Peningkatan minat dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 menggunakan pendekatan kontekstual - USD Repository

Gratis

0
0
406
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Disusun Oleh: Antonia Noviati 101134097 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini peneliti persembahkan untuk:  Tuhan Yesus Kristus  Kedua orangtuaku di surga, Bapak Cayetano Mugiyono dan Ibu Yovita Angela Poniati  Mbak Retno Indriati, Mas Andri Kristianto, Mbak Christina Wulandari, Mas Yohanes Santoso Setiawan, Mbah Darmo dan Mbah Ikem.  Martinus Kismet DTP dan Salimun’s Family  Keluarga besar Paradhe  Teman-teman satu kontrakan yang selalu memberi semangat (Risma, Elish, dll).  Almamaterku Universitas Sanata Dharma iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO  Today must be better than yesterday  Pekerjaan besar tidak dihasilkan dari kekuatan, melainkan oleh ketekunan (Samuel Johnson)  Live every moment, laugh every day and love beyond words. v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Nama : Antonia Noviati Nomor Induk Mahasiswa : 101134097 Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya yang berjudul : “PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL” berserta perangkat yang diperlukan, (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 26 Mei 2014 Yang menyatakan, vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya yang saya tulis tidak memuat bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan pada daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 26 Mei 2014 Peneliti, vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Oleh: Antonia Noviati (101134097) Universitas Sanata Dharma 2014 Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran yang seyogyanya menyenangkan dan membuat siswa antusias untuk mengikuti proses pembelajaran yang ada, namun tidak seperti yang diharapkan, pelajaran IPA di SD Kanisius Kotabaru 1 menjadi sebuah mata pelajaran yang dianggap membosankan oleh siswa. Hal inilah yang mengakibatkan minat belajar IPA dan juga prestasi belajar IPA siswa rendah. Faktor penyebab rendahnya minat dan juga prestasi belajar bukan hanya berasal dari siswa tetapi terletak pada faktor guru sebagai pengajar. Pendekatan kontekstual dipilih karena dalam pendekatan kontekstual terdapat 7 komponen yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan minat dan prestasi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kotabaru Kotabaru 1 yang berjumlah 33 siswa. Objek dalam penelitian ini adalah minat dan prestasi belajar. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah wawancara, observasi, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian minat berdasarkan observasi menunjukkan peningkatan persentase siswa yang berminat dari kondisi awal sebesar 27,9% menjadi 70,33% pada siklus 1 dan 75,36 pada siklus 2. Hasil minat berdasarkan kuesioner juga meningkat dari kondisi awal sebesar 60,61% menjadi 80,81% pada siklus 1 dan 87,88% pada siklus 2. Prestasi belajar juga meningkat dari jumlah siswa yang lulus KKM pada kondisi awal sebesar 54,08% menjadi 78,79% pada siklus 1 dan 87,88% pada siklus 2. Jumlah siswa yang lulus KKM juga meningkat dari kondisi awalnya 72,27 menjadi 85. Kata Kunci: minat, prestasi belajar, pendekatan kontekstual viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT THE IMPROVEMENT OF INTEREST AND ACHIEVEMENT OF FIFTH GRADE KANISIUS KOTABARU 1 ELEMENTARY STUDENTS ON STUDYING SCIENCE BY USING CONTEXTUAL APPROACH by : Antonia Noviati (101134097) Sanata Dharma University 2014 Science is a subject that should be fun and make students enthusiastic to follow the learning process, but not as expected, lesson of science in Kanisius elementary school Kotabaru 1 subject has considered boring by students. This has caused the interest in learning science and science learning achievement of students is low. Factors that cause the low of interest and also learning achievement is not only from students but also in the teacher teaches factors. Contextual approach is chosen because contextual approach have seven components that can help students to increase interest and achievement. This classroom action research was carried out with two cycles. The subjects in this research is the fifth grade students of elementary school Kotabaru 1 which amounts to thirty-three students. The Objects in this research is interest and learning achievement. Data collection techniques that researchers use are interview, observation, questionnaire and documentation. Data analysis techniques in this study is a quantitative and qualitative analysis techniques. The results of observational studies showed an increased interest by the percentage of students who are interested in the initial condition by 27.9 % to 70.33 % in cycle 1 and 75.36 in cycle 2. Interest based on the questionnaire results also increased from initial condition by 60.61 % to 80.81 % in cycle 1 and 87.88 % in cycle 2. Learning achievement also increased from the number of students who passed the KKM on the initial conditions by 54.08 % to 78.79 % in cycle 1 and 87.88 % in cycle 2. The number of students who pass the KKM also increased from initial conditions by 72,27 to 85. Keywords : interest, academic achievement, contextual approach ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala berkat-Nya, sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi dengan judul “PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL ”ini dengan baik. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini, sehingga peneliti dapat menyelesaikannya dengan baik. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu E. Catur Rismiati, S.Pd.,M.A., Ed.D., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan petunjuk selama proses penelitian dan penulisan skripsi hingga selesai. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Ibu Niken Anggrahini, S.Pd selaku kepala sekolah SD Kanisius Kotabaru 1 yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian bagi peneliti. 4. Ibu Elisabeth Fury Nindita, A. Ma. Pd. selaku guru mata pelajaran IPA kelas V SDK Kotabaru 1, yang telah memberikan waktu, bantuan, dan masukan bermanfaat bagi peneliti. 5. Siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru yang telah berkenan untuk menjadi subjek dalam penelitian ini. 6. Alm. Bapak Cayetano Mugiyono dan Alm. Ibu Yovita Angela Poniati selaku orang tua peneliti yang selalu memberikan dorongan semangat, motivasi, dan doa tiada henti bagi peneliti dari surga. 7. Ketiga kakak peneliti Mbak Retno Indriati, Mas Andri Kristianto dan Mbak Christina Wulandari atas dorongan semangat. 8. Martinus Kismet DTP, terimakasih atas segala dukungan, nasehat, semangat dan perhatian yang diberikan kepada peneliti. 9. Teman kelompok payung SCL, Feti, Tika, Vivi, Ipuk, Ida, Bertha, Vita, Lukita, Siska, Apri, Nova, Zulfan, Muchlis, Zega, yang bersama-sama berjuang dan saling mendukung dalam menyusun skripsi. 10. Teman-teman “Paradhe”. 11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu, mendukung, dan mendoakan peneliti dalam menyusun skripsi. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan oleh sebab itu peneliti menerima dengan senang hati kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini berguna bagi pembaca sekaligus menjadi sumber dalam belajar melakukan pemahaman serta meningkatkan pengetahuan yang digunakan sebagai acuan dan pegangan bagi pembaca. Yogyakarta, 26 Mei 2014 Peneliti xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL................................. ........................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................ii HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...........................................................................iv HALAMAN MOTTO ...........................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...............................................................vi LEMBAR PERNYATAAN PERSUTUJUAN PUBLIKASI ...............................vii ABSTRAK ............................................................................................................viii ABSTRACT............................................................................................................ix KATA PENGANTAR ..........................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................xiii DAFTAR TABEL.................................................................................................xvi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................xix DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................xx BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.................................................................................1 B. Rumusan Masalah ..........................................................................................8 C. Tujuan Penelitian ...........................................................................................8 D. Pembatasan Masalah ...........................................................................................8 E. Manfaat Penelitian. .............................................................................................9 F. Definisi Operasional ...........................................................................................9 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka ....................................................................................................11 1. Teori Belajar Piaget .....................................................................................11 2. Minat ............................................................................................................12 3. Prestasi Belajar.............................................................................................16 4. Student Centered Learning (SCL)................................................................25 5. Contextual Teaching and Learning (CTL)...................................................28 6. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).....................................................................32 7. Siswa Sekolah Dasar....................................................................................33 B. Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................................34 C. Kerangka Berpikir...............................................................................................39 D. Hipotesis Tindakan .............................................................................................40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian....................................................................................................41 B. Setting Penelitian ................................................................................................44 C. Rencana Tindakan...............................................................................................44 D. Indikator Keberhasilan dan Pengukurannya .......................................................47 E. Teknik Pengumpulan Data..................................................................................49 F. Instrumen Pengumpulan Data.............................................................................52 G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ...................................................................64 H. Teknik Analisis Data ..........................................................................................91 I. Jadwal Penelitian ................................................................................................94 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...................................................................................................95 1. Proses PTK ..................................................................................................96 a. Siklus 1....................................................................................................96 b. Siklus 2....................................................................................................102 2. Kualitas Proses.............................................................................................107 3. Kualitas Hasil...............................................................................................124 B. Pembahasan.........................................................................................................132 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN A. Kesimpulan ........................................................................................................147 B. Keterbatasan........................................................................................................148 C. Saran ..................................................................................................................149 DAFTAR REFERENSI .............................................................................................150 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL 1. Indikator Keberhasilan........................................................................................48 2. Instrumen Pengumpulan Data.............................................................................52 3. Pedoman Observasi.............................................................................................53 4. Pedoman Wawancara Guru.................................................................................55 5. Kisi-kisi Kuesioner Sebelum Validasi ................................................................56 6. Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 1 Sebelum Validasi.............................................57 7. Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2 Sebelum Validasi.............................................58 8. Pedoman Penghitungan Skor Soal Evaluasi ......................................... .............59 9. Rubrik Penilaian Psikomotor Pertemuan 1 Siklus 1 ...........................................59 10. Rubrik Penilaian Psikomotor Pertemuan 2 Siklus 1 ...........................................60 11. Rubrik Penilaian Psikomotor Pertemuan 3 Siklus 1 ...........................................60 12. Rubrik Penilaian Afektif Siklus 1 .......................................................................62 13. Rubrik Penilaian Psikomotor Siklus 2 ................................................................63 14. Rubrik Penilaian Afektif Siklus 2 .......................................................................64 15. Penghitungan SPSS untuk Kuesioner .................................................................66 16. Kisi-kisi Kuesioner Minat Setelah Validasi .......................................................67 17. Hasil Penghitungan Content Validity Silabus Siklus 1 ......................................69 18. Hasil Penghitungan Content Validity Silabus Siklus 2 .......................................69 19. Hasil Penghitungan Content Validity RPP Siklus 1............................................71 20. Hasil Penghitungan Content Validity RPP Siklus 2............................................72 21. Hasil Penghitungan Content Validity Soal Evaluasi Siklus 1.............................73 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22. Hasil Penghitungan Content Validity Soal Evaluasi Siklus 2.............................73 23. Perhitungan SPSS untuk Soal Evaluasi Siklus 1 ................................................76 24. Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2 Setelah Validasi ..............................................77 25. Perhitungan SPSS untuk Soal Evaluasi Siklus 1 ................................................78 26. Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2 Setelah Validasi...............................................79 27. Penghitungan SPSS untuk Kuesioner . ...............................................................81 28. Kisi-kisi Kuesioner Minat Setelah Validasi........................................................82 29. Koefisien Reliabilitas..........................................................................................83 30. Penghitungan Reliabilitas Kuesioner Minat. ......................................................84 31. Penghitungan Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus 1. .............................................84 32. Penghitungan Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus 2. .............................................85 33. Tingkat Kesukaran. .............................................................................................85 34. Indeks kesukaran Soal Evaluasi Siklus 1............................................................87 35. Kisi-kisi Indeks Kesukaran pada Soal Evaluasi Siklus 1....................................88 36. Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus 2. ..........................................................89 37. Kisi-kisi Indeks Kesukaran pada Soal Evaluasi Siklus 2....................................90 38. Rentang Nilai Tiap Kategori Minat. ...................................................................92 39. Jadwal Penelitian. ...............................................................................................94 40. Minat Belajar Siswa Kondisi Awal berdasarkan Observasi. ..............................108 41. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 1 berdasarkan Observasi ...........109 42. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus 1 berdasarkan Observasi. ..........109 43. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 3 Siklus 1 berdasarkan Observasi. ..........110 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44. Minat Belajar Siklus 1 berdasarkan Observasi. ..................................................111 45. Minat Belajar Siswa Kondisi Awal berdasarkan Kuesioner...............................112 46. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 1 berdasarkan Kuesioner...........113 47. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus 1 berdasarkan Kuesioner...........115 48. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 3 Siklus 1 berdasarkan Kuesioner...........116 49. Minat Belajar Siswa Siklus 1 Berdasarkan Kuesioner. ......................................117 50. Hasil Penelitian Minat Belajar Siklus 1. .............................................................118 51. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 2 berdasarkan Observasi ...........119 52. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus 2 berdasarkan Observasi. ..........119 53. Minat Belajar Siswa Siklus 2 berdasarkan Observasi.........................................120 54. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 2 berdasarkan Kuesioner...........121 55. Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus 2 berdasarkan Kuesioner...........122 56. Minat Belajar Siswa Siklus 2 berdasarkan Kuesioner. .......................................123 57. Hasil Penelitian Minat Belajar Siklus 2. .............................................................124 58. Hasil Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus 1.........................................................125 59. Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus 1 berdasarkan Penilaian Otentik. ...............126 60. Hasil Penelitian Prestasi Belajar Siklus 1. ..........................................................127 61. Hasil Prestasi Belajar Siswa pada Siklus 2. ........................................................128 62. Hasil Prestasi Belajar Siklus 2 berdasarkan Penilaian Otentik. ..........................129 63. Hasil Penelitian Prestasi Belajar Siklus 2. ..........................................................130 64. Hasil Penelitian. ..................................................................................................131 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR 1. Litterature map .............................................................................................38 2. Siklus dalam PTK .........................................................................................42 3. Siswa pada Saat Mengerjakan LAS ...............................................................133 4. Hasil Kartupedia ............................................................................................134 5. Siswa Saat Melakukan Percobaan..................................................................136 6. Contoh Lembar Refleksi. ...............................................................................137 7. Bagan Minat Belajar berdasarkan Observasi. ................................................137 8. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 1 Siklus 1. ...........................138 9. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 1 Siklus 2. ...........................139 10. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 2 Siklus 1. ...........................140 11. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 2 Siklus 2. ...........................140 12. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 3 Siklus 1. ...........................141 13. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 3 Siklus 2. ...........................142 14. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 4 Siklus 1. ...........................142 15. Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 4 Siklus 2. ...........................143 16. Bagan Minat Belajar berdasarkan Kuesioner.................................................144 17. Bagan Persentase Siswa yang Mencapai KKM. ............................................145 18. Bagan Nilai Rata-rata Kelas ..........................................................................146 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN 1. Surat Ijin Melakukan Penelitian dan Selesai Penelitian . ...................................154 2. Instrumen Pembelajaran Sebelum Validasi ........................................................157 3. Instrumen Pembelajaran Setelah Validasi ..........................................................245 4. Contoh Hasil Pekerjaan Siswa ............................................................................308 5. Hasil Penghitungan IK. .......................................................................................336 6. Output SPSS untuk Uji Validitas dan Reliabilitas ..............................................339 7. Hasil Content Validity ........................................................................................346 8. Hasil Observasi Minat Belajar Pada Kondisi Awal ............................................353 9. Hasil Observasi Minat Belajar Pada Siklus 1 dan 2 ...........................................356 10. Data Kuesioner Minat Belajar Pada Kondisi Awal. ...........................................361 11. Data Kuesioner Minat Belajar Pada Siklus 1 dan 2. ...........................................363 12. Daftar Nilai Kognitif Siswa Pada Kondisi Awal . ..............................................368 13. Daftar Nilai Kognitif Siswa Pada Siklus 1 dan 2................................................372 14. Data Analis Hasil Observasi. ..............................................................................375 15. Daftar Nilai 3 Aspek Siswa Pada Siklus 1 dan 2. ...............................................382 16. Foto-foto Kegiatan ..............................................................................................385 xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, pembatasan masalah, manfaat penelitian dan definisi operasional pada penelitian. A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang penting di sekolah dasar karena IPA adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan lingkungan sekitar yang ada. Susanto (2013:165) mengatakan bahwa IPA mengajarkan kepada siswa untuk dapat semakin mengenal alam dan lingkungan yang ada di sekitarnya sehingga diharapkan siswa dapat memanfaatkan, mengolah dan melestarikan alam dengan baik dan benar. IPA diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa untuk aktif mempelajari sendiri alam sekitarnya serta dapat menerapkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Susanto (2013:166) mengemukakan bahwa selama ini pembelajaran IPA di sekolah dasar masih banyak yang dilaksanakan secara konvensional. Para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai pendekatan atau strategi pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi pelajaran. Pembelajaran IPA dianjurkan melibatkan siswa seaktif mungkin dimana siswa dipandang sebagai subjek yang harus aktif dan memperoleh banyak kesempatan untuk mempelajari materi melalui perbuatan dan mengalami untuk membantu siswa memahami konsep dan teori. 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Ilmu yang didapat pastinya juga sangat bermanfaat bagi kehidupan siswa di masa sekarang atau pun di masa mendatang apabila siswa dapat terlibat secara aktif dan belajar dengan kondusif. Kenyataan yang terjadi adalah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pemaparan guru mata pelajaran IPA di SD Kanisius Kotabaru 1 menunjukkan bahwa berbagai macam hal seperti keterbatasan media, kesulitan menerapkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, dan juga kondisi siswa sendiri menjadi alasan pembelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 kurang kondusif. Hal ini dibuktikan dengan pemaparan guru yang mengatakan : “Ya ada macam-macam hal yang mempengaruhi mbak, kadang waktu 70 menit itu untuk penggunaan media ya kurang, terus penggunaan media yang tepat juga menjadi keterbatasan, selain itu juga dari siswanya sendiri yang kadang malah bermain sendiri atau mengobrol dengan teman yang lain” (komunikasi, 17 Oktober 2013). Kondisi siswa yang sangat berpengaruh terhadap semangat dalam belajar seyogyanya menjadi perhatian utama bagi guru. Siswa selalu memperhatikan guru pada saat pembelajaran berlangsung atau siswa berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, hal itulah yang harus diperhatikan guru untuk menumbuhkan suasana pembelajaran yang kondusif yang dapat melibatkan siswa secara aktif. Susanto (2013:63) mengungkapkan bahwa ada dua faktor yang dapat menumbuhkan suasana yang kondusif tersebut, yaitu faktor dari luar dan faktor dari dalam diri siswa tersebut. Faktor dari luar diri siswa seperti dorongan dari guru, penggunaan media pembelajaran yang sesuai dan penyampaian materi yang menarik oleh guru. Faktor dari dalam diri siswa antara lain minat dan motivasi.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Peneliti akan membahas dan meneliti peningkatan minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. Minat adalah situasi dimana seseorang yang mengalami kecenderungan dalam diri yang tertarik dengan sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek dan mendorong seseorang memperhatikan objek tertentu. Siswa dikatakan berminat apabila menunjukkan empat indikator yang merupakan indikator minat, yaitu: (1) siswa memiliki rasa senang pada pembelajaran IPA; (2) siswa memberikan perhatian penuh terhadap pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat aktif dalam pembelajaran; dan (4) siswa berinisiatif dalam pembelajaran IPA. Minat siswa pada pembelajaran IPA ditunjukkan dengan hasil observasi, wawancara dan kuesioner minat. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 23 Oktober 2013, menunjukkan bahwa pembelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 memang kurang kondusif. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa 14 dari 33 siswa atau 42,42% siswa memiliki rasa senang pada pembelajaran IPA, 8 dari 33 siswa atau 24,24% siswa memberikan perhatian penuh terhadap pembelajaran IPA, 5 dari 33 siswa atau 15,16% siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dan 3 dari 33 siswa atau 9,01% siswa berinisiatif dalam pembelajaran IPA. Dari data tersebut dapat disimpulkan ada 22,71% siswa yang berminat dalam pembelajaran IPA. Observasi kedua dilakukan pada hari berikutnya yaitu pada tanggal 24 Oktober 2013. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa 16 dari 33 siswa atau 48,49% siswa memiliki rasa senang pada pembelajaran IPA, 10 dari 33 siswa atau 30,30% siswa memberikan perhatian penuh terhadap

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 pembelajaran IPA, 7 dari 33 siswa atau 21,21% siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dan 11 dari 33 siswa atau 32,35% siswa berinisiatif dalam pembelajaran IPA. Dari data tersebut dapat disimpulkan ada 33,09% siswa yang berminat dalam pembelajaran IPA. Hasil observasi pertama ditambah dengan hasil observasi kedua kemudian dirata-rata dan diperoleh hasil 27,9%. Hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru mata pelajaran IPA membuktikan bahwa pembelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 kurang kondusif. Pemaparan guru mengungkapkan bahwa pada saat guru menjelaskan materi beberapa siswa tidak memperhatikan guru tetapi malah sibuk mengobrol dengan teman yang lain. “Itu mbak, kalau saya menjelaskan malah pada ribut sendiri, ada yang mainan buku, ada yang ngobrol sama temennya, malah kadang ada yang sengaja jalan-jalan” (komunikasi, 17 Oktober 2013). Untuk menarik perhatian siswa guru meminta beberapa siswa yang terlihat ribut sendiri untuk diam dan mengulang kembali penjelasan dari guru. Peneliti juga melakukan observasi untuk menambah data tentang minat siswa terhadap pembelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. Untuk mengetahui minat siswa terhadap mata pelajaran IPA maka peneliti menyusun kuesioner untuk mengetahui secara langsung seberapa tinggi minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. Kuesioner minat tersebut diberikan kepada siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 pada tanggal 28 Oktober 2013. Dalam kuesioner minat tersebut terdapat empat indikator minat yaitu rasa senang siswa terhadap proses pembelajaran IPA, perhatian siswa terhadap pembelajaran IPA, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran IPA, dan inisiatif siswa dalam

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 pembelajaran IPA. Kuesioner yang telah diberikan kepada siswa kemudian dihitung skor totalnya dan diperoleh hasilnya berdasarkan kriteria minat. Siswa yang termasuk ke dalam kategori minimal cukup berminat adalah sebesar 60,61%. Peneliti juga memperoleh data untuk kondisi awal menggunakan dokumentasi nilai. Data yang diperoleh dari dokumentasi nilai siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 menunjukkan bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) pelajaran IPA 2012/2013 dan 2013/2014 adalah 75. Siswa yang dinyatakan tuntas adalah siswa yang memiliki nilai lebih dari 75 atau sama dengan 75. Dari data yang diperoleh, pretasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tergolong rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan data dokumentasi nilai IPA siswa dari kelas V semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 yang menunjukkan bahwa siswa yang mencapai KKM berjumlah 13 siswa dari 26 siswa (50%) dengan nilai ratarata kelas 71,08. Pada semester gasal tahun ajaran 2012/2013 siswa yang mencapai KKM 15 siswa (57,69%) dengan nilai rata-rata kelas 73,39 sedangkan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 siswa yang mencapai KKM adalah 18 siswa (54,55%) dengan nilai rata-rata kelas72,36. Jadi, dapat disimpulkan bahwa rata-rata nilai prestasi belajar IPA siswa selama 3 semester pada tahun ajaran 2012/2013 sampai dengan 2013/2014 adalah 72,27 dengan persentase 54,08% siswa yang mencapai KKM. Fakta diatas membuktikan bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan kurang menarik bagi siswa karena siswa hanya duduk untuk mendengarkan penjelasan dari guru. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara membuat proses

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 pembelajaran yang menarik. Proses pembelajaran yang menarik dapat diciptakan dengan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi atau dengan menerapkan sebuah konsep pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Peneliti akan menerapkan sebuah konsep pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dengan aktif maka minat dan juga prestasi siswa akan meningkat. Konsep pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif yaitu Students Centered Learning (SCL). Students Centered Learning (SCL) adalah sebuah konsep pembelajaran yang memberdayakan siswa menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran berlangsung (M.Bruri, 2011:1). Siswa menjadi objek dalam suatu pembelajaran dan guru menjadi fasilitator dalam pembelajaran. Siswa dituntut untuk dapat membangun pengetahuan mereka sendiri. Terdapat beberapa jenis pembelajaran yang dapat digunakan dalam konsep SCL. Jenis pembelajaran tersebut antara lain: pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning, Problem Based Learning dan inkuiri. Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahatahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut (Kamdi, 2007:77). Hanafiah (2012:71) menjelaskan bahwa inkuiri adalah pembelajaran dengan mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Wina Sanjaya (2008:109) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk dapat

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Peneliti memilih Contextual Teaching and Learning atau pendekatan Kontekstual karena dengan pendekatan kontekstual maka siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang mereka dapat dengan kenyataan yang ada di dunia nyata mereka, dengan demikian pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapat akan lebih bermakna. Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran dimana siswa dapat mengkaitkan antara materi yang mereka pelajari dengan situasi kehidupan nyata yang ada disekitar mereka. Dalam pendekatan kontekstual terdapat tujuh komponen yang dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi pembelajaran. Tujuh komponen tersebut adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, pemodelan, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian otentik. CTL dipilih karena siswa akan semakin aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Siswa akan semakin aktif untuk berinteraksi dengan guru, teman dan juga dengan lingkungan sekitarnya (Johnson, 2007:38). Pendekatan kontekstual dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Pernyataan tentang pendekatan kontekstual dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dibuktikan oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Sunandar (2009) yang melakukan penelitian dengan menerapkan pendekatan kontekstual, selain itu Kristiawan (2012) juga melakukan penelitian dengan menerapkan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 Menggunakan Pendekatan Kontekstual”. B. Perumusan Masalah 1. Bagaimana penggunaan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014? 2. Bagaimana penggunaan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014? 2. Untuk mengetahui proses pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014? D. Pembatasan Masalah Faktor keterbatasan waktu dan juga luasnya cakupan materi pada mata pelajaran IPA di SD maka diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut : Penelitian ini dilakukan pada pengaruh pendekatan kontekstual terhadap minat dan prestasi siswa dalam Pelajaran IPA materi “Mendeskripsikan hubungan antara

