MODIFIKASI GEDUNG EVERBRIGHT HOTEL MENGGUNAKAN SISTEM PRECAST BALOK KOLOM PADA ZONA GEMPA KUAT.

Gratis

0
3
155
2 years ago
Preview
Full text

  

MODIFIKASI GEDUNG EVERBRIGHT HOTEL

MENGGUNAKAN SISTEM PRECAST BALOK KOLOM PADA

ZONA GEMPA KUAT

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagian per syar atan dalam memper oleh Gelar

Sar jana Teknik Sipil (S-1)

  Oleh : DEDIK SUHENDRIK P. 0753010013

  

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”

J AWA TIMUR

  

2012

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

MODIFIKASI GEDUNG EVERBRIGHT HOTEL MENGGUNAKAN SISTEM PRECAST BALOK KOLOM PADA ZONA GEMPA KUAT ABSTRAK

  Disusun Oleh: Dedik Suhendrik Pitono

  0753010013 Gedung EVERBRIGHT Hotel Surabaya akan di analisa menggunakan sistem precast pada sambungan balok kolomnya, dan juga akan di modifikasi zona gempa yang semula terletak pada zona gempa menengah dimodifikasi dengan zona gempa kuat maka perhitungan yang digunakan adalah sistem rangka pemikul momen khusus ( SRPMK ). Metode perencanaan meliputi struktur utama yaitu pendimensian dan penulangan balok induk, kolom, dan hubungan balok kolom. Dalam perencanaan struktur gedung Everbright Hotel ini telah memenuhi konsep ”strong coloumn weak beam” sesuai SNI 2847 pasal 23.4.2.2. Pendimensian dan penulangan balok antara lain : Dimensi 40/60 dengan tulangan longitudinal D22, sengkang Ø10. Momen terbesar yang bekerja pada balok tumpuan sebesar 109,57 kNm, dipakai 6D22 (tulangan tarik), dan 5D22 (tulangan tekan). Sedangkan untuk momen yang bekerja pada balok lapangan sebesar 58,97 kNm, dipakai 3D22 (tulangan tarik), dan 4D22 (tulangan tekan). Dimensi 40/70 dengan tulangan longitudinal D22, sengkang Ø10. Momen terbesar yang bekerja pada balok tumpuan sebesar 227,88 kNm, dipakai 8D22 (tulangan tarik), dan 5D22 (tulangan tekan). Sedangkan untuk momen yang bekerja pada balok lapangan sebesar 113,9 kNm, dipakai 4D22 (tulangan tarik), dan 4D22 (tulangan tekan). Dimensi 30/40 dengan tulangan longitudinal D22, sengkang Ø10. Momen terbesar yang bekerja pada balok tumpuan sebesar 58,1 kNm, dipakai

  5D22 (tulangan tarik), dan 4D22 (tulangan tekan). Sedangkan untuk momen yang bekerja pada balok lapangan sebesar 38,97 kNm, dipakai 3D22 (tulangan tarik), dan 4D22 (tulangan tekan). Untuk perencanaan kolom dengan dimensi 70/70 digunakan tulangan longitudinal 20D22 dan sengkang Ø10. Pada hubungan balok kolom menggunakan konsol pendek dengan dimensi b= 400mm, h= 450 mm, a= 150 dan dengan tualangan Ah= 4D13.

  Kata kunci : precast, sambungan balok kolom,SRPMK Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : i

  KATA PENGANTAR Dengan segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga Tugas Akhir dengan judul ”Modifikasi Gedung Everbright

  Hotel Menggunakan Sisitem Precast Balok Kolom Pada Zona Gempa Kuat” dapat terselesaikan dengan baik.

  Penyusun banyak mendapatkan bimbingan serta bantuan yang sangat bermanfaat dalam penyusunan Tugas Akhir ini, tetapi dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh penyusun, hasil dari Tugas Akhir ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Meski demikian penyusun telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang terbaik.

  Dengan terselesaikannya Tugas Akhir ini, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

  1. Ibu Ir. Naniek Ratni JAR. M.Kes., selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN ”Veteran” Jawa Timur.

  2. Bapak Ibnu Solichin ST.,MT. selaku Kepala Program Studi Teknik Sipil UPN ”Veteran” Jawa Timur dan dosen pembimbing utama yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.

  3. Bapak Ir. Drs. Made D. Astawa, MT. selaku dosen pembimbing utama yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.

  4. Ibu Ir. Siti Zaenab, MT. selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan yang sangat membantu dalam proses perkuliahan. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : ii

  5. Ibu Ir. Wahyu Kartini, MT selaku pembimbing kedua yang telah memberikan pengarahan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.

  6. Ibu Dr. Ir. Minarni Nur Trilita.,MT selaku dosen pembimbing kerja praktek yang telah banyak memberikan pengarahan ketika saya melakukan kerja praktek di lapangan.

  8. Rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada orang tua, ayah Djoko Pitono dan ibuku Sukiyam serta nenek Kamsirah dan kakekku Setroirono yang selalu mendoakan saya, yang telah memberikan nasihat, dan motivasi demi kesuksesan saya. Dan juga kepada adikku Nanda Yogo Prasetio dan kakakku Etik mery Aditya.,SS , terima kasih untuk kasih sayang yang telah diberikan selama ini.

  9. Untuk keluarga kecilku tercinta istriku Ressila Martasari terima kasih telah menyemangatiku untuk menyelesaikan tugas akhir ini, dan untuk “my litle sun” anakku Serafina Belicia Diangela yang selalu menghiburku dengan senyum dan ocehannya.

  10. Semua anggota keluarga yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semua dukungan dan bantuannya.

  11. Teman-teman “Gank Buntu” Septian Cripsi Pratama.,ST, Thomas Arya Pideksa.,ST, Alfian Eka P.,ST, dan Arif Saputra, bantuan kalian adalah penyemangat dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

  12. Teman-teman seperjuangan, angkatan 2007, yang tidak bisa disebutkan satu persatu, serta teman – teman 2006 dan 2008 terima kasih untuk semuanya. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : iii iv

  13. Semua rekan kerja ketika saya bekerja di “PT.Rasenta Consultant” dan rekan kerja sekarang di “PT.Artistama Setia Mandiri Kontraktor” terima kasih atas semua semangat dan doanya.

  Semoga segala bantuan dan budi baik mendapat balasan dari Allah SWT. harapan penyusun, semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

  Surabaya, Juni 2012 Penyusun

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  DAFTAR ISI Hal

ABSTRAK .............................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... vi

DAFTAR TABEL .................................................................................................... vii

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1

  1.2 Rumusan masalah .................................................................... 2

  1.3 Maksud Dan Tujuan ................................................................ 2

  1.4 Batasan Masalah ....................................................................... 3

  

1.5 Lokasi ...................................................................................... 4

  BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

  2.1. Umum ....................................................................................... 5

  2.2 Perbandingan sistem Konvensional dan Sistem Pracetak ..... 5

  2.3 Elemen Str uktur Pr acetak ....................................................... 7

  2.4 Karakteristik Resiko Gempa Wilayah..................................... 8

  2.5 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus................................... 9

  2.6. Pembebanan Str uktur Utama.................................................... 9 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

iii

  

iv

  3.4.1. Data ..................................................................................... 20

  3.4.9. Sambungan Balok Kolom ................................................... 23

  3.4.8. Perencanaan Sambungan ................................................... 23

  3.4.7. Kombinasi Pembebanan .................................................... 23

  3.4.6. J enis Tanah Setempat ......................................................... 22

  3.4.5. Pemilihan Kriter ia Desain ................................................. 22

  3.4.4. Gambar Rencana ................................................................ 20

  3.4.3. Analisa Struktur Rangka .................................................. 20

  3.4.2. Perencanaan Pembebanan ................................................. 20

  3.4. Metodologi perencanaan ............................................................ 19

  2.7 Sambungan ................................................................................ 10

  3.3. Peraturan-peraturan yang dipakai ........................................... 19

  3.2.2. Data Mutu Bahan ......................................................... 18

  3.2.1. Data Gedung ................................................................. 18

  3.2. Data-data perencanaan ............................................................... 18

  3.1. Umum .......................................................................................... 18

  BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

  2.10 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus.................................... 14

  2.9 Beban Gempa Statik Ekuivalen.................................................. 13

  

2.8 Ketentuan – ketentuan yang dipakai pada sambungan

pr acetak ..................................................................................... 13

  3.4.10 Per encanaan Balok dan Kolom pr acetak ........................ 24 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  3.4.10.1. Dimensi balok dan kolom ................................. 24

  3.4.10.2. Penulangan balok dan kolom .......................... 26

  3.4.10.3. Penulangan Geser ............................................. 27 DAFTAR PUSTAKA Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

v

  

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 2.1 Balok Berpenampang Persegi ( Rectangular Beam)....................... 6Gambar 2.2 Balok Berpenampang L ( L-shape Beam )........................................ 6Gambar 2.3 Balok berpenampang T terbalik ( inverted Tee beam )................... 7Gambar 2.4 Wilayah Gempa di Indonesia .......................................................... 7Gambar 2.5 Sambungan Daktail Mekanik .......................................................... 10Gambar 2.6 Sambungan Daktail Dengan Luas ................................................... 11Gambar 2.7 Sambungan Daktail Dengan Menggunakan Baut ........................... 12Gambar 3.1. Flowchart metodologi perencanaan ............................................... 20Gambar 3.2 permodelan struktur open frames ................................................... 21Gambar 3.3 Parameter Geometri Konsol Pendek ............................................... 23Gambar 3.4 Sambungan balok dengan kolom ...................................................... 23 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : vi

  

vii

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1 perbandingan sistem Konvensional dan sistem pracetak ........................ 5Tabel 2.2 Perbandingan metode penyambungan ..................................................... 11

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akhir - akhir ini sering sekali metode pracetak ( precast ) digunakan pada pekerjaan struktur dalam bidang teknik sipil di

  Indonesia, seperti pada rumah susun, mall, maupun apartemen. Hal ini disebabkan karena semakin besarnya tuntutan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang efisien, baik dari segi biaya dan waktu pelaksanaan. Metode pracetak ( precast ) memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode cor setempat ( cast in place ). Kelebihan tersebut antara lain adalah pada metode pracetak ( precast ) proses produksinya tidak tergantung cuaca, tidak memerlukan tempat penyimpanan material yang luas, waktu pengerjaan relatif singkat, dan kontrol kualitas beton lebih terjamin. Tapi di samping kelebihannya, pracetak (precast) pun memiliki kekurangan. Kekurangannya terdapat pada pelaksanaan pemasangan elemen beton pracetak dilapangan karena kurangnya jumlah tenaga pelaksana di Indonesia yang terlatih dan berpengalaman pada proyek konstruksi dengan menggunakan sistem ini.

  Perencanaan gedung bertingkat juga perlu memperhatikan beberapa kriteria, antara lain kriteria kekuatan, perilaku yang baik atau memiliki prilaku daktail pada taraf gempa rencana, serta aspek ekonomis. Merencanakan bangunan bertingkat banyak, dari segi Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  

1

  2

  struktur memerlukan pertimbangan yang matang terutama gedung itu direncanakan tahan gempa.

  Pada pengaplikasiannya, metode pracetak atau precast lebih tepat dan efisien apabila diaplikasikan pada beberapa hal. Diantaranya adalah pengaplikasian pada gedung yang berada pada daerah zona gempa relatif rendah ( zona gempa 1 dan 2 ) serta pada gedung yang bertipe tipikal karena pada gedung yang bertipe tipikal ini lebih mudah dalam pelaksanaannya. Karena zona gempa relatif rendah (1 dan 2) memiliki frekunsi gempa yang tidak sering dengan intensitas yang tidak besar. Karena pada metode praccetak ( precast ) ikatan yang terjadi tidak kaku. Dan surabaya menurut SNI-1726- 2002 terletak pada daerah dengan zona gempa 2 yakni rendah, sedangkan pada perencanaan tugas akhir ini gedung EVER BRIGHT hotel surabaya ini akan direncanakan pada zona gempa kuat, maka pada hubungan balok kolom harus direncankan lebih detail, daktail dan stroung colum weak beam ( kolom kuat balok lemah ) karena pada perencanaan tugas akhir ini gedung EVER BRIGHT ini akan diubah menjadi pracetak ( precast ) pada hubungan balok kolomnya.

  Berdasarkan hal di atas, maka dalam tugas akhir ini saya melakukan perencanaan kolom-balok precast pada Gedung EVER BRIGHT Hotel Surabaya. Gedung ini memiliki 8 ( delapan ) lantai, dengan tinggi 32m dan menggunakan metode cor ditempat ( cast in place ) dalam pelaksanaannya. Lokasi gedung ini berada di kota Surabaya. Dalam tugas akhir ini, Gedung EVER BRIGHT Hotel Surabaya di analisa pada zona gempa kuat dan pada HBK (hubungan Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  3

  balok-kolom) yang tadinya cor ditempat ( cast in place ) diubah menjadi menggunakan beton pracetak ( precast ).

  1.2. Rumusan Masalah Dalam perencanaan struktur gedung dengan metode pracetak

  ( precast ) pada balok-kolomnya terdapat beberapa permasalahan yang timbul. Permasalahan tersebut antara lain :

  1. Bagaimana merancang dimensi dari balok-kolom pracetak pada zona gempa kuat, sehingga mampu mendapatkan dimensi yang efisien.

  2. Bagaimana merancang sambungan balok-kolom pracetak yang mampu menahan beban gravitasi dan gempa lateral pada zona gempa kuat.

  3. Bagaimana menuangkan detailing pada gambar hubungan balok-kolom pracetak sesuai hasil desain struktur menurut ketentuan yang berlaku.

  Gedung dengan metode pracetak pada balok-kolom mempunyai tujuan diantaranya :

  1. Dapat merencanakan dimensi balok-kolom pracetak yang efisien.

  2. Dapat merencanakan sambungan balok-kolom pracetak yang mampu menahan beban lateral dan gravitasi.

  3. Dapat merencanakan detailing sambungan pada Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : komponen balok- kolom pracetak.

  Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

  4

  1.4. Batasan Masalah Dalam perencanaan ini diambil batasan :

  1. Menggunakan sistem pracetak pada struktur balok kolom gedung sesuai SNI 03-2847-2002 dan SNI 03- 1726-2002.

  2. Dalam perencanaan struktur gedung EVER BRIGHT hotel ini direncanakan penggunaan teknologi pracetak hanya pada balok-kolom.

  3. Gedung EVER BRIGHT hotel Surabaya ini akan direncanakan pada zona gempa 5-6.

  1.5. Lokasi Perencanaan gedung EVER BRIGHT hotel Surabaya ini terletak pada jalan Manyar Surabaya .

  Jl. Raya Manyar Kertoarjo Jl. Raya Manyar Kertoarjo Samsat Manyar SPBU

  Lokasi :

Proyek Pembangunan

Gedung D'SOYA HOTEL

Jl. Raya Kertajaya Indah

  Jl. Ra ya Me nu r

  Jl. Raya Kertajaya J l. M a ny ar Ti rtoy o so Jl.

  Raya Dha rma Hu sad a Jl. Menu r

  EVERBRIGHT HOTEL

Gambar 1.1. Site Plan Lokasi Proyek Gedung Everbright Hotel Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1. Umum Pada dasarnya beton pracetak tidaklah berbeda dengan beton biasa. Yang membedakan hanyalah pada metode pabrikasinya. Sebagian besar dari elemen

  struktur pracetak dicetak ditempat tertentu (dapat dilokasi proyek ataupun diluar lokasi proyek yang memang pada umumnya memproduksi elemen-elemen beton pracetak). Selanjutnya komponen-komponen tersebut dipasang sesuai keberadaannya sebagai komponen struktur, sebagai bagian dari sistem struktur beton. ( Wulfram I Erflamto, 2006 ).

  Beberapa prinsip beton pracetak tersebut dipercaya dapat memberikan manfaat lebih dibandingakan beton monolit antara lain terkait dengan waktu, biaya, peningkatan jaminan kualitas, keandalan, produktifitas, kesehatan, keselamatan, lingkungan, koordinasi, inovasi, reusabilitiy, serta relocability (Gibb, 1999).

  Menurut SNI-2847-2002 Pasal 3.16 beton pracetak adalah suatu elemen atau komponen beton dengan atau tanpa tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan.

  2.2. Per ba ndingan Sistem Konvensional dan Sistem Pr acetak

Tabel 2.1 Perbandingan Sistem Konvensional dan Sistem Pracetak

  ITEM KONVENSIONAL PRACETAK Membutuhkan wawasan yang luas terutama

  Desain Sederhana dengan fabrikasi sistem, serta pelaksanaan sistem penyambungannya.

  

5 Efisien untuk bentuk Efisien untuk bentuk yang yang tidak teratur dan teratur dengan jumlah Bentuk dan ukurannya bentang-bentang yang bentuk-bentuk yang ridak mengulang. berulang.

  Lebih cepat, karena dapat Waktu pelaksaan Lebih lama dilaksanakan secara pararel sehingga hemat waktu 20-25%.

  Butuh tenaga yang Teknologi pelaksanaan Konvensional mempunyai keahlian. Lebih sederhana kerena

  Koordinasi pelaksanaan Kompleks semua pengecoran elemen struktur pracetak telah dilakukan dipabrik. Sifatnya lebih mudah

  Bersifat kompleks, serta karena telah dilakukan Pengawasan/kontrol kerja dilakukan dengan cara pengawasan oleh terus menerus. kualitar kontrol di pabrik. Butuh area yang luas Tidak memerlukan lahan karena butuh adanya yang luas untuk penimbunan material dan penyimpanan material

  Kondisi lahan ruang gerak. selama proses pengerjaan konstruksi berlangsung, sehingga lebih bersih terhadap lingkungan. Banyak dipengaruhi oleh Tidak dipengaruhi cuaca Kondisi cuaca keadaan cuaca. karena dibuat di pabrik.

  Sangat tergantung Karena dilaksanakan di Ketepatan/akurasi ukuran keahlian pelaksana. pabrik, maka ketepatan ukuran lebih terjamin.

  Kualitas Sangat tergantung banyak Lebih terjamin faktor, terutama kehlian kualitasnya karena di pekerja dan pengawasan. kerjakan di pabrik dengan mengguanakan sistem pabrik.

  Sumber : M.Ali Afandi (2004)

  2.3. Elemen Stuktur Pr acetak Balok Pracetak ( pr ecast ) Balok memikul beban pelat dan berat sendiri. Selain itu, balok juga berfungsi untuk memikul beban pelat dan berat sendiri. Selain itu, balok juga berfungsi untuk memikul beban-beban lain yang bekerja pada stuktur tersebut.

  Untuk balok pracetak ( precast beam ), ada tiga jenis balok yang sering atau umum digunakan karena keuntungan dari balok jenis ini sewaktu fabrikasi lebih mudah dengan bekisting yang lebih ekonomis dan tidak perlu memperhitungkan tulangan akibat cor sewaktu pelaksanaan, dikarenakan pada waktu pabrikasi tulangan penyambungan sudah terpasang dan diperhitugkan (PCI sixth edition):

  1. Balok berpenampang persegi ( Rectangular Beam ) : (a) (b) (c)

Gambar 2.1 Type Penampang Balok, (a) Persegi, (b) L, (c) T terbalik

  2.4. Kar akter istik Resiko Gempa Wilayah Sesuai SNI 03-1726 wilayah gempa di Indonesia dikategorikan dalam 6 wilayah gempa, dimana wilayah gempa 1 dan 2 adalah wilayah dengan resiko kegempaan rendah, wilayah gempa 3dan 4 adalah wilayah gempa dengan resiko kegempaan sedang, dan wilayah gempa 5 dan 6 adalah wilayah dengan resiko kegempaan tinggi. Pembagian wilayah ini berdasarkan atas penempatan puncak bantuan dasar akibat pengaruh gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun.

Gambar 2.2 Wilayah Gempa di Indonesia

  (Sumber SNI 03-1726-2002 pasal 4.7.6 hal 21)

Gambar 2.3 Grafik Respons Spektrum Gempa Rencana

  2.5. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) Pengertian dari Sistem Rangka Pemikul Momen ( SRPM ) adalah suatu sistem rangka ruang dalam dimana komponen – komponen struktur dan join – joinnya dapat menahan gaya –gaya yang bekerja melalui aksi lentur, geser dan aksial. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus ( SRPMK ) dipakai untuk daerah dengan resiko gempa tinggi ( wilayah gempa 5 dan 6 ) (SNI 03-2847-2002).

  Dalam sistem rangka semua beban lateral dan beban gravitasi dipikul oleh balok yang diteruskan ke kolom. Prinsip desain gedung tahan gempa adalah setiap massa pada gedung mempunyai lokasi yang simetris. Prinsip desain tersebut mempunyai implikasi yang sangat berarti pada keseluruhan bentuk gedung karena penempatan mekanisme penahan beban lateral dan beban gravitasi sangat dipengaruhi bentuk gedung. Struktur gedung yang simetris tidak mengalami gaya torsi yang besar daripada struktur gedung yang tidak simetris, sehingga jenis struktur simetris lebih diharapkan untuk gedung tahan gempa.

  2.6. Pembebanan Str uktur Utama Jenis pembebanan yang dipakai dalam perhitungan ini adalah :

  1. Beban Mati Berat seluruh bahan konstruksi gedung yang terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi, finishing, komponen arsitektur dan struktur lainnya (PPUIG 1987).

  2. Beban Hidup Semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah (PPUIG 1987).

  3. Beban Gempa Beban gravitasi pada gedung ikut menentukan besarnya beban gempa rencana yang harus dipikul oleh sistem struktur. Gempa rencana memiliki faktor reduksi gempa R dan waktu getar alami fundamental T1, maka beban geser dasar nominal statik ekuivalen V.

  2.7 Sambungan Menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 18.6 gaya-gaya boleh disalurkan melalui komponen-komponen struktur dengan menggunakan sambungan grouting, kunci geser, sambungan baja tulangan, pelapisan dengan beton, bertulang cor setempat, atau kombinasi dari cara-cara tersebut.

  Sistem sambungan pracetak yang digunakan adalah sambungan basah dengan bahan mortar grouting. Tulangan utama pada daerah sambungan dirangkai dengan menggunakan sambungan mekanis. Rangkaian kolom-balok pracetak tidak terlalu berbeda dengan prilaku rangkain monolit. Posisi sambungan balok kolom pracetak pada dasarnya tidak merubah lokasi sendi plastis pada balok.

