PENGARUH ALAM BAWAH SADAR TERHADAP TINGKAH LAKU MANUSIA

Gratis

3
5
22
6 months ago
Preview
Full text

  

PENGARUH ALAM BAWAH SADAR TERHADAP TINGKAH

LAKU MANUSIA

  Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Fisioterapi

  

Disusun Oleh:

DINNUR FAJRIANTAMA 1710702037

DZAKYAH AMELYA 1710702039

FAIKA NURKOMALA 1710702041

ANNISA INDAHTYAS 1710702046

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

  

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2018

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Pengaruh Alam Bawah Sadar terhadap Tingkah Laku Manusia”ini berhasil diselesaikan dengan tepat waktu.

  Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliahPsikologi Fisioterapi. penyusunjuga ingin mengucapkan terimakasihkepadaibu Rosnalisa, S.Psi. Cht. Ed co, M.Psi sebagai Dosenmata kuliah Psikologi Fisioterapi yang telah memberi masukan dan sarandan setiap orang yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari kalau makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kami mengharapkan bimbingan baik berupa saran dan kritik yang membangun, guna penyempurnaan makalah ini.

  Akhir kata penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga penyusun membutuhkan kritik, masukan, dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

  Jakarta, Februari 2018 Penyusun

  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................ii

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 LATAR BELAKANG.....................................................................1

  1.2 RUMUSAN MASALAH.................................................................1

  1.3 TUJUAN PENELITIAN.................................................................2

  BAB II PEMBAHASAN

  2.1 LANDASAN TEORI.......................................................................3

  2.2 METODE PENGUMPULAN DATA.............................................3

  2.3 PEMBAHASAN...............................................................................3

  2.3.1 Tokoh Psikoanalisa ...............................................................3

  2.3.2 Alam Bawah Sadar ...............................................................4

  2.3.3 Persepsi tentang Sifat Manusia ............................................7

  2.3.4 Struktur Kepribadian ...........................................................8

  2.3.5 Dinamika Kepribadian .......................................................11

  2.3.6 Perkembangan Kepribadian Menurut Sigmud ................14

  2.3.7 Penerapaan Teori Sigmund Freud dalam Bimbingan ......15

  BAB III PENUTUP

  3.1 KESIMPULAN...............................................................................17

  3.2 SARAN............................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................18

BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang

  Di dalam diri sesungguhnya ada dua macam pikiran, yaitu pikiran sadar (conscious) dan pikiran bawah sadar (subconscious). Pengaruh dan peran pikiran sadar terhadap diri kita sebesar 15%, sedangkan pikiran bawah sadar mencapai 85%. Fakta Ini menunjukkan bahwa pikiran bawah sadar ternyata lebih dominan dan sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukkan karakter, cara berpikir dan bertindak kita. Pikiran sadar dan bawah sadar saling mempengaruhi dan bekerja sama. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan pikiran anda.

  Sebuah kutipan asing yang mengatakan bahwa We are what we think (Kita adalah apa

  yang kita pikirkan). Ada juga ungkapan lain yang mengatakan Jika kita berpikir kita bisa maka

  kita pasti bisa (If you think you can, you can). Kutipan-kutipan di atas sesungguhnya mau menggambarkan kepada kita betapa dahsyatnya kekuatan pikiran manusia itu. Oleh karena itu, kita harus menggunakan pikiran kita secara baik karena dapat mempengaruhi pola tindak dan pola laku kita.

  Otak sadar manusia layaknya bongkahan gunung es yang muncul di permukaan. Selebihnya berupa alam bawah sadar yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Banyak keberhasilan bisa diperoleh dari mengelola alam bawah sadar.

  Pernahkah kita berpikir sejauh mana kemampuan otak kita? Yang kita pahami selama ini, kemampuan otak kita hanyalah secara analistik, namun kita tak pernah menyadari bahwa kemampuan otak manusia tak hanya sekedar analistik. Ada banyak hal yang bisa diungkapkan dalam otak.

  Untuk mengetahui lebih lanjut seberapa besar peran pikiran alam bawah sadar terhadap tingkah laku ,kami mengangkat masalah tersebut untuk dijadikan rumusan masalah dalam makalah ini.

  1.2 Rumusan Masalah

  a. Apa pengertian dari alam bawah sadar ?

  b. Apa saja struktur kepribadian manusia ?

  c. Bagaimana pengaruh alam bawah sadar terhadap tingkah laku manusia ?