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 sifat bahan dengan bahan penyusunnya, misalnya benang, kain, dan kertas” siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. E. Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan di atas, manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sekolah untuk menggunakan model-model dalam pembelajaran sehinga mutu pendidikan sekolah dapat meningkat. 2. Bagi Guru Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan guru untuk menerapkan, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. 3. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman yang sangat berharga karena dapat melakukan penelitian ini. F. Definisi Operasional Definisi operasional digunakan agar istilah atau definisi yang ada tidak salah tafsir dan tidak menimbulkan pertanyaan atau tafsiran ganda. 1. Minat adalah situasi dimana seseorang yang mengalami kecenderungan dalam diri yang tertarik dengan sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek dan mendorong seseorang memperhatikan objek tertentu.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Prestasi Belajar adalah sebuah hasil dari proses belajar mengajar dalam bentuk penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan dari pembelajaran yang didapat seseorang, dan ditunjukkan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru melalui proses belajar seseorang. 3. Konsep SCL adalah sebuah konsep pembelajaran yang memberdayakan siswa menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. 4. Pendekatan kontekstual adalah sebuah proses pembelajaran dimana siswa mengaitkan antara materi yang sedang mereka pelajari dengan konteks kehidupan nyata mereka sehari-hari untuk mempermudah pemahaman mereka terhadap materi. 5. IPA adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan lingkungan sekitar yang ada. 6. Siswa SD adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur formal maupun nonformal pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu yaitu sekolah dasar.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjabarkan tetang kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan. A. Kajian Pustaka 1. Teori-Teori yang Mendukung Teori yang mendukung dalam penelitian ini adalah teori pembelajaran yang diungkapkan oleh Jean Piaget, yaitu teori belajar konstruktivism. Seorang anak akan menemukan pengetahuan mereka sendiri setelah mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar. Lewat belajar seorang anak mulai membangun pengetahuan yang ia butuhkan dan akan membentuk sebuah pengetahuan yang baru yang nantinya bermanfaat bagi kehidupannya kelak (Piaget dalam Hergenhahn, 2009:312). Piaget juga mengemukakan tahap-tahap perkembangan seseorang yang terdiri dari empat tahap, yaitu : (1) tahap sensori motor; (2) tahap pra-operasional; (3) tahap operasional konkret; dan (4) tahap operasional formal. Tahap yang pertama yaitu tahap sensori motor (0 – 2 tahun), Piaget (dalam Hargenhahn, 2009:318) mengatakan bahwa dalam tahap ini dicirikan oleh tidak adanya bahasa. Anak-anak belum menguasai kata untuk suatu benda atau objek. Interaksi yang ada hanya sebatas interakti menggunakan sensori dan motorik. Tahap yang kedua adalah yahap pra-operasional (2-7 tahun). Tahap ini terbagi menjadi 2, yaitu pemikiran prakonseptual (sekitar dua sampai empat tahun) dan periode pemikiran intuitif (sekitar empat sampai tujuh tahun). Pada tahap ini anak membuat sebuah 11

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 konsep sederhana untuk membuat kelompok atau klasifikasi suatu benda berdasarkan bentuk yang sama atau kemiripannya. Tahap yang ketiga adalah operasional konkret (tujuh sampai sebelas tahun), dalam tahap ini anak sudah mengenal konsep angka. Konsep angka yang mereka tangkap adalah mengenai kejadian nyata yang mereka alami. Tahap yang keempat adalah tahap operasional formal (sekitar sebelas atau dua belas tahun sampai empat belas tahun). Dalam tahap ini anak sudah mulai dapat mengenal sesuatu yang bersifat abstrak. Pemikiran anak pada tahap ini akan semakin logis. 2. Minat a. Pengertian Minat Whitehead (dalam Johnson 2010) mengungkapkan bahwa, minat adalah “dasar dari perhatian dan pemahaman” (h. 37). Djaali (2007:121) menyatakan bahwa minat sebagai rasa suka terhadap sesuatu hal atau aktivitas tanpa adanya suatu paksaan. Minat didefinisikan sebagai suatu keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu (Tim Reality, 2008 : 450). Slameto (2010:180) mengemukakan bahwa minat adalah suatu rasa ketertarikan terhadap sesuatu tanpa ada yang menyuruh. Minat diwujudkan dalam suatu partisipasi melalui suatu aktivitas yang dapat mendorong aktivitas belajar selanjutnya. Hurlock (2005) juga menjelaskan bahwa minat merupakan “sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih” (h.144). Hurlock menambahkan bahwa minat akan medatangkan kepuasan, apabila kepuasan berkurang maka minat pun berkurang.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Pengertian minat belajar telah diungkapkan oleh beberapa tokoh. Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan secara umum bahwa minat adalah perasaan tertarik pada sesuatu yang timbul tanpa adanya paksaan. b. Klasifikasi Minat Minat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam. Berdasarkan alasan timbulnya minat, Surya (2007 : 122) mengklasifikasikan minat ke dalam 3 macam, yaitu (1) minat volunter; (2) minat involunter; dan (c) minat nonvolunter. Klasifikasi minat yang pertama adalah minat volunteer. Minat volunter timbul secara sukarela, dengan sendirinya muncul dari dalam diri siswa tanpa adanya pengaruh dari luar. Seseorang akan dengan sendirinya memiliki sebuah minat tanpa adanya paksaan dari pihak luar. Minat involunter timbul dari dalam diri siswa karena adanya pengaruh situasi yang diciptakan oleh lingkungan luar. Dengan kata lain, timbulnya minta involunter ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal atau lingkungan sekitar siswa. Minat nonvolunter adalah minat yang timbul karena dipaksakan atau diharuskan. Sesorang harus dipaksa agar tumbuh minat dalam dirinya akan sesuatu hal. Minat seseorang tidak akan muncul tanpa adanya dorongan atau paksaan dari orang lain atau dari subjek yang lain (Surya, 2007:126). Jadi dapat disimpulkan bahwa minat seseorang akan sesuatu itu timbul dengan berbagai faktor yang mempengaruhi sehingga ada minat yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri dan juga ada minat yang timbul karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 c. Ciri-Ciri Minat Ciri-ciri minat secara umum menurut Hurlock (2005 : 115) ada tujuh, yaitu : (1) minat tumbuh seiring dengan perkembangan fisik dan mental; (2) minat bergantung pada kesiapan belajar; (3) minat bergantung pada kesempatan belajar; (4) perkembangan minat mungkin terbatas; (5) minat dipengaruhi budaya; (6) minat memiliki bobot emosional; dan (7) minat itu egosentris. Pertama minat tumbuh seiring dengan perkembangan fisik dan mental. Perubahan minat dapat terjadi selama perubahan fisik dan mental siswa berkembang. Jika siswa sudah cukup mencapai kematangan, maka minat yang dimiliki akan lebih stabil. Kedua, minat bergantung pada kesiapan belajar. Siswa tidak akan mempunyai minat terhadap suatu hal apabila belum memiliki kesiapan secara fisik dan mental untuk melakukan hal tersebut. Siswa tidak dapat mempunyai minat untuk belajar matematika sampai dia memiliki pengetahuan yang cukup dan keinginan untuk mempelajari matematika. Ketiga, minat bergantung pada kesempatan belajar. Kesempatan belajar bergantung pada lingkungan dan minat. Minat tersebut berasal dari lingkungan terdekat siswa, yaitu lingkungan rumah. Seiring bertambah luasnya lingkup belajar siswa, kesempatannya untuk mengenal dan mempelajari hal-hal baru juga semakin banyak. Siswa dapat memutuskan apa yang bisa memuaskan kebutuhannya, yang merupakan minatnya. Keempat yaitu perkembangan minat mungkin terbatas. Keterbatasan perkembangan minat tersebut disebabkan adanya faktor ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial seorang anak. Misalnya pada siswa yang memiliki cacat fisik, maka siswa tersebut mungkin mempunyai minat yang

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 terbatas dibandingkan teman sebayanya yang memiliki perkembangan fisik normal. Kelima yaitu minat dipengaruhi budaya. Jika anak mendapat kesempatan dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain untuk belajar mengenai suatu hal yang dianggap oleh kelompok budaya mereka adalah minat yang sesuai, maka anak dapat menekuni minat tersebut secara lebih lanjut. Keenam, minat memiliki bobot emosional. Bobot emosional atau aspek afektif dari minat menentukan kekuatannya. Bobot emosional yang tidak menyenangkan akan melemahkan minat. Sebaliknya apabila bobot emosional menyenangkan, maka akan memperkuat minat. Jika seorang anak merasa tertarik terhadap kegiatan tertentu, maka minat pada kegiatan tersebut akan semakin meningkat. Ketujuh adalah minat itu egosentris. Pada masa kanak-kanak, minat bersifat egosentris, yang dapat mengarahkan siswa pada arah tujuan yang menurutnya ideal. Misalnya minat siswa pada matematika sering berlandaskan keyakinan bahwa kepandaian di bidang tersebut merupakan hal penting untuk menuju kedudukan yang menguntungkan di bidang tersebut. Jadi dari penjabaran tadi dapat disimpulkan bahwa minat memiliki ciri yang beragam. Ciri minat dari setiap orang pastinya juga akan beragam sesuai dengan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu hal. d. Indikator Minat Ada tidaknya suatu minat dapat ditemukan dalam kegiatan belajar siswa. Menurut Slameto (2003 : 58), siswa yang berminat dalam belajar akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1 ) mempunyai kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih terhadap sesuatu; (2) ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 yang diminati; (3) memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada aktivitas-aktivitas yang diminati; (4)lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya; dan (5) dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. Pendapat dari Slameto tersebut hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Djamarah. Djamarah (2002 : 132) mengemukakan beberapa indikator siswa berminat dalam belajar, yaitu: (a) pernyataan lebih menyukai sesuatu daripada yang lain; (b) partisipasi aktif dalam suatu kegiatan; dan (c) memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminati. Pendapat dari ahli di atas dapat disimpulkan bahwa indikator minat dalam belajar secara umum dapat dilihat dari adanya (1) siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA; (2) siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA; dan (4) siswa berinisiatif mencari informasi baru. 3. Prestasi Belajar a. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar terdiri dari dua kata yakni prestasi dan belajar. Sebelum mengurai lebih jauh tentang prestasi belajar terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Sunarto (2009) mengemukakan bahwa prestasi adalah “hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan”. Prestasi merupakan perubahan yang menuju ke arah yang lebih maju dan perubahanperubahan itu didapat karena adanya latihan-latihan yang disengaja, sebab hasil belajar bukan ditentukan secara kebetulan saja. Purwodarminto (2008: 111) mengungkapkan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru”. Purwodarminto (2008: 94) juga mengatakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan atau yang telah dikerjakan). Hamalik (2008: 27) mengungkapkan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih dari itu, yakni mengalami. Slameto (2010: 12) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. S. Nasution (dalam Sunarto 2009:56), prestasi belajar merupakan kemampuan yang telah dicapai seseorang dalam berpikir, merasa, dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila dapat memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai setelah siswa melakukan kegiatan belajar sehingga ada perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa. Prestasi belajar merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kemampuan atau keberhasilan seseorang untuk melakukan proses belajar sesuai dengan bobot atau nilai yang berhasil diraihnya (Winkel dalam Sunarto, 2009:113). Dari hasil pemaparan beberapa tokoh tentang prestasi belajar, maka peneliti dapat membuat sebuah kesimpulan tentang prestasi belajar. Jadi, prestasi belajar adalah tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak,

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar dan tingkat keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan faktor yang berasal dari lingkungan, sementara faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa (Slameto, 2010: 54). 1) Faktor Internal Faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri meliputi 2 aspek, yaitu aspek fisiologis dan aspek psikologis. Aspek fisiologis siswa merupakan aspek yang bersifat jasmaniah. Hal ini dapat dilihat dari kondisi umum tubuh siswa dan kondisi organ-organ khusus siswa. Kondisi umum tubuh siswa misalnya keadaan tubuh yang lemah disertaipusing kepala berat dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya menjadi kurang dimengerti atau bahkan tidak berbekas. Untuk mempertahankan keadaan jasamaninya agar tetap bugar, siswa dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi (Muhibin Syah, 2003: 145). Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga akan mempengaruhi siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuannya dalam pembelajaran di kelas.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Aspek psikologis, dalam aspek ini banyak aspek yang mempengaruhi prestasi belajar siswa secara psikologis. Aspek-aspek yang dipandang lebih esensial yaitu intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa. Aspek yang pertama adalah intelegensi Siswa. Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Muhibbin Syah, 2003: 147). Slameto (2010: 56) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Aspek yang kedua adalah sikap siswa. Muhibin Syah (2003: 149) mengemukakan bahwa sikap adalah “gejala internal yang bedimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif”. Sikap positif siswa terhadap guru dan mata pelajaran yang disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Aspek yang ketiga adalah bakat siswa. Rebber dalam Muhibin Syah (2003: 150) mengemukakan bakat adalah “kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang”. Dengan demikian sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 masing, jadi secara umum bakat itu mirip dengan inteligensi. Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidangbidang studi tertentu, jika pelajaran yang dipelajari sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Aspek yang keempat adalah minat siswa. Hilgard dalam Slameto (2010: 57) merumuskan tentang minat sebagai berikut: “Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content”. Minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Reber dalam Muhibin Syah (2003: 151) juga mengemukakan bahwa secara sederhana minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari oleh siswa tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan baik, karena tidak ada daya tarik baginya. Guru harus mengusahakan agar siswa tersebut mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan. Aspek yang kelima adalah motivasi siswa. Slameto (2010: 58) mengemukakan bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya pendorong atau penggerak. Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menunjang belajar. 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah segala faktor yang ada di luar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar yang dicapai siswa. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap belajar dapatlah dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 2010: 60). Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sutjipto Wirowidjojo dalam Slameto (2010: 61) menyatakan bahwa “keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia”. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anaknya. Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Cara orang tua mendidik anak besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya kerena keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama. Orang tua yang tidak memberikan perhatian dan kebutuhan anak dalam belajar, tidak mengatur waktu

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 belajar, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajarnya serta tidak mau tau bagaimana kemajuan belajar anaknya, dapat mengakibatkan anak tidak berhasil atau kurang berhasil dalam belajarnya. Relasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Hubungan antara orang tua dan anak yang harmonis penuh perhatian, kasih sayang, akrab dan saling pengertian memungkinkan anak belajar dengan baik, karena disamping memberikan dorongan untuk belajar orang tua akan membantu bagaimana cara belajar yang baik. Keadaan ekonomi keluarga sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan belajar atau prestasi belajar anak. Orang tua yang ekonominya rendah akan merasa kesulitan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan belajar anak misalnya buku-buku pelajaran, fasilitas untuk belajar dan kebutuhan lain sehingga anak mengalami hambatan dalam mencapai prestasi belajar yang baik. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Faktor sekolah ini meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standard pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Metode mengajar yang digunakan guru turut mempengaruhi belajar siswa. Slameto (2010: 65) mengemukakan bahwa metode mengajar merupakan cara/jalan yang harus dilalui dalam belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik dapat mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak baik. Guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat karena setiap materi pembelajaran belum tentu cocok dengan satu metode. Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa (Slameto, 2010: 65). Kurikulum yang baik, jelas dan mantap memungkinkan siswa dapat mencapai prestasi belajar yang baik. Program pendidikan dan pengajaran yang jelas tujuanya, sarananya, waktu dan kegiatannya dapat dilaksanakan dengan mudah sehingga membantu siswa dalam belajar. Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan murid, oleh karena itu cara belajar anak juga dipengaruhi oleh relasinya dengan guru yang bersangkutan, jika hubungan guru dengan murid kurang baik maka akan berpengaruh pada kelancaran belajar mengajarnya. Guru sebaiknya menjalin relasi yang baik dengan siswa. guru yang kurang berinteraksi dengan siswa secara akrab dapat menyebabkan proses belajar mengajar itu menjadi kurang lancar. Hubungan antara siswa di sekolah juga menentukan prestasi belajar siswa. Siswa yang pendiam, mengurung diri, tidak mau bergaul dengan teman yang lainnya tentu akan kesulitan bertanya jika ada materi yang belum dipahaminya. Slameto (2010: 67) mengatakan: “menciptakan relasi yang baik antarsiswa adalah perlu, agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa”. Relasi antarsiwa di sekolah harus ditingkatkan supaya prestasi belajar siswa juga baik. Kedisplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar, kedisplinan guru dalam mengajar dengan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 pelaksanaan tata tertib, kedisplinan pengawas atau karyawan dalam pekerjaan akan memberi semangat kepada anak untuk belajar dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Keadaan gedung di sekolah sebagai tempat belajar juga ikut memberi pengaruh pada keberhasilan anak. Gedung yang rusak, kotor, banyak sampah berserakan atau bahkan atapnya bocor tentu menjadi kendala saat kegiatan belajar mengajar belangsung. Meskipun anak memiliki semangat yang menggebu untuk belajar, namun keadaan gedung sekolah yang mengkhawatirkan dapat menurunkan niatnya mencari ilmu. Banyaknya tugas rumah yang diberikan guru juga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Slameto (2010: 69) mengemukakan bahwa guru diharapkan jangan terlalu banyak memberikan tugas yang harus dikerjakan di rumah karena akan semakin menambah bebannya untuk mengerjakan. Jangankan untuk belajar materi lain, untuk mengerjakan pekerjaan rumah saja waktunya sudah kurang. Di samping faktor sekolah dan faktor keluarga, lingkungan masyarakat juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Lingkungan masyarakat mempunyai pengaruh terhadap belajar siswa. Keberadaan siswa dalam masyarakat yang menyangkut kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. Dalam pergaulan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 ini anak akan menemukan berbagai macam tingkah laku yang berbeda-beda. Selain itu adanya media masa, baik yang cetak maupun elektronik mempengaruhi pula terhadap perolehan hasil belajar dan proses belajar bagi anak, baik yang positif maupun yang negatif. Apabila individu yang belajar dapat menggunakan sarana tersebut dengan kebutuhan sebagai individu yang sedang belajar akan meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah. Jadi, lingkungan masyarakat membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. 4. Konsep Student Centered Learning (SCL) Triyono (2011:1) mengungkapkan bahwa SCL adalah suatu konsep pembelajaran yang memberdayakan peserta didik untuk menjadi pusat perhatian selama permbelajaran berlangsung. Overby (2011) menjelaskan konsep SCL adalah “the concept of student-centered learning is to bring the classroom and students to life. The teacher is considered a guide on the side, assisting and guiding students to meet the goal that have been made by the students and the teachers” (h.109). Konsep SCL adalah pembelajaran yang membawa kelas dan siswa ke dalam hidup. Guru menjadi fasilitator, memfasilitasi dan membimbing siswa untuk menemukan tujuan dari pembelajaran. Peserta didik diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan mereka. Peserta didik diharapkan dapat menjadi peseta aktif dan mandiri dalam sebuah proses pembelajaran, menemukan sumber-sumber kebutuhannya, membangun serta informasi mempresentasikan untuk atau menjawab menunjukkan pengetahuan yang sudah mereka dapat. Dalam konsep pembelajaran ini, peserta

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 didik atau siswa harus aktif untuk belajar dan bertanya. Mereka adalah subjek dalam pembelajaran bukan lagi objek yang hanya duduk diam memperhatikan guru namun mereka harus aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Triyono (2011:2) mengemukakan bahwa ada beberapa ciri-ciri dari pendekatan Student Centered Learning, yaitu : (a) peserta didik harus aktif terlibat dalam proses pembelajaran; (b) topik, isu, dan subyek pembelajaran harus menarik dan memicu motivasi intrinsik; dan (c) pengalaman belajar harus muncul berdasarkan suasana yang nyata dan sebenarnya. Pertama, peserta didik harus terlibat dalam proses pembelajaran artinya dalam penerapan konsep SCL ini, peserta didik atau yang sering disebut siswa harus menjadi subjek dalam pembelajaran. Siswa harus mengalami sendiri proses pembelajarannya tidak hanya duduk diam dan mendengarkan penjelasan dari guru tetpai juga menemukan pengetahuan-pengetahuan baru. Jacobsen (2009:228) menjelaskan bahwa Student Centered Learning (SCL) memiliki tiga karakteristik, yaitu: (1) siswa-siswa berada dalam pusat proses pembelajaran; sedangkan guru mendorong mereka untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri; (2) guru membimbing pembelajaran siswa dan mengintervensi hanya jika diperlukan untuk mencegah mereka salah jalan atau mengembangkan konsepsi yang salah; (3) guru menekankan pemahaman yang mendalam tentang konten dan proses-proses yang terlibat didalamnya. Jadi, proses pembelajaran dalam SCL menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga apa yang mereka alami akan mereka simpan dan menjadi pengetahuan baru.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Konsep SCL merupakan sebuah konsep pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Guru berperan sebagai fasailitator yang bertugas memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan siswa secara utuh. Jenis pembelajaran yang termasuk dalam ruang lingkup SCL antara lain adalah : Problem Based Learning (PBL), inkuiri dan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning. Problem Based Learning merupakan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga siswa dapat belajar berpikir kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari bahan pelajaran. Hanafiah (2012:71) menjelaskan bahwa inkuiri adalah pembelajaran dengan mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Wina Sanjaya (2008:109) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah “suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”. Pendekatan kontekstual dipilih untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar IPA siswa karena memiliki kelebihan dibandingkan Inkuiri dan PBL. Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme, tanya jawab, inkuiri, komunitas belajar, pemodelan, dan penilaian otentik. Pendekatan kontekstual menerapkan langkah inkuiri dan melibatkan masalah nyata yang merupakan bagian dalam PBL. Masalah nyata tersebut dapat dilihat pada komponen konstruktivisme. Komponen konstruktivisme tersebut merupakan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 komponen yang menunjukkan bahwa ada usaha untuk menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan yang telah dimiliki siswa melalui pengalaman bermakna. Pengetahuan tersebut berupa masalah nyata. Johnson (2007:37) juga menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual mengajak siswa untuk membuat hubungan-hubungan yang mengungkapkan makna dan memiliki potensi untuk membuat siswa berminat belajar. 5. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) a. Pengertian Pendekatan Kontekstual Wina Sanjaya (2008:109) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah “suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”. Melalui pendekatan kontekstual, siswa dapat belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan ynag mereka dapat dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan mereka. Johnson (2002) juga memiliki pendapat bahwa pendekatan kontekstual adalah “an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the conext of their daily lives, that is, with conext of their personal, social and cultural circumstance” (h.24). Pendekatan kontekstual merupakan sebuah proses pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna dari materi pembelajaran yang mereka pelajari dengan menghubungkan pengetahuan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 mereka dengan kehidupan mereka sehari-hari, menghubungkan dengan pribadi mereka sendiri, dengan kehidupan sosial dan kebudayaan. Jadi, pendekatan kontekstual merupakan sebuah proses pembelajaran dimana siswa mengaitkan antara materi yang sedang mereka pelajari dengan konteks kehidupan nyata mereka sehari-hari untuk mempermudah pemahaman mereka terhadap materi. Siswa mengaitkan antara materi dengan konteks yang ada dalam kehidupan nyata untuk mempermudah konsep belajar dan mempermudah membangun pengetahuan mereka. b. Strategi Pendekatan Kontekstual Johnson dalam bukunya Contextual Teaching and Learning mengungkapkan bahwa ada tujuh strategi yang harus ditempuh untuk memperoleh pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, yaitu: (1) pengajaran berbasis problem; (2)menggunakan konteks yang beragam; (3) mempertimbangkan kebhinekaan siswa; (4) memberdayakan siswa untuk belajar sendiri; (5) belajar melalui kolaborasi; (6) menggunakan penilaian autentik; dan (7) mengejar standard tinggi. Pengajaran berbasis problem, artinya dengan memunculkan sebuah permasalahan di awal pembelajaran maka siswa akan merasa tertantang untuk berfikir secara kritis untuk memecahkan masalah tersebut. Kedua yaitu menggunakan konteks yang beragam. Dalam pemberian materi, guru tidak harus terpaku pada buku teks atau materi ajar saja tetapi juga dapat membermaknakan konteks yang ada seperti sekolah, keluarga, masyarakat, dan sebagainya, sehingga nantinya pengetahuan yang diperoleh siswa akan menjadi lebih berkualitas.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Ketiga yaitu mempertimbangkan kebhinekaan siswa. Dalam CTL, kebhinekaan berarti guru mengayomi setiap individu siswa dan meyakini bahwa perbedaan dari setiap individu itu dapat menjadi penggerak untuk belajar saling menghormati dan saling toleransi satu sama lain. Keempat adalah memberdayakan siswa untuk belajar sendiri. Siswa dilatih untuk belajar secara mandiri dan berfikir kritis dan kreatif untuk memecahkan sebuah masalah. Kelima yaitu belajar melalui kolaborasi. Siswa dibiasakan untuk bekerjasama dan berdiskusi dalam kelompok. Dalam setiap kelompok pasti akan muncul satu siswa yang mendominasi dalam kelompok itu, siswa inilah yang dijadikan fasilitator dalam kelompoknya. Apabila kelompok belajar sudah terbina sedemikian rupa maka tugas guru adalah sebagai fasilitator dan mentor. Keenam adalah menggunakan penilaian otentik. Proses yang dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Penilaia ini ditekankan pada proses belajar bukan kepada hasil belajar. Ketujuh yaitu mengejar standar tinggi. Sekolah harus berusaha untuk meningkatkan standar kelulusannya untuk mencapai standar yang tinggi. c. Karakteristik Pendekatan Kontekstual Fellow (2000:2-7), karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut : (1) problem-based (berbasis masalah); (2) using multiple contexts (penggunaan berbagai konteks); (3) drawing upon students diversity (penggambaran keanekaragaman siswa); (4) supporting self-reguled learning

