Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa yang bertempat tinggal didDesa dan kota pada sepuluh SMP di Indonesia - USD Repository

Gratis

0
0
219
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG BERTEMPAT TINGGAL DI DESA DAN KOTA PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Agustin Andhika Putri NIM : 151114020 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG BERTEMPAT TINGGAL DI DESA DAN KOTA PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Agustin Andhika Putri NIM : 151114020 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Saya persembahkan karya skripsi sederhana ini kepada: Allah SWT, sumber dari segala sumber. Orang tua peneliti, Ibu dan Bapak tercinta yang selalu setia memberikan kekuatan dan peneguhan, serta doa yang dipanjatkan pada Tuhan setiap harinya. Kedua kakak ku tersayang, Sepsi Ulli Sandi & Vera Dwi Wanita yang selalu memberikan dukungan dan motivasi. Mas Sugeng Purnomo yang setia memberikan dukungan, masukan, dan waktunya untuk ku. Sahabat aku, Anita Widya Putri yang selalu menyempatkan waktunya untuk memberiku semangat dan membawa ku dalam doa. Semua Dosen Prodi BK, dan semua teman Prodi BK angkatan 2015, Universitas Sanata Dharma. iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO I’m the captain of my soul. If you think thant you can, you can. (Peneliti) Mindset is everything. Change your mindset and change your life! (Peneliti) Don’t tell someone to get over it. Help them get through it. (Sue Fitzmaurice) v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya dan bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 23 Januari 2019 Peneliti Agustin Andhika Putri vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH MAHASISWA UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Agustin Andhika Putri Nomor Mahasiswa : 151114020 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG BERTEMPAT TINGGAL DI DESA DAN KOTA PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta pada tanggal, 23 Januari 2019 Yang menyatakan, Agustin Andhika Putri vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG BERTEMPAT TINGGAL DI DESA DAN KOTA PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA Agustin Andhika Putri Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini bertujuan: 1) menghasilkan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter; 2) mengukur seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang dikembangkan meliputi nilai validitas dan reliabilitas; 3) memperoleh informasi mengenai nilai-nilai efektifitas penggunaan soal tes tersebut menurut penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia; 4) memperoleh informasi mengenai capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes tersebut pada 10 SMP di Indonesia; 5) memperoleh informasi mengenai perbedaan penilaian siswa dari berbagai wilayah desa dan kota terhadap efektifitas penggunaan soal tes tersebut pada 10 SMP di Indonesia; 6) memperoleh informasi mengenai adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di Indonesia yang berasal dari desa dan kota Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII di 10 SMP di yang berjumlah 660 siswa. Instrument penelitian ini berupa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang berbentuk pilihan ganda dengan respon bergradasi berjumlah 88 item soal dan skala penilaian validasi efektifitas model oleh siswa. Teknik uji kualitas butir soal tes menggunakan pendekatan teori Analisis Faktor Konfirmatori. Hasil karakter siswa dianalisis dengan teknik deskriptif kategori, validasi efektifitas model dianalisis dengan teknik deskriptif persentase, sedangkan perbedaan penilaian siswa terhadap validasi efektifitas dianalisis menggunakan Chi Square. Hasil penelitian: 1) ditemukan 88 item soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah diujicobakan di 10 SMP di Indonesia; 2) kualitas soalsoal tes karakter terbukti valid sebanyak 81 soal dan reliable dengan indeks reliabilitas 0,933 (sangat baik); 3) berdasarkan hasil penilaian siswa pada 10 SMP tersebut diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif; 4) capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes tersebut adalah terdapat 338 siswa dalam karakter baik dan 322 siswa masuk dalam karakter cukup baik; 5) pada 10 item pernyataan yang signifikan, anak desa menilai aspek item tersebut lebih baik daripada anak kota, sedangkan 27 item pernyataan lainnya tidak signifikan; 6) tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap capaian hasil pendidikan karakter pada siswa yang bertempat tinggal di desa dan kota dengan menggunakan soal tes. Kata kunci: validasi efektifitas, capaian hasil pendidikan karakter, karakter anak desa dan kota viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECTIVENESS VALIDATION OF THE ASSESSMENT TEST OF CHARACTER EDUCATION BASED ON CHARACTER MOVIE USAGE ON STUDENTS THAT LIVED IN RURAL AND URBAN AREA FROM TEN SMP (JUNIOR HIGH) IN INDONESIA Agustin Andhika Putri Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to: 1) produce an assessment test about character education results; 2) measuring the quality of the test questions of the movie-based character education results that developed including the values of validity and reliability; 3) obtain information about the effectiveness of the test usage according the student from 10 junior high schools in Indonesia; 4) obtain information about the student achievement of character education that measured using the test in 10 junior high schools in Indonesia; 5) obtain information about the differences in students’ assessment from various rural and urban areas related the effectiveness the test usage in 10 junior high schools in Indonesia; 6) obtain information about the differences in the achievement of the movie-based character education for several junior high school students in Indonesia from rural and urban area. The type the study is research and development study. The research subjects were students of class VII and VIII in 10 junior high schools with total subjects were 660 students. The research instrument was in the form of assessment test about the results of movie-based character education in the form of items of multiple choice questions with graded responses and the scale of model effectiveness validation that rated by students. The quality test technique for test items was using the theory of Confirmatory Factor Analysis approach. The results of student character were analyzed by category descriptive techniques, validation of the effectiveness of the model was analyzed by descriptive percentage techniques, while the differences in student ratings of validation effectiveness were analyzed using Chi Square. The results of the study shows that: 1) 88 items of assessment test about the results of movie character-based character education had been tested in 10 junior high schools in Indonesia; 2) the quality of character test proved valid as many as 81 test items and reliable with a reliability index of 0.933 (very good); 3) based on the results of student assessment from 10 Junior High School, the data shows that the product of the assessment test for character education results is very effective; 4) the achievement of character education results measured using the test questions shows that 338 students were having good character and 322 students were having quite good character; 5) on 10 items of significant statements, student who live in rural assessed the aspect of the item to be better than students who live in urban area, while the other 27 item statements are not significant; 6) there is no significant difference in the achievement of character education results for students who live in rural and urban area using the test. Keywords: effectiveness validation, achievement of character education result, character of rural and urban children. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan YME atas segala berkat dan rahmat yang telah diberikan, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Siswa yang Bertempat Tinggal di Desa dan Kota pada Sepuluh SMP di Indonesia” Selama penulisan tugas akhir ini, peneliti mendapatkan bantuan dari banyak pihak, maka peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling serta Dosen Pembimbing Skripsi peneliti yang selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan selalu memotivasi peneliti untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 3. Juster Donal Sinaga, M.Pd.selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. 4. Para Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma: Ibu Hayu, Ibu Indah, Ibu Retno, Ibu Retha, Bapak Budi, Bapak Ryan, Bapak Agus, dan Bapak Sinurat. 5. Mas Moko atas segala bantuan administrasi di Program Bimbingan dan Konseling. 6. Para Guru dan Siswa pada 10 SMP di Indonesia atas peran serta dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Orangtua peneliti yang selalu memberikan dukungan dalam bentuk semangat, motivasi, doa, dan materi kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. 8. Kedua kakak peneliti, Mbak Ully dan Mbak Vera yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Mas Sugeng Purnomo yang selalu menyempatkan waktunya untuk setia mendampingi peneliti dalam bertukar pikiran, memberikan saran, dan semangat. 10. Sahabat peneliti, Anita Widya Putri yang selalu memberikan dukungan berupa doa dan semangatnya dari jauh. 11. Teman-teman tim PSHP: Kak Ika, Prisma, Desvina, Cici, Tania, Tera, Christian, Mas Kris, dan Danang yang selalu memberikan semangat kepada peneliti. 12. Sahabat-sahabat Prodi Bimbingan dan Konseling: Hana, Mbak Kiky, Yulinda, Dewi, Anggi, Dara, Priska, Argya, Damar, Andreas, Sr. Lili, April, Indri, Lui, dan Melani yang selalu menemani peneliti dalam susah maupun senang. 13. Adik sepupu ku, Eka Damayanti yang selalu bersedia mendengarkan keluhkesah peneliti dan memberikan semangat kepada peneliti. 14. Teman-teman Prodi BK angkatan 2015 yang selalu memberikan semangat dan dorongan kepada peneliti agar segera menyelesaikan hasil karya ini. Kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membaca. Yogyakarta, 23 Januari 2019 Peneliti, Agustin Andhika Putri xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................................... iv HALAMAN MOTTO ............................................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI........................ vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR. ...........................................................................................x DAFTAR ISI. ....................................................................................................... xii DAFTAR TABEL............................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xviii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah ...............................................................................1 B. Identifikasi Masalah .....................................................................................8 C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian ...............................................10 D. Rumusan Masalah ......................................................................................10 E. Tujuan Penelitian .......................................................................................11 F. Manfaat Penelitian .....................................................................................12 G. Batasan Istilah ............................................................................................14 BAB II KAJIAN PUSTAKA ...............................................................................16 A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah .............................................16 1. Pengertian Karakter ..........................................................................16 2. Pengertian Pendidikan Karakter .......................................................19 3. Tujuan, Fugsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter ..................20 4. Nilai-nilai Karakter Utama yang Dikembangkan dalam Pendidikan (SMP) ................................................................................................22 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes .....................................................27 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes ...........................................27 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen .............................................................29 3. Ruang Lingkup Asesmen ..................................................................31 4. Prinsip-prinsip Asesmen ...................................................................31 5. Jenis-jenis Asesmen ..........................................................................33 6. Teknik-teknik Asesmen ....................................................................36 7. Tes Sebagai Teknik Asesmen ...........................................................38 C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah .............................39 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter ...........................................39 2. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter ..................................39 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes ..........................................................40 4. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter ........................................................................44 5. Hambatan-hambatan dan Kesulitan-kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia ..........................................51 D. Media Film dalam Pendidikan Karakter ...............................................55 1. Karakteristik Media Film Karakter ...................................................55 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter ...........56 3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter ..........................................................................................................57 4. Film sebagai Media Asesmen ...........................................................58 5. Film sebagai Media Tes dalam Pendidikan Karakter .......................59 6. Prosedur Pengembangan Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film ....................................................................................61 E. Hakikat Kota dan Desa ...........................................................................64 1. Pengertian Kota dan Desa .................................................................64 2. Kehidupan Sosial Penduduk Desa ....................................................65 3. Ciri-ciri Masyarakat Desa .................................................................66 4. Kehidupan Sosial Penduduk Kota ....................................................68 5. Ciri-ciri Masyarakat Kota .................................................................69 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI F. Kajian Penelitian yang Relevan ..............................................................73 G. Kerangka Pikir .........................................................................................74 H. Hipotesis Penelitian ..................................................................................76 BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................77 A. Model Pengembangan ..............................................................................77 B. Prosedur Pengembangan .........................................................................78 1. Revisi Produk Operasioanl ...............................................................82 2. Uji Lapangan Produk ........................................................................83 C. Uji Coba Produk.......................................................................................84 1. Desain Uji Coba ................................................................................84 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk ..............................84 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ...........................................87 1. Teknik Pengumpulan Data................................................................87 2. Instrumen Pengumpulan Data ...........................................................89 E. Teknik Analisis Data ................................................................................92 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................105 A. Hasil penelitian .......................................................................................105 1. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yg diujikembangkan dalam penelitian ini .........................105 2. Kualitas Soal-Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia .......107 a. Validitas Soal Tes ....................................................................107 b. Reliabilitas ...............................................................................114 3. Nilai Validasi Efektifitas Penggunaan Produk ...............................115 4. Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang Diukur dengan Menggunakan Soal Tes yang Dikembangkan pada 10 SMP di Indonesia .........................................................................................118 5. Perbedaan Penilaian Siswa dari Berbagai Wilayah Desa dan Kota Terhadap Validitas Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Pada 10 SMP di Indonesia .........................................................................................120 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Pada Beberapa Siswa SMP di Indonesia yang Berasal Dari Desa dan Kota dengan Menggunakan Produk Soal Tes Tersebut. ..........................124 B. Pembahasan ............................................................................................126 BAB V PENUTUP .............................................................................................134 A. Simpulan Tentang Produk ......................................................................131 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................136 C. Saran .........................................................................................................137 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................139 LAMPIRAN ........................................................................................................143 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tempat Penelitian ..................................................................................84 Tabel 3.2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian .......................................................85 Tabel 3.3 Waktu dan Tempat Penelitian ...............................................................86 Tabel 3.4 Konstruk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter ......................90 Tabel 3.5 Ukuran Kaiser-Meyer Olkin (KMO) ....................................................96 Tabel 3.6 Nilai Koefisien Alpha ............................................................................99 Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe I ............................................................................100 Tabel 3.8 Rumus Norma Tiga Kategorisasi ........................................................101 Tabel 4.1 KMO and Bartlett’s Test Nilai Karakter Hubungan dengan Tuhan ....107 Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Soal Tes Karakter Hubungan dengan Tuhan ........108 Tabel 4.3 KMO and Bartlett’s Test Nilai Karakter Hubungan dengan Diri Sendiri dan Hubungan dengan Sesama ............................................................108 Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Diri Sendiri dan Hubungan dengan Sesama ................................................109 Tabel 4.5 KMO and Bartlett’s Test Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Lingkungan ..........................................................................................111 Tabel 4.6 Uji Validitas Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Lingkungan …… ......................................................................................................112 Tabel 4.7 KMO and Bartlett’s Test Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Kebangsaan .........................................................................................113 Tabel 4.8 Uji Validasi Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Kebangsaan ..............................................................................................................113 Tabel 4.9 Reliability Statistic ..............................................................................114 Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Validitas Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada 10 SMP di Indonesia ......................................115 Tabel 4.11 Kategorisasi Hasil Validitas Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa ..................................................................................................117 Tabel 4.12 Rumus Norma Tiga Kategorisasi ......................................................118 Tabel 4.13 Pengkategorisasian Karakter Siswa...................................................119 Tabel 4.14 Capaian Hasil Pendidikan Karakter ..................................................120 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.15 Perbedaan Penilaian Siswa Desa dan Kota Terhadap Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ......................................................................121 Tabel 4.16 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Desa dan Kota ...............124 Tabel 4.17 Independent Sample Test Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Desa dan Kota ...................................................................................125 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Komponen Karakter..........................................................................18 Gambar 2.2 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ......................................................................75 Gambar 3.1 Bagan Prosedur Penelitian dan Pengembangan (Borg and Gall 2003) ............................................................................................................80 Gambar 4.1 Bentuk Fisik DVD Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter 106 Gambar 4.2 Contoh Soal Tes Asesmen Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ...........................................................................................106 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Tabulasi Data Hasil Karakter 660 Siswa di 10 SMP di Indonesia 144 Lampiran 2 Tabulasi Validasi Efektifitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter ...........................................................................................157 Lampiran 3 Konstruk Baru Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter .......167 Lampiran 4 Hasil Perbedaan Penilaian Efektifitas Soal Tes Menurut Siswa Desa dan Kota.................................................................................................168 Lampiran 5 Lembar Jawab Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter .......188 Lampiran 6 Lembar Validasi Siswa ...................................................................190 Lampiran 7 Dokumentasi ...................................................................................192 Lampiran 8 Surat Ijin Penelitian ........................................................................193 Lampiran 9 Surat Pernyataan Kesediaan Mitra ..................................................194 Lampiran 10 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ............................195 Lampiran 11 Daftar Hadir Siswa........................................................................196 xix

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah atau fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, spesifikasi produk yang dikembangkan, manfaat penelitian, dan definisi istilah yang digunakan dalam penelitian ini. A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pendidikan karakter telah lama diberlakukan di sekolah dan menjadi poin penting yang dilihat oleh pemerintah. Alasannya, Indonesia membutuhkan individu yang berkarakter kuat dan bermartabat untuk menjadi generasi penerus bangsa. Pelaksanaan pendidikan karakter harus diikuti dengan penilaian untuk mengetahui tingkat keberhasilan program yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, evaluasi atau penilaian sangat diperlukan. Sehubungan dengan itu, Barus (2016) mengatakan “perlu dilakukan evaluasi komperhensif tentang keterlaksanan, hambatan-hambatan, dan efektivitas pendidikan karakter yang telah berlangsung.” Sebetulnya, apakah sudah ada penilaian hasil pendidikan karakter di sekolah? Jika sudah, apakah evaluasi yang dilakukan sudah cukup efektif dan memenuhi standar yang baik untuk mengukur karakter peserta didik? Pada kenyataannya, pemerintah belum mengembangkan pengukuran atau alat tes atau model evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil pendidikan karakter siswa di sekolah terutama di SMP. 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Kalaupun ada, model evaluasi yang digunakan hanya mengukur sebatas skala sikap dan berhenti pada skala kognitif saja. Padahal hasil capaian pendidikan karakter peserta didik seharusnya diukur sampai takaran tindakan. Maka tidak heran apabila masih ada penyimpangan perilaku di kalangan pelajar seperti; tindakan kriminalitas, tawuran antar pelajar, bulliying, menyontek, dan sebagainya. Oleh sebab itu, peneliti mengembangkan alat ukur hasil capaian karakter yang digunakan untuk mengoptimalkan program pendidikan karakter yang telah lama ditetapkan oleh pemerintah. Lagi pula, memberikan penilaian hasil pendidikan karakter pada siswa sangat lah sulit. Menurut wawancara Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dengan Guru BK pada 10 SMP di Indonesia, mereka merasa kesulitan dalam memberikan nilai yang berdasarkan pada prinsipprinsip abstrak. Pada pelaksanaannya, guru hanya melakukan penilaian dengan cara mengira-ngira saja. Teknik penilaian yang seperti itu besar kemungkinan mengandung unsur subjektifitas yang tinggi atau like and dislike. Kebanyakan guru menilai siswa hanya dari penampilan dan kognitif saja, bukan dari perilaku yang mendalam. Hal tersebut sangat merugikan siswa, karena yang dilihat hanya siswa yang bermasalah saja. Apakah siswa yang terlihat baik atau alim tidak perlu diukur karakternya? Lalu, dengan model penilaian yang seperti itu, apakah berhasil untuk mengukur perubahan karakter siswa yang awalnya amoral menjadi

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 karakter yang bermartabat? Demi pengembangan pelaksanaan pendidikan karakter yang lebih baik lagi kedepannya, penting bagi guru untuk mengevaluasi hasil pendidikan karakter dengan cara yang efektif dan adil. Menurut wawancara Tim PSHP dengan Guru Mata Pelajaran di beberapa SMP di Indonesia, dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemerintah belum melakukan pengembangan evaluasi atau penilaian hasil karakter siswa melalui pendidikan karakter. Oleh sebab itu, guru-guru hanya mengandalkan observasi, kuesioner, skala sikap, dan penerapan sistem poin yang tentunya memiliki kelemahan dan subjektifitas. Barus (2016) mengungkapkan bahwa: Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran pelanggaran „kejahatan‟ siswa harus dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang sepenuhnya negative pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Patokan penilaian yang menggunakan sistem poin dirasa tidak memiliki keadilan dan keseimbangan. Tidak hanya sistem poin, penilaian like and dislike juga berlaku terlebih pada siswa yang berasal dari desa mapun kota. Kesenjangan tersebut akan mempengaruhi kualitas penilaian oleh beberapa guru yang melihat siswa hanya dari cover-nya saja. Sebenarnya, banyak aspek yang perlu diperhitungan dan dipertimbangan dalam menilai karakter siswa. Aspek-aspek tersebut seperti: latar belakang keluarga, lokasi tempat tinggal di desa maupun kota, pekerjaan orangtua, perekonomian, latar belakang pendidikan orangtua, suku, status orangtua,

