Efek hepatoprotektif infusa daun swietenia mahagoni (l.) jacq. pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository

Gratis

0
0
113
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI EFEK HEPATOPROTEKTIF INFUSA DAUN Swietenia mahagoni (L.) Jacq. PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh: Agriva Devaly Avista NIM: 108114113 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persetujuan Pembimbing EFEK HEPATOPROTEKTIF INFUSA DAUN Swietenia mahagoni (L.) Jacq. PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA Skripsi yang diajukan oleh: Agriva Devaly Avista NIM: 108114113 Telah disetujui oleh: Pembimbing Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. tanggal: ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul EFEK HEPATOPROTEKTIF INFUSA DAUN Swietenia mahagoni (L.) Jacq. PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA Oleh: Agriva Devaly Avista NIM: 108114113 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Pada tanggal: ...................................... Mengetahui, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dekan (Ipang Djunarko, M.Sc., Apt.) Panitia Penguji Skripsi Tanda Tangan 1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. ....................... 2. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt. ....................... 3. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. ....................... iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Imran : 139) “karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah : 94:5-6) “Apabila kamu teah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Al-Imran/3 ayat 159). Semakin besar rasa pengharapanmu, maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kau dapat. Dan jika kita menggantungkan pengharapan kepada makhluk yang bernama manusia, maka bersiap-siaplah untuk mengalami rasa kecewa, sebab manusia adalah tempat khilaf/salah “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlas : 2) Kupersembahkan karya kecil ini untuk : Allah SWT atas kehidupan yang diberikan dan segalanya dalam hidupku Bapak, Ibu, dan Adik yang senantiasa memberi doa , dukungan semangat dan kasih sayang Teman-teman yang telah mendukungku, serta Almamaterrku yang ku banggakan iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang telah saya tulis ini, tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, seperti layaknya karya ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah tersebut, saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Yogyakarta, 30 Mei 2014 Penulis (Agriva Devaly Avista) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Agriva Devaly Avista NIM : 108114113 Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul: EFEK HEPATOPROTEKTIF INFUSA DAUN Swietenia mahagoni (L.) Jacq. PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan hak kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet dan media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 30 Mei 2014 Yang menyatakan (Agriva Devaly Avista) vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan segala karuniaanya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “EFEK HEPATOPROTEKTIF INFUSA DAUN Swietenia mahagoni (L.) Jacq. PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA” dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) program studi Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis meyadari bahwa dalam pelaksanaan dan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan campur tangan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan yang indah ini penulis hendak mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma 2. Bapak Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji pada skripsi ini dan telah memberikan saran kepada penulis. 3. Ibu Phebe Hendra, MSi., Ph.D., Apt. selaku Dosen Penguji pada skripsi ini, atas saran dan dukungan kepada penulis. 4. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji pada skripsi ini, atas segala bimbingan, bantuan, dukungan, semangat dan motivasi selama penelitian dan penyusunan skripsi. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi yang telah memberikan izin dalam penggunaan semua fasilitas laboratorium untuk kepentingan skripsi ini. 6. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., yang telah memberikan bantuan dalam determinasi daun Swietenia mahagoni (L.) Jacq. 7. Bapak Heru, Bapak Parjiman, Bapak Kayat, Bapak Kunto, Bapak Wagiran selaku Laboran Laboratorium Fakultas Farmasi atas bantuan dan dukungannya kepada penulis selama proses pengerjaan skripsi. 8. Keluarga Bapak A. Slamet, SE., Ibu Siti Winarni, dan adik Zeluyvenca Avista atas segala cinta, doa, nasihat, dukungan, dan batuan yang selalu mengiringi. 9. Simbah kakung dan putri yang senantiasa memberikan semangat dan doa. 10. Rekan-rekan tim Swietenia mahagoni (L.) Jacq. : Evan Gunawan, Sherly Damima, dan Stefanus Indra Gamawan, atas kerjasama, dukungan dan bantuannya selama ini. 11. Sahabat-sahabat Angelia Rosari, Yudhytha Anggarhani, Fransiskus Asisi Dian Kristianto,Tomas Indra Waskita, Angga Zakharia, Hans Gani, dan Daniel Pradipta atas persahabatan yang sudah terjalin selama ini. 12. Teman luar biasa Nurul Kusumawardani atas segala doa, dukungan, semangat dan motivasinya. 13. Teman-teman FKK B 2010 dan teman-teman Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma khususnya angkatan 2010 atas kebersamaannya. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis yang telah membantu selama proses penyusunan skripsi ini berlangsung. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan bermanfaat khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat khususnya di bidang Farmasi, serta semua pihak baik mahasiswa, lingkungan akademis, maupun masyarakat. Yogyakarta, 30 Mei 2014 Penulis ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................... vi PRAKATA ............................................................................................................ vii DAFTAR ISI ........................................................................................................... x DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xviii INTISARI.............................................................................................................. xx ABSTRACT ............................................................................................................ xx BAB I. PENGANTAR ............................................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................................... 1 1. Rumusan masalah ..................................................................................... 4 2. Keaslian penelitian .................................................................................... 4 3. Manfaat penelitian .................................................................................... 5 B. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 5 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA..................................................................... 6 A. Anatomi dan Fisiologi Hati ........................................................................... 6 B. Kerusakan Sel-Sel Hati .................................................................................. 8 x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Perlemakan hati (steatosis) ....................................................................... 8 2. Kematian sel (necrosis)............................................................................. 8 3. Kolestasis .................................................................................................. 9 4. Sirosis........................................................................................................ 9 C. Karbon tetraklorida ...................................................................................... 10 D. Alanin Aminotransferase dan Aspartat Aminotransferase ......................... 12 E. Swietenia mahagoni (L.) Jacq. ................................................................... 12 1. Taksonomi............................................................................................... 12 2. Morfologi ................................................................................................ 13 3. Khasiat dan kegunaan ............................................................................. 14 4. Kandungan kimia .................................................................................... 14 F. Infusa ........................................................................................................... 14 G. Landasan Teori ............................................................................................ 15 H. Hipotesis ...................................................................................................... 16 BAB III. METODE PENELITIAN....................................................................... 17 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................................... 17 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.............................................. 17 1. Variabel utama ........................................................................................ 17 2. Variabel pengacau ................................................................................... 17 3. Definisi operasional ................................................................................ 18 C. Bahan Penelitian .......................................................................................... 18 1. Bahan utama............................................................................................ 18 2. Bahan kimia ............................................................................................ 19 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Alat Penelitian ............................................................................................. 20 1. Alat pembuatan serbuk kering daun S. mahagoni .................................. 20 2. Pembuatan infusa daun S. mahagoni ...................................................... 21 3. Alat uji hepatoprotektif ........................................................................... 21 E. Tata Cara Penelitian ..................................................................................... 21 1. Determinasi tanaman .............................................................................. 21 2. Pengumpulan bahan uji ........................................................................... 21 3. Pembuatan serbuk daun S. mahagoni ..................................................... 22 4. Penetapan kadar air serbuk kering daun S. mahagoni ............................ 22 5. Pembuatan infusa daun S. mahagoni ...................................................... 22 6. Penetapan kandungan flavonoid infusa daun S. mahagoni ..................... 23 7. Pembuatan larutan karbon tetraklorida konsentrasi 50%........................ 23 8. Uji pendahuluan ...................................................................................... 23 9. Penetapan dosis infusa daun S. mahagoni .............................................. 24 10. Pengelompokkan dan perlakuan hewan uji............................................. 25 11. Pembuatan serum .................................................................................... 26 12. Pengukuran aktivitas ALT-AST ............................................................. 26 F. Tata Cara Analisis Hasil .............................................................................. 27 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 28 A. Penyiapan Bahan ......................................................................................... 28 1. Hasil determinasi tanaman ...................................................................... 28 2. Penetapan kadar air serbuk kering daun S. mahagoni ............................ 29 3. Penetapan kadar flavonoid infusa daun S. mahagoni ............................ 29 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Uji Pendahuluan........................................................................................... 29 1. Penentuan dosis hepatotoksik karbon tetraklorida .................................. 29 2. Penentuan waktu pencuplikan darah hewan uji ...................................... 30 3. Penetapan lama pemejanan infusa daun S. mahagoni ............................ 34 4. Penetapan dosis infusa daun S. mahagoni .............................................. 35 C. Efek Hepatoprotektif Infusa Daun S. mahagoni Pada Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida..................................................................................... 36 1. Kontrol negatif (olive oil 2 ml/kgBB) ..................................................... 41 2. Kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 m/kgBB .................... 43 3. Kontrol perlakuan (infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB) .............. 44 4. Kontrol pelarut aquadest ......................................................................... 44 5. Kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 5; 3,535 dan 2,5 g/kgBB pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida 2 ml/kgBB ..... 45 D. Rangkuman Pembahasan ............................................................................. 50 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 53 A. Kesimpulan .................................................................................................. 53 B. Saran ............................................................................................................ 53 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 54 LAMPIRAN .......................................................................................................... 57 BIOGRAFI PENULIS .......................................................................................... 92 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Komposisi dan konsentrasi reagen serum ALT..................... 20 Tabel II. Komposisi dan konsentrasi reagen serum AST..................... 20 Tabel III. Rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam............................................................................. Tabel IV. 30 Hasil uji Scheffe aktivitas ALT tikus terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada pencuplikan darah jam 0, 24, 48 dan 72 jam.............................................................. Tabel V. 31 Rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam............................................................................. Tabel VI. 32 Hasil uji Mann-Whitney aktivitas AST tikus terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada pencuplikan darah jam 0, 24, 48 dan 72 jam............................................. Tabel VII. 34 Purata ± SE aktivitas serum ALT dan AST, serta % efek hepatoprotektif tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5)........ Tabel VIII. 37 Hasil uji Scheffe aktivitas serum ALT tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5)..................................................................... xiv 39

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IX. Hasil uji Scheffe aktivitas serum AST tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5)..................................................................... Tabel X. 40 Rata-rata aktivitas serum ALT dan AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam (n=5)........................................................ Tabel 41 XI. Hasil uji Scheffe aktivitas serum ALT dan AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam (n=5)....................................................................................... . xv 42

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Struktur mikroskopik hati...................................................... 7 Gambar 2. Struktur karbon tetraklorida.................................................. Gambar 3. Mekanisme biotransformasi dan oksidasi 10 karbon tetraklorida............................................................................. 11 Gambar 4. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL.kgBB pada selang waktu 0, 24, 48, 72 jam.............................................. Gambar 5. 30 Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL.kgBB pada selang waktu 0, 24, 48, 72 jam.............................................. Gambar 6. 33 Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni selama enam hari sekali berturut-turut terinduksi karbon tetraklorida............................................................................. 38 Gambar 7. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni selama enam hari sekali berturut-turut terinduksi karbon tetraklorida............................................................................. 38 Gambar 8. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam.................................................................. xvi 41

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 9. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam.................................................................. xvii 42

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Foto serbuk daun S. mahagoni........................................ Lampiran 2. Foto pembuatan infusa daun S. mahagoni........................ Lampiran 3. Foto Infusa daun S. mahagoni........................................ Lampiran 4. Surat keterangan kadar air serbuk daun S. mahagoni..... Lampiran 5. Surat keterangan kandungan flavonoid infusa daun S.mahagoni...................................................................... Lampiran 6. Surat pegesahan determinasi daun S. mahagoni............. Lampiran 7. Surat pengesahan ethical clearens.................................. Lampiran 8. Analisis statistik aktivits serum ALT pada uji 58 58 58 59 60 61 62 pendahuluan penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB......................................... Lampiran 9. 63 Analisis statistik aktivits serum AST pada uji pendahuluan penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB......................................... Lampiran 10. 66 Analisis statistik aktivits serum ALT perlakuan infusa daun S. mahogani setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB............................................................ Lampiran 11. 73 Analisis statistik aktivits serum AST perlakuan infusa daun S. mahogani setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB............................................................ xviii 78

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 12. Analisis statistik aktivits serum ALT perlakuan kontrol negatif olive oil dosis 2 mL/kgBB.................................. Lampiran 13. Analisis statistik aktivits serum AST perlakuan kontrol negatif olive oil dosis 2 mL/kgBB.................................. Lampiran 14. 89 Perhitungan konversi dosis untuk manusia infusa daun S. mahagoni........................................................... Lampiran 16. 86 Perhitungan penetapan peringkat dosis infusa daun S. mahagoni pada kelompok perlakuan.............................. Lampiran 15. 83 90 Perhitungan efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni......................................................................... xix 91

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek hepatoprotektif infusa daun Swietenia mahagoni (L.) Jacq. terhadap penurunan kadar ALT dan AST serum pada tikus terinduksi karbon tetraklorida dan mengetahui dosis optimum pemberian infusanya. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak pola searah. Penelitian ini digunakan 35 ekor tikus dibagi dalam 7 kelompok. Kelompok I (kontrol hepatotoksin) diberikan larutan karbon tetraklorida : olive oil (1:1) dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial. Kelompok II (kontrol pelarut hepatotoksin) diberi olive oil dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial. Kelompok III (kontrol pelarut infusa) diberi aquadest 25mL/kgBB selama 6 hari berturutturut secara peroral. Kelompok IV (kontrol infusa) diberi infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB selama 6 hari berturut-turut secara peroral. Kelompok V, VI dan VII (kelompok perlakuan) diberikan infusa daun S. mahagoni dosis berturut-turut 2,5; 3,535 dan 5 g/kgBB selama 6 hari berturut-turut secara peroral, kemudian dihari ke tujuh diberi larutan karbon tetraklorida : olive oil (1:1) dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial, 24 jam kemudian semua kelompok darahnya diambil dari sinus orbitalis mata untuk diukur aktivitas serum ALT dan AST. Data serum ALT dan AST dianalisis menggunakan ANOVA satu arah, dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan, infusa daun S. mahagoni memberikan efek hepatoprotektif dengan menurunkan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus terinduksi karbon tetraklorida. Dosis optimum pemberian infusa daun S. mahagoni yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 5 g/kgBB dengan persen hepatoprotektif sebesar 63,9%. Kata kunci : Hepatoprotektif, Infusa daun Swietenia mahagoni (L.) Jacq., ALT dan AST, karbon tetraklorida xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The aim of study research were to prove the hepatoprotective effect of Swietenia mahagoni (L.) Jacq. leaves infusion to decrease serum level of ALT and AST in rats induced with carbon tetrachloride and to decide the optimum dose of the infusion. This research is purely experimental research with randomized complete direct sampling design. A total of 35 male Wistar rats were divided randomly into 7 grups. Group I (hepatotoxin control) was given carbon tetrachloride dissolved in olive oil (1:1) at dose of 2mL/kgBW intraperitonially. Group II (hepatotoxin solvent control) was given a dose 2mL/kgBW olive oil in intraperitonial. Group III was infusion solvent control given 25mL/kgBW of aquadest p.o for six days. Group IV was control treatment given 5g/kgBW infusion of S. mahagoni p.o for six days. Group V, VI and VII were given 2.5; 3.535; and 5 g/kgBW dose infuse of S. mahagoni leaves for six days orally and then on the seventh day, all treatment and infusion solvent control groups were given the carbon tetrachloride 2 mL/kgBW intraperitonial. After 24 hours, the blood was collected from the orbital sinus eye to be measured ALT and AST serum activity. ALT and AST serum data were analyzed statistically by unidirectional ANOVA, with 95% confidence level. The result of this study shown, that the infuse of S. mahagoni leaves, has hepatoprotective effect by decreasing the activities of ALT and AST serum in rats inducted tetrachloride carbon. The optimum dose of S. mahagoni leaves infusion was 5g/kgBW. Keywords : Hepatoprotective, Swietenia mahagoni (L.) Jacq. leaves infuse, ALT and AST, carbon tetrachloride xxi

