PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNY

Gratis

0
0
160
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNYA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh : Stepani Septi Kurniawan NIM : 101434023 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNYA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh : Stepani Septi Kurniawan NIM : 101434023 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENERAPAI\ PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAI\I PENDEKATAN Jf,LAJAH ALAM SEKITAR (JAS) UNTUK MEr\rrNGKATKAnt KEMAMPUAN BERPTKTR KRITIS I}AI\I HASIL BELAJAR SISWA KELAS YII SMP XAVERIUS 3 BAI\IDAR LAMPTING PADA MATERI INTERAIGSI MAKHLUK IIIDT]P DENGAIY LINGKT]NGAI{I\TYA Oleh Stepani Septi Kurniawan NIM: 101434023 Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing b LuisaDi NPP.2291P Tanggal 12 Agustus 2014

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENERAPAI\ PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAN PENDEKATAI\I JELAJAH ALAM SEKITAR MEI\gNGKATKAI\I KEMAMPUAI\1 BERPIKIR ifas) ' UXTUK xmus DAI\[ HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP XAVERIUS 3 BAI\DAR LAMPT]NG PADA MATERI INTERAKSI MAKHLT'K HIDI]P DENGAI{ LINGKT'NGAI\NYA Dipeniapkan dan ditulis Oleh Stepani SePti Kurniawan NIM : 101434023 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 2lAgustus 2014 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji NamaLengkap M. Andy Rudito, S.Pd' M.Si Ketua : Se*retaris : Drs. Anggota : 1. LuisaDianaHandoYo, M.Si A. Tri Priantoro, M.For.Sc 2.Ch.Retno Heranni S, M.Biotech 3. Ika Yuli ListYarini, M.Pd Yogyakarta 21 Agustus 2014 Fakultas Kegunran dan Ilmu Pendidikan

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN “Jika ragu dalam melakukan sesuatu, sebaiknya tanya kepada diri sendiri, apa yang kita inginkan esok hari dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya” (John Lubbock) Kupersembahan karya ini untuk : Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kekuatan dalam setiap langkahku Bapak, Ibu dan Adikku yang selalu mencurahkan kasih sayang dan doa untukku Sahabatku yang selalu memberikan dukungan dan motivasi

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI rEffi &TA*I$HDASDT*FTM*EYA saya mcnyatakan dcnsar scsrmgguhlaabahwa srripi ]rang saya tulis ini tidak yutgtBlah disebuem dalam memnat *arya atau bagian karya otang lafuu kesueli hEipm fu dofu @, q,are*qm hyahyflEryd ihie Yirlg ?1 A 2014 Penulis, e{ S&paoi'Sopi Kumiawan ! _.\j

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LETEAR PER}TIYATA/TN PER,SEIT}.}tIA}T$ PI}BLIKASI KARYA ILMIAII UNTT]K KEPENTINGAI\ AKAI}EIIdIS Yang bertandatangan di bawah rni, saya matrasiqwa Universi*as,Sanata Dharna Nama : Stepani SePtiKurniawan NIM : 101434423 Demi pengembangan ilmu pengetahuar1, saya membirikan kepada Perpustakan Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjuduL .'PEIYE.RAPAFT PEMBE.I,A"IARAIY BERBASIS MASAfuTH (PBM} DENGAI\I PE}TDEKATAIY JELAJAH ALAM SEKITAR. (,AS} TJNTT]K MEI\Itr\IGKATKAN KEMAMPUAI\I BERPIKIR. IS.ITIS DAN I1TI BELAJAR SISWA Kf,LAS YII SMP XIV0NTUS 3 AAI{DAfl.I,AMPIING PADA MATERI INTERAKSI MAKIILI'K.NDUP. DBNGAT\ LINGKTJNGAI{T{YA' Durgan denrikian saya rnemberikan kepada Perpustakaan'sanata Dlrarma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lairl mengelola dalam mendistribusikan secara : , terbatas dan bentuk pangakalan mempublikasikannya..di'interrt at,f,t meiditt lain :untuk rhepenthgnn akademis tanpa perlu meminta izn da.ir saya maupun memberikan royalfi kepada saya dat4 sdrna teapnrencantumksn rr4fiI6 saya sebagBi pmutis Demikian pemyataan ini yang saya buat dengan sebenamya. Dibuat di : Yogyakarh Padatanggai : 2lAgustu s 2014 Yurgmeryeh& &^4" StepaniSefii Kurniawan vt

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DENGAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNYA Stepani Septi Kurniawan Universitas Sanata Dharma 2014 Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Biologi pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya pada Kelas VIIA disebabkan pembelajaran yang masih menekankan pada metode ceramah dan siswa masih bersikap pasif dalam kegiatan pembelajaran. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung Pada Materi Interaksi Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memberikan tindakan pada subyek penelitian dalam dua siklus pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, analisis LKS dan laporan, lembar soal prestest dan posttest, serta uji analisis data untuk mengetahui korelasi antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan observasi dan analisis LKS serta laporan pada siklus I sebesar 60,76% dan pada siklus II sebesar 81,88%. Nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II sebesar 81%. Hasil belajar afektif siswa pada siklus I sebesar 61.53% dan pada siklus II sebesar 84.16%. Hasil belajar psikomotor siswa pada siklus I sebesar 61.53% dan pada siklus II sebesar 80.76%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung dan terdapat korelasi. Kata kunci : PBM, JAS, Berpikir kritis, Hasil belajar vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT APPLICATION OF PROBLEM BASED LEARNING (PBM) WITH APPROACH NATURAL CRUISING AROUND (JAS) TO IMPROVE CRITICAL THINKING SKILL AND LEARNING OUTCOMES STUDENTS GRADE VII JUNIOR HIGH SCHOOL XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG IN MATERIAL LIVING THINGS WITH THEIR ENVIRONMENT INTERACTION Stepani Septi Kurniawan Sanata Dharma University 2014 The low critical thinking skills and student learning outcomes in science subjects of Biology at the material living things and their environment interaction in the Class VIIA is caused learning is focused on the methods of lecture and students are still passive in the learning activities. This research aims to know the Application of Problem Based Learning (PBM) Approach Cruising Around Nature (JAS) to Improve Critical Thinking Skills and Learning Outcomes Students Grade VII Junior High School Xaverius 3 Bandar Lampung in Material Living Things with Their Environment Interaction. The design of this study was Classroom Action Research to provide action on the subject of research in the two cycles of learning. This study was conducted in class VIIAJunior High School Xaverius 3 Bandar Lampung. The data was collected using the observation sheet, analysis worksheets and reports, booklet prestestand posttest, and test data analysis to look for the correlation between critical thinking skills and student learning outcomes. The results showed students' critical thinking skills based on observation and analysis worksheets and reports on the first cycle of 60.76% and the second cycle was 81.88%. The average value of cognitive learning outcomes of students in the first cycle by 58% and the second cycle of 81%.Affective learning outcomes of students in the first cycle of 61.53% and the second cycle was 84.16%. Psychomotor learning outcomes of students in the first cycle of 61.53% and the second cycle was 80.76%. The conclusion of this research is the application of Problem Based Learning (PBM) approach Cruising Around Nature (JAS) can improve critical thinking skills and student learning outcomes students gradeVII Xaverius 3 Bandar Lampung and be found correlation. Key word : PBM, JAS, Critical Thinking, Learning outcome. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul "Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung Pada Materi Interaksi Makhluk Hidup Dengan Lingkungannya" dapat diselesaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini, penulis menemui berbagai hambatan, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya hambatan yang ada dapat teratasi. Oleh karena itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Drs. A. Tri Priantoro, M.For.Sc, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi yang telah turut memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Luisa Diana Handoyo, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Petrus Sumarjan, S.Pd, selaku Kepala sekolah SMP Xaverius 3 Bandar Lampung yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. R. Sihmara, S.Pd, selaku guru pengampu mata pelajaran IPA kelas VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung yang senantiasa membantu kelancaran penelitian dan kerja samanya. 5. Segenap Dosen Prodi Pendidikan Biologi yang senantiasa menuntun, memotivasi, dan membimbing penulis selama kuliah di Universitas Sanata Dharma. 6. Seluruh Staff Sekretariat Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atas segala pelayanan yang telah diberikan. 7. Orang tua dan adik saya yang telah memberikan doa dan dorongannya dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Sahabatku Lily dan Ana yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Teman-teman P.Bio’10 atas segala kebersamaan, semangat dan bantuan yang diberikan selama belajar di pendidikan Biologi. 10. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari sempurna. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, Agustus 2014 Stepani Septi Kurniawan x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN HALAMAN JUDUL .......................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................ vi ABSTRAK ............................................................................................. vii ABTRACT .............................................................................................. viii KATA PENGANTAR ........................................................................... ix DAFTAR ISI .......................................................................................... xi DAFTAR TABEL ................................................................................. xiii DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xv DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 6 C. Batasan Masalah.......................................................................... 7 D. Tujuan Penelitian ........................................................................ 11 E. Manfaat Penelitian ...................................................................... 11 BAB II DASAR TEORI ........................................................................ 13 A. Belajar dan Pembelajaran ............................................................ 13 B. Pembelajaran Berbasis Masalah .................................................. 15 C. Jelajah Alam Sekitar ................................................................... 19 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Kemampuan Berpikir Kritis ........................................................ 22 E. Hasil Belajar ................................................................................ 27 F. Interaksi Makhluk Hidup Dan Lingkungannya........................... 38 G. Kajian yang Relevan ................................................................... 42 H. Kerangka Berpikir ....................................................................... 43 I. Hipotesa Tindakan ...................................................................... 46 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................... 47 A. Jenis Penelitian ............................................................................ 47 B. Setting Penelitian ........................................................................ 47 C. Desain Penelitian ......................................................................... 48 D. Rancangan Penelitian .................................................................. 54 E. Instrumen Penelitian.................................................................... 55 F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 56 G. Teknik Analisis Data ................................................................... 59 H. Indikator Keberhasilan ................................................................ 76 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................. 78 A. Deskripsi Hasil Penelitian ........................................................... 78 B. Hasil Penelitian dan Pembahasan................................................ 107 C. Penerapan PBM dengan Pendekatan JAS ................................... 127 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 136 A. Kesimpulan ................................................................................. 136 B. Saran ............................................................................................ 137 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 137 LAMPIRAN xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL HALAMAN Tabel 2.1 Sintaks PBL ............................................................................ 17 Tabel 2.2 Kerangka Kerja Berpikir Kritis Menurut Norris dan Ennis .... 24 Tabel 3.1 Perolehan Data ........................................................................ 55 Tabel 3.2 Indikator Observasi Kemampuan Berpikir Kritis ................... 60 Tabel 3.3 Kriteria Kenampuan Berpikir Kritis Siswa ............................. 61 Tabel 3.4 Rubrik Analisis LKS dan Laporan .......................................... 63 Tabel 3.5 Kriteria Kenampuan Berpikir Kritis Siswa ............................. 64 Tabel 3.6 Kriteria Hasil Belajar Afektif .................................................. 67 Tabel 3.7 Rubrik Penilaian Psikomotor .................................................. 68 Tabel 3. 8 Kriteria Hasil Belajar Psikomotor .......................................... 70 Tabel 3.9 Indikator Keberhasilan ............................................................ 77 Tabel 4.1. Jadwal Sebelum Tindakan ..................................................... 78 Tabel 4.2 Jadwal Pelajaran IPA Kelas VIIA ........................................... 79 Tabel 4.3 Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis ............................. 107 Tabel 4.4 Hasil Observasi Per Indikator Kemampuan Berpikir Kritis ... 114 Tabel 4.5 Hasil Analisis LKS dan Laporan Kemampuan Berpikir Kritis 115 Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dan II ............................. 116 Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov 122 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.8Anova Kritis-Kognitif .............................................................. 124 Tabel 4.9 Koefisien Kritis-Kognitif ........................................................ 124 Tabel 4.10 Anova Kritis-Afektif ............................................................. 125 Tabel 4.11 Koefisien Kritis-Afektif ........................................................ 125 Tabel 4.12 Anova Kritis-Psikomotor ...................................................... 126 Tabel 4.13 Koefisien Kritis-Psikomotor ................................................. 126 Tabel 4.11 Uji Korelasi Kemampuan Berpikir kritis dan Hasil Belajar . 127 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR HALAMAN Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ............................................................... 45 Gambar 3.1 PTK Model Stephen Kemmis & Robbin Mc Taggart ......... 49 Gambar 3.2 Jarak Vertikal D pada grafik Kolmogrov-Sminrov Test ..... 72 Gambar 4.1 Siswa Melakukan Pretest .................................................... 84 Gambar 4.2 Siswa Mengerjakan LKS ..................................................... 87 Gambar 4.3 Siswa Melakukan Pengamatan ............................................ 88 Gambar 4.4 Siswa Presentasi di Depan Kelas ........................................ 91 Gambar 4.5 Siswa Melakukan Pengamatan ............................................ 100 Gambar 4.6 Siswa Presentasi .................................................................. 101 Gambar 4.7 Siswa Melakukan Posttest 2 ................................................ 103 Gambar 4.8 Merumuskan Masalah dan Hipotesis .................................. 109 Gambar 4.9 Rumusan Masalah dan Hipotesis ........................................ 112 Gambar 4.10 Membuat Kesimpulan ....................................................... 112 Gambar 4.11 Hasil Pengamatan .............................................................. 113 Gambar 4.12 Jawaban Siswa dalam LKS ............................................... 113 Gambar 4.13 Grafik Perbandingan Posttest 1 dan 2 ............................... 117 Gambar 4.14 Grafik Perbandingan Hasil Belajar Afektif ....................... 119 Gambar 4.15 Grafik Perbandingan Hasil Belajar Aspek Psikomotor ..... 120 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN HALAMAN INSTRUMEN PELAJARAN Lampiran A.1 Silabus.............................................................................. 143 Lampiran A.2 RPP Siklus I ..................................................................... 147 Lampiran A.3 RPP Siklus II ................................................................... 156 Lampiran A.4 Materi Siklus I ................................................................. 165 Lampiran A.5 Materi Siklus II ................................................................ 168 INSTRUMEN PENELITIAN Lampiran B.1 Lembar Kerja Siswa 1 ...................................................... 171 Lampiran B.2 Prestest ............................................................................. 175 Lampiran B.3 Posttest 1 .......................................................................... 186 Lampiran B.4 Lembar Observasi Kemampuan Berpikir Kritis .............. 193 Lampiran B.5 Lembar Observasi Afektif ............................................... 116 Lampiran B.6 Lembar Observasi Psikomotor......................................... 119 Lampiran B.7 Lembar Kerja Siswa 2 ...................................................... 202 Lampiran B.8 Lembar Kerja Siswa 3 ...................................................... 206 Lampiran B.9 Posttest2 ........................................................................... 210 HASIL PENELITIAN Lampiran C.1 Kemampuan Berpikir Kritis Siklus I ............................... 219 Lampiran C.2 Kemampuan Berpikir Kritis Siklus II .............................. 221 Lampiran C.3 Analisis LKS dan Laporan ............................................... 223 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran C.4 Analisis Posttest 1 ............................................................ 224 Lampiran C.5 Analisis Posttest 2 ............................................................ 226 Lampiran C.6 Analisis Observasi Afektif Siklus I.................................. 228 Lampiran C.7 Analisis Observasi Afektif Siklus II ................................ 230 Lampiran C.8 Analisis Observasi Psikomotor Siklus I ........................... 232 Lampiran C.9 Analisis Observasi Psikomotor Siklus II ......................... 233 Lampiran C.10 Korelasi dengan SPSS.................................................... 234 Lampiran C.11 Analisis Pretest............................................................... 235 Lampiran C.12 Jawaban Pretest .............................................................. 237 Lampiran C. 13 Jawaban Posttest 1 ........................................................ 244 Lampiran C.14 Jawaban Posttest 2 ......................................................... 249 Lampiaran C.15 Jawaban LKS ............................................................... 256 Lampiran C.16 Laporan .......................................................................... 268 Lampiran C.17 Pedoman wawancara I ................................................... 275 Lampiran C.18 Pedoman wawancara II .................................................. 276 PERIJINAN PENELITIAN Lampiran D.1 Surat Ijin Observasi dan Penelitian.................................. 277 Lampiran D.2 Surat Telah Melakukan Penelitian ................................... 278 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran pada hakikatnya adalah pola interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses untuk mencapai suatu tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Menurut Mulyasa (2007:121) bahwa proses pembelajaran dikatakan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Permasalahan yang ditemukan di kelas VIIA melalui hasil wawancara dengan guru IPA Biologi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan lebih banyak di dalam kelas sehingga kurang bervariasi, dan kurang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran. Hal ini mengakibatkan kegiatan pembelajaran kurang menarik minat siswa. Selain itu juga, selama proses pembelajaran siswa bersikap pasif dan kemampuan berpikir kritis pada siswa masih rendah. Reandahnya kemampuan berpikir kritis pada siswa tersebut dilihat berdasarkan sikap siswa yang terpaku pada penjelasan atau ceramah guru. 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Hasil belajar di sekolah ini juga sangat rendah. Hasil ulangan harian siswa kelas VIIA di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung pokok bahasan Ekosistem tahun ajaran 2012/2013 dengan masih menerapkan kurikulum KTSP adalah hampir 65% dari 25 siswa yang tidak tuntas dalam belajar atau hasil belajar rendah (rata-rata 56,5), sedangkan standar ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah adalah 70. Aspek lain yang menyebabkan hasil belajar rendah karena faktor kebosanan terhadap kondisi belajar yang monoton dan kurang bervariasi sehingga siswa menjadi malas untuk mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian besar siswa kelas VIIA yang datang ke sekolah hanya duduk dan diam mendengarkan saja. Namun beberapa siswa ada yang terlalu aktif dengan berjalan – jalan saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Berdasarkan penyampaian permasalahan–permasalahan yang dihadapi di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung dapat dikatakan bahwa faktor utama adalah metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru selama ini belum tepat. Pembelajaran IPA biologi di sekolah ini umumnya yang dilakukan oleh guru lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman. Sedangkan aspek penerapan hanya sebagian kecil dari pembelajaran yang dilakukan. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata. Kondisi hasil belajar sains terutama IPA Biologi yang rendah juga disebabkan pada pembelajaran IPA Biologi di sekolah yang masih dipandang

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 oleh siswa sebagai pelajaran hafalan dan kurang bermakna, sehingga hasil belajar siswa hanya sebatas pada tingkat penyerapan informasi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Supriadi (1995) dalam Hadiningtyas (2012), bahwa untuk pengajaran diperlukan metode pembelajaran yang optimal. Hal ini berarti bahwa untuk mencapai kualitas pengajaran yang tinggi, setiap pembelajaran IPA Biologi harus diorganisasikan dengan strategi pembelajaran yang tepat dan selanjutnya disampaikan kepada siswa dengan strategi yang tepat pula. Dalam hal ini pemerintah telah mengambil langkah untuk mengatasi permasalahan proses pembelajaran di sekolah dengan adanya perubahan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ini diharapkan dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia hadapi perubahan dunia. Adapun orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Perubahan yang paling berdasar adalah nantinya pendidikan akan berbasis science dan tidak berbasis hafalan lagi ( Jayagiri, 2012 ). Salah satu strategi pembelajaran yang efektif dapat dikembangkan dalam kurikulum 2013 ini adalah strategi pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan pendekatan jelajah alam sekitar sebagai upaya untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis. Pemilihan model PBM dengan menggunakan pendekatan JAS didasarkan atas karakteristik dari model

