PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI

Gratis

0
0
248
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Poppy Septiana Pembayun NIM : 151134105 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ini Peneliti persembahkan kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa memberi berkat, kemudahan, dan kekuatan. 2. Kedua orangtuaku, Edhi Sudarsono dan Kus Sulastri yang selalu mendoakan, memberi semangat dan memberikan yang terbaik hingga saat ini. 3. Adikku Damar Christian Edhi Nugroho yang menjadi penyemangatku untuk segera menyelesaikan pendidikan. 4. Sahabat-sahabatku yang selalu memberi semangat, penghiburan, dan pengingat dalam segala hal. 5. Almamaterku Universitas Sanata Dharma. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” (Ulangan 28:6) “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5) “Tidak ada impian yang terlalu besar jika dibarengi dengan usaha yang sama besarnya.” (Fiersa Besari) “Di era serba cepat, ada sesuatu yang lebih berharga daripada kecepatan, yaitu proses.” (Pandji Pragiwaksono) “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. “ (Tan Malaka) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 17 Januari 2019 Peneliti Poppy Septiana Pembayun vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Poppy Septiana Pembayun Nomor Mahasiswa : 151134105 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 17 Januari 2019 Yang menyatakan Poppy Septiana Pembayun vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD Poppy Septiana Pembayun Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah adanya tuntutan abad 21 tentang kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan yang perlu dimiliki siswa. Selain itu, keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan pada mata pelajaran IPA siswa Indonesia yang ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan PISA pada tahun 2009, 2012, dan 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental tipe pretest – posttest non equivalent group design. Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta sebanyak 73 siswa. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas VA sebanyak 24 siswa sebagai kelas kontrol dan kelas VB sebanyak 24 siswa sebagai kelas eksperimen. Treatment yang diberikan kepada kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dengan langkah pembelajaran: 1) menyiapkan kartu, 2) pembagian kartu, 3) memikirkan soal dan jawaban, 4) mencari pasangan, 5) pemberian nilai, 6) pengulangan permainan, dan 7) pemberian penghargaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Selisih skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen (M = 0,861, SE = 0,1230) lebih tinggi daripada selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol (M = 0,222 , SE = 0,192). Perbedaan tersebut signifikan dengan t (39,129) = - 2,801 ; p = 0,008 (p < 0,05). Besar pengaruh r = 0,41 atau setara 16,81% termasuk dalam efek menengah, 2) model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Selisih skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen (M = 0,820, SE = 0,228) lebih tinggi daripada selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol (M = 0,389, SE = 0,199). Perbedaan tersebut tidak dengan t (46) = - 1,426 ; p = 0,161 (p > 0,05). Besar pengaruh r = 0,21 atau setara 4,41% termasuk dalam efek kecil. Kata kunci : Kemampuan berpikir kritis, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, kemampuan mengeksplanasi, kemampuan meregulasi diri, mata pelajaran IPA. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MAKE A MATCH TYPE ON THE STUDENT’S ABILITY TO EXPLAIN AND SELF-REGULATE OF FIFTH GRADERS ELEMENTARY SCHOOL Poppy Septiana Pembayun Sanata Dharma University 2019 The background of this research was because of many ability requirements that should be had by students in this 21st century. The abilities are such as critical thinking, being creative, being innovative, able to give problem solving, and adapting to the environment. Besides, concerning about the low ability of Indonesian students on Science as indicated by research conducted by PISA in 2009, 2012, and 2015. This research aimed to know the effect of the implementation of cooperative learning model type ‘Make a Match’ to students’ ability in the explanation and self-regulation of V graders of elementary school. This research was quasi-experimental type pretest – posttest non equivalent group design. The population used was all of the V graders in a private school in Yogyakarta. There were 73 students. The sample of this research were two groups which were 24 student VA class as the control class, and 24 students were in VB class as the experimental class. The treatment given to the experimental class was cooperative learning model type ‘Make a Match’ with the learning steps as follow: 1) preparing the card, 2) dividing the cards, 3) thinking for the question and answer, 4) looking for pair, 5) giving score, 6) repeating the game, and 7) giving reward. The result of this research showed that: 1) cooperative learning type ‘Make a Match’ affects the ability of explanation. The deviation score of pretest-posttest I on the experimental class (M = 0,861, SE = 0,1230) was higher than deviation score of pretest-posttest I on the control class (M = 0,222 , SE = 0,192). The difference was significant with t (39,129) = - 2,801 ; p = 0,008 (p < 0,05). The effect of r = 0,41 or 16,81% and included into middle effect category, 2) the cooperative learning model type ‘Make a Match’ did not affect the ability of selfregulation. The deviation score of pretest-posttest I on the experimental class (M = 0,820, SE = 0,228) was higher than the deviation score of pretest-posttest I on the control class (M = 0,389, SE = 0,199). The difference was not with t (46) = - 1,426 ; p = 0,161 (p > 0,05). The effect of r = 0,21 or 4,41% and included into small effect category. Keywords:Critical thinking skills, cooperative learning model Make a Match type, the explanating ability, the self-regulating ability, Science. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan kasih-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD”, disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing, mendukung dan memberi motivasi dengan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi H., S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing, mendukung dan memberi semangat dengan baik. 6. Drs. Puji Purnomo, M.Si selaku Dosen Penguji III yang telah memberi masukan pada penelitian ini. 7. Tarcicius Tri Indartanta, S.Sos selaku Kepala Sekolah di SD yang menjadi tempat penelitian. 8. Putri El Pareka, S.Pd selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian. 9. Roberta Imma Dyas, S.Pd selaku wali kelas VA yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian di kelas tersebut. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Siswa kelas VA dan VB tahun pelajaran 2018/2019 di SD tempat penelitian yang telah bersedia terlibat dalam penelitian dengan antusias. 11. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu proses penelitian perizinan penelitian skripsi. 12. Kedua orangtuaku, Edhi Sudarsono dan Kus Sulastri yang selalu mendoakan, memberi semangat dan memberikan yang terbaik hingga saat ini. 13. Adikku Damar Christian Edhi Nugroho yang menjadi penyemangatku untuk segera menyelesaikan pendidikan. 14. Sahabatku, Dena Krismareta dan Florentina Febriyani yang memberi semangat dan menjadi pendengar yang baik selama kuliah. 15. Teman-teman kelas VII C angkatan 2015 yang telah menemani berproses untuk sama-sama memperjuangkan gelar Sarjana Pendidikan. 16. Teman-teman penelitian kolaboratif payung Clara, Herlin, Halimah, Anggun, Niken, Lintang, Agnes, Rani, Melsa, Eriene, dan Felis yang telah memberi semangat. 17. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini dan tidak dapat disebutkan satu per satu. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena adanya keterbatasan kemampuan peneliti. Maka peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN .............................. Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iii HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .......................................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 7 1.3 Tujuan Masalah ................................................................................................ 8 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 8 1.4.1 Bagi Siswa ..................................................................................................... 8 1.4.2 Bagi Guru....................................................................................................... 8 1.4.3 Bagi Sekolah .................................................................................................. 8 1.4.4 Bagi Peneliti................................................................................................... 8 1.5 Definisi Operasional ........................................................................................ 9 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 10 2.1 Kajian Pustaka ............................................................................................... 10 2.1.1 Teori yang Mendukung................................................................................ 10 2.2 Penelitian yang Relevan ................................................................................. 28 2.2.1 Penelitian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match ................ 28 2.2.2 Penelitian Berpikir Kritis ............................................................................. 29 2.2.3 Literature Map ............................................................................................. 31 2.3 Kerangka Berpikir .......................................................................................... 32 2.4 Hipotesis Penelitian ....................................................................................... 33 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 34 3.1 Jenis Penelitian............................................................................................... 34 3.2 Setting Penelitian ........................................................................................... 35 3.2.1 Lokasi Penelitian ......................................................................................... 35 3.2.2 Waktu penelitian .......................................................................................... 36 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ..................................................................... 37 3.3.1 Populasi ....................................................................................................... 37 3.3.2 Sampel ......................................................................................................... 37 3.4 Variabel Penelitian ......................................................................................... 37 3.4.1 Variabel Independen .................................................................................... 38 3.4.2 Variabel Dependen ...................................................................................... 38 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 39 3.6 Instrumen Penelitian ...................................................................................... 40 3.7 Teknik Pengujian Instumen ........................................................................... 41 3.7.1 Uji Validitas ................................................................................................. 42 3.7.2 Uji Reliabilitas ............................................................................................. 45 3.8 Teknik Analisis Data ...................................................................................... 45 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan ............................................................................... 46 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut .................................................................................. 52 3.9 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian .......................................... 57 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................... 64 4.1 Hasil Penelitian .............................................................................................. 64 4.1.1 Implementasi Penelitian............................................................................... 64 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data................................................................................ 76 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ............................................................................. 80 4.1.4 Hasil Uji Hipotesis II ................................................................................... 94 4.2 Pembahasan .................................................................................................. 108 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal ......................................... 108 4.2.2 Pembahasan Terhadap Hipotesis ............................................................... 112 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori .................................................. 120 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 124 5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 124 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................ 125 5.3 Saran ............................................................................................................ 125 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 126 LAMPIRAN ....................................................................................................... 131 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE ..................................................................................... 229 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Facione ..................................... 23 Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ..................................................................... 36 Tabel 3.2 Pemetaan Instrumen Penelitian ............................................................. 40 Tabel 3.3 Matriks Pengembangan Instrumen........................................................ 41 Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen ............................................................... 44 Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen ............................................................... 44 Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ............................................................ 45 Tabel 3.7 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan ........................................................... 50 Tabel 3.8 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan ........................................................... 51 Tabel 4.1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 76 Tabel 4.2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 77 Tabel 4.3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Meregulasi diri ......................................................................................................................... 78 Tabel 4.4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Meregulasi diri ...................................................................................................... 79 Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest .................... 81 Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 82 Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 82 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Selisih Pretest – Posttest I 83 Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................... 84 Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 84 Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 86 Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ............................................................................................................................... 87 Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 87 Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................... 90 Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 91 Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................... 92 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II pada Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................... 92 Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II pada Kemampuan Mengeksplanasi ............................................................................... 93 Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest .................. 95 Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi diri ...................................................................................................... 96 Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal pada Kemampuan Meregulasi diri ......................................................................................................................... 96 Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Selisih Pretest – Posttest I ............................................................................................................................... 97 Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Meregulasi diri ................................................................................. 98 Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri ......................................................................................................................... 99 Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Meregulasi diri ............................................................................................................................. 100 Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ............................................................................................................................. 101 Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri ....................................................................................................................... 101 Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Meregulasi diri ............................................................................... 104 Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri .................................................................................................... 105 Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Meregulasi diri ............................................................................... 106 Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II pada Kemampuan Meregulasi diri ............................................................................... 106 Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II pada Kemampuan Meregulasi Diri .............................................................................. 107 Tabel 4.33 Pengendalian Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian ....... 108 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Proses pembentukan skema, akomodasi, dan asimilasi .................... 12 Gambar 2.2 Zone of Proximal Development ......................................................... 15 Gambar 2.3 Denah kelas model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match..... 22 Gambar 2.4 Literature Map .................................................................................. 31 Gambar 3.1 Desain Penelitian ............................................................................... 35 Gambar 3.2 Desain Perhitungan Perlakuan .......................................................... 35 Gambar 3.3 Desain Variabel Penelitian ................................................................ 38 Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan .................................................... 51 Gambar 3.5 Rumus Korelasi Pearson Data Tidak Normal................................... 51 Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh.............................................................. 52 Gambar 3.7 Rumus Besar Presentase Pretest ke Posttest I .................................. 53 Gambar 3.8 Rumus Gain Score ............................................................................ 53 Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Normal ........................ 53 Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Tidak Normal ............ 54 Gambar 3.11 Rumus Persentase Peningkatan ....................................................... 54 Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi ........................................................ 56 Gambar 3.13 Desain Ancaman Validitas Internal Sejarah................................... 59 Gambar 4.1 Peningkatan Rerata Skor Pretest – Posttest 1 pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 85 Gambar 4.2 Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 86 Gambar 4.3 Peningkatan Skor Rerata Pretest – Posttest I .................................... 88 Gambar 4.4 Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi ........................................ 89 Gambar 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest 1, Posttest 2 pada Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................................................... 93 Gambar 4.6 Peningkatan Rerata Skor Pretest – Posttest 1 pada Kemampuan Meregulasi diri ...................................................................................................... 99 Gambar 4.7 Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri ....................................................................................................................... 100 Gambar 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri .................................................................................................... 102 Gambar 4.9 Gain Score Kemampuan Meregulasi diri ........................................ 103 Gambar 4.10 Perbandingan skor Pretest, Posttest 1, dan Posttest 2 .................. 107 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian...................................................................... 132 Lampiran 1.2 Surat Keterangan Validasi Soal .................................................... 133 Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Kontrol ........................................................... 134 Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Eksperimen .................................................... 138 Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol.............. 142 Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ....... 146 Lampiran 3.1 Soal Uraian ................................................................................... 159 Lampiran 3.2 Kunci Jawaban Soal Uraian .......................................................... 166 Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian ........................................................................... 171 Lampiran 3.4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgement............................................ 176 Lampiran 3.5 Tabulasi Data Validasi Instrumen ................................................ 187 Lampiran 3.6 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas ................................................ 188 Lampiran 3.7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas ............................................ 190 Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi ............................... 191 Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri ............................. 192 Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data .................................. 193 Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian............................................ 194 Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................. 195 Lampiran 4.6 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................. 197 Lampiran 4.7 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan .......................... 199 Lampiran 4.8 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I................... 200 Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 202 Lampiran 4.10 Hasil Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ............. 203 Lampiran 4.11 Perhitungan Persentase Gain Score ............................................ 205 Lampiran 4.12 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I ..... 207 Lampiran 4.13 Hasil Uji Retensi Perlakuan ........................................................ 209 Lampiran 4.14 Sampel Hasil Jawaban Siswa ..................................................... 217 Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran ................................................. 227 Lampiran 5.2 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian..................................... 228 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Abad 21 ditandai dengan adanya perkembangan informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi yang merambah segala aspek kehidupan manusia. Hal tersebut berdampak pada pendidikan yang diterapkan, termasuk model pembelajaran yang dapat memenuhi segala tuntutan abad 21. Terkait hal tersebut, maka model pembelajaran di abad 21 juga perlu menyesuaikan diri. Kemdikbud (dalam Widihastuti, 2012: 79) menjelaskan bahwa model pembelajaran abad 21 adalah 1) pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong peserta didik agar mampu mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu, 2) pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong peserta didik agar mampu merumuskan masalah (menanya), 3) pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong peserta didik agar mampu berpikir analitis (mengambil keputusan) bukan berpikir mekanis (rutin), 4) pembelajaran yang menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran pada abad 21 harus mampu menghasilkan SDM yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan. Dalam hal ini, berpikir kritis dapat meningkatkan keterampilan verbal dan analitik (Widihastuti, 2015: 77). Berpikir kritis adalah sebuah proses terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis, dan untuk berpendapat dengan cara yang tergorganisasi (Johnson, 2007: 183). Pendapat lain menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan suatu keterampilan dalam memilah mana yang bernilai dari sekian banyak gagasan atau melakukan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari (Tawil & Liliasari, 2013: 8). Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan berpikir kritis penting untuk dimiliki oleh anak untuk dapat merumuskan pendapat mereka dengan cara menganalisis masalah dengan baik. Menurut Facione (1990: 6) kemampuan berpikir kritis dibagi menjadi enam sub kemampuan yaitu kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Siswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis tersebut untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis, dan untuk berpendapat dengan cara yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut erat kaitannya dengan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Kemampuan mengekspalanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan hasil penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual dalam sebuah argumen yang kuat (Facione, 1990: 10). Kemampuan berpikir kritis pada sub kemampuan mengekspalanasi dapat digali melalui soal-soal dengan kata tanya “Mengapa?” untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memaparkan argumen-argumen akan suatu hal. Selain itu, soal dengan kata tanya “Bagaimana?” juga dapat digunakan untuk mambantu siswa mengembangkan kemampuan menjelaskan hasil penalarannya akan suatu hal. Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk memonitor aktivitas kognitifnya sendiri. Unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 1990: 11). Kemampuan berpikir kritis pada sub kemampuan regulasi diri dapat digali melalui soal dengan kalimat tanya “Apakah tindakan yang kamu lakukan tersebut sudah benar?” untuk mengajak siswa melakukan refleksi/ koreksi diri terhadap suatu tindakan yang dilakukannya terhadap suatu hal. Kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri penting untuk dimiliki oleh siswa sekolah dasar sebagai hasil pembelajaran di abad 21 yaitu kemampuan berpikir kritis. Pendidikan di sekolah dasar (SD) merupakan jenjang paling dasar pada pendidikan formal yang memiliki peran yang penting bagi keberlangsung proses pendidikan pada jenjang selanjutnya. Oleh sebab itu, pembelajaran di SD harus menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Taubany & 2

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Suseno, 2017: 194). Suatu pengetahuan diperoleh dari adanya proses belajar. Proses belajar merupakan aktivitas di mana otak menginterpretasikan pengalaman yang baru didapatkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan format yang baru (Trianto, 2009: 16). Dalam hal ini, pengetahuan baru yang dimiliki siswa dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitarnya. Siswa SD berusia 7-11 tahun. Menurut Piaget, siswa SD berada ada tahap operasional konkret. Pada tahap ini siswa belajar melalui pengalaman-pengalaman konkret yang disusun sebagai pengetahuan baru, oleh sebab itu kegiatan pembelajaran yang diberikan hendaknya kegiatan belajar yang memberikan pengalaman yang konkret yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain belajar melalui pengalaman konkret, siswa SD juga tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosialnya. Orang lain juga berperan dalam perkembangan kognitif anak (Vygotsky, dalam Santrock, 2009). Artinya dalam perkembangan kognitif pada siswa juga dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya yaitu guru, teman sebaya, dan orang tua. Vygotsky menyatakan bahwa terdapat dua tingkat perkembangan yaitu zona perkembangan aktual dan zona perkembangan potensial. Zona perkembangan aktual merupakan tingkat ketercapaian yang dapat dilakukan oleh anak secara mandiri, sedangkan zona perkembangan potensial merupakan tingkat ketercapaian yang dapat diperoleh anak dengan bantuan orang yang lebih dewasa atau dengan kolaborasi bersama teman sebayanya yang lebih mampu (Huda, 2014: 40). Dalam hal ini, ada sebuah jarak di antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial disebut Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development atau ZPD). Pembelajaran yang diberikan di sekolah hendaknya disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa khususnya pada pembelajaran IPA yang erat kaitannya dengan lingkungan sekitar siswa. Di sekolah, salah satu pelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pembentukan karakter siswa yaitu mata pelajaran IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam (Samatowa, 2010: 4). Oleh sebab itu, pembelajaran IPA memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan kritis terhadap hal-hal yang bersifat ilmiah. 3

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kemampuan-kemampuan yang akan dikembangkan dengan menyesuaikan tingkat perkembangan kognitif siswa SD. Di Indonesia kualitas pendidikan masih tergolong rendah. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil penelitian oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2009, 2012, dan 2015. Pada tahun 2009 Indonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara di dunia pada mata pelajaran IPA (OECD, 2009: 1). Pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara di dunia dengan skor 382 pada mata pelajaran IPA (OECD, 2013: 232). Di tahun 2015, masih pada mata pelajaran IPA Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor 403 (OECD, 2016: 8). Dengan demikian, prestasi siswa mengalami penurunan dari tahun 2009 ke 2012 di mana posisi Indonesia turun sebanyak 7 tingkat sehingga menduduki posisi 2 terbawah. Pada tahun 2015 Indonesia mampu menaikkan posisi 2 tingkat ke atas. Meskipun demikian posisi tersebut masih berada di peringkat sepuluh terbawah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA menunjukkan bahwa kemampuan siswa khususnya pada mata pelajaran IPA masih rendah. Rendahnya kemampuan siswa dapat dipengaruhi oleh proses belajar yang kurang sesuai dengan perkembangan kognitif dan karakteristik siswa SD. Kegiatan pembelajaran pada umumnya yang dijumpai di Indonesia adalah pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga guru sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Ketika berada di dalam kelas, guru menjelaskan materi sedangkan siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi atau yang sering disebut dengan metode ceramah. Metode ceramah adalah cara menyampaikan materi secara lisan oleh guru kepada siswa (Suprihatiningsih, 2016: 34). Kelemahan metode ceramah adalah membuat siswa pasif, siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya dalam menyampaikan gagasan, membendung daya kritis siswa, sukar mengontrol sejauh mana penerimaan belajar siswa, dan bila terlalu lama siswa akan bosan (Suyanto & Jihad, 2013: 114). Oleh sebab itu, guru perlu memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan karakteristik siswa sehingga lebih efektif dan melibatkan siswa pada kegiatan belajar siswa. Dengan demikian, hasil belajar siswa dapat meningkat. 4

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif. Berdasarkan sebuah penelitian (Slavin, dalam Rusman, 2017: 297), manfaat belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif yaitu 1) dapat meningkatkan pretasi belajar siswa sekaligus meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain, 2) dapat memenuhi kebutuhan siswa akan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Maka dari itu, solusi yang ditawarkan adalah dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis yaitu pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Salah satu cara meningkatkan kemampuan pada pelajaran IPA yaitu dengan meningkatkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif di kelas. Terdapat berbagai tipe dalam pembelajaran kooperatif, yaitu Make a Match, Jigsaw, Student Team Achievement Division (STAD), Think Pair Share, Group Investigation, Team Game Tournament (TGT) dan sebagainya (Rusman, 2014: 213). Pada penelitian ini, peneliti hanya fokus pada model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match merupakan model pembelajaran yang menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, kerja sama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis, munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa dan melatih ketelitian, ketepatan dan kecepatan. Selain itu, pelaksanaan harus didukung dengan keaktifan siswa untuk mencari pasangan dengan kartu jawaban yang sesuai dengan kartu pertanyaan (Shoimin, 2014: 98). Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match juga mengharuskan siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana yang menyenangkan (Lie, 2010: 55). Kekhasan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah siswa belajar dengan mencari pasangan kartu sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana yang menyenangkan. Selain itu, tipe Make a Match dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa (Lie, 2010: 55). Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki tujuh tahap yaitu (Sani, 2013: 196-197): 1) menyiapkan kartu, 2) pembagian kartu, 3) memikirkan soal dan 5

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI jawaban, 4) mencari pasangan, 5) pemberian nilai, 6) pengulangan permainan, dan 7) pemberian penghargaan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dalam mata pelajaran IPA. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match diduga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri karena pada model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa diberi kesempatan untuk memikirkan soal dan jawaban dari masing-masing kartu yang dibawa oleh siswa. Di dalam kartu juga dapat dibuat pertanyaan yang melatih siswa untuk memiliki kemampuan berpikir kritis yang mengacu pada sub kemampuan mengeksplanasi dengan menggunakan kata tanya “Mengapa?” dan “Bagaimana?” serta sub kemampuan meregulasi diri dengan kalimat tanya “Apakah tindakan yang kamu lakukan sudah benar?” dengan cara menyenangkan dan melibatkan seluruh siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berbagai jurnal diterbitkan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Penelitian yang dilakukan oleh Artawa dan Suwarta (2013) menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap prestasi belajar Matematika. Penelitian yang dilakukan oleh Anggarawati, dkk (2014) menunjukkan bahwa model pembelajaran Make a Match berbantuan media kartu gambar berpengaruh terhadap hasil belajar IPS. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Gull & Shehzad (2015) menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran kooperatif dapat memiliki efek positif dalam prestasi belajar siswa yang terdaftar dalam mata pelajaran. Dari penelitian-penelitian mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki dampak positif bagi siswa. Hal ini menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Berbagai jurnal mengenai berpikir kritis juga diterbitkan. Penelitian Anindya dan Suwarjo (2014) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis dan regulasi diri pada pembelajaran yang menggunakan problem based learning. Penelitian yang dilakukan Nasution (2017) menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap 6

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar Matematika. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Azizmalayeri, dkk (2012) menunjukkan bahwa metode inkuiri terbimbing memiliki dampak lebih tinggi pada kemampuan berpikir kritis siswa. Hal tersebut juga menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ternyata belum banyak yang melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan berpikir kritis terutama pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Unsur yang membedakan penelitian yang terdahulu dengan penelitian ini adalah 1) subjek penelitian adalah siswa kelas V SD, 2) kemampuan berpikir kritis yang diteliti mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Facione yaitu pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD pada mata pelajaran IPA. Materi pembelajaran yang diambil dari Tema 2 yaitu sistem pernapasan pada hewan. Fokus penelitian mata pelajaran IPA dibatasi pada Kompetensi Inti 3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain; dengan Kompetensi Dasar 3.2. Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Penelitian ini ini menggunakan metode penelitian quasi experimental dengan tipe pretest – posttest non-equivalent group design dengan teknik pengambilan sampel menggunakan desain nonprobability sampling tipe convenience sampling. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD? 7

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Masalah 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa - Mendapatkan pengalaman belajar yang baru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. - Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. 1.4.2 Bagi Guru Mendapatkan pengetahuan baru tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada mata pelajaran IPA materi pernapasan hewan untuk meningkatkan kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. 1.4.3 Bagi Sekolah Mendapatkan referensi dan wawasan baru mengenai penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada mata pelajaran IPA materi pernapasan hewan. 1.4.4 Bagi Peneliti Mendapatkan pengalaman dalam mengujicobakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sehingga kelak dapat diterapkan ketika menjadi seorang guru dalam meningkatkan kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. 8

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang membentuk siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima orang siswa untuk bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan belajar. 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah model pembelajaran yang mengajak siswa untuk mencari pasangan sambil belajar dengan suasana belajar yang menyenangkan dengan langkah-langkah: 1) menyiapkan kartu, 2) pembagian kartu, 3) memikirkan soal dan jawaban, 4) mencari pasangan, 5) pemberian nilai, 6) pengulangan permainan, dan 7) pemberian penghargaan. 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian dengan tujuan menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasilnya yang terdiri dari 6 kemampuan yaitu kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. 1.5.4 Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan hasil penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual dalam sebuah argumen yang kuat. 1.5.5 Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. 9

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II ini berisi tentang kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian teori membahas teori-teori yang mendukung dan beberapa kajian penelitian yang relevan. Kerangka berpikir berisikan kerangka pemikiran dan hipotesis berisi dugaan sementara tentang jawaban suatu rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung Untuk sebuah penelitian yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis siswa SD pada mata pelajaran IPA, teori yang digunakan untuk mendukung penelitian adalah teori perkembangan anak menurut Jean Piaget (1896 -1980) dan Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934), pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, berpikir kritis, kemampuan mengeksplanasi, kemampuan meregulasi diri, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan materi mengenai pernapasan hewan. 2.1.1.1 Perkembangan Anak Perkembangan adalah proses yang berkaitan dengan perubahan kualitatif yang menyangkut kematangan fungsi organ dan psikologis manusia yang tidak dapat diukur dengan alat ukur (Sunarto, 2008: 35). Perkembangan yang dialami oleh manusia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Beberapa ahli psikologi mengemukakan pendapat yang berbeda mengenai perkembangan manusia. Dalam penelitian ini, teori yang digunakan sebagai acuan yaitu teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dan teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky. Teori perkembangan kognitif oleh Piaget digunakan sebagai acuan karena Piaget mengemukakan tahapan-tahapan perkembangan kognitif pada anak sehingga peneliti dapat mengetahui tahapan perkembangan kognitif siswa yang akan diteliti. Teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky juga digunakan sebagai acuan karena teori tersebut membahas pembelajaran sosial anak yang dapat 10

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan untuk mendukung model pembelajaran kooperatif. Kedua tokoh tersebut, merupakan tokoh dari teori konstruktivisme. Dalam model pembelajaran kooperatif, anak memerlukan kemampuan berinteraksi dengan guru dan temannya. Oleh sebab itu, kedua teori ini sesuai dengan variabel penelitian. 1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Jean Piaget (1896-1980) merupakan tokoh psikologi lahir di Neuchatel, Swiss. Sejak kecil Piaget tertarik pada alam dan gemar mengamati burung, ikan, serta hewan lainnya (Crain, 2007: 167 & Slavin, 2008: 42). Ketika ia berusia 10 tahun, Piaget sudah menerbitkan sebuah artikel tentang burung albino dalam sebuah majalah ilmu pengetahuan alam. Kemudian pada tahun 1916, Piaget berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang biologi di Universitas Neuchatel. Selang dua tahun, ia menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar doktor filsafat. Setelah memperoleh gelar doktornya, Piaget menjadi lebih tertarik dengan dunia psikologi. Pada tahun 1920, Piaget bekerja di Laboratorium Binet di Paris. Saat itu, ia bertugas dalam mengembangkan tes penalaran pada anak-anak (Crain, 2007: 168). Sejak saat itu pula, Piaget mulai melakukan pengamatan terhadap ketiga anaknya. Dalam pengamatannya, ia menerapkan prinsip dan metode biologi pada studi perkembangan manusia yang dilakukannya (Slavin, 2008: 42). Berdasarkan hasil pengamatannya, Piaget berpendapat bahwa pemikiran anak yang lebih dewasa berbeda secara kualitatif dengan anak yang lebih muda atau dengan kata lain cara berpikir anak berbeda dengan cara berpikir orang dewasa (Suparno, 2001: 11-19). Ada beberapa anak yang mengalami perkembangan yang relatif cepat dan beberapa anak mengalami perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak-anak se usianya. Piaget juga menyatakan ada dua poin teori perkembangan kognitif pada anak, yaitu : 1) tidak ada seorang anak yang dapat melewati satu tahap perkembangan kognitif walaupun anak-anak tersebut melewatinya dengan kecepatan yang berbeda-beda. 2) adanya perubahan kemampuan dalam setiap perkembangan kognitif anak (Suprijono, 2009: 58). Dalam pengamatannya, Piaget banyak menggunakan konsep-konsep biologis karena latar belakangnya sebagai seorang ahli biologi sehingga Piaget mengkarakterisasikan aktivitas anak berdasarkan kecenderungan-kecenderungan 11