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 (pendukung pembelajaran pengaturan diri); dan (5) using independent learning groups (pengggunaan kelompok belajar yang saling berketergantungan). Pertama adalah problem based (berbasis masalah), dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat dimulai dengan memberikan sebuah masalah di awal dan pada prosesnya nanti akan menuntut siswa untuk berfikir kritis dan kreatif untuk mencari pemecahan dari masalah itu. Permasalahan yang dikaji juga harus sesuai dengan konteks kehidupan siswa. Kedua yaitu using multiple contexts (penggunaan berbagai konteks). Ketiga, drawing upon student diversity (penggambaran keanekaragaman siswa). Setiap siswa diciptakan berbeda-beda, perbedaan terjadi dalam nilai-nilai, adat istiadat dan juga perspektif mereka. Perbedaan inilah yang bias dijadikan sebagai penyatu bagi guru untuk membangun kemampuan inter-personal siswa. Kelima adalah supporting self-reguled learning (pendukung pembelajaran pengaturan diri). Keenam yaitu using independent learning groups (penggunaan kelompok belajar yang saling berketergantungan). Dengan kelompok belajar, siswa dapat berbagi pengetahuan dan juga saling membantu satu sama lain. Ketujuh adalah imploying authentic assessment (memanfaatkan penilaian asli). Penilaian autentik digunakan untuk memonitor kemajuan siswa dan umpan balik keberhasilan guru dalam pembelajaran Ditjen Dikdasmen (2003:10-19) menyebutkan tujuh karakteristik utama pendekatan kontekstual, yaitu : (1) kontruktivisme (constructivism); (2) menemukan (inquiry); (3) bertanya; (4) masyarakat belajar; (5) pemodelan; (6) refleksi; dan (7) penilaian yang sebenarnya. Pertama, konstruktivisme

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 (constructivism). Pengetahuan yang kita dapat kita kembangkan sedikit demi sedikit dengan konteks kehidupan yang ada di dekat kita. Kita harus mengonstruksi pengetahuan itu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Kedua yaitu menemukan (inquiry), dalam hal ini, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa diharapkan bukan hanya dari hasil mengingat fakta-fakta yang ada melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui beberapa tahapan, yaitu : (1) observasi; (2) bertanya,;(3) mengajukan dugaan; (4) pengumpulan data; dan (5) penyimpulan. Ketiga adalah bertanya, pengetahuan yang dimiliki oleh siswa bermula dari bertanya. Bagi guru bertanya merupakan kegiatan untuk mendorong dan membimbing kemampuan berfikir siswa menjadi kritis dan kreatif. Keempat adalah masyarakat belajar, dalam masyarakat belajar, pengetahuan tidak selalu didapat dari hasil pembelajaran sendiri melainkan juga dari hasil kerja kelompok / masyarakat belajar. Pemodelan, dalam hal ini guru dapat menjadi model dalam proses belajar mengajar, tetapi guru bukanlah satu-satunya model, artinya model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau pun dengan mendatangkan seseorang dari luar sekolah. Refleksi merupakan respon terhadap apa yang baru saja dilalui dan apa yang baru saja dihadapi. Terakhir adalah penilaian yang sebenarnya. Kemajuan belajar dinilai dari sebuah proses bukan hanya sematamata dari hasil akhirnya saja. 6. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Soekarjo (1973:1) mengungkapkan bahwa IPA merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 pada perkembangan selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori(deduktif). IPA adalah body knowledge. IPA adalah suatu cabang pengetahuan yang mengangkat fakta-fakta yang tersusun secara sistematis dan menunjukkan berlakunya hukum-hukum umum. IPA merupakan pengetahuan yang didapat dengan jalan study dan praktik. IPA juga dapat diartikan sebagai suatu cabang study yang bersangkut-paut dengan observasi dan klasifikasi faktafakta terutama dengan disusunnya hukum umum dengan induksi dan hipotesis. (Subiyanto,1998:2). Definisi lain tentang IPA yang lengkap diberikan oleh Collete (1994), “science should be viewed as a way of thinking in the pursuit of understanding nature, asa way of investigating claims about phenomenon and as body of knowledge that has resulted from inquiry” (h.30). Ilmu Pengetahuan Alam harus dipandang secara berfikir dalam pencarian tentang pengertian rahasia alam dan sebagai batang tubuh pengetahuan yang dihasilkan dari inkuiri . 7. Siswa SD Susanto (2013:70) mengemukakan bahwa siswa sekolah dasar merupakan siswa yang mengalami masa transisi dari sekolah taman kanak-kanak (TK) ke sekolah dasar. Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh guru atau pendidik di sekolah dasar adalah bahwa guru hendaknya memahami karakteristik siswa. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Piaget (dalam Susanto, 2013:78) menjelaskan bahwa siswa sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret. Siswa pada tahapan ini memiliki ciri-ciri antara lain (1) memandang dunia secara objektif, dari satu aspek situasi ke aspek lain secara

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 reflektif, dan memandang unsur-unsur dunia secara serentak; (2) mampu memahami aspek-aspek kumulatif materi (volume, jumlah, berat, luas, panjang, dan pendek) dan memahami tentang peristiwa-peristiwa yang konkret; (3) menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda yang bervariasi beserta tingkatannya; (4) mampu membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan menggunakan hubungan sebab akibat; dan (5) mampu memahami konsep substansi (volume zat cair, panjang, pendek, lebar, luas, sempit, ringan, dan berat). Siswa pada tahap ini lebih mudah belajar dari benda-benda dan aktivitas nyata. B. Hasil Penelitian yang Relevan Penelitian pertama adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sunandar (2009). Penelitian tersebut berjudul Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar. Sunandar melakukan penelitian tentang pengaruh pembelajaran kontekstual (CTL) terhadap prestasi belajar anak. Peneliti membandingkan pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual (CTL) dengan pendekatan Textual Teaching and Learning (TTL). Peneliti ingin mengetahui apakah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (CTL) akan lebih efektif daripada pembelajaran menggunakan pendekatan TTL. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan model pre test and post test control group design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran yang dikelompokkan atas dua yaitu (1) penerapan pendekatan pembelajaran CTL dan (2) penerapan pendekatan

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 pembelajaran TTL. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas V A dan V B SD Ngesrep 01/02 Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Penelitian yang kedua adalah jurnal yang disusun oleh Suryawati,et al pada tahun 2009. Jurnal tersebut berjudul The Effectiveness of RANGKA Contextual Teaching and Learning on Student’s Problem Solving Skills and Scientific Attitude. Penelitian ini tentang efektivitas pengguanaan CTL dalam pelajaran Biologi untuk siswa terutama dalam pemecahan masalahdan perilaku sains. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Subjek dalam penelitian ini adalah 215 siswa dari siswa kelas VII yang ada di 3 sekolah negeri dengan berbagai tingkatan kognitif yaitu tinggi, sedang dan rendah. Modul CTL dibuat dengan mengaplikasikan RANGKA atau Rangkuman (Conclude), Amati (Observe), Nyatakan (State), Gabungkan (Combine), Komunikasi (Communicate) dan Amalkan (Implement). Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan tes dan observasi. 110 siswa masuk dalam kelas eksperimen dan 105 siswa masuk dalam kelas konvensional. Dalam kelompok, siswa mencoba untuk mengidentifikasi masalah, mengolah data, merencanakan pemecahan masalah dan memcahkan masalah. Dari hasil penelitian diperoleh hasil dengan perbandingan kelas CTL 77,24 dan kelas konvensional 68,41. Hasil dari penelitian ini adalah RANGKA CTL dapat membuat siswa untuk berfikir kritis dan membuat siswa dapat menjadi peka dalam pembelajaran. Penelitian yang ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Kristiawan (2012) dengan judul Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Materi Globalisai menggunakan Media Audiovisual Mata Pelajaran PKn Kelas IV SDN Kledokan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan media audiovisual pada mata pelajaran PKn kelas IV. Penggunaan Audiovisual sebagai cara untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa terhadap Pelajaran PKn menimbulkan dampak yang positif terutama dapt meningkatkan prestasi belajar siswa setidak – tidaknya mencapai nilai KKM. Penelitian ini menggunakan PTK ( kuantitatif ). Dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan adanya peningkatan minat siswa terhadap mata pelajaran PKn dengan penggunaan media audiovisual, sehingga siswa dapat mingkatkan prestasi belajar dengan hasil memenuhi KKM. Variabel yang berkaitan denagn minat sehingga saya ingin mengetahui penelitian yang terdapat hal yang membahas tentang minat. Minat ini juga dapat ditingkatkan dengan berbagai perlakuan dan kegiatan yang membangun minat siswa. Dengan jurnal ini saya mengetahui apa yang akan terjadi dan pengaruhnya minat terhadap berbagai masalah yang dihadapi di lingkungan sekolah dan warga sekolah. Penelitian yang keempat adalah penelitian yang dilakukan oleh Setiyatni. (2011) dengan judul Pemanfaatan Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Materi Jarak dan Kecepatan di Kelas V C Sekolah Dasar Muhamadiyah Jogodayoh Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi hasil belajar siswa kelas V C Sekolah Dasar Muhamadiyah Jogodayoh Bantul setelah belajar mengguanakan model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswa kelas V C Sekolah Dasar Muhamadiyah Jogodayoh Bantul. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif dan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 kuantitatif. Penelitian kuantitatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa tinggi nilai hasil belajar siswa setelah mengalami proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Sedangkan penelitian kualitatif diperoleh dari hasil deskripsi mengenai nilai-nilai pembelajaran. Data diperoleh dari wawancara, observasi dan juga pengambilan gambar. Hasil penelitian ini ada 2, yaitu hasil belajar Matematika dan juga tingkat keaktifan siswa di dalam kelas. Peniliti membuat literature map untuk menggambarkan keterkaitan antara penelitian yang terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Literature map dapat dilihat pada Gambar 1.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Gambar 1. Literature map Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Oleh Sunandar (2009) Pemanfaatan Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Materi Jarak dan Kecepatan di Kelas V C Sekolah Dasar Muhamadiyah Jogodayoh Bantul Oleh Setiyatni (2011) The Effectiveness of RANGKA CTL on Student’s Problem Solving Skills and Scientific Attitude. Oleh Suryati, et al.(2010) Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Materi Globalisasi menggunakan Media Audiovisual Mata Pelajaran PKn Kelas IV SDN Kledokan Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012 Oleh Kristiawan (2012) Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 Menggunakan Pendekatan Kontekstual.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Dalam Litterature map diatas, dapat kita liat keterkaiatan antara beberapa penelitian yang sudah dilakukan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sekarang. Dua peneliti yang pertama menggunakan pendekatan kontekstual dalam penelitiannya, mereka membuktikan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peneliti yang selanjutnya meneliti tentang peningkatan minat dan prestasi belajar siswa, ada yang menggunakan pendekatan kontekstual dan ada juga yang menggunakan media. Peneliti dalam hal ini akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan peningkatan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan pendekatan kontekstual. B. Kerangka Berpikir Proses pembelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 lebih didominasi oleh guru. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran karena siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan dari guru. Situasi dan kondisi kelas pada saat pembelajaran juga tidak kondusif untuk pembelajaran disebabkan karena siswa kurang terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan lain yang lebih efektif untuk dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan itu maka dilaksanakan sebuah pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mnegaitkan antara materi yang dipelajarinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan pendekatan kontekstual, diharapkan siswa dapat belajar secara aktif sesuai dengan permasalahan yang ada. Dalam pendekatan kontekstual, terdapat tujuh langkah-langkah, yaitu kontrukstivisme

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), permodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment) yang diharapkan dapat membuat siswa menjadi lebih aktif. Berdasarkan hal-hal tersebut diharapkan penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. C. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPA meningkatkan minat belajar siswa melalui tujuh komponen utama pendekatan kontekstual yang memenuhi kebutuhan siswa untuk membangun pengetahuannya yang dikaitkan dengan konteks. Ketujuh komponen tersebut adalah konstruktivisme, tanya jawab, inkuiri, komunitas belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian otentik. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan kontekstual meningkatkan minat belajar IPA pada siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014. Penggunaan pendekatan kontekstual juga meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014 melalui kegiatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya secara aktif dan minat

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab III ini berisi tentang metodologi penelitian yang meliputi jenis penelitian yang dilakukan, setting penelitian, rencana tindakan, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas, indeks kesukaran, analisis data, indikator keberhasilan, serta jadwal penelitian. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan sendiri oleh pendidik (guru) yang berupa tindakan praktis dalam pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki praktik pendidikan, antara lain proses dan hasil pembelajaran serta profesionalitas pendidik (Purnomo, 2008: 51). Penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar (Mc.Niff,1992). PTK ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang dikembangkan oleh Sthepen Kemmis dan Robbin Mc Taggart tahun 1988. Mereka menggunakan empat komponen penelitian tindakan yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam satu siklus yang saling terkait. Siklus PTK dengan model Kemmis & Taggart dapat dilihat pada gambar 2. 41

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Gambar 2. Siklus Dalam PTK (Kusumah, 2009:21) Gambar 2 menunjukkan urutan dalam PTK, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tahapan- tahapan dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan Penentuan perencanaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait PTK antara lain identifikasi masalah, analisis penyebab adanya masalah, dan bentuk tindakan yang akan dilakukan. Perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus per siklus. Kusumah (2009:39) mengemukakan bahwa halhal yang direncanakan diantaranya terkait dengan pendekatan pembelajarn, metode pembelajaran, materi yang akan diajarkan, media yang akan digunakan, dan sebagainya. 2. Pelaksanaan / Tindakan Pelaksanaan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan mengacu pada perencanaan yang telah dibuat. Pelaksanaan tindakan dilakukan untuk

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 memecahkan masalah yang terjadi. Bentuk pelaksanaan tindakan mencakup konsep atau pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan, materi yang akan diajarkan, dan sebagainya. Langkah berikutnya adalah menerapkan tindakan tersebut dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang sudah dibuat (Kusumah, 2009:39). 3. Pengamatan / Observasi Pengamatan dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran lengkap tentang proses pembelajaran mengenai organisasi. Kusumah (2009:40) mengemukakan bahwa pengamatan, observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh peneliti atau berkolaborasi. Pada saat monitoring pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal yang terjadi di dalam kelas penelitian. 4. Refleksi Refleksi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk memikirkan dan merenungkan tentang proses pembelajaran yang dilakukan sebagai evaluasi guru serta tim pengamat yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas. Kusumah (2009:40) menggatakan bahwa refleksi ini dilakukan dengan cara mendiskusikan berbagai masalah yang timbul di dalam kelas dan untuk mengukur apakah tindakan dalam siklus pertama sudah mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan refleksi ini peneliti dapat menentukan melanjutkan ke siklus berikutnya atau berhenti di siklus pertama karena masalah sudah terpecahkan.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 B. Setting Penelitian 1.Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 33 anak, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. 2. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah minat dan prestasi belajar IPA menggunakan pendekatan kontekstual. 3. Waktu Penelitian Penelitian ini berlangsung selama 10 bulan. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan September 2013 sampai dengan bulan Juni 2014. 4. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Kotabaru 1 Yogyakarta, Jalan Abubakar Ali 2B, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. C. Rencana Tindakan 1. Persiapan Persiapan penelitian ini disusun sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan beberapa persiapan di antaranya : (1) Permohonan ijin kepada Kepala Sekolah SD Kanisius Kotabaru 1. Permohonan ijin disini dimaksudkan agar kegiatan penelitian ini dapat berlangsung dengan lancar dengan adanya persetujuan dari pihak sekolah terutama dari Kepala Sekolah; (2) wawancara, wawancara dimaksudkan untuk mencari informasi tentang kondisi awal siswa pada mata pelajaran IPA. Wawancara dilakukan dengan guru mata pelajaran IPA

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 kelas V; (3) observasi, observasi dilakukan untuk menindak lanjuti permasalahan yang muncul pada saat wawancara sehingga peneliti dalam melihat secara langsung keadaan kelas; dan (4) identifikasi masalah, data dari hasil wawancara dan observasi yang diperoleh peneliti digunakan untuk mengidentifikasikan masalah yang terjadi di dalam kelas dan menentukan cara untuk memecahkan masalah tersebut. 2. Rencana Tindakan Siklus 1 Proses pembelajaran dalam siklus 1 terdiri dari tiga kali pertemuan yang dilakukan dalam rentang waktu satu minggu. Pelaksanaannya mengikuti jadwal pembelajaran di SD. a. Perencanaan Siklus 1 Dalam tahap ini dilakukan penyusunan rencana tindakan antara lain : peneliti menyusun perangkat pembelajaran, meliputi silabus, RPP, LAS, rubrik penilaian, soal evaluasi, media dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA. Peneliti melakukan validasi untuk perangkat pembelajaran kepada dosen, kepala sekolah dan juga guru kelas. Peneliti menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi dan juga rubriknya serta kuesioner lengkap dengan kisikisinya. Peneliti juga menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk teknis perekaman kegiatan pembelajaran. b. Pelaksanaan Siklus 1 Pelaksanaan dalam hal ini adalah berlangsungnya penelitian di dalam kelas. Peneliti melakukan serangkaian penelitian sesuai dengan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat. Pembelajaran yang dilaksanakan mengacu pada tujuh

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 komponen dalam CTL. Salah satu komponen yang digunakan dalam pelaksanaan siklus 1 adalah inkuiri terbimbing. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti dengan bantuan guru mitra. c. Observasi Siklus 1 Selama penelitian ini berlangsung, peneliti juga melakukan observasi terhadap kelompok siswa yang sedang belajar. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui minat belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi/pengamatan ini dilakukan dengan bantuan 2 teman sejawat yang kemudian mengisi lembar pedoman observasi yang telah disusun. d. Refleksi Siklus 1 Refleksi dilakukan pada tahap akhir setiap siklus. Pada siklus 1 ini peneliti menganalisis hasil pengamatan dari kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Hasil dari refleksi pada siklus 1 ini digunakan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pelaksanaan pembelajaran yang telah berlangsung. Hasil refleksi siklus 1 menyatakan bahwa target pencapaian yang ditentukan belum tercapai sehingga penelitian akan dilanjutkan pada siklus 2. Hasil penelitian dari siklus 1 dapat dilihat pada bab IV yaitu hasil penelitian. 2. Rencana Tindakan Siklus 2 a. Perencanaan Siklus 2 Perencanaan pada siklus 2 ini secara garis besar sama dengan perencanaan pada siklus 1. Peneliti menyusun perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, LAS, soal evaluasi dan rubrik penilaian. Peneliti juga menentukan tambahan tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul pada siklus 1. Perangkat

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 pembelajarn yang sudah dibuat akhirnya divalidasi. Validasi dilakukan dengan content validity, face validity dan construct validity. b. Pelaksanaan Siklus 2 Pelaksanaan tindakan siklus 2 dilaksanakan selama 3 x pertemuan, masingmasing pertemuan 2 x 35 menit. Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai dengan perangkat pembelajaran yang sudah disusun. Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 ini menggunakan inkuiri bebas dimodifikasi. c. Observasi Siklus 2 Peneliti melakukan observasi terhadap kelompok siswa yang sedang belajar. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui minat belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi/pengamatan ini dilakukan dengan bantuan 2 teman sejawat yang kemudian mengisi lembar pedoman observasi yang telah disusun. d. Refleksi Siklus 2 Refleksi pada siklus 2 dilakukan dengan menganalisis hasil pengamatan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh peneliti. Hasil refleksi pada siklus 2 menunjukkan bahwa target pencapaian yang ditentukan telah tercapai sehingga penelitian akan berakhir dan tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya. Hasil penelitian pada siklus 2 dapat dilihat pada bab IV yaitu hasil penelitian. D. Indikator Keberhasilan dan Pengukurannya Indikator keberhasilan ditentukan sebelum peneliti melakukan penelitian dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain kondisi awal dan informasi

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 yang diperoleh dari guru mengenai karakteristik siswa kelas V SD K Kotabaru 1 Yogyakarta. Indikator keberhasilan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Indikator Keberhasilan No 1 2. Variabel dan Indikator Minat Belajar a. Persentase siswa yang berminat b. Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat Prestasi Belajar a. Siswa yang mencapai KKM b. Nilai ratarata kelas Target Target Kondisi Deskriptor Siklus Siklus Awal 1 2 27,9% 40% 40% Rata-rata persentase siswa yang berminat dari setiap indikator 60,61% 85% 54,08% 60% 85% 60% Instrumen Penelitian Lembar Observasi Jumlah siswa yang Lembar termasuk kategori Kuesioner minimal cukup berminat : jumlah seluruh siswa x 100% Jumlah siswa yang mencapai KKM : jumlah seluruh siswa x 100 % Tes 72,27 75 75 Jumlah nilai seluruh siswa : jumlah siswa Tabel 1 menunjukkan kondisi awal minat dan prestasi belajar IPA siswa di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 yang masih rendah. Minat yang rendah ditunjukkan dengan persentase jumlah siswa berminat dari hasil observasi ada

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 27,9% dan jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat dari hasil kuesioner ada 60,61%. Prestasi belajar IPA siswa yang masih rendah terlihat pada jumlah siswa yang mencapai KKM ada 54,8% dan nilai rata-rata kelas ada 72,27. Target pencapaian yang ada pada indikator keberhasilan ditentukan berdasarkan hasil diskusi dengan guru mata pelajaran IPA. Diskusi dilakukan bersama dengan guru dengan maksud agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan sasaran. Target yang sudah ditentukan, nantinya menjadi tolok ukur bagi peneliti untuk mengukur keberhasilan siklus 1. Ketercapaian target pada siklus 1 pada semua indikator menandakan bahwa penelitian cukup dilaksanakan dalam satu siklus saja namun apabila ada indikator yang belum tercapai, maka penelitian akan dilanjutkan pada siklus 2. E. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, kuesioner dan dokumentasi. 1. Observasi Arifin (2009) menyebutkan bahwa observasi adalah “ suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu” (h.153). Tujuan dari observasi adalah untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena, baik berupa peristiwa atau tindakan, baik dalam situasi sesungguhnya maupun dalam situasi buatan. Dilihat dari kerangka kerjanya, Arifin (2009:154) menyebutkan bahwa observasi dibedakan menjadi observasi terstruktur dan observasi tidak

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 terstruktur. Observasi terstruktur adalah kegiatan observasi yang dilakukan berdasarkan kerangka yang sudah ditetapkan sebelumnya, sedangkan observasi tidak terstruktur adalah kegiatan observasi yang dilakukan tanpa dibatasi oleh suatu kerangka yang pasti. Observasi yang dilakukan di kelas V SDK Kotabaru 1 Yogyakarta menggunakan observasi terstruktur karena peneliti menggunakan pedoman observasi. 2. Wawancara Arifin (2009) menjelaskan bahwa wawancara merupakan “satu bentuk alat evaluasi non tes yang dilakukan melalui pecakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik” (h.157). Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi secara langsung guna menjelaskan suatu hal atau situasi dan kondisi tertentu. Wawancara dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Wawancara langsung merupakan wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara, sedangkan wawancara tidak langsung adalah wawancara yang dilakukan oleh pewawancara kepada orang yang diwawancarai melalui perantara orang lain atau media. Wawancara juga dapat dilakukan dengan wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Arifin (2009:158) mengatakan bahwa wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan berpedoman pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya, sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan. Wawancara digunakan oleh peneliti untuk memperoleh informasi