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 pembelajaran ini sendiri yang menitikberatkan pada peran sentral siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Selain itu melalui proses pemecahan masalah dalam pembelajaran, siswa dapat menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan berbagai pengalaman belajar melalui proses mentalnya sendiri, sehingga membuat siswa menjadi lebih termotivasi (menjadi lebih aktif, kritis, dan kreatif) dalam mengikuti pelajaran IPA Biologi. Sebagai contoh siswa mampu menemukan sendiri konsep cara belajar dan memahami suatu materi pelajaran sesuai dengan kondisi. Siswa juga dapat mengoptimalkan otak untuk berpikir dalam menganalisis dan memecahkan masalah. Jadi, ketika anak didik mendapatkan permasalahan yang menyangkut kehidupan sehari-hari, siswa tidak lagi canggung dalam menyelesaikan masalah tersebut. Pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan dalam memecahkan masalah dapat merangsang siswa berpikir kritis. Siswa yang berpikir kritis adalah siswa yang mampu mengidentifikasi, mengevaluasi, mengkonstruksi argumen serta mampu menolong dirinya atau orang lain dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi (Fisher, 2007). Dengan demikian diharapkan dapat mengubah pola dan sikap guru dalam mengajar yang semula berperan sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator yang menghasilkan suatu pembelajaran yang berorientasi pada kerjasama diantara siswa dalam memecahkan masalah yang dapat melatih dan merangsang siswa untuk mengembangkan daya nalar secara kritis. Serta

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 dapat memberi peluang kepada siswa untuk mengoptimalkan kemampuannya dalam rangka meraih hasil belajar yang sebaik–baiknya dan siswa terdorong untuk terlibat secacara aktif dalam pembelajaran. Sekolah ini memiliki lingkungan yang mendukung pembelajaran di luar sekolah. Terdapat beberapa lahan kosong yang dimanfaatkan sekolah dengan dibentuk menjadi taman dan kebun sekolah. Banyak jenis tumbuhan yang tumbuh subur di lingkungan sekolah seperti pohon beringin, bunga bougenville, rumput, dan lain-lain. Sekolah ini tidak memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap yaitu berupa laboratorium IPA. Sekolah ini juga memiliki keamanan yang sangat baik yaitu terdapat penjaga sekolah yang menjaga lingkungan sekolah agar siswa tidak keluar sekolah tanpa ijin. Melalui lingkungan yang ada di sekolah tersebut, maka pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) sangat tepat untuk mendukung proses pembelajaran di luar kelas. Selain itu juga, pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya merupakan materi IPA Biologi yang mempelajari mengenai lingkungan ekosistem. Lingkungan ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik merupakan makhluk hidup dan komponen abiotik merupakan benda mati yang beupa tanah, kayu, air, dan udara. Di dalam ekosistem terdapat interaksi antar komponen biotik dan komponen abiotik. Melalui permasalahan dan pernyataan di atas, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dengan Penerapan Pembelajaran Berbasis

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Masalah (PBM) dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar pada Materi Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungannya pada Siswa Kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2013 / 2014. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya pada siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013 / 2014? 2. Apakah penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya pada siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013 / 2014? 3. Apakah terdapat korelasi antara kemampuan berpikir kritis dengan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013 / 2014 pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya?

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 C. Batasan Masalah Untuk membatasi permasalahan pada penelitian ini maka ruang lingkup yang akan diteliti adalah sebagai berikut : 1. Kemampuan berpikir kritis Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik serta melibatkan evaluasi bukti (Desmita 2009:153). Dalam penelitian ini terdapat 2 (dua) instrumen yang digunakan. Instrumen pertama melalui observasi langsung dengan aspek yang diukur yaitu memahami tujuan berpikir, memahami kedalaman dan keluasan materi, mencari informasi yang relevan, merumuskan pendapat, konsekuen terhadap pendapat, mengklarifikasi pendapat, merumuskan pemecahan masalah, penarikan kesimpulan, bertanya tentang kebenaran suatu argumen, dan mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain. Instrumen yang kedua melalui LKS dan laporan dengan aspek yang diukur yaitu mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi konsep materi, merumuskan pemecahan masalah, memahami kedalaman dan keluasan materi, dan penarikan kesimpulan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 8 Hasil belajar Hasil belajar adalah pola–pola perbuatan, nilai–nilai, pengertian, sikap–sikap, apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotor ( Suprijono 2011:5). Dalam penelitian ini terdapat 3 (tiga) aspek yang diukur yaitu a. Aspek kognitif yang mencakup aspek mengingat, mengerti dan memakai. b. Aspek afektif yang mencakup aspek penerimaan dengan meliputi sikap jujur, aspek pemberian respon dengan meliputi sikap percaya diri, aspek pemberian nilai yang meliputi sikap tanggung jawab, aspek pengorganisasian yang meliputi sikap displin, tekun, terbuka, rajin dan kreatif, dan aspek karakteristik yang meliputi sikap tenggang rasa, kerjasama, peduli dan ramah terhadap teman atau kelompok. c. Aspek psikomotor yang mencakup aspek menerapkan yang meliputi keterampilan melakukan pengamatan sesuai dengan petunjuk yang diberikan, dan melakukan diskusi dengan kelompok, serta aspek memantapkan yang meliputi keterampilan memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain, memberikan pendapat untuk pemecahan masalah dan terlibat aktif dalam diskusi dan presentasi.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 9 Materi Materi dalam penelitian ini adalah interaksi makhluk hidup dengan lingkungnnya. Adapun kompetensi inti dan kompetensi dasar sebagai berikut : a. Kompetensi inti : 1) Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, diplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberdaannya. 3) Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak mata 4) Mencoba, mengolah, (menggunakan, dan mengurai, menyaji dalam merangkai, ranah konkret memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 b. Kompetensi dasar 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan kimiawi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan manusia dalam lingkungan serta mewujudkannya dalam pengamatan ajaran agama yang dianutnya. 1.2 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggungjawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif; dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari–hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi. 1.3 Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari– hari sebagai wujud implementasi melaksankan percobaan dan melaporkan hasil percobaan. 1.4 Mendeskripsikan interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. 1.5 Menyajikan hasil observasi terhadap interaksi makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. 4 Subyek Penelitian Dalam penelitian ini subyek penelitiannya adalah siswa-siswi kelas VIIA yang berjumlah 26 murid.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013/2014 pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya melalui penerapan Pembalajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan pada pembelajaran IPA Biologi khususnya pada upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). 2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). b. Bagi Guru, diharapkan dapat memanfaaatkan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 sehingga kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya dapat meningkat. c. Bagi Sekolah, penelitian ini mampu memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan strategi pembelajaran IPA Biologi yang berbasis kurikulum 2013. d. Bagi Peneliti, memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran IPA Biologi melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II DASAR TEORI A. Belajar dan Pembelajaran Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Secara umum, belajar juga dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2008). Menurut Jihad dan Haris (2008:1) belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Soemanto (1998:104) mengemukakan definisi belajar menurut para ahli: Menurut James O. Wittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau 13

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 pengalaman. ”Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience.” (Whittaker, 1970:15). Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obatobatan adalah tidak termasuk sebagai belajar. Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, dikemukakan oleh Cronbach dalam bukunya yang berjudul ”Educational Psychology” sebagai berikut: ”Learning is shown by change in behavior as a result of experience.” (Cronbach, 1954:47). Dengan demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. Satu definisi lagi yang perlu dikemukakan di sini yaitu yang dikemukakan oleh Howard L. Kingsley sebagai berikut: ”Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training.” (Kingsley, 1957:12). (Belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan). Belajar dalam arti mengubah tingkah laku, akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Menurut Hamalik (2002:57) Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang, kelas

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. B. Pembelajaran Berbasis Masalah ( PBM ) 1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan (Wena, 2011:91). 2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah Menurut Savoie dan Hughes (dikutip oleh Wena, 2011:91) strategi pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik antara lain : a. Belajar dimulai dari permasalahan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 b. Permasalahan yang diberikan harus berhubungan dengan dunia nyata siswa c. Mengorganisasikan pembelajaran diseputar permasalahan, bukan diseputar displin ilmu d. Memberikan tanggung jawab yang besar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri e. Menggunakan kelompok kecil f. Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah dipelajarinya dalam bentuk produk dan kinerja 3. Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah Strategi pembelajaran berbasis masalah-masalah juga harus dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Menurut Fogarty (dikutip dari Wena, 2011:91) tahap-tahap strategi belajar berbasis masalah adalah sebagai berikut : a. Merumuskan masalah b. Mendefinisikan masalah c. Mengumpulkan fakta d. Menyusun hipotesis e. Melakukan penyelidikan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 f. Menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan g. Menyimpulkan alternatif pemecahan secara kolaboratif h. Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah Di bawah ini merupakan fase dan perilaku yang dilaksanakan dalam pembelajaran berbasis masalah : Tabel 2.1 Sintaks PBL Fase – fase 1 Fase 1 : memberikan tentang permasalahannya orientasi Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak exhibit Fase 5 : mengevaluasi masalah menganalisis dan proses mengatasi Perilaku pendidik 2 Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendiskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahan Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan aretefakartefak yang tepat, seperti laporan, rekaman, video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikan kepada orang lain Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan prosesproses yang mereka gunakan

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 4. Kelebihan dan kelemaham pembelajaran berbasis masalah Menurut Aminandar (2012:14) kelebihan pembelajaran berbasis masalah antara lain : a. Realistis dengan kehidupan nyata siswa b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa c. Memupuk sifat inkuiri siswa d. Retensi konsep menjadi kuat e. Memupuk kemampuan problem solving Dari kelebihan tersebut dapat dipahami bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual. Kelemahan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut : a. Membutuhkan persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks b. Sulitnya mencari problem yang relevan c. Sering terjadi perbedaan pemahaman konsep d. Memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses penyelidikan Dari kelemahan tersebut dapat dipahami bahwa dalam penggunaan pembelajaran berbasis masalah membutuhkan problem yang relevan yang

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 dapat dipahami siswa supaya tidak terjadi perbedaan pemahaman konsep dalam memecahkan masalah. C. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar ( JAS ) Ridlo (2005, dikutip oleh Mulyani 2008:15), menyatakan bahwa kegiatan penjelajahan merupakan suatu strategi alternatif dalam pembelajaran biologi. Kegiatan ini mengajak peserta didik aktif mengeksplorasi lingkungan sekitar untuk mencapai kecakapan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya sehingga memiliki penguasaan bermasyarakat. Lingkungan sekitar dalam hal ini bukan saja sebagai akibat adanya kegiatan pembelajaran. Pendekatan JAS berbasis pada akar budaya, dikembangkan sesuai metode ilmiah dan dievaluasi dengan berbagai cara. Pendekatan pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran biologi dan maupun bagi kajian ilmu lain yang bercirikan memanfaatkan lingkungan sekitar dan stimulasinya sebagai sumber pada peserta didik (Mulyani, 2008:7). Menurut Santoso dalam Marianti (2006:16) mengemukakan bahwa yang menjadi penciri dalam kegiatan pembelajaran berpendekatan JAS adalah selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan alam sekitar menggunakan media. Ciri kedua adalah selalu ada kegiatan berupa peramalan (prediksi), pengamatan, dan penjelasan. Ciri ketiga adalah ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan, gambar, foto, ataupun audiovisual.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Mulyani (2008:6-7), kriteria lokasi yang dapat digunakan untuk pembelajaran jelajah alam sekitar antara lain adalah : 1. Keamanan Perlu diperhatikan tempat studi membahayakan, ada potensi bencana, tanaman beracun, atau dekat jalan raya. Selain itu tempat tersebut mudah bagi anak untuk melakukan eksplorasi dan guru melakukan pengawasan. 2. Aksesibilitas Mudah dijangkau oleh guru maupun siswa untuk berpindah tempat dari indoor ke outdoor. 3. Ukuran Usahakan lokasi tersebut dapat memuat seluruh siswa satu kelas sehingga lebih nyaman dalam belajar dan dapat berkomunikasi dengan siswa lain di area tersebut. 4. Keanekaragaman Idealnya lokasi yang akan diselidiki memiliki kelengkapan keanekaragaman obyek belajar. Contohnya : pohon, herba, rumput, ranting-ranting kering dan seresah. Di sekolah ini memiliki lingkungan yang dimanfaatkan untuk dijadikan taman kecil dan kebun sekolah.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Banyak jenis tumbuhan yang tumbuh di lingkungan tersebut seperti ; pohon beringin, rumput, bunga bougenville, dan lain-lain. Implementasi pendekatan pembelajaran JAS mengajak peserta didik mengenal obyek, gejala dan permasalahan, menelaahnya dan menemukan simpulan atau konsep tentang sesuatu yang dipelajarinya. Konseptualisasi dan pemahaman diperoleh peserta didik tidak secara langsung dari guru atau buku, akan tetapi melalui kegiatan ilmiah, seperti mengamati, mengumpulkan data, membandingkan, memprediksi, membuat pertanyaan, merancang kegiatan, membuat hipotesis, merumuskan simpulan berdasarkan data dan membuat laporan secara komperehensif. Secara langsung peserta didik melakukan eksplorasi terhadap fenomena alam yang terjadi. Fenomena tersebut dapat ditemui di lingkungan sekeliling peserta didik atau fenomena tersebut dibawa ke dalam pembalajaran di kelas. Visualisasi terhadap fenomena alam (biologi) akan sangat membantu peserta didik untuk mengamati sekaligus memahami gejala atau konsep yang terjadi. Langkah – langkah pembelajaran dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) yaitu: (1) eksplorasi tempat, (2) mengorganisasi siswa untuk belajar, (3) membimbing persiapan observasi kelompok, (4) memonitoring siswa dan pelaksanaan JAS, (5) memberikan penilaian terhadap hasil, (6) evaluasi. Kelebihan pendekatan JAS antara lain: 1. Guru bertindak sebagai fasilitator sekaligus motivator yang tercemin dalam kegiatan yang dikembangkan dalam pembelajaran.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 2. Pembelajaran memungkinkan peserta didik belajar dalam kelompok. 3. Guru senantiasa berupaya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengekspresikan kemampuan dan gagasannya, baik melalui lisan, performance, maupun tulisan. Kekurangan pendekatan JAS antara lain : 1. Pendekatan pembelajaran yang hanya sesuai dengan materi-materi tertentu 2. Memerlukan beberapa kriteria tertentu dalam pemilihan tempat untuk jelajah alam sekitar D. Kemampuan Berpikir Kritis 1. Berpikir Kritis Menurut Beberapa Ahli Berpikir kritis artinya pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang fokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan (Norris and Ennis, dikutip oleh Fisher 2007 :3). Berdasarkan definisi dari Ennis tersebut dapat diungkapkan beberapa hal penting. Berpikir kritis difokuskan ke dalam pengertian sesuatu yang penuh kesadaran dan menngarahkan pada sebuah tujuan. Tujuan dari berpikir kritis akhirnya memungkinkan kita untuk membuat keputusan. Edward Glaser mendefinisikan berpikir kritis sebagai suatu sikap berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang dan pengetahuan tentang metode-

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 metode pemeriksaan dan penalaran yang logis, semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode-metode tersebut. Berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan lanjutan yang diakibatkannya. 2. Landasan Berpikir Kritis Berpikir kritis dipengaruhi beberapa faktor, seperti latar belakang kepribadian, kebudayaan, dan juga emosi seseorang. Berpikir kritis berarti melihat secara skeptikal terhadap apa yang telah dilakukan dalam kehidupan. Berpikir kritis juga berarti usaha untuk menghindarkan diri dari ide dan tingkah laku yang telah menjadi kebiasaan. Ennis mendeskripsikan berpikir kritis meliputi pembentukan watak dan kemampuan. Karakter dan kemampuan merupakan dua hal terpisah dalam diri seseorang. Diukur dari perspektif psikologi perkembangan karakter dan kemampuan saling menguatkan, karena itu keduanya harus secara eksplisit diajarkan bersama-sama. Secara umum dapat diuraikan sebagai berikut : a. Pembentukan watak (disposition), yang meliputi 13 indikator berikut : 1) Mencari pernyataan yang jelas dari informasi yang baik 2) Mencari alasan 3) Mencoba menjadi pemberi informasi yang baik

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 4) Menggunakan sumber yang dapat dipercaya dengan penyebutkannya 5) Mencatat situasi total 6) Mencoba tetap relevan pada poin utama 7) Menyimpan atau mengingat masalah utama 8) Mencari alternatif 9) Bersifat terbuka 10) Mengambil posisi (dan merubah posisi) jika fakta dan alasan 11) Mencari secemar mungkin subyek 12) Menyetujui cara berurutan dengan bagian keseluruhan 13) Sensitif terhadap perasaan, tahap pengetahuan dan tingkat pengalaman orang lain. b. Aspek kemampuan (ability) berpikir kritis menurut Norris dan Ennis adalah sebagai berikut : Tabel 2.2 Kerangka Kerja Berpikir Kritis Menurut Norris dan Ennis Kemampuan berpikir kritis Sub kemampuan berpikir Penjelasan kritis 1) Memberi penjelasan sederhana Memfokuskan pertanyaan    Mengidentifikasi, merumuskan pertanyaan Mengidentifikasi kriteria jawaban-jawaban yang mungkin Menjaga kondisi pikiran

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemampuan berpikir kritis Sub kemampuan berpikir 25 Penjelasan kritis 1) Memberi penjelasan Menganalisis argument  sederhana Mengidentifikasi kesimpulan  Mengidentifikasi alasan yang dinyatakan  Mencari persamaan dan perbedaan 1) Memberi penjelasan Menganalisis argument  sederhana Mengidentifikasi kerelevanan dan ketidak relevanan  Mencari struktur suatu argument 1) Memberi penjelasan sederhana Bertanya dan menjawab  Mengapa pertanyaan klasifikasi dan  Apa intinya, apa artinya pertanyaan yang  Apa contohnya, apa yang menantang bukan contohnya  Bagaimana menerapakannnya 2) Membangun keterampilan dasar Menyesuaikan dengan  Ahli sumber  Tidak ada konflik interes  Kesepakatan antar sumber  Reputasi  Menggunakan prosedur yang ada Mengobservasi dan  Mengetahui memberi alasan  Mampu memberi alasan  Kebiasaan berhati-hati  Terlibat dalam mempertimbangkan hasil observasi menyimpulkan  Dilaporkan oleh pengamat sendiri

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemampuan berpikir kritis Sub kemampuan berpikir 26 Penjelasan kritis 2) Membangun keterampilan dasar Mengobservasi dan  mempertimbangkan hasil observasi Mencatat hal-hal yang diinginkan  Penguatan dan kemungkinan penguatan  Kondisi akses yang baik Kompeten menggunakan teknologi 3) Menyimpulkan Membuat deduksi dan  Kelompok logis mempertimbangkan hasil  Kondisi logis deduksi  Interpertasi pertanyaan Membuat induksi dan  Membuat generalisasi mempertimbangkan hasil  Membuat kesimpulan dan induksi hipotesis Membuat dan  Latar belakang fakta mempertimbangkan nilai  Konsekuensi keputusan  Penerapan prinsip-prinsip  Mempertimbangkan alternatif  Menyeimbangkan, menimbang, memutuskan 4) Membuat penjelasan Mendefinisikan istilah,  mempertimbangkan definisi Bentuk sinonim, klasifikasi, rentang, ekspresi yang sama  Strategi definisi, tindakan dan mengidentifikasi persamaan Mengidentifikasi asumsi  Isi  Penalaran implisit  Asumsi yang diperlukan, rekonstruksi argument