1.3 Tujuan Penulisan

  a. Untuk mengetahui pengertian alam bawah sadar

  b. Untuk mengetahui struktur kepriabadian manusia

  c. Untuk mengetahui pengaruh alam bawah sadar terhadap tingkah laku manusia

BAB II PEMBAHASAN

  2.1 Landasan Teori

  Sebuah gunung es yang digunakan oleh Freud dalam menggambarkan pikiran sadar dan bawah sadar. Tentunya Anda tidak akan menolak pendapat freud ini yang juga terkenal sebagai

  neurologist (ilmuan sistem syaraf) dan sekaligus sebagai pencipta psikoanalis (studi fungsi dan perilaku psikologis manusia).

  Jika diperhatikan gunung yang menjulang ke atas diibaratkan pikiran sadar, dan yang menjulang ke bawah (bahkan berkali-kali lipat lebih tinggi) diibaratkan pikiran bawah sadar kita. Dari gambar tersebut pun dapat melihat seberapa besar pengaruh pikiran bawah sadar terhadap kita.

  Di dalam pikiran bawah sadar terdapat pula potensi-potensi diri yang terpendam. Banyak kasus yang membuktikan mengenai potensi terpendam ini, misalnya seorang nenek yang mampu mendobrak tembok ketika terjadi kebakaran, seseorang yang tiba-tiba cepat sukses dalam kondisi terjepit, tiba-tiba kita mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin kita bisa lakukan dan masih banyak lainnya.

  Dari contoh-contoh diatas, seakan kita tidak mampu mengontrol kapan potensi bawah sadar muncul. Namun, sebenarnya dengan kita menurunkan level kesadaran maka pikiran bawah sadar akan aktif.

  Beberapa cara yang biasa di gunakan untuk mengaktifkan bawah sadar adalah meditasi, ritual keagamaan, hipnotis dan lain sebagainya.

  2.2 Metode Pengumpulan Data Dengan mencari data dan informasi sebanyak – banyaknya dari internet dan e-book.

  2.3 Pembahasan

2.3.1 Tokoh psikoanalisa

  Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis dilahirkan di Morovia, pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Gerald Corey dalam Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy menjelaskan bahwa Sigmund Freud adalah anak sulung dari keluarga Viena yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima orang wanita. Dalam hidupnya ia ditempa oleh seorang ayah yang sangat otoriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup berdesakan di sebuah aparterment yang sempit, namun demikian orang tuanya tetap berusaha untuk memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas dimiliki oleh anak-anaknya.

  Sebahagian besar hidup Sigmund Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

  Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut terkumpul sampai 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif pada usia senja. Karena karya dan produktifitasnya itu, Freud dikenal bukan hanya sebagai pencetus psikoanalisis yang mencuatkan namanya sebagai intelektual, tapi juga telah meletakkan teknik baru untuk bisa memahami perilaku manusia. Hasil usahanya itu adalah sebuah teori kepribadian dan psikoterapi yang sangat komprehensif dibandingkan dengan teori serupa yang pernah dikembangkan.

2.3.2 Alam bawah sadar

a. Pengertian alam bawah sadar

  Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yang sederhana seperti makanan atau seks, daya- daya neurotic, atau motif yang mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya.

  Namun anehnya, kita sering terdorong untuk mengingkari atau menghalangi seluruh bentuk motif ini naik ke alam sadar. Oleh karena itu, motif-motif itu kita kenali dalam wujud samar-samar.Konsep Freud tentang alam bawah sadar ini sering didera kritik. Namun, kita tidak akan mempermasalahkan bahwa alam bawah sadar memang dapat menjelaskan sebagian perilaku kita, namun persoalannya adalah seperti apakah dan berapa luaskah alam bawah sadar ini?

  Kalangan behavioris, humanis dan eksistensialis percaya bahwa :

  (a) dorongan-dorongan dan persoalan-persoalan yang dikaitkan dengan alam bawah sadar ternyata lebih sedikit dari perkiraan Freud dan (b) bahwa alam bawah sadar ternyata tidak serumit dan sekompleks yang dibayangkan Freud.

  Sebagian psikolog masa kini mengartikan alam bawah sadar dengan apapun yang tidak perlu atau tidak ingin kita lihat. Bahkan ada pula teoretikus yang tidak memakai konsep alam bawah sadar sama sekali.Namun ada satu teoretikus, Carl Jung, yang begitu memanfaatkan alam bawah sadar dalam teorinya, sehingga jasa Freud terlihat sangat besar dalam pemikirannya.

b. Simulasi pikiran alam bawah sadar

  Sebagai contoh Anda ditanya mengapa Anda menyukai warna merah, dan Anda tidak tahu jawabannya. Namun mungkin saja dahulu Anda di wejang oleh kakek tercinta bahwa kita harus menjadi orang yang berani.

