Hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah - USD Repository

Gratis

0
5
142
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN DENGAN TINDAKAN PEMILIHAN OBAT UNTUK PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO, KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Rinda Meita Pangastuti NIM : 108114184 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN DENGAN TINDAKAN PEMILIHAN OBAT UNTUK PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO, KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Rinda Meita Pangastuti NIM : 108114184 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23 : 18 Karya ini kupersembahkan untuk: TUHAN YESUS yang selalu memampukanku untuk terus bertahan dan memberikanku hikmat dan pengertian untuk bisa menyelesaikan semuanya tuntas sampai garis akhir Keluarga dan kedua orang tuaku yang selalu memberikan motivasi dalam kerja keras dan jerih lelahnya. Terutama untuk Alm. Bapak yang akan tetap jadi panutanku. Yepta Epta Praditus untuk setiap doa dan kata yang selalu membuatku bangkit dan meneguhkanku. Almamaterku iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI . v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas anugerah dan penyertaanNya yang luar biasa dalam hidup penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN DENGAN TINDAKAN PEMILIHAN OBAT DALAM PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO, KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH” ini dipersiapkan dan disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan strata satu Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini dapat selesai dengan baik tidak lepas atas doa dan dukungan orang-orang di sekeliling penulis. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ibu Aris Widayati, M. Sc., Apt., selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu, pikiran, perhatian dan kesabaran untuk mengarahkan, mendampingi, bantuan dan saran kepada penulis. 3. Prof. Dr. C. J. Soegiharjo, Apt. dan Bapak Ipang Djunarko, M. Sc., Apt., selaku Dosen Penguji, atas kritik dan saran yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Ibu Dra. Th. B. Titien Siwi Hartayu, M. Kes. dan Bapak Yohanes Dwiatmaka, M. Si, Apt., selaku Dosen yang ditunjuk sebagai professional jugdment, atas perbaikan dan saran yang telah diberikan sehingga instrumen penelitian yang digunakan menjadi lebih baik. 5. Masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, dan masyarakat Dusun Suruh, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman atas partisipasi dan respon baik terhadap penelitian yang telah dikerjakan. 6. Bapak Drs. D. Suyoto Hadi, M. Pd di sorga, terimakasih untuk setiap kesempatan dan kerja keras yang diberikan selama ini. 7. Teman-teman sekelompok penelitian: Swaseli Waskitajani, Eva Cristiana dan Eva Ekayanti untuk setiap bantuan, perjuangan, suka dan duka kita bersama. 8. Sahabat-sahabatku Yoestenia, Zufri Bella Yani, Nita Rahayu, Alvanika, Muhadela Tiara dan Gilda Todingbua untuk setiap dukungan, doa dan semangat yang membuatku terus berjuang menjadi lebih baik. 9. Teman-teman farmasi 2010 Universitas Sanata Dharma untuk setiap perjuangan, kerja keras, semangat dan kebersamaan kita. 10. Keluarga keduaku Apostolos Family dan UPN Community yang telah menyediakan tempat betumbuh yang luar biasa. 11. Semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini dan tidak dapat disebutkan satu per satu. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi yang dibuat jauh dari sempurna karena keterbatasan yang dimiliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca. Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................ vi PRAKATA.............................................................................................. vii DAFTAR ISI........................................................................................... x DAFTAR TABEL................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... xvii INTISARI................................................................................................ xvi ABSTRAK .............................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................. 1 1. Peumusan masalah ................................................................. 4 2. Keaslian penelitian .................................................................. 4 3. Manfaat penelitian................................................................... 6 a. Manfaat teoritis................................................................... 6 b. Manfaat praktis................................................................... 6 B. Tujuan Penelitian ......................................................................... 6 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Tujuan umum .......................................................................... 6 2. Tujuan khusus ......................................................................... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA..................................................... 8 A. Pengobatan Mandiri .................................................................... 8 B. Obat ............................................................................................ 10 1. Obat medis modern ................................................................. 10 2. Obat tradisional ...................................................................... 15 C. Perilaku (Pengetahuan, Sikap dan Tindakan).............................. 18 1. Pengetahuan (knowledge)........................................................ 18 2. Sikap (attitude)........................................................................ 20 3. Tindakan (practice) ................................................................. 21 D. LANDASAN TEORI.................................................................. 21 E. HIPOTESIS ................................................................................. 22 BAB III. METODE PENELITIAN......................................................... 23 A. Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................. 23 B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ............................. 23 1. Variabel ................................................................................... 23 a. Variabel bebas (independent) ............................................. 23 b. Variabel tergantung (dependent) ........................................ 23 2. Definisi operasional ................................................................. 24 C. Subjek dan Kriteria Inklusi Penelitian......................................... 25 D. Populasi dan Besar Sampel ......................................................... 25 E. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 26 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Teknik Pengambilan Sampel ....................................................... 26 G. Instrumen Penelitian ................................................................... 27 H. Tahapan Penelitian ...................................................................... 28 1. Studi pustaka ........................................................................... 28 2. Penentuan lokasi penelitian .................................................... 28 3. Perijinan .................................................................................. 29 4. Penelusuran data populasi ....................................................... 29 5. Pembuatan kuesioner............................................................... 29 a. Penyusunan kuesioner ........................................................ 29 b. Uji pemahaman bahasa....................................................... 29 c. Uji validitas......................................................................... 30 d. Uji reliabilitas ..................................................................... 30 6. Pengumpulan data ................................................................... 31 I. Analisis Data................................................................................. 31 J. Keterbatasan Penelitian ................................................................ 33 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 34 A. KARAKTERISTIK RESPONDEN ............................................ 34 1. Usia.......................................................................................... 34 2. Jenis kelamin ........................................................................... 35 3. Status pernikahan .................................................................... 36 4. Tingkat pendidikan akhir ........................................................ 36 5. Jenis pekerjaan ........................................................................ 38 6. Pendapatan per bulan .............................................................. 39 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. PENGENALAN RESPONDEN TERHADAP PENGOBATAN MANDIRI ................................................................................... 40 C. POLA PENGOBATAN MANDIRI RESPONDEN ................... 43 D. PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN ............................................................. 51 1. Definisi obat tradisional .......................................................... 52 2. Macam dan bentuk sediaan obat tradisional ........................... 52 3. Dosis obat tradisional .............................................................. 53 4. Penggolongan obat tradisional ................................................ 53 5. Contoh kandungan obat tradisional dan indikasinya............... 54 6. Aturan pakai obat tradisional .................................................. 54 7. Efek samping obat tradisional ................................................. 55 8. Kontraindikasi obat tradisional ............................................... 55 9. Penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri ........ 55 10. Penggolongan obat modern ................................................... 56 11. Definisi obat modern ............................................................. 56 12. Jenis dan bentuk sediaan obat modern .................................. 56 13. Dosis obat modern................................................................. 56 14. Kandungan obat modern dan indikasi kandungan tersebut... 57 15. Aturan pakai obat modern ..................................................... 57 16. Efek samping obat modern.................................................... 57 17. Penggunaan obat modern dalam pengobatan mandiri........... 58 18. Simbol penggolongan obat tradisional dan arti simbol xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut ................................................................................. 58 19 . Simbol penggolongan obat modern dan arti simbol tersebut ................................................................................. 60 E. SIKAP DAN TINDAKAN RESPONDEN TERKAIT OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN .................................. 63 1. Sikap........................................................................................ 63 2. Tindakan.................................................................................. 65 F. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP TINDAKAN RESPONDEN ....................................................... 66 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN................................................. 68 A. Kesimpulan ................................................................................. 68 B. Saran............................................................................................ 69 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 70 LAMPIRAN............................................................................................ 74 BIOGRAFI PENULIS ............................................................................ 122 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Distribusi usia responden........................................................... 34 Tabel II. Frekuensi tingkat pendidikan terakhir responden .................... 37 Tabel III. Frekuensi jenis pekerjaan responden ...................................... 38 Tabel IV. Persentase mengenai siapa yang melakukan pengobatan mandiri ...................................................................................... 45 Tabel V. Keluhan yang dialami responden saat melakukan pengobatan mandiri ...................................................................................... 45 Tabel VI. Obat yang digunakan responden dalam pengobatan mandiri . 47 Tabel VII. Frekuensi harga obat yang digunakan responden.................. 49 Tabel VIII. Frekuensi alasan responden melakukan pengobatan mandiri ...................................................................................... 50 Tabel IX. Persentase jawaban responden mengenai obat tradisional dan obat moderen............................................................................. 54 Tabel X. Persentase jawaban responden mengenai simbol penggolongan obat tradisional.......................................................................... 58 Tabel XI. Persentase jawaban responden mengenai simbol penggolongan obat modern .............................................................................. 60 Tabel XII. Kategori pengetahuan responden .......................................... 62 Tabel XIII. Frekuensi kategori respon sikap........................................... 64 Tabel XIV. Frekuensi kategori respon tindakan ..................................... 65 Tabel XII. Hasil probabilitas uji Chi Square antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan pemilihan obat dalam swamedikasi responden 66 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Persentase responden laki-laki dan perempuan..................... 35 Gambar 2. Persentase status pernikahan responden................................ 36 Gambar 3. Persentase tingkat pendidikan responden.............................. 37 Gambar 4. Persentase pendapatan per bulan responden ......................... 39 Gambar 5. Persentase responden mendengar istilah pengobatan mandiri 40 Gambar 6. Persentase sumber informasi responden mengenai istilah swamedikasi.............................................................................. 41 Gambar 7. Persentase pengertian responden tentang definisi swamedikasi 42 Gambar 8. Persentase pendapat responden tentang jenis obat yang digunakan dalam pengobatan mandiri ...................................... 43 Gambar 9. Frekuensi responden melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan terakhir..................................................................... 44 Gambar 10. Jenis obat yang digunakan dalam pola pengobatan mandiri 46 Gambar 11. Frekuensi responden memperoleh obat yang digunakan .... 49 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Surat ijin penelitian............................................................. 75 Lampiran 2. Kuesioner............................................................................ 79 Lampiran 3. Validitas kuesioner ............................................................. 91 Lampiran 4. Nilai reliabilitas kuesioner.................................................. 105 Lampiran 5. Nilai uji normalitas ............................................................. 106 Lampiran 6. Karakteristik responden...................................................... 107 Lampiran 7. Pola pengobatan mandiri responden................................... 110 Lampiran 8. Pengetahuan, sikap dan tindakan responden ...................... 115 Lampiran 9. Nilai uji Chi Square............................................................ 120 Lampiran 10. Peta Kecamatan Candiroto, Temanggung ........................ 121 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Pengobatan mandiri adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mengobati diri sendiri baik menggunakan obat tradisional maupun obat modern. Pengobatan mandiri merupakan upaya pertama dan terbanyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan kesehatannya Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan jenis obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan penelitian desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster sampling yang dikombinasikan dengan metode non random accidental sampling. Instrumen penelitian adalah kuesioner. Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Tingkat partisipasi responden sebesar 93%, yaitu 161 responden. Sebesar 62% responden memiliki tingkat pengetahuan sedang, 86,3% bersikap positif terhadap penggunaan obat tradisional, dan 66% responden mempunyai tindakan memilih obat tradisional untuk pengobatan mandiri. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat dalam pengobatan mandiri. Kata Kunci: pengobatan mandiri, pengetahuan, sikap, obat tradisional, obat modern, masyarakat Desa Bantir, tindakan pemilihan pengobatan. xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Self medication is the selection and use of medicine (traditional or modern medicine)by individuals to treat self-recognized illnesses or symptom. Self medication is the first and the most preferable among people to treatment their illneses. The aim of this research is to identify correlations between people’s knowledge and attitude of traditional and modern medicines with their practice in choosing medicines for self medication among people at Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. This study was an observational with cross sectional design. Respondents were selected using a combination of cluster sampling and non random accidental sampling methods. The main instrument of this study was a questionaire. Data were analyzed with chi square test. The response rate was 93% (i.e.:161 respondents). About 62% of respondents have moderate knowledge, 86.3% have positive attitude regarding traditional medicine, and 66% choose traditional medicine for their self medication. There are significant correlations between knowledge and attitude of traditional and modern medicines with the practice of selection of medicines for self medication. Key words: self medication, knowledge, attitude, practice, traditional and modern medicine, rural people. xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Perilaku pencarian pengobatan ( health seeking behavior ) merupakan tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan (Achmad, 2003). Perilaku tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Sehat atau tidaknya individu, keluarga dan masyarakat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Ketika seseorang dalam keadaan sakit, suatu peran tertentu akan membawanya ke berbagai alternatif, seperti mengatasi atau membiarkan keadaan sakitnya, serta menentukan siapa yang akan mengatasinya (Lumenta, 1989). Tindakan atau perilaku ini akan dilakukan oleh tiap individu secara berbeda, dimulai dari melakukan pengobatan sendiri (self treatment) sampai dengan mencari bantuan pada pelayanan kesehatan, termasuk pemilihan obat modern atau tradisional (Ayunda, 2008). Menurut Suryawati (cit., Citahasri, 2008), dalam upaya pemeliharaan kesehatan, pengobatan sendiri merupakan upaya pertama dan yang terbanyak dilakukan masyarakat umum untuk mengatasi keluhan kesehatannya, sehingga peranannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Penelitian yang dilakukan oleh Widayati (2012) tentang health seeking behavior di kalangan masyarakat urban di Yogyakarta mengungkapkan bahwa self care, terutama melakukan penyembuhan tanpa obat, istirahat dan swamedikasi dengan produk herbal tradisional merupakan pilihan utama masyarakat urban dalam upaya pencarian pengobatan. 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Dalam penelitiannya di Indonesia, Supardi, S., Jamal, S., dan Raharni (2005), mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di kota cenderung melakukan pengobatan mandiri menggunakan obat modern, sedangkan masyarakat desa cenderung melakukan pengobatan mandiri dengan obat tradisional atau cara tradisional. Dalam harian Kompas (Sabtu, 22 September 2012) dituliskan bahwa obat herbal tradisional dan obat modern memiliki kelebihan dan kekurangan masingmasing dalam penggunaannya. Kecenderungan masyarakat dalam pemilihan terapi pun tergantung pada pengetahuan masyarakat itu sendiri. Biasanya, masyarakat akan cenderung memilih terapi atau pengobatan secara herbal tradisional ketika masyarakat tersebut merasa pengobatan secara herbal lebih murah dilakukan dan tersedia luas di sekitar lingkungannya dibandingkan obat moderen. Masyarakat juga mempunyai mind set bahwa obat tradisional lebih efektif untuk terapi penyakit kronis yang biasanya tidak bisa disembuhkan oleh obat modern. Sebaliknya, masyarakat akan cenderung memilih obat modern saat mereka merasa lebih praktis dalam penggunaan, reaksi atau efeknya lebih cepat, atau karena memang sudah terbentuk pada pemikiran mereka bahwa obat modern lebih baik dibanding obat tradisional. Menurut Notoadmodjo (1993), pengetahuan merupakan domain terpenting seseorang untuk menentukan respon batin dalam bentuk sikap yang akan membentuk suatu tindakan (action) sesuai dengan stimulus yang diterimanya. Dalam melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi untuk mengatasi keluhan yang dideritanya, masyarakat dituntut harus tahu tentang obat

