Studi kasus mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
162
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI STUDI KASUS MENGENAI STRATEGI COPING STRES PADA PENDERITA HIV / AIDS DI YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Christina Thomas Sari NIM : 029114072 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2008 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan penuh cinta, aku mempersembahkan karya ini kepada-Nya, pembimbing di setiap langkahku Sahabat yang selalu menolongku, di saat aku tertawa dan menangis Kepada bapak serta ibu yang telah membimbingku melalui kasih sayang dan membuat semuanya menjadi berharga Aku juga mempersembahkan karya ini kepada semua orang yang telah membantu menyempurnakan karya ini Terkhusus IN dan TN iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saat Badai Datang: Pilihlah untuk mengasihi daripada membenci. Pilihlah untuk tersenyum daripada mengernyitkan dahi Pilihlah untuk membangun daripada menghancurkan. Pilihlah untuk bertekun daripada menyerah. Pilihlah untuk memuji daripada bergosip. Pilihlah untuk menyembuhkan daripada melukai. Pilihlah untuk memberi daripada mencengkeram. Pilihlah untuk berbuat daripada menunda. Pilihlah untuk mengampuni daripada mengutuk. Pilihlah untuk berdoa daripada berputus asa. Pilihlah untuk bertahan daripada mengakhirinya. Pilihlah untuk menjadi teguh daripada bimbang. Pilihlah untuk tenang daripada menjadi panik. Pilihlah untuk berjiwa besar daripada ciut nyali. Pilihlah untuk tertawa daripada depresi. Pilihlah untuk berharap daripada kecewa. Pilihlah untuk merasa damai daripada rasa galau. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dia Tahu yang Terbaik…. Kita melihat apa yang kelihatan sekarang.. Namun Allah melihatnya jauh lebih daripada itu.. Jadi mengapa kita selalu mengeluh? Kita selalu ingin matahari bersinar, tapi Ia tahu bahwa hujan harus turun. Kita menyukai suara tawa dan sorak sorai keceriaan, Tapi hati kita akan hilang kelembutannya, Jika kita tidak pernahmenitikkan air mata. Allah Bapa sering menguji kita dengan penderitaan dan kepedihan. Ia menguji bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk menolong kita untuk menghadapi hari esok. Karena pohon yang sedang tumbuh akan menjadi kuat apabila mereka tahan terhadap terpaan badai. Dan sayatan tajam sebuah pahat akan membuat marmer jadi lebih indah dan berbentuk. Allah Bapa tidak pernah menyakiti kita tanpa tujuan dan Ia tidak pernah menyia-nyiakan kita. Karena setiap kehilangan yang Ia ijinkan selalu diikuti dengan berkat. Dan ketika kita hitung berkat melimpah yang Allah Bapa berikan, tidak ada alasan bagi kita untuk menggerutu dan tidak ada waktu untuk meratap, Karena Allah Bapa kita mengasihi anak-anakNya dan tahu yang terbaik bagi kita. (spirit) vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama Nomor Mahasiswa : Christina Thomas Sari : 029114072 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : STUDI KASUS MENGENAI STRATEGI PENDERITA HIV / AIDS DI YOGYAKARTA COPING STRES PADA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupaun memberikan royalty kepada saya selamA tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyatan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 19 Maret 2008 Yang menyatakan ( Christina Thomas Sari ) vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, ............................ Penulis Christina Thomas Sari viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Studi Kasus Mengenai Strategi Coping Stres Pada Penderita HIV/AIDS Di Yogyakarta Christina Thomas Sari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai coping stres yang dilakukan orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Penggalian informasi dilakukan melalui wawancara, yakni tentang latar belakang terinfeksi, stressor pada ODHA, kemudian mengarah kepada informasi inti, yakni tentang jenis strategi coping yang sering dilakukan untuk mengurangi tekanan yang ditimbulkan oleh status ODHA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus kepada dua orang subyek penelitian. Karakteristik subyek dalam penelitian ini adalah orang yang benar-benar terinfeksi HIV, jenis kelamin laki- laki atau perempuan, kategori usia yang dipakai adalah sesuai dengan usia yang rawan terinfeksi HIV/AIDS, yaitu usia 20-28 tahun. Subyek penelitian diperoleh secara personal dimana hubungan peneliti dengan subyek dekat, identitas subyek seperti nama, tempat tinggal, dan sebagian nama tokoh-tokoh yang banyak terkait dalam kehidupan subyek akan disamarkan untuk menjaga kerahasiaan subyek. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua sumber bukti, yakni dokumen, dan wawancara. Wawancara penelitian, selain dilakukan terhadap subyek, juga dilakukan terhadap informan lain yakni orang yang mengetahui kesehariannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ODHA memiliki kecenderungan untuk melakukan Emotion focus coping dan Problem focus coping Strategi Emotion focus coping yang diantaranya; mengikuti kegiatan di LSM untuk membangun kepercayaan diri dan mencari dukungan dari sesama ODHA sehingga mereka dapat merealisasikan kenyataan yang diterimanya. Selain itu usaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan merupakan wujud dalam mencoba pasrah terhadap kondisinya. Strategi kedua yang digunakan berupa Problem focus coping yang dilakukan subyek dapat dilihat melalui usaha subyek mencari saran dan informasi tentang HIV/AIDS melalui brosur atau buku dari rumah sakit atau LSM sebagai upaya subyek mengetahui lebih dalam tentang penyakit HIV/AIDS Kata kunci : ODHA, coping stres, strategi coping stres, emotion focus coping, problem focus coping ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Case Study on Coping Strategy toward Stress in HIV/AIDS Sufferers in Yogyakarta Christina Thomas Sari Faculty of Psychology Sanata Dharma University Yogyakarta This research was conducted to know deeper the coping stress which is experienced by HIV/AIDS infected person or ODHA. The gaining of information was conducted through interview, i.e. concerning on the background of contagion, stressor in ODHA, then direct toward the core information, i.e. concerning on the type of coping strategies which is often experienced to reduce the depression which is emerging from status of ODHA. This research used qualitative research by method of case study toward the two research subjects. The characteristic of subjects in this research were people who actually infected by HIV, the types of sex were male or female, age category used was appropriate with the HIV/AIDS tend-to infected age, i.e. 20-28 years old. The subjects in this research were gained personally where the relation of the researcher with the subjects is close; the identity of the subjects such as name, living site, and most of the name of persons that closely related in subjects’ life will be kept in secret to keep the confidentially of subjects. The collection of data in this research was conducted using two verification sources, i.e. document, and interview. The research interviews were both conducted with the subjects and also with other informants who were persons knowing the daily life of the subject. The result of this research revealed that HIV/AIDS sufferers have tendencies to employ emotion focus coping and problem focus coping. The strategy is emotion focus coping, such as; joining any activities in NGO (NonGovernmental Organization) to build their self confidence and look for any support from people who are also ODHA, thus they could realize the reality they accept. In addition, their effort to make them close to God is a result of their submission to their condition as ODHA. The second strategy which was used is problem focus coping which is employed by subjects could be seen from the efforts of subjects in looking for any recommendation and information concerning on HIV/AIDS through brochures or books from hospital or NGO as subject’s effort to know deeper on the HIV/AIDS disease Keywords : ODHA, coping stress, strategy of coping, emotion focus coping and problem focus coping. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih, karena berkat kasih bimbinganNya skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun dan dibuat untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Psikologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam proses penyusunannya dari awal hingga akhirnya selesai, telah melibatkan banyak pribadi yang memberikan bantuan dengan tulus, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada : 1. GOD The Almighty in Jesus Christ…yang selalu memberikan pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkat di setiap cobaan dan jawab di setiap doaku. 2. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Agnes Indar E., S.Psi., Psi., M.Si, selaku Dosen pembimbing Skripsi. Terima kasih banyak telah memberikan waktu, kritik saran serta mendengarkan keluh kesah saya selama ini, terlebih kesempatan yang sangat berarti dalam proses penyelesaian penyusunan skripsi ini. 4. Nimas Eki Suprawati S.Psi., Psi, selaku dosen pembimbing akademikku dan dosen penguji. Terima kasih ibu untuk bimbingannya selama saya menjadi anak didik ibu, dan terima kasih atas kesabaran yang ibu berikan dalam mengoreksi kesalahan saya untuk menjadi lebih baik. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Ml. Anantasari, S. Psi., M. Si. Selaku dosen penguji skripsi, terimakasih atas koreksi yang diberikan guna memperbaiki hasil karya tulis saya. 6. Mas Gandung, dan Mbak Nanik yang dengan sabar melayani untuk urusan kesekretariatan. Dan Pak Gik yang selalu semangat dan pantang merasa lelah, terimakasih atas pelayanannya selama kuliah di psikologi. 7. My Beloved parent. Terima kasih untuk segala sesuatunya, terlebih dukungan, doa serta harapan yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Inilah karya kecilku yang tidak sempurna yang bisa saya persembahkan buat Bapak dan Ibu. My little Angle..Tasya and Hayu. Terima kasih untuk turut memberi warna dan menjadi pemecah keheninganku… My beloved Sist n bro..(Aneen+Rien+chutie n why) yang sudah dengan sukarela mau menjadi tempat berkeluh kesah dan masih mau saja jadi tempat untuk berantem. 8. Keluarga besar Kulon Progo dan Wonosari….terima kasih untuk doanya ya…akhirya skripsinya kelar juga… 9. Keluarga besar Gondolayu dan Godean…terima kasih untuk doa yang tidak pernah habisnya dan mau menjadi My second family…. 10. My magical boy…selaku papahnya Malvin, terima kasih banyak sudah memberiku doa, saran dan selalu memantau perkembangan skripsinya…he…nggga cepek-capek ya pak??? 11. My Only…(mas By and B 1646 X). Terima kasih untuk selalu menemaniku disaat aku sedang rapuh dan jatuh, untuk selalu menjadi xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bagian dari hidupku dan aku berharap banget untuk bisa laluin sisa hidupku lagi denganmu… 12. TN dan IN, terimakasih banyak atas partisipasi yang sudah diberikan, karya ini kupersembahkan pada kalian. 13. All my best friend in “Sekar Ayu”..Dewie yang kesannya kalem tapi aslinya ramai..thanks sudah mau jadi persinggahan kalau lagi capai ma lapar ya…sering-sering ya Iunt..orang wie. yang jadi teman seperjuanganku di kampus.. you’re is my precious friends, mas Danang..karenamu aku jadi gila..mba aning, pita, wiwin, wiwik, asih, prima, mba dyah, irna, nining, mba rya..thanks a lot yaw. 14. Mas edi, pongkey, mas Wa2N, co Alex.. yang selalu siap sedia menemani nggarap dan ngomel- ngomel saat sindrom kemalesanku melanda..matur suwun banget ya loph you all guys.., Chay BanOe..karenamu insomniaku jadi sembuh…thanks banget ya, mas Nico..aku bahagia sudah mengenal kamu.. 15. “Mami” Alvon dan segenap lentera terimakasih atas usahanya untuk membawaku ke dalam keluarga besar Lentera dan melihat lebih jauh kehidupan malam, mami benar kalau tak semuanya tampak indah. 16. Dementia yang tak lelah dengan kritik dan koreksinya meskipun kadang jauh dari tema..he..he..thanks banget buat dukungannya ya 17. Keluarga besar Pakubon n kwarasan- Zico..makasih untuk memberiku figure yang nyenengin ya n thanks untuk kebangunan rohaninya…thinuz,.Beno..Boby,Jimmy..makasih buat sejengkal kenangan xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan kesan dewasamu yang patut kucontoh…Rooney+marThin selamat berpoligami ya…kak Emu, kak Milo, Eric ma Itin, Mache Tabhita, Felix, kak jack..makasih udah turut me warnai hidupku..dan untuk semuanya..tak ada orang yang bisa nyaingin anehnya kalian lho….kapan kita makan papeda lagi? hidup Papua.. 18. Keluarga GKJ Demakijo, GKJ Sawokembar, Alithea dengan semua ornament2nya yang menjadi panutan hidupku…terimakasih atas segalanya yang pernah diberikan. 19. Semua teman-temanku yang ngga bisa ku sebut satu-persatu…aku beruntung mengenal kalian…dan terimakasih karena kalian mau menerimaku dalam kehidupan kalian….terima kasih banyak. Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan terbuka penulis menerima kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan penelitian ini. Semoga skripsi ini berguna bagi semua pihak yang berkepentingan untuk membacanya, terima kasih. Penulis xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv HALAMAN MOTTO .................................................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS........................ vii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ viii ABSTRAK ..................................................................................................... ix ABSTRACT..................................................................................................... x KATA PENGANTAR ................................................................................... xi DAFTAR ISI.................................................................................................. xv DAFTAR TABEL………………………………………………………….. xviii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1 A. LATAR BELAKANG ................................................................. 1 B. RUMUSAN MASALAH ............................................................. 9 C. TUJUAN PENELITIAN .............................................................. 9 D. MANFAAT PENELITIAN.......................................................... 10 BAB II. DASAR TEORI ............................................................................... 11 A. COPING STRES.......................................................................... 11 1. Pengertian stres ...................................................................... 11 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Sumber stres ........................................................................... 13 3. Faktor yang mempengaruhi stres………………………… ... 17 4. Reaksi stres ............................................................................ 18 5. Coping stres………………………………………………. .. 22 6. Sumberdaya Coping…………………………………… ....... 24 7. Strategi Coping……………………………………………. . 27 8. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Stres……….... 32 B. PENDERITA HIV/AIDS ............................................................. 34 1. Pengertian HIV/AIDS ............................................................ 34 2. Penularan HIV/AIDS ............................................................. 38 3. Dampak yang dialami pengidap HIV/AIDS .......................... 40 4. Reaksi Terhadap Sumber Stres .............................................. 41 C. COPING STRES PADA PENDERITA HIV/AIDS…………… 42 D. PERTANYAAN PENELITIAN………………………………. . 45 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 46 A. JENIS PENELITIAN ................................................................... 45 B. BATASAN ISTILAH………………………………….. ............ 47 C. SUBJEK PENELITIAN............................................................... 48 D. METODE PENGUMPULAN DATA.......................................... 49 E. METODE ANALISIS DATA...................................................... 51 F. KEABSAHAN DATA ................................................................. 54 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 57 A. PELAKSANAAN PENELITIAN ................................................ 57 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. HASIL PENELITIAN.................................................................. 58 1. Deskripsi Subjek Penelitian................................................... 59 2. Pelaksanaan dan perolehan Data............................................ 59 C. PEMBAHASAN .......................................................................... 98 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 104 A. KESIMPULAN ........................................................................... 104 B. SARAN ........................................................................................ 105 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 107 LAMPIRAN ................................................................................................... 110 A. Transkrip Verbatim Wawancara Subjek I.................................... 111 B. Transkrip Verbatim Wawancara Subjek II .................................. 127 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL TABEL I. Pedoman Umum Wawancara........................................................ 50 TABEL II. Coding bentuk Coping Stres………………………………….... 54 TABEL III. Data Subjek………………………………………………... ..... 59 TABEL IV. Ringkasan gambaran Coping Stres terhadap penderita HIV/AIDS .................................................................................... xviii 97

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan realita dewasa ini, kasus HIV/AIDS meningkat secara drastis baik di Indonesia maupun dunia. Hal ini dapat membahayakan kehidupan manusia bahkan mengancam keselamatan dunia, karena HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan dan belum ada obatnya secara pasti. Di Indonesia sendiri masalah ini sudah merupakan masalah yang sangat besar dan harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah, karena harus segera ditanggulangi. Berdasarkan data di RSUP Dr Sardjito tahun 2005, hingga Maret lalu tercatat ada 15 penderita yang berobat ke RSUP Dr Sardjito. Data dari Dinas Kesehatan DIY (Kompas, 24 februari 2005), menyebutkan jumlah penderita HIV/AIDS di yogyakarta meningkat hampir 200 persen pada tahun 2004, yaitu mencapai 34 orang penderita HIV, dari 13 orang pada tahun 2003. Diperkirakan masih cukup banyak orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS, namun belum tercatat. Keadaan seperti itu biasa disebut dengan “Fenomena Gunung Es” atau seperti gunung es di laut yang hanya pucuknya saja yang terlihat (sementara tubuh gunung es yang jauh lebih besar tersembunyi dalam laut). Berdasarkan teori gunung es diperkirakan pada saat ini telah ada sekitar 200.000 orang mengidap HIV/AIDS di Indonesia (dalam Menghadang Mentari pun tak Peduli, 1997). Seperti halnya Vietnam dan China, epidemi HIV/ AIDS di 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000 sampai 230.000 orang di Indonesia yang sudah terjangkit penyakit ini. Melihat kenyataan ini, kasus HIV/AIDS menjadi keprihatinan dunia remaja. Fakta di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito dan data yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wirogunan Yogyakarta menunjukkan, penderita HIV/AIDS sebagian besar narapidana yang ada di LP dan yang masuk rumah sakit sebagian besar berstatus mahasiswa yang rata-rata usianya 20-28 tahun. Banyak pihak menduga, penyebaran infeksi HIV/AIDS berkait dengan penyalahgunaan Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan Terlarang) dan pelaku seks bebas. Mengingat sebagian besar penderita HIV/AIDS adalah kalangan mahasiswa, Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendukung peningkatan kasus tersebarnya virus HIV/AIDS dimana Yogyakarta merupakan kota pelajar yang sering disinggahi pelajar dari luar kota untuk kepentingan pendidikan. Pengaruh yang sudah ada di masyarakat maupun yang datang dari luar membuat sebagian pelajar melakukan penyimpangan yang ditujukan pada penggunakan narkoba sehingga tanpa disadari bahwa kesehatan pelajar terancam dengan meluasnya penyebaran virus HIV/AIDS. Saat kita dinyatakan terinfeksi suatu penyakit, banyak hal dalam kehidupan kita dapat berubah. Apalagi jika infeksi itu sifatnya berjangka panjang seperti HIV. ODHA ( Orang dengan HIV/AIDS ) sebaiknya mengambil sikap sejak awal. ODHA sangat rentan terhadap sikap orang lain yang merendahkan, menghakimi, mengucilkan, dan melanggar hak asasi. Hal ini dapat terjadi sejak

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 menjalani tes sampai hari- hari bahkan tahun-tahun berikutnya. Dalam kehidupan sehari- hari sebagai ODHA, mereka menjadi pasien yang aktif, hal ini dikarenakan karena belum ada penyembuhannya sehingga mereka ikut memikirkan jalan keluar lain agar jiwa dan raga mereka tetap sehat. Mereka mencari berbagai cara hidup sehat, berusaha mengikuti kemajuan obat-obatan, dan dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dokter pun dapat kekurangan pengetahuan. Dokter dapat merasakan ketidakpastian mengenai bagaimana seharusnya menangani HIV/AIDS, memantau kesehatan penderita, dan ikut mendampingi perkembangan penderita agar mereka dapat hidup lebih lama. Telah diketahui sejak lama bahwa orang yang hidup dengan HIV, seperti pasien lain dengan penyakit kronis, mungkin mengalami suatu bentuk gangguan psikiatri (kejiwaan) selama perjalanan penyakitnya. Bagi penderita HIV/AIDS sendiri hidup dengan menyandang status sebagai ODHA adalah suatu penderitaan yang sangat berat karena semua mengetahui bahwa sampai detik ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS (Pelkesi, 1995). Mereka merasa seolah–olah telah “dijatuhi hukuman mati”. Keadaan ini masih ditambah lagi dengan adanya diskriminasi dari kalangan masyarakat sehingga korban HIV/AIDS akan mulai merasa dijauhi oleh orang lain, dimana hal ini merupakan realitas yang menyedihkan. Derita mentalnya semakin menjadi–jadi setelah ia mengetahui bahwa ia adalah korban penyakit yang membawa kematian. Semakin banyak korban berjatuhan hari demi hari, dan orang yang terjangkit virus HIV/AIDS dapat menularkannya kepada orang lain meskipun mereka sendiri belum menunjukkan gejala–gejalanya.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Cerita-cerita anonim dari orang yang telah terbukti positif mengidap HIV seolah mengharu biru dan mengubah keberanian menjadi kepanikan, dan ketabahan menjadi ketidakberdayaan. Selama belum ada obat untuk menyembuhkannya serta tidak ada vaksin untuk mengebalkan tubuh terhadap penyakit tersebut, hanya ada satu jalan yang dapat kita perbuat, yaitu melakukan tindakan-tindakan preventif (Inu. W, 2005). Tidak adanya tindakan yang efektif, maka pasien harus diberi perlakuan yang penuh rasa kasih sayang dan respek terhadap kemanusiaan mereka. Sesuai dengan pengalaman mereka, ketika mereka mengetahui bahwa mereka mengidap HIV, maka mereka sangat putus asa sehingga mempengaruhi hidupnya secara drastis. Namun demikian, di tengahtengah suasana yang sarat dengan ketidakpedulian, ambivalensi, rasa bersalah, inilah mereka berusaha bertahan (Pelkesi,1995). Bagi orang yang terinfeksi HIV/AIDS, maka akan terjadi kekacauan pada seluruh aspek. Relasinya akan diliputi suasana putus asa, ketakutan, serta pengucilan, selain itu akan timbul konflik sehingga dia akan merasakan adanya ketidakharmonisan di dalam hubungannya dengan orang lain. Keadaan ini selanjutnya akan merusak segala aspek kehidupannya dan menimbulkan kecemasan yang berlebihan tentang masa depannya dan kehidupannya nanti. Bahkan ada juga yang tidak siap untuk menerima keadaan dirinya bahwa dia telah terinfeksi HIV, mereka juga merasa bahwa dunia yang ditinggalinya sekarang adalah ancaman bagi kehidupannya, karena untuk langkah selanjutnya mereka harus mengatur pola hidupnya agar mereka dapat memperpanjang hidup mereka. Orang yang terinfeksi tidak boleh sembarangan mengkomsumsi makanan karena

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 terdapat kemungkinan makanan tersebut dapat memicu penyebaran virus yang ada di dalam tubuh penderita, maka mereka harus pintar memilih makanan yang sesuai dengan anjuran untuk penderita HIV/AIDS. Selain itu mereka juga tidak diperkenankan untuk merokok dan melakukan aktifitas di malam hari, karena 80% virus ini menyerang paru-paru penderita, maka dari itu, mereka harus mengatur pola hidup mereka (Montagnier, 1987). Perubahan aspek hidup yang dialami penderita HIV/AIDS menimbulkan dampak bagi si penderita, beberapa dampak yang ditimbulkan adalah dampak psikis, fisik, maupun sosial. Mereka akan mengalami stres karena berbagai tekanan tentang bayangan kematian dan derita yang akan dialaminya nant i (Supit. B, 1995). Adapun jenis tekanan psikologi utama pada penderita HIV/AIDS adalah sebagai berikut; mereka mengalami kecemasan mengenai rasa tidak pastinya tentang penyakit yang diderita, perkembangan dan pengobatannya, merasa cemas dengan berbagai gejala- gejala baru, merasa cemas dengan prognosisi dan ancaman kematian dan serangan panik. Mereka juga akan depresi sehingga merasa sedih, tidak berdaya, merasa rendah diri, bersalah, tidak berharga, putus asa, berkeinginan untuk bunuh diri, sulit tidur, hilang nafsu makan, merasa terisolasi dan berkurangnya dukungan sosial, merasa ditolak oleh sosial, dan merasa malu dengan adanya stigma sebagai penderita AIDS. Orang HIV positif tidak meminta keistimewaan di dalam ruang kehidupannya, tetapi minta diperlakukan sama dengan warga masyarakat lainnya. Tetapi yang sering terjadi adalah perlakuan diskriminasi di dalam dunia

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 kesehatan, menjadi objek pemberitaan dan pengobatan oleh pengobat modern dan tradisional, atau menjalani tes darah tanpa konseling. Orang dengan HIV positif juga dijadikan aset oleh LSM, dan peneliti memperlakukan orang HIV positif tanpa etika penelitian yang semestinya. Secara umum telah terbukti bahwa penyakit HIV berhubungan dengan tekanan sosial dan kehidupan tertentu, seperti stigma (cap buruk), yang mungkin mempengaruhi seseorang menjadi stres. Stres pada ODHA juga dikaitkan dengan perasaan bahwa kesehatannya buruk, rasa sakit kronis, dan kehilangan daya ingat serta konsentrasi. Lamanya suasana hati yang lesu, kegelisahan, atau kemarahan mungkin biasanya menjadi bagian dari penyesuaian terhadap penyakit, tetapi perkembangan depresi yang parah bukanlah sesuatu yang normal, sebagaimana diagnosis stres parah dihubungkan dengan berbagai penyakit, suasana hati yang lesu harus dilihat sebagai bagian dari kumpulan gejala seperti rasa senang yang hilang, perasaan bersalah atau tidak berharga, dan memikirkan kematian. Hal yang paling penting bagi orang yang menderita HIV/AIDS terhadap kondisinya dapat mengubah konsep diri yang telah mereka miliki sebelumnya, sehingga mereka melakukan penolakan–penolakan terhadap apa yang mereka alami saat ini dan mempengaruhi penerimaan dirinya. Beberapa peneliti menyatakan bahwa penderita HIV/AIDS merasa dirinya ditolak dan diasingkan oleh orang–orang sekitarnya, diteror oleh penyakitnya dan tertekan oleh adanya kepercayaan bahwa penyakit ini adalah penyakit kutukan dan akan menularkannya kepada orang–orang yang dekat dengan penderita. Hal ini menyebabkan penderita HIV/AIDS tidak mendapatkan kebutuhan akan dukungan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 sosial (Wortman & Dunkel, 1979). Banyak penderita HIV/ AIDS yang masih belum bisa menerima kondisi seperti itu sehingga mereka mempunyai kecenderungan untuk stres dan bertindak semaunya sendiri, hal itu dilakukannya karena mereka berpikir bahwa hidup mereka tak akan bertahan lama dan mereka akan melakukan apapun yang mereka inginkan. Perasaan sendirian dan terabaikan ini membuat penderita semakin merasa rendah diri dan tidak berharga, penerimaan dari lingkungan akan ikut mempengaruhi bagaimana penderita menerima dirinya. Penolakan–penolakan yang dia alami akan semakin menguatkan penilaian negatifnya terhadap dirinya sendiri. Dari tekanan yang diperoleh tersebut dapat menimbulkan stres pada penderita. Stres merupakan suatu respon dari hadirnya suatu peristiwa. Segala sesuatu yang menyebabkan perubahan dalam hidup kita dapat menimbulkan stres. Stres juga merupakan bagian dari hidup kita yang tidak mungkin dihindari dan sampai level tertentu dibutuhkan oleh manusia untuk kela ngsungan hidupnya (Handoyo, 2001). Stres atau kondisi apa pun yang membebani pikiran dapat menganggu keseimbangan metabolisme tubuh. Contoh yang paling sering adalah gangguan pada koordinasi saraf pada saluran pencernaan. Pada orang stres, gejalanya adalah diare. Ini terjadi karena gerakan usus yang diatur oleh saraf menjadi lebih cepat daripada biasanya. Akibatnya, timbul gejala seperti nyeri perut atau diare, sulit berkonsentrasi, hilangnya minat atau rasa senang, sedih, putus asa, perasaan bersalah berlebihan, atau merasa tidak berguna. Menurut Douglas (1991), stres terjadi ketika seseorang tidak dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh tekanan yang dialaminya. Demikian

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 juga pada seseorang saat tekanan tentang kenyataan yang didapat bahwa kualitas hidup mereka terancam oleh penyakit tersebut, otomatis akan mengalami apa yang disebut stres. Secara umum, stres yang terjadi akan memperburuk proses metabolisme normal tubuh. Pada akhirnya gangguan metabolisme tersebut dapat menjadi suatu stressor dari dalam tubuh yang dapat menimbulkan stres pada sistem imun. Status turunnya kompetensi fungsi imun yang diinduksi oleh stres menyebabkan kita menjadi rentan terhadap infeksi dan memungkinkan berbagai penyakit dapat terjadi (Dossier, 1989). Stres terhadap status AIDS akan menuntut ODHA untuk memiliki ketrampilan mengolah stres akibat dampak yang ditimbulkan saat ODHA menyandang statusnya. Untuk mengurangi dampak dari stressor yang mengancam kualitas hidup ODHA, mereka menggunakan coping stres. Coping stres adalah cara yang dilakukan untuk mengatasi situasi atau problem yang dianggap sebagai tantangan, ketidakadilan atau merugikan maupun sebagai ancaman. Coping stres memberikan ke mampuan ODHA untuk mengelola stres akibat statusnya. Ketika berhadapan dengan stressor yang dapat mengancam hidup, ODHA akan mencoba beradaptasi. Mekanisme coping dalam diri ODHA akan mulai berperan, mereka akan menimbang dan menilai berat ringannya stresor dan kemampuan diri sendiri. Coping stres dapat dilakukan tergantung dari kekuatan kepribadian serta pengalaman belajar yang dimiliki oleh individu tersebut, dengan itu maka stres dapat dihadapi. Apabila seorang ODHA tidak memiliki kemampuan untuk melakukan coping stres, maka stressor yang muncul mempunyai kemungkinan yang lebih besar bagi seorang ODHA untuk mengalami stres. Hal itu dikarenakan ODHA tidak mempunyai mekanisme pertahanan agar kualitas hidupnya tetap terjaga.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Carver, Sceiser, dan Weintraub (dalam Buari, 2000) mengemukakan ada dua macam strategi coping stres, yaitu emotional focused coping dan problem focused coping. Seseorang melakukan emotional focused coping diantaranya dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, atau mencari komunitas yang sama dengan mereka untuk mencari dukungan. Selain melakukan emotional focused coping, seseorang juga melakukan strategi problem focused coping, seperti mencari informasi tentang penyakit HIV/AIDS melalui lembaga swadaya masyarakat dan rumah sakit. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, yaitu dengan melihat fenomena penderita HIV/AIDS di Yogyakarta dan pentingnya suatu kesehatan mental untuk mengatasi stres pada orang yang telah terinfeksi, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang strategi coping stres yang digunakan oleh penderita HIV/AIDS di Yogyakarta. C. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui strategi coping stres yang digunakan pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 D. Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis, dari segi ilmu pengetahuan, a. Penelitian ini bermanfaat untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS guna memberi sumbangan ilmu bagi psikologi klinis dan ilmu psikologi pada umumnya. b. Manfaat bagi penulis, penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh semasa kuliah dan dapat membantu kita untuk memahami strategi coping stres yang dialami oleh orang yang terinfeksi HIV/AIDS. 2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi: a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi LSM dan pemerhati masalah- masalah penderita HIV/AIDS mengenai strategi coping stres yang yang digunakannya serta menjadikan pengetahuan tentang HIV/AIDS sebagai referensi untuk pendampingan ODHA. b. Bagi subyek penelitian agar memperdalam mereka dapat mengetahui dan informasi tentang strategi coping stres terhadap HIV/AIDS sehingga mereka mampu memahami usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi kondisi stres yang muncul. c. Bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan tentang para penderita HIV/AIDS sehingga dapat memahami keadaan orang yang terinfeksi HIV/AIDS.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Coping Stres 1. Pengertian stres Secara umum stres adalah reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang merasakan ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut (Cranwell- ward dalam Iswinarti dan Haditono,1999) Pendapat ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Novaco (1994), dkk bahwa stres muncul pada saat terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan kemampuan individu untuk melakukan respon yang adekuat terhadap tuntutan tersebut. Tuntutan tersebut menurut Spielberger (dalam Spielberger & Sarason,1986) berasal dari lingkup eksternal yang mengenai seseorang, misalnya objek-objek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang berbahaya. Menurut Douglas (1991), stres terjadi ketika seseorang tidak dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh tekanan yang dialaminya. Tryer (1980) menyatakan bahwa stres yang terjadi dalam tubuh individu tergantung kemampuan penyesuaian diri yang dimiliki. Handoyo (2001) menyatakan bahwa stres pada tingkat tertentu merupakan stimulasi yang baik bagi seseorang untuk berkembang, namun apabila tingkatnya sangat tinggi 11

