ANALISIS UNJUK KERJA JARINGAN WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM (WDS)

Gratis

0
0
109
9 months ago
Preview
Full text

ANALISIS UNJUK KERJA JARINGAN WIRELESS DISTRIBUTION

  “STUDI KASUS RUMAH SAKIT GRHASIA DAERAH ISTIMEWA

YOGYAKARTA

  SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Program Studi Teknik Informatika Oleh Andri Yudha Pratama 075314093 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  THE ANALYSIS OF PERFORMANCE NETWORK IN WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM (WDS) “CASE STUDY GRHASIA HOSPITAL DAERAH ISTIMEWA

YOGYAKARTA

  A THESIS Presented as Partial Fulfillment of The Requirements to Obtain The Sarjana Komputer Degree in Informatics Engineering Study Program By: Andri Yudha Pratama 075314093

INFORMATICS ENGINEERING STUDY PROGRAM DEPARTMENTS OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

  

ABSTRAK

  Jaringan Wireless Distribution System (WDS) adalah jaringan nirkabel yang dikembangkan menggunakan beberapa access point tanpa harus memerlukan

  

backbone jaringan kabel untuk menghubungkan perangkat-perangkat jaringan

  komputer. Wireless Distribution System (WDS) dapat direferensikan sebagai mode

  

repeater, karena WDS bisa tampak sebagai Bridge dan juga menerima wireless client

  pada saat bersamaan. Untuk mengetahui performansi jaringan wireless distribution

  

system perlu dilakukan pengukuran. Parameter-parameter yang digunakan dalam

melakukan pengukuran adalah delay, throughput, dan packet loss.

  Dalam skripsi ini, pengukuran dan penghitungan kinerja pada jaringan

wireless distribution system (WDS) yang dimiliki oleh Rumah Sakit Grhasia, DIY.

Pengukuran dilakukan dengan mengunggah dan mengunduh file sebesar 1 MB, 3 MB, 5 MB, dan 6 MB dari server yahoo.com yang berada pada master WDS Grhasia- WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA. Pengukuran tiap WDS dilakukan dalam kondisi normal dan sibuk dengan berdasarkan jarak 15 meter, 25 meter, dan 35 meter.

  Secara keseluruhan kinerja jaringan wireless distribution system pada RS. Grhasia DIY sudah termasuk baik dalam keadaan secara outdoor karena kinerja jaringannya pada saat kondisi normal dan sibuk cenderung dalam kategori baik. Pada waktu normal pentrasmisian data berlangsung cepat dengan throughput yang diperoleh besar. Pentrasmisian data pada waktu sibuk membutuhkan waktu lebih lama dengan besar throughput kecil. Besar packet loss tidak terlalu memberi pengaruh besar terhadap performa jaringan wireless distribution system.

  Kata Kunci: Wireless Distribution System (WDS), delay, throughput, packet loss.

  

ABSTRACT

  Wireless Distribution System Network (WDS) is a wireless network that was developed using multiple access points without requiring a wired network backbone to connect computer network devices. Wireless Distribution System (WDS) can be referenced as a repeater mode, because it can seem as Bridge WDS and wireless client also received at the same time. To find out performance wireless network distribution system needs to be measured. The parameters used in measuring the delay, throughput, and packet loss.

  In this thesis, the measurement and calculation of performance in wireless network distribution system (WDS), which is owned by the Hospital Grhasia, DIY. Measurements were performed with upload and download files of 1 MB, 3 MB, 5 MB, and 6 MB of server yahoo.com located in the master-WAN Grhasia WDS, WDS Nakula, and WDS drug. Measurements conducted by WDS in normal and busy with a distance of 15 meters based, 25 meters, and 35 meters.

  The overall performance of the wireless network distribution system on the RS. Grhasia DIY is included either in the outdoor as network performance during normal conditions and tend to be busy in either category. In normal time transmission rapid throughput of data obtained great. Transmission data at a busy time takes more time with the small throughput. Large packet loss is not too great influence on the performance of wireless network distribution system.

  Keywords: Wireless Distribution System (WDS), delay, throughput, packet loss.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas segala rahmat dan anugerah yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

  Analisis Unjuk Kerja Jaringan Wireless Distribution System (WDS) “Studi Kasus Rumah Sakit G rhasia Daerah Istimewa Yogyakarta” ini dengan baik.

  Dalam menyelesaikan tugas akhir ini, penulis tidak lepas dari bantuan sejumlah pihak, oleh sebab itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Tuhan Yesus Kristus, yang selalu menuntun langkah hidup sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  2. Ibu Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc., selaku Dekan Fakultas Sains dan Tenologi.

  3. Ibu Ridowati Gunawan, S.Kom., M.T., selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika.

  4. Bapak Damar Widjaja, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing skripsi atas saran, waktu, motivator, salam The Blues dan humoris yang telah diberikan.

  5. Bapak St. Yudianto Asmoro, S.T., M.Kom. dan Bapak Albertus Agung Hadhiatma, S.T., M.T. selaku dosen penguji atas saran dan kritikan yang telah diberikan.

  6. Kedua orang tuaku tercinta, Alm. Bapak Yohanes Rehadi Sutimin dan Ibu Elly Mulyaningrum untuk doa, perhatian, uang saku, dan semangat yang selalu diberikan.

  7. Ade Kurniawan, S.Kom dan staf RS Grhasia selaku pembimbing lapangan yang telah membantu penulis dalam penelitian dan mengumpulkan data.

  8. Keluarga Moelyadi (Mbah ti, Yudhi, A.md.Kep., Tiara, Bela, Aprilla, Priska Om Ernawan, Om Totok, Om Dr. Heru K, S.P., M.P., Om Ervin Rudi H, S.Pd., M.Pd., Om Hendro, A.md., Tante Retno, S.Pd., dan Tante

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu

  Tuhanku tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan b'ri

  • Songwriter: Herry Priyonggo--

  Kita semua selalu dihadapkan pada ribuan kesempatan emas yang tersamarkan dengan baik oleh kesulitan.

  Dengan kata lain, di balik segala jenis masalah yang menghadang kita, sebenarnya terdapat banyak sekali kesempatan emas untuk kehidupan sukses kita.

  

Charles Swindoll

  Skripsi ini saya persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus, Dosen, Keluarga, Teman-teman, dan Kekasih.

  DAFTAR GAMBAR

  Gambar 2.1: WDS Link point to point ..................................................................................... 11 Gambar 2.2: WDS Link point to Multi Point........................................................................... 12 Gambar 2.3: Mode Ad Hoc................. ..................................................................................... 13 Gambar 2.4: Mode wireless Infrastructure ............................................................................. 13 Gambar 2.5: Lapisan komunikasi data (OSI layer) dan TCP/IP.. ........................................... 15 Gambar 2.6: Screenshoot software Axence Net Tool .............................................................. 22 Gambar 2.7: Grafik pengukuran menggunakan DU Meter ..................................................... 23 Gambar 3.1: Topologi Jaringan Rumah Sakit Grhasia ............................................................. 24 Gambar 3.2: Model Jaringan yang Dianalisis .......................................................................... 25 Gambar 3.3: Peta Lokasi WDS ................................................................................................. 26 Gambar 3.4: Peta posisi user di WDS Master Grhasia-WAN .................................................. 27 Gambar 3.5: Peta posisi user di WDS NAPZA ........................................................................ 27 Gambar 3.6: Peta posisi user di WDS NAKULA ................................................................... 28 Gambar 3.7: Peta posisi penguji di WDS Master Grhasia-WAN ............................................. 28 Gambar 3.8: Peta posisi penguji di WDS NAPZA ................................................................... 29 Gambar 3.9: Peta posisi penguji di WDS NAKULA ............................................................... 29 Gambar 4.1: Grafik rata-rata throughput download WDS Grhasia-WAN ............................... 34 Gambar 4.2: Grafik rata-rata throughput upload WDS Grhasia-WAN ................................... 35 Gambar 4.3: Grafik rata-rata delay download WDS Grhasia-WAN ........................................ 37 Gambar 4.4: Grafik rata-rata delay upload WDS Grhasia-WAN ............................................ 39 Gambar 4.5: Grafik rata-rata packet loss download WDS Grhasia-WAN ............................... 40 Gambar 4.6: Grafik rata-rata packet loss upload WDS Grhasia-WAN ................................... 41 Gambar 4.7: Grafik rata-rata throughput download WDS NAKULA ..................................... 43 Gambar 4.8: Grafik rata-rata throughput Upload WDS NAKULA ......................................... 44

  Gambar 4.10: Grafik rata-rata delay upload NAKULA ........................................................... 47 Gambar 4.11: Grafik rata-rata packet loss download WDS NAKULA ................................... 49 Gambar 4.12: Grafik rata-rata packet loss upload WDS NAKULA ........................................ 50 Gambar 4.13: Grafik rata-rata throughput download WDS NAPZA ....................................... 52 Gambar 4.14: Grafik rata-rata throughput upload WDS NAPZA ........................................... 53 Gambar 4.15: Grafik rata-rata delay download WDS NAPZA ................................................ 55 Gambar 4.16: Grafik rata-rata delay upload WDS NAPZA .................................................... 57 Gambar 4.17: Grafik rata-rata packet loss download WDS NAPZA ....................................... 58 Gambar 4.18: Grafik rata-rata packet loss upload WDS NAPZA ........................................... 59 Gambar 4.19: Grafik perbandingan throughput download berdasarkan jarak 25m ................. 62 Gambar 4.20: Grafik perbandingan rata-rata throughput upload berdasarkan jarak 25m ....... 63 Gambar 4.21: Grafik perbandingan delay download berdasarkan jarak 25m .......................... 65 Gambar 4.22: Grafik perbandingan delay upload berdasarkan jarak 25m ............................... 66 Gambar 4.23: Grafik perbandingan packet loss download berdasarkan jarak 25m ................. 67 Gambar 4.24: Grafik perbandingan packet loss upload berdasarkan jarak 25m ...................... 69 Gambar 4.25: Grafik perbandingan rata-rata throughput download berdasarkan ukuran file 6144 KB .............................................................................................................................. 70 Gambar 4.26: Grafik perbandingan rata-rata throughput upload berdasarkan ukuran file 6144 KB .............................................................................................................................. 71 Gambar 4.27: Grafik perbandingan rata-rata delay download berdasarkan ukuran file 6144 KB .............................................................................................................................. 73 Gambar 4.28: Grafik perbandingan rata-rata delay upload berdasarkan file 6144 KB ............ 74 Gambar 4.29: Grafik perbandingan rata-rata packet loss download berdasarkan ukuran file 6144 KB .............................................................................................................................. 75 Gambar 4.30: Grafik perbandingan rata-rata packet loss upload berdasarkan ukuran file 6144 KB .............................................................................................................................. 76

  DAFTAR TABEL

  Tabel 2.1: Persentase packet loss ............................................................................................. 18 Tabel 2.2: Standar delay ........................................................................................................... 19 Tabel 2.3: Kebutuhan aplikasi terhadap parameter performa jaringan .................................... 20 Tabel 4.1: Rata-rata Throughput download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari(dalam Kbps) 33 Tabel 4.2: Rata-rata Throughput upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam Kbps) ... 35 Tabel 4.3: Rata-rata Delay Download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam ms/KB) .... 36 Tabel 4.4: Rata-rata Delay Upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam ms/KB) ........ 38 Tabel 4.5: Rata-rata Packet Loss Download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam %) .. 39 Tabel 4.6: Rata-rata Packet Loss Upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam %) ....... 41 Tabel 4.7: Rata-rata Throughput download WDS NAKULA selama 5 hari (dalam Kbps) ..... 42 Tabel 4.8: Rata-rata Throughput upload WDS NAKULA selama 5 hari (dalam Kbps) ......... 44 Tabel 4.9: Rata-rata Delay Download WDS NAKULA selama 5 hari (dalam ms/KB) .......... 45 Tabel 4.10: Rata-rata Delay Upload WDS NAKULA selama 5 hari (dalam ms/KB) ............. 47 Tabel 4.11: Rata-rata Packet Loss Download WDS NAKULA selama 5 hari (dalam %) ....... 48 Tabel 4.12: Rata-rata Packet Loss Upload WDS NAKULA selama 5 hari (dalam %) ........... 50 Tabel 4.13: Rata-rata Throughput download WDS NAPZA selama 5 hari(dalam Kbps) ....... 51 Tabel 4.14: Rata-rata Throughput upload WDS NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps) ........... 53 Tabel 4.15: Rata-rata Delay Download WDS NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) ............ 54 Tabel 4.16: Rata-rata Delay Upload WDS NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) ................ 56 Tabel 4.17: Rata-rata Packet Loss Download WDS NAPZA selama 5 hari (dalam %) .......... 57 Tabel 4.18: Rata-rata Packet Loss Upload WDS NAPZA selama 5 hari (dalam %) ............... 59 Tabel 4.19: Perbandingan rata-rata Throughput Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps) ..................................................................... 61 Tabel 4.20: Perbandingan rata-rata Throughput Upload WDS Master Grhasia-WAN,

  Tabel 4.21: Perbandingan rata-rata Delay Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) .................................................................. 64 Tabel 4.22: Perbandingan rata-rata Delay Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) ..................................................................................... 65 Tabel 4.23: Perbandingan rata-rata Packet Loss Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam %) .......................................................................... 67 Tabel 4.24: Perbandigan rata-rata Packet Loss Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam %) .......................................................................... 68 Tabel 4.25: Perbandingan rata-rata Throughput Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps) ..................................................................... 70 Tabel 4.26: Perbandingan rata-rata Throughput Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps) ..................................................................... 71 Tabel 4.27: Perbandingan rata-rata Delay Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) .................................................................. 72 Tabel 4.28: Perbandingan rata-rata Delay Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) ..................................................................................... 73 Tabel 4.29: Perbandingan rata-rata Packet Loss Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) .................................................................. 75 Tabel 4.30: Perbandingan rata-rata Packet Loss Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB) .................................................................. 76