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Hepar atau hati merupakan organ atau kelenjar terbesar dari tubuh yang mensekresi empedu dan dapat mengeluarkan hasil produksi dari makanan, organ ini berfungsi sebagai pusat metabolisme (Wibowo dan Paryana, 2009). Adanya kerusakan pada hati yang terjadi dapat di sebabkan karena induksi senyawa kimia dan mikroorganisme (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2007). Penyakit gangguan fungsi hati dengan golongan usia 15-44 tahun menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di pedesaan dan menempati urutan ketiga di daerah perkotaan (Badan Penelitian dan Pegembangan Kesehatan RI, 2007). Gangguan fungsi hati salah satunya adalah perlemakan hati, dimana gangguan tersebut terjadi karena adanya penumpukan zat lemak di dalam sel hati. Menurut Sofia, Nurdjanah, dan Ratnasari (2009) angka prevalensi terjadinya penyakit perlemakan hati di Indonesia menunjukkan prosentase sebesar 30,6 %. Penyakit hati merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang dapat di sembuhkan dengan menggunakan obat herbal (Hian, 2009). Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mencari alternatif pengobatan dari sumber daya alam hayati sebagai pengobatan penyakit hati. Di Indonesia sendiri memiliki berbagai macam sumber daya alam hayati yang tumbuh, hal tersebut mendorong untuk terus dilakukannya eksplorasi tanaman untuk kepentingan dalam dunia 1

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 pengobatan. Bangsa Indonesia sejak dahulu berdasar pengalaman empiris dan keterampilan yang dimiliki secara turun temurun, diwariskan dari generasi ke generasi telah mengenal dan menggunakan tanaman yang memiliki khasiat obat sebagai salah satu penaganan untuk masalah kesehatan, sehingga penggunaan obat herbal atau jamu di kalangan masyarakat hingga saat ini masih banyak menjadi pilihan untuk digunakan sebagai pengobatan (Badan Penelitian dan Pegembangan Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Tanaman Swietenia mahagoni (L.) Jacq. merupakan jenis tanaman yang tumbuh pada zona lembab, penanaman dilakukan secara extensive telah di lakukan terutama di daerah Pasifik yaitu di Indonesia, Filipina, Malaysia dan Fiji (Joker, 2001). Berbagai khasiat yang dimiliki tanaman ini antara lain menurut Naveen, Rupini, Ahmed, dan Urooj (2014) tanaman S. mahagoni dapat digunakan sebagai penyembuhkan penyakit seperti malaria, diare, dan dapat juga sebagai antipiretik. Daun tanaman S. mahagoni memiliki efek sebagai antidiabetik dan aktivitas antioksidan dan tanaman ini memiliki kandungan tanin, saponin, flavonoid, dan terpenoid yang dapat terlarut dalam air (Matin, Haque dan Hossain, 2013). Tanaman S. mahagoni memiliki ketersediaan daun yang lebih melimpah dibandingkan bagian lain dari tanaman ini, sehingga dalam penelitian ini, bagian daun dari tanaman S. mahagoni yang akan digunakan dalam penelitian. Salah satu komponen dari daun S. mahagoni adalah flavonoid, dimana senyawa tersebut memiliki aktivitas perlindungan hati, flavonoid yang diisolasi dari Laggera alata memiliki kemampuan untuk melindungi hati dari kerusakan yang ditimbulkan karbon tetraklorida (Kumar dan Pandey (2013). Penelitian

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Udem, Nwaogu, dan Onyejekwe (2011) menyebutkan proses penyarian daun S. mahagoni menggunakan ektrak air dapat menyari senyawa yang memiliki efek hepatoprotektif pada tikus dengan induksi alkohol secara kronis. Oleh karena itu, pada penelitian ini menggunakan infusa sebagai bentuk sediaan, dikarenakan infusa ini menggunakan pelarut air, sehingga diharapkan dapat memiliki efek yang sama, yaitu dapat menarik senyawa yang dapat menimbulkan efek hepatoprotektif. Air merupakan salah satu pelarut yang memiliki sifat polar dan flavonoid merupakan senyawa golongan fenolik yang memiliki sifat polar, sehingga diharapkan kandungan flavonoid di dalam daun S. mahagoni dapat tersari. Bentuk sediaan infusa ini pada proses pembuatannya sama dengan cara perebusan yang di gunakan dalam masyarakat sebagai salah satu cara untuk mendapatkan khasiat dari suatu tanaman. Adanya kandungan flavonoid yang dapat tersari tersebut diharapkan dapat memiliki aktivitas antioksidan sehingga diduga dapat memiliki efek hepatoprotektif terhadap kerusakan hati yang disebabkan oleh senyawa model seperti karbon tetraklorida. Dalam penelitian ini digunakan karbon tetraklorida (CCl4) sebagai senyawa model hepatotoksik yang dapat mengalami reduksi oleh enzim sitokrom P-450 (CYP2E1) kemudian dapat terbentuk radikal bebas triklorometil (CCl3•) dan radikal bebas triklorometilperoksida (CCl3O2•) yang lebih reaktif (Timbrell, 2009). Radikal triklorometil (CCl3•) dapat menyebabkan terjadinya akumulasi lipid, terjadinya akumulasi lipid di hati disertai perubahan biokimia dalam darah, hal tersebut dapat dilihat dengan adanya perubahan aktivitas serum alanin aminotransferase (ALT) dan aspartat aminotransferase (AST) (Hodgson, 2010).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Berdasar hal tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa daun S. mahagoni sebagai efek hepatoprotektif pada tikus terinduksi karbon tetraklorida dengan melihat aktivitas serum ALT dan AST dan untuk megetahui dosis optimum pemberian infusa daun S. mahagoni dalam memberikan efek hepatoprotektif. 1. Rumusan masalah a. Apakah pemberian infusa daun S. mahagoni mempunyai efek hepatoprotektif pada tikus terinduksi karbon tetraklorida ? b. Berapa besar dosis optimum efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida ? 2. Keaslian penelitian Sejauh pengamatan penulis, penelitian menggunakan daun S. mahagoni pernah dilakukan oleh Matin, et al.. (2013) yang menyatakan bahwa ekstrak daun S. mahagoni mengandung tanin, saponin, flavonoid, dan terpenoid. Udem, et al., (2010) manyatakan bahwa esktrak air dari daun S. mahagoni memberikan efek hepatoprotektif pada tikus yang diinduksi dengan alkohol secara kronik. Penelitian dari Laxmaiah, Srikanth, Shivaraj, Santhosh, Subal dan Chiranjib (2011) menyebutkan bahwa ektrak metanol daun S. mahagoni memiliki aktivitas antibakterial Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Sejauh yang diketahui oleh peneliti melalui studi pustaka, penelitian terkait dengan efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni terhadap penurunan kadar serum ALT dan serum AST pada tikus yang diinduksi karbon tetraklorida belum pernah dilakukan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan dan tambahan ilmu pengetahuan khususnya bidang farmasi dalam penggunaan tanaman S. mahagoni sebagai hepatoprotektor jangka panjang. b. Manfaat praktis. Hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui dosis optimum infusa daun S. mahagoni sebagai hepatoprotektor. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pemberian infusa daun S. mahagoni memiliki efek hepatoprotektif 2. Tujuan khusus a. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian infusa daun S. mahagoni memberikan efek hepatoprotektif pada tikus terinduksi karbon tetraklorida. b. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimum pemberian infusa daun S. mahagoni dengan pemberian selama 6 hari pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Hati Hati merupakan kelenjar terbesar yang terdapat pada tubuh, dimana hati terletak dalam rongga abdomen, berat hati orang dewasa normal adalah 1400 sampai 1600 g atau sekitar 2,5% berat tubuh (Kumar, Abbas, Fausto dan Mitchell, 2007). Bentuk hati menyesuaikan dengan struktur di sekitarnya. Pada bagian atas hati memiliki bentuk cembung dan terletak di bagian kanan bawah diafragma dan sebagian terletak di sebelah kiri bawah. Bagian bawah hati memiliki bentuk berupa cekung dan melindungi organ lain seperti ginjal kanan, lambung, usus, dan pankreas (Price dan Wilson, 1984). Hati menerima sekitar 1500 mL darah per menit melalui arteri hepatica dan vena portae (Ganong dan McPhee, 2011). Hati terbagi dalam dua belahan utama yaitu kanan dan kiri. Hati terletak di bawah diafragma dengan permukaan atas berbentuk cembung, sedangkan permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan, fasiura transversus (Pearce, 2009). Hati tersusun dari dua lobus yaitu lobus kanan dan lobus kiri. Belahan kanan dan kiri dipermukaan bawah dipisahkan oleh fasiura longitudinal, sedangkan dipermukaan atas dipisahkan oleh ligamen falsiformis. Dari setiap lobus terdiri dari lobulus. Lobolus merupakan struktur-struktur pada setiap lobus di hati, lobulus terdiri dari lempeng-lempeng sel hati yang berbentuk seperti kubus dan tersusun mengelilingi vena sentralis (Pearce, 2009). Lempeng-lempeng sel 6

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 hati dibatasi oleh ruang vaskular yaitu sinusoid. Sinusoid merupakan cabang vena portae dan arteri hepatica sehingga darah akan bercampur meuju ke vena-vena sentral (Ganong dan McPhee, 2011). Sinusoid tersebut dilekati oleh makarofag yang di namakan sel Kupffer (Gambar 1), sel ini memiliki fungsi utama untuk menelan bakteri dan benda asing lain yang terdapat di dalam darah. Oleh sebab itu, hati merupakan salah satu organ yang memiliki peranan utama untuk pertahanan terhadap invasi bakteri dan agen toksik lainnya (Price and Wilson, 1984). Gambar 1. Struktur mikroskopik hati (Ganong dan McPhee, 2011) Hati memiliki fungsi utama sebagai metabolisme. Hati memiliki struktur yang seragam dengan memiliki kelompok sel yang dipersatukan oleh sinusoid. Semua darah vena akan dari systema digestorium akan mengalir menuju ke sinusoid tersebut. Sel-sel hepar akan memperoleh suplai darah dari vena portae

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 hepatis yang kaya akan makanan, tidak memiliki kandungan oksigen, namun terkadang dapat bersifat toksik, dan dari arteria hepatica yang memiliki kandungan oksigen. Oleh karena itu hati memiliki sistem peredaran darah yang tidak biasa, karena sel hati mendapat darah yang relatif kurang oksigen. Sehingga menyebabkan sel hati rentan akan terjadinya penyakit dan mengalami kerusakan (Wibowo dan Prayana, 2009). B. Kerusakan Sel-Sel Hati Kerusan hati dapat dibagi menjadi beberapa jenis sebagai akibat dari efek toksik yang disebabkan oleh toksikan, antara lain adalah : 1. Perlemakan hati (steatosis) Perlemakan hati dapat ditandai dengan adanya timbunan lemak pada hati, terjadi akumulasi lipid yang abnormal terutama dalam bentuk trigliserida pada hepatosit yang merupakan akibat berlebihanya suplai asam lemak dari jaringan adiposa. Gangguan ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain, gangguan pada sintesis protein atau pada konjugasi trigliserida dan protein, penurunan sintesis fosfolipid, gangguan pada trasfer VLDL melalui membran sel, dan gangguan beta oksidasi lipid pada mitokondria (Hodgson, 2010). 2. Kematian sel (necrosis) Nekrosis hati adalah kematian dari sel biasanya merupakan kerusakan akut dari sel-sel hepatosit, kerusakan yang terjadi pada beberapa hepatosit yang mengalami kerusakan (Hodgson dan Levi, 2004). Kegagalan organ hati dalam menjalankan fungsinya dapat terjadi jika terdapat peradangan yang parah nekrosis

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 hepatosit mengenai sebagian besar hati atau seluruh lobulus (Kumar, Abbas, Fausto, dan Mitvhell, 2010). Pada daerah terjadinya kerusakan hati maka terdapat peningkatan neutrofil dan eosinofil di sitoplasma (Hodgson, 2010). 3. Kolestasis Kolestasis yaitu berkurangnya aktivitas sekresi dari empedu yang di sebabkan oleh faktor dari dalam hati atau dari luar hati. Terjadinya penyumbatan atau peradangan pada saluran empedu memicu adanya akumulasi garam empedu, dan bilirubin dapat juga mengarah pada pristiwa jaundice (Hodgson dan Levi, 2004). Ketika konsentrasi bilirubin tinggi di dalam darah dapat terakumulasi pada jaringan perifer seperti kulit dan dapat juga terakumulasi pada mata sehingga warna kuning terlihat pada kulit dan mata, disebut sebagai penyakit kuning (Geregus, 2008). 4. Sirosis Sirosis merupakan tahap kerusakan hati kronis, bentuk kerusakan terakhir dan sering fatal. Akumulasi sejumlah jaringan parut, khususnya serabut-serabut kolagen di saluran hati, merupakan tanda adanya kerusakan. Penyebab umum adalah paparan berulang zat kimia beracun seperti alkohol, paparan zat kimia secara kronis yang mengakibatkan terjadinya akumulasi di matriks ektra selular yang menghambat aliran darah, metabolisme normal hati dan menghambat proses detoksifikasi (Hodgson, 2010).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 C. Karbon tetraklorida Gambar 2. Struktur karbon tetraklorida (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat da Makanan, 1995) Karbon tetraklorida dengan rumus molekul CCl4 adalah cairan jernih yang mudah menguap, berbau khas dan tidak berwarna. Struktur karbon tetraklorida terdiri dari atom C yang mengikat arom Cl (Gambar 2). Memiliki berat molekul 153,82 dan bersifat sangat larut air, dapat bercampur dengan etanol mutlak dan eter (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 1995). Hati merupakan target utama dari ketoksikan karbon tetraklorida karena ketoksikan senyawa ini bergantung pada metabolisme aktivasi oleh sitokrom P450 (Timbrell, 2009). Sitokrom P-450 (CYP2E1) memiliki fungsi sebagai agen pereduksi dan mengkatalisis adisi elektron dan mengakibatkan hilangnya satu ion klorin, hal tersebut membentuk radikal bebas triklorometil (CCl3•) yang merupakan metabolit reaktif. Radikal triklorometil (CCl3•) dengan adanya O2 akan berubah menjadi radikal bebas triklorometilperoksidasi (OOCCl3•) yang akan menjadi lebih reaktif (gambar 3) (Timbrell, 2009).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Gambar 3. Mekanisme biotransformasi dan oksidasi karbon tetraklorida (Timbrell, 2009) Setelah terpapar karbon tetraklorida akan termetabolisme dan radikal bebas triklorometil dapat berikatan secara kovalen dengan jaringan lemak dan protein, kemudian bereaksi dengan membran kolesterol dan fosfolipid. Senyawa radikal tersebut kemudian mengakibatkan peroksidasi lipid dan mengawali terjadinya steatosis. Terjadinya steatosis karena lipid yang terbentuk akan menghambat sintesis protein sehingga menurunkan produksi liporotein kemudian transport lipid terganggu dan terjadi akumulasi lipid di hati (Timbrell, 2009).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 D. Alanin Aminotransferase dan Aspartat Aminotransferase Pendeteksian kerusakan hepatoselular yang sedang berlangsung dapat dilakukan dengan mengukur indek fungsional dan mengamati produk hepatosit yang rusak. Pengujian enzim sering menjadi satu-satunya petunjuk pada saat terjadinya cedera sel pada penyakit hati karena akibat adanya kompensasi dari bagian hati yang lain yang masih fungsional karena perubahan ringan kapasitas eksretorik mungkin tersamarkan. Alanin aminotransferase (ALT) dan aspartat aminotransferase (AST) serum merupakan dua enzim yang paling sering berikatan dengan kerusakan hepatoselular. ALT memiliki fungsi memindahkan antara alanin dan asam alfa-ketoglutamat. AST berfungsi memerantarai reaksi antara asam aspartat dan asam alfa-ketoglutamat (Sacher dan McPherson, 2002). Sebagian besar enzim AST terdapat pada hati dan otot rangka dan tersebar ke seluruh jaringan sedangkan enzim ALT sebagian besar konsentrasinya terdapat di hati meskipun terdapat juga di beberapa bagian jaringan, sehingga ALT merupakan petunjuk spesifik terhadap terjadinya nekrosis hati dibanding dengan AST (Zimmerman, 1999). Adanya kenaikan serum ALT dan AST menandakan adanya kerusakan dalam sel hati (Ganong dan McPhee, 2011). E. Swietenia mahagoni (L.) Jacq. 1. Taksonomi Berdasarkan dari sistem taksonomi, tanaman mahoni di kenal nama ilmiah Swetenia mahagoni (L.) Jacq., Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut :

