makalah kehidupan ekonomi, sosial budaya dan agama pada kerajaan islam di indonesia

Full text

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sebelum penjajah Belanda datang ke Indonesia, di Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan besar seperti : Samudera Pasai dan Aceh Darussalam (Sumatera), Pajang, Demak, Mataram, Cirebon, dan Banten (Jawa), Banjar dan Kutai (Kalimantan), Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwa (Sulawesi).

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat, Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke 15 M, di

atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497).

Sedangkan di Pulau Jawa juga berdiri kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah, kemudian berdiri pula Kesultanan Pajang yang dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Gunung Jati.

Di Kalimantan juga berdiri dua buah kerajaan yaitu kerajaan Banjar yang rajanya bernama Sultan Suruiansyah, dan kerajaan Kutai yang salah satu rajanya bernama Tuan di bandang atau lebih dikenal dengan sebutan Dato’ Ri Bandang.[1]

(2)

BAB II PEMBAHASAN

Kerajaan Samudera Pasai

a. Letak geografis

Letak geografis terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera bagian utara berdekatan dengan jalur pelayaran internasional (Selat Malaka).

b. Kehidupan politik

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Nazimuddin al-Kamil (berasal

dari Mesir) yang membawa Kerajaan Samudera Pasai menjadi

berkembang cukup pesat. Raja pertama Samudera Pasai adalah Marah

Silu (Malik as-Saleh). Ia meninggal lalu digantikan oleh putranya yang

bernama Mailk ath-Thahir.

c. Kehidupan ekonomi

Letak Kerajaan Samudera Pasai yang strategis, mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar - bandar yang digunakan untuk:

1. Menambah perbekalan untuk pelayaran selanjutnya

2. Mengurus masalah – masalah perkapalan

3. Mengumpulkan barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar aturan – aturan dan hukum – hukum Islam. Dalam pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di negeri Mesir maupun di Arab. Karena persamaan inilah sehingga daerah Aceh mendapat julukan Daerah Serambi Mekkah.

e. Kehidupan Budaya

Kerajaan Samudera Pasai berkembang sebagai penghasil karya tulis yang baik. Beberapa orang berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu, yang kemudian disebut dengan bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab Jawi. Selain itu juga berkembang ilmu tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

f. Faktor kemajuan

Perkembangan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai bertambah pesat, sehingga selalu menjadi perhatian sekaligus incaran dari kerajaan – kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudera Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka maka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan Samudera Pasai : 1. Kerajaan Majapahit berambisi menyatukan Nusantara,

2. Berdirinya Bandar Malaka yang letaknya lebih strategis,

3. Setelah Sultan Malik at-Thahir meninggal, tidak ada yang menggantikan

sehingga penyebaran agama Islam diambil kerajaan Aceh.

(3)

a. Letak Geografis

Letak geografis terletak di Pulau Sumatera bagian utara dekat jalur pelayaran dan perdagangan internasional saat itu.

b. Kehidupan politik

Corak pemerintahan Aceh adalah pemerintahan sipil dan pemerintahan

atas dasar agama. Pendiri kerajaan Aceh adalah Mudzaffar Syah. Raja

yang pernah memerintah kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat

Syah, Sultan Salahudin, Sultan Alauddin Riayat, Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Thani.

c. Kehidupan ekonomi

Dalam masa kejayaannya, perekonomian Aceh berkembang pesat. Daerahnya yang subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah-daerah pantai Timur dan Barat Sumatera menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya bahan ekspor penting seperti timah dan lada yang dihasilkan di daerah itu.

d. Kehidupan sosial

Lapisan sosial masyarakat Aceh berbasis pada jabatan struktural, kualitas keagamaan dan kepemilikan harta benda. Mereka yang menduduki jabatan struktural di kerajaan menduduki lapisan sosial tersendiri, lapisan teratasnya adalah sultan, dibawahnya ada para penguasa daerah. Sedangkan lapisan berbasis keagamaan merupakan lapisan yang merujuk pada status dan peran yang dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan keagamaan. Dalam lapisan ini, juga terdapat kelompok yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad. Mereka ini menempati posisi istimewa dalam kehidupan sehari-hari, yang laki-laki bergelar Sayyed, dan yang perempuan bergelar Syarifah. Lapisan sosial lainnya dan memegang peranan sangat penting adalah para orang kaya yang menguasai perdagangan, saat itu komoditasnya adalah rempah-rempah, dan yang terpenting adalah lada.

e. Kehidupan budaya

Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari

Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan

karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17 ; Kitab Tarjuman

al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya

Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya

Hamzah Fansuri. Ini bukti bahwa Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya,

seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah

Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.

f. Faktor kemajuan

(4)

1. Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim pada tahun 1514. 2. Letaknya strategis di pintu gerbang pelayaran internasional.

