidup Rukun dan subtema 4 Hidup 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rukun di Masyarakat. Rencana Pelaksanaan yang disusun sebanyak 6 (enam). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah pedoman yang digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran selama satu pertemuan atau lebih untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam silabus. Penyusunan RPP disesuaikan dengan komponen yang telah disesuaikan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016, yaitu (a) identitas RPP, (b) tujuan pembelajaran, (c) Kompetensi Inti (KI), (d) Kompetensi Dasar (KD) dan indikator, (e) materi ajar, (f) pendekatan, model, dan metode, (g) langkah-langkah kegiatan, (h) media, alat/bahan, dan sumber belajar, (i) penilaian, dan (j) lampiran. Di dalam lampiran berisikan yang berisikan video/bacaan literasi, lagu, materi pembelajaran, media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), instrumen penskoran dan rubrik penskoran KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4, lembar refleksi, soal pengayaan dan lembar pengayaan, lembar remedial, dan sintaks model quantum learning dan inquiry. Kesepuluh, RPP yang dikembangkan menerapkan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik menurut Sani (2014:53) yang berdasarkan teori Dyer, dapat dikembangkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran yang memiliki komponen proses pembelajaran antara lain: 1) mengamati; 2) menanya; 3) mencoba/ mengumpulkan informasi; 4) menalar/asosiasi; 5) membentuk jejaring (melakukan komunikasi). Pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun, langkah-langkah kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan saintifik sesuai dengan pemaparan tersebut. Kesebelas, RPP yang dikembangkan menerapkan pendekatan terpadu. Pendekatan terpadu menurut Murfiah (2017:7) bahwa pembelajaran terpadu memberikan sebuah pemahaman dari beberapa materi menghasilkan sebuah wajah baru yang disebut tema, isitilah tema yang dikembangkan saat ini terutama dalam 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendekatan Kurikulum 2013 merupakan perpaduan dari beberapa mata pelajaran. Pada RPP yang disusun oleh peneliti menerapkan pendekatan terpadu dengan memadukan berbagai beberapa mata pelajaran yang dikaitkan untuk menghasilkan sebuah pemahaman dari beberapa materi tersebut. Kedua belas, pendidikan karakter juga diterapkan pada RPP yang disusun oleh peneliti. Adanya penerapan pendidikan karakter menurut Sani (2014:28) akan menambahkan hasil belajar yang diharapkan dengan melakukan pendidikan karakter di sekolah adalah pengetahuan tentang moral (moral knowing), tindakan moral (moral action), dan perasaan moral (moral feeling). Pendidikan karekater ini dilaksanakan secara tidak sadar selama proses pembelajaran berlangsung. Ketiga belas, RPP mengacu Kuirkulum 2013 menerapkan penilaian otentik. Kurikulum 2013 mempertegas adanya perubahan dalam melakukan penilaian, yakni penilaian yang awalnya melalui tes untuk mengukur hasil dari kompetensi pengetahuan saja, diubah menjadi penilaian otentik yang mengukur tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dinilai berdasarkan proses dan hasil akhir yang diperoleh (Kunandar, 2015:36). Penilaian pengetahuan dilaksanakan dengan diadakan tes tertulis. Penilaian sikap dilaksanakan dengan adanya observasi yang dilakukan oleh guru. Sedangkan penilaian keterampilan dilaksanakan dengan adanya penugasan berupa unjuk kerja atau produk sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Keempat belas, keterampilan abad 21 yang mulai digalakkan pada Kurikulum 2013. Yani dan Ruhimat (2018:42) menyatakan adanya beberapa keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik di era digital pada abad-21, yaitu soft skill dan hard skill (keterampilan teknis). Soft skill yang perlu dikembangkan adalah 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan problem solving, komunikasi dan kolaborasi. Sedangkan untuk keterampilan teknis yang perlu dikembangkan yaitu keterampilan berpikir fungsional dan kritis seperti, literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT (Informasi, Komunikasi, dan Teknologi). Penerapan keterampilan abad 21 dilaksanakan dalam kegiatan yang mengajak peserta didik untuk mampu mengembangkan berpikir kritis, berpikir kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Semua itu dilaksanakan dengan adanya penyesuaian dengan kegiatan pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kelima belas, indikator pembelajaran mengembangkan kemampuan berpikir siswa pada tingkat tinggi (HOTS). Indikator mengacu pada kata kerja operasional yang dikembangkan oleh Taksonomi Bloom yang telah direvisi. Terdapat 6 (enam) klasifikasi tingkatan berpikir dari kompetensi paling rendah sampai kompetensi tingkat tinggi yaitu 1) mengingat, 2) memahami, 3) menerapkan, 4) menganalisis, 5) mengevaluasi, dan 6) mencipta. Kata kerja operasional yang digunakan dalam penyusunan RPP diambil dari kompetensi tingkat tinggi, yaitu pada menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keenam belas, penerapan model pembelajaran inovatif dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yaitu quantum learning dan inquiry. Model quamtum learning diterapkan pada pembelajaran 1, 4, dan 5. Sedangkan model pembelajaran inquiry diterapkan pada pembelajaran 2, 3, dan 6. Model pembelajaran ini diterapkan pada langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan disesuaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ketujuh belas, RPP yang dikembangkan sesuai dengan prinsip pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik dengan adanya rancangan langkah-langkah dan metode pembelajaran baru dengan tujuan 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Prinsip pada pembelajaran inovatif ini adalah berpusat pada siswa, berbasis masalah dengan tujuan peserta didik dapat memecahkan masalah, terintegrasi antartopik yang sama, berbasis masyarakat, memberikan pilihan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan pilihannya, tersistem dengan pembelajaran yang berurutan, dan berkelanjutan dengan pembahasan yang selanjutnya. Kedelapan belas, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penyusunan perangkat pembelajaran memperhatikan ketentuan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang meliputi tanda baca, huruf kapital, nama orang, nama tempat, dan kata penghubung yang digunakan. Dengan demikian, produk yang dikembangkan dapat dikatakan memiliki kualitas yang “sangat baik” dan layak untuk diujicobakan lebih luas sebagai perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu pada Kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar. 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENGEMBANGAN, DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, peneliti menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1a. Validasi produk perangkat pembelajaran yang dilaksanakan oleh dua pakar perangkat pembelajaran inovatif diperoleh hasil perangkat pembelajaran menggunakan model quantum learning memperoleh hasil 4,18 dengan kategori “baik”. Sedangkan perangkat pembelajaran yang menggunakan model inquiry memperoleh skor 4,25 dengan kategori “sangat baik. Dari hasil validasi produk menggunakan dua model pembelajaran dapat diperoleh skor rerata yaitu 4,22 dengan kategori “sangat baik”. b. Validasi uji coba perangkat pembelajaran yang dilaksanakan oleh satu guru SD kelas II dan satu teman sejawat diperoleh hasil perangkat pembelajaran menggunakan model quantum learning memperoleh hasil 4,79 dengan kategori “sangat baik”. Sedangkan perangkat pembelajaran yang menggunakan model inquiry memperoleh skor 4,79 dengan kategori “sangat baik. Dari hasil validasi uji coba menggunakan dua model pembelajaran dapat diperoleh skor rerata yaitu 4,79 dengan kategori “sangat baik”. Berdasarkan pelaksanaan dua validasi, yaitu validasi produk perangkat pembelajaran dan validasi uji coba maka dapat diperoleh skor rerata keseluruhan yaitu 4,50 dengan kategori “sangat baik” karena sesuai dengan instrumen validasi produk perangkat pembelajaran dan validasi uji coba, sehingga produk yang telah disusun dan divalidasi dapat diujicobakan ke dalam sasaran yang lebih luas. 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. Keterbatasan Pengembangan Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki keterbatasan yang dipaparkan sebagai berikut: 1. Wawancara dan observasi untuk analisis kebutuhan hanya dilakukan kepada 3 (tiga) guru Sekolah Dasar. 2. Pelaksanaan uji coba dilakukan pada 5 (lima) pembelajaran dari keseluruhan 6 (enam) pembelajaran karena tidak memperoleh ijin dari pihak sekolah. 3. Validasi produk perangkat pembelajarn hanya divalidasi oleh 2 (dua) pakar pembelajaran inovatif, yaitu satu guru kelas II Sekolah Dasar dan satu PPG. C. Saran 1. Wawancara dan observasi analisis kebutuhan sebaiknya dilakukan dengan lebih dari 3 (tiga) guru SD Kelas II sebagai pelaksana Kurikulum 2013 sehingga data yang diperoleh lebih jelas menunjukkan kebutuhan para guru. 2. Pelaksanaan uji coba sebaiknya dilaksanakan selama 6 (enam) pembelajaran atau 1 (satu) subtema sesuai dengan subtema yang dipilih sehingga data yang diperoleh dari hasil uji coba lebih jelas untuk menunjukkan kelebihan penggunaan model pembelajaran inovatif. 3. Validasi produk pembelajaran inovatif sebaiknya dapat dilakukan oleh lebih dari 2 (dua) pakar pembelajaran inovatif, sehingga dapat diketahui hasil validasi dan revisi dari beberapa pakar untuk memperbaiki kualitas produk. 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Pustaka Akbar, Sa’dun. (2013). Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Akbar, dkk. (2016). Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Alwi, Mijahamuddin. (2015). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Berbasis Kontekstual pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Educatio. Volume 8 (No. 2): 69-80. Amri, Sofan. (2013). Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya. Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Baun, ADL. 2015. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mengacu Kurikulum 2013 pada Subtema Pemanfaatan Energi untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Endrayanto, Herman Yosep Sunu dan Yustina Wahyu Harumurti. (2014). Penilaian Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: PT Kanisius. Daryanto. (2014). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013.Yogyakarta: Gava Media. Dewi, Finita. (2015). Proyek Buku Digital: Upaya Peningkatan Keterampilan Abad 21 Calon Guru Sekolah Dasar Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek. Metodik Didaktik. Volume 9 (No. 2): 1-15. Hartono, Fondaline Sri, dkk. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Kuantum Tipe Tandur untuk Meningkatkan Motivasi dan Kemampuan Menulis. Jurnal Penelitian Bahasa. Volume 1 (No. 3): 463-471. Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21 Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Ghalia Indonesia. 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar (SD). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Kunandar. (2016). Penilaian Autentik (Penilaian Hasi Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: Rajawali Pers. Kurniasih dan Sani B. (2014). Implementasi Kurikulum 2013 Konsep & Penerapan. Surabaya: Kata Pena. Majid, Abdul. (2014). Penilaian Autentik Proses dan Hasil Belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mudlofir, Ali dan Evi Fatimatur Rusydiyah. (2015). Desain Pembelajaran Inovatif Dari Teori ke Paktik. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. Mulyasa E. (2017). Pengembangan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya. Murfiah, Uum. (2017). Pembelajaran Terpadu Teori & Praktik Terbaik di Sekolah. Bandung: PT Refika Aditama. Ngalimun. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin: Aswaja Pressindo. Nurdyansyah dan Eni Fariyarul Fahyuni. (2016). Inovasi Model Pembelajaran. Sidoarjo: Nizamia Learning Center. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2016). Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2016). Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Prastowo, Andi. (2015). Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu Implementasi Kurikulum 2013 untuk SD/MI. Jakarta: Prenadamedia Group. Sambi. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Quamtum Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SD Negeri 017 Bagan Limau Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan. Jurnal 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Volumme 5 (No.3): 368-384. Sanjaya, H W. (2011). Penelitian Pendidikan Jenis Metode dan Prosedur. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sani, Ridwan Abdullah. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sani, Ridwan Abdullah. (2016). Penilaian Autentik. Jakarta: PT Bumi Aksara. Santi, Dewi, dkk. (2015). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik pada Pokok Bahasan Lingkaran Kelas VIII SMP. Jurnal Kadikma.Volume 6 (No. 1): 85-94. Shoimin, Aris. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Media. Sugiyanto. (2010). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pressindo. Sugiyono. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung: Alfabeta. Suharmanto, Agus. (2008). Perencanaan dan Pembelajaran Inovatif. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Sukardjo. (2008). Kumpulan Materi Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sundayana, Wachyu. (2014). Pembelajaran Berbasis Tema Panduan Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Erlangga. Susilowati, dkk. (2017). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terpadu Tipe Shared Berbasis Kegiatan Ekonomi Kreatif untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar (Vol 2). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sutanto, Purwadi. (2017). Panduan Implementasi Abad 21 Kurikulum 2013 di Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menegah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo. Masmedia Buana Pustaka. Uno, Hamzah B dan Nurdin Mohamad. (2011). Belajar dengan Pendekatan Pembelajaran PAILKEM. Jakarata: Bumi Aksara. Yani, Ahmad dan Mamat Ruhimat. (2018). Teori dan Implementasi Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Bandung: PT Refika Aditama. 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 : Pedoman Wawancara dan Obervasi Pedoman Wawancara No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Pertanyaan Sejak kapan SD ini menerapkan Kurikulum 2013? Apakah bapak atau ibu pernah mengikuti pelatihan Kurikulum SD 2013? Sejauh mana pemahaman bapak/ibu terhadap Kurikulum SD 2013? Apakah bapak/ibu sudah mengetahui karakteristik Kurikulum SD 2013? Sejauh mana pemahaman bapak/ibu terkait dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran? Bagaimana cara bapak/ibu merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa? Bagaimana cara bapak/ibu menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran? Apakah bapak/ibu setiap pembelajaran menggunakan RPP dengan model pembelajaran yang berbeda? Apakah tujuan pembelajaran yang bapak/ibu kembangkan sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter? Apakah bapak/ibu mengetahui keterampilan yang harus dikuasai sesuai pada abad 21 seperti (berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi)? Apakah dalam pembuatan RPP bapak/ibu sudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan tersebut (berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikasi) Apakah pembelajaran dengan ceramah masih mendominasi di kelas? Pernahkah bapak/ibu menggunakan model pembelajaran inovatif yang lain? Apakah modelnya itu? Apakah ibu/bapak mengetahui pembelajaran inovatif? Kesulitan apa saja yang bapak/ibu alami dalam pembuatan model pembelajaran inovatif? Bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dialami? Apakah contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 sudah tersedia di sekolah bapak/ibu? Apakah bapak/ibu masih perlu bentuk contoh untuk perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 (model PBL, model inquiry, dan model pembelajaram kooperatif, model kuantum dbs? Apakah siswa pernah merasa bosan ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas? Apakah bapak/ibu mempunyai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa? Menurut bapak/ibu apakah perangkat pembelajaran inovatif penting jika diterapakan dalam proses pembelajaaran dewasa ini? Apakah bapak/ibu sudah mengetahui tes jenis belajar menurut Taksonomi Bloom yang direvisi? 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pedoman Observasi Guru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Pernyataan Kegiatan Awal (Pendahuluan) Guru membuka pembelajaran dengan berdoa Guru melakukan presensi kepada siswa Guru menggunakan apersepsi untuk menuju materi yang akan diajarkan sebagai pengantar memulai pelajaran Guru menjelaskan tujuan pembelajaran Guru memberikan motivasi Kegiatan Inti Guru menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan Guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari Guru menggunakan media pembelajaran dan sumber pembelajaran dengan tepat Guru menggunakan metode yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menggunakan model yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menerapkan 5M pada siswa Guru menggunakan bahasa baku yang baik Guru menggunakan artikulasi dan volume yang jelas Guru menggunakan pakaian yang rapi dan berwibawa Guru memusatkan perhatian siswa saat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal Guru tidak berpaku pada satu tempat Guru memberikan contoh pada siswa pada kehidupan sehari-hari Guru memberikan apresiasi kepada siswa Guru menggunakan sumber pembelajaran berbasis teknologi pada pembelajaran Guru dapat mengondisikan kelas dengan baik Guru menekankan pendidikan karakter pada siswa Guru membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik Guru sebagai fasilitator pada proses pembelajaran Kegiatan Penutup Guru membuat ringkasan secara lisan Guru membuat ringkasan secara tertulis Guru menunjukkan sumber lain Guru melakukan refleksi untuk memeroleh pengalaman belajar yang telah dilakukan Ya Tidak 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. 29. 30. Guru memberikan motivasi kepada siswa yang belum berpartisipasi aktif. Guru memberikan evaluasi kepada siswa Guru memberikan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang disampaikan Pedoman Observasi Siswa No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pernyataan Siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran Siswa memberikan umpan balik apersepsi dari guru Siswa memerhatikan guru saat menyampaikan materi Siswa mengajukan pertanyaan Siswa mampu bekerja sama saat kegiatan berkelompok Siswa mampu mengomunikasikan hasil diskusi Siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran Siswa memahami penjelasan yang telah disampaikan guru Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara lisan Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara tertulis Ya Tidak 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Laporan Hasil Wawancara dan Observasi Rangkuman Hasil Wawancara dan Observasi RANGKUMAN WAWANCARA SURVEI KEBUTUHAN 1. SD NEGERI DERESAN Nama Guru No : Nur Fitriana, M.A (Guru Kelas II A) Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan 1. Sejak kapan SD ini SD Negeri Deresan menggunakan menerapkan kurikulum Kurikulum 2013 sejak tahun ajaran 2013? 2014/2015. Kurikulum 2013 dapat terlaksana dengan baik dari awal diterapkan hingga sekarang pada tahun ajaran 2018/2019 yang tetap menggunakan Kurikulum 2013. 2. Apakah bapak atau ibu pernah mengikuti pelatihan Kurikulum SD 2013? 3. Sejauh mana pemahaman Guru berpendapat bahwa Kurikulum 2013 ibu terhadap kurikulum adalah kurikulum yang dapat membuat SD 2013? pembelajaran menjadi menyenangkan karena proses pembelajaran yang fleksibel. Tetapi masih mengalami kesulitan pada bagian penilaian yang masih dianggap rumit dengan adanya penilaian untuk setiap KD dalam setiap aspek. Guru merasa perlu adanya pelatihan lagi untuk membahas mengenai penilaian. 4. Apakah ibu sudah Guru telah mengetahui beberapa mengetahui karakteristik karakteristik Kurikulum 2013, yaitu adanya kurikulum SD 2013? tiga aspek yang harus dikembangkan dan adanya pendidikan karakter. Pada Kurikulum 2013 ada tiga aspek yang harus dikembangkan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor yang harus seimbang dikembangkan dalam proses pembelajaran. Guru wali kelas II SD Negeri Deresan sudah pernah mengikuti pelatihan Kurikulum SD 2013. Pelaksanaan pelatihan dilakukan sebanyak tiga kali yang membahas mengenai Kurikulum 2013, perangkat pembelajaran, penilaian, dan proses pembelajaran. 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan Pengembangan tersebut diiringi dengan adanya pendidikan karakter yang disesuaikan dengan materi atau proses pembelajaran. 