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Subclass : Rosidae Ordo : Sapindales Family : Meliaceae Genus : Swietenia Jacq. Spesies : Swietenia mahagoni (L.) Jacq. (United States Departemen of Agriculture, 2012). Tanaman ini berasal dari amerika tropis, tepatnya Hindia barat, Bahama, dan Florida ((Yuzzami, Witono, dan hidayat, 2010). Mahoni merupakan nama indonesia, di Jawa dengan sebutan maoni, sebagian dengan sebutan moni atau mahagoni. Mahagony merupaka sebutan untuk masyarakat Filipina dan di Inggris menyebutnya west indian mahogany (Soenanto, 2009). 2. Morfologi Mahoni adalah tumbuhan berkayu atau tumbuhan pardu memiliki batang yang tingginya mencapai 10-30 m berwarna abu-abu kehitaman, dapat tumbuh secara liar di hutan-hutan jati di kalangan masyarakat di tanam di tepi-tepi jalan digunakan untuk peneduh (Soenanto, 2009). Daunnya berupa daun majemuk dengan panjang 20-26 cm dengan letak anak daun saling berhadapan-hadapan,

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 daun majemuk satu tangkai berisi sekitar 12-14 lembar anak daun, anak daun yang kecil berukuran 1,5-3 cm dan anak daun berukuran besar sekitar 5-12 cm. Daun memiliki bentuk lonjong dengan ujung daun berbentuk lancip. Bunga mahoni berukuran kecil, yaitu 3-4 mm, dan memiliki tabung yang berukuran 2-3 mm, mahkota bunga berwarna hijau kekuningan. Ketika berbuah memiliki warna hijau kecoklatan dengan ukuran 7-10 cm, jika masak maka akan berwarna coklat tua dan berkayu dengan memiliki bentuk lojong. Biji buahnya berbilah dan memiliki sayap, fertile dan dapat ditanam menjadi individu baru (Yuzammi, et al., 2010). 3. Khasiat dan kegunaan S. mahagoni L. menyembuhkan penyakit diabetes dan diare, selain itu juga digunakan sebagai antipiretik (Naveen, at al. , 2014). Penelitian Laxmaiah, et al., (2011) menyebutkan bahwa ektrak metanol daun S. mahogani memiliki aktifitas antibakterial Bacillus subtilis dan Escherichia coli. 4. Kandungan kimia Berdasar penelitain yang dilakukan oleh Matin, et al., (2013), kandungan daun ektrak metanol dan ektrak air daun S. mahagoni adalah tanin, flavonoid, saponin, dan terpenoid. F. Infusa Infusa merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air selama 15 menit dengan suhu 90o C (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2013). Pembuatan infusa dengan cara mencampur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, kemudian

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dipanaskan di atas penangas air selama 15 menit terhitung mulai dari suhu mencapai 90o C sambil diaduk berkali-kali. Saring dalam keadaan masih panas dengan menggunakan kain flannel, kemudian tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperleh volume infus yang dikehendaki (Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, 1995). G. Landasan Teori Hati merupakan salah satu organ yang paling penting di dalam tubuh yang berfungsi sebagai metabolisme. Hati memiliki sistem peredaran darah yang tidak biasa antara lain memperoleh darah dari vena portae yang kaya akan makanan, tidak memiliki kandungan oksigen dan kadang dapat bersifat toksik, hati juga mendapat suplai darah dari arteria hepatica yang memiliki banyak oksigen dengan adanya hal tersebut sel hati rentan akan terjadinya penyakit dan mengalami kerusakan (Wibowo dan Prayana, 2009). Terdapat berbagai macam kerusakan yang dapat di alami oleh hati salah satunya adalah perlemakan hati. Perlemakan hati dapat terjadi karena adanya induksi senyawa toksik tertetu, salah satunya adalah karbon tetraklorida. Senyawa ini akan direduksi oleh enzim sitokrom P-450 akan menjadi radikal bebas triklorometil (CCl3•) kemudian akan membentuk radikal triklorometilperoksi (OOCCl3•) yang lebih reaktif (Timbrell, 2009). Menurut Udem (2010) menyebutkan bahwa penyarian daun S.mahagoni dengan menggunakan ektrak air dapat menyari senyawa yang memiliki efek hepatoprotektif. Berdasar penelitian yang dilakukan oleh Matin, et al., (2013),

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 kandungan daun dari ekstrak air daun S.mahagoni salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid merupakan antioksidan dan dapat tersari dengan pelarut yang bersifat polar, hal ini memungkinkan dengan pembuatan infusa daun S. mahagani mampu memberikan efek hepatoprotektor dan dari senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan akan dapat menangkap radikal bebas dari hepatotoksin CCl4. Melalui penelitian ini akan diketahui apakah pemberian infusa daun S. mahagoni dapat menurunkan kadar serum ALT dan AST pada tikus yang diinduksi karbon tetraklorida dan dapat mengetahui berapa besar dosis optimum yang dapat memberikan efek hepatoprotektif. H. Hipotesis Pemberian infusa daun S. mahagoni memiliki efek hepatoprotektif pada tikus terinduksi karbon tetraklorida memiliki dosis optimum yang menurunkan aktivitas serum ALT dan AST.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel-variabel yang terdapat pada penelitian ini, yaitu: 1. Variabel utama a. Variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi dosis dalam pemberian infusa daun S. mahagoni. c. Variabel tergantung. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni. 2. Variabel pengacau a. Variabel pengacau terkendali. Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah kondisi hewan uji, yaitu tikus dengan galur Wistar, berjenis kelamin jantan, berat badan 150- 200 g, umur 2-3 bulan. Frekuensi pemberian infusa daun S. mahagoni, satu kali sehari selama enam hari berturut-turut, dengan waktu pemberian yang sama. Cara pemberian infusa daun S. mahagoni pada tikus dilakukan secara per oral. Bahan uji yang digunakan berupa daun S. mahagoni, yang berasal dari lingkungan Kampus Universitas Sanata Dharma, Paingan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. 17

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Variabel pengacau tak terkendali. Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah keadaan patologi dari tikus jantan galur Wistar yang digunakan. 3. Definisi operasional a. Dosis infusa daun S. mahagoni. Didefinisikan sebagai volume (mL) infusa daun S. mahagoni tiap kg berat badan subjek uji yang digunakan b. Infusa daun S. mahagoni 20%. Didefinisikan sebagai infusa serbuk kering daun S. mahagoni 20% di dapatkan dengan menginfudasi 20,0 g serbuk kering daun S. mahagoni dalam 100,0 mL air pada suhu 90oC selama 15 menit. c. Efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni. Didefinisikan sebagai kemeampuan infusa daun S. mahagoni untuk melindungi hepar dari hepatotoksin berupa penurunan ALT dan AST. d. Dosis optimum. Didefinisikan sebagai sejumlah gram per kilogram berat badan (g/kgBB) infusa daun S. mahagoni yang memiliki %hepatoprotektif dari aktivitas ALT paling mendekati 100% proteksi hati. C. Bahan Penelitian Penelitian ini menggunakan bahan uji adalah sebagai berikut: 1. Bahan utama a. Hewan uji yang digunakan berupa tikus jantan galur Wistar dengan umur 2-3 bulan dan berat badan 150-200 g yang diperoleh dari Laboratorium Imono Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 b. Daun S. mahagoni diperoleh dari lingkungan Kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Paingan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta pada bulan November 2013. 2. Bahan kimia a. Bahan hepatotoksin yang digunakan adalah karbon tetraklorida (Merck®) yang diperoleh dari Laboraturium Kimia Analisis Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. b. Pelarut yang digunakan dalam pembuatan infusa diperoleh dari Laboraturium Farmakognosi Fitokima Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. c. Aqua bidestilata untuk blanko pengujian ALT dan AST, diperoleh dari Laboraturium Kimia Analisis Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. d. Kontrol negatif yang digunakan adalah olive oil (Berio®) yang diperoleh dari Superindo Yogyakarta. e. Pelarut hepatotoksin digunakan olive oil (Berio®) yang diperoleh dari Superindo Yogyakarta. f. Reagen serum ALT Reagen serum yang digunakan adalah reagen ALT DiaSys, yang di peroleh dari Alfa Kimia Yogyakarta. Komposisi dan konsentrasi dari reagen ALT adalah sebagai berikut.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Tabel I. Komposisi dan konsentrasi reagen serum ALT Komposisi R1 : TRIS L-Alanine LDH (lactate dehydrigenase) R2 :2-Oxoglutarate NADH Pyridoxal-5 phosphatase FS : Good’s buffer Pyridoxal-5-phosphate pH pH 7,15 Konsentrasi 140 mmol/L 700 mmol/L ≥ 2300 U/L 85 mmol/L 1 mmol/L pH 9,6 100 mmol/L 13 mmol/L g. Reagen AST Reagen serum yang digunakan adalah reagen AST DiaSys, yang di peroleh dari Alfa Kimia Yogyakarta. Komposisi dan konsentrasi dari reagen AST adalah sebagai berikut. Tabel II. Komposisi dan konsentrasi reagen serum AST Komposisi R1 : TRIS L-Aspartate MDH (maleate dehydrogenase) LDH (lactate dehydrigenase) R2 :2-Oxoglutarate NADH Pyridoxal-5 phosphatase FS : Good’s buffer Pyridoxal-5-phosphate pH pH 7,15 Konsentrasi 110 mmol/L 320 mmol/L ≥ 800 U/L ≥ 1200 U/L 65 mmol/L 1 mmol/L pH 9,6 100 mmol/L 13 mmol/L D. Alat Penelitian 1. Alat pembuatan serbuk kering daun S. mahagoni Alat-alat yang digunakan antara lain adalah oven, mesin penyerbuk, dan ayakan.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 2. Pembuatan infusa daun S. mahagoni Panci infundasi, termometer, beaker glass, gelas ukur, cawan porselen, batang pengaduk, penagas air, timbangan analitik, kain flannel dan stopwatch. 3. Alat uji hepatoprotektif Seperangkat alat gelas berupa beaker glass, gelas ukur, tabung reaksi, labu ukur, pipet tetes, batang pengaduk (Pyrex Iwaki Glass®), timbangan analitik Mettler (Toledo®), sentrifuge Centurion (Scientific®), vortex Genie (Wilten®), spuit injeksi per oral (Terumo®), spuit intraperitonial (Terumo®), pipa kapiler, tabung Ependorf, Microlab 200 (Merck®), dan stopwatch. E. Tata Cara Penelitian 1. Determinasi tanaman Determinasi tanaman S. mahagoni dilakukan dengan metode mencocokan ciri-ciri tanaman S. mahagoni dengan buku acuan “Flora of Java” (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1963). Determinasi dilakukan oleh Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., Dosen Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 2. Pengumpulan bahan uji Pengumpulan bahan uji yang dilakukan dengan mengumpulkan daun S. mahagoni yang masih segar, berwarna hijau, dan memiliki bentuk yang masih utuh dari lingkungan sekitar Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada bulan November 2013.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 3. Pembuatan serbuk daun S. mahagoni Pembuatan serbuk dilakukan dengan cara daun S. mahagoni dicuci bersih di bawah air mengalir kemudian dan dikeringkan. Daun yang telah kering, kemudian diserbuk daun dan lakukan pengayakan dengan ayakan nomor 20. Proses penyerbukan dilakukan oleh Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Unversitas Gadjah Mada (LPPT UGM) Yogyakarta. 4. Penetapan kadar air serbuk kering daun S. mahagoni Penetapan kadar air, yaitu dengan serbuk kering dari daun S. mahagoni dimasukkan dalam alat moisture balance sebanyak ± 5 g kemudian diratakan dan ditimbang sebagai bobot serbuk kering sebelum pemanasan (bobot A), lalu dilakukan pemanasan pada suhu 110°C. Serbuk kering daun S. mahagoni yang telah dipanaskan kemudian ditimbang kembali dan dihitung sebagai bobot setelah pemanasan (bobot B). Kemudian dilakukan perhitungan terhadap selisih bobot A terhadap bobot B yang merupakan kadar air serbuk daun S. mahagoni. Proses penetapan kadar air dilakukan oleh Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Unversitas Gadjah Mada (LPPT UGM). 5. Pembuatan infusa daun S. mahagoni Pembuatan infusa daun S. mahagoni dengan konsentrasi 20%, serbuk kering daun S. mahagoni diambil sejumlah 20,0 g kemudian di masukkan dalam panci infundasi dan dibasahi dengan aquadest sebanyak dua kali berat serbuk, yaitu 40 mL. ditambahkan kembali dengan 100,0 mL aquadest. Campuran kemudian dipanaskan di atas heater pada suhu 90oC selama 15 menit dan sambil diaduk. Waktu 15 menit dihitung ketika suhu pada campuran mencapai 90oC.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Kemudian diperas menggunakan kain flanel dan ditambahkan hingga di dapat volume perasan 100,0 mL. 6. Penetapan kandungan flavonoid infusa daun S. mahagoni Pengujian tersebut dilakukan oleh Laboraturium Penelitian dan Pengembangan Terpadu Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (LPPT UGM) menggunakan metode spektrofotometri. Pembuatan kurva standar quercetin, dengan ditimbang baku standar rutin 10,0 mg, tambahkan 0,3 ml natrium nitrit 5%. Setelah 5 menit tambahkan 0,6 mL alumunium chloride 10%, tambahkan 2 mL natrium hidroksida 1 M. Tambahkan dengan aquades add 10 mL dengan labu takar. Pindahkan ke dalam kuvet, tetap serapan pada panjang gelombang 510 nm. Pembuatan sampel infusa daun S. mahagoni, dengan membuat infusa dengan konsentrasi 20%, kemudian diambil 2 mL, tambahkan 0,3 ml natrium nitrit 5%. Setelah 5 menit tambahkan 0,6 mL alumunium chloride 10%, tambahkan 2 mL natrium hidroksida 1 M. Tambahkan dengan aquades add 10 mL dengan labu takar. Pindahkan ke dalam kuvet, tetap serapan pada panjang gelombang 510 nm. 7. Pembuatan larutan karbon tetraklorida konsentrasi 50% Larutan karbon tetraklorida dibuat dengan konsentrasi 50% dengan cara dilarutkan dalam volume yang sama dengan olive oil, dimana perbandingan volume karbon tetraklorida dan pelarut adalah 1:1 (Janakat dan Al-Merie, 2002). 8. Uji pendahuluan a. Penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida Penetapan dosis karbon tetraklorida digunakan sebagai hepatotoksin, mengacu pada penelitian Janakat dan Al-Merie (2002), dosis karbon tetraklorida