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 mengenai minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas V SDK Kotabaru 1 Yogyakarta. Wawancara yang digunakan adalah wawancara langsung dan terstruktur karena peneliti memiliki panduan pertanyaan berupa pedoman wawancara. 3. Kuesioner Arifin (2009:166) mengatakan bahwa kuesioner adalah alat untuk mengumpulkan dan mencatat data atau informasi, pendapat, dan paham. Kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai minat siswa dalam mata pelajaran IPA. Kuesioner terdiri dari kuesioner terstruktur dan kuesioner tidak terstruktur. Kuesioner terstruktur adalah kuesioner yang menyediakan beberapa kemungkinan jawaban, sedangkan kuesioner tidak terstruktur adalah kuesioner yang memberikan jawaban secara terbuka. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner terstruktur karena didalam kuesioner sudah disediakan pilihan jawaban bagi responden. 4. Dokumentasi Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokuen tertulis, gambar maupun elektronik (Sukmadinata, 2008:221). Dokumentasi dalam penelitian ini terutama adalah data hasil LAS dan refleksi siswa. Hasil LAS merupakan cerminan dari kognitif dan psikomotorik siswa. Refleksi siswa merupakan cerminan dari aspek afektif siswa. Selain itu, peneliti juga menggunakan alat perekam handycam dan kamera untuk merekam proses pemebelajaran.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 F. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengetahui minat siswa pada pembelajaran IPA dalam penelitian ini adalah kuesioner, dan lembar pedoman wawancara, sedangkan instrumen yang digunakan peneliti untuk mengukur prestasi belajar siswa adalah soal evaluasi, LKS, rubrik penilaian afektif, dan rubrik penilaian psikomotor. Instrumen tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Instrumen Pengumpulan Data No. Variabel 1. Minat 2. Pretasi belajar Kriteria Indikator minat: - Rasa senang terhadap pembelajaran IPA - Perhatian siswa terhadap pembelajaran IPA - Keterlibatan siswa terhadap pembelajaran IPA - Inisiatif siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA - Siswa yang lulus KKM - Rata-rata nilai kelas Jenis penilaian Instrumen Non Tes Lembar kuesioner, Lembar pedoman wawancara Tes dan non tes Tes objektif (soal evaluasi) Teknik pengumpulan data Kuesioner, wawancara, observasi Dokumentasi 1. Pedoman Observasi Untuk mengetahui seberapa tinggi minat siswa terhadap mata pelajaran IPA, peneliti melakukan observasi pada saat pembelajaran IPA berlangsung. Pedoman observasi dapat dilihat pada tabel 3.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Tabel 3 Pedoman Observasi INDIKATOR Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru PERNYATAAN Pada saat pembelajaran IPA, siswa menunjukkan sikap ceria Bentuk-bentuk sikap ceria siswa Siswa memperhatikan seluruh proses pembelajaran Siswa menyimak penjelasan guru Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Sikap siswa pada saat guru menerangkan Tanggapan siswa pada saat guru memberikan pertanyaan Siswa maju ke depan kelas untuk mengerjakan tugas Siswa terlibat pada saat mengerjakan tugas kelompok Siswa membaca atau mencari materi dari sumber lain Siswa berinisiatif untuk mempelajari kembali materi Siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi Siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran JUMLAH SISWA PERSENTASE Tabel 3 menunjukkan pedoman observasi yang mencakup indikator minat, yaitu: (1) siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA; (2) siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA; dan (4) siswa berinisiatif mencari informasi baru. Setiap indikator tersebut dijabarkan ke dalam pernyataan yang dapat diamati.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 2. Pedoman Wawancara ` Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara untuk memperoleh data dari guru dan juga siswa. Teknik wawancara terstruktur digunakan untuk memperoleh data dari guru sedangkan teknik wawancara tidak tersruktur digunakan untuk memperoleh data dari siswa. Wawancara terstruktur dilakukan untuk memperoleh informasi atau data tambahan mengenai minat siswa kelas V pada mata pelajaran IPA. Wawancara tidak tersruktur dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari siswa tentang minat siswa saat mengikuti pembelajaran IPA. Pedoman wawancara tersruktur untuk guru dapat dilihat pada Tabel 4.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 4 Pedoman Wawancara Guru INDIKATOR Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru PERTANYAAN Apakah pada saat pembelajaran IPA, siswa menunjukkan sikap ceria? Sikap ceria siswa tercermin dalam bentuk seperti apa? Apakah siswa memperhatikan seluruh proses pembelajaran? Apakah siswa menyimak penjelasan guru? Apakah siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru? Bagaimana sikap siswa pada saat guru menerangkan? Bagaimana tanggapan siswa pada saat guru memberikan pertanyaan? Apakah siswa maju ke depan kelas untuk mengerjakan tugas? Apakah siswa terlibat pada saat mengerjakan tugas kelompok? Apakah siswa membaca atau mencari materi dari sumber lain? Apakah siswa berinisiatif untuk mempelajari kembali materi? Apakah siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi? Apakah siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran? JAWABAN GURU Tabel 4 menunjukkan pedoman yang digunakan dalam wawancara. Pedoman wawancara tersebut memuat indikator minat yang masing-masing dijabarkan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada guru.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 3. Kuesioner Minat Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagi salah satu cara untuk mengukur minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. Kuesioner ini terdiri dari empat indikator. Indikator tersebut antara lain perasaan senang pada saat belajar IPA, perhatian pada saat pembelajaran IPA, keterlibatan siswa pada mata pelajaran IPA, dan inisiatif siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA. Kisi-kisi kuesioner yang dibagikan untuk siswa dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Kisi-Kisi Kuesioner Sebelum Validasi No 1. Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 2. Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA 3. Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA 4. Siswa berinisiatif mencari informasi baru Pernyataan Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Pada saat pembelajaran IPA, saya bersikap ceria Saya sudah siap di dalam kelas sebelum pelajaran IPA di mulai Saya tidak mengeluh pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengikuti pembelajaran IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran Saya menyimak penjelasan guru Saya tidak melamun saat pelajaran IPA Saya berkonsentrasi saat pelajaran IPA Saya mencatat penjelasan guru saat pelajaran IPA Saya melihat guru ketika guru sedang menjelaskan Saya menjawab pertanyaan guru Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok Saya memberikan pendapat saat diskusi kelompok Saya bekerja sama dengan kelompok Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Saya menanggapi penjelasan guru Saya belajar tanpa paksaan dari orang lain Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain Saya mau mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi Saya tertarik melakukan percobaan pada saat No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 No Indikator Pernyataan pembelajaran Saya membuat ringkasan tanpa diminta guru mengenai materi yang telah dipelajari 25 item pernyataan Jumlah No Item 25 Tabel 5 menunjukkan bahwa indikator minat yang digunakan dalam kuesioner adalah rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif. Keempat indikator tersebut dijabarkan ke dalam 25 item. 4. Instrumen Tes dan Non Tes Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal pilihan ganda. Soal pilihan ganda ini digunakan untuk memperoleh data prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA dalam aspek kognitif. Pada penelitian ini, peneliti membuat soal evaluasi dengan jumlah 30 nomor dengan kisi-kisi seperti pada Tabel 6. Tabel 6 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 1 Sebelum Validasi Mata Pelajaran Kelas Jumlah Soal Semester Satuan Pendidikan Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 4.1 Mendeskrips ikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunny a misalnya benang, kain dan kertas. JUMLAH SOAL : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) :V : 30 :I : SDK Kotabaru Yogyakarta : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Indikator No.Soal Menyebutkan 3 bahan penyusun suatu benda 14, 27, 30 Membedakan bahan penyusun suatu benda sesuai dengan strukturnya Menyebutkan 3 jenis kertas Menyebutkan 3 jenis kain Menyebutkan 3 jenis benang Mengidentifikasi sifat jenis-jenis kertas Mengidentifikasi sifat jenis-jenis kain Mengidentifikasi sifat jenis-jenis benang Membandingkan kekuatan beberapa bahan penyusun suatu benda Menentukan kegunaan bahan penyusun suatu benda 4, 13, 28 5, 12, 15 6, 25, 29 7, 24, 26 8, 16, 23 9, 17, 19 2, 18, 20 1, 11, 22 3, 10, 21 30

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Tabel 6 menunjukkan bahwa standar kompetensi yang digunakan untuk kisi-kisi soal evaluasi siklus 1 adalah memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses dengan kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya misalnya benang, kain dan kertas. Kompetensi dasar tersebut djabarkan ke dalam 10 indikator yang digunakan untuk menyusun item soal. Soal evaluasi yang disusun tersebut berjumlah 30 item. Kisi-kisi soal evaluasi untuk siklus 2 sebelum validasi dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2 Sebelum Validasi Mata Pelajaran Kelas Jumlah Soal Semester Satuan Pendidikan : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) :V : 30 :I : SD K Kotabaru 1Yogyakarta Standar Kompetensi : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. : 4.2 Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap No. Soal Indikator Kognitif Kompetensi Dasar Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pemanasan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pembakaran Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pendinginan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pencampuran dengan air Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pembusukan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui perkaratan Membedakan sifat perubahan tetap dan sementara 7, 14, 20, 25 1, 11, 17, 28, 30 6, 13, 19, 23 3, 9, 15, 26 5, 10, 16, 22 2, 12, 21, 24 4, 8, 18, 27, 29

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa setiap indikator telah dikembangkan pada nomor item pada soal evaluasi. Skor yang diperoleh siswa dapat dihitung menggunakan pedoman pada Tabel 8. Tabel 8 Pedoman Penghitungan Skor Soal Evaluasi No Jenis Soal 1 Pilihan Ganda Jumlah Soal Skor Maksimal Tiap Soal 1 20 Jumlah Jumlah Skor 20 20 Nilai Akhir = Jumlah Skor X 10 2 5. Rubrik Penilaian Instrumen selanjutnya yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah rubrik penilaian. Rubrik penilaian ini terdiri dari rubrik penilaian afektif dan rubrik penilaian psikomotor (melakukan percobaan). Pada siklus ini menggunakan 3 rubrik penilaian psikomotor yang digunakan pada pertemuan 1, pertemuan 2, peretmuan 3. Rubrik penilaian psikomotor pertemuan 1 dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Rubrik Penilaian Psikomotorik Pertemuan 1 Siklus 1 Rubrik Penilaian Psikomotorik Pertemuan 1 Indikator : • Melakukan percobaan dengan tepat No Nama Siswa Aspek yang dinilai Keruntutan Kelengkapan Pedoman Skoring : Keruntutan 3 = jika mengikuti 6 langkah kerja secara urut 2 = jika mengikuti 6 langkah kerja tidak urut 1 = jika tidak mengikuti 6 langkah kerja dan tidak urut Kelengkapan 3 = jika menyediakan 7 bahan 2 = jika menyediakan 6 bahan 1 = jika menyediakan < 6 bahan 1 Skor 2 3

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Rubrik penilaian psikomotor 1 menilai aktivitas siswa dalam melakukan percobaan tentang jenis dan bahan penyusun suatu benda. Rubrik penilaian psikomotor 2 dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Rubrik Penilaian Psikomotor Pertemuan 2 Siklus 1 Indikator : • Melakukan percobaan dengan tepat No Nama Siswa Aspek yang dinilai 1 Skor 2 3 Keruntutan Kelengkapan Pedoman Skoring : Keruntutan 3 = jika siswa mengikuti 10 langkah kerja secara urut 2 = jika siswa mengikuti 10 langkah kerja secara tidak urut 1 = jika tidak mengikuti 10 langkah kerja dan tidak urut Kelengkapan 3 = jika menyediakan 4 alat dan 11 bahan 2 = jika menyediakan kurang dari 4 alat dan 11 bahan atau 4 alat dan kurang dari 11 bahan 1 = jika menyediakan kurang dari 4 alat dan kurang dari 11 bahan Pada pertemuan ketiga, peneliti menggunakan rubrik penilaian psikomotor 3 untuk menilai aktivitas siswa kelas V SD K Kotabaru 1 dalam melakukan percobaan yang berhubungan dengan perbandingan kekuatan benang. Rubrik penilaian psikomotor 3 dapat dilihat pada Tabel 11.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tabel 11 Rubrik Penilaian Psikomotor 3 Pertemuan 1 Siklus 1 Indikator : Melakukan percobaan dengan tepat. No Nama Siswa Aspek yang dinilai 1 Skor 2 3 Keruntutan Kelengkapan Pedoman Skoring : 1.Keruntutan 3 = jika mengikuti 6 langkah kerja secara urut 2 = jika mengikuti 6 langkah kerja tetapi tidak urut 1 = jika tidak mengikuti 6 langkah kerja dan tidak urut 2.Kelengkapan 3 = jika menyediakan 3 alat dan 3 bahan secara lengkap 2 = jika menyediakan 3 alat dan 2 bahan atau 2 alat dan 3 bahan 1 = jika menyediakan kurang dari 3 alat dan 2 bahan atau kurang dari 2 alat dan 3 bahan Instrumen lain yang digunakan dalam menilai prestasi siswa adalah rubrik penilaian afektif dengan satu indikator yaitu menunjukkan minat dalam pembelajaran dimana selama tiga pertemuan dalam satu siklus penelitian peneliti mempunyai satu rubrik penilaian afektif yang dapat digunakan untuk menilai sikap siswa SD Kanisius Kotabaru selama tiga pertemuan. Rubrik penilaian afektif ini dapat dilihat pada Tabel 12.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Tabel 12 Rubrik Penilaian Afektif Siklus 1 Indikator : Bekerjasama dengan teman kelompok Skor No Nama Siswa Kekompakan 1 2 g Aspek Skor 3 Kekompakan jika dapat menyelesaikan tugas bersama semua anggota kelompok Partisipasi jika ikut dalam mengerjakan tugas kelompok 3 Partisipasi 1 2 3 Skor total Nilai Skor 2 Skor 1 jika dapat menyelesaikan jika dapat tugas bersama sebagian menyelesaikan tugas anggota kelompok tapi tanpa bantuan anggota lain dalam kelompok jika kadang-kadang ikut jika tidak ikut dalam dalam mengerjakan tugas mengerjakan tugas kelompok kelompok Tabel 12 menunjukkan bahwa indikator penilaian dalam rubrik afektif pada siklus 1 adalah bekerja sama dengan teman kelompok. Penskoran dilakukan dengan menggunakan pedoman skoring yang memuat kekompakan dan partisipasi. Jumlah skor maksimal yang diperoleh adalah 6. Penilaian psikomotor juga dilakukan pada siklus 2. Rubrik psikomotor yang digunakan pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 13.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel 13 Rubrik Penilaian Psikomotor Siklus 2 Indikator : Mempresentasikan hasil percobaan yang berkaitan dengan perubahan sifat benda Skor Skor Kejelasan Kelengkapan No Nama Siswa Nilai total 1 2 3 1 2 3 Pedoman Skoring : Aspek Kejelasan Kelengkapan Skor 3 Jika siswa mampu menyampaiakan presentasi dengan ucapan yang jelas dan dapat dipahami oleh teman lain Jika dapat menjelaskan hasil dari 3 aktivitas yang telah dilakukan dengan tepat Skor 2 Jika salah satu aspek tidak terpenuhi Skor 1 Jika tidak ada aspek yang terpenuhi Jika hanya dapat menjelaskan hasil dari 2 aktivitas yang telah dilakukan dengan tepat Jika hanya dapat menjelaskan hasil dari 1 aktivitas yang telah dilakukan dengan tepat Tabel 13 menunjukkan bahwa indikator penilaian dalam rubrik psikomotor pada siklus 2 adalah mempresentasikan hasil percobaan yang berkaitan dengan perubahan sifat benda. Penskoran dilakukan dengan pedoman skoring memuat kejelasan dan kelengkapan. Rubrik afektif yang digunakan untuk aspek afektif pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 14.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Tabel 14 Rubrik Penilaian Afektif Siklus 2 Indikator : Menghargai pendapat teman No Nama Siswa Pedoman Skoring Skor 3 Jika siswa memperhatikan teman yang sedang mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan memberikan tanggapan 1 Skor 2 3 Skor 2 Jika siswa memperhatikan teman yang sedang mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas Skor Total Nilai Skor 1 Jika siswa tidak memperhatikan teman yang sedang mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan melakukan aktivitas lain (ngobrol, bermain) Tabel 14 menunjukkan bahwa indikator penilaian dalam rubrik afektif pada siklus 2 adalah menghargai pendapat teman. Penskoran dilakukan dengan memberikan skor 1, 2, atau 3 sesuai dengan pedoman skoring yang telah disusun. Oleh karena itu, rubrik penilaian afektif pada siklus 2 memiliki jumlah skor maksimal 3. G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Azwar (2010:5) menjelaskan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Validasi yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah content validity, face validity, dan construct validity. Margono (2010:188) menjelaskan bahwa content validity menunjuk kepada suatu instrumen yang

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 memiliki kesesuaian isi dalam mengungkap/mengukur yang akan diukur yang biasanya didasarkan pada penilaian para ahli di bidang tersebut. Margono (2010:188) juga menjelaskan bahwa face validity atau validitas tampang memiliki arti menyangkut pengukuran atribut yang konkret atau penilaian dari konsumen alat ukur tersebut. Siregar (2010:163) menjelaskan bahwa contruct validity adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukur. Instrumen yang divalidasi adalah silabus, RPP, lembar evaluasi, dan kuesioner. Lembar observasi dan wawancara divalidasi dengan face validity dengan meminta pendapat dari dosen ahli. Hasil face validity menunjukkan bahwa lembar observasi dan wawacara telah mencakup indikator minat belajar dan dapat digunakan dalam penelitian. Jadi, peneliti tidak melakukan revisi terhadap lembar observasi dan wawancara. Kuesioner minat belajar divalidasi dengan face validity dan construct validity. Peneliti melakukan construct validity terhadap kuesioner minat dengan melakukan uji coba kuesioner pada 30 siswa kelas VI di SD Negeri Nototirto. Jenis data dari kuesioner minat adalah data interval, sehingga untuk mengukur validitasnya digunakan Product Moment dari Pearson dengan bantuan SPSS 16.0. Rumus Product Moment adalah sebagai berikut. Keterangan : rxy = koefisien relasi ∑x = jumlah skor variabel x

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 ∑y = jumlah skor variabel y ∑xy = jumlah hasil kali skor variabel x dan variabel y ∑x2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel x ∑y2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel y N = banyakknya subjek penelitian Sugiyono (2012:455) menjelaskan bahwa n=30 memiliki rtabel = 0,361 dengan taraf signifikan 5%, sehingga instrumen tersebut valid, jika rhitung ≥0,361. Penentuan valid tidaknya item juga dilakukan dengan melihat simbol asterisk. Hasil perhitungan Product Moment dari Pearson dengan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 13 dan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6. Tabel 15 Perhitungan SPSS untuk Kuesioner No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 r hitung 0,485** 0,651** 0,406* 0,515** 0,378* 0,522** 0,430* 0,523** 0,527** 0,545** 0,746** 0,637** 0,323 0,686** 0,514** 0,277 0,536** 0,368* 0,421* 0,486** 0,508** 0,619** 0,559** 0,383* 0,585** r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Tabel 15 menunjukkan bahwa ada 2 item yang tidak valid yaitu item nomor 13 dan 16. Ada 23 item yang valid, sehingga kuesioner minat yang digunakan dalam penelitian ada 23 item. Kisi-kisi kuesioner yang telah divalidasi dan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 16. Tabel 16 Kisi-kisi Kuesioner Minat Setelah Validasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Item Valid Pernyataan Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Pada saat pembelajaran IPA, saya bersikap ceria Saya sudah siap di dalam kelas sebelum pelajaran IPA di mulai Saya tidak mengeluh pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengikuti pembelajaran IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran Saya menyimak penjelasan guru Saya tidak melamun saat pelajaran IPA Saya berkonsentrasi saat pelajaran IPA Saya mencatat penjelasan guru saat pelajaran IPA Saya menjawab pertanyaan guru Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok Saya bekerja sama dengan kelompok Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Saya menanggapi penjelasan guru Saya belajar tanpa paksaan dari orang lain Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain Saya mau mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi Saya tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran No 1 Item Tidak Valid Pernyataan No - 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Saya melihat guru ketika guru sedang menjelaskan 13 Saya memberikan pendapat saat diskusi kelompok 16 12 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 -

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Saya membuat ringkasan tanpa diminta guru mengenai materi yang telah dipelajari 25 Tabel 16 menunjukkan bahwa dari 25 item minat ada 2 item yang tidak valid, yaitu item nomor 13 dan 16. Jadi, item kuesioner yang digunakan untuk penelitian ada 23 yang mencakup keempat indikator minat. Peneliti melakukan uji validitas terhadap lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini dengan face validity. Face validity dilakukan dengan meminta pendapat dosen ahli terhadap lembar observasi yang telah disusun. Hasil face validity menunjukkan bahwa lembar observasi tidak memerlukan perbaikan, sehingga peneliti tidak melakukan revisi terhadap lembar evaluasi. Peneliti melakukan face validity terhadap kuesioner minat dengan menunjukkan kuesioner dan meminta siswa untuk memberikan pendapat mengenai item kuesioner minat. Peneliti melakukan uji validitas terhadap silabus pada siklus 1 dan 2 dengan content validity dan face validity. Content validity dilakukan dengan meminta pendapat experts judgment, yaitu dosen ahli, kepala sekolah, dan guru. Pendapat ini berupa penilaian dan komentar yang diberikan pada rubrik validasi desain pembelajaran. Dalam penilaian silabus, ada tujuh komponen yang dinilai, yaitu : (1) kelengkapan komponen silabus ; (2) kesesuaian antara SK,KD, dan Indikator ; (3) kesistematisan langkah-langkah pembelajaran ; (4) kesesuaian alokasi waktu dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran ; (5) kelengkapan sumber belajar yang digunakan ; (6) kesesuaian teknik penilaian dengan indikator ; dan (7) penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku. Hasil penghitungan validasi silabus dapat dilihat pada Tabel 17.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Tabel 17 Hasil Penghitungan Content Validity Silabus Siklus 1 No Komponen Penilaian 1 2 3 4 Kelengkapan komponen silabus Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator Kesistematisan langkah-langkah pembelajaran Kesesuaian alokasi waktu dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran 5 Kelengkapan sumber belajar yang digunakan 6 Kesesuaian teknik penilaian dengan indikator 7 Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Rata-rata 4 5 4 Validator Kepala sekolah 5 5 4 4 5 4 4,33 4 4 5 4 4 4 4,33 4 4 4 4 4 4,15 4,57 4,28 4,33 Dosen Guru Ratarata 5 5 4 4,67 5 4 Tabel 18 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap silabus siklus 1 adalah 4,33. Hasil tersebut menunjukkan bahwa silabus yang sudah dirancang sudah baik dan tidak memrlukan perbaikan. Hasil validasi untuk silabus pada siklus 2 dari ketiga ahli menunjukkan perolehan skor penilaian yang dapat dilihat pada tabel 18. Tabel 18. Hasil Content Validity Silabus Siklus 2 No 1 2 3 4 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen silabus Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator Kesistematisan langkah-langkah pembelajaran Kesesuaian alokasi waktu dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran 5 Kelengkapan sumber belajar yang digunakan 6 Kesesuaian teknik penilaian dengan indikator 7 Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Rata-rata 4 5 4 Validator Kepala sekolah 5 5 5 5 4 4 4,33 4 5 5 4,57 4 4 4 4,43 5 5 5 4,71 4,33 4,67 4,67 4,57 Dosen Guru Ratarata 5 5 4 4,67 5 4,33 Tabel 18 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap silabus pada siklus 2 adalah 4,57. Hasil tersebut menunjukkan bahwa silabus pada siklus 2 yang dirancang sudah baik dan tidak memerlukan perbaikan secara kuantitatif.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Silabus yang telah direvisi berdasarkan hasil content validity kemudian divalidasi dengan face validity. Face validity dilakukan dengan cara meminta guru untuk melihat silabus pada siklus 1 dan 2 secara tampilan. Hasil face validity menunjukkan bahwa silabus pada siklus 1 dan 2 tidak memerlukan perbaikan dan dapat digunakan untuk penelitian. Peneliti melakukan uji validitas terhadap RPP pada siklus 1 dan 2 dengan content validity dan face validity. Content validity terhadap RPP dilakukan dengan meminta pendapat experts judgment, yaitu dosen ahli, kepala sekolah, dan guru. Pendapat ini berupa penilaian dan komentar yang diberikan pada rubrik validasi desain pembelajaran. Panduan penilaian RPP pada validasi mencakup 12 komponen, yaitu pada penilaian RPP mencakup 12 komponen, yaitu kelengkapan komponen RPP, kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD, kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator, kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD, ketepatan pemilihan model atau metode pembelajaran, tingkat kesesuaian langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode, kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai, kelengkapan sumber belajar yang digunakan, kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar, kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran, kelengkapan instrument penilaian, penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku. Instrumen penilaian RPP dapat dilihat pada Tabel 19.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Tabel 19 Hasil Content Validity RPP Siklus 1 No Komponen Penilaian 1 2 Kelengkapan komponen RPP Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD 3 Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator 4 Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD 5 Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran 6 Tingkat kesesuaian langkah-langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode 7 Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai 8 Kelengkapan sumber belajar yang digunakan 9 Kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar 10 Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran 11 Kelengkapan instrument penilaian 12 Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku Rata-rata 5 5 Validator Kepala Sekolah 4 5 5 4 5 4,67 4 4 4 4 5 4 5 4 4 4,33 4,33 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4,67 4,67 4 4 4 4,33 4 4 4,25 4 4 4,25 4 4 4,33 Dosen Guru Ratarata 4 5 4,33 5 Tabel 19 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap RPP adalah 4,33. Hasil tersebut menunjukkan bahwa RPP pad siklus 1 yang sudah dirancang sudah baik dan tidak memerlukan perbaikan. Hasil validasi untuk RPP pada siklus 2 yang diperoleh dari ketiga ahli menunjukkan perolehan skor penilaian dapat dilihat pada tabel 20.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Tabel 20 Hasil Content Validity RPP Siklus 2 No 1 2 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen RPP Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD 3 Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator 4 Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD 5 Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran 6 Tingkat kesesuaian langkah-langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode 7 Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai 8 Kelengkapan sumber belajar yang digunakan 9 Kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar 10 Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran 11 Kelengkapan instrument penilaian 12 Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku Rata-rata 5 5 Validator Kepala Sekolah 4 5 5 4 5 4,67 4 4 4 4 5 4 5 4 4 4,33 4,33 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4,67 4 4 4 4 4,33 4 4 4,25 4 4 4,33 4 4 4,3 Dosen Guru Ratarata 5 5 4,67 5 Tabel 20 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap RPP adalah 4,3. Hasil tersebut menunjukkan bahwa RPP pada siklus 1 yang dirancang sudah baik dan secara kuantitatif tidak memerlukan perbaikan. RPP yang telah direvisi berdasarkan hasil content validity divalidasi dengan face validity. Face validity dilakukan dengan meminta guru melihat RPP yang digunakan untuk siklus 1 dan siklus 2 secara tampilan. Hasil validasi menunjukkan bahwa RPP tidak memerlukan perbaikan dan dapat digunakan untuk penelitian. Peneliti melakukan uji validasi terhadap soal evaluasi pada siklus 1 dan 2 dengan content validity, face validity, dan contruct validity. Content validity terhadap soal evaluasi dilakukan dengan meminta pendapat experts judgment