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemampuan berpikir kritis Sub kemampuan berpikir 27 Penjelasan kritis 5) Strategi dan taktik Memutuskan suatu  Mendefinisikan masalah tindakan  Meyeleksi kriteria untuk membuat solusi  Merumuskan alternatif yang memungkinkan  Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan secara tentatif  Memonitor implementasi Berinteraksi dengan orang  Memberikan label lain  Strategi logika  Restorika logika presentasi posisi, lisan dan tulisan E. Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar di akhiri dengan proses evaluasi

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 3). Menurut Sudjana (2010: 22), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Menurut Warsito (dalam Depdiknas, 2006: 125) mengemukakan bahwa hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Sehubungan dengan pendapat itu, maka Wahidmurni (2010: 18) menjelaskan bahwa sesorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut di antaranya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek. Jika dikaji lebih mendalam, maka hasil belajar dapat tertuang dalam taksonomi Bloom (dalam Siregar dan Hartini, 2011:8-12) yang sering disebut dengan taksonomi belajar. Taksonomi belajar adalah pengelompokan tujuan belajar berdasarkan domain atau kawasan belajar. Ada tiga domain belajar, yaitu sebagai berikut : a. Cognitive Domain ( Kawasan Kognitif ) Dalam Resived Taxonomy, Anderson dan Krathwohl (2001, dalam Siregar dan Hartini, 2011:9) melakukan revisi pada kawasan kognitif. Menurutnya, terdapat dua kategori, yaitu dimensi proses kognitif dan

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 dimensi pengetahuan. Pada dimensi proses kognitif, ada enam jenjang tujuan belajar, yaitu sebagai berikut : 1) Mengingat : meningkatkan ingatan atas materi yang disajikan dalam bentuk yang sama seperti yang diajarkan. 2) Mengerti : mampu membangun arti dari pesan pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, maupun grafis 3) Memakai : menggunakan prosedur untuk mengerjakan latihan maupun memecahkan masalah 4) Menganalisis : memecah bahan-bahan ke dalam unsur-unsur pokoknya dan menentukan bagaimana bagian-bagian saling berhubungan satu sama lain dan kepada keseluruhan struktur. 5) Menilai : membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar tertentu. 6) Mencipta : membuat suatu produk yang baru dengan mengatur kembali unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam suatu poa atau struktur yang belum pernah ada sebelumnya. b. Affective Domain ( Kawasan Afektif ) Kawasan afektif menurut Krathwohl, Bloom dan Masia (1964) dalam Siregar dan Hartini (2011:11), meliputi tujuan belajar yang berkenaan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Kawasan ini dibagi dalam lima jenjang tujuan, yaitu sebagai berikut :

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 1) Penerimaan (receiving) : meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, ingin menerima nilai, dan memperhatikan nilai tersebut, misalnya siswa menerima sikap jujur sebagai sesuatu yang diperlukan. 2) Pemberian respons (responding) ; meliputi sikap ingin merespons terhadap sistem, puas dalam memberi respons, misalnya bersikap jujur dalam setiap tindakannya. 3) Pemberian nilai atau penghargaan (valuing) : penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu sistem nilai, memilih sistem nilai yang disukai dan memberikan komitmen untuk menggunakan sistem nilai tertentu, misalnya jika seseorang telah menerima sikap jujur, ia akan selalu komit dengan kejujuran, menghargai orang-orang yang bersikap jujur dan ia juga berperilaku jujur. 4) Pengorganisasian (organization) : meliputi memilah dan menghimpun sistem nilai yang akan digunakan, misalnya berperilaku jujur ternyata berhubungan dengan nilai-nilai yang lain seperti kedisplinan, kemandirian, keterbukaan dan lain-lain. 5) Karakteristik (characterization) : karakteristik meliputi perilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang telah diorganisasikannya, misalnya karakter dan gaya hidup seseorang, sehingga ia dikenal sebgai pribadi yang jujur, keteraturan pribadi, sosial dan emosi seseorang sehingga dikenal sebagai orang yang bijaksana.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 c. Psychomotor Domain ( Kawasan Psikomotor ) Domain ini berbentuk gerakan tubuh, antara lain seperti berlari, melompat, melempar, berputar, memukul, menendang dan lain-lain. Dave (1970) dalam Siregar dan dan Hartini (2011:12), mengemukakan lima jenjang tujuan belajar pada ranah psikomotor, kelima jenjang tujuan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Meniru : kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespons. 2) Menerapkan : kemampuan mengikuti pengarahan, gerakan pilihan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain. 3) Memantapkan : kemampuan memberikan respons yang terkoreksi atau respons dengan kesalahan-kesalahan terbatas atau minimal. 4) Merangkai : koordinasi rangkaian gerak dengan membuat aturannya yang tepat. 5) Naturalisasi : gerakan yang dilakukan secara rutin dengan menggunakan energi fisikdan psikis yang minimal. Sehubungan dengan itu, Gagne (dalam Sudjana, 2010:22) mengembangkan kemampuan hasil belajar menjadi lima macam antara lain: (1) informasi verbal; (2) keterampilan intelektual; (3) strategi kogniti; (4) sikap; dan (5) keterampilan motoris. Untuk mengetahui hasil belajar seseorang dapat dilakukan dengan melakukan tes dan pengukuran. Tes dan pengukuran memerlukan alat sebagai pengumpul data yang disebut dengan instrumen penilaian hasil belajar. Menurut Wahidmurni (2010:28), instrumen dibagi menjadi dua bagian besar, yakni tes dan non tes.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Selanjutnya, menurut Hamalik (2006:155) memberikan gambaran bahwa hasil belajar yang diperoleh dapat diukur melalui kemajuan yang diperoleh siswa setelah belajar dengan sungguh-sungguh. Hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur melalui perubahan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Berdasarkan pandangan-pandangan mengenai hasil belajar yang dikemukakan di atas, pengertian hasil belajar dapat disimpulkan sebagai perubahan perilaku secara positif serta kemampuan yang dimiliki siswa dari suatu interaksi dan proses dalam pembelajaran dan mengajar yang berupa hasil belajar intelektual, strategi kognitif, sikap dan nilai, inovasi verbal, dan hasil belajar motorik. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar di bedakan menjadi tiga kategori, yaitu faktor internal, faktor eksternal, faktor pendekatan belajar. Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar (Syah, 2003:144).

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 a. Faktor Internal Faktor internal adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi dalam diri individu, meliputi: 1) Faktor Fisiologi Faktor fisiologi berhubungan dengan kondisi fisik individu dan dibedakan menjai dua yaitu: a) Keadaan Tonus Jasmani Keadaan tonus jasmani pada umumnya dapat mempengaruhi aktifitas dalam belajar. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap gairah belajar individu. Sebaliknya apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, demam dan lain-lain. Hal tersebut dapat membuat anak tidak bergairah dalam belajar dan dapat menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu kesehatan atau tonus jasmani sangat mempengaruhi belajar, maka perlu adanya usaha untuk menjaga kesehatan jasmani. b) Keadaan Fungsi Jasmani Selama berlangsungnya proses belajar peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera, karena panca indera sangat membantu dalam proses belajar seperti indera penglihat dan indera pendengar, kedua indera tersebut berperan penting dalam proses pembelajaran.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 2) Faktor Psikologi Faktor psikologi adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologi utama yang dapat mempengaruhi proses belajar yaitu: a) Kecerdasan Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena menentukan kualitas belajar. Semakin tinggi kecerdasan individu maka semakin besar pula peluang individu tersebut untuk meraih kesuksesan dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan seorang individu maka semakin sulit induvidu tersebut dapat mencapai kesuksesan belajar yang maksimal. b) Motivasi Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan belajar siswa karena motivasilah yang mendorong siswa untuk belajar. c) Minat Menurut Slameto (1991:182) adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat. d) Sikap Dalam proses belajar sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap merupakan gejala internal yang mendimensi

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 afektif berupa kecenderungan untuk mereaksikan atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya baik secara positif maupun negatif. Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa, guru di tuntut untuk terlebih dahulu menunjukan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang di ajarkan e) Bakat Faktor psikologis lain yang dapat mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Bakat adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang diperlukan dalam proses belajar. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya mak bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil dalam belajar. b. Faktor Eksternal Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar individu. Faktor tersebut meliputi: 1) Faktor Lingkungan Faktor linkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Lingkungan mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap anak didik di sekolah (Djamarah, 2008:176). Faktor lingkungan meliputi:

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 a) Lingkungan Keluarga Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama atau utama dalam menentukan keberhasilan belajar seorang anak. Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang,adanya perhatian dari orangtua terhadap perkembangan proses belajar anak dapat memberikan dampak terhadap aktifitas belajar anak. b) Lingkungan Sekolah Hal yang mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa di sekolah mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten juga dapat mempengaruhi dalam proses belajar anak. c) Lingkungan Masyarakat Kondisi lingkungan masyarakat anak akan mempengaruhi belajar anak. Lingkungan anak yang kumuh,banyak pengangguran dan anak yang terlantar juga dapat mempengaruhi aktifitas belajar anak, paling tidak anak/siswa kwsulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi atau meminjam alat-alat pelajar yang belum dimiliki. Sebaliknya, apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, hal tersebut dapat memicu anak untuk lebih giat belajar. 2) Faktor Instrumental Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan. Dalam rangka melicinkan kearah itu diperlukan

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya semuanya dapat diperdayagunakan menurut fungsi masing-masing kelengkapan sekolah. Kurikulum dapat di pakai oleh guru dalam merencanakan program pengajaran. Program sekolah dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar berdaya guna dan berhasil guna bagi kemajuan belajar anak didik di sekolah. Faktor instrumental meliputi: a) Kurikulum Kurikulum adalah plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidk dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas, belum guru programkan sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk semua mata pelajaran, setiap guru memilki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. b) Program Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang di rancanga. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial, dan sarana prasarana. c) Sarana dan Fasilitas Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 belajar mengajar di sekolah. Salah satu persyaratan untuk membuat suatu sekolah adalah pemilikan gedung sekolah yang didalamnya ada ruangan kelas, ruangan kepala sekolah, ruangan dewan guru, ruangan perpustakaan, ruangan BP, ruangan TU, auditorium, dan halaman sekolah yang memadai. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik. d) Guru Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kehadiran guru mutlak diperlukan didalamnya. Kalau hanya ada anak didik, tetapi guru tidak ada, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah (Djamarah, 2008:180-188). c. Faktor Pendekatan Belajar Pendekatan belajar, dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berati seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah tujuan belajar tertentu (Syah, 2003:155). F. Materi Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungannya Adapun kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya sebagai berikut : 1. Kompetensi Inti meliputi : a. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. 39 Menghargai dan menghayati perilaku jujur, displin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberdaannya. c. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak mata. d. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. 2. Kompetensi Dasar meliputi : a. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan kimiawi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan manusia dalam lingkungan serta mewujudkannya dalam pengamatan ajaran agama yang dianutnya. b. Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggungjawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif; dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. 40 Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi melaksankan percobaan dan melaporkan hasil percobaan. d. Mendeskripsikan interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. e. Menyajikan hasil observasi terhadap interaksi makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. 3. Indikator meliputi : a. Kognitif Produk 1) Menjelaskan komponen penyusun ekosistem 2) Menjelaskan konsep ekosistem dan satuannya 3) Menjelaskan bentuk-bentuk saling ketergantungan dalam suatu ekosistem 4) Menjelaskan interaksi yang terjadi di dalam suatu ekosistem b. Kognitif Proses 1) Mengamati dan memberikan keterangan antara komponen biotik dan abiotik 2) Mengidentifikasi konsep ekosistem dan satuannya 3) Mengidentifikasi bentuk-bentuk saling ketergantungan dalam suatu ekosistem 4) Mengidentifikasi interaksi yang terjadi di dalam suatu ekosistem c. Psikomotor 1) Melakukan pengamatan sesuai dengan petunjuk yang diberikan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 2) Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah 3) Terlibat aktif dalam diskusi dan presentasi 4) Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain 5) Melakukan diskusi dengan semua anggota kelompok d. Afektif Karakter 1) Tekun, rajin dan displin dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 2) Jujur dalam menjawab pertanyaan dan melakukan pengamatan 3) Terbuka dan percaya diri dalam berdikusi dan presentasi 4) Kreatif dalam memecahkan masalah ketika berdiskusi e. Afektif Sosial 1) Bekerjasama dan bertanggung jawab dalam melakukan diskusi dan kelompok 2) Memiliki sikap tenggang rasa, peduli dan ramah terhadap teman atau pun kelompok Dalam ekosistem terdapat komponen biotik dan abiotik. Di antara komponen tersebut terjadi saling mempengaruhi sehingga terjadi interaksi antar sesama komponen biotik dan antara komponen biotik dengan abiotik. Interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan biotiknya yaitu mencakup kehidupan organisme yang dipengaruhi oleh organisme lainnya, sehingga terjadi pola interaksi antar sesama makhluk hidup. Hubungan antar makhluk hidup di mana hewan yang satu memakan hewan lainnya disebut hubungan predasi. Ada pula interaksi antarmakhluk hidup yang khas dibedakan menjadi dua, yaitu simbiosis dan antibiosis.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan abiotiknya yaitu, makhluk hidup membutuhkan faktor – faktor abiotik untuk kelangsunngan hidupnya. Makhluk hidup juga dapat berpengaruh pada keadaan abiotik di lingkungannya. Faktor abiotik yang berinteraksi dengan makhluk hidup antara lain ; cahaya, suhu, air, tanah, mineral, gas O2 dan CO2 (Yukaliana, 2013 : 135). G. Kajian Yang Relevan Sebagai acuan dalam pembuatan penelitian ini maka peneliti menggunakan bebarapa kajian sebagai acuan ; 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Biologi dengan Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar Pada siswa Kelas VII SMP Kartika V-1 Balikpapan (Yuniastuti, 2013). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan : Pendekatan pembelajaran JAS dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Kartika V-1 Balikpapan. Hal ini dilihat dari siklus I kemampuan proses siswa mencapai 59,38 %, meningkat pada siklus II mencapai 72,50 % dan meningkat pada siklus III mencapai 83,75 %. Hasil belajar siswa juga meningkat, pada siklus I presentase ketuntasan belajar mencapai 42,22%, meningkat pada siklus II mencapai 56.67% dan meningkat pada siklus II mencapai 83.33%. 2. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Partisipasi dan Keaktifan Berdiskusi Siswa Dalam

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Pembelajaran Biologi Kelas VII SMP Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 (Sholihah, 2010). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan partisipasi dan keaktifan berdiskusi siswa dalam pembelajaran biologi. Peningkatan partisipasi dan keaktifan berdiskusi siswa dapat dilihat melalui hasil angket dan observasi. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari angket partisipasi siswa pada pra siklus sebesar 74,33%, pada siklus I sebesar 76,46%, dan pada siklus II sebesar 81,95%. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari observasi partisipasi siswa pada pra siklus adalah 43,90%, pada siklus I sebesar 62,93% dan pada siklus II sebesar 78,05%. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari angket keaktifan berdiskusi siswa pada pra siklus sebesar 71,97%, pada siklus I sebesar 74,61%, dan pada siklus II sebesar 77,54%. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari observasi keaktifan berdiskusi siswa pada pra siklus dalah 29,27%, pada siklus I sebesar 61,46% dan pada siklus II sebesar 77,07%. H. Kerangka Berpikir Pembelajaran adalah proses belajar dengan menempatkan peserta didik sebagai center stage performance, dengan proses pembelajaran yang menarik siswa dapat merespon pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan. Sedangkan kemampuan berpikir kritis adalah siswa atau peserta didik mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan, dan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengemukakan gagasan. Maka dari itu, berlangsungnya 44 proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Melainkan pembelajaran dapat terlaksana dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta terhadap lingkungan sekitar. Dalam proses belajar mengajar IPA Biologi di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung, siswa lebih banyak menjadi pendengar atau bersifat pasif. Di samping itu metode yang digunakan masih dominan menggunakan metode ceramah yaitu guru menjelaskan di depan kelas dan siswa mendengarkan. Setelah guru menjelaskan, siswa disuruh menghapal apa yang sudah dipelajari hari itu, serta kadang – kadang pemberian tugas pekerjaan rumah (PR). Pembelajaran seperti ini dilakukan di dalam kelas secara monoton dan kurang bervariasi sehingga peran guru lebih dominan yang menyebabkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran kurang dan cenderung pasif. Siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya atau berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang kurang baik akan menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dalam mengikuti pelajaran IPA Biologi yang didapat berdampak pada hasil belajar IPA siswa. Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas dan di luar kelas, maka diterapkan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 sekitar. Penerapan strategi pembelajaran ini yaitu siswa dihadapkan pada suatu masalah dengan pengamatan secara langsung dengan lingkungan sekitar sehingga dapat memecahkan masalah melalui pengalaman sendiri. Guru : Kondisi awal Tindakan Kondisi akhir Pembelajaran Konvesional Penerapan PBL dengan pendekatan JAS Melalui penerapan PBL dengan pendekatan JAS peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Hasil belajar IPA siswa rendah di bawah KKM dan kemampuan berpikir kritis siswa rendah Siklus I : Penggunaan PBL dengan pendekatan JAS pada interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya Siklus II : Hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa meningkat

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI I. 46 Hipotesis Tindakan Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Penerapan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dengan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013/2014 pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. 2. Terdapat korelasi antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013/2014 pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tim proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah (PGSM) (1999:6) mendefinisikan pengertian penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantaban rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan. B. Setting Penelitian 1. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian : SMP Xaverius 3 Bandar Lampung Jln. Yos Sudarso Km.10 Panjang, Bandar Lampung Waktu penelitian : Tanggal 12 – 30 April 2014 47

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 48 Subyek Penelitian Subyek penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung adalah siswa kelas VIIA yang berjumlah 26 siswa dalam satu kelas yaitu, 15 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. 3. Objek Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis dan pencapaian hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA Biologi pada materi interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. C. Desain Penelitian Rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robin McTaggart yang merupakan pengembangan dari Kurt Lewis. Pada model ini permasalahan penelitian difokuskan kepada strategi bertanya kepada siswa dalam pembelajaran sains yang dilakukan pada tahap perencanaan. Pada tahap tindakan mulai diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mendorong siswa mengemukakan pendapat. Pada tahap pengamatan, pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban siswa dicatat atau direkam. Dalam tahap refleksi, dilakukan evaluasi terhadap tahap yang telah dilaksanakan dan menjadi acuan untuk menuju ke tahap berikutnya (Wiriaatmadja, 2008).