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 dan seseorang tidak mampu lagi menghadapinya, stres menjadi awal malapetaka. Bernard (dalam Handoyo,2001) membagi stres menjadi Eustress, yaitu stres yang memberi pengaruh ya ng baik, dan distress, yaitu stres yang memberi pengaruh yang menyakitkan. Pembagian ini senada dengan yang dikemukakan oleh Robbins (1989) dimana stres yang positif akan menawarkan perolehan yang potensial, dan sebaliknya, stres yang akan menyebabkan terganggunya produktifitas sehingga dapat mengganggu kehidupan seseorang. Stres muncul lantaran lingkungan memberikan stimulus yang negatif, sehingga timbullah perasaan takut, cemas dan marah, serta perasaan tidak mampu untuk menerima apa yang akan terjadi pada dirinya. Didalam menjalankan aktifitasnya, individu terkadang dihinggapi aneka macam perasaan yang membuat merasa tertekan. Bahkan terkadang individu merasa takut terhadap apa yang belum diketahuinya secara pasti dan jelas. Individu tersebut merasa takut gagal untuk melakukan suatu tindakan (Santrock, 1996). Hal, kejadian, peristiwa, orang keadaan dan lingkungan yang dirasa mengancam atau merugikan disebut stressor. Jika dipandang dari segi luar dan hal-hal yang menjadi sumber stres, stres dimengerti sebagai rangsangan (stimulus). Orang yang mengalami stres, dapat memusatkan perhatian pada tanggapan (response) terhadap hal-hal yang dinilai mendatangkan stres. Tanggapan orang terhadap sumber stres dapat mendatangkan stres.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Tanggapan orang terhadap sumber stres dapat menggejala pada psikologis dan fisiologis. Tanggapan itu disebut strain, yaitu tekanan atau tegangan. Kenyataannya orang yang mengalami stres secara psikologis menderita tekanan dan ketegangan yang membuat pola berpikir, emosi, dan perilakunya kacau, menjadi gugup dan gelisah (Santrock, 1996). Karakteristik lain, selain intensitas yang menjadikan suatu situasi, peristiwa lebih atau kurang menimbulkan stres adalah lamanya atau jangka waktu terjadinya penyebab stres tersebut, terduganya atau tidaknya suatu peristiwa, besar atau kecilnya kontrol seseorang atas peristiwa tersebut dan lamanya dampak peristiwa yang dirasakan oleh seseorang. Dari pandangan di atas, diketahui bahwa stres merupakan suatu bentuk respon yang muncul akibat hal tertentu, dimana seseorang tidak dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh tekanan yang dialaminya, yaitu adanya ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan seseorang. 2. Sumber stres Handoyo (2001) mengungkapkan adanya tiga unsur stres, yang pertama adalah Stressor, yaitu sumber stres yang menyangkut dirinya sendiri atau orang lain atau lingkungan hidup atau stimulus yang mendorong kebutuhan beradaptasi, yang kedua The Stressed Person, yaitu orang yang mengalami stres yang kemudian melakukan berbagai respon secara fisiologis maupun psikologis untuk mengalami stres, yang ketiga adalah Transaction,

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 yaitu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara orang yang sedang mengalami stres dengan keadaan yang penuh stres. Chider (1983) membagi karakteristik stimulus yang dapat menjadi stressor bagi individu: a. Berlebihan (overload) Sebuah stimulus dikatakan berlebihan ketika stimulus tersebut terjadi secara sangat intens sehingga sulit diadaptasi oleh individu. b. Konflik Konflik terjadi ketika stimulus secara simultan menimbulkan dua atau lebih kemungkinan respon yang ambigu, karena tidak memberikan pilihan yang tepat untuk dipilih. c. Tidak terkontrol Individu memiliki kecenderungan untuk memiliki kontrol atas hal- hal yang terjadi dalam hidup mereka, namun tidak semua kejadian disebabkan oleh perilaku atau kemauan individu tersebut. Handoyo (2001), menggolongkan sumber stres dapat dalam bentukbentuk: a. Krisis : yaitu perubahan/peristiwa yang timbul mendadak dan menggoncangkan keseimbangan seseorang diluar jangkauan daya penyesuaian sehari-hari. Misalnya: krisis di bidang usaha, hubungan keluarga dan sebagainya.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 b. Frustrasi :Frustrasi adalah kegagalan dalam usaha pemuasan kebutuhan-kebutuhan/dorongan naluri, sehingga timbul kekecewaan. Frutrasi timbul bila niat atau usaha seseorang terhalang oleh rintanganrintangan (dari luar: kelaparan, kemarau, kematian, dan sebagainya dan dari dalam: lelah, cacat mental, rasa rendah diri dan sebagainya) yang menghambat kemajuan suatu cita-cita yang hendak dicapainya. c. Konflik :Konflik adalah pertentangan antara 2 keinginan/dorongan yaitu antara kekuatan dorongan naluri dan kekuatan yang mengendalikan dorongan-dorongan naluri tersebut. Ada empat bentuk konflik berdasarkan nilai dari dorongan (Handoyo, 2001):ApproachApproach conflik, yaitu konflik yang dialami oleh seseorang yang harus memilih dua hal yang sama-sama diinginkan. AvoidanceAvoidance konflik, yaitu ketika seseorang harus memilih dua hal yang sama-sama tidak diinginkannya. Approach- Avoidance konflik terjadi saat satu hal memiliki suatu yang menarik sekaligus suatu yang tidak disukai. Double Approach- Avoidance, yaitu ketika seseorang menghadapi dua alternatif yang memiliki suatu yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan d. Tekanan :Stres dapat ditimbulkan tekanan yang berhubungan dengan tanggung jawab yang besar yang harus ditanggungnya. (Dari dalam diri sendiri: cita-cita, kepala keluarga, dan sebagainya dan dari luar:

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 istri yang terlalu menuntut, orangtua yang menginginkan anaknya berprestasi). Pada manusia, terdapat sembilan penyebab stres yang teratas (berikut nilainya), seperti terdapat dalam skala tingkat stres yang dikemukakan oleh Holmes dan Rayes (dalam Bootzin, loftus & Sajonc, 1983) adalah: a. Kematian pasangan (100) b. Perceraian (73) c. Perpisahan dalam perceraian (65) d. Dipenjara (63) e. Penyakit parah atau kecelakaan berat (53) f. Pernikahan (50) g. Kehilangan pekerjaan (47) h. Rekonsiliasi pernikahan (45) i. (45) Pensiun Semua penyebab stres tersebut, bila diperhatikan berhubungan dengan sebuah perubahan. Manusia dengan kemampuan berpikirnya, memandang perubahan tersebut sebagai suatu yang mengancam dan menimbulkan stres. Hal ini selanjutnya akan menimbulkan kebutuhan untuk beradaptasi, yaitu keinginan untuk mengatasi perubahan tersebut atau mempertahankan kondisi (yang dirasa nyaman) seperti sebelum terjadi perubahan. Seringkali seseorang cenderung untuk terus memikirkan perubahan tersebut, menyesali kejadian yang menyebabkan perubahan itu

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 atau khawatir tentang lebih banyak memungkinkan perubahan yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Bagaimanapun, stres telah ada sejak awal keberadaan species kita dan telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita tidak mungkin hidup tanpa stres, tapi kita juga harus belajar untuk hidup bersamanya. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penjabaran sebelumnya adalah bahwa sumber stres sering diartikan sebagai suatu jenis stimulus tertentu, baik bersifat fisik maupun psikologis, yang mengakibatkan suatu tuntutan atas diri kita yang mengancam kesejahteraan kita dan menuntut kita untuk beradaptasi dengan cara tertentu. Bentuk- bentuk sumber stres antara lain ada empat macam yaitu; krisis, frustrasi, konflik, dan tekanan. 3. Faktor yang mempengaruhi stres Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi apakah suatu stimulus dari lingkungan menyebabkan stres atau tidak bagi seseorang (Handoyo, 2001). a. Faktor pertama adalah proses penilaian kognitif, yaitu proses yang memungkinkan individu untuk mengevaluasi apakah stimulus yang diterimanya relevan dengan kemampuannya (Folkman dalam handoyo, 2001). Korshin (1976) menyatakan bahwa proses kognitif adala h proses mental dalam menilai stressor serta kemampuan diri untuk mengatasi stressor. Hal inilah yang menyebabkan adanya individual

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 differences dimana sesuatu yang dianggap sebagai sebuah stressor oleh seseorang individu belum tentu merupakan stressor bagi individu lain. b. Kedua adalah self control, faktor ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memberikan respon atas sebuah stimulus yang ia terima dari lingkungan. Lebih tepatnya, hal ini berhubungan dengan kemampuan penyesuaian diri. c. Yang ketiga adalah dukungan sosial yang menjadi bagian penting dalam upaya untuk menanggulangi stres. Dukungan sosial adalah sebagai kesenangan, bantuan, atau keterangan yang diterima seseorang melalui hubungan formal dangan yang lain atau kelompok (Suwarto, 1996).Selye (1976) memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi perasaan tertekan dan ketidakpuasan pada saat seseorang dihadapkan pada tekanan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi stres adalah penilaian kognitif, self control, dan dukungan sosial. 4. Reaksi terhadap Stres Munculnya stres akan menimbulkan konsekuensi tertentu pada seseorang secara umum, Luthans (1985) membagi reaksi terhadap stres menjadi tiga kategori.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 a. Deviasi Fisiologis Cox (dalam Handoyo, 2001) mengungkapkan bahwa stres dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan fisik yang berupa penyakit yang sudah diderita sebelumnya, atau menjadi memicu timbulnya penyakit tertentu. Costello (dalam Ariyani, 1998) membagi terganggunya pola-pola normal dari aktivitas fisiologis menjadi dua jenis, yaitu: 1) Simptom Otot Skeletal, meliputi ketegangan, kegoncangan, kelemahan, dan rasa sakit. 2) Simptom Organ Dalam, meliputi detak jantung yang semakin cepat, kencing berlebihan, sakit perut, nafas pendek-pendek. Sejalan dengan Costello et.al., Atkinson, dan Colleman (dalam Iswinarti & Haditono, 1999) merinci reaksi fisiologis ini melalui gejala fisik seperti pusing, sakit kepala, capai, lelah, sakit perut, mual- mual, berdebar-debar, dada sakit, dan keluar keringat dingin. Braham (dalam Handoyo, 2001) meringkas gejala stres dalam bentuk sulit tidur atau tidur tidak teratur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal, punggung terasa sakit, berubah selera makan, tekanan darah tinggi, atau serangan jantung, dan kehilangan energi.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 b. Deviasi Psikologis Secara garis besar, terganggunya fungsi psikologis dari individu yang menderita stres dapat dibagi dalam dua kategori: 1) Reaksi Emosional Menurut Braham (dalam Handoyo, 2001) individu yang mengalami stres biasanya menampakkan gejala seperti marahmarah, mudah tersinggung, dan terlalu sens itif, gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah- ubah, sedih, mudah menangis dan depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan bermusuhan serta kelesuan mental. Cox (dalam Handoyo, 2001) mendeskripsikan reaksi ini berupa kegelisahan, agresi, kelesua n, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran dan harga diri yang rendah. 2) Reaksi Kognitif Braham (dalam Handoyo, 2001) menyebut kategori ini sebagai gejala intelektual yang meliputi mudah lupa, kacau pikiran, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja. Menurut Cox (dalam Handoyo, 2001) konsekuensi kognitif ini berupa ketidakmampuan mengambil keputusan, kurangnya konsentrasi dan peka terhadap ancaman.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 c. Deviasi Perilaku Penyimpangan pada perilaku ini juga bisa dirinci dalam dua bagian, yaitu: 1) Perilaku Secara Personal Penyimpangan perilaku ini lebih tertuju pada diri individu secara pribadi. Cox (dalam Handoyo, 2001) melihat gejala peningkatan komsumsi alkohol dan rokok, tidak nafsu makan atau bahkan makan berlebihan, penyalahgunaan obat-obat, menurunnya semangat untuk berolahraga yang berakibat pada pola diet dan timbulnya beberapa penyakit. 2) Perilaku Secara Interpersonal Pada kategori ini, penyimpangan perilaku lebih mengarah pada hubungan individu dalam hubungan dengan orang lain. Braham (dalam Handoyo, 2001) menyebutkan adanya sikap acuh dan mendiamkan orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap orang lain, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup diri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain. Berdasarkan uraian di atas, maka ditarik sebuah sebuah kesimpulan bahwa reaksi stres adalah keadaan yang terjadi sebagai respon dari individu terhadap tuntutan lingkungan. Ada tiga jenis reaksi terhadap stres yaitu Fisiologi, Psikologi, dan Perilaku

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 5. Coping stres Lazarus (1984) menge mukakan suatu cara yang dilakukan untuk mengatasi situasi atau problem yang dianggap sebagai tantangan, ketidakadilan atau merugikan maupun sebagai ancaman disebut sebagai coping. Selain itu lazarus juga mendefinisikan coping adalah usaha yang berorientasi pada tindakan intrapsikis untuk mengendalikan atau menguasai, menerima, melemahkan serta memperkecil pengaruh lingkungan, tuntutan internal dan konflik tersebut melampaui kemampuan seseorang. Coping stres adalah cara yang digunakan individu dalam menghadapi atau mengatasi masalah dan juga merupakan usaha kognitif dan behavioral dari individu untuk memodifikasi, menahan atau menghilangkan stressor yang mengancam mereka. Ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan stres, individu akan mencoba beradaptasi, mekanisme coping dalam diri individu tersebut akan mulai berperan. Cara inilah yang menentukan besar kecilnya dampak stres tersebut. Usaha coping yang dilakukan, baik itu yang berfungsi untuk meredakan emosi maupun yang berfungsi untuk memecahkan masalah, pada dasarnya keduanya mengarah pada beberapa tujuan. Menurut Folkman dan Lazarus, (1984) tujuan umum dari coping adalah; mengurangi hal- hal yang membahayakan dari situasi dan kondisi lingkungan, menyesuaikan diri terhadap kejadian-kejadian negatif yang dijumpai dalam kehidupan nyata, mempertahankan citra diri yang positif, mempertahankan keseimbangan emosional serta meneruskan hubungan yang memuaskan bagi orang lain.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Mekanisme coping akan segera berperan ketika individu mulai mencoba beradaptasi terhadap situasi yang menimbulkan stres. Selye (dalam Passer dan Smith, 2004), mengemukakan mengenai tiga fase coping terhadap rangsangan dalam diri manusia, yaitu: a. Fase Alarm Ketika suatu kejadian yang tidak biasa muncul, keluaran (output) energi akan mengalami penurunan untuk jangka waktu yang pendek, yaitu ketika kejadian tersebut dicerna oleh pikiran seseorang. b. Fase Adaptasi Selanjutnya, keluaran energi tersebut meningkat melebihi batas normal, ketika seseorang berusaha mengatasi situasi tersebut, maka individu tersebut akan mengalami keterbangkitan yang semakin kuat. Respon adaptasi pada meliputi menghindar atau melarikan diri, melakukan perlawanan, supresi emosi, terpaku atau belajar. c. Fase Kelelahan Pada akhinya energi yang tersedia pada individu berkurang dan kemampuannya untuk berfungsi secara efektif menurun. Pada fase inilah ketegangan emosional dan fisik dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang lebih parah. Menurut pandangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi coping adalah usaha yang berorientasi pada tindakan intrapsikis untuk mengendalikan atau menguasai, menerima, melemahkan serta memperkecil pengaruh.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 6. Sumberdaya Coping Sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan stres secara efektif dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman (1984): a. Kesehatan dan Energi: suatu yang memungkinkan individu tetap bertahan pada tahap resistensi yang merupakan Coping Stage, tanpa memasuki tahap kelelahan. b. Keyakinan yang positif dapat berupa self-image dan sikap ya ng positif, yang akan memungkinkan seseorang memikirkan strategi terbaik yang akan ditempuhnya. c. Internal locus of control yaitu suatu perasaan bahwa seseorang memiliki kontrol yang signifikan terhadap berbagai kejadian dalam hidupnya. d. Kemampuan sosia lnya berguna untuk mengetahui perilaku yang sesuai bagi situasi tertentu, mampu mengekspresikan diri dan selalu memiliki simpanan atau sumber topik pembicaraan. e. Dukungan sosial: orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman dapat membantu dengan ikut memastikan bahwa seseorang yang mengalami stres tetap menjaga kesehatannya, menjadi pendengar yang baik bagi mereka, menemani dan meyakinkan bahwa mereka sangat berarti dan memberi dukungan psikologis lain. f. Sumberdaya material: dapat berupa uang yang dapat meningkatkan jumlah pilihan yang tersedia untuk mengurangi sumber stres.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Seorang pakar dalam management stres, dr. Donald Tubesing (dalam Ulery, 2000), mengemukakan empat ketrampilan yang harus dikuasai dalam mengelola stres, yaitu: a. Self-care skills Ketrampilan ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan seseorang terhadap atau bagi dirinya sendiri yang membawa kebaikan baginya. Secara umum, semakin baik kondisi fisik seseorang, semakin besar peluangnya untuk menangkis dan menangani stres yang datang, dan semakin cepat ia pulih dari stres yang dialaminya. Kesehatan yang baik sangat berpengaruh secara positif terhadap sikap, tingkat energi, kemampuan berpikir, self-image dan sistem kekebalannya. Beberapa ketrampilan yang mendukung dan kesehatan yang baik antara lain olahraga, pengaturan berat badan, pola makan yang sehat, dan istirahat. b. Personal management skills Kategori ini mencakup ketrampilan dalam hal penetapan tujuan, perencanaan, pengaturan waktu, menetapkan tahapan aktifitas sesuai kondisi pribadi dan klarifikasi nilai- nilai serta prioritas pribadi. Ketrampilan pengelolaan pribadi ini sangat tidak ternilai dalam memberikan seseorang perasaan bermakna dan arah dalam hidupnya. Kejelasan dalam nilai- nilai dan kemampuan management waktu membantu seseorang membuat prioritas tentang apa yang penting dan membantu mereka untuk memahami cara yang terbaik memanfaatkan waktu dalam memenuhi tujuan.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 c. Attitude skills Cara seseorang memandang sesuatu dapat mempengaruhi tingkat stresnya. Hubungan ilmiah antara sikap yang positif dan kesehatan yang baik, termasuk sistem kekebalan yang berfungsi baik, tidak dapat menaruh harapan yang realistis, mengkaji ulang pikiranpikiran negatif menjadi lebih positif, keyakinan dan rasa humor. Aktifitas spiritual juga dapat memanfaatkan iman, rasa syukur yang positif. Persekutuan, pelayanan dan perspektif positifnya mengenai pengalamannya. d. Relationship skills Memiliki hubungan yang positif dengan orang yang bersedia mendengarkan, ketimbang menceramahi, memberi peluang untuk melepaskan, menikmati dan beristirahat dari stres dan ketegangan yang dialami sehari- hari. Ketrampilan yang baik dalam menjalin hubungan harus bersifat dua arah. Seorang seyogyanya tidak hanya berbicara, tapi juga mendengarkan yang lain. e. Network skills Network skills merupakan ketrampilan untuk menggunakan suatu sistem untuk memperoleh bantuan dalam mengelola stres. Terkadang seseorang perlu berpaling pada sebuah lembaga atau institusi untuk memperoleh bantuan. Misalnya lembaga konseling, gereja atau bahkan lembaga hukum.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Berdasarkan penjabaran sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa sumberdaya coping adalah sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan stres secara efektif yang dipergunakan untuk meminimalkan mengurangi hal-hal yang membahayakan dari situasi dan kondisi lingkungan, menyesuaikan diri terhadap kejadian-kejadian negatif yang dijumpai dalam kehidupan nyata, mempertahankan citra diri yang positif, mempertahankan keseimbangan emosional serta meneruskan hubungan yang memuaskan bagi orang lain. 7. Strategi Coping Stres Sejumlah peneliti mengatakan bahwa respon coping yang diberikan individu memegang peran yang sangat penting dalam menentukan makna dan pengaruh dari kejadian-kejadian dalam hidupnya yang dapat menimbulkan stres. Salah seorang ahli, yaitu Folkman dan Lazarus, (1984) mengemukakan pentingnya mempelajari peran individu dalam menilai stressor, dan bagaimana individu tersebut aktif bertahan untuk melawan ancaman atau bahaya yang diasosiasikan dengan stressor. Selain itu Klauer dan Filipp (dalam Schwarzer, 1989) mengidentifikasikan lima strategi coping yang digunakan sebagai dimensi dalam sebuah analisis fakor: (1) Mencari integrasi sosial, (2) refleksi atau mediasi, (3) meminimalkan ancaman, (4) berpaling pada agama, (5) mencari informasi. Carver, Sceiser, dan Weintraub (dalam Buari, 2000) menggolongkan srtategi coping menjadi tigabelas bentuk yang terdiri atas lima

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 bentuk strategi coping yang tergolong dalam Problem Focused Coping (PFC) dan delapan bentuk strategi coping yang tergolong dalam Emotion Focused Coping (EFC). a. Problem-Focused Coping: yaitu strategi ya ng mencoba untuk menghadapi dan menangani langsung tuntutan dari situasi atau upaya untuk mengubah situasi tersebut strategi yang tergolong dalam Problem Focused Coping meliputi: 1) Active coping atau coping aktif, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya langkah nyata yang dilakukan individu untuk menyelesaikan atau menghadapi masalah, berjuang untuk menyelesaikan masalah serta adanya keputusan untuk mengambil langkah yang bijaksana sebagai pemecahan masalah. 2) Planning atau membuat perencanaan, merupakan bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha untuk memikirkan cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi stressor atau dapat juga berupa usaha untuk membuat rencana penyelesaian masalah. 3) Suppression of competing activities atau menekan aktifitas tandingan, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha individu untuk mengurangi perhatian dari aktivitas lain sehingga individu dapat lebih memfokuskan diri pada permasalahan yang sedang dihadapi. 4) Restraint coping atau menunggu waktu yang tepat untuk bertindak, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dengan usaha individu untuk menunggu waktu dan kesempatan yang tepat untuk bertindak. Individu berusaha untuk menahan diri dan tidak tergesa- gesa dalam bertindak. 5) Seeking social support for instrumental reason atau mencari dukungan sosial untuk alasan instrumental, merupakan salah satu bentuk coping yang terwujud dalam usaha individu untuk mencari saran, bantuan dan informasi dari orang lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. b. Emotion-focused coping: dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Strategi yang tergolong dalam Emotion-focused coping meliputi: 1) Seeking social support for emotional reason atau mencari dukungan sosial untuk alasan emosional, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha individu untuk mencari dukungan moral, simpati dan pemahaman dari orang lain. 2) Positive reinterpretation atau penilaian kembali secara positif, ditandai dengan adanya usaha untuk memaknai semua kejadian yang dialami sebagai suatu kenyataan ya ng harus dihadapi. 3) Acceptance atau penerimaan, diartikan sebagai adanya sikap untuk menerima kejadian dan peristiwa sebagai suatu kenyataan yang harus dihadapi.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 4) Denial atau penyangkalan, merupakan usaha individu untuk menolak atau menyangkal kejadian sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi. 5) Turning to religion atau berpaling pada agama, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai oleh adanya usaha untuk mencari kenyamanan dan rasa aman dengan cara berpaling pada agama. Biasanya diwujudkan dalam doa, meminta bantuan pada Tuhan dan adanya sikap pasrah pada Tuhan. 6) Focusing on and venting emotions atau berfokus pada emosi dan penyaluran emosi, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha untuk meningkatkan kesadaran akan adanya tekanan emosional dan secara bersamaan melakukan upaya untuk menyalurkan atau meluapkan perasaan tersebut. 7) Behavioral disengagement atau pelepasan secara perilaku, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya penurunan usaha untuk menghadapi stressor (menyerah pada situasi yang dialami). Bentuk coping ini juga dikenal dengan istilah putus asa. 8) Mental Disengagement atau pelepasan secara mental, merupakan usaha individu untuk mengalihkan perhatian dari permasalahan yang dialami dengan melakukan aktivitas lain seperti berkhayal atau tidur.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Lazarus dan Folkman, (1984) lebih mengembangkan aspek strategi coping tersebut menjadi: 1) Cautiousness atau kehati- hatian, yaitu strategi yang mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah dan selali bersikap hati-hati sebelum bertindak. 2) Instrumental Action merupakan bentuk strategi yang selalu membuat perencanaan penyelesaian secara logis. 3) Negotiation adalah bentuk strategi yang mencoba menyelesaikan masalahnya dengan cara melakukan pendekatan terhadap sumber masalah. 4) Escapism atau pelarian dari masalah adalah bentuk strategi yang selalu menghindari masalah dengan cara berkhayal, makan, minum- minuman dan merokok. 5) Minimisation atau menganggap kecil adalah bent uk strategi yang menganggap bahwa masalah itu tidak ada. 6) Self blame atau menyalahkan diri sendiri adalah bentuk strategi yang menyalahkan dan menghukum diri sendiri serta menyesali apa yang sudah terjadi. 7) Seeking meaning atau pencarian makna kegagala n yang dialaminya bagi dirinya serta melihat segi-segi yang penting dalam kehidupan, seperti mencoba untuk menemukan jawaban masalah melalui kepercayaan yang dianutnya.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penjabaran sebelumnya adalah strategi coping yang dipakai dalam penelitian ini adalah strategi coping yang dikemukakan oleh Carver, Sceiser, dan Weintraub yang mengelola stres ke dalam dua kelompok besar seperti Problem-Focused Coping, dan Emotion-Focused Coping. 8. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Stres Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik atau energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi seperti yang dikemukakan passer & Smith (2004). a. Kesehatan Fisik Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar b. Keyakinan atau pandangan positif Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe yaitu: problem-solving focused coping c. Keterampilan Memecahkan masalah

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat. d. Keterampilan sosial Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. e. Dukungan sosial Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. f. Materi Dukungan ini meliputi sumber daya daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli. Berdasarkan beberapa kategori strategi coping yang dikemukakan di atas, terlihat bahwa sesungguhnya usaha coping yang dilakukan tidak harus selalu mengarah pada penyelesaian masalah secara tuntas. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana dengan usaha coping yang dilakukan individu dalam menghadapi stres, individu tersebut dapat bertahan untuk tidak terlalu larut

