Prevalensi Kecacingan Usus Pada Anak Sekolah Dasar Di Kota Palu, Sulawesi Tengah

 0  0  6  2019-01-12 12:55:43 Report infringing document
PREVALENSI KECACINGAN USUS PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH Phetisya Pamela Frederika Sumolang'dan Sitti Chadijah' Balai Litbang P2B2 Donggala, Badan Penelitian dan Pengemb anganKesehatan, Kementerian Kesehatan Rl Intestinal w'orm disease is still ,rrri,!f:f/;J"rem in Indonesia. This disease ca, be Jbund in children under five years old and age school children. This study was aimecl to identify factors that associated with worm intestinal disease prevalence in elementary school children in Watttsampu and Lolu (Jtara village, Palu Municipality. This is an analytic descriptive studlt v,ith a cross-sectional design. 288 stool samples were collectecl ancl examined by ttsing direct method. 90 samples (31,3%o) werefoundpositive.for helminths'eggs. Ascaris lumbricoides. Hookwornt, Triclturis trlichuri, Enierobius vermicularis ian Trichostrongylus orientalis were.found in the stool samples withAscaris lumbricoides harJ the highest proportion (8 3 ,3 4%o) The p-value provides no evidence that sex ancl age were relatecl witch soil transmitted disease. Keywords :Helminthiasis Prevalence, Elementary School, Palu Municipality PENDAHULUAN Penyakit kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu antara 45-65 Yo, bahkan di wilayah-wilayah tertentu dengan sanitasi yang buruk prevalensi kecacingan bisa mencapai 80o/o.'Hasil survei kecacingan di Provinsi Sulawesi Selatan (1999),pada anak Sekolah Dasar SD) menunjukkan prevalensi Ascaris 78,5Yo, Trichuris 63,gYo dan cacing tambang l,4o/o.'Di Sulawesi Tengah pada tahun 2007 menunjukkan prevalensi infeksi cacing As caris lumbricoides 19,7 %o dan Trichuris trichiura l,5Yo pada anak SD.'Beberapa hasil penelitian menunjukkan kecacingan lebih banyak menyerang pada anak-anak SD /Madrasah Ibthidayah (MD dikarenakan aktifitas mereka yang lebih banyak berhubung an dengan tanah.'Pencemaran tanah merupakan penyebab terj adinya transmisi telur cacing dari tanah kepada manusia melalui tangan atau kuku yang mengandung telur cacing lalu masuk ke 14 mulut melalui makanan.'Cacing sebagai hewan parasit tidak saja mengambll zat-zat gizi dalam usus anak, tetapi juga merusak dinding usus sehingga mengganggu penyerapan zat-zat gizi tersebut. Anak -anak yang terinfeksi cacing biasanya mengalami: 1esu, pucat/anemia, berat badan menurun, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, kadang disertai batuk -batuk.'Meski pun penyakit cacing usus tidak mematikan, tetapi menggerogoti kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat. Dalam jangka panJang, hal ini akan berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia. Pada orang dewasa akan menurunkan produktivitas kerja, sedangkan pada anak-anak akan berdampak pada gangguan kemampuan untukbelajar.'Infeksi cacing usus merupakan infeksi kronik yang paiing banyak menyerang anak balita dan anak usia sekolah dasar. Tinggi rendahnya frekuensi kecacingan berhubungan erat dengan Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah .Phetisya Pamela ke bersihan pribadi dan sanitasi lingkunganu. Cacing-cacing yang menginfestasi anak dengan prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides),cacing cambuk Trichuris trichiura),cacing tambang Q{ecator americanu,y' dan cacing pita. Bila diperhatikan dengan teliti, cacingcacing yang tinggal di usus manusia ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kejadian penyakit lainnya misalnya kurang gizi dengan infestasi cacing gelang yafig suka makan karbohidrat dan protein di usus sebelum diserap oleh tubuh, kemudian penyakit anemia (kurang kadar darah) karena cacing tambang mengisap darah di usus, cacing cambuk dan cacing pita suka mengganggu pertumbuhan dan perkemban gan atak serta mempengaruhi masalah-masalah non kesehatan lainnya misalnya turunnya prestasi belajar dan drop outnyaanak SD'.Hasil penelitian penyakit kecacingan usus di Sulawesi Tengah pada tahun 2009 pada semua umur menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi adalah di Kota Palu, yaitu sebesar 