SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika

Gratis

0
0
90
5 months ago
Preview
Full text

  

PERSEPSI SISWA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

TERHADAP PELAJARAN FISIKA

DI SEKOLAHNYA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

  

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Andreas Tri Hartanto

  

021424010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

Salah satu perbedaan paling besar antara orang

sukses dan orang tidak sukses terletak pada

penggunaan waktu luang.

  

( w.j.Brown )

Skripsi ini hanyalah sebuah persembahan kecil untuk semua cinta dan kasih yang telah kuterima sepanjang hidup

dari orang-orang terkasihku:

  

Bapak dan simbok tercinta, atas segala kasih sayang tak terbatas bagiku. Mbak Rini, Mas Agus, Mas Alex, yang

telah menjadi saudara sekaligus teman terbaik dalam hidupku.

  Semua orang yang telah mengasihiku dan mencoba menerima apapun yang ada padaku.

  

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah

  Yogyakarta,5 Januari 2009

Penulis

Andreas Tri Hartanto

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : ANDREAS TRI HARTANTO Nomor Mahasiswa : 021424010

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

PERSEPSI SISWA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

TERHADAP PELAJARAN FISIKA DI SEKOLAHNYA

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya

memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain

untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan

royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 28 Januari 2009 Yang menyatakan ( Andreas Tri Hartanto )

  

ABSTRAK

PERSEPSI SISWA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

TERHADAP PELAJARAN FISIKA

DI SEKOLAHNYA

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI IPA di SMA BOPKRI 1

YOGYAKARTA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiman persepsi

siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya.

  Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif

kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan

wawancara, kuesioner digunakan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pelajaran

Fisika. Kualitas pernyataan – pernyataan kuesioner ditentukan dengan uji coba

kuesioner dan validitas isi. Pernyataan – pernyataan sebelumnya yang banyak tidak

terjawab kemudian direvisi (atas saran dari dosen pembimbing).

  Wawancara digunakan untuk mengungkap permasalahan – permasalahan dan

digunakan untuk membuktikan adanya persepsi yang dialami siswa. Sehingga

wawancara dilaksanakan pada perwakilan siswa dari masing – masing kelas.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa dari faktor persepsi antara

lain: faktor proses belajar, pengalaman dan pengetahuan menimbulkan persepsi yang

cenderung semi positif. Sedangkan untuk faktor cakrawala menimbulkan persepsi

yang cenderung positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan siswa memberikan penilaian

menyenangkan berjumlah 39 siswa atau 47.56%, tidak menyenangkan berjumlah 28

siswa atau 34.15%, biasa saja berjumlah 15 siswa atau 18.29% terhadap pelajaran

Fisika di sekolahnya dan jumlah total siswa kelas XI IPA adalah 82 siswa.

  

ABSTRACT

Students of SMA BOPKRI I Yogyakarta perception

about Physic course at their school.

  The research was implemented to students XI IPA at SMA BOPKRI I

Yogyakarta. The purpose of this research is to know how student’s perception about

Physics course at their school.

  This research belongs in descriptive qualitative and descriptive quantitative

researches. The instruments that were used in this research were questionnaire and

interview methods. Questionnaire was used to know students’ perception about

Physic course. The quality of questionnaire questions was determined with

questionnaire-tried and contents validation. Many un-answered statements previously

then revised (by suggestion from the counselor).

  Research method was used to reveal the problem and to prove that there was

found a-student perception. So, interview method was implemented to students’

agency from each class.

  The research’s result proves that students’ perception that is raised from

perception factor including learning process factor, experience, and knowledge raises

an inclining semi-positive perception. Whereas, the cakrawala factor raises an

inclining positive-perception. It is showed by students which gave like estimation are

39 students or 47.56 % and dislike estimation are 28 students or 34.15 %, then

common estimation are 15 students or 18.29 % about Physic course in their school

from 82 students as total students of XI IPA.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “PERSEPSI SISWA SMA

BOPKRI 1 YOGYAKARTA TERHADAP PELAJARAN FISIKA DI

SEKOLAHNYA”, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan

strata satu.

  Dalam penyusunan skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan

baik moral maupun spiritual dan dukungan yang berupa bimbingan, dorongan,

sarana maupun fasilitas dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun mengucapkan

terima kasih kepada :

  

1. Bpk Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D selaku Dosen Pembimbing atas bimbingan,

bantuan dan pengarahan selama penelitian sampai penyusunan skripsi ini.

  

2. Bpk Drs. Priyanto selaku kepala sekolah SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA.

  

3. Ibu Dra.Tyas Rahwinarni selaku koordinator BK atas ijin yang diberikan

kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA.

  

4. Bpk Drs. Edi Krusmanto selaku guru BK dan Pamong BK SMA BOPKRI 1

YOGYAKARTA atas bantuan, saran dan nasehatnya.

  5. Bapak dan Simbok atas nasehat, dukungan, pengorbanan dan doanya.

  7. Keponakanku Pandu dan Yudi atas semangat dan inspirasiku.

  8. Yuliana Hanik Indrayani atas nasehat, dukungan, pengorbanan dan doanya.

  

9. Saudaraku Krisna, Wawan, Ari Kopet, Era, Wisnu Lepek, Dedik atas

semuanya.

  

10. Teman-temanku angkatan 2002 semuanya atas pengalaman hidup dalam

menjalin persahabatan selama ini.

  

11. Teman-teman seperjuangan Nita, Ari chebol, Eko kodok, Wisnu atas

kebersamaanya.

  12. Teman-temanku kost Raja Wali semuanya atas bantuan dan dukungannya.

  

13. Anak-anak SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA kelas XI IPA atas kesediannya

menjadi partisipan dan kerjasamanya.

  Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyelesaian

skripsi ini sehingga segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat

penulis harapkan. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca pada

khususnya serta ilmu pengetahuan pada umumnya.

  DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA……… vi

ABSTRAK ....................................................................................................... vii

ABSTRACT..................................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix

DAFTAR ISI.................................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv

DAFTAR TABEL ………………………………………………………… xv

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………… xvi

BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................

  1 A. Latar Belakang .....................................................................................

  1 B. Dasar Teori ..........................................................................................

  4

1. Fisika .............................................................................................

  4 a. Aspek produk ...........................................................................

  5 b. Aspek proses ............................................................................

  7 c. Aspek sikap ..............................................................................

  9

  

2. Sikap...............................................................................................

  

E. Obyek dan Subyek penelitian……………………………………….. 27

  1. Kuesioner ....................................................................................... 31

  

H. Metode Pengumpulan Data…………………………………………… 31

  3. Wawancara..................................................................................... 31

  29

  1. Kuesioner ....................................................................................... 27

2. Validitas Instrumen ........................................................................

  27

  

F. Variabel………………………………………………………………. 27

G. Instrumen Penelitian ............................................................................

  26 D. Partisipan.............................................................................................. 26

  11

3. Persepsi ..........................................................................................

  25 C. Waktu dan Tempat ...............................................................................

  BAB II. METODOLOGI PENELITIAN......................................................... 25 A. Jenis Penelitian..................................................................................... 25 B. Desain penelitian..................................................................................

  23 E. Manfaat penelitian……………………………………………………. 23

  23 D. Tujuan Penelitian .................................................................................

  3.3 Persepsi siswa terhadap pelajaran fisika……………………. 21 C. Perumusan Masalah..............................................................................

  3.2 Pembentukan persepsi siswa tertang pelajaran fisika……….. 19

  17

  16 3.1 Faktor – faktor persepsi ...........................................................

  2. Wawancara..................................................................................... 32

  I. Metode Analisis Data...........................................................................

  5. Pernyataan akhir setelah kuesioner………………... …………… ... 49

  BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 54 A. Kesimpulan .......................................................................................... 54 B. Saran..................................................................................................... 54 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

  

D. Keterbatasan Penelitian………………………………………………… 52

  

C. Rangkuman Persepsi Partisipan……………………………………… 52

  5.3. Pelajaran Fisika biasa saja…………………….. ……………… 51

  5.2. Pelajaran Fisika tidak menyenangkan……..…………………. . 50

  5.1. Pelajaran Fisika menyenangkan……..………………………… 49

  4. Cakrawala………………………………………………………...... 47

  32

  3. Pengetahuan………………………………………………………. .. 43

  2. Pengalaman……………………………………………………….. .. 40

  1. Proses belajar……………………………………………………… .. 37

  

BAB III. DATA, ANALISIS DAN PEMBAHASAN ..................................... 36

A. Pelaksanana Penelitian ......................................................................... 36

B. Data, Analisis dan Pembahasan ........................................................... .. 36

  2. Analisis Wawancara....................................................................... 35

  1. Analisis kuesioner .......................................................................... 33

  56 LAMPIRAN..................................................................................................... 57

  DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema sains……………………………………………………… 11

Gambar 2. Hubungan antara nilai, sikap, motif dan dorongan………….. 12

Gambar 3. Sikap merupakan ‘pre-disposisi’ tingkah laku……………….. 13

Gambar 4. sikap……………………………………………………………… 16

Gambar 5. Persepsi………………………………………………………….. 19

  DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pernyataan kuesioner ……………………………………………… 28

Tabel 2. Prosentase sekaligus hasil analisis kuesioner…………………….. 33

Tabel 3. Tanggapan siswa dalam kuesioner……………………………….. 37

Tabel 4. Tanggapan siswa terhadap pelajaran Fisika selama ini…………. 49

Tabel 5. Hasil Penelitian IPA I……………………………………………… 68

Tabel 6. Hasil Penelitian IPA I1……………………………………………. 69

Tabel 7. Hasil Penelitian IPA III…………………………………………… 70

Tabel 8. Hasil Penelitian IPA IV…………………………………………… 71

Tabel 9. Hasil Penelitian XI IPA ………………………………………….. 72

DAFTAR LAMPIRAN

  

Lampiran 1. Kuesioner …………………………………………………….. 57

Lampiran 2. Hasil wawancara……………………………………………… 61

Lampiran 3. Pernyataan akhir…………………………………………….. 63

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi turut

  

menyumbangkan perubahan pola pikir dalam kehidupan bermasyarakat terutama

para siswa. Para siswa sekarang ini lebih senang dihargai dan dihormati

kebebasan mereka dalam menentukan masa depan mereka. Untuk sekolah

menengah atas (SMA) para siswa diberi kebebasan untuk memilih sendiri jurusan

yang sesuai dengan pribadi mereka sendiri, baik dalam mengambil jurusan IPA,

IPS maupun bahasa. Sebagian besar siswa mengambil jurusan IPA atau IPS.

  Namun sekarang ini, tak jarang pula ada siswa yang memilih jurusan Bahasa.

  Berbagai alasan menjadi dasar mengapa siswa memilih jurusan mereka

sendiri, ada beberapa faktor yang menyebabkan para siswa tersebut memilih

jurusan tersebut antara lain yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor

internal diantaranya bakat, minat, inteligensi, motivasi, kesehatan mental. Faktor

eksternal diantaranya Orang tua, lingkungan sosial, Media Massa, dan sekolah.

  Siswa yang memiliki bakat terhadap bidang tertentu, maka siswa akan

mengembangkan bakatnya sesuai dengan yang mereka kuasai atau miliki karena

bakat merupakan potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir atau

keturunan. Setiap individu mempunyai mempunyai bakat yang berbeda – beda,

seseorang yang berbakat musik mungkin didalam menguasai bidang lain

  

raga lemah. Orang tua yang berkecimpung di bidang seni, anaknya akan mudah

memepelajari seni suara, tari dan lainnya. Anak yang berbakat teknik akan mudah

mempelajari matematika, fisika, konstruksi mesin. Anak yang berbakat olah raga

mereka akan berkembang di bidang olah raga seperti : lari, lompat, sepak bola,

volley, dan lainnya. Jadi seseorang anak akan mudah mempelajari apabila sesuai

dengan bakatnya.

  Minat siswa terhadap bidang tertentu juga akan sangat mempengaruhinya

dalam belajar, tidak adanya minat anak terhadap suatu pelajaran akan

menimbulkan kesulitan siswa untuk mempelajari pelajaran tersebut. Belajar yang

tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan

kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipe – tipe khusus

anak akan menimbulkan problema pada dirinya. Untuk itu siswa akan memilih

jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

  Motivasi sebagai faktor inner berfungsi menimbulkan, mendasari,

mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik – tidaknya

dalam mencapai tujuan sehingga semakin tinggi motivasinya akan semakin besar

kesuksesan belajarnya. Seseorang yang besar motivasinya akan giat berusaha,

tampak gigih tidak mau menyerah, giat membaca buku – buku untuk

meningkatkan prestasinya dalam memecahkan masalah. Sebaliknya mereka yang

memiliki motivasi lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatian tidak

tertuju pada pelajaran, akan mengalami kesulitan belajar.

  Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga

  

dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan emosi akan

menimbulkan hasil belajar yang baik. Demikian juga, belajar yang sukses akan

selalu membawa harga diri seseorang. Bila harga diri tumbuh akan merupakan

faktor adanya kesehatan mental.

  Dari faktor eksternal keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama

dan pertama tetapi juga dapat sebagai faktor penyebab keberhasilan siswa dalam

belajar, faktor itu di antaranya : Cara mendidik anak, hubungan orang tua dengan

anak, bimbingan dari orang tua, suasana keluarga, keadaan keluarga. Lebih luas

lagi yaitu lingkungan sosial tempat tinggal siswa tersebut. Di samping itu juga

ada media massa yang tentunya sangat menarik untuk diikuti, anak akan mudah

belajar dengan media visualisasi seperti pada televisi.

  Di lingkungan sekolah cara berpikir atau belajar anak akan dipengaruhi

beberapa hal diantaranya bagaimana cara guru mengajar, sarana untuk mengajar,

kondisi gedung, kurikulum yang digunakan, waktu sekolah dan kedisiplinan.

Namun disamping faktor – faktor diatas ada juga faktor yang mempengaruhi

siswa dalam memilih jurusan yaitu persepsi siswa tentang pelajaran fisika, siswa

menganggap pelajaran fisika sama dengan pelajaran matematika yang kental

dengan hitungan dan juga rumus.

  Sehubungan dengan hal yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang persepsi siswa tentang suatu pelajaran khususnya

Fisika yang dewasa ini sedang berkembang.

B. Dasar Teori .

1. Fisika

  Fisika merupakan cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (Sains). Oleh karena

itu, hakekat fisika dapat ditinjau dam dipahami melalui hakekat sains. Beberapa

sainstis antara lain : Fisher, Conant, Campbell, Bube, M.T.Zen, Carin dan Sund,

dan Dawson seperti yang dikutip oleh Kartika Budi (1998, 161) mencoba

mendefinisikan sains sebagai berikut: Menurut Fisher (1975 dalam Kartika Budi, 1998) sains adalah bangunan

pengetahuan yang diperoleh menggunakan metode berdasarkan observasi.

Menurut Conant dalam Kartika Budi (1998) sains adalah deretan atau bangunan

dari konsep dan skema konseptual yang saling berhubungan sebagai hasil dari

eksperimentasi dan observasi, yang berguna dan bernilai untuk eksperimentasi

dan observasi selanjutnya (Kuslan dan Stone, 1978 dalam Kartika Budi, 1998).

  Menurut Campbell dalam Kartika Budi (1998) sains adalah ilmu

pengetahuan yang bermanfaat dan praktis dan cara atau metode untuk

memperolehnya. Menurut Bube dalam Kartika Budi (1998) sains adalah

pengetahuan tentang alam yang diperoleh melalui interaksi dengannya. Menurut

Zen(1984 dalam Kartika Budi, 1998), sains adalah suatu eksplorasi ke alam materi

berdasarkan observasi, dan yang mencari hubungan - hubungan alamiah yang

teratur mengenai fenomena yang diamati serta menguji diri sendiri.

  Menurut Carin dan Sund (1989 dalam Kartika Budi, 1998) sains adalah

suatu sistem untuk memahami semesta melalui data yang dikumpulkan melalui

  

Kartika Budi (1998) sains adalah aktivitas pemecahan masalah oleh manusia yang

termotivasi oleh keingintahuan akan alam disekelilingnya dan keinginan untuk

memahami, menguasai, dan mengolahnya demi memenuhi kebutuhan.

  Menurut definisi sains diatas aspek – aspek sains adalah aspek produk, aspek proses, dan aspek sikap.