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Gambar 3.1 PTK Model Stephen Kemmis dan Robin McTaggart Tahun 1988 Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hal tersebut dilakukan karena waktu yang disediakan untuk pelaksanaan penelitian ini terbatas. pada tiap siklus terdiri dari atas 5 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaaan, observasi, evaluasi dan refleksi. Sebelum melakukan tindakan siklus I, peneliti memberikan pretest kepada siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai materi yang akan diajarkan. Siklus I 1. Perencanaan a. Membuat RPP tentang interaksi makhuk hidup dengan lingkungannya dengan materi komponen penyusun ekosistem dan satuannya (lampiran A.2).

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 b. Membuat lembar kerja siswa dengan berbasis masalah mengenai konsep lingkungan dan komponennya (lampiran B.1). c. Membuat soal pretest, posttest dan kunci jawaban yang sesuai dengan materi yang diajarkan (lampiran B.2 dan B.3). d. Membuat lembar observasi untuk mengamati kemampuan berpikir kritis siswa, afektif dan psikomotor (lampiran B.4-6). 2. Pelaksanaan Tindakan. a. Mengajak siswa belajar di luar kelas atau di lingkungan sekitar sekolah. b. Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa. c. Membagi siswa dalam 5 kelompok, pembagian siswa dengan cara siswa memilih sendiri. d. Membagi lembar kerja siswa yang sudah tersedia kepada para siswa. e. Memberikan waktu kepada siswa untuk berdiskusi dan mengerjakan LKS. f. Memberikan motivasi dan bimbingan siswa agar dapat melaksanakan pengamatan sesuai dengan petunjuk LKS. g. Mengajak siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi dan saling mengeluarkan pendapat atau argumennya masing-masing

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 h. Mengumpulkan laporan hasil kegiatan siswa 3. Observasi. Pengamatan dilakukan dengan mengobservasi kemampuan berpikir kritis siswa dalam berdiskusi dan menyampaikan argumennya. Selain itu juga mengobservasi aspek afektif siswa dalam bersikap jujur, percaya diri, tanggung jawab, displin, tekun, terbuka, rajin, kreatif, tenggang rasa, kerjasama, peduli, dan ramah terhadap teman serta aspek psikomotor dalam keterampilan menerapkan dan memantapkan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 4. Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan dengan memberikan penguatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan, membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan pada akhir pembelajaran. Setelah siklus I sudah dilaksanakan, untuk mengevaluasi dan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus I diadakan tes yang soalnya tidak jauh beda dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam LKS dan hasil diskusi yang digunakan untuk pembelajaran pada siklus I. 5. Refleksi Pada tahap refleksi dikaji apa yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi, apa yang belum berhasil dan yang sudah berhasil setelah diberi

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 tindakan, komponen-komponen refleksi meliputi: analisis, pelaksanaan, penjelasan, penyusunan kesimpulan dan identifikasi tindak lanjut. Siklus II 1. Perencanaan a. Membuat RPP tentang interaksi makhuk hidup dengan lingkungannya dengan materi bentuk saling ketergantungan dan pola interaksi dalam ekosistem (lampiran A.3). b. Membuat lembar kerja siswa dengan berbasis masalah dengan materi bentuk saling ketergantungan dan pola interaksi dalam ekosistem (lampiran B.7 dan B.8). c. Membuat soal post test dan kunci jawaban yang sesuai dengan materi yang diajarkan (lampiran B.9). d. Membuat lembar observasi untuk mengamati kemampuan berpikir kritis siswa, afektif dan psikomotor (lampiran B.4-6). 2. Pelaksanaan Tindakan. a. Mengajak siswa belajar di luar kelas atau di lingkungan sekitar sekolah b. Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa. c. Membagi siswa dalam 6 kelompok, pembagian kelompok dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada siklus.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 d. Membagi lembar kerja siswa yang sudah tersedia kepada para siswa, dengan 2 LKS yang berbeda. e. Memberikan waktu kepada siswa untuk berdiskusi dan mengerjakan LKS. f. Memberikan motivasi dan bimbingan siswa agar dapat melaksanakan pengamatan sesuai dengan petunjuk LKS. g. Mengajak siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi dan saling mengeluarkan pendapat atau argumennya masing-masing h. Mengumpulkan laporan hasil kegiatan siswa 3. Observasi Pengamatan dilakukan dengan mengobservasi kemampuan berpikir kritis siswa dalam berdiskusi dan menyampaikan argumennya. Selain itu juga mengobservasi aspek afektif siswa dalam bersikap jujur, percaya diri, tanggung jawab, displin, tekun, terbuka, rajin, kreatif, tenggang rasa, kerjasama, peduli, dan ramah terhadap teman serta aspek psikomotor dalam keterampilan menerapkan dan memantapkan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 4. Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan dengan memberikan penguatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan, membimbing siswa untuk memberikan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesimpulan pada akhir pembelajaran. Setelah siklus 54 II sudah dilaksanakan, untuk mengevaluasi dan untuk mengetahui hasil belajar akhir diadakan tes yang soalnya tidak jauh beda dengan pertanyaanpertanyaan yang ada di dalam LKS dan hasil diskusi yang digunakan untuk perbandingan dengan siklus I. 5. Refleksi Pada tahap refleksi dikaji atau digunakan untuk menentukan apakah tindakan pada siklus II sudah berhasil atau belum dalam penerapannya. D. Rancangan Penelitian Sumber data penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung yang berjumlah 26 orang dan guru mata pelajaran IPA Biologi. Rancangan penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini merupakan rancangan PTK dengan melibatkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui hasil analisis LKS untuk kemampuan berpikir kritis siswa. Sedangkan data kuantitatif deskriptif diperoleh dari hasil observasi kemampuan berpikir kritis, hasil belajar afektif, psikomotor siswa dan hasil posttest 1 dan 2. Data yang diambil dalam penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut ini;

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 3. 1 Perolehan Data Data Sumber Data Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Cara Perolehan Data  Hasil observasi kelas selama proses pembelajaran.  Penjabaran jawaban dalam LKS dan tes soal penerapan. Hasil Belajar Afektif Siswa Hasil observasi kelas selama proses pembelajaran Hasil Belajar Psikomotor Siswa Hasil observasi kelas selama proses pembelajaran Hasil Belajar Kognitif Hasil tes siswa Lembar kerja siswa, pre test dan Post tes E. Instrumen Penelitian Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Lembar observasi Lembar observasi berisi kegiatan pembelajaran dengan melihat dan mengamati siswa, kemudian mencatat perilaku kejadian yang terjadi. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi berpikir kritis siswa yaitu memahami tujuan berpikir, memahami kedalaman dan keluasan materi, mencari informasi yang relevan, merumuskan pendapat, konsekuen terhadap pendapat, mengklarifikasi pendapat, merumuskan pemecahan masalah, penarikan

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesimpulan, bertanya tentang kebenaran suatu argumen, 56 dan mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain dan hasil belajar afektif serta psikomotor. 2. Pedoman wawancara bebas yang digunakan untuk memperoleh data awal atau latar belakang masalah dalam penyusunan penelitian ini dan refleksi pada siklus II. 3. RPP yang digunakan untuk pedoman atau skenario kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. 4. LKS dengan berbasis masalah yang digunakan untuk memberikan pedoman bagi siswa dalam melaksanakan kegiatan dan laporan akhir sebagai alat ukur kemampuan berpikir kritis siswa dalam mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi konsep materi, merumuskan pemecahan masalah, memahami kedalaman dan keluasan materi, dan penarikan kesimpulan. 5. Tes butir soal dalam bentuk posttest yang digunakan untuk menggali data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif siswa F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. dalam

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut : 1. Teknik Observasi Langsung Dalam penelitian ini observasi dilakukan dengan mengamati aktivitas pembelajaran di kelas, yaitu mengamati kemampuan berpikir kritis siswa, afektif dan psikomotor siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. 2. Wawancara Wawancara adalah teknik memperoleh informasi secara langsung melalui permintaan keterangan-keterangan kepada pihak pertama yang dipandang dapat memberikan keteranngan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Adapun teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas, dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Teknik wawancara ini dilakukan kepada guru mata pelajaran dan siswa. Wawancara awal dilakukan untuk memperoleh data tentang masalah-masalah yang dihadapi guru dan siswa serta metode yang digunakan oleh guru selama ini dalam pembelajaran IPA Biologi.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Sedangkan pada siklus II dilakukan wawancara dengan siswa digunakan sebagai hasil refleksi pada siklus II. 3. Tes Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes buatan guru bukan tes standar karena tes yang digunakan peneliti dibuat sendiri oleh peneliti yang didasarkan pada bahan pelajaran dan tujuan khusus yang telah dirumuskan oleh peneliti untuk kelas yang menjadi subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes obyektif dan tes uraian. Tes obyektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif. Tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan dan memberikan alasan dengan mennggunakan kata-kata sendiri. Dalam penelitian ini tes obyektif dan tes uraian yang digunakan oleh peneliti adalah tes pilihan ganda dan tes uraian bebas. Tes dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti pada saat pre test pada awal pembelajaran siklus I dan post test pada siklus I serta II yang diadakan pada akhir pembelajaran. Pre test yang dilakukan pada siklus I bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa terhadap materi yang akan diajarkan oleh peneliti, sedangkan post test

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 dilakukan pada akhir siklus I dan II bertujuan untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. 4. Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Pegumpulan data melalui dokumentasi, diperlukan seperangkat alat atau instrument yang memandu untuk pengambilan data-data dokumen. Ini dilakukan, agar dapat menyeleksi dokumen mana yang dipandang dibutuhkan secara langsung dan mana yang tidak diperlukan. Dalam penelitian ini, pengumpulan data berupa teknik dokemuntasi sebagai metode untuk mengumpulkan data antara lain : RPP, rubrik lembar observasi kemampuan berpikir kritis, LKS, laporan, hasil tes beserta kisi – kisi soal, lembar observasi hasil belajar afektif dan psikomotor serta foto pada saat proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. G. Teknik Analisis Data 1. Observasi Kemampuan Berpikir Kritis Lembar observasi digunakan untuk mengetahui hasil presentase tiap indikator kemampuan berpikir kritis siswa ketika melakukan pengamatan, diskusi dan presentasi. Lembar observasi terdiri dari daftar

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 pernyataan dan daftar siswa. Observer hanya menuliskan angka 2 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan kurang baik, 4 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan cukup baik, 6 atau untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan baik, dan 10 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan sangat baik sesuai penilaian yang ditunjukkan oleh masing – masing anggota kelompok. Tabel 3.2 Indikator observasi kemampuan berpikir kritis No. 1. Indikator Memahami tujuan berpikir 2. Memahami kedalaman dan keluasan materi 3. Mencari informasi yang relevan 4. Merumuskan pendapat 5. Konsekuen terhadap pendapat 6. Mengklarifikasi suatu pendapat 7. Merumuskan pemecahan masalah 8. Penarikan kesimpulan 9. Bertanya tentang kebenaran suatu argument Mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain 10. Aspek yang diamati Siswa mampu merumuskan dan melaksanakan dengan jelas tentang tujuan tugas yang diberikan Siswa mampu menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi Siswa mampu memiliki informasi yang lengkap untuk mendukung pendapatnya ketika berdiskusi Siswa mampu mengemukakan pendapatnya dengan jelas ketika berdiskusi Siswa dapat mempertahankan pendapatnya ketika berdiskusi, jika pendapatnya benar Siswa mampu memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain Siswa mampu maerumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh Siswa mampu menarik kesimpulan berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan Siswa mampu menanyakan kebenaran suatu argumen kepada guru dengan antusias Siswa dapat menjawab pertanyaan ketika berdiskusi baik yang diberikan oleh guru maupun siswa lain dengan jelas dan baik

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Presentase penilaian dihitung dengan rumus : ∑ Keterangan : P : Presentase penilaian kemampuan berpikir kritis siswa ∑ : Jumlah skor diperoleh tiap siswa N : Jumlah skor maksimal Kriteria keberhasilan kemampuan berpikir kritis siswa sebagai berikut : Tabel 3.3 Kriteria kemampuan berpikir kritis siswa No. Prosentase keberhasilan Taraf Nilai dengan tindakan keberhasilan huruf 1. 85% - 100% Sangat kritis A 2. 69% - 84% Kritis B 3. 53% - 68 % Cukup C 4. 37 % - 52% Kurang kritis D 5. 20% - 36% Sangat kurang E Kriteria penilaian menggunakan angka 2, 4, 6, dan 10 ini berdasarkan rumus sebagai berikut : ( )

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Keterangan : R : Rentang atau skala interval Xt : Skor maksimum Xm : Skor minimum K : Banyak kelas interval Rumus di atas juga digunakan untuk penentuan kriteria keberhasilan pada analisis data kemampuan berpikir kritis melalui observasi dan analisis LKS dan laporan, hasil belajar aspek afektif dan psikomotor. Meningkatnya kemampuan berpikir kritis siswa secara klasikal dapat dihitung melalui analisis deskriptif persentase, yaitu: 2. Analisa Lembar Kerja Siswa dan Laporan Analisa ini digunakan untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kritis dan tanggapan siswa saat penerapan pembelajaran berbasis masalah berupa LKS dan laporan yang telah dibuat siswa. Untuk menganalisa LKS dan laporan, sebelumnya telah dibuat rubrik penilaian yang dapat mempermudah dalam menganalisis. Adapun rubrik penilaiannya sebagai berikut :

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel 3.4 Rubrik analisa LKS dan laporan Indikator Skor 10 15 Mengidentifikasi Siswa kurang Siswa mampu Siswa mampu masalah mampu mengidentifikasi mengidentifikasi mengidentifikasi masalah utama masalah utama masalah utama pada tugas yang pada tugas yang pada tugas yang diberikan diberikan dengan diberikan dengan singkat singkat dan benar 20 Siswa mampu mengidentifikasi masalah utama pada tugas yang diberikan dengan jelas dan benar Mengidentifikasi Siswa kurang konsep materi mampu mengidentifikasi dan menjelaskan konsep dasar dalam tugas yang diberikan Siswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan konsep dasar dalam tugas yang diberikan dengan singkat Siswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan konsep dasar dalam tugas yang diberikan dengan singkat dan benar Siswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan konsep dasar dalam tugas yang diberikan dengan jelas dan benar Merumuskan pemecahan masalah Siswa mampu merumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh dengan cukup Siswa mampu merumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh dengan baik Siswa mampu merumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh dengan sangat baik Siswa mampu menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi dengan cukup Siswa kurang Siswa mampu mampu menarik menarik kesimpulan kesimpulan berdasarkan berdasarkan kegiatan yang kegiatan yang telah dilakukan telah dilakukan dengan cukup Siswa mampu menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi dengan baik 2 Siswa kuranng mampu merumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh Memahami Siswa kurang kedalaman dan mampu keluasan materi menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi Penarikan kesimpulan Siswa mampu menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi dengan sangat baik Siswa mampu Siswa mampu menarik menarik kesimpulan kesimpulan berdasarkan berdasarkan kegiatan yang kegiatan yang telah dilakukan telah dilakukan dengan baik dengan sangat baik

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Presentase penilaian dihitung dengan rumus : ∑ Keterangan : L : Presentase kemampuan berpikir kritis ∑ : Jumlah skor diperoleh pada kelompok N : Jumlah skor maksimal Rubrik penilaian menggunakan angka 2, 10, 15, dan 20 ini berdasarkan rumus sebagai berikut : ( Keterangan : ) R : Rentang atau skala interval Xt : Skor maksimum Xm : Skor minimum K : Banyak kelas interval Melalui rumus di atas, maka diketahu kriteria kemampuan kritis sebagai berikut : Tabel 3.5 Kriteria kemampuan berpikir kritis No. Presentase keberhasilan Taraf Nilai dengan tindakan keberhasilan huruf 1. 83% - 100% Sangat kritis A 2. 65% - 82% Kritis B 3. 47% - 64% Cukup C

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Presentase keberhasilan Taraf Nilai dengan tindakan keberhasilan huruf 4. 35% - 46% Kurang kritis D 5. 17% - 34% Sangat kurang E 65 Sedangkan kemampuan berpikir kritis siswa secara klasikal dihitung dengan menggunakan analisis deskriptif persentase, yaitu: Hasil akhir kemampuan berpikir kritis siswa melalui observasi dan analisis LKS dan laporan dapat dihitung dengan menggunakan analisis deskreptif persentase, yaitu : 3. Hasil Belajar Siswa a. Kognitif Nilai tes merupakan hasil belajar kognitif siswa yang merupakan perbandingan antara hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa sesudah tindakan. Data hasil tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Meningkatnya hasil belajar siswa ditandai dengan rata-rata hasil belajar siswa adalah , dengan ketuntasan hasil belajar dari jumlah seluruh siswa. Rata-rata hasil belajar setiap siklus dihitung dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu: Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal dihitung dengan menggunakan analisis deskriptif persentase, yaitu: b. Afektif Lembar observasi digunakan untuk mengetahui hasil belajar afektif dengan kriteria analisis deskriptif . Lembar observasi terdiri dari daftar pernyataan dan daftar siswa. Observer hanya menuliskan angka 1 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan kurang baik, 4 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan cukup baik, atau 6 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan baik, dan 8 untuk siswa yang melakukan kegiatan dengan sangat baik sesuai penilaian yang ditunjukkan oleh masing – masing anggota kelompok. Presentase penilaian afektif dihitung dengan rumus : ∑

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Keterangan : Sikap : Presentase penilaian afektif ∑ : Jumlah skor diperoleh tiap siswa N : Jumlah skor maksimal Kriteria penilaian menggunakan angka 1, 4, 6, dan 8 ini berdasarkan rumus sebagai berikut : ( ) Keterangan : R : Rentang atau skala interval Xt : Skor maksimum Xm : Skor minimum K : Banyak kelas interval Melalui rumus ini, maka diketahui kriteria hasil belajar afektif sebagai berikut : Tabel 3.6 Kriteria hasil belajar afektif No. Prosentase keberhasilan tindakan Taraf keberhasilan Nilai dengan huruf 1. 84% - 100% Sangat baik A 2. 67% - 83% Baik B 3. 51% - 66% Cukup C 4. 34% - 50% Kurang baik D 5. 16% - 33% Sangat kurang E

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Meningkatnya hasil belajar afektif secara klasikal dapat dihitung melalui analisis deskriptif persentase, yaitu: c. Psikomotor Lembar observasi ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar psikomotor dengan analisa deskriptif. Lembar observasi ini terdiri dari daftar pernyataan dan daftar siswa. Untuk penilaian pada setiap pernyataannya disesuaikan dengan rubrik penilaian yang telah dibuat sebelumnya. Tabel. 3.7 Rubrik penilaian psikomotor No. 1. 2. 3. Aspek yang diamati Melakukan pengamatan sesuai dengan petunjuk Penilaian 10 15 Melakukan Melakukan pengamatan pengamatan tetapi sering dengan bermain-main bercanda dengan temannya bersama teman Memberikan Diam, tidak Memberikan Memberikan pendapat untuk memberikan pendapatnya pendapatnya pemecahan pendapat hanya sekali dengan lebih masalah dari 2 kali 1 Tidak melakukan pengamatan sama sekali Terlibat aktif Duduk dan Mendengarkan Bertanya, dalam diskusi diam dan berdiskusi mendengarkan dan presentasi dengan temannya dan berdiskusi dengan temannya 20 Melakukan pengamatan dengan teliti, dan serius Selalu memberikan pendapatnya dan solusi dalam memecahkan masalah Mengeluarkan pendapatnya, bertanya, mendengarkan, dan berdiskusi dengan temannya