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 yaitu dosen ahli, kepala sekolah, dan guru. Hasil content validity menunjukkan perolehan skor penilaian yang dapat dilihat pada tabel 21. Tabel 21 Hasil Content Validity Soal Evaluasi Siklus 1 No Komponen Penilaian Dosen 1 Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator 2 Kejelasan instruksi dalam soal evaluasi 3 Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa 4 Pembobotan item soal dan penyebarannya 5 Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku 6 Ketepatan penggunaan opsi jawaban Rata-rata 5 Validator Kepala Guru Sekolah 5 5 Rata -rata 5 4 5 5 4,67 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4,17 4 4,33 4 4,33 4 4,27 Tabel 21 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap soal evaluasi pada siklus 1 adalah 4,27. Hasil tersebut menunjukkan bahwa soal evaluasi pada siklus 1 yang dirancang sudah baik dan tidak memerlukan perbaikan. Hasil validasi soal evaluasi pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 22. Tabel 22 Hasil Content Validity Soal Evaluasi Siklus 2 No Komponen Penilaian 1 2 3 4 5 Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator Kejelasan instruksi dalam soal evaluasi Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa Pembobotan item soal dan penyebarannya Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Dosen 5 Validator Kepala Guru Sekola h 4 5 Ratarata 4,67 5 4 5 4,67 4 4 4 4 4 4 5 4,33 4 5 5 4,33

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 6 Ketepatan penggunaan opsi jawaban Rata-rata 4 4,33 4 4,17 5 4,83 4,33 4,39 Tabel 22 menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian terhadap soal evaluasi pada siklus 2 adalah 4,39. Hasil tersebut menunjukkan bahwa soal evaluasi tidak memerlukan perbaikan. Hasil content validity dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 6. Soal evaluasi pada siklus 1 dan 2 juga divalidasi dengan face validity. Face validity dilakukan dengan menunjukkan soal evaluasi kepada 2 siswa yang bukan menjadi subjek penelitian dan melakukan wawancara mengenai soal evaluasi tersebut. Peneliti melakukan construct validity terhadap soal evaluasi pada siklus 1 dan 2 melalui uji coba instrumen. Uji coba soal evaluasi dilakukan di SD Negeri Nogotirto karena adanya kesamaan karakteristik. Jenis data dari soal evaluasi adalah data nominal, sehingga untuk mengukur validitasnya digunakan Point Biserial. Surapranata (2009) menjelaskan bahwa Point Biserial adalah “korelasi product moment yang diterapkan pada data, dimana variabel-variabel yang dikorelasikan sifatnya masing-masing berbeda satu sama lain” (hlm.61). Rumus Point Biserial adalah sebagai berikut : Keterangan: rbis= Koefisien korelasi biserial Mp = rerata skor pada tes dari peserta tes yang memiliki jawaban benar Mt = rerata skor total St = standar deviasi skor total p = proporsi peserta tes yang jawabannya benar pada soal (tingkat kesukaran) q = 1-p

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Peneliti melakukan perhitungan statistik untuk menentukan Point Bisersial dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.0. Item yang benar diberi skor satu (1) dan salah diberi skor nol (0). Penentuan valid tidaknya instrumen dilakukan dengan membandingkan rhitung dengan rtabel. Sugiono (2012:455) menjelaskan bahwa N=30 memiliki rtabel = 0,361 dengan taraf signifikan 5%. Oleh karena itu, instrumen tersebut valid, jika rhitung ≥0,361. Suryani (2013:94) menjelaskan bahwa penentuan valid tidaknya instrumen juga dilakukan dengan melihat flag significant correlations. Jika koefisien korelasi teridentifikasi akan diberi simbol asterisk tunggal (*) pada taraf signifikan 5% dan simbol dua asterisk (**) pada taraf signifikan 1%. Hasil perhitungan validasi soal evaluasi siklus 1 dapat dilihat pada tabel 23 dan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Tabel 23 Perhitungan SPSS untuk Soal Evaluasi Siklus 1 No Item rPb hitung rPb tabel Keputusan 1 0,896** 0,361 Valid 2 0,729** 0,361 Valid 3 0,896** 0,361 Valid 4 0,182 0,361 Tidak valid 5 0,572** 0,361 Valid 6 0,447* 0,361 Valid 7 0,532** 0,361 Valid 8 0,666** 0,361 Valid 9 0,225 0,361 Tidak valid 10 -0,343 0,361 Tidak valid 11 0,666** 0,361 Valid 12 0,896** 0,361 Valid 13 0,896** 0,361 Valid 14 0,110 0,361 Tidak valid 15 0,055 0,361 Tidak valid 16 -0,146 0,361 Tidak valid 17 0,729** 0,361 Valid 18 0,225 0,361 Tidak valid 19 0,387* 0,361 Valid 20 0,332 0,361 Tidak valid 21 0,532** 0,361 Valid 22 0,141 0,361 Tidak valid 23 0,532** 0,361 Valid 24 0,896** 0,361 Valid 25 0,447* 0,361 Valid 26 0,026 0,361 Tidak valid 27 0,666** 0,361 Valid 28 0,896** 0,361 Valid 29 0,896** 0,361 Valid 30 0,532** 0,361 Valid Tabel 23 menunjukkan bahwa ada 10 soal yang tidak valid pada hasil validasi soal evaluasi untuk siklus 1, yaitu soal nomor 4, 9, 10, 14, 15, 16, 18, 20,

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 22, dan 26. Ada 20 soal yang valid, sehingga soal yang digunakan untuk penelitian pada siklus 1 ada 20 item. Kisi-kisi soal evaluasi setelah divalidasi yang digunakan untuk penelitian siklus 1 dapat dilihat pada tabel 24. Tabel 24 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 1 Setelah Validasi Standar Kompetensi : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Kompetensi Dasar : 4.1 Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya misalnya benang, kain dan kertas. No. Soal Indikator Kognitif Sesudah Validasi Sebelum Validasi Tidak valid Valid Menyebutkan tiga bahan penyusun 14, 27, 30 14 27, 30 suatu benda Membedakan bahan penyusun suatu 4, 13, 28 4 13, 28 benda sesuai dengan strukturnya Menyebutkan tiga jenis kertas 5, 12, 15 15 5, 12 Menyebutkan tiga jenis kain 6, 25, 29 6, 25,29 Menyebutkan tiga jenis benang 7, 24, 26 26 7, 24 Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis 8, 16, 23 16 8, 23 kertas Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis 9, 17, 19 9 17, 19 kain Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis 2, 18, 20 18, 20 2 benang Membandingkan kekuatan beberapa 1, 11, 22 1, 11 bahan penyusun suatu benda Menentukan kegunaan bahan 3, 10, 21 10 3, 21 penyusun suatu benda Tabel 24 menunjukkan bahwa dari 30 soal ada 10 soal yang tidak valid. Item yang tidak valid tidak dapat digunakan dalam penelitian. Oleh karena itu, soal evaluasi yang digunakan pada siklus 1 ada 20 item. Hasil validasi soal

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 evaluasi untuk siklus 2 dapat dilihat pada tabel 25 dan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6. Tabel 25 Perhitungan SPSS untuk Soal Evaluasi Siklus 2 No Item rPb hitung rPb tabel 1 0,378* 0,361 2 0,621** 0,361 3 0,444* 0,361 4 0,443* 0,361 5 0,595** 0,361 6 -0,146 0,361 7 0,607** 0,361 8 -0,159 0,361 9 0,017 0,361 10 0,607** 0,361 11 0,444* 0,361 12 0,595** 0,361 13 0,780** 0,361 14 -0,179 0,361 15 0,443* 0,361 16 0,595** 0,361 17 0,125 0,361 18 0,780** 0,361 19 0,607** 0,361 20 0,780** 0,361 21 0,621** 0,361 22 -0,170 0,361 23 0,378* 0,361 24 -0,230 0,361 25 0,444* 0,361 26 0,621** 0,361 27 -0,144 0,361 28 -0,170 0,361 29 0,780** 0,361 30 -0,124 0,361 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Tabel 25 menunjukkan bahwa ada 10 soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 6, 8, 9, 14, 17, 22, 24, 27, 28, dan 30. Ada 20 soal yang valid, sehingga soal yang digunakan untuk penelitian pada siklus 2 ada 20 item. Kisi-kisi soal evaluasi setelah divalidasi yang digunakan untuk penelitian pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 26. Tabel 26 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2 Setelah Validasi Standar Kompetensi : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Kompetensi Dasar : 4.2 Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap Indikator Kognitif Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pemanasan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pembakaran Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pendinginan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pencampuran dengan air Menyebutkan perubahan sifat benda melalui pembusukan Menyebutkan perubahan sifat benda melalui perkaratan Membedakan sifat perubahan tetap dan sementara Sebelum Validasi No. Soal Sesudah Validasi Tidak Valid valid 7, 14, 20, 25 25 7, 14, 20 1, 11, 17, 28, 30 28, 30 1, 11, 17 6, 13, 19, 23 23 6, 13, 19 3, 9, 15, 26 26 3, 9, 15 5, 10, 16, 22 22 5, 10, 16 2, 12, 21, 24 24 2, 12, 21 4, 8, 18, 27, 29 27, 29 4, 8, 18 Tabel 26 menunjukkan bahwa soal evaluasi yang digunakan pada siklus 2 ada ada 10 item yang tidak valid, sehingga soal yang digunakan ada 20 item.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Kuesioner minat belajar juga divalidasi dengan face validity dan construct validity. Peneliti melakukan face validity terhadap kuesioner minat dengan menunjukkan kuesioner dan meminta siswa untuk memberikan pendapat mengenai item kuesioner minat. Peneliti melakukan construct validity terhadap kuesioner minat dengan melakukan uji coba kuesioner pada 30 siswa kelas VI di SD Negeri Nototirto. Jenis data dari kuesioner minat adalah data interval, sehingga untuk mengukur validitasnya digunakan Product Moment dari Pearson dengan bantuan SPSS 16.0. Rumus Product Moment adalah sebagai berikut. Keterangan : rxy = koefisien relasi ∑x = jumlah skor variabel x ∑y = jumlah skor variabel y ∑xy = jumlah hasil kali skor variabel x dan variabel y ∑x2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel x ∑y2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel y N = banyakknya subjek penelitian Sugiono (2012:455) menjelaskan bahwa N=30 memiliki rtabel = 0,361 dengan taraf signifikan 5%, sehingga instrumen tersebut valid, jika rhitung ≥0,361. Penentuan valid tidaknya item juga dilakukan dengan melihat simbol asterisk. Hasil perhitungan Product Moment dari Pearson dengan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 27 dan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Tabel 27 Perhitungan SPSS untuk Kuesioner No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 r hitung 0,485** 0,651** 0,406* 0,515** 0,378* 0,522** 0,430* 0,523** 0,527** 0,545** 0,746** 0,637** 0,323 0,686** 0,514** 0,277 0,536** 0,368* 0,421* 0,486** 0,508** 0,619** 0,559** 0,383* 0,585** r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 27 menunjukkan bahwa ada 2 item yang tidak valid yaitu item nomor 13 dan 16. Ada 23 item yang valid, sehingga kuesioner minat yang digunakan dalam penelitian ada 23 item. Kisi-kisi kuesioner yang telah divalidasi dan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 28.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Tabel 28 Kisi-kisi Kuesioner Minat Setelah Validasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Item Valid Pernyataan Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Pada saat pembelajaran IPA, saya bersikap ceria Saya sudah siap di dalam kelas sebelum pelajaran IPA di mulai Saya tidak mengeluh pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengikuti pembelajaran IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran Saya menyimak penjelasan guru Saya tidak melamun saat pelajaran IPA Saya berkonsentrasi saat pelajaran IPA Saya mencatat penjelasan guru saat pelajaran IPA Saya menjawab pertanyaan guru Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok Saya bekerja sama dengan kelompok Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Saya menanggapi penjelasan guru Saya belajar tanpa paksaan dari orang lain Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain Saya mau mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi Saya tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran Saya membuat ringkasan tanpa diminta guru mengenai materi yang telah dipelajari No 1 Item Tidak Valid Pernyataan No - 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Saya melihat guru ketika guru sedang menjelaskan 13 Saya memberikan pendapat saat diskusi kelompok 16 12 14 15 17 18 19 20 - 21 22 23 24 25 Tabel 28 menunjukkan bahwa dari 25 item minat ada 2 item yang tidak valid, yaitu item nomor 13 dan 16. Jadi, item kuesioner yang digunakan untuk penelitian ada 23 yang mencakup keempat indikator minat.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 2. Reliabilitas Reliabilitas adalah suatu metode yang mempelajari, mengidentifikasi, dan mengestimasi keajegan atau ketidakajegan skor tes (Surapranata, 2009:86). Dalam menghitung reliabilitas dari kuesioner dan soal evaluasi, peneliti akan menggunakan SPSS 16 yang akan membantu peneliti mengetahui keajegan dari item kuesioner dan soal evaluasi yang diberikan kepada siswa. Tabel koefisien reliabilitas menurut Masidjo (1995:209) akan membantu peneliti untuk mengukur tingkat keajegan item dalam soal evaluasi dan kuesioner. Tabel koefisien reliabilitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 29. Tabel 29 Koefisien Reliabilitas Koefisien Korelasi 0,91- 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20 Kualifikasi Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah Tabel 29 menunjukkan bahwa apabila diperoleh koefisien relasi 0,91-1,00 maka reliabilitas sangat tinggi. Jika diperoleh koefisien korelasi 0,71-0,90, maka reliabilitas tinggi. Jika diperoleh koefisien korelasi 0,41-0,70, maka reliabilitas cukup. Jika diperoleh koefisien korelasi 0,21-0,40, maka reliabilitas rendah. Jika diperoleh koefisien korelasi negatif-0,02, maka reliabilitas sangat rendah. Hasil perhitungan reliabilitas dari kuesioner minat dengan bantuan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 30 dan selengkapnya pada lampiran 7.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Perhitungan reliabilitas dilakukan pada soal evaluasi siklus 1 dan 2, serta kuesioner minat. Hasil perhitungan reliabilitas dari soal evaluasi untuk siklus 1 dengan bantuan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 30. Tabel 30 Perhitungan Reliabilitas Kuesioner Minat Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .879 23 Tabel 26 menunjukkan bahwa reliabilitas dari kuesioner minat adalah 0,879. Hasil reliabilatas kuesioner minat tersebut termasuk kategori tinggi, sehingga dapat digunakan untuk penelitian. Perhitungan reliabilitas dilakukan pada soal evaluasi siklus 1 dan 2, serta kuesioner minat. Hasil perhitungan reliabilitas dari soal evaluasi untuk siklus 1 dengan bantuan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 31 dan selengkapnya pada lampiran 7. Tabel 31 Perhitungan Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus 1 Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .949 20 Tabel 31 menunjukkan bahwa reliabilitas soal evaluasi siklus 1 adalah 0,949. Hasil reliabilitas soal evaluasi siklus 1 tersebut termasuk kategori sangat tinggi, sehingga dapat digunakan untuk penelitian. Hasil perhitungan reliabilitas dari soal evaluasi untuk siklus 2 dengan bantuan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 32 dan selengkapnya pada lampiran 7.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Tabel 32 Perhitungan Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus 2 Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .903 20 Tabel 32 menunjukkan bahwa reliabilitas soal evaluasi pada siklus 2 adalah 0,903. Hasil reliabilitas soal evaluasi siklus 2 tersebut termasuk kategori tinggi, sehingga dapat digunakan untuk penelitian. 3. Indeks Kesukaran Menurut Rachmat dan Suherdi (2001:190) atau yang biasa disebut dengan difficulty index adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kesulitan soal untuk diselesaikan oleh siswa. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kesukaran soal adalah dengan menghitung presentase jawaban benar yang diberikan oleh siswa saat mengerjakan soal-soal. Rachmat dan Suherdi (2001:193) mengatakan bahwa kriteria yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran dapat dilihat pada Tabel 33. Tabel 33 Tingkat Kesukaran Indeks 0-0,30 0,31-0,70 0,71-1,00 Kategori Sukar Sedang Mudah

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Tabel 33 menunjukkan bahwa jika diperoleh indeks kesukaran 0-30, maka soal tersebut sukar. Jika diperoleh indeks kesukaran 0,31-0,70, maka soal tersebut sedang. Jika diperoleh indeks kesukaran 0,71-1,00, maka soal tersebut mudah. Indeks kesukaran ditentukan dengan rumus berikut. IK = Indeks Kesukaran = Banyaknya siswa yang menjawab benar Sm = skor maksimal tiap item N = Jumlah siswa Indeks kesukaran soal evaluasi siklus 1 dan 2 dilakukan pada 30 siswa di SD Negeri Nogotirto. Hasil perhitungan indeks kesukaran soal evaluasi untuk siklus 1 dapat dilihat pada tabel 34.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Tabel 34 Indeks Kesukaran Soal Siklus 1 No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 IK 0,90 0,93 0,90 0,40 0,97 0,93 0,90 0,93 0,70 0,67 0,93 0,90 0,90 0,77 0,80 0,90 0,93 0,70 0,90 0,63 0,90 0,67 0,90 0,90 0,93 0,60 0,93 0,90 0,90 0,90 Keterangan Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Sedang Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Tabel 33 menunjukkan bahwa ada 6 item soal yang indeks kesukarannya sedang dan 24 soal yang indeks kesukarannya mudah. Kisi-kisi soal evaluasi pada siklus 1 yang memuat tingkat kesukaran dapat dilihat pada tabel 35.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Tabel 35 Kisi-kisi Indeks Kesukaran pada Soal Evaluasi Siklus 1 Standar Kompetensi : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Kompetensi Dasar : 4.1 Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya misalnya benang, kain dan kertas. No. Tingkat Kesukaran Indikator Kognitif Soal Mudah Sedang Sukar Menyebutkan tiga bahan penyusun suatu benda 14 √ 27 √ 30 √ Membedakan bahan penyusun suatu benda sesuai 4 √ dengan strukturnya 13 √ 28 √ Menyebutkan tiga jenis kertas 5 √ 12 √ 15 √ Menyebutkan tiga jenis kain 6 √ 25 √ 29 √ Menyebutkan tiga jenis benang 7 √ 24 √ 26 √ Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis kertas 8 √ 16 √ 23 √ Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis kain 9 √ √ 17 √ 19 Mengidentifikasi tiga sifat setiap jenis benang 2 √ 18 √ 20 √ Membandingkan kekuatan beberapa bahan 1 √ penyusun suatu benda 11 √ 22 √ Menentukan kegunaan bahan penyusun suatu 3 √ √ benda 10 √ 21 Tabel 35 menunjukkan bahwa kisi-kisi soal evaluasi siklus 1 memiliki 6 soal dengan tingkat kesukaran sedang dan 24 soal dengan tingkat kesukaran

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 mudah. Hasil perhitungan indeks kesukaran soal evaluasi untuk siklus 2 dapat dilihat pada tabel 36. Tabel 36 Indeks Kesukaran Soal Siklus 2 No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 IK 0,97 0,87 0,77 0,87 0,73 0,83 0,70 0,50 0,83 0,70 0,77 0,73 0,50 0,90 0,87 0,73 0,97 0,50 0,70 0,50 0,87 0,97 0,97 0,90 0,77 0,87 0,50 0,97 0,50 0,73 Keterangan Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Sedang Mudah Sedang Mudah Mudah Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Sedang Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Sedang Mudah

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Tabel 36 menunjukkan bahwa ada 21 soal yang indeks kesukarannya mudah dan 9 soal yang indeks kesukarannya sedang. Kisi-kisi soal evaluasi pada siklus 2 yang memuat tingkat kesukaran dapat dilihat pada tabel 37. Tabel 37 Kisi-kisi Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus 2 Standar Kompetensi : 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Kompetensi Dasar : 4.2 Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap No. Soal Tingkat Kesukaran Indikator Kognitif Mudah Sedang Sukar 7 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 14 √ 20 √ pemanasan 25 √ 1 √ 11 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 17 √ pembakaran 28 √ 30 6 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 13 √ pendinginan √ 19 23 √ 3 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 9 √ pencampuran dengan air 15 √ 26 √ 5 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 10 √ pembusukan 16 √ √ 22 2 √ Menyebutkan perubahan sifat benda melalui 12 √ perkaratan 21 √ 24 √ 4 √ √ 8 Membedakan sifat perubahan tetap dan √ 18 sementara √ 27 √ 29

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Tabel 37 menunjukkan bahwa kisi-kisi soal dengan standar kompetensi memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses dan kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya misalnya benang, kain, dan kertas memiliki 9 soal dengan tingkat kesukaran sedang dan 21 soal dengan tingkat kesukaran mudah. H. Teknik Analisis Data 1. Analisis Minat Belajar Kuesioner minat dalam penelitian ini memiliki skor untuk setiap jawaban. Skor untuk jawaban sangat setuju adalah 5, setuju adalah 4, ragu-ragu adalah 3, tidak setuju adalah 2, dan sangat tidak setuju adalah 1. Skor tersebut digunakan dalam perhitungan untuk menentukan kategori minat. Penentuan kategori minat dilakukan dengan menggunakan PAP tipe 1. Oleh karena itu, penentuan kategori minat dilakukan dengan menentukan range dengan cara sebagai berikut. Skor maksimal = 23 x 5 = 115 Skor minimal = 23 x 1 = 23 Range = 115 – 23 = 92 Range tersebut digunakan untuk menentukan rentang nilai pada setiap kategori yang dilakukan dengan mengalikan batas bawah dengan tingkat kategori

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 yang bisa dikuasai oleh siswa. Rentang nilai pada setiap kategori minat dapat dilihat pada tabel 38. Tabel 38 Rentang Nilai Tiap Kategori Minat Tingkat Penguasaan Kompetensi 90%x92= 83 -115 80%x92 =74 -82 65%x 92 = 60-73 55%x 92 = 51 -59 <55%x 92 = < 51 Nilai Huruf A B C D E Kategori Sangat berminat Berminat Cukup berminat Kurang berminat Tidak berminat Rentang tersebut digunakan untuk menentukan kategori minat pada setiap siswa. Jumlah siswa yang termasuk pada kategori minimal cukup berminat diubah ke dalam bentuk persen dengan cara sebagai berikut : Hasil perhitungan persentase siswa yang berminat pada setiap indikator tersebut kemudian dibandingkan dengan target minat untuk menentukan keberhasilan siklus. Minat belajar juga dianalisis berdasarkan hasil lembar observasi. Analisis dilakukan dengan menghitung jumlah turus pada setiap indikator minat dan menentukan persentase siswa pada setiap indikator dengan cara sebagai berikut. Hasil persentase siswa berminat pada keempat indikator minat belajar kemudian ditentukan reratanya dengan cara sebagai berikut.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 2. Analisis Prestasi Belajar Dalam menentukan prestasi belajar siswa, peneliti melihat 3 ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada ranah kognitif, peneliti mengukur dengan menentukan rata-rata nilai dari LKS dan soal pilihan ganda pada evaluasi. Pada ranah afektif akan diukur dengan menggunakan rubrik penilaian afektif. Pada ranah psikomotor, peneliti menggunakan rubrik penilaian percobaan. a. Penyekoran Pada penyekoran soal pilihan ganda pada evaluasi, jawaban benar bernilai 1 dan jawaban salah bernilai 0 sehingga dalam menghitung nilai siswa dapat menggunakan rumus sebagai berikut : Skor tes : b. Presentase jumlah siswa yang mencapai KKM KKM yang ditentukan oleh sekolah pada mata pelajaran IPA adalah 75. Dalam menentukan presentase jumlah siswa yang mencapai KKM dapat dihitung dengan menggunakan rumus : x 100% c. Rata-rata nilai kelas Dalam menghitung rata-rata nilai kelas dapat dihitung dengan menggunakan rumus = x 100% I. Jadwal Penelitian

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Penelitian dilakukan selama 10 bulan terhitung dari bulan September sampai dengan bulan Juni. Alokasi waktu penelitian dapat dilihat pada tabel 39. Tabel 39 Jadwal Penelitian Kegiatan Penyusunan Bulan Sep Okt √ √ Nov Des Jan √ √ Feb Mar √ √ Ap Mei √ √ Juni proposal penelitian Penelitian Revisi Bab √ 1,2,3 Penulisan Bab 4 dan 5 Revisi Bab 4 dan 5 Ujian √ Penulisan √ Artikel