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 dll. Beberapa aspek tersebut kemungkinan besar dapat mempengaruhi penyerapan pendidikan karakter yang diberikan di sekolah, khususnya anak yang berasal dari kota dan desa. Perbedaan dalam menginternalisasi dan menaruh perhatian terhadap pentingnya pendidikan karakter pada anak desa dan anak kota, akan berdampak pada terbentuknya karakter pada dirinya. Berdasarkan observasi Tim PSHP, siswa kota cenderung menganggap pendidikan karakter bukanlah hal yang begitu penting baginya. Mereka cenderung bersikap individual, masa bodoh, dan cuek terhadap sikap orang lain. Berbeda dengan anak desa, mereka sangat antusias mengenai pentingnya berperilaku baik dan buruk. Dari hasil observasi peneliti, terlihat bahwa anak-anak desa memiliki rasa simpati dan empati yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suhada, Idad (2016: 147) yang mengatakan bahwa ciri-ciri kehidupan sosial masyarakat desa adalah masih adanya hubungan erat dan mendalam antar manusia, menjunjung tinggi sistem kekeluargaan, gotong royong dan saling membantu. Ia juga mengatakan bahwa ciri-ciri kehidupan sosial masyarakat kota adalah kehidupan keluarga sukar disatukan dan cara kehidupan ke arah duniawi. Sikap dan sifat semacam itu yang dapat mempengaruhi karakter siswa. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka peneliti mengangkat subjek anak desa dan anak kota untuk diteliti capaian hasil pendidikan karakternya. Apakah hasil pendidikan karakter yang diperoleh anak desa lebih baik dari anak kota? Atau bahkan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 sebaliknya? Lalu, bagaimana cara guru melakukan penilaian atau evaluasi terhadap hasil pendidikan karakter terhadap anak desa dan anak kota? Beberapa pertanyaan tersebut bertepatan dengan penjelasan Barus (2017) yang mengatakan bahwa,“most of the respondents (73%) acknowledged that the character education assessment is is very important, while 25% of 51 teachers considered the assessment as important and only 1 person (2%) rated it as less important.” Artinya, penilaian hasil pendidikan karater dianggap penting oleh guru (73%) agar guru mengetahui sampai tingkat manakah perilaku peserta didik yang tercermin berkarakter mengalami peningkatan dan sampai pada tingkat manakah peserta didik berkembang dalam hal mempraktikkan karakter tersebut. Oleh sebab itu, karena sistem penilaian yang dilakukan oleh guruguru banyak kekurangan, maka Tim PSHP merancang suatu model evaluasi dalam bentuk tes berbasis film. Produk ini dapat digunakan untuk melihat capaian hasil pendidikan karakter siswa. Bukan hanya itu saja, peneliti juga menyebarkan angket penilaian efektivitas produk kepada siswa agar produk tersebut dapat teruji kualitasnya. Model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016 tentang prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Penelitian tahun 20142016 membuktikan bahwa 440 soal karakter yang di uji ternyata valid, reliabilitasnya sangat bagus, memiliki daya beda yang baik, dan memiliki

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 tingkat kesukaran yang berdiferensiasi. Soal-soal yang dikembangkan sudah memberikan bukti cukup baik, namun pengujian efektivitasnya perlu dilanjutkan dan diujikan pada wilayah yang lebih luas. Sedangkan, model asesmen/evaluasinya belum dikembangkan. Model pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning telah diinternalisasikan pada banyak sekolah di berbagai kota dan desa. Untuk itu, diterbitkan Buku Pendidikan Karakter di SMP jilid 1, 2, dan 3 (ber-ISBN) dan dipublikasikan secara nasional. Bersamaan dengan membangun legitimasi dan gerakan habitualisasi produk penelitian tersebut pada sekolah mitra secara nasional, sustainabilitas proses penelitian pengembangan ini perlu dilanjutkan dengan penguatan sistem penilaiannya dan ditargetkan dapat menghasilkan produk berupa Model Asesmen Hasil Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Media Film Karakter. Diharapkan produk ini dapat digunakan guru mata pelajaran dan khususnya guru BK dalam melaksanakan asesmen hasil pendidikan karakter yang lebih efektif, objektif, valid, praktis, dan berkeadilan di SMP. Penelitian berbasis media film ini dipilih karena film lebih menggambarkan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter yang mampu menginternalisasi dibandingkan dengan pengukuran metode lainnya. Sesuai dengan kekuatan film menurut Kustandi & Sutjipto (2013) bahwa film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film dapat melengkapi pengalaman-

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 pengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Potongan film yang digunakan berdurasi 1-2 menit yang memvisualisasikan dilema moral. Berdasarkan film tersebut siswa diminta untuk menjawab soal-soal yang menyertainya. Penggunaan evaluasi berbasis film dirasa efektif karena langsung menyentuh pada dilemadilema moral remaja. Potongan-potongan film yang akan ditampilkan sesuai dengan nilai-nilai karakter peserta didik di SMP. Hal tersebut dilakukan agar siswa dapat secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang terjadi. Sehingga yang dinilai bukan hanya perilaku anak yang bermasalah saja, namun semua peserta didik yang ada di sekolah. Tidak ada lagi penilaian subjektivitas (like and dislike) dan tidak ada lagi kelemahan-kelemahan observasi yang dapat ditutupi oleh guru. Berdasarkan kebutuhan di atas, peneliti sebagai Tim Penelitian Stranas Institusi yang diketuai oleh Dr. Gendon Barus, M.Si ingin melanjutkan tahapan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (2017) sampai pada tahap ke 6. Oleh sebab itu, peneliti melanjutkan pengujian produk tahap ke 7 dan 8, yaitu Revisi Produk Operasional dan Uji Lapangan Produk dengan mengangkat judul “VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG BERTEMPAT

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 TINGGAL DI DESA DAN KOTA PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi berbagai masalah, sebagai berikut: 1. Penilaian karakter siswa hanya mengandalkan observasi, sering subjektif dan tidak berkeadilan dalam menilai karakter siswa. Guru hanya menerapkan sistem penilaian dengan mengira-ngira saja dan besar kemungkinan mengandung unsur subjektifitas yang tinggi atau like and dislike. 2. Penilaian pendidikan karakter yang ada terlalu fokus mengukur peserta didik yang bermasalah saja dan tidak menyeluruh. 3. Para guru belum mengenal cara lain untuk mengukur karakter peserta didik dan belum pernah ada model pengukuran berbasis tes film karakter. 4. Pelaksanaan pendidikan karakter di SMP masih berada dalam tahap pengetahuan/kognitif dan belum sampai pada tahap internalisasi kehidupan sehari-hari. 5. Tidak tersedia alat dan cara evaluasi yang efektif digunakan dalam mengevaluasi pendidikan karakter di SMP. 6. Model evaluasi yang dilakukan selama ini hanya menggunakan paper based test, wawancara/tanya jawab, cerita, observasi, penilaian diri,

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dan pengamatan. Hal ini dinilai kurang optimal, sehingga peserta didik kurang menghayati/menginternalisasi dalam kehidupan mereka. 7. Penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter belum diketahui efektifitasnya dalam memperlihatkan penilaian karakter siswa di lihat dari siswa yang bertempat tinggal di desa dan kota. 8. Belum diketahui secara pasti soal tes hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya efektif atau tidak diterapkan di sekolah dengan sampel yang lebih luas. 9. Beberapa SMP di Indonesia belum pernah melaksanakan model pengukuran karakter menggunakan soal tes asesmen penelitian pendidikan karakter berbasis film. 10. Penggunaan film dirasa cukup efektif dalam memperkenalkan kasuskasus degradasi moral, dilema moral, dan pertentangan nilai yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari pada siswa SMP, dibandingkan hanya dengan menyebar kuesioner, wawancara, ataupun cerita kepada peserta didik. C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah dan mengingat adanya keterbatasan penelitian, maka fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalah-masalah pada butir 5, 8, dan 9. Fokus penelitian ini diarahkan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 pada tahapan pengembangan dan uji penggunaan alat dan evaluasi efektifitas soal tes pendidikan karakter siswa berbasis film pada wilayah yang lebih luas dengan karakteristik sampel (siswa/i dipedesaan dan diperkotaan). D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian ini, dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus penelitian dan pengembangan (research and development) sebagai berikut: 1. Seperti apa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujikembangkan pada 10 SMP di Indonesia?? 2. Seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia? 3. Menurut penilaian siswa kualitas efektifitas apa saja yang terpenuhi dalam penggunaan soal tes yang dikembangkan tersebut? 4. Seperti apa capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes yang dikembangkan tersebut pada 10 SMP di Indonesia ? 5. Apakah terdapat perbedaan penilaian siswa dari berbagai wilayah desa dan kota terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia?

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 6. Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di Indonesia yang berasal dari desa dan kota dengan menggunakan produk soal tes tersebut ? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menghasilkan soal tes asesmen pendidikan karakter. 2. Mengukur seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia. 3. Memperoleh informasi mengenai kualitas efektifitas yang terpenuhi dalam penggunaan soal tes yang dikembangkan tersebut menurut penilaian siswa. 4. Memperoleh informasi mengenai capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes yang dikembangkan pada 10 SMP di Indonesia 5. Memperoleh informasi mengenai perbedaan penilaian siswa dari berbagai wilayah desa dan kota terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. 6. Memperoleh informasi mengenai capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di Indonesia yang berasal dari desa dan kota dengan menggunakan produk soal tes tersebut.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk berbagai pihak, baik itu manfaat secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan kajian tentang efektivitas penilaian karakter siswa di SMP serta diharapkan mampu menambah wawasan dan pengembangan penelitian serupa terutama pada ranah pendidikan karakter. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan mengenai evaluasi/penilaian pengukuran pendidikan karakter menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Selain itu penelitian ini juga dilaksanakan dalam rangka untuk menemukan model alternatif sistem penilaian dan pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia. b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi kepala sekolah dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Bagi guru pendidik karakter (konselor sekolah/guru BK dan guru mata pelajaran) di SMP, proses dan produk penelitian pengembangan ini diharapkan

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 dapat memberikan suatu model asesmen pendidikan karakter berbasis media film yang lebih efektif (fisibel, realistik, ekonomis, relatif praktis dan mudah digunakan) untuk mengukur hasil pendidikan karakter di sekolah. c. Bagi lembaga pendidikan Prosedur dan hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi alternatif untuk pengembangan konsep bimbingan dan konseling pendidikan karakter di sekolah, kususnya di SMP. d. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui dan memahami efektifitas model penilaian pendidikan karakter melalui soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film. Selain itu peneliti juga berkesempatan untuk membuat dan mengaplikasikan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis media film di sekolah. e. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh penelitia lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan topik pendidikan karakter di sekolah. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan peneliti lain sebagai sumber pengetahuan tambahan bagi peneliti yang berminat meneliti pengembangan soal tes hasil pendidikan karakter berbasis media film guna meningkatkan karakter positif peserta didik.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 G. BATASAN ISTILAH Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1. Efektivitas adalah suatu keadaan/kondisi untuk mengukur kegiatan tertentu apakah dapat berhasil sesuai dengan target yang telah ditentukan atau tidak. Target tersebut dapat dilihat melalui kuantitas, kualitas, dan waktu pelaksanaan kegiataan, dimana ketika semakin tinggi presentase target yang dicapai maka efektivitasnya juga akan semakin tinggi. 2. Soal tes adalah seperangkat pernyataan atau pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda yang berkaitan dengan dilema moral dan memuat beberapa pertanyaan seputar pendidikan karakter untuk mengukur perilaku secara objektif. 3. Asesmen hasil adalah merupakan proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang ditetapkan. 4. Pendidikan karakter adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh lembaga sekolah melalui guru yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter pribadi siswa secara otentik dan mengarah pada perilaku/karakter yang baik demi kemajuan penerus bangsa. 5. Penggunaan film sebagai media film adalah potongan-potongan video yang berkaitan dengan dilema moral pada kebanyakan anak SMP dan dapat mengukur tentang sejauh mana siswa/i menginternalisasi video tersebut dalam kehidupannya.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 6. Siswa desa adalah siswa yang tinggal dan hidup dengan nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat pedesaan. 7. Siswa kota adalah siswa yang tinggal dan hidup berdasarkan nilai-nilai masyarakat modern.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah; hakikat evaluasi, asesmen dan tes; hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah; media film dalam pendidikan karakter; hakikat kota dan desa; kajian penelitian yang relevan; dan kerangka pikir. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Berkowitz (Doni Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai sekumpulan karakter psikologis yang mempengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral. Selain itu, Pritchard (Doni Koesoema, 2012: 27) mengatakan bahwa karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.” Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter ini memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Dalam buku yang ditulis oleh Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan bahwa: karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, 16

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Selanjutnya, Lickona (Akhwan, 2014: 61) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ia juga mengatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Yaumi (2014: 7) mengatakan bahwa komponen karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Ia juga mengatakan, karakter seseorang terpisah dari moralitasnya, baik buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. Kebenaran tidak akan terbangun dengan sendirinya tanpa adanya karakter. Moralitas dan kebenaran yang telah terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik. Kebaikan inilah yang mendorong suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan sikap adalah bagian integral yang menyatu dengan karakter.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Moralitas Kebenaran Sikap KARAKTER Kekuatan Kebaikan Gambar 2.1 Komponen Karakter Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Moral berarti pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat, tindakan/kebiasaan seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Meskipun keduanya memiliki arti yang berbeda, namun moral dan karakter memiliki keterkaitan. Karakter memiliki makna lebih tinggi dari pada moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Moral merupakan salah satu komponen yang dapat membentuk karakter individu, ketika moral behavior dapat dilakukan secara berulang. Jadi, dapat dikatakan karakter adalah suatu kebiasaan (habituation) untuk melakukan yang baik berdasarkan pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 2. Pengertian Pendidikan Karakter Burke (Samani & Hariyanto, 2011: 43) juga mengatakan bahwa “pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.” Selain itu, menurut Samani & Hariyanto (2011: 44) mengatakan bahwa “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.” Mereka juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Character Education Partnership (CEP) (Doni Koesoema, 2012: 57) sebuah program nasional pendidikan karakter di Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan karakter adalah sebagai berikut: Sebuah gerakan nasional untuk mengembangkan sekolah-sekolah agar dapat menumbuhkan dan memelihara nilai-nilai etis, tanggung jawab dan kemauan untuk merawat satu sama lain dalam diri anakanak muda, melalui keteladanan dan pengajaran tentang karakter baik, dengan cara memberikan penekanan pada nilai-nilai universal yang diterima oleh semua. Gerakan ini merupakan usaha-usaha dari sekolah, distrik, dan Negara bagian yang sifatnya intensional dan proaktif untuk menanamkan dalam diri para siswa nilai-nilai moral inti, seperti perhatian dan perawatan (caring), kejujuran, keadilan (fairness), tanggung jawab dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Beberapa definisi diatas dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian bekal atau penanaman nilai moral mengenai karakter pribadi yang baik, sopan, bertanggungjawab, memiliki rasa hormat, jujur, adil, menghargai dan memahami satu sama lain yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah. 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Menurut Kemendiknas (2010) Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan pendidikan pada pasal 17 ayat (3) “Pendidikan dasar, termasuk sekolah menengah pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.” Melalui penjelasan pada pasal tersebut jelas bahwa tujuan dari pendidikan sangat berkaitan dengan pendidikan karakter. Dapat disimpulkan bahwa melalui pendidikan di sekolah nilai-nilai karakter dapat diterapkan agar membawa perubahan bagi peserta didik dalam hal; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; memiliki ilmu, cakap, kritis, kreatif,

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 dan inovatif; selain itu juga mampu membantu peserta didik menjadi pribadi yang sehat, mandiri dan percaya diri; serta memiliki rasa toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145146). Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guruguru karakter, dan manifestasi karakter 4. Nilai-Nilai Karakter Utama yang Dikembangkan dalam Pendidikan (SMP) Kemendiknas (2010) (Wardani, 2018: 14) mengungkapkan bahwa hasil diskusi dan sarasehan tentang “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa”, menghasilkan “Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Budaya dan Karakter Bangsa” untuk berbagai wilayah Indonesia yang terdiri dari beberapa nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan, yaitu: karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, nasionalisme, inovatif, daya juang, rendah hati, memaafkan, kepemimpinan, dan kerja keras. Akan tetapi, pada tingkat SMP dipilih 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar 20 nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya. a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius). Nilai ini berkaitan dengan pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. b. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri. 1) Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. 2) Bertanggung jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan,

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. 3) Bergaya hidup sehat. Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. 4) Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5) Kerja keras. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. 6) Percaya diri. Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. 7) Berjiwa wirausaha. Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. 9) Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 10) Ingin tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 11) Cinta ilmu. Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. c. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. 1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain. Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. 2) Patuh pada aturan-aturan sosial. Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 3) Menghargai karya dan prestasi orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. 4) Santun. Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. 5) Demokratis. Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. e. Nilai kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 1) Nasionalis. Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. 2) Menghargai keberagaman. Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama. Beberapa karakter tersebut dijadikan landasan oleh peneliti untuk mengukur karakter beberapa anak SMP di Indonesia. Karakter-karakter tersebut diciptakan dalam bentuk potongan film pendek yang diikuti dengan soal-soal karakter yang sesuai dengan potongan film. Soal yang berjumlah 88 tersebut digunakan sebagai produk asesmen pendidikan karakter bagi beberapa siswa SMP di Indonesia. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Wringston (Purwanto, 1992) mengemukakan bahwa, “evalusi adalah penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.” Selanjutnya, Lessingner (Hartatik, 2014: 29) mendefinisikan bahwa “evaluasi adalah sebagai proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan dengan kemajuan/prestasi nyata yang dicapai.” Sementara Gay (Sukardi, 2014: 8) berpendapat bahwa evaluasi adalah sebuah proses sistematis pengumpulan dan penganalisisan data

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi adalah proses penilaian, pengumpulan, dan menganalisis data atau suatu kejadian pada kenyataan dengan program atau tujuan yang sudah ditetapkan. b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Linn dan Grounlund (Uno dan Koni, 2012: 1) menegaskan “asesemen (penilaian) adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.” Selain itu, Sarwiji Suwandi (2009: 7) juga mengatakan bahwa “penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan.” Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai siswa, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2001). Jadi, penilaian adalah suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data tentang suatu proses dan hasil belajar siswa untuk mendapatkan informasi, apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan tujuan atau standar yang ditetapkan atau belum.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 c. Pengertian Tes Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 67) mengatakan bahwa “tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.” Arikunto (2012) menegaskan “tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa.” Menurut Brown (Elis Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 128), “a test as a systematic procedure for measure a sample of behavior”, yang menjelaskan bahwa pada prinsipnya suatu tes merupakan suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel tingkah laku seseorang. Jadi, tes adalah suatu ukuran penilaian yang dijadikan patokan oleh individu (guru) untuk mengukur kemampuan individu yang diberikan tes (siswa). 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Menurut pedoman penilaian Depdikbud (Jihad & Haris. 2008: 63), tujuan penilaian adalah “untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar.” Sementara Jihad & Haris (2008: 63) juga mengatakan bahwa “tujuan penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan belajar siswa, dan sekaligus memberi umpan balik yanf tepat.”