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dalam masalah yang dihadapinya, maka penelitian ini akan memakai salah satu strategi coping dari penelitian Carver, Sceiser, dan Weintraub. B. Penderita HIV/AIDS 1. Pengertian HIV/AIDS Perjalanan kasus HIV/AIDS pertama kali terjadi sekitar tahun 1981 oleh ahli kesehatan di kota Los Angeles, Amerika Serikat (Kompas 23 Mei 2003). Ketika sedang melakukan sebuah penelitian kasus seri terhadap empat pemuda/mahasiswa. Ternyata dalam tubuh keempat pemuda tadi ditemukan penyakit phenumonia yang disertai dengan penurunan kekebalan tubuh (Imunitas). AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah Sindrom Cacat Kekebalan Dapatan, artinya cacat kekebalan tubuh akibat suatu penyakit yang didapat dalam perjalanan hidup penderita (Pelkesi, 1995). AIDS adalah sejenis penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh disebabkan oleh jenis virus yang khas untuk penyakit ini. Penyakit ini bukan sejenis penyakit keturunan yang diwariskan dari orangtua pada anak-anaknya melainkan penyakit yang didapat dalam perjalanan hidup seseorang. Akibat penurunan daya tahan tubuh penderita, maka berbagai kuman dan jazad renik, yang dalam keadaan normal dapat ditahan dengan baik, akan menyerbu ke dalam darah dan jaringanjaringan tubuh penderita tersebut.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Kuman-kuman tersebut dikatakan bersifat “opportunistic” karena mereka memanfaatkan kesempatan yang terbuka untuk menyerbu dan berkembang biak. Beberapa sel abnormal (kanker) memanfaatkan pula kesempatan tersebut untuk memperbanyak diri dan menyebabkan kanker. Manifestasi klinis penyakit ini bukan merupakan gejala gangguan sistem kekebalan tubuh itu sendiri melainkan gejala penyakit infeksi dan kanker oportunistis tersebut yang akan menimbulkan kumpulan gejala klinis (sindrom) yang menentukan tingkat keparahan penyakit AIDS. Montagnier (dalam Rasad.1987) mengungkapkan bahwa jarang sekali terjadi bahwa suatu kejadian telah menarik perhatian media penerbit sedemikian besarnya seperti pada AIDS. Dengan arti yang lain, sebelum orang menderita AIDS, tubuhnya terlebih dahulu telah terjadi kerusakan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya kerusakan sistem kekebalan tubuh ini, penderita akan menjadi peka terhadap infeksi termasuk kuman yang dalam keadaan normal sebenarnya tidak berbahaya. Pengidap AIDS sebagian besar penderita sebelumnya terinfeksi virus HIV. Penyakit ini merupakan penyakit kedua yang menyebabkan kematian pada pria kelompok usia 25 sampai 44 tahun (Rachimhadhi, 1996:24) Gejala penyakit penderita AIDS mirip dengan penyakit biasa seperti demam, bronchitis, dan flu. Akan tetapi, pada penyakit ini biasanya lebih parah dan berlangsung pada waktu yang lama. Richardson mengemukakan gejala umum AIDS mencakup hal sebagai berikut:

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 a. Kelelahan yang sangat, yang berlangsung selama beberapa minggu tanpa sebab yang jelas. b. Demam tanpa sebab yang jelas, menggigil kedinginan atau berkeringat berlebihan di malam hari, berlangsung beberapa minggu. c. Hilangnya berat badan lebih dari lima kg dalam waktu kurang dari dua bulan. d. Pembengkakan kelenjar, terutama di leher atau ketiak. e. Sariawan atau terdapat sejenis bisul dan luka bernanah di mulut atau tenggorokan. Sariawan adalah sejenis infeksi yang umumnya terjadi di vagina, mengakibatkan keluarnya cairan berwarna putih yang mengganggu. Pada lelaki, jamur ini mungkin timbul berupa bintikbintik putih yang mengganggu di ujung penis atau munculnya kotoran putih yang keluar dari anus. f. Diare terus-menerus. g. Nafas menjadi pendek, lambat laun menjadi buruk setelah beberapa minggu, disertai batuk kering yang tidak diakibatkan oleh rokok dan berlangsung lebih lama daripada batuk karena flu berat. h. Bisul atau jerawat baru, berwarna merah muda atau ungu, biasanya tidak sakit, muncul di kulit bagian mana saja, termasuk di mulut atau kelopak mata. Dalam banyak kasus luka- luka tersebut dapat juga timbul organ bagian dalam seperti selaput paru-paru, usus, atau anus. Awalnya, luka-luka itu tampak seperti luka melepuh berdarah atau memar, tetapi tidak memucat jika

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 ditekan dan tidak hilang. Biasanya luka melepuh ini adalah salah satu bentuk kanker kulit yang dikenal dengan leaposis sarcoma. Untuk beberapa alasan yang tidak sepenuhnya dipahami, kanker ini bukanlah gejala umum pada perempuan yang menderita AIDS. Human Immunadeficiency Virus (HIV) yaitu suatu virus menyerang sistem kekebalan tubuh (Richardson, 2002 : 1). Jika sistem kekebalan tubuh rusak, tubuh menjadi rentan terhadap infeksi dan kanker, apabila sistem kekebalan tubuhnya baik dapat menangkis penyakit tersebut. HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok sel darah putih tertentu yaitu sel T – helper, sel ini berperan penting pada pencegahan infeksi. HIV tidak hanya merusak sistem kekebalan tubuh saja, tetapi juga merusak otak dan sistem saraf pusat. Virus ini akan diderita seumur hidup oleh si penderita dan sangat mudah menular melalui berbagai macam cara, yaitu hubungan heteroseksual, entah dari laki- laki ataupun dari perempuan (Richardson, 2002). Selain melalui jarum suntik, perempuan yang terinfeksi HIV juga dapat menularkannya pada anak-anak selama kehamilannya. Hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua orang yang terinfeksi HIV langsung menunjukkan gejala klinik, bahkan si penderita virus tersebut tidak mengetahui, apalagi keluarga maupun lingkungannya dia tinggal. Bisa dibayangkan penularan virus ini akan berkembang dengan pesat. Untuk mengetahui terinfeksi HIV diperlukan uji klinis yang berulang untuk memastikan positif HIV. Di sisi lain, bila si pengidap HIV tersebut mengetahui uji klinisnya menunjukkan bahwa

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 dia reaktif, dia tidak mau memberitahukan kepada orang lain termasuk orang terdekat, karena dia tidak mau dikucilkan atau tidak diterima oleh keluarga dan masyarakat. HIV merupakan virus penyebab AIDS, namun tidak semua penderita akhirnya mengidap AIDS, berdasarkan studi yang pertama menunjukkan, sekitar satu dari sepuluh orang yang tertular virus ini akhir nya menderita AIDS. Berdasarkan studi tentang penyakit ini, dalam tujuh tahun studi terakhir menunjukkan bahwa 30% orang yang terinfeksi HIV akan terjangkit AIDS karena waktu antara infeksi dan munculnya gejala memakan waktu beberapa tahun, maka waktu pun akan memperlihatkan bahwa angka 30% juga terlalu rendah (Richardson, 2002) 2. Penularan virus HIV/AIDS Dalam penularan atau transmisi pengidap AIDS disebabkan oleh berbagai faktor seperti yang dikemukakan pelkesi (1995). Faktor- faktor transmisi tersebut antara lain: a. Penularan seksual Cara hubungan seksual ono-genital merupakan perilaku seksual yang beresiko tinggi bagi penularan HIV, oleh karena mukosa rectum sangat tipis dan mudah sekali mengalami perlukaan saat melakukan hubungan seksual secara ono-genital. Dari perhitungan statistik, resiko tertular HIV melalui hubungan seksual 0.1% - 1%. Hal yang menarik perhatian adalah kemungkinan penularan yang dilakukan, artinya ada yang baru beberapa kali saja dengan pengidap HIV telah dapat tertular.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 b. Penularan non-seksual 1) Penularan pasental : yaitu suatu penularan melalui darah atau produk darah yang tercemar HIV. Artinya jika darah orang yang terjangkit HIV itu masuk ke dalam darah orang normal bisa melalui jarum yang tidak steril ataupun bergantian jarum suntik dari pengguna narkotika, maka akan mudah sekali terinfeksi. 2) Penularan transpasental yaitu penularan dari ibu hamil mengidap HIV kepada bayi kandungannya. Bayi itu kesakitan ketika masih dalam kandungan atau ketika sedang dilahirkan. Ada juga resiko tertentu penularan melalui pemberian air susu ibu. Segera setelah HIV memasuki tubuh seseorang, maka orang tersebut berpotensi menularkan HIV kepada orang lain. Beberapa kelompok orang yang beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS antara lain: a. Mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual (homo dan heteroseksual) seperti wanita tuna susila, mucikari, kelompak homoseks, biseks, dan waria. b. Penerima transfusi darah dari darah seseorang yang sebelumnya sudah terinfeksi HIV. c. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena virus HIV. d. Pecandu narkotik suntikan yang dipakai secara bersamaan dan tidak disterilkan lebih dahulu.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 e. Orang yang menggunakan jasa dengan alat tusuk seperti akupuntur, tato, tindik yang dipakai orang yang telah terinfeksi HIV. f. Pasangan dari pengidap AIDS yang menularkan pada pasangannya. g. Remaja yang melakukan free seks dan kurang memperhatikan kesehatan dan keamanan, sehingga kemungkinan remaja tertular HIV lebih besar. 3. Dampak yang dialami pengidap HIV/AIDS HIV dan AIDS memunculkan berbagai masalah pribadi dan pertanyaan yang sulit terjawab, seperti soal perjalanan penyakit, perubahanperubahan yang terjadi karena status HIV, kesehatan yang menurun karena sistem imun yang buruk, keuangan, kematian, dan lain- lain. Dan ditambah lagi prasangka buruk yang muncul dari lingkungannya membuat mereka merasa tertekan. Individu yang tidak memahami bagaimana penyebaran HIV mungkin akan mendiskriminasikan orang yang hidup dengan HIV. Mereka mungkin akan memperlakukan penderita HIV itu dengan tidak adil karena takut tertular virus mematikan itu. Namun bagi penderita HIV, menerima kenyataan bahwa dirinya telah terinfeksi HIV positif merupakan hukuman mati (Wicaksono,2005). Di samping perekonomian mereka yang ikut terpengaruhi oleh biaya pengobatan dan harga obat-obatan yang mahal, mereka mengalami gangguan relasi karena seringkali mendapat komentar-komentar dari lingkungan yang mengabaikan perasaannya dan penolakan dari lingkungan yang mereka tinggali.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 4. Reaksi Terhadap Sumber Stres Saat seseorang mulai dinyatakan mengidap HIV/AIDS, mereka langsung mengalami kemerosotan fisik dan mentalnya, karena sampai saat ini masyarakat masih menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang negatif karena telah melanggar aturan, moral, agama dan sosial, serta memandang penyakit ini adalah mencacatkan, berjangkit, membawa maut dan dipandang hina oleh masyarakat (Aishah, jurnal psikologi 16:75). Mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu keadaan terminal. Kenyataan ini akan memunculkan perasaan terkejut, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut sebagai reaksi awal terhadap perubahan situasi yang tiba-tiba. Status ODHA dapat menimbulkan kecemasan dan depresi. Mungkin disertai pula gagasan bunuh diri, gangguan tidur, dan sebagainya. Gejalagejalanya seperti tidak bergairah hidup, putus asa, merasa tidak berguna, dan merasa tidak tertolong lagi. Hal-hal yang menjadi masalah biasanya adalah rasa takut dan marah, hilangnya rasa otonomi, serta berkurangnya nilai-nilai sebagai manusia dapat muncul pada seorang ODHA. Hal ini dapat terjadi bahkan sebelum berkembangnya penyakit HIV menjadi AIDS, karena adanya pengalaman mereka dalam menyaksikan pasangan, teman atau keluarga mereka yang meninggal karena AIDS (Wicaksono,2005).

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 C. Coping Stres pada Penderita HIV/AIDS Saat ini jumlah individu yang terinfeksi HIV atau Odha (Orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia sudah semakin meningkat karena itu diperlukan penanganan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang muncul. Mengetahui telah terinfeksi virus yang belum ditemukan obatnya tentu saja menimbulkan beban bagi Odha. Harga obat-obatan yang mahal, perjalanan penyakit yang terkadang membaik dan terkadang memburuk serta sikap masyarakat yang diskriminatif membuat stres yang dialami Odha semakin berat (Wicaksono, 2005). Sumber stres dan perubahan-perubahan yang terjadi saat mereka menyandang status HIV tersebut akan membuat mereka melakukan penyesuaian diri agar mereka dapat beradaptasi terhadap tuntutan yang baru untuk mencapai kondisi yang nyaman. Berdasarkan hal tersebut ODHA dituntut untuk mempunyai ketrampilan dalam mengolah stres akibat status ODHA (coping stres). Faktor yang banyak berperan dalam strategi coping stres adalah dukungan sosial, karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melihat strategi coping yang dilakukan Odha untuk menangani stres (Richardson, 2002). Strategi coping sendiri menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Selye, 1976). Strategi yang dipakai oleh penderita HIV/AIDS sangat beragam, ODHA seringkali mencari dukungan moral dari orang yang mengalami pengalaman yang sama, mereka melakukan kegiatan yang dapat digunakan sebagai pengalih perhatian agar mereka tidak tertekan akan keadaan mereka. ODHA juga berlari kepada sikap pasrah terhadap Tuhan sebagai bentuk usaha mereka untuk menerima kondisinya. Hal itu dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan kepribadian dan pendidikan, dan pengalaman hidup seseorang (Klauer & Fillip). Namun hal tersebut tidak menjadi patokan karena secara umum penderita Odha mencari alternatif coping untuk melakukan mekanisme pertahanan diri terhadap penyakitnya.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Skema 2.1 skema coping stres ODHA (Orang dengan HIV/AIDS ) ? Sumber stres yang ditimbulkan: Kemerosotan fisik dan kesehatannya karena adanya penolakan dari lingkungan. Penurunan kondisi ekonomi karena biaya pengobatan yang mahal. Terganggunya relasi dengan orang lain karena mendapat prasangka buruk dari lingkungan. ? Respon Stres: Muncul perasaan terkejut, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut, kemerosotan fisik, gagasan bunuh diri, gangguan tidur, tidak bergairah hidup, putus asa, merasa tidak berguna, dan merasa tidak tertolong lagi. hilangnya rasa otonomi, serta berkurangnya nilai-nilai sebagai manusia. ? Odha melakukan Coping untuk mengatasi stres : a. Problem-Focused Coping b. Emotion-Focused Coping

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 D. Pertanyaan penelitian Penelitian ini, dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai strategi coping stres atau mengetahui upaya apa saja yang subyek lakukan untuk mengurangi dampak stres yang ditimbulkan dari status yang disandang subjek sebagai penderita HIV/AIDS.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti hanya melakukan analisis berdasarkan pemahaman tentang argumen maupun deskripsi yang diberikan oleh subyek penelitian tanpa melakukan pengukuran dengan angka-angka. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada dinamika dan proses. Penelitian ini merupakan penelitian dengan konteks alamiah yang memfokuskan pada variasi pengalaman subyek penelitian. Menurut Arikunto (dalam Rineka cipta, 1991), mengungkapkan bahwa penelitian kasus berisi tentang sebuah unit terpisah yang tunggal seperti sebuah keluarga, sebuah kelompok atau satuan rumah tangga. Studi kasus mencoba menggambarkan subyek penelitian di dalam keseluruhan tingkah laku, yakni tingkah laku itu sendiri beserta hal- hal yang melingkunginya, hubungan antara tingkah laku dengan riwayat timbulnya tingkah laku, demikian pula yang berkaitan dengan tingkah laku tersebut. Di dalam studi kasus, peneliti mencoba untuk mencermati individu atau sebuah unit secara mendalam. Peneliti mencoba menemukan semua variabel penting yang melatarbelakangi timbulnya serta perkembangan variabel tersebut. Manfaat dari studi kasus adalah adanya kemungkinan pandangan umum bahwa individu merupakan totalitas dengan lingkungannya. Bukan hanya perilaku yang diamati sekarang saja yang harus diinterpretasikan dari individu tetapi juga masa 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 lalunya, lingkungannya, emosinya, jalan pikirannya dan lain hal yang berhubungan dengan perilaku tersebut (Moelong, 2000). Menurut Patton ( dalam Purwandari, 1998 ), studi kasus sangat bermanfaat ketika peneliti merasa perlu memahami suatu kasus spesifik, orang – orang tertentu, kelompok dengan karakteristik tertentu, ataupun situasi unik secara mendalam. Desain studi kasus (case study) dengan pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, memungkinkan peneliti untuk menggali secara lebih mendalam keadaan, perasaan-perasaan, serta berbagai bentuk strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS. Strategi coping yang ingin diungkap adalah strategi coping yang digunakan subjek untuk menghadapi stres atau dampakdampak yang muncul saat subyek terinfeksi HIV/AIDS. B.Batasan Istilah Strategi coping yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala upaya yang dilakukan oleh subyek, baik secara psikologis maupun perilaku yang dimaksudkan untuk menguasai, toleransi, mengurangi atau meminimalkan stres pada orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Adapun macam- macam strategi coping yang digunakan subyek untuk mengatasi stres yang dialaminya, yaitu : a. Problem-Focused Coping: individu yang mencoba untuk menghadapi dan menangani langsung tuntutan dari situasi atau upaya untuk mengubah situasi tersebut

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 b. Emotion-focused coping: individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Strategi coping pada subyek dapat diketahui melalui pengambilan data yang berupa wawancara sesuai dengan guide yang telah disusun peneliti serta observasi dari perilaku subyek saat melakukan wawancara. C.Subyek Penelitian Penelitian kualitatif pengambilan sampel disesuaikan dengan tujuan penelitian. Ukuran sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian (Poerwandari, 1998) . Fenomena ODHA merupakan kelompok yang tepat untuk memperoleh gambaran coping yang digunakan oleh penderita HIV/AIDS untuk menguasai stres yang dialaminya. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS. 2. Kategori usia yang dipakai adalah sesuai dengan usia yang rawan terinfeksi HIV/AIDS, yaitu 20-28 tahun. 3. Subjek penelitian diperoleh peneliti secara personal dimana hubungan peneliti dengan subyek sangat dekat. Identitas subjek seperti nama, tempat tinggal, alamat asal, pekerjaan, nama orang tua, dan sebagian besar nama tokoh-tokoh yang banyak terkait dalam kehidupan subjek akan disamarkan untuk menjaga kerahasiaan subjek.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 D.Metode Pengumpulan Data Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 metode yang memungkinkan peneliti untuk mampu menggali secara lebih mendalam berbagai bentuk strategi coping stres yang digunakan oleh subjek yang telah terinfeksi HIV/AIDS. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan dengan maksud memperoleh pengetahuan tentang makna subyektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dalam Poerwandari,1998 ). Wawancara dilakukan secara langsung kepada orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS sebagai subyek penelitian untuk memperoleh keakuratan data sekaligus menjaga kerahasiaan subyek. Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah semi terstruktur, yang merupakan perpaduan antara wawancara terstruktur dengan wawancara non terstruktur. Wawancara dilakukan dengan menggunakan suatu panduan atau daftar pertanyaan yang akan diajukan dan dapat digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal dan berbeda dalam hal waktu bertanya dan cara memberi respon, yaitu jauh lebih bebas iramanya (Moelong, 2000).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Informasi yang ingin digali atau menjadi pedoman wawancara terhadap penderita HIV/AIDS dilakukan dengan menggunakan panduan pertanyaan, yaitu wawancara mengenai : a. Data pendahuluan yang meliputi; identitas subyek, sejarah terinfeksi, relasi subyek, dan kegiatan yang dilakukan sebelum dan sesudah subyek terinfeksi. b. Dampak yang dirasakan subjek saat menyandang status sebagai penderita HIV/AIDS sebagai sumber stres. c. Berbagai bentuk tindakan dan usaha apa saja yang dilakukan subyek dalam mengurangi stres yang dialaminya atau dampak stres saat subyek menyandang statusnya sebagai ODHA. Pedoman wawancara disusun berdasarkan aspek yang menjadi fokus dalam penelitian ini, seperti terdapat dalam tabel berikut: Tabel 3.1. Pedoman Wawancara 1. 2. Latar belakang subyek a. Identitas subyek (usia, pekerjaan subjek) b. Sejarah terinfeksi HIV/AIDS c. Bagaimana relasi subyek dalam keluarga d. Bagaimana pergaulan subyek. e. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan subyek sebelum dan sesudah subyek terinfeksi HIV/AIDS. Stresor atau dampak yang dialami subyek a. Bagaimana perasaan subyek saat mengetahui bahwa subyek terinfeksi HIV b. Bagaimana subyek memandang dirinya c. Apakah tes (status ODHA) yang dialaminya membawa perubahan bagi subyek (secara fisik, kesehatan, ekonomi), apa saja perubahan itu. d. Bagaimana sikap orang terhadap subyek atas peristiwa tersebut, bagaimanakah reaksi lingkungan yang terjadi pada teman atau keluarga. e. Dan lain- lain, misal: bagaimana subjek menanggapi reaksi dari lingkungan terhadap status subjek sebagai ODHA?

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 3. Strategi Coping stres a. Bagaimana subyek mengelola perasaan itu. b. Bagaimana cara subyek mengatasi permasalahan yang timbul akibat adanya status subyek sebagai ODHA. c. Mengapa subyek memilih cara tersebut. d. Apa saja yang dirasakan membantu atau menyulitkan dalam penanganan masalah tersebut. e. Bagaimana harapan dan keinginan subyek ke depan. Wawancara selain dilakukan terhadap subyek, penelitian juga dilakukan terhadap orang-orang yang dekat dengan subyek (significant others) yang mengetahui peristiwa yang dialami subyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang digunakan sebagai cross-check atas informasi yang telah diberikan subyek. Data-data dari informasi lain meliputi latar belakang subyek, kegiatan yang menjadi rutinitas subyek, perubahan yang sempat dialami subyek setelah menyandang status ODHA. E. Metode Analisis Data Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis thematic atas transkrip wawancara. Hasil dari analisis ini berupa tema-tema khusus yang mendiskripsikan tentang berbagai strategi coping yang dilakukan subyek, stres yang dialami subyek saat terinfeksi HIV/AIDS atau dampak stres yang muncul akibat status yang disandang subjek sebagai penderita HIV/AIDS. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut: 1. Organisasi Data Pengolahan dan analisis data sesungguhnya dimulai dengan meng- organisasikan data. Dengan data kualitatif yang sangat beragam dan banyak,

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menjadi kewajiban peneliti untuk mengorganisasikan datanya dengan rapi, sistematis dan memungkinkan selengkap peneliti mungkin. untuk; Organisasi memperoleh data kualitas yang data sistematis yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, menyimpan data analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian (Higlen dan Finley, 1996 dalam poerwandari,1998). Data-data yang akan diorganisasikan dalam penelitian ini antara lain; a.Data mentah (catatan lapangan, kaset, atau catatan hasil wawancara,). b.Data yang sudah diproses berupa (transkrip wawancara, catatan refleksi penelitian). c.Catatan pencarian dan penemuan yang disusun untuk memudahkan pencarian berbagai kategori data. d.Penjabaran kode dan kategori secara luas melalui skema. 2.Pengkodean (koding) Pengkodean dilakukan untuk mengorganisasikan dan menstimasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang pelajari (Poerwandari, 1998). Pengkodean yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengkodean terbuka (open coding) yaitu pengkodean yang berkaitan dengan pemberian nama dan pengelompokan fenomena melalui pemeriksaan data yang cermat. Pengkodean ini dilakukan dengan cara analisis baris per baris, per kalimat atau paragraf. Cara ini memerlukan pengujian frase demi frase dan bahkan terkadang kata demi kata (Strauss dan Cobin, 2003). Langkah- langkah yang dilakukan meliputi:

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 1. Menyusun transkrip wawancara, catatan lapangan atau observasi, dengan memberikan kolom kosong yang cukup di sebelah kanan atau kiri transkrip. Kolom ini digunakan untuk membubuhkan kode dan catatan-catatan tertentu di atas transkrip tersebut. 2. Memberikan penomoran secara urut pada baris transkrip wawancara, catatan lapangan. 3. Peneliti memberi nama untuk masing- masing berkas dengan kode tertentu yang dapat mewakili berkas tersebut. Terdapat tiga kode yang digunakan dalam penelitian ini. Terdapat tiga kode yang digunakan dalam penelitian ini : a. Pengkodean transkrip wawancara subjek, yaitu : Subjek ke:- , wawancara ke-, baris ke-, contoh :S1. W1. 9 (Subjek pertama, wawancara pertama baris 9). b. Pengkodean transkrip wawancara significant others, yaitu : subjek ke-, wawancara significant others ke-, baris ke-, contoh : S1. WSO1.6 (subjek pertama, wawancara significant others pertama, baris 6). c. Pengkodean observasi, yaitu : Observasi subjek ke-, observasi ke-, baris ke-, contoh : S1.O1.14 (observasi subjek pertama, observasi pertama, baris 14). Kode diberikan pada masing- masing tema yang muncul, yaitu meliputi bentuk strategi coping yang digunakan. Adapun kode-kode yang digunakan adalah sebagai berikut:

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Table 3.2. Bentuk Coping Stres BENTUK-BENTUK COPING STRES PFC Pfc.Ac Pfc.p Pfc.Sca Pfc. Rc Pfc. Scsir EFC Efc. Scser Efc.Pr Efc. A Efc. D Efc. Tr Efc. FoVe Efc. Bd Efc. Md Problem Focused Coping Problem Focused Coping. Active Coping Problem Focused Coping. Planiing Problem Focused Coping. Suppression of competing Activities Problem Focused Coping. Restraint coping Problem Focused Coping. Seekingsocial support for instrumental reason Emotional Focused Coping Emotional Focused Coping. Seekingsocial support for emotional reason Emotional Focused Coping.positive reinterpretation Emotional Focused Coping.Acceptance Emotional Focused Coping. Denial Emotional Focused Coping.Turning to religion Emotional Focused Coping.focusing on and venting emotions Emotional Focused Coping.Behavioral disengagement Emotional Focused Coping.Mental disengagement F. Pemeriksaan Kesahihan dan Keabsahan Data 1.Kredibilitas Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Konsep kredibilitas juga harus mampu mendemonstrasikan bahwa untuk memotret kompleksitas hubungan antar aspekaspek tersebut, penelitian dilakukan dengan cara tertentu yang menjamin bahwa subyek penelitian diidentifikasi dan dideskripsikan secara akurat. Stangle dan Sarantakos (dalam Poerwandari, 1998), menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif validitas dicoba dicapai tidak melalui manipulasi variabel, melainkan melalui orientasinya, dan upayanya mendalami dunia empiris, dengan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 menggunakan metode yang paling cocok untuk pengambilan data. Konsep yang dipakai adalah antara lain validitas kumulatif, validitas komunikatif, validitas argumentatif, dan validitas ekologis. Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi lain mengenai topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa. Validitas komunikatif dilakukan melalui dikonfirmasikannya kembali data dan analisisnya pada responden penelitian. Sedangkan validitas argument tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik rasionalnya serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali data mentah. Validitas ekologis menunjukkan pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi alamiah dan partisipan yang diteliti, sehingga justru kondisi “apa adanya” dan kehidupan sehari- hari menjadi konteks dalam penelitian. Lamnek (dalam Poerwandari, 1998) menyatakan penelitian kualitatif justru menampilkan kelebihan dibandingkan penelitian positivistik tradisional, sehingga dapat pula dikatakan menampilkan validitas yang lebih tinggi. 2. Triangulasi Merupakan teknis pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan suatu yang lain di luar data itu, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moelong, 2000). Patton dalam Poerwandari (1998) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, peneliti, teori dan metodologis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pemeriksaan data dengan data hasil dengan orang-orang terdekat subjek (ibu dan teman dekatnya). Dalam penelitian

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 ini, triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan informasi dari kedua metode pengumpulan data yang berbeda, yaitu wawancara dengan data hasil observasi. Berdasarkan penjabaran yang dikemukakan di atas, terlihat bahwa sesungguhnya ada hal penting yang dapat meningkatkan kredibilitas penelitian kualitatif adalah melakukan trianggulasi. Maka penelitian ini akan memakai trianggulasi sebagai upaya untuk mengambil informasi dari sumber data yang berbeda.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN A. Tahap Persiapan Penelitian Dalam penelitian ini, pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Langkah- langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut. Dalam persiapan, subyek penelitian dipilih berdasarkan kesesuaian pengalamannya dengan topik dan tujuan penelitian. Peneliti tidak melakukan pendekatan secara pribadi untuk membangun kedekatan dan kepercayaan karena hubunga n subyek dengan peneliti dapat dibilang baik. Informasi mengenai pengalaman tersebut dikonfirmasikan pada subyek melalui tatap muka. Pada kontak pertama peneliti mengutarakan sekilas maksud dari penelitian dan meminta kesediaan subyek untuk bertemu dan membicarakan topik penelitian yang akan dilakukan. Peneliti melakukan hal ini selain untuk mempermudah jalannya penelitian, juga karena hal yang diteliti merupakan hal yang relatif sensitif dan mendasar secara budaya sehingga kemungkinan subyek akan merasa el bih nyaman dan dapat bersikap terbuka jika mengenal peneliti lebih dahulu melalui beberapa pendekatan kepada subyek terlebih dahulu Pada tahap pelaksanaan penelitian, peneliti berusaha menjalin hubungan baik dengan subyek dan melakukan langkah- langkah sebagai berikut: 1. Memperkenalkan diri 2. Memberikan gambaran tentang maksud dan tujuan penelitian. 57

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 3. Peneliti menanyakan kesediaan calon subyek penelitian. Peneliti juga mengkonfirmasikan bahwa subyek berhak menentukan sendiri apakah identitasnya akan dirahasiakan atau tidak. 4. Menetapkan waktu dan tempat wawancara yang akan disesuaikan dengan kenyamanan subyek penelitian dan kemampuan peneliti. 5. Meminta kesediaan subyek untuk direkam (secara audio) selama proses wawancara dan mencatat hal- hal yang penting selama wawancara dan observasi berlangsung. B. Hasil Penelitian 1. Identitas Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada dua orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS. Identitas subyek penelitian sengaja disamarkan, hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan subyek. Table 4.1 Data Subyek Data Subyek Nama Usia Pendidikan terakhir Pekerjaan Tempat/tgl lahir Terinfeksi HIV sejak: Subyek 1 Subyek 2 IN 24 SMU Suplier sayur 13 juni 1983 November 2005 TN 23 SMU Mahasiswa 15 Mei 1984 Oktober 2005