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI biologis yang dimiliki. Kecenderungan-kecenderungan yang dimaksud yaitu asimilasi dan akomodasi (Crain, 2007: 172). Dalam perkembangan kognitif anak, mereka akan terus menerus mengembangkan skema yang dimiliki. Semakin dewasa maka skema yang dimiliki oleh anak semakin lengkap. Skema adalah struktur mental yang dimiliki seseorang di mana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungannnya berdasarkan pengalaman yang dimiliki (Suparno, 2001: 21). Pada proses pembentukan skema, anak akan mengalami proses asimilasi dan akomodasi. Berikut adalah bagan proses pembentukan skema, akomodasi dan asimilasi. (Sumber : https://www.simplypsychology.org/piaget.html) Gambar 2.1 Proses pembentukan skema, akomodasi, dan asimilasi Asimilasi adalah proses kognitif seseorang dalam mengintegrasikan persepsi, konsep dan pengalaman baru ke dalam skema yang sudah ada di dalam pikirannya. Proses asimilasi bukan hanya mengembangkan skema tetapi juga melengkapi skema (Suparno, 2001: 22). Sedangkan akomodasi adalah proses membuat perubahan pada skema yang telah dimiliki (Crain, 2007: 172). Akomodasi yang dilakukan oleh seseorang dapat berupa membentuk skema baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan stimulus yang baru (Suparno, 2012: 23). Selama proses perkembangan kognitif, diperlukan adanya keseimbangan asimilasi dan akomodasi. Proses pengaturan keseimbangan asimilasi dan akomodasi disebut ekuilibrium. Sedangkan disekuilibrium adalah keadaan ketidakseimbangan asimilasi dan akomodasi. Proses dari keadaan disekuilibrium menuju keadaan ekuilibrium disebut ekuilibrasi (Suparno, 2001: 23). 12

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahap yaitu tahap sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasi formal (Crain, 2007: 173). a. Tahap Sensorimotor (Usia 0-2 tahun) Tahap sensorimotor adalah tahap awal perkembangan kognitif anak. Pada tahap sensorimotor, anak akan mengeksplorasi dunianya melalui panca indera yaitu dengan melihat, meraba, membau, mendengar dan mengecap sesuatu (Suparno, 2001: 27). Selain dengan panca inderanya, anak mengenali lingkungan dengan gerakan motorik yang dimiliki (Tung, 2015: 25). Anak usia 0-2 tahun belum dapat berbicara dengan bahasa karena belum memiliki bahasa simbol untuk mengungkapkan benda yang tidak ada disekitarnya. b. Tahap Pra-operasional (Usia 2 – 7 tahun) Tahap pra-operasional adalah tahapan perkembangan kognitif yang ditandai dengan adanya fungsi semiotik yaitu penggunaan simbol atau tanda untuk menyatakan atau menjelaskan suatu objek yang saat itu tidak bersamanya (Suparno, 2001: 49). Pada tahap ini usia 2-4 tahun, yang menonjol adalah pemikiran simbolik yang dapat dilihat pada anak yang sedang bermain boneka. Anak akan menganggap bahwa boneka tersebut adalah adik atau anaknya. Sedangkan pada usia 4-7 tahun, perkembangan kognitif yang identik yaitu pemikiran intiuitif yaitu penggunaan tanda terhadap sesuatu yang terjadi. Seperti ketika anak mengatakan bahwa air di dalam gelas A lebih banyak daripada air di dalam gelas B padahal volume airnya sama hanya ukuran gelas A dan B berbeda. c. Tahap Operasional Konkret (Usia 7 – 11 tahun) Tahap operasional konkret ditandai dengan adanya perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis (Suparno, 2001: 69). Anak sudah dapat mengembangkan operasi logis yang bersifat reversibel dan kekekalan. Sifat reversibel berarti anak mengerti proses perubahan seperti mengurutkan atau pola, sedangkan sistem kekekalan berupa mampu menentukan volume air pada tabung yang berbeda bentuknya. Tabung I lebar dan tabung II sempit tetapi panjang. Kedua tabung tersebut diisi dengan volume air yang sama. Dalam hal ini, anak sudah memgetahui bahwa meskipun tinggi air dalam tabung tidak sama, volume air dalam tabung tetap sama. Meskipun demikian, pemikiran 13

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang logis yang dimiliki anak masih terbatas karena pemikiran logisnya masih berdasar pada benda-benda konkret yang dilihatnya atau benda-benda yang nyata (Suparno, 2001: 86). d. Tahap Operasional Formal (Usia 11 – dewasa) Tahap operasional formal merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif (Suparno, 2001: 88). Dalam tahap ini, seseorang sudah dapat berpikir dengan cara abstrak. Pikirannya sudah dapat melampaui waktu dan tempat dan tidak hanya terikat pada hal yang telah dialami serta diamati tetapi sudah dapat berpikir mengenai sesuatu yang akan datang karena mampu berpikir secara hipotetis (sebab-akibat). Pikiran yang dimiliki oleh remaja sama dengan pikiran orang dewasa secara kualitas, namun berbeda secara kuantitas karena dipengaruhi oleh pengalaman dan skema yang ada (Suparno, 2001: 100). Berdasarkan teori perkembangan kognitif menurut Piaget, teori tersebut didasarkan pada kecenderungan-kecenderungan biologis yang dilakukan oleh anak secara individu. Kecenderungan tersebut terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi pada skema anak. Skema yang dimiliki anak akan terus menerus dikembangkan dalam perkembangan kognitif yang anak-anak alami. Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahap yaitu: a) tahap sensorimotor b) tahap pra-operasional c) tahap operasional konkret d) tahap operasional formal. Dari empat tahap perkembangan kognitif menurut Piaget, siswa kelas V SD yang umumnya berusia 10-11 tahun masuk dalam tahap operasional konkret. Pada tahap tersebut, siswa mampu berpikir logis untuk memecahkan masalah berdasarkan apa yang dilihat atau nyata ada di sekitar mereka. 2. Teori Pembelajaran Sosial Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah seorang psikologi Soviet yang mengembangkan social development theory. Vygotsky tumbuh besar di Gomel bersama ayahnya seorang eksektif bank dan ibunya seorang guru. Sejak kecil, Vygotsky suka membaca sejarah, karya sastra, dan puisi (Wertsch, dalam Crain, 2007: 334 – 335). Latar belakang itulah yang mendasari Vygotsky untuk berusaha menciptakan sebuah teori yang memadukan dua garis, yaitu garis utama 14

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perkembangan atau garis ilmiah yang muncul dari dalam diri manusia dan garis sosial historis yang memengaruhi manusia sejak kecil tanpa bisa dihindari. Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan pengetahuan pada anak dibangun dan dikonstruksi secara mutual (Crain, 2007: 334). Dalam teori Vygotsky, orang lain juga berperan dalam perkembangan kognitif anak (Vygotsky, dalam Santrock, 2009). Artinya dalam perkembangan kognitif pada anak juga dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Ketika perkembangan kognitif dipengaruhi oleh lingkungan, bukan berarti anak pasif. Individu pembelajar tetap menentukan perkembangan kognitif mereka tetapi juga didukung oleh lingkungan sekitar mereka. Hal itulah yang mendasari teori Vygotsky sering disebut sebagai teori konstruktivisme (Suparno, 2012: 122). Dalam teori konstruktivisme, Vygotsky mengemukakan tiga zona yaitu Zone of Actual Development, Zone of Proximal Development dan Zone of Potential Development (Huda, 2014: 39). (Sumber: https://vygotskyetec512.weebly.com/zone-of-proximal-development.html) Gambar 2.2 Zone of Proximal Development Terdapat dua tingkat perkembangan yaitu zona perkembangan aktual dan zona perkembangan potensial. Zona perkembangan aktual merupakan tingkat ketercapaian yang dapat dilakukan oleh anak secara mandiri, sedangkan zona perkembangan potensial merupakan tingkat ketercapaian yang dapat diperoleh anak dengan bantuan orang yang lebih dewasa atau dengan kolaborasi bersama teman sebayanya yang lebih mampu (Huda, 2014: 40). Ada sebuah jarak di antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial disebut Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development atau ZPD). 15

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vygotsky meyakini bahwa pembelajaran terjadi ketika anak-anak berada pada Zona Perkembangan Proksimal mereka. Tugas-tugas dalam zona tersebut merupakan sesuatu yang masih belum dapat dikerjakan oleh anak secara mandiri tanpa bantuan orang dewasa atau teman yang lebih berkompeten. Oleh sebab itu, dalam ZPD terdapat sebuah pendukung yang disebut Scaffolding. Scaffolding adalah bantuan yang diberikan oleh teman sebaya yang lebih berkompeten atau orang dewasa untuk membantu memecahkan masalah selama tahap awal perkembangan (Slavin, 2011: 59). Umumnya scaffolding memberikan banyak bantuan selama tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan kemudian meminta anak untuk menyelesaikan tanggung jawabnya secara mandiri ketika dirasa sudah sanggup (Rosenshine & Meister, dalam Slavin, 2011: 59). Untuk mencapai Zone of Actual Development atau zona perkembangan aktual, proses kegiatan belajar perlu melibatkan siswa untuk saling membantu satu sama lain. Dari penjelasan di atas, dapat ditegaskan bahwa teori perkembangan kognitif menurut Vygotsky didasarkan pada interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya yang ikut mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak. Teori perkembangan kognitif Vygotsky sering disebut sebagai teori konstruktivisme. Dalam teori konstruktivisme dikembangkan menjadi tiga zona yaitu Zone of Actual Development, Zone of Proximal Development dan Zone of Potential Development. Agar anak dapat mencapai zona perkembangan aktual dari zona perkembangan potensial perlu adanya Scaffolding atau bantuan dari orang dewasa atau teman sebaya yang lebih berkompeten. Dalam proses belajar, salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dan sesuai dengan teori konstruktivisme adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif didukung oleh penekanan teori Vygotsky pada hakikat sosiokultural yakni fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerja sama antara individu. Implikasi dari teori Vygotsky adalah susunan kelas berbentuk kooperatif (Rusman, 2017: 301). Oleh sebab itu, model pembelajaran yang sesuai dengan teori Vygotsky yaitu model pembelajaran kooperatif. 16

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.2 Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa belajar dengan cara bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2017: 294). Pengertian pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru (Slavin, dalam Trianto, 2014: 108). Jadi, dapat ditegaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang membentuk siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima orang siswa untuk bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan belajar (Aqib, 2016: 15). Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok dapat dianggap sebagai pembelajaran kooperatif (Suprijono, 2009: 58). Agar mencapai hasil yang maksimal, terdapat lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan, yaitu: 1. Saling ketergantungan positif Dalam pembelajaran kooperatif terdapat dua tanggung jawab yang dimiliki oleh kelompok. Pertama, tanggung jawab kepada kelompok. Kedua, bertugas menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan (Suprijono, 2009: 58). 2. Tanggung jawab perseorangan Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang kuat (Suprijono, 2009: 58). Setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama. Agar tanggung jawab perseorangan tersebut dapat tumbuh maka kelompok belajar yang dibentuk tidak terlalu besar, melakukan asesmen terhadap semua siswa, memberikan tugas kepada siswa yang dipilih secara random, memberi tugas siswa untuk mengajar 17

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI temannya, dan melibatkan siswa dalam memeriksa hasil pekerjaan temannya. 3. Interaksi promotif Interaksi promotif adalah di mana masing-masing anggota kelompok saling membantu anggota yang lain untuk menyelesaikan tugas (Huda, 2012). Interaksi promotif akan muncul dalam sebuah kelompok ketika setiap anggota kelompok membantu secara efektif dan efisien, saling memberikan timbal balik (feedback), saling memberikan pendapat, saling mendukung, saling percaya serta menjaga emosi saat melakukan interaksi. 4. Komunikasi antaranggota Komunikasi antaranggota merupakan sebuah keterampilan sosial. Untuk dapat mengoordinasikan kegiatan siswa dalam mencapai tujuan, siswa harus saling percaya, mampu berkomunikasi dengan baik dan tidak ambisius, saling menerima, saling mendukung, dan mampu menyelesaikan masalah secara konstruktif (Suprijono, 2009: 61). 5. Pemrosesan kelompok Pemrosesan mengandung arti menilai. Ada dua macam pemrosesan yaitu pemrosesan kelompok kecil dan kelas secara keseluruhan. Tujuan pemrosesan kelompok yaitu meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama. 2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif Karakter pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Rusman, 2017: 298). 1. Pembelajaran secara tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara tim. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama (Rusman, 2017: 299). 2. Didasarkan pada manajemen kooperatif Manajemen kooperatif merupakan sebuah perencanaan misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan apa yang harus 18

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen sebagai pelaksanaan, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilakukan sesuai rencana, melalui langkah-langkah yang sudah ditentukan. Selain itu, berfungsi sebagai kontrol yang menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes (Rusman, 2017: 299). 3. Kemauan untuk Kerja sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif didasarkan pada keberhasilan kelompok oleh sebab itu pembelajaran kooperatif menekankan pada kerja sama dan kebersamaan. 4. Keterampilan Kerja sama Dalam pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk sanggup berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik pada suatu tugas dan mereka harus mengoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya (Rusman, 2017: 300). 3. Manfaat Pembelajaran Kooperatif Penggunaan model pembelajaran kooperatif memiliki manfaat apabila digunakan dalam kegiatan belajar. Manfaat pembelajaran kooperatif yaitu dapat menciptakan sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa atau yang disebut dengan multi way traffic communication (Rusman, 2017: 295). Selain itu, berdasarkan sebuah penelitian (Slavin, dalam Rusman, 2017: 297), manfaat belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif yaitu 1) dapat meningkatkan pretasi belajar siswa sekaligus meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain, 2) dapat memenuhi kebutuhan siswa akan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Terdapat berbagai tipe dalam pembelajaran kooperatif, yaitu Make a Match, Jigsaw, Student Team Achievement Division (STAD), Think Pair Share, Group Investigation, Team Game Tournament (TGT) dan sebagainya (Rusman, 2014: 19

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 213). Pada penelitian ini, peneliti hanya fokus pada model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Dari pendapat dua ahli tersebut dapat diketahui bahwa manfaat dari pembelajaran kooperatif bagi siswa yaitu: a) prestasi belajar meningkat, b) meningkatkan komunikasi dan hubungan sosial siswa-guru maupun siswa-siswa, c) memenuhi kebutuhan siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. 2.1.1.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match (mencari pasangan) dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Karakteristik dari tipe Make a Match adalah memiliki hubungan yang erat dengan karakter siswa yang gemar bermain. Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match merupakan salah satu pendekatan konseptual yang mengajarkan siswa memahami konsep-konsep secara aktif, kreatif, interaktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah dipahami dan bertahan lama dalam struktur kognitif siswa (Huda, 2012: 135). Dengan demikian model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah model pembelajaran yang mengajak siswa untuk mencari pasangan sambil belajar dengan suasana belajar yang menyenangkan. Pelaksanaan harus didukung dengan keaktifan siswa untuk mencari pasangan dengan kartu jawaban yang sesuai dengan kartu pertanyaan (Shoimin, 2014: 98). Keunggulan dari pembelajaran tipe ini yaitu 1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik kognitif maupun fisik, 2) menyenangkan karena ada unsur permainan, 3) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, 4) efektif untuk melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi, 5) efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu (Huda, 2013: 253). Selain itu, siswa dapat mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana yang menyenangkan. Tipe Make a Match dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa (Lie, 2010: 55). 1. Manfaat Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Dalam pelaksanaannya di dalam kelas, pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki manfaat sebagai berikut. a) suasana kegembiraan akan tumbuh 20

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam proses pembelajaran, b) kerja sama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis, c) munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa, dan d) melatih ketelitian, ketepatan, dan kecepatan (Lie, 2010: 56). 2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Tujuan pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yaitu (Huda, 2013: 251): 1) pendalaman materi, 2) penggalian materi, 3) melakukan proses pembelajaran yang didesain dengan memadukan antar muatan materi dengan permainan (edutainment). 3. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yaitu (Sani, 2013: 196-197): 1. Menyiapkan kartu Pada langkah ini guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik yang akan dipelajari bersama. Kartu yang dibuat terdiri dari kartu pertanyaan dan kartu jawaban dengan jumlah yang sama pada masingmasing kartu. 2. Pembagian kartu Guru memberikan sebuah kartu kepada masing-masing siswa. Ada siswa yang memperoleh kartu pertanyaan dan ada yang mendapat kartu jawaban. 3. Memikirkan soal dan jawaban Siswa yang memperoleh kartu pertanyaan memikirkan jawaban dari kartu yang dipegang, sedangkan yang memperoleh kartu jawaban memikirkan soal yang relevan. 4. Mencari pasangan Siswa mencari siswa lain sebagai pasangan yang memiliki kartu yang cocok dengan kartu yang sedang dipegang. 5. Pemberian nilai Guru memberikan nilai (poin) untuk setiap pasangan siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang ditentukan. 21

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Pengulangan permainan Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dari sebelumnya. 7. Pemberian penghargaan Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki nilai tertinggi dan membimbing siswa untuk membuat kesimpulan. Berikut denah kelas model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Gambar 2.3 Denah kelas model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match 2.1.1.4 Berpikir Kritis Berpikr kritis adalah membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai (Facione, 1990: 4). Selain itu, berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi pemikiran untuk meningkatkan kualitas proses dan hasilnya. Berpikir kritis berfokus pada pemikiran refleksi, produksi, dan evaluasi fakta berdasarkan bukti yang ada (Tung, 2015: 224). Fungsi dari pembelajaran di kelas dengan memasukkan pembelajaran berpikir kritis yaitu 1) dapat membantu siswa untuk memiliki pemikiran yang terbuka, 2) mendorong rasa ingin tahu siswa, 3) melatih kemampuan kerja sama untuk menyusun suatu rencana dan strategi, 4) mengecek adanya ketidakakuratan dan kesalahan intelektual siswa (Perkins & Tishman, dalam Tung, 2015: 224). Berikut adalah tabel kemampuan berpikir kritis (Facione, 1990: 6): 22

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Facione No. 1. Skill Interpretasi Sub-Skill Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna 2. Analisis Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen 3. Evaluasi Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen 4. Kesimpulan Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan 5. Eksplanasi Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan 6. Regulasi-diri Refleksi diri Koreksi diri 2.1.1.5 Kemampuan Mengeksplanasi Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan hasil penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual dalam sebuah argumen yang kuat (Facione, 1990: 10). Sub kemampuan mengeksplanasi yaitu 1) menjelaskan hasil penalaran, 2) membenarkan prosedur yang digunakan, 3) memaparkan argumen-argumen yang digunakan (Facione, 1990: 10-11). 1. Kemampuan untuk menjelaskan hasil penalaran Kemampuan ini berfungsi untuk menghasilkan pernyataan, deskripsi, atau representasi yang akurat dari hasil penalaran seseorang sehingga dapat menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, atau memantau hasil penalaran (Facione, 1990: 10). Contoh kegiatan yang termasuk dalam kemampuan untuk menjelaskan hasil penalaran yaitu (Facione, 1990: 10) 1) menjelaskan alasan mengapa memegang keyakinan tertentu, 2) menyampaikan penerapan suatu gagasan di masa yang akan datang, 3) menjelaskan temuan-temuan dari hasil penelitian, 4) menjelaskan 23

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan, 5) merumuskan pernyataan atau deskripsi yang tepat dari hasil analisis, evaluasi, kesimpulan. 2. Membenarkan prosedur yang digunakan Kemampuan ini berfungsi untuk menyajikan pertimbangan yang konseptual, metodologis, kontekstual yang digunakan dalam membentuk interpretasi, analisis, evaluasi, atau kesimpulan seseorang sehingga seseorang dapat mengingat, mengevaluasi, menggambarkan atau membenarkan proses pembentukan interpretasi, analisis, evaluasi, atau kesimpulan terhadap diri sendiri atau orang lain untuk mengatasi kekurangan yang dirasakan dalam cara yang umum dilakukan oleh seseorang pada proses tersebut (Facione, 1990: 10). Contoh kegiatan yang termasuk dalam kemampuan membenarkan prosedur yang digunakan yaitu (Facione, 1990: 10) 1) menguraikan langkah-langkah yang teliti dalam menyelesaikan suatu permasalahan, 2) menjelaskan pilihan penggunaan alat ukur tertentu untuk analisis data, 3) menjelaskan standar yang digunakan untuk menilai sumber informasi, 4) menjelaskan konsep kunci yang berguna untuk penelitian lebih lanjut, 5) menunjukkan bahwa syarat-syarat metodologis tertentu sudah terpenuhi, 6) memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, 7) memaparkan grafik yang menunjukkan penggunaan bukti kuantitatif. 3. Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Kemampuan ini berfungsi memberikan alasan untuk menerima beberapa klaim dan untuk pemenuhan objek dari metode, konsep, bukti, kriteria, atau ketepatan konteks penilaian yang mencakup semua metode yang berhubungan dengan data (inferensial), analitis, atau evaluatif (Facione, 1990: 10). Contoh dari kemampuan memaparkan argumen-argumen yang digunakan yaitu (Facione, 1990: 10) 1) menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu, 2) mengantisipasi dan menjawab kemungkinan-kemungkinan kritik yang akan muncul dan akan dilontarkan, 3) memaparkan argumen-argumen yang pro maupun kontra terhadap pemikiran sendiri sebagai cara berpikir dialektis, 4) memberikan alasan-alasan mengapa menerima klaim tertentu, 5) menjawab keberatan-keberatan terhadap metode, konsep, kriteria, atau bukti yang digunakan dalam menganalisis, menyimpulkan dan mengevaluasi suatu argumen. 24

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.6 Kemampuan Meregulasi diri Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk memonitor aktivitas kognitifnya sendiri. Unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. Sub kemampuan meregulasi diri yaitu (Facione, 1990: 11) 1) refleksi diri, 2) koreksi diri. 1. Refleksi Diri Kemampuan refleksi diri memiliki fungsi yaitu (Facione, 1990: 11) 1) merefleksikan penalaran pribadi dan memverifikasi hasil yang dihasilkan untuk diaplikasikan secara benar dengan pelaksanaan yang melibatkan keterampilan kognitif, 2) membuat penilaian kognitif yang objektif dan bijaksana dari pendapat dan alasan seseorang, 3) menilai sejauh mana pemikiran seseorang yang dipengaruhi oleh kekurangan dalam pengetahuan, emosi, dan faktor lain yang menghambat objektivitas dan rasionalitas, 4) merefleksikan motivasi, nilai, sikap, dan kepentingan seseorang untuk menentukan pandangan bahwa seseorang telah berusaha bersikap untuk adil, teliti, dan objektif. Beberapa contoh kegiatan dari kemampuan seseorang melakukan refleksi diri yaitu (Facione, 1990: 11) 1) menguji pandangan sendiri terhadap masalah-masalah yang kontroversial untuk mengetahui apakah posisi yang dipegangnya itu mengandung bias pribadi atau interest pribadi, 2) menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, 3) menilai kembali data-data yang digunakan apakah ada yang terlalu ditonjolkan sehingga berat sebelah dan tidak imbang, 4) menguji kembali apakah fakta, opini, atau asumsi yang digunakan untuk mendukung sudut pandang tertentu sungguh dapat diterima, 5) menilai kembali proses penalaran yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, 6) merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir, 7) membuat penilaian diri yang objektif terhadap gagasan sendiri, 8) melihat apakah ada ketimpangan-ketimpangan berpikir yang berasal dari prasangka, stereotip, atau emosi yang tidak rasional, dan 9) menilai motivasi, nilai, sikap, atau minat apakah fair, objektif, hormat pada kebenaran, dan rasional. 25

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Koreksi Diri Kemampuan koreksi diri berfungsi untuk memeriksa diri dalam mengungkapkan kesalahan atau kekurangan, merancang prosedur yang wajar untuk mengulangi atau memperbaiki jika terdapat kesalahan (Facione, 1990: 11). Contoh kegiatan dalam kemampuan melakukan koreksi diri yaitu (Facione, 1990: 11) 1) berani mengoreksi kelemahan-kelemahan metodologi atau data-data yang digunakan, 2) merencanakan prosedur yang masuk akal untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan, dan 3) memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. 2.1.1.7 Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan oleh manusia (Samatowa, 2011: 3). IPA adalah ilmu pengetahuan yang menelaah objeknya berupa alam dengan segala isinya yaitu manusia, tumbuhan dan hewan termasuk bumi (Daryanto, 2014: 160). IPA pada hakikatnya meliputi IPA sebagai proses, produk, dan sikap. IPA sebagai proses merupakan tata cara pengembangan ilmu pengetahuan alam untuk menghasilkan sesuatu. IPA sebagai produk adalah produk atau hasil yang diperoleh dari hasil penelitian, sedangkan IPA sebagai sikap merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan sikap ilmiah seperti tekun, terbuka, jujur, serta objektif (Sujana, 2015: 118-119). Tujuan pembelajaran IPA telah mengalami pergeseran yang semula menekankan pada hasil belajar atau sebagai produk, kemudian lebih mengutamakan pada proses (keterampilan proses). Oleh sebab itu, pada pelaksanaan pembelajaran tidak hanya menekankan pada produk yang akan dihasilkan namun bagaimana proses pembelajaran IPA tersebut berlangsung (Sujana, 2015: 119). Ada beberapa alasan mengapa IPA perlu diajarkan di SD. Alasan tersebut didasarkan menjadi empat golongan yaitu a) bermanfaat bagi suatu bangsa dalam hal pembangunan dan dasar dari perkembangan teknologi, b) apabila diajarkan dengan cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan 26

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kesempatan siswa untuk berpikir kritis, c) apabila diajarkan melalui kegiatan percobaan yang dilakukan oleh anak, maka mata pelajaran IPA bukan merupakan mata pelajaran hafalan, d) memiliki nilai pendidikan yang dapat membentuk kepribadian siswa (Samatowa, 2010: 4). 2.1.1.8 Materi tentang Pernapasan Hewan Untuk melangsungkan proses pernapasan, setiap makhluk hidup memiliki alat pernapasan khusus. Seperti pada manusia, hewan juga bernapas untuk mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida (Kemdikbud, 2017: 4). Alat pernapasan pada makhluk hidup berbeda-beda disesuaikan dengan jenis dan habitatnya. Ada hewan yang bernapas dengan paru-paru, insang, trakea, ada pula yang bernapas dengan kulit (Priyono & Sayekti, 2010: 10). Pada hewan cacing tanah (vermes) bernapas melalui permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen (Kemdikbud, 2017: 4). Pada hewan serangga bernapas menggunakan trakea. Jenis hewan yang bernapas menggunakan trakea adalah belalang, jangkrik, kupu-kupu, lebah, dan lalat (Priyono & Sayekti, 2010: 15). Hewan jenis ikan (pisces) bernapas menggunakan insang, namun tidak semua ikan bernapas menggunakan insang. Ada beberapa ikan yang bernapas menggunakan paru-paru contohnya ikan paus, lumbalumba dan pesut (Priyono & Sayekti, 2010: 11). Untuk hewan amfibi seperti katak, saat masih berupa berudu yang hidup di dalam air maka bernapas menggunakan insang (Kemdikbud, 2017: 7). Seiring bertambah dewasa, katak bernapas menggunakan paru-paru dan kulit. Hewan reptil bernapas menggunakan paru-paru. Hewan yang termasuk jenis reptil adalah ular, kadal, cicak, buaya, dan biawak (Kemdikbud, 2017: 8). Jenis hewan burung (aves) bernapas menggunakan paru-paru, namun pada saat terbang burung bernapas menggunakan kantong udara (Kemdikbud, 2017: 9). Pada hewan jenis mamalia bernapas menggunakan paru-paru (Kemdikbud, 2017: 10). Contoh hewan mamalia adalah kuda, paus, lumba-lumba, dan kambing. 27

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Penelitian yang Relevan 2.2.1 Penelitian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Artawa dan Suwarta (2013) melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar Matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan post-test only control group design dan sampel penelitian ini adalah siswa kelas V SD N 1 Muncan yang berjumlah 26 orang dan kelas V SD N 4 Muncan yang berjumlah 28 orang. Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh data bahwa nilai thitung sebesar 8,47 dan ttab sebesar 2,00 maka thitung lebih besar dari ttab. Hasil penelitian menunjukkan prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih baik dibandingkan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Jadi pada penelitian ini dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap prestasi belajar Matematika. Anggarawati, dkk (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Make a Match berbantuan media kartu gambar dengan siswa yang belajar secara konvensional pada mata pelajaran IPS. Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimen semu dengan desain the non-equivalent control group design. Populasi penelitian berjumlah 62 siswa dengan teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampel jenuh dan sampel penelitian ini yaitu siswa kelas VI SD Negeri Dangin Puri. Dari hasil analisis data diperoleh hasil terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran Make a Match berbantuan media kartu gambar dengan siswa yang belajar secara konvensional (thit = 3,20 > ttab = 2,00) dari rata-rata nilai gain skor ternormalisasi IPS yang belajar dengan model pembelajaran Make a Match bebrbantuan media kartu gambar dengan siswa yang belajar secara konvensional (0,49 > 0,33) sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Make a Match berbantuan media kartu gambar berpengaruh terhadap hasil belajar IPS. Gull dan Shehzad (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran kooperatif terhadap prestasi belajar siswa pada mata 28

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelajaran. Penelitian ini menggunakan penelitian Quasi Experimental Design dengan pre dan post test. Sampel penelitian ini terdiri dari 63 siswa perempuan dari 12 sekolah negeri. Siswa dibagi ke dalam dua kelas yaitu kelompok eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw II, STAD, dan TGT dan kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Hasil penelitian mengatakan bahwa cooperative learning activities had a positive effect on academic achievement of students enrolled in the subject of Education (kegiatan pembelajaran kooperatif dapat memiliki efek positif dalam prestasi belajar siswa yang terdaftar dalam mata pelajaran). 2.2.2 Penelitian Berpikir Kritis Anindyta dan Suwarjo (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis dan regulasi diri siswa yang diajar menggunakan problem based learning dengan pembelajaran ekspositori dan pengaruh penerapan problem based learning terhadap kemampuan berpikir kritis dan regulasi diri siswa. Populasi penelitian yaitu siswa kelas V SD Santo Vincentius Jakarta dengan metode penelitian Quasi Eksperimen menggunakan desain pretest – posttest control group design. Hasil penelitian ini adalah terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis yang signifikan antara kelas yang menggunakan problem based learning dibanding dengan kelas menggunakan pembelajaran ekspositori dengan nilai sig. 0,040 dan perbedaan regulasi diri signifikan dengan nilai sig. 0,050 serta problem based learning berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai sig. 0,021 terhadap keterampilan berpikir kritis dan regulasi diri siswa. Nasution (2017) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar Matematika. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD Muhammadiyah 12 Medan berjumlah 78 siswa berdasarkan teknik random sampling menggunakan metode penelitian Quasi Eksperimental dengan kelompok percobaan pretest-posttest group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar Matematika pada siswa. 29

