MANAJEMEN FASILITAS UMUM DI STASIUN KERETA API RANGKASBITUNG

Gratis

0
0
224
2 months ago
Preview
Full text

MANAJEMEN FASILITAS UMUM DI STASIUN KERETA API RANGKASBITUNG

  SKRIPSI

  Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Melaksanakan Penelitian Pada Konsentrasi Manajemen Publik Program Studi Ilmu Administrasi Negara

  Oleh: Hesti Oktaviawati

  NIM. 6661122559

  FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA SERANG, Februari 2017

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  “Bahagia akan didapat jika kita tidak menginginkan segala sesuatu yang berlebihan, tetapi bersyukur dengan apa yang telah dimilik i”

  Skripsi ini saya persembahkan untuk Mamah, papah, kakak-kakakku dan kekasihku. Tanpa doa dan semangat dari kalian, saya tidak dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih untuk segala pengorbanan kalian. Love You My Family

  

ABSTRAK

Hesti Oktaviawati. NIM. 6661122559. Skripsi 2017. Manajemen Fasilitas Umum

di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Program Studi Ilmu Administrasi Negara,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Pembimbing I Drs. Oman Supriadi, M.Si. Pembimbing II Yeni Widyastuti, M.Si.

  Fokus penelitian ini adalah Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Masalah yang diidentifikasi oleh peneliti adalah tidak adanya lahan parkir untuk pengguna jasa kereta api, tidak adanya ruang tunggu penumpang, tidak adanya ruangan ibu menyusui dan fasilitas difable, musholla yang kurang luas serta tidak adanya CCTV di area stasiun. Penelitian ini menggunakan teori fungsi-fungsi manajemen dari George R. Terry yang meliputi : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengontrolan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.

  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi pustaka dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model Prasetya Irawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung sudah berjalan cukup baik. Hal ini dapat dilihat berdasarkan adanya perubahan keadaan lingkungan stasiun yang mengalami kemajuan. Meski masih ada beberapa fasilitas yang belum terpenuhi dan harus diperbaiki karena rencana untuk pengadaan belum direalisasikan. Saran yang dapat diberikan yaitu pihak stasiun terus melakukan koordinasi dan pelaporan,agar pengajuan pengadaan fasilitas umum segera ditindak lanjuti.

  Kata Kunci : Manajemen, fasilitas umum, Stasiun

  

ABSTRACT

Hesti Oktaviawati. NIM. 6661122559 2017. Research. Public Facilities Management

at Rangkasbitung Railway Station. Departement of Public Administration. Faculty of

st

  

Social and Political Science, University of Sultan Ageng Tirtayasa. The 1 advisor

nd Drs. Oman Supriadi, M.Si., 2 advisor Yeni Widyastuti, M.Si.

  

Public Facilities Management at Rangkasbitung Railway Station is focused of the

research. The lack of parking spaces, lobby area, nursing room, difable facilities,

limited area of mosque, and CCTV control area. Identified by researcher this study used

theory of management functions adapted from George R. Terry it is include of

planning, organizing, actuating and controlling. Qualitative descriptive method is used

by researcher. Interviews, observation, literature study, and documentation are used in

data collecting techniques. Data analysis used Prasetya Irawan model. The result of

this research showed the improvement of management of public facilities at

Rangkasbitung railway Station. It can be claimed by some improvement of station area.

Although there are still some facilities have not been repaired and realized. The

reseacher suggested the station management will continue it is coordinating and

reporting that the submission of procurement of public facilities be immediately

followed up.

  Keywords: management, public facilities, stations

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Hidayah-Nya sehingga proposal skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Proposal skripsi ini penulis buat untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan judul

  “Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung ”.

  Hasil penulisan proposal skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang selalu mendukung penulis baik secara moril maupun materil. Maka dengan ketulusan hati dan dalam kesempatan ini pula, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuan sehingga penulisan proposal skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan dan rasa hormat serta terima kasih penulis sampaikan kepada:

  1. Kehadirat Allah SWT, berkat rahmatNya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

  2. Kedua orang tua penulis terutama ibu yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, motivasi serta semangat yang tiada terkira.

  3. Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  4. Dr. Agus Sjafari, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  5. Rahmawati, M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  6. ImanMukhroman, S.Ikom., M.Ikom selaku Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  7. Kandung Sapto Nugroho, M.Si selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  8. Listyaningsih, M.Si selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  9. Riswanda, Ph.D selaku Sekretaris Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  10. Oman Supriadi, M.Siselaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya untuk melakukan bimbingan dan memberikan masukan dalam setiap bimbingan yang dilakukan selama ini.

  11. Yeni Widyastuti, S.Sos., M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa memberikan motivasi dan semangat bagi penulis dalam setiap bimbingan yang telah dilakukan selama ini.

  12. Dr. Dirlanudin, M.Si selaku ketua penguji sidang yang senantiasa memberikan masukan dan motivasi bagi penulis dalam setiap bimbingannya yang telah dilakukan selama ini.

  13. Seluruh Dosen dan Staf Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah mendidik dan membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama perkuliahan.

  14. Kepala beserta seluruh pegawai Stasiun Kereta Api Rangkasbitung yang telah banyak membantu memberikan data dan saran dalam penelitian ini.

  15. Keluarga penulis yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan serta doa yang selalu mengiringi tiap langkah penulis.

  16. Teman-teman yang penulis sayangi (Rahma, Eka, Aisyah, Putri, Widya, Mita, Tomi Listiansah, Yeni, Mega, Dwi Vina, Wungu, Sella) serta teman-teman satu perjuangan kelas A, B,C yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

  17. Terima kasih pula kepada seseorang yang telah mendampingi penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi ini (Diky Rizky Fadilah). Semoga akan terus menjadi penyemangat untuk penulis.

  Akhirnya penulis tak berhenti mengucapkan syukur kepada Allah SWT, karena atas ridho-Nya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari banyak ditemukan kekurangan dalam penyajian materi. Oleh karen itu penulis memohon maaf atas kekurangan tersebut. Penulis mengharapkan masukan, baik kritik maupun saran dari pembaca yang membangun.

  Semoga proposal skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis, khususnya bagi yang memebaca dan semoga proposal skripsi ini dapat membantu para peminat ilmu Administrasi Negara. Penulis berharap mudah-mudahan proposal skripsi ini dapat menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang ingin mengetahui tentang Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  Serang, Januari 2017 Penulis

  Hesti Oktaviawati NIM. 6661122559

  DAFTAR ISI

  Halaman

  LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

ABSTRAK ................................................................................................................ i

ABSTRACT............................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ............................................................................................. iii

DAFTAR ISI ............................................................................................................ vi

DAFTAR TABEL .................................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ xi

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1

  1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................... .... 15

  1.3 Pembatasan Masalah................................................................................ 16

  1.4 Rumusan Masalah.................................................................................... 17

  1.5 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 17

  1.6 Manfaat Penelitian ................................................................................... 17

  

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI

DASAR PENELITIAN

  2.1 Landasan Teori ........................................................................................ 18

  2.1.1 Pengertian Administrasi ................................................................ 18

  2.1.2 Fungsi-fungsi Administrasi ........................................................... 20

  2.1.3 Pengertian Tata Kelola .................................................................. 21

  2.1.4 Pengertian Fasilitas Umum ........................................................... 21

  2.1.5 Konsep Manajemen....................................................................... 22

  2.1.5.1 Fungsi-fungsi Manajemen................................................. 24

  2.2 Penelitian Terdahulu................................................................................ 37

  2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ............................................................... 43

  2.4 Asumsi Dasar Penelitian.......................................................................... 48

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ......................................................... 49

  3.2 Fokus Penelitian...................................................................................... 50

  3.3 Lokasi Penelitian .................................................................................... 50

  3.4 Fenomena yang Diamati ......................................................................... 51

  3.4.1 Definisi Konsep ............................................................................. 51

  3.4.2 Definisi Operasional...................................................................... 51

  3.5 Instrumen Penelitian ............................................................................... 54

  3.6 Informan Penelitian ................................................................................ 55

  3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data .................................................... 57

  3.9 Jadual Penelitian ..................................................................................... 64

  BAB IV PEMBAHASAN

  4.1 Deskripsi Objek Penelitian ..................................................................... 66

  4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Lebak ............................................. 66

  4.1.2 Gambaran Umum PT.Perkeretapian Indonesia ............................. 67

  4.1.3 Gambaran Umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.................. 69

  4.2 Deskripsi Data ........................................................................................ 78

  4.2.1 Deskripsi Data Penelitian .............................................................. 78

  4.2.2 Deskripsi Informan Penelitian....................................................... 81

  4.2.3 Analisis Data ................................................................................. 83

  4.2.3.1 Pengumpulan Data Mentah ............................................... 83

  4.2.3.2Transkip Data ..................................................................... 83

  4.2.3.3 Koding Data ...................................................................... 83

  4.2.3.4 Kategorisasi Data .............................................................. 84

  4.2.3.5 Triangulasi......................................................................... 88

  4.3 Deskripsi Hasil Penelitian .................................................................... 89

  4.3.1 Planning (Perencanaan) ................................................................ 89

  4.3.2 Organizing (Pengorganisasian) ..................................................... 96

  4.3.3 Actuating (Pengarahan) ................................................................. 102

  4.3.4 Controlling (Pengontrolan) ........................................................... 104

  4.4 Pembahasan .......................................................................................... 109

  BAB VPENUTUP

  5.1 Kesimpulan........................................................................................... 120

  5.2 Saran ..................................................................................................... 121

  

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 122

LAMPIRAN ............................................................................................................. 124

  DAFTAR TABEL

  Halaman TABEL 1 Jumlah Penumpang Kereta Api Tahun 2015 ............................................... 5 TABEL 2 Fungsi-fungsi Manajemen Menurut Para Ahli .......................................... 30 TABEL 3 Informan Penelitian ................................................................................... 56 TABEL 4 Pedoman Wawancara................................................................................. 59 TABEL 5 Waktu Pelaksanaan Penelitian ................................................................... 65 TABEL 6 Daftar Inforrman ........................................................................................ 82 TABEL 7 Kategorisasi Data ....................................................................................... 85

  DAFTAR GAMBAR

  Halaman GAMBAR 1 Ruangan atau ring 3 untuk penumpang yang akan naik kereta.............7 GAMBAR 2 PKD menjaga penumpang yang akan naik dan turun dari kereta .........9 GAMBAR 3 Halaman jalan di depan Stasiun Rangkasbitung .................................10 GAMBAR 4 Ruang loket dan ruang tunggu ............................................................11 GAMBAR 5 Gambar ruang loket dan ruang tunggu................................................13 GAMBAR 6 Kerangka Berfikir ...............................................................................47 GAMBAR 7 Komponen-komponen Analisis Data Model Prastya Irawan..............63 GAMBAR 8 Struktur Organisasi Stasiun Kereta Api Rangkasbitung .....................70 GAMBAR 9 Laporan Daftar Kelengkapan Standar Pelayanan Minimum Stasiun

  Besar Tipe C Rangkasbitung .............................................................114

DAFTAR LAMPIRAN

  LAMPIRAN 1 Surat Izin Penelitian LAMPIRAN 2 Pedoman Wawancara LAMPIRAN 3 Transkip Data Penelitian LAMPIRAN 4 Koding Data Penelitian LAMPIRAN 5 Member Check LAMPIRAN 6 Dokumentasi Penelitian LAMPIRAN 7 Catatan Lapangan LAMPIRAN 8 Catatan Bimbingan LAMPIRAN 9 Struktur Organisasi Stasiun Kereta Api Rangkasbitung LAMPIRAN 10 SPM (Standar Pelayanan Minimum) LAMPIRAN 11 Buku Peraturan Stasiun 2016 LAMPIRAN 12 Data Volume dan Pendapatan Stasiun Rangkasbitung 2016 LAMPIRAN 13 Daftar Riwayat Hidup

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang, dimana dengan berkembangnya pula ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi, masyarakat melakukan mobilisasi secara cepat dan efisien. Dalam hal ini, transportasi mempunyai peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Transportasi merupakan sarana perkembangan yang penting dan strategis dalam melancarkan roda perekonomian dan mempengaruhi aspek kehidupan.

  Saat ini impian akan transportasi publik yang nyaman, yang dapat diandalkan di tengah padatnya kemancetan lalu lintas dengan biaya yang terjangkau yang dapat digunakan sejumlah orang untuk melakukan mobilisasi masih sulit untuk diraih oleh masyarakat. Kebutuhan akan transportasi semakin meningkat, salah satu alat transportasi. Ada berbagai macam alat transportasi, seperti transportasi darat, laut dan udara. Transportasi darat kini semakin padat dengan bertambahnya jumlah kendaraan yang beredar sehingga rentan macet, transportasi laut tidak terlalu banyak tujuan yang dapat dituju dengan minimnya jumlah dermaga, transportasi udara tidak semua orang dapat menikmati karena biaya yang relatif mahal. keuangan karena meningkatnya sejumlah kebutuhan hidup. Untuk menghemat pengeluaran dan waktu, masyarakat mulai beralih ke transportasi publik yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah agar bisa mengurai kemacetan. Akan tetapi, seringkali transportasi publik yang telah disediakan oleh pemerintah kurang nyaman karena fasilitas yang kurang memadai. Fasilitas buruk, kotor dan tidak rapi begitulah kira-kira gambaran umum dari fasilitas dalam transportasi publik.

  Salah satu alternatif transportasi yang tidak begitu mahal namun tidak terkendala oleh kemacetan adalah kereta api. Setidaknya kereta api dalam melakukan perjalanan diperlukan waktu yang tidak terlalu lama, dibandingkan dengan angkutan perkotaan ataupun bis umum. Kereta api mampu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dan tarif yang murah.

  Alternatif ini dikemukakan oleh pemerintah yang telah dikembangkan dari zaman penjajahan Belanda. Pelayanan yang terus ditingkatkan, fasilitas yang terus diperbaiki membuat perkeretaapian kini menjadi primadona bagi sebagian orang pengguna jasa transportasi publik. Hal ini telah diatur dalam UU No. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian dijelaskan bahwa :

  “Perkeretaapian sebagai salah satu modal transportasi dalam sistem transportasi nasional yang mempunyai karakteristik pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri, yang tidak dapat dipisahkan daripada transportasi lain, perlu dikembangkan potensinya, dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah, baik nasional maupun internasional, untuk menunjang, mendorong, dan menggerakkan pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

  ” Sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No. 23 tahun 2007 tersebut, oleh masyarakat. Selain itu, dengan adanya angkutan umum seperti kereta api diharapkan dapat meningkatkan mobilitas penumpang antar kota dan mengurangi polusi udara yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor.

  Namun, hingga kini kualitas layanan kereta api bagi pengguna jasa kereta api menjadi sorotan publik. Terdapat beberapa kekurangan yang ada pada transportasi perkeretaapian, di antaranya adalah kurangnya pemeliharaan sarana dan prasarana fasilitas umum, terbatasnya gerbong dan infrastruktur stasiun, masalah kecelakaan kereta api, serta permasalahan lainnya. Fasilitas yang ada di stasiun kereta api juga menjadi tolok ukur kenyamanan pengguna jasa kereta api dalam menggunakan kereta api. Dan ini juga menjadi salah satu faktor pendukung banyaknya penumpang yang menggunakan jasa kereta api.

  Manajemen sarana dan prasarana perkeretaapian yang kurang optimal salah satunya dijadikan alasan penyebab faktor teknis kecelakaan kereta api di Indonesia. Manajemen merupakan suatu usaha proses yang dilakukan dengan menggunakan sumber daya organisasi yang dimiliki oleh suatu organisasi, dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan. Selain itu banyak kekurangan dalam hal fasilitas umum di stasiun yang seharusnya menunjang bagi kenyamanan para pengguna kereta.

  Menurut KBBI fasilitas adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi, fasilitas umum adalah fasilitas yang disediakan untuk kepentingan umum, seperti jalan dan alat penerangan umumSedangkan di Stasiun Rangkasbitung, fasilitas umum yang dimiliki merupakan fasilitas yang disediakan oleh pengelola stasiun untuk menunjang pelayanan umum kepada penumpang agar penumpang merasa nyaman.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Oya Santika selaku wakil kepala stasiun (pada tanggal 12 Februari 2016 pukul 10.00 WIB) menjelaskan bahwa penanggung jawab fasilitas umum di Stasiun Rangkasbitung berada di bagian junior supervisor pelayanan stasiun, tetapi sampai saat ini jabatannya masih kosong. Maka sementara, dipegang oleh kepala stasiun beserta wakil kepala stasiun.

  Stasiun adalah tempat dimana orang akan berpergian menggunakan jasa angkutan darat berbentuk kereta api. Dalam stasiun terdapat pembagian kelas, yaitu stasiun besar, kecil, dan sedang. Pembagian kelas tersebut dilihat dari keadaan wilayah stasiun dan pendapatan stasiun tersebut. Stasiun Rangkasbitung termasuk kedalam stasiun besar, karena terletak di Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dan menurut wakil kepala stasiun dimana penumpang stasiun saat ini sudah mencapai 6000 penumpang, maka dapat dipastikan pendapatannya pun cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

  Tabel 1.1 Jumlah Penumpang Kereta Api Tahun 2015 (Ribu Orang)

  Bulan Jawa Sumatera Total Jabotabek Non Jabotabek Jabotabek + Non Jabotabek 2015

Januari 19244 5010 24254 422 24676

Februari 17640 4754 22394 396 22790

Maret 21290 5551 26841 426 27267

April 21171 4979 26150 415 26565

Mei 22177 5273 27450 460 27910

Juni 22207 4911 27118 444 27562

Juli 21171 5906 27077 535 27612

Agustus 22295 5056 27351 445 27796

September 22021 5104 27125 424 27549

Oktober 22964 5316 28280 438 28718

November 22355 4898 27253 416 27669

Desember 22996 6332 29328 503 29831

  Sumber : PT Kereta Api Indonesia Dari data diatas menunjukkan secara umum bahwa besar kecilnya pendapatan stasiun kereta api berdasarkan dari banyaknya jumlah penumpang yang menggunakan jasa kareta api. Pada tahun 2015 di Jabodetabek sendiri penumpang kereta api terus mengalami kenaikan setiap harinya, sehingga pendapatan tidak bisa diprediksi berapa perhari uang yang didapat dari hasil penjualan tiket. Untuk stasiun Rangkasbitung yang menargetkan 6000 orang perhari mendapatkan pendapatan tiap hari kurang lebih Rp. 60.000.000,- perhari ( berdasarkan rata-rata tiket Rp. 10.000,- dari harga tiket Ekonomi : Rp. 8.000,- ;

  VIP: Rp. 15.000,- ; VVIP: 30.000 ). Namun realisasinya ternyata jika hari biasa atau bukan saat hari raya dan libur nasional, penumpang yang memesan tiket di sampai 6152 orang penumpang dan pendapatannya sekitar Rp. 22.376.000 sampai Rp. 43.409.000 perharinya. Lain halnya ketika hari raya dan libur nasional dimana jumlah penumpang semakin meningkat sebanyak 6316 orang sampai 9530 orang penumpang dengan pendapatan sebanyak Rp. 44.168.000 sampai Rp. 69.203.000 perharinya. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa jika dilihat dari rata- rata jumlah penumpang dan pendapatan perharinya target stasiun tidak tercapai.

  Stasiun besar biasanya diberi perlengkapan yang lebih banyak dari pada stasiun kecil untuk menunjang kenyamanan penumpang maupun calon penumpang kereta api, seperti ruang tunggu (VIP ber AC), restoran, dan sarana pengisian bahan bakar. Hal tersebut diatas dinamakan dengan fasilitas umum stasiun.

  Pengelolaan fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung dibagi menjadi 2 (dua), yang pertama dikelola oleh pihak PT KAI dan yang kedua dikelola oleh pihak ketiga (Out Sourching). Dari dua pengelola yang berbeda ini tentu saja terdapat perbedaan dalam pengelolaannya, dan hal ini juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pengguna jasa kereta api. Dan setelah peneliti melakukan observasi awal, peneliti melihat bahwa fasilitas umum yang dikelola oleh pihak Stasiun Kereta Api Rangkasbitung dinilai belum cukup baik, sebagai salah satu contoh dimana tidak adanya lahan parkir untuk pengguna jasa transportasi kereta api, dimana masalah tersebut masih belum terselesaikan dari stasiun dibangun pada abad 19 sampai saat ini. Namun seiring berjalannya waktu pihak stasiun berada sebelah stasiun sebagai lahan parkir, akan tetapi dikarenakan lahan parkirnya hanya memuat beberapa kendaraan saja maka lahan parkir ini diperuntukkan hanya untuk pegawai saja. seperti yang dipaparkan oleh Bagian pelayanan Bapak Supriatin (pada tanggal 02 Agustus 2016 pukul 11.17 WIB di Stasiun Rangkasbitung ) bahwa sampai saat ini belum ada parkiran untuk pengguna jasa stasiun kereta api rangkasbitung, hanya ada parkir khusus pegawai dan untuk kedepannya sepertinya akan dikelola oleh pihak ketiga. Selain itu tidak adanya pemisahan ruangan tunggu untuk yang sesudah memilki tiket dan yang akan langsung menaiki kereta, hal ini menyebabkan penumpang sampai duduk di tangga untuk naik kereta, di lantai bahkan musholla untuk tempat istirahat.

Gambar 1.1 Ruangan atau ring 3 untuk penumpang yang akan naik kereta

  Sumber : Peneliti, 2016 Disisi lain dari segi keamanan yang dikelola oleh pihak stasiun yaitu dari polsuska (polisi khusus kereta api) sudah cukup baik walaupun dengan jumlahnya lancar. Selain itu demi kenyamanan penumpang pihak stasiun membagi tugas kerja polsuska dan hal ini dipaparkan oleh bagian Junior keamanan Bapak Dulfatah (pada tanggal 02 Agustus 2016 pukul 09.30 WIB) bahwa untuk meningkatkan keamanan,dimana polsuska menjaga pengaman peron saat kereta datang maupun berangkat serta memastikan pintu kereta tertutup saat berangkat. Hanya saja berdasarkan pengamatan peneliti, keamanan di stasiun ini belum sepenuhnya terjaga, hal ini dikarenakan pihak PT. KAI tidak memasang CCTV untuk memantau semua kejadian di stasiun dan sebagai bukti saat terjadi tindak kejahatan karena penjagaan manusia yang memiliki banyak hajat tidak stand bye ditempat dan perlu ada alat pendukung keamanan seperti CCTV. Dan dari segi keamanan pkd (petugas keamanan dalam) yang berjumlah 24 orang, sehingga keamanan penumpang di stasiun saat naik kereta dapat terjaga. Seperti yang dipaparkan oleh Bagian Junior Keamanan Bapak Dulfatah (pada tanggal 01 Agustus 2016 pukul 09.30 WIB di stasiun) bahwa untuk pengamanan penumpang, pkd selalu ada didekat pintu untuk membantu penumpang baik saat naik ataupun turun kereta. Dari situ dapat terlihat bahwa fasilitas yang dikelola oleh pihak ketiga lebih banyak kemajuan dan terkelola lebih baik dibanding PT KAI.

  Selain yang dikelola oleh pihak PT KAI, fasilitas umum yang dikelola oleh pihak ketiga (Out Sourching) lebih baik dibandingkan yang dkelola oleh PT KAI. Salah satu contohnya adalah dari segi kebersihan yang dikelola oleh PT Spectra Solusindo yang sudah ada kemajuan dari dulu sampai saat ini dimana musholla dan toilet yang sudah bersh dan tidak ada sampah, seperti yang pukul 13.00 WIB di stasiun) bahwa Sudah ada kemajuan, dari kebersihan sudah ada petugas kebersihannya. Dan menurut ibu Asni (pada tanggal 16 Februari 2016 pukul 13.50 di Stasiun rangkasbitung) bahwa saat ini sudah baik dibanding dulu, seperti toilet sudah bersih.

Gambar 1.2 PKD menjaga penumpang yang akan turun dan naik kereta

  Sumber : Peneliti Dalam penelitian ini, peneliti mengambil fokus penelitian mengenai manajemen fasilitas umum di stasiun kereta api. Dan peneliti mengambil lokus penelitian di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang peneliti mengambil lokus penelitian di stasiun kereta api Rangkasbitung. Peneliti tertarik mengambil lokus penelitian di stasiun kereta api Rangkasbitung karena di stasiun tersebut manajemen fasilitas umumnya masih belum maksimal. mengambil lokus di Stasiun Rangkasbitung. Berdasarkan hasil observasi awal, peneliti melihat beberapa masalah yang ada di stasiun kereta api Rangkasbitung.

  Pertama , tidak adanya lahan parkir di stasiun tersebut, sehingga

  menyebabkan kemacetan di sekitar area stasiun karena para pengendara motor menggunakan tempat yang apa adanya bahkan jalanan pasar untuk parkir kendaraannya. Hal ini dikarenakan stasiun berada ditengah-tengah pasar Rangkasbitung yang menjadi pusat perbelanjaan tradisional masyarakat, sehingga halaman stasiun habis dipakai oleh pengendara motor yang lewat, ojeg, tukang becak dan pertokoan. Hal tersebut dipaparkan oleh salah seorang penumpang yang bernama Asnawi (pada tanggal 12 Februari 2016 pukul 13.00 WIB), selain itu dapat dilihat pada gambar dibawah ini .

Gambar 1.3 Halaman jalan di depan Stasiun Rangkasbitung

  Sumber : Peneliti 2016 Penjelasan dan gambar diatas menunjukkan bahwa halaman stasiun tidak memungkinkan untuk dijadikan lahan parkir sehingga perlu dibuatkan tempat khusus untuk parkir sekitar stasiun untuk pengguna jasa kereta api. Untuk stasiun se- Jabodetabok, PT. KAI bekerjasama dengan PT Reska Multi Usaha (RMU) dipercaya mengelola parkir seluruh stasiun di Jabodetabek, namun untuk Stasiun Rangkasbitung sendiri belum mengadakan kerjasama dengan pihak manapun untuk mengelola parkir. Masalah ini merupakan salah satu masalah yang penting, karena tempat parkir merupakan fasilitas umum yang berpengaruh bagi ketertiban lingkungan sekitar dan kenyamanan bagi orang yang menggunakan kendaraan untuk sampai ke stasiun karena mereka harus memarkirkan kendaraannya dengan baik.

  Kedua , tidak adanya ruang tunggu kereta yaitu ruang tunggu untuk

  penumpang yang sudah atau belum memiliki tiket kereta api. Ruangan yang ada hanya ruangan untuk penumpang yang siap naik kereta, itupun tidak memadai karena kurang luasnya tempat yang ada dengan jumlah penumpang, selain itu kursi yang ada juga sedikit yang menyebabkan penumpang duduk dilantai bahkan berdiri sampai kereta datang . Hal tersebut menyebabkan tidak adanya perbedaan penumpang yang sedang menunggu kereta dan yang akan langsung naik kereta sehingga membuat banyak penumpang yang berdiri karena kekurangan tempat duduk dan jika ada penumpang yang turun dari kereta maka akan terjadi kesemrawutan di stasiun tersebut.

Gambar 1.4 Ruang loket dan ruang tunggu

  Sumber : Peneliti 2016

  Ketiga , tidak adanya ruangan untuk ibu menyusui dan bayi serta fasilitas

  untuk penyandang difable. Tidak adanya ruang untuk ibu menyusui dan bayi, dikarenakan tidak adanya lahan untuk ruangan tersebut atau bisa dibilang keterbatasan lahan. Seharusnya ada ruangan tersebut untuk kenyamanan ibu yang mempunyai bayi saat bayi menangis dan saat ibu akan menyusui anaknya.

  Contohnya di Stasiun Senen, di stasiun tersebut terdapat ruangan tersendiri khusus untuk ibu menyusui. Kemudian fasilitas untuk penyandang difable, harusnya ada jalan atau akses jalan agar mempermudah penumpang difable di stasiun. Contohnya di stasiun serang saja yang termasuk kelas stasiun kecil, mempunyai fasilitas untuk penumpang penyandang difable berupa akses jalan untuk masuk ke stasiun.

  Keempat , mushola yang kurang luas atau sempit, hal ini karena kurangnya yang ada saja, tanpa adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Disamping Stasiun Rangkasbitung merupakan stasiun yang cukup besar, bisa dipastikan banyak pengguna jasa kereta yang menggunakan fasilitas mushola untuk menunaikan ibadah sholat ditengah-tengah menunggu kereta api yang akan mereka gunakan. Tidak seperti di stasiun Jakarta Kota, seperti yang yang dilansir dari kses pada tanggal 10 Maret 2016 Pukul 15.00) bahwa di stasiun tersebut memiliki mushola yang sudah disekat antara laki-laki dan perempuan walaupun belum tersmasuk ideal dimana tidak adanya pendingin ruangan dan ruangannya pun masih sempit, tetapi untuk stasiun yang sudah dapat dikatakan ideal yaitu stasiun Juanda dan stasiun Palmerah, karena dua stasiun tersebut sudah direnovasi dan terlihat bagus serta nyaman dengan adanya pendingin dan pemisahan antara tempat laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, pembenahan manajemen fasilitas umum di stasiun kereta api Rangkasbitung sangat di perlukan demi kenyamanan pengguna jasa kereta api.

  Kelima , tidak adanya CCTV untuk memantau keadaan sekitar stasiun.

  Sedangkan dari segi keamanan, harus ada CCTV yang merekam kejadian yang ada di stasiun. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya tindakan kriminal, walaupun sudah ada penjagaan tetapi CCTV dibutuhkan untuk mencegah tindakan kriminal tersebut, sehingga semua kejadian di stasiun dapat diketahui dan terpantau kapanpun. Contohnya Seperti di Stasiun Daop 6 Yogyakarta, sejak tahun 2014 sudah memasang CCTV demi pengguna jasa kereta api agar merasa nyaman, dikutip dari

  Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa permasalahan yang ada disebabkan karena belum maksimalnya sistem manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung. Oleh karena itu, Stasiun Kereta Api Rangkasbitung sebagai instansi terkait perlu meningkatkan kemampuannya dalam manajemen fasilitas umum stasiun demi kenyamanan pengguna kereta api.