  Aspek produk Yang merupakan aspek produk adalah bangunan sistematis pengetahuan

(Dawson, 1994; Carin dan Sund, 1989 dalam Kartika Budi, 1998) sebagai hasil

dari proses yang dilakukan oleh saintis. Menurut T. Sarkim (1998,129) istilah

yang diterapkan dalam prinsip – prinsip, hukum –hukum, dan teori – teori didalam

sains menyatakan bahwa pengetahuan, prinsip, hukum atau teori adalah hasil

rekaan atau buatan manusia dalam rangka memahami dan menjelaskan alam

bersama dengan berbagai fenomena yang terjadi didalamnya. Dengan demikian,

dapat dikatakan bahwa sains adalah suatu sistem yang dikembangkan oleh

manusia untuk mengetahui keadaan diri dan lingkungannya. Oleh Carin dan Sund

(1989 dalam T. Sarkim, 1998) mengajukan tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh

suatu sistem dalam sains. Ketiga kriteria tersebut antara lain (1) mampu

menjelaskan fenomena yang telah terjadi atau yang diamati. (2) mampu

memprediksi peristiwa yang akan terjadi. (3) dapat diuji dengan eksperimen

sejenis.

  Dalam pengajaran sains, aspek produk tampil dalam bentuk bahan – bahan

pengajaran yang berisi pokok – pokok bahasan, misalkan pokok – pokok bahasan

  

pengetahuan yang sudah jadi tanpa penjelasan bagaimana teori atau hukum

tersebut diperoleh.

  Sebagai salah satu dari produk sains yaitu fisika terdiri atas berbagai fakta,

konsep, hukum, teori, dan prinsip (Carin dan Sund,1989 dalam Kartika

Budi,1998) yang terorganisasi secara sistematis yang membentuk body of

knowlegde atau conseptual scheme. Fakta adalah sesuatu yang telah atau yang

sedang terjadi yang dapat berupa keadaan, sifat, atau peristiwa, sedangkan konsep

adalah suatu ide yang merupakan generalisasi dari berbagai peristiwa atau

pengalaman khusus (Carin dan Sund,1989 dalam Kartika Budi,1998) yang

dinyatakan dengan istilah atau simbol tertentu yang dapat diterima sesuai dengan

budaya setempat.

  Konsep mengacu pada obyek (benda-benda), peristiwa, keadaan, sifat,

kondisi, ciri, dan atribut yang lekat dengan suatu obyek (Bred Ted,1991 dalam

Kartika Budi, 1998;162) yang pada umumnya menjadi obyek kajian dalam proses

pelajaran fisika, penelitian, dan penerapannya untuk berbagai kepentingan. Dalam

fisika dapat disebutkan sederetan panjang konsep seperti cahaya, lembab, getaran,

elektron, kecepatan relatif, waktu paruh, momentum sudut, bilangan kuantum, dan

sebagainya. Seseorang yang membangun pengetahuan atau struktur kognitif,

mencoba menangkap makna dari konsep-konsep yang dipelajarinya dengan

membangun konsepsi, yaitu gambaran dalam pikirannya atau gambaran mental,

yang merupakan jawaban atas pertanyaan; apa sebenarnya konsep itu? Oleh

karena tidak mengherankan bila ada satu konsep yang memiliki beberapa definisi,

  

membangun struktur kognitif, yang bergantung pada tingkat pendidikan, aspek

yang diperhatikan, dan peruntukannya. Perbedaan konsepsi itu dapat disebabkan

oleh perbedaan proses pembentukan, tingkat pendidikan, aspek yang ditonjolkan,

sudut pandang, konsep lain yang melatarbelakanginya, atau perbedaan tujuannya.

  

Perbedaan - perbedaan inilah yang memungkinkan munculnya apa yang disebut

dengan salah konsepsi.

  Aspek proses Yang merupakan aspek proses sains adalah eksperimen yang meliputi

penemuan masalah dan perumusannya, perumusan hipotesis, merancang

percobaan, melakuakan pengukuran, menganalisis data dan menarik kesimpulan

(Sund, 1982 dalam Kartia Budi, 1998). Aspek proses juga disebut metode

memperoleh pengetahuan, metode tersebut dikenal dengan metode keilmuan.

Olek beberapa ahli seperti Mouly, Riggs, dan Hormer dan Hunt yang dikutip oleh

T.Sarkim (1998,133) mendefinisikan metode keilmuan sebagai berikut:

  Menurut Mouly (1982 dalam T.Sarkim, 1998) metode keilmua adalah

perpaduan antara metode induksi dan metode deduksi, dimana seorang peneliti

mula – mula mengunakan metode induksi dalam menghubungkan pengamatan

dengan hipotesis kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan

pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasinya. Setelah

melewati berbagai perubahan yang perlu, hipotesis ini kemudian diuji melalui

serangkaian data yang dikumpulkan untuk menguji sah atau tidaknya hipotesis itu

secara empiris.

  Menurut Riggs (1992 dalam T.Sarkim, 1998) metode keilmuan adalah

perpaduan antara observational dan theorikal. Hukum – hukum obsevational

ditemukan melalui proses generalisasi induktif dari data yang dapat diukur atau

diindera manusia. Dalam proses induktif ini, data diperoleh dari pengamatan

peneliti yang memiliki pikiran terbuka dan data tersebut harus memenuhi standar

keilmuan. Oleh karena itu, hukum observasional mencerminkan suatu keteraturan

nyata dialam karena faktor subyektif dilepaskan. Hukum teoritis mengaku kepada

besaran – besaran dan proses – proses yang tidak dapat diobsevasi, hukum teoritis

tidak memiliki basis empiris seperti halnya hukum obsevational. Sebagai

konsekuensinya, hukum teoritis dapat berubah dari waktu ke waktu apabila

diketemukan bukti baru yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang ada.

  Menurut Horner dan Hunt (1982 dalam T.Sarkim, 1998) metode keilmuan

adalah perpaduan antara rasionalisme dan empirisme. Sebaga perpaduan dari

rasionalisme yang meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pikiran

dan empirisme yang meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui

pengalaman, metode keilmuan ini memiliki kerangka dasar prosedur yang dapat

dijabarkan dalam enam langkah : (1) sadar akan adanya masalah dan perumusan

masalah. (2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan. (3) penyusunan

atau klarisikasi data. (4) perumusan hipotesis. (5) deduksi dan hipotesis. Dan (6)

tes dan pengujian kebenaran hipotesis. Pada tahap tersebut terdapat aktifitas –

aktifitas yang dilakukan peneliti, diantaranya melakukan observasi, mengukur,

memprediksi, mengklarifikasi, membandingkan, menyimpulkan, merumuskan

  

hipotesis, melakuakan eksperimen, menganalisis data, membuat laporan penelitian

dan menkomunikasikan hasil penelitian.

  Dalam pengajaran sains, aspek proses ini muncul dalam bentuk kegiatan

belajar mengajar, ada tidaknya aspek proses didalam pengajaran sains sangat

bergantung pada guru. Suatu teori yang tertulis dalam buku pelajaran fisika,

misalnya dapat diajarkan begitu saja seperti yang tertulis dalam buku itu. Namun,

dapat pula diajarkan dengan membawa persoalannya secara kongkret. Kemudaia,

para siswa dibimbing melakukan berbagai aktifitas, baik fisik maupun mental

sampai akhirnya merumuskan kembali teori yang sudah tertulis dalam buku itu.

  Aspek sikap Menurut T.Sarkim (1998,134) aspek sikap adalah sebagai keyakinan, opini

dan nilai – nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuan khususnya mencari

atau mengembangkan pengetahuan baru diantaranya tanggung jawab, rasa ingin

tahu, disiplin, tekun, jujur, dan terbuka terhadap pendapat orang lain. Sikap dapat

diklarifikasikan didalam dua kelompok besar yaitu seperangkat sikap yang bila

diikuti akan membantu proses pemecahan masalah dan seperangkat sikap yang

menekan sikap tertentu terhadap sains sebagai suatu cara memandang dunia serta

dapat berguna bagi pengembangan karir dimasa depan (Dawson,1995 dalam

T.Sarkim, 1998) Termasuk didalam kelompok pertama adalah : (1) kesadaran akan

perlunya bukti ketika mengemukakan suatu pernyataan; (2) kemauan untuk

mempertimbangkan interpretasi atau pandangan lain; (3) kemauan untuk

  

keterbatasan dalam penemuan keilmuan. Sedangkan sikap – sikap yang termasuk

ke dalam kelompok kedua adalah ; (1) rasa ingin tahu terhadap dunia fisik dan

biologis serta cara kerjanya; (2) pengakuan bahwa sains dapat membantu

memecahkan masalah – masalah individu dan global; (3) memiliki rasa

antusiasme untuk menguasai pengetahuan dan metode sains; (4) pengakuan

pentingnya pemahaman keilmuan dalam dunia masa kini; (5) pengakuan bahwa

sains adalah aktifitas manusia; (6) pemahaman hubungan antara sains dan bentuk

aktifitas manusia lainnya.

  Sikap – sikap tersebut secara jelas berhubungan deangan sains dan sangat

potensial dikembangkan dalam pengajaran sains. Akan tetapi, masih terdapat

sikap – sikap positif yang lebih umum dan dapat didukung perkembangannya oleh

guru sains, misalnya rasa tanggung jawab, kemauan bekerja sama, tekun, toleran,

jujur, dan memiliki rasa percaya diri. Dalam pengajaran sains, aspek sikap hanya

dapat terlibat apabila guru secara sadar dan terus – menerus memperhatikan,

mengarahkan, menegur, dan menunjukkan sikap – sikap para muridnya.

  Oleh karena itu, didalam membicarakan sains maka akan tergambar dalam

pikiran minimal adalah produk, proses, sikap (Carin dan Sund, 1989 dalam kartika

Budi, 1998). Dengan kata lain, bahwa sains dapat dipandang sebagai kesatuan dari

proses, sikap dan hasil. Seperti telah diuraikan diatas, pandangan tersebut bila

konsekuen akan melatar - belakangi guru pada pilihan strategi pembelajaran.

Sehingga dapat digambarkan seperti pada skema sebagai berikut (Kartika

Budi,1998)

  Menghasilkan Proses sains Hasil sains Mendorong

  2

  3

  1 Sikap sains ket : 1. Membentuk

  2. Menumbuhkan

  3. Melandasi Gambar 1 Skema sains

  Skema tersebut menjelaskan bahwa proses sains yang dilandasi sikap sains

seperti perasaan ingin tau, disiplin, dan tanggung jawab akan memperoleh hasil

sains. Hasil sains yang didukung oleh sikap, misalnya menyadari keterbatasan

dalam penemuan keilmuan akan mendorong proses sains dan hasil sains yang

diperlukan dalam proses sains berikutnya untuk menghasilkan produk sains yang

baru.

2. Sikap

  Menurut Mar’at (1981, 9) sikap merupakan produk dari proses sosialisasi

di mana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang di terimanya. Jika sikap

terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk

berinteraksi orang tersebut terhadap obyek. Dalam ilmu Psikologi Sosial, lima

puluh terakhir studi mengenai sikap banyak banyak sekali diteliti, dari mulai teori,

konstruksi, konsep sampai dengan pengukurannya.

  Menurut Newcomb dalam Mar’at (1981:11) sikap merupakan suatu

kesatuan kognisi yang mempunyai valensi dan akhirnya berintegrasi ke dalam

  

pola yang lebih luas. Hal ini dapat pada bagan sebagai berikut: hubungan antara

nilai, sikap, motif dan dorongan ( Newcomb, 1978 dalam Mar’at,1981).

  Sasaran / tujuan yang bernilai terhadap mana NILAI berbagai pola sikap dapat diorganisasi SIKAP Kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku bermotivasi MOTIVASI

  Kesiapan ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku bermotivasi DORONGAN Keadaan organisme yang menginisasikan kecenderungan ke arah aktifitas umum

  

Gambar 2

Hubungan antara nilai, sikap, motivasi dan dorongan

Bagan gambar 2 melukiskan perkembangan seleksi dan degenerasi tingkah

laku individu yang berpangkal pada ‘drives‘ dan akhirnya mencapai puncak pada

  

‘values‘. Nilai pada gambar 2 inilah yang menunjukkan konsistensi organisasi

tingkah laku individu. Pada gambar 3 menjelaskan bahwa, Definisi sikap yang

dirumuskan sebagian besar ahli mencantumkan kata “ pre-disposition“ atau “

tendency “ yang berarti adanya kecenderungan, kesediaan dapat diramalkan

tingkah laku apa yang dapat terjadi jika diketahui sikapnya. Tindakan yang

diawali melalui proses yang cukup kompleks dan sebagai titik awal untuk

menerima stimulus adalah melalui alat indera seperti : penglihatan, pendengaran,

  

psikofisik seperti kebutuhan, motif, perasaan, perhatian dan pengambilan

keputusan. Semua proses ini sifatnya tertutup sebagai dasar pembentukan suatu

sikap yang akhirnya melalui ambang batas terjadi tindakkan yang bersifat terbuka,

Hal inilah yang disebut sebagai tingkah laku. Jelaslah bahwa sikap belum

merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi berupa “pre-disposisi”

tingkah laku.

  Rangsang Reaksi tingkah Proses rangsang stimulus laku Sikap (tertutup)

  

Garis arah / kecenderungan dari sikap

Garis tanpa proses seperti refleks

Gambar 3

Sikap merupakan ‘pre-disposisi’ tingkah laku

  Jadi dapat dijelaskan bahwa sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi

terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek

tertentu. menurut Bimo Walgito (1978, 110) Sikap memiliki tiga komponen sikap:

  1. Komponen Kognitif (komponen perseptual) yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal yang berhubungan denganbagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap.

  2. Komponen Afektif (komponen emosional) yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap.

  Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif atau negatif.

  3. Komponen Konatif (komponen perilaku) yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap suatu obyek.

  Komponen ini ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar

kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek.

  Dalam menjelaskan konteks sikap, perlu dibedakan terlebih dahulu fungsi

sikap dan kejadian. Karakteristik dari sikap senantiasa mengikutsertakan segi

evaluasi yang berasal dari komponen afeksi. Sedangkan kejadiannya tidak di

ikutsertakan dengan evaluasi emosional. Oleh karena itu, sikap adalah relatife

konstan dan agak sukar berubah, jika ada perubahan sikap berarti adanya suatu

tekanan yang kuat dan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap

melalui proses tertentu. Selanjutnya sikap dapat dikatakan bahwa sikap

merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan. Namun

disamping itu sikap memiliki evaluasi negatif maupun positif yang bersikap

emosional yang disebabkan oleh komponon afeksi. Semua hal ini dengan

sendirinya berhubungan dengan objek atau masalah yang disebut ‘ the attitude

object’. Sikap diartikan derajat atau tingkat kesesuaian seseorang terhadap objek

tertentu. Objek sikap (Edwards ,1969 dalam Mar’at,1981) disebut ‘psychological

  Predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap suatu

objek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Komponen

kognisi akan menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan atau dipersepsikan

tentang objek. Komponen afeksi menjawab pertanyaan tentang apa yang

dirasakan (senang / tidak senang) terhadap objek. Dan komponen konasi akan

menjawab pertanyaan bagaimana kesiapan atau kesediaan untuk bertindak

terhadap objek (Shaver1978 dalam Mar’at,1981). Ketiga komponen tersebut tidak

berdiri sendiri, akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu sistem

kognitif. Hal ini berarti bahwa apa yang dipikirkan seseorang tidak akan lepas dari

perasaannya. Masing – masing komponen tidak dapat berdiri sendiri, namun

merupakan interaksi komponen – komponen tersebut secara kompleks. Aspek

kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima

menentukan perasaan dan kemauan berbuat. Oleh karena itu, dapat dikatakan

bahwa pendekatan yang digunakan dalam hal ini adalah pendekatan kognitif.

  

Berdasarkan pendekatan ini setiap orang akan berusaha mencari keseimbangan

dalam bidang kognisinya dan terbentuk sikap yang bersangkutan. Apabila terjadi

ketidakseimbangan, individu akan berusaha mengubahnya sehingga terjadi

keseimbangan kembali.

  Faktor internal: Psikologis fisiologis Sikap

  Obyek sikap Faktor eksternal: faktor Pengalaman

  Situasi Norma Reaksi Hambatan

  

Gambar 4

Pendorong

Bagan Sikap

Proses terbentuknya sikap seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 sikap

yang ada pada seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal (kepribadian) yaitu

faktor fisiologis dan psikologis, serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat

berwujud masyarakat, hambatan atau pendorong yang ada dalam masyarakat.

  

Semuanya ini akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang. Reaksi

yang dapat diberikan individu terhadap obyek sikap dapat bersifat positif tetapi

juga dapat bersifat negatif.

