PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA ATLET SEPAK BOLA USIA REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Preogram Studi Psikologi

Gratis

0
0
126
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA ATLET SEPAK BOLA USIA REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Preogram Studi Psikologi Disusun oleh: Yasinta Tiwi Carysa NIM : 149114035 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan” -Amsal 13:4- “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” -Pengkotbah 3:1- “There is no limit of struggling” -Anonymous- iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PESEMBAHAN Karya ini saya persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkati dan menyertai saya Bapak dan Ibu yang tidak pernah lelah memberi dukungan dalam bentuk doa ataupun materi Orang-orang terkasih yang memberi dukungan dengan caranya masingmasing v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA ATLET SEPAK BOLA USIA REMAJA Yasinta Tiwi Carysa ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh negatif regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 122 atlet sepak bola berusia 11 hingga 22 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu skala regulasi emosi dan skala agresivitas. Skala regulasi emosi terdiri dari 24 item dengan koefisien reliabilitas α = 0,888 dan skala agresivitas yang terdiri dari 24 item dengan koefisien reliabilitas α = 0,933. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Diketahui standardized coefficients (β) sebesar -0,452 dan koefisien regresi sebesar -0,589 dengan nilai signifikansi p = 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat regulasi emosi, maka semakin rendah agresivitas atlet sepak bola usia remaja. Kata kunci : regulasi emosi, agresivitas, atlet sepak bola, remaja vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE EFFECT OF EMOTION REGULATION TOWARD AGGRESIVENESS ON TEENAGE FOOTBALL ATHLETES Yasinta Tiwi Carysa ABSTRACT The current study was aimed to investigate the influence of emotion regulation on the aggressiveness of teenage football athletes. The hypothesis of the current research was that there was a negative influence of emotion regulation on teenage football athletes’ aggressiveness. The study involved 122 football athletes with ages ranged from 11 to 22 years old. The instruments used to collect the data were regulation emotion scale and aggressiveness scale. The emotion regulation scale consisted of 24 items with α = 0,888 while the aggressiveness scale consists of 24 items with reliability coefficient of α = 0,933. The hypothesis was tested using the analysis of regression. The result showed that the hypothesis was accepted. The β = -0,452 and regression coefficient -0,589 with the significant value p = 0,000. This result shows that emotion regulation has a negative influence and is significant to the aggressiveness of teenage football athletes. This means, the higher the emotion regulation, the lower the aggressiveness. Keywords: emotion regulation, aggressiveness, football athlete, teenager viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat dan penyertaan yang tidak pernah usai, saya dapat menyelesaikan studi hingga akhir dengan elegan. Melalui uluran tangan orang-orang terkasih, kuat kuasa-Nya telah dinyatakan dengan terselesaikannya pula skripsi saya yang berjudul : “Pengaruh Regulasi Emosi terhadap Agresivitas pada Atlet Sepak Bola Usia Remaja.” Saya menyadari bahwa selama proses penelitian skripsi ini banyak tantangan dan pergumulan yang harus saya lalui. Rasanya tantangan-tantangan tersebut akan sulit saya takhlukkan tanpa dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua orang yang telah memberikan dukungan kepada saya melalui cara mereka masing-masing, yaitu: 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani M. Psi. selaku Dekan Fakultas Paikologi Universitas Sanata Dharma yang telah menandatangani lembar pengesahan skripsi ini. 2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningum Ph. D. selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membantu segala proses akademik yang saya lalui selama menuntut ilmu di program studi ini. 3. Romo Dr. Priyono Marwan., S. J. dan Bapak Paulus Eddy Suhartanto., M. Si. selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberi motivasi serta tuntutan selama penuli menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi., M. A selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus pendengar yang maha mengerti seluruh keluh kesah peneliti selama berdinamika dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih banyak atas bimbingan dan dukungan yang tidak pernah usai. Sehat dan sukses selalu Mbak Etta, maaf jika ada yang kurang berkenan di hati mbak. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Mbak Etta selaku Wakil Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membimbing dan mendukung saya selama saya mengikuti oganisasi serta kepanitiaan di program studi ini. 5. Terima kasih kepada Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi., M. A, Ibu Dr. Tjipto Susana, M. Si., dan Bapak Agung Santoso, M. A. selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan serta bimbingan dalam proses perbaikan skripsi ini. 6. Seluruh bapak dan ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membagi dan menyalurkan ilmu pengetahuan selama saya menempuh pendidikan di fakultas tersebut. 7. Seluruh staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang selalu membantu kelancaran penyusunan skripsi ini dengan caranya yang ramah serta sabar. 8. Bapak Jacky Samuel Kunarto selaku pelatih sekolah sepak bola Bantul, seluruh expert judgement dan peer judgement, serta semua subjek penelitian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian saya. Bantuan saudara sekalian sangat berarti untuk saya. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Suargi Simbah Kakung dan Putri, serta Mbah Kung dan suargi Mbah Ti yang tidak pernah lelah mendoakan dan memberikan restu kepada saya sehingga saya dapat sampai pada pencapaian saat ini. Nyuwun pengestunipun nggih mbah. Matur nuwun. 10. Bapak dan Ibu yang senantiasa setia memberikan dukungan dalam bentuk doa, motivasi, finansial, senyuman, dan bercandaan ketika saya mulai berkeluh kesah. Terima kasih karena restu Bapak dan Ibu membawa saya pada titik pencapaian ini. Sehat selalu pak, bu, jangan lelah mendoakan dan mendampingi saya. 11. Rio yang tidak pernah absen mendengar dan membantu menghadapi tantangan-tantangan baru dalam skripsi saya, serta membantu saya dalam proses pengambilan data, Bram dan Sekar yang selalu ada dalam suka dan duka selama proses olah data, Salma yang setia menjadi kamus bahasa inggris berjalan selama 24 jam, Mega dan Friska yang selalu setia mendengar keluh kesahku, dan Agung sang desainer andal ketika saya gundah gulana menentukan reward. Kalian terbaik! 12. Teman putih biru Nisa, Salma dan Upik yang selalu memberikan dukungan dan setia mendengarkan keluh kesah saya tentang dinamika dalam penyusunan skripsi ini. Terutama untuk teman seperjuangan Nisa dan Salma dalam menikmati pasang surut per-skripsian ini. Sukses untuk kita ya! 13. Teman putih abu berkedok Keluarga Petete, yaitu Petete, Menuk, Alvien, Roosmala, Zepin, Ruwanda, Sentagi, Riut, Juwita, dan Wily. Terima kasih atas semua yang keluar dari kalian, baik perkataan maupun perbuatan. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sekeras-kerasnya kalimat tamparan yang kalian lontarkan, saya selalu termotivasi. Sampai jumpa di masa depan yang cerah keluarga, secerah pikiran kalian yang selalu terbuka atas semua wawasan! 14. Sahabat seperjuangan selama duduk di bangku perguruan tinggi, Konco Kesel: Ana, Ayu, Dwina, Joste, Mega, Nungky, dan Sekar. Terima kasih kalian tidak pernah lelah mendukung satu sama lain agar tidak ada yang putus asa menghadapi tugas-tugas kuliah selama menempuh studi. Terima kasih juga sudah menjadi teman lembur baik secara online maupun offline. See you on top, gals! 15. Seluruh angkatan 2014, dan terkhusus untuk teman-teman terkasih Psikologi D 2014: Angel, Anggung, Arin, Arya, Aye, Bram, Cakra, Chris, Dewa, Ella, Febri, Fendy, Fiyo, Garnis, Intan, Jennifer, Kodut, Leo, Lyta, Maria, Mirna, Nadzar, Onel, Poppy, Sandri, Theo, Vanny, Yudhis, terima kasih motivasi lisan maupun tulisan kalian. Semangat dan sukses selalu teman-teman! 16. Teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma tahun jabatan 2017 terkhusus Divisi Eksternal: Trisna, Wayang, dan Sinta. Terima kasih untuk dinamika kekeluargaan yang tidak pernah usai ditelan masa jabatan kita. Rasa kekeluargaan semakin erat ketika saya tahu bahwa dukungan kalian menjadi motivasi saya untuk tidak kalah melawan setiap tantangan dalam menyelesaikan skripsi ini. Kalian hebat, tidak pernah lelah menggenapi kekurangan saya. Semoga sukses! 17. Keluarga kecil Kuliah Kerja Nyata 55 Dusun Mangli: Chris, Irin, Adong, Christo, Yoz, Rina, Elen, dan Jeane. Terima kasih untuk dinamika satu xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN MOTTO ...................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi ABSTRAK ....................................................................................................... vii ABSTRACT ....................................................................................................... viii PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............. ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xv DAFTAR TABEL ............................................................................................ xix DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ......................................................................... 1 B. RUMUSAN MASALAH ..................................................................... 9 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. TUJUAN PENELITIAN ...................................................................... 9 D. MANFAAT PENELITIAN .................................................................. 9 1. Manfaat teoretis ........................................................................ 9 2. Manfaat praktis......................................................................... 9 BAB II LANDASAN TEORI A. AGRESIVITAS ................................................................................... 10 1. Definisi Agresivitas .................................................................. 10 2. Aspek Agresivitas .................................................................... 12 3. Tipe Agresivitas ....................................................................... 15 4. Faktor Agresivitas .................................................................... 16 B. REGULASI EMOSI ............................................................................ 19 1. Definisi Emosi.......................................................................... 19 2. Definisi Regulasi Emosi ........................................................... 20 3. Aspek Regulasi Emosi ............................................................. 22 4. Dampak Regulasi Emosi .......................................................... 24 C. ATLET SEPAK BOLA ....................................................................... 25 D. MASA REMAJA ................................................................................. 25 E. DINAMIKA HUBUNGAN ................................................................. 27 F. SKEMA HUBUNGAN ........................................................................ 32 G. HIPOTESIS PENELITIAN ................................................................. 33 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN ........................................................................... 34 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. IDENTIFIKASI VARIABEL .............................................................. 34 1. Variabel Bebas ......................................................................... 34 2. Variabel Tergantung................................................................. 34 C. DEFINISI OPERASIONAL ................................................................ 35 1. Regulasi Emosi ........................................................................ 35 2. Agresivitas ............................................................................... 35 D. SUBJEK PENELITIAN ....................................................................... 36 E. METODE PENGUMPULAN DATA .................................................. 36 1. Skala Regulasi Emosi ............................................................... 37 2. Skala Agresivitas ...................................................................... 38 F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ................................................... 39 1. Validitas ................................................................................... 39 2. Seleksi Item .............................................................................. 41 3. Reliabilitas ............................................................................... 43 G. METODE ANALISIS DATA .............................................................. 44 1. Uji Asumsi ............................................................................... 44 2. Uji Hipotesis ............................................................................ 45 BAB IV HASIL PENELITIAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN ........................................................ 47 B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN ................................................. 47 C. DESKRIPSI DATA PENELITIAN ..................................................... 48 D. ANALISIS DATA PENELITIAN ....................................................... 49 1. Uji Asumsi ............................................................................... 49 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Hipotesis ............................................................................ 52 E. PEMBAHASAN .................................................................................. 53 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN .................................................................................... 57 B. KETERBATASAN PENELITIAN ...................................................... 57 C. SARAN ................................................................................................ 58 1. Bagi Pelatih Sepak Bola ........................................................... 58 2. Bagi Atlet Sepak Bola .............................................................. 59 3. Bagi Peneliti Selanjutnya ......................................................... 59 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 61 LAMPIRAN ..................................................................................................... 68 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 : Pemberian nilai skor Skala Likert ..................................................... 37 Tabel 2 : Indikator Skala Regulasi Emosi ........................................................ 38 Tabel 3 : Distribusi Item Skala Regulasi Emosi Sebelum Try Out .................. 38 Tabel 4 : Indikator Skala Agresivitas ............................................................... 39 Tabel 5 : Distribusi Item Skala Agresivitas Sebelum Try Out ......................... 39 Tabel 6 : Distribusi Item Skala Regulasi Emosi Setelah Seleksi Item ............. 42 Tabel 7 : Distribusi Item Skala Agresivitas Setelah Seleksi Item .................... 43 Tabel 8 : Deskripsi Data Berdasarkan Usia ..................................................... 47 Tabel 9 : Deskripsi Data Berdasarkan Jenis Kelamin ...................................... 47 Tabel 10 : Deskripsi Statistik Data Penelitian.................................................. 49 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Skala Uji Coba Penelitian ............................................................ 69 Lampiran 2: Reliabilitas Skala Regulasi Emosi dan Agresivitas ..................... 81 Lampiran 3: Skala Penelitian ........................................................................... 87 Lampiran 4: Hasil Uji Mean Teoretis dan Mean Empiris ................................ 97 Lampiran 5: Hasil Uji Deskriptif ..................................................................... 100 Lampiran 6: Hasil Uji Asumsi ......................................................................... 102 Lampiran 7: Hasil Uji Hipotesis ...................................................................... 105 xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang diikuti laki-laki dan perempuan dari mulai usia remaja hingga dewasa dengan cara berkelompok membentuk tim. Sin (2017) mengatakan bahwa keberhasilan dari sebuah tim sepak bola ditentukan oleh kekompakan dan kinerja dari tim tersebut, dengan cara menyusun strategi. Harris (dalam Gunarsa, 1995) menyatakan bahwa performa seorang atlet adalah hasil dari stamina, kekuatan, fleksibilitas, koordinasi, keterampilan dan kemampuan bermain. Selain itu, faktor pikiran dan lingkungan turut memengaruhi performa atlet sepak bola, seperti kontak fisik. Menurut Sukadiyanto (2005), olahraga kontak fisik merupakan jenis olahraga yang terdapat benturan fisik secara langsung. Sedangkan olahraga non kontak fisik merupakan jenis olahraga yang tidak terjadi sentuhan fisik secara langsung karena adanya pembatas (Martin, 2005). Good dan Wood (1995) mengungkapkan bahwa atlet pada jenis olahraga kontak fisik lebih menekankan perilaku yang cenderung keras dalam bermain. Berdasarkan teori tersebut, dapat diketahui bahwa sepak bola merupakan jenis olahraga kontak fisik yang dapat memicu munculnya amarah pada atletnya. Pada beberapa pertandingan sepak bola, sering terjadi tindakan kekerasan yang melibatkan atlet usia (selanjutnya akan disebut U-) 12, 19, 21, dan 22 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tahun; (Pradigdo, 2017; Rachman, 2017). Bentuk tindakan kekerasan yang marak terjadi adalah perkelahian, pemukulan, dan penyikutan (Gultom, 2014; Yosia, 2017; Christian, 2017). Tindakan-tindakan tersebut dapat terjadi baik antar sesama atlet pada tim lawan (Rachman, 2017), atau dengan pihak lain yang terlibat dalam jalannya pertandingan seperti wasit. Salah satu fenomena yang terjadi baru-baru ini adalah seorang atlet sepak bola U-19 Bali United Ricky Nova Asterix mengalami cedera leher setelah dipukul oleh lawan dari Tim Bhayangkara FC pada partai babak 18 besar Liga U-19 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar (Christian, 2017). Berbagai bentuk perilaku yang telah dipaparkan dan dilakukan oleh atlet sepak bola itu dapat dikategorikan sebagai bentuk agresivitas. Fromm (1973/2008) menyatakan bahwa agresivitas dapat dimaksudkan untuk mempertahankan hidup individu, yang bersifat adaptif biologis dan hanya muncul jika ada ancaman. Pada dasarnya agresivitas dilakukan untuk mempertahankan hidup individu, yang dapat dilakukan dengan cara menghindar atau menyerang sumber ancamannya (Fromm, 1973/2008). Hal itu dilakukan individu untuk melemahkan ancaman yang dihadapi. Lebih lanjut, agresivitas dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang dilakukan dengan tujuan untuk menyakiti atau membuat individu lain celaka (Baron dan Byrne, 2005; Taylor dan Peplau, 2009). Ioana (2013) mengungkapkan bahwa saat ini terjadi peningkatan jumlah dan frekuensi agresivitas yang berlebihan di lapangan olahraga. Anshel (dalam Sukadiyanto, 2005) mengungkapkan jika seorang atlet tidak