  Dan terbentuklah sebuah belief (keyakinan) => berani adalah sifat yang baik serta memiliki value(nilai) tinggi di dalam pikiran Anda. Setiap warna memiliki konsep pengertiannya masing-masing. Dan yang melambangkan ke-berani-an oleh pikiran bawah sadar Anda adalah warna merah, hal ini mungkin dikarenakan data-data yang kita dapatkan sehari-hari. Misal, warna merah bendera melambangkan ke-berani-an. Merah seperti warna darah melambangkan pengorbanan. Dan orang yang berkorban adalah orang yang berani.

  Hal ini adalah contoh sederhana bagaimana pikiran bawah sadar kita menentukan warna kesukaan. Semua proses itu tidak kita sadari. Dan tentunya semua orang mengalami hal ini dalam model yang berbeda-beda. Pasti.

c. Hal-hal yang diproses dalam alam bawah sadar

  Kebiasaan (habit), Anda pasti merasakan bahwa kebiasaan dilakukan dengan

  sangat mudah dan terjadi begitu saja, dan sangat sulit melawan kebiasaan yang sudah kita tanam.

  Perasaan (emotion), Emosi atau perasaan juga sulit untuk kita kendalikan secara

  sadar. Sangat sulit bukan menahan rasa sedih ketika ada orang terdekat meninggal misalnya?

  Ingatan Jangka Panjang (Long term memory), 2+2 sama dengan? Anda langsung

  menjawab 4 secara spontan. Karena hal itu telah kita tanam di memori jangka panjang yang terletak di bawah sadar. Untuk merubah memori-memori ini Anda perlu masuk ke pikiran bawah sadar.

  Persepsi (perception), Cara kita memandang dan memaknai segala sesuatu di proses oleh pikiran bawah sadar sesuai kebiasan, pengetahuan dan keyakinan kita.

  Kepribadian (character), Kepribadian terbentuk dan tertanam di dalam pikiran bawah sadar, sehingga sangat sulit bagi kita untung melenceng dari kepribadian itu.

  Intuisi (Intuition), terkadang kita merasakan sesuatu tanpa proses berpikir logis.

  Orang sering mengungkapkan intuisi dalam contoh kalimat-kalimat berikut, feelingku mengatakan bahwa bisnis di bidang ini akan sukses, aku kok tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk mengenai anakku dan lain sebagainya.

  Kreativitas (creativity), Anda pasti sudah menyadari bahwa proses timbulnya kreativitas tidak bisa di paksa dengan pemikiran secara sadar.

  Keyakinan (belief), Keyakinan yang tertanam dalam pikiran bawah sadar sangat menentukan bagaimana orang bersikap dan bertindak.

d. Sifat – sifat alam bawah sadar a) Tidak rasional dan percaya tanpa perlu penjelasan logis.

  Metode ini sering digunakan oleh para marketer, untuk memanipulasi pikiran sadar kita. Contoh ada iklan, beli mobil hanya seharga Rp, 10.000. Otak sadar Anda berpikir hal itu tidak logis, tapi karena ini bermain dengan perasaan (rasa untung, rasa mewah, rasa spesial) maka bawah sadar kita yang dominan, dan percaya dengan hal itu walaupun tidak logis.

  b) Tidak membedakan antara realitas dan imajinasi.

  Ketika alam bawah sadar dominan, maka imajinasi pun akan kita anggap kenyataan. Bagaimana rasanya mimpi? seperti kenyataan bukan? Itu bedanya ketika anda melamun dan ikut kedalam lamunan Anda maka anda bisa merasakan bahwa imajinasi itu seperti sangat nyata. Hal itu salah satu contoh bahwa antara ingatan ataupun imajinasi tidak bisa dibedakan di dalam bawah sadar.

  Ada teknik hipnoterapi untuk mengobati pasien yang trauma dengan mengubah jalan cerita memori yang membuat trauma pasien tersebut. Karena dalam kondisi aktif bawah sadarnya, maka sepenuhnya Dia akan menyadari bahwa modifikasi memorinya itu merupakan kenyataan yang ia alami. Sehingga alasan yang membuat traumanya hilang.Berarti memori kita sangat rawan untuk di palsukan.

  

c) Tidak paham konsep waktu masa lampau atau masa depan, yang ada hanya masa

‘sekarang’.

  Karena pikiran bawah sadar tidak menyadari waktu lampau atau masa akan datang, maka untuk membuat suatu informasi masuk hindari berkata, “Saya akan bahagia” misalnya. Maka lebih baik langsung katakan, “Saya bahagia”.

  d) Pintar dan memahami yang kita fokuskan.