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Azizmalayeri, dkk (2012) melakukan penelitian untuk megetahui pengaruh dari metode inkuiri terbimbing dan metode tradisional pada keterampilan berpikir kritis sisswa SMA. Teknik sampling yang digunakan yaitu teknik random sampling dengan multi-step dan cluster sampling. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest – posttest control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inkuiri terbimbing memiliki dampak lebih tinggi pada kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ternyata belum banyak yang melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan berpikir kritis terutama pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Unsur yang membedakan penelitian yang terdahulu dengan penelitian ini adalah 1) subjek penelitian adalah siswa kelas V SD, 2) kemampuan berpikir kritis yang diteliti mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Facione yaitu pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 30

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2.3 Literature Map Hasil penelitian sebelumnya dibuat bagan sebagai berikut. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi Diri Artawa & Suwarta (2013) Anindyta & Suwarjo (2014) Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match – Prestasi Belajar Problem based learning – Keterampilan Berpikir Kritis & Meregulasi Diri Anggarawati, dkk (2014) Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match – Hasil Belajar Nasution (2017) Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share – Kemampuan Berpikir Kritis Gull & Shehzad (2015) Azizmalayeri, dkk (2012) Cooperative Learning – Student Achievement Guided Inquiry Methods – Critical Thinking Yang akan diteliti: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match – Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi Diri Gambar 2.4 Literature Map 31

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.3 Kerangka Berpikir Piaget dalam teori perkembangan anak mengemukakan empat tahapan perkembangan kognitif pada anak, yaitu: tahap sensorimotor (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun), dan operasional formal (11- dewasa). Anak usia sekolah dasar menurut teori Piaget berada di dalam tahap operasional konkret. Pada tahap ini, siswa akan lebih mudah memahami sebuah materi apabila disampaikan melalui benda-benda yang nyata. Vygsotsky memiliki pandangan bahwa perkembangan kognitif anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, sehingga dapat ditegaskan perkembangan kognitif dan sosial pada anak berkembang secara beriringan. Setiap hari anak akan belajar dari orang lain yang berada di sekitarnya baik dari orangtua, guru, dan juga teman sebayanya. Untuk mendukung perkembangan kemampuan kognitif dan sosial agar dapat berkembang secara beriringan maka hendaknya dalam proses belajar menggunakan model pembelajaran yang mendukung. Model pembelajaran yang diduga dapat mendukung terjadinya pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif serta sosial pada anak adalah pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk mencari pasangan sambil belajar dengan suasana belajar yang menyenangkan. Model pembelajaran tipe Make a Match dalam pelaksanaannya memiliki enam tahap, yaitu 1) menyiapkan kartu, 2) pembagian kartu, 3) memikirkan soal dan jawaban, 4) mencari pasangan, 5) pemberian nilai, 6) pengulangan permainan, dan 7) pemberian penghargaan. Keunggulan dari pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik kognitif maupun fisik, menyenangkan karena ada unsur permainan, meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, efektif untuk melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi, dan efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu. Berdasarkan keunggulan dari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match maka diduga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa SD. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi pemikiran untuk meningkatkan kualitas proses dan hasilnya. Berdasarkan teori berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione, berpikir kritis dibagi ke dalam enam 32

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan (skill) yaitu: 1) interpretasi, 2) analisis, 3) evaluasi, 4) kesimpulan, 5) eksplanasi, 6) regulasi diri. Penelitian ini berfokus pada dua sub kemampuan dari kemampuan berpikir kritis yaitu kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan hasil penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual dalam sebuah argumen yang kuat. Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk memonitor aktivitas kognitifnya sendiri. Unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. Di Yogyakarta beberapa sekolah dasar sudah mulai menerapkan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di kelas. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mendukung adanya penerapan pembelajaran inovatif sehingga kegiatan belajar lebih menarik. Pembelajaran yang menarik dan ditekankan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Salah satu mata pelajaran yang dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah mata pelajaran IPA. Mata pelajaran IPA merupakan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Salah satu materi IPA kelas V Tema II yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah materi sistem pernapasan pada hewan. Jika pembelajaran kooperatif tipe Make a Match diterapkan pada siswa kelas V SD pada mata pelajaran IPA materi sistem pernapasan hewan, pembelajaran ini akan berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada siswa. 2.4 Hipotesis Penelitian 2.4.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 2.4.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 33

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini membahas metode penelitian yang digunakan peneliti. Metode penelitian memuat jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experimental dengan tipe pretest – posttest non-equivalent group design (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 283). Quasi-expeimental design digunakan untuk menilai pengaruh penerapan yang dihipotesiskan dari sebuah perlakukan (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Metode penelitian eksperimental adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu tindakan atau perlakuan tertentu yang sengaja dilakukan terhadap suatu kondisi tertentu (Sanjaya, 2013: 87). Metode eksperimental merupakan metode inti dari jenis penelitian kuantitatif (Trianto, 2010: 203). Metode ini digunakan untuk menguji pengaruh suatu ide atau perlakuan terhadap hasil atau variabel independen. Penelitian eksperimental tipe pretestposttest non-equivalent group design terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penentuan kelompok pada penelitian quasi experimental tidak dilakukan secara random tetapi menggunakan kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dikenakan perlakuan (treatment), sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberi pelakuan (Sanjaya, 2013: 96). Perlakukan khusus hanya berlaku pada kelompok eksperimen. Kedua kelompok tersebut diberi pretest dan posttest. Pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum pembelajaran. Posttest bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah pembelajaran. Berikut desain penelitian yang digunakan (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). 34

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Eksperimental Kontrol O1 X O2 -------------------------O3 O4 Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan : O1 = Rerata skor pretest pada kelompok eksperimen O2 = Rerata skor pretest pada kelompok eksperimen X = Perlakuan (treatment) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match O3 = Rerata skor pretest pada kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttest pada kelompok kontrol Garis putus-putus merupakan cara penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dilakukan tidak secara random tetapi menggunakan kelompok atau kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 238). Pengaruh kausal perlakuan dihitung dengan tiga langkah berikut: 1) pada kelompok eksperimen, skor posttest dikurangi skor pretest, 2) pada kelompok kontrol, skor Posttest dikurangi skor pretest, 3) hasil hitungan dari langkah I dikurangi hasil hitungan dari langkah II. Campbell dan Stanley memberi rumus untuk menghitung pengaruh perlakuan sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Jika hasilnya lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan maka dianalisis menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Jika perbedaannya signifikan maka ada pengaruh. Jika perbedaanya tidak signifikan maka tidak ada pengaruh. Berikut perhitungan pengaruh perlakuan. (O2 – O1) - (O4 – O3) Gambar 3.2 Desain Perhitungan Perlakuan (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Sekolah ini memiliki fasilitas 18 ruang kelas, perpustakaan, lapangan olahraga, ruang UKS, 35

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ruang Bimbingan Konseling (BK), laboratorium komputer, ruang musik, aula, tempat parkir, toilet, kantin, dan halaman sekolah. Di sekolah ini semua kelas memiliki kelas paralel, untuk kelas V yaitu VA, VB, dan VC. Jumlah siswa kelas I – VI yaitu 418 orang dan memiliki 35 orang guru. Prestasi yang diperoleh oleh SD tersebut yaitu Juara Basket Putri pada Junior Basketball Competition 2017/2018, Juara I Taekwondo MTC Sleman Cup 2017/2018, Juara III Festival Piano Veranza Tingkat Kota Yogyakarta 2017/2018. Peneliti memilih melakukan penelitian di SD tersebut karena 1) sekolah memiliki akreditasi A, 2) memiliki kelas paralel, 3) memakai kurikulum 2013. Pembelajaran di kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan lokasi yang sama yaitu salah satu SD swasta di Yogyakarta. Kelas yang digunakan pada kedua kelompok memiliki fasilitas dan suasana yang kurang lebih sama. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu lokasi (location). 3.2.2 Waktu penelitian Penelitian dilakukan di semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Pengambilan data penelitian dilakukan sesuai dengan kalender pendidikan di salah satu SD swasta di Yogyakarta yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 September 2018 sampai dengan 27 September 2018. Penelitian dilaksanakan dengan waktu yang singkat yaitu dua minggu untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa sejarah (history), mortalitas (mortality) dan maturasi (maturation). Berikut ini adalah tabel pengambilan data yang dilakukan oleh peneliti disalah satu SD swasta di Yogyakarta. Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data Kelompok Kontrol Eksperimen Hari, Tanggal Senin, 3 September 2018 Rabu, 5 September 2018 Jumat, 7 September 2018 Selasa, 11 September 2018 Kamis, 13 September 2018 Senin, 17 September 2018 Selasa, 25 September 2018 Senin, 3 September 2018 Rabu, 5 September 2018 Alokasi Waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Kegiatan Pretest Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Posttest I Posttest II Pretest Pertemuan I 36

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jumat, 7 September 2018 Selasa, 11 September 2018 Kamis, 13 September 2018 Senin, 17 September 2018 Kamis, 27 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Posttest I Posttest II 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi Populasi adalah kelompok individu yang memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama yang menjadi perhatian peneliti (Best & Kahn, 2016: 13). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V dari salah satu SD swasta di Yogyakarta yang berjumlah 73 siswa, terdiri dari VA yang berjumlah 24 siswa, kelas VB berjumlah 24 siswa, dan kelas VC berjumlah 25 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah kelompok yang lebih kecil atau bagian dari suatu kelompok (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 100). Teknik pengambilan sampel menggunakan desain non-probability sampling tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia untuk penelitian karena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acak (random) (Best & Kahn, 2006: 18-19). Peneliti tidak memilih sampel secara acak namun menggunakan kelas yang sudah ada (Creswell, 2015: 294-295). Pemilihan kelompok dilakukan dengan cara diundi. Pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan oleh guru yang sama. Penggunaan guru yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu implementasi (implementation) (lihat halaman 112). Hasil pengundian kelas VA terpilih sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 24 orang siswa dan kelas V B sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 24 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.4 Variabel Penelitian Variabel adalah suatu konsep atau gagasan yang difokuskan menjadi sebuah objek penelitian (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel adalah suatu kondisi atau ciri-ciri di mana peneliti memanipulasi, mengontrol, dan mengamati 37

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI objek (Best & Kahn, 2006: 167). Penelitian ini memiliki variabel independen dan variabel dependen. 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen adalah variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel independen digunakan untuk menentukan pengaruh terjadinya perubahan terhadap variabel lain (Sarwono, 2006: 54, Martono, 2014: 61, Widoyoko, 2015: 4). Variabel ini disebut variabel bebas karena tidak tergantung dengan ada tidaknya variabel lain atau biasa disebut stimulus atau pengaruh. Dalam penelitian bidang pendidikan, sebuah variabel independen berupa metode belajar, jenis materi ajar, atau reward (Best & Kahn, 2006: 168). Variabel independen pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dengan langkah pembelajaran 1) menyiapkan kartu 2) pembagian kartu 3) memikirkan soal dan jawaban 4) mencari pasangan 5) pemberian nilai 6) pengulangan permainan, dan 7) pemberian penghargaan. 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas (Sarwono, 2006: 54). Variabel dependen mengukur perubahan hasil atau prestasi siswa dari variabel yang diterapkan (Best & Kahn, 2006: 168). Variabel dependen pada penelitian ini adalah kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. Variabel penelitian dapat dilihat pada bagan berikut. Variabel Independen Variabel Dependen Kemampuan mengeksplanasi Make a Match Kemampuan meregulasi diri Gambar 3.3 Desain Variabel Penelitian 38

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik tes. Tes adalah kumpulan pertanyaan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes (Widoyoko, 2015: 57). Bentuk tes pada penelitian ini adalah tes uraian. Tes uraian adalah bentuk tes yang pertanyaannya mengehendaki jawaban berupa penjelasan yang relatif panjang menggunakan bahasa sendiri yang menunjukkan kualitas proses dan cara berpikir, aktivitas kognitif tingkat tinggi (Nurgiantoro, 2011: 117 & Taniredja & Mustafidah, 2011: 50). Tes uraian memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan tes uraian (Nurgiantoro, 2011: 118) yaitu 1) tes uraian cocok untuk menilai proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi dan tidak semata-mata hanya mengingat dan memahami fakta atau konsep saja, 2) tes uraian memberi kesempatan siswa untuk mengemukakan jawabannya dalam bahasa yang runtut sesuai gayanya sendiri, 3) tes uraian memberi kesempatan siswa menggunakan pikirannya sendiri dan kurang memberikan kesempatan untuk bersikap untunguntungan. Tes uraian juga memiliki kelemahan (Nurgiantoro, 2011: 118-119) yaitu : 1) jawaban yang diberikan bervariasi sehingga berpotensi dinilai secara subjektif sehingga diperlukan ketelitian dalam memeriksanya, 2) penilaian yang dilakukan terhadap jawaban siswa tidak mudah ditentukan standarnya, 3) waktu yang diperlukan untuk memeriksa jawaban siswa relatif lama karena jawabannya berupa penjelasan. Pemberian soal tes pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen melalui pretest dan posttest. Pretest dilakukan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan kekompok kontrol menggunakan metode ceramah. Posttest dilakukan sebanyak dua kali. Posttest I bertujuan untuk mengukur ada tidaknya pengaruh pada kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Posttest II bertujuan untuk melihat apakah pembelajaran masih pengaruh terhadap kemampuan siswa. Berikut pemetaan pengumpulan datanya. 39

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Pemetaan Instrumen Penelitian No. 1. Kelompok Kontrol Variabel Mengeksplanasi Meregulasi diri 2. Eksperimen Mengeksplanasi Meregulasi diri Data Skor Pretest Skor Posttest I Skor Posttest II Skor Pretest Skor Posttest I Skor Posttest II Skor Pretest Skor Posttest I Skor Posttest II Skor Pretest Skor Posttest I Skor Posttest II Instrumen Soal uraian nomor 5a, 5b, dan 5c Soal uraian nomor 6a, 6b, dan 6c Soal uraian nomor 5a, 5b, dan 5c Soal uraian nomor 6a, 6b, dan 6c 3.6 Instrumen Penelitian Dalam penelitian eksperimen, penelitian akan menggunakan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian disusun berdasarkan operasionalisasi variabel yang telah dibuat dan disusun berdasarkan skala yang sesuai. Fungsi instrumen adalah untuk mengungkapkan fakta menjadi data. Benar tidaknya data yang diperoleh tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data (Indrawan, 2014: 112-113). Validitas dan reliabilitas data juga dihitung sendiri oleh peneliti. Instrumen yang akan digunakan saat penelitian tergantung pada jumlah variabel yang akan diteliti. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian. Penelitian yang akan dilakukan mengacu pada kurikulum 2013 dengan Kompetensi Dasar 1) Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. 2) Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga, dan negara. 3) Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain. 4) Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Kompetensi Dasar khususnya mata pelajaran IPA yang 40

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan adalah 3.2. Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian payung bersama dengan dua peneliti lain memiliki 6 soal uraian dan masing-masing nomor mewakili kemampuan menginterpretasi (nomer 1), menganalisis (nomer 2), mengevaluasi (nomer 3), menarik kesimpulan (nomer 4), mengeksplanasi (nomer 5), dan meregulasi diri (nomer 6). Instrumen penelitian akan digunakan untuk tiga penelitian dan masing-masing akan meneliti dua kemampuan. Tes uraian yang digunakan dalam penelitian ini memuat dua kemampuan yaitu kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri yang terdiri dari 2 soal uraian yaitu nomor 5 dan 6. Berikut matriks pengembangan instrumen pada penelitian ini. Tabel 3.3 Matriks Pengembangan Instrumen No. 1. Variabel Mengeksplanasi Aspek Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan 2. Meregulasi diri Refleksi diri Koreksi diri Indikator Menjelaskan alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus. Menjelaskan tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. Menjelaskan cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri Menilai kembali data-data yang digunakan. Menguji pandangan sendiri terhadap masalah mengenai pernapasan. No. Soal 5a 5c 5b 6a 6b 6c Instrumen digunakan saat pretest, posttest I, dan posttest II untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hal tersebut bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu instrumen (instrumentation). 3.7 Teknik Pengujian Instumen Sebelum instrumen penelitian diberikan kepada siswa yang akan digunakan untuk penelitian, instrumen perlu diujicobakan terlebih dahulu. Pengujian ini dilakukan untuk mencegah dan menghindari adanya persepsi ganda pada 41

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI instrumen. Pengujian instrumen dilakukan dengan menggunakan uji validitas dan reliabilitas agar instrumen tersebut dapat dikatakan valid dan reliabel. Berikut adalah penjelasan dari uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengujian instrumen penting bagi sebuah penelitian untuk menentukan kelayakan instrumen. Ancaman validitas internal penelitian yang mengancam adalah instrumentasi, sehingga perlu kehati-hatian dalam menguji instrumen. 3.7.1 Uji Validitas Uji validitas merupakan derajat sejauh mana tes mengukur apa yang ingin diukur (Borg & Gall, dalam Purwanto 2009: 144). Validitas merupakan dukungan bukti dan teori terhadap penafsiran skor tes yang sesuai dengan tujuan penggunaan tes (Mardapi, 2008: 16). Penelitian ini menggunakan validitas permukaan (face validity), validitas isi (content validity), dan validitas konstruk (construct validity). 3.7.1.1 Validitas Muka Validitas permukaan menggunakan kriteria yang sangat sederhana, karena validitas permukaan hanya melihat sisi muka atau tampang dari instrumen itu sendiri (Arifin, 2009: 248). Validitas permukaan dilakukan untuk mengetahui kejelasan tiap butir soal. Uji validitas muka dilakukan oleh expert judgement (Eriyanto, 2015: 40). Validitas permukaan diperoleh dari 2 guru kelas V, yaitu guru kelas V SD Negeri Jumapolo dan SD Kanisius Sorowajan. Perolehan skor penilaian instrumen dari ketiga validator yaitu 65,50 untuk semua soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian. Pada skala 58,50-72,00 termasuk kategori sangat layak. Penilaian terhadap instrumen menunjukkan bahwa instrumen sangat layak untuk digunakan sebagai instrumen penelitian. Sebelum digunakan, peneliti telah melakukan perbaikan sesuai dengan masukan dari validator. Perbaikan dilakukan dengan pemberian kata perintah yang sesuai, pemilihan kata yang lebih mudah dipahami siswa, dan struktur kalimat (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.2 Validitas Isi Validitas isi adalah derajat tes yang menggambarkan esensi, topik-topik dan ruang lingkup tes yang dirancang untuk pengukuran (Consuello dalam Prijowuntato, 2016: 131). Validitas isi berkaitan dengan cakupan instrumen tes 42

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan keseluruhan materi yang akan diukur. Penelitian ini meminta para ahli atau expert judgement untuk menilai. Validitas isi dilakukan oleh dosen mata kuliah Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Total skor yang diperoleh pada penilaian instrumen adalah 57,00 untuk semua soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian. Pada skala 58,00-72,00 termasuk kategori layak dengan perbaikan kecil. Dengan kata lain, instrumen ini layak untuk diimplementasikan. Instumen telah diperbaiki sesuai dengan masukkan dari validator sebelum diimplementasikan (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas konstruk adalah uji untuk mengukur kesesuaian setiap butir soal dengan indikator (Arikunto, 2012: 83). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstrak apabila butir-butir soal tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir (Arikunto, 1991: 83). Validitas konstrak menguji apakah alat ukur yang dipakai mengandung satu definisi operational yang tepat, dari suatu konsep teoritis (Margono, 2007: 187). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat ditegaskan bahwa validitas konstruk adalah alat ukur untuk menguji kesesuaian setiap butir soal apakah mengandung satu definisi operational yang tepat. Validitas konstrak diuji dengan menggunakan uji empiris. Uji empiris dilakukan pada minimal 30 siswa agar data yang di dapat memenuhi distribusi normal. Peneliti melakukan pengujian instrumen soal di salah satu SD negeri di Yogyakarta. Peneliti memilih SD tersebut untuk mendapatkan data validitas konstruk karena : 1) memiliki kemampuan yang setara dengan SD yang akan menjadi tempat penelitian, 2) memiliki kelas pararel 3) kurikulum yang digunakan oleh SD adalah kurikulum 2013. Uji instrumen dilakukan pada hari Senin, 4 Juni 2018 dengan waktu yang digunakan 2 x 90 menit. Hasil dari uji instrumen soal dianalisis menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Untuk mengetahui validitas konstruk maka dilakukan uji korelasi Pearson Correlation dengan tingkat kepercayaan 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Rumus tersebut digunakan, karena data berupa interval yang diberi skor 1 sampai 4 (Field, 2009: 177). Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Field, 2009: 177-178). 43

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Jika rhitung > rtabel maka item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika rhitung < rtabel maka item tersebut dikatakan tidak valid. 2. Jika harga p < 0,05 maka item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika harga p > 0,05 item tersebut dikatakan tidak valid. Berikut ini adalah tabel hasil uji validitas instrumen penelitian (lihat Lampiran 3.5). Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen No. 1. Variabel Menginterpretasi 2. Menganalisis 3. Mengevaluasi 4. Menarik Kesimpulan 5. Mengeksplanasi 6. Meregulasi diri No. Soal 1a 1b 1c 2a 2b 2c 3a 3b 3c 4a 4b 4c 5a 5b 5c 6a 6b 6c r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 r hitung 0,570** 0,432* 0,588** 0,599** 0,536** 0,546** 0,465** 0,624** 0,822** 0,523** 0,417* 0,416* 0,794** 0,609** 0,750** 0,786** 0,579** 0,706** p 0,001 0,017 0,001 0,000 0,002 0,002 0,010 0,000 0,000 0,003 0,022 0,022 0,000 0,000 0,000 0,000 0,001 0,000 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi diri Variabel Mengeksplanasi Meregulasi diri Indikator Menjelaskan alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus. Menjelaskan tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. Menjelaskan cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Menilai kembali datadata yang digunakan. r tabel r hitung p Keterangan 0,361 0,794** 0,000 Valid 0,361 0,609** 0,000 Valid 0,361 0,750** 0,000 Valid 0,361 0,786** 0,000 Valid 0,361 0,579** 0,001 Valid 44

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menguji pandangan sendiri terhadap masalah mengenai pernapasan. 0,706** 0,361 0,000 Valid Keterangan : * artinya tingkat signifikansi 0,05 ** artinya tingkat signifikansi 0,01 Berdasarkan hasil uji validitas, peneliti berfokus pada dua variabel yaitu variabel mengeksplanasi dan meregulasi diri dengan harga p > 0,05, maka seluruh item soal dari kedua kemampuan tersebut dinyatakan valid. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item soal dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstrak (Ghozali, 2006: 45). Suatu instrumen memiliki reliabilitas jika memberikan ketepatan hasil yang konsisten dari waktu ke waktu dan dari responden yang berbeda (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 146). Penelitian ini menggunakan soal uraian sebagai instrumen pengumpulan data. Pemberian skor pada jawaban pernyataan kuesioner dengan menggunakan rentang skor 1 sampai dengan 4, berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Suatu konstrak dikatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60 (Nunnally, dalam Ghozali 2006: 46). Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Uji Reliabilitas Instrumen N 30 n of item 18 Alpha Cronbach 0,893 Keterangan Reliabel Hasil uji reliabilitas instrumen tersebut memiliki nilai Alpha Cronbach > 0,60 yaitu sebesar 0,893. Dengan demikian, instrumen soal dikatakan reliabel dan layak untuk digunakan sebagai instrumen penelitian. 3.8 Teknik Analisis Data Teknik analisis data digunakan untuk menghitung data agar dapat disajikan secara sistematis dan dapat dilakukan interpretasi (Priyatno, 2012: 1). Teknik 45

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI analisis data pada penelitian ini menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber lain terkumpul. 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak. Selain itu, uji normalitas juga digunakan untuk menentukan jenis statistik yang digunakan dalam menganalisis data selanjutnya (Field, 2009: 144). Data dianalisis menggunakan analisis non parametrik yang mempertimbangkan distribusi data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2012: 11). Suatu kondisi dikatakan ideal jika data dapat terdistribusi secara normal. Jika distribusi data normal, teknik uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test (Field, 2009: 326). Jika distribusi data tidak normal, teknik uji statistik selanjutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney U-test untuk data tidak berpasangan atau Wilcoxon untuk data berpasangan (Field, 2009: 345). Untuk uji normalitas distribusi data digunakan One-Sample KolmogorovSmirnov atau Shapiro-Wilk test dengan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada deviasi dari normalitas Hi : Ada deviasi dari normalitas Kriteria yang digunakan untuk mengetahui normalitas distribusi data adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan kata lain, distribusi data tidak normal. 2. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan kata lain, distribusi data normal. 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji normalitas distribusi data dihitung dengan mengambil data dari seluruh skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih pretest – posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen digunakan untuk uji normalitas distribusi data. 3. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian digunakan untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian homogenitas varian menggunakan Levene’s test (Field, 2009: 340). Apabila data berdistribusi normal, hasil Levene’s test dapat dilihat di output SPSS pada Independent Samples t-test. Jika varian homogen, data yang digunakan adalah data pada baris pertama dalam analisis output SPSS pada Independent samples t-test yang sebaris dengan keterangan Equal variances assumed dan jika varian tidak homogen, data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan Equal variances non assumed. Apabila data tidak berdistribusi normal, hasil Levene’s test di dapat dari menu explore (Field, 2009: 151). Data yang digunakan adalah data pada baris kedua, yaitu data berdasarkan median, karena data yang digunakan tidak berdistribusi normal. Hipotesis untuk uji homogenitas varian adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata pretest/ selisih pretest - posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata pretest/ selisih pretest - posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. 2. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut homogen. 47

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk uji homogenitas varian, data diambil dari skor pretest dan selisih pretest – posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal digunakan untuk mengukur kemampuan dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan agar peneliti mengetahui apakah kemampuan dari kelompok kontrol dan eksperimen berbeda atau sama sehingga dapat dibandingkan hasilnya. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui karakteristik subjek yang akan diteliti, dan dapat mengetahui terkendali atau tidaknya ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan cara menguji rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data pretest yang diuji berasal dari dua kelompok yang berbeda distribusi datanya normal, maka dapat menggunakan uji kemampuan awal statistik parametrik Independent Samples t-test (Filed, 2009: 326). Sedangkan jika distribusi data tidak normal, maka uji kemampuan awal menggunakan statistik non parametrik Mann-Whitney U-test (Filed, 2007: 345). Sebelum melakukan analisis, dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan melihat harga Sig. Levene’s test. Jika harga Sig. Levene’s test < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua data yang dibandingkan, namun jika harga Sig. Levene’s test > 0,05 maka terdapat homogenitas varian dari kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Analisis statistik dilakukan dengan program statistik IBM SPSS statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data uji perbedaan kemampuan awal (pretest) menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan skor kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengambil keputusan pada uji kemampuan awal adalah sebagai berikut. 48

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Jika p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. 2. Jika p < 0,05 Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti adanya perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama. Kondisi yang ideal bagi dua kelompok adalah ketika kedua kelompok tidak memiliki perbedaan yang signifikan atau memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok memiliki titik pijak yang sama untuk dilakukan perbandingan. Selain itu, terdapat ancaman validitas internal penelitian yang dapat mengancam adalah karakteristik subjek dan pengujian. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kemampuan awal siswa dengan memberikan soal pretest untuk kelompok kontrol dan eksperimen. 3.8.1.3 Uji Signifikansi Uji signifikansi dimaksudkan untuk memastikan apakah penerapan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Pada penelitian ini uji signifikansi dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan-perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan selisih skor Posttest I dan pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sesuai dengan desain penelitian dan perhitungan untuk mencari pengaruh dengan (O2 - O1) - (O4 - O3), jika hasilnya lebih besar dari 0, ada perbedaan. Uji statistik berupa uji signifikansi pengaruh perlakuan membantu untuk memastikan apakah pengaruhnya signifikan. Untuk itu digunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). Jika distribusi data normal, digunakan Independent Samples t-test dan jika distribusi data tidak normal, digunakan Mann-Whitney U test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 49

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen berpengaruh terhadap kemampuan dalam variabel dependen. 2. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen tidak berpengaruh terhadap kemampuan dalam variabel dependen. Untuk uji signifikansi pengaruh perlakuan, data diambil dari skor selisih pretest posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sesuai dengan desain penelitian. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui apakah pengaruh suatu perlakuan secara statistik signifikan tidak dengan sendirinya menunjukkan apakah pengaruh tersebut substantif atau penting (Field, 2009: 56). Besar pengaruh suatu perlakuan dapat diketahui melalui effect size. Effect size adalah suatu ukuran objektif dan terstandarisasi untuk mengetahui seberapa besar efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56-57). Teknik yang banyak digunakan adalah teknik koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Berikut adalah kriteria uji pengaruh perlakuan (Cohen, Manion, & Marrison, 2007, dalam Field, 2009: 57). Tabel 3.7 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan r (effect size) 0,10 0,30 0,50 Kriteria Efek kecil atau setara dengan 1% Efek menengah atau setara dengan 9% Efek besar atau setara dengan 25% Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria uji pengaruh perlakuan (Fraenkel, Wallen, dan Hyun, 2012: 253). 50

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.8 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan No 1. Harga r 0,00 – 0,40 2. 3. 4. 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi. Efek cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting, tetapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan. Mungkin terjadi kesalahan dalam perhitungan, jika tidak efeknya memang sangat besar. Ada dua cara untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). r=√ 𝑡2 𝑡 2 +𝑑𝑓 Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS dengan Independent Samples t-test) df : derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (N-2 atau jumlah total kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dikurangi 2). Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). r= 𝑍 √𝑁 Gambar 3.5 Rumus Korelasi Pearson Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS dengan Mann-Whitney U test) N : jumlah seluruh responden dari kelompok kontrol dan eksperimen Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). 51

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Persentase Pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Presentasi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengujian menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data terdistribusi normal dan statistik nonparametrik Wilcoxon Signed-rank test jika data berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Analisis statistik menggunakan program statistik IMB SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Berikut hipotesis statistik uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I. Hi : Ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396) sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. 2. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. Berikut rumus perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I. 52

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Persentase Pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.7 Rumus Besar Presentase Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Persentase selisih rerata skor pretest ke posttest I (Gain Score) dihitung dengan rumus berikut. Gain Score = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100 Gambar 3.8 Rumus Gain Score Frekuensi yang diambil pada Gain Score yaitu 50% dari skor tertinggi selisih pretest - posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada Gain Score terdapat grafik poligon yang menunjukkan perbandingan rerata antara kedua kelompok (Fraenkel, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Uji statistik ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Rumus yang digunakan kurang lebih sama dengan rumus korelasi Pearson pada bagian sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). r=√ 𝑡2 𝑡 2 +𝑑𝑓 Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Normal Keterangan : r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS dengan Paired samples t test) df : derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (n − 1). 53