5. Sejauh mana pemahaman ibu terkait dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran? Guru mengetahui adanya pendekatan saintifik yang didalamnya terdapat 5M sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. 5M tersebut mencakup mengamati, menanyan, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. 6. Bagaimana cara ibu merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa? Sebelum merumuskan, guru terlebih dahulu melihat silabus yang digunakan sebagai pedoman. Kemudian dikembangkan kedalam materi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Penyesuaian ini melibatkan kondisi lingkungan atau memanfaatkan lingkungan untuk mendukung proses pembelajaran. Diharapkan dengan adanya keterkaitan dengan lingkungan akan semakin mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran karena sudah sesuai dengan kemampuan siswa. Setelah mengetahui keterkaitan lingkungan dengan materi, barulah guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran. 7. Bagaimana cara ibu menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran? Penyampaian pendidikan karakter dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru disesuaikan dengan Kurikulum 2013 yang digunakan. Pendidikan karakter diberikan ketika proses pembelajaran berlangsung. Misalnya dengan adanya kerja sama dalam kelompok, maka peserta didik dapat belajar cara menghargai dan mau bekerja sama dengan siapa saja. Dengan cara tersebut, maka secara tidak langsung dalam proses pembelajaran murid juga mendapatkan pendidikan karakter. 8. Apakah ibu pembelajaran menggunakan setiap Penggunaan model pembelajaran di SD Negeri Deresan selalu dibuat bervariasi RPP oleh guru dengan tujuan peserta didik dapat 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan dengan pembelajaran berbeda? Jawaban Pertanyaan model menikmati proses pembelajaran. Walaupun yang hanya beberapa model pembelajaran yang dipahami oleh guru, misalnya cooperative learning dan PBL, tetapi guru selalu membuat proses pembelajaran menjadi bervariasi dengan model yang digunakan. 9. Apakah tujuan pembelajaran yang ibu kembangkan sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter? Guru selalu mengupayakan adanya pengembangan pendidikan karakter dalam setiap proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter selalu diupayakan untuk mengiringi selama proses pembelajaran berlangsung. Tetapi dalam tujuan pembelajaran yang ditulis, guru kurang memerhatikan adanya penulisan dalam upaya pengembangan pendidikan karakter. 10. Apakah ibu mengetahui keterampilan yang harus dikuasai sesuai pada abad 21 seperti (berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi)? Guru sudah mengetahui mengenai keterampilan abad 21. Tetapi dalam penerapan dalam proses pembelajaran belum maksimal diterapkan dalam setiap proses pembelajaran. 11. Apakah dalam pembuatan RPP ibu sudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan tersebut (berpikir kritis, kretif, kolaboratif, komunikasi) Guru belum menerapkan keterampilan abad 21 secara maksimal dalam setiap proses pembelajaran. Terkadang hanya menerapkan tiga keterampilan dari empat keterampilan abad 21. Dalam pembuatan RPP juga belum dilengkapi dengan perumusan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan abad 21. 12. Apakah pembelajaran Guru di SD Negeri Deresan sudah tidak dengan ceramah masih mendominasi penggunaan metode ceramah. mendominasi di kelas? Ceramah hanya digunakan ketika materi yang dianggap perlu dijelaskan dengan menggunakan metode ceramah. Sedangkan selebihnya lebih menggunakan metode lain yang mendukung proses belajar yang berpusat pada peserta didik. 13. Pernahkah menggunakan ibu Model pembelajaran inovatif yang biasanya model digunakan oleh guru yaitu cooperative 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan pembelajaran yang lain? modelnya itu? Jawaban Pertanyaan inovatif learning dan PBL. Selain itu guru tidak Apakah menggunakan model pembelajaran inovatif yang lainnya karena guru juga kurang mengetahui variasi model pembelajaran inovatif. 14. Apakah ibu mengetahui Guru mengetahui mengenai pembelajaran pembelajaran inovatif? inovatif, yaitu pembelajaran yang dirancang dengan adanya pembaharuan atau bersifat baru dan berbeda dengan pembelajaran yang sebelumnya. Apabila penggunaan pembelajaran tersebut dilakukan secara terus, maka bukan termasuk pembelajaran inovatif. 15. Kesulitan apa saja yang ibu alami dalam pembuatan model pembelajaran inovatif? 16. Bagaimana cara Kesulitan tersebut diatasi oleh guru dengan mengatasi kesulitan yang menanyakan terlebih dahulu dengan peserta dialami? didik, apakah mau menggunakan model pembelajaran inovatif tersebut atau tidak. Jika peserta didik mau, maka guru akan mendesain model pembelajaran tersebut. Tetapi apabila peserta didik tidak mau, maka guru akan mencari model pembelajaran yang lainnya. 17. Apakah contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 sudah tersedia di sekolah ibu? 18. Apakah ibu masih perlu Guru membutuhkan contoh, karena guru bentuk contoh untuk hanya mengetahui beberapa model perangkat pembelajaran pembelajaran saja. Dengan adanya contoh, Guru tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan model pembelajaran inovatif, karena guru telah mendapat banyak inspirasi. Inspirasi diperoleh dari internet dan bahkan antarguru. Setelah mendapatkan inspirasi, guru tinggal menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sehingga kesulitan hanya dialami ketika penyesuaian model pembelajaran inovatif dengan karakteristik peserta didik. Sekolah sudah menyediakan contoh mengenai perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Tetapi, dalam pengaplikasiannya guru masih mengalami kesulitan. 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan inovatif yang mengacu maka guru mendapatkan inspirasi mengenai Kurikulum 2013 (model model baru yang akan digunakan dalam PBL, model inquiry, dan proses pembelajaran. model pembelajaram kooperatif, model kuantum dbs? 19. Apakah siswa pernah merasa bosan ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas? Guru di SD Negeri Deresan sering menerapkan pembelajaran inovatif di kelas. Hal itu berdampak positif bagi peserta didik, karena peserta didik merasa senang dan menikmati proses pembelajaran. Bahkan tidak jarang peserta didik ingin mengulangi pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inovatif tersebut untuk diterapkan lagi pada pembelajaran yang akan datang. 20. Apakah ibu mempunyai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa? Guru sangat ingin mengembangkan pembelajaran inovatif, karena peserta didik juga menyukai adanya pembelajaran inovatif ketika proses pembelajaran. Penggunaan pembelajaran inovatif ini juga berdampak pada meningkatnya prestasi peserta didik. Oleh sebab itu, guru mempunyai rencana mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik. 21. Menurut ibu apakah perangkat pembelajaran inovatif penting jika diterapakan dalam proses pembelajaaran dewasa ini? Perangkat pembelajaran inovatif ini sangat dibutuhkan karena sesuai dengan Kurikulum 2013. Selain itu, karakter peserta didik juga sudah bisa menyesuaikan dengan penggunaan Kurikulum 2013, misalnya aktif. Maka dari itu, penerapan tersebut dianggap penting karena akan memfasilitasi peserta didik dalam belajar. 22. Apakah ibu sudah mengetahui tes jenis belajar menurut Taksonomi Bloom yang direvisi? Guru sudah mengetahui mengenai taksonomi bloom yang telah direvisi. Guru juga sudah megetahui mengenai tentang tes jenis belajar tersebut. Tetapi, terkadang guru masih mengalami kesulitan ketika membuat soal sesuai dengan taksonomi 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan bloom yang telah direvisi, terutama untuk tingkat tinggi atau HOTS. RANGKUMAN OBSERVASI SURVEI KEBUTUHAN SD NEGERI DERESAN Nama Guru : Nur Fitriana, M.A (Guru Kelas II A) Lembar Observasi Guru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Pernyataan Kegiatan Awal (Pendahuluan) Guru membuka pembelajaran dengan berdoa Guru melakukan presensi kepada siswa Guru menggunakan apersepsi untuk menuju materi yang akan diajarkan sebagai pengantar memulai pelajaran Guru menjelaskan tujuan pembelajaran Guru memberikan motivasi Kegiatan Inti Guru menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan Guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari Guru menggunakan media pembelajaran dan sumber pembelajaran dengan tepat Guru menggunakan metode yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menggunakan model yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menerapkan 5M pada siswa Guru menggunakan bahasa baku yang baik Guru menggunakan artikulasi dan volume yang jelas Guru menggunakan pakaian yang rapi dan berwibawa Guru memusatkan perhatian siswa saat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal Guru tidak berpaku pada satu tempat Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Pernyataan Guru memberikan contoh pada siswa pada kehidupan sehari-hari Guru memberikan apresiasi kepada siswa Guru menggunakan sumber pembelajaran berbasis teknologi pada pembelajaran Guru dapat mengondisikan kelas dengan baik Guru menekankan pendidikan karakter pada siswa Guru membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik Guru sebagai fasilitator pada proses pembelajaran Kegiatan Penutup Guru membuat ringkasan secara lisan Guru membuat ringkasan secara tertulis Guru menunjukkan sumber lain Guru melakukan refleksi untuk memeroleh pengalaman belajar yang telah dilakukan Guru memberikan motivasi kepada siswa yang belum berpartisipasi aktif. Guru memberikan evaluasi kepada siswa Guru memberikan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang disampaikan Ya √ Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Lembar Observasi Siswa No Pernyataan 1. Siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran 2. Siswa memberikan umpan balik apersepsi dari guru 3. Siswa memerhatikan guru saat menyampaikan materi 4. Siswa mengajukan pertanyaan 5. Siswa mampu bekerja sama saat kegiatan berkelompok 6. Siswa mampu mengomunikasikan hasil diskusi 7. Siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran Ya √ Tidak √ √ √ √ √ √ 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. 9. 