Studi kasus mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta - USD Repository

162 

Full text

(1)

i

STUDI KASUS MENGENAI

STRATEGI COPING STRES PADA PENDERITA HIV / AIDS DI YOGYAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh :

Christina Thomas Sari NIM : 029114072

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan penuh cinta, aku mempersembahkan karya ini kepada-Nya, pembimbing di setiap langkahku

Sahabat yang selalu menolongku, di saat aku tertawa dan menangis

Kepada bapak serta ibu yang telah membimbingku melalui kasih sayang dan membuat semuanya menjadi berharga

Aku juga mempersembahkan karya ini kepada semua orang yang telah membantu menyempurnakan karya ini

(5)

v

Saat Badai Datang:

Pilihlah untuk mengasihi daripada membenci.

Pilihlah untuk tersenyum daripada

mengernyitkan dahi

Pilihlah untuk membangun daripada

menghancurkan.

Pilihlah untuk bertekun daripada menyerah.

Pilihlah untuk memuji daripada bergosip.

Pilihlah untuk menyembuhkan daripada melukai.

Pilihlah untuk memberi daripada mencengkeram.

Pilihlah untuk berbuat daripada menunda.

Pilihlah untuk mengampuni daripada mengutuk.

Pilihlah untuk berdoa daripada berputus asa.

Pilihlah untuk bertahan daripada mengakhirinya.

Pilihlah untuk menjadi teguh daripada bimbang.

Pilihlah untuk tenang daripada menjadi panik.

Pilihlah untuk berjiwa besar daripada ciut nyali.

(6)

vi

Dia Tahu yang Terbaik….

Kita melihat apa yang kelihatan sekarang..

Namun Allah melihatnya jauh lebih daripada itu..

Jadi mengapa kita selalu mengeluh?

Kita selalu ingin matahari bersinar, tapi Ia tahu bahwa hujan harus turun.

Kita menyukai suara tawa dan sorak sorai ke ceriaan,

Tapi hati kita akan hilang kelembutannya,

Jika kita tidak pernahmenitikkan air mata.

Allah Bapa sering menguji kita dengan penderitaan dan kepedihan.

Ia menguji bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk menolong kita

untuk menghadapi hari esok.

Karena pohon yang sedang tumbuh akan menjadi kuat apabila mereka tahan

terhadap terpaan badai.

Dan sayatan tajam sebuah pahat akan membuat marmer jadi lebih indah dan

berbentuk.

Allah Bapa tidak pernah menyakiti kita tanpa tujuan dan Ia tidak pernah

menyia-nyiakan kita.

Karena setiap kehilangan yang Ia ijinkan selalu diikuti dengan berkat.

Dan ketika kita hitung berkat melimpah yang Allah Bapa berikan, tidak ada

alasan bagi kita untuk menggerutu dan tidak ada waktu untuk meratap,

Karena Allah Bapa kita mengasihi anak-anakNya dan tahu yang terbaik bagi

kita.

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Christina Thomas Sari

Nomor Mahasiswa : 029114072

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

STUDI KASUS MENGENAI STRATEGI COPING STRES PADA PENDERITA HIV / AIDS DI YOGYAKARTA

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupaun memberikan royalty kepada saya selamA tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyatan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 19 Maret 2008 Yang menyatakan

(8)

viii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, ... Penulis

(9)

ix ABSTRAK Studi Kasus Mengenai

Strategi Coping Stres Pada Penderita HIV/AIDS Di Yogyakarta

Christina Thomas Sari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai coping stres yang dilakukan orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Penggalian informasi dilakukan melalui wawancara, yakni tentang latar belakang terinfeksi, stressor

pada ODHA, kemudian mengarah kepada informasi inti, yakni tentang jenis strategi coping yang sering dilakukan untuk mengurangi tekanan yang ditimbulkan oleh status ODHA.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus kepada dua orang subyek penelitian. Karakteristik subyek dalam penelitian ini adalah orang yang benar-benar terinfeksi HIV, jenis kelamin laki- laki atau perempuan, kategori usia yang dipakai adalah sesuai dengan usia yang rawan terinfeksi HIV/AIDS, yaitu usia 20-28 tahun. Subyek penelitian diperoleh secara personal dimana hubungan peneliti dengan subyek dekat, identitas subyek seperti nama, tempat tinggal, dan sebagian nama tokoh-tokoh yang banyak terkait dalam kehidupan subyek akan disamarkan untuk menjaga kerahasiaan subyek. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua sumber bukti, yakni dokumen, dan wawancara. Wawancara penelitian, selain dilakukan terhadap subyek, juga dilakukan terhadap informan lain yakni orang yang mengetahui kesehariannya.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ODHA memiliki kecenderungan untuk melakukan Emotion focus coping dan Problem focus coping

Strategi Emotion focus coping yang diantaranya; mengikuti kegiatan di LSM untuk membangun kepercayaan diri dan mencari dukungan dari sesama ODHA sehingga mereka dapat merealisasikan kenyataan yang diterimanya. Selain itu usaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan merupakan wujud dalam mencoba pasrah terhadap kondisinya. Strategi kedua yang digunakan berupa Problem focus coping yang dilakukan subyek dapat dilihat melalui usaha subyek mencari saran dan informasi tentang HIV/AIDS melalui brosur atau buku dari rumah sakit atau LSM sebagai upaya subyek mengetahui lebih dalam tentang penyakit HIV/AIDS

(10)

x

ABSTRACT

Case Study on

Coping Strategy toward Stress in HIV/AIDS Sufferers in Yogyakarta

Christina Thomas Sari Faculty of Psychology Sanata Dharma University

Yogyakarta

This research was conducted to know deeper the coping stress which is experienced by HIV/AIDS infected person or ODHA. The gaining of information was conducted through interview, i.e. concerning on the background of contagion, stressor in ODHA, then direct toward the core information, i.e. concerning on the type of coping strategies which is often experienced to reduce the depression which is emerging from status of ODHA.

This research used qualitative research by method of case study toward the two research subjects. The characteristic of subjects in this research were people who actually infected by HIV, the types of sex were male or female, age category used was appropriate with the HIV/AIDS tend-to infected age, i.e. 20-28 years old. The subjects in this research were gained personally where the relation of the researcher with the subjects is close; the identity of the subjects such as name, living site, and most of the name of persons that closely related in subjects’ life will be kept in secret to keep the confidentially of subjects. The collection of data in this research was conducted using two verification sources, i.e. document, and interview. The research interviews were both conducted with the subjects and also with other informants who were persons knowing the daily life of the subject.

The result of this research revealed that HIV/AIDS sufferers have tendencies to employ emotion focus coping and problem focus coping. The strategy is emotion focus coping, such as; joining any activities in NGO (Non- Governmental Organization) to build their self confidence and look for any support from people who are also ODHA, thus they could realize the reality they accept. In addition, their effort to make them close to God is a result of their submission to their condition as ODHA. The second strategy which was used is problem focus coping which is employed by subjects could be seen from the efforts of subjects in looking for any recommendation and information concerning on HIV/AIDS through brochures or books from hospital or NGO as subject’s effort to know deeper on the HIV/AIDS disease

(11)

xi

KATA PENGANTAR

Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih, karena berkat kasih bimbingan-Nya skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun dan dibuat untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Psikologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam proses penyusunannya dari awal hingga akhirnya selesai, telah melibatkan banyak pribadi yang memberikan bantuan dengan tulus, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada :

1. GOD The Almighty in Jesus Christ…yang selalu memberikan pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkat di setiap cobaan dan jawab di setiap doaku.

2. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Agnes Indar E., S.Psi., Psi., M.Si, selaku Dosen pembimbing Skripsi. Terima kasih banyak telah memberikan waktu, kritik saran serta mendengarkan keluh kesah saya selama ini, terlebih kesempatan yang sangat berarti dalam proses penyelesaian penyusunan skripsi ini.