3. Pelabuhan Olele memiliki persyaratan sebagai pelabuhan dagang yang

baik.

4. Aceh kaya akan tanaman lada.

5. Aceh bekembang pesat setelah Malaka dikuasai Portugis.

6. Para pedagang Islam memindahkan kegiatan berdagang dari Malaka ke

Aceh. Aceh mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1635). Karena menjadi pusat agama Islam, Aceh sering disebut Serambi Mekah.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Kekalahan perang antara Aceh melawan Portugis (1629).

2. Pengganti Sultan Iskandar Muda kurang Cakap.

3. Permushan antara kaum muda.

4. Daerah yang jauh dari pemerintahan pusat, melepaskan diri dari Aceh.

Kerajaan Demak

a. Letak Geografis

Letaknya di daerah Jawa Tengah dan menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa.

Dilihat dari segi ekonomi, Demak sebagai kerajaan maritim, menjalankan fungsinya sebagai penghubung atau transit daerah penghasil rempah-rempah di bagian timur dengan Malaka sebagai pasaran di bagian barat. Perekonomian Demak dapat berkembang dengan pesat di dunia maritim karena didukung oleh penghasil dalam bidang agraris yang cukup besar.

d. Kehidupan sosial

Kehidupan sosial Demak diatur oleh hukum-hukum Islam, namun juga masih menerima tradisi lama. Dengan demikian, muncul sistem kehidupan sosial yang telah mendapat pengaruh Islam.

e. Kehidupan budaya

Di bidang budaya, terlihat jelas dengan adanya pembangunan Masjid

Agung Demak yang terkenal dengan salah satu tiang utamanya terbuat dari kumpulan sisa-sisa kayu yang dipakai untuk membuat masjid itu sendiri yang disebut soko tatal. Di pendapa (serambi depan masjid) itulah

Sunan Kalijaga (pemimpin pembangunan masjid) meletakkan dasar-dasar syahadatain (perayaan Sekaten). Tujuannya ialah untuk memperoleh banyak pengikut agama Islam. Tradisi Sekaten itu sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.

f. Faktor Kemajuan

(5)

1. Mundur dan runtuhnya Majapahit,

2. Raden Patah, seorang keturunan Raja Majapahit Brawijaya V mendapat

dukungan dari parawali yang sangat dihormati,

3. Banyak adipati pesisir yang tidak puas dengan majapahit dan mendukung

Raden Patah,

4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis

5. Pusaka kerajaan Majapahti sebagai lambang pemegang kuasa diberikan

kepada Raden Patah.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Terjadi pertikaian antarkeluarga sepeninggal Sultan Trenggana,

2. Naiknya Arya Penangsang ke tahta kerajaan,

3. Arya Penangsang dapat dikalahkan Jaka Tingkir.

Kerajaan Banten

a. Letak geografis

Terletak di ujung barat Pulau Jawa, yaitu di daerah Banten, Jawa Barat.

b. Kehidupan politik

Pendiri kerajaan ini adalah Hasanudin yang mencapai kejayaan pada

masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Raja – raja yang

memerintah kerajaan ini adalah : Panembahan Yusuf, Maulana

Muhammad, Abu Mufakir, dan Sultan Ageng Tirtayasa.

c. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi kerajaan Banten bertumpu pada bidang perdagangan karena memiliki bahan ekspor penting, yaitu lada sebagai daya tarik yang kuat bagi pedagang asing.

d. Kehidupan sosial

Kerajaan Banten menerapkan sistem timbal balik, Kerajaan akan membina hubungan baik terhadap Negara manapun yang ingin membina hubungan baik dengan Kerajaan, tapi sebaliknya Kerajaan Banten menerapkan sistem perlawanan terhadap bangsa manapun yang ingin menganggu kedaulatan Kerajaan. Sayangnya ini hanya berlangsung pada masa

Sultan Ageng Tirtayasa saja, karena pada masa kepemimpinan Sultan Haji Kerajaan Banten justru mengalami keruntuhan karena pada masa itu Kerajaan Banten berada dibawah naungan Belanda yang ingin menguasai pemerintah dan perekonomian Banten sepeunuhnya. Sejak kematian

Sultan Ageng Tirtayasa pemerintahan Kerajaan Banten mengalami banyak kemunduran karena terjadi perebutan tahta dan perang saudara hingga akhirnya Banten dikuasai oleh Belanda.

e. Kehidupan budaya

Hasil peninggalan kebudayaan yang bersifat materi dari Kerajaan Banten berupa bangunan-bangunan yang bentuk dan ukirannya mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Islam. Contoh dari peninggalan tersebut bisa kita lihat pada adanya pembangunan masjid yang pada masa Kesultanan Banten, masjid dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah.