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 4. Aspek yang diamati 69 Penilaian 1 10 15 Memberikan Duduk dan Tidak menerima Hanya tanggapan diam tanggapan menerima terhadap terhadap tanggapan pendapat orang pendapat orang terhadap lain lain pendapat orang lain 20 Menerima dan memberikan tanggapan pendapat orang lain 5. Melakukan Duduk dan Berdiskusi diskusi dengan diam dengan anggota semua anggota kelompok lain kelompoknya Berdiskusi Berdiskusi dengan dengan satu semua anggota orang teman kelompoknya kelompoknya Presentase penilaian dihitung dengan rumus : ∑ Keterangan : Psikomotor : Presentase penilaian psikomotor ∑ N : Jumlah skor diperoleh tiap siswa : Jumlah skor maksimal Kriteria penilaian menggunakan angka 1, 10, 15, dan 20 ini berdasarkan rumus sebagai berikut : ( ) Keterangan : R : Rentang atau skala interval Xt : Skor maksimum Xm : Skor minimum K : Banyak kelas interval

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Melalui rumus ini, maka diketahui kriteria hasil belajar psikomotor sebagai berikut : Tabel 3.8 Kriteria hasil belajar psikomotor No. Prosentase keberhasilan Taraf Nilai dengan tindakan keberhasilan huruf 1. 82% - 100% Sangat baik A 2. 63% - 81% Baik B 3. 44% - 62% Cukup C 4. 25% - 43% Kurang baik D 5. 5% - 24% Sangat kurang E Meningkatnya hasil belajar psikomotor secara klasikal dapat dihitung melalui analisis deskriptif persentase, yaitu: 4. Uji Normalitas Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data kita memiliki distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistik inferensial). Cara yang biasa dipakai untuk menghitung masalah ini adalah Chi Square. Tapi karena tes ini memiliki kelemahan, maka yang kita pakai adalah Kolmogorov-Smirnov. Kolmogorov–Smirnov test (K-S test) merupakan pengujian statistik non-parametric yang paling mendasar dan paling banyak

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 digunakan, pertama kali diperkenalkan dalam makalahnya Andrey Nikolaevich Kolmogorov pada tahun 1933 (Kolmogorov,A.N, 1992) dan kemudian ditabulasikan oleh Nikolai Vasilyevich Smirnov pada tahun 1948. K-S test dimanfaatkan untuk uji satu sampel (one-sample test) yang memungkinkan perbandingan suatu distribusi frekuensi dengan beberapa distribusi terkenal, seperti distribusi normal Gaussian (Stephens, 1992; Biswas, Ahmad, Molla, Hirose & Nasser, 2008). Konsep dasar K-S test hampir sama dengan uji normalitas, yaitu mengukur perbandingan data empirik dengan data berdistribusi normal teoritik yang memiliki mean dan standar deviasi yang sama dengan data empirik. Menurut Kolmogorov (1992), suatu fungsi distribusi empirik (EDF, empirical distribution function) Fn(x) didefinisikan sebagai relasi-relasi Fn(x) = 0, x < X1; Fn(x) = k / n, Xk ≤ x < Xk + 1, Fn(x) = 1, Xn ≤ x. k = 1,2, . . . , n – 1; K-S test mengukur kedekatan jarak antara F(x) dengan Fn(x) ketika n diasumsikan sebagai nilai yang sangat besar, Kolmogorov (1992) mendefinisikan fungsi distribusi kumulatifnya (cumulative distribution function) adalah sebagai berikut: atau CDF

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 D = supx |Fn(x) – F(x)| Gambar 3.2 Jarak vertikal D pada grafik Kolmogorov–Smirnov test Yang mana supx adalah supremum dari sejumlah jarak D. Secara grafik, D adalah jarak vertikal terjauh antara Fn(x) dan F(x). Nilai D ini selanjutnya dibandingkan dengan nilai D*(α) kritis dari sebuah tabel statistik untuk pengujian α (lihat Gambar 3.1). Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Jadi sebenarnya uji Kolmogorov Smirnov adalah uji beda antara data yang diuji normalitasnya dengan data normal baku. Seperti pada uji beda biasa, jika signifikansi di bawah 0,05 berarti terdapat perbedaan yang signifikan, dan jika signifikansi di atas 0,05 maka tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Penerapan pada uji

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut tidak normal. jika signifikansi di atas 0,05 maka berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara data yang akan diuji dengan data normal baku, berarti data tersebut normal. Penggunaan uji normalitas pada penelitian untuk mengetahui apakah data yang diuji memiliki data normal. Data normal ini diperlukan untuk menentukan pengujian korelasi yang baik digunakan dalam hubungan antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. 5. Uji Regresi Linieritas Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara satu variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio. Rumus regresi linear sederhana sebagi berikut: Y’ = a + bX

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Keterangan: Y’ = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan) X = Variabel independen a = Konstanta (nilai Y’ apabila X = 0) b = Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan) Penelitian menggunakan uji regresi linieritas dimaksudkan untuk melakukan uji hipotesis. Uji hipotesisnya adalah apakah terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar. Setelah melakukan uji regresi linier ini kemudian dilakukan uji korelasi untuk menarik kesimpulan dari penelitian. 6. Uji Korelasi Koefisien korelasi mengukur kekuatan dan arah hubungan linier dari dua variabel atau lebih. Koefisien korelasi yang kecil (tidak signifikan) bukan berarti kedua variabel tersebut tidak saling berhubungan. Mungkin saja dua variabel mempunyai keeratan hubungan yang kuat namun nilai koefisien korelasinya mendekati nol, misalnya pada kasus hubungan non linier. Adapun persamaan korelasi dinyatakan sebagai berikut :

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Dengan demikian, koefisien korelasi hanya mengukur kekuatan hubungan linier dan tidak pada hubungan non linier. Karakteristik korelasi dapat ditentukan dengan pernyataan, sebagai berikut : a. Nilai r selalu terletak antara -1 dan +1 b. Nilai r tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x, variabel y, atau keduanya dikalikan dengan suatu nilai konstanta (c) tertentu (asalkan c ≠ 0). c. Nilai r tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x, variabel y, atau keduanya ditambahkan dengan suatu nilai konstanta (c) tertentu. d. Nilai r tidak akan dipengaruhi oleh penentuan mana variabel x dan mana variabel y. Kedua variabel bisa saling dipertukarkan. e. Nilai r hanya untuk mengukur kekuatan hubungan linier, dan tidak dirancang untuk mengukur hubungan non linier

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Koefisien korelasi, r, hanya menyediakan ukuran kekuatan dan arah hubungan linier antara dua variabel. Akan tetapi tidak memberikan informasi mengenai berapa proporsi keragaman (variasi) variabel dependen (Y) yang dapat diterangkan atau diakibatkan oleh hubungan linier dengan nilai variabel independen (X). Nilai r tidak bisa dibandingkan secara langsung, misalnya kita tidak bisa mengatakan bahwa nilai r = 0.8 merupakan dua kali lipat dari nilai r =0.4. Nilai kuadrat dari r bisa mengukur secara tepat rasio atau proposi tersebut, dan nilai statistik ini dinamakan dengan Koefisien Determinasi, r2. Dengan demikian, Koefisien Determinasi bisa didefinisikan sebagai nilai yang menyatakan proporsi keragaman Y yang dapat diterangkan atau dijelaskan oleh hubungan linier antara variabel X dan Y. Penelitian menggunakan uji korelasi dimaksudkan untuk membuktikan hubungan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar memiliki hubungan yang linier. Hubungan linier berarti bahwa antara variabel independen dan variabel dependen saling mempengaruhi ataupun sebaliknya. H. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa menandakan bahwa penelitian yang dilaksanakan berhasil. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Tabel 3.9 Indikator keberhasilan No. Indikator Siklus I Siklus II 1. Rata – rata nilai siswa 60 70 2. Jumlah siswa yang mencapai KKM 60% 80% 3. Hasil belajar afektif dan psikomotor 65% 80% 4. Kemampuan berpikir kritis siswa 60% 80% selama proses pembelajaran dengan kriteria siswa kritis dan sangat kritis

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian 1. Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan Sebelum Siklus I Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti terlebih dahulu melakukan kegiatan pra siklus I meliputi wawancara, diskusi dengan dosen pembimbing dan guru, serta kegiatan observasi yang dilaksanakan sebelum melakukan tindakan siklus I. Kegiatan pra siklus I yang dilakukan antara lain: Tabel 4.1. Jadwal Sebelum Tindakan No. Waktu Kegiatan 1. November 2013 2. Februari 2014 – Maret 2014 3. 7 April 2014 78 Kegiatan Melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran mengenai masalah pembelajaran IPA biologi di kelas VIIA Mendiskusikan dengan dosen pembimbing dan guru tentang metode pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian dan aspek yang akan diteliti dan membuat kesepakatan dengan guru tentang waktu penelitian Melakukan observasi proses pembelajaran IPA di kelas VIIA

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Pada kegiatan observasi peneliti mengamati proses pembelajaran IPA di kelas VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung. Jumlah siswa kelas VIIA adalah 26 siswa dengan 15 siswa laki-laki dan 11 siswi perempuan. Guru pengampu pelajaran IPA di kelas VIIA bernama R. Sihmara. Pembelajaran IPA di SMP Xaverius 3 Bandar Lampung ada 5 jam pelajaran tiap minggunya. Untuk satu jam pelajaran diberikan waktu 40 menit. Tabel 4.2. Jadwal Pelajaran IPA Kelas VIIA No. Hari Jam 1. Senin 11.35-12.55 2. Selasa 10.05-11.25 3. Rabu 07.15-07.55 Dari wawancara dan observasi, diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIIA perlu ditingkatkan karena belum terlalu tampak kekritisan saat pembelajaran berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang hanya mengikuti perintah yang diberikan oleh guru, ketika diberi kesempatan bertanya tidak ada siswa yang berani untuk mengajukan pertanyaan, dan ketika diberi pertanyaan oleh guru hanya terdapat 3 siswa yang menjawab. Siswa lebih banyak beraktivitas sendiri tanpa memperhatikan guru, sedangkan guru pelajaran masih menggunakan metode lama yaitu ceramah dan kurang memperhatikan

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 siswanya. Selain itu, hasil belajar siswa yang mencapai KKM sekitar 35%. Setelah peneliti melakukan observasi, peneliti mendiskusikan metode pembelajaran yang akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIIA dengan guru pelajaran IPA. Guru menyetujui penggunaan metode PBM dengan Pendekatan JAS. Peneliti bersama guru membuat kesepakatan waktu penelitian akan dilakukan. Peneliti dan guru sepakat melaksanakan tindakan pada tanggal 12 April 2014 – 30 April 2014. Sebelum diadakan tindakan, guru terlebih dahulu menyampaikan bahwa akan diadakan penelitian di kelas ini dan menjelaskan tujuan dari penelitian ini yaitu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar dengan metode PBM dengan Pendekatan JAS. Namun dalam kegiatan ini yang melakukan tindakan adalah peneliti dan yang melakukan pengamatan selama proses pembelajaran adalah guru pengampu. 2. Deskripsi Penelitian Siklus I Pelaksanaan siklus I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yang dimulai pada hari Sabtu tanggal 12 – 15 April 2014. Dalam tindakan siklus I kegiatan yang dilakukan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi dan refleksi.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 a. Tahap Perencanaan Pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti harus direncanakan dengan baik dan matang. Berdasarkan identifikasi penyebab timbulnya permasalahan pada saat proses pembelajaran sebelum tindakan kelas dilakukan, maka pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran sebagai tindakan untuk mengatasi masalah yang dipandang tepat, yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan mengunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. Diantara kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1) Melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran IPA mengenai jadwal penelitian sekaligus pokok bahasan yang akan disampaikan dan guru yang akan menjadi observer dalam penelitian ini. 2) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang pokok bahasan interaksi antar mahkluk hidup dan lingkungannya dengan materi komponen penyusun ekosistem dan satuan ekosistem, terdapat pada lampiran A.2. 3) Menyiapkan bahan ajar berupa ringkasan materi yang terdapat pada lampiran A.4. 4) Menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa, dan lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor, terdapat pada lampiran B.4-6.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5) Menyiapkan instrumen penelitian yang mengacu 82 pada pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar yaitu berupa lembar kerja siswa 1, terdapat dalam lampiran B.1. 6) Menyiapkan soal pretest dan posttest, terdapat pada lampiran B.23. b. Tahap pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, berdasarkan perencanaan maka pelaksanaan siklus I dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan menerapkan pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh peneliti beserta guru pengampu yang bertindak sebagai observer. Siklus I dilaksanakan dalam waktu 200 menit dan berlangsung selama 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada pelaksanaan siklus I pada hari Sabtu, tanggal 12 April 2014 dengan alokasi waktu 1 x 40 menit. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 14 April 2014 dengan alokasi 2 x 40 menit. Sedangkan pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 15 April 2014 dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Untuk rincian langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut :

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Pertemuan I Pertemuan pertama siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 12 April 2014. Mulai dari pukul 07.55-08.35 WIB. Peneliti bersama guru pengampu sebagai observer masuk kelas VIIA. Guru mata pelajaran IPA memberitahukan kepada siswa kelas VIIA bahwa untuk sementara pengajaran akan dipegang oleh peneliti sepenuhnya. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, lebih dulu peneliti memperkenalkan diri. Selanjutnya peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti adalah memberi salam, presensi siswa dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran. Kemudian dilanjutkan memberi motivasi kepada siswa dengan mengajukan pertanyaan yang terkait komponen penyusun ekosistem dan satuannya. Pertanyaannya berupa : “Kalian pernah mengamati suatu kolam? Di dalam kolam tersebut biasanya terdapat apa saja, coba sebutkan! Nah, coba kalian bandingkan apabila kalian mengamati padang gurun? Apakah ada persamaan atau perbedaan antara kolam dan gurun? Coba kalian jelaskan! Dari kegiatan ini

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 banyak diantara siswa yang masih malu dan belum berani mengeluarkan pendapatnya. Kegiatan selanjutnya peneliti menjelaskan bahwa pembelajaran IPA biologi akan menggunakan metode PBM dengan pendekatan JAS. Sebelum menjelaskan materi, peneliti memberikan pre test yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki siswa sebelum tindakan diberikan. Pelaksanaan pre test ini diadakan selama 25 menit. Selama pelaksanaan pre test, siswa terlihat agak bingung karena soal yang diberikan masih baru dan mereka belum pernah mempelajarinya. Selama mengerjakan pre test siswa terlihat tertib, karena waktu yang diberikan oleh peneliti dalam menyelesaikan soal yang jumlahnnya 30 soal yang berupa 25 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Setelah waktu yang diberikan oleh peneliti telah habis semua siswa mengumpulkan lembar jawaban kepada peneliti. Gambar 4.1 Siswa melakukan pretest

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Setelah pemberian pretest, langkah selanjutnya yaitu tahap penyampaian materi. Sebelum menyampikan materi terlebih dahulu peneliti bertanya secara bergantian pengetahuan awal siswa tentang komponen penyusun ekosistem dan satuannya. Pertanyaannya : “Kalian tahu apa yang dimaksud dengan ekosistem? Jika ekosistem terdiri dari beberapa komponen, lalu coba kalian sebutkan komponen yang menyusun ekosistem ada apa saja? Kemudian kita semua yang berada di kelas ini dapat dikatakan sebagai komponen penyusun ekosistem tidak?” Ketika tahap eksplorasi dilakukan banyak siswa kurang tepat menjawab pertanyaan yang diberikan. Kegiatan selanjutnya yaitu peneliti menjelaskan tata cara belajar dengan metode PBM dengan pendekatan JAS dan menjelaskan tahap-tahap dari metode tersebut dalam pembelajaran. Agar siswa tidak penasaran seperti apa pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar yang akan mereka lakukan selama proses pembelajaran berlangsung, kemudian peneliti mengajak siswa untuk menjadi 5 kelompok. Kelompok dibentuk berdasarkan pilihan mereka sendiri. Kondisi kelas ketika pembentukan kelompok sangat ramai dan belum bisa terkendali, kemudian peneliti meminta bantuan kepada guru untuk mengondisikan siswa dalam pembentukan kelompok. Situasi di dalam kelas pada akhirnya bisa terkondisikan setelah peneliti berusaha menegur dan menasehati siswa yang masih ramai

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 sendiri. Setelah suasana kelas menjadi tenang kemudian peneliti membagikan nomor identitas. Setelah itu peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnnya. Terdapat 3 siswa yang bertanya mengenai apa yang harus mereka lakukan setelah membentuk kelompok, dan kapan kita mulai untuk pengamatan. Kemudian peneliti menjelaskan bahwa pengamatan akan dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya dan mengakhiri kegiatan pertemuan pertama dengan mengucapkan salam. Pertemuan II Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 14 April 2014 selama 2 x 40 menit dari pukul 11.35-12.55 WIB. Setelah pada pertemuan sebelumnnya dilaksnakan pre test dan tahap penyampaian metode , maka pada pertemuan ini akan dilaksanakan tahap pembelajaran dengan menggunakan metode PBM dengan pendekatan JAS. Peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti adalah mengucap salam, mengabsensi siswa, dan menanyakan kabar siswa. Kemudian peneliti memotivasi dengan mengajukan pertanyaan mengenai materi yang akan dipelajari hari ini. Pertanyaan : “Bagaimana masih ingat materi

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 apa yang akan kita pelajari hari ini? Apakah ada sudah mengerti apa yang dimaksud dengan ekosistem dan komponen penyusunnya? Sebelum pembelajaran menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar dilaksanakan, terlebih dahulu peneliti meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya. Kemudian peneliti membagikan LKS dan membimbing siswa dalam berdiskusi menyelesaikan LKS. Disini siswa terlihat bingung dalam merumuskan masalah dan mengkaji hipotesis, mereka masih belum mengerti mengenai hipotesis. Gambar 4.2 Siswa mengerjakan LKS

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Gambar 4.3 Siswa melakukan pengamatan Setelah dibantu melalui arahan peneliti siswa lalu mulai melakukan pengamatan di luar kelas. Setiap kelompok tidak sepenuhnya memiliki cara kerja yang sama dalam melaksnakan pengamatan. Beberapa kelompok menggunakan alat dan bahan yang disediakan di kelas, tetapi ada juga yang mencari alat sendiri. Setelah melakukan pengamatan selama 45 menit siswa kembali ke dalam kelas dan melanjutkan diskusi bersama kelompoknya untuk mempersiapkan presentasi. Pada pertemuan ini terdapat 2 kelompok yang telah melaksanakan presentasi dan kelompok yang lain menanggapi kelompok yang sedang presentasi. Setelah itu peneliti mengajak siswa untuk menarik kesimpulan yang didapat dalam kegiatan yang telah dilaksanakan. Kemudian pembelajaran diakhiri dengan memberikan kesempatan bagi kelompok yang belum presentasi untuk maju pada pertemuan selanjutnya dan