(12)

xii

5. Ml. Anantasari, S. Psi., M. Si. Selaku dosen penguji skripsi, terimakasih atas koreksi yang diberikan guna memperbaiki hasil karya tulis saya. 6. Mas Gandung, dan Mbak Nanik yang dengan sabar melayani untuk

urusan kesekretariatan. Dan Pak Gik yang selalu semangat dan pantang merasa lelah, terimakasih atas pelayanannya selama kuliah di psikologi. 7. My Beloved parent. Terima kasih untuk segala sesuatunya, terlebih

dukungan, doa serta harapan yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Inilah karya kecilku yang tidak sempurna yang bisa saya persembahkan buat Bapak dan Ibu. My little Angle..Tasya and Hayu. Terima kasih untuk turut memberi warna dan menjadi pemecah keheninganku… My beloved Sist n bro..(Aneen+Rien+chutie n why) yang sudah dengan sukarela mau menjadi tempat berkeluh kesah dan masih mau saja jadi tempat untuk berantem.

8. Keluarga besar Kulon Progo dan Wonosari….terima kasih untuk doanya ya…akhirya skripsinya kelar juga…

9. Keluarga besar Gondolayu dan Godean…terima kasih untuk doa yang tidak pernah habisnya dan mau menjadi My second family….

10.My magical boy…selaku papahnya Malvin, terima kasih banyak sudah memberiku doa, saran dan selalu memantau perkembangan skripsinya…he…nggga cepek-capek ya pak???

(13)

xiii

bagian dari hidupku dan aku berharap banget untuk bisa laluin sisa hidupku lagi denganmu…

12.TN dan IN, terimakasih banyak atas partisipasi yang sudah diberikan, karya ini kupersembahkan pada kalian.

13.All my best friend in “Sekar Ayu”..Dewie yang kesannya kalem tapi aslinya ramai..thanks sudah mau jadi persinggahan kalau lagi capai ma lapar ya…sering-sering ya wie. Iunt..orang yang jadi teman seperjuanganku di kampus.. you’re is my precious friends, mas Danang..karenamu aku jadi gila..mba aning, pita, wiwin, wiwik, asih, prima, mba dyah, irna, nining, mba rya..thanks a lot yaw.

14.Mas edi, pongkey, mas Wa2N, co Alex.. yang selalu siap sedia menemani nggarap dan ngomel- ngomel saat sindrom kemalesanku melanda..matur suwun banget ya loph you all guys.., Chay BanOe..karenamu insomniaku jadi sembuh…thanks banget ya, mas Nico..aku bahagia sudah mengenal kamu..

15.“Mami” Alvon dan segenap lentera terimakasih atas usahanya untuk membawaku ke dalam keluarga besar Lentera dan melihat lebih jauh kehidupan malam, mami benar kalau tak semuanya tampak indah.

16. Dementia yang tak lelah dengan kritik dan koreksinya meskipun kadang jauh dari tema..he..he..thanks banget buat dukungannya ya

17.Keluarga besar Pakubon n kwarasan- Zico..makasih untuk memberiku

(14)

xiv

dan kesan dewasamu yang patut kucontoh…Rooney+marThin selamat berpoligami ya…kak Emu, kak Milo, Eric ma Itin, Mache Tabhita, Felix, kak jack..makasih udah turut me warnai hidupku..dan untuk semuanya..tak ada orang yang bisa nyaingin anehnya kalian lho….kapan kita makan papeda lagi? hidup Papua..

18.Keluarga GKJ Demakijo, GKJ Sawokembar, Alithea dengan semua ornament2nya yang menjadi panutan hidupku…terimakasih atas segalanya yang pernah diberikan.

19.Semua teman-temanku yang ngga bisa ku sebut satu-persatu…aku beruntung mengenal kalian…dan terimakasih karena kalian mau menerimaku dalam kehidupan kalian….terima kasih banyak.

Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan terbuka penulis menerima kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan penelitian ini.

Semoga skripsi ini berguna bagi semua pihak yang berkepentingan untuk membacanya, terima kasih.

(15)

xv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... viii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI... xv

DAFTAR TABEL……….. xviii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 9

C. TUJUAN PENELITIAN ... 9

D. MANFAAT PENELITIAN... 10

BAB II. DASAR TEORI ... 11

A. COPING STRES ... 11

(16)

xvi

2. Sumber stres ... 13

3. Faktor yang mempengaruhi stres……… ... 17

4. Reaksi stres ... 18

5. Coping stres………. .. 22

6. Sumberdaya Coping………… ... 24

7. Strategi Coping………. . 27

8. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Stres……….... 32

B. PENDERITA HIV/AIDS ... 34

1. Pengertian HIV/AIDS ... 34

2. Penularan HIV/AIDS ... 38

3. Dampak yang dialami pengidap HIV/AIDS ... 40

4. Reaksi Terhadap Sumber Stres ... 41

C. COPING STRES PADA PENDERITA HIV/AIDS……… 42

D. PERTANYAAN PENELITIAN………. . 45

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 46

A. JENIS PENELITIAN ... 45

B. BATASAN ISTILAH……….. ... 47

C. SUBJEK PENELITIAN... 48

D. METODE PENGUMPULAN DATA... 49

E. METODE ANALISIS DATA... 51

F. KEABSAHAN DATA ... 54

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57

(17)

xvii

B. HASIL PENELITIAN... 58

1. Deskripsi Subjek Penelitian... 59

2. Pelaksanaan dan perolehan Data... 59

C. PEMBAHASAN ... 98

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 104

A. KESIMPULAN ... 104

B. SARAN ... 105

DAFTAR PUSTAKA ... 107

LAMPIRAN ... 110

A. Transkrip Verbatim Wawancara Subjek I... 111

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

TABEL I. Pedoman Umum Wawancara... 50 TABEL II. Coding bentuk Coping Stres……….... 54 TABEL III. Data Subjek………... ... 59 TABEL IV. Ringkasan gambaran Coping Stres terhadap penderita

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan realita dewasa ini, kasus HIV/AIDS meningkat secara drastis baik di Indonesia maupun dunia. Hal ini dapat membahayakan kehidupan manusia bahkan mengancam keselamatan dunia, karena HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan dan belum ada obatnya secara pasti. Di Indonesia sendiri masalah ini sudah merupakan masalah yang sangat besar dan harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah, karena harus segera ditanggulangi. Berdasarkan data di RSUP Dr Sardjito tahun 2005, hingga Maret lalu tercatat ada 15 penderita yang berobat ke RSUP Dr Sardjito. Data dari Dinas Kesehatan DIY (Kompas, 24 februari 2005), menyebutkan jumlah penderita HIV/AIDS di yogyakarta meningkat hampir 200 persen pada tahun 2004, yaitu mencapai 34 orang penderita HIV, dari 13 orang pada tahun 2003.

(20)

Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000 sampai 230.000 orang di Indonesia yang sudah terjangkit penyakit ini.

Melihat kenyataan ini, kasus HIV/AIDS menjadi keprihatinan dunia remaja. Fakta di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito dan data yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wirogunan Yogyakarta menunjukkan, penderita HIV/AIDS sebagian besar narapidana yang ada di LP dan yang masuk rumah sakit sebagian besar berstatus mahasiswa yang rata-rata usianya 20-28 tahun. Banyak pihak menduga, penyebaran infeksi HIV/AIDS berkait dengan penyalahgunaan Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan Terlarang) dan pelaku seks bebas.

Mengingat sebagian besar penderita HIV/AIDS adalah kalangan mahasiswa, Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendukung peningkatan kasus tersebarnya virus HIV/AIDS dimana Yogyakarta merupakan kota pelajar yang sering disinggahi pelajar dari luar kota untuk kepentingan pendidikan. Pengaruh yang sudah ada di masyarakat maupun yang datang dari luar membuat sebagian pelajar melakukan penyimpangan yang ditujukan pada penggunakan narkoba sehingga tanpa disadari bahwa kesehatan pelajar terancam dengan meluasnya penyebaran virus HIV/AIDS.

(21)

menjalani tes sampai hari- hari bahkan tahun-tahun berikutnya. Dalam kehidupan sehari- hari sebagai ODHA, mereka menjadi pasien yang aktif, hal ini dikarenakan karena belum ada penyembuhannya sehingga mereka ikut memikirkan jalan keluar lain agar jiwa dan raga mereka tetap sehat. Mereka mencari berbagai cara hidup sehat, berusaha mengikuti kemajuan obat-obatan, dan dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dokter pun dapat kekurangan pengetahuan. Dokter dapat merasakan ketidakpastian mengenai bagaimana seharusnya menangani HIV/AIDS, memantau kesehatan penderita, dan ikut mendampingi perkembangan penderita agar mereka dapat hidup lebih lama.