  Proses penyatuan komponen-komponen struktur beton pracetak menjadi sebuah struktur bangunan yang monolit, merupakan hal yang sangat penting dalam pengaplikasian teknologi beton pracetak. Sambungan antar komponen pracetak tidak hanya berfungsi sebagai penyalur beban tetapi juga harus mampu secara efektif mampu mengintegrasikan komponen tersebut sehingga struktur keseluruhan dapat berprilaku monolit. ( M.Ali Afandi, 2004 )

Tabel 2.2 Perbandingan Metode Penyambungan

  Deskripsi Sambungan dengan cor Sambungan dengan ditempat las/baut Keutuhan struktur Monolit Tidak monolit Waktu yang dibutuhkan agar sambungan dapat Perlu setting time Segera dapat berfungsi berfungsi secara efektif Jenis sambungan Basah Kering Ketinggian bangunan Maksimal 25 meter - Toleransi dimensi Lebih tinggi Rendah, karena dibutuhkan akurasi yang tinggi selama proses produksi dan erection

  Sumber : wulfram I. Ervianto (2006)

  Sambungan Daktail Mekanik French and Friends (1989) mengembangkan sambungan yang menggunakan

  Post-tension untuk menghubungkan antara balok dan kolom. Pada sambungan post- tension ini dirancang pelelehan terjadi pada lokasi pertemuan balok dan kolom.

  Sebagai alat penyambung, digunakanlah treaded coupler yang dipasang pada ujung tulangan. Dengan adanya treaded coupler, maka ujung tulangan baja yang dapat dimasukkan pada lubang tersebut. Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah ketelitian, ketrampilan dan keshlian kuhusus dalam memasang alat ini.

Gambar 2.4 Sambungan Daktail Mekanik Sambungan Daktail Menggunakan Las Ochs dan Ehsani (1993) mengusulkan dua sambungan las pada penempatan di lokasi sendi plastis pada permukaan kolom sesuai dengan konsep stroung coloums

  weak beam.

Gambar 2.5 Sambungan Daktail Dengan Luas

  Sambungan Daktail Menggunakan Baut Englekirk dan Nakaki, Inc. Long Beach California dan Dywidag System

  Internasional USA, Inc. Long Beach california telah mengembangkan sistem dengan menggunakan penyambungan daktail yang dikenal dengan DPCF system (Ductile Precast Concrete Frame System). Penyambungan ini dilakukan menggunakan baut untuk menghubngkan elemen satu dengan elemen yang lain. Dari hasil percobaan, system DPCF berprilaku monolit lebih baik, khususnya untuk moment resisting space frame karena memberikan drift gedung 4% tanpa kehilangan kekuatan pada saat terjadi post yied cycles.

Gambar 2.6 Sambungan Daktail Dengan Menggunakan Baut

  Sambungan Daktail Cor Setempat Sambungan ini merupakan sambungan dengan menggunakan tulangan biasa sebagai penyambung / penghubung antar elemen beton baik antar pracetak ataupun antara pracetak dengan cor setempat. Elemen pracetak yang sudah berada di tempatnya akan di cor bagian ujungnya untuk menyambungkan elemen satu dengan yang lain agar menjadi satu kesatuan yang monolit. Sambungan jenis ini disebut sambungan biasa.

  2.8 Ketentuan – ketentuan yang dipakai pada sambungan pr acetak Pada pengecoran Balok tidak seluruh bagiannya di cor, pada daerah tumpuan hanya di cor setinggi ½ h. Balok. Syarat – syarat tentang penyambungan pada balok kolom pracetak diatur dalam SNI

  • Pasal 183 :

  Distribusi gaya-gaya yang tegak lurus bidang komponen struktur harus ditetapkan dan dianalaisis atau dengan pengujian. Apabila prilaku sistem membutuhkan gaya- gaya sebidang yang disalurkan antara komponen-komponen struktur pada sistem dinding atau lantai pracetak, maka ketentuan sebagai berikut.

  Kolom pracetak harus mempunyai kekuatan nominal tarik minimum sebesar 1,5 Ag dalam kN. Untuk kolom dengan penampang yang lebih besar dari pada yang diperlukan berdasarkan tinjauan pembebanan, luas efektif terediksi Ag yang didasarkan pada penampang yang diperlukan tetapi tidak kurang dari pada setengah luas total, boleh digunakan.

  • Kolom pracetak tarik minimum sebesar 1,5Ag dalam kN. Untuk kolom dengan penampang yang lebih besar dari pada yang diperlukan berdasarkan tinjauan pembebanan, luas efektif tereduksi Ag yang berdasarkan pada penampang yang diperlukan tetapi tidak kurang dari setengah luas total, boleh digunakan.

  Pasal 18.5.3 :

  Pasal 18.6.1 : - Gaya–gaya pada komponen struktur boleh disalurkan dengan menggunakan grouting,

  kunci geser, sambungan mekanis, sambungan baja tulangan, pelapisan beton dengan cor ditempat, atau kombinasi dari cara-cara tersebut.

  Pasal 18.6.1.1: - Kemampuan sambungan untuk menyalurkan gaya-gaya antara komponen-komponen

  struktur harus ditentukan dengan analisis atau pengujian. Apabila geser merupakan pembebanan yang utama, maka ketentuan pada 13.7 dapat digunakan.

  Pasal 18.6.1.2 : - Dalam merencanakan sambungan dengan menggunakan bahan-bahan dengan sifat struktural yang berbeda, maka daktilitas, kekuatan, dan kekakuan relatifnya harus ditinjau.

  2.9 Beban Gempa Statik Ekuivalen Gedung D’Soya Hotel termasuk gedung beraturan yang memenuhi ketentuan

  SNI 03-1726-2002 pasal 4.2.1 yaitu : Tinggi struktur gedung diukur dari taraf penjepitan lateral tidak lebih dari 10 tingkat atau 40 m.

  Denah stuktur gedung adalah persegi panjang tanpa tonjolan, dan kalaupun ada tonjolan, panjangnya tidak lebih dari 25% dari ukuran terbesar denah struktur gedung dalam arah tonjolan tersebut. Denah struktur tidak menunjukkan coakan sudut, dan kalaupun mempunyai coakan sudut, panjang sisi coakan tersebut tidak lebih dari 15% dari ukuran terbesar denah struktur gedung dalam arah sisi coakan tersebut.

  Untuk struktur gedung beraturan, pengaruh gempa rencana dapat ditinjau sebagai pengaruh beban gempa statik ekuivalen. Sehingga menurut standar ini, analisisnya dapat dilakukan berdasarkan analisis statik ekuivalen.

  A. Waktu Getar Alami Fundamental (T1) SNI 03-1726-2002 mengatur perhitungan T dengan ketentuan sebagai

  1

  berikut : a.

  1 3/4

  T = 0,06 . H ………………………………………………. ( 2.26 )

  1 b.

  1

  1

  penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel. Nilai ξ tergantung lokasi Wilayah Gempa.

Tabel 2.3. Koefisien ξ yang Membatasi Waktu Getar Alami Fundamental Struktur

  Wilayah Gempa Ξ 1 0,20 2 0,18 3 0,18 4 0,17 5 0,16 6 0,15

  Sumber : SNI 03-1726-2002 pasal 5.6, tabel 8

  c. Nilai T dari hasil empiris tidak boleh menyimpang lebih dari 20% dari hasil T

  1 yang dihitung rumus Rayleigh. n 2 W d i i ⋅ ∑ i 1

  = T

  6 , 3 ……………………………… ( 2.27 ) ray = n

  g F d iii 1

  =

  Dimana di = Simpangan horizontal lantai tingkat i dinyatakan dalam (mm)

  2

  g = Percepatan gravitasi : 9810 mm/dt

  2.10 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus Untuk memikul gaya-gaya akibat gempa di daerah gempa resiko gempa tinggi, yaitu wilayah gempa ( WG ) tinggi hendaknya digunakan SNI pasal 23.3 tentang Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus. Berdasarkan SNI 03-2847-2002 dinyatakan bahwa kuat geser rencana balok, kolom, dan konstruksi pelat dua arah yang memikul beban gempa tidak boleh kurang daripada :

  1. Jumlah gaya lintang yang timbul akibat termobilisasinya kuat lentur nominal komponen strukur pada setiap ujung bentang bersihnya dan gaya lintang akibat beban gravitasi terfaktor.

  2. Gaya lintang maksimum yang diperoleh dari kombinasi beban rencana termasuk beban gempa, E, dimana nilai E diambil sebesar dua kali nilai yang ditentukan dalam peraturan perencanaan tahan gempa.

  Tujuan persyaratan dalam pasal 23.3 ini adalah untuk mengurangi kegagalan geser sewaktu ada gempa.

  2.11 Tinjauan Elemen Pr acetak

  2.11.1 Fase-fase penanganan pr oduk pr acetak Sebelum digunakan produk pracetak mengalami fase – fase perlakuan yang meliputi :

Orientasi produk apakah horisontal, vertikal, atau membentuk sudut

  b. Jumlah dan lokasi peralatan angkat.

  c. Berat produk pracetak dan beban-beban tambahan, seperti bekisting saat produk diangkat.

  2. Penempatan ke lokasi penyimpanan (yard handling and storage) a. Orientasi produk apakah horisontal, vertikal, membentuk sudut.

  b. Lokasi titik – titik angkat sementara.

  c. Lokasi sokongan sehubungan dengan produk – produk lain yang juga disimpan.

  d. Perlindungan dari sinar matahari langsung.

  3. Transportasi ke lokasi (transportation to the job site) a. Orientasi produk apakah horisontal, vertikal, membentuk sudut.

  b. Lokasi sokongan vertikal maupun horisontal.

  c. Kondisi kendaraan pengangkut, jalan, batas-batas berat muatan dari jalan yang akan dilalui.

  d. Pertimbangan dinamis saat transportasi.

  4. Pemasangan (erection) Proses penyatuan elemen pracetak pada bangunan yang berupa beton pracetak yang telah diproduksi dan layak (cukup umur) untuk disatukan menjadi bagian dari bangunan disebut erection (wulfram, 2006). Dalam menetuikan metode erection dipengaruhi beberapa hjal seperti bentuk sistem struktur, jenis alat penyambung yang digunakan, kapasitas alat crane yang tersedia dan kondisi lapangan. Metode erection yang biasa digunakan adalah metode vertikal dan metode horisontal. Sehingga tersedia waktu yang cukup untuk pengerasan beton sehingga sambungan cor ditempat (cast in place) sesuai dengan metode ini.

  a. Erection metode vertikal Dalam metode erection secara vertikal komponen pracetak dilaksanakan pada arah vertikal struktur bangunan yang memiliki kolom menerus dari lantai dasar hingga lantai atas sehingga sambungan – sambungan pada lantai diatasanya harus dapat bekerja secar efisien. Pada bangunan tinggi metode ini harus menggunakan bracing. Sementara yang berfungsi untuk menahan gaya – gaya timbul selama erection.

  b. Erection metode horisontal

  Dalam metode erecttiion secara horisontal dilakukan tiap satu lantai arah horisontal bangunan. Metode ini digunakan untuk struktur bangunan yang menggunakan metode sambungan yang tidak harus dapat berfungsi sehingga tersedia waktu yang cukup untuk pengerasan beton sehingga sambungan cor ditempat (cast in place) sesuai dengan metode ini.

  2.11.2 Per alatan er ection Dalam penyatuan komponenen beton pracetak menjadi kesatuan struktur, peralatan erection menjadi sangat penting adanya. Jenis peralatan minimium yang harus tersedia dalam penerapan teknologi beton pracetak adalah forklift dan tower crane/ mobile crane. Untuk forklift kapasitas angkut bisa lebih dari 2 ton. Untuk tower crane, dengan mempertimbangkan kapasitas angkat, kemampuan produsen untuk memproduksi komponen, kemampuan metode trnsportasi, kemempuan jalur transportasi, maka berat maksimal satu unit komponen beton pracetak adalah2 ton. Akan tetapi mobile crane memiliki kapasitas angkat lebih dari 20 ton.

  2.12 Metode Pelak sanaan

  1. Proses pencetakan yang terdiri dari 2 macam :

  • Proses pencetakan secara fabrikasi di Industri pracetak, dengan

  memperhatikan hal – hal berikut ini : a.

Perlunya standard khusus sehingga hasil pracetak harus dapat diaplikasikan secara umum di pasaran

  b. Terbatasnya fleksibilitas ukuran yang disediakan untuk elemen pracetak yang disebabkan harus mengikuti kaidah sistem dimensi satuan yang disepakati bersama dalam bentuk kelipatan modul. c. Dengan ukuran elemen pracetak yang berbeda dapat mempengaruhi harga, sehingga dalam perencanaan menggunakan metode pracetak hendaknya bentuknya tipikal.

  • Proses percetakan di lapangan / lokasi proyek, hal-hal yang perlu

  dipertimbangkan adalah : a. Proses ini sering dilakukan pada proyek – proyek lokal.

  b.

  Umur dengan proses produksi percetakan disesuaikan dengan usia proyek.

  c.

Proses ini lebih disukai bile dimungkinkan untuk pelaksanaan

  dikarenakan standarisasi hasil percetakan dengan keperluan proyek.

  2. Sehingga pelaksanaan pengecoran, pada beton pracetak dilakukan curing untuk menghindari penguapan air semen secara drastis sehingga mutu mutu beton yang direncanakan terpenuhi. Pembukaan bakisting dilakukan setelah kekuatan beton antara 20% - 60% dari kekuatan akhir yang dapat tercapai, kurang lebih umur 3-7 hari hari pada suhu kamar ( PCI Design Handbook sixth edition ).

  Adapun syarat dari cetakan elemen beton pracetak adalah : 1. Volume dari cetakan stabil untuk percetakan berulang.

  2. Mudah ditangani dan tidak bocor.

  3. Mudah untuk dipindahkan, khusus untuk pelaksanaan pengecoran di lapangan / proyek.

  Setelah pembongkaran bekisting, dilakukan finishing elemen beton pracetak, hal – hal yang perlu diperhatikan dalam dalam pengangkatan elemen pracetak antara lain :

  1. Kemampuan maksimum crane yang digunakan.

  2. Metode pengangkatan.

  3. Letak titik – titik angkat pada beton pracetak

  4. Momen yang timbul akibat pengangkatan tidak boleh lebih dari momen retak yang disyaratkan.

  Bila beton pracetak berasal dari maka diperlukan sistem transportasi yang meliputi : 1. Pemindahan beton pracetak di areal pabrik.

  2. Pemindahan dari pabrik ke tempat penampungan di proyek.

  3. Pemindahan dari penampungan sementara di proyek ke posisi akhir. Pemilihan jenis, ukuran dan kapasitas alat angkut dan angkat seperti truk, mobile crane dan tower crane akan sangat mempengaruhi ukuran komponen beton pracetaknya. Untuk tahap pemindahan komponen beton pracetak dari lokasi pabrikasi ke areal proyek diperlukan sarana angkut seperti truk tunggal, tandem.

  Truk yang biasa digunakan untuk pengangkutan berukuran lebar 2,4 m x 16 m x atau 2,4 m x 18 m dengan kapasitas angkut kurang lebih 50 ton. Utnuk komponen tertentu dimana panjangnya cukup panjang hingga 30 m dapat dipergunakan truk temel dimana kapasitasnya dapat mencapai 80 ton. Kendala yang dipertimbangkan dalam pemilihan jenis truk. Adalah kondisi jalan yang akan dilalui meliputi kekuatan jalan, lebar jalan, fasilitas untuk menikung memutar dan lain–lain. Di areal pabrikasi dan lokasi proyek juga diperlukan sarana untuk pemindahan komponen beton pracetak yang biasa menggunakan mobile crane. Tersedianya alat angkut ini juga akan mempengaruhi ukuran dari komponen beton pracetaknya.

  3. Dilanjutkan dengan pemasangan penulangan untuk kolom dan konsol yang akan yang akan memikul balok unduk nantinya. Setelah siap, dilakukan pengecoran di tempat secara bersama antara kolom dan konsol. Pemasangan balok pracetak dilakukan setelah pengecoran kolom. Balok induk usia 7-10 hari diangkat ke lokasi denga menggunakan crane. Untuk memilih crane harus disesuaikan antara kemampuan angkat crane dengan berat elemen pracetak yang akan diangkat.

  Data – data crane ysng digunakan Jenis crane POTAIN MDT 218 J8

Jarak jangkau maksimum 55m dengan beban maksimum 2,8 ton

  Beban yang bekerja saat balok berusia 3 hari dan belum diangkat adalah berat balok itu sendiri. Kemudian saat diangkat pada titik angkatannya menyebabkan momen bekerja di seluruh penampang balok, sehingga diperlukan ketelitian dalam menentukan titik angkat dari balok tersebut. Agar nantinya saat pengangkatan dilakukan taidak akan terjadi retak/crack pada balok. Kemudian dapat dlanjutkan dengan pemasangan tulangan utama pada balok yaitu tulsngan tarik pada tumpuan yang bertemu dengan kolom. Lalu setelah tulangan terpasang baru dilakukan pengecoran. Beban yang bekerja bertambah akibat beban pekerja, Sedangkan pelat dianggap beban juga pada perencanaan sehingga menambah beban pula. Kemudian balok diletakkan pada konsol pendek kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan.

  Perencanaan konsol berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 13.9.

Umum

  • Nama gedung : EVERBRIGHT HOTEL
  • Lokasi : Jl. Manyar Kertoarjo no. 44 Surabaya - Fungsi bangunan : Penginapan - Jumlah lantai : 8 lantai
  • Tinggi tiap lantai : akan diseragamkan menjadi 4 m
  • Panjang gedung : 33 m
  • Lebar gedung : 16 m
  • Tinggi gedung : 40 m
  • Wilayah gempa : Direncanakan zona gempa 5-6

  23 BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1.

  Perencanaan struktur Gedung EVERBRIGHT HOTEL menggunakan Sistem pracetak (precast). Dimana dalam perhitungannya struktur utama yang akan dianalisa adalah meliputi balok induk melintang, balok induk memanjang, kolom dan tipe sambungan balok ke kolom precast.

  3.2. Data-Data Per encanaan

  3.2.1. Data Gedung Data-data gedung adalah sebagai berikut :

  3.2.2. Data Mutu Bahan Dalam proposal ini data mutu bahan direncanakan sebagai berikut :

  24

  1. Mutu Beton : Fc’ = 40 MPa

  2. Mutu Tulangan Baja : Fy’ = 350 MPa

  3.3. Per atur an-Per atur an yang Dipakai Didalam perencanaan ini, akan digunakan pedoman dari beberapa peraturan yang ada antara lain :

  • SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perancangan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung.
  • SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.
  • SNI 03-1727-2002 tentang Tata Cara Perhitungan Pembebanan Untuk Bangunan Rumah dan Gedung.
  • ACI 318-02 Building Code Requirements For Structural Concrete.

  • PCI sixth edition hand book ( Precast and Prestres ) tentang Tata Cara pembangunan Gedung Dengan Beton Precast.
  • Dan tidak menutup kemungkinan digunakan literature yang lain sebagai acuan selama proses mengerjakan.

  3.4. Metodologi Perencanaan Data yang diperoleh akan dihitung sesuai dengan rumus-rumus yang ditentukan menurut literature yang berlaku, antara lain SNI 03-2847-2002, SNI 03-

  1726-2002 dan peraturan-peraturan lainnya. Dalam proposal ini dapat diuraikan sebagai berikut.

  25

  3.4.1. Data - Data teknis bangunan denah (gambar-gambar).

  • potongan memanjang
  • potongan melintang

  3.4.2. Rencana Pembebanan

  a. Beban gravitasi : beban terfaktor beban hidup dan beban mati b. Beban lateral : beban gempa dan beban angin

  3.4.3. Analisa Str uktur Rangka 1.

Perhitungan gaya dalam balok dan kolom, analisa untuk mendapatkan

  gaya dalam menggunakan bantuan program ”SAP2000”, dengan cara memodelkan balok dan kolom sebagai rangka (frame).

  2. Perencanaan balok precast.

  3. Perencanaan kolom.

  4. Perencanaan sambungan balok kolom.

  3.4.4. Gambar Rencana

  • detail sambungan

  26 MULAI

  • Data sekunder : gambar- gambar.
  • Dimensi balok precast
  • Dimensi kolom
  • Balok precast
  • Kolom - Sambungan Pengumpulan data-data bangunan

  Gambar Rencana :

  SYARAT Perhitungan Beban

  Preliminary Design

  • Potongan memanjang
  • Potongan melintang
  • Detail sambungan

  SELESAI Analisa struktur rangka:

  OK TIDAK OK

Gambar 3.1. Flowchart metodologi perencanaan

  27

  3.4.5. Pemilihan Kr iter ia Desain Secara umum pemilihan kriteria desain harus memenuhi dua syarat, yakni kuat dan layak. Kuat berarti kemampuan elemen struktur lebih besar daripada beban yang bekerja. Layak berarti struktur lendutan, simpangan, dan retaknya masih dalam toleransi yang ada. Dalam perancangan dengan metode precast ini digunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dimana jaminan akan kekuatan elemen struktur dijelaskan dalam SNI-2847-2002 pasal 23.2.

  Sedangka untuk kekakuan elemen struktur telah disyratkan dalam SNI-1726- 2002 pasal 6.2.1 dan pasal 8.2.2. Metode precast dipilih karena konfigurasi struktur gedung adalah beraturan dan tipikal pada tiap lantainya. Sedangkan dalam pemilihan sistem struktur digunakan Sistem Ranka Pemikul Momen khusus (SRPMK) karena gedung dimodifikasi pada zona gempa kuat.

Gambar 3.2 Permodelan Struktur Open Frames

  3.4.6. J enis Tanah Setempat Jenis – jenis tanah menurut SNI 1726 dibagi 4 jenis yaitu tanah keras, tanah sedang, tanah lunak, dan tanah khusus. Dalam perencanaan ini diasumsikan menggunakan tanah lunak.

  28

  3.4.7. Kombinasi Pembebanan Dimana kombinasi pembebanan yang digunakan sesuai dengan SNI 03-

  2847-2002 pasal 11.2 : U = 1.4 D

  ( 3.1 ) U = 1.2 D + 1.6 L ( 3.2 ) U = 1.2 D + 1.0 L ± 1.0 E atau 1 D

  0.9 E ( 3.3 )

  ±

  dimana : U = kuat perlu D = beban mati L = beban hidup E = beban gempa

  3.4.8 Per encanaan Kolom-Balok pr acetak

  3.4.8.1 Dimensi balok -kolom

  • Perencanaan Balok

  min

  Penentuan tinggi balok minimum, h dihitung berdasarkan SNI 03-2847- 2002 pasal 11.5.2.3b, dimana bila persyaratan ini telah dipenuhi maka tidak perlu dilakukan kontrol terhadap lendutan.