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memberikan arahan mengenai pembuatan laporan 89 kegiatan, pembelajaran diakhiri dengan berdoa dan mengucapkan salam. Pertemuan III Pertemuan tiga dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 15 April 2014 selama 2 x 40 menit dari pukul 10.25-11.25 WIB. Setelah pertemuan sebelumnnya telah diterapkan pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar dan diakhiri dengan presentasi, maka pada pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini akan dilaksanakan post test untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberikan tindakan. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti adalah mengucap salam, mengabsensi siswa, dan menanyakan kabar siswa. Kemudian peneliti memotivasi dengan mengajukan pertanyaan mengenai materi sebelumnya. Pertanyaan : “Berdasarkan hasil pengamatan kemarin, ada yang bisa membantu ibu untuk menjelaskan apa perbedaan dan memberi contoh komponen biotik dan abiotik? Lalu apakah ketika kalian mengamati kemarin ada yang melihat sekelompok semut merah? Sekelompok semut itu berperan sebagai apa ya di tempat kalian temukan kemarin?” Siswa pun terlihat begitu antusias dalam menjawab.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Setelah terlihat siap mengikuti pembelajaran, peneliti meminta siswa duduk dalam kelompok sebelumnnya dan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum presentasi untuk mempresentasikan hasil diskusi. Selama proses pembelajaran ini kelas menjadi ramai karena terdapat kelompok yang tidak memperhatikan kelompok lain dan asyik berbicara sendiri dengan teman kelompoknya. Untuk mengatasi hal ini peneliti menghampiri, menegur dan menasehati kelompok yang ramai sendiri. Kemudian ketika presentasi telah selesai peneliti meminta siswa untuk kembali duduk di bangkunya masing – masing. Peneliti meminta siswa untuk memberikan kesimpulan mengenai hasil diskusi dan presentasi yang telah dilaksanakan. Terdapat 3 kelompok yang terlihat sangat aktif baik dalam diskusi, presentasi, dan menarik kesimpulan. Lalu peneliti melakukan penguatan materi mengenai komponen penyusun ekosistem dan satuannya dengan memberikan penjelasan materi. Siswa memperhatikan dengan tenang dan juga mencatat penjelasan yang diberikan. Sebelum memberikan post test peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal yang belum dimengerti dan dipahami. Dalam kesempatan ini tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Gambar 4.4 Siswa presentasi di depan kelas Peneliti bersama siswa menyimpulkan mengenai materi komponen penyusun ekosistem dan satuannya dan memberikan waktu siswa untuk belajar sebelum dimulai post test. Post test dilaksanakan selama 25 menit. Selama mengerjakan post test siswa terlihat tertib dan tenang, karena waktu yang diberikan oleh peneliti dalam menyelesaikan soal yang jumlahnnya 28 soal yang berupa 25 soal pilihan ganda dan 3 soal uraian cukup lama. Setelah menyelesaikan post test siswa mengumpulkan laporan kegiatan dan peneliti melakukan refleksi dalam proses pembelajaran siklus I. Pembelajaran diakhiri dengan mengucapkan salam. c. Tahap Pengamatan Pengamatan atau observasi pada siklus I dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan berlangsung. Observer melakukan pengamatan dengan berpedoman instrumen observasi yang telah disusun, meliputi lembar observasi kemampuan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 berpikir kritis siswa, lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor. Observasi dilakukan pada semua siswa melalui pengamatan per individu. Observasi dilakukan guru pengampu dan untuk mempermudah pengamatan masing-masing kartu identitas yang berdasarkan nomor presensi siswa. Pada siklus I ini tahap pengamatan dilaksanakan pada saat pertemuan kedua dan ketiga, ketika siswa telah melakukan tahapan awal dan akhir dalam penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS. Karena pada pertemuan pertama merupakan pengenalan awal mengenai tahapan metode ini. d. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan dengan memberikan penguatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan, membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan pada akhir pembelajaran. Pada tindakan siklus I, sikap siswa masih sangat perlu ditingkatkan. Karena siswa belum sepenuhnya melaksanakan aktivitas sesuai dengan langkahlangkah dalam pembelajaran dengan menerapkan metode PBM dengan JAS. Siswa masih banyak yang belum melakukan pengamatan, diskusi, dan presentasi dengan baik. Hal ini dikarenakan banyak siswa yang masih malu, pendiam, bertengkar dengan temannya dan bingung dengan metode yang masih baru bagi mereka. Dalam tindakan siklus I ini alat evaluasi yang digunakan adalah hasil

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 belajar posttest 1 dan analisis LKS serta laporan yang telah dikerjakan oleh siswa. e. Tahap Refleksi Refleksi siklus I dilakukan untuk menentukan apakah tindakan pada siklus I sudah mencapai keberhasilan atau belum dalam penerapannya. Hasil refleksi ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya agar kesalahan yang terjadi pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan observer pada siklus I diperoleh data bahwa masih banyak siswa yang belum menampakkan kekritisan belajarnya di dalam kelas. Sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan yang mengarah pada proses pembelajaran yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan presentasi yaitu terdapat beberapa kelompok yang asyik mengobrol sendiri dan tidak memperhatikan ataupun menanggapi presentasi kelompok lain. Selain itu, ketika berdiskusi mereka tidak mengerjakan LKS dengan sungguh-sungguh, didalam satu kelompok terdapat 2 siswa saja yang mengerjakan, sedangkan siswa yang lain bermain sendiri. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, terdapat kelebihan dan kelemahan baik dari siswa maupun peneliti pada pembelajaran dengan menggunakan metode PBM dengan pendekatan

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 JAS. Kelebihan yang terdapat dalam penerapan metode ini sebagai berikut ; 1. Siswa terlihat antusias ketika mengikuti kegiatan pembelajaran terlebih dalam melakukan pengamatan di luar kelas, semua siswa bersama kelompok melakukan tugas sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh peneliti. 2. Beberapa siswa mulai aktif bertanya mengenai materi ataupun petunjuk tugas yang diberikan ketika mereka merasa belum memahaminya. 3. Dalam kegiatan presentasi terdapat beberapa siswa yang aktif bertanya ketika kelompok lain presentasi dan terlihat beberapa siswa menanggapi pertanyaan temannya dengan sangat baik walaupun dalam menjawab ataupun bertanya masih dengan jawaban dan pertanyaaan yang cukup sederhana. Kelemahan yang terdapat dalam penerapan metode ini sebagai berikut: 1. Siswa terlihat bingung dalam merumuskan masalah dan hipotesis yang terdapat dalam lembar kerja siswa. Hampir sebagian besar siswa dalam kelompok selalu bertanya apa itu hipotesis. Terdapat beberapa LKS yang tidak terisi dalam soal merumuskan masalah dan hipotesis.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 2. Dalam melaksanakan pengamatan dan diskusi, siswa masih ramai sendiri dengan kelompoknya. Terdapat beberapa kelompok yang asyik mengobrol sendiri dan bermain sendiri. Kelompok yang ramai adalah kelompok dengan beranggotakan mayoritas laki-laki semua. Terdapat 2 kelompok yang terlihat dominan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Kelompok ini memiliki anggota yang mayoritas perempuan dan merupakan siswa cukup pintar serta pendiam di kelas. Hal ini dikarenakan siswa memilih sendiri dalam pembentukan kelompok dan mereka memilih berdasarkan teman dekat sehingga kondisi kelas menjadi cukup ramai. 3. Peneliti masih meminta bantuan guru pengampu dalam mengkondisikan siswa baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kekurangan dan kelemahan penerapan pembelajaran metode PBM dengan pendekatan JAS pada siklus I menuntut untuk dilakukan beberapa perbaikan sebagai rencana dan petunjuk dalam penerapan pembelajaran siklus berikutnya, antara lain : 1. Peneliti akan lebih tegas dalam menegur dan mengingatkan siswa yang ramai 2. Peneliti akan lebih memotivasi siswa untuk bertanya jika ada penjelasan yang belum dimengerti dan kritis dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 3. Peneliti akan menyampaikan materi secara jelas dan tidak tergesagesa 4. Peneliti akan memperbaiki pembentukan kelompok dan aturan main serta memberi petunjuk yang jelas dalam menerapakan metode. Hal ini dilakukan agar siswa tidak bingung ketika melaksanakan pembelajaran dengan metode PBM dengan pendekatan JAS ini. Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan pada siklus I ini dipandang belum cukup baik, pelaksanaan belum mencapai indikator keberhasilan tindakan. Sehingga diperlukan adanya tindakan selanjutnya agar telihat peningkatan dalam penerapan metode PBM dengan JAS. 3. Deskripsi Penelitian Siklus II Pelaksanaan siklus II dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yang dimulai pada hari sabtu tanggal 28 – 30 April 2014. Dalam tindakan siklus II kegiatan yang dilakukan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi dan refleksi. a. Tahap Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi pada tindakan siklus I, maka pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran sebagai tindak lanjut dari siklus I, yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan mengunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 pendekatan jelajah alam sekitar. Pada kegiatan ini beberapa hal yang dilakukan peneliti sebagai wujud rencana tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut : 1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang pokok bahasan interaksi antar mahkluk hidup dan lingkungannya dengan materi bentuk saling ketergantungan dan pola interaksi dalam ekosistem, terdapat dalam lampiran A.3. 2) Menyiapkan bahan ajar berupa ringkasan materi yang terdapat pada lampiran A.5. 3) Menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa, dan lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor, terdapat pada lampiran B.4-6. 4) Menyiapkan instrument penelitian yang mengacu pada pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar yaitu berupa lembar kerja siswa 2 dan 3, terdapat dalam lampiran B. 7-8. 5) Menyiapkan soal posttest 2, terdapat pada lampiran B.9. b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu selama 200 menit (5 x 40 menit). Pada pembelajaran dengan metode PBM dengan pendekatan JAS ini terdiri dari 6 tahapan yaitu

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 tahapan pembentukan kelompok, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, melakukan pengamatan, memecahakan masalah melalui menjawab soal berdasarkan pengamatan, dan mempresentasikan hasil serta pelaksanaan post test. Rincian dari pelaksanaan pada tindakan siklus II ini sebagai berikut : Pertemuan I Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 28 April 2014 selama 2 x 40 menit. Mulai pada pukul 11.3512.55 WIB. Pada pertemuan ini pembelajaran yang dilakukan peneliti adalah tahapan pembentukan kelompok, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, dan melakukan pengamatan. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti adalah kegiatan rutin tatap muka (membuka pelajaran dengan salam dan mempresensi siswa). Kemudian peneliti memotivasi siswa dengan menampilkan gambar yang terkait dengan materi bentuk saling ketergantungan dalam ekosistem secara bergantian. Peneliti menampilkan sebuah gambar seekor kambing yang sedang memakan rumput dan beruang yang hidup di kutub. Dari gambar ini peneliti mengajukan pertanyaan : “Apa yang dilakukan kambing tersebut? Apabila rumput itu habis dan tidak dapat tumbuh, apa yang terjadi dengan kambing? Lalu jika kalian melihat seekor beruang ini, apakah beruang ini dapat hidup di tempat kita?” Tampak siswa sangat antusias dalam menanggapi

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 pertanyaan guru dengan menjawab sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Lalu peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan kali ini. Tahapan selanjutnya, peneliti membagi siswa dalam kelompok dengan jumlah 6 kelompok. Kelompok ini dibentuk oleh peneliti secara acak dan merata berdasarkan aktivitas yang dilakukan pada kelompok sebelumnya pada siklus I. Kondisi kelas saat pembagian kelompok tetap tenang, tetapi terdapat beberapa siswa yang sedikit kecewa dengan pembagian kelompok yang ditentukan. Peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk saling bekerjasama dengan kelompok walaupun tidak seperti yang mereka inginkan dan para siswa pun duduk bersama kelompoknya. Kegiatan selanjutnya peneliti menjelaskan langkah-langkah yang akan dilaksanakan, lalu membagi tugas dengan 3 kelompok yaitu 1, 2, dan 3 mengerjakan LKS 2 dan 3 kelompok yaitu 4, 5, dan 6 mengerjakan LKS 3. Selanjutnya peneliti membimbing kelompok dalam mengerjakan LKS dan berdiskusi. Setelah merumuskan masalah dan hipotesis, peneliti mengajak siswa untuk melakukan pengamatan di lingkungan sekolah, disini terlihat siswa sangat antusias dalam melakukan pengamatan. Dalam melakukan pengamatan kelompok 1, 2, dan 3 didampingi oleh peneliti sedangkan untuk keompok 4, 5, dan 6 oleh guru pengampu.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Gambar 4.5 Siswa melakukan pengamatan Setelah melakukan pengamatan selama 60 menit siswa masuk kembali ke dalam kelas dan melanjutkan mengerjakan LKS. Kemudian mempersilakan untuk 2 kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi. Dalam kegiatan ini lebih banyak siswa yang memperhatikan presentasi bahkan beberapa siswa mulai aktif dalam mengajukan pertanyaan kepada kelompok presentasi. Pembelajaran pada pertemuan pertama diakhiri dengan peneliti memberikan kesempatan kepada kelompok yang belum presentasi untuk lebih mempersiapkan, berdoa dan memberi salam. Pertemuan Kedua Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 April 2014 selama 2 x 40 menit dimulai dari pukul 11.35-12.55 WIB. Setelah sebelumnya dilaksanakan pembelajaran tahapan presentasi, maka pada pertemuan ini juga melanjutkan presentasi dan tahapan penyampaian materi. Pembelajaran ini diawali dengan kegiatan awal

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 seperti yang dilaksanakan sebelumnya yaitu mengucap salam, mempresensi siswa, memotivasi siswa dengan pertanyaan yang terkait materi sebelumnya. Pertanyaan : “Berdasarkan pengamatan kalian kemarin, apakah kalian dapat menjelaskan apa perbedaan antara tempat yang terang dengan sinar matahari dan tempat yang redup?”. Tedapat 3 siswa yang dapat menjelaskan dengan cukup baik perbedaan antara temapat terang dengan tempat gelap. Lalu peneliti memberikan sedikit penjelasan mengenai jawaban dari pertanyaan dan mengajak siswa untuk siap mengikuti pembelajaran. Gambar 4.6 Siswa presentasi Setelah siswa merasa siap dalam mengikuti pembelajaran, maka peneliti mempersilakan kelompok yang akan presentasi. Pada pertemuan terdapat 4 kelompok yang presentasi. Kegiatan presentasi berlangsung selama 60 menit. Setelah presentasi selesai peneliti mengajak siswa untuk membuat kesimpulan dari kegiatan yang telah

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dilakukannya. Siswa terlihat sangat aktif dan kritis 102 dalam menyimpulkan. Lalu peneliti melakukan penguatan materi mengenai bentuk saling ketergantungan dan pola interaksi dalam suatu ekosistem dengan memberikan penjelasan materi. Siswa memperhatikan dengan tenang dan juga mencatat penjelasan yang diberikan. Pertemuan ini diakhiri dengan kesimpulan yang dibuat siswa dan memberi salam. Pertemuan Ketiga Pertemuan akhir ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 30 April 2014 dilaksanakan selama 1 x 40 menit dari pukul 07.15-07.55 WIB. Setelah pertemuan sebelumnya telah diterapkan pembelajaran dengan metode PBM dengan pendekatan JAS dan diakhiri dengan presentasi, maka pada pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini akan dilaksanakan post test untuk mengetahui hasil belajar akhir dari siswa setelah tindakan. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti adalah mengucap salam, mengabsensi siswa, dan menanyakan kabar siswa. Kemudian peneliti memotivasi dengan mengajukan pertanyaan mengenai materi sebelumnya. Pertanyaan : “ Kita kemarin sudah belajar mengenai bentuk saling ketergantungan dan pola interaksi dalam ekosistem, apakah kalian

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 bisa memberikan contoh dari pola interaksi dalam ekosistem?” Dan siswa pun menjawab pertanyaan yang diberikan. Setelah itu peneliti memberikan penguatan materi kembali untuk mengingatkan kembali siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Melalui materi yang telah disampaikan peneliti mengajak siswa untuk menyimpulkan materi. Sebelum memberikan post test peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal yang belum dimengerti dan dipahami. Terdapat beberapa siswa yang bertanya mengenai materi. Lalu peneliti mengajak siswa lain untuk mencoba membantu menjawab, tetapi tidak ada dan peneliti menjelaskan kembali. Gambar 4.7 Siswa melaksanakan posttest 2 Setelah tidak ada pertanyaan kemudian peneliti memberikan kesempatan siswa untuk belajar sendiri selama 5 menit sebelum diadakan post test pada siklus II ini. Post test dilaksanakan selama 25

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 menit. Selama mengerjakan post test siswa terlihat tertib dan tenang, karena waktu yang diberikan oleh peneliti dalam menyelesaikan soal yang jumlahnya 28 soal yang berupa 25 soal pilihan ganda dan 3 soal uraian cukup lama. Setelah menyelesaikan post test siswa mengumpulkan laporan kegiatan dan peneliti melakukan refleksi dalam proses pembelajaran siklus II. Pembelajaran diakhiri dengan berpamitan, mengucapkan salam dan terima kasih. c. Tahapan Pengamatan Pengamatan atau observasi pada siklus II dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan berlangsung. Observer melakukan pengamatan dengan berpedoman instrumen penelitian yang telah disusun, meliputi lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa, lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode PBM dengan pendekatan JAS. Observasi dilakukan pada semua siswa melalui pengamatan per individu. Observasi dilakukan guru pengampu dan untuk mempermudah pengamatan masing-masing kartu identitas yang berdasarkan nomor presensi siswa. Pada tindakan siklus II ini tahap pengamatan dilaksanakan ketika pertemuan pertama dan kedua. Karena pada kedua pertemuan tersebut tahapan penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS dilaksanakan. Sedangkan dalam pertemuan ketiga

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 merupakan kegiatan penguatan materi dan mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan secara keseluruhan dalam siklus II. d. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan dengan memberikan penguatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan, membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan pada akhir pembelajaran. Penguatan materi diberikan dengan maksud siswa dapat lebih memahami materi lebih jelas dan memberikan kesempatan siswa untuk bertanya apabila masih belum jelas. Kesimpulan pada akhir pembelajaran dilaksanakan oleh siswa sendiri dengan mengajukan pernyataan secara mandiri. Pada siklus II ini siswa telah melaksanakan tahapan penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS, baik dalam merumuskan masalah, hipotesis, memecahkan masalah dengan menjawab pertanyaan sesuai pada soal LKS dan hasil pengamatan yang dilakukan, mempresentasikan hasil yang diperoleh dan menarik kesimpulan. Tahapan yang sangat dominan terdapat peningkatan adalah pada kegiatan presentasi dan penarikan kesimpulan, siswa sangat aktif dalam menanggapi dan memberikan tanggapan. Pada akhir tindakan siklus II ini alat evaluasi yang digunakan adalah hasil belajar post test 2 dan hasil analisis LKS serta laporan yang dikerjakan oleh siswa.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 e. Tahap Refleksi Refleksi digunakan untuk menentukan apakah tindakan pada siklus II sudah berhasil atau belum dalam penerapannya. Refleksi dilakukan dengan wawancara secara bebas bersama siswa. Hasil wawancara yang telah dilakukan, sebagian besar siswa mengatakan bahwa mereka rasa sangat senang dalam penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS ini. Karena siswa dapat belajar di luar sekolah yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh guru pengampu. Tetapi terdapat siswa yang mengatakan bahwa dalam membuat laporan ini merupakan pengalaman pertama jadi mereka masih terlalu malas ketika diminta untuk membuatnya. Terdapat peningkatan dalam siklus II ini, yaitu hampir semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pengamatan dan presentasi. Siswa mulai dapat merumuskan masalah dengan baik, namun dalam menyusun hipotesis masih mengalami kesulitan. Kondisi kelas selama kegiatan siklus II lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Kelompok terbentuk dengan sangat baik, pembagian siswa dan siswi pada setiap kelompoknya merata sehingga kelas tidak ramai. Beberapa siswa melaksanakan presentasi dan menjawab maupun mengajukan pertanyaan dengan percaya diri. Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan pada siklus II ini dipandang sudah baik, pelaksanaan sudah mencapai indikator

