PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD

Gratis

0
1
233
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Eriene Denis Karina NIM: 151134035 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya sederhana ini kupersembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menjadi tempatku mengeluh sekaligus memberikanku kekuatan. 2. Papa dan mama tercinta yang telah mencurahkan darah dan keringatnya untuk membuatku menjadi manusia yang hebat. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13) “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22) “I wasn’t born with anything, my weapon is hard work and determination.” (Winner’s Seunghoon Lee) “Love what you do, not the love you get for doing it.” (Tablo) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 29 Januari 2019 Peneliti Eriene Denis Karina vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Eriene Denis Karina Nomor Mahasiswa : 151134035 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD”, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 29 Januari 2019 Yang menyatakan Eriene Denis Karina vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD Eriene Denis Karina Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah keprihatinan terhadap rendahnya tingkat literasi IPA siswa Indonesia pada penelitian PISA tahun 2012 dan 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan pada materi sistem pernapasan hewan kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental tipe pretest posttest nonequivalent group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta sebanyak 46 siswa. Sampel penelitian ini terdiri dari 22 siswa kelas VB sebagai kelompok kontrol dan 24 siswa kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Treatment yang diterapkan di kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Ada enam langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim . Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi. Rerata selisih skor pretest - posttest I kelompok eksperimen (M = 0,58; SE = 0,09) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (M = -0,01; SE = 0,13). Perbedaan tersebut signifikan dengan harga t(44) = -3,62; p = 0,01 (p < 0,05). Besar pengaruh r = 0,47 setara dengan 22% yang masuk kategori efek menengah; 2) model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Rerata selisih skor pretest - posttest I kelompok eksperimen (M = 0,31; SE = 0,08) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (M = 0,00; SE = 0,08). Perbedaan tersebut signifikan dengan harga t(44) = -2,67, p = 0,01 (p < 0,05). Besar pengaruh r = 0,37 setara dengan 13,69% yang masuk kategori efek menengah Kata kunci: Model pembelajaran kooperatif tipe STAD, kemampuan mengevaluasi, kemampuan menarik kesimpulan, kemampuan berpikir kritis. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL WITH STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TYPE ON THE ABILITY TO EVALUATE AND CONCLUDE FOR THE FIFTH GRADE STUDENTS Eriene Denis Karina Sanata Dharma University 2019 The background of this research is related to the low science concern of the Indonesian students, which have done by PISA in 2012 and 2015. The purpose of the research to discover the effect of cooperative learning model with Student Team Achievement Division (STAD) type towards the ability to evaluating and concluding in animal respiratory system material of fifth grade on one of elementary school at Yogyakarta. This research used quasi experimental research with pretest and posttest nonequivalent group design type. The population that is used in this research is all of the fifth grade on one of elementary shool at Yogyakarta, which is 46 students. The sample of this research consists of two groups from VB, which is 22 students as the control group and VA, which is 24 students as the experiment group the treatment that is applied to the experiment group is cooperative learning with STAD type which has six steps, deliver the goals and motivation, form team for study and practice, present the concept, learning team, individual quizzes, recognize winning team. The result of this tudy shows that 1) cooperative learning model with STAD type affects on the ability to evaluating. The average o differences score of experimentl group (M = 0,58; SE = 0,09) is higher than the average of differences score of control group (M = -0,01; SE = 0,13). Those differences is significant t(44) = -3,62; p = 0,01 (p < 0,05). The effect size r = 0,47 is equal to 22% in the category of medium effect 2) cooperative learning model with STAD type affects on the ability to concluding. The average o differences score of experimentl group (M = 0,31; SE = 0,08) is higher than the average of differences score of control group (M = 0,00; SE = 0,08). Those differences is significant t(44) = -2,67; p = 0,01 (p < 0,05). The effect size r = 0,37 is equal to 13,69% in the category of medium effect Keywords: Cooperative learning model with Student Team Achievement Division type, ability to evaluate, ablity to conclude, critical thinking skills. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul PEMBELAJARAN ACHIEVEMENT “PENGARUH KOOPERATIF DIVISION (STAD) PENERAPAN TIPE STUDENT TERHADAP MODEL TEAM KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dengan sabar dan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dengan sabar dan bijaksana. 6. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Penguji III yang telah memberikan masukan pada penelitian ini. 7. Anna Maria Wahyuni, S.Pd. selaku Kepala Sekolah Dasar yang telah memberikan izin melakukan penelitian. 8. Rosalia Septi Wulansari, S.Pd. selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar. 9. G. Tri Teguh Rahayu, S.Pd. selaku guru kelas V B yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di kelas tersebut. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Siswa kelas V A dan V B Sekolah Dasar Tahun Pelajaran 2018/2019 yang bersedia terlibat dalam penelitian. 11. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu proses perijinan penelitian skripsi. 12. Papa dan mamaku, Tjakra Krisna Takariana dan Isti Yunani yang tidak pernah berhenti mendoakan dan mengusahakan segala yang kubutuhkan. 13. Kakakku, Emmanuel Dian Kharisma yang berjuang bersama untuk menyelesaikan skripsi. 14. Sahabat seperjuangan dan tempat berkeluh kesah, Felisitas Laurina Christi dan Melsaria Permatasari. 15. Sahabat Zuperghenxz Indonesia, Karin, Galang, Inge, Manes, Lala, dan Yuka yang dengan tulus mendoakan, mendukung dan memberi semangat. 16. Teman-teman EXO-L, NCTzen, dan Inner Circle yang selalu memberikan keceriaan dan penghiburan di kala bosan. 17. Teman-teman PPL, Sindhi, Sekar, Antonia, Rossa, Wulan, dan Elza yang mendukung dan memberi semangat. 18. Teman-teman kelas VII A angkatan 2015 yang sama-sama berjuang meraih gelar sarjana pendidikan. 19. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan kemampuan peneliti. Maka peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi menyempurnakan skripsi ini. Peneliti berharap, semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................................... iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS........................................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi DAFTAR GRAFIK ........................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 6 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 7 1.5 Definisi Operasional ...................................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 9 2.1 Kajian Pustaka ............................................................................................... 9 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung ............................................................................... 9 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak ..................................................................... 9 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif menurut Piaget ..................................... 10 2.1.1.3 Teori Sosiokultural menurut Vygotsky ................................................ 12 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif ........................................................... 14 2.1.1.5 Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) .... 15 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis ................................................................. 19 2.1.1.7 Kemampuan Mengevaluasi .................................................................. 20 2.1.1.8 Kemampuan Menarik Kesimpulan ....................................................... 20 2.1.1.9 Materi Pembelajaran ............................................................................. 21 2.1.2 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Relevan .............................................. 23 2.1.2.1 Penelitian Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD ....................... 23 2.1.2.2 Penelitian Kemampuan Berpikir Kritis ................................................ 24 2.1.2.3 Literature Map...................................................................................... 27 2.3 Hipotesis Penelitian ..................................................................................... 30 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 31 3.1 Jenis penelitian ............................................................................................ 31 3.2 Setting Penelitian ......................................................................................... 32 3.2.1 Lokasi Penelitian..................................................................................... 32 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.2 Waktu Penelitian ..................................................................................... 33 3.3 Populasi dan Sampel .................................................................................... 34 3.3.1 Populasi ................................................................................................... 34 3.3.2 Sampel..................................................................................................... 34 3.4 Variabel Penelitian....................................................................................... 35 3.4.1 Variabel Independen ............................................................................... 35 3.4.2 Variabel Dependen.................................................................................. 36 3.5 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 36 3.6 Instrumen Penelitian .................................................................................... 38 3.7 Teknik Pengujian Instrumen ........................................................................ 39 3.7.1 Uji Validitas ............................................................................................ 39 3.7.1.1 Validitas Permukaan ............................................................................. 39 3.7.1.2 Validitas Isi ........................................................................................... 40 3.7.1.3 Validitas Konstruk ................................................................................ 41 3.7.2 Uji Reliabilitas ........................................................................................ 42 3.8 Teknik Analisis Data ................................................................................... 43 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan .......................................................................... 43 3.8.1.1 Uji Asumsi ............................................................................................ 43 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................ 44 3.8.1.3 Uji Signifikasi Pengaruh Perlakuan ...................................................... 45 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan .............................................................. 46 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut .............................................................................. 48 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ...................... 48 3.8.2.2 Besar Efek Peningkatan ........................................................................ 49 3.8.2.3 Uji Korelasi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ......................... 50 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ..................... 51 3.8.2.5 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Possttest II ....................... 52 3.9 Ancaman terhadap Validitas Internal Penelitian ......................................... 53 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 59 4.1 Hasil Penelitian ............................................................................................ 59 4.1.1 Implementasi Penelitian .......................................................................... 59 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ................................................................. 59 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ................................................. 60 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data ........................................................................... 67 4.1.2.1 Kemampuan Mengevaluasi .................................................................. 67 4.1.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ....................................................... 68 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ........................................................................ 70 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................ 70 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................................... 72 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan .............................................................. 76 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut ........................................................................... 76 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II ....................................................................... 83 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................ 84 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................................... 86 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan .............................................................. 90 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut ........................................................................... 90 4.2 Pembahasan ................................................................................................. 97 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1 4.2.2 4.2.3 4.2.4 Analisis terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian ...................... 97 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengevaluasi .................................... 100 Analisis Pengaruh Kemampuan Menarik Kesimpulan ......................... 104 Analisis Hasil Penelitian terhadap Teori............................................... 106 BAB V PENUTUP ............................................................................................. 110 5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 110 5.2 Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 110 5.3 Saran .......................................................................................................... 111 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 112 CURRICULUM VITAE ..................................................................................... 214 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione .................................................. 19 Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ................................................................... 34 Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen...................................................... 39 Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Intrumen ............................................................... 41 Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen .......................................................... 42 Tabel 3.5 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................... 47 Tabel 4.1 Sebaran Data Mengevaluasi Kelompok Kontrol ................................ 67 Tabel 4.2 Sebaran Data Mengevaluasi Kelompok Eksperimen .......................... 68 Tabel 4.3 Sebaran Data Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol ..................... 68 Tabel 4.4 Sebaran Data Menarik Kesimpulan Kelompok Eksperimen .............. 69 Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................. 71 Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian ............................................................ 72 Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................. 72 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I . 73 Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I ........... 74 Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................... 74 Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................. 76 Tabel 4.12 Hasil Ui Normalitas Distribusi Data Skor Pretest-Posttest I ............ 77 Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .......................................... 77 Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I ............ 79 Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I.............................. 80 Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II ............................................................................................................ 82 Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ........ 86 Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II............ 83 Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data ................................................ 85 Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian .......................................................... 85 Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................... 86 Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I87 Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I ......... 87 Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................... 88 Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................. 90 Tabel 4.26 Hasil Ui Normalitas Distribusi Data Skor Pretest-Posttest I ............ 91 Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .......................................... 96 Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I ............ 93 Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I.............................. 94 Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II ............................................................................................................ 95 Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ........ 96 Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II............ 97 Tabel 4.33 Ancaman dalam Penelitian................................................................ 98 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.5 Literature Map ................................................................................ 27 Gambar 3.1 Rumus Pengaruh Perlakuan ............................................................ 32 Gambar 3.2 Desain Penelitian ............................................................................. 32 Gambar 3.3 Variabel Penelitian .......................................................................... 36 Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal ............ 47 Gambar 3.5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal . 48 Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh............................................................ 48 Gambar 3.7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I ...................... 48 Gambar 3.8 Rumus Gain Score .......................................................................... 49 Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Normal................ 49 Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Tidak Normal ... 50 Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Pengaruh ............................................... 50 Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi....................................................... 52 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Signifikansi Pengaruh Perlakuan ....................................................... 75 Grafik 4.2 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ......................... 75 Grafik 4.3 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ........................................... 77 Grafik 4.4 Gain Score ......................................................................................... 78 Grafik 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ...................... 82 Grafik 4.6 Signifikansi Pengaruh Perlakuan ....................................................... 89 Grafik 4.7 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ......................... 89 Grafik 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ........................................... 91 Grafik 4.9 Gain Score ......................................................................................... 92 Grafik 4.10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II .................... 96 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian...................................................................... 117 Lampiran 1.2 Surat Izin Validitas Soal ............................................................... 118 Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Eksperimen .................................................... 119 Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Kontrol ........................................................... 122 Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ....... 125 Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol.............. 137 Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa ..................................................................... 147 Lampiran 3.1 Soal Uraian ................................................................................... 153 Lampiran 3.2 Kunci Jawaban.............................................................................. 158 Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian ........................................................................... 163 Lampiran 3.4 Hasil Pekerjaan Siswa .................................................................. 167 Lampiran 3.5 Hasil Rekap Expert Judgement..................................................... 172 Lampiran 3.6 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgement ................................... 173 Lampiran 3.6.1 Hasil Uji Validasi oleh Dosen ................................................... 173 Lampiran 3.6.2 Hasil Uji Validasi oleh Guru ..................................................... 176 Lampiran 3.7 Data Uji Validitas Instrumen ........................................................ 182 Lampiran 3.8 Hasil SPSS Uji Validitas .............................................................. 183 Lampiran 3.8.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal .......................................... 183 Lampiran 3.9 Hasil SPSS Uji Reliabilitas........................................................... 185 Lampiran 4.1 Data Hasil Penelitian untuk Kemampuan Mengevaluasi ............. 186 Lampiran 4.2 Data Hasil Penelitian untuk Kemampuan Menarik Kesimpulan .. 187 Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data ................................. 188 Lampiran 4.3.1 Kemampuan Mengevaluasi ....................................................... 188 Lampiran 4.3.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................................ 188 Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal ........... 189 Lampiran 4.4.1 Kemampuan Mengevaluasi ....................................................... 189 Lampiran 4.4.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................................ 189 Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................. 190 Lampiran 4.5.1 Kemampuan Mengevaluasi ....................................................... 190 Lampiran 4.5.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................................ 190 Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I ........................................................................................................................... 192 Lampiran 4.6.1 Kemampuan Mengevaluasi ....................................................... 192 Lampiran 4.6.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................................ 192 Lampiran 4.7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................. 193 Lampiran 4.7.1 Kemampuan Mengevaluasi ....................................................... 193 Lampiran 4.7.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................................ 193 Lampiran 4.8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan .......................... 195 Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 196 Lampiran 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ........................................................................................................................... 196 Lampiran 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I................ 197 Lampiran 4.9.2.1 Kemampuan Mengevaluasi .................................................... 197 Lampiran 4.9.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan ......................................... 198 Lampiran 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score ........................................... 200 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengevaluasi .................. 200 Lampiran 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,00 Kemampuan Mengevaluasi ...................................................................................................... 200 Lampiran 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menarik Kesimpulan ....... 201 Lampiran 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Kemampuan Menarik ............................................................................................................... 201 Lampiran 4.10 Hasil Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............................................................................................................. 202 Lampiran 4.10.1 Kemampuan Mengevaluasi ..................................................... 202 Lampiran 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............................................................................................................. 202 Lampiran 4.10.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan .......................................... 202 Lampiran 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............................................................................................................. 202 Lampiran 4.11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I ..... 204 Lampiran 4.11.1 Kemampuan Mengevaluasi ..................................................... 204 Lampiran 4.11.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol ........................................... 204 Lampiran 4.11.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen..................................... 204 Lampiran 4.11.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan .......................................... 204 Lampiran 4.11.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol ........................................... 204 Lampiran 4.11.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen..................................... 205 Lampiran 4.12 Hasil Uji Retensi Perlakuan ........................................................ 206 Lampiran 4.12.1 Kemampuan Mengevaluasi ..................................................... 206 Lampiran 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Possttest II .......................................................................................................................... 206 Lampiran 4.12.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II ............................................................................................................ 207 Lampiran 4.12.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II ..... 207 Lampiran 4.12.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan .......................................... 209 Lampiran 4.12.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II 209 Lampiran 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II ............................................................................................................ 210 Lampiran 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II ..... 210 Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran ................................................. 212 Lampiran 5.2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ................................. 213 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Berpikir kritis memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika Santrock (dalam Desmita, 2007: 161) menempatkan pemikiran kritis sebagai salah satu aspek penting dalam penalaran sehari-hari. Para ahli psikologi dan pendidikan menyadari bahwa anakanak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis (Desmita, 2007: 162). Anak kelas V Sekolah Dasar berusia antara 10-11 tahun dan berada pada tahap operasional konkret berdasarkan tahapan perkembangan kognitif Piaget. Anak sudah mulai berpikir secara logis dan mampu menyelesaikan masalah yang bersifat konkret. Sedangkan, pandangan Vygotsky menekankan pentingnya pola sosiokultural di mana individu menjadi salah satu unsurnya, yaitu interaksi sosial memainkan peran fundamental dalam perkembangan kognisi (Salkind, 2009: 371). Proses fundamental pembelajaran berlangsung melalui interaksi anak dengan seseorang yang berpengetahuan, entah itu orang dewasa (seperti orang tua atau guru) atau teman sebaya (Salkind, 2009: 373). Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan anak bergantung pada interaksi anak dengan orang lain dan dengan sarana-sarana tertentu (seperti bahasa) yang disediakan oleh kultur dan membantu pandangan dunia anak (Salkind, 2009: 373). Tokoh pendidikan kritis berkebangsaan Brazil, Paulo Freire menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kesadaran berpikir kritis anak di dalam proses pendidikan, guru dan murid harus berperan sebagai pemain bersama (Desmita, 2007: 162). Facione (2011) menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan menarik kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tertentu yang digunakan untuk menilai. Terdapat enam dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione (2011). Enam dimensi kognitif tersebut adalah kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Kemampuan mengevaluasi menurut Facione (2011) adalah kemampuan untuk menilai kredibilitas suatu pernyataan atau argumen dan menilai bobot logika suatu kesimpulan, sedangkan kemampuan menarik kesimpulan menurut Facione (2011) adalah mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensikonsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, dan konsep. Facione (2011) menjelaskan bahwa kemampuan mengevaluasi akan tampak ketika siswa dapat memunculkan dua unsur dalam kegiatan pembelajaran, yaitu yang pertama adalah menilai sah tidaknya klaim-klaim, seperti menilai faktor-faktor yang relevan yang dapat digunakan untuk menguji kredibilitas sumber informasi dan menilai penerimaan kebenaran dari suatu pernyataan, dan yang kedua adalah menilai sah tidaknya argumen-argumen, seperti menilai kebenaran suatu argumen yang diambil secara induktif atau deduktif dan menilai relevansi suatu argumen untuk suatu permasalahan. Kemampuan menarik kesimpulan akan tampak ketika siswa dapat memunculkan tiga unsur dalam kegiatan pembelajaran, yaitu yang pertama adalah menguji bukti-bukti, seperti menilai premis-premis yang memerlukan dukungan informasi tambahan dan menguji informasi-informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan, yang kedua adalah menerka alternatif-alternatif, seperti merumuskan berbagai alternatif untuk memecahkan suatu permasalahan dan memproyeksikan berbagai konsekuensi yang mungkin dari keputusan, teori, kepercayaan, kebijakan, atau posisi tertentu, dan yang ketiga adalah menarik kesimpulan, seperti membuat eksperimen dan menerapkan teknik yang relevan untuk menguji benar tidaknya suatu hipotesis dan menentukan kesimpulan-kesimpulan mana yang paling kuat menjamin suatu bukti dan mana yang harus ditolak karena tidak memadai. 2

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui suatu metode tertentu (Wonorahardjo, 2010: 12). Program for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi sains sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan data, memahami alam semesta, dan membuat keputusan dari dampak yang terjadi karena aktivitas manusia. Hasil belajar siswa Sekolah Dasar pada mata pelajaran IPA di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara lainnya. Hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang bernaung pada sebuah organisasi bernama Organization Economic Cooperation Development (OECD). PISA melakukan survei setiap tiga tahun sekali, untuk mengetahui sistem pendidikan dan hasil belajar siswa di berbagai negara dengan fokus mata pelajaran IPA, membaca, dan matematika. Pada tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek kognitif karena soalsoal yang digunakan pada PISA memerlukan penalaran dan pemecahan masalah. Kesulitan tersebut bisa disebabkan karena pembelajaran yang diterima oleh siswa kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, yang merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran yang inovatif agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta dapat mengembangkan interaksi sosial siswa, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Dari berbagai model pembelajaran, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) menjadi alternatif yang baik untuk digunakan dalam penelitian ini. Model pembelajaran STAD merupakan 3

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks (Shoimin, 2014: 185). Ciri terpenting dari model pembelajaran STAD ini adalah kegiatan belajar dalam tim (Rusman, 2013: 215). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menggunakan enam langkah, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim (Rusman, 2013: 215). Model pembelajaran ini dipilih peneliti karena siswasiswi di kelas V SD ini termasuk ke dalam kategori beragam, baik dalam hal kemampuan, jenis kelamin hingga suku. Hal tersebut sesuai dengan komponen dari model pembelajaran STAD, yaitu membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen dengan jenis kelamin yang berbeda, berasal dari berbagai suku, dan memiliki kemampuan yang berbeda (Shoimin, 2014: 186). Slavin (dalam Rusman, 2013: 214) mengemukakan bahwa gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Melalui kegiatan belajar dalam tim, siswa-siswi kelas V SD ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Berbagai jurnal penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) diterbitkan. Penelitian dilakukan oleh Sukmayani, Parmiti, dan Wibawa (2015) yang meneliti tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap motivasi dan hasil belajar IPS siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD membawa pengaruh yang positif terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD. Sudiarpa, Renda, dan Rati (2015) meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPA kelas IV SDN 3 Songan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa. Juraini, Taufik, dan Gunada (2016) meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar fisika pada siswa SMA Negeri 1 Labuapi tahun pelajaran 2015/2016. Hasil penelitian menunjukkan 4

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bahwa terdapat pengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa saat pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan. Berbagai jurnal penelitian untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa juga diterbitkan. Penelitian dilakukan oleh Fitriani, Indrowati, dan Karyanto (2015) yang meneliti pengaruh penerapan Accelerated Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran Biologi siswa kelas X SMA Negeri Karangpandan Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Accelerated Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Widura, Karyanto, dan Ariyanto (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model Guided Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapaan model pembelajaran Guided Discovery Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Usdalifat, Ramadhan, dan Suleman (2016) meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses siswa pada mata pelajaran IPA Biologi kelas VII SMP Negeri 19 Palu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap berbagai kemampuan siswa. Peneliti belum menemukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan menurut Facione. Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental tipe pretest posttest nonequivalent group design. Penelitian dilaksanakan di salah satu SD swasta di Yogyakarta pada 19 September – 4 Oktober 2018. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Sampel penelitian yang digunakan, yaitu kelas VB yang berjumlah 22 siswa sebagai kelompok kontrol dan kelas VA yang berjumlah 24 siswa sebagai kelompok eksperimen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division 5

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (STAD) dan variabel dependen yang digunakan adalah dua dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis, yaitu kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan menurut Facione siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini dikhusukan pada materi Tema 2, yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan Subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” Pembelajaran 1 yang terfokus pada mata pelajaran IPA dengan materi sistem pernapasan hewan dengan kompetensi dasar 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. 6