10. Siswa memahami penjelasan yang telah disampaikan guru Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara lisan Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara tertulis √ √ √ RANGKUMAN WAWANCARA SURVEI KEBUTUHAN 2. SD NEGERI DAYUHARJO Nama Guru No : Muhammad Yulianto, S.Pd.SD (Guru Kelas II) Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan 1. Sejak kapan SD ini SD Negeri Dayuharjo menggunakan menerapkan Kurikulum 2013 sejak tahun 2013, tetapi kurikulum 2013? hanya setahun karena segala perangkat pendukung berbasis teknologi masih belum mendukung. Disisi lain buku untuk kurikulum 2013 juga belum siap, dan SDM untuk tenaga pendidiknya terutama yang senior juga belum bisa mengikuti seperti yang diinginkan kurikulum 2013. Akhirnya pada tahun ajaran 2014-2016 SD tersebut kembali menggunakan KTSP. Mulai menggunakan Kuirkulum 2013 pada tahun 2016 sampai sekarang. 2. Apakah bapak pernah Guru wali kelas II SD Negeri Dayuharjo mengikuti pelatihan sudah pernah mengikuti pelatihan Kurikulum Kurikulum SD 2013? SD 2013. Pelaksanaan pelatihan dilakukan selama satu minggu untuk membahas mengenai Kurikulum 2013, tetapi pembahasan yang dilakukan belum mendalam sampai pada kegiatan praktik pelaksanaan Kurikulum 2013. 3. Sejauh mana pemahaman bapak terhadap kurikulum SD 2013? Guru berpendapat bahwa Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Penyempurnaan tersebut diantaranya guru lebih berperan sebagai fasilitator, pendekatan yang digunakan yaitu saintifik, dan adanya 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan pembelajaran terpadu yang memadukan antarmata pelajaran ke dalam satu tema. 4. Apakah bapak sudah mengetahui karakteristik kurikulum SD 2013? Guru telah mengetahui beberapa karakteristik Kurikulum 2013, yaitu mengajak guru dan siswa untuk mampu berpikir kreatif, inovatif, dan diharapkan peserta didik dapat lebih mandiri. 5. Sejauh mana pemahaman bapak terkait dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran? Guru mengetahui adanya pendekatan saintifik, yaitu pendekatan yang berhubungan dengan ilmu kependidikan mengacu pada media visual, teknologi, dan mengikuti perkembangan zaman. 6. Bagaimana cara bapak merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa? Caranya, guru membuat indikator sesuai dengan Kompetensi Dasar dan berhubungan dengan pokok pembelajaran. Para guru di SD Dayuharjo biasanya tidak membuat RPP dan perangkat pembelajaran, karena semua sudah disediakan oleh pusat. Namun saat KTSP semua perangkat pembelajarannya harus dibuat sendiri. Perangkat pembelajaran dari pusat tersebut adalah perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru yang sudah diseleksi perangkat pembelajaran paling baik dan layak digunakan. Perangkat pembelajaran yang sudah dibuat tersebut dapat digunakan selama satu tahun. 7. Bagaimana cara bapak menumbuhkembangka n pendidikan karakter dalam pembelajaran? Pendidikan karakter diberikan oleh guru dengan cara pemberian contoh perilaku, memberikan pertanyaan ke arah norma dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang harus dan tidak untuk dilakukan, dan memberikan nasihat. 8. Apakah bapak setiap Guru pernah mencoba menggunakan model pembelajaran pembelajaran, tetapi karena adanya menggunakan RPP Kurikulum 2013 yang menggunakan dengan model pendekatan saintifik sudah dianggap cukup pembelajaran yang untuk melaksanakan proses pembelajaran berbeda? dan membuat peserta didik lebih aktif, maka guru tidak menggunakan model pembelajaran lagi. 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan 9. Apakah tujuan pembelajaran yang bapak kembangkan sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter? Perumusan tujuan pembelajaran sudah dilengkapi dengan pencapaian pendidikan karakter. Adanya pendidikan karakter ini disesuaikan dengan pembelajaran yang akan dipelajari. 10. Apakah bapak mengetahui keterampilan yang harus dikuasai sesuai pada abad 21 seperti (berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi)? Guru sudah mengetahui adanya keterampilan abad 21, tetapi dalam pelaksanaannya guru tidak mengimplementasikan keseluruhan keterampilan. Pada keterampilan berpikir kritis masih bekum diimplementasikan karena untuk kelas bawah masih sedikit sulit, apalagi dengan adanya latar belakang yang berbeda dari peserta didik. 11. Apakah dalam pembuatan RPP bapak sudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan tersebut (berpikir kritis, kretif, kolaboratif, komunikasi) Guru sudah melaksanakan pembelajaran dengan adanya keterampilan adab 21, misalnya pada pembelajaran membuat kerajinan menggunakan bahan alami dan bahan buatan. 12. Apakah pembelajaran Guru masih menggunakan metode ceramah dengan ceramah masih tetapi memang tidak mendominasi. mendominasi di kelas? Selebihnya peserta didik yang diberikan kesempatan untuk menunjukkan kepercayaan dirinya dan aktif dalam proses pembelajaran. 13. Pernahkah bapak Guru belum pernah mencoba menggunakan menggunakan model model pembelajaran, karena akan pembelajaran inovatif membutuhkan waktu yang lebih lama dalam yang lain? Apakah mempersiapkan. Guru harus menyesuaikan modelnya itu? model pembelajaran dengan karakteristik peserta didik yang tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi terkadang tanpa persiapan, guru menggunakan model pembelajaran dalam proses pembelajaran secara spontan, walaupun tidak diketaui apa nama model pembelajaran tersebut. 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan 14. Apakah bapak Pengetahuan guru mengenai pembelajaran mengetahui inovatif masih kurang, sehingga dalam pembelajaran inovatif? proses pembelajaran pun guru juga tidak menerapkan pembelajaran inovatif. Biasanya guru hanya menerapkan pembelajaran sesuai dengan buku guru. 15. Kesulitan apa saja yang bapak alami dalam pembuatan model pembelajaran inovatif? 16. Bagaimana cara Cara guru mengatasi kesulitan tersebut mengatasi kesulitan dengan menyesuaikan kemampuan peserta yang dialami? didik dengan model pembelajaran yang digunakan. 17. Apakah contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 sudah tersedia di sekolah bapak? Sekolah telah menyediakan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, karena dari pusat sudah disedikan lengkap mulai dari prota, prosem, silabus, dan RPP. 18. Apakah bapak masih perlu bentuk contoh untuk perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 (model PBL, model inquiry, dan model pembelajaram kooperatif, model kuantum dbs? Guru membutuhkan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 supaya dalam proses pembelajaran lebih bervariasi yang akan membuat peserta didik lebih bersemangat belajar. 19. Apakah siswa pernah Guru merasakan bahwa peserta didik bosan merasa bosan ketika ketika pembelajaran yang sama berulang kali guru menerapkan Kesulitan yang dialami guru yaitu ketika perangkat pembelajaran yang digunakan kurang sesuai dengan kondisi nyata. Pada perangkat pembelajaran biasanya diterapkan adanya berpikir tingkat tinggi, padahal peserta didik masih kesulitan untuk berpikir tingkat tinggi, sehingga itulah yang menyebabkan guru kesulitan untuk menyesuaikan. 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan pembelajaran inovatif diterapkan. Akhirnya guru harus mengganti di kelas? dengan pembelajaran yang lainnya. 20. Apakah bapak mempunyai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa? Guru memiliki rencana untuk mencoba menerapkan model pembelajaran agar proses pembelajaran lebih bervariasi dan menambah pengetahuan yang dimiliki guru juga meningkat. 21. Menurut bapak apakah perangkat pembelajaran inovatif penting jika diterapakan dalam proses pembelajaaran dewasa ini? Guru berpendapat bahwa perangkat pembelajaran inovatif penting diterapkan dalam proses pembelajaran dewasa ini. Dianggap penting karena dewasa karena dengan adanya pembelajaran yang inovatif akan membuat suasana belajar yang menyenangkan. 22. Apakah bapak sudah mengetahui tes jenis belajar menurut Taksonomi Bloom yang direvisi? Guru sudah mengetahui tentang tes jenis belajar menurut taksonomi bloom yang direvsi, tetapi dalam penerapan guru belum dapat menerapkan secara maksimal karena terkadang masih mengalami kebingungan. RANGKUMAN OBSERVASI SURVEI KEBUTUHAN SD NEGERI DAYUHARJO Nama Guru : Muhammad Yulianto, S.Pd.SD (Guru Kelas II) Lembar Observasi Guru No 1. 2. 3. 4. Pernyataan Kegiatan Awal (Pendahuluan) Guru membuka pembelajaran dengan berdoa Guru melakukan presensi kepada siswa Guru menggunakan apersepsi untuk menuju materi yang akan diajarkan sebagai pengantar memulai pelajaran Guru menjelaskan tujuan pembelajaran Ya Tidak √ √ √ √ 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. Pernyataan Guru memberikan motivasi Kegiatan Inti Guru menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan Guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari Guru menggunakan media pembelajaran dan sumber pembelajaran dengan tepat Guru menggunakan metode yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menggunakan model yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa Guru menerapkan 5M pada siswa Guru menggunakan bahasa baku yang baik Guru menggunakan artikulasi dan volume yang jelas Guru menggunakan pakaian yang rapi dan berwibawa Guru memusatkan perhatian siswa saat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal Guru tidak berpaku pada satu tempat Guru memberikan contoh pada siswa pada kehidupan sehari-hari Guru memberikan apresiasi kepada siswa Guru menggunakan sumber pembelajaran berbasis teknologi pada pembelajaran Guru dapat mengondisikan kelas dengan baik Guru menekankan pendidikan karakter pada siswa Guru membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik Guru sebagai fasilitator pada proses pembelajaran Kegiatan Penutup Guru membuat ringkasan secara lisan Guru membuat ringkasan secara tertulis Guru menunjukkan sumber lain Guru melakukan refleksi untuk memeroleh pengalaman belajar yang telah dilakukan Guru memberikan motivasi kepada siswa yang belum berpartisipasi aktif. Guru memberikan evaluasi kepada siswa Ya √ Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 30. Pernyataan Guru memberikan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang disampaikan Ya √ Tidak Ya √ Tidak Lembar Observasi Siswa No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pernyataan Siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran Siswa memberikan umpan balik apersepsi dari guru Siswa memerhatikan guru saat menyampaikan materi Siswa mengajukan pertanyaan Siswa mampu bekerja sama saat kegiatan berkelompok Siswa mampu mengomunikasikan hasil diskusi Siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran Siswa memahami penjelasan yang telah disampaikan guru Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara lisan Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara tertulis √ √ √ √ √ √ √ √ √ RANGKUMAN WAWANCARA SURVEI KEBUTUHAN 3. SD NEGERI TEGALREJO 3 YOGYAKARTA Nama Guru No 1 : Budi Asih. S.Pd. SD (Guru Kelas II B) Daftar Pertanyaan Jawaban Pertanyaan Sejak kapan SD ini SD Negeri Tegalrejo 3 sudah menggunakan menerapkan kurikulum Kurikulum 2013, tepatnya di tahun 2015. 