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). r= 𝑍 √𝑁 Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Tidak Normal Keterangan : r : korelasi Pearson yang gunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS dengan Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah responden dalam 1 kelompok yang sama Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 x 100 Gambar 3.11 Rumus Persentase Peningkatan 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada bias regresi statistik (statistical regression) yang bisa mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik yaitu kecenderungan siswa dengan hasil pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik ini. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). 54

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan rumus Bivariate Correlations. Uji korelasi menggunakan Pearson’s Correlation untuk data berdistribusi normal, sedangkan analisis statistik non-parametrik yaitu Spearman’s Correlation untuk data berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 177-179). Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Korelasi negatif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin rendah skor posttest I. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Signifikan artinya hasil korelasi dapat digeneralisasi pada populasi. Kondisi dikatakan ideal jika korelasinya positif. Berikut hipotesis statistik uji korelasi rerata pretest dan posttest I. Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest – posttest I dengan P dan Q (P = Q). Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest – posttest I dengan P dan Q (P ≠ Q). Keterangan : P : jika harga p < 0,05 Q : jika r negatif Kriteria untuk mengambil keputusan sebagai berikut. 1. Jika hasilnya P dan Q, maka Hnull diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik. 2. Jika hasilnya bukan P dan Q, maka Hnull ditolak. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Uji retensi pengaruh perlakuan posttest I ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan beberapa waktu setelah posttest I dengan dilakukan posttest II. Posttest II dilakukan untuk memastikan yang lebih 55

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data terdistribusi normal, sedangkan statistik non-parametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan. Hi : Ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396) sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak. Artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, ada penurunan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I. 2. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima. Artinya tidak ada ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I. Berikut rumus perhitungan persentase penurunan skor posttest II ke posttest I. Persentase Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 x 100 Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi Uji retensi pengaruh perlakuan dan persentase penurunan skor, menggunakan data skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok. 3.8.2.5 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Uji retensi pengaruh perlakuan pretest ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah pretest, treatment, dan 56

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI posttest I dengan dilakukan posttest II. Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data terdistribusi normal, sedangkan statistik non parametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan. Hi : Ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396) sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji retensi pengaruh perlakuan dan persentase penurunan skor, menggunakan data skor pretest dan posttest II pada kedua kelompok. 3.9 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian Sesudah data dianalisis menggunakan statistik dan diperoleh hasilnya, maka sebelum menarik kesimpulan penelitian, perlu diperiksa terlebih dahulu apakah benar-benar terdapat hubungan kausalitas antara variabel independen dan variabel dependen sesuai yang ditunjukkan oleh data yang diperoleh dari instrumen penelitian. Bisa jadi terdapat variabel lain di luar penelitian yang turut mempengaruhi hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik dalam kesimpulan penelitian (Johnson dan Christensen, 2008: 258). Pada sebuah penelitian kuantitatif terdapat validitas internal. Validitas internal mengacu pada apakah efek yang muncul pada variabel dependen sungguh disebabkan oleh variabel independen dan bukan disebabkan oleh faktor-faktor lain 57

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di luar variabel independen. Validitas internal penelitian dapat ditingkatkan dengan cara mengontrol faktor-faktor lain di luar variabel independen yang berpotensi ikut mempengaruhi variabel dependen. Faktor-faktor tersebut sering disebut sebagai ancaman validitas internal penelitian. Ancaman yang mengancam validitas internal lebih besar terjadi pada penelitian quasi-experimental dibanding penelitian eksperimental murni. Hal ini disebabkan dalam penelitian eksperimental murni pemilihan sampel dilakukan secara random sehingga lebih terkontrol. Ancaman-ancaman terhadap validitas internal penelitian tersebut telah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968), dan Lewis-Black (1993). Berikut jenis ancaman validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah (history) Setiap peristiwa/ perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian yang dapat mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah dapat terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti, terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama misalnya beberapa bulan atau tahun. Perubahan atau peningkatan hasil pada salah satu kelompok bisa jadi disebabkan bukan selalu karena treatment tetapi oleh faktor lain di luar treatment. Dengan demikian, perubahan tersebut tidak dapat diklaim murni sebagai pengaruh treatment penelitian, misalnya mengikuti bimbingan belajar di luar kelas, ekstrakurikuler, acara TV, dan sebagainya dengan perlakuan atau materi yang sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengikuti kegiatan tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa sejarah, penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang singkat yaitu kurang lebih 2 minggu, serta melakukan koordinasi dengan sekolah mitra berkaitan dengan event sekolah. Berikut gambar ancaman validitas internal sejarah (history). 58

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kejadian lain di luar treatment penelitian Pretest Posttest Gambar 3.13 Desain Ancaman Validitas Internal Sejarah 2. Difusi treatment atau kontaminasi (Diffusion of treatment of contamination) Ancaman berupa difusi treatment terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berkomunikasi tanpa sepengetahuan peneliti dan sama-sama mempelajari materi dengan treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Creswell, 2015: 597). Untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi yaitu: a. memberikan pengertian bahwa setiap usai pembelajaran kedua kelompok agar tidak saling mempelajari treatment setiap kelompok, b. kedua kelompok dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah. 3. Perilaku Kompensatoris Ancaman ini terjadi jika treatment yang diberikan di kelompok eksperimen dirasa sangat berharga dan diketahui oleh kelompok kontrol. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dinilai lebih banyak daripada kelompok kontrol. Dampaknya kelompok kontrol bisa jadi berusaha menyaingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras dan atau mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Maka untuk mengendalikan ancaman perilaku kompensatoris yaitu kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (Maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dapat berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen 59

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Johnson & Chistensen, 2008: 261). Contoh dari kasus tersebut seperti perubahan yang terjadi karena adanya rasa bosan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau dalam beberapa tahun. Maka untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa maturasi yaitu melaksanakan penelitian dalam rentang waktu singkat kurang lebih 2 minggu. Krathwohl (2004: 547) menyarankan pada penelitian jenis eksperimental dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, dan maturation. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi Statistik (Statistical regression) Regresi statistik adalah kecenderungan responden memperoleh skor pretest tinggi biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah, jika skor pretest rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini akan lebih besar terjadi jika ada siswa berkebutuhan khusus yaitu, slow learner dan talented. Pada pretest kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya langsung mendapat skor yang sangat tinggi pada pretest, tetapi turun pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest dijadikan sebagai hasil treatment maka kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Maka untuk mengantisipasi, perlu kecermatan dalam mengamati responden dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 60

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Mortalitas (Mortality) Mortalitas adalah perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya, jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama dalam beberapa bulan hingga tahun. Hasil posttest dari responden yang tersisa bisa berbeda jika dikerjakan oleh seluruh responden yang sama pada saat pretest. Maka solusinya adalah menggunakan skor rerata untuk siswa yang tidak berangkat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (Testing) Pengujian pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil Posttest menjadi lebih tinggi daripada jika tanpa pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Dengan mengerjakan pretest, kelompok yang diteliti akan tahu apa yang ditargetkan dan sudah memiliki pengalaman awal sehingga jika akan dilakukan posttest akan lebih fokus. Sesudah mengerjakan pretest, siswa dapat menyadari kesalahan-kesalahan terdahulu dan mengantisipasi untuk mengerjakan posttest lebih baik lagi. Dengan demikian, skor posttest yang lebih tinggi belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh treatment, jika penelitian hanya menggunakan satu kelompok eksperimen saja sehingga ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Maka solusi untuk mengurangi ancaman validitas internal tersebut adalah menggunakan kelompok kontrol yang samasama mengerjakan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (Instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap 61

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hasil penelitian. Berikut kategori ancaman validitas internal berupa instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mengalami kerusakan. Solusinya yaitu dilakukan pemeriksaan instrumen sehingga kondisi instrumen saat posttest sama dengan saat pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah. b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusinya karakteristik alat pengumpul data yang digunakan harus sama untuk kedua kelompok dan untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah. c. Bias alat pengumpul data dapat terjadi terutama jika menggunakan teknik observasi. Observer dapat memiliki pandangan yang berbeda atau bias ketika mengamati kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tingkat kelelahan dapat saat observasi bisa berpengaruh juga. Solusinya yaitu melakukan pelatihan terhadap observer atau tidak diberi tahu mana kelompok kontrol dan mana kelompok eksperimen sehingga lebih objektif. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 9. Lokasi (Location) Ancaman validasi internal berupa lokasi dapat terjadi bila lokasi dilakukan pretest, posttest, dan treatment di tempat yang berbeda (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dan sebagainya. Maka solusinya adalah menggunakan lokasi yang sama, hanya saja kelas yang digunakan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda ruangan. Meskipun demikian, sarana dan prasarana kelas kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik Subjek (Subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Ancaman 62

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI validasi internal seperti kemampuan awal yang berbeda pada kedua kelompok akan mempengaruhi hasil posttest. Solusinya yaitu pemilihan sampel kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan pengundian. Pengundian disaksikan oleh peneliti dan kedua guru dari kedua kelas. Untuk mengetahui tingkat kemampuan awal kedua kelompok apakah sama atau tidak dilakukan pretest. Jika hasil pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. Pada hasil pretest menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. 11. Implementasi (Implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest karena berbedanya gaya mengajar (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Maka solusinya adalah menggunakan guru yang sama ketika menerapkan pembelajaran di kedua kelompok. Sebelum penelitian, peneliti sudah memilih salah satu guru dari kedua kelas yang cocok dan berkenan menjadi guru mitra. Pemilihan guru mitra telah disetujui oleh wali kelas baik dari kelas VA dan VB. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 63

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil analisis data. Hasil penelitian berisi hasil implementasi penelitian sedangkan pembahasan berisi penjelasan tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada materi pernapasan hewan. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Penelitian Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol dan eksperimen sebagai sampel ditentukan menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan desain non probability sampling tipe convenience sampling. Teknik tersebut biasa digunakan untuk penelitian di bidang pendidikan yaitu menggunakan kelas yang sudah ada karena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 1819). Penentuan kelompok dilakukan dengan cara diundi yang disaksikan oleh guru mitra dan kepala sekolah. Berdasarkan hasil undian, kelas VA sebagai kelompok kontrol dan VB sebagai kelompok eksperimen. Pendeskripsian populasi penelitian dan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan dijelaskan selanjutnya. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 73 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas VA dan VB. Kelas VA sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 24 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan, sedangkan kelas VB sebagai kelompok kontrol eksperimen dengan jumlah siswa 24 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. 64

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sampel pertama dalam penelitian ini adalah kelas VA sebagai kelompok kontrol. Siswa yang berada di dalam kelompok kontrol rata-rata berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke atas dengan pekerjaan orangtua sebagai PNS, dokter, pegawai swasta, TNI, guru, dan dosen. Latar pendidikan orangtua kelas VB antara lain SMA, D3, S1 dan S2. Pada saat pretest, posttest I, dan posttest II seluruh siswa hadir, namun pada pertemuan ke I ada 2 siswa yang tidak hadir, dan pada pertemuan II ada 1 siswa yang tidak hadir. Sampel kedua dalam penelitian ini adalah kelas VB sebagai kelompok eksperimen. Siswa yang berada di dalam kelompok eksperimen rata-rata berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke atas dengan pekerjaan orangtua sebagai PNS, wiraswasta, dosen, pegawai swasta, dan guru. Latar belakang pendidikan orangtua kelas VB antara lain SMA, D3, S1 dan S2. Pada saat pretest, posttest I, dan posttest II seluruh siswa hadir, namun pada pertemuan ke I ada 1 siswa yang tidak hadir, dan pertemuan IV ada 1 siswa yang tidak hadir. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Penelitian ini diawali dengan melaksanakan pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. pretest dilakukan dengan tujuan untuk melihat kemampuan awal siswa pada kedua kelompok yang digunakan untuk penelitian. pretest dilaksanakan pada hari Senin, 3 September 2018. Siswa mengerjakan 6 soal uraian selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Siswa mendapatkan arahan dari guru mengenai cara mengerjakan soal. Selain itu, siswa juga memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai soal yang kurang dipahami. Dalam penelitian ini, peran peneliti adalah sebagai pengamat, membantu menyiapkan materi dan alat yang dibutuhkan dalam pembelajaran serta mendokumentasikan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan metode pembelajaran ceramah, sedangkan kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Pembelajaran akan dilakukan selama 4 kali pertemuan untuk masing-masing kelompok dengan lama waktu pembelajaran pada setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit. Guru yang mendampingi siswa selama 65

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest, treatment, posttest I dan posttest II adalah guru yang sama. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu implementasi (implementation). Setiap guru memiliki gaya mengajar yang berbeda. Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi skor posttest (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Deskripsi implementasi pembelajaran kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebagai berikut. 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelas Kontrol Metode yang digunakan dalam pembelajaran pada kelompok kontrol adalah metode pembelajaran ceramah. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Pembelajaran dilaksanakan selama empat kali pertemuan, masingmasing pertemuan pembelajaran membutuhkan waktu 2 x 35 menit. Materi pokok yang dipelajari adalah pernapasan hewan dengan fokus sub materi yang berbeda setiap pertemuannya. Kegiatan pembelajaran terdiri dari tiga kegiatan yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan salam, apersepsi, motivasi, dan orientasi. Kegiatan inti merupakan penjelasan materi pokok pernapasan hewan dengan menggunakan metode ceramah, kemudian kegiatan penutup merupakan kegiatan melakukan penyimpulan materi. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 5 September 2018 pada pukul 09:25 – 10:35 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah pengertian pernapasan dan fungsi organ pernapasan pada hewan. Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi yaitu guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai pernapasan hewan beserta organ pernapasannya. Pada kegiatan inti, siswa mendengarkan guru menjelaskan materi tentang pengertian pernapasan dan fungsi organ pernapasan pada hewan. Sembari mendengarkan, siswa juga mencatat halhal penting yang telah dijelaskan oleh guru di dalam buku masing-masing. Pada kegiatan penutup, siswa diajak untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama guru. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 7 September 2018 pada pukul 09:25 – 10:35 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces). Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi yaitu guru 66

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces). Pada kegiatan inti, siswa mendengarkan guru menjelaskan materi tentang macammacam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces). Sembari mendengarkan, siswa juga mencatat hal-hal penting yang telah dijelaskan oleh guru di dalam buku masing-masing. Pada kegiatan penutup, siswa diajak untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama guru. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 11 September 2018 pada pukul 09:25 – 10:35 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan amfibi, reptil, burung (Aves), dan mamalia. Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi yaitu guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan amfibi, reptil, burung (Aves), dan mamalia. Pada kegiatan inti, siswa mendengarkan guru menjelaskan materi tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan Amfibi, Reptil, burung (Aves), dan Mamalia. Sembari mendengarkan, siswa juga mencatat hal-hal penting yang telah dijelaskan oleh guru di dalam buku masing-masing. Pada kegiatan penutup, siswa diajak untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama guru. Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018 pada pukul 09:25 – 10:35 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah sistem pernapasan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan hewan. Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi yaitu guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai sistem pernapasan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan hewan. Pada kegiatan inti, siswa mendengarkan guru menjelaskan materi tentang sistem pernapasan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan hewan. Sembari mendengarkan, siswa juga mencatat hal-hal penting yang telah dijelaskan oleh guru di dalam buku masing-masing. Pada kegiatan penutup, siswa diajak untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama guru. Pada hari Senin, 17 September 2018 siswa yang berada di kelompok kontrol mengerjakan posttest I. Posttest I dilaksanakan dengan tujuan mengetahui 67

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemahaman siswa tentang materi pernapasan hewan setelah mengikuti pembelajaran menggunakan metode pembelajaran ceramah. Posttest I dilaksanakan selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Kemudian pada hari Selasa, 25 September 2018 siswa kembali mengerjakan posttest II. Posttest II dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah masih ada materi yang diingat oleh siswa setelah tujuh hari yang lalu menerima penjelasan materi pernapasan hewan dengan metode pembelajaran ceramah. Pada posttest I dan posttest II siswa mengerjakan 6 soal uraian dengan soal yang sama dengan soal pretest yang telah dikerjakan sebelumnya. Soal nomer 5 digunakan untuk meneliti variabel kemampuan mengeksplanasi yang terdiri dari tiga sub soal yaitu soal 5a, 5b, dan 5c. Soal nomer 6 digunakan untuk meneliti kemampuan meregulasi diri yang juga terdiri dari tiga sub soal yaitu soal 6a, 6b, dan 6c. 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelas Eksperimen Model yang digunakan dalam pembelajaran pada kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Pembelajaran dilaksanakan selama empat kali pertemuan, masing-masing pertemuan pembelajaran membutuhkan waktu 2 x 35 menit. Materi pokok yang dipelajari adalah pernapasan hewan dengan fokus sub materi yang berbeda setiap pertemuannya. Pelaksanaan pembelajaran pada kelompok eksperimen dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match meliputi tiga kegiatan, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan meliputi kegiatan salam, doa, apersepsi, motivasi, dan orientasi. Kegiatan inti merupakan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang terdiri dari tujuh langkah yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan, dan pemberian penghargaan serta dilanjutkan menyimpulkan materi serta evaluasi pembelajaran. Kemudian pada kegiatan akhir meliputi kegiatan refleksi. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 5 September 2018 pada pukul 07:20 – 08:30 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah pengertian pernapasan dan fungsi organ pernapasan pada hewan. Dalam kegiatan pendahuluan guru 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memberikan salam dan mengajak siswa untuk berdoa kemudian dilanjutkan dengan melakukan tanya jawab tentang pengertian pernapasan dan fungsi organ pernapasan (Apersepsi), setelah melakukan tanya jawab guru mengajak siswa untuk bermain permainan “Siapa Aku?” (Motivasi) dan menyampaikan tujuan pembelajaran (Orientasi). Pada kegiatan inti sebelum masuk ke dalam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa diajak untuk melihat tayangan video pendek tentang atraksi lumba-lumba. Setelah melihat tayangan video, siswa mendengarkan penjelasan materi oleh guru tentang pengertian pernapasan dan fungsi organ pernapasan pada hewan. Kegiatan yang selanjutnya adalah kegiatan yang mengimplementasikan tujuh langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Langkah pertama adalah menyiapkan kartu. Pada langkah ini yang menyiapkan kartu soal dan kartu jawab adalah guru. Kemudian guru melanjutkan kegiatan dengan menjelaskan aturan permainan dan langkah – langkah kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang akan dilakukan oleh siswa. Langkah kedua adalah pembagian kartu. Pada langkah ini, siswa dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Siswa yang berada di kelompok soal akan memperoleh kartu soal dan siswa yang berada di kelompok jawaban akan memperoleh kartu jawaban. Langkah ketiga adalah memikirkan soal dan jawaban. Pada langkah ini siswa diberi waktu 1 menit untuk memikirkan pasangan kartu yang diperoleh. Siswa yang mendapatkan kartu soal memikirkan isi dari kartu jawab yang menjadi pasangan kartu soalnya begitu juga siswa yang mendapat kartu jawaban memikirkan pertanyaan pada kartu soal yang menjadi pasangan kartu jawabannya. Langkah keempat adalah mencari pasangan. Pada langkah ini siswa melakukan kegiatan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. 69

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Langkah kelima adalah pemberian nilai. Pada langkah ini siswa akan mendapatkan nilai dari guru. Kriteria untuk mendapatkan nilai adalah dua pasang siswa yang berhasil mencari pasangan/memasangkan kartu dengan cepat dan tepat. Langkah keenam adalah pengulangan permainan. Pada langkah ini, guru akan mengulang permainan. Sebelum memulai kembali permainan, guru akan mengocok kartu soal dan kartu jawab, setelah itu siswa yang pada permainan sebelumnya mendapatkan berada dikelompok soal akan berpindah ke kelompok jawaban dan begitu sebaliknya. Guru akan membagikan kartu kepada masing-masing siswa sesuai kelompoknya. Siswa akan kembali memikirkan isi kartu jawaban atau pertanyaan pada kartu soal yang nantinya dapat menjadi pasangan dari kartu yang telah didapat. Kemudian siswa akan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Kemudian dua pasang siswa yang berhasil memasangkan kartu dengan cepat dan tepat akan mendapatkan nilai. Langkah ketujuh adalah pemberian penghargaan. Penghargaan diberikan kepada siswa yang berhasil mendapatkan skor tertinggi selama permainan Make a Match yang dilakukan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi kegiatan pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa secara bersama-sama dengan guru. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 7 September 2018 pada pukul 07:20 – 08:30 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces). Dalam kegiatan pendahuluan guru memberikan salam dan mengajak siswa untuk berdoa kemudian dilanjutkan dengan melakukan tanya jawab tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan hewan yang diketahui siswa (Apersepsi), setelah melakukan tanya jawab guru mengajak siswa untuk bermain permainan “Bola Api” (Motivasi), dan menyampaikan tujuan pembelajaran (Orientasi). 70

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kegiatan inti sebelum masuk ke dalam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa diajak untuk melihat tayangan video pendek tentang ikan dan tempat hidupnya. Setelah melihat tayangan video, siswa mendengarkan penjelasan materi oleh guru tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces). Kegiatan yang selanjutnya adalah kegiatan yang mengimplementasikan tujuh langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Langkah pertama adalah menyiapkan kartu. Pada langkah ini yang menyiapkan kartu soal dan kartu jawab adalah guru kemudian guru melanjutkan kegiatan dengan menjelaskan aturan permainan dan langkah – langkah kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang akan dilakukan oleh siswa. Langkah kedua adalah pembagian kartu. Pada langkah ini, siswa dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Siswa yang berada di kelompok soal akan memperoleh kartu soal dan siswa yang berada di kelompok jawaban akan memperoleh kartu jawaban. Langkah ketiga adalah memikirkan soal dan jawaban. Pada langkah ini siswa diberi waktu 1 menit untuk memikirkan pasangan kartu yang diperoleh. Siswa yang mendapatkan kartu soal memikirkan isi dari kartu jawab yang menjadi pasangan kartu soalnya begitu juga siswa yang mendapat kartu jawaban memikirkan pertanyaan pada kartu soal yang menjadi pasangan kartu jawabannya. Langkah keempat adalah mencari pasangan. Pada langkah ini siswa melakukan kegiatan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Langkah kelima adalah pemberian nilai. Pada langkah ini siswa akan mendapatkan nilai dari guru. Kriteria untuk mendapatkan nilai adalah dua pasang siswa yang berhasil mencari pasangan/memasangkan kartu dengan cepat dan tepat. Langkah keenam adalah pengulangan permainan. Pada langkah ini, guru akan mengulang permainan. Sebelum memulai kembali permainan, guru akan mengocok 71

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kartu soal dan kartu jawab, setelah itu siswa yang pada permainan sebelumnya mendapatkan berada dikelompok soal akan berpindah ke kelompok jawaban dan begitu sebaliknya. Guru akan membagikan kartu kepada masing-masing siswa sesuai kelompoknya. Siswa akan kembali memikirkan isi kartu jawaban atau pertanyaan pada kartu soal yang nantinya dapat menjadi pasangan dari kartu yang telah didapat. Kemudian siswa akan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Kemudian dua pasang siswa yang berhasil memasangkan kartu dengan cepat dan tepat akan mendapatkan nilai. Langkah ketujuh adalah pemberian penghargaan. Penghargaan diberikan kepada siswa yang berhasil mendapatkan skor tertinggi selama permainan Make a Match yang dilakukan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi kegiatan pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa secara bersama-sama dengan guru. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 11 September 2018 pada pukul 07:20 – 08:30 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan amfibi, reptil, burung (Aves), dan mamalia. Dalam kegiatan pendahuluan guru memberikan salam dan mengajak siswa untuk berdoa kemudian dilanjutkan dengan melakukan tanya jawab tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan hewan katak, ular, burung, dan sapi yang diketahui siswa (Apersepsi), setelah melakukan tanya jawab guru mengajak siswa untuk bermain permainan sederhana (Motivasi), dan menyampaikan tujuan pembelajaran (Orientasi). Pada kegiatan inti sebelum masuk ke dalam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa diajak untuk melihat tayangan video pendek tentang katak dan tempat hidupnya. Setelah melihat tayangan video, siswa mendengarkan penjelasan materi oleh guru tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan amfibi, reptil, burung (Aves), dan mamalia. Kegiatan 72

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang selanjutnya adalah kegiatan yang mengimplementasikan tujuh langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Langkah pertama adalah menyiapkan kartu. Pada langkah ini yang menyiapkan kartu soal dan kartu jawab adalah guru kemudian guru melanjutkan kegiatan dengan menjelaskan aturan permainan dan langkah – langkah kegiatan pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang akan dilakukan oleh siswa. Langkah kedua adalah pembagian kartu. Pada langkah ini, siswa dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Siswa yang berada di kelompok soal akan memperoleh kartu soal dan siswa yang berada di kelompok jawaban akan memperoleh kartu jawaban. Langkah ketiga adalah memikirkan soal dan jawaban. Pada langkah ini siswa diberi waktu 1 menit untuk memikirkan pasangan kartu yang diperoleh. Siswa yang mendapatkan kartu soal memikirkan isi dari kartu jawab yang menjadi pasangan kartu soalnya begitu juga siswa yang mendapat kartu jawaban memikirkan pertanyaan pada kartu soal yang menjadi pasangan kartu jawabannya. Langkah keempat adalah mencari pasangan. Pada langkah ini siswa melakukan kegiatan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Langkah kelima adalah pemberian nilai. Pada langkah ini siswa akan mendapatkan nilai dari guru. Kriteria untuk mendapatkan nilai adalah dua pasang siswa yang berhasil mencari pasangan/memasangkan kartu dengan cepat dan tepat. Langkah keenam adalah pengulangan permainan. Pada langkah ini, guru akan mengulang permainan. Sebelum memulai kembali permainan, guru akan mengocok kartu soal dan kartu jawab, setelah itu siswa yang pada permainan sebelumnya mendapatkan berada dikelompok soal akan berpindah ke kelompok jawaban dan begitu sebaliknya. Guru akan membagikan kartu kepada masing-masing siswa sesuai kelompoknya. Siswa akan kembali memikirkan isi kartu jawaban atau pertanyaan pada kartu soal yang nantinya dapat menjadi pasangan dari kartu yang telah didapat. Kemudian siswa akan saling mencari pasangan dari kartu yang 73

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Kemudian dua pasang siswa yang berhasil memasangkan kartu dengan cepat dan tepat akan mendapatkan nilai. Langkah ketujuh adalah pemberian penghargaan. Penghargaan diberikan kepada siswa yang berhasil mendapatkan skor tertinggi selama permainan Make a Match yang dilakukan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi kegiatan pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa secara bersama-sama dengan guru. Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018 pada pukul 07:20 – 08:30 WIB. Materi yang dipelajari siswa adalah sistem pernapasan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan. Dalam kegiatan pendahuluan guru memberikan salam dan mengajak siswa untuk berdoa kemudian dilanjutkan dengan melakukan tanya jawab tentang macam-macam organ dan sistem pernapasan hewan katak, ular, burung, dan sapi yang diketahui siswa (Apersepsi), setelah melakukan tanya jawab guru mengajak siswa untuk bermain permainan sederhana (Motivasi), dan menyampaikan tujuan pembelajaran (Orientasi). Pada kegiatan inti sebelum masuk ke dalam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa diajak untuk melihat tayangan video pendek tentang katak dan tempat hidupnya. Setelah melihat tayangan video, siswa mendengarkan penjelasan materi oleh guru tentang sistem pernapasan hewan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan. Kegiatan yang selanjutnya adalah kegiatan yang mengimplementasikan tujuh langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Langkah pertama adalah menyiapkan kartu. Pada langkah ini yang menyiapkan kartu soal dan kartu jawab adalah guru kemudian guru melanjutkan kegiatan dengan menjelaskan aturan permainan dan langkah – langkah kegiatan pembelajaran Make a Match yang akan dilakukan oleh siswa. 74

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Langkah kedua adalah pembagian kartu. Pada langkah ini, siswa dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Siswa yang berada di kelompok soal akan memperoleh kartu soal dan siswa yang berada di kelompok jawaban akan memperoleh kartu jawaban. Langkah ketiga adalah memikirkan soal dan jawaban. Pada langkah ini siswa diberi waktu 1 menit untuk memikirkan pasangan kartu yang diperoleh. Siswa yang mendapatkan kartu soal memikirkan isi dari kartu jawab yang menjadi pasangan kartu soalnya begitu juga siswa yang mendapat kartu jawaban memikirkan pertanyaan pada kartu soal yang menjadi pasangan kartu jawabannya. Langkah keempat adalah mencari pasangan. Pada langkah ini siswa melakukan kegiatan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Langkah kelima adalah pemberian nilai. Pada langkah ini siswa akan mendapatkan nilai dari guru. Kriteria untuk mendapatkan nilai adalah dua pasang siswa yang berhasil mencari pasangan/memasangkan kartu dengan cepat dan tepat. Langkah keenam adalah pengulangan permainan. Pada langkah ini, guru akan mengulang permainan. Sebelum memulai kembali permainan, guru akan mengocok kartu soal dan kartu jawab, setelah itu siswa yang pada permainan sebelumnya mendapatkan berada dikelompok soal akan berpindah ke kelompok jawaban dan begitu sebaliknya. Guru akan membagikan kartu kepada masing-masing siswa sesuai kelompoknya. Siswa akan kembali memikirkan isi kartu jawaban atau pertanyaan pada kartu soal yang nantinya dapat menjadi pasangan dari kartu yang telah didapat. Kemudian siswa akan saling mencari pasangan dari kartu yang didapatkan oleh masing-masing siswa. Siswa yang mendapatkan kartu soal akan mencari siswa yang mendapat kartu jawab sebagai pasangan dari kartu soal yang didapatkannya tersebut. Siswa yang mendapat kartu jawab juga akan mencari siswa yang mendapat kartu soal yang sebagai pasangan dari kartu jawaban yang didapatkannya tersebut. Kemudian dua pasang siswa yang berhasil memasangkan kartu dengan cepat dan tepat akan mendapatkan nilai. 75