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Sehubungan dengan itu, Suwandi, Sarwiji (2009: 14) mengatakan bahwa “secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum.” b. Fungsi Asesmen Menurut Supranata & Hatta (Suwandi, Sarwiji. 2009: 15) mengatakan bahwa penilaian berbasis kelas memiliki sejumlah fungsi, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik, dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi terhadap kinerjanya serta bercermin diri (instropeksi) misalnya melalui portofolio. Menurut Nana Sudjana (Jihad & Haris. 2008: 56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian (asesmen) harus mengacu kepada tujuan-tujuan intruksional. b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengjar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan siswa kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan belajar siswa dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya. 3. Ruang Lingkup Asesmen Uno, Hamzah, dan Satria Koni (2012:17) menjelaskan bahwa isi model penilaian kelas ini meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengolahan hasil penilaian serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan rambu-rambu penilaian. Teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian. 4. Prinsip-prinsip Asesmen Depdiknas tahun 2002 (Suwandi, Sarwiji. 2009: 21) mengatakan bahwa prinsip umum penilaian (asesmen) meliputi: a. Valid, artinya penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya dan sahih. b. Mendidik, artinya penilaian harus memberi sumbangan yang positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa, seperti memotivasi siswa yang berhasil dan memberikan semangat untuk meningkatkan hasil belajar siswa. c. Berorientasi pada kompetensi, artinya mampu menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 d. Adil dan objektif, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa. e. Terbuka, artinya kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. f. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap teratur, terus menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. g. Menyeluruh, artinya penilaian dilaksanakan secara menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berlandaskan berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa. h. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami dan mudah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Selanjutnya menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku,

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar. b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tindak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya. d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 5. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Selanjutnya, Subali (2016) mengatakan berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik sebelum menem[uh program pengajaran. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan. b. Asesmen formatif. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien. c. Asesmen sumatif. Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori. Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai tanpa dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh. Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran yang menggunakan instrument yang sahih dan handal. Dalam hal kegiatan

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Sementara itu, menurut Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes. a. Tes. Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektifitas pemberi skor. b. Non tes. Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret. Konsekuensi dari pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua siswa. 6. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian siswa adalah menggunakan teknik tes dan teknik nontes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan siswa secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat.sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara Tanya jawab. c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan. Mereka juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian siswa dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis, ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Selanjutnya Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) juga mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas; b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa; c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis; d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya;

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku siswa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Namun, Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normative dan tes kriterion. Suatu tes dikatakan sebagai tes normative apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa membandingkan hasil penilaian individu antara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan Kriterion jika para evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 7. Tes sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment). C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Evaluasi pendidikan karakter di SMP sangat relevan dilakukan dalam upaya untuk melihat secara jujur dan objektif apakah pendidikan karakter di SMP sungguh ada dan terlaksana sesuai dengan tujuan, prinsip, asas, dan mekanisme penyelenggaraan pelayanan bimbingan secara konseptual. Apabila itu terlaksana, apakah program itu menguntungkan, berfungsi dan bermanfaat menunjang perkembangan peserta didik? Jika dalam pelaksanaan program ditemukan faktor-faktor kendala atau hambatan, lalu apa yang perlu diperbaiki? Semua ini membutuhkan data dan analisis yang sistemis melalui program yang diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh penyelenggara program. 2. Teknik-Teknik Asesmen Pendidikan Karakter Akhlak mulia atau karakter adalah suatu hal yang bersifat abstrak. Meskipun absrak, karakter seseorang dapat diketahui melalui asesmen. Pendidikan karakter saat ini dimasukan dalam pembelajaran di sekolah melalui mata pelajaran yang memiliki kaitan dengan moral seperti; pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, budi pekerti. Sebagai sebuah pelajaran maka guru harus membuat definisi-definisi operasional

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 dan indikator untuk mengukur dan menilai kemudian mengevaluasi karakter siswa. Menurut Zainul & Nasution (2005: 5-8) sebagai sebuah pelajaran pendidikan karakter harus dikenakan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu, sedangkan penilaian adalah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran baik melalui instrumen tes maupun non tes. Pengukuran dan penilaian melalui instrumen tes seperti (pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat, atau isisan singgkat, menjodohkan, performans, benar-salah, tes lisan, portofolio. Melalui intrumen non tes (observasi, catatan anekdota, daftar cek, skal nilai, angket atau kuesioner, wawancara dan rangkuman, Prijowuntato (2016: 60). Maka guru perlu mengukur dan menilai berdasarkan indikator-indikator yang jelas sebagai landasan dalam melakukan pengukuran dan penilaian pendidikan karakter dengan menggunakan istumen asesmen yang ada. 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes Banyak metode yang digunakan untuk mengukur perkembangan belajar terutama pendidikan karakter dari peserta didik di sekolah. Permasalahan yang ditemukan adalah bahwa guru mengalami kesulitan karena metode tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikatorindikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 kelas, kepedulian kepada teman. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah nilai kira-kira sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan like and dislike, hal itu sangat merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki problem, yaitu subjektivitas yang tinggi. Menurut Prijowuntato, (2016: 66) kekuatan observasi adalah pemunculan gejala dan pengamatannya dapat dilakukan sekaligus oleh pengamat, dapat merekam atau mencatat berbagai tingkah laku peserta didik, hasil observasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Tetapi kelemahan dari observasi ialah banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol sebelumnya sehingga hasilnya kurang reliabel, tingkah laku tidak asli lagi, apabila yang diamati mengetahui bahwa tingkah lakunya sedang diamati. Arikunto (2003) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut: a. Kelebihan tes objektif 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat memnggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. 9) Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. b. Kelemahan tes objektif 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka. 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut. 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya. 7) Tidak biasa megajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choise), isian (completion), jawaban singkat (short answer), dan menjodohkan (matching). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. Salah satu bentuk tes objektif yaitu pilihan ganda mempunya kelebihan dan kelemahan sebagai berikut: a. Kelebihan 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban 5) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 b. Kelemahan 1) Proses penyusunanya membutuhkan waktu yang lama 2) Sulit menemukan pengacau 3) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide 4) Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca. 4. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter. Untuk mendapatkan instrumen tes yang baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014: 14-20) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur. Yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur. Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala c. Oprasionalisasi aspek. Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan. Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode penskalaannya. d. Penulisan item. Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nantinya penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-iten yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item. Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya item-item yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis item. pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan. g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data. j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Berkaitan dengan hal itu, Fernandes dan Soeharto (Suwandi, 2010: 57) mengatakan ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 g. Menyetel tes yang sudah final. h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian). i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas). Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 5964) prinsip-prinsip pengambangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan. Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal. Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 190 butir soal yang valid akan dipilih 80 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal. Riview dan refisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa. d. Uji coba dan analisis. Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Praktikan soal. Soal-soal yang baik hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan. g. Penskoran. Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif. h. Pelaporan hasil tes. Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. i. Pemanfaatan hasil tes. Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukanya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan penggunaan bahwa tes harus prinsip-prinsip memiliki pengembangan langkah-langkah; dan seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada berkepentingan peserta agar dapat didik dan pihak-pihak dimanfaatkan sebagai yang bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. 5. Hambatan-Hambatan dan Kesulitan-Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia. Menurut Barus, dkk (2017: 47) Hambatan-hambatan dan kesulitankesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. b. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagain besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. c. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP,

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai. d. Sebagaian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakes karakter siswa, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negative (pelanggaran tata tertib). e. Meski sebagaian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter siswa yang paling sering digunakan,meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. f. Sebagain besar guru pada 11 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. g. Sebagaian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal” mendaratkan perencanaan itu dengan hasil yang baik. h. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. i. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeribelum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolah-sekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan Karakter” bagi semua siswa di kelas. j. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran siswa bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter. k. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. l. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak siswa berperilaku buruk, kurang sopan, melanggar peraturan/tata tertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada siswa yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. m. Jadi, maraknya perkelahian antarsiswa, mengganasnya perilaku bullying dan “klitih”, makin menggilanya perilaku sex bebas dan aborsi di kalangan remaja, bisa jadi merupakan sinyal “gagalnya” pendidikan karakter di sekolah dan keluarga.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 n. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelasanaannya sebagian besar masih sebatas perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. o. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi responsi mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 11 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip asesmen afektif yang benar. p. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. q. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggung jawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. r. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter siswa yang diperoleh dengan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 cara-cara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas siswa. Jangan-jangan cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan siswa, dan mengaburkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya. D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter 1. Karakteristik Media Film Karakter Menurut Kustandi dan Sutjipto (2016: 64) film atau gambar merupakan kumpulan gambar-gambar dalam frame. Sedangkan Susilana (Desma dan Muhammad, 2016: 35) mengatakan bahwa media film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual dan gerak. Sama halnya menurut Trianton (Desma dan Muhammad, 2016: 35) media film adalah alat penghubung yang berupa film, media masa alat komunikasi seperti radio, televise, surat kabar, majalah yang memberikan penerangan kepada orang banyak dan mempengaruhi pikiran mereka. UU No. 8 Tahun 1992 Pasal 3 juga menjelaskan bahwa perfilman di Indonesia diarahkan pada pelestarian dan pengembangan nilai budaya bangsa, pembangunan watak dan kepribadian bangsa serta peningkatan harkat dan martabat manusia, pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, peningkatan kecerdasan bangsa, terpeliharanya ketertiban umum dan rasa kesusilaan, penyajian hiburan yang sehat sesuai dengan norma-norma kehidupan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan tetap berpedoman pada asas usaha bersama dan kekeluargaan. Dalam media ini, setiap frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan capat dan bergantian sehingga memberikan visualisasi yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Film dan video dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap. 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter Kustandi dan Sutjipto (2016: 64-65) mengungkapkan bahwa keefektifan dari media film sebagai media pendidikan karakter adalah sebagai berikut: a. Film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, praktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar, dan bahkan dapat menunjukan objek secara normal yang tidak dapat dilihat. b. Film dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan. Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, melalui media film dapat menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 c. Film yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa. Bahkan, film seperti selogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas. d. Film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun perorangan. e. Dengan kemampuan dan teknik penggambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya, bagaimana kejadian mekarnya kembang, mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga kuncup itu mekar. 3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter Guna mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran penanaman nilainilai karakter diperlukan instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuannya, dengan cara membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan. Sebelum itu, perlu diketahui langkah pengembangan instrumen penilaian tersebut. Menurut Gronlund (Suswandi, 2010) ada enam langkah pengembangan instrumen tes sebagai berikut: a. Menentukan tujuan tes b. Mengidentifikasi hasil belajar yang dimaksudkan c. Merumuskan hasil belajar yang umum dengan istilah yag khusus d. Menetapkan garis-garis besar isi mata pelajaran e. Mempersiapkan tabel spesifikasi

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 f. Menggunakan tabel spesifikasi dalam mempersiapkan tes 4. Film sebagai Media Asesmen Morris (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Oleh sebab itu, gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan hal-hal yang baru. Otte (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan menghadirkan pengalaman-pengalam belajar bagi siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, Edgar Dale (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa terdapat 11 macam pengalaman belajar siswa yaitu (1) pengalaman verbal, (2) pengalaman lambang visual, (3) pengalaman melalui radio, (4) pengalaman melalui film, (5) pengalaman melalui televisi, (6) pengalaman melalui pameran, (7) pengalaman karyawisata, (8) pengalaman demonstrasi, (9) pengalaman melalui drama, (10) pengalaman melalui benda tiruan, dan (11) pengalaman langsung. Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu metode dalam pembelajaran yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan media film. Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. hal-hal yang

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Bukan hanya sebagai media pembelajaran saja, film juga dapat digunakan sebagai media asesmen yang mungkin jarang atau bahkan belum pernah dilakukan. Jika dalam pembelajaran media film sudah sering digunakan dan sudah teruji efektifitasnya, maka peneliti ingin mengangkat film sebagai media tes untuk mengukur karakter siswa. Film juga mampu mengasah kemampuan analisis siswa dalam menjawab soal-soal yang sudah disiapkan dan berkaitan dengan film tersebut. Berhubungan dengan itu, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. 5. Film sebagai Media Tes Hasil Pendidikan Karakter Dalam perkembangannya film bisa digunakan untuk media pendidikan, berikut adalah 12 jenis film yang bisa digunakan untuk media pendidikan atau pembelajaran menurut Mc. Clusky (2006) dalam Wrastari, Aryani T. & Firmansyah, Rico A. (2014: 45): a. Narrative Film: film yang menggunakan narasi pada saat ditayangkan. b. Dramatic Film: film yang memadukan drama teatrikal, yang biasanya digunakan untuk pelajaran drama atau bahasa Indonesia. c. Discoursive Film : film yang dibuat beberapa serial dengan topik yang saling berhubungan satu sama lainnya. d. Evidental Film: ini adalah film tentang ilmu pengetahuan yang terekam secara natural. Biasanya ditayangkan di televisi, contohnya antara lain Discovery Channel.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 e. Factual Film: hampir sama dengan discoursive film, bedanya lebih sistematis setiap episodenya. f. Emulative Film: ini adalah film yang biasanya digunakan untuk pelatihan-pelatihan perang yang intinya adalah agar penonton bisa meniru apa yang ditayangkan di film. g. Problematic Film: film yang dibuat untuk mengasah kemampuan kognitif dan membuat penonton berpikir lebih kritis. h. Incentive Film: bisa disebut film dokumenter, dimana diharapkan penonton melakukan sesuatu pada fenomena yang terjadi setelah melihat film ini. i. Rhytmic Film: Film sejenis video art yang digunakan untuk merangsang kemampuan estetika penontonnya. j. Theraputic Film: Film yang digunakan untuk membantu proses terapi k. Drill Film: Dalam film ini penonton akan berpartisipasi melakukan kegiatan yang ditayangkan di dalam film. l. Participative Film: hampir mirip dengan drill film bedanya adalah film ini lebih ke arah apresiasi daripada instruksional. Ke-12 jenis film itu adalah jenis-jenis film yang dapat digunakan sebagai media belajar. Dalam penelitian ini penulis menggunakan incentive filmdimana menurut Mc Clusky (1948 dalam Elliot, 2006) incentive filmadalah sebuah film yang sengaja dibuat berbasiskan masalah kehidupan sehari-hari dan dilema moral, dimana film tersebut diharapkan bisa menstimulasi penontonnya untuk mengungkapkan pendapat.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 6. Prosedur Pengembangan Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Menurut Surapranata (suwandi, 2010) prinsip-prinsip pengembagan dan penggunaan tes meliputi: 1. Penentuan Tujuan. Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre-tes kesiapan dan pre-tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. 2. Penyusunan Kisi-kisi. Kisi-kisi digunakan untuk menjamin bahwa soal yang dikembangkan harus sesuai dengan tujuan hendak diukur, penyusunan kisi-kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum penulisan soal. Kisi-kisi suatu format berbentuk matriks yang memmuat informasi untuk dijadikan pedoman dalam penulisan soal atau merakit soal menjadi tes. 3. Penulisan Soal. Penulisan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Penulisan soal adalah karakteristik yang diuraikan dalam kisi-kisi. 4. Reviw dan Revisi Soal. Review dan revisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 berfungsi (mengukur apa yang hendak diukur sebagaimana tercantum dalam kisi-kisi) dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa dan penulisan soal, review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran, dan bahasa. 5. Uji Coba Analisis. Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesukaran soal, pola jawaban, tingkat daya pebeda, pengaruh budaya dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. 6. Praktikan Soal Soal-soal yang baik hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain: penyebaran soal, penyebaran tingkat kesukaran soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 7. Penyajian Tes Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain, meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan tempat duduk peserta didik dan pengawas. 8. Penskoran Penskoran atau pemeriksa atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Penskoran harus dilakukan secara objektif. 9. Pelaporan Hasil tes Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelapor dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. 10. Pemanfaatan Hasil Tes Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukannya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 memiliki langkah-langkah: seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butirbutir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya diraakit menjadi soal-soal tes yang memiliki karakteristik baik dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. E. Hakikat Kota dan Desa 1. Pengertian Kota dan Desa Menurut UU No. 5 Tahun 1979, desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat dan hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah menyelenggarakan langsung rumah. di bawah Selanjutnya, camat menurut dan berhak Sutardjo Kartohadikusumo (Luthfia, 2013) mengatakan desa merupakan suatu kesatuan hokum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. UU No. 22/1999 tentang Otonomi Daerah, yang membahas tentang kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Berkaitan dengan itu,, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1987 Pasal 1 menjelaskan bahwa, kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. Wirth (Jamaludin, 2015: 38) kota yaitu sebuah pemukiman yang penduduknya relative besar, padat, permanen, dan dihuni oleh orang yang heterogen. 2. Kehidupan Sosial Penduduk Desa Suhada, Idad (2016: 146-147) mengatakan bahwa sistem kehidupan penduduk desa biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. masyarakat pedesaan memiliki ikatan batin/perasaan yang kuat dengan sesamanya. Mereka adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, memiliki rasa persatuan yang sangat erat, dan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi sesame/tolong menolong. Masyarakat pedesaan juga memiliki rasa saling mencintai dan menghormati satu sama lain, sehingga memiliki tanggung jawab yang sama terhadap keslamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. Luthfia (2013) juga mengatakan bahwa desa di Indonesia diasosiasikan dengan suatu masyarakat yang hidup secara sederhana, ikatan sosial, adat, dan tradisi masih kuat, sifatnya jujur dan bersahaja serta pendidikannya relative rendah. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 kehidupan penduduk desa masih sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa saling tolong-menolong yang kuat. Rasa kebersamaan dan saling tolong menolong itulah yang membuat mereka memiliki rasa saling memiliki satu dengan yang lainnya, seperti hubungan kekeluargaan. 3. Ciri-Ciri Masyarakat Desa Suhada, Idad (2016: 147) mengatakan bahwa pada umumnya masyarakat pedesaan memiliki ciri-ciri kehidupan sosial sebagai berikut: a. Warga masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang mendalam dan erat. b. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar sistem kekeluargaan. c. Sebagain warga masyarakat pedesaan hidup di pertanian dan pekerjaan-pekerjaan selain agraris. d. Masyarakat pedesaan bersifat homogeny baik dalam hal agama, mata pencaharian, adat kebiasaan atau kebudayaan. e. Warga masyarakatnya berlaku cara-cara hidup yang bersifat gotongroyong dan saling tolong menolong. Berkaitan dengan hal tersebut, Talcot Parsons (Sumadilaga, Ruman: 1986) juga mengatakan bahwa desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri sebagai berikut: a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan dan kemesraan.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 b. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih. c. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan. d. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. e. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja. f. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan. g. Keluwesan (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Landis, H. Paul (Daryono, 2017) Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa. b. Memiliki pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan. c. Perekonomian atau mata pencaharian adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan. 4. Kehidupan Sosial Penduduk Kota Suhada, Idad (2016: 148) mengatakan bahwa masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan terdapat beberapa perbedaan, khususnya dalam keperluan hidup. Di desa yang paling utama adalah keperluan dalam kehidupan, hubungan-hubungan untuk memperhatikan fungsi pakaian, makanan, rumah, dan sebagainya. Sedangkan, orang kota sudah memandang bahwa penggunaan kebutuhan hidup sehubungan dengan pandangan masyarakat sekitarnya. Jamaludin (2015: 347) menengaskan bahwa masyarakat kota yang serba kompleks telah memunculkan beragam masalah sosial, salah satunya adalah kriminalitas. Kriminalitas atau tindak kejahatan adalah tingkah laku yang melanggar hokum dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Bahkan, kriminalitas dapat dikatakan sebagai muara problematika perkotaan.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Kartini Kartono (Jamaludin, 2015: 347) juga menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, kejahatan terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor biologis, sosiologis, ekonomis, mental (agama, bacaan, hari-harian, film); fisik (keadaan iklim dan lain-lain), dan pribadi (umur, ras, dan nasionalitas, alkohol, perang). Selanjutnya, Kartini Kartono (Jamaludin, 2015: 364) mengatakan bahwa pada tahun 1970-an, kenakalan remaja di kota-kota besar di tanah air sudah menjurus pada kejahatan yang lebih serius berupa tindak kekerasan, penjambretan secara terang-terangan pada siang hari, perampokan, perbuatan seksual dalam bentuk perkosaan beramai-ramai sampai melakukan pembunuhan, dan perbuatan criminal lainnya yang berkaitan dengan kecanduan bahan narkotika. 5. Ciri-ciri Masyarakat Kota Menurut Bintarto (Daryono, 2017: 7) dari segi geografi, kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosialekonomi yang hiterogen dan coraknya yang materialistis. Ciri-ciri masyarakat kota, yaitu: a. Individual, mengurus dirinya sendiri, dan kurang membaur dengan lingkungan social. b. Rasa gotong royong, empati, dan simpatinya perlahan mulai pudar. c. Norma dan aturan bermasyarakat sudah mulai pudar sehingga nilainilai keagamaan juga mulai menipis. d. Kepeduliannya semakin berkurang.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 e. Bersifat heterogen. f. Adanya stratifikasi social yang menyebabkan diskriminasi. g. Cenderung lebih mandiri dan lebih maju daripada masyarakat desa. h. Dalam bidang pekerjaan, pembagiaan kerja pada masyarakat kota lebih tegas dibandingkan dengan masyarakat desa. i. Lebih mudah mencari pekerjaan di kota, sehingga masyarakat kota cenderung lebih maju. j. Masyarakat kota juga cenderung lebih mudah menerima perubahan dari luar. Suhada, Idad (2016: 148) juga mengatakan bahwa ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu: a. Kehidupan masyarakat berdada di lingkungan ekonomi, perdagangan. Sehingga cara kehidupan memiliki kecenderungan ke arah duniawi, bukan keagaamaan seperti masyarakat desa. b. Kehidupan keluarga sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan, paham politik, perbedaan agama, dan sebagainya. c. Pembagian kerja di antara warga-warga kota lebih tegas, sehingga menyebabkan pergaulan yang terbatas. d. Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa. Sedangkan, pekerjaan di desa lebih bersifat seragam, terutama dalam bidang petani. e. Jalan pikiran yang rasional menyebabkan interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada factor pribadi.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 f. Jalan kehidupan yang cepat mengakibatkan pentingnya factor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu sangatlah penting untuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan individu. Di samping itu, Daldjoeni (Jamaludin, 2015: 78) mengatakan bahwa kehidupan masyarakat kota, lebih melihat kota pada dua aspek, yaitu aspek fisik (pengkotaan fisik) dan aspek mental (pengkotaan mental). a. Aspek Fisik Kota 1) Heterogenitas Sosial. Kepadatan penduduk mendorong terjadinya persaingan dalam pemanfaatan ruang. Orang dalam bertindak memilih-milih yang paling menguntungkan baginya sehingga tercapai spesialisasi. 2) Hubungan Sekunder. Pengenalan dengan orang lain serba terbatas pada bidang hidup tertentu. Hal ini karena tempat tinggal juga cukup terpencar dan saling mengenal hanya menurut perhatian antar pihak. 3) Kontrol (pengawasan) Di kota orang tidak memedulikan perilaku pribadi sesamanya. Meskipun ada control sosial, sifatnya nonpribadi. Selama tidak ditoleransikan. merugikan bagi umum, tindakan dapat