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 yang digunakan untuk menginduksi kerusakan hati pada tikus galur Wistar adalah 2 mL/kg BB diberikan secara intraperitonial. Penelitian dari Wijayanti (2013) juga membuktikan bahwa karbon tetraklorida 2 mL/kgBB mampu meningkatkan aktivitas serum ALT dan AST pemberian secara intraperitonoial Dosis ini mampu merusak sel-sel hati pada tikus jantan yang ditunjukkan melalui peningkatan aktivitas ALT-AST namun tidak menimbulkan kematian pada hewan uji. b. Penetapan waktu pencuplikan darah Penetapan waktu pencuplikan darah ditentukan melalui orientasi dengan lima ekor tikus yang dilakukan dengan empat perlakuan waktu, yaitu pada jam ke–0, 24, 48, dan 72 setelah pemejanan karbon tetraklorida. Pengambilan darah dilakukan melalui pembuluh sinus orbitalis mata. Penelitian Janakat dan Al-Merie (2002) menunjukkan aktivitas ALT pada tikus yang diinduksi karbon tetraklorida yang dilarutkan dalam olive oil dengan perbandingan (1:1) dengan dosis 2 ml/kgBB mencapai kadar maksimal pada jam ke-24 setelah pemberian dan mulai menurun pada jam ke-48. 9. Penetapan dosis infusa daun S. mahagoni Penetapan peringkat dosis adalah bobot tertinggi tikus dan pemberian cairan secara peroral, yaitu dengan menggunakan volume maksimal pemberian secara peroral kepada hewan uji tikus, yaitu sebesar 5 mL. Penetapan dosis tertinggi infusa daun S. mahagoni dengan di dapat konsetrasi dari hasil orientasi, yaitu 20% adalah sebagai berikut.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 D x BB = C x V D x 200 kg BB = 20g /100 mL x 5 mL D = 5,0 g/kg BB Penetapan dosis terendah infusa daun S. mahagoni didasarkan pada konsentrasi umum yang digunakan untuk membuat infusa, yaitu 10% (Badan pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2010) sehingga di dapat dosis sebesar 2,5 g/kgBB. Untuk dosis tengah berdasarkan faktor kelipatan dari dua dosis tersebut, yaitu dengan faktor kelipatan 1,414. Dengan demikian, dosis yang akan digunakan dalam penelitian adalah 2,5 ; 3,545 dan 5,0 g/kgBB. 10. Pengelompokkan dan perlakuan hewan uji Sejumlah 35 ekor tikus dibagi secara acak ke dalam tujuh kelompok perlakuan masing-masing sejumlah lima ekor tikus. a. Kelompok I (kontrol hepatotoksin) diberi larutan campuran karbon tetraklorida : olive oil (1:1) dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial. b. Kelompok II (kontrol negatif) diberi olive oil dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial. c. Kelompok III (kontrol infusa) diberi infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB secara peroral sekali sehari selama enam hari berturut-turut. d. Kelompok IV (kontrol pelarut infusa) diberi aquadest dengan dosis 25mL/kgBB secara per oral sekali sehari selama enam hari berturut-turut. e. Kelompok V (dosis rendah) diberi infusa daun S. mahogani dosis 2,5 g/kgBB secara per oral sekali sehari selama enam hari berturut-turut.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 f. Kelompok VI (dosis tengah) diberi infusa daun S. mahogani dosis 3,545 g/kgBB secara per oral sekali sehari selama enam hari berturut-turut. g. Kelompok VII (dosis tinggi) diberi infusa daun S. mahogani dosis 5 g/kgBB secara per oral sekali sehari selama enam hari berturut-turut. Pada hari ke tujuh kelompok IV-VII diberi larutan karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB secara intraperitonial. Setelah 24 jam diambil darahnya melalui sinus orbitalis mata untuk penetapan aktivitas ALT dan AST. 11. Pembuatan serum Darah diambil melalui sinus orbitalis mata hewan uji dan ditampung dalam tabung Eppendrof kemudian didiamkan selama 15 menit, selanjutnya disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 5000 rpm, kemudian dipisahkan bagian supernatannya yang terletak di bagian atas. 12. Pengukuran aktivitas ALT-AST Micro vitalab 200 Merck® adalah alat yang digunakan untuk mengukur aktivitas ALT-AST pada serum hewan uji. Pengukuran ALT dilakukan dengan mencampur 100 μl serum dengan 1000 μl reagen I, kemudian divortex selama 5 detik, didiamkan selama 2 menit, setelah itu dicampur dengan 250 μl reagen II, kemudian divortex selama 5 detik dan dibaca serapan setelah 1 menit. Pengukuran aktivitas AST dilakukan dengan mencampur 100 μl serum dengan 1000 μl reagen I, kemudian divortex selama 5 detik, didiamkan selama 2 menit, setelah itu dicampur dengan 250 μl reagen II, kemudian divortex selama 5 detik dan dibaca serapan setelah 1 menit. Aktivitas ALT dan AST dinyatakan dalam U/L. Aktivitas enzim diukur pada panjang gelombang 340 nm, suhu 370C,

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dengan faktor koreksi -1745. Pengukuran aktivitas ALT dan AST ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. F. Tata Cara Analisis Hasil Data aktivitas ALT dan AST diuji dengan menggunakan KolmogorovSmirnov untuk mengetahui distribusi data tiap kelompok hewan uji. Bila didapat distribusi data yang normal maka analisis dilanjutkan dengan menggunakan analisis pola searah (One Way ANOVA) dengan taraf kepercayaan sebesar 95% untuk mengetahui perbedaan pada masing-masing kelompok data tidak berpasangan yang lebih dari dua kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji Scheffe untuk melihat besar perbedaan masing-masing antar kelompok bermakna (signifikan) (p<0,05) atau tidak bermakna (tidak signifikan) (p>0,05). Namun bila didapatkan data aktivitas ALT dan AST memiliki distribusi tidak normal, maka dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan kebermaknaan perbedaan antar kelompok dianalisis uji Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok. Perhitungan persen efek hepatopartotektif terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida diperoleh dengan rumus : (purata ALT kontrol CCl4 − kontrol Olive oil) − (purata ALT perlakuan − kontrol Olive oil) 𝑋 100% (purata ALT kontrol CCl4 − kontrol Olive oil) (Putri, 2013).

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dan besar dosis optimum efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni pada tikus jantan galur Wistar yang terinduksi karbon tetraklorida. Tolak ukur efek hepatoprotekfif infusa daun S. mahagoni dievaluasi secara kuantitatif berdasarkan uji aktivitas serum ALT dan AST. Efek hepatoprotektif ditunjukkan berdasarkan penurunan aktivitas dari serum ALT dan AST akibat dari pemberian infusa daun S. mahagoni pada tikus jantan galur Wistar yang terinduksi karbon tetraklorida. A. Penyiapan Bahan 1. Hasil determinasi tanaman Penelitian ini menggunakan bahan uji berupa serbuk daun S. mahagoni. determinasi daun S. mahagoni pada penelitian bertujuan untuk membuktikan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini memang benar tanaman yang di maksud, yaitu tanaman S. mahagoni. Determinasi dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta oleh Yohanes Dwiatmaka, M.Si dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bagian tanaman yang digunakan untuk determinasi berupa bagian daun, dan buah kemudian dilakukan pencocokan dengan buku acuan “Flora of Java” (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1963). Hasil dari 28

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 determinasi membuktikan bahwa tanaman tersebut benar merupakan tanaman S. mahagoni hasil determinasi terlampir. 2. Penetapan kadar air serbuk kering daun S. mahagoni Tujuan dari penetapan kadar air dari serbuk S. mahagoni, yaitu untuk mengetahui serbuk yang digunakan telah memenuhi persyaratan serbuk yang baik, yaitu kurang dari 10% (Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, 1995). Penetapan kadar air serbuk daun S. mahagoni di tetapkan di LPPT Univeritas Gadjah Mada Yogyakarta. Hasil penetapan kadar air dari serbuk daun S. mahagoni memiliki kadar sebesar 6,68 % (terlampir), hal ini menunjukkan bahwa kadar air serbuk daun S. mahagoni memenuhi persyaratan serbuk yang baik. 3. Penetapan kandungan flavonoid infusa daun S. mahagoni Tujuan dari penetapan kandungan flavonoid dari infusa daun S. mahagoni, yaitu untuk mengetahui adanya kandungan flavonoid dan menentukan besar kadar flavonoid dalam infusanya digunakan sebagai standarisasi. Hasil penetapan kandungan flavonoid yang dilakukan oleh LPPT Univeritas Gadjah Mada Yogyakarta menunjukkan infusa daun S. mahagoni memiliki kandungan flavonoid sebesar 61,66 ppm (hasil terlampir). B. Uji Pendahuluan 1. Penentuan dosis hepatotoksik karbon tetraklorida Penelitian ini menggunakan karbon tetraklorida sebagai hepatotoksin. Penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida bertujuan untuk mengetahui dosis karbon tetraklorida yang dapat menimbulkan kerusakan pada hati ringan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 yaitu steatosis, ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas serum ALT dan AST. Berdasarkan penelitian Janakat dan Al-Merie (2002) dosis karbon tetrakloriada sebesar 2 mL/kgBB mampu menimbulkan efek hepatotoksik pada tikus, dimana pemberian dosis rendah karbon tetraklorida hanya menyebabkan kerusakan ringan berupa perlemakan hati (steatosis) (Timbrell, 2009). 2. Penentuan waktu pencuplikan darah hewan uji Tujuan dari penentuan waktu pencuplikan darah hewan uji yaitu untuk mengetahui waktu optimal dimana karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB dapat menunujukkan peningkatan aktivitas serum ALT dan AST tertinggi pada tikus. senyawa karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB dipejankan dengan selang waktu pengambilan darah 0, 24, 48 dan 72 jam. Data pengujian aktivitas ALT masingmasing tersaji pada Tabel III dan Gambar 3. Tabel III. Rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam Selang waktu (jam) Purta aktivitas ALT ± SE (U/L) 0 65,0 ± 6,5 24 203,8 ± 5,8 48 79,4 ± 4,3 72 54,0 ± 2,1 Keterangan : SE = Standard Error

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Gambar 4. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48, 72 jam Dari hasil analisis uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa data aktivitas ALT memiliki distribusi normal dengan signifikansi masing-masing 0,642 (p>0,05); 0,924 (p>0,05); 0,816 (p>0,05); 0,888 (p>0,05), sehingga dilanjutkan dengan analisis pola searah (One Way ANOVA) menunjukkan variansi data homogen dengan signifikansi 0,208 (p>0,05), sehingga dilanjutkan uji Scheffe untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan antar kelompok, ditunjukkan pada Tabel IV . Tabel IV. Hasil uji Scheffe aktivitas ALT tikus terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada pencuplikan darah jam 0, 24, 48 dan 72 jam Waktu pencuplikan (jam) Jam ke-0 Jam ke-24 Jam ke-48 Jam ke-72 Jam ke-0 Jam ke-24 Jam ke-48 Jam ke-72 BB TB TB BB BB BB TB BB BB TB BB BB - BB = Berbeda bermakna (p<0,05); TB = Berbeda tidak bermakna (p>0,05)

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Pada Tabel I, terlihat aktivitas serum ALT paling tertinggi pada jam ke 24 yaitu 203,8 ± 5,8 U/l peningkatan ALT tersebut signifikan dan berbeda bermakna dibandingkan dengan jam ke-0, 48 dan 72, pada jam ke-48 aktivitas ALT mengalami penurunan yang berbeda tidak bermakana terhadap jam ke-0 (79,4 ± 4,3 U/l) menunjukkan bahwa aktivitas ALT jam ke-48 sudah mulai kembali normal. Sedangkan aktivitas ALT jam ke-72 mengalami penurunan yang berbeda bermakana dengan aktivitas ALT jam 48 (54 ± 2,1 U/l) hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan aktivitas ALT sudah kembali normal seperti semula, dapat dilihat pula aktivitas jam ke-72 dibandingkan aktivitas ALT jam ke0 (65 ± 6,5) memiliki hasil uji Scheffe tidak berbeda bermakna. Data pengujian dan gambar diagram aktivitas serum AST tersaji dalam Tabel V dan Gambar 5. Tabel V. Rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam Selang waktu (jam) Purta aktivitas AST ± SE (U/L) 0 94,4 ± 4,5 24 493,4 ± 7,4 48 194,2 ± 10,4 72 103,8 ± 1,7 Keterangan : SE = Standard Error

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Gambar 5. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48, 72 jam Data aktivitas AST tikus terinduksi karbon tetraklorida disis 2 mL/kgBB, menunjukkan bahwa distribusi normal yaitu hasil analisis menggunakan uji Kolmogorove-Smirnov jam ke-0, 24, 48 dan 72 diperoleh signifikansi masingmasing 0,925 (p>0,05); 0,992 (p>0,05); 0,972 (p>0,05) dan 0,990 (p>0,05). Kemudian dari hasil analisis pola searah (One Way ANOVA) diperoleh signifikansi 0,038 (p>0,05), hal tersebut menunjukkan variansi data yang tidak homogen, sehingga dilakukan uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui keberbedaan tiap kelompok dari hasil uji didapat signifikasni 0,001 (p<0,05) menunjukkan bahwa terdapat keberbedaan pada data kelompok. Dengan adanya hal tersebut maka di lanjutkan untuk uji Mann-Whitney untuk melihat kebermaknaan data yang ditunjukkan dalam Tabel. VI.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Tabel VI. Hasil uji Mann-Whitney aktivitas AST tikus terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada pencuplikan darah jam 0, 24, 48 dan 72 jam Waktu pencuplikan (jam) Jam ke-0 Jam ke-24 Jam ke-48 Jam ke-72 Jam ke-0 Jam ke-24 Jam ke-48 Jam ke-72 BB BB TB BB BB BB BB BB BB TB BB BB - BB = Berbeda bermakna (p<0,05); TB = Berbeda tidak bermakna (p>0,05) Dari Tabel. V dan Gambar.4 dapat dilihat aktivitas AST paling tinggi terdapat pada jam ke-24, yaitu 493,4 ± 7,4 U/l yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara jam ke-0, 48 dan 72 (Tabel. VI). Jam ke-48 aktivitas serum AST sudah terlihat mulai turun tetapi belum kembali seperti keadaan normal ditunjukkan dengan perbedaan bermakna adengan jam ke-0. Kemudian pada jam ke-72 aktivitas serum AST sudah kembali normal ditunjukkan dengan adanya perbedaan tidak bermakna dengan jam ke-0. Berdasarkan hasil aktivitas serum ALT dan AST tersebut maka pada penelitian kali ini menggunkan waktu pengambilan darah pada jam ke-24 setelah pemberian karbon tetraklorida. 3. Penetapan lama pemejanan infusa daun S. mahagoni Menurut penelitian Windrawati (2013) mengenai efek hepatoprotektif ekstrak metanol:air (50:50) daun Macaranga tanarius L. Menjelaskan bahwa perlakuan pemberian ekstrak metanol:air (50:50) daun Macaranga tanarius L. selama enam hari bertururt-turut kemudian di hari ke tujuh dilakukan pemejanan senyawa hepatotoksin. Penetapan lama pemejanan infusa daun S. mahagoni dalam penelitian ini berdasar penelitian Windrawati (2013), yaitu dengan pemberian

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 infusa daun S. mahagoni selama enam hari berturut-turut dan dihari ke tujuh diberi hepatotoksin berupa senyawa karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB. Hal ini dikarenakan penelitian menyerupai penelitian tersebut, dan merupakan skrinig awal untuk melihat efek hepatoprotektif dari infusa daun S. mahagoni. 4. Penetapan dosis infusa daun S. mahagoni Tujuan penetapan dosis infusa daun S. mahagoni, yaitu untuk menentukan besar dosis infusa daun S. mahagoni yang akan digunakan dalam penelitian ini. Dari hasil orientasi di dapat konsentrasi yang dapat dibuat adalah 40% tetapi dengan konsentrasi tersebut di dapat dosis tertinggi sebesar 10 g/kgBB menimbulkan efek berupa kematian dari hewan uji setelah pemberian karbon tetraklorida, maka penetapan dosis berdasar pada pembuatan infusa diturunkan konsentrasi menjadi 20% dan dapat diberikan pada hewan uji secara peroral. Dosis yang diperoleh dari konsentrasi 20% tersebut digunakan sebagai dosis tertinggi infusa daun S. mahagoni. Dari hasil orientasi di dapatkan dosis tinggi infusa daun S. mahagoni yaitu sebesar 5 g/kgBB. Dosis terendah yang digunakan, yaitu menurut Badan Pengawas Obat dan Makan RI (2010) pembuatan infusa secara umum, yaitu dengan konsentrasi 10% sehingga didapat dosis sebesar 2,5 g/kgBB. Penentuan dosis tengah yang digunakan merupakan faktor kelipatan dari dosis tertinggi dan dosis rendah infusa daun S. mahagoni, sehingga di dapat dosis tengah sebesar 3,535 g/kgBB. Dosis infusa daun S. mahagoni yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2,5; 3,535 dan 5 g/kgBB.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 C. Efek Hepatoprotektif Infusa Daun S. mahagoni Pada Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB berdasarkan pada penurunan aktivitas serum Alanin aminotransferase (ALT) dan aspartat aminotransferase (AST) akibat telah dilakukan pra-perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni selama enam hari sekali berturut-turut. Pengukuran aktivitas serum AST dalam penelitian ini digunakan sebagai data pendukung dalam untuk mengevaluasi adanya efek hepatoprotektif yang ditunjukkan. Hasil penelitian dari pegujian efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida 2 mL/kgBB yaitu berupa adanya aktivitas serum ALT dan AST yang diperoleh dinyatakan dalam satuan U/l akan disajikan dalam bentuk purata ± SE dalam tabel dan diagram batang. Data aktivitas ALT dianalisis dengan analisis pola searah (One Way ANOVA) memiliki variansi homogen dengan signifikansi 0,543 (p>0,05). Kemudian dilanjutkan uji Scheffe untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan antar kelompok. Untuk data aktivitas AST setelah dianalisis dengan analisis pola searah (One Way ANOVA) memiliki variansi homogen memiliki signifikansi 0,313 (p>0,05). Kemudian dilanjutkan uji Scheffe untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan antar kelompok, dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel IX.).