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 yang akan digunakan, sehingga mampu menentukan pilihan obat (tradisional atau modern) yang tepat untuk dirinya. Pemilihan perilaku atau tindakan ini biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, pendidikan, sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat pada diri sendiri (Hardon, Hodgin, and Fresle, 2004). Widayati (2012) mengungkapkan bahwa faktor demografi dan sosio-ekonomi yang berhubungan signifikan dengan perilaku pencarian pengobatan adalah status pernikahan. Masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung merupakan salah satu masyarakat yang memiliki banyak keluarga muda. Kecenderungan untuk melakukan apa yang orang tua katakan pun akan menjadi salah satu faktor penentu keputusan yang akan mempengaruhi pengetahuan dan pendapat keluarga muda ini. Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam sebuah keluarga adalah masalah kesehatan. Mereka akan diperhadapkan dengan hal-hal seperti, ke mana mereka harus memeriksakan anak yang sakit, bagaimana cara mengobati sakitnya sendiri, termasuk memilih obat mana yang baik untuk digunakan. Berdasarkan hal di atas, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat untuk pengobatan secara mandiri. Hal ini terkait dengan belum pernah adanya penelitian sejenis pada masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sehingga menarik untuk dijadikan sebagai model dalam penelitian.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 1. Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: a. Seperti apa pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengenai obat tradisional dan obat modern? b. Seperti apa pola dan alasan pengobatan mandiri yang dilakukan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah? c. Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri? 2. Keaslian penelitian Beberapa penelitian mengenai perilaku pengobatan mandiri yang telah dilakukan adalah penelitian yang berjudul: a. “Perilaku Pencarian Pengobatan (Health Seeking Behavior) di Kalangan Masyarakat Urban di Kota Yogyakarta” (Widayati, 2010). b. “Pola Penggunaan Obat, Obat Tradisional dan Cara Tradisional dalam Pengobatan Sendiri di Indonesia” (Supardi, dkk., 2005). c. “Kajian Motivasi, Pengetahuan, Tindakan, dan Pola Penggunaan Obat Tradisional Cina pada Pengunjung dari 8 Toko Obat Berizin di Yogyakarta Periode April-Mei 2004” (Liliani, 2004).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 d. “Kajian Pengetahuan dan Alasan Pemilihan Obat Herbal pada Pasien Geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta” (Noviana, 2007). e. “Pengaruh Pemberian Informasi Obat Terhadap Peningkatan Perilaku Pengobatan Mandiri pada Penyakit Batuk di Desa Argomulyo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman, Yogyakarta” oleh (Perwitasari, 2009). f. “Pola Perilaku Pengobatan Mandiri di Antara Pria dan Wanita di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Kampus III, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta” (Angkoso, 2006). g. “Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Demam oleh Ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta” (Adikuntati, 2008) Perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan yang telah disebut di atas adalah tujuan penelitian yaitu mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Perbedaan lainnya terletak pada subjek dan objek yang diteliti, tempat penelitian, serta waktu pelaksanaannya. Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat dalam pengobatan mandiri pada masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung belum pernah dilakukan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis Memberikan deskripsi tentang hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan jenis obat untuk pengobatan mandiri. b. Manfaat praktis Hasil penelitian dapat digunakan sebagai pedoman bagi apoteker untuk pengembangan pemberian informasi obat bagi masyarakat. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan jenis obat (modern atau tradisional) untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung. 2. Tujuan khusus a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung mengenai obat tradisional dan obat modern. b. Untuk mengidentifikasi pola dan alasan pengobatan mandiri yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 c. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Pengobatan Mandiri Pengobatan sendiri atau swamedikasi merupakan tindakan pemilihan dan penggunaan obat-obatan, baik obat tradisional mau pun obat modern oleh seseorang untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri, bahkan untuk penyakit kronis tertentu yang telah didiagnosis tegak oleh dokter sebelumnya (WHO, 1998). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pengobatan mandiri, antara lain sebagai berikut (Djunarko dan Hendrawati, 2011). 1. Kondisi ekonomi. Mahal dan tidak terjangkaunya pelayanan kesehatan, seperti biaya rumah sakit dan berobat ke dokter, membuat masyarakat mencari pengobatan yang lebih murah untuk penyakit-penyakit yang relatif ringan. 2. Berkembangnya kesadaran akan arti penting kesehatan bagi masyarakat karena meningkatnya sistem informasi, pendidikan, dan kehidupan sosial ekonomi, sehingga meningkatkan pengetahuan untuk melakukan swamedikasi. 3. Promosi obat bebas dan obat bebas terbatas yang gencar dari pihak produsen baik melalui media cetak maupun elektronik, bahkan sampai beredar ke pelosok-pelosok desa. 8

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 4. Semakin tersebarnya distribusi obat melalui Puskesmas dan warung obat desa yang berperan dalam peningkatan pengenalan dan penggunaan obat, terutama OTR (Obat Tanpa Resep) dalam swamedikasi. 5. Kampanye swamedikasi yang rasional di masyarakat mendukung perkembangan farmasi komunitas. 6. Semakin banyak obat yang dahulu termasuk obat keras dan harus diresepkan dokter, dalam perkembangan ilmu kefarmasian yang ditinjau dari khasiat dan keamanan obat diubah menjadi OTR (OWA, obat bebas terbatas, dan obat bebas), sehingga memperkaya pilihan masyarakat terhadap obat. Dalam melakukan self-medication, pelaku harus mampu mendiagnosis dan menentukan obat sendiri untuk mengatasi keluhannya. Menurut Depkes (2008), hal-hal yang perlu diketahui sebelum melakukan pengobatan mandiri antara lain mengetahui jenis obat yang diperlukan, mengetahui kegunaan dari tiap obat sehingga dapat mengevaluasi sendiri perkembangan rasa sakitnya, menggunakan obat secara benar (cara, aturan, lama pemakaian) dan mengetahui batas kapan mereka harus menghentikan self-medication yang kemudian segera minta pertolongan kepada petugas kesehatan. Selain itu, pelaku juga harus mengetahui efek samping obat yang digunakan sehingga dapat memperkirakan apakah suatu keluhan yang timbul kemudian, merupakan suatu penyakit baru atau efek samping obat, serta harus mengetahui siapa yang tidak boleh menggunakan obat tersebut terkait dengan kondisi seseorang. Pada akhirnya, pelaku swamedikasi akan diperhadapkan dalam pilihan seperti, perlu atau tidak diperiksakan ke dokter, perlu obat atau tidak, obat

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 tradisional ataukah obat tanpa resep yang akan digunakan untuk mengatasi gejala, dan sebagainya. Untuk itu pelaku perlu memahami dengan baik masalah kesehatan yang sedang dihadapinya (Anonim, 2001). B. Obat Obat merupakan semua zat, baik kimiawi, hewani, mau pun nabati yang dalam dosis tertentu dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit berikut gejalanya (Tjay dan Raharja, 2007). Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat menurut UU no. 36 tahun 2009 adalah bahan atau campuran bahan untuk dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah. Obat dapat digunakan untuk manusia maupun hewan, termasuk memperelok tubuh atau bagian tubuh manusia (Syamsuni, 2006). Di Indonesia terdapat dua jenis obat, yaitu obat tradisional dan obat medis modern. 1. Obat medis modern Obat medis adalah obat modern yang dibuat dari bahan sintentik atau bahan alam yang diolah secara modern dan digunakan serta diresepkan dokter dan kalangan medis untuk mengobati penyakit tertentu. Obat medis yang bisa diresepkan mempunyai kekuatan ilmiah karena sudah melalui uji klinis yang dilakukan bertahun-tahun. Sebagian besar obat medis yang beredar di Indonesia dan diresepkan berasal dari negara-negara barat dan dipatenkan. Meski begitu

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 efek samping dari obat-obat modern yang sudah diuji klinis tetap ada karena daya tahan tubuh dan kondisi kesehatan orang masing-masing tidak sama (Harmanto dan Subroto, 2007). Penggolongan obat di Indonesia terdiri dari 5 golongan, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras (termasuk di dalamnya obat wajib apotek), psikotropik dan narkotika (Depkes RI, 2008). Obat medis atau moderen yang biasa digunakan sebagai upaya pengobatan mandiri adalah obat bebas (OB), obat bebas terbatas (OBT) dan obat wajib apotek (OWA). Obat wajib apotek merupakan golongan obat keras dapat dibeli di apotek tanpa resep dokter, namun harus diserahkan secara langsung oleh apoteker. Hal ini terkait dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 924 tahun 1993 tentang obat wajib apotek. a. Obat bebas (over the counter) Obat bebas ditandai dengan lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Obat dengan simbol demikian dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter dan tersedia di banyak outlet, seperti apotek, toko obat, supermarket, dan bisa dibeli tanpa resep dokter (Harmanto dan Subroto, 2007). b. Obat bebas terbatas Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras, namun dapat dijual atau dibeli bebas dengan jumlah terbatas tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan garis tepi lingkaran berwarna hitam dan terdapat peringatan khusus pada kemasan (Depkes RI, 2008).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 6335/Dirjen/SK/1969, terdapat enam macam peringatan khusus dalam kemasan obat bebas terbatas sesuai dengan kandungan obat, yaitu sebagai berikut. 1) P.No.1. Awas ! Obat keras. Bacalah aturan pakai di dalam. 2) P.No.2. Awas ! Obat keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan. 3) P.No.3. Awas ! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan. 4) P.No.4. Awas ! Obat keras. Hanya untuk dibakar. 5) P.No.5. Awas ! Obat keras. Tidak boleh ditelan. 6) P.No.6. Awas ! Obat keras. Obat wasir jangan ditelan. c. Obat wajib apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 347/MenKes/ SK/ VII /1990, obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter (Harmanto dan Subroto, 2007). Obat keras mempunyai tanda khusus berupa lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf K di tengah yang menyentuh garis tepi (Depkes RI, 2008). Dalam perkembangan di bidang farmasi yang menyangkut khasiat dan keamanan obat, berikut adalah daftar obat wajib apotek no. 1 menurut peraturan menteri kesehatan nomor 919/MENKES/PER/X/1993. No Kelas Terapi Nama Obat Indikasi 1 Tunggal Kontrasepsi Oral kontrasepsi Linastrenol Kombinasi Kontrasepsi

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Etinodiol diasetat-mestranol Norgestrel-etinil estradiol Linestrenoil-etinil estradiol Levonorgestrel-etinil estradiol Norethindrone-mestranol Desogestrel-etinil estradiol 2 Obat cerna saluran Antasid+sedativ/spasmodik Al.oksida, Mg trisilikat+papaverin HCl, klordiazep-oksida Mg trisilikat, Al.oksida+papaverin HCl, klordiazep-oksida+diazepam+ sodium bicarbonate Al.oksida, Mg trisilikat+papaverin HCl, diazepam MgAl, silikat+beladona+kloedia sepoksid+diazepam Al.oksida, Mg.oksida+hiosiamin HBr, atropine SO4, hiosin HBr Mg.trisilikat, papaverin HCl Al.hidroksida + Mg.trisilikat, Al.hidroksida + papaverin HCl, klordiaseposida+ beladona Mg karbonat, Mg oksida, Al hidroksida+papaverin HCl, beladona Mg.oksida, bi.subnitrat+beladona, papaverin, kloriasepoksida Mg.oksida, bi.subnitrat+beladona, kloriasepoksida Mg trisilikat, alukol+papaverin HCl, beladona, klordiasepoksida

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Antispasmodik Papaverin/hiosin butilbromide/atropine beladon Kejang saluran SO4/ekstrak cerna Spasmodik – Analgesik Metamizole, penpivennium bromide Hyocine N-butilbromide, dipyrone Kejang saluran cerna yang disertai nyeri hebat Methampyrone, beladona, papaverin HCl Methamphyrone butilbromide, diazepam hyoscine Pramiverin, metamizole Tiemonium methyl sulphate, sodium noramodopromethane sulphonate Pafinium bromide, supyon Anti mual Metoklopramid HCl Mual, muntah Laksan Bisakodil Supp 3 4 Konstipasi Obat mulut dan Hexetidine tenggorokan Triamicinolone acetonide Sariawan, radang Obat nafas Asma saluran Aminoilin supp Ketotien Sariawan berat Asma Menurut peraturan menteri kesehatan nomor 924/MENKES/PER/X/1993 yang dimaksud obat wajib apotek no. 2 adalah albendazol (oral), bacitracin (obat luar infeksi kulit), benolirate, bismuth subcitrate, carbinoxamin (oral), clindamicin, dexametason, dexpanthenol, diclofenac (obat luar untuk acne),

