SIKAP TERHADAP PERNIKAHAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA

Gratis

0
0
113
3 months ago
Preview
Full text

SIKAP TERHADAP PERNIKAHAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh: Meidiana Sapoetro NIM : 039114045

  PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

SIKAP TERHADAP PERNIKAHAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL

YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Meidiana Sapoetro

  

NIM : 039114045

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  Aku menyangka dalam kebingunganku: ”Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.

  (Mazmur 31:32 ) Ia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya… (Pengkotbah 3:11a)

  Skripsi ini kupersembahkan untuk kemuliaan nama Allah Bapa dan Papa Mama-ku yang tercinta

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 4 September 2009 Peneliti Meidiana Sapoetro

  

ABSTRAK

SIKAP TERHADAP PERNIKAHAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL

YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA

Meidiana Sapoetro

039114045

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap terhadap pernikahan

pada individu dewasa awal yang orang tuanya mengalami perceraian. Penelitian

ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan terhadap 38 orang

subjek yang berusia antara 20 sampai 40 tahun. Penelitian ini menggunakan

kuesioner yang berjumlah 27 aitem dan pemberian skor dilakukan dengan

menggunakan metode rating yang dijumlahkan. Analisis data menggunakan one

sample t test untuk mengetahui arah sikap terhadap pernikahan. Hasil penelitian

menunjukkan individu dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua

memiliki sikap positif terhadap pernikahan.

  Kata kunci: sikap, perkawinan, perceraian, dewasa awal.

  

ABSTRACT

ATTITUDE TO MARRIAGE OF YOUNG ADULT

WITH PARENT DIVORECE HISTORY

Meidiana Sapoetro

039114045

  The aim of this research was to know the attitude to marriage of young adult

with parent divorce history. This research was quantitative descriptive research

that was done to 38 subjects that aged between 20 until 40 years old. This research

used questioner that was content 27 items and giving score was done by

summated rating method. Data analysis used one sample t test to know the

direction of attitude to marriage. The result of research showed that young adult

have positive attitude to marriage.

  Keyword: attitude, marriage, divorce, young adult.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah Bapa di surga atas berkat, rahmat dan

kasihNya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan oleh peneliti guna memenuhi

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Peneliti menyadari

bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari saran, dukungan dan bantuan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti hendak

menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada:

  1. Bapak Eddy Suhartono, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  2. Ibu A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi atas waktu dan kesabarannya dalam memberikan pengarahan, masukan dan

saran, koreksi serta dukungan hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  3. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik.

  4. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si. dan Ibu MM. Nimas Eki S., S.Psi., M.Si. selaku dosen penguji atas waktu, saran, koreksi, serta masukan yang berharga.

  

5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang telah membagikan

ilmu pengetahuannya kepada peneliti selama menempuh perkuliahan.

  6. Seluruh staff Fakultas Psikologi Sanata Dharma, Mas Muji, Mas Gandung,

Mas Doni, Pak Gie, dan Mbak Nanik atas informasi dan bantuannya

kepada peneliti.

  7. Orang tuaku tercinta, Papa Awet Joyo Sapoetro dan Mama Yenny

Cemerlang, atas support baik secara moril maupun materiil, cinta dan

kasih sayang yang tanpa pamrih, serta kesabaran yang besar dalam

menunggu kelulusanku.

  8. Adikku tersayang, Ardian Sapoetro atas kasih sayang, dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

  9. Daniel Kurniawan, S.Kom., M.M. atas perhatian, semangat, kasih sayang, serta bantuan dan dukungan selama proses pengerjaan skripsi ini.

  10. Sahabat-sahabat dan teman-temanku Psikologi angkatan 2003, mira, olin,

mita, aning, tanti, yosi, dan semua yang tidak dapat disebutkan satu

persatu atas kebersamaan dan suka duka yang telah kita lalui.

  11. Sahabat-sahabatku yang tidak pernah lelah dalam memberikan semangat, natalia, oki, sherly, lia, yandy, yonx, krisna, rina, dan semuanya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

  12. Seluruh Subjek Penelitian atas kontribusinya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  13. Semua pihak yang telah membantu dan belum tersebutkan.

  Peneliti menyadari bahwa skripsi ini tentunya tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Meskipun demikian, peneliti berharap skrispsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

  Yogyakarta, 23 Agustus 2009 Peneliti

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI .............................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................. v

ABSTRAK ............................................................................................................. vi

ABSTRACT .......................................................................................................... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........................ viii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix

DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiv

  

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 6 C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 6 D. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................................. 7

A. Sikap Terhadap Pernikahan ....................................................................... 7

  1. Pengertian ........................................................................................... 7 2.

  Aspek Sikap Terhadap Pernikahan ................................................... 11

  3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Perkawinan .... 12

  B. Perceraian ................................................................................................. 14 1.

  Pengertian Perceraian ....................................................................... 14 2. Perlindungan Hukum Pada Anak yang Mengalami Perceraian Orang Tua .................................................................................................... 15

  3. Dampak Perceraian Pada Anak ......................................................... 16 C. Dewasa Awal ........................................................................................... 20

  2. Karakteristik Umum dan Tugas Perkembangan Dewasa Awal ........ 21

  D. Sikap Terhadap Pernikahan Pada Individu Dewasa Awal yang Mengalami Perceraian Orang Tua ........................................................... 23

  

BAB III METODE PENELITIAN......................................................................... 28

A. Metode Penelitian .................................................................................... 28 B. Variabel Penelitian ................................................................................... 28 C. Definisi Operasional ................................................................................ 28 D. Subjek Penelitian ..................................................................................... 29 E. Alat Pengumpulan Data ........................................................................... 30 1. Penyusunan Aitem ............................................................................ 30

  2. Pemberian Skor Skala Sikap Terhadap Pernikahan dan Perceraian . 30

  F. Validitas, Uji Daya Beda, dan Reliabilitas .............................................. 32 1.

  Validitas ............................................................................................ 32

  2. Uji Daya Beda ................................................................................... 33

  3. Reliabilitas ........................................................................................ 37 G. Metode Analisis Data ............................................................................... 37

  

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................................... 39

A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................. 39 B. Hasil Penelitian ........................................................................................ 40 1. Karakteristik Subjek ......................................................................... 40

  2. Analisis Data ..................................................................................... 42

  a. Analisis Data ................................................................................. 42

  b. Kategorisasi ................................................................................... 44

  C. Pembahasan.............................................................................................. 45

  

BAB V KESIMPULAN ......................................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 52

LAMPIRAN ........................................................................................................... 55

  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Distribusi Aitem Skala Sikap Terhadap Pernikahan .............................. 30Tabel 3.2 Uji Daya Beda 30 Aitem ........................................................................ 35Tabel 3.3 Uji Daya Beda 27 Aitem ........................................................................ 36Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin .................................. 40Tabel 4.2 Karakteristik Subjek Berdasarkan Usia ................................................. 40Tabel 4.3 Karakteristik Subjek Berdasarkan Pendidikan ....................................... 41Tabel 4.4 Karakteristik Subjek Berdasarkan Pekerjaan ......................................... 41Tabel 4.5 Karakteristik Subjek Berdasarkan Usia Saat Orang Tua Bercerai ......... 42Tabel 4.6 Deskripsi Data Penelitian ....................................................................... 42Tabel 4.7 Klasifikasi Evaluatif Skala Sikap Terhadap Pernikahan ........................ 45

  

DAFTAR LAMPIRAN

A.

  Kuesioner ..................................................................................................... A-1

  

B. Data Hasil Kuesioner 30 Aitem .................................................................... B-1

  

C. Hasil Uji Daya Beda 30 Aitem ..................................................................... C-1

D.

  Data Hasil Kuesioner 27 Aitem ................................................................... D-1 E.

Hasil Uji Daya Beda 27 Aitem ..................................................................... E-1

  

F. Hasil Uji Reliabilitas Alfa Cronbach ............................................................ F-1

  

G. Hasil Uji One Sampel T Test ........................................................................ G-1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi individu dewasa awal yang tidak

  

ingin melakukan pernikahan meskipun dari segi ekonomi dan kematangan

psikologis sudah layak untuk berumah tangga. Individu tersebut kemungkinan

tidak ingin melakukan pernikahan karena dihantui oleh ingatan akan perceraian

yang buruk dari orang tuanya. Hal ini merupakan salah satu sikap yang negatif

terhadap pernikahan sebagai dampak dari pernikahan orang tuanya yang gagal.

  Pernikahan sendiri merupakan salah satu hal yang penting di dalam

kehidupan. Dengan adanya pernikahan, seorang wanita dan seorang pria akan

secara sah menjadi sepasang suami istri yang dapat saling berbagi banyak hal,

melimpahkan dan mendapatkan kasih sayang, memperoleh keintiman tanpa

melanggar norma masyarakat, serta memperoleh keturunan yang merupakan salah

satu fase yang dianggap penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Hal ini

sejalan dengan yang diungkapkan Wahyu (2009) bahwa dengan pernikahan

seseorang mendapatkan teman hidup, pelipur lara, kepuasan seksual, keturunan,

kekerabatan, kenikmatan fisik, kebanggaan diri, hiburan-hiburan, kebersamaan,

kesetiaan, ilmu, wawasan dan seterusnya.

  Setiap manusia yang memasuki mahligai rumah tangga pasti menginginkan

kehidupan yang bahagia, harmonis, aman, tenteram dan sejahtera (Triadi, 2005).

  

Ketika melangsungkan pernikahan hampir semua orang mengharapkan

kebahagiaan dan ikatan pernikahan yang langgeng. Pernikahan menuntut adanya

penyesuaian diri terhadap tuntutan peran dan tanggung jawab baru dari kedua

pasangan, harapan-harapan tersebut sering kandas di tengah jalan dan tidak

menjadi kenyataan. Hal ini adalah karena penyesuaian diri bukanlah merupakan

sesuatu yang mudah bagi masing-masing pasangan (Desmita, 2007). Apabila

perbedaan-perbedaan individu dalam pernikahan bisa disatukan, maka akan

menjadi persatuan yang indah, akan tetapi ketika masing-masing pihak

mengutamakan egonya sendiri-sendiri, maka yang terjadi adalah kehancuran. Hal

inilah yang kemudian menjadikan pernikahan mengalami perceraian.

  Perceraian merupakan putusnya ikatan pernikahan yang terjadi apabila

kedua belah pihak baik suami maupun istri merasakan ketidakcocokan dalam

menjalani rumah tangga. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Pernikahan tidak memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus namun

dalam Pasal 38 menyebutkan bahwa pernikahan bisa putus karena: (1) kematian,

(2) perceraian, (3) atas keputusan pengadilan.

  Perceraian yang mengakibatkan putusnya hubungan suami-istri dapat

memberi trauma bagi anak dan berdampak pada sikapnya terhadap pernikahan.

  

Hal ini bisa terjadi karena dalam proses menjelang perceraian sering kali diwarnai

pertengkaran yang membuat anak melihat semua pertengkaran tersebut dan

menjadikannya depresi.

  Masalah yang memicu pertengkaran suami istri banyak sekali, antara lain

masalah ekonomi, seks, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain. Salah satu

masalah yang seringkali menjadi penyebab perceraian adalah masalah

perselingkuhan. Perselingkuhan selalu menjadi bom waktu bagi keutuhan suatu

rumah tangga, yang sewaktu-waktu bisa meledak, membinasakan keharmonisan

suatu keluarga, bahkan bisa membinasakan pelakunya sendiri.

  Sebuah berita di koran Jawa Pos tanggal 23 Maret 2005 (dalam Triadi, 2005)

membuktikan hal itu. Kapolsek Sawan AKP Cede Sukarda tewas ditembak oleh

istrinya Ni Made Sunu, 45, yang sudah memberikan tiga putri dan satu putra.

Sunu merasa emosi ketika Sukarda 2 hari tidak pulang ke rumah dan mengaku

mempunyai wanita idaman lain (WIL) di Denpasar yang sudah hamil dua bulan.

  

Sunu tidak bisa mengendalikan emosi dan akhirnya ketika suaminya sedang

memasang pakaian, ditembaknya sampai semua peluru yang ada di pistol habis.

  

Kejadian ini membuat anak-anak Sunu menjadi mengalami depresi, ayah mereka

meninggal, ibu mereka masuk penjara, belum lagi bayangan pertengkaran demi

pertengkaran yang pernah terjadi antara ayah dan ibu mereka, semuanya

membekas di hati anak-anak tersebut yang memungkinkan membuat mereka

menyikapi pernikahan dengan sikap yang negatif.

  Hal lain yang dapat membuat anak bersikap negatif pada pernikahan adalah

perceraian yang diawali Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Anak

menjadi saksi dari kekerasan yang terjadi dalam keluarga, ikut menjadi korban

yang disakiti secara fisik, dan ikut merasakan sakit hati atas semua kekerasan

yang disaksikannya di dalam rumah tangga. Semua itu membuat anak mempunyai

  

persepsi yang negatif terhadap pernikahan dan akhirnya bersikap negatif pula

terhadap pernikahan.