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas tentang penelitian yang telah dilakukan yaitu gambaran umum penelitian, kualitas proses dan hasil penelitian, dan pembahasan. A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Penelitian Peneliti melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 Menggunakan Pendekatan Kontekstual”. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 memiliki minat yang kurang terhadap pembelajaran pada mata pelajaran IPA. Kurang lebih terdapat 58% siswa yang tidak memperhatikan guru pada saat guru menjelaskan materi pembelajaran. Mereka berbicara sendiri dengan teman yang berada disamping atau dibelakang mereka. Ada juga siswa yang menggambar pada buku catatan dan tidak mencatat materi yang dijelaskan oleh guru. Ada 3 anak yang berpindah tempat dan ijin keluar dengan alasan mencuci tangan. Siswa yang menggambar pada buku catatan sempat dimarahi oleh guru karena pada saat diberi pertanyaan oleh guru, dia tidak biasa menjawab. Pada saat guru memarahi salah satu siswa, semua siswa diam dan tenang. Setelah menjelaskan materi, guru memberikan soal latihan yang ada di buku paket. Semua siswa mengerjakan soal latihan dan pada saat itu guru sempat keluar dari ruang kelas. Pada saat guru keluar, siswa-siswa langsung ramai dan ada 5 siswa yang berjalan-jalan. 95

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Hasil pengamatan diperkuat dengan informasi yang diperoleh dari guru mata pelajaran IPA bahwa siswa memang banyak yang tidak memperhatikan saat pelajaran. Penerapan metode pembelajaran yang sangat jarang dilakukan menjadi alasan banyaknya siswa yang tidak memperhatikan pada saat pembelajaran. Setelah memperoleh informasi dan data awal, peneliti membuat persiapan untuk melaksanakan penelitian di setiap siklus. Satu siklus terdiri dai 3 pertemuan. 2. Pelaksanaan Siklus Penelitian Siklus I a. Perencanaan Siklus I Pada tahap perencanaan ini peneliti meminta ijin kepada Kepala Sekolah dan guru mata pelajaran IPA SD Kanisius Kotabaru 1. Peneliti juga mengumpulkan data-data dan informasi yang pada akhirnya digunakan sebagai data awal. Data dan informasi diperoleh dari hasil observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Data awal yang sudah diperoleh digunakan oleh peneliti untuk menentukan target pencapaian yang diperoleh dari diskusi peneliti bersama dengan guru mata pelajaran IPA. Peneliti kemudian menyusun instrumen yang diperlukan dalam penelitian yang terdiri dari silabus, RPP, LKS, bahan ajar, Soal Evaluasi, dan instrumen penilaian. Instrumen tersebut dibuat dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Peneliti juga mempersiapkan media dan sumber belajar sebagai penunjang bagi siswa untuk belajar. Semua perangkat pembelajaran yang sudah selesai dibuat oleh peneliti akhirnya divalidasikan kepada dosen ahli, kepala sekolah, dan guru kelas.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Validasi juga dilakukan dengan face validity dan construct validity. Face validity dilakukan dengan menunjukkan kuesioner dan soal evaluasi dan meminta pendapat kepada beberapa siswa. Construct validity dilakukan dengan mengujikan soal evaluasi dan kuesioner kepada 30 siswa SD N Nogotirto. Dari hasil validasi tersebut, peneliti akhirnya mengolah data dengan melakukan perhitungan validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS. Peneliti juga melakuan revisi terhadap perangkat pembelajaran dan instrumen penilaian yang sudah divalidasi. Revisi tersebut dilakukan berdasarkan hasil validasi pada silabus, RPP, LKS, Soal Evaluasi, bahan ajar, dan instrumen penilaian. Perangkat pembelajaran dan instrumen penilaian yang sudah divalidasi digunakan untuk melaksanakan penelitian. b. Tindakan Siklus 1 Penelitian dilakukan selama 3 hari berturut-turut yaitu pada tanggal 12, 13, dan 14 November 2014. Setiap pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran atau 70 menit. Pertemuan pertama dilakukan pada hari Selasa tanggal 12 November 2013 pukul 07.15-08.25. Pada pertemuan ini, siswa diminta untuk menyebutkan bahan penyusun suatu benda dan mengidentifikasi sifat benda tersebuat dengan melakukan percobaan di dalam kelompok. Dalam kegiatan pembeljaran ini memuat tujuh komponen yang ada di dalam Contextual Teaching and Learning (CTL). Modelling ditunjukkan dengan penggunaan gambar suatu benda yang digunakan untuk membawa siswa masuk pada pembelajaran. Komunitas belajar, inkuiri, tanya jawab, dan kontruktivisme ditunjukkan dalam kegiatan di dalam

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 kelompok dimana siswa diminta untuk melakukan percobaan untuk mengidentifikasi bahan penyusun suatu benda dan sifatnya. Penilaian yang otentik ditunjukkan pada saat siswa bekerja dan berdiskusi dalam kelompok, guru memberikan nilai kepada setiap kelompok dan setiap anggota dalam kelompok. Penilaian juga dilakukan pada saat setiap kelompok maju untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka bersama dengan kelompok. Refleksi dilakukan dengan menyampaikan apa yang sudah didapatkan pada hari ini dan apa yang dirasakan oleh siswa setelah mengikuti pelajaran pada hari ini. Pertemuan kedua dilakukan pada hari Rabu tanggal 13 November 2013 pukul 09.50-11.00. Pada penelitian kedua ini, siswa diminta untuk menyebutkan dan mengidentifikasi sifat jenis ketas, kain, dan benang melalui percobaan yang dilakukan dalam kelompok. Dalam kegiatan pembelajaran ini juga memuat tujuh komponen dalan CTL. Modelling ditunjukkan pada saat siswa membuat kartupedia bersama dalam kelompok. Tanya jawab ditunjukkan pada awal pembelajaran pada saat guru bersama dengan siswa mengingat tentang materi pembelajaran sebelumnya. Komunitas belajar, konstruktivisme, dan inkuiri ditunjukkan pada saat siswa berada di dalam kelompok dan berdiskusi. Penilaian yang otentik ditunjukkan pada saat setiap kelompok menilai kelompok lain pada saat presentasi di depan kelas tentang kartupedia. Refleksi ditunjukkan dengan mengulas tentang apa yang baru saja dipelajarai dan apa yang didapat hari itu. Pertemuan ketiga dilakukan pada hari Kamis tanggal 14 November 2013 pukul 09.15-10.25. Pada pertemuan ketiga ini siswa diminta untuk membandingkan kekuatan 3 jenis benang melalui percobaan dalam kelompok.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Pada pertemuan ini siswa diminta untuk mengerjakan soal evaluasi yang diberikan oleh guru. c. Observasi Siklus 1 Observasi dilakukan dengan mengisi lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Observasi dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh teman sejawat untuk mengetahui minat siswa dalam mata pelajaran IPA. Pedoman observasi memuat indikator minat, yaitu (1) siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA; (2) siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA; (4) siswa berinisiatif mencari informasi baru. Observasi dilakukan kepada setiap siswa dan setiap kelompok. Pada pertemuan pertama, siswa menunjukkan sikap ceria pada saat akan memulai pelajaran IPA. Pada saat guru masuk ke dalam kelas, siswa sudah mempersiapkan buku IPA di atas meja. Pada saat pembelajaran berlangsung, 5 anak secara bergantian meminta ijin untuk ke belakang. Pada saat guru menjelaskan tentang cara melakukan percobaan, 8 anak tidak memperhatikan penjelasan dari guru dan sibuk mengobrol dengan teman yang lain, 3 anak sibuk bermain dengan pulpen dan buku mereka, dan 22 anak memperhatikan penjelasan dari guru. Pada petemuan kedua, siswa diminta untuk menyebutkan dan mengidentifikasi sifat jenis kertas, kain, dan benang. Pada saat guru menunjukkan sebuah contoh kartupedia, siswa terlihat antusias. Ada 12 orang siswa yang ingin segera memulai membuat kartupedia, ada 5 anak yang bertanya bagaimana cara membuat kartupedia. Siswa juga aktif menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Seluruh siswa sudah terlibat aktif dalam diskusi kelompok.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Pada pertemuan ketiga, siswa simints untuk membandingkan kekuatan 3 jenis benang yaitu benang jahit, benang woll, dan benang woll. Pada saat melakukan percobaan, ada 10 siswa yang justru bermain kelereng. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, ada 3 orang siswa yang meminta ijin untuk ke belakang. Ada 8 anak yang bertanya kepada guru tentang cara melakukan percobaan. Kegiatan pada pertemuan ketiga berjalan dengan lancar. Pada saat siswa mengerjakan soal evaluasi, seluruh siswa mengerjakan dengan tenang. d. Refleksi Siklus 1 Pelaksanaan penelitian siklus 1 sudah berjalan dengan lancar dan sudah sesuai dengan rancangan yang disusun oleh peneliti. Ada sedikit hambatan yang terjadi selama penelitian yaitu keterbatasan waktu pada saat penelitian dikarenakan kondusi kelas dan juga penyampaian materi yang terlalu panjang. Pada pertemuan pertama, percobaan dilakukan di dalam kelompok dengan mengamati benda yang ada untuk menyebtkan bahan penyusun dan membedakan bahan penyusun suatu benda. Siswa menunjukkan sikap ceria pada saat guru akan membuka pelajaran. Siswa terlihat tertarik dengan penjelasan guru mengenai materi pembelajaran yang akan mereka pelajari pada hari itu. Saat berada di dalam kelompok, siswa segera belajar di dalam kelompok dan segera berdiskusi bersama dengan teman yang lain. Siswa terlihat antusias dengan contoh-contoh benda yang dibawa oleh guru untuk menunjukkan contoh benda yang ada di sekitar mereka. Untuk keseluruhan kegiatan pada pertemuan pertama sudah berjalan dengan lancar sesuai dengan rancangan yang sudah disusun. Sebelum mengakhiri pelajaran, siswa diminta untuk mengisi lembar refleksi harian dan juga kuesioner

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 minat untuk mengukur seberapa besar tingkat minat siswa terhadap mata pelajaran IPA pada hari tersebut. Pada pertemuan kedua siswa melakukan percobaan di dalam kelompok untuk mengidentifikasi sifat dari suatu benda yaitu kain, benang, dan kertas. Siswa diminta untuk membuat kartupedia tentang sifat kain, benang, dan kertas. Waktu yang diperlukan oleh siswa dalam pembuatan kartupedia tidak sesuai dengan rancanangan yang dibuat oleh peneliti sehingga ada sedikit kegiatan yang sengaja dirubah. Pada rancangan disebutkan bahwa siswa pada akhir pembelajaran akan membuat sebuah stand yang berisi pameran tentang kartupedia yang mereka buat namun karena waktu tidak memungkinkan maka kegiatan dirubah menjadi presentasi setiap kelompok di depan kelas. Pada saat setiap kelompok melakukan prsentasi, kelompok yang lain melakukan penilaian terhadap presentasi dari kelompok tersebut. Sama seperti pertemuan sebelumnya, sebelum mengakhiri pembelajaran siswa diminta untuk mengisi lembar refleksi dan kuesioner minat siswa. Pada pertemuan ketiga, siswa masuk ke dalam kelompok kemudian melakukan percobaaan tentang menguji kekuatan benang. Benang yang digunakan adalah benang jahit, benang woll, dan benang nilon dengan beban berupa kelereng. Siswa sedikit mengalami kesulitan pada saat melakukan percobaan dikarenakan jumlah kelereng yang tidak mencukupi. Pada akhirnya guru menyiasati dengan cara meminta setiap kelompok untuk bergantian dalam menggunakan kelereng. Setiap kelompok maju untuk melakukan presentasi tentang percobaan yang baru saja dilakukan. Pada saat presntasi ini guru

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 melakukan penilaian. Pada pertemuan ketiga ini, siswa mengerjakan soal evaluasi yang digunakn untuk mengukur seberapa tinggi tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sudah disampaikan. Seperti pertemuan sebelumnya, siswa juga mengisi lembar refleksi dan kuesioner minat. Kuesioner minat yang telah diisi oleh siswa selama tiga kali pertemuan itu menjadi dasar perhitungan untuk menentukan ketercapaian minat. Hasil kuesioner pada pertemuan pertama samapai ketiga dirata-rata kemudian dibandingkan dengan target pencapaian yang sudah ditentukan. Sementara itu, soal evaluasi yang sudah dikerjakan oleh siswa menjadi dasar perhitungan untuk menentukan ketercapaian prestasi belajar siswa. Dari hasil penghitungan kuesioner minat siswa dan soal evaluasi, target pencapaian yang ditentukan belum tercapai sehingga penelitian akan dilanjutkan pada siklus selanjutnya yaitu siklus 2. Hasil penghitungan kuesioner dan soal evaluasi pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 64. 3. Pelaksanaan Siklus Penelitian Siklus 2 Siklus 2 ini dilakukan melalui tahap-tahap : a. Perencanaan Siklus 2 Pada tahap perencanaan siklus 2 peneliti mempesiapkan instrumen yang dibutuhkan. Instrumen pada siklus 2 ini juga menerapkan pendekatan kontekstual. Instrumen yang disusun terdiri dari silabus, RPP, LKS, bahan ajar, dan instrumen penilaian berupa rubrik dan soal evaluasi. Kegiatan pembelajaran pada siklus 2 ini disusun dengan menerapkan komponen CTL, yaitu tanya jawab, modelling, inkuiri, konstruktivisme, komunitas belajar, refleksi, dan penilaian otentik.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Tindakan pada siklus 2 dibuat sedikit berbeda dengan tindakan pada siklus 1. Pada siklus 1, anggota setiap kelompok adalah 6-7 siswa sedangkan pada siklus 2 setiap kelompok hanya terdiri dari 5 siswa. Selain itu, pada siklus 1 kegiatan pembelajaran menerapkan inkuiri terbimbing sedangkan pada siklus 2 dirancang menggunakan inkuiri bebas dimodifikasi. Instrumen pembelajaran yang telah disusun kemudian divalidasi. Validasi dilaksanakan dengan validasi konstrak, face validity, dan validasi empiris. Face validity dilakukan dengan meminta dua orang siswa untuk membaca kuesioner dan soal evaluasi. Validasi konstrak dilakuakn dengan meminta pendapat dari dosen ahli, guru, dan kepala sekolah. Validitas empiris dilakukan dengan mengujikan soal evaluasi dan kuesioner ke 30 siswa yang ada di SD N Nogotirto. Peneliti tidak lupa melakukan revisi terhadap instrumen yang sudah divalidasi. Perangkat pembelajaran yang sudah direvisi sudah siap untuk digunakan penelitian siklus 2. b. Tindakan Siklus 2 Penelitian dilakukan selama 3 hari berturut-turut yaitu pada tanggal 19, 20, dan 21 November 2014. Setiap pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran atau 70 menit. Pertemuan pertama dilakukan pada hari Selasa tanggal 19 November 2013 pukul 07.15-08.25. Pada pertemuan ini, siswa diminta untuk menyebutkan perubahan sifat benda yang terjadi pada proses pemanasan, pembakaran, pendinginan, dan pencampuran dengan air dengan melakukan percobaan di dalam kelompok. Dalam kegiatan pembeljaran ini memuat tujuh komponen yang ada di

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 dalam Contextual Teaching and Learning (CTL). Kelompok pada siklus 1 terdiri dari 6-7 siswa sedangkan pada siklus 2 setiap kelompok hanya terdiri dari 5 siswa. Pada awal kegiatan guru menyebutkan tujuan pembelajaran pada hari itu. Guru juga memberi pentunjuk atau langkah-langkah untuk melakukan percobaan. Pada saat percobaan, guru tidak lagi memberikan instruksi dan contoh melainkan siswa yang bekerjasama dengan setiap anggota kelompok mereka. Setiap kelompok juga melakukan presentasi di depan kelas tentang hasil diskusi mereka dan dinilai oleh kelompok lain. Penilaian yang otentik ditunjukkan pada saat siswa bekerja dan berdiskusi dalam kelompok, guru memberikan nilai kepada setiap kelompok dan setiap anggota dalam kelompok. Penilaian juga dilakukan pada saat setiap kelompok maju untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka bersama dengan kelompok. Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, siswa mengisi lembar refleksi dan kuesioner minat siswa untuk mengukur tingkat minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. Pertemuan kedua dilakukan pada hari Rabu tanggal 20 November 2013 pukul 09.50-11.00. Pada penelitian ini siswa menyebutkan perubahan sifat benda yang terjadi pada proses pembusukan dan pengkaratan serta membedakan perubahan tetap dan sementara. Dalam kegiatan pembelajaran ini juga memuat tujuh komponen dalan CTL. Pada awal pembelajaran, guru melakukan tanya jawab bersama dengan siswa tentang materi pada pertemuan sebelumnya. Siswa kembali masuk ke dalam kelompok untuk berdiskusi dan mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru. Setiap kelompok maju untuk melakukan presentasi tentang

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 hasil diskusi yang sudah mereka lakukan. Pada saat kelompok maju untuk presentasi, maka kelompok yang lain melakukan penilaian terhadap kelompok tersebut. Sebelum pembelajaran berakhir, siswa mengisi lembar evaluasi dan juga kuesioner minat. Untuk keseluruhan, kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua siklus 2 berjalan dengan lancar. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari berikutnya yaitu hari Kamis tanggal 21 November 2013. Pertemuan ini merupakan pertemuan tambahan karena pada pertemuan kedua soal evaluasi belum sempat dikerjakan oleh siswa. Pada awal pertemuan ketiga, guru melakukan tanya jawab bersama dengan siswa tentang materi pada hari sebelumnya dan mengerjakan soal evaluasi siklus 2. c. Observasi Siklus 2 Observasi dilakukan dengan mengisi lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Observasi dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh teman sejawat untuk mengetahui minat siswa dalam mata pelajaran IPA. Pedoman observasi memuat indikator minat, yaitu (1) siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA; (2) siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA; (4) siswa berinisiatif mencari informasi baru. Observasi dilakukan kepada setiap siswa dan setiap kelompok. Pada pertemuan pertama, siswa menunjukkan sikap ceria pada saat akan memulai pelajaran IPA. Pada awal pertemuan, guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang perubahan sifat suatu benda, terlihat ada 25 siswa yang berinisiatif untuk menjawab pertanyaan dari guru sedangkan 8 siswa malah mengobrol dengan temannya. Pada saat bekerja dalam kelompok, seluruh siswa terlihat aktif dalam

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 diskusi bersama teman-teman mereka untuk melakukan percobaan. Ada 3 kelompok yang membagi tugas kepada masing-masing anggota dan ada juga kelompok yang tetap bekerjasama bersama. Pada saat presentasi kelompok, semua kelompok antusias untuk maju maka guru membuat undian siap yang terlebih dahulu maju. Pada saat membuat kesimpulan tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan, ada 11 anak yang bertanya kepada guru seputar materi. Pada pertemuan kedua siswa diminta untuk menyebutkan perubahan sifat benda yang terjadi karena proses pengaratan dan pembusukan serta membedakan perubahan tetap dan sementara. Ada 1 anak yang bertanya kepada guru tentang materi yang mereka pelajari dan itu menimbulkan 13 anak yang lain juga bertanya tentang materi. Pada saat mereka berkumpul dalam kelompok, ada 2 siswa dari kelompok yang berbeda meletakkan kepala di atas meja. Pada saat presentasi kelompok, ada 4 anak yang secara bergantian meminta ijin untuk kebelakang. Pertemuan ketiga dilaksanakan hanya untuk mengerjakan soal evaluasi, pada saat mengerjakan soal siswa dapat menciptakan suasana tenang dan mengerjakan sendiri-sendiri. Untuk keseluruhan, pertemuan pertama dan kedua siklus 2 berjalan dengan lancar. d. Refleksi Siklus 2 Pelaksanaan siklus 2 secara keseluruhan sudah sesuai dengan apa yang direncanakan dan dirancang oleh peneliti. Pada pertemuan pertama yang dilaksanakan pada hari Selas tanggal 19 November tidak ada kendala selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa sudah menunjukkan peningkatan minat apabila dibandingkan dengan siklus 1. Siswa terlihat senang pada saat guru masuk

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 ke dalam kelas dan semua siswa sudah menyiapkan buku mata pelajaran IPA dia atas meja mereka. Para siswa juga terlihat antusias dalam menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh guru. Pada saat bekerja dalam kelompok, setiap anggota kelompok langsung berdiskusi dan melakukan pembagian tugas. Pertemuan pertama ini berjalan sesuai dengan waktu yang dialokasikan. Pada pertemuan kedua, siswa juga sudah menunjukkan minat pada mata pelajaran IPA. Mereka mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru.pada saat bekerja dalam kelompok, siswa terlihat aktif dan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang ada. Soal evaluasi diberikan pada pertemuan selanjutnya dikarenakan waktu yang tidak mencukupi. Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian dihitung dan dirata-rata antara siklus 1 dan siklus 2 dan dibandingkan dengan target yang ingin dicapai. Soal evaluasi yang sudah dikerjakan siswa juga dikoreksi dan dihitung nilainya untuk menentukan ketercapaian prestasi belajar siswa. Hasil minta dan prestasi belajar siswa pada siklus 2 menunjukkan bahwa minat dan prestasi belajar siswa telah mencapai target yang menetukan indikator keberhasilan. Oleh karena itu, penelitian pada siklus ini dinyatakan berhasil dan berakhir pada siklus 2. 4. Kualitas Proses Kualitas proses dalam penelitian ini adalah peningkatan minat terhadap mata pelajaran IPA. Minat adalah situasi dimana seseorang yang mengalami kecenderungan dalam diri yang tertarik dengan sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek dan mendorong seseorang memperhatikan objek tertentu. Dalam

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 minat terdapat empat indikator, yaitu (1) perasaan senang, (2) perhatian dalam belajar, (3) sikap terhadap kegiatan, dan (4) keinginan untuk mengetahui sesuatu. Data mengenai minat siswa dalam penelitian ini diukur menggunakan observasi dan kuesioner minat siswa. Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran dilaksanakan. Observer mengamati keadaan kelas kemudian mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Observer melengkapi deskripsi hasil pengamatan kemudian menghitung jumlah siswa yang menunjukkan indikator siswa berminat. Jumlah siswa yang menunjukkan indikator berminat diubah ke dalam bentuk persen. Hasil persentase dalam setiap indikator kemudian dihitung rata-ratanya. Hasil observasi minat belajar IPA siswa pada kondisi awal dapat dilihat pada tabel 40. Tabel 40 Minat Belajar Siswa Kondisi Awal berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Persentase Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-rata 42,42% 48,49% 45,45% 24,24% 30,30% 27,27% 15,16% 9,01% 22,71% 21,21% 52,35% 33,09% 18,18% 21,05% 27,9% Tabel 40 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat kondisi awal pada indikator rasa senang ada 45,45%, perhatiaan ada 27,27%, keterlibatan ada 28,28%, dan inisiatif ada 21,05%. Rata-rata hasil observasi keempat indikator minat adalah 27,9%. Jadi persentase siswa yang berminat adalah 27,09%. Hasil

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 minat belajar berdasarkan observasi yang diperoleh pada pertemuan 1 siklus 1 dapat dilihat pada tabel 41 dan selengkapnya pada lampiran 9. Tabel 41 Minat Belajar Siswa Pertemuan 1 Siklus 1 berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Persentase 45,45% 73,74% 84,09% 64,39% 66,92% Tabel 41 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat berdasarkan hasil observasi pada indikator rasa senang ada 45,45%, perhatian ada 73,74%, keterlibatan ada 84,09%, dan inisiatif ada 64,39%. Persentase keempat indikator tersebut dirata-rata, sehingga diperoleh 66,92% siswa yang berminat pada pertemuan 1 siklus 1. Hasil minat belajar berdasarkan observasi yang diperoleh pada pertemuan 2 siklus 1 dapat dilihat pada tabel 42 dan selengkapnya pada lampiran 9. Tabel 42 Minat Belajar Siswa Pertemuan 2 Siklus 1 berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Persentase 81,82% 85,85% 65,15% 67,42% 75,06% Tabel 42 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat berdasarkan hasil observasi pada indikator rasa senang ada 81,82%, perhatian ada 85,85%, keterlibatan ada 65,15%, dan inisiatif ada 67,42%. Persentase keempat indikator

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 tersebut dirata-rata, sehingga diperoleh 75,06% siswa yang berminat pada pertemuan 2 siklus 1. Hasil minat belajar berdasarkan observasi yang diperoleh pada pertemuan 3 siklus 1 dapat dilihat pada tabel 43 dan selengkapnya pada lampiran 9. Tabel 43 Minat Belajar Siswa Pertemuan 3 Siklus 1 berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Persentase 78,79% 78,79% 64,39% 65,91% 71,97% Tabel 43 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat berdasarkan hasil observasi pada indikator rasa senang ada 78,79%, perhatian ada 78,79%, keterlibatan ada 64,39%, dan inisiatif ada 65,91%. Persentase keempat indikator tersebut dirata-rata, sehingga diperoleh 71,97% siswa yang berminat pada pertemuan 3 siklus 1. Persentase siswa yang berminat pada setiap indikator berdasarkan hasil observasi pertemuan 1, 2, dan 3 siklus 1 tersebut kemudian dirata-rata untuk menentukan persentase siswa yang berminat pada siklus 1. Persentase siswa yang berminat pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 44.