5l,7Yo.'Berdasarkan hasil- dimasukkan ke dalam plastik klep yang telah diisi dengan formalin t0%.Pengumpulan sampel tinja dilakukan selama empat hari. Sampel tinja yang terkumpul kemudian diperiksa di Laboratorium Parasitologi Balai Litbang P2BZDonggala. Identifikasi telur cacing menggunakan metode iangsung. Tinja diambil sedikit, diletakkan di atas slide dan ditetesi dengan lugol2o/o kemudian ditutup dengan kaca penutup setelah itu diperiksa di mikroskop dengan menggunakan perbesaran 100x dan 400x8. HASIL Prevalensi Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar Sebanyak 400 resPonden anak SD yang dipilih tetapi hanya 288 responden yang mengumpulkan sampel tinja. Sebanyak 90 sampel (31,3%)ditemukan adanya telur cacing dan 198 samPel (68,8%)tidak ditemukan positif terinfeksi telur cacing (Gambar 1 )hasil penelitian tersebut, maka perlu diteliti lebih lanjut tentang prevalensi x* 1rr:rsitif kecacingan usus khususnya pada anak SD diKotaPalu. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu pada bulan September tahun 2011, di tujuh SD yatg ada di dua kelurahan yaitu kelurahan Lolu Utara dan Watusampu. Jenis penelitian ini adalah dekriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional. Sebanyak 400 responden anak SD di dua kelurahan dipilih secara acak. Pada setiap responden dilakukan pengumpulan sampel tinja dengan membagikan plastik klep yang berisi stik es krim untuk mengambil tinja. Tinja diambil sedikit (Yz ruas jari kelingking) dengan sendok es krim kemudian Sitti Chadijah) rleE;tit Gambar 1. Hasil pemeriksaan tinja pada anak SD diKotaPalu, Tahun2011. Total responden yang tidak bersedia mengumpulkan tinjanya sebanyak 28o/o dengan berbagai alasan, yaitu mengaku tidak bisa buang air besar, merasa jijik mengambil tinjanya,tidak diizinkan orang tua untuk mengumpulkan tinja dan ada juga anak sekolah yang sudah tidak masuk sekolah dengan alasan sakit sampai dengan hari terakhir pengumpulan sampel tinja. 15 Jumal Vektor Penyakit, Vol. VI No. 2,2A12 :14 -19 Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel tinja diperoleh 90 sampel positif terinfeksi cacing, sehingga Palu. Jenis cacing yang menginfeksi adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris angka di Kota palu trichiura, Hookwornt, Enterobius vermicularis, dan Trichostrongylus Distribusi infeksi berdasarkan jenis orientalis. Adapun yang paling dominan menginfeksi anak SD adalah Ascaris lumbricoides yaitu sebanyak 83,34yo. Ditemukan infeksi campuran dari dua spesies cacing usus dalam penelitian ini. kecacingan pada Anak SD sebesar 3l ,25o/o. telur cacing Pada tabel I dapat dilihat jenis-jenis cacing yang menginfeksi anak SD di Kota Tabel 1. Distribusi Infeksi Kecacingan Berdasarkan Spesies Cacing pada Anak SD di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun 2011 Jenis Caci Frekuensi Ascaris lumbricoides 75 Trichuris trichiura Hool*vorm Entero bius vermicularis Tri c ho s tro ngy lus o r i enta I i s Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura Ascaris l, ides, Hookworm TOTAL Distribusi infeksi Persentase berdasarkan karakteristik responden Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar yang terinfeksi cacing adalah anak 26,04 3 1,04 2 2 2 2 0,69 0,69 0,69 1,39 4 90 31 25 laki-laki sedangkan berdasarkan umur yang paling banyak terinfeksi cacing adalah umur 10 -13 tahun (Tabel 2).Tabel 2. Angka Kecacingan Berdasarkan Jenis Kelamin dan umur pada Anak Sekolah Dasar di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun 20l l Karakteristik : Angka Kecacingan Positif Negatif Frekuensi Persentase Frekuensi persentase (F) F) P Value Jenrs K.elamln Laki-laki 51 56.7 Perempuan 39 38 52 51.5 48.5 0.4t7 43.3 102 96 42.2 s7.8 104 94 52.5 47.5 0.258 Umur 10-13 PEMBAHASAN Hasil pemeriksaan sampel tinja di tujuh SD di Kota Palu menunjukkan bahwa dari 288 sampel yang terkumpul sebanyak 90 sampel (31,3%)ditemukan positif terinfeksi telur. Ini berarti angka t6 prevalesi kecacingan anak SD di Kota Palu sebesar 3l,3yo. Angka ini masih tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional infeksi kecacingan yaitu l0o/o9. Hal ini juga sesuai dengan beberapa penelitian yang