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 diponium, fenoterol (inhalasi), flumetason, hydrocortison butyrat (obat luar inflamasi), ibuprofen (oral), isoconazol, ketokonazole (obat luar infeksi jamur), levamizole, methylprednisolon, niclosamide, noretisteron, omeprazole, oxiconazole, pipazetate, piratiasin kloroteofilin, pirenzepine, piroxicam, dan polymixcin B sulfate. Menurut keputusan menteri kesehatan RI nomor 1176/Menkes/SK/X/ 1999 yang termasuk obat wajib apotek no. 3 (nama generik) adalah alopurinol, aminofilin supositoria, asam azeleat, asam fusidat, bromheksin, diazepam, diklofenak natrium, famotidin, gentamisin, glafenin, heksetidin, klemastin, kloramfenikol (obat mata dan obat telinga), mebendazol, metampiron+ klordiazepoksid, mequitazin, motretinida, orsiprenalin, piroksikam, prometazin teoklat, ranitidin, satirizin, siproheptadin, toisiklat, tolnaftat dan tretinoin. 2. Obat tradisional Dalam undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat di terapkan sebagai norma yang berlaku dimasyarakat. Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa dan banyak dimanfaatkan masyarakat sejak berabadabad yang lalu, namun demikian pada umumnya efektivitas dan keamanannya belum sepenuhnya didukung oleh penelitian yang memadai (Sulasmono, 2010).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, meurut Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor HK.00.05.4.2411 tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam indonesia, obat tradisional dikelompokan menjadi 3 kategori, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka, dengan logo tertentu dalam kemasan sebagai berikut. a. Jamu Jamu adalah obat tradisional indonesia yang bukti klaim khasiat dan keamanannya berdasarkan data empiris karena telah digunakan secara turun temurun. Simbol berupa “RANTING DAUN” berwarna hijau yang terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau warna lain yang menyolok, serta mencantumkan tulisan “JAMU” berwarna hijau b. Obat herbal terstandar Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji pra klinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Simbol obat herbal terstandar adalah “JARIJARI DAUN (3 PASANG)” berwarna hijau yang terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau warna lain yang menyolok. Di bawah simbol tersebut harus terdapat tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR” berwarna hijau. c. Fitofarmaka Fitofarmaka adalah sediaan bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji pra klinik dan uji klinik, bahan baku dan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 produk jadinya telah distandarisasi. Simbol fitofarnaka berupa “JARI-JARI DAUN” berwarna hijau yang membentuk bintang dan terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau mencolok, serta terdapat tulisan “FITOFARMAKA” pada bawah lingkaran. Orang yang menderita sakit, baik fisik mau pun non fisik tentu memerlukan obat agar penyakitnya bisa segera dan secepat mungkin sembuh. Masyarakat moderen yang memiliki pengetahuan dan dana yang cukup, pilihan pertama untuk mengatasi penyakitnya tentu akan memilih dokter atau tenaga medis untuk memeriksa dan memilihkan obat modern yang sesuai dengan keluhannya. Bila secara medis tidak ada obatnya, baru memilih ke pengobatan alternatif. Sebaliknya, masyarakat yang kurang mampu, langkah pertama untuk mengobati penyakitnya membuat obat sendiri dari pengetahuan tradisional turun temurun atau mencari pengobatan alternatif yang diyakini bisa menyembuhkan. Bila tidak berhasil baru ke dokter atau ke Rumah Sakit (Harmanto dan Subroto, 2007). Obat medis modern mempunyai keunggulan tertentu dibandingkan jamu atau obat herbal. Demikian pula jamu dan obat herbal juga mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki obat medis modern. Masyarakat yang kritis dan cerdas sudah mulai bisa memilih dan menentukan obat mana yang akan digunakan. Masyarakat tidak perlu membanding-bandingkan keunggulan masing-masing obat, yang terpenting adalah bahwa keduanya saling melengkapi atau komplementer karena tujuannya sama, yaitu untuk menyembuhkan penyakit (Harmanto dan Subroto, 2007).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 C. Perilaku (Pengetahuan, Sikap dan Tindakan) Benyamin Bloom, seorang ahli psikologi pendidikan, membagi perilaku manusia ke dalam 3 domain ranah atau kawasan, yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (pcychomotor). Dalam perkembangannya, teori ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yaitu: pengetahuan, sikap dan tindakan (Imron, 2010). 1. Pengetahuan (knowledge) Menurut Notoadmodjo (1993), pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan dapat diperoleh seseorang dengan beberapa cara, yaitu lewat pengalaman pribadi, belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan, adanya suatu otoritas atau kekuasaan yang mengharuskan seseorang melakukan sesuatu, juga logika yang mengharuskan seseprang mampu berpikir dan memiliki nalar terhadap sesuatu. Selain itu pengetahuan juga bisa didapatkan melalui pengamatan secara langsung di lapangan terhadap suatu gejala atau fenomena, untuk kemudian dibuat suatu klasifikasi, yang kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan (Imron, 2010). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitan terbukti

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Fitriani, 2011). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu: a. Tahu (know). Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (comprehension). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek tersebut. c. Aplikasi (application). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah diperoleh pada situasi atau kondisi nyata dan sebenarnya. Misal, ketika kita tahu dan mengerti mengenai rumus matematika, maka kita harus bisa menggunakan rumus tersebut untuk menyelesaikan soal yang ada. d. Analisis (analysis). Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisah, mengelompokan dan sebagainya.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 e. Sintesis (synthesis). Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menggabungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misal, dapat menyusun, merencanakan, meringkas, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (evaluation). Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian tersebut didasarkan pada kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria yang telah ada (Fitriani, 2011). Menurut Notoadmojo (2003), tingkat pengetahuan seseorang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pengetahuan baik (apabila skor akhir pengetahuan responden lebih dari 75%), pengetahuan cukup (apabila skor akhir pengetahuan responden berkisar antara 50 sampai 75%), dan pengetahuan kurang (apabila skor akhir pengetahuan responden kurang dari 50%). 2. Sikap (attitude) Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan ingin memihak (favorable) atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu (Berkowitz, 1972). Merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu, sehingga dengan kata lain, sikap merupakan suatu reaksi atau respon seseorang terhadap sesuatu yang akan diterima (Azwar, 1995). Seorang individu akan membentuk pola sikap tertentu tergantung dari interaksi sosial terhadap berbagai situasi psikologis yang dihadapinya. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta pengaruh faktor emosional individu tersebut (Azwar, 1995). 3. Tindakan (practice) Tindakan adalah suatu cara mengaplikasikan atau mempraktekan apa yang telah diketahui setelah mengadakan penilaian atau pendapat terhadap stimulus yang diterima. Dalam praktek kesehatan, tindakan dapat berhubungan dengan penyakit (pencegahan dan penyembuhan), pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, serta praktek kesehatan lingkungan (Fitriani, 2011). Menurut Notoadmodjo (1993), terbentuknya tindakan pada dasarnya dimulai dengan domain pengetahuan terlebih dahulu, kemudian terbentuk respon batin (sikap) terhadap objek yang diketahui. Namun, seseorang juga dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya.. D. Landasan Teori Menurut WHO (1998), pengobatan mandiri adalah tindakan pemilihan dan penggunaan obat-obatan, baik obat tradisional mau pun obat modern oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri. Setiap individu yang akan melakukan pengobatan mandiri dituntut untuk bisa menentukan pola pengobatannya sendiri, termasuk tindakan pemilihan obat (obat tradisional atau obat modern) untuk mengatasi keluhan yang diderita (Depkes, 2008). Tindakan pemilihan obat dalam pengobatan mandiri dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan,

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 termasuk pengetahuan dan sikap setiap individu mengenai obat pilihan tersebut (Supardi dkk., 2005). Pengetahuan merupakan sekumpulan fakta empirik mengenai suatu objek tertentu, juga merupakan domain terpenting yang digunakan oleh seseorang untuk menentukan suatu sikap maupun tindakan seseorang tersebut (Fitriani, 2008). Menurut Notoadmojo (1993), terbentuknya suatu perilaku baru, dimulai dari domain pengetahuan yang selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap terhadap suatu objek, yang kemudian akan menimbulkan respon tindakan (action) terkait dengan stimulus objek tersebut. Namun demikian, seseorang juga dapat bertindak tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya. Kurniasari (2007) menyebutkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. E. Hipotesis 1. Ada hubungan antara pengetahuan mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. 2. Ada hubungan antara sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan penelitian desain cross sectional. Disebut penelitian observasional karena menggambarkan keadaan secara realita dan objektif terhadap suatu kondisi tertentu yang sedang terjadi dalam sekelompok masyarakat (Imron dan Munif, 2010), sedangkan disebut cross sectional (studi potong lintang) karena merupakan penelitian yang mempelajari dinamika korelasi, dengan model pendekatan atau observasi pada satu kali dalam jangka waktu tertentu (Pratiknya, 2001). Penelitian ini menggambarkan hubungan pengetahuan dan sikap responden mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan jenis obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah. B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian 1. Variabel a. Variabel bebas (independent) : Pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah mengenai obat tradisional dan obat modern. b. Variabel tergantung (dependent) : tindakan pemilihan jenis obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Temanggung, Jawa Tengah. 23 Bantir, Kecamatan Candiroto,

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 2. Definisi operasional a. Obat modern adalah golongan obat konvensional yang dapat diperoleh atau dibeli tanpa resep dokter, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek (OWA). Obat wajib apotek merupakan golongan obat keras yang dapat dibeli tanpa resep dokter, namun harus diberikan langsung oleh apoteker di apotek. b. Obat tradisional adalah golongan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. c. Pengetahuan adalah semua hal yang diketahui oleh masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengenai obat tradisional dan obat modern. Skor akhir pengetahuan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menjumlah semua jawaban benar responden, kemudian dibagi dengan total pertanyaan, dan dikalikan 100%. Tingkat pengetahuan mengenai obat tradisional dan obat modern, dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pengetahuan baik (apabila skor akhir pengetahuan responden lebih dari 75%), pengetahuan cukup (apabila skor akhir pengetahuan responden berkisar antara 50 sampai 75%), dan pengetahuan kurang (apabila skor akhir pengetahuan responden kurang dari 50%). d. Sikap adalah keinginan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah untuk memihak (sikap positif) atau tidak memihak (sikap negatif) terhadap obat tradisional dan obat modern.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 e. Tindakan adalah praktek responden terhadap pemilihan obat tradisional dan obat modern dalam swamedikasi. C. Subjek dan Kriteria Inklusi Penelitian Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Bantir usia lebih dari atau sama dengan 18 tahun, baik laki-laki atau perempuan, dan bersedia berpartisipasi dalam mengisi serta mengembalikan kuesioner. D. Populasi dan Besar Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, berusia lebih atau sama dengan 18 tahun dengan jumlah total populasi sebesar 1584 individu. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari keluarga masyarakat Desa Bantir tersebut. Perhitungan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Notoadmodjo, 2010). N = Keterangan: N = besar sampel Z = tingkat kepercayaan P = proporsi kasus d = margin of error Hasil perhitungan sampel adalah sebesar 174 responden (proporsi: 50%, margin of error (d): 0,1 (10%); tingkat kepercayaan 95% ( Z: 1.96 ), efek desain

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 klaster: 1,5; dan penambahan 20% untuk antisipasi tingkat partisipasi), sehingga perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut. N= N= N = 96,04 x efek desain klaster 1,5 N = 144,06 ≈145, kemudian dengan menggunakan sistem drop out 20%, maka diperoleh: N = 145 + ( ) N = 174 E. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan Juli 2013 sampai Desember 2013 di Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. F. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode cluster sampling yang dikombinasikan dengan metode non random accidental sampling. Proses pengambilan sampel melibatkan seluruh Rukun Warga yang dipilih secara acak dengan undian. Desa Bantir memiliki 4 RW, dan masingmasing RW memiliki 4 Rukun Tetangga (RT). Klaster terkecil pada penelitian ini adalah RT.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Gambar 1. Cara pengambilan sampel dengan metode cluster sampling Pada setiap RT (klaster terkecil), kemudian ditetapkan individu terpilih secara non random yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian, dan mau mengisi serta mengembalikan kuesioner. G. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pertanyaan dalam kuisioner berupa kombinasi pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Terdapat tiga bagian dalam kuesiner. Bagian pertama adalah beberapa pertanyaan terbuka untuk melihat bagaimana pola pengobatan mandiri masyarakat tersebut. Bagian kedua adalah pernyataan yang menggambarkan pengetahuan responden, mengenai obat tradisional dan obat modern. Pernyataan dalam kuisioner tersebut dibuat dengan model pertanyaan tertutup karena telah disediakan jawaban. Responden memilih salah satu jawaban dari pernyataan yang dibuat sesuai dengan apa yang responden ketahui. Pilihan jawaban yang disediakan adalah a. ya; b. tidak; dan c. tidak tahu.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Pada bagian ketiga kuesioner ini berisi pernyataan mengenai sikap dan tindakan responden terhadap pemilihan dan penggunaan obat tradisional mau pun obat modern dalam pengobatan mandiri. Pertanyaan nomor satu dan nomor dua pada bagian ini memiliki maksud pertanyaan yang sama, yaitu apakah responden akan memilih obat tradisional saat melakukan pengobatan mandiri atau tidak. Begitu pula sebaliknya, pertanyaan nomor tiga dan nomor empat juga memiliki maksud yang sama, yaitu apakah responden akan memilih obat modern saat melakukan pengobatan mandiri atau tidak. Hal ini dilakukan untuk melihat dan mempertegas konsistensi jawaban responden. Dalam bagian ini, pernyataan dibuat dalam bentuk Likert. Pada setiap pernyataan disediakan pilihan jawaban berupa SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Skala Likert adalah metode pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar, 2005). H. Tahapan Penelitian 1. Studi pustaka Sebelum penelitian, terlebih dahulu dilakukan studi dan penelaahan pustaka mengenai swamedikasi, obat tradisional, obat modern, perilaku seseorang, metode penelitian, dan proses pembuatan kuesioner. Juga dipelajari mengenai penentuan metode statistik yang akan digunakan untuk analisis data. 2. Penentuan lokasi penelitian Lokasi penelitian yang dipilih adalah Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 3. Perijinan Perijinan dilakukan dengan memasukkan surat permohonan ijin dan proposal penelitian ke KESBANGPOL (Kesatuan Bangsa dan Politik) Yogyakarta yang kemudian diteruskan ke KESBANGPOL Semarang dan Temanggung. Oleh KESBANGPOL Temanggung, perijinan diteruskan akan ke Kecamatan Candiroto, Kelurahan, dan Desa Bantir. 4. Penelusuran data populasi Penelusuran data populasi dilakukan melalui sekretariat kepala Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Temanggung. Melalui bagian ini ditelusuri data mengenai populasi penelitian yang meliputi daftar dan jumlah penduduk desa yang berusia lebih dari atau sama dengan 18 tahun. 5. Pembuatan kuesioner a. Penyusunan kuesioner Penyusunan kuesioner dilakukan setelah pengurusan perijinan lokasi penelitian. Jumlah pertanyaan dalam kuesioner sebanyak 13 pertanyaan pada bagian pertama, 23 pernyataan pada bagian kedua, dan 8 pernyataan pada bagian ketiga. b. Uji pemahaman bahasa Uji pemahaman bahasa dilakukan dengan cara membagikan kuesioner yang telah dibuat kepada 30 orang yang memiliki karakteristik mirip dengan responden. Tujuan uji pemahaman bahasa adalah untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner dapat dipahami dengan mudah oleh responden atau tidak. Hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban responden