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel VII. Purata ± SE aktivitas serum ALT dan AST, serta % efek hepatoprotektif tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5) Kelompok Perlakuan Purata aktivitas serum ALT ± SE (U/l) I Kontrol hepatotoksin CCl4 2 mL/kgBB 203,8 ± 5,8 493,4 ± 7,4 0 II Kontrol negatif olive oil 2 ml/kgBB 56,8 ± 1,2 107,4 ± 5,5 100 III IDSM 5 g/kgBB 57,2 ± 2,0 104,6 ± 2,4 IV Kontrol aquadest 25 mL/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB 196,6 ± 4,4 491,6 ± 9,0 V IDSM 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB 165,2 ± 3,8 382,6 ± 7,1 26,3 VI IDSM 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB 132,6 ± 2,5 310,6 ± 3,8 48,4 VII IDSM 5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB 109,8 ± 3,3 272,4 ± 5,6 63,9 Keterangan : IDSM SE Purata Efek aktivitas serum hepatoprotektif AST ± SE (%) (U/l) = Infusa daun S. mahagoni = Standar Error

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Gambar 6. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni selama enam hari sekali berturut-turut terinduksi karbon tetraklorida Gambar 7. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni selama enam hari sekali berturut-turut terinduksi karbon tetraklorida

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel VIII. Hasil uji Scheffe aktivitas serum ALT tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5) Kelompok perlakuan Kontrol hepatotoksin CCl4 2 mL/kgBB Kontrol negatif olive oil 2 mL/kgBB IDSM 5 g/kgBB Kontrol hepatotoksin CCl4 2 mL/kgBB - BB BB Kontrol negatif olive oil 2 mL/kgBB BB - IDSM 5 g/kgBB BB Kontrol aquadest 25 mL/kgBB IDSM 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB IDSM 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB IDSM 5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB TB BB BB BB TB BB BB BB BB TB - BB BB BB BB TB BB BB - BB BB BB IDSM 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB BB BB BB BB - BB BB IDSM 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB BB BB BB BB BB - BB IDSM 5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB BB BB BB BB BB BB - Kontrol aquadest 25 mL/kgBB + CCl4 2 mL/kgB B + CCl4 2 mL/kgBB Keterangan : IDSM = infusa daun S. mahagoni BB = Berbeda bermakana (p ≤ 0,05) TB = Berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Tabel IX. Hasil uji Scheffe aktivitas serum AST tikus perlakuan infusa daun S. mahagoni terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB (n=5) Kontrol aquadest 25 mL/kgBB IDSM 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB IDSM 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB IDSM 5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB TB BB BB BB TB BB BB BB BB TB - BB BB BB BB TB BB BB - BB BB BB IDSM 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB BB BB BB BB - BB BB IDSM 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB BB BB BB BB BB - BB BB BB - Kelompok perlakuan Kontrol hepatotoksin CCl4 2 mL/kgBB Kontrol negatif olive oil 2 mL/kgBB IDSM 5 g/kgBB Kontrol hepatotoksin CCl4 2 mL/kgBB - BB BB Kontrol negatif olive-oil 2 mL/kgBB BB - IDSM 5 g/kgBB BB Kontrol aquadest 25 mL/kgBB + + CCl4 2 mL/kgB B CCl4 2 mL/kgBB IDSM 5 g/kgBB + BB BB BB BB CCl4 2 mL/kgBB Keterangan : IDSM = infusa daun S. mahagoni BB = Berbeda bermakana (p ≤ 0,05) TB = Berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 1. Kontrol negatif (olive oil 2 mL/kgBB) Tujuan dilakukan pengukuran aktivitas serum ALT dan AST kontrol negatif olive oil, yaitu untuk memastikan bahwa olive oil sebagai pelarut dari hepatotoksin karbon tetraklorida tidak memberikan pengaruh peningkatan aktivitas serum ALT dan AST tikus, dan olive oil diberikan dengan dosis 2 mL/kgBB, yaitu sama dengan dosis dari pemberian karbon tetraklorida sebagai hepatotoksin, hal tersebut dimaksudkan untuk melihat peningkatan aktivitas serum ALT dan AST murni akibat dari pemberian hepatotoksin karbon tetraklorida bukan akibat dari pemberian olive oil sebagai pelarut. Tabel X. Rata-rata aktivitas serum ALT dan AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam (n=5) Selang waktu (jam) 0 24 48 72 Purata aktivitas serum ALT ± SE (U/l) 47,0 ± 1,8 56,8 ± 1,7 57,4 ± 3,0 57,6 ± 2,0 Purata aktivitas serum AST ± SE (U/l) 93,0 ± 3,3 107,4 ± 5,5 107,2 ± 3,5 100,0 ± 5,6 Gambar 8. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Gambar 9. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam Tabel XI. Hasil uji Scheffe aktivitas serum ALT dan AST tikus setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0, 24, 48 dan 72 jam (n=5) Selang waktu (jam) Aktivitas 0 serum 24 ALT 48 72 Aktivitas 0 serum 24 AST 48 72 Aktivitas serum ALT 0 24 48 72 BB BB BB BB TB TB BB TB TB BB TB TB - Aktivitas serum AST 0 24 48 72 TB TB TB TB TB TB TB TB TB TB TB TB - Analisis secara statistik uji Scheffe aktivitas serum ALT antara jam ke-0 dan jam ke-24, 48 dan 72 terdapat perbedaan bermakna (Tabel XI.) sehingga menunjukkan bahwa olive oil yang digunakan sebagai pelarut hepatotoksin karbon tetraklorida memberikan pengaruh terhadap adanya peningkatan aktivitas serum ALT, namun peningkatan tersebut masih dalam batas normal kadar serum ALT.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Kadar normal serum ALT menurut (Hastuti, 2008) berkisar 29,8-77,0 U/l. berdasarkan hal tersebut maka olive oil sebagai pelarut karbon tetraklorida tidak memberikan pengaruh hepatotoksik pada hewan uji. Sedangkan analisis secara statistik uji Scheffe aktivitas serum AST antara jam ke-0 dan jam ke-24, 48 dan 72 tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Tabel XI.) sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian olive oil sebagai pelarut karbon tetraklorida tidak memberikan pengaruh hepatotoksik pada hewan uji. Nilai aktivitas serum ALT dan AST kelompok kontrol negatif olive oil pada jam ke-24 memberikan nilai sebesar ALT (56,8 ± 1,7 U/l) dan AST (107 ± 5,5 U/l) (Tabel X.) akan dijadikan nilai normal aktivitas serum ALT dan AST pada penelitian ini. 2. Kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB Tujuan dari pengukuran aktivitas serum ALT dan AST pada kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida adalah untuk mengetahui pemberian dengan dosis 2 mL/kgBB menimbulkan kerusakan pada hati. Kerusakan hati yang diamati pada jam ke-24 di tunjukkan dengan kenaikan aktivitas serum ALT dan AST. Pada jam ke-24 aktivitas serum ALT dan AST sebesar 203,8 ± 5,8 U/l dan 493,4 ± 7,5 U/l. hasil pengukuran ini memunjukkan terjadinya kenaikan aktivitas serum ALT lebih dari tiga kali lipat dan kenaikan aktivitas serum AST lebih dari empat kali lipat dari nilai kontrol negatif ALT (56,8 ± 1,7 U/l) dan AST (107,4 ± 5,5 U/l). menurut Zimmerman (1999), nilai serum ALT kerusakan ringan steatosis meningkat mencapai tiga kali lipat dan nilai serum AST meningkat empat kali

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 lipat. Adanya kenaikan aktivitas serum ALT dan AST dari hasil pengukuran maka dapat ditegaskan bahwa pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB memiliki efek hepatotoksik pada tikus jantan. 3. Kontrol perlakuan (infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB) Tujuan dari pembuatan kontrol infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB adalah untuk melihat apakah pemberian infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB tanpa pemberian karbon tetraklorida dapat memberikan pengaruh terhadap aktivitas serum ALT dan AST. Pemberian dosis sebesar 5 g/kgBB merupakan dosis tertinggi dari dosis infusa daun S. mahagoni dalam penelitian ini yaitu 5 g/kgBB. Penggunaan dosis tersebut diharapkan mampu mempresentasikan kelompok perlakuan dari dosis teredah 2,5 g/kgBB hingga dosis tertinggi 5 g/kgBB. Pengujian dilakukan dengan memberikan infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB selama enam hari berturut-turut dan pada hari ke tujuh pengukuran aktivitas serum ALT dan AST. Pada Tabel V dan VI. Kontrol infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB memiliki nilai aktivitas serum ALT 57,2 ± 2,0 U/l dan AST 104,6 ± 2,4 U/l , yang memiliki perbedaan tidak bermakana (p > 0,05) terhadap kelompok kontrol negatif olive oil. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian infusa dosis 5 g/kgBB selama enam hari tidak memberikan peningkatan aktivitas serum ALT maupun AST. 4. Kontrol pelarut aquadest Tujuan dari pembuatan kontrol aquadest sebagai pelarut yang digunakan untuk membuat infusa daun S. mahagoni, yaitu untuk melihat apakah pemberian

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 aquadest dapat memberikan pengaruh efek hepatoprotektif dilihat dari aktivitas serum ALT dan AST. Aquadest diberikan dengan dosis 25 mL/kgBB karena merupakan dosis maksimum yang diberikan kepada hewan uji pada pemberian dosis tertinggi infusa daun S. mahagoni ini yaitu 5 g/kgBB. Penggunaan dosis tersebut diharapkan mampu mempresentasikan kelompok perlakuan dari dosis teredah 2,5 g/kgBB hingga dosis tertinggi 5 g/kgBB. Pengujian dilakukan dengan memberikan aquadest dosis 25 mL/kgBB selama enam hari berturut-turut dan pada hari ke tujuh diinduksi dengan karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB, kemudian di hari ke delapan dilakukan pengukuran aktivitas serum ALT dan AST. Pada Tabel VII. Kontrol aquadest dosis 25 mL/kgBB memiliki nilai aktivitas serum ALT 196,6 ± 4,4 U/l dan AST 491,6 ± 9,0 U/l , yang memiliki perbedaan tidak bermakana (p > 0,05) terhadap kelompok kontrol positif karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian aquadest dosis 25mL/kgBB selama enam hari tidak memberikan efek hepatoprotektif dilihat dari aktivitas serum ALT maupun AST. 5. Kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 5; 3,535 dan 2,5 g/kgBB pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida 2 mL/kgBB Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi efek hepatoprotektif dari infusa daun S. mahagoni terhadap tikus jantan yang terinduksi karbon tetraklordida berdasarkan pada ada tidaknya penurunan terhadap aktivitas serum ALT dan AST yang di tunjukkan akibat pra-perlakuan pemberian infusa daun S. mahagoni.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Kelompok V merupakan kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 2,5 g/kgBB memiliki aktivitas serum ALT sebesar 165,2 ± 3,8 U/l bila dibandingkan dengan aktivitas serum ALT kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida yang memiliki aktivitas sebesar 203,8 ± 5,8 U/l. Secara statistik penurunan aktivitas serum ALT tersebut menunjukkan perbedaan bermakna (Tabel VII.). Aktivitas serum ALT pada kelompok ini jika dibandingkan dengan kontrol negatif olive oil yang memiliki aktivitas serum ALT sebesar 56,8 ± 1,7 U/l secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Pada aktivitas serum AST menunjukkan hal yang sama, yaitu aktivitas serum AST infusa daun S. mahagoni dosis 2,5 g/kgBB dengan aktivitas serum AST sebesar 382,6 ± 7,1 U/l. Aktivitas serum AST kelompok ini dibandingkan dengan aktivitas serum AST kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida yang memiliki aktivitas serum AST sebesar 203,8 ± 5,8 U/l. Secara statistik penurunan aktivitas serum AST tersebut menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). dan jika dibandingkan dengan kontrol negatif olive oil yang memiliki aktivitas serum AST sebesar 107,4 ± 5,5 U/l., pada uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Pengukuran dari aktivitas ALT dan AST tersebut menunjukkan bahwa pemberian infusa daun S. mahagoni dosis 2,5 g/kgBB pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB memiliki efek hepatoprotektif yang dapat dilihat dari adanya penurunan aktivitas serum ALT tetapi penurunan aktivitas belum sampai pada nilai normal, diperoleh efek hepatoprotektif sebesar 26,3 %. Kelompok VI adalah kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 3,535 g/kgBB memiliki aktivitas serum ALT sebesar 132,6 ± 2,5 U/l bila

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dibandingkan dengan aktivitas serum ALT kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida yang memiliki aktivitas sebesar 203,8 ± 5,8 U/l dan dibandingkan dengan kontrol negatif olive oil yang memiliki aktivitas serum ALT sebesar 56,8 ± 1,7 U/l secara statistik penurunan aktivitas serum ALT tersebut keduanya menunjukkan perbedaan bermakna (Tabel VII. dan Tabel VIII. ). Pada aktivitas serum AST menunjukkan hal yang sama, yaitu dengan aktivitas serum AST sebesar 310,6 ± 3,8 U/l. dibandingkan dengan aktivitas serum AST kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida yang memiliki aktivitas serum AST sebesar 493,4 ± 7,4 U/l dan dibandingkan kontrol negatif olive oil yang memiliki aktivitas serum AST sebesar 107,4 ± 5,5 U/l., pada uji statistik menunjukkan perbandingan keduanya menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Dari pengukuran aktivitas ALT dan AST tersebut menunjukkan bahwa pemberian infusa daun S. mahagoni dosis 3,535 g/kgBB pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB memiliki efek hepatoprotektif yang dapat dilihat dari adanya penurunan aktivitas serum ALT dan AST tetapi penurunan aktivitas belum sampai pada nilai normal diperoleh efek hepatoprotektif dari aktivitas ALT sebesar 48,4 %. Kelompok VII merupakan kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 5g/kgBB memiliki aktivitas serum ALT sebesar 109,8 ± 3,3 U/l. bila dibandingkan dengan kelompok kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/kgBB secara statistik memiliki perbedaan bermakna (Tabel VIII). Jika dibandingkan dengan kelompok kontrol olive oil 2 mL/kgBB secara statistik juga memiliki perbedaan yang bermakna (Tabel VIII). Hal yang sama juga ditunjukkan