2013? Awal penggunaan masih belum dapat menerapkan dengan maksimal sesuai dengan Kurikulum 2013 karena adanya perbedaan dengan kurikulum sebelumnya. Tetapi setelah dijalani selama dua tahun, guru sudah mampu menerapkan dengan baik dan peserta didik sudah dapat mengikuti dengan baik pula. 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 2 Daftar Pertanyaan Apakah bapak atau ibu pernah mengikuti pelatihan Kurikulum SD 2013? 3 Sejauh mana pemahaman ibu terhadap kurikulum SD 2013? 4 Apakah ibu sudah mengetahui karakteristik kurikulum SD 2013? 5 Sejauh mana pemahaman ibu terkait dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran? 6 Bagaimana cara ibu merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa? 7 Bagaimana cara ibu menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran? Jawaban Pertanyaan Guru sudah mengikuti kegiatan pelatihan Kurikulum SD 2013 sebanyak satu kali. Pelatihan tersebut membahas mengenai pengenalan Kurikulum 2013. Guru merasa membutuhkan pelatihan lagi karena guru masih mengalami kesulitan dalam penerapkan Kurikulum 2013. Guru berpendapat Kurikulum 2013, yaitu proses pembelajaran yang menggunakan tema dalam setiap pembelajaran. Materi yang disampaikan lebih jelas dan lebih mudah dipahami oleh peserta didik karena adanya keterkaitan dengan mata pelajaran yang lainnya. Guru mengetahui karakteristik Kurikulum 2013, yaitu adanya keterkaitan antarmata pelajaran yang dikelompokkan berdasarkan tema. Selain itu, dalam proses penilaian terdapat tiga ranah yang harus dinilai yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan saintifik adalah panduan proses pembelajaran yang digunakan dalam Kurikulum 2013. Panduan ini berisikan 5M yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan oleh peserta didik walaupun masih membutuhkan bimbingan dari guru. Guru terkadang tidak membuat RPP karena sudah disediakan oleh pusat, sehingga guru hanya tinggal mengakses dari internet. Tetapi apabila RPP tersebut tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik, maka guru harus membuatnya. Biasanya dalam perumusan indikator, guru menyesuaikan kondisi lingkungan, baik di rumah maupun di sekolah agar peserta didik lebih mudah memahami. Pengembangkan pendidikan karakter biasanya dilakukan secara tidak sadar oleh peserta didik. Misalnya dengan adanya pembiasaan hal sederhana untuk berdoa sebelum memulai suatu kegiatan, jujur, disiplin, menghargai teman, tidak 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 8 Daftar Pertanyaan Apakah ibu pembelajaran menggunakan dengan pembelajaran berbeda? setiap RPP model yang Jawaban Pertanyaan membeda-bedakan antarteman, dan selalu datang sekolah tepat waktu. Guru terkadang tindak membuat RPP, sehingga model yang digunakan sama dengan RPP yang didapatkan dari internet. Biasanya model pembelajaran yang digunakan yaitu cooperative learning dengan tipe example non example dan direct instruction yang menuntun peserta didik mempelajari materi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, terkadang guru masih menerapkan metode ceramah karena untuk mendidik peserta didik kelas bawah, maka masih perlu adanya bimbingan dari guru. Guru mengetahui adanya pendidikan karakter yang harus dipelajari peserta didik dan guru juga menerapkan pendidikan karakter tersebut. Tetapi dalam penulisan perangkat pembelajaran khususnya RPP guru tidak mencantumkan pendidikan karakter dalam tujuan pembelajaran. Guru kurang memahami mengenai keterampilan abad 21 secara toeri maupun praktik. Tetapi guru pernah mendengar mengenai keterampilan abad 21. 9 Apakah tujuan pembelajaran yang ibu kembangkan sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter? 10 Apakah ibu mengetahui keterampilan yang harus dikuasai sesuai pada abad 21 seperti (berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi)? 11 Apakah dalam pembuatan RPP ibu sudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan tersebut (berpikir kritis, kretif, kolaboratif, komunikasi) 12 Apakah pembelajaran Selama penggunaan Kurikulum 2013, guru dengan ceramah masih sudah mengurangi penggunaan metode mendominasi di kelas? ceramah selama proses pembelajaran. Tetapi penggunaan metode ceramah masih dilakukan ketika dalam penyampaian materi memang diperlukan penggunaan metode ceramah pada materi-materi Guru sudah melakukan penerapan adanya keterampilan abad 21 selama proses pembelajaran secara tidak langsung. Dalam perumusan indikator dan tujuan RPP sudah dilengkapi adanya keterampilan abad 21, yaitu komunikatif dan kreatif. 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan 13 Pernahkah menggunakan pembelajaran yang lain? modelnya itu? ibu model inovatif Apakah 14 Apakah ibu mengetahui pembelajaran inovatif? 15 Kesulitan apa saja yang ibu alami dalam pembuatan model pembelajaran inovatif? 16 Bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dialami? 17 Apakah contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 sudah tersedia di sekolah ibu? 18 Apakah ibu masih perlu bentuk contoh untuk perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 (model PBL, model inquiry, dan model pembelajaram Jawaban Pertanyaan tertentu karena peserta didik masih membutuhkan bimbingan guru. Guru merasa pengetahuannya tentang model pembelajaran inovatif masih kurang, sehingga dalam pelaksanaannya guru hanya menggunakan model cooperative learning tipe example non example dan direct instraction. Selain model tersebut guru tidak menggunakan model pembelajaran yang lainnya. Guru kurang memahami secara menyeluruh mengenai pembelajaran inovatif. Guru hanya memahami bahwa dalam pembelajaran inovatif adanya penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Guru mengalami kesulitan dalam pembuatan pembelajaran inovatif karena guru kurang mendapat inspirasi tentang pembelajaran inovatif. Guru masih membutuhkan referensi mengenai model pembelajaran inovatif. Cara guru mengatasi kesulitan tersebut dengan mencari berbagai inspirasi. Biasanya guru mencari inspirasi dari internet dan mulai mempelajari model pembelajaran inovatif tersebut. Terkadang guru juga mencari referensi dari sesama guru yang mencari solusi yang dibutuhkan. Sekolah sudah menyediakan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan tuntunan Kurikulum 2013. Sudah beberapa kali pula guru belajar mengenai perangkat pembelajaran tersebut, tetapi terkadang guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun. Guru mengaku bahwa pengetahuan mengenai perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 dengan berbagai model masih kurang. Oleh sebab itu, guru sangat membutuhkan contoh agar guru dapat belajar dan menerapkannya dalam proses pembelajaran. 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Daftar Pertanyaan kooperatif, model kuantum dbs? Jawaban Pertanyaan Apakah siswa pernah merasa bosan ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas? Guru sudah beberapa kali menerapkan pembelajaran inovatif di kelas, walaupun hanya model cooperative learning tipe example non example dan direct instraction. Penggunaan model tersebut membuat peserta didik tidak mudah bosan, tetapi dapat membuat peserta didik lebih aktif dan cepat dalam menggali pengetahuan. 20 Apakah ibu mempunyai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa? Guru mengetahui kelebihan dalam penerapan pembelajaran inovatif, sehingga guru juga memiliki rencana untuk mengembangkan. Pengembangan ini dilakukan dengan guru belajar mengenai pembelajaran inovatif dan bisa mulai menerapkan ketika guru sudah memahami pembelajaran inovatif. 21 Menurut ibu apakah perangkat pembelajaran inovatif penting jika diterapakan dalam proses pembelajaaran dewasa ini? Guru merasa pembelajaran inovatif sangat penting, karena guru akan dituntut untuk selalu berinovasi dalam setiap proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang digunakan nantinya akan bervariasi dan menyenangkan bagi peserta didik. 22 Apakah ibu sudah mengetahui tes jenis belajar menurut Taksonomi Bloom yang direvisi? Guru sudah mengetahui tes jenis belajar menurut taksonomi bloom yang direvisi. Tetapi guru mengalami kesulitan dan belum memahami mengenai tes jenis belajar menurut taksonomi bloom. 19 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI RANGKUMAN OBSERVASI SURVEI KEBUTUHAN SD NEGERI TEGALREJO 3 YOGYAKARTA Nama Guru : Budi Asih. S.Pd.SD (Guru Kelas II B) Lembar Observasi Guru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Pernyataan Kegiatan Awal (Pendahuluan) Guru membuka pembelajaran dengan berdoa. Guru melakukan presensi kepada siswa. Guru menggunakan apersepsi untuk menuju materi yang akan diajarkan sebagai pengantar memulai pelajaran. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru memberikan motivasi. Kegiatan Inti Guru menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan. Guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari. Guru menggunakan media pembelajaran dan sumber pembelajaran dengan tepat. Guru menggunakan metode yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Guru menggunakan model yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Guru menerapkan 5M pada siswa. Guru menggunakan bahasa baku yang baik. Guru menggunakan artikulasi dan volume yang jelas. Guru menggunakan pakaian yang rapi dan berwibawa. Guru memusatkan perhatian siswa saat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal. Guru tidak berpaku pada satu tempat. Guru memberikan contoh pada siswa dari kehidupan sehari-hari. Guru memberikan apresiasi kepada siswa. Guru menggunakan sumber pembelajaran berbasis teknologi pada pembelajaran. Guru dapat mengkonsidikan kelas dengan baik. Guru menekankan pendidikan karakter pada siswa. Guru membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik. Guru sebagai fasilitator pada proses pembelajaran. Kegiatan Penutup Ya Tidak                        167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 24 25 26 27 28 29 30 Pernyataan Guru membuat ringkasan secara lisan. Guru membuat ringkasan secara tertulis. Guru menunjukkan sumber lain. Guru melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan. Guru memberikan motivasi kepada siswa yang belum berpartisipasi aktif. Guru memberikan evaluasi kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang disampaikan. Ya   Tidak      Lembar Observasi Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pernyataan Siswa berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Siswa memberikan umpan balik apersepsi dari guru. Siswa memperhatikan guru saat menyampaikan materi. Siswa mengajukan pertanyaan. Siswa mampu bekerjasama pada saat kegiatan berkelompok. Siswa mampu mengomunikasikan hasil diskusi. Siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa memahami penjelasan yang telah disampaikan guru. Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara lisan. Siswa dibantu guru membuat rangkuman pembelajaran secara tertulis. Ya Tidak           168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3 : Pernyataan Validasi Produk Perangkat Pembelajaran Inovatif (Program Tahunan, Program Semester, SIlabus, dan Rencana Perangkat Pembelajaran) MODEL KUANTUM No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Komponen yang Dinilai Prota memuat komponen identitas yang lengkap (kelas, satuan pendidikan, tahun pelajaran). Prota memuat komponen yang lengkap (tema, subtema, alokasi waktu). Jumlah jam efektif (16 minggu) sesuai dengan jumlah minggu efektif, jumlah alokasi waktu sama dengan total jam pelajaran dalam satu tahun. Proporsi pembagian waktu setiap tema dan sub tema sesuai. Prosem memuat komponen identitas yang lengkap (kelas, semester, satuan pendidikan, tahun pelajaran). Prosem memuat komponen yang lengkap (tema, subtema, pembelajaran, bulan, alokasi waktu). Materi pokok sesuai dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), serta alokasi waktu yang digunakan proporsional. Silabus memuat identitas sekolah, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan tema/subtema. Silabus memuat materi pokok, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Keterkaitan antar komponen dalam silabus sesuai. Kejelasan dan kelengkapan Identitas RPP (satuan pendidikan, kelas, semester, tema/subtema/ pembelajaran ke-, alokasi waktu/hari dan tanggal). Kesesuaian rumusan indikator dengan KI dan KD. Tujuan pembelajaran (kesesuaian tujuan dengan indikator, kata kerja dapat diukur, mencakup komponen A (Audience), B (Behavior), C (Condition), D (Degree). Materi Pembelajaran (kesesuaian materi pembelajaran dengan KD dan indikator, susunan materi yang sistematis, kelengkapan materi pembelajaran). Rumusan tujuan hanya mengandung satu (1) jenis tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Strategi pembelajaran (pendekatan, model, metode; langkah-langkah pembelajaran; dan tahapan kegiatan pembelajaran; serta penerapan pembelajaran saintifik) sesuai. Pemilihan media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan kondisi kelas). Pemilihan sumber belajar (bahan cetak, lingkungan sekitar dan internet). 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. Evaluasi (mencakup aspek sikap, pengetahuan, keterampilan, kesesuaian evaluasi dengan tujuan atau indikator, komponen penilaian lengkap, perencanaan kegiatan pengayaan, dan remedial) Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada indikator (C4C6/HOTS). Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan makna model pembelajaran kuantum Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik model pembelajaran kuantum Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks (langkahlangkah) model pembelajaran kuantum Mengembangkan 5M dalam kegiatan inti yaitu: mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan. Mengembangkan 4 ketrampilan dasar belajar abad 21 4C yaitu berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kerjasama (collaborative), dan komunikasi (communicative). Kelengkapan instrumen evaluasi (soal, kunci, rubrik pedoman penskoran). Kesesuaian jenis media dengan kompetensi yang harus dicapai, materi yang dibahas, strategi pembelajaran yang dipilih, karakteristik siswa, media terlihat atau terdengar dengan jelas (gambar, video, audio, animasi). Keterbacaan tulisan jenis dan ukuran, keruntutan penyajian materi, kelengkapan materi, kesederhanaan dalam menyajikan materi, dan tingkat kemudahan dalam penggunaan media. Keharmonisan tata letak dan warna media, tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan media, kebenaran dalam menggunakan kaidah bahasa, efektivitas gambar/ilustrasi/animasi/video dalam penjelasan konsep, dan kesesuaian media dengan materi. LKPD disajikan secara sistematis, merupakan materi atau tugas yang esensial, setiap kegiatan yang disajikan mempunyai tujuan yang jelas, penyajian LKPD dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi, kegiatan yang disajikan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Kelayakan isi (sesuai dengan KI & KD, sesuai kemampuan siswa, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, keterkinian materi). Kelayakan bahasa (kalimat dengan kaidah Bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sesuai, struktur kalimat mudah dipahami, mendorong siswa untuk berfikir kritis, kemultitafsiran kalimat). Kelayakan kegiatan (pemberian pengalaman langsung dalam LPKD, pengidentifikasian hasil temuan dalam LKPD, perencanaan kerja ilmiah dalam LKPD, pelaksanaan kerja ilmiah dalam LKPD). Kelayakan tampilan (daya tarik sampul/cover LKPD, kesesuaian kesesuaian huruf yang digunakan dalam LKPD, keseimbangan komposisi/judul dan logo LKPD). Kelayakan penyajian (kemudahan langkah-langkah dalam kegiatan LKPD, penyajian materi LKPD yang disertai objek langsung, penempatan siswa dalam LKPD dalam subjek belajar). 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. 37. 38. 39. 40. Penggunaan bahasa sesuai dengan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Bahasa yang digunakan komunikatif. Kalimat yang digunakan jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan petunjuk/arahan. MODEL INQUIRY No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Komponen yang Dinilai Prota memuat komponen identitas yang lengkap (kelas, satuan pendidikan, tahun pelajaran). Prota memuat komponen yang lengkap (tema, subtema, alokasi waktu). Jumlah jam efektif (16 minggu) sesuai dengan jumlah minggu efektif, jumlah alokasi waktu sama dengan total jam pelajaran dalam satu tahun. Proporsi pembagian waktu setiap tema dan sub tema sesuai. Prosem memuat komponen identitas yang lengkap (kelas, semester, satuan pendidikan, tahun pelajaran). Prosem memuat komponen yang lengkap (tema, subtema, pembelajaran, bulan, alokasi waktu). Materi pokok sesuai dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), serta alokasi waktu yang digunakan proporsional. Silabus memuat identitas sekolah, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan tema/subtema. Silabus memuat materi pokok, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Keterkaitan antar komponen dalam silabus sesuai. Kejelasan dan kelengkapan Identitas RPP (satuan pendidikan, kelas, semester, tema/subtema/ pembelajaran ke-, alokasi waktu/hari dan tanggal). Kesesuaian rumusan indikator dengan KI dan KD. Tujuan pembelajaran (kesesuaian tujuan dengan indikator, kata kerja dapat diukur, mencakup komponen A (Audience), B (Behavior), C (Condition), D (Degree). Materi Pembelajaran (kesesuaian materi pembelajaran dengan KD dan indikator, susunan materi yang sistematis, kelengkapan materi pembelajaran). Rumusan tujuan hanya mengandung satu (1) jenis tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Strategi pembelajaran (pendekatan, model, metode; langkah-langkah pembelajaran; dan tahapan kegiatan pembelajaran; serta penerapan pembelajaran saintifik) sesuai. Pemilihan media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan kondisi kelas). 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Pemilihan sumber belajar (bahan cetak, lingkungan sekitar dan internet). Evaluasi (mencakup aspek sikap, pengetahuan, keterampilan, kesesuaian evaluasi dengan tujuan atau indikator, komponen penilaian lengkap, perencanaan kegiatan pengayaan, dan remedial) Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada indikator (C4C6/HOTS). Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan makna model pembelajaran inquiry Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik model pembelajaran inquiry Rancangan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks (langkahlangkah) model pembelajaran inquiry Mengembangkan 5M dalam kegiatan inti yaitu: mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan. Mengembangkan 4 ketrampilan dasar belajar abad 21 4C yaitu berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kerjasama (collaborative), dan komunikasi (communicative). Kelengkapan instrumen evaluasi (soal, kunci, rubrik pedoman penskoran). Kesesuaian jenis media dengan kompetensi yang harus dicapai, materi yang dibahas, strategi pembelajaran yang dipilih, karakteristik siswa, media terlihat atau terdengar dengan jelas (gambar, video, audio, animasi). Keterbacaan tulisan jenis dan ukuran, keruntutan penyajian materi, kelengkapan materi, kesederhanaan dalam menyajikan materi, dan tingkat kemudahan dalam penggunaan media. Keharmonisan tata letak dan warna media, tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan media, kebenaran dalam menggunakan kaidah bahasa, efektivitas gambar/ilustrasi/animasi/video dalam penjelasan konsep, dan kesesuaian media dengan materi. LKPD disajikan secara sistematis, merupakan materi atau tugas yang esensial, setiap kegiatan yang disajikan mempunyai tujuan yang jelas, penyajian LKPD dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi, kegiatan yang disajikan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Kelayakan isi (sesuai dengan KI & KD, sesuai kemampuan siswa, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, keterkinian materi). Kelayakan bahasa (kalimat dengan kaidah Bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sesuai, struktur kalimat mudah dipahami, mendorong siswa untuk berfikir kritis, kemultitafsiran kalimat). Kelayakan kegiatan (pemberian pengalaman langsung dalam LPKD, pengidentifikasian hasil temuan dalam LKPD, perencanaan kerja ilmiah dalam LKPD, pelaksanaan kerja ilmiah dalam LKPD). Kelayakan tampilan (daya tarik sampul/cover LKPD, kesesuaian kesesuaian huruf yang digunakan dalam LKPD, keseimbangan komposisi/judul dan logo LKPD). 172