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 2. Pelaksanaan dan Perolehan Data Pada bagian ini disajikan data-data yang diperoleh dari wawancara. Untuk mempermudah dalam menganalisis data, maka data yang disajikan ini sesuai dengan materi atau pokok permasalahan yang hendak dibahas. Subyek 1 (IN) Wawancara pokok terhadap subyek dilakukan dua kali dan bertempat di rumah subyek serta di salah satu tempat nongkrong yang digemari subyek. Wawancara dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 3 Juli 2007 dan hari sabtu, 7 juli 2007. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan observasi terhadap subyek untuk melihat perilaku-perilaku subyek yang tidak teramati dalam wawancara dan mendengarkan cerita subyek yang berkaitan dengan hal- hal yang akan diungkap. Berikut hasil wawancara berdasarkan pedoman wawancara umum : a. Latar Belakang Subyek 1 (IN) Subyek adalah seorang supplier sayuran di beberapa tempat perbelanjaan di Yogyakarta. Setiap harinya, subyek bekerja dari pukul lima pagi sampai siang hari untuk menyetor berbagai sayuran, kemudian di malam harinya subyek kembali bekerja di pasar untuk membeli sayuran yang diorder dari tampat perbelanjaan tersebut. Hal ini semata-mata dilakukan hanya untuk mencukupi kebutuhan subyek dan keluarganya. Subyek menikah di

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 usia yang relatif masih muda, hal itu disebabkan oleh kehamilan pacar subyek atas tindakan mereka melakukan hubungan seks sebelum menikah. Pertama kali subyek mengira bahwa dirinya mempunyai kemungkinan terinfeksi HIV/AIDS adalah saat BU (saudara ipar subyek) terdeteksi HIV positif atas penyakit yang sudah dideritanya selama dua bulan meninggal, subyek memerlukan lamanya. Baru setelah BU waktu tiga bulan untuk memutuskan melakukan tes darah untuk mengetahui apakah subyek juga mempunyai kemungkinan yang sama dengan BU. Lamanya waktu subyek memutuskan untuk melakukan tes darah dikarenakan subyek takut untuk menghadapi kenyataan tentang penyakit mematikan tersebut. Namun demikian karena adanya dorongan yang kuat dari diri subyek, maka subyek memberanikan diri untuk melakukan tes darah. Subyek sempat kaget dan depresi ketika hasil tes darahnya tahun 2005 dinyatakan positif mengandung antibody HIV. Pada awalnya subyek tidak mengira akan terinfeksi HIV karena selama subyek mengkomsumsi narkoba, subyek sangat selektif memilih rekan untuk bergantian alat suntik. Subyek selalu berhati- hati dalam menggunakan alat suntik yang dipakainya, akan tetapi apabila subyek teringat kembali dengan peristiwa yang menimpa BU, subyek akhirnya bisa menerima keadaannya.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Subyek memberanikan diri untuk memberitahu kondisinya kepada istrinya. Meskipun pada awalnya istrinya sempat kaget mendengarnya, namun istrinya kembali memberi dukungan kepada subyek. Subyek juga mempunyai prioritas unt uk mementingkan kelangsungan hidupnya dan keluarga subyek, dengan begitu sekarang menghabiskan waktunya dengan bekerja, mengurus anak dan keluarganya serta membangun kepercayaan dirinya lagi dengan berkumpul bersama teman-teman dari LSMnya. Di dalam keluarganya, subyek termasuk anak yang patuh terhadap orangtuanya khususnya ibu, karena ayah subyek sudah meninggal sejak subyek masih duduk di bangku TK. Dalam relasi di keluarganya pun subyek dikenal sebagai anak yang tidak pernah berperilaku negatif. Dalam pergaulannya dengan lingkungan sekitar tempat tinggal, subyek mengaku tidak terlalu dekat. Hal itu dikarenakan subyek bekerja menjadi supplier sejak subyek duduk di bangku SMU dan tinggal bersama saudara iparnya. Pertama kali subyek mengenal narkoba adalah saat saudara ipar subyek (BU) menjadi bandar narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. Saat itu subyek belum termotivasi untuk mencoba mengedar narkoba sampai suatu saat subyek terjepit oleh beban biaya yang ditanggung keluarganya. Subyek adalah bungsu dari

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 lima bersaudara, dan ibunya sangat membanting tulang agar dapat menghidupi seluruh anggota keluarganya. Faktor itulah yang membuat subyek mulai tergerak untuk menjadi pengedar narkoba. Selain itu, subyek mempunyai harapan agar bisa berdiri dengan kakinya sendiri dengan hasil yang didapatnya dari mengedar narkoba dan bekerja sebagai supplier. Pada awalnya, subyek merasa tidak tertarik untuk ikut mengkomsumsi narkoba yang diedarkan tersebut, namun karena bujukan dari saudara iparnya dan subyek tidak mau dianggap sok alim oleh teman-temannya. Di samping mudah didapat, narkoba yang tersisa dari hasil penjualan seringkali dibagikan pada pemuda di tempat tinggalnya. Selain masih aktif bersekolah, subyek juga aktif mengedarkan narkoba bersama saudara iparnya tersebut sehingga pendapatan dari hasil pengedaran obat tersebut dapat mencukupi kebutuhan sehari- hari subyek. Narkoba membuat subyek mengalami banyak perubahan di dalam aspek kehidupannya. Subyek mengakui bahwa ada perubahan pada dirinya sejak mengkomsumsi obat-obatan seperti adanya perubahan pada kepercayaan dirinya, subyek juga menjadi orang yang mudah bergaul.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Menginjak kelas tiga subyek mengalami kesulitan ekonomi dan suplai obat yang digunakannya untuk diedarkan dan dikomsumsinya sendiri lantaran saudara ipar subyek tertangkap polisi dan terbukti sedang membawa ganja. Dengan demikian subyek tidak bisa lagi mengkomsumsi obat-obatan. Tidak mudah bagi subyek untuk melakukan penyesuaian kembali untuk berhenti mengkomsumsi narkoba. Subyek mengalami kesulitan untuk menghilangkan kecanduannya terhadap narkoba dan hal itu membuat subyek sempat menjalani terapi untuk menghilangkan kecanduannya terhadap obat. Semenjak BU (saudara ipar) menjalani masa hukuman di LP Wirogunan, subyek tidak mempunyai kegiatan lain selain menyelesaikan sekolah dan bekerja sebagai supplier. Pergaulan subyek juga terbatas hanya pada orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya saja. Selang 1 tahun setelah BU (saudara ipar) subyek bebas dari tuntutan penjara, mengkomsumsi subyek narkoba tidak lantaran lagi mengedar subyek dan maupun BU telah berkomitmen untuk berubah dan menjalani kehidupan yang baru. Selain itu subyek juga berambisi untuk membangun keluarga dengan kekasihnya saat itu.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Setelah subyek mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HIV, kegiatan subyek menjadi berkurang. Subyek memprioritaskan pekerjaan dan keluarganya ketimbang main- main seperti saat subyek masih lajang dan sehat. b. Stressor atau Dampak yang dialami subyek. Stressor yang dialami subyek terkait dengan perubahan dalam aspek-aspek kehidupannya maupun relasinya. Saat subyek mulai dinyatakan mengidap HIV/AIDS, subyek langsung mengalami kemerosotan fisik dan mental,( Aishah, jurnal psikologi 16:75). Secara langsung HIV berdampak pada masalah kesehatan. Dalam hal ini subyek merasakan perubahan pada kesehatannya. Terutama saat subyek terlalu lelah dengan pekerjaannya atau sedang banyak pikiran, subyek langsung jatuh sakit. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Kalau fisik kayaknya tidak ya, dari dulu kurus terus mbak.. Tapi pas aku tahu kalau aku kena HIV, ngga tahu kenapa sekarang kalau tiap sakit pasti mikirnya gara-gara HIVnya..dulu aku jarang sakit lho mbak, tapi sekarang kalau capek sedikit pasti langsung sakit. Apalagi kalau lagi banyak pikiran..pasti langsung ngedrop(W1.S1. 255) Pernyataan lainnya, o..iya..ya itu mbak…kalau fisik sih enggak ya, tapi seperti aku bilang kemaren aku jadi gampang sakit aja(W2.S1. 7)

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Subyek juga merasa terbebani dengan kondisi dimana subyek selalu merepotkan orangtuanya untuk membiayai subyek berobat ke dokter, hal itu disebabkan penghasilan subyek selama ini selalu habis untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Seperti yang diungkapkannya, . .repot juga kan mbak kalau sering sakit trus mamah juga yang biasa keluar uang..nggak enak dong..(W1.S1. 263) Reaksi keluarga ternyata cukup menjadi hal yang menekan subyek. Subyek mendapatkan perubahan sikap dari istrinya yang ditunjukkan saat mengetahui bahwa subyek terinfeksi HIV. Hal ini dapat dilihat melalui pernyataan, Kaget lah mbak..berapa hari sejak dia ngerti, dia jadi agak pendiam..mungkin mikir ya..tapi habis itu dia biasa-biasa lagi, seperti nggak terjadi apa-apa, dia juga lantas nggak mbeda-mbedain atau bersikap aneh.(W1.S1. 235) Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa stressor atau dampak yang dialami subyek 1 terkait dengan adanya perubahan kesehatan yang ditandai dengan penurunan kekebalan tubuh khususnya apabila subyek sedang mengalami masalah sehingga subyek kerap kali terserang penyakit yangmana keadaan itu membuat keuangan subyek habis untuk biaya pengobatan dan kerap kali merepotkan ibunya untuk membiayai pengobatannya. Hal itu dikarenakan kondisi keuangan subyek habis dipergunakan untuk biaya pemenuhan kebutuhan keluarganya. Subyek juga

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 sempat mengalami reaksi penolakan yang dilakukan istrinya saat mengetahui bahwa subyek terinfeksi HIV. c. Reaksi Terhadap Sumber Stres Subyek sempat kaget dan merasa takut ketika subyek dinyatakan reaktif HIV oleh dokter. Kondisi subyek membuatnya tidak tahu bagaimana harus memberitahukan keluarganya khususnya istrinya mengenai kondisi subyek yang sebenarnya. Subyek lebih tertekan lagi apabila ibunya sampai tahu kalau ia terinfeksi HIV. Hal ini ditunjukkan oleh ceritanya , Sebenarnya aku nggak kuat setelah dengar hasil pemeriksaan yang dokter sampaikan.. Yang jelas aku syock lah mbak..kayak gimana sih mbak rasanya kalau divonis punyai penyakit yang mematikan.. aku langsung kepikiran mamah sama anak istriku..gimana nasibku nanti kalau aku juga kena? (W1.S1.207) Pernyataan lainnya, …..malem aku nggak bisa tidur..takut bayangannya BU.. (W2.S1. 139). udah gitu aku terus-terusan inget pas BU sakit kemaren itu, jadi takut sendiri kalau inget dia sakit sampai segitunya.(W2.S1. 126). Perubahan sikap subyek setelah mengetahui penyakitnya dirasakan juga oleh istrinya. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan istrinya saat dia mengetahui bahwa subyek telah terinfeksi HIV/AIDS. Hal ini dapat dilihat melalui pernyataan, Agak aneh..(WSO1. S1. 15)..dia diam saja, terus aku tanya juga dia malah mau nangis, aneh kok. Tak kirain dia lagi ada masalah di kerjaane ya udah tak diemin dulu. E, malah malam-malam dia pulang mabuk ya sudah kalau dia bikin masalah kayak gitu akhirnya malah

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 ribut. Nggak ngerti terus dia bilang kalau dia ketularan BU gitu (WSO1. S1. 19). Subyek berpikir Tuhan bertindak tidak adil terhadap hidupnya sehingga subyek harus merasa kecil dan takut dikucilkan oleh keluarga dan lingkungannya andai mereka tahu dengan penyakit yang dideritanya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan, Kalau dulu pasti mikirnya kenapa sih Tuhan nggak adil? Kenapa nggak orang lain aja yang posisinya kayak gini.. Apalagi kalau lagi kumpul ma keluarga atau temen..adalah perasaan berbeda, kadang ada perasaan takut dikucilkan kalau saja ada yang tahu..pokoknya serba nggak enak lah..(W1.S1. 269) Subyek kadang merasa menyesal telah melakukan tes VCT karena subyek merasa bersalah terhadap ibunya, selain itu subyek tidak bisa lagi hidup normal seperti sebelum subyek melakukan tes tersebut. situasi tersebut menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dengan status yang disandangnya, yakni sebagai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Hal ini ditunjukkan dari ungkapannya, Kalau sekarang mau menyesal sudah ngga ada gunanya..tapi aku jadi ngrasa bersalah aja ma mamahku.. kalau udah gitu kadang aku mikir mendingan kemaren nggak tes aja ya.. (W1.S1. 219) Pernyataan lainnya,

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Ya mungkin kalau aku tetep nggak tahu kalau aku kena HIV, mungkin aku bisa hidup normal..kayak dulu, jadi tetep kayak biasanya aja..nggak terlalu kepikiran dengan penyakit ini..(W1.S1. 223) Sehingga dalam relasinya, subyek merasa iri terhadap orang lain yang menurutnya sehat dan merasa minder bila bertemu dengan orang lain. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Kadang pas aku keluar juga atau lagi jalan sering apa ya..kayak merasa iri aja kenapa aku nggak bisa kayak mereka..sehat..nggak sakit apaapa..nggak punya beban apa-apa..normallah pokoknya.(W2.S1. 8) Pernyataan lainnya, Enggak ya kalau orang yang tahu terus menghindar..tapi aku yang malah jaga jarak (W2.S1. 159).kalau masalah enggak tapi kebanyakan ya dari aku sendiri, apalagi kalau dekat sama orang nanti aku sendiri yang akhirnya mikir yang macem-macem, gek -gek do ngrasani aku yo? padahal kan do ra ngerti nek aku ki asline keno.. .(W2.S1. 161) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan reaksi awal yang ditunjukkan subyek saat subyek menerima hasil tes VCT ditandai dengan perasaan kaget dan takut terhadap hasil yang diterimanya sehingga subyek merasa Tuhan menempatkannya dalam posisi yang tidak adil terhadap subyek, hal ini didukung dengan adanya perasaan tidak nyaman akibat statusnya sebagai ODHA.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Dalam relasi dengan keluarga, subyek mempunyai perasaan bersalahnya terhadap ibu dan keluarganya. Subyek juga mempunyai ketakutan apabila orang lain mengetahui kondisi subyek sebenarnya dan menaruh prasangka terhadap subyek. Dalam hal ini subyek juga merasa iri terhadap kondisi orang lain yang terlihat sehat. d. Strategi Coping stres yang digunakan subyek Pada subyek 1, untuk mengatasi stres saat pertama kali subyek menerima hasil dari tes darahnya, subyek cenderung melakukan strategi coping dalam beberapa cara, yaitu melakukan Emotion Focused Problem Behavioral Disangagement sebagai bentuk pelarian subyek dari masalah dengan cara menghabiskan sebagian waktunya untuk mabuk bersama teman sekerjanya. Dalam hal ini subyek takut berhadapan dengan keluarganya. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, …..aku langsung toying sama anak pasar..aku dah mentok bingungnya, mau ngapain sama diapain ni kepala (sambil meremas rambut). Disamping aku ngerasa amit-amit sama nasibnya BU, aku takut ngadepin keluargaku nanti .(W2.S1. 146) Pernyataan lainnya, Ada..minum ma anak-anak pasar…kalau enggak ya bareng temen LSM..si heri itu. Tapi ngga sampai mabuk banget koq.. .(W2.S1. 80)

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Pernyataan subyek di atas juga dilihat istrinya saat subyek melakukan strategi coping untuk mengurangi tekanan yang diakibatkan oleh status ODHA yang disandangnya. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Sekarang ngga pernah pulang rumah sini. Kalau kakaknya tak tanyain mesti jawabane bar mabuk ro Moko.gitu..ya udah to, dibiarkan saja, paling lagi ada masalah(WS01. S1. 28) Subyek melakukan coping Seeking social for emotional reason dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di LSM, yang dijadikan salah satu usahanya untuk merealisasikan kenyataan yang diterimanya sebagai ODHA. Hal itu dilakukan dengan berkumpul bersama dengan teman – teman di LSM. Upaya tersebut dilakukan untuk men-share-kan pengalaman mereka sebagai ODHA dan usaha mereka untuk menerima keadaan mereka sekarang ini. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Ya kumpul-kumpul bareng, curhat ma anak-anak, ikut event ma penyuluhan di daerah-daerah pelosok..semuanya biar kita nggak stres aja koq..dan yang penting itu bagaimana kita belajar menerima kenyataan yang ada..itu aja.(W2.S1.46) Pernyataan lainnya, Kalau enggak ya..kumpul aja ma temen-temen Kembang, kalau nggak curhat biasanya kan ada yang ceritanya lebih berat dari aku, dari situ aku bisa belajar nyantai.. .(W2.S1. 82)

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tindakan tersebut didukung oleh kegiatan subyek saat berkumpul dengan orang – orang LSM agar bisa membantunya untuk menambah semangat hidupnya. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Untungnya ada temen-temen yang senasib denganku, kalau udah kumpul sama mereka kan rasanya enak..kalau enggak ya cukup lihat vinsa aja..cuma dia kog yang buat aku semangat pengen sembuh..sembuh dari hongkong?...yaa paling enggak aku punya semangat hiduplah. .(W2.S1. 171) Pernyataan lainnya, o.. kalau itu ya wajar kan kalau kita pengen dukungan dari orang yang senasib kayak aku, kadang kalau aku lagi denger atau curhat sama temenku yang ceritanya lebih berat, bukannya tambah ngeri tapi aku jadi makin kuat aja, .(W2.S1. 185) Untuk mengatasi permasalahan yang timbul, subyek sendiri memilih untuk melakukan coping Turning to Religion dengan pasrah kepada Tuhan atas apa yang telah dialami subyek. Upaya tersebut dilakukannya karena subyek merasa hidupnya tinggal sebentar lagi. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Aku pasrah aja koq mbak..lha mau dibuat gimana lagi, semua orang pada dasarnya akan mati, cuma kapan ma caranya yang beda-beda kan?(W1.S1. 247) Kalau sekarang aku lebih banyak berdoa..pasrah sama yang gawe urip. .(W2.S1. 168) Pernyataan lainnya: Kenapa ya… tau-tau gitue mbak… biasanya kalau orang lagi susah baru inget sama Tuhan kan? Ya aku juga kay gitu..pas aku tahu kalau

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 jatah hidupku nggak panjang otomatis aku pengen deket Tuhan aja, takut nggak masuk sorga..he..he.(W2.S1. 179) Subyek juga melakukan coping mental Disengagement yang merupakan usaha subyek untuk mengalihkan perhatian dengan cara melakukan aktivitas seperti nonton TV. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, tapi kalau aku lagi pengen nggak diganggu ya paling cuma nonton TV tempat mamah..pokoknya asal ada TV ntar pasti ilang sendiri….(W2.S1. 175) Pernyataan subyek di atas dapat dilihat istrinya saat subyek mengambil tindakan menyendiri ketika subyek ingin memiliki waktunya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Dia kalau sudah gitu pasti lagi di rumah mamahe, main PS atau nonton apalah, aku yo masa harus nyusul tiap hari kan ngga pantes(WSO1. S1. 40). Untuk mengatasi ketakutan tersebut, subyek melakukan Problem Focused Coping Seeking social support for instrumental reasons dengan mencari dukungan dan saran dari teman sekerjanya yang sekaligus menjadi koselor visited di LSM kembang. Dari

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 temannya juga subyek mendapat informasi tentang LSM Kembang. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pernyataan, Aku juga nelpon Heri buat minta solusinya, kebetulan dia saat itu nyambi juga di Kembang trus ngajak aku maen ke LSMnya sekalian dikasih buku pasien berdaya judulnya, ya itu.. aku cari saran dari anakanak yang udah lama di sana trus baca-baca tentang AIDS. Sekarang lumayanlah.. .(W2.S1. 149) Pernyataan lainnya Yang pasti aku jadi lebih ngerti apa itu AIDS yang pertama..lalu, lamalama aku jadi lebih bisa nerima keadaanku sekarang ini, apalagi kalau lagi kumpul ma anak-anak Kembang (LSM) trus cerita tentang pengalaman mereka itu aku jadi lebih bisa bersyukur atas keadaanku ini. Ada juga yang kisahnya lebih ngenes dari aku lho…kalau udah gitu kita kan bisa mbantu yang lainnya juga..biasanya kalau yang pertama datang mukanya muka orang ngga ada harapan..haha..aku dulu mungkin kaya k gitu juga ya.. .(W2.S1. 35) Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan strategi Coping yang dipakai subyek meliputi; yang pertama secara Emotion Focused Problem yang meliputi behavioral disengagement atau pelepasan secara perilaku yang dapat ditunjukkan adanya perilaku mabuk pada subyek saat mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV/AIDS. Subyek juga melakukan coping turning to Religion dengan bersikap pasrah kepada Tuhan atas apa yang telah menimpanya. Selain dua hal di atas, subyek juga melakukan coping seeking social support for emotional reason atau biasa diartikan sebagai sikap mencari dukungan sosial untuk alasan emosional dengan berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman sama denga n subyek, terutama orang

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 yang terinfeksi HIV sebagai usaha subyek untuk mencari dukungan moral, simpati dan pemahaman dari orang lain, sehingga usaha ini dapat menjadi kekuatan bagi subyek. Subyek juga menggunakan coping mental disengagement saat subyek menemukan masalah, subyek tidak ingin diganggu oleh orang lain. Hal itu dapat ditunjukkan saat subyek hanya ingin menonton TV tanpa ada yang mengganggunya. Subyek juga memakai Problem Focused Coping yang dapat ditunjukkan saat subyek berusaha untuk mencari dukungan sosial untuk alasan instrumental seperti mencari informasi tentang HIV/AIDS dari LSM agar dapat digunakannya untuk mengetahui HIV/AIDS lebih dalam lagi. Subjek 2 (TN) Wawancara pokok terhadap sub yek dilakukan dua kali dan bertempat di rumah subyek. Wawancara dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 12 Juli 2007 pukul Pk 16.20 – 18. 45 WIB. Wawancara kedua dilaksanakan pada hari minggu, tanggal 15 Oktober 2007, hal itu dilakukan peneliti guna memperdalam lagi informasi yang diperoleh dari subyek 2. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan obervasi terhadap subjek untuk melihat perilaku-perilaku subjek yang tidak teramati dalam wawancara dan mendengarkan cerita

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 subjek yang berkaitan dengan hal akan diungkap. Berikut hasil wawancara berdasarkan pedoman wawancara umum : a. Latar Belakang Subyek 2 (TN) Subyek adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari keluarga yang harmonis. Saat ini subyek masih duduk di bangku perkuliahan di salah satu universitas swasta Yogyakarta. Sejarah subyek terinfeksi HIV bermula dari perkenalannya dengan pacar subyek (BU). Subyek lebih banyak menghabiskan waktunya dengan pacarnya. Aktivitas yang dilakukan subyek bersama pacarnya antara lain, mengunjungi objek wisata, mengikuti acara keluarga, dan mengikuti pacar subyek bekerja sebagai supplier. Kedekatan yang terjalin membuat subyek dan pacarnya melakukan hubungan intim sebelum mereka mempunyai ikatan. Subyek merasa yakin dengan hubungannya karena selama menjalin hubungan, pacar subyek menunjukkan kebaikannya. Subyek juga mengakui bahwa bahwa masa lalu pacarnya sebagai resedivis dan mantan pemakai narkoba tidak membuat niatnya untuk berhubungan menjadi masalah. Saat pacar subyek mulai sakit, subyek tidak pernah menyangka kalau sebenarnya pacarnya menderita HIV/AIDS. Sampai suatu kali pacarnya dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisinya sudah parah, barulah subyek me ngetahui

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 diagnosa dari dokter mengatakan bahwa pacar subyek terinfeksi HIV dari jarum suntik yang pernah dia pakai semasa pacar subyek manjadi bandar narkoba. Bersamaan saat pacar subyek menjalani rawat inap, subyek juga menjalani tes VCT atas permintaan dokter yang merawat pacar subyek untuk mengetahui apakah subyek mempunyai kemungkinan terinfeksi HIV, tes pertama dilakukan pada bulan juli, hasil yang didapat menunjukkan negatif. Selang dua bulan setelah pacar subyek meninggal, subyek memastikan lagi dan menjalani tes yang kedua dengan pertimbangan subyek masih dalam masa jendela. Hasil tes pada bulan oktober menunjukkan bahwa subyek juga terinfeksi HIV. Di dalam keluarga, subyek termasuk anak yang dibebaskan orangtuanya untuk melakukan apa yang dikehendakinya, namun hal itu harus disertai dengan tanggungjawab. Subyek paling dekat dengan ibunya karena dari kecil subyek merasa kebutuhannya selalu dipenuhi. Hal itu terlihat saat subyek selalu curhat pada ibunya. Berbeda dengan relasi subyek dengan ayahnya, subyek merasa tidak begitu akrab dengan ayahnya dan mengakui bahwa kedekatannya dengan ayahnya hanya sebatas saat subyek meminta uang saku saja. Subyek dapat dikatakan sebagai orang yang mau menjalin hubungan pertemanan dengan siapa saja. Subyek tidak membedabedakan dengan siapa dia akan berteman, tetapi subyek tetap

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 berhati- hati dengan lawan mainnya khususnya lelaki. Relasi subyek juga tampak dari kegemarannya melakukan aktifitas bersama teman kampusnya daripada teman di kampungnya. Saat subyek baru mengenal pacarnya, subyek lebih banyak menghabiskan waktu bersama pacarnya. Kedekatan subyek dengan keluarga pacarnya membuat keseharian subyek makin padat. Subyek sering mengikuti acara keluarga dan bersama pacar mengelola usaha supplier yang selama ini dijalankan pacar subyek. Selang berapa waktu rutinitas subyek dan pacarnya berubah setelah pacar subyek mulai bekerja di Surabaya, karena intensitas mereka bertemu menjadi jarang. Saat itu subyek melakukan rutinitas kuliah dan berkumpul dengan teman dan keluarga saja. Sampai saat pacar subyek mulai sakit dan memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta, subyek menemani dan merawat pacarnya karena orangtua pacar subyek sibuk bekerja. Selain kuliah, subyek menghabiskan waktunya untuk memberi dukunga n pada pacarnya sampai pacar subyek meninggal. Setelah adanya status ODHA, subyek mengakui tidak adanya semangat untuk hidup, subyek menghabiskan waktunya hanya di rumah saja. Sampai suatu kali IN (teman subyek) mengajaknya ke salah satu LSM di dekat tempat tinggalnya, subyek diajak untuk mencari informasi dan brosur tentang HIV/AIDS.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 b. Stressor atau Dampak yang dialami subyek. Subyek mengalami tekanan yang disebabkan oleh beberapa hal, dimana aspek-aspek kehidupannya banyak yang berubah akibat status yang disandang subyek sebagai ODHA. Pada subyek, perubahan yang terjadi meliputi penurunan kesehatan yang mana subyek tidak boleh terlalu dibebani oleh pikiran yang dapat menekan kekebalan tubuh. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, Kalau dulu aku sering sakitnya nggak tahu gara-gara kepikiran mas BU atau gara-gara HIVnya aku nggak ngerti tapi sekarang nggak boleh stres soalnya kalau aku dah stres pasti gampang sakit. Apalagi kalau deketan sama orang sakit pasti ketularan. Sugesti kali ya…(W1. S2.261) Pernyataan lainnya, Pernah dulu tapi nggak serius banget, demam berapa hari ya..2 minggu ada kok.. (W1. S2.267) Pada awalnya subyek tidak merasa bahwa HIV merupakan ancaman bagi subyek, namun karena subyek merahasiakan kondisinya dari orangtuanya membuat subyek semakin terbebani. Dimana seorang ODHA sebaiknya mendapat dukungan dari orang terdekatnya untuk membangun kembali rasa percaya dirinya, Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, ..pertamanya emang susah ri..aku bingung harus cerita sama siapa?coba mas BU masih ada kan jadi nggak susah gini, rasanya kayak gimana ya..nyimpen rahasia dewe’an tapi ga iso nyeritakke..aku kayak nyimpen aibku ri, jadi aku aja yang ngerti..(W1.S2.344) Pernyataan lainnya,

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Kalau ibukku jadi sedih gara-gara mikir penyakitku, mendingan aku nggak ngasih tahu, aku lebih stres kalau ibukku ngerti trus dia jadi sedih.(W1. S2.277) Keputusan subyek untuk menyimpan rahasianya terhadap orangtuanya didasari oleh keadaan ibunya yang rentan terhadap permasalahan yang muncul karena memenuhi kebutuhan keluarganya, selain itu subyek tidak ingin merubah imej subyek sebagai anak sesuai gambaran ibunya. Hal ini ditunjukkan dari ungkapkannya, Ya ibukku kan sudah banyak pikiran kan..sudah kerja sendiri..bapakku cuma bisa marah-marah..nggak cari duit gimana caranya kek..masih mikir adikku yang lagi masuk kuliah..aku nggak mau nambah pikiran lagi..(W1. S2.341) Ungkapan lainnya, ibu tahunya kan aku ini anaknya yang paling nggak mau macemmacem(W1.S2.253 ) Subyek semakin merasa tertekan karena terus menutupi kenyataan bahwa subyek terinfeksi HIV terhadap ibunya dan merasa takut terhadap ayahnya apabila ayahnya sampai mengetahuinya. Hal ini ditunjukkan dari ungkapkannya, tapi kalau bapakku kemaren sempat bilang kalau BU meninggalnya gara-gara narkobanya..soalnya bapakku kan orang rumah sakit jadi ngertilah orang pakai narkoba. Aku takut je ri…(W1. S2.254) Subyek mengalami tekanan yang disebabkan oleh perubahan yang dilakukan perawat rumah sakit yang menangani subyek saat subyek melakukan tes VCT. Perlakuan perawat yang mendiskriminasikan subyek membuat subyek merasa hal tersebut