  Nazwa (2008) menyatakan banyak sekali dampak negatif perceraian yang

bisa muncul pada anak. Marah pada diri sendiri, marah pada lingkungan, jadi

pembangkang, tidak sabaran, impulsif, apatis, menarik diri dari lingkungan,

adalah dampak-dampak perceraian pada anak. Selain itu, anak akan merasa

bersalah (guilty feeling) dan menganggap dirinyalah biang keladi atau penyebab

perceraian orangtuanya. Dampak lain adalah anak jadi ketakutan terhadap

kegagalan dan prahara dalam berumah tangga, yang akhirnya melahirkan sikap

traumatis sehingga membuat mereka takut untuk berumah tangga. Hal ini bisa jadi

terus mempengaruhinya hingga ia memasuki usia untuk memasuki dunia

pernikahan.

  Menurut Hurlock (1980) munculnya sikap terhadap pernikahan pada

umumnya terjadi pada individu ketika memasuki masa dewasa awal. Hal ini

disebabkan tugas perkembangan dewasa awal adalah dimulainya masa menikah

dan membina keluarga. Menurut Hurlock (1980) tugas perkembangan dalam masa

dewasa awal adalah masa dimulainya upaya untuk memilih pasangan hidup dan

bekerja. Dewasa awal sendiri adalah mereka yang berusia 18 tahun sampai kira-

kira 40 tahun.

  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2006) sikap terhadap

pernikahan oleh individu yang memasuki dewasa awal pada umumnya tidak

dibayangi oleh ketakutan akan perceraian, melainkan berkaitan dengan kesiapan

secara kesehatan, keturunan, kematangan emosional, kesiapan psikologis, dan

  

agama. Akan tetapi sikap individu terhadap pernikahan dapat berubah apabila

orang tuanya mengalami perceraian, apalagi perceraian yang penuh konflik

sebagaimana dikemukakan pada fakta kasus di atas.

  Sejalan dengan itu, (Astrella, dalam Dewi, 2006) berpendapat bahwa

perceraian akan mengubah sikap individu terhadap peranan orang tua dalam

keluarga, gambaran peran suami-istri dalam masyarakat, pandangan individu akan

pernikahan, serta pasangan. Jika dalam lingkungan keluarga, anak mendapati

kasus orang tua yang penuh dengan kekerasan dan berakhir dengan perceraian

maka hal itu dapat membentuk sikap yang negatif terhadap pernikahan pada

individu dewasa awal.

  Menurut Sears, dkk (1985) sikap merupakan orientasi yang bersifat menetap

dengan komponen-komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Komponen kognitif

terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu,

fakta, pengetahuan, dan keyakinan tentang objek. Komponen afektif terdiri dari

seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilaian.

Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau

kecenderungan untuk bertindak terhadap objek. Oleh karenanya semua nilai-nilai

sosial yang dibawa oleh orangtua akan menjadi sumber contoh utama bagi anak-

anak. Orang tua dapat memberikan contoh secara langsung terhadap anak melalui

kehidupan pernikahannya.

  Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini mengkaji

bagaimanakah sikap terhadap pernikahan pada individu dewasa awal yang

mengalami perceraian orang tua.

  B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas masalah penelitian yang muncul dan

ingin dicari jawabnya melalui penelitian ini adalah bagaimanakah sikap terhadap

pernikahan pada individu dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua.

  C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap yang muncul terhadap pernikahan pada dewasa awal yang orang tuanya mengalami perceraian.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Secara teoritis: Sebagai tambahan khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi perkembangan dan klinis, khususnya terkait dengan sikap terhadap pernikahan.

  2. Secara praktis: Bagi masyarakat dapat bermanfaat untuk mengetahui gambaran sikap terhadap pernikahan oleh dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua.

BAB II LANDASAN TEORI A. Sikap Terhadap Pernikahan

1. Pengertian a. Pernikahan

  Pengertian pernikahan menurut Kartono (2006) adalah suatu peristiwa di mana sepasang mempelai atau sepasang calon suami isteri dipertemukan secara formal di hadapan penghulu atau kepala agama serta adanya para saksi. Sementara itu berdasarkan Undang-Undang (UU) Pernikahan No. 1 Tahun 1974, pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

  Pernikahan adalah perwujudan kesepakatan-kesepakatan lisan antar dua insan berlainan jenis untuk melebur dua karakter dasar secara besar-besaran agar menyatu dan berpadu untuk menyongsong kehidupan mendatang yang diharapkan lebih baik dan lebih lengkap.

  Adapun tujuannya adalah membentuk keluarga sejahtera, bahagia lahir dan batin (Triadi, 2005).

  Dalam pandangan Erikson (dalam Desmita, 2007), pernikahan merupakan keintiman yang biasanya menuntut perkembangan seksual yang mengarah pada perkembangan hubungan seksual dengan lawan

  

jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka dan

duka. Ini berarti bahwa hubungan intim yang terbentuk akan

mendorong orang dewasa awal untuk mengembangkan genitalitas

seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan

mitra yang dicintai.

  Pernikahan menurut Dariyo (2004) adalah ikatan kudus antara

pasangan dari seorang laki-laki dan seorang wanita yang telah

menginjak atau dianggap telah memiliki umur cukup dewasa.

Pernikahan dianggap sebagai ikatan kudus karena hubungan pasangan

antara seorang laki-laki dan seorang wanita telah diakui secara sah

dalam hukum agama.

  Berdasarkan pernyataan di atas maka pengertian pernikahan

dapat disimpulkan sebagai ikatan lahir dan batin antara sepasang

wanita dan pria dengan tujuan membentuk rumah tangga yang kekal

yang diakui secara hukum, agama dan masyarakat.

b. Sikap

  Azwar (2005), menggolongkan definisi sikap dalam tiga

kerangka pemikiran. Pertama, sikap adalah suatu bentuk evaluasi

atau reaksi perasaan. Berarti sikap seseorang terhadap suatu objek

adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun

perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada

objek tersebut. Kedua, sikap merupakan semacam kesiapan untuk

bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat

  

dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan

kecenderungan yang potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu

apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki

adanya respon. Ketiga, sikap merupakan konstelasi komponen

kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam

memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek.

  

Sears, dkk (1985) menyatakan sikap merupakan orientasi yang

bersifat menetap dengan komponen-komponen kognitif, afektif, dan

perilaku. Komponen kognitif terdiri dari seluruh kognisi yang

dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu, fakta, pengetahuan,

dan keyakinan tentang objek. Komponen afektif terdiri dari seluruh

perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilaian.

  

Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi

atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.

  Menurut Thurstone (dalam Walgito, 1999) sikap merupakan

suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif

dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Afeksi yang

positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi negatif adalah afeksi

yang tidak menyenangkan. Objek dapat menimbulkan berbagai-

bagai macam sikap, dapat menimbulkan berbagai macam tingkatan

afeksi pada seseorang. Thurstone melihat sikap hanya sebagai

tingkatan afeksi saja, belum mengaitkan sikap dengan perilaku.

  

Secara eksplisit Thurstone melihat sikap hanya mengandung

komponen afeksi saja.

  Lebih lanjut menurut Thurstone, dkk (dalam Azwar, 2005) sikap

adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang

terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak

(favorable) maupun perasaan perasaan tidak mendukung atau tidak

memihak (unfavorable).

  Sementara itu Gerungan (dalam Walgito, 2003) menyatakan

bahwa sikap itu merupakan pandangan atau sikap perasaan, sikap

mana disertai oleh kecenderungan bertindak sesuai dengan sikap

terhadap objek tadi. Jadi sikap menurut pendapat ini mengarah

kepada sesuatu yang membuat terjadinya kecenderungan berperilaku

tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.

  Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat

disimpulkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi perasaan dan

kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil

interaksi antara komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling

bereaksi di dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap

suatu objek.

c. Sikap Terhadap Pernikahan

  Berdasarkan definisi sikap yang telah diuraikan di atas, maka

dapat diberi definisi sikap terhadap pernikahan sebagai bentuk

evaluasi perasaan dan kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling bereaksi di dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap pernikahan.

2. Aspek Sikap Terhadap Pernikahan

  Pembentukan sikap terhadap pernikahan merupakan hasil dari pengalaman yang dilihat dari bentuk pernikahan orang tua maupun dari orang sekitar. Seperti halnya dimensi dalam sikap pada umumnya maka dimensi dalam sikap terhadap pernikahan dibagi dalam tiga dimensi yaitu kognitif, afektif, dan konatif.

  Dimensi pertama berupa kognitif merupakan masuknya persepsi individu terhadap pernikahan. Persepsi tersebut bisa mengarah ke positif maupun negatif. Persepsi positif disini adalah seseorang memandang pernikahan sebagai lembaga yang memberikan kenyamanan serta mendapatkan keintiman dalam ikatan yang sah secara hukum dan agama. Persepsi negatif terhadap pernikahan adalah ketika seseorang memandang pernikahan sebagai suatu hal yang menakutkan karena akan dihadapkan pada masalah-masalah baru dalam kehidupannya.

  Dimensi kedua berupa afektif dimana sikap seseorang sangat ditunjukkan secara langsung, apakah ia menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau menyedihkan. Apabila seseorang memandangnya secara positif ia akan merasa bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menyenangkan, sedangkan apabila seseorang memandangnya secara negatif, maka ia akan menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang menyedihkan.

  Dimensi ketiga berupa konatif dimana dimensi ini menunjukkan kecenderungan sikap seseorang. Apabila pandangan dan perasaannya terhadap pernikahan adalah positif, maka seseorang akan cenderung menerima suatu ikatan pernikahan sebagai fase yang akan dilewati dalam kehidupannya, sedangkan apabila persepsi dan perasaan seseorang terhadap pernikahan adalah negatif, maka ia akan cenderung untuk tidak ingin terikat dalam komitmen pernikahan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Perkawinan

  Faktor-faktor sikap menurut Walgito (1999:127-128) antara lain: a.

   Faktor fisiologis Faktor fisiologis seseorang akan ikut menentukan bagaimana sikap seseorang. Berkaitan dengan ini ialah faktor umur dan kesehatan. Pada umumnya orang muda sikapnya lebih radikal daripada orang yang telah tua, sedangkan pada orang dewasa sikapnya lebih moderat. Dengan demikian masalah umur akan berpengaruh terhadap sikap seseorang. Orang yang lebih sering sakit lebih bersikap tergantung daripada orang yang tidak sering sakit.

  b. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap Bagaimana sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh pengalaman langsung orang yang bersangkutan dengan objek sikap tersebut. Misal orang yang mengalami peperangan yang sangat mengerikan, akan mempunyai sikap yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami peperangan terhadap objek sikap peperangan. Orang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap peperangan atas dasar pengalamannya.

  c. Faktor kerangka acuan Kerangka acuan merupakan faktor yang sangat penting dalam sikap seseorang, karena kerangka acuan ini akan berperan terhadap objek sikap. Bila kerangka acuan tidak sesuai dengan objek sikap, maka orang mempunyai sikap yang negatif

d. Faktor komunikasi sosial

  Faktor komunikasi sosial sangat jelas menjadi determinan sikap seseorang, dan faktor ini yang banyak diteliti. Komunikasi sosial yang berwujud informasi dari seseorang kepada orang lain dapat menyebabkan perubahan sikap pada diri orang yang bersangkutan. Faktor-faktor sikap terhadap pernikahan dapat dilihat

berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tersebut diatas.

  

Usia individu dapat mempengaruhi sikapnya terhadap pernikahan,

kematangan emosional individu akan berpengaruh terhadap positif

atau negatif sikapnya terhadap pernikahan. Selain itu juga dapat

dengan melihat pernikahan orang tuanya, apabila seorang individu

merasakan perceraian orang tua, meskipun tidak terlibat dalam

pernikahan itu sendiri seorang individu dapat merasakan akibat dari

kegagalan pernikahan orang tuanya, apabila seorang individu dapat

melalui fase menerima perceraian tersebut dengan baik maka sikapnya

terhadap pernikahan dapat positif, akan tetapi apabila tidak dapat

menerima perceraian orang tuanya maka sikapnya terhadap

pernikahan bisa menjadi negatif. Selain itu sikap terhadap pernikahan

juga dapat terpengaruh dengan menyaring informasi-informasi yang

ada sehingga individu dapat menilai bagaimana arti sebuah pernikahan

itu sendiri sehingga dapat menentukan apakah sikapnya terhadap

pernikahan positif atau negatif.

B. Perceraian

1. Pengertian Perceraian

  Menurut UU No 1 tahun 1974 tentang pernikahan, putusnya pernikahan dapat terjadi oleh karena: a. Kematian salah satu pihak.

  b. Perceraian.

  c. Atas keputusan pengadilan.