  DAFTAR ISI

  LEMBAR JUDUL ....................................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................................ iii HALAMAN PENGESAHAN .................. ................................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN HASIL KARYA .................. ..................................................... v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................. .................... vi ABSTRAK .................. ............................................................................................................ vii ABSTRACT .................. ......................................................................................................... viii KATA PENGANTAR .................. ............................................................................................ ix HALAMAN PERSEMBAHAN .................. ............................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ................................................................................................................... xiv DAFTAR ISI .................. ......................................................................................................... xv

  1 PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1

  1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................................... 1

  1.2 Perumusan Masalah ...................................................................................................... 3

  1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................................... 3

  1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................................ 3

  1.5 Batasan Masalah ........................................................................................................... 4

  1.6 Metodelogi Penelitian ................................................................................................... 4

  1.7 Sistematika Penulisan ................................................................................................... 5

  2 DASAR TEORI ................................................................................................................... 7

  2.1 Jaringan Komputer ....................................................................................................... 8

  2.2 Klasifikasi Jaringan Komputer ..................................................................................... 8

  2.2.1 Wireless Local Area Network ............................................................................. 9

  2.2.1.2 Standart 802.11a/b/g/n ....................................................................... 12

  2.2.1.3 Mode Jaringan WLAN ....................................................................... 13

  2.3 Model Open System Interconnection ......................................................................... 14

  2.4 Model TCP/IP ............................................................................................................. 16

  2.5 Parameter Performansi Jaringan Quality of Service ................................................... 17

  2.6 Alat Pengukuran ......................................................................................................... 21

  2.6.1 Software Axence Net Tool ................................................................................. 21

  2.6.2 DU Meter ........................................................................................................... 20

  3 PERANCANGAN ........................................................................................................... 24

  3.1 Model Jaringan ........................................................................................................... 24

  3.2 Pengolahan dan Analisis Data .................................................................................... 26

  3.2.1 Delay .................................................................................................................. 26

  3.2.2 Throughput ........................................................................................................ 26

  3.2.3 Packet Loss ....................................................................................................... 27

  4 DATA DAN ANALISA KINERJA JARING ................................................................ 32

  4.1 Data Penelitian ............................................................................................................ 32

  4.1.1 Data Kondisi Normal ......................................................................................... 32

  4.1.2 Data Kondisi Sibuk ............................................................................................. 32

  4.2 Data dan Analisa Hasil Kinerja Jaringan .................................................................... 33

  4.2.1 Kondisi Jaringan WDS Grhasia WAN ............................................................... 33

  4.2.1.1 Throughput download ........................................................................ 33

  4.2.1.2 Throughput Upload ............................................................................ 34

  4.2.1.3 Delay Download ................................................................................. 36

  4.2.1.4 Delay Upload ...................................................................................... 37

  4.2.1.5 Packet Loss Download ....................................................................... 39

  4.2.1.6 Packet Loss Upload ............................................................................ 40

  4.2.2 Kondisi Jaringan WDS NAKULA ..................................................................... 42

  4.2.2.1 Throughput download ........................................................................ 42

  4.2.2.2 Throughput Upload ............................................................................ 43

  4.2.2.3 Delay Download ................................................................................. 45

  4.2.2.4 Delay Upload ...................................................................................... 46

  4.2.2.5 Packet Loss Download ....................................................................... 48

  4.2.2.6 Packet Loss Upload ............................................................................ 49

  4.2.3 Kondisi Jaringan WDS Grhasia NAPZA ........................................................... 51

  4.2.3.1 Throughput download ........................................................................ 51

  4.2.3.2 Throughput Upload ............................................................................ 52

  4.2.3.3 Delay Download ................................................................................. 54

  4.2.3.4 Delay Upload ...................................................................................... 56

  4.2.3.5 Packet Loss Download ....................................................................... 57

  4.2.3.6 Packet Loss Upload ............................................................................ 58

  4.3 Analisis Keseluruhan pada Jarak 15 meter, 25 meter, dan 35 meter ........................ 60

  4.4 Analisis Perbandingan Master WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA berdasarakan jarak 25m .............................................................................................. 61

  4.4.1 Throughput download ...................................................................................... 61

  4.4.2 Throughput Upload .......................................................................................... 62

  4.4.3 Delay Download ............................................................................................... 64

  4.4.4 Delay Upload .................................................................................................... 65

  4.4.5 Packet Loss Download ..................................................................................... 67

  4.4.6 Packet Loss Upload .......................................................................................... 68

  4.5 Analisis Perbandingan Master WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA berdasarakan ukuran file 6144 KB ............................................................................. 69

  4.5.1 Throughput download ...................................................................................... 69

  4.5.2 Throughput Upload .......................................................................................... 71

  4.5.3 Delay Download ............................................................................................... 72

  4.5.4 Delay Upload .................................................................................................... 73

  4.5.5 Packet Loss Download ..................................................................................... 74

  4.5.6 Packet Loss Upload .......................................................................................... 76

  4.6 Analisa Menggunakan server external (yahoo.com) ...................................................... 77

  5 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................... 78

  5.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 78

  5.2 Saran ........................................................................................................................... 79 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 80 LAMPIRAN ............................................................................................................................. 82

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Jaringan nirkabel merupakan salah satu alternatif terbaik dalam membangun sebuah jaringan komputer yang praktis. Salah satu teknologi penting dan menjadi trend dalam jaringan komputer adalah teknologi jaringan komputer nirkabel (Wireless

  

Local Area Network / WLAN) [1]. Teknologi ini adalah perkembangan dari teknologi

  jaringan komputer lokal (Local Area Network) yang memungkinkan efisiensi dalam implementasi dan pengembangan jaringan komputer karena dapat meningkatkan mobilitas user dan mengingat keterbatasan dari teknologi jaringan komputer menggunakan media kabel.

  Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi nirkabel antara lain user dapat terhubung ke dalam jaringan untuk mengakses file, mengambil data, serta melakukan koneksi ke internet tanpa perlu menggunakan kabel. Jaringan nirkabel lebih mudah untuk diimplementasikan karena tidak membutuhkan pemasangan kabel yang kompleks sehingga dapat menghemat waktu. Jaringan nirkabel relatif lebih mudah untuk dipelihara dan dilakukan perubahan konfigurasi secara fisik jika ada penambahan user maupun perubahan posisi user.

  LAN menggunakan frekuensi 2,4 Ghz yang disebut juga dengan

  Wireless

  ISM band (Industrial, Scientific, Medical) yang dialokasi oleh FCC (Federal

  

Communication Commission ), sebuah komisi komunikasi dunia untuk keperluan

  industri, sains dan badan kesehatan. Tipe untuk standarisasi wireless LAN terbagi menjadi 802.11a, 802.11b, 802.11g, dan 802.11n [2].

  Rumah Sakit Grhasia DIY sebagai salah satu rumah sakit ternama di kota Yogyakarta mulai mengembangkan teknologi pelayanan. Dengan semakin berkembangnya Rumah Sakit Grhasia, kebutuhan akan jaringan komunikasi semakin komputer di Rumah Sakit Grhasia DIY pada umumnya padat, seperti pengiriman file dan pengunduhan file.

  Pada awalnya, jaringan Rumah Sakit Grhasia DIY masih menggunakan jaringan wired (Local Area Network). Berdasarkan kondisi jarak gedung di Rumah Sakit Grhasia DIY yang begitu luas, sehingga Rumah Sakit Grhasia DIY mengimplementasikan wireless distribution system (WDS) pada jaringan nirkabel. Jaringan nirkabel di RS. Grhasia merupakan jaringan baru yang dikembangkan pada tahun 2012 sebagai pengganti beberapa jaringan LAN dengan tujuan untuk dapat menghemat perawatan jaringan dan mengoptimalkan kinerja para staf yang berada di lingkungan RS. Grhasia.

  WDS memungkinkan interkoneksi beberapa perangkat WLAN dalam satu area jaringan nirkabel, setidaknya hanya menggunakan satu kabel jaringan sebagai jalur backbone pada perangkat WLAN utama. Di RS. Grhasia terdapat 4 AP (access

  

point ) yang berfungsi sebagai alat untuk menerapkan WDS. Access point yang

  terdapat di RS. Grhasia memiliki cakupan jarak yang berbeda-beda. Empat AP tersebut terdiri dari AP Grhasia WAN, AP Nakula, AP IPSRS, dan AP Napza. AP

  IPSRS sendiri masih dalam perencanaan perbaikan. Jaringan nirkabel di RS. Grhasia merupakan jaringan nirkabel yang bersifat outdoor.

  Jaringan nirkabel di RS. Grhasia tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan jaringan nirkabel di RS. Grhasia antara lain; menghemat perawatan jaringan komputer, dapat diakses setiap tempat, dan lebih efektif penggunaannya.

  Kelemahan jaringan nirkabel di RS. Grhasia antara lain; mudah terkena interferensi dan kondisi jarak semakin jauh akan menghambat lajur akses data. Untuk saat ini, jaringan nirkabel hanya dipakai begitu saja tanpa pernah diketahui baik atau buruk kinerjanya.

  Contoh penelitian lain mengenai wireless distribution system (WDS) antara lain analisis performa wireless distribution system konfigurasi pada star dan mesh untuk hotspot area [3]. Peneliti tersebut melakukan perancangan, membangun, menguji, dan mengambil data jaringan wireless untuk hotspot serta menganalisis perbandingan konfigurasi star dan mesh. Pada pengukuran yang dilakukan oleh peneliti tersebut, parameter yang diukur adalah throughput.

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari apakah performansi jaringan nirkabel di Rumah Sakit Ghrasia DIY dapat lebih mengoptimalkan kinerja para staf atau bahkan sebaliknya tidak dapat mengoptimalkan kinerja para staf. Untuk mengetahui jaringan nirkabel terhadap suatu

  

traffic tertentu dibutuhkan parameter Quality of Service (QoS). Parameter tersebut

  antara lain packet loss, packet drop, frame loss, delay, dan jitter. Pada penelitian ini, parameter yang diukur adalah delay, packet loss, dan throughput.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dituliskan beberapa permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini, yaitu:

  1. Bagaimana cara mengetahui performansi kinerja jaringan wireless distribution

  system pada jaringan nirkabel RS. Grhasia?

  2. Bagaimana menganalisa dan menyimpulkan performansi jaringan wireless

  distribution system (baik atau buruk) pada jaringan nirkabel RS. Grhasia?

  3. Bagaimana solusi atau rekomendasi untuk perkembangan performansi kinerja jaringan wireless distribution system pada jaringan nirkabel di RS. Grhasia?

  1.3 Tujuan Penulisan

  Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah memberikan pengetahuan tentang kinerja jaringan nirkabel serta mendapatkan hasil kinerja jaringan melalui pengukuran

  delay, packet loss , dan throughput.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Manfaat dari penelitian ini adalah agar Rumah Sakit Ghrasia DIY dapat mengetahui informasi tentang kinerja jaringan, untuk mengoptimalkannya menjadi

  1.5 Batasan Masalah

  Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas, penulis akan membatasi dalam penulisan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jaringan yang dibahas hanya jaringan nirkabel.

  2. Kinerja yang dianalisis hanya mencakup delay, packet loss, dan throughput.

  3. Model yang ditinjau dalam pengukuran kinerja nirkabel ini adalah workstation yang terletak pada 3 WLAN yang berbeda.

  4. Tidak membahas algoritma routing pada jaringan nirkabel.

  5. Router WLAN yang digunakan adalah router yang ada pada Rumah Sakit Grhasia DIY.

  6. Pengukuran dilakukan selama lima hari (senin, selasa, rabu, kamis, dan jumat).

  Pengambilan data dilakukan sehari 2 kali saat traffic masih dalam keadaan normal yang berkisar sekitar jam 09.00 sampai 12.00 dan pada saat traffic masih keadaan sibuk yang berkisar sekitar jam 12.00 sampai 15.00 (berdasarkan survei dari karyawan).

  1.6 Metodologi Penelitian

  Metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis pada penulisan Tugas Akhir ini adalah:

  1. Studi kasus Mewawancarai beberapa staf RS. Grhasia DIY tentang permasalahan mengenai jaringan nirkabel.

  2. Studi literatur Mempelajari tentang jaringan nirkabel, arsitektur WLAN, FTP, dan parameter performa jaringan dengan mengumpulkan jurnal-jurnal, buku-buku, dan referensi lainnya yang dapat mendukung topik ini.

  3. Model Sistem Penelitian dilakukan berdasarkan arsitektur jaringan nirkabel yang telah berjalan

  4. Metode pengumpulan data Data yang diambil dalam penelitian ini adalah berupa hasil pengukuran terhadap

  delay, packet loss , dan throughput pada jaringan nirkabel.

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  a. Metode observasi Kegiatan observasi dalam penelitian dilakukan untuk melakukan pengujian secara aktif di setiap access point dengan melakukan mengirim file dan mengunduh file pada komputer client (para staf).

  b. Metode dokumentasi Dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambar atau foto tentang tempat penelitian, perangkat dan software serta data-data yang didapat saat penelitian.

  5. Metode analisis data Penulis menganalisa hasil penelitian yang telah didapat dengan melakukan perbandingan terhadap data dari beberapa kali pengukuran dan dicari penyebab jika terjadi perbedaan terhadap data tersebut. Dari hal-hal tersebut dapat ditarik kesimpulan tentang kinerja nirkabel tersebut sudah baik atau belum dan cara-cara dilakukan jika ingin memperbaiki kinerjanya.

1.7 Sistematika Penulisan

  Sistematika yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

  BAB I PENDAHULUAN, menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah yang dihadapi, tujuan penulisan, batasan masalah, metodologi penelitian, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan tugas akhir ini.

  BAB II LANDASAN TEORI, menjelaskan tentang dasar-dasar teori yang digunakan dalam melakukan analisis dan pengukuran pada jaringan komputer di Rumah Sakit Grhasia DIY.

