PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL RE

 0  0  6  2018-09-16 23:09:22 Report infringing document

  

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG

STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR. .

  Pasal 1

(1) Untuk dapat diangkat sebagai konselor, seseorang wajib memenuhi standar kualifikasi

akademik dan kompetensi konselor yang berlaku secara nasional.

(2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

  

Pasal 2

Penyelenggara pendidikan yang satuan pendidikannya mempekerjakan konselor wajib

menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur

dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai berlaku.

  

Pasal 3

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11 Juni 2008

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, TTD.

  BAMBANG SUDIBYO Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional, Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan Bantuan Hukum I, Muslikh, S.H. NIP 131479478 SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 27 TAHUN 2008 TANGGAL 11 JUNI 2008

STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK

DAN KOMPETENSI KONSELOR

A. Pendahuluan

  Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Masing- masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.

  Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal.

  Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan

dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati

keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati

dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.

  Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional

sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari kiat

pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik

merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1)

memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan

kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan

bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan

profesionalitas konselor secara berkelanjutan Unjuk kerja konselor sangat dipengaruhi

oleh kualitas penguasaan ke empat komptensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai,

dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Kompetensi akademik dan profesional

konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian,

sosial, dan profesional.

  Pembentukan kompetensi akademik konselor ini merupakan proses pendidikan

formal jenjang strata satu (S-1) bidang Bimbingan dan Konseling, yang bermuara pada

penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang Bimbingan dan

Konseling. Sedangkan kompetensi profesional merupakan penguasaan kiat

penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta

diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah diperoleh dalam

konteks otentik Pendidikan Profesi Konselor yang berorientasi pada pengalaman dan

kemampuan praktik lapangan, dan tamatannya memperoleh sertifikat profesi bimbingan

dan konseling dengan gelar profesi Konselor, disingkat Kons.

B. Kualifikasi Akademik Konselor

  Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. Sedangkan bagi individu yang menerima pelayanan profesi bimbingan dan konseling disebut konseli, dan pelayanan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dan nonformal diselenggarakan oleh konselor.

  Kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah:

  1. Sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling.

  2. Berpendidikan profesi konselor.

C. Kompetensi Konselor Rumusan Standar Kompetensi Konselor telah

  

dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks

tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun bila ditata ke dalam empat kompetensi

pendidik sebagaimana tertuang dalam PP 19/2005, maka rumusan kompetensi

akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam

kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagai berikut.

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI

  A. KOMPETENSI PEDAGOGIK

  1. Menguasai teori dan praksis pendidikan

  1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya

  1.2 Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran

  1.3 Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan

  2. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta

  2.1 Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku perilaku konseli manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

  2.2 Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individualitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

  2.3 Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

  2.4 Mengaplikasikan kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

  2.5. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

  3. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam

  3.1 Menguasai esensi bimbingan dan konseling jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal

  3.2 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus

  3.3 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah, serta tinggi.

  B. KOMPETENSI KEPRIBADIAN

  4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

  4.1 Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

  4.2 Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain

  4.3 Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur

  5. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,

  5.1 Mengaplikasikan pandangan positif dan individualitas dan kebebasan memilih dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi

  5.2 Menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya

  5.3 Peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya

  5.4 Menjunjung tinggi harkat dan martabat

  5.5 Toleran terhadap permasalahan konseli 5.6 Bersikap demokratis.

  6. Menunjukkan integritasdan stabilitas kepribadian yang kuat

  6.1 Menampilkan kepribadian dan perilaku yang terpuji (seperti berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten ) 6.2 Menampilkan emosi yang stabil.

  6.3 Peka, bersikap empati, serta menghormati keragaman dan perubahan

  6.4 Menampilkan toleransi tinggi terhadap konseli yang menghadapi stres dan frustasi

  7. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi

  7.1 Menampilkan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif

  7.2 Bersemangat, berdisiplin, dan mandiri

  7.3 Berpenampilan menarik dan menyenangkan

  7.4 Berkomunikasi secara efektif

  C. KOMPETENSI SOSIAL

  8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja

  8.1 Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/madrasah, komite sekolah/ madrasah) di tempat bekerja

  8.2 Mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja

  8.3 Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orang tua, tenaga administrasi)

  9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan

  9.1 Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART konseling organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi

  9.2 Menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling

  9.3 Aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi

  10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi

  10.1 Mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain

  10.2 Memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling

  10.3 Bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.

  10.4 Melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai dengan keperluan

  D. KOMPETENSI PROFESIONAL

  11. Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami

  11.1 Menguasai hakikat asesmen kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli

  11.2 Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling

  11.3 Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling

  11.4 Mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli.

  11.5 Memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.

  11.6 Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan

  11.7 Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling

  11.8 Menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat

  11.9 Menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen

  12. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan

  12.1 Mengaplikasikan hakikat pelayanan konseling bimbingan dan konseling.

  12.2 Mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling.

  12.3 Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.

  12.4 Mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja.

  12.5 Mengaplikasikan pendekatan /model/jenis pelayanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

  12.6 Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.

  13. Merancang program Bimbingan dan Konseling

  13.1 Menganalisis kebutuhan konseli

  13.2 Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan

  13.3 Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling

  13.4 Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling

  14.1 Melaksanakan program bimbingan dan konseling.

  14. Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling

  14.2 Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam yang komprehensif pelayanan bimbingan dan konseling.

  14.3 Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli

  14.4 Mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling

  15. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling. 15.1 Melakukan evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling

  15.2 Melakukan penyesuaian proses pelayanan bimbingan dan konseling.

  15.3 Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait

  15.4 Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling

  16. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional

  17. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL RE

Gratis

Feedback