  1. Merencanakan tinggi balok minimum. min

  1

  h L ................................................................. ( 3.4 ) = ⋅

  16

  3

  3 a.

  • – 2000 kg/m , nilai

  Untuk struktur ringan dengan berat jenis 1500 Kg/m

  diatas harus dikalikan dengan (1,65 – ( 0,0003)Wc)tetapi tidak kurang dari 1,09 b.

  Untuk fy selain 400 MPA, nilainya harus dikalikan dengan (0,4 + fy/700)

  ............................................ ( 3.7 )

  L

  β ρ

  600 600 85 , 1 '

  f f f

     

     

  3.4.8.2 Penulangan balok-kolom

  .......................................................... ( 3.6 )

  I ⋅ ⋅ =

  h b

  1

  12

  I ≥ ...................................................... 3

  I L

  Dimana, W = beban aksial yang diterima kolom Fc’ = kuat tekan beton karakteristik A = luas penampang kolom balok balok kolom kolom

  29 dimana,

  

φ

  A=

  φ = 0,65.

  tersebut hanya memikul gaya aksial saja. Maka, agar kolom juga mampu memikul gaya momen diambil

  φ

  = 0,7, tapi

  φ

  3. Merencanakan dimensi kolom Menurut SNI 03-2847-2002 untuk komponen struktur dengan tulangan spiral maupun sengkang ikat, maka

  ..................................................................... ( 3.5 )

  ≤ ≤ b h

  1

  2 5 ,

  L = panjang bentang Wc = berat jenis beton Fy = mutu baja 2. Merencanakan lebar balok.

  • ⋅ ⋅ ⋅ = y y c b

  30 ........................................................ ( 3.8 )

  ,

  75 ρ = ⋅ ρ max b

  1 ,

  4 ........................................................ ( 3.9 )

  = ρ min f y

  φ tul

  ............................... ( 3.10 )

  d = hp − φ tul . sengkang

  2 M u R ....................................................... ( 3.11 ) n = 2

  b d φ ⋅ ⋅ f y m ................................................................... ( 3.12 )

  = '

  , 85 f

  ⋅ c  

  2 m R

  1

  ⋅ ⋅ n  

  1 1 ............................ ( 3.13 )

  ρ = ⋅ − − perlu   m f y

   

  Syarat : ............................ ( 3.14 )

  ρ ρ ρ min perlu max < <

  apabila maka pakai

  ρ ρ ρ perlu < min min

  Tulangan yang dibutuhkan : ………………………………..... ( 3.15 )

  A perlu = ⋅ bd s ρ

  Kontrol analisa penampang :

  As fy

  ..................................................... ( 3.16 )

  a =

  , 85 fc ' b

  ⋅ ⋅ a

  

  ØMn = ØAs.fy. d ............................ ( 3.17 )

   −  

  2

   

  ØMn ≥ Mu .................................................... ( 3.18 )

  3.4.8.3. Penulangan Geser Sedangkan untuk perhitungan kebutuhan tulangan geser, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai beikut :

  31

  • Hitung Vu pada titik berjarak (d) dari ujung perletakan
  • Cek Vu ≤ fc . Bw . d)

  φ (Vc + 2/3 √

  Bila tidak memenuhi maka pembesaran penampang

  • Kriteria kebutuhan tulangan geser : Vu ≤ 0,5
    • Vc tidak perlu penguatan geser

  φ

  • Vc Vu Vc dipakai tulangan geser -

  →

  0,5 φ < < φ →

  Minimum Vc Vu (vc + Vs min ) diperlukan tulangan geser

  • min ) Vu ≤ φ( Vc + Bw.d) perlu tulangan geser.

  φ < < φ →

  (Vc + Vs √ fc .

  φ < →

  Dimana : bw .d Vc = 1/6 √ fc .

  Vc = bw .

  = 0,6 (untuk geser)

  Φ

  Keterangan : Vc = kekuatan geser Nominal yang diakibatkan oleh beton.

  Vs = kekuatan geser Nominal yang diakibatkan oleh tulangan geser. Vn = kekuatan geser Nominal (Vc + Vs) Vu = Gaya Geser Berfaktor

  • Menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 23.3.3.4 :

  Jarak maksimum sengkang yang tidak memerlukan sengkang tertutup tidak boleh melebihi : (d/2)

  32

  3.4.9. Per encanaan Sambungan Dalam perencanaan sambungan pracetak, gaya – gaya disalurkan dengan cara menggunakan sambungan grouting, kunci geser, sambungan mekanis, sambungan baja tulangan, pelapisan dengan beton bertulang cor setempat, atau kombinasi cara – cara tersebut.

  Sambungan yang dipakai tugas akhir nanti adalah sambungan cor di tempat atau disebut sambungan basah (Wet Connection), penggunaan sambungan basah sendiri relatif mudah dalam pelaksanaanya jika dibandingkan dengan Sambungan kering atau (non toping) seperti mechanical connection dan welding connection yang cukup kompleks. Untuk sambungan basah dalam daerah joint, diberikan tulangan yang berdasarkan panjang penyaluran, sambungan lewatan. Selain itu juga dilakukan perhitungan geser friksi yaitu geser beton nyang berbeda umurnya antara beton pracetak dengan beton toping. Di dalam pelaksanaan biasanya dipakai stud tulangan (shear connector) yang berfungsi sebagai penahan geser dan sebagai pengikat antara pelat pracetak dan pelat topping agar pelat bersifat secaara monolit dalm satu integritas satu kesatuan struktur.

  Sambungan berfungsi sebagai penyalur gaya-gaya yang dipikul oleh elemen struktur ke elemen struktur yang lainnya. Gaya-gaya tersebut untuk selanjutnya diteruskan ke pondasi. Selain itu desain sambungan dibuat untuk menciptakan kestabilan. Suatu sambungan diharapkan dapat menstransfer beberapa gaya secara bersamaan.

  Dalam pelaksanaan konstruksi beton pracetak, sebuah sambungan yang baik selalu ditinjau dari segi praktis dan ekonomis. Selain itu juga perlu ditinjau dari segi praktis dan ekonomis. Selain itu juga perlu ditinjau serviceability, kekuatan dan

  33 produksi. Faktor kekuatan khususnya harus dipenuhi oleh suatu sambungan karena sambungan harus mampu menahan gaya-gaya yang dihasilkan oleh beberapa macam beban. Beban-beban tersebut dapat berupa beban mati, beban hidup, beban gempa dan kombinasi dari beban-beban tersebut.

  Sambungan antar elemen beton pracetak tersebut harus mempunyai cukup kekuatan, kekakuan dan dapat memberikan kebutuhan daktilitas yang disyaratkan.

  Baik sambungan cor setempat maupun sambungan grouting sudah banyak dipergunakan sebagai salah satu pemecahan masalah dalam mendesain konstruksi pracetak yang setara dengan konstrksi cor setempat (cast in place).

  Berdasarkan UBC 1997 section 1916.6.2.2, jarak masukan (coakan) minimum sebagai tempat bertumpunya balok atau pelat ke tepi elemen pendukungnya harus diambil sebesar :

  • d = 1/180 Ln, dimana Ln = bentang bersih elemen pracetak tetapi tidak boleh kurang dari :
  • untuk pelat solid / pelat berlubang 4 d = 2 in atau 51mm
  • untuk balok 4 d = 3 in atau 76mm

  3.4.9.1. Kr iter ia Per encanaan Sambungan Kriteria perencanaan sambungan disesuaikan dengan desain, karena ada perbedaan criteria untuk masing-masing type sambungan. Persyaratan suatu sambungan dapat menjadi syarat yang tidak terlalu penting untuk sambungan lain. Hal ini diakibatkan karena ada perbedaan asumsi/anggapan atau perbedaan spesifikasi dari pihak perancang dan penilik struktur.

  34

  § Kekuatan

  Suatu sambungan harus mempunyai kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang diterapkan sepanjang umur dari sambungan. Beberapa dari gaya ini disebabkan oleh gaya gravitasi, angin, gempa dan perubahan volume.

  § Daktilitas

  Daktilitas sering diidentifikasi sebagai kemampuan relatif struktur untuk menampung deformasi yang besar tanpa mengalami runtuh. Untuk material struktur, daktilitas diukur dengan total deformasi yang terjadi saat leleh awal terhadap leleh batas (ultimate failure). Daktilitas pada portal ssering digabungkan dengan ketahanan terhadap momen, hal ini dipakai dalam perencanaan gempa. Pada elemen sambungan tahan momen, tegangan tank lentur lentur biasanya ditahan oleh komponen baja. Dan kondisi runtuh akhir terjadi karena kon disi putusnya baja, hancurnya beton atau kegagalan dari sambungan baja dan beton. Pada perhitungan kali ini menggunakan daktilitas parsial.

  § Daya Tahan

  Sambungan perlu diawasi dan dipelihara. Sambungan yang diperkirakan akan langsung dapat bersentuhan dengan cuaca harus dilakukan tindakan perlindungan dengan beton atau dengan cat (golvins). Daya tahan yang buruk dapat diakibatkan oleh retak, spelling pada beton dan yang paling sering diakibatkan oleh korosi dari komponen baja elemen beton pracetak.

  §

Ketahanan Ter hadap Kebakar an

  Beberapa sambungan beton pracetak tak mudah terpengaruh, seperti pada perletakan antara pelat dan balok yang secara umum tidak memerlukan perliondungan secara khusus terhadap api. Apabila pelat diletekkan diatas bearing

  35

  

pads yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar, maka perlindungan khusus dari

bearing pads tersebut tidak perlu karena keadaan terburuk dari pads tidak akan

  menyebabkan keruntuhan, tetapi sesudah kebakaran pads harus diganti. Untuk sambungan yang tidak tahan api memerlukan perlindungan khusus seperti dengan melapisi beton, gypsum wallboard atau bahan lain yang tahan api.

  § Per ubahan Volume

  Kombinasi pemendekan akibat dari rangkak, susut dan penuruhan suhu yang dapat menyebabkan beberapa tegangan pada elemen beton pracetak ataupun perletakannya ditarik pergerakannya. Tegangan ini harus dimasukkan oleh desain dan akan lebih baik bila sambungan diijinkan untuk berpindah tempat untuk mengurangi besarnya tegangan tersebut.

  § Keseder hanaan Sambungan

  Semakin sederhana sambungan maka diharapkan semakin ekonomis. Kriteria penyederhanaan sambungan adalah :

  • memakai bahan - bahan standar
  • menggunakan detail yang sama (berulang)
  • mengurangi bagian - bagian yang perlu ditancapkan pada elemen

  sehingga memerlukan presisi tinggi untuk menempatkannya • mempersiapkan cara - cara pergantian.

  §

Keseder hanaan Pemasangan

  Kesederhanaan pemasangan elemen beton pracetak sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan penerapan konstruksi beton pracetak. Kesederhanaan pemasangan tidak lepas dari bentuk dan type sambungan yang dipilih.

  36 Kesederhanaan suatu sambungan biasanya menjamin dalam kemudahan pemasangan.

  3.4.10. Konsep Desain Sambungan

  3.4.10.1. Mekanisme Pemindahan Beban Tujuan dari sambungan adalah memindahkan beban dari satu elemen pracetak ke elemen lainnya atau sebaliknya. Pada setiap sambungan, bebam akan ditransfer melalui elemen sambungan, dengan mekanisme yang bermacam – macam.

  Untuk menjelaskan mekanisme pemindahan beban diambil contoh seperti

gambar 3.3 diman pemindahan beban diteruskan ke kolom dengan melalui tahap sebagai berikut :

  W KOLOM BALOK

Gambar 3.3. Mekanisme Pemindahan Beban 1. Beban diserap pelat dan ditransfer ke perletakan dengan kekuatan geser.

  2. Perletakan ke haunch melalui gaya tekan pads.

  37

  3. Haunch menyerap gaya vertical dari perletakan dengan kekuatan geser dan lentur dari profil baja.

  4. Gaya geser vertical dan lentur diteruskan ke pelat baja melalui titik las.

  5. Kolom beton memberikan reaksi terhadap profil baja yang tertanam.

  Mekanisme pemindahan gaya tarik akibat susut, dapat dijelaskan sebagai berikut :

  6. Balok beton ke tulangan dengan lekatan / ikatan.

  7. Tulangan baja siku di ujung balok diikat dengan las.

  8. Baja siku di ujung balok ke haunch melalui gesekan diatas dan dibawah bearing

  pads. Sebagian gaya akibat perubahan volume dikurangi dengan adanya deformasi pada pads.

  9. Sebagian kecil dari gaya akibat perubahan volume dipindahkan melalui las ke pelat baja.

  3.4.11. Stabilitas dan Keseimbangan Adapun permasalahan utama pada struktur beton pracetek biasanya disebabkan oleh kesalahan perencanaan dalam menghitung stabilitas dan keseimbangan dari struktur dan komponen – komponennya, bukan hanya pada kedudukan akhir tetapi juga selama fase pelaksanaan konstruksi.

  Sebagai contoh pada balok induk, karena eksentrisitas beban pada balok terjadi torsi dan balok cenderung berputar pada perletakan. Jadi perencanaan perlu untuk memperhitungkan kondisi pada saat pemasangan balok tersebut.

  38

  3.4.12. Klasifikasi Sistem dan Sambungannya Sistem pracetak didefinisikan dalam 2 kategori yaitu lokasi penyambungan dan jenis alat penyambung :

  1. Lokasi Penyambungan Portal daktail dapat dibagi menjadi sesuai dengan letak penyambungan dan lokasi yang diharapkan terjadi pelelehan atau tempat sendi daktailnya. Simbol – simbol dibawah ini digunakan untuk mengidentifikasi prilaku dan karakteristik pelaksanaanya.

  • Strong, sambungan elemen – elemen pracetak yang kuat dan tidak akan leleh akibat gempa yang besar.
  • Sendi, sambungan elemen – elemen pracetak bila dilihat dari momen akibat akibat beban lateral gempa dan bersifat sendi.
  • Daktail, sambungan elemen – elemen pracetak yang daktail dan berfungsi sebagai pemancar energi.
  • Lokasi sendi plastis, lokasi sendi plastis menunjukkan tempat perlelehan pada elemen struktur jika mengalami beban yang besar.

  2. Jenis alat penyambung

  Shell pracetak dengan bagian intinya dicor beton ditempat

  • Cold Joint yang diberi tulangan biasa
  • Cold Joint yang diberim tulangan pracetak namun jointnya tidak digrouting
  • Sambungan – sambungan mekanik

  39

  3.4.13. Pola – pola Kehancuran Sebagian perencanaan diharuskan untuk menguji masin – masing pola kehancuran. Pada dasarnya pola kehancuran kritis pada sambungan sederhana akan tampak nyata. Sebagai contoh pada kehancuran untuk sambungan sederhana dapat dilihat pada gambar 3.4

  4

  3

  2

  5 Vh

Gambar 3.4 Model – model Keruntuhan Gedung

  PCI Desaign Hanbook memberikan lima pola kehancuran yang harus diselidiki pada waktu perencanaan dapped-end dari bslok, yaitu sebagai berikut:

  Tarik diagonal yang berasal dari sudut ujung 3. Geser langsung antar tonjolan dengan bagian utama balok 4. Tarik diagonal pada ujung akhir 5.

Perletakan pada ujung atau tonjolan

  3.4.14. Per timbangan Dalam Per enca naan

  1. Sambungan – sambungan Sendi Pertimbangan pertama adalah menentukan letak sambungan pada titik momen minimum, namun sambungan tersebut masih harus didesain terhadap momen

  40 yang terjadi. Momen yang terjadi lantai perlantai akibat beban mati ditambah beban hidup biasanya tidak banyak yang berbeda, tetapi pergeseran – pergesaran bidang momen akibat ragam – ragam yang lebig tinggi dalam keadaan in elastis perlu diperhatikan.

  2. Sambungan daktail pemancar energi Bila sambungan diletakkan pada titik – titik dimana sendi plasti akan terjadi, maka penyambungannya harus mampu berotasi bolak – balik secara plastis tanpa mengurangi kekuatan momen dan kapasitas geser pada joint tersebut.

  Sistem sambungan terjadi sangat kompleksdan sedikit sekali penelitian dilakukan dalam hal ini. Keadaan ini cenderung dihindari oleh para desainer dan letak joint dengan lokasi sendi plastis berusaha dipisahkan. Dari segi pengerjaan dan pelaksanaan beton pracetak, perlatakan lokasi joint yang sama dengan lokasi sendi plastis sangatlah ekonomis sebab elemen – elemen tunggal dan berbentuk lurus serta pengangkatannya lebih mudah.

  Sebelum pelat mencapai momen lelehnya, keretakan mungkin terjadi pada kolom, sehingga rotasi post elastis akan terjadi pada suatu daerah yang menyebabkan peningkatan kekengan pada joint dan defleksi post yield elemen baloknya sehingga menghasilkan retakan yang besar pada joint. Beban siklis yang terjadi pada joint di daerah ini mengakibatkan pengurangan gaya gesernya. Regangan – regangan tinggi yang berulang dan bolak – balik pada tulangan yang dimaksud mengakibatkan penurunan momen yang besar jika tidak direncanakan penulangannya. Bila akibat beban tarik kemudian diberi gaya tekan kembali mengakibatkan gaya lateral yang cukup besar pada beton yang berada di sekeliling tulangan, hal ini dapat

  41 mengakibatkan pengutangan kapasitas beton untuk menerima gaya tekan bolak – balik.

  Untuk struktur beton bertulang cor ditempat, degradasi ini diatasi dengan adanya tulangan lateral (sengkang). Efektifitas tulangan tersebut yang terletak pada suatu cold joint sampai sekarang belum begitu terbukti. Di masa yang akan datang perlu dikembangkan joint – joint yang dapat berprilaku baik dalam keadaan post

  yield.

  3. Alat penyambung kuat ( tidak leleh dulu dibandingkan sendi plastisnya ) Untuk menghindari letak joint antar elemen pracetak yang bertepatan dengan letak sendi plastis adalah dengan cara memaksakan agar letak snedi tersebut jauh dari joint. Kapasitas elastis pada permukaan kolom harus melebihi dari yang diperkirakan dengan meletakkan sendi plastis tersebut pada pelat.

  Kapasitas momen elastis pada bagian muka kolom harus lebih besar daripada kapsitas momen plastis pada lokasi sendi. Regangan dan gaya geser yang lebih tinggi akan timbul jika pelelehan dan variasinya sama seperti yang digunakan untuk komponen – komponen lain yang samayaitu sendi plastis dengan komponen pracetak lain.

  Agar meknisme yang diharapkan dapat tercapai maka kapasitas momen kolom gabung harus lebih besar daripada kapasitas yang dihasilkan pada saat sendi plastis menempel pada kolom. Sambungan – sambungan dapat direncanakan secara plastis dengan banyak kemungkinan jenis – jenis sambungan yang dapat dipakai diantaranya sambungan las, sambungan post tension atau sambungan grouting.

  42

  Jenis joint ini diletekkan di daerah momen yang kecil. Pemakain yang umum yaitu dengan menggunakan sendi yang bebas berputar, sebab biasanya sendi tersebut dipasang di daerah yang secara analisa memang terjadi persendian (inflection point).

  Pada permukaan elemen pracetak direncanakan suatu sambungan yang tidak akan terjadi pelelehan sambungan. Dan sudut pelaksanaannya adalah sangat menguntungkan dan agar panjang sambungan sependek mungkin serta mengurangi kemungkinan besarnya momen yang terjadi.

  Transfer bond dan tegangan yang berasal dari tulangan tarik biasanya sering

  dipilih sebab tidak akan menimbulkan masalah yang berarti pada waktu pemasangan

  

mechanical aplices. Transfer geser diperbaiki dengan mengubah tulangan

pengekang.

  Sambungan – sambungan basah biasanya tidak dapat dipakai pada sambungan kolom sehingga kebanyakan digunakan sambungan dowel atau sambungan – sambnungan mekanik. Untuk gempa besar biasanya jenis sambungan ini tidak dapat memenuhi persyaratan. Selain terjadi gaya geser yang cukup besar yang harus ditransferkan, juga terjadi momen yang cukup besar akibat pergeseran

  

inflection point akibat sifat – sifat in elastis bila terjadi cukup banyak sendi – sendi

  plastis pada struktur. Pengaruh ragam yang lebih tinggi dapat ,menggeser letak

  

inflection point pada analisa elastis. Gaya geser yang cukup besar dapat ditrnasferkan

lewar shear keys.

  3.4.15. Penggunaan Toping Beton Penggunaan topping beton komposit disebabkan karena berbagai pertimbangan, tujuan utamanya adalah :

  43

  1. Untuk menjamin mutu agar lantai beton pracetak dapat bekerja sebagai satu kesatuan diafragma horisontal yang cukup kaku.

  2. Agar penyebaran atau distribusi beban hidup vertical atau komponen pracetak lebih merata.

  3. Meratakan permukaan beton karena adanya perbedaan penurunan atau camber mereduksi kebocoran air (tebal topping umumnya berkisar antara 50 mm sampai 100 mm).

  Pemindahan sepenuhnya gaya geser akibat beban lateral pada komponen struktur komposit tersebut akan bekerja dengan baik selama tegangan geser yang timbul tidak melampaui 5.50kg/cm2. Bila tegangan geser tersebut dilampaui, maka topping beton tidak boleh dianggap sebagai struktur komposit. Melainkan harus dianggap sebagai struktur komposit. Melainkan harus dianggap sebagai beban mati yang bekerja pada komponen beton pracetak tersebut.

  Kebutuhan baja tulangan pada topping dalam menampung gaya geser horisontal tersebut dapat direncanakan dengan mengguanakan geser friksi (shear

  friction concept). vn

  A = . ≥ A min

  vf vf fy. µ

  Dimana :

  vf

  A = luas tulangan geser friksi Vn = luas geser nominal < 0,2 fc Ac (Newton)

  < 5,5 Ac (Newton) Ac = luas penampang beton yang memikul penyaluran geser Fy = kuat leleh tulangan

  44 µ = koefisien friksi (1) A vf = 0,018 Ac untuk baja tulangan mutu 400 Mpa

  = 0,018 Ac untuk tulangan fy > 400 Mpa diukur pada tegangan leleh 0,35% = dalam segala hal tidak boleh kurang dari 0,0014 Ac .