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 4) Toleransi sosial. Orang-orang kota secara fisik berdekatan, tetapi secara sosial berjauhan. Di sini orang dapat berpesta dan pada saat yang sama tetangga menangisi orang mati. 5) Mobilitas sosial. Di sini yang dimaksudkan adalah perubahan status seseorang. Orang menginginkan kenaikan dalam jenjang kemasyarakatan (social climbing). 6) Ikatan sukarela. Secara sukarela orang menggabungkan diri ke dalam perkumpulan yang disukainya, seperti sport, aneka grup musik, klub filateli, perkumpulan filantrop. 7) Individualisasi. Orang dapat memutuskan hal-hal secara pribadi, merencanakan kariernya tanpa desakan orang lain. 8) Segregasi keruangan (spatial segregation) Akibat kompetisi ruang terjadi pola sosial berdasarkan persebaran tempat tinggal sekaligus kegiatan sosial-ekonomis. Ini distudi oleh ekologi manusia (human ecology). Terjadilah pemisahan (segregation) berdsarkan ras. b. Aspek Mental Kota 1) Atomisasi dan pembentukan massa. 2) Kepekaan terhadap rangsangan dan sikap masa bodoh.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 3) Egalisasi dan sensasi. 4) Industri kesenangan. F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan analisa validasi efektifitas pendidikan karakter penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter siswa SMP berdasarkan latar belakang tempat tinggal siswa di desa atau kota, masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil penelitian yang relevan. Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter berbasis film. Penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Diastrimarina (2017) dengan judul Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Daya Juang dan Karakter Kerja Keras Berbasis Film Karakter, Yustinus Dasilva Moron (2017) dengan judul Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Kreatif dan Karakter Inovatif Berbasis Film Karakter, dan Thomas Govanis (2017) dengan judul Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Rasa Ingin Tahu dan Karakter Menghargai Prestasi Berbasis Film Karakter. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berawal dari adanya potensi dan masalah yang terkait dengan program pendidikan karakter, serta masalah penilaian karakter dari hasil penerapan pendidikan karakter di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 yang dikembangkan oleh peneliti ialah memiliki kesamaan dalam prosedur pengembangannya yaitu menggunakan (R&D) dan memiliki media penilaian karakter yaitu menggunakan film karakter. G. Kerangka Pikir Model soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang efektif belum banyak tersedia di SMP. Kalaupun ada, pendidikan karakter yang terintegrasi dari kurikulum dan implementasi pada sekolah secara khusus pada jenjang SMP, dimana sekolah hanya mampu menilai secara kognitif saja dan belum sampai pada tahap afeksinya. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan soal tes dari 20 karakter yang ada melalui media film yang didalamnya berisi dilema moral yang berkaitan dengan ke-20 karakter tersebut. Melalui media film yang bermuatan dilema moral tersebut, peserta didik dapat membayangkan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehidupan seharihari, ketika mereka menghadapi situasi seperti apa yang terlihat dalam film tersebut. Produk ini juga dapat mempermudah guru untuk menilai hasil pendidikan karakter yang telah diaplikasikan kepada peserta didik. Guru hanya hanya perlu menayangkan film karakter tersebut, dimana didalamnya sudah terdapat potongan film pendek berupa dilema moral beserta pilihan jawaban yang tersusun secara degradasi.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER Dianalisis Kualitatif Kuantitatif Kesesuaian Karakter Validitas Bahasa Reliabilitas Konstruksi Keefektifitas Soal Test Distribusi Jenjang Ranah Kognitif dan Efeksi Gambar 2.2 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 H. Hipotesis Penelitian Berikut hipotesis sementara dari peneliti adalah: a. Ho: Tidak terdapat perbedaan hasil penilaian siswa dari berbagai wilayah desa dan kota terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Ho: Terdapat perbedaan hasil penilaian siswa dari berbagai wilayah desa dan kota terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. b. Ho : Tidak terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai wilayah desa dan kota. Ha: Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai wilayah desa dan kota.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menjelaskan model penelitian dan pengembangan, prosedur penelitian dan pengembangan, uji coba produk, jenis data, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Model Penelitian dan Pengembangan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Sebagaimana telah dipaparkan, Borg and Gall (Silalahi, 2018: 9) R & D merupakan proses untuk memvalidasi dan mengembangkan produk-produk penelitian. Menurut Sugiyono (2013: 297) penelitian R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifan suatu produk tertentu. Menurut Syaodih (Putra, 2008: 66) penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, menurut Putra (2015: 67) penelitian R & D didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistemis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, dan jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. Dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli tersebut bahwa Research and Development merupakan jenis penelitian yang menghasilkan dan mengembangkan suatu produk tertentu dengan cara yang sistematis. Penelitian 77

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 ini disebut penelitian pengembangan, karena peneliti mengembangkan suatu produk berupa Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter di Beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan Prosedur pengembangan ini menggunakan tahapan penelitian Research and Development Borg & Gall. Langkah-langkah R & D oleh Borg & Gall (Silalahi, 2018: 10) terdapat 10 langkah, yaitu: 1. Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi). Sebagai penelitian awal terkait dengan produk pendidikan yang akan dikembangkan, yang termasuk dalam langkah ini antara lain: studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2. Planning (membuat perencanaan). Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana penelitian yang meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 3. Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk). Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan, termasuk dalam langkah ini persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung (misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi). 4. Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6-12 subyek. Pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket. 5. Main Product Revision (melakukan revisi produk utama). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan uji coba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas sampai diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas. 6. Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama). Biasanya disebut uji coba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah penerapan

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 uji coba. Hasil yang diperoleh dari uji coba ini adalah sebagai hasil evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba produk yang dibandingkan terhadap pencapaian kelompok control. Pada umumnya, langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. 7. Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi. 8. Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk) Langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan, dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah, melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek. Pengujian ini dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan analisis hasilnya. Tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah desain model yang dikembangkan sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model. 9. Final Product Revision (melakukan revisi produk final) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan agar menghasilkan produk akhir.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 10. Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi) Tahap ini merupakan langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas. Pada tahap ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan produk, baik dalam bentuk seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada skakeholders yang terkait dengan produk tersebut. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall ditunjukkan pada bagan berikut: Penelitian dan pengumpulan informasi Uji Lapangan Produk Revisi Produk Final Perencanaan Revisi Produk Operasional Mengembangk an bentuk awal produk Uji Lapangan Produk Utama Uji Lapangan Awal Revisi Produk Utama Diseminasi dan Implementasi Gambar 3.1 Bagan Prosedur Penelitian Pengembangan (Borg and Gall 2003) Tim penelitian sebelumnya pada tahun 2017 telah mengevaluasi penelitian ini dari tahap 1 sampai tahap ke 6. Langkah-langkah yang sudah ditempuh adalah seperti penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, mengembangkan bentuk awal produk, uji lapangan awal, revisi produk utama, dan uji lapangan produk utama. Maka dari itu, telah dihasilkan 440 butir soal tes yang diuji secara parsal. Tim peneliti pada tahun 2018 melanjutkan

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 langkah-langkah selanjutnya yaitu pada tahap 7 dan 8 pada revisi produk dan uji lapangan terhadap produk pada populasi subjek yang lebih luas. 1. Revisi Produk Operasional Revisi produk dilakukan terhadap soal-soal tes hasil uji pemakaian produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada tahap awal yang ditanamkan memiliki kekurangan maupun kelemahan. Pada tahap revisi produk operasional ini, digunakan beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dari produk yang dihasilkan pada tahap awal diperbaiki, seperti: a. Dilakukan filterisasi soal dari 440 item menjadi 88 item. b. Potongan film pendek harus menampilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter Kemendiknas (2010). c. Potongan film harus didukung oleh pemain film yang notabene anak SMP, karena subjek merupakan siswa di beberapa SMP di Indonesia. d. Film harus merupakan film Indonesia dan berbahasa Indonesia. Hal tersebut dipilih karena subjek merupakan WNI (Warga Negara Indonesia). Oleh sebab itu, pemilihan jenis film dan bahasa sangat diperhatikan untuk membantu pemahaman siswa ketika mengerjakan soal tes asesmen. e. Kalimat dan tanda baca dalam soal harus sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). EYD sangat membantu siswa dalam mengerjakan dan memahami soal beserta jawaban yang ada di dalam film tersebut.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 f. Durasi yang dipilih pada setiap soal ±2 menit. Durasi tersebut dirasa cukup dengan bentuk soal yang sederhana dan jawaban yang bergradasi, sehingga siswa tidak terlalu lama dalam mengerjakan sebanyak 88 soal. g. Kecocokan soal dengan potongan video. Setiap soal harus cocok dengan potongan video pendek yang ditayangkan, karena hal tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mengukur apakah soal tersebut efektif atau tidak. h. Kejelasan suara dan kejernihan film. Suara dan kejernihan film menjadi salah satu faktor utama dalam proses menjawab soal dan memilih jawaban. 2. Uji Lapangan Produk Pada tahap ini peneliti melakukan uji lapangan terhadap soal produk yang dihasilkan dari tahapan filterisasi dan revisi kepada peserta didik. Setelah diketahui kelemahnnya dan diperbaiki, pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen. Hal ini diperlukan karena terkadang apa yang telah dikonsepkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Pengujian diberikan kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada siswa. Pengujian diberikan kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia, antara lain: (1) SMP Fransiskus

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Tanjungkarang, Lampung (2) SMP St. Aloysius Turi (3) Yogyakarta SMP N 1 Yogyakarta (4) SMP Raden Fatah Cimanggu (5) SMP N 3 Wates (6) SMP N 31 Purworejo (7) SMP N 2 Barusjahe, Medan (8) SMP Maria Padang (9) SMP Pangudi Luhur Wedi, Klaten (10) SMP N 2 Playen Gunungkidul, Yogyakarta. Tujuan dari uji coba produk ini adalah untuk mengetahui apakah produk dari Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang sudah melalui tahap revisi, memiliki kualitas yang baik dan efektif digunakan sebagai alat tes untuk mengukur karakter siswa di beberapa SMP tersebut. C. Uji Coba Produk 1. Desain Uji Coba Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data, mengetahui kualitas dan efektivitas soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah dibuat oleh tim peneliti. Data dari hasil uji coba produk digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk soal tes asesmen berbasis film karakter. Uji coba produk juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk a. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 10 SMP di Indonesia, yaitu:

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Tabel 3.1 Tempat Penelitian No Nama Sekolah Alamat 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang Jalan Mangga 1, Pasirgintung, Tanjungkarang Pusat, Lampung, 35113 2 SMP St. Aloysius Turi Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 3 SMP N 1 Yogyakarta Cik Di Tiro, no. 29, Yogyakarta, 55225 4 SMP Raden Fatah Cimanggu Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256 5 SMP N 3 Wates Jalan Purworejo Km.07, Sogan, Wates, Kulon Progo 6 SMP N 31 Purworejo Jalan Brigjend Katamso 24, Purworejo, 54114 7 SMP N 2 Barusjahe Desa Sinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 8 SMP Maria Jalan Gereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat 9 SMP Pangudi Luhur Wedi Desa Karangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., KabupatenKlaten, Jawa Tengah 57426 10 SMP N 2 Playen Gading II, Gading, Playen, GunungKidul, Yogyakarta 55861 b. Subjek penelitian Subjek uji coba penggunaan produk penelitian ini adalah peserta didik kelas kelas VII dan VIII tahun ajaran 2017/2018 pada 10 SMP di

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Indonesia. Berikut adalah jumlah subjek penelitian masing-masing sekolah: Tabel 3.2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian No Sekolah 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang Kelas VII 31 siswa Kelas VIII 34 siswa Jumlah 65 siswa 2 SMP Raden Fatah Cimanggu 35 siswa 31 siswa 66 siswa 3 SMP Santo Aloyius Turi 20 siswa 43 siswa 63 siswa 4 SMP N 3 Wates 35 siswa 35 siswa 70 siswa 5 SMP N 31 Purworejo 30 siswa 31 siswa 61 siswa 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta 31 siswa 32 siswa 63 siswa 7 SMP Negeri 2 Barusjahe 37 siswa 32 siswa 69 siswa 8 SMP Maria 35 siswa 35 siswa 70 siswa 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 35 siswa 35 siswa 70 siswa 10 SMP N 2 Playen 31 siswa 32 siswa 63 siswa 660 siswa c. Objek penelitian Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter peduli berbasis film karakter untuk peserta didik SMP kelas VII dan VIII.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 d. Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2018 untuk menguji soal tes asesmen ini di kelas VII dan VIII dengan rincian jadwal sebagai berikut: Tabel 3.3 Waktu dan Tempat Penelitian No Sekolah Waktu Penelitian 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang 24 April 2018 2 SMP Raden Fatah Cimanggu 17 April 2018 3 SMP Santo Aloyius Turi 21 April 2018 4 SMP N 3 Wates 20 April 2018 5 SMP N 31 Purworejo 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta 7 SMP Negeri 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen 8 Mei 2018 18 April 2018 dan 19 April 2018 28 April 2018 23 April 2018 dan 24 April 19 April 2018 8 Mei 2018 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Zuriah (2007: 171) penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan potongan film yang berdurasi 1-2 menit dan pada akhir film akan dimunculkan soal-soal karakter yang akan dijawab oleh

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 siswa dengan waktu yang sudah ditentukan. Siswa akan mengerjakan sebanyak 88 soal dan dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama siswa akan mengerjakan 44 soal dijeda dengan istirahat selama setengah jam, setelah itu dilanjutkan pada sesi dua. Soal-soal karakter tersebut tidak ada yang salah dan benar, namun disajikan dalam bentuk gradasi soal. Film dan soal karakter yang disajikan adalah sebanyak 88 soal dengan topik karakter yang berbeda, seperti karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Setelah siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan, maka siswa di minta untuk mengisi angket penilaian (validasi) siswa. Angket tersebut merupakan angket tertutup yang memuat penilaian atau pendapat siswa mengenai pengembangan efektivitas model soal tes asesmen yang menggambarkan dilema moral berdasarkan potongan-potongan film karakter. Di samping itu peneliti juga memberikan angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kepada para guru yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket penilaian terhadap model asesmen yang dikembangkan oleh tim peneliti, bertujuan agar mengetahui masukan dari para guru mata pelajaran yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter diberikan bersamaan dengan angket penilaian terhadap