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 melakukan agresivitas, maka atlet tidak memiliki tenaga, kecepatan, dan ketegaran mental. Namun sebaliknya, jika agresivitas berlebihan dapat menyebabkan hukuman atau kerugian bagi atlet itu sendiri karena telah melukai orang lain. Sukadiyanto (2005) mengungkapkan bahwa agresivitas tidak dapat dilakukan sekehendak atlet sendiri, sebab setiap pertandingan memiliki peraturan yang harus ditaati oleh semua yang terlibat didalamnya. Apabila atlet melanggar peraturan yang sudah disepakati, maka mereka akan menerima konsekuensi dan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya (Sukadiyanto, 2005). Melihat dari fenomena yang telah dipaparkan, dunia sepak bola memang tidak luput dari adanya agresivitas. Kebanyakan fenomena menunjukkan bahwa agresivitas dilakukan oleh atlet sepak bola U-19 hingga U-22. Hal ini menunjukan bahwa banyak agresivitas dilakukan oleh atlet sepak bola yang berusia 22 tahun ke bawah. Papalia (2008) mengungkapkan bahwa individu dengan usia 11 atau 12 tahun hingga 20-an dikategorikan sebagai perkembangan manusia masa remaja. Chaplin (2011) mengaitkan agresivitas dengan perasaan marah atau permusuhan, yang diartikan sebagai suatu motif untuk menanggapi perlakuan kasar, penghinaan, dan frustrasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, Hurlock (2011) mengidentifikasi bahwa perasaan ini selaras dengan masa remaja yang sering disebut sebagai masa negatif, yaitu masa di mana perilaku remaja menjadi sulit diduga dan sering kali melawan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Agresivitas pada remaja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri remaja maupun lingkungan sekitarnya. Taylor, Peplau, dan Sears (2009) menyatakan bahwa terdapat empat sumber amarah yang menjadi faktor penyebab timbulnya agresivitas. Faktor yang pertama adalah serangan dari orang lain. Individu yang sering merespons serangan dengan prinsip “darah dibayar darah” akan memicu terjadinya agresi yang lebih tinggi. Faktor yang kedua adalah frustrasi. Frustrasi terjadi karena adanya hambatan untuk mencapai tujuan yang kemudian menimbulkan agresivitas, karena agresi bisa meringankan emosi negatif (Bushman., dkk dalam Taylor dkk., 2009). Faktor lain yang dapat meningkatkan agresivitas yaitu ekspektasi pembalasan. Motivasi untuk melakukan balas dendam selalu membuat pikiran menjadi negatif, maka agresivitas juga akan bertambah besar. Lalu faktor kompetisi juga dapat memengaruhi adanya agresivitas. Situasi kompetitif sering memicu adanya kemarahan yang menimbulkan agresivitas yang tidak jarang bersifat destruktif. Selain faktor-faktor tersebut, agresivitas juga dapat disebabkan oleh emosi negatif yang dialami seseorang sebagai akibat dari peristiwa permusuhan dan pikiran negatif (Berkowitz dan Heimer, dalam Stangor, 2011). Averill (dalam Taylor dkk., 2009) menyatakan bahwa kebanyakan orang merasa pernah marah sekali atau sedikit marah beberapa kali dalam sehari. Emosi marah yang sering muncul dapat diolah atau dikontrol oleh setiap individu sejak melewati usia kanak-kanak, karena setiap anak memerlukan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 pertolongan orang dewasa dalam menangani emosi atau perasaannya (Albin, 1986). Pada saat usia remaja, individu belajar untuk menguasai dan mengatur emosi yang ada dalam diri. Ketika individu mulai terbiasa menguasai emosi negatif yang ada dalam diri, ia akan mampu mengelola emosinya dalam berbagai situasi. Regulasi emosi merupakan suatu proses individu dalam membentuk emosi dan mengetahui bagaimana mengekspresikannya (Gross, 2014). Thompson (1994) juga mengungkapkan bahwa regulasi emosi adalah proses pertanggungjawaban individu dalam mengevaluasi dan memodifikasi reaksi emosi untuk mencapai tujuan individu tersebut. Regulasi emosi dapat terjadi secara disadari maupun tidak disadari. Selain itu, proses regulasi emosi juga dapat berlangsung baik dikontrol maupun secara otomatis. Menurut Thompson (dalam Buckholdt, Parra, & Jobe-Shields, 2009) regulasi emosi terdiri dari proses ekstrinsik dan intrinsik yang bertanggung jawab untuk memantau, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosional, terutama intensif dan temporal mereka untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari regulasi emosi sendiri untuk meminimalkan dampak negatif dari masalah yang dihadapi dengan cara mengatur dan mengolah pengalaman emosional (Kring, Johnson, Davison, & Neale, 2010). Kurniasih (dalam Silaen & Dewi, 2015) menemukan bahwa kemampuan regulasi emosi dapat membuat remaja lebih menerima serta menghargai dirinya. Cyberbullying yang dilakukan oleh remaja, rata-rata terjadi karena remaja kurang mampu mengelola emosinya (Mawardah & Adiyanti, 2014).

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Mawardah dan Adiyanti memfokuskan penelitiannya pada agresi elektronik, dalam hal ini remaja melakukan agresivitas seperti mengganggu dan menindas melalui e-mail, chat room, SMS, website, dan lain-lain (DavidFerdon & Hertz, 2009). Hal ini berbeda dengan agresivitas pada umumnya yang dapat dilakukan dalam bentuk perilaku fisik ataupun verbal (Myers, 2012). Melihat maraknya fenomena perkelahian yang terjadi di lapangan olahraga, peneliti ingin mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Menurut Papalia (2008), usia 11 atau 12 tahun hingga 20-an tahun dikategorikan sebagai perkembangan manusia masa remaja. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Hall (dalam Papalia, 2007) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang penuh emosional. Pernyataan ini memang tidak sematamata dapat disematkan pada setiap individu berusia remaja. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masa remaja awal merupakan suatu masa di mana fluktuasi emosi berlangsung lebih sering (Rosenblum & Lewis, 2003). Melihat dari fenomena yang ada, banyak atlet sepak bola usia remaja memiliki emosi yang tidak stabil. Sebagai salah satu atlet sepak bola yang dipercaya menjadi seorang kapten, Evan Dimas mengakui jika emosi atlet Timnas U-22 terkadang memang tidak terkontrol. Evan Dimas mengungkapkan kepada media bola.com bahwa sebagai manusia mereka

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 ingin membela mati-matian bangsa Indonesia sehingga ada kalanya provokasi membuat mereka tidak bisa mengontrol emosi (Pradigdo, 2017). Paparan ini menunjukkan bahwa seorang atlet pun perlu mengelola atau meregulasi emosi ketika sedang bertanding. Remaja yang memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan regulasi emosi akan mampu menjaga stabilitas emosinya. Emosi yang cenderung stabil mampu membuat remaja memiliki rasa empati dan memahami perasaan orang lain (Mawardah & Adiyanti, 2014). Hal ini tentu saja membuat remaja mampu mengelola tingkah laku, sehingga dapat menghindari perbuatanperbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma sosial (Mawardah & Adiyanti, 2014). Begitu pula sebaliknya, remaja dengan kemampuan regulasi emosi yang rendah kurang mampu menjaga stabilitas emosinya. Mawardah dan Adiyanti (2014) juga mengungkapkan bahwa remaja yang memiliki emosi kurang stabil tidak mampu menjaga perilakunya, sehingga berpotensi memunculkan perbuatan negatif yang melanggar nilai dan norma sosial. Penelitian lain mengaitkan antara regulasi emosi maladaptif (gangguan emosi) dengan agresivitas. Beberapa bukti ini berasal dari Zeman, Shipman, dan Penza-Clyve (2001) yang menunjukkan bahwa kesulitan mengelola kesedihan dikaitkan dengan agresi kasar. Namun, Zeman dkk (2001) mengungkapkan bahwa ruang lingkup instrumen penelitian terlalu sempit karena tidak mengukur emosional secara menyeluruh. Sullivan dkk (2010) juga menemukan bahwa kesulitan remaja untuk mengatur kemarahan dan kesedihan dikaitkan dengan agresivitas fisik dan relasional. Dalam penelitian

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 yang telah dilakukan, Sullivan dkk (2010) menggunakan metode wawancara kepada subjek untuk menggali informasi secara mendalam. Dengan metode ini, Sullivan dkk (2010) menemukan kekurangan bahwa beberapa subjek tidak mengakui secara khusus dan spesifik bahwa mereka pernah atau sering melakukan agresivitas. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode skala agar subjek dapat mengungkapkan perasaan dan pengalaman mereka secara lebih khusus dan spesifik mengenai agresivitas. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan regulasi emosi dan agresivitas pada atlet sepak bola remaja. Penelitian ini penting dilakukan untuk melihat pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet tersebut.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja?”. C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan menjadi referensi kajian ilmu psikologi bidang sosial dan olahraga khususnya mengenai regulasi emosi dan agresivitas. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terkait regulasi emosi dan agresivitas para atlet sepak bola usia remaja. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi acuan bagi psikolog olahraga dalam memberikan pelatihan psikologis kepada atlet sepak bola usia remaja.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. AGRESIVITAS 1. Definisi Agresivitas Menurut Erich Fromm (2008), agresi dapat dibagi menjadi dua jenis dengan definisi yang berbeda. Jenis yang pertama adalah agresi defensif. Agresi ini dapat berupa desakan untuk membela diri, melarikan diri atau melawan yang telah terprogram secara bawaan sewaktu kepentingan hayatinya terancam. Agresi defensif dimaksudkan untuk mempertahankan hidup individu atau spesies, bersifat adaptif biologis dan hanya muncul jika memang ada ancaman. Agresi ini bertujuan untuk menghilangkan ancaman, baik dengan menghindar maupun dengan menghancurkan sumbernya. Tujuan agresi defensif bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk mempertahankan diri dan menjaga kelangsungan hidup. Bila tujuan ini telah dicapai, agresi tersebut beserta emosinya akan lenyap. Agresi yang kedua yaitu agresi destruktif. Agresi jenis ini bukan merupakan pertahanan diri terhadap suatu ancaman dan tidak terprogram secara bawaan, ia hanya menjadi ciri khas manusia. Secara biologis agresi ini merugikan karena dapat mengacaukan tatanan sosial. Tujuan utamanya yakni pembunuhan dan penyiksaan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Agresi ini tidak hanya merugikan orang yang diserang, namun juga si penyerang. Korban akan mengalami kematian 10

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dan pelaku (penyerang) akan berurusan dengan aparat penegak hukum dan (pasti) mendapat hukuman sesuai jenis agresi jahat yang dilakukannya. Agresi jahat ini bukanlah atas dasar insting, melainkan kecenderungan manusia yang berakar dari kondisi kehidupannya. Menurut Baron dan Byrne (1995), agresivitas merupakan perilaku individu yang dilakukan dengan tujuan untuk menyakiti atau membuat individu lain celaka. Taylor, Peplau, dan Sears (2009) mendukung pernyataan tersebut dengan mengungkapkan bahwa agresivitas merupakan setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. Myers (2012) juga menyatakan bahwa agresivitas adalah bentuk perilaku fisik ataupun verbal yang bertujuan untuk menyakiti seseorang. Agresivitas juga didefinisikan sebagai pengiriman stimulus negatif dari satu orang ke orang lain dengan tujuan untuk menyakiti dan merugikan, sehingga orang tersebut berusaha menghindarinya (Geen, 2001). Hidayat dan Bashori (2016) juga meyakini bahwa agresi merupakan tingkah laku yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dengan tujuan untuk melukai makhluk hidup lain, sementara yang bersangkutan terdorong untuk menghindarinya.Beberapa definisi tersebut selaras dengan pernyataan Buss dan Perry (1992) yang mengungkapkan bahwa agresivitas adalah perilaku yang berniat untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun psikis demi mengekspresikan perasaan negatif, sehingga tujuannya tercapai.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Agresivitas dapat dikatakan sebagai bentuk perilaku yang dapat menyakiti seseorang. Namun hal ini bukan berarti perilaku menyakiti orang lain dalam bentuk yang tidak disengaja, seperti kecelakaan lalu lintas (Myers, 2012). Selain itu, Myers (2012) juga mengungkapkan bahwa perilaku menyakiti yang bertujuan untuk membantu orang lain bukan termasuk perilaku agresivitas, misalnya menyuntik orang sakit. Perilaku yang tergolong dalam tindakan agresivitas adalah menendang, menampar, mengancam, menyindir, dan lain-lain (Myers, 2012). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa agresivitas merupakan perasaan yang mengarahkan pada niat dan tindakan negatif baik secara fisik maupun verbal, dari seseorang ke orang lain dengan tujuan untuk menyakiti atau merugikan, sehingga orang yang bersangkutan berusaha untuk menghindarinya. 2. Aspek Agresivitas Berdasarkan definisi yang telah diungkapkan Buss dan Perry (1992), dapat diketahui bahwa agresivitas tersusun atas empat aspek, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan. a. Agresi fisik (physical aggression) Pada aspek ini, tindakan agresivitas yang dilakukan dengan cara menyerang secara fisik untuk melukai atau menyakiti orang lain. Agresi fisik ini ditandai dengan adanya kontak fisik antara pelaku agresivitas dengan korbannya. Maka dari itu, agresivitas ini paling

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 mudah diamati secara kasat mata karena terdapat bukti fisik yang jelas, seperti adanya korban yang terluka. b. Agresi verbal (verbal aggression) Agresi verbal merupakan agresivitas yang dilakukan dalam bentuk kata-kata. Tindakan yang dapat dikategorikan sebagai agresi verbal adalah ketika seseorang melakukan penyerangan dalam bentuk katakata menyakitkan kepada orang lain yang tidak ingin menerimanya. Agresi verbal dapat ditandai dengan adanya hinaan, umpatan, sindiran, dan kata-kata kasar atau kotor. c. Kemarahan (anger) Kemarahan merupakan aspek dari agresivitas yang bersifat tidak langsung (indirect aggression). Kemarahan muncul berupa perasaan benci kepada orang lain atau suatu hal ketika seseorang tidak mampu mencapai tujuannya. Perasaan kecewa, gagal, atau dikhianati dapat menjadi penyebab munculnya kemarahan hingga akhirnya dilampiaskan baik kepada sumber kemarahan maupun kepada hal lain yang tidak berkaitan. d. Permusuhan (hostility) Permusuhan merupakan komponen kognitif dari agresivitas yang terdiri atas keinginan untuk menyakiti dan melawan hal-hal yang dianggap tidak sesuai atau tidak adil. Permusuhan juga merupakan agresivitas yang tergolong dalam agresi tidak terlihat (covert

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 aggression), mencakup cemburu, iri, curiga, tidak percaya, dan kekhawatiran. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini akan menggunakan empat aspek agresivitas menurut Buss dan Perry (1992), yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan. Keempat aspek tersebut dapat digunakan untuk mengetahui tingkat agresivitas individu. Agresi fisik dan verbal, yang menyakiti orang lain merupakan komponen perilaku atau instrumen motorik. Kemarahan, yang melibatkan rangsangan fisiologis dan persiapan untuk agresi, mewakili komponen perilaku emosional atau afektif. Sedangkan permusuhan, yang terdiri dari perasaan niat buruk dan ketidakadilan, mewakili komponen kognitif dari perilaku. Agresi fisik dan verbal memiliki korelasi yang kuat karena keduanya mewakili perilaku instrumental. Namun kedua agresivitas ini memiliki korelasi lemah dengan komponen kognitif, yaitu permusuhan. Sedangkan kemarahan memiliki korelasi yang kuat dengan ketiga aspek yang lain. Selain itu Buss dan Perry (1992) menunjukkan bahwa kemarahan adalah semacam jembatan psikologis antara komponen instrumental dan komponen kognitif. Kemarahan sering kali merupakan awal dari agresivitas, dan seseorang lebih cenderung untuk melakukan agresi ketika marah daripada ketika tidak marah, karenanya terdapat korelasi antara kemarahan dan agresi fisik dan verbal. Kemarahan adalah kondisi gairah tinggi yang berkurang seiring berjalannya waktu. Setelah amarah