  Jika anda mengatakan “Saya sehat dan dalam kondisi fit.” Maka pikiran bawah sadar Anda akan memerintahkan agar Anda diet jika kegemukan, Makan yang sehat-sehat, rajin berolahraga dsb. Yang intinya otak bawah sadar sudah tahu apa yang harus dilakukan jika kita membuat sebuah sugesti berupa kalimat umum.

2.3.3 Persepsi tentang sifat manusia

  Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.

  Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah. Teorinya dalam ilmu psikodinamika yang membuat tertarik adalah mengenai id, ego dan superego.

2.3.4 Struktur kepribadian Konsep Mengenai Conscious dan Unconscious

  Dalam teori psikoanalisa dinyatakan bahwa hampir sebagian besar perilaku dipengaruhi oleh kekuatan dari unconscious dan energi fisik yang kita miliki juga banyak digunakan untuk menemukan ekspresi yang sesuai dalamunconscious. Sigmund Freud membagi kepribadian ke dalam tiga tingkatan kesadaran :

  a. Alam sadar (conscious)

  Kita sadar akan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, yang dapat kita lihat dan rasakan. Mencakup semua sensasi dan pengalaman yang kita sadari. Freud menganggap alam sadar itu aspek yang terbatas karena hanya porsi kecil dari pikiran, sensasi, dan ingatan yang siaga di alam sadar. Ia menghubungkan pikiran dengan sebuah gunung es dimana alam sadar berada di ujung es yang terapung.

  b. Alam pra-sadar (preconscious)

  Bagian dimana kita dapat menjadi sadar jika kita menghadirkannya. Waktu yang diperlukan untuk membawa informasi ke tahap conscious inilah yang disebut sebagai preconscious. Merupakan gudang dari memori, persepsi, dan pikiran kita dimana kita tidak secara sadar, siaga setiap waktu tetapi kita dapat dengan mudah memanggilnya ke alam kesadaran.

  c. Alam bawah sadar (unconscious)

  Proses mental yang terjadi tanpa adanya conscious atau mungkin terjadi dengan adanya pengaruh yang khusus. Merupakan fokus dari teori psikoanalisa. Bagian yang besar di dasar gunung es yang tidak kelihatan yang merupakan rumah dari instink, pengharapan, dan hasrat yang mengarahkan perilaku kita dan tempat penyimpanan kekuatan yang tidak dapat kita lihat dan kita kendalikan.

  Teori psikoanalisa lebih terfokus pada unconscious dikarenakan keinginan-keinginan yang bersifat merangsang. Gagasan dalam psikoanalisa menyatakan bahwa kita memiliki tujuan untuk melindungi diri dari keinginan-keinginan yang diasosiasikan dengan pikiran dan kesenangan, dan kita mencapai tujuan ini dengan menjaga gagasan tersebut di luar kesadaran, menyimpannya jauh di dalam unconcious. Unconcious bersifat alogical (tidak masuk akal), mengabaikan ruang dan waktu.

  Bukti apa yang mendukung bahwa bagian unconcious ada dalam bagian pikiran? Dimulai dari simulasi dari observasi yang dilakukan Freud, ia menyadari betapa pentingnya unconcious setelah mengobservasi fenomena hipnotis. Dalam metode hipnotis, mereka menampilkan perilaku bahwa perintah tanpa diketahui oleh concious. Karena itu, Freud melanjutkan penelitian terapinya. Ia menemukan bahwa memori dan harapan-harapan terjadi bukan hanya karena merupakan bagian dari conciouness tetapi dilupakan dengan sengaja pada unconcious kita.

  Segala tingkah laku kita, menurut Freud bersumber pada dorongan-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran. Karena itu, Psikologi Freud disebut juga Psikologi Dalam (Depth Psychology). Selain itu, teori Freud disebut juga sebagia Teori Psikodinamik (Dynamic Psychology), karena ia menekankan kepada dinamika atau gerak mendorong dari dorongan-dorongan dalam ketidaksadaran itu ke kesadaran. Struktur kepribadian dalam ilmu psikodinamika tersebut, yaitu :

1. Konsep Id atau Das Es (Aspek Biologis)

  Freud menyatakan bahwa Id adalah lapisan psikis yang paling dasariah yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan-keinginan yang direpresi. Id menjadi bahan dasar bagi pembentukan psikis lebih lanjut dan tidak terpengaruh oleh kontrol pihak ego dan prinsip realitas. Koswara (1991:32) mengatakan bahwa Id adalah sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan.