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Langkah ketujuh adalah pemberian penghargaan. Penghargaan diberikan kepada siswa yang berhasil mendapatkan skor tertinggi selama permainan Make a Match yang dilakukan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi kegiatan pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa secara bersama-sama dengan guru. Pada hari Senin, 17 September 2018 siswa yang berada di kelompok eksperimen mengerjakan posttest I. Posttest I dilaksanakan dengan tujuan mengetahui pemahaman siswa tentang materi pernapasan hewan setelah mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Posttest I dilaksanakan selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Pada hari Kamis, 27 September 2018 siswa kembali mengerjakan posttest II. Posttest II dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah masih ada materi yang diingat oleh siswa setelah sepuluh hari yang lalu menerima penjelasan materi pernapasan hewan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Pada posttest I dan posttest II siswa mengerjakan 6 soal uraian dengan soal yang sama dengan soal pretest yang telah dikerjakan sebelumnya. Soal nomer 5 digunakan untuk meneliti variabel kemampuan mengeksplanasi yang terdiri dari tiga sub soal yaitu soal 5a, 5b, dan 5c. Soal nomer 6 digunakan untuk meneliti kemampuan meregulasi diri yang juga terdiri dari tiga sub soal yaitu soal 6a, 6b, dan 6c. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan data yang diperoleh siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi Hasil dari sebaran data pada kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Mengeksplanasi Skor Pretest Skor Posttest 1 No. Indikator Soal 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total 1. Menjelaskan alasan mengenai ikan yang 3 12 6 3 1 8 11 4 24 24 membuka dan menutup mulutnya 76

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI secara terus menerus. 2. Menjelaskan tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. 3. Menjelaskan cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Jumlah Frekuensi 3 12 6 3 24 3 12 4 5 24 7 8 9 0 24 8 2 11 3 24 13 32 21 6 72 12 22 26 12 72 Tabel 4.1 menunjukkan sebaran data kelompok kontrol pada pretest dan posttest I. Sebaran data hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 13 siswa, skor 2 sebanyak 32 siswa, skor 3 sebanyak 21 siswa dan skor 4 sebanyak 6 siswa. Pada pretest, skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 2 sebanyak 32 siswa, sedangkan skor yang paling sedikit jumlahnya adalah skor 4 sebanyak 6 siswa. Sebaran data hasil posttest I pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 12 siswa, skor 2 sebanyak 22 siswa, skor 3 sebanyak 26 siswa, dan skor 4 sebanyak 12 siswa. Pada posttest I, skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 3 sebanyak 26 siswa sedangkan skor 1 dan 4 memiliki jumlah siswa yang sama adalah 12 siswa. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Mengeksplanasi Skor Pretest Skor Posttest 1 No. Indikator Soal 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total 1. Menjelaskan alasan mengenai ikan yang 3 12 8 1 0 6 3 15 membuka dan 24 24 menutup mulutnya secara terus menerus. 2. Menjelaskan tanggapan terhadap tindakan seseorang 1 13 7 3 2 2 10 10 24 24 terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. 77

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Menjelaskan cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Jumlah Frekuensi 7 8 9 0 24 5 3 6 10 24 11 33 24 4 72 7 11 19 35 72 Tabel 4.2 menunjukkan sebaran data kelompok eksperimen pada pretest dan posttest I. Sebaran data hasil pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 11 siswa, skor 2 sebanyak 33 siswa, skor 3 sebanyak 24 siswa, dan skor 4 sebanyak 4 siswa. Pada pretest, skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 2 sebanyak 33 siswa, sedangkan skor yang paling sedikit diperoleh adalah skor 4 sebanyak 4 siswa. Sebaran data hasil posttest I pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 7 siswa, skor 2 sebanyak 11 siswa, skor 3 sebanyak 19 siswa, dan skor 4 sebanyak 35 siswa. Pada posttest I, skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 4 sebanyak 35 siswa dan skor yang paling sedikit yang diperoleh adalah skor 1 sebanyak 7 siswa. 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi diri Hasil dari sebaran data pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Meregulasi diri Skor Pretest Skor Posttest 1 No. Indikator Soal 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total Membuat penilaian diri terhadap gagasan 1. 14 9 1 0 4 6 6 8 24 24 sendiri. Menilai kembali 2. 11 3 3 7 1 2 5 16 24 24 tindakan diri. Menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan 3. 3 6 11 4 3 6 11 4 24 24 hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Jumlah Frekuensi 28 18 15 11 72 9 13 16 34 72 78

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.3 menunjukkan sebaran data kelompok kontrol pada pretest dan posttest I. Sebaran data hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 28 siswa, skor 2 sebanyak 18 siswa, skor 3 sebanyak 15 siswa, skor 4 sebanyak 11 siswa. Skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 1 sebanyak 28 siswa, dan skor yang paling sedikit diperoleh adalah skor 4 sebanyak 11 siswa. Sebaran data hasil posttest I pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 9 siswa, skor 2 sebanyak 13 siswa, skor 3 sebanyak 16 siswa, dan skor 4 sebanyak 34 siswa. Skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 4 sebanyak 34 siswa, dan skor yang paling sedikit diperoleh adalah skor 1 sebanyak 9 siswa. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Meregulasi diri Skor Pretest Skor Posttest 1 No. Indikator Soal 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total Membuat penilaian 1. 13 10 1 0 11 3 3 7 diri terhadap gagasan 24 24 sendiri. Menilai kembali 2. 2 9 9 4 3 6 11 4 24 24 tindakan diri. Menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan 3. 3 10 9 2 3 6 8 7 24 24 hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Jumlah Frekuensi 18 29 19 6 72 17 15 22 18 72 Tabel 4.4 menunjukkan sebaran data kelompok eksperimen pada pretest dan posttest I. Sebaran data hasil pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 18 siswa, skor 2 sebanyak 29 siswa, skor 3 sebanyak 19 siswa, skor 4 sebanyak 6 siswa. Skor yang paling banyak diperoleh siswa adalah skor 2 sebanyak 29 siswa, sedangkan skor yang paling sedikit diperoleh siswa adalah skor 4 sebanyak 6 siswa. Sebaran data hasil posttest I pada ketiga indikator sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor 1 sebanyak 17 siswa, skor 2 sebanyak 15 siswa, skor 3 sebanyak 22 siswa, dan skor 4 sebanyak 18 siswa. skor yang paling banyak diperoleh adalah skor 3 sebanyak 22 siswa dan skor yang paling sedikit diperoleh adalah skor 2 sebanyak 15 siswa. 79

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan mengeksplanasi, sedangkan variabel independen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri dari 3 nomor soal uraian yaitu item soal 5 yang mengandung indikator menjelaskan alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus, menjelaskan tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan, dan menjelaskan cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahapan analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu dengan melakukan uji normalitas distribusi data yang bertujuan untuk mengetahui data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan skor rerata kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dibandingkan memiliki data varian yang homogen atau tidak. Setelah melakukan uji asumsi, maka dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakukan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi, dan uji besar pengaruh. Selanjutnya dilakukan analisis data lebih lanjut dengan melakukan uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I yaitu dengan menghitung persentase peningkatan dan besar efek peningkatan kemudian melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttest I serta uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan mengeksplanasi. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan 80

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI secara random. Uji perbedaan kemampuan awal ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan kemampuan awal pada kedua kelompok dengan pretest. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, kemudian nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahapan selanjutnya (Field, 2009: 144). Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas distribusi data pada skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kelompok p Keputusan Kontrol 0,117 Normal Eksperimen 0,085 Normal Tabel 4.5 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor rerata pretest tersebut memiliki distribusi normal. Jika data memiliki distribusi normal, maka analisis statistik yang digunakan adalah Independent Samples t-test. (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian data dilakukan untuk mengetahui varian data dari dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 149). Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Data yang digunakan untuk melakukan uji homogenitas varian data adalah skor rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Hasil uji homogenitas varian untuk data rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok 81

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen pada kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Mengeksplanasi Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,077 1 46 0,782 Homogen Tabel 4.6 menunjukkan hasil analisis dengan harga F (1,46) = 0,077 dan harga p = 0,782 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan kata lain, varian data dari skor rerata pretest dari dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. 2. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, maka dilakukan uji perbedaan kemampuan awal. Pengujian data menggunakan statistik parametrik dengan Independent Samples t-test karena data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24). Berikut hasil uji perbedaan kemampuan awal terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal pada Kemampuan Mengeksplanasi Uji Statistik p Keterangan Independent Samples t-test 0,850 Tidak Ada Perbedaan Tabel 4.7 menunjukkan hasil analisis uji perbedaan kemampuan awal pada kemampuan mengeksplanasi. Kemampuan awal kelompok kontrol (M = 2,305, SE = 0,106) lebih tinggi daripada kelompok eksperimen (M = 2,278, SE = 0,102). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (46) = 0,190; p = 0,850 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama dalam kemampuan mengeksplanasi. 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan 82

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengeksplanasi. Peneliti menggunakan rumus : (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh perlakuan. Dari perhitungan menggunakan rumus pengaruh perlakuan didapatkan hasil yaitu 0,638 yang menunjukkan bahwa hasil perhitungan lebih besar dari 0, sehingga dapat diputuskan bahwa ada perbedaan antara rerata selisih skor posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.6). Untuk mengetahui perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest dalam kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, kemudian nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahapan selanjutnya (Field, 2009: 144). Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah skor selisih pretest – posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas distribusi data pada skor selisih pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Selisih Pretest – Posttest I Kelompok p Keputusan Kontrol 0,144 Normal Eksperimen 0,200 Normal Tabel 4.8 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor selisih pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor selisih pretest – posttest I tersebut memiliki distribusi normal (Field, 2009: 326). 83

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian data dilakukan untuk mengetahui varian data dari dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 149). Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Data yang digunakan untuk melakukan uji homogenitas varian data adalah skor selisish pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok yang dibandingkan. (Field, 2009: 150). Hasil uji homogenitas varian untuk data skor selisish pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 5,746 1 39,129 0,021 Tidak Homogen Tabel 4.9 menunjukkan hasil analisis dengan harga F (1,39,129) = 5,746 dan harga p = 0,021 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak artinya tidak terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan kata lain, varian data dari skor selisih pretest – posttest I dari dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang tidak homogen. Setelah dilakukan uji normalitas data dan uji homogenitas varian data, selanjutnya dilakukan uji statistik. 2. Uji Statistik Uji statistik dilakukan untuk melihat signifikansi pengaruh perlakuan. Data yang digunakan adalah selisih pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data selisih skor posttest I dan pretest memiliki distribusi data normal sehingga uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik yaitu Independent Samples t-test (Field, 2009: 345). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24 & Santoso, 2015: 400). Berikut hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi Uji Statistik p Keputusan Independent Samples t-test 0,008 Signifikan 84

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.10 merupakan hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata selisih skor posttest I dan pretest kelompok eksperimen (M = 0,861; SE = 0,192) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (M = 0,222; SE = 0,123). Perbedaan tersebut signifikan dengan t (39,129) = -2,801; p = 0,008 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Berikut grafik peningkatan skor dari pretest Rerata ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 3,139 2,305 2,278 Pretest Kontrol 2,528 Posttest 1 Eksperimen Gambar 4.1 Peningkatan Rerata Skor Pretest – Posttest 1 pada Kemampuan Mengeksplanasi Gambar 4.1 tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan selisih skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Meskipun demikian, skor posttest yang diperoleh kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol setelah diberikan treatment berupa pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,222, sedangkan mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,861. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest – posttest I antara kelompok kontrol dan eksperimen. 85

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.2 Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I pada Kemampuan Mengeksplanasi 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III. Peneliti menghitung koefisien determinasi (R2) dengan dikuadratkan harga r kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Data yang digunakan untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I – pretest pada kedua kelompok. Data yang digunakan untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan Independent Samples t-test karena data memiliki distribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.7). Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Mengeksplanasi Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek Eksplanasi -2,801 7,846 39,129 0,41 0,1681 16,81 Menengah Tabel 4.11 merupakan hasil analisis yang menunjukkan hasil uji besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi dan diperoleh r = 0,41 setara dengan 16,81%. Menurut Field (2009: 57) r = 0,41 masuk kategori efek menengah, sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, & Hyun (2012: 14) r = 0,41 masuk kategori efek cukup besar secara praktis dan teoritis. 86

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data yang digunakan adalah skor pretest dan posttest I kelompok kontrol serta kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji statistik, dilakukan uji normalitas data skor pretest – posttest I terlebih dahulu menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas selisih skor pretest – posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Pretest 0,117 Normal Posttest I 0,111 Normal Eksperimen Pretest 0,085 Normal Posttest I 0,140 Normal Tabel 4.12 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 hanya terdapat pada skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data memiliki distribusi normal, maka uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung menggunakan cara membagi selisih posttest I – pretest dengan skor pretest, kemudian dikali 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9). Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Mengeksplanasi Rerata Peningkatan No. Kelompok Uji Statistik p Keterangan (%) Pretest Posttest 1 Paired Tidak 1. Kontrol 2,305 2,528 9,63 0,084 Samples tSignifikan test 2. Eksperimen 2,278 3,139 37,83 0,000 Signifikan 87

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,305 dan 2,528. Persentase peningkatan pretest dan posttest I sebesar 9,63%. Retata pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,278 dan 3,139. Persentase peningkatan pretest dan posttest I sebesar 37,83%. Persentase peningkatan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match meningkatkan kemampuan mengeksplanasi lebih besar daripada metode ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua Rerata kelompok terhadap kemampuan mengeksplanasi. 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 3,139 2,305 2,528 Kontrol Pretest 2,278 Eksperimen Posttest 1 Gambar 4.3 Peningkatan Skor Rerata Pretest – Posttest I Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.3 menggunakan grafik poligon. Berdasarkan gambar 4.3 dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol kemampuan mengeksplanasi tidak meningkat secara signifikan yaitu dengan M = 0,222; SD = 0,603; SE = 0,123; df = 23 dan harga p = 0,084 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak sehingga tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I, sedangkan pada kelompok eksperimen kemampuan mengeksplanasi meningkat secara signifikan yaitu dengan M = 0,862; SD = 0,942; SE = 0,192; df = 23 dan harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak sehingga ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Analisis lebih lanjut lain yang menunjukkan peningkatan skor adalah frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score). Gain terendah pada kelompok kontrol sebesar -1,33 dan kelompok eksperimen sebesar -1,00. Gain tertinggi pada 88

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol sebesar 1,33, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 2,33. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,5. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,5 pada kelompok kontrol sebanyak 7 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen sebanyak 16 siswa. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengeksplanasi. Frekuensi 8 7 6 4 2 4 4 4 3 4 1 3 2 1 0 0 2 2 3 3 2 1 1 0 0 0 0 -1,33-1,00-0,67-0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 2,00 2,33 Gain Score Kontrol Eksperimen Gambar 4.4 Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi Besar persentase gain score ≥ 0,5 pada kelompok kontrol sebesar 29,16%, sedangkan kelompok eksperimen sebesar 66,66%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 66,66% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 29,16% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki persentase peningkatan lebih besar daripada penerapan metode ceramah. b. Uji Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test karena data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan 89

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi r (effect Kategori No Kelompok t t2 df R2 % size) Efek 1. Kontrol 1,803 3,251 23 0,35 0,1225 12,25 Menengah 2. Eksperimen 4,481 20,079 23 0,68 0,4660 46,24 Besar Tabel 4.14 menunjukkan bahwa dari uji statistik pada kelompok kontrol diperoleh M = 2,222; SD = 0,603; SE = 0,123; df= 23 dan harga p = 0,084 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I untuk kemampuan mengeksplanasi, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,862; SD = 0,942; SE = 0,192; df = 23 dan harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I untuk kemampuan mengeksplanasi. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah untuk kemampuan mengeksplanasi. Besar pengaruh pada kelompok kontrol yaitu r = 0,35 setara dengan 12,25% yang termasuk dalam kategori menegah, sedangkan besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok eksperimen yaitu r = 0,68 setara dengan 46,24% yang termasuk dalam kategori efek besar. 2. Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validasi internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapatkan skor pretest lebih tinggi akan mendapatkan skor lebih rendah pada posttest. Begitu pula pada siswa yang mendapatkan skor pretest lebih rendah akan mendapatkan skor yang lebih tinggi pada posttest. Uji korelasi menggunakan data skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji korelasi untuk pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan rumus Pearson Correlation karena memiliki distribusi data normal (Field, 2009: 179). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika hasil korelasi bukan P dan Q (P : jika harga p < 0,05; Q : jika r negatif). 90

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut hasil uji korelasi rerata Pretest dan Posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.12). Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok r p Keputusan Kontrol 0,260 0,219 Positif dan Tidak Signifikan Eksperimen -0,029 0,895 Negatif dan Tidak Signifikan Tabel 4.15 merupakan hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi. Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,219 (p > 0,05) dan r = 0,260. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Pada kelompok eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,895 (p > 0,05) dan r = -0,029. Korelasi negatif artinya terdapat ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik pada hasil peningkatan pretest ke posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Dengan demikian, ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat atau memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk skor posttest I dan posttest II. Normalitas distribusi data skor posttest I dan posttest II diuji menggunakan One-Samples Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). 91

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Aspek p Keputusan Posttest I 0,111 Normal Kontrol Posttest II 0,170 Normal Posttest I 0,140 Normal Eksperimen Posttest II 0,132 Normal Tabel 4.16 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor rerata posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor rerata pretest tersebut memiliki distribusi normal. Jika data skor rerata posttest I dan posttest II memiliki distribusi data normal, maka uji statistik selanjutnya yaitu menggunakan Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.13). Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II pada Kemampuan Mengeksplanasi No. Kelompok Rerata Peningkatan p Keputusan (%) Posttest I Posttest II 1. Kontrol 2,528 2,361 -6,58 0,305 Tidak Signifikan 2. Eksperimen 3,139 3,014 -4,15 0,541 Tidak Signifikan Tabel 4.17 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,166; SD = 0,776; SE = 0,158; df = 23 dan harga p = 0,305 (p > 0,05) maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,125; SD = 0,987; SE = 0,201; df = 23 dan harga p = 0,541 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen. Persentase penurunan skor posttest I ke posttest II kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok eksperimen. persentase penurunan tersebut dapat dilihat pada hasil perhitungan yaitu pada kelompok kontrol sebesar – 6,58% sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar – 4,15%. Berikut grafik perbandingan skor pada 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. 3,5 3 Rerata 2,5 2 3,139 2,305 3,014 2,528 2,361 2,278 1,5 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest 1 Posttest 2 Eksperimen Gambar 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest 1, Posttest 2 pada Kemampuan Mengeksplanasi Untuk mengetahui apakah skor pada posttest II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan uji statistik terhadap perbedaan pada skor pretest dan posttest II. Uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test karena data pretest dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor ya ng signifikan dari pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.13). Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II pada Kemampuan Mengeksplanasi No. Kelompok Rerata Peningkatan p Keputusan (%) Pretest Posttest II 1. Kontrol 2,305 2,361 2,42 0,795 Tidak Signifikan 2. Eksperimen 2,278 3,014 32,35 0,000 Signifikan Tabel 4.18 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,558; SD = 1,040; SE = 0,212; df = 23 dan harga p = 0,795 (p > 0,05) maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor pretest ke posttest II. Dengan kata lain, tidak terjadi perubahan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = 7,367; SD = 0,687; SE = 0,140; df = 23 dan harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak, artinya ada perbedaan yang signifikan dari skor pretest ke posttest II. Dengan kata lain, terjadi perubahan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok eksperimen. 93

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.4 Hasil Uji Hipotesis II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan meregulasi diri, sedangkan variabel independen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri dari 3 nomor soal uraian yaitu item soal 6 yang mengandung indikator membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri, menilai kembali tindakan diri, menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahapan analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu dengan melakukan uji normalitas distribusi data yang bertujuan untuk mengetahui data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan skor rerata kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dibandingkan memiliki data varian yang homogen atau tidak. Setelah melakukan uji asumsi, maka dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakukan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi, dan uji besar pengaruh. Selanjutnya dilakukan analisis data lebih lanjut dengan melakukan uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I yaitu dengan menghitung persentase peningkatan dan besar efek peningkatan kemudian melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttest I serta uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan meregulasi diri. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random. Uji perbedaan kemampuan awal ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan kemampuan awal pada kedua kelompok dengan pretest. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, kemudian nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahapan selanjutnya (Field, 2009: 144). Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunkana One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas distribusi data pada skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kelompok p Keputusan Kontrol 0,074 Normal Eksperimen 0,134 Normal Tabel 4.19 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor rerata pretest tersebut memiliki distribusi normal. Jika data memiliki distribusi normal, maka analisis statistik yang digunakan adalah Independent Samples t-test. b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian data dilakukan untuk mengetahui varian data dari dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 149). Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Data yang digunakan untuk melakukan uji homogenitas varian data adalah skor rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok yang dibandingkan. (Field, 2009: 150). Hasil uji homogenitas varian untuk data rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok 95

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,000 1 46 0,992 Homogen Tabel 4.20 menunjukkan hasil analisis dengan harga F (1,46) = 0,000 dan harga p = 0,992 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan kata lain, varian data dari skor rerata pretest dari dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. 2. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, maka dilakukan uji perbedaan kemampuan awal. Pengujian data menggunakan statistik parametrik dengan Independent Samples t-test karena data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24). Berikut hasil uji perbedaan kemampuan awal terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal pada Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik p Keterangan Independent Sample t-test 0,796 Tidak Signifikan Tabel 4.21 menunjukkan hasil analisis kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kemampuan awal kelompok kontrol (M = 2,181; SE = 0,113) lebih rendah daripada kelompok eksperimen (M = 2,223; SE = 0,113). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (46) = -0,260; p = 0,796 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama dalam kemampuan meregulasi diri. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meregulasi diri. Peneliti menggunakan rumus : (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh perlakuan. Dari perhitungan menggunakan rumus pengaruh perlakuan tersebut, didapatkan hasil yaitu yang menunjukkan bahwa hasil perhitungan lebih besar dari 0,431 sehingga dapat diputuskan bahwa ada perbedaan rerata selisih skor posttest (lihat Lampiran 4.6). Untuk mengetahui perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. dan pretest dalam kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, kemudian nantinya digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahapan selanjutnya (Field, 2009: 144). Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas distribusi data pada skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Selisih Pretest – Posttest I Kelompok p Keputusan Kontrol 0,086 Normal Eksperimen 0,141 Normal Tabel 4.22 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor rerata pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor selisih pretest – posttest I tersebut memiliki distribusi normal. Jika data memiliki distribusi normal, maka analisis statistik yang digunakan adalah Independent Samples t-test (Field, 2009: 326). 97

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian data dilakukan untuk mengetahui varian data dari dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 149). Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Data yang digunakan untuk melakukan uji homogenitas varian data adalah skor selisish pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok yang dibandingkan. (Field, 2009: 150). Hasil uji homogenitas varian untuk data skor selisish pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4) Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,006 1 46 0,941 Homogen Tabel 4.23 menunjukkan hasil analisis dengan harga F (1,46) = 0,006 dan harga p = 0,941 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan kata lain, varian data dari skor selisih pretest – posttest I dari dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang tidak homogen. Setelah dilakukan uji normalitas data dan uji homogenitas varian data, selanjutnya dilakukan uji statistik. 2. Uji Statistik Uji statistik dilakukan untuk melihat signifikansi pengaruh perlakuan. Data yang digunakan adalah selisih pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data selisih skor posttest I dan pretest memiliki distribusi data normal sehingga uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik yaitu Independent Samples t-test (Field, 2009: 345). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24 & Santoso, 2015: 400). Berikut hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.6). 98

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri Uji Statistik p Keputusan Independent Samples t-test 0,161 Tidak Signifikan Tabel 4.24 merupakan hasil analisis yang menunjukkan bahwa rerata selisih skor posttest I dan pretest kelompok eksperimen (M = 0,820; SE = 0,228) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (M = 0,389; SE = 0,199). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (46) = -2,801; p = 0,161 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Berikut grafik peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 4,000 3,042 Rerata 3,000 2,223 2,569 2,000 2,181 1,000 0,000 Pretest Kontrol Posttest 1 Eksperimen Gambar 4.6 Peningkatan Rerata Skor Pretest – Posttest 1 pada Kemampuan Meregulasi diri Gambar 4.6 tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan selisih skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi diaripada kelompok kontrol. Selain itu, pada skor posttest I yang diperoleh kelompok eksperimen juga lebih tinggi daripada kelompok kontrol setelah diberikan treatment berupa pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,389 sedangkan mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,820. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest – posttest I antara kelompok kontrol dan eksperimen. 99

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.7 Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan meregulasi diri. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III. Peneliti menghitung koefisien determinasi (R2) dengan dikuadratkan harga r kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Data yang digunakan untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I – pretest pada kedua kelompok. Data yang digunakan untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan Independent Samples t-test karena data memiliki distribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.7). Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Meregulasi diri r (effect Variabel t t2 df R2 % Kategori Efek size) Regulasi Diri -1,426 2,034 46 0,21 0,0441 4,41 Kecil Tabel 4.25 merupakan hasil analisis yang menunjukkan hasil uji besar pengaruh perlakuan pada kemampuan meregulasi diri dan diperoleh r = 0,21, setara dengan 4,41%. Menurut Field (2009: 57) r = 0,21 masuk kategori efek kecil, sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, & Hyun (2012: 14) r = 0,21 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoritis untuk membuat prediksi. 100

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. Data yang digunakan adalah skor pretest dan posttest I kelompok kontrol serta kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji statistik, dilakukan uji normalitas data skor pretest – posttest I terlebih dahulu menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas selisih skor pretest – posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Aspek p Keputusan Kontrol Pretest 0,074 Normal Posttest I 0,145 Normal Eksperimen Pretest 0,134 Normal Posttest I 0,200 Normal Tabel 4.26 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 hanya terdapat pada skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data memiliki distribusi normal, maka uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung menggunakan cara membagi selisih posttest I – pretest dibagi dengan pretest, kemudian dikali 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9). Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri Rerata Peningkatan No. Kelompok Uji Statistik p Keterangan (%) Pretest Posttest 1 Paired Tidak 1. Kontrol 2,181 2,569 17,78 0,063 Samples tSignifikan test 2. Eksperimen 2,223 3,042 36,87 0,002 Signifikan 101

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,181 dan 2,569. Persentase peningkatan pretest dan posttest I sebesar 17,78%. Retata pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,223 dan 3,042. Persentase peningkatan pretest dan posttest I sebesar 36,87%. Persentase peningkatan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match meningkatkan kemampuan meregulasi diri lebih besar daripada metode ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan meregulasi diri. 4 2,569 Rerata 3 3,042 2,223 2,181 2 1 0 Kontrol Pretest Eksperimen Posttest 1 Gambar 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Meregulasi diri Berdasarkan gambar 4.8 dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol kemampuan meregulasi diri tidak meningkat secara signifikan yaitu dengan M = 0,388; SD = 0,975; SE = 0,199; df = 23 dan harga p = 0,063 ( p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak sehingga tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I, sedangkan pada kelompok eksperimen kemampuan meregulasi diri meningkat secara signifikan yaitu dengan M = 0,820; SD = 1,116; SE = 0,228; df = 23 dan harga p = 0,002 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak sehingga ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. 102

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frekuensi 8 6 6 5 4 4 2 0 1 0 0 2 1 1 0 2 2 2 4 1 1 3 3 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 -2,00-1,67-1,33-1,00-0,67-0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 2,00 2,33 2,67 Gain Score Kontrol Eksperimen Gambar 4.9 Gain Score Kemampuan Meregulasi diri Berdasarkan gambar 4.9 di atas menunjukkan bahwa gain terendah pada kelompok kontrol sebesar -1,33 dan kelompok eksperimen sebesar -2,00. Gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 2,00, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 2,67. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol sebanyak 13 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen sebanyak 18 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol sebesar 54,16%, sedangkan kelompok eksperimen sebesar 75,00%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 75,00% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 54,16% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki persentase peningkatan lebih besar daripada penerapan metode ceramah. b. Uji Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test karena data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan 103

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Meregulasi diri r (effect Kategori No Kelompok t t2 df R2 % size) Efek 1. Kontrol 1,950 3,803 23 0,38 0,144 14,44 Menengah 2. Eksperimen 3,597 12,938 23 0,60 0,360 36,00 Besar Tabel 4.28 menunjukkan bahwa dari uji statistik pada kelompok kontrol diperoleh M = -0,388; SD = 0,975; SE = 0,199; df= 23 dan harga p = 0,063 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I untuk kemampuan meregulasi diri, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = - 0,820; SD = 1,116; SE = 0,228; df = 23 dan harga p = 0,002 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I untuk kemampuan meregulasi diri. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah untuk kemampuan meregulasi diri. Besar pengaruh pada kelompok kontrol yaitu r = 0,38 setara dengan 14,44% yang termasuk dalam kategori efek menegah, sedangkan besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok eksperimen yaitu r = 0,60 setara dengan 36,00% yang termasuk dalam kategori efek besar. 2. Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah korelasi rerata pretest dan posttest I positif dan signifikan. Tujuan lain dari uji korelasi adalah untuk mengendalikan ancaman terhadap validasi internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapatkan skor pretest lebih tinggi akan mendapatkan skor lebih rendah pada posttest. Begitu pula pada siswa yang mendapatkan skor pretest lebih rendah akan mendapatkan skor yang lebih tinggi pada posttest. Uji korelasi menggunakan data skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji korelasi untuk pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan rumus Pearson Correlation karena memiliki distribusi data normal (Field, 2009: 179). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika hasil korelasi bukan P 104

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan Q (P : jika harga p < 0,05; Q : jika r negatif). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.12). Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri Kelompok r p Keputusan Kontrol 0,307 0,144 Positif dan Tidak Signifikan Eksperimen -0,365 0,079 Negatif dan Tidak Signifikan Tabel 4.29 merupakan hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri.Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,219 (p > 0,05) dan r = 0,260. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Pada kelompok eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,895 (p > 0,05) dan r = -0,029. Korelasi negatif artinya terdapat ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik pada hasil peningkatan pretest ke posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Dengan demikian, ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat atau memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk skor posttest I dan posttest II. Normalitas distribusi data skor posttest I dan posttest II diuji menggunakan One-Samples Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). 105

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Meregulasi diri Kelompok Aspek p Keputusan Posttest I 0,145 Normal Kontrol Posttest II 0,160 Normal Posttest I 0,200 Normal Eksperimen Posttest II 0,169 Normal Tabel 4.30 menunjukkan hasil analisis dengan harga p > 0,05 pada skor rerata posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak sehingga dapat diputuskan bahwa data skor rerata pretest tersebut memiliki distribusi normal. Jika data skor rerata posttest I dan posttest II memiliki distribusi data normal, maka uji statistik selanjutnya yaitu menggunakan Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.13). Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II pada Kemampuan Meregulasi diri No. Kelompok Rerata Peningkatan p Keputusan (%) Posttest I Posttest II 1. Kontrol 2,569 1,902 -25,95 0,012 Signifikan 2. Eksperimen 3,042 3,043 0,013 0,984 Tidak Signifikan Tabel 4.31 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,667; SD = 1,195; SE = 0,244; df = 23 dan harga p = 0,012 (p < 0,05) maka Hnull berhasil ditolak, artinya ada perbedaan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,000; SD = 0,099; SE = 0,022; df = 23 dan harga p = 0,984 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen. Persentase penurunan skor posttest I ke posttest II terjadi pada kelompok kontrol. Persentase penurunan skor pada kelompok kontrol dapat dilihat pada hasil perhitungan yaitu sebesar – 25,95% sedangkan pada kelompok eksperimen terjadi 106