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 mereda, ada sisa kognitif dari niat buruk, kebencian, dan mungkin kecurigaan terhadap motif orang lain, karenanya ada kaitan antara amarah dan permusuhan. 3. Tipe Agresivitas Menurut Myers (2012), agresivitas manusia dibagi menjadi dua tipe, sebagai berikut. a. Hostile Aggression Agresivitas yang dilakukan atas dasar kemarahan dan dilakukan untuk melampiaskan kemarahan itu sendiri dengan cara melukai, merusak, atau merugikan. Salah satu komponen kognitif dalam agresivitas ini adalah keinginan untuk menyakiti dan melawan ketidakadilan. Perilaku yang ditunjukkan mengekspresikan kebencian, permusuhan, atau kemarahan yang sangat dalam. b. Instrumental Aggression Agresivitas yang dilakukan dengan cara melukai, merusak, atau merugikan sebagai alat untuk mencapai tujuan lain. Tipe agresivitas ini dilakukan agar pelaku memperoleh keuntungan atau mendapat predikat tertentu. Misalnya agar terlihat hebat atau memperoleh gelar sebagai pemenang. Berkowitz (1995) juga mengungkapkan bahwa instrumental aggression dilakukan untuk mencapai tujuan dengan usaha paksa ddemi mempertahankan kekuasaan, dominasi, atau status sosial seseorang.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Berdasarkan kedua tipe tersebut, Sukadiyanto (2015) menyatakan bahwa agresivitas yang lebih dominan dilakukan oleh atlet adalah instrumental aggression, sebab olahraga tanpa adanya unsur instrumental aggression maka tidak ada tenaga, kecepatan, dan ketegaran mental. Sebaliknya jika hostile aggression yang lebih dominan dilakukan akan merugikan prestasi dan karier atlet itu sendiri. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Agresivitas Mengacu pada definisi yang telah dipaparkan Taylor, Peplau, dan Sears, dapat diketahui beberapa penyebab timbulnya agresivitas sering kali berupa peristiwa tidak menyenangkan, seperti serangan, frustrasi, ekspektasi pembalasan, dan kompetisi (Taylor dkk., 2009). a. Serangan Serangan merupakan salah satu faktor penyebab agresivitas yang paling umum terjadi. Ketika seseorang mengalami situasi yang tidak menyenangkan, akan membuat orang itu merasa jengkel atau menganggapnya sebagai sebuah serangan. Semua itu tergantung bagaimana setiap individu menanggapinya. Orang sering menanggapi serangan dengan pembalasan, seperti “darah dibayar darah”. Respons seperti ini dapat memicu agresivitas. Hal ini sering kali terjadi dalam beberapa situasi, seperti adanya ejekan berakhir dengan pembunuhan. Serangan dapat memicu adanya balasan sehingga agresivitas meningkat.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 b. Frustrasi Sumber agresivitas yang kedua adalah frustrasi. Frustrasi dapat memunculkan agresivitas karena agresivitas dapat meringankan emosi negatif (Bushman, Baumeister, & Philips, 2001). Frustrasi terjadi ketika seseorang mengalami hambatan atau dicegah pada saat akan mencapai tujuan. Selain itu, stres juga dapat menyebabkan frustrasi yang berujung pada agresivitas. Misalnya, adanya pemasalahan keluarga terkait ekonomi dan permasalahan dalam dunia kerja. Menurut tulisan Romawi kuno, suhu panas tercatat sebagai menyebab meningkatnya agresivitas (Anderson, Bushman, & Groom, 1997; Rotton & Cohn, 2000; dalam Taylor, et al., 2009). Lalu apabila situasi tidak nyaman atau menjengkelkan yang disertai dengan suhu panas akan menimbulkan ketegangan atarpersonal hingga terjadi agresivitas. c. Ekspektasi Pembalasan Faktor lain yang mempengaruhi agresivitas yaitu motivasi untuk balas dendam. Sebuah penelitian oleh Taylor (1992) menyatakan bahwa sesorang yang merasa mampu membalas dendam akan lebih lama menyimpan perasaan marah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pria yang marah akan cenderung menyimpan informasiinformasi negatif, termasuk informasi negatif yang tidak berhubungan dengan sumber kemarahannya. Selama kemarahan dan

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 ekspektasi pembalasan membuat pikiran menangkap informasi negatif, maka akan meningkatkan agresivitas. d. Kompetisi Deutsch (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009) mengungkapkan bahwa affectless aggression atau agresivitas yang tidak berkaitan dengan keadaan emosional, dapat muncul secara tidak sengaja karena adanya sebuah kompetisi. Deutsch menunjukkan bahwa situasi kompetitif sering memicu kemarahan dan mengakibatkan terjadinya agresivitas yang bersifat destuktif. Agresivitas lebih mudah muncul dalam situasi yang memperkuat kecenderungan agresivitas (Brushman, dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat diketahui bahwa agresivitas dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, baik dari individu itu sendiri maupun dari lingkungan sekitarnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain serangan, frustrasi, ekspektasi pembalasan, dan kompetisi. Lebih lanjut Stangor (2011) mengungkapkan bahwa emosi negatif menyebabkan munculnya agresivitas. Agresivitas disebabkan sebagian besar oleh emosi negatif yang dialami seseorang sebagai akibat dari peristiwa permusuhan dan pikiran negatif (Berkowitz & Heimer, dalam Stangor, 2011). Salah satu jenis emosi negatif yang meningkatkan gairah adalah ketika individu mengalami frustrasi (Berkowitz, 1989; Dollard, Doob, Miller, Mowrer, & Sears, 1939).

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Frustrasi terjadi ketika kita merasa bahwa kita tidak mendapatkan tujuantujuan penting yang telah kita tetapkan untuk diri kita sendiri. B. REGULASI EMOSI 1. Definisi Emosi Emosi merupakan kecenderungan perasaan yang mengarah pada suatu hal yang dianggap cocok atau tidak cocok (Arnold & Grason, dalam Gross, 2012). Santrock (2007) juga mengungkapkan bahwa emosi merupakan perasaan atau afek yang muncul ketika individu dalam situasi atau interaksi yang penting baginya, terutama untuk kesejahteraannya. Goleman (2002) juga meyakini bahwa emosi adalah perasaan atau pemikiran, kondisi psikologis dan biologis, yang muncul karena ada stimulus dari dalam maupun luar diri individu. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendukung beberapa pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa, emosi merupakan luapan dari perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. James-Lange (dalam Sobur, 2003) mengungkapkan bahwa emosi merupakan hasil penilaian individu akibat dari perubahan pada dirinya sebagai respon akan stimulus. Emosi juga dapat dikatakan sebagai reaksi atas stimulus yang menyebabkan perubahan pada diri individu, seperti wajah, penilaian kognitif, perasaan subjektif dan perilaku. Emosi ditandai oleh perilaku yang merefleksikan kondisi senang atau tidak senang seseorang atas interaksi yang sedang dialami (Santock, 2007). Emosi

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 juga dapat berupa reaksi psikologis maupun fisiologis, seperti kegembiraan, kesedihan, ketakutan, keharuan, kecintaan, dan keberanian yang bersifat subjektif. Seseorang dengan emosi yang berlebihan cenderung kurang dapat menguasai diri dan tidak memperhatikan keadaan serta norma sekitar (Walgito, 2010). Albin (1986) menambahkan bahwa setiap emosi yang muncul dari dalam diri seseorang mampu mempengaruhi lingkungan sekitar, sehingga perlu dikelola sebagai mana mestinya (Alibin, 1986). Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat diketahui bahwa emosi merupakan perasaan atau keadaan individu yang muncul karena adanya stimulus dari situasi yang dialami. 2. Definisi Regulasi Emosi Regulasi emosi merupakan proses pertanggungjawaban individu dalam memodifikasi dan mengevaluasi reaksi emosi demi mencapai tujuannya (Thompson, 1994). Selaras dengan definisi tersebut, Gross (2014) menyatakan pengertian regulasi emosi sebagai sebuah proses individu membentuk emosinya dan mengetahui bagaimana individu mengalami serta mengekspresikan emosi tersebut. Kemudian Gross dan Thompson (2007) secara bersamaan menambahkan bahwa regulasi emosi merupakan sekumpulan berbagai proses tempat emosi diatur atau dikelola. Regulasi emosi dapat berlangsung baik secara otomatis maupun dikontrol. Selain itu, proses ini dapat terjadi secara disadari atau tidak

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 disadari. Proses regulasi emosi berpengaruh pada satu atau lebih proses yang membangkitkan emosi (Gross & Thompson, 2007). Eisenberg dan Spinrad (dalam Pratisti, 2013) menyatakan bahwa regulasi emosi adalah sebuah proses untuk mengenali, menghambat, menghindari, serta mengatur munculnya perasaan, emosi psikologis, dan perilaku yang berkaitan dengan emosi demi mencapai suatu tujuan tertentu. Regulasi didefinisikan sebagai proses di mana aktivasi dalam satu daerah respons berfungsi untuk mengubah, mentitrasi, atau memodulasi aktivasi di daerah respons lain (Garber & Dodge, 2004). Quirk dan Beer (2006) juga mendefinisikan regulasi emosi sebagai suatu proses untuk mengungkapkan dan mengekspresikan emosi dengan cara serta kondisi yang tepat. Lebih lanjut, Fox (dalam Kostiuk & Gregory, 2002) menyatakan bahwa regulasi emosi adalah kemampuan untuk menanggapi tuntutan pengalaman yang sedang terjadi dengan berbagai emosi melalui cara yang dapat ditoleransi secara sosial serta cukup fleksibel untuk memunculkan reaksi spontan, termasuk kemampuan untuk menunda reaksi spontan yang diperlukan. Regulasi emosi juga dapat dikatakan sebagai upaya individu untuk mampu mengelola dan mengungkapkan emosi yang dapat mempengaruhi individu dalam berperilaku demi mencapai tujuannya (Balter, 2003). Sejalan dengan dua pernyataan tersebut, Champi (dalam Dwityaputri & Sakti, 2015) menyatakan bahwa regulasi emosi dapat diartikan sebagai

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 kemampuan individu untuk tetap berpikir dan berperilaku positif ketika menghadapi tantangan dan tekanan, serta mencegah pemikiran negatif seperti marah atau sedih. Mawardah dan Adiyanti (2014) pun mengungkapkan bahwa regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengungkapkan emosi baik secara lisan maupun tulisan yang dapat meningkatkan kesehatan fisik maupun mental pada saat individu mengalami peristiwa yang dianggap negatif. Berdasarkan beberapa uraian definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengelola dan mengungkapkan emosi yang berasal dari segala peristiwa dengan cara yang positif dan mencegah pemikiran negatif. 3. Aspek-aspek Regulasi Emosi Pengaturan emosi terdiri dari kedua proses intrinsik dan ekstrinsik yang bertanggung jawab untuk belajar mengenali, memantau, menilai, dan memodifikasi reaksi emosional (Thompson, 1994). Berdasarkan teori dari Thompson dan Fox (dalam Kostiuk & Gregory, 2002) serta Garber dan Dodge (2004) yang dipadukan dalam Mawardah dan Adiyanti (2014), dapat diketahui bahwa terdapat tiga aspek yang berkaitan dengan regulasi emosi, seperti a. Pemantauan Aspek ini dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk membuat sebuah keputusan yang pasti tentang langkah apa yang akan dilakukan ketika menghadapi berbagai macam pikiran dan emosi

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 (Garber & Dodge, 2004). Hal ini dilakukan agar individu dapat memantau emosi yang dihadapi dengan lebih jelas (Konstiuk & Gregory, 2002). b. Penilaian Aspek ini dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk memberikan penilaian baik positif maupun negatif mengenai setiap kejadian atau kondisi yang ia alami berdasarkan pengetahuan yang dimiliki individu tersebut (Thompson, dalam Kostiuk & Gregory, 2002). Munculnya penilaian positif dapat menghasilkan pengelolaan emosi yang baik, sehingga individu dapat terhindar dari pengaruh emosi negatif yang dapat membuat individu bertindak negatif juga (Garber & Dodge, 2004). c. Pengubahan Pengubahan merupakan kemampuan individu untuk melakukan perubahan emosi dari hal-hal yang bersifat negatif dan masuk ke dalam diri individu, menjadi sebuah dorongan individu ke hal-hal yang bersifat positif (Thompson, dalam Kostiuk & Gregory, 2002). Dorongan yang ada mengajak individu untuk menerapkan dalam perilaku atas respon yang telah dipilih (Garber & Dodge, 2004). Berdasarkan uraian aspek regulasi emosi tersebut, penelitian ini akan menggunakan ketiga aspek yang telah disampaikan oleh Thompson, yaitu pemantauan, penilaian, dan pengubahan. Ketiga aspek tersebut dapat digunakan untuk mengetahui tingkat regulasi emosi individu.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 4. Dampak Regulasi Emosi Regulasi emosi perlu dilakukan karena beberapa bagian dari otak manusia menginginkan suatu tindakan pada situasi tertentu, sedangkan bagian lainnya menganggap bahwa rangsangan emosional tersebut kurang sesuai dengan situasi yang ada, sehingga membuat individu melakukan hal lain atau tidak melakukan apapun (Gross, 2003). Regulasi emosi bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif dari masalah yang dihadapi dengan cara mengelola pengalaman emosional (Kring, 2010). Goleman (2007) menyatakan bahwa individu yang dapat melakukan regulasi emosi cenderung memiliki hubungan interpersonal yang baik, mampu berikap hati-hati, dapat beradaptasi dan menangani tantangan yang muncul. Selain itu, individu lebih mampu mengendalikan diri dengan mengelola emosi dan impuls yang negatif, serta dapat menangani keadaan yang sebenarnya mampu membuat individu menjadi frustrasi. Makmuroch (2014) mengungkapkan bahwa seseorang yang telah melakukan regulasi emosi dengan baik mampu memahami situasi dan mengubah pikiran atau penilainnya mengenai situasi yang dihadapi secara positif, sehingga memunculkan emosi positif pula. Hal ini juga ditambahkan oleh Goleman (2007), individu yang memiliki kemampuan regulasi emosi cenderung memiliki pandangan yang positif mengenai diri maupun lingkungan sekitarnya.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 C. ATLET SEPAK BOLA Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atlet merupakan olahragawan terkhusus mereka yang mengikuti pertandingan atau perlombaan olahraga dengan mengandalkan kekuatan, ketangkasan dan kecepatan. Sepak bola merupakan permainan beregu di lapangan, dengan menggunakan bola sepak (KBBI). Permainan ini terdiri dari dua kelompok yang berlawanan dengan masing-masing regu terdiri atas sebelas orang. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa atlet sepak bola merupakan olahragawan yang mengikuti pertandingan olahraga dalam sebuah tim kesebelasan di lapangan dengan menggunakan bola sepak. Menurut Sukadiyanto (2005), sepak bola merupakan olahraga yang dalam permainannya memerlukan kontak fisik. Sukadiyanto (2015) menyatakan bahwa olahraga yang bersifat kontak fisik atau badan lebih berpotensi memicu adanya perkelahian antar permaain atau pihak lain yang berkaitan, seperti tim lawan, wasit, atau bahkan penonton. D. MASA REMAJA Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa (Berk, 2012). Hal ini sama artinya dengan masa remaja merupakan masa transisi individu menuju dewasa. Menurut Papalia (2008), usia 11-12 tahun hingga 20-an tahun dikategorikan sebagai perkembangan manusia masa remaja. Lain halnya dengan Santrock yang

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 mengatakan bahwa remaja adalah individu dengan usia 10 hingga 22 tahun (Santrock, 2008). Perbedaan rentang usia yang diungkapkan oleh para ahli menunjukkan bahwa individu dikatakan remaja tidak hanya berdasarkan usia saja, melainkan faktor lain seperti kognitif, sosioemosi, dan lain-lain. Awal masa remaja ditandai dengan pubertas, yaitu adanya berbagai perisiwa biologis yang menjadikan tubuh individu berukuran dewasa dan mengalami kematangan seksual (Berk, 2012). Selain mengalami perkembangan secara biologis, pada usia ini individu juga mengalami perkembangan dalam hal fisik, kognitif, dan sosioemosi (Santrock, 2011). Papalia (2008) mengelompokkan remaja menjadi dua, yaitu remaja awal dengan rentang usia 11 sampai 14 tahun sedangkan remaja akhir memiliki rentang usia 15 sampai 22 tahun. Sejak dahulu, masa remaja dinyatakan sebagai masa badai emosional (Hall, 1904, dalam Santrock, 2007). Namun sesungguhnya tidak setiap remaja selalu berada dalam situasi stres. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masa remaja merupakan masa di mana individu mengalami fluktuasi emosi dengan intensitas yang lebih sering (Rosenblum & Lewis, 2003). Dengan atau tidak adanya provokasi, remaja dapat menjadi sangat marah dengan orangtuanya atau meluapkan perasaan tidak menyenangkan kepada orang lain (Santrock, 2007). Fluktuasi emosi di masa remaja berkaitan dengan variabilitas hormon di masa ini. Lalu pada saat memasuki masa dewasa, terjadi pengurangan fluktuasi emosi karena adanya adaptasi terhadap kadar

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 hormon seiring berjalannya waktu (Rosenblum & Lewis, 2003). Namun, sebuah studi oleh Brooks-Gunn dan Warren (dalam Santrock, 2007) menemukan bahwa faktor sosial memberikan kontribusi lebih besar terhadap emosi remaja dibandingkan faktor-faktor hormonal. Pada dasarnya, baik faktor hormonal maupun faktor sosial sama-sama berkontribusi dalam perubahan emosi di masa remaja. Demikian pula kemampuan anak muda dalam mengelola emosi-emosinya (Saami dkk., 2006, dalam Santrock, 2007). E. DINAMIKA PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA ATLET SEPAK BOLA USIA REMAJA Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang mampu menanggapi sebuah rangsangan atau stimulus. Stimulus yang hadir dapat berasal dari dalam maupun luar diri manusia itu sendiri. Respons atau reaksi yang muncul akibat adanya stimulus dari luar ataupun dalam individu disebut sebagai emosi (Goleman, 2002). Emosi merupakan luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam kurun waktu singkat (KBBI). Emosi dapat berupa reaksi psikologis maupun fisiologis, seperti kegembiraan atau kesedihan yang bersifat subjektif. Walgito (2010) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki emosi berlebihan cenderung kurang dapat menguasai diri dan tidak memperhatikan keadaan sekitar beserta norma yang berlaku. Setiap emosi yang muncul dari dalam diri seseorang mampu