  Manajemen dibutuhkan untuk mengatur, mengelola, dan mengkoordinir sumber daya manusia dan material dalam suatu organisasi sehingga suatu si stem dapat bekerja dengan baik. Dibutuhkan adanya perencanaan dan pengorganisasian yang baik dan teratur. Semua manusia yang terlibat didalamnya harus terorganisasi melalui perencanaan terlebih dahulu sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dan wewenang serta hak dan kewajiban, sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing. Dalam kegiatan manajemen juga

  Dari beberapa permasalahan yang ada, dan telah peneliti paparkan dalam latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai

  “MANAJEMEN FASILITAS UMUM DI STASIUN KERETA API

  RANGKASBITUNG ”.

1.2 Identifikasi Masalah

  Berdasarkan uraian yang telah peneliti paparkan dalam latar belakang masalah, peneliti dapat mengidentifikasikan beberapa masalah yang terkait dengan Manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, yaitu:

  1. Tidak adanya lahan parkir untuk pengguna jasa kereta api sejak dulu sampai saat ini, baik untuk motor maupun mobil. Hal tersebut menunjukkan bahwa perencanaan dalam bidang fasilitas umum masih kurang baik. Tidak adanya lahan parkir di stasiun kereta api Rangkasbitung karena letak stasiun yang ada di sekitar pasar dan dengan keadaan tersebut menyebabkan tidak adanya lahan untuk parkir di stasiun tersebut sehingga menimbulkan kemacetan di sekitar area stasiun.

  2. Tidak adanya permisahan ruangan, yaitu ruang tunggu kereta untuk penumpang yang sudah memiliki tiket atau belum dan penumpang yang akan naik kereta. Seharusnya ada pemisahan ruangan sehingga tertata dengan baik dan tidak membuat penumpang yang menunggu kereta tiba harus berdiri. Masalah tersebut terjadi karena kegiatan pengorganisasian fasilitas umum di stasiun belum optimal.

  3. Tidak adanya ruangan untuk ibu menyusui dan bayi serta fasilitas untuk penyandang difable. Masalah tersebut sudah ada sejak tahun 1900 dan sampai sekarang masih belum ada perubahan, yang menunjukkan perencanaan fasilitas umum belum berjalan dengan baik.

  4. Mushola yang kurang bersih dan kurang luas atau sempit, hal ini karena kurangnya tempat atau lahan yang dapat dijadikan untuk mushola sehingga memaksimalkan yang ada saja, tanpa adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan masalah tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan pengorganisasian untuk fasilitas umum belum baik.

  5. Tidak adanya pengontrolan di area stasiun, berupa CCTV untuk memantau keadaan sekitar stasiun., agar dapat mengetahui atau merekam kejadian yang ada di stasiun. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi pengontrolan belum cukup menjamin kenyamanan dan keamanan di stasiun tersebut.

1.3 Pembatasan Masalah

  Setelah mengidentifikasikan beberapa masalah yang telah peneliti paparkan, maka peneliti membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti yaitu terkait dengan Manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Dan fasilitas umum yang dimaksud adalah fasilitas umum bagi pengguna jasa kereta api di stasiun kereta api Rangkasbitung.

  1.4 Rumusan Masalah

  Berdasarkan identifikasi masalah serta pembatasan masalah yang telah peneliti buat, maka rumusan masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimanakah Manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  ”

  1.5 Tujuan Penelitian

  Peneliti dalam penelitian ini mempunyai tujuan yang ingin dicapai, yakni untuk mengetahui Bagaimana Manajemen fasilitas umum Stasiun Rangkasbitung, sehingga peneliti dapat memberikan solusi atau alternatif dalam pemecahan masalah yang ada.

  1.6 Manfaat Penelitian

  a. Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan wawasan dan menambah kajian keilmuan di bidang administrasi negara, terutama yang menyangkut dengan Manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  b. Secara praktis 1) Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan informasi serta dapat dijadikan masukan bagi pihak stasiun ataupun pemerintah dalam melakukan Manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI DASAR PENELITIAN

2.1 Landasan teori

2.1.1 Pengertian Administrasi

  Menurut Siagian (2005:2) bahwa administrasi adalah: ”Administrasi berarti keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang didasarkan pada rasional tertentu oleh dua orang atau lebih dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan sarana dan prasarana tertentu pul a”.

  Sementara The Liang Gie (dalam Syafie 2003:4) mendefinisikan Administrasi bahwa:

  ”Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu

  ”. Kemudian Herbert A.Simon (2003:3) mengartikan bahwa ”Administration can be defined as the activities of groups cooperating to

  

accomplish common goals (Administrasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan-

  kegiatan kelompok kerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama ).”

  Sedangkan Lexvord D. White (dalam Listyaningsih 2014:2) bahwa administrasi negara yaitu:

  Administrasi negara terdiri atas semua kegiatan negara dengan

  maksud untuk menunaikan dan melaksanakan kebijakan negara ” . Sedangkan menurut Dwight Waldo administrasi negara adalah : “Administrasi Negara mengandung dua pengertian yaitu : a) Administrasi negara yaitu organisasi dan manajemen dari manusia dan benda guna mencapai tujuan-tujuan pemerintah. b) Administrasi Negara yaitu suatu seni dari ilmu tentang manajemen yang dipergunakan untuk mengatur urusan-urusan negar a”.

  Menurut Atmosudirjo (2003:4) bahwa administrasi adalah : dengan organisasi. Jadi barang siapa hendak mengetahui adanya administrasi dalam masyarakat ia harus mencari terlebih dahulu suatu organisasi yang masih hidup, di situ terdapat administrasi.

  ” Jika kita melihat beberapa definisi tentang administrasi menurut para ahli tersebut diatas, bahwa administrasi secara luas memiliki pengertian yang sama yaitu antara lain :

  1) Kerjasama 2) Banyak orang dan 3) Untuk mencapai tujuan bersama

  Sedangkan menurut The Liang Gie (dalam Burhanudin 2000:10) ada delapan unsur administrasi yaitu:

  1. Pengorganisasian, rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi segenap kegiatan dari usaha kerjasama itu dengan jalan :

  a. Membagi dan mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan.

  b. Menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara petugas atau sub-sub organisasi (unit-unit tugas).

  2. Manajemen, Kegiatan menggerakkan sekelompok hubungan kerja diantara petugas atau sub-sub organisasi (unit-unit tugas).

  3. Komunikasi, rangkaian aktivitas menyampaikan warta dan memindahkan buah pikiran kepada seseorang secara cermat, dalam usaha kerja sama yang bersangkutan.

  4. Kepegawaian, rangkaian aktivitas mengatur dan mengurus penggunaan tenaga-tenaga kerja yang diperlukan dalam usaha kerjasama.

  5. Keuangan, rangkaian aktivitas mengelola segi-segi pembiayaan sampai pertanggungjawaban keuangan dalam usaha kerjasama yang bersangkutan.

  6. Perbekalan, aktivitas merencanakan, mengadakan, mengatur, pemakaian, penyimpanan, pengendalian, perawatan dan menyingkirkan barang-barang yang tidak dapat dipakai lagi dalam suatu usaha kerjasama.

  7. Tata Usaha, meliputi kegiatan menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim, menyimpan pelbagai keterangan atau data yang dibutuhkan dalam suatu organisasi.

  8. Hubungan Masyarakat, rangkaian aktivitas menciptakan hubungan dan

2.1.2 Fungsi-fungsi Administrasi

  Konsep administrasi dan manajemen pada intinya mempunyai kesamaan dari segi operasionalnya, karena fungsi-fungsi kedua bidang tersebut juga tidak berbeda, apa yang dikatakan sebagai fungsi administrasi adalah merupakan fungsi-fungsi manajemen. Namun meskipun istilah yang dipakai dalam mengidentifikasikan fungsi-fungsi kedua tingkatan pengertian itu sama tetapi dalam pelaksanaannya administrasi dan manajemen mempunyai kegiatan-kegiatan tertentu yang harus dilaksanakan dalam tujuan organisasi, kegiatan-kegiatan (tugas-tugas) itulah yang disebut fungsi-fungsi administrasi dan manajemen.

  Ada beberapa pendapat mengenai fungsi administrasi menurut para ahli, yaitu : Menurut Henry Fayol (2000:31) mengemukakan bahwa fungsi- fungsi administrasi dan manajemen adalah: a). Planning (perencanaan) b)

  (pengorganisasian) c) Commanding (pemberian perintah) d)

  Organizing Coordinating (pengkoordinasian) e) Controlling (Pengawasan).

  George R. Terry (2001:85), fungsi-fungsi administrasi dan manajemen adalah: (a) Planning (b) Organizing (c) Actuating (d) Controlling, rangkaian fungsi itu dibentuk dalam sebuah akronim

  ”POAC”. Fungsi terpenting dalam rangka penggerakkan bawahan menurut Terry adalah

  ”Actuating” sebagai usaha

  menggerakkan pegawai agar mau bekerja dengan penuh kesadaran dalam rangka merealisasi rencana yang telah disusun.

  Kalau dihubungkan kembali dengan hakikat administrasi dan manajemen, yang terpenting dalam penyelenggaraan kegiatan administrasi itu adalah individu di dalam suatu organisasi dapat bekerjasama secara produktif demi tercapainya tujuan-tujuan organisasi.

2.1.3 Pengertian Tata Kelola

  Tata Kelola jikalau dianalisis berdasarkan sudut pandang etimologinya maka tata kelola terdiri dari dua suku kata, yakni “tata” dan “kelola”. Dalam

  “Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline versi 1.3”, “tata” mempunyai arti aturan (biasanya dipakai dalam kata majemuk); kaidah, aturan, dan susunan; cara menyusun; sistem. Sedangkan

  “kelola” mempunyai arti mengendalikan; menyelenggarakan (pemerintahanan); mengurus (perusahaan, proyek). Dari definisi yang peneliti paparkan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pengelolaan merupakan proses pengaturan atau pengurusan suatu perusahaan yang didasarkan pada aturan. Dalam penelitian yang sedang peneliti jalani, maksud dari pengaturan atau pengurusan suatu stasiun yang didasarkan pada aturan tersebut merujuk pada pengaturan fasilitas umum stasiun kereta api yang didasarkan pada aturan dari pusat. Agar dapat mempelajari tata kelola secara spesifik maka ilmu yang sesuai dengan tata kelola adalah ilmu manajemen.

2.1.4 Pengertian Fasilitas Umum

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, fasilitas adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan. Sedangkan fasilitas umum adalah fasilitas yang disediakan untuk kepentingan umum seperti jalan, alat

2.1.5 Konsep Manajemen Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur.

  Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi- fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.

  Pengertian manajemen menurut (Hasibuan, 20011:1): Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber- sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

  Terry dan Rue menjelaskan manajemen sebagai berikut : Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Dimana manajemen merupakan suatu kegiatan, pelaksanaannya disebut

  “managing” yaitu pengelolaan, sedangkan pelaksananya disebut manager atau pengelola.

  Andrew F. Sikula (dalam Hasibuan, 20011:2) menjelaskan manajemen sebagai berikut: Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi denga tujuan untuk mengkordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.

  Menurut Manulang (2006:4) mendefinisikan manajemen adalah : “Suatu proses sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dengan tujuan yang ingin dicapai dengan mempergunakan kegiatan-kegiatan yang diawasi, yang di dalamnya terdapat aktivitas melalui seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian,

  G.R. Terry (dalam Hasibuan, 20011:2) menjelaskan manajemen sebagai berikut: Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran- sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dari sumber-smber lainnya. Manajemen menurut Harold Koontz dan Cryl O

  ’Donnel (dalam Hasibuan, 20011:3) adalah:

  Manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan pengendalian.

  Dari beberapa teori mengenai manajemen yang telah peneliti paparkan, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengontrolan. Dan dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen fasilitas umum adalah proses menata fasilitas secara keseluruhan, sehingga dapat dihindari adanya pemborosan dan ditingkatkannya efisiensi pembangunan gedung, pengadaan barang dan pengawasan fasilitas.

  Dalam penelitian ini, teori yang peneliti gunakan sebagai dasar dalam manajemen fasilitas umum adalah teori manajemen menurut G.R Terry. Peneliti menggunakan teori ini karena teori G.R Terry merupakan teori yang relevan manajemen merupakan suatu hal yang terdiri dari fungsi-fungsi planning, organizing, actuatting, dan controlling (disingkat POAC).

2.1.5.1 Fungsi-Fungsi Manajemen

  Dalam mengelola setiap kegiatan organisasi, pengelolaan harus didasarkan pada fungsi-fungsi manajemen. Sehingga pengelolaan yang dilakukan dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan tidak akan ada masalah besar yang dapat menghambat pengelolaan tersebut.

  G.R. Terry (2008: 17) menjelaskan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut: a) Planning (perencanaan).

  Perencanaan ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.

  b) Organization (pengorganisasian).

  Pengorganisasian mencakup (a) membagi komponen- komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ke dalam kelompok-kelompok. (b) membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokkan tersebut.menetapkan (c) wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi. Didalam setiap kejadian, pengorganisasian melahirkan peranan kerja dalam struktur formal dan dirancang untuk memungkinkan manusia bekerja sama secara efektif guna mencapai tujuan.

  c) Actuating (pengarahan).

  Actuating atau disebut juga

  “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oelh unsur perencaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai. Actuating d) controlling (pengontrolan).

  Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai rencana.

  Pelaksanaan kegiatan dievaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Ada berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah rencana dan bahkan tujuannya, mengatur kembali tugas-tugas atau merubah wewenang, tetapi seluruh perubahan tersebut dilakukan melalui manusianya. Orang yang bertanggung jawab atas penyimpangan yang tidak diinginkan itu harus dicari dan mengambil langkah-langkah perbaikan terhadap hal-hal yang sudah atau akan dilaksanakan. Dari fungsi-fungsi manajemen yang telah peneliti paparkan diatas, maka secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa fungsi-fungsi manajemen meliputi beberapa hal yaitu: Planning, Organizing, Actuating,dan Controlling tersebut menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan agar tidak ada kendala di dalam proses manajerial yang mengakibatkan terhambatnya proses pencapaian tujuan. Termasuk didalam pengelolaan fasilitas umum, terlebih lagi kenyamanan dan keamanan penumpang jasa kereta api merupakan suatu hal yang harus diutamakan. Sehingga dengan memperhatikan fungsi-fungsi manajemen tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu pengelolaan yang baik, yang nantinya memberikan dampak positif bagi jasa transportasi kereta api.

1. Fungsi Perencanaan

  Semua kegiatan dan tindakan menejerial didasarkan dan atau disesuaikan dengan rencana yang sudah ditetapkan. Rencana menentukan ke mana organisasi dan kegiatan-kegiatannya akan diarahkan atau direncanakan. Ini berarti atau maksud dari tiap rencana dan semua rencana- organisasi. Perencanaan membantu manajer dalam semua tipe organisasi untuk mencapai kinerja lebih baik (Silalahi, 2002:160). Ada beberapa tahapan dalam perencanaan, antara lain:

  1. Formulasi tujuan (goals formulation) atau penetapan tujuan

  (setting objectives) : identifikasi tentang sasaran-sasaran dan

  strategi mutakhir (identification of current objectives and strategi).

  2. Analisis lingkungan (environmental analysis): identifikasi peluang dan kendala strategis (identification of strategic

  opportunities and threats) lingkungan eksternal dan identifikasi

  kekuatan dan kelemahan (identification of strong and weakness) organisasional.

  3. Pembuatan keputusan rencana strategi (strategic plan decision

  making) : kembangkan alternative (evaluate alternatives), pilih alternative (select alternatives).

  4. Kembangkan rencana operasional (develop operational plan).

  5. Implementasi rencana dan evaluasi hasil (implement the plan

  and evaluate results)

2. Fungsi Pengorganisasian

  Pengorganisasian dapat didefinisikan sebagai proses penetapan pekerjaan-pekerjaan esensial untuk dikerjakan, pengelompokan pekerjaan, pendistribusian otoritas dan pengintegrasian semua tugas-tugas dan sumber-sumber untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajer giat dalam pengorganisasian untuk tiga alasan. Pertama, pengorganisasian meningkatkan efisiensi dan kualitas dari pekerjaan organisasi. Ketika tugas-tugas organisasi dibagi, peluang untuk mencapai sinergi akan tercipta. Kedua, pengorganisasian menetapkan akuntabilitas, sebab partisipan dalam tiap usaha adalah lebih efektif ketika mereka memahami komunikasi. (Silalahi 2002:197). Ada beberapa tahapan dan elemen fundamental dalam proses pengorganisasian, antara lain:

  1. Tetapkan pekerjaan-pekerjaan esensial untuk dikerjakan (pembagian kerja)

  2. Kelompokan tugas-tugas individual ke dala unit-unit (deprtementasi)

  3. Distribusi otoritas dalam unit-unit dan di antara individu- individu (distribusi otoritas)

  4. Integrasi semua orang, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas (koordinasi)

3. Fungsi Pengarahan

  Pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mecapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. Pengarahan dapat dilakukan dengan cara persuasive atau bujukan dan instruktif, tergantung cara mana yang paling efektif. (Hasibuan 2011:183).

  Pokok-pokok masalah yang dipelajari dalam fungsi pengarahan adalah:

  1. Tingkah laku manusia

  2. Hubungan manusiawi

  3. Komunikasi

  4. Kepemimpinan

4. Fungsi Pengendalian

  Fungsi pengendalian (controlling) adalah fungsi terakhir dalam proses manajemen. Fungsi ini sangat penting dan sangat menentukan pelaksanaan proses manajemen, karena itu harus dilakukan dengan sebaik- baiknya. Pengendalian ini berkaitan erat dengan fungsi perencanaan dan kedua fungsi ini merupakan hal yang saling mengisi (Hasibuan,

  2011:241). Proses pengendalian dilakukan secara bertahap melalui langkah-langkah berikut:

  1. Menentukan standar-standar yang akan digunakan dasar pengendalian.

  2. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang akan dicapai.

  3. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standard dan menentukan penyimpangan jika ada.

  4. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.

  Fungsi

  • – fungsi manajemen yang dikemukakan para ahli tidak sama, tergantung pada sudut pendekatan dan pandangan mereka. Untuk bahan perbandingan dikemukakan pembagian fungsi-fungsi manajemen, sebagaimana diungkapkan oleh Hasibuan (2011:38) yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Fungsi-fungsi manajemen menurut para ahli

  

George R. Terry John F. Mee Louis A. Allen MC. Namara

  1. Planning

  2. Organizing

  3. Actuating

  4. Controlling Planning Organizing Motivating Controlling Leading

  Planning Organizing Controlling Planning

  Programming Budgeting System

  Henry Fayol Harold Koontz Cyril O`Donnel Drs. P Siagian Prof. Drs.Oey Liang lee Planning Organizing Commanding Coordinating Controlling Planning

  Organizing Staffiing Directing Controlling

  Planning Organizing Motivating Controlling Evaluation Planning

  Organizing Actuating Coordinating Controlling

  W.H Newman Luther Gullick Lyndall F.Urwick John D. Millet Planning Organizing Assembling Resources Directing Controlling

  Planning Organizing Staffiing Directing Coordinating Reporting Budgeting Forecasting

  Planning Organizing Commanding Coordinating Controlling Directing

  Facilitating ( Sumber : Hasibuan 2011:38) Berikut adalah pengertian fungsi-fungsi manajemen menurut para ahli:

  1. Planning

  Planning atau Perencanaan menurut Hasibuan (2011:91) adalah sebagai

  berikut: Perencanaan adalah fungsi dasar manajemen, kerena organizing, staffing, directing, dan controlling pun harus terlebih dahulu direncanakan. Perencanaan ini bersifat dinamis. Perencanaan ini ditujukan pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Dari pandangan Hasibuan menjelaskan bahwa perencanaan hanya sebatas memilih alternatif terbaik dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang ada. Sedangkan menurut Konntz dan Donel dalam Hasibuan (2011:40) menyebutkan Perencanaan adalah fungsi dari seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan

  • –tujuan kebijksanaan-kebijkasanaan, prosedur-prosedur dan program-program dari alternative-alternatif yang ada.

  Dari pandangan diatas kita bisa menyimpulkan bahwa perencanaan merupakan bagian terpenting dimana sesorang dituntut untuk berfikir cerdas dalam melihat alternatif mana yang sesuai dengan tujuan yang dimaksud.

  2.Organizing Manullang (dalam Hasibuan 2011:119) menyebutkan bahwa.

  Organisasi adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, yang dilakukan dengan cara menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, kemudian menyediakan alat-alat yang diperlukan, dan menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.

  Sedangkan menurut Terry (2008:17) sebagai berikut. membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokkan tersebut dan (c) menetapkan wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi. Pengorganisasian berhubungan erat dengan manusia, sehingga pencaharian dan penugasannya kedalam unit-unit organisasi dimasukkan sebagai unsur pengorganisasian.

  Dari beberapa pandangan diatas bisa disimpulkan bahwa pengorganisasian berkaitan penuh dengan manusia dimana dilakukan penempatan seseorang pada bidangnya masing-masing sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.

  3.Actuating G.R Terry dalam (Hasibuan 2011:183) pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok agar mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. Dimana setelah dilakukan pengorganisasian, maka diperlukan arahan pimpinan agar pekerjaan dapat terarah dan terukur sehingga dapat mencapai tujuan.

  4.Controlling Earl p. strong dalam (Hasibuan 2011:241). Pengendalian adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana. Dimana pada suatu organisasi perlu adanya pengawasan atau pengontrolan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi yang sudah direncakan sebelumnya, agar dapat dilakukan perbaikan jika ada kesalahan.

5.Staffing atau Assembing Resources

  Istilah Staffing diberikan Luther Gullick, Harold Koonz dan Cyril O

  ’Donnel sedangkan Assembing Resources dikemukakan oleh William Hebert Newman. Kedua istilah tersebut cenderung memiliki arti yang sama. Dimana

  

Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia

  pada organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangan sampai dengan usaha agar setiap tenaga petugas memberi daya guna maksimal kepada organisasi.

  6.Motivating

  Motivating atau motivasi adalah mengarahkan atau menyalurkan perilaku sehingga mereka dapat bersemangat melaksanakan tugas-tugas dan mereka pun dapat berdaya guna dan berhasil guna.

  7.Programming

  Programming adalah proses penyusunan suatu program yang sifatnya

  dinamis, dimana menyesuaikan dengan keadaan yang ada dalam suatu organisasi untuk kemajuan organisasi tersebut.

  8.Budgeting

  Budgeting (anggaran) merupakan suatu rencana yang menggambarkan

  penerimaan dan pengeluaran yang akan dilakukan pada setiap bidang. Dalam anggaran ini hendaknya tercantum besarnya biaya dan hasil yang akan diperoleh, jadi anggaran harus rasional.

  9.System

  System adalah suatu kesatuan prosedur atau komponen yang saling

  berkaitan satu dengan yang lainnya bekerja bersama sesuai dengan aturan yang ditetapkan sehingga membentuk suatu tujuan yang sama. Maksudnya, dalam sebuah sistem bila terjadi satu bagian saja yang tidak bekerja atau rusak m aka suatu tujuan bisa terjadi kesalahan pada hasilnya. (http// infoting.blogspot.com).

  10. Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha

  Commanding

  memberi bimbingan,saran, perintah-perintah atau intruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula. Commanding merupakan fungsi manajemen yang dapat berfungsi bukan saja agar pegawai dapat melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu kegiatan, tetapi dapat berfungsi mengkoordinasikan kegiatan berbagai unsure organisasi agar efektif tertuju kepada realisasi tujuan yang telah ditetapkan.

  11. Coordinating

  Coordinating (koordinasi) merupakan salah satu fungsi manajemen untuk

  melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dengan cara member intruksi, mengadakan pertemuan untuk memberikan penjelasan, bimbingan atau nasehat dan bila perlu mmemberi teguran.

  Reporting atau pelaporan dalam manajemen berupa penyampaian

  perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi, baik secara lisan maupun tulisan sehingga daalam menerima laporan dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan tugas orang yang memberi laporan.

  13. Forecasting

  Forecasting atau peramalan adalah kegiatan meramalkan, memproyeksi,

  atau mengadakan perkiraan/ taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan teerjadi sebelum suatu rencana yang lebih pasti dapat dilakukan.

  14. Facilitating

  Facilitating atau fasilitas merupakan fungsi manajemen yang meliputi

  pemberian fasilitas dalam arti luaas yakni memberikan kesempatan kepada anak buah agar dapat berkembang ide-ide dari bawahan diakomodir dan kalau memungkinkan dikembangkan dan diberi ruang untuk dapat dilaksanakan.

  15. Leading (kepemimpinan), Kepemimpinan merupakan hal penting dalam organisasi dalam melakukan kerja sama antara manajer dan bawahan sehingga mencapai hasil yang diinginkan.

  Dengan kata lain usaha untuk mengarahkan, mempengaruhi, memotivasi dan berkomunikasi dengan bawahan agar melaksanakan tugas pokok organisasi.

  Dari berbagai fungsi manajemen yang telah dipaparkan diatas, dapat diketahui bahwa fungsi manajemen memiliki fokus yang berbeda dari berbagai ahli. Setiap ahli memiliki background yang berbeda-beda dalam melahirkan teorinya masing-masing, sehingga setiap teori memiliki cara kerja yang berbeda dalam mencapai suatu tujuan. Dari beberapa teori diatas, peneliti menganalisis bahwa teori G.R. Terry yang merupakan tokoh manajemen yang terkemuka di dunia berfokus pada apa yang harus direncanakan dan yang akan dicapai. Jadi, perencanaan merupakan fungsi dasar untuk melakukan penyusunan langkah- matang-matang apa saja yang menjadi kendala, dan merumuskan apa saja kegiatan yang akan dilakukan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan penelitian ini, dimana manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung lebih berfokus pada perencanaan dan pengorganisasian, tanpa mengesampingkan pengarahan dan pengontrolan. Disamping itu G.R. Terry merupakan guru besar di Northwestern University, sangat mengenal manajemen yang merupakan bidang keahlian dan keilmuannya.

  Lain halnya dengan teori manajemen yang dikemukakan oleh Louis Allen, dimana manajemen menurut Louis Allen lebih menekankan ke arah leading (kepemimpinan). Karena teori manajemen Louis Allen disebut juga Management

  

Leading (Memimpin). Memimpin adalah pekerjaan yang di lakukan oleh seorang

  manager agar orang-orang lain bertindak. Maka dari situ peneliti melihat bahwa teori ini tidak cocok dengan permasalahan yang ada dalam penelitian manajemen fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  Sedangkan teori manajemen menurut Henry Fayol yang berlatarbelakang sebagai administrator adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), commanding (pemberian komando), coordinating (pengkoordinasian), dan controlling (pengawasan). Rangkaian fungsi ini dikenal dengan akronim POCCC. fungsi utama dari kelima fungsi manajemen yang diungkapkan Fayol adalah pada fungsi commanding. Mengingat kondisi masyarakat Perancis yang waktu itu militeristik dan perkembangan ilmu administrasi dan manajemen masih berkembang . Sehingga commanding menjadi Teori Fayol ini disepakati oleh Luther Gullick yang berlatarbelakang sama dengan Fayol yang banyak berkecimpung didunia administrasi dan pemerintahan.

  Gullick sependapat dengan Fayol berkaitan dengan fungsi planning, organizing dan controlling. Selanjutnya Gullick mengusulkan fungsi staffing (pengadaan tenaga kerja) yang merupakan tindak lanjut dari fungsi planning dan organizing. Kemudian fungsi staffing, planning dan organizing merupakan material organisasi yang perlu digerakkan dalam rangka pencapaian tujuan. Oleh sebab itu dibutuhkan fungsi directing (pemberian bimbingan), dan coordinating (pengkoordinasian). Dari rangkaian fungsi-fungsi tersebut menurut Luther Gullick

  

directing memiliki fungsi yang paling penting. Directing merupakan konsep yang

  lebih santun/lunak dari commanding. Sesuai dengan kondisi warga Amerika yang saat itu telah memiliki pemahaman tentang ilmu admnistrasi dan manajemen (Siagian, 2005:84).

  Dan kedua teori ini dirasa kurang sesuai dengan permasalahan yang peneliti angkat, meskipun kedua ahli Fayol dan Gullick memiliki background dibidang administrasi dan pemerintahan namun keduanya menyatakan teori ini ditengah- tengah masyarakat dalam keadaan masa otoriter, meski Gullick menyatakan lebih lunak akan tetapi karakteristik pemerintahan di Indonesia sekarang berbeda, sehingga tidak sesuai dengan permasalahan yang peneliti paparkan.

  Maka dari itu dalam penelitian ini, teori yang peneliti gunakan sebagai dasar dalam manajemen fasilitas umum stasiun adalah teori manajemen menurut administratif. Bila manajemen ilmiah berfokus pada produktivitas dari pekerja individual, maka pendekatan prinsip-prinsip administratif berfokus pada organisasi total. (Richard, 2002: 59).

  Menurut George R.Terry, manajemen merupakan suatu hal yang terdiri dari fungsi-fungsi planning, organizing, acctuating, controlling (disingkat POAC). Peneliti menggunakan teori POAC dari George R.Terry karena peneliti menilai bahwa teori ini relevan dengan latar belakang dan identifikasi masalah penelitian, di mana masalah parkir merupakan masalah dalam perencanaan pengelolaan fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Kemudian masalah ruang tunggu, yang masih belum terpisah antara penumpang yang sudah memiliki tiket atau yang belum memiliki tiket dengan penumpang yang sedang menunggu kereta datang. Masalah tersebut merupakan akibat dari pengorganisasian fasilitas umum yang kurang baik. Masalah ketiga adalah tidak adanya ruang untuk ibu menyusui dan akses jalan untuk penyandang difable. Hal tersebut merupakan bukti bahwa perencanaan dari pihak pengelola stasiun masih lemah. Keempat, kurangnya kenyamanan di mushola karena tidak adanya pemisah antara laki-laki dan perempuan di mushola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  Hal itu disebabkan karena kurangnya pengorganisasian yang dilakukan oleh pihak pengelola stasiun. Dan masalah terakhir, yaitu tidak adanya CCTV di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, ini menandakan bahwa pengawasan dan pengontrolan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung masih lemah. Dari pemaparan peneliti tersebut, hal-hal pokok yang berkaitan dengan pengelolaan fasilitas umum di pengarahan, dan pengontrolan. Empat fungsi pengelolaan tersebut relevan dengan teori manajemen dari George R. Terry, yakni planning, organizing, acctuating,

  controlling (disingkat POAC).

