Sejarah Perkembangan Manajemen Keuangan. Tekstil dan

 0  0  8  2018-08-10 22:06:49 Report infringing document

Sejarah Perkembangan Manajemen Keuangan

  Berikut perkembangan dari manajemen keuangan.:

  I. Awal abad 19 sekitar tahun 1900 :

  a. Istilah manajemen keuangan mulai muncul di Amerika Serikat yang mana industrinya telah berkembang pesat mengakibatkan persoalan baru yaitu bagaimana dan darimana memperoleh kebutuhan dan untuk membiayai operasi perusahaan sehingga muncullah manajemen keuangan.

  b. Manajemen keuangan waktu itu suatu bidang ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lainnya yang menekankan diri dari aspek-aspek hukum yang biasanya muncul pada perusahaan, seperti aspek yang masalah merger, pendataan, ekspansi perusahaan, pembentukan perusahaan baru , tata cara go public dan penjualan surat-surat berharga.

  II. Pada tahun 1929 s.d. 1933:

  a. Perkembangan bisnis tersebut di atas belum di lakukan dengan sempurna dan tidak di imbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat.

  b. Regulasi yang mengatur aktivitas perusahaan terlambat di terapkan sehingga terjadi kelesuan perekonomian (resisi) sehingga pemerintah mengalami kesulitan yang serius yang mengakibatkan kegagalan bisnis di berbagai sektor;

  c. Pada waktu itu peranan manajemen keuangan memfokuskan analisisnya pada masalah- masalah kebangkrutan dan reorganisasi. Likuiditas perusahaan dan peraturan-peraturan tentang surat-surat berharga yang ditawarkan di pasar modal menjadi prioritas pengelolaan keuangan. Pada masa inilah manajemen keuangan telah bergeser perannya dari masa pencairan dana untuk pembiayaan dalam melakukan merger, konsolidasi dan pendirian perusahaan baru ke masalah struktur modal yang menganalisis perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Hal itu membuktikan bahwa manajemen keuangan tidak hanya mencari dana, tetapi juga menentukan komposisi dana harus di peroleh agar mendapatkan modal dengan biaya yang minimal (tercapai struktur modal yang optimum

  III. Tahun 1940 s.d. 1950-an: a. Di pelajari oleh masyarakat luas.

  b. Manajemen keuangan tidak hanya mengatur masalah bagaimana memperoleh dana dan struktur modalnya, namun telah mempelajari bagaimana menggunakan dana secara efektif dan efisien.

  c. Manajemen keuangan di maksudkan untuk menghitung secara rinci keadaan keuangan perusahaan, sehingga dapat di analisis besarnya laba yang di peroleh dan besarnya nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham-sahamnya.

  IV. Tahun 1960 s.d. 1970:

  a. Ilmu manajemen keuangan mengalami suatu pembaharuan pada sisi hutang (liability) dan modal sendiri yang berada disisi kanan laporan neraca.

  b. Memfokuskan pada penetapan kebijakan dan pengambilan keputusan yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Ada 2 pusat perhatian yang diutamakan : a) Kombinasi optimal dari surat-surat berharga.

  b) Cara-cara bagaimana investor secara individu mengambil keputusan-keputusan investasi, teori portofolio, dan implikasinya terhadap keuangan perusahaan. Pada awal tahun 1966, perekonomian dunia di landa inflasi, sehingga pasar keuangan melakukan kebijakan yang sangat ketat dan tingkat biaya memperoleh dana yang tinggi. Dalam menghadapi kondisi seperti ini ilmu manajemen keungan memiliki 4 bidang tugas pokok : a. Pengendalian arus kas dan arus fisik barang.

  b. Mencoba menghubungkan antara keputusan keuangan dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya.

  c. Di kaitkannya perencanaan dan pengendalian keuangan dan faktor-faktor perubahan lingkungan eksternal. d. Manajemen keuangan tidak hanya berlanggung jawab terhadap pengelolaan arus kas, tetapi juga mengontrol pusat-pusat laba yang ada dari seluruh operasi perusahaan. Para eksekutif keuangan harus dapat mengevaluasi aspek dari operasi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memaksimalkan nilai perusahaan.