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Siswa mendapatkan pengalaman belajar dengan menggunakan model pembelajaran yang berkelompok, yaitu model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan dapat berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 1.4.2 Bagi Guru Guru memiliki pengalaman langsung menerapkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dalam pembelajaran di kelas dan dapat berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 1.4.3 Bagi Sekolah Sekolah memiliki referensi dan pengetahuan baru mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dapat berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa. 1.4.4 Bagi Peneliti Peneliti dapat menggunakan hasil penelitian sebagai acuan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) pada pembelajaran terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berisi kegiatan belajar mengajar secara kelompok-kelompok kecil yang mendorong siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun kelompok. 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) adalah model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang mengacu kepada belajar kelompok siswa. 7

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir untuk menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, menarik kesimpulan, eksplanasi, dan regulasi diri. 1.5.4 Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan untuk menilai kredibilitas suatu pernyataan dan menilai bobot logika suatu kesimpulan. 1.5.5 Kemampuan menarik kesimpulan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, dan konsep. 8

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi kajian pustaka, penelitian terdahulu yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian. Hasil penelitian terdahulu berisi pengalaman penelitian yang pernah ada yang dirumuskan dalam kerangka berpikir dan hipotesis penelitian yang berisi dugaan sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung Teori yang mendukung merupakan teori yang melandasi penelitian ini. Pada bagian ini akan dibahas teori perkembangan anak, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD), kemampuan berpikir kritis, kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, dan materi tentang sistem pernapasan pada hewan. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Perkembangan anak adalah suatu perubahan fungsional yang bersifat kualitatif, baik dari fungsi-fungsi fisik maupun mental sebagai hasil keterkaitannya dengan pengaruh lingkungan. Perkembangan ditunjukkan dengan perubahan yang bersifat sistematis, progresif, dan berkesinambungan. Istilah perkembangan merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Perkembangan tidak terbatas pada pengertian perubahan secara fisik, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan secara terus-menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan, melalui pertumbuhan dan belajar (Desmita, 2007: 4). Perkembangan berhubungan dengan keseluruhan kepribadian individu, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Terdapat beberapa aspek utama kepribadian, yaitu aspek fisik dan motorik, aspek intelektual, aspek sosial, aspek bahasa, aspek emosi, dan aspek moral dan keagamaan. Secara khusus aspek 9

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI intelektual atau kognitif dari Piaget dan aspek sosial atau sosiokultural dari Vygotsky. Kedua tokoh tersebut memiliki teori konstruktivisme dan telah digunakan di beragam penelitian. Piaget dengan teori perkembangan kognitif dan Vygotsky dengan teori sosiokultural. 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif menurut Piaget Jean Piaget (1896-1980) merupakan seorang psikolog penting di abad ke 20 (Naisaban, dalam Ibda, 2105: 28). Piaget mengawali serangkaian studi penting mengenai tingkah laku kognitif bayi kepada ketiga anaknya (Crain, 2014: 169). Risetnya memberikan kontribusi yang jelas menuju sebuah teori pentahapan yang tunggal dan terintegrasikan (Crain, 2014: 170). Piaget menyatakan bahwa anakanak harus berinteraksi dengan lingkungannya untuk berkembang dan membangun struktur-struktur kognitif baru dalam dirinya. Perkembangan merupakan proses konstruktif yang aktif, di mana anak-anak membangun struktur-struktur kognitif yang semakin berbeda dan komprehensif melalui aktivitas-aktivitas mereka sendiri (Crain, 2014: 173). Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berpikir secara logis dari masa bayi hingga dewasa. Perkembangan kognitif anak-anak berjalan melalui sebuah rangkaian tetap. Pola operasi yang dapat dilakukan anak-anak dapat dikatakan sebagai sebuah level atau tahapan. Masing-masing level atau tahapan ditentukan oleh bagaimana anak-anak melihat dunia mereka (Piaget, dalam Schunk, 2012: 332). Piaget meyakini jika proses perkembangan kognitif terutama berkenaan dengan skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, dan keseimbangan (Santrock, 2014: 43). Piaget menyatakan bahwa ketika anak berusaha membangun pemahaman mengenai dunia, otak berkembang membentuk skema (schema). Skema adalah pembuatan bangunan blok pengetahuan (Tung, 2015: 49). Ini merupakan tindakan atau representasi mental yang mengatur pengetahuan. Skema bayi disusun melalui tindakan sederhana yang bisa dilakukan terhadap objekobjek, seperti menyedot, melihat dan menggenggam, sedangkan anak yang lebih tua mempunyai skema yang meliputi strategi dan rencana untuk menyelesaikan masalah (Santrock, 2014: 43-44). 10

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Piaget memberikan konsep asimilasi dan akomodasi untuk menjelaskan bagaimana anak menggunakan dan menyesuaikan skema mereka. Asimilasi (assimilation) terjadi ketika anak memasukkan informasi baru ke dalam skema mereka yang sudah ada sebelumnya. Akomodasi (accomodation) terjadi ketika anak menyesuaikan skema mereka agar sesuai dengan informasi dan pengalaman baru yang mereka dapatkan (Santrock, 2014: 44). Selanjutnya anak mengatur pengalaman mereka secara kognitif untuk mengartikan dunia mereka. Organisasi (organization) adalah pengelompokan perilaku dan pikiran yang terisolasi ke dalam susunan sistem yang lebih tinggi. Ekuilibrasi (equilibration) adalah mekanisme yang diajukan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak beralih dari satu tahap pemikiran ke tahap berikutnya. Peralihan ini terjadi ketika anak mengalami konflik kognitif atau mengalami disekuilibrium dalam memahami dunia. Akhirnya, mereka menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai keseimbangan atau ekuilibrium pemikiran (Santrock, 2014: 44). Piaget berpendapat bahwa hasil dari proses asimilasi, akomodasi, ekuilibrium, dan organisasi, anak tersebut melalui empat tahap perkembangan. Setiap tahapan Piaget berkaitan dengan usia dan terdiri atas cara pikir yang berbeda-beda (Santrock, 2014: 45), yaitu: 1. Tahap Sensorimotor (Usia 0 - 2 tahun) Tahap sensorimotor adalah tahap yang menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama periode ini, anak mengatur alamnya dengan indera (sensori) dan tindakannya (motor), serta anak tidak mempunyai pemahaman tentang konsep objek permanen. 2. Tahap Praoperasional (Usia 2 – 7 tahun) Tahap ini disebut praoperasional karena pada usia ini, anak belum mampu untuk melaksanakan operasi mental, seperti menambah, mengurangi, dan lainlain. Selain itu, anak pada tahap praoperasional tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang memerlukan berpikir reversibel tetapi anak pada tahap praoperasional dapat berpikir irreversibel. Karakteristik lainnya adalah anak memiliki sifat egosentris, yang berarti anak mempunyai kesulitan untuk menerima pendapat orang lain. 11

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Tahap Operasional Konkret (7 – 11 tahun) Tahap ini merupakan permulaan untuk anak dapat berpikir rasional. Hal ini berarti anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah yang konkret. Cara berpikir anak pada tahap operasional konkret tidak lagi didominasi oleh persepsi. Anak dapat menggunakan pengalaman-pengalaman mereka sebagai acuan dan tidak bingung dengan apa yang mereka pahami. 4. Tahap Operasional Formal (Usia > 11 tahun) Pada tahap ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama tahap ini adalah ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda atau peristiwa konkret, karena ia telah mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak. Tahapan-tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget ini sangat membantu dalam proses pembelajaran, khususnya bagi guru dalam memberikan perlakuan yang tepat untuk siswa sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan kognitifnya. Siswa kelas lima sekolah dasar berusia antara 10-11 tahun dan berada pada tahap operasional konkret berdasarkan tahapan perkembangan kognitif Piaget. Pada tahap operasional konkret, siswa mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara objektif; bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak; (2) mulai berpikir secara operasional; (3) mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda; (4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat; dan (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat (Majid, 2014: 9). 2.1.1.3 Teori Sosiokultural menurut Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah seorang psikolog asal Rusia yang dikenal atas kontribusinya dalam teori perkembangan anak. Pandangan Vygotsky menekankan pentingnya pola sosiokultural di mana individu menjadi salah satu unsurnya, maksudnya yaitu interaksi sosial memainkan peran fundamental dalam perkembangan kognisi (Salkind, 2009: 371). Proses 12

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI fundamental pembelajaran berlangsung melalui interaksi anak dengan seseorang yang berpengetahuan, entah itu orang dewasa (seperti orang tua atau guru) atau teman sebaya (Salkind, 2009: 373). Vygotsky menganggap bahwa lingkungan sosial sangat penting bagi pembelajaran dan berpikir bahwa interaksi-interaksi sosial mengubah atau mentransformasi pengalaman-pengalaman belajar (Schunk, 2012: 339). Pandangan Vygotsky merupakan bentuk konstruktivisme dialektikal (kognitif) karena ia menyoroti interaksi antara orang-orang dan lingkunganlingkungan mereka (Schunk, 2012: 340). Terdapat dua konsep penting dalam teori sosiokultural menurut Vygotsky yaitu Zone of Proximal Development atau ZPD dan Scaffolding. Dalam teorinya, Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada dalam zona perkembangan proksimal atau ZPD. Pada zona ini terletak antara tingkat perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Nur & Wikandari, dalam Hosnan, 2014: 35). ZPD merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerja sama dengan teman sejawat yang lebih mampu (Vygotsky dalam Schunk, 2012: 341). Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Scaffolding merupakan bantuan sementara yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan peserta didik itu belajar mandiri. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menurut pandangan konstruktivisme sosial, pengetahuan itu diperoleh secara individu yaitu dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari proses interaksi dengan objek yang dihadapinya serta 13

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengalaman sosial. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang memfasilitasi peserta didik untuk dapat bekerja dalam kelompok untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berisi kegiatan belajar mengajar secara kelompok-kelompok kecil yang mendorong siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun kelompok (Johnson, dalam Rofiq, 2010: 3). Model pembelajaran kooperatif diterapkan melalui kelompok kecil pada semua mata pelajaran dan tingkat umur disesuaikan dengan kondisi dan situasi pembelajaran. Keanggotaan kelompok terdiri dari siswa yang berbeda (heterogen) baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, etnis, latar belakang sosial dan ekonomi. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran kooperatif biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu yang lainnya adalah orang dengan kemampuan akademis yang kurang. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengkomunikasikan siswa belajar, menghindari sikap persaingan dan rasa individualitas siswa, khususnya bagi siswa yang berprestasi rendah dan tinggi. Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sebagai pembelajaran kooperatif (Roger dan Johnson, dalam Rofiq, 2010: 5). Untuk memperoleh manfaat yang diharapkan dari implementasi pembelajaran kooperatif, Roger dan Johnson menganjurkan lima unsur penting yang harus dibangun dalam aktivitas instruksional, yaitu: 1. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence) Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk mencipatakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. 14

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Interaksi Tatap Muka (Face to Face Interaction) Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. 3. Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability) Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. 4. Keterampilan Sosial (Social Skill) Keterampilan sosial yang dimaksud di sini adalah keterampilan dalam berkomunikasi dalam kelompok. Sebelum menugaskan siswa ke dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. 5. Evaluasi Proses Kelompok (Group Debrieving) Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa manfaat yang dikemukakan oleh (Hill & Hill, dalam Rofiq, 2010: 9), yaitu: (1) meningkatkan prestasi siswa; (2) memperdalam pemahaman siswa; (3) menyenangkan siswa; (4) mengembangkan sikap kepemimpinan; (5) mengembangkan sikap positif siswa; (6) mengembangkan sikap menghargai diri sendiri; (7) membuat belajar secara inklusif; (8) mengembangkan rasa saling memiliki; dan (9) mengembangkan keterampilan untuk masa depan. Terdapat beberapa tipe dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (Investigasi Kelompok), Numbered Head Together (NHT), Think Pair Share (TPS), dan sebagainya. 2.1.1.5 Model Pembelajaran STAD Penelitian ini menggunakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif, yaitu tipe STAD. Model pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan koleganya di Universitas Johns Hopkins (Shoimin, 2014: 185). Model 15

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran STAD merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks (Shoimin, 2014: 185). Model pembelajaran STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti (Slavin, dalam Rusman, 2013: 213). Model ini juga sangat mudah diadaptasi dan telah digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. 1. Komponen Pembelajaran STAD STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kerja kelompok (tim), kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi (penghargaan) kelompok (Slavin, dalam Shoimin, 2014: 186). a. Presentasi Kelas (Class Presentation) Pembelajaran STAD diawali dengan menyampaikan materi pelajaran dengan presentasi kelas. Bentuk presentasi kelas yang biasa digunakan yaitu pembelajaran langsung atau diskusi kelas yang dipandu oleh guru. Selama presentasi kelas, siswa harus benar-benar memerhatikan karena dapat membantu mereka dalam mengerjakan kuis individu yang juga akan menentukan nilai kelompok. b. Kerja Kelompok (Team Works) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen dengan jenis kelamin yang berbeda, berasal dari berbagai suku, dan memiliki kemampuan yang berbeda. Fungsi utama dari kelompok adalah menyiapkan anggota kelompok agar mereka dapat mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menjelaskan materi, setiap anggota kelompok mempelajari dan mendiskusikan LKS, membandingkan jawaban dengan teman kelompok, dan saling membantu antaranggota jika ada yang mengalami kesulitan. Tugas guru adalah mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok agar setiap anggota melakukan yang terbaik untuk kelompoknya serta pada kelompok itu sendiri agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya. 16

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Kuis (Quizzes) Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Aturan dari kuis ini adalah siswa tidak diperbolehkan membantu satu sama lain selama kuis berlangsung. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami materi yang telah disampaikan. d. Peningkatan Nilai Individu (Individual Improvement Score) Peningkatan nilai individu dilakukan untuk memberikan tujuan prestasi yang ingin dicapai jika siswa dapat berusaha keras dan hasil presentasi yang lebih baik dari yang telah diperoleh sebelumnya. Setiap siswa dapat menyumbangkan nilai maksimum pada kelompoknya dan setiap siswa mempunyai skor dasar yang diperoleh dari rata-rata tes atau kuis sebelumnya. e. Penghargaan Kelompok (Team Recognation) Kelompok akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lain jika ratarata skor kelompok melebihi criteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat mereka. 2. Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD Model pembelajaran STAD memiliki enam langkah, yaitu: (a) penyampaian tujuan dan motivasi; (b) pembagian kelompok; (c) presentasi dari guru; (d) kegiatan belajar dalam tim; (e) kuis; dan (f) pengahrgaan prestasi tim (Rusman, 2013: 215). a. Penyampaian Tujuan dan Motivasi Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. b. Pembagian Kelompok Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, jenis kelamin, ras ataupun etnik. 17

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Presentasi dari Guru Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan seharihari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya. d. Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim) Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari model pembelajaran STAD. e. Kuis (Evaluasi) Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa. f. Penghargaan Prestasi Tim Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapantahapan sebagai berikut: (1) menghitung skor individu; (2) menghitung skor kelompok; dan (3) pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok. 3. Manfaat Model Pembelajaran STAD Adapun beberapa manfaat positif dari penerapan model pembelajaran STAD seperti yang dikemukakan dalam (Shoimin, 2014: 189), sebagai berikut: (a) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok; (b) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil 18

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bersama; (c) siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok; (d) interaksi antarsiswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat; (e) meningkatkan kecakapan individu dan kelompok; dan (f) tidak bersifat kompetitif. 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai (Facione, 2011). Karena itu, berpikir kritis merupakan alat penelitian yang sangat mendasar. Kecakapan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu disposisi afektif dan dimensi kognitif. Ciri-ciri ideal dari orang yang memiliki kecakapan berpikir kritis tampak dalam disposisi afektif yang dikemukakan oleh Facione (2011) sebagai berikut: (1) rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai permasalahan; (2) berusaha untuk selalu mendapatkan informasi yang baik; (3) sadar untuk menggunakan daya pikir kritis; (4) mengedepankan proses penelitian yang masuk akal; (5) percaya akan kemampuan diri sendiri untuk bernalar; (6) pikiran terbuka terhadap kenyataan pandangan yang bereda-beda; (7) fleksibiltas untuk mempertimbangkan alternatif; (8) memahami opini orang lain; (9) menghargai penalaran; (10) jujur dalam menghadapi prasangka, bias, stereotip, dan kecendurungan egosentris atau sosiosentris; (11) hati-hati dalam menangguhkan, membuat, atau mengubah penilaian; dan (12) kesediaan untuk meninjau ulang pandangan sendiri jika refleksi yang jujur menyarankan demikian. Dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione (2011) dapat dilihat dari tabel yang berada di bawah ini. Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione No 1 Skills Menginterpretasi 2 Menganalisis 3 Mengevaluasi Sub-skills Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argument-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen 19

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 4 Skills Menarik kesimpulan 5 Mengeksplanasi 6 Meregulasi diri Sub-skills Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri 2.1.1.7 Kemampuan Mengevaluasi Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan untuk menilai kredibilitas suatu pernyataan atau argumen dan menilai bobot logika suatu kesimpulan Facione (2011). Kemampuan mengevaluasi terdiri dari dua unsur, yaitu yang pertama adalah menilai sah tidaknya klaim-klaim, seperti: (1) menilai faktorfaktor yang relevan yang dapat digunakan untuk menguji kredibilitas sumber informasi; (2) menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu; (3) menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki; (4) menilai relevansi pertanyaan, prinsip, aturan, arah; dan (5) menilai penerimaan kebenaran dari suatu pernyataan. Yang kedua adalah menilai sah tidaknya argumen-argumen, seperti: (1) menilai kebenaran suatu argumen yang diambil secara induktif atau deduktif; (2) menilai apakah suatu kesimpulan ditarik dari premis-premis yang benar; (3) menemukan apakah terhadap kekeliruan-kekeliruan dalam penalaran; (4) menilai bobot logis suatu keberatan; (5) mengantisipasi keberatan-keberatan terhadap suatu argumen; (6) menilai apakah suatu argumen didasarkan atas pemikiran hipotetis atau sebabakibat; (7) menilai apakah suatu argumen didasarkan atas asumsi yang benar; (8) menilai relevansi suatu argumen untuk suatu permasalahan; dan (9) melihat apakah informasi-informasi tambahan atau baru dapat memperkuat atau memperlemah suatu argumen. 2.1.1.8 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kemampuan menarik kesimpulan adalah mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari data, 20

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, dan konsep Facione (2011). Kemampuan menarik kesimpulan terdiri dari tiga unsur, yaitu yang pertama adalah menguji bukti-bukti, seperti: (1) menilai premis-premis yang memerlukan dukungan informasi tambahan dan (2) menguji informasi-informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan. Yang kedua adalah menerka alternatifalternatif, seperti: (1) merumuskan berbagai alternatif untuk memecahkan suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan; (2) memproyeksikan berbagai konsekuensi yang mungkin dari keputusan, teori, kepercayaan, kebijakan, atau posisi tertentu; dan (3) memperkirakan kesulitan-kesulitan sekaligus keuntungan-keuntungan yang akan muncul kalau skala prioritas tertentu digunakan. Yang ketiga adalah menarik kesimpulan, seperti: (1) membuat eksperimen dan menerapkan teknik yang relevan untuk menguji benar tidaknya suatu hipotesis; (2) menguji pandangan-pandangan yang berbeda dan bertentangan, mengumpulkan data-data yang relevan, dan merumuskan kesimpulan kita sendiri mengenai suatu permasalahan; (3) menerapkan cara yang sesuai untuk menentukan posisi dan cara pandang yang harus diambil terhadap suatu permasalahan; (4) menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan (misalnya cara berpikir analogis, aritmetis, dialektis, dan ilmiah); dan (5) menentukan kesimpulan-kesimpulan mana yang paling kuat menjamin suatu bukti dan mana yang harus ditolak karena tidak memadai. 2.1.1.9 Materi Pembelajaran Materi pembelajaran pada penelitian ini diambil dari Buku Siswa Kelas V Kurikulum 2013 Revisi tahun 2017 Tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 1 pada kelas V, yaitu 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017: 2-12). Cakupan materi pada penelitian ini adalah sistem pernapasan hewan pada vermes, insecta, pisces, amphibi, reptile, aves, dan mamalia. 21

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Seperti manusia, hewan juga bernapas untuk mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida. Sistem pernapasan pada hewan berbeda dari manusia. Bahkan, sistem pernapasan pada hewan pun berbeda-beda sesuai jenisnya. Berikut adalah sistem pernapasan pada beberapa hewan. 1. Alat dan Sistem Pernapasan pada Cacing Tanah (Vermes) Cacing bernapas melalui permukaan kulit. Saat udara masuk melalui kulit, oksigen diikat oleh darah. Pada darah cacing terkandung hemoglobin sehingga mampu mengikat oksigen. Oksigen yang diikat oleh hemoglobin lalu diedarkan ke seluruh tubuh. 2. Alat dan Sistem Pernapasan pada Serangga (Insecta) Alat pernapasan serangga berupa trakea. Udara memasuki trakea melalui poripori kecil di permukaan tubuh serangga yang disebut spirakel. Selanjutnya udara beredar melalui pembuluh udara kecil. Sel-sel tubuh mengambil oksigen langsung dari pembuluh udara kecil itu. 3. Alat dan Sistem Pernapasan pada Ikan (Pisces) Ikan bernapas menggunakan insang. Pertama-tama tutup insang menutup. Secara bersamaan mulut terbuka dan dinding mulut mengembang. Saat itulah air terisap masuk. Kedua, rongga mulut menyempit dan mulut menutup. Secara bersamaan tutup insang terbuka. Akibatnya air keluar dari mulut dan melewati insang. Saat itulah oksigen dari dalam air terserap dan karbon dioksida dikeluarkan. 4. Alat dan Sistem Pernapasan pada Katak (Amphibi) Katak termasuk hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Saat masih berupa kecebong, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. Sedangkan katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. Selain dengan paru-paru, katak juga bernapas melalui kulit. 5. Alat dan Sistem Pernapasan pada Reptile Reptile bernapas mengunakan paru-paru. Udara masuk melalui hidung, lalu ke batang tenggorokan, lalu ke paru-paru. 6. Alat dan Sistem Pernapasan pada Burung (Aves) Burung bernapas dengan sepasang paru-paru. Udara yang mengandung oksigen masuk melalui lubang hidung pada pangkal paruh sebelah atas. 22

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selanjutnya udara masuk ke pembuluh udara yang disebut trakea. Dari trakea, udara sebagian masuk ke paru-paru dan sebagian lagi masuk ke kantong udara. 7. Alat dan Sistem Pernapasan pada Mamalia Ada dua jenis mamalia, yaitu mamalia darat dan mamalia air. Alat pernapasan mamalia darat terdiri atas hidung, pangkal tenggorok, batang tenggorok, dan paruparu. Pada mamalia air, hidungnya dilengkapi dengan katup. Saat mamalia tersebut menyelam, katup akan menutup. Sebaliknya, saat mamalia tersebut muncul ke permukaan air, katup terbuka. 2.1.2 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD Sukmayani, Parmiti, dan Wibawa (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian nonequivalent posttest only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus IV Kecamatan Klungkung. Dalam penelitian sampel digunakan teknik random sampling, didapatkan SDN 1 Semapura Klod, kelas IV B sebagai kelompok kontrol dan kelas IV A sebagai kelompok eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang dignifikan motivasi belajar dan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (F = 73,425 dan Sig. = 0,000). Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD membawa pengaruh yang positif terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD. Sudiarpa, Renda, dan Rati (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPA kelas IV SDN 3 Songan. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain posttest only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 3 Songan semester genap tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 79 siswa. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, didapatkan Kelas IV A sebagai kelompok kontrol dan kelas IV B 23