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 mempengaruhi lingkungan sekitar, sehingga diperlukan adanya pengelolaan atau pengaturan emosi (Alibin, 1986). Pengelolaan atau pengaturan emosi ini sering dikenal dengan istilah regulasi emosi. Regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengungkapkan emosi baik secara lisan maupun tulisan untuk meningkatkan kesehatan saat individu mengalami peristiwa yang dianggap negatif (Mawardah & Adiyanti, 2014). Fox (dalam Kostiuk & Gregory, 2002) juga mengungkapkan bahwa regulasi emosi adalah kemampuan untuk menanggapi tuntutan peristiwa yang sedang berlangsung dengan berbagai emosi melalui cara yang dapat ditoleransi secara sosial dan cukup fleksibel untuk memunculkan reaksi spontan, termasuk kemampuan untuk menunda reaksi spontan yang diperlukan. Terdapat tiga aspek yang membentuk regulasi emosi, yaitu pemantuan, penilaian, dan pengubahan (Garber & Dodge, 2004; Thompson dalam Konstiuk & Gregory, 2002). Pemantauan merupakan kemampuan individu untuk membuat sebuah keputusan yang pasti tentang langkah apa yang akan dilakukan ketika menghadapi berbagai macam pikiran dan emosi (Garber & Dodge, 2004). Aspek penilaian yaitu individu memberikan penilaian baik positif maupun negatif mengenai setiap kejadian atau kondisi yang ia alami berdasarkan pengetahuan yang dimiliki individu tersebut (Thompson, dalam Kostiuk & Gregory, 2002). Lalu aspek pengubahan merupakan perubahan emosi dari hal-hal yang bersifat negatif dan masuk ke dalam diri individu, menjadi sebuah

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dorongan individu ke hal-hal yang bersifat positif (Thompson, dalam Kostiuk & Gregory, 2002). Aspek-aspek tersebut dapat membentuk emosi individu menjadi lebih stabil kemudian berdampak positif bagi kesehatan fisik dan psikologisnya, serta interaksinya individu dengan lingkungan menjadi lebih baik. Regulasi emosi diperlukan bagi individu untuk mengatur kinerja masing-masing bagian dari otak yang memiliki perbedaan respon ketika menanggapi rangsangan emosional. Beberapa bagian otak manusia menginginkan respon tertentu, sedangkan bagian lainnya menganggap kurang sesuai atau bahkan tidak perlu direpon (Gross, 2003). Regulasi emosi sendiri memiliki tujuan untuk meminimalkan dampak negatif dari masalah yang dihadapi dengan cara mengatur dan mengolah pengalaman emosional (Kring, 2010). Makmuroch (2014) mengungkapkan bahwa seseorang dengan regulasi emosi yang tinggi mampu memahami situasi dan mengubah pikiran atau penilaiannya mengenai situasi yang dihadapi secara positif, sehingga memunculkan emosi positif pula. Sedangkan seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang rendah akan kesulitan mengelola emosi sehingga sulit mengontrol diri untuk bebas dari emosi negatif (Faridh, 2008). Hall (dalam Papalia, 2007) mengungkapkan bahwa masa remaja dinyatakan sebagai masa yang penuh emosional. Tidak dapat dipungkiri bahwa masa remaja awal merupakan suatu masa di mana fluktuasi emosi berlangsung lebih sering (Rosenblum & Lewis, 2003). Pada saat usia

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 remaja, individu belajar untuk menguasai dan mengatur emosi yang ada dalam diri. Kurniasih (dalam Silaen & Dewi, 2015) menemukan bahwa kemampuan regulasi emosi dapat membuat remaja lebih menerima serta menghargai dirinya. Remaja yang memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan regulasi emosi akan mampu menjaga stabilitas emosinya. Emosi yang cenderung stabil mampu membuat remaja memiliki rasa empati dan memahami perasaan orang lain (Mawardah & Adiyanti, 2014). Hal ini tentu saja membuat remaja mampu mengelola tingkah laku, sehingga dapat menghindari perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma sosial (Mawardah & Adiyanti, 2014). Salah satu perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma sosial adalah perbuatan yang dilakukan untuk menyakiti atau melukai orang lain. Menurut Baron dan Byrne (2005), tindakan individu yang dilakukan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain disebut dengan istilah agresivitas. Taylor, Peplau, dan Sears (2009) juga menyatakan bahwa agresivitas merupakan setiap tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain. Sebagian besar fenomena agresivitas dalam bidang olahraga terjadi pada olahraga yang melibatkan kontak fisik, terutama sepak bola. Good dan Wood (1995) mengungkapkan bahwa atlet pada jenis olahraga kontak fisik lebih menekankan perilaku yang cenderung keras dalam bermain. Agresivitas dalam dunia sepak bola banyak terjadi pada kategori U-19, U-

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 21, dan U-22, yang tergolong dalam masa remaja. Beberapa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa atlet sepak bola remaja dengan kemampuan regulasi emosi rendah cenderung memiliki emosi yang tidak stabil dan berpotensi untuk melakukan tindakan negatif, seperti agresivitas.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 F. SKEMA PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS Regulasi Emosi Tinggi Rendah  Atlet mampu membuat keputusan pasti tentang langkah apa yang akan dilakukan ketika menghadapi berbagai macam situasi  Atlet mampu memberikan penilaian baik positif maupun negatif mengenai setiap kejadian atau kondisi yang dialami berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.  Atlet mampu mengubah emosi dari hal-hal yang bersifat negatif dan masuk ke dalam diri individu, menjadi sebuah dorongan individu ke hal-hal yang bersifat positif.  Atlet kurang mampu membuat keputusan pasti tentang langkah apa yang akan dilakukan ketika menghadapi berbagai macam situasi  Atlet kurang mampu memberikan penilaian baik positif maupun negatif mengenai setiap kejadian atau kondisi yang dialami berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.  Atlet kurang mampu mengubah emosi dari hal-hal yang bersifat negatif dan masuk ke dalam diri individu, menjadi sebuah dorongan individu ke hal-hal yang bersifat positif.  Atlet menanggapi dengan tenang ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan  Atlet mengelola stres atau emosi negatif yang dirasakan  Atlet menahan diri dengan mengelola informasi negatif yang diterimanya  Atlet menghadapi situasi kompetitif dengan tenang dan sportif  Atlet gegabah dan mudah terpicu amarahnya ketika menghadapi situasi tidak menyenangkan  Atlet merasa stres dan diliputi emosi negatif  Atlet merasa ingin melakukan pembalasan saat menerima informasi negatif  Atlet panik dan mudah marah saat menghadapi situasi kompetitif Agresivitas Rendah Agresivitas Tinggi Gambar 1. Skema pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 G. HIPOTESIS PENELITIAN Berdasarkan dinamika antar variabel yang telah dipaparkan sebelumnya, peneliti menarik hipotesis penelitian yaitu regulasi emosi mempengaruhi agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Atlet sepak bola usia remaja dengan kemampuan regulasi emosi tinggi memiliki tingkat agresivitas yang rendah. Begitu pula sebaliknya, atlet sepak bola usia remaja dengan kemampuan regulasi emosi rendah memiliki agresivitas yang tinggi.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Sesuai dengan tujuan dan hipotesis penelitian, penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian dengan jenis kuantitatif menekankan pengukuran variabel-variabel dengan data numerikal atau angka yang diolah dengan metode statistika (Creswell, dalam Supratiknya, 2015). Pada penelitian ini, peneliti ingin melihat pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. B. IDENTIFIKASI VARIABEL Variabel yang diukur dalam penlitian ini adalah: 1. Variabel bebas Variabel bebas merupakan variabel yang dapat menyebabkan dan mempengaruhi hasil (Creswell, 2016). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah regulasi emosi. 2. Variabel tergantung Variabel tergantung merupakan variabel yang bergantung pada variabel bebas dan menjadi akibat atau hasil dari pengaruh variabel bebas (Creswell, 2016). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah agresivitas. 34

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 C. DEFINISI OPERASIONAL Definisi operasional merupakan definisi dari masing-masing variabel yang disampaikan secara praktis serta dapat digunakan untuk memahami hubungan antar variabel (Creswell, 2016). Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu regulasi diri dan agresivitas. 1. Regulasi Emosi Regulasi emosi merupakan kemampuan atlet untuk mengelola dan mengungkapkan emosi yang berasal dari segala peristiwa dengan cara yang positif dan mencegah pemikiran negatif. Regulasi emosi akan diukur menggunakan skala regulasi emosi yang mengacu pada aspekaspek regulasi emosi, yaitu pemantauan, penilaian, dan pengubahan. Dari ketiga aspek tersebut, peneliti dapat mengetahui sejauh mana atlet melakukan regulasi emosi dalam berkompetisi. Semakin tinggi skor total yang diperoleh atlet sepak bola dari skala, maka semakin baik pula regulasi emosi yang dilakukan oleh atlet sepak bola. 2. Agresivitas Agresivitas merupakan tindakan negatif baik secara fisik maupun verbal, dari seorang atlet kepada pihak lain, seperti lawan, wasit, atau penonton dengan tujuan untuk menyakiti atau merugikan, sehingga pihak tersebut berusaha untuk menghindarinya. Agresivitas akan diukur menggunakan skala agresivitas yang disusun oleh peneliti berdasarkan keempat aspek-aspek agresivitas, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan. Semakin tinggi skor yang

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 diperoleh atlet sepak bola dari skala, maka semakin tinggi agresivitas yang dilakukan. D. SUBJEK PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini adalah atlet sepak bola yang berusia remaja, yaitu 11 hingga 22 tahun. Dalam penelitian ini, subjek ditentukan dengan cara nonprobability sampling karena tidak setiap individu dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel (Supratiknya, 2014). Penentuan subjek jenis ini dapat juga disebut convenience sample, yang berarti anggota sampel ditentukan atas dasar aksesnya yang mudah untuk dijangkau oleh peneliti (Supratiknya, 2014). E. METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyebaran skala. Metode penskalaan yang digunakan adalah skala Likert. Dalam metode penskalaan ini, isi pernyataan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu favorable dan unfavorable (Supratiknya, 2014). Kemudian subjek diminta untuk mengungkapkan kesetujuan atau ketidaksetujuannya dalam sebuah kontinum (Supratiknya, 2014). Penelitian ini akan menggunakan modifikasi skala Likert yang dinyatakan Anderson (dalam Supratiknya, 2014) dalam hal opsi jawaban. Peneliti akan membuat opsi jawaban genap untuk menghindari kecenderungan memilih jawaban tidak tahu atau netral oleh subjek yang mengerjakan skala kurang serius atau

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 memiliki keragu-raguan dalam mengambil keputusan, sehingga dapat mengancam validitas item (Supratiknya, 2014). Kemudian, peneliti juga akan menggunakan opsi jawaban sejumlah 6, karena opsi jawaban dalam jumlah banyak (>5) dapat meningkatkan konsistensi internal skala. Selain itu, subjek dalam penelitian ini merupakan remaja yang menempuh pendidikan, sedangkan jumlah opsi jawaban sedikit (<5) lebih sesuai untuk subjek anak atau orang dewasa yang kurang berpendidikan (Supratiknya, 2014). Namun peneliti tidak menggunakan opsi jawaban terlalu banyak (lebih dari 6) agar tidak membuat subjek berpikir terlalu lama dalam menentukan jawaban. Pemberian skor pada pernyataan favorable dan unfavorable dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 1 Pemberian nilai skor Skala Likert Skor Item Favorable Unfavorable Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Agak Setuju (AS) 6 5 4 Agak Tidak Setuju (ATS) 3 1 2 3 4 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5 6 Tidak Setuju (TS) Penelitian ini menggunakan dua skala, yaitu skala regulasi emosi dan skala agresivitas. Skala dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut: 1. Skala Regulasi Emosi Skala regulasi emosi disusun berdasarkan aspek dari regulasi emosi yang diungkapkan oleh Thompson (dalam Garber dan Dodge, 2004;

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Kostiuk dan Gregory, 2002), yaitu: pemantauan, penilaian, dan pengubahan. Tabel. 2 Indikator Skala Regulasi Emosi Aspek Pemantauan Penilaian Pengubahan Indikator Mampu menentukan tindakan yang tepat untuk menghadapi segala bentuk emosi dan pikiran, mengetahui konsekuensi dari setiap tindakan Mampu menilai setiap kejadian atau situasi baik secara positif maupun negatif. Mampu mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Tabel. 3 Distribusi Item Skala Regulasi Emosi Sebelum Try Out Aspek Pemantauan Penilaian Pengubahan Total Item Favorable 4, 1, 15, 26, 30, 11 23, 2, 20, 31, 5, 35 10, 34, 14, 19, 6, 27 18 Item Unfavorable 24, 16, 32, 7, 12, 29 36, 21, 8, 13, 25, 17 28, 18, 33, 3, 22, 9 18 Jumlah Presentase 12 33,33% 12 33,33% 12 33,33% 36 100% 2. Skala Agresivitas Skala agresivitas disusun berdasarkan aspek dari regulasi emosi yang juga digunakan oleh Buss dan Perry (1992) untuk menyusun kuesioner mengenai agresivitas. Aspek-aspek tersebut adalah agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Tabel. 4 Indikator Skala Agresivitas Aspek Agresi fisik Agresi verbal Kemarahan Permusuhan Indikator Memukul, menendang, mendorong, menarik, dan bentuk serangan fisik yang terlihat Menghina, menyindiran, memaki, berkata kasar, berkata kotor Merasa benci dengan orang lain atau suatu hal, yang berasal dari perasaan kecewa, gagal, atau dikhianati Ingin menyakiti dan melawan orang atau hal yang tidak disukai, cemburu, iri, curiga Tabel. 5 Distribusi Item Skala Agresivitas Sebelum Try Out Aspek Agresi Fisik Agresi Verbal Kemarahan Permusuhan Total Item Favorable 7, 11, 27, 48, 47, 19 5, 12, 29, 41, 16, 37 33, 14, 31, 17, 45, 3 24, 8, 38, 22, 32, 46 24 Item Unfavorable 30, 34, 1, 25, 21, 43 23, 42, 2, 26, 35, 13 10, 39, 44, 6, 20, 28 4, 36, 15, 40, 9, 18 24 Jumlah Presentase 12 25% 12 25% 12 25% 12 25% 48 100% F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS 1. Validitas Validitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana alat tes dapat mengukur atribut psikologis yang hendak diukur (Supratiknya, 2014).Validitas alat ukur sendiri dapat dikatakan tinggi apabila memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan penelitian. Supratiknya (2014) juga menyatakan bahwa validitas akat ukur dapat melihat kesesuaian isi dari alat ukur dengan konstruk yang diukur, dengan analisis logis.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Pada penelitian ini, uji validitas menggunakan jenis validitas isi, yaitu mengacu pada sejauh mana unsur instrumen asesmen relevan dengan konstruk sasaran (Supratiknya, 2014). Penilaian terkait isi dapat berupa penilaian pakar atau ahli terhadap kesesuaian antara bagian-bagian tes dan konstruk yang diukur (Supratiknya, 2014). Ahli yang terlibat dalam skala agresivitas adalah tiga orang dosen psikologi dan 10 orang yang memiliki kriteria sama dengan subjek. Sedangkan ahli dalam skala regulasi emosi adalah tiga orang dosen psikologi dan 10 orang yang memiliki kriteria sama dengan subjek. Pemilihan 10 orang ini dilakukan karena dalam beberapa item terdapat istilah-istilah yang secara khusus digunakan dalam dunia persepakbolaan. Maka dari itu, peneliti membutuhkan penilaian dari pihak yang menekuni bidang tersebut. Hasil indeks validitas isi item (IVI-I) diperoleh dari perhitungan jumlah nilai yang diberikan oleh professional judgement dibagi dengan banyaknya professional judgement yang terlibat. Item yang digunakan dalam penelitian ini adalah item dengan nilai IVI-I lebih dari atau sama dengan 0,78 (IVI-I ≥ 0,78) (Supratiknya, 2016). Selain menghitung IVI-I, perlu dilakukan perhitungan Indeks Validitas Isi Skala (IVI-S). Polit dan Beck (dalam Supratiknya, 2016) mengungkapkan bahwa suatu skala dikatakan baik jika memiliki skor IVI-S lebih dari atau sama dengan 0,90 (IVI-I ≥ 0,90). Nilai ini