  3.4.16. Per encanaan Konsol pada Kolom Pada perencanaan sambungan antara kolom dan balok dipergunakan sambungan dengan menggunakan konsol pendek. Balok diletakkan pada konsol yang berada pada kolom yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. Bentuk konsol yang dipakai dapat dilihat pada gambar 3.6 berikut ini : uc a

  N A s ( ) t ulangan ut ama Vu h d

  A h (sengkang tert ut up) Rangka unt uk mengangkur sengkang t ert ut up

Gambar 3.5 Parameter Geometri Konsol Pendek

  Ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal 13.9 tentang perencanaan konsol pendek yang diatur sebagai berikut :

  1. Perencanaan konsol pendek dengan rasio bentang geser terhadap tinggi efektif a/d tidak lebih besar daripada satu, dan memikul gaya tarik horisontal tidak boleh diambil kurang dari 0,2 V u kecuali bila digunakan suatu cara khusus utnuk mencegah terjadinya gaya tarik. Gaya tarik N uc harus dianggap

  u

  n

  [

  V

  u

  ]

  harus dihitung menurut SNI 03-2847-2002 pasal 12.2 dan pasal 12.3.

  (4) Tulangan A

  untuk menahan gaya tarik N

  Tulangan A vf

  uc

  harus ditentukan dari N

  uc ≤ ∅

  A

  n

  f y . Gaya tarik N

  untuk menahan momern

  (3)

  45 N uc yang tidak lebih besar dari pada V u jarak d harus diukur pada muka tumpuan.

  03-2847-2002 pasal 13.9, faktor reduksi kekuatan

  2. Tinggi konsol pada tepi luar daerah tumpuan tidak boleh kurang dari pada 0,5d.

  3. Penampang pada muka tumpuan harus direncankan untuk memikul secara bersamaan suatu geser Vu suatu momen Vu a + N

  uc

  ( h-d), dan suatu gaya tarik horisontal N uc .

  1)

  Di dalam suatu perhitungan perencanaan yang sesuai dengan SNI

  ∅

  w d dalam Newton.

  harus diambil sebesar 0,75.

  2) Perencanaan tulangan geser friksi A vf untuk memikul geser V u harus memenuhi ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal 13.7: (1) Untuk beton normal, kuat geser V n tidak boleh diambil lebih besar daripada 0,2 f c b w d ataupun 5,5 b w d dalam Newton.

  (2) Untuk beton ringan total atau beton ringan besar, kuat geser V n tidak boleh diambil melebihi (

  0,2

  −

  0,007

  ) f c b w d ataupun ( 5 ,5 − 1,9 ) b

  • N uc (h-d)

  46 suatu beban hidup walaupun gaya tarik akan timbul akibat rangkak, susut, atau perubahan suhu.

  (5) Luas tulangan tarik utama A harus diambil sama dengan nilai

  s terbesar dari ( A + A ) atau + An.

f n

  4. Sengkang tertutup atau sengkat ikat yang sejajar dengan A dengan luas total

  sf

  A yang tidak kurang daripada 0,5 (A -A ), harus disebarkan secaara merata

  h s n

  dalam rentang batas dua pertiga dari dari tinggi efektif konsol, dan diopasang bersebelahan dengan A .

  s 5. Rasio = A /bd tidak boleh diambil kurang daripada 0,04 .

  ρ s 6.

  harus diangkurkan

  Pada muka depan konsol pendek, tulangan tarik utama A s

  dengan cara berikut : (a)

  Dengan las struktural pada suatu tulangan transfersal yang diameternya

  minimal sama dengan diameter tulangan A , las haurs direncankan agar

  s mampu mengembangkan kuat leleh f dari batang tulangan A . y s

  (b) Dengan menekuk tulangan tarik utama A sebesar 180 hingga

  s ° membentuk suatu loop horizontal.

  (c) Dengan cara lain yang yang mampu memberikan pengangkuran yang baik.

  7. Luas daerah penumpu beban pada konsol pendek tidak boleh melampaui bagian lurus batang tulangan utama A , dan tidak pula melampaui muka

  s dalam dari batang tulangan angkur transversal (bila dipasang).

  47 Konsol ini diletakkan di pertemuan balok dan kolom pracetak. Sambungan tidak boleh di daerah momen maksimum. Pada perencaan sambungan balok-kolom ini menggunakan konsol pendek. Balok diletakkan pada konsol pendek pada kolom kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. Perencanaan konsol berdasarkan SNI 03- 2847-2002 pasal 13.9 mengenai ketentuan khusus untuk konsol pendek.

  Konsol

Gambar 3.6 Sambungan Balok-Kolom

  • Balok induk dengan Lb = 800 cm
    • ⋅ ⋅ =

  1 min y

  ≤ ≤ b h

  1

  2 5 ,

  b. Merencanakan lebar balok Dengan syarat :

   h min = 45 cm ≈ 70 cm

  1 min h

  16

  700 350 800 4 ,

   

  f L h    

  16

  700 4 ,

     

  a. Merencanakan tinggi balok

  1. Dimensi balok memanjang

  4.2. Per encanaan Dimensi Balok Perencanaan dimensi balok sesuai SNI 03-2847-2002 pasal 11.5 tabel 8 yaitu :

  2. Mutu Baja (fy) = 350 Mpa

  1. Mutu Beton (fc’) = 40 Mpa

  4.1. Data Mutu Bahan

  PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA

  • ⋅ ⋅ =

  

48

BAB IV

  maka b = = = 35 cm ≈ 40 cm Jadi dimensi balok induk dengan Lb = 800 cm yang digunakan : 40/70 Balok induk dengan Lb = 500 cm - a.

  Merencanakan tinggi balok f

  1  y

  4

  = ⋅ ⋅

  • h min L ,

  16 700

   

  1 350

   

  4

  = ⋅ ⋅  

  • h min 500 ,

  16 700

    h min = 28,125 cm ≈ 40 cm

  b. Merencanakan lebar balok

  h

  Dengan syarat : 1 ,

  5

  2

  ≤ ≤ b

  maka b = = = 20 cm ≈ 30 cm Jadi dimensi balok induk dengan Lb = 500 cm yang digunakan : 30/40

  Balok induk dengan Lb = 400 cm -

  a. Merencanakan tinggi balok

  f

  1

   y

  4

  = ⋅ ⋅

  • h min L ,

  16 700

   

  1 350

   

  4

  = ⋅ ⋅  

  • h min 400 ,

  16 700

    h min = 22,5 cm ≈ 40 cm b.

  Merencanakan lebar balok h

  Dengan syarat : 1 ,

  5

  2

  ≤ ≤ b

  maka b = = = 20 cm ≈ 30 cm Jadi dimensi balok induk dengan Lb = 400 cm yang digunakan : 30/40

  2. Dimensi balok melintang

  • a.

  Balok induk dengan Lb = 600 cm

  Merencanakan tinggi balok f

  1  y

  4

  = ⋅ ⋅

  • h min L ,

  16 700

   

  1 350

   

  4

  = ⋅  

  • h min 600 . ,

  16 700

    h min = 33,75 cm ≈ 60 cm

  b. Merencanakan lebar balok

  h

  Dengan syarat : 1 ,

  5

  2

  ≤ ≤ b

  maka b = = = 30 cm ≈ 40 cm Jadi dimensi balok induk dengan Lb = 600 cm yang digunakan : 40/60

  Balok induk dengan Lb = 400 cm -

  a. Merencanakan tinggi balok

  f

  1

    y

  4

  = ⋅ ⋅

  • h min L ,

  16 700

   

  1 350

   

  4

  = ⋅ ⋅  

  • h min 400 ,

  16 700

    h min = 22,5 cm ≈ 40 cm b.

  Merencanakan lebar balok h

  Dengan syarat : 1 ,

  5

  2

  ≤ ≤ b

  maka b = = = 20 cm ≈ 30 cm Jadi dimensi balokinduk dengan Lb = 400 cm yang digunakan : 30/40

  4.3. Per encanan Dimensi Kolom Kolom direncanakan persegi dengan b = h - Direncanakan memikul balok lantai dengan dimensi 40/70 dan Lb = 800 cm. balok balok kolom kolom

  4.4. Data Per encanaan Str uktur Bangunan

  1 4

  ≥ ⋅ b

  6173982 4

  ≥ b

  b = 49,84m ≈ b = 70 cm Jadi dimensi kolom yang digunakan adalah ( 70 x 70 ) cm

  2

  § Jumlah lantai = 9 lantai

  1143 33 , 450

  § Tinggi bangunan

  = 39 m

  § Dimensi kolom persegi

  = ( 70 x 70 ) cm

  2 §

  Dimensi balok induk memanjang dengan Lb 8 m = 40/70 §

  12

  ⋅ ⋅ ≥ ⋅ ⋅ b b

  L

  1

  I L

  Ibalok kolom

  L h b L h b 3 3

  12

  1

  12

  ⋅ ⋅ ≥ ⋅ ⋅

  1 3 3

  1000

  70

  40

  12

  1 450

  12

  Dimensi balok induk memanjang dengan Lb 5 m = 30/40 § Dimensi balok induk memanjang dengan Lb 4 m = 30/40 § Dimensi balok induk melintang dengan Lb 6 m = 40/60

  § Dimensi balok induk melintang dengan Lb 4 m = 30/40

  4.5. Per hitungan Pembebanan Pelat

  4.5.1. Pelat Atap

  a)

  Beban mati

  3

  2

  • = 2,4 kN/m

  Berat sendiri pelat ( 10 cm ) = 0,10 m x 24 KN/m

  2

  2

  • 3

  = 0,178 kN/m

  Plafon + penggantung = ( 0,11 + 0,068 ) KN/m

  2

  = 0,0014 kN/m -

  Aspal ( 1 cm ) = 0,01 m x 0,14 KN/m

  • 2

  = 0,4 kN/m+

  Pipa + ducting AC

  DL = 2.9794 kN/m

  2

  = 2,98 kN/m

  b) Beban hidup

  2

  • Lantai atap ( LL ) = 1 kN/m

  3

  2

  • Air hujan = 0,005 m x 0,2 KN/m = 0,003 kN/m

  2 LL

  = 1,003 kN/m

  4.5.2. Pelat Lantai

  a) Beban mati

  3

  2 Berat sendiri pelat ( 12 cm ) = 0,12m x 24 KN/m = 2,88 kN/m -

  2

  2 Plafon + penggantung = ( 0,11 + 0,068 ) KN/m = 0,178 kN/m -

  2

  • 3

  = 0,4 kN/m

  Pipa + ducting AC

  2

  • 3

  = 0,02m x 0,21 kN/m = 0,0042 kN/m

  Spesi ( 2 cm )

  2

  • =0,0011 kN/m +

  Tegel ( 1 cm ) = 0,01 m x 0,11 kN/m

  2 DL

  = 3,4633 kN/m

  2

  = 3,46 kN/m

  • Beban hidup lantai hotel ( LL )

  q = 5,72 kN/m    

     

     

    

  

⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  6 00 ,

  5

  3

  1

  1 00 , 5 98 ,

  2

  2

  1 D Ekui

     

  1 Y X X D D Ekui

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

  1

  1

  2

  1 Y X X L L Ekui

  L L L q q

  2.50

  2.50

  6.00

  5.00

  5.00

  

L

L

L q q

  2

  b) Beban hidup

  ⋅ ⋅ =

  = 2,50 kN/m

  2 PELAT ATAP TIPE A

Gambar 4.1. Pembebanan Pelat Lantai Atap Tipe A

  Segitiga : X D D Ekui

  L q q ⋅ ⋅ =

  3

  1 1 .

  00 ,

  5 98 ,

  2

  3

  1 1 .

  ⋅ ⋅ = D Ekui q = 4,96 kN/m X L L Ekui L q q

  3

  1

  1 1 .

  00 , , 5 003

  1

  3

  1 1 .

  ⋅ ⋅ = L Ekui q = 1,67 kN/m

  Trapesium :

     

     

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

  1

  6.00

  • ⋅ ⋅
  • ⋅ ⋅

  x 8,75 m

  x 8,75 m

  2

  = 26,08 kN P

  L.Atap

  = 1,003 kN/m

  2

  x 8,75 m

  2

  = 8,776 kN P

  D.lantai

  = 3,46 kN/m

  2

  2

  = 2,98 kN/m

  = 30,28 kN P

  L.lantai

  = 2,50 kN/m

  2

  x 8,75 m

  2

  = 21,88 kN

  2.50

  2.50

  6.00

  5.00

  5.00

  2

  D.Atap

     

  q = 1,92 kN/m

     

     

    ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  6 00 ,

  5

  3

  1

  1 00 ,

  5

  1

  2

  1 L Ekui

  4.5.3. Per hitungan Beban P Balok Por tal Melintang

  P

Gambar 4.2. Pembebanan Pelat Lantai Tipe A terhadap Balok

  Luas trapesium =

  ( ) b a t

  2

  1 =

  ( )

  6

  1 50 .

  2

  2

  1

  = 8,75 m

  2 P = berat sendiri pelat x luas

  6.00

Tabel 4.1. Pembebanan Pelat Atap

  Type Bentuk q ekui mati

  Segitig a (kN/m) q ekui hidup

  Segitig a (kN/m) q ekui mati

  Trapesiu m (kN/m)

  Qekui hidup Trapesiu m

  (kN/m) A 4,96 1,67 5,72 1,92

  B 5,96 2 7,26 2,44 C 3,97 1,33 4,69 1,57

  D 3,97 1,33 5,46 1,83 E 3,97 1,33 5,08 1,7 F 3,97 1,33 - -

Tabel 4.2. Pembebanan Pelat Lantai

  Type Bentuk q ekui mati

  Segitig a (kN/m) q ekui hidup

  Segitig a (kN/m) q ekui mati

  Trapesiu m (kN/m) q ekui hidup

  Trapesiu m (kN/m)

  A 5,77 4,17 6,65 4,8 B 6,92 5 8,43 6,09 C 4,61 3,33 5,44 3,93

  D 4,61 3,33 6,34 4,58 E 4,61 3,33 5,89 4,26 F 4,61 3,33 - -

  • Pelat (10 cm) = ( 33 x 16 ) m
  • Berat penutup atap
  • Berat kuda-kuda WF 250x250
  • Berat gording C 150x75
  • Berat seng gelombang
  • Alat-alat penggantung 10% = 0,86 kN
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70

  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40 = (0,30 x 0,40 x 4) m
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70 = (0,40 x 0,70 x 10) m
  • Balok induk melintang Lb 6 m 30/50
  • Balok anak melintang Lb 4 m 30/40

  = 57,60 kN

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 46,08 kN

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m

  = 201,60 kN

  3

  x 1 x 24 kN/m

  3

  = 21,60 kN

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  3

  x 9 x 24 kN/m

  3

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 0,724 kN/m x 5 x 12,00 m = 43,44 kN

  4.6. Berat Tiap Lantai

  4.6.1. Ber at Lantai Atap a.

  Beban mati (Wm) :

  2

  x 0,10 m x 2400 kg/m

  3

  = 1267,20 kN

  = 0,24 kN/m x 8 x 13,15 m = 25,25 kN

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  = 0,1 kN/m

  2

  x 6,45 m x 13,15 m x 2 sisi = 16,96 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  = 103,68 kN

  • Kolom = (0,70 x 0,70) m
  • Dinding ½ bata = 130 m x 1,70 m x 2,50 kN/m
  • Plafond + penggantung = 98,85 m
  • Pipa + ducting AC = 98,85 m
  • Aspal = (33 x 16 )m
  • Dinding struktur (18 cm)

  3

  2

  x 0,12 m x 24 kN/m

  3

  = 1520,64 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  x 4 x 24 kN/m

  4.6.2. Ber at Lantai

  3

  = 57,60 kN

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 46,08 kN

  = (0,40 x 0,70 x 10) m

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  a) Lantai 9 Beban mati Wm

  = 158,8 kN

  = 201,60 kN Balok induk melintang Lb 6 m 30/50 -

  x 0,4 kN/m

  2

  x 1,70 m x 24 x 24 kN/m

  3

  = 479,81 kN

  2

  = 552,50 kN

  

2

  x 0,178 kN/m

  2

  = 17,60 kN

  2

  2

  2

  = 39,54 kN

  2

  x 0,14 kN/m

  

3

  = 73,92 kN

  = (0,18 x 1,70 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 58,75 kN + Wm lantai atap = 3651,51kN

  b. Beban hidup (Wh) : qh = 1 kN/m

  2 , koefisien faktor reduksi 30%.

  Wh = 0,30 x ( 33 x 16 ) m

  2

  x 1,003 kN/m

  • Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 ) m
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70
  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70

  3

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m x 1 x 24 kN/m = 21,60 kN

  • 3

  Balok anak melintang Lb 4 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 9 x 24 kN/m = 103,68 kN

  2

  3

  • 2

  x 1,70 m x 24 x 24 kN/m = 479,81 kN

  Kolom = (0,70 x 0,70) m

  = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 1624,00 kN -

  Dinding ½ bata L

  8

  2

  • 9

  = 130 m x 1,70 m x 2,50 kN/m = 552,50 kN

  Dinding ½ bata L

  2

  2

  • x 0,178 kN/m = 17,60 kN

  Plafond + penggantung = 98,85 m

  2

  2 Pipa + ducting AC = 98,85 m x 0,4 kN/m -

  = 39,54 kN

  2

  3 Spesi (2 cm) = 0,02 m x 98,85 m x 0,21 kN/m = 0,42 kN -

  2

  3 Tegel (1 cm) = 0,01 m x 98,85 m x 0,11 kN/m -

  = 0,11 kN

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m x 24 kN/m = 32,40 kN -

Lift

  = 10 kN -

  • Dinding struktur (18 cm)

  = (0,18 x 1,70 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 58,75 kN + Wm lantai 9 = 5420,45kN Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN +

  Wh lantai 9 = 439,11 kN

  • Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70
  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70
  • Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  • Balok anak melintang Lb 4 m 30/40 = (0,30 x 0,40 x 4) m
  • Kolom = (0,70 x 0,70) m
  • Dinding ½ bata L
  • Dinding ½ bata L
  • Plafond + penggantung = 528 m
  • Pipa + ducting AC = 528 m
  • Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m
  • Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m
  • Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m

  2

  x 0,178 kN/m

  2

  = 1624,00 kN

  2

  8 = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  2

  = 1624,00 kN

  = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  7

  = 564,48 kN

  3

  x 2,00 m x 24 x 24 kN/m

  2

  = 93,98 kN

  2

  x 0,4 kN/m

  2

  = 211,20 kN

  

2

  x 0,21 kN/m

  3

  = 2,22 kN

  

2

  x 0,11 kN/m

  3

  = 0,58 kN

  2

  x 24 kN/m

  3

  = 32,40 kN

  = 103,68 kN

  x 9 x 24 kN/m

  3

  3

  b) Lantai 8 dan 7 Beban mati Wm

  2

  x 0,12 m x 24 kN/m

  3

  = 1520,64 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 57,60 kN

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  = 201,60kN

  = 21,60 kN

  3

  x 1 x 24 kN/m

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m

  3

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m

  = 46,08 kN

  3

  x 4 x 24 kN/m

  = 10 kN

  • Lift
  • Dinding struktur (20 cm)

  • Wm8

  = 76,80 kN +

  = (0,20 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3

  = 6835,98kN Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN
  • Lift

  = 8 kN + Wh lantai 8 = 447,11kN

  c) Lantai 6 Beban mati Wm

  2

  3 Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m x 0,12 m x 24 kN/m = 1520,64 kN - Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70 -

  3

  3

  = (0,40 x 0,70 x 8) m x 12 x 24 kN/m = 645,12 kN

  Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40 -

  3

  3

  = (0,30 x 0,40 x 5) m x 4 x 24 kN/m = 57,60 kN

  Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40 -

  3

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 4 x 24 kN/m = 46,08 kN

  • 3

  Balok induk melintang Lb 10 m 40/70

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m x 3 x 24 kN/m = 201,6kN

  • 3

  Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m x 1 x 24 kN/m = 21,60 kN Balok anak melintang Lb 4 m 30/40 -

  3

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 9 x 24 kN/m = 103,68 kN

  2

  3

  • 2
  • = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 1624,00 kN

  x 2,00 m x 24 x 24 kN/m = 564,48 kN

  Kolom = (0,70 x 0,70) m

  Dinding ½ bata L

  5

  2

  = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 1624,00 kN -

  Dinding ½ bata L

  6

  2

  2

  • 2

  x 0,178 kN/m = 93,98 kN

  Plafond + penggantung = 528 m

  2

  • 2

  x 0,4 kN/m = 211,20 kN

  Pipa + ducting AC = 528 m

  3

  • x 0,21 kN/m = 2,22 kN

  Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m

  

2

  3 Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m x 0,11 kN/m = 0,58 kN -

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m x 24 kN/m = 32,40 kN - Lift

  = 10 kN - Dinding struktur (25 cm) -

  = (0,25 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 96,00 kN + -

  Wm6 = 6855,18kN

  Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN
  • Lift

  = 8 kN + Wh lantai 6 = 447,11 kN

  • Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70
  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70
  • Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  • Balok anak melintang Lb 4 m 30/40 = (0,30 x 0,40 x 4) m
  • Kolom = (0,70 x 0,70) m
  • Dinding ½ bata L
  • Dinding ½ bata L
  • Plafond + penggantung = 528 m
  • Pipa + ducting AC = 528 m
  • Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m
  • Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m
  • Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m

  2

  x 0,178 kN/m

  2

  = 1624,00 kN

  2

  5 = 324,80 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  2

  = 1361,50 kN

  = 272,3 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  4

  = 564,48 kN

  3

  x 12,00 m x 24 x 24 kN/m

  2

  = 93,98 kN

  2

  x 0,4 kN/m

  2

  = 211,20 kN

  

2

  x 0,21 kN/m

  3

  = 2,22 kN

  

2

  x 0,11 kN/m

  3

  = 0,58 kN

  2

  x 24 kN/m

  3

  = 32,40 kN

  = 103,68 kN

  x 9 x 24 kN/m

  3

  3

  d) Lantai 5 Beban mati Wm

  2

  x 0,12 m x 24 kN/m

  3

  = 1520,64 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 57,60 kN

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  = 201,60 kN

  = 21,60 kN

  3

  x 1 x 24 kN/m

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m

  3

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m

  = 46,08 kN

  3

  x 4 x 24 kN/m

  = 10 kN

  • Lift

  Dinding struktur (25 cm) -

  • Wm lantai 5

  = (0,25 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 96,00 kN +

  = 6592,68kN Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN

  = 8 kN + - Lift Wh lantai 5 = 447,11kN

  e) Lantai 4 Beban mati Wm

  2

  3 Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m - x 0,12 m x 24 kN/m = 1520,64 kN Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70 -