  BAB III RANCANGAN PENELITIAN, menjelaskan tentang rencana kerja yang

  BAB IV HASIL DAN PENGAMATAN, menjelaskan tentang pemodelan jaringan nirkabel, pengukuran dan analisa terhadap hasil pengukuran yang didapat. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, menjelaskan tentang kesimpulan yang didapat setelah melakukan analisa terhadap hasil pembahasan dan saran dari penulis.

BAB II LANDASAN TEORI

  2.1 Jaringan Komputer

  Jaringan komputer merupakan penggabungan teknologi komputer dan komunikasi dari sekumpulan komputer berjumlah banyak yang terpisah-pisah, akan tetapi saling berhubungan dalam melaksanakan tugasnya [4]. Jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Tujuan dari jaringan komputer adalah:

  1. Membagi sumber daya, misalnya membagi printer, CPU, memory, ataupun harddisk .

  2. Komunikasi, misalnya e-mail, instant messanging, dan chatting.

  3. Akses informasi, misalnya web browsing, download file, dan upload file.

  Dalam sebuah jaringan komputer, antara satu komputer dan komputer lainnya, dapat dihubungkan dengan menggunakan media kabel ataupun nirkabel. Pada awal perkembangannya, jaringan kerap kali dihubungkan dengan menggunakan media kabel, namun seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi yang kian pesat, penggunaan media nirkabel kini sudah banyak diterapkan. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya user yang menggunakan laptop, sehingga user dapat mengakses ke dalam jaringan secara mobilitas.

  2.2 Klasifikasi Jaringan Komputer

  Jaringan komputer dapat dibedakan berdasarkan luasnya daerah kerja yang digunakan pada internet tersebut [4]. Rumah Sakit Grhasia DIY juga menerapkan kelima network ini:

  1. Local Area Network

  Local Area Network (LAN) merupakan jaringan komputer bersifat pribadi, yang pabrik-pabrik untuk pemakaian resource bersama (misalnya: printer dan modem) dan saling bertukar informasi.

  2. Metropolitan Area Network

  Metropolitan Area Network (MAN) biasanya terdiri atas dua atau lebih LAN

  dalam satu area geografis. MAN mencakup area geografis sebuah kota seperti jasa televisi kabel dalam sebuah kota dan sebuah bank dengan banyak kantor cabang di suatu kota.

  3. Wide Area Network

  Wide Area Network (WAN) merupakan jaringan yang memiliki luas jangkauan

  yang sangat besar, biasanya meliputi sebuah negara atau benua. WAN terdiri dari

  

kumpulan mesin yang bertujuan untuk menjalankan program-program (aplikasi)

pemakai. Mesin-mesin ini dapat disebut sebagai host ataupun bisa juga end system. Host

dihubungkan oleh sebuah subnet komunikasi, atau cukup di sebut dengan subnet. Tugas

adalah untuk membawa pesan dari satu host ke host lainnya, seperti halnya subnet telepon yang membawa pembicaraan dari pembicara ke pendengar.

  4. Jaringan Tanpa Kabel Komputer mobile, seperti komputer notebook dan personal digital assistant (PDA), merupakan cabang industri komputer yang paling cepat pertumbuhannya.

  Banyak pemilik jenis komputer tersebut mempunyai mesin-mesin desktop personal

  

computer (PC) yang terpasang pada LAN atau WAN dan menginginkan untuk

  terhubung ke komputer pusat. Karena hubungan menggunakan kabel tidaklah mungkin dibuat dalam mobil ataupun pesawat terbang, maka banyak yang tertarik pada jaringan tanpa kabel ini. Sesungguhnya, komunikasi digital tanpa kabel bukanlah hal yang baru.

  5. Internetwork Terdapat banyak jaringan di dunia ini, seringkali dengan perangkat keras dan perangkat lunak yang berbeda-beda. Orang yang terhubung ke jaringan sangat berharap untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain yang terhubung ke jaringan tidak kompatibel dan berbeda. Kadang kala dengan menggunakan sebuah mesin yang disebut gateway untuk melakukan dan melaksanakan terjemahan yang diperlukan, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi disebut internetwork atau internet.

2.2.1 Wireless Local Area Network

  Wireless Local Area Network (WLAN) adalah jaringan komputer yang

  menggunakan frekuensi radio dan infrared sebagai media trasmisi data [5]. Proses komunikasi tanpa kabel ini dimulai dengan munculnya alat-alat berbasis gelombang radio seperti, walkie talkie, remote control, cordless phone dan perangkat radio lainnya. Hal ini menyebabkan adanya keinginan untuk menjadikan komputer sebagai barang yang mudah dibawa (mobile) dan mudah digabungkan dengan jaringan yang sudah ada. Akhirnya muncul pengembangan teknologi wireless untuk jaringan komputer.

  Jaringan nirkabel cocok untuk diterapkan di lokasi yang sukar atau tidak mungkin untuk memasang kabel jaringan. Untuk menerapkan jaringan nirkabel, PC harus dilengkapi dengan kartu wireless LAN, yang berfungsi untuk mengirim dan menerima sinyal radio dari PC ke PC lain dalam jaringan.

2.2.1.1 Wireless Distribution System

  Wireless Distribution System (WDS) memungkinkanngkan menggunakan beberapa access point tanpa harus

  memerlukamenghubungkan mereka, seperti cara tradisional [6]. Keuntungan yang bisa dilihat dari Wireless Distribution System dibanding solusi lainnya adalah bahwa dengan Wireless Distribution System, header MAC address dari paket traffic tidak berubah antar link access point. Tidak seperti pada proses encapsulation misalnya padyang selalu menggunakan MAC address pada hop berikutnya.

  Suatu access point bisa menjadi sebuah station utama, relay, atau remote base

  

Ethernet . Base station relay merelay station-2 kepada base station utama atau relay

station lainnya. Remote base station menerima koneksi dari client wireless dan

  melewatkannya ke main station atau ke relay station juga. Koneksi antar client menggunakan MAC address dibanding memberikan spesifikasi IP address.

  Semua base station dalam Wireless Distribution System (WDS) harus dikonfigurasi menggunakan channel radio yang sama, methoda enkripsi (tanpa enkripsi,dan juga kunci enkripsi yang sama. WDS bisa dikonfigurasi dengan menggunakan service set identifiers (SSID) yang berbeda sebagai identitas. Wireless Distribution System (WDS) juga mengharuskan setiap base station untuk bisa melewatkan kepada lainnya didalam system.

  Wireless Distribution System (WDS) bisa juga direferensikan sebagai mode

repeater, karena WDS bisa tampak sebagai Bridge dan juga menerima wireless client

  pada saat bersamaan (tidak seperti system bridge tradisional). Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa throughput dalam metoda ini adalah menjadi setengahnya untuk semua client yang terhubung secara wireless. Wireless Distribution System (WDS) bisa digunakan dalam dua jenis mode konekstivitas antar access point.

  1. Wireless Bridging Komunikasi access point Wireless Distribution System hanya satu dengan lainnya (antar AP) dan tidak membolehkan wireless client lainnya atau Station

  (STA) untuk mengaksesnya.

  2. Wireless repeater

  Access point berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan wireless Station (STA).

  Ada dua kerugian dalam system Wireless Distribution System (WDS) ini:

  1. Throughput efektif maksimum adalah terbagi dua setelah transmisi pertama (hop) dibuat. Misalkan, dalam kasus dua router dihubungkan system Wireless

  Distribution System (WDS), dan komunikasi terjadi antara satu komputer yang

  terhubung ke router A dengan sebuah laptop yang terhubung secara wireless separuhnya, karena router B harus re-transmit informasi selama komunikasi antara dua belah sisi. Akan tetapi jika sebuah komputer dikoneksikan ke router A dan notebook di koneksi kan ke router B (tanpa melalui koneksi wireless), maka troughput tidak terbelah dua karena tidak ada re-transmit informasi.

  2. Kunci enkripsi yang secara dinamis di berikan dan dirotasi biasanya tidak disupport dalam koneksi Wireless Distribution System (WDS). Ini berarti

  dynamic enkripsi WPA (Wi-Fi Protected Access) dan technology dynamic key

  lainnya dalam banyak kasus tidak dapat digunakan, walaupun WPA menggunakan pre-shared key adalah memungkinkan. Hal ini dikarenakan kurangnya standarisasi dalam issue ini, yang mungkin saja di selesaikan dengan standard 802.11s mendatang.

  Dengan Wireless Distribution System, infrastrucktur wireless tanpa harus membangun backbone kabel jaringan sebagai interkoneksi antar bridge. Wireless

  

Distribution System fitur memungkinkan membuat jaringan 2 wireless yang besar

dengan cara membuat link beberapa wireless access point dengan WDS Links.

Wireless Distribution System normalnya digunakan untuk membangun jaringan yang

  besar dimana menarik kabel jaringan adalah tidak memungkinkan, alias mahal, terbatas, atau secara fisik tidak memungkinkan untuk ditarik. Gambar 2.1 adalah

  access point yang dihubungkan dengan WDS Link point to point.

Gambar 2.1 WDS Link point to point [6].Gambar 2.2 adalah access point yang dihubungkan dengan WDS Link point to Multi Point.Gambar 2.2 WDS Link point to Multi Point [6].

2.2.1.2 Standart 802.11a/b/g/n

  Pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11 [2]. Peralatan yang sesuai standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4 GHz, dan kecepatan transfer data (throughput) teoritis maksimal 2 Mbps. Pada bulan Juli 1999, IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama 802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11 Mbps. Kecepatan transfer data sebesar ini sebanding dengan Ethernet tradisional (IEEE 802.3 10 Mbps atau 10 Base-T). Peralatan yang menggunakan standar 802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4 GHz. Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi sama.

  Pada saat hampir bersamaan, IEEE membuat spesifikasi 802.11a yang menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5 GHz, dan mendukung kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54 Mbps. Gelombang radio yang dipancarkan oleh peralatan 802.11a relatif sukar menembus dinding atau penghalang lainnya. Jarak jangkau gelombang radio relatif lebih pendek dibandingkan 802.11b. Secara teknis, 802.11b tidak kompatibel dengan 802.11a. Namun saat ini cukup banyak pabrik hardware yang membuat peralatan yang mendukung kedua standar tersebut.

  Pada tahun 2002, IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat menggabungkan kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54 Mbps. Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan kartu jaringan 802.11g dapat memanfaatkan access point 802.11b, dan sebaliknya.

2.2.1.3 Mode Jaringan WLAN

  Jaringan nirkabel dikonfigurasi ke dalam dua jenis jaringan, yaitu

  1. Peer-to-Peer/Ad Hoc LAN

  Ad-Hoc merupakan mode jaringan WLAN yang sangat sederhana, karena pada

ad-hoc ini tidak memerlukan access point agar host dapat saling berinteraksi [7].

Device ini dapat saling berhubungan berdasarkan nama Service Set Identifier (SSID).

  SSID adalah nama identitas komputer yang memiliki komponen nirkabel.

Gambar 2.3 Mode Ad Hoc [8].

  2. Jaringan Server Based/wireless Infrastructure Mode infrastruktur access point berfungsi untuk melayani komunikasi utama pada jaringan wireless [7]. Access point mentransmisikan data pada komputer dengan jangkauan tertentu pada suatu daerah. Penambahan dan pengaturan letak access point dapat memperluas jangkauan dari WLAN.

2.3 Model Open System Interconnection

  Open System Interconnection (OSI) terdiri dari tujuh layer yang terpisah, tapi

  saling berhubungan, setiap bagian mendefinisikan bagaimana informasi berjalan melalui jaringan [10]. Dalam arsitektur ber-layer komunikasi antara dua layer yang berhubungan menggunakan paket data yang disebut protocol data unit (PDU). Berikut penjelasan tiap-tiap layer dari OSI layer bawah ke atas: 1.

   Physical Layer Physical Layer mencakup interface fisik antara peralatan dan peraturan

  dimana setiap bit berpindah dari satu ke lainnya. Contoh: hub dan repeater.

  2. Data link Layer Data link layer bertujuan untuk membuat physical link menjadi lebih reliable

  dan menyediakan suatu cara untuk mengaktivasi, menjaga, dan menonaktifkan suatu link. Service utama yang disediakan oleh layer data link terhadap layer di atasnya adalah suatu error detection dan control. Contoh: switch dan bridge.

  3. Network Layer Network layer tersedia untuk transfer informasi antara end system pada suatu

  jaringan komunikasi. Pada layer ini sistem komputer berdialog dengan network untuk menjelaskan alamat tujuan dan untuk me-request beberapa fasilitas jaringan. Contoh: router.

  4. Transport Layer Transport Layer menyediakan suatu mekanisme untuk menukar data antara end system . Transport layer juga dapat digunakan untuk mengoptimasikan

  kegunaan dari service network dan menyediakan suatu kualitas permintaan dari layanan untuk entitas session. Contoh: Transmission Control Protocol (TCP), User Datagram Protocol (UDP).

  5. Session Layer Session Layer mengatur dialog antar jaringan. Tugas lain yang spesifik adalah

  penyelarasan yang dilakukan saat pengiriman data. Layer ini juga mensinkronisasi dialog diantara dua host layer presentation dan mengatur pertukaran data. Contoh: OS dan penjadwalan suatu aplikasi.

  6. Presentation layer Layer ini bertugas untuk mengubah kode/data yang dikirim oleh aplikasi

  pengirim menjadi format yang lebih universal. Di penerima, layer ini bertanggung jawab memformat kembali data ke data. Jika diperlukan pada layer ini dapat menterjemahkan beberapa data format yang berbeda, kompresi dan enkripsi. Contoh: JPEG, GIF, ASCII, EBCDIC.