2.1 Penelitian Terdahulu

  Sistem transportasi mempunyai peranan penting dalam berbagai hal, diantaranya mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah dan pemersatu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka mewujudkan Wawasan Nusantara termasuk salah satu model transportasi tersebut adalah perkeretaapian, yang dalam sistem transportasi nasional mempunyai karakteristik pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari model transportasi lain. Disini jelas bahwa perkeretapian ini perlu dikembangkan potensinya dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah, baik nasional maupun internasional, untuk menunjang, mendorong, serta menggerakkan pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

  Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu. Adapun hasil penelitian terdahulu tersebut yakni:

  Penelitian terdahulu yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Malinda Yustikasari dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Ilmu Administrasi Tahun 2011 dalam skripsinya yang berjudul

  “Manajemen Sarana

  

Prasarana Perkeretaapian di PT. Kereta Api Indonesia Daerah Oprasi VII menginterprestasikan manajemen sarana prasarana PT Kereta Api (Persero) Daerah Operasi VII Madiun dengan melihat dari fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan perkeretaapian Daop VII Madiun. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun fokus dalam penelitian tersebut adalah bagaimana pemeliharaan sarana prasarana kereta api Daop VII agar menurunnya jumlah kecelakaan.

  Hasil dari penelitian yang telah dilakukan peneliti tersebut, bahwa manajemen sarana prasarana Daop VII meliputi 4 fungsi, dimulai dari perencanaan, perencanaan ada di 3 seksi , di seksi sarana prasarananya meliputi pemeliharaan periodik (dimulai dari P1,P3,P6, dan P12), semi pemeriksaan akhir (SPA), dan pemeriksaan akhir (PA). Seksi jalan rel dan jembatan (JJ) meliputi kegiatan pemeliharaan bulanan dan triwulan. Seksi sintel kegiatan perencanaan pemeliharaan meliputi pemeliharaan pencegahan dan pemeliharaan kolektif. Dalam pengorganisasian sudah ada strukur organisasi yang jelas, sudah dibentuk bidang-bidang khusus untuk penanganan sarana prasarana perkeretaapian yaitu Seksi & UPT Sarana, Seksi & UPT Jalan Rel dan Jembatan, Seksi & UPT Sinyal dan Telekomunikasi. Koordinasi yang ada meliputi koordanisasi internal horisontal dan vertikal, dan koordinasi eksternal horisontal dan vertikal. Dalam tahap terakhir yaitu pengawasan di Daop VII dilakukan pengawasan secara internal terhadap pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana perkeretaapian dan juga pengawasan eksternal oleh pihak CV sebagai rekanan kerja terhadap pelaksanaan pekerjaan oleh bawahannya dan pengawasan oleh Dirjen Perkeretaapin pada Daop VII menyangkut verifikasi RKAD.

  Kesimpulan dari penelitian terdahulu yang pertama tersebut mengenai manajemen sarana prasarana PT Kereta Api Indonesia Daop VII Madiun sudah menjalankan manajemen sarana prasarana dengan cukup baik dari segi perencanaan, hanya saja dari segi pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan belum maksimal dikarenakan masih ada hambatan yang dialami. Tetapi walaupun manajemen sarana prasarananya belum berjalan maksimal, manajemen yang sudah dijalankan oleh PT Kereta Api Indonesia Daop VII Madiun telah memberikan dampak terhadap penurunan kecelakaan kereta api. Walaupun penurunan selama 3 tahun terakhir tidak terlalu signifikan, tetapi dengan menurunnya angka kecelakaan sudah membuktikan bahwa PT Kereta Api Indonesia Daop VII sudah menjalankan peran dan fungsi yang positif serta tujuan penurunan kecelakaan sudah dicapai.

  Adapun perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Malinda Yustikasari dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah peneliti memfokuskan penelitian pada manajemen fasilitas umum stasiun kereta api, artinya peneliti tidak memfokuskan penelitian pada pemeliharaan sarana prasarana kereta apinya yang berkaitan dengan menurunnya jumlah kecelakaan yang terjadi, peneliti hanya meneliti fasilitas umum di stasiun kereta api, sedangkan Malinda Yustikasari memfokuskan penelitiannya pada manajemen sarana prasarana yang dilakukan untuk penumpang di dalam kereta api.

  Penelitian terdahulu yang kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Ai Istiqomah dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Ilmu Administrasi Negara pada tahun 2014, dalam skripsinya yang berjudul

  “Manajemen Sarana

  

Dan Prasarana Perkeretaapian Di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah

Operasional (Daop)

1 Jakarta

  ” Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan dan membahas mengenai manajemen sarana dan prasarana perkeretaapian di PT. Kereta Api Indonesia (persero) Daerah Operasional (daop) 1 Jakarta.

  Hasil dari penelitian yang telah dilakukan peneliti tersebut, yakni: 1. pencatatan aset sarana dan prasarana perkeretaapian dilakukan setiap bulan sesuai kondisi sarana dan prasarana tersebut, selain pencatanan kondisi sarana laporan adanya gangguan terhadap sarana dan prasarana tersebut dimasukan ke dalam laporan tiap bulan, pencatatan aset sarana dan prasarana tersebut dilakukan di UPT Jalan Rel dan Jembatan dan jika sarana dilakukan di Dipo sarana yang kemudian dilaporkan ke bagian seksi terkait. 2. pengelolaan dan optimalisasi aset mencakup pemeliharaan dan penggunaan aset itu sendiri dalam hal ini sarana perkeretaapi di Daop 1 Jakarta. Pembuatan rencana kerja perawatan dilakukan oleh masing-masing UPT yang dilakukan setiap bulan yang kemudian RKP (Rencana Kerja Pemeliharaan) diajukan kepada Manajer Sarana untuk kemudian didiskusikan dengan Manajer yang lain untuk dibuat dalam RKAD dan dikirim ke kantor pusat PT. KAI yang berada dibandung. Perencanaan perawatan ini sangat penting karena tentu saja selain untuk mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perawatan sarana itu sendiri dan untuk mengetahui jadwal pemeliharaan dan apa saja bagian-bagian yang harus diperiksa tiap bulannya.

  Ada beberapa jenis pemeliharaan sarana perkeretaapian di Daop 1 Jakarta yaitu: a) Pemeliharaan Periodik

  Sebelum kegiatan ini dilakukan, UPT sarana membuat jadwal pemeliharaan kereta/gerbong untuk pemeliharaan periodik (P1, P3, P6 dan P12). 1) Pemeliharaan bulanan (P1) 2) Pemeliharan triwulan (P3) 3) Pemeliharaan 6 bulan (P6) 4) Pemeliharaan tahunan (P12)

  b) Pemeliharaan Semi Akhir Pemeliharaan 2 tahunan untuk sarana perkeretaapian dilakukan secara keseluruhan atau biasa disebur general check up.

  3. pengawasan untuk sarana dilakukan setiap hari oleh UPT/resor terkait. Untuk jalan rel dilakukan oleh anggota UPT tersebut yang telah dijadwalkan pada awal program, kemudian untuk kepala resor melakukan pengawasan langsung ke lapangan setiap 2 minggu sekali berkeliling dengan menggunakan lokrit. Kepala UPT jalan rel dan jembatan selalu berhubungan dengan seksi Jalan rel dan jembatan di Daop 1 jakarta setiap 2 jam sekali melalui telepon, untuk melaporkan situasi yang ada di perlintasan.

  Kesimpulan dari penelitian terdahulu tentang Manajemen Sarana dan dilihat dari: Pertama, inventarisasi aset sarana dan prasarana sudah terjadwal dan tentunya terstruktur dengan baik. Pencatatan kondisi sarana tersebut dilakukan setiap bulan oleh UPT dan Dipo terkait setelah mereka melakukan pemeriksaan dan perawatan, dengan disusun setiap bulan tersebut maka laporan tahunan untuk kondisi aset sudah siap untuk diberikan kepada seksi sarana dan prasarana terkait, meskipun begitu laporan bulanan tersebut tetap dilaporkan setiap bulannya.

  Bahkan di bagian jalan rel dan jembatan memiliki tim khusus sendiri yaitu tim data material jalan rel. Selain itu data aset tersebut dapat diakses di web PT. KAI sebagai laporan setiap tahunnya.

  Kedua, pengelolaan dan optimalisasi aset semakin baik terutama perawatan terhadap sarana perkeretaapian (lokomotif, kereta, gerbong) semakin baik, ini dapat kita lihat pada kereta ekonomi yang sudah bersih dan terawat, selain itu kereta ekonomi kini memiliki pendingin ruangan meskipun sesekali mati tetapi itu sebagian kecil dari yang sudah bagus, tidak ada lagi para pedagang dan pengemis yang membuat kereta semakin semrawut dan membuat kereta terlihat kumuh, serta tersedianya toilet yang dapat digunakan oleh para penumpang.

  Ketiga, pengawasan dilakukan dengan cara kerjasama dengan unit pam untuk pengamanan kereta dan jalan semakin terlihat, ini bisa kita buktikan dengan sudah tidak adanya penumpang yang duduk di atas kereta, serta tidak adanya pengemis dan pedagang yang berjualan di dalam kereta. Meskipun masih tetap ada pencurian terhadap prasarana perkeretaapian tetapi itu sedikit dapat teratasi dengan bekerjasama juga dengan pihak kepolisian.

  Adapun perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Ai Istiqomah dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah peneliti memfokuskan penelitian pada manajemen fasilitas umum stasiun kereta api, artinya peneliti tidak memfokuskan penelitian pada kereta apinya, peneliti hanya meneliti fasilitas umum di stasiun kereta api saja, sedangkan Ai Istiqomah memfokuskan penelitiannya pada inventarisasi dan pengelolaan aset di Daop 1, serta pengawasan dan perbaikan kereta api.

2.2 Kerangka Berpikir Penelitian

  Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sugiyono 2005:65). Untuk mengetahui bagaimana alur berpikir peneliti dalam menjelaskan permasalahan penelitian, maka dibuatlah kerangka berpikir sebagai berikut:

  Dalam penyelenggaraan suatu sistem transportasi tentu tidak terlepas dari prasarana serta sarana begitu saja, baik yang di jalan raya maupun dengan penyelenggaraan sistem transportasi Kereta Api, dalam UU No.23 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta api.

  Peraturan Pemerintah No.56 Tahun 2009 pada pasal 2 menjelaskan bahwa Perkeretaapian diselenggarakan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau dan efisien (ayat 1). Serta penyelenggaraan perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menunjang pemerataan pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan penggerak pembangunan nasional.

  Keamanan dan kenyamanan merupakan faktor yang sangat penting dalam sistem transportasi kereta api, bahkan keamanan dan kenyamanan dapat berpengaruh terhadap keselamatan penumpang kereta api. Fasilitas umum yang ada di stasiun kereta api merupakan salah satu wadah keamanan serta kenyamanan yang bisa didapatkan oleh penumpang kereta api. Oleh karenanya fasilitas umum yang ada di stasiun kereta api harus diperhatikan pengelolaannya agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman, serta ketertiban bagi pengguna jasa transportasi kereta api.

  Stasiun Kereta Api Rangkasbitung merupakan salah satu stasiun besar yang ada di Banten. Namun berdasarkan observasi awal peneliti, ada beberapa kekurangan yang terdapat pada Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Hal tersebut terlihat dari beberapa masalah yang timbul seperti tidak adanya lahan untuk parkir di stasiun, ruang tunggu yang kurang memadai, kurangnya penjagaan keamanan, kenyamanan mushola dan fasilitas lainnya yang kurang baik.

  Adapun penelitian yang sedang peneliti lakukan mencoba untuk mengetahui bagaimana manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Untuk megetahui dan membahas hal tersebut, peneliti menggunakan teori fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh G.R. Terry.

  Fungsi-fungsi manajemen tersebut terdiri dari: planning, organizing, actuatting,

  Dimana dengan teori tersebut berkaitan dengan masalah yang ada di stasiun Rangkasbitung dimulai dari segi perencaan seperti tidak adanya lahan parkir untuk pengguna jasa kereta api sejak dulu sampai saat ini, baik untuk motor maupun mobil. Tidak adanya lahan parkir di stasiun kereta api Rangkasbitung karena letak stasiun yang ada di sekitar pasar dan dengan keadaan tersebut menyebabkan tidak adanya lahan untuk parkir di stasiun tersebut sehingga menimbulkan kemacetan di sekitar area stasiun, kemudian tidak adanya ruangan untuk ibu menyusui dan bayi serta fasilitas untuk penyandang difable.

  Segi pengorganisasian dimana tidak adanya permisahan ruangan, yaitu ruang tunggu kereta untuk penumpang yang sudah memiliki tiket atau belum dan penumpang yang akan naik kereta. Seharusnya ada pemisahan ruangan sehingga tertata dengan baik dan tidak membuat penumpang yang menunggu kereta tiba harus berdiri. Kemudian mushola yang kurang bersih dikarenakan kurangnya pengarahan dari atasan kepada bawahan untuk merawat atau menjaga kebersihan musholla tersebut dan untuk bangunan musholla yang kurang luas atau sempit, hal ini karena kurangnya tempat atau lahan yang dapat dijadikan untuk mushola sehingga memaksimalkan yang ada saja, tanpa adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Masalah-masalah tersebut terjadi karena kegiatan pengorganisasian fasilitas umum di stasiun belum optimal yang tidak lepas pula dari segi pengarahan yang dilakukan. Dari segi pengontrolan tidak adanya pengontrolan di area stasiun, berupa CCTV untuk memantau keadaan sekitar stasiun agar dapat mengetahui atau merekam kejadian yang ada di stasiun. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi pengontrolan belum cukup menjamin kenyamanan dan keamanan di stasiun tersebut.

  Fungsi-fungsi manajemen tersebut peneliti jadikan sebagai indikator untuk melihat apakah pengelolaan fasilitas umum di stasiun tersebut sudah baik atau belum. Untuk mengetahui secara lebih jelas alur berpikir yang menjadi kerangka berpikir dalam penelitian ini, dapat digambarkan sebagai berikut:

IDENTIFIKASI MASALAH

  1. Tidak adanya lahan parkir di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, karena tidak adanya perencanaan yang matang.

  2. Kegiatan pengorganisasian yang belum baik, karena tidak adanya pemisahan ruangan untuk penumpang yang sudah atau belum memiliki tiket dan yang akan naik kereta.

  3. Kurangnya perencanaan untuk pengadaan ruangan ibu menyusui dan bayi serta fasilitas untuk penyandang difable

  4. Tidak adanya kegiatan pengorganisasian yang dilakukan untuk memperbaiki mushola, karena tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan.

  5. Tidak adanya CCTV menandakan bahwa kurangnya pengawasan dan pengontrolan terhadap lingkungan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  Fungsi-fungsi OUTPUT manajemen G.R. Terry

  Terealisasikannya pengelolaan

  1. Planning

  fasilitas umum di Stasiun Kereta

  2. Organizing

  Api Rangkasbitung dengan baik

  3. Actuating

  4. Controlling

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

  Sumber : Peneliti, 2016

2.3 Asumsi Dasar Penelitian

  Berdasarkan pada kerangka pemikiran yang telah peneliti paparkan, peneliti telah melakukan observasi awal terhadap objek penelitian. Maka peneliti berasumsi bahwa belum optimalnya Manajemen fasilitas umum Di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung dikarenakan masih banyak permasalahan-permasalahan yang ada.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian

  Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2012:1) adalah:

  Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah dimana peneliti berperan sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitiannya lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi.

  Sedangkan metode kualitatif menurut Irawan (2006:4.31), adalah: Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang cenderung bersifat deskriptif, naturalistic, dan berhubungan dengan

  “sifat data” yang murni kualitatif. Temuan dalam penelitian kualitatif bersifat kasusistik, unik, dan tidak dimaksudkan untuk digeneralisasikan ke konteks lain. Instrument pengumpulan data dalam metode kualitatif tidak bersifat terstruktur, terfokus,

  “rigid”, dan spesifik, seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih bersifat longgar, fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebutuhan. Metode penelitian kualitatif ini sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Objek dalam penelitian kualitatif adalah objek yang alamiah yaitu objek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga kondisi pada saat peneliti memasuki objek dan setelah keluar dari objek relatif tidak berubah.

  Pendekatan deskriptif digunakan sebagai prosedur pemecahan masalah yang sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan suatu situasi tertentu yang bersifat faktual mengenai manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  3.2 Fokus Penelitian

  Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif juga disebut sebagai batasan masalah, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum (Sugiyono:2012:32).

  Adapun fokus penelitian yang peneliti teliti adalah terkait dengan manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, sehingga peneliti dapat memberikan rekomendasi terhadap pemecahan masalah, termasuk juga dalam hal manajemen fasilitas umum sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan dan keselamatan penmumpang kereta api di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  3.3 Lokasi Penelitian

  Lokasi penelitian mengenai manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api, khususnya analisis mengenai pemecahan permasalahan yang timbul akibat dari kurang baiknya manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api, dilakukan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

3.4 Fenomena yang diamati

  3.4.1 Definisi Konsep

  Fenomena yang diamati dalam penelitian ini yaitu mengenai manajemen dengan fokus fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Konsep mengenai manajemen merupakan hal yang sangat penting di dalam pengaturan proses penyelenggaraan sistem transportasi, khususnya kereta api. Berdasarkan beberapa definisi mengenai konsep manajemen yang dikemukakan oleh beberapa ahli, peneliti menyimpulkan bahwa secara konseptual, manajemen fasilitas umum dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan yang dilakukan oleh organisasi dalam hal ini di stasiun kereta api Rangkasbitung dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang dengan cara pengadaan berbagai fasilitas.

  3.4.2 Definisi Operasional

  Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa fenomena yang akan diamati dalam penelitian ini yaitu mengenai manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Beberapa poin penting mengenai fenomena yang akan diamati tersebut akan peneliti analisis dengan menggunakan teori fungsi- fungsi manajemen yang dikemukaakan oleh G.R. Terry (dalam Hasibuan:2007). Fungsi-fungsi manajemen terdiri dari: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pengarahan) dan controlling (pengendalian).

  1. Planning (perencanaan) adalah memilih dan menggabungkan fakta serta menggunakan asumsi-asumsi masa datang dengan cara menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk hasil yang diingkan.

  Dalam fungsi ini, peneliti menganalisis perencanaan yang sedang dipersiapkan maupun yang sudah dipersiapkan oleh pihak pengelola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung dalam hal manajemen fasilitas umum. Peneliti menilai fungsi ini sangat penting, karena dengan melihat dari segi perencanaan pengelolaan fasilitas umum, dapat diketahui apakah pihak pengelola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung sudah memiliki rencana untuk pengadaan barang atau tidak, selain itu dalam perencanaan pun peneliti menganalisis sejauh mana pihak pengelola stasiun mempunyai inovasi atau pembaharuan dalam pengelolaan fasilitas umum atau tidak.

  2. Organizing (pengorganisasian) adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang agar dapat bekerja sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu agar dapat mencapai tujuan tertentu.

  Dalam fungsi ini, peneliti menganalisis mengenai pengorganisasian fasilitas umum yang dilakukan oleh pihak pengelola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Banyak fasilitas umum yang harus diorganisir dengan baik, sehingga fungsi dan manfaatnya akan dirasakan oleh pengguna jasa kereta api. Salah satu fasilitas umum yang penting dan harus segera dibenahi adalah ruang tunggu bagi penumpang yang sudah memiliki tiket atau belum, dan untuk penumpang yang hanya akan langsung naik kereta, harus ada pemisahan ruangan bagi penumpang tersebut. Selain itu pembenahan mushola yang seharusnya terpisah antara laki-laki dan perempuan serta fasilitas seperti pendingin ruangan.

  3. Actuating (pengarahan) adalah membuat semua anggota kelompok agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian.

  Dalam fungsi ini, pengarahan merupakan fungsi manajemen yang terpenting dan paling dominan dalam proses manajemen, karena fungsi ini merupakan roda penggerak untuk merealisasikan tujuan. Ada beberapa poin penting yang perlu peneliti analisis terkait dengan fungsi pengarahan, antara lain: intruksi dari kepala stasiun kepada anggotanya, rapat rutin pihak pengelola fasilitas umum dalam melakukan pembahasan mengenai fasilitas umum , koordinasi kerja antara pegawai internal dengan pegawai di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  4. Controlling (pengendalian) adalah proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan sehingga pelaksanaan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.

  Dalam fungsi ini, pengendalian merupakan suatu fungsi manajemen dasar dan penting untuk menentukan keberhasilan manajemen mencapai tujuan dengan dan melalui orang lain. Pengendalian dilakukan agar kegiatan organisasional untuk mencapai tujuan dilakukan sesuai dengan rencana-rencana dan cara-cara yang ditetapkan sebelumnya. Ada beberapa hal ayng perlu peneliti bahas dan peneliti analisis, antara lain: analisis kesesuaian antara standar pelayanan minimum dengan pengelolaan yang sudah dilakukan oleh pihak pengelola sampai saat ini. Pengontrolan dan perbaikan fasilitas umum.

3.5 Instrumen Penelitian

  Dalam penelitian diperlukan suatu alat ukur yang tepat dalam proses pengolahannya. Hal ini untuk mencapai hasil yang diinginkan. Alat ukur dalam penelitian disebut juga instrument penelitian atau dengan kata lain bahwa pada dasarnya instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan dalam mengukur fenomena alam atau sosial yang diamati.

  Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri (human instrument). Oleh karena itu peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti siap untuk melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validitas terhadap peneliti sebagai instrument meliputi validitas terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, dan kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian baik secara akademik maupun logistiknya. Adapun yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan (Sugiyono, 2012:59).

  Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Menurut Lofland & Loflang (dalam Basrowi & Suwandi:2008:169), sumber data utama atau primer dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan atau data sekunder seperti dokumen, dan lain-lain.

  Adapun alat-alat tambahan yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data berupa pedoman wawancara, buku catatan, kamera digital dan alat perekam.

3.6 Informan Penelitian

  Informan penelitian adalah orang yang memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan ini terbagi menjadi dua, yaitu informan kunci (key

  

informan) dan informan sekunder (secondary informan). Adapun dalam penentuan

  informan dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive, yaitu teknik pengambilan data dari informan dengan pertimbangan bahwa orang yang dijadikan informan penelitian merupakan orang yang mengetahui tentang manajemen fasilitas umum di

  Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, sehingga memudahkan peneliti untuk mendapatkan data yang diharapkan.

  c. Penumpang 3

  I 2-10 I 2-11 Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan Secondary Informan

  I 2-5 I 2-6 I 2-7 I 2-8 I 2-9

  I 2-2 I 2-3 I 2-4

  I 2-1

  h. Penumpang 8 i. Penumpang 9 j. Penumpang 10 k. Penumpang 11

  g. Penumpang 7

  f. Penumpang 6

  e. Penumpang 5

  d. Penumpang 4

  b. Penumpang 2

  Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah setiap orang yang terkait dalam pengelolaan fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, yaitu :

  a. Penumpang 1

  2 Masyarakat

  Key Informan Key Informan Key Informan (Out Sorching) Key Informan (Out Sorching)

  d. Ketua Kebersihan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung I 1-1 I 1-2 I 1-3 I 1-4

  c. Kepala Sub urusan Keamanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  Rangkasbitung

  a. Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung b. Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun Kereta Api

  1 Instansi PT KAI

  No. Informan Kode Informan Keterangan

Tabel 3.1 Informan Penelitian

  Sumber: Peneliti, 2016

3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono:2012:63).

  Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

  1. Wawancara Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatapan muka antara pewawancara dan informan dengan menggunakan pedoman wawancara (Nazir:2009:193). Adapun teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (indepth interview) adalah data yang diperoleh terdiri dari kutipan langsung dari orang-orang tentang pengalaman, pendapat perasaan dan pengetahuan informan penelitian. Informan penelitian adalah orang yang memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian.

  Wawancara dilakukan dengan cara mempersiapkan terlebih dahulu berbagai keperluan yang dibutuhakan yaitu penentuan informan yang terdiri dari informan kunci dan informan sekunder, kriteria informan dan pedoman wawancara disusun dengan rapi dan terlebih dahulu dipahami peneliti. Selain itu, sebelum melakukan wawancara peneliti juga melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Menerangkan kegunaan serta tujuan dari penelitian

  b) Menjelaskan alasan informan terpilih untuk diwawancarai

  c) Menjelaskan situasi atau badan yang melaksanakan

  d) Mempersiapkan pencatatan data wawancara Hal-hal tersebut bertujuan untuk memberikan motivasi kepada informan untuk melakukan wawancara dengan menghindari keasingan serta rasa curiga informan untuk memberikan keterangan dengan jujur, selanjutnya peneliti mencatat keterangan-keterangan yang diperoleh dengan cara pendekatan kata- kata dan merangkainya kembali dalam bentuk kalimat (Nazir:2009:200).

  Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tak terstruktur. Wawancara tak terstruktur ini adalah wawancara yang bebas, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya, namun pedoman wawancara yang akan ditanyakan. Adapun secara garis besar, pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : (lihat Tabel 3.2)

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara

  No. Dimensi Sub Dimensi Kisi-kisi pertanyaan Informan

  1 Manajemen Pengelolaan Fasilitas Umum Stasiun Kereta Api

1. Planning

  2. Organizing peneliti menganalisis mengenai pengorganisasian fasilitas umum yang dilakukan oleh pihak pengelola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  I 2- 2,

  I 1-2,

  I 1-3,

  I 1-4

  I 1-1,

  I 1-2,

  I 1-3,

  I 1-4 ,

  I 2-1,

  I 2-3,

  I 1-4

  I 2-4,

  I 2-5, ,

  I 2-6,

  I 2-7 ,

  I 2-8,

  I 2-9,

  I 2-10,

  I 2-11

  I 1-1,

  I 1-3,

  3. Actuatting Peneliti menganalisis fungsi pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahan dalam mengelola fasilitas umum stasiun kereta api.

  2. Waktu yang dilakukan untuk pengarahan.

  4. Controlling Peneliti menganalisis bagaimana sistem kontrol untuk melihat dan menilai atapun mengevaluasi kinerja petugas dalam mengelola fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  . Kegiatan atau hal di masa mendatang. . Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang direncanakan. . Dasar hukum yang digunakan. . Hambatan dalam melakukan manajemen fasilitas umum.

  1. Pihak yang bertanggung jawab mengelola fasilitas umum.

  2. Mekanisme pembagian tugas.

  3. Mekanisme pembagian ruangan.

  4. Kelemahan dalam manajemen fasum.

  5. Perubahan yang dilakukan dalam manajemen fasum.

  1. Pengarahan/rapat distasiun.

  3. Kesesuaian manajemen fasilitas umum dengan SOP.

  I 1-2,

  1. Pengontrolan untuk pelaksanaan manajemen fasilitas umum.

  2. Pihak yang berwenang melakukan pengontrolan.

  3. Upaya yang dilakukan untuk fasilitas umum yang rusak.

  4. Keberhasilan manajemen fasilitas umum.

  I 1-1,

  I 1-2,

  I 1-3,

  I 1-4

  1 Peneliti menganalisis perencanaan yang sedang 2 dipersiapkan maupun yang sudah dipersiapkan oleh pihak pengelola Stasiun Kereta Api 3 Rangkasbitung dalam hal manajemen fasilitas 4 umum..

  I 1-1,

  2. Pengamatan/Observasi Observasi menurut Moleong (2007:175) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengamatan/observasi menurut Moleong (2007:176) dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta (partisipan) dan cara yang tidak berperan serta (non partisipan). Pada pengamatan berperan serta, pengamat melakukan dua fungsi sekaligus yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari keompok yang diamatinya. Namun, observasi tanpa berperan serta, pengamat hanya melakukan satu fungsi saja yaitu mengadakan pengamatan.

  Dalam penelitian ini, teknik observasi/pengamatan yang digunakan adalah observasi/pengamatan tanpa peran serta. Adanya keterbatasan waktu menyebabkan peneliti hanya melakukan satu fungsi observasi yaitu hanya melakukan pengamatan tanpa harus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati. Selain itu penelitian yang peneliti teliti bukan termasuk penelitian antropologi sehingga tidak memerlukan observasi peran serta.

  3. Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari sesorang.

  Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan-catatan, peraturan, kebijakan, laporan-laporan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono:2012:82).

  4. Studi Literatur/Kepustakaan Studi literatur/kepustakaan merupakan pengumpulan data penelitian yang diperoleh dari berbagai referensi baik buku ataupun jurnal ilmiah yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Dalam sebuah penelitian kualitatif analisis data dilakukan sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Namun faktanya analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data. Data yang terkumpul harus diolah sedemikian rupa hingga menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjawab perumusan masalah yang diteliti.

  Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

  Langkah-langkah dalam melakukan analisis data menurut Irawan

  (2006:5.27) yaitu:

  1. Pengumpulan data mentah Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data mentah misalnya melalui wawancara, observasi lapangan, dan kajian pustaka. Pada tahap ini juga digunakan alat bantu yang diperlukan, seperti tape recorder, kamera, dan lain-lain. Catatan hasil wawancara hanya data yang apa adanya (verbatim), tidak dicampurkan dengan pikiran, komentar, dan sikap peneliti.

  2. Transkrip data Pada tahap ini, peneliti merubah catatan dalam bentuk tulisan (apakah itu berasal dari tape recorder atau catatan tulisan tangan).

  Peneliti ketik persis seperti apa adanya (verbatim).

  Pada tahap ini, peneliti membaca ulang seluruh data yang sudah ditranskrip. Pada bagian-bagian tertentu dari transkrip data tersebut akan transkrip menemukan hal-hal penting yang perlu peneliti catat untuk proses selanjutnya. Dari hal-hal penting tersebut nanti akan diberi kode.

  4. Kategorisasi data Pada tahap ini, peneliti mulai menyederhanakan data dengan cara

  “mengikat” konsep-konsep (kata-kata) kunci dalam suatu besaran yang dinamakan “kategori”.

  5. Penyimpulan sementara Pada tahap ini, peneliti mengambil kesimpulan masih bersifat sementara. Kesimpulan ini 100 % harus berdasarkan data dan data yang didapatkan tidak dicampurkan dengan pikiran dan penafsiran sendiri.

  6. Triangulasi Pada tahap ini, peneliti melakukan proses chek dan recheck antara satu sumber data dengan sumber data yang lainnya, dengan menggunakan metode triangulasi. Triangulasi dilakukan dengan 3 cara, yaitu: a) Triangulasi teknik, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda. Bisa dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.

  b) Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yag sama melalui sumber yang berbeda. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan teknik informan purposive atau snowball.

  c) Triangulasi waktu, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama tetapi pada berbagai kesempatan misalnya, pada waktu pagi, siang, atau sore hari. Dengan triangulasi data tersebut, maka dapat diketahui apakah informan/narasumber memberikan data yang sama atau tidak. Jika informan/narasumber memberikan data yang berbeda makan berarti datanya belum valid. Namun dalam penelitian ini peneliti

  menggunakan triangulasi sumber.