  3

  3

  = (0,40 x 0,70 x 8) m x 12 x 24 kN/m = 645,12 kN

  Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40 -

  3

  3

  = (0,30 x 0,40 x 5) m x 4 x 24 kN/m = 57,60 kN

  • 3

  Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 4 x 24 kN/m = 46,08 kN

  • 3

  Balok induk melintang Lb 10 m 40/70

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m x 3 x 24 kN/m = 201,60 kN

  Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  3

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m x 1 x 24 kN/m = 21,60 kN

  • 3

  Balok anak melintang Lb 4 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 9 x 24 kN/m = 103,68 kN

  2

  3

  • 2
  • = 211,50 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 1057,50 kN

  x 2,00 m x 24 x 24 kN/m = 564,48 kN

  Kolom = (0,70 x 0,70) m

  Dinding ½ bata L

  3

  2

  • 4

  = 272,3 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 1361,50 kN

  Dinding ½ bata L

  2

  2

  • x 0,178 kN/m

  = 93,98 kN

  Plafond + penggantung = 528 m

  2

  2

  • 2

  x 0,4 kN/m = 211,20 kN

  Pipa + ducting AC = 528 m

  3 Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m x 0,21 kN/m = 2,22 kN -

  

2

  3 Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m x 0,11 kN/m = 0,58 kN -

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m x 24 kN/m = 32,40 kN -

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (4,25 x 5,575 ) m x 24 kN/m = 85,30 kN - Lift

  = 10 kN - Dinding struktur (25 cm) -

  = (0,25 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 96,00 kN + -

  Wm lantai 4 = 6026,18kN Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN

  2

  3

  • Lift

  x 4,79 kN/m = 113,49 kN

Tangga = (4,25 x 5,575 ) m

  = 8 kN + Wh lantai 4 = 560,60 kN

  • Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70
  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70
  • Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  • Balok anak melintang Lb 4 m 30/40 = (0,30 x 0,40 x 4) m
  • Kolom = (0,70 x 0,70) m
  • Dinding ½ bata L
  • Dinding ½ bata L
  • Plafond + penggantung = 528 m
  • Pipa + ducting AC = 528 m
  • Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m
  • Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m
  • Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m

  2

  = 93,98 kN

  2

  x 0,178 kN/m

  2

  = 1057,50 kN

  2

  3 = 211,50 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  = 900,00 kN

  2

  = 180,00 m x 2,00 m x 2,50 kN/m

  2

  = 564,48 kN

  3

  x 2,00 m x 24 x 24 kN/m

  x 0,4 kN/m

  2

  = 211,20 kN

  2

  3

  x 24 kN/m

  2

  = 32,40 kN

  3

  x 24 kN/m

  = 0,58 kN

  

2

  3

  x 0,11 kN/m

  

2

  = 2,22 kN

  3

  x 0,21 kN/m

  2

  = 103,68 kN

  3

  = 57,60 kN

  f) Lantai 3 Beban mati Wm

  2

  x 0,12 m x 24 kN/m

  3

  = 1520,64 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  x 9 x 24 kN/m

  3

  3

  = 21,60 kN

  3

  x 1 x 24 kN/m

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m

  = 201,60kN

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m

  = 46,08 kN

  3

  x 4 x 24 kN/m

  = 85,30 kN

  • Tangga = 0,15 m x (4,25 x 5,575 ) m

  Lift -

  = 10 kN Dinding struktur (25 cm) -

  • Wm lantai 3

  = (0,25 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 96,00 kN+

  = 5564,68kN Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN

  2

  3 Tangga = (4,25 x 5,575 ) m - x 4,79 kN/m = 113,49 kN

  • Lift

  = 8 kN + Wh lantai 3 = 560,60 kN

  g) Lantai 2 Beban mati Wm

  2

  3 Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m x 0,12 m x 24 kN/m = 1520,64 kN - Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70 -

  3

  3

  = (0,40 x 0,70 x 8) m x 12 x 24 kN/m = 645,12 kN

  • 3

  Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 5) m x 4 x 24 kN/m = 57,60 kN

  • 3

  Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 4 x 24 kN/m = 46,08 kN

  Balok induk melintang Lb 10 m 40/70

  3

  3

  = (0,40 x 0,70 x 10) m x 3 x 24 kN/m = 201,60 kN

  • 3

  Balok induk melintang Lb 6 m 30/50

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m x 1 x 24 kN/m = 21,60 kN

  • 3

  Balok anak melintang Lb 4 m 30/40

  3

  = (0,30 x 0,40 x 4) m x 9 x 24 kN/m = 103,68 kN

  2

  3

  • x 2,00 m x 24 x 24 kN/m

  = 564,48 kN

  Kolom = (0,70 x 0,70) m

  2

  • = 161,00 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 805,00 kN

  Dinding ½ bata L

  1

  2

  • = 180,00 m x 2,00 m x 2,50 kN/m = 900,00 kN

  Dinding ½ bata L

  2

  2

  2 Plafond + penggantung = 528 m x 0,178 kN/m = 93,98 kN -

  2

  2 Pipa + ducting AC = 528 m x 0,4 kN/m = 211,20 kN -

  

2

  3 Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m x 0,21 kN/m = 2,22 kN -

  

2

  3 Tegel (1 cm) = 0,01 m x 528 m x 0,11 kN/m = 0,58 kN -

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m x 24 kN/m = 32,40 kN -

  2

  3 Tangga = 0,15 m x (4,25 x 5,575 ) m x 24 kN/m = 85,30 kN - Lift

  = 10 kN -

  • Dinding struktur (30 cm)

  = (0,30 x 2,00 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 105,20 kN + -

  Wm2 = 5406,68 kN

  Beban hidup (Wh) :

  2 qh = 2,5 kN/m , koefisien faktor reduksi 30%.

  2

  2

  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m x 2,5 kN/m = 396,00 kN

  2

  2

  • Tangga = (2,50 x 3,60) m x 4,79 kN/m = 43,11 kN

  2

  3

  x 4,79 kN/m = 113,49 kN

  Tangga = (4,25 x 5,575 ) m

  • Lift

  • Pelat (12 cm) = ( 33 x 16 )m
  • Balok induk memanjang Lb 8 m 40/70
  • Balok induk memanjang Lb 5 m 30/40
  • Balok anak memanjang Lb 4 m 30/40
  • Balok induk melintang Lb 10 m 40/70

  • Balok induk melintang Lb 6 m 30/50
  • Balok anak melintang Lb 4 m 30/40 = (0,30 x 0,40 x 4) m
  • Kolom = (0,70 x 0,70) m
  • Dinding ½ bata L
  • Plafond + penggantung = 528 m
  • Pipa + ducting AC = 528 m
  • Spesi (2 cm) = 0,02 m x 528 m
  • Floor hardener (2 cm)

  = 21,60 kN

  3

  x 9 x 24 kN/m

  3

  = 103,68 kN

  2

  x 1,95 m x 24 x 24 kN/m

  3

  = 550,37 kN

  1 = 161,00 m x 1,95 m x 2,50 kN/m

  2

  = 784,88 kN

  2

  2

  x 0,178 kN/m

  = 93,98 kN

  2

  x 0,4 kN/m

  2

  = 211,20 kN

  

2

  x 0,21 kN/m

  3

  = 2,22 kN

  = 0,02 m x 528 m

  2

  x 0,11 kN/m

  

3

  3

  3

  x 1 x 24 kN/m

  = (0,30 x 0,40 x 5) m

  = 8 kN+ Wh lantai 2 = 560,60 kN

  h)

  Lantai 1

  Beban mati Wm

  2

  x 0,12 m x 24 kN/m

  3

  = 1520,64 kN

  = (0,40 x 0,70 x 8) m

  3

  x 12 x 24 kN/m

  3

  = 645,12 kN

  3

  = (0,30 x 0,50 x 6) m

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 57,60 kN

  = (0,30 x 0,40 x 4) m

  3

  x 4 x 24 kN/m

  3

  = 46,08 kN

  = (0,40 x 0,70 x 10) m

  3

  x 3 x 24 kN/m

  3

  = 201,60 kN

  = 1,16 kN

  • Tangga = 0,15 m x (2,50 x 3,60 ) m
  • Tangga = 0,15 m x (4,25 x 5,575 ) m

  • Lift
  • Dinding struktur (30 cm)
  • Beban hidup = 0,30 x ( 33 x 16 )m
  • Tangga = (2,50 x 3,60) m
  • Lift

  8 6835,98 447,11 7283,09 7 6835,98 447,11 7283,09 6 6855,18 447,11 7302,29 5 6592,68 447,11 7039,79 4 6026,18 560,60 6586,78 3 5564,68 560,60 6125,28 2 5406,68 560,60 5967,28 1 4480,15 447,11 4927,26

  Lantai Beban Mati ( kN ) Beban Hidup ( kN ) Jumlah ( kN ) Atap 3651,51 158,40 3809,91 9 5420,45 439,11 5859,56

Tabel 4.3. Berat Bangunan Tiap Lantai

  = 8 kN + Wh lantai 1 = 447,11 kN

  = 43,11 kN

  2

  x 4,79 kN/m

  2

  = 396,00 kN

  2

  x 2,5 kN/m

  2

  2 , koefisien faktor reduksi 30%.

  = (0,30 x 1,95 x 4) x 2 x 24 kN/m3 = 112,32 kN + Wm lantai 1 = 4480,15 kN Beban hidup (Wh) : qh = 2,5 kN/m

  = 10 kN

  = 85,30 kN

  3

  x 24 kN/m

  2

  = 32,40 kN

  3

  x 24 kN/m

  2

  Jumlah Berat Bangunan 62184,33

  4.7. Analisa Beban Gempa

  4.7.1. Waktu Getar Alami (T) = 34 m

  • n
  • 4 3 Tx Ty , 06 h = = ⋅

      Tinggi gedung h

      ( ) n 3 4 Tx Ty ,

      06

      34

      = = ⋅ ( ) Tx Ty , 845 detik. = =

      Kontrol batasan waktu getar T menurut SNI 03-1726-2002 pasal 5.6

      Nilai ξ di WG 5 = 0,16 - Jumlah tingkat n = 9

    • T =ξ . n = 0,16 . 8 = 1,44 detik
    • T <ξ. n = (0,845< 1,44) detik ....................... (OK)

      1

      4.7.2. Per hitungan Beban Geser Dasar Nominal (V)

    • SRPMK sesuai Tabel 2.2 : Rm = 8,5
    • WG 5
    • Tanah lunak Berdasakan gambar 2.5 diperoleh C = 0,90

      1

    • T = 0,845 detik

      1

    • Sesuai tabel 2.2 : I = 1,0

      C

      

    90

    1 ,

      I 1 ⋅ ⋅ ,

      Vx = Vy = W = = 6584,22 kN

      ⋅ 62184,33 kN ⋅ 1 R

      8 ,

      5

      4.7.3. Daktilitas Str uktur Bangunan = 1,6

    • 1

      f

      Didapat dari tabel 3 SNI 03-1726-2002 : μ = 5,2

    • Syarat : 1,6 ≤ R = μ .f

      1

      870,46 5 16,40 6592,68 108119,95 672,98

      1208,42

      7 24,40

      6835,98 166797,91

      1038,21

      6 20,40

      6855,18 139845,67

      4 12,40

      8 28,40

      6026,18 74724,63

      456,12

      3 8,40

      5564,68 46743,31

      290,95

      2 3,90

      5406,68 21086,05

      6835,98 194141,83

      1093,15

      ≤ Rm 1,6 ≤ R = 5,2 x 1,6 ≤ 8,5 1,6 ≤ R = 8,3 ≤ 8,5 .............................. OK

      1

      4.7.4. Distr ibusi Beban Gempa Nominal (F

      i

      )

      V W z W z F n i i i i i i

      ⋅ ⋅ ⋅ =

      ∑ = 1 Tabel 4.4. Gaya Gempa Tiap Lantai dengan T

      = 0,845 Lantai ke- zi

      5420,45 175622,58

      (m) Wi

      (kN) Wi x zi (kNm)

      Fi (x - y) (kN)

      Atap 35,80

      3651,51 130724,06

      813,68

      9 32,40

      131,25 1 4480,15 Σ = 57669,47 kN 1057805,99 kNm 6575,22 kN

      4.7.5. Memer iksa T

      9 5420,45 1093,15

      6 6855,18 870,46

      3,35 11651,31 3478

      7 6835,98 1038,21

      8,08 78893,39 9764,03

      8 6835,98 1208,42

      12,8 179101,69 13992,32

      16,78 229106,57 13653,55

      5 6592,68 672,98

      (kN.mm) atap 3651,51 813,68

      ) Fi.di

      2

      (kN.mm

      2

      Wi.di

      0,13 14,71 113,15

      0.10 6,72 67,298

      (kN) Fi

      ( ) ∑ ∑

      2

      23 , 9800 41568 92 , 509297 03 ,

      π ik det

      ) ( 2 _ 2

      T

      = i i i i Rayleigh x F d g W d

      Σ Jumlah 498776,93 41127,06

      4 6026,18 456,12

      1 4480,15

      0,013 0,022 17,06

      2 5406,68 131,25

      0,035 0,35 10,18

      3 5564,68 290,95

      0,069 2,17 31,472

      (kN) diy (mm)

      Ke- Wi

      1

      (kN) Fi

      ) Fi.di

      2

      (kN.mm

      2

      Wi.di

      (kN) dix (mm)

      Ke- Wi

      9 5420,45 1093,15

      akibat gempa arah melintang Lantai

      rayleigh

    Tabel 4.5. Analisa T

      (ps.6.2.2 SNI-1726)

      rayleigh

      dengan T

      (kN.mm) atap 3651,51 813,68 17,00 235153,52 13832,56

      12,90 181911,09 14101,64

      akibat gempa arah memanjang Lantai

      0,039 0,44 11,35

      rayleigh

    Tabel 4.6. Analisa T

      Σ Jumlah 509297,03 41568,92

      1 4480,15

      0,011 0,016 1,44

      2 5406,68 131,25

      3 5564,68 290,95

      8 6835,98 1208,42

      0,074 2,50 33,75

      4 6026,18 456,12

      0.12 9,69 80,76

      5 6592,68 672,98

      0,16 22,28 139,27

      6 6855,18 870,46

      8,15 80266,28 9848,62 7 6835,98 1038,21 3,39 11931,21 3519,53

      = ⋅ = π

      2

      ( W d ) i i

      ∑ T _

      2 y Rayleigh = π

      g F d ( ) i i

      ∑

      498776 ,

      93 2 , 22 det ik

      = π =

      9800 41127 ,

      06

      ⋅

      Nilai T yang diijinkan, T1 < 20% T

      x-ray

      0,845 detik < 20%. 0,2 detik 0,845 detik > 0,046 detik

      Nilai T yang diijinkan, T1 < 20% T

      y-ray

      0,845 detik < 20%. 0,22 detik 0,845 detik > 0,044 detik

      Waktu getar alami fundamental (T ) struktur yang diperoleh dari rumus

      1

      empiris nilainya tidak boleh menyimpang lebih dari 20% dari nilai yang dihitung menurut rumusan Rayleigh (T ).Ternyata penyimpangan antara

      ray

      T dan T lebih dari 20%. Dengan demikian perhitungan beban geser

      1 rayleigh

      dasar nominal statik ekuivalen V harus diulang kembali. Ternyata dengan menggunakan T yang baru, didapatkan nilai C yang sama dengan C

      rayleigh

      1

      1

      saat dihitung dengan T = 0,845 detik. Dengan demikian perhitungan V tidak perlu diulang kembali.

      4.8. Pembatasan Penyimpangan Lateral

      4.8.1. Kontr ol Batas Layan ∆s (ps.8.1.2 SNI-1726) ,

      03 ≥s ≤ h ≤ 30 m

      ⋅ 1 R

      ,

      03 ≥s ≤ 3900 ≤ 30 mm ≥s ≤ 13,76 ≤ 30 mm

      ⋅ ≈ 8 .

      5

    Tabel 4.7. Analisa ≥s akibat gempa

      ≥m antar tingkat

      1

      78 OK

      78 OK 2 3,90 0,003 0,03 0,004 0,004 0,018

      78 OK 3 8,40 0,012 0.009 0,016 0,012 0,07

      78 OK 4 12,40 0,023 0,011 0,031 0,019 0,14

      78 OK 5 16,40 0,037 0,014 0,05 0,019 0,22

      78 OK 6 20,40 0,051 0,14 0,07 0,02 0,30

      78 OK 7 24,40 14,75 14,70 20,06 19,99 87,76

      78 OK 8 28,40 16,15 1,40 21,96 1,90 96,09

      78 OK 9 32,40 18,97 2,82 25,80 3,84 112,87

      (mm) Ket. 0,7Rx≥s 0,02 x h 10 35,80 28,67 9,70 38,99 13,19 170,59

      (mm) Syarat Drift ≥m

      (mm) Drift

      Lantai ke- Hx

      (mm) ≥m

      ≥s antar tingkat

      (mm) Drift

      (m) ≥s

      Lantai ke- Hx

    Tabel 4.8. Analisa ≥m akibat gempa

      4.8.2. Kontr ol Batas Ultimit ∆m (ps.8.2 SNI-1726) ≥m = ξ.R. ≥s ≥m ≤ 0,7 R x ≥s atau ≤ 0,02 h

      1 30,00 OK

      10 35,80 28,67 9,70 30,00 OK 9 32,40 18,97 2,82 30,00 OK 8 28,40 16,15 1,40 30,00 OK 7 24,40 14,75 14,70 30,00 OK 6 20,40 0,051 0,14 30,00 OK 5 16,40 0,037 0,014 30,00 OK 4 12,40 0,023 0,011 30,00 OK 3 8,40 0,012 0.009 30,00 OK 2 3,90 0,003 0,03 30,00 OK

      Syarat Drift ≥s (mm) Ket.

      (mm) Drift ≥s antar tingkat (mm)

      (m) ≥s

      78 OK

      4.9. Kontr ol Balok Akibat Momen Lentur

      4.9.1 Per enca naan Tulangan Lentur Sebelum Komposit Perencanaan tulangan lentur balok induk dihitung dalam dua kondisi.

      Kondisi yang pertama adalah kondisi pada saat balok induk dalam berkomposit dengan elemen struktur lain, dan keadaan yang kedua adalah pada saat balok telah berkomposit. Dari dua keadaan ini dihitung tulangan yang paling kritis untuk digunakan.

      Balok pracetak pada saat sebelum komposit dihitung sebagai balok sederhana pada tumpuan sendi. Pembebanan pada balok induk sebelum komposit konsepnya sama dengan pembebanan balok induk sesudah komposityang telah dihitung sebelumnya, namun beban yang dihitung hanyalah pembebanan yang berasal dari pelat, overtoping dan berat balok itu sendiri. Perhitungan pembebanan balok merata pada balok induk , menggunakan konsep tibutari area.berikut ini beban merata (q) yang terjadi pada balok :

      4.9.1.1 Balok Induk 40/60

      Beban Mati

      2 Berat sendiri pelat = 0,08 x 2400 = 192 kg/m Beban Hidup

      2 Beban pekerja = 200 kg/m Dimensi Balok induk sebelum komposit 40/60 cm.

      Bentang balok induk precast adalah 6m.

      Beban Mati

      Berat balok = 0,4 x 0,6 x 2400 = 576 kg/m

      Berat pelat = 2 x x 192 x 6 = 1152 kg/m Berat total dari balok induk 40/60 adalah = 1728 kg/m, kemudian berat total dari balok induk ini dijadikan sebagai beban terbagi rata (Q ).

      D Beban Hidup L

      Beban hidup terpusat akibat pekerja (P ) = 200 kg

      Kombinasi Pembebanan

      Qu = 1,2 Q D = 1,2 (1728) = 2073,6 kg/m

      Pu = 1,2 Q D + 1,6 P L = 1,2 (1728) + 1,6 (200) = 2393,6 kg P U Q U

    Gambar 4.3 Pembebanan pada balok induk sebelum komposit 40/60

      2 M = ( x q x L ) + ( x P x L )

      2 M = ( x 2073,6 x 6 ) + ( x 2393,6 x 6 )

      = 12921,6 kgm Karena perletakan sebelum komposit dianggap sendi maka momennya adalah nol, namun tetap diberikan penulangan sebesar setengah dari tulangan lapangan. dx = 600 – 40 – 10 – 1/2x22 = 539 mm b = 400 mm

      MU 129216000

      Rn = = =1,38Mpa 2 2 0 xbxdx . 8 . 8 x 400 x 539

      M =

      = 0,0041 AS perlu = 0,0041 x 400 x 539 =883,96 mm

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      

    x = 0,069

      Ternyata

      ρ > ρ min

      Maka digunakan

      ρ

      2 Pakai tulangan 4 D 22 AS= 1520,53 mm

      350 38 , 1 29 ,

      2 Tulangan tumpuan ½ tulangan lapangan = 2 D 22

      4.9.1.2 Balok Induk 30/40

      Beban Mati

      Berat sendiri pelat = 0,08 x 2400 = 192 kg/m

      2 Beban Hidup

      Beban pekerja = 200 kg/m

      2 Dimensi Balok induk sebelum komposit 30/40 cm.

      Bentang balok induk precast adalah 4m.

      Beban Mati

      10

       

      ' 85 . xfc fy

      1 = 0,004

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29

      fy 4 .

      1 min =

      ρ

      = 350 4 .

      ρ

      − −    

      =

      

    

     

      − −   

         fy xmxRn x m

      2

      1

      1

      1 =

         

      Berat balok = 0,3 x 0,4 x 2400 = 288 kg/m Berat pelat = 2 x x 192 x 4 = 768 kg/m

      Berat total dari balok induk 30/40 adalah = 1056 kg/m, kemudian berat total dari balok induk ini dijadikan sebagai beban terbagi rata (Q ).