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peningkatan skor sebesar 0,013%. Berikut grafik perbandingan skor pada kelompok Rerata kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 0,500 0,000 3,042 2,223 3,043 2,569 1,902 2,181 Pretest Kontrol Posttest 1 Posttest 2 Eksperimen Gambar 4.10 Perbandingan skor Pretest, Posttest 1, dan Posttest 2 Untuk mengetahui apakah skor pada posttest II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan uji statistik terhadap perbedaan pada skor pretest dan posttest II. Uji statistik yang digunakan adalah Paired Samples t-test karena data pretest dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.13). Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II pada Kemampuan Meregulasi Diri No. Kelompok Rerata Peningkatan p Keputusan (%) Pretest Posttest II 1. Kontrol 2,181 1,902 -12,78 0,070 Tidak Signifikan 2. Eksperimen 2,223 3,043 36,90 0,001 Signifikan Tabel 4.32 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diperoleh M = -0,279; SD = 0,720; SE = 0,147; df = 23 dan harga p = 0,070 (p > 0,05) maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor pretest ke posttest II. Dengan kata lain, tidak terjadi perubahan skor yang signifikan dari Pretest ke posttest II pada kelompok kontrol, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh M = 8,200; SD = 1,067; SE = 0,218; df = 23 dan harga p = 0,001 (p < 0,05), maka Hnull berhasil ditolak, artinya ada perbedaan yang signifikan dari skor 107

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest ke posttest II. Dengan kata lain, terjadi perubahan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok eksperimen. 4.2 Pembahasan Dalam menarik kesimpulan perlu ketelitian dan kewaspadaan. Bisa jadi terdapat variabel lain di luar treatment yang turut mempengaruhi perubahan variabel dependen yang mengancam validitas internal penelitian. Oleh sebab itu, sebelum menarik kesimpulan, peneliti akan memaparkan ancaman validitas internal penelitian dan disertai solusi yang digunakan ketika melakukan penelitian. Kemudian, peneliti melakukan analisis antara hasil penelitian terhadap teori. 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Ancaman validitas internal penelitian telah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968) dan Lewis-Beck (1993). Terdapat 11 macam ancaman validitas internal penelitian seperti yang sudah dipaparkan pada bab III. Berikut adalah 11 ancaman validitas internal yang terjadi dalam penelitian dan cara pengendaliannya. No. 1. 2. 3. 4. 5. Tabel 4.33 Pengendalian Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian Terkendali Ancaman Validitas Tingkat Keterangan Internal Ancaman Ya/Tidak - Penelitian dilakukan dalam waktu singkat ± 2 Sejarah (History) Rendah Ya minggu. - Kelompok kontrol dan eksperimen benar-benar Difusi treatment atau dipisahkan dan waktu kontaminasi (Diffusion Rendah Ya yang pelaksanaan of treatment of menengah penelitian tidak memiliki contamination) selang waktu yang jauh. - Kelompok kontrol, tidak diberi treatment model Perilaku Rendah Tidak pembelajaran kooperatif Kompensatoris menengah tipe Make a Match sesudah penelitian selesai. - Penelitian dilaksanakan dalam waktu sungkat atau selama ± 2 minggu. Maturasi (Maturation) Rendah Ya - Menggunakan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen. - Hasil uji korelasi pretest – Regresi Statistik posttest I negatif dan tidak Rendah Ya (Statistical regression) signifikan. 108

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Mortalitas (Mortality) Rendah Ya Rendah Ya 7. Pengujian (Testing) 8. Instrumentasi (Instrumentation) Rendah – menengah tinggi Ya 9. Lokasi (Location) Menengah tinggi Ya 10. Karakteristik Subjek (Subject characteristics) Menengah tinggi Ya 11. Implementasi (Implementation) Tinggi Ya - Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama ± 2 minggu. - Selama pretest, posttest I dan posttest 2 seluruh siswa hadir di dalam kelas. - Kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama diberi pretest. - Memeriksa kelayakan instrumen sebelum melakukan penelitian. - Menggunakan instrumen yang sama pada saat pretest dan posttest I. - Lingkungan dan kondisi ruang kelas pada kelompok kontrol dan eksperimen kurang lebih sama. - Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ditentukan berdasarkan hasil undian. - Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama berdasarkan hasil uji statistik. - Kelompok kontrol dan eksperimen memiliki perbandingan jumlah siswa laki-laki dan perempuan hampir sama. - Pembelajaran pada kedua kelompok menggunakan guru yang sama. Berdasarkan tabel 4.32 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah (history), difusi treatment atau kontaminasi (diffusion of treatment of contamination), maturasi (maturation), regresi statistik (statistical regression), mortalitas (mortality), pengujian (testing), instrumentasi (instrumentation), lokasi (location), karakteristik subjek (subject characteristics), dan implementasi (implementation). Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendahmenengah. Ancaman tersebut tidak memiliki dampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan penelitian yang diambil. Dengan demikian, 10 dari 11 ancaman validitas internal dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ditemukan 109

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI data yang menunjukkan ancaman yang berdampak secara sistemik. Maka kredibilitas kesimpulan penelitian dapat dipercaya. Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Selama dilakukannya penelitian dijumpai peristiwa yang dapat mengancam validitas internal penelitian. Setiap ancaman yang dijumpai dikendalikan dengan solusi yang ada. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang sama yaitu di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Selama dilakukannya penelitian, setiap kelompok menggunakan kelas seperti yang biasa digunakan ketika pembelajaran pada hari-hari biasanya yaitu VA ditempati kelompok kontrol dan kelas VB ditempati kelompok eksperimen. Meskipun kedua kelompok berada di ruangan berbeda namun kenyamanan ruang, fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal penelitian berupa lokasi dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Sebelum memulai penelitian, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dipilih dengan cara melakukan undian menggunakan kelas yang ada. Pengundian kelas dilakukan dengan disaksikan oleh kedua guru mitra dan diperoleh hasil bahwa kelas VA sebagai kelompok kontrol dan kelas VB sebagai kelompok eksperimen. selain itu secara kebetulan perbandingan siswa laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok hampir sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal penelitian berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. Untuk model pembelajaran yang akan digunakan ketika penelitian sudah ditentukan sebelumnya. Agar tidak terjadi bias, pembelajaran yang dilaksanakan pada kedua kelompok dilakukan oleh guru yang sama, yang membedakan adalah model dan metode pembelajaran yang digunakan. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. Masing-masing guru memiliki gaya mengajar yang berbeda sehingga bisa jadi mempengaruhi hasil posttest. Perbedaan gaya mengajar guru berkaitan dengan kepribadian dan pembawaan ketika menyampaikan materi. Selain guru, instrumen atau karakteristik alat pengumpulan data yang digunakan pada kedua kelompok adalah sama. Instrumen yang digunakan berlaku dari pretest hingga posttest II. Sebelumdiberikan kepada siswa, instrumen diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari kesalahan instrumen. Hal tersebut dilakukan 110

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa instrumentasi (instumentation). Meskipun solusi tersebut sudah dilakukan, ternyata siswa mengalami kebosanan dalam mengerjakan soal yang sama terutama pada saat dilakukannya posttest II. Peneliti mengatasi hal tersebt dengan cara memberikan motivasi kepada siswa berupa apresiasi. Dalam penelitian ini pretest yang diberikan kepada kedua kelompok juga dapat mengurangi adanya ancaman validitas internal berupa pengujian (testing). Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa instumentasi (instrumentation) dapat dikendalikan. Sebelum siswa diberikan treatment, terlebih dahulu siswa pada kedua kelompok mengerjakan pretest. Hasil pretest kemudian diuji dengan menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows untuk mengetahui apakah kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Dari uji statistik, diperoleh hasil bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Dengan demikian, ancaman validitas berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. Selain itu, ketika pretest hingga posttest II seluruh siswa hadir di dalam kelas sehingga ancaman validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan. Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu yang singkat yaitu ± 2 minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal sejarah, maturasi, dan mortalitas. Tujuannya agar siswa tidak merasa bosan dalam belajar dan mengantisipasi adanya kegiatan yang kebetulan menggunakan materi yang sama dengan treatment. Selama pelaksanaan tidak dijumpai kegiatan yang berkaitan dengan materi penelitian, namun ada suatu hal yang terjadi ketika akan dilakukan posttest II pada kelompok eksperimen. Siswa pada kelompok eksperimen mengerjakan posttest II selisih 2 hari dengan pengerjaan posttest II pada kelompok kontrol. Hal tersebut karena adanya kelas tersebut sedang mengadakan remidial pekan ulangan. Ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi dapat terjadi dalam penelitian ini. Siswa bisa jadi di dalam maupun di luar sekolah melakukan komunikasi yang berkaitan dengan treatment penelitian tanpa sepengetahuan peneliti. Bentuk komunikasi tersebut dapat berupa saling mmepelajari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Untuk mengatasi 111

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hal tersebut, kelompok kontrol dan eksperimen belajar di dalam masing-masing kelas dan waktu yang pelaksanaan penelitian tidak memiliki selang waktu yang jauh sehingga mengurangi adanya komunikasi tersebut. Selain itu, peneliti juga memberikan pengertian kepada kedua kelompok usai kegiatan pembelajaran untuk tidak saling mempelajari treatment masing-masing kelompok. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa difusi treatment dapat dikendalikan. Pada penelitian ini peneliti tidak mengetahui bagaimana kondisi siswa pada kelompok kontrol yang mengalami demoralisasi seperti iri dan dikorbankan sehingga tidak kooperatif. Kondisi demoralisasi tersebut dapat mempengaruhi jalannya penelitian. Bisa jadi siswa paham bahwa kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran yang lebih bermanfaat dan menyenangkan sehingga membuat mereka belajar lebih giat ketika di rumah untuk menyaingi kelompok eksperimen. secara etika solusinya adalah memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kepada kelompok kontrol setelah penelitian selesai namun karena adanya keterbatasan waktu guru mitra maka tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran lagi. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan. 4.2.2 Pembahasan Terhadap Hipotesis 4.2.2.1 Pembahasan Hipotesis I Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi pada siswa kelas V SD. Untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi digunakan instrumen yang sama untuk pretest dan posttest I yaitu nomor 5a, 5b, dan 5c. Hasil Posttest menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan skor yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama (5a) adalah menjelaskan 2 alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus. Pada kelompok kontrol skor 3 meningkat sebanyak 5 siswa dan skor 4 sebanyak 1 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 4 meningkat sebanyak 14 siswa. Indikator kedua (5b) adalah menjelaskan 2 tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. Pada kelompok 112

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kontrol skor 4 meningkat sebanyak 2 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa, skor 2 sebanyak 3 siswa dan skor 4 sebanyak 7 siswa. Indikator ketiga (5c) adalah menyebutkan 3 cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Pada kelompok kontrol skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa, skor 3 sebanyak 2 siswa dan skor 4 sebanyak 3 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 4 meningkat sebanyak 10 siswa. Skor pretest pada kelompok kontrol skor yang sering muncul adalah skor 2 sebanyak 32 siswa, setelah posttest I skor yang sering muncul adalah skor 3 sebanyak 26 siswa. Pada kelompok eksperimen, skor pretest yang sering muncul adalah skor 2 sebanyak 34 siswa, setelah posttest I skor yang sering muncul adalah skor 4 sebanyak 35 siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,850 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Jika pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,008 (p < 0,05). Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dari hasil analisis statistik, dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Model pembelajaran tersebut memberikan pengaruh karena pada langkah pemberian nilai, siswa dituntut untuk mampu menjelaskan hasil penalarannya dan memaparkan argumen-argumen sehingga yakin bahwa kartu soal dan kartu jawaban sudah berpasangan dengan benar. Pada hal tersebut melatih kemampuan mengeksplanasi pada siswa. Selain itu juga didukung faktor rasa gembira saat belajar bersama teman-teman dan mereka adu cepat dalam menemukan pasangannya. Teori perkembangan kognitif menurut 113

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Piaget juga menekankan pentingnya kegiatan yang membuat siswa aktif membangun pengetahuan sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik (Suparno, 2001: 134-144). Pada penelitian ini, besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengeksplanasi sebesar 16,81% atau dalam kategori menengah (Field, 2009: 57). Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,41 setara dengan 16,81%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan pengaruh sebesar 16,81%, sedangkan 83,19% merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti. variabel lain tersebut misalnya intelegensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok dapat dilihat pada Gambar 4.1. Peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,222, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 0,862. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar 9,63%, sedangkan kelompok eksperimen sebesar 37,83%. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan skor namun peningkatan skor pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok kontrol memiliki r = 0,35 setara dengan 12,25%, masuk kategori efek menengah dan efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoritis untuk membuat prediksi (Field, 2009:57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012:14). Kelompok eksperimen memiliki r = 0,68 setara dengan 46,24%, masuk kategori efek besar dan efek sangat penting tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan (Field, 2009:57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012:14). Dengan demikian, persentase besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol sebesar 12,25% dan kelompok eksperimen sebesar 46,24%. Hal ini diperkuat dengan hasil uji signifikansi peningkatan pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,000 (p < 0,05). 114

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,219 (p > 0,05) dan r = 0,260. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Pada kelompok eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,895 (p > 0,05) dan r = -0,029. Korelasi negatif artinya terdapat ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik pada hasil peningkatan pretest ke posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Setelah kurang lebih satu minggu dari dilaksanakannya posttest I, kedua kelompok diberi posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu siswa diberi posttest I. Hasil posttest I ke posttest II diuji secara statistik. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p = 0,305 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan skor sebesar -6,58%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,541 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan skor sebesar -4,15%. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi penurunan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Meskipun kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama mengalami penurunan skor tetapi skor posttest II lebih tinggi dibandingkan skor pretest. Skor posttest II pada kedua kelompok lebih tinggi dibanding skor pretest, namun Skor posttest II kelompok eksperimen lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih efektif daripada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil mean skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol 2,31 dan 2,36, sedangkan kelompok eksperimen 2,28 dan 3,01. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan mengeksplanasi diperoleh skor ≥ 0,5. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,5 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 7 siswa, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a 115

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Match sebanyak 16 siswa. Dengan demikian, 29,16% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah, sedangkan 66,66% siswa pada kelompok eksperimen diutnungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Berdasarkan hasil perhitungan gain score tersebut dapat ditegaskan bahwa keuntungan yang diperoleh kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan mengeksplanasi. 4.2.2.2 Pembahasan Hipotesis II Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri pada siswa kelas V SD. Untuk mengukur kemampuan meregulasi diri digunakan instrumen yang sama untuk pretest dan posttest I yaitu nomor 6a, 6b, dan 6c. Hasil posttest menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan skor yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama (6a) adalah membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Pada kelompok kontrol skor 3 meningkat sebanyak 5 siswa dan skor 4 sebanyak 8 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 7 siswa. Indikator kedua (6b) adalah menilai kembali tindakan diri. Pada kelompok kontrol skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 9 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa. Indikator ketiga (6c) adalah menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Pada kelompok kontrol skor 1 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 4 sebanyak 6 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen skor 4 meningkat sebanyak 5 siswa. Skor pretest pada kelompok kontrol skor yang sering muncul adalah skor 1 sebanyak 28 siswa, setelah posttest I skor yang sering muncul adalah skor 4 sebanyak 34 siswa. Pada kelompok eksperimen, skor pretest yang sering muncul adalah skor 2 sebanyak 29 siswa, setelah posttest I skor yang sering muncul adalah skor 3 sebanyak 22 siswa. 116

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,796 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Jika pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,161 (p > 0,05). Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dari hasil analisis statistik, dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada penelitian ini, besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan meregulasi diri sebesar 4,41% atau dalam kategori kecil (Field, 2009: 57). Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,21 setara dengan 4,41%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan pengaruh sebesar 4,41%, sedangkan 95,59% merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya intelegensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Berdasarkan Kasmadi dan Sunariah (2013), variabel lain yang diduga ikut memberikan pengaruh salah satunya adalah intelegensi siswa. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, pada langkah mencari pasangan siswa akan berlatih untuk melakukan refleksi atau meninjau kembali hasil pemikirannya apabila dirasa salah memasangkan kartu. Kemudian siswa akan melakukan perbaikan diri dengan kembali mencari pasangan lain. Namun, pada hal ini tingkat intelegensi siswa memberikan pengaruh karena siswa belum terbiasa melakukan refleksi diri dan koreksi diri secara tertulis. Siswa yang belum terbiasa maka akan kesulitan dalam merangkai kalimat untuk menjawab soal-soal yang ada pada instrumen penelitian sehingga siswa akan mendapatkan skor yang rendah. 117

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok dapat dilihat pada Gambar 4.1. Peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,3888 sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 0,8200. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar 17,78%, sedangkan kelompok eksperimen sebesar 36,87%. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan skor namun peningkatan skor pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok kontrol memiliki r = 0,38 setara dengan 14,44%, masuk kategori efek menengah dan efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoritis untuk membuat prediksi (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Kelompok eksperimen memiliki r = 0,60 setara dengan 36,00%, masuk kategori efek besar dan efek cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009:57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012:14). Dengan demikian, persentase besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol sebesar 14,44% dan kelompok eksperimen sebesar 36,00%. Hal ini diperkuat dengan hasil uji signifikansi peningkatan pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,002 (p < 0,05). Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,144 (p > 0,05) dan r = 0,307. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. Pada kelompok eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,079 (p > 0,05) dan r = -0,365. Korelasi negatif artinya terdapat ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik pada hasil peningkatan pretest ke posttest I. Pada hal ini, perbedaan pretest ke posttest I tidak signifikan sehingga hasil korelasi tidak dapat digeneralisasikan pada populasi. 118

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah kurang lebih satu minggu dari dilaksanakannya posttest I, kedua kelompok diberi posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu siswa diberi posttest I. Hasil posttest I ke posttest II diuji secara statistik. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p = 0,012 (p < 0,05) artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan skor sebesar -25,95%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,984 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase peningkatan skor sebesar 0,013%. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan skor pada posttest I ke posttest II sedangkan pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor posttest I ke posttest II. Skor posttest II pada kelompok kontrol lebih rendah dibanding skor pretest, sedangkan pada kelompok eksperimen posttest II lebih tinggi dibanding pretest. Skor posttest II pada kelompok kontrol lebih rendah dibanding skor pretest diduga karena ketika pelaksanaan posttest II kelompok kontrol pada jam berikutnya akan ulangan mata pelajaran Bahasa Inggris, sehingga konsentrasi siswa terganggu. Skor posttest II kelompok eksperimen lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih efektif daripada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil mean skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol 2,18 dan 1,90, sedangkan kelompok eksperimen 2,22 dan 3,04. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan meregulasi diri diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 13 siswa, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sebanyak 18 siswa. Dengan demikian, 54,16% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah, sedangkan 75,00% siswa pada kelompok eksperimen diutnungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Berdasarkan hasil perhitungan gain score tersebut dapat ditegaskan bahwa keuntungan yang diperoleh kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan meregulasi diri. 119

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Hasil penelitian menunjukkan selisih skor kelompok eksperimen lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Hal ini terjadi karena pada pelaksanaan pembelajaran kelompok menggunakan metode ceramah sedangkan kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan dengan Huda (2013: 253) bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki keunggulan, yaitu: 1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik kognitif maupun fisik, 2) menyenangkan karena ada unsur permainan, 3) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, 4) efektif untuk melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi, dan 5) efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu. Selain itu, siswa dapat mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana yang menyenangkan, dan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa (Lie, 2010: 55). Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis khususnya pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri daripada metode ceramah. Kemampuan berpikir kritis penting untuk dimiliki oleh siswa SD untuk mampu memecahkan masalah dan mengungkapkan pendapat dengan cara yang sistematis. Selain itu, pembelajaran pada abad 21 menuntut adanya SDM yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan sebagai hasil dari kegiatan belajar (Widihastuti, 2015: 77). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa prestasi belajar mata pelajaran Matematika siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih baik dibandin dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional (Artawa & Suwarta, 2013). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil 120

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dengan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPS (Anggarawati, dkk, 2014). Sebuah penelitian lainnya juga berhasil menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif berpengaruh terhadap pretasi belajar siswa (Gull & Shehzad, 2015). Dari kedua penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ada beberapa hal yang hampir sama dengan penelitian ini. Kesamaan tersebut terletak pada model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match (sebagai variabel independen) yang mempengaruhi variabel dependen. Meskipun demikian, pada penelitian ini terdapat perbedaan dari penelitian sebelumnya. Perbedaan tersebut yaitu: 1) subjek penelitian adalah siswa kelas V SD, 2) kemampuan berpikir kritis yang diteliti mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Facione yaitu pada sub kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Rendahnya kemampuan pada pelajaran IPA di Indonesia seperti pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2009, 2012, dan 2015 diduga disebabkan oleh faktor-faktor diantaranya proses belajar yang kurang sesuai dengan perkembangan kognitif dan karakteristik siswa SD. Kegiatan pembelajaran pada umumnya yang dijumpai di Indonesia adalah pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga guru sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa, atau yang sering disebut dengan metode ceramah. Kelemahan metode ceramah adalah membuat siswa pasif, siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya dalam menyampaikan gagasan, membendung daya kritis siswa, sukar mengontrol sejauh mana penerimaan belajar siswa, dan bila terlalu lama siswa akan bosan (Suyanto & Jihad, 2013: 114). Pada umumnya siswa SD berusia 7-11 tahun. Menurut Piaget, siswa SD berada ada tahap operasional konkret. Pada tahap ini siswa belajar melalui pengalaman-pengalaman konkret yang disusun sebagai pengetahuan baru, oleh sebab itu kegiatan pembelajaran yang diberikan hendaknya kegiatan belajar yang memberikan pengalaman yang konkret yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain belajar melalui pengalaman konkret, siswa SD juga tidak dapat dipisahkan 121

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari lingkungan sosialnya. Orang lain juga berperan dalam perkembangan kognitif anak (Vygotsky, dalam Santrock, 2009). Artinya dalam perkembangan kognitif pada siswa juga dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya yaitu guru, teman sebaya, dan orang tua. Vygotsky menyatakan bahwa terdapat dua tingkat perkembangan yaitu zona perkembangan aktual dan zona perkembangan potensial. Zona perkembangan aktual merupakan tingkat ketercapaian yang dapat dilakukan oleh anak secara mandiri, sedangkan zona perkembangan potensial merupakan tingkat ketercapaian yang dapat diperoleh anak dengan bantuan orang yang lebih dewasa atau dengan kolaborasi bersama teman sebayanya yang lebih mampu (Huda, 2014: 40). Dalam hal ini, ada sebuah jarak di antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial disebut Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development atau ZPD). Vygotsky meyakini bahwa pembelajaran terjadi ketika anak-anak berada pada Zona Perkembangan Proksimal mereka. Tugas-tugas dalam zona tersebut merupakan sesuatu yang masih belum dapat dikerjakan oleh anak secara mandiri tanpa bantuan orang dewasa atau teman yang lebih berkompeten. Oleh sebab itu, dalam ZPD terdapat sebuah pendukung yang disebut Scaffolding. Scaffolding adalah bantuan yang diberikan oleh teman sebaya yang lebih berkompeten atau orang dewasa untuk membantu memecahkan masalah selama tahap awal perkembangan (Slavin, 2011: 59). Adanya bantuan dan kerja sama dari teman sebaya ketika belajar juga dapat membantu perkembangan kognitif pada siswa. Implikasi dari teori Vygotsky adalah susunan kelas berbentuk kooperatif (Rusman, 2017: 301). Di sekolah, salah satu pelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pembentukan karakter siswa yaitu mata pelajaran IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam (Samatowa, 2010: 4). Oleh sebab itu, pembelajaran IPA memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan kritis terhadap hal-hal yang bersifat ilmiah. Kemampuan-kemampuan yang akan dikembangkan dengan menyesuaikan tingkat perkembangan kognitif siswa SD. Dengan pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan kognitif dan karakteristik siswa dapat meningkatkan 122

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan berpikir kritis pada pelajaran IPA yaitu pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match bepengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberi efek menengah terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan r = 0,41 atau setara dengan 16,81%. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match bepengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberi efek kecil terhadap kemampuan meregulasi diri dengan r = 0,21 atau setara dengan 4,41%. 123

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan penutup yang membahas kesimpulan, keterbatasan, dan saran. Kesimpulan menunjukkan hasil penelitian dan menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama pelaksanaan penelitian. Saran berisi masukkan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent Samples t-test yang menunjukkan selisih skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen (M = 0,861, SE = 0,1230) lebih tinggi daripada selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol (M = 0,222 , SE = 0,192). Perbedaan tersebut signifikan dengan t (39,129) = - 2,801 ; p = 0,008 (p < 0,05) maka Hnull berhasil ditolak, artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi. Besar pengaruh r = 0,41 atau setara 16,81% termasuk dalam efek menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak bepengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian menolak hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent Samples t-test yang menunjukkan selisih skor Pretest – Posttest I pada kelompok eksperimen (M = 0,820, SE = 0,228) lebih tinggi daripada selisih skor Pretest – Posttest I pada kelompok kontrol (M = 0,389, SE = 0,199). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (46) = - 1,426 ; p = 0,161 (p > 0,05) maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap 124

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan meregulasi diri. Besar pengaruh r = 0,21 atau setara 4,41% termasuk dalam efek kecil. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Pengerjaan posttest II pada kelompok eksperimen saat siswa akan melakukan remidial pekan ulangan, sedangkan kelompok kontrol akan menghadapi ulangan mata pelajaran lain, sehingga saat akan mengerjakan posttest II siswa tidak konsentrasi. 5.2.2 Adanya ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu berupa perilaku kompensatoris meskipun demikian tingkat ancamannya masih dalam kategori rendah-menengah. 5.2.3 Hasil penelitian ini terbatas pada salah satu SD swasta di Yogyakarta, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan kepada SD lain. 5.3 Saran 5.3.1 Perlu melakukan koordinasi dengan guru-guru mata pelajaran selain guru mitra agar saat jadwal pengerjaan posttest II tidak berurutan dengan jadwal kegiatan lain sehingga tidak memberatkan siswa dan mengganggu konsentrasi siswa dalam mengerjakan posttest II. 5.3.2 Setelah penelitian selesai dilakukan, kelompok kontrol diberikan perlakuan sama dengan kelompok eksperimen yaitu kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. 5.3.3 Penelitian ini dapat diujicobakan di SD lain dengan penelitian yang mirip dengan salah satu SD swasta di Yogyakarta yang digunakan dalam penelitian ini. 125

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Anindyta, P. & Suwarjo. (2014). Pengaruh problem based learning terhadap keterampilan berpikir kritis dan regulasi diri siswa kelas V. Jurnal Prima Edukasia, 2 (2). Diakses pada 25 Maret 2018 melalui https://journal.uny.ac.id/index.php/jpe/article/view/2720 Anggarawati, I G. A. A., Kristiantari, MG. R., & Asri, I G. A. A. S. (2014). Pengaruh Make a Match berbantuan media kartu gambar terhadap hasil belajar IPS SD. E-Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 2 (1). Diakses pada 15 Maret 2018 dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/2146/1865 Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran: Prinsip, teknik, prosedur. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar evaluasi pembelajaran edisi 2. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Artawa, I. Gd. R., & Sawarta, Ign. I. W. (2013). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas V SD di gugus 1 kecamatan Selat. E-Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 1(1). Diakses pada 15 Maret 2018 dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/837/710 Azizmalayeri, dkk. (2012). The impact of guided inquiry methods of teaching on critical thinking of high school students. Journal of Education and Parctice, 3 (10). Diakses pada 25 Maret 2018 dari http://www.iiste.org/Journals/index.php/JEP/article/download/2530/2546 Best, J. W. & Kahn, J. V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed.). London and New York: Routledge. Daryanto. (2014). Pembelajaran, tematik, terpadu, terintegrasi (kurikulum 2013). Yogyakarta : Gava Media. Eriyanto. (2015). Analisis isi: Pengantar metodologi untuk penelitian ilmu komunikasi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Jakarta: Prenada Media. Fascione, P. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction, The Delphi Report. Diakses pada 7 Maret 2009 dari www.insightassessment.com/pdf_files/DEXadobe.PDF 126

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (3rd ed.). Los Angeles: Sage. Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). New York: McGraw Hill. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Gull, F. & Shehzad, S. (2015). Effects of cooperative learning on students’ academic achievement. Journal of Education and Learning, 9 (3). Diakses pada 16 Maret 2018 dari https://media.neliti.com/media/publications/71197-EN-effects-of cooperative learning-on-stude.pdf Huda, M. (2013). Model-model pengajaran dan pembelajaran : isu-isu metodis dan paradigmatis. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Indrawan, R., & Yaniawati, P. (2014). Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran untuk manajemen pembangunan dan pendidikan. Bandung: Refika Aditama. Johnson, E. B. (2007). Conrextual Teaching And Learning (Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikan dan Bermakna). Bandung: Mizan Learning Center (MLC). Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. Ed.). California: Sage Publications. Kasmadi & Sunariah, N. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Kemdikbud. (2017). Buku Siswa kelas V Tema II “Udara Bersih Bagi Kesehatan”. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional. Lie, A. (2010). Cooperative learning : mempraktikkan cooperative learning di ruang ruang kelas. Jakarta : PT Grasindo. Margono, S. (2007). Metodologi penelitian pendidikan: Komponen MKDK. Jakarta: Rineka Cipta. Martono, N. (2014). Metode penelitian kuantitatif: Analisis isi dan analisis data sekunder. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nasution, I. (2017). Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar matematika siswa kelas VI di SD Muhammadiyah 12 Medan. E-Jurnal Paedagoria, 8 (2). Diakes pada 25 Maret 2018 melalui http://journal.ummat.ac.id/index.php/paedagoria/article/view/66/56 127