(22)

Cerita-cerita anonim dari orang yang telah terbukti positif mengidap HIV seolah mengharu biru dan mengubah keberanian menjadi kepanikan, dan ketabahan menjadi ketidakberdayaan. Selama belum ada obat untuk menyembuhkannya serta tidak ada vaksin untuk mengebalkan tubuh terhadap penyakit tersebut, hanya ada satu jalan yang dapat kita perbuat, yaitu melakukan tindakan-tindakan preventif (Inu. W, 2005). Tidak adanya tindakan yang efektif, maka pasien harus diberi perlakuan yang penuh rasa kasih sayang dan respek terhadap kemanusiaan mereka. Sesuai dengan pengalaman mereka, ketika mereka mengetahui bahwa mereka mengidap HIV, maka mereka sangat putus asa sehingga mempengaruhi hidupnya secara drastis. Namun demikian, di tengah-tengah suasana yang sarat dengan ketidakpedulian, ambivalensi, rasa bersalah, inilah mereka berusaha bertahan (Pelkesi,1995).

(23)

terdapat kemungkinan makanan tersebut dapat memicu penyebaran virus yang ada di dalam tubuh penderita, maka mereka harus pintar memilih makanan yang sesuai dengan anjuran untuk penderita HIV/AIDS. Selain itu mereka juga tidak diperkenankan untuk merokok dan melakukan aktifitas di malam hari, karena 80% virus ini menyerang paru-paru penderita, maka dari itu, mereka harus mengatur pola hidup mereka (Montagnier, 1987).

Perubahan aspek hidup yang dialami penderita HIV/AIDS menimbulkan dampak bagi si penderita, beberapa dampak yang ditimbulkan adalah dampak psikis, fisik, maupun sosial. Mereka akan mengalami stres karena berbagai tekanan tentang bayangan kematian dan derita yang akan dialaminya nant i (Supit. B, 1995).

Adapun jenis tekanan psikologi utama pada penderita HIV/AIDS adalah sebagai berikut; mereka mengalami kecemasan mengenai rasa tidak pastinya tentang penyakit yang diderita, perkembangan dan pengobatannya, merasa cemas dengan berbagai gejala- gejala baru, merasa cemas dengan prognosisi dan ancaman kematian dan serangan panik. Mereka juga akan depresi sehingga merasa sedih, tidak berdaya, merasa rendah diri, bersalah, tidak berharga, putus asa, berkeinginan untuk bunuh diri, sulit tidur, hilang nafsu makan, merasa terisolasi dan berkurangnya dukungan sosial, merasa ditolak oleh sosial, dan merasa malu dengan adanya stigma sebagai penderita AIDS.

(24)

kesehatan, menjadi objek pemberitaan dan pengobatan oleh pengobat modern dan tradisional, atau menjalani tes darah tanpa konseling. Orang dengan HIV positif juga dijadikan aset oleh LSM, dan peneliti memperlakukan orang HIV positif tanpa etika penelitian yang semestinya. Secara umum telah terbukti bahwa penyakit HIV berhubungan dengan tekanan sosial dan kehidupan tertentu, seperti stigma (cap buruk), yang mungkin mempengaruhi seseorang menjadi stres. Stres pada ODHA juga dikaitkan dengan perasaan bahwa kesehatannya buruk, rasa sakit kronis, dan kehilangan daya ingat serta konsentrasi. Lamanya suasana hati yang lesu, kegelisahan, atau kemarahan mungkin biasanya menjadi bagian dari penyesuaian terhadap penyakit, tetapi perkembangan depresi yang parah bukanlah sesuatu yang normal, sebagaimana diagnosis stres parah dihubungkan dengan berbagai penyakit, suasana hati yang lesu harus dilihat sebagai bagian dari kumpulan gejala seperti rasa senang yang hilang, perasaan bersalah atau tidak berharga, dan memikirkan kematian.

(25)

sosial (Wortman & Dunkel, 1979). Banyak penderita HIV/ AIDS yang masih belum bisa menerima kondisi seperti itu sehingga mereka mempunyai kecenderungan untuk stres dan bertindak semaunya sendiri, hal itu dilakukannya karena mereka berpikir bahwa hidup mereka tak akan bertahan lama dan mereka akan melakukan apapun yang mereka inginkan. Perasaan sendirian dan terabaikan ini membuat penderita semakin merasa rendah diri dan tidak berharga, penerimaan dari lingkungan akan ikut mempengaruhi bagaimana penderita menerima dirinya. Penolakan–penolakan yang dia alami akan semakin menguatkan penilaian negatifnya terhadap dirinya sendiri. Dari tekanan yang diperoleh tersebut dapat menimbulkan stres pada penderita.

Stres merupakan suatu respon dari hadirnya suatu peristiwa. Segala sesuatu yang menyebabkan perubahan dalam hidup kita dapat menimbulkan stres. Stres juga merupakan bagian dari hidup kita yang tidak mungkin dihindari dan sampai level tertentu dibutuhkan oleh manusia untuk kela ngsungan hidupnya (Handoyo, 2001). Stres atau kondisi apa pun yang membebani pikiran dapat menganggu keseimbangan metabolisme tubuh. Contoh yang paling sering adalah gangguan pada koordinasi saraf pada saluran pencernaan. Pada orang stres, gejalanya adalah diare. Ini terjadi karena gerakan usus yang diatur oleh saraf menjadi lebih cepat daripada biasanya. Akibatnya, timbul gejala seperti nyeri perut atau diare, sulit berkonsentrasi, hilangnya minat atau rasa senang, sedih, putus asa, perasaan bersalah berlebihan, atau merasa tidak berguna.

(26)

juga pada seseorang saat tekanan tentang kenyataan yang didapat bahwa kualitas hidup mereka terancam oleh penyakit tersebut, otomatis akan mengalami apa yang disebut stres. Secara umum, stres yang terjadi akan memperburuk proses metabolisme normal tubuh. Pada akhirnya gangguan metabolisme tersebut dapat menjadi suatu stressor dari dalam tubuh yang dapat menimbulkan stres pada sistem imun. Status turunnya kompetensi fungsi imun yang diinduksi oleh stres menyebabkan kita menjadi rentan terhadap infeksi dan memungkinkan berbagai penyakit dapat terjadi (Dossier, 1989).

Stres terhadap status AIDS akan menuntut ODHA untuk memiliki ketrampilan mengolah stres akibat dampak yang ditimbulkan saat ODHA menyandang statusnya. Untuk mengurangi dampak dari stressor yang mengancam kualitas hidup ODHA, mereka menggunakan coping stres. Coping stres adalah cara yang dilakukan untuk mengatasi situasi atau problem yang dianggap sebagai tantangan, ketidakadilan atau merugikan maupun sebagai ancaman. Coping stres memberikan ke mampuan ODHA untuk mengelola stres akibat statusnya. Ketika berhadapan

(27)

Carver, Sceiser, dan Weintraub (dalam Buari, 2000) mengemukakan ada dua macam strategi coping stres, yaitu emotional focused coping dan problem focused coping. Seseorang melakukan emotional focused coping diantaranya dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, atau mencari komunitas yang sama dengan mereka untuk mencari dukungan. Selain melakukan emotional focused coping, seseorang juga melakukan strategi problem focused coping, seperti mencari informasi tentang penyakit HIV/AIDS melalui lembaga swadaya masyarakat dan rumah sakit.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, yaitu dengan melihat fenomena penderita HIV/AIDS di Yogyakarta dan pentingnya suatu kesehatan mental untuk mengatasi stres pada orang yang telah terinfeksi, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang strategi coping stres yang digunakan oleh penderita HIV/AIDS di Yogyakarta.