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Tabel 44 Minat Belajar Siswa Siklus 1 berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Pertemuan 1 Persentase Pertemuan 2 Pertemuan 3 45,45% 81,82% 78,79% 60,62% 73,74% 85,85% 78,79% 79,46% 84,09% 65,15% 64,39% 71,24% 64,39% 67,42% 65,91% 65,91% 66,92% 75,06% 71,97% 70,33% Ratarata Tabel 44 menunjukkan bahwa rata-rata persentase siswa berminat pada pertemuan 1 ada 66,92%, pertemuan 2 ada 75,16%, dan pertemuan 3 ada 71,97%. Persentase siswa yang berminat pada ketiga pertemuan tersebut dirata-rata sehingga diperoleh persentase siswa yang berminat pada siklus 1 sebesar 70,33%. Data minat belajar IPA siswa juga diperoleh berdasarkan hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa pada setiap pertemuan. Penentuan kategori minat pada setiap siswa dilakukan dengan menghitung skor total dari hasil kuesioner yang sudah diisi. Skor total dihitung berdasarkan perhitungan skor pada setiap item. Skor untuk jawaban sangat setuju adalah 5, setuju adalah 4, ragu-ragu adalah 3, tidak setuju adalah 2 dan sangat tidak setuju adalah 1. Untuk menentukan kategori minat siswa maka hasil skor total setiap siswa dibandingkan dengan tabel rentang kategori minat atau lihat lampiran 10. Hasil kuesioner minat siswa pada kondisi awal dapat dilihat pada tabel 45.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Tabel 45 Minat Belajar Siswa Kondisi Awal Berdasarkan Kuesioner Siswa Skor Total Kategori 1 59 Kurang Berminat 2 59 Kurang Berminat 3 80 Berminat 4 56 Kurang Berminat 5 59 Kurang Berminat 6 64 Cukup Berminat 7 78 Berminat 8 58 Kurang Berminat 9 79 Berminat 10 69 Kurang Berminat 11 78 Berminat 12 56 Kurang Berminat 13 76 Berminat 14 64 Cukup Berminat 15 76 Berminat 16 72 Cukup Berminat 17 67 Cukup Berminat 18 59 Kurang Berminat 19 81 Berminat 20 67 Cukup Berminat 21 59 Kurang Berminat 22 80 Berminat 23 71 Cukup Berminat 24 78 Berminat 25 59 Kurang Berminat 26 76 Berminat 27 79 Berminat 28 57 Kurang Berminat 29 69 Cukup Berminat 30 72 Cukup Berminat 31 68 Berminat 32 58 Kurang Berminat 33 56 Kurang Berminat

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Tabel 45 menunjukkan bahwa siswa yang termasuk dalam kategori sangat berminat tidak ada, berminat ada 12 siswa, cukup berminat ada 8 siswa, kurang berminat ada 13 siswa, dan tidak berminat ada 0. Jumlah siswa tersebut dikonversikan ke bentuk persen sehingga diperoleh persentase siswa yang termasuk dalam kategori sangat berminat 0%, berminat ada 36,36%, cukup berminat ada 24,24%, kurang berminat ada 39,39%, dan tidak berminat 0%. Jadi jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat ada 60,61%. Hasil kuesioner pada pertemuan 1 siklus 1 dapat dilihat pada tabel 46 dan selengkapnya pada lampiran 11. Tabel 46 Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 1 berdasarkan Hasil Kuesioner Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Skor Total 80 59 80 56 59 64 78 58 79 76 78 56 81 77 78 72 67 69 Kategori Beminat Kurang Berminat Berminat Kurang Berminat Kurang Berminat Cukup Berminat Berminat Kurang Berminat Berminat Berminat Berminat Kurang Berminat Berminat Berminat Berminat Berminat Cukup Berminat Kurang Berminat

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Siswa 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Skor Total 81 69 59 82 82 78 59 76 81 57 69 73 74 58 65 Kategori Berminat Cukup Berminat Kurang Berminat Berminat Berminat Berminat Kurang Berminat Berminat Berminat Kurang Berminat Cukup Berminat Cukup Berminat Berminat Kurang Berminat Cukup Berminat Tabel 46 menunjukkan bahwa siswa yang termasuk kategori sangat berminat tidak ada (0%), yang termasuk kategori berminat ada 17 siswa (51,52%), yang termasuk kategori cukup berminat ada 6 siswa (18,18%), yang termasuk kategori kurang berminat ada 10 siswa (30,30%) dan yang termasuk kategori tidak berminat tidak ada (0%). Hasil presentase diperoleh dari jumlah siswa yang termasuk dalam kategori tertentu dibagi dengan jumlah keseluruhan siswa kemudian dikalikan 100%. Jadi jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat ada 69,70%. Hasil kuesioner pada pertemuan 2 siklus1 dapat dilihat pada tabel 47.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Tabel 47 Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus1 berdasarkan Hasil Kuesioner Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Skor Total 80 59 80 56 59 84 71 58 79 82 83 84 85 81 59 84 69 80 82 64 83 84 90 80 72 84 83 64 73 73 76 81 82 Kategori Beminat Kurang Berminat Berminat Kurang Berminat Kurang Berminat Sangat Berminat Cukup Berminat Kurang Berminat Berminat Berminat Sangat Berminat Sangat Berminat Sangat Berminat Berminat Kurang Berminat Sangat Berminat Cukup Berminat Berminat Berminat Cukup Berminat Sangat Berminat Sangat Berminat Sangat Berminat Berminat Cukup Berminat Sangat Berminat Berminat Cukup Berminat Cukup Berminat Berminat Berminat Sangat Berminat Sangat Berminat

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Pada tabel 47 dapat dilihat bahwa yang termasuk kategori sangat berminat ada 11 siswa (33,33%), yang termasuk kategori berminat ada 11 siswa (33,33%), yang termasuk kategori cukup berminat ada 6 siswa (18,18%), yang termasuk kategori kurang berminat ada 5 siswa (15,15%) dan yang termasuk kategori tidak berminat tidak ada (0%). Jadi siswa yang termasuk dalam kategori minimal cukup berminat ada 84,85%. Hasil kuesioner siswa pada pertemuan 3 siklus 1 dapat dilihat pada tabel 48. Tabel 48 Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 3 Siklus 1 berdasarkan Hasil Kuesioner Siswa Skor Total Kategori 1 80 Beminat 2 59 Kurang Berminat 3 80 Berminat 4 59 Kurang Berminat 5 73 Berminat 6 84 Sangat Berminat 7 82 Berminat 8 60 Kurang Berminat 9 79 Berminat 10 82 Berminat 11 81 Berminat 12 82 Berminat 13 80 Berminat 14 77 Berminat 15 73 Cukup Berminat 16 80 Berminat 17 73 Cukup Berminat 18 77 Berminat 19 83 Sangat Berminat 20 84 Sangat Berminat 21 86 Sangat Berminat 22 83 Sangat Berminat

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Siswa Skor Total Kategori 23 87 Sangat Berminat 24 79 Berminat 25 79 Berminat 26 82 Berminat 27 79 Berminat 28 59 Kurang Berminat 29 77 Berminat 30 74 Berminat 31 81 Berminat 32 84 Sangat Berminat 33 74 Berminat Pada tabel 48 dapat dilihat bahwa yang termasuk kategori sangat berminat ada 7 siswa (21,21%), yang termasuk kategori berminat ada 20 siswa (60,61%), yang termasuk kategori cukup berminat ada 2 siswa (6,06%), yang termasuk kategori kurang berminat ada 4 siswa (12,12%) dan yang termasuk kategori tidak berminat tidak ada (0%). Jadi siswa yang termasuk dalam kategori minimal cukup berminat ada 87,88%. Presentase siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat berdasarkan hasil kuesioner pada pertemuan 1, 2 dan 3 pada siklus 1 kemudian dirata-rata untuk menentukan presentase siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat pada siklus 1. Persentase siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 49. Tabel 49 Minat Belajar Siswa pada Siklus 1 berdasarkan Hasil Kuesioner Capaian Variabel Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 69,70% 84,85% 87,88% Rata-rata Minat Belajar Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat 80,81%

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Tabel 49 menunjukkan bahwa persentase siswa yang termasuk dalam kategori minimal cukup berminat pada pertemuan 1 siklus 1 ada 69,70%, pada pertemuan 2 ada 84,85% dan pada pertemuan 3 ada 87,88%. Perolehan persentase pada setiap pertemuan selanjutnya dijumlah kemudian dirata-rata dan hasilnya adalah 80,81%. Ketercapaian target indikator keberhasilan terhadap minat belajar siswa dengan indikator persentase siswa yang berminat pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 50. Tabel 50 Hasil Penelitian Minat Belajar Siklus 1 No 1 Variabel dan Indikator Kondisi Awal Minat Belajar a. Persentase siswa yang berminat 22,71% Target Siklus 1 Capaian Siklus 1 Keterangan 40% 70,33% Target tercapai 85% 80,81% Target belum tercapai b. Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat 60,61% Tabel 50 menunjukkan capaian siklus 1 pada jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat sebesar 80,81% dan persentase siswa yang berminat sebesar 70,33%. Perolehan minat belajar tersebut belum mampu mencapai target yang telah ditentukan sebesar 85%. Minat belajar belum mencapai target keberhasilan pada siklus 1, sehingga penelitian ini dilanjutkan ke siklus 2. Hasil observasi minat pada siklus 2 pertemuan 1 dapat dilihat pada tabel 51.

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Tabel 51 Minat Belajar Siswa Pertemuan 1 Siklus 2 berdasarkan Observasi Indikator Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA Siswa berinisiatif mencari informasi baru Rata-rata Persentase 75,76% 66,67% 61,36% 81,06% 71,21% Tabel 51 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat berdasarkan hasil observasi pada indikator rasa senang ada 75,76%, perhatian ada 66,67%, keterlibatan ada 61,36%, dan inisiatif ada 81,06%. Persentase keempat indikator tersebut dirata-rata, sehingga diperoleh 71,21% siswa yang berminat pada pertemuan 1 siklus 2. Hasil observasi minat pada siklus 2 pertemuan 2 dapat dilihat pada tabel 52. Tabel 52 Minat Belajar Siswa Pertemuan 2 Siklus 2 berdasarkan Observasi Indikator Persentase Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 68,18% Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA 81,82% Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA 75,76% Siswa berinisiatif mencari informasi baru 75,76% Rata-rata 75,36% Tabel 52 menunjukkan bahwa persentase siswa berminat berdasarkan hasil observasi pada indikator rasa senang ada 68,18%, perhatian ada 81,82%, keterlibatan ada 75,76%, dan inisiatif ada 75,76%. Persentase keempat indikator tersebut dirata-rata, sehingga diperoleh 75,36% siswa yang berminat pada pertemuan 2 siklus 2. Persentase siswa yang berminat pada setiap indikator berdasarkan hasil observasi pertemuan 1 dan 2 siklus 2 tersebut kemudian dirata-

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 rata untuk menentukan persentase siswa yang berminat pada siklus 1. Persentase siswa yang berminat pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 53. Tabel 53 Minat Belajar Siswa Siklus 2 berdasarkan Observasi Indikator Persentase Rata-rata Pertemuan 1 Pertemuan 2 75,76% 68,18% 71,97% 66,67% 81,82% 74,24% Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA 61,36% 75,76% 68,56% Siswa berinisiatif mencari informasi baru 81,06% 75,76% 78,41% Rata-rata 71,21% 75,36% 73,30% Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA Tabel 53 menunjukkan bahwa rata-rata persentase siswa berminat pada pertemuan 1 ada 71,21% dan pada pertemuan 2 ada 75,36%. Persentase siswa yang berminat pada kedua pertemuan tersebut dirata-rata sehingga diperoleh persentase siswa yang berminat pada siklus 2 sebesar 73,30%. Dalam setiap pertemuan, siswa juga mengisi kuesioner minat. Hasil kuesioner minat siswa pada pertemuan 1 siklus 2 dapat dilihat pada lampiran 11, sedangkan hasil penentuan kategori dapat dilihat pada tabel 54.

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Tabel 54 Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 1 Siklus 2 berdasarkan Hasil Kuesioner Siswa Skor Total Kategori 1 80 Beminat 2 59 Kurang Berminat 3 80 Berminat 4 65 Cukup Berminat 5 61 Cukup Berminat 6 84 Sangat Berminat 7 79 Berminat 8 58 Kurang Berminat 9 79 Berminat 10 82 Sangat Berminat 11 86 Sangat Berminat 12 84 Sangat Berminat 13 85 Sangat Berminat 14 79 Berminat 15 78 Berminat 16 83 Sangat Berminat 17 83 Sangat Berminat 18 77 Berminat 19 83 Sangat Berminat 20 82 Sangat Berminat 21 84 Sangat Berminat 22 83 Sangat Berminat 23 87 Sangat Berminat 24 78 Berminat 25 79 Berminat 26 82 Sangat Berminat 27 81 Berminat 28 57 Kurang Berminat 29 76 Berminat 30 74 Kurang Berminat 31 78 Berminat 32 83 Sangat Berminat 33 74 Sangat Berminat Pada Tabel 54 dapat dilihat bahwa yang termasuk kategori sangat berminat ada 13 siswa (39,39%), yang termasuk kategori berminat ada 12 siswa (36,36%),

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 yang termasuk kategori cukup berminat ada 2 siswa (6,06%), yang termasuk kategori kurang berminat ada 6 siswa (18,18%) dan yang termasuk kategori tidak berminat tidak ada (0%). Jadi siswa yang termasuk dalam kategori minimal cukup berminat ada 81,82%. Hasil kuesioner minat siswa pada pertemuan 1 siklus 2 dapat dilihat pada lampiran 11, sedangkan hasil penentuan kategori dapat dilihat pada tabel 55. Tabel 55 Minat Belajar Siswa pada Pertemuan 2 Siklus 2 berdasarkan Hasil Kuesioner Siswa Skor Total Kategori 1 85 Berminat 2 74 Cukup Berminat 3 87 Sangat Berminat 4 83 Cukup Berminat 5 70 Kurang Berminat 6 86 Sangat Berminat 7 83 Berminat 8 72 Cukup Berminat 9 84 Berminat 10 88 Berminat 11 89 Sangat Berminat 12 86 Sangat Berminat 13 90 Sangat Berminat 14 83 Berminat 15 86 Berminat 16 82 Berminat 17 84 Sangat Berminat 18 71 Cukup Berminat 19 85 Sangat Berminat 20 82 Berminat 21 87 Sangat Berminat 22 85 Sangat Berminat 23 88 Sangat Berminat 24 85 Berminat 25 83 Berminat 26 85 Berminat

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 Siswa Skor Total Kategori 27 86 Berminat 28 77 Kurang Berminat 29 86 Berminat 30 87 Berminat 31 90 Sangat Berminat 32 86 Sangat Berminat 33 79 Berminat Pada Tabel 55 dapat dilihat bahwa yang termasuk kategori sangat berminat ada 12 siswa (36,36%), yang termasuk kategori berminat ada 15 siswa (45,45%), yang termasuk kategori cukup berminat ada 4 siswa (12,12%), yang termasuk kategori kurang berminat ada 2 siswa (6,06%) dan yang termasuk kategori tidak berminat tidak ada (0%). Jadi siswa yang termasuk dalam kategori minimal cukup berminat ada 93,94%. Persentase jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat pada pertemuan 1 dan 2 siklus 2 tersebut kemudian dirata-rata. Rata-rata tersebut digunakan untuk menentukan persentase minat belajar siswa pada siklus 2. Persentase minat belajar siswa pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 56. Tabel 56 Minat Belajar Siswa pada Siklus 2 berdasarkan Hasil Kuesioner Variabel/Indikator Minat Belajar a. Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat Capaian Pertemuan 1 Pertemuan 2 81,82% 93,94% Rata-rata 87,88% Tabel 56 menunjukkan bahwa persentase siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat pada siklus 1 pertemuan 1 ada 89,29% dan pertemuan 2

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 ada 82,14 %. Jika dirata-rata, maka jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat pada siklus 2 ada 85,71%. Ketercapaian target indikator keberhasilan terhadap minat belajar siswa dengan indikator persentase siswa yang berminat pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 57. Tabel 57 Hasil Penelitian Minat Belajar Siklus 2 No 1 Variabel dan Indikator Minat Belajar a. Persentase siswa yang berminat b. Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat Kondisi Awal Target Siklus 2 Capaian Siklus 2 Keterangan 27,9% 75% 75,36% Target tercapai 60,61% 85% 87,88% Target tercapai Tabel 57 menunjukkan capaian siklus 2 pada jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat sebesar 87,88% dan persentase siswa yang berminat sebesar 75,36%. Perolehan minat belajar tersebut telah mencapai target yang telah ditentukan. Minat belajar telah mencapai target keberhasilan pada siklus 2, sehingga penelitian ini dinyatakan berhasil dan diakhiri. 5. Kualitas Hasil Kualitas hasil dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPA. Prestasi belajar dihitung berdasarkan rata-rata yang diperoleh dari hasil pengerjaan soal evaluasi. Soal evaluasi disusun berdasarkan standard kompetensi 4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda pada kompetensi dasar 4.1 Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya misalnya benang, kain dan kertas dan 4.2 Menyimpulkan hasil

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap. Hasil prestasi belajar siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 58. Tabel 58 Hasil Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus 1 Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nilai 70 50 85 85 90 85 65 80 90 65 95 85 75 80 75 80 75 80 85 75 70 85 75 65 85 60 90 85 85 75 75 80 85 Rata-rata Ketercapaian KKM Tidak Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai 78,3 Pada tabel 58 terlihat bahwa 7 siswa (21,21%) belum mencapai nilai KKM yang sudah ditentukan yaitu 75, sedangkan 26 siswa (78,79%) siswa sudah

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 mencapai KKM yang ditentukan. Rata-rata kelas yang diperoleh dari hasil soal evaluasi siklus 1 adalah 78,3. Hal ini menyebabkan peneliti juga melakukan perhitungan prestasi belajar berdasarkan prinsip dalam penilaian otentik. Hasil prestasi belajar berdasarkan penilaian otentik pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 59. Tabel 59 Prestasi Belajar Siklus 1 berdasarkan Penilaian Otentik Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Tes 70 50 85 85 90 85 65 80 90 65 95 85 75 80 75 80 75 80 85 75 70 85 75 65 85 60 90 85 85 75 75 80 85 Nilai Kuesioner 86 84 90 89 85 89 91 88 82 79 84 94 83 91 89 84 83 86 94 75 81 92 86 83 89 76 88 91 79 86 85 88 92 Rata-rata Rubrik 56 75 75 78 67 83 75 83 83 75 86 79 56 83 90 75 83 75 53 75 83 90 75 83 83 75 80 80 75 79 75 80 76 Rata-rata 70.67 69.67 83.33 84 80.67 85.67 77 83.67 85 73 88.33 86 71.33 84.67 84.67 79.67 80.33 80.33 77.33 75 78 89 78.67 77 85.67 70.33 86 85.33 79.67 80 78.33 82.67 84.33 Ketercapaian KKM Tidak Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai 80,45

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Tabel 59 menunjukkan rata-rata kelas jika diperoleh dari hasil penilaian otentik sebesar 80,45 pada siklus 1. Jumlah siswa yang mencapai KKM ada 27 siswa. Hasil prestasi belajar yang diperoleh pada siklus 1 dengan aspek kognitif digunakan untuk menentukan ketercapaian target yang menjadi indikator keberhasilan penelitian. Hasil ketercapaian prestasi belajar dapat dilihat pada tabel 60 Tabel 60 Hasil Penelitian Prestasi Belajar Siklus 1 Variabel dan Indikator Prestasi Belajar a. Siswa yang mencapai KKM b. Nilai ratarata kelas Kondisi Awal Target Siklus 1 54,08% 60% 72,27 75 Capaian Siklus 1 Keterangan 78,79% Target tercapai 78,3 Target tercapai Tabel 60 menunjukkan bahwa target pencapaian yang ditentukan sudah tercapai, maka peneliti akan menaikan target pada siklus 2. Hasil prestasi belajar pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 61.

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 Tabel 61 Hasil Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus 2 Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nilai 75 80 70 95 85 90 90 95 90 85 80 95 65 85 65 85 80 60 80 95 95 95 85 90 95 95 95 80 80 85 90 90 85 Rata-rata Ketercapaian KKM Tidak Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tidak tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai 85 Pada tabel 61 terlihat bahwa 4 siswa (12,12%) belum mencapai nilai KKM yang sudah ditentukan yaitu 80, sedangkan 29 siswa (87,88%) siswa sudah mencapai KKM yang ditentukan. Rata-rata kelas yang diperoleh dari hasil soal evaluasi siklus 2 adalah 85. Penilaian otentik juga dilaksanakan pada siklus 2, sehingga diperoleh prestasi belajar yang dapat dilihat pada tabel 62.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Tabel 62 Hasil Prestasi Belajar Siklus 2 berdasarkan Penilaian Otentik Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Tes 75 80 70 95 85 90 90 95 90 85 80 95 65 85 65 85 80 60 80 95 95 95 85 90 95 95 95 80 80 85 90 90 85 Nilai Kuesioner 86 84 90 89 85 89 91 88 82 79 84 94 83 91 89 84 83 86 94 75 81 92 86 83 89 76 88 91 79 86 85 88 92 Rata-rata Rubrik 56 75 75 78 67 83 75 83 83 75 86 79 56 83 90 75 83 75 53 75 83 90 75 83 83 75 80 80 75 79 75 80 76 Ketercapaian KKM 72.33 Tidak Tercapai Tercapai 79.67 Tercapai 78.33 Tercapai 87.33 Tercapai 79 Tercapai 87.33 Tercapai 85.33 Tercapai 88.67 Tercapai 85 Tercapai 79.67 Tercapai 83.33 Tercapai 89.33 Tidak Tercapai 68 Tercapai 86.33 Tercapai 81.33 Tercapai 81.33 Tercapai 82 73.67 Tidak Tercapai 75.67 Tidak Tercapai Tercapai 81.67 Tercapai 86.33 Tercapai 92.33 Tercapai 82 Tercapai 85.33 Tercapai 89 Tercapai 82 Tercapai 87.67 Tercapai 83.67 Tercapai 78 Tercapai 83.33 Tercapai 83.33 Tercapai 86 Tercapai 84.33 82,68 Rata-rata Tabel 62 menunjukkan prestasi belajar berdasarkan hasil penilaian otentik. Nilai rata-rata kelas sebesar 82,68 dan jumlah siswa yang mencapai KKM ada 29. Hasil prestasi belajar yang diperoleh pada siklus 2 dengan aspek kognitif digunakan untuk menentukan ketercapaian target yang menjadi indikator

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 keberhasilan peneltian. Hasil ketercapaian prestasi belajar dapat dilihat pada tabel 63. Tabel 63 Hasil Penelitian Prestasi Belajar Siklus 2 N o 2. Variabel dan Indikator Prestasi Belajar a. Siswa yang mencapai KKM Target Siklus 2 Capaian Siklus 2 Keterangan 75% 87,88% Target tercapai 80 85 Target tercapai b. Nilai rata-rata kelas Tabel 63 menunjukkan bahwa target siswa yang mencapau KKM dan nilai rata-rata kelas telah mencapai target sebesar 70% untuk siswa yang mencapai KKM dan 70 untuk nilai rata-rata kelas. Siswa yang mencapai KKM pada siklus 2 ada 92,9% dengan rata-rata kelas sebesar 83. Prestasi belajar telah mencapai target, sehingga penelitian diakhiri pada siklus 2. Hasil perolehan minat dan prestasi belajar IPA yang telah diperoleh baik pada siklus 1 maupun siklus 2 digunakan untuk menentukan ketercapaian target sebagai indikator keberhasilan. Hasil minat dan prestasi belajar IPA pada siklus 1 dan 2 dapat dilihat pada tabel 64 berikut.