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai kelompok eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata skor hasil belajar IPA siswa pada kelompok eksperimen, yaitu 13,69 lebih tinggi daripada rata-rata skor hasil belajar IPA siswa pada kelompok kontrol, yaitu 11,73. Hasil uji-t pada taraf signifikansi 5% diperoleh thitung = 2,1024, sementara ttabel = 1,9913. Dengan demikian thitung > ttabel, maka terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Juraini, Taufik, dan Gunada (2016) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar fisika pada siswa SMA Negeri 1 Labuapi tahun pelajaran 2015/2016. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain penelitian untreated control group design with pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling, didapatkan kelas X A dengan jumlah 19 orang sebagai kelas kontrol dan siswa kelas X D dengan jumlah 20 orang sebagai kelas eksperimen. Hasil analisis uji hipotesis diperoleh nilai thitung > ttabel, yaitu 2,63 > 2,03, sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa saat pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan. 2.1.2.2 Penelitian Kemampuan Berpikir Kritis Fitriani, Indrowati, dan Karyanto (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan Accelerated Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran Biologi siswa kelas X SMA Negeri Karangpandan Karanganyar. Penelitian ini termasuk quasi experimental dengan desain penelitian posttest only with nonequivalent group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri Karangpandan tahun pelajaran 2012/2013. Teknik pengambilan sampel dengan cluster sampling. Sampel yang ditetapkan kelas X6 sebagai kelas eksperimen dan X5 sebagai kelas kontrol. Hasil analisis uji tes menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel, yaitu 7.899 > 1.66691 dan Sig. < 0,05 yaitu 0,000 sehingga dapat diambil keputusan bahwa Hnull 24

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ditolak, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara pembelajaran accelerated learning dan pembelajaran ceramah bervariasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan Accelerated Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Widura, Karyanto, dan Ariyanto (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model Guided Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 2 dan siswa kelas X MIA 4 SMA Negeri 8 Surakarta semester genap tahun pelajaran 2014/2015 yang masing masing berjumlah 26 siswa dan 24 siswa. Berdasarkan hasil analisis statistik uji-t menunjukkan bahwa model pembelajaran Guided Discovery Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penyataan tersebut didasarkan pada hasil uji hipotesis terhadap kemampuan berpikir kritis siswa yang menunjukkan Hnull ditolak, karena probabilitas signifikansinya 0,035 (<0,05). Hal ini berarti bahwa perolehan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen berbeda secara signifikan dimana nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa lebih tinggi pada kelas eksperimen daripada kelas kontrol membuktikan bahwa penerapaan model pembelajaran Guided Discovery Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Usdalifat, Ramadhan, dan Suleman (2016) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses siswa pada mata pelajaran IPA Biologi kelas VII SMP Negeri 19 Palu. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 19 Palu tahun ajaran 2015/2016. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik simple random sampling. Subjek penelitian terdiri dari 2 kelas yaitu kelas VII A menggunakan metode konvensional dengan jumlah siswa 28 orang atau sebagai kelas kontrol dan kelas VII B menggunakan model pembelajaran Inkuiri atau sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 27 25

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI orang. Berdasarkan analisis data dengan Anova untuk hipotesis pertama yaitu pengaruh model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis menunjukkan bahwa nilai Fhitung > Ftabel yaitu 31,003 > 4,02 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05. Sedangkan dari analisis data dengan Anova untuk pengaruh model pembelajaran inkuiri dengan ketrampilan proses siswa menunjukkan bahwa nilai signifikansi Fhitung > dari Ftabel yaitu 22,666 > 4,02 dengan nilai signifikansi 0,001 < 0.05. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses siswa. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap minat belajar dan hasil belajar siswa. Ada beberapa penelitian terdahulu yang juga meneliti tentang peningkatan kemampuan berpikir kritis secara umum. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tersebut, peneliti dapat melihat bahwa belum banyak penelitian terdahulu yang meneliti tentang peningkatan kemampuan berpikir kritis menurut Facione, khususnya kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di tingkat sekolah dasar. Oleh karena itu, peneliti mengadakan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 26

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature Map Penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dapat dilihat pada gambar berikut: Model Pembelajaran Koperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) Kemampuan Berpikir Kritis Sukmayani, Parmiti, & Wibawa (2015) Fitriani, Indrowati, & Karyanto (2015) STAD – Motivasi dan hasil belajar Accelerated Learning – Kemampuan berpikir kritis Sudiarpa, Renda, & Rati (2015) Widura, Karyanto, & Ariyanto (2015) STAD – Hasil belajar Guided Discovery Learning – Kemampuan berpikir kritis Juraini, Taufik, dan Gunada (2016) Usdalifat, Ramadhan, & Suleman (2016) STAD – Hasil belajar Model pembelajaran inkuiri – kemampuan berpikir kritis Yang akan diteliti: Model pembelajaran kooperatif tipe STAD – Kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan Gambar 2.5 Literature Map 27

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Berlandaskan beberapa teori yang mendukung yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu yang pertama adalah teori perkembangan kognitif menurut Piaget, dapat dikatakan bahwa siswa kelas V SD yang berusia 10-11 tahun berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap operasional konkret, siswa mulai menunjukkan perilaku belajar secara lebih objektif dan mulai berpikir secara rasional. Yang kedua adalah teori sosiokultural menurut Vygotsky terdapat dua konsep penting dalam teori Vygotsky, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget dan teori sosiokultural Vygotsky, penelitian ini menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) yang memiliki ciri khas bekerja di dalam tim, sehingga model pembelajaran STAD sangat membantu siswa dalam bekerja dengan tim. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menggunakan enam langkah, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Model pembelajaran STAD memiliki beberapa manfaat, yaitu: (a) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok; (b) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama; (c) siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok; (d) interaksi antarsiswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat; (e) meningkatkan kecakapan individu dan kelompok; dan (f) tidak bersifat kompetitif. 28

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saat ini, berpikir kritis memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat enam dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis yang penting untuk dikuasai, yaitu kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Khususnya dalam penelitian ini adalah kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan untuk menilai kredibilitas suatu pernyataan dan menilai bobot logika suatu kesimpulan, yang terdiri dari dua unsur, yaitu menilai sah tidaknya klaim-klaim dan menilai sah tidaknya argumen-argumen. Sedangkan, kemampuan menarik kesimpulan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, dan konsep, yang terdiri dari tiga unsur, yaitu menguji bukti-bukti, menerka alternatif-alternatif, dan menarik kesimpulan. Penelitian ini difokuskan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi sistem pernapasan pada hewan yang ada pada tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 1 pada kelas V, yaitu 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) sesuai dengan teori sosiokultural menurut Vygotsky yang mengemukakan pendapatnya tentang Zone of Proximal Development (ZPD), bahwa siswa akan dapat memecahkan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Selain itu, pemilihan model pembelajaran ini juga disesuaikan dengan kondisi siswa yang heterogen, baik dari jenis kelamin maupun prestasi akademik. Jika model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) diterapkan, model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan pada materi sistem pernapasan pada hewan siswa kelas V SD. 29

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. 2.3.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. 30

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini membahas metode penelitian yang digunakan peneliti. Metode penelitian memuat jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengujian instrumen, teknik analisis data, dan ancaman terhadap validitas internal. 3.1 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design tipe pretest posttest nonequivalent group design. Quasi experimental adalah penelitian eksperimental yang tidak memberikan kontrol penuh terhadap variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Johnson & Christensen, 2008: 319). Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Peneliti memilih jenis penelitian quasi experimental karena keterbatasan penelitian yang tidak memungkinkan peneliti untuk memilih subjek penelitiannya secara random. Peneliti menggunakan jenis penelitian quasi experimental design tipe pretest posttest non-equivalent group design yang terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menerima treatment, sedangkan kelompok eksperimen adalah kelompok yang menerima treatment (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 66). Penentuan kelompok tidak dilakukan secara acak, tetapi menggunakan kelas yang sudah ada. Kedua kelompok diberikan pretest dan posttest. Pretest diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum pembelajaran dan posttest diberikan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah pembelajaran. Pengaruh perlakuan dihitung dengan menggunakan tiga langkah, yaitu 1) pada kelompok eksperimen skor posttest dikurangi skor pretest, 2) pada kelompok kontrol skor posttest dikurangi skor pretest, 3) skor 1 dikurangi skor 2. Dengan mengadaptasi rumus dari Campbell dan Stanley (1963), pengaruh perlakuan dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). 31

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (O2 – O1) – (O4 - O3) Gambar 3.1 Rumus Pengaruh Perlakuan Jika hasil perhitungan bernilai lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Apakah perbedaannya signifikan, dianalisis dengan program SPSS. Jika perbedaannya signifikan maka ada pengaruh. Jika perbedaannya tidak signifikan maka tidak ada pengaruh. Desain penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut. Eksperimen O1 X O2 ------------Kontrol O3 O4 Gambar 3.2 Desain Penelitian Keterangan: O1 = rerata skor pretest kelompok eksperimen O2 = rerata skor postest kelompok eksperimen O3 = rerata skor pretest kelompok kontrol O4 = rerata skor postest kelompok kontrol X = treatment atau perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD Garis putus-putus pada gambar desain penelitian menunjukkan cara penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak dilakukan secara acak, tetapi dengan mengambil kelas yang sudah ada. Selain itu, garis putus-putus berfungsi sebagai pemisah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang disebut dengan pretest posttest nonequivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Sekolah ini memiliki akreditasi A. Saat ini terdapat 18 guru yang mengajar, 1 kepala sekolah dan 1 staff tata usaha, sedangkan jumlah siswa yang menempuh 32

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendidikan di sekolah ini mencapai kurang lebih 317 siswa. Sekolah ini menggunakan kurikulum 2013 dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Sekolah ini memiliki fasilitas yang terbilang cukup memadai untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Penggunaan media-media pembelajaran yang dapat membantu anak dalam memahami materi pelajaran sudah cukup baik, karena beberapa guru hanya akan menggunakan media untuk mengajarkan beberapa materi baru untuk dapat menarik minat siswa untuk belajar, akan tetapi pada pertemuan selanjutnya guru berhenti menggunakan media tersebut. Metode yang digunakan guru cenderung bersifat ceramah dan meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat di buku paket siswa maupun soal yang dibuat oleh guru sendiri. Pemilihan subjek penilitian ini didasarkan pada beberapa hal, yaitu pertama berdasarkan hasil belajarnya terutama kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan yang masih kurang terlihat dalam pembelajaran, sehingga perlu ditingkatkan. Alasan kedua berdasarkan keberagaman siswa di kelas V SD ini, karena penelitian ini menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang memiliki ciri khas kelompok yang heterogen dimana anggota kelompoknya terdiri dari siswa yang beragam, mulai dari jenis kelamin hingga kemampuan akademiknya. Selain itu, keberagaman latar belakang ekonomi siswa juga menjadi alasan lainnya. Kondisi ekonomi siswa kelas V SD ini berada pada tingkat menengah ke atas. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Pengambilan data dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan di SD, pada bulan Juli hingga bulan Oktober. Pelaksanaan penelitian dilakukan kurang lebih dalam rentang 2 minggu. Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal penelitian, yaitu sejarah, maturasi, dan mortalitas. Berikut ini adalah tabel jadwal pengambilan data yang dilakukan oleh peneliti. 33

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data Kelompok Kontrol Eksperimen Alokasi Waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit Hari, tanggal Rabu, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kamis, 4 Oktober 2018 Rabu, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kegiatan Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I Mengerjakan Posttest II Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I 2 x 35 menit Senin, 4 Oktober 2018 Mengerjakan Posttest II 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010: 173). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010: 117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 dengan jumlah siswa sebanyak 46 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010: 174). Sugiyono (2010: 118) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah 34

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik nonprobability dengan tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia bagi penelitian. Peneliti tidak memilih sampel secara acak, tetapi menggunakan kelas yang sudah ada. Sampel ditentukan melalui penarikan undian yang dilakukan oleh guru mitra untuk menetapkan kelas mana yang menjadi kelas kontrol dan kelas mana yang menjadi kelas kontrol. Guru mitra dalam penelitian ini adalah guru kelas V A. Berdasarkan hasil pengundian, didapatkan hasil kelas V B sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 22 siswa dan kelas V A sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 24 siswa. 3.4 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peniliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008: 2). Hatch dan Farhady (dalam Sugiyono, 2008: 3) menjelaskan bahwa variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain. Dalam penelitian, variabel mempunyai tiga ciri, yaitu mempunyai variasi nilai, membedaan satu objek dengan objek yang lain dalam satu populasi, dan dapat diukur (Widoyoko, 2015: 2). Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen atau dapat disebut juga dengan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2008: 4). Variabel ini disebut variabel bebas karena adanya tidak tergantung pada adanya yang lain atau bebas dari ada atau tidaknya variabel lain (Widoyoko, 2015: 4). Variabel bebas adalah variabel 35

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain (Widoyoko, 2015: 4). Variabel independen dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen atau dapat disebut juga dengan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2008: 4). Variabel ini disebut variabel terikat karena kondisi atau variasinya dipengaruhi oleh variabel bebas (Widoyoko, 2015: 5). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah dua dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis menurut Facione, yaitu kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan pada siswa kelas V dengan materi sistem pernapasan hewan. Variabel Independen Variabel Dependen Kemampuan Mengevaluasi Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Team Achievement Division Kemampuan Menarik Kesimpulan (STAD) Gambar 3.3 Variabel Penelitian 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes. Tes adalah cara (yang dapat digunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penelitian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaanpertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee (Taniredja & Mustafidah, 2011: 49). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa (Taniredja & Mustafidah, 2011: 50). Widoyoko (2015: 57) menjelaskan bahwa tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Bentuk tes yang dipilih peneliti dalam penelitian ini adalah tes essay. 36

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk pertanyaan atau suruhan yang meminta kepada subjek penelitian untuk menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan dan mencari perbedaan (Taniredja & Mustafidah, 2011: 50). Ciri khas tes essay adalah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh penyusun soal, tetapi harus disusun oleh peserta tes (Widoyoko, 2015: 83). Tes essay menuntut kemampuan peserta tes untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi, dan menghubungkan pengertianpengertian yang dimiliki (Widoyoko, 2015: 83). Secara singkat peserta tes harus dapat mengingat-ingat dan mengenal kembali, dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi. Sebagai alat pengukur hasil belajar siswa, bentuk tes essay mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tes essay antara lain: 1) Dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, seperti kemampuan megaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasikan hubungan, kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih dan sebagainya; 2) Meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif; 3) Mudah disiapkan dan disusun, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi guru untuk mempersiapkannya; 4) Tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untunguntungan karena tidak ada alternatif jawaban yang disiapkan; 5) Mendorong responden untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus (Widoyoko, 2015: 86). Kekurangan tes essay antara lain: 1) reliabilitas tes rendah; 2) membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengoreksi lembar jawaban dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain; 3) jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan (hal lain yang tidak berhubungan dengan hal yang ditanyakan) (Widoyoko, 2015: 88). Kekurangan tes essay tersebut dapat diminimalisir dengan beberapa tindakan, antara lain: 1) indikator dan bahan ajar yang dipilih untuk diteskan hendaknya berupa bahan utama yang dapat mewakili indikator dan bahan ajar lain yang tidak diteskan yang dapat mewakili kompetensi dasar yang diukur capaiannya; 2) pertanyaan hendaknya yang menuntut jawaban tertentu artinya suatu jawaban dapat dinilai lebih tepat daripada jawaban yang 37

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lain; dan 3) sebelum dilakukan penilaian, hendaklah disusun terlebih dahulu kriteria tertentu yang dijadikan pedoman (Nurgiyantoro, 2010: 120). 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian dengan cara melakukan pengukuran (Widoyoko, 2015: 51). Penelitian ini adalah penelitian kolaboratif atau penelitian payung. Penelitian ini menggunakan instrumen tes, dalam bentuk tes essay. Peneliti membuat instrumen penelitian dengan menggunakan enam soal essay untuk mengukur kemampuan berpikir kritis menurut Facione, yaitu menganalisis, menginterpretasi, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Peneliti hanya akan meneliti dua kemampuan saja, yaitu mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Soal essay ini berisikan daftar pertanyaan untuk materi IPA kelas V tentang sistem pernapasan hewan. Soal essay tersebut digunakan oleh tiga peneliti yang masing-masing meneliti dua kemampuan. Pembagian instrumen soal di antaranya adalah nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, dan 2c digunakan untuk mengukur kemampuan menganalisis dan menginterpretasi, nomor 3a, 3b, 3c, 4a, 4b, dan 4c digunakan untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, dan nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Peneliti hanya menggunakan instrumen soal untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Instrumen yang sama digunakan pretest dan posttest untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa instrumentasi. Berikut ini matriks pengembangan instrumen yang digunakan peneliti untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa. 38

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen Variabel Indikator Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Mengevaluasi Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menarik Kesimpulan Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan 3.7 Implementasi Menerka akibat dari hewan yang berada di tempat yang tidak sesuai dengan organ pernapasannya Menilai sah tidaknya fungsi organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya Menilai sah tidaknya perilaku manusia terhadap hewan Mengemukakan alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap hewan Menerka akibat yang akan terjadi pada hewan terhadap tindakan manusia Menyimpulkan akibat dari perlakuan terhadap hewan No. Soal 3a 3b 3c 4a 4b 4c Teknik Pengujian Instrumen Pengujian instrumen ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Pengujian instrumen yang dilakukan peneliti, meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas Validitas adalah derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian (Sugiyono, 2010: 363). Validitas instrumen yang berupa tes harus memenuhi construct validity (validitas konstruksi) dan content validity (validitas isi) (Sugiyono, 2016: 123). Oleh karena itu, validitas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi face validity (validitas permukaan), content validity (validitas isi), dan construct validity (validitas konstruk). 3.7.1.1 Validitas Permukaan Validitas permukaan adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukuran atau instrumen penelitian dari segi rupanya tampak mengukur yang 39

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ingin diukur atau tidak. Validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen (Siregar, 2013: 46). Validitas permukaan pada penelitian ini akan digunakan untuk memvalidasi instrumen soal dan perangkat pembelajaran. Validasi permukaan dilakukan oleh tiga ahli, yaitu guru kelas V SD, guru bidang Biologi yang mengampu kelas III SD, dan dosen mata kuliah Biologi. Hasil validasi instrumen soal teruji kelayakan instrumen dengan kategori instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Soal nomor 3 mendapatkan skor rerata 4 dari validator 1 dan 2 dan mendapatkan skor rerata 3,3 dari validator 3. Sedangkan soal nomor 4 mendapatkan skor rerata 4 dari validator 1 dan 2 dan mendapatkan skor 3 dari validator 3. Rerata skor untuk semua variabel dari validator 1 sebesar 3,94, validator 2 sebesar 4, dan validator 3 sebesar 3,33. Hal tersebut berarti semua validator memberikan penilaian dalam kategori instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.2 Validitas Isi Validitas isi adalah soal yang diujikan mencakup materi yang dituju (Cohen Manion, & Morrison, 2007: 1562). Validitas isi berkenaan dengan isi dan format dari instrumen yang kita kembangkan memuat semua materi yang hendak diukur (Sanjaya, 2013: 254). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi (content validity) apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan (Arikunto, 2005: 67). Validitas isi dicapai dengan meminta para ahli atau expert judgement untuk melakukan penilaian (Creswell, 2015: 327). Validitas isi dalam penelitian ini diperoleh dari pendapat tiga ahli, yaitu guru kelas V SD, guru bidang Biologi yang mengampu kelas III SD, dan dosen mata kuliah Biologi. Soal nomor 3 mendapatkan skor rerata 4 dari validator 1 dan 2 dan mendapatkan skor rerata 3,3 dari validator 3. Sedangkan soal nomor 4 mendapatkan skor rerata 4 dari validator 1 dan 2 dan mendapatkan skor 3 dari validator 3. Rerata skor untuk semua variabel dari validator 1 sebesar 3,94, validator 2 sebesar 4, dan validator 3 sebesar 3,33 (lihat Lampiran 3.4). 40

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas konstruk berkaitan dengan apakah tes yang kita kembangkan dapat mengukur sifat subjek. Validitas konstruk merupakan salah satu kriteria untuk dipertimbangkan (Sanjaya, 2013: 255). Validitas konstruk dilakukan melalui uji empiris. Uji empiris dilakukan pada minimal 30 responden agar mendapatkan distribusi data normal (Field, 2009: 42). Peneliti melakukan pengujian instrumen penelitian kepada 45 siswa kelas V di salah satu SD Negeri di Yogyakarta semester genap untuk memperoleh data validitas konstruk. Peneliti memilih SD ini sebagai SD untuk uji validitas konstruk karena beberapa alasan, yaitu: 1) SD ini memiliki akreditasi A; 2) SD ini memiliki kelas paralel; dan 3) SD ini menerapkan kurikulum 2013. Siswa mengerjakan soal pada hari Rabu, 6 Juni 2018 selama 2 x 35 menit. Setelah dilakukan uji empiris, soal dihitung untuk mengetahui validitasnya menggunakan rumus korelasi Pearson. Uji validitas konstruk menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Tingkat kepercayaan yang digunakan, yaitu 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Kriteria yang digunakan, yaitu jika harga p < 0,05 atau jika rhitung > rtabel, maka item termasuk valid, sedangkan jika harga p > 0,05 atau jika rhitung < rtabel, maka item termasuk tidak valid (Field, 2009: 177-178). Berikut ini adalah hasil uji validitas instrumen (lihat Lampiran 3.7.1). Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen No Item Soal 3a Variabel 3b Mengevaluasi 3c 4a 4b 4c Menarik Kesimpulan Aspek Menilai sah tidaknya klaimklaim Menilai sah tidaknya klaimklaim Menilai sah tidaknya argumenargumen Menguji buktibukti Menerka alternatifalternatif Menarik kesimpulan rtabel 0,2940 rhitung 0,564 p 0,00 Keterangan Valid 0,2940 0,549 0,00 Valid 0,2940 0,543 0,00 Valid 0,2940 0,571 0,00 Valid 0,2940 0,549 0,00 Valid 0,2940 0,543 0,00 Valid 41