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 keberhasilan tindakan. Sehingga tidak diperlukan adanya tindakan selanjutnya. B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Deskripsi pelaksanaan penelitian sebelumnya telah menjelaskan bahwa peneliti melaksanakan penelitian dalam 2 siklus. Peneliti selanjutnya akan menjelaskan hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dengan menggunakan metode PBM dengan Pendekatan JAS. 1. Kemampuan Berpikir Kritis Hasil kemampuan berpikir kritis dapat dilihat dalam tabel 4.3 di bawah ini : Tabel 4.3 Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Siklus I (%) Siklus II ( % ) Hasil observasi 61.53 80.76 Hasil analisis 60 83 Rata – rata hasil 60.76 81.88 Berdasarkan hasil observasi dan analisis LKS serta laporan dari siklus satu sampai kedua ternyata terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan IPA Biologi. Perbedaan hasil observasi dan analisis LKS dan laporan adalah

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 indikator yang digunakan. Indikator pada analisis LKS dan laporan lebih sedikit dibandingkan dengan observasi. Keterlaksanaan pembelajaran berdasarkan masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik juga mengalami peningkatan. Pada siklus I telah melaksanakan seluruh langkah pembelajaran metode PBM dengan pendekatan JAS. Dari beberapa observasi keterlaksanaan pada tahap merumuskan masalah dan hipotesis, siswa masih merasa kebingungan karena hal ini merupakan pembelajaran baru bagi mereka. Pada tahap bimbingan presentasi peserta didik, peneliti juga menyadari kegiatan mengusahakan peserta didik untuk terlibat aktif dan saling berinteraksi belum optimal dilakukan. Hal ini dikarenakan model PBM merupakan model pembelajaran yang baru sehingga butuh penyesuaian kondisi kelas dan juga dalam kelompok terlihat perbedaan yang sangat dominan yaitu terdapat kelompok yang beranggotakan perempuan semua serta laki-laki semua, belum terjadi heterogen. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa ketercapaian kemampuan berpikir kritis siswa secara individu, siswa yang dikatakan kritis ada 16 siswa dan siswa yang belum aktif ada 10 siswa Ketercapaian kemampuan berpikir kritis siswa secara klasikal yaitu 61,53%. Secara klasikal, tindakan pada siklus I ini dapat diartikan bahwa pembelajaran sudah dikatakan berhasil tapi belum maksimal, karena masih ada 10

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 siswa yang belum kritis dalam pembelajaran dengan menggunakan metode PBM dengan pendekatan JAS. Selain dari observasi, kemampuan berpikir kritis juga dilihat berdasarkan analisis LKS dan Laporan. Hasil analisis LKS dan laporan ini digunakan untuk menganalisi kemampuan berpikir kritis siswa yang dilihat dari lima indikator, yaitu : mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi konsep materi, merumuskan pemecahan masalah, memahami kedalaman dan keluasan materi, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil analisis LKS dan laporan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat 15 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis dalam hal mengerjakan LKS dan laporan. Sedangkan yang belum kritis terdapat 11 siswa. Hasil analisis observasi kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil analisis LKS serta laporan pada siklus I terdapat dalam lampiran C.1 dan C.3. Hasil kualitatif analisis LKS pada siklus I dapat diketahui dari contoh LKS yang telah dikerjakan oleh siswa dalam merumuskan masalahdan menyusun hipotesis.. Gambar 4.1 Merumuskan masalah dan hipotesis

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Jika dilihat dari gambar di atas, siswa sudah cukup baik dalam merumuskan masalah tetapi dalam menyusun hipotesis, mereka menjawab pertanyaan dari rumusan masalah yang telah ditulis diatasnya. Hal ini membuktikan bahwa siswa masih bingung mengenai hipotesis itu sendiri. Memasuki siklus II terdapat perbaikan dari pelaksanaan siklus I. Tampak hasil yang dicapai peserta didik juga meningkat dari setiap aspek belajar dalam berpikir kritis. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II, tahap pembelajaran model PBM juga telah terlaksana semuanya. Pada tahap pembentukan kelompok secara acak dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil observasi awal pada siklus I. Tahap merumuskan masalah dan hipotesis pada kegiatan memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif telah dilakukan. Pengaturan penggunaan waktu juga telah dilakukan, dalam hal ini peneliti memberi waktu diskusi selama 30 menit, lebih singkat dibanding siklus I. Hal ini dilakukan supaya waktu untuk presentasi lebih awal dan waktu untuk peneliti dalam klarifikasi hasil presentasi juga lebih lama. Tahap selanjutnya adalah membimbing presentasi peserta didik, kegiatan peneliti dalam mengusahakan peserta didik untuk terlibat aktif dan saling berinteraksi telah dilakukan. Hal ini tampak pada saat peneliti menanyakan kembali permasalahan yang terdapat dalam LKS serta memberikan pertanyaan secara klasikal.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Pertanyaan ini dimaksudkan untuk merangsang sejauh mana pengetahuan peserta didik dalam mengenali permasalahan yang diberikan, pertanyaanya sebagai berikut : “Setelah kalian melakukan pengamatan tadi, coba kalian jelaskan perbedaan antara tempat terang dengan tempat yang gelap atau teduh?” Peserta didik yang tahu, segera angkat tangan dan mengemukakan pendapat. Salah satu siswa menjawab : “tempat terang terkena cahaya langsung, sedangkan tempat teduh tidak.” Dalam hal ini peneliti tidak segera membenarkan jawaban peserta didik, namun memberi kesempatan peserta didik lain untuk menyempurnakan jawaban. Terdapat satu siswi yang menjawab : “ perbedaannya, tempat terang memiliki kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi, sedangkan tempat teduh atau gelap memiliki kelembaban yang tinggi dan suhu yang rendah”. Dari kegiatan ini, peneliti beserta peserta didik aktif dalam pembelajaran, memikirkan permasalahan, penyebab permasalahan, merancang solusi sampai dengan membuat kesimpulan akhir. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa ketercapaian kemampuan berpikir kritis siswa secara individu, siswa yang dikatakan kritis ada 21 dan siswa yang belum aktif mencapai ada 5 siswa. Ketercapaian kemampuan berpikir kritis siswa secara klasikal yaitu 80,76%. Sedangkan, hasil analisis LKS dan laporan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat 21 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis dalam hal mengerjakan LKS dan laporan. Sedangkan yang

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 belum kritis terdapat 5 siswa. Hasil analisis observasi kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil analisis LKS serta laporan pada siklus II terdapat dalam lampiran C.2 dan C.3. Hasil kualitatif analisis LKS pada siklus II dapat diketahui dari contoh LKS yang telah dikerjakan oleh siswa dalam merumuskan masalah, menyusun hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Gambar 4.2 Rumusan masalah dan hipotesis Gambar 4.3 Membuat kesimpulan Pada siklus II, terlihat perbedaan dalam menyusun hipotesis. Penulisan hipotesis lebih baik dibandingkan dengan siklus I, mereka tidak menulis hipotesis dengan menjawab rumusan masalah. Selain itu juga, mereka mampu membuat kesimpulan dengan kata-katanya sendiri. Adapun juga kekritisan mereka dilihat berdasarkan pemecahan masalah

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 melalui hasil pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS, seperti dalam gambar berikut: Gambar 4.4 Pengamatan Gambar 4.5 Jawaban siswa dalam LKS Kemampuan berpikir kritis tersebut terdapat 10 indikator secara garis besar baik melalui observasi maupun analisis LKS dan laporan yaitu memahami tujuan berpikir, memahami kedalaman dan keluasan materi, mencari informasi yang relevan, merumuskan pendapat, konsekuen terhadap pendapat, mengklarifikasi suatu pendapat, merumuskan pemecahan masalah,menarik kesimpulan, bertanya tentang

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 kebenaran suatu argumen, dan mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa melalui observasi dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 4.4 Hasil observasi per indikator kemampuan berpikir kritis Indikator Kemampuan berpikir ktitis Siklus I % Siklus II % 76 80 71 72 63 72 72 78 65 68 72 77 56 62 73 82 63 64 70 88 melalui observasi Memahami tujuan berpikir ;  Merumuskan dan melaksanakan dengan jelas tentang tujuan tugas yang diberikan Memahami kedalaman dan keluasan materi;  Menunjukkan pemahaman yang baik dengan kedalaman dan keluasan materi Mencari informasi yang relevan ;  Memiliki informasi yang lengkap untuk mendukung pendapatnya ketika berdiskusi Merumuskan pendapat ;  Mengemukakan pendapatnya dengan jelas ketika berdiskusi Konskuen terhadap pendapatnya ;  Mempertahankan pendapatnya ketika berdiskusi, jika pendapatnya benar Mengklarifikasi suatu pendapat ;  Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain Merumuskan pemecahan masalah ;  Merumuskan beberapa alternatif dalam memecahkan masalah secara logis berdasarkan data yang diperoleh Menarik kesimpulan ;  Menarik kesimpulan berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan Bertanya tentang kebenaran suatu argument ;  Menanyakan kebenaran suatu argumen kepada guru dengan antusias Mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain ;  Menjawab pertanyaan ketika berdiskusi baik yang diberikan oleh guru maupun siswa lain dengan jelas dan baik

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Berdasarkan tabel di atas, kita dapat mengetahui bahwa terdapat peningkatan pada setiap indikator kemampuan berpikir kritis melalui observasi langsung. Peningkatan itu membuktikan bahwa pelaksanakaan metode PBM dengan pendekatan JAS pada siklus II telah berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal-hal yang menjadi kelemahan pada siklus I sudah diperbaiki dalam pelaksanakan siklus II, sehingga pada siklus II mengalami peningkatan sesuai dengan yang diharapakan. Selain melalui observasi, kemampuan berpikir kritis siswa ini juga dilihat berdasarkan analisis LKS dan Laporan yang telah dikerjakan oleh siswa yang dapat dillihat dalam tabel 4.5 : Tabel 4.5 Hasil analisis LKS dan Laporan kemampuan berpikir kritis Indikator Kemampuan berpikir ktitis Siklus I % Siklus II % melalui analisis LKS dan Laporan Merumuskan tujuan berpikir;  Mengidentifikasi masalah 52 71  Memahami kedalaman dan keluasan 70 71 47 48 Merumuskan pemecahan masalah 47 60 Penarikan kesimpulan 65 96 materi  Mengidentifikasi konsep materi

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Pada hasil analisis LKS dan Laporan menunjukkan peningkatan yang sama dengan hasil observasi, tetapi peningkatan yang terjadi tidak terlalu tinggi. Hal ini ditunjukkan dalam memahami kedalaman dan keluasan materi, peningkatan hanya 1%. Dalam kegiatan memahami kedalaman dan keluasan materi siswa masih menjawab pertanyaan secara singkat, sesuai dengan pemahaman mereka tidak dikaitkan dengan teori dalam buku. 2. Hasil Belajar Aspek Kognitif Peningkatan hasil belajar aspek kognitif diperoleh berdasarkan hasil posttest 1 dan 2. Hasil belajar dalam aspek kognitif merupakan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal posttest. Melalui siklus II diharapkan dapat memperbaiki tindakan dari siklus I. Pada hasil belajar siklus II diperoleh data yang baik yaitu mengalami peningkatan hasil belajar berdasarkan hasil posttest 2 yang telah dilakukan. Perbandingan hasil belajar pada siklus I dan II sebagai berikut : Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Belajar Aspek Kognitif Siklus I dan II Indikator Post test 1 Post test 2 Nilai terendah 33 58 Nilai tertinggi 85 93 Rata – rata 64 73 Tuntas KKM perorang 15 21 Presentase lulus KKM 58 81 secara klasikal %

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan tabel di atas, 117 hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, hasil belajar pada siklus II ini mengalami peningkatan. Hasil analisis posttest 1dan 2 terdapat dalam lampiran C.4 dan C.5 . Pada siklus I presentase ketuntasan belajar mencapai 58% dan pada siklus II meningkat menjadi 81%. Perbandingan ini dapat dilihat pada grafik sebagai berikut Perbandingan Post test 1 dan Post test 2 100 80 60 40 Post test 1 20 Post test 2 0 Rata - rata Jumlah Presentase % Tuntas Perorang Gambar 4.12 Grafik Perbandingan Post test 1 dan Post test 2 Hasil belajar antara siklus I dan II dapat dikatakan bahwa terdapat perubahan dan peningkatan hasil belajar aspek kognitif pada siswa dalam penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS. Hasil belajar yang diperoleh dapat diukur melalui kemajuan yang diperoleh siswa setelah belajar dengan sungguh-sungguh (Hamalik, 2006). Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Hal

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 ini terbukti hasil belajar aspek kognitif dapat diukur melalui tes dan pada akhirnya mengalami kemajuan berdasarkan peningkatan hasil belajar pada posttest 2. 3. Hasil Belajar Aspek Afektif Hasil belajar aspek afektif merupakan hasil belajar yang berpedoman berdasarkan penilaian sikap yang terbentuk dalam diri siswa tersebut. Dalam penelitian terdapat 12 indikator penilaian afektif yang diobservasi terhadap siswa ketika penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS. Indikator tersebut meliputi sikap terbuka, tekun, rajin, tenggang rasa, displin, kerjasama, ramah dengan teman, jujur, peduli, tanggung jawab, percaya diri, dan kreatif. Aspek ini mencakup penilaian afektif secara individu dan sosial serta juga telah terdapat dalam penilaian sikap kurikulum 2013. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I penilaian sikap atau afektif siswa mencapai 61.53%. Sedangkan pada siklus II penilaian afektif siswa mencapai 84.16%. Perbandingan hasil belajar aspek afektif dapat dinyatakan dalam grafik berikut :

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Axis Title Perbandingan Penilaian Afektif 100 80 60 40 20 0 Nilai minimum Nilai maksimal Rata-rata Tuntas Klasikal % Siklus I 52 84 71 61,53 Siklus II 60 90 77 84,16 Gambar 4.13 Grafik perbandingan hasil belajar aspek afektif Terdapat peningkatan hasil belajar dalam aspek afektif siswa mencapai 22.63%. Hasil analisis observasi penilaian afektif siswa terdapat dalam lampiran C.6-7. Dalam hal ini sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS dapat dikategorikan pada sikap yang tinggi karena pada setiap siklusnya melebihi target indikator keberhasilan yang ditentukan. Dan melalui peningkatan yang terjadi dapat dikatakan juga bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dalam aspek afektif pada siswa SMP Xaverius 3 Bandar Lampung melalui metode tersebut. 4. Hasil Belajar Aspek Psikomotor Hasil belajar aspek psikomotor berkaitan dengan keterampilan (skill) dan berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan dalam kegaiatan pembelajaran. Hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 menjadi hasil belajar psikomotor apabila siswa telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif dengan materi interaksi makhluk hidup dan linngkungannya. Dalam penilaian hasil belajar psikomotor mencakup keterampilan dalam melakukan pengamatan, diskusi , dan presentasi. berdasarkan hasil observasi penilaian psikomotor pada siklus yang telah dilakukan dapat diperoleh data mencapai 61.53% dan pada siklus II mencapai 80.76%. Hasil analisis observasi penilaian psikomotor siswa tterdapat dalam lampiran C.8-9. Perbandingan hasil belajar aspek psikomotor dapat dinyatakan dalam grafik berikut : Perbandingan Penilaian Psikomotor Siklus I Siklus II 95 95 65 50 55 Nilai minimum Nilai maximum 77 Rata-rata 80,76 61,53 Tuntas klasikal % Gambar 4.14 Grafik perbandingan hasil belajar aspek psikomotor Dalam melakukan pengamatan siswa terlihat sangat antusias pada setiap siklusnya, hal ini dikarenakan sifat siswa yang suka berjalan- jalan

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 dan sedikit bosan apabila pembelajaran dilaksanakan hanya di dalam kelas. Dan melalui peningkatan yang terjadi dapat dikatakan juga bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dalam aspek psikomotor pada siswa SMP Xaverius 3 Bandar Lampung melalui metode PBM dengan pendekatan JAS dan dapat dikategorikan dalam keterampilan yang tinggi. Wahidmurni (2010: 18) menjelaskan bahwa sesorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut di antaranya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek. Maka hasil belajar baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor pada penerapan metode PBL dengan pendekatan JAS mengalami peningkatan dan hal ini menunjukkan adanya perubahan apabila dibandingkan sebelum diterapkan metode tersebut. 5. Hasil Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini menggunakan rumusan liliefors atau kolmogorov-smirnov Z. Setelah dilakukan perhitungan dengan program SPSS dapat diketahui hasil perhitungan uji normalitas data kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa setelah tindakan siklus II dapat dinyatakan dalam tabel 4.7 berikut ;

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data One-Sample KolmogorovSmirnov Test Kemampuan berpikir kritis Hasil belajar kognitif Hasil belajar afektif Hasil belajar psikomotor 26 26 26 26 73.15 73.31 77.00 76.73 10.074 10.318 8.786 11.571 .262 .204 .147 .171 .126 .204 .110 -.262 -.182 -.147 -.171 KolmogorovSmirnov Z 1.336 1.042 .750 .874 Asymp. Sig. (2-tailed) .056 .228 .628 .430 N Normal Parametersa Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Most Extreme Differences Positive Negative .118 Dari tabel di atas diketahaui untuk variabel kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh harga Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 1,336 dengan asymptod signifikasi 0,56. Sedangkan untuk variabel hasil belajar kognitif siswa diperoleh harga Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 1,042 dengan asymptod signifikasi 0,228. Pada variabel hasil belajar afektif dan psikomotor siswa diperoleh harga Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0,750 dan 0,854 dengan asymptod signifikasi 0,628 dan 0,430 Karena secara

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 keseluruhan asymptod signifikasi lebih besar dari 0,05 maka data dari variabel kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa tersebut berdistribusi normal dan memiliki daya beda yang tidak signifikan dengan data baku, sehingga dapat diuji korelasinya. 6. Hasil Uji Linieritas Analisis regresi digunakan untuk menggambarkan apakah ada ikatan linier anatara kedua variabel penelitian yaitu variabel terikat dan bebas. Selainitu juga untuk mengetahui uji hipotesis dari korelasi antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Uji sig. dan Uji F dinyatakan sebagai berikut : Ho: > 0,05 dan Fhitung < F tabel = tidak ada ikatan linier dan sama Hi: < 0,05 dan Fhitung > F tabel = ada ikatan linier dan berbeda Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi dengan program SPSS, diperoleh koefisien a = 40,687 dan b = 0,443. Bentuk persamaan regresi Y = 40,687 + 0,443 X. Hasil pengujian keterkaitan uji F didapat Fhitung = 6,217 dan F tabel= 4,26. Hasil perhitungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan mencari p-value melalui pendekatan interpolasi pada tabel distribusi F, diperoleh p-value = 0,020. karena p-value =0,020 < 0,05, maka Ho ditolak, artinya ada ikatan linier atau terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar kognitif siswa.