C. Tujuan Penelitian

(28)

D. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis, dari segi ilmu pengetahuan,

a. Penelitian ini bermanfaat untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS guna memberi sumbangan ilmu bagi psikologi klinis dan ilmu psikologi pada umumnya.

b. Manfaat bagi penulis, penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh semasa kuliah dan dapat membantu kita untuk memahami strategi coping stres yang dialami oleh orang yang terinfeksi HIV/AIDS.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi:

a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi LSM dan pemerhati masalah- masalah penderita HIV/AIDS mengenai strategi coping stres yang yang digunakannya serta menjadikan pengetahuan tentang HIV/AIDS sebagai referensi untuk pendampingan ODHA.

b. Bagi subyek penelitian agar mereka dapat mengetahui dan memperdalam informasi tentang strategi coping stres terhadap HIV/AIDS sehingga mereka mampu memahami usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi kondisi stres yang muncul.

(29)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Coping Stres 1. Pengertian stres

Secara umumstres adalah reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang merasakan ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut (Cranwell- ward dalam Iswinarti dan Haditono,1999)

Pendapat ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Novaco (1994), dkk bahwa stres muncul pada saat terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan kemampuan individu untuk melakukan respon yang adekuat terhadap tuntutan tersebut. Tuntutan tersebut menurut Spielberger (dalam Spielberger & Sarason,1986) berasal dari lingkup eksternal yang mengenai seseorang, misalnya objek-objek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang berbahaya.

(30)

dan seseorang tidak mampu lagi menghadapinya, stres menjadi awal malapetaka.

Bernard (dalam Handoyo,2001) membagi stres menjadi Eustress, yaitu stres yang memberi pengaruh ya ng baik, dan distress, yaitu stres yang memberi pengaruh yang menyakitkan. Pembagian ini senada dengan yang dikemukakan oleh Robbins (1989) dimana stres yang positif akan menawarkan perolehan yang potensial, dan sebaliknya, stres yang akan menyebabkan terganggunya produktifitas sehingga dapat mengganggu kehidupan seseorang.

Stres muncul lantaran lingkungan memberikan stimulus yang negatif, sehingga timbullah perasaan takut, cemas dan marah, serta perasaan tidak mampu untuk menerima apa yang akan terjadi pada dirinya. Didalam menjalankan aktifitasnya, individu terkadang dihinggapi aneka macam perasaan yang membuat merasa tertekan. Bahkan terkadang individu merasa takut terhadap apa yang belum diketahuinya secara pasti dan jelas. Individu tersebut merasa takut gagal untuk melakukan suatu tindakan (Santrock, 1996).

Hal, kejadian, peristiwa, orang keadaan dan lingkungan yang dirasa mengancam atau merugikan disebut stressor. Jika dipandang dari segi luar dan hal-hal yang menjadi sumber stres, stres dimengerti sebagai rangsangan

(31)

Tanggapan orang terhadap sumber stres dapat menggejala pada psikologis dan fisiologis. Tanggapan itu disebut strain, yaitu tekanan atau tegangan. Kenyataannya orang yang mengalami stres secara psikologis menderita tekanan dan ketegangan yang membuat pola berpikir, emosi, dan perilakunya kacau, menjadi gugup dan gelisah (Santrock, 1996).

Karakteristik lain, selain intensitas yang menjadikan suatu situasi, peristiwa lebih atau kurang menimbulkan stres adalah lamanya atau jangka waktu terjadinya penyebab stres tersebut, terduganya atau tidaknya suatu peristiwa, besar atau kecilnya kontrol seseorang atas peristiwa tersebut dan lamanya dampak peristiwa yang dirasakan oleh seseorang.

Dari pandangan di atas, diketahui bahwa stres merupakan suatu bentuk respon yang muncul akibat hal tertentu, dimana seseorang tidak dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh tekanan yang dialaminya, yaitu adanya ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan seseorang.

2. Sumber stres

(32)

yaitu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara orang yang sedang mengalami stres dengan keadaan yang penuh stres.

Chider (1983) membagi karakteristik stimulus yang dapat menjadi

stressor bagi individu:

a. Berlebihan (overload)

Sebuah stimulus dikatakan berlebihan ketika stimulus tersebut terjadi secara sangat intens sehingga sulit diadaptasi oleh individu.

b. Konflik

Konflik terjadi ketika stimulus secara simultan menimbulkan dua atau lebih kemungkinan respon yang ambigu, karena tidak memberikan pilihan yang tepat untuk dipilih.

c. Tidak terkontrol

Individu memiliki kecenderungan untuk memiliki kontrol atas hal- hal yang terjadi dalam hidup mereka, namun tidak semua kejadian disebabkan oleh perilaku atau kemauan individu tersebut.

Handoyo (2001), menggolongkan sumber stres dapat dalam bentuk-bentuk:

a. Krisis : yaitu perubahan/peristiwa yang timbul mendadak dan menggoncangkan keseimbangan seseorang diluar jangkauan daya

(33)

b. Frustrasi :Frustrasi adalah kegagalan dalam usaha pemuasan kebutuhan-kebutuhan/dorongan naluri, sehingga timbul kekecewaan. Frutrasi timbul bila niat atau usaha seseorang terhalang oleh rintangan-rintangan (dari luar: kelaparan, kemarau, kematian, dan sebagainya dan dari dalam: lelah, cacat mental, rasa rendah diri dan sebagainya) yang menghambat kemajuan suatu cita-cita yang hendak dicapainya.

c. Konflik :Konflik adalah pertentangan antara 2 keinginan/dorongan yaitu antara kekuatan dorongan naluri dan kekuatan yang mengendalikan dorongan-dorongan naluri tersebut. Ada empat bentuk konflik berdasarkan nilai dari dorongan (Handoyo, 2001):Approach- Approach conflik, yaitu konflik yang dialami oleh seseorang yang harus memilih dua hal yang sama-sama diinginkan. Avoidance- Avoidance konflik, yaitu ketika seseorang harus memilih dua hal yang sama-sama tidak diinginkannya. Approach- Avoidance konflik terjadi saat satu hal memiliki suatu yang menarik sekaligus suatu yang tidak disukai. Double Approach- Avoidance, yaitu ketika seseorang menghadapi dua alternatif yang memiliki suatu yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan

(34)

istri yang terlalu menuntut, orangtua yang menginginkan anaknya berprestasi).

Pada manusia, terdapat sembilan penyebab stres yang teratas (berikut nilainya), seperti terdapat dalam skala tingkat stres yang dikemukakan oleh Holmes dan Rayes (dalam Bootzin, loftus & Sajonc, 1983) adalah:

a. Kematian pasangan (100)

b. Perceraian (73)

c. Perpisahan dalam perceraian (65)

d. Dipenjara (63)

e. Penyakit parah atau kecelakaan berat (53)

f. Pernikahan (50)

g. Kehilangan pekerjaan (47) h. Rekonsiliasi pernikahan (45)

i. Pensiun (45)

(35)

atau khawatir tentang lebih banyak memungkinkan perubahan yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Bagaimanapun, stres telah ada sejak awal keberadaan species kita dan telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita tidak mungkin hidup tanpa stres, tapi kita juga harus belajar untuk hidup bersamanya.

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penjabaran sebelumnya adalah bahwa sumber stres sering diartikan sebagai suatu jenis stimulus tertentu, baik bersifat fisik maupun psikologis, yang mengakibatkan suatu tuntutan atas diri kita yang mengancam kesejahteraan kita dan menuntut kita untuk beradaptasi dengan cara tertentu. Bentuk- bentuk sumber stres antara lain ada empat macam yaitu; krisis, frustrasi, konflik, dan tekanan.

3. Faktor yang mempengaruhi stres

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi apakah suatu stimulus dari lingkungan menyebabkan stres atau tidak bagi seseorang (Handoyo, 2001).

(36)

differences dimana sesuatu yang dianggap sebagai sebuah stressor oleh seseorang individu belum tentu merupakan stressor bagi individu lain. b. Kedua adalah self control, faktor ini berkaitan dengan bagaimana

seseorang memberikan respon atas sebuah stimulus yang ia terima dari lingkungan. Lebih tepatnya, hal ini berhubungan dengan kemampuan penyesuaian diri.

c. Yang ketiga adalah dukungan sosial yang menjadi bagian penting dalam upaya untuk menanggulangi stres. Dukungan sosial adalah sebagai kesenangan, bantuan, atau keterangan yang diterima seseorang melalui hubungan formal dangan yang lain atau kelompok (Suwarto, 1996).Selye (1976) memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi perasaan tertekan dan ketidakpuasan pada saat seseorang dihadapkan pada tekanan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi stres adalah penilaian kognitif, self control, dan dukungan sosial.