  Perceraian menurut Pasal 39 ayat (1) dan (2) UU Pernikahan:

  a. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan ke dua belah pihak.

  b. Untuk melakukan perceraian harus cukup ada alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.

  c. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan di atur dalam perundangan tersendiri.

  Perceraian dimaknai sebagai terputusnya hubungan suami-istri yang memiliki dampat besar bagi anak dan berkelanjutan. Perceraian merupakan alternatif terakhir sebagai solusi pernikahan yang bermasalah, karena hingga saat penelitian berlangsung individu masih merasa dampak dari perceraian orang tua yang telah terjadi lebih dari 10 tahun (Astrella, dalam Dewi, 2006).

  Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah putusnya ikatan rumah tangga antara suami dan istri

akibat tidak dipenuhinya hak dan kewajiban salah satu pihak.

2. Perlindungan Hukum Pada Anak yang Mengalami Perceraian Orang Tua

  Ketentuan mengenai akibat perceraian terhadap anak diatur dalam pasal 41 UU No. 1 Tahun 1974. Adapun isi dari pasal tersebut adalah:

  a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak-anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberikan keputusannya.

  b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak-anak, kecuali dalam pelaksanaannya pihak bapak tidak dapat melakukan kewajiban tersebut, maka Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

  c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberi biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas istri. Jadi menurut UU No. 1 Tahun 1974 walaupun orang tua sudah bercerai, mereka masih terikat pada kewajiban memelihara anak-anak yang telah dilahirkan dari pernikahan mereka. Juga dapat diketahui bahwa baik ibu ataupun bapak mempunyai hak yang sama terhadap pemeliharaan anak. Persamaan hak untuk memelihara ini sering menjadi pemicu perebutan hak pemeliharaan anak antara ayah dan ibu. Atas perebutan hak pemeliharaan anak Pengadilan yang akan memutuskan siapa yang berhak untuk itu. Dalam memberikan keputusan Pengadilan semata-mata memperhatikan kepentingan anak, misalnya jika anak masih berumur kurang dari 12 tahun, maka Pengadilan akan memberikan hak pemeliharaan kepada ibu, karena anak yang masih dibawah umur tersebut, jika anak sudah dapat memilih, maka anak disuruh memilih untuk ikut ibu atau ikut ayahnya.

  Apapun yang menjadi keputusan hakim, ayah sebagai mantan suami tetap berkewajiban memberikan nafkah kepada anak untuk biaya hidup dan pendidikannya. Walaupun demikian ibu juga dapat ditetapkan untuk ikut memikul beban biaya pemeliharaan anak tersebut.

  Berdasarkan ketentuan undang-undang di atas, dapat diketahui bahwa dampak perceraian yang dimuat hanyalah yang berdimensi fisik, tetapi tidak diatur dampak psikisnya.

3. Dampak Perceraian Pada Anak

  Rumah tangga yang pecah karena perceraian dapat lebih merusak anak dan hubungan keluarga ketimbang rumah tangga yang pecah karena kematian. Terdapat dua alasan untuk hal ini. Pertama, periode penyesuaian terhadap perceraian lebih lama dan sulit bagi anak daripada periode penyesuaian apabila pernikahan orang tuanya pecah karena kematian (Hurlock, 1978). Hozman dan Froiland (dalam Hurlock, 1978) menemukan bahwa kebanyakan anak melalui lima tahap dalam penyesuaian ini: penolakan terhadap perceraian, kemarahan yang ditujukan pada mereka yang terlibat dalam situasi tersebut, tawar-menawar dalam usaha mempersatukan orang tua, depresi, dan akhirnya menerima perceraian tersebut.

  Kedua, perpisahan yang disebabkan perceraian itu serius sebab

perceraian cenderung membuat anak ”berbeda” dalam mata kelompok

teman sebaya. Jika anak ditanya kemana orang tuanya atau mengapa

mereka mempunyai orang tua baru sebagai pengganti orang tuanya

yang tidak ada, mereka menjadi serba salah dan merasa malu. Di

samping itu mereka mungkin merasa bersalah jika mereka menikmati

waktu bersama dengan orang tua yang satunya, sementara orang

tuanya yang lain tidak bersama mereka (Hurlock, 1978).

  Menurut Rini (2002) dampak psikologis yang biasanya

dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai adalah: tidak aman

(insecurity), tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi,

sedih dan kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.

  Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku: suka mengamuk, menjadi kasar,

dan tindakan agresif lainnya, menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak

suka bergaul, sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas

sekolah sehingga prestasi di sekolah cenderung menurun, suka melamun, terutama mengkhayalkan orangtuanya akan bersatu lagi.

  Proses adaptasi pada umumnya membutuhkan waktu. Pada

awalnya anak akan sulit menerima kenyataan bahwa orangtuanya

tidak lagi bersama. Meski banyak anak yang dapat beradaptasi dengan baik, tapi banyak juga yang tetap bermasalah bahkan setelah bertahun-

  

tahun terjadinya perceraian. Anak yang berhasil dalam proses adaptasi,

tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika meneruskan

kehidupannya ke masa perkembangan selanjutnya, tetapi bagi anak

yang gagal beradaptasi, maka ia akan membawa hingga dewasa

perasaan ditolak, tidak berharga dan tidak dicintai. Perasaan-perasaan

ini dapat menyebabkan anak tersebut, setelah dewasa menjadi takut

gagal dan takut menjalin hubungan yang dekat dengan orang lain atau

lawan jenis (Rini, 2002).

  Sejalan dengan Rini, Andreas (2008) dalam penelitiannya

menyebutkan bahwa perceraian orang tua akan membawa pengaruh

langsung bagi anak–anak yang tiba-tiba saja harus menerima

keputusan yang telah dibuat oleh orang tua, tanpa ada bayangan

bahwa hidup mereka akan berubah secara tiba-tiba. Perceraian

menurut Andreas (2008) selalu menimbulkan akibat buruk pada anak

anak, meskipun dalam kasus tertentu dianggap alternatif terbaik

daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan

pernikahan yang buruk.

  Perkembangan anak akibat perceraian orangtuanya akan lebih

menderita dan akan menimbulkan trauma, sehingga membawa

pengaruh langsung dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru yang

diperlihatkan dengan cara dan penyelesaian yang berbeda. Peranan

lingkungan keluarga sangat penting bagi seorang anak, terlebih lagi

  

pada tahun–tahun pertama dalam kehidupannya setelah orang tuanya

bercerai.

  Severe (dalam Andreas, 2008) mengemukakan anak dapat

melihat ketegangan yang dialami orang tuanya, tetapi khawatir jika

mengungkapkan emosinya, akan menambah kepedihan setiap orang.

Inilah alasan mengapa sebagian besar anak tidak pernah bicara dengan

orang tuanya tentang perasaannya mengenai perceraian. Perasaan

tersembunyi ini akan meningkatkan kecemasan dan memperlemah

kemampuan anak untuk berprestasi di sekolah. Selain itu, perasaan

yang tertekan bisa menjadi bibit bagi permasalahan yang lebih besar

dalam kehidupannya nanti.

  Menurut Handoko (dalam Andreas, 2008) perceraian bagi anak

adalah "tanda kematian" keutuhan keluarganya, hidup tak akan sama

lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima

kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Perasaan

kehilangan, penolakan dan ditinggalkan akan merusak kemampuan

anak berkonsentrasi di sekolah. Perasaan-perasaan tersebut akan

meningkat bila kedua orang tuanya saling menyerang atau menghina.

Bila salah satu orang tua mengatakan hal-hal yang jelek mengenai

pasangannya di depan anak mereka, anak akan cemas bahwa ciri-ciri

yang tidak menyenangkan itu akan melekat pada diri mereka. Amarah

dan agresi merupakan reaksi yang lazim dalam perceraian, hal itu

terjadi bila orang tuanya marah di depan anaknya. Akibatnya, anak biasanya akan menumpahkan amarahnya kepada orang lain, misalnya kepada rekan-rekan sebayanya dan adik-adiknya karena relatif lebih aman.

C. Dewasa Awal

1. Pengertian Dewasa Awal

  Menurut Hurlock (2002) orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama orang dewasa lainnya. Masa dewasa dini adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas, dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Usia dewasa dini dari umur 18 tahun hingga kurang lebih 40 tahun.

  Dariyo (2004) menyebutkan bahwa secara umum mereka yang tergolong dewasa muda ialah mereka yang berusia 20-40 tahun.

  Papalia, Olds, dan Feldman (dalam Dariyo, 2004) menyatakan bahwa golongan dewasa muda berkisar antara 21-40 tahun.

  Menurut Levinson (dalam Monks, 2006) usia dewasa awal adalah 17-45 tahun. Antara usia 17 dan 22 tahun seseorang ada dalam dua masa. Ia meninggalkan masa pra-dewasa dan memasuki masa dewasa awal yang mencakup tiga periode. Periode pertama adalah periode pengenalan dengan dunia orang dewasa (22-28 tahun). Orang mengakui dirinya sendiri serta dunia yang ia masuki dan berusaha untuk membentuk struktur kehidupan yang stabil. Orang mencari tempat dalam dunia kerja dan dunia hubungan sosial. Pada akhir usia 20 tahun maka pemilihan struktur hidup ini makin menjadi penting. Pada usia antara 28-33 tahun pilihan struktur kehidupan ini menjadi lebih tetap dan stabil. Dalam fase kemantapan (33-40 tahun) orang dengan keyakinan yang mantap menemukan tempatnya dalam masyarakat dan berusaha untuk memajukan karier sebaik-baiknya.

  Pekerjaan dan kehidupan keluarga membentuk struktur peran yang memunculkan aspek-aspek kepribadian yang diperlukan dalam fase tersebut. Pada usia 40 tahun tercapailah puncak masa dewasa. Sesudah ini mulailah peralihan ke arah masa dewasa madya.

  Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa dewasa awal adalah individu yang menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat, pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek fisiologis telah mencapai posisi puncak dan berusia 20– 40 tahun.

2. Karakteristik Umum dan Tugas Perkembangan Dewasa Awal Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteritik tersendiri.

  Seperti halnya tahap perkembangan lain, masa dewasa awal ditandai dengan berbagai karakteristik khas. Dariyo (2003) mengatakan bahwa secara fisik, seorang dewasa muda (young adulthood) menampilkan

  

profil yang sempurna dalam arti bahwa pertumbuhan dan

perkembangan aspek-aspek fisiologis telah mencapai posisi puncak.

  

Mereka memiliki daya tahan dan taraf kesehatan yang prima sehingga

dalam melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik,

cepat dan proaktif.

  Dalam perkembangan psikososial masa dewasa awal terdapat

krisis intimacy versus isolation (Erikson, dalam Monks, 2006). Pada

masa dewasa awal inilah individu membuat komitmen personal yang

dalam dengan orang lain, yakni dengan membentuk keluarga. Apabila

individu dewasa awal tidak mampu melakukannya, maka akan merasa

kesepian dan krisis keterasingan (isolation).

  Sebagian besar golongan dewasa muda telah menyelesaikan

pendidikan sampai taraf universitas dan kemudian mereka segera

memasuki jenjang karier dalam pekerjaannya. Kehidupan psikososial

dewasa muda makin kompleks dibandingkan masa remaja karena

selain bekerja, mereka akan memasuki kehidupan pernikahan,

membentuk keluarga baru, memelihara anak-anak, dan tetap harus

memperhatikan orang tua yang makin tua (Dariyo, 2003).

  Havighurst (dalam Dariyo, 2003) mengemukakan tugas-tugas

perkembangan dewasa muda, diantaranya (a) mencari dan

menemukan calon pasangan hidup, (b) membina kehidupan rumah

tangga, (c) meniti karier dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga, dan (d) menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

  Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu dewasa awal yang dikaitkan dengan tugas perkembangan adalah beberapa tugas perkembangan pada masa dewasa awal, diantaranya mulai bekerja, memilih pasangan, belajar hidup dengan pasangan dan mulai membina keluarga. Hal ini mengarahkan bahwa sikap terhadap pernikahan mulai terbentuk pada inidividu dewasa awal.

D. Sikap Terhadap Pernikahan Pada Individu Dewasa Awal yang Mengalami Perceraian Orang Tua

  Perceraian merupakan jalan yang ditempuh pasangan suami istri yang sudah

tidak mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Setelah berlangsungnya

perceraian, masalah belum tentu selesai, bisa jadi perceraian tersebut

menimbulkan trauma yang menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk

di dalamnya adalah anak-anak. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan

trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Menurut Holmes dan

Rahe (dalam Rini, 2002), perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi,

setelah kematian pasangan hidup.

  Pada umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi

perceraian tersebut dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum

mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang

  

panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Tidak demikian

halnya dengan anak, mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah

dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup

mereka akan berubah. Tiba-tiba saja orang tua mereka sudah tidak serumah lagi

dan sulit untuk ditemui. Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin hanyalah

sebelumnya orang tua mereka sering bertengkar hingga membuat anak-anak tidak

takut, dan sekarang sudah tidak ada lagi pertengkaran, tetapi orang tua mereka

tidak bersatu lagi.