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 adalah awal dari penolakan yang akan dilakukan orang lain. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, ….malah suster yang nyuntik aku yang nggak biasa, lha dia pakaiannya ngeri dari masker sampai kaos tangannya tebel banget. Mana darahku langsung disendirikan gitu, udah gitu tesnya kan dua kali, konselingnya juga dua kali. Marai sebel, yang bikin nggak enaknya kan itu tahulah aku mau periksa HIV, tapi mbo ya nggak kayak gitu..ini lagi tesnya, lha kalau orang pada tahu ternyata aku HIV gimana? (W1.S2.177) Tekanan yang dirasakan subyek menjadi bertambah saat subyek mencoba mengikuti kegiatan di salah satu LSM yang direkomendasikan teman subyek, namun subyek mengurungkan niatnya karena ketika subyek bertemu dengan orang yang positif HIV, subyek mempunyai pandangan yang mengerikan tentang HIV. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, ..aku ngeri pas wingi ketemu sama sapa ya namanya..umurnya 15 lho..tapi katanya dah nunggu matinya gitu to..mendingan di Lentera..aku nggak kenal banyak di Lentera, trus nggak ikutan kumpul..(W1. S2.310) Pengalaman subyek saat di rumah sakit membuat keputusannya untuk menyembunyikan kondisinya yang sebenarnya terhadap ibunya semakin kuat. Hal itu dilakukannya karena subyek tidak ingin dikucilkan oleh masyarakat. Seperti yang diungkapkannya, Aku nggak mau bilang sama ibukku soalnya aku nggak pengen semuanya berubah..aku nggak pengen ada yang takut dekat-dekat aku, apalagi kasihan..aku nggak mau, anggap aja aku nggak kena apa-apa.. (W1. S2.455) Ungkapan lainnya, gini ya, aku itu kenapa aku milih diam soal penyakitku ini soalnya aku pengen semua yang liat aku biasa aja..nggak takutlah, nggak kasianlah.. aku cuma pengen hidup normal aja meskipun aslinya aku punya HIV. Tu lho sar.. (W1. S2.384)

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Subyek juga pernah mendapat perlakuan kasar dari istri IN (teman subyek) karena seringnya intensitas mereka bertemu. Status orang sebagai ODHA seringkali disertai gunjingan dari orang yang menganggap HIV sebagai momok yang mengerikan (Menghadang Mentari pun Tak Peduli, 1997). Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, ..mbok berukke IN pernah ngata-ngatain aku sama IN wong penyakiten tapi ngapain nggagas…dia nggka nyadar kalau sama penyakiten.. (W1. S2.318) Dengan keadaan lingkungan yang kurang memberi dukungan tersebut, subyek lantas tidak merasa iri dengan orang disekitar subyek. Sekarang subyek justru merasa dikuatkan dengan adanya keyakinan bahwa subyek secepatnya akan bertemu lagi dengan pacar subyek. Dulu..tapi sekarang biasa aja..gimana ya..satu yang bikin aku kuat sampai sekarang ini ya mas BU itu..dulu aku mikir kenapa satu-satunya kebahagiaanku diambil Tuhan..jadi kalau sekarang aku harus iri dengan orang lain kenapa?Toh kalau aku besok matinya gara-gara penyakit ini, aku nanti bisa ketemu mas BU lagi kok.. (W1. S2.396) Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan stressor dan dampak yang dialami subyek terkait dari perubahan status subyek menjadi ODHA dari hasil hubungan intim dengan pacar subyek. Selain ditinggal pacarnya meninggal, subyek juga mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Subyek mengalami perubahan dalam aspek kesehatan maupun relasinya. Hal itu dapat

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 ditunjukkan saat kesehatan subyek menjadi menurun ketika subyek banyak pikiran. Subyek juga mempunyai ketakutan bila orang tuanya mengetahui kondisi sebenarnya pada subyek, karena subyek merasa bersalah terhadap ibunya sehingga subyek bermaksud untuk merahasiakan kondisi subyek dengan pertimbangan tidak mau membuat ibunya stres memikirkan subyek. Subyek juga mendapat perlakuan yang mendiskriminasikan keadaannya dari perawat yang membantu subyek dalam melakukan tes VCT dan perlakuan kasar dari istri teman sesama ODHA sehingga membuat subyek merasa tidak nyaman dengan statusnya. Ketidaknyamanan subyek atas status sebagai ODHA sangat dirasakan karena subyek menyimpan bebannya sendiri selain itu dikarenakan subyek tidak ingin dikucilkan dan ditakuti oleh masyarakat dan keluarganya sendiri. c. Reaksi Terhadap Sumber Stres Hasil yang diterima subyek membuahkan berbagai reaksi. Dan reaksi yang tampak pada subyek salah satunya adalah menangis, hal itu dilakukannya karena subyek merasa takut untuk menghadapi penyakitnya sendirian dan perasaan bersalahnya kepada ibunya. Seperti yang diungkapkannya, Pas itu aku nangis tapi nangisnya bukan gara-gara aku kena juga…tapi aku kasian sama ibukku..(W1. S1.200) Ungkapan lainnya;

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 ..pengen nangis soalnya aku mikir kalau aku sakit parah nggak ada yang nemenin aku.. (W1. S2.218) Saat menerima hasil dari dokter tentang hasil tes darahnya, subyek merasa marah kepada pacarnya, dan perasaan tersebut dijadikannya sebagai penerimaan atas konsekuensi dari perbuatan subyek dan pacarnya karena aktif melakukan hubungan intim saat pacar subyek sudah masuk tahap AIDS sekalipun. Hal ini ditunjukkan dari ungkapkannya, Mau marah tapi ngga bisa, stres juga engga masalahnya waktu itu aku pengen nyusul BU, jadinya aku mikir malah ngga papa kalau aku punya sakit yang sama, jadi bisa cepet sama-sama lagi (subyek terdiam)…(W1. S2.153 ) Ungkapan lainnya; Piye ya, soalnya aku udah stres ditinggal mas BU, jadi pas aku ngerti kalau hasilnya ternyata positif, aku malah gak mikir soalnya aku bisa cepet nyusul dia aneh to? meski kemaren aku sempat lihat gimana susahnya ngambil napas, susah maem, batuk-batuk terus. Ngeri sih, tapi aku lebih seneng kalo bisa sama-sama dia lagi. (W1. S2.190) Akibat dari berbagai perubahan yang diakibatkan oleh status subyek sebagai ODHA, subyek merasa tidak bergairah untuk hidup. Akibat perasaan tersebut, umumnya orang dengan HIV/AIDS mempunyai resiko tinggi untuk bunuh diri. Keputusan yang diambil subyek untuk mengakhiri hidupnya didasarkan pada kebingungan terhadap kematian pacarnya dan penyakit yang ada di tubuh subyek. Seperti yang diungkapkannya, Ya sekarang bayangkan saja, kalau ditinggal mati pacarnya tuh rasanya kayak apa sih, belum aku kena HIV dari dia..mungkin kamu nggak ngerti ri..aku pengen nggak percaya sama semuanya pas itu, ya mas BU, ya penyakitku..rasanya cuma pengen mati. (W1. S2.452) Ungkapan lainnya,

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Dulu aku setahun minum ekstra joss rutin 3 kali sehari..ngga tahu kenapa. Pertama minum biasa- biasa aja, trus ketagihan. tapi dulu kesannya aku pengen cari penyakit biar cepet mati..aku bingung kudu ngapa lagi. Kalau udah HIV kan mau nggak mau kan jadi ringkih,jadi cepet sakit to? Daripada nanti ngrepoti orang? Mendingan mati cepetcepet.. (W1. S2.440) Reaksi tersebut juga dilihat saudara subyek saat subyek mencoba untuk mengkomsumsi minuman suplemen secara berlebihan. Seperti yang diungkapkannya, Memang kemarin dia sempat minum ekstra jos tiga-empat kali sehari..malah sudah pernah kepergok sama bapak tapi tetep saja seperti itu. Awalnya nggak papa soalnya dia pernah ngeluh sering lemes katanya, tapi makin hari malah semakin menjadi..ibu juga sempat khawatir kan soalnya dia baru ditinggal pacarnya(WSO2.S4.57). Subyek juga merasakan bahwa relasinya terhadap orang lain menjadi terganggu, hal itu dapat dilihat saat subyek takut untuk menjalin relasi dengan orang lain karena subyek tidak ingin orang lain ikut tertular dan subyek mempunyai ketakutan untuk membangun sebuah keluarga. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Enggak..aku gimana ya, kalau temenan nggak papa ya, tapi nanti kalau udah jadi deket banget apalagi kalu dia sampai nembak aku langsung mundur teratur..kayak udah dipasang tombol otomatis buat gitu. Aku masih sayang mas BUe..trus nanti kalau aku misalnya ndilalah ada rasa juga, nanti ke depannya mikirnya panjaaaang banget. Aku kasian kalau nanti suamiku ikut kena juga..trus anakku gimana? Ya kalau ngga kena..kalo kena? Trus trus yang lain masih ada.. (W1. S2.227) Pernyataan lainnya, tapi sekarang pas udah ada cowo yang deket malah jadi kepikiran..trus jadi nggak enak kalau deket ma orang lain..takut kalau mereka nanti ketularan. Pernah kemaren cowok yang deket tanya kan BU meninggalnya sakit apa sih? Aku njawabnya sakit kanker paruparu…ya betul to? AIDS kan nyerang paru-paru?..aku nggak berani bilang kalau dia meninggal gara-gara AIDS, sama aja cari mati …(W1. S2.207 )

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Reaksi yang dialami subyek dapat dilihat dari perubahan perilaku subyek terhadap lawan jenis saat subyek memberi penolakan pada lawan jenis yang mencoba menjalin relasi dengan subyek. Hal tersebut diungkapkan oleh teman subyek yang juga sesama ODHA. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Aku ngga begitu ngerti ya, tapi kalau setelah BU nggak ada itu dia emang agak gimana ma cowok. Ada kok yang kemaren sempat deket tapi ya itu, dia mungkin ilfil aja atau ngga cocok(WS02. S3. 21). Pengalaman subyek saat melihat secara langsung bagaimana virus HIV mulai menggerogoti pacar subyek hingga meninggal membuat subyek takut bayangan kematian sehingga subyek merasa adanya ketidakpastian tentang bagaimana masa depannya nanti. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Kepikiran mas BU..kepikiran kalau nanti akhirnya ibukku tahu jadinya gimana..aku kasihan juga sama ibukku, mungkin bi uk pikir aku ini anaknya yang nggak bisa macem-macem ya, tapi kalo ibu tahu aslinya aku gimana..Kalau dulu kan aku lebih sering kepikiran mas BU..tapi sekarang aku takut kedepanku nantinya..apa bisa aku nyenengin hati ibukku, apa bisa nanti aku ketemu sama orang yang tahu keadaanku..sekarang aku jadi ngeri sendiri kalau aku mbayangin besok aku bakalan sakit kayak BU…duh ibukku mesti gelo ri.. (W1. S1. 422 ) Dari uraian di atas dapat disimpulkan reaksi awal pada subyek yang ditunjukkan subyek saat subyek menerima hasil tes VCT ditandai dengan kemarahan dan kesedihan yang ditunjukkan dengan tindakan menangis karena subyek merasa takut dengan bayangan penyakit HIV sehingga subyek mendapat ketidak pastian terhadap masa depannya nanti dan disertai dengan perasaan bersalahnya terhadap ibunya. Subyek merasa marah terhadap

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 pacarnya karena telah menulari HIV terhadap subyek dan mengalami penurunan gairah untuk hidup sehingga subyek memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Subyek juga merasa kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak pantas untuk menjalin hubungan apabila ada yang ingin melakukan pendekatan dengan subyek, khususnya lelaki. d. Strategi Coping stres yang digunakan subyek Pada subyek 2, upaya-upaya yang digunakan untuk mengatasi stres saat pertama kali subyek menerima hasil dari tes darahnya, yaitu dengan melakukan Emotion Focused Coping Focusing on and venting emotions dengan mengunjungi makam pacarnya yang sudah meninggal dan menyalurkan perasaan marahnya terhadap pacarnya. Seperti yang diungkapkannya, Aku pulang dari rumah sakit langsung ke makam..b ilang sama dia kalau aku kena juga..tapi aku marah sama dia soalnya sudah ngasih aku penyakit yang ngeri gini..(W1. S2. 221) Ketika seseorang diberitahukan bahwa hasil tes HIVnya positif, mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu terminal. Kenyataan ini memunculkan perasaan kaget, penyangkalan, tidak percaya dan rasa tak berpengharapan (Aishah,2002). Saat subyek mendapat vonis tentang penyakitnya, subyek ingin menyangkal tentang penyakit

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 yang dideritanya. Sehingga subyek memakai coping stress denial. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, ..aku pengen nggak percaya sama semuanya pas itu, ya mas BU, ya penyakitku.. (W1. S2. 454) Subyek juga seringkali menangis sendiri di makam pacar subyek untuk melepaskan perasaan tertekan atas ketakutannya tentang bayangan kematian dan status yang disandang subyek sebagai ODHA. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, kadang aku nangis sendiri..ceritanya protes kali ya sama Tuhan..atau kalau enggak aku ke makamnya mas BU curhat kayak orang gila..lha ngomong sendiri..tapi sekarang dah jarang.. (W1. S2. 435) Ungkapan lainnya, ..kadang ri..kalau lagi sendirian, kadang nangis dewe..takut ngadepin sendirian..aku wedi je ri.. (W1. S2. 517 )Kalau boleh jujur, aku sekarang takut sendiri kalau mbayangin aku bakalan kayak mas BU..aku belum siap mati je..tiap aku mikir kalau umurku nggak panjang jadi ngeri, mbo’o akhirnya ketemu mas BU tapi sumpah aku nggak bisa(W1. S2. 527) Meskipun subyek seringkali merasa marah terhadap Tuhan. Namun subyek dapat melakukan coping Acceptance untuk menyikapi keadaan itu sebagai suatu kenyataan yang harus dihadapinya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, aku nerima kok,toh ini juga yang terbaik buat aku. Tuhan juga pasti kasih jalan kok.. (W1. S2.434 ) Subyek juga melakukan coping seeking social support for emotional reason dengan mencari dukungan dari orang lain yang mempunyai pengalaman sama dengan melakukan konseling di LSM. Hal itu didukung dengan adanya usaha subyek untuk

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 mengatasi permasalahan yang timbul akibat sikap subyek yang menutup diri tentang kondisinya terhadap ibunya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, Konseling kemaren cuma bantu aku dikit kok..awalnya aku cuma minta pendapatnya tentang gimana baiknya aku harus ngomong sama ibukku atau enggak..trus yang kedua aku aku curhat ya yang sekitar-sekitar itu aja..ya mbantu-mbantu dikit lah..kadang kalau aku mikir bikin stres juga kalo harus ngadepin sendirian, makanya cari temen yang bisa diajakin kompromi masalah ini. (W 1. S2. 412 ) Pernyataan lainnya, Pas konseling pertama kali aku masih bingung mau ngasih tahu keluargaku apa engga..tapi ternyata yang kasih saran orangnya kena juga kan, dia bilang kalau pas dia ngasih tahu keluarganya, mereka jadi beda trus malah ada yang takut dekat-dekat, aku jadi mikir juga kan kalau keluargaku nanti kayak gitu juga gimana?. Jadi mikir juga kan.. (W1. S2.301 ) Pemikiran subyek tentang jatah hidup yang tidak lama lagi membuat subyek mempunyai keinginan untuk mencoba segala sesuatu yang belum pernah dicobanya, namun subyek masih mempunyai rasionalisasi tentang persepsi yang kurang baik apabila subyek melakukan tindakan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya, ..aku kalau mau nakal bisa aja lho, pengen nyoba yang belum pernah tak coba, tapi kalo ujung-ujungnya dikirain anak nakal mendingan nggak usah aja..soalnya aku ngga ngerti umurku sampai kapan kan? Tapi kasihan ibukku nanti..mendingan jadi orang biasa aja..biar jadi pertimbangan masuk sorga atau neraka..hiihh..jadi ngeri sendiri.. (W1. S2.492 ) Subyek mengatasi perasaan itu dengan melakukan coping Turning to Religion dengan cara mengembangkan religiusitas, dimana subjek mengatasi perasaan tertekannya dengan berdoa dan

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 minta ampun kepada Tuhan. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Aku berdoa aja ri..Tuhan pasti ada maksud nempatin aku di posisi kayak gini, (W1. S2.433 ) Pernyataan lainnya, Aku kalau dah mentok paling ke Ganjuran (salah satu tempat ibadah)..doa disana..biasanya gitu.. (W1. S2.483 ) Tindakan subyek untuk pergi ke tempat ibadah adalah salah satu upaya subyek untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencari ketenangan. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Ya karena aku lebih tenang aja kalau dah doa disana.. (W1. S2.492 ) Ungkapan lainnya, Apa ya..ya kalau sekarang aku lebih deket sama Tuhan, mungkin aku lebih tenang aja kalau lagi ngedepin masalah atau apalah..aku mikir semua orang udah ndukung aku kok..orang aku juga ngga suka macemmacem, jadi mereka percaya aku..palagi ibu..aku pengen jadi anaknya ibu yang baik.. (W1. S2. 503 ) Subyek juga mencari alternatif lain seperti melakukan coping Seeking social for emotional reason untuk mengurangi tekanan yang muncul akibat status ODHA yang disandangnya. Subyek mencari dukungan dari orang – orang yang mengetahui status subyek dan mencoba untuk menyikapi permasalahan yang kerap muncul. Hal itu dapat dilihat dari ungkapannya, Ya itu..padahal kalau bisa jalan sama IN ya malah lebih baik..lha samasama punya kan? (W1. S2.489 ) Ungkapan lainnya,

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 kalau nggak ya cerita sama mbakku atau bapak.. Bapaknya mas BU.. (W1.S2.484 ). Untuk mengurangi kemungkinan subyek mengalami tekanan akibat status ODHA yang disandangnya, subyek 2 juga melakukan Problem Focused Coping dengan mencari informasi lebih lanjut tentang HIV/AIDS lewat buku yang dimiliki ayah subyek saat masih bekerja di rumah sakit. Hal ini dapat ditunjukkan dari pernyataannya, Ya dari bapak..dari brosur-brosur juga..belum kemaren liat sendiri orang yang kena HIV secara langsung…(W1. S2.326 ) Iya..siaran langsung pula.. (W1. S2. 230 ) Subyek banyak mendapat pengetahuan lebih dalam tentang HIV dan pengalaman orang yang terkena HIV dari internet. Hal ini dapat ditunjukkan dari pernyataannya, ..tapi yang paling ngeri pas aku sering liat internet banyak kasus dikucilkan sama orang lain, malah ada yang diasingkan sama keluarganya.. (W1. S2. 477 ) Pernyataan subyek juga didukung oleh saudara subyek. Strategi coping yang digunakan subyek untuk mengutangi dampak stres yang ditimbulkan oleh status ODHA salah satunya didapatkan dari buku panduan yang digunakan pacar subyek semasa masih hidup. Hal ini dapat ditunjukkan dari pernyataannya, Pasien berdaya kan? Iya..kalau nggak salah bukunya tempat BU ya?(WSO2.S4.33)

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan strategi coping yang dipakai subyek meliputi: yang pertama secara Emotion Focused Problem yang ditandai dengan usaha subyek untuk meluapkan emosi dengan mendatangi makam pacarnya setelah menerima hasil tes VCT. Perasaan tersebut disertai dengan perilaku menangis yang dilakukan subyek karena ketakutannya tentang bayangan kematian. Coping yang dilakukan subyek adalah Focusing on and Venting Emotions. Selain itu subyek menyangkal dan tidak percaya atas apa yang telah menimpanya, coping yang digunakan adalah Denial. Subyek juga menggunakan Acceptance sebagai adanya sikap untuk menerima kondisi subyek sebagai kenyataan yang harus dihadapinya. Subyek juga menggunakan Seeking Social Support for Emotional Reason saat subyek mencari dukungan dari orang yang mempunyai pengalaman yang sama dengan subyek dan mencari simpati dari orang-orang yang mengetahui statusnya. Saat subyek merasa tekanan yang dirasa sangat membebaninya, subyek pernah memutuskan untuk mencoba hal yang belum pernah dicobanya, namun subyek dapat mengatasi hal tersebut dengan mendekatkan dirinya kepada Tuhan atau biasa disebut Turning to Religion. Subyek juga memakai Problem Focused Coping yang dapat ditunjukkan melalui usaha subyek saat berusaha mencari informasi labih dalam lewat buku pegangan tentang HIV yang didapat dari

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 ayahnya dan kasus HIV yang didapatnya dari pengalaman orang yang berstatus ODHA lewat internet. Coping tersebut biasa disebut seeking social support for instrumental reason.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel III RINGKASAN GAMBARAN COPING STRES TERHADAP PENDERITA HIV / AIDS DI YOGYAKARTA Subjek 1 (IN) Subjek 2 (TN) Stressor Kondisi Kesehatan atau dampak yang dialami subyek Biaya pengobatan • • • Sikap lingkungan • terhadap status subyek sebagai ODHA Reaksi awal Terhadap yang HIV dialami vonis • • Kesehatan subyek mulai • turun. Kekebalan tubuh rendah, menjadi rentan terhadap • stres. Penurunan kesehatan • sehingga mudah tertular oleh penyakit lain. Kekebalan tubuh menurun, rentan terhadap tekanan. Persamaan Penurunan kesehatan, kekebalan tubuh menjadi rentan terhadap tekanan. Sering merepotkan ibunya karena keuangan menipis akibat biaya pengobatan saat sakit dan kebutuhan keluarga. Mendapatkan perubahan • sikap dari istrinya • . Mendapat perlakuan kasar dari istri teman Mendapat perlakuan buruk dari perawat rumah sakit. Merasa kaget dan takut • terhadap bayangan kematian Mempunyai perasaan • bersalah terhadap ibu Perasaan marah terhadap • pacarnya karena menulari • HIV. Takut menghadapi penyakitnya sendirian. Merasa bersalah terhadap keluarga khusunya ibu. Mempunyai perasaan takut terhadap bayangan kematian. 93

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI • • • • Menaruh prasangka • terhadap orang lain sehingga subyek minder bila bertemu dengan orang lain Berpikir bahwa Tuhan • tidak adil terhadap kondisinya Merasa iri dengan orang lain yang terlihat sehat. • Tidak mendiskriminasikan lingkungan sesama ODHA. • • Reaksi subyek yang diamati significant Other • Subyek terlihat aneh dan menjadi pendiam, sesaat subyek menjadi sering mabuk • Ketidakpastian pada hidupnya karena tidak mempunyai pegangan untuk mencurahkan isi hati. Mempunyai pandangan yang mengerikan terhadap kematian yang disebabkan oleh HIV Menangis karena perasaan bersalah terhadap ibunya. dan takut bayangan kematian, Menjadi tidak bergairah untuk hidup dengan mencoba mengakhiri hidupnya. Merasa tidak pantas untuk berhubungan lagi dengan orang lain. Subyek meminum obat suplemen 3-4 kali sehari untuk mengatasi stres 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Strategi coping stress Emotional Focused • Coping: • • • • Problem Coping Strategi coping yang diamati Significant Others Mabuk bersama teman sekerja, Mengikuti kegiatan di LSM dalam usahanya untuk menerima kenyataan, Pasrah kepada Tuhan, Berkumpul dengan sesama ODHA untuk mencari dukungan dan menambah semangat, Menggunakan waktunya untuk menyendiri dan nonton TV bila sedang stres. • • • • Mengunjungi makam • Mencari dukungan dari pacarnya untuk orang yang mempunyai menyalurkan emosinya. pengalaman yang sama dengan subyek Menyangkal atas apa yang sudah terjadi, • Adanya usaha untuk mendekatkan diri kepada Mencari dukungan dari Tuhan dan mencoba untuk sesama ODHA dan orang pasrah dengan kenyataan yang mengetahui statusnya, Mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menerima kenyataan. Focused • Mencari dukungan berupa • saran dan informasi tentang HIV/AIDS melalui konselor visited dan LSM saran dan Mencari dukungan berupa • Mencari informasi tentang saran dan informasi HIV/AIDS melalui LSM. tentang HIV melalui LSM dan buku pegangan dari rumah sakit tempat ayah bekerja. • Subyek sering mabuk dan • jarang pulang ke rumah Subyek terlihat tidak mau diganggu bila sedang nonton TV Subyek memilih untuk menghindari relasi dengan lawan jenis • 95

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Alasan subyek • melakukan coping: • Untuk menambah • semangat hidupnya. Agar merasa lebih bersyukur dan kuat untuk • menjalani hidupnya Lebih mendekatkan diri pada Tuhan untuk mencari ketenangan Agar dapat menyikapi permasalahan yang timbul dan • Kemudahan: Adanya • dukungan dari orangorang terdekat membuat subyek tambah semangat. Kesulitan: waktu dan biaya kurang Kesulitan: merasa sungkan terhadap keluarga pacar subyek, subyek merasa tidak bisa bertahan untuk terus menutup diri terhadap ibunya Kemudahan kesulitan penanganan masalah. • . 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 C. PEMBAHASAN Seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah orang yang mempunyai kecacatan kekebalan tubuh akibat suatu penyakit yang didapat dalam perjalanan hidup penderita. Saat seseorang mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV, mereka mengalami berbagai macam emosi dan tekanan sehingga status sebagai ODHA membawa dampak psikis maupun fisik yang mana membuat ODHA melakukan sejumlah reaksi untuk mengatasi perubahan yang disebabkan oleh statusnya sebagai ODHA. Adapun penyebab dari terinfeksi HIV/AIDS adalah penularan secara seksual seperti hubungan seksual yang dilakukan oleh penderita HIV yang menulari pasangannya, dan secara non-seksual yaitu suatu penularan melalui darah atau produk darah yang tercemar HIV dan penularan secara transpasental yaitu penularan dari ibu hamil mengidap HIV kepada bayi kandungannya. Bayi itu kesakitan ketika masih dalam kandungan atau ketika sedang dilahirkan. Ada juga resiko tertentu penularan melalui pemberian air susu ibu. Hal ini dialami oleh subyek IN dimana dia terinfeksi HIV/AIDS dari aktifitas mengkomsumsi narkoba suntik. Sedangkan subyek TN terinfeksi HIV/AIDS dari hasil hubungan intim dari kekasihnya yang sudah terinfeksi HIV/AIDS. Pertama kali seseorang mengetahui bahwa dirinya menderita HIV/AIDS, maka akan terjadi kekacauan pada seluruh aspek kehidupannya. Stressor atau dampak yang dialami para subyek dapat digambarkan melalui perubahanperubahan yang dialami subyek setelah mereka menyandang status HIV. Reaksi yang muncul pada diri seseorang yang mengetahui bahwa tes HIVnya positif,

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 banyak dipengaruhi oleh suatu kesadaran akan perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi dalam kehidupannya dan bukan hanya pada kematian yang akan dihadapi. Secara umum telah diketahui sumber-sumber stres pada ODHA adalah; sikap diskriminatif dari masyarakat, harga obat-obatan yang mahal, komentar-komentar dari lingkungan yang mengabaikan perasaannya, dan perubahan-perubahan fisik ( Aishah, jurnal psikologi 16:75) Adanya perubahan dalam kesehatan mereka yang mengalami penurunan membuat kekebalan tubuh mereka menjadi rentan terhadap segala bentuk tekanan psikis yang akhirnya dapat menggerogoti kekebalan tubuh mereka. Dalam faktor ekonomi juga terpengaruh akibat biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai pengobatan subyek IN sehingga kondisi tersebut menyulitkan IN untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Meskipun mereka tidak didiskriminasikan oleh orang-orang terdekat, namun mereka sempat mendapat perubahan perlakuan dari lingkungan seperti yang dialami subyek IN saat dia mendapat perubahan sikap dari istrinya. Demikian juga subyek TN yang mendapat perlakuan buruk dari perawat Rumah Sakit dan istri IN. Secara psikologis, stigma dan diskriminasi sangar berpengaruh pada penderita HIV/AIDS terutama bagaimana mereka me lihat dan menilai dirinya sendiri. Dan ditambah lagi prasangka buruk yang muncul dari lingkungannya membuat mereka merasa tertekan karena sampai saat ini masyarakat masih menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang negatif karena telah melanggar aturan, moral, agama dan sosial, serta memandang penyakit ini adalah

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 mencacatkan, berjangkit, membawa maut dan dipandang hina oleh masyarakat (Aishah, jurnal psikologi 16:75). Reaksi awal pada kedua subyek dapat ditunjukkan melalui respon saat mereka mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit HIV/AIDS seperti mempunyai perasaan takut terhadap bayangan kematian, keadaan ini kemudian secara berangsur diikuti oleh perasaan bersalah terhadap keluarga khususnya ibu. Hal ini sesuai dengan pendapat Richardson, (2002) ketika seseorang diberitahukan bahwa hasil tes HIV- nya positif, mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu keadaan terminal. Kenyataan ini akan memunculkan perasaan kaget, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut akan bayangan kematian. Secara psikis mereka mengalami reaksi awal yang terwujud dalam aneka macam bentuk seperti menangis atau merasa marah terhadap pacarnya karena telah menulari HIV/AIDS. Dalam hal ini subyek 2 merasa kemarahan tersebut terjadi karena dia merasa ketidaktahuannya resiko berhubungan seksual dengan pacarnya yang telah terinfeksi memungkinkan dirinya mempunyai status HIV positif sehingga status sebagai ODHA membuat subyek menjadi tidak bergairah untuk meneruskan hidupnya lagi dan merasa tidak pantas berhubungan dengan orang lain. Sekalipun ada perbedaan-perbedaan reaksi dalam menghadapi fenomena tentang HIV/AIDS, orang yang mengetahui atau diberi tahu bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi maka akan mengalami fase- fase