  V. Tahun 1970-an sampai awal abad 21

  a. Berkembang dengan pesat

  b. Terus berkembang dengan munculnya inovasi baru dalam pembiayaan seperti Leasing dan pertumbuhan perusahaan secara eksternal melalui konglomerasi, merger, akuisisi c. Ilmu manajemen keuangan terus berkembang menjadi suatu ilmu yang tidak dapat di lepaskan dari bagian suatu proses pengambilan keputusan oleh hampir semua perusahaa

Perkembangan Teori Manajemen Keuangan

  Perkembangan teori keuangan dikenal sejak tahun 1900 sampai abad dua puluh satu ini tidak begitu pesat. Perkembangan tersebut umumnya merupakan penyempurnaan dan pendalaman serta perluasan analisis dari teori yang ada. Perkembangan teori keuangan adalah:

  I. Teori Pasar Modal Efisien (Efficient Capital Market Theory) Artinya bahwa harga-harga sekuritas yang ada di pasar modal mencerminkan informasi relevan yang mempengaruhi harga sekuritas tersebut. Efisiensi pasar modal ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

  a. Tidak ada biaya transaksi baik transaksi pembelian maupun penjualan

  b. Tidak ada pajak

  c. Pasar bersifat persaingan sempurna, artinya banyak pembeli dan penjual

  d. Pembeli maupun penjual bertindak sebagai price maker (penentu harga)

  e. Baik individu maupun perusahaan memiliki akses yang sama ke pasar modal f. Informasi yang berhubungan dengan pasar modal tersedia untuk semua pelaku pasar dan mereka memiliki harapan yang sama g. Tidak ada biaya yang berkaitan dengan financial distress Teori Efisiensi pasar modal ini pun dapat di bagi menjadi 3 bentuk efisiensi, yaitu sebagai berikut : a. Efisiensi bentuk lemah (weak-form efficiency) Efisiensi bentuk lemah menunjukkan bahwa harga saham di masa datang tidak dapat di prediksi hanya menggunakan data harga saham yang lalu. Pergerakan harga saham bersifat random (acak), sehingga tidak dapat di prediksi hanya menggunakan data harga historis. Apabila harga saham yang akan datang dapat di prediksi hanya menggunakan data harga saham masa lalu, maka pasar modal tersebut belum efisien dalam bentuk lema

  b. Efisiensi bentuk setengah kuat (semi strong-form efficiency) Efisiensi bentuk setengah kuat menunjukkan bahwa harga saham yang terjadi merefleksikan atas informasi yang di publikasikan.

  c. Efisiensi bentuk kuat (strong-form efficiency) Efisiensi bentuk kuat menunjukkan bahwa harga saham yang terjadi merefleksikan informasi yang di publikasikan maupun informasi yang tidak di publikasikan.

  II. Teori Struktur Modal (Capital Structure Theory) Struktur modal merupakan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Teori mengenai Struktur modal pertama kali di kenalkan oleh Franco Modigliani dan Merton Miller (biasa disingkat: MM) tahun 1958. Modigliani dan Miller mempublikasikan teori struktur modal ini dalam hubungannya dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang (future earning). Mereka mengemukakan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa datang tidak di pengaruhi oleh besarnya struktur modal (dengan asumsi tidak ada pajak). Jika teori ini benar maka manajer keuangan tidak perlu memikirkan perencanaan besarnya struktur modal karena tidak berpengaruh terhadap mempengaruhi besarnya dividen yang akan di bagikan kepada pemegang saham. Jika kemampuan laba tinggi maka harga saham akan naik. Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan pula bahwa besarnya struktur modal tidak relevan mempengaruhi tinggi rendahnya harga saham.

  

  Teori struktur modal ini terus berkembang berkenaan dengan usaha perusahaan untuk menghasilkan laba yang di peroleh dari penggunaan modal. Pada tahun 1963, Modigliani -Miller mempublikasikan teorinya yang kedua tentang struktur modal dengan memperhatikan pajak. Adanya pajak maka nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham di pengaruhi oleh struktur modal, Semakin besar (banyak) hutang yang di gunakan maka semakin tinggi nilai perusahaan yang berarti semakin tinggi harga sahamnya.