  Id diatur oleh prinsip kenikmatan (pleasure principle) yang mendorongnya selalu ingin mendapatkan kenikmatan. Id juga didorong oleh kecenderungan destruktif terhadap hal-hal yang menghambat pencapaian kenikmatan dan penghindaran ketidaknyamanan, termasuk merusak diri sendiri jika terlalu banyak hal menyakitkan dialami dalam kehidupan. Selain bekerja secara tak sadar, id bersifat impulsif dan selalu ingin terpuaskan. Proses yang berlangsung di dalamnya adalah refleks dan proses primer berupa wish-fulfilment atau berkhayal untuk memenuhi kebutuhan.

  2. Konsep Ego atau Das Ich (aspek rasional)

  Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan, ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.

  Ego mempunyai beberapa fungsi di antaranya:

  a) Berpikir logis b)Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan yang diterima c) Menggunakan pengalaman emosi-emosi kecewa sebagai tanda adanya suatu yang salah, yang tidak benar agar kelak dapat dikategorikan dengan hal lain untuk memusatkan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya.

  3. Konsep Superego atau Das Ueber Ich (aspek sosial atau moral)

  Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Menurut Freud, superego dibentuk dengan melalui proses internalisasi dari nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figure yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru. Menurut Koswara (1991:34-35) fungsi utama superego adalah sebagai pengendali dorongan- dorongan atau impuls-impuls naluri Id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat; menagrahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan dan mendorong individu kepada kesempurnaan.

2.3.5 Dinamika kepribadian Insting (Kekuatan Pendorong Kepribadian) 1.

  Freud mendefenisikan insting sebagai representasi mental dari stimulus yang berjalan secara alamiah di dalam tubuh, seperti rasa lapar dan haus yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Insting merupakan elemen yang paling dasar dari kepribadian yang memotivasi perilaku seseorang dan mengarahkan perilaku itu.

  Insting adalah sejumlah energi yang mentransformasikan energi fisiologis atau kebutuhan tubuh dengan pengharapan kita seperti misalnya pada saat seseorang lapar, ia akan bertindak untuk memuaskan kebutuhannya apabila melihat makanan. Teori dari Freud ini dinamakan homeostatic (homeostatic approach) yaitu suatu motivasi untuk memperbaiki atau mempertahankan kondisi yang stabil agar tubuh kita bebas dari tekanan. Freud mengatakan bahwa seseorang itu hanya mengutamakan kesenangan dan kebanyakan dari teori Freud ini berbicara mengenai pentingnya untuk menahan atau menekan keinginan seksual kita. Freud mengklasifikasikan insting ke dalam 2 kategori yaitu:

  Insting kehidupan (life instincts) a.

  Insting kehidupan menyatakan tujuan hidup seorang individu dan spesies adalah untuk memenuhi kebutuhannya seperti makanan, air, dan kebutuhan akan seks. Insting kehidupan berorientasi pada pertumbuhan dan perkembangan.

b. Insting kematian (death instincts)

  Sebagai kebalikan dari insting kehidupan (life instincts), Freud mengemukakan death instincts. Sesuai pembelajaran biologi, dia mengemukakan fakta yang jelas bahwa semua yang hidup dapat rusak dan mati, kembali pada dasarnya yang mati dan dia mengemukakan bahwa manusia mempunyai keinginan tidak sadar untuk mati. Salah satu komponen dari death instincts adalah dorongan agresi, paksaan untuk menghancurkan, keinginan untuk berkuasa, dan membunuh.

  Sebenarnya Freud tidak mengembangkan ide tentang insting kematian sampai akhir hidupnya. Namun pada saat kejadian-kejadian buruk terjadi seperti penyakit yang dideritanya (kanker) memburuk dan kematian anaknya mempengaruhi Freud, maka ia menjadikan insting kematian dan agresi sebagai tema utama dalam teorinya. Akan tetapi, konsep dari insting kematian ini tidak dapat diterima oleh sebagian orang termasuk pengikut setia Freud.

2. Kecemasan (anxiety)

  Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.

  Pada dasarnya, kecemasan tidaklah sama dengan ketakutan, walaupun kita mungkin menyadari bahwa kita ketakutan. Freud mendeskripsikan kecemasan sebagai suatu kesatuan tanpa objek karena kita tidak dapat menunjuk ke sumber ketakutan atau ke suatu objek khusus yang menyebabkan ketakutan tersebut. Freud memandang kecemasan sebagai bagian yang penting dari teori kepribadian yang dibuatnya, ia juga menilai bahwa kecemasan itu fundamental terhadap perkembangan pengaruh neuritis dan psikotis. Freud mengungkapkan bahwa prototype dari semua kecemasan adalah trauma kelahiran. kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neuritis, dan moral.