menemukan tingginya infeksi Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah .Phetisya Pamela kecacingan pada anak SD, antara lain hasil penelitian di Provinsi Sumatera Utarayang menemukan prevalensi kecacingan pada anak SD di Desa Suka, Provinsi Sumatera rJtarayaitu7}oh '0. Hasil penelitian di Bali selama kurun waktu 2003 -2007 juga menunjukkan bahwa prevalensi kecacingan padaanak SD tergolong tinggi yaitu berkisar antara 40,940 -92,4yo "Tingginya angka kecacingan dapat digunakan sebagai indikator bahwa Waya pencegahan dan pemberantasan kecacingan pada anak SD di Kota Palu belum dilakukan secara maksimal. Hal ini disebabkan karena penyakit kecacingan merupakan penyakit yang kurang mendapatkan perhatian (neglected dis e as e) dan kurang terpantau oleh petugas kesehatanl2. Perilaku hidup bersih perorangan, sanitasi lingkungan dan pengobatan adalah faktor-faktor yang Sitti Chadijah) dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu, kondisi geografls, keadaan tanah tempat perkembangan telur cacing, dan penyebaran telur infektif dalam tanah. Seseorang dapat terinfeksi dengan cacing Askaris apabila menelan minuman atau makanan yang terkontaminasi dengan telur yang infektif. Sedangkan pada anakanak biasanya lewat tangannya yang terkontaminasi dengan tanah yang telah tercemar telur cacing. Anak SD adalah individu yang masih senang melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan tanah. Kebiasaan anak-anak bila sedang bermain tidak memakai alas kaki, sehingga menyebabkan kontak langsung dengan tanah yang mungkin telah tercemar oleh telur cacing merupakan salah satu pemicu terjadinya penularan penyakit kecacingan, khususnya cacing usus. Walaupun ke sekolah menggunakan mempengaruhi prevalensi kecacingan. Jenis cacing yang menginfeksi pada anak SD di Kota Palu adalah Ascaris sepatu, tetapi pada saat bermain ada beberapa anak lebih senang bermain tanpa memakai sepatu. Selain itu, penularan cacing usus dapat pula terjadi melalui kuku Hoola,ttorm, Enterobius vermicul aris, dan Trichostrongtlus orientalis, dengan jenis cacing yang paling dominan menginfeksi adalah As c ar i s lumb ri c o i d e s y aitu seb esar 26,04yo. As caris lumbricoides merupakan jenis cacing yang paling sering ditemukan menginfeksi manusia dan juga tingkat infeksinya biasanya selalu lebih tinggi. seperti yang dilaporkan penelitian sebelumnya di Kecamatan Paseh, lumbricoides. Trichuris trichiura, Data dari WHO dilaporkan satu miliar orang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides, 795 juta orang terinfeksi cacing Trichuris trichiura dan 740 jrta orang terinfeksi cacing Hoolcworm".Hasll penelitian di Bengkalis pada anak SD 06 juga menunjukkan jenis infeksi cacing yang terbanyak adalah Ascaris lumbricoides yaitu sebesar 53Yo'0. Hal yang sama juga ditemuk an pada penelitian yang dilakukan di Ampana, Kabupaten Poso yang menemukanjenis infeksi cacing terbanyak pada Anak SD adalah Ascaris tt. lumbricoides sebesar 28,3o Tingginya infeksi Askaris pada suatu tempat Kabupaten Bandung yang menemukan anak pra sekolah dan balita terinfeksi cacing usus melalui kuku sebes ar 50/o16. Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar yang terinfeksi cacing adalah anak laki-laki yaitu sebesar 56,7Yo, sedangkan berdasarkan umur yang paling banyak terinfeksi cacing adalah umur i0 -13 tahun sebesar 57,8oA. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa tidak ada bukti yang kuat antara jenis kelamin dengan kejadian penyakit cacing usus. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Sekolah Dasar Kecamatan Ampana Kota Sulawesi Tengah yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan",danpenelitian di Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung yang menemukan tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan terhadap infeksi t1 Jumal Vektor Penyakit, Vol. VI No. 2, 2012 :14 19 kecacingan di Jakarta lJtara'Hal yang berbeda diungkapkan pada penelitian sebelumnya di Kabupaten Karo Sumatera Utara pada tahun 2003 yang menyatakan bahwa ada perbedaan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan'Angka kecacingan dalam penelitian ini ditemukan lebih tinggi