  7. Penyimpulan akhir Kesimpulan akhir diambil ketika peneliti sudah merasa bahwa data peneliti sudah jenuh (saturated) dan setiap penambahan data hanya berarti ketumpang tindihan (redundant). Langkah-langkah dalam melakukan analisis data secara lebih jelas dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut yaitu:

Gambar 3.1 Komponen-Komponen Analisis Data Model Prasetya Irawan

  Sumber: (Irawan, 2005:5)

3.8 Pengujian Keabsahan Data

  Dalam penelitian kualitatif dikenal uji keabsahan data. Adapun dalam penelitian ini, untuk pengujian keabsahan datanya dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi. Menurut Irawan (2006:5.34), ada tiga teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Adapun pada penelitian ini, teknik triangulasi yang peneliti gunakan adalah teknik triangulasi sumber. Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh dari beberapa sumber melalui hasil wawancara atau disebut juga dengan mewawancarai lebih dari satu informan yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda.

3.9 Jadwal Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Adapun waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan September 2015 sampai dengan bulan Oktober 2016, dengan jadual sebagai berikut :

Tabel 3.3 Waktu Pelaksanaan Penelitian Tahun 2015 Tahun 2016 Ta hun N

  201 Kegiatan 7 o N J F A

  

O D Mr M J A

Okt No Des Jan

Sep o a e p Jun Sep

kt es t ei ul gs

v n b r v

  Pengajuan Judul 1. Penelitian

  2. Penelitian Awal

  3. Penyusunan Proposal Proses 3.

  Pencarian Data di Lapangan

  4. Penyerahan Proposal

  5. Ujian Proposal

  6. Perbaikan Proposal

  7. Penelitian Lapangan

  8. Pengolahan Data Penyusunan Laporan 9.

  Penelitian dan Bimbingan

  10 Sidang Skripsi

11 Revisi Skripsi

  Sumber : Peneliti (2016)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian

  4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Lebak Kabupaten Lebak adalah sebuah

  Ibukotanya adalah Rangkasbitung. Kabupaten Lebak terdiri atas 28 Jumlah penduduk Kabupaten Lebak adalah 1.233.905 jiwa

  2 dengan jumlah kepadatan penduduknya 405,26 jiwa/km .

  Batas wilayah Kabupaten Lebak terdiri dari: 1) Sebelah Utara : Kabupaten Serang dan Tangerang 2) Sebelah Selatan : Samudera Indonesia 3) Sebelah Barat : Kabupaten Pandeglang 4) Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi

  Secara geografis wilayah Kabupaten Lebak berada pada 105 25' - 106 30 BT dan 6 18' - 7 00' LS. Bagian utara kabupaten ini berupa dataran rendah, sedang di bagian selatan merupakan pegunungan, dengan puncaknya ngalir ke arah utara, merupakan sungai terpanjang di Banten.

  4.1.2 Gambaran Umum PT.Perkeretaapian Indonesia

  Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA di desa Kemijen, Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

  Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh de-ngan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.

  Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

  Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 Km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang Iebih 901 Km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana.

  Jenis jalan rel KA di Indonesia semula dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm (di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 Km, sedangkan jalan KA yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 Km antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro - Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang mempekerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro- Pekanbaru.

  Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamir-kan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasa-an perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945. Pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September diperbolehkan campur tangan lagi urusan perkeretaapi-an di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

  4.1.3 Gambaran Umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terletak di Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Stasiun Kereta Api Rangkasbitung merupakan satu-satunya Stasiun besar di Provinsi Banten. Pada masa jayanya, stasiun ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Banten, dimana pembangunan stasiun ini ditujukan guna keperluan sarana transportasi untuk mendukung Kota Rangkasbitung sebagai kota industri di Banten saat itu yang berbasis perkebunan. Dan Stasiun Kereta Api di Rangkasbitung pertama kali dibuka pengoperasiannya pada tanggal 1 Juli 1900.

  Di Stasiun ini juga terdapat Dipo Lokomotif yang menyimpan gerbong Kereta Api Langsam, Rangkas Jaya, serta Banten Ekspres dan lokomotif jenis BB304 dan CC201 yang didatangkan dari Dipo lokomotif Jatinegara dan Dipo lokomotif Tanah Abang. Dulu terdapat Jalur kereta api menuju Labuan melewati Pandeglang. Jalur ini juga mempunyai cabang di Saketi menuju Bayah. Tetapi saat ini jalur yang sangat bersejarah tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Untuk saat ini perubahan yang terjadi dimana akan dibuat KRL di Stasiun KA Rangkasbitung menuju Jakarta.

  Di setiap stasiun terdapat petugas stasiun yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengelola jalannya sistem perkeretaapian yang ada di stasiun. Struktur Organisasi Petugas Stasiun Kereta Api Rangkasbitung peneliti paparkan dengan menggunakan gambar di bawah ini.

  Strukur Organisasi Stasiun Besar Rangkasbitung Gambar 4.1

  Struktur Organisasi Stasiun Kereta Api Rangkasbitung Sumber : Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  Struktur Organisasi Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, terdiri dari:

  1. Kepala Stasiun Besar Rangkasbitung : Andri

  2. Wakil Stasiun Besar Rangkasbitung : Oya Santika

  3. Kepala Sub Urusan Perka dan Administrasi : Nurdiansyah

  a. PPKA : Maman Suparman Ilman Al hakim Eka heryanto

  Mulyana Gumilar Asep Riyatman Nur Adi Sasongko Mamik Sudrajat Very Hidayat Adli Ihsan Abdurrohman Nandang Mulyadi Agus Dwi Purnomo

  c. PJL : Zahrul Rofiqi Andri Kosasih Hendri Muhamad Ahmad Suheli Saepulloh Herdiansyah Ikhtiyar Indra S M Rido Nuryadi Suma r’ih Aep Pranyoto

  d. PJW : Aman Suherman Subi

  4. Kepala Sub Urusan Pelayanan Stasiun : Supriyatin a. Mandor : Ulung

  5. Kepala Sub Urusan Keamanan dan Ketertiban : Dulfatah

  a. PKD : M Saepudin Sardi Tb Mulyadi Riza N Dede S M Toni Zainal M Muji B Andri WK Ribut S Holil Arianto Ali Supriyatna Romdoni Yudhi K A Juhri Hariri Dede M Andri Juanda

  Ade Supriyadi Moh Saepulloh Topik Andriyansyah

  6. Kepala Sub Urusan Komersil : Rini Cahyati

  a. Loket : Frandias Prayugo Faisal R Yondi A Aris Dwi C Ikhsan M Vivi Andini

  Tatu Melawati Diah Halimatusadiah Taufik

  Denda Tugas pokok menurut struktur jabatan dalam susunan organisasi Stasiun Besar

  Kereta Api Rangkasbitung adalah sebagai berikut:

  1. Kepala Stasiun Besar Rangkasbitung 1) Kepala stasiun mempunyai kewajiban dan tanggung jawab di stasiunnya sebagai berikut. a. Melaksanakan pengawasan kegiatan operasi kereta api dan menjamin keselamatan, ketertiban, serta kelancaran dalam kegiatan operasi kereta api.

  b. Kepala stasiun wajib memimpin langsung pengaturan urusan perjalanan kereta api di stasiunnya apabila :

  1. Terjadi kekusutan hebat perjalanan kereta api.

  2. Pada waktu ada angkutan penting, misalnya, angkkutan Presiden/Wakil Presiden, atau pejabat tinggi negara melakukan perjalanan resmi dengan menggunakan kereta api.

  3. Saat direksi, atau pimpinan daerah melakukan inspeksi dengan menggunakan kereta api.

  4. Di suatu stasiun tidak terdapat seorang pegawai yang ditugaskan sebagai pengatur perjalanan kereta api.

  c. Menjamin Ketersediaan tiket, kelancaran penjualan tiket, dan ketertiban administrasinya.

  d. Menjamin keamanan dan ketertiban stasiun.

  e. Menjamin kemudahan, kenyamanan, dan kejelasan informasi bagi pengguna jasa angkutan kereta api.

  f. Menjamin kebersihan stasiun dan kebersihan rangkaian kereta api yang menjadi tanggung jawabnya. g. Di tempat kedudukannya kepala stasiun mewakili pimpinan daerah dengan pihak eksternal dan berkewajiban berusdaha untuk memajukan perusdahaan di stasiunnya.

  h. Menjalankan bagian dari kegiatan administrasi keuangan stasiun sampai penyetoiran uang hasil penjualan ke JKepala

  sub urusan pendapatan, kecuali untuk stasiun yang tidak

  ditunjuk Kepala sub urusan pendapatan , kepala stasiun menjalankan seluruh kegiatan administrasi keuangan stasiun. i. Mengoordinasikan seluruh kegiatan unit pelaksanaa teknis di lingkungan stasiun. j. Membuat buku peraturan stasiun, melakukan penyesuaian isi buku peraturan stasiun setiap terjadi perubahan data, serta meminta pengesahan dari JPOD. 2) Selama stasiun buka, kepala stasiun tidak boleh meninggalkan stasiun, kecuali apabila kepergiannya tidak mengganggu atau menghambat jalannya pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana (1) dan telah menunjuk pejabat yang mewakili.

  3) Semua kegiatan di stasiun menjadi tanggung jawab kepala stasiun dan apabila kepadanya diperbantukan wakil kepala stasiun maka sebagian tanggung jawabnya dapat didelgasikan kepada wakil kepala stasiun termasuk tanggung jawab segaimana ayat (!) huruf b.

  4) Apabila kepala stasiun sakit atau melaksanakan tugas kedinasan di luar stasiun, wakil kepalas stasiun menjalankan tugas dan kewajiban sebagai kepala stasiun secara penuh sebagiamanan pada ayat (1). 5) Apabilan kepala stasiun dan wakil kepala stasiun sakit, atau melaksanakan tugas kedinasan di luar stasiun maka secara bergiliran kepala sub urusan yang memiliki sertifikat pengatur perjalanan kereta api ditunjuk sebagai perjabat yang mewakili.

  6) Di stasiun yang tidak ditunjuk wakil kepala stasiun dan kepala sub urusan, apabila kepala stasiun berhalangan dinas, pegwai yang memiliki sertifikat kecakapan pengatur perjalanan kereta api ditunjuk sebagai pejabat yang mewakili.

  7) Untuk melaksanakan pekerjaan sebagai pejabat yang ditunjuk mewakili kepala stasiun, berpedoman pada buku “peraturan stasiun” (periksa lampiran) yang tersedia di stasiun.

  8) Apabila terdapat perubahan data isi dalam buku peraturan stasiun, kepala stasiun/wakil kepala stasiun harus melakukan penyesuaian isi buku peraturan stasiun terhadap adanya perubahan isi dan meminta pengeshanan dari JPOD yang bersangkutan.

  2. Wakil Stasiun Besar Rangkasbitung Wakil kepala stasiun berkewajiban dari tanggung jawab atas sebagian kewajiban dan tanggung jawab kepala stasiun yang didelagasikan kepadanya dan ditetapkan atas kesepakatan bersama antara kepala stasiundan wakil kepala stasiun dan diketahui serta disetujui oleh JPOD.

  3. Kepala Sub urusan Perka dan Administrasi Kepala sub urusan perjalanan kereta api dan administasi berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan administasi perjalanan kereta api (perka), administrasi stasiun, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan standar operasi prosedur di stasiun, melaksanakan pembinaan terhadap petugas PPKA Pap, PJL, JLR, JRS, petugas pengawas emplasemen stasiun serta petugas yang melaksanakan administasi perjalanan kereta api di bawah tanggung jawabnya.

  4. Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun Kepala sub urusan pelayanan di stasiun dan di kereta api berkewajiban dan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap kebersihan stasiun dan kebersihan rangkaian kereta api di stasiun yang menjadi tanggung jawabnya.

  5. Kepala Sub urusan Keamanan dan Ketertiban Kepala sub urusan keamanan dan ketertiban stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap keamanan dan ketertiban penumpang, barang dan aset perusahaan di lingkungan stasiun di bawah tanggung jawabnya.

  6. Kepala Sub urusan Komersil

  7. Kepala sub urusan pelayanan komersil stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pelayanan terhadap announcemen porter, pergudangan, angkutan hantaran, customer service dan loket dibawah tanggung jawabnya.

4.2 Deskripsi Data

4.2.1 Deskripsi Data Penelitian

  Deskripsi data penelitian merupakan penjelasan mengenai data yang telah peneliti dapatkan dari hasil observasi yang dilakukan selama proses penelitian berlangsung. Dalam penelitian mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung , peneliti menggunakan teori Fungsi-fungsi Manajemen dari George R. Terry G.R. Terry (2008: 17) menjelaskan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut: a) Planning (perencanaan).

  Perencanaan ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan.

  Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk

  pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.

  b) Organization (pengorganisasian).

  Pengorganisasian mencakup (a) membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ke dalam kelompok- kelompok. (b) membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokkan tersebut.menetapkan (c) wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi. Didalam setiap kejadian, pengorganisasian melahirkan peranan kerja dalam struktur formal dan dirancang untuk memungkinkan manusia bekerja sama secara efektif guna mencapai tujuan. c) Actuating (pengarahan).

  Actuating atau disebut juga

  “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai. Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari pegawai-pegawainya, memberi penghargaan, memimpin, mengembangkan dan memberi kompensasi kepada mereka.

  d) controlling (pengontrolan).

  Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah

  kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan dievaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Ada berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah rencana dan bahkan tujuannya, mengatur kembali tugas-tugas atau merubah wewenang, tetapi seluruh perubahan tersebut dilakukan melalui manusianya. Orang yang bertanggung jawab atas penyimpangan yang tidak diinginkan itu harus dicari dan mengambil langkah-langkah perbaikan terhadap hal-hal yang sudah atau akan dilaksanakan.

  Adapun data yang peneliti dapatkan lebih banyak berupa kata-kata dan kalimat yang berasal baik dari hasil wawancara dengan informan penelitian, hasil observasi di lapangan, catatan lapangan penelitian atau hasil dokumentasi lainnya yang relevan dengan fokus penelitian ini. Proses pencarian dan pengumpulan data dilakukan peneliti secara investigasi, peneliti melakukan wawancara kepada sejumlah informan yang berkaitan dengan masalah penelitian sehingga informasi yang didapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Informan sudah ditentukan dari awal karena peneliti menggunakan teknik purposive.

  Data yang peneliti dapatkan merupakan data yang berkaitan mengenai manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi lapangan, dan kajian pustaka kemudian kode pada aspek-aspek tertentu berdasarkan jawaban-jawaban yang sama dan berkaitan dengan pembahasan permasalahan penelitian serta dilakukan kategorisasi. Dalam menyusun jawaban penelitian, penulis memberikan kode-kode yaitu sebagai berikut:

  1. Kode Q untuk menunjukkan item pertanyaan,

  2. Kode A untuk menunjukkan item jawaban,

  3. Kode I 1-1 , menunjukkan informan dari Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  4. Kode I 1-2 , menunjukkan informan dari Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  5. Kode I 1-3 , menunjukkan informan dari Kepala Sub urusan Keamanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

  6. Kode I , menunjukkan informan dari Ketua Kebersihan Stasiun Kereta Api

  1-4 Rangkasbitung.

  7. Kode I , menunjukkan informan dari Penumpang 1.

  2-1 8. Kode I 2-2 , menunjukkan informan dari Penumpang 2.

  9. Kode I 2-3 , menunjukkan informan dari Penumpang 3.

  10. Kode I , menunjukkan informan dari Penumpang 4.

  2-4 11. Kode I 2-5 , menunjukkan informan dari Penumpang 5.

  12. Kode I , menunjukkan informan dari Penumpang 6.

  2-6 13. Kode I 2-7 , menunjukkan informan dari Penumpang 7.

  14. Kode I 2-8 , menunjukkan informan dari Penumpang 8.

  15. Kode I , menunjukkan informan dari Penumpang 9.

  2-9

  16. Kode I 2-10 , menunjukkan informan dari Penumpang 10.

  17. Kode I 2-11 , menunjukkan informan dari Penumpang 11. Setelah memberikan kode pada aspek tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian sehingga polanya ditemukan, maka dilakukan kategorisasi berdasarkan jawaban-jawaban yang ditemukan dari penelitian dilapangan dengan membaca dan menelaah jawaban-jawaban tersebut. Analisa data yang akan dilakukan dalam penelitian ini menggunakan beberapa kategori dengan beberapa dimensi yang di anggap sesuai dengan permasalahan penelitian dan kerangka teori yang telah diuraikan sebelumnya.

  Dimensi tersebut mengacu pada teori manajemen G.R. Terry (2008: 17).

4.2.2 Deskripsi Informan Penelitian

  Pada penelitian mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, peneliti menggunakan teknik purposive. Teknik purposive merupakan metode penentuan informan dengan berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu disesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan. Adapun informan-infoman yang peneliti tentukan, merupakan orang-orang yang menurut peneliti memiliki informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, karena mereka (informan) dalam kesehariannya senantiasa berurusan dengan permasalahan yang sedang diteliti.

  Informan dalam penelitian ini adalah pengelola fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung seperti Kepala KA Rangkasbitung, Kepala sub urusan Pelayanan Stasiun, Kepala sub urusan Keamanan Stasiun, dan Ketua kebersihan stasiun kereta api Rangkasbitung. Untuk keabsahan data dan untuk dapat menggali secara mendalam mengenai penelitian ini maka peneliti pun mengambil informan dari pihak penumpang/pengguna jasa kereta api Rangkasbitung. Adapun informan yang bersedia untuk diwawancari adalah:

Tabel 4.1 Daftar Informan

  2-8

  9 I

  2-5

  Sri Rahayu Penumpang Kereta Api

  10 I 2-6 Wulan Penumpang Kereta Api

  11 I 2-7 Iwan Penumpang Kereta Api

  12 I

  Aldi Penumpang Kereta Api

  8 I 2-4 Sam ’un

  13 I 2-9 Yani Penumpang Kereta Api

  14 I

  2-10

  Rahmat Penumpang Kereta Api

  15 I

  2-11

  Penumpang Kereta Api

  7 I 2-3 Wahyu Penumpang Kereta Api

  No Kode Informan Nama Informan Keterangan

  Junior Sub urusan Pelayanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  1 I

  1-1

  Bapak Andri Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  2 I

  1-2

  Bapak Supriyatin

  3 I 1-3 Bapak Dulfatah

  Intan Penumpang Kereta Api

  Junior Sub urusan Keamanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  4 I 1-4 Bapak Ulung Ketua Kebersihan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  5 I

  2-1

  Munah Penumpang Kereta Api

  6 I

  2-2

  Syifa Penumpang Kereta Api Sumber: Peneliti (2016)

4.2.3 Analisis Data

  4.2.3.1 Pengumpulan Data Mentah

  Tahap awal dalam analisis data adalah pengumpulan data mentah mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Pada tahap ini pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi, review dokumentasi atau pengumpulan data melalui kajian pustakan, dan studi dokumentasi. Hal ini dilakukan agar data yang didapat valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

  4.2.3.2 Transkip Data

  Tahap yang kedua dalam analisis data adalah transkip data mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Pada tahap ini peneliti menyederhanakan data dalam kategori. Pada tahap ini, peneliti merubah catatan dalam bentuk tulisan (apakah itu berasal dari tape recorder atau catatan tulisan tangan). Peneliti ketik persis seperti apa adanya (verbatim). Adapun transkip data dalam penelitian ini, peneliti sajikan dalam daftar lampiran penelitian.

  4.2.3.3 Koding Data

  Tahap yang ketiga dalam analisis data adalah koding data dari data -data yang telah peneliti dapatkan dari berbagai sumber mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Pada tahap ini, peneliti membaca ulang seluruh data yang sudah ditranskip. Pada bagian-bagian tertentu dari transkip data tersebut akan menemukan hal-hal penting yang perlu peneliti catat untuk proses selanjutnya. Dari hal- hal penting tersebut nanti akan diberi kode. Adapun proses pengkodingan data dalam penelitian ini, peneliti sajikan dalam daftar lampiran penelitian.

4.2.3.4 Kategorisasi Data

  Tahap selanjutnya dari analisis data adalah kategorisasi data terhadap data -data yang peneliti dapatkan mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Pada tahap ini peneliti mulai menyederhanakan data dengan cara “mengikat” konsep-konsep (kata-kata) kunci dalam satu besaran yang dinamakan “kategori”. Adapun tabel kategorisasi data disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Kategorisasi Data

  No Kategori Rincian Kategori Planning (perencanaan)

  a. Merumuskan kegiatan atau hal di masa

  1

  mendatang

  b. Mengestimasi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang direncanakan c. Menentukan dasar hukum yang digunakan

  d. Memaparkan hambatan dalam melakukan manajemen fasilitas umum Organizing

  a. Menjelaskan pihak

  • –pihak yang bertanggung

  2

  (pengorganisasian) jawab mengelola fasilitas umum

  b. Mekanisme pembagian tugas

  c. Mekanisme pembagian ruangan

  d. Mengetahui kelemahan dalam manajemen

fasum

e. Mengetahui perubahan yang telah dilakukan dalam manajemen fasum

  Actuatting (pengarahan)

  a. Pengadaan Pengarahan/rapat pegawai stasiun

  3

  b. Mengetahui waktu yang dilakukan untuk pengarahan c. Menganalisis kesesuaian manajemen fasilitas umum dengan SOP

  Controlling (pengontrolan)

a. Pengontrolan manajemen fasilitas umum

  4

  b. Mengetahui Pihak yang berwenang melakukan pengontrolan c. Mengetahui upaya yang dilakukan untuk memperbaiki fasilitas umum yang rusak

d. Keberhasilan manajemen fasilitas umum

  Sumber: Peneliti, 2016 Penelitian mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api

  Rangkasbitung, pada tahap ini peneliti mengambil kesimpulan meskipun masih bersifat sementara. Kesimpulan ini 100% harus berdasarkan data dan data yang didapatkan tidak dicampuradukkan dengan pikiran dan penafsiran peneliti. Pada penyimpulan sementara ini dimaksudkan untuk mengetahui sah atau valid tidaknya suatu data dan sebagai tolak ukur sejauh mana data didapat untuk menjawab rumusan masalah yang nantinya data tersebut akan di uji kembali atau triangulasi data.

  Pada penelitian ini, peneliti membuat identifikasi masalah berdasarkan observasi awal di lapangan. Pertama, tidak adanya lahan parkir untuk pengguna jasa kereta api.

  Peneliti melihat bahwa Tidak adanya lahan parkir di stasiun kereta api Rangkasbitung karena letak stasiun yang ada di sekitar pasar dan dengan keadaan tersebut menyebabkan tidak adanya lahan untuk parkir di stasiun tersebut sehingga menimbulkan kemacetan di sekitar area stasiun. Peneliti menilai bahwa hal ini merupakan salah satu masalah yang ada pada kurangnya perencanaan dari pihak pengelola Stasiun Rangkasbitung. Dalam pandangan peneliti, parkir merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan penumpang agar dapat menyimpan kendaraannya dan terjaga dengan baik, namun pada kenyataannya lahan parkir di Stasiun KA Rangkasbitung tidak ada untuk penumpang, hanya untuk pegawai Stasiunnya saja.

  Kedua, tidak adanya permisahan ruangan, yaitu ruang tunggu kereta untuk penumpang yang sudah memiliki tiket atau belum dan penumpang yang akan naik kereta. Dalam observasi awal yang telah peneliti lakukan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, ada beberapa kekurangan yang peneliti lihat dari segi pembagian ruangan di Stasiun atau yang disebut sebagai ring1, ring 2, dan ring 3.

  Ketiga, tidak adanya ruangan untuk ibu menyusui serta fasilitas untuk penyandang difable. Menurut penilaian peneliti, hal ini sangat ironis karena Stasiun KA Rangkasbitung merupakan Stasiun besar tetapi untuk ruangan dan fasilitas penyandang difable saja tidak ada. Kemudian dalam pandangan peneliti, jalan yang rusak ini menyiratkan bahwa pengelola Stasiun Kereta Api Rangkasbitung kurang memperhatikan kenyamanan penumpang yang memiliki bayi serta penumpang yang keterbatasan fisik.

  Keempat, mushola yang kurang luas atau sempit. Dimana tidak adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan serta tidak adanya pendingin ruangan.

  Peneliti menilai bahwa musholla yang ada belum menunjang kenyamanan bagi penumpang. Dimana musholla merupakan salah satu fasilitas yang sering digunakan oleh penumpang untuk menunaikan ibadah sholat ditengah-tengah menunggu kereta api yang akan mereka gunakan.

  Kelima, tidak adanya CCTV untuk memantau keadaan sekitar stasiun. Dari observasi awal, peneliti tidak melihat adanya CCTV di area sekitar Stasiun, padahal CCTV merupakan fasilitas yang penting demi keamanan penumpang disamping adanya petugas-petugas yang berjaga, karena dengan adanya CCTV dapat memantau keadaan di area Stasiun.

  Adapun berdasarkan kategorisasi data yang telah disajikan diatas dengan mengacu pada teori fungsi manajemen dari George R. Terry, peneliti dapat mengambil penyimpulan sementara bahwa Pengelola fasilitas umum Stasiun Kereta Api Rangkasbitung kurang begitu memperhatikan kondisi fisik dari sarana prasarana dalam lingkungan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

4.2.3.5 Triangulasi

  Penelitian mengenai Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, mempunyai tujuan yang substansial. Tujuan subtansial dari penelitian ini adalah menjawab rumusan masalah yang telah dibuat oleh peneliti pada awal penelitian. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu

  ”Bagaimana Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  ?” Dalam menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, dapat dilihat dari hasil wawancara informan serta kondisi lingkungan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Hal tersebut menjadi acuan peneliti untuk mengetahui Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Untuk menjawab rumusan masalah penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data dengan teknik triangulasi. Terdapat tiga cara dalam melakukan triangulasi, akan tetapi peneliti hanya menggunakan dua teknik triangulasi yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Pada tahap triangulasi teknik data, peneliti melakukan wawancara dan dibuktikan dengan pengamatan atau observasi untuk membuktikan apakah pernyataan informan tersebut sesuai dengan keadaan staiun sebenarnya atau tidak. Pada tahap triangulasi sumber data, peneliti menanyakan kembali apa yang menjadi rumusan masalah peneliti dengan sumber (informan) yang berbeda, yaitu Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, Kepala sub urusan Keamanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, Kepala sub urusan Pelayanan, Leader Kebersihan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, serta Penumpang Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

  Deskripsi hasil penelitian ini merupakan data dan fakta yang peneliti dapatkan langsung dari lapangan serta disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan.

  Untuk mengetahui bagaimana Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, peneliti menggunakan teori Fungsi-fungsi Manajemen dari George R.

  Terry G.R. Terry (2008: 17) menjelaskan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut:

4.3.1 Planning (Perencanaan)

  Kegiatan awal yang dilakukan dalam manajemen fasilitas umum di stasiun kereta api rangkasbitung adalah perencanaan. Dalam merencanakan sistem manajemen fasilitas umum kita tidak boleh secara asal merencanakannya, tetapi ada prosedur yang harus kita pahami dan kita jalani. Kita harus melihat dulu kondisi yang ada di stasiun sekarang bagaimana keadaan bangunan dan ruangan-ruangan yang ada, perbandingan antara jumlah penumpang dengan keadaan tempat dan fasilitas yang ada.

  Semua kegiatan dan tindakan manajerial didasarkan atau disesuaikan dengan rencana yang sudah ditetapkan. Rencana menentukan ke mana organisasi dan kegiatan- kegiatannya akan diarahkan atau direncanakan. Ini berarti atau maksud dari tiap rencana dan semua rencana adalah membantu pencapaian tujuan organisasi.perencanaan mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif- alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.

  Dalam penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana manajemen fasilitas umum perencanaan di stasiun Rangkasbitung. Karena peneliti menilai bahwa manajemen fasilitas umum di suatu organisai dapat dinilai dengan salah satu aspeknya adalah rencana apa saja yang sudah dibuat.

  Dalam hal manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung pihak yang merencanakan adanya pengadaan dan melakukan permeriksaan serta pemeliharaan fasilitas yaitu sub urusan pelayanan yang berkoordinasi dengan ketua kebersihan, walaupun yang sebenarnya bertanggung jawab penuh adalah kepala stasiun dan yang akan merealisasikan adalah langsung dari pihak pusat (stasiun Cikini). Sehingga menyebabkan realisasi pengadaan fasilitas umum menjadi lama.

  Di stasiun Rangkasbitung kondisi ruangan-ruangan yang ada belum banyak mengalami perubahan seperti saat ini belum adanya ruang tunggu penumpang, ruang ibu menyusui, dan musholla yang masih sempit dan belum diperluas. Selain itu jika dilihat dari segi bangunannya pun tidak mengalami banyak perubahan karena stasiun Rangkasbitung merupakan cagar budaya yang bentuk bangunannya tidak bisa dirubah total hanya dapat diperindah saja seperti dicat ulang, dan memperbaiki dari segi tembok dan lantai.

  Untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang telah dipaparkan diatas, ada beberapa perencanaan yang telah dibuat untuk kemajuan fasilitas umum, dimana yaitu akan adanya ruang tunggu penumpang, bukan hanya di peron saja, rencana untuk parkir, untuk perubahan toilet dimana akan ada toilet untuk difable dan ruang ibu menyusui. Hal ini peneliti dapatkan dari pernyataan Kepala stasiun yang berpendapat bahwa:

  Perbaikan toilet, hole untuk ruang tunggu, peron, ada rencana untuk

  perubahan walaupun saat ini belum ada ruang khusus ibu menyusui dan untuk parkir juga akan diadakan untuk kedepannya ” ( Bapak Andri KSB

  Rangkasbitung pada tanggal 19 September 2016, pukul 10.30 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung). Selain pernyataan dari KSB, peneliti juga menilai ini dari pernyataan bagian pelayanan yang menyatakan bahwa:

  “Pembongkaran rel untuk adanya KRL, kemungkinan adanya CCTV, perubahan musholla, ruang ibu menyusui, untuk toilet pria akan ada urinoir dan westafle untuk toilet perempuan, ruang tunggu penumpang, pengatur suhu, peron yang kurang tinggi akan di naikan kembali, selain itu sudah ada rencana untuk pembuatan parkiran.

  ” (Bapak Supriyatin Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun Rangkasbitung pada tanggal 19 September 2016, pukul 11.17 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung).