  Alasannya adalah bunga hutang yang di bayarkan dapat mengurangi pajak yang di bayar oleh perusahaan. Penghematan pajak ini merupakan keuntungan pemegang saham, sehingga nilai perusahaan meningkat yang tercermin pada meningkatnya harga saham.

  III. Teori Dividen (Dividend Theory) Menurut Modigliani-Miller dengan asumsi pasar modal efisien dan tidak ada pajak, kebijakan dividen tidak relevan dengan konsep nilai perusahaan (harga saham). Hal ini di sebabkan setiap rupiah yang di bayarkan perusahaan sebagai dividen mengharuskan perusahaan mengeluarkan saham baru. Sebagai akibat emisi saham baru itu maka nilai sekarang dari penerimaan pemegang saham lama menjadi semakin kecil.

  Ini artinya pembagian dividen tidak mempengaruhi kemakmurannya. Dengan kata lain, bagi pemegang saham akan sama saja apakah menerima pembayaran dividen sekarang atau capital gain di masa datang. Dengan asumsi pasar modal yang efisien maka nilai perusahaan hanya di pengaruhi oleh keputusan penganggaran modal (Capital Budgeting Decision). Keputusan pengganggaran modal tersebut nantinya akan menentukan aliran kas dan tingkat risiko di masa datang. Risiko merupakan penentu aliran kas di masa datang karena keadaan yang akan datang penuh ketidakpastian. Hasil yang telah direncanakan kemungkinan tidak tercapai. Kemungkinan menyimpangnya hasil dari rencana yang telah di tetapkan inilah sebagai risiko yang harus diperkirakan sebelumnya

  IV. Teori Diskonto Aliran Kas (Cashflow Discounted Theory) Teori ini mendasarkan diri pada konsep nilai waktu dari uang (time value of money).

  Aliran kas yang akan di terima pada masa depan dapat di nilai sekarang menggunakan faktor diskon. Faktor diskon ini misalnya berupa bunga. Proses penilaian aliran kas di masa depan tersebut di namakan pendiskonan aliran kas (cashflow discounted). Pendiskonan kas ini di maksudkan untuk menilai aliran kas di masa depan yang di nilai sekarang (presen value). Proses pendiskonan aliran kas ini dibagi menjadi 4 tahap yaitu:

  a. Perkiraan (estimasi) aliran kas di masa yang akan datang

  b. Penilaian risiko aliran kas di masa yang akan datang

  c. Menganalisis penilaian risiko di hubungkan dengan aliran kas d. Penentuan nilai sekarang dari aliran kas (present value of cashflow).

  Tingkat diskon yang akan di gunakan tersebut harus mencerminkan tingkat risiko aliran kas, tingkat keuntungan ekonomi (return) dari investasi yang di laksanakan dan periode waktu aliran kas (dalam suatu tenor atau jangka waktu dari suatu kegiatan investasi yang telah di tentukan).

  V. Teori Agensi (Agent Theory) Tujuan perusahaan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham yang dapat di terjemahkan sebagai memaksimumkan harga saham. Tidak jarang manajer perusahaan memiliki tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut. Karena manajer di angkat oleh pemegang saham maka idealnya mereka bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemegang saham. Namun dalam praktek sering terjadi konflik antara kedua pihak tersebut yang di namakan agency problem. Agency problem ini dapat muncul antara manajer dan pemegang saham atau antara kreditur dan pemegang saham. Dalam perusahaan besar agency problem sangat potensial terjadi karena proporsi kepemilikan perusahaan oleh para manajer relatif kecil

  Tidak jarang tindakan manajer bukannya memakmurkan pemegang saham, melainkan memperbesar skala perusahaan dengan cara ekspansi atau membeli perusahaan lain. Motif utamanya adalah untuk menghindari pengambilalihan (akuisisi) oleh perusahaan lain. Konflik lain yang potensial terjadi dalam perusahaan besar adalah antara pemegang saham dan kreditur. Kreditur memiliki hak atas sebagian laba dan sebagian aset perusahaan terutama dalam kasus kebangkrutan. Sementara itu pemegang saham memegang pengendalian perusahaan yang sangat menentukan profitabilitas dan risiko perusahaan.