  Apapun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak,

meskipun dalam kasus tertentu perceraian dianggap merupakan alternatif terbaik

daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan

yang buruk. Anak-anak merasa tidak aman (insecurity), tidak diinginkan atau

ditolak oleh orangtuanya yang pergi, sedih dan kesepian, marah, kehilangan,

merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.

  

Semua perasaan ini bercampur baur dalam pikiran anak, membuat anak menjadi

suka mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif lainnya, menjadi pendiam,

tidak lagi ceria, tidak suka bergaul, sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada

tugas sekolah sehingga prestasi di sekolah cenderung menurun, suka melamun,

terutama mengkhayalkan orangtuanya akan bersatu lagi.

  Bagi anak yang dapat segera mengatasi perasaan-perasaan yang bercampur

aduk ini dan beradaptasi dengan perceraian orang tuanya, maka perceraian itu

akan meminimkan trauma pada anak. Beberapa indikator bahwa anak telah

beradaptasi adalah menyadari dan mengerti bahwa orangtuanya sudah tidak lagi bersama dan tidak lagi berfantasi akan persatuan kedua orangtua, dapat menerima rasa kehilangan, tidak marah pada orangtua dan tidak menyalahkan diri sendiri,

serta menjadi dirinya sendiri lagi Akan tetapi bagi anak yang tidak mampu

. beradaptasi dengan perceraian orang tuanya akan menimbulkan pemikiran bahwa untuk menghindari perceraian maka tidak boleh ada pernikahan. Pikiran seperti ini akan dibawanya terus sampai anak memasuki tahap dewasa awal.

  Tahap dewasa awal dimulai pada saat individu menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama orang

dewasa lainnya (Hurlock, 1980). Pada saat inilah individu siap memasuki

pernikahan.

  Pernikahan adalah gerbang yang menandai masuknya individu ke dalam ikatan rumah tangga dengan orang yang telah dipilihnya untuk menjalani hidup

sampai tua. Namun tidak demikian halnya pandangan individu yang pernah

mengalami perceraian orang tua. Apalagi jika perceraian itu menimbulkan trauma yang dalam, maka ia memandang pernikahan adalah sesuatu yang buruk dan tidak perlu dilakukan.

  Selanjutnya pemikiran anak terhadap perceraian tersebut akan

mempengaruhi sikapnya terhadap pernikahan. Ada dua macam sikap terhadap

pernikahan, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif terhadap

pernikahan ditunjukkan dengan persepsi positif terhadap pernikahan, pandangan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menyenangkan, dan kecenderungan untuk

menerima ikatan pernikahan sebagai fase yang akan dilewati dalam kehidupannya.

  Di lain pihak, bagi anak yang mempunyai sikap negatif terhadap pernikahan, ia

  

akan mempunyai persepsi negatif terhadap pernikahan yang memandang bahwa

pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan, memandang pernikahan adalah

sesuatu yang menyakitkan, dan kecenderungan untuk menolak terikat dalam

pernikahan seperti yang dapat kita lihat pada skema berikut :

  Berdasarkan uraian dan skema di atas dapat diketahui bahwa seorang anak

yang mengalami perceraian orang tua akan merasakan akibat dari kegagalan

pernikahan orang tuanya meskipun tidak terlibat langsung dalam pernikahan,

sehingga dapat mempengaruhi sikapnya terhadap pernikahan. Seorang anak yang

berpikir bahwa kegagalan pernikahan orang tuanya adalah hal yang buruk akan

cenderung mempunyai sikap negatif terhadap pernikahan. Begitu pula apabila

anak mendapatkan informasi yang negatif mengenai pernikahan, dapat

  

bisa melalui fase menerima perceraian orang tua dan beradaptasi baik dengan hal

tersebut, maka kemungkinan sikap anak terhadap pernikahan adalah positif.

  Oleh karena itu, untuk mengetahui secara jelas bagaimana sikap terhadap

pernikahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian. Pertanyaan penelitian yang

diberikan adalah sebagai berikut: Bagaimana sikap terhadap pernikahan pada

individu dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua?

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang

  

menggambarkan variabel yang akan diteliti melalui pengisian skala tanpa perlu

mencari atau menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dari implikasi (Amirin dalam Ratih, 2006). Menurut Azwar (2009) penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi,

yaitu menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih

mudah untuk difahami dan disimpulkan. Uraian kesimpulan didasari oleh angka

yang diolah tidak secara terlalu dalam. Kebanyakan pengolahan datanya

didasarkan pada analisis persentase dan analisis kecenderungan.

  B. Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah sikap terhadap pernikahan.

  C. Definisi Operasional Sikap terhadap pernikahan adalah bentuk evaluasi perasaan dan

kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara

komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling bereaksi di dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap pernikahan.

  1. Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana subjek mempersepsi pernikahan.

  2. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap pernikahan.

  3. Komponen konatif (komponen perilaku), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan tindakan seseorang terhadap pernikahan. Sikap terhadap pernikahan pada individu dewasa awal yang mengalami

perceraian akan dapat dilihat dari skor total skala, yaitu semakin tinggi skor total

yang diperoleh subjek pada skala, maka semakin positif sikapnya terhadap

pernikahan.

D. Subjek Penelitian

  Kriteria subjek dalam penelitian ini adalah:

  1. Berada pada masa dewasa awal yaitu usia antara 20-40 tahun yang orang tuanya bercerai.

  2. Lokasi berada di Yogyakarta, karena posisi peneliti yang berada di kota yang sama sehingga memudahkan penelitian.

E. Alat Pengumpulan Data

  1. Penyusunan Aitem Alat pengumpul data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap terhadap pernikahan. Skala ini disusun dan dikembangkan oleh peneliti sendiri. Pada masing-masing indikator atau aspek terdapat pernyataan favourable dan pernyataan

  . unfavourable

  Skala sikap terhadap pernikahan terdiri dari 30 aitem, yang terdiri dari 15 aitem favourable dan 15 aitem unfavourable. Tabel 3.1 merupakan distribusi skala aitem sikap terhadap pernikahan.

  Tabel 3.1 Distribusi Aitem Skala Sikap Terhadap Pernikahan Aspek Aitem Jumlah

  Favourable Unfavourable

Kognitif 1, 7, 13, 19, 25 4, 10, 16, 22, 28

  10 Afektif 2, 8, 14, 20, 26 5, 11, 17, 23, 29

  10 Konatif 3, 9, 15, 21, 27 6, 12, 18, 24, 30

  10 Jumlah

  15

  15

  30

  2. Pemberian Skor Skala Sikap Terhadap Pernikahan dan Perceraian Pemberian skor pada skala dilakukan dengan menggunakan metode rating yang dijumlahkan (summated rating), yaitu metode penskalaan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Gable dalam Azwar, 2005). Dalam skala yang menggunakan rating dijumlahkan ini, subjek diminta untuk memilih dan merespon pernyataan-pernyataan yang dirumuskan

  

dengan menentukan faktor yang berpengaruh terhadap suatu sikap

secara favourable dan unfavourable tentang sesuatu. Pernyataan

favourable adalah pernyataan yang mendukung secara teknis atau

memihak obyek (sikap) yang akan diukur, sebaliknya pernyataan yang

tidak mendukung atau kontra terhadap obyek yang diukur disebut

pernyataan yang unfavourable.

  Jawaban yang bersifat favourable dan unfavourable terdiri dari

empat pilihan jawaban yaitu “Sangat Setuju (SS)”, “Setuju (S), “Tidak

Setuju (TS)” dan “Sangat Tidak Setuju (STS)”. Pada pernyataan

favourable skor yang diperoleh untuk masing-masing jawaban adalah

Sangat Setuju (SS) diberi skor 4, Setuju (S) diberi skor 3, Tidak Setuju

(TS) diberi skor 2 dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1,

sedangkan untuk pernyataan unfavorable jawaban Sangat Tidak

Setuju (STS) diberi skor 4, Tidak Setuju (TS) diberi skor 3, Setuju (S)

diberi skor 2 dan Sangat Setuju (SS) diberi skor 1.

  Skor untuk tiap-tiap aitem pada skala dijumlahkan sehingga

menjadi skor total. Semakin tinggi skor total yang diperoleh oleh

subjek maka menunjukkan bahwa subjek memiliki sikap yang

mengarah kepada sikap positif dan sebaliknya skor yang rendah

menunjukkan bahwa subjek memiliki sikap yang mengarah kepada

sikap negatif.

F. Validitas, Uji Daya Beda, dan Reliabilitas

  Sebelum mengolah hasil penelitian terlebih dahulu dilakukan tiga pengujian,

yakni: validitas, uji daya beda, dan reliabilitas. Berikut adalah penjelasan dari

masing-masing uji menurut Azwar (2008):

1. Validitas

  Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran terebut Azwar (2008).

  Pada penelitian ini akan digunakan validitas isi atau yang disebut juga dengan content validity yang merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement (Azwar, 2008). Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau “sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur” (Azwar, 2008).

  Validitas isi terbagi menjadi dua tipe yakni validitas muka (face validity ) dan validitas logik (sampling validity). Pada penelitian ini akan menggunakan validitas logik karena validitas muka mempunyai signifikasi yang rendah dan kurang cocok bagi penelitian ini. Validitas logik akan menunjukkan sejauhmana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur.

  Untuk memperoleh validitas logik yang tinggi suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang hendak diungkap oleh tes haruslah dibatasi lebih dahulu kawasan perilakunya secara seksama dan konkret. Batasan perilaku yang kurang jelas akan menyebabkan terikutnya aitem-aitem yang tidak relevan dan tertinggalnya bagian penting dari objek ukur

yang seharusnya masuk sebagai bagian dari tes yang bersangkutan.

  Pada penelitian ini yang akan diukur adalah sikap terhadap pernikahan pada individu dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua. Menurut Walgito (1999), atribut sikap adalah komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif. Sehingga dalam penelitian ini, atribut-atribut tersebut yang dipakai dan pengujian terhadap isi tes telah disetujui oleh dosen pembimbing selaku professional judgement.

2. Uji Daya Beda

  Pengujian keselarasan fungsi aitem dengan fungsi tes menghendaki dilakukannya komputasi koefisien korelasi antara distributor skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu distribusi skor total tes itu sendiri. Prosedur pengujian konsistensi aitem-total akan menghasilkan koefisien korelasi aitem-

  

total (r ix ) yang umum juga dikenal dengan sebutan indeks daya beda

aitem. Sebutan ini adalah benar dikarenakan pada hakikatnya suatu

aitem yang konsisten merupakan aitem yang mampu menunjukkan

perbedaan antar subjek pada aspek yang diukur oleh tes yang

bersangkutan (Azwar, 2008).

  Secara teknis, pengujian konsistensi aitem dilakukan dengan

menghitung koefisien korelasi antara skor subjek pada aitem yang

bersangkutan dengan skor total tes (korelasi aitem-total). Bagi tes

yang setiap aitemnya diberi skor kontinyu dapat digunakan formula

koefisien korelasi product-moment Pearson. Semakin tinggi korelasi

positif antara skor aitem dengan skor tes berarti semakin tinggi

konsistensi antara aitem tersebut dengan tes keseluruhan yang berarti

semakin tinggi daya bedanya. Bila koefisien korelasinya rendah

mendekati nol berarti fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi

ukur tes dan daya bedanya tidak baik. Untuk mengetahui aitem mana

yang memiliki daya beda tinggi dan tidak maka hasil dari r ix perlu

dibandingkan dengan r tabel dengan N adalah jumlah subjek yang

diteliti. Apabila r ix > r tabel maka aitem tersebut mempunyai daya

beda tinggi dan sebaliknya (Azwar, 2008).