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 terkait pertanyaan maupun pernyataan dalam kuesioner. Kemudian kalimat dalam kuesioner dapat diubah dan disesuaikan, sehingga responden paham dan dapat memberikan jawaban yang diharapkan dalam penelitian. c. Uji validitas Uji validitas dilakukan untuk menunjukan tingkat kesahihan instrumen penelitian yang akan digunakan. Uji validitas yang dilakukan adalah terkait rasional isi pertanyaan yang dilakukan oleh beberapa dosen yang ahli pada bidang swamedikasi, obat tradisional dan obat moderen. Metode validitas yang digunakan adalah professional jugdment. d. Uji reliabilitas Digunakan uji reliabilitas dengan metode test – re test. Tiga puluh kuesioner yang telah disusun diberikan kepada sejumlah masyarakat yang memiliki karakteristik yang mirip dengan karakteristik responden pada penelitian. Kuesioner diberikan kepada masyarakat Dusun Suruh, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kuesioner kedua dibagikan kembali kepada responden yang sama 2 minggu setelah kuesioner pertama dibagikan, kemudian dilihat korelasi antara kedua kuesioner tersebut. Menurut Azwar (2003), kuesioner dikatakan semakin reliabel apabila nilai p semakin mendekati angka 1. Hasil pengujian reliabilitas dalam penelitian ini diperoleh nilai Person Correlation sebesar 0,612. Menurut Notoadmodjo (2010), apabila didapatkan p ≥0,5 maka alat ukur dinyatakan reliabel.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 6. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner yang dilakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi selama Bulan Oktober-November 2013. Setiap responden diminta untuk mengisi dan menandatangani informed-consent sebagai tanda persetujuan mengikuti penelitian. Pengisian kuisioner, sebagian dilakukan sendiri oleh responden. Responden diberi kesempatan untuk mengerjakan dan langsung mengembalikan kuesioner tersebut saat itu juga. Pada beberapa kasus, banyak responden yang mengalami kesulitan dalam hal bahasa (responden hanya mengerti Bahasa Jawa), membaca dan menulis, sehingga peneliti menyediakan diri untuk mendampingi, membacakan pertanyaan kuesioner, serta membantu menuliskan jawaban responden tanpa mengurangi atau menambah maksud pertanyaan dan jawaban responden. Setelah proses pengisian kuesioner selesai, responden diberikan edukasi mengenai obat tradisional dan obat moderen serta penggunaanya dalam swamedikasi. Edukasi dilakukan secara personal. Tujuan edukasi tersebut adalah agar responden menjadi lebih paham mengenai penggunaan obat tradisional dan obat modern dalam swamedikasi. I. Analisis Data Proses kegiatan pengolahan data (data processing) terdiri dari 3 jenis kegiatan, yaitu memeriksa data (editing), memberi kode (koding), dan tabulasi data (tabulating). Editing dilakukan untuk memeriksa kembali kelengkapan isi

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 jawaban responden dalam kuesioner. Data yang sudah lengkap kemudian masuk dalam tahap koding yang terdiri dari penyederhanaan jawaban dengan memberikan kode dan pemindahan data (entry) yang sudah dikode dengan memasukannya ke dalam program statistik komputer. Kemudian dilakukan tabulasi data, yaitu dengan menyusun dan mengorganisir data sedemikian rupa sehingga dapat disajikan dalam bentuk tabel atau grafik (Imron, 2010). Analisis data dilakukan dengan program SPSS 16 menggunakan metode statistik deskriptif (frekuensi, persentase, median), dan korelasi. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk menggambarkan karakteristik sosio demografi dan ekonomi responden, frekuensi pola pengobatan mandiri. Analisis korelasi dilakukan untuk membuktikan adanya korelasi antara variabel bebas, yaitu pengetahuan dan sikap responden mengenai obat tradisional dan obat moderen, dengan variabel terikat, yaitu tindakan pemilihan pengobatan mandiri. Uji statistik yang digunakan adalah chi square dengan tingkat kepercayaan 95%, sehingga hubungan antar variabel dinyatakan signifikan secara statistik apabila nilai P < 0.05 (Santoso, 2012). Perhitungan persentase dilakukan dengan mengunakan rumus: P = persentase jawaban (dalam %) A = jumlah jawaban sejenis B = jumlah responden total Sebelum analisis korelasi dilakukan, terlebih dahulu diuji normalitas data untuk mengetahui apakah data yang didapatkan terdistribusi secara normal atau

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 tidak. Apabila data yang didapatkan terdistribusi normal, maka analisis dilakukan dengan metode parametik, sedangkan apabila data yang didapatkan tidak terdistribusi normal, maka analisis dilakukan dengan metode non parametik. Distribusi data dikatakan normal apabila didapatkan angka signifikansi masingmasing variabel lebih dari 0,05 (Santoso, 2012). Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov, didapatkan nilai signifikansi variabel pengetahuan adalah 0,009, variabel sikap adalah 0,001, dan variabel tindakan adalah 0,000. Hal ini menunjukan bahwa data tidak terdistribusi secara normal karena semua variabel memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05, sehingga analisis antar tiga variabel tersebut menggunakan uji Chi Square. J. Keterbatasan Penelitian 1. Penelitian dibatasi untuk mengetahui tindakan pemilihan obat responden terkait obat tradisional atau obat modern dalam swamedikasi tanpa meninjau lebih dalam alasan-alasan responden memilih obat tersebut. 2. Penggalian informasi menggunakan kuesioner yang sebagian besar merupakan pertanyaan dan pernyataan tertutup, sehingga hasil yang didapatkan terbatas pada pertanyaan dalam kuesioner.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Salah satu hal penting yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai karakteristik sosio demografi responden. Menurut Skinner, seorang ahli perilaku, (cit., Notoadmodjo, 1993), lingkungan atau karakteristik seseorang berkaitan dengan pembentukan sikap dan tindakan seseorang tersebut. Dalam penelitian ini, karakteristik responden yang akan dibahas meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pendapatan responden per bulan. Tingkat partisipasi dalam penelitian ini sebesar 93%, yaitu 161 responden. 1. Usia Pada penelitian ini subjek penelitian yang ditetapkan sebagai kriteria inklusi adalah subjek penelitian yang berusia lebih dari atau sama dengan 18 tahun. Menurut Undang-undang nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, usia 18 tahun merupakan batas usia dewasa seseorang. Tabel I. Distribusi usia responden Rentang Usia (18-75 tahun) 18-44 45-59 60-69 ≥70 Total Jumlah N=161 113 43 4 1 161 Persentase (%) 70 27 2 1 100 Usia dewasa adalah usia seseorang yang memiliki hak untuk melakukan perbuatannya sendiri dengan tanggung jawabnya sendiri tanpa adanya bantuan 34

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dari pihak lain (Adjie, 2013). Perbuatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap dan tindakan responden dalam pemilihan obat saat melakukan pengobatan mandiri. Dari hasil penelitian didapatkan rentang usia yang beragam dari 18 – 75 tahun (lihat tabel 1) dengan median usia responden adalah 39 tahun.Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Tahun 2011, kelompok usia produktif adalah sekelompok penduduk yang berusia 15-44 tahun, kelompok pra usia lanjut adalah 45-59 tahun, kelompok usia lanjut adalah lebih dari 60 tahun, sedangkan kelompok usia lanjut risiko tinggi adalah 70 tahun ke atas. Sebagian besar responden pada penelitian ini berada pada rentang usia produktif. 2. Jenis kelamin Berdasarkan hasil penelitian (Gambar 1), dari 161 responden yang bersedia mengisi kuesioner, sebanyak 68% (110 responden) adalah perempuan dan sebesar 32% (51 responden) adalah laki-laki. Gambar 1. Persentase responden laki-laki dan perempuan, N=161 Menurut Noviana (2011), kaum wanita lebih banyak melakukan pengobatan mandiri dan lebih peduli terhadap kesehatan, baik dirinya sendiri mau pun keluarganya dibandingkan dengan kaum laki-laki. Selain itu, menurut Thoma 35

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (2011), wanita yang lebih peduli terhadap kesehatan dibandingkan laki-laki, cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai pengobatan mandiri. 3. Status pernikahan Status pernikahan responden meliputi menikah dan belum menikah. Berdasarkan hasil penelitian (Gambar 2), dari 161 responden, sebanyak 91% responden telah menikah, sedangkan sebanyak 9% belum menikah. Gambar 2. Persentase status pernikahan responden, N=161 Menurut hasil penelitian Widayati (2012), status pernikahan berpengaruh terhadap pola tindakan self-care, termasuk swamedikasi dengan obat modern dan obat tradisional atau herbal. 4. Tingkat pendidikan terakhir Menurut penelitian yang dilakukan oleh Adikuntati (2008), tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang tentang swamedikasi. Responden dengan pendidikan tinggi cenderung akan lebih mudah menerima informasi dan lebih baik untuk mengaplikasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel II), didapatkan bahwa sebagian besar responden (61%) adalah lulusan SD. Selain itu, terdapat responden dengan tingkat pendidikan terakhir SMP sebesar 25% (40 responden), SMA/SMK 36

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebesar 7% (11 responden), tidak tamat SD sebesar 3% (6 responden), perguruan tinggi sebesar 2% (3 responden), dan 3 responden yang tidak sekolah dengan persentase sebesar 2%. Tabel II. Frekuensi tingkat pendidikan terakhir responden No 1 2 3 4 5 6 Tingkat Pendidikan Jumlah N=161 98 40 11 3 6 3 161 SD SMP SMA/SMK Perguruan tinggi Tidak tamat SD Tidak sekolah Total Frekuensi (%) 61 25 7 2 3 2 100 Dari tingkat pendidikan di atas, kemudian dikategorikan lagi menjadi dua, yaitu tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, dan SMP) dan tingkat pendidikan tinggi (SMA/SMK dan perguruan tinggi), sehingga didapatkan gambar sebagai berikut. Gambar 3. Presentase tingkat pendidikan responden, N=161 Pada penelitian yang dilakukan oleh Adikuntati (2008), terdapat adanya hubungan antara tingkat pendidikan terhadap pengetahuan responden mengenai swamedikasi. Dari gambar di atas, ditemukan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah, yaitu sebanyak 91% (147 responden), 37

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sedangkan sisanya sebanyak 9% (14 responden) memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. 5. Jenis pekerjaan Berdasarkan hasil penelitian (Tabel II), sebagian besar pekerjaan responden adalah sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan persentase 35% (56 responden). Selain itu sebanyak 32% adalah petani, 4% sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), 18% sebagai wiraswasta, 4% sebagai pedagang, 4% sebagai pelajar/mahasiswa dan 3% sebagai tukang. Tabel III. Frekuensi jenis pekerjaan responden No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis pekerjaan responden Swasta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pedagang Mahasiswa/Pelajar Ibu Rumah Tangga (IRT) Petani Tukang Total Jumlah N=161 29 6 7 6 56 52 5 161 Persentase (%) 18 4 4 4 35 32 3 100 Jenis pekerjaan seseorang dapat mempengaruhi tingkat sosial dan interaksi sosial seseorang dengan orang lain yang berasal dari lingkungan berbeda (Kurniasari, 2007). Interaksi antar individu akan menyebabkan terjadinya tukarmenukar informasi mengenai swamedikasi dan pemilihan obat untuk menanganinya. Selain itu, seseorang dengan jenis pekerjaan yang dapat memberikan pendapatan yang tinggi, mungkin cenderung memilih cara pengobatan yang lebih baik karena memiliki kesempatan untuk melakukannya dibandingkan dengan seseorang yang jenis pekerjaannya hanya memberikan sedikit pendapatan. 38

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Pendapatan per bulan Berdasarkan hasil penelitian (Gambar 4), sebagian besar responden (50%) berpendapatan antara Rp300.000,00 sampai Rp1.000.000,00. Kemudian sebanyak38% (61 responden) berpendapatan kurang dari Rp 300.000,00; sebanyak 7% (11 responden) berpendapatan antara Rp1.000.000,00 sampai Rp1.500.000,00; sebanyak 4% (6 responden) berpendapatan lebih dari Rp2.000.000,00; dan sebanyak 1% (2 responden) berpendapatan antara Rp1.500.000,00 sampai Rp2.000.000,00. Gambar 4. Persentase pendapatan per bulan responden, N=161 Tingkat pendapatan seseorang per bulan terkait dengan tingkat sosial ekonomi seseorang. Menurut Adikuntati (2008), tingkat pendapatan seseorang berpengaruh terhadap sikap seseorang mengenai jenis pengobatan seseorang, termasuk swamedikasi. Masyarakat dengan tingkat pendapatan tinggi akan dengan mudah mengakses semua sarana kesehatan, tetapi masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah akan cenderung menjadikan pertimbangan utama dalam hal pencarian pengobatan. 39 biaya sebagai

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pengenalan Responden Terhadap Pengobatan Mandiri Pengobatan mandiri atau swamedikasi merupakan suatu tindakan seseorang untuk mengobati diri sendiri mau pun keluarganya secara tepat dan bertanggungjawab (Manurung, 2010). Berdasarkan pertanyaan “Apakah Anda pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi?”, didapatkan bahwa sebanyak 65.8% (106 responden) menyatakan tidak pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi,sedangkan sebanyak 34.2% (55 responden) menyatakan pernah mendengar istilah tersebut. Gambar 5. Persentase responden mendengar istilah pengobatan mandiri, N=161 Dari 55 responden yang menyatakan bahwa mereka pernah mendengar istilah tersebut dari dokter/dokter gigi/apoteker/perawat/bidan sebanyak 2% (3 responden), sebanyak 17,2% (29 responden) mendengar istilah tersebut dari media cetak/elektronik, sebanyak 7% (11 responden) mendengar istilah tersebut dari teman/saudara/tetangga, dan sebanyak 6% (10 responden) mendengar istilah tersebut dari tenaga kesehatan lain (kesehatan masyarakat/ahli gizi). Satu responden mendengar istilah tersebut dari volunteer KKN yang pernah mengabdikan diri pada desa mereka dan satu yang lain mendengar istilah tersebut dari perkuliahan. 40

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai istilah swamedikasi atau pengobatan mandiri dari media cetak / elektronik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2010) bahwa informasi terbanyak yang mempengaruhi sikap seseorang dalam hal kesehatan berasal dari iklan pada media cetak mau pun elektronik, sehingga pemberian informasi kesehatan lewat media tersebut sebaiknya sesuai dan benar agar masyarakat tidak salah menerima informasi. Gambar 6. Persentase sumber informasi responden mengenai istilah swamedikasi, N=161 Dalam penelitian ini juga dibahas mengenai definisi swamedikasi atau pengobatan mandiri meurut responden. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa 50,9% (82 responden) memilih jawaban “a”, yaitu “Upaya pengobatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa bantuan dokter untuk mengatasi keluhan sakit ringan yang dialaminya”, sebanyak 19,3% (31 responden) memilih jawaban “b”, yaitu “Tindakan penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif sendiri”, dan sebanyak 29,8% (48 responden) memilih jawaban “c”, yaitu “tidak tahu”. 41

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 7. Persentase pengertian responden tentang definisi pengobatan mandiri, N=161 Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa sebagian responden yang tidak pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi sebenarnya tahu apa definisi dari istilah tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa sebanyak 105 responden menyatakan tidak pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi, tetapi hanya 48 responden yang menyatakan tidak tahu definisinya. Namun demikian, bisa juga terdapat kemungkinan responden asal menjawab pertanyaan dalam kuesioner. Menurut World Health Organization (1998), swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat baik obat modern mau pun obat tradisional oleh seseorang untuk melindungi diri dari penyakit dan gejalanya. Obat modern yang bisa digunakan untuk pengobatan mandiri adalah jenis obat bebas dan obat bebas terbatas (Harmanto dan Subroto, 2007). Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 18% (29 responden) berpendapat bahwa pengobatan mandiri hanya bisa dilakukan dengan menggunakan obat moderen, sebanyak 41% (66 responden) menjawab hanya obat tradisional yang dapat digunakan untuk pengobatan mandiri, dan 42