4. Reaksi terhadap Stres

(37)

a. Deviasi Fisiologis

Cox (dalam Handoyo, 2001) mengungkapkan bahwa stres dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan fisik yang berupa penyakit yang sudah diderita sebelumnya, atau menjadi memicu timbulnya penyakit tertentu. Costello (dalam Ariyani, 1998) membagi terganggunya pola-pola normal dari aktivitas fisiologis menjadi dua jenis, yaitu:

1) Simptom Otot Skeletal, meliputi ketegangan, kegoncangan, kelemahan, dan rasa sakit.

2) Simptom Organ Dalam, meliputi detak jantung yang semakin cepat, kencing berlebihan, sakit perut, nafas pendek-pendek. Sejalan dengan Costello et.al., Atkinson, dan Colleman (dalam Iswinarti & Haditono, 1999) merinci reaksi fisiologis ini melalui gejala fisik seperti pusing, sakit kepala, capai, lelah, sakit perut, mual- mual, berdebar-debar, dada sakit, dan keluar keringat dingin.

(38)

b. Deviasi Psikologis

Secara garis besar, terganggunya fungsi psikologis dari individu yang menderita stres dapat dibagi dalam dua kategori:

1) Reaksi Emosional

Menurut Braham (dalam Handoyo, 2001) individu yang mengalami stres biasanya menampakkan gejala seperti marah-marah, mudah tersinggung, dan terlalu sens itif, gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah- ubah, sedih, mudah menangis dan depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan bermusuhan serta kelesuan mental.

Cox (dalam Handoyo, 2001) mendeskripsikan reaksi ini berupa kegelisahan, agresi, kelesua n, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran dan harga diri yang rendah. 2) Reaksi Kognitif

Braham (dalam Handoyo, 2001) menyebut kategori ini sebagai gejala intelektual yang meliputi mudah lupa, kacau pikiran, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.

(39)

c. Deviasi Perilaku

Penyimpangan pada perilaku ini juga bisa dirinci dalam dua bagian, yaitu:

1) Perilaku Secara Personal

Penyimpangan perilaku ini lebih tertuju pada diri individu secara pribadi. Cox (dalam Handoyo, 2001) melihat gejala peningkatan komsumsi alkohol dan rokok, tidak nafsu makan atau bahkan makan berlebihan, penyalahgunaan obat-obat, menurunnya semangat untuk berolahraga yang berakibat pada pola diet dan timbulnya beberapa penyakit.

2) Perilaku Secara Interpersonal

Pada kategori ini, penyimpangan perilaku lebih mengarah pada hubungan individu dalam hubungan dengan orang lain. Braham (dalam Handoyo, 2001) menyebutkan adanya sikap acuh dan mendiamkan orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap orang lain, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup diri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.

(40)

5. Coping stres

Lazarus (1984) menge mukakan suatu cara yang dilakukan untuk mengatasi situasi atau problem yang dianggap sebagai tantangan, ketidakadilan atau merugikan maupun sebagai ancaman disebut sebagai

(41)

Mekanisme coping akan segera berperan ketika individu mulai mencoba beradaptasi terhadap situasi yang menimbulkan stres. Selye (dalam Passer dan Smith, 2004), mengemukakan mengenai tiga fase coping terhadap rangsangan dalam diri manusia, yaitu:

a. Fase Alarm

Ketika suatu kejadian yang tidak biasa muncul, keluaran (output) energi akan mengalami penurunan untuk jangka waktu yang pendek, yaitu ketika kejadian tersebut dicerna oleh pikiran seseorang.

b. Fase Adaptasi

Selanjutnya, keluaran energi tersebut meningkat melebihi batas normal, ketika seseorang berusaha mengatasi situasi tersebut, maka individu tersebut akan mengalami keterbangkitan yang semakin kuat. Respon adaptasi pada meliputi menghindar atau melarikan diri, melakukan perlawanan, supresi emosi, terpaku atau belajar.

c. Fase Kelelahan

Pada akhinya energi yang tersedia pada individu berkurang dan kemampuannya untuk berfungsi secara efektif menurun. Pada fase inilah ketegangan emosional dan fisik dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang lebih parah.

Menurut pandangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi

(42)

6. Sumberdaya Coping

Sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan stres secara efektif dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman (1984):

a. Kesehatan dan Energi: suatu yang memungkinkan individu tetap bertahan pada tahap resistensi yang merupakan Coping Stage, tanpa memasuki tahap kelelahan.

b. Keyakinan yang positif dapat berupa self-image dan sikap ya ng positif, yang akan memungkinkan seseorang memikirkan strategi terbaik yang akan ditempuhnya.

c. Internal locus of control yaitu suatu perasaan bahwa seseorang memiliki kontrol yang signifikan terhadap berbagai kejadian dalam hidupnya. d. Kemampuan sosia lnya berguna untuk mengetahui perilaku yang sesuai

bagi situasi tertentu, mampu mengekspresikan diri dan selalu memiliki simpanan atau sumber topik pembicaraan.

e. Dukungan sosial: orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman dapat membantu dengan ikut memastikan bahwa seseorang yang mengalami stres tetap menjaga kesehatannya, menjadi pendengar yang baik bagi mereka, menemani dan meyakinkan bahwa mereka sangat berarti dan memberi dukungan psikologis lain.

(43)

Seorang pakar dalam management stres, dr. Donald Tubesing (dalam Ulery, 2000), mengemukakan empat ketrampilan yang harus dikuasai dalam mengelola stres, yaitu:

a. Self-care skills

Ketrampilan ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan seseorang terhadap atau bagi dirinya sendiri yang membawa kebaikan baginya. Secara umum, semakin baik kondisi fisik seseorang, semakin besar peluangnya untuk menangkis dan menangani stres yang datang, dan semakin cepat ia pulih dari stres yang dialaminya. Kesehatan yang baik sangat berpengaruh secara positif terhadap sikap, tingkat energi, kemampuan berpikir, self-image dan sistem kekebalannya. Beberapa ketrampilan yang mendukung dan kesehatan yang baik antara lain olahraga, pengaturan berat badan, pola makan yang sehat, dan istirahat. b. Personal management skills

(44)

c. Attitude skills

Cara seseorang memandang sesuatu dapat mempengaruhi tingkat stresnya. Hubungan ilmiah antara sikap yang positif dan kesehatan yang baik, termasuk sistem kekebalan yang berfungsi baik, tidak dapat menaruh harapan yang realistis, mengkaji ulang pikiran-pikiran negatif menjadi lebih positif, keyakinan dan rasa humor. Aktifitas spiritual juga dapat memanfaatkan iman, rasa syukur yang positif. Persekutuan, pelayanan dan perspektif positifnya mengenai pengalamannya.

d. Relationship skills

Memiliki hubungan yang positif dengan orang yang bersedia mendengarkan, ketimbang menceramahi, memberi peluang untuk melepaskan, menikmati dan beristirahat dari stres dan ketegangan yang dialami sehari- hari. Ketrampilan yang baik dalam menjalin hubungan harus bersifat dua arah. Seorang seyogyanya tidak hanya berbicara, tapi juga mendengarkan yang lain.

e. Network skills

(45)

Berdasarkan penjabaran sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa sumberdaya coping adalah sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan stres secara efektif yang dipergunakan untuk meminimalkan mengurangi hal-hal yang membahayakan dari situasi dan kondisi lingkungan, menyesuaikan diri terhadap kejadian-kejadian negatif yang dijumpai dalam kehidupan nyata, mempertahankan citra diri yang positif, mempertahankan keseimbangan emosional serta meneruskan hubungan yang memuaskan bagi orang lain.

7. Strategi Coping Stres

Sejumlah peneliti mengatakan bahwa respon coping yang diberikan individu memegang peran yang sangat penting dalam menentukan makna dan pengaruh dari kejadian-kejadian dalam hidupnya yang dapat menimbulkan stres. Salah seorang ahli, yaitu Folkman dan Lazarus, (1984) mengemukakan pentingnya mempelajari peran individu dalam menilai stressor, dan bagaimana individu tersebut aktif bertahan untuk melawan ancaman atau bahaya yang diasosiasikan dengan stressor. Selain itu Klauer dan Filipp (dalam Schwarzer, 1989) mengidentifikasikan lima strategi coping yang digunakan sebagai dimensi dalam sebuah analisis fakor: (1) Mencari integrasi sosial, (2) refleksi atau mediasi, (3) meminimalkan ancaman, (4) berpaling pada agama, (5) mencari informasi.