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 diperoleh dari perhitungan jumlah IVI-I dari masing-masing item dibagi dengan jumlah total item. Berdasarkan perhitungan IVI-I dari item pada skala agresivitas berada pada rentang 0,80 – 1,00 untuk penilaian peer judgement dan 1,00 untuk penilaian expert judgement. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh item lolos seleksi. Selanjutnya dilakukan perhitungan IVI-S dan diperoleh hasl 0,9625 untuk penilaian peer judgement dan 1,00 untuk penilaian expert judgement. Hasil ini menunjukkan bahwa skala yang digunakan dalam penelitian ini baik. Pada item dalam skala regulasi emosi ditemukan hasil perhitungan IVI-I berada pada rentang 0,80 – 1,00 untuk penilaian peer judgement dan 1,00 untuk penilaian expert judgement. Selanjutnya dilakukan perhitungan IVI-S dan diperoleh hasl 0,969 untuk penilaian peer judgement dan 1,00 untuk penilaian expert judgement. Hasil ini menunjukkan bahwa skala yang digunakan dalam penelitian ini juga baik. 2. Seleksi Item Seleksi item dilakukan dengan uji coba skala (try out) pada kedua skala penelitian. Penelitian ini menggunakan hasil uji daya beda item untuk melihat kualitas item dalam skala berdasarkan perolehan skor korelasi dari item total dengan batasan rix ≥ 0,30 (Azwar, 2011). Item dengan daya beda yang tinggi memiliki skor rix minimal 0,30, sedangkan item dengan daya beda berada pada skor rix < 0,30

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 tergolong rendah. Uji coba dilaksanakan pada hari Minggu, 4 November 2018 dengan jumlah responden 60 orang. Berikut adalah hasil seleksi item pada kedua variabel. a. Skala Regulasi Emosi Pada skala regulasi emosi, terdapat beberapa item dengan rix < 0,30 sehingga peneliti menggugurkan item tersebut. Tabel. 6 Distribusi Item Skala Regulasi Emosi Setelah Seleksi Item Aspek Pemantauan Penilaian Pengubahan Item Favorable *4, 1, 15, *26, *30, *11 *23, *2, 20, 31, 5, *35 *10, *34, 14, 19, *6, *27 Total * : item yang gugur Item Unfavorable 24, 16, 32, 7, 12, 29 36, 21, *8, 13, 25, 17 28, 18, 33, 3, 22, 9 Jumlah Presentase 8 33,33% 8 33,33% 8 33,33% 24 100% b. Skala Agresivitas Pada skala agresivitas, terdapat beberapa item dengan rix < 0,30 sehingga peneliti menggugurkan item tersebut. Peneliti juga menggugurkan item pada aspek agresi fisik, agresi verbal, dan permusuhan. Hal ini dilakukan agar komposisi item setiap aspek pada skala regulasi emosi seimbang. Menurut Widhiarso (2011) jika tidak terdapat teori atau penelitian yang menjelaskan bahwa terdapat aspek yang dirasa lebih penting dibandingkan aspek lainnya, maka lebih baik jumlah item dalam aspek seimbang.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Tabel. 7 Distribusi Item Skala Agresivitas Setelah Seleksi Item Aspek Agresi Fisik Agresi Verbal Item Favorable 7, 11, 27, 48, 47, 19 5, 12, 29, 41, *16, 37 Kemarahan 33, 14, 31, 17, 45, 3 Permusuhan 24, 8, (38), 22, 32, 46 Total *: item yang gugur Item Jumlah Presentase Unfavorable *30, *34, (1), 25% 6 *25, *21, *43 (23), *42, 2, 25% 6 *26, *35, *13 *10, *39, *44, *6, *20, 25% 6 *28 *4, (36), *15, 25% 6 *40, (9), 18 24 100% ( ) : item yang sengaja digugurkan 3. Reliabilitas Reliabilitas merupakan konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesan dilakukan kembali terhadap populasi atau kelompok (Supratiknya, 2014). Alat ukur yang baik menurut Supratiknya (2014) adalah alat ukur yang memiliki reliabilitas tinggi. Pada penelitian ini, reliabilitas dilihat dari koefisien Alpha Cronbach dengan kriteria tes yang baik memiliki skor ≥ 0,70 (Supratiknya, 2014). Jika koefisien berada pada skor < 0,70 dapat dikatakan kurang memadai karena inkonsistensi alat ukur dianggap besar, sehingga menjadi meragukan (Supratiknya, 2014). a. Skala Regulasi Emosi Setelah dilakukan seleksi item, dapat diketahui bahwa koefisien Alpha’s Cronbach pada skala regulasi emosi sebesar α = 0,888.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Nilai tersebut menunjukkan bahwa skala regulasi emosi secara keseluruhan memiliki reliabilitas yang tinggi dan memuaskan. b. Skala Agresivitas Setelah dilakukan seleksi item, dapat diketahui bahwa koefisien Alpha’s Cronbach pada skala regulasi emosi sebesar α = 0,933. Nilai tersebut menunjukkan bahwa skala regulasi emosi secara keseluruhan memiliki reliabilitas yang tinggi dan sangat memuaskan. G. METODE ANALISIS DATA 1. Uji Asumsi Sebelum dilakukan analisis regresi, ada beberapa pengujian yang harus dijalankan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menguji kelayakan data agar dapat dilakukan uji hipotesis. a. Uji Normalitas Residu Uji normalitas dilakukan untuk menentukan apakah sebaran data yang telah dikumpulkan terdistribusi secara normal (Santoso, 2010). Pada penelitian ini, yang akan diuji adalah normalitas residu atau errornya karena dalam pengujian hipotesis nol dari regresi yang dibutuhkan adalah normalits sebaran residu atau error (Santoso, 2010). Uji normalitas residu dilakukan dengan metode Kolmogorv-Smirnov (K-S). Data dapat dikatakan terdistribusi normal jika taraf signifikansi p > 0,05.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 b. Uji Linearitas Uji linearitas merupakan uji asumsi yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel yang hendak dianalisis mengikuti garis lurus (linear) atau tidak (Santoso, 2010). Hal ini berarti bahwa peningkatan atau penurunan kuantitas suatu variabel akan diikuti secara linear oleh variabel lainnya. Variabel-variabel tersebut dapat dikatakan memiliki hubungan yang linear jika hasilnya menunjukkan p < 0,05. c. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas uji yang menilai ketidaksamaan varians dari residual suatu pengematan ke pengamatan yang lain. Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui adanya penyimpangan dari syarat-syarat asumsi pada regresi linear, yang mana dalam model regresi harus memenuhi syarat tidak adanya heteroskedastisitas atau data dapat disebut homoskedastisitas. Menurut Santoso (2010), homoskedastisitas berarti varians dari residu untuk setiap nilai dari variabel independen bersifat konstan. Data dikatakan tidak mengalami heteroskedastisitas jika nilai signifikansinya > 0,05. 2. Uji Hipotesis Pada penelitian ini, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan metode statistik regresi linear sederhana dengan menggunakan SPSS

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 for windows versi 21. Menurut Santoso (2010), regresi linear sederhana digunakan untuk memprediksi besarnya skor variabel dependen berdasarkan besarnya skor variabel independennya.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6 November 2018 sampai dengan 11 November 2018. Peneliti melakukan pengambilan data dengan membagikan kedua skala kepada subjek atlet sepak bola remaja berusia 11-22 tahun. Pengumpulan data menggunakan skala yang didistribusikan pada saat atlet selesai berlatih atau bertanding. Total jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 122 atlet. B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini adalah atlet sepak bola yang beusia 11 tahun hingga 22 tahun. Sejumlah 122 subjek mengisi skala dengan deskripsi sebagai berikut. Tabel. 8 Deskripsi Data Berdasarkan Usia Usia 11-14 15-22 Total Frekuensi 91 31 122 Presentase 74,59% 25,41 100% Tabel. 9 Deskripsi Data Berdasarkan Jenis Kelamin Usia Laki-laki Perempuan Total Frekuensi 92 30 122 47 Presentase 75,4% 24,6% 100%

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Berdasarkan data tabel 8 dan 9 mengenai deskripsi subjek penelitian, dapat diketahui bahwa subjek penelitian ini mayoritas adalah remaja awal yang berusia 11 hingga 14 tahun sebesar 74,59%. Kemudian mayoritas subjek berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 75,4%. C. DESKRIPSI DATA PENELITIAN Deskripsi data penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran tingkat regulasi emosi dan tingkat agresivitas pada subjek. Pengukuran ini dilakukan dengan cara melihat perbandingan antara mean teoretis dan mean empiris. Mean empiris merupakan nilai rata-rata dari skor yang dimiliki oleh subjek penelitian menggunakan SPSS for Windows versi 21. Sedangkan mean teoretis diperoleh dari hasil perhitungan berdasarkan skor terendah dan skor tertinggi yang dapat diraih dalam sebuah skala, yang dirumuskan sebagai berikut: Dari hasil perhitungan meam empiris dan mean teoretis kemudian dilakukan uji one sample t-test menggunakan SPSS for Windows versi 21 yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikasn antara meam empiris dan mean teoretis. Berikut merupakan hasil perbandingan antara meam empiris dan mean teoretis dari penelitian:

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan besaran signifikansi mean empiris dan mean teoretis 0,000 (p<0,05) pada variabel regulasi emosi dan agresivitas. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empiris dan mean teoretis. Tabel. 10 Deskripsi Statistik Data Penelitian N RE AGR 122 122 Min 74 31 Empiris Max Mean 132 103,34 99 61,55 SD 11,688 15,226 Teoretis Min Max Mean 24 144 84 24 144 84 Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa variabel regulasi emosi memiiki mean empiris (103,34) yang lebih besar dari mean teoretisnya (84). Hasil ini menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki kemampuan regulasi emosi yang cenderung tinggi atau positif. Sedangkan pada variabel agresivitas dapat diketahui bahwa mean empiris (61,55) lebih rendah dari pada mean teoretis (84). Hal ini menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat agresivitas yang cenderung rendah atau negatif. D. ANALISIS DATA PENELITIAN 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Residu Uji normalitas residu merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah nilai residual data penelitian tergolong dalam

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 distribusi normal (Santoso,2010). Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan SPSS for Windows versi 21. Data dikatakan memiliki sebaran residual normal jika nilai taraf signifikansinya lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) variabel memenuhi syarat uji normalitas. Nilai probabilitas residu (p) variabel sebesar 0,200. hal ini menunjukkan bahwa sebaran data dalam penelitian ini berdistribusi normal karena p > 0,05. b. Uji Linearitas Uji linearitas adalah uji asumsi yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang linear antara variabel bebas dengan variabel terikat. Penelitian ini menggunakan metode test for linearity dengan bantuan SPSS for Windows versi 21. Asumsi linearitas dapat dikatakan terpenuhi jika memiliki nilai signifikanasi alpha (α) < 0,05 (Santoso, 2010). Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat dilihat bahwa nilai Sig. variabel memenuhi syarat uji linearitas. Nilai signifikansi (α) variabel regulasi emosi dan agresivitas sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antar variabel dalam penelitian ini secara signifikan bersifat linear karena α < 0,05.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 c. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas ialah uji asumsi yang digunakan untuk mengetahui variansi nilai residual (error) pada variabel prediktor. Dalam data penelitian, penyebaran setiap titik pada variabel prediktor harus memiliki varians yang ckup konstan sehingga peningkatan atau penurunan nilai residu membentuk suatu pola tertentu dan tidak terjadi penyimpangan. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan metode statistik uji Glejser menggunakan SPSS for Windows versi 21. Asumsi heteroskedastisitas dapat dikatakan terpenuhi jika memenuhi nilai signifikansi (p) > 0,05 (Priyatno, 2014). Hal ini dapat diartikan bahwa variabel tersebut memiliki varians yang homokedastisitas. Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diketahui bahwa setiap variabel memenuhi syarat uji heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi (p) variabel regulasi emosi dengan variabel agresivitas yang memiliki nilai sebesar 0,078. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa variansi residu setiap variabel terikat dalam penelitian ini memiliki varians yang konstan atau dapat dikatakan tidak terindikasi heteroskedastisitas, karena nilai signifikansi (p) > 0,05.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 2. Uji Hipotesis Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear sederhana untuk pengujian hipotesis. Sebelumnya, peneliti telah melakukan uji asumsi untuk melihat apakah data penelitian ini parametrik dan memenuhi syarat untuk diolah menggunakan metode analisis regresi. Berdasarkan uji asumsi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa data yang dihasilkan telah memenuhi syarat uji asumsi. Uji asumsi normalitas menunjukkan bahwa sebaran data memiliki nilai distribusi residual yang normal, sehingga data penelitian ini dapat dikatakan berdistribusi normal. Selain itu, uji linearitas menunjukkan bahwa antar variabel dalam penelitian ini memiliki hubungan yang linear. Hasil uji asumsi juga menunjukkan bahwa varian residu pengamatan data satu ke pengamatan data lain cukup konstan, yang artinya data penelitian ini tidak terindikasi heteroskedastisitas. Oleh karena itu, data dalam penelitian ini telah memenuhi syarat untuk diolah menggunakan SPSS for Windows versi 21. Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diketahui bahwa persamaan regresi yang muncul adalah Y = 122,445 + (- 0,589) X, di mana Y merupakan variabel agresivitas dan X merupakan variabel regulasi emosi. Angka pengaruh antara kedua variabel ini dapat dilihat dari standardized coefficients (β) sebesar -0,452 dengan nilai signifikansi sebesar p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa variabel regulasi emosi memiliki pengaruh yang negatif terhadap agresivitas. Hal ini mengindikasikan bahwa atlet

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 sepak bola usia remaja yang memiliki kemampuan regulasi emosi tinggi cenderung memiliki agresivitas rendah. Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diketahui bahwa R Square menunjukkan nilai sebesar 0,205 atau 20,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel regulasi emosi memiliki pengaruh kontribusi sebesar 20,5% terhadap variabel agresivitas. Sedangkan 79,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. E. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh negatif dari regulasi emosi terhadap agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi uji regresi dari variabel regulasi emosi terhadap variabel agresivitas sebesar 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa variabel regulasi emosi memiliki pengaruh terhadap variabel agresivitas dengan nilai koefisien determinasi sebesar 20,5%. Data penelitian ini menunjukkan koefisien regresi sebesar -0,589, yang berarti bahwa setiap penambahan satu nilai regulasi emosi akan mempengaruhi penurunan agresivitas sebesar 0,589 (58,9%). Sebaliknya, setiap penurunan satu nilai regulasi emosi akan mempengaruhi peningkatan agresivitas sebesar 0,589 (58,9%). Hasil tersebut sesuai dengan beberapa penelitian lain mengenai regulasi emosi dan agresivitas,

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 yang menemukan bahwa regulasi emosi berhubungan secara negatif dengan agresivitas. Kemampuan regulasi emosi mampu mengurangi perilaku agresi, dan rendahnya kemampuan regulasi emosi mampu meningkatkan agresivitas (Helmsen, Koglin, & Petermann, 2012; Sullivan, 2010). Hasil penelitian ini menemukan bahwa atlet dengan kemampuan tinggi dalam melakukan regulasi emosi akan mampu menjaga stabilitas emosinya sehingga dapat bermain dengan sportif. Hal ini dapat dilihat dari item-item dalam skala penelitian yang menunjukkan bahwa semakin rendah agresivitas yang dilakukan oleh atlet, maka semakin tinggi sportivitas atlet tersebut. Selain itu, atlet yang mampu melakukan regulasi emosi tidak mudah terpancing amarahnya pada saat bertanding. Atlet cenderung tidak memaki, berkelahi, menjegal untuk merebut bola, dan perilaku lain yang dapat menyakiti orang lain. Hasil tersebut memperkuat apa yang telah diungkapkan Makmuroch (2014) bahwa seseorang dengan regulasi emosi yang tinggi mampu memahami situasi dan mengubah pikiran atau penilaiannya mengenai situasi yang dihadapi secara positif, sehingga memunculkan emosi positif pula. Atlet sepak bola remaja dengan regulasi emosi tinggi mampu membuat keputusan pasti tentang langkah apa yang akan dilakukan ketika menghadapi berbagai macam situasi. Atlet mampu bangkit dan segera menentukan langkah atau strategi baru yang akan dilakukan ketika mengalami kegagalan saat bertanding. Hal ini membuat atlet lebih bisa