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebanyak 41% (66 responden) berpendapat bahwa baik obat tradisional mau pun obat modern dapat digunakan untuk pengobatan mandiri (Gambar 9). Pada hasil penelitian didapatkan bahwa banyaknya responden yang memilih obat tradisional dan keduanya (obat tradisional dan modern), sama besarnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Supardi,dkk. (2001), didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat kota melakukan pengobatan mandiri mengunakan obat modern, sedangkan sebagian besar masyarakat desa cenderung lebih dominan menggunakan obat tradisional ketika melakukan pengobatan mandiri. Namun demikian, pada dasarnya, baik obat modern atau pun obat tradisional dapat digunakan untuk pengobatan mandiri atau swamedikasi. Gambar 8. Persentase pendapat responden tentang jenis obat yang digunakan dalam pengobatan mandiri, N=161 C. Pola Pengobatan Mandiri Responden Dalam satu bulan terakhir, dari 161 responden, didapatkan sebanyak 32% (51 responden) pernah melakukan kegiatan pengobatan mandiri atau swamedikasi. Terdapat pula 2 responden yang menyatakan tidak pernah melakukan, namun mencantumkan dan menuliskan pola pengobatan mandiri yang pernah dilakukannya, sehingga dianggap pernah melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan terakhir. Gambar 9 menggambarkan frekuensi 53 responden 43

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut dalam melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi terkait keluhan yang dialami. Gambar 9. Frekuensi responden melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan terakhir, N=53 Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 60% (32 responden) menyatakan pernah melakukan 1 kali swamedikasi, sebanyak 23% (12 responden) melakukan 2 kali swamedikasi, sebanyak 9% (5 responden) melakukan 3 kali swamedikasi, dan sebanyak 8% (4 responden) pernah melakukan lebih dari 4 kali swamedikasi dalam satu bulan terakhir. Pengobatan mandiri dapat dilakukan oleh seseorang untuk teman mau pun keluarga yang mengalami keluhan sakit. Dalam penelitian ini pun demikian, terdapat 57% (30 responden) melakukan pengobatan mandiri untuk dirinya sendiri, sedangkan sebanyak 26% (14 responden) menyatakan pengobatan mandiri untuk keluarga, sebanyak 6% (3 responden) melakukan pengobatan mandiri untuk diri sendiri dan keluarga, dan sebanyak 11% (6 responden) menyatakan pengobatan mandiri untuk teman. 44

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV. Persentase mengenai siapa yang melakukan pengobatan mandiri No 1 2 3 4 Yang melakukan pengobatan mandiri Jumlah N=53 Persentase (%) 30 14 3 6 53 57 26 6 11 100 Diri sendiri Keluarga Diri sendiri dan keluarga Teman Total Pengobatan mandiri dilakukan untuk mengatasi penyakit atau keluhan ringan yang dialami oleh penderita. Terdapat banyak keluhan dan penyakit ringan yang dapat dilakukan pengobatan mandiri, seperti demam, flu, maag, pegal linu, pusing, kleseo, pilek, gata-gatal, dan lain sebagainya. Tabel V menggambarkan keluhan responden ketika melakukan pengobatan mandiri. Tabel V. Keluhan yang dialami responden saat melakukan pengobatan mandiri No Keluhan sakit 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tidak menuliskan keluhan Asam urat Batuk pilek Biduran/gatal Demam Flu Kelelahan Kesleo Maag Masuk angin Nyeri haid Pegal linu Pusing Sakit gigi Sakit kepala dan kembung Sakit pinggang dan sakit kepala Total 45 Jumlah Persentase N=53 (%) 3 6 1 2 4 7 2 4 5 9 5 9 1 2 2 4 3 6 1 2 1 2 3 6 17 31 3 6 1 2 1 2 53 100

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa keluhan terbanyak yang dialami oleh responden adalah pusing, yaitu sebesar 31% (17 responden). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Angkoso (2006). Jenis obat yang digunakan oleh responden dalam menangani keluhan saat melakukan pengobatan mandiri dikelompokan menjadi obat tradisional dan obat modern. Sebanyak 89% (47 responden) menggunakan obat modern dalam mengatasi keluhan sakitnya, sedangkan sebanyak 11% (6 responden) menggunakan obat tradisional dalam pola pengobatan mandiri yang dilakukan. Gambar 10. Jenis obat yang digunakan dalam pola pengobatan mandiri, N=53 Sebagian besar obat yang digunakan sudah sesuai dengan keluhan yang diderita responden. Sebagai contoh, responden dengan keluhan batuk pilek, memilih trifet® dan uni baby’s cough® sebagai obat untuk mengatasi keluhannya, beberapa responden dengan keluhan demam, flu dan sakit kepala, memilih parasetamol, yekaflu®, ultraflu®, sanmol® dan procold® untuk mengatasi keluhan yang dialaminya. Hal ini menunjukan bahwa responden mampu melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi dengan tepat, baik dalam diagnosis penyakit yang dideritanya mau pun pilihan obatnya secara mandiri. 46

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut adalah obat-obatan yang digunakan responden untuk mengatasi keluhan dalam pengobatan mandiri. Tabel VI. Obat yang digunakan responden dalam pengobatan mandiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama Obat Tidak menuliskan nama obat Bodrex® Paramex® Parasetamol Biogesic® Ponstan® Procold® Promag® Ultraflu® Antalgin Antibiotik Asam mefenamat Balsem gosok GPU® Dexteem plus® Mixagrip® Mylanta® Painbotil® Panadol® Piroxicam® Sanmol® Trifed® Uni baby’s cough® Yekaflu® Paramol® Herbal Herbalin® Komplit pegal linu® Laserin® Pilkita® Antangin® Total Jenis Obat Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat modern Obat tradisional Obat tradisional Obat tradisional Obat tradisional Obat tradisional Obat tradisional Jumlah N=53 3 9 5 5 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 53 Persentase (%) 6 17 9 9 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 100 Terdapat responden yang menuliskan antibiotik untuk keluhan gatal. Semua antibiotik merupakan obat keras bukan OWA yang penggunaannya harus dengan resep dokter, sehingga hal ini kurang tepat untuk swamedikasi. 47

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari berbagai macam obat di atas, responden yang menyatakan pernah menggunakan obat tersebut sebelumnya sebanyak 85% (45 responden) dan sebanyak 15% (8 responden) menyatakan tidak pernah menggunakan obat tersebut sebelumnya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Liliani (2004), bahwa pengguna yang merasa puas atas hasil utama obat yang digunakan, maka ia akan memutuskan untuk menggunakan kembali obat yang sama pada keluhan yang sama. Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa responden yang melakukan pengobatan mandiri, memperoleh obat yang digunakan dari berbagai macam tempat. Gambar 11 memperlihatkan bahwa 36% (19 responden) menyatakan memperoleh obat yang digunakan di apotek. Sebanyak 4% (2 responden) memperoleh obat yang digunakan di apotek dan warung terdekat, sebanyak 48% (26 responden) memperoleh obat yang digunakan di warung terdekat, sebanyak 4% (2 responden) memperoleh obat yang digunakan dari toko obat dan apotek, sebanyak 2% (1 responden) memperoleh obat yang digunakan di toko obat dan warung terdekat, sedangkan sisanya sebanyak 6% (3 responden) memperoleh obat yang digunakan dari orang lain. Salah satu responden yang menyatakan memperoleh obat dari apotek juga menuliskan bahwa terkadang responden mendapatkan obat langsung dari saudaranya yang bekerja di sebuah rumah sakit. Menurut Liliani (2004), untuk mendapatkan obat yang bermutu, aman dan terjamin, adalah penting untuk membeli obat pada tempat yang telah terjamin dan mendapat ijin resmi departemen kesehatan, seperti apotek atau toko obat berijin. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden memilih 48

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI warung terdekat untuk mendapat obat dalam upaya pengobatan mandiri yang dilakukan. Hal ini menjadi tidak masalah apabila responden paham benar tentang diagnosis diri sendiri dan sediaan atau obat yang dibelinya, terkait indikasi, tanggal kadaluwarsa serta informasi penting lainnya. Gambar 11. Frekuensi responden memperoleh obat yang digunakan, N=53 Harga obat yang digunakan oleh responden beragam. Sebanyak 72% (38 responden) menyatakan bahwa obat yang dibelinya memiliki harga kurang dari Rp5.000,00; sebanyak 15% (8 responden) membeli obat yang digunakan dengan harga antara Rp5.000,00 sampai Rp15.000,00; sebanyak 9% (5 responden) membeli obat yang digunakan dengan harga antara Rp15.000,00 sampai Rp25.000,00; sedangkan (Tabel VII) sebanyak 4% (2 responden) menyatakan membeli obat yang digunakan dengan harga antara Rp25.000,00 sampai Rp35.000,00. Tabel VII. Frekuensi harga obat yang digunakan responden No 1 2 3 4 Biaya
(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Alasan terbanyak yang dipilih responden ketika melakukan pengobatan mandiri adalah karena biaya lebih murah, yaitu sebanyak 52,8% (28 responden). Hal ini terkait dengan karakteristik responden yang sebagian besar berpendapatan relatif rendah. Menurut Djunarko (2011), salah satu faktor yang mempengaruhi praktik swamedikasi adalah kondisi ekonomi. Mahalnya pelayanan kesehatan (dokter, klinik, rumah sakit), merupakan penyebab masyarakat berusaha mencari pengobatan yang lebih murah untuk penyakit ringan, yaitu swamedikasi. Terbanyak kedua adalah karena penyakit yang dideritanya masih ringan, yaitu sebanyak 45,3% (24 responden), sedangkan sebanyak 24,5% (13 responden) memilih alasan pengobatan mandiri karena lebih praktis, dan sebanyak 16,9% (9 responden) memilih alasan karena lebih cepat atau tidak mengantri. Selain itu, dalam tabel VIII juga dapat dilihat bahwa beberapa responden juga menambahkan alasan seperti merasa lebih cocok, merupakan penangan awal, dan penah dengan resep dokter. Tabel VIII. Frekuensi alasan responden melakukan pengobatan mandiri No 1 2 3 4 5 6 7 Alasan Biaya lebih murah Lebih cepat/tidak antri untuk periksa Lebih praktis Penyakit masih ringan Merasa cocok Sudah pernah dengan resep dokter Penanganan awal Total Jumlah N=53 28 9 13 24 1 1 1 77* Persentase (%) 52,8 16,9 24,5 45,3 2 2 2 146* Ket: *responden boleh memilih lebih dari satu jawaban 50

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Pengetahuan Tentang Obat Tradisional dan Obat Modern Menurut Imron (2010), pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari rasa ingin tahu kemudian mencari tahu kebenaran dan menjadikannya sebagai pengalaman. Dari pengalaman, seseorang dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga pengetahuan merupakan faktor yang penting dalam tindakan seseorang. Pengetahuan dalam penelitian ini adalah semua hal yang diketahui oleh responden. Tabel IX. Persentase jawaban responden mengenai obat tradisional dan obat modern, N=161 Persentase jawaban (%) No Pernyataan iya tidak tidak tahu 1. Obat tradisional merupakan ramuan atau produk 95 4 1 obat yang berasal dari tanaman. 2 Obat tradisional dapat berbentuk tablet, cairan 89 10 1 dalam botol, sachet atau kapsul 3 Tidak terdapat takaran dosis yang tepat pada 61 20 19 penggunaan obat tradisional. 4 Terdapat beberapa jenis obat tradisional, yaitu 52 1 47 jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka 5 Obat tradisional dengan kandungan jahe (Zingiberis rhizoma), dapat digunakan untuk 89 3 8 melegakan tenggorokan serta mengatasi mual dan muntah 6 Aturan pakai obat tradisional harus mengikuti 20 6 74 aturan yang disarankan seperti pada kemasan 7 Obat tradisional tidak memiliki efek samping 55 25 20 yang berbahaya 8 Obat tradisional dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil, menyusui, 42 40 18 atau pun seseorang yang mengalami gangguan fungsi organ, seperti gangguan ginjal 9 Obat tradisional dapat digunakan dalam 86 5 9 pengobatan mandiri 10 Terdapat beberapa jenis obat moderen (obat dengan bahan kimia) yaitu obat bebas, obat 53 6 41 bebas terbatas dan obat keras 11 Obat bebas / bebas terbatas merupakan obat yang mengandung bahan kimia, yang dapat 83 7 10 dibeli di warung/toko, toko obat maupun apotek 12 Obat bebas / bebas terbatas tersedia dalam 86 2 12 bentuk tablet, kapsul, sirup, dan salep 51

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 14 15 16 17 Obat bebas / bebas terbatas mempunyai takaran dosis tertentu Obat bebas / bebas terbatas yang memiliki kandungan parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala demam dan pusing Obat bebas / bebas terbatas harus dipakai sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan Penggunaan obat bebas / bebas terbatas dapat menimbulkan efek samping, misalnya mual, muntah, mengantuk dan alergi Obat bebas / bebas terbatas digunakan tanpa resep dokter (tanpa periksa terlebih dahulu) hanya untuk mengatasi gejala/penyakit ringan, seperti sakit kepala ringan dan nyeri ringan, dll 68 8 24 76 2 22 89 3 8 81 4 15 83 5 12 Terdapat 17 pernyataan pengetahuan mengenai obat tradisional dan obat modern (Tabel IX) yang dibahas sebagai berikut. 1. Definisi obat tradisional Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden menjawab “iya” pada pernyataan tersebut. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar responden tahu apa yang dimaksud dengan obat tradisional. Menurut Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sedian sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun temurun digunakan sebagai pengobatan berdasarkan pengalaman. Selain itu, secara sederhana, Syamsuni (2006) mendefinisikan obat tradisional sebagai obat yang didapatkan dari alam dan diolah secara sederhana. 2. Macam dan bentuk sediaan obat tradisional Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.41.1384 tentang kriteria dan tata laksana 52

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pendaftaran obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka pasal 10, selain berupa sediaan sederhana seperti rajangan, serbuk maupun parem, sediaan obat tradisional juga terdapat dalam bentuk sediaan modern berupa pil, tablet, kapsul, krim, gel, salep, supositoria anal dan cairan obat dalam. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden menjawab “iya”. Hal ini menunjukan sebagian besar responden tahu bahwa terdapat sediaan obat tradisional yang telah dikemas dalam bentuk modern. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Noviana (2010). 3. Dosis obat tradisional Menurut Depkes RI (2008), obat tradisional memiliki dosis dan aturan pakai yang harus dipatuhi, terutama obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka yang diketahui pasti dosisnya sehingga harus memperhatikan aturan pakai, baik jumlah maupun waktu minum agar tidak muncul efek yang tidak diharapkan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden menjawab “iya”. Hal ini menunjukan bahwa responden tahu mengenai dosis dan aturan pakai obat tradisional. 4. Penggolongan obat tradisional Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, obat tradisional dikelompokan menjadi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (BPOM, 2004). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa, meskipun berbeda tipis dengan responden yang menjawab “tidak”, lebih dari separuh responden menjawab “iya”. Hal ini menunjukan bahwa lebih dari 53