  Dalam penelitian ini terdapat 38 subyek, sehingga r tabel yang

digunakan adalah 0,320 (Riduwan, 2006). Penggunaan r tabel dipilih

dikarenakan dianggap lebih cermat oleh peneliti. Jika indeks daya

  

beda yang diperoleh di bawah 0,320 maka dikategorikan rendah, dan

berikut adalah hasil yang diperoleh: Tabel 3.2 Uji Daya Beda 30 Aitem No. Pernyataan Indeks Daya Beda aitem Daya Beda

  16. Aitem 16 0,387 Tinggi

  29. Aitem 29 0,266 Rendah

  28. Aitem 28 0,631 Tinggi

  27. Aitem 27 0,501 Tinggi

  26. Aitem 26 0,541 Tinggi

  25. Aitem 25 0,596 Tinggi

  24. Aitem 24 0,567 Tinggi

  23. Aitem 23 0,392 Tinggi

  22. Aitem 22 0,481 Tinggi

  21. Aitem 21 0,543 Tinggi

  20. Aitem 20 0,518 Tinggi

  19. Aitem 19 0,586 Tinggi

  18. Aitem 18 0,457 Tinggi

  17. Aitem 17 0,513 Tinggi

  15. Aitem 15 0,503 Tinggi

  1. Aitem 1 0,473 Tinggi

  14. Aitem 14 0,418 Tinggi

  13. Aitem 13 0,387 Tinggi

  12. Aitem 12 0,654 Tinggi

  11. Aitem 11 0,105 Rendah

  10. Aitem 10 0,242 Rendah

  9. Aitem 9 0,582 Tinggi

  8. Aitem 8 0,486 Tinggi

  7. Aitem 7 0,476 Tinggi

  6. Aitem 6 0,657 Tinggi

  5. Aitem 5 0,522 Tinggi

  4. Aitem 4 0,476 Tinggi

  3. Aitem 3 0,641 Tinggi

  2. Aitem 2 0,548 Tinggi

  30. Aitem 30 0,613 Tinggi Pada Tabel 3.2 dapat dilihat bahwa ada tiga aitem yang memiliki

indeks daya beda di bawah 0,320 yakni aitem 10, 11, dan 29. Hal ini

berarti ketiga aitem tersebut mempunyai indeks daya beda rendah

  

aspek yang diukur oleh tes ini. Sehingga ketiga aitem ini tidak

digunakan lagi. Oleh karena penelitian ini hanya diujikan satu kali

pada sekelompok subjek maka aitem yang mempunyai indeks daya

beda tinggi diuji lagi untuk melihat apakah ke-27 aitem sudah

mempunyai indeks daya beda tinggi. Indeks daya beda pada 27 aitem

ditunjukkan pada Tabel 3.3.

  14. Aitem 16 0,371 Tinggi

  26. Aitem 28 0,644 Tinggi

  25. Aitem 27 0,486 Tinggi

  24. Aitem 26 0,557 Tinggi

  23. Aitem 25 0,618 Tinggi

  22. Aitem 24 0,617 Tinggi

  21. Aitem 23 0,435 Tinggi

  20. Aitem 22 0,511 Tinggi

  19. Aitem 21 0,607 Tinggi

  18. Aitem 20 0,528 Tinggi

  17. Aitem 19 0,603 Tinggi

  16. Aitem 18 0,484 Tinggi

  15. Aitem 17 0,517 Tinggi

  13. Aitem 15 0,538 Tinggi

  Tabel 3.3 Uji Daya Beda 27 Aitem No. Pernyataan Indeks Daya Beda aitem Daya Beda

  12. Aitem 14 0,401 Tinggi

  11. Aitem 13 0,397 Tinggi

  10. Aitem 12 0,691 Tinggi

  9. Aitem 9 0,639 Tinggi

  8. Aitem 8 0,514 Tinggi

  7. Aitem 7 0,489 Tinggi

  6. Aitem 6 0,688 Tinggi

  5. Aitem 5 0,502 Tinggi

  4. Aitem 4 0,385 Tinggi

  3. Aitem 3 0,617 Tinggi

  2. Aitem 2 0,528 Tinggi

  1. Aitem 1 0,424 Tinggi

  27. Aitem 30 0,656 Tinggi

  Pada Tabel 3.3, indeks daya beda ke-27 aitem sudah masuk ke dalam kategori tinggi karena sudah melebihi r tabel (0,320). Oleh karena itu, ke-27 aitem sudah mampu menunjukkan perbedaan antar subjek pada aspek yang diukur pada penelitian ini.

3. Reliabilitas

  Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Secara empirik, tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas yang dilambangkan dengan rxx’.

  Dalam penelitian ini untuk melakukan uji reliabilitas digunakan formula dari Alpha Cronbach (Sugiyono, 2008). Dalam hal ini apabila nilai koefisien α ≥ 0,6 maka dapat dikatakan bahwa skala yang digunakan tersebut reliabel. Hasil koefisien α yang dilakukan dengan menggunakan SPSS didapatkan bahwa reliabilitas dari ke-27 aitem adalah 0.896. Diketahui bahwa koefisien α hasil pengujian lebih besar daripada 0,6 sehingga dapat dikatakan bahwa hasil pengukuran ini dapat dipercaya.

G. Metode Analisis Data

  Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan untuk mengetahui arah

sikap terhadap pernikahan akan dilakukan dengan melihat skor mean empirik

  

hasil tes. Apabila skor mean empirik lebih tinggi daripada skor mean hipotetik

maka arah sikap terhadap perkawinan tinggi dan sebaliknya. Untuk lebih

meyakinkan seberapa signifikan perbedaan mean empirik dan mean hipotetik

maka dilakukan uji t, dan hasil uji akan signifikan apabila nilai p value di lebih

kecil daripada nilai α (0,05).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive

  

sampling . Hal tersebut disebabkan karena sampel ditentukan oleh orang yang

mengenal betul populasi yang akan diteliti sehingga akan didapatkan sampel yang

representatif untuk populasi yang sedang diteliti. Peneliti melakukan penelitian

dengan menyebarkan kuisioner tentang skala sikap terhadap pernikahan kepada 50

orang subjek, yang dilengkapi dengan identitas subjek. Subjek sebagian

merupakan orang yang dikenal oleh peneliti, dan sebagian lagi merupakan kenalan

dari orang yang dikenal oleh peneliti. Dalam proses pengerjaan kuisioner, pada

beberapa orang, peneliti menunggu karena kuisioner diisi secara langsung, dan

sebagian besar yang lain meminta untuk ditinggal terlebih dahulu dan kuisioner

diambil keesokan harinya atau beberapa hari kemudian. Dari 50 kuisioner yang

disebarkan tersebut, sebanyak 5 kuisioner tidak dikembalikan kepada peneliti

sehingga tersisa 45 kuisioner. Dari 45 kuisioner yang tersisa, sebanyak 7 kuisioner

tidak dapat dipergunakan sebagai data penelitian karena orang tua subjek tidak

bercerai, sehingga tidak memenuhi syarat yang ditetapkan dalam penelitian ini,

yaitu orang tua subjek bercerai. Oleh karena itu jumlah kuisioner yang layak

dijadikan data penelitian adalah sebanyak 38 buah.

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Subjek

  Subjek penelitian ini adalah individu dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua. Jumlah subjek penelitian ini adalah 38 orang. Adapun deskripsi subjek berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, dan usia saat orang tua bercerai dijelaskan pada

Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.5:

  Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%)

  Laki-laki

15 39,47

Perempuan

23 60,53

Total

38 100

  Tabel 4.2 Karakteristik Subjek Berdasarkan Usia

  Usia Jumlah Prosentase (%) 20 tahun

1 2,63

21 tahun

  4 10,53 22 tahun 5 13,16 23 tahun

  

10 26,32

24 tahun 6 15,79 25 tahun 4 10,53 26 tahun

2 5,26

27 tahun

1 2,63

28 tahun

3 7,89

29 tahun

2 5,26

Total

  

38 100

Rata-rata Usia 23,92

  Tabel 4.3 Karakteristik Subjek Berdasarkan Pendidikan

  Pendidikan Jumlah Prosentase (%) Tidak ada keterangan 1 2,63 SMA

  20 52,63 D3 3 7,89 S1

  14 36,84 Total 38 100

  Tabel 4.4 Karakteristik Subjek Berdasarkan Pekerjaan

  Pekerjaan Jumlah Prosentase (%) Tidak ada keterangan 10 26,32 Mahasiswa/i

  11 28,95 Honorer PNS 1 2,63 Pegawai Negeri 1 2,63 Pegawai Swasta 2 5,26 Pedagang HP 1 2,63 Calon Dokter 1 2,63 Distributor Buku 1 2,63 Distributor HP 1 2,63 Guru 2 5,26 Karyawan 3 7,89 Wiraswasta 4 10,53 Total

  38 100

  Tabel 4.5 Karakteristik Subjek Berdasarkan Usia Saat Orang Tua Bercerai

  Usia Saat Orang Tua Jumlah Prosentase

Bercerai (%)

  1 1 2,63

  3 2 5,26

  4 2 5,26

  5 1 2,63

  6 2 5,26

  7 4 10,53

  8 4 10,53

  10 4 10,53

  12 3 7,89

  13 1 2,63

  14 2 5,26

  15 4 10,53

  16 4 10,53 Total Rata-rata Usia 8,76

2. Analisis Data

a. Analisis Data

  Setelah penelitian dilakukan, maka data yang diperoleh dideskripsikan. Hasil penelitian yang diperoleh dideskripsikan dalam Tabel 4.6: Tabel 4.6 Deskripsi Data Penelitian Variabel Hipotetik Empirik

  Min Maks Rerata Min Maks Rerata Sikap 27 108 67,5 76 106 91,13 Catatan

Data hipotetik = Skor yang diperoleh oleh subjek

Data empiris = Skor yang sebenarnya diperoleh dari hasil penelitian

  Berdasarkan data hasil penelitian, skor variabel akan

  

Klasifikasi dilakukan dengan mengasumsikan bahwa skor

populasi subjek mempunyai distribusi normal, sehingga dapat

dibuat skor hipotetik yang terdistribusi menurut model normal

(Azwar, 2003).

  Dilihat dari data penelitian diketahui bahwa mean yang

diperoleh menunjukkan hasil yang tinggi, untuk meyakinkan

hasil tersebut maka dilakukan uji t. Dalam penelitian ini hanya

digunakan satu variabel, maka digunakan uji one sample t test.

  

Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat bantu Program

SPSS versi 16.00 for windows.

  Cara pengujian adalah dengan melihat nilai one sample t yang dihasilkan dalam penelitian. Jika one sample t test test

bernilai positif, berarti subjek mempunyai kecenderungan sikap

positif. Sebaliknya jika one sample t test bernilai negatif, berarti

subjek mempunyai kecenderungan sikap negatif. Selanjutnya

untuk mengetahui apakah nilai one sample t test tersebut

signifikan atau tidak, maka dilihat p value hasil pengujian. P

value adalah tingkat kesalahan yang terjadi dalam perhitungan,

sedangkan α adalah tingkat kesalahan yang ditolerir. Pendekatan

kaidah pengambilan keputusan biasanya memilih α sebesar 0,05

atau 0,01 atau kadang-kadang sebesar 0,10 (Winarno, 2007).

Dalam penelitian ini α yang digunakan adalah 0,05 (5%) karena

nilai ini dianggap yang paling moderat oleh peneliti. Jika nilai p

  value ≤ α (alpha) maka dikatakan signifikan. Sebaliknya jika nilai p value

  > α (alpha) maka dikatakan tidak signifikan. Berdasarkan pengujian yang dilakukan diperoleh nilai one sample t test sebesar 70,395 (positif). Hal ini menunjukkan bahwa subjek mempunyai kecenderungan sikap positif terhadap pernikahan. Untuk mengetahui apakah sikap yang terbentuk tersebut signifikan atau tidak, dilakukan perbandingan nilai p value dengan α. Dari perbandingan yang dilakukan diketahui bahwa nilai p value (0,000) <

  α (0,05). Artinya, bahwa kecenderungan subjek untuk bersikap positif terhadap pernikahan adalah signifikan.

b. Kategorisasi

  Pada skala sikap terhadap pernikahan dengan jumlah aitem sebanyak 27 buah, skor minimum yang dapat diperoleh dari subjek adalah 27 x 1 = 27 dan skor maksimum yang dapat diperoleh adalah 27 x 4 = 108, sehingga jarak sebarannya adalah 108 – 27 = 81 dan setiap satuan deviasi standar ( ) bernilai 81/6

  σ = 13,5 serta mean hipotetiknya (M) = 81 – 13,5 = 67,5.

  Berdasarkan hasil perhitungan ini maka Skala Sikap terhadap Pernikahan dapat diklasifikasikan menjadi tiga klasifikasi sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.7:

   Tabel 4.7 Klasifikasi Evaluatif Skala Sikap Terhadap Pernikahan Kategori Ketentuan Nilai Frekuensi Persentase (%)

  Tinggi X > M + 1 σ X > 81 32 84,21 Sedang

  M - 1 σ < X ≤ M + 1σ 54 < X ≤ 81 6 15,79 Rendah X ≤ M - 1σ

  X ≤ 54 Catatan: M = Rerata hipotetik σ

  = Setiap satuan standar deviasi Berdasarkan hasil klasifikasi sebagaimana dimuat dalam Tabel 4.7, diketahui bahwa 6 orang subjek (15,79%) memiliki skor sedang, dan 32 orang (84,21%) memiliki skor tinggi. Jika dilihat dari jumlah subjek, maka dapat dikatakan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini memiliki persentase tinggi.

  Hal ini terbukti dari rata-rata skor empirik subjek yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata skor hipotetik.