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 model asesmen kepada guru saat tes diberikan kepada para siswa. Validasi siswa yang digunakan untuk menilai efektivitas dari pengembangan soal tes, diberikan pada akhir sesi pengerjaan soal. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian (Zuriah, 2007: 168). Ada 2 macam instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang dan kuesioner validasi siswa terhadap efektifitas model asesmen yang dikembangkan. Kuesioner penelitian berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Pada sub bab ini dijelaskan karakteristik ke dua instrumen yang digunakan : a. Kuesioner Validasi Efektivitas Produk Validasi kuesioner efektifitas soal tes menurut penilaian siswa berbentuk pernyataan checklist menggunakan Uji Chi Square. Sugiyono, (2016: 111) menjelaskan bahwa skala pengukuran dengan tipe ini, memberikan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; positif-negatif”; dan setuju-tidak setuju”. Data yang diperoleh dapat berupa data interval dan data rasio. Uji Chi Square yang digunakan dalam validasi efektifitas penggunaan soal tes karakter, tujuannya untuk melihat efektivitas penggunaan soal tes yang dibuat berdasarkan penilaian siswa.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 b. Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Menurut Sudjana (2010: 35) alat penilaian hasil belajar dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan, dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes objektif. Tes objektif berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang. Tes diberikan kepada siswa yang berbeda tingkatan (kelas VII dan kelas VIII) yang mana bertujuan untuk melihat perbedaan antara keduanya dan mendapatkan data yang diperlukan. Model soal tes yang diujikembangkan dalam penelitian berbasis cuplikan video yang menggambarkan perilaku berkarakter. Karakterkarakter yang dimunculkan berlandaskan pada nilai-nilai karakter untuk anak SMP berdasarkan SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006) yang dikelompokkan menjadi lima faktor. Selanjutnya, soal tes dibuat berdasarkan karakterkarakter yang telah ditentukan. Soal tes ini dikemas dalam bentuk video dengan tampilan pertanyaan dan pilihan jawaban, sehingga siswa tidak lagi membaca dalam bentuk lembaran. Tes yang diterapkan dalam penelitian ini bersifat tertutup (pilihan ganda), karena hanya ditampilkan pertanyaan dan 4 alternatif jawaban yang bergradasi. Siswa dapat memilih jawaban yang menurut mereka paling tepat dan sesuai dengan kebiasaan yang meraka lakukan. Jawaban pada pilihan ganda memiliki nilai. Nilai yang terdapat pada jawaban pilihan ganda tersebut mulai dari angka 1 sampai 4 dan tidak ada jawaban salah/nol.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Tabel 3.4 Konstruk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Golongan Faktor Variabel Indikator Variabel Karakter Faktor 1: Nilai karakter dalam Religius hubungannya dengan Tuhan Faktor 2: Karakter dalam Jujur hubungannya dengan diri sendiri Tanggung jawab Kreatif Item Soal 65, 66, 67, 68 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28 Inovatif 29, 30, 31, 32 Daya juang 37, 38, 39, 40 Kerja keras 33, 34, 35, 36 Disiplin 41, 42,43, 44 Mandiri 45, 46, 47, 48 Rasa ingin tahu 1, 2, 3, 4 Faktor 3: Nilai karakter dalam Menghargai hubungannya dengan sesama. prestasi Demokratis 5, 6, 7, 8 57, 58, 59, 60 Rendah hati 49, 50, 51, 52 Kepemimpinan 61, 62, 63, 64 Memaafkan 53, 54, 55, 56 Peduli sosial 9, 10, 11, 12 Bersahabat 81, 82, 83, 84 Cinta damai 85, 86, 87, 88 Faktor 4: Nilai karakter dalam Peduli hubungannya dengan lingkungan lingkungan. Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme 13, 14, 15, 16 77, 78, 79, 80 Toleransi 69, 70, 71, 72 Cinta tanah air 73, 74, 75, 76

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 E. Teknik Analisis Data Sugiyono (2010) mengatakan bahwa teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang di Analisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini dianalisis dengan menggunakan tenik deskriptif kualitatif. Sebagaimana yang telah dipaparkan pada prosedur penelitian dan pengembangan, penelitian ini telah memasuki pada tahap 7 dan 8, yaitu Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional) dan Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Setelah melewati proses revisi produk operasional seperti yang telah disebutkan pada tahapan revisi produk, maka produk tersebut dapat diujicobakan secara empirik di 10 SMP yang ada di Indonesia. 2. Capaian Hasil Kualitas Soal-Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia. Kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter diketahui menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Teknik deskriptif kuantitatif adalah teknik yang menganalisis validitas dan reliabilitas pada masing-masing faktor soal tes. Hasil uji ini berupa angka

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 dan diinterpretasi dengan cara deskriptif. Tujuan uji kualitas adalah untuk mengetahui kualitas soal tes asesmen karakter religius, jujur, tanggung jawab, kreatif, inovatif, daya juang, kerja keras, disiplin, mandiri, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, demokratis, rendah hati, kepemimpinan, memaafkan, peduli sosial, bersahabat, cinta damai, peduli lingkungan, nasionalisme, toleransi, dan cinta tanah air pada siswa kelas VII dan VIII pada beberapa SMP di Indonesia. a. Validitas Suryabrata (2000: 41) menyatakan bahwa validitas tes pada dasarnya menunjuk pada derajat fungsi pengukurnya suatu tes, atau derajat kecermatan ukurnya sesuatu tes. Selanjutnya, Sudjana (2004: 12) juga menyatakan bahwa validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai. Senada dengan pendapat Anzwar (2009) menegaskan bahwa suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukur atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran. Arikunto (2013) juga mengatakan bahwa sebuah tes dikatakan baik sebagai alat ukur, apabila memenuhi pesyaratan tes, yaitu memiliki validitas yang tinggi. Jadi dalam hal ini, soal tes dapat digunakan untuk mengukur karakter siswa ketika telah memenuhi syarat validitas yang telah ditentukan.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk. 1) Validasi Isi Matondang, Zulkifli (2009: 90) mengatakan bahwa validitas isi menunjukkan sejauhmana pertanyaan atau butir dalam suatu tes mampu mewakili secara keseluruhan dan proporsional perilaku sampel yang dikenai tes tersebut. Artinya, tes itu valid apabila butir-butir tes itu mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang diujikan atau yang seharusnya dikuasai secara proporsional. Selanjutnya, Arikunto (2013) juga menjelaskan bahwa sebuah tes dapat dikatakan memiliki validitas isi apabila berhasil mengukur tujuan khusus yang sejajar dengan isi yang diberikan. Validitas isi tidak dapat dinyatakan dengan angka, namun pengesahannya perlu melalui tahap pengujian terhadap isi alat ukur dengan kesepakatan penilaian dari penilai yang kompeten (expert judgement). Instrumen yang dibuat telah dikonsultasikan kepada beberapa ahli antara lain: Tim Dosen Penelitian Sosial, Humaniora dan Pendidikan (PSHP) dan dosen pendamping yaitu Dr. Gendon Barus, M.Si. dan Juster Donal Sinaga M.Pd. Instrumen yang telah dikonsultasikan dan dianggap layak pakai telah diaplikasikan kepada subjek peneliti.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 2) Validitas Konstruk Matondang, Zulkifli (2009: 90) mengatakan bahwa validitas konstruk (construct validity) adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh butir-butir tes mampu mengukur apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan. Uji validasi item dalam produk ini menggunakan Analisis Faktor. Yamin & Kurniawan (2009:179) faktor analisis adalah salah satu keluarga multivariant yang bertujuan untuk meringkas atau mereduksi variabel amatan secara keseluruhan menjadi beberapa variable atau dimensi baru, akan tetapi variable atau dimensi baru yang terbentuk tetap merepresentasikan variabel utama. Analisis faktor memiliki dua pendekatan utama, yaitu explonatory factor analysis (EFA) dan confirmatory factor analisis (CFA). Widarjono (2015: 193) mengatakan bahwa explonatory factor analysis (EFA) yaitu mencari sejumlah indikator untuk membentuk faktor umum tanpa adanya landasan teori (membangun teori baru). Sedangkan, confirmatory factor analisis (CFA) yaitu mencari sejumlah variabel indikator yang membentuk faktor umum didasarkan pada landasan teori yang sudah ada. Oleh karena faktor-faktor dalam produk soal tes asesmen ini sudah ditentukan berdasarkan konsep teoritis, maka

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 peneliti memutuskan untuk menggunakan pendekatan confirmatoty factor analysis (CFA). Uji validasi item dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS, yaitu Analisis Faktor Konfirmatori. Pituch & Steven (Budiastuti & Bandur, 2018: 173) mengatakan bahwa: Confirmatory Factor Analysis bersifat a priori, artinya jumlah faktor yang terdapat dalam model harus terlebih dahulu dispesifikasi oleh peneliti, termasuk item-item mana yang berhubungan dengan faktor-faktor yang telah dispesifikasi tersebut serta item-item mana yang berkorelasi satu sama lain. Budiastuti & Bundur (2018: 174) juga mengatakan bahwa variabel item yang merepresentasikan suatu konsep teoritis yang abstrak di sebut indikator penelitian, sedangkan hasil analisis statistik berdasarkan indikator dari variable laten atau konstrak penelitian disebut faktor-faktor penelitian. Konstruk soal tes ini memiliki lima variabel faktor, sedangkan masing-masing variabel item memiliki indikator. Oleh sebab itu, dalam mengolah valid atau tidaknya soal tes, peneliti menghitungnya dengan cara melihat masing-masing item variabel faktor. Item yang berjumlah sedikit akan dianalisis secara terpisah (Variabel 1, variable 4, dan variable 5). Namun, pada variabel dengan item banyak, dianalisis secara bersama (variable 2 dan variable 3). Namun, sebelum memasuki pada tahap validitas, analisis faktor baru dapat dilakukan apabila nilai Kaiser-Meyer Olkin (KMO) and Bartlett’s Test telah memenuhi standar. Metode

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 KMO ini digunakan untuk melihat syarat kecukupan data untuk analisis faktor. Metode ini digunakan untuk mengukur homogenitas indikator (Widarjono, 2015: 194). Prayitno, Duwi (2014: 60) juga mengatakan bahwa suatu variabel dikatakan valid dan dapat dianalisis lebih lanjut apabila telah memenuhi kriteria nilai KMO (Kaiser-Meyer Olkin) MSA (Measures of Sampling Adequacy) ≥ 0,5. Selanjutnya, tingkat probabilitas (sig) harus ≤ 5% (0,05). Yamin & Kurniawan (2009: 185) juga mengatakan bahwa tabel KMO dan Bartlett’s Test menunjukkan uji kelayakan dari analisis faktor. Klasifikasi nilai KMO menurut Hair, Anderson, Tatham & Black (Yamin & Kurniawan, 2009: 185) adalah sebagai berikut: Tabel 3.5 Ukuran Kaiser-Meyer Olkin (KMO) Ukuran KMO Rekomendasi ≥ 0,90 Sangat Baik (Marvelous) 0,80 - 0,89 Berguna (Meritorious) 0,70 – 0,79 Biasa (Middling) 0,60 – 0,69 Cukup (Mediocre) 0,50 – 0,59 Buruk (Miserable) ≤ 0,50 Tidak diterima (Unacceptable) Yamin & Kurniawan (2009: 186) mengatakan bahwa nilai KMO akan meningkat apabila: 1) Jumlah sampel bertambah.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 2) Rata-rata koefisien korelasi bertambah. 3) Jumlah variabel bertambah atau jumlah faktor berkurang. Namun secara umum, model faktor yang terbentuk dalam produk ini dapat dikatakan layak digunakan apabila indeks KMO ≥ 0,5 dan p-value / Sig Bartlett’s Test sebesar 0,00 (< 0,05). Adapun formula untuk menghitung KMO sebagai berikut: ∑ Keterangan: ∑ ∑ Setelah melalui tahap uji KMO, validitas masing-masing item dapat dilihat pada tabel Rotated Componenet Matrix, yang menjelaskan mengenai nilai korelasi antara setiap variabel item terhadap faktor yang terbentuk tanpa melihat tanda (+/-). Nilai korelasi ini disebut juga faktor loading (Yamin & Kurniawan, 2009: 192). Pada prinsipnya, validitas item dapat dilihat pada Factor Loading, ketika nilai pada Factor Loading > 0,5, maka item dapat dikatakan valid. b. Reliabilitas Azwar (2003 : 176) menyatakan bahwa reliabilitas merupakan salah-satu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran yang baik. Selanjutnya, Sudjana (2004: 16) menyatakan bahwa reliabilitas alat

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapanpun dan dimanapun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Best & Khan, Manning & Don Munro, Pallant, Wiersma & Jurs (Budiastuti & Bandur, 2018: 210) yang mengatakan bahwa reliabilitas adalah sebagai konsistensi sebuah hasil dari penelitian dengan menggunakan berbagai metode penelitian dalam kondisi (tempat dan waktu) yang berbeda. Jadi, uji reliabilitas adalah untuk mengukur keajegan suatu item soal pada alat ukur. Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menegaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan dari validitas, karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian. Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas penelitian yang baik. Pengujian reliabilitas soal tes pada penelitian ini dibantu dengan meggunakan program SPSS. Suharsimi, Arikunto (2012: 122) mengatakan bahwa uji reliabilitas tes berbentuk esai menggunakan rumus Alpha cronbach. Berikut rumus Alpha Cronbach yang digunakan untuk mengukur reliabilitas soal tes: ( )( ∑ )

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 ∑ Rentangan nilai koefisien Alpha’s Cronbach antara 0 (tanpa reliabilitas) sampai 1 (reliabilitas sempurna). Berikut tabel nilai koefiesien alpha: Tabel 3.6 Nilai Koefisien Alpha 3. Nilai Koefisien Reliabilitas 0 Tidak memiliki reliabilitas > .70 Reliabilitas yang dapat diterima > .80 Reliabilitas yang baik > .90 Reliabilitas yang sangat baik 1 Reliabilitas sempurna Teknik Analisis Data Kualitas Efektifitas yang Terpenuhi dalam Penggunaan Soal Tes yang Dikembangkan. Untuk mengukur kualtas efektifitas,maka siswa diberikan lembar kuesioner efektifitas soal yang berisikan 7 pernyataan negatif dan 28 pernyataan positif. Siswa diminta untuk memilih jawaban “ya” atau “tidak” sesuai dengan hati nuraninya. Oleh sebab itu, untuk mengukur apakah poin-poin pernyataan memiliki nilai efektifitas yang bergradasi, maka peneliti menentukan skor kriteria yang berpatokan dengan kategori PAP (Penilaian Acuan Patokan) Tipe I (Masidjo, 1995: 153). Penilaian responden dikatakan efektif apabila mencapai 80%. Hal ini dilakukan peneliti karena bentuk jawaban yang disajikan dalam kuesioner Penilaian

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Efektifitas Model Soal Tes Asesmen menurut siswa sebagai penilai menuntut jawaban tegas yaitu Ya atau Tidak. Berikut rumus beserta table Kategori PAP Tipe I. Pem = ∑ Keterangan: Pem = Persentase capaian skor ∑ Jumlah jawaban setiap item N = Jumlah responden Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe 1 Kategori Persentase (%) Sangat Efektif 90%-100% Efektif 80%-89% Cukup Efektif <80% Kurang efektif 55%-64% Tidak efektif <55% 4. Teknik Analisis Data Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang Diukur dengan Menggunakan Soal Tes yang Dikembangkan pada 10 SMP di Indonesia. Untuk melihat capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, peneliti menggunakan rumus norma kategorisasi Azwar (2012).

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Tabel 3.8 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X Keterangan:  Skor maksimum teoritik: Skor tertinggi yang diperoleh subyek penelitian berdasarkan perhitungan skala.  Skor minimum: Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian menurut perhitungan skala  Standar deviasi (σ/sd): luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran  Mean teoritik (µ): rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum Maka, dengan rumus norma tiga kategorisasi, peneliti dapat melihat capaian hasil pendidikan karakter siswa/i beberapa SMP di Indonesia dengan menggunakan pengolahan SPSS. 5. Capaian Hasil Perbedaan Penilaian Siswa dari Berbagai Wilayah Desa dan Kota Terhadap Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Pada 10 SMP di Indonesia. Untuk melihat adanya perbedaan penilaian siswa terhadap validasi efektifitas penggunaan soal tes asesmen dilihat dari siswa desa dan kota, peneliti menggunakan perhitungan Uji Chi Square (X2 Test) pada SPSS.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Uji Chi Square (X2 Test) ini digunakan untuk melihat persentase penilaian dari siswa desa dan siswa kota terhadap produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Adapun perhitungan manual atau perhitungan matematik yang dapat digunakan, sebagai berikut: X2= ∑ ∑ ( * ) + Eij= ni . Keterangan: r= jumlah baris Oij= c= jumlah kolom pada baris i kolom j i= baris ke i Eij= j= baris ke j diharapkan ni= jumlah frekuensi pada kolom j baris i n= total frekuens nj= jumlah frekuensi pada kolom j frekuensi frekuensi pada observasi yang baris i

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 6. Teknik Analisis Data Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Pada Beberapa Siswa SMP di Indonesia yang Berasal Dari Desa dan Kota dengan Menggunakan Produk Soal Tes Tersebut. Untuk melihat adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di Indonesia yang bertempat tinggal di desa dan kota, peneliti menggunakan perhitungan Independent Sample T-Test pada SPSS. Independent Sample T-Test ini digunakan untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda (independent). Adapun perhitungan manual atau perhitungan matematik yang dapat digunakan, sebagai berikut: T= √ √ V= n1 + n2 – 2 Keterangan: X1= Rata-rata Variabel Desa X2= Rata-rata Variabel Kota α 1= Alpha Desa α 2= Alpha Kota SP= Simpangan Baku n1= Jumlah Sampel Desa n2= Jumlah Sampel Kota

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini menjelaskan hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta pembahasan. Sistematika pemaparan mengikuti urutan rumusan masalah yang diajukan pada Bab 1 dalam penelitian ini. Dengan cara ini dimaksudkan pertanyan-pertanyaan penelitian dapat dijawab secara berurutan. A. Hasil Penelitian 1. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yg diujikembangkan dalam penelitian ini. Produk ini mencakup potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Produk ini menampilkan potongan film karakter yang diikuti dengan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter dan diikuti dengan pilihan jawaban yang bergradasi. Potongan film karakter dan soal tes asesmen yang ditampilkan sejumlah 88 soal yang pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi. Setelah melewati proses revisi produk operasional, maka produk penelitian pengembangan pada tahap revisi produk ini terfilterisasi 88 soal tes dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan oleh tahun sebelumnya. Setelah itu, 88 butir soal tes tersebut diujicobakan secara 105