  7. Application layer Layer ini adalah layer yang paling dekat dengan user, layer ini menyediakan

  sebuah layanan jaringan kepada pengguna aplikasi. Layer ini berbeda dengan layer lainnya yang dapat menyediakan layanan kepada layer lain. Contoh: Telnet, HTTP, FTP, WWW browser, SMTP Gateway / mail client (outlook).

Gambar 2.5 Lapisan komunikasi data (OSI layer) dan TCP/IP [11]

2.4 Model TCP/IP

  Arsitektur protokol Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) merupakan hasil dari penelitian protokol dan pengembangan dilakukan pada jaringan percobaan packet-switched, ARPANET, yang didanai DARPA, dan secara umum ditujukan sebagai satu set protokol TCP/IP [10]. Set protokol ini terdiri atas sekumpulan besar protokol yang telah diajukan sebagai standard internet oleh

  Internet Architecture Board (IAB).

  Model TCP/IP terdiri atas lima layer, yaitu:

  1. Physical Layer

  Physical layer meliputi antar muka fisik diantara alat transmisi data dan media

  transmisi atau jaringan, layer ini bekerja dengan menspesifikasi karakteristik dari media transmisi, dasar dari sinyal, kecepatan data, dan sebagainya.

  2. Network access layer Meliputi pertukaran data antara end system (server, workstation, dan sebagainya) dan jaringan dimana sistem itu terhubung. Komputer yang mengirim harus menyediakan jaringan dengan alamat dari komputer yang dituju, agar jaringan dapat mengirimkan data pada alamat yang benar.

  3. Internet layer

  Internet layer hampir sama dengan network access layer namun internet layer

  menggunakan protokol internet untuk menyediakan fungsi routing yang meliputi banyak jaringan. Protokol ini tidak hanya pada end system saja tetapi bekerja di

  router .

  4. Host-tohost layer

  Layer ini disebut juga Transport layer berfungsi untuk menjamin agar data

  yang dikirim sampai ke alamat tujuan, dan data yang diterima sama dengan data yang dikirim.

  5. Application Layer Berisi logika yang dibutuhkan untuk mendukung berbagai aplikasi user, misalkan aplikasi untuk mengirim file, modul yang terpisah diperlukan secara khusus untuk aplikasi tersebut.

2.5 Parameter Performansi Jaringan Quality of Service

  Quality of Service (QoS) didefinisikan sebagai suatu pengukuran tentang

  seberapa baik suatu jaringan dan merupakan suatu usaha untuk mendefinisikan karaktristik dan sifat dari suatu layanan [12]. QoS mengacu pada kemampuan suatu jaringan untuk menyediakan layanan yang lebih baik pada trafik jaringan tertentu dengan teknologi yang berbeda-beda. Tujuan dari QoS adalah untuk memenuhi layanan yang berbeda yang menggunakan infrastruktur yang sama.

  Kinerja jaringan dapat bervariasi akibat dari beberapa masalah, seperti halnya masalah bandwidth, delay, jitter, throughput, dan packet loss yang dapat membuat efek yang cukup besar bagi beberapa aplikasi. Sebagai contoh, komunikasi suara atau

  

video streaming dapat membuat pengguna mengeluh ketika paket data yang dialirkan

  di atas bandwidth yang tidak cukup baik dengan delay yang tidak dapat diprediksi atau jitter yang berlebihan. Fitur QoS bisa digunakan untuk memprediksi bandwidth,

  jitter, dan delay dapat diprediksi.

  Beberapa alasan yang menyebabkan QoS penting adalah: 1. Memberikan prioritas terhadap aplikasi-aplikasi yang kritis.

  2. Memaksimalkan penggunaan investasi jaringan.

  3. Merespon perubahan aliran trafik yang ada di jaringan.

  4. Meningkatkan performansi untuk aplikasi yang sensitif terhadap delay, seperti voice dan video.

  Terdapat banyak hal yang bisa terjadi pada paket ketika ditransmisikan dari asal sampai tujuan yang mengakibatkan masalah-masalah dilihat dari sudut pandang pengirim atau penerima, dan sering disebut dengan parameter-parameter QoS.

  1. Throughput

  Throughput yaitu kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dengan

  satuan bps (bit per second). Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sampai ke tujuan selama interval tertentu dibagi oleh durasi interval waktu tersebut. Ada juga yang disebut dengan goodput. Goodput merupakan kecepatan transfer yang berada antara aplikasi di pengirim ke aplikasi di penerima. Semakin besar nilai throughput, maka semakin baik kualitas jaringan tersebut. Jika tp adalah throughput, dz adalah ukuran data yang dikirim, dan t adalah waktu yang dibutuhkan, maka rumus untuk menentukan throughput jaringan komputer sebagai berikut:

  t dz Throughput

   …………………………………(2.1)

  2. Packet Loss

  Packet Loss merupakan parameter yang menunjukkan jumlah total paket yang

  hilang pada saat transmisi. Packet loss diukur dalam persen (%). Paket dapat hilang karena disebabkan oleh collision dan congestion pada jaringan. Jika terjadi

  congestion yang cukup lama, maka buffer akan penuh dan tidak bisa menampung data baru yang akan diterima, sehingga mengakibatkan paket selanjutnya hilang.

  Adapun tabel untuk menunjukkan persentase packet loss untuk jaringan, berdasarkan standar

  ITU-T X.642 (rekomendasi X.642 International

  Telecommunication Union) adalah : Tabel 2.1 Persentase packet loss [12].

  

Kategori Degredasi Packet Loss

  Sangat bagus Bagus 1-3% Sedang 4-15% Jelek 16-25%

  Pd Packet loss   100 %

  …………………………..(2.2)

  Ps

  dengan Pd adalah jumlah paket yang mengalami drop, dan Ps adalah jumlah paket yang dikirim.

  3. Packet Drop

  Packet drop berkaitan dengan antrian pada link. Jika ada paket datang pada

  suatu antrian yang sudah penuh, maka paket akan didrop / dibuang sesuai dengan jenis antrian yang dipakai.

  4. Delay (Latency)

  Delay adalah waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh jarak dari asal

  sampai ke tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, congestion atau juga waktu proses yang lama. Selain itu adanya antrian atau mengambil rute lain untuk menghindari kemacetan juga dapat mempengaruhi delay, oleh karena itu mekanisme antrian dan routing juga berperan. Adapun tabel untuk menunjukkan performa kategori delay untuk jaringan, berdasarkan standar ITU-T X.642 (rekomendasi X.642 International Telecommunication Union) adalah :

Tabel 2.2 Standar delay [12]

  Kategori Delay Besar Delay Excellent < 150 ms Good 150 s/d 300 ms Poor 300 s/d 450 ms Unacceptable > 450 ms

  Secara sistematis, packet loss dapat dihubungkan dengan cara:

  L Delay

  …………………………………….(2.3)

  R dengan L adalah packet length (bit/s), dan R adalah link bandwith (bit/s).

  5. Jitter

  Jitter didefinisikan sebagai variasi delay dari sebuah paket yang berasal dari

  aliran data yang sama. Jitter yang tinggi artinya perbedaan waktu delay-nya besar, sedangkan jitter yang rendah artinya perbedaan waktu delay-nya kecil. Jitter dapat diakibatkan oleh variasi-variasi panjang antrian, waktu pengolahan data, dan juga dalam waktu penghimpunan ulang (reasembly) paket-paket di akhir perjalanan.

  6. Reliability

  Realibility adalah karakteristik kehandalan sebuah aliran data dalam jaringan internet . Masing-masing program aplikasi memiliki kebutuhan realibility yang

  berbeda. Untuk proses pengiriman data, e-mail, dan pengaksesan internet jaringan

  internet harus dapat diandalkan dibandingkan dengan konferensi audio atau saluran telepon.

  7. Bandwidth

  Bandwidth adalah lebar jalur yang dipakai untuk transmisi data atau kecepatan jaringan. Aplikasi yang berbeda membutuhkan bandwidth yang berbeda.

  Dalam beberapa aplikasi, kebutuhan akan parameter performa jaringan di atas berbeda-beda. Adapun tabel untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan ini adalah:

Tabel 2.3 Kebutuhan aplikasi terhadap parameter performa jaringan [12].

  Aplication Reliability Delay Jitter Bandwidth

E-mail High Low Low Low

File transfer High Low Low Medium

  

Web Access High Medium Low Medium

Remote login High Medium Medium Low

Audio on demand Low Low High Medium Video on demand Low Low High High

  

Telephony Low High High Low

2.6 Alat Pengukuran

  Proses pengukuran dalam Tugas Akhir ini akan menggunakan Software dan DU meter.

  Axence Net Tool

2.6.1 Software Axence Net Tool

  Software Axence Net Tool ini dibuat oleh Axence Software, Inc yang berfungsi

  untuk memonitor performansi jaringan dengan cepat. Axence Net Tool berbasis grafik

  

(GUI) sehingga dapat mudah dipahami. Terdapat berbagai macam menu yang dapat

digunakan untuk mengukur performansi jaringan.

  1. New Watch Menu ini menampilkan host yang dimonitor, response time dan paket yang dikirim maupun yang hilang. Terdapat juga grafik yang menunjukkan antara

  response time dan packet lost (%).

  2. Win Tool Untuk mengidentifikasi informasi tentang perangkat/device yang dimiliki suatu host.

  3. Local Info Menampilkan beberapa tabel informasi tentang konfigurasi jaringan seperti statistik TCP/UDP dan ICMP, IP address table, ARP table, IP routing table, dan informasi network adapter.

  4. Net Stat Menampilkan daftar koneksi yang masuk dan koneksi yang keluar, dan informasi tentang port-port TCP/UDP.

  5. Ping Melakukan pengecekan terhadap koneksi suatu host dengan proses ping.

  6. Trace Menunjukkan rute koneksi dan informasi yang dilakukan suatu host.

  7. Lookup

  8. Bandwidth Untuk mengetahui berapa bandwidth yang ada dijaringan.

  9. Net Check Untuk mengukur kualitas hardware yang ada di jaringan.

  10. TCP/IP Workshop Untuk melakukan troubleshooting terhadap koneksi TCP dan UDP serta melakukan tes terhadap layanan yang berbeda.

  11. Scan Host Melakukan scanning terhadap host yang berada di jaringan beserta port-port yang digunakan.

  12. Scan Network Melakukan scanning terhadap jaringan untuk menemukan IP address, nama host, MAC, service, system dan response time.

  13. SNMP Untuk melakukan pencarian informasi terhadap suatu host dengan memakai bantuan SNMP agent.

2.6.2 DU Meter

  DU Meter merupakan sebuah software untuk mengukur kecepatan transfer data aktual atau throughput sebuah jaringan. Tanda anak panah ke bawah dengan warna merah menunjukkan transfer rate karena aktivitas download, sedangkan tanda anak panah ke atas dengan warna hijau menunjukkan transfer rate karena aktivitas

  upload.

Gambar 2.7 Grafik pengukuran menggunakan DU Meter.

BAB III PERANCANGAN

3.1 Model Jaringan

  Sebagai salah satu contoh model jaringan yang dimiliki oleh Rumah Sakit DIY, jaringan internet tersebut dihubungkan dari jaringan kantor provinsi kepatihan dan melalui Internet Service Provider Jogja Media Net (ISP JMN). Contoh model jaringan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.1 sebagai berikut:

  Kantor Jogja Media Net Provinsi Kepatihan RS. Grhasia

5 Mbps

  WDS-1 AP – Nakula 512 Kbps 192.168.96.21 PoE Master-WDS AP – Grhasia WAN 192.168.96.23 PoE Switch

  WDS-2 Rawat inap AP – IPSRS Klinik Jiwa Server WDS-3 PoE AP – NAPZA Gudang AP Ghrasia

  192.168.96.22

3 Arimbi Sadewa AP Ghrasia 1 Bima AP Ghrasia 2 Srikandi Gizi

Gambar 3.2 menunjukkan jaringan nirkabel yang dimiliki oleh RS. Grhasia

  DIY. Jaringan Wireless Distribution System (WDS) menghubungkan access point utama antar access point Nakula, access point IPSRS, dan access point NAPZA melalui jaringan nirkabel.

  WDS-1 AP – Nakula 192.168.96.21 ter me

5 Mbps ± 132 PoE Switch Master-WDS AP

  • – Grhasia WAN

    512 Kbps 192.168.1.23 WDS-2 AP
  • – IPSRS PoE ± 63 m ete r WDS-3 AP – NAPZA 192.168.96.22 PoE Gambar 3.2 Model Jaringan yang Dianalisis.

  Terdapat beberapa asumsi sebelum melakukan pengukuran terhadap kinerja jaringan seperti Gambar 3.2. Asumsi tersebut adalah:

  1. Pengukuran yang dilakukan tidak mempertimbangkan kondisi internal yang ada dalam jaringan nirkabel WDS, misalnya gangguan pada media transmisi.

  2. Pengukuran hanya dilakukan pada Rumah Sakit Grhasia DIY dari access

  point Ghrasia WAN, access point Nakula, dan access point NAPZA. Tidak

  melakukan pengukuran pada AP IPSRS, karena AP IPSRS masih dalam perencanaan pengembangan.

  3. Besar bandwidth yang disediakan oleh kantor Provinsi Kepatihan 5 Mbps, dan besar bandwidth yang disediakan untuk jaringan WDS 512 Kbps.

  4. Frekuensi perangkat access point yang digunakan adalah 2,4 GHz.

  5. Paket yang akan dikirimkan ke server email yahoo.com sebesar 1 MB, 3 MB, 5 MB, 6 MB (berdasarkan dengan kebutuhan para staf RS. Grhasia DIY).

3.2 Peta Lokasi

3.2.1 Posisi WDS

  Peta keseluruhan WDS yang ada di Rumah Sakit Grhasia dapat dilihat pada gambar 3.3 sebagai berikut:

3.2.2 Posisi User

Gambar 3.4 menunjukkan posisi user/staf yang berada di jaringan WDS Master Grhasia-WAN. Ruang Rekam Klinik Umum Klinik Ruang Ruang Kassa Up

  Medis (CM) Psikologi dan Alkukuntur Apotek Klinik Gigi Ruang Gedung Utama Pendaftaran

  Informasi Gambar 3.4 Peta posisi user di WDS Master Grhasia-WAN.