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan hasil uji validitas, penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel mengevaluasi dan menarik kesimpulan dengan harga p < 0,05, atau jika harga r hitung > r tabel. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua item soal tersebut dinyatakan valid karena harga p sebesar 0,00 (p < 0,05) dan harga rhitung dari setiap item soal tersebut lebih besar dari rtabel. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Instrumen tes yang baik adalah instrumen yang dapat dengan ajeg memberikan data yang sesuai dengan kenyataan (Arikunto, 2005: 86). Penelitian ini menggunakan instrumen soal tes berbentuk uraian dalam pengumpulan data. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan progran komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Nunnally (dalam Ghozali, 2009: 46) menyatakan bahwa suatu konstruk termasuk reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60. Pendapat ahli lain mengatakan bahwa suatu tes yang reliabel akan menunjukkan ketepatan dan ketelitian hasil dalam satu atau berbagai pengukuran, dengan kata lain skor-skor tersebut dari berbagai pengukuran tidak menunjukan penyimpangan atau perbedaan yang berarti. Berikut ini merupakan hasil dari uji reliabilitas instrumen penelitian (lihat Lampiran 3.8). Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Uji Reliabilitas Instrumen Cronbach’s Alpha 0,931 N 18 Keputusan Reliabel Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Alpha Cronbach, item soal yang dinyatakan valid memiliki nilai Alpha Cronbach sebesar 0,931. Nilai Alpha Cronbach 0,931 > 0,60, artinya isntrumen tersebut dikatakan reliabel atau konsisten dan layak digunakan dalam penelitian. 42

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan untuk menghitung data agar dapat disajikan secara sistematis dan memperoleh interpretasi data (Priyatno, 2012: 1). Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber lain terkumpul. Data dianalisis menggunakan analisis nonparametrik yang mempertimbangkan distribusi data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2012: 11). Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dan uji 2 ekor (2-tailed). 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan Sebelum melakukan langkah-langkah analisis statistik untuk menguji hipotesis penelitian, diperlukan langkah-langkah pengujian awal untuk memastikan syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu guna menentukan jenis-jenis uji statistik yang sesuai untuk pengujian selanjutnya. Untuk itu dilakukan uji asumsi berupa uji normalitas distribusi data, uji homogenitas varian, dan uji perbedaan kemampuan awal. 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data digunakan untuk menentukan jenis uji statistik dalam analisis selanjutnya (Field, 2009: 144). Uji normalitas dihitung dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Jika distribusi data normal, maka teknik uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test untuk data tidak tidak berpasangan (Field, 2009: 326). Jika distribusi data tidak normal, maka teknik uji statistik selanjutnya menggunakan statistik nonparametrik dengan Man-Whitney U-test untuk data tidak berpasangan (Field, 2009: 345). Berikut adalah hipotesis statistik uji normalitas distribusi data yang digunakan. Hnull : Tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas Hi : Ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas 43

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kriteria yang digunakan untuk mengetahui normalitas distribusi data adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya distribusi data tidak normal. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya distribusi data normal. 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Kondisi dikatakan ideal jika variannya homogen. Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Jika data berdistribusi normal maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS pada Independent samples t-test dengan keterangan equal variances assumed (Field, 2009: 340). Jika varian tida homogen maka data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances not assumed. Berikut adalah hipotesis statistiknya. Hnull : Tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor pretest-posttest) kelompok kontrol dan eksperimen. Hi : Ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor pretest-posttest) kelompok kontrol dan eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain varian kedua kelompok tidak homogen. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain varian kedua kelompok homogen. 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan menganalisis hasil pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji perbedaan 44

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, sehingga kemampuan dua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini dilakukan dengan menghitung rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji perbedaan kemampuan awal menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test untuk data berdistribusi normal, sedangkan statistik nonparametrik Mann-Whitney U test untuk data berdistribusi tidak normal. Berikut ini adalah hipotesis statistik uji perbedaan kemampuan awal. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan eksperimen Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan eksperimen Kriteria untuk mengambil keputusan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 24 & Santoso, 2015: 264). a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok, Dengan kata lain kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Kondisi dikatakan ideal jika antara kelompok kontrol dan eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok dapat disandingkan. 3.8.1.3 Uji Signifikasi Pengaruh Perlakuan Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan siswa. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat diketahui dengan membandingkan selisih rerata pretest-posttest I kelompok kontrol dengan selisih rerata pretest-posttest I kelompok eksperimen. 45

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2-O1) – (O4-O3) (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Jika hasilnya lebih dari nol, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh perlakuan. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dihitung dengan cara sebagai berikut (Field, 2009: 325): 1) Jika data berdistribusi normal, maka uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent sample t-test; 2) Jika data berdistribusi tidak normal, maka uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik nonparametrik Mann Whitney U test (Field, 2009: 345). Analisis data uji signifikansi menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest – posttest I kelompok kontrol dan rerata pretest – postest kelompok eksperimen. Berikut ini adalah pengambilan keputusan untuk uji signifikansi pengaruh perlakuan (Priyatno, 2012: 24) a. Jika p > 0,05 Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest–posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division tidak berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan. b. Jika p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest–posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh (effect size) perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh suatu perlakuan secara statistik signifikan tidak dengan 46

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sendirinya menunjukkan apakah pengaruh tersebut substantif atau penting (Field, 2009: 56). Untuk itu diperlukan teknik pengujian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suatu perlakuan (effect size). Teknik yang banyak digunakan adalah teknik koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Teknik pengukuran efek ini merupakan teknik yang berguna karena memberikan ukuran yang objektif untuk memastikan besarnya efek dari suatu perlakuan. Berikut merupakan kriteria yang digunakan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan (Cohen, dalam Field, 2009: 57). r = 0,10 : efek kecil atau setara dengan 1%. r = 0,30 : efek menengah atau setara dengan 9%. r = 0,50 : efek besar atau setara dengan 25%. Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria besar pengaruh perlakuan (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 253). Tabel 3.5 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan r (effect size) 0,00 – 0,40 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi Efek cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan Kemungkinan terjadi kesalahan perhitungan, jika tidak, efeknya sangat besar 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Untuk teknik pengujian besar pengaruh perlakuan, jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson (Field, 2009: 332). Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Independent Samples t-test) df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) 47

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3.5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Mann-Whitney U test) N : jumlah seluruh responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut merupakan rumus yang digunakan. Persentase peningkatan = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 – 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑥 100% Gambar 3.7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I Untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan paired samples t test jika data terdistribusi dengan normal atau Wilcoxon signed rank test jika data terdistribusi tidak normal. Uji statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2tailed). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I 48

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest 1. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang tidak signifikan dari pretest ke posttest I. Untuk uji persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I, data diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah cara untuk mengetahui peresentase selisih skor pretest - posttest I (gain score). Gain score = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% Gambar 3.8 Rumus Gain Score Frekuensi gain score yang diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi selisih pretest - posttest I kedua kelompok. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Besar Efek Peningkatan Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Rumus yang digunakan kurang lebih sama dengan rumus korelasi Pearson pada bagian sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Normal 49

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Paired Samples t test) df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (n-1) Jika distribusi data tidak normal, maka digunakan rumus korelasi Pearson berikut ini (Field, 2009: 550). Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah responden dalam 1 kelompok yang sama Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Pengaruh 3.8.2.3 Uji Korelasi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada bias regresi statisik (statistical regression) yang bisa mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Regresi statistik terjadi apabila korelasinya negatif dan signifikan. Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik, yaitu kecenderungan siswa dengan hasil pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dala skala pengukuran) biasanya memperoleh skor pretest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi 50

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada posttest diklaim sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan persis karena efek regresi statistik ini. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Pada kelompok kontrol, skor pretest dikorelasikan dengan skor posttest I dan pada kelompok eksperimen dilakukan langkah yang sama menggunakan uji statistik berikut: 1) jika data terdistribusi dengan normal digunakan rumus Bivariate correlation coefficients, yaitu Pearson’s correlation coefficient (Field, 2009: 177), 2) jika data terdistribusi tidak normal digunakan rumus Bivariate correlation coefficients, yaitu Spearman’s correlation coefficient (Field, 2009: 179). Korelasi positif berarti jika skor pretest tinggi, skor posttest juga tinggi dan jika skor pretest rendah, skor posttest juga rendah. Korelasi negatif berarti jika skor pretest tinggi, skor posttest akan rendah, dan jika skor pretest rendah, skor posttest akan tinggi. Kondisi dikatakan ideal jika korelasinya positif. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Signifikan berarti hasil korelasi tersebut bisa digeneralisasi pada populasi. Berikut adalah hipotesis statistiknya. Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan harga p < 0,05 dan r bernilai negatif Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan harga p < 0,05 dan r bernilai negatif Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. a. Jika hasilnya bukan p < 0,05 dan r bernilai negatif, maka Hnull ditolak, artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya p < 0,05 dan r bernilai negatif, maka Hnull diterima, artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak bisa dikendalikan dengan baik. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Uji retensi pengaruh perlakuan posttest I ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan beberapa waktu setelah posttest I 51

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan dilakukan posttest II. Posttest II dilakukan untuk memastikan yang lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Teknik statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data berdistribusi normal, sedangkan statistik non-parametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut adalah hipotesis statistiknya. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Hi : Ada perbedaan yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Berikut adalah kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). a. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen atau dengan kata lain ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. b. Jika harga p > 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen atau dengan kata lain tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Berikut adalah rumus perhitungan persentase penurunan skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 – 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi 𝑥 100% 3.8.2.5 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Possttest II Uji retensi pengaruh perlakuan pretest ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah pretest, treatment, dan posttest I dengan dilakukan posttest II. Uji menggunakan statistik parametrik 52

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired samples t-test untuk data terdistribusi normal, sedangkat statistik nonparametrik Wilcoxon signed-rank test untuk data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut adalah hipostesis statistiknya. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Hi : Ada perbedaan yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Berikut adalah kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). a. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. b. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.9 Ancaman terhadap Validitas Internal Penelitian Setelah dianalisis menggunakan statistik dan memperoleh kesimpulan, langkah selanjutnya adalah memastikan pengaruh yang terjadi pada variabel dependen hanya disebabkan oleh variabel independen dan bukan karena pengaruh dari variabel lain di luar variabel independen itu sendiri. Ancaman-ancaman terhadap validitas penelitian sudah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bacht dan Glass (1968), dan Lewis-Beck (1993). Ancaman terjadi lebih besar pada penelitian kuasi eksperimental dibandingkan eksperimental murni karena dalam eksperimental murni, seleksi sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Berikut ini jenis-jenis ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah (history) Setiap kejadian atau perlakuan yang terjadi di antara pretest dan posttest pada kelompok yang diteliti dapat mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelmpok yang diteliti, terutama 53

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama, misalnya dalam beberapa bulan atau tahun. Perubahan atau peningkatan hasil hasil pada salah satu kelompok tersebut bisa jadi disebabkan bukan melulu karena treatment penelitian tetapi oleh faktor lain di luar treatment. Dengan demikian, perubahan tidak bisa diklaim murni sebagai pengaruh treatment penelitian. Hal ini biasa terjadi di sela treatment misalnya ada kegiatan workshop, ekstrakurikuler, atau acara TV di mana materinya sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Maka untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa sejarah, melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang singkat yaitu kurang lebih 2 minggu. Serta koordinasi dengan sekolah mitra berkaitan dengan event sekolah. Jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 2. Difusi treatment atau kontaminasi (diffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berkomunikasi tanpa sepengetahuan peneliti dan sama-sama mempelajari materi dengan treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Creswell, 2015: 597). Maka untuk mengendalikan terhadap ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi, yaitu: 1) memberikan pengertian usai setiap pembelajaran kepada kedua kelompok agar tidak saling memperlajari treatment setiap kelompok dan 2) kedua kelompok dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi ketika perlakuan yang diberikan di kelompok eksperimen diketahui oleh kelompok kontrol. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dirasa jauh lebih banyak dibanding kelompok kontrol. Dampaknya kelompok kontrol bisa jadi berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan 54

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI belajar ekstra keras atau mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Maka untuk mengendalikan ancaman perilaku kompensatoris, yaitu kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian bisa berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 261). Contoh dari kasus tersebut seperti perubahan yang terjadi karena kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya, jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau dalam beberapa tahun. Maka untuk mengendalikan terhadap ancaman validitas internal berupa maturasi yaitu melaksanakan penelitian dalam rentang waktu singkat kurang lebih 2 minggu. Krathwohl (2004: 547) menyarankan pada penelitian jenis eksperimental dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, dan maturation. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi Statistik (statistical regression) Regresi statistik adalah kecenderungan responden memperoleh skor pretest tinggi biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah, jika skor pretest rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini akan lebih besar terjadi jika ada siswa berkebutuhan khusus yaitu, slow learner dan talented. Pada pretest kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya langsung mendapat skor yang sangat tinggi pada pretest, tetapi akan mendapat skor yang lebih rendah pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest dijadikan sebagai hasil treatment maka 55

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Maka untuk mengantisipasi, perlu kecermatan dalam mengamati responden dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest . Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas (mortality) Mortalitas adalah perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya, jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama dalam beberapa bulan hingga tahun. Hasil posttest dari responden yang tersisa bisa berbeda jika dikerjakan oleh seluruh responden yang sama pada saat pretest. Maka solusinya adalah menggunakan skor rerata untuk siswa yang tidak berangkat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi dari jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Dengan mengerjakan pretest, kelompok yang diteliti akan tahu apa yang ditargetkan dan sudah memiliki pengalaman awal, sehingga jika akan dilakukan posttest akan lebih fokus. Sesudah mengerjakan pretest, siswa bisa saja menyadari kesalahan-kesalahan terdahulu dan mengantisipasi untuk mengerjakan posttest lebih baik lagi. Jika demikian, skor posttest yang lebih tinggi belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh treatment penelitian. Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Maka solusi untuk mengurangi ancaman validitas internal tersebut adalah dengan menggunakan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan pretest. Jika 56

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Berikut adalah kategori ancaman validitas internal instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mengalami kerusakan. Solusinya yaitu dilakukan pemeriksaan instrumen sehingga kondisi instrumen saat posttest sama dengan saat pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah. b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusinya karakteristik alat pengumpul data yang digunakan harus sama untuk kedua kelompok dan untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah. c. Bias alat pengumpul data dapat terjadi terutama jika menggunakan teknik observasi. Observer dapat memiliki pandangan yang berbeda atau bias ketika mengamati kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tingkat kelelahan dapat saat observasi bisa berpengaruh juga. Solusinya yaitu melakukan pelatihan terhadap observer atau tidak diberi tahu mana kelompok kontrol dan mana kelompok eksperimen sehingga lebih objektif. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 9. Lokasi (location) Ancaman validasi internal berupa lokasi dapat terjadi bila lokasi dilakukan pretest, posttest, dan treatment di tempat yang berbeda (Fraenkel, Wallen, & 57

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hyun, 2012: 282). Seperti ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dan sebagainya. Maka solusinya adalah menggunakan lokasi yang sama, hanya saja kelas yang digunakan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda ruangan. Meskipun demikian, sarana dan prasarana kelas kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Ancaman validitas internal seperti kemampuan awal yang berbeda pada kedua kelompok akan mempengaruhi hasil posttest. Maka solusinya, yaitu penentuan sampel kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan pengundian. Pengundian disaksikan oleh peneliti dan kedua guru dari kedua kelas. Untuk mengetahui tingkat kemampuan awal kedua kelompok apakah sama atau tidak dilakukan pretest. Jika hasil pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 11. Impelementasi (implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest karena berbedanya gaya mengajar (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Maka solusinya adalah menggunakan guru yang sama ketika menerapkan pembelajaran di kedua kelompok. Sebelum penelitian, peneliti sudah memilih salah satu guru dari kedua kelas yang cocok dan berkenan menjadi guru mitra. Pemilihan guru mitra telah disetujui oleh wali kelas baik dari kelas VA dan VB. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 58

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi hasil penelitian dan hasil analisis data. Hasil penelitian ini berisikan implementasi penelitian yang meliputi deskripsi populasi dan deskripsi implementasi pembelajaran. Hasil analisis data berikut uji hipotesis penelitian I dan uji hipotesis penelitian II yang meliputi pengaruh perlakuan dan analisis lebih lanjut. Pada pembahasan diuraikan mengenai pengaruh perlakuan dan dampaknya. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Penelitian Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain nonprobability sampling tipe convenience sampling. Teknik tersebut biasa digunakan untuk penelitian di bidang pendidikan yaitu menggunakan kelas yang sudah ada karena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 18-19). Penentuan kelompok dilakukan dengan cara diundi yang disaksikan oleh guru mitra dan wali kelas VB. Berdasarkan hasil pengundian, kelas VB ditetapkan sebagai kelompok kontrol dan kelas VA ditetapkan sebagai kelompok eksperimen. Selanjutnya akan dideskripsikan populasi penelitian dan pembelajaran pada kedua kelompok. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD. Populasi terdiri dari 46 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas VA dan VB. Kelas VB sebagai kelompok kontrol sedangkan kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Sampel pertama adalah kelas VB sebagai kelompok kontrol. Jumlah siswa kelas VB adalah 22 siswa yang terdiri dari 13 laki-laki dan 9 perempuan. Siswa kelompok kontrol berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain, pedagang, satpam, karyawan swasta, dan PNS. Ketika dilakukan treatment, pretest, dan posttest semua siswa hadir di kelas. 59

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sampel kedua adalah kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Jumlah siswa kelas VA adalah 24 siswa yang terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan. Siswa kelompok eksperimen berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain, pedagang, perawat, karyawan swasta, dan PNS. Ketika pretest, treatment, dan posttest semua siswa hadir di kelas. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Penelitian diawali dengan pretest pada kelompok kontrol dan eksperimen. Pretest bertujuan untuk melihat kemampuan awal siswa pada kedua kelompok. Pretest dilaksanakan pada Rabu, 19 September 2018. Siswa mengerjakan 18 butir soal uraian selama 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit dengan pendampingan guru mitra. Siswa diberikan instruksi oleh guru tentang cara pengerjaan soal. Siswa juga diberi kesempatan untuk bertanya mengenai soal yang kurang dipahami. Pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan metode ceramah, sedangkan kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Lama waktu pembelajaran di kedua kelompok adalah 2 x 35 menit. Pembelajaran dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan di setiap kelompok. Guru yang mendampingi siswa selama pretest, treatment, posttest I, dan posttest II adalah guru yang sama. Penggunaan guru yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu implementasi (implementation). Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh terhadap skor posttest (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Guru yang berbeda juga akan memiliki gaya mengajar yang berbeda pula. Peneliti berperan sebagai observer, mendokumentasikan kegiatan, dan menyiapkan alat dan bahan sebelum treatment. Berikut deskripsi implementasi pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah. Pembelajaran ini terdiri dari kegiatan awal kegiatan inti, dan kegiatan penutup. 60

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan awal berisi apersepsi, motivasi, dan orientasi. Kegiatan inti dilakukan dengan cara guru menjelaskan materi secara lisan, sedangkan siswa memperhatikan penjelasan guru. Kegiatan akhir berisi penyimpulan materi, pengerjaan soal evaluasi dan refleksi. Waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit dengan materi pokok yang dipelajari adalah sistem pernapasan hewan. Pembelajaran dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan dengan materi yang berbeda di setiap pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 21 September 2018, pukul 08.50 – 10.20 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan mamalia. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan tepuk semangat sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa melakukan tanya jawab mengenai hewanhewan mamalia, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point. Selama guru menjelaskan materi, siswa mendengarkan dan mencatat hal yang penting. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal evaluasi, dan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 22 September 2018, pukul 08.50 – 10.20 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan pisces. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan menyanyikan lagu “Kalau Kau Suka Hati” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa melakukan tanya jawab mengenai hewan-hewan pisces, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point. Selama guru menjelaskan materi, siswa mendengarkan dan mencatat hal yang penting. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal evaluasi, dan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 24 September 2018, pukul 11.50 – 13.00 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan insecta. Pada kegiatan awal, 61

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran diawali dengan melakukan tepuk semangat sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa melakukan tanya jawab mengenai hewanhewan insecta, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point. Selama guru menjelaskan materi, siswa mendengarkan dan mencatat hal yang penting. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal evaluasi, dan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan keempat dilaksanakan pada Selasa, 25 September 2018, pukul 10.20 – 11.30 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan menyanyikan lagu “Kalau Kau Suka Hati” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa melakukan tanya jawab mengenai hewan-hewan amphibi, reptil, dan cacing, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point. Selama guru menjelaskan materi, siswa mendengarkan dan mencatat hal yang penting. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal evaluasi, dan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pada Jumat, 28 September 2018 pukul 08.50 – 09.50, kelompok kontrol mengerjakan soal posttest I untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Sekitar enam hari setelah posstest I, yaitu hari Kamis, 4 Oktober 2018 pukul 11.50 – 13.00, siswa mengerjakan soal posttest II. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah beberapa hari belajar menggunakan metode ceramah. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya. Soal nomor 3 digunakan untuk meneliti variabel mengevaluasi yang terdiri dari 3 sub soal, yaitu nomor 1a, 1b, dan 1c. soal nomor 4 digunakan untuk meneliti variabel menarik kesimpulan yang terdiri dari sub soal, yaitu nomor 4a, 4b, dan 4c. 62

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penggunaan soal yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal, yaitu instrumen. Jika suatu penelitian menggunakan instrumen yang berbeda baik pada pretest dan posttest untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Pembelajaran ini meliputi kegatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kegiatan awal terdapat langkah pertama model pembelajaran STAD, yaitu menyampaikan tujuan dan motivasi yang berisi motivasi, apersepsi, dan orientasi. Pada kegiatan inti terdapat 5 langkah selanjutnya dari model pembelajaran STAD, yaitu pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Kegiatan akhir berisi penyimpulan materi dan refleksi. Waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit dengan materi pokok yang dipelajari adalah sistem pernapasan hewan. Pembelajaran dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan dengan materi yang berbeda di setiap pertemuan. Guru yang mengajar di kelompok eksperimen sama dengan guru di kelompok kontrol. Sebelum pembelajaran, guru membagi kelas menjadi 4 kelompok yang beranggotakan 6 siswa yang heterogen jenis kelamin dan prestasinya. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 21 September 2018, pukul 07.40 - 08.50 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan mamalia. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan permainan “berhitung vs bernapas” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa tanya jawab guru dengan siswa terkait dengan permainan yang dilakukan, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru menyampaikan daftar nama kelompok dan meminta siswa berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan selanjutnya adalah guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point, video, dan juga media berupa memasangkan nama organ sesuai dengan gambar organ hewan 63