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 tenang dalam menanggapi situasi yang tidak menyenangkan, sehingga tidak memicu munculnya agresivitas. Hasil tersebut selaras dengan pernyataan Thompson (dalam Kostiuk dan Gregory, 2002) bahwa individu yang dapat menentukan langkah untuk menghadapi berbagai bentuk emosi, akan lebih mampu mengatasi situasi yang dihadapi. Atlet dengan regulasi emosi tinggi juga mampu memberikan penilaian baik secara positif maupun negatif mengenai setiap kejadian atau kondisi yang dialami berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat memahami bahwa ketika mereka ditegur oleh pelatih hal itu berarti pelatih menginginkan performa mereka yang lebih baik. Hal ini menyebabkan atlet dapat menghadapi situasi kompetitif dengan tenang dan sportif. Thompson (2007) juga menyatakan bahwa seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang rendah akan kesulitan mengelola emosi sehingga sulit mengontrol diri untuk bebas dari emosi negatif, seperti kemarahan. Selain itu, atlet yang memiliki regulasi emosi tinggi mampu mengubah emosi dari hal-hal yang bersifat negatif dan masuk ke dalam diri individu, menjadi sebuah dorongan individu ke hal-hal yang bersifat positif. Atlet mampu mengubah teguran atau komentar negatif dari pelatih menjadi motivasi untuk bermain lebih baik. Atlet pun bisa mengubah perasaan takut menjadi percaya diri ketika akan menghadapi sebuah kompetisi. Hal ini membuat atlet lebih mampu mengelola stres atau emosi negatif yang dirasakan. Atlet juga dapat menahan diri dengan mengelola

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 informasi negatif yang diterimanya, sehingga tidak menimbulkan agresivitas. Hasil tersebut selaras dengan pernyataan Albin (1986) yang mengungkapkan bahwa dengan melakukan regulasi emosi, remaja dapat membuat emosinya lebih stabil. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, dapat diketahui bahwa rendahnya agresivitas seorang atlet yang berusia remaja terhadap lawan main, wasit, pendukung atau penonton, maupun teman satu tim sendiri dapat dipengaruhi oleh tingginya regulasi emosi atlet itu sendiri.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji hipotesis dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa uji hipotesis penelitian diterima. Hal ini berarti variabel regulasi emosi berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel agresivitas pada atlet sepak bola usia remaja ( β = -0,452; p = 0,000; = 0,205 ). Kemudian hasil koefisien regresi yang menunjukkan sebesar nilai -0,589 mengindikasikan bahwa setiap penambahan satu nilai regulasi emosi akan mempengaruhi penurunan agresivitas sebesar 0,589. Sebaliknya, setiap penurunan satu nilai regulasi emosi akan mempengaruhi peningkatan agresivitas sebesar 0,589. Nilai yang negatif tersebut juga menunjukkan bahwa pengaruh yang terjadi antara variabel regulasi emosi terhadap variabel agresivitas memiliki pengaruh negatif, sehingga semakin tinggi nilai regulasi emosi maka semakin rendah nilai agresivitas. B. KETERBATASAN PENELITIAN Meskipun penelitian sudah terlaksana dengan lancar dan baik, namun peneliti menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini. Pertama, pengukuran regulasi emosi dengan cara kognitif dapat memunculkan adanya bias dan skala dalam bentuk self-report juga 57

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 memungkinkan adanya pemberian informasi yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kedua, terdapat beberapa item yang overlap yaitu item favorable dari regulasi emosi merupakan item unfavorable dari agresivitas. Hal ini menyebabkan kecurigaan bahwa adanya pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat karena item-item tersebut saling terkait. C. SARAN Berdasarkan proses penelitian, pembahasan, serta kesimpulan yang telah diambil, peneliti memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna bagi pelatih sepak bola, atlet sepak bola, dan bagi peneliti selanjutnya. Berikut adalah saran yang dapat diberikan: 1. Bagi Pelatih Sepak Bola Remaja Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa regulasi emosi secara signifikan berpengaruh negatif terhadap agresivitas. Hal ini mengindikasikan bahwa atlet sepak bola dengan kemampuan regulasi emosi tinggi cenderung lebih jarang melakukan agresivitas. Atlet yang jarang melakukan agresivitas akan bermain sepak bola dengan lebih sportif, sehingga meminimalisasi adanya peringatan pelanggaran atau kartu dari wasit. Berdasarkan penelitian ini, dapat dilihat bahwa atlet sudah memiliki regulasi emosi yang tinggi. Maka dari itu pelatih dapat terus mempertahankan regulasi emosi anak didik mereka agar tidak menurun. Bila perlu ditingkatkan, pelatih dapat mengadakan pelatihan

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 regulasi emosi untuk para atlet agar mereka terbiasa bermain dengan emosi yang stabil. Pelatih juga dapat mendatangkan psikolog olahraga untuk mendampingi proses pelatihan regulasi emosi. 2. Bagi Atlet Sepak Bola Remaja Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa atlet sepak bola usia remaja cenderung membutuhkan emosi yang stabil untuk meminimalisasi agresivitas. Hal ini mengindikasikan bahwa atlet sepak bola yang berusia remaja perlu kemampuan untuk mengelola emosinya sendiri dengan baik. Berdasarkan penelitian ini, atlet diharapkan mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan kemampuan dalam melakukan regulasi emosi agar tidak mengalami penurunan. Atlet juga perlu melakukan relaksasi dan berpikir positif agar stamina atlet tetap terjaga. Selain itu, atlet sendiri perlu memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi munculnya agresivitas, seperti adanya serangan dari lawan, frustasi, ekspektasi pembalasan, serta situasi kompetitif. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode yang implisit sehingga subjek tidak mengetahui jika mereka sedang diukur, misalnya dengan menggunakan alat yang dapat mengukur emosi seseorang. Alat ini mampu menjadikan hasil penelitian lebih akurat karena subjek tidak dapat melakukan faking. Selain

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 itu, peneliti selanjutnya juga dapat menggunakan metode eksperimen. Dengan metode ini, peneliti juga dapat meminimalisasi faking serta mengontrol pengaruh faktor-faktor lain yang tidak ingin diteliti.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Daftar Pustaka Ahmadi, S. S., Besharat, M. A., Azizi, K., & Laijani, R. (2011). The relationship between dimensions of anger aand aggression in contact and non- contact sports. Procedia-Social and Behavior Sciences, 30, 247-251. doi: 10.1016/j.sbspro.2011.10.049 Albin, R. S. (1986). Emosi bagaimana Mengarahkannya. Yogyakarta: Kanisius mengenal, menerima, dan. Anderson, C. A., and Bushman, B. J. (2002). Annual review of psychology: Human aggression, 53, 27-51. Azwar, S. (1998). Metode penelitian (Edisi 1). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2011). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Brown, P., and Schuster, I. (1986). Culture and aggression. anthropological quarterly, 59(4), 155-159; 200-204. Retrieved from http://jstor.org/stable/331732 Buckholdt, K. E., Parra, G. R., & Jobe-Shields, L. (2009). Emotion regulation as a mediator of the relation between emotion socialization and deliberate selfharm. American Journal of Orthopsychiatry, 79(4), 482-490. Butler, E. A., Lee, T. L., and Gross, J. J. (2007). Emotion regulation and culture: Are the social consequences of suppression culture-specific. Emotion, 7(1), 30-48. doi: 10.1047/1528-3542.7.1.30 Buss, A. H., and Perry, M. (1992). The aggression questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology, 63(3), 452-459. Calkins, S. D. (2010). Commentary: Conceptual and methodological challenges to the study of emotion regulation and psychopathology. Journal Psychopathology Behavior Assess, 32, 92-95. doi: 10.1007/s10862-009-91696 Chambers, R., Gullone, E., & Allen, N. B. (2009). Clinical psychology review. Elsevier, 29, 560-572. doi: 10.1016/j.cpr.2009.06.005 Chaplin, J. P. (2011). Kamus lengkap psikologi.(cetakan ke-15). (Alih Bahasa Kartini Kartono). Jakarta: Rajawali Pers. Christian, A. (2017, 22 Oktober). Pemain bali united u-19 cedera leher karena dipukul lawan. Bolakompas.com. Diunduh dari

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 https://bola.kompas.com/read/2017/10/22/12271778/pemain-bali-united-u19-cedera-leher-karena-dipukul-lawan Creswell, J. W. (2014). Research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. California: SAGE Publications, Inc. David-Ferdon, C., and Herts, M. F. (2009). The relation of locus of control, anger, and impulsivity to boys’ aggressive behavior. Behavioral Disoder, 33(2), 108-119. Doi: 10.1080/00221329909595376 Dayakisni, T. dan Hudaniah. 2009. Psikologi Sosial (Edisi Keempat). Malang: UMM Press. Deming, A. M., and Lockman, J. E. (2008). The relation of locus of control, anger, and impulsivity to boys' aggressive behavior. Behavioral Disorder, 33(2), 108-119. doi: 10.1080/00221329909595376 Denson, T. F., DeWall, C. N., & Finkel, E. J. (2012). Self-Control and Aggression. Psychological Science, 21(1), 20-25. doi: 10.1177/0963721411429451 DeWall, C. N., Anderson, C. A., & Bushman, B. J. (2011). The general aggression model: Theoretical extensions to violence. Psychology of Violence, 1(3), 245-258. doi: 10.1037/a0023842 DeWall, C. N., Baumeister, R. F., Stillman, T. F., & Gailliot, M. T. (2007). Violence restrained: Effects of self-regulation and its depletion on aggression. Journal of Experimental Social Psychology, 43, 62-76. doi: 10.1016/j.jesp.2005.12.005 DeWall, C. N., Finkel, E. J., & Denson, T. F. (2011). Self-control inhibits aggression. Social and Personality Compass, 5(7), 458-472. doi: 10.1111/j.1751-9004.2011.00363.x Dini dan Indrijati. (2014). Hubungan antara kesepian dengan perilaku agresif pada anak didik di lembaga permasyarakatan anak blitar. Jurnal Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga. 3(3). 30-36. Donahue, E. G., Rip, B., & Vallerand, R. J. (2009). When winning is everything; On passion, identify, and aggression in sport. Psychology of Sport and Exercise, 526-534. doi: 10.1016/j.psychsport.2009/02.002 Dwityaputri. Y. K., dan Sakti. H. (2015). Hubungan antara regulasi emosi dengan forgiveness pada siswa di SMA Islam Cikal Harapan BSD-Tangerang Selatan. Jurnal Empati, 4(2), 20-25.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Firdaus, M. T., Muhari, H., Christiana, E., & Pratiwi, T. I. (2013). Faktor-faktor penyebab perilaku agresif pada siswa di SMP kelurahan kedung asem Surabaya. Jurnal BK Unesa, 2(1), 68-78. Fromm, Erich. (2008). Akar kekerasan: Analisis sosio-psikologis atas watak manusia, terjemahan Imam Muttaqin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Geen, R. G. (2001). Human aggression (2nd edition). Buckingham: Library of Congress Cataloging in-Publication Data. Ghozali, I. (2013). Aplikasi analisis multivariate dengan program ibm spss 21 (Ed. Ke-7). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Glenn, A. L., & Raine, A. (2009). Psychopathy and instrumental aggression: Evolutionary, neurobiological, and legal perspectives. International Journal of Law and Psychiatry, 32(4), 253-258. doi: 10.1016/j.ijlp.2009.04.002 Good, G. E., and Wood, P. K. (1995). Male gender role conflict, depression, and help seeking: Do college men face double jeopardy? Journal of Conseling and Development, 74, 70-75. Gross, J. J., and Barrett, L. F. (2011). Emotion generation and emotion regulation: One of two depends on yout pointof view. Emotion Review, 3(8),7-16. doi: 10.1177/1754073910380974 Gross, J. J., and John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes: Implications for affect, relationships, and well- being. Journal of Personality and Social Psychology. 85(2), 348–362. Gross, J. J., and Thompson, R. A. (2007). Emotion regulation: Conceptual foundations. Dalam James J. Gross (Ed.), Handbook of emotion regulation. New York, USA: The Guilford Press. Gultom. (2014, 5 Agustus). Sesama pemain persebaya saling adu jotos di sesi latih tanding. Tribunnews.com. Diunduh dari. http://jabar.tribunnews.com/2014/08/05/sesama-pemain-persebaya-salingadu-jotos-di-sesi-latih-tanding Gunarsa, Singgih. (1995). Faktor keberhasilan dan kegagalan. Jakarta: Gema Olahraga Helmsen, J., Koglin, U., & Petermann, F. (2012). Emotion regulation and aggressive behavior in preshoolers: The mediating role of social information procession. Child Psychiatry Human Development,43:87-101. 10.1007/s10578-011-0252-3.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Hidayat, K., Bashori, K., & Dwiasri, O. M. (2016). Psikologi sosial: Aku, kami, dan kita. Jakarta: Erlangga. Hurlock, E. B. (2011). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. Ioana, O. (2013). A study on the relationship between sports and aggression. Sport Science Review, XXII(1-2), 33-48. doi: 10.2478/ssr-2013-0003 Janah, M. R., Rifayani, Hastuti., Ernawati, Sri. (2014). Emotion regulation to reducing aggressive behavior in resolving interpersonal conflict on student smk. Seminar Nasional dan Call for Papers Uniba, 10-16. Keeler, L. A. (2007). The differences in sport aggression, life aggression, and life assertion among adult male and female collision, contact, and non-contact sport athletes. Journal of Sport Behavior, 30(1), 57. Khumas, dkk. (1997). Peran fantasi agresi terhadap perilaku agresif anak-anak.. Jurnal Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. 1, 21-29. Kostiuk, L. M., and Fouts, G. T. (2002). Understanding of emotions and emotion regulation in adolescent females with conduct problems: A qualitive analysis. The Qualitative Report, 7(1). Kring, A.M., Johnson, S.L., Davison, G.C., & Neale, J.M. (2010). Abnormal Psychology. United States of America: John Wiley & Sons, Inc. (Eleventh Edition) Krishnaveni, K., and Shahin, A. (2014). Aggression and its influence on sport performance. International Journal of Physical Education, Sports and Health, 1(2), 29-32. Larsen, J. K., et.al. (2013). Emotion regulation in adelescence: A prospective study of expressive suppression and depressive symptoms. The journal of early adolescence, 33(2), 184-200. doi: 10.1177/0292431611432712 Makmuroch. (2014). Keefektifan pelatihan keterampilan regulasi emosi terhadap penurunan tingkat ekspresi emosi pada caregiver pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa daerah surakarta. Wacana Jurnal Psikologi. 4(11), 13-34. Martin, S. B. (2005). High school and college athletes’ attitudes toward sport psychology consulting. Journal of Applied Sport Psychology, 17, 127-139. Mawardah. M., dan Adiyanti. MG. (2014). Regulasi emosi dan kelompok teman sebaya pelaku cyberbullying. Jurnal Psikologi, 41(1), 60-73.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Myers, David G. (2013). Social Psychology. (11th Ed). New York: McGraw-Hill Companies. Papalia, D. E., Old, S. W., dan Feldman, R. D. (2008). Human development (Psikologi perkembangan). Jakarta: Kencana. Papalia, D. E., Old, S. W., dan Feldman, R. D. (2007). Human development. (10th Edition). New York: McGraw-Hill. Pradigdo, B. G. (2017, 25 Agustus). Evan dimas akui emosi pemain U-22 kadang tak terkontrol. Bola.com. Diunduh dari: https://m.bola.com/seagames/read/3070568/evan-dimas-akui-emosi-pemain-timnas-u-22-kadangtak-terkontrol Priyatno, D. (2014). Pengolahan Data Terpraktis. 89-148. Yogyakarta: C.V. Andi Offset. Rachman. (2017, 25 Agustus). Indonesia gagal kalahkan malaysia dalam 90 menit sejak sea games 2001. Bbc.com. Diunduh dari: https://www.bbc.com/indonesia/olahraga-41046549 Rahman, A. A. (2013). Psikologi sosial integrasi pengetahuan wahyu dan pengetahuan empirik. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Reyna, dkk. (2011). The buss-perry aggression questionnaire: Construct validity and gender invariance among argentinean adolescents. International Journal of Psychological Research, Universidad de San Buenaventura. 4(2), 30-37. Roberton, T., Daffern, M., & Bucks, R. S. (2012). Aggression and violent behavior: emotion regulation and aggresion. Elsevier, 72-82. doi: 10.1016/j.vb.2011.09.006 Rosenblum, G. D., & Lewis, M. (2003). Emotional development in adolescence. In G. R. Adams & M. D. Berzonsky (Eds.), Blackwell handbooks of developmental psychology. Blackwell handbook of adolescence(pp. 269-289). Malden, : Blackwell Publishing. Santoso, Agung. (2010). Statistik untuk psikologi: Dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Santrock, J. W. (2008). Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup, Jilid 2). Jakarta: Erlangga. Sherrill, A. M., and Bradel, L. T. (2016). Contact sport participation predicts instrumental aggression, not hostile aggression, within competition: Quasi-