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 perkembangan emosi seperti fase pengingkaran atau penolakan, fase kemarahan, fase tawar menawar, fase depresi, dan fase penerimaan (Rachimhadhi, 1996). Status HIV mempengaruhi sikap iri terhadap orang lain yang berkesempatan menikmati hidup. Hal ini dialami oleh subyek IN yang mana subyek berpikir Tuhan tidak adil dalam menempatkan posisinya sehingga subyek menaruh prasangka terhadap orang lain dan minder bila bertemu dengan orang lain. Hal itu didukung dengan pendapat Rachimhadhi, (1996) bahwa kondisi tersebut menimbulkan berbagai perasaan dan perilaku yang tidak terduga saat mereka mengetahui dirinya terinfeksi HIV sehingga mereka mulai merasakan kesedihan yang sangat mendala m, kenyataan dan realita sudah tidak dapat diubah dan berubah. Seperti yang sudah diketahui bahwa HIV/AIDS belum ada pencegahannya dan belum ada obat yang menyembuhkan, disamping itu HIV/AIDS di mata masyarakat mempunyai muatan moral, di mana masyarakat umumnya masih memandang bahwa AIDS penyakit yang diderita oleh pelacur, kaum homoseks atau penyakit orang yang kotor, membuat tidak mudah bagi mereka yang hidup dengan status HIV. Strategi coping yang digunakan oleh para subyek menunjuk pada berbagai upaya, baik mental ma upun perilaku, untuk menguasai, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Strategi tersebut merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang muncul akibat status yang disandang subyek sebagai ODHA dengan melakukan perubahan

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 kognitif maupun upaya guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Dalam menghadapi atau mengatasi masalah yang muncul saat mereka menyandang status sebagai ODHA, pada subyek menggunakan baik Emotional Focused Coping dan Problem Focused Coping. Jenis coping yang pertama kali digunakan adalah Emotional Focused Coping atau yang biasa disebut strategi dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh status HIV membuat subyek IN dan TN mencoba mencari dukungan dari orang yang mempunyai pengalaman yang sama dengan mengunjungi LSM sehingga mereka mempunyai pandangan baru tentang motivasi untuk bertahan hidup dan mencoba menerima kenyataan bahwa mereka terinfeksi HIV/AIDS. Mereka juga mengembangkan religiusitas seperti mendekatkan diri pada Tuhan untuk mengatasi perasaan bersalahnya terhadap keluarganya, Pada subyek IN mencoba mengatasi perasaannya dengan menghabiskan waktunya dengan mabuk bersama teman-temannya dan menghabiskan waktu untuk menonton TV saat dia tidak ingin dingganggu oleh siapapun. Sedangkan subyek TN mengunjungi makam pacarnya dan menyalurkan emosinya saat TN merasa tertekan karena selama ini subyek TN selalu melakukan coping denial untuk mengatasi stressor yang muncul. Tindakan di atas didukung dengan upaya subyek IN dan TN mengatasi permasalahan yang kerap muncul dengan mencari informasi atau saran tentang HIV melalui media tertentu seperti buku, brosur dan konselor visited di LSM. Hal

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 itu biasa disebut Problem Focused Coping, yang juga diartikan yaitu strategi yang mencoba untuk menghadapi dan menangani langsung tuntutan dari situasi atau upaya untuk mengubah situasi. Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut membawa dampak terhadap subyek. Sehingga mereka belajar hidup dengan virus di dalam tubuhnya. Mereka mencari berbagai cara hidup sehat, berusaha mengikuti kemajuan obat-obatan, dan dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Strategi coping yang sudah mereka lakukan membawa perubahan pada subyek dalam hal penerimaan atas kondisinya selama ini. Di samping itu mereka memilih strategi coping di atas dilakukannya agar dapat lebih pasrah kepada Tuhan dan mencoba menyerahkan hidup mereka agar dapat membantu mereka mengatasi problem yang akan dihadapinya, baik dari dalam diri sendiri, keluarga, dan masyarakat (Rachimhadhi, 1996). Menurut Lazarus ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan stres, individu akan mencoba beradaptasi, mekanisme coping dalam diri individu tersebut akan mulai berperan. Pada tahapan ini, mereka merasakan faktor yang ikut mempengaruhi strategi coping yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah yang sering muncul akibat status yang disandangnya. Faktor inilah yang dirasakan subyek IN dalam menentukan keberhasilan penanganan masalah yang muncul, yaitu adanya dukungan dari orang-orang terdekat subyek membuat subyek termotivasi untuk hidup lebih lama lagi. Namun subyek terbentur dengan biaya dan waktu yang terbatas. Berbeda dengan subyek TN yang mana dia kurang mendapat dukungan dari orang terdekatnya karena subyek tidak ingin lingkungan

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 mengucilkannya sehingga seringkali subyek merasa tidak bisa terus-terusan merepotkan keluarga pacarnya untuk digunakan sebagai tempat curhat. Pengalaman penderita HIV/AIDS akan melihat beberapa kemungkinan akan kemajuan yang diperolehnya dengan melakukan berbagai usaha pengurangan tekanan yang mana hal tersebut akan mengasilkan sikap optimis dan harapan untuk hidup pada ODHA (Rachimhadhi, 1996).

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi Coping stres yang digunakan terhadap penderita HIV/AIDS, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS berusaha mengurangi stressor atau dampak yang ditimbulkan oleh status subyek sebagai ODHA dengan menggunakan strategi coping Problem Focused Coping dan Emotional Focused Coping. Penderita HIV positif menggunakan strategi coping, yang pertama berupa, Emotional focused Coping yang diantaranya; mereka mengikuti kegiatan di LSM untuk membangun kepercayaan diri dan mencari dukungan dari sesama ODHA sehingga mereka dapat merealisasikan kenyataan yang diterimanya. Selain itu mereka berusaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan mencoba pasrah terhadap kondisinya. Strategi kedua yang digunakan subyek adalah Problem Focused Coping yang diantaranya; mencari saran dan informasi tentang HIV/AIDS melalui brosur atau buku dari rumah sakit atau LSM sebagai upaya mereka untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit HIV/AIDS. 104

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan diantaranya: 1. Bagi Subyek Penelitian a. Dari hasil penelitian mengenai subyek yang terinfeksi HIV/AIDS, diharapkan agar para subyek untuk semakin mengenali usaha- usaha yang sudah dilakukan. Para subyek hendaknya tetap melakukan strategi coping yang dirasakan dapat membantu mengurangi kondisi stres seperti Emotional Focused Coping, terutama dengan mendapatkan dukungan dari orang yang mempunyai pengalaman yang sama di LSM dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Para subyek juga dapat melanjutkan strategi Problem Focused Coping terutama untuk mendapatkan informasi yang cukup tentang HIV/AIDS. 2. Bagi Masyarakat a. Hendaknya menunjukkan penerimaan terhadap penderita HIV/AIDS dan memberikan dukungan moral kepada penderita HIV/AIDS. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya a. Penelitian yang serupa diharapkan dapat dilakukan dengan metode penelitian yang lain agar dapat saling melengkapi untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 b. Penelitian ini hanya menggambarkan strategi coping stres saja, alangkah lebih baik jika penelitian ini dilanjutkan dengan penelitian mengenai efektifitas coping yang digunakan oleh penderita HIV/AIDS secara lebih cermat.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Aishah., (2002) Pesakit, Keluarga dan AIDS: Stigma dan Kesan Psikososial. Malaysia. jurnal psikologi 16:75-88. Azwar, S., (1995), Sikap Manusia: Teori dan Pengkurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S., (1997), Reliabilitas & Validitas. Yogyakarta : Pustaka pelajar Bootzin, R. R., Lotfus, E. F., Sajonc., (1983), Psycology Today. Toronto: Random House Inc. Buari. D.P. (2000), Hubungan antara Kecenderungan Melakukan Prokrastinasi Akademik dengan tingkat stress pada Mahasiswa skripsi di Fakultas Psikologi. Skripsi (tidak diterbitkan).Yogyakarta: Fakultas Psikologi Sanata Dharma. Carver, C. S., Sceiser, M.F., & Weintraub, J. K.,(1989). Assesing coping strategies:A theoretically based approach. Journal of Personality of Psychology, 56, 267-283. Douglas. C., (1981), Why Stress keeps Returning :A Spiritual Response. Chicago: Loyola University Press. Dossier, P., (1989), AIDS and The Third World. London:The Panos Institute. Furchan, A., (1982), Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional. Haditono., (1999), Psikologi Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University. Handoyo., (2001), Stres Tinjauan Dari Segi Fisik dan Sosio Budaya. Semarang:Yayasan Widya Dharma Hans Selye., (1979), Stress Without Distress. New York: Lippincot and Crowell Publisher. Hardjana. M., (1994). Stres Yogyakarta:Kanisius Tanpa Distres: Seni Mengolah Stres. Holmes, D. S., (1998). The Evidence For Repression: An Examination of sixty Years of research. Repression and Dissociation. Chicago: University of Chicago Press. 107

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Lazarus R.S. & Folkman, S., (1984), Stress, appraisal and Coping. New York: Spinger Publishing Company Listyawati. Penelitian Kepustakaan tentang Faktor Meningkatnya Pengidap HIV/AIDS. Jurnal PKS Volume III No. 7, Maret 2004; 20-35 Makin. P., (1994), Mengatasi Stress Secara Positif. Pt Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Menghadang Mentaripun Tak Peduli. (1997), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia Moleong, L.J., (1998), Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasih. Montaigner, L., (1985), Para Ahli Menjawab Tentang AIDS. Jakarta: Pustaka Utama. Passer, Michael, W & Smith, R, E., (2004), Psychology:The science of Mind and Behavior, University of Washington. Poerwandari, E.K., (1998), Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi, Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengkuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Rachimhadi. T., (1992), Sindroma AIDS Penanggulangannya Dalam Praktek Dokter Gigi, EGC, Jakarta Rasad., (1987), Metode Penggunaan Data Pengalaman Pribadi, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta; Gramedia. Richarson. D., (2002), Perempuan dan AIDS, Media Pressindo, Yogyakarta. Robbins.P.S., (1989), Organizational Behavior. New Jersey: Engel Word Clifts. Santrock, J.W., (1998), Life-Span Development. Sixth Edition, Texas: Brown & Benchmark Publishers. Slamet. S., (2003), Indonesia Pengantar Psikologi Klinis. Yogyakarta: Universitas Spielberger,C.D., Sarason, I., (1986), Stress and Anxiety, Vol.2. University of Washingthon. Supratiknya.A., ( 1995), Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Straus,A., & J. Corbin., (2003), Basic of Qualitatif research, Grounded Theory Procedures and Techniques. Newbury Park: Sage Publication. Tryer, P.J. (1980). Bagaimana Mengatasi Stress. (terjemahan : Iswanta). Jakarta:Arcan. Ulery, L., (2000), Personal the Human problem Management. New Jersey: Prentice Hall Wahyuni, B., (2001), Mengapa tes HIV Begitu mahal. Kedaulatan Rakyat. 9 April 2001. Wicaksono, H, Inu., (2005), Stres Dan Tahap-tahapannya. Kedaulatan Rakyat 9 Januari 2005. Willy F.P., (1996), AIDS. Indonesia Publishing House. Woeks, C., (1991), Mengatasi Stres. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI). Wortman,C. B. dan Dunkel-Schetter, C., (1979), Interpersonal Relationship and Cancer:A Theoritical Analysis. Journal of Social Issue, no.35, 120-155. Kedaulatan Rakyat 24 Juli 2005. Kompas, 24 februari 2005 ----------, 23 Mei 2003

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 LAMPIRAN

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 A. TRANSKRIP VERBATIM WAWANCARA SUBJEK 1 (W1.S1. ) Identitas Subjek Nama : IN Usia : 24 tahun Pendidikan : SMU Agama : islam Status : menikah Urutan kelahiran : Anak kelima dari lima bersaudara Pelaksanaan Penelitian Observasi Hari/Tanggal : 3 juli 2007 Waktu : Pk 10.10- 12.52 WIB Tempat : rumah subyek Hasil observasi (S1. O1) Rumah bercat putih pucat dengan perabot kayu yang sudah ada sejak rumah subyek berdiri tampak berjajar rapi. Ruang tamu yang relatif luas jadi satu dengan ruang keluarga. Di atas TV berjajar rapi potret keempat saudara subyek termasuk subyek sendiri. Di bawahnya masih terdapat potret ponakan-ponakan subyek yang masih kecil. Suasana rumah cukup tenang karena saat itu keluarganya sedang melakukan kegiatan di luar rumah. Sama seperti saat pertama

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 masuk ke dalam rumah subyek, di atas pintu masuk terdapat ayat Al-Quran yang diukir pada sebilah kayu, sehingga mendatangkan suasana yang nyaman. Rumah yang berubin semen ini memiliki perabot yang masih sederhana, namun ornamen keagamaannya sangat terasa kental. Begitu juga perencanaan ruangan yang masih sederhana bisa dikatakan bahwa rumah subyek dapat digolongkan rumah joglo. Hal itu dapat dilihat dari adanya pendapa di rumah subyek. Selain hal di atas ada juga ruangan yang dipakai untuk berkumpulnya burung sriti sehingga khusus ruangan itu tidak dipakai untuk kegiatan keluarga. Wawancara terhadap subyek satu dilaksanakan di ruang tamu. Namun untuk memperlancar wawancara, subyek mengajak untuk pindah ke kamarnya agar tidak ada orang lain ya ng mendengar pembicaraan subyek. Subyek juga tidak ingin bila ibunya mengetahui bahwa subyek ternyata terinfeksi HIV. Saat wawancara berlangsung, subyek menghabiskan 3 batang rokok yang masih tersimpan di saku jaketnya. Awal wawancara subyek terlihat kurang nyaman dalam menceritakan pengalamannya, hal itu tampak dari jawaban subyek yang terlalu pendek dan subyek berkali-kali menghisap rokok dengan menghentakkan kakinya berulang kali. Subyek juga sesekali melihat ke luar untuk berjaga-jaga apabila ibunya sudah pulang dari warung. Namun mulai dari pertengahan wawancara sampai akhir, subyek terlihat lebih santai dan terbuka dalam bercerita.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Pada akhir wawancara, subyek juga sempat berkelakar menceritakan tentang masa lalunya saat bersama almarhum saudaranya saat saudaranya belum meninggal. Subyek juga menceritakan permasalahannya dengan istrinya selama ini dan seringkali meminta saran agar hubungan subyek dan istrinya bisa lebih baik. Subyek memiliki kedekatan khusus dengan peneliti sejak 3 tahun yang lalu, sehingga subyek sudah terbiasa untuk menceritakan masalahnya pada peneliti. Dalam wawancarapun sempat terhenti karena subyek memaksa untuk makan siang. Subyek sempat mendengarkan hasil wawancara setelah selesai membahas topik. Ia ingin mendengar suaranya dan sempat mengomentari bahwa suaranya mirip suaranya artis. Proses wawancara sempat terhenti untuk kedua kalinya karena ibu subyek pulang. Walaupun sempat terhenti, secara keseluruhan proses wawancara dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Wawancara Hari/tanggal : 3 juli 2007, 7 Juli 2007 Waktu : Pk 10.10- 12.52 WIB, Pk 15.45-17.15 WIB Tempat : rumah subyek, lempuyangan

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Deskripsi tentang subjek Subjek penelitian adalah seseorang yang tela h terinfeksi HIV/AIDS sejak bulan November 2005. Ketika itu subjek berusia 22 tahun dan sudah berkeluarga. Di dalam keluarganya ia adalah anak kelima dari lima bersaudara. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Selamat siang mas, sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih karena bersedia meluangkan waktunya untuk wawancara yang seperti kemarin saya sampaikan untuk keperluan penelitian saya tentang stres terhadap penderita HIV/AIDS. Monggo.. (sambil menyulut rokok ) Baik, kita mulai dari mas usianya berapa? 24 kay’nya mba.. Mas lahir dimana dan kapan? Aku lahir di jogja, 13 juni 83 Terus, pekerjaan mas? Wiraswasta..baru belajar mba.. Status mas sendiri? Kawin, sekarang sudah punya anak umurnya 2 tahun Mas I berapa bersaudara? Aku botot..alias ragil Dari berapa bersaudara mas? Lima..banyak ya Iya sih mas, lalu usia mereka berapa? Oh, yang mbarep? Kay’nya umurnya 36an..tepatnya aku ngga tahu..lha kalau mas I’ok ma mba yusi itu selisihnya kalau ngga salah dua-dua, lalu mas Deni agak jauh empat tahun. Lha yang terakhir baru aku Lalu, ibu mas masih bekerja? Mamah sekarang cuma jaga warung sama njagain keluarga aja koq mba. Memangnya usia ibu sekarang berapa sih mas? Kalau ngga salah sudah 66 ya..sudah tua mba Kenapa ngga di rumah saja sih mas? Istirahat sekalian ngemong cucu.. Lha ya itu mba..kemarin memang sudah disuruh istirahat saja di rumah, tapi tetap ngeyel..katanya kalau dirumah saja bisa-bisa jadi bosen, kalau udah gitu mendingan cari duit sedikit-sedikit yang penting bisa kasih uang jajan buat cucu-cucunya, ngga

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 mengandalkan uang tunjangan dari bapak terus..gitu.. Uang tunjangan dari bapak? Berarti selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga cuma ibu ya? Iya..karena bapak udah ngga ada kan kita dapat hidup dari tunjangan, trus ditambah pendapatan dari kakakku yang udah bekerja biasanya dibagi ke mamah. Makanya aku juga ngga mau nerusin kuliah karena aku ingin cepat kerja trus bisa mbantu mamah. Tadi mas bilang kalau mas kerja sebagai wiraswasta, bisa mas jelaskan seperti apa usaha mas itu? Aku kerjaannya setor sayuran ke toko-toko besar seperti IndoGrosir, Mirota Babarsari,..besok rencananya mau masukin ke Alfa, tapi ngga tahu jadi apa engga, Setor sayuran seperti apa? Ya ada brokoli,pakcoy, jagung, sawi, banyak mba..tergantung “PO”nya yang diminta dari toko. PO? Bisa jelaskan lebih detil lagi mengenai PO mas PO itu macam orderan sayuran yang diminta dari toko, biasanya sore itu kita sudah harus ambil PO langsung ke pasar untuk mbelanjain daftar POnya itu. Dulu pasarnya deket mba cuma belakang Mallboro..sekarang jauh, udah gitu habis belanja masih racik-racik di kantor..ha-ha..maksudku di rumah yang ruangannya biasa dijadikan gudang sayuran..kita biasa menyebutnya kantor Wijaya.. Begitu ya..kita kembali ke topik ya mas, menurut mas I cara mendidik ibunya mas bagaimana? Kalau dibilang mendidik, nanti saya dibilang kualat mba kalau orang jawa bilang.. Lah, kenapa bisa begitu? Kalau buat orang tua itu kalau dibilang ngandani itu ngga boleh..cuma memberi saran kalau bisa.. Kalau mendidik, ngga bisa..otomatis kan lebih berpengalaman orangtua daripada kita. Orangtua itu pengennya anaknya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa..(sambil tertawa). Cara mendidik anak itu ngga ada yang menjerumuskan pada hal yang jelek, semua orangtua pasti ingin anaknya baik, punya kepribadian yang bagus..gitu.. Kalau orangtuaku itu mbebasin koq mba, tapi dalam taraf bertanggung jawab..lha yang harus diurus mamah kan banyak. Lalu..jika boleh disimpulkan, orangtua mas I sendiri bersikap demokratis? Kurang lebih seperti itulah.. O iya, kegiatan mas I sebelum menikah apa saja?

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Cuma maen ma kerja.. Sebelum menikah mas I sudah bekerja? Sudah non..ya jadi supplier itu.. Selain itu? Nyambi..nyambi nongkrong mba…haha Lalu, sesudah menikah? Aktifitas masih kayak bujang, tapi maennya volumenya dikurangi.. Jadi lebih banyak untuk mengurus keluarga? Kerjaan mba.. Lha keluarganya? Ya mereka terurus, dalam artian ya semuanya diurus mba, cuma aku lebih banyak ngurus kerjaanku(sambil meminum dawet yang ada di depannya) Kalau pergaulannya mas I saat ini dengan teman-teman di komunitas, bagaimana? Kalau pergaulannya sih..kalau teman semua kutemenin..ada yang doyan mabuk ta’temenin, doyan maling ta’temenin, yang penting mereka ngga merugikan aku kan sudah cukup itu..O..ada satu halangan..kalau setelah nikah, gaul sama cewe ngga boleh ma istri hahaha… padahal cuma berteman, iya to? Nah, sekarang bagaimana mas I sendiri menggambarkan relasi relasi mas I, terhadap keluarga mas I sendiri..maksudnya hubungan mas I dengan ibu dan kakak mas I sendiri? Kalau masalah keluarga sih bisa dibilang masih sangat-sangat baik..ngga ada halangan apa-apa..komunikasi baik, ibu maupun kakak..semua masih seperti dulu..semua cukup terbuka koq mba, insyaallah.. Lalu dengan istri? Ya namanya dengan orang berkeluarga ya mba, begini..ya sehari bisa senang trus sehari bisa susah, sehari lagi bisa tengkar..ya macem itu mba..tapi sampai saat ini alhamdullilah masih baik-baik saja. Dengan pekerjaan mas sebagai supplier ini, apakah mas I sudah bisa mencukupi apa yang menjadi kebutuhan hidup mas dengan keluarga? Maksudnya penghasilan kan mba?..insyaallah kalau ngga cukup ya dicukup-cukupin, kebetulan istri saya juga bekerja jadi bisa barengbareng nyukupin keluarga. Sekarang menurut mas sendiri, cara menerapkan pola asuh pada anak anda seperti apa? Aku kalau mendidik anak ngga full je mba..selalu habis di kerjaan, lha gimana lagi..aku mulai kerja jam 6 sore sampai 2 pagi, habis itu

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 setor jam 6 sampai jam 9, biasanya siang ma sore saja aku bisa ketemu anakku, masalahnya habis kerja pasti istirahat di rumah mamah, kalau bisa dibilang sih cuma 50 persen aku pegang anakku. Lha kalau aku pribadi pengen anakku ngga seperti bapaknya ini, aku pengen dia punya jalan yang bener, tingkah laku yang bener..istri yang bener juga..haha..ngga seperti aku, harus nikah gara-gara hamil duluan..lagipula ngga ada orangtua yang pingin anaknya jadi “gentho”? O iya, tadi mas I bilang semua temen bisa ditemenin ya? Dalam artian tidak membeda-bedakan kan? Entah orang itu pemabuk atau maling sekalipun, lalu apakah mas I pertamakali kenal narkoba juga dari teman-teman mas I itu? Kalau dari mereka sih engga mba, aku kenal narkoba malah dari sodara iparku sendiri... Oh..malah dari saudara mas I sendiri? Bisa diceritakan mas? Aku waktu itu kelas berapa ya? SMA kelas satu..aku ngga terlalu ingat..aku sudah jadi serumah dengan sodaraku itu karena waktu itu aku sudah ikut kerja jadi supplier, jadi kemarin itu ceritanya sekolah nyambi kerja..nah, kelas satu kita masih baik-baik saja dalam artian kita ngga ada pikiran sama sekali tentang benda laknat itu..halah.. Ngga tahu kenapa pas waktu kita kelas dua keuangan sodara iparku bener-bener di stop oleh orang tuanya, maksud mereka mungkin nyuruh sodaraku itu mulai usaha sendiri buat nyukupin kebutuhannya sendiri. Kalau masalah uang sekolah tentu aja masih ditanggung orangtuanya, tapi kalo dia lagi ada perlu apa kayak baju atau jajan, orangtuanya sudah ngga kasih.. Waktu itu usaha supliier kita masih jalan mba, tapi mungkin dia ngrasa ngga cukup aja ya?trus entah dapat barangnya darimana, tiba-tiba dia nawarin aku buat makek obat, lha ya spontan kaget kan mba.. pas itu aku masih ngga mau, e..dia malah nawarin aku mbantu dia buat ngedarin obatnya itu..alasannya untuk cari duit tambahan gitu..lha pas begitu nyoba, kog gampang banget dapat duitnya..jadi ya keterusan.. Saat itu, mas cuma mengedar obatnya saja atau sekalian ikut nyoba pakai? Awalnya cuma ngedar aja, yang duluan pakai ya dia itu. Tapi yang namanya godaan kan pasti ada ya.. Selain ada stok buat diedarin, dia juga nyediain yang buat sendiri..pertama nyoba ada ketakutan juga dengan resikonya..kalau tiba-tiba ngga bisa berhenti kan repot..? tapi akhirnya ya nyoba.. Berarti mas I aktif menjadi pengedar dan pemakai dong? Bisa dibilang mba..tapi aku bisa berhenti koq, dia kan pernah

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 dipenjara setahun gara-gara ketangkep bawa ganja mba.. Maksudnya mas, dia siapa? Sodara iparku..aku bisa berhenti kan gara-gara dia dipenjara soalnya ketahuan bawa ganja.. Oh....tapi, mas I sempat ketagihan juga ngga? Ketagihan sih iya, tapi aku kan ngga sampai taraf yang bangetbanget..beda ma dia, dia itu ya..OD tuh sampai 2 kali kalo ngga salah..pernah hampir mati koq. Kalau aku ngga sampai segitu, pas ada stok lebih aja aku makek , atau pas lagi kumpul-kumpul aja…jadi aku ngga kaget banget pas sodaraku ditangkap trus tibatiba stok habis.. Mas I bisa langsung berhenti gitu aja? O ya engga..aku sempat ikut terapi juga waktu itu, terapi apa aku ngga tau namanya..terapinya kayak terapi doa gitu, kalau aku pikir kayak apa itu? Dihipnotis..perasaanku kalau udah ngikut terapi itu jadi tenang, trus kalau ada temenku yang nawari aku obat, aku jadi ngga doyan..tapi bukan langsung ngga doyan gitu, pertama ya masih ngerasa pengen, tapi lama-lama rasanya justru ngga enak kalo make…terapinya lumayan mbantu koq.. Sodara mas I itu, berapa lama di penjara? Nek wong jowo ngaranine “hukuman tempe”..alias cuma bentar.. kalau ngga salah 13 bulan,Itu pas kita mau ujian kelulusan SMA, dia ujian di sekolah tapi dijaga banyak polisi. Lha pas dia di penjara itu aku juga nyoba lepas dari narkoba.. Dari kesemuanya jenis obat itu, mas I pernah nyoba yang mana saja? Aku paling sering ngganja ma nyuntik, tergantung yang ngajak mba..seringnya ya itu.. Mungkin aku kena HIV juga dari bagi-bagi nyuntik itu..kalau “jajan” kan aku ngga pernah.. Tepatnya kapan sih mas mengetahui kalau mas I HIV positif? Kalau tanggalnya aku lupa..tapi itu bulan November ..pokoknya 3 bulan setelah sodaraku meninggal. Meninggalnya karena apa? Ya AIDS.. Oh..maaf mas…lalu 3 bulan setelah sodara mas meninggal itu pas kenapa mas? Pas sakit lalu memutuskan untuk tes darah atau gimana? Ngga sakit apa-apa..cuma kan dulu kita sering gantian nyuntik kalau pas ngga ada kerjaan..ya pengen tahu aja mba apa aku juga bakal punya nasib kayak dia. Apa yang menyebabkan mas I memutuskan untuk tes itu? Ya ngga ada..kayak tadi aku bilang..aku pengen memastikan

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 aja..ngga gampang lho mba, sekarang bayangkan aja, AIDS itu kan momoknya penyakit yang nakutin gara-gara udah pasti matinya, ditambah sampai sekarang ngga ada obatnya.. ya itu yang jadi pertimbangan jadi-engganya tes kemaren itu. Setelah tahu kalau mas I ternyata HIV positif, perasaan mas gimana? Sebenarnya aku ngga kuat setelah dengar hasil pemeriksaan yang dokter sampaikan.. Yang jelas aku syock lah mba..kayak gimana sih mba rasanya kalau divonis punyai penyakit yang mematikan.. Tapi aku malah lebih syock pas sodaraku itu yang divonis AIDS, aneh kan?.. Pas aku tahu kalau dia kena AIDS, aku langsung kepikiran mamah ma anak istriku..gimana nasibku nanti kalau aku juga kena? Akhirnya aku tes darah dan hasilnya ya itu..positif.. Tapi aku langsung nyadar kalau aku sendiri yang menyebabkannya, jadi aku ngga bisa menyalahkan siapa-siapa… cuma tetap kepikiran mamah ma anak istriku.. Adakah perasaan menyesal pada diri mas I setelah mengetahui hasilnya? Kalau sekarang mau menyesal sudah ngga ada gunanya..tapi aku jadi ngrasa bersalah aja ma mamahku.. kalau udah gitu kadang aku mikir mendingan kemaren ngga tes aja ya.. Kenapa? Ya mungkin kalau aku tetep ngga tahu kalau aku kena HIV, mungkin aku bisa hidup normal..kay’ dulu, jadi tetep kay’ biasanya aja..ngga terlalu kepikiran dengan penyakit ini.. Keluarga mas I juga tahu kalau mas I ternyata HIV positif. Cuma istriku dan beberapa temenku yang kemaren bareng makenya..mamah dan kakakku malah ngga tahu.. Kenapa justru keluarga mas I ngga diberi tahu? Gimana ya..mamahku itu orangnya ngga bisa dibuat mikir..kadang kalau kepikiran dikit aja pasti langsung sakit, kemaren udah ta’buat sakit gara- pacarku hamil duluan, sekarang aku ngga maulah mamah sakit lagi gara-gara aku lagi. Lalu, gimana reaksi istri mas saat tahu hasilnya ternyata positif? Kaget lah mba..beberapa hari sejak dia ngerti, dia jadi agak pendiam..mungkin mikir ya..tapi habis itu dia biasa-biasa lagi, seperti ngga terjadi apa-apa, dia juga lantas ngga mbeda- mbedain atau bersikap aneh. lalu, anak mas I? kenapa?..oh, maksudnya dia terkena juga apa engga? Kalau Vinsa syukur alhamdullilah engga mba, setelah aku sama istri ngobrolngobrol banyak tentang HIV, kita bawa Vinsa ke sardjito buat tes

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 darah..hasilnya negatif. Itu pertamanya istriku ngga mau lho mba, alesannya takut kalau ternyata vinsa juga kena. Kalau begitu syukur banget ya mas..lalu bagaimana dengan mas sendiri setelah menyandang status HIV ini? (EFC Aku pasrah aja koq mba..lha mau dibuat gimana lagi, semua orang .Tr) pada dasarnya akan mati, cuma kapan ma caranya yang beda-beda kan? Apakah mas I mengalami perubahan pada aspek kehidupan mas setelah tahu bahwa mas terkena HIV? Perubahan gimana ya? Maksud saya perubahan yang terjadi pada aspek ekonomi, fisik ataupun psikologis mas sendiri. Kalau fisik kayaknya tidak ya, dari dulu kurus terus mba.. Tapi pas aku tahu kalau aku kena HIV, ngga tahu kenapa sekarang kalau tiap sakit pasti mikirnya gara-gara HIVnya..dulu aku jarang sakit lho mba, tapi sekarang kalau capek dikit pasti langsung sakit. Apalagi kalau lagi banyak pikiran..pasti langsung ngedrop. Kemaren juga pas aku sakit ngga sembuh-sembuh, mamah juga udah nyuruh berobat bareng..tapi ngga kesampaian, pas itu aku udah takut kalau ada kejadian kay’ sodaraku itu..tapi allhamdullilah aku bisa sembuh. Repot juga kan mba kalau sering sakit trus mamah juga yang biasa keluar uang..ngga enak dong.. Lalu, gimana dengan perasaan mas I sendiri dengan adanya status ODHA di hidup mas sendiri..? Pertama aku ngga mau percaya kalau aku kena HIV, kadang pengen marah, tapi buat apa?Rasanya ngga kay’ dulu pas aku belum nyandang status ini, gimana ya..? Kalau dulu pasti mikirnya kenapa sih Tuhan ngga adil? Kenapa ngga orang lain aja yang posisinya kay’gini.. Apalagi kalau lagi kumpul ma keluarga atau temen..adalah perasaan berbeda, kadang ada perasaan takut dikucilkan kalau saja ada yang tahu..pokoknya serba ngga enak lah..tapi sekarang udah bisa nerima kog..apalagi ada keluarga yang selalu mendukung..ya ng penting sekarang gimana caranya bisa bikin senang keluargaku..(sambil melihat jam) Mas ada acara? Iya..aku harus jemput istriku sekarang ngga apa khan? Oh..ngga papa..hari ini cukup sekian dulu aja, nanti saya hubungi lagi untuk wawancara selanjutnya ya Ok..selamat sore ya..