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI separuh responden tahu dengan baik mengenai adanya penggolongan obat tradisional. 5. Contoh kandungan obat tradisional dan indikasinya Santoso (1989) mengungkapkan bahwa jahe (Zingiberis rhizoma) memiliki kandungan oleoresin atau biasa disebut dengan minyak jahe yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu manfaat jahe sebagai obat adalah untuk masuk angin, mengurangi mual karena perut kembung, menghangatkan tubuh, dan untuk perut mulas. Dari hasil penelitian ini, sebagian besar responden menjawab “iya”, yang menunjukan bahwa responden tahu tentang kandungan dalam obat dan indikasi kandungan tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wisely (2008), bahwa bahan penyusun dalam kemasan obat memiliki khasiat atau kegunaannya sendiri. Indikasi berkaitan dengan manfaat atau khasiat suatu obat. Informasi mengenai indikasi obat bermanfaat sebagai panduan dan pertimbangan dalam pemilihan obat saat melakukan pengobatan mandiri supaya obat yang dipilih tepat sesuai dengan keluhan sakit yang dialami. 6. Aturan pakai obat tradisional Menurut Depkes (2008), semua obat harus digunakan sesuai dengan aturan pakai yang terdapat dalam kemasan obat tersebut. Dari hasil penelitian, sebagian besar responden menjawab “tidak tahu”. Hal ini menunjukan bahwa responden tidak paham dengan aturan pakai obat yang digunakan. Kemungkinan responden memilih obat untuk mengatasi keluhannya tanpa melihat dahulu indikasi dan aturan pakai dalam kemasan. 54

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Efek samping obat tradisional Dari hasil penelitian diketahui sebagian besar responden menganggap bahwa obat tradisional tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Noviana (2011). Pada dasarnya setiap obat, baik itu obat moderen maupun obat tradisional memiliki efek samping (Harmanto dan Subroto, 2007), sehingga seharusnya masyarakat pandai memilih dan menggunakan obat sesuai dengan aturan pakainya agar efek samping yang ditimbulkan minimal. 8. Kontraindikasi obat tradisional Dari hasil penelitian didapatkan bahwa antara responden yang menjawab “tidak” dan “iya” hampir sama dan hanya terpaut 2%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian responden tahu mengenai adanya kontraindikasi obat tradisional, meski pun sebagian menyatakan ketidaktahuannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Liliani (2004). Banyak obat tradisional yang dikontraindikasikan pada ibu hamil, menyusui atau pun bayi, namun terdapat pula obat yang memang diindikasikan untuk golongan tersebut. Dengan demikian adalah penting untuk mengetahui dan memperhatikan informasi obat yang akan digunakan untuk swamedikasi, termasuk kontraindikasinya. 9. Penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri. Menurut World Health Organization (1998), swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat baik obat modern maupun obat tradisional oleh seseorang untuk melindungi diri dari penyakit dan gejalanya. Sebagian besar responden menjawab “iya” pada penelitian ini. Hal ini menunjukan bahwa 55

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI responden tahu bahwa obat tradisional dapat digunakan sebagai pilihan obat saat melakukan pengobatan mandiri. 10. Penggolongan obat modern Obat adalah zat kimia yang bersifat racun, namun dalam jumlah tertentu dapat memberikan efek mengobati penyakit. Obat dapat dibagi menjadi 5 golongan, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, psikotropika, dan narkotika (Depkes, 2008). Dalam swamedikasi, obat yang dapat digunakan adalah obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besarresponden menjawab “iya”. Hal ini menunjukan bahwa mereka tahu mengenai penggolongan obat moderen tanpa resep. 11. Definisi obat modern Obat medis modern adalah obat yang terbuat dari bahan sintetik (kimia) yang diresepkan oleh dokter dan kalangan medis untuk mengobati penyakit tertentu (Harmanto dan Subroto, 2007). Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden tahu definisi mengenai obat modern. 12. Jenis dan bentuk sediaan obat modern Menurut depkes RI (2008) terdapat beberapa bentuk sediaan obat, yaitu kapsul, tablet, pulvis, puyer, sirup dan larutan obat luar (tetes hidung dan mata). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa sebagian besar responden tahu mengenai macam dan bentuk sediaan obat modern. 13. Dosis obat modern Menurut Tjay dan Rahardja (2007), obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, mau pun nabati 56 yang dalam dosis tertentu dapat

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Dengan kata lain, semua obat memiliki dosis efektif tertentu. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden mengetahui adanya dosis dalam obat. 14. Kandungan obat modern dan indikasi kandungan tersebut Parasetamol merupakan obat golongan analgesik antipiretik yang mempunyai fungsi untuk menurunkan deman dan mengurasi rasa sakit/nyeri, termasuk pusing. Dalam penelitian didapatkan bahwa sebagian responden telah mengetahui indikasi kandungan dalam obat. Hal ini akan meminimalkan terjadinya kesalahan penggunaan obat untuk swamedikasi. 15. Aturan pakai obat modern Menurut Depkes RI (2008), penggunaan obat harus sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan, sehingga penggunaan obat menjadi rasional. Dalam penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden telah mengetahui tentang aturan pakai dalam kemasan. Hal ini baik, karena berarti sebelum menggunakan obat untuk swamedikasi yang akan dilakukan, responden terlebih dahulu membaca aturan pakai obat tersebut dalam kemasan. 16. Efek samping obat modern Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, seperti timbulnya mual, muntah, gatal-gatal dan lain sebagainya (Depkes RI, 2008). Dari hasil penelitian, menunjukan bahwa sebagian besar responden tahu tentang beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh suatu obat karena menjawab “iya”. 57

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17. Penggunaan obat modern dalam pengobatan mandiri Swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat baik obat modern maupun obat tradisional oleh seseorang untuk melindungi diri dari penyakit dan gejalanya (WHO, 1998). Sebagian besar responden menjawab “iya” pada penelitian ini. Hal ini menunjukan responden tahu bahwa obat modern dapat digunakan sebagai pilihan obat saat melakukan pengobatan mandiri. 18. Simbol penggolongan obat radisional dan arti simbol tersebut Tabel X. Persentase jawaban responden mengenai simbol penggolongan obat tradisional, N=161 Simbol / Gambar jamu OHT fitofarmaka Persentase jawaban (%) Iya tidak tidak tahu Pernyataan Jika dalam kemasannya terdapat lambang seperti pada gambar berikut ini, obat tersebut adalah jamu. Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, obat tersebut merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya sudah distandarisasi. Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, obat tersebut merupakan jenis obat tradisional bernama fitofarmaka. 59,6 0,6 39,8 20 6 74 17 4 79 a. Jamu Menurut Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK.00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Obat Tradisional Tahun 2005, jamu adalah obat tradisional indonesia yang bukti klaim khasiat dan keamanannya berdasarkan data empiris karena telah digunakan secara turun temurun. Kelompok jamu yang beredar harus mencantumkan simbol berupa “RANTING DAUN” berwarna hijau yang terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau warna lain yang menyolok, serta mencantumkan tulisan 58

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “JAMU” berwarna hijau (BPOM, 2004). Pada hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden, sebanyak 59,6% menjawab “iya”. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar responden mengetahui dengan baik simbol pada kemasan jamu. b. Obat herbal terstandar Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji pra klinik dan bahan bakunya telah distandarisasi (BPOM, 2004). Menurut Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) No. HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia Pasal 7 Tahun 2005, obat herbal terstandar harus mencantumkan logo “JARI-JARI DAUN (3 PASANG)” berwarna hijau yang terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau warna lain yang menyolok. Di bawah simbol tersebut harus terdapat tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR” berwarna hijau. Sebagian besar responden, sebanyak 74% menjawab “tidak tahu”. c. Fitofarmaka Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK.00.05.4.2411 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia Pasal 8, simbol fitofarnaka berupa “JARIJARI DAUN” berwarna hijau yang membentuk bintang dan terletak di dalam lingkaran dengan warna dasar putih atau mencolok, serta terdapat tulisan 59

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “FITOFARMAKA” pada bawah lingkaran. Sebagian besar responden, sebanyak 79% menjawab “tidak tahu”. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden belum mengerti mengenai simbol atau tanda yang terdapat pada sediaan obat tradisional (obat herbal terstandar dan fitofarmaka) serta maksud dan arti dari simbol tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wisely (2008). Simbol pada kemasan obat tradisional dimaksudkan untuk mendefinisikan secara khusus pembuktian khasiat obat baik secara empiris, klinik, mau pun pra klinik, serta standarisasi bahan dasar obat tersebut. Selain itu juga sebagai upaya perlindungan masyarakat dan dijadikan sebagai dasar alasan pemilihan obat tradisional. Ketidaktahuan responden mengenai simbol obat tradisional, memungkinkan mereka juga tidak mengetahui dengan pasti jenis obat yang dipilihnya untuk pengobatan mandiri. 19. Simbol penggolongan obat modern dan arti simbol tersebut Tabel XI. Persentase jawaban responden mengenai simbol penggolongan obat modern, N=161 Persentase jawaban (%) Simbol / Pernyataan Gambar iya tidak tidak tahu Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut 38 11 51 dapat dibeli secara bebas di warung Obat bebas tanpa resep dokter. Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut 48 4 48 merupakan obat keras yang hanya bisa Obat keras dibeli dengan resep dokter. Jika pada kemasan obat terdapat lambang seperti pada gambar, maka 5 70 obat tersebut merupakan obat yang 25 Obat bebas dapat dibeli tanpa resep dokter, dengan terbatas batas jumlah pembelian tertentu. 60

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Obat bebas Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan dan etiket obat bebas, tanda khusus berupa lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam (Depkes, 2008). Pada hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden, sebanyak 51% menjawab “tidak tahu”. b. Obat keras Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya masuk golongan obat keras, tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, namun penggunaannya harus memperhatikan informasi yang menyertai obat dalam kemasan. Pada kemasan dan etiket obat bebeas terbatas terdapat tanda khusus berupa lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam (Depkes, 2008). Pada hasil penelitian didapatkan bahwa 48% responden mrnjawab “iya” dan 48% responden lainnya menjawab “tidak tahu”. c. Obat bebas terbatas Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Obat keras mempunyai tanda khusus berupa lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf K yang menyentuh garis tepi (Depkes RI, 2008). Pada hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden, sebanyak 70% menjawab “tidak tahu”. Dari ketiga pernyataan mengenai simbol penggolongan obat modern di atas, didapatkan bahwa sebagian responden tidak tahu apa arti dan maksud dari simbol obat tersebut. Simbol pada kemasan obat terkait dengan peredaran di 61

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masyarakat dan fungsinya sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pemilihan obat dalam swamedikasi. Apabila masyarakat tidak mengetahui dengan pasti arti dan maksud dari simbol yang tertera dalam kemasan obat tersebut, bisa jadi obat yang dipilih dalam tindakan swamedikasi belum tentu tepat. Menurut Notoadmojo (2003), tingkat pengetahuan seseorang dibagi menjadi 3, yaitu pengetahuan baik (apabila skor akhir pengetahuan responden lebih dari 75%), pengetahuan cukup (apabila skor akhir pengetahuan responden berkisar antara 50 sampai 75%), dan pengetahuan kurang (apabila skor akhir pengetahuan responden kurang dari 50%). Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa sebagian besar responden, yaitu sebesar 62% (100 responden) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai obat tradisional dan obat modern dalam pengobatan mandiri secara umum. Hal ini menunjukan bahwa responden punya pengetahuan yang cukup, sehingga kemungkinan aplikasi responden mengenai swamedikasi yang dilakukan pun cukup baik. Selain itu sebanyak 29% (46 responden) memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebesar 9% (15 responden) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Tabel XII. Kategori Pengetahuan Responden Skor <50 50-75 >75 Kategori Pengetahuan Kurang Sedang Baik Total Jumlah N=161 15 100 46 161 62 Persentase (%) 9 62 29 100

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Sikap dan Tindakan Responden Terkait Obat Tradisional dan Obat Modern 1. Sikap Menurut Azwar (1975), sikap adalah evaluasi atau keinginan untuk memihak (favorable) atau tidak memihak (unfavorable) terhadap suatu objek tertentu. Dalam penelitian ini, objek yang dimaksud adalah penggunaan obat tradisional dan obat modern dalam pengobatan mandiri. Dari empat pernyataan yang mengandung dua jenis pertanyaan, sebagai hasil penelitian, didapatkan sebanyak 86% (139 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat tradisional bermanfaat, sedangkan 13% (22 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri tidak bermanfaat. Sebanyak 89% (143 responden) menyatakan bahwa obat tradisional merugikan bila digunakan untuk pengobatan mandiri, sedangkan sebanyak 11% (18 responden) menyatakan bahwa obat tradisional tidak merugikan bila digunakan untuk pengobatan mandiri. Sebanyak 47% (76 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri menguntungkan, sedangkan sebanyak 53% (85 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri tidak menguntungkan. Sebanyak 43% (69 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri membahayakan, sedangkan 57% (92 responden) menyatakan bahwa menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri tidak membahayakan. 63

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel XIII. Frekuensi kategori respon sikap No . Pernyataan SS+S TS+STS Kecenderungan Menggunakan obat tradisional dalam + 86,3% 13,7% Setuju pengobatan mandiri bermanfaat Menggunakan obat tradisional dalam 2 - 88,8% 11,2% Setuju pengobatan mandiri merugikan Menggunakan obat modern dalam Tidak 3 + 47,2% 52,8% pengobatan mandiri menguntungkan setuju Menggunakan obat modern dalam Tidak 4 - 42,9% 57,1% pengobatan mandiri membahayakan setuju Keterangan: Pernyataan sikap positif (+) adalah pernyataan yang memihak, sedangkan pernyataan sikap negatif (-) adalah pernyataan yang tidak memihak. 1 Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden cenderung lebih banyak memihak atau bersikap positif pada penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri dibandingkan dengan obat modern. Tetapi sebagian besar responden juga menyatakan bahwa menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri merugikan. Pernyataan responden yang seperti ini kemungkinan terkait dengan alasan terbanyak mereka melakukan pengobatan mandiri, yaitu biaya lebih murah dan penyakit masih ringan. Kemungkinan responden menganggap bahwa selama biaya yang dikeluarkan lebih murah dan penyakit yang diderita masih ringan, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri lebih bermanfaat meski pun di lain sisi penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri merugikan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Supardi dkk. (2001) bahwa persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobaan sendiri lebih tinggi di desa. 64