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Tabel 64 Hasil Penelitian N o 1 Variabel dan Indikator Minat Belajar a. Persentase siswa yang berminat b. Jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat 2. Prestasi Belajar c. Siswa yang mencapai KKM d. Nilai ratarata kelas Kondisi Awal Target Siklus 1 Capaian Siklus 1 Ket Target Siklus 2 Capaian Siklus 2 Ket 27,9% 40% 70,33% Target tercapai 75% 75,36% Target tercapai 60,61% 85% 80,81% Target belum tercapai 85% 87,88% Target tercapai 54,08% 60% 78,79% Target tercapai 75% 87,88% Target tercapai 78,3 Target tercapai 80 85 Target tercapai 72,27 75 Tabel 64 menunjukkan bahwa ada peningkatan minat belajar dan pencapaian target indikator keberhasilan. Peningkatan minat belajar ditunjukkan oleh jumlah siswa yang termasuk kategori minimal cukup berminat saat pembelajaran IPA dari kondisi awal sebesar 60,61% menjadi 80,81% pada siklus 1 dan 87,88% pada siklus 2. Persentase siswa yang berminat juga mengalami kenaikan dari kondisi awal sebesar 27,9%, pada siklus 1 70,33%, dan pada siklus 2 menjadi 75,36%. Capaian minat belajar belum mencapai target pada siklus 1 sebesar 85,00%, maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus 2. Target minat belajar dapat tercapai pada siklus 2, sehingga penelitian ini dinyakan berhasil dan diakhiri pada siklus 2.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Prestasi belajar juga mengalami peningkatan dan mencapai target indikator keberhasilan. Peningkatan prestasi ditunjukkan oleh kenaikan jumlah siswa yang mencapai KKM dari kondisi awal sebesar 54,08 % menjadi 78,79% pada siklus 1 dan 87,88% pada siklus 2. Jumlah siswa yang mencapai KKM ini belum mencapai target sebesar 70% pada siklus 1, tetapi dapat mencapai target pada siklus 2. Nilai rata-rata kelas juga mengalami kenaikan dari kondisi awal sebesar 72,27 menjadi 78,3 pada siklus 1 dan 85 pada siklus 2. Rata-rata ini sudah mencapai target pencapaian sehingga penelitian diakhiri pada siklus 2. B. Pembahasan Pelaksanaan tindakan penelitian siklus 1 dan 2 telah berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 menggunakan pendekatan kontekstual. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada KD 4.1. Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya, misalnya benang, kain, dan kertas. Pemilihan KD berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas dan guru mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 yang merasa bahwa minat dan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPA masih rendah. Subjek dalam penelitian ini adalah 33 siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. Objek penelitian adalah peningkatan minat dan prestasi belajar IPA siswa menggunakan pendekatan kontekstual. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan empat indikator minat yang digunakan untuk mengukur minat belajar IPA siswa. Indikator minat tersebut yaitu : (1) siswa memiliki rasa senang

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 saat pembelajaran IPA; (2) siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA; (3) siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA; dan (4) siswa berinisiatif mencari informasi baru. Penelitian pada siklus 1 dilaksanakan 3xpertemuan, masing-masing pertemuan 2x35 menit. Tindakan dalam penelitian ini menggunakan tujuh komponen yang ada dalam pendekatan kontekstual yaitu pemodelan, inkuiri, komunitas belajar, tanya jawab, refleksi, penilaian otentik dan konstruktivisme. Pada penelitian ini, siswa bediskusi bersama di dalam kelompok untuk mengerjakan LAS. Keadaan pada saat siswa mengerjakan LAS dapat dilihat pada gambar 3. Gambar 3 Siswa Pada Saat Mengerjakan LAS Pada gambar 3 dapat dilihat bahwa siswa dalam kelompok yang terdiri dari 6 siswa sedang berdiskusi tentang gambar yang diberikan oleh guru. Siswa kan menganalisis gambar yang mereka dapat dan berdiskusi tentang sifat bahan penyusun benda tersebut. Selain berdiskusi dalam kelompok, siswa juga membuat kartupedia. Hasil kartupedia yang dibuat oleh siswa dapat dilihat pada Gambar 4.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Gambar 4 Hasil Kartupedia Pada gambar 4 dapat kita lihat bahwa siswa membuat kartupedia tentang kegunaan dan sifat dari benang, kertas, dan kain. Di dalam kelompok, siswa berdiskusi dan membuat kartupedia yang kemudian mereka presentasikan di depan kelas. Hasil kerja mereka dinilai oleh guru dan oleh teman dari kelompok lain. Proses pembelajaran menggunakan tujuh kompoenen yang ada dalam pendekatan kontekstual sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam menggali pengetahuan yang mereka dapat. Siswa diberikan kesempatan untuk bekerja di dalam kelompok dan berdiskusi bersama dengan teman mereka yang ada dalam satu kelompok. Dalam kelompok, mereka akan memecahkan sebuah permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada dalam keseharian mereka.

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Pendekatan kontekstual dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa karena ketujuh komponen yang ada di dalam proses pembelajaran. Ketujuh komponen pendekatan kontekstual yang diterapkan oleh peneliti sangatlah berpengaruh terhadap minat siswa terhadap mata pelajaran IPA di kelas V SD Kanisius Kotabaru 1. Pada pembelajaran biasa siswa duduk diam dan mendengarkan penjelasan materi yang diberikan oleh guru, sesekali mereka bertanya kepada guru apabila ada materi yang belum jelas namun dengan penerapan ketujuh komponen dalam pendekatan kontekstual ini, siswa menjadi subjek dalam pembelajaran, siswa terlihat senang mengikuti pembelajaran IPA. Pada saat bekerja di dalam kelompok, siswa terlihat aktif dan berdiskusi bersama dengan teman satu kelompok mereka. Siswa mencari informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang ada di kehidupan mereka sehari-hari. Pelaksanaan tindakan dalam siklus 1 dan 2 dilaksanakan dengan bekerja di dalam kelompok. Setiap siswa diharapkan dapat menjadi aktif dan saling bertukar pikiran dengan teman yang lain. Dalam kelompok, mereka berdiskusi, bertukar pikiran dan juga melakukan percobaan bersama. Setiap kelompok yang melakukan pecobaan akan mengalami sendiri sebuah pengetahuan baru yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi mereka. Gambar siswa yang sedang melakukan percobaan dapat dilihat pada gambar 5.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Gambar 5 Siswa Melakukan Percobaan Pada gambar 5 dapat kita lihat bahwa siswa mencoba melakukan percobaan, mereka ingin mengalami sendiri dan menemukan sendiri pengetahuan mereka. Para siswa terlihat antusias dalam melakukan percobaan. Pengetahuan yang mereka dapat akan mereka olah dan akan lebih bermakna bagi diri mereka apabila mereka mengalami sendiri tidak hanya sekedar mendengar dan menerima dari orang lain. Refleksi merupakan hal yang sangat penting untuk dilaksanaan pada setiap akhir pembelajaran. Refleksi dilaksanakan dengan meminta siswa untuk mengisi lembar refleksi yang sudah disediakan. Tujuan dari refleksi adalah untuk mengetahui kebermaknaan proses pembelajaran yang telah dilaksaknakan. Contoh lembar reflekasi yang diisi oleh siswa dapat dilihat pada gambar 6.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Gambar 6 Contoh Lembar Refleksi Gambar 6 menunjukkan hasil refleksi salah satu siswa yang menjadi subjek dalam penelitian. Refleksi ini berisi tentang perasaan siswa pada saat mengikuti pembelajaran, manfaat yang diperoleh setelah pembelajaran, kesulitan yang dialami dan cara yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang timbul. Hasil observasi juga menunjukkan peningkatan persentase siswa yang berminat. Peningkatan minat belajar berdasarkan hasil observasi dapat dilihat pada gambar 7. 80.00% 70.33% 75% 75.36% 70.00% 60.00% 50.00% 40% 40.00% 30.00% 27.90% 20.00% 10.00% 0.00% Siklus 1 Siklus 2 Kondisi Awal Target Capaian Gambar 7 Bagan Minat Belajar Berdasarkan Observasi

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Gambar 7 menunjukkan peningkatan minat belajar siswa berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti. Bagan minat belajar menunjukkan bahwa minat siswa dari kondisi awal meningkat pada siklus 1 dan siklus 2. Capaian minat siswa sudah mencapai target yang sudah ditentukan oleh peneliti. Peningkatan minat belajar juga ditentukan berdasarkan hasil kuesioner minat yang diisi oleh siswa. Contoh kuesioner minat siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada gambar 8. Gambar 8 Contoh Hasil Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 1 Siklus 1 Gambar 8 menunjukkan kuesioner minat siswa pada siklus 1 yang mencerminkan indikator rasa senang. Kuesioner tersebut memiliki 2 jawaban

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 sangat setuju dan 4 jawaban setuju. Kuesioner pada indicator 1 siklus 2 dapat dilihat pada gambar 9. Gambar 9 Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 1 Siklus 2 Gambar 9 menunjukkan bahwa pada kuesione minat siklus 2 ini pada indiaktor rasa senang terdapat 7 item. Kuesioner tersebut memiliki 6 jawaban sangat setuju dan setuju. Kuesioner minat pada siklus 1 apabila dibandingkan dengan kuesioner minat pada siklus 2 memiliki jawaban yang lebih banyak sangat setuju. Peningkatan jumlah jawaban sangat setuju ini menandakan bahwa minat siswa juga meningkat. Peningkatan minat siswa juga terlihat pada indikator minat yang kedua. Contoh kuesioner minat siswa pada indikator 2 siklus 2 dapay dilihat pada gambar 10.

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Gambar 10 Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 2 Siklus 1 Gambar 10 menunjukkan kuesioner siklus 1 dengan indikator 2. Kuesioner tersebut memiliki 1 jawaban sangat setuju, 1 jawaban setuju dan 3 jawaban raguragu. Kuesioner siklus 2 dengan indikator 2 dapat dilihat pada gambar 11. Gambar 11 Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 2 Siklus 2

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Gambar 11 menunjukkan kuesioner siklus 1 dengan indikator 2. Kuesioner tersebut memiliki 4 jawaban sangat setuju dan 1 jawaban setuju. Peningkatan jumlah jawaban sangat setuju pada kuesioner siklus 1 dan 2 menunjukkan peningkatan minat. Contoh kuesioner minat siswa pada indikator 3 siklus 1 dapat dilihat pada gambar 12. Gambar 12 Contoh Kuesioner Minat Belajar Siswa Pada Indikator 3 Siklus 1 Gambar 12 menunjukkan kuesioner minat pada indikator 3 siklus 1. Kuesioner tersebut memiliki 3 jawaban sangat setuju dan 2 jawaban ragu-ragu. Kuesioner minat siswa pada indikator 3 siklus 2 dapat dilihat pada gambar 13.

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 Gambar 13 Contoh Kuesioner Minat Belajar Siswa Pada Indikator 3 Siklus 2 Gambar 13 menunjukkan kuesioner minat siswa pada indikator 3 siklus 2. Kuesioner tersebut memiliki 5 jawaban sangat setuju. Peningkatan jumlah jawaban sangat setuju pada kuesioner siklus 1 dan 2 menunjukkan peningkatan minat. Contoh kuesioner minat siswa pada indikator4 siklus 1 dapat dilihat pada gambar 14. Gambar 14 Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 4 Siklus 1

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Gambar 14 menunjukkan kuesioner siklus 1 dengan indikator 4. Kuesioner tersebut memiliki1 jawaban sangat setuju, 2 jawaban setuju dan 3 jawaban raguragu. Kuesioner minat siswa pada indikator 4 siklus 2 dapat dilihat pada gambar 15. Gambar 15 Contoh Kuesioner Minat Siswa pada Indikator 4 Siklus 2 Gambar 15 menunjukkan kuesioner minat siswa pada indikator 4 siklus 2. Kuesioner tersebut memiliki 2 jawaban sangat setuju dan 1 jawaban setuju. Peningkatan jumlah jawaban sangat setuju pada kuesioner siklus 1 dan 2 menunjukkan peningkatan minat. Peningkatan minat belajar IPA dari kondisi awal sampai pada siklus 1 dan 2 berdasarkan hasil penelitian dapat digambarkan dalam bagan seperti pada gambar 16.

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 100.00% 85% 90.00% 85% 80.81% 87.88% 80.00% 70.00% 60.61% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% Siklus 1 Siklus 2 Kondisi Awal Target Capaian Gambar 16 Bagan Minat Belajar Siswa berdasarkan Kuesioner Gambar 16 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan minat berdasarkan hasil kuesioner minat belajar siswa. Peningkatan minat dari kondisi awal sampai pada target siklus 2 menandakan bahwa pendekatan kontekstual meningkatkan minat belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar dapat dilihat dari hasil evaluasi yang diperoleh siswa.

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 100.00% 87.88% 90.00% 78.79% 80.00% 75% 70.00% 60% 60.00% 54.08% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% Siklus 1 Siklus 2 Kondisi Awal Target Capaian Gambar 17 Bagan Prestasi Belajar Siswa yang mencapai KKM Peneliti juga mengukur peningkatan prestasi belajar IPA siswa. Pada akhir setiap siklus, peneliti meminta siswa untuk mengerjakan soal evaluasi yang menjadi tolok ukur peningkatan prestasi belajar IPA. Soal evaluasi berisi 20 soal pilihan ganda. Peneliti juga menentukan nilai KKM yang menjadi acuan untuk menentukan siswa yang mencapai KKM dan siswa yang belum mencapai KKM. Hasil pencapaian persentase jumlah siswa yang mencapai KKM dapat dilihat pada gambar 17 diatas. Prestasi belajar siswa dilihat dari bagan mengalami peningkatan dari konidisi awal sampai pada target yang telah ditentukan. Peneliti juga

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 menghitung peningkatan nilai rata-rata kelas. Bagan nilai rata-rata kelas dapat dilihat pada gambar 18. 90 80 85 72.27 75.00 80.00 78.3 70 60 50 40 30 20 10 0 0 Siklus 1 Siklus 2 Kondisi Awal Target Capaian Gambar 18 Bagan Nilai Rata-rata Kelas Gambar 18 menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kelas yang mengalami peningkatan. Peningkatan rata-rata nilai kelas ini membuktikan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual meningkatkan prestasi belajar IPA siswa.

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, keterbatasan dari penelitian yang telah dilakukan, dan saran. A. Kesimpulan Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tujuan meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 yang berjumlah 33 siswa. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran IPA melalui tujuh komponen yang ada di dalam model pembelajaran kontekstual. Ketujuh komponen tersebut adalah konstruktivisme, inkuiri, pemodelan, komunitas belajar, tanya jawab, refleksi, dan penilaian otentik. Komponen konstruktivisme digunakan siswa untuk membangun pengetahuan mereka sehingga mereka mempunyai pengetahuan baru yang sesuai dengan apa yang mereka alami. Komponen inkuiri dapat terlihat pada saat siswa melakukan kerjasama di dalam kelompok, pada siklus 1 guru masih mengarahkan siswa untuk melakukan percobaan sedangkan pada siklus 2 guru tidak mengarahkan siswa dalam melakukan percobaan melainkan siswa yang harus membaca petunjuk yang ada dengan baik. Komponen pemodelan terlihat pada saat guru menunjukkan contoh benda-benda disekitar siswa. Komponen komunitas belajar terlihat pada saat siswa berdiskusi di dalam kelompok. Komponen refleksi terlihat pada saat guru mengajak siswa untuk 147

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 merefleksikan apa yang baru saja mereka pelajari dan hal apa saja yang didapat. Komponen tanya jawab terlihat pada saat guru bersama dengan siswa melakukan tanya jawab tentang materi pembelajaran. Komponen penilaian yang otentik terlihat pada saat siswa menilai kelompok lain yang sedang melakukan presentasi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual meningkatkan minat belajar IPA siswa. Pendekatan kontekstual juga meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA. Peningkatan prestasi belajar juga dipengaruhi oleh peningkatan minat belajar, apabila minat meningkat maka prestasi belajar juga meningkat. Pembelajaran kontekstual mendukung siswa untuk dapat belajar dengan mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah didapat dan dengan mengaitkan pengetahuan yang baru mereka dapat dengan kenyataan yang ada disekitar mereka. Pada pembelajaran kontekstual, siswa dituntut untuk bisa mengalami bukan hanya menghafal dan menerima ilmu pengetahuan yang ditransfer dari guru. B. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dari penelitian yang dilakukan adalah : 1. Peneliti tidak mengetahui tingkat kejujuran dari siswa pada saat mengisi kuesioner. 2. Salah satu variabel yang di teliti dalam penelitian ini adalah minat siswa. Adanya beberapa observer yang masuk ke dalam kelas justru membuat siswa menjadi mengarahkan perhatian mereka kepada para observer. 3. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru sehingga peniliti merasa kesusahan pada saat melakukan penilaian terhadap masing-masing siswa

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 dikarenakan peneliti belum hafal nama setiap siswa dan belum mengetahui karakteristik setiap siswa. C. Saran Saran yang dapat peneliti sampaikan setelah melakukan penelitian tentang peningkatan minat dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru 1 menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu : 1. Peneliti sebaiknya memberikan pengertian kepada siswa bahwa hasil pengisian kuesioner minat tidak akan mempengaruhi nilai sehingga siswa dapat mengisi sesuai dengan yang mereka rasakan. 2. Peneliti sebaiknya tidak terlalu banyak membawa mitra di dalam kelas untuk melakukan pengamatan atau bisa diantisipasi menggunakan alat perekam sehingga peneliti dapat melakukan pengamatan lewat hasil rekaman. 3. Peneliti yang nantinya juga akan bertindak sebagai guru dalam proses penelitian sebaiknya lebih melakukan pendekatan dengan kelas yang akan diteliti sehingga pada saat peneliti melaksanakan penelitian, peneliti sudah memiliki bekal tentang karakteristik siswa.

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Refrensi Agustinus, Ari Fajar Kurniawan. 2012. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Materi Globalisasi Menggunakan Media Audiovisual Mata Pelajaran PKn Kelas IV SD N Kledokan Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012. Yogyakarta : PGSD Universitas Sanata Dharma. Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Arikunto, dkk. 2006. Penelitian tindakan kelas. Jakarta : Bumi Aksara . Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan Untuk Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Yogyakarta : Aditya Media. Azwar, Saifuddin. 2012. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin.2012. Realibilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Bahri, S. Djamarah. 2011. Psikologi belajar.Jakarta:Rineka Cipta Daryanto, dkk. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta : Gava Media. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar Pembelajaran. Jakarta : Rineta Cipta. Djaali. 2007. Psikologi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Djamarah, S. B. 2002. Psikologi belajar. Jakarta: Asdi Maliasatya. Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Hanafiah & Suhana. 2009. Konsep strategi pembelajaran. Bandung: Refika Aditama. Hargenhahn, B.R. and Mattew. 2008. Theories of Learning. Edisi Ketujuh. Jakarta : Kencana. Hurlock, E. B. (2005). Perkembangan anak: Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Jacoben, David A. 2009. Methods for teaching ed.8. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Johnson, E. B. 2010. Contextual teaching & learning: Menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung: Kaifa. 150

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 Komalasari, K. 2010. Pembelajaran kontekstual: Konsep dan aplikasi. Bandung: Refika Aditama. Kusumah, Wijaya. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Indeks. Mardapi, D. 2009. Teknik penyusunan instrument tes dan non tes. Yogyakarta : Mitra Cendekia Press. Overby, Kimberly. 2011. Student Centered Learning. International Jurnal Essai Vol 9. Art 32. Produced by The Berkeley Electronic Press. Prasetya. 2009. Efektifitas Penggunaan Pendekatan kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur Gantiwarno Klaten. Yogyakata : Universitas Sanata Dharma. Priyatmojo,Achmadi dkk. 2010. Buku panduan pelaksanaan Student Centered Learning (SCL) dan Student Teacher Aesthethic Role-Sharing (STAR). Yogyakarta :Pusat Pengembangan Pendidikan UGM. Pusat Bahasa Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Jakarta : Balai Pustaka. Sanjaya,W. 2013. Penelitian pendidikan jenis, metode, dan prosedur. Jakarta : Kencana. Setiyatni. 2011. Skripsi : Pemanfaatan Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Materi Jarak dan Kecepatan di Kelas V C Sekolah Dasar Muhamadiyah Jogodayoh Bantul Bantul. Yogyakarta : PGSD Universitas Sanata Dharma. Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sunandar. 2009. Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar. Yogyakarta : PGSD Universitas Sanata Dharma. Sukmadinata, Nana. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta : PT. Kharisma Putra Utama. Surapranata, S. 2004. Analisis, validitas, reliabilitas, dan interpretasi hasil tes ;implementasi kurikulum 2004. Bandung : Remaja Rosdakarya. Suryawati,et al. 2010. The Effectiveness of RANGKA CTL on Student’s Problem Solving Skills and Scientific Attitude. Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada Taniredja, Tukiran dkk. 2011. Model-model pembelajaran inovatif. Bandung : Alfabeta Tanireja, Pujiati dan Nyata. 2011. Penelitian Tindakan Kelas untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Praktis dan Mudah. Bandung : Alfabeta. Trianto. 2010. Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Jakarta: Kencana.

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 LAMPIRAN

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 Lampiran 1 Surat Ijin Melakukan Penelitian dan Selesai Penelitian

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 Lampiran 2 Instrumen Pembelajaran Sebelum Validasi

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 196

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 215

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 216

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 217

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 218

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 219

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 220

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 221

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 222

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 224

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 225

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 226

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 227

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 229

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 230

(251) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 231

(252) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 232

(253) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 233

(254) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 234

(255) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 235

(256) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 236

(257) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 237

(258) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238

(259) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 239

(260) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 240

(261) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 241

(262) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 242

(263) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 243

(264) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 244

(265) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 245 Lampiran 3 Instrumen Pembelajaran Setelah Validasi

(266) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 246

(267) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 247

(268) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 248

(269) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 249

(270) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 250

(271) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 251

(272) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 252

(273) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 253

(274) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 254

(275) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 255

(276) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 256

(277) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 257

(278) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 258

(279) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 259

(280) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 260

(281) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 261

(282) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 262

(283) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 263

(284) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 264

(285) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 265

(286) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 266

(287) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 267

(288) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 268

(289) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 269

(290) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 270

(291) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 271

(292) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 272

(293) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 273

(294) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 274

(295) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 275

(296) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 276

(297) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 277

(298) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278

(299) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 279

(300) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 280

(301) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 281

(302) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 282

(303) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 283

(304) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 284

(305) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 285

(306) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 286

(307) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 287

(308) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 288

(309) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 289

(310) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 290

(311) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 291

(312) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 292

(313) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 293

(314) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 294

(315) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 295

(316) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 296

(317) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 297

(318) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 298

(319) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 299

(320) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 300

(321) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 301

(322) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 302

(323) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 303

(324) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 304

(325) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 305

(326) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 306

(327) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 307

(328) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 308 Lampiran 4 Contoh-contoh Hasil Pekerjaan Siswa

(329) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 309

(330) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 310

(331) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 311

(332) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 312

(333) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 313

(334) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 314

(335) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 315

(336) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 316

(337) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 317

(338) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 318

(339) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 319

(340) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 320

(341) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 321

(342) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 322

(343) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 323

(344) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 324

(345) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 325

(346) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 326

(347) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 327

(348) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 328

(349) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 329

(350) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 330

(351) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 331

(352) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 332

(353) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 333

(354) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 334

(355) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 335

(356) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 336 Lampiran 5 Hasil Penghitungan IK

(357) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 337

(358) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 338

(359) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 339 Lampiran 6 Output SPSS untuk Uji Validitas dan Reliabilitas

(360) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 340

(361) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 341

(362) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 342

(363) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 343

(364) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 344

(365) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 345

(366) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 346 Lampiran 7 Hasil Content Validity

(367) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 347

(368) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 348

(369) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 349

(370) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 350

(371) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 351

(372) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 352

(373) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 353 Lampiran 8 Hasil Observasi Minat Belajar Pada Kondisi Awal

(374) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 354

(375) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 355

(376) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 356 Lampiran 9 Hasil Observasi Minat Belajar Pada Siklus 1 dan 2

(377) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 357

(378) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 358

(379) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 359

(380) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 360

(381) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 361 Lampiran 10 Data Kuesioner Minat Belajar Pada Kondisi Awal

(382) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 362

(383) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 363 Lampiran 11 Data Kuesioner Minat Belajar Pada Siklus 1 dan 2

(384) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 364

(385) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 365

(386) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 366

(387) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 367

(388) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 368 Lampiran 12 Daftar Nilai Kognitif Siswa pada Kondisi Awal

(389) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 369

(390) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 370

(391) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 371

(392) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 372 Lampiran 13 Daftar Nilai Kognitif Siswa pada Siklus 1 dan 2

(393) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 373

(394) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 374

(395) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 375 Lampiran 14 Data Analisis Hasil Observasi

(396) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 376

(397) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 377

(398) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 378

(399) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 379

(400) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 380

(401) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 381

(402) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 382 Lampiran 15 Daftar Nilai 3 Aspek Siswa pada Siklus 1 dan 2

(403) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 383

(404) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 384

(405) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 385 Lampiran 16 Foto-foto Kegiatan

(406) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 386 Foto-foto Kegiatan Siswa bekerja kelompok dan berdiskusi bersama Siswa mempresentasikan hasil diskusi bersama kelompok Siswa melakukan percobaan Siswa menempelkan kartupedia yang sudah mereka buat

(407)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peningkatan prestasi belajar IPA melalui pendekatan kontekstual pada siswa kelas VI
0
2
48
Peningkatan minat dan prestasi belajar IPA menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IV SD Kanisius Nglinggi.
0
0
337
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kalasan menggunakan metode kontekstual.
0
1
231
Peningkatan minat dan prestasi belajar Pkn siswa kelas IV SD Kanisius Kotabaru Yogyakarta melalui metode Learning Together.
0
0
190
Meningkatkan kerjasama dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD Kanisius Totogan menggunakan pendekatan PMRI.
0
3
210
Peningkatan prestasi belajar IPS menggunakan pendekatan kontekstual pada siswa kelas V SDN Banyakan Mertoyudan Magelang.
0
0
88
Peningkatan minat dan prestasi belajar matematika dengan menggunakan pendekatan PMRI siswa kelas V semester genap SD Kanisius Minggir tahun pelajaran 2011/2012.
0
0
212
Peningkatan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan metode demonstrasi materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru tahun pelajaran 2011/2012.
0
0
262
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Kanisius Kalasan menggunakan metode kontekstual
0
1
229
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar menggunakan pendekatan kontekstual pada materi pecahan siswa kelas IV SD Kanisius Sorowajan semester II tahun pelajaran 2011/2012 - USD Repository
0
2
204
Peningkatan minat dan prestasi belajar matematika dengan menggunakan pendekatan PMRI siswa kelas V semester genap SD Kanisius Minggir tahun pelajaran 2011/2012 - USD Repository
0
0
210
Peningkatan kedisiplinan dan prestasi belajar pada mata pelajaran matematika siswa kelas V SD Kanisius Kintelan Yogyakarta dengan menggunakan pendekatan PMRI - USD Repository
0
3
234
Peningkatan minat dan prestasi belajar IPA materi fase-fase bulan kelas IV Sekolah Dasar Kanisius Jetisdepok dengan pendekatan kontekstual - USD Repository
0
2
240
Peningkatan minat dan prestasi belajar dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV SD Kanisius Jetis Depok tahun pelajaran 2013/2014 - USD Repository
0
1
277
Peningkatan kemandirian dan prestasi belajar matematika menggunakan pendekatan PMRI siswa kelas IV SD Kanisius Gayam Yogyakarta - USD Repository
0
3
309
Show more