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang dicoba langsung oleh siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan pembahasan LKS yang dipimpin oleh guru. Kemudian para siswa mengerjakan kuis berjumlah 20 butir soal yang dikerjakan secara individu, dilanjutkan dengan siswa yang saling mengoreksi jawaban teman dalam satu kelompok. Lalu para siswa kembali mengerjakan kuis berjumlah 15 soal. Soal tersebut diambil dari Kuis I. Selanjutnya, para siswa menukarkan lembar jawabnya dengan teman yang berbeda kelompok dan saling mengoreksi. Setelah itu, guru membagikan hasil kuis setiap siswa dan membantu siswa menghitung total skor setiap siswa dalam kelompok. Kelompok yang memiliki skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempelkan pada papan penghargaan. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 22 September 2018, pukul 07.40 – 08.50 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan pisces. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan permainan “tebak kata” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa tanya jawab guru dengan siswa terkait dengan permainan yang dilakukan, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru membacakan ulang daftar nama kelompok dan meminta siswa berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan selanjutnya adalah guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point, video, dan juga media berupa memasangkan nama organ sesuai dengan gambar organ hewan yang dicoba langsung oleh siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan pembahasan LKS yang dipimpin oleh guru. Kemudian para siswa mengerjakan kuis berjumlah 20 butir soal yang dikerjakan secara individu, dilanjutkan dengan siswa yang saling mengoreksi jawaban teman dalam satu kelompok. Lalu para siswa kembali mengerjakan kuis berjumlah 15 soal. Soal tersebut diambil dari Kuis I. Selanjutnya, para siswa menukarkan lembar jawabnya dengan teman yang berbeda kelompok dan saling mengoreksi. Setelah itu, guru membagikan hasil kuis setiap siswa dan membantu siswa menghitung total skor setiap siswa dalam 64

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok. Kelompok yang memiliki skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempelkan pada papan penghargaan. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 24 September 2018, pukul 09.50 – 10.55 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan insecta. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan permainan “tebak kata” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa tanya jawab guru dengan siswa terkait dengan permainan yang dilakukan, dan orientasi berupa penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru membacakan ulang daftar nama kelompok dan meminta siswa berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan selanjutnya adalah guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point, video, dan juga media berupa memasangkan nama organ sesuai dengan gambar organ hewan yang dicoba langsung oleh siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan pembahasan LKS yang dipimpin oleh guru. Kemudian para siswa mengerjakan kuis berjumlah 20 butir soal yang dikerjakan secara individu, dilanjutkan dengan siswa yang saling mengoreksi jawaban teman dalam satu kelompok. Lalu para siswa kembali mengerjakan kuis berjumlah 15 soal. Soal tersebut diambil dari Kuis I. Selanjutnya, para siswa menukarkan lembar jawabnya dengan teman yang berbeda kelompok dan saling mengoreksi. Setelah itu, guru membagikan hasil kuis setiap siswa dan membantu siswa menghitung total skor setiap siswa dalam kelompok. Kelompok yang memiliki skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempelkan pada papan penghargaan. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pertemuan keempat dilaksanakan pada Selasa, 25 September 2018, pukul 07.40 – 08.50 WIB dengan materi sistem pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing. Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan permainan “rangkai kata” sebagai motivasi, dilanjutkan dengan apersepsi berupa tanya jawab guru dengan siswa terkait dengan permainan yang dilakukan, dan orientasi berupa 65

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penyampaian tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Pada kegiatan inti, guru membacakan ulang daftar nama kelompok dan meminta siswa berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan selanjutnya adalah guru menjelaskan materi dengan bantuan tayangan power point, video, dan juga media berupa memasangkan nama organ sesuai dengan gambar organ hewan yang dicoba langsung oleh siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan pembahasan LKS yang dipimpin oleh guru. Kemudian para siswa mengerjakan kuis berjumlah 20 butir soal yang dikerjakan secara individu, dilanjutkan dengan siswa yang saling mengoreksi jawaban teman dalam satu kelompok. Lalu para siswa kembali mengerjakan kuis berjumlah 15 soal. Soal tersebut diambil dari Kuis I. Selanjutnya, para siswa menukarkan lembar jawabnya dengan teman yang berbeda kelompok dan saling mengoreksi. Setelah itu, guru membagikan hasil kuis setiap siswa dan membantu siswa menghitung total skor setiap siswa dalam kelompok. Kelompok yang memiliki skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempelkan pada papan penghargaan. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan refleksi yang dilakukan secara lisan. Pada Jumat, 28 September 2018 pukul 07.40 – 08.50, kelompok eksperimen mengerjakan soal posttest I untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Sekitar enam hari setelah posstest I, yaitu hari Kamis, 4 Oktober 2018 pukul 11.50 – 13.00, siswa mengerjakan soal posttest II. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah beberapa hari belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya. Penggunaan soal yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal, yaitu instrumen. Jika suatu penelitian menggunakan instrumen yang berbeda baik pada pretest dan posttest untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Soal nomor 3 digunakan untuk meneliti variabel 66

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengevaluasi yang terdiri dari 3 sub soal, yaitu nomor 1a, 1b, dan 1c. soal nomor 4 digunakan untuk meneliti variabel menarik kesimpulan yang terdiri dari sub soal, yaitu nomor 4a, 4b, dan 4c. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti akan menunjukkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dengan data dari kelompok eksperimen untuk setiap indikatornya. 4.1.2.1 Kemampuan Mengevaluasi Hasil dari sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.1 Sebaran Data Mengevaluasi Kelompok Kontrol No Indikator 1. Menerka akibat dari hewan yang berada di tempat yang tidak sesuai dengan organ pernapasannya Menilai sah tidaknya fungsi organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya Menilai sah tidaknya perilaku manusia terhadap hewan Jumlah Frekuensi 2. 3. 1 5 Skor Pretest 2 3 4 10 3 4 Total 22 1 4 Skor Posttest I 2 3 4 Total 7 7 4 22 3 14 3 2 22 5 8 4 5 22 3 5 3 11 22 4 8 5 5 22 11 29 9 17 66 13 23 16 14 66 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 11 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 29 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 9 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 17 anak. Hasil posttest I diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 13 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 23 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 16 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 14 anak. Skor 1 dan 3 mengalami peningkatan jumlah frekuensi, sedangkan skor 2 dan 4 mengalami penurunan jumlah frekuensi. 67

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.2 Sebaran Data Mengevaluasi Kelompok Eksperimen No Indikator 1. Menerka akibat dari hewan yang berada di tempat yang tidak sesuai dengan organ pernapasannya Menilai sah tidaknya fungsi organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya Menilai sah tidaknya perilaku manusia terhadap hewan Jumlah Frekuensi 2. 3. 1 4 2 9 Skor Pretest 3 4 5 6 Total 24 1 1 Skor Posttest I 2 3 4 Total 5 10 8 24 4 7 9 4 24 1 2 10 11 24 6 7 6 5 24 2 5 10 7 24 14 23 20 15 72 4 12 30 26 72 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 14 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 23 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 20 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 15 anak. Hasil posttest I diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 4 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 12 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 30 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 26 anak. Skor 3 dan 4 mengalami peningkatan jumlah frekuensi, sedangkan skor 1 dan 2 mengalami penurunan jumlah frekuensi. 4.1.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.3 Sebaran Data Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol No Indikator 1. Mengemukakan alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap hewan Menerka akibat yang akan terjadi pada hewan terhadap tindakan manusia 2. Skor Pretest 3 4 11 1 1 4 2 6 0 10 11 1 Total 22 1 3 2 6 22 4 8 Skor Posttest I 3 4 Total 11 2 22 9 1 22 68

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Menyimpulkan akibat dari perlakuan terhadap hewan Jumlah Frekuensi 4 9 7 2 22 2 9 10 1 22 8 25 29 4 66 9 23 30 4 66 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 8 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 25 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 29 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Hasil posttest I diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 9 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 23 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 30 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Skor 1 dan 3 mengalami peningkatan jumlah frekuensi, skor 2 mengalami penurunan jumlah frekuensi, dan skor 4 tidak mengalami peningkatan atau penurunan jumlah frekuensi. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.4 Sebaran Data Memahami Kelompok Eksperimen No Indikator 1. Mengemukakan alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap hewan Menerka akibat yang akan terjadi pada hewan terhadap tindakan manusia Menyimpulkan akibat dari perlakuan terhadap hewan Jumlah Frekuensi 2. 3. Skor Pretest 3 4 12 1 Total 24 1 0 Skor Posttest I 2 3 4 Total 7 12 5 24 7 24 5 `4 8 7 24 7 2 24 2 9 8 5 24 26 10 72 7 20 28 17 72 1 4 2 7 4 6 7 6 9 14 22 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 14 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 22 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 26 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 10 anak. Hasil posttest I diketahui jumlah frekuensi siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 7 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 20 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 28 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 17 anak. Skor 3 dan 4 mengalami 69

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peningkatan jumlah frekuensi, sedangkan skor 1 dan 2 mengalami penurunan jumlah frekuensi. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan mengevaluasi, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel mengevaluasi terdiri dari 3 soal uraian, yaitu soal nomor 3a yang memuat indikator menerka akibat dari hewan yang beraa di tempat yang tidak sesuai dengan organ pernapasannya, soal nomor 3b yang memuat indikator menilai sah tidaknya fungsi organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya, dan soal nomor 3c yang memuat indikator menilai sah tidaknya perilaku manusia terhadap hewan. Hasil analisis secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahapan analisis data yang dilakukan adalah 1) uji normalitas data yang bertujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat dilakukan analisis tahap selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, 2) uji perbedaan kemampuan awal yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari 1) perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, 2) uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, 3) uji korelasi rerata pretest ke posttest, dan 4) uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan mengevaluasi. Data yang digunakan adalah rerata skor 70

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji pebedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas data dan uji homogenitas varian. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan, yaitu skor pretest, posttest I, dan selisih dari pretest ke posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data, yaitu jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik. (Field, 2009: 326), sedangkan jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik. (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, hasil uji normalitas kemampuan mengevaluasi sebagai berikut (lihat Lampiran 4.3.1) Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,146 0,124 Keputusan Normal Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik, yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah rerata skor dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dbandingkan. Sedangkan jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan 71

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4.1). Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,199 df1 1 df2 44 p 0,658 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,199 dan harga p = 0,658 (p > 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Apabila varian homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Uji statistik ini bertujuan untuk meemeriksa apakah kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5.1). Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,916 Keputusan Tidak ada perbedaan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,50; SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata kelompok kontrol yaitu (M = 2,48; SE = 0,11). Meskipun demikian, perbedaan skor tersebut tidak signifikan t(44) = - 0,106, p = 0,916 (p > 0,05). Oleh karena itu, Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol 72

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan kelompok eksperimen. Pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3), yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison 2007: 277). Jika hasil perhitungan bernilai lebih dari 0, ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, ada pengaruh. Berikut perhitungannya: (3,08 – 2,50) – (2,47 – 2,48) = 0,58 – (0,01) = 0,59. Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,59 atau lebih besar dari 0, yang artinya ada perbedaan. Untuk mengetahui perbedaannya signifikan atau tidak, dilakukan uji statistik. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data, yaitu jika harga p > 0,05, distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik, yaitu Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik, yaitu Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,148 0,105 Keputusan Normal Normal Tabel 4.8 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian Hnull diterima, artinya data berdistriusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik, yaitu Independent samples t-test untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Sebelum uji statistik, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Data yang digunakan adalah data 73

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada baris pertama dari output SPSS Independent samples t-test dengan keterangan equal variances assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Berikut hasil uji homogenitas varian (lihat Lampiran 4.6.1). Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 1,277 df1 1 df2 44 p 0,265 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 1,277 dan harga p = 0,265 (p > 0,05), Hnull diterima, artinya data berdistribusi normal. Dengan demikian, dapat diimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Apabila varian homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Uji statistik ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Data yang digunakan adalah data rerata selisih skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.7.1). Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan p 0,001 Uji Statistik Independent samples t-test Keputusan Signifikan Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,58; SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata kelompok kontrol yaitu (M = -0,01; SE = 0,13). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = -3,62; p = 0,01 (p < 0,05). Oleh karena itu, Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan 74

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengevaluasi. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan eksperimen. Mean 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 3,08 2,5 2,48 2,47 Kel Kontrol Kel Eksperimen Pretest Posttest I Grafik 4.1 Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik 4.1 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 3,08 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 2,47. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,5829 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar -0,0015. Berikut grafik hasil perbedaan selisih skor pretest-posttest I antara kedua kelompok. Grafik 4.2 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 75

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan didapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Variabel Mengevaluasi t -3,62 t2 13,10 df 44 r (effect size) 0,47 R2 0,22 % 22 Kategori Efek Menengah Tabel 4.11 menunjukkan harga r (effect size) pada kemampuan mengevaluasi sebesar 0,47. Harga R2, yaitu 0,22 sehingga jika dikalikan 100%, persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengevaluasi, yaitu 22%. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh sebesar 22% terhadap kemampuan mengevaluasi yang setara dengan kategori efek menengah. 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningktan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi penngkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun eksperimen. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull, jika harga p < 0,05, artinya data terdistribusi normal. Berikut hasil uji 76

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan eksperimen (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol p 0,146 0,053 0,124 0,160 Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I Eksperimen Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.12 menunjukkan bahwa semua data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki harga p > 0,05, artinya data skor pretest dan posttest I kedua kelompok memiliki distribusi data yang normal. Dengan demikian, uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan menggunakan Paired samples t-test. Berikut ini merupakan tabel hasil perhitungan persentase peningkatan kemampuan mengevaluasi dan hasil uji signifikansi peningkatan skor pretest dan posttest I (lihat Lampiran 4.9.1). Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Pretest Posttest I 2,48 2,47 2,50 3,08 Peningkatan % -0,58% 23,33% Uji Statistik p Paired samples t-test Paired samples t-test 0,91 0,00 Keputusa n Tidak signifikan Signifikan 3,5 3 Rerata 2,5 2 Pretest 1,5 Posttest I 1 0,5 0 Kontrol Eksperimen Grafik 4.3 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Berdasarkan tabel 4.13 dan grafik 4.3 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan rerata skor antara pretest ke posttest I, sedangkan pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor antara pretest ke posttest I. Nilai rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 2,48 dan nilai rerata posttest 77

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I sebesar 2,47. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok kontrol, yaitu -0,58%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa kelompok kontrol mengalami penurunan. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,91, artinya kelompok kontrol memiliki nilai p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol. Sedangkan nilai rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 2,50 dan nilai rerata posttest I sebesar 3,08. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok eksperimen, yaitu 23,33%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,00, artinya kelompok eksperimen memiliki harga p < 0,005 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.9.3.1). 7 6 6 Frekuensi 5 5 5 4 4 3 3 2 1 0 6 4 3 Kel Kontrol Kel Eksperimen 2 1 1 1 0 0 0 0 0 -1,67 -1 -0,67-0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 Grafik 4.4 Gain Score Grafik 4.4 menunjukkan gain terendah pada kelompok kontrol sebesar 1,67 dan pada kelompok eksperimen 0,00. Sedangkan gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 1,00 dan pada kelompok eksperimen sebesar 1,33. Namun frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,00 pada kelompok kontrol berjumlah 13 anak, sedangkan kelompok eksperimen berumlah 24 anak. Nilai 0,00 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,00 pada kelompok kontrol sebesar 59%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 100% (lihat Lampiran 78

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.2). Hal ini berarti 59% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah, sedangkan 100% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kelompok eksperimen memberi dampak pengaruh lebih besar daripada penerapan metode ceramah pada kelompok kontrol. b. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Uji yang digunakan pada kedua kelompok menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test karena data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field: 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji besar pengaruh peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.10.1.1). Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen t -0,10 6,03 t2 0,01 36,44 df 21 23 r (effect size) 0,02 0,78 R2 0,005 0,613 % 0,05 61 Kategori Efek Kecil Besar Tabel 4.14 menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = -0,01; SD = 0,638; SE = 0,13; df = 21; dan p = 0,91 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Sedangkan pada kelompok eksperimen M = 0,58; SD = 0,47; SE = 0,09; df = 23; dan p = 0,00 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol r = 0,02 setara dengan 0,05% yang 79

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masuk kategori efek kecil dan pada kelompok eksperimen r = 0,78 setara dengan 61% yang masuk kategori efek besar 2. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat ancaman terhadp validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Terdapat ancaman regresi statistik apabila korelasinya negatif dan signifikan. Regresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapat skor pretest lebih tinggi akan mendapat skor posttest lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor pretest lebih rendah akan mendapat skor pada posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrdol dan kelompok eksperimen. Data yang digunakan berdistribusi normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.11.1.1 dan 4.11.1.2). Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Pearson Correlation 0,137 0,488 p 0,544 0,016 Keterangan Positif dan tidak signifikan Positif dan signifikan Tabel 4.15 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol harga r (koefisien korelasi Pearson) sebesar 0,137, sedangkan pada kelompok eksperimen harga r (koefisien korelasi Pearson) sebesar 0,488, artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara skor pretest dan posttest I. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest. Hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p sebesar 0,544 (p > 0,05), artinya Hnull diterima dan Hi ditolak, maka pada kelompok kontrol memiliki korelasi yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil posttest I. Sedangkan pada kelompok eksperimen harga p sebesar 0,016 (p < 0,05), artinya Hnull ditolak dan Hi diterima, maka pada kelompok eksperimen memiliki korelasi yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil posttest I. 80

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan demikian, ancaman validitas internal, yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dalam penelitian ini. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih memiliki efek yang sama beberapa waktu setelah dilakukan posttest I. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk menentukan uji yang akan digunakan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p > 0,05, artinya data terdistribusi normal. Berikut hasil uji normalitas selisih skor posttest I dan posttest II kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II p Ta0,053 0,071 0,160 0,052 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.16 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, artinya keempat data tersebut memiliki distribusi data normal. Dengan demikian, uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik Paired samples ttest. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.12.1.1 dan 4.12.1.2). 81

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Rerata Posttest I Posttest II 2,47 2,43 Eksperimen 3,08 Peningkatan % -1,23 2,80 -5,18 Uji Statistik p Keputusan Paired samples ttest Paired samples ttest 0,78 3 Penurunan tidak signifikan Penurunan signifikan 0,03 6 Tabel 4.17 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M = -0,03; SD = 0,51; SE = 0,10; df = 21; dan p = 0,783 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = -027; SD = 0,61; SE = 0,12; df = 23; dan p = 0,036 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen mengalami penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Persentase penurunan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut dapat dilihat oada hasil perhitungan bahwa penurunan skor pada kelompok kontrol sebesar -1,23% dan pada kelompok eksperimen sebesar -5,18%. Berikut adalah grafik skor pretest, posttest I, dan posttest II kemampuan mengevaluasi pada kelompok Mean kontrol dan kelompok eksperimen. 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 3,08 2,5 2,48 2,8 2,47 2,43 Kel Kontrol Kel Eksperimen Pretest Posttest I Posttest II Grafik 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Selanjutnya, untuk mengetahui capaian skor pada posttest II berbeda atau tidak berbeda dengan kondisi awal pada pretest, maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dengan posttest II. Analisis perbedaan skor pretest dengan 82

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI posttest II menggunakan statistik parametrik, yaitu Paired samples t-test, karena posttest II kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji retensi skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12.1.3 dan 4.12.1.4). Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Posttest II 2,48 2,43 2,50 2,80 Uji Statistik p Keputusan Paired samples t-test 0,713 Paired samples t-test 0,033 Perbedaan tidak signifikan Perbedaan Signifikan Tabel 4.18 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan skor. Hal tersebut dapat dilihat M = -0,04; SD = 0,56; SE = 0,12; df = 21; dan p = 0,713 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = 0,30; SD = 0,65; SE = 0,13; df = 23; dan p = 0,033 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen mengalami perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan menarik kesimpulan, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel mengevaluasi terdiri dari 3 soal uraian, yaitu soal nomor 4a yang memuat indikator mengemukakan alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap hewan, soal nomor 4b yang memuat indikator menerka akibat yang akan terjadi pada hewan terhadap tindakan manusia, dan soal nomor 4c yang memuat indikator menyimpulkan akibat dari perlakuan terhadap hewan. Hasil analisis secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. 83

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tahapan analisis data yang dilakukan adalah 1) uji normalitas data yang bertujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat dilakukan analisis tahap selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, 2) uji perbedaan kemampuan awal yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari 1) perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, 2) uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, 3) uji korelasi rerata pretest ke posttest, dan 4) uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Data yang digunakan adalah rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data dan uji homogenitas varian. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan, yaitu skor pretest, posttest I, dan selisih dari pretest ke posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data, yaitu jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik. (Field, 2009: 326), sedangkan jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik. (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, hasil uji normalitas kemampuan menarik kesimpulan sebagai berikut (lihat Lampiran 4.3.2) 84

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data p 0,051 0,192 Kelompok Kontrol Eksperimen Keputusan Normal Normal Tabel 4.19 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah rerata skor dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dbandingkan. Sedangkan jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4.2). Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,002 df1 1 df2 44 p 0,968 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,002 dan harga p = 0,968 (p > 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Apabila varian homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa terdapat homogenitas data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan 85

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,970 Keputusan Tidak ada perbedaan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,44; SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata kelompok kontrol yaitu (M = 2,43; SE = 0,09). Meskipun demikian, perbedaan skor tersebut tidak signifikan t(44) = - 0,037; p = 0,970 (p > 0,05). Oleh karena itu, Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menarik kesimpulan, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3), yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison 2007: 277). Jika hasil perhitungan bernilai lebih dari 0, ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, ada pengaruh. Berikut perhitungannya: (2,76 – 2,44) – (2,43 – 2,43) = 0,31 – 0,00 = 0,31. Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,31 atau lebih besar dari 0, yang artinya ada pengaruh perlakuan. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Untuk mengetahui pengaruhnya signifikan atau tidak, dilakukan uji statistik. 86

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data, yaitu jika harga p > 0,05, distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik, yaitu Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik, yaitu Mann-Whitney U-test (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,106 0,051 Keputusan Normal Normal Tabel 4.22 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian Hnull diterima, artinya data berdistriusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik, yatu Independent samples t-test untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Sebelum uji statistik, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Data yang digunakan adaah data pada baris pertama dari output SPSS Independent samples t-test dengan keterangan equal variances assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Berikut hasil uji homogenitas varian selisih skor pretest-posttest I (lihat Lampiran 4.6.2). Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian selisih skor pretest-posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,091 df1 1 df2 44 p 0,764 Keputusan Homogen 87

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,091 dan harga p = 0,764 (p > 0,05), Hnull diterima, artinya data berdistribusi normal. Dengan demikian, dapat diimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Apabila varian homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Uji statistik ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.7.2). Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Independent samples t-test p 0,01 Keputusan Signifikan Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,31, SE = 0,08) lebih tinggi daripada rerata kelompok kontrol yaitu (M = 0,00, SE = 0,08). Perbedaan skor tersebut terlihat signifikan t(44) = -2,67, p = 0,01 (p < 0,05). Oleh karena itu, Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan eksperimen. 88

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2,8 2,76 2,7 2,6 2,5 2,4 Kel Kontrol 2,44 2,43 2,43 Kel Eksperimen 2,3 2,2 Pretest Posttest I Grafik 4.6 Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik 4.6 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningktan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 3,08 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 2,44. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,320 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar 0. Berikut grafik hasil perbedaan selisih skor pretest-posttest I antara kedua kelompok. Grafik 4.7 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 89