C. Pembahasan

  Hasil dari penelitian sikap terhadap pernikahan pada individu dewasa awal

yang mengalami perceraian orang tua adalah individu dewasa awal memiliki sikap

positif terhadap pernikahan. Hasil dari penelitian ini tidak mendukung pendapat

Rini (2002) yang mengungkapkan bahwa perceraian orang tua dapat

mempengaruhi sikap seorang individu terhadap pernikahan. Hasil penelitian ini

juga tidak sejalan dengan pandangan Astrella (dalam Dewi, 2006) yang

berpendapat bahwa perceraian akan mengubah sikap individu terhadap peranan

orang tua dalam keluarga, gambaran peran suami-istri dalam masyarakat,

  Santoso (2009) mengungkapkan bahwa akibat perceraian orang tua, anak-

anak di masa dewasanya bisa mengalami phobia berupa takut akan pernikahan.

  

Mereka dihantui kekhawatiran akan bercerai seperti yang dialami oleh kedua

orang tuanya. Namun dampak negatif perceraian tersebut kemungkinan dapat

dicegah dengan beberapa cara, antara lain: orangtua meminta maaf kepada anak-

anak atas langkah perceraian yang terpaksa mereka tempuh dan memberikan

penjelasan yang menyejukkan bagi mereka, orang tua tidak melakukan

pertengkaran di depan anak, dan setelah bercerai orang tua tetap menjaga

hubungan baik satu dengan yang lain, serta melakukan aktivitas bersamaan

dengan anak sehingga dapat menjalin komunikasi dengan baik.

  Rini (2002) mengungkapkan bahwa seorang anak yang berhasil dalam

proses adaptasi, tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika meneruskan

kehidupannya ke masa perkembangan selanjutnya, tetapi bagi anak yang gagal

beradaptasi, maka ia akan membawa hingga dewasa perasaan ditolak, tidak

berharga dan tidak dicintai. Perasaan-perasaan ini dapat menyebabkan anak

tersebut, setelah dewasa menjadi takut gagal dan takut menjalin hubungan yang

dekat dengan orang lain atau lawan jenis. Akan tetapi bagi anak yang dapat

beradaptasi mereka akan menyadari dan mengerti bahwa orangtuanya sudah tidak

lagi bersama dan tidak lagi berfantasi akan persatuan kedua orangtua, dapat

menerima rasa kehilangan, tidak marah pada orangtua dan tidak menyalahkan diri

sendiri, serta menjadi dirinya sendiri lagi sehingga pandangan terhadap

pernikahan tidak negatif, dan tetap dapat menjalin hubungan yang baik dengan

lawan jenis. Berdasarkan pendapat tersebut diatas, sikap negatif dapat terjadi

  

apabila seorang individu tidak berhasil dalam proses adaptasi. Dalam penelitian

ini, sikap subjek terhadap terhadap pernikahan yang positif dimungkinkan karena

subjek dapat beradaptasi dengan baik.

  Menurut UU No. 1 Tahun 1974 walaupun orang tua sudah bercerai, mereka

masih terikat pada kewajiban memelihara anak-anak yang telah dilahirkan dari

pernikahan mereka. Kesejahteraan anak yang dilindungi oleh Undang-Undang

yang menuntut orang tua untuk tetap menjalankan kewajibannya tersebut dapat

membuat anak tetap merasa diperhatikan oleh orang tuanya, sehingga sikap positif

terhadap pernikahan dapat terbentuk dikarenakan subjek tidak kehilangan figur

orang tua lengkap, kendati orang tuanya bercerai, mereka masih meluangkan

waktu yang banyak bersama subjek, mengetahui perkembangan subjek, dan

mencurahkan perhatian. Figur orang tua juga bisa diisi oleh orang lain selain

orang tua subjek, yang dapat memberikan kontribusi positif pada diri subjek.

  

Selain itu orang tua juga menanamkan pada diri subjek bahwa perceraian yang

dilakukan oleh orang tuanya merupakan jalan keluar yang terbaik dari

permasalahan yang dihadapi orang tuanya, dan bukan dikarenakan kesalahan

subjek. Hal ini sejalan dengan pendapat Widyarini (2007) yang mengungkapkan

bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan oleh orangtua yang

bercerai adalah mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa

mereka tidak bersalah. Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah

mencarikan orang dewasa lain seperti tante atau paman, yang untuk sementara

dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya agar

anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam

  

mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika belum ada

perceraian.

  Faktor lain yang juga dimungkinkan cukup berpengaruh adalah faktor umur.

Dalam penelitian ini subjek yang diteliti mempunyai usia rata-rata 8,76 tahun

ketika orang tuanya bercerai. Pada usia rata-rata tersebut anak-anak sudah

memasuki usia sekolah, sehingga dukungan dari lingkungan sekolah, termasuk

guru dan teman-teman sebaya juga cukup berperan dalam sikap anak kelak

terhadap pernikahan. Apabila teman-teman dan terutama guru dari subjek

memberikan dukungan yang positif, maka subjek dapat lebih menerima kondisi

orang tuanya yang mengalami perceraian, sehingga ketika anak memasuki usia

dewasa awal ia tidak bersikap negatif terhadap pernikahan. Hal ini sesuai dengan

yang disampaikan oleh Erikson (dalam Yudianto, 2008) bahwa pada usia 6-12

tahun seorang individu memasuki tahap Industry Vs Inferiority. Pada tahap ini

anak masuk dalam proses belajar, dan dapat menghadapi serta menyelesaikan

tugas atau perbuatan yang akhirnya dapat menghasilkan sesuatu. Anak siap untuk

meninggalkan rumah atau orangtua dalam waktu terbatas yaitu untuk sekolah.

Melalui proses pendidikan ini anak belajar untuk bersaing (sifat kompetetif), juga

sifat kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan

belajar peraturan-peraturan yang berlaku. Kunci proses sosialisasi pada tahap ini

adalah guru dan teman sebaya. Dalam hal ini peranan guru sangat sentral. Anak

dapat tidak menjadi inferior karena adanya identifikasi dengan guru.

  Perkembangan kognitif anak juga cukup berpengaruh dalam pemahaman

anak mengenai perceraian orang tuanya. Usia rata-rata subjek yang 8,76 tahun

  

pada saat orang tuanya bercerai, masih termasuk dalam usia anak-anak. Ketika

perceraian terjadi pada usia anak-anak, kemungkinan subjek untuk memahami apa

yang terjadi pada orang tuanya masih kecil. Hal ini dikarenakan menurut Piaget

(dalam Marutu, 2008) pada usia 7-11 tahun, seorang anak masih berada dalam

tahap operasi konkret, dimana pada tahap tersebut pemahaman anak masih

terbatas pada hal-hal yang konkret, dan belum dapat memecahkan persoalan yang

abstrak. Seorang anak dapat memahami bahwa orang tuanya tidak lagi bersama

tinggal dalam satu rumah karena telah melakukan perceraian, tetapi kenapa

perceraian itu bisa terjadi, alasan-alasan apa yang melatarbelakangi orang tuanya

bercerai belum dipahami oleh subjek. Pemahaman subjek yang belum mendalam

tersebut dapat melindungi subjek dari pemikiran yang negatif akan pernikahan.

  Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa usia subjek sudah 20 tahun

keatas dan rata-rata pendidikan subjek adalah SMA, dan diasumsikan karena

banyak dari subjek yang masih duduk di bangku perkuliahan karena rata-rata

pekerjaan subjek adalah mahasiswa/i. Dengan tingkat pendidikan subjek yang

cukup tinggi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa subjek dapat lebih

menyerap informasi dengan baik, sehingga lebih mudah dalam membantu subjek

dalam proses adaptasi dengan perceraian orang tuanya hingga kemudian sikap

subjek terhadap pernikahan dapat cenderung positif.

  Berdasarkan uraian-uraian diatas apabila orang tua, anak, dan lingkungan

saling mendukung maka besar kemungkinan ketika dewasa anak yang orang

tuanya bercerai tetap dapat memiliki sikap positif terhadap pernikahan.

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang memiliki riwayat

  

perceraian orang tua tetap memiliki sikap yang positif terhadap pernikahan. Sikap

positif subjek tersebut diduga karena berhasilnya subjek dalam proses adaptasi

terhadap perceraian orang tuanya, serta pada penelitian ini usia subjek ketika

orang tuanya bercerai rata-rata 8,76 tahun sehingga besar kemungkinan pada usia

terebut subjek belum memahami dengan mendalam apa yang terjadi dengan orang

tuanya sehingga ketika dewasa sikap subjek terhadap pernikahan dapat cenderung

positif.

B. Saran

  Dalam penelitian ini peneliti menemui keterbatasan dikarenakan variabel

yang digunakan adalah sikap terhadap pernikahan. Pernikahan yang dianggap

positif oleh masyarakat kemungkinan besar membuat terjadinya bias dalam

jawaban-jawaban yang diberikan subjek.

  Pada penelitian ini, sikap positif terhadap pernikahan pada individu dewasa

awal yang mengalami perceraian orang tua diduga dikarenakan orang tua bercerai

dengan baik-baik sehingga subjek tidak mengalami trauma atau trauma yang

dialami subjek minim, orang tua tetap melakukan komunikasi yang baik dengan

subjek, atau dapat juga dikarenakan adanya figur pengganti orang tua dalam

  

kehidupan subjek, serta berhasilnya subjek dalam proses adaptasi terhadap

perceraian orang tuanya. Untuk penelitian selanjutnya dapat mencari tahu apakah

apakah variabel-variabel tersebut benar berpengaruh atau tidak.

  DAFTAR PUSTAKA Azwar. S., 2005. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuran (Edisi ke-2).

  Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Azwar. S., 2008. Realibilitas dan Validitas (Edisi ke-3). Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

  Azwar. S., 2009. Metode Penelitian (Edisi I, Cetakan IX). Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

  Bintang, Andreas. 2008. “Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Penyesuaian

Diri Remaja Awal”, diakses pada tanggal 12 Agustus 2009 pada

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/psikologi/dampak-perceraian- orang-tua-terhadap-penyesuaian-diri-remaja-awal.

  Dariyo, Agoes. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grasindo. Desmita, 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosda Karya. Dewi, ”Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja” , didownload pada tanggal 8 April 2008 pada http://library.usu.ac.id/download/fk/06011229.pdf Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak (Jilid 2). Jakarta: Erlangga.

  Hurlock, Elizabeth B. 2002. Psikologi Perkembangan (Edisi Kelima). Jakarta: Erlangga.

  Kartono, Kartini. 2006. Psikologi Wanita. Bandung: Mandar Maju. Luh Kadek Ratih Swandewi. 2006. Sikap Perempuan Bali Terhadap Perceraian

Sebagai Pemecahan Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga .

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  53 Marutu, “Tokoh Tokoh Psikologi”, didownload pada tanggal 24 Agustus 2009

pada http://www.scribd.com/doc/9255382/Tokoh-Tokoh-

Psikologi?autodown=pdf Monks, FJ. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Nazwa, “Dampak Perceraian Bagi Anak”, didownload pada tanggal 13 November

2008 pada http://3gplus.wordpress.com/2008/04/21/dampak-perceraian-

bagi-anak/ Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan Perkawinan. Riduwan. 2006. Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta. Rini, M., “Perceraian dan Kesiapan Mental Anak”, didownload pada tanggal 13

November 2008 pada http://www.e-

psikologi.com/keluarga/dampakskala.htm Santoso, Agung Budi. 2009. “Mencegah Trauma Anak Akibat Perceraian”, diakses pada tanggal 23 April 2009 pada

http://agungbudi.com/2009/04/mencegah-trauma-anak-akibat-perceraian/.

  Sears, David O. 1985. Psikologi Sosial (Jilid 1). Jakarta: Erlangga. Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta. Triadi, Ganjar, 2005. Saat Cerai Menjadi Pilihan. Yogyakarta: Dozz Publishing. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Walgito, Bimo. 1999. Psikologi Sosial, Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi.

  54 Wahyu, Sigit. 2009. “Pentingnya Wawasan Kultural Dalam Pernikahan”, diakses pada tanggal 12 Agustus 2009 pada http://sigitwahyu.net/pernikahan-pra- nikah/pentingnya-wawasan-kultural-dalam-pernikahan.html. Widyarini, Nilam. 2007. “Derita Anak Korban Perceraian”, diakses pada tanggal

23 April 2009 pada http://www.mail- archive.com/majelismuda@yahoogroups.com/msg02540.html.

  Winarno, Wing Wahyu. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews . Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

  Yasa, Doantara. 2008. “Teori Kognitif”, diakses pada tanggal 14 Agustus 2009 pada http://ipotes.wordpress.com/2008/05/11/teori-kognitif/ Yudianto, Ns. Andi. 2008. “Perkembangan Psikososial Erikson”, diakses pada tanggal 23 April 2009 pada http://bayoesmartboy.blogspot.com/2008/04/perkembangan-psikososial- erikson.html.

  ______.2008. “Orang Tua Bercerai, Siapkah Mental Anak?”, diakses pada tanggal 14 Agustus 2009 pada http://www.ilmupsikologi.com/?p=13.

  

LAMPIRAN

  A. KUESIONER B. DATA HASIL KUESIONER 30 AITEM

  C. HASIL UJI DAYA BEDA 30 AITEM

  D. DATA HASIL KUESIONER 27 AITEM

  E. HASIL UJI DAYA BEDA 27 AITEM

  

F. HASIL UJI RELIABILITAS ALFA CRONBACH

  G. HASIL UJI ONE SAMPLE T TEST

  A.