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 dari aktivitas serum AST yaitu dengan aktivitas sebesar 272,4 ± 5,6 U/l jika aktivitas serum AST kelompok ini dibandingkan dengan kontrol karbon tetraklorida 2 mL/kgBB dan dibandingkan dengan kontrol olive oil 2 mL/kgBB hasil statistik keduanya menunjukkan perbedaan yang bermakna (Tabel IX). Dari pengukuran aktivitas ALT dan AST menunjukkan bahwa pemberian infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB memiliki efek hepatoprotektif yang dapat dilihat dari adanya penurunan aktivitas serum ALT dan AST tetapi penurunan aktivitas belum sampai pada nilai normal, didapat perolehan efek hepatoprotektif dari aktivitas ALT sebesar 63,9 %. Dari ketiga dosis infusa menunjukkan adanya efek hepatoprotektif namun belum dapat kembali seperti keadaan normal. Hal ini kemungkinan terjadi karena kandungan antioksidan dari ketiga dosis infusa daun S. mahagon,i yaitu dosis 2,5; 3,535 dan 5 g/kgBB belum cukup untuk menurunkan aktivitas serum ALT dan AST akibat induksi karbon tetraklorida. Ketiga dosis infusa daun S. mahagoni menunjukkan adanya hubungan antara dosis dengan respon yang muncul dapat dilihat dari semakin besar pemberian dosis pra-perlakuan infusa daun S. mahagoni, maka semakin besar efek hepatoprotektif yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas ALT infusa daun S. mahagoni dosis 2,5 g/kgBB secara statistik menunjukkan berbeda bermakna dengan dosis 3,535 g/kgBB dan dosis 5 g/kgBB (Tabel VIII). Infusa dosis 5 g/kgBB memliki efek hepatoprotektif terbesar dibanding dari ketiga dosis lainya, yaitu infusa dosis 2,5 g/kgBB dan infusa dosis 3,535 g/kgBB dilihat dari persen efek hepatoprotektif sebesar 63,9 %.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Hepatotoksin yang digunakan dalam penelitian ini berupa karbon tetraklorida dengan pemejanan dosis rendah dapat menyebabkan terjadinya perlemakan hati (steatosis). Mekanisme karbon tetraklorida dalam menimbulkan terjadinya perlemakan hati merupakan akibat terbentukya radikal bebas triklorometil (•CCl3). Radikal bebas tersebut merupakan metabolit reaktif diperantarai oleh aktivasi dari enzim CYP2E1 sebagai agen pereduksi dan mengkatalis adisi elektron yang mengakibatkan hilangnya satu ion klorin, dengan adanya O2 akan berubah menjadi metabolit yang lebih reaktif berupa radikal bebas triklorometilperoksi (•OOCCl3). Radikal triklorometil tersebut dapat mengalami reaksi yang dapat merusak sekitar dari sitokrom P-450, termasuk enzim itu sendiri dan retikulum endoplasma. Adanya hal tersebut radikal triklorometil dapat berikatan secara kovalen dengan protein dan lemak mikrosomal, dan dapat bereaksi secara langsung dengan membran fosfolipid dan kolesterol yang bersifat lebih toksik. Hasil reaksi tersebut berupa radikal lipid yang dapat mengaktifkan senyawa oksigen reaktif dan dapat menyebabkan peroksidasi lipid. Pemejanan karbon tetraklorida mengakibatkan penumpukan trigliserida di hepatosit dan terlihat sebagai droplet lipid. Penghambatan sintesis protein dapat terjadi karena lipid di dalam hati tersebut sehingga menurunkan produksi lipoprotein. Lipoprotein ini bertanggung jawab transport lipid untuk keluar dari hepatosit, ketika terjadi penurunan produksi lipoprotein maka akan menyebabkan steatosis (Timbrell, 2009). Kerusakan membran sel dan kerusakan mitokondria dapat terjadi karena kerusakan yang meyebar akibat adanya produk proses peroksidasi lipid (Timbrell,

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 2009). Adanya hal tersebut dapat mengakibatkan keluarnya enzim ALT dan AST sehingga kadar di dalam darah meningkat (Wahyuni, 2005). Daun S. mahagoni memiliki kandungan flavonoid, akan tetapi dalam penelitian ini kandungan senyawa flavonoid dari hasil pegukuran yang dilakukan LPPT UGM menunjukkan hasil yang sangat kecil, oleh karena itu dimungkinkan adanya kandungan senyawa lain yang terkandung dalam S. mahagoni memiliki aktivitas antioksidan seperti tannin dan terpenoid, dikarenakan senyawa tannin dan terpenoid memiliki aktivitas antioksidan seperti flavonoid. Kemungkinan mekanisme antioksidan yang memiliki mekanisme penagkapan radikal triklorometil (•CCl3) yang merupakan metabolit reaktif karbon tetraklorida, sehingga terjadinya steatosis pada hati akan terhenti dan aktivitas enzim ALT dan AST akan turun. Selain pengujian biokima fungsi hati dari aktivitas ALT dan AST dalam penelitian ini dapat dilakukan pengujian struktural yaitu dengan histologi, maka pengujian histologi ini dapat digunakan sebagai data pendukung dalam uji fungsi hati, sehingga dengan adanya efek hepatoprotektif dilihat dari penurunan aktivitas ALT dan AST dapat dibuktikan dengan uji histologi dari kondisi hati. Hasil orientasi didapatkan bahwa pembuatan infusa daun S. mahagoni dengan konsentrasi tertinggi, yaitu 40% menyebabkan kematian pada hewan uji setelah induksi senyawa karbon tetraklorida, oleh karena itu perlunya pengujian potensiasi kerusakan hati, akibat adanya pemberian karbon tetraklorida dengan pemberian infusa daun S. mahagoni, dengan pembuatan konsentrasi tertinggi tersebut.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 D. Rangkuman Pembahasan Pada penelitian ini menggunakan tiga peringkat dosis infusa daun S. mahagoni yaitu 2,5; 3,535 dan 5 g/kgBB menunjukkan bahwa ketiga variasi dosis tersebut mampu memberikan pengaruh pada tikus jantan galur Wista terinduksi karbon tetraklorida dilihat dari penurunan aktivitas serum ALT dan AST. Terdapat adanya kekerabatan antara dosis dengan respon, hal ini ditunjukkan dengan semakin besar pemberian dosis pra-perlakuan infusa daun S. mahagoni, maka semakin besar efek hepatoprotektif. Terbukti dari perolehan purata ± SE aktivitas serum ALT dan AST secara berturut-turut dari dosis rendah sampai dosis tinggi yaitu sebesar aktivitas serum ALT 165,2 ± 3,8; 132,6 ± 2,5 dan 109,8 ± 3,3 U/l , aktivitas serum AST 382,6 ± 7,1 ; 310,6 ± 3,8 dan 272,4 ± 5,6 U/l. Perolehan hasil tersebut menjawab permasalahan pertama dalam penelitian ini yaitu pemberian infusa daun S. mahagoni mempunyai pengaruh pada tikus jantan galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida dengan cara menurunkan aktivitas serum ALT dan AST. Pengukuran aktivitas ALT dan AST pada kelompok kontrol infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB dari hasil uji statistik menunjukkan berbeda tidak bermakana dibanding dengan kontrol olive oil dosis 2 mLkgBB. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian infusa daun S. mahagoni tidak menaikkan aktivitas serum ALT dan AST, dapat disimpulkan bahwa kenaikan serum ALT dan AST murni karena induksi dari senyawa hepatotoksin, yaitu karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB dapat menurunkan aktivitas serum ALT dan AST paling besar dan memberikan efek hepatoprotektif paling baik dibanding kedua dosis lainnya dengan efek hepatoprotektif sebesar 63,9%. Penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada pra-perlakuan pemberian infusa S. mahagoni kemungkinan karena adanya mekanisme antioksidan yang melindungi hati dari radikal bebas triklorometil (•CCl3) yang merupakan metabolit reaktif sehingga serangkaian proses terjadinya steatosis pada hati akan berhenti.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh dan analisis statistik yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan : 1. Pemberian infusa daun S. mahagoni memiliki pengaruh efek hepatoprotektif pada tikus jantan galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida berupa penurunan kadar ALT dan AST serum. 2. Dosis optimum efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni pada tikus jantan galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida adalah sebesar 5 g/kgBB. B. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang : 1. Pengujian histologis hati hewan uji sebagai data pendukung efek hepatoprotektif selain ditunjukkan adanya penurunan aktivitas ALT dan AST. 2. Pengujian potensiasi karbon tetraklorida terhadap pemberian infusa daun S. mahagoni dengan pembuatan infusa konsentrasi maksimal (40%). 53

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 DAFTAR PUSTAKA Backer, C. A., Bakhuizen van den Brink, 1963, Flora of Java (Spermatopyts only), Vol. II, Wolter-Noordhoff, NVP., Groningen, pp.117-118. Badan Penelitian dan Pegembangan Kesehatan Republik Indonesia, 2007, Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan RI, hal. 281. Badan Penelitian dan Pegembangan Kesehatan Republik Indonesia, 2010, Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan RI, hal. 417. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2013, Pedoman Teknologi Formula Sediaan Berbasis Ekstrak, Volume 2, Direktorat Obat Asli Indonesia, Jakarta, hal. 9-10. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2010, Acuan Sediaan herbal, 5 (1), Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, hal. 6. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2007, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pp. 7. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, 1995, Farmakope indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, hal. 46. Ganong, W.F., dan McPhee, S.J., 2011, Patofisiologi Penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 421-422. Geregus, Z., 2008, Mechanism of Toxicity, in Klaaseen, C., D., Casarett & Doull's Toxicology: the Basic Science Poisons, 7th edittion, McGrawHill, New York, pp. 57-64. Hastuti, T., 2008, Aktivitas Enzim Transaminase dan Gambaran Histopatologi Tikus yang Diberikan Kelapa Kopyor Pacsa Induksi Parasetamol, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Penegetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hian, J., 2009, Tanaman Herbal Penyembuh Penyakit Liver, http : // http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternativemedicine/1943124-tanaman-herbal-penyembuh-penyakit-liver/, diakses tanggal 5 September 2013.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Hodgson, E., dan Levi, P. E., 2004, Hepatotoxicity, in Hodgson, E., A Textbook of Modern Toxicology, 3rd edition, John Wiley & Sons Inc., New Jersey, pp. 262-272. Hodgson, E., 2010, A Textbook of Modern Toxicology, Edisi Keempat, Jhon Wiley & Sons Inc., New Jersey, pp. 281, 282. Janakat, S., dan Al-Merie, H., 2002, Optimization of the dose and route of injection, and characterization of the time course of carbon tetrachlorideinduced hepatotoxicity in the rat, J. Pharm. Tox. Methods, 48, pp. 41-44. Joker, D., 2001, Informasi Singkat Benih Swietenia mahagoni (L). Jacq, Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, Bandung, Indonesia, hal. 1-2. Kumar, S., dan Pandey, A., 2013, Chemistry and Biological Activites of Flavonoids: An Overview, Hindawi Publishing Corporation, The Scintific World Journal, pp.1-16. Kumar, V., Abbas, A.K., Fausto, N., dan Mitvhell, R.N., 2007, Robbins&Cartan Basic Pathology, Edisi 7, Philadelpia, USA, pp, 900. Laxmaiah. Ch., Srikanth. V. T., Shivaraj. G., Santhosh. K. C., Subal. D., dan Chiranjib. B., 2011, Antimicrobial Activity of Swietenia mahagoni L (Leaf) Aganist Various Human Pathogenic Microbes, Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 1(4), pp. 257-261. Matin, S. A., Haque, N.S.M., dan Hossain, H., 2010, Phytochemical Investigation and Standaridzation of Mahogany Tea Powder from S. mahogani Leaves, Int.J.Pharm.Phytopharmacol.Res, Bangladesh, 2(4), pp. 295- 300. Naveen, Y., Rupini, G., Ahmed, D., dan Urooj, A., 2014, Pharmacological effects and active phytoconstituents of Swetenia mahagoni: a review, Journal of Integrative Medicine, pp. 86-93. Pearce, E. C., 2009, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, PT Gramedia, Jakarta, hal. 243 – 249. Price, S.A., dan Wilson, L.M., 1984, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Vol 1, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 473-476. Putri, N. L. P. D. P., 2013, Efek Hepatoprotektif Infusa Biji Persea americana Mill. Terhadap Aktivitas ALT-AST Serum pada Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sacher, R.A., dan McPherson, R. A., 2002, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan, Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 369-370.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Soenanto, H., 2009, 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam Urat, Dan Obesitas, PT Elex Media Komputido, Jakarta, hal. 65, 66. Sofia, N.A., Nurdjanah, S., dan Ratnasari, N., 2009, Kadar Leptin pada Populasi non Diabetes dengan dan tanpa Non Alcoholic Fetty Liver (NAFL), Berkala Kesehatan Klinik, hal. 15 (1), 49-55. Timbrell, J. A., 2009, Principles of Biochemical Toxicology, 4th Edition, Informa Healthcare, New York, pp. 308-311. Udem, S., Nwaogu, I., dan Onyejekwe, 2011, Evaluation of Hepatoprotective of Aqeous Leaf Extract of Swietenia mahogani (Maliaceae) in Chronic Alcohol-induced Liver Injury in Rets, Macedonian Journal of Medical Sciences, Nigeria, pp. 31-36. United States Departemen of Agriculture, 2012, Swietenia mahogani (L.) Jacq. West Indian mahogany, Natural Resources Conservation Service, https://plants.usda.gov/core/profile?symbol=SWMA2, diakses tanggal 10 Juli 2014. Wahyuni, S., 2005, Pengaruh Daun Sambiloto (Andrographis paniculata, Ness) Terhadap Kadar SGPT dan SGOT Tikus Putih, GAMMA, I(I), hal. 45-53. Wibowo dan Prayana, 2009, Anatomi Tubuh Manusia, Graha Ilmu, Indonesia, hal. 347-352. Wijayanti, F. D. R., 2013, Efek Hepatoprotektif Ekstrak Metanol-Air Daun Macaranga tanarius L. Pada Tikus Terinduksi karbon Tetraklorida : Kajian Terhadap Praperlakuan Jangka Waktu 30 Menit, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Windrawati, T. G., 2013, Efek Hepatoprotektif Ekstrak Metanol:Air (50:50) Daun Macaranga tanarius L. terhadap Kadar ALT-AST Serum pada Tikus terinduksi Karbon Tetraklorida, Skripsi,Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Yuzammi., Witono, J. R., dan Hidayat, S., 2010, Ensiklopedia Flora, PT Kharisma Ilmu, Bogor, pp. 93-95. Zimmerman, H. J., 1999, Hepatotoxicity, Appleton Century Crofts, NewYork, pp. 167-171.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Lampiran

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Lampiran 1. Foto serbuk daun S. mahagoni Lampiran 2. Foto pembuatan infusa daun S. mahagoni dengan menggunakan panci infundasi Lampiran 3. Foto Infusa daun S. mahagoni

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Lampiran 4. Surat keterangan kadar air serbuk daun S.mahagoni

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Lampiran 5. Surat keterangan kandungan flavonoid infusa daun S.mahagoni

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Lampiran 6. Surat pegesahan determinasi daun S. mahagoni

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Lampiran 7. Surat pengesahan ethical clearens

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Lampiran 8. Analisis statistik aktivits serum ALT pada uji pendahuluan penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum ccl_jam0 5 65.0000 14.57738 54.00 87.00 ccl_jam24 5 2.0380E2 13.14154 183.00 218.00 ccl_jam48 5 79.4000 9.76217 63.00 88.00 ccl_jam72 5 54.0000 4.84768 46.00 58.00 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ccl_jam0 ccl_jam24 ccl_jam48 ccl_jam72 5 5 5 5 65.0000 203.8000 79.4000 54.0000 1.45774E1 13.14154 9.76217 4.84768 Absolute .332 .246 .284 .260 Positive .332 .143 .189 .205 Negative -.225 -.246 -.284 -.260 Kolmogorov-Smirnov Z .741 .549 .634 .581 Asymp. Sig. (2-tailed) .642 .924 .816 .888 N Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal. Descriptives ALT 95% Confidence Interval for Mean Std. ccl4_dosis_2_mL/ kgBB_jam_0 Lower Upper Minimu N Mean Deviation Std. Error Bound Bound m Maximum 5 65.0000 14.57738 6.51920 46.8998 83.1002 54.00 87.00