Gambar 3.5 menunjukkan posisi user/staf yang berada di jaringan WDS NAPZA.

  

Gedung Napza

U p

Gambar 3.5 Peta posisi user di WDS NAPZAGambar 3.6 menunjukkan posisi user/staf yang berada di jaringan WDS NAKULA.

  Gedung Srikandi Ba Ji

  Gedung Nakula w ng sa a W l Pa an si ita en

  Ba ng sa l Pa si en Ji w a Pri a

Gambar 3.6 Peta posisi user di WDS NAKULA

3.2.3 Posisi Penguji

Gambar 3.7 menunjukkan posisi penguji yang berada di jaringan WDS Master Grhasia-WAN.Gambar 3.8 menunjukkan posisi penguji yang berada di jaringan WDS NAPZA.Gambar 3.8 Peta posisi penguji di WDS NAPZA Gambar 3.9 menunjukkan posisi penguji yang berada di jaringan WDS NAKULA.

3.3 Pengolahan dan Analisis Data

  3.3.1 Delay

  Pengukuran delay dilakukan dengan mengirim dan mengunduh file yang disimpan pada server email yahoo.com dari client workstation sebagai client. Dari data hasil pengunduhan file tersebut, waktu yang dibutuhkan data dari server sampai pada client akan dapat diketahui. Delay akan dibandingkan dengan teori-teori yang ada. Dari hasil perbandingan tersebut, besarnya delay dapat diketahui apakah termasuk dalam kategori baik atau buruk. Jika termasuk dalam kategori buruk, maka penyebab dari perbedaan waktu atau besarnya delay pada setiap pengiriman paket akan dicari.

  3.3.2 Throughput

  Pengukuran dilakukan tiap-tiap access point dengan melakukan mengirim file dan mengunduh file dari server di internet dari client workstation melalui jaringan WDS nirkabel. Penggunaan DU Meter akan langsung memperlihatkan besarnya

  

throughput. Besarnya throughput masuk dapat diketahui apakah masuk klasifikasi

  baik atau buruk. Dari hasil tersebut, penyebab throughput dan pengaruh besar paket yang dikirimkan terhadap besarnya throughput dapat dianalisis.

  3.3.3 Packet Loss

  Dari hasil pengukuran, besarnya packet loss pada setiap pengiriman dan pengunduhan data dari server dapat dilihat. Berdasarkan standar ITU-T X.642, standar persentase packet loss untuk jaringan adalah sebagai berikut: Sangat bagus (0%), Bagus (1% - 3% ), Sedang (4-15%), dan Jelek (16% - 25%) [12]. Berdasarkan standarisasi tersebut, packet loss saat pengiriman tersebut termasuk dapat diketahui apakah dalam ketegori sangat bagus, bagus, sedang ataupun jelek.

3.4 Rencana Kerja

  Rencana kerja yang digunakan dalam proses pengukuran adalah sebagai

  1. Pengukuran dilakukan dua kali, yaitu:

  a. Pada jam 09.00

  • – 12.00 dalam lima hari. Dilakukan pada saat traffic dalam keadaan normal.

  b. Pada jam 12.00

  • – 15.00 dalam lima hari. Dilakukan pada saat traffic dalam keadaan sibuk (berdasarkan survey dari karyawan).

  2. Penulis melakukan pengujian secara aktif di setiap access point dengan melakukan mengirim file dan mengunduh file.

  3. Melihat pada output alat pengukuran, saat melakukan mengirim file dan mengunduh file, pengukuran packet loss akan dilakukan dengan menggunakan Software Axence Net Tool dan pengukuran throughput akan dilakukan menggunakan DU meter.

  4. Analisa terhadap hasil pengukuran yang didapat pada jaringan nirkabel WDS di RS. Grhasia DIY.

BAB IV DATA DAN ANALISA KINERJA JARINGAN

4.1 Data Penelitian

  Hasil pengukuran yang didapat dari penelitian selama 4 bulan adalah data mentah yang didapat dari Axence Net Tool dan DU meter. Data tersebut digunakan untuk menghitung besarnya delay, packet loss, dan throughput.

  Data mentah yang sudah didapat kemudian dihitung menggunakan persamaan pada bab 2. Packet loss didapatkan dari prosentase paket yang mengalami drop dengan paket yang dikirim. Hasil perhitungan parameter-parameter kinerja jaringan

  

Wireless Distribution System (WDS) di Rumah Sakit Ghrasia DIY disajikan dalam

tabel pada masing-masing kondisi berikut ini.

  4.1.1 Data Kondisi Normal

  Data performansi jaringan pada kondisi normal diambil pada waktu jam kerja yaitu pada pukul 09.00 sampai 12.00 secara realtime (survey). Pengguna jaringan saat kondisi normal pada setiap WDS berbeda-beda. Pengguna jaringan master WDS Grhasia WAN rata-rata 8 pengguna, WDS Nakula rata-rata 4 pengguna, dan WDS NAPZA rata-rata 6 pengguna.

  4.1.2 Data Kondisi Sibuk

  Data performansi jaringan pada kondisi sibuk diambil pada waktu jam kerja yaitu pada pukul 13.00 sampai 16.00 secara realtime (survey). Pengambilan data ini selama waktu transisi dari waktu akhir bulan Oktober sampai pertengahan bulan Januari. Pengguna jaringan saat kondisi sibuk pada master WDS Grahsia WAN rata- rata 12 pengguna, WDS Nakula rata-rata 7 pengguna, dan WDS NAPZA rata-rata 9 pengguna.

4.2 Data dan Analisa Hasil Kinerja Jaringan

4.2.1 Kondisi Jaringan WDS Grhasia WAN

  Jaringan WDS Grhasia-WAN merupakan master jaringan wireless yang terdapat di Rumah Sakit Grhasia. Router WDS Grhasia-WAN terletak di gedung utama yang bersebelahan dengan gedung IGD.

4.2.1.1 Throughput download

  Berdasarkan hasil pengukuran jarak 15 meter, 25 meter, dan 35 meter yang telah dilakukan, besarnya rata-rata throughput jaringan wireless distribution system di Rumah Sakit Grhasia pada saat pengujian download dapat digambarkan seperti

Gambar 4.1. Jarak keseluruhan throughput yang dihasilkan pada jarak 15 meter lebih besar dari pada saat pengujian jaringan WDS Grhasia WAN pada jarak 25 meter dan

  35 meter. Jarak yang semakin jauh menyebabkan luas cakupan signal menjadi lemah dan terbagi dengan jumlah pengguna yang lain, sehingga pengguna pada jarak yang jauh throughput menjadi kecil. Tabel 4.1 menunjukkan rata-rata data pengukuran

  

throughput download file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB yang

dilakukan selama lima hari.

Tabel 4.1 Rata-rata throughput download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam Kbps)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m

  1024 423.9 271.72 347.9 160.76

  96.04

  88.04 416.9 277.24 325.78 158.06

  89.9

  82.6

  3072 5120 354.14 283.74 321.12 156.16

  94.66

  80.04

  6144 395.5 268.08 339.16 147.64

  92.98

  83.94 Dari ketiga jarak perbedaan antara keadaan sibuk terlihat throughput lebih yang berukuran 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB menunjukkan

  

throughput yang hampir terlihat sama yaitu dibawah 90 kbps. Hal ini dikarenakan

  banyaknya pengguna jaringan tersebut dalam keadaan sibuk, sehingga besarnya throughput menjadi semakin kecil.

  Sesuai dengan teori, semakin besar throughput, semakin baik kualitas jaringan tersebut. Kepadatan pada jam sibuk membuat kualitas throughput lebih jelek daripada jam normal. Dari ketiga jarak selama 5 hari cenderung terlihat stabil karena

  

throughput waktu sibuk selalu di bawah waktu normal. Jadi kualitas jaringan waktu

normal lebih baik daripada waktu sibuk.

Gambar 4.1 Grafik rata-rata throughput download WDS Grhasia-WAN

4.2.1.2 Throughput Upload

Tabel 4.2 menunjukkan data yang didapat selama lima hari berupa rata-rata dari throughput upload WDS Grhasia-WAN berdasarkan ukuran file di ketiga jarak.

  berdasarkan jarak juga dapat digambarkan dalam grafik pada

  Throughput upload

Tabel 4.2 Rata-rata Throughput upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam Kbps)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m

  1024 242.78 152.28 105.36 100.48

  67.6

  45.66

  3072 224.48 144.6 122.54 106.88

  73.6

  55.54

  5120 213.02 148.52 124.76 107.82

  71.8

  59.16

  6144 221.86 141.28 111.42 100.34

  74.76

  54.48 Gambar 4.2 Grafik rata-rata throughput upload WDS Grhasia-WAN

Gambar 4.2 menunjukkan throughput upload pada ketiga jarak dalam keadaan sibuk dan normal selama lima hari. Pada 15m throughput pada keadaan normal selalu

  lebih besar daripada keadaan sibuk, jadi semakin besar throughput, kualitas jaringan semakin baik. Sebagai contoh file dengan ukuran 6144 KB pada jarak 15m sebesar 221.86 Kbps pada saat kondisi normal dan 141.28 Kbps pada saat kondisi sibuk.

  Jika mengacu pada BAB 2 sesuai dengan teori throughput yaitu semakin besar throughtput pada sebuah jaringan semakin baik juga kualitas jaringannya. keadaan normal dan pada keadaan sibuk throughput di ketiga jarak dalam kondisi yang sama. Throughput upload saat kondisi normal lebih tinggi daripada kondisi sibuk. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic pada kondisi sibuk lebih tinggi sehingga

  

throughput menjadi lebih kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan

sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

4.2.1.3 Delay Download

Tabel 4.3 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) download berdasarkan jarak. Gambar 4.3 menunjukkan delay download berdasarkan jarak

  dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

Tabel 4.3 Rata-rata Delay Download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam ms/KB)

  

File Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

(KB) 15m 15m 25m 25m 35m 35m

1024

  32.94

  58 87.84 107.4 166.28 184.9 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  3072

  38.01

  72.46 92.37 113.13 172.79 191.74 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  5120

  41.25

  78.54 98.98 121.42 179.08 201.38 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  6144

  60.5 84.72 103.5 130.88 186.24 210.27 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) download pada jarak 15m dan 25m saat kondisi normal maupun sibuk termasuk dalam kategori excellent, sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) download juga semakin besar. download WDS Grhasia-WAN saat kondisi sibuk lebih besar dari pada

  Delay

  saat kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada di bab 2, yaitu semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya

  congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.3 Grafik rata-rata delay download WDS Grhasia-WAN

4.2.1.4 Delay Upload

Tabel 4.4 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) upload selama 5 hari. Gambar 4.4 menunjukkan delay upload berdasarkan jarak dengan

  ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

Tabel 4.4 Rata-rata Delay Upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam ms/KB)

  

File Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

(KB) 15m 15m 25m 25m 35m 35m

1024

  94.8 110.6 126.64 144.86 172.56 194.3 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  

3072 107.18 123.99 134.69 159.71 184.51 217.63

  (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good) 119.8 135.13 145.49 171.29 203.09 230.43

  5120

  (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good)

  

6144 130.06 146.95 157.9 186.36 217.27 249.57

  (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good) Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) upload pada jarak 15m dan 25m saat kondisi normal maupun sibuk termasuk dalam kategori excellent. Perubahan delay upload pada jarak 25m dimulai dari file yang berukuran 3072 KB saat kondisi sibuk. Sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) upload juga semakin besar.

  Delay upload WDS Grhasia-WAN saat kondisi sibuk lebih besar dari pada

  saat kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada di bab 2, yaitu semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya

  congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.4 Grafik rata-rata delay upload WDS Grhasia-WAN

4.2.1.5 Packet Loss Download

Tabel 4.5 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss download selama 5 hari. Gambar 4.5 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet loss

  selama 5 hari berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, 6144 KB.

Tabel 4.5 Rata-rata Packet Loss Download WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam %)

  File (KB) Normal 15m Sibuk 15m

  

Normal

25m

Sibuk 25m Normal 35m Sibuk 35m 1024 3072 5120 6144

  0.2 Kinerja packet loss pada Gambar 4.5 menunjukkan perbedaan packet loss

  

download pada 3 jarak jaringan WDS Grhasia-WAN. Besar packet loss dalam

  kondisi normal di masing-masing jarak dalam kategori sangat bagus sesuai dengan standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1%. Ukuran file 6 MB pada jarak 25m dalam kondisi sibuk, besar packet loss masuk dalam kategori sangat bagus karena kurang dari 1%.

Gambar 4.5 Grafik rata-rata packet loss download WDS Grhasia-WAN

4.2.1.6 Packet Loss Upload

Tabel 4.6 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss upload selama 5 hari. Gambar 4.6 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet loss selama 5 hari

  berdasarkan berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, 6144 KB.

Tabel 4.6 Rata-rata Packet Loss Upload WDS Grhasia-WAN selama 5 hari (dalam %)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m 1024 3072

  0.2

  5120

  0.8

  6144

  0.4

  0.4

  0.8 Kinerja packet loss pada Gambar 4.6 menunjukkan perbedaan packet loss

  

upload pada ketiga jarak WDS Grhasia-WAN. Keseluruhan besar packet loss

upload dalam kondisi normal di masing-masing jarak dalam kategori sangat bagus

  sesuai dengan standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1%. Trendline packet loss menunjukkan semakin besar ukuran file yang diupload, maka grafik packet loss semakin naik. Hal ini menggambarkan bahwa jarak yang semakin jauh, maka cakupan luas signal semakin kecil, akan mudah terkena interferensi sehingga paket data yang dikirim menjadi hilang.