3. Persepsi.

  Istilah persepsi digunakan untuk mengetahui bagaimana prosesnya

mengetahui sesuatu dari sekitar dengan menggunakan alat – alat indera dan untuk

dapat mengetahui obyek diluar, harus dengan pengamatan yang baik (Dakir, 1967:

67). Hal ini sesuai dengan pendapat Bimo Walgito (1994, 53) yang mengatakan

bahwa persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu

merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat

  Menurut Moskowitz dan Orgel dalam Bimo Walgito (1994), persepsi

merupakan suatu proses seseorang merespon stimulus yang diterimanya dengan

mengintepretasikan banyak hal yang ada dalam dirinya seperti perasaan,

pengalaman, kerangka berpikir, kerangka acuan dan berbagai aspek lainnya yang

ada dalam diri sehingga dapat mempengaruhi dalam mempersepsikan suatu

stimulus tersebut.

  Berdasarkan pendapat diatas, kiranya dapat disimpulkan bahwa persepsi

merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima

oleh individu yang menyangkut aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif

yang dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala

sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan mempengaruhi tindakan, pemikiran,

serta sikap dari individu. Dengan demikian, persepsi seseorang dapat dilihat dari

pernyataan dan tindakannya.

  Kalau penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu mencoba untuk

meneliti persepsi siswa tentang pelajaran fisika disekolahnya, maka yang

dimaksud adalah tentang pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala

sejauh yang ditangkap oleh para siswa – siswa kelas XI IPA terhadap pelajaran

fisika di sekolahnya.

3.1. Faktor – faktor Persepsi.

  Oleh Bimo Walgito (1994: 54) Faktor – faktor yang mempengaruhi individu dalam mempersepsi antara lain :

1. Internal (keadaan individu). Keadaan individu yang dapat

  dan psikologis individu. Bila sistem fisiologis terganggu maka akan berpengaruh dalam persepsi seseorang, sedangkan psikologis antara lain : pengalaman, perasaan, kemampuan berpikir, kerangka acuan, motivasi, akan berpengaruh pada seseorang melakukan persepsi.

  2. Eksternal (objek itu sendiri dan lingkungan). Agar obyek dapat dipersepsi, maka obyek harus cukup kuat. Hal ini bertujuan untuk mencapai ketepatan persepsi, bila obyek bukan suatu fisik maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi. Sedangkan lingkungan atau situasi melatar belakangi obyek persepsi.

  Obyek dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam individu mengdakan persepsi.

  Pada gambar 5 menjelaskan bahwa obyek sikap akan dipersepsikan oleh

individu, dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh

individu yang bersangkutan. Dalam mempersepsi objek sikap individu akan

dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala, faktor

pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur

terhadap apa yang dilihat. Sedangkan pengetahuan dan cakrawalanya memberikan

arti terhadap obyek sikap dan hasil proses persepsi ini merupakan pendapat atau

keyakinan individu mengenai objek sikap dan ini berkaitan dengan segi kognisi.

  

Afeksi akan mengiringi hasil kognisi objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang

dapat bersifat positif atau negatif. Hasil evaluasi aspek afeksi akan mengait segi

  

kesiapan untuk bertindak, kesiapan untuk berperilaku. Keadaan lingkungan akan

memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang

bersangkutan.

  Proses belajar Cakrawala Pengalaman pengetahuan Persepsi Kognisi

  Faktor

  evaluasi

  lingkungan

Obyek

Ke Afeksi yang Priba sikap

  Senang/tak senang

  berpengaruh dian Konasi

  Kecenderungan bertindak

  Sikap

Gambar 5

Bagan Persepsi

3.2. Pembentukan Persepsi Siswa Tentang Pelajaran Fisika.

  Mata pelajaran fisika yang identik dengan IPA menimbulkan pandangan

yang berbeda pada setiap siswa yang melihat pelajaran fisika tersebut. Pandangan

subyektif siswa atau persepsi yang muncul pada diri tiap – tiap siswa lebih

merupakan suatu proses pengorganisasian dan penginterpretasian yang diterima

oleh panca indera atau kesan sensoris. Proses persepsi diawali dengan

penginderaan seseorang terhadap stimulus yang diterimanya melalui alat reseptor

kemudian stimulus tersebut diteruskan kepusat susunan saraf dan terjadi proses

psikologis, sehingga individu menyadari apa yang diinderanya (Walgito,1994).

  Pengamatan masing – masing siswa memiliki perbedaan antara satu dan

yang lainnya, meskipun mereka dihadapkan pada stimulus yang sama. Dalam

mempersepsikan suatu pelajaran, pada umumnya bukan hanya ada satu stimulus

saja yang membangun suatu persepsi pada diri siswa. Stimulus yang ada, dapat

berasal dari dalam diri itu sendiri berdasarkan pengetahuan, pengalaman, proses

belajar, cakrawalanya namun ada juga stimulus yang berasal dari luar yang

dimunculkan oleh lingkungan sekitarnya. Maka kemungkinan hasil persepsi dari

tiap – tiap siswa berbeda satu dengan yang lainnya. Persepsi siswa terhadap

pelajaran fisika dapat diartikan sebagai suatu pandangan siswa terhadap pelajaran

fisika yang melibatkan pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala yang

telah diorganisasikan dalam diri siswa.

  Sedang bentuk persepsi merupakan pandangan yang berdasarkan penilaian

terhadap suatu obyek yang terjadi, kapan saja, dimana saja, jika stimulus

mempengaruhinya. Persepsi yang meliputi proses kognitif mencakup proses

penapsiran obyek, tanda dan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam

menerima suatu stimulus kemampuan individu sangatlah terbatas, sehingga

individu tidak mampu memproses seluruh stimulus yang diterimanya. Artinya

meskipun sering disadari, stimulus yang akan dipersepsi selalu dipilih stimulus

yang mempunyai relevansi dan bermakna baginya. Dengan demikian dapat

diketahui ada 4 bentuk sifat persepsi yaitu: 1. Persepsi Positif.

  Pandangan terhadap suatu obyek dan menuju pada suatu keadaan dimana subyek memberi tanggapan cenderung menerima obyek yang ditangkapnya sesuai dengan pribadinya.

  2. Persepsi Semi Positif.

  Persepsi ini muncul lebih disebabkan faktor lingkungan atau sebagai apa individu tersebut saat memberikan persepsi. Dalam persepsi ini sering kali individu kurang memahami posisinya sehingga yang muncul hanya prasangka – prasangka yang lebih cenderung ke hal positif.

  3. Persepsi Semi Negatif.

  Persepsi ini muncul lebih disebabkan faktor lingkungan atau sebagai apa individu tersebut saat memberikan persepsi. Dalam persepsi ini sering kali individu kurang memahami posisinya sehingga yang muncul hanya prasangka – prasangka yang lebih cenderung ke hal negatif.

  4. Persepsi Negatif.

  Pandangan terhadap suatu obyek dan menuju pada suatu keadaan dimana subyek memberi tanggapan cenderung menolak obyek yang ditangkapnya sesuai dengan pribadinya.

3.3. Persepsi Siswa Terhadap Pelajaran Fisika.

  Penulis mencoba memaparkan persepsi siswa terhadap pelajaran fisika di

sekolahnya. Seorang siswa merupakan individu yang identik dengan mata

pelajaran. Sebagai individu, seorang siswa diharapkan mampu mempelajari dan

memahami semua mata pelajaran sesuai dengan perannya sebagai seorang siswa

  Keberadaan siswa dalam upaya mempelajari dan memahami mata

pelajaran memberikan fenomena tersendiri didalam kehidupan sehari – hari. Para

siswa melakukan banyak hal untuk dapat mempelajari dan memahami setiap mata

pelajaran. Hal ini dilakukan para siswa untuk masa depan mereka dan supaya

dapat diterima didalam kehidupan bermasyarakat.

  Keinginan setiap siswa untuk dapat mempelajari dan memahami setiap

mata pelajaran, menyebabkan banyak siswa melakukan berbagai macam cara

untuk dapat mempelajari dan memahami mata pelajaran khususnya fisika sesuai

dengan kriteria yang ada didalam sekolah dan hal yang tak kalah pentingnya

keberadaan siswa di masyarakat tentunya memiliki penilaian tersendiri dari

lingkungan masyarakat. Didalam masyarakat seorang siswa diharapkan dapat

mencerminkan setiap tindakan, sikap dan perilakunya selayaknya siswa pada

umumnya.

  Siswa memiliki persepsi tentang pelajaran fisika di sekolahnya

berdasarkan pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala yang dialami

dan dimiliki. Ada siswa yang beranggapan bahwa pelajaran fisika yang terpenting

adalah proses mempelajarinya. Sebab dengan proses mempelajari fisika dengan

benar maka didalam memahami fisika akan lebih mudah dari perkiraan.

Berdasarkan pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala yang dialami

dan dimiliki beberapa siswa lebih mengutamakan proses mempelajarinya untuk

memahami pelajaran fisika.

  Namun demikian, ada pula siswa yang beranggapan bahwa peajaran fisika

  

akan lebih mudah untuk belajar semua mata pelajaran. Berdasarkan pengetahuan,

pengalaman, proses belajar, cakrawala yang dialami dan dimiliki beberapa siswa

memberikan bobot yang sama dalam mempelajari mata pelajaran.

  Berdasarkan fenomena ini, penulis tertarik untuk melihat bagaimanakah

sebenarnya persepsi siswa terhadap pelajaran fisika di sekolahnya. Yaitu

bagaimana siswa mengartikan dan memandang pelajaran fisika khususnya pada

siswa kelas XI IPA.

  C. Perumusan Masalah.

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah yamg diteliti

adalah Bagaimana persepsi siswa kelas XI IPA tentang pelajaran fisika di

sekolahanya?.

  D. Tujuan Penelitian.

  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa kelas XI IPA terhadap pelajaran fisika sekarang ini.

  E. Manfaat Penelitian.

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Para siswa.

  Agar mereka mampu melihat kembali apakah persepsi yang ada dalam diri mereka benar dan diharapkan bahwa persepsi yang berkembang tidak menjadi penghambat dalam belajar fisika dengan baik dan benar sehingga dapat berhasil secara optimal.

  2. Masyarakat umum.

  Agar mereka dapat semakin memahami pelajaran fisika yang tidak terlepas dari kehidupan atau peristiwa sehari – hari. Dengan melihat persepsi yang berkembang didalam masyarakat khususnya siswa, diharapkan masyarakat umum mampu bercermin dan lebih bijaksana dalam menyikapi pelajaran fisika.

  3. Pengajar atau Guru fisika.

  Agar mereka dapat mengetahui gambaran yang jelas mengenai persepsi siswanya terhadap pelajaran fisika, sehingga dengan mengetahui gambaran tersebut pengajar dapat merubah cara mengajar mereka yang selama ini digunakan di kelas.

  4. Penulis.

  Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang persepsi siswa tentang pelajaran fisika. Selain itu, penulis juga dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama menempuh studi di perguruan tinggi yang kiranya dapat bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat maupun dalam bekerja yang sesuai dengan studi yang telah ditempuh.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN A . Jenis Penelitian. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif, yaitu

  

sebuah penelitian yang dilakukan untuk memberikan gambaran terhadap suatu

obyek yang diteliti secara jelas, cermat, sistematis, dan akurat melalui data sampel

dan populasi sebagaimana adanya dengan melakukan analisis dan membuat

kesimpulan secara umum ( Sugiyono,1999; Suryabrata,1983). Penelitian ini

dimaksudkan untuk mendeskripsikan persepsi siswa kelas XI IPA SMA BOPKRI

  

I Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara mengujikan memberikan

kuesioner berhubungan dengan konsep fisika. Dari hasil analisis kuesioner yang

diujikan akan diketahui persepsi partisipan. Untuk mengetahui lebih lanjut

persepsi partisipan akan dilakukan wawancara pada partisipan.

B. Desain Penelitian.

  Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah survey,

yaitu model penelitian dengan menggunakan sampel untuk melihat secara

langsung ide atau pikiran orang secara alami. Metode ini tidak memerlukan

pengujian hipotesis, penjelasan tentang adanya hubungan, membuat ramalan atau

mendapatkan makna dan implikasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah jawaban responden sebagai sampel penelitian terhadap seperangkat

  Penelitian ini dimulai dengan memberikan kuesioner pada partisipan.

Kuesioner berupa pernyataan yang bertujuan untuk mengetahui persepsi para

siswa terhadap pelajaran fisika. Berdasarkan kuesioner yang diberikan,

diharapkan partisipan menjawab sesuai dengan persepsi mereka terhadap

pelajaran fisika. Kemudian peneliti mengolah jawaban yang diberikan partisipan

untuk memperoleh data yang diinginkan. Dari data yang diperoleh, dapat

diketahui persepsi partisipan tentang pelajaran fisika.

  Untuk mengungkap permasalahan-permasalahan serta membuktikan adanya

konsepsi yang dialami partisipan akan dilakukan wawancara. Pemilihan partisipan

untuk wawancara adalah semua siswa yang telah mengikuti atau menjawab

kuesioner tadi. Wawancara yang dilakukan peneliti dengan partisipan

dilaksanakan pada jam pelajaran Fisika dan diluar jam sekolah.

  C. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2008 di SMA BOPKRI I Yogyakarta.

  D. Partisipan.

  

Partisipan penelitian dipilih siswa kelas XI IPA. Dalam penelitian ini dipilih

siswa kelas XI IPA karena mereka sudah mendapat pelajaran fisika sejak di SMP

dan kelas XI IPA telah dikelompokkan berdasarkan jurusannya. Sehingga secara

umum siswa kelas XI IPA diharapkan lebih memahami Fisika daripada siswa

E. Obyek dan Subyek Penelitian.

  1. Obyek Penelitian.

  Obyek penelitian adalah sesuatu yang diteliti. Dalam penelitian ini obyeknya adalah persepsi siswa terhadap pelajaran fisika disekolahnya.

  2. Subyek Penelitian.

  Subyek penelitian adalah pihak atau lembaga yang memberikan informasi, yang dalam penelitian ini adalah seluruh siswa XI IPA.

  F. Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan suatu atribut dalam penelitian yang akan

dipelajari dan ditarik suatu kesimpulan ( Sugiyono,1999). Variabel penelitian ini

adalah persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika.

  G. Instrumen Penelitian.

  Dalam penelitian ini digunakan beberapa instrumen, yaitu:

1. Kuesioner

  Pernyataan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah beberapa soal

kuesioner. Dalam penelitian ini, kuesiner tersebut disusun berdasarkan faktor –

faktor atau pengaruh dari persepsi. Semua kuesiner tersebut diharapkan bisa

dikerjakan oleh partisipan dalam waktu kurang dari 45 menit. Rincian faktor atau

pengaruh pada setiap masalah yang akan diteliti atau tidaknya dalam setiap

  Tabel 1. pernyataan koesioner No Faktor pengaruh Komponen Pernyataan no

  1 Proses Belajar * Ingin tahu 2, 11, 21, 40

  • Berusaha 5, 15, 35
  • Mandiri 18, 26, 30

  2 Pengalaman 3, 6, 9,14,17,22,25,32,34,37

  

3 Pengetahuan * Konsep 1, 8, 12, 16,19,23,27,29,33,39

  4 Cakrawala *Perbandingan 4, 7, 10,13,20,24,28,31,36,38 antar mata pelajaran.

  Kuesioner berisi pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif

mengandung makna bahwa pernyataan tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi

yang diharapkan atau seharusnya dialami dalam pelajaran fisika. Pernyataan

positif diberikan skor sebagai berikut:

  1. Sangat Setuju ( SS ) skor : 4 ( Empat ).

  2. Setuju ( S ) skor : 3 ( Tiga )

  3. Tidak Setuju ( TS ) skor : 2 ( Dua )

  4. Sangat Tidak Setuju ( STS) skor : 1 ( Satu ) Pernyataa negatif mengandung makna bahwa pernyataan tersebut tidak

sesuai dengan kondisi dan situasi yang diharapkan atau seharusnya dialami dalam

pelajaran fisika. Pernyataan negatif diberikan skor sebagai berikut:

  1. Sangat Setuju ( SS ) skor : 1 ( Satu )

  2. Setuju ( S ) skor : 2 ( Dua )

  3. Tidak Setuju ( TS ) skor : 3 ( Tiga )

  Skor itu dibuat hanya untuk memudahkan analisis dan penarikan kesimpulan.