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Wawancara 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Selamat siang mas, bagaimana kabarnya? Baik? Baik..wah, minumnya udah datang tuh..diminum dulu lho mba.. Wah..makasih banyak.. Baiklah, melanjutkan wawancara yang terdahulu, sampai pada adanya perubahan pada aspek-aspek kehidupan mas I setelah menyandang status ODHA? o..iya..ya itu mba…kalau fisik sih engga ya, tapi seperti aku bilang kemaren aku jadi gampang sakit aja. Kadang pas aku keluar juga atau lagi jalan sering apa ya..kayak merasa iri aja kenapa aku ngga bisa kayak mereka..sehat..ngga sakit apaapa..ngga punya beban apa-apa..normallah pokoknya. Orang-orang sekitar mas I juga, bagaimana sikap mereka terhadap mas dengan status ini? Kalau yang ngga tahu aku punya HIV ya biasa-biasa aja.. yang tahu aku HIV positif kan cuma temen dan istriku aja..kalau mereka sih ngga masalah ya, lha mereka kebanyakan juga udah kena kog..ya untungnya aku punya temen-teman yang mau ngerti keadaanku. O iya, kemaren mas I bilang kalau mas sempat aktif di LSM.., mas dapat informasi tentang LSM itu darimana? Kebetulan temen suplierku juga nyambi jadi konselor (PFC. visitednya di sana..kemaren cuma nyoba maen- maen ke sana, Scsir) ternyata pas ikut kumpul-kumpul anaknya asyik-asyik dibuat temenan Sekarang masih aktif disana mas? Udah engga mba.. Kenapa? Waktunya ngga cukup..aku masih harus ngurus keluarga juga..belum kerjaannya..aku sering main ke sana ya pas aku masih ngga ngerti-ngerti banget apa itu AIDS..pas stresstresnyalah pokoknya, makanya kan cari temen yang samasama bisa ngerti keadaanku. Kalau sekarang kadang masih nongkrong bareng anak Kembang tapi ngga sesering dulu..

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 Tapi, adakah manfaat kemaren mas I aktif ada di LSMnya itu? Yang pasti aku jadi lebih ngerti apa itu AIDS yang pertama..lalu, lama- lama aku jadi lebih bisa nerima keadaanku sekarang ini, apalagi kalau lagi kumpul ma anak-anak Kembang (LSM) trus cerita tentang pengalaman mereka itu aku (PFC. jadi lebih bisa bersyukur atas keadaanku ini. Ada juga yang Scsir) kisahnya lebih ngenes dari aku lho…kalau udah gitu kita kan bisa mbantu yang lainnya juga..biasanya kalau yang pertama datang mukanya muka orang ngga ada harapan..haha..aku dulu mungkin kay’ gitu juga ya.. Kegiatan seperti apa sih yang mas I lakukan saat masih di LSM? Ya kumpul-kumpul bareng, curhat ma anak-anak, ikut event ma penyuluhan di daerah-daerah pelosok..semuanya biar kita ngga stress aja koq..dan yang penting itu bagaimana kita belajar (EFC.A) menerima kenyataan yang ada..itu aja Biasanya stres yang seperti apa? Kalau mereka biasanya masalah gimana kita bisa nerima kenyataan aja.. kan ada saat kita tertekan dan merasa Tuhan ngga adil nempatin kita di posisi ini, belum lagi kebanyakan dari teman-teman juga punya tanggungan untuk menghidupi keluarganya..ada juga yang takut mati cepat..ada yang stres karena di rumah keluarganya terlalu berlebihan karena takut ketularan, ada juga yang bingung tentang masa depannya nanti, ada yang ditinggal pacarnya gara-gara pacarnya tahu kalau dia kena HIV..banyak koq mba.. Seperti itu ya…sekarang bisakah mas gambarkan sebenarnya mas I itu orangnya seperti apa sih? Aku mba? Apa ya.. Aku tuh orangnya gimana ya? Apa adanya, sok imut..haha…. Aslinya aku itu orangnya keras..maksudnya dalam pendirian..trus “kodo”..jadi kalau aku bilang A, orang harus ngikut A juga..semisal kalau istriku salah, aku bilang salah sama dia, lagipula aku ngga suka kalau harus ngomong 2-3 kali, cukup sekali aja tapi harus didengarkan..padahal,katanya mamah aku dulu ngga kayak gini lho? Agak keras sih..mungkin gara-gara kerjaan ya O iya mas, hampir kelupaan..pernah ngga sih terbesit dalam pikiran mas untuk melakukan hal yang nekad saat awal mas menyandang status ODHA? Hal yang nekad? Kay’ bunuh diri? Wah..engga sampai segitunya mba..stres sih iya, tapi kalau udah lihat anakku yang

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 masih kecil, aku jadi ngga tega sendiri..lha ntar kalau aku mati, yang ngasih anakku susu siapa coba? Lalu, adakah pelarian tertentu agar mas bisa ngurangi beban pikiran mas tersebut? Ada..minum ma anak-anak pasar…kalau engga ya bareng (EFC.Bd) temen LSM..si heri itu. Tapi ngga sampai mabuk banget koq.. Kalau engga ya..kumpul aja ma temen-temen Kembang, kalau ngga curhat biasanya kan ada yang ceritanya lebih berat dari (EFC. aku, dari situ aku bisa belajar nyantai.. Scser) Tapi pernah ngga dulu mas melakukan pelarian dengan mengkomsumsi obat penenang atau sejenisnya? Engga…kalau ke obat aku engga nyampe ke situ.. Biasanya, orang pertama yang yang mas beritahu kalau mas sedang ada masalah siapa? Biasanya sih mamah..tapi kalau udah masalah aku yang sakit, aku ngeluhnya sama istri..kalau engga ya sama T itu.. Lalu orang pertama yang mas kasih tahu tentang penyakit ini siapa? Ya T..baru istriku Reaksi yang diberikan T bagaimana mas? Dia Cuma mlongoh gitu aja..kay’ orang yang udah ngerti tapi dikasih tahu lagi..masalahnya yang pertama nyaranin aku tes kan dia, waktu itu aku ngga sengaja lihat obatnya BU di kamar..pas itu ya ada BU sama pacarnya, aku kaget pas baca “hanya dikomsumsi oleh penderita HIV” apalah itu.. pas T cerita kalo BU kena HIV aku ngga percaya aja, soalnya aku ngeri kalau aku kena juga..tapi masa iya sih? Pas itu aku masa bodoh aja sama mereka.orang kalau lihat BU pasti juga ngga nyangka koq kalau dia punya HIV, orangnya gede ngga kurus kay’ aku ini mba. Aku tanya bapak ternyata bener dia sakit itu. Pas BU meninggal aku jadi mikir- mikir juga gimana kalau T ternyata benar. Trus, akhirnya aku minta Heri surat pengantar tes. Lalu, tesnya dimana? Itu ngga lama setelah sodara mas meninggal kan? Ya November itu..setelah mikir- mikir lagi, aku tes di Sarjdito, kalau ngga salah dokter yang ngetes juga sama dokternya BU..pertama datang aku langsung ditanya tentang biodata sampai riwayat keluarga gitu..ya kay’ dikonselingin gitu mba.. Konselingnya seperti apa mas? Cuma ditanya tentang dulu apa pernah mainan narkoba? Pernah tato apa engga? Besok seumpama hasil tesnya positif..eh engga

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 ding, kalau HIV positif itu biasanya nyebutnya reaktif..nah, besok kalau reaktif, pihak siapa aja yang mau diberitahu? Lengkaplah pokoknya.. habis itu baru tes darah.. Saat mas I konseling ataupun tes darah, perasaan mas sendiri seperti apa? Aku Cuma mikir ngapain juga aku sampai sini segala..malah pengen pulang rasanya, tapi kan ngga mungkin. Pas mau ngambil hasil tesnya juga pertamanya ngga mau ta ambil lho..dah terlanjur sih.. udah gitu aku terus-terusan inget pas BU sakit kemaren itu, jadi takut sendiri kalau inget dia sakit sampai segitunya..kalau aku positif gimana nantinya? Terus pas hasilnya mau dibacakan juga aku sempat dikonselingin sebentar, dokternya tanya aku siap dengar hasilnya apa engga.. ya siap ngga siap dong.. Setelah mendengar hasilnya seperti itu, apakah ada perubahan secara emosional? Pasti adalah.. pas dibacakan hasilnya aku cuma diem aja, ngga ngerti mau ngomong apa. Yang pasti saat itu tanganku dingin semua.., pas pulang juga aku ngga kuat kalau udah lihat vinsa sama mamah, kalau udah gitu aku pengen nangis..mau cerita tapi sama siapa? Pas itu temen satu-satunya yang ngerti posisiku ya cuma pacarnya BU itu.. Malem aku ngga bisa tidur..takut bayangannya BU..takut kalau mamahku sampai ngerti kalau aku kena HIV..makan ga doyan trus kadang aku jadi marah- marah sendiri ngga jelas sama orang rumah, udah gitu aku sempat jadi orang yang “plegang-plegong” suka ngalamun sendiri..(subyek menghela nafas panjang) Lalu, caranya mas I mengatasi perasaan saat itu bagaimana? Malemmnya aku langsung toying sama anak pasar..aku dah mentok bingungnya, mau ngapain sama diapain ni kepala (EFC.Bd) (sambil meremas rambut). Disamping aku ngerasa amit-amit sama nasibnya BU, aku takut ngadepin keluargaku nanti. Aku juga nelpon Heri buat minta solusinya, kebetulan dia saat itu nyambi juga di Kembang trus ngajak aku maen ke LSMnya (PFC. sekalian dikasih buku pasien berdaya judulnya, ya itu.. aku cari Scsir) saran dari anak-anak yang udah lama di sana trus baca-baca tentang AIDS. Sekarang lumayanlah.. Dengan status mas sebagai ODHA ini juga, ada ngga sih permasalahan yang timbul? Khususnya semenjak mas tahu kalau mas kena HIV ini..ya misalnya ada orang yang tahu terus jaga jarak dengan mas atau sekitar keluarga mas Engga ya kalau orang yang tahu terus menghindar..tapi aku

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 190 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 yang malah jaga jarak misal sama Vinsa soalnya aku takut kalau dia nanti ketularan..kalau masalah engga tapi kebanyakan ya dari aku sendiri, apalagi kalau dekat sama orang nanti aku sendiri yang akhirnya mikir yang macem- macem, gek-gek do ngrasani aku yo? padahal kan do ra ngerti nek aku ki asline keno.. Sekarang bila mas sedang tertekan gara-gara memikirkan penyakitnya mas, caranya gimana? Kalau sekarang aku lebih banyak berdoa mba..pasrah sama yang gawe urip. Kalau dengan diam aku bisa ngga kepikiran, pasti aku diem terus..sayang ngga bisa ya?.. Untungnya ada temen-temen yang senasib denganku, kalau udah kumpul sama mereka kan rasanya enak..kalau engga ya cukup lihat vinsa aja..Cuma dia kog yang buat aku semangat pengen sembuh..sembuh dari hongkong?...yaa paling engga aku punya semangat hiduplah..tapi kalau aku lagi pengen ngga diganggu ya paling cuma nonton TV tempat mamah..pokoknya asal ada TV ntar pasti ilang sendiri… Mengapa mas milih cara itu? Kenapa ya… tau-tau gitue mba… biasanya kalau orang lagi susah baru inget sama Tuhan kan? Ya aku juga kay gitu..pas aku tahu kalau jatah hidupku ngga panjang otomatis aku pengen deket Tuhan aja, takut ngga masuk sorga..he..he ..Lalu gimana dengan kumpul dengan teman dan melihat vinsa beserta penjelasan tentang TV? o.. kalau itu yaw ajar kan kalau kita pengen dukungan dari orang yang senasib kay’ aku, kadang kalau aku lagi denger atau curhat sama temenku yang ceritanya lebih berat, bukannya ttambah ngeri tapi aku jadi makin kuat aja, apalagi kalau udah lihat anakku yang lagi maen, wah..ngiris banget rasanya…tapi aku malah tambah semangat hidup..piye carane lah ri men vinsa seneng.. Kalau begitu mas, apa yang dirasa membantu atau menyulitkan dalam penanganan masalah tersebut. Yang membantu ya mamahku untungnya ngga gotak kalau aku sering nonton TV sampai malem di rumah, kalau Y (istrinya) dah ngerti koq kalau aku lagi bareng Heri tuh ngapain… trus susahnya ya duit sama waktunya aja aku jadi jarang ketemu vinsa…repot banget kalau harus bolak-balik..malam sampai pagi kulakan trus nyetor, siang kalau ngga maen ya ke tempat mamah, sore baru bisa ketemu vinsa.. Lalu yang terakhir mas…bagaimana harapan dan keinginan (EFC .Tr) (EFC .Scser) (EFC. Scser) (EFC .Tr) (EFC .Scser) (EFC. Scser)

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 mas ke depannya? Aku pengen bahagia..tapi gimana caranya? Pasrah ae ya?...mangkane non..nek wong tuwo ngendiko ki dimirengke..jo koyo aku.. Iya mas..ya sudah..kalau begitu kita sama-sama berdoa biar Tuhan kasih yang terbaik buat kita ya.. Insyaallah.. Cukup wawancaranya mas, terimakasih banyak atas bantuannya. Nanti kalau seumpama ada yang kurang saya hubungi lagi boleh? Boleh….terima kasih juga..

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 B. TRANSKRIP VERBATIM WAWANCARA SUBJEK 2 (W1.S2. ) Identitas Subjek Nama : TN Usia : 23 tahun Pendidikan : SMU Agama : Kristen Status : belum menikah Urutan kelahiran : Anak kedua dari tiga bersaudara Pelaksanaan Penelitian Observasi Hari/Tanggal : Kamis,12 Juli 2007 Waktu : Pk 16.20 – 18. 45 WIB Tempat : Rumah subyek Hasil Observasi (HO. S2) Subyek tinggal dalam rumah yang lingkungannya tidak terlalu ramai dilalui oleh pengendara motor maupun kendaraan besar. Samping rumah subyek masih terdapat beberapa petak sawah sehingga wawancara berlangsung. menciptakan suasana tenang saat

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 Terdapat satu salib besar diantara pintu ruang keluarga. Selain itu juga terdapat dua buah patung yang sederhana untuk menghiasi sudut ruang yang masih terlihat kosong, karena dalam ruangan tidak satupun terdapat foto keluarga ataupun ornamen yang menghiasi dinding ruang tamu. Wawancara terhadap subyek dua dilakukan di ruang tamu. Subyek juga menyambut pewawancara dengan hangat dan menerima dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku subyek yang langsung menyapa dan menanyakan kabar. Subyek pun tampak tenang dan tidak khawatir untuk diwawancara. Suasana yang tenang juga, mendukung subyek dalam menceritakan kisahnya kepada pewawancara. Selain itu subyek nampak tenang saat menceritakan kisahnya, hal itu dapat ditunjukkan dari perilaku subyek yang lancar dan cukup baik dalam menyusun kata saat menjawab pertanyaan dari pewawancara. Subyek juga sempat memperlihatkan ekspresi sedih saat subyek mulai menceritakan pengalamannya dengan pacarnya saat menjelang kematian pacarnya (BU). Selain itu subyek juga sempat terdiam sejenak dan pamit untuk ke dalam untuk sementara. Setelah pewawancara menanyakan keadaannya, barulah subyek mengatakan bahwa dia masih teringat dengan pacarnya yang sudah meninggal. Selain itu subyek juga berpesan agar kisahnya tidak diceritakan pada orang lain. Secara umum, proses wawancara dapat berlangsung dengan lancar. Hal ini juga didukung salah satunya oleh hubungan baik yang telah terbangun antara

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 subyek dan peneliti. Selain itu, didukung oleh keseriusan subyek untuk tetap dapat fokus pada peneliti dan mampu menyelesaikan wawancara dengan baik. Wawancara Hari/tanggal : 12 Juli 2007, 15 Oktober 2007 Waktu : Pk 16.20 – 18. 45 WIB, Pk 20.05 – 21.15 WIB Tempat : rumah subyek Deskripsi tentang subjek Subjek penelitian adalah seseorang yang telah terinfeksi HIV/AIDS sejak bulan Oktober 2005. Ketika itu subjek berusia 21 tahun dan masih semester 7 saat subyek mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV/AIDS. Di dalam keluarganya ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Transkrip wawancara 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Bagaimana jika kita mulai wawancaranya sekarang? Ya....gak apa-apa. Pada kesempatan ini saya ingin dengar kembali kisahmu, pengalamanmu tentang HIV. Nanti ceritakan saja seperti kalau kamu cerita. Banyak po... Tidak terlalu....nyantai saja...nanti juga tidak terasa lama. Sekarang saya ingin dengar cerita tentang orang tuamu. Oh..sebentar, saya pengen tahu identitasmu dulu.. kita mulai dari usia dan tanggal lahirnya? Aku lahir tanggal 15 mei 84, umur masih 23 Kerjaan kamu? Aku masih kuliah Mba asli jogja? He’em..ngga pindah-pindah juga kog, dari dulu disini aja. Status? Janda..haha..aku belum nikah

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Saudara kamu ada berapa? Dua cewe semua, mbakku udah punya anak dua cewe semua juga, kalau adikku baru mau masuk sekolah Gizi. Nah, sekarang ceritakan tentang relasimu dengan keluarga? Aku sama adik baik-baik aja, sama kakak juga..apalagi ibukku, aku sayang banget ma ibukku, soalnya apa? Dari kecil ibukku selalu ngasih apa yang aku minta, kalo aku lagi pengen curhat biasanya ke ibukku, cuman sekarang ibukku lagi banyak masalah, jadinya aku sering cerita sama adikku. Beda kalo sama bapakku aku ngga gitu akrab soalnya bapakku itu orangnya suka marahmarah, semua orang dianggapnya bodo, apalagi kalo lagi lihat bola aduh..mendingan ngga jejeran ma bapakku, sebenere ngga galak, cuma agak kolot, makanya aku ngga bisa kalo mau curhat banyak ma bapak, paling mentok aku cuma berani minta uang. Lalu pergaulan kamu? Pergaulan sama sapa ya? Temen? Masalahnya temenku banyak e.. Kalo sama temen aku kenal banyak, tapi kalo yang deket banget cuma beberapa aja,yang penting enak dibuat jalan sama kalo pas aku lagi ada masalah, mereka bisa ngasih aku masukan. Aku pas kecil banyak temen di kampung, tapi sekarang mereka udah pada punya anak, moso aku ngajak mereka jalan-jalan ya dah ngga wangun to? Lagian anak kampung sekarang kebanyakan yang seumuran adikku..ya mendingan main sama temen kampus kan? Menurut kamu, mendidik orang tuamu seperti apa? Ibukku itu super baik lho. Dalam artian gimana ya, ibukku membebaskan aku kalo aku mau main sama siapa saja, tapi tetep mantau soalnya ibukku takut kalo nanti aku sama kejadiannya dengan kakakku. mereka nggak kolot-kolot amat. Mereka cukup memberi kebebasan dalam bergaul dengan siapa saja. Mereka nggak pernah larang temenan sama siapa aja tapi asal..., asal nggak sampai terjerumus ke pergaulan bebas. Lha kalo bapak, kolot banget, soalnya bapak kan orang rumah sakit, biasanya bapak dapat pengalamannya ya dari situ..bapak ngga jarang kok wanti-wanti aku biar lebih hati- hati sama orang lain khusunya cowo. Aslinya mereka itu pengennya aku jadi orang yang baik dan ngga keblasuk ke yang negatif biar besok gedenya aku bisa jadi orang yang berhasil. sekarang ceritakan saat kamu terkena HIV? Mau dari mana? Panjang lho, paling kalo naik kereta ngga sampai..hehe Aku ngikut aja.. mendingan dari saat kamu mulai dari asal kamu kena HIV.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Kalau pas kena HIVnya aku ngga tahu ya, tapi kalau aku tahu aku dah kena itu oktober tanggal 28, 2005..masih hapal to?tapi itu tes aku yang kedua. Yang pertama aku tes itu tanggal berapa ya, juli pokoknya..wong pas itu BU masih nginep di Sarjdito. Kalau dari asalnya aku kena dari BU. Sepertinya kamu ngga pernah memakai narkoba suntik kan? Ya engga, aku kenanya gara- gara main ma dia, kalau engga salah semester empat aku mulai pacaran. Dia kan kakak kelasku SD, tapi ketemu lagi pas aku udah kuliah..e ngga tahunya kita jadi deket trus pacaran, dari situ kita pegang komitmen..udah suka sama suka ya kita akhirnya nglakuin karena aku juga ngga tahu ya pas aku pacaran sama dia kayak udah yakin banget kalau dia yang bakal jadi suamiku nanti. Tapi saat itu kamu tahu kan dia baru keluar dari penjara? Iya lah..orang pas aku belum deket ma dia aku juga pernah nengok sekali di polres jetis waktu itu dia belum dipindah ke sekolah wirogunan. Tapi kamu tahu juga dia masuk penjara gara-gara apa? Narkoba, begonya dia tuh ya disitu..ngga ngerti kalo dia dijebak sama temennya sendiri.. padahal kalo ngga salah dia lagi bawa banyak barang. Tapi hukumannya lumayan bentar 1 tahun lebih dikitlah. Berarti kalau dipenjaranya gara-gara narkoba, ada kemungkinan dia juga pemakai? He’em.. menurut versi ceritanya sih, dia udah pernah pakai segala macem obat..katanya lho Lalu, kalau kamu tahu dia bekas pemakai, mana kayaknya dia tatonya juga banyak kan? Kok kamu mau lho pacaran ma dia.. Pertanyaan yang aneh..ya itu tadi..aku ngga ngerti ya pas pertama ketemu dia langsung cocok aja, sekeluarga juga ngertinya dia cowo baik-baik, sering ngajakkin aku ke gereja makanya pas aku pacaran ma dia semuanya lancar- lancar aja.. Tapi pas waktu itu kamu belum tahu kalau dia kena AIDS..? Ya belum..dia juga ngga tahu kok..orang kita ngertinya pas dia sakit ngga sembuh-sembuh itu baru pak Wid bilang kalau ternyata BU sakit AIDS. Lalu, gimana dengan relasimu dengan BU setelah dia keluar dari penjara? Baik-baik aja, kita ketemuan tiap hari mana durasinya panjang banget. Kalau dulu habis aku kuliah biasanya kan dia yang jemput trus kita kemana kek yang penting jalan, jadi ngga bosen. Kadang kita ikut arisan keluarga, kalau engga kita maen ke pantai atau

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 naik ke kaliurang,aku juga sering ikut acara keluarganya dia jadi aku udah dikenal baik sama keluarganya. Berarti, kalau keseharianmu selalu dengan BU, relasimu sendiri dengan teman-temanmu gimana? Agak keganggu juga sih, soalnya tiap hari aku ketemunya sama dia aja, jadi ngga sempat dolan kemana- mana sama temen-temen, tapi kalau aku udah di kampus, aku bisa main sepuasku, biasanya aku cari alesan apa kek biar aku bisa main sama mereka, untungnya BU ngerti juga..lama- lama kalau cuma sama BU aku bisa bosen juga kan? Tapi anehnya aku kok ngga pernah ngerasa bosen lho, habisnya aku ma dia pasti punya acara kemana aja, kalau ngga sama keluarganya ya sama keluargaku. Untungnya aku dapet temen yang enak-enak, ngga neko-neko, selama ini aku jalannya ya enak kok sama mereka. Berarti kegiatanmu juga selama itu terbatas cuma antara kamu sama pacarmu dong? Mau dibilang engga tapi iya., mau dibilang iya tapi engga..piye ya? Ya pokoknya kalau pas aku masih jadi pacarnya isinya pagi kuliah sampai siang, habis itu nemenin dia mbangun rumah sampai sore, rumahnya kan buat besok usaha mbengkel dia, trus kalo dia ada kursus mbengkel, aku ya nganter sampai selesai baru malemnya kita ke pasar buat kulakan sayur. Dia kan kerja jadi supplier..udah tahu to? Jadi ketemu sama keluargaku ya cuma malem aja itu aja kalau orderannya sedikit aku jadi bisa pulang rumah cepet, kalau banyak ya bisa sampai malem banget. Tapi pas dia dah mulai kerja di Surabaya, waktuku buat kuliah sama di rumah jadi lebih banyak, lha ketemuannya cuma 3 hari seminggu. Sampai kamu tahu kalau kamu udah terinfeksi HIV, kegiatan kamu juga seperti itu? Apa ya? Enggak gitu banget, soalnya dia kerja di Surabaya cuma 6 bulan aja, pertengahan Mei itu dia udah sakit jadinya pulang jogja sendirian naik bis, e ngga tahunya badannya udah tambah kurus banget. Selama dia kerja ya aku serius kuliah, main juga paling cuma sama temen kampus, trus kumpul sama orang rumah. Tapi pas dia udah sakit, aku juga masih sering nemenin dia di rumah, lha dia ngga ada temenne je, ibuk bapak kerja sampai sore, mase dah di luar kota, yang satunya ya kerja, jadinya dia sendirian di rumah ngga ada yang ngurus. Paginya aku dah stand by di rumahnya mbawain sarapan, nemenin dia de-de (istilah berjemur) kalo engga ya ngelap badannya..sampai malem gitu aku di rumahnya, pas itu kebetulan aku lagi semester pendek, jadinya ngga ngganggu kuliah, keluargaku juga ngerti kok aku ngapain aja

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 di rumah pacarku. Lalu kegiatan kamu setelah kamu tahu kalau kamu kena HIV? Pas aku tahu aku udah kena kan BU dah ngga ada, sebelumnya aku dah di tes sama pak Wid, dokternya bilang kalau kemungkinan aku juga kena. Aku kaget sih, pas itu aku juga pengen marah sama BU kalau aku sampai kena aku ngga bakalan maafin dia. Tapi pas aku tes lagi Oktober itu karena pak Wid nyuruh aku tes lagi soalnya takut kalau hasil yang Juli baru masa jendela katanya, jadi hasilnya ngga pasti. Ternyata hasilnya yang Oktober aku positif. Mau marah tapi ngga bisa, stres juga engga masalahnya waktu itu aku pengen nyusul BU, jadinya aku mikir malah ngga papa kalau aku punya sakit yang sama, jadi bisa cepet sama-sama lagi (subyek terdiam)… Hey..kamu ngga papa kan? Ngga kenapa-napa kok.. ya itu…aneh nya aku malah ngga papa kok kalau aku ternyata juga kena HIV, bukan seneng ya..tapi malah ngga kepikiran penyakitnya.pas ditinggal BU pergi aku lebih sering di rumah, kuliah juga ngga semangat, palagi sampai main..aku sering nginep tempat BU sekalian kalo ada sembayangan, jadi aku sekalian mbantu nyiapin sembayangan sama bapak ibunya BU. Kalo engga aku ngikut IN (saudara BU) ke pasar, pernah juga aku diajak IN ke nogotirto ternyata LSMnya Heri. Disana ternyata banyak juga orang yang kena HIV, tapi pas itu aku ngga ngeh ngapain aku ke situ. Aku terima kog kalo aku kena, aku malah ngga trima kalo BU ninggalin aku sendirian kay gini. Udah sakit HIV, ditinggal mati pula..sengit aku. Bisa ceritakan gimana perasaan kamu saat kamu di tes HIV? Waktu itu aku mikir kalau itu bisa disembuhin lho..pas pak Wid pengen ngobrol banyak aku juga nanya kok apa BU bisa sembuh. Pak Wid cuma bilang kalau sembuh kayaknya ga mungkin, tapi kalau ngurangi virusnya masih bisa. Trus pak Wid nanya-nanya tentang apa aku aktif hubungan dengan BU? Berapa lama trus apa ya, banyak kog. Pas dites pertama kali aku pikir biasa-biasa aja, malah suster yang nyuntik aku yang ngga biasa, lha dia pakaiannya ngeri dari masker sampai kaos tangannya tebel banget. Mana darahku langsung disendirikan gitu, udah gitu tesnya kan dua kali, konselingnya juga dua kali. Marai sebel, yang bikin ngga enaknya kan itu tahulah aku mau periksa HIV, tapi mbo ya ngga kayak gitu..ini lagi tesnya, lha kalau orang pada tahu ternyata aku HIV gimana? Pak Wid cuma bilang kalau kemungkinan aku kena masih ada karena aku aktif berhubungan dengan BU, pas BU udah sakit aku juga pernah. Ternyata bener..aku positif.