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 empirik di lapangan seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. Bentuk fisik 88 soal itu telah didokumentasikan pada sebuah dvd. Gambar 4.1 Bentuk Fisik DVD Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Produk final soal tes yang dikembangkan peneliti bersama tim merupakan hak otoritas pengemban. Berikut ini disajikan satu contoh soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Bagi pihak yang membutuhkan soal tes asesmen tersebut dapat menghubungi Dr. Gendon Barus, M.Si melalui alamat e-mail: (bardon.usd@gmail.com). https://www.youtube. com/watch ?v=Gq0-QqW7eHU Jika kamu adalah siswa yang mampu menerima akibat dari perbuatanmu, bila kamu menjadi anak dalam film tadi. Apa yang kamu lakukan agar dapat memahami materi ujian besok? a. Saya melanjutkan belajar setelah tidur setengah jam b. Tidur sekitar dua jam dan bangun kembali untuk belajar yang lebih serius c. Tidur sampai subuh dan belajar sebelum berangkat ke sekolah d. Tidur sampai pagi dan belajar di sekolah Gambar 4.2 Contoh Soal Tes Asesmen Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 2. Kualitas Soal-Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia. Sebagaimana dipaparkan pada Bab III, untuk menguji kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter pada penelitian ini (validitas dan reliabilitas), peneliti menggunakan analisis faktor konfirmatori. Maka, untuk melihat kualitas soal tes, peneliti menghitungnya dengan cara masing-masing faktor / per-faktor seperti yang telah dijelaskan pada Bab III. a. Validitas Soal Tes 1) Hasil Analisis Faktor Variabel 1 Tabel 4.1 KMO and Bartlett’s Test Nilai Karakter Hubungan dengan Tuhan Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett’s Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 36.020 6 .000 Pada tabel di atas, menunjukkan bahwa nilai KMO-MSA yaitu 0,502 dan faktorisasinya termasuk golongan buruk. Akan tetapi, walaupun faktorisasinya termasuk dalam kategori buruk, item-item soal tes asesmen pada faktor 1 ini masih layak untuk digunakan dan dapat dilanjutkan untuk analasis faktor. Terbukti bahwa nilai KMO-MSA ≥ 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau ≤ 0,05, maka 4 butir soal tes ini tergolong layak untuk digunakan.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Tuhan Rotated Component Matrixa Component 1 f1.65 2 .664 f1.66 .823 f1.67 .662 f1.68 .784 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Pada table rotated component matrix menunjukkan itemitem yang membentuk faktor baru yang sejenis. Nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam jenis faktor yang sama. Hasil keempat item soal pada variabel 1 memiliki factor loading ≥ 0,5, sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor. Faktor pertama terdiri dari item soal nomor 65 dan 68, sedangkan faktor kedua terdiri dari item soal nomor 66 dan 67. Hal tersebut berarti item soal nomor 65 dan 68 memiliki keterkaitan/kemiripan, begitupun dengan item soal nomor 66 dan 67. 2) Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan Variabel 3 Tabel 4.3 KMO and Bartlett's Test Nilai Karakter Hubungan dengan Diri Sendiri dan Hubungan dengan Sesama Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .954 19133.516 2278 .000

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai KMO-MSA yaitu 0,954 dan termasuk dalam golongan sangat baik. Artinya, apabila nilai KMO-MSA ≥ 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau ≤ 0,05, maka soal tes asesmen pada variabel faktor 2 dan 3 dalam penelitian ini sangat layak digunakan dan dapat dilanjutkan pada analisis faktor. Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Diri Sendiri dan Hubungan dengan Sesama Rotated Component Matrixa Component 1 2 f2.1 .720 f2.2 .621 f2.3 .577 f2.4 .658 f2.17 .601 f2.18 .509 f2.19 .666 f2.20 .595 f2.21 .577 f2.22 .602 f2.23 .605 f2.24 .634 f2.25 .659 f2.26 .566 f2.27 .671 f2.28 .524 f2.29 .621 f2.30 .600 f2.31 .555 f2.32 .647 f2.33 .503 f2.34 f2.35 .586 f2.36 .560 f2.37 .556

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 f2.38 .584 f2.39 f2.40 .525 f2.41 .504 f2.42 .551 f2.43 .556 f2.44 .520 f2.45 .542 f2.46 .531 f2.47 .654 f2.48 .590 f3.5 .819 f3.6 .545 f3.7 .639 f3.8 .710 f3.9 .716 f3.10 .632 f3.11 f3.12 .584 f3.49 .606 f3.50 .612 f3.51 .546 f3.52 .620 f3.53 .617 f3.54 .526 f3.55 .501 f3.56 .576 f3.57 .684 f3.58 .505 f3.59 .578 f3.60 .569 f3.61 .614 f3.62 .727 f3.63 .633 f3.64 .656 f3.81 .624 f3.82 .575 f3.83 .556 f3.84 f3.85 f3.86 .690 f3.87 .548 f3.88 .574

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Pada Table rotated component matrix menunjukkan itemitem yang membentuk faktor baru yang sejenis. Namun, hasil di atas menunjukkan bahwa tidak ada item-item soal karakter yang membentuk faktor baru yang sejenis. Selanjutnya, nilai factor loading yang berada dalam satu kolom di atas mengartikan bahwa item-item tersebut termasuk dalam jenis faktor yang sama atau item soal yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Maka, dari hasil diatas diperoleh banyaknya 2 item tidak valid pada variabel faktor 2 dan 3 item tidak valid variabel faktor 3. 3) Hasil Analisis Faktor Variabel 4 Tabel 4.5 KMO and Bartlett's Test Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Lingkungan Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 20.878 6 .002 Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai KMO-MSA yaitu 0,502 dan faktorisasi termasuk golongan buruk. Artinya, walaupun termasuk dalam kategori buruk, akan tetapi item-item soal tes asesmen pada faktor 4 ini masih layak untuk digunakan. Terbukti bahwa nilai KMO-MSA ≥ 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau ≤ 0,05, maka ke empat butir soal tes asesmen pada faktor 4 ini

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 tergolong layak untuk digunakan dan dapat dilanjutkan analisis faktor. Tabel 4.6 Uji Validasi Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Lingkungan Rotated Component Matrixa Component 1 2 f4.13 .704 f4.14 .731 f4.15 -.715 f4.16 .707 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Table rotated component matrix di atas menunjukkan itemitem yang membentuk faktor. Nilai factor loading yang berada dalam satu kolom, mengartikan item tersebut dalam faktor baru yang sama. Hasil keempat item pada variable 4 memiliki factor loading ≥ 0,5, sehingga seluruh item valid. Dari tabel di atas juga dapat dilihat bahwa telah terbentuk 2 faktor baru, dimana faktor pertama terdiri dari item soal nomor 15 dan 16, sedangkan faktor kedua terdiri dari item soal nomor 13 dan 14. Hal tersebut berarti item soal nomor 15 dan 16 memiliki keterkaitan/kemiripan, begitupun dengan item soal nomor 13 dan 14.

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 4) Hasil Analisis Faktor Variabel 5 Tabel 4.7 KMO and Bartlett's Test Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Kebangsaan Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .758 693.702 66 .000 Nilai KMO-MSA yaitu 0,758 dan masuk dalam golongan biasa. Artinya, walaupun termasuk dalam kategori biasa saja, akan tetapi item-item soal tes nilai karakter yang berhubungan dengan kebangsaan ini masih layak untuk digunakan. Terbukti bahwa nilai KMO-MSA ≥ 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau ≤ 0,05, maka ke 12 butir soal tes asesmen pada faktor 5 ini tergolong layak untuk digunakan dan dapat dilanjutkan mengenai analisis faktor. Tabel 4.8 Uji Validasi Soal Tes Nilai Karakter Hubungan dengan Kebangsaan Rotated Component Matrixa Component 2 1 f5.69 .641 f5.70 .635 f5.71 .652 f5.72 .630 3 f5.73 .592 f5.74 .560 f5.75 f5.76 .553 f5.77 .533 f5.78 .580 f5.79

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 f5.80 .684 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 5 iterations. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut membentuk variabel yang sama. Hasil diatas terdapat 10 item pada variable 5 memiliki factor loading ≥ 0,5. Selanjutnya, 10 item valid tersebut membentuk 3 faktor. Faktor pertama terdiri dari item soal nomor 69,70,71, dan 72. Faktor ke dua terdiri dari item soal nomor 73,74,76 dan faktor ketiga terdiri dari item soal nomor 77,78, dan 80. Sedangkan, terdapat 2 item yang tidak valid yaitu pada nomor soal 75 dan 79. b. Reliabilitas Soal Tes Reliabilitas soal tes ini telah peneliti hitung dengan bantuan Program SPSS Alpha’s Cronbach, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 4.9 Reliability Statistics Cronbach's Alpha ,933 N of Items 88 Dari hasil tersebut di atas, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,933. Artinya bahwa produk soal tes ini memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 3. Nilai Validasi Efektifitas Penggunaan Produk. Untuk mengukur nilai validasi efektifitas yang terdapat dalam soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, kepada siswa diberikan skala perseptual. Penggunaan inventori tersebut pada partisipan penelitian memberikan data sebagai berikut, dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada 10 SMP di Indonesia (N=660) No Ya Tidak F F Pernyataan 1 Menarik dan asyik 631 29 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku 617 43 652 8 652 8 Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri 637 23 642 18 636 24 444 216 Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan 602 58 642 18 586 74 644 16 598 62 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 % 95.6% 93.5% 98.8% 98.8% 96.5% 97.3% 96.4% 67.3% 91.2% 97.3% 88.8% 97.6% 90.6%

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 14 Menumbuhkan orang lain keinginan menolong 644 16 646 14 16 Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk 589 71 17 Membosankan dan melelahkan 141 519 18 Soal-soalnya sangat berat dan sulit 92 568 19 174 486 635 25 649 11 643 17 640 20 645 15 646 14 629 31 1 659 625 35 633 27 211 449 640 20 595 65 33 Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik 617 43 34 Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) 65 595 35 Dalam menjawab soal tes ini siswa 316 344 15 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 97.6% 97.9% 89.2% 78,3% 86,1% 73.7% 96.2% 98.3% 97.4% 97% 97.7% 97.9% 95.3% 99,85% 94.7% 95.9% 68.1% 97% 90.2% 93.5% 90.16% 52.2%

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Keterangan: pernyataan nomor 17,18,19,27,30,34,35 adalah item negatif. Berdasarkan tabel 4.1 Terdapat 35 nomor item yang mengandung 28 item positif dan 7 item negatif. Dari 35 nomor item tersebut yang masuk dalam kriteria sangat efektif (90%-100%) adalah 27 item, efektif (80%-89%) sebanyak 3 item, cukup efektif (< 80%) sebanyak 4 item, dan tidak efektif (<55%) sebanyak 1 item. Tabel 4.11 Kategorisasi Hasil Validitas Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia (N=660) Kategori Sangat Efektif Persentase (%) 90%100% Banyak Item 27 Nomor Pernyataan 1, 2, 3, 4 ,5, 6, 7,9, 10, 12, 13, 14, 15, 20, 21, 22,23,24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32,33,34 Efektif 80%-89% 3 11, 16,18 Cukup Efektif <80% 4 8,30, 19,17 Kurang efektif 55%-64% 0 0 Tidak efektif <55% 1 35 Dari hasil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa menilai soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini efektif, karena dapat menimbulkan perasaan asik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Akan tetapi, ada beberapa dari mereka ketika menjawab soal tes ini kurang jujur dan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Artinya, ketika mereka melihat cuplikan video dan menjawab soal, di sana ada dilema moral yang sedang mereka hadapi. Hal ini baik, karena produk ini benar-benar mampu menyadarkan siswa akan perbuatannya. 4. Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang Diukur dengan Menggunakan Soal Tes yang Dikembangkan pada 10 SMP di Indonesia. Untuk mengukur capaian hasil pendidikan karakter dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada 10 SMP yang ada di Indonesia, sebanyak 660 siswa SMP diperlihatkan potongan film karakter pendek. Potongan film tersebut berdurasi ±1 sampai 2 menit beserta soal dengan waktu yang sudah ditentukan. Pilihan jawaban disajikan bergradasi, sehingga tidak ada jawaban benar dan salah. Dalam hal ini siswa memilih jawaban yang menurutnya paling sesuai dengan dirinya. Hasil pendidikan karakter tersebut dihitung menggunakan Norma Kategorisasi Azwar, sebagai berikut: Tabel 4.12 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Melalui rumus norma tiga kategorisasi tersebut, dapat di cari skorskor mana saja yang termasuk dalam kategori rendah, sedang, maupun tinggi. Oleh sebab itu, sebelum masuk ke SPSS, peneliti mencari skorskor terlebih dahulu sebagai berikut: X maks = jumlah soal asesmen x nilai terbesar. = 88 x 4 = 352 X min = jumlah soal asesmen x nilai terkecil = 88 x 1 = 88 Simpangan baku/SD = Mean/X = Tabel 4.13 Pengkategorisasian Karakter Siswa Kategori Kurang Baik Cukup Baik Baik Rumus M – 1SD < X M – 1SD < X < M + 1SD X < M + 1SD Pengkategorisasian < 176 176 ≤ 220 <264 > 264 Dari jawaban tersebut dapat terlihat capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dari tingkatan kurang baik, cukup baik, hingga baik. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Tabel 4.14 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Capaian Hasil Frequency Percent Valid Percent Karakter Baik Karakter Cukup Baik Total Cumulative Percent 338 51.2 51.2 51.2 322 48.8 48.8 100.0 660 100.0 100.0 Berdasarkan hasil perhitungan, tabel di atas menunjukkan bahwa dari 660 siswa yang mengerjakan soal tes ini, terdapat 338 siswa yang termasuk memiliki karakter Baik. Terdapat 322 siswa yang termasuk memiliki karakter cukup baik dan tidak ada anak yang memiliki karakter kurang baik. 5. Perbedaan Penilaian Siswa dari Berbagai Wilayah Desa dan Kota Terhadap Validitas Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Pada 10 SMP di Indonesia. Untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian dari siswa wilayah kota dan desa terhadap validitas efektifitas penggunaan soal tes asesmen, peneliti memberikan 1 lembar kertas penilaian. Lembar efektifitas siswa tersebut berisikan 35 pernyataan mengenai efektif atau tidaknya penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Hasil rumusan masalah nomor 5 ini, melihat lebih spesifik

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 pada penilaian siswa desa dan siswa kota. Data menunjukkan bahwa jumlah siswa desa sebanyak 462 dan siswa kota sebanyak 198. Tabel 4.15 Perbedaan Penilaian Siswa Desa dan Kota Terhadap Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Signifikan No Pernyataan Sig. 1 Menarik dan asyik Ya 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Ya 3 4 5 6 7 8 9 Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak 14 Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain 15 Menumbuhkan rasa bersyukur Tidak 16 Menantang diri untuk bertobat dari Tidak 10 11 12 13 Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Persentase (%) Pv Desa Kota 0,000 98% 89% 0,000 95% 90% 0,884 99% 98% 0,448 99% 98% 0,005 98% 94% 0,005 98% 95% 0,909 97% 96% 0,579 68% 65% 0,003 92% 89% 0,533 97% 98% 0,812 89% 88% 0,347 98% 96% 0,856 91% 90% 0,979 98% 97% 0,781 98% 98% 0,941 89% 89%

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 perilaku buruk (Tidak) Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya (tidak) berat dan (tidak) sulit Soalnya (tidak) terlalu panjang dan (tidak) rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini (tidak) terburu-buru dan cukup waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini sangat bermanfaat bagi ku Dalam menjawab soal tes ini siswa jujur sesuai hati nuraninya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak 0,002 82% 71% 0,010 89% 90% 0,032 79% 71% 0,123 97% 94% 0,882 98% 98% 0,840 97% 98% 0,000 98% 95% 0,671 98% 97% 0,242 98% 96% 0,865 95% 96% 0,309 70% 70% 0,639 96% 94% 0,218 95% 98% 0,055 74% 73% 0,984 97% 97% 0,000 92% 86% 0,885 94% 93% 0,004 93% 89% 0,579 52% 52% Keterangan: pernyataan nomor 17,18,19,27,30,34,35 pada awalnya adalah item negatif, maka skor yang dicantumkan adalah skor anak yang menjawab “tidak” pada item negatif.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Tabel 4.15 menunjukkan bahwa terdapat 10 item pernyataan yang signifikan atau terdapat perbedaan penilaian antara anak desa dan anak kota, diantaranya pada nomor 1, 2, 5, 6, 9, 17, 19, 23, 32, dan 34. Artinya, pada item nomor 1 anak desa lebih banyak mengalami perasaan asik dan menarik dibandingkan dengan anak kota. Pada item nomor 2, anak desa lebih banyak merasakan perasaan yang mneyenangkan dan menghibur dari pada anak kota. Pada item nomor 5, soal tes berbasis film karakter ini mampu membuka mata hati/nurani anak desa dibandingkan dengan anak kota. Pada item nomor 6, soal tes berbasis film karakter ini mampu mendorong tekad/keberanian untuk berbuat baik pada anak desa dari pada anak kota. Pada item nomor 9, soal tes berbasis film ini mampu menumbuhkan rasa diri yang berharga pada anak desa dibandingkan dengan penilaian anak kota. Pada item nomor 17, anak desa menilai bahwa soal tes ini tidak membosankan dan melelahkan dibandingkan dengan penilaian anak kota. Selanjutnya, pada item nomor 19, anak desa menilai bahwa soal ini tidak terlalu panjang dan rumit dibandingkan dengan penilaian anak kota. Pada item nomor 23, anak desa menilai bahwa soal tes ini lebih mampu mempererat rasa persaudaraan dan persahabatan dibandingkan dengan penilaian anak kota. Pada item nomor 32, penilaian anak desa lebih tinggi daripada penilaian anak kota bahwa tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter. Sedangkan, pada item nomor 34, anak

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 desa lebih menganggap bahwa tes ini sangat bermanfaat bagi dirinya dibandingkan dengan penilaian anak kota. Selanjutnya, pada soal nomor 3, 4, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 33, dan 35, menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Artinya, pada item-item pernyataan tersebut tidak terdapat perbedaan penilaian yang signifikan antara siswa desa dan siswa kota. Maka dari itu, soal tes ini dapat digunakan bagi siswa SMP yang berlatarbelakang tempat tinggal desa dan kota, namun dalam beberapa aspek item yang siginifikan siswa desa menilai soal tes ini lebih baik dibandingkan penilaian anak kota. 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Pada Beberapa Siswa SMP di Indonesia yang Berasal Dari Desa dan Kota dengan Menggunakan Produk Soal Tes Tersebut. Untuk melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter, peneliti memberikan produk berupa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter pada siswa yang berasal dari desa dan kota. Perbedaan capaian hasil tersebut dapat diperoleh melalui perhitungan SPSS yang dapat dilihat hasilnya sebagai berikut. Tabel 4.16 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Desa dan Kota Asal N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Desa 462 263.4298 13.62083 .63301 Kota 198 261.3147 14.73758 1.05001 Jml

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Pada tabel 4.8 menunjukkan adanya perbedaan nilai mean pada siswa yang berasal dari desa sebanyak 263,4298 dan kota sebanyak 261,3147. Hal ini menunjukkan bahwa karakter siswa desa sedikit lebih unggul daripada karakter siswa kota. Artinya, siswa yang berasal dari desa memiliki hasil pendidikan karakter sedikit lebih baik dari pada siswa kota, namun selisihnya sangat tipis dan tidak signifikan. Tabel 4.17 Independent Samples Test Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Desa dan Kota Levene's Test for Equality of Variances F Equal variances assumed Jml Equal variances not assumed .397 Sig. .529 t-test for Equality of Means t Df t-test for Equality of Means t-test for Equality of Means Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 1.781 658 .075 211.508 118.774 -.21713 444.730 1.725 345.026 .085 211.508 122.606 -.29641 452.658 Dilihat dari Independent Samples Test, menunjukkan bahwa F=0,397 dan Sig (P) = 0,529. Apabila P > 0,05, maka hasilnya tidak signifikan. Selanjutnya, hasil tersebut dikaitkan dengan tabel 4.17, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang berasal dari desa dan kota (data equal homogen) akan tetapi tidak terlalu signifikan. Dilihat dari homogenitasnya, data tersebut bersifat homogen. Selanjutnya, karena data tersebut bersifat homogen,