4.2.2 Kondisi Jaringan WDS NAKULA

  Jaringan wireless distribution system NAKULA merupakan jaringan wireless yang terhubung dengan master WDS Grhasia-WAN dengan jarak ± 132 meter. WDS NAKULA terletak di gedung belakang yang bersebelahan dengan gedung SRIKANDI.

4.2.2.1 Throughput Download

Tabel 4.7 menunjukkan data pengukuran rata-rata throughput download selama 5 hari. Throughput selama 5 hari dapat digambarkan pada gambar 4.7

  berdasarkan jarak dengan ukuran file yang diunduh. Jarak keseluruhan throughput yang dihasilkan pada jarak 15 meter lebih besar daripada saat pengujian jaringan WDS NAKULA pada jarak 25 meter dan 35 meter. Jarak yang semakin jauh menyebabkan luas cakupan signal menjadi lemah dan terbagi dengan jumlah pengguna yang lain, sehingga pengguna pada jarak yang jauh throughput menjadi kecil.

Tabel 4.7 Data Pengukuran Rata-rata Throughput Download WDS NAKULA selama 5 hari (dalam Kbps)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m

  387.96 264.92 339.62 205.32

  88.2

  69.42

  1024 3072 417.82 245.14 359.18 226.26

  84.92

  72.2

  5120 377.08 278.66 317.44 241.7

  76.96

  74.96

  6144 367.58 234.74 348.42 183.38

  92.06

  81.18 Dari ketiga jarak perbedaan antara keadaan sibuk terlihat throughput lebih kecil daripada keadaan normal. Tetapi dalam keadaan sibuk di jarak 35m pada file

  

throughput yang hampir terlihat sama yaitu dibawah 100 kbps. Hal ini dikarenakan

  banyaknya pengguna jaringan tersebut dalam keadaan sibuk, sehingga besarnya menjadi semakin kecil.

  throughput

  Sesuai dengan teori, semakin besar throughput, semakin baik kualitas jaringan tersebut. Kepadatan pada jam sibuk membuat kualitas throughput download lebih jelek daripada jam normal. Dari ketiga jarak selama 5 hari cenderung terlihat stabil karena throughput waktu sibuk selalu di bawah waktu normal. Jadi kualitas jaringan WDS NAKULA waktu normal lebih baik daripada waktu sibuk.

Gambar 4.7 Grafik rata-rata throughput download WDS NAKULA

4.2.2.2 Throughput Upload

Tabel 4.8 menunjukkan data yang didapat selama lima hari berupa rata-rata dari

  

throughput upload WDS NAKULA berdasarkan ukuran file di ketiga jarak. Gambar

  4.8 menunjukan grafik rata-rata pengukuran throughput berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

Tabel 4.8 Rata-rata Throughput Upload WDS NAKULA selama 5 hari (dalam Kbps)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

  15m 15m 25m 25m 35m 35m 1024 238.64 169.72 172.26 122.7

  81.48

  62.34 3072 235.5 160.54 156.36 117.32

  77.66

  60.56 5120 259.38 147.08 167.08 106.36

  73.4

  52.88 6144 229.58 141.86 164.8

  99.34

  70.42

  47.66 Gambar 4.8 Grafik rata-rata throughput Upload WDS NAKULA

Gambar 4.8 menunjukkan throughput upload pada ketiga jarak dalam keadaan sibuk dan normal selama lima hari. Pada jarak 15m throughput pada keadaan normal

  selalu lebih besar daripada keadaan sibuk, jadi semakin besar throughput, kualitas jaringan semakin baik. Sebagai contoh file dengan ukuran 5120 KB pada jarak 15m sebesar 259.38 Kbps pada saat kondisi normal dan 147.08 Kbps pada saat kondisi sibuk.

  Jika mengacu pada BAB 2 sesuai dengan teori throughput yaitu semakin besar throughtput pada sebuah jaringan semakin baik juga kualitas jaringannya. dari ketiga jarak memiliki tingkat yang hampir sama ketika

  Throughput upload

  keadaan normal dan pada keadaan sibuk throughput di ketiga jarak dalam kondisi yang sama. Throughput upload saat kondisi normal lebih tinggi daripada kondisi sibuk. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic pada kondisi sibuk lebih tinggi sehingga

  

throughput menjadi lebih kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan

sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

  Delay Download

  4.2.2.3 Tabel 4.9 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) download

  berdasarkan jarak. Gambar 4.9 menunjukkan delay download berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

Tabel 4.9 Rata-rata Delay Download WDS NAKULA selama 5 hari (dalam ms/KB)

  

File Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

(KB) 15m 15m 25m 25m 35m 35m

1024

  43.88 72.38 117.9 137.94 181.02 204.9 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  3072

  54.31 88.11 125.08 149.47 197.14 218.33 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  5120

  65.1 100.04 132.59 152.86 206.68 232.96 (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good)

  6144

  79.25 106.43 143.38 163.4 213.06 238.71 (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good) Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) download pada jarak 15m saat kondisi normal maupun sibuk dan 25m saat kondisi normal termasuk dalam kategori excellent. Perubahan delay download pada jarak 25m dimulai dari file yang berukuran 5120 KB saat kondisi sibuk, termasuk dalam kategori good. Sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) upload juga semakin besar.

  Delay download WDS NAKULA saat kondisi sibuk lebih besar dari pada saat

  kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada di bab 2, yaitu semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya

  congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.9 Grafik rata-rata delay download WDS NAKULA

4.2.2.4 Delay Upload

Tabel 4.10 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) download berdasarkan jarak. Gambar 4.10 menunjukkan delay download berdasarkan jarakTabel 4.10 Rata-rata Delay Upload WDS NAKULA selama 5 hari

  237.27 (good)

  246.52 (good)

  232.61 (good)

  198.75 (good)

  (excellent) 173.34 (good)

  6144 138.93

  253.82 (good)

  233.24 (good)

  213.45 (good)

  181.19 (good)

  157.24 (good)

  126.95 (excellent)

  5120

  219.89 (good)

  (dalam ms/KB)

  195.13 (good)

  (excellent) 172.07 (good)

  (excellent) 142.58

  3072 119.39

  223.5 (good)

  206.54 (good)

  183.06 (good)

  (excellent) 159.44 (good)

  (excellent) 130.34

  1024 107.42

  

Normal

25m

Sibuk 25m Normal 35m Sibuk 35m

  File (KB) Normal 15m Sibuk 15m

  277.93 (good) Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) upload pada jarak 15m dan 25m saat kondisi normal maupun sibuk termasuk dalam kategori excellent. Perubahan delay upload pada jarak 25m dimulai dari file yang berukuran 3072 KB saat kondisi sibuk. Sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) upload juga semakin besar.

  Delay upload WDS NAKULA saat kondisi sibuk lebih besar dari pada saat

  kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada di bab 2, yaitu semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya

  congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

4.2.2.5 Packet Loss Download

Tabel 4.11 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss download selama 5 hari. Gambar 4.11 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet loss

  selama 5 hari berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, 6144 KB.

Tabel 4.11 Rata-rata Packet Loss Download WDS NAKULA

  Selama 5 hari (dalam %)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m 1024

  0.2

  3072 5120

  0.2

  0.6

  6144

  0.4

  0.4

  0.8 Kinerja packet loss pada Gambar 4.11 menunjukkan perbedaan packet loss

  

download pada 3 jarak jaringan WDS NAKULA. Besar packet loss dalam kondisi

  normal di masing-masing jarak dalam kategori sangat bagus sesuai dengan standar

  ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1%. Ukuran file 6 MB pada jarak 25m dalam kondisi sibuk, besar packet loss masuk dalam kategori sangat bagus karena kurang dari 1%.

Gambar 4.11 Grafik rata-rata packet loss download WDS NAKULA

4.2.2.6 Packet Loss Upload

Tabel 4.12 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss upload selama 5 hari. Gambar 4.12 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet loss selama 5

  hari berdasarkan ukuran file yang diupload.

Tabel 4.12 Rata-rata Packet Loss Upload WDS NAKULA selama 5 hari (dalam %)

  0.8

  

upload pada ketiga jarak WDS NAKULA. Keseluruhan besar packet loss upload

  1 Gambar 4.12 Grafik rata-rata packet loss upload WDS NAKULA Kinerja packet loss pada Gambar 4.12 menunjukkan perbedaan packet loss

  0.4

  0.4

  0.2

  6144

  0.2

  File (KB) Normal 15m Sibuk 15m

  0.2

  5120

  0.6

  3072

  0.4

  0.2

  

Normal

25m

Sibuk 25m Normal 35m Sibuk 35m 1024

  dalam kondisi normal pada jarak 15m, 25m saat kondisi normal maupun sibuk, dan jarak 35m saat kondisi normal termasuk dalam kategori sangat bagus, sesuai dengan ukuran file 6144 KB, termasuk dalam kategori bagus karena antara 1 s/d 3%. Hal ini menggambarkan bahwa jarak yang semakin jauh, maka cakupan luas signal semakin kecil, akan mudah terkena interferensi sehingga paket data yang dikirim menjadi hilang.

4.2.3 Kondisi Jaringan WDS Grhasia NAPZA

  Jaringan wireless distribution system NAPZA merupakan jaringan wireless yang terhubung dengan master WDS Grhasia-WAN dengan jarak ± 63 meter. WDS NAPZA terletak sebelah kiri dari gedung utama.

4.2.3.1 Throughput Download

Tabel 4.13 menunjukkan data pengukuran rata-rata throughput download selama 5 hari. Throughput selama 5 hari dapat digambarkan pada gambar 4.13

  berdasarkan jarak dengan ukuran file yang diunduh. Jarak keseluruhan throughput yang dihasilkan pada jarak 15 meter lebih besar daripada saat pengujian jaringan WDS NAPZA pada jarak 25 meter dan 35 meter. Jarak yang semakin jauh menyebabkan luas cakupan signal menjadi lemah dan terbagi dengan jumlah pengguna yang lain, sehingga pengguna pada jarak yang jauh throughput menjadi kecil.

Tabel 4.13 Rata-rata Throughput Download WDS NAPZA

  Selama 5 hari (dalam Kbps)

  File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk 15m 15m 25m 25m 35m 35m

  1024 357.76 265.08 275.14 221.16

  96.04

  86.38

  3072 335.56 238.14 267.92 207.18

  94.38

  83.76

  5120 345.52 220.38 290.26 208.42

  92.54

  82.82 343.02 264.98 264.46 196.38

  89.34

  79.68

  6144

  Dari ketiga jarak perbedaan antara keadaan sibuk terlihat throughput lebih kecil daripada keadaan normal. Tetapi dalam keadaan sibuk di jarak 35m pada file yang berukuran 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB menunjukkan

  

throughput yang hampir terlihat sama yaitu dibawah 100 kbps. Hal ini terjadi karena

  lalu lintas traffic pada kondisi sibuk lebih tinggi sehingga throughput menjadi lebih kecil.

  Sesuai dengan teori, semakin besar throughput, semakin baik kualitas jaringan tersebut. Kepadatan pada jam sibuk membuat kualitas throughput download lebih jelek daripada jam normal. Dari ketiga jarak selama 5 hari cenderung terlihat stabil karena throughput waktu sibuk selalu di bawah waktu normal. Jadi kualitas jaringan WDS NAPZA waktu normal lebih baik daripada waktu sibuk.

Gambar 4.13 Grafik rata-rata throughput download WDS NAPZA

4.2.3.2 Throughput Upload

Tabel 4.14 menunjukkan data yang didapat selama lima hari berupa rata-rata dari throughput upload WDS NAKULA berdasarkan ukuran file di ketiga jarak.Gambar 4.14 menunjukan grafik rata-rata pengukuran throughput upload berdasarkanTabel 4.14 Rata-rata Throughput Upload WDS NAPZA

  Selama 5 hari (Kbps)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m

  1024 231.42 154.66 163.64 117.88

  49.26

  40.82

  3072 253.56 151.68 144.86 111.94

  55.24

  53.4

  5120 251.96 146.3 154.26 110.38

  65.42

  44.96

  6144 245.16 156.06 143.06 113.82

  58.44

  30.44 Gambar 4.14 Grafik rata-rata throughput upload WDS NAPZA

Gambar 4.14 menunjukkan throughput upload pada ketiga jarak dalam keadaan sibuk dan normal selama lima hari. Pada jarak 15m throughput pada keadaan

  normal selalu lebih besar daripada keadaan sibuk, jadi semakin besar throughput, kualitas jaringan semakin baik. Sebagai contoh file dengan ukuran 6144 KB pada jarak 15m sebesar 245.16 Kbps pada saat kondisi normal dan 156.06 Kbps pada saat

  Jika mengacu pada BAB 2 sesuai dengan teori throughput yaitu semakin besar throughtput pada sebuah jaringan semakin baik juga kualitas jaringannya. dari ketiga jarak memiliki tingkat yang hampir sama ketika

  Throughput upload

  keadaan normal dan pada keadaan sibuk throughput di ketiga jarak dalam kondisi yang sama. Throughput upload saat kondisi normal lebih tinggi daripada kondisi sibuk. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic pada kondisi sibuk lebih tinggi sehingga

  

throughput menjadi lebih kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan

sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

  Delay Download

  4.2.3.3 Tabel 4.15 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) download

  berdasarkan jarak. Gambar 4.15 menunjukkan delay download berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

Tabel 4.15 Rata-rata Delay download WDS NAPZA selama 5 hari

  (dalam ms/KB)

  

File Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

(KB) 15m 15m 25m 25m 35m 35m

  1024

  40.8 62.56 125.36 140.5 184.04 202.8 (excellent) (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good)

  3072

  49.43 75.92 136.71 150.6 195.3 218.59 (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good)

  5120

  63.07 87.78 139.03 159.5 202.81 230.02 (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good)

  6144

  76.15 99.63 141.79 165.62 216.4 242.29 (excellent) (excellent) (excellent) (good) (good) (good) Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) download pada jarak 15m saat kondisi normal maupun sibuk dan 25m saat kondisi normal termasuk dalam kategori excellent yaitu kuran dari 150ms. Perubahan delay download pada jarak 25m dimulai dari file yang berukuran 3072 KB saat kondisi sibuk, termasuk dalam kategori good yaitu antara 150 s/d 300ms. Sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) upload juga semakin besar.