  2. Validitas instrumen Validitas kuesioner dicapai melalui uji coba kuesioner. Uji coba soal

kuesioner diberikan kepada siswa kelas XII IPA. Uji coba kuesioner ini dilakukan

untuk mengetahui apakah partisipan memahami kuesioner yang ada dan untuk

mendapatkan saran ataupun kritik dari guru bidang studi dan dosen pembimbing

tentang kuesioner yang digunakan.

  

Uji kuesioner dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2008 pada siswa kelas XII

  

IPA SMA BOPKRI I dengan jumlah partisipan 38 siswa. Setelah dilakukan uji

coba dengan jumlah kuesioner yaitu 40 dan 1 pernyataan, perubahan kuesioner

dilakukan pada pernyataan nomor 3, 4, 9, 30 dan 38. Pada awalnya pernyataan

nomor tersebut adalah sebagai berikut:

  

3. Belajar fisika mengubah pandangan saya dalam memahami peristiwa yang

berhubungan fisika.

  

4. Dengan mengunakan model ( ceramah, demontrasi, praktikum,dll ) variasi

dalam pengajaran disekolah, membuat saya menjadi lebih aktif dalam mengikuti setiap pelajaran .

  

9. Lewat percobaan dilaboratorium, saya dilatih untuk bertukar informasi

pengetahuan yang didapat dari percobaan dan menghargai apapun yang dihasilkan teman saya.

  

30. Tidak cukup hanya menggantungkan penjelasan dari guru saja, melainkan

saya perlu untuk berusaha menambah pemahaman saya dengan mencari bahan

  • – bahan dari buku lain untuk menunjang pokok bahasan yang saya pelajari.

  

38. Dengan belajar semua mata pelajaran, saya mendapatkan tidak bekal atau

pegangan untuk menjalani kehidupan sehari – hari maupun dimasa depan.

  Pernyataan tambahan Menurut anda bagaimana selama ini pelajaran fisika disekolah? Perubahan soal setelah dilakukan uji coba adalah sebagai berikut:

  

3. Belajar fisika mengubah pandangan saya dalam memahami peristiwa alam yang

berhubungan fisika menjadi lebih aktif.

  

4. Pengunakan model pembelajaran( ceramah, demontrasi, praktikum,dll ) yang

ber variasi dalam pengajaran disekolah, membuat saya menjadi lebih aktif dalam mengikuti setiap pelajaran .

  

9. Melalui percobaan di laboratorium, saya dilatih untuk bertukar informasi

pengetahuan yang didapat dari percobaan dan menghargai apapun yang dihasilkan teman saya.

  

30.Untuk memahami penjelasan dari guru, saya perlu untuk berusaha menambah

pemahaman saya dengan mencari bahan – bahan dari buku lain untuk menunjang pokok bahasan yang saya pelajari.

  

38. Dengan mempelajari semua mata pelajaran, saya mendapatkan bekal atau

pegangan untuk menjalani kehidupan sehari – hari maupun dimasa depan.

  Pernyataan tambahan

3. Wawancara.

  

Wawancara dilakukan pada partisipan-partisipan yang merupakan perwakilan

dari kelas masing - masing. Masing-masing partisipan diwawancarai secara

individu dalam waktu yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan

untuk wawancara disusun berdasarkan uraian yang tidak dipahami oleh masing-

masing partisipan dan belum dilampirkan pertanyaan dalam wawancara.

Wawancara dilakukan untuk mengungkap permasalahan-permasalahan serta

untuk membuktikan adanya persepsi yang dialami oleh partisipan dalam

memahami pelajaran fisika disekolahnya.

H. Metode Pengumpulan Data.

  Dalam penelitian ini pengumpulan data mengunakan beberapa cara, yaitu: 1. Kuesioner.

  Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa pernyataan

tentang fisika berdasarkan faktor pengaruh dari persepsi seseorang. Dalam

pernyataan menuntut kemampuan partisipan dalam hal mengekpresikan

gagasannya melalui bahasa tulisan. Pernyataan yang digunakan mempunyai

tujuan untuk: a. Mengungkapkan pandangan partisipan terhadap suatu masalah.

  b.

  Mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam.

c. Mengembangkan daya analisis partisipan dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi atau dimensi.

  

Dalam penelitian ini pernyataan yang diberikan kepada partisipan bertujuan

untuk mengukur tingkat pemahaman partisipan terhadap fisika. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui persepsi yang dibawa oleh partisipan. Setelah ditemukan persepsinya, beberapa partisipan dapat diwawancarai untuk lebih mendalami dan mengapa mereka memiliki pemahaman fisika seperti itu. Dari wawancara itulah akan terlihat dari mana persepsi itu dibawa.

2. Wawancara.

  

Berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner, kita dapat menduga adanya

persepsi yang dialami partisipan tentang pelajaran fisika. Wawancara digunakan

untuk mengungkap permasalahan-permasalahan dan digunakan untuk

membuktikan adanya persepsi yang dialami oleh partisipan. Wawancara

dilakukan pada partisipan yang merupakan perwakilan dari masing – masing

kelas, masing – masing kelas berjumlah 3 siswa sehingga jumlah total yang di wawancarai berjumlah 12 siswa dan dilakukan dengan cara bertanya langsung

kepada partisipan. Data yang diperoleh dari wawancara digunakan untuk

mendukung data yang telah diperoleh dengan kuesioner.

I. Metode Analisis Data.

  

Peneletian ini akan mengunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif

bertujuan untuk untuk memberikan suatu gambaran deskripsi tentang subyek

penelitian berdasarkan dari subyek yang diteliti sesuai dengan variabel

penelitiannya. Analisis deskriptif ini tidak dimaksudkan untuk menguji suatu

1. Analisis hasil kuesioner .

  Analisa data pada penelitian ini didasarkan pada jawaban subyek. Dalam

setiap pertanyaan setiap subyek diminta memilih salah satu alternatif jawaban dari

empat alternatif jawaban yang ada. Dari seluruh pertanyaan yang ada akan

dilakukan perhitungan pada setiap alternatif jawaban, berdasarkan banyaknya

subyek yang memilih salah satu jawaban tersebut. Banyaknya jumlah subyek yang

memilih salah satu alternatif jawaban akan dihitung dalam bentuk persen. Hasil

presentasi tertinggi menunjukan bahwa alternatif jawaban tersebut mewakili

kesimpulan jawaban dari suatu pertanyaan dari salah satu faktor persepsi dan

mencerminkan kecenderungan persepsi pada faktor tertentu. Dari semua

pertanyaan akan dikumpulkan semua alternatif jawaban yang memiliki presentasi

tertinggi kemudian akan dibuat suatu kesimpulan umum tentang persepsi siswa

terhadap fisika.

  Jawaban masing – masing pernyataan selanjutnya diubah dalam skor sesuai

dengan kriteria didepan. Kemudian skor total didapatkan, maka dicari prosentase

untuk setiap masing – masing faktor atau pengaruh dari persepsi. Penafsiran

prosentase setiap faktor dalam analisis adalah sebagai berikut

  Tabel .2 . prosentase sekaligus hasil analisis masing – masing faktor.

  No Faktor Prosentase Analisis Sifat Persepsi

  1 Proses Sangat tidak aktif Negatif ≤ 25 Belajar 26 – 50 Tidak aktif Semi Negatif

  51 - 75 Aktif Semi Positif 76-100 Sangat aktif Positif No Faktor Prosentase Analisis Sifat Persepsi ≤ 25 Sangat tidak aktif Negatif 26 – 50 Tidak aktif Semi Negatif

  51 - 75 Aktif Semi Positif

  1 Pengalaman 76-100 Sangat aktif Positif No Faktor Prosentase Analisis Sifat Persepsi ≤ 25

  Sangat tidak aktif Negatif 26 – 50 Tidak aktif Semi Negatif 51 - 75 Aktif Semi Positif

  1 Pengalaman 76-100 Sangat aktif Positif No Faktor Prosentase Analisis Sifat Persepsi ≤ 25

  Sangat tidak aktif Negatif 26 – 50 Tidak aktif Semi Negatif 51 - 75 Aktif Semi Positif

  1 Pengalaman 76-100 Sangat aktif Positif Dari seluruh hasil presentasi tertinggi yang telah didapat, akan dibuat suatu

kesimpulan umum dengan cara mendeskripsikan masing – masing alternatif

jawaban dengan presentasi tertinggi pada tiap – tiap faktor / pengaruh sebagai

gambaran persepsi siswa tentang fisika. Untuk memperjelas arti presentasi diatas

diberi contoh sebagai berikut: Untuk faktor proses belajar bila besar prosentase yang diperoleh 63.33 %

menyatakan bahwa siswa didalam proses belajar fisika di sekolahnya adalah aktif.

  

Hal ini berarti bahwa siswa rajin didalam belajar fisika dan persepsi yang

ditimbulkan cenderung semi positif.

2. Analisis Hasil Wawancara

  Untuk mengungkap persepsi partisipan tentang fisika akan dilakukan

wawancara. Sehingga wawancara dilakukan pada partisipan yang merupakan

perwakilan dari kelas masing – masing.

  Wawancara dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada partisipan..

Masing-masing partisipan diwawancarai secara individu dalam waktu yang

berbeda. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti merancang pertanyaan-

pertanyaan yang akan digunakan dalam wawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang

digunakan disusun berdasarkan pernyataan yang tidak dipahami oleh masing-

masing partisipan. Semua partisipan yang dipilih untuk wawancara, memiliki

kesulitan-kesulitan dalam memahami pernyataan yang berbeda. Sehingga

rancangan pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti pada masing-masing partisipan

tidak sama.

  Wawancara dilaksanakan pada jam – jam diluar pelajaran Fisika yang ada

dalam sekolah tersebut. Dalam kegiatan wawancara antara peneliti dan partisipan,

peneliti mencatat hasil wawancara. Kemudian, Hasil wawancara tersebut

kemudian dianalisis untuk mengungkap persepsi partisipan secara lebih

mendalam.

BAB III DATA, ANALISIS DAN PEMBAHASAN A.Pelaksanaan Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan diluar jam pelajaran Fisika pada bulan Agustus

  • – September 2008 dikelas XI IPA. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan

    kuesioner pada partisipan untuk mengetahui persepsi mereka terhadap pelajaran

    Fisika disekolahnya. Dari data kuesioner yang diperoleh, peneliti merancang

    pertanyaan – pertanyaan untuk kegiatan wawancara. Berikut ini adalah kegiatan

    yang dilakukan selama penelitian.

  Uji coba kuesioner : 9 Agustus 2008 Memberikan kuesioner : 20 Agustus – 13 September 2008 Wawancara : 17 September 2008 B. Data, Analisis dan Pembahasan.

  Pengambilan data diikuti 82 siswa kelas XI IPA SMA BOPKRI I

YOGYAKARTA. Partisipan diberi waktu 40 menit untuk mengerjakan kuesioner

dan dapat mengerjakan semua pernyataan dalam kuesioner dalam waktu yang

tersedia.

  Dari hasil kuesioner dapat diketahui persepsi siswa terhadap pelajaran

Fisika disekolahnya melalui faktor - faktor pengaruh persepsi berdasarkan

analisis jawaban setiap pernyataan yang ada dalam kuesioner. Prosentase jawaban skor yang didapatkan kemudian membaginya dengan bobot skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut adalah contoh perhitungan presentase jumlah bobot skor pada aspek proses belajar kelas XI IPA 1. Skor maksimal pada aspek tersebut adalah 800, aspek tersebut memiliki bobot 571. Sehingga dapat dihitung sebagai berikut:

  571 = x 100%

  800 = 71.38%

Persentase jumlah bobot skor jawaban masing-masing aspek dapat dilihat pada

(tabel 9 hal 65). Analisis difokuskan pada tanggapan yang diperoleh dari kuesioner dibandingkan dengan hasil wawancara. Tanggapan siswa dalam kuesioner dapat dilihat pada tabel 3.

  Tabel 3. Tanggapan siswa dalam kuesioner.

  

Kelas XI

Faktor pengaruh Rata-rata

  IPAI IPA2 IPA3 IPA4 ( % ) Proses belajar

  71.38

  63.75

  68.13

  65

  67.06 Pengalaman

  72.87

  77.16

  75.62

  73.5

  74.78 Pengetahuan

  70

  67.84

  70.63

  68.37

  69.21 Cakrawala

  77.37

  76.36

  75.75

  72.37

  75.46 1.Proses belajar.

  Secara umum siswa aktif dalam kegiatan atau proses belajar dikelas (67.06%) dan persepsi yang ditimbulkan cenderung persepsi semi positif. Pada komponen ingin tahu, siswa didalam belajar Fisika dikelas diberi banyak

  % kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi (72.04 ), hal tersebut bisa

  

mulai berkembang (76.84 % ). Namun, pada saat belajar Fisika siswa tidak diberi

kesempatan untuk mencari sesuatu yang siswa inginkan untuk memahami materi

(71.42 % ). Maka yang perlu siswa lakukan adalah hanya membaca buku pelajaran,

mengerjakan sebagian besar soal – soal dan hanya memperhatikan penjelasan dari

guru dikelas(63.32%). Untuk komponen berusaha, saat belajar Fisika dikelas yang

dilakukan siswa adalah duduk, mencatat dan mendengarkan penjelasan guru

(55.48%) maka sangat memungkinkan bagi siswa untuk mendapatkan nilai yang

baik tanpa berusaha memahami konsep dengan baik (73.86%) akan tetapi, nilai

ulangan tidak memberikan pertolongan yang berarti bagi siswa untuk

memperbaiki pemahamannya tentang materi bahasan yang diujikan (53.94%).

  Dalam komponen mandiri, pelajaran Fisika membuat siswa terbebani

karena semakin bertambah materi semakin bertambah pula yang tidak siswa

pahami / tidak mengerti (56.81%). Oleh karena itu, siswa tidak cukup hanya

dengan mengantungkan penjelasan dari guru saja melainkan siswa perlu untuk

berusaha menambah pemahamannya dengan mencari bahan – bahan dari buku

lain untuk menunjang pokok bahasan yang sedang dipelajari atau sedang dibahas

  %

(77.04 ).sehingga semakin banyak yang siswa pelajari semakin besar pula

semangat siswa untuk mengetahui dan mempelajari Fisika (69.83 % )

  Dalam wawancara diperoleh bahwa dalam belajar Fisika dikelas, para

siswa diberi banyak kesempatan oleh guru untuk bertanya dan berdiskusi tentang

materi yang sedang dibahas. Buktinya adalah para siswa dituntut untuk lebih aktif

dalam kegiatan belajar mengajar dengan kata lain bahwa kesempatan bagi siswa

  

pada diri masing – masing siswa itu sendiri. Model pengajaran yang menurut

siswa agar mereka menjadi lebih dapat memahami pelajaran Fisika adalah model

pengajaran dengan metode variasi, hal ini dikarenakan siswa sudah bosan dengan

model pengajaran yang telah diterapkan. Jadi untuk mempelajari atau memahami

materi siswa bisa belajar melalui suatu peristiwa atau alat peraga, siswa

mengharapkan model pengajaran yang bervariasi dalam kegiatan belajar –

mengajar.

  Pada faktor pengaruh dari proses belajar, data dari kuesioner dengan

wawancara ada kaitanya. Hal ini dibuktikan dengan kesempatan yang diberikan

guru untuk bertanya dan berdiskusi terbuka lebar akan tetapi kesempatan itu

digunakan atau tidaknya bergantung dari siswa itu sendiri. Selain itu, model

pengajaran yang membuat siswa agar dapat lebih memahami materi adalah

dengan model pengajaran yang bervariasi karena selama ini siswa sudah bosan

dengan model pengajaran yang telah diterapkan. Dengan model pengajaran yang

telah diterapkan disekolah tersebut, siswa merasa terbebani karena semakin

bertambah materi semakin bertambah pula yang siswa tidak pahami atau tidak

dimengerti siswa sehingga yang perlu siswa lakukan dalam proses belajar

mengajar Fisika adalah duduk, mendengarkan, mencatat penjelasan dari guru dan

mengerjakan soal. Hal itu, menurut siswa sangat memungkinkan untuk

mendapatkan nilai yang baik tanpa berusaha memahami konsep Fisika dengan

baik walaupun nilai ulangan tersebut tidak memberikan pertolongan yang berarti

bagi siswa untuk memperbaiki pemahamannya tentang materi yang diujikan.

  

untuk berusaha menambah pemahamannya dengan mencari bahan – bahan dari

buku lain untuk menunjang pokok bahasan yang sedang dipelajari atau sedang

dibahas.

  Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar

membentuk persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya dan persepsi

yang terbentuk cenderung ke persepsi semi positif. Hal ini ditunjukan dengan

siswa merasa dalam memahami materi tidak cukup hanya dari penjelasan dari

guru saja melainkan siswa berusaha mencari bahan – bahan dari buku lain untuk

menunjang pokok bahasan yang dipelajari. Selain itu, bila siswa merasa bosan

ataupun jenuh dengan metode yang diajarkan oleh guru maka yang dilakukan oleh

siswa antara lain hanya duduk, mendengarkan, mencatat penjelasan dari guru dan

mengerjakan soal karena dengan strategi tersebut sangat memungkinkan bagi

siswa untuk mendapatkan nilai yang bagus tanpa berusaha memahami konsep

Fisika dengan baik walaupun nilai ulangan tersebut tidak memberikan pertolongan

yang berarti bagi siswa untuk memperbaiki pemahamannya tentang materi yang

sedang diujikan.

2.Pengalaman.

  Secara umum pengalaman siswa dapat dikatakan luas ( 74.78 % ) didalam

belajar Fisika dan persepsi yang ditimbulkan cenderung persepsi semi positif.

  

Pemahaman konsep yang baik sangat penting bagi siswa untuk berhasil didalam

belajar Fisika. Oleh karena itu, nilai yang baik tidak cukup bagi siswa pemahaman

%

materinya lemah (81.02 ). Siswa menghabiskan banyak waktu untuk

  

oleh guru dikelas atau yang ada didalam buku pegangan (70.26 % ). Dalam belajar

Fisika, siswa dapat belajar bagaimana caranya menghargai pendapat teman

(72.84 % ) dan dibiasakan untuk mampu mendengarkan dan menghargai teman lain

  %

berpendapat (35.62 ). Melalui percobaan di laboratorium, siswa dilatih untuk

bertukar informasi hasil yang didapatkan dari percobaan dan menghargai apapun

yang dihasilkan kelompok lain (82.81 % ). Hal utama yang siswa peroleh dari

pelajaran Fisika adalah belajar bagaimana siswa dapat memahami peristiwa atau

kejadian yang berhubungan dengan Fisika (77.35 % ). Dengan belajar Fisika, siswa

mampu menghubungkan materi Fisika dengan apa yang pernah siswa alami dalam

  %

kehidupan sehari – hari (72.27 ) sehingga belajar Fisika dapat mengubah

pandangan siswa didalam memahami peristiwa yang berhubungan dengan Fisika

  % menjadi lebih baik (73.75 ).

  Namun sebenarnya belajar Fisika pada dasarnya tidak perlu, karena materi

yang dipelajari tidak mempunyai hubungan dengan apa yang dialami dan dilihat

%

dalam kehidupan sehari – hari (70.93 ) sehingga pelajaran Fisika tidak membantu

siswa untuk bersikap bagaimana menghargai orang lain karena dalam pelajaran

  % Fisika yang ditekankan hanya pengetahuannya saja (67.67 ).

  Dari wawancara diperoleh bahwa untuk menghubungkan materi Fisika

dengan apa yang dialami siswa didalam kehidupan sehari – hari, siswa memiliki

pemikiran sendiri – sendiri. Hal ini terlihat bagaimana siswa menerapkan

kemampuannya dalam menjalani kehidupan sehari – harinya, seperti misalnya :

siswa berpendapat bahwa pelajaran Fisika sama dengan pelajaran lain yang hanya

  

bersikap bagaimana menghargai orang lain dan ada juga yang berpendapat bahwa

pelajaran Fisika perlu pemahaman lebih dari pelajaran lain dalam mempelajarinya

sehingga membantu siswa untuk bersikap bagaimana menghargai orang lain.

  Pada faktor pengalaman dalam mempelajari Fisika data kuesioner dengan

wawancara ada kaitannya. Hal ini dibuktikan dengan : pertama Apa yang dialami

siswa dalam memahami materi Fisika disekolah. Bagi siswa pemahaman konsep

Fisika yang baik sangat penting baginya untuk berhasil didalam belajar fisika

sehingga nilai yang bagus tidak cukup baginya bila pemahaman materinya lemah.

Oleh karena itu, siswa menghabiskan banyak waktu untuk menghitung,

mempelajari dan memahami setiap pokok bahasan yang diberikan guru di kelas

atau yang ada dalam buku pegangan. Dalam belajar Fisika, siswa dilatih untuk

bertukar informasi hasil yang diperoleh melalui percobaan serta dilatih untuk

menghargai apapun yang dihasilkan oleh kelompok lain atau dapat belajar

bagaimana caranya menghargai pendapat teman namun ada juga yang merasa

bahwa siswa tidak dibiasakan untuk mampu mendengarkan dan menghargai

teman lain berpendapat. Selain itu, siswa mampu menghubungkan materi Fisika

dengan apa yang pernah siswa alami dalam kehidupan sehari – hari karena hal

utama yang siswa peroleh dari belajar Fisika adalah belajar bagaimana siswa

dapat memahami peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan Fisika

sehingga dengan belajar Fisika dapat mengubah pandangan siswa didalam

memahami peristiwa yang berhubungan dengan Fisika menjadi lebih baik.

  Kedua Apa yang dialami siswa dalam memahami materi Fisika sekolah,

  

orang lain karena dalam pelajaran Fisika yang ditekankan hanya pengetahuannya

saja sehingga belajar Fisika pada dasarnya tidak perlu, karena materi yang

dipelajari tidak mempunyai hubungan dengan apa yang dialami dan dilihat dalam

kehidupan sehari – hari.

  Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengalaman

membentuk persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika dikelas dan persepsi yang

terbentuk cenderung ke persepsi semi positif. Hal ini ditunjukan dengan pada saat

belajar Fisika siswa merasa pemahaman konsep Fisika sangat penting bagi siswa

sehingga siswa menghabiskan banyak waktu untuk menghitung, mempelajari dan

memahami setiap pokok bahasan yang diberikan guru di kelas atau yang ada

dalam buku pegangan selain itu siswa melatih diri untuk menghargai pendapat dan

bertukar informasi dengan teman. Dengan begitu, siswa mampu menghubungkan

materi Fisika dengan apa yang pernah siswa alami dalam kehidupan sehari – hari

dan dapat memahami peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan Fisika

sehingga dapat mengubah pandangan siswa didalam memahami peristiwa yang

berhubungan dengan Fisika menjadi lebih baik. Namun demikian, pada faktor

pengalaman ini terbentuk juga persepsi semi negatif dan hal ini ditunjukkan

dengan dalam belajar Fisika siswa merasa tidak dibiasakan untuk mampu

mendengarkan dan menghargai teman lain berpendapat karena siswa merasa

pelajaran Fisika yang ditekankan hanya pengetahuannya saja sehingga belajar

Fisika pada dasarnya tidak perlu, karena materi yang dipelajari tidak mempunyai

hubungan dengan apa yang dialami dan dilihat dalam kehidupan sehari – hari.

  Pada aspek ini, siswa umumnya pengetahuannya bagus ( 69.21% ) dan

persepsi yang ditimbulkan cenderung persepsi semi positif. Dalam belajar Fisika

yang terpenting bagi siswa bukan rumus akhir melainkan proses bagaimana rumus

  %

tersebut diperoleh (79.86 ), karena untuk memahami Fisika siswa harus mampu

untuk mengingat sesuatu yang pernah dijelaskan oleh guru ataupun yang pernah

siswa pelajari (74.92 % ) dan waktu mengerjakan soal atau PR, yang pertama kali

siswa pikirkan adalah konsep – konsep apa saja yang berkaitan dengan soal

tersebut (78.72 % ). Selain itu, hal yang paling penting dalam belajar Fisika bagi

siswa adalah mampu mengingat seluruh informasi atau bahan yang perlu siswa

  %

ketahui (75 ). Sehingga dalam mengerjakan soal yang terpenting bagi siswa

adalah mampu memahami maksud dari soal tersebut dan mengkaitkannya dengan

konsep yang mendasarinya, yang akhirnya siswa mampu memilih suatu rumus

yang tepat untuk menyelesaikan soal (83.38%).

  Persoalan yang paling sulit dalam menyelesaikan soal Fisika bagi siswa

adalah menemukan rumus yang paling tepat untuk digunakan dalam

%

menyelesaikan masalah tersebut (45 ). Selain itu, pemecahan masalah dalam

Fisika pada dasarnya mencari rumus yang tepat dan mengantikannya dengan suatu

bilangan (49.4 % ) dengan kata lain bahwa agar dapat mengunakan rumus dalam

mengerjakan suatu soal siswa tidak perlu untuk mengetahui konsep – konsep yang

  %

mendasari rumus tersebut (75.25 ). Siswa tidak perlu untuk mempelajari ataupun

memahami suatu pokok bahasan tertentu, yang diperlukan bagi siswa adalah

menghafalkan rumus sehingga siswa dapat mengerjakan soal dengan mengunakan

  

mengerjakan suatu soal ulangan maka tidak ada lagi yang dapat dikerjakan oleha

% siswa (61.12 ).

  Dalam wawancara diperoleh data bahwa manfaat belajar Fisika dalam

menghadapi suatu permasahan, siswa memiliki cara ataupun metode sendiri –

sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Seperti misalnya dalam menghadapi

permasalahan, siswa memahami permasalahannya dahulu baru menerapkan rumus

yang sesuai dengan masalah yang sedang dihadapinya dan ada juga siswa yang

langsung menerapkan rumus untuk menyelesaikan atau menghadapi masalah

tanpa menganalisa permasalahannya terlebih dahulu.

  Pada faktor pengetahuan dalam belajar Fisika data kuesioner dan

wawancara berhubungan erat. Hal ini dibuktikan dengan cara siswa dalam

menghadapi suatu masalah atau persoalan yang berhubungan denga Fisika. Yang

terpenting bagi siswa didalam belajar fisika adalah bukan rumus akhir yang di

peroleh melainkan proses bagaimana rumus tersebut di peroleh sehingga untuk

memahaminya siswa harus mampu untuk mengingat sesuatu yang pernah

dijelaskan guru ataupun yang pernah siswa pelajari dan mampu mengingat seluruh

informasi ataupun bahan yang perlu siswa ketahui. Dengan demikian, saat

mengerjakan soal yang pertama siswa pikirkan adalah konsep – konsep yang

berkaitan dengan soal dan mengkaitkan konsep yang mendasari dengan soal

tersebut sehingga siswa mampu memilih suatu rumus yang tepat untuk

menyelesaikan persoalan atau permasalahan yang sedang dihadapinya.

  Karena bagi siswa, pemecahan masalah dalam Fisika adalah mencari dan

  

sehingga beberapa siswa merasa tidak perlu untuk mempelajari atau memahaami

suatu pokok bahasan tertentu dan yang perlu bagi siswa dalam belajar Fisika

adalah menghafalkan rumus untuk menyelesaikan masalah. Dengan kata lain

bahwa untuk mengunakan rumus didalam menyelesaikan masalah siswa tidak

perlu untuk mengetahui konsep – konsep yang mendasari rumus tersebut sehingga

jika tidak ingat suatu rumus yang siswa butuhkan untuk mengerjakan suatu soal

ulangan maka tidak ada lagi yang dapat dikerjakan oleh siswa.

  Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan

membentuk persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya dan persepsi

yang terbentuk cenderung ke persepsi semi positif. Hal ini ditunjukan dengan

siswa merasa dalam belajar Fisika adalah pada saat mengerjakan soal, yang

pertama siswa pikirkan adalah konsep – konsep yang berkaitan dengan soal dan

mengkaitkan konsep yang mendasarinya dengan soal tersebut sehingga siswa

mampu memilih suatu rumus yang tepat untuk menyelesaikan persoalan atau

permasalahan yang sedang dihadapinya namun demikian ada juga yang merasa

bahwa siswa tidak perlu untuk mempelajari ataupun memahami suatu pokok

bahasan tertentu, yang diperlukan bagi siswa adalah menghafalkan rumus

sehingga siswa dapat mengerjakan soal dengan mengunakan rumus tersebut

sehingga bagi mereka dalam menyelesaikan soal Fisika yang terpenting adalah

menemukan rumus yang paling tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan

masalah tersebut karena baginya pemecahan masalah dalam Fisika pada dasarnya

mencari rumus yang tepat dan mengantikannya dengan suatu bilangan dengan

  

siswa tidak perlu untuk mengetahui konsep – konsep yang mendasari rumus

tersebut.

4.Cakrawala.

  75.46% Semua umum cakrawala siswa sangat luas ( ) dalam mempelajari

atau memahami pelajaran dikelas dan persepsi yang ditimbulkan cenderung

persepsi positif. Siswa mengetahui bahwa dengan belajar semua mata pelajaran,

siswa mendapatkan bekal atau pegangan untuk menjalani kehidupan sehari – hari

maupun dimasa depan (82.92%). Agar siswa bisa lebih aktif dalam mengikuti

pelajaran disekolahnya antara lain : Setiap guru mata pelajaran memberikan

  %

kesempatan kepada siswa untuk bertanya (79.91 ) karena didalam penyampaian

materi pelajaran setiap guru mempunyai strategi yang berbeda didalam

  %

penyampaiannya (88.58 ), dan dengan mengunakan model pengajaran (ceramah,

demonstrasi, praktikum dsb) yang bervariasi didalam pengajarannya di kelas

  %

(79.34 ) dan ada juga siswa yang aktif jika dengan model pengajaran yang sama

  %

untuk setiap mata pelajaran (59.43 ), didalam penyampaiannya setiap guru

  %

mempunyai strategi yang sama didalam penyampaiannya (66.45 ), setiap guru

mata pelajaran tidak memberikan kesempatan untuk bertanya (78.06%), untuk

setiap mata pelajaran diberi bobot, alokasi waktu yang sama didalam

  %

mempelajarinya (60.03 ), sehingga pada saat tidak masuk kelas siswa tidak perlu

meminjam catatan tertentu kepada teman (78.32%).

  Dari wawancara diperoleh bahwa siswa memahami bahwa dengan belajar

semua mata pelajaran mereka mendapatkan bekal untuk menjalani kehidupannya.

  

bergantung dari siswa itu sendiri. Siswa memberikan bobot dan alokasi waktu

yang lebih bila menurut siswa pelajaran itu penting bagi masa depan mereka.

  Pada faktor pengetahuan dalam belajar Fisika data kuesioner dan

wawancara berhubungan erat. Hal ini dibuktikan dengan belajar semua mata

pelajaran siswa mendapatkan bekal untuk menjalani kehidupannya, tetapi proses

untuk memahami pelajaran cara siswa bermacam – macam seperti misalnya :

siswa mengharapkan setiap guru mata pelajaran mempunyai strategi yang berbeda

didalam penyampaiannya dan dengan mengunakan model pengajaran (ceramah,

demonstrasi, praktikum dsb) yang bervariasi didalam pengajarannya di kelas

sehingga untuk setiap mata pelajaran diberi bobot, alokasi waktu yang berbeda

didalam mempelajarinya. Namun ada beberapa siswa yang mengharapkan setiap

guru mata pelajaran mempunyai strategi yang sama didalam penyampaiannya dan

mengunakan model yang monoton dalam mengajar sehingga untuk setiap mata

pelajaran diberi bobot, alokasi waktu yang sama didalam mempelajarinya

  Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa cakrawala

membentuk persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya dan persepsi

yang terbentuk cenderung ke persepsi positif. Hal ini ditunjukan dengan siswa

merasa aktif dalam belajar Fisika bila setiap guru mempunyai strategi yang

berbeda didalam penyampaiannya dan dengan mengunakan model pengajaran

(ceramah, demonstrasi, praktikum dsb) yang bervariasi didalam pengajarannya di

kelas. Selain itu, ada juga siswa yang merasa aktif dalam belajar Fisika bila setiap

guru Fisika mempunyai strategi yang sama didalam penyampaiannya dan

  

mengunakan model yang monoton dalam mengajar seperti guru mata pelajaran

lain sehingga untuk setiap mata pelajaran diberi bobot, alokasi waktu yang sama.

5. Pernyataan akhir setelah kuesioner.

  Sesuai dengan teori pembentukan persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika

disekolahnya, teori persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika disekolahnya dan

tujuan penelitian yang telah diuraikan diatas (Bab1). Dari pernyataan setelah

kuesioner, peneliti mengelompokan jawaban siswa yang sama. Jawaban –

jawaban dari siswa dapat dilihat pada lampiran 3 dan tanggapan siswa terhadap

pelajaran Fisika selama ini di sekolahnya dapat dilihat pada tabel 4.

  Tabel 4. Tangggapan Fisika selama ini di sekolahnya.