  

KUESIONER

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  halaman ke-2 dari 10 Di tengah kesibukan tugas Anda perkenankanlah saya

memohon kesediaan Anda untuk meluangkan waktu sejenak guna

mengisi kuisioner ini. Kuisioner ini dipergunakan untuk penyusunan

skripsi.

  Semua jawaban yang Anda berikan adalah benar, tidak ada

jawaban yang salah. Untuk itu saya mohon kerelaan Anda dalam

memberikan jawaban yang benar-benar murni, jujur, apa adanya dan

tanpa di pengaruhi oleh siapapun serta sesuai dengan keadaan Anda

sendiri. Semua jawaban dan identitas yang Anda berikan saya jamin

kerahasiaannya.

  Hormat Saya, Meidiana Sapoetro halaman ke-3 dari 10

  halaman ke-4 dari 10

  Nama (boleh inisial) : Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan* Usia : tahun

Status : Menikah / Belum Menikah*

Pendidikan : Pekerjaan : Status Pernikahan Orang Tua : Menikah / Bercerai* Pertanyaan berikut diisi jika orang tua bercerai Orang tua saya bercerai ketika saya berusia : tahun

  Keterangan: * coret yang tidak perlu halaman ke-5 dari 10

  PETUNJUK Pernyataan-pernyataan yang akan diberikan merupakan

pernyataan seputar pernikahan. Anda di mohon untuk menjawab

setiap pernyataan dengan memberikan tanda silang ( X ) pada salah

satu alternatif jawaban sebagai berikut :

  SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

  Contoh pernyataan: Pilihan No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

1 Pernikahan memberi rasa senang pada setiap orang.

  X Keterangan: Saya sangat setuju bahwa pernikahan memberi rasa senang pada setiap orang.

  Perhatian:

Jawablah semua pernyataan, jangan sampai ada nomor yang

terlewatkan.

  • Selamat Mengerjakan -

  halaman ke-6 dari 10

  

No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

  1 Pernikahan merupakan sumber kebahagiaan.

  2 Saya senang jika suatu saat menjalani pernikahan.

  3 Saya akan menerima lamaran pacar saya untuk menikah agar mendapatkan kebahagiaan pernikahan.

  4 Pernikahan belum tentu memberi kebahagiaan bagi semua anggota keluarga.

  5 Saya benci dengan pernikahan.

  6 Saya akan melajang selamanya.

  7 Semua pernikahan mempunyai masalah, tetapi pernikahan itu tetap indah.

  8 Saya bahagia menghadiri pernikahan teman saya, apalagi jika yang menikah adalah saya sendiri.

  9 Saya akan menjaga pernikahan saya agar selalu bahagia. halaman ke-7 dari 10

  

No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

  10 Pernikahan dapat menjadi lembaga yang menyengsarakan jika terjadi pertengkaran terus- menerus.

  11 Saya takut menghadapi pernikahan.

  12 Saya akan menentang pernikahan.

  13 Pernikahan adalah penyatuan dua insan yang berbeda, sehingga wajar jika ada perbedaan pandangan antara suami istri.

  14 Saya merasa heran jika ada orang yang tidak mau menikah.

  15 Saya akan membuktikan kepada orang tua saya bahwa pernikahan saya bisa bahagia.

  16 Semua pernikahan adalah masalah.

  17 Mendengar orang lain membicarakan pernikahan membuat saya merasa tidak nyaman.

  18 Pernikahan akan saya hindari. halaman ke-8 dari 10

  halaman ke-9 dari 10 No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

  19 Bagi saya pernikahan adalah hal yang penting.

  20 Saya takut kalau tidak mendapatkan pasangan hidup.

  21 Saya tetap akan menikah walaupun orang tua saya bercerai.

  22 Bagi saya pernikahan adalah sia-sia.

  23 Baru memikirkan pernikahan saja sudah membuat saya merasa ingin marah.

  24 Saya apatis terhadap pernikahan.

  25 Pernikahan adalah karunia.

  26 Setiap memikirkan pernikahan membuat saya merasa senang.

  27 Sejak lama saya menyiapkan diri saya untuk menikah.

  28 Pernikahan adalah hal yang buruk.

  29 Saya gelisah jika disuruh menikah.

  

No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

30 Saya akan membuat kelompok anti pernikahan.

  

Periksalah kembali jawaban Anda, pastikan tidak ada satu

nomor pun yang terlewatkan.

  • - TERIMA KASIH ATAS KERJASAMANYA -

  halaman ke-10 dari 10

  B.

DATA HASIL KUESIONER 30 AITEM

  Aitem 1 Aitem 2 Aitem 3 Aitem 4 Aitem 5 Aitem 6 Aitem 7 Aitem 8 Aitem 9 Aitem 10 Aitem 11 Aitem 12 Aitem 13 Subjek 1

  4

  4

  3

  3

  4 Subjek 22

  4

  3

  2

  4

  3

  4

  3

  3

  2

  4

  4

  4

  3 Subjek 21

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  3

  4

  3

  3

  4 Subjek 24

  3

  4

  2

  4

  3

  4

  4

  4

  2

  3

  3

  4

  4 Subjek 23

  4

  3

  2

  4

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  3 Subjek 18

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  4 Subjek 17

  4

  2

  2

  4

  4

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  4 Subjek 20

  4

  4

  1

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3 Subjek 19

  4

  3

  2

  4

  3

  3

  4

  3

  4 Subjek 30

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 29

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  2

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Subjek 31

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3 Subjek 26

  4

  4

  2

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 25

  4

  3

  2

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 28

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4 Subjek 27

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  2

  4

  4

  3

  4 Subjek 6

  2

  1

  2

  4

  4

  4

  4

  3

  2

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  4

  3

  3 Subjek 8

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3 Subjek 7

  4 Subjek 5

  3

  3

  3 Subjek 2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  1

  2

  3

  3

  4 Subjek 4

  3

  3 Subjek 3

  2

  4

  3

  3

  4

  4

  2

  2

  4

  3

  3

  2

  4

  4

  4

  2

  3

  4

  3

  4 Subjek 14

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 13

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4 Subjek 16

  4

  2

  1

  4

  3

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  4 Subjek 15

  4

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3 Subjek 10

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3 Subjek 9

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  3 Subjek 12

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 11

  3

  4

  3 Aitem 1 Aitem 2 Aitem 3 Aitem 4 Aitem 5 Aitem 6 Aitem 7 Aitem 8 Aitem 9 Aitem 10 Aitem 11 Aitem 12 Aitem 13 Subjek 32

  3

  3

  4

  4

  3 Subjek 37

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 36

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4 Subjek 38

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3 Subjek 33

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3 Subjek 35

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 34

  4 Aitem 14 Aitem 15 Aitem 16 Aitem 17 Aitem 18 Aitem 19 Aitem 20 Aitem 21 Aitem 22 Aitem 23 Aitem 24 Aitem 25 Subjek 1

  2

  1

  3

  3

  3

  4 Subjek 22

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4 Subjek 21

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  4 Subjek 24

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4 Subjek 23

  4

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3 Subjek 18

  3

  4

  3

  1

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  2

  4 Subjek 17

  4

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 20

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  2

  3 Subjek 19

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 30

  4

  4

  4

  4

  2

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  3 Subjek 29

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  1

  3

  3

  4

  2

  4 Subjek 31

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  4 Subjek 26

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  4 Subjek 25

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  1

  3

  4

  3

  4 Subjek 28

  4

  3

  3

  2

  2

  4

  4

  3

  3

  4

  2

  4 Subjek 27

  3

  3

  1

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4 Subjek 6

  4

  3

  3

  1

  3

  4

  3

  2

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4 Subjek 5

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4 Subjek 8

  3

  3 Subjek 7

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 2

  3

  3

  4

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 3

  4

  4 Subjek 4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  2

  4

  2

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  4 Subjek 14

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4 Subjek 13

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  4 Subjek 16

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  2

  4 Subjek 15

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  4 Subjek 10

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4 Subjek 9

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 12

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 11

  3

  3 Aitem 14 Aitem 15 Aitem 16 Aitem 17 Aitem 18 Aitem 19 Aitem 20 Aitem 21 Aitem 22 Aitem 23 Aitem 24 Aitem 25 Subjek 32

  3

  3

  4

  4

  3 Subjek 37

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 36

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4 Subjek 38

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4 Subjek 33

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  4 Subjek 35

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  4 Subjek 34

  4 Aitem 26 Aitem 27 Aitem 28 Aitem 29 Aitem 30 Skor Total Subjek 1

  3

  87 Subjek 21

  95 Subjek 20

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4 4 105 Subjek 22

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  99 Subjek 23

  3

  3

  2 4 104 Subjek 17

  3

  2

  3

  3

  84 Subjek 18

  2

  3

  2

  4

  3

  3

  96 Subjek 19

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  90 Subjek 29

  4

  3

  3 4 106 Subjek 30

  3

  4

  4

  4

  4 4 114 Subjek 31

  3

  2

  4

  3

  4 4 106 Subjek 28

  4

  3

  3

  3 4 105 Subjek 24

  4

  4

  4

  3 4 106 Subjek 25

  3

  3

  4

  3 4 107 Subjek 26

  4

  4

  3

  3 4 101 Subjek 27

  4

  4

  4

  98 Subjek 16

  2

  4

  4

  4

  4

  2 4 105 Subjek 6

  3

  2

  2

  4

  4

  96 Subjek 7

  3

  3

  3

  3

  4

  2 4 102 Subjek 5

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  85 Subjek 2

  3

  3

  3

  3

  4

  89 Subjek 3

  3

  1

  3

  2

  4

  98 Subjek 4

  92 Subjek 8

  3

  4

  98 Subjek 14

  4 4 114 Subjek 13

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  4 4 107 Subjek 15

  3

  3

  4

  2

  4

  4

  4

  3

  2 4 100 Subjek 9

  3

  4

  4

  3 4 109 Subjek 10

  3

  3

  4

  90 Subjek 12

  3

  93 Subjek 11

  3

  3

  3

  3

  3

  4 4 104 Aitem 26 Aitem 27 Aitem 28 Aitem 29 Aitem 30 Skor Total Subjek 32

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  90 Subjek 37

  4

  4

  92 Subjek 36

  4 4 116 Subjek 38

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  95 Subjek 33

  3

  3

  4 4 106 Subjek 34

  3

  3

  4

  4

  2 4 111 Subjek 35

  3

  3

  3

  99

  C.

HASIL UJI DAYA BEDA 30 AITEM

  Aitem1 SkorTotal Aitem1 Pearson Correlation **

  1 .473 Sig. (2-tailed)

  .003 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .473

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .003 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem2 SkorTotal

  Aitem2 Pearson Correlation ** 1 .548

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .548

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem3 SkorTotal

  Aitem3 Pearson Correlation ** 1 .641

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .641

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem4 SkorTotal

  Aitem4 Pearson Correlation ** 1 .476

  Sig. (2-tailed) .003

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .476

  1 Sig. (2-tailed) .003

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem5 SkorTotal

  Aitem5 Pearson Correlation ** 1 .522

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .522

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem6 SkorTotal

  Aitem6 Pearson Correlation ** 1 .657

  Sig. (2-tailed) .000 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  Aitem6 SkorTotal Aitem6 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .657

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem7 SkorTotal

  Aitem7 Pearson Correlation ** 1 .476

  Sig. (2-tailed) .003

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .476 1 **

  Sig. (2-tailed) .003

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem8 SkorTotal

  Aitem8 Pearson Correlation ** 1 .486

  Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .486 1 **

  Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem9 SkorTotal

  Aitem9 Pearson Correlation ** 1 .582

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .582 1 **

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem10 SkorTotal

  Aitem10 Pearson Correlation 1 .242 Sig. (2-tailed)

  .143 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .242

  1 Sig. (2-tailed) .143

  N

  38

  38 Aitem11 SkorTotal Aitem11 Pearson Correlation 1 .105

  Sig. (2-tailed) .531

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .105

  1 Sig. (2-tailed) .531

  N

  38

  38 Aitem12 SkorTotal Aitem12 Pearson Correlation **

  1 .654 Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .654

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem13 SkorTotal

  Aitem13 Pearson Correlation * 1 .387

  Sig. (2-tailed) .016

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .387

  1 Sig. (2-tailed) .016

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem14 SkorTotal

  Aitem14 Pearson Correlation ** 1 .418

  Sig. (2-tailed) .009

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .418

  1 Sig. (2-tailed) .009

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem15 SkorTotal

  Aitem15 Pearson Correlation ** 1 .503

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .503

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem16 SkorTotal

  Aitem16 Pearson Correlation * 1 .387

  Sig. (2-tailed) .016

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .387

  1 Sig. (2-tailed) .016

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem17 SkorTotal

  Aitem17 Pearson Correlation ** 1 .513

  Sig. (2-tailed) .001 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  Aitem17 SkorTotal Aitem17 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .513

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem18 SkorTotal

  Aitem18 Pearson Correlation ** 1 .457

  Sig. (2-tailed) .004

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .457 1 **

  Sig. (2-tailed) .004

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem19 SkorTotal

  Aitem19 Pearson Correlation ** 1 .586

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .586 1 **

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem20 SkorTotal

  Aitem20 Pearson Correlation ** 1 .518

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .518 1 **

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem21 SkorTotal

  Aitem21 Pearson Correlation ** 1 .543

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .543 1 **

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem22 SkorTotal

  Aitem22 Pearson Correlation ** 1 .481

  Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .481 1 ** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem22 SkorTotal SkorTotal Sig. (2-tailed)

  .002 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem23 SkorTotal

  Aitem23 Pearson Correlation 1 .392 * Sig. (2-tailed)

  .015 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .392

  1 Sig. (2-tailed) .015

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem24 SkorTotal

  Aitem24 Pearson Correlation 1 .567 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .567

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem25 SkorTotal

  Aitem25 Pearson Correlation 1 .596 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .596

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem26 SkorTotal

  Aitem26 Pearson Correlation 1 .541 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .541

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem27 SkorTotal

  Aitem27 Pearson Correlation 1 .501 ** Sig. (2-tailed)

  .001 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .501

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem28 SkorTotal Aitem28 Pearson Correlation **

  1 .631 Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .631

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem29 SkorTotal

  Aitem29 Pearson Correlation 1 .266 Sig. (2-tailed)

  .107 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .266

  1 Sig. (2-tailed) .107

  N

  38

  38 Aitem30 SkorTotal Aitem30 Pearson Correlation **

  1 .613 Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .613

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  D.