  Delay download WDS NAPZA saat kondisi sibuk lebih besar dari pada saat

  kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada di bab 2, yaitu semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya

  congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.15 Grafik rata-rata delay download WDS NAPZA

4.2.3.4 Delay Upload

  169.65 (good)

  (good) 191.73 (good)

  218.16 (good)

  235.74 (good)

  259.14 (good)

  6144

  147.94 (excellent)

  207.41 (good)

  5120 134.08

  236.35 (good)

  243.94 (good)

  282.24 (good)

  Sesuai dengan standar ITU-T X.642 delay (latency) upload pada jarak 15m dan 25m saat kondisi normal maupun sibuk termasuk dalam kategori excellent. Perubahan delay upload pada jarak 25m dimulai dari file yang berukuran 3072 KB saat kondisi sibuk. Sedangkan pada jarak 35m termasuk dalam kategori good. Semakin jauh jaraknya, maka delay (latency) upload juga semakin besar.

  Delay upload WDS NAPZA saat kondisi sibuk lebih besar dari pada saat

  kondisi normal pada semua ukuran file. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic jaringan pada saat kondisi sibuk lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal.

  (excellent) 157.9

Tabel 4.16 menunjukkan data berupa rata-rata dari delay (latency) download berdasarkan jarak. Gambar 4.16 menunjukkan delay download berdasarkan jarak

  dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144 KB.

  (excellent) 161.84 (good)

Tabel 4.16 Rata-rata Delay Upload WDS NAPZA

  Selama 5 hari (dalam ms/KB)

  File (KB) Normal 15m Sibuk 15m

  

Normal

25m

Sibuk 25m Normal 35m Sibuk 35m

  1024 113.88

  (excellent) 132.76

  188.72 (good)

  222.42 (good)

  210.66 (good)

  229.59 (good)

  3072 122.89

  (excellent) 143.7

  (excellent) 174.31 (good)

  201.77 (good)

  242.52 (good) trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya congestion, sehingga nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.16 Grafik rata-rata delay upload WDS NAPZA

4.2.3.5 Packet Loss Download

Tabel 4.17 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss download selama 5 hari. Gambar 4.17 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet loss

  selama 5 hari berdasarkan jarak dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, 6144 KB.

Tabel 4.17 Rata-rata Packet Loss Download WDS NAPZA selama 5 hari (dalam %)

  File (KB) Normal 15m Sibuk 15m

  

Normal

25m

Sibuk 25m Normal 35m Sibuk 35m 1024

  0.2

  3072 5120

  0.2

  0.2

  6144

  0.4

  0.2

  0.8 Kinerja packet loss download pada Gambar 4.17 menunjukkan perbedaan

  

packet loss download pada 3 jarak jaringan WDS NAPZA. Keseluruhan besar packet

  dalam kondisi normal maupun sibuk pada jarak 15m, 25m, dan 35m

  loss download

  dalam kategori sangat bagus sesuai dengan standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1%. Hal ini menggambarkan bahwa jarak yang semakin jauh, maka cakupan luas

  

signal semakin kecil, akan mudah terkena interferensi sehingga sebagian paket data

yang dikirim menjadi hilang.

Gambar 4.17 Grafik rata-rata packet loss download WDS NAPZA

4.2.3.6 Packet Loss Upload

Tabel 4.18 menunjukkan data pengukuran rata-rata packet loss upload WDS

  NAPZA selama 5 hari. Gambar 4.18 menunjukkan grafik rata-rata pengukuran packet

  

loss selama 5 hari berdasarkan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB, dan 6144

KB.

Tabel 4.18 Rata-rata Packet Loss Upload WDS NAPZA

  Selama 5 hari (dalam %)

  

File (KB) Normal Sibuk Normal Sibuk Normal Sibuk

15m 15m 25m 25m 35m 35m 1024

  0.6

  3072

  0.6

  5120

  0.2

  0.8

  6144

  0.4

  0.6

  1 Gambar 4.18 Grafik rata-rata packet loss upload WDS NAPZA Kinerja packet loss pada Gambar 4.18 menunjukkan perbedaan packet loss

  

upload pada ketiga jarak WDS NAPZA. Keseluruhan besar packet loss upload dalam

  kondisi normal pada jarak 15m, 25m saat kondisi normal maupun sibuk, dan jarak standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1%. Perubahan terjadi pada jarak 35m saat kondisi sibuk dengan ukuran file 6144 KB, termasuk dalam kategori bagus karena antara 1 s/d 3%. Hal ini menggambarkan bahwa jarak yang semakin jauh, maka cakupan luas signal semakin kecil, akan mudah terkena interferensi sehingga sebagian paket data yang dikirim menjadi hilang.

4.3 Analisis Keseluruhan pada Jarak 15 meter, 25 meter, dan 35 meter

  Dilihat secara keseluruhan dari ketiga parameter delay, throughput, dan

  

packet loss dari ketiga jarak yang berada di WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA,

  dan WDS NAPZA pada saat keadaan sibuk dan normal menunjukkan bahwa kualitas dari access point yang menerapkan wireless distribution system di Rumah Sakit Grhasia DIY termasuk cukup baik, karena dilihat dari ketiga parameter tersebut yaitu besarnya throughput pada keadaan normal kondisinya lebih besar daripada kondisi sibuk, karena semakin besar throughput maka semakin baik kualitas jaringan tersebut. Ini terjadi karena banyaknya pengguna pada keadaan sibuk dibandingkan dengan keadaan normal sehingga trafik menjadi lebih tinggi.

   Delay (latency) untuk semua jarak dalam kategori excellent dan good sesuai

  dengan standar delay dari ITU-T X.642. Ukuran file 1 MB, dan 3MB termasuk dalam kondisi excellent yaitu kurang dari 150 ms/0.15 second. Sedangkan untuk ukuran file

  5 MB dan 6 MB termasuk dalam kondisi good yaitu antara 150 s/d 300 ms.

  Besar packet loss dalam kondisi normal di masing-masing jarak di tiap WDS dalam kategori sangat bagus sesuai dengan standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1% sedangkan dalam kondisi sibuk keempat besar packet loss masuk dalam kategori bagus karena antara 1 s/d 3%.

4.4 Analisis Perbandingan Master WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA berdasarakan jarak 25m

4.4.1 Throughput Download

Tabel 4.19 menunjukkan perbandingan rata-rata data pengukuran throughput

  

download yang dilakukan selama lima hari berdasarkan jarak 25m. Throughput

download berdasarkan ketiga titik (WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA,

  dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.19 yang menunjukan grafik perbandingan rata-rata pengukuran throughput download berdasarkan jarak 25m.

Tabel 4.19 perbandingan rata-rata throughput download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

1024 347.9 160.76 339.62 205.32 275.14 221.16

3072 325.78 158.06 359.18 226.26 267.92 207.18

5120 321.12 156.16 317.44 241.7 290.26 208.42

6144 339.16 147.64 348.42 183.38 264.46 196.38

Gambar 4.19 menunjukkan throughput download pada jarak 25m dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB dan 6144

  KB diketiga titik. Terlihat perbedaan throughput download pada kondisi normal tidak terlalu jauh antara WDS Master Grhasia-WAN dan WDS NAKULA, jika dilihat dari ukuran file yang sama. Pada WDS NAPZA menunjukkan perbedaan throughput pada kondisi normal dan sibuk tidak terlalu jauh. Sedangkan di WDS Master Grhasia- WAN throughput pada kondisi sibuk menunjukkan throughput paling kecil dibandingkan WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

  Perbedaan ketiga kondisi jaringan untuk throughput download diketiga titik kondisi sibuk. Kondisi sibuk mempunyai throughput yang paling kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

Gambar 4.19 grafik perbandingan throughput download berdasarkan jarak 25m.

4.4.2 Throughput Upload

Tabel 4.20 menunjukkan perbandingan rata-rata data pengukuran throughput

  

upload yang dilakukan selama lima hari berdasarkan jarak 25m. Throughput upload

  berdasarkan ketiga titik (WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.20.

Tabel 4.20 perbandingan rata-rata throughput upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

1024 105.36 100.48 172.26 122.7 163.64 117.88

  122.54 106.88 156.36 117.32 144.86 111.94

  3072

5120 124.76 107.82 167.08 106.36 154.26 110.38

6144 111.42 100.34 164.8

  99.34 143.06 113.82

Gambar 4.20 menunjukkan throughput upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB dan 6144 KB diketiga titik.

  Terlihat perbedaan throughput upload yang tidak terlalu jauh antara WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA jika dilihat dari ukuran file yang sama. Throughput upload di WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal dan kondisi sibuk menunjukkan throughput yang stabil. Perbedaan terletak di WDS Master Grhasia-WAN pada kondisi normal dan kondisi sibuk menunjukkan throughput paling kecil dibandingkan WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

  Perbedaan ketiga kondisi jaringan untuk throughput upload diketiga titik dalam kondisi normal mempunyai throughput yang paling besar dibandingkan kondisi sibuk. Hal ini terjadi karena lalu lintas traffic pada kondisi sibuk lebih tinggi sehingga throughput menjadi lebih kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

Gambar 4.20 grafik perbandingan rata-rata throughput upload berdasarkan jarak 25m.

4.4.3 Delay Download

Tabel 4.21 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari delay (latency) berdasarkan jarak 25m. Delay (latency) pada ketiga titik (WDS Master

  download

  Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.21 yang menunjukan grafik rata-rata pengukuran delay

  (latency) download berdasarkan jarak 25m dengan ukuran file yang berbeda.

Tabel 4.21 Perbandingan rata-rata delay download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk) 1024

  87.84 107.4 117.9 137.94 125.36 140.5 92.37 113.13 125.08 149.47 136.71 150.6

  3072 5120

  98.98 121.42 132.59 152.86 139.03 159.5

  

6144 103.5 130.88 143.38 163.4 141.79 165.62

Gambar 4.21 menunjukkan delay (latency) download dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB dan 6144 KB diketiga

  titik. Terlihat perbedaan delay (latency) download yang tidak terlalu jauh antara WDS WDS NAKULA dan WDS NAPZA jika dilihat dari ukuran file yang sama. Delay

  

download pada WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi

sibuk cenderung lebih kecil daripada WDS NAKULA, dan WDS NAPZA.

  Grafik delay (latency) download kondisi normal di ketiga titik tempat tersebut, selalu lebih kecil dibandingkan dengan keadaan sibuk. Hal ini menunjukkan di ketiga titik pada saat kondisi normal mempunyai delay (latency) terkecil dibandingkan dengan kondisi sibuk dikarenakan beban dari jaringan juga kecil. Sedangkan untuk semua titik, kondisi sibuk mempunyai delay (latency) download yang lebih besar dibandingkan kondisi normal dikarenakan semakin besar beban jaringannya.

Gambar 4.21 grafik perbandingan delay download berdasarkan jarak 25m.

  Delay Upload

  4.4.4 Tabel 4.22 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari delay (latency)

upload berdasarkan jarak 25m. Delay (latency) pada ketiga titik (WDS Master

  Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.22.

Tabel 4.22 Perbandingan rata-rata delay upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

1024 126.64 144.86 159.44 183.06 161.84 188.72

3072 134.69 159.71 172.07 195.13 174.31 201.77

  145.49 171.29 181.19 213.45 191.73 218.16

  5120

6144 157.9 186.36 198.75 232.61 207.41 236.35

Gambar 4.22 menunjukkan delay (latency) upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB dan 6144 KB diketiga titik.

  Terlihat perbedaan delay (latency) upload yang tidak terlalu jauh antara WDS NAKULA dan WDS NAPZA jika dilihat dari ukuran file yang sama. Delay upload pada WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi sibuk selalu lebih kecil daripada WDS NAKULA, dan WDS NAPZA.

  Grafik delay (latency) upload kondisi normal di ketiga titik tempat tersebut, selalu lebih kecil dibandingkan dengan keadaan sibuk. Hal ini menunjukkan di ketiga titik pada saat kondisi normal mempunyai delay (latency) terkecil dibandingkan dengan kondisi sibuk dikarenakan beban dari jaringan juga kecil. Sedangkan untuk semua titik, kondisi sibuk mempunyai delay (latency) upload yang lebih besar dibandingkan kondisi normal dikarenakan semakin besar beban jaringannya.

Gambar 4.22 grafik perbandingan delay upload berdasarkan jarak 25m.

4.4.5 Packet Loss Download

Tabel 4.23 menunjukkan perbandingan data berupa rata-rata dari packet loss berdasarkan jarak 25m. Packet loss berdasarkan jarak 25m di ketiga titik

  download

  (WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.23.

Tabel 4.23 Perbandingan rata-rata packet loss download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam %).

  Ukuran Grhasia-WAN Grhasia-WAN NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA File (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

  1024

  0.2 3072 5120

  0.2

  0.2 6144

  0.2

  0.4

  0.4 Gambar 4.23 grafik perbandingan packet loss download berdasarkan jarak 25m.

  Packet loss download di semua titik menunjukkan perbedaan yang tidak ukuran file. Packet loss di WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi sibuk untuk ukuran 1024 KB, 3072 KB, dan 5120 KB menunjukkan tidak ada paket yang dibuang sehingga tidak mengurangi efisiensi jaringan, sedangkan untuk WDS NAKULA dan WDS NAPZA masih terdapat paket yang terbuang.

4.4.6 Packet Loss Upload

Tabel 4.24 menunjukkan perbandingan data berupa rata-rata dari packet loss

  

upload berdasarkan jarak 25m. Packet loss berdasarkan jarak 25m di ketiga titik

  (WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.24.