  Kecemasan objektif atau realitas (realistic anxiety) a. Kecemasan objektif atau realitas (realistic anxiety) adalah sebuah ketakutan terhadap adanya bahaya yang nyata dalam dunia sebenarnya. Contoh kecemasan objektif yaitu gempa bumi, angin topan, dan bencana yang sejenis. Kecemasan realitas memberikan tujuan positif untuk memandu perilaku kita untuk melindungi dan menyelamatkan diri kita dari bahaya yang aktual.

b. Kecemasan neuritis (neurotic anxiety)

  Kecemasan neuritis (neurotic anxiety) adalah sebuah ketakutan yang berasal dari masa kanak-kanak dalam sebuah konflik antara kepuasan instingtual dan realita melibatkan konflik antara id dan ego. Anak-anak sering dihukum bila mengekspresikan impuls seksual dan agresif secara berlebihan. Pada tahap ini, kecemasan ini berada pada alam kesadaran, tetapi selanjutnya, ini akan ditransformasikan ke alam ketidaksadaran.

c. Kecemasan moral (moral anxiety)

  Kecemasan moral (moral anxiety) adalah sebuah ketakutan sebagai hasil dari konflik antara id dan superego. Essensinya, kecemasan moral adalah ketakutan dari kesadaran seseorang. Ketika seseorang termotivasi untuk mengekspresikan sebuah impuls instingtual yang berlawanan dengan pola moral, superego akan membalas dendam dengan membuat ita merasa malu atau bersalah. Perbedaan kecemasan moral dan kecemasan neurotic adalah perbedaan prinsip yakni : tingkat kontrol ego. Pada kecemasan moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalahnya berkat energi superego, sedangkan pada kecemasan neurotik orang dalam keadaan distres terkadang panik sehingga mereka tidak dapat berpikir jelas dan energi id menghambat penderita kecemasan neurotik membedakan antara khayalan dengan realita.

  Kecemasan moral didasarkan juga pada realitas. Anak-anak dihukum karena melanggar kode moral orangtuanya dan orang dewasa dihukum karena melanggar kode moral masyarakat. Kecemasan memberi sinyal kepada individu bahwa ego sedang terancam dan jika tidak ada tindakan yang diambil, maka ego akan jatuh. Jika tidak ada satupun dari teknik-teknik rasional ini bekerja, maka seseorang akan menggunakan mekanisme pertahanan, sebuah mekanisme tidak rasional yang dibuat untuk mempertahankan ego yaitu ego defense

  mechanism (mekanisme pertahanan ego) yaitu: 1) Repression

  Ini merupakan penolakan secara tak sadar dari keberadaan sesuatu yang membawa ketidaknyamanan dan kesakitan dan merupakan yang paling mendasar dan merupakan defense mechanism yang sering kali digunakan. 2) Denial

  Denial sangat berhubungan erat dengan repression dan terlibat dalam menolak keberadaan ancaman dari luar ataupun event yang menimbulkan trauma yang telah muncul.

  3) Reaction Formation

  Suatu pertahanan yang digunakan untuk menghadapi impuls yang mengganggu dengan secara aktif mengekspresikan impuls yang berlawanan.

  4) Projection

  Cara lain untuk menanggapi impuls yang mengganggu adalah untuk memproyeksikan impuls yang mengganggu kepada orang lain.

  5) Regression

  Didalam regression, manusia akan mundur ke tahap periode hidupnya yang lebih awal. Regresion biasanya melibatkan kembalinya kita ke salah satu tahap psikoseksual dari perkembangan kanak-kanak. Individu kembali ke masa tersebut diikuti dengan manifestasi perilaku yang berlaku pada waktu itu, misalnya berlaku seperti kanak-kanak dan cenderung bersikap kanak-kanak dan perilaku yang tergantung pada orang lain.

  6) Rationalization

  merupakan defense mechanism yang melibatkan intrepretasi ulang perilaku kita untuk membuatnya menjadi lebih rasional dan dapat diterima oleh kita.

  7) Displacement

  Kalau objek yang dibutuhkan untuk memuaskan id tidak ada, maka orang kemungkinan besar akan menggantinya dengan objek yang lain.

  8) Sublimation Sublimation terlibat dalam mengubah impuls id. Energi insting diganti menjadi perilaku

  yang dapat diterima oleh masyarakat dan juga diterima oleh masyarakat.

2.3.6 Perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud

  Freud menegaskan bahwa pada manusia terdapat lima fase perkembangan kepribadian, ke lima fase tersebut adalah sebagai berikut:

  

a. Tahap Oral (Berlangsung dari usia 0 sampai dengan 18 bulan), titik kenikmatan terletak

  pada mulut, dimana aktivitas paling utama adalah menghisap dan mengigit. Hal ini merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan. Menurut Freud objek yang paling pertama mendatangkan kesenangan dan kepuasan adalah buah dada ibu atau botol susu. Tugas perkembangan pokok dari seorang bayi selama fase oral ini adalah membentuk sikap ketergantungan dan kepercayaan pada orang lain.