      D Beban Hidup

      Beban hidup terpusat akibat pekerja (P L ) = 200 kg

      Kombinasi Pembebanan

      Qu = 1,2 Q D = 1,2 (1056) = 1267,2 kg/m

      Pu = 1,2 Q D + 1,6 P L = 1,2 (1056) + 1,6 (200) = 1587,2 kg P U Q U

    Gambar 4.4 Pembebanan pada balok induk sebelum komposit 30/40

      2 M = ( x q x L ) + ( x P x L )

      2 M = ( x 1267,2 x 4 ) + ( x 1587,2 x 4 )

      = 4121,6kgm Karena perletakan sebelum komposit dianggap sendi maka momennya adalah nol, namun tetap diberikan penulangan sebesar setengah dari tulangan lapangan. dx = 400 – 40 – 10 – 1/2x22 = 339 mm b = 300 mm

      MU 41216000

      Rn = = =1,52 Mpa 2 2 0 xbxdx . 8 . 8 x 300 x 339

      M =

      = 0,0044 AS perlu = 0,0044 x 300 x 336 = 448.004 mm

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      

    x = 0,0044

      Ternyata

      ρ > ρ min

      = 0,0044 Maka digunakan

      ρ

      2 Pakai tulangan 4 D 22 AS= 1520,53 mm

      350 52 , 1 29 ,

      2 Tulangan tumpuan ½ tulangan lapangan = 2 D 22

      4.9.1.3 Balok Induk 40/70

      Beban Mati

      Berat sendiri pelat = 0,08 x 2400 = 192 kg/m

      2 Beban Hidup

      Beban pekerja = 200 kg/m

      2 Dimensi Balok induk sebelum komposit 40/70 cm.

      Bentang balok induk precast adalah 8m.

      Beban Mati

      10

       

      ' 85 . xfc fy

      1 = 0,004

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29

      fy 4 .

      1 min =

      ρ

      = 350 4 .

      ρ

      − −    

      =

      

    

     

      − −   

         fy xmxRn x m

      2

      1

      1

      1 =

         

      Berat balok = 0,4 x 0,7 x 2400 = 672 kg/m Berat pelat = 2 x x 192 x 8 = 1536 kg/m

      Berat total dari balok induk 40/70 adalah = 2208 kg/m, kemudian berat total dari balok induk ini dijadikan sebagai beban terbagi rata (Q ).

      D Beban Hidup

      Beban hidup terpusat akibat pekerja (P L ) = 200 kg

      Kombinasi Pembebanan

      Qu = 1,2 Q D = 1,2 (2208) = 2649,6 kg/m

      Pu = 1,2 Q D + 1,6 P L = 1,2 (2208) + 1,6 (200) = 2969,6 kg/m P U Q U

    Gambar 4.5 Pembebanan pada balok induk sebelum komposit 40/70

      2 M = ( x q x L ) + ( x P x L )

      2 M = ( x 2649,6 x 8 ) + ( x 2969,6 x 4 )

      = 27136kgm Karena perletakan sebelum komposit dianggap sendi maka momennya adalah nol, namun tetap diberikan penulangan sebesar setengah dari tulangan lapangan. dx = 700 – 40 – 13 – 1/2x22 = 736 mm b = 400 mm

      MU 271360000

      Rn = = =1,56 Mpa 2 2 0 xbxdx . 8 . 8 x 400 x 736

      M =

      ρ > ρ min

      350 56 , 1 29 ,

      10

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      

    x = 0,0046

      Ternyata

      = 0,0046 Maka digunakan

      − −    

      ρ

      = 0,0046 AS perlu = 0,0046 x 400 x 736 = 1354,24 mm

      2 Pakai tulangan 5 D 22 AS= 1900 mm

      2 Tulangan tumpuan ½ tulangan lapangan = 3 D 22

      4.9.2 Per encanaan Tulangan Lentur Sesudah Komposit

      4.9.2.1 Balok Induk 40/60

      1. Momen tumpuan kanan frame 333 (Mu = 109,57 kNm) Data Perencanaan Balok Induk 40/60 direncanakan : Tulangan lentur : D19 mm ; fc’ = 40 Mpa Tulangan geser : Φ10 mm ; fy = 350 Mpa Tinggi balok (h) : 600 mm ; β = 0,78 (30 < fc’ < 55) Lebar balok (b) : 400 mm ; Selimut decking (p) : 25 mm Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

       

         

      ' 85 . xfc fy

      = 350 4 .

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29

      fy 4 .

      1 min =

      ρ

      1 = 0,004

      1 =

      ρ

      =

      

    

     

      − −   

         fy xmxRn x m

      2

      1

      1

      tullentur φ

    • +

      =
    • =

      = 0.0034 Hasil : ρ min

      2

      1

      1

      1

      ρ   

       − −    

        =

      350 172 , 1 29 ,

      10

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      x perlu ρ

      > ρ perlu<ρ max

      − −   

      0.004

      >

      0.0034 < 0.035 maka dipakai ρmin= 0.004 As perlu = ρ x b x d

      = 0.004 x 400 x 540,5 = 865 mm

      2

      dipakai 5D19 ( As ada = 1416,6 mm

      2

      ) As’ perlu = 50% . As

      = 0,5 x 865 mm

      2

      = 432,5 mm

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,6mm

      2

         = fy xmxRn x m perlu

         

      = 600-40-10-

      fy 4 .

      2

      19 = 540,5 mm

      fy x fy xfc x maks

      600 600 ' 85 .

      75 . 1

      β ρ

      350 600 600

      350

      40 78 . 85 .

      75 .

      

    x

    x x x maks

      ρ

      = 0.035

      1 ρ min =

      = 1,172

      = 350 4 .

      1 = 0.004

      ' 85 . xfc

      fy m =

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29

      2 xbxd Mu

      Rn φ

      =

      = 2 6 400 540 5 , 8 .

      10 109 57 ,

      x x x

      )

      φ tullentur

      

    a

      ≥ 864,8mm

      2

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang : a =

      b fc As fy ⋅ ⋅ ⋅

      ' 85 ,

      =

      400

      40 85 , 350 1416,6 x x x

      = 36,45 ØMn = ØAs.fy.(d-

      2

      ) ØMn =

      ≤ 1416,6mm

         

        −

      2 45 ,

      36 1416,6 350 540 5 , 8 , x x x x10

      = 207,59 kNm ØMn ≥ Mu 207,59 kNm ≥ 109,57 kNm ...............(OK)

      Jumlah tulangan dipakai 5 D 19 = 1416,6 mm

      2

      =

      4 224 56 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      2. Momen lapangan frame 333 (Mu = 58,97 kNm) Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      2

      2

      Syarat : As min

      2

      1

      = d b

      fy fc ⋅ ⋅

      4 '

      = 400 540 5 , 350

      4

      40

      ⋅ ⋅ x

      = 976,7 mm

      2 As min

      =

      976,7mm

      d b fy ⋅ ⋅

      4 ,

      1 = 400 540 5 ,

      350 4 ,

      1

      x x

      = 864,8 mm

      2 As min

      1

      ≤ As ≥ As min

      2

    • 6
    • dipasang 2 baris
    • h diambil 600 mm Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4x19 + 2x10 +2x40 ) = 224 mm
    • +

      =

    • =

      x perlu ρ

        = fy xmxRn x m perlu

      2

      1

      1

      1

      ρ   

       − −   

         =

      350 63 , 29 ,

      10

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      = 0.002 Hasil : ρ min

         

      >

      ρ perlu <ρ max 0.004< 0.002< 0.035 maka dipakai ρmin = 0.004

      As perlu = ρ x b x d = 0.004 x 400 x 540,5 = 862 mm

      2

      dipakai 5D19 ( As ada = 1416,6 mm

      2

      ) As’ perlu = 50% As

      = 0,5 x 862 mm

      2

      = 431 mm

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,15 mm

      2

      − −    

      = 0,63

      = 600-40-10-

      fy 4 .

      2

      19 = 540,5 mm

      fy x fy xfc x maks

      600 600 ' 85 .

      75 . 1

      β ρ

      350 600 600

      350

      40 78 . 85 .

      75 .

      x x x x maks

      ρ

      = 0.035

      1 ρ min =

      58 x x x

      = 350 4 .

      1 = 0.004

      ' 85 . xfc

      fy m =

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29 2

      xbxd Mu Rn

      φ =

      = 2 6

      540 400 8 .

      10 97 ,

      )

      fc '

      40

      2 Syarat : As min = b d = 400 540 ,

      5 = 976,7 mm

      

    1 ⋅ ⋅ ⋅ ⋅

      4 fy 4 x 350 1 , 4 1 ,

      4

      2 As min = = = 864,8 mm

    2 ⋅ bd x 400 x 539

      350

      fy

      As min ≤ As ≥ As min

      1

      2

      2

      2

      2

      976,7mm ≤ 1416,6mm ≥ 864,8mm ........... (OK) Kontrol analisa penampang :

      Asfy 1416,6 x 350

      a = = = 36,5 , 85 ⋅ fc ' ⋅ b ,

      85 x 40 x 400

    a

      ØMn = ØAs.fy.(d- )

      2 36 ,

      5

    • 6

       

      ØMn = , 8 x 1416,6 x 350 x 540 , 5 x10 = 207,15 kNm

      −  

      2

       

      ØMn ≥ Mu 207,15 kNm ≥ 58,97 kNm...............(OK)

      Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4x19 + 2x10 +2x40 ) = 224 mm 224 56 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      =

      4

      3. Momen tumpuan kiri frame 333 (Mu = 105,24 kNm)

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      19 = 600-40-10- = 540,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks .

      75 x x

      ρ =

    • fy 600 fy
    • =

      350 600 600

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,15 mm

      2

      = 475 mm

      2

      = 0,5 x 950 mm

      ) As’ perlu = 50% . As

      dipakai 5D19 ( As ada = 1416,6 mm

      ) Syarat : As min

      2

      = 0.004 x 400 x 539,5 = 950 mm

      0.0034 < 0.035 maka dipakai ρmin= 0.004 As perlu = ρ x b x d

      >

      0.004

      > ρ perlu<ρ max

      = 0.0034 Hasil : ρ min

      2

      1

      1 29 , 10 1 x x

      2

      x x = 864,8 mm

      1

      350 4 ,

      1 = 400 540 5 ,

      4 ,

      d b fy ⋅ ⋅

      =

      2 As min

      = d b

      = 976,7 mm

      ⋅ ⋅ x

      40

      4

      = 400 540 5 , 350

      4 '

      fy fc ⋅ ⋅

      x perlu ρ

      1

      350

      = 350 4 .

      x

      40 85 . 350

      =

      fy m =

      ' 85 . xfc

      1 = 0.004

      = ρ

      2 xbxd Mu

      1 min

      fy 4 .

      = 0.039

      ρ

      

    x

    x x x maks

      75 .

      40 78 . 85 .

      = 10,29

      Rn φ

      2

      1

      10

      350 17 , 1 29 ,

         =

       − −   

      ρ   

      1

      1

      2

      =

        = fy xmxRn x m perlu

      − −    

         

      = 1,17

      x x x

      10 109 57 ,

      = 2 6 400 540 5 , 8 .

      2

    • 6
    • dipasang 2 baris
    • h diambil 600 mm Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4x19 + 2x10 +2x40 ) = 226 mm

      6 Tumpuan kiri Tarik

      ( mm

      2

      ) As pakai

      ( mm

      2

      ) ØMn

      ( kNm )

      1

      2

      3

      4

      5

      105,24 950

      LOKASI Mu

      5D19=1416,6 325,64

      Tekan 475

      3D22=850,15 Tumpuan kanan

      Tarik 109,57

      950

      5D19=1416,6 325,64

      Tekan 475

      3D19=850,15 Lapangan

      Tarik 58,075

      431

      5D19=1416,6 221,075

      Tekan 862

      ( kNm ) As perlu

      56,5 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK) Tabel 4.9.Penulangan Balok ( Frame 333 )

      As min

      =

      1

      ≤ As ≥ As min

      2

      976,7mm

      2

      ≤ 1416,6mm

      2

      ≥ 864,8mm

      2

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang : a =

      b fc As fy ⋅ ⋅ ⋅

      ' 85 ,

      400

      4 226

      40 85 , 350 1416,6 x x x

      = 36,45 ØMn = ØAs.fy.(d-

      2

      a

      ) ØMn =

         

        −

      2 45 ,

      36 1416,6 350 540 5 , 8 , x x x x10

      = 207,16 kNm ØMn ≥ Mu 207,16kNm ≥ 109,57 kNm ...............(OK)

      Jumlah tulangan dipakai 5D19 = 1416,6 mm

      2

      =

      3D19=850,15

    Gambar 4.6. Penampang Balok Tumpuan KiriGambar 4.7. Penampang Balok LapanganGambar 4.8. Penampang Balok Tumpuan Kanan

      4.9.2.2 Balok Induk 40/70

      1. Momen tumpuan kiri frame 433 (Mu = 227,88 kNm) Data Perencanaan Balok Induk 40/70 direncanakan : Tulangan lentur : D32 mm ; fc’ = 40 Mpa Tulangan geser : Φ10 mm ; fy = 350 Mpa Tinggi balok (h) : 700 mm ; β = 0,78(30<fc’<55) Lebar balok (b) : 400 mm Selimut beton (p) : 40 mm

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      19 = 700-40-10- = 640,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks = .

      75 x x

      ρ

    • fy 600 fy
    • =

      350 600 600

      = 652 mm

      = d b

      1

      ) Syarat : As min

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,15 mm

      2

      

    2

      4 '

      = 0,5 x 1305,6 mm

      ) As’ perlu = 50% As

      2

      dipakai 6D19 ( As ada = 1700,13 mm

      2

      = 0.0051 x 400 x 640,5 = 1306,62 mm

      0.004 < 0.0051< 0.035 maka dipakai ρperlu = 0.0051 As perlu = ρ x b x d

      fy fc

    ⋅ ⋅

      = 400 640 5 , 350

      x perlu ρ

      1 = 400 640 5 ,

      ≤ As ≥ As min

      1

      2 As min

      x x = 1024,8mm

      1

      350 4 ,

      4 ,

      4

      fy ⋅ ⋅

      = d b

      2

      2 As min

      = 1157,4 mm

      ⋅ ⋅ x

      40

      = 0.051 Syarat : ρ min <ρ perlu <ρ max

      1 29 , 10 1 x x

      350

      = 350 4 .

      x

      40 85 . 350

      =

      fy m =

      ' 85 . xfc

      1 = 0.004

      = ρ

      xbxd Mu Rn

      1 min

      fy 4 .

      = 0.035

      ρ

      x x x x maks

      75 .

      40 78 . 85 .

      = 10,29 2

      φ = 2 6

      1

      1

      2

      10

      350 74 , 1 29 ,

         =

       − −   

      ρ   

      1

      

    400 640 5 ,

    8 . , 10 882 227 x x

    x

      1

      2

         = fy xmxRn x m perlu

      − −   

         

      = 1,74

      =

      2

      2

      2

      2

      = 1024,8mm ≤ 1700,13 mm ≥ 1157,4mm ........... (OK) Kontrol analisa penampang :

      Asfy 1700 , 13 x 350

      a = = = 46,48 , 85 ⋅ fc ' ⋅ b ,

      85 x 40 x 400

    a

      ØMn = ØAs.fy.(d- )

      2 46 ,

      48

        -6

      ØMn = , 8 x 1700 , 13 x 350 x 640 , 5 − x10 = 293,8 kNm

       

      2

       

      ØMn ≥ Mu 293,8 kNm ≥ 227,88 kNm ...............(OK)

      2 Jumlah tulangan dipakai 6D19 = 1700,31 mm

    • dipasang 2 baris
    • h diambil 700 mm Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 224 mm

      224 56 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      =

      4

      2. Momen lapangan frame 433 (Mu = 113,90 kNm)

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      19 = 700-40-10- = 640,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks = .

      75 x x

      ρ

    • fy 600 fy .

      85 x . 78 x 40 600 ρ maks . 75 x x = 0.035

      =

    • 350 600 350

      fy 4 .

      1

      40

      4

      = 400 640 5 , 350

      4 '

      fy fc

    ⋅ ⋅

      = d b

      ) Syarat : As min

      = 1157,48 mm

      2

      dipakai 3D19( As ada = 850,15 mm

      2

      = 512,24 mm

      

    2

      = 0,5 x 1024,8 mm

      ) As’ perlu = 50% As

      ⋅ ⋅ x

      2 As min 2 = d b fy

      dipakai 6D19 ( As ada = 1700,31 mm

      2

      2

      ≥ 1157,48 mm

      2

      ≤ 1700,31 mm

      2

      1024,8 mm

      ≤ As ≥ As min

      ⋅ ⋅

      1

      2 As min

      x x = 1024,8 mm

      1

      350 4 ,

      1 = 400 640 5 ,

      4 ,

      2

      2

      1 min

      = 10,29 2

      = 0,87

      =

      

    10

    113 90 , x x x

      

    400 640 5 ,

    8 .

      φ = 2 6

      xbxd Mu Rn

      x

      − −   

      40 85 . 350

      =

      fy m =

      ' 85 . xfc

      1 = 0.004

      = 350 4 .

      = ρ

         

         = fy xmxRn x m perlu

      = 0.004 x 400 x 640,5 = 1024,8 mm

      2

      0.0025< 0.035 maka dipakai ρperlu = 0.004 As perlu = ρ x b x d

      >

      0.004

      = 0,0025 Syarat :ρ min <ρ perlu <ρ max

      ρ x perlu

      1 29 , 10 1 x x

      1

      10

      2

      350 87 , 29 ,

         =

       − −   

      ρ   

      1

      1

      1

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang :

      Asfy 1700 , 31 x 350

      a = = = 46,48 , 85 ⋅ fc ' ⋅ b ,

      85 x 40 x 400

    a

      ØMn = ØAs.fy.(d- )

      2 46 ,

      48

        -6

      ØMn = , 8 x 1700 , 31 x 350 x 640 , 5 x10 = 293,8 kNm

      −  

      2

       

      ØMn ≥ Mu 293,8 kNm ≥ 113,90 kNm ...............(OK)

      2 Jumlah tulangan dipakai 6 D 19 = 1700,31 mm

    • dipasang 2 baris
    • h diambil 700 mm Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 224 mm

      224 56 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      =

      4

      3. Momen tumpuan kanan frame 433 (Mu = 227,88 kNm)

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      19 = 700-40-10- = 640,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks .

      75 x x

      ρ =

    • fy 600 fy .

      85 x . 78 x 40 600 ρ maks . 75 x x = 0.035

      =

    • 350 600 350

      fy 4 .

      4

      2

      ) As’ perlu = 50% As

      = 0,5 x 1305,6 mm

      

    2

      = 652 mm

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,31 mm

      2

      ) Syarat : As min

      1

      = d b

      fy fc

    ⋅ ⋅

      4 '

      = 400 640 5 , 350

      40

      2

      ⋅ ⋅ x

      = 1157,48 mm

      2 As min

      2

      =

      d b fy ⋅ ⋅

      4 ,

      1 = 639 400

      350 4 ,

      1

      x x = 1024,8 mm

      2 As min

      1

      ≤ As ≥ As min

      dipakai 6D19 ( As ada = 1700,31mm

      = 0.0051 x 400 x 639 = 1303,56 mm

      1 min

         

      = ρ

      = 350 4 .

      1 = 0.004

      ' 85 . xfc

      fy m =

      =

      40 85 . 350

      x

      = 10,29 2

      xbxd Mu Rn

      φ = 2 6

      

    400 640 5 ,

    8 . , 10 882 227 x x

    x

      =

      = 1,74

      − −   

      0.004< 0.0051< 0.033 maka dipakai ρperlu = 0.0051 As perlu = ρ x b x d

      350 74 , 1 29 ,

      = 0.051 Syarat : ρ min <ρ perlu <ρ max

      ρ x perlu

      1 29 , 10 1 x x

      1

      2

      10

         =

         = fy xmxRn x m perlu

       − −   

      ρ   

      1

      1

      1

      2

      2

    • 6
    • dipasang 2 baris
    • h diambil 700 mm Kontrol jarak tulangan : 400 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 224 mm

      227,88 1303,56

      ) As pakai

      ( mm

      2

      ) ØMn

      ( kNm )

      1

      2

      3

      4

      5

      6 Tumpuan kiri Tarik

      6D19=1700,31 293,8

      ( mm

      Tekan 652

      3D19=850,13 Tumpuan kanan

      Tarik 227,88

      1303,56

      6D19=1700,31 293,8

      Tekan 652

      3D19=850,13 Lapangan

      Tarik 113,90

      1124,64

      6D22=1700,31 293,8

      Tekan 562,32

      2

      ( kNm ) As perlu

      1024,8 mm

      2

      2

      ≤1700,31 mm

      2

      ≥ 1157,48mm

      2

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang : a =

      b fc As fy ⋅ ⋅ ⋅

      ' 85 , =

      400

      40 85 , 350

    1700 31 ,

    x x x

      = 46,48 ØMn = ØAs.fy.(d-

      

    a

      LOKASI Mu

      ) ØMn =

         

        −

      2 46 , 48 350 640 5 ,

      31700 31 , 8 , x x x x10

      = 293,8 kNm ØMn ≥ Mu

      293,8 kNm ≥ 227,88 kNm ...............(OK) Jumlah tulangan dipakai 6D19 = 1700,31 mm

      2

      =

      4 224 56 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

    Tabel 4.10. Penulangan Balok (Frames 433)

      3D19=850,13

      4.9. Penampang Balok Tumpuan Kiri

      4.10. Penampang Balok Lapangan

      4.11. Penampang Balok Tumpuan Kanan

      4.9.2.3 Balok Induk 30/40

      1. Momen tumpuan kiri frame 424 (Mu = 58,09 kNm) Data Perencanaan Balok Induk 30/40 direncanakan : Tulangan lentur : D32 mm ; fc’ = 40 Mpa Tulangan geser : Φ10 mm ; fy = 350 Mpa Tinggi balok (h) : 400 mm ; β = 0,78 (30<fc’<55) Lebar balok (b) : 300 mm Selimut beton (p) : 40 mm

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      19 = 400-40-10- = 340,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks = .

      75 x x

      ρ

    • fy 600 fy
    • =

      350 600 600

      = 0,5 x 850,13 mm

      ) Syarat : As min

      2

      dipakai 2D19 ( As ada = 566,77 mm

      2

      = 340 mm

      2

      ) As’ perlu = 50% As

      = d b

      2

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,13 mm

      2

      = 0.0063 x 300 x 340,5 = 640,71 mm

      0.004 < 0.0063< 0.033 maka dipakai ρ perlu = 0.063 As perlu = ρ x b x d

      = 0.00638 Syarat : ρ min <ρ perlu <ρ max

      x perlu ρ

      1

      fy fc

    ⋅ ⋅

      1

      d b fy ⋅ ⋅

      2 As min

    1 ≤ As ≥ As min

      x x = 408,6 mm

      1

      350 4 ,

      1 = 300 340 5 ,

      4 ,

      =

      4 '

      2

      2 As min

      = 461,46 mm

      ⋅ ⋅ x

      40

      4

      = 300 340 5 , 350

      1 29 , 10 1 x x

      2

      350

      = 350 4 .

      x

      40 85 . 350

      =

      fy m =

      ' 85 . xfc

      1 = 0.004

      = ρ

      xbxd Mu Rn

      1 min

      fy 4 .