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 experimental evidence. Journal of Aggression Conflict and Peace Research, 9(1), 50-57. doi: 10.1108/JACPR-01-2016-0207 Silaen. A. C., dan Dewi. K. S. (2015). Hubungan antara regulasi emosi dengan asertivitas: Studi korelasi pada siswa di SMA Negeri 9 Semarang. Jurnal Empati, 4(2), 175-181. Sin, T. H. (2017). Tingkat percaya diri atlet sepak bola dalam menghadapi pertandingan. Jurnal Fokus Konseling, 3(2), 163-174. doi: 10.26638/jfk.414.2099 Stangor, C. (2011). Principles of social psychology – 1st international edition. BC Open Textbook Project. Sukadiyanto. (2005). Olahraga, majalah ilmiah. fakultas ilmu keolahragaan UNY, 11(3), 289-391. Sullivan, dkk. (2010). Associations between sadness and anger regulation coping, emotional expression, and physical and relational aggression among urban adolescents. Aggression and Emotion in Adolesence, 19(1), 30-51. doi: 10.1111/j.1467-9507.2008.00531.x Supratiknya, A. (2007). Kiat merujuk sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Penerbit USD. Supratiknya, A. (2016). Kuantifikasi validitas isi dalam asesmen psikologis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Syahadat, Y. M. (2013). Pelatihan regulasi emosi untuk menurunkan perilaku agresif pada anak. Humanitas, X(1), 19-36. Tenenbaum, G., Sacks, D. N., Miller, J. W., Golden, A. S., & Doolin, N. (2000). Aggression and violence in sport: A reply to kerr's rejoinder. The Sport Psychologist, 14, 315-326 Wadlinger, H. A and Isaacowitz, D. M. (2010). Fixing our focus: Training attention to regulate emotion. Presonality and Social Psychology Review, XX(X), 1-28. doi: 10.1199/1088868310365565 Warburton, W. A., and Anderson, C. A. (2015). International Encyclopedia of the Social & Beharioral Sciences, 2nd edition. Elsevier Ltd, 1, 295-299. doi: 10.1016/B987-0-08-097086-8.24002-6 Yosia. (2017, 15 September). Timnas indonesia u-19 gagal ke final, sassil ramdani dihujat. Bola.com. Diunduh dari:

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 https://www.bola.com/indonesia/read/3096353/timnas-indonesia-u-19-gagalke-final-saddil-ramdani-dihujat Zeman, J., Shipman, K., & Penza-Clyve, S. (2001). Development and initial validation of the Children's Sadness Management Scale. Journal of Nonverbal Behavior, 25(3), 187-205. doi: 10.1023/A:1010623226626

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 LAMPIRAN

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 LAMPIRAN 1 SKALA UJI COBA PENELITIAN

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 UJI COBA SKALA PENELITIAN Sebagai bagian dalam Penyusunan Skripsi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Yasinta Tiwi Carysa 149114035 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2018

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Yogyakarta, Oktober 2018 Kepada saudara-saudari yang berpartisipasi dalam uji coba penelitian ini, perkenalkan saya: Nama : Yasinta Tiwi Carysa Alamat : Gading Lumbung, Donotirto, Kretek, Bantul Kontak : 0821383497479 Institusi : Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Memohon bantuan kepada saudara-saudari untuk mengisi skala ini guna menyelesaikan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Pada skala ini, terdapat beberapa pernyataan dan saudara-saudari diminta untuk memberikan tanggapan pada pernyataan-pernyataan tersebut. Setiap tanggapan yang saudarasaudari berikan tidak ada yang salah. Selain itu, peneliti akan menjamin kerahasiaan tanggapan saudara-saudari. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar jawaban yang diberikan bersifat jujur dan sesuai dengan diri saudara-saudari yang sesungguhnya. Atas waktu dan kesediaannya, saya mengucapkan terima kasih. Hormat saya, Yasinta Tiwi Carysa

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 PERNYATAAN KESEDIAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala ini dengan sukarela tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak manapun, demi membantuk terlaksananya penelitian ilmiah ini. Semua jawaban yang saya berikan adalah murni dari apa yang sesungguhnya saya alami dan bukan berdasarkan pandangan masyarakat pada umumnya. Saya juga memberikan izin penggunaan jawaban yang saya berikan tersebut sebagai data untuk memperlancar penelitian ilmiah ini. ................................................2018 Menyetujui, ................................ (Tanda Tangan)

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 IDENTITAS DAN DATA DIRI Usia Saat Ini : ............. tahun Jenis Kelamin : Laki –laki / Perempuan * Pendidikan Terakhir : ........................................ Sekolah Sepak Bola atau Club yang diikuti: 1. .............................................................................................................................. 2. .............................................................................................................................. 3. .............................................................................................................................. Pertandingan atau kejuaraan yang pernah diikuti: 1. .............................................................................................................................. 2. .............................................................................................................................. 3. .............................................................................................................................. 4. .............................................................................................................................. 5. .............................................................................................................................. 6. .............................................................................................................................. 7. .............................................................................................................................. 8. .............................................................................................................................. 9. .............................................................................................................................. 10. .............................................................................................................................. * lingkari salah satu

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 PETUNJUK PENGISIAN SKALA 1. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama 2. Tentukan pilihan-pilihan jawaban yang benar-benar menggambarkan diri Anda yang sesungguhnya dengan cara memberikan tandan silang () pada pilihan jawaban yang meliputi: SS : Sangat Setuju S : Setuju AS : Agak Setuju ATS : Agak Tidak Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju 3. Setiap pernyataan hanya dapat memilih satu jawaban. Tidak ada jawaban yang salah, semua jawaban adalah benar. Hasil dari skala ini tidak akan memperngaruhi nilai atau apapun yang terkait dengan diri Anda. Kerahasiaan data dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. 4. Contoh pengisian: Pernyataan Saya suka memakai sepatu Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS S SS Jika Anda ingin mengganti jawaban, gantilah seperti ini: Pernyataan Saya suka memakai sepatu Pilihan Jawaban STS TS ~ Selamat mengerjakan ~ ATS AS

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 SKALA BAGIAN PERTAMA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pernyataan Saya dapat segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan setelah saya melakukan kesalahan Saya bisa memahami bahwa pendukung tim lawan sengaja mengeluarkan katakata sindiran untuk menjatuhkan mental tim saya Saya sulit menghilangkan perasaan tersinggung ketika diremehkan orang lain Saya mampu menentukan strategi permainan baru ketika tim saya mengalami kekalahan Saya mampu memahami bahwa pelatih menegur saya karena performa saya yang kurang optimal Saya dapat mengurangi perasaan minder dan mengasah kemampuan yang saya miliki ketika melihat orang lain lebih hebat daripada saya Saya kurang mampu mencari hal-hal yang menyenangkan hati saya ketika saya merasa marah Saya kurang bisa memahami apakah keputusan yang diambil oleh wasit adil atau tidak Saya merasa tidak percaya diri ketika bertanding dalam kompetisi besar Saya mampu meredakan perasaan marah ketika lawan membuat saya cedera Saya dapat terus melatih kemampuan atau bakat yang saya miliki meskipun saya sudah merasa puas atas keberhasilan yang saya capai Saya kurang bisa mempertimbangkan Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 solusi dengan resiko paling kecil ketika saya dihadapkan pada suatu kesulitan Saya kurang mengerti apa yang membuat kiper tim saya mengalami kebobolan gawang Saya mampu menganggap teguran pelatih sebagai penyemangat ketika performa saya dianggap kurang baik Saya mampu untuk segera bangkit dan berusaha lebih keras ketika saya mengalami kegagalan Saya kurang bisa mengerti apa yang harus saya perbuat setelah melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak Saya tidak mengerti apa yang membuat performa bermain saya menurun Saya sulit menghilangkan perasaan putus asa setelah mengalami kegagalan Saya termotivasi untuk menunjukkan kemampuan saya ketika orang lain meremehkan saya Saya mampu memahami bahwa ketika saya mendapatkan kartu kuning hal itu karena saya melanggar peraturan Saya sulit memahami apa tujuan pendukung tim lawan mengucapkan kata-kata yang menyindir tim saya Saya sulit mengurangi perasaan tidak percaya diri ketika melihat kemampuan orang lain yang lebih baik Saya dapat memahami bahwa saya mengalami kegagalan ketika bertanding (mencetak gol) karena saya kurang tenang dalam bermain Setelah mengalami kekalahan, saya merasa kecewa hingga saya sulit mengatur strategi permainan baru Saya tidak dapat memahami apa yang menyebabkan pelatih menegur saya STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Saya mampu mengatasi kekesalan saya dengan melakukan hal-hal yang saya senangi Saya mampu mengubah perasaan takut menjadi percaya diri ketika akan bertanding dalam kompetisi bergengsi (besar) Saya sulit menghilangkan perasaan kesal saya ketika lawan menjegal saya dengan sengaja Saya kurang mampu mengendalikan perasaan puas ketika mendapat keberhasilan, sehingga lupa untuk mengasah kemampuan yang saya miliki Saya mampu memikirkan setiap solusi dengan pertimbangan resiko yang paling kecil ketika saya dihadapkan pada suatu masalah Saya dapat mengerti bahwa kiper tim saya mengalami kebobolan karena pertahanan tim saya kurang kuat Saya putus asa dan tidak mampu bangkit setelah saya mengalami kegagalan Saya kurang bisa meredakan perasaan panik ketika pelatih terus menegur performa bermain saya Saya mampu memotivasi diri saya untuk berusaha lebih keras ketika mengalami kegagalan Saya bisa memahami bahwa performa bermain saya tidak optimal karena saya kurang giat dalam berlatih Saya kurang mengerti apa yang menyebabkan saya gagal dalam mencetak gol STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 SKALA BAGIAN KEDUA No Pernyataan 1 Saya merebut bola tanpa menyakiti lawan 2 Saya tidak menghina lawan yang dikenai hukuman oleh wasit 3 Saya membenci lawan yang sudah membuat saya cedera 4 Jika lawan berhasil mencetak gol, saya menerimanya dengan lapang dada 5 Saya berkata kasar ketika saya gagal mencetak gol 6 Meskipun pendukung lawan berteriakteriak, saya tidak merasa kesal 7 Saya mendorong tubuh lawan yang merebut bola saya 8 Saya ingin memaki wasit yang membuat keputusan yang tidak saya setujui 9 Ketika tim saya mengalami kekalahan, saya tetap menerimanya dengan lapang dada 10 Saya pasrah jika saya belum berhasil dalam mencetak gol 11 Saya memukul lawan yang membuat saya marah 12 Saya memaki lawan yang menjegal saya 13 Saya tidak menyindir lawan yang gagal mencetak gol 14 Saya merasa kesal ketika teman saya tidak mau mengumpan bola dengan teman satu tim 15 Meskipun bertanding dengan tim yang saya anggap sebagai rival bebuyutan, saya tetap ingin bermain dengan tenang tanpa menyebabkan lawan cedera 16 Saya tidak segan memaki jika teman saya melakukan kesalahan di lapangan 17 Saya merasa kesal mendengar teriakan Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 pendukung lawan Ketika teman saya melakukan gol bunuh diri, saya tetap ingin memaafkannya dan kembali bermain sportif Saya berkelahi dengan lawan pada saat pertandingan apabila saya merasa benar. Saya tidak merasa benci dengan lawan yang merebut bola saat sedang saya giring Ketika lawan memukul saya, saya tidak membalasnya Saya ingin menjegal kaki lawan yang sedang menguasai bola Ketika saya belum berhasil mencetak gol, saya tetap tenang dan tidak mengumpat Saya ingin memaki dan berkata kasar jika lawan berhasil mencetak gol Saya menanggapi ajakan pertengkaran dengan santai Saya menerima keputusan wasit meskipun saya tidak setuju dengan keputusan tersebut Saya menjegal kaki lawan saat merebut bola Saya memaafkan lawan yang sudah membuat saya cedera Saya mengejek lawan yang mendapat kartu kuning atau merah Ketika lawan merebut bola saya, saya tetap mempertahankan bola tanpa menyakiti lawan Saya merasa benci kepada wasit yang terkesan membela tim lawan Saya ingin berkata kasar ketika tim saya mengalami kekalahan Saya merasa kesal ketika saya gagal STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 mencetak gol Ketika lawan membuat saya marah, saya tidak terpancing Ketika teman saya melakukan kesalahan di lapangan, saya tidak menyindirnya Meskipun saya tidak setuju dengan keputusan wasit, saya tidak memaki atau memberikan perlawanan Saya mengejek lawan yang tidak dapat mencetak gol STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS TS ATS AS S SS Saya ingin bermain lebih kasar ketika bertanding dengan tim yang saya STS anggap sebagai rival bebuyutan Saya tidak marah meskipun teman saya menggiring bola sendiri tanpa STS mengumpan bola kepada teman satu tim Ketika lawan sedang menguasai bola, saya ingin merebut dengan cara yang STS tepat dan tidak membuat lawan cedera Saya memaki wasit jika saya mendapat STS kartu kuning atau merah Ketika lawan menjegal saya, saya tidak STS memaki dan tetap memaafkannya Saya tidak berkelahi saat sedang STS bertanding Saya tidak merasa marah meskipun wasit membuat keputusan yang tidak STS saya setujui Saya merasa kesal ketika lawan merebut STS bola yang sedang saya giring Saya ingin memaki teman saya yang melakukan gol bunuh diri karena STS menambah poin tim lawan Saya membalas ketika lawan memukul STS saya Saya akan menyanggupi jika lawan mengajak saya bertengkar pada saat STS pertandingan ~ Terima kasih ~

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 LAMPIRAN 2 RELIABILITAS SKALA REGULASI EMOSI DAN AGRESIVITAS

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 LAMPIRAN RELIABILITAS SKALA A. SKALA REGULASI EMOSI 1. Reliabilitas Skala Regulasi Emosi Sebelum Seleksi Item Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's N of Alpha Alpha Based Items on Standardized Items ,862 ,858 36 Scale Mean if Item Deleted Item1 Item2 Item3 Item4 Item5 Item6 Item7 Item8 Item9 Item10 Item11 Item12 Item13 Item14 Item15 Item16 Item17 Item18 Item19 Item20 Item21 Item22 140,88 141,90 142,55 141,77 141,05 141,53 143,07 143,33 142,77 141,78 141,35 143,25 142,87 141,22 141,28 143,05 142,82 142,48 141,32 141,42 142,78 143,08 Item-Total Statistics Scale Corrected Squared Cronbach's Variance if ItemMultiple Alpha if Item Total Correlation Item Deleted Correlatio Deleted n 404,376 ,318 ,835 ,860 410,769 ,095 ,866 ,865 393,235 ,397 ,748 ,858 411,640 ,102 ,844 ,864 395,811 ,492 ,786 ,857 404,762 ,263 ,837 ,861 387,453 ,453 ,795 ,856 413,616 ,044 ,764 ,866 378,351 ,574 ,822 ,853 403,427 ,268 ,740 ,861 402,943 ,294 ,854 ,860 390,225 ,459 ,835 ,856 396,185 ,301 ,779 ,861 401,190 ,309 ,801 ,860 398,918 ,401 ,742 ,858 388,896 ,497 ,895 ,856 399,034 ,336 ,854 ,859 378,152 ,602 ,908 ,852 400,525 ,350 ,731 ,859 399,061 ,375 ,825 ,859 384,681 ,491 ,857 ,855 384,925 ,549 ,920 ,854

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Item23 Item24 Item25 Item26 Item27 Item28 Item29 Item30 Item31 Item32 Item33 Item34 Item35 Item36 141,60 143,02 142,70 141,70 141,65 142,95 142,83 141,68 141,28 142,45 142,87 141,37 141,52 143,00 419,769 383,203 386,688 407,332 403,316 383,642 392,684 411,712 404,783 380,218 394,762 408,168 410,593 381,186 -,055 ,574 ,505 ,195 ,242 ,509 ,377 ,108 ,329 ,545 ,372 ,236 ,152 ,593 ,768 ,880 ,710 ,780 ,657 ,917 ,826 ,710 ,792 ,840 ,866 ,761 ,844 ,924 ,867 ,853 ,855 ,862 ,861 ,855 ,858 ,864 ,860 ,854 ,859 ,861 ,863 ,853 2. Reliabilitas Skala Regulasi Emosi Setelah Seleksi Item Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's N of Alpha Alpha Based Items on Standardized Items ,888 ,882 24 Scale Mean if Item Deleted Item1 Item3 Item5 Item7 Item9 Item12 Item13 Item14 Item15 87,27 88,93 87,43 89,45 89,15 89,63 89,25 87,60 87,67 Item-Total Statistics Scale Corrected Squared Cronbach's Variance if ItemMultiple Alpha if Item Total Correlation Item Deleted Correlatio Deleted n 318,165 ,240 ,622 ,888 301,453 ,478 ,670 ,883 313,945 ,330 ,651 ,887 299,336 ,472 ,657 ,884 291,147 ,596 ,665 ,880 302,033 ,475 ,666 ,883 304,530 ,364 ,616 ,887 316,414 ,220 ,630 ,889 315,616 ,273 ,550 ,888