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 ccl4_dosis_2_mL/ kgBB_jam_24 ccl4_dosis_2_mL/ kgBB_jam_48 ccl4_dosis_2_mL/ kgBB_jam_72 Total 5 2.0380E2 13.14154 5.87707 187.4826 220.1174 183.00 218.00 5 79.4000 9.76217 4.36578 67.2787 91.5213 63.00 88.00 5 54.0000 4.84768 2.16795 47.9808 60.0192 46.00 58.00 20 1.0055E2 62.70606 14.02150 71.2027 129.8973 46.00 218.00 Test of Homogeneity of Variances ALT Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.697 3 16 .208 ANOVA ALT Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups 72692.950 3 24230.983 192.309 .000 Within Groups 2016.000 16 126.000 Total 74708.950 19 Multiple Comparisons ALT Scheffe Mean (I) orientasi_ccl4 Difference (I(J) orientasi_ccl4 ccl4_dosis_2_ ccl4_dosis_2_mL/k mL/kgBB_jam _0 gBB_jam_24 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_48 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_72 ccl4_dosis_2_ ccl4_dosis_2_mL/k mL/kgBB_jam 95% Confidence Interval gBB_jam_0 J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound 7.09930 .000 -160.9296 -116.6704 -14.40000 7.09930 .287 -36.5296 7.7296 11.00000 7.09930 .512 -11.1296 33.1296 7.09930 .000 116.6704 160.9296 -138.80000 138.80000 * *

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 _24 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_48 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_72 ccl4_dosis_2_ ccl4_dosis_2_mL/k mL/kgBB_jam gBB_jam_0 _48 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_24 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_72 ccl4_dosis_2_ ccl4_dosis_2_mL/k mL/kgBB_jam gBB_jam_0 _72 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_24 ccl4_dosis_2_mL/k gBB_jam_48 124.40000 * 7.09930 .000 102.2704 146.5296 149.80000 * 7.09930 .000 127.6704 171.9296 7.09930 .287 -7.7296 36.5296 7.09930 .000 -146.5296 -102.2704 * 7.09930 .022 3.2704 47.5296 -11.00000 7.09930 .512 -33.1296 11.1296 7.09930 .000 -171.9296 -127.6704 7.09930 .022 -47.5296 -3.2704 14.40000 -124.40000 25.40000 -149.80000 -25.40000 * *. The mean difference is significant at the 0.05 level. * *

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 9. Analisis statistik aktivits serum AST pada uji pendahuluan penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum jam_0 5 94.4000 10.11435 78.00 104.00 jam_24 5 4.9340E2 16.44080 468.00 512.00 jam_48 5 1.9420E2 23.38162 169.00 225.00 jam_72 5 1.0380E2 3.83406 99.00 108.00 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test jam_0 jam_24 jam_48 jam_72 5 5 5 5 Mean 94.4000 4.9340E2 1.9420E2 1.0380E2 Std. Deviation 1.01143E1 1.64408E1 2.33816E1 3.83406 Absolute .245 .194 .218 .198 Positive .171 .139 .218 .167 Negative -.245 -.194 -.165 -.198 Kolmogorov-Smirnov Z .548 .435 .487 .443 Asymp. Sig. (2-tailed) .925 .992 .972 .990 N Normal Parameters a Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal. Descriptives AST 95% Confidence Interval for Mean Std. ccl4_dosis_2_mL/kg BB_jam0 ccl4_dosis_2_mL/kg BB_jam24 ccl4_dosis_2_mL/kg BB_jam48 N Mean 5 94.4000 Upper Deviation Std. Error Lower Bound Bound Minimum Maximum 10.11435 4.52327 81.8414 106.9586 78.00 104.00 5 4.9340E2 16.44080 7.35255 472.9860 513.8140 468.00 512.00 5 1.9420E2 23.38162 10.45658 165.1679 223.2321 169.00 225.00

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 ccl4_dosis_2_mL/kg BB_jam72 Total 5 1.0380E2 3.83406 1.71464 99.0394 108.5606 99.00 108.00 20 2.2145E2 166.56735 37.24559 143.4941 299.4059 78.00 512.00 Test of Homogeneity of Variances AST Levene Statistic df1 df2 Sig. 3.550 3 16 .038 ANOVA AST Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 523412.950 3 174470.983 747.199 .000 Within Groups 3736.000 16 233.500 Total 527148.950 19 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Kruskal-Wallis Test Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 0 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 24 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 48 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 72 N Mean Rank 5 3.80 5 18.00 5 13.00 5 7.20

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 0 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 24 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 48 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 72 Total Test Statistics N Mean Rank 5 3.80 5 18.00 5 13.00 5 7.20 20 a,b AST Chi-Square 16.923 df 3 Asymp. Sig. .001 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Mann-Whitney Test Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 0 N Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 5 24 Total 8.00 40.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 0 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 48 Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 0 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 72 Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 3.80 19.00 5 7.20 36.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U 4.000 Wilcoxon W 19.000 Z -1.786 Asymp. Sig. (2-tailed) .074 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .095 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Ranks

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 24 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 48 Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 24 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 72 Total Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U N .000

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4 Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum AST 20 2.2145E2 166.56735 78.00 512.00 orientasi_AST_ccl4 20 2.5000 1.14708 1.00 4.00 Ranks orientasi_AST_ccl4 AST ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 48 ccl4_dosis_2_mL/kgBB_jam 72 Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b Test Statistics AST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: orientasi_AST_ccl4

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 10. Analisis statistik aktivits serum ALT perlakuan infusa daun S. mahogani setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum ccl4 5 2.0380E2 13.14154 183.00 218.00 olive 5 56.8000 3.89872 51.00 61.00 kontrol_infusa 5 57.2000 4.54973 52.00 62.00 kontrol_aquadest 5 1.9660E2 9.73653 185.00 211.00 infusa_dosis1 5 1.6520E2 8.40833 154.00 177.00 infusa_dosis2 5 1.3260E2 5.59464 125.00 139.00 infusa_dosis3 5 1.0980E2 7.42967 102.00 122.00 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test kontrol_in kontrol_a infusa_do infusa_do infusa_do N Normal Mean a Parameters ccl4 olive fusa quadest sis1 sis2 sis3 5 5 5 5 5 5 5 2.0380E2 56.8000 Std. 1.31415E Deviation 1 3.89872 57.2000 196.6000 165.2000 132.6000 109.8000 4.54973 9.73653 8.40833 5.59464 7.42967

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Most Extreme Absolute .246 .221 .222 .203 .170 .184 .289 Differences Positive .143 .141 .222 .203 .170 .143 .289 Negative -.246 -.221 -.198 -.130 -.152 -.184 -.153 Kolmogorov-Smirnov Z .549 .494 .496 .453 .379 .412 .647 Asymp. Sig. (2-tailed) .924 .968 .966 .986 .999 .996 .797 a. Test distribution is Normal. Oneway Descriptives ALT 95% Confidence Interval for Mean Std. N kontrol_CCl4_dosis_2 5 mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosis _2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis_ 5g/kgBB kontrol_aquadest_5m L/200gBB infusa_dosis_2,5g/kg BB+ccl4 infusa_dosis_3,53g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kgBB +ccl4 Total Mean Deviation Std. Error 2.0380E2 13.14154 5.87707 Lower Upper Minimu Bound Bound m Maximum 187.4826 220.1174 183.00 218.00 5 56.8000 3.89872 1.74356 51.9591 61.6409 51.00 61.00 5 57.2000 4.54973 2.03470 51.5508 62.8492 52.00 62.00 5 1.9660E2 9.73653 4.35431 184.5105 208.6895 185.00 211.00 5 1.6520E2 8.40833 3.76032 154.7597 175.6403 154.00 177.00 5 1.3260E2 5.59464 2.50200 125.6533 139.5467 125.00 139.00 5 1.0980E2 7.42967 3.32265 100.5748 119.0252 102.00 122.00 35 1.3171E2 57.57582 9.73209 111.9363 151.4923 51.00 218.00 Test of Homogeneity of Variances ALT Levene Statistic df1 df2 Sig. .850 6 28 .543

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 ANOVA ALT Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 110866.743 6 18477.790 280.817 .000 Within Groups 1842.400 28 65.800 Total 112709.143 34 Multiple Comparisons ALT Scheffe Mean (I) perlakuan_ALT Difference (I(J) perlakuan_ALT kontrol_CCl4_do kontrol_OLIVE_dosi sis_2mL/kgBB s_2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 kontrol_OLIVE_ kontrol_CCl4_dosis dosis_2mL/kgBB 95% Confidence Interval _2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound 147.00000 * 5.13030 .000 127.3492 166.6508 146.60000 * 5.13030 .000 126.9492 166.2508 5.13030 .916 -12.4508 26.8508 7.20000 38.60000 * 5.13030 .000 18.9492 58.2508 71.20000 * 5.13030 .000 51.5492 90.8508 94.00000 * 5.13030 .000 74.3492 113.6508 5.13030 .000 -166.6508 -127.3492 5.13030 1.000 -20.0508 19.2508 -147.00000 * -.40000 -139.80000 * 5.13030 .000 -159.4508 -120.1492 -108.40000 * 5.13030 .000 -128.0508 -88.7492

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 kontrol_infusa_d kontrol_CCl4_dosis osis_5g/kgBB _2mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosi s_2mL/kgBB kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 kontrol_aquades kontrol_CCl4_dosis t_5mL/200gBB _2mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosi s_2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 infusa_dosis_2,5 kontrol_CCl4_dosis g/kgBB+ccl4 _2mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosi s_2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB -75.80000 * 5.13030 .000 -95.4508 -56.1492 -53.00000 * 5.13030 .000 -72.6508 -33.3492 5.13030 .000 -166.2508 -126.9492 5.13030 1.000 -19.2508 20.0508 -146.60000 * .40000 -139.40000 * 5.13030 .000 -159.0508 -119.7492 -108.00000 * 5.13030 .000 -127.6508 -88.3492 -75.40000 * 5.13030 .000 -95.0508 -55.7492 -52.60000 * 5.13030 .000 -72.2508 -32.9492 5.13030 .916 -26.8508 12.4508 -7.20000 139.80000 * 5.13030 .000 120.1492 159.4508 139.40000 * 5.13030 .000 119.7492 159.0508 31.40000 * 5.13030 .000 11.7492 51.0508 64.00000 * 5.13030 .000 44.3492 83.6508 86.80000 * 5.13030 .000 67.1492 106.4508 * 5.13030 .000 -58.2508 -18.9492 108.40000 * 5.13030 .000 88.7492 128.0508 108.00000 * 5.13030 .000 88.3492 127.6508 -38.60000

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 infusa_dosis_3,5 kontrol_CCl4_dosis 3g/kgBB+ccl4 _2mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosi s_2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_5g/kg BB+ccl4 infusa_dosis_5g/ kontrol_CCl4_dosis kgBB+ccl4 _2mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosi s_2mL/kgBB kontrol_infusa_dosi s_5g/kgBB kontrol_aquadest_5 mL/200gBB infusa_dosis_2,5g/k gBB+ccl4 infusa_dosis_3,53g/ kgBB+ccl4 * 5.13030 .000 -51.0508 -11.7492 32.60000 * 5.13030 .000 12.9492 52.2508 55.40000 * 5.13030 .000 35.7492 75.0508 * 5.13030 .000 -90.8508 -51.5492 75.80000 * 5.13030 .000 56.1492 95.4508 75.40000 * 5.13030 .000 55.7492 95.0508 -64.00000 * 5.13030 .000 -83.6508 -44.3492 -32.60000 * 5.13030 .000 -52.2508 -12.9492 * 5.13030 .014 3.1492 42.4508 * 5.13030 .000 -113.6508 -74.3492 53.00000 * 5.13030 .000 33.3492 72.6508 52.60000 * 5.13030 .000 32.9492 72.2508 -86.80000 * 5.13030 .000 -106.4508 -67.1492 -55.40000 * 5.13030 .000 -75.0508 -35.7492 -22.80000 * 5.13030 .014 -42.4508 -3.1492 -31.40000 -71.20000 22.80000 -94.00000 *. The mean difference is significant at the 0.05 level.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Lampiran 11. Analisis statistik aktivits serum AST perlakuan infusa daun S. mahogani setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum kontrol_CCl4 5 4.9340E2 16.44080 468.00 512.00 kontrol_olive 5 1.0740E2 12.34099 95.00 123.00 kontrol_infusa 5 1.0460E2 5.31977 97.00 111.00 kontrol_aquadest 5 4.9160E2 20.23116 456.00 505.00 infusa_dosis1 5 3.8260E2 15.78924 362.00 401.00 infusa_dosis2 5 3.1060E2 8.41427 297.00 319.00 infusa_dosis3 5 2.7240E2 12.19836 262.00 292.00 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test kontrol_C kontrol_ol kontrol_in kontrol_aq infusa_do infusa_do infusa_dosi N Normal Mean a Parameters Std. Deviation Cl4 ive fusa uadest sis1 sis2 s3 5 5 5 5 5 5 5 493.4000 107.4000 104.6000 491.6000 382.6000 310.6000 272.4000 16.44080 12.34099 5.31977 20.23116 15.78924 8.41427 12.19836

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Most Absolute .194 .269 .204 .386 .234 .225 .241 Extreme Positive .139 .269 .126 .254 .169 .159 .241 Negative -.194 -.205 -.204 -.386 -.234 -.225 -.197 Kolmogorov-Smirnov Z .435 .602 .456 .863 .523 .502 .539 Asymp. Sig. (2-tailed) .992 .862 .986 .445 .947 .963 .934 Differences a. Test distribution is Normal. Oneway Descriptives AST 95% Confidence Interval for Mean Std. N kontrol_CCl4_dosis2 mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis3,535g/k gBB infusa_dosis5g/kgBB Total Mean Deviation Std. Error Lower Upper Bound Bound Minimum Maximum 5 4.9340E2 16.44080 7.35255 472.9860 513.8140 468.00 512.00 5 1.0740E2 12.34099 5.51906 92.0766 122.7234 95.00 123.00 5 1.0460E2 97.9946 111.2054 97.00 111.00 5 4.9160E2 20.23116 9.04765 466.4797 516.7203 456.00 505.00 5 3.8260E2 15.78924 7.06116 362.9951 402.2049 362.00 401.00 5 3.1060E2 3.76298 300.1523 321.0477 297.00 319.00 5 2.7240E2 12.19836 5.45527 257.2537 287.5463 262.00 292.00 35 3.0894E2 25.73217 256.6488 361.2369 95.00 512.00 5.31977 8.41427 152.2335 6 Test of Homogeneity of Variances AST Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.247 6 28 .313 2.37908

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 ANOVA AST Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 782635.486 6 130439.248 686.987 .000 Within Groups 5316.400 28 189.871 Total 787951.886 34 Post Hoc Tests Multiple Comparisons AST Scheffe (I) 95% Confidence Interval perlakuan_AS T Mean (J) perlakuan_AST kontrol_CCl4_ kontrol_OLIVE_dosis dosis2mL/kgB B 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis3,535g/k gBB infusa_dosis5g/kgBB kontrol_OLIVE kontrol_CCl4_dosis2 _dosis2mL/kg mL/kgBB BB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B Difference (I-J) Std. Error Sig. 386.00000 * 8.71485 .000 352.6191 419.3809 388.80000 * 8.71485 .000 355.4191 422.1809 8.71485 1.000 -31.5809 35.1809 1.80000 Lower Bound Upper Bound 110.80000 * 8.71485 .000 77.4191 144.1809 182.80000 * 8.71485 .000 149.4191 216.1809 221.00000 * 8.71485 .000 187.6191 254.3809 * 8.71485 .000 -419.3809 -352.6191 8.71485 1.000 -30.5809 36.1809 -386.00000 2.80000 -384.20000 * 8.71485 .000 -417.5809 -350.8191 -275.20000 * 8.71485 .000 -308.5809 -241.8191