(6)

Agung, Masjid Banten, Masjid Caringin, Masjid Palinan, serta Masjid-masjid lainnya. Selain Masjid-masjid hasil peninggalan kebudayaan berupa materi berupa hasil karya sastra berupa nyanyian-nyanyian bernada islami, teknik membaca Al-quran, serta hikayat mengenai cerita-cerita bertema islam. Selain peninggalan satra juga terdapat bangunan peninggalan istana pada masa Kesultanan Banten, contoh dari bangunan

tersebut adalah Gedung Timayah, Keraton Kalibon, dan Keraton

Surosowan. Bangunan-bangunan tersebut adalah peninggalan materi yang bercorak islam karena dibangun pada masa kekusaan Kerajaan Banten yang bercorak islam.

f. Faktor kemajuan

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah : 1. Letaknya sangat strategis, yaitu di Selat Sunda,

2. Pelabuhan kerajaan Banten memenuhi persyaratan yang baik,

3. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah :

1. Mangkatnya Raja Besar Banten Maulana Yusuf dan tidak ada yang

pertama yang memeluk agama Islam. Dan selama pemerintahannya, ia membuat masyarakat Makassar menjadi sejahtera. Selain Sultan

Alauddin, ada Sultan Mahmud Said, Sultan Hasanuddin, dan Raja

Mapasomba yang pernah memerintah kerajaan Makassar.

c. Kehidupan ekonomi

Kehidupan ekonomi kerajaan ini bertumpu pada perdagangan dan pelayaran. Dengan berkembangnya Makassar sebagai pusat perdagangan wilayah timur, mengakibatkan warga asing berdagang di Makasar.

d. Kehidupan sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Makassar adalah feudal. Masyarakat Makassar

dibebankan atas tiga lapisan atau kelas. Kelas tertinggi bergelar karaeng

yang terdiri dari kaum bangsawan, tumasaraq adalah gelar untuk rakyat

biasa, dan ata untuk hamba sahaya.

e. Kehidupan budaya

Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari Kerajaan Makassar adalah

keahlian masyarakatnya membuat perahu layar yang disebut pinisi dan

lambo.

(7)

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah :

1. Kerajaan Makassar sebagai pusat persinggahan para pedagang

internasional.

2. Kerajaan Makassar sebagai pusat perdagangan wilayah timur

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Di kerajaan Makssar terjadi pertentangan keluarga bangsawan,

2. Tidak ada regenerasi yang cakap.

Amin Shah II Johan berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan

negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya, yaitu: Putri

Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan

dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Malik al-Saleh.

c. Kehidupan ekonomi

Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal. Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya munculnya Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

d. Kehidupan sosial

e. Kehidupan budaya

f. Faktor kemajuan

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah Kerajaan Perlak mengalami masa kejayaan dimana hal ini di sebabkan karena pusat pelayaran dan perdagangan strategis,karena terletak di tepi selat Malaka.

g. Faktor kemunduran

Kerajaan perlak mengalami kemunduran karena adanyan perkembangan kerajaan Malaka sehingga pusat pelayaran perdagangan beralih ke Malaka.

Kerajaan Mataram Islam/Mataram Kuno

(8)

Kerajaan Mataram terletak di Jawa Tengah dengan daerah intinya disebut Bhumi Mataram. Daerah tersebut dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti Pegunungan Serayu, Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Pegunungan Kendang, Gunung Lawu, Gunung Sewu, Gunung Kerajaan ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah pesisir inilah yang berperan penting bagi arus perdagangan Kerajaan Mataram.

d. Kehidupan sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Syailendra, ditafsirkan sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan mengkultuskan rajanya.

e. Kehidupan budaya

Kerajaan Syailendra banyak meninggalkan bangunan-bangunan candi yang sangat megah dan besar nilainya, baik dari segi kebudayaan, kehidupan masyarakat dan perkembangan kerajaan. Candi-candi yang terkenal seperti telah disebutkan di atas adalah Candi Mendut, Pawon, Borobudur, Kalasan, Sari, dan Sewu.

f. Faktor kemajuan

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Agung.