  Dari pernyataan beberapa informan yang telah peneliti wawancarai, akan ada rencana perbaikan dan penambahan fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung dimana salah satunya adalah akan adanya hole atau tempat terpisah untuk ruang tunggu penumpang, dan akan adanya lahan parkir. Namun ada perbedaan pendapat dari waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan hal-hal yang sudah direncanakan seperti untuk pembuatan ruang tunggu, ruang ibu menyusui, perluasan musholla dan pemasangan CCTV yang telah diajukan sejak lama dan terus diusahan sampai 1 tahun terakhir.

  Hal ini peneliti dapatkan dari hasil wawancara KSB berpendapat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan rencana yang telah dibuat yaitu : “1 semester (6 bulan)

  .” (wawancara dengan Bapak Andri KSB Rangkasbitung pada tanggal 19 September 2016, pukul 10.30 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung). Berbeda dengan pernyataan kepala sub urusan pelayanan yang menyebutkan waktu untuk mengimplementasikan rencana-rencana perbaikan fasilitas umum di stasiun bahwa :

  “Rencana sudah ada dari tahun kemarin dan sudah diajukan tetapi untuk waktunya saya tidak tahu karena itu kewenangan pusat .” (wawancara dengan Bapak Supriyatin Kepala Sub urusan Pelayanan, pada tanggal 19

  September 2016 pukul 11.17 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung). Berdasarkan wawancara diatas menunjukkan bahwa perencanaan fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung belum optimal karena masih ada beberapa fasilitas yang belum terpenuhi dan belum memadai walaupun menurut kepala sub urusan pelayanan sudah mengajukan rencana yang telah dibuat tetapi kepala stasiun sendiri tidak mengatakan hal yang sama padahal menurutnya waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementaasikan rencana tersebut hanya butuh 6 bulan tetapi nyatanya belum terlaksana.

  Belum terealisasikannya beberapa pengadaan fasilitas di stasiun Rangkasbitung dikarenakan kewenangan pengadaan fasilitas umum ada di pusat (stasiun Cikini) dan pihak stasiun Rangkasbitung hanya mencatat fasilitas apa saja yang harus diperbaiki dan diadakan, selain itu tidak adanya penanggung jawab khusus yang menangani masalah fasilitas umum seperti bagian umum. Dimana mekanisme untuk melakukan pengadaan fasilitas bagi penumpang dimulai dari bagian pelayanan melakukan pencatatan laporan fasilitas apa saja yang belum ada dan dibutuhkan, kemudian dikoordinasikan dengan kepala dan wakil stasiun yang kemudian diajukan ke pusat (stasiun Cikini) setelah itu tindakan pengadaan dilakukan langsung oleh pusat dan jika belum terealisasi, pihak stasiun Rangkasbitung hanya bisa terus melakukan koordinasi dan menanyakan kapan pengadaan fasilitas tersebut akan diberikan. Maka seharusnya perencanaan untuk fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung dibuat dengan matang dengan adanya kewenangan sendiri untuk melakukan pengadaan fasilitas sehingga dapat cepat terlaksana karena stasiun Rangkasbitung merupakan stasiun kelas besar yang seharusnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan memadai sesuai dengan standar pelayanan minimum yang ada.

  Pada dasarnya, perubahan diperlukan dalam suatu organisasi terutama perubahan fasilitas umum dimana organisasi yang menyediakan pelayanan bagi masyarakat maka semua yang dibutuhkan oleh masayarakat dapat terpenuhi. Dalam hal ini pelayanan yang dilakukan oleh stasiun kepada penumpang, dimana kenyamanan penumpang menjadi prioritas dan kenyamanan tersebut bisa didapatkan salah satunya dengan pemenuhan kebutuhan fasilitas umum di stasiun. Ada beberapa fasilitas yang dibutuhkan oleh penumpang yang saat ini masih kurang baik . Hal tersebut peneliti dapatkan dari hasil wawancara penumpang yang berpendapat bahwa :

  “Tidak disediakan ruang tunggu setelah membeli tiket, hanya ada ruang tunggu peron untuk hari-hari tertentu yang penumpangnya banyak kekurangan tempat duduk, kadang tidak nyaman karena panas,selain itu untuk parkiran tidak tersedia parkir.

  ”( Wawancara dengan penumpang Wahyu, tanggal 19 September 2016 pukul 14.40 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Hal tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang penumpang yang berpendapat bahwa :

  Sudah cukup untuk hari-hari biasa, tetapi untuk saat mudik kekurangan,

  (Wawancara dengan penumpang Sri Rahayu, tanggal 21 September 2016 pukul 11.30 WIB di stasiun Rangkasbitung). Hal tersebut senada dengan yang disebutkan oleh salah satu penumpang yang berkata bahwa: “Tidak ada lahan parkir, hanya ada tukang ojek dan becak. Harus diadakan lahan parkir setidaknya 300meter karena jumlah kendaraan lumayan banyak kira-kira 50 kendaraan yang ada disekitar stasiun karena terbatas jadi sebagian pengguna kereta parkir ditempat lain

  ” (wawancara dengan penumpang Syifa, tanggal 21 September 2016 pukul 13.56 WIB di Stasiun).

  Namun berbeda pendapat dengan bagian pelayanan yang berpendapat bahwa : “Untuk pengadaan dan luas parkiran itu saya tidak tahu karena tergantung dari pusat, dan untuk jumlah kendaraan yang parkir tidak bisa diprediksi mungkin disekitar stasiun 100 unit motor karena kendaraan lalu lalang dan berganti tidak terus menetap ”.

  (Wawancara dengan Bapak Supriyatin Kepala Sub Urusan Pelayanan, tanggal 30 November 2016 di Stasiun).

  Selain itu ada beberapa fasilitas yang belum ada di stasiun dan dibutuhkan oleh penumpang. Seperti tidak adanya CCTV, jalan untuk penyandang difable dan ruang khusus ibu menyusui. Hal tersebut dibenarkan oleh penumpang yang berkata bahwa : “Penting adanya CCTV untuk merekam kejadian di stasiun. Beliau juga berpendapat bahwa :

  “perlu jalan khusus penyandang difable. Penting, karena sewaktu-waktu pasti ada penumpang difable. Selain itu harus ada ruang ibu menyusui, karena agar menutup aurat ibu yang sedang menyusui.

  ” (wawancara dengan penumpang Iwan tanggal 21 September 2016 pukul 12.15 WIB di Stasiun). Hal tersebut senada dengan yang dikatakan oleh penumpang Bapak Yani bahwa : “Menurut saya dibutuhkan CCTV, karena takut ada kejadian-kejadian tak diduga.Beliau juga mengatakan bahwa

  “Ruang ibu menyusui itu perlu, karena tempat umum jadi harus ada ruang khusus ibu dan bayi .”

  (wawancara dengan penumpang Yani tanggal 21 September 2016 pukul 12.50 WIB di Stasiun). Namun disamping beberapa kekurangan fasilitas umumdi stasiun Rangkasbitung tetapi masih ada beberapa fasilitas yang sudah mengalami kemajuan dan dirasakan oleh penumpang seperti ruang boarding dan toilet yang sudah cukup nyaman. Hal tersebut disampaikan oleh penumpang yang beranggapan bahwa :

  “Sudah cukup baik, standar. Untuk toilet sudah cukup baik dan memadai, serta bersih.

  ” (wawancara dengan penumpang Wulan tanggal 21 September 2016 pukul 11.52 WIB di Stasiun).

  Hal tersebut juga dibenarkan oleh penumpang yang berpendapat bahwa “Ruang boarding sudah cukup untuk masuk ke stasiun., dan untuk toilet Sudah cukup bersih.

  ” (wawancara dengan penumpang Rahmat tanggal 21 September 2016 pukul 13.18 WIB di Stasiun).

  Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dilihat penumpang sendiri beranggapan bahwa beberapa fasilitas yang ada belum cukup baik dan penumpang pun tidak merasa nyaman dengan keadan fasilitas yang tersedia di stasiun, dan masih ada beberapa fasilitas yang tidak ada di stasiun padahal dibutuhkan oleh penumpang. Tetapi masih ada beberapa fasilitas yang sudah mengalami perubahan menjadi lebih baik walaupun belum sepenuhnya memadai tapi sudah cukup untuk beberapa penumpang.

4.3.2 Organizing (Pengorganisasian)

  Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen yang tidak lepas dari sebuah organisasi. Dimana dalam setiap kejadian, pengorganisasian melahirkan peranan kerja dalam struktur formal dan dirancang untuk memungkinkan manusia bekerja sama secara efektif guna mencapai tujuan organisasi mencakup kegiatan : a) membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ke dalam kelompok-kelompok.

  b) membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokkan tersebut.

  c) menetapkan wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi.

  Pengorganisasian yang dilakukan dimana membuat jadwal untuk melakukan rapat atau pertemuan 1 atau 2 minggu sekali yang membahas mengenai apa saja yang akan dilakukan Pihak yang melaksakan pengorganisasian tersebut ialah mulai dari kepala stasiun, wakil kepala stasiun, kepala sub urusan sampai pada pegawai

  . Hal tersebut dilakukan agar setiap pegawai yang sudah diberikan tugas

  outsorching

  atau wewenang dapat melaksanakan dengan baik sehingga rencana-rencana yang telah dibuat dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

  Pertama pengorganisasian di stasiun Rangkasbitung dari segi membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ke dalalam kelompok-kelompok. Dimana di stasiun Rangkasbitung kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan salah satunya dengan melakukan kegiatan perubahan dan perbaikan sistem keamanan di stasiun Rangkasbitung. Kegiatan yang dilakukan yaitu pengamanan rel walaupun bukan didaerah Rangkasbitung tetapi dilakukan oleh bagian keamanan Rangkasbitung. Hal tersebut disampaikan oleh junior sub urusan keamanan bahwa :

  “Kalau hari raya, pertama dari PT.KA dibantu oleh kepolisian untuk kegiatan patroli, kemudian pengamanan jalur, untuk patroli ada yang malam harinya karena ada kereta cadangan yang disimpan dan dapat digunakan jika mendadak dibutuhkan. Kami dari pihak keamanan sudah melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak berada dekat rel agar meminimalisir terjadinya kecelakaan, selain itu banyak masyarakat yang sering melempar besi ke rel kan itu membahayakan untuk penumpang juga yang kadang membuat kereta anjlok. Dan biasanya banyak dilakukan di stasiun lain seperti stasiun walantaka.

  ” (wawancara dengan bapak Dulfatah Kepala Sub urusan Keamanan Stasiun KA Rangkasbitung tanggal 26 September 2016 pukul 13.15 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung).

  Kegiatan lain yaitu mencatat dan mengajukan beberapa rencana ke pusat untuk penambahan fasilitas yang belum ada tetapi masih belum terealisasi dan tidak adanya kegiatan untuk melakukan renovasi ruangan-ruangan, hanya baru ada ruang kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk fasilitas umum hanya dilihat dari

  boarding,

  segi kebersihannya dan membagi tugas untuk memelihara atau merawat fasilitas yang ada. Seperti yang disampaikan oleh bagian pelayanan bahwa : “Sudah ada perubahan, seperti ada ruang boarding untuk pengecekan tiket, adanya fasilitas tiket online dan keamanan dimana yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk area stasiun seperti pedagang dan pengamen. Ada 10 orang untuk anggota dan 1 orang mandor, jadi jumlahnya 11 orang, yang dibersihkan mulai dari kantor,toilet,hole,taman,emplasemen atau peron, dan wesel mengenai sampah

  .” (wawancara dengan bapak Supriyatin Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun KA Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung).

  Namun ada perbedaan pendapat dari jumlah anggota kebersihan seperti yang dipaparkan oleh ketua kebersihan bahwa : “jumlah anggota kebersihan ada 12 berikut leader 1.

  ” (wawancara dengan bapak Ulung ketua kebersihan stasiun tanggal 19 September 2016 pukul 13.10 WIB di stasiun Rangkasbitung). Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah besar karena berapapun jumlah anggota kebersihan yang ada, yang terpenting kewajibannya dijalankan dengan baik.

  Komponen kedua dari pengorganisasian di stasiun Rangkasbitung yaitu membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokkan tersebut.

  Dimana stasiun Rangkasbitung memiliki beberapa bagian untuk mengatur tugasnya masing-masing dan untuk tupoksi setiap kepala sub urusan di stasiun Rangkasbitung adalah sebagai berikut :

  a) Kepala Sub Urusan Perka dan Administrasi Kepala sub urusan perjalanan kereta api dan administasi berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan administasi perjalanan kereta api (perka), administrasi stasiun, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan standar operasi prosedur di stasiun, melaksanakan pembinaan terhadap petugas PPKA Pap, PJL, JLR, JRS, petugas pengawas emplasemen stasiun serta petugas yang melaksanakan administasi perjalanan kereta api di bawah tanggung jawabnya.

  b) Kepala Sub Urusan Pelayanan Stasiun Kepala sub urusan pelayanan di stasiun dan di kereta api berkewajiban dan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap kebersihan stasiun dan kebersihan rangkaian kereta api di stasiun yang c) Kepala Sub Urusan Keamanan dan Ketertiban Kepala sub urusan keamanan dan ketertiban stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap keamanan dan ketertiban penumpang, barang dan aset perusahaan di lingkungan stasiun di bawah tanggung jawabnya.

  d) Kepala Sub Urusan Komersil Kepala sub urusan pelayanan komersil stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pelayanan terhadap announcemen porter, pergudangan, angkutan hantaran, customer service dan loket dibawah tanggung jawabnya.

  Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa setiap bagian sudah memiliki tupoksinya masing-masing dan dalam hal manajemen fasilitas umum diatur oleh sub urusan pelayanan yang berkewajiban mengurus fasilitas umum dari segi kebersihannya. Dari situ terlihat bahwa sub urusan pelayanan sudah melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan baik dimana sudah membagi tugas untuk merawat kebersihan stasiun yang dipercayakan kepada pihak ketiga (out sourching) yang sudah mendapat tugasnya masing-masing untuk menrawat dan membersihkan area sekitar stasiun. Hal tersebut dibenarkan dengan pendapat dari kepala sub urusan pelayanan bahwa :

  “Petugas kebersihan mengurus dari kantor,toilet,hole,taman,emplasemen atau peron, dan wesel mengenai sampah. Dan untuk sistem pemeliharannya ada petugas dari pihak ketiga dibagi perhari 5 orang untuk pemeliharaan dan perawatan, dan jika ada kerusakan dan akan dilakukan perbaikan maka langsung diajukan ke kepala stasiun kemudian ke pusat.

  ” (wawancara dengan bapak Supriyatin sub urusan pelayanan stasiun Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung). Hal tersebut senada dengan yang diucapkan oleh ketua kebersihan stasiun bahwa : “Yang dibersihkan yaitu kantor, lapangan (seperti peron),toilet. Jadi untuk pagi hari itu 6 orang, sore 4 kadang kalau libur ya 2. Untuk pagi -pagi mulai dari jam 6.30-14.00, dan sore dari jam 14.00-

  22.00.” (wawancara dengan bapak Ulung ketua kebersihan stasiun tanggal 19 September 2016 pukul

  13.10 WIB di stasiun Rangkasbitung). Berdasarkan pernyataan dari beberapa informan tersebut menunjukkan bahwa pembagian tugas dalam mengelola fasilitas umum di stasiun sudah cukup baik. Hal ini peneliti nilai dari adanya pembagian waktu antara petugas yang satu dengan petugas yang lain sehingga semua petugas mempunyai waktu kerjanya masing-masing serta tidak ada penumpukan tugas dan setiap pekerja fokus dengan waktu kerjanya masing- masing.

  Selain itu dari segi kebersihannya fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung sudah mengalami perbaikan. Seperti tidak adanya sampah di area stasiun, dikarenakan petugas kebersihan rutin membersihkan sampah di area stasiun. Kemudian terawatnya kerapihan musholla, seperti adanya tempat untuk menyimpan mukena dan sarung.

  Terjaganya kebersihan lingkungan kantor dan taman di depan stasiun serta toilet bagi penumpang.

  Ketiga yaitu pengorganisaian dari segi adanya wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi. Dalam pengorganisasian di stasiun Rangkasbitung dimana sudah adanya pemberian wewenang kepada setiap bagian untuk melaksanakan tugas yang sudah diberikan. Walaupun yang bertanggung jawab penuh dalam mengelola pengelolaan tersebut sudah dijalankan oleh bagiannya masing-masing. Contohnya untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab bagian pelayanan dan bagian pelayanan pun mempunyai kelompok kebersihan (cleaning service) dari pihak ketiga (out sourching). Dimana anggota kebersihan sendiri memilki ketua yang bertanggung jawab memantau kerja anggota-anggotanya juga berkoordinasi dengan kepala sub urusan dan kepala stasiun. Hal tersebut dipaparkan oleh kepala stasiun bahwa :

  “ Perawatan dan pemeliharaan fasilitas umum Dari bagian kebersihan dan adanya koordinasi kepala stasiun dan bagian pelayanan jika ada yg harus direncanakan atau melakukan perubahan.

  ” (wawancara dengan bapak Andri KSB Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 10.35 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Hal yang sama dipaparkan juga oleh bagian pelayanan bahwa : “Kepala sub urusan pelayanan memberikan tugas ke bagian cleaning service untuk membersihkan ruangan dan area stasiun.

  ” (wawancara dengan bapak Supriyatin kepala sub urusan pelayanan stasiun tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Berdasarkan hasil pemaparan dari informan diatas sudah diketahui bahwa Kepala stasiun sudah memberikan wewenang kepada setiap unit-unit organisasi untuk menjalankan pengelolaan fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung dan dengan adanya wewenang mempermudah tugas-tugas setiap bagian selama wewenang tersebut digunakan untuk kepentingan organisasi seperti menjaga kebersihan area stasiun bukan untuk kepentingan pribadi.

4.3.3 Actuating (Pengarahan)

  Setelah adanya perencanaan dan pengorganisasian dalam manajemen sebuah organisasi, kemudian tahap selanjutnya dilakukan pengarahan dimana pengarahan sendiri mencakup kegiatan yang dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai. Dalam pelaksanaan manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung, pengarahan merupakan hal penting dari setiap kegiatan yang dilakukan pihak terkait untuk menjalankan manajemen fasilitas umum tersebut. Karena, manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung dilakukan oleh pihak stasiun baik pegawai tetap ataupun melibatkan pihak ketiga (out sourching) untuk memberikan pelayanan yang baik bagi penumpangnya.

  Bila dilihat dari hal tersebut, pengarahan sangat dibutuhkan agar pelaksanaan manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung dapat berjalan, ini semua agar tidak adanya kelalaian tugas dari masing-masing bagian sehingga tugas pokok dan fungsi yang diberikan dapat dijalankan dengan baik karena setiap pihak merasa diperhatikan oleh atasan dan merasa memiliki tanggung jawab dengan tugasnya masing- masing. Dalam hal ini pengarahan yang dilakukan di stasiun Rangkasbitung sudah dilakukan dengan cukup baik, dimana ada pengarahan dari atasan kepada bawahan. Hal ini berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan kepala stasiun bahwa :

  “Ada pengarahan kepada setiap kepala sub urusan . Untuk waktunya yaitu

  meeting 1 minggu sekali dan untuk briefing singkat setengah jam tiap hari

  ” (wawancara dengan bapak Andri KSB Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 10.30 WIB di stasiun Rangkasbitung). Senada dengan yang dipaparkan oleh bagian pelayanan bahwa : “ Selalu ada pengarahan, dari kepala sub ke pelaksana/petugas. Dan waktu untuk pengarahan tersebut 1 bulan 2 kali dan untuk lama waktu disesuaikan dengan materi

  .” (wawancara dengan bapak Supriyatin Kepala sub urusan pelayanan stasiun tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung). Selain itu ketua kebersihan yang berpendapat bahwa :

  “Ada pengarahan dari Pak KS, Sub urusan pelayanan dan dari pihak Out Sorchingnya juga. Untuk waktunya saat pagi-pagi kita membagi tugas untuk perhari dan ada pertemuan juga setiap 2 minggu sekali.

  ” (wawancara dengan bapak Ulung ketua kebersihan stasiun tanggal 19 September 2016 pukul 13.10 WIB di stasiun Rangkasbitung). Dan yang terakhir pendapat dari bagian keamanan bahwa : “Untuk pengarahan itu dari polsuska kepada pkd setiap apel pagi dan sore.

  Waktu pengarahan hanya beberapa menit saja, brifing atau apel singkat.

  ” (wawancara dengan bapak Dulfatah kepala sub urusan pelayanan stasiun tanggal 26 September 2016 pukul 13.15 WIB di satsiun Rangkasbitung).

  Dari penjelasan diatas dapat dinilai bahwa sudah adanya pengarahan dari atasan kepada bawahan dan dengan adanya pengarahan tersebut berpengaruh pula kepada pembagian tugas di stasiun Rangkasbitung selama ini sudah berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kendala karena setiap bagian sudah memiliki tupoksinya masing- masing dan dalam hal manajemen fasilitas umum diatur oleh sub urusan pelayanan yang berkewajiban mengurus fasilitas umum dari segi kebersihannya. Dari situ terlihat bahwa sub urusan pelayanan sudah melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan baik dimana sudah membagi tugas untuk merawat kebersihan stasiun yang dipercayakan kepada pihak ketiga (out sourching) yang sudah mendapat tugasnya masing-masing untuk menrawat dan membersihkan area sekitar stasiun.

  Namun ada perbedaan dari segi waktu untuk pengarahan tersebut, dimulai dari kepala stasiun, kepala sub urusan dan petugas kebersihan. Dimana berdasarkan wawancara diatas dapat diketahui bahwa perbedaan pendapat tersebut dikarenakan pengarahan yang dilakukan secara bertahap dimana kepala stasiun memberi pengarahan kepada setiap kasubur dan kasubur memberi pengarahan kepada setiap petugas bidangnya masing-masing. Sehingga bentuk pengarahan dan waktunya berbeda-beda, tetapi meskipun begitu pengarahan tetap dijalankan dengan caranya masing-masing.

4.3.4 Controlling (Pengontrolan)

  Hal terakhir yang perlu diperhatikan juga guna menilai keberhasilan manajemen suatu organisasi dalam perspektif dari George R. Terry adalah dengan dilakukannya kegiatan pengontrolan dimana melihat apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan dievaluasi dan penyimpangan - penyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki agar tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Ada berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah rencana dan bahkan tujuannya, mengatur kembali tugas-tugas atau merubah wewenang, tetapi seluruh perubahan tersebut dilakukan melalui manusianya. Karena dengan pengontrolan pun dapat menjadi penilaian sejauh mana keberhasilan manajemen suatu organisasi.

  Jika dilihat dari segi pengontrolan manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung ini sudah dijalankan cukup baik. Dimana adanya pengontrolan dari atasan kepada bawahan yaitu bagian pelayanan yang bertanggung jawab mengurus pelayanan terutama dari segi kebersihannya dan keamanan yang menjaga lingkungan

  “Pengontrolan dilakukan setiap saat dan memberikan wewenang kepada setiap bagian-bagiannya dan setiap seminggu sekali dicek. Dari kepala sub urusan dan kepala stasiun terjun langsung ke lapangan dan ada juga absensinya.

  ” (wawancara dengan bapak Andri KSB Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 10.35 WIB di stasiun Rangkasbitung). Begitu juga yang dipaparkan oleh kepala sub urusan pelayanan stasiun

  Rangkasbitung bahwa : “Ada pengontrolan dari kepala stasiun memberi wewenang untuk mengontrol dari kebersihan taman sampai peron. pengontrolannya itu jadi ada buku catatan khusus. Kepala stasiun juga ikut mengontrol.

  ” (wawancara dengan bapak Supriyatin kepala sub urusan pelayanan tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Berdasarkan wawancara diatas dapat dilihat bahwa sistem pengontrolan dilakukan oleh kepala stasiun dengan memberikan wewenang kepada setiap bagian- bagiannya dan ada pengecekan setiap petugas dengan cara ada absensi dan buku catatan khusus untuk melihat apakah setiap petugas sudah menjalankan tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan tugasnya.

  Adanya sistem pengontrolan dari kepala stasiun langsung dan kepala sub urusan yang tidak hanya duduk diruangan tetapi berkeliling disekitar area stasiun untuk memntau kerja petugas dan keadaan stasiun membuat para petugas merasa segan dan menjadi bersemangat karena atasan mereka tidak hanya memberi tugas dan mengevaluasi tetapi ikut serta bersama mereka, selain itu karena adanya buku catatan khusus tersebut membuat para petugas merasa memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan baik.

  Selain itu untuk pengontrolan area stasiun dan penumpang selain adanya petugas keamanan tetapi dibutuhkan CCTV untuk merekam segala kejadian. Hal tersebut dipaparkan oleh penumpang bahwa :

  “Dibutuhkan, walaupun tidak ada pengamen dan pedagang tetapi dikhawatirkan ada penumpang yang berniat jahat.

  ” (wawancara dengan wulan penumpang kereta api tanggal 21 September 2016 pukul 11.52 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Senada dengan yang dipaparkan wulan, penumpang lain pun berpendapat bahwa :

  “Butuh, agar lebih aman jika ada hal-hal atau kejadian tidak diinginkan bisa direkam di CCTV .” (wawancara dengan Syifa penumpang kereta api tanggal 21 September 2016 pukul 13.56 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa CCTV dibutuhkan oleh penumpang walaupun sudah tidak adanya pedagang atau pengamen di area stasiun teteapi dengan adanya CCTV sebagai fasilitas penunjang keamanan karena dapat merekan kejadian-kejadian yang tidak diingankan dan sebagai bukti jika ada pencurian.

  Namun untuk keberadaan fasilitas CCTV tersebut ada perbedaan pendapat. Menurut kepala stasiun yang berpendapat bahwa sudah adanya CCTV walaupun hanya

  1. Hal ini dijelaskan dalam hasil wawancara sebagai berikut : “Sudah ada CCTV tetapi hanya satu untuk diarea peron. kedepannya akan ada penambahan.

  ” (wawancara dengan bapak Andri KSB Rangkasbitung tanggal 19 September 2016 pukul 10.35 WIB di stasiun Rangkasbitung). Hal ini tidak sama dengan yang dipaparkan bagian pelayanan stasiun Rangkasbitung bahwa :

  “Hanya belum ada, tetapi untuk kedepannya akan ada . Ya mungkin baru ada 1, tetapi untuk pelayanan penumpang di Stasiun belum ada CCTV. (wawancara dengan bapak Supriyatin kepala sub urusan pelayanan tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan fasilitas CCTV di stasiun ini masih diragukan karena adanya perbedaan penadapat dari kepala stasiun dan bagian pelayanan. Dimana bagian pelayanan berpendapat bahwa CCTV yang ada 1 pun tidak berfungsi dan untuk pengadaan CCTV ini sudah diajukan dari tahun lalu ke pusat akan tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya dari pusat padahal pihak pelayanan stasiun Rangkasbitung sudah terus mendesak agar segera ditindak lanjuti untuk pemasangan CCTV ini dan bagian pelayanan mengharapkan agar akhir tahun atau tahun depan CCTV ini sudah ada di stasiun Rangkasbitung. Karena fasilitas ini seperti disepelekan keberadaannya padahal memberikan manfaat yang cukup besar dimana keamanan stasiun dan penumpang tidak sepenuhnya dapat terus dipantau hanya oleh petugas saja tetapi dengan alat CCTV ini dapat memantau dan merekam secara terus menerus demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pencurian. Dengan adanya CCTV dapat diketahui orang yang melakukan tindak kejahatan dan dapat dicari.

  Selain itu untuk pengontrolan juga dapat dilakukan dengan melihat sejauh mana keberhasilan manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkabitung. Agar dapat sebagai evaluasi bagi pihak pengelola stasiun apa saja fasilitas yang masih kurang demi kenyamanan penumpang. Hal tersebut dapat dinilai oleh penumpang stasiun yang merasakan segala fasilitas yang ada di stasiun. Jika dilihat dari perkembangan di lingkungan stasiun saat beberapa tahun yang lalu dan sekarang sudah ada perubahan. Hal tersebut didukung pemaparan dari penumpang bahwa :

  “Lumayan, tetapi belum sangat baik karena belum ada parkiran, musholla, ruang tunggu dan loket walaupun sudah bersih dan nyaman tetapi masih perlu perbaikan. (wawancara dengan bapak Iwan penumpang kereta api tanggal 21 September 2016 pukul 12.15 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Penumpang lain juga berpendapat hal yang sama berdasarkan wawancara bahwa :

  “Sudah banyak perubahan, seperti sudah bersih tetpi masih ada kekurangan dari bangunan dan fasilitas seperti parkir dan musholla, tetapi untuk di stasiunnya sudah cukup aman dan nyaman.

  ” (wawancara dengan Wulan penumpang kereta api tanggal 21 September 2016 pukul 11.52 WIB di stasiun Rangkasbitung). Berdasarkan wawancara diatas dapat dilihat bahwa sudah banyak perubahan di stasiun dari segi fasilitas umumnya walaupun masih ada beberapa kekurangan tetapi keadaan stasiun saat ini sudah cukup nyaman. Hal tersebut juga dipaparkan oleh kepala sub urusan pelayanan bahwa :

  “Sudah cukup banyak perubahan, seperti ada penanggung jawab pelayanan yang dulunya tidak ada dan dari keamanan sudah cukup baik untuk memonitor penumpang. Mungkin baru 75% karena kurang sterilnya penumpang yang lalu lalang yang masuk untuk lewat ke pasar.

  ” (wawancara dengan bapak Supriyatin kepala sub urusan pelayanan tanggal 19 September 2016 pukul 11.50 WIB di stasiun Rangkasbitung).

  Berdasarkan wawancara diatas menunjukan bahwa manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung ini sudah banyak perubahan dimana sebelumnya untuk penanggung jawab pelayanan saja tidak ada tetapi saat ini sudah ada, walaupun keberhasilan manajemen fasilitas umum di stasiun ini baru sampai 75% . Dan dengan adanya pengukuran keberhasilan manajemen fasilitas umum tersebut dapat dijadikan sebagai pengontrolan dan bahan evaluasi bagi pihak stasiun dimana untuk pengelolaan fasilitas umum yang dilakukan sudah cukup baik. Dimana sudah adanya pengontrolan dari kepala stasiun yang ikut memantau ke lapangan, selain itu memberi wewenang kepada setiap bagian untuk melakukan pengontrolan apakah petugas sudah melaksanakan tugasnya masing-masing seperti petugas kebersihan yang selalu menjaga kebersihan area stasiun dari taman sampai peron dan bagian keamanan yang selalu menjaga area stasiun. Dan untuk melakukan pengontrolan, kepala stasiun juga memberlakukan catatan khusus harian apa saja yang sudah dilakukan setiap petugasnya agar petugas merasa mempunyai tanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.