      = 0.035

      ρ

      x x x x maks

      75 .

      40 78 . 85 .

      = 10,29 2

      φ = 2

    6

      10

      1

      350 16 , 2 29 ,

        =

       − −    

      ρ   

      1

      1

      2

      339 300 8 .

         = fy xmxRn x m perlu

      − −   

         

      = 2,16

      =

      58 x x x

      

    10

    09 ,

      2

      2

      2

      2

      461,36 mm ≤ 850,13 mm ≥ 408,6 mm ........... (OK) Kontrol analisa penampang :

      As fy ⋅ 850 , 13 x 350

      a = = = 29,17

      , 85 x 40 x 300

      , 85 ⋅ fc ' ⋅ b

      

    a

      ØMn = ØAs.fy.(d- )

      2 29 ,

      17

        -6

      ØMn = , 8 x 850 , 13 x 350 x 340 , 5 − x10 = 77,8 kNm

       

      2

       

      ØMn ≥ Mu 77,8 kNm ≥ 58,09 kNm ...............(OK)

      2 Jumlah tulangan dipakai 3 D 19 = 850,13 mm

      Kontrol jarak tulangan : 300 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 124 mm 124 31 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      =

      4

      2. Momen lapangan frame 424 (Mu = 27,97 kNm)

      tullentur φ

      Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

      22 = 400-40-10- = 340,5 mm

      2 . 85 xfc ' 600

      β 1 maks .

      75 x x

      ρ =

    • fy 600 fy

      .

      85 x . 78 x 40 600 maks . 75 x x = 0.035

      ρ =

    • 350 600 350 1 .

      4 1 .

      4 = = 0.004

      ρ min = fy 320

      ' 85 . xfc

      fy fc

    ⋅ ⋅

      = 461,46 mm

      ⋅ ⋅ x

      40

      4

      = 300 340 15 , 350

      4 '

      = d b

      2

      1

      ) Syarat : As min

      2

      dipakai 3D22( As ada = 1140,39 mm

      2

      = 204,3 mm

      2 As min

      =

      = 0,5 x 850,13 mm

      2

      2

      ≥ 408,6 mm

      2

      ≤ 850,13 mm

      2

      461,46 mm

      ≤ As ≥ As min

      d b fy ⋅ ⋅

      1

      2 As min

      x x = 408,6 mm

      1

      350 4 ,

      1 = 300 340 5 ,

      4 ,

      2

      ) As’ perlu = 50% As

      fy m =

      27 x x x

      2

         = fy xmxRn x m perlu

      − −   

         

      = 0,76

      =

      

    10

    97 ,

      1

      339 400 8 .

      φ = 2

    6

      xbxd Mu Rn

      = 10,29 2

      x

      40 85 . 350

      =

      1

      1

      2

      = 0.0021 Syarat : ρ min <ρ perlu <ρ max

      dipakai 3D19 ( As ada = 850,13 mm

      2

      = 0.004 x 300 x 340,5 = 408,6 mm

      0.011 < 0.033 maka dipakai ρ min = 0.004 As perlu = ρ x b x d

      >

      0.004

      x perlu ρ

      ρ   

      1 29 , 10 1 x x

      1

      2

      10

      350 76 , 29 ,

         =

       − −   

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang :

    • 6

      ρ

      fy

    x

    fy xfc x maks

      600 600 ' 85 .

      75 . 1

      β ρ

      350 600 600

      350

      40 78 . 85 .

      75 .

      x x x x maks

      = 0.035

      2

      fy 4 .

      1 min =

      ρ

      = 350 4 .

      1 = 0.004

      ' 85 . xfc

      fy m =

      =

      40 85 . 350

      x

      19 = 340,5 mm

      = 400-40-10-

      = 10,29

         

      a =

      b fc As fy ⋅ ⋅ ⋅

      ' 85 , =

      300

      40 85 , 350

    850 13 ,

    x x x

      = 29,17 ØMn = ØAs.fy.(d-

      2

      

    a

      ) ØMn =

        −

      tullentur φ

      2 17 , 29 350 340 5 ,

      850 13 , 8 , x x x x10

      = 77,58 kNm ØMn ≥ Mu

      77,58 kNm ≥ 27,97 kNm ...............(OK) Jumlah tulangan dipakai 3 D 19 = 850,13 mm

      2 Kontrol jarak tulangan :

      300 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 124 mm

      =

      4 124 31 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

      3. Momen tumpuan kanan frame 424 (Mu = 58,09 kNm) Tinggi efektif (d) = h-p-Ø tul sengkang-

      2

    • =
    • =

      2 xbxd Mu

      1 = 300 340 5 ,

      1

      = d b

      fy fc

    ⋅ ⋅

      4 '

      = 300 340 5 , 350

      4

      40

      ⋅ ⋅ x

      = 461,46 mm

      2 As min

      2

      = d b

      fy ⋅ ⋅

      4 ,

      350 4 ,

      2

      ≥ 408,6 mm

      40 85 , 350

    850 13 ,

    x x x

      300

      ' 85 , =

      b fc As fy ⋅ ⋅ ⋅

      ........... (OK) Kontrol analisa penampang : a =

      2

      2

      1

      ≤ 1900,56 mm

      2

      461,46 mm

      2

      2 As min

    1 ≤ As ≥ As min

      x x = 408,6 mm

      ) Syarat : As min

      dipakai 2D19( As ada = 566,77 mm

      Rn φ

         =

      = 2 6

    300 340 5 ,

    8 .

      

    10

    09 ,

      58 x x x

      =

      = 2,16

         

      − −    

        = fy xmxRn x m perlu

      2

      1

      1

      1

      ρ   

       − −   

      350 16 , 2 29 ,

      2

      2

      = 340 mm

      2

      = 0,5 x 640,17 mm

      ) As’ perlu = 50% As

      2

      dipakai 3D19( As ada = 850,13mm

      = 0.0329 x 300 x 354 = 640,71 mm

      10

      0.004 < 0.0063< 0.033 maka dipakai ρ perlu = 0.063 As perlu = ρ x b x d

      = 0.00638 Syarat : ρ min <ρ perlu <ρ max

      x perlu ρ

      1 29 , 10 1 x x

      1

      2

      = 29,17

    • 6

      Tekan 320

      1

      2

      3

      4

      5

      6 Tumpuan kiri Tarik

      58,09 640,71

      3D19=850,13 77,8

      2D19=566,77 Tumpuan kanan

      ) ØMn

      Tarik 58,09

      1303,56

      3D19=850,13 77,8

      Tekan 652

      2D19=566,77 Lapangan

      Tarik 27,97

      1124,64

      3D19=850,13 77,8

      Tekan 562,32

      ( kNm )

      2

      ØMn = ØAs.fy.(d-

      77,8 kNm ≥ 58,09 kNm ...............(OK) Jumlah tulangan dipakai 3 D 19 = 850,13 mm

      2

      

    a

      ) ØMn =

         

        −

      2 17 , 29 350 340 5 ,

      850 13 , 8 , x x x x10

      = 163,05 kNm ØMn ≥ Mu

      2 Kontrol jarak tulangan :

      ( mm

      300 – ( 4 x 19 + 2 x 10 +2 x 40 ) = 124 mm

      =

      4 124 31 > 25 mm ( SNI 2847 psl 9.6.1 ) ..........(OK)

    Table 4.11 penulangan balok frames 424

      LOKASI Mu

      ( kNm ) As perlu

      ( mm

      2

      ) As pakai

      2D19=566,77

      4.12. Penampang Balok Tumpuan Kiri

      4.13. Penampang Balok Lapangan

      4.14. Penampang Balok Tumpuan Kanan

      4.10. Per encanaan Tulangan Geser Balok Gaya geser rencana Ve menurut SNI 1726-2002, Pasal 23.3.4 harus ditentukan dari peninjuan gaya statik pada bagian komponen struktur antara dua muka tumpuan.

      Data Perencanaan :- Vu ( frame 333 ) = 111,64 kN

    • Mencari q :

      u

      3

    • 0,40 m x 0,60m x 24 kN/m = 5,76 kN/m
    • q D = 1,2 x 5,46 kN/m = 6,55 kN/m

      u

    • q L = 1,6 x 1,83 kN/m = 2,93 kN/m +

      u

      = 15,23 kN/m ( Pu ) = 1,2 x P + 1,6 x P

      

    D lantai L lantai

      = 1,2 x 30,28 + 1,6 x 21,88 = 36,34 + 35,01 = 71,35 kN

      1

      1

      1

      1 V = V = . q . L P = x 15 , 23 x 6 x 71 , 35 = 81,36kN

      A B U U

      2

      2

      2

      2

    • =

      = 202,98 kN Koefisien reduksi diambil 0,55 sesuai dengan SNI 2847-2002 pasal 11.3.2.3

           ⋅

      ⋅ ⋅ + = −

      Vc = 20403kN > Vu = 111,64 kN Vs =

      φ Vu

      =

      55 , 111 64 ,

      Dengan memakai tulangan 2 kaki Ø10 mm (Av = 2 x 78,5 = 157 mm

      40 3

      2

      ) S = s y v

      V A b f . .

      = 3

      10 202 98 , 157 400 350 x x x

      = 108,28 mm ≈ 110 mm Kontrol jarak sengkang (s) sepanjang sendi plastis diujung balok 2.h = 2 x 600 = 1200 mm tidak boleh lebih besar : SNI 03-2847-2002, pasal 23.3.3.2.

      = × ⋅

      120 009956 ,

      81.36 kN 81.36kN 71.35 kN 6.00 m qu = 15.23 kN

      10

    Gambar 4.15. Perletakan Gaya Dalam

      Letak Vu = 3 – ( 4 ,

      1 35 ,

      2

      1

      ) = 1,425 3

      7 . 120 '

      7 539 400 109570 539 111640

      − × ⋅

      ⋅    

       

      d b Mu Vu d Vc fc w w

      ρ Vc kN

      20403 28 ,

      10

      Smax : d / 4 = 539/ 4 = 134,75mm : 8 . db = 8 x 25 = 200 mm

      : 24 . db hoop = 24 x 10 = 240 mm : 300 mm

      Jarak S = 110 mm, hoop pertama Ø 10 mm dipasang 50 mm dimuka kolom

      2 h 110 2 600 110

      − × −

      di kedua ujung balok. Selanjutnya

      1

      1 11 buah

    • = =

      s 110

      hoop dipasang sepanjang 2.h=2x 600=1200 mm

      Untuk perencanaan tulangan geser pada tengah bentang, Vu diambil dari

      perhitungan sap ( Vu = 88,02 kN ) Pemasangan begel diluar sendi plastis ( 2.h = 2 x600 )

      Vu = 88,02 kN ( pada jarak 1200 mm ) Vs = Vu / = 88,02 / 0,55 = 160 kN

      φ

      2 Jika dipakai sengkang 2 kaki Ø10 mm (Av = 2 x 78,5 = 157 mm ) A . f . b v y

      157 x 350 x 400 S = = 3 V s 160 x

      10 = 137,5 140 mm < d / 2 = 539/ 2 = 269,5 mm ...........OK

      ≈

      Jadi dipasang begel Ø 10 – 140 sebanyak : ln 4 h 9300 4 x 600

      − −

      = 1 =

      1

      s 140

      = 50 buah dibagian tengah balok

      1 Pemutusan tulangan = L

      4

      1 = ( 6000 600 ) = 1350 mm

      × −

      4

      700 1.350 1.350

      6D22

      3D22

      6D22 600 110 110

      5D22

      5D22

      4D22 010-110 010-140 010-110

      6.00 Gambar 4.16. Penulangan gaya geser balok

      4.10.1.Kontr ol Retak Data Perencanaan: fc = 30 Mpa ; fy = 350 Mpa b = 400 mm ; h = 600 mm d = 539mm ; c = 40 mm fs = 0,6 x 350 = 210 Mpa

      h c 600

      40 − −

      = = = 1,12

      β d c

      539 −

      40 −

      dc = h – d = 600-539 = 61 mm

      b . dc

      2 . 400 x 2 x

      61

      2 A = = = 12200 mm

      4

      4

    • 6
    • 3

        = ( 11x10 ) . . fs . dc . A ( SNI 03-2847-2002,pasal 12.6.4)

        ω β

      • 6
      • 3

          = (11x10 ) x 1,12 x 210 x 61x 12200 = 0,23 mm < 0,4 …… (OK)

          4.11. Pengangkatan Balok Induk Balok induk dibuat secara pracetak di pabrik. Elemen balok harus dirancang untuk menghindari kerusakan pada waktu proses pengangkatan. Titik pengangkatan dan kekuatan tulangan angkat harus menjamin keamanan elemen balok tersebut dari kerusakan.

          Lx Lx L M

        • M

        Gambar 4.17 Momen Saat Pengangkatan Balok

          Dimana : 2 4 y

          WL   c

        • M = − +

          1 4 x

          8 Lxtg

          θ 3   2 WX L

        • M =

          2 4 y c

        • 1

          L x tg θ

          X =

          yt

          4 y c 2 ( 1 1 ( 1 ))

          yb L x tg θ

          Diketahui : b = 40 cm

        • 3”
        • θ θ

          4

          1

          1

          2

          4

          1 =

          

             

           

          8 . 0762 ,

          1 285 , 285 ,

          4

          1

          1

          2

          45

          8 . 361 ,

          4

          1

          xtg xtg

          = 0,25

          1

          Lxtg Y c c

          X L = 0,25 x 8 = 2 m L-2(XL) = 8,0-2( 0,25x8 ) = 4 m

          Lxtg Y tb yt

          h = 70 cm L = 800 cm Contoh perhitungan : Yt = Yb = cm 5 ,

          28

          2 )

          13 70 (

          = −

          I =

          12

          1 x 40 x 70

          3

          = 1143333,33cm

          4 Y c

          = Y

          t

          →

          3’’=0,0762 m Y

          c

          = 0,285+0,0762 = 0,361 m X =

             

             

           

        • 45

          2,0 m

        4,0 m

        8,0 m

        2,0 m

        Gambar 4.18. Perencanaan Hearing Pada Balok

          Data-data profil baja :

        • Panjang tekuk = 300 cm
        • Mutu baja Bj 36
        • Profil WF 100 x 200 x 6 x 8

          I = 4,18 cm

          s

          I = 2,47 cm

          y

          W = 17,2 kg/m Pembebanan :

          Balok = 0,40 x 0,70 x 2400 = 672 kg/m Balok profil = 17,2 x 8 = 137,6 kg/m +

          809,6 kg/m Untuk mengantisipasi beban kejut akibat pengangkatan, momen pengangkatan dikalikan dengan faktor akibat pengangkatan sebesar 1,2 :

        • Momen Lapangan
          • M =
          • M =
          • − 45 .

        • Tegangan yang terjadi :

          6

          ≤

          f’r =0,7 ' fc = 0,43 Mpa

          ≤

          14 Mpa .......OK

          2 2 2 L WX

          2

          8 25 , 809 6 , 2 2 2

          x x

          x 1,2 = 1943,04 kgm Tegangan yang terjadi : f = 2 4 700 400

          1

          x x x

          10 1943 04 ,

          x x x Wt M

          =

          = 0,6 Mpa

          ≤

          f’r = 0,7 ' fc = 0,6 Mpa

          ≤

          14 Mpa .......OK Dari perhitungan momen diatas, didapatkan nilai f akibat momen positif dan negatif berada dibawah nilai f’r

          ijin

          = 0,43 Mpa

          10 1402 87 ,

          usia beton 3 hari. Jadi dapat ditarik kesimpulan, balok anak tersebut aman dalam menerima tegangan akibat pengangkatan.

          

        

         

          8 2 WL

             

          θ Lxtg Y

          X c

          4

          4

          1

          8 8 .

          809 6 , 2

          8 . 361 ,

          1

          4 . 25 ,

          4

          1

          tg

          x1,2 = 1402,87 kgm

          f =

          Wt M

          = 2 4 700 400

          6

        • Momen tumpuan
          • M =
          • M =

          4.12. Kontr ol Lendutan

        • Kontrol Lendutan

          Komponen struktur yang mengalami lentur harus dirancang agar memiliki kekakuan cukup untuk batas deformasi yang akan memperlemah kemampuan layan struktur saat bekeja. Sesuai SNI 03-2847-2002 tabel 8, syarat tebal minimum balok dengan dua tumpuan apabila lendutan tidak dihitung adalah sebagai berikut :

          1 h = xLb

          min

          16 lendutan tidak perlu dihitung sebab sejak prelimary design telah direncanakan agar tinggi dari masing – masing tipe balok lebih besar dari h .

          min

        • Kontrol Retak

          Distribusi tulangan lentur harus diatur sedemikian sehingga untul membatasi retak lentur yang terjadi, bila tegangan leleh rencana f untuk tulangan tarik melebihi 300

          y

          Mpa. Penampang dengan momen negatif dan positif maksimum harus diproporsikan sedemikian hingga nilai Z yang diberikan oleh : 3 Z = f x d xA SNI 03-2847-2002 pasal 12.6.4

          s c

          Tidak melebihi 30 MN/m untuk penampang didalam ruangan f = tegangan dalam tulangan yang dihitung pada beban kerja, f dapat diambil 0,6 f

          s s y

          f = 0,6 x 350 Mpa = 210 Mpa

          s

          d = tebal selimut beton diukur dari serat tarik terluar ke pusat batang tulangan

          c

          (decking + ½ jari – jari tulangan ) d = 40 + 10 + 11= 65 mm

          c A = Luas efektif beton ditarik sekitar tulangan lentur tarik dan mempunyai titik pusat yang sama dengan titik pusat tuangan ( pada hal ini diambil sebesar 1 m ) lalu dibagi dalam jumlah batang tulangan dalam 1m tersebut.

        • Untuk Daerah Tumpuan

          2 x d x b c 2 x , 065 x ,

          4

          

        2

        A = = = 0,01 m 3 n

          5 3 Z = f x = 210 x = 8,44 MN/m

          30 MN/m ...OK

          s d xA , 0065 x ,

          01 c

        • Untuk Daerah Lapangan

          2 x d x b c 2 x , 065 x ,

          4 A = = = 0,013 3

          n

          4 3 Z = f x d xA = 210 x = 9,21 MN/m

          30 MN/m ...OK

          s , 0065 x , c

          01 3 ≤

          4.13. Per hitungan Kolom Kolom portal harus direncanakan terhadap momen – momen lentur dalam keadaan batas akibat kombinasi pembebanan oleh beban gravitasi dan beban gempa.

          Data perencanaan kolom frame 127 Balok = 400 x 600 mm Kolom = 700 x 700 mm Tinggi kolom antar lantai ( h ) = 4000 mm fc’ = 40 Mpa fy = 350 Mpa Data dari output SAP : Pu = 4875,34 kN

          Vu = 122,832 kN Mx = 138,45 kNm ; My = 142,58 kNm Kontrol Pu Kolom frame 127:

        Gambar 4.19. Luas Pelat yang Dipikul Kolom

          Hasil check manual

          Pu lantai = L.plat.(1,2qD + 1,6qL).n -

          = 20.(1,2(3,46)+1,6(2,5)x8 = 1304,32 kNm

        • = 20.(1,2(2,98)+1,6(1,003)x1 = 103,6 kNm

        Pu atap = L.plat.(1,2qD + 1,6qL).n

          Jadi total Pu = 1304,32 + 103,6 = 1407,92 kNm < 4875,34 kNm.....OK Beban ultimate rencana :

          U = 1,2 D + 1 L + Ex + 0,3 Ey

          Mu = 1,2 . 4480,15 + 1 . 447,11 + 336,64 + 0,3 . 546,996

          

        9

          = 6324,03 kNm = 6,32 x 10 Nmm

          5 Nu

          30 , 4 x

          10

          = 6,2

          = bh 700 x 700 9 Mu 6 , 32 x

          10

          = 18,43 2 = 2

          bh 700 x 700

          Dengan grafik didapatkan nilai ρt = 0,02

          2 Luas tulangan total dibutuhkan : Ast = 0,02 x 700 x 700 = 9800 mm

          2

          2 Pakai : 20 D25 ; Ast tersedia = 9812,5 mm > 9800 mm ............ OK

          Periksa jarak bersih antar tulangan 700 2 x

          40 6 x

          25

          − − s

          94 mm > 40 mm ................ OK

          = =

          5 Periksa kapasitas dengan program PCACOL

          = 6,58

          =

          x x x

          9 13 13 13

          10 55 ,

          1 3300

          10 72 ,

          10 38 , 5300

          3300

            

             

          / /

        Gambar 4.20. Diagram Interaksi Kolom

          ∑ ∑ balok balok c kolom L EI L EI

          4.13.1. Panjang Tekuk Kolom ( Ψ ) ΨA =

          = 0,00092 < 0,05 ( kolom tak bergoyang)

          − x x

          ) 700 4000 ( 120 06 , 12 , 3039 76 ,

          > 0,05 ( kolom bergoyang ) Q =

          ∆

          . .

          Lc Vu Pu o

          Menentukan jenis kolom apakah bergoyang atau tidak bergoyang mengunakan persamaan dibawah ini ( SNI 03-2847-2002, pasal 12.11.4 ) Q =

        •     

          = y 59,55

          12

          20

          12

          4

          1

          4

          2

          19

          19 1416 6 , 2 2

          2

             

            − − 

               × × +

             

           

           × × +    

           

          x x y π π

          12

          6

          ΨB = 0 ( jepit) Untuk mendapatkan K menggunakan diagram nomogram, SNI 03- 2847-2002, pasal 12.11.6

          4

        Gambar 4.21. Faktor Panjang Efektif, k

          Dari gambar di atas didapat K = 0,67

          4.13.2. Cek Per syar atan “Strong Column Weak Beam”

          ( ) ∑ ∑

          ≥ Mg Me

          5 / 6 ..................................SNI 2847-02,pasal 23.4.2 As atas = 1416,6 + 2 x 3 x

          π

          1 x 12

          1

          2

          = 2095,18 mm

          2

          2095 18 ,

          2

          12 20 120

          12

        • × =
        •  

          4

        • Balok 40/60 sebelah kiri kolom.