pada anak dengan umur yang lebih tua yaitu 10 -13 tahun dibandingkan umur 7-9 tahun. Hal ini dapat dihubungkan dengan meningkatnya aktivitas bermain dan mobilitas anak yang lebih tua sehingga resiko tefiular cacing lebih besar. Anak yang lebih muda termasuk higienenya masih dalam pengawasan orang tua sehingga resiko tefiular menjadi lebih kecil. Dalam penelitian ini tidak ditemukan bukti yang kuat antara umur dengan kejadian kecacingan. Penelitian yang dilakukan di lima Sekolah Dasar di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo yang menemukan hal yang sama bahwa tidak ada hubungan yang bennakna antara umur responden dengan kej adian kecacingan' o. UCAPANTERIMAKASIH 'Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Litbang Kesehatan atas dukung an danasehingga penelitian ini dapat terlaksana, Sekretariat Risbinkes Pusat dan Kepala Balai Litbang P2Bz Donggala, atas disetujuinya usulan penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kota Palu, Kepala Puskesmas Tipo dan Kepala Puskesmas Birobuli, Lurah Watusampu dan Lurah Lolu Utara serta Kepala-Kepala Sekolah di Kelurahan Watusampu dan di Kelurahan Lolu Utara atas izin penelitian dan dukung anyangtelah diberikan kepada kami. DAFTARPUSTAKA 1. Mardiana, Djarismawati. Prevalensi Cacing Usus Pada Murid Sekolah Dasar Wajib Belajar Pelayanan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan Daerah Kumuh Di Wilayah DJI Jakarta, Jumal Ekologi Kesehatan.2008; Volume 7 (2):769 774. 2. KESIMPULAN Prevalensi kecacingan usus pada anak sekolah dasar di kota Palu adalah 31,3o/o. Jenis telur cacing yang ditemukan dalam sampel tinja adalah Ascaris lumbricoides, Ho o kw orm, Trichuris tri chtu" a, Ent erob ius Media Litbang Kesehatan. 2000; Vol x(2).3. vermicularis, dan Trichostrongvlus Sekolah Dasar Kecamatan Labuan, lumbricoides (26,04%)P-value Perlu dilakukan penyuluhan oleh petugas kesehatan dan gllru- sekolah tentang cara pencegahan infuksi dan berperilaku hidup sehat sefta melakukan pengobatan secara rutin bagi siswa yang posit i f terinl'eksi telur cacing. 18 A, Leonardo. Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jurnal Vektor Penyakit. paling banyak adalah Ascaris SARAI{ Samarang, Nurwidayati Tingkat Kecacingan pada Anak orientalis .Proporsi j enis telur cacing yang menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang cukup kuat antara jenis kelamin dan umur dengan kej adian penyakit kecacingan. Djarismawati H, Herryanto, dan Inswiasri. Penyakit Cacing di Unit Pemukiman Transmigrasi Propinsi Bengkulu Pada Anak Sekolah Dasar. 2009;Volume III 4. 1 4 1 -4. Margono S. Morbiditas Kecacingan Pada Kelompok Usia Sekolah Dasar dan Anak Batita, Pertemuan Kecacingan, B andung. 2000. 5. Suwarni, Ilahude H, dan Marwoto. Angka Pencemaran Cacing Usus di Sungai Ciliwung, Cermin Dunia Kedokteran .199 L; 7 2),8 -11. 6. Sudomo, M. Penyakit Parasitik yang Kurang Diperhatikan di Indonesia, Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah .Phetisya Pamela 7. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi dan Moluska, Cihanjuang Rahayu Parongpong Bandung Barut. MKB. 2009; Vol. X[ Jakarta.2008. No.2:94-98. WHO, 2006. Soil Transmitted Helminths. diakses 5 September Anastasia H. Studi Penyakit Cacing Usus Di Sulawesi Tengah Tahun2009. tJ. Laporan Hasil Penelitian. Balai 20rr).14. Siregar, B. 2008. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Infeksi Kecacingan Yang Ditularkan Melalui Tanah Pada Murid SD Negeri 06 Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis Tahun 2008. FKM USU. Medan. http :i/repository.usu.ac.idl LitbangP 28 8. Sitti Chadijah) 2 Donggala. 2009 .Prasetyo, RH. Helminthologi Kedokteran.Yogyakarta :Airlangga University Press. 1 996. 9. Depkes RI. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan di Era Desentralisasi. J akarta. 2004. 10. Ginting,A, S. 2003. HubunganAntara Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Propinsi SumateraUtara. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. FK USU.Medan. http :digilib.usu. ac. idd ownlo adlfl
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Prevalensi Kecacingan Usus Pada Anak Sekolah..

Gratis

Feedback