  Namun untuk menilai dan sebagai evaluasi juga dapat dilihat dari penilaian penumpang di stasiun sendiri karena masyarakat juga sudah merasakan banyak perubahan yang ada seperti area stasiun sudah bersih, sudah adanya tempat duduk di peron dan tidak adanya pedagang serta pengamen. Tetapi meskipun begitu masih harus ada perbaikan dari fasilitas umum di stasiun, seperti dari segi bangunan, tidak adanya lahan parkir, dan perbaikan musholla.

4.4 Pembahasan

  Manajemen fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, dapat dilihat dari Standar Pelayanan Minimum (SPM) dimana SPM tersebut untuk mengukur ketersediaan fasilitas umum di stasiun yang memiliki beberapa aspek yaitu : keselamatan, keamanan, kehandalan/keteraturan, kenyamanan, kemudahan dan kesetaraan. Meskipun di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung telah banyak mengalami perubahan dan perbaikan, tetapi masih ada beberapa fasilitas umum yang perlu ditambah dan diperbaiki demi keamanan dan kenyamanan penumpang kereta api.

  Dalam pembahasan ini peneliti akan membahas tentang fokus penelitian, dimana berdasarkan teori manajemen dari George R. Terry (2008: 17) ada 4 fungsi manajemen untuk menganalisis mengenai manajemen di suatu organsisai yaitu : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengontrolan. Berikut ini peneliti akan membahas lebih lanjut terkait analisis hasil penelitian.

  Pertama , segi perencanaan. Perencanaan pengadaan fasilitas umum di setiap

  stasiun dilakukan oleh Petugas kereta api di Stasiun Rangkasbitung yaitu Bagian Pelayanan dan disetujui oleh Kepala Stasiun. Petugas juga telah membuat beberapa perencanaan yang akan diimplementasikan, di antaranya adalah pembuatan ruang tunggu penumpang, pengadaan tempat parkir, pengadaan ruangan untuk ibu menyusui, penambahan CCTV, pengadaan urinoir dan wastafle, pengadaan pengatur suhu, pembongkaran rel untuk adanya KRL dan pengadaan toilet untuk penumpang difable.

  Peneliti menilai bahwa perencanaan yang telah dibuat oleh Petugas Stasiun Kereta Api Rangkasbitung telah dilakukan dengan baik dan berorientasi pada kenyamanan dan keamanan penumpang kereta api. Namun ada kekurangan dalam melakukan perencanaan tersebut, dimana tidak adanya target untuk melakukan perubahan karena bagian pelayanan hanya mengajukan ke pusat dan untuk pengadaan penumpang kereta api yang menyatakan bahwa ada beberapa fasilitas umum yang kurang mendukung kenyamanan bagi penumpang kereta api, yakni kurangnya ruang tunggu, tidak adanya lahan parkir, musholla yang kurang luas dan tidak adanya CCTV.

  Ruang tunggu yang kurang memadai disebabkan karena tidak ada ruangan khusus untuk penumpang atau disebut dengan ruang tunggu yang rencananya akan dibuat seluas 200m. Faktanya di stasiun Kereta Api Rangkasbitung ada tempat duduk di peron yang saat ini sudah mengalami penambahan kursi dari 15 kursi menjadi 30 kursi yang rencananya akan disimpan di ruang tunggu jika ruang tunggu tersebut sudah dibuat, padahal peron sendiri sebenarnya difungsikan bagi penumpang yang siap naik kereta bukan untuk menunggu kedatangan kereta.

  Tidak adanya lahan parkir hal ini disebabkan halaman stasiun Kereta Api Rangkasbitung terbatas dengan jalan pasar. selain itu, stasiun Rangkasbitung ini berada diruang lingkup Pasar Tradisional Rangkasbitung sehingga ramai pengunjung pasar maka dari itu untuk lahan parkir yang terbatas habis dipakai tukang ojeg dan tukang becak. Untuk pengadaan lahan parkir ini rencananya akan dikelola oleh pihak PT.KAI yang bernama PPRSK, namun belum ada kepastian untuk penyediaan lahan parkir tersebut karena pihak stasiun sedang fokus kepada pengadaan KRL.

  Terakhir adalah tidak adanya CCTV, hal ini dikarenakan CCTV yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung hanya ada 1 (satu) CCTV saja yang mengarah kearah kedatangan Kereta Api sehingga difungsikan hanya untuk memantau kedatangan dan keberangkatan Kereta Api dan sebenarnya tidak berfungsi. Sedangkan untuk pengawasan penumpang di sekitar area stasiun tidak ada CCTV yang mengawasi. Padahal dalam SPM atau Standar Pelayanan Minimal CCTV termasuk fasilitas Keamanan untuk keamanan penumpang. Jika tidak ada CCTV yang mengawasi keadaan penumpang di area stasiun, ketika ada kejadian yang tidak inginkan atau tindakan kriminal maka tidak ada rekaman yang memudahkan untuk penyelesaian kasus. Karena itulah tingkat keamanan penumpang masih rendah. Untuk pengadaan CCTV tersebut rencananya sudah diajukan ke pusat dan untuk jumlah dan area mana saja yang akan dipasang menjadi kewenangan pusat, pihak stasiun Rangkasbitung hanya memberikan laporan dan pengajuan saja bahwa di stasiun Rangkasbitung perlu segera di pasang CCTV.

  Untuk merealisasikan perencanaan yang telah dibuat, maka harus ada implementasi yang jelas dari petugas stasiun kereta api Rangkasbitung mengenai target dan waktu pelaksanaannya. Namun, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan petugas stasiun, ada perbedaan pendapat antara Kepala Stasiun dengan Kepala Sub Urusan Pelayanan. menurut Kepala Stasiun, waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana yang telah dibuat adalah satu semester atau enam bulan. Tetapi Kepala Sub Urusan Pelayanan menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana yang telah dibuat tergantung kepada Stasiun Pusat, karena kewenangannya adalah kewenangan Stasiun Pusat, sehingga Kepala Sub Urusan Pelayanan belum mengetahui secara pasti waktu untuk merealisasikan rencana yang telah dibuat dan target untuk merealisasikan rencana-rencana tersebut dan jikalau rencana-rencana pengadaan seperti CCTV, ruang tunggu, ruang ibu menyusui dan perluasan musholla belum dapat terealisasikan, tidak mendapat sanksi dari pusat karena Standar Pelayanan Minimum dibuat oleh pusat dan pengadaan pun menjadi kewenangan pusat. Dengan segala sesuatu menjadi kewenangan pusat membuat rencana-rencana yang telah dibuat oleh pihak stasiun Rangkasbitung tidak berjalan sesuai harapan yang menginginkan bahwa stasiun Rangkasbitung sebagai stasiun kelas besar seharusnya sudah memiliki fasilitas sesuai standar yang ada yaitu SPM (Standar Pelayanan Minimum).

  Berdasarkan pemaparan peneliti mengenai perencanaan dalam bidang fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, peneliti menilai bahwa perencanaan yang telah dibuat sudah baik, namun perlu adanya kepastian waktu dan target dalam merealisasikan rencana yang telah dibuat selain itu perlu adanya pelimpahan wewenang untuk pengadaan dari pusat ke stasiun Rangkasbitung sehingga perencanaan dalam bidang fasilitas umum dapat terealisasikan dengan cepat dan tepat demi kenyamanan dan keamanan penumpang kereta api.

  Kedua , segi pengorganisasian. Peneliti berasumsi bahwa petugas stasiun kereta

  api Rangkasbitung telah mengelompokkan kegiatan-kegiatan pengelolaan fasilitas umum dengan baik. Ada tiga kegiatan utama dalam bidang pengorganisasian, yakni pembagian komponen kegiatan ke dalam kelompok atau unit, kemudian pembagian tugas manajer, dan penetapan wewenang kelompok atau unit.

  Dalam pembagian komponen kegiatan, ada beberapa kegiatan yang telah dikelompokan dengan baik. Yang pertama, pengamanan stasiun kereta api di hari raya diperketat. Peneliti menilai hal itu dilakukan karena resiko kejahatan kriminal di stasiun kereta api di hari raya akan meningkat dari pada hari biasa, sehingga kegiatan tersebut dilakukan agar dapat mengantisipasi resiko kejahatan yang muncul.

  Kegiatan yang kedua adalah penyuluhan keamanan bagi penduduk di sekitar rel kereta api stasiun Rangkasbitung. Menurut peneliti, kegiatan tersebut sangat baik dilakukan, mengingat lingkungan di sekitar stasiun rangkasbitung merupakan lingkungan yang padat penduduk. Peneliti pun melihat bahwa masih banyak rumah- rumah penduduk yang berdekatan dengan rel kereta api dengan jarak kurang dari lima meter, sehingga resiko kecelakaan yang terjadi sangat tinggi. Oleh karena itu peneliti menilai bahwa kegiatan penyuluhan tersebut sangat baik dan perlu untuk dilakukan demi keamanan bersama.

  Kegiatan yang ketiga adalah pencatatan laporan mengenai kondisi fasilitas umum di stasiun kereta api Rangkasbitung untuk diserahkan ke kantor pusat. Kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk merealisasikan rencana pengadaan dan perbaikan fasilitas umum yang ada di stasiun kereta api Rangkasbitung. Kegiatan tersebut dilakukan oleh kepala sub urusan pelayanan stasiun Rangkasbitung, dimana kepala sub urusan pelayanan melihat kondisi fasilitas apa saja yang belum ada dan yang harus diperbaiki yang dibutuhkan demi kenyamanan penumpang seperti untuk fasilitas toilet pria belum adanya urinoir, perluasan musholla, pembuatan ruang tunggu, ruang ibu menyusui, pengadaan CCTV, dll. Setelah dilakukan pendataan dan bukti seperti foto keadaan di stasiun lalu di koordinasikan dengan kepala stasiun kemudian diajukan ke puisat. Untuk menindak lanjuti pengajuan tersebut, kepala sub urusan pelayanan terus melakukan konfirmasi ke pusat kapan pengadaan tersebut dapat direalisasikan, selain itu jika ada pemantauan langsung dari pusat ke stasiun kepala sub urusan pun memberikan laporan apa saja yang kurang dan dibutuhkan serta meminta tindak lanjut dari pusat agar pengajuan segera dapat direalisasikan. Pihak stasiun Rangkasbitung hanya dapat mendesak dan terus menghubungi pusat untuk melakukan perubahan dan pengadaan karena hal tersebut menjadi wewenang pusat dan pihak stasiun Rangkasbitung hanya dapat memberikan laporan dan pengajuan saja akan tetapi untuk tindak lanjut pengadaan dilakukan langsung oleh pusat.

  Daftar Kelengkapan Standar Pelayanan Minimum Stasiun Besar Tipe C Rangkasbitung

  Gambar 4.2 Laporan Daftar Kelengkapan Standar Pelayanan Minimum

  Stasiun Besar Tipe C Rangkasbitung Sumber : Stasiun Kereta Api Rangkasbitung Rangkasbitung, 2016

  Dalam bidang pengorganisasian, pengelompokan tugas atau pembagian tugas manajer merupakan hal yang penting agar pengelolaan fasilitas umum dapat dilakukan dengan efektif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, ada empat Kepala Sub Urusan yang membantu Kepala Stasiun dalam mengatur jalannya roda perkeretaapian di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Yaitu:

  Kepala sub urusan perjalanan kereta api dan administasi berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan administasi perjalanan kereta api (perka), administrasi stasiun, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan standar operasi prosedur di stasiun, melaksanakan pembinaan terhadap petugas PPKA Pap, PJL, JLR, JRS, petugas pengawas emplasemen stasiun serta petugas yang melaksanakan administasi perjalanan kereta api di bawah tanggung jawabnya.

  b) Kepala Sub urusan Pelayanan Stasiun Kepala sub urusan pelayanan di stasiun dan di kereta api berkewajiban dan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap kebersihan stasiun dan kebersihan rangkaian kereta api di stasiun yang menjadi tanggung jawabnya.

  c) Kepala Sub urusan Keamanan dan Ketertiban Kepala sub urusan keamanan dan ketertiban stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan kegiatan dan pengendalian terhadap keamanan dan ketertiban penumpang, barang dan aset perusahaan di lingkungan stasiun di bawah tanggung jawabnya.

  d) Kepala Sub urusan Komersil Kepala sub urusan pelayanan komersil stasiun berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pelayanan terhadap announcemen porter, pergudangan, angkutan hantaran, customer service dan loket dibawah tanggung jawabnya. Menurut peneliti, tugas dan wewenang masing-masing Kepala Sub Urusan mempunyai orientasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga banyaknya tugas dan tanggung jawab dari Kepala Stasiun telah dibagikan dengan fokus dan efektif.

  Dalam melakukan pengorganisasian ada tahap dimana adanya penetapan wewenang unit organisasi, dan dalam hal ini mengenai penetapan wewenang dalam mengelola failitas umum di stasiun Rangkasbitung diberikan kepada bagian pelayanan stasiun dimana yang bertanggung jawab untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan, disamping itu kepala sub urusan pelayanan memberikan wewenang pula kepada ketua kebersihan dan anggotanya (cleaning service) untuk menjalankan perawatan dan pemeliharaan fasilitas umum di stasiun.

  Berdasarkan pemaparan peneliti mengenai pengorganisasian dalam bidang fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, peneliti menilai bahwa pengorganisasian yang telah dibuat cukup baik, namun perlu adanya penanggung jawab kegiatan dalam merealisasikan rencana pengadaan fasilitas umum di stasiun yang belum sesuai dengan SPM (Standar Pelayanan Minimum) yang ada seperti pengadaan lahan lahan parkir, ruang tunggu, CCTV, fasilitas difable, fasilitas urinoir, westafle, dan musholla yang kurang nyaman sehingga pengorganisasian dalam bidang fasilitas umum dapat terealisasikan dengan cepat dan tepat.

  Ketiga, segi pengarahan. Di stasiun Rangkasbitung telah adanya pengarahn dari dengan cara adanya meeting seminggu sekali dan briefing singkat setengah jam setiap hari, namun ada perbedaan pendapat dari kepala sub urusan bahwa memang ada pengarahan tetapi untuk waktunya 1 bulan 2 kali. Selain itu kepala sub urusan pelayanan juga memberikan pengarahan kepada petugas kebersihan 2 minggu sekali.

  Dan dari bagian keamanan, pengarahan dilakukan dari polsuska kepada PKD setiap hari saat apel pagi dan sore karena adanya pergantian waktu petugas untuk berjaga.

  Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti melihat bahwa dari segi pengarahan yang dilakukan atasan kepada bawahan sudah terlaksana dengan baik. Karena dengan adanya pengarahan tersebut berarti ada koordinasi antara atasan dan bawahan setiap melaksanakan tugas walaupun untuk waktu pengarahan berbeda-beda karena setiap bagian memilki kewenangan dan tugas yang berbeda-beda pula jadi untuk waktu pengarahan pun disesuaikan dengan bagiannya masing-masing.

  Keempat, segi pengontrolan. Petugas stasiun telah melakukan pengontrolan

  dengan cara pengecekan fasilitas umum selama seminggu sekali oleh kepala stasiun dan kepala sub urusan terjun langsung selain itu adanya pengontrolan dari kepala stasiun mulai dari kebersihan taman sampai peron. Pengontrolan juga dilakukan dengan cara adanya buku catatan khusus para pegawai untuk memantau apa saja yang sudah dilakukan setiap harinya dan apakah tanggung jawab petugas sudah dilaksanakan dengan baik atau ada kesalahan. Selain itu dengan adanya buku catatan tersebut membuat para petugas menjadi lebih memiliki rasa tanggung jawab.

  Untuk pengontrolan di area stasiun selain dilakukan oleh petugas, dapat juga CCTV dapat memantau area stasiun dan merekam kejadian-kejadian di stasiun, namun ada perbedaan pendapat mengenai keberadaan CCTV di stasiun Rangkasbitung.

  Menurut kepala stasiun sendiri sudah ada 1 CCTV sedangkan menurut kepala sub urusan pelayanan belum ada CCTV untuk memantau seluruh area stasiun, jika ada pun seperti yang diapaparkan kepala stasiun itu hanya untuk memantau area peron saja.

  Namun sejauh ini keberhasilan fasilitas umum yang ada di stasiun sudah ada perubahan seperti sudah adanya boarding pass meskipun memaksimalkan lahan yang ada, sudah tidak adanya pengamen dan pedagang di area dalam stasiun dan lantai sudah memakai keramik yang sebelumnya hanya diplester saja. Hal tersebut juga dipaparkan bahwa manajemen fasilitas umum di stasiun Rangkasbitung sudah lumayan banyak perubahan, hanya saja masih memiliki kekurangan dan perlu adanya perbaikan karena belum adanya parkir dan musholla yang harus direnovasi.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan temuan-temuan di lapangan, maka penyimpulan akhir tentang Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung sudah berjalan cukup baik dilihat dari adanya perubahan-perubahan di stasiun, seperti sudah adanya penambahan kursi di area peron, perbaikan lantai yang dipasang garnit, pemisahan toilet antara pria dan wanita serta adanya boarding pass. Namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.

  , perencanaan pengadaan fasilitas yang belum dapat terealisasikan

  Pertama

  seperti pembuatan ruang tunggu penumpang, pengadaan tempat parkir, pengadaan ruangan untuk ibu menyusui, penambahan CCTV, pengadaan urinoir dan wastafle, pengadaan toilet untuk penumpang difable karena menunggu tindak lanjut dari pusat.

  

Kedua , pengorganisasian di stasiun Rangkasbitung sudah berjalan cukup baik karena

  adanya pembagian tugas dan penetapan wewenang kepada kelompok atau unit serta adanya penanggung jawab setiap sub urusan. Ketiga, adanya pengarahan dan wewenang dari Kepala stasiun kepada setiap sub urusan untuk memberi pengarahan kembali kepada petugasnya masing-masing namun tidak adanya reward atau penghargaan yang diberikan oleh Kepala Stasiun kepada anggotanya. Keempat, pengontrolan yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan sudah cukup baik dibuktikan dengan adanya dengan baik dan dengan cara tersebut petugas merasa mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

5.2 Saran

  Berdasarkan pemaparan kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

  1. Perlu adanya pelimpahan wewenang dari pusat ke stasiun di daerahnya masing- masing untuk melakukan pengadaan atau perbaikan fasilitas umum, agar stasiun Rangkasbitung dapat membuat target dan merealisasikan rencana-rencana yang telah ditentukan berupa pengadaan serta perbaikan fasilitas umum di stasiun dengan cepat.

  2. Diberikannya reward atau penghargaan dalam bentuk nyata bukan hanya surat untuk petugas kereta api yang menonjol dan berprestasi sehingga Petugas Kereta Api lebih bersemangat dalam bekerja.

  3. Terus melakukan koordinasi atau pelaporan ke pusat agar pemasangan CCTV segera ditindak lanjuti karena CCTV penting untuk memantau dan mengawasi penumpang, petugas dan orang-orang yang ada di area stasiun serta dapat merekam kejadian yang ada di area stasiun. Hal ini dikarenakan meskipun ada PKD yang berjaga, hanya ada dititik tertentu dan tidak setiap waktu mereka mengawasi penumpang.

DAFTAR PUSTAKA

  Buku : Atmosudirdjo, Prajudi. 2003. Administrasi dan Manajemen Umum.Jakarta :

  Ghalia Indonesia Burhannudin. 2000. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan

  Pendidikan.. Malang : Bumi Aksara

  Daft, Richard L. 2002. Manajemen. Jakarta : Erlangga Fayol, Henry. 2000. Management. Jakarta : Erlangga Hasibuan, Malayu. 2011. Manajemen (Dasar, Pengertian, dan Masalah). Jakarta:

  Bumi Aksara Irawan, Prasetya. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Jakarta : Modul Universitas Terbuka Listyaningsih. 2014. Administrasi Pembangunan (Pendekatan Konsep dan

  Implementasi) . Yogyakarta : Graha Ilmu

  Manullang, M. 2006. Dasar-Dasar Manajemen. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

  Moloeng, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Nazir. 2009. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Siagian, Sondang P. 2005. Administrasi Pembangunan (Konsep, Dimensi, dan

  Strateginya). Jakarta : PT Bumi Aksara

  Silalahi, Ulber. 2002. Pemahaman praktis asas-asas manajemen. Bandung: Mandar Maju

  Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta Syafiie, Inu Kencana. 2003. Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia

  Jakarta : PT Bumi Aksara (SANRI). Terry, George.2001. Manajemen dasar, pengertian dan masalah. Jakarta : PT Terry, George dan Rue, Leslie 2010. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : PT Bumi Aksara

  Dokumen : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian Standar Pelayanan Minimum (SPM) PT. Kereta Api Indonesia Sumber lain: kses pada tanggal 29 Februari 2016, pukul 19.44 WIB) (diakses pada tanggal 10 Maret 2016, pukul 15.00 WIB) kses pada tanggal 09 Maret 2016, pukul 16.41 WIB) https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lebak Malinda Yustikasari dengan judul skripsi Manajemen Sarana Prasarana

  

Perkeretaapian di PT. Kereta Api Daop VII Madiun Tahun 2011 Universitas

  Sebelas Maret Surakarta Ai Istiqomah dengan judul skripsi Manajemen Sarana Prasarana Perkeretaapian

  

di PT. Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta Tahun 2014 Universitas Sultan

  Ageng Tirtayasa

  LAMPIRAN

  

LAMPIRAN

PEDOMAN WAWANCARA

  

1. Judul Penelitian : Manajemen Fasilitas Umum di Stasiun Kereta Api

  Rangkasbitung

  2. Sasaran Wawancara :

  1) Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung 2) Kepala Suburusan Pelayanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung 3) Kepala Suburusan keamanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung 4) Petugas Kebersihan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung 5) Penumpang Pengguna Fasilitas Umum Stasiun Kereta Api

  Rangkasbitung

  3. Fokus Wawancara :

  1) Perencanaan 2) Pengorganisasian 3) Pengarahan 4) Pengontrolan

  4. Daftar Pertanyaan Untuk Kepala Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  1) Perencanaan

  a. Apakah ada rencana perbaikan atau penambahan fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  b. Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan perencanaan yang telah dibuat tersebut? c. Berapa jumlah dan luas ruang tunggu yang ada di Stasiun Kereta Api

  Rangkasbitung?

  d. Apakah ada rencana untuk membuat jalan dan toilet penumpang khusus difable? e. Apakah ada rencana untuk membuat ruangan khusus ibu menyusui?

  f. Apakah petugas stasiun KA Rangkasbitung telah merencanakan g. Apakah ada hambatan dalam membuat perencanaan fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  2) Pengorganisasian

  a. Bagaimana mekanisme pengorganisasian tugas keamanan dalam menjaga keamanan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung? b. Bagaimana mekanisme pengorganisasian ruangan di Stasiun KA

  Rangkasbitung?

  c. Apakah telah dilakukan perubahan dalam manajemen fasilitas umum di Stasiun ini? d. Berapa lama waktu yang digunakan oleh petugas loket dalam melayani 1 orang penumpang? e. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan ruang tunggu di

  Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  f. Berapa jumlah dan luas ruang boarding yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  g. Apakah ada hambatan dalam pengorganisasian fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  3) Pengarahan

  a. Pihak mana yang bertanggung jawab dalam memberikan pengarahan dalam manajemen fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung? b. Bagaimana pengarahan yang dilakukan di Stasiun KA Rangkasbitung mengenai manajemen fasilitas umum? c. Berapa lama frekuensi waktu yang diperlukan dalam melaksanakan pengarahan/pembinaan tersebut? d. Apakah selalu ada pengarahan oleh atasan kepada bawahan?

  e. Apakah gangguan perjalanan kereta api selalu diinformasikan kepada para penumpang? f. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petugas khusus untuk memberikan informasi kereta api dan layanan pengaduan penumpang?

  g. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan ruang boarding di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  h. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan toilet di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  4) Pengontrolan

  a. Bagaimana sistem pengontrolan fasilitas umum yang dilakukan di stasiun KA Rangkasbitung? b. Apakah ada pengontrolan dari atasan kepada bawahan?

  c. Apakah ada upaya perbaikan yang dilakukan untuk fasilitas umum yang rusak? d. Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan fasilitas tersebut? e. Mengapa di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung tidak disediakan

  CCTV untuk mengontrol keamanan di sekitar stasiun?

  f. Sejauh mana keberhasilan pengelolaan fasilitas umum di Stasiun Rangkasbitung?

5. Daftar Pertanyaan Untuk Kepala Suburusan Pelayanan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung

  1) Perencanaan

  a. Apakah ada rencana perbaikan atau penambahan fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  b. Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan perencanaan yang telah dibuat tersebut? c. Berapa jumlah dan luas ruang tunggu yang ada di Stasiun Kereta Api d. Apakah ada rencana untuk membuat jalan dan toilet penumpang khusus difable? e. Apakah ada rencana untuk membuat ruangan khusus ibu menyusui?

  f. Apakah petugas stasiun KA Rangkasbitung telah merencanakan perbaikan tempat parkir bagi penumpang yang membawa kendaraan ke stasiun?

  g. Apakah ada hambatan dalam membuat perencanaan fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  2) Pengorganisasian

  a. Bagaimana mekanisme pengorganisasian ruangan di Stasiun KA Rangkasbitung?

  b. Apakah telah dilakukan perubahan dalam manajemen fasilitas umum di Stasiun ini? c. Berapa lama waktu yang digunakan oleh petugas loket dalam melayani 1 orang penumpang? d. Berapa jumlah petugas kebersihan di stasiun Rangkasbitung ?

  e. Untuk petugas kebersihan di stasiun mengurus atau bertanggung jawab untuk ruangan apa saja ? f. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan fasilitas atau ruangan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung? g. Berapa jumlah dan luas ruang boarding yang ada di Stasiun Kereta

  Api Rangkasbitung?

  h. Apakah ada hambatan dalam pengorganisasian fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  3) Pengarahan

  a. Pihak mana yang bertanggung jawab dalam memberikan pengarahan dalam manajemen fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung? c. Berapa lama frekuensi waktu yang diperlukan dalam melaksanakan pengarahan/pembinaan tersebut? d. Apakah selalu ada pengarahan oleh atasan kepada bawahan?

  e. Apakah gangguan perjalanan kereta api selalu diinformasikan kepada para penumpang? f. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petugas khusus untuk memberikan informasi kereta api dan layanan pengaduan penumpang?

  g. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan ruang boarding di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  h. Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan toilet di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  4) Pengontrolan

  a. Bagaimana sistem pengontrolan fasilitas umum yang dilakukan di stasiun KA Rangkasbitung? b. Apakah ada pengontrolan dari atasan kepada bawahan?

  c. Apakah ada upaya perbaikan yang dilakukan untuk fasilitas umum yang rusak? d. Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan fasilitas tersebut? e. Mengapa di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung tidak disediakan

  CCTV untuk mengontrol keamanan di sekitar stasiun?

  f. Sejauh mana keberhasilan pengelolaan fasilitas umum di Stasiun Rangkasbitung?

  

1) Daftar Pertanyaan Untuk Kepala Suburusan Keamanan Stasiun Kereta

Api Rangkasbitung

  1) Perencanaan b. Upaya apa yang dilakukan untuk meminimalisir adanya tindak kejahatan saat hari libur atau hari raya? 2) Pengorganisasian

  a. Kegiatan apa saja yang dilakukan dari bagian keamanan untuk menjaga keamanan penumpang? b. Berapa jumlah petugas keamanan di Stasiun KA Rangkasbitung?

  c. Bagaimana sistem pengorganisasian keamanan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  3) Pengarahan

  a. Apakah selalu ada pengarahan oleh atasan kepada petugas keamanan?

  b. Berapa lama waktu untuk pengarahan tersebut?

  c. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petugas khusus untuk memberikan informasi kereta api dan layanan pengaduan penumpang?

  4) Pengontrolan

  a. Bagaimana sistem pengontrolan keamanan yang dilakukan di stasiun KA Rangkasbitung?

  b. Apakah ada pengontrolan dari atasan kepada bawahan?

  c. Siapa yang berwenang melakukan pengontrolan tersebut?

  d. Apakah ada upaya pencarian untuk barang-barang penumpang yang hilang? e. Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pencarian tersebut? f. Sejauh mana keberhasilan pengelolaan keamanan di Stasiun

  Rangkasbitung?

2) Daftar Pertanyaan Untuk Petugas Kebersihan Stasiun Kereta Api

  a. Untuk tim kebersihan di stasiun ini apakah dari PT KAI sendiri atau bukan? b. Berapa jumlah tim kebersihan di stasiun rangkasbitung ini?

  c. Apakah SOP kerjanya? 2) Pengarahan

  a. Apakah ada pengarahan sebelum melaksanakan tugas masing-masing?

  b. Kapan wantu untuk pengarahan tersebut? 3) Pengorganisasian

  a. Apa saja ruangan yang dibersihkan?

  b. Bagaimana mekanisme pembagian tugas petugas kebersihan? 4) Pengontrolan

  a. Apakah ada pengontrolan dari atasan kepada bawahan?

  b. Pihak mana yang berwenang melakukan pengontrolan?

  c. Kepada siapa anda berkoordinasi jika ada kerusakan fasilitas?

  d. Apakah ada upaya perbaikan yang dilakukan untuk fasilitas umum yang rusak? e. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan tersebut? f. Menurut bapak,seberapa jauh keberhasilan pengelolaan fasilitas umum sendiri?

3) Daftar Pertanyaan Untuk Penumpang Aspek Keselamatan

  1. Apakah terlihat jelas petunjuk jalur evakuasi dan prosedur evakuasi di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  2. Apakah anda tahu titik kumpul evakuasi di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  3. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petunjuk nomor telepon darurat?

  4. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan berupa perlengkapan p3k?

  5. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan

  6. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan berupa tandu?

  7. Apakah penerangan di Stasiun sudah cukup baik/memadai?

  Aspek Keamanan

  1. Menurut anda apakah petugas keamanan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung selalu menjaga kemanan dengan baik?