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Tindakan Menurut Notoadmojo (1993), tindakan adalah kemampuan untuk mengaplikasikan apa yang telah diketahui terhadap stimulus yang diterima. Stimulus yang dimaksud di sini adalah informasi dan pengetahuan yang mereka miliki tentang pengobatan mandiri, obat tradisional dan obat modern. Sedangkan aplikasi atau prakteknya terkait dengan penggunaan obat tradisional dan obat modern tersebut dalam pengobatan mandiri yang akan dilakukan. Tabel XIV. Frekuensi kategori respon tindakan No. 1 2 3 4 Pernyataan Saya akan memilih menggunakan obat tradisional sebagai pengobatan utama ketika sakit Jika saya melakukan pengobatan mandiri, maka saya akan menggunakan obat tradisional Saya akan memilih menggunakan obat modern (obat dengan bahan kimia) sebagai pengobatan utama ketika sakit Jika saya melakukan pengobatan mandiri, maka saya akan menggunakan obat modern SS+S TS+STS Kecenderungan 57,1% 42,9% Setuju 65,8% 34,2% Setuju 46% 54% Tidak setuju 52,8% 47,2% Setuju Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 57% (92 responden) menyatakan akan menggunakan obat tradisional sebagai obat utama ketika sakit. Sedangkan 43% (69 responden) menyatakan tidak akan menggunakan obat tradisional sebagai obat utama ketika sakit. Sebanyak 66% (106 responden) menyatakan akan menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri, sedangkan 34% (55 responden) menyatakan tidak akan menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri. Sebanyak 46% (74 responden) menyatakan akan menggunakan obat modern sebagai obat utama ketika sakit, sedangkan 54% 65

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (87 responden) menyatakan tidak akan menggunakan obat modern sebagai obat utama ketika sakit. Sebanyak 53% (85 responden) menyatakan akan menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri, sedangkan 47% (76 responden) menyatakan tidak akan menggunakan obat modern dalam pengobatan mandiri yang dilakukannya. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden cenderung akan memilih obat tradisional dalam pengobatan mandiri yang dilakukannya dibandingkan dengan obat modern. Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan nomor satu dan dua bahwa sebanyak 57% (92 responden) dan 66% (106 responden) menyatakan iya terhadap obat tradisional. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Supardi dkk. (2001). F. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Responden Hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan dalam pemilihan pengobatan mandiri responden dianalisis dengan menggunakan korelasi chi square dengan taraf kepercayaan 95%. Tabel XV. Hasil probabilitas uji chi square pengetahuan dan sikap mengenai obat modern dan obat tradisional dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi responden Probabilitas (p) Variabel Pengetahuan dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi Sikap dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi 66 0,014 0,004

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hubungan dilihat dari hipotesis nol (H0), yaitu tidak terdapat hubungan antar variabel, sedangkan hipotesis alternatif (H1), yaitu terdapat hubungan antar variabel. Apabila probabilitas (sig. 2 tailed) kurang dari 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan terhadap setiap variabel (Santoso, 2012). Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan dan sikap terhadap tindakan, memiliki nilai probabilitas sig. kurang dari 0,05, yaitu 0,014 pada hubungan pengetahuan dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi, dan 0,004 pada hubungan sikap dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi. Hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak, sehingga bisa dikatakan bahwa antar variabel, yaitu pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan pengobatan dalam swamedikasi memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari (2007). Pada dasarnya, terbentuknya tindakan seseorang dimulai pada domain pengetahuan terlebih dahulu. Kemudian terbentuklah suatu respon batin (sikap) terhadap objek yang diketahui. Namun, menurut Notoadmodjo (1993), seseorang juga dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, tindakan seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap seseorang terhadap suatu objek tertentu. 67

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Sebagian besar masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai obat tradisional dan obat modern, yaitu sebanyak 62% (100 responden) dari 161 responden, sedangkan sisanya sebanyak 29% (46 responden) memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebesar 9% (15 responden) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. 2. Dari 53 responden, sebanyak 60% melakukan satu kali swamedikasi dalam sebulan terakhir, 57% responden melakukan pengobatan mandiri untuk dirinya sendiri, 31% mengalami keluhan pusing, 85% pernah menggunakan obat untuk mengatasi keluhan sebelumnya, 49% mendapatkan obat di warung terdekat, dan 38% membeli obat seharga kurang dari Rp5.000,00. Alasan terbanyak, sebesar 28%, responden melakukan pengobatan mandiri adalah karena biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan lebih murah dibanding harus pergi ke dokter. 3. Sebagian besar responden (86,3%) cenderung memihak atau bersikap positif pada penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri dibandingkan obat modern, tetapi sebagian besar responden (88,8%) juga menyatakan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri merugikan. 68

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri (nilai probabilitas sig. masing-masing variabel kurang dari 0,05). B. Saran 1. Perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai hubungan antara karakteristik responden terhadap perilaku sikap dan tindakan dalam pengobatan mandiri terkait obat tradisional dan obat modern. 2. Perlu adanya sosialisasi atau penyuluhan terkait penggunaan obat tradisional dan obat modern dalam pengobatan mandiri kepada masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, karena berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan sebagian besar responden masih perlu ditingkatkan. 3. Penelitian ini dimungkinkan untuk dikaji lebih dalam lagi mengenai alasan tindakan pemilihan obat tradisional atau obat modern dalam swamedikasi responden dengan metode wawancara. 69

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Achmad, C., 2003, Health Seeking Behavior Para Pasien Pada Pasien Poli Perawatan Paliatif Studi Eksploratif terhadap Lima Pasien Poli Perawatan Paliatif RSUD dr.Soetomo Surabaya, Laporan Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga,Surabaya. Adjie, H., 2013, Batas Usia Dewasa dalam Bertindak Secara Umum, http://habibadjie.dosen.narotama.ac.id/files/2013/08/BATAS-USIADEWASA.pdf, diakses tanggal 14 Mei 2014 Adikuntati, Y. M., 2008, Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Demam oleh Ibu-Ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Anonim, 2001, Swamedikasi dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui Sebelum http://www.pom.go.id/public/g_and_a/detail.asp?id=44, Melakukannya, diakses tanggal 10 Mei 2013. Ayunda, L., 2008, Hubungan Persepsi Kematian dengan Health Seeking Behavior Penderita Penyakit Jantung Koroner, Laporan Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Angkoso, F. T., 2006, Pola Perilaku Pengobatan Mandiri di Antara Pria dan Wanita di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Kampus III, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Azwar, S., 2005, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Edisi 2, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 139-157. Azwar, S., 2003, Reliabilitas dan Validitas, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 4-8. Citahasri, A., 2008, Profil Pelaksanaan Pelayanan Swamedikasi di Beberapa Apotek di Wilayah Surabaya Timur (Sudi pada Swamedikasi atas Dasar Keluhan), Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya Dahlan, S., 2009, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 16-19, 121-128. Djunarko, I., dan Hendrawati, Y., 2011, Swamedikasi yang Baik dan Benar, PT Intan Sejati, Klaten, pp. 6-9. Fitriani, S., 2011, Promosi Kesehatan, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp.124-140. 70

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Hardon, A., Hodgkin, C., and Fresle, D., 2004, How to Investigate the Use of Medicines by Consumer, World Health Organization, Switzerland. Harmanto, N., dan Subroto, M. A., 2007, Pilih Jamu Herbal Tanpa Efek Samping, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, pp. 7-16. Imron, M., dan Munif, A., 2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, CV.Sagung Seto, Jakarta, pp. 85, 137, 155-156. Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2004, Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia no. HK.00.05.4.2411 Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, BPOM RI, Jakarta Keputusan Menteri Kesehatan, 1990, Keputusan Menteri Kesehatan no: 347/Menkes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek, Depkes RI, Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan, 1999, Keputusan Menteri Kesehatan no: 1176/Menkes/SK/X/1999 Tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3, Depkes RI, Jakarta Kurniasari, V. Y., 2007, Hubungan Antara Pengetahuan dan Tingkat Ekonomi dengan Tindakan Pengobatan Mandiri pada Penyakit Batuk di Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Liliani, N., D., 2004, Kajian Motivasi, Pengetahuan, Tindakan dan Pola Penggunaan Obat Tradisional Cina pada Pengunjung dari 8 Toko Obat Berizin di Yogyakarta Periode April-Mei 2004, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Lumenta, B., 1989, Pasien, Citra, Peran dan Perilaku, Kanisius, Yogyakarta, pp. 47. Manurung, K., 2010, Pola Penggunaan Obat dalam Upaya Pasien Melakukan Pengobatan Sendiri di Beberapa Apotek, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Musthofa, 2012, Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencarian Pengobatan Malaria Klinis Pekerja Musiman ke Luar Pulau Jawa di Puskesmas Tegalombo Kabupaten Pacitan, Skripsi, Universitas Indonesia, Jakarta Notoadmodjo, S., 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Yogyakarta, pp. 55-65.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Notoadmodjo, S., 2010, Metodologi Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 35-49. Noviana, F., 2011, Kajian Pengetahuan dan Alasan Pemilihan Obat Herbal pada Pasien Geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2005, Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia no. HK.00.05.41.1384 Tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, BPOM RI, Jakarta Peraturan Menteri Kesehatan, 1993, Peraturan Menteri Kesehatan no: 919/ Menkes/per/X/1993 Tentang Obat Wajib Apotek no. 1, Depkes RI, Jakarta Peraturan Menteri Kesehatan, 1993, Peraturan Menteri Kesehatan no: 924 Menkes per X 1993 Tentang Obat Wajib Apotek no. 2, Depkes RI, Jakarta. Pratiknya, A. W., 2001, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran, Edisi V, PT Raja Grafindo Prasaja, Jakarta Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2011, Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2011 ‐ 2014, Bakti Husada, Jakarta Santoso, S., 2012, Aplikasi SPSS pada Statistik Non Parametik, Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia, Jakarta, pp.210-216. Sarwono, S., 2007, Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep dan Aplikasinya, UGM press, Yogyakarta, pp. 1-9, 30-32. Sulasmono, dan Sri Hartini Y., 2010, Praktik Kefarmasian Ulasan Peraturan tentang Bidang Pekerjaan Apoteker, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pp. 280, 284. Sunaryo, 2004, Psikologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta, pp. 3-6, 93-99. Supardi, S., Jamal, S., dan Raharni, 2001, Pola Penggunaan Obat, Obat Tradisional dan Cara Tradisional dalam Pengobatan Sendiri di Indonesia, Bul. Penel. Kesehatan, Vol. 33, No.4, 192-198 Syamsuni, H., 2006, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC, Jakarta, pp. 47-50. Thoma, 2011, Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenai Antibiotika di Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Tjay, T. H., dan Rahardja, D., 2007, Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, pp. 3-12. Werner, D., 2010, Apa yang Anda Kerjakan Bila Ada Dokter, Andi Pustaka, Yogyakarta, pp. 4-6. Widayati, A., 2012, Health Seeking Behavior di Kalangan Masyarakat Urban di Kota Yogyakarta, Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas, pp. 59-65. Wisely, 2008, Kajian Studi Tentang Pemahaman Obat Tradisional Berdasarkan Informasi pada Kemasan dan Alasan Pemilihan Jamu Ramuan Segar atau Jamu Instan pada Masyarakat Desa Maguwoharjo, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 LAMPIRAN

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 1. Surat ijin penelitian

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 2. Kuesioner Kepada Yth. Bapak/Ibu/Sdr ………………… Di tempat Dengan hormat, Kami adalah mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta akan melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Penelitian yang kami lakukan adalah tentang “Obat Tradisional dan Obat Modern dalam Pengobatan Mandiri”. Maka kami mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk meluangkan waktu mengisi kuisioner ini. Dalam mengisi kuesioner ini kami mohon Bpk/Ibu/Sdr/i memberikan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Bpk/Ibu/Sdr/i. Jawaban Bapak/Ibu/Saudara/i tidak akan dinilai benar atau salah melainkan sangat membantu kami dalam mengumpulkan data-data penelitian yang diperlukan. Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i dalam mengisi kuesioner ini sangat kami hargai dan turut berkontribusi pada peningkatan kualitas pengobatan mandiri di masa mendatang. Atas bantuan dan kerjasama dari Bapak/Ibu/Saudara/i, kami mengucapkan terima kasih. Yogyakarta, Oktober 2013 Peneliti Rinda Meita P.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN “STUDI TENTANG PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODEREN DALAM PENGOBATAN MANDIRI” Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Alamat : Menyatakan BERSEDIA MENJADI RESPONDEN pada penelitian tentang “Obat Tradisional dan Obat Moderen Dalam Pengobatan Mandiri”, yang akan dilakukan oleh: Nama : Rinda Meita Pangastuti NIM : 108114184 Mahasiswa S1 dari Program Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan ini saya juga menyatakan dengan sesungguhnya bahwa: - saya telah diberi informasi secara detail mengenai penelitian tersebut, - saya telah diberi hak untuk didampingi oleh orang yang saya tunjuk pada saat informasi tersebut disampaikan kepada saya, - saya telah diberi kesempatan bertanya mengenai informasi penelitian yang disampaikan kepada saya, - saya telah dijelaskan bahwa saya mungkin tidak akan secara langsung menerima manfaat dari hasil penelitian tersebut dan saya paham bahwa hasil penelitian akan digunakan untuk peningkatan perilaku swamedikasi di masyarakat, - saya juga telah diinformasikan bahwa data yang saya berikan akan digunakan sepenuhnya hanya untuk kepentingan penyelesaian tugas akhir (skripsi) peneliti dan tidak ada aspek komersial, - saya juga telah diinformasikan bahwa data pribadi saya tidak akan dipublikasikan. Jika hasil penelitian ini dipublikasikan, maka data terkait diri saya akan dalam bentuk anonim (tanpa nama).