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengevaluasi. Data yang diperoleh berdistriusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan didapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Variabel Menarik Kesimpulan t -2,67 t2 7,13 df 44 r (effect size) 0,37 R2 0,13 % 13,69 Kategori Efek Menengah Tabel 4.25 menunjukkan harga r (effect size) pada kemampuan menarik kesimpulan sebesar 0,37. Harga R2, yaitu 0,13 sehingga jika dikalikan 100%, persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengevaluasi, yaitu 13,69%. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh sebesar 13,69% terhadap kemampuan menarik kesimpulan yang setara dengan kategori efek menengah. 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningktan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun eksperimen. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull, jika harga p < 0,05, artinya data terdistribusi normal. Berikut hasil uji 90

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan menarik kesimpulan kelompok kontrol dan eksperimen (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Kontrol p 0,051 0,096 0,192 0,200 Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I Eksperimen Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.26 menunjukkan bahwa semua data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki harga p > 0,05, artinya data skor pretest dan posttest I kedua kelompok memiliki distribusi data yang normal. Dengan demikian, uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan menggunakan Paired samples t-test. Berikut ini merupakan tabel hasil perhitungan persentase peningkatan kemampuan menarik kesimpulan dan hasil uji signifikansi peningkatan skor pretest dan posttest I (lihat Lampiran 4.9.1 dan 4.9.2.2). Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I No Kelompok Rerata Pretest Posttest I 1 Kontrol 2,43 2,43 Peningkata n % 0,01 2 Eksperimen 2,44 2,76 13,07 Uji Statistik p Keputusa n Paired samples t-test Paired samples t-test 0,99 Tidak signifikan Signifikan 0,00 2,8 2,7 Rerata 2,6 Pretest 2,5 Posttest I 2,4 2,3 2,2 Kel Kontrol Kel Eksperimen Grafik 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 91

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel 4.27 dan grafik 4.8 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan rerata skor antara pretest ke posttest I, sedangkan pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor antara pretest ke posttest I. Nilai rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 2,43 dan nilai rerata posttest I sebesar 2,43. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok kontrol, yaitu 0,01%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa kelompok kontrol mengalami penurunan. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,99, artinya kelompok kontrol memiliki nilai p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol. Sedangkan nilai rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 2,44 dan nilai rerata posttest I sebesar 2,76. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok eksperimen, yaitu 13,07%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,00, artinya kelompok eksperimen memiliki harga p < 0,005 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.9.3.3). 8 7 7 Frekuensi 6 6 6 5 7 6 5 4 Kel Kontrol 3 Kel Eksperimen 2 2 1 1 2 2 2 0 0 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1 Grafik 4.9 Gain score Grafik 4.9 menunjukkan gain terendah pada kelompok kontrol dan eksperimen sebesar -0,67. Sedangkan gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 0,67 dan pada kelompok eksperimen sebesar 1,00. Namun frekuensi siswa 92

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang mendapat nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol berjumlah 8 anak, sedangkan kelompok eksperimen berumlah 16 anak. Nilai 0,33 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,00 pada kelompok kontrol sebesar 36%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 60% (lihat Lampiran 4.9.3.4). Hal ini berarti 36% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah, sedangkan 60% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kelompok eksperimen memberi dampak pengaruh lebih besar daripada penerapan metode ceramah pada kelompok kontrol. b. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Uji yang digunakan pada kedua kelompok menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test karena data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field: 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.10.2.1). Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen t 0,006 3,705 t2 0,000 13,72 df 21 23 r (effect size) 0,001 0,611 R2 1,71 0,37 % 0,00 37,37 Kategori Efek Kecil Besar Tabel 4.28 menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,00; SD = 0,38; SE = 0,08; df = 21; dan p = 0,99 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Sedangkan pada kelompok eksperimen M = 0,31; SD = 0,42; SE = 0,08; df = 23; dan p = 0,001 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor dari 93

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol r = 0,001 setara dengan 0,00% yang masuk kategori efek kecil dan pada kelompok eksperimen r = 0,611 setara dengan 37,37% yang masuk kategori efek besar 2. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Terdapat ancaman regresi statistik jika korelasinya negatif dan signifikan.. Regresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapat skor pretest lebih tinggi akan mendapat skor posttest lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor pretest lebih rendah akan mendapat skor pada posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data yang digunakan berdistribusi normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.11.2.1). Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Pearson Correlation 0,611 0,647 p 0,003 0,001 Keterangan Positif dan signifikan Positif dan signifikan Tabel 4.29 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol harga r (koefisien korelasi Pearson) sebesar 0,611, sedangkan pada kelompok eksperimen harga r (koefisien korelasi Pearson) sebesar 0,647, artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara skor pretest dan posttest I. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest. Hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p sebesar 0,003 (p < 0,05), artinya Hnull ditolak dan Hi diterima, maka pada kelompok eksperimen memiliki korelasi yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil posttest I. Sedangkan pada kelompok eksperimen harga p sebesar 0,001 (p < 0,05), artinya 94

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hnull ditolak dan Hi diterima, maka pada kelompok eksperimen memiliki korelasi yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil posttest I. Dengan demikian, ancaman validitas internal, yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dalam penelitian ini. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih memiliki efek yang sama beberapa waktu setelah dilakukan posttest I. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk menentukan uji yang akan digunakan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05, artinya data terdistribusi normal. Berikut hasil uji normalitas selisih skor posttest I dan posttest II kemampuan menarik kesimpulan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II p 0,096 0,140 0,200 0,145 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.30 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, artinya keempat data tersebut memiliki distribusi data normal. Dengan demikian, uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik Paired samples ttest. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.12.2.1 dan 4.12.2.2). 95

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Rerata Posttest I Posttest II 2,43 2,36 Eksperimen 2,76 Peningkatan % -3,12 2,69 -2,50 Uji Statistik Paired samples ttest Paired samples ttest p Keputusan 0,49 Penurunan tidak signifikan Penurunan tidak signifikan 0,33 Tabel 4.31 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M = -0,07; SD = 0,51; SE = 0,10; df = 21; dan p = 0,49 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = -006; SD = 0,34; SE = 0,06; df = 23; dan p = 0,33 p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol dan eksperimen tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Persentase penurunan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut dapat dilihat oada hasil perhitungan bahwa penurunan skor pada kelompok kontrol sebesar -3,12% dan pada kelompok eksperimen sebesar -2,50%. Berikut adalah grafik skor pretest, posttest I, dan posttest II kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2,8 2,76 2,7 2,69 Mean 2,6 2,5 2,4 2,44 2,43 Kel Kontrol 2,43 2,36 2,3 Kel Eksperimen 2,2 2,1 Pretest Posttest I Posttest II Grafik 4.10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II 96

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selanjutnya, untuk mengetahui capaian skor pada posttest II berbeda atau tidak berbeda dengan kondisi awal pada pretest, maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dengan posttest II. Analisis perbedaan skor pretest dengan posttest II menggunakan statistik parametrik, yaitu Paired samples t-test, karena posttest II kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12.2.3 dan 4.12.2.4). Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Skor Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Posttest II 2,43 2,36 2,44 2,69 Uji Statistik p Keputusan Paired samples t-test Paired samples t-test 0,598 Perbedaan tidak signifikan Perbedaan Signifikan 0,008 Tabel 4.32 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan skor. Hal tersebut dapat dilihat M = -0,07; SD = 0,66; SE = 0,14; df = 21; dan p = 0,598 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = 0,25; SD = 0,42; SE = 0,08; df = 23; dan p = 0,008 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen mengalami perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. 4.2 Pembahasan 4.2.1 Analisis terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian Penarikan kesimpulan dalam sebuah penelitian eksperimental memerlukan kehati-hatian. Perlu dipastikan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen hanya disebabkan karena variabel independen yang digunakan sebagai treatment penelitian. Bisa jadi terdapat variabel lain di luar perlakuan yang turut mempengaruhi hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik dalam kesimpulan penelitian. Faktor-faktor 97

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI luar ini bisa menjadi ancaman terhadap validitas penelitian. Berikut ancaman validitas internal pada penelitian ini. Tabel 4.33 Ancaman dalam Penelitian No Ancaman Validitas Sejarah Tingkat Ancaman Rendah Terkendali Ya/Tidak Ya 2 Difusi treatment Rendah-menengah Ya 3 Perilaku kompensatoris Rendah-menengah Tidak 4 Maturasi Rendah Ya 5 Regresi statistik Rendah Ya 6 Mortalitas Rendah Ya 7 Pengujian Rendah Ya 8 Instrumentasi Rendah-menengahtinggi Ya 9 Lokasi Menengah-tinggi Ya 10 Karakteristik subjek Implementasi Menengah-tinggi Ya Tinggi Ya 1 11 Cara Pengendalian Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat (dua minggu). Tidak ada komunikasi tentang STAD ke kelompok kontrol secara sistematis. Kelompok kontrol tidak diberi treatment STAD sesudah penlitian selesai. Penelitian dilaksanakan dalam waktu yang singkat (dua minggu). Penggunaan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kemampuan mengevaluasi hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif, pada kelompok kontrol tidak signifikan sedangkan pada kelompok eksperimen signifikan. Pada kemampuan menarik kesimpulan hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif dan signifikan pada kedua kelompok. Penelitian dilaksanakan dalam waktu yang singkat (dua minggu). Semua siswa hadir saat pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan eksperimen. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama diberi pretest. Memeriksa kelayakan instrumen. Menggunakan instrumen yang sama saat pretest dan posttest. Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Pembelajaran diimplementasikan oleh guru yang sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Tabel 4.33 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah, difusi treatment, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, isntrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi. Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan, yaitu 98

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendah-menengah. Ancaman tersebut tidak berdampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan yang diambil. Dengan demikian, 10 dari 11 ancaman validitas internal dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ada temuan data yang menunjukkan ancaman yang berdampak sistemik. Maka kredibilitas kesimpulan penelitian bisa dipercaya. Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Selama penelitian, dijumpai peristiwa yang dapat mengancam validitas internal penelitian. Setiap ancaman dikendalikan dengan solusi yang ada. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung kurang lebih 2 minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa sejarah, maturasi dan mortalitas. Ancaman validitas internal berupada difusi treatment berhasil dikendalikan dalam penelitian ini. Solusi yang ditawarkan peneliti, yaitu memberikan pengertian setelah pembelajaran kepada kedua kelompok agar tidak saling mempelajari treatment setiap kelompok. Ancaman validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak berhasil dikendalikan dalam penelitian ini. Seharusnya setelah seluruh treatment sudah diberikan pada kedua kelompok, kelompok kontrol juga diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sama dengan kelompok eksperimen, tetapi keterbatasan waktu guru mitra tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan pembelajaran. Penggunaan soal pretest dan posttest yang sama pada kedua kelompok dan isntrumen soal sudah diperiksa terlebih dahulu kelayakannya juga membuat ancaman validitas internal berupa maturasi dan instrumentasi dapat dikendalikan dengan baik. Begitu pula dengan ancaman validitas internal berupa regresi statistik yang dapat dikendalikan dengan baik, karena pada kemampuan mengevaluasi hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif, pada kelompok kontrol tidak signifikan sedangkan pada kelompok eksperimen signifikan. Sedangkan pada kemampuan menarik kesimpulan hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif dan signifikan pada kedua kelompok. Kehadiran semua siswa selama pretest, treatment¸ dan posttest juga membuat ancaman validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan dengan baik. Ancaman validitas internal berupa pengujian juga dapat dikendalikan dengan baik, karena kedua kelompok sama-sama diberikan pretest sebelum treatment dilakukan. 99

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang sama, yaitu di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Selama penelitian, setiap kelompok menggunakan kelas seperti hari biasa, yaitu kelas VB ditempati oleh kelompok kontrol, sedangkan kelas VA ditempati oleh kelompok eksperimen dengan kondisi kedua ruang kelas kurang lebih sama. Pelaksanaan pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal pada kedua kelompok. Setelah pretest ternyata kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. Selain itu, agar tidak terjad bias, pembelajaran pada kedua kelompok dilakukan oleh guru yang sama, sehingga ancaman validitas internal berupa implementasi dapat dikendalikan dengan baik. 4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengevaluasi Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi. Sebaran data posttest pada kemampuan mengevaluasi menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapat skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama, yaitu menerka akibat dari hewan yang berada di tempat yang tidak sesuai dengan organ pernapasannya, pada kelompok kontrol perolehan skor 3 meningkat sebanyak 4 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 5 siswa dan skor 4 sebanyak 2 siswa. Indikator kedua, yaitu menilai sah tidaknya fungsi organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya, pada kelompok kontrol perolehan skor 1 meningkat sebanyak 2 siswa, skor 3 sebanyak 1 siswa, dan skor 4 sebanyak 3 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 4 sebanyak 7 siswa. Indikator ketiga, yaitu menilai sah tidaknya perilaku manusia terhadap hewan, pada kelompok kontrol perolehan skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa, skor 2 sebanyak 3 siswa, dan skor 3 sebanyak 2 siswa. Pada kelompok 100

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 4 siswa, dan skor 4 sebanyak 2 siswa. Pada kelompok kontrol, skor yang sering muncul adalah skor 2, yaitu sebanyak 29 siswa pada saat pretest dan 23 siswa pada saat posttest. Pada kelompok eksperimen, skor yang sering muncul adalah skor 2 sebanyak 23 siswa pada saat pretest dan skor 3 sebanyak 30 siswa pada saat posttest. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,916 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dengan harga p = 0,001 (p < 0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh kemampuan mengevaluasi sebesar 22% atau setara dengan kategori efek menengah (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan sebesar r = 0,47 atau setara dengan 22%. Hal ini berarti model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sekitar 22%, sedangkan sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 23,33%. Sedangkan peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar -0,58%. Hasil rerata skor posttest I pada kelompok kontrol menunjukkan angka yang negatif, artinya kelompok kontrol 101

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengalami penurunan hasil skor dari pretest ke posttest, hal tersebut kemungkinan karena saat posttest I dilaksanakan pada hari Jumat setelah senam, kemungkinan siswa tidak fokus ketika mengerjakan soal posttest I sehingga mengalami penurunan skor. Hasil uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,78 atau setara dengan 60,8% (kategori besar). Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,02 atau setara dengan 0,05% (kategori kecil). Pada kelompok kontrol mengalami peningkatan skor yang positif dan tidak signifikan, sedangkan kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang positif dan signifikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji korelasi antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol, harga p sebesar 0,544 (p > 0,05), artinya kelompok kontrol mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Pada kelompok eksperimen, harga p sebesar 0,016 (p < 0,05), artinya kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,137 dan pada kelompok eksperimen sebesar 0,488. Harga Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kelompok kontrol, artinya siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I mendapat rerata skor tinggi. Setelah kurang lebih lima hari dari posttest I, kedua keloompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttest I. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p sebesar 0,783 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan sebesar -1,23%. Sedangkan pada kelompok eksperimen hasil uji retensi menunjukkan harga p sebesar 0,036 (p < 0,05), artinya ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan sebesar -5,18%. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi penurunan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Meskipun demikian, skor posttest II pada 102

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok eksperimen tetap lebih tinggi daripada skor pretest. Sedangkan pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih rendah daripada pretest. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif daripada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil rerata skor pretest ke posttest II kelompok kontrol sebesar 2,48 dan 2,43. Sedangkan hasil rerata skor pretest ke posttest II kelompok eksperimen sebesar 2,50 dan 2,80. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan mengevaluasi diperoleh skor ≥ 0,00. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,00 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 13 anak, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebanyak 24 anak. Dengan demikian, 100% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 59% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol, maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih mampu mengembangkan kemampuan mengevaluasi. 103

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.3 Analisis Pengaruh Kemampuan Menarik Kesimpulan Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Sebaran data posttest pada kemampuan menarik kesimpulan menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapat skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama, yaitu mengemukakan alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap hewan, pada kelompok kontrol perolehan skor 4 meningkat sebanyak 1 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 4 meningkat sebanyak 4 siswa. Indikator kedua, yaitu menerka akibat yang akan terjadi pada hewan terhadap tindakan manusia, pada kelompok kontrol perolehan skor 1 meningkat sebanyak 4 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 3 sebanyak 1 siswa. Indikator ketiga, yaitu menyimpulkan akibat dari perlakuan terhadap hewan, pada kelompok kontrol perolehan skor 3 meningkat sebanyak 3 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 1 siswa, dan skor 4 sebanyak 3 siswa. Pada kelompok kontrol, skor yang sering muncul adalah skor 3, yaitu sebanyak 29 siswa pada saat pretest dan 30 siswa pada saat posttest. Pada kelompok eksperimen, skor yang sering muncul adalah skor 3 sebanyak 26 siswa pada saat pretest dan skor 3 sebanyak 28 siswa pada saat posttest. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,970 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan dengan harga p = 0,01 (p < 0,05), 104

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh kemampuan menarik kesimpulan sebesar 13,69% atau setara dengan kategori efek menengah (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan sebesar r = 0,37 atau setara dengan 13,69%. Hal ini berarti model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sekitar 13,69%, sedangkan sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 13,07%. Sedangkan peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar 0,01%. Hasil uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,6111 atau setara dengan 37,37% (kategori besar). Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,001 atau setara dengan 0,00% (kategori kecil). Pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami peningkatan skor yang positif signifikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji korelasi antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol, harga p sebesar 0,003 (p > 0,05), artinya kelompok kontrol mengalami peningkatan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen, harga p sebesar 0,001 (p < 0,05), artinya kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,611 dan pada kelompok eksperimen sebesar 0,647. Harga Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kelompok kontrol, artinya siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat 105

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I mendapat rerata skor tinggi. Setelah kurang lebih lima hari dari posttest I, kedua keloompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttest I. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p sebesar 0,49 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan sebesar -3,12%. Sedangkan pada kelompok eksperimen hasil uji retensi menunjukkan harga p sebesar 0,33 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan sebesar 2,50%. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi penurunan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Meskipun demikian, skor posttest II pada kelompok eksperimen tetap lebih tinggi daripada skor pretest. Sedangkan pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih rendah daripada pretest. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif daripada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil rerata skor pretest ke posttest II kelompok kontrol sebesar 2,43 dan 2,36. Sedangkan hasil rerata skor pretest ke posttest II kelompok eksperimen sebesar 2,44 dan 2,69. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan mengevaluasi diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 8 anak, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebanyak 16 anak. Dengan demikian, 60% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 36% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol, maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih mampu mengembangkan kemampuan menarik kesimpulan. 4.2.4 Analisis Hasil Penelitian terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian 106

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperlihatkan selisih skor kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini terjadi karena model pembelajaran yang diterapkan pada kedua kelompok berbeda. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap meningkat tidaknya kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang relevan yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar (Sukmayani, Parmiti, & Wibawa, 2015). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh tehadap hasil belajar IPA (Sudiarpa, Renda, & Rati, 2015). Selain itu sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar fisika (Juraini, Taufik, & Gunada, 2016). Dari ketiga penelitian sebelumnya, terdapat beberapa hal yang hampir sama dengan penelitian ini. Kesamaan tersebut terletak pada model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) sebagai variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen. Selain itu, terdapat unsur baru yang berbeda dengan penelitian sebelumnya pada penelitian ini, yaitu populasi penelitian yang merupakan siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta dan materi yang digunakan dalam penelitian adalah materi sistem pernapasan hewan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Diduga rendahnya kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA disebabkan oleh faktor tertentu, di antaranya menerapkan metode ceramah khususnya pembelajaran di SD, di mana guru yang berperan aktif sebagai sumber belajar siswa. Meskipun telah banyak ditemukan berbagai model pembelajaran inovatif, tetapi di Indonesia masih menerapkan metode ceramah dalam kegiatan 107

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran. Dengan penerapan model pembelajaran yang inovatif ini harapannya dapat memudahkan siswa dalam mengembangkan kemampuan dirinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kesesuaian dengan teori yang sudah ada bahwa anak-anak harus berinteraksi dengan lingkungannya untuk berkembang dan membangun struktur-stuktur kognitif baru dalam dirinya. Siswa kelas V SD yang berusia 10-11 tahun berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap operasional kronket, siswa mulai menunjukkan perilaku belajar secara lebih objektif dan mulai berpikir secara rasional. Selain itu, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division (STAD) merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (Slavin, dalam Isjoni, 2013: 74). Siswa menjadi aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di kelas bersama kelompok-kelompok kecil, mereka juga berani dalam menyampaikan pendapatnya di depan kelas. Model ini juga sesuai dengan teori sosiokultural menurut Vygotsky yang menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau berada dalam Zone of Proximal Development (ZPD). Siswa akan dapat memecahkan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu atau diberikan bantuan sementara yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dan memecahkan masalah yang dinamakan Scaffolding. Selain itu, pemilihan model pembelajaran ini juga disesuaikan dengan kondisi siswa yang heterogen, baik dari jenis kelamin maupun prestasi akademik. Kelompok yang heterogen ini membantu siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah merasa termotivasi dengan teman satu kelompok yang memiliki kemampuan akademik lebih tinggi. Selain itu, meskipun dinamakan kerja kelompok, dalam STAD tidak berarti memberatkan pada satu siswa yang memiliki kemampuan akademik lebih tinggi, karena skor kuis individu tiap anggota kelompok menjadi penentu total skor untuk kelompok mereka sendiri. Nantinya kelompok yang memiliki skor tertinggi akan 108

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mendapatkan penghargaan. Guru bertugas untuk membentuk kelompok dan menyiapkan materi pembelajaran. Selain itu, selama kegiatan dalam kelompok berlangsung, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dan bantuan apabila diperlukan. Hal tersebut sesuai dengan komponen model pembelajaran STAD, yaitu presentasi kelas, kerja kelompok, kuis, peningkatan nilai individu, dan penghargaan kelompok. Efek penerapan dapat terlihat pada hasil uji retensi, di mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami penurunan skor posttest II yang lebih tinggi daripada penerapan metode ceramah. Akan tetapi pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki skor posttest II yang lebih tinggi daripada pretest, sedangkan metode ceramah justru mengalami penurunan dari pretest ke posttest II. Pada hasil uji retensi dari pretest ke posttest II, pembelajaran dengan metode ceramah mengalami perbedaan skor yang tidak signifikan, sedangkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami perbedaan skor yang signifikan, yaitu skor posttest II tetap lebih tinggi dari pretest. Penelitian ini difokuskan untuk meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan materi sistem pernapasan hewan pada siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi efek menengah terhadap kemampuan mengevaluasi dengan r = 0,47 atau setara dengan 22%. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi efek menengah terhadap kemampuan menarik kesimpulan dengan r = 0,37 atau setara dengan 13,69%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi langkah awal untuk dapat mengembangkan penelitian selanjutnya tentang model pembelajaran kooperatif atau model pembelajaran lainnya dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Harapannya, model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 109

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test yang menunjukkan rerata selisih skor kelompok eksperimen sebesar (M = 0,58; SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata selisih skor kelompok kontrol (M = -0,01; SE = 0,13). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = -3,62; p = 0,01 (p < 0,05). Besar pengaruh perlakuan (effect size) terhadap kemampuan mengevaluasi adalah r = 0,47 atau 22% yang setara dengan kategori efek menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test yang menunjukkan rerata selisih skor kelompok eksperimen sebesar (M = 0,31; SE = 0,08) lebih tinggi daripada rerata selisih skor kelompok kontrol (M = 0,00; SE = 0,08). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = -2,67, p = 0,01 (p < 0,05). Besar pengaruh perlakuan (effect size) terhadap kemampuan mengevaluasi adalah r = 0,37 atau 13,69% yang setara dengan kategori efek menengah. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan. 110