Tabel 4.24 Perbandigan rata-rata Packet Loss Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam %).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk) 1024

  0.2

  3072 5120

  0.2

  6144

  0.4

  0.4

  0.4 Gambar 4.24 menunjukkan grafik packet loss upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 1024 KB, 3072 KB, 5120 KB dan 6144 KB diketiga titik. Packet loss upload di semua titik menunjukkan perbedaan yang tidak cukup besar. Kondisi sibuk masih mempunyai packet loss ratio paling besar di semua ukuran file. Packet loss upload di WDS Master Grhasia-WAN dan WDS NAPZA pada jarak 15m saat kondisi normal maupun kondisi sibuk menunjukkan tidak ada paket yang dibuang sehingga tidak mengurangi efisiensi jaringan, sedangkan untuk WDS NAKULA 15m masih terdapat paket yang terbuang.

Gambar 4.24 grafik perbandingan packet loss upload berdasarkan jarak 25m.

4.5 Analisis Perbandingan Master WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA berdasarakan ukuran file 6144 KB

4.5.1 Throughput Download

Tabel 4.25 menunjukkan perbandingan rata-rata data pengukuran throughput download yang dilakukan selama lima hari berdasarkan ukuran file 6144 KB.

  

Throughput download berdasarkan ketiga titik (WDS Master Grhasia-WAN, WDS

  NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.25 yang menunjukan grafik perbandingan rata-rata pengukuran throughput download berdasarkan ukuran file 6144 KB.

Tabel 4.25 Perbandingan rata-rata Throughput Download WDS Master Grhasia- WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

15 395.5 268.08 367.58 234.74 343.02 264.98

25 339.16 147.64 348.42 183.38 264.46 196.38

  35

  92.98

  83.94

  92.06

  81.18

  89.34

  79.68 Gambar 4.25 menunjukkan throughput download dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 6144 KB diketiga titik. Terlihat perbedaan throughput

  

download pada kondisi normal tidak terlalu jauh antara WDS Master Grhasia-WAN,

  WDS NAKULA, dan NAPZA. Kondisi sibuk mempunyai throughput yang paling kecil. Kondisi ini mengindikasikan saat kondisi jaringan sibuk mempunyai beban jaringan yang cukup besar.

Gambar 4.25 grafik perbandingan rata-rata throughput download berdasarkan ukuran file 6144 KB.

4.5.2 Throughput Upload

Tabel 4.26 menunjukkan perbandingan rata-rata data pengukuran throughput yang dilakukan selama lima hari berdasarkan ukuran file 6144 KB.

  upload

Throughput upload berdasarkan ketiga titik (WDS Master Grhasia-WAN, WDS

  NAKULA, dan WDS NAPZA) juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.26 yang menunjukan grafik perbandingan rata-rata pengukuran throughput upload berdasarkan ukuran file 6144 KB.

Tabel 4.26 Perbandingan rata-rata Throughput Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam Kbps).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

15 221.86 141.28 229.58 141.86 245.16 156.06

25 111.42 100.34 164.8

  99.34 143.06 113.82

  74.76

  54.48

  70.42

  47.66

  58.44

  30.44

  35 Gambar 4.26 grafik perbandingan rata-rata throughput upload berdasarkan ukuran

Gambar 4.26 menunjukkan throughput upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 6144 KB diketiga titik. Terlihat perbedaan throughput

  yang tidak terlalu jauh antara WDS Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA,

  upload

  dan WDS NAPZA. Perbedaan terletak di WDS Master Grhasia-WAN pada kondisi normal dan kondisi sibuk menunjukkan throughput paling kecil dibandingkan WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

4.5.3 Delay Download

Tabel 4.27 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari delay (latency)

  

download berdasarkan ukuran file 6144 KB. Delay (latency) pada ketiga titik (WDS

  Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) berdasarkan ukuran file 6144 KB juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.27.

Tabel 4.27 Perbandingan rata-rata Delay Download WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  15

  60.5

  84.72 79.25 106.43

  76.15

  99.63

  

25 103.5 130.88 143.38 163.4 141.79 165.62

35 186.24 210.27 213.06 238.71 216.4 242.29

Gambar 4.27 menunjukkan delay (latency) download dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 6144 KB diketiga titik. Terlihat perbedaan delay

  

(latency) download yang tidak terlalu jauh antara WDS WDS NAKULA dan WDS

  NAPZA jika dilihat dari jarak yang sama. Delay download pada WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi sibuk cenderung lebih kecil daripada WDS NAKULA, dan WDS NAPZA.

Gambar 4.27 grafik perbandingan rata-rata delay download berdasarkan ukuran file 6144 KB.

4.5.4 Delay Upload

Tabel 4.28 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari delay (latency)

  

upload berdasarkan ukuran file 6144 KB. Delay (latency) pada ketiga titik (WDS

  Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) berdasarkan ukuran file 6144 KB juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.28.

Tabel 4.28 Perbandingan rata-rata Delay Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  

15 130.06 146.95 138.93 173.34 147.94 169.65

  157.9 186.36 198.75 232.61 207.41 236.35

  25

35 217.27 249.57 246.52 277.93 243.94 282.24

Gambar 4.28 menunjukkan delay (latency) upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 6144 KB diketiga titik. Delay upload pada WDS Master

  Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi sibuk selalu lebih kecil daripada WDS NAKULA, dan WDS NAPZA. Sebagai contoh pada WDS Master Grhasia- WAN jarak 25m sebesar 157.9 ms/KB pada saat kondisi normal mempunyai delay

  

upload terkecil dibandingkan dengan WDS Nakula sebesar 198.75 ms/KB dan WDS

NAPZA sebesar 207.41 ms/KB.

  Sedangkan untuk semua titik, kondisi sibuk mempunyai delay (latency)

  

upload yang lebih besar dibandingkan kondisi normal dikarenakan semakin besar

beban jaringannya.

Gambar 4.28 grafik perbandingan rata-rata delay upload berdasarkan file 6144 KB.

4.5.5 Packet Loss Download

Tabel 4.29 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari packet loss berdasarkan ukuran file 6144 KB. Packet Loss pada ketiga titik (WDS

  download

  Master Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) berdasarkan ukuran file 6144 KB juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.29.

Tabel 4.29 Perbandingan rata-rata Packet Loss Download WDS Master Grhasia- WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  15

  25

  0.2

  0.4

  0.4

  0.4

  0.8

  0.2

  0.8

35 Packet loss download di semua titik menunjukkan perbedaan yang tidak

  cukup besar. Kondisi sibuk masih mempunyai packet loss ratio paling besar di semua jarak. Packet loss di WDS Master Grhasia-WAN pada jarak 15m, 25m, dan 35m saat kondisi normal maupun kondisi sibuk untuk dengan ukuran 6144 KB menunjukkan tidak ada paket yang dibuang sehingga tidak mengurangi efisiensi jaringan, sedangkan untuk WDS NAKULA dan WDS NAPZA pada jarak 25m dan 35m saat kondisi sibuk masih terdapat paket yang terbuang.

Gambar 4.29 grafik perbandingan rata-rata packet loss download berdasarkan ukuran file 6144 KB.

4.5.6 Packet Loss Upload

Tabel 4.30 menunjukkan perbandingan data rata-rata dari packet loss upload berdasarkan ukuran file 6144 KB. Packet Loss pada ketiga titik (WDS Master

  Grhasia-WAN, WDS NAKULA, dan WDS NAPZA) berdasarkan ukuran file 6144 KB juga dapat digambarkan dalam grafik pada gambar 4.30.

Tabel 4.30 Perbandingan rata-rata Packet Loss Upload WDS Master Grhasia-WAN, NAKULA, NAPZA selama 5 hari (dalam ms/KB).

  

Ukuran Grhasia- Grhasia- NAKULA NAKULA NAPZA NAPZA

File WAN WAN (Normal) (Sibuk) (Normal) (Sibuk)

(Normal) (Sibuk)

  0.2

  15

  25

  0.4

  0.4

  0.4

  35

  0.4

  0.8

  0.4

  1

  0.6

  1 Gambar 4.30 grafik perbandingan rata-rata packet loss upload berdasarkan ukuran file 6144 KB.

Gambar 4.30 menunjukkan grafik packet loss upload dalam keadaan sibuk dan normal dengan ukuran file 6144 KB diketiga titik. Kondisi sibuk masih

  mempunyai packet loss ratio paling besar di semua ukuran file. Packet loss upload pada WDS Master Grhasia-WAN saat kondisi normal maupun kondisi sibuk selalu lebih kecil daripada WDS NAKULA, dan WDS NAPZA. Sebagai contoh pada WDS Master Grhasia-WAN jarak 35m sebesar 0.8% pada saat kondisi normal mempunyai

  

packet loss upload terkecil dibandingkan dengan WDS Nakula sebesar 1% dan WDS

NAPZA sebesar 1%. server external (yahoo.com)

4.6 Analisa Menggunakan

  Para staf di Rumah Sakit Grhasia mengirim dan mengunduh data dari kantor provinsi Yogyakarta menggunakan email external, yaitu yahoo.com. pemilihan menggunakan email yahoo.com di rumah sakit Grhasia, karena mempunyai fitur atau layanan yang ditawarkan sangat mudah digunakan untuk para staf. Penulis mealkukan penelitian sesuai dengan kondisi aktivitas yang dilakukan oleh para staf rumah sakit Grhasia.

  Kondisi jaringan external mempengaruhi kinerja performance jaringan di rumah sakit Grhasia. Pengaruh ketidakstabilan dan trafik yang padat, jaringan

  external akan berpengaruh pada kinerja jaringan WDS di rumah sakit Grhasia.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Dari penghitungan dan analisa kinerja jaringan wireless distribution system (WDS) di Rumah Sakit Grhasia yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :

  1. Performansi jaringan WDS Rumah Sakit Grhasia yang dilakukan secara

  outdoor dengan jarak 15m, 25m, dan 35m memiliki kondisi performansi yang baik.

  2. Throughput pada tiap WDS Grhasia-WAN, WDS NAKULA, WDS NAPZA saat kondisi normal dan sibuk dalam kategori baik. Pada kondisi normal

  throughput lebih besar dibandingkan throughput pada kondisi sibuk. Throughput download dan upload pada WDS Master Grhasia-WAN saat

  keadaan normal maupun sibuk, menunjukkan lebih baik dibandingkan throughput WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

  3. Delay (latency) upload maupun download , dengan jarak 15m, 25m, dan 35m dalam kategori excellent dan good sesuai dengan standar delay dari ITU-T X.642. Semakin banyak pengguna dan semakin tinggi beban jaringan, delay juga semakin besar. Delay download dan upload pada WDS Master Grhasia- WAN saat keadaan normal maupun sibuk, menunjukkan lebih baik dibandingkan delay WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

  4. Packet loss yang terjadi saat pengukuran paling besar 1% dan paling sering terjadi pada waktu sibuk. Besar packet loss dalam kategori sangat bagus sesuai dengan standar ITU-T X.642 yaitu kurang dari 1% sedangkan dalam kondisi sibuk ketiga besar packetloss masuk dalam kategori bagus karena antara 1 s/d 3%. Packet loss download dan upload pada WDS Master Grhasia-WAN saat keadaan normal maupun sibuk, menunjukkan lebih baik dibandingkan packet loss WDS NAKULA dan WDS NAPZA.

5.2 Saran

  Terdapat beberapa saran dari penulis agar peneliti selanjutnya dapat memperhatikan hal-hal di bawah ini, guna perbaikan ke arah yang lebik baik. Adapun saran tersebut adalah:

  1. Untuk mendapatkan sample yang lebih akurat, pengambilan data perlu dilakukan sesuai dengan standar ilmu statistika.

DAFTAR PUSTAKA

  [1] Susanto, E., Surya, I., dan Pankralinus, A., 2006, Analisa dan Perancangan Jaringan Komputer Dengan Menggunakan Teknologi Nirkabel Berbasis Wifi Pada PT. Yamazen Indonesia, Skripsi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

  [2] S’to. 2007. “Wireless Kung Fu : Networking & Hacking”. Jasakom. [3] Subardono. A., dkk, 2011, Analisis Performa Wireless Distribution System

  Konfigurasi Star dan Mesh untuk Hotspot Area, 2011, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. [4] Tanenbaum, Andrew. S. (2003).

  “Computer Networks”. NJ: Pearson Prentice Hall. [5] Syamsudi. M. 2010.

  “Cara Cepat Belajar Infrastruktur Jaringan Wireless

  (Tutorial Singkat Jaringan Wireless) ”. Yogyakarta: Gava Media.

  [6] Ki Grinsing. “Wireless WDS”. http://www.sysneta.com/wireless-wds (diakses tanggal 8 Agustus 2012 jam 13.45 WIB).

  [7] Koruse, J & Ross, Keith. 2000. “Computer Networking: A Top Down Approach Featuring the Internet”. Addison Wesley.

  [8] U.S. Robotics Corporation.

  “Wireless USB Manager”. http://www.usr.com/support/5423/5423-ug/configuration.htm (diakses tanggal 18 Agustus 2012 jam 21:34 WIB).

  [9] Cisco Systems, Inc. 2002.

  “Cisco Aironet Wireless LAN Client Adapters Installation and Configuration Guide for MS-DOS ”.

  http://www.cisco.com/en/US/docs/wireless/wlan_adapter/350_cb20a/us er/ms-dos/configuration/guide/Doswelcome.html (diakses tanggal 18

  Agustus 2012 jam 22:02).

  [10] Stalling, William. (2004).

  “Data and Computer Communications”. NJ: Pearson Prentice Hall.

  nd [11] Forouzan, B.A. 2001.

   Adition ”.

  “Data Communications and Networking 2 Mac Graw Hill. [12] ITU-T Recommendation X.642 . “End-User QoS Categories”.

Dokumen baru