  2. Menurut anda, apakah perlu adanya CCTV untuk keamanan di Stasiun?

  Aspek Kehandalan/Keteraturan

  cepat? Menurut anda, apakah layanan penjualan tiket kereta api sudah baik dan

  Aspek Kenyamanan

  1. Menurut anda, apakah ruang tunggu yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup luas dan bersih dan nyaman?

  2. Menurut anda, apakah ruang boarding yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup luas dan bersih?

  3. Menurut anda, apakah toilet penumpang di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup memadai bagi penumpang?

  4. Menurut anda, apakah mushola di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup memadai bagi penumpang?

  Aspek Kemudahan

  1. Menurut anda, apakah informasi visual dan informasi audio di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup jelas dipahami dan didengar?

  2. Menurut anda, apakah petugas selalu menginformasikan gangguan perjalanan kereta api kepada para penumpang?

  3. Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petugas khusus

  4. Menurut anda, bagaimana keadaan tempat parkir di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  Aspek Kesetaraan

  1. Menurut anda, apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung perlu adanya akses jalan khusus bagi penumpang difable?

  2. Menurut anda, apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung perlu adanya ruang khusus ibu menyusui?

  3. Menurut anda, sejauhmana keberhasilan atau kemajuan fasilitas umum di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

TRANSKIP DATA

  

No Pertanyaan Jawaban Informan

  1 Apakah ada rencana 1) Perbaikan toilet, hole untuk I 1-1 perbaikan atau penambahan ruang tunggu, peron dan fasilitas umum di Stasiun untuk parkir.

  I KA Rangkasbitung? 2) Pembongkaran rel untuk 1-2 adanya KRL, kemungkinan adanya CCTV, perubahan musholla, ruang ibu menyusui, untuk toilet pria akan ada urinoir dan westafle untuk toilet perempuan, ruang tunggu penumpang, pengatur suhu, peron yang kurang tinggi akan di naikan kembali.

  2 Berapa lama frekuensi 3) 1 semester (6 bulan). I 1-1 waktu yang dibutuhkan 4) Rencana sudah ada dari I 1-2 untuk tahun kemarin dan sudah mengimplementasikan diajukan tetapi untuk perencanaan yang telah waktunya saya tidak tahu karena itu kewenangan dibuat tersebut? pusat.

  3 Berapa jumlah dan luas 5) Baru ada ruang tunggu

  I

  1-1

  ruang tunggu yang ada di untuk penumpang yang akan Stasiun Kereta Api naik kereta dan baru 100m, Rangkasbitung? untuk perbaikan akan dirubah menjadi 200m dan akan ada ruang tunggu dimana untuk penumpang yang menunggu kereta, loket dan yang akan naik kereta. 6) Untuk ruang tunggu belum I 1-2 ada, hanya ada ruang loket dan peron yang seharusnya ada 3 ruangan.

  4 Apakah ada rencana untuk 7) Akan ada perubahan di

  I

  1-1

  membuat toilet dan jalan Stasiun, salah satunya toilet khusus penumpang difable? untuk difable karena saat ini belum ada.

  8) Akan ada pembuatan I 1-2 fasilitas untuk difable dan sudah diajukan.

  5 Apakah ada rencana untuk 9) Ada rencana untuk I 1-1 membuat ruangan khusus perubahan walaupun saat ini ibu menyusui? belum ada ruang khusus ibu menyusui.

  10) Akan ada perubahan untuk

  I

  1-2

  pembuatan ruangan ibu menyusui karena dibutuhkan.

  6 Apakah pihak KA 11) Untuk parkir juga akan

  I

  1-1 Rangkasbitung telah diadakan untuk kedepannya.

  merencanakan perbaikan 12) Sudah ada rencana untuk I 1-2 tempat parkir bagi pembuatan parkiran. Karena penumpang yang membawa sebenarnya jalan yang ada kendaraan ke stasiun? didepan sampai ke sekitar parkir sudah milik PT.KAI tinggal di kelola saja.

  7 Apakah ada hambatan 13) Tidak ada, karena stasiun I 1-1 dalam membuat memakai aset sendiri . Jika perencanaan fasilitas umum memakai aset dari eksternal di Stasiun KA harus ada koordinasi terlebih Rangkasbitung? dahulu. Bahkan kita sudah merencanakan akan ada rel khusus dimana akan ada kereta per30 menit karena akan ada 12 rel dan untuk KRL 4 rel. 14) Tidak ada, karena sudah I 1-2 dilakukan sosialisasi. Hanya pihak ketiga untuk terus berkoordinasi.

  8 Bagaimana mekanisme 15) Pembagian tugas keamanan I 1-1 pengorganisasian tugas diatur sendiri oleh bagian keamanan dalam menjaga kepala sub urusan keamanan di Stasiun Kereta keamanan, tetapi untuk Api Rangkasbitung? keamanan di kereta dan di stasiun setiap harinya ada yang menjaga.

  16) Ada jadwal piket

  I

  1-3

  perharinya. Untuk polsuska perharinya 2 orang (12 jam untuk 1 orang). Dan untuk pkd 8 jam sekali untuk pergantian petugas.

  9 Bagaimana mekanisme 17) Untuk ruangan nanti akan

  I

  1-1

  pengorganisasian ruangan ada pemisahan ruangan di Stasiun KA tunggu karena sekarang Rangkasbitung? masih menyatu dengan loket.

  18) Seharusnya ada 3 ruangan I 1-2 dimana ruang tunggu, loket dan peron.

  10 Apakah telah dilakukan 19) Sudah banyak perubahan

  I

  1-1

  perubahan dalam seperti pergantian garnit, manajemen fasilitas umum pemisahan toilet laki-laki di Stasiun ini? dan perempuan.

  20) Sudah, seperti ada ruang I 1-2 boarding untuk pengecekan tiket, adanya fasilitas tiket online dan keamanan dimana yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk area stasiun seperti pedagang dan pengamen.

  11 Berapa lama waktu yang 21) 20 detik dalam kondisi

  I

  1-1

  digunakan oleh petugas normal dimana hari-hari loket dalam melayani 1 biasa, kecuali weekend dan orang penumpang? long weekend tidak bisa diprediksi.

  22) 5 menit karena tidak sulit untuk melayani pembelian tiket.

  14 Apakah ada hambatan dalam pengorganisasian fasilitas umum di Stasiun KA Rangkasbitung?

  I

  15 Pihak mana yang 29) Kepala Stasiun yang

  1-2

  I

  1-1

  I

  27) Sampai saat ini tidak ada hambatan. 28) Tidak ada, karena sudah ada pembagian tugas masing- masing.

  I 1-1 I 1-2

  I 1-2

  25) Ruang boarding kira-kira 3x2 cm itu pun belum terpisah dengan ruang tunggu. 26) 1 ruangan, 5x5 cm.

  13 Berapa jumlah dan luas ruang boarding yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  I 1-2

  1-1

  I

  23) Perawatan rutin tiap hari oleh petugas kebersihan dan jika ada yang rusak seperti keran atau pintu maka akan langsung diganti. 24) Ada petugas dari pihak ketiga dibagi perhari 5 orang untuk pemeliharaan dan perawatan, dan jika ada kerusakan dan akan dilakukan perbaikan maka langsung diajukan ke kepala stasiun kemudian ke pusat.

  12 Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan ruang tunggu di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  1-1 bertanggung jawab dalam bertanggung jawab penuh. memberikan pengarahan 30) Kepala stasiun dan petugas I 1-2 terkait. dalam manajemen fasilitas umum di Stasiun KA

  I 31) Untuk pengarahan itu dari 1-3

  Rangkasbitung? polsuska kepada pkd setiap apel pagi dan sore.

  I 32) Ada,dari Pak KS, Sub 1-4 urusan pelayanan dan dari pihak Out Sourching nya juga.

  16 Bagaimana pengarahan 33) Adanya meeting atau brifing I 1-1 singkat. yang dilakukan di Stasiun KA Rangkasbitung 34) Ada pembinaan dalam 1

  I

  1-2 mengenai manajemen bulan 2 kali.

  fasilitas umum? 35) Saat pagi-pagi kita I 1-4 membagi tugas untuk perhari dan ada pertemuan juga setiap 2 minggu sekali.

  17 Berapa lama frekuensi 36) Untuk meeting 1 minggu I 1-1 waktu yangdiperlukan sekali. untuk brifing singkat dalam melaksanakan setengah jam tiap hari. pengarahan/pembinaan 37) 1 bulan 2 kali dan untuk I 1-2 tersebut? lama waktu disesuaikan dengan materi. 38) Hanya beberapa menit saja, I 1-3 brifing atau apel singkat.

  18 Apakah selalu ada 39) Ada. I 1-1 pengarahan oleh atasan 40) Selalu ada. dari kepala sub I 1-2 kepada petugas keamanan? ke pelaksana/petugas.

  19 Apakah gangguan perjalanan kereta api selalu diinformasikan kepada para penumpang?

  I 2-7 I 2-8

  1-1

  I

  (Petugas Perjalanan Kereta Api). 57) Iya ada, satpam.

  (Petugas Perjalanan Kereta Api). 56) Ada dari bagian PPKA

  54) Ada terpisah, bagian perjalanan. 55) Ada dari bagian PPKA

  20 Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petugas khusus untuk memberikan informasi kereta api dan layanan pengaduan penumpang?

  I 2-10 I 2-11

  2-9

  I

  2-6

  41) Wajib, dan selalu diinformasikan setiap perkembangan gangguan. 42) Selalu diinformasikan berapa lama keterlambatan kereta, dll. 43) Selalu memberitahu. 44) Selalu diinformasikan. 45) Selalu. 46) Selalu memberitahu. 47) Iya, suka diberitahu. 48) Selalu menginformasikan. 49) Selalu diinformasikan. 50) Iya, selalu diberitahukan. 51) Iya, selalu diinformasikan. 52) Selalu diinformasikan. 53) Belum pernah dengar ada gangguan perjalanan.

  I

  2-5

  I

  I 2-4

  2-3

  I

  2-2

  I

  I 1-1 I 1-2 I 2-1

  I 1-2 I 1-3 I 2-1

  58) Iya ada. 59) Sudah ada. 60) Setahu saya tidak ada petugas khusus, cuma ada

  2-9

  70) Dari bagian kebersihan dan adanya koordinasi kepala stasiun dan bagian pelayanan jika ada yg harus direncanakan atau melakukan perubahan.

  22 Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan toilet di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  I 1-2

  1-1

  I

  service untuk membersihkan ruangan dan area stasiun.

  68) Setiap hari dibersihkan oleh petugas kebersihan. 69) Kepala suburusan pelayanan memberikan tugas ke bagian cleaning

  21 Bagaimana sistem pemeliharaan dan perawatan ruang boarding di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  I 2-10 I 2-11

  I

  PKD yang berjaga saja. 61) Iya ada, kepada satpam. 62) Ada petugas dari PKD atau Security.

  I 2-7 I 2-8

  2-6

  I

  I 2-3 I 2-4 I 2-5

  2-2

  I

  67) Ada. PKD.

  66) Cukup banyak untuk petugas yang berjaga.

  63) Iya ada. 64) Sudah ada, ke bagian PKD. 65) Belum tahu untuk petugas khusus.

  I 1-1

  71) Ada 1 orang yang

  I

  1-2

  membersihkan dari bagian kebersihan dan ada leader yang mengontrol petugas yang setiap harinya membersihkan area stasiun. Dimana setiap harinya ada 5 orang dibagi 8 jam sekali untuk bertugas.

  23 Bagaimana sistem 72) Setiap saat dan memberikan

  I

  1-1

  pengontrolan fasilitas wewenang kepada setiap umum yang dilakukan di bagian-bagiannya dan setiap stasiun KA Rangkasbitung? seminggu sekali dicek.

  73) Dari kepala stasiun I 1-2 memeberi wewenang untuk mengontrol dari kebersihan taman sampai peron.

  24 Apakah ada pengontrolan 74) Dari kepala sub urusan dan

  I

  1-1

  dari atasan kepada kepala stasiun terjun bawahan? langsung ke lapangan dan ada juga absensinya. 75) Ada, jadi ada buku catatan

  I

  1-2

  khusus. Kepala stasiun juga ikut mengontrol.

  I 76) Iya ada. Petugas yang 1-3 berjaga dikontrol oleh

  Kepala suburusan dan kadang kepala stasiun juga ikut mengontrol kerja mereka dalam bentuk catatan. 77) Iya ada.

  I 1-4

  25 Apakah ada upaya 78) Ada. akan segera diperbaiki I 1-1 perbaikan yang dilakukan jika hal kecil seperti keran, untuk fasilitas umum yang pintu yang rusak. jika cukup rusak? rumit maka akan ada pengajuan ke pusat. 79) Selalu ada upaya untuk

  I

  1-2 perbaikan.

  I 80) Ada perbaikan. 1-4 26 Berapa lama frekuensi 81) 6 bulan sekali/ 1 semester. I 1-1 waktu yang dibutuhkan 82) Bagaimana situasi dan

  I

  1-2

  untuk melakukan perbaikan kondisi kerusakannya. Jika fasilitas tersebut? hal kecil langsung diganti dan jika tidak bisa maka langsung diajukan. 83) Jika dapat ditangani sendiri, I 1-4 langsung diperbaiki, tetapi jika tidak agak lama paling 2-3hari.

  27 Mengapa di Stasiun Kereta 84) Sudah ada CCTV tetapi

  I

  1-1

  Api Rangkasbitung tidak hanya satu untuk diarea disediakan CCTV untuk peron. kedepannya akan ada mengontrol keamanan di penambahan. sekitar stasiun? 85) Hanya belum ada, tetapi I 1-2 untuk kedepannya akan ada .

  Hanya baru ada 1, tetapi untuk pelayanan penumpang di Stasiun belum ada CCTV.

  28 Sejauh mana keberhasilan 86) Alhamdulillah banyak I 1-1 pengelolaan fasilitas umum kemajuan dan berhasil. di Stasiun Rangkasbitung? Dimana Stasiun sekarang sudah bersih, tidak ada pedagang asongan atau pengamen yang masuk. 87) Sudah cukup banyak

  I

  1-2

  perubahan, seperti ada penanggung jawab pelayanan yang dulunya tidak ada dan dari keamanan sudah cukup baik untuk memonitor penumpang.

  Mungkin baru 75% karena kurang sterilnya penumpang yang lalu lalang yang masuk untuk lewat ke pasar. 88) Sudah cukup berhasil. I 1-4

  89) Sudah cukup baik dan ada I 2-1 kemajuan. 90) Sudah ada perubahan I 2-2 adanya tempat duduk di peron dan area stasiun sudah bersih. 91) Kalau dibandingkan dengan I 2-3 satu/dua tahun kebelakang sudah cukup baik dan nyaman. 92) Sudah lumayan ada kemajuan dibanding dulu.

  Stasiun sekarang sudah tidak ada pengamen, pedagang dan sudah cukup bersih. 93) Ada walaupun bertahap.

  Contohnya sudah ada ruang boarding pass, pemisah antrian, tangga untuk naik kereta. 94) Lumayan, tetapi belum sangat baik karena belum ada parkiran, musholla, ruang tunggu dan loket walaupun sudah bersih dan nyaman tetapi masih perlu perbaikan. 95) Sudah banyak perubahan, seperti sudah bersih tetpi masih ada kekurangan dari bangunan dan fasilitas seperti parkir dan musholla, tetapi untuk di stasiunnya sudah cukup aman dan nyaman. 96) Sudah cukup berhasil dibanding dulu karena dulu

  I 2-4

  I

  2-5

  I 2-6 I 2-7

  I

  2-8 banyak pedagang. 97) Sudah ada kemajuan, cukup I 2-9 lumayan hanya perlu perbaikan-perbaikan. 98) Sudah ada kemajuan I 2-10 dibanding dulu. Sekarang sudah rapi dan bersih, tetapi masih harus dibenahi untuk lahan parkir yang tidak ada. 99) Sudah lumayan, hanya I 2-11 masih kurang perbaikan dan pembangunan yang lama.

  29 Apakah ada rencana untuk 100) Tidak ada, karena I 1-3 penambahan petugas sudah cukup dan sampai saat keamanan kedepannya? ini tidak ada tindak kejahatan.

  30 Upaya apa yang dilakukan 101) Kalau hari raya, I 1-3 untuk meminimalisir pertama dari PT.KA dibantu adanya tindak kejahatan oleh kepolisian untuk saat hari libur atau hari kegiatan patroli, kemudian raya? pengamanan jalur, untuk patroli ada yang malam harinya karena ada yang stablingan. Kalau untuk pengamanan penumpang, setiap penumpang mau naik dan turun dari kereta ada pkd didekat pintu untuk membantu penumpang baik saat naik ataupun turun kereta, kemudian pengaman peron saat kereta datang maupun berangkat serta memastikan pintu kereta tertutup saat berangkat.

  31 Berapa jumlah petugas keamanan di Stasiun KA Rangkasbitung?

  102) Jumlahnya ada

  28 orang. Untuk polsuska ada 4 orang sudah pegawai tetap dan pkd ada 24 orang itu outsorching.

  I 1-3

  32 Apakah ada upaya pencarian untuk barang- barang penumpang yang hilang?

  103) Sampai saat ini belum ada yang kehilangan, tetapi jika ada maka akan ada pencarian.

  I 1-3

  33 Berapa lama frekuensi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pencarian tersebut?

  104) Tidak bisa diprediksi. I 1-3

  34 Sejauh mana keberhasilan keamanan di Stasiun Rangkasbitung?

  105) Sudah banyak kemajuan dimana pihak keamanan sudah menjaga keamanan area stasiun dan penumpang tidak terganggu oleh adanya pedagang dan pengamen.

  I 1-3

  35 Untuk tim kebersihan di stasiun ini apakah dari PT KAI sendiri atau bukan?

  110) Ke bagian pelayanan stasiun, ke bapak Purwanto di jakarta.

  2-7

  I

  I 2-6

  2-5

  I

  I 2-1 I 2-2 I 2-3 I 2-4

  117) Belum pernah lihat karena belum pernah mengalami. 118) Tidak pernah lihat.

  115) Iya, terlihat. 116) Pernah lihat dan mengetahui.

  112) Tidak terlihat. 113) Terlihat. 114) Iya terlihat, di dinding.

  40 Apakah terlihat jelas petunjuk jalur evakuasi dan prosedur evakuasi di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung? 111) Tidak terlihat.

  I 1-4

  39 Kepada siapa anda berkoordinasi jika ada kerusakan fasilitas?

  106) Diambil dari luar PT kereta api, kita semua outsourching dari PT.Eksasindo.

  1-4

  I

  109) Jadi untuk pagi hari itu 6 orang, sore 4 kadang kalau libur ya 2. Untuk pagi- pagi mulai dari jam 6.30- 14.00, dan sore dari jam 14.00-22.00.

  38 Bagaimana mekanisme pembagian tugas petugas kebersihan?

  1-4

  I

  37 Apakah SOP kerjanya? 108) Ada, dari PT outsourching.

  I 1-4

  107) Ada 12 berikut leader 1.

  36 Berapa jumlah tim kebersihan di stasiun rangkasbitung ini?

  1-4

  I

  I 2-8

  119) Tidak tahu. 120) Tidak pernah lihat. 121) Ada kalau tidak salah.

  I

  2-7

  I

  I 2-3 I 2-4 I 2-5 I 2-6

  2-2

  I

  I 2-1

  133) Tidak mengetahui karena tidak terlihat. 134) Tidak lihat, hanya tahu ada didalam kereta. 135) Tidak tahu. 136) Iya, terlihat di pamflet. 137) Tidak lihat. 138) Pernah lihat. 139) Tidak ada. 140) Tidak pernah lihat.

  42 Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat petunjuk nomor telepon darurat?

  I 2-10 I 2-11

  I 2-8 I 2-9

  2-7

  I 2-6

  I

  2-5

  I

  I 2-4

  2-3

  I

  I 2-1 I 2-2

  126) Tahu, diarah pintu keluar. 127) Tahu, ada di ujung stasiun. 128) Tidak tahu. 129) Tahu, ada didepan. 130) Tidak tahu, karena belum pernah. 131) Tahu, ada di depan. 132) Tidak pernah lihat.

  123) Tidak pernah lihat. 124) Tahu, didepan stasiun. 125) Iya tahu. Ada di ujung tempat keluar stasiun.

  41 Apakah anda tahu titik kumpul evakuasi di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung? 122) Tidak mengetahui.

  I 2-10 I 2-11

  2-9

  I 2-8

  141) Belum lihat. 142) Tidak tahu, mungkin ada.

  2-2

  44 Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan berupa kursi roda? 155) Tidak tahu.

  156) Lihat, disamping ruang boarding. 157) Tidak tahu. 158) Iya lihat. Ada di samping ruang boarding. 159) Belum pernah lihat.

  160) Tidak pernah lihat. 161) Kursi roda sudah ada

  I

  2-1

  I

  I

  2-10

  2-3

  I

  2-4

  I 2-5

  I

  2-6

  I 2-11

  I

  143) Tidak pernah lihat.

  145) Tahu, disamping pintu keluar. 146) Tidak mengetahui, tetapi seharusnya ada.

  I

  2-9

  I 2-10

  I

  2-11

  43 Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan berupa perlengkapan p3k? 144) Tidak tahu.

  147) Tidak tahu. 148) Sepertinya ada. 149) Tidak pernah lihat, mungkin ada di rusang evakuasi. 150) Sudah ada dan pernah lihat.

  I 2-7 I 2-8 I 2-9

  151) Tidak ada. 152) Belum tahu. 153) Pernah lihat. 154) Pernah lihat dan tahu.

  I 2-1

  I

  2-2

  I 2-3 I 2-4 I 2-5

  I

  2-6

  I 2-7 untuk pengguna stasiun 162) Tidak ada. 163) Belum tahu. 164) Pernah lihat. 165) Kalau untuk kursi roda tidak lihat.

  I 2-8 I 2-9

  2-6

  I

  I 2-3 I 2-4

  2-2

  I

  I 2-1

  177) Kurang tahu karena jarang pulang sore atau malam. 178) Biasa saja, sedang. 179) Untuk di peron kurang, karena sebagian lampu mati. 180) Lumayan, tetapi masih harus ditambah. 181) Cukuplah untuk penerangan penumpang.

  46 Apakah penerangan di Stasiun sudah cukup baik/memadai?

  I 2-11

  2-10

  I

  I 2-8 I 2-9

  2-7

  I

  I

  I

  I 2-5

  2-4

  I

  2-3

  I

  I 2-2

  2-1

  I

  175) Tidak tahu. 176) Tidak tahu.

  167) Tidak tahu. 168) Tidak tahu. 169) Tidak tahu. 170) Tidak tahu. 171) Tidak pernah lihat. 172) Tidak pernah lihat. 173) Tidak ada. 174) Belum lihat, sepertinya tidak ada.

  45 Apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung terdapat fasilitas kesehatan berupa tandu? 166) Tidak tahu.

  I 2-11

  2-10

  2-5

  182) Belum cukup, masih harus ditambah. 183) Sudah cukup terang. 184) Sudah cukup terang. 185) Masih seperti dulu, tetapi sudah lumayan 90%. 186) Menurut saya sudah cukup terang. 187) Sudah cukup terang.

  188) Keamanan sudah cukup baik. 189) Ada yang sudah dan belum, masih ada yang cuek saja saat kereta datang. 190) Sudah cukup baik, selalu mengingatkan dan menjaga penumpang. 191) Lumayan, kadang membantu saat kereta datang. 192) Lumayan, hanya terkadang kurang sigap.

  2-6

  I

  I 2-3 I 2-4 I 2-5

  2-2

  I

  2-1

  I

  Seperti saya pernah ketinggalan barang dan saat kembali ke stasiun langsung hilang. 193) Sudah cukup baik. 194) Sudah cukup baik, tidak ada pengamen dan

  47 Menurut anda apakah petugas keamanan di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung selalu menjaga kemanan dengan baik?

  I

  I 2-11

  2-10

  I

  I 2-9

  2-8

  I

  I 2-7

  2-6

  I 2-7 pedagang. 195) Sudah cukup menjaga I 2-8 keamanan penumpang.

  I 196) Untuk keamanan 2-9 sudah ada kemajuan, tidak seperti dulu. Sudah tidak ada yang berjualan.

  I 197) Sudah menjaga 2-10 keamanan dengan baik, tidak seperti dulu semrawut dengan pedagang yang masuk.

  198) Kalau untuk di pintu I 2-11 masuk dan keluar sudah cukup. Kalau untuk kereta datang ada kesemrawutan antara yang naik dan turun penumpang.

  48 Menurut anda, apakah perlu 199) Sangat dibutuhkan I 2-1 CCTV di Stasiun untuk jika ada kejadian-kejadian. keamanan? 200) Sangat dibutuhkan, I 2-2 karena takut ada pencurian.

  I 201) Dibutuhkan CCTV. 2-3 202) Sangat dibutuhkan I 2-4 untuk merekam kejadian yang ada di stasiun.

  I 203) Sangat dibutuhkan, 2-5 karena sangat berguna disaat kejadian tak terduga seperti pencurian. 204) Penting, untuk I 2-6 merekam kejadian di stasiun. 205) Dibutuhkan, I 2-7 walaupun tidak ada pengamen dan pedagang tetapi dikhawatirkan ada penumpang yang berniat jahat.

  I 206) Bisa dibutuhkan bisa 2-8 juga tidak, tergantung kondisi stasiun.

  207) Menurut saya I 2-9 dibutuhkan, karena takut ada kejadian-kejadian tak diduga.

  I 208) Seharusnya ada. 2-10

  I 2-11 209) Butuh, agar lebih aman jika ada hal-hal atau kejadian tidak diinginkan bisa direkam di CCTV.

  49 Menurut anda, apakah 210) Lumayan baik, sudah I 2-1 layanan penjualan tiket cukup cepat. kereta api sudah baik dan 211) Sudah cukup baik,

  I

  2-2 cepat? pelayanannya cepat.

  212) Untuk penjualan tiket I 2-3 di loket sudah cukup baik dibanding sebelumnya. 213) Lumayan, walaupun terkadang antrian menjadi panjang. 214) Tergantung kelas keretabyang dibeli, kalau yang krakatau iitu dimudahkan. Kalau yang ekonomi lokal cukup mengantri panjang karena loket hanya 1. 215) Untuk pelayanan loket masih kurang, karena hanya ada 1 loket untuk kereta ke arah merak.

  216) Sudah cukup cepat. 217) Sudah cukup cepat. 218) Sudah cepat. 219) Sudah cukup cepat. 220) Untuk loket yang lokal terbatas hanya 1 atau

  2, jadi banyak antrian yang penuh. Seperti loket untuk kereta patas merak.

  I 2-4 I 2-5 I 2-6 I 2-7

  I

  2-8

  I

  2-9

  I 2-10 I 2-11

  50 Menurut anda, apakah ruang tunggu yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup luas dan bersih dan nyaman?

  221) Sudah cukup bersih dan nyaman. 222) Sudah cukup bersih tetapi jika ramai kurang memadai.

  I 2-1

  I

  2-2

  223) Tidak disediakan

  I

  2-3

  ruang tunggu setelah membeli tiket, hanya ada ruang tunggu peron untuk hari-hari tertentu yang penumpangnya banyak kekurangan tempat duduk, kadang tidak nyaman karena panas. 224) Untuk ruang tunggu I 2-4 kereta kurang kursi dan di loket sangat penumpuk. 225) Sudah cukup untuk I 2-5 hari-hari biasa, tetapi untuk saat mudik kekurangan.

  I 2-6 226) Ruang tunggu sudah cukup, tetapi seharusnya ada ruang tunggu di bagian loket dan agak besar.

  227) Kapasitas untuk ruang I 2-7 tunggu masih kurang.

  I 228) Sudah bersih dan 2-8 cukup nyaman, tetapi untuk mengantri di loket tidak ada.

  I 229) Sudah cukup nyaman. 2-9

  I 2-10 230) Sudah cukup bersih dan nyaman.

  I

  2-11

  231) Sudah lumayan cukup nyaman.

  51 Menurut anda, apakah ruang boarding yang ada di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup luas dan bersih?

  I

  I

  2-2

  I

  I 2-1

  243) Tidak pernah menggunakan toilet. 244) Masih agak bau dan baknya kotor. 245) Jarang ada air, tetapi

  52 Menurut anda, apakah toilet penumpang di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup memadai bagi penumpang?

  I 2-11

  2-10

  I

  I 2-9

  2-8

  2-7

  232) Sudah cukup luas. 233) Masih sempit, karena masih suka mengantri.

  I

  2-6

  I

  2-5

  I

  I 2-4

  2-3

  I

  I 2-2

  2-1

  I

  234) Sudah cukup, tetapi karena banyaknya penumpang dan waktu yang mepet jadi terkadang agak susah untuk masuk. 235) Cukup bersih tetapi agak sempit. 236) Sudah cukup, jangan luas-luas nanti mempersempit jalan masuk. 237) Masih sempit, kurang luas karena masih suka mengantri. 238) Sudah cukup, standar. 239) Sudah cukup, untuk masuk ke stasiun. 240) Belum luas, harus diperbesar. 241) Cukup untuk masuk ke stasiun. 242) Sudah cukup.

  2-3 petugasnya sudah baik. 246) Kurang, karena masih belum tertutup bagian belakang toilet, pintu masih rusak.

  247) Lumayan untuk fasilitas umum, tetapi masih banyak yang harus diperbaiki karena bagian belakang tidak tertutupi, tidak ada westafle dan pintu tidak bisa dikunci. 248) Untuk toilet masih kurang baik, karena air kadang mati, pintu rusak, dan kurang memadai. 249) Sudah cukup baik dan memadai, serta bersih.

  250) Sudah cukup bersih. 251) Cukup lumayan baik. 252) Sudah cukup bersih. 253) Masih kurang, karena terkadang tidak ada air, pintu yang rusak dan tidak ada tisu dan sabun.

  I 2-4 I 2-5 I 2-6 I 2-7 I 2-8 I 2-9

  I

  2-10

  I

  2-11

  53 Menurut anda, apakah musholla di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup memadai bagi penumpang?

  254) Belum pernah menggunakan musholla. 255) Tidak pernah ke musholla.

  I 2-1 I 2-2

  256) Untuk musholla sudah

  I

  2-3 cukup.

  257) Kurang luas dan tidak I 2-4 ada pemisah antara laki-laki dan perempuan. 258) Memadai tetapi belum I 2-5 layak karena belum ada pemisah antara perempuan dan laki-laki. 259) Untuk musholla I 2-6 seharusnya terpisah dan kurang lebar. 260) Belum ada perubahan, I 2-7 masih kurang luas.

  I 2-8 261) Untuk musholla kurang luas.