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Ed. 7). Jakarta: PT Indeks. Nurgiantoro, B. (2011). Penilaian pembelajaran bahasa berbasis kompetensi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. OECD. (2010). PISA 2009 results: Executive summary. Diakses tanggal 20 September 2017, dari https://www.oecd.org/pisa/pisaproducts/46619703.pdf OECD. (2013). PISA 2012 result in Focus: What 15-year-olds know and what they can do with what they know. Diakses pada tanggal 20 September 2017, dari https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf OECD. (2016). PISA 2015 result in Focus: What 15-year-olds know and what they can do with what they know. Diakses pada tanggal 20 September 2017, dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf Prijowuntato, W. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan non parametrik dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media. Priyono & Sayekti. (2010). Ilmu Pengetahuan Alam 5 Untuk kelas V SD dan MI. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional. Rusman. (2014). Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Rusman. (2017). Belajar & proses pembelajaran (berorientasi standar proses pendidikan). Jakarta : Kencana. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di sekolah dasar. Jakarta : Indeks. Sani, R. (2013). Inovasi pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. Sanjaya, W. (2006). Strategi pembelajaran, berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Santoso, S. (2015). Menguasai SPSS 22: From basic to expert skills. Jakarta: PT. Gramedia. Santrock, J. (2009). Psikologi pendidikan : Educational psychology Ed. 3 (Diana Angelica, Trans). Jakarta : Salemba Humanika. 128

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta : Ar Ruzz Media. Slavin, R. (2005). Cooperative learning : teori, riset, dan praktik (N. Yusron, Trans.). Bandung : Nusa Dua. Slavin, R. (2011). Psikologi pendidikan : teori dan praktik (M. Samosir, Trans.). Jakarta : Indeks. Sujana, A. (2015). Ragam model pembelajaran di sekolah dasar ed. 2. Bandung : UPI SUDEDANG PRESS. Sunarto & Hartono, A. (2008). Perkembangan peserta didik. Jakarta : Rineka Cipta. Suparno, P. (2012). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta : PT Kanisius. Suprihatiningsih. (2016). Prespektif manajemen pembelajaran keterampilan program keterampilan. Yogyakarta: Deepublish. program Suprijono, A. (2013). Cooperative learning : Teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suyanto & Jihad, A. (2013). Menjadi guru profesional (Strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru bdi era global. Jakarta: Esensi. Taniredja, T. & Mustafidah, H. (2011). Penelitian kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Taubany, T. & Suseno, H. (2017). Desain pengembangan kurikulum 2013 di madrasah. Depok: Kencana. Tawil, M.& Liliasari. (2013). Berpikir kompleks dan impelemntasinya dalam pembelajaran IPA. Makasar : Badan Penerbit UNM. Trianto. (2009). Mendesign model pembelajaran inovatif progresif. Jakarta: Kencana. Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu: Konsep, strategi, dan implementainya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: PT Bumi Aksara. 129

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Trianto. (2014). Model pembelajaran terpadu: Konsep, strategi, dan implementasinya dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara. Tung, K. (2015). Pembelajaran dan perkembangan belajar. Jakarta : Indeks. Widihastuti. (2015). Pengembangan SDM Kreatif dan Inovatif untuk Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Berdaya Saing Global. Prosiding Seminar Nasional, 32 (10). Diakses pada 23 November 2018 dari https://www.researchgate.net/publication/318013627_KETERAMPILA ABAD_KE21_KETERAMPILAN_YANG_DIAJARKAN_MELALUI PEMBELAJARAN Widoyoko, P. E. (2015). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 130

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 131

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian 132

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.2 Surat Keterangan Validasi Soal 133

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Kontrol 134

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Eksperimen 138

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 142

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 146

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 1 Nama : No. Absen : 1. Perhatikan gambar dibawah ini! Sebutkan tiga perbedaan antara makhluk hidup pada gambar tersebut! a. ............................. Organ Pernapasannya ......................... b. ............................. Organ Pernapasannya ......................... c. ............................. Organ Pernapasannya ......................... 2. Manusia dan hewan juga bernapas untuk bertahan hidup. Bernapas adalah................................................................................................................... ............................................................................................................................. 152

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Tentukan benar atau salahnya pernyataan di bawah ini dengan melingkari B untuk jawaban BENAR dan S untuk jawaban SALAH! 1. Pernapasan adalah proses menghirup oksigen dan B S B S B S B S mengeluarkan karbon dioksida. 2. Alat-alat yang secara berurutan diperlukan agar proses pernapasan dapat berlangsung disebut organ pernapasan. 3. Alat pernapasan pada hewan sama dengan alat pernapasan pada manusia. 4. Maria menangkap seekor kupu-kupu. Ia memasukkan kupu-kupu tersebut ke dalam toples dan menutup nya dengan rapat tanpa diberi lubang udara. Tindakan yang dilakukan oleh Maria sudah benar. 153

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 2 Nama : No. Absen : Langkah kegiatan : 1. Amatilah dua toples (toples A dan toples B) yang di bawa oleh gurumu! 2. Bandingkan toples A dan toples B, kemudian catat yang dapat kamu amati. 3. Setelah 60 menit, bandingkan kembali toples A dan toples B tersebut, kemudian catat perubahannya. Tabel Pengamatan Awal Pengamatan Toples A Toples B Perbandingan Tinggi Air Kondisi ikan Ukuran toples Setelah 60 menit Toples A Toples B Perbandingan Tinggi Air Kondisi ikan Ukuran toples 154

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Bagaimana kondisi ikan pada toples B setelah 60 menit? .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. 2. Mengapa kondisi ikan pada toples B berubah setelah 60 menit? .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. 3. Bagaimana seharusnya agar kondisi ikan pada toples A dan toples B tetap sama setelah 60 menit? .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. 155

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 3 Nama No. Absen : : Tentukan benar atau salahnya pernyataan di bawah ini dengan melingkari B untuk jawaban BENAR dan S untuk jawaban SALAH! 1. Cacing termasuk jenis hewan vermes, sehingga bernapas B S menggunakan paru-paru. 2. Trakea merupakan alat pernapasan pada belalang. B S 3. Gurame bernapas mengggunakan insang karena B S B S termasuk jenis hewan pisces. 4. Insang dapat berfungsi dengan baik meskipun ikan tidak berada di dalam air. 5. Percabangan pada trakea disebut trakeola. B S 6. Mulut ikan akan membuka dan menutup untuk membuat B S B S B S B S B S gelembung. 7. Organ pernapasan cacing sama dengan organ pernapasan lintah. 8. Mulut dan insang pada ikan akan membuka secara bersamaan. 9. Jika air tercemar, maka kandungan oksigen pada air berkurang sehingga menyebabkan ikan mati. 10. Pak Banu memiliki ternak cacing. Ia meletakkan cacingcacingnya di sebuah kotak yang sudah diisi tanah kering. Tindakan tersebut tidak akan menyebabkan pernapasan cacing terganggu. 156

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 4 Nama : No. Absen : Isilah teka-teki silang (TTS) berikut ini dengan benar! 1 2 4 3 6 10 5 8 9 7 1. Diserap oleh hewan ketika bernapas. (Mendatar) 2. Hewan mamalia darat yang bertubuh besar dan memiliki belalai. (Menurun) 3. Organ pernapasan pada hewan mamalia air seperti lumba-lumba. (Mendatar) 4. Contoh hewan amfibi. (Menurun) 5. Organ pernapasan pada hewan insecta. (Mendatar) 6. Hewan yang biasanya memiliki tubuh berwarna hijau atau coklat dan bernapas menggunakan trakea. (Menurun) 157

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Hewan mamalia yang dapat terbang dan disebut sebagai hewan nocturnal. (Mendatar) 8. Organ pernapasan yang selalu basah pada hewan katak. (Menurun) 9. Contoh hewan reptil yang memiliki tubuh panjang dan kulit bersisik. (Mendatar) 10. Jika Okta menangkap seekor belalang kemudian di masukkan ke dalam plastik tanpa diberi lubang, maka belalang tersebut akan mati karena kesulitan.... (Menurun) 158

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Soal Uraian Nama : No. Absen : Skor : Bacalah cerita singkat di bawah ini dengan teliti untuk mengerjakan nomer 1-6! Pada suatu hari, siswa kelas V melakukan kunjungan ke kebun binatang Gembira Loka. Setibanya di sana, Budi, Ani, dan Danu melihat berbagai macam hewan seperti: buaya, burung, ikan, kupu-kupu, katak, gajah, unta, ular, belalang, cacing, kuda nil, rusa, komodo, kera, harimau, jerapah, dan kura-kura. Selain itu, mereka juga melihat sebuah pertunjukan lumba-lumba. Setelah selesai mengamati, Budi, Ani, dan Danu mendapatkan pengetahuan baru bahwa hewan-hewan yang mereka lihat memiliki alat pernapasan yang berbeda-beda. 1. Jawablah pertanyaan a, b, dan c berikut ini! a. Berdasarkan cerita di atas, kelompokkanlah hewan-hewan yang ada di kebun binatang Gembira Loka sesuai dengan alat pernapasannya ke dalam tabel di bawah ini! Alat Pernapasan Paru-paru Insang Kulit Trakea 159

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Sebutkan dua fungsi trakea pada serangga! 1) ........................................................................................................................ 2) ........................................................................................................................ c. Tuliskan dua perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ dan proses pernapasannya! 1) Organ: Ular: ..................................................................................................................... Cacing: ........................................................................................................................ 2) Proses Pernapasan : Ular: ..................................................................................................................... Cacing : ........................................................................................................................ 2. a. (1) Burung bernapas menggunakan paru-paru. (2) Burung bernapas menggunakan kantong udara. 160

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Apa yang membedakan dua pernyataan di atas? Sebutkan minimal dua perbedaannya! 1) .............................................................................................................. .............................................................................................................. .............................................................................................................. 2) .............................................................................................................. .............................................................................................................. .............................................................................................................. b. Apakah benar ketika berada dalam air, katak bernapas menggunakan kulit? Jelaskan tiga alasanmu! .................................................................................................................... .................................................................................................................... .................................................................................................................... c. Di siang hari yang terik, Budi tidak sengaja menginjak cacing. Kemudian ia membuang cacing tersebut ke jalanan beraspal. Apakah tindakan Budi tersebut menganggu alat pernapasan pada cacing? Jelaskan dua alasanmu! .................................................................................................................... Karena : 1) .............................................................................................................. 2) .............................................................................................................. 3. Tentukan Benar atau Salah pernyataan di bawah ini dengan melingkari jawaban yang tepat! a. Burung mengambil udara dari kantong udara saat terbang. (Benar/Salah). Sebutkan dua alasannya ! Jawab: ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... Alasan: 161

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. b. Belalang bernapas menggunakan trakea (Benar/Salah). Sebutkan tiga alasannya! Jawab: ....................................................................................................................... Alasan: 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 3) ................................................................................................................. ................................................................................................................. c. Kura-kura bernapas menggunakan insang (Benar/Salah). Sebutkan dua alasannya! Jawab: ....................................................................................................................... Alasan: 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 4. Jawablah pertanyaan di bawah ini! a. Manakah yang paling sesuai dengan cara bernapas berudu? Tuliskan dua alasanmu! 1) Berudu bernapas menggunakan permukaan kulit karena hidup di tempat yang lembap. 162

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2) Berudu bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit sama seperti katak dewasa. 3) Berudu bernapas menggunakan insang karena hidup di air. Jawab: ........................................................................................................................... ........................................................................................................................... Alasan: 1) ..................................................................................................................... ..................................................................................................................... 2) ..................................................................................................................... ..................................................................................................................... b. Danu melihat pertunjukkan lumba-lumba di kebun binatang Gembira Loka. Setiap beberapa menit lumba-lumba muncul ke permukaan air. Sebutkan dua alasan mengapa lumba-lumba sering muncul ke permukaan air! Jawab: 1) ................................................................................................................... ................................................................................................................... 2) ................................................................................................................... ................................................................................................................... c. Dari kedua alasan yang sudah kamu tuliskan di atas, cara manakah yang paling tepat untuk membuktikan bahwa lumba-lumba merupakan hewan mamalia? Jelaskan alasanmu! Jawab: ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... Alasan: ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... 163

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. a. Perhatikan gambar di bawah ini! Mengapa ikan tersebut membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus? Jelaskan dua alasanmu! 1. .................................................................................................................. .................................................................................................................. 2. .................................................................................................................. .................................................................................................................. b. Akuarium sebuah ikan mas akan dibersihkan oleh petugas kebun binatang, tetapi petugas tersebut memindahkan ikan mas ke dalam wadah yang lebih kecil dibandingkan tubuh ikan mas dengan air yang sedikit. Setujukah kamu dengan tindakan yang dilakukan oleh petugas tersebut? Jelaskan dua alasanmu! ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... c. Sebutkan tiga cara yang dapat dilakukan ketika hendak memindahkan ikan mas dari akuarium ke dalam wadah agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas! ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... 164

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. a. Berdasarkan tiga cara yang telah kamu tuliskan ketika kamu hendak memindahkan ikan mas dari akuarium ke dalam wadah agar ikan mas tidak kekurangan oksigen saat bernapas, apakah menurut mu ketiga cara tersebut sudah benar? Jelaskan dua alasanmu! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... b. Danu menemukan seekor burung gereja, kemudian ia ingin membawa pulang. Kemudian ia memasukkannya ke dalam kantong plastik tanpa diberi lubang dan diikat dengan kencang. Apakah tindakan terhadap burung gereja tersebut sudah benar? Jelaskan alasanmu! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... c. Berdasarkan soal di atas, jika kamu menjadi Danu maka apa yang seharusnya kamu lakukan? Tuliskan dua cara yang dapat dilakukan! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... 165

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Kunci Jawaban Soal Uraian Kunci Jawaban Soal 1. a. Tabel hewan berdasarkan alat pernapasannya yang ada di Gembira Loka. Alat Pernapasan Paru-paru Buaya Rusa Insang Ikan Kulit Trakea Cacing Kupu-kupu Katak Belalang Burung Gajah Katak Unta Kura-kura Lumba-lumba Kuda Nil Kera Harimau Komodo Jerapah Ular b. Dua fungsi trakea : 1. Mengedarkan oksigen ke semua sel tubuh. 2. Menyerap karbondioksida dari semua sel untuk dibuang, mengedarkan sarisari makanan yang dibawa bersama dengan oksigen ke seluruh tubuh. c. Perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing:  Organ pernapasan : Ular bernapas menggunakan paru-paru, sedangkan cacing menggunakan kulit. 166

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI  Proses Pernapasan : 1. Ular : hidung anak tekaktrakeabronkusparu-paruseluruh tubuhparu-parubronkustrakeaanak tekakhidung 2. Cacing: kulitseluruh tubuhkulit. 2. a. Perbedaan : 1. Paru-paru sebagai tempat untuk pertukaran gas, sedangkan kantong udara sebagai tempat untuk menyimpan cadangan udara. 2. Jika paru-paru digunakan untuk bernapas, sedangkan kantong udara selain untuk menyimpan cadangan udara, juga digunakan untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika terbang, memperkeras suara dan menjaga suhu. b. Benar, karena : 1. Katak adalah hewan amphibi, maka benar jika kulit digunakan untuk bernapas di air. 2. Kulit katak selalu basah agar dapat berfungsi sebagai alat pernapasan 3. Kulit katak sangat tipis, dan mengandung kapiler-kapiler darah c. Tidak tepat, karena : 1. Cacing akan mati karena kekurangan oksigen, karena cacing bernapas dengan kulit. 2. Kulit cacing menjadi kering/ tidak lembab sehingga bisa mati 3. a. Pernyataan tersebut benar. Alasan: 1. Kantong udara pada burung berfungsi sebagai tempat menyimpan udara. 167

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Saat terbang, burung tidak menghirup udara melainkan mengambil dari kantong udara. b. Pernyataan tersebut benar. Alasan: 1. Belalang merupakan jenis hewan serangga. 2. Alat pernapasan serangga berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh. 3. Trakea berguna untuk menyalurkan udara pada serangga, menjaga kualitas udara yang masuk dalam tubuh serangga, menyerap karbon dioksida dari semua sel untuk dibuang, mengedarkan sari-sari makanan yang akan diedarkan ke seluruh tubuh. c. Pernyataan tersebut salah. Alasan: 1. Meskipun kura-kura dapat hidup di dua tempat yaitu di air dan di darat, namun kura-kura merupakan jenis hewan reptil. 2. Karena kura-kura merupakan jenis hewan reptil, maka kura-kura bernapas menggunakan paru-paru. 4. a. 3) Berudu bernapas menggunakan insang karena hidup di air. Alasan: 1. Berudu adalah katak yang masih kecil atau anak katak yang biasanya hidup di air. 2. Saat masih berupa berudu, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. b. 1. Lumba-lumba merupakan jenis hewan mamalia yang hidup di air. 2. Lumba-lumba ketika berada di dalam air sering muncul ke permukaan air untuk mengambil oksigen agar dapat bernapas di dalam air. 168

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Alasan yang tepat untuk membuktikan bahwa lumba-lumba merupakan hewan mamalia yaitu ketika lumba-lumba sering muncul ke permukaan air. Hal tersebut bertujuan untuk mengambil oksigen agar tetap dapat bernapas di dalam air. 5. a. Ikan membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus karena : 1. Membuka dan menutup mulut bertujuan untuk memompa air agar masuk ke dalam mulut ikan. 2. Setelah air masuk ke dalam mulut ikan, kemudian air masuk ke dalam insang dan oksigen dalam air disaring oleh insang untuk diedarkan ke seluruh tubuh ikan. b. Tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh petugas, karena : 1. Wadah yang digunakan terlalu kecil atau tidak sesuai dengan tubuh ikan mas. 2. Air yang diisikan petugas ke dalam wadah terlalu sedikit, sehingga akan membuat ikan yang ada di dalam wadah kehabisan oksigen yang pada akhirnya lemas dan mati. c. Tiga cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium dengan menggunakan gayung agar ikan mas tidak kekurangan oksigen saat bernapas yaitu : 1. Mengambil wadah yang lebih besar dari tubuh ikan mas. 2. Mengisi wadah dengan air yang lebih tinggi sehingga seluruh tubuh ikan mas terendam air. Tujuannya agar ikan tidak kekurangan oksigen. 3. Tidak membiarkan ikan terlalu lama berada di luar air dengan cara segera memindahkan ikan ke dalam wadah. 169

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. a. Sudah benar, karena ketika memindahkan ikan dari akuarium ke wadah yang dilakukan yaitu : 1. Menggunakan wadah yang lebih besar dari tubuh ikan mas. 2. Mengisi wadah dengan air yang lebih tinggi dari tubuh ikan sehingga seluruh tubuh ikan terendam air. 3. Memindahkan ikan ke dalam wadah dengan segera sehingga ikan tidak mati karena kekurangan oksigen. b. Belum benar, karena burung tersebut dimasukkan ke dalam plastik yang tidak diberi lubang udara akan menyebabkan tidak ada udara yang masuk sehingga lama-lama burung akan mati akibat kekurangan oksigen. c. Dua cara yang seharusnya dilakukan yaitu : 1. Memasukkan burung ke dalam plastik yang berukuran lebih besar dari tubuh burung agar burung dapat bergerak. 2. Plastik yang digunakan diberi lubang-lubang kecil agar udara dapat masuk ke dalam kantong plastik sehingga burung tidak kehabisan oksigen dan tetap dapat bernapas dengan baik. 170

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian No 1. Kemampuan Interpretasi No Soal 1a 1b 1c 2. Menganalisis Aspek Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Indikator Soal Kriteria Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya Dapat mengelompokkan hewan lebih dari 15 sesuai dengan alat pernapasannya Dapat mengelompokkan 10-14 hewan sesuai dengan alat pernapasannya Dapat mengelompokkan 5-9 hewan sesuai dengan alat pernapasannya Dapat mengelompokkan kurang dari 5 hewan sesuai dengan alat pernapasannya Jika menyebutkan 2 jawaban dengan benar Jika menyebutkan 2 jawaban tapi kurang tepat Jika hanya menyebutkan 1 jawaban Jika semua jawaban salah Menjelaskan fungsi trakea pada serangga Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya 2a Menguji gagasangagasan 2b Mengidentif ikasi Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung Menjelaskan alasan berdasarkan Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan dengan benar dan lengkap Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan dengan benar tetapi tidak lengkap Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan kurang benar dan tidak lengkap Jika menyebutkan 1 perbedaan pernapasan pada hewan kurang benar dan tidak lengkap Jika menyebutkan 2 jawaban dengan benar Jika menyebutkan 2 jawaban, tetapi keduanya kurang tepat Jika menyebutkan 2 jawaban, tetapi salah satu jawaban salah Jika semua jawaban salah Jika menyebutkan 3 jawaban dengan benar dan lengkap Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 171

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal Kriteria argumenargumen pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, tetapi tetapi benar dan bahasanya tepat Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, dan kurang lengkap Jika semua jawaban salah 2c Menganalisi s argumenargumen 3 Evaluasi 3a 3b 3c Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumenargumen Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya Menilai kebenaran tentang fungsi kantong udara pada burung saat terbang dengan menyebutkan alasannya. Menilai kebenaran atas alat pernapasan belalang dengan menyebutkan alasannya. Menilai kebenaran argumen untuk menarik Jika menyebutkan 3 jawaban dengan benar dan lengkap Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, tetapi tetapi benar dan bahasanya tepat Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, dan kurang lengkap Jika semua jawaban salah Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 2 alasan yang tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat, namun alasan kurang tepat Jika memilih jawaban tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 3 alasan yang tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat 2 alasan yang tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat. Jika memilih jawaban yang tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 2 alasan yang tepat Skor 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 172

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal kesimpulan mengenai kurakura bernapas menggunakn insang dengan menyebutkan alasannya. 4 Menarik kesimpulan 4a Menguji bukti-bukti 4b Menerka alternatifalternatif 4c Menarik kesimpulan Menguji pandangan dalam menentukan alat pernapasan pada berudu. Mengemukakan alternatifalternatif untuk membuktikan bahwa lumbalumba bernapas mengunakan paru-paru. Tepat menentukan alternatif untuk membuktikan bahwa lumbalumba bernapas mengunakan paru-paru. Kriteria Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat Jika memilih jawaban dengan tepat dan namun alasan yang tidak tepat Jika memilih jawaban yang tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. Jika dapat menyebutkan 3 jawaban dengan tepat dan memberikan alasan yang tepat. Jika dapat menyebutkan 2 jawaban dengan tepat dan memberikan alasan yang kurang tepat atau tidak memberikan alasan. Jika tidak dapat menyebutkan 1 jawaban yang tepat dan memberikan alasan yang kurang tepat Jika tidak menjawab sama sekali Jika mengemukakan 2 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tepat Jika mengemukakan 1 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tepat Jika mengemukakan 1 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tidak tepat Jika tidak mengemukakan alternatif pemecahan masalah atau tidak menjawab sama sekali Jika menentukan alternatif yang paling tepat dan alasan yang tepat. Jika menentukan alternatif yang paling tepat dengan alasan yang kurang tepat Jika hanya menentukan solusi yang paling kuat tanpa diberi alasan Jika tidak menentukan solusi yang paling kuat Skor 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 173

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 5. Kemampuan Eksplanasi No Soal 5a 5b 5c 6. Regulasi Diri 6a 6b Aspek Menjelaskan hasil penalaran. Memaparka n argumenargumen yang digunakan. Membenark an prosedur yang digunakan. Refleksi Diri Refleksi Diri Indikator Soal Menjelaskan 2 alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus. Menjelaskan 2 tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. Menjelaskan 3 cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri Menilai kembali tindakan diri Kriteria atau tidak ada jawaban benar Jika menjelaskan dua alasan dengan benar. Jika menjelaskan dua alasan kurang benar. Jika menjelaskan satu alasan dengan benar. Jika menjelaskan satu alasan dengan kurang benar. Jika menjelaskan dua tanggapan dengan benar. Jika menjelaskan dua tanggapan dengan kurang benar. Jika menjelaskan satu tanggapan dengan benar. Jika menjelaskan satu tanggapan kurang benar. Jika menjelaskan tiga cara dengan benar. Jika menjelaskan dua cara dengan benar. Jika menjelaskan satu cara dengan benar. Jika menjelaskan satu cara dengan kurang benar. Jika menjawab dan memberikan 2 alasan dengan benar. Jika menjawab dan memberikan 2 alasan dengan kurang benar. Jika menjawab dan memberikan 1 alasan dengan benar. Jika menjawab dan memberikan 1 alasan dengan kurang benar. Menjelaskan jawaban dengan benar dan lengkap. Menjelaskan jawaban dengan benar dan kurang lengkap. Menjelaskan jawaban dengan kurang benar dan kurang lengkap. Menjelaskan jawaban dengan kurang benar dan tidak lengkap. Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 174

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal 6c Aspek Indikator Soal Kriteria Koreksi Diri Menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Menjelaskan 2 alasan pandangan pribadi dengan benar. Menjelaskan 2 alasan pandangan pribadi dengan kurang benar. Menjelaskan 1 alasan pandangan pribadi dengan benar. Menjelaskan 1 alasan pandangan pribadi dengan kurang benar. Skor 4 3 2 1 175

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgement Variabel Menginterpretasi Validator No. Soal 1 2 3 Rerata 1a 2 3 4 3,00 1b 4 3 2 3,00 1c 3 3 1 2,33 2a 4 4 4 4,00 2b 4 4 3 3,67 2c 2 3 1 2,00 3a 4 3 3 3,33 3b 4 4 3 3,67 3c 4 4 3 3,67 4a 4 4 4 4,00 Menganalisis Mengevaluasi Komentar (Saran Perbaikan) Validator 1 : Kalimat perintah kurang tepat. Validator 2 : Isi atau maksud pertanyaan sudah mudah dipahami tinggal membetulkan struktur kalimat. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Efektivitas penggunaan kata. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Kalimat lebih disederhanakan. Validator 2 : Efektivitas penggunaan kata. Validator 3 : Kaitannya apa antara berjalan, menempelkan perut dan pernapasan? Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Bahasa sulit dimengerti. Validator 2 : Cek kunci jawaban. Validator 3 : Di soal, tentang etika atau biologi? Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek kunci jawaban, kunci no 2 menjelaskan saat hinggap. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek kunci jawaban. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. 176

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menarik 4b 4 3 4 3,67 4c 4 4 3 3,67 5a 4 4 4 4,00 5b 4 4 2 3,33 5c 4 4 4 4,00 6a 4 4 4 4,00 6b 2 4 4 3,33 6c 4 4 4 4,00 65 66 57 Kesimpulan Mengeksplanasi Meregulasi Diri Total Skor Rerata 3,61 3,67 3,17 Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Sudah baik. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Lihat aspek rubrik penilaian. Validator 3 : Ukuran ikan dan wadah dijelaskan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Lihat aspek rubrik penilaian. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Kalimat perlu disederhanakan. Validator 2 : Cek indikator. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek bahasa pada indikator. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sangat layak untuk diimplementasikan. Validator 2 : Sangat layak untuk diimplemntasikan. Validator 3 : Layak untuk diimplemntasikan dengan sedikit revisi. 177

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Penilaian Expert Judgement 3.4.1 Instrumen Penilaian Expert Judgement 3.4.1.1 Validasi Expert Judgement I (Validitas Muka) 178

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.1.2 Validasi Expert Judgement II (Validitas Muka) 181

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.1.3 Validasi Expert Judgement III (Validitas Isi) 184

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.5 Tabulasi Data Validasi Instrumen No Resp 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 a 4 4 2 4 2 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 Nomer 1 b c 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 1 2 2 4 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 3 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2 a 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 4 1 3 1 1 Nomer 2 b c 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 3 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 1 1 4 3 2 2 1 3 1 1 3 1 4 4 3 3 2 a Nomer 3 b c a 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 1 1 1 2 3 3 1 4 2 1 1 1 2 1 2 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 1 2 3 3 1 1 1 2 2 3 2 4 2 4 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 4 1 3 1 2 1 1 1 1 2 2 1 4 3 3 2 4 4 2 3 3 2 1 3 1 2 1 1 3 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 2 1 1 3 3 3 4 3 4 3 3 Nomer 4 b c 3 2 2 3 2 4 2 2 4 2 2 2 3 2 2 2 1 3 3 4 2 3 2 3 4 4 2 4 2 3 2 1 1 2 1 1 1 4 4 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 4 1 3 2 2 2 4 2 3 1 2 a 2 2 1 1 2 2 1 1 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 1 3 1 1 4 3 3 4 4 2 2 4 Nomer 5 b c 4 2 1 3 2 1 1 1 3 2 2 4 3 3 3 4 3 4 3 3 1 1 4 3 2 3 4 2 2 4 2 3 1 3 4 2 1 1 1 1 3 3 4 2 2 1 1 3 2 3 1 1 4 4 2 4 4 4 2 4 a 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 1 4 1 2 1 2 1 1 2 1 1 4 2 1 4 4 4 1 3 Nomer 6 b c 4 2 4 3 2 4 1 4 3 4 2 4 4 2 2 1 3 4 2 4 1 2 4 4 1 4 3 4 2 3 3 1 1 3 4 3 1 1 3 4 3 3 3 1 2 1 3 1 2 3 1 1 4 4 1 3 4 4 2 4 ∑ 42 32 26 41 37 39 25 31 45 36 39 43 57 29 30 39 41 44 33 42 24 26 52 49 36 62 53 54 34 49 187

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.6 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas 3.6.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal Total Pearson Correlation Aspek Total Item 1a Menginterpretasi Item 1b Item1c Item2a Menganalisis Item2b Item2c Item3a Mengevaluasi Item3b Item3c 1 Sig. (2-tailed) N 30 Pearson Correlation .570** Sig. (2-tailed) .001 N 30 Pearson Correlation .432* Sig. (2-tailed) .017 N 30 Pearson Correlation .588** Sig. (2-tailed) .001 N 30 Pearson Correlation .599** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .536** Sig. (2-tailed) .002 N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .546** .002 N 30 Pearson Correlation .465** Sig. (2-tailed) .010 N 30 Perason Correlation .624** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .822** 188

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item4a Menarik Kesimpulan Item4b Item4c Item5a Item5b Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .523** Sig. (2-tailed) .003 N 30 Pearson Correlation .417* Sig. (2-tailed) .022 N 30 Perason Correlation .416* Sig. (2-tailed) .022 N 30 Pearson Correlation .794** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .609** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .750** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .786** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation .579** Sig. (2-tailed) .001 N 30 Pearson Correlation .706** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Mengeksplanasi Item5c Item6a Meregulasi Diri Item6b Item6c 189

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excludeda 0 .0 Total 30 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .893 18 190