(46)

bentuk strategi coping yang tergolong dalam Problem Focused Coping (PFC)

dan delapan bentuk strategi coping yang tergolong dalam Emotion Focused Coping (EFC).

a. Problem-Focused Coping: yaitu strategi ya ng mencoba untuk menghadapi dan menangani langsung tuntutan dari situasi atau upaya untuk mengubah situasi tersebut strategi yang tergolong dalam

Problem Focused Coping meliputi:

1) Active coping atau coping aktif, merupakan salah satu bentuk

coping yang ditandai dengan adanya langkah nyata yang dilakukan individu untuk menyelesaikan atau menghadapi masalah, berjuang untuk menyelesaikan masalah serta adanya keputusan untuk mengambil langkah yang bijaksana sebagai pemecahan masalah. 2) Planning atau membuat perencanaan, merupakan bentuk coping

yang ditandai dengan adanya usaha untuk memikirkan cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi stressor atau dapat juga berupa usaha untuk membuat rencana penyelesaian masalah.

3) Suppression of competing activities atau menekan aktifitas tandingan, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha individu untuk mengurangi perhatian dari aktivitas lain sehingga individu dapat lebih memfokuskan diri pada permasalahan yang sedang dihadapi.

(47)

dengan usaha individu untuk menunggu waktu dan kesempatan yang tepat untuk bertindak. Individu berusaha untuk menahan diri dan tidak tergesa- gesa dalam bertindak.

5) Seeking social support for instrumental reason atau mencari dukungan sosial untuk alasan instrumental, merupakan salah satu bentuk coping yang terwujud dalam usaha individu untuk mencari saran, bantuan dan informasi dari orang lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

b. Emotion-focused coping: dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Strategi yang tergolong dalam Emotion-focused coping

meliputi:

1) Seeking social support for emotional reason atau mencari dukungan sosial untuk alasan emosional, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha individu untuk mencari dukungan moral, simpati dan pemahaman dari orang lain. 2) Positive reinterpretation atau penilaian kembali secara positif,

ditandai dengan adanya usaha untuk memaknai semua kejadian yang dialami sebagai suatu kenyataan ya ng harus dihadapi.

(48)

4) Denial atau penyangkalan, merupakan usaha individu untuk menolak atau menyangkal kejadian sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi.

5) Turning to religion atau berpaling pada agama, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai oleh adanya usaha untuk mencari kenyamanan dan rasa aman dengan cara berpaling pada agama. Biasanya diwujudkan dalam doa, meminta bantuan pada Tuhan dan adanya sikap pasrah pada Tuhan.

6) Focusing on and venting emotions atau berfokus pada emosi dan penyaluran emosi, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya usaha untuk meningkatkan kesadaran akan adanya tekanan emosional dan secara bersamaan melakukan upaya untuk menyalurkan atau meluapkan perasaan tersebut.

7) Behavioral disengagement atau pelepasan secara perilaku, merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya penurunan usaha untuk menghadapi stressor (menyerah pada situasi yang dialami). Bentuk coping ini juga dikenal dengan istilah putus asa.

(49)

Lazarus dan Folkman, (1984) lebih mengembangkan aspek strategi

coping tersebut menjadi:

1) Cautiousness atau kehati- hatian, yaitu strategi yang mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah dan selali bersikap hati-hati sebelum bertindak.

2) Instrumental Action merupakan bentuk strategi yang selalu membuat perencanaan penyelesaian secara logis.

3) Negotiation adalah bentuk strategi yang mencoba menyelesaikan masalahnya dengan cara melakukan pendekatan terhadap sumber masalah.

4) Escapism atau pelarian dari masalah adalah bentuk strategi yang selalu menghindari masalah dengan cara berkhayal, makan, minum- minuman dan merokok.

5) Minimisation atau menganggap kecil adalah bent uk strategi yang menganggap bahwa masalah itu tidak ada.

6) Self blame atau menyalahkan diri sendiri adalah bentuk strategi yang menyalahkan dan menghukum diri sendiri serta menyesali apa yang sudah terjadi.

(50)

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penjabaran sebelumnya adalah strategi coping yang dipakai dalam penelitian ini adalah strategi coping yang dikemukakan oleh Carver, Sceiser, dan Weintraub yang mengelola stres ke dalam dua kelompok besar seperti Problem-Focused Coping, dan Emotion-Focused Coping.

8. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Stres

Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik atau energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi seperti yang dikemukakan passer & Smith (2004).

a. Kesehatan Fisik

Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar

b. Keyakinan atau pandangan positif

Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness)

yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe yaitu:

problem-solving focused coping

(51)

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

d. Keterampilan sosial

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat.

e. Dukungan sosial

Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. f. Materi

Dukungan ini meliputi sumber daya daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

(52)

dalam masalah yang dihadapinya, maka penelitian ini akan memakai salah satu strategi coping dari penelitian Carver, Sceiser, dan Weintraub.

B. Penderita HIV/AIDS 1. Pengertian HIV/AIDS

Perjalanan kasus HIV/AIDS pertama kali terjadi sekitar tahun 1981 oleh ahli kesehatan di kota Los Angeles, Amerika Serikat (Kompas 23 Mei 2003). Ketika sedang melakukan sebuah penelitian kasus seri terhadap empat pemuda/mahasiswa. Ternyata dalam tubuh keempat pemuda tadi ditemukan penyakit phenumonia yang disertai dengan penurunan kekebalan tubuh (Imunitas).

AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency

(53)

Kuman-kuman tersebut dikatakan bersifat “opportunistic” karena mereka memanfaatkan kesempatan yang terbuka untuk menyerbu dan berkembang biak. Beberapa sel abnormal (kanker) memanfaatkan pula kesempatan tersebut untuk memperbanyak diri dan menyebabkan kanker. Manifestasi klinis penyakit ini bukan merupakan gejala gangguan sistem kekebalan tubuh itu sendiri melainkan gejala penyakit infeksi dan kanker

oportunistis tersebut yang akan menimbulkan kumpulan gejala klinis (sindrom) yang menentukan tingkat keparahan penyakit AIDS. Montagnier (dalam Rasad.1987) mengungkapkan bahwa jarang sekali terjadi bahwa suatu kejadian telah menarik perhatian media penerbit sedemikian besarnya seperti pada AIDS.

Dengan arti yang lain, sebelum orang menderita AIDS, tubuhnya terlebih dahulu telah terjadi kerusakan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya kerusakan sistem kekebalan tubuh ini, penderita akan menjadi peka terhadap infeksi termasuk kuman yang dalam keadaan normal sebenarnya tidak berbahaya.

Pengidap AIDS sebagian besar penderita sebelumnya terinfeksi virus HIV. Penyakit ini merupakan penyakit kedua yang menyebabkan kematian pada pria kelompok usia 25 sampai 44 tahun (Rachimhadhi, 1996:24)

(54)

a. Kelelahan yang sangat, yang berlangsung selama beberapa minggu tanpa sebab yang jelas.

b. Demam tanpa sebab yang jelas, menggigil kedinginan atau berkeringat berlebihan di malam hari, berlangsung beberapa minggu.

c. Hilangnya berat badan lebih dari lima kg dalam waktu kurang dari dua bulan.

d. Pembengkakan kelenjar, terutama di leher atau ketiak.

e. Sariawan atau terdapat sejenis bisul dan luka bernanah di mulut atau tenggorokan. Sariawan adalah sejenis infeksi yang umumnya terjadi di vagina, mengakibatkan keluarnya cairan berwarna putih yang mengganggu. Pada lelaki, jamur ini mungkin timbul berupa bintik-bintik putih yang mengganggu di ujung penis atau munculnya kotoran putih yang keluar dari anus.

f. Diare terus-menerus.

g. Nafas menjadi pendek, lambat laun menjadi buruk setelah beberapa minggu, disertai batuk kering yang tidak diakibatkan oleh rokok dan berlangsung lebih lama daripada batuk karena flu berat.

h. Bisul atau jerawat baru, berwarna merah muda atau ungu, biasanya tidak sakit, muncul di kulit bagian mana saja, termasuk di mulut atau kelopak mata.