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 maka hasil yang dilihat adalah pada Equal Variances Assumed. Dibuktikan bahwa nilai t = 1,781. Artinya, apabila t > 0,05, maka tidak ada perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang berasal dari kota dan desa yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa hasil karakter yang diperoleh melalui pendidikan karakter pada siswa desa dan kota adalah hampir sama. Namun, apabila dilihat dari hasil mean, maka hasil pendidikan karakter anak desa sedikit lebih baik daripada anak kota tetapi tidak terlalu signifikan. B. Pembahasan Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang berhasil diujikembangkan ini telah melalui revisi produk operasional dan uji coba lapangan produk. Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) yang diketuai oleh Dr. Gendon Barus, M.Si telah berhasil menyusun produk ini dan telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tahapan tersebut sejalan dengan tahapan model Borg and Gall, yang menyebutkan bahwa harus adanya tahapan revisi produk dan uji coba produk dalam wilayah yang lebih luas. Selanjutnya, telah terbukti bahwa kualitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film ini memiliki validitas dan reliabilitas yang cukup baik. Uji kualitas soal tes asesmen pada penelitian ini menggunakan program SPSS Analisis Faktor Konfirmatori. Beberapa nomor soal pada variabel karakter tertentu membentuk suatu konstruk baru. Item-item yang tidak valid dihilangkan, seperti pada soal tes nomor 34, 39, 11, 84, 85, 75, 79. Hal tersebut

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 membuktikan bahwa pada faktor 1 indikator religius membentuk suatu pengelompokan soal. Artinya, pada item-item tersebut mrmiliki kemiripan atau hubungan antara soal nomor 56 dan 58; 66 dan 67. Begitupun faktor 4 pada indikator peduli lingkungan membentuk suatu pengelompokan soal pada nomor 13 dan 14; 15 dan 16. Suatu pengelompokan soal dalam pemfaktoran baru terjadi pada jumlah KMO yang rendah, karena menuntut jumlah variabel yang lebih banyak lagi untuk menaikkan standar KMO yang baik. Selanjutnya, hasil koefisien reliabilitas juga menunjukkan angka 0,933 yang artinya bahwa soal tes ini memiliki keajegan atau reliabilitas yang sangat baik. Dari hasil tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa validitas produk soal tes asesmen ini dikatakan baik, karena dari 88 soal hanya 7 item soal yang tidak valid/gugur. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2013) yang mengatakan bahwa sebuah tes dikatakan baik sebagai alat ukur, apabila memenuhi pesyaratan tes, yaitu memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya, Anzwar (2009) menegaskan bahwa suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukur atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran. Artinya, karena alat tes ini memiliki validitas yang lumayan tinggi, maka produk ini telah menjalankan fungsi ukurnya dengan baik. Selanjutnya, hasil hitung koefisiensi reliabilitas membuktikan bahwa angka yang ditunjukkan sebesar 0,933. Hal tersebut berarti produk soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia ini memiliki reliabilitas yang sangat

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 baik, dapat di percaya, konsisten atau stabil, dan ajeg. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (2004: 16) yang menyatakan bahwa reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapanpun dan dimanapun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Hal tersebut juga bertepatan dengan pendapat Patton (Budiastuti & Bandur, 2010) yang mengatakan bahwa tinggi rendahnya validitas berpengaruh pada tinggi rendahnya reliabilitas. Suatu soal tes asesmen yang telah dibuktikan kevalidannya, berarti soal tersebut memiliki reliabilitas yang baik. Namun, kereliabilitasan soal tes belum tentu diikuti dengan kevalidan soal tes tersebut. Bukan hanya itu saja, validasi efektifitas produk ini juga mendapatkan penilaian dari siswa. Hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Hal ini dibuktikan, banyak siswa mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya, antara lain: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaanperasaan positif lainnya. Hal ini selaras dengan pendapat Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Sedangkan, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga mengatakan bahwa film mampu

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur tingkat internalisasi pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. Di samping itu juga diperoleh penilaian khusus dari siswa yang memiliki latar belakang tempat tinggal di desa dan kota terhadap validitas efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di indonesia. Dari data diperoleh 10 item pernyataan yang signifikan, diantaranya adalah nomor 1, 2, 5, 6, 9, 17, 19, 23, 32, dan 34. Artinya, pada item-item tersebut menunjukkan adanya perbedaan penilaian siswa desa dan siswa kota terhadap validasi efektifitas soal tes ini. Perbedaan penilaian pada item-item tersebut ditunjukkan dengan adanya capaian persentase yang lebih tinggi pada penilaian anak desa dibandingkan dengan penilaian anak kota. Anak desa menilai bahwa soal tes ini menarik dan asik, menyenangkan dan menghibur, mampu membuka hati nurani, mendorong untuk berbuat baik, menumbuhkan rasa diri berharga, tidak membosankan, soalnya tidak terlalu panjang dan rumit, dapat mempererat rasa persahabatan, tes ini bagus dilakukan setiap akhir semester untuk menilai karakter siswa, dan tes ini sangat bermanfaat dan tidak membuang-buang waktu. Hal ini sejalan dengan pendapat Suhada, Idad (2016: 147) yang mengatakan bahwa sebagain warga masyarakat pedesaan hidup di pertanian dan pekerjaan-pekerjaan selain agraris. Oleh sebab itu, wajar apabila penilaian anak desa lebih tinggi dibandingkan dengan anak kota mengenai kualitas soal tes ini. Tempat tinggal

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 di pedesaan dan hidup dipertanian membuat mereka hampir tidak pernah melihat film, oleh sebab itu mereka mampu merasakan perasaan yang menarik, asik, dan perasaan positif lainnya ketika dihadapkan dengan soal tes ini. Namun, pada item-item pernyataan lainnya tidak ada perbedaan penilaian antara anak desa dan anak kota terhadap validitas efektifitas soal tes ini. Dengan begitu, artinya produk ini layak digunakan oleh siswa pada berbagai wilayah desa maupun kota. Hal ini sejalan dengan pendapat Morris (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) yang mengatakan bahwa kreativitas dalam pembelajaran menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Oleh sebab itu, gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan hal-hal yang baru. Sedangkan, pembelajaran maupun alat tes menggunakan film masih sangat jarang digunakan di Indonesia, ini merupakan inovasi baru yang mana menciptakan film sebagai alat tes. Terbukti bahwa gaya pembelajaran menggunakan film yang diikuti dengan soal tes karakter menurut siswa desa dan siswa kota sangat efektif digunakan. Selanjutnya, Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Hal yang sama juga disampaikan oleh Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Dari beberapa pernyataan tersebut mampu memperkuat hasil penilaian siswa yang mengatakan bahwa produk ini efektif digunakan oleh

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 siswa desa dan siswa kota, karena film mampu mencapai ranah kognitif maupun afektif siswa dan siswa cenderung memahami hal-hal yang ada di film dari pada buku teks. Hal terpenting lainnya adalah produk soal tes ini juga dapat mengukur capaian hasil pendidikan karakter siswa. Hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan asesmen soal tes berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia adalah cukup baik hingga baik. Skor capaian hasil pendidikan karakter dalam kategori baik sebanyak 338 siswa, sedangkan skor capaian hasil pendidikan karakter dalam kategori cukup baik 322 siswa. Dilihat melalui hasil tersebut, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan pada 10 SMP di Indonesia berhasil masuk dalam kehidupan 660 siswa, sehingga dapat menghasilkan karakter dalam kategori cukup baik hingga baik. Hal tersebut sejalan dengan teori Samani & Hariyanto (2011: 44) yang mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Hal yang sama juga disampaikan oleh Lickona (Akhwan, 2014: 61) yang mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 Dari produk ini, peneliti juga dapat melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di indonesia yang berasal dari desa dan kota dengan menggunakan produk soal tes tersebut. Hasil yang diperoleh adalah tidak adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter yang terlalu signifikan. Talcot Parsons (Sumadilaga, Ruman: 1986) mengatakan bahwa desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri sebagai berikut: afektifitas, tolong menolong, orientasi kolektif, partikularisme, perasaan subyektif, askripsi, dan keluwesan (diffuseness). Sebaliknya, ciri-ciri masyarakat kota seperti yang telah disampaikan oleh Bintarto (Daryono, 2017: 7) yaitu bersikap individual; rasa gotong royong, empati dan simpatinya perlahan mulai pudar; norma dan aturan bermasyarakat sudah mulai pudar sehingga nilai-nilai keagamaan juga mulai menipis; kepeduliannya semakin berkurang, heterogen; diskriminasi; lebih mandiri dan lebih maju daripada masyarakat desa; pembagiaan kerja pada masyarakat kota lebih tegas dibandingkan dengan masyarakat desa; cenderung lebih mudah menerima perubahan dari luar. Namun, walaupun teori mengatakan bahwa anak desa dan kota memiliki ciri-ciri yang bertolak belakang, akan tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil capaian pendidikan karakter anak desa dan anak kota tidak memiliki perbedaan yang begitu signifikan. Artinya, ada faktor lain yang mempengaruhi karakter anak kota dan desa, seperti latar belakang pendidikan orang tua, perekonomian orang tua, status sosial orang tua, latar belakang pekerjaan orang tua, dll. Oleh karena itu, penelitian ini membuktikan bahwa

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 ciri-ciri orang kota dan desa seperti yang disebutkan dalam teori tidak dapat disamaratakan. Selanjutnya dalam konteks ini, pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat dikatakan berhasil. Hal ini dibuktikan dengan hasil yang menunjukkan karakter anak desa dan kota adalah hampir seimbang atau tidak ada perbedaan hasil karakter yang begitu signifikan. Artinya, penerapan pendidikan karakter di sekolah mampu merubah karakter siswa desa dan kota menjadi lebih baik.

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini menguraikan kesimpulan tentang produk, keterbatasan penelitian, dan saran berdasarkan hasil penelitian. A. Simpulan tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan menjadi beberapa hal yaitu: 1. Produk soal tes yang diujikembangkan Tim peneliti berupa karya rekaman yang berisi potongan film soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang telah melalui proses revisi produk. Kegiatan dalam proses perevisian produk antara lain: memilih film berbahasa Indonesia dan pemain utama anak Indonesia, pemain harus anak SMP, revisi kecocokan film dan soal tes, kejernihan suara, dan revisi kalimat sesuai dengan EYD. Melalui tahap perevisian produk ini peneliti memperoleh 88 soal tes dari 440 soal dan telah diujicobakan di 10 SMP di Indonesia. 2. Kualitas soal-soal tes asesmen yang dilihat dari hasil validitas dan koefisiensi reliabilitas terbukti baik. teruji melalui metode analisis faktor 91,36% item dinyatakan valid. Beberapa nomor soal pada variabel karakter tertentu membentuk suatu konstruk baru, sedangkan item-item yang tidak valid dihilangkan seperti pada nomor 34, 39, 11,84, 85,75, 79. Selanjutnya, hasil koefisien reliabilitas juga menunjukkan angka 0,933 134

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 3. yang artinya bahwa soal tes ini memiliki keajegan atau reliabilitas yang sangat baik. 4. Berdasarkan hasil penilaian dari siswa, produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Siswa yang mengerjakan soal tes ini mampu mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya, antara lain: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Dapat dikatakan produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur penginternalisasian pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. 5. Berdasarkan capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia adalah sebanyak 338 siswa memiliki karakter baik dan 322 siswa memiliki karakter cukup baik. Sedangkan tidak ada siswa yang memiliki karakter kurang baik. 6. Pada item-item pernyataan nomor 1, 2, 5, 6, 9, 17, 19, 23, 32, dan 34 menunjukkan hasil yang signifikan. Apabila dilihat dari persentasenya, anak desa menilai bahwa pada item-item tersebut mereka mampu merasakan perasaan yang lebih baik daripada anak kota. Selanjutnya, pada pernyataan nomor 3, 4, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 20, 21,

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 33, dan 35 menunjukkan tidak adanya perbedaan penilaian siswa desa dan siswa kota. Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini dapat digunakan pada siswa desa maupun siswa kota. 7. Berdasarkan perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia, dinyatakan bahwa ada perbedaan hasil pendidikan karakter yang berasal dari desa dan kota, akan tetapi hasil tersebut tidak terlalu signifikan. B. Keterbatasan Penelitian Pelaksanaan penelitian asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia, sudah dirancang secara konseptual, sistematik, dan telah mengikuti aturan procedural. Tim PSHP telah mengupayakan produk ini agar mendapatkan hasil yang optimal, sehingga menjadi sebuah produk soal tes hasil pendidikan karakter yang mumpuni. Akan tetapi penelitian ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan oleh tim selanjutnya. Berikut beberapa catatan dari keterbatasan penelitian ini: 1. Kurangnya fasilitas pendukung seperti ruangan yang sempit dan LCD yang kurang memadai, sehingga dalam pengerjaan siswa merasa kurang nyaman dan mempengaruhi kinerja siswa dalam mengerjakan soal.

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 2. Durasi pemutaran produk asesmen yang cukup lama dan ada beberapa soal beserta jawaban yang ditampilkan terlalu panjang, sehingga membuat siswa mudah lelah. 3. Asesmen ini memakan waktu yang lama pada saat pengerjaan soal. 4. Peneliti merasa kesulitan pada saat perevisian produk soal tes, karena rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. 5. Pelaksanaan penelitian berbarengan denagn libur ujian nasional, sehingga banyak anak yang tidak masuk sekolah/absen. 6. Pada soal tes karakter Religius dan Peduli Lingkungan, hasil KaiserMeyer Olkin (KMO) buruk. Hal tersebut dikarenakan oleh indikator yang mewakili karakter pada faktor 1 dan faktor 4 hanya berjumlah 1. Agar KMO mengalami peningkatan, akan lebih baik apabila jumlah indikator karakter pada variabel tersebut ditambahkan. C. Saran Berikut ini merupakan beberapa saran yang dapat peneliti uraikan untuk pengembangan produk soal tes asesmen agar menjadi lebih baik. 1. Bagi Pemerintah Peneliti menyarankan kepada pemerintah untuk melanjutkan pengembangan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini agar menjadi lebih baik. Pemerintah juga dapat menetapkan produk ini sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui hasil pendidikan karakter pada diri siswa.

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 2. Bagi Guru BK Produk ini dapat digunakan sebagai alat ukur/penilaian karakter yang lebih objektif, efektif, valid, praktis, dan berkeadilan pada jenjang SMP. Guru BK juga harus mempersiapkan game yang membuat anak kembali bersemangat setelah menyelesaikan soal tes ini. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai patokan dalam membuat produk soal tes agar lebih baik lagi. Akan tetapi, produk ini perlu adanya pengembangan agar siswa tidak merasa lelah saat mengerjakan soal tes. Sehingga, produk asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film ini dapat menjadi lebih optimal sebagai alat ukur.

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 Daftar Pustaka Akhwan, Muzhoffar. (2014). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah. El-Tarbawi,7(1), 62. Arikunto, Suharsimi. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. _______. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. _______. (2013). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara Azwar, Saifuddin. (2014). Penyusunan skala psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2003). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188 Barus, Gendon dkk. (2017). Pengembangan Model Asesmen Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Media Film Karakter. Laporan Tahunan Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan. Budiastuti, Dyah & Bandur, Agustinus. (2018). Validitas dan Reliabilitas Penelitian Dilengkapi Analisis dengan NVIVO, SPSS, dan AMOS. Jakarta: Mitra Wacana Media. Blum, L. a. (1988). Gilligan and Kohlberg: Implications for Moral Theory. Ethics, 98(3), 472. Daryono. (2017). BAB XI Interaksi Desa-Kota. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Mata Pelajaran/Paket Keahlian Geografi. Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Hartatik, Yulianti. (2014). Implementasi Pendidikan Karakter di Kantin Kejujuran. Malang: Penerbit Gunung Samudra. Koesoema, Doni. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius.

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 Kustandi, C & Sutjipto, B. (2016). Media pembelajaran; manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Jamaludin, Adon Nasrullah. (20115). Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya. Bandung: CV Pustaka Setia. Jihad, Asep & Haris, Abdul. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Junaidi. (2015). Prosedur Uji-Chi Square. ResearchGate, 1-9. Matonang, Zulkifli. (2009). Validitas dan Reliabilitas Suatu Instrumen Penelitian. Jurnal Tabularasa PPS Unimed, Vol 6(1), hal 87-97. Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. (2010). Kementrian Pendidikan Nasional. Practice, T., & Apr, M. D. (2007). Moral Development : A Review of the Theory Lawrence Kohlberg ; Richard H . Hersh, Vol 16(2), 53–59. Prihana, Rani. (2017). Peningkatan Karakter Ksatria Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Pendekatan Experiential Learning. https://repository.usd.ac.id/9159/2/131114007_full.pdf di unggah pada tanggal 17 Januari 2018. Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press. Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22: Pengolahan Data Terpraktis. Yogyakarta: CV Andi Offset. Purwanto. 1992. Pengertian Tes Dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Rineka Cipta. Ratnawulan, Elis & Rusdiana. (2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia. Samani, Muchlas & Hariyanto. (2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Silalahi, Albinus. (2018). Development Research (Penelitian Pengembangan) dan Research & Development (Penelitian & Pengembangan) dalam Bidang Pendidikan/Pembelajaran. ResearchGate, 1-13. Subali, Bambang. (2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 Sudjana, Nana. (2004). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sumadilaga, Rukman. (1986). Sosiologi dan Antropologi untuk SMA Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Suprananto. (2013). Petunjuk Praktis Penelitian Ilmiah. Suryabrata, Sumadi. (2000). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi Publisher. Suswandi, Sarwiji. 2010. Model assesment dalam pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka & FKIP UNS. Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Undang-Undang No 8 Tahun 1992 tentang perfilman. Uno, Hamzah B. & Koni, Satria. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wardani, Silvia Yula. (2018). Peranan Konselor Dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, h.14. Widarjono, Agus. (2015). ANALISIS MULTIVARIANT TERAPAN Dengan Program SPSS, AMOS, dan SMARTPLS. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Wrastari, Aryani T. & Firmansyah, Rico A. (2014). “Pengaruh Penggunaan Film sebagai Media Belajar terhadap Pencapaian Higher Order Thinking Skill pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR”.Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.03. (1). http://journal.unair.ac.id/download-fullpapersjpkkb65e5e6f32full.pdfdi unggah pada tanggal 4 juni 2018. Yamin, Sofyan & Kurniawan, Heri. (2009). SPSS COMPLETE: Teknik Analisis Statistik Terlengkap dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek. Yasri, H. L & Mulyani, Endang. (2016). Efektivitas Penggunaan Media Film untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X. Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS, Vol 3, 138-149.Yaumi, M. (2014). Pendidikan Karakter Landasan, Pilar & Implementasi. Jakarta: Prenadamedia Grup.

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Yulia, Desma & Arifin Muhammad. Pengaruh Penggunaan Media Film Animasi Dalam Pembelajaran IPS Terpadu Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Kartini 1 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014. Historia, 10, 31-45. Zainul & Nasution. (2005). Penilaian hasil belajar. Cetakan ke-5. Jakarta: PPAUPPAI Universitas Terbuka. Zhang, Q., & Zhao, H. (2017). An Analytical Overview of Kohlberg’s Theory of Moral Development in College Moral Education in Mainland China. Open Journal of Social Sciences, Vol 05(08), 151–160. Zuriah Nurul. (2007). Metode penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara.