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Tabel 4.8 Anova Kritis-Kognitif Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Regression 522.065 1 522.065 6.217 .020 Residual 2015.319 24 83.972 Total 2537.385 25 Tabel 4.9 Koefisien Kritis-Kognitif Model 1 (Constant) Hasil belajar kognitif Unstandardized Coefficients Std. B Error 40.687 13.145 .443 .178 Standardized Coefficients Beta T 3.095 Sig. .005 .454 2.493 .020 Pada perhitungan yang kedua diperoleh koefisien a = 15,145 dan b = 0,753. Bentuk persamaan regresi Y = 15,145 + 0,753 X. Hasil pengujian keterkaitan uji F didapat Fhitung =18,231 dan F tabel = 4,26. Hasil perhitungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan mencari pvalue melalui pendekatan interpolasi pada tabel distribusi F, diperoleh p-value = 0,000. karena p-value =0,000 < 0,05, maka Ho ditolak, artinya ada ikatan linier atau terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar afektif siswa.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Tabel 4.10 Anova Kritis-Afektif Model Regression Residual Total Sum of Squares 1095.397 1441.988 2537.385 Df Mean Square 1095.397 60.083 1 24 25 F Sig. 18.231 .000 Tabel 4.11 Koefisien kritis-Afektif Model 1 (Constant) Hasil belajar afektif Unstandardized Coefficients Std. B Error 15.145 13.671 .753 .176 Standardized Coefficients Beta .657 T Sig. 1.108 .279 4.270 .000 Sedangkan perhitungan terakhir diperoleh koefisien a = 45,689 dan b = 0,358. Bentuk persamaan regresi Y = 45,689 + 0,358 X. Hasil pengujian keterkaitan uji F didapat Fhitung = 4,881 dan F tabel = 4,26. Hasil perhitungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan mencari pvalue melalui pendekatan interpolasi pada tabel distribusi F, diperoleh p-value = 0,037. karena p-value =0,037 < 0,05, maka Ho ditolak, artinya ada ikatan linier atau terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar psikomotor siswa.

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Tabel 4.12 Anova Kritis-Psikomotor Model Regression Residual Total Sum of Squares 428.843 2108.541 2537.385 Df 1 24 25 Mean Square 428.843 87.856 F Sig. 4.881 .000 Tabel 4.13 Koefisien Kritis-Psikomotor Model 1 (Constant) Hasil belajar psikomotor Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. B Error Beta 45.689 12.567 .358 .162 .411 T 3.636 Sig. .001 2.209 .037 Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan Penerapan Metode PBM dengan Pendekatan JAS pada kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada siswa kelas VII SMP Xaverius Bandar Lampung. 7. Perhitungan Korelasi Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat hubungan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar melalui penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Tabel 4.11 Uji korelasi kemampuan berpikir kritis dengan hasil belajar siswa Kemampuan Hasil belajar Hasil belajar Hasil belajar berpikir kritis kognitif afektif psikomotor 0,454 0,657 0,411 0,20 0,000 0,037 26 26 26 Pearson Correlation Sig.(2-tailed) N Berdasarkan perhitungan korelasi melalui program SPSS diperoleh koefisien r1 = 0,454, r2 = 0,657, dan r3 = 0,411. Determinasi dari ketiga koefisien hasil belajar diatas sebesar 0,78. Kriteria penafsiran koefisien korelasi tersebut menunjukkan korelasi sedang. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Perhitungan uji korelasi melalui SPSS selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran C.10. C. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebagai upaya atau tindakan yang dilakukan oleh penliti untuk memecahkan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yang

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 terjadi di dalam kelas khususnya yaitu hasil belajar yang sangat menurun, banyak siswa yang tidak mencapai KKM dalam pembelajaran IPA Biologi dengan materi ekosistem yang sekarang dalam kurikulum 2013 berganti menjadi materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya. Selain itu, kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru pengampu masih menerapakn metode ceramah yang mengakibatkan siswa bersikap pasif dan monoton. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung dalam 2 siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dengan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya untuk siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil penelitian mulai dari siklus I sampai siklus II menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar afektif serta psikomotor siswa baik secara individu maupun secara kelompok yang diketahui berdasarkan lembar observasi siswa yang diperoleh pada saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan hasil belajar kognitif siswa diketahui berdasarkan hasil posttest 1 dan 2 yang diperoleh pada saat evaluasi akhir pembelajaran atau siklus. Setelah melaksanakan penelitian ini, dapat diketahui bahwa berpikir kritis siswa di sekolah ini dipengaruhi oleh faktor kepribadian. Faktor kepribadian yang dimaksudkan adalah tingkah laku siswa yang terlihat ketika mengikuti

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 kegiatan pembelajaran. Dalam kelas VIIA ini anak yang berperilaku baik, berani dalam menunjukkan kekritisannya terlebih ketika kegiatan presentasi. Sebaliknya anak yang yang berperilaku kurang sopan seperti suka mengobrol ketika pelajaran dimulai, mereka hanya suka bermainmain dan perlu adanya dorongan untuk mau menunjukkan kekritisannya. Hal ini juga dikarenakan siswa masih masa transisi dari pembelajaran di SD dan SMP. Pada penelitian ini terdapat korelasi atau hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan hasil belajar siswa. Hal ini telah ditunjukkan melalui analisis data melalui uji korelasi yang telah dilakukan dan menghasilkan data bahwa terdapat korelasi yang sedang. Korelasi tersebut dapat dinyatakan dengan kalimat berikut : “jika seorang siswa memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi atau dalam arti sangat kritis, maka dalam hasil belajar siswa tersebut juga akan tinggi ataupun sebaliknya”. Melalui korelasi ini pula dapat dinyatakan bahwa metode PBL dengan penerapan JAS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini dapat dinyatakan bahwa siswa mampu untuk memahami materi yang diajarkan berdasarkan permasalahan-permasalahan awal dan mereka berusaha untuk memecahkan masalah dengan antusias melalui kegiatan pengamatan, diskusi dan presentasi. Tahap yang terdapat peningkatan pada indikator perumusan masalah, mencari informasi yang relevan, pemecahan masalah, dan penarikan kesimpulan. Hal ini sesuai

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 dengan pendapat Wena (2011:91) yang menyatakan bahwa Pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan. Menurut Mulyani (2008:7) menyatakan bahwa Pendekatan pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran biologi dan maupun bagi kajian ilmu lain yang bercirikan memanfaatkan lingkungan sekitar dan stimulasinya sebagai sumber pada peserta didik. Sekolah memiliki lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pengamatan seperti adanya kebun dan taman kecil. Siswa sangat antusias ketika melakukan pengamatan di sekitar sekolah. Siswa mampu untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai salah satu sumber belajar. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor pada penelitian yang telah dilakukan. Adapun kendal-kendala yang dihadapi peneliti ketika menerapkan metode PBM dengan pendekatan JAS ini yaitu sebagai berikut : 1. Metode ini pertama kali diterapkan pada kegiatan belajar mengajar kelas, sehingga peneliti terlebih dahulu memperkenalkan metode secara perlahan-lahan. Perkenalan metode ini dimaksudkan agar ketika

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 penerapan metode ini tidak menciptakan kebingungan bagi guru maupun siswa. 2. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk adanya tindak lanjut penerapan metode ini. Karena penelitian ini merupakan suatu pengolahan berdasarkan hasil data yang diperoleh, maka jika data yang diperoleh telah mencapai indikator sudah selesai. Tetapi penerapan metode di kelas ini sangat baru bagi siswa, maka perlu adanya pendalaman terapan metode. Sehingga siswa mampu menguasai atau memahami penerapan metode dengan baik. 3. Sarana dan fasilitas sekolah yang kurang memadai. Di sekolah ini tidak memiliki laboratorium IPA dan alat-alat yang mendukung kegiatan pengamatan sangat kurang. Peneliti harus mempersiapkan sendiri sendiri segala perlengkapan yang menunjang kegiatan pengamatan seperti : meteran, patok, higrometer dan termometer. Terdapat keunggulan dan kelemahan dalam penerapan PBM dengan pendekatan JAS yang mencakup beberapa hal sebagai berikut : 1. Keunggulan a. Melalui pembentukan kelompok dapat menunjukkan kepada siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung untuk berbagi dengan orang lain, menanamkan rasa kerjasama, tenggang rasa dan peduli sehingga berlatih tidak untuk bersikap egois.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. 132 Melalui perumusan masalah dapat memberikan pemahaman kepada siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung bahwa sebelum kita melakukan kegiatan hendaknya kita memiliki tujuan yang sesuai dengan masalah yang terjadi. c. Melalui kegiatan pengamatan secara langsung di sekitar sekolah dapat memberikan pengalaman kepada siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung, sehingga dapat mempermudah siswa dalam memecahkan suatu masalah dengan mengaitkan antara teori dengan pengalaman yang diperoleh dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. d. Pemecahan masalah melalui kegiatan pengamatan dan menjawab pertanyaan dapat memberikan kesempatan pada siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata dan belajar untuk menganalisis hasil pengamatan. e. Dalam kegiatan presentasi hasil diskusi siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung diajak untuk menumbuhkan sikap kritis, percaya diri, dan kreatif ketika memecahkan suatu masalah dan menanggapi suatu permasalahan. 2. Kelemahan a. Tanpa pemahaman dan minat siswa VIIA SMP Xaverius 3 Bandar Lampung untuk berusaha memecahkan masalah yang

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 sedang dipelajari, maka suatu pembelajaran tidak akan pernah berhasil. b. Keberhasilan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar membutuhkan waktu yang lama untuk persiapan. c. Dalam menyampaikan tahapan pembelajaran PBM dengan pendekatan JAS tidak dapat secara acak, melainkan dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan, sehingga diperlukan waktu yang lama dalam kegiatannya. d. Membutuhkan lingkungan yang mendukung dalam kegiatan pengamatan sehingga menimbulkan respon positif bagi siswa. e. Pengelolaan kelas yang baik untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang kondusif karena membutuhkan lingkungan yang tidak hanya di dalam kelas melainkan juga di luar kelas. Selain itu, penelitian ini juga didukung dengan adanya hasil dari penelitian sebelumnya yang memiliki peningkatan dalam penerapan PBM dan pendekatan JAS pada pembelajaran IPA Biologi. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Partisipasi Dan Keaktifan Berdiskusi Siswa Dalam Pembelajaran Biologi Kelas Vii Smp Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 (Sholihah, 2010). Pada penelitiannya disampaikan bahwa model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran yang cukup efektif dalam pembelajaran.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Hal ini dapat dilihat pada meningkatnya partisipasi dan keaktifan berdiskusi siswa. Rata-rata hasil angket kepuasan siswa terhadap model pembelajaran PBL sebesar 73,58% pada akhir siklus I dan 77,46% pada akhir siklus II. Penerapan model pembelajaran ini menjadikan siswa lebih paham dengan materi pelajaran yang diberikan oleh guru, karena siswa dituntut bekerjasama dengan teman sekelompoknya untuk mendalami materi yang telah diberikan oleh guru dan mempresentasikannya di depan kelas. Adapun juga, Penelitian Tindakan Kelas Karya Indriasih Penerapan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar Pada Perkembangbiakan Tumbuhan Di Sekolah Dasar (Ismartoyo dan Aini, 2011) menyatakan dalam pembahasannya bahwa yang keaktifan siswa pada pembelajaran IPA dengan pendekatan jelajah alam sekitar mempunyai hubungan linier pada hasil belajar para siswa. Penelitian ini menghasilkan bahwa keaktifan siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar para siswa. Apabila siswa sangat aktif pada pembelajaran maka didapatkan hasil belajar yang memuaskan. Juga dapat dilihat pada hasil yang ada pada output yang dihasilkan bahwa: keaktifan belajar mempengaruhi hasil belajar sebesar 64,8 % sedangkan pengaruh variabel yang lain adalah sebesar 35,2%. Dari hasil analisis pembelajaran pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dengan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) maka dapat

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 dilihat secara keseluruhan terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar yang memuaskan, dimana dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan jelajah alam sekitar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya untuk siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan perumusan masalah, pengujian hipotesis, analisis data penelitian dan pembahasan masalah maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yang membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. 2. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan observasi dan analisis LKS serta laporan pada siklus I sebesar 60,76% dan pada siklus II sebesar 81,88%. Nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II sebesar 81%. Hasil belajar afektif siswa pada siklus I sebesar 61.53% dan pada siklus II sebesar 84.16%. Hasil belajar psikomotor siswa pada siklus I sebesar 61.53% dan pada siklus II sebesar 80.76%. 136

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 3. Terdapat korelasi antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Xaverius 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2013 / 2014 pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. B. Saran 1. Pembelajaran menggunakan metode PBM dengan Pendekatan JAS dapat menambah pengetahuan dan mempermudah siswa dalam memahami permasalahan dan informasi yang diperoleh, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Diharapkan setelah penelitian guru dapat menerapkan proses pembelajaran tersebut di dalam kelas. 2. Diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktivitas belajar siswa, seperti metode PBM dengan pendekatan JAS yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan memberikan pengalaman terhadap siswa. 3. Diharapkan para peneliti lanjutan yang akan meneliti penerapan metode PBM dengan pendekatan JAS harus mengenal jelas faktor-faktor yang akan diteliti seperti permasalahan, kondisi lingkungan, sarana dan fasilitas yang terdapat dalam sekolah yang akan diteliti. Sehingga jika salah satu

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 faktor seperti yang disebutkan itu terdapat kekurangan, maka tidak akan mempengaruhi pelaksanaan penelitian. 4. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang metode dan pendekatan pembelajaran lain yang lebih cocok dengan tipe belajar siswa.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Aminandar, S. 2012. Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Online posing. http://www.Slideshare.net/shintiaaminandar/model-pembelajaranberbasis-masalah. Biswas, S., Ahmad, S., Molla, M. K. I., Hirose, K., & Nasser, M. (2008). Kolmogorov-Smirnov test in text-dependent automatic speaker identification. Engineering Letter, 16(4), EL_16_4_01. Retrieved from http://www.engineeringletters.com/issues_v16/issue_4/index.html. Crobanch, L.C. 1954. Education Psyology. New York : Harcourt, Brace & Company. Depdiknas. 2006. Bunga Rampai Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (SMA, SMK, dan SLB). Jakarta: Depdiknas. Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya. Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. Dimyati, dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Ennis, R. 1985. “Goals For Critical Thinking Curriculum Developing Mind A Resource Book For Teaching Thinking”. Alexandra : As.CD. Fisher, Alec. 2007. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta : Erlangga Hadiningtyas, Anita Widya. 2012. Penerapan Pembelajaran Dengan Model Stad Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas Vii Smpn 2 Munjungan Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Surabaya : UNAIR. Hamalik, Oemar. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara. 139

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Hermawan. 2011. Pengertian Mata Pelajaran IPA. http://id.shvoong.com/socialsciences/education/2120773-pengertian-mata-pelajaran-ipa/html diunduh pada tanggal 2 Februari 2014. Jayagiri, Hidayat. 2012. Kurikulum 2013 : Latar Belakang, Perubahan Konsep Belajar, dan Jam Pelajaran. http://www.hidayatjayagiri.net/2012/12/kurikulum-2013-latarbelakang-perubahan.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2014. Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo. Ismartoyo dan Aini Indriasih. 2011. Penerapan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar Pada Perkembangbiakan Tumbuhan Di Sekolah Dasar. Makalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kudus. Kingsley. 1957. Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training. New York : The Macmillan Company. Kolmogorov, A. N. 1992. On the empirical determination of a distribution law. In A. N. Shiryayev (Ed.), Selected Works of A.N. Kolmogorov: Probability Theory and Mathematical Statistics (Vol. 2, pp. 139–146). Dordrecht, Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Marianti, A. 2006 . Jelajah Alam Sekitar (JAS) Suatu Pendekatan dalam Pembelajaran Biologi dan Implementasinya. Bunga Rampai Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) Upaya membelajarkan Biologi Sebagaimana Seharusnya Belajar Biologi. Penyunting A. Marianti. Jurusan Biolgi FMIPA UNNES. Mulyani, Sri, Aditya Mariati, Nugroho Edi, Tuti Widiati, Sigit Saptono, Kripinus, Siti Harnina. 2008. Jelajah Alam Sekitar (JAS). Pendekatan Pembelajaran Biologi. Semarang : FMIPA UNNES.

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Jakarta : Remaja Rosda Karya. Sholihah, Ika. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Partisipasi Dan Keaktifan Berdiskusi Siswa Dalam Pembelajaran Biologi Kelas VII SMP Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi. Surakarta : UNS. Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia. Smirnov, N. 1948. Table for estimating the goodness of fit of empirical distributions. The Annals of Mathematical Statistics, 19(2), 279–281. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/2236278 Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Edisi Baru). Jakarta : Rineka Cipta. Sudjana. Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Suprijono, Agus. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivitik. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher. Sutrisno, Leo. 2007. Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta : Depdiknas. Syah M.Ed, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Grafindo Persada. Syah M.Ed, Muhibbin. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Grafindo Persada. Tim Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah (PGSM). 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Proyek PGSM Wahidmurni. 2010. Evaluasi Pembelajaran: Kompetensi dan Praktik. Yogyakarta: Nuha Letera. Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara. Wiriaatmadja, Rochiati. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 Yukaliana. 2013. IPA Biologi untuk SMP/MTS Kelas VII. Jakarta : Erlangga. Yuniastuti, Euis. 2013. Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar Biologi Dengan Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar Pada Siswa Kelas Vii Smp Kartika V-1 Balikpapan. Makalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Balikpapan : Universitas Tridharama.

(161)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) DENGAN PENILAIAN PORTOFOLIO UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS VII MTs SUNAN AMPEL KARANGANYAR PASURUAN
1
12
20
PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
3
19
133
PENGARUH PEMBUATAN JURNAL BELAJAR DALAM PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI EKOSISTEM
2
23
201
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN
2
16
263
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIKA SISWA SMP N 35 MEDAN KELAS VII PADA MATERI HIMPUNAN TAHUN AJARAN 2014/2015.
0
3
22
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN ILIMIAH (SCIENTIFIC) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA.
0
2
15
UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN METAKOGNISI.
0
2
18
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN METODE BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP PADA MATERI MASSA JENIS.
1
2
39
(ABSTRAK) PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN.
0
0
2
(ABSTRAK) PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) DENGAN METODE ROLE PLAYING PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH DI SMP 10 SEMARANG.
0
0
1
PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) DENGAN METODE ROLE PLAYING PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH DI SMP 10 SEMARANG.
0
4
119
(ABSTRAK) PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) DENGAN MODEL INVESTIGASI KELOMPOK PADA KONSEP INVERTEBRATA DI SMA.
0
0
1
PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) DENGAN MODEL INVESTIGASI KELOMPOK PADA KONSEP INVERTEBRATA DI SMA.
2
14
76
PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS SAINTIFIK PADA MATERI INTERAKSI MAHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP.
0
3
19
PENGARUH LEARNING CYCLE 7E BERBASIS KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN -
0
1
36
Show more