(55)

ditekan dan tidak hilang. Biasanya luka melepuh ini adalah salah satu bentuk kanker kulit yang dikenal dengan leaposis sarcoma. Untuk beberapa alasan yang tidak sepenuhnya dipahami, kanker ini bukanlah gejala umum pada perempuan yang menderita AIDS.

Human Immunadeficiency Virus (HIV) yaitu suatu virus menyerang sistem kekebalan tubuh (Richardson, 2002 : 1). Jika sistem kekebalan tubuh rusak, tubuh menjadi rentan terhadap infeksi dan kanker, apabila sistem kekebalan tubuhnya baik dapat menangkis penyakit tersebut. HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok sel darah putih tertentu yaitu sel T – helper, sel ini berperan penting pada pencegahan infeksi. HIV tidak hanya merusak sistem kekebalan tubuh saja, tetapi juga merusak otak dan sistem saraf pusat.

(56)

dia reaktif, dia tidak mau memberitahukan kepada orang lain termasuk orang terdekat, karena dia tidak mau dikucilkan atau tidak diterima oleh keluarga dan masyarakat. HIV merupakan virus penyebab AIDS, namun tidak semua penderita akhirnya mengidap AIDS, berdasarkan studi yang pertama menunjukkan, sekitar satu dari sepuluh orang yang tertular virus ini akhir nya menderita AIDS. Berdasarkan studi tentang penyakit ini, dalam tujuh tahun studi terakhir menunjukkan bahwa 30% orang yang terinfeksi HIV akan terjangkit AIDS karena waktu antara infeksi dan munculnya gejala memakan waktu beberapa tahun, maka waktu pun akan memperlihatkan bahwa angka 30% juga terlalu rendah (Richardson, 2002)

2. Penularan virus HIV/AIDS

Dalam penularan atau transmisi pengidap AIDS disebabkan oleh berbagai faktor seperti yang dikemukakan pelkesi (1995). Faktor- faktor transmisi tersebut antara lain:

a. Penularan seksual

Cara hubungan seksual ono-genital merupakan perilaku seksual yang beresiko tinggi bagi penularan HIV, oleh karena mukosa rectum

(57)

b. Penularan non-seksual

1) Penularan pasental : yaitu suatu penularan melalui darah atau produk darah yang tercemar HIV. Artinya jika darah orang yang terjangkit HIV itu masuk ke dalam darah orang normal bisa melalui jarum yang tidak steril ataupun bergantian jarum suntik dari pengguna narkotika, maka akan mudah sekali terinfeksi.

2) Penularan transpasental yaitu penularan dari ibu hamil mengidap HIV kepada bayi kandungannya. Bayi itu kesakitan ketika masih dalam kandungan atau ketika sedang dilahirkan. Ada juga resiko tertentu penularan melalui pemberian air susu ibu. Segera setelah HIV memasuki tubuh seseorang, maka orang tersebut berpotensi menularkan HIV kepada orang lain.

Beberapa kelompok orang yang beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS antara lain:

a. Mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual (homo dan heteroseksual) seperti wanita tuna susila, mucikari, kelompak homoseks, biseks, dan waria.

b. Penerima transfusi darah dari darah seseorang yang sebelumnya sudah terinfeksi HIV.

c. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena virus HIV.

(58)

e. Orang yang menggunakan jasa dengan alat tusuk seperti akupuntur, tato, tindik yang dipakai orang yang telah terinfeksi HIV.

f. Pasangan dari pengidap AIDS yang menularkan pada pasangannya. g. Remaja yang melakukan free seks dan kurang memperhatikan

kesehatan dan keamanan, sehingga kemungkinan remaja tertular HIV lebih besar.

3. Dampak yang dialami pengidap HIV/AIDS

(59)

4. Reaksi Terhadap Sumber Stres

Saat seseorang mulai dinyatakan mengidap HIV/AIDS, mereka langsung mengalami kemerosotan fisik dan mentalnya, karena sampai saat ini masyarakat masih menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang negatif karena telah melanggar aturan, moral, agama dan sosial, serta memandang penyakit ini adalah mencacatkan, berjangkit, membawa maut dan dipandang hina oleh masyarakat (Aishah, jurnal psikologi 16:75). Mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu keadaan terminal. Kenyataan ini akan memunculkan perasaan terkejut, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut sebagai reaksi awal terhadap perubahan situasi yang tiba-tiba.Status ODHA dapat menimbulkan kecemasan dan depresi. Mungkin disertai pula gagasan bunuh diri, gangguan tidur, dan sebagainya. Gejala-gejalanya seperti tidak bergairah hidup, putus asa, merasa tidak berguna, dan merasa tidak tertolong lagi.

(60)

C. Coping Stres pada Penderita HIV/AIDS

Saat ini jumlah individu yang terinfeksi HIV atau Odha (Orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia sudah semakin meningkat karena itu diperlukan penanganan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang muncul. Mengetahui telah terinfeksi virus yang belum ditemukan obatnya tentu saja menimbulkan beban bagi Odha. Harga obat-obatan yang mahal, perjalanan penyakit yang terkadang membaik dan terkadang memburuk serta sikap masyarakat yang diskriminatif membuat stres yang dialami Odha semakin berat (Wicaksono, 2005). Sumber stres dan perubahan-perubahan yang terjadi saat mereka menyandang status HIV tersebut akan membuat mereka melakukan penyesuaian diri agar mereka dapat beradaptasi terhadap tuntutan yang baru untuk mencapai kondisi yang nyaman. Berdasarkan hal tersebut ODHA dituntut untuk mempunyai ketrampilan dalam mengolah stres akibat status ODHA (coping stres).

Faktor yang banyak berperan dalam strategi coping stres adalah dukungan sosial, karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melihat strategi

coping yang dilakukan Odha untuk menangani stres (Richardson, 2002). Strategi coping sendiri menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain strategi

(61)

dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Selye, 1976).

(62)

Skema 2.1 skema coping stres

ODHA (Orang dengan HIV/AIDS )

?

Sumber stres yang ditimbulkan:

Kemerosotan fisik dan kesehatannya karena adanya penolakan dari lingkungan. Penurunan kondisi ekonomi karena biaya pengobatan yang mahal. Terganggunya relasi dengan orang lain karena mendapat prasangka buruk dari lingkungan.

?

Respon Stres:

Muncul perasaan terkejut, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut, kemerosotan fisik, gagasan bunuh diri, gangguan tidur, tidak bergairah hidup, putus asa, merasa tidak berguna, dan merasa tidak tertolong lagi. hilangnya rasa otonomi, serta berkurangnya nilai-nilai sebagai manusia.

?

Odha melakukan Coping untuk mengatasi stres :

(63)

D. Pertanyaan penelitian

(64)

46 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti hanya melakukan analisis berdasarkan pemahaman tentang argumen maupun deskripsi yang diberikan oleh subyek penelitian tanpa melakukan pengukuran dengan angka-angka. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada dinamika dan proses. Penelitian ini merupakan penelitian dengan konteks alamiah yang memfokuskan pada variasi pengalaman subyek penelitian. Menurut Arikunto (dalam Rineka cipta, 1991), mengungkapkan bahwa penelitian kasus berisi tentang sebuah unit terpisah yang tunggal seperti sebuah keluarga, sebuah kelompok atau satuan rumah tangga. Studi kasus mencoba menggambarkan subyek penelitian di dalam keseluruhan tingkah laku, yakni tingkah laku itu sendiri beserta hal- hal yang melingkunginya, hubungan antara tingkah laku dengan riwayat timbulnya tingkah laku, demikian pula yang berkaitan dengan tingkah laku tersebut.

(65)

lalunya, lingkungannya, emosinya, jalan pikirannya dan lain hal yang berhubungan dengan perilaku tersebut (Moelong, 2000).