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. 36. 37. 38. 39. 40. Kelayakan penyajian (kemudahan langkah-langkah dalam kegiatan LKPD, penyajian materi LKPD yang disertai objek langsung, penempatan siswa dalam LKPD dalam subjek belajar). Penggunaan bahasa sesuai dengan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Bahasa yang digunakan komunikatif. Kalimat yang digunakan jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan petunjuk/arahan. 173

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4 : Pernyataan Uji Coba Produk Perangkat Pembelajaran Inovatif (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Pernyataan Validasi Uji Coba untuk Guru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Komponen yang Dinilai Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan makna dan karakteristik model pembelajaran inovatif yang digunakan. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintaks model pembelajaran inovatif yang digunakan. Guru menerapkan pendekatan saintifik 5M (mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengomunikasikan) kepada siswa. Guru telah mengembangkan keterampilan belajara dasar abad 21 (berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif) Guru menguasai materi dalam mengajar dan tidak terjadi miskonsepsi. Guru lebih berperan sebagai motivator & fasilitator pada saat pembelajaran. Pembelajaran berpusat pada siswa. Guru menggunakan beragam media dalam pembelajaran. Guru mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam kegiatan pembelajaran. Guru mengusahakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi. Guru mengembangkan pendidikan karakter. Guru melaksanakan pembelajaran terpadu dengan landai. Guru menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Guru melaksanakan penilaian otentik. Pernyataan Validasi Uji Coba untuk Teman Sejawat No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Komponen yang Dinilai Siswa dapat mencapai indikator pembelajaran yang ditetapkan. Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa melaksanakan 5M dalam pembelajaran (mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengomunikasikan). Siswa terkesan senang dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa asyik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa terlibat dalam penggunaan media pembelajaran Siswa memperoleh pengalaman langsung dalam pembelajaran Siswa berkembang kemampuan 4C-nya 174