  

b. Tahap Anal (Berlangsung dari usia 18 bulan sampai dengan 3-4 tahun), titik

  kenikmatannya terletak pada anus. Yaitu seperti menahan faeces (kotoran). Memegang dan melakukan sesuatu adalah aktivitas yang paling dinikmati. Pada fase ini juga anak sudah mulai diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan oleh orang tuanya memalui atau latihan mengenai bagaimana dandimana seharusnya seorang anak membuang kotorannya.

  

c. Tahap phallic (Berlangsung antara 3 sampai 5 tahun, 6 atau 7 tahun). Titik kenikmatan di

tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi.

  

d. Tahap Laten (Berlangsung dari usia 5, 6 atau 7 sampai usia pubertas (sekitar usia 12

  tahun)). Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses belajar.

  

e. Tahap Genital (dimulai pada usia pubertas), ketika dorongan seksual sangat terlihat jelas

  pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Masturbasi, seks oral, homoseksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual lain yang kita anggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksuaitas yang normal. Dalam teori psikoanalisis, karater genital mengiktisarkan tipe ideal dari kepribadian, yakni terdapat pada orang yang mampu mengembangkan relasi seksual yang matang dan bertanggungjawab, serta mempu memperoleh kepuasan dari pasangan heteroseksual.

2.3.7 Penerapan teori Sigmund freud dalam bimbingan

  Apabila diperhatikan konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (dalam Yusuf Gunawan) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu:

  1) memahami individu (understanding-individu) 2) preventif dan pengembangan individual 3) membantu individu untuk menyempurnakannya.

  Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia miliki. Dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan materi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.

  Kedua, konsep kunci tentang kecemasan yang dimiliki manusia dapat digunakan untuk :

  1. Sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya. 2. mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana. 3. mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

  Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual.

  Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.

  Kelima, konsep Freud tentang ketidaksadaran dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.

BAB III PENUTUP

  3.1 Kesimpulan

  Perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Tingkah laku manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan impulsif bawah sadar yang ditransformasi sedemikian rupa menjadi berbagai wujud tingkahlaku, termasuk perilaku artistik. Dorongan-dorongan itu bersumber pada id, bagian kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari id bagian kepribadian lainnya, ego dan superego, terbentuk melengkapi struktur kepribadian. Kepribadian manusia kemudian dipahami sebagai interaksi dinamis antara id, ego dan superego dengan ego sebagai komando yang menjaga keseimbangan strukturnya.

  Semua proses dalam pikiran alam bawah sadar tidak kita sadari. Dan tentunya semua orang mengalami dalam model yang berbeda-beda. Dan yang di proses dalam alam bawah sadar diantaranya kebiasaan, perasaan, ingatan jangka panjang, persepsi, kepribadian, intuisi, kreativitas, dan keyakinan.

  3.2 Saran

  Semoga teori psikologi sperti ini dipelajari oleh semua orang, tidak harus yang hanya mengambil jurusan perkuliahan psikologi, supaya semua orang dapat memahami diri sendiri ataupun orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

   https://books.google.co.id/books? id=J5FMDAAAQBAJ&pg=PA23&dq=buku+pengaruh+alam+bawah+sadar+terhadap+tingk ah+laku&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiY7JmUwb7ZAhVMJJQKHYz_ANQQ6AEINjAD# v=onepage&q=buku%20pengaruh%20alam%20bawah%20sadar%20terhadap%20tingkah %20laku&f=false Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang. Bertens, Dr. K. 1979. Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud. Jakarta: PT. Gramedia. Bertens, Dr. K. 1983. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa. Jakarta: PT. Gramedia Boeree, CG. 1997. Personality Theories : Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa: Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie. Boeree, George. C. Dr. 2004. Personality Theories. Jogjakarta : Prismasophie. Davidoff , Linda. 1988. Psikologi : Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. Effendi, E. Usman 1989. Pengantar Psikologi. Bandung : Angkasa. Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: PT.Buku Kita. Hall, Calvin, S. 1954. Pengantar ke dalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud. Jakarta–New York: Yayasan Penerbitan Franklin. Juniati, Mari. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga. Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco. Lacan, Jacques. 1978. The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis. London: w.w. Norton & Company.Inc.