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Item16 Item17 Item18 Item19 Item20 Item21 Item22 Item24 Item25 Item28 Item29 Item31 Item32 Item33 Item36 89,43 89,20 88,87 87,70 87,80 89,17 89,47 89,40 89,08 89,33 89,22 87,67 88,83 89,25 89,38 299,843 306,434 287,711 315,671 315,112 294,311 295,473 292,007 298,281 292,667 297,495 319,040 291,497 302,428 293,630 ,536 ,429 ,689 ,259 ,268 ,558 ,605 ,671 ,534 ,591 ,519 ,232 ,591 ,461 ,619 ,710 ,658 ,757 ,632 ,699 ,566 ,819 ,678 ,582 ,817 ,733 ,601 ,725 ,725 ,809 ,882 ,885 ,877 ,888 ,888 ,881 ,880 ,878 ,882 ,880 ,882 ,888 ,880 ,884 ,879 B. SKALA AGRESIVITAS 1. Reliabilitas Skala Regulasi Emosi Sebelum Seleksi Item Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's N of Alpha Alpha Based Items on Standardized Items ,873 ,865 48 Scale Mean if Item Deleted Item1 Item2 Item3 Item4 Item5 Item6 140,25 140,25 139,15 140,07 139,38 140,12 Item-Total Statistics Scale Corrected Squared Cronbach's Variance if ItemMultiple Alpha if Item Total Correlation Item Deleted Correlatio Deleted n 649,750 ,317 ,946 ,870 644,292 ,387 ,932 ,869 628,842 ,495 ,950 ,867 652,504 ,280 ,889 ,871 632,647 ,425 ,816 ,868 663,190 ,109 ,780 ,873

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Item7 Item8 Item9 Item10 Item11 Item12 Item13 Item14 Item15 Item16 Item17 Item18 Item19 Item20 Item21 Item22 Item23 Item24 Item25 Item26 Item27 Item28 Item29 Item30 Item31 Item32 Item33 Item34 Item35 Item36 Item37 Item38 Item39 Item40 Item41 Item42 Item43 Item44 Item45 Item46 Item47 Item48 139,08 139,00 140,07 139,62 139,42 139,17 139,62 138,85 139,97 138,88 138,92 140,08 139,13 139,82 139,62 139,12 140,03 139,03 139,75 139,83 138,77 139,87 139,28 140,10 138,23 138,92 138,42 139,88 139,87 139,88 138,97 138,90 139,58 139,87 138,85 139,78 140,03 139,98 138,52 138,77 138,67 138,67 641,569 638,237 651,182 675,325 615,264 623,294 667,122 638,197 658,338 693,325 635,773 642,213 637,507 661,949 655,630 614,139 649,965 612,168 674,123 653,124 624,012 663,711 620,918 655,786 638,284 623,603 638,112 649,969 659,440 652,783 619,423 638,125 671,230 655,304 628,469 676,851 662,168 665,712 633,271 618,318 624,260 638,328 ,341 ,440 ,340 -,084 ,637 ,540 ,020 ,378 ,167 -,310 ,426 ,393 ,375 ,121 ,176 ,652 ,349 ,668 -,069 ,243 ,605 ,090 ,624 ,257 ,392 ,546 ,418 ,275 ,171 ,315 ,592 ,362 -,026 ,205 ,503 -,112 ,131 ,076 ,496 ,668 ,596 ,387 ,879 ,863 ,754 ,823 ,945 ,865 ,878 ,863 ,813 ,829 ,892 ,893 ,928 ,850 ,890 ,946 ,775 ,915 ,886 ,926 ,935 ,909 ,935 ,865 ,880 ,935 ,844 ,908 ,852 ,937 ,927 ,822 ,732 ,886 ,910 ,803 ,851 ,900 ,879 ,940 ,969 ,882 ,870 ,868 ,870 ,877 ,864 ,866 ,876 ,869 ,873 ,881 ,869 ,869 ,869 ,873 ,873 ,864 ,870 ,863 ,877 ,872 ,865 ,874 ,865 ,871 ,869 ,866 ,869 ,871 ,872 ,871 ,865 ,870 ,875 ,872 ,867 ,877 ,873 ,874 ,867 ,864 ,865 ,869

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 2. Reliabilitas Skala Regulasi Emosi Setelah Seleksi Item Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's N of Alpha Alpha Based Items on Standardized Items ,933 ,931 24 Scale Mean if Item Deleted Item2 Item3 Item5 Item7 Item8 Item11 Item12 Item14 Item17 Item18 Item19 Item22 Item24 Item27 Item29 Item31 Item32 Item33 Item37 Item41 Item45 Item46 Item47 Item48 78,43 77,33 77,57 77,27 77,18 77,60 77,35 77,03 77,10 78,27 77,32 77,30 77,22 76,95 77,47 76,42 77,10 76,60 77,15 77,03 76,70 76,95 76,85 76,85 Item-Total Statistics Scale Corrected Squared Cronbach's Variance if ItemMultiple Alpha if Item Total Correlation Item Deleted Correlatio Deleted n 529,979 ,261 ,709 ,934 505,887 ,536 ,756 ,931 511,775 ,430 ,544 ,932 511,318 ,469 ,677 ,932 512,932 ,510 ,627 ,931 484,956 ,802 ,892 ,926 494,842 ,665 ,740 ,929 510,338 ,475 ,661 ,932 503,346 ,600 ,777 ,930 539,351 ,092 ,537 ,936 509,169 ,477 ,706 ,932 486,485 ,780 ,852 ,927 489,054 ,734 ,766 ,927 495,913 ,739 ,865 ,928 491,711 ,776 ,839 ,927 512,179 ,466 ,680 ,932 491,888 ,720 ,814 ,928 506,888 ,577 ,700 ,930 492,808 ,698 ,762 ,928 505,490 ,546 ,685 ,931 505,264 ,617 ,700 ,930 492,828 ,769 ,841 ,927 498,638 ,690 ,804 ,928 508,943 ,509 ,656 ,931

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 LAMPIRAN 3 SKALA PENELITIAN

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 SKALA PENELITIAN Sebagai bagian dalam Penyusunan Skripsi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Yasinta Tiwi Carysa 149114035 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2018

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Yogyakarta, Oktober 2018 Kepada saudara-saudari yang berpartisipasi dalam penelitian ini, perkenalkan saya: Nama : Yasinta Tiwi Carysa Alamat : Gading Lumbung, Donotirto, Kretek, Bantul Kontak : 0821383497479 Institusi : Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Memohon bantuan kepada saudara-saudari untuk mengisi skala ini guna menyelesaikan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Pada skala ini, terdapat beberapa pernyataan dan saudara-saudari diminta untuk memberikan tanggapan pada pernyataan-pernyataan tersebut. Setiap tanggapan yang saudarasaudari berikan tidak ada yang salah. Selain itu, peneliti akan menjamin kerahasiaan tanggapan saudara-saudari. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar jawaban yang diberikan bersifat jujur dan sesuai dengan diri saudara-saudari yang sesungguhnya. Atas waktu dan kesediaannya, saya mengucapkan terima kasih. Hormat saya, Yasinta Tiwi Carysa

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 PERNYATAAN KESEDIAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala ini dengan sukarela tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak manapun, demi membantuk terlaksananya penelitian ilmiah ini. Semua jawaban yang saya berikan adalah murni dari apa yang sesungguhnya saya alami dan bukan berdasarkan pandangan masyarakat pada umumnya. Saya juga memberikan izin penggunaan jawaban yang saya berikan tersebut sebagai data untuk memperlancar penelitian ilmiah ini. ................................................2018 Menyetujui, ................................ (Tanda Tangan)

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 IDENTITAS DAN DATA DIRI Nama/ Inisial : ...................................... Usia Saat Ini : ............. tahun Jenis Kelamin : Laki –laki / Perempuan * Pendidikan Terakhir : ........................................ Sekolah Sepak Bola atau Club yang diikuti: 1. .............................................................................................................................. 2. .............................................................................................................................. 3. .............................................................................................................................. Pertandingan atau kejuaraan yang pernah diikuti: 1. .............................................................................................................................. 2. .............................................................................................................................. 3. .............................................................................................................................. 4. .............................................................................................................................. 5. .............................................................................................................................. * coret yang tidak perlu

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 PETUNJUK PENGISIAN SKALA 5. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama 6. Tentukan pilihan-pilihan jawaban yang benar-benar menggambarkan diri Anda yang sesungguhnya dengan cara memberikan tandan silang () pada pilihan jawaban yang meliputi: SS : Sangat Setuju S : Setuju AS : Agak Setuju ATS : Agak Tidak Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju 7. Setiap pernyataan hanya dapat memilih satu jawaban. Tidak ada jawaban yang salah, semua jawaban adalah benar. Hasil dari skala ini tidak akan memperngaruhi nilai atau apapun yang terkait dengan diri Anda. Kerahasiaan data dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. 8. Contoh pengisian: Pernyataan Saya suka memakai sepatu Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS S SS Jika Anda ingin mengganti jawaban, gantilah seperti ini: Pernyataan Saya suka memakai sepatu Pilihan Jawaban STS TS ~ Selamat mengerjakan ~ ATS AS

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 SKALA BAGIAN PERTAMA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pernyataan Saya dapat segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan setelah saya melakukan kesalahan Saya sulit menghilangkan perasaan tersinggung ketika diremehkan orang lain Saya mampu memahami bahwa pelatih menegur saya karena performa saya yang kurang optimal Saya kurang mampu mencari hal-hal yang menyenangkan hati saya ketika saya merasa marah Saya merasa tidak percaya diri ketika bertanding dalam kompetisi besar Saya kurang bisa mempertimbangkan solusi dengan resiko paling kecil ketika saya dihadapkan pada suatu kesulitan Saya kurang mengerti apa yang membuat kiper tim saya mengalami kebobolan gawang Saya mampu menganggap teguran pelatih sebagai penyemangat ketika performa saya dianggap kurang baik Saya mampu untuk segera bangkit dan berusaha lebih keras ketika saya mengalami kegagalan Saya kurang bisa mengerti apa yang harus saya perbuat setelah melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak Saya tidak mengerti apa yang membuat performa bermain saya menurun Saya sulit menghilangkan perasaan putus asa setelah mengalami kegagalan Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Saya termotivasi untuk menunjukkan kemampuan saya ketika orang lain meremehkan saya Saya mampu memahami bahwa ketika saya mendapatkan kartu kuning hal itu karena saya melanggar peraturan Saya sulit memahami apa tujuan pendukung tim lawan mengucapkan kata-kata yang menyindir tim saya Saya sulit mengurangi perasaan tidak percaya diri ketika melihat kemampuan orang lain yang lebih baik Setelah mengalami kekalahan, saya merasa kecewa hingga saya sulit mengatur strategi permainan baru Saya tidak dapat memahami apa yang menyebabkan pelatih menegur saya Saya sulit menghilangkan perasaan kesal saya ketika lawan menjegal saya dengan sengaja Saya kurang mampu mengendalikan perasaan puas ketika mendapat keberhasilan, sehingga lupa untuk mengasah kemampuan yang saya miliki Saya dapat mengerti bahwa kiper tim saya mengalami kebobolan karena pertahanan tim saya kurang kuat Saya putus asa dan tidak mampu bangkit setelah saya mengalami kegagalan Saya kurang bisa meredakan perasaan panik ketika pelatih terus menegur performa bermain saya Saya kurang mengerti apa yang menyebabkan saya gagal dalam mencetak gol STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 SKALA BAGIAN KEDUA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Pernyataan Saya tidak menghina lawan yang dikenai hukuman oleh wasit Saya membenci lawan yang sudah membuat saya cedera Saya berkata kasar ketika saya gagal mencetak gol Saya mendorong tubuh lawan yang merebut bola saya Saya ingin memaki wasit yang membuat keputusan yang tidak saya setujui Saya memukul lawan yang membuat saya marah Saya memaki lawan yang menjegal saya Saya merasa kesal ketika teman saya tidak mau mengumpan bola dengan teman satu tim Saya merasa kesal mendengar teriakan pendukung lawan Ketika teman saya melakukan gol bunuh diri, saya tetap ingin memaafkannya dan kembali bermain sportif Saya berkelahi dengan lawan pada saat pertandingan apabila saya merasa benar. Saya ingin menjegal kaki lawan yang sedang menguasai bola Saya ingin memaki dan berkata kasar jika lawan berhasil mencetak gol Saya menjegal kaki lawan saat merebut bola Saya mengejek lawan yang mendapat kartu kuning atau merah Saya merasa benci kepada wasit yang terkesan membela tim lawan Pilihan Jawaban STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 17 18 19 20 21 22 23 24 Saya ingin berkata kasar ketika tim saya mengalami kekalahan Saya merasa kesal ketika saya gagal mencetak gol Saya mengejek lawan yang tidak dapat mencetak gol Saya memaki wasit jika saya mendapat kartu kuning atau merah Saya merasa kesal ketika lawan merebut bola yang sedang saya giring Saya ingin memaki teman saya yang melakukan gol bunuh diri karena menambah poin tim lawan Saya membalas ketika lawan memukul saya Saya akan menyanggupi jika lawan mengajak saya bertengkar pada saat pertandingan STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS STS TS ATS AS S SS ~ Terima kasih ~

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 LAMPIRAN 4 HASIL UJI MEAN TEORETIS DAN MEAN EMPIRIS

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 LAMPIRAN HASIL UJI T A. MEAN EMPIRIS SKALA REGULASI EMOSI DAN AGRESIVITAS Descriptive Statistics Minimu Maximu m m 122 76 132 122 31 99 122 N TOTALRE TOTALAGR Valid N (listwise) Mean 103,34 61,55 Std. Deviation 11,688 15,226 B. SKALA REGULASI EMOSI TOTALRE One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation 122 103,34 11,688 t TOTALRE Std. Error Mean 1,058 One-Sample Test Test Value = 84 df Sig. (2Mean tailed) Difference 18,218 121 ,000 19,344 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 17,25 21,44 C. SKALA AGRESIVITAS TOTALAGR One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation 122 61,55 15,226 Std. Error Mean 1,378

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 t TOTALAGR One-Sample Test Test Value = 84 df Sig. Mean (2Difference tailed) -16,287 121 ,000 -22,451 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -25,18 -19,72

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 LAMPIRAN 5 HASIL UJI DESKRIPTIF

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 LAMPIRAN HASIL UJI DESKRIPTIF A. Deskripsi data berdasarkan jenis kelamin 1 Valid 2 Total JK Frequenc Percent y 92 75,4 30 24,6 122 100,0 Valid Cumulative Percent Percent 75,4 75,4 24,6 100,0 100,0 B. Deskripsi data berdasarkan kelompok usia 11 12 13 14 15 16 Valid 17 18 19 20 22 Total USIA Frequenc Percent y 1 ,8 26 21,3 35 28,7 29 23,8 10 8,2 9 7,4 6 4,9 2 1,6 2 1,6 1 ,8 1 ,8 122 100,0 Valid Percent ,8 21,3 28,7 23,8 8,2 7,4 4,9 1,6 1,6 ,8 ,8 100,0 Cumulative Percent ,8 22,1 50,8 74,6 82,8 90,2 95,1 96,7 98,4 99,2 100,0

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 LAMPIRAN 6 HASIL UJI ASUMSI

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 A. Uji Normalitas Residu Unstandardized Residual Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. * ,047 122 ,200 ,988 122 ,372 *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction B. Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares (Combined ) Between Linearity TOTALA Groups Deviation GR * from TOTALR Linearity E Within Groups Total 12260,04 3 5739,353 6520,690 15790,16 2 df Mean Square F 44 278,637 1,359 1 5739,35 27,98 3 8 43 151,644 ,739 77 205,067 28050,20 121 5 Sig. ,11 9 ,00 0 ,85 8

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 C. Uji Heteroskedastisitas Uji Glejser Model Unstandardized Standardized t Coefficients Coefficients B Std. Error Beta (Constant) 22,029 6,158 3,577 1 TOTALRE -,105 ,059 -,160 -1,778 a. Dependent Variable: RES_2 Sig. ,001 ,078

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 LAMPIRAN 7 HASIL UJI HIPOTESIS

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Uji Hipotesis Model Summary Mode R R Square Adjusted R Std. Error of l Square the Estimate a 1 ,452 ,205 ,198 13,635 a. Predictors: (Constant), TOTALRE Model Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta 122,445 11,030 (Constant ) 1 TOTALR -,589 E a. Dependent Variable: TOTALAGR ,106 -,452 t Sig. 11,101 ,000 -5,556 ,000

(127)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
126
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
249
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
61
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
187
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
217
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
159
SIKAP ATLET SEPAK BOLA INDONESIA TERHADAP LAYANAN PSIKOLOGI OLAHRAGA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
1
1
101
Show more