Menurut Patton ( dalam Purwandari, 1998 ), studi kasus sangat bermanfaat ketika peneliti merasa perlu memahami suatu kasus spesifik, orang – orang tertentu, kelompok dengan karakteristik tertentu, ataupun situasi unik secara mendalam. Desain studi kasus (case study) dengan pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, memungkinkan peneliti untuk menggali secara lebih mendalam keadaan, perasaan-perasaan, serta berbagai bentuk strategi coping

stres pada penderita HIV/AIDS. Strategi coping yang ingin diungkap adalah strategi coping yang digunakan subjek untuk menghadapi stres atau dampak-dampak yang muncul saat subyek terinfeksi HIV/AIDS.

B.Batasan Istilah

Strategi coping yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala upaya yang dilakukan oleh subyek, baik secara psikologis maupun perilaku yang dimaksudkan untuk menguasai, toleransi, mengurangi atau meminimalkan stres pada orang yang terinfeksi HIV/AIDS.

Adapun macam- macam strategi coping yang digunakan subyek untuk mengatasi stres yang dialaminya, yaitu :

a. Problem-Focused Coping: individu yang mencoba untuk menghadapi dan

(66)

b. Emotion-focused coping: individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan.

Strategi coping pada subyek dapat diketahui melalui pengambilan data yang berupa wawancara sesuai dengan guide yang telah disusun peneliti serta observasi dari perilaku subyek saat melakukan wawancara.

C.Subyek Penelitian

Penelitian kualitatif pengambilan sampel disesuaikan dengan tujuan penelitian. Ukuran sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian (Poerwandari, 1998) . Fenomena ODHA merupakan kelompok yang tepat untuk memperoleh gambaran coping

yang digunakan oleh penderita HIV/AIDS untuk menguasai stres yang dialaminya. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS.

2. Kategori usia yang dipakai adalah sesuai dengan usia yang rawan terinfeksi HIV/AIDS, yaitu 20-28 tahun.

(67)

D.Metode Pengumpulan Data

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 metode yang memungkinkan peneliti untuk mampu menggali secara lebih mendalam berbagai bentuk strategi coping stres yang digunakan oleh subjek yang telah terinfeksi HIV/AIDS. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan dengan maksud memperoleh pengetahuan tentang makna subyektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dalam Poerwandari,1998 ).

Wawancara dilakukan secara langsung kepada orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS sebagai subyek penelitian untuk memperoleh keakuratan data sekaligus menjaga kerahasiaan subyek.

(68)

Informasi yang ingin digali atau menjadi pedoman wawancara terhadap penderita HIV/AIDS dilakukan dengan menggunakan panduan pertanyaan, yaitu wawancara mengenai :

a. Data pendahuluan yang meliputi; identitas subyek, sejarah terinfeksi, relasi subyek, dan kegiatan yang dilakukan sebelum dan sesudah subyek terinfeksi.

b. Dampak yang dirasakan subjek saat menyandang status sebagai penderita

HIV/AIDS sebagai sumber stres. c. Berbagai bentuk tindakan dan usaha apa saja yang dilakukan subyek

dalam mengurangi stres yang dialaminya atau dampak stres saat subyek menyandang statusnya sebagai ODHA.

Pedoman wawancara disusun berdasarkan aspek yang menjadi fokus dalam penelitian ini, seperti terdapat dalam tabel berikut:

Tabel 3.1. Pedoman Wawancara 1. Latar belakang subyek

a. Identitas subyek (usia, pekerjaan subjek) b. Sejarah terinfeksi HIV/AIDS

c. Bagaimana relasi subyek dalam keluarga d. Bagaimana pergaulan subyek.

e. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan subyek sebelum dan sesudah subyek terinfeksi HIV/AIDS.

2. Stresor atau dampak yang dialami subyek

a. Bagaimana perasaan subyek saat mengetahui bahwa subyek terinfeksi HIV

b. Bagaimana subyek memandang dirinya

c. Apakah tes (status ODHA) yang dialaminya membawa perubahan bagi subyek (secara fisik, kesehatan, ekonomi), apa saja perubahan itu. d. Bagaimana sikap orang terhadap subyek atas peristiwa tersebut,

bagaimanakah reaksi lingkungan yang terjadi pada teman atau keluarga.

(69)

3. Strategi Coping stres

a. Bagaimana subyek mengelola perasaan itu.

b. Bagaimana cara subyek mengatasi permasalahan yang timbul akibat adanya status subyek sebagai ODHA.

c. Mengapa subyek memilih cara tersebut.

d. Apa saja yang dirasakan membantu atau menyulitkan dalam penanganan masalah tersebut.

e. Bagaimana harapan dan keinginan subyek ke depan.

Wawancara selain dilakukan terhadap subyek, penelitian juga dilakukan terhadap orang-orang yang dekat dengan subyek (significant others) yang mengetahui peristiwa yang dialami subyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang digunakan sebagai cross-check atas informasi yang telah diberikan subyek. Data-data dari informasi lain meliputi latar belakang subyek, kegiatan yang menjadi rutinitas subyek, perubahan yang sempat dialami subyek setelah menyandang status ODHA.

E. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis thematic atas transkrip wawancara. Hasil dari analisis ini berupa tema-tema khusus yang mendiskripsikan tentang berbagai strategi coping yang dilakukan subyek, stres yang dialami subyek saat terinfeksi HIV/AIDS atau dampak stres yang muncul akibat status yang disandang subjek sebagai penderita HIV/AIDS. Analisis data kualitatif dala m penelitian ini dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut:

1. Organisasi Data

(70)

menjadi kewajiban peneliti untuk mengorganisasikan datanya dengan rapi, sistematis dan selengkap mungkin. Organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk; memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, menyimpan data analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian (Higlen dan Finley, 1996 dalam poerwandari,1998). Data-data yang akan diorganisasikan dalam penelitian ini antara lain;

a.Data mentah (catatan lapangan, kaset, atau catatan hasil wawancara,). b.Data yang sudah diproses berupa (transkrip wawancara, catatan refleksi

penelitian).

c.Catatan pencarian dan penemuan yang disusun untuk memudahkan pencarian berbagai kategori data.

d.Penjabaran kode dan kategori secara luas melalui skema. 2.Pengkodean (koding)

Pengkodean dilakukan untuk mengorganisasikan dan menstimasikan

(71)

1. Menyusun transkrip wawancara, catatan lapangan atau observasi, dengan memberikan kolom kosong yang cukup di sebelah kanan atau kiri transkrip. Kolom ini digunakan untuk membubuhkan kode dan catatan-catatan tertentu di atas transkrip tersebut.

2. Memberikan penomoran secara urut pada baris transkrip wawancara, catatan lapangan.

3. Peneliti memberi nama untuk masing- masing berkas dengan kode tertentu yang dapat mewakili berkas tersebut. Terdapat tiga kode yang digunakan dalam penelitian ini. Terdapat tiga kode yang digunakan dalam penelitian ini :

a. Pengkodean transkrip wawancara subjek, yaitu : Subjek ke:- , wawancara ke-, baris ke-, contoh :S1. W1. 9 (Subjek pertama, wawancara pertama baris 9).

b. Pengkodean transkrip wawancara significant others, yaitu : subjek ke-, wawancara significant others ke-, baris ke-, contoh : S1. WSO1.6 (subjek pertama, wawancara significant others pertama, baris 6).

c. Pengkodean observasi, yaitu : Observasi subjek ke-, observasi ke-, baris ke-, contoh : S1.O1.14 (observasi subjek pertama, observasi pertama, baris 14).

Gambar

TABEL I. Pedoman Umum Wawancara.......................................................
TABEL I Pedoman Umum Wawancara . View in document p.18
Tabel 3.1. Pedoman Wawancara
Tabel 3 1 Pedoman Wawancara . View in document p.68
Table 3.2. Bentuk Coping Stres
Table 3 2 Bentuk Coping Stres . View in document p.72
Table 4.1 Data Subyek
Table 4 1 Data Subyek . View in document p.76
RINGKASAN GAMBARAN Tabel III COPING STRES TERHADAP PENDERITA HIV / AIDS
RINGKASAN GAMBARAN Tabel III COPING STRES TERHADAP PENDERITA HIV AIDS . View in document p.111

Referensi

Memperbarui...

Download now (162 pages)