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 Lalu gimana perasaanmu ketika kamu tahu kalau ternyata hasilnya positif? Ngga gimana-gimana. Maksudnya gimana? Kamu ngga stres saat hasilnya reaktif? Piye ya, soalnya aku udah stres ditinggal mas BU, jadi pas aku ngerti kalau hasilnya ternyata positif, aku malah gak mikir soalnya aku bisa cepet nyusul dia aneh to? meski kemaren aku sempat lihat gimana susahnya ngambil napas, susah maem, batuk-batuk terus. Ngeri sih, tapi aku lebih seneng kalo bisa sama-sama dia lagi. Stresnya malah sekarang. Pas aku nyoba cari pacar lagi..hehe belum lagi gara-gara aku lihat ibukku ikut susah kalo ngrasain aku, aku jadi ngga enak sama ibu. Setelah kamu tahu hasilnya positif, apa yang kamu lakukan? Pas itu aku nangis tapi nangisnya bukan gara-gara aku kena juga…tapi aku kasian sama ibukku..habis itu aku biasa-biasa aja kok..ngga gimana-gimana..kalau takut sama HIVnya kayaknya belum ya, aku lihat sendiri mas BU dari pertama sakit sampai meninggalnya.. Tadi kenapa stresnya malah sekarang lho? Ya iya to..kalau kemaren aku ngga kepikiran penyakitnya, soalnya udah stres ditinggal mas BU, tapi sekarang pas udah ada cowo yang deket malah jadi kepikiran..trus jadi ngga enak kalo deket ma orang lain..takut kalo mereka nanti ta’tulari. Pernah kemaren cowo yang deket tanya kan BU meninggalnya sakit apa sih? Aku njawabnya sakit kanker paru-paru…ya betul to? AIDS kan nyerang paru-paru?..aku ngga berani bilang kalau dia meninggal gara-gara AIDS, sama aja cari mati … Lalu, sesaat setelah kamu tahu kalau kamu ternyata reaktif? Apa yang kamu lakukan? Pas itu aku nyengoh aja lha pas aku butuh mas BU, dia ngga ada buat nemenin aku tes..aku pengen marah sama dia..tapi aku juga nerima kalau aku punya penyakit sama kayak dia..pengen nangis soalnya aku mikir kalau aku sakit parah ngga ada yang nemenin aku.. (EFC. Aku pulang dari rumah sakit langsung ke makam..bilang sama dia Fove) kalau aku kena juga..tapi aku marah sama dia soalnya udah ngasih aku penyakit yang ngeri gini.. Kemaren ada cowo yang dekat ya? Kog ngga bilang-bilang lho.. Nah ini bilang..piye sih.. Lha sekarang cowonya gimana?, masih jalan? Engga..aku gimana ya, kalau temenan ngga papa ya, tapi nanti

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 kalau udah jadi deket banget apalagi kalu dia sampai nembak aku langsung mundur teratur..kayak udah dipasang tombol otomatis buat gitu. Aku masih sayang mas BUe..trus nanti kalau aku misalnya ndilalah ada rasa juga, nanti ke depannya mikirnya panjaaaaaang banget. Aku kasian kalau nanti suamiku ikut kena juga..trus anakku gimana? Ya kalo ngga kena..kalo kena? Trus trus yang lain masih ada.. Nah sekarang ceritakan mengenai kamu sendiri..semua yang kamu tahu kamu itu orang yang seperti apa? Kalau menurutmu? Aku ini tipe gimana? Aku sendiri bingung.. apa ya..pendiam..tapi rame, ngga suka diperintah palagi dibentak, terus aku paling ngga suka dikhianati..palagi dibohongi..isinya kayak profil di friendster ngga papa ya? Udah? Itu aja? Apa lagi ya..(diam sejenak) kalau bapak yang bilang aku ini orangnya keras..ngeyel, kalau ada maunya harus ditepati..tapi kalau ibukku yang nilai aku tipe orang yang ngga tegaan tapi kesannya gampang dibodohi..udah.. Tadi kamu bilang kalau kamu merasa ngga enak sama ibu, ibu tahu ya tentang sakitmu? Engga, aku dah janjian sama IN kalo kita ngga boleh ngasih tahu orang lain, aku takut kalau denger pengalaman temene IN yang dah lama kena.. Lha terus, alasan kamu masalah perasaan ngga enak kamu terhadap ibu kenapa? Ya ngga enak kalau udah bohong terus, ibu tahunya kan aku ini anaknya yang paling ngga mau macem- macem, tapi kalau bapakku kemaren sempat bilang kalau BU meninggalnya garagara narkobanya..soalnya bapakku kan orang rumah sakit jadi ngertilah orang pakai narkoba. Aku takut je ri… Sekarang apakah status kamu sebagai ODHA ini membawa perubahan buat kamu, misalnya di kesehatan kamu, ekonomi.. apalah.. Kalau dulu aku sering sakitnya ngga tahu gara- gara kepikiran mas BU atau gara- gara HIVnya aku ngga ngerti tapi sekarang ngga boleh stres soalnya kalau aku dah stres pasti gampang sakit. Apalagi kalo deketan sama orang sakit pasti ketularan. Sugesti kali ya… Kemarin pernah sakit yang serius akibat stresnya? Pernah dulu tapi ngga serius banget, demam berapa hari ya..2 minggu ada kok.. Lalu, di aspek lainnya misalkan perekonomian?

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 Kalau di ekonomi engga kok,..tesnya kemarin gratis..lagian kalau aku sakit nanti bapakku yang ngobatin pokoknya ngga sampai ke rumah sakit kok Kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa yang membuat kamu lebih stres? Penyakit kamu ini, atau ibu kamu yang ngga tahu penyakitmu hingga kamu ngga dapat dukungan terhadap kondisimu sekarang ini? Kalau ibukku jadi sedih gara-gara mikir penyakitku, mendingan aku ngga ngasih tahu, aku lebih stress kalau ibukku ngerti trus dia jadi sedih. Kenapa kamu pilih alasan itu? Aku gimana ya..harusnya kalau orang yang divonis AIDS tuh kan pasti jadi mikir kan? Tapi aku ngga tahu ya, mungkin kalau posisi mas BU ngga meninggal aku pasti stres soalnya mikir kedepannya gimana, tapi ma s BU kan ngga ada, jadi aku mikir nanti kalau aku matipun aku bisa ketemu mas BU lagi. Lagian kalau aku bilang sama ibuk, takut kalau ibu jadi beda aja. Beda gimana maksud kamu? Ya beda aja..nanti ibukku pasti berubah..malah males aku..mendingan ta simpen sendiri aja Lalu, pihak yang tahu kalau kamu terinfeksi HIV siapa saja? IN,mbakku sama adikku juga ngerti..bapak-ibunya mas BU trus mas Cahyo cah-cah Lentera juga.. Cah-cah Lentera itu siapa? Maksudnya konselornya LSM Lentera kamu konseling juga di Lentera? Aktif mengikuti kegiatan disana? Kalau aktif engga ya, aku 2 kali kesana ya buat konseling aja, pengen kerja disana malahan..kayaknya enak tapi ngga tahu jadi pa engga.. Saat dikonseling, apa yang kamu dapat, masukan atau apa? Pas konseling pertama kali aku masih bingung mau ngasih tahu keluargaku apa engga..tapi ternyata yang kasih saran orangnya kena juga kan, tapi kayaknya ngga kerja di sana, dia bilang kalau pas dia ngasih tahu keluarganya, mereka jadi beda trus mala h ada (EFC. yang takut dekat-dekat, aku jadi mikir juga kan kalau keluargaku Scser) nanti kayak gitu juga gimana?. Jadi mikir juga kan Kok ngga ke Kembang, bareng sama IN? Engga ah, Kenapa? Ngga suka aja..aku ngeri pas wingi ketemu sama sapa ya namanya..umurnya 15 lho..tapi katanya dah nunggu matinya gitu

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 to..mendingan di Lentera..aku ngga kenal banyak di Lentera, trus ngga ikutan kumpul..jadi cuma dikit aja yang tahu aku kena HIV. Kalau kamu kurang dapat dukungan dari keluargamu, lalu selama ini kamu dapat dukungan dari siapa? Ya bapaknya mas BU..soalnya bapak yang paling ngerti aku gimana.kalau bapakku kan galak, aku jadi ngga berani ndeketin bapakku..kalau engga ya aku main sama IN, tapi itu lho..’Mbok beruke’ IN cemburuan banget..aku jadi ngga enak kalau jalan sama dia..sebenarnya HIV tuh ngga ngeri-ngeri banget kok..kalau aslinya dah ngerti kay apa penyakitnya..cuma gara-gara ngga ada obatnya to orang jadi takut ketularan..untungnya aku juga punya buku pegangan Kalau begitu kamu ngerti apa itu HIV/AIDS juga dari buku buku pegangan itu? (PFC. Ya dari bapak..dari brosur-brosur juga..belum kemaren liat sendiri Scsir) orang yang kena HIV secara langsung… Dari mas BU ya? Iya..siaran langsung pula.. Kalau boleh tahu, gimana sih perasaan kamu pas kamu ngerti ternyata BU sakit itu? Kalau dulu kan gara- garanya aku ngga ngerti-ngerti banget HIV..tahunya ya kalau HIV masih bisa disembuhin..jadinya ya ngga masalah kalau dia emang sakit gituan, tapi sekarang..aku malah takut..soalnya kan kalau mbayangin dia yang batuke kayak gitu, trus ngga bisa tidur..moso aku besok juga gitu sih??? Kan ngeri… Kalau udah seperti itu, mungkin ngga sih akhirnya kamu jujur sama ibu kalau kamu punya penyakit HIV? Sekarang aku ngga mau..aku jaga perasaan ibukku dulu. Kenapa? Ya ibukku kan dah banyak pikiran kan..dah kerja sendiri..bapakku cuma bisa marah-marah..ngga cari duit gimana caranya kek..masih mikir adikku yang lagi masuk kuliah..aku ngga mau nambah pikiran lagi..pertamanya emang susah ri..aku bingung harus cerita sama siapa?coba mas BU masih ada kan jadi ngga susah gini, rasanya kayak gimana ya..nyimpen rahasia dewe’an tapi ga iso nyeritakke..aku kayak nyimpen aibku ri, jadi aku aja yang ngerti.. Tapi bila ada kesempatan kamu buat ngomong, kamu bakalan ngomong ngga? Engga….. Mungkin kalau aku besok sakitnya dah kayak mas BU, mungkin aku ngomong, tapi sekarang aku ngga mau.

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 Tadi kamu bilang dapat buku pegangan itu dari bapak memangnya ngga tanya buat apa? Iya itu kemarin emang ditanyain buat apa, aku bilang buat tugas kampus udah bapak ngga tanya lagi Lalu kalau kamu sedang ada masalah, misalnya masalah obat atau stress yang kebetulan nyangkutin HIVnya gimana? Berdoa dong…. Susahnya disitu..mau minta bantuan ibu tapi kalau akhirnya nanti keceplosan bicara gimana? Kalau ketemuan ma IN takut sama istrinya, dulu pernah dibilangin selingkuh gara-gara sering ketemuan..jadi males, paling aku main ke rumahnya mas BU..cerita ma bapak atau ibu Dengan status kamu sebagai ODHA ini pernah ngga orang lain memberi reaksi terhadap kamu? Enggak..mereka biasa-biasa aja kok..tapi kalau yang tahu aku sakit HIV khususnya keluarganya mas BU, ngga tahu kenapa mereka kesannya njaga aku banget..kalau aku lagi susah apa mereka pasti mbantu..mungkin ikut ngrasa bersalah aja ma aku ya..pede.. Menurut kamu, kenapa bapak -ibunya BU seperti itu? Ngga tahu.. dulu pas awal mas BU ngga ada bapak emang pernah bilang kalau ada apa-apa ngomong aja sama bapak gitu..lagian kita juga dari dulu deket banget kok sar..aku dah dianggap keluarga sendiri ma bapak. Kamu sendiri, gimana kamu menanggapi lingkungan setelah kamu punya status HIV ini? Maksudnya lingkungan rumah atau bagaimana? Termasuknya..orang-orangnya, lingkungan luar.. Aku ngga nganggap semuanya berbeda..aku yang agak gimana..aku jadi ngga pede kalau ada cowo ndeketin aku..keluargaku juga biasa-biasa aja kok..mbakku juga ngga gimana gitu ma aku..gini ya, aku itu kenapa aku milih diam soal penyakitku ini soalnya aku pengen semua yang liat aku biasa aja..ngga takutlah, ngga kasianlah.. aku cuma pengen hidup normal aja meskipun aslinya aku punya HIV. Tu lho sar.. Iya..aku juga ngerti kok..lalu selain kamu merasa ngga pede terhadap cowo yang ndeketin kamu? Ada lagi yang lain? Paling ya sekitar-sekitar itu aja..itu..mbok berukke IN pernah ngata-ngatain aku sama IN wong penyakiten tapi ngapain nggagas…dia ngga nyadar kalau sama penyakiten.. Tapi pernah ngga sih kamu merasa mempunyai pandangan lain terhadap orang lain, misalnya iri atau menyesal atas keadaan

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 kamu? Dulu..tapi sekarang biasa aja..gimana ya..satu yang bikin aku kuat sampai sekarang ini ya mas BU itu..dulu aku mikir kenapa satusatunya kebahagiaanku diambil Tuhan..jadi kalau sekarang aku harus iri dengan orang lain kenapa? Toh kalau aku besok matinya gara- gara penyakit ini, aku nanti bisa ketemu mas BU lagi kok.. Berarti kalau begitu kamu ngga menyesal dengan keadaan kamu sekarang? Engga..menyesal kenapa? Tuhan udah kasih seperti ini kok..kalau iri..kadang ya..palagi pas liat orang yang pacaran bisa langgeng sampai nikah sampai nenek- nenek juga..kok aku ngga..tapi kadang aku pengen marah ma Tuhan napa aku di posisi yang kayak gini..ya minimal kalau udah ditinggal mati ya udah,ngga pake ditinggali sakit juga O iya..tadi kamu bilang kamu 2 kali konseling di Lentera kan? Adakah manfaat yang bisa diambil dari konseling itu? Konseling kemaren cuma bantu aku dikit kok..awalnya aku cuma minta pendapatnya tentang gimana baiknya aku harus ngomong sama ibukku atau engga..trus yang kedua aku aku curhat ya yang sekitar-sekitar itu aja..ya mbantu- mbantu dikit lah..kadang kalau aku mikir bikin stres juga kalo harus ngadepin sendirian, makanya cari temen yang bisa diajakin kompromi masalah ini Pernah ngga ikut kegiatan disana? Engga.. Kalau boleh tahu apa sih yang biasanya jadi pikiran kamu saat konseling? Kepikiran mas BU..kepikiran kalau nanti akhirnya ibukku tahu jadinya gimana..aku kasian juga sama ibukku, mungkin ibuk pikir aku ini anaknya yang ngga bisa macem- macem ya, tapi kalo ibu tahu aslinya aku gimana.. Kalau dulu kan aku lebih sering kepikiran mas BU..tapi sekarang aku takut kedepanku nantinya..apa bisa aku nyenengin ati ibukku, apa bisa nanti aku ketemu sama orang yang tahu keadaanku..sekarang aku jadi ngeri sendiri kalau aku mbayangin besok aku bakalan sakit kayak BU…duh ibukku mesti gelo ri.. Terus kalau kamu sedang kepikiran hal itu, gimana cara mengatasinya? Aku berdoa aja ri..Tuhan pasti ada maksud nempatin aku di posisi kayak gini, aku nerima kok,toh ini juga yang terbaik buat aku. Tuhan juga pasti kasih jalan kok..kadang aku nangis sendiri..ceritanya protes kali ya sama Tuhan..atau kalau engga aku (EFC .Fove) (EFC. Scser) (EFC.Tr) (EFC.A) (EFC.

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 474 475 476 477 ke makamnya mas BU curhat kayak orang gila..lha ngomong sendiri..tapi sekarang dah jarang.. Pernah ngga saat kamu stres, kamu melakukan hal yang negatif? Dulu aku setahun minum ekstra joss rutin 3 kali sehari lho..ngga tahu kenapa. Pertama minum biasa- biasa aja, trus ketagihan. tapi dulu kesannya aku pengen cari penyakit biar cepet mati..aku bingung kudu ngapa lagi. Kalau udah HIV kan mau ngga mau kan jadi ringkih,jadi cepet sakit to? Daripada nanti ngrepoti orang? Mendingan mati cepet-cepet.. Sekarang masih minum itu? Engga.. Trus bisa berhentinya gimana? Ketahuan bapak...lha dulu kalau ngga minum tuh rasanya lemes je..tapi akhirnya bisa juga kok. Wong dah niat Kok kamu bisa punya pikiran seperti itu? Ya sekarang bayangkan aja, kalau ditinggal mati pacarnya tuh rasanya kayak apa sih, belum aku kena HIV dari dia..mungkin kamu ngga ngerti ri..aku pengen ngga percaya sama semuanya pas itu, ya mas BU, ya penyakitku..rasanya cuma pengen mati. Aku ngga mau bilang sama ibukku soalnya aku ngga pengen semuanya berubah..aku ngga pengen ada yang takut dekat-dekat aku, apalagi kasihan..aku ngga mau, anggap aja aku ngga kena apa-apa.. Semenjak kamu punya HIV, ada ngga permasalahan yang muncul? Maksude (berbisik pelan..)? Ya maksudnya seperti tadi kamu bilang kamu ngga pengen percaya kalau kamu punya sakit, atau kenyataan yang kamu tutupin dari ibu? Apakah semua itu ngga membuat kamu bermasalah? Ho’o sih..maksudnya..susah juga kalau terusan gini. Pengen cerita palagi kalo dah mentok tuh lho..rasanya…tapi kalau bilang pasti jadi runyem..moso ngrepotin bapak terus? Aku ngga enak..susah pokoke Lalu, bisa jelaskan lagi tentang rasa tidak percaya dengan mas BU atau penyakitmu tadi? Itu gara-gara kemarin dah bingung mau gimana..pikirku kalau aku nganggep mas BU lagi kerja di Surabaya, aku jadi ngga stres banget..jadi aku mikirnya mas BU ngga meninggal… Lalu, penyakit kamu itu, kamu melakukan cara yang sama biar ngga terlalu stress? He’em..aku ngeri kalo besok ibukku tahu, trus kalau aku sakit kayak mas BU..tapi yang paling ngeri pas aku sering liat internet Fove) (EFC.D) (PFC. Scsir)

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 banyak kasus dikucilkan sama orang lain, malah ada yang diasingkan sama keluarganya..makanya aku ngga mau kejadian kayak gitu meski kalau ta simpen sendiri rasanya..berat.. Trus, gimana cara kamu mengatasi permasalahan yang timbul akibat adanya status kamu sebagai ODHA? Aku kalau dah mentok paling ke Ganjuran (salah satu tempat ibadah)..doa disana..biasanya gitu..kalau ngga ya cerita sama mbakku atau bapak.. Bapak?bapak kamu? Bapaknya mas BU.. Lalu? Ya itu..padahal kalau bisa jalan sama IN ya malah lebih baik..lha sama-sama punya kan? Lalu, mengapa kamu milih cara itu? Ya karena aku lebih tenang aja kalau dah doa disana..aku kalau mau nakal bisa aja lho, pengen nyoba yang belum pernah ta coba, tapi kalo ujung- ujungnya dikirain anak nakal mendingan ngga usah aja..soalnya aku ngga ngerti umurku sampai kapan kan? Tapi kasihan ibukku nanti..mendingan jadi orang biasa aja..biar jadi pertimbangan masuk sorga atau neraka..hiihh..jadi ngeri sendiri Gimana dengan jalan dengan IN atau cerita dengan bapak atau kakak kamu? Ya sekedar pengen curhat aja, biar ngga kepikiran banget.. Sekarang apa saja yang dirasa membantu dalam penanganan kamu untuk menyelesaikan masalah kamu itu? Apa ya..ya kalau sekarang aku lebih deket sama Tuhan, mungkin aku lebih tenang aja kalau lagi ngedepin masalah atau apalah..aku mikir semua orang udah ndukung aku kok..orang aku juga ngga suka macem- macem, jadi mereka percaya aku..palagi ibu..aku pengen jadi anaknya ibu yang baik.. Kalau yang menyulitkan? Yang menyulitkan ya perasaanku ini..aku ngga betah kalau harus nyimpen sendiri..tapi kalau aku cerita bisa bikin runyem mendingan ta simpen aja.. Kalau memang ngga betah mendingan cerita sama ibu… Pengen sih… tapi aku ngga bisa ri..aku juga ngga enak kalau sering cerita sama bapak..sekarang aku kalau ke rumahnya mas BU malah dadi isin dewe gara-gara penyakitku ki..rasanya dah beda..aku jadi minder kalau ketemu orang rumah, kecuali pas IN ada..tapi aku ngga bisa to ngrepoti bapak ibu lagi..kadang ri..kalo lagi sendirian, kadang nangis dewe..takut ngadepin sendirian..aku wedi je ri.. (EFC.Tr) (EFC. Scser) (EFC. Scser) (EFC. Bd) (EFC. Fove)

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 Lalu, apa harapan kamu sekarang? Harapanku..bisa mengulang waktu trus ngga ketemu mas BU..jadi kan ngga kena HIV kayak sekarang ini..enak aja..ya pengennya ya sekarang berjalan apa adanya aja..yang udah terjadi ya mau digimana’in to? Yang penting sekarang gimana caranya lebih ati2 aja biar ngga gampang sakit..gimana besok bisa nyenengin dan buat ibukku bangga sama aku.. Kalau boleh jujur, aku sekarang takut sendiri kalau mbayangin (EFC. aku bakalan kayak mas BU..aku belum siap mati je..tiap aku mikir Fove) kalo umurku ngga panjang jadi ngeri, mbo’o akhirnya ketemu mas BU tapi sumpah aku ngga bisa Mungkin akan lebih baik kalau kamu terus terang sama ibu, tapi itu hak kamu sih.. Engga. Mendingan tetep kayak gini aja Ya sudah. Semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar aja ya.. Doanya aja ri..thanks lho Udah selesai wawacaranya, ngga kerasa kan? Besok kalau aku masih butuh sedikit informasi lagi ngga papa kan? Nyantai aja…udah bener nih? Wawancara 2 1 Terimakasih buat waktunya ya, kemarin kebetulan datanya masih 2 kurang, jadi sekarang konfirmasi lagi..sory ngrepoti ya. 3 Ngga papa.. 4 Dimulai dari saat kamu nerima hasil tesnya, apa yang kamu 5 rasakan saat itu? 6 Dulu aku nerimanya ngga pengen percaya kalau aku juga kena 7 itu..udah mas BU ngga ada, sekarang ganti aku yang kena tapi aku 8 ngga kenapa- napa.. 9 Kalau ngga salah habis itu kamu ke makam pacarmu ya? Lalu 10 perasaan kamu setelah kamu nyandang status sebagai ODHA 11 gimana? 12 Kalau dulu aku pede aja soalnya aku bisa cepet nyusul mas 13 BU..ngga papa malahan 14 Kalau sekarang? Apa ada perbedaan? 15 He’em ri…sekarang isinya cuma takut terus.. 16 Lha kenapa? 17 Dulu kan aku mikir ga papalah kalau kena, tapi sekarang kan dah 18 lama..jadi lama- lama aku ngeri kalau mbayangin besok aku niru 19 mas BU..aku ngga mau mati muda 20 Dulu kamu pernah jelaskan ada perubahan sejak kamu

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 menyandang status ini, antara lain kesehatan yang menurun, relasi kamu..sekarang gimana? Ya masih sekitar itu..aku sekarang ngga bisa terlalu mikir soalnya takut sakit. Trus kadang iri juga sama orang yang pacaran tapi mereka bisa langgeng..ngga dipisahin kayak gini Lalu, gimana dengan hubungan kamu dengan orang lain. Kenapa? Ya apakah status itu ngga pengaruh pada hubungan kamu dengan orang lain? Jelaslah, pastinya aku jadi minder kalau ada yang deket..palagi cowok tapi kalau udah gitu tergantung akunya jaga diri biar ngga nular..tapi malah bikin stres sendiri soalnya aku mikir aku ini kayak penyakit aja.. Lalu bagaimana sikap kamu terhadap orang lain setelah kamu punya status ini? Ngga gimana- gimana..o itu aku pengen perawate ta tulari…(subyek tertawa kecil) Lha kenapa? Salahe kok sentimen kalau jatahnya aku minta obat. Palagi pas aku tes darah wah..marai emosi..kadang pengen ae tapi jahat ya..makane sekarang kalau aku minta obat mending langsung pak wid Memangnya reaksi perawatnya seperti apa ? Marai emosi..kayaknya dah pernah ta critain to? Seperti wawancara pertama itu ya? He’em..ya itu pas aku tes itu Lalu reaksi orang terhadap status kamu? Biasa aja kok..perawatnya ngga diitung lho ya. Kayak bapak, IN, ibunya mas BU biasa..masih kayak dulu.. Bisa ceritakan masalah yang sering muncul saat kamu sudah punya status ini? Apa ya? Aku masih ngga bisa cerita sama ibuk kalau aku kena HIV. Tapi kalau gini terus aku yang ngga bisa. Kalau aku kebayang mas BU aku pengen cerita sama ibuk, paling engga aku bisa lega. Tapi kalau inget posisinya ibuk yang banyak pikiran aku yang ngga tega. Kalau cuma cerita sama IN atau bapaknya mas BU kan ngga bisa plong banget..kalau dah gitu aku nganggep aja aku ngga sakit apa-apa.. Maksudnya gimana dengan nganggep ngga sakit apa-apa? Ya aku ngga mau tau kalau aku kena HIV. Kalau aku mikir sakit terus aku pasti jadi takut keluar rumah..jadi streslah..apalah..mendingan aku mikir aku punya sakit yang biasa

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 aja jadi ngga terlalu stres, aku mikir juga kalau nanti orang pada ngerti aku kena pasti takut deket-deket aku. Aku ngga mau Lalu bagaimana kamu mengatasi permasalahan itu? Berdoa..aku yakin Tuhan kasih rencana yang indah ri..kalau pengen jalan ya jalan aja..paling aku dolan tempat IN curhat.. Lalu,sebenarnya apa manfaat kemarin kamu sempat ke LSM? Ya cari orang yang enak buat curhat dong, aku kan ngga aktif di sana, kalau ngga bisa curhat sama orang rumah aku mendingan cari orang yang sama biar ngga kepikiran terus. Kenapa kamu memilih cara seperti itu? Biar tenang aja..mau gimana ujung-ujungnya kalau lagi ada masalah pasti larinya ke Tuhan to? Apa yang kamu rasakan menbantu atau menyulitkan dalam menangani masalah Yang membantu ya kalau doa kan bisa kapan aja aku bisa..tapi yang susah ya ini mau sampai kapan aku nyimpen dari ibukku. Lalu harapan kamu sekarang apa? Bisa jadi anak baik..hehe..ya seperti kemarin aja..aku pengen mbahagiain ibukku, pengen sehat, pengen apa ya.. Ok, terimakasih ya buat informasinya, semoga cukup.. Kapan kapan aja ri

(163)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Gambaran coping stres pada lansia penderita kelumpuhan pascastroke
1
26
161
Sumber stres dan strtegi coping pada pelajar atlet bulutangkis
4
10
130
Strategi coping penderita myasthenia gravis.
0
0
289
Studi korelasi sumber coping dan strategi coping pada remaja.
0
1
156
Studi kasus mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta.
2
8
164
Persepsi dukungan sosial pada penderita HIV/AIDS - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
19
Hubungan antara intensitas problem-focused coping yang dilakukan oleh ibu dari anak penderita schizophrenia dengan stres yang di alami - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Hubungan antara intensitas problem-focused coping yang dilakukan oleh ibu dari anak penderita schizophrenia dengan stres yang di alami - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
13
Analisis tingkat stres kerja staf Sales Promotion Girl [SPG] produk kosmetik di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
93
Analisis tingkat stres kerja staf Sales Promotion Girl [SPG] produk kosmetik di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
93
Studi deskriptif kecerdasan emosional pada wiraniaga PT. Herbalife cabang Yogyakarta - USD Repository
0
0
134
Gejala-gejala depresi pada penderita paraplegia korban gempa bumi Yogyakart 2006 : studi deskriptif di pusat rehablitas Yakkum Yogyakarta - USD Repository
0
0
152
Evaluasi kinerja dan strategi pengembangan BUMD : studi kasus pada PD. BPR Bank Jogja Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
172
Studi deskriptif mengenai pendidikan seksualitas oleh orang tua pada individu autistik remaja - USD Repository
0
2
269
Studi deskriptif strategi coping pada penderita pasca stroke dewasa madya - USD Repository
0
0
211
Show more