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen No Resp 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 1 Pretest 2 3 2 1 2 3 3 4 3 2 4 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 3 1 2 4 3 2 3 2 4 4 2 2 2 3 1 2 2 2 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 1 1 3 2 2 3 3 2 2 1 3 1 1 2 2 1 3 2 3 2 3 1 Kelompok Kontrol Posttest1 Posttest2 Selisih X̅ 1 2 3 X̅ 1 2 3 X̅ 2,33 2 2 3 2,33 0,00 3 2 3 2,67 2,33 3 2,00 2 2,00 2 3,00 4 2,67 3 3,00 2 3,00 2 3,00 3 1,67 3 2,33 3 2,00 3 2,00 3 1,67 2 1,67 3 2,00 2 2,33 3 1,67 4 2,33 2 3,00 4 2,67 1 2,33 4 3,00 3 2 4 3 3 2 2 2 4 2 2 1 3 2 2 4 4 4 3 1 2 2 2 1 3 3 1 1 3 4 3 3 3 3 3 1 3 1 1 2 1 1 4 1 4 3 2 2,67 0,33 3,00 1,00 2,00 0,00 2,67 -0,33 2,67 0,00 2,67 -0,33 2,33 -0,67 3,33 0,33 2,67 1,00 2,67 0,33 2,33 0,33 2,33 0,33 2,33 0,67 2,00 0,33 2,33 0,33 3,00 0,67 3,00 1,33 2,00 -0,33 3,00 0,00 1,33 -1,33 3,33 1,00 2,67 -0,33 24 1,33 3 2,00 Rerata 2,38 2,50 2,04 2,31 2,75 2,46 2,38 2,53 3 4 2 2 2 2 2 3 3 2 4 2 3 2 3 2 4 3 2 1 3 1 1 4 3 2 1 1 3 2 1 1 2 3 3 2 3 2 3 4 3 3 2 4 2 1 4 3 1 1 1 3 3 1 1 4 2 2 1 4 3 4 3 2 2 1 3 1 1 No Resp 1 3,67 2 3,33 3 1,67 4 1,33 5 1,33 6 2,67 7 2,33 8 1,67 9 1,67 10 2,67 11 3,00 12 2,33 13 2,00 14 3,00 15 2,67 16 3,00 17 3,67 18 2,67 19 2,33 20 1,33 21 3,33 22 1,33 23 1,00 0,67 0,22 2,46 2,38 2,25 2,36 Kelompok Eksperimen Posttest1 Posttest2 Selisih X̅ 1 2 3 X̅ 1 2 3 X̅ 1 2,00 4 4 3 3,67 1,67 2 3 2 2,33 1 Pretest 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 1 2 1 2 3 3 3 3 2 4 1 3 3 1 2 2 2 3 2 2 3 3 2 3 2 2 4 3 2 3 2 4 4 2 2 2 3 1 1 2 2 1 3 2 3 2 3 1 3 2 1 1 3 2 2 3 3 2 2 2,00 1,67 1,67 2,00 2,33 1,67 2,33 2,67 2,67 2,33 3,00 1,33 2,33 2,33 2,00 2,00 3,00 2,33 3,00 3,00 3,00 1,67 3 4 2 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 2 2 4 4 3 2 3 4 4 3 4 2 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 1 1 3 4 4 3 3 2 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 3 4 1 3 2 1 1 1 3,67 1,67 4,00 2,33 2,67 1,00 3,00 1,00 3,00 0,67 4,00 2,33 4,00 1,67 3,00 0,33 4,00 1,33 2,33 0,00 3,00 0,00 2,67 1,33 4,00 1,67 3,33 1,00 4,00 2,00 3,33 1,33 4,00 1,00 2,67 0,33 2,67 -0,33 3,33 0,33 1,67 -1,33 1,33 -0,33 3 3 2 3 3 4 1 3 3 3 4 4 3 2 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 4 1 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 2 3 4 3 3 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 2 3 4 4 3 3 1 4 2 3 2 4 3 2 3 4 3,00 3,00 2,00 3,00 3,00 3,67 2,67 2,67 3,00 3,67 4,00 3,33 3,33 1,67 3,33 3,00 2,67 2,67 4,00 3,33 2,67 3,00 2,33 2,00 -0,33 3,33 24 Rerata 2,29 2,50 2,04 2,28 3,38 3,17 2,88 3,14 0,86 2,92 3,13 3,00 3,01 191

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen No Resp 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 1 Pretest 2 3 1 2 2 2 3 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 3 4 4 2 3 3 4 4 3 3 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 4 3 1 2 3 4 2 3 1 Kelompok Kontrol Posttest1 Posttest2 Selisih 1 2 3 X̅ X̅ 1 2 3 X̅ 2,33 1 3 3 2,33 0,00 1 3 2 2,00 2,67 4 2,67 4 2,00 1 2,33 1 1,67 1 2,00 4 2,00 1 1,67 2 2,00 4 2,33 1 1,33 3 1,67 4 2,67 4 2,67 2 3,33 4 2,00 3 1,67 2 2,00 1 3,00 1 3,00 3 2,00 1 2,33 1 4 4 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 1 2 3 1 1 2 4 4 1 2 2 3 3 2 3 3 4 3 4 3 4 3 4 2 2 4 1 1 2 4,00 1,33 4,00 1,33 1,67 -0,33 1,67 -0,67 1,67 0,00 3,33 1,33 2,00 0,00 2,33 0,67 3,33 1,33 2,33 0,00 3,33 2,00 3,33 1,67 4,00 1,33 2,33 -0,33 4,00 0,67 3,00 1,00 3,00 1,33 1,33 -0,67 1,67 -1,33 3,33 0,33 1,00 -1,00 1,00 -1,33 1,00 1 1,67 24 Rerata 1,50 2,63 2,42 2,18 2,25 2,67 2,79 2,57 1 2 1 1 1 2 1 1 1 3 3 1 1 2 2 2 2 2 1 1 3 1 1 2 3 1 1 1 1 4 1 1 4 2 2 1 4 2 1 4 2 3 3 2 2 1 2 4 2 1 1 2 2 1 1 3 1 1 1 3 4 3 1 2 3 3 4 1 1 No Resp 1 1,67 2 3,00 3 1,33 4 1,00 5 1,00 6 1,67 7 2,33 8 1,00 9 1,00 10 3,33 11 2,00 12 1,33 13 1,00 14 3,00 15 2,67 16 2,00 17 2,33 18 2,00 19 2,33 20 2,33 21 3,00 22 1,33 23 1,00 0,67 0,39 1,54 2,13 2,04 1,90 1 Pretest 2 3 1 2 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 3 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 3 2 4 4 2 3 3 3 3 2 2 2 3 4 4 3 3 1 3 4 3 2 2 2 2 1 3 4 3 1 3 3 3 2 2 2 2 3 4 2 3 1 3 3 Kelompok Eksperimen Posttest1 Selisih X̅ 1 2 3 X̅ 1 2,00 1 4 1 2,00 0,00 1 2,00 3 1,67 2 2,00 2 2,33 4 1,33 3 2,67 4 3,33 2 2,00 4 1,67 4 2,33 3 2,67 3 2,67 3 2,00 2 2,33 1 1,67 4 2,00 1 3,00 3 3,00 1 2,00 4 2,33 2 1,00 4 2,67 4 4 4 2 4 4 4 1 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 3 2 1 1 2 3 1 4 3 4 4 4 4 4 4 3 2 2 4 3 4 4 2 3,33 1,33 4 2,67 1,00 2 1,67 -0,33 2 3,00 0,67 4 3,00 1,67 3 3,67 1,00 4 1,33 -2,00 2 4,00 2,00 4 3,67 2,00 4 3,67 1,33 3 3,33 0,67 3 3,33 0,67 3 3,33 1,33 2 3,00 0,67 1 4,00 2,33 4 2,67 0,67 2 3,00 0,00 3 1,67 -1,33 1 4,00 2,00 4 2,67 0,33 2 3,67 2,67 4 4,00 1,33 4 Posttest2 2 3 X̅ 3 2 2,00 3 3 2 4 3 4 2 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 1 1 3 3 1 4 3 4 4 4 4 4 4 3 2 2 4 3 4 4 2 3,33 2,67 1,67 3,00 3,00 3,67 1,67 4,00 3,67 3,67 3,33 3,33 3,33 3,00 4,00 2,67 3,00 1,67 3,67 2,67 3,67 4,00 2,67 2 2,33 -0,33 2 2,33 24 Rerata 1,46 2,75 2,46 2,22 2,75 3,50 2,88 3,04 0,82 2,83 3,29 3,00 3,04 192

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data 4.3.1 Kemampuan Mengeksplanasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test PlanPre Kon PlanPo st1Kon PlanSel Kon PlanPo st2Kon PlanPre Eks 24 24 24 24 24 24 Mean 2,3054 2,5275 ,2221 2,3613 2,2775 Std. Devia tion Most Absol Extrem ute e Positi Differe ve nces Negat ive Test Statistic ,51907 ,47109 ,60244 ,79883 ,49767 ,160 ,161 ,154 ,150 ,148 ,131 ,137 -,160 -,161 ,160 c N Normal Parame tersa,b Asymp. Sig. (2,117 tailed) a. Test distribution is Normal. PlanPo st1Eks PlanSel Eks PlanPo st2Eks 24 24 3,1392 ,8613 3,0142 ,78580 ,94154 ,55949 ,166 ,155 ,142 ,157 ,140 ,166 ,137 ,089 ,135 -,154 -,150 -,135 -,155 -,142 -,157 ,161 ,154 ,150 ,166 ,155 ,142 ,157 c c c c c c,d ,132c ,111 ,144 ,170 ,085 ,140 ,200 b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test RegDir PreKon RegDir SelKon 24 RegDir Post1 Kon 24 Mean 2,1808 Std. Devia tion Most Absol Extrem ute e Positi Differe ve nces Negat ive Test Statistic N Normal Parame tersa,b RegDir PreEks 24 RegDir Post2 Kon 24 RegDir SelEks 24 RegDir Post1 Eks 24 24 RegDir Post2 Eks 24 2,5688 ,3888 1,9021 2,2225 3,0421 ,8200 3,0425 ,55560 ,98929 ,97544 ,75146 ,55311 ,78826 1,1156 0 ,74364 ,169 ,154 ,166 ,152 ,156 ,145 ,155 ,150 ,169 ,152 ,113 ,152 ,156 ,112 ,074 ,099 -,122 -,154 -,166 -,115 -,135 -,145 -,155 -,150 ,169 ,154 ,166 ,152 ,156 ,145 ,155 ,150 c Asymp. Sig. (2- ,074 ,145 tailed) a. Test distribution is Normal. c ,086 c ,160 c ,134 c ,200 c,d ,141 c ,169c b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 193

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian 4.4.1 Kemampuan Mengeksplanasi Test of Homogeneity of Variances PlanPreKonEks Levene Statistic ,077 4.4.2 df1 df2 1 46 Sig. ,782 Kemampuan Meregulasi Diri Test of Homogeneity of Variances RegDirPreKonEks Levene Statistic ,000 df1 df2 1 Sig. 46 ,992 194

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics N Mean Eksplanasi Pretest Kontrol 24 2,3054 ,51907 Std. Error Mean ,10595 Eksplanasi Pretest Eksperimen 24 2,2775 ,49767 ,10159 Kelompok PlanPreKon Eks Std. Deviation Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Plan Equal Pre variances Kon assumed Eks Equal variances t-test for Equality of Means Sig.(2tailed) Mean Differe nce 46 ,850 ,02792 Std. Error Differe nce ,14679 45, 91 9 ,850 ,02792 ,14679 F Sig. t df ,077 ,782 ,190 ,190 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,32338 ,26755 ,26756 ,32340 not assumed 195

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics N Mean Std. Deviation Regulasi Diri Pretest Kontrol 24 2,1808 ,55560 Std. Error Mean ,11341 Regulasi Diri Pretest Eksperimen 24 2,2225 ,55311 ,11290 Kelompok RegDirPreKonEks Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances RegDir PreKon Eks Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) Mean Differe nce Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper F Sig. t ,000 ,992 -,260 46 ,796 -,04167 ,16003 ,36379 ,28045 -,260 45,9 99 ,796 -,04167 ,16003 ,36379 ,28045 196

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.6 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.6.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.6.1.1 Uji Homogenitas Varian Test of Homogeneity of Variances PlanSelKonEks Levene Statistic df1 5,746 df2 1 Sig. 46 ,021 4.6.1.2 Uji Pengaruh Signifikansi Pengaruh Perlakuan Pengaruh Perlakuan = (O2 – O1) – (O4 – O3) = (3,139 – 2,278) – (2,528-2,305) = 0,861 – 0,223 = 0,638 Group Statistics Eksplanasi Selisih Kontrol 24 ,2221 ,60244 Std. Error Mean ,12297 Eksplanasi Selisih Eksperimen 24 ,8613 ,94154 ,19219 Kelompok PlanSelKonEks N Mean Std. Deviation Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances F Sig. PlanSel Kon Eks Equal variances assumed Equal variances not assumed 5,74 6 ,021 t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed ) Mean Differ ence Std. Error Differ ence 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,6391 7 ,6391 7 ,2281 7 1,0984 4 1,1006 3 2,801 46 ,007 2,801 39,1 29 ,008 ,2281 7 -,17989 -,17771 197

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.6.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.6.2.1 Uji Homogenitas Varian Test of Homogeneity of Variances RegDirSelKonEks Levene Statistic df1 ,006 df2 1 Sig. 46 ,941 4.6.2.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Pengaruh Perlakuan = (O2 – O1) – (O4-O3) = (3,042 – 2,223) – (2,569 – 2,181) = 0,819 – 0,388 = 0,431 Group Statistics Kelompok RegDirSel KonEks ,3888 Std. Deviati on ,97544 Std. Error Mean ,19911 ,8200 1,11560 ,22772 N Mean Regulasi Diri Selisih Kontrol 24 Regulasi Diri Selisih Eksperimen 24 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances RegDir SelKon Eks Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) F Sig. t ,006 ,941 1,426 46 ,161 1,426 45,1 95 ,161 Mean Differ ence Std. Error Differ ence 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,4312 5 ,4312 5 ,3024 9 1,0401 4 1,0404 3 ,3024 9 ,17764 ,17793 198

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.7 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi Kemampuan Meregulasi Diri Effect size kemampuan mengeksplanasi Effect size kemampuan meregulasi diri adalah sebagai berikut. adalah sebagai berikut. r =√ =√ 𝑡2 𝑡 2+𝑑𝑓 (−2,801)2 (−2,801)2 + 39,129 7,845601 =√ 7,845601+ 39,129 =√ 46,974601 7,845601 = √0,16701 𝑡2 𝑡 +𝑑𝑓 r =√ 2 (−1,426) =√ 2 2 (−1,426) +46 =√ =√ 2,033476 2,033476+46 2,033476 48,033476 = √0,0423 r = 0,41 r = 0,21 Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap kemampuan mengeksplanasi: R2 = r2 = (0,41)2 = 0,1681 Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap kemampuan meregulasi diri: R2 = r2 = (0,21)2 = 0,0441 Persentase = R2 x 100% = 0,1681 x 100% = 16,81% Persentase = R2 x 100% = 0,0441 x 100% = 4,41% 199

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.8 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.8.1 Kemampuan Mengeksplanasi Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Pair 2 Pair 1 Pair 2 N Std. Deviation Std. Error Mean PlanPost1Kon 2,5275 24 ,47109 ,09616 PlanPreKon 2,3054 24 ,51907 ,10595 PlanPost1Eks 3,1392 24 ,78580 ,16040 PlanPreEks 2,2775 24 ,49767 ,10159 Paired Samples Correlations N Correlation PlanPost1Kon & 24 ,260 PlanPreKon PlanPost1Eks & PlanPreEks 24 -,029 Sig. ,219 ,895 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Devia tion Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 PlanPost1Kon - PlanPreKon ,22208 ,6034 1 ,12317 ,03271 ,47688 1,803 23 ,084 Pair 2 PlanPost1Eks - PlanPreEks ,86167 ,9420 6 ,19230 ,46387 1,25947 4,481 23 ,000 200

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.2 Kemampuan Meregulasi Diri Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Pair 2 N Std. Deviation Std. Error Mean RegDirPost1Kon 2,5688 24 ,98929 ,20194 RegDirPreKon 2,1808 24 ,55560 ,11341 RegDirPost1Eks 3,0421 24 ,78826 ,16090 RegDirPreEks 2,2225 24 ,55311 ,11290 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 RegDirPost1Kon & RegDirPreKon 24 ,307 ,144 Pair 2 RegDirPost1Eks & RegDirPreEks 24 -,365 ,079 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Devi ation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 RegDirPost1Kon - RegDirPreKon ,38792 ,974 60 ,1989 4 ,02362 ,79946 1,950 23 ,063 Pair 2 RegDirPost1Eks - RegDirPreEks ,81958 1,11 618 ,2278 4 ,34826 1,2909 0 3,597 23 ,002 201

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 2,5275−2,3054 = 0,2221 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,3054 2,3054 Kelompok Eksperimen x 100% Peningkatan x 100% x 100% 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 3,1392−2,2775 = 0,8617 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,2775 2,2775 x 100% x 100% x 100% = 0,3783 x 100% = 0,0963 x 100% = 37,83% = 9,63% 4.9.2 = Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 2,5687−2,1808 = 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,1808 0,3879 2,30542,1808 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 3,0421−2,2225 = 0,8196 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,2225 2,2225 x 100% x 100% x 100% = 0,1778 x 100% = 0,3687 x 100% = 17,78% = 36,87% 202

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.10 Hasil Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol r =√ =√ =√ =√ 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (1,803)2 (1,803)2 + 23 3,250809 3,250809 + 23 3,250809 26,250809 = √0,1238 Kelompok Eksperimen r =√ =√ =√ =√ 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (4,481)2 (4,481)2 + 23 20,0794 20,0794 + 23 20,0794 43,0794 = √0,4661 r = 0,35 r = 0,68 R2 = r2 = (0,35)2 = 0,1225 R2 = r2 = (0,68)2 = 0,4624 Persentase = R2 x 100% = 0,1225 x 100% = 12,25% Persentase = R2 x 100% = 0,4624 x 100% = 46,24% 203

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol r =√ =√ =√ =√ 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (1,950)2 (1,950)2 + 23 3,8025 3,8025 + 23 3,8025 26,8025 = √0,1419 Kelompok Eksperimen r =√ =√ =√ =√ 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (3,597)2 (3,597)2 + 23 12,9384 12,9384 + 23 12,9384 35,9384 = √0,3600 r = 0,38 r = 0,60 R2 = r2 = (0,38)2 = 0,1444 R2 = r2 = (0,60)2 = 0,3600 Persentase = R2 x 100% = 0,1444 x 100% = 14,44 % Persentase = R2 x 100% = 0,3600 x 100% = 36,00 % 204

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11 Perhitungan Persentase Gain Score 4.11.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.11.1.1 Tabulasi Gain Score Frekuensi Kelompok Kelompok Kontrol Eksperimen 0 2 0 1 0 4 1 3 3 4 3 2 7 2 4 2 4 3 1 0 0 0 1 1 Nilai 2,33 2,00 1,67 1,33 1,00 0,67 0,33 0,00 -0,33 -0,67 -1,00 -1,33 4.11.1.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,5 Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi Gain Score ≥ 0,5 adalah 7 siswa. Persentase Gain Score : Frekuensi Gain Score ≥ 0,5 adalah 16 siswa. Persentase Gain Score : Gain Score = Gain Score = = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 7 24 x 100% x 100% = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 16 24 x 100% x 100% = 0,2916 x 100% = 0,6666 x 100% = 29,16% = 66,66% 205

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.11.2.1 Tabulasi Data Gain Score Frekuensi Kelompok Kelompok Kontrol Eksperimen Nilai 0 0 1 1 6 1 3 1 4 2 2 1 2 0 0 2,67 2,33 2,00 1,67 1,33 1,00 0,67 0,33 0,00 -0,33 -0,67 -1,00 -1,33 -1,67 -2,00 1 1 3 1 4 2 5 1 2 2 0 0 1 0 1 4.11.2.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥0,33 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Frekuensi Gain Score ≥ 0,33 adalah 13 siswa. Persentase Gain Score : Gain Score = = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 13 24 x 100% x 100% Kelompok Eksperimen Frekuensi Gain Score ≥ 0,33 adalah 18 siswa. Persentase Gain Score : Gain Score = = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 18 24 x 100% x 100% = 0,5416 x 100% = 0,75 x 100% = 54,16 % = 75,00% 206

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.12 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.12.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.12.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations PlanPreKon PlanPreKon Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) PlanPost1Kon 4.12.1.2 PlanPost1Kon ,260 ,219 N 24 24 Pearson Correlation ,260 1 Sig. (2-tailed) ,219 N 24 24 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations PlanPreEks Pearson Correlation PlanPreEks PlanPost1Eks 1 -,029 Sig. (2-tailed) PlanPost1Eks ,895 N 24 24 Pearson Correlation -,029 1 Sig. (2-tailed) ,895 N 24 24 207

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.12.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations RegDirPreKon RegDirPost1Kon 4.12.2.2 RegDirPreKon RegDirPost1Kon 1 ,307 Sig. (2-tailed) N 24 ,144 24 Pearson Correlation ,307 1 Sig. (2-tailed) ,144 N 24 Pearson Correlation 24 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations RegDirPreEks Pearson Correlation RegDirPreEks RegDirPost1Eks 1 -,365 Sig. (2-tailed) RegDirPost1Eks ,079 N 24 24 Pearson Correlation -,365 1 Sig. (2-tailed) ,079 N 24 24 208

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.13 Hasil Uji Retensi Perlakuan 4.13.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.13.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 2 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean PlanPost2Kon 2,3613 24 ,79883 ,16306 PlanPost1Kon 2,5275 24 ,47109 ,09616 PlanPost2Eks 3,0142 24 ,55949 ,11421 PlanPost1Eks 3,1392 24 ,78580 ,16040 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 PlanPost2Kon & PlanPost1Kon 24 ,344 ,100 Pair 2 PlanPost2Eks & PlanPost1Eks 24 -,049 ,820 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 PlanPost2Kon PlanPost1Kon ,16625 ,77551 ,1583 0 ,4937 2 ,16122 1,05 0 23 ,305 Pair 2 PlanPost2Eks PlanPost1Eks ,12500 ,98674 ,2014 2 ,5416 6 ,29166 -,621 23 ,541 209

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.1.2 Hasil Perhitungan r Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol r =√ =√ Kelompok Eksperimen 𝑡2 r =√ 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (−1,050)2 (−1,050)2 + 23 1,1025 =√ 1,1025+ 23 =√ 24,1025 1,1025 = √0,0457 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (−0,621)2 =√ (−0,621)2 + 23 =√ 0,385641+ 23 =√ 23,385641 0,385641 0,385641 = √0,0165 r = 0,21 r = 0,13 4.13.1.3 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Rerata Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 = 2,3613−2,5275 = −0,1662 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 2,5275 2,5275 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 = 3,0142− 3,1392 = −0,125 3,1392 3,1392 x 100% x 100% x 100% = - 0,0658 x 100% = - 0,0415 x 100% = - 6,58% = - 4,15% 210

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.1.4 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 2 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean PlanPost2Kon 2,3613 24 ,79883 ,16306 PlanPreKon 2,3054 24 ,51907 ,10595 PlanPost2Eks 3,0142 24 ,55949 ,11421 PlanPreEks 2,2775 24 ,49767 ,10159 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 PlanPost2Kon & PlanPreKon 24 -,210 ,324 Pair 2 PlanPost2Eks & PlanPreEks 24 ,160 ,455 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Deviatio n Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 PlanPost2Kon - PlanPreKon ,05583 1,04014 ,21232 ,38338 ,49504 ,263 23 ,795 Pair 2 PlanPost2Eks - PlanPreEks ,73667 ,68674 ,14018 ,44668 1,02665 5,25 5 23 ,000 211

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.1.5 Hasil Perhitungan r Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol r =√ =√ Kelompok Eksperimen 𝑡2 r =√ 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (0,263)2 (0,263)2 + 23 0,069169 =√ 0,069169+ 23 =√ 23,069169 0,069169 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (5,255)2 =√ (5,255)2 + 23 =√ 27,615025+ 23 =√ = √0,0029 𝑡2 27,615025 27,615025 50,615025 = √0,5456 r = 0,05 r = 0,74 4.13.1.6 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Rerata Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 2,3613−2,3054 = 0,0559 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,3054 2,3054 x 100% Kelompok Eksperimen x 100% x 100% Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 3,0142− 2,2775 = 0,7367 2,2775 2,2775 x 100% x 100% x 100% = 0,0242 x 100% = 0,3235 x 100% = 2,42% = 32,35% 212

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.13.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 2 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean RegDirPost2Kon 1,9021 24 ,75146 ,15339 RegDirPost1Kon 2,5688 24 ,98929 ,20194 RegDirPost2Eks 3,0425 24 ,74364 ,15180 RegDirPost1Eks 3,0421 24 ,78826 ,16090 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 RegDirPost2Kon & RegDirPost1Kon 24 ,078 ,717 Pair 2 RegDirPost2Eks & RegDirPost1Eks 24 ,993 ,000 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Devi ation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 RegDirPost2Kon RegDirPost1Kon ,66667 1,194 64 ,2438 5 1,1711 2 ,16221 2,734 23 ,012 Pair 2 RegDirPost2Eks RegDirPost1Eks ,00042 ,0988 0 ,0201 7 ,04130 ,04213 ,021 23 ,984 213

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.2.2 Hasil Perhitungan r Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol r =√ =√ Kelompok Eksperimen 𝑡2 r =√ 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (−0,66667)2 (−0,66667)2 + 23 0,44445 =√ 0,44445+ 23 =√ 23,44445 0,44445 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (0,00042)2 =√ (0,00042)2 + 23 =√ 0,000001764 + 23 =√ 23,000001764 0,000001764 0,000001764 = √0,00000796 = √0,01896 r = 0,14 r = 0,000283 4.13.2.3 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Rerata Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 = 1,9021−2,5687 = −0,6666 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 2,5687 2,5687 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1 = 3,0425 −3,0421 = 0,0004 3,0421 3,0421 x 100% x 100% x 100% = - 0,2595 x 100% = 0,00013 x 100% = - 25,95% = 0,013% 214

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.2.4 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 2 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean RegDirPost2Kon 1,9021 24 ,75146 ,15339 RegDirPreKon 2,1808 24 ,55560 ,11341 RegDirPost2Eks 3,0425 24 ,74364 ,15180 RegDirPreEks 2,2225 24 ,55311 ,11290 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 RegDirPost2Kon & RegDirPreKon 24 ,425 ,038 Pair 2 RegDirPost2Eks & RegDirPreEks 24 -,340 ,104 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Deviat ion Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed) Pair 1 RegDirPost2Kon - RegDirPreKon ,27875 ,71983 ,14694 ,58271 ,02521 1,897 23 ,070 Pair 2 RegDirPost2Eks - RegDirPreEks ,82000 1,0669 5 ,21779 ,36947 1,2705 3 3,765 23 ,001 215

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.2.5 Hasil Perhitungan r Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol r =√ =√ Kelompok Eksperimen 𝑡2 r =√ 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (−0,27875)2 (−0,27875)2 + 23 0,07770 =√ 0,07770+ 23 =√ 23,07770 0,07770 = √0,0003367 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 (0,82000)2 =√ (0,82000)2 + 23 =√ 0,6724 + 23 =√ 23,6724 0,6724 0,6724 = √0,0284 r = 0,018 r = 0,17 4.13.2.6 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Rerata Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = 1,9021−2,1808 = − 0,2787 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,1808 2,1808 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% Peningkatan = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 2−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = = 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 3,0425−2,2225 2,2225 0,82 2,2225 x 100% x 100% x 100% = - 0,1278 x 100% = 0,3690 x 100% = - 12,78% = 36,90% 216

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.14 Sampel Hasil Jawaban Siswa 4.14.1 Hasil Jawaban Pretest 217

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 219

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.14.2 Hasil Jawaban Posttest 222

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen 227

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.2 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian 228

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Poppy Septiana Pembayun adalah anak pertama dari pasangan Edhi Sudarsono dan Kus Sulastri. Lahir di Karanganyar, 14 September 1998. Pendidikan dimulai dari TK Kristen Emanuel Karanganyar pada tahun 2003-2005. Peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 1 Jaten pada tahun 20052010. Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Jaten pada tahun 2010-2012. Setelah itu, peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Surakarta pada tahun 2012-2015. Pada tahun 2015, peneliti melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma hingga saat ini. Berikut daftar kegiatan yang pernah diikuti oleh peneliti selama menjadi mahasiswa di Universitas Sanata Dharma. No. Nama Kegiatan Tahun Peran 1. Inisiasi FKIP Sanata Dharma (INFISA) 2015 Peserta 2. Inisiasi Program Studi (Insipro) PGSD 2015 Peserta 2015 Peserta 2015 Peserta 2015 Peserta 2016 Peserta 3. 4. 5. 6. Seminar Entrepreneurship “Menumbuhkan Jiwa Wirausaha pada Generasi Muda” Pendampingan Pengembangan Kepribadian dan Metode Belajar I (PPKMB I) Seminar “Reinventing Childhood Education” Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) 7. KPU HMPS PGSD 2016 Bendahara 8. Week-End Moral 2016 Peserta 2016 Peserta 2016 Peserta 9. 10. Pendampingan Pengembangan Kepribadian dan Metode Belajar II (PPKMB II) Kuliah Umum PGSD “Masa Depan Tolrenasi di Tangan Guru” 229

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. 12. 13. Parade Gamelan Anak IX se-Jateng dan DIY Dialog Dosen dan Mahasiswa “Be Ready For The Better FKIP” Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) 14. Pelatihan Metode Montessori 15. English Club Program 16. Parade Gamelan Anak X se-Jateng dan DIY 2016 Sekretaris Bid. Acara 2017 Peserta 2017 Peserta 2017 Peserta 20152017 2017 Peserta Sekretaris Umum 230

(249)

Dokumen baru

Download (248 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA PADA POKOK BAHASAN SISTEM KOLOID.
0
0
23
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MATERI PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SANDEN.
0
2
250
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 3 PALAR, KLATEN.
0
0
237
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA KELAS V SD 5 DERSALAM KUDUS
0
0
21
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS V SD
0
0
12
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD
0
0
8
PENGARUH PENERAPAN TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PEMBELAJARAN IPS KELAS V
0
0
10
PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH IPS DI KELAS V SD
0
0
13
PENGARUH PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA SD
0
0
8
1 PENGARUH PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V
0
1
8
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS V YPS MI MANGGARUPI KABABUPATEN GOWA
0
0
114
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII C SMP MUHAMMADIYAH AJBARANG
0
0
14
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
258
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
245
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
240
Show more