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 infusa_dosis3,535g/k gBB infusa_dosis5g/kgBB kontrol_infusa kontrol_CCl4_dosis2 _dosis5mL/kg mL/kgBB BB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis3,535g/k gBB infusa_dosis5g/kgBB kontrol_aquad kontrol_CCl4_dosis2 est_dosis5mL/ mL/kgBB 200gBB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis3,535g/k gBB infusa_dosis5g/kgBB infusa_dosis2, kontrol_CCl4_dosis2 5g/kgBB mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis3,535g/k gBB -203.20000 * 8.71485 .000 -236.5809 -169.8191 -165.00000 * 8.71485 .000 -198.3809 -131.6191 -388.80000 * 8.71485 .000 -422.1809 -355.4191 8.71485 1.000 -36.1809 30.5809 -2.80000 -387.00000 * 8.71485 .000 -420.3809 -353.6191 -278.00000 * 8.71485 .000 -311.3809 -244.6191 -206.00000 * 8.71485 .000 -239.3809 -172.6191 -167.80000 * 8.71485 .000 -201.1809 -134.4191 8.71485 1.000 -35.1809 31.5809 -1.80000 384.20000 * 8.71485 .000 350.8191 417.5809 387.00000 * 8.71485 .000 353.6191 420.3809 109.00000 * 8.71485 .000 75.6191 142.3809 181.00000 * 8.71485 .000 147.6191 214.3809 219.20000 * 8.71485 .000 185.8191 252.5809 * 8.71485 .000 -144.1809 -77.4191 275.20000 * 8.71485 .000 241.8191 308.5809 278.00000 * 8.71485 .000 244.6191 311.3809 * 8.71485 .000 -142.3809 -75.6191 8.71485 .000 38.6191 105.3809 -110.80000 -109.00000 72.00000 *

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 infusa_dosis5g/kgBB infusa_dosis3, kontrol_CCl4_dosis2 535g/kgBB mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis5g/kgBB infusa_dosis5g kontrol_CCl4_dosis2 /kgBB mL/kgBB kontrol_OLIVE_dosis 2mL/kgBB kontrol_infusa_dosis5 mL/kgBB kontrol_aquadest_dos is5mL/200gBB infusa_dosis2,5g/kgB B infusa_dosis3,535g/k gBB * 8.71485 .000 76.8191 143.5809 * 8.71485 .000 -216.1809 -149.4191 203.20000 * 8.71485 .000 169.8191 236.5809 206.00000 * 8.71485 .000 172.6191 239.3809 * 8.71485 .000 -214.3809 -147.6191 * 8.71485 .000 -105.3809 -38.6191 * 8.71485 .016 4.8191 71.5809 * 8.71485 .000 -254.3809 -187.6191 165.00000 * 8.71485 .000 131.6191 198.3809 167.80000 * 8.71485 .000 134.4191 201.1809 -219.20000 * 8.71485 .000 -252.5809 -185.8191 -110.20000 * 8.71485 .000 -143.5809 -76.8191 8.71485 .016 -71.5809 -4.8191 110.20000 -182.80000 -181.00000 -72.00000 38.20000 -221.00000 -38.20000 * *. The mean difference is significant at the 0.05 level.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 12. Analisis statistik aktivits serum ALT perlakuan kontrol negatif olive oil dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum jam0 5 47.0000 4.00000 43.00 53.00 jam24 5 56.8000 3.89872 51.00 61.00 jam48 5 57.4000 6.58027 48.00 63.00 jam72 5 57.6000 4.33590 50.00 61.00 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test jam0 jam24 jam48 jam72 5 5 5 5 Mean 47.0000 56.8000 57.4000 57.6000 Std. Deviation 4.00000 3.89872 6.58027 4.33590 Absolute .291 .221 .308 .427 Positive .291 .141 .197 .216 Negative -.159 -.221 -.308 -.427 Kolmogorov-Smirnov Z .652 .494 .688 .954 Asymp. Sig. (2-tailed) .789 .968 .731 .323 N Normal Parameters a Most Extreme Differences

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test jam0 jam24 jam48 jam72 5 5 5 5 Mean 47.0000 56.8000 57.4000 57.6000 Std. Deviation 4.00000 3.89872 6.58027 4.33590 Absolute .291 .221 .308 .427 Positive .291 .141 .197 .216 Negative -.159 -.221 -.308 -.427 Kolmogorov-Smirnov Z .652 .494 .688 .954 Asymp. Sig. (2-tailed) .789 .968 .731 .323 N Normal Parameters a Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal. Oneway Descriptives Olive_ALT 95% Confidence Interval for Mean Std. olive_dosis_2_m L/kgBB_jam0 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam24 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam48 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam72 Total Deviation Std. Error Upper Bound Bound N Mean 5 47.0000 4.00000 1.78885 42.0333 51.9667 43.00 53.00 5 56.8000 3.89872 1.74356 51.9591 61.6409 51.00 61.00 5 57.4000 6.58027 2.94279 49.2295 65.5705 48.00 63.00 5 57.6000 4.33590 1.93907 52.2163 62.9837 50.00 61.00 20 54.7000 6.36685 1.42367 51.7202 57.6798 43.00 63.00 Test of Homogeneity of Variances Olive_ALT Levene Statistic Lower df1 df2 Sig. Minimum Maximum

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Test of Homogeneity of Variances Olive_ALT Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.531 3 16 .245 ANOVA Olive_ALT Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 397.000 3 132.333 5.673 .008 Within Groups 373.200 16 23.325 Total 770.200 19 Multiple Comparisons Olive_ALT Scheffe (I) Mean 95% Confidence Interval orientasi_oliv (J) Difference (I- e_ALT orientasi_olive_ALT J) olive_dosis_ olive_dosis_2_mL/kg 2_mL/kgBB_j am0 BB_jam24 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam48 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam72 olive_dosis_ olive_dosis_2_mL/kg 2_mL/kgBB_j BB_jam0 am24 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam48 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam72 olive_dosis_ olive_dosis_2_mL/kg 2_mL/kgBB_j BB_jam0 -9.80000 * Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound 3.05450 .042 -19.3213 -.2787 -10.40000 * 3.05450 .030 -19.9213 -.8787 -10.60000 * 3.05450 .026 -20.1213 -1.0787 3.05450 .042 .2787 19.3213 -.60000 3.05450 .998 -10.1213 8.9213 -.80000 3.05450 .995 -10.3213 8.7213 3.05450 .030 .8787 19.9213 9.80000 * 10.40000 *

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 am48 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam24 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam72 olive_dosis_ olive_dosis_2_mL/kg 2_mL/kgBB_j BB_jam0 am72 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam24 olive_dosis_2_mL/kg BB_jam48 .60000 3.05450 .998 -8.9213 10.1213 -.20000 3.05450 1.000 -9.7213 9.3213 3.05450 .026 1.0787 20.1213 .80000 3.05450 .995 -8.7213 10.3213 .20000 3.05450 1.000 -9.3213 9.7213 10.60000 * *. The mean difference is significant at the 0.05 level. Graph Lampiran 13. Analisis statistik aktivits serum AST perlakuan kontrol negatif olive oil dosis 2 mL/kgBB Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum jam_0 5 93.8000 7.46324 87.00 106.00 jam_24 5 1.0740E2 12.34099 95.00 123.00 jam_48 5 1.0720E2 7.91833 98.00 116.00 jam_72 5 1.0000E2 13.05756 82.00 113.00

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test jam_0 jam_24 jam_48 jam_72 5 5 5 5 Mean 93.8000 1.0740E2 1.0720E2 1.0000E2 Std. Deviation 7.46324 1.23410E1 7.91833 1.30576E1 Absolute .236 .269 .218 .200 Positive .236 .269 .218 .160 Negative -.181 -.205 -.190 -.200 Kolmogorov-Smirnov Z .528 .602 .488 .448 Asymp. Sig. (2-tailed) .943 .862 .971 .988 N Normal Parameters a Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal. Oneway Descriptives AST_olive 95% Confidence Interval for Mean Std. olive_dosis_2_mL/k gBB_jam0 olive_dosis_2_mL/k gBB_jam24 olive_dosis_2_mL/k gBB_jam48 olive_dosis_2_mL/k gBB_jam72 Total N Mean 5 93.8000 Upper Deviation Std. Error Lower Bound 7.46324 Minimum Maximum 3.33766 84.5332 103.0668 87.00 106.00 5 1.0740E2 12.34099 5.51906 92.0766 122.7234 95.00 123.00 5 1.0720E2 7.91833 3.54119 97.3681 117.0319 98.00 116.00 5 1.0000E2 13.05756 5.83952 83.7869 116.2131 82.00 113.00 20 1.0210E2 11.24324 2.51407 96.8380 107.3620 82.00 123.00 Test of Homogeneity of Variances AST_olive Levene Statistic Bound df1 df2 Sig.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Test of Homogeneity of Variances AST_olive Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.755 3 16 .196 ANOVA AST_olive Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 637.000 3 212.333 1.925 .166 Within Groups 1764.800 16 110.300 Total 2401.800 19 Multiple Comparisons AST_olive Scheffe (I) (J) 95% Confidence Interval Mean orientasi_olive orientasi_olive_ Differenc _AST AST olive_dosis_2_ olive_dosis_2_m mL/kgBB_jam 0 e (I-J) Std. Error Sig. Bound Upper Bound 6.64229 .280 -34.3050 7.1050 6.64229 .292 -34.1050 7.3050 -6.20000 6.64229 .832 -26.9050 14.5050 13.60000 6.64229 .280 -7.1050 34.3050 - L/kgBB_jam24 13.60000 olive_dosis_2_m - L/kgBB_jam48 13.40000 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam72 olive_dosis_2_ olive_dosis_2_m mL/kgBB_jam L/kgBB_jam0 24 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam48 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam72 olive_dosis_2_ olive_dosis_2_m mL/kgBB_jam L/kgBB_jam0 48 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam24 Lower .20000 6.64229 1.000 -20.5050 20.9050 7.40000 6.64229 .745 -13.3050 28.1050 13.40000 6.64229 .292 -7.3050 34.1050 1.000 -20.9050 20.5050 -.20000 6.64229

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam72 olive_dosis_2_ olive_dosis_2_m mL/kgBB_jam L/kgBB_jam0 72 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam24 olive_dosis_2_m L/kgBB_jam48 7.20000 6.64229 .761 -13.5050 27.9050 6.20000 6.64229 .832 -14.5050 26.9050 -7.40000 6.64229 .745 -28.1050 13.3050 -7.20000 6.64229 .761 -27.9050 13.5050 Lampiran 14. Perhitungan penetapan peringkat dosis infusa daun S. mahagoni pada kelompok perlakuan Dasar penetapan peringkat  Bobot tertinggi tikus = 200 g  Pemberian infusa daun S. mahagoni menggunakan volume maksimal pemberian peroral pada tikus yaitu 5 mL  Konsentrasi infusa daun S. mahagoni dari hasil orientasi yaitu 20% Dengan dasar tersebut, maka ditetapan dosis tertinggi infusa daun S. mahagoni

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 D x BB = C x V D x 200 g BB = 20g /100 mL x 5 mL D = 5,0 g/kg BB (dosis tinggi) Penetapan dosis rendah infusa daun S. mahagoni didasarkan pada pembuatan infusa umum yaitu dengan konsentrasi 10% (Badan pengawas Obat dan Makanan RI, 2010) D x BB = C x V D x 200 g BB = 10g /100 mL x 5 mL D = 2,5 g/kg BB (dosis rendah) Penentun dosis tengah berdasarkan faktor kelipatan dari dua dosis tersebut Faktor kelipatan = = dosis tinggi dosis rendah 5 g/kg BB 2,5 g/kg BB = 1,414 Dosis tengah 2,5 g/kg BB X 1,414 = 3,535 g/kgBB  Dengan demikian dosis yang akan digunakan dalam penelitian adalah 2,5 ; 3,535 dan 5,0 g/kgBB. Lampiran 15. Perhitungan konversi dosis untuk manusia  Angka konversi tikus 200 g ke manusia 70 kgBB = 56,0  Dosis untuk manusia = dosis tikus 200 gBB x angka konversi ke manusia Maka dosis infusa daun S. mahagoni untuk manusia adalah : 1. Infusa daun S. mahagoni 5,0 g/kgBB tikus : 5,0 g/kgBB = 5,0 g/1000gBB = 1 g/200 gBB 1 g/200gBB x 56,0 = 56,0 g/70kgBB manusia

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 2. Infusa daun S. mahagoni 3,535 g/kgBB tikus 3,535 g/kgBB = 3,535 g/1000gBB = 0,707 g/200 gBB 0,707 g/200gBB x 56,0 = 39,6 g/70kgBB manusia 3. Infusa daun S. mahagoni 2,5 g/kgBB tikus 2,5 g/kgBB = 2,5 g/1000gBB = 0,5 g/200 gBB 0,5 g/200gBB x 56,0 = 28,0 g/70kgBB manusia Lampiran 16. Perhitungan efek hepatoprotektif infusa daun S. mahagoni Rumus perhitungan efek hepatoprotektif bila olive oil diasumsikan memiliki efek hepatoprotektif sebesar 100% : (purata ALT kontrol CCl4 − kontrol Olive oil) − (purata ALT perlakuan − kontrol Olive oil) 𝑋 100% (purata ALT kontrol CCl4 − kontrol Olive oil) Berdasarkan rumus tersebut, maka perhitungan efek hepatoprotektif setiap kelompok perlakuan adalah :  Kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB  (203,8−56,8) 𝑋 100% = 63,9 % Kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 3,535 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB  (203,8−56,8)− (109,8−56,8) (203,8−56,8)− (132,6−56,8) (203,8−56,8) 𝑋 100% = 48,4 % Kelompok perlakuan infusa daun S. mahagoni dosis 2,5 g/kgBB + CCl4 2 mL/kgBB (203,8−56,8)− (165,2−56,8) (203,8−56,8) 𝑋 100% = 26,3 %

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 BIOGRAFI PENULIS Penulis Skripsi berjudul “Efek Hepatoprotektif Infusa Daun Swietenia mahagoni (L.) Jacq. Pada Tikus Jantan Terinduksi Karbon Tetraklorida” memiliki nama lengkap Agriva Devaly Avista, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan dari Bapak A. Slamet, SE. dan Ibu Siti Winarni. Penulis dilahirkan di Kamal, Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo pada tanggal 25 Juli 1992 silam. Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis yaitu TK Pertiwi Kamal (1997-1998), tingkat Sekolah Dasar di SDN Kamal (1998-2004), tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Nanggulan (20042007), dan tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Sentolo (20072010). Pada tahun 2010, penulis melanjutkan studi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Semasa studinya, penulis aktif mengikuti kegiatan kepanitiaan dan kegiatan kampus, diantaranya mengikuti kepanitiaan Pharmacy Pherformance (2011) sebagai anggota divisi keamanan, Humas dalam acara Tiga Hari Temu Akrab Farmasi (TITRASI 2012), anggota tim pengabdian masyarakat (pelatihan dan penyuluhan dengan materi “Cegah Penyebaran Penyakit Leptospirosis” di Dusun Demangan, Wedomartani, Sleman DIY

(114)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Efek hepatoprotektif jangka pendek infusa biji atung (Parinarium glaberimum Hassk) pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida
0
2
66
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
108
Efek hepatoprotektif jangka panjang infusa biji atung (Parinarum glaberimum Hassk.) pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida
0
0
63
Efek hepatoprotektif jangka waktu enam jam ekstrak etanol daun macaranga tanarius L. terhadap ALT AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida
0
1
109
Efek hepatoprotektif pemberian infusa kulit Persea americana Mill. terhadap ALT AST tikus terinduksi karbon tetraklorida
0
0
123
Efek hepatoprotektif infusa daun Macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi parasetamol - USD Repository
0
0
86
Efek hepatoprotektif ekstrak metanol:air (50:50) daun macaranga tanarius L. terhadap kadar ALT-AST serum pada tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
121
Efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak metanol-air daun macaranga tanarius L. terhadap tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
104
Efek antihepatotoksik infusa herba mimosa pigra L. terhadap tikus putih jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
143
Efek hepatoprotektif ekstrak etanol-air daun Macaranga tanarius L. pada tikus terinduksi karbon tetraklorida : kajian terhadap praperlakuan jangka panjang - USD Repository
0
0
107
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
106
Efek hepatoprotektif pemberian infusa herba mimosa pigra l. selama enam hari pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
136
Pengaruh lama pemberian infusa daun swietenia mahagoni (l.) jacq. sebagai hepatoprotektif terhadap tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
120
Efek hepatoprotektif ekstrak etanol daun swietenia mahagoni (l.) jacq. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
112
Pengaruh lama pemberian ekstrak etanol daun swietenia mahagoni (l.) jacq. sebagai hepatoprotektif terhadap tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
132
Show more