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 - Saya telah diberi tahu bahwa penelitian ini adalah untuk tugas akhir peneliti (skripsi) di bawah bimbingan Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., PhD pada Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaksanaannya telah mendapatkan ijin dari instansi yang berwenang. - Saya tahu bahwa data yang saya berikan akan disimpan oleh peneliti selama setidaknya dua tahun dan akan dimusnahkan setelah itu. Yogyakarta ……………….2013 Yang menyatakan, (_______________________) Tanda tangan dan nama jelas Saksi, (Rinda Meita Pangastuti)

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 KUISIONER A. Lingkarilah jawaban yang menurut Anda paling tepat! 1. Apakah Anda pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi? a. Pernah b. Tidak pernah (Mohon langsung ke no.3) 2. Jika Anda pernah mendengar istilah tersebut, dari mana Anda mendapatkan informasinya? a. Media cetak / elektronik b. Teman/saudara/tetangga c. Dokter/ dokter gigi/ apoteker/ perawat / bidan d. Tenaga kesehatan (kesehatan masyarakat/ ahli gizi) e. lainnya (tuliskan), ...................................... 3. Menurut Anda apakah yang dimaksud dengan pengobatan sendiri ? a. Upaya pengobatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa bantuan dokter untuk mengatasi keluhan sakit ringan yang dialaminya. b. Tindakan penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri c. Tidak tahu d. Lainnya (tuliskan): ……………………….. ………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………. 4. Jenis obat manakah yang menurut anda dapat digunakan/dibeli untuk pengobatan mandiri? a. Obat tradisional atau herbal, misalnya: “Jamu gendong”, “Jamu berbentuk tablet”, dan “Jamu berbentuk cair dalam sachet”.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 b. Obat bebas/obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia), misalnya: “CTM” dan “Paracetamol” c. Keduanya, yaitu: obat tradisional dan obat bebas/obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia) 5. Apakah Anda pernah melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi dalam satu bulan terakhir ini? a. Pernah b. Tidak pernah (mohon langsung ke no. 14). Apabila Anda pernah melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan ini, 6. Berapa kali Anda pernah membeli obat tanpa resep untuk pengobatan sendiri dalam satu bulan terakhir ini? a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. lebih dari 4 kali 7. Siapa yang menggunakan obat tanpa resep yang Anda beli tersebut? (jawaban dapat lebih dari satu) a. Teman b. Keluarga c. Diri sendiri d. Lainnya (tuliskan)…………....………………………………………………… 8. Keluhan/sakit apa yang diatasi dengan obat yang dibeli tanpa resep tersebut? ...........................................………………………………......................................... 9. Apa nama obat yang Anda beli untuk pengobatan mandiri tersebut?

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 .........................................…………………………………....................................... 10. Apakah obat tersebut pernah digunakan sebelumnya? a. Pernah b. Tidak pernah 11. Dimana obat tersebut Anda peroleh? (Jawaban dapat lebih dari satu) a. Toko obat b. Apotek c. Warung terdekat d. Dari orang lain (teman, keluarga, dll) e. Lainnya, (Tuliskan).......................................................................................... 12. Berapa harga obat yang digunakan untuk pengobatan mandiri tersebut? a. < Rp 5.000,00 b. Rp 5.000,00 – Rp 15.000,00 c. Rp 15.000, 00 – Rp 25.000,00 d. Rp 25.000,00 – Rp 35.000,00 e. Rp 35.000,00 – Rp 45.000,00 f. > Rp 50.000,00 13. Mengapa Anda memilih obat tersebut untuk pengobatan mandiri yang Anda lakukan? (Jawaban dapat lebih dari satu). a. Biaya lebih murah b. Lebih cepat / tidak antri untuk periksa c. Lebih praktis d. Penyakitnya masih ringan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 e. Lainnya (tuliskan),…………………………................................................... B. Petunjuk pengisian! Berilah tanda centang (√) untuk jawaban dari pertanyaan yang Anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 14. Obat tradisional merupakan ramuan atau produk obat yang berasal dari tanaman Ya Tidak Tidak Tahu 15. Obat tradisional dapat berbentuk tablet, cairan dalam botol atau sachet atau kapsul Ya Tidak Tidak tahu 16. Tidak terdapat takaran dosis yang tepat pada penggunaan obat tradisional, Ya Tidak Tidak tahu 17. Terdapat beberapa jenis obat tradisional, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka Ya Tidak Tidak tahu 18. Jika dalam kemasannya terdapat lambang seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut adalah Jamu. Ya Tidak Tidak tahu 19. Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya sudah distandarisasi. Ya Tidak Tidak tahu

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 20. Obat tradisional dengan kandungan jahe (Zingiberis rhizoma), dapat digunakan untuk melegakan tenggorokan serta mengatasi mual dan muntah Ya Tidak Tidak tahu 21. Aturan pakai obat tradisional harus mengikuti aturan yang disarankan seperti yang tertera pada kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 22. Obat tradisional tidak memiliki efek samping yang berbahaya Ya Tidak Tidak tahu 23. Obat tradisional dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil, menyusui atau pun seseorang yang mengalami gangguan fungsi organ ,seperti gangguan ginjal. Ya Tidak Tidak tahu 24. Obat tradisional dapat digunakan dalam pengobatan mandiri. Ya Tidak Tidak tahu 25. Terdapat beberapa jenis obat moderen (obat dengan bahan kimia) yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras. Ya Tidak Tidak tahu 26. Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut dapat dibeli secara bebas di warung tanpa resep dokter. Ya Tidak Tidak Tahu 27. Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. K K Ya Tidak Tidak Tahu

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 28. Jika pada kemasan suatu obat terdapat lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, dengan batas jumlah pembelian tertentu. Ya Tidak Tidak tahu 29. Obat bebas/bebas terbatas merupakan obat yang mengandung bahan kimia, yang dapat dibeli di warung/toko, toko obat maupun apotek. Ya Tidak Tidak tahu 30. Obat bebas/bebas terbatas tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, dan salep, maupun krim dalam kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 31. Obat bebas/bebas terbatas mempunyai takaran dosis tertentu. Ya Tidak Tidak tahu 32. Obat bebas yang memiliki kandungan parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala demam dan pusing. Ya Tidak Tidak tahu 33. Obat bebas/bebas terbatas harus digunakan sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 34. Penggunaan obat bebas/bebas terbatas dapat menimbulkan efek samping, misalnya mual, muntah, mengantuk dan alergi. Ya Tidak Tidak tahu 35. Obat bebas/bebas terbatas digunakan tanpa resep dokter (tanpa periksa terlebih dahulu) hanya untuk mengatasi gejala/penyakit ringan, seperti sakit kepala ringan, nyeri ringan, dll. Ya Tidak Tidak tahu

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 C. Petunjuk Pengisian! Pilihlah salah satu dari 4 (empat) kemungkinan jawaban yang telah tersedia sesuai dengan pendapat Anda yang dianggap paling tepat. Berilah tanda silang (X) pada setiap jawaban yang dianggap tepat, dengan ketentuan: STS TS S SS : bila Anda menjawab Sangat Tidak Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Tidak Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Sangat Setuju terhadap pertanyaan TANGGAPAN No PERNYATAAN SS 1. Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat bermanfaat. 2. Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat merugikan 3. Menurut saya, menggunakan obat moderen (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat menguntungkan. 4. Menurut saya, menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat membahayakan. 5 Saya akan memilih menggunakan obat tradisional sebagai pengobatan utama ketika sakit 6 Jika saya melakukan pengobatan mandiri, maka saya akan menggunakan obat tradisional 7 Saya akan memilih menggunakan obat moderen (obat dengan bahan kimia) sebagai pengobatan utama ketika S TS STS

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 sakit 8 Jika saya melakukan pengobatan mandiri, maka saya akan menggunakan obat moderen __________________________TERIMA KASIH ________________________________

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 D. Data Diri Responden (Mohon diisi lengkap) Nama :…………………………………………..(boleh inisial) Alamat :………………………………………….. Usia : ……. tahun. Jenis kelamin : laki-laki / perempuan Pekerjaan :………………………………………….. Status pernikahan :................................................................ Pendidikan terakhir :………………………………….. Pendapatan per bulan : a. Kurang dari Rp 300.000,00 b. Antara Rp 300.000,00 – Rp 1.000.000,00 c. Antara Rp 1.000.000,00 – Rp 1.500.000,00 d. Antara Rp Rp 1.500.000,00 – Rp 2.000.000,00 e. Lebih dari Rp 2.000.000,00 Diisi tanggal,……………….. Tanda tangan:..…………………

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Lampiran 3. Validitas kuesioner

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Lampiran 4. Nilai reliabilitas kuesioner a. Korelasi total pengetahuan b. Korelasi total sikap c. Korelasi total tindakan d. Korelasi total pengetahuan, sikap dan tindakan

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Lampran 4. Nilai uji normalitas a. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov Sminov Test

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Lampiran 5. Data karakteristik responden a. Frekuensi usia responden Usia responden Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 18 2 1.2 1.2 1.2 19 7 4.3 4.3 5.6 20 3 1.9 1.9 7.5 21 2 1.2 1.2 8.7 22 4 2.5 2.5 11.2 23 6 3.7 3.7 14.9 24 2 1.2 1.2 16.1 25 4 2.5 2.5 18.6 26 2 1.2 1.2 19.9 27 4 2.5 2.5 22.4 28 3 1.9 1.9 24.2 29 1 .6 .6 24.8 30 7 4.3 4.3 29.2 31 2 1.2 1.2 30.4 32 9 5.6 5.6 36.0 33 5 3.1 3.1 39.1 34 2 1.2 1.2 40.4 35 5 3.1 3.1 43.5 36 1 .6 .6 44.1 37 4 2.5 2.5 46.6 38 2 1.2 1.2 47.8 39 5 3.1 3.1 50.9 40 7 4.3 4.3 55.3 41 6 3.7 3.7 59.0 42 9 5.6 5.6 64.6 43 6 3.7 3.7 68.3 44 3 1.9 1.9 70.2 45 7 4.3 4.3 74.5 46 3 1.9 1.9 76.4 47 5 3.1 3.1 79.5

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 48 1 .6 .6 80.1 49 1 .6 .6 80.7 50 6 3.7 3.7 84.5 51 3 1.9 1.9 86.3 52 2 1.2 1.2 87.6 53 2 1.2 1.2 88.8 54 2 1.2 1.2 90.1 55 5 3.1 3.1 93.2 56 3 1.9 1.9 95.0 57 2 1.2 1.2 96.3 58 1 .6 .6 96.9 60 1 .6 .6 97.5 61 1 .6 .6 98.1 62 1 .6 .6 98.8 68 1 .6 .6 99.4 75 1 .6 .6 100.0 Total 161 100.0 100.0 b. Frekuensi jenis kelamin responden c. Status pernikahan responden

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 d. Frekuensi pendidikan akhir responden e. Pekerjaan responden g. Frekuensi pendapatan responden

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Lampiran 6. Data pola pengobatan mandiri responden a. Frekuensi responden pernah atau tidak pernah mendengar istilah pengobatan mandiri b. Sumber informasi responden mendengar istilah pengobatan mandiri c. Definisi responden tentang pengobatan mandiri d. Frekuensi obat yang dapat digunakan dalam pengobatan mandiri

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 e. Persentase responden pernah melakukan pengobatan mandiri f. Frekuensi responden melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan g. Responden yang melakukan pengobatan mandiri

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 h. Keluhan atau sakit yang dialami responden i. Obat yang digunakan responden

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 j. Obat pernah atau tidak pernah digunakan sebelumnya k. Tempat responden memperoleh obat l. Harga obat yang dobeli responden

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 m. Alasan memilih obat untuk pengobatan mandiri

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Lampiran 7. Data pengetahuan, sikap dan tindakan responden 1. Pengetahuan a. Obat tradisional a. 1. Definisi obat tradisional a. 2. Bentuk sediaan obat tradisional a. 3. Dosis obat tradisional a. 4. Golongan obat tradisional a. 5. Simbol jamu a. 6. Simbol obat herbal terstandar

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 a. 7. Simbol fitofarmaka a. 8. Kandungan dan indikasi obat tradisional a. 9. Aturan pakai obat tradisional a. 10. Efek samping obat tradisional a. 11. Kontraindikasi obat tradisional a. 12. Obat tradisional dalam pengobatan mandiri b. Obat moderen b. 1. Golongan obat moderen

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 b. 2. Simbol obat bebas b. 3. Simbol obat keras b. 4. Simbol obat bebas terbatas b. 5. Definisi obat moderen b. 6. Bentuk sediaan obat moderen b. 7. Dosis obat moderen

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 b. 8. Kandungan dan indikasi obat moderen b. 9. Aturan pakai obat moderen b. 10. Efek samping obat moderen b. 11. Penggunaan obat moderen dalam swamedikasi c. Persentase total pengetahuan responden

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 2. Sikap 3. Tindakan

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Lampiran 9. Nilai probabilitas uji Chi Square a. Pengetahuan dan tindakan b. Sikap dan tindakan

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Lampiran 10. Peta Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jateng

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama lengkap Rinda Meita Pangastuti. Penulis lahir di Kota Semarang pada tanggal 25 Mei 1992 sebagai anak pertama dari 3 bersaudara, anak dari pasangan Drs. D. Suyoto Hadi, M. Pd. (alm) dan Susari Puji Astuti. Penulis telah menyelesaikan pendidikan di TK Bhayangkari 42 Pati (1996-1998), SD N Sidokerto 01 Pati (1998-2004), SMP N 3 Pati (2004-2007) dan SMA N 2 Pati (2007-2010). Kemudian penulis melanjutkan pendidikan pada tahun 2010 di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama menempuh pendidikan perkuliahan, penulis juga aktif dalam berbagai kegiatan seperti menjadi Ketua Unit Kegiatan Fakultas “PMK Apostolos” (2012-2013), Koordinator Seksi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi (2011-2012), Bendahara Hari AIDS Sedunia “Kubangun dan Kujaga Generasiku Bebas HIV AIDS” (2012), dan Anggota Seksi Kesenian TITRASI 2011.

(143)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tingkat manfaat, keamanan dan efektifitas tanaman obat dan obat tradisional
0
3
61
Profil penggunaan obat dan perilaku pengobatan mandiri di kalangan ibu-ibu Desa Oelnasi Nusa Tenggara Timur.
0
2
47
Pola dan motivasi penggunaan obat tradisional untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
3
15
97
Pola dan motivasi penggunaan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonoso Jawa Tengah.
0
13
111
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat tradisional untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
8
19
105
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
0
0
90
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai persepsi periklanan obat di televisi terhadap tindakan penggunaan obat di kalangan ibu Rumah Tangga di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman pada tahun 2014 : studi kasus obat sakit kepala.
0
1
171
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televisi terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan ibu rumah tangga di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta pada tahun 2014.
0
2
196
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televisi terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
5
13
109
Profil penggunaan obat dan perilaku pengobatan mandiri di kalangan ibu ibu Desa Oelnasi Nusa Tenggara Timur
0
0
45
Perkembangan obat tradisional modern dar
0
0
7
Pengaruh edukasi apoteker terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat terkait teknik penggunaan obat
0
0
6
Evaluasi pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan baku pada industri obat tradisional di Propinsi Jawa Tengah berdasarkan buku daftar obat alam - USD Repository
0
0
73
Kajian hubungan antara pemahaman tentang khasiat dan efek samping obat tradisional dengan pemilihan produk obat tradisional yang dilakukan oleh sekelompok wanita di desa Maguwoharjo - USD Repository
0
0
84
Hubungan antara karakteristik sosio-demografi terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah - USD Repository
0
0
165
Show more