  I 262) Untuk musholla harus 2-9 diperbesar dan terpisah antara laki-laki dan perempuan.

  I 263) Sudah cukup untuk 2-10 penumpang, tetapi jika ramai tidak terlalu luas tapi tidak masalah karena sudah ada musholla pun sudah syukur.

  I 2-11 264) Terlalu sempit, karena tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan.

  54 Menurut anda, apakah informasi visual dan informasi audio di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung cukup jelas dipahami dan didengar? 265) Jelas.

  55 Menurut anda, apakah petugas selalu menginformasikan gangguan perjalanan kereta api kepada para penumpang?

  2-8

  I

  I 2-7

  2-6

  I

  I 2-4 I 2-5

  2-3

  I

  I 2-2

  2-1

  I

  282) Selalu diinformasikan. 283) Iya, selalu diberitahukan. 284) Iya, selalu

  278) Selalu. 279) Selalu memberitahu. 280) Iya, suka diberitahu. 281) Selalu menginformasikan.

  276) Selalu memberitahu. 277) Selalu diinformasikan.

  2-11

  266) Sudah baik, terdengar jelas. 267) Sudah cukup jelas. 268) Cukup jelas. 269) Sudah cukup jelas. 270) Sudah cukup dan baik. 271) Sudah cukup jelas. 272) Terdengar jelas.

  2-3

  273) Sudah cukup jelas. 274) Cukup jelas dan terdengar.

  275) Kadang jelas, kadang tidak terdengar karena menggema.

  I

  2-1

  I 2-2

  I

  I 2-4 I 2-5

  I

  I

  2-6

  I 2-7 I 2-8

  I

  2-9

  I 2-10

  I 2-9 diinformasikan. 285) Selalu diinformasikan.

  286) Belum pernah dengar ada gangguan perjalanan.

  2-5

  I

  I 2-8

  2-7

  I

  2-6

  I

  I

  I 2-10

  I 2-2 I 2-3 I 2-4

  2-1

  I

  287) Lumayan untuk roda 2. 288) Untuk parkir masih sempit. 289) Tidak tersedia parkir. 290) Stasiun tidak ada tempat parkir penumpang, hanya ada tukang ojek dan becak. Ada juga khusus untuk petugas. 291) Tidak ada parkiran, hanya tempat tukang ojek dan becak. 292) Untuk parkir itu kurang, karena tidak ada tempat. Hanya tukang ojek dan becak. 293) Untuk tempat parkir masih berantakan. 294) Kurang luas, malah macet terus. 295) Untuk tempat parkir masih kurang, seharusnya ditambah dan diperluas.

  56 Menurut anda, bagaimana keadaan tempat parkir di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung?

  2-11

  I

  2-9

  296) Jika untuk tempat parkir masih kurang lahan untuk parkir kendaraan penumpang. 297) Tidak ada lahan parkir, hanya ada tukang ojek dan becak. Harus diadakan lahan parkir.

  2-3

  I

  I 2-7

  2-6

  I

  2-5

  I

  2-4

  I

  I

  I

  2-2

  I

  I 2-1

  Penumpang kan berbeda- beda. 302) Harus ada, penumpang kan beragam. 303) Perlu. Penting, karena sewaktu-waktu pasti ada penumpang difable. 304) Perlu, untuk kenyamanan. 305) Perlu, karena kebutuhannya sama seperti penumpang lain.

  299) Perlu ada, karena membutuhkan pelayanan yang sama. 300) Perlu dan seharusnya sudah menjadi standar pelayanan publik. 301) Sangat perlu, agar tidak ada perbedaan layanan.

  57 Menurut anda, apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung perlu adanya akses jalan khusus bagi penumpang difable? 298) Perlu ada.

  I 2-11

  2-10

  2-8

  306) Perlu. 307) Harus diadakan untuk penyandang difable.

  2-3

  2-10

  I

  2-9

  I

  2-8

  I

  I 2-5 I 2-6 I 2-7

  2-4

  I

  I

  308) Seharusnya ada, agar ada perbedaan.

  I 2-2

  2-1

  I

  310) Perlu adanya ruangan untuk ibu menyusui. 311) Perlu. 312) Sangat perlu, agar ibu dan bayi merasa nyaman. 313) Harus ada, karena hal demikian bersifat privasi jadi butuh ruangan khusus. 314) Harus ada, karena agar menutup aurat ibu yang sedang menyusui. 315) Perlu, agar ibu yang menyusui nyaman. 316) Perlu, karena kasihan bayi dan ibu yang akan menyusui. 317) Itu perlu, karena tempat umum jadi harus ada ruang khusus ibu dan bayi. 318) Sebenarnya harus ada untuk ibu yang menyusui agar tertutup. 319) Perlu.

  58 Menurut anda, apakah di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung perlu adanya ruang khusus ibu menyusui? 309) Kurang tahu.

  2-11

  I

  I 2-10

  2-9

  I

  I 2-11

KODING DATA PENELITIAN

  Kode Kata Kunci 1 Perbaikan toilet, hole untuk ruang tunggu, peron dan untuk parkir.

  2 Pembongkaran rel untuk adanya KRL, kemungkinan adanya CCTV, perubahan musholla, ruang ibu menyusui, untuk toilet pria akan ada urinoir dan westafle untuk toilet perempuan, ruang tunggu penumpang, pengatur suhu.

  3 1 semester (6 bulan).

  4 Rencana sudah ada.

  5 Baru ada ruang tunggu untuk penumpang yang akan naik kereta dan baru 100m.

  6 Untuk ruang tunggu belum ada, hanya ada ruang loket dan peron yang seharusnya ada 3 ruangan.

  7 Akan ada perubahan di Stasiun, salah satunya toilet untuk difable karena saat ini belum ada.

  8 Akan ada pembuatan fasilitas untuk difable dan sudah diajukan.

  9 Ada rencana untuk perubahan.

  10 Akan ada perubahan.

  11 Untuk parkir juga akan diadakan.

  12 Sudah ada rencana untuk pembuatan parkiran.

  13 Tidak ada hambatan dalam membuat perencanaan.

  14 Tidak ada, karena sudah dilakukan sosialisasi.

  15 Pembagian tugas keamanan diatur sendiri oleh bagian kepala sub urusan keamanan.

  16 Ada jadwal piket perharinya.

  17 Untuk ruangan nanti akan ada pemisahan ruangan tunggu karena sekarang masih menyatu dengan loket.

  18 Seharusnya ada 3 ruangan dimana ruang tunggu, loket dan peron.

  31 Pengarahan dari polsuska kepada pkd setiap apel pagi dan sore.

  38 Hanya beberapa menit saja, brifing atau apel singkat.

  36 Untuk meeting 1 minggu sekali. Untuk brifing singkat setengah jam tiap hari. 37 1 bulan 2 kali dan untuk lama waktu disesuaikan dengan materi.

  35 Ada pertemuan juga setiap 2 minggu sekali.

  34 Ada pembinaan dalam 1 bulan 2 kali.

  33 Adanya meeting atau brifing singkat.

  32 Ada pengarahan,dari Pak KS, Sub urusan pelayanan dan dari pihak Out Sourching .

  30 Kepala stasiun dan petugas terkait.

  19 Sudah banyak perubahan.

  29 Kepala Stasiun yang bertanggung jawab penuh.

  28 Tidak ada, karena sudah ada pembagian tugas masing-masing.

  27 Sampai saat ini tidak ada hambatan.

  25 Ruang boarding kira-kira 3x2 cm itu pun belum terpisah dengan ruang tunggu. 26 1 ruangan, 5x5 cm.

  24 Ada petugas dari pihak ketiga dibagi perhari 5 orang untuk pemeliharaan dan perawatan.

  23 Perawatan rutin tiap hari oleh petugas kebersihan.

  20 Sudah, seperti ada ruang boarding untuk pengecekan tiket, adanya fasilitas tiket online. 21 20 detik dalam kondisi hari-hari biasa, kecuali weekend dan long weekend tidak bisa diprediksi. 22 5 menit karena.

  39 Ada.

  40 Selalu ada.

  55 Ada dari bagian PPKA (Petugas Perjalanan Kereta Api).

  67 Ada. PKD.

  66 Cukup banyak untuk petugas yang berjaga.

  65 Belum tahu untuk petugas khusus.

  64 Sudah ada, ke bagian PKD.

  63 Iya ada.

  62 Ada petugas dari PKD atau Security.

  61 Iya ada, kepada satpam.

  60 Cuma ada PKD yang berjaga saja.

  59 Sudah ada.

  58 Iya ada.

  57 Iya ada, satpam.

  56 Ada dari bagian PPKA (Petugas Perjalanan Kereta Api).

  54 Ada terpisah, bagian perjalanan.

  41 Wajib, dan selalu diinformasikan.

  53 Belum pernah dengar ada gangguan perjalanan.

  52 Selalu diinformasikan.

  51 Iya, selalu diinformasikan.

  50 Iya, selalu diberitahukan.

  49 Selalu diinformasikan.

  48 Selalu menginformasikan.

  47 Iya, suka diberitahu.

  46 Selalu memberitahu.

  45 Selalu.

  44 Selalu diinformasikan.

  43 Selalu memberitahu.

  42 Selalu diinformasikan.

  68 Setiap hari dibersihkan oleh petugas kebersihan.

  69 Kepala suburusan pelayanan memberikan tugas ke bagian cleaning service untuk membersihkan ruangan dan area stasiun.

  70 Dari bagian kebersihan dan adanya koordinasi kepala stasiun dan bagian.

  Ada 1 orang yang membersihkan dari bagian kebersihan dan ada leader 71 yang mengontrol petugas yang setiap harinya membersihkan area stasiun. Setiap saat dan memberikan wewenang kepada setiap bagian-bagiannya dan setiap seminggu sekali dicek.

  72 Dari kepala stasiun memeberi wewenang untuk mengontrol dari kebersihan taman sampai peron.

  73 Dari kepala sub urusan dan kepala stasiun terjun langsung ke lapangan dan ada juga absensinya.

  74 Ada buku catatan khusus. Kepala stasiun juga ikut mengontrol.

  75 Petugas yang berjaga dikontrol oleh Kepala suburusan dan kadang kepala stasiun juga ikut mengontrol kerja mereka dalam bentuk catatan.

  76 Iya ada.

  77 Akan segera diperbaiki jika hal kecil seperti keran, pintu yang rusak. jika cukup rumit maka akan ada pengajuan ke pusat.

  78 Selalu ada upaya untuk perbaikan.

  79 Ada perbaikan. 80 6 bulan sekali/ 1 semester.

  81 Jika hal kecil langsung diganti dan jika tidak bisa maka langsung diajukan.

  82 Jika dapat ditangani sendiri, langsung diperbaiki, tetapi jika tidak agak lama paling 2-3hari.

  83 Sudah ada CCTV tetapi hanya satu untuk diarea peron.

  84 Hanya baru ada 1, tetapi untuk pelayanan penumpang di Stasiun belum ada CCTV.

  85 Banyak kemajuan dan berhasil.

  86 Sudah cukup banyak perubahan.

  87 Sudah cukup berhasil.

  88 Sudah cukup baik dan ada kemajuan.

  89 Sudah ada perubahan adanya tempat duduk di peron dan area stasiun sudah bersih.

  90 Kalau dibandingkan dengan satu/dua tahun kebelakang sudah cukup baik dan nyaman.

  91 Sudah lumayan ada kemajuan dibanding dulu.

  92 Ada walaupun bertahap.

  93 Lumayan, tetapi belum sangat baik karena belum ada parkiran, musholla, ruang tunggu dan loket.

  94 Sudah banyak perubahan.

  95 Sudah cukup berhasil dibanding dulu karena dulu banyak pedagang.

  96 Cukup lumayan hanya perlu perbaikan-perbaikan.

  97 Sudah ada kemajuan dibanding dulu.

  98 Sudah lumayan, hanya masih kurang perbaikan dan pembangunan yang lama.

  99 Tidak ada. 100

  Kalau hari raya, pertama dari PT.KA dibantu oleh kepolisian untuk kegiatan patroli, kemudian pengamanan jalur, untuk patroli ada yang malam harinya. Untuk pengamanan penumpang, setiap penumpang mau naik dan turun dari kereta ada pkd didekat pintu, kemudian pengaman peron saat kereta datang maupun berangkat . 101 Jumlahnya ada 28 orang. 102 Sampai saat ini belum ada yang kehilangan. 103 Tidak bisa diprediksi. 104 Sudah banyak. 105 Diambil dari luar PT kereta api, dari PT.Eksasindo. 106 Ada 12 berikut leader 1. 107 Ada, dari PT outsourching.

  108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 Untuk pagi hari itu 6 orang, sore 4 kadang kalau libur 2.

  Ke bagian pelayanan stasiun bapak Purwanto di jakarta. Tidak terlihat. Tidak terlihat. Terlihat. Iya terlihat. Iya, terlihat. Pernah lihat. Belum pernah lihat. Tidak pernah lihat. Tidak tahu. Tidak pernah lihat. Ada kalau tidak salah. Tidak mengetahui. Tidak pernah lihat. Tahu. Iya tahu. Tahu. Tahu. Tidak tahu. Tahu. Tidak tahu. Tahu. Tidak pernah lihat. Tidak mengetahui. Tidak lihat. Tidak tahu. Iya terlihat. Tidak lihat.

  137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 Pernah lihat.

  Tidak ada. Tidak pernah lihat. Belum lihat. Tidak tahu. Tidak. Tidak tahu. Tahu. Tidak mengetahui. Tidak tahu. Sepertinya ada. Tidak pernah lihat. Sudah ada. Tidak ada. Belum tahu. Pernah lihat. Pernah lihat. Tidak tahu. Lihat. Tidak tahu. Iya lihat. Belum pernah lihat. Tidak pernah lihat. Kursi roda sudah ada. Tidak ada. Belum tahu. Pernah lihat. Kalau untuk kursi roda tidak lihat. Tidak tahu.

  166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 Tidak tahu.

  Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak pernah lihat. Tidak pernah lihat. Tidak ada. Belum lihat. Tidak tahu. Tidak tahu. Kurang tahu. Biasa saja. Untuk di peron kurang. Lumayan. Cukuplah untuk penerangan penumpang. Belum cukup. Sudah cukup terang. Sudah cukup terang. Sudah lumayan 90%. Cukup terang. Sudah cukup terang. Keamanan sudah cukup baik. Ada yang sudah dan belum. Sudah cukup baik. Lumayan. Lumayan. Sudah cukup baik. Sudah cukup baik. Sudah cukup menjaga keamanan penumpang.

  195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 Untuk keamanan sudah ada kemajuan.

  Sudah menjaga keamanan dengan baik. Kalau untuk di pintu masuk dan keluar sudah cukup. Kalau untuk kereta datang ada kesemrawutan antara yang naik dan turun penumpang.

  Sangat dibutuhkan. Sangat dibutuhkan. Dibutuhkan CCTV. Sangat dibutuhkan untuk merekam kejadian yang ada di stasiun. Sangat dibutuhkan. Penting, untuk merekam kejadian di stasiun. Dibutuhkan, walaupun tidak ada pengamen dan pedagang tetapi dikhawatirkan ada penumpang yang berniat jahat.

  Bisa dibutuhkan bisa juga tidak, tergantung kondisi stasiun. Dibutuhkan, karena takut ada kejadian-kejadian tak diduga. Seharusnya ada. Butuh, agar lebih aman. Lumayan sudah cukup cepat. Sudah cukup baik, pelayanannya cepat. Untuk penjualan tiket di loket sudah cukup baik. Lumayan, walaupun terkadang antrian menjadi panjang. Tergantung kelas kereta yang dibeli. Untuk pelayanan loket masih kurang. Sudah cukup cepat. Sudah cukup cepat. Sudah cepat. Sudah cukup cepat. Untuk loket yang lokal terbatas hanya 1 atau 2. Sudah cukup bersih dan nyaman. Sudah cukup bersih tetapi jika ramai kurang memadai.

  222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248

  Tidak disediakan ruang tunggu setelah membeli tiket, hanya ada ruang tunggu peron. Untuk ruang tunggu kereta kurang kursi. Sudah cukup untuk hari-hari biasa, tetapi untuk saat mudik kekurangan. Seharusnya ada ruang tunggu di bagian loket dan agak besar. Kapasitas untuk ruang tunggu masih kurang. Sudah bersih dan cukup nyaman, tetapi untuk mengantri di loket tidak ada. Sudah cukup nyaman. Sudah cukup bersih dan nyaman. Sudah lumayan cukup nyaman. Sudah cukup luas. Masih sempit, karena masih suka mengantri. Sudah cukup. Cukup bersih tetapi agak sempit. Sudah cukup. Masih sempit. Sudah cukup. Sudah cukup. Belum luas, harus diperbesar. Cukup. Sudah cukup. Tidak pernah menggunakan toilet. Masih agak bau dan baknya kotor. Jarang ada air. Kurang, karena masih belum tertutup bagian belakang toilet. Bagian belakang tidak tertutupi, tidak ada westafle dan pintu tidak bisa dikunci. Untuk toilet masih kurang baik.

  249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 Sudah cukup baik dan memadai.

  Sudah cukup bersih. Cukup lumayan baik. Sudah cukup bersih. Masih kurang. Belum pernah menggunakan musholla. Tidak pernah ke musholla. Untuk musholla sudah cukup. Kurang luas dan tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan. Belum layak karena belum ada pemisah antara perempuan dan laki-laki. Untuk musholla seharusnya terpisah dan kurang lebar. Belum ada perubahan. Untuk musholla kurang luas. Untuk musholla harus diperbesar dan terpisah antara laki-laki dan perempuan.

  Jika ramai tidak terlalu luas tapi tidak masalah karena sudah ada musholla pun sudah syukur. Terlalu sempit, tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan. Jelas. Sudah baik, terdengar jelas. Sudah cukup jelas. Cukup jelas. Sudah cukup jelas. Sudah cukup. Sudah cukup jelas. Terdengar jelas. Sudah cukup jelas. Cukup jelas terdengar. Kadang jelas, kadang tidak terdengar karena menggema.

  276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 Selalu memberitahu.

  Selalu diinformasikan. Selalu. Selalu memberitahu. Iya, suka diberitahu. Selalu menginformasikan. Selalu diinformasikan.

  Iya, selalu diberitahukan. Iya, selalu diinformasikan. Selalu diinformasikan. Belum pernah dengar ada gangguan perjalanan. Lumayan untuk roda 2. Untuk parkir masih sempit. Tidak tersedia parkir. Stasiun tidak ada tempat parkir penumpang, hanya ada tukang ojek dan becak.

  Tidak ada parkiran, hanya tempat tukang ojek dan becak. Untuk parkir itu kurang. Hanya tukang ojek dan becak. Untuk tempat parkir masih berantakan. Kurang luas, malah macet terus. Untuk tempat parkir masih kurang. Untuk tempat parkir masih kurang lahan untuk parkir kendaraan penumpang.

  Tidak ada lahan parkir, hanya ada tukang ojek dan becak. Perlu ada. Perlu ada, karena membutuhkan pelayanan yang sama. Perlu, seharusnya sudah menjadi standar pelayanan publik. Sangat perlu, agar tidak ada perbedaan layanan. Harus ada.

  303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 Penting, karena sewaktu-waktu pasti ada penumpang difable.

  Perlu, untuk kenyamanan. Perlu, karena kebutuhannya sama seperti penumpang lain. Perlu. Harus diadakan untuk penyandang difable. Seharusnya ada, agar ada perbedaan. Kurang tahu. Perlu adanya ruangan untuk ibu menyusui. Perlu. Sangat perlu, agar ibu dan bayi merasa nyaman. Harus ada, karena hal demikian bersifat privasi jadi butuh ruangan khusus.

  Harus ada, karena agar menutup aurat ibu yang sedang menyusui. Perlu, agar ibu yang menyusui nyaman. Perlu, karena kasihan bayi dan ibu yang akan menyusui. Perlu, karena tempat umum jadi harus ada ruang khusus ibu dan bayi. Sebenarnya harus ada untuk ibu yang menyusui agar tertutup. Perlu. Dokumentasi : Wawancara dengan Bapak Oya Santika Wawancara dengan Bapak Ulung

  (Wakil kepala Stasiun) Tanggal 12 (Ketua kebersihan) Tanggal 16 Februari Februari 2016, Pukul 10.00 WIB di 2016, Pukul 11.05 WIB di Stasiun KA

  Rangkasbitung Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Asnawi Wawancara dengan Ibu Asni (Penumpang) Tanggal 16 Februari

  (Penumpang) Tanggal 16 Februari 2016, 2016, Pukul 13.50 di Stasiun KA

  Pukul 13.00 di Stasiun KA Rangkasbitung

  Rangkasbitung Wawancara dengan Bapak Andri (Kepala Stasiun) Tanggal 19 September

  2016, Pukul 10.30 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Supriyatin (Junior Supvisor Pelayanan Stasiun)

  Tanggal 19 September 2016, Pukul 11.50 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Ulung (Ketua kebersihan Stasiun) Tanggal 12

  September 2016, Pukul 13.10 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Munah (Penumpang) Tanggal 19 September

  2016, Pukul 14.05 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung Wawancara dengan Intan (Penumpang) Tanggal 19 September

  2016, Pukul 14.20 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara denganWahyu (Penumpang) Tanggal 19 September

  2016, Pukul 14.40 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Sam ’un

  (Penumpang) Tanggal 19 September 2016, Pukul 15.05 WIB di Stasiun KA

  Rangkasbitung Wawancara dengan Sri Rahayu

  (Penumpang) Tanggal 21 September 2016, Pukul 11.30 WIB di Stasiun KA

  Rangkasbitung Wawancara dengan Wulan (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 11.52 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Iwan (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 12.15 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Aldi (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 12.33 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Yani (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 12.50 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung Wawancara dengan Bapak Rahmat (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 13.18 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Syifa (Penumpang) Tanggal 21 September

  2016, Pukul 13.56 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung

  Wawancara dengan Bapak Dulfatah (Kepala Suburusan Keamanan) Tanggal

  29 September 2016, Pukul 13.15 WIB di Stasiun KA Rangkasbitung Keadaan peron/tempat menunggu kereta Keadaan loket di Stasiun Rangkasbitung di Stasiun Rangkasbitung Tanggal 1 Tanggal 19 September 2016, Pukul 11.12 Agustus 2016, Pukul 12.53 WIB di

  WIB di Stasiun KA Rangkasbitung Stasiun KA Rangkasbitung

  Keadaan toilet pria di Stasiun Keadaan toilet wanita di Stasiun Rangkasbitung Tanggal 19 September Rangkasbitung Tanggal 29 September 2016, Pukul 17.18 WIB di Stasiun KA 2016, Pukul 12.22 WIB di Stasiun KA

  Rangkasbitung Rangkasbitung

  

Catatan Lapangan

No Tanggal Waktu Tempat Hasil Informan

  Santika (Wakil

  Wawancara Ibu Asni (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  5

  16 Februari 2016

  14.10 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Data Standar Pelayanan Minimum

  (SPM) Bapak Oya

  Kepala Stasiun KA

  13.50 WIB Stasiun

  Rangkasbitu ng)

  6

  01 Agustus 2016

  10.30 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Bapak Andri (Kepala

  Stasiun KA Rangkasbitu ng)

  7

  02 Agustus

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  16 Februari 2016

  1

  11.05 WIB Stasiun

  12 Februari 2016

  10.00 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Bapak Oya Santika

  (Wakil Kepala

  Stasiun KA Rangkasbitu ng)

  2

  16 Februari 2016

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  4

  Wawancara Bapak Ulung (Ketua

  Kebersihan Stasiun KA

  Rangkasbitu ng)Bapak)

  3

  16 Februari 2016

  13.00 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Asnawi (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng

  09.30 Stasiun Wawancara Bapak

  Keamanan Stasiun KA

  12

  Rangkasbitu ng)

  11

  19 September 2016

  13.10 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Bapak Ulung (Ketua

  Kebersihan Stasiun KA

  Rangkasbitu ng)

  19 September 2016

  (Junior Supervisor

  14.05 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Munah (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  13

  19 September 2016

  14.20 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Intan (Penumpang di Stasiun

  Pelayanan Stasiun KA

  Bapak Supriatin

  Rangkasbitu ng)

  Rangkasbitu ng)

  8

  02 Agustus 2016

  11.17 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara dan data jumlah penumpang saat lebaran tahun 2015 dan 2016)

  Bapak Supriatin

  (Junior Supervisor

  Pelayanan Stasiun KA

  9

  Wawancara dan data daftar kelengkapan SPM Stasiun besar tipe c bulan juli 2016

  19 September 2016

  10.30 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Bapak Andri (Kepala

  Stasiun KA Rangkasbitu ng)

  10

  19 September 2016

  11.50 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  KA Rangkasbitu ng) ng KA Rangkasbitu ng)

  15

  20

  Wawancara Wulan (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  19

  21 September 2016

  12.15 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Iwan (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  21 September 2016

  11.52 WIB Stasiun

  12.33 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Aldi (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  21

  21 September 2016

  12.50 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Bapak Yani (Penumpang di Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  21 September 2016

  19 September 2016

  Kereta Api RAngkasbit ung

  15.05 Stasiun Kereta Api

  Rangkasbitu ng Wawancara Bapak

  Sam ’un

  (Penumpang di Stasiun KA

  Rangkasbitu ng)

  16

  21 September 2016

  11.12 WIB Stasiun

  Data profil Stasiun KA Rangkasbitung dan Tupoksi petugas

  18

  Stasiun Bapak Andri

  (Kepala Stasiun KA

  Rangkasbitu ng)

  17

  21 September 2016

  11.30 WIB Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  Wawancara Sri Rahayu (Penumpang di Stasiun

  KA Rangkasbitu ng)

  KA September 2016

  WIB Kereta Api Rangkasbitu ng

  25

  Keamanan Stasiun KA

  (Junior Supervisor

  Wawancara Bapak Dulfatah

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  13.15 WIB Stasiun

  29 September 2016

  KA Rangkasbitu ng)

  Rahmat (Penumpang di Stasiun

  Wawancara Syifa (Penumpang di Stasiun

  Kereta Api Rangkasbitu ng

  13.56 WIB Stasiun

  21 September 2016

  23

  KA Rangkasbitu ng)

  Rangkasbitu ng)

  

STRUKTUR ORGANISASI STASIUN BESAR RANGKASBITUNG

KSB RANGKASBITUNG ANDRI NIPP.42356 WKSB RANGKASBITUNG OYA SANTIKA NIPP.47022

KEPALA SUBURUSAN KEPALA SUBURUSAN KEPALA SUBURUSAN KEPALA SUBURUSAN

PERKA & PELAYANAN KEAMANAN DAN KOMERSIL

ADMINISTRASI STASIUN KETERTIBAN

  NURDIANSYAH SUPRIYATIN DULFATAH RINI CAHYATI NIPP.47033 NIPP.38635 NIPP.64391

  NIPP.52163

  PPKA OPERATOR

MANDOR PKD (Petugas

  Keamanan dalam) (Pngatur Perjalanan KA)

  LOKET

CLEANING POLSUSKA

JRR (Juru Lansir) SERVICE (Polisi Khusus

  STASIUN KA) PJL (Penjaga Pintu CLEANING Lintasan) SERVICE KRETA

  PJW (Penjaga Wesel)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Pribadi

  Nama : Hesti Oktaviawati NIM : 6661122559 Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Tanggal Lahir : Pandeglang, 12 Oktober 1993 Agama : Islam Pekerjaan : Mahasiswa E-mail : Nomor Handphone : 085216638316 Alamat : Kp. Cihideung Rt. 003/002

  Kec. Cimanuk, Kab. Pandeglang

  2. Riwayat Pendidikan

  SD : SD N 1 Batubantar SMP : SMP N 1 Pandeglang SMA : SMA N 1 Pandeglang Perguruan Tinggi : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Serang)

  3. Pengalaman Organisasi

  a. Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMANE) FISIP UNTIRTA 2013-2014

  b. Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMANE) FISIP UNTIRTA 2014-2015

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (224 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS BALANCED SCORECARD UNTUK MENGUKUR KINERJA PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) (STUDI KASUS PADA STASIUN KERETA API KOTA BLITAR)
13
83
18
STRATEGI KOMUNIKASI PT. KERETA API (PERSERO) STASIUN BESAR MALANG DALAM PROGRAM PENGHAPUSAN TUSLAH MAKAN DAN MINUM PADA KERETA EKSEKUTIF GAJAYANA
0
8
2
EVALUASI KINERJA PELAYANAN STASIUN KERETA API JEMBER
0
13
19
EVALUASI KINERJA PELAYANAN STASIUN KERETA API PROBOLINGGO
12
53
86
KAJIAN YURIDIS PENGELOLAAN TANAH DI KAWASAN STASIUN KERETA API (TANAH EMPLASEMEN) STASIUN JEMBER
0
16
17
KAJIAN YURIDIS PENGELOLAAN TANAH DI KAWASAN STASIUN KERETA API (TANAH EMPLASEMEN) STASIUN JEMBER
0
11
4
STASIUN KERETA API DEPOK BARU TEKNOLOGI BANGUNAN SEBAGAI ESTETIKA
0
5
1
KAJIAN TEKNIS DAN BIAYA REVITALISASI JALUR KERETA API DARI STASIUN PIDADA SAMPAI PELABUHAN PANJANG
1
18
70
APLIKASI TRAINMEASURE PERJALANAN KERETA API DENGAN ALGORITHMA DIJKSTRA UNTUK MENGUKUR JARAK STASIUN TERDEKAT BERBASIS ANDROID Fitri Latifah
0
0
11
EVALUASI PENERAPAN TARIF ANGKUTAN UMUM KERETA API (STUDI KASUS KERETA API MADIUN JAYA EKSPRES)
0
0
8
IMPLEMENTASI GOOGLE MAPS API BERBASIS ANDROID UNTUK LOKASI FASILITAS UMUM DI KABUPATEN SUMBAWA
1
1
11
STASIUN KERETA API EKSEKUTIF CERME DI GRESIK
0
0
10
PERENCANAAN TRAYEK KERETA API DALAM KOTA JURUSAN STASIUN WONOKROMO–STASIUN SURABAYA PASAR TURI
0
0
12
STUDI PERENCANAAN ANGKUTAN KERETA API KOMUTER JURUSAN SURABAYA – LAMONGAN VIA STASIUN GUBENG
0
0
11
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PADA BANDAR UDARA AHMAD YANI DI KOTA SEMARANG - UNS Institutional Repository
0
0
142
Show more