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5 : Hasil Validasi Produk Pakar A (Model Pembelajaran Kuantum) 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6 : Hasil Validasi Produk Pakar A (Model Inquiry) 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7 : Hasil Validasi Produk Pakar B (Model Pembelajaran Kuantum) 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8 : Hasil Validasi Produk Pakar B (Model Inquiry) 196

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9 : Hasil Validasi Uji Coba Guru SD Kelas II (Model Pembelajaran Kuantum) 203

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 204

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 205

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 10 : Hasil Validasi Uji Coba Guru SD Kelas II (Model Inquiry) 206

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 207

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 208

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 11 : Hasil Validasi Uji Coba Teman Sejawat (Model Pembelajaran Kuantum) 209

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 210

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 12 : Hasil Validasi Uji Coba Teman Sejawat (Model Inquiry) 211

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 212

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 13 : Surat Ijin Penelitian 213

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 14 : Surat Pernyataan Kepala Sekolah 214

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 15 : Dokumentasi Uji Coba Produk Kegiatan membuat karya hiasan Kegiatan kelompok mengerjakan menggunakan biji-bijian LKPD Kegiatan bermain engklek Kegiatan permainan “Konsentrasi Menghitung” Kegiatan berdiskusi membuat cerita Kegiatan mengerjakan LKPD 215

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan membuat karya hiasan Kegiatan berdiskusi mengerjakan menggunakan daun kering LKPD Kegiatan mengerjakan LKPD mandiri Kegiatan membuat karya hiasan menggunakan kancang telur 216

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Biodata Peneliti Penulis bernama Yovita Irma Wijayanti, lahir di Bantul, 21 Februari 1997. Jenjang pendidikan formal penulis dimulai dari Taman Kanak-kanak di TK Indriasana pada tahun 20012003. Dilanjutkan pada pendidikan dasar penulis tempuh di SDK Kanutan, pada tahun 2003-2009. Pendidikan Menengah Pertama penulis tempuh di SMPN 1 Pandak, pada tahun 2009-2012. Pendidikan terakhir penulis tempuh di SMAN 2 Bantul, pada tahun 2012-2015. Pada saat ini penulis sedang menyelesaikan Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pendidikan di Perguruan Tinggi diakhiri dengan menulis skripsi yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Subtema 4 Hidup Rukun di Masyarakat Mengacu Kurikulum 2013 pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar”. Pengembangan perangkat pembelajaran inovatif tersebut dilakukan karena beberapa guru membutuhkan contoh pengembangan perangkat pembelajaran inovatif dengan menggunakan berbagai model pembelajaran inovatif. 217

(235)

Dokumen baru

Download (234 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum SD 2013 subtema bencana alam untuk siswa kelas I Sekolah Dasar.
0
1
98
Pengembangan perangkat pembelajaran subtema kebersamaan dalam keberagaman mengacu kurikulum SD 2013 untuk siswa kelas empat (IV) Sekolah Dasar.
0
5
160
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum 2013 pada sub tema pemanfaatan energi untuk siswa kelas IV sekolah dasar.
1
5
190
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum Sekolah Dasar 2013 pada subtema pekerjaan orang tuaku untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.
0
0
155
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum SD 2013 pada sub tema aku bangga dengan daerah tempat tinggalku untuk siswa kelas empat (IV) sekolah dasar.
0
1
166
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum 2013 pada subtema gemar menggambar untuk siswa kelas I Sekolah Dasar.
0
1
131
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum SD 2013 pada sub tema kegiatan malam hari untuk siswa kelas satu (I) Sekolah Dasar.
0
0
151
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum SD 2013 pada sub tema aku dan teman baru untuk siswa kelas 1 sekolah dasar.
0
0
114
Pengembangan perangkat pembelajaran kurikulum 2013 untuk siswa kelas V pada tema 3 `Kerukunan dalam Bermasyarakat`.
0
2
356
Pengembangan perangkat pembelajaran subtema tubuhku mengacu kurikulum SD 2013 untuk siswa kelas satu (1) Sekolah Dasar.
0
0
159
Pengembangan perangkat pembelajaran sub tema keunikan daerah tempat tinggalku mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas IV sekolah dasar.
0
1
174
Pengembangan prototype perangkat pembelajaran kurikulum 2013 sub tema Kegiatan Ekstrakurikulerku untuk siswa kelas II SD dengan pendekatan kontekstual.
0
0
209
Pengembangan perangkat pembelajaran subtema Hewan di Sekitarku mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas satu (I) Sekolah Dasar.
0
0
178
Pengembangan perangkat pembelajaran mengacu kurikulum 2013 pada sub tema keberagaman makhluk hidup di lingkunganku untuk siswa kelas IV SD.
1
5
269
Pengembangan bahan ajar mengacu kurikulum 2013 subtema bersatu dalam keberagaman untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar - USD Repository
0
0
372
Show more