  Meyers, David G. 2007. Modul 44 Perspektif psikoanalitik Psikologi Edisi Kedelapan dalam Modul. Penerbit Seharga. Mijolla, A. D. 2005. International Dictionary of Psychoanalysis. Farmington Hills: Thomson Gale. Mukhtar, Dr. 2013. Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Jakarta Selatan : Referensi (Gaung Persada Press Group). Nevid, Jeffrey. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga. Nevid, Jeffrey. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta:Erlangga. Pervin, Lawrence A. 2005. Personality Theory and Research. America: John Wiley and Sons. Schultz, Duane. 1993. Theories of Personality. California: Brooks/ Cole Publishing Company. Semiun, Yustinus. 2006. Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius. Snowden, Ruth. 2006. Teach Yourself Freud. McGraw-Hill. Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia. Sujanto, Agus. 2012. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Sumadi Suryabrata. 2005. Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali. Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali Pers. Susanto, Dwi. 2011. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).

Dokumen baru

Download (22 Halaman)
Gratis

Tags

Pengaruh Hukuman Terhadap Tingkah Laku Siswa Pengaruh Alam Bawah Sadar Musik Dan Lant Tingkah Laku 231526195 Bahasa Alam Bawah Sadar Tingkah Laku Kawin Tingkah Laku Kolektif Memotivasi Diri Melalui Alam Bawah Sadar Teratmen Tingkah Laku Penentu Pola Tingkah Laku Treatment Gangguan Tingkah Laku
Show more

Dokumen yang terkait

HAK ASASI MANUSIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAK
0
2
124
ANALISIS KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG TERGABUNG DALAM INDEKS KOMPAS 100
1
5
132
PENGARUH PENYEDIAAN MODUL KEPERAWATAN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGANYA YANG MENGALAMI HALUSINASI TAHUN 2013
0
0
8
PENGARUH JENIS AIR YANG DIGUNAKAN TERHADAP KADAR KLORIN PADA AIR SEDUHAN KERTAS PEMBUNGKUS TEH CELUP dr. Nurhayati Ramli, Diah Navianti, Witi Karwiti Dosen Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang Abstrak - Pengaruh Jenis Air Yang
1
1
11
PENGARUH LATIHAN AEROBIK TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BATURAJA TAHUN 2012 SUPARNO,APP,M.Kes
0
1
6
PENGARUH PERENDAMAN DENGAN KERTAS KORAN DALAM AIR PANAS TERHADAP KADAR TIMBAL (Pb) PADA IKAN ASIN Diah Navianti, Witi Karwiti, Anton Syailendra, Rara Tarika
0
0
9
PENGARUH PERENDAMAN DENGAN KERTAS KORAN DALAM AIR PANAS TERHADAP KADAR TIMBAL (Pb) PADA IKAN ASIN Diah Navianti, Witi Karwiti, Anton Syailendra, Rara Tarika
1
2
15
PENGARUH DISIPLIN BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MTs SWASTA MUHAMMADIYAH-13 TANJUNG MORAWA SKRIPSI
1
1
113
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Dukungan Informasional - DUKUNGAN KELUARGA MUSLIM TERHADAP PASIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA MAHONI KOTA MEDAN - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
11
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan Umum 1. Profil Rumah Sakit Jiwa Mahoni a. Sejarah Rumah Sakit Jiwa Mahoni - DUKUNGAN KELUARGA MUSLIM TERHADAP PASIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA MAHONI KOTA MEDAN - Repository UIN Sumatera Utara
1
2
28
BAB I PENDAHULUAN A. Latar BelakangMasalah - PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V DI MIN SINEMBAH DESA MEDAN SENEMBAH KECAMATAN TANJUNG MORAWA DELI SERDANG - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
9
BAB II KAJIAN LITERATUR A. KerangkaTeori 1. Hakikat Belajar - PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V DI MIN SINEMBAH DESA MEDAN SENEMBAH KECAMATAN TANJUNG MORAWA DELI SERDANG - Repository UIN Su
0
1
26
BAB III METODE PENELITIAN A. DesainPenelitian - PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V DI MIN SINEMBAH DESA MEDAN SENEMBAH KECAMATAN TANJUNG MORAWA DELI SERDANG - Repository UIN Sumatera Utara
1
2
13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HasilPenelitian 1. Temuan UmumPenelitian 1.1 ProfilMadrasah - PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V DI MIN SINEMBAH DESA MEDAN SENEMBAH KECAMATAN TANJUNG MORAWA D
1
5
24
BAB 8 SEJARAH NABI MUHAMMAD : KERASULANNYA UNTUK SEMUA MANUSIA DAN BANGSA - 08 sejarah Nabi Muhammad 1
1
1
6
Show more