  VI. Teori Informasi Asimetrik (Asymetric Information Theory) Seorang manajer perusahaan pastilah lebih mengetahui tentang informasi berkaitan yang dengan kondisi dan prospek perusahaan di banding dengan investor atau analis. Kondisi seperti ini disebut asymetric information. Artinya antara manajer dan pemilik mempunyai informasi yang berbeda tentang perusahaan. Dalam kasus ini, mungkin saja manajer perusahaan percaya bahwa saham perusahaan dalam keadaan undervalued atau overvalued. Hal itu tergantung apakah informasi tersebut menguntungkan atau tidak bagi perusahaan. Dampak yang mungkin muncul dengan adanya asymetric information adalah timbulnya kegagalan pasar. Misalnya saja kita akan membeli komputer bekas. Pada pasar komputer bekas ini penjual biasanya memiliki informasi yang lebih baik daripada pembeli atau terdapat asymetric information atas calon penjual dan pembeli. Akibatnya, pembeli yang memperoleh informasi kurang lengkap di banding penjual kemungkinan akan mendapatkan harga yang tidak seharusnya di bayar atau kualitas barang yang tidak sesuai dengan harganya

  VII. Teori Portfolio (Portfolio Theory) Tokoh yang terkenal dengan teori portfolionya adalah Harry Markowitz. Dia pernah memperoleh hadiah Nobel di bidang ekonomi tahun 1990. Markowitz sering di sebut sebagai father of modern portfolio theory. Teori portfolio menyatakan bahwa risiko dapat di kurangi dengan cara mengkombinasikan aset ke dalam suatu portfolio. Investor dapat mengurangi risiko atas investasinya dengan cara menanamkan dananya pada berbagai saham di berbagai pasar saham atau berbagai saham di suatu pasar saham (bursa).

  Hal ini karena risiko aset secara individu akan lebih besar dari pada risiko portfolio. Namun teori ini belum menyebutkan secara jelas hubungan antara hasil (return) dengan risiko investasi. Oleh karena itu, teori ini kemudian di sempurnakan oleh William Sharpe dengan mengembangkan teori keseimbangan yang menghubungkan antara risiko dan hasil (return) yaitu dengan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model CAPM ini dapat di gunakan untuk menjelaskan bahwa return suatu saham merupakan fungsi dari tingkat keuntungan bebas risiko (risk free rate), tingkat keuntungan yang disyaratkan atas portfolio pasar (market return) dan koefisien beta.

  VIII. Teori Opsi (Option Theory) Teori opsi merupakan suatu hak untuk menjual atau membeli suatu aset dengan harga tertentu selama jangka waktu tertentu. Perdagangan opsi di Amerika telah berkembang sejak tahun 1800-an. Suatu model penilaian opsi telah di perkenalkan pada tahun 1973 oleh Fisher Black dan Myron Scholes. Model tersebut kemudian di kenal dengan Black-Scholes Option Pricing Model. Namun demikian, walaupun sudah agak lama teori ini berkembang tetapi sampai saat ini belum di anggap sebagai teori dalam manajamen keuangan. Hanya saja ada beberapa keputusan di bidang keuangan yang dapat di analisis dan di pahami lebih baik dengan menggunakan kerangka teori opsi ini. Sebagai contoh, dalam perkara pembatalan sewa guna usaha (leasing) sebagai salah satu alternatif pembiayaan perusahaan. Pembatalan transaksi sewa guna usaha dapat di analisis dengan kerangka teori opsi. Begitu pula modal yang akan di gunakan oleh perusahaan yang dapat berupa modal sendiri perusahaan (ekuitas perusahaan) atau memakai hutang (leverage) dapat di perjual-belikan menggunakan teori opsi ini

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Sejarah Perkembangan Akuntansi Tekstil Dan

Sejarah Perkembangan Filologi Tekstil Dan

Sejarah Perkembangan Hadits Tekstil Dan

Sejarah Perkembangan Komputer 1 Tekstil Dan

Sejarah Perkembangan Automasi Perpustaka Tekstil Dan

Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidika Tekstil Dan

Sejarah Dan Perkembangan Manajemen Doc

Sejarah Perkembangan Dan Teori Manajemen

Perkembangan Tekstil Indonesia Dan Dunia

Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan Sy

Sejarah Perkembangan Manajemen Keuangan. Teks..

Gratis

Feedback