Beliau banyak berjasa dalam bidang kebudayaan dan agama. Beliau

mengarang Serat Sastra Gending yang berisi filsafat Jawa, menciptakan

penanggalan tahun Jawa, dan memadukan unsur Jawa dan Islam, seperti penggunaan gamelan dalam perayaan Sekaten untuk memperingati

Maulud Nabi.

g. Faktor kemunduran

Kemunduran Mataram Islam berawal saat kekalahan Sultan Agung

merebut Batavia dan menguasai seluruh Jawa dari Belanda. Setelah kekalahan itu, kehidupan ekonomi rakyat tidak terurus karena sebagian rakyat dikerahkan untuk berperang.

Kerajaan Pajang

(9)

Terletak di daerah Kartasura, dekat Surakarta/Solo, Jawa Tengah.

b. Kehidupan politik

Setelah Sultan Trenggono meninggal, Demak dilanda perang saudara

antara Pangeran Prawoto (anak Trenggono) dengan Pangeran Sekar

Sedo Lepen (adik Trenggono) dan dimenangkan Prawoto. Aryo Penangsang, anak Pangeran Sedo Lepen tidak dapat menerima kematian ayahnya. Kemudian Aryo Penangsang membunuh Pangeran Prawoto dan keluarganya. Pangeran Prawoto mempunyai putra benama

Arya Pangiri. Dengan bantuan Joko Tingkir (adik ipar Trenggono), Arya Pangiri membalas kematian ayahnya. Kemudian Joko Tingkir naik takhta dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang pada 1552. Joko Tingkir

menjadi raja pertama Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya.

Pengangkatan Joko Tingkir sebagai raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri dan mendapat pengakuan pea adipati di Jawa. Saat itu Demak hanya sebagai daerah kecil yang dipimpin Arya Pangiri. Di antara pengikut Adiwijaya yang dianggap berjasa adalah Kyai Gede Pemanahan. Kyai ini diberi hadiah tanah pemukiman di Mataram (Kota-Gede, Yogyakarta). Kyai Gede Pemanahan dianggap sebagai perintis berdirinya kerajaan Mataram Islam. Kyai Gede Pemanahan meninggal pada 1575 dan diganti putranya yang benama Sutawijaya. Joko Tingkir wafat pada 1582 dan digantikan

putranya, yaitu Pangeran Benowo. Beberapa lama kemudian Pangeran

Benowo disingkirkan Arya Pangiri (anak Prawoto dari Demak). Kerajaan Pajang kemudian diperintah Arya Pangiri, namun ia tidak disukai rakyat sehingga timbul perlawanan yang dipimpin Pangeran Benowo yang

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah :

1. Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya di Jawa pedalaman,

2. Ditundukkannya Kediri pada tahun 1577,

3. Bidang kesusastraan dan kesenian yang sudah maju di Demak dan Jepara

lambat lau dikenal di pedalaman Jawa.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Perluasan wilayah tidak dapat dijalankan secara maksimal,

2. Kesultanan Pajang kalah pamor terhadap Mataram.

Kerajaan Ternate-Tidore

(10)

Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara sulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu.

b. Kehidupan politik

Di kepulauan Maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa Portugis masuk, Portugis langsung memihak dan membantu Ternate, hal ini dikarenakan Portugis mengira ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa Spanyol memihak Tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan Perjanjian Saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa Spanyol harus meninggalkan maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di maluku. Raja pertama kerajaan ini adalah Sultan Hairun. Setelah ia meninggal, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Baabullah.

c. Kehidupan ekonomi

Tanah di Kepulauan Maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.

d. Kehidupan sosial

Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius. Sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa. Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat. Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.

e. Kehidupan budaya

(11)

karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore.

f. Faktor kemajuan

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah :

1. Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan

Nuku,

2. Wilayah kekuaaan Tidore cukup luas,

3. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Adu domba Kerajaan Tidore yang dilakukan bangsa asing,

2. VOC berhasil menguasai perdagangan rempah – rempah di Maluku.

Kerajaan Cirebon

a. Letak geografis

Terletak di Pantai Utara Jawa Barat dan menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.

b. Kehidupan politik

Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah

Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya

menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh

Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah

keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti

raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat. Setelah

Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka

Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal

dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa

pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan

terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram , Panembahan

Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa. Panembahan Ratu wafat pada

tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan

Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Panembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan

(12)

(Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar

Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan

Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta,

mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga). Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh.

c. Kehidupan ekonomi

Setelah perjanjian 7 Januari 1681 antara kerajaan Cirebon dan VOC, keraton Cirebon semakin jauh dari kehidupan kelautan dan perdagangan, karena VOC memegang hak monopoli atas beberapa jenis komoditas perdagangan dan pelabuhan.

d. Kehidupan sosial

Cirebon berasal dari kata “caruban” yang artinya campuran. Diperkirakan

masyarakat Cirebon merupakn campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut Sumber berita tertua tentang Cirebon, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik. Seorang yang paling

terkemuka adalah Cu-cu, Keluarga Cu-cu yang sudah menganut agama

Islam kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintah Demak untuk mendirikan perkampungan di daerah Barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.

e. Kehidupan budaya

Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan

Cirebon. Misalnya, melaksanakan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi

Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.

f. Faktor kemajuan

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah : 1. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang.

2. Pada abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang

kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian.

g. Faktor kemunduran

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah :

1. Perpecahan antara saudara menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon

menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC.

2. Pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi

perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh.

3. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan

(13)

Kerajaan Malaka

a. Letak Geografis

Letak kerajaan ini adalah di Selat Malaka / Semenanjung Malaka.

b. Kehidupan Politik

Berawal dari Paramisora (dari Majapahit) melarikan diri ke Tumasik dan

mendirikan Kesultanan Malaka dengan gelar Sultan Iskandar Syah pada

abad ke-15. Raja – raja yang pernah memerintah kerajaan ini adalah Sri

Maharaja, Sri Prameswara Dewa Syah, Sultan Muzzafar Syah,

Sultan Mansyur Syah, Sultan Alauddin Riayat Syah, dan Sultan Mahmud Syah. Kerajaan ini sempat mengalami masa keemasan, yaitu pada zaman pemerintahan Sultan Mansyur Syah.

c. Kehidupan Ekonomi

Selain menjadikan kota tersebut sebagai pusat perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, seperti tebu, pisang, dan rempah-rempah. Rombongan pendatang juga telah menemukan biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya, kemudian terjalin hubungan perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera. Salah satu komoditas penting yang diimpor Malaka dari Sumatera saat itu adalah beras. Malaka amat bergantung pada Sumatera dalam memenuhi kebutuhan beras ini, karena persawahan dan perladangan tidak dapat dikembangkan di Malaka. Hal ini kemungkinan disebabkan teknik bersawah yang belum mereka pahami, atau mungkin karena perhatian mereka lebih tercurah pada sektor perdagangan, dengan posisi geografis strategis yang mereka miliki.

d. Kehidupan sosial

e. Kehidupan budaya

f. Faktor kemajuan

Beberapa faktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah :

1. Malaka berkembang menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia

Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah.

2. Salah satu komoditas penting yang diimpor Malaka dari Sumatera saat itu

adalah beras.

3. Banyak ditemukan biji-biji timah di daratan Malaka.

g. Faktor kemunduran

(14)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Kehidupan politik masyarakat kerajaan Samudra Pasai dan Aceh dipimpin oleh seorang sultan Dimana tahtanya mengalir secara turun menurun. Masa kejayaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan Nazimuddin al Kamil. Sedangkan masa kejayaan Kerajaan Aceh dicapai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

2. Kehidupan sosial budaya masyarakat kerajaan Samudra Pasai dan Aceh terpengaruh dari budaya Arab dan menggunakan tingkatan sosial seperti : tengku, teuku, ulubalang dan sebagainya.

3. Memahami kehidupan ekonomi masyarakat kerajaan Samudra Pasai dan Aceh bertumpu pada bidang perdagangan dan pelayaran dimana lada menjadi komoditas utamanya dan tempat yang strategis menjadikan kedua kerajaan ini memiliki keuntungan tersendiri. 4. Kehidupan agama masyarakat kerajaan Samudra Pasai dan Aceh ditata dengan hukum Islam karena mayoritas penduduknya merupakan penganut agama Islam.

B. SARAN

Dengan keberadaan kerajaan-kerajaan yang terlahir di Indonesia, kita harus bisa

mengapresiasi peninggalan-peninggalan yang menjadi sumber ilmu pendidikan dari generasi ke generasi. Upaya pengapresiasian itu sendiri dapat dengan melestarikannya,

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (14 pages)