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2.2 Kurang adanya koordinasi dengan guru lain yang mengajar, sehingga waktu pengerjaan posttest II dilaksanakan saat siang hari, yaitu pukul 11.50-13.00. 5.2.3 Hasil penelitian belum bisa digeneralisasikan ke semua sekolah, karena penelitian ini terbatas pada siswa kelas V di salah satu SD swasta Yogyakarta. 5.3 Saran 5.3.1 Peneliti sebaiknya dapat lebih memperhatikan ancaman terhadap validitas internal supaya dapat dikendalikan dengan baik. 5.3.2 Peneliti sebaiknya berkoordinasi dengan guru lain yang mengajar supaya tidak terjadi kesalahpahaman. 5.3.3 Penelitian di SD ini dapat diujicobakan di Sekolah Dasar yang lain. 111

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. (2008). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta. Best, J. W. & Kahn, J. V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed). London and New York: Routledge. Crain, W. (2014). Teori perkembangan: Konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Facione, P. A. (2011). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction. The California Academic Press. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018 dari https://eric.ed.gov/?id=ED315423 Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (third edition). Los Angles: Sage. Fitriani, A., Indrowati, M., & Karyanto, P. (2015). Kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran biologi melalui penerapan accelerated learning siswa kelas x SMA negeri Karangpandan Karanganyar. Jurnal Pendidikan Biologi, 7(2), (56-67). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/35196/Kemampuan-berpikirkritis-siswa-pada-pembelajaran-biologi-melalui-penerapan-acceleratedlearning-siswa-kelas-X-SMA-Negeri-Karangpandan-Karanganyar Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education, eight edition. New York: McGraw Hill. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: UNDIP. Hosnan. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia. 112

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ibda, F. (2015). Perkembangan kognitif: teori Jean Piaget. Universitas Islam Negeri Banda Aceh. Intelektualita, Vol. 3, No. 10. Diakses pada tanggal 27 Februari 2018 dari http://id.portalgaruda.org Isjoni. (2013). Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Johnson, B., & Christensen, L. (2008). Educational research, quantitative, qualitative, and mixed approaches, third edition. California: Sage Publications. Juraini, Taufik, M., & Gunada, I. W. (2016). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student team achievement division) dengan metode eksperimen terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar fisika pada siswa SMA Negeri 1 Labuapi tahun pelajaran 2015/2016. Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi II(2). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari https://www.neliti.com/publications/120389/pengaruh-modelpembelajaran-kooperatif-tipe-stad-student-team-achievement-divisi Kasmadi & Sunariah. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Udara Bersih bagi Kesehatan: Buku Guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Udara Bersih bagi Kesehatan: Buku Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research: An integrated approach (2nd ed.). Illnois: Waveland Press. Majid, A. (2014). Pembelajaran tematik terpadu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Masidjo. (2010). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa si sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, edisi ketujuh. Jakarta: PT Indeks. Nurgiyantoro, B. (2010). Penilaian pembelajaran bahasa berbasis kompetensi. Yogyakarta: BPFE. OECD. (2010). PISA 2009 result: Executive summary. Diakses pada tanggal 2211-2018, dari https://www.oecd.org/pisa/pisaproducts/46619703.pdf OECD. (2013). PISA 2012 result: Whats students know and can do: Students performance in reading, mathematics, and science. Diakses pada tanggal 113

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22-11-2018, dari ttps://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-resultsoverview.pdf OECD. (2016). PISA 2105 result in focus. Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan nonparametrik dengan SPSS dan prediksi pertanyaan pendadaran skripsi dan tesis: Simple praktis dan mudah dipahami untuk tingkat pemula dan menengah. Yogyakarta: Gava Media. Rofiq, M. N. (2010). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Falasifa, 1(1). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 dari https://jurnalfalasifa.files.wordpress.com/2012/11/m-nafiur-rofiqpembelajaran-kooperatif-cooperative-learning-dalam-pengajaranpendidikan-agama-islam.pdf Rusman. (2013). Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT Rajagrafinda Persada. Salkind, N. J. (2009). Teori-teori perkembangan manusia. Bandung: Nusa media. Sanjaya, W. (2013). Penelitian pendidikan: Jenis, metode, dan prosedur. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Santoso, S. (2015). Menguasai SPSS 22: From basic to expert skills. Jakarta: PT. Gramedia. Santrock, J. W. (2014). Psikologi pendidikan ed 5. Jakarta: Salemba Humanika. Schunk, D. H. (2012). Teori-teori pembelajaran: Perspektif pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Siregar, S. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning: theory, research and practice. London: Allymand Bacon. Sudiarpa, I. K., Renda, N. T., & Rati, N. W. (2015). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPA kelas IV SD No 3 Songan. E-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 3(1). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/5909 114

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmayani, L. M. D., Parmiti, D. P., & Wibawa, I. M. C. (2015). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa. E-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 3(1). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari ttps://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/5649 Taniredja, T., & Mustafidah, H. (2011). Penelitian kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Tung, K. Y. (2015). Pembelajaran dan perkembangan belajar. Jakarta Indeks. Usdalifat, S., Ramadhan, A., & Suleman, S. M. (2016). Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses siswa pada mata pelajaran IPA biologi kelas VII SMP negeri 19 Palu. Jurnal Sains Dan Teknologi Tadulako, 5(3), (1-10). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/JSTT/article/download/6975/561 2 Widoyoko, P. E. (2015). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Widura, H. S., Karyanto, P., Ariyanto, J. (2015). Pengaruh model guided discovery learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas x sma negeri 8 surakarta tahun pelajaran 2014/2015. Bio-Pedagogi, 4(2), (25 – 30). Diakses pada tanggal 22-11-2018, dari ttp://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pdg/article/view/7343 Wonorahardjo, S. (2010). Dasar-dasar sains: Menciptakan masyarakat sadar sains. Jakarta: PT. Indeks. 115

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 116

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.1 Surat Ijin Penelitian 117

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.2 Surat Ijin Validitas Soal 118

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Eksperimen 119

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Kontrol 122

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 125

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 137

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa 147

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Soal Uraian 153

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Kunci Jawaban 1. a. 3 contoh hewan dengan organ pernapasan yang serupa:  Belalang bernapas dengan trakea Contoh lain: jangkrik, kupu-kupu, lebah  Anjing bernapas dengan paru-paru Contoh lain: kucing, macan, kambing  Ikan bernapas dengan insang Contoh lain: kecebong, kuda laut, udang b. 2 alasan anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang:  Anjing memiliki organ pernapasan berupa paru-paru  Menghindari masuknya air ke dalam hidung  Untuk menghirup udara  Supaya tetap dapat bernapas c. Perbedaan cara bernapas antara anjing dan ikan:  Anjing: melalui rongga hidung, faring, trakea, bronkus, hingga paruparu. Pada waktu anjing menarik nafas, maka secara otomatis otot diagrafma akan berkontraksi. Dengan begitu, tulang rusuk juga akan berkontraksi sehingga rongga dada mengembang. Mengembangnya rongga dada akan membuat tekanan dalam rongga dada akan menjadi berkurang, sehingga udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke dalam paru-paru dan membuat paru-paru mengembang. Selanjutnya terjadi suatu proses yang dinamakan fase ekspirasi pernapasan yang ditantai dengan pelepasan udara melalui hidung. Proses ini disebabkan oleh melemasnya otot diafragma dan otot tulang rusuk dan juga dibantu oleh kontraksi otot perut. Melemasnya otot diafragma membuat otot diafragma ini akan melengkung ke atas, sedangkan tulang rusuk akan menurun yang mengakibatkan rongga dada mengecil dan tekanannya naik. Meningkatnya tekanan rongga dada ini akan membuat udara akan keluar dari paru-paru melalui sistem pernapasan.  Ikan: tahap I (pemasukan) mulut ikan membuka dan tutup insang menutup sehingga air masuk rongga mulut, kemudian menuju lembaran insang, di sinilah oksigen yang larut dalam air diambil oleh 158

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI darah, selain itu darah juga melepaskan karbondioksida dan uap air dan tahap II (pengeluaran) mulut menutup dan tutup insang membuka sehingga air dari rongga mulut mengalir keluar melalui insang. Air yang dikeluarkan ini telah bercmpur dengan CO2 dan uap air yang dilepaskan darah untuk ikan. 2. a. Alasan dari fungsi organ pernapasan hewan itu sama: Sama. Fungsi organ pernapasan hewan itu sama yaitu untuk bernapas, hanya saja yang membedakan adalah tempat penggunaannya (sesuai habitat). Misalnya:  Fungsi trakea pada belalang adalah untuk bernapas (darat).  Fungsi paru-paru pada anjing adalah untuk bernapas (darat).  Fungsi insang pada ikan adalah untuk bernapas (air). b. 2 alasan hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda:  Hewan memiliki tempat hidup yang berbeda-beda.  Hewan memiliki jenis yang berbeda-beda c. Hewan yang memiliki organ pernapasan seperti anjing ada yang dapat hidup di air meskipun memiliki organ pernapasanan berupa paru-paru, contohnya paus. Akan tetapi, hewan yang memiliki organ pernapasan seperti ikan tidak dapat hidup di darat karena organ pernapasannya adalah insang sehingga hewan seperti ikan hanya bisa hidup di air, contohnya ikan mas. 3. a. Benar. Alasan:  Anjing memiliki organ pernapasan yang berbeda dengan ikan, anjing bernapas menggunakan paru-paru sedangkan ikan bernapas menggunakan insang.  Tempat hidup anjing berbeda dengan ikan, anjing hidup di darat sedangkan ikan hidup di air. b. Benar. 159

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Alasan:  Hewan hanya akan mendapatkan suplai oksigen sesuai dengan tempat hidupnya.  Hewan tersebut akan mati, apabila organ pernapasan yang dimiliki hewan tidak sesuai dengan tempat hidupnya. c. Benar. Alasan:  Belalang tidak mendapat suplai oksigen untuk bernapas karena Rina menutup botol dengan rapat.  Tidak ada sirkulasi udara di dalam botol plastik karena Rina tidak membuat lubang pada botol. 4. a. 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina:  Apabila Rina ingin membawa belalang tersebut, Rina harus menempatkan belalang tersebut di wadah yang memiliki sirkulasi udara yang cukup.  Rina harus membuat lubang pada botol plastik atau menempatkan belalang tersebut pada wadah yang berjaring. b. Serangga akan mengalami hal serupa dengan belalang, yaitu serangga dapat terkulai lemas karena kekurangan oksigen dan bahkan serangga dapat mati. c. Apabila terlalau lama di daratan, ikan akan mati, karena ikan hanya dapat mendapatkan suplai oksigen melalui air. 5. a. 2 alasan saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas:  Rina menutup botol plastik dengan rapat, sehingga tidak ada proses pertukaran udara di dalam botol plastik dan mengakibatkan belalang tidak mendapat suplai oksigen.  Rina tidak membuat lubang udara. b. Gerakan mulut dan tutup insang menunjukkan bahwa ikan sedang bernafas. 160

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI  Saat oksigen yang ada di dalam air akan berdifusi ke dalam pembuluh kapiler darah yang terdapat pada lembaran insang, maka mulut terbuka, air masuk ke dalam mulut dan tutup insang menutup.  Demikian juga karbondioksida dari pembuluh darah akan berdifusi ke dalam air, maka mulut tertutup, tutup insang terbuka, dan air keluar melalui insang. c. 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang: Proses pernapasan pada serangga (belalang) terjadi sebagai berikut:  Saat serangga melakukan pernapasan, udara masuk trakea melalui bagian yang terletak pada permukaan tubuh. Bagian tersebut dinamakan spirakel. Spirakel dilindungi oleh bulu halus dengan fungsi sebagai penyaring debu dan benda asing yang masuk menuju trakea.  Setelah itu, udara tersebut akan melewati pipa kecil yang disebut trakeola. Trakeola juga ini akan terhubung dengan membran sel. Trakeola memiliki ujung kecil tertutup dan mengandung cairan dengan warna biru gelap.  Oksigen akan berdifusi masuk ke dalam sel tubuh melalui trakeola, sedangkan karbondioksida akan berdifusi keluar.  Setelah melewati trakeola, karbondioksida akan dikeluarkan ke seluruh tubuh melewati trakea. 6. a. Tidak setuju. Belalang tidak mendapat suplai oksigen yang cukup untuk bernapas  Tidak ada sirkulasi udara  Belalang dapat terkulai lemas bahkan mati b. 2 tindakan yang dilakukan agar belalang tidak terkulai lemas setelah dimasukkan ke dalam botol plastik seperti pada cerita:  Tidak menangkap belalang, agar belalang dapat hidup bebas  Apabila ingin menangkap belalang dan memasukkan ke dalam botol plastik, maka harus dilubangi agar ada sirkulasi udara yang masuk. c. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memelihara ikan dengan benar:  Membersihkan akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali.  Mengganti air akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali. 161

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI  Akuarium atau kolam diberi airator untuk menghasilkan gelembung udara agar ikan dapat bernapas dengan baik  Memberi makan ikan sehari dua kali  Gunakan tanaman air di dalam akuarium atau kolam agar ikan merasa hidup di habitat aslinya. 162

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian Variabel Aspek Menginterpretasi Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menganalisis Menguji gagasangagasan No. Soal 1a 1b 1c 2a Kriteria Skor Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang tetapi 1 alasan salah Jika menuliskan 1 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ dan ikan dengan menyebut 2 tahap Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 4organ dan ikan dengan menyebut 1 tahap Jika menuliskan salah satu cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ atau ikan dengan menyebut 2 tahap Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan tidak memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 163

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI habitatnya Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Mengevaluasi Menilai sah tidaknya klaimklaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menilai sah tidaknya 2b 2c 3a 3b 3c Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda tetapi 1 alasan salah Jika menyebutkan 1 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjelaskan 2 poin dengan tepat Jika menjelaskan 2 poin tetapi 1 poin salah Jika menjelaskan 1 poin dengan tepat Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 164

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI argumen-argumen Menarik Kesimpulan Menguji buktibukti Menerka alternatifalternatif Menarik kesimpulan Mengeksplanasi Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan 4a 4b 4c 5a 5b organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup. 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 165

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Meregulasi Diri Refleksi diri Koreksi diri Koreksi diri 5c 6a 6b 6c Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup. Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 3 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 2 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 1 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan yang salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 166

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Pekerjaan Siswa 167

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.5 Hasil Rekap Expert Judgement Variabel Menginterpretasi No. Soal 1a Validator 1 2 4 4 Komentar (Saran Perbaikan) 3 3 Rerata 3,67 Menganalisis Mengevaluasi Menarik Kesimpulan Mengeksplanasi 1b 4 4 4 1c 2a 2b 4 4 3 4 4 4 4 3 3 2c 3a 3b 3c 4a 4b 4c 5a 5b 5c Meregulasi Diri 6a 6b 6c Total Skor Rerata 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 71 3,94 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 72 4 4 3 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 60 3,33 4,00 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 3,67 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 4,00 3,67 3,67 3,67 4,00 Validator 3: Kata tanya yang digunakan kurang sinkron Validator 3: Apakah gambar yang diberikan representatif? Validator 1: Beri keterangan jika harus 2 alasan! Validator 3: Menganalisis dan menilai tidak sama Validator 1: aspek item soal 5c ditukar dengan aspek item soal 5b Validator 1 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 2 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 3 Instrumen sangat layak diimplementasikan. Keterangan: 4 : sangat sesuai 3 : sesuai 2 : tidak sesuai 1 : sangat tidak sesuai Kategori Kelayakan: No 1 2 3 4 Skor 58,50 – 72,00 45,00 – 58,49 31,50 – 44,99 18,00 – 31,49 Kelayakan Sangat layak Layak dengan revisi kecil Layak dengan revisi besar Tidak layak 172

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.6 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgement 3.6.1 Hasil Uji Validasi oleh Dosen 173

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6.2 Hasil Uji Validasi Oleh Guru 176

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.7 Data Uji Validitas Instrumen Variabel Mengevaluasi dan Menarik Kesimpulan Mengevaluasi Soal 3 No a b c 1 4 1 4 2 3 3 3 3 3 4 1 5 Total Menarik Kesimpulan Soal 4 Total a b c 9 3 1 4 8 2 8 1 3 2 6 2 8 3 3 2 8 3 2 6 3 3 2 8 3 1 2 6 1 1 2 4 6 3 1 1 5 1 1 1 3 7 1 1 1 3 3 1 1 5 8 1 1 2 4 3 1 2 6 9 3 3 4 10 3 3 4 10 10 4 3 4 11 3 3 4 10 11 3 1 2 6 1 1 2 4 12 1 1 2 4 1 1 2 4 13 3 1 2 6 3 1 2 6 14 3 1 2 6 3 1 2 6 15 1 1 2 4 1 1 2 4 16 4 3 4 11 3 3 4 10 17 4 3 2 9 3 3 2 8 18 3 3 2 8 3 3 2 8 19 3 1 4 8 3 1 4 8 20 4 1 2 7 3 1 2 6 21 3 1 2 6 3 1 2 6 22 1 1 2 4 3 1 2 6 23 3 1 2 6 3 1 2 6 24 3 1 2 6 3 1 2 6 25 4 2 2 8 3 2 2 7 26 3 3 2 8 1 3 2 6 27 3 1 1 5 1 1 1 3 28 4 2 2 8 3 2 2 7 29 4 2 4 10 3 2 4 9 30 3 1 2 6 3 1 2 6 31 3 1 2 6 3 1 2 6 32 3 2 4 9 3 2 4 9 33 1 2 2 5 3 2 2 7 34 3 3 2 8 2 3 2 7 35 3 1 2 6 4 1 2 7 36 1 1 2 4 1 1 2 4 37 3 1 2 6 2 1 2 5 182

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 1 1 2 4 1 1 2 4 39 1 3 2 6 3 3 2 8 40 3 2 4 9 3 2 4 9 41 3 3 2 8 3 3 2 8 42 1 1 1 3 1 1 1 3 43 3 4 2 9 3 4 2 9 44 3 3 4 10 3 3 4 10 45 4 3 4 11 3 3 4 10 Lampiran 3.8 Hasil SPSS Uji Validitas 3.8.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal Total Aspek Total Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) Menginterpretasi Item1a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menganalisis Item2a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item2b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .564** ,000 45 183

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item2c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengevaluasi Item3a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item3b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item3c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menarik Kesimpulan Item4a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengeksplanasi Item5a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item5b N Pearson Correlation .549** ,000 45 .564** ,000 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .743** 184

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sig. (2-tailed) Item5c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Meregulasi Diri Item6a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item6b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item6c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,000 45 .549** ,000 45 .569** ,000 45 .743** ,000 45 .549** ,000 45 ** . Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed) * . Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed) Lampiran 3.9 Hasil SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N % 45 100,0 0 0,0 Total 45 100,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Cases Valid Excludeda Reliability Statistics Cronbach's Alpha ,931 N of Items 18 185

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Data Hasil Penelitian untuk Kemampuan Mengevaluasi Variabel: Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Pretest No Indikator 1 1 2 2 1 3 1 4 2 5 2 6 2 7 2 8 4 9 2 10 1 11 1 12 2 13 4 14 1 15 2 16 4 17 3 18 2 19 3 2 2 3 1 2 4 2 4 2 2 1 1 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 2 2 2 4 2 4 4 2 3 3 2 1 1 2 4 3 1 4 3 3 20 4 21 3 2 22 2 3 Kelompok Eksperimen Posttest 1 Indikator 1 1,67 2 2,33 3 2,33 1 2,00 4 1,33 3 2,67 2 2,67 4 3,33 2 2,67 1 2,33 3 1,67 2 2,67 3 3,33 4 2,33 2 2,67 3 2,33 2 2,00 1 3,00 3 2,67 2 2 1 3 4 2 3 4 2 3 1 2 1 3 4 2 3 1 4 4 2 2 4 4 2 2 1 3 2 4 2 1 2 2 4 1 3 4 2 2 3 1 3 2 3,33 1 2,33 4 2 4 3,00 3 3 Posttest 2 Selisih Indikator 1 2 3 Pretest No Posttest 1 Indikator 1 2 3 2,33 0,66 2,67 0,34 1 2 2 1,67 1 4 2 3 3 2 3 2,67 2 2 3 1 2,33 0,00 2,67 0,67 2 3 1 2,00 3 3 2 4 3 2 4 3,00 4 4 3 2 3,00 3 3,00 4 2 4 1 2,33 5 2 4 1 3 2,00 2 3,00 3 2,67 4 2,33 3 2,00 0,67 3,00 0,33 3,00 0,33 2,33 -1,00 2,33 -0,34 3,00 0,67 2,67 1,00 2,00 -0,67 3,00 -0,33 2,67 0,34 2,00 -0,67 2,67 0,34 1,67 -0,33 3,00 0,00 2,33 -0,34 1 2 3 2,00 6 3 2 2 3 4 3,00 7 1 3 4 2 1 4 2,33 8 4 2 1 2,33 9 1 2,67 10 2 2,00 11 2 3 4 4 2 3 3 1 2 3 3 3 2 1 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 2 2 3 2 3 2 3 4 4 2 2 2 2 3 2 2 4 1 1,67 -1,66 2,33 0,00 3 2 1 2 2,67 -0,33 3 2 3 2,33 12 4 3,00 13 2 2,33 14 1 2,00 15 2 2,67 16 2 3,00 17 3 2,67 18 2 2,33 19 3 2,67 20 4 2,00 21 3 3 1 1 2 4 2 3 1 2 3 3 1 1 2 4 3 1 4 3 3 2 2 3 4 2,67 22 2 23 1 2 24 4 1 Posttest 2 Selisih Indikator 1 3,00 4 2,00 3 2,67 2 2,67 2 2,00 3 2,33 4 2,67 3 1,67 4 2,33 1 2,00 3 2,00 2 3,00 4 2,67 3 3,33 4 2,33 2 Indikator 2 3 3 2 3,00 0,00 1 4 2 2 3 2 2,67 3 2 2,67 0,67 3 2 4 3,00 4 4 2 3,33 4 2 3,00 0,00 3 3 3,33 0,33 2 2 4 2,67 3 1 2,00 0,00 3 4 1 2,67 4 3 3,33 0,33 1 2 4 2,33 4 4 4,00 1,33 4 2 4 3,33 4 3 3,33 1,00 3 4 3 3,33 3 4 3,00 0,33 2 3 3 2,67 3 3 2,67 0,00 2 4 4 3,33 4 1 2,67 0,67 3 2 2 2,33 3 2 3,00 0,67 2 3 4 3,00 4 4 3,67 1,00 2 3 2 2,33 2 3 3,00 1,33 2 4 3 3,00 4 3 2,67 0,34 4 2 2 2,67 3 4 3,33 1,33 4 2 4 3,33 4 3 3,00 1,00 3 2 4 3,00 3 3 3,33 0,33 3 3 2 2,67 1 4 2,67 0,00 2 1 4 2,33 4 4 4,00 0,67 4 3 3 3,33 3 2 2,33 0,00 2 4 3 3,00 4 4 3,67 0,67 2 2 2 2,00 3 3,00 3 2,00 3 4 3 3,33 1,33 3 2 4 3,00 2 2,33 4 2 3 3,00 0,67 2 2 2 2,00 186