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 LAMPIRAN

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 Lampiran 1 Tabulasi Data Hasil Karakter Beberapa Siswa di Indonesia

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157 Lampiran 2 Tabulasi Validitas Efektifitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167 Lampiran 3 Konstruk Baru Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Golongan Faktor Variabel Indikator Variabel Karakter Faktor 1: Nilai karakter dalam Religius hubungannya dengan Tuhan Faktor 2: Karakter dalam Jujur hubungannya dengan diri sendiri Tanggung jawab Kreatif Item Soal Faktor 1 65, 68 Faktor 2 66, 67 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28 Inovatif 29, 30, 31, 32 Daya juang 37, 38, 40 Kerja keras 33, 35, 36 Disiplin 41, 42,43, 44 Mandiri 45, 46, 47, 48 Rasa ingin tahu 1, 2, 3, 4 Faktor 3: Nilai karakter dalam Menghargai hubungannya dengan sesama. prestasi Demokratis 5, 6, 7, 8 57, 58, 59, 60 Rendah hati 49, 50, 51, 52 Kepemimpinan 61, 62, 63, 64 Memaafkan 53, 54, 55, 56 Peduli sosial 9, 10, 12 Bersahabat 81, 82 Cinta damai 85, 86, 87, 88 Faktor 4: Nilai karakter dalam Peduli hubungannya dengan lingkungan lingkungan. Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme Faktor 1 Faktor 2 13, 14 15, 16 77, 78, 80 Toleransi 69, 70, 71, 72 Cinta tanah air 73, 74, 76

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 Lampiran 4 Hasil Perbedaan Penilaian Efektifitas Soal Tes Menurut Siswa Desa dan Kota S1 * TT Crosstab Count TT Soal 1 TIDAK YA Total DESA 7 KOTA 21 11 1 Total 29 456 175 0 631 463 196 1 660 DESA 22 KOTA 20 11 1 Total 43 441 176 0 617 463 196 1 660 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2sided) ,000 Value df a Pearson 49.551 2 Chi-Square Likelihood 31,898 2 ,000 Ratio Linear-by49,467 1 ,000 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .04. S2 * TT Crosstab Count TT Soal 2 TIDAK YA Total

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169 Chi-Square Tests Value a 21.092 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,000 df Likelihood Ratio 11,832 2 ,003 Linear-by-Linear Association 19,948 1 ,000 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .07. S3 * TT Crosstab Count TT Soal 3 TIDAK YA Total DESA 5 KOTA 3 11 0 Total 8 458 193 1 652 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,884 Likelihood Ratio ,248 2 ,883 Linear-by-Linear Association ,080 1 ,778 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value a .246 df a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .01.

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170 S4 * TT Crosstab Count TT Soal 4 TIDAK YA Total DESA 4 KOTA 4 11 0 Total 8 459 192 1 652 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,448 1,478 2 ,478 Linear-by-Linear Association ,735 1 ,391 N of Valid Cases 660 Value a 1.605 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio df a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .01. S5 * TT Crosstab Count TT Soal 5 TIDAK YA Total DESA 11 KOTA 12 11 0 Total 23 452 184 1 637 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Value a 5.783 2 Asymp. Sig. (2sided) ,005 df Likelihood Ratio 5,300 2 ,071 Linear-by-Linear Association 2,698 1 ,100 N of Valid Cases 660

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03. S6 * TT Crosstab Count TT Soal 6 TIDAK YA Total DESA 8 KOTA 10 11 0 Total 18 455 186 1 642 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a 5.938 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,005 df Likelihood Ratio 5,387 2 ,068 Linear-by-Linear Association 2,831 1 ,092 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03. S7 * TT Crosstab Count TT Soal 7 TIDAK YA Total DESA 16 KOTA 8 11 0 Total 24 447 188 1 636 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a .192 ,225 2 Asymp. Sig. (2sided) ,909 2 ,894 df

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172 Linear-by-Linear Association ,025 N of Valid Cases 660 1 ,874 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .04. S8 * TT Crosstab Count TT Soal 8 TIDAK YA Total DESA 147 KOTA 68 11 0 Total 215 316 127 1 444 463 195 1 659 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,579 1,395 2 ,498 Linear-by-Linear Association ,011 1 ,915 N of Valid Cases 659 Value a 1.094 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .33. S9 * TT Crosstab Count TT Soal 9 TIDAK YA Total DESA 36 KOTA 20 11 1 Total 57 426 176 0 602 462 196 1 659

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173 Chi-Square Tests Value a 11.591 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,003 df Likelihood Ratio 5,908 2 ,052 Linear-by-Linear Association 8,601 1 ,003 N of Valid Cases 659 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .09. S10 * TT Crosstab Count TT Soal 10 TIDAK YA Total DESA 14 KOTA 3 11 0 Total 17 448 193 1 642 462 196 1 659 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,533 1,409 2 ,494 Linear-by-Linear Association ,863 1 ,353 N of Valid Cases 659 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a 1.258 df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03.

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174 S11 * TT Crosstab Count TT Soal 11 TIDAK YA Total DESA 50 KOTA 24 11 0 Total 74 413 172 1 586 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .416 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,812 df Likelihood Ratio ,523 2 ,770 Linear-by-Linear Association ,025 1 ,875 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .11. S12 * TT Crosstab Count TT Soal 12 TIDAK YA Total DESA 8 KOTA 7 11 0 Total 15 454 189 1 644 462 196 1 659 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a 2.118 2 Asymp. Sig. (2sided) ,347 df 1,980 2 ,372 Linear-by-Linear Association ,933 1 ,334 N of Valid Cases 659

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S13 * TT Crosstab Count TT Soal 13 TIDAK YA Total DESA 42 KOTA 20 11 0 Total 62 421 176 1 598 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .311 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,856 df Likelihood Ratio ,402 2 ,818 Linear-by-Linear Association ,014 1 ,905 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .09. S14 * TT Crosstab Count TT Soal 14 TIDAK YA Total DESA 11 KOTA 5 11 0 Total 16 452 191 1 644 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a .043 ,067 2 Asymp. Sig. (2sided) ,979 2 ,967 df

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176 Linear-by-Linear Association ,000 N of Valid Cases 660 1 ,994 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S15 * TT Crosstab Count TT Soal 15 TIDAK YA Total DESA 11 KOTA 3 11 0 Total 14 452 193 1 646 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .496 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,781 df Likelihood Ratio ,546 2 ,761 Linear-by-Linear Association ,369 1 ,544 N of Valid Cases 660 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S16 * TT Crosstab Count TT Soal 16 TIDAK YA Total DESA 50 KOTA 21 11 0 Total 71 413 175 1 589 463 196 1 660

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177 Chi-Square Tests Value a .122 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,941 df Likelihood Ratio ,229 2 ,892 Linear-by-Linear Association ,066 1 ,797 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .11. S17 * TT Crosstab Count TT Soal 17 YA TIDAK Total DESA 84 KOTA 56 11 1 Total 141 379 140 0 519 463 196 1 660 11 Total Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,002 Likelihood Ratio 11,703 2 ,003 Linear-by-Linear Association 12,232 1 ,000 Value a 12.602 Pearson Chi-Square N of Valid Cases df 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .21. S18 * TT Crosstab Count TT DESA KOTA

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178 Soal 18 YA TIDAK Total 71 20 1 92 392 176 0 568 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a 9.205 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio 2 Asymp. Sig. (2sided) ,010 df 7,151 2 ,028 Linear-by-Linear Association ,152 1 ,697 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .14. S19 * TT Crosstab Count TT Soal 19 YA TIDAK Total DESA 132 KOTA 41 11 1 Total 174 331 155 0 486 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,032 6,891 2 ,032 Linear-by-Linear Association ,135 1 ,713 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a 6.885 df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .26.

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179 S20 * TT Crosstab Count TT Soal 20 TIDAK YA Total DESA 13 KOTA 12 11 0 Total 25 450 184 1 635 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,123 Likelihood Ratio 3,898 2 ,142 Linear-by-Linear Association 1,880 1 ,170 Value a 4.191 Pearson Chi-Square N of Valid Cases df 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .04. S21 * TT Crosstab Count TT Soal 21 TIDAK YA Total DESA 7 KOTA 4 11 0 Total 11 456 192 1 649 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Value a .252 2 Asymp. Sig. (2sided) ,882 df Likelihood Ratio ,260 2 ,878 Linear-by-Linear Association ,073 1 ,787

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180 N of Valid Cases 660 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S22 * TT Crosstab Count TT Soal 22 TIDAK YA Total DESA 13 KOTA 4 11 0 Total 17 450 192 1 643 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .349 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,840 df Likelihood Ratio ,389 2 ,823 Linear-by-Linear Association ,280 1 ,597 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03. S23 * TT Crosstab Count TT Soal 23 TIDAK YA Total DESA 9 KOTA 10 11 1 Total 20 454 186 0 640 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Value a 36.723 df 2 Asymp. Sig. (2sided) ,000

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181 Likelihood Ratio 11,504 2 ,003 Linear-by-Linear Association 29,237 1 ,000 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03. S24 * TT Crosstab Count TT Soal 24 TIDAK YA Total DESA 9 KOTA 6 11 0 Total 15 454 190 1 645 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .797 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,671 df Likelihood Ratio ,779 2 ,678 Linear-by-Linear Association ,299 1 ,584 N of Valid Cases 660 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S25 * TT Crosstab Count TT Soal 25 TIDAK YA Total DESA 7 KOTA 7 11 0 Total 14 456 189 1 646 463 196 1 660

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182 Chi-Square Tests Value a 2.835 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,242 df Likelihood Ratio 2,613 2 ,271 Linear-by-Linear Association 1,299 1 ,254 N of Valid Cases 660 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .02. S26 * TT Crosstab Count TT Soal 26 TIDAK YA Total DESA 23 KOTA 8 11 0 Total 31 440 188 1 629 463 196 1 660 11 1 Total 200 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,865 Likelihood Ratio ,344 2 ,842 Linear-by-Linear Association ,263 1 ,608 N of Valid Cases 660 Value a .291 Pearson Chi-Square df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .05. S27 * TT Crosstab Count TT Soal 27 YA DESA 141 KOTA 58

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183 TIDAK Total 322 138 0 460 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,309 2,440 2 ,295 Linear-by-Linear Association ,738 1 ,390 N of Valid Cases 660 Value a 2.352 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .30. S28 * TT Crosstab Count TT Soal 28 TIDAK YA Total DESA 27 KOTA 8 11 0 Total 35 436 188 1 625 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,639 Likelihood Ratio ,989 2 ,610 Linear-by-Linear Association ,699 1 ,403 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value a .896 df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .05.

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184 S29 * TT Crosstab Count TT Soal 29 TIDAK YA Total DESA 23 KOTA 4 11 0 Total 27 440 192 1 633 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a 3.049 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,218 df Likelihood Ratio 3,493 2 ,174 Linear-by-Linear Association 2,016 1 ,156 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .04. S30 * TT Crosstab Count TT Soal 30 YA TIDAK Total DESA 158 KOTA 52 11 1 Total 211 305 144 0 449 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a 5.783 2 Asymp. Sig. (2sided) ,055 df 6,015 2 ,049 Linear-by-Linear Association ,184 1 ,668 N of Valid Cases 660

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .32. S31 * TT Crosstab Count TT Soal 31 TIDAK YA Total DESA 14 KOTA 6 11 0 Total 20 449 190 1 640 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .032 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,984 df Likelihood Ratio ,062 2 ,969 Linear-by-Linear Association ,010 1 ,920 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03. S32 * TT Crosstab Count TT Soal 32 TIDAK YA Total DESA 36 KOTA 28 11 1 Total 65 427 168 0 595 463 196 1 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Value a 15.742 df 2 Asymp. Sig. (2sided) ,000

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186 Likelihood Ratio 10,904 2 ,004 Linear-by-Linear Association 15,457 1 ,000 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .10. S33 * TT Crosstab Count TT Soal 33 TIDAK YA Total DESA 29 KOTA 14 11 0 Total 43 434 182 1 617 463 196 1 660 Chi-Square Tests Value a .245 Pearson Chi-Square 2 Asymp. Sig. (2sided) ,885 df Likelihood Ratio ,307 2 ,858 Linear-by-Linear Association ,017 1 ,896 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .07. S34 * TT Crosstab Count TT Soal 34 TIDAK YA Total DESA 50 KOTA 14 11 1 Total 65 413 182 0 595 463 196 1 660

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187 Chi-Square Tests Value a 11.241 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio 2 Asymp. Sig. (2sided) ,004 df 6,864 2 ,032 Linear-by-Linear Association ,950 1 ,330 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .10. S35 * TT Crosstab Count TT Soal 35 YA TIDAK Total DESA 221 KOTA 94 11 1 Total 316 242 102 0 344 463 196 1 660 Chi-Square Tests 2 Asymp. Sig. (2sided) ,579 1,477 2 ,478 Linear-by-Linear Association ,551 1 ,458 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Value a 1.093 df a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .48.

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188 Lampiran 5 Lembar Jawab Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter PETUNJUK MENGERJAKAN TES 1. Terdapat 88 nomor soal dalam tes ini. Setiap soal didahului dengan potongan film video pendek. Pastikan anda serius dan fokus memperhatikan atau menonton setiap potongan video tersebut di layar LCD Screen dari awal hingga akhir. 2. Berdasarkan tayangan video tersebut, bacalah soal yang disajikan dengan cermat, kemudian jawablah dengan memberi tanda silang ( X ) huruf A, B, C, atau D yang paling sesuai dengan hati nurani Anda pada lembar jawaban. 3. Potongan film video dan soal tes untuk setiap nomor ditayangkan secara uruthanya satu kali dan tidak ada tayangan ulang. Jadi Anda harus menjawab langsung secara urut, jangan Anda lompati. 4. Bagi yang mengalami mata minus pastikan Anda memakai kaca mata, duduklah di kursi depan. 5. Jaga ketenangan selama mengikuti tes ini, hendaklah Anda bekerja sendiri dengan jujur. 6. Waktu mengerjakan soal ini dibagi dua bagian, bagian pertama 44 nomor kita selingi dengan istirahat (makan bersama) selama 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan 44 nomor berikutnya. 7. Terima kasih. Divisi Tes Karakter – BK USD 2018 Nama :................................................. Kelas :.............. Agama :................................................. Jenis Kelamin : L / P Tempat tinggal : Kota/Desa Suku : Pribumi/WNA/Cina/Keturunan Pend Ayah : SD/SMP/SMA/S1/S2/S3/Tdk Sekolah Pend Ibu : SD/SMP/SMA/S1/S2/S3/Tdk Sekolah Pek Ayah : PNS/Non PNS/Guru/Non Guru/Karyawan Tetap/Wiraswasta/Buruh/Petani Pek Ibu : PNS/Non PNS/Guru/Non Guru/Karyawan Tetap/Wiraswasta/Buruh/Petani Ayah Ibu : Utuh/Cerai/Meninggal Salah Satu/Meninggal Dua-duanya/Pisah Rumah/Ayah-Ibu Tiri. Income Ortu Kurang : Tetap/Tidak Tetap/Berlebih/Sangat Cukup/Cukup/Kurang/Sangat

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189 Penghasilan perbulan : a. < 1 juta e. > 5 juta b. 1-2 juta c. 2-3 juta d. 3-5 juta LEMBAR JAWABAN TES KARAKTER No Jawaban No Jawaban No Jawaban No Jawaban No Jawaban 1 A B C D 21 A B C D 41 A B C D 61 A B C D 81 A B C D 2 A B C D 22 A B C D 42 A B C D 62 A B C D 82 A B C D 3 A B C D 23 A B C D 43 A B C D 63 A B C D 83 A B C D 4 A B C D 24 A B C D 44 A B C D 64 A B C D 84 A B C D 5 A B C D 25 A B C D 45 A B C D 65 A B C D 85 A B C D 6 A B C D 26 A B C D 46 A B C D 66 A B C D 86 A B C D 7 A B C D 27 A B C D 47 A B C D 67 A B C D 87 A B C D 8 A B C D 28 A B C D 48 A B C D 68 A B C D 88 A B C D 9 A B C D 29 A B C D 49 A B C D 69 A B C D 10 A B C D 30 A B C D 50 A B C D 70 A B C D 11 A B C D 31 A B C D 51 A B C D 71 A B C D 12 A B C D 32 A B C D 52 A B C D 72 A B C D 13 A B C D 33 A B C D 53 A B C D 73 A B C D 14 A B C D 34 A B C D 54 A B C D 74 A B C D 15 A B C D 35 A B C D 55 A B C D 75 A B C D 16 A B C D 36 A B C D 56 A B C D 76 A B C D 17 A B C D 37 A B C D 57 A B C D 77 A B C D 18 A B C D 38 A B C D 58 A B C D 78 A B C D 19 A B C D 39 A B C D 59 A B C D 79 A B C D 20 A B C D 40 A B C D 60 A B C D 80 A B C D

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190 Lampiran 6 Lembar Validasi Siswa LEMBAR PENILAIAN SISWA Nama :________________________________ Kelas:__________ Pengantar Anak-anak yang budiman, kalian telah mengikuti serangkaian tes hasil pendidikan karakter berbasis film/video karakter. Bagaimana, videonya menarik, bukan…? Kegiatan ini telah selesai, terimakasih atas kesediaan kalian berpartisipasi. Sekarang, kami mohon kesediaan kalian untuk memberi kesan-kesan atau penilaian atas kualitas tes tadi. Berilah tanda centang (√) pada kolom yang sesuai dengan apa yang kamu alami/rasakan tentang tes tersebut. No Menurut saya, tes ini : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwa aku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya sangat berat dan sulit Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Ya Tidak

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Nama dan Tanda tangan ……………………….

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192 Lampiran 7 Dokumentasi

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193 Lampiran 8 Surat Ijin Penelitian

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194 Lampiran 9 Surat Pernyataan Kesediaan Mitra

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195 Lampiran 10 Surat Keterangan Melakukan Penelitian

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196 Lampiran 11 Daftar Hadir Siswa

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(220)

Dokumen baru

Download (219 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Tingkat kecemasan siswa SMA menghadapi ulangan umum akhir semester antara siswa yang bertempat tinggal bersama orang tua dan siswa yang bertempat tinggal di Kos.
0
1
116
Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.
0
1
251
Hasil pendidikan karakter pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus.
0
2
171
Hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa berdasarkan urutan kelahiran di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus dan mo
0
0
175
Hasil pendidikan karakter terintegrasi di smp (studi evaluatif ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan Kelas VIII di SMP Negeri 13 Yogyakarta dan SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 serta implikasinya terhada
0
0
207
Peningkatan karakter ksatria melalui pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning.(penelitian tindakan Bimbingan dan Konseling pada siswa kelas V
0
0
179
Pembuatan film pendek untuk pendidikan karakter anak berbasis animasi 3D cover
0
0
14
sertifikat seminar nasional pendidikan karakter pada pendidikan kejuruan
0
0
1
pelatihan implementasi bk yang berbasis kepada pembentukan dan pengembangan karakter siswa
0
0
1
Gambaran penggunaan media dan pendidikan literasu media pada siswa SD di kota Semarang
0
0
6
Perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bertempat tinggal di kos dan di rumah bersama orang t - USD Repository
0
1
119
Implementasi program penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat di Sekolah Dasar se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
192
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta yang berbeda di sepuluh SMP di Indonesia - USD Repository
0
0
197
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai di 10 SMP di Indonesia - USD Repository
0
0
210
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya di 10 SMP di Indonesia - USD Repository
0
0
213
Show more