No Pelajaran Fisika Jumlah siswa Presentase

  1 Menyenangkan 39 47.56 %

  2 Tidak menyenangkan/membosankan 28 34.15 %

  3 Biasa saja 15 18.29 % Jumlah total 82 100 % Pernyataan akhir setelah kuesioner ini hanya sebagai pembanding dari

persepsi yang telah ditimbulkan dari faktor – faktor pengaruh persepsi yang telah

dibahas diatas.

5.1 Pelajaran Fisika menyenangkan

  Jumlah siswa yang memberikan pernyataan bahwa pelajaran Fisika

menyenangkan berjumlah 39 siswa atau 47.56 % dari jumlah total siswa kelas XI

  

IPA. Pernyataan yang ditunjukkan siswa kelas XI IPA antara lain: siswa merasa

  

senang terhadap strategi yang guru terapkan dan cara pengajarannya karena sangat

mendukung siswa untuk mengerti dan memahami materi yang sedang dibahas.

  

Selain itu, siswa juga diberi banyak kesempatan untuk bertanya dan guru bisa

menjelaskan secara mendetail karena dalam belajar fisika yang terpenting bagi

siswa bukan rumus akhir melainkan proses bagaimana rumus tersebut didapat

(79.85%), Pengunakan model pembelajaran ( ceramah, demontrasi, praktikum,dll

) yang bervariasi dalam pengajaran disekolah, membuat siswa menjadi lebih aktif

dalam mengikuti setiap pelajaran (79.34%), Melalui percobaan di laboratorium,

siswa dilatih untuk bertukar informasi pengetahuan yang didapat dari percobaan

dan menghargai apapun yang dihasilkan temannya (82.81%) dan siswa dibiasakan

untuk mampu mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain (78.97%)

dengan begitu rasa keingintahuan siswa terhadap suatu peristiwa atau alat tertentu

dapat mulai berkembang (76.84%).

  Tidak cukup hanya penjelasan dari guru saja, tetapi siswa perlu untuk

berusaha menambah pemahamannya dengan mencari bahan – bahan dari buku

lain untuk menunjang pokok bahasan yang siswa pelajari (77.04%) karena

Pemahaman konsep yang baik sangat penting bagi siswa untuk berhasil dalam

belajar fisika. Oleh karena itu, nilai yang baik tidak cukup bagi siswa kalau

pemahaman fisikanya lemah (81.02%).

5.2 Pelajaran Fisika tidak menyenangkan.

  Jumlah siswa yang memberikan pernyataan bahwa pelajaran Fisika tidak

menyenangkan berjumlah 28 siswa atau 34.15 % dari jumlah total siswa kelas XI

  

tidak senang dengan strategi yang guru terapkan dan cara pengajarannya karena

sangat tidak mendukung siswa untuk mengerti dan memahami materi yang sedang

dibahas. Selain itu, siswa juga tidak diberi banyak kesempatan untuk bertanya dan

guru tidak menjelaskan secara mendetail sehingga Pelajaran fisika tidak

membantu siswa untuk bersikap menghargai orang lain karena dalam pelajaran

fisika yang ditekankan hanya pengetahuan saja (67.67%). Apabila Semua mata

pelajaran diberi bobot dan alokasi waktu yang sama untuk mempelajarinya

(60.02%) maka Pelajaran fisika membuat siswa terbebani karena semakin

bertambah materinya semakin bertambah pula yang tidak siswa mengerti dan

tidak jelas (56.81%) karena Persoalan yang paling sulit dalam menyelesaikan soal

fisika adalah menemukan rumus yang paling tepat untuk digunakan dalam

menyelesaikan masalah tersebut (45%).

5.3 Pelajaran Fisika biasa saja.

  Jumlah siswa yang memberikan pernyataan bahwa pelajaran Fisika biasa

saja berjumlah 15 siswa atau 18.29 % dari jumlah total siswa kelas XI IPA.

  

Pernyataan yang ditunjukkan siswa kelas XI IPA antara lain: siswa merasa strategi

yang guru terapkan dan cara pengajarannya sama dengan guru mata pelajaran lain

sehingga dalam penekanannya guru kadang kurang mendetail dalam mengajar.

Selain itu, Setiap guru mata pelajaran tidak memberikan kesempatan siswa untuk

bertanya (78.06%) sehingga yang paling perlu siswa lakukan dalam belajar fisika

adalah hanya membaca buku pelajaran, mengerjakan sebagian besar soal – soal,

dan hanya memperhatikan penjelasan guru dikelas (63.32%) dan siswa tidak perlu

  

adalah menghafalkan rumus sehingga siswa dapat menggerjakan soal dengan

mengunakan rumus tersebut (78.72%). Namun, jika tidak ingat suatu rumus yang

siswa perlukan untuk mengerjakan suatu soal ulangan maka tidak ada lagi yang

dapat siswa kerjakan / siswa lakukan (61.10%). Hal inilah yang membuat siswa

kadang merasa bosan dan kadang merasa senang dalam mengikuti pelajaran di

sekolah.

C. Rangkuman Persepsi Partisipan.

  Berdasarkan hasil kuesioner, pernyataan akhir dan wawancara yang telah

dilakukan, persepsi partisipan terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya adalah

sebagai berikut:

1. Persepsi siswa yang ditimbulkan dari faktor persepsi antara lain :

  a. Faktor proses belajar, pengalaman, pengetahuan menimbulkan persepsi yang cenderung semi positif.

  b. Faktor cakrawala menimbulkan persepsi yang cenderung positif.

  

2. Siswa memberikan penilaian yang menyenangkan berjumlah 39 siswa, tidak

menyenangkan berjumlah 28 siswa, biasa saja berjumlah 15 siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya, D. Keterbatasan Penelitian.

  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, terdapat keterbatasan-keterbatasan pada penelitian ini, antara lain:

  

1. Penelitian ini hanya membahas persepsi siswa terhadap pelajaran Fisika di

sekolahnya, sehingga hasil penelitiannya tidak dapat digeralisasikan pada komponen pembanding yang lain.

2. Wawancara dilaksanakan dengan 12 partisipan yang merupakan perwakilan dari masing – masing kelas. Sedangkan dari jumlah partisipan 82 siswa.

  Sehingga hasil analisis wawancara dalam penelitian ini masih banyak kekurangannya.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan data penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

  kesimpulan bahwa:

1. Persepsi siswa yang ditimbulkan dari faktor persepsi antara lain :

  a. Faktor proses belajar (67.06%), pengalaman (74.78%), pengetahuan (69.21%) menimbulkan persepsi yang cenderung semi positif.

  

b. Faktor cakrawala (75.46%) menimbulkan persepsi yang cenderung positif.

  

2. Siswa memberikan penilaian yang menyenangkan berjumlah 39 siswa, tidak

menyenangkan berjumlah 28 siswa, biasa saja berjumlah 15 siswa terhadap pelajaran Fisika di sekolahnya, B. SARAN.

1. Sebelum melakukan penelitian sebaiknya dilakukan ujicoba dengan matang.

  Dalam penelitian ini setelah dilakukan ujicoba ternyata ada beberapa soal yang perlu direvisi atas saran dari dosen pembimbing.

  

2. Sebelum melaksanakan wawancara di dalam suatu penelitian perlu

dipersiapkan rancangan pertanyaan-pertanyaannya. Rancangan pertanyaan tersebut perlu dipersiapkan untuk memperoleh hasil wawancara yang lebih mendalam.

  

3. Untuk penelitian selanjutnya dengan judul yang sama, diperlukan komponen

pembanding lain seperti misalnya : hasil belajar siswa. Sehingga pengajar dapat merancang pembelajarannya dengan baik.

  

4. Dalam proses belajar mengajar sebaiknya pengajar memperhatikan faktor-

faktor yang banyak menimbulkan permasalahan pada siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, faktor-faktor penyebab persepsi antara lain : pengetahuan, pengalaman, proses belajar, cakrawala banyak menimbulkan permasalahan antara lain; siswa dapat mengemukakan persepsi mereka terhadap pelajaran Fisika di kelas dengan sebagian besar alasan berkaitan dengan pengajar.

  

Untuk itu diharapkan pengajar lebih memperhatikan permasalahan-

permasalahan tersebut sehingga siswa dapat lebih memahami dan bisa menerapkan pelajarannya dalam kehidupan sehari – hari.

  

Daftar Pustaka

Bimo Walgito (1978). Psikologi sosial (Suatu pengantar). Yogyakarta: ANDI

OFFSET Bimo Walgito (1994). Pengantar Psikologi umum. Yogyakarta: ANDI OFFSET. Dakir (1967). Pengatar Psychologi umum. Jogjakarta: IKIP Jogjakarta.

Karika Budi, Fr. Y., Sarkim, T. (ed) (1998). Pendekatan Sains Yang Humanistik

(kumpulan karangan) Kanisius : Yogyakarta.

  

Mar’at (1981). Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Bandung: Ghalia

Indonesia.

  

Permana Budi (2001). 36 jam belajar komputer Microsoft Excel 2002. Jakarta: PT.

  Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia

Suryabrata Sumadi (1983). Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo

Persada. Sugiyono (2007). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfa beta. .

  Lampiran 1

KUESIONER PERSEPSI TERHADAP FISIKA

PETUNJUK :

  Dengan ini kami mohon bantuan dari para siswa untuk memberikan informasi dengan

menjawab kuesioner ini. Kuesioner ini diharapkan akan menjadi masukan dalam upaya

meningkatkan mutu pembelajaran. Adapun cara menjawab kuesioner ini adalah sebagai

berikut :

  Berikan tanda silang ( X ) pada huruf : SS : bila kamu menjawab SANGAT SETUJU S : bila kamu menjawab SETUJU TS : bila kamu menjawab TIDAK SETUJU STS : bila kamu menjawab SANGAT TIDAK SETUJU Untuk kuesioner ini tidak ada jawaban yang salah dan adapun jawaban anda tidak

mempengaruhi nilai fisika anda. Oleh karena itu, sungguh-sungguh anda diharapkan

menjawab kuesioner ini dengan jujur sesuai dengan pendapat dan perasaan anda yang

sebenarnya.

  No Pernyataan SS S TS STS

  1 Dalam belajar fisika yang terpenting bagi saya bukan rumus akhir melainkan proses bagaimana rumus tersebut didapat.

  2 Dalam belajar fisika di sekolah ini, saya diberi banyak kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya

  3 Belajar fisika mengubah pandangan saya dalam memahami peristiwa alam yang berhubungan fisika menjadi lebih baik.

  4 Pengunakan model pembelajaran ( ceramah, demontrasi, praktikum,dll ) yang bervariasi dalam pengajaran disekolah, membuat saya menjadi lebih aktif dalam mengikuti setiap pelajaran.

  5 Saat belajar fisika disekolah yang saya lakukan adalah duduk, mendengar dan mencatat penjelasan dari guru

  6 Dengan belajar fisika, saya mampu menghubungkan materi fisika dengan apa yang pernah saya alami dalam kehidupan sehari – hari. Dengan belajar semua mata pelajaran, saya mendapatkan

  7 bekal atau pegangan untuk menjalani kehidupan sehari – hari maupun dimasa depan.

  Memahami fisika berarti mampu mengingat sesuatu yang

  8 pernah dijelaskan oleh guru atau yang pernah saya baca Melalui percobaan di laboratorium, saya dilatih untuk

  9 bertukar informasi pengetahuan yang didapat dari percobaan dan menghargai apapun yang dihasilkan teman saya Dalam penyampaian materi pelajaran, seharusnya setiap

  10 guru mempunyai strategi yang berbeda didalam penyampaiannya Saat belajar fisika, tidak ada kesempatan bagi saya untuk

  11 mencari sesuatu yang ingin saya ketahui Agar dapat menggunakan rumus dalam mengerjakan

  12 suatu soal saya tidak perlu mengetahui konsep – konsep yang mendasari rumus tersebut.

  Semua mata pelajaran diberi bobot dan alokasi waktu

  13 yang sama untuk mempelajarinya.

  Dalam belajar fisika, saya dibiasakan untuk mampu

  14 mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain Nilai ulangan atau tes tidak memberikan pertolongan

  15 yang berarti bagi saya dalam memperbaiki pemahaman saya tentang materi bahasan yang diujikan Persoalan yang paling sulit dalam menyelesaikan soal

  16 fisika adalah menemukan rumus yang paling tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

  Pelajaran fisika tidak membantu saya untuk bersikap

  17 menghargai orang lain karena dalam pelajaran fisika yang ditekankan hanya pengetahuan saja.

  Pelajaran fisika membuat saya terbebani karena semakin

  18 bertambah materinya semakin bertambah pula yang tidak saya mengerti dan tidak jelas Jika tidak ingat suatu rumus yang saya perlukan untuk

  19 mengerjakn suatu soal ulangan maka tidak ada lagi yang dapat saya kerjakan / saya lakukan

  Jika tidak masuk sekolah, saya tidak perlu meminjam

  20 catatan mata pelajaran tertentu kepada teman.

  Dengan belajar fisika, rasa keingintahuanku terhadap

  21 suatu peristiwa atau alat tertentu dapat mulai berkembang Dengan belajar Fisika saya juga dapat belajar bagaimana

  22 caranya menghargai pendapat orang lain Hal yang penting dalam belajar fisika adalah mampu

  23 mengingat seluruh informasi atau bahan yang perlu saya ketshui Setiap guru mata pelajaran memberikan kesempatan saya

  24 untuk bertanya.

  Saya menghabiskan banyak waktu untuk menghitung,

  25 mempelajari dan memahami setiap pokok bahasan yang diberikan guru disekolah atau yang ada dalam buku pegangan Semakin banyak yang saya pelajari semakin besar pula

  26 semangat saya untuk mengetahui dan mempelajari fisika Saya tidak perlu mempelajari atau memahami suatu

  27 pokok bahasan tertentu, yang saya perlukan adalah menghafalkan rumus sehingga saya dapat menggerjakan soal dengan mengunakan rumus tersebut Setiap guru mata pelajaran tidak memberikan kesempatan

  28 saya untuk bertanya Dalam mengerjakan soal ulangan atau PR, yang pertama

  29 kali saya pikirkan adalah konsep – konsep apa saja yang berkaitan dengan soal tersebut.

  Untuk memahami penjelasan dari guru saja, saya perlu

  30 untuk berusaha menambah pemahaman saya dengan mencari bahan – bahan dari buku lain untuk menunjang pokok bahasan yang saya pelajari Dengan model pengajaran yang sama untuk setiap mata

  31 pelajaran, saya aktif dalam mengikuti pelajaran.

  Pemahaman konsep yang baik sangat penting bagi saya

  32 untuk berhasil dalam belajar fisika. Oleh karena itu, nilai yang baik tidak cukup bagi saya kalau pemahaman fisika saya lemah

  Pemecahan masalah dalam fisika pada dasarnya mencari

  33 rumus yang tepat dan kemudian menggantikannya dengan suatu bilangan Belajar fisika pada dasarnya tidak perlu, karena materi

  34 yang dipelajari tidak mempunyai hubungan dengan apa yang saya alami dan saya lihat dalam kehidupan sehari – hari. Sangat memungkinkan bagi saya untuk mendapatkan

  35 nilai yang baik dalam pelajaran fisika tanpa berusaha memahami konsep fisika secara baik Dalam penyampaian materi pelajaran, setiap guru

  36 mempunyai strategi yang sama didalam penyampaiannya Hal utama yang saya dapat dari pelajaran fisika adalah

  37 belajar bagaimana saya dapat memahami peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan fisika Dengan mempelajari semua mata pelajaran, saya

  38 mendapatkan bekal atau pegangan untuk menjalani kehidupan sehari – hari maupun dimasa depan Dalam mengerjakn soal yang terpenting bagi saya adalah

  39 mampu memahami maksud dari soal – soal tersebut dan mengkaitkannya dengan konsep yang mendasarinya yang akhirnya saya mampu memilih suatu rumus yang tepat untuk menyelesaikan soal.

  Yang paling perlu saya lakukan dalam belajar fisika

  40 adalah hanya membaca buku pelajaran, mengerjakan sebagian besar soal – soal, dan hanya memperhatikan penjelasan guru dikelas.

  ( jawab dan beri alasan ) Menurut anda bagaimana pelajaran fisika di sekolah selama ini?

................................................................................................................................................

  

................................................................................................................................................

.......................................

Nama : .........................

Kelas / no : ...................

  

Terima Kasih

  

Lampiran 2

Hasil wawancara

  

1.Menurut kamu, Didalam setiap mata pelajaran. Apakah bobot dan alokasi waktu

diberi jatah yang sama didalam mempelajarinya? Mengapa? a. Tidak sama, karena ada beberapa pelajaran yang dalam pemahamannya itu membutuhkan waktu yang agak lama.

  b. Tidak sama, karena harus memprioritaskan pelajaran yang diperlukan.