DATA HASIL KUESIONER 27 AITEM

  Aitem 1 Aitem 2 Aitem 3 Aitem 4 Aitem 5 Aitem 6 Aitem 7 Aitem 8 Aitem 9 Aitem 12 Aitem 13 Aitem 14 Aitem 15 Subjek 1

  2

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  2

  3

  4

  3

  3 Subjek 18

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 19

  3

  4

  3

  2

  2

  3

  3

  3 Subjek 20

  2

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3 Subjek 15

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  2

  3

  3

  4

  2

  4

  3

  3

  4 Subjek 17

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  4 Subjek 16

  2

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4 Subjek 25

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3 Subjek 26

  4

  3

  4

  4

  4 Subjek 24

  4

  4

  4

  3 Subjek 22

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  2

  4

  4

  4

  3 Subjek 21

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  2

  3

  3

  3 Subjek 23

  2

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  4 Subjek 14

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  2

  4

  3

  4

  4 Subjek 5

  2

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  1

  4

  2

  3

  3

  3

  3 Subjek 7

  2

  3

  4

  4 Subjek 6

  3

  4

  4

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4 Subjek 4

  2

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  2

  2

  4

  3

  3 Subjek 3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3 Subjek 12

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 11

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4 Subjek 13

  4

  4

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  4

  3

  4

  3

  4 Subjek 8

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 9

  4

  3

  4 Subjek 10

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4 Aitem 1 Aitem 2 Aitem 3 Aitem 4 Aitem 5 Aitem 6 Aitem 7 Aitem 8 Aitem 9 Aitem 12 Aitem 13 Aitem 14 Aitem 15 Subjek 27

  4

  2

  3

  3

  4 Subjek 35

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3 Subjek 34

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 36

  3

  4

  3

  4

  4

  4 Subjek 38

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3 Subjek 37

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 29

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4 Subjek 30

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  4 Subjek 28

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4 Subjek 33

  2

  4

  3

  2

  3 Subjek 32

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4 Subjek 31

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Aitem 16 Aitem 17 Aitem 18 Aitem 19 Aitem 20 Aitem 21 Aitem 22 Aitem 23 Aitem 24 Aitem 25 Aitem 26 Aitem 27 Subjek 1

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2 Subjek 18

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  2 Subjek 19

  1

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  2 Subjek 20

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  2

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  3 Subjek 15

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4 Subjek 17

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3 Subjek 16

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4 Subjek 25

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  1

  4

  4

  3

  4

  1

  3

  3 Subjek 26

  3

  4

  4

  4

  4 Subjek 24

  4

  3

  4

  3 Subjek 22

  3

  4

  4

  4

  4

  1

  3

  4

  4

  3

  4

  2 Subjek 21

  2

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3 Subjek 23

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  2 Subjek 5

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  2 Subjek 7

  3

  3

  4

  4 Subjek 6

  4

  4

  3

  3

  1

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2 Subjek 2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  1 Subjek 4

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  3 Subjek 3

  3

  3

  3

  3

  3 Subjek 14

  3

  4

  4

  4

  3 Subjek 12

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3 Subjek 13

  4

  4

  4

  4

  3 Subjek 11

  3

  3

  4

  3 Subjek 9

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  3 Subjek 8

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Subjek 10

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4 Aitem 16 Aitem 17 Aitem 18 Aitem 19 Aitem 20 Aitem 21 Aitem 22 Aitem 23 Aitem 24 Aitem 25 Aitem 26 Aitem 27 Subjek 27

  3

  3

  4

  3

  4 Subjek 35

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3 Subjek 34

  4

  4

  4

  3

  4

  3 Subjek 36

  3

  3

  3

  4

  4

  3 Subjek 38

  4

  3

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3 Subjek 37

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3 Subjek 29

  3

  4

  4

  3

  2

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3 Subjek 30

  4

  4

  4

  2

  2

  3

  3

  4

  3

  4

  4 Subjek 28

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3 Subjek 33

  3

  3

  3

  2 Subjek 32

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Subjek 31

  4

  3

  1

  3

  3

  3 Aitem 28 Aitem 30 Skor Total Subjek 1

  3

  4

  3

  87 Subjek 20

  4

  3

  88 Subjek 19

  3

  76 Subjek 18

  78 Subjek 21

  3

  3

  98 Subjek 17

  4

  3

  93 Subjek 16

  4

  3

  4

  97 Subjek 15

  4

  4

  3

  98 Subjek 26

  4

  3

  98 Subjek 25

  4

  4

  96 Subjek 24

  4

  3

  91 Subjek 23

  4

  3

  96 Subjek 22

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  99 Subjek 6

  4

  4

  94 Subjek 5

  4

  3

  91 Subjek 4

  4

  3

  80 Subjek 3

  3

  3

  77 Subjek 2

  90 Subjek 7

  4

  4

  3

  89 Subjek 14

  4

  3

  Subjek 13

  4 104

  4

  81 Subjek 12

  3

  84 Subjek 8

  83 Subjek 11

  3

  3

  4 4 100 Subjek 10

  93 Subjek 9

  4

  4

  92 Aitem 28 Aitem 30 Skor Total Subjek 27

  4

  4

  4

  3

  4 4 106 Subjek 38

  81 Subjek 37

  3

  3

  82 Subjek 36

  3

  3

  Subjek 35

  4 102

  4

  95 Subjek 34

  4

  4

  85 Subjek 33

  4

  3

  93 Subjek 32

  4

  4

  4 4 102 Subjek 31

  97 Subjek 30

  4

  3

  82 Subjek 29

  4

  3

  95 Subjek 28

  90

  E.

HASIL UJI DAYA BEDA 27 AITEM

  Aitem1 SkorTotal Aitem1 Pearson Correlation **

  1 .424 Sig. (2-tailed)

  .008 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .424

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .008 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem2 SkorTotal

  Aitem2 Pearson Correlation ** 1 .528

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .528

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem3 SkorTotal

  Aitem3 Pearson Correlation ** 1 .617

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .617

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem4 SkorTotal

  Aitem4 Pearson Correlation * 1 .385

  Sig. (2-tailed) .017

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .385

  1 Sig. (2-tailed) .017

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem5 SkorTotal

  Aitem5 Pearson Correlation ** 1 .502

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .502

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  

Correlations

  Aitem6 SkorTotal Aitem6 Pearson Correlation **

  1 .688 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  

Correlations

  Aitem6 SkorTotal Aitem6 Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .688

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  

Correlations

  Aitem7 SkorTotal Aitem7 Pearson Correlation **

  1 .489 Sig. (2-tailed)

  .002 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .489

  1 Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem8 SkorTotal

  Aitem8 Pearson Correlation ** 1 .514

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .514 1 **

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem9 SkorTotal

  Aitem9 Pearson Correlation ** 1 .639

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .639 1 **

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem12 SkorTotal

  Aitem12 Pearson Correlation ** 1 .691

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .691 1 **

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem13 SkorTotal

  Aitem13 Pearson Correlation * 1 .397

  Aitem13 SkorTotal Aitem13 Sig. (2-tailed)

  .014 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .397

  1 Sig. (2-tailed) .014

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem14 SkorTotal

  Aitem14 Pearson Correlation 1 .401 * Sig. (2-tailed)

  .013 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation * .401

  1 Sig. (2-tailed) .013

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem15 SkorTotal

  Aitem15 Pearson Correlation 1 .538 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .538

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem16 SkorTotal

  Aitem16 Pearson Correlation 1 .371 * Sig. (2-tailed)

  .022 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .371 *

  1 Sig. (2-tailed) .022

  N

  38

  38 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Aitem17 SkorTotal

  Aitem17 Pearson Correlation 1 .517 ** Sig. (2-tailed)

  .001 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .517

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem18 SkorTotal

  Aitem18 Pearson Correlation 1 .484 ** Sig. (2-tailed)

  .002 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem18 SkorTotal SkorTotal Pearson Correlation **

  .484

  1 Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem19 SkorTotal

  Aitem19 Pearson Correlation ** 1 .603

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .603

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem20 SkorTotal

  Aitem20 Pearson Correlation ** 1 .528

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .528

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem21 SkorTotal

  Aitem21 Pearson Correlation ** 1 .607

  Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .607

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem22 SkorTotal

  Aitem22 Pearson Correlation ** 1 .511

  Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .511 **

  1 Sig. (2-tailed) .001

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem23 SkorTotal

  Aitem23 Pearson Correlation ** 1 .435

  Sig. (2-tailed) .006

  N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .435

  1 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem23 SkorTotal SkorTotal Sig. (2-tailed)

  .006 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem24 SkorTotal

  Aitem24 Pearson Correlation 1 .617 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .617

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem25 SkorTotal

  Aitem25 Pearson Correlation 1 .618 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation .618

  1 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem26 SkorTotal

  Aitem26 Pearson Correlation 1 .557 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .557

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem27 SkorTotal

  Aitem27 Pearson Correlation 1 .486 ** Sig. (2-tailed)

  .002 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .486

  1 Sig. (2-tailed) .002

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem28 SkorTotal

  Aitem28 Pearson Correlation 1 .644 ** Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .644

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Aitem30 SkorTotal Aitem30 Pearson Correlation **

  1 .656 Sig. (2-tailed)

  .000 N

  38

  38 SkorTotal Pearson Correlation ** .656

  1 Sig. (2-tailed) .000

  N

  38

  38 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  F.

HASIL UJI RELIABILITAS ALFA CRONBACH

  Reliabilitas Case Processing Summary

  N % Cases Valid a 38 100.0

  Excluded .0

  Total 38 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items

  .896

  27

  G.

  

HASIL UJI ONE SAMPLE T TEST

  Std. Error Mean Std. Deviation Mean N

  SkorTotal 1.29457 7.98028 91.1316

  38 One-Sample Statistics t df Sig. (2-tailed) Mean

  Difference Upper Lower 95% Confidence Interval of the

  Difference Test Value = 0

  SkorTotal 93.7546 88.5085 91.13158 .000 37 70.395

  

One-Sample Test

Dokumen baru

Download (113 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PERILAKU DELINQUENCY PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA Perilaku Delinquency Pada Remaja Yang Mengalami Perceraian Orang Tua.
0
1
16
PERILAKU DELINQUENCY PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA Perilaku Delinquency Pada Remaja Yang Mengalami Perceraian Orang Tua.
0
2
15
KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
16
PENDAHULUAN KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
10
ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
18
PENDAHULUAN ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
7
TINJAUAN PUSTAKA ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
1
27
METODE PENELITIAN ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
13
PERSIAPAN PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
56
PENUTUP ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
4
Guide wawancara untuk informan penelitian ORIENTASI MASA DEPAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
125
PENALARAN MORAL PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEHAMILAN DI LUAR NIKAH: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI.
0
0
16
HUBUNGAN ANTARA ADULT DAN KESIAPAN MENJADI ORANG TUA PADA MASA DEWASA AWAL
0
0
58
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP CITRA FISIK DENGAN MOTIVASI MELAKUKAN DIET PADA WANITA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEGEMUKAN SKRIPSI
0
0
16
STRATEGI COPING INDIVIDU DEWASA AWAL YANG MENGALAMI DAMPAK BULLYING SAAT REMAJA - Unika Repository
0
0
15
Show more