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Data Hasil Penelitian untuk Kemampuan Menarik Kesimpulan Variabel: Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Pretest No Indikator 1 2 3 1 1 2 2 2 3 2 1 3 3 3 4 4 2 3 2 5 3 2 2 6 1 2 3 7 3 4 1 8 3 2 2 9 3 3 3 10 3 3 4 11 2 2 2 12 4 3 1 13 3 3 3 14 2 2 3 15 3 3 2 Kelompok Eksperimen Posttest 1 Posttest 2 Selisih Indikator 1 1,67 1 2,00 3 3,33 3 2,33 3 2,33 3 2,00 3 2,67 3 2,33 4 3,00 3 Indikator 1 2 3 Pretest No Indikator 2 2 3 2 1,67 0,00 1 2 1 1,33 1 1 2 2 4 3 2 3 1 2,33 0,33 2 3 2 2,33 2 3 3 3 3 3 3,00 -0,33 3 4 3 3,33 3 3 2 2 2 3 2,67 0,34 2 4 2 2,67 4 1 4 2 2 2 2,33 0,00 3 1 2 2,00 5 2 2 3 3 1 2,33 0,33 3 2 3 2,67 6 1 1 2 1 2 2,00 -0,67 2 2 2 2,00 7 3 4 3 1 3 2,67 0,34 3 3 3 3,00 8 1 2 4 2 3 2,67 -0,33 4 2 1 2,33 9 3 3 3 3,33 3 2,00 2 4 3 3,33 0,00 1 2 2 1,67 10 3 4 1 2 2 2,00 0,00 3 1 3 2,33 11 2 2 2 2,67 4 3,00 2 1 3 2,67 0,00 3 4 2 3,00 12 1 2 3 3 2 2,33 -0,67 1 3 2 2,00 13 3 4 1 2,33 2 2,67 3 3 4 3,00 0,67 2 2 3 2,33 14 4 3 1 2 2 2,33 -0,34 3 1 2 2,00 15 3 4 1 2,00 3 2,33 1 2 3 2,67 0,67 2 2 3 2,33 16 2 3 3 3 2 2,00 -0,33 1 2 2 1,67 17 2 3 1 2,33 3 2,67 2 2 3 2,67 0,34 3 4 3 3,33 18 3 1 2 3 3 2,67 0,00 3 2 2 2,33 19 3 3 3 3 2 2,33 -0,34 2 4 2 2,67 20 3 1 2 3 2 2,00 0,33 3 3 2 2,67 21 2 3 4 1 3 2,00 -0,33 3 2 1 2,00 22 2 4 1 23 3 1 24 3 2 16 1 3 2 17 2 2 3 18 3 3 1 19 2 3 3 20 3 3 2 21 1 2 2 2,67 2 1,67 1 22 2 2 3 2,33 2 Posttest 1 Posttest 2 Selisih Indikator 1 2,67 3 3,00 3 2,33 3 2,33 2 2,33 2 1,33 2 3,33 3 2,33 3 3,00 4 Indikator 2 4 3 2 3,00 0,33 1 3 2 4 3 2 3,00 4 4 3,67 0,67 3 3 4 3,33 4 3 3,33 1,00 3 4 3 3,33 3 2 2,33 0,00 1 2 2 1,67 1 3 2,00 -0,33 3 1 4 2,67 1 1 1,33 0,00 3 1 1 1,67 3 2 2,67 -0,66 3 3 3 3,00 2 3 2,67 0,34 3 1 4 2,67 4 2 3,33 0,33 4 4 1 3,00 2,67 3 2,00 3 4 2 3,00 0,33 3 4 2 3,00 2 3 2,67 0,67 2 2 3 2,33 2,00 2 2,67 3 3 2 2,33 0,33 3 3 2 2,67 2 3 2,67 0,00 1 3 3 2,33 2,67 4 2,67 3 1 2 2,33 -0,34 4 1 2 2,33 3 4 3,33 0,66 3 2 4 3,00 2,67 3 2,00 2 1 4 2,67 0,00 4 1 4 3,00 3 3 2,67 0,67 2 3 2 2,33 2,00 4 3,00 3 1 2 2,33 0,33 3 1 4 2,67 4 4 3,67 0,67 3 4 4 3,67 2,00 4 3,00 2 3 2 3,00 1,00 4 3 2 3,00 3 4 3,00 0,00 3 1 4 2,67 4 3 3,00 0,67 1 4 2 2,33 2 2,33 2 2,00 3 3 1 2,33 0,33 3 3 1 2,33 2 2,33 4 2 3 3,00 0,67 4 2 2 2,67 187

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data 4.3.1 Kemampuan Mengevaluasi EvaKo nPre 22 N Mean Std. Devia tion Absol Most Extreme ute Differen Positi ces ve Negat ive Test Statistic Normal Parame tersa,b Asymp. Sig. (2tailed) 2,4845 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test EvaEk EvaKon EvaEks EvaKo EvaE sPre Post1 Post1 nSel ksSel 24 22 24 22 24 0,582 2,5 2,47 3,0833 -0,015 9 EvaKon Post2 22 EvaEks Post2 24 2,4395 2,805 0,5413 8 0,450 45 0,42002 0,4835 5 0,6386 9 0,473 58 0,39068 0,4268 1 0,16 0,158 0,183 0,152 0,16 0,162 0,177 0,176 0,139 0,158 0,131 0,152 0,098 0,162 0,156 0,124 -0,16 -0,158 -0,183 -0,14 -0,16 -0,115 -0,177 -0,176 0,16 0,158 0,183 0,152 0,16 0,162 0,177 0,176 ,146c ,124c ,053c ,160c ,148c ,105c ,071c ,052c a Test distribution is Normal. b Calculated from data. c Lilliefors Significance Correction. 4.3.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test KesK onPre 22 KesEk sPre 24 KesKon Post1 22 KesEk sPost1 24 KesK onSel 22 KesE KsSel 24 KesKon Post2 22 KesEks Post2 24 2,4391 2,4442 2,4395 2,7638 0,0000 ,3196 2,3632 2,6946 ,46398 ,45825 ,40374 ,53454 ,38436 ,42324 ,52334 ,48061 ,184 ,147 ,170 ,139 ,168 ,176 ,162 ,154 ,184 ,140 ,152 ,121 ,168 ,121 ,162 ,138 -,134 -,147 -,170 -,139 -,168 -,176 -,111 -,154 ,184 Asymp. Sig. (2,051c tailed) a. Test distribution is Normal. ,147 ,170 ,139 ,168 ,176 ,162 ,154 ,192c ,096c ,200c,d ,106c ,051c ,140c ,145c N Normal Paramete rsa,b Most Extreme Differenc es Mean Std. Deviati on Absolut e Positive Negativ e Test Statistic b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 188

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Mengevaluasi Test of Homogeneity of Variances EvaKonEksPre Levene Statistic df1 df2 Sig. ,199 1 44 ,658 4.4.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Test of Homogeneity of Variances KesKonEksPre Levene Statistic ,002 df1 df2 Sig. 1 44 ,968 189

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Mengevaluasi Group Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Evaluasi Kontrol Pretest 22 2,4845 ,54138 ,11542 Evaluasi Eksperimen Pretest 24 2,5000 ,45045 ,09195 Kelompok EvaKonPre Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances EvaKonP re Equal varianc es assume d Equal varianc es not assume d t-test for Equality of Means Mean Differen ce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe r r F Sig . t df Sig. (2taile d) ,19 9 ,65 8 ,10 6 44 ,916 -,01545 ,14638 ,3104 7 ,2795 6 ,10 5 41,02 5 ,917 -,01545 ,14757 ,3134 7 ,2825 6 4.5.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Group Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Menarik Kesimpulan Kontrol Pretest 22 2,4391 ,46398 ,09892 Menarik Kesimpulan Eksperimen Pretest 24 2,4442 ,45825 ,09354 Kelompok KesKonEksPre 190

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variance s KesKonEks Pre Equal varianc es assume d Equal varianc es not assume d t-test for Equality of Means Mean Differen ce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe r r F Sig . t df Sig. (2taile d) ,00 2 ,96 8 ,03 7 44 ,970 -,00508 ,13607 ,2793 0 ,2691 5 ,03 7 43,55 2 ,970 -,00508 ,13614 ,2795 3 ,2693 8 191

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I 4.6.1 Kemampuan Mengevaluasi Test of Homogeneity of Variances EvaKonEksSel Levene Statistic df1 df2 Sig. 1,277 1 44 ,265 4.6.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Test of Homogeneity of Variances KesKonEksSel Levene Statistic df1 df2 Sig. ,091 1 44 ,764 192

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.7.1 Kemampuan Mengevaluasi Group Statistics Kelompok N Mean Mengevaluasi 22 Kontrol EvaKonEksSel Selisih Std. Std. Error Deviation ,0150 Mean ,63869 ,13617 ,47358 ,09667 Mengevaluasi Eksperimen 24 ,5829 Selisih Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances EvaKonEks Sel Equal varianc es assume d Equal varianc es not assume d t-test for Equality of Means df Sig. (2taile d) Mean Differen ce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe r r 3,62 7 44 ,001 -,59792 ,16485 ,930 15 ,265 68 3,58 0 38,5 59 ,001 -,59792 ,16699 ,935 82 ,260 02 F Sig . t 1,27 7 ,26 5 4.7.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Group Statistics Kelompok KesKonEksSel Menarik Kesimpulan Kontrol Selisih N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 22 0,0000 ,38436 ,08195 193

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menarik Kesimpulan Eksperimen Selisih 24 ,3196 ,42324 ,08639 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variance s KesKonEks Sel Equal varianc es assume d Equal varianc es not assume d t-test for Equality of Means df Sig. (2taile d) Mean Differen ce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe r r 2,67 2 44 ,011 -,31958 ,11959 ,560 59 ,078 57 2,68 4 43,9 98 ,010 -,31958 ,11908 ,559 57 ,079 60 F Sig . T ,09 1 ,76 4 194

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect size kemampuan mengevaluasi: Effect size kemampuan menarik r =√ kesimpulan: r =√ =√ =√ =√ = 0,479042212 =√ = 0,47 = 0,373643867 =√ =√ = 0,37 Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Persentase pengaruh penerapan model terhadap kemampuan mengevaluasi: pembelajaran kooperatif tipe STAD 2 2 R =r terhadap kemampuan menarik = (0,479042212) 2 kesimpulan: = 0,229481441 R2 = r2 = (0,373643867) 2 = 0,22 = 0,13960973934671 2 Persentase pengaruh = R × 100% = 0,13 = 0,229481441 × 100% = 22% Persentase pengaruh = R2 × 100% = 0,13960973934671× 100% = 13% 195

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Peningkatan Kelompok Eksperimen Peningkatan × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% -0,00583618434 × 100% 0,23332 × 100% -0,58% 23,33% Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Peningkatan Kelompok Eksperimen Peningkatan × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% 0,01% 0,13075853 × 100% 13,07% 196

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.2.1 Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaKonPost1 2,4700 22 ,42002 ,08955 EvaKonPre 2,4845 22 ,54138 ,11542 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaKonPost1 & EvaKonPre N Correlation Sig. 22 ,137 ,544 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Difference Deviati Error on Mean Uppe Lower r Mean Pair 1 EvaKonPo st1 EvaKonPr e -,01455 ,63821 ,13607 -,29751 ,2684 2 t df Sig. (2taile d) -,107 21 ,916 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaEksPost1 3,0833 24 ,48355 ,09870 EvaEksPre 2,5000 24 ,45045 ,09195 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaEksPost1 & EvaEksPre Mean N Correlation Sig. 24 ,488 ,016 Paired Samples Test Paired Differences Std. 95% Std. Error Confidence Deviation Mean Interval of the t df Sig. (2tailed) 197

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Difference Lower Upper Pair 1 EvaEksPost1 - EvaEksPre ,58333 ,47336 ,09662 ,38345 ,78321 6,037 23 ,000 4.9.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesKonPost 1 2,4395 22 ,40374 ,08608 KesKonPre 2,4391 22 ,46398 ,09892 Paired Samples Correlations Pair 1 KesKonPost1 & KesKonPre Mean Pair 1 KesKonPost1 - KesKonPre ,00045 N Correlation Sig. 22 ,611 ,003 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Error Difference Deviation Mean Lower Upper ,38643 ,08239 ,17088 ,17179 t df Sig. (2tailed) ,006 21 ,996 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesEksPost1 2,7638 24 ,53454 ,10911 KesEksPre 2,4442 24 ,45825 ,09354 198

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Correlations Pair 1 KesEksPost1 & KesEksPre N Correlation Sig. 24 ,647 ,001 Paired Samples Test Paired Differences Pai r1 KesEksPost 1KesEksPre Mean Std. Deviatio n Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,3195 8 ,42256 ,0862 6 ,1411 5 ,4980 2 t df Sig. (2tailed) 3,705 23 ,001 199

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Gain f -1,67 1 -1,00 1 -0,67 2 -0,33 5 0,00 3 0,33 5 0,67 4 1,00 1 1,33 0 Kelompok Eksperimen Gain f -1,67 0 -1,00 0 -0,67 0 -0,33 0 0,00 6 0,33 5 0,67 6 1,00 3 1,33 4 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,00 Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,00 adalah Frekuensi gain score ≥ 0,00 adalah sebanyak 13 siswa. sebanyak 24 siswa. Persentase Persentase × 100% × 100% × 100% × 100% 0,590 × 100% 1 × 100% 59% 100% 200

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Gain f -0,67 2 -0,33 6 0,00 6 0,33 6 0,67 2 1,00 0 Kelompok Eksperimen Gain f -0,67 1 -0,33 2 0,00 5 0,33 7 0,67 7 1,00 2 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,33 adalah Frekuensi gain score ≥ 0,33 adalah sebanyak 8 siswa. sebanyak 16 siswa. Persentase Persentase × 100% × 100% × 100% × 100% 0,36 × 100% 0,6 × 100% 36% 60% 201

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.10 Hasil Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen r =√ r =√ =√ =√ =√ =√ =√ =√ = 0,0233429519 = 0,783000722 = 0,023 = 0,78 R2 = r2 R2 = r2 = (0,0233429519) 2 = (0,783000722) 2 = 0,000529 = 0,61309013065252 = 0,00052 = 0,61 Persentase pengaruh = R2 × 100% Persentase pengaruh = R2 × 100% = 0,00052× 100% = 0,61309013065252 × 100% = 0,0052% = 61% 4.10.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen r =√ r =√ =√ =√ =√ =√ 202

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI =√ =√ = 0,001 = 0,611 = 0,00130903128 R2 = r2 = 0,6113576336488 R2 = r2 = (0,00130903128) 2 = (0,6113576336488) 2 = 1,71430001 = 0,3737581520576 = 1,71 = 0,37 Persentase pengaruh = R2 × 100% Persentase pengaruh = R2 × 100% = 1,71430001 × 100% = 0,3737581520576 × 100% = 0,000171430001% = 37,37% = 0,00% 203

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.11.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.11.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations EvaKonPre EvaKonPost1 1 ,137 Pearson Correlation EvaKonPre EvaKonPost1 Sig. (2tailed) ,544 N 22 22 Pearson Correlation ,137 1 Sig. (2tailed) ,544 N 22 22 4.11.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations EvaEksPre EvaEksPost1 1 ,488* Pearson Correlation EvaEksPre EvaEksPost1 Sig. (2tailed) ,016 N 24 24 Pearson Correlation ,488* 1 Sig. (2tailed) ,016 N 24 24 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 4.11.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.11.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations KesKonPre Pearson Correlation KesKonPre KesKonPost1 1 ,611** 204

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sig. (2tailed) N Pearson Correlation KesKonPost1 Sig. (2tailed) N ,003 22 22 ,611** 1 ,003 22 22 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 4.11.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations Pearson Correlation KesEksPre KesEksPost1 Sig. (2tailed) N KesEksPre KesEksPost1 1 ,647** ,001 24 24 Pearson Correlation ,647** 1 Sig. (2tailed) ,001 N 24 24 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 205

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.12 Hasil Uji Retensi Perlakuan 4.12.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaKonPost2 2,4395 22 ,39068 ,08329 EvaKonPost1 2,4700 22 ,42002 ,08955 Pair 1 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaKonPost2 & EvaKonPost1 Mea n Pair 1 EvaKonP ost2 EvaKonP ost1 ,030 45 N Correlation Sig. 22 ,203 ,365 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Std. Interval of the Deviatio Error Difference n Mean Lower Upper ,51227 ,1092 2 -,25758 ,19667 t df Sig. (2tailed ) -,279 21 ,783 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaEksPost2 2,8050 24 ,42681 ,08712 EvaEksPost1 3,0833 24 ,48355 ,09870 Pair 1 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaEksPost2 & EvaEksPost1 N Correlation Sig. 24 ,102 ,637 206

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences EvaEksPost 2EvaEksPost 1 Pai r1 Mean Std. Deviatio n Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,2783 3 ,61160 ,1248 4 ,5365 9 ,0200 8 t df Sig. (2tailed) -2,229 23 ,036 4.12.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttest I dan Posttest II Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan Peningkatan × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% -0,0123481781 × 100% -0,090260× 100% -1,23% -9,02% 4.12.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaKonPost2 2,4395 22 ,39068 ,08329 EvaKonPre 2,4845 22 ,54138 ,11542 Pair 1 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaKonPost2 & EvaKonPre N Correlation Sig. 22 ,294 ,183 207

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mean Pair 1 EvaKonPost2 - EvaKonPre ,04500 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Error Difference Deviation Mean Lower Upper ,56673 ,12083 ,29627 ,20627 t df Sig. (2tailed) ,372 21 ,713 t df Sig. (2tailed) 2,269 23 ,033 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EvaEksPost2 2,8050 24 ,42681 ,08712 EvaEksPre 2,5000 24 ,45045 ,09195 Paired Samples Correlations Pair 1 EvaEksPost2 & EvaEksPre N Correlation Sig. 24 -,126 ,557 Paired Samples Test Mean Pair 1 EvaEksPost 2– EvaEksPre ,30500 Paired Differences 95% Confidence Std. Std. Interval of the Deviat Error Difference ion Mean Lower Upper ,65846 ,13441 ,02696 ,58304 208

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.12.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesKonPost2 2,3632 22 ,52334 ,11158 KesKonPost1 2,4395 22 ,40374 ,08608 Pair 1 Paired Samples Correlations Pair 1 KesKonPost2 & KesKonPost1 N Correlation Sig. 22 ,411 ,057 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 KesKonP ost2 KesKonP ost1 Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,07636 ,51295 ,1093 6 ,3037 9 ,1510 7 t df Sig. (2tailed ) -,698 21 ,493 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesEksPost2 2,6946 24 ,48061 ,09810 KesEksPost1 2,7638 24 ,53454 ,10911 Pair 1 Paired Samples Correlations Pair 1 KesEksPost2 & KesEksPost1 N Correlation Sig. 24 ,779 ,000 209

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 KesEksPost2 KesEksPost1 Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,06917 ,34143 ,06969 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,21334 ,07501 t df Sig. (2tailed) ,992 23 ,331 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttest I ke Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan Peningkatan × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% × 100% -0,0312769010043 × 100% -0,02503799117158× 100% -3,12% -2,50% 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesKonPost2 2,3632 22 ,52334 ,11158 KesKonPre 2,4391 22 ,46398 ,09892 Pair 1 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. 210

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pair 1 KesKonPost2 & KesKonPre 22 ,094 ,676 Paired Samples Test Mean Pair 1 KesKonPost2 - KesKonPre ,07591 Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Error Difference Deviation Mean Lower Upper ,66580 ,14195 ,37111 ,21929 t df Sig. (2tailed) ,535 21 ,598 t df Sig. (2tailed) 2,920 23 ,008 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean KesEksPost2 2,6946 24 ,48061 ,09810 KesEksPre 2,4442 24 ,45825 ,09354 Paired Samples Correlations Pair 1 KesEksPost2 & KesEksPre N Correlation Sig. 24 ,600 ,002 Paired Samples Test Mean Pair 1 KesEksPost2 - KesEksPre ,25042 Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Error Difference Deviation Mean Lower Upper ,42014 ,08576 ,07301 ,42783 211

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran Kegiatan di Kelompok Kontrol Kegiatan di Kelompok Eksperimen Kegiatan di Kelompok Kontrol Kegiatan di Kelompok Eksperimen 212

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian 213

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Eriene Denis Karina merupakan anak bungsu dari pasangan Tjakra Krisna Takariana dan Isti Yunani. Lahir di Bantul pada tanggal 11 Juni 1997. Pendidikan peneliti dimulai dari TK Pertiwi I Bantul pada tahun 2001-2003, kemudian pendidikan dilanjutkan di Sekolah Dasar Kanisius Bantul pada tahun 20032009. Pada tahun 2009, peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bantul dan lulus pada tahun 2012. Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bantul pada tahun 2012 dan lulus pada tahun 2015. Peneliti melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma pada tahun 2015. Berikut ini daftar kegiatan yang pernah diikuti peneliti selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kegiatan Inisiasi Universitas Sanata Dharma (Insadha) Inisiasi Fakultas (Infisa) Imisiasi Program Studi (Insipro) Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I (PPKM I) Tahun 2015 2015 2015 2015 Peran Peserta Peserta Peserta Peserta Seminar “Reinventing Childhood Education” Kursus Mahir Dasar (KMD) Week-end Moral Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa II (PPKM II) Kuliah Umum PGSD “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” English Club Program Parade Gamelan Anak ke X 2015 2016 2016 2016 Peserta Peserta Peserta Peserta 2016 Peserta 2015-2017 2017 Peserta Anggota Divisi Konsumsi Pembicara Pelatihan Model-model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kerja Sama dan Prestasi Belajar di SDK Bantul Yogyakarta 2018 214

(234)

Dokumen baru

Download (233 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KECERDASANINTERPERSONALSISWA
0
57
270
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) MENGGUNAKAN LAB RIIL DAN LAB VIRTUIL DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN GAYA BELAJAR SISWA
0
4
144
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DITINJAU DARI TINGKAT KEAKTIFAN SISWA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA SUB
0
5
110
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR PENGAWETAN MAKANAN SISWA KELAS VII SMP AL-ITTIHADIYAH MEDAN.
0
3
23
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 106836 TANJUNG MORAWA.
0
2
22
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS V SDN 101783 SAENTIS T.A. 2011/2012.
0
1
12
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA.
0
2
10
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA.
0
2
53
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA.
0
0
56
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) BERBANTUAN ANIMASI DAN SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA.
0
0
33
PENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR KOMPUTER DAN JARINGAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) SISWA KELAS X SMK MUHAMMADIYAH RONGKOP GUNUNGKIDUL.
0
0
75
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA
0
0
7
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHEIVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA Marwan Hamid
0
0
8
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
258
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
240
Show more