  

c. Beda, karena didalam memahami setiap pelajaran itu berbeda – beda caranya.

  d. Beda, karena cara untuk memahami setiap pelajaran berbeda.

  e. beda, karena ada pelajaran yang rumit dalam mempelajarinya.

  f. Tidak sama, karena dalam memahami pelajaran ada yang sulit dan ada juga yang gampang.

  g. Beda, karena ada pelajaran yang membutuhkan porsi lebih.

  h. Sama, karena semua pelajaran itu penting.

i. Tidak sama, karena dalam memahaminya ada pelajaran yang sulit.

  j. Berbeda, karena ada tingkat kesulitannya sendiri pada setiap pelajaran. k.Tidak sama, karena dalam memahaminya berbeda. l. Berbeda, karena pemahamannya berbeda.

2.Apakah ada manfaat yang kamu peroleh setelah belajar Fisika? Mengapa?

  a. Ada, karena Fisika itu berhubungan dengan kehidupan sehari – hari sehingga kita dapat mempraktekannya. b.Ada, karena bisa lebih mendalami Fisika. c.Ada, karena bisa menghubungkan Fisika dengan peristiwa sehari – hari. d.Ada, karena untuk masa depan. e.Ada, karena kita bisa mempraktekan dalam kehidupan sehari – hari.

  f. Ada, karena kita bisa tahu peristiwa apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan Fisika. g.Ada, karena Untuk masa depan. h.Ada, karena Untuk masa depan.

i. Ada, karena kita bisa mempraktekan dalam kehidupan sehari – hari.

  j. Ada, karena bisa menghubungkan Fisika dengan peristiwa sehari – hari. k.Ada, karena biasa memahami Fisika dalam peristiwa sehari – hari. l.Ada, karena untuk masa depan.

  

3.Didalam belajar Fisika dikelas, apakah kamu diberi banyak kesempatan untuk

bertanya oleh guru? a. Iya, tapi saya jarang mengunakannya untuk bertanya.

  b. Iya, tapi saya jarang mengunakannya untuk bertanya.

  c. Iya, tapi saya dituntut sendiri untuk aktif jadi kalau tidak ada pertanyaan guru melanjutkan materi.

  d. Iya, saya sering mengunakan kesempatan itu apabila saya kurang paham.

  e. Iya, tapi saya jarang mengunakan kesempatan itu.

  f. Tidak, karena siswa dituntut untuk aktif sendiri dalam proses pembelajaran.

  g. Iya, tapi siswa sendiri yang dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran.

  h. Iya, saya sering mengunakan kesempatan itu apabila saya kurang paham i. Iya, tapi saya kadang – kadang saja mengunakannya untuk bertanya. j. Iya, tapi siswa sendiri yang dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran. k. Sedikit, tergantung situasi dan kondisinya. l. Iya, tapi saya jarang mengunakannya untuk bertanya.

  

4.Menurut kamu, model pengajaran yang bagaimana agar kamu bisa menjadi

lebih dapat memahami fisika? a. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi.

  b. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi.

  c. Variasi, karena saya lebih mudah mengerti untuk memahami materi.

  d. Monoton, tetapi kalau bisa hubungan anatara guru – siswa dekat.

  e. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi.

  f. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi.

  g. Monoton, tetapi kalau bisa hubungan anatara guru – siswa dekat.

  

h. Variasi, karena mudah jenuh bila cara mengajarnya sama jadi saya tidak paham.

i. Variasi, tapi materi yang diajarkan jangan terlalu mendalam.

  j. Variasi, tapi kalau bisa hubungan guru – siswa dekat. k. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi. l. Variasi, karena saya lebih mudah untuk memahami materi.

  

5.Dengan belajar Fisika, apakah kamu mampu menghubungkan materi Fisika

dengan apa yang kamu alami dalam kehidupan sehari – hari? beri contohnya?

a. Mampu, PLTA.

  b. Mampu, listrik.

  c. Mampu, panas.

  d. Mampu, menentukan kecepatan motor supaya tidak telat masuk kelas.

  e. Mampu,melakukan usaha.

  f. Mampu,katrol.

  g. Mampu, es mencair.

  h. Mampu, pesawat dapat terbang di udara.

i. Mampu, menghitung laju kendaraan.

  j. Mampu, mendorong/mengangkat benda kita memerlukan gaya. k Mampu, perpindahan barang dari titik A - B l. Mampu, menghitung jarak rumah – sekolah.

  

Lampiran 3

Hasil pernyataan akhir

1. Menurut kamu, bagaimana selama ini pelajaran Fisika dikelas?.

a. Pernyataan kategori menyenangkan ada 39 siswa antara lain:

  

1. Menyenangkan karena guru masih mau menjelaskan dikelas saya dan perhatian kepada

para siswa.

  

2. Menyenangkan akan tetapi lebih menyenangkan bila guru mampu berkomunikasi

dengan siswa dan memberikan frekuensi yang sama antara memberi teori dengan praktik.

  

3. Menyenangkan karena dalam pengajarannya guru mengunakan model pembelajaran

yang bervariasi.

  

4. Menyenangkan karena guru kami tidak hanya mengajarkan teori tetapi juga

mengajarkan bagaimana menerapkan teori tersebut dalam peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan sehari – hari.

  

5. Menyenangkan karena saya dapat mengerti dan memahami apa yang sedang guru

ajarkan

  

6. Menyenangkan karena saya dapat mengerti dan memahami apa yang sedang guru

ajarkan.

  7. Menyenangkan karena cara guru dalam menjelaskan materi mudah dipahami.

  

8. Menyenangkan karena guru kreatif dalam menjelaskan materi bila ada materi yang sulit

9. Menyenangkan karena dalam mengajar guru mengunakan metode yang tidak monoton.

  

10. Menyenangkan karena dalam pengajarannya ada 2 guru Fisika sehingga dapat

mengurangi rasa jenuh.

  11. Menyenangkan karena cara guru dalam menjelaskan materi mudah dipahami.

  

12. Menyenangkan karena guru dapat menjelaskan materi dengan baik sehingga saya dapat

memahami materi yang sedang diajarkan.

  

13. Menyenangkan karena pelajarannya berhubungan langsung dengan kehidupan sehari –

hari.

  

14. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskannya materi sangat jelas jadi saya mudah

paham.

  

15. Menyenangkan karena guru selalu memberikan kesempatan bertanya, bila saya tidak

mengerti /tidak jelas sehingga saya bebas berekspresi.

  16. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi jelas.

  17. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi jelas.

  

18. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskannya materi sangat jelas jadi saya mudah

paham.

  

19. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan mendetail sampai rumus – rumusnya

diperoleh.

  

20. Menyenangkan karena guru yang mengajar ada 2 sehingga dapat mengurangi

kejenuhan.

  

21. Menyenangkan karena pelajarannya susah tapi menantang saya untuk mempelajarinya.

  

22. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskannya materi sangat jelas, jadi saya

mudah paham.

  23. Menyenangkan karena guru menjelaskan materi secara sistematis.

  

24. Menyenangkan karena dalam pengajarannya ada 2 guru Fisika sehingga dapat

mengurangi rasa jenuh.

  25. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi jelas.

  26. Menyenangkan karena guru menjelaskan materi secara sistematis.

  

27. Menyenangkan karena cara mengajar guru mudah untuk saya pahami sehingga

membuat saya dapat mengerti maksud materi yang sedang diajarkan.

  

28. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskannya materi sangat jelas jadi saya mudah

paham.

  

29. Menyenangkan walaupun guru didalam menjelaskan kurang jelas tetapi memacu saya

untuk belajar lebih yaitu mencari buku penunjang untuk belajar sendiri.

  

30. Menyenangkan karena dalam pengajarannya guru mengunakan model pembelajaran

yang bervariasi.

  

31. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi jelas sehingga saya mudah

mengerti materi yang sedang dibahas.

  

32. Menyenangkan karena strategi yang guru terapkan dan cara pengajarannya sangat

mendukung saya untuk mengerti dan memahami materi yang sedang dibahas.

  

33. Menyenangkan karena dalam pengajarannya guru mengunakan model pembelajaran

yang bervariasi.

  34. Menyenangkan karena guru menjelaskan materi secara sistematis.

  

35. Menyenangkan walaupun guru didalam menjelaskan kurang jelas tetapi memacu saya

untuk belajar lebih yaitu mencari buku penunjang untuk belajar sendiri.

  36. Menyenangkan karena guru menjelaskan materi secara sistematis.

  

37. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi jelas sehingga saya mudah

mengerti materi yang sedang dibahas.

  38. Menyenangkan karena guru menjelaskan materi secara sistematis.

  

39. Menyenangkan karena guru dalam menjelaskannya materi sangat jelas jadi saya mudah

untuk memahaminya. b.Pernyataan tidak menyenangkan ada 28 siswa antara lain:

  

1. Membosankan dan sulit sekali untuk dimengerti karena guru mengajar terlalu bertele –

tele.

  

2. Kurang menyenangkan karena guru mengajar terlalu bertele – tele sehingga saya tidak

mengerti.

  3. Kurang menyenangkan karena saya sering tidak diberi kesempatan untuk berekspresi.

  4. Kurang menyenangkan karena guru menerangkan materi kurang jelas.

  5. Membosankan karena kami terlalu banyak mendengarkan penjelasan dari guru saja.

  6. Memmbosankan karena saya tidak paham dengan apa yang diajarkan oleh guru.

  7. Membosankan karena guru hanya menjelaskan materi dengan metode itu – itu saja.

  8. Membosankan karena cara pengajarannya monoton itu – itu saja.

  

9. Membosankan karena cara pengajarannya monoton itu – itu saja sehingga banyak

materi yang tidak saya mengerti.

  

10. Membosankan dan sulit sekali untuk dimengerti karena guru mengajar terlalu bertele –

tele.

  

11. Kurang menyenangkan karena yang diajarkan oleh guru sering kali tidak masuk dalam

soal ulangan.

  

12. Kurang menyenangkan karena guru menjelaskan tidak jelas sehingga materinya tidak

mudah untuk dipahami.

  13. Membosankan karena guru dalam menjelaskan materi tidak mendetail.

  

14. Kurang menyenangkan karena guru menjelaskan tidak jelas sehingga materinya tidak

mudah untuk dipahami.

  15. Kurang menyenangkan karena guru menerangkan materi kurang jelas.

  16. Kurang menyenangkan karena guru menerangkan materi kurang jelas.

  17. Kurang menyenangkan karena guru dalam menjelaskan materi kurang jelas.

  18. Membosankan karena guru hanya menjelaskan materi dengan metode itu – itu saja.

  

19. Membosankan karena walaupun ada 2 guru yang mengajar tidak membuat saya

menjadi mengerti justru membuat saya pusing.

  

20. Kurang menyenangkan karena guru kurang mendukung dan cenderung mendidik

dengan paksa.

  

21. Membosankan karena guru dalam menjelaskan materi banyak penekanan yang tidak

berarti.

  

22. Kurang menyenangkan karena guru selalu menggangap siswa sudah bisa sehingga guru

mengunakan metode yang sama dengan guru mata pelajaran lain.

  23. Kurang menyenangkan karena guru mengajar terlalu cepat dan berbelit – belit.

  

24. Kurang menyenangkan karena guru hanya menjelaskan saja dan jarang membahas

latihan soal – soal yang sudah dikerjakan.

  25. Kurang menyenangkan karena guru mengajar tidak jelas dan terlalu berbelit – belit.

  

26. Kurang menyenangkan karena banyak penerapan rumus dalam materi sehingga saya

binggung mau mengunakan rumus yang cocok.

  27. Kurang menyenangkan karena guru mengajar tidak jelas dan terlalu berbelit – belit.

  28. Kurang menyenangkan karena guru mengajar tidak jelas dan terlalu berbelit – belit

c. Pernyataan biasa saja ada 15 siswa antara lain: 1. Biasa saja wajar dan normal.

  2. Biasa saja karena saya tidak terlalu bersemangat untuk mulai mempelajarinya.

  

3. Biasa saja karena paham tidaknya materi yang diajarkan tergantung dari bagaimana

cara guru tersebut menjelaskannya.

  

4. Biasa saja karena belum mampu membuat murid menjadi aktif dan kurang praktikum.

  5. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  

6. Biasa saja karena paham tidaknya materi yang diajarkan tergantung dari bagaimana

cara guru tersebut menjelaskannya.

  7. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  8. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  9. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  

10. Biasa saja karena guru hanya menjelaskan saja sama dengan guru mata pelajaran lain.

  11. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  

12. Biasa saja karena didalam mengajar guru mengunakan metode yang sama dengan guru

mata pelajaran lain.

  13. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  14. Biasa saja karena tidak ada yang menarik untuk dipelajari.

  15. Biasa saja karena kadang memosankan dan kadang menyenangkan.

  Tabel 5 Hasil penelitian IPA 1

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  4

  3

  4

  27

  75

  60

  61.25 23 3 1 3 3 4 4 4 4 3 4 2 2 4 3 2 3 3 2 3 3

  49

  2

  2

  3

  3

  1

  4

  2

  4

  3

  4

  3

  48.75 Pengetahuan Konsep 39 3 4 4 4 4 3 4 2 3 4 3 3 4 3 4 4 3 3 3 2

  39

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  33

  82.5

  66

  73.75 29 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 2

  59

  3

  3

  3

  83.75 JUMLAH TOTAL 560 700

  3

  3

  4

  12

  71.25

  57

  76.25 8 4 3 3 3 3 2 2 3 2 3 3 2 4 3 4 3 3 3 2 2

  61

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  2

  4

  1

  3

  3

  3

  1

  3

  4

  4

  4

  4

  1

  1

  61

  2

  2

  1

  2

  4

  1

  2

  4

  3

  19

  51.25

  41

  76.25 16 3 4 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  2

  67

  4

  72.5 JUMLAH TOTAL 583 728.75

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  4

  28

  78.75

  63

  83.75 24 1 3 2 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3

  67

  3

  3

  3

  2

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  67

  73.75 Cakrawala Perbandingan antara pelajaran 38 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 4 2 3 3 3

  59

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  36

  63.75

  51

  81.25 31 3 3 3 3 2 3 3 3 2 1 3 2 1 3 4 1 3 3 2 3

  65

  3

  3

  3

  2

  4

  4

  4

  10

  81.25

  65

  81.25 7 2 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3

  65

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  85 13 1 3 2 4 2 3 3 4 2 1 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  2

  20

  61.25

  49

  68

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  1

  58

  Jawaban Siswa Jumlah

  35

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  56.25 Berusaha

  3

  45

  71.25 15 3 2 3 1 2 2 2 1 1 1 3 3 2 3 3 4 2 3 2 2

  57

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  2

  2

  3

  4

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  4

  2

  2

  4

  2

  3

  4

  2

  1

  3

  4

  1

  4

  2

  2

  4

  26

  62.5

  50

  76.25 18 3 4 3 1 4 2 2 2 1 2 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2

  61

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  54

  4

  81.25

  65

  80 11 3 4 3 4 4 2 3 4 4 4 3 2 2 3 4 4 3 3 3 3

  64

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  2

  2

  No soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

  Skor Prosen Faktor Pengaruh Komponen

  21

  3

  2

  3

  3

  2

  4

  2

  4

  2

  5

  72.5

  58

  75 Ingin tahu 40 1 4 3 4 3 2 3 4 3 3 3 4 4 2 3 2 3 3 2 2

  60

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  2

  2

  67.5 Proses belajar Mandiri 30 3 3 2 4 3 2 2 3 1 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 3

  68.75 Pengalaman 37 2 3 3 2 3 2 3 3 2 4 3 3 4 3 2 4 3 3 3 3

  3

  2

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  25

  68.75

  55

  70 22 1 1 3 3 3 2 2 3 4 4 3 3 4 3 3 3 2 3 3 2

  56

  2

  2

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  55

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  1

  3

  3

  2

  1

  1

  3

  4

  3

  34

  83.75

  67

  63.75 32 2 4 3 4 3 4 4 1 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3

  51

  2

  3

  2

  4

  57

  3

  2

  9

  72.5

  58

  73.75 6 3 3 3 3 4 3 3 2 2 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2

  59

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  71.25 JUMLAH TOTAL 571 713.75

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  4

  3

  3

  2

  17

  77.5

  62

  77.5 14 1 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

  62

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  3

  83.75 JUMLAH TOTAL 619 773.75 Tabel 6 Hasil penelitian IPA 2

  Jawaban Siswa Jumlah

  3

  2 2 3 3 2 3 4 3 2 3 3 2 3 4 3 4 66

  75

  27

  2

  2

  2

  1

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  3

  3

  2

  4

  1

  2

  3

  3

  1

  3

  1

  1

  3

  4 49 55.681818 23 2

  3

  1

  3

  2

  4

  3

  2

  1

  2

  3

  3

  1

  2

  3

  2

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  3

  2

  1

  3

  2

  1

  2

  2 52 59.090909 29 3

  3

  2

  4

  4

  4

  4 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 4 3 2 67 76.136364

  33

  2

  2

  3

  1

  4

  4

  4

  1

  4

  1

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4 71 80.681818 8 2

  4

  3

  3

  4

  4

  2

  66

  75 Pengalaman 37 3

  3

  4

  4

  3

  3 3 4 3 2 4 4 2 3 3 4 3 3 4 4 3 71 80.681818 JUMLAH TOTAL

  2

  679 771.59091

  1

  3

  4

  4

  4

  1

  3

  4

  1

  1

  3

  2

  3 68 77.272727 16 2

  1

  2

  3

  3

  4

  1 2 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 33

  37.5

  19

  3

  1

  3

  1

  1

  3

  3 3 3 4 2 3 4 2 2 3 3 3 3 3 4 4 69 78.409091

  4

  12

  2

  1

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  2 43 48.863636 Pengetahuan Konsep 39 3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  1

  4

  3

  3

  2

  3

  4

  4

  3

  4

  3 70 79.545455 24 3

  4

  4

  2

  4

  3

  2

  4 3 3 3 3 4 1 2 4 3 3 4 3 4 3 4 69 78.409091

  28

  3

  3 68 77.272727 31 3

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3 59 67.045455 Cakrawala

  4

  Perbandingan antara pelajaran 38 4

  3

  4

  3

  4

  4

  3 3 4 4 3 4 1 3 3 3 4 4 4 3 4 4 76 86.363636 JUMLAH TOTAL

  3

  3

  2

  3

  3

  1

  2

  1

  2 3 2 2 3 3 4 3 3 2 2 2 2 3 2 3 53 60.227273

  36

  3

  3

  3

  2

  3

  1

  2

  2

  1

  1

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  4 67 76.136364 7 4

  1

  3

  4

  3

  4

  4

  4 3 4 3 3 4 1 4 2 3 4 3 3 3 3 4 73 82.954545

  10

  2

  3

  4

  3

  4

  4

  3 3 3 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 79 89.772727 JUMLAH TOTAL

  597 678.40909

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  2

  3

  3

  2

  4

  3

  4

  3

  4

  1

  3

  1

  3 2 3 1 3 3 4 2 4 4 1 4 2 1 3 3 54 61.363636

  20

  4

  1

  1

  3

  4

  1

  4

  3

  2

  4

  3

  4 83 94.318182 13 2

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  Skor Prosen Faktor Pengaruh Komponen

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  1

  3

  1

  4

  4

  4

  3

  3

  2

  2 62 70.454545 18 3

  3

  1

  3

  2

  2

  2

  1

  1

  1 38 43.181818 15 2

  1

  1

  4

  2

  1

  3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 2 2 2 3 3 3 48 54.545455 Berusaha

  35

  4

  4

  3

  3

  2

  1

  3

  4

  3

  2

  2

  2

  3 61 69.318182 Proses belajar Mandiri 30 3

  3

  3

  3

  3

  2

  2 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 71 80.681818 JUMLAH TOTAL

  561 637.5

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  1

  2 3 1 3 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 3 46 52.272727

  26

  3

  3

  3

  3

  4

  1

  2

  2

  2

  4

  2

  4

  1

  3

  4

  3

  4

  2

  4

  3

  2 60 68.181818 11 3

  3

  4

  3

  2

  1

  3 3 4 3 3 4 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 60 68.181818

  21

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  2

  No soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

  2

  3

  2

  3

  4

  1

  2

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  4

  3

  2

  1

  1

  2 3 1 1 2 3 4 2 3 3 2 3 1 2 2 2 48 54.545455

  5

  2

  1

  3

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  3

  2

  3

  1

  1

  1

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  1

  2

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3 67 76.136364 Ingin tahu 40 3

  2

  3

  3

  1

  25

  4

  4

  3

  4

  3

  3 65 73.863636

  3

  2

  3

  2

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  2 60 68.181818

  22

  3

  3

  4

  3

  4

  1

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  1

  4

  2

  4

  3

  4

  2

  3

  34

  3 68 77.272727 32 3

  3

  3

  4

  4

  3

  4 3 3 4 3 4 1 4 3 4 4 3 4 4 4 2 74 84.090909

  3

  3

  2

  9

  2

  3

  3

  3

  2

  2 3 4 3 2 3 1 3 4 3 3 3 2 4 4 3 63 71.590909

  3

  66

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  75 6 3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  1

  4

  2

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  2

  2

  3

  4

  3

  4

  2

  1

  2

  4

  17

  4

  3

  3

  1

  2

  2

  3

  3

  3 3 4 4 2 1 4 2 3 3 4 4 3 4 3 3 69 78.409091

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  77

  87.5 14 3

  2

  4

  3

  3

  672 763.63636 Tabel 7 Hasil penelitian IPA 3

  Jawaban Siswa Jumlah

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  2

  4

  27

  77.5

  62

  68.75 23 3 2 3 4 3 2 4 3 4 2 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3

  55

  3

  2

  3

  1

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  50 Pengetahuan Konsep 39 3 4 4 4 3 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 2

  40

  3

  1

  2

  1

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  1

  3

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  33

  81.25

  65

  73.75 29 4 3 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4

  59

  2

  3

  3

  81.25 JUMLAH TOTAL 565 706.25

  3

  4

  3

  12

  81.25

  65

  78.75 8 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 4 4

  63

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  57

  1

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  19

  42.5

  34

  71.25 16 1 2 2 1 2 1 3 1 2 2 1 2 2 2 1 3 1 2 2 1

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  1

  4

  4

  65

  4

  78.75 JUMLAH TOTAL 605 756.25

  2

  2

  3

  4

  4

  4

  1

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  28

  83.75

  67

  73.75 24 3 3 3 4 2 4 4 3 4 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 3

  59

  1

  1

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  66

  62.5 Cakrawala Perbandingan antara pelajaran 38 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 4

  50

  1

  2

  3

  1

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  1

  36

  55

  44

  77.5 31 3 2 2 1 2 2 2 2 1 3 3 4 3 2 2 2 3 2 2 1

  62

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  10

  90

  72

  81.25 7 3 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3

  65

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  92.5 13 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3 4 2 2 2 3 3 3 2 1 1

  3

  1

  4

  4

  3

  3

  1

  3

  3

  4

  20

  58.75

  47

  74

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  1

  63

  Skor Prosen Faktor Pengaruh Komponen

  4

  4

  3

  2

  3

  2

  4

  4

  3

  3

  1

  3

  3

  35

  4

  55 Berusaha

  44

  51.25 15 3 3 3 1 2 1 3 2 1 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2

  41

  2

  1

  1

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  4

  3

  2

  4

  4

  4

  3

  2

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  26

  58.75

  47

  75 18 3 3 2 3 2 2 4 1 3 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1

  60

  3

  1

  3

  3

  2

  77.5 Proses belajar Mandiri 30 3 2 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3

  3

  21

  68.75

  55

  71.25 11 3 3 3 1 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 4 2 2

  57

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  No soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  5

  62.5

  50

  83.75 Ingin tahu 40 3 3 1 2 3 3 2 3 4 3 2 2 3 2 3 3 3 3 1 1

  67

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  62

  62

  68.75 Pengalaman 37 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  4

  25

  78.75

  63

  65 22 3 3 3 3 2 4 3 4 2 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4

  52

  2

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  55

  1

  2

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  34

  80

  64

  72.5 32 2 3 2 4 3 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 3 4 3 4 3

  58

  4

  4

  3

  3

  77.5 JUMLAH TOTAL 545 681.25

  3

  3

  9

  73.75

  59

  76.25 6 3 3 2 4 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4

  61

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  17

  78.75

  63

  83.75 14 2 3 4 4 2 4 4 4 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 4 3

  67

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  82.5 JUMLAH TOTAL 606 757.5 Tabel 8 Hasil penelitian IPA 4

  Jawaban Siswa Jumlah

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  27

  72.5

  58

  58.75 23 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 2 3 3 3

  47

  3

  3

  1

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  1

  2

  50 Pengetahuan Konsep 39 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4

  40

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  3

  1

  1

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  1

  3

  2

  33

  75

  60

  71.25 29 2 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3

  57

  3

  2

  3

  78.75 JUMLAH TOTAL 547 683.75

  3

  3

  3

  12

  68.75

  55

  83.75 8 2 2 2 3 4 2 2 3 3 4 2 4 3 2 3 2 2 3 3 4

  67

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  2

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  61

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  19

  48.75

  39

  76.25 16 1 3 2 3 2 2 2 2 1 3 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2

  4

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  2

  4

  4

  3

  2

  63

  4

  77.5 JUMLAH TOTAL 588 735

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  28

  78.75

  63

  76.25 24 3 3 3 3 2 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3

  61

  4

  2

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  4

  59

  62.5 Cakrawala Perbandingan antara pelajaran 38 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 3 3 3

  50

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  4

  1

  1

  1

  4

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  36

  58.75

  47

  76.25 31 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 2

  61

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  10

  77.5

  62

  78.75 7 4 3 3 3 4 4 2 3 2 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2

  63

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  82.5 13 1 3 2 3 3 3 2 2 3 3 1 1 4 2 2 2 2 2 3 3

  2

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  20

  58.75

  47

  66

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  1

  62

  Skor Prosen Faktor Pengaruh Komponen

  3

  4

  1

  2

  4

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  35

  3

  50 Berusaha

  40

  56.25 15 1 2 2 2 3 3 3 2 1 3 2 2 1 1 2 2 2 1 2 3

  45

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  2

  2

  1

  3

  2

  4

  3

  3

  4

  1

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  26

  53.75

  43

  73.75 18 2 2 3 2 3 3 3 1 3 2 3 1 1 3 1 2 2 1 2 3

  59

  3

  2

  3

  3

  1

  65 Proses belajar Mandiri 30 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 4

  3

  21

  67.5

  54

  68.75 11 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 2 4 3 2 3 4

  55

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  No soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

  3

  3

  2

  2

  1

  3

  2

  3

  2

  3

  1

  5

  63.75

  51

  72.5 Ingin tahu 40 4 2 2 3 3 2 2 3 1 3 2 1 3 2 3 3 3 3 3 3

  58

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  3

  4

  52

  63

  71.25 Pengalaman 37 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3

  3

  2

  3

  4

  3

  1

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  25

  70

  56

  67.5 22 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 4 3 3 2 4 3 2 3 3

  54

  3

  2

  2

  4

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  57

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  34

  76.25

  61

  67.5 32 4 2 3 3 2 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

  54

  2

  3

  2

  3

  78.75 JUMLAH TOTAL 520 650

  2

  4

  9

  71.25

  57

  70 6 3 3 3 3 4 3 2 3 4 4 3 3 1 2 3 3 2 3 2 3

  56

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  1

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  17

  81.25

  65

  82.5 14 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 3

  66

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  73.75 JUMLAH TOTAL 579 723.75 Tabel 9 Hasil total penelitian

  Jumlah Skor Jumlah Prosen Jumlah Total Rata - rata Faktor Pengaruh Komponen

  75

  49

  49

  55

  47 61 55.681818

  68.75 58.75 200 244.43182 50 61.107955 23 60 66 62 58 75 75 77.5 72.5 246 300

  61.5

  27

  45

  59

  52

  59

  57 74 59.090909

  73.75 71.25 227 277.84091 56.75 69.460227 29 66 67 65 60 83 76.136364 81.25 75 258 314.88636 64.5 78.721591

  33

  19

  71.25 76.25 247 301.02273 61.75 75.255682 16 41 33 34 39 51 37.5 42.5 48.75 147 180 36.75

  43

  61

  57

  69

  75

  68.75 71.25 233 283.75 58.25 70.9375 Pengalaman 37 58 71 63 62 73 80.681818 78.75 77.5 254 309.43182 63.5 77.357955

  JUMLAH 583 679 605 588 729 771.59091 756.3 735 2455 2991.5909 613.75 747.89773

  1

  71

  61 76 77.272727

  63

  67 76 80.681818

  78.75 83.75 262 319.43182 65.5 79.857955 8 57 69 65 55 71 78.409091 81.25 68.75 246 299.65909 61.5 74.914773

  12

  61

  68

  57

  39

  40

  66

  77.5 76.25 256 312.27273 64 78.068182 31 51 53 44 47 64 60.227273 55 58.75 195 237.72727 48.75 59.431818

  73.75 76.25 257 313.29545 64.25 78.323864 24 63 69 67 63 79 78.409091 83.75 78.75 262 319.65909 65.5 79.914773

  28

  65

  68

  62

  61 81 77.272727

  36

  59

  59

  59

  50

  50 74 67.045455

  62.5 62.5 218 265.79545 54.5 66.448864 Cakrawala

  Perbandingan antara pelajaran 38 67 76 66 59 84 86.363636 82.5 73.75 268 326.36364 67 81.590909

  61 84 79.545455

  70

  40 49 48.863636

  63 81 76.136364

  50 50 162 197.61364 40.5 49.403409 Pengetahuan Konsep 39 67 79 65 63 84 89.772727 81.25 78.75 274 333.52273 68.5 83.380682

  JUMLAH 560 597 565 547 700 678.40909 706.3 683.8 2269 2768.4091 567.25 692.10227

  4

  65

  67

  65

  81.25 78.75 260 317.38636 65 79.346591 7 65 73 72 62 81 82.954545 90 77.5 272 331.70455 68 82.926136

  67

  10

  68

  83

  74

  66 85 94.318182

  92.5 82.5 291 354.31818 72.75 88.579545 13 49 54 47 47 61 61.363636 58.75 58.75 197 240.11364 49.25 60.028409

  20

  55

  55

  No soal

  45 71 43.181818

  83.75 72.5 252 307.38636 63 76.846591 Ingin tahu 40 58 48

  50 51 73 54.545455 62.5 63.75 207 253.29545 51.75 63.323864

  5

  57

  38

  41

  51.25 56.25 181 221.93182 45.25 55.482955 15 45 48 44 40 56 54.545455 55 50 177 215.79545 44.25 53.948864

  67

  Berusaha

  35

  61

  62

  60

  59 76 70.454545

  58 75 76.136364

  67

  26

  IPA III

  IPA I

  IPA II

  IPA III

  IPA IV

  IPA I

  IPA II

  IPA IV Skor Prosen skor prosen

  60

  2

  64

  60

  57

  55 80 68.181818

  71.25 68.75 236 288.18182 59 72.045455 11 65 60 55 54 81 68.181818 68.75 67.5 234 285.68182 58.5 71.420455

  21

  75 73.75 242 295.45455 60.5 73.863636 18 50 46 47 43 63 52.272727 58.75 53.75 186 227.27273 46.5 56.818182

  54

  34

  52

  78

  87.5

  83.75 82.5 272 331.25 68 82.8125 14 62 69 63 65 78 78.409091 78.75 81.25 259 315.90909 64.75 78.977273

  17

  56

  60

  54 70 68.181818

  67

  65 67.5 222 270.68182 55.5 67.670455 22 55 65 63 56 69 73.863636 78.75 70 239 291.36364 59.75 72.840909

  25

  51

  68

  58

  54 64 77.272727

  72.5 67.5 231 281.02273 57.75 70.255682 32 67 74 64 61 84 84.090909 80 76.25 266 324.09091 66.5 81.022727

  66

  77

  61

  66

  62

  52 68 69.318182

  77.5 65 229 279.31818 57.25 69.829545 Proses belajar Mandiri 30 57 71

  62 63 71 80.681818 77.5 78.75 253 308.18182 63.25 77.045455 JUMLAH 571 561 545 520 714 637.5 681.3 650 2197 2682.5 549.25 670.625

  3

  59

  61

  62

  56

  74

  75

  76.25 70 242 295

  60.5

  73.75 6 58 63 59 57 73 71.590909 73.75 71.25 237 289.09091 59.25 72.272727

  9

  

JUMLAH 619 672 606 579 774 763.63636 757.5 723.8 2476 3018.6364 619 754.65909

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
147
Studi Kasus: Kraton Yogyakarta SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
151
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan daerah
0
0
167
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
205
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
217
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
100
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si.) Program Studi Fisika
0
0
59
Show more