        Gambar 4.22. Detail Balok 333 yang Menyatu pada Kolom d atas = 700 – 59,55 = 640,1 mm

          19 d bawah = 700 - 19 - 10 - = 664,67 mm

          3

        • Besar Mg adalah :

          As fy 850 ,

          15 350

          ⋅ × a

          21 , 87 mm

          = = =

          , 85 ⋅ f ' cb , 85 × 40 × 400

          a

          21 ,

          87

             6   −

        • As fy d

          Mg =  − = 850 , 15 350 664 ,

          67 10 = 194,52 kNm

          ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ − ×

           

         

          2

          2

          

           

         

        • Besar Mg adalah :

          As fy 2095 ,

          18 350

          ⋅ ×

          mm

          a

          53 ,

          92

          = = =

          , 85 f ' c b ,

          85 40 400

          ⋅ ⋅ × × a

          53 ,

          92

            6   

          Mg = As fy d = 2095 ,

          18 350 642 ,

          67 10 =451,5 kNm

          ⋅ ⋅  − ⋅ ⋅ − ×

           

         

          2

          2

               

        • = + =
        • × =
        •     
        • ⋅     

          40 85 , 350 566 77 ,

               × × +

          2

          12 . 20 120

          12

          4

          1

          4 2

          π 033 ,

          51 =

          d atas = 400 – 51,03 = 348,97 mm d bawah = 400 - 40 - 10 -

          2

          19 = 340,5 mm

          Besar Mg

          19 300

          ' 85 ,

             

          

        =

        × × × =

          ⋅ ⋅ ⋅ = b c f As fy a mm

          Mg

             

            − ⋅ ⋅

          2

          a As d fy = 6

          10

          2 45 , 19 350 348 97 ,

          566 77 ,

          − × 

               

               − ⋅ ⋅

          = 67,3 kNm Besar

            − − 

          π x y

          − Mg adalah :

          12

          ( ) ∑

          451 5 , Mg 194 52 , Mg Mg kNm = 646,02 kNm - Balok 30/40 sebelah kanan kolom.

        Gambar 4.23. Detail Balok 230 yang Menyatu pada Kolom

          As atas = 850,13 + 2 x 3 x

          π

          4

          1 x 12

          2

          = 1528 mm

          2

          1528

          2

          12

          20

          4

          

          1

          2

          2

          19

          40

          19

          10 40 350

          2

          19

          10 40 500 2

             

           

           × × +    

           

        • adalah : 45 ,
        • =

        • = + =

          34 - 12

          ( ) ∑ ∑

          ≥ Mg Me

          5 /

          6 =567,23+254,56( dari output SAP)

          

          768,02.......ok = 821,97

          ≥

          768,02.......ok

          4.13.3. Kontrol Kelangsingan Kolom r = 0,3 . h = 0,3 x 700 = 210 mm Lu = 4000 – 700 = 3300 mm Mx = 336,64 kNm ; My = 984,95 kNm

          r Lu K.

          ≤

             

          ⋅

           

          2

          1 M

          M

          ......... ( SNI 03-2847-02, Pasal 12.12.2 ) 210

          3300 67 . x

          ≤

          34 – 12

             

           

          984 95 , 537 52 , 10,53

          ≤

          kNm = 768,02 kNm

          6

          25 350

          25 350 348 97 , 850 23 ,

          40 85 , 350 850 13 ,

          ' 85 ,

          

        =

        × × × =

          ⋅ ⋅ ⋅ = b c f As fy a mm

          − Mg =

             

            − ⋅ ⋅

          2

          a As d fy = 6

          10

          2

          − × 

          5

               

               − ⋅ ⋅

          = 100,13 kNm

          ( ) ∑

          − +

          100 13 , 3 , Mg 67 Mg Mg kNm = 167,33 kNm

          ∑ Mg yang menentukan adalah 640,02 kNm

          ( ) ∑ ∑

          ≥ Mg Me

          5 / 6 =

          ( )

          640 02 ,

          27,45 ...................... kelangsingan diabaikan

          4.13.4. Daer ah Sendi Plastis Daerah sendi plastis ditentukan berdasarkan SNI 03-2847-2002, pasal 23.4.4.4 yang menyatakan : “ panjang Lo tidak kurang dari “

        • 1/6 λn = 1/6 (4000-700) = 550 mm

          h = 700 mm

        • 500 mm
        • Digunakan daerah sendi plastis Lo sepanjang 700 mm.

          Jarak begel sepanjang sendi plastis diatur SNI 03-2847-2002, pasal 23.4.4.2 yang menyatakan bahwa spasi maksimum tulangan transversal :

          ¼ b = ¼ x 700 mm = 175 mm -

        • 6 db = 6 x 25 = 150 mm

          2 2 .

          40 12 /

          2

          − − [ − ( ) ]

        • 350 hx 350 700 /

          67 mm

          = = + =

        • Sx 100 100 130 ,

          3

          3 Nilai Sx tidak perlu lebih besar dari 150 mm dan tidak perlu lebih kecil dari 100mm, maka digunakan jarak begel (s) = 100 mm.

          4.13.5. Per encanaan Pengekangan Kolom Sesuai dengan SNI 03-2847-2002, pasal 23.4.4 ujung – ujung kolom sepanjang Lo harus dikekang.

          Data Perencanaan : ( frame 16 ) Lo = 4000 mm ; s = 100 mm fy = 350 Mpa ; fc = 40 Mpa deck = 40 mm ; Ø seng = 12 mm Vu = 120,06kN

          Ash min sesuai dengan SNI 03-2847-2002, pasal 23.4.4.1 hc = 700 – 2 ( 40 + 12/2 ) = 608 mm Ash = 0,3 ( s.h .f /f ) [ (A /A ) – 1 ]

          

        c c yh g ch

          2

          2

          = 0,3 x ( 100 x 608 x 30/320 ) x [ ( 700 / ( 700 – 2x40 ) )-1]

          2

          = 470 mm Ash = 0,09 ( s.h .f /f )

          c c yh

          2

          = 0,09 ( 100 x 608 x 30/320 ) = 513mm (menentukan)

          Ash 513

          Jumlah tulangan n = = = 4,5 ≈ 5 buah 2

          luas dp

          12

          1

          4

          12

          ⋅ π ⋅

          2

          2 Jadi dipakai 5 12 – 100 (Ash = 565,5 mm ) > Ash = 513 mm ∅

          4.13.5. Penulangan Tr ansver sal Gaya geser yang bekerja di sepanjang bentang kolom (Vu) ditentukan dari

        • – Mpr dan Mpr balok yang menyatu dengan kolom tersebut.
          • Balok 40/60

          2 +

          Perhitungan Mpr dengan tulangan 6 Ø 19 ( As = 4906,25 mm )

          As .( pakai 1 , 25 . fy )

        4906 ,

        25 x ( 1 , 25 x 350 )

          a = = = 192,40 mm , 85 . fc '. b

          , 85 x 40 x 400

        • Mpr = As.(1,25.fy).(d – a/2)
          • 6

          = 4906,25 x ( 1,25 x 350 ) x ( 552,5 – 192,40/2) x 10 = 895,49 kNm

          2 –

          Perhitungan Mpr dengan tulangan 6 Ø 19 ( As = 2943,75 mm )

          As .( pakai 1 , 25 . fy ) 2943 , 75 x ( 1 , 25 x 350 )

          a = = =115,44mm , 85 . fc '. b ,

          85 x 40 x 400

        • Mpr = As.(1,25.fy).(d – a/2)
        • 6

          = 2943,75 x ( 1,25 x 350 ) x ( 552,5 – 115,44/2) x 10 = 582,60 kNm

          −

          895 , 49 582 ,

        • Mpr Mpr

          60 Vu = = = 447,91kN l n ( 4 − , 7 )

        • Balok 30/40 sebelah

          2 +

          Perhitungan Mpr dengan tulangan 9 Ø 19 ( As = 3421 mm )

          As .( pakai 1 , 25 . fy ) 3421 x ( 1 , 25 x 350 )

          a = = =178,88 mm , 85 . fc '. b

          , 85 x 40 x 300

        • Mpr = As.(1,25.fy).(d – a/2)
          • 6

          = 3421 x ( 1,25 x 320 ) x ( 354 – 178,88/2) x 10 = 362,03 kNm

        • 2

          Perhitungan Mpr dengan tulangan 5 Ø 19 ( As = 1900 mm )

          As .( pakai 1 , 25 . fy ) 1900 x ( 1 , 25 x 350 )

          a = = = 99,35 mm , 85 . fc '. b ,

          85 x 40 x 300

        • Mpr = As.(1,25.fy).(d – a/2)
        • 6

          = 1900 x ( 1,25 x 350 ) x ( 354 – 99,35/2) x 10 = 231,29 kNm

          − +

          Mpr Mpr 231 , 29 362 ,

          03 Vu = =

          =156,14kN

          l n ( 4 , 5 − , 7 ) Diambil Vu terbesar = 447,91 kN.

          Maka Vc diambil sesuai dengan SNI 03-2847-2002, pasal 13.3.1.2 Nu = Pu = 3039,76 kN

          tul longitudin al

          d = h – (deck + Ø seng + )

          2

          25 = 700 – (40 + 12 + )= 635,5 mm

          2 3

          fcNu  3039 ,

          76 x

          10

          40

           

          10 3

          Vc = 1 . b . d = 1 . 700 x 635 , 2 5 x

        • 14 . Ag

          6 14 . x 700

          6

             

          = 586,03 kN Nilai Vs diambil sesuai dengan SNI 03-2847-2002, pasal 13.5.6.2

          Av . fy . d

          565 , 5 x 350 x 635 ,

          5

        • 3

          Vs = = x10 = 1150,001 kN

          s 100

          Maka : Ve = Vc + Vs = (586,03 + 1150,001 ) kN = 1726,03 kN

          = 0,80 ( sesuai SNI 03-2847-2002,pasal 11.3.2.3 )

          φ Ve Vu

          φ >

          0,80 x 1765,99 kN > 250,28 kN 412,79 kN > 250,28 kN .................................( OK )

          4.14. Desain Hubungan Balok Kolom

          4.14.1. Hubungan Balok Kolom Tengah Sisa panjang kolom di luar sendi plastis, dipasang sengkang sesuai ketentuan pasal 23.4.4.6 : ≤ 6 x tul. longitudinal kolom = 6 x 25 = 150 mm atau ≤ 150 mm.

          Pada hubungan balok kolom sesuai SNI 03-2847-2002, pasal 23.5.2.2 dimana :

          3

          3 lebar kolom = 700 mm = 525 mm

        • 4

          Balok – baloknya dengan lebar ≤ ×

          4 Balok sebelah kanan HBK dengan lebar 300 mm < 525 mm ................OK Balok sebelah kiri HBK dengan lebar 400 mm < 525 mm ....................OK

          2 Tulangan transversal kolom = 5 Ø 12

          1 Tulangan tranversal pada HBK ≥

          5 2 ,

          5

          × =

          2 Maka tulangan transversal pada HBK = 4 Ø 12 dipasang setinggi balok terendah yang merangka ke HBK. M u

          V h

          3 D 19 M p r + C2 = T 2 T 2

          5 D 19 C1 = T 1 M pr - T 1

          2 D 19

          3 D 19 M u V h

        Gambar 4.24. Analisa Gambar dari HBK Joint Tengah

          A. Balok sebelah kiri kolom dengan dimensi 40/60

        • 3

          T1 = As x 1,25 fy = 1416,6 x 1,25 x 350 x10 = 619,76 kN

        • 3

          T2 = As x 1,25 fy = 850,13 x 1,25 x 350 x10 = 371,93 kN Menghitung Vh :

        • Mpr balok :

          As

          1 , 25 fy 850 ,

          13 1 , 25 350

          ⋅ ( ) ( ) a

          27 , 35 mm

          = = =

          , 85 fc ' b ,

          85 40 400

          ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ d = 600 – 40 – 10 – 19/2 = 540,5 mm

          

        a

         -

          Mpr =

          As

          1 , 25 fyd

            −  ( )

          2

           

          27 ,

          35

            -6

          = 850 ,

          13 1 , 25 350 540 , 5 x10 = 195,94 kNm

          

        ⋅ −

        ( )  

          2

           

        • Mpr balok :

          As

          1 , 25 fy 1416 ,

          6 1 , 25 350

          ⋅ ( ) ( ) a

          45 , 57 mm

          = = =

          , 85 fc ' b ,

          85 40 400

          ⋅ ⋅ ⋅ ⋅

          d = 600 – 40 – 10 – 19/2 = 540,5 mm

          

        a

         +

          Mpr =

          As

          1 , 25 fyd

          ( )  −  

          2

           

          45 ,

          57

            -6

          = 1416,6 1 , 25 350 540 . 5 x10 = 320,86 kNm

          ⋅  −  ( )

          2

            − +

          Mpr Mpr

          320 , 86 194 ,

          94

          Mu 257,9 kNm = = =

          2

          2 2 ⋅ Mu 2 x 257 ,

          9 Vh =

          = = 312 ,

          6 kN ln 2 ( 3 , 9 − , 6 )

          2 Jadi Vx-x = T1 + T2 - Vh = (619,76 + 371,93 – 312,6) kN = 679,09 kN

          Kuat geser nominal HBK sesuai SNI 03-2847-2002,pasal 23.5.3 : 3

          − Vc

          1 , 7 fc ' Aj

          = ⋅ ,

          75 1 ,

          7 40 700 x 700

          10

          φ φ = ⋅ ×

        ( ) ( )

          = 3951,90 kN > 679,09 kN ………………..OK

          B. Balok sebelah kiri kolom dengan dimensi 30/40

        • 3

          T1 = As x 1,25 fy = 850,13 x 1,25 x 350 x10 = 371,93 kN

        • 3

          T2 = As x 1,25 fy = 566,77 x 1,25 x 350 x10 = 247,96 kN

        • balok :
        • Mpr
        • =
        • 6
          • balok :

        • Mpr

          2 Mpr Mpr

            − ⋅

          2 25 ,

          1

          

        a

        As d fy

          =

          ( )   

          

        − ⋅

          2 31 , 24 350 340 5 ,

          25 ,

          1 566 77 , x10

          = 81,47 kNm

          =

          − +

          2 47 , 81 119 87 ,

          Mu 100,67 kNm

          d = 400 – 40 – 10 – 19/2 = 340,5 mm Mpr

          ⋅ =

          − × ⋅ = x

          40 7 , 1 75 ,

          700 10 700

          φ φ ( ) 3

          1

          ' 7 ,

          ( ) Aj fc Vc

          Vh =

          Jadi Vx-x = T1 + T2 - Vh = (371,93 + 247,96 – 105,97)kN = 513,92 kN Kuat geser nominal HBK sesuai SNI 03-2847-2002,pasal 23.5.3 :

          = − = ⋅

          2

          4 ( 100 67 , 2 2 ln

          105 97 , 2 ) 7 , 5 ,

          kN Mu x

          ( )    

          ⋅ ⋅ =

          = 3951,3 kN > 513,92 kN ………………..OK

          25 ,

            − ⋅

          ( )    

          d = 400 – 40 – 10 – 19/2 = 340,5 mm Mpr

          ⋅ ⋅ =

          =

        ⋅ ⋅

        ⋅ =

          1

          1 850 13 , ' 85 ,

          1

          40 85 , 350 25 ,

          36 300

          44 ,

          As fy a

          ( ) ( ) mm b fc

          Menghitung Vh :

          2 25 ,

          

        a

        As d fy

          =

        ⋅ ⋅

        ⋅ =

          As fy a

          1

          25 ,

          1 566 77 , ' 85 ,

          40 85 , 350 25 ,

          24 300

          31 ,

          ( ) ( ) mm b fc

          =

          = 119,87 kNm

          1 850 13 , x10

          25 ,

          2 44 , 36 350 340 5 ,

          

        − ⋅

          ( )   

        • =
          • 6

        • =
        • +

          =

          4.12.2. Hubungan Balok Kolom Tepi

          5 D 19

          3 D 19

        Gambar 4.25. Analisa HBK Joint Tepi

          A. Balok sebelah kanan kolom dengan dimensi 40/60

        • 3

          T1 = As x 1,25 fy = 1416,6 x 1,25 x 350 x10 = 619,76 kN

        • Mpr balok :

          As

          1 , 25 fy 619 ,

          76 1 , 25 350

          ⋅ ( ) ( ) a

          19 , 93 mm

          = = =

          , 85 fc ' b ,

          85 40 400

          ⋅ ⋅ ⋅ ⋅

          d = 400 – 40 – 10 – 19/2 = 340,5 mm 19 ,

          93

          a    -6 -

          1416 ,

          6 1 , 25 350 340 ,

          5 Mpr = As 1 , 25 fyd = x10

           −   ⋅  − 

        ( ) ( )

          2

          2

             

          = 204,85 kNm

          − Mpr 204 ,

          82 Mu 102,41 kNm

          = = =

          2

          2

          

        131

          BAB V PERENCANAAN SAMBUNGAN

          5.1 Per encanaan Konsol pada Kolom Pada perencanaan sambungan antara kolom dan balok dipergunakan sambungan dengan menggunakan konsol pendek. Balok diletakkan pada konsol yang berada pada kolom yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. Bentuk konsol yang dipakai dapat dilihat pada gambar 3.6 berikut ini :

        Gambar 5.1 Parameter Geometri Konsol Pendek

          Ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal 13.9 tentang perencanaan konsol pendek yang diatur sebagai berikut :

          1. Perencanaan konsol pendek dengan rasio bentang geser terhadap tinggi efektif a/d tidak lebih besar daripada satu, dan memikul gaya tarik horisontal N uc yang tidak lebih besar dari pada V u jarak d harus diukur pada muka tumpuan.

          A s ( t ulangan ut ama ) A h (sengkang tert ut up) Rangka unt uk mengangkur sengkang t ert ut up d h a

          Vu N uc

          2. Tinggi konsol pada tepi luar daerah tumpuan tidak boleh kurang dari pada 0,5d.

          3. Penampang pada muka tumpuan harus direncankan untuk memikul secara bersamaan suatu geser Vu suatu momen Vu a + N uc ( h-d), dan suatu gaya tarik horisontal N uc .

          1)

          Di dalam suatu perhitungan perencanaan yang sesuai dengan SNI

          03-2847-2002 pasal 13.9, faktor reduksi kekuatan harus diambil

          ∅ sebesar 0,75. vf u

          2) Perencanaan tulangan geser friksi A untuk memikul geser V harus memenuhi ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal 13.7:

          n

          (1) Untuk beton normal, kuat geser V tidak boleh diambil lebih

          c w w besar daripada 0,2 f b d ataupun 5,5 b d dalam Newton.

          (2)

          Untuk beton ringan total atau beton ringan besar, kuat geser

          V n tidak boleh diambil melebihi ( 0,2 − 0,007 ) f c b w d ataupun ( − ) b w d dalam Newton.

          5 ,5 1,9 uc

          (3) Tulangan A untuk menahan momern V + N (h-d) harus

          vf [ u ] dihitung menurut SNI 03-2847-2002 pasal 12.2 dan pasal 12.3. uc

          (4) Tulangan A untuk menahan gaya tarik N harus ditentukan

          n

          dari N uc A f y . Gaya tarik N u tidak boleh diambil kurang

          ≤ ∅ n

          dari 0,2 V u kecuali bila digunakan suatu cara khusus utnuk mencegah terjadinya gaya tarik. Gaya tarik N uc harus dianggap suatu beban hidup walaupun gaya tarik akan timbul akibat rangkak, susut, atau perubahan suhu.

          (5) Luas tulangan tarik utama A harus diambil sama dengan nilai

          s terbesar dari ( A + A ) atau + An.

        f n

        4.

          dengan luas total

          Sengkang tertutup atau sengkat ikat yang sejajar dengan A sf

          A yang tidak kurang daripada 0,5 (A -A ), harus disebarkan secaara merata

          h s n

          dalam rentang batas dua pertiga dari dari tinggi efektif konsol, dan diopasang bersebelahan dengan A .

          s 5. = A /bd tidak boleh diambil kurang daripada 0,04 .

          Rasio s ρ

          6. Pada muka depan konsol pendek, tulangan tarik utama A harus diangkurkan

          s

          dengan cara berikut : (a) Dengan las struktural pada suatu tulangan transfersal yang diameternya minimal sama dengan diameter tulangan A , las haurs direncankan agar

          s mampu mengembangkan kuat leleh f dari batang tulangan A . y s

          (b) sebesar 180 hingga

          Dengan menekuk tulangan tarik utama A s ° membentuk suatu loop horizontal.

          (c)

          Dengan cara lain yang yang mampu memberikan pengangkuran yang baik.

          7. Luas daerah penumpu beban pada konsol pendek tidak boleh melampaui bagian lurus batang tulangan utama A , dan tidak pula melampaui muka

          s dalam dari batang tulangan angkur transversal (bila dipasang).

          Perhitungan konsol : U V = 170853 N Didapat dari perhitungan SAP, pada (frames 433) balok 40/70.

          Direncanakan dimensi konsol : w b = 400 mm d = 400 mm h = 450 mm fc’ = 40 MPa fy = 350 MPa a = 150 mm ketentuan yang digunakan pada konsol pendek ini, sesuai dengan SNI 03-2847- 2002 pasal 13.9, maka geometri konsol pendek serta gaya yang terjadi pada konsol pendek tersebut harus sesuai dengan yang diisyaratkan oleh SNI 03-2847-2002 pasal

          13.9.1. Syarat tersebut adalah sebagai berikut.

        • a/d < 1

          150 / 400 = 0,375…….OK

          N

          V

        • uc u

          ≤

          N uc = 0,2 x Vu = 0,2 x 170853 = 34170,6 N 170853 N……..OK

          ≤ Sesuai dengan pasal 13.9.1., diambil sebesar 0,75. φ vu 170853

          V n 227804 N

          = = =

          ,

          75

          φ

          0,2 fc’ bw d = 0,2x40x400x400 = 1280000 N > V n ….OK 5,5 bw d =5,5x400x400 = 880000 > V n …..OK

          Menentukan luas tulangan geser friksi Vn

          A vf = …………………….SNI 03-2847-2002 Pasal 13.7.4.1

          fyx µ

          µ = 1,4 untuk beton normal yang dicor secara monolit. (SNI 03-2847-2002 pasal 13.7.4.1)

          227804

          350 x 1 ,

          4 Menetukan luas tulangan untuk menahan momen Mu = V u x a+ N uc (h-d)

          = 170853 x 150 + 34170,6 (450-400) = 27336480 N 1 ,

          4 1 ,

          4

          min 1

          = = = 0,003

          ρ fy 350 fc '

          40

          min 2 = = = 0,0045 ρ

          4 x 350 4 fy

          min dipilih yang terbesar yaitu 0,0045 ρ fy 350

          m = = = 10,29 40 x ,

          85

          fc ' x ,

          85 Mu 27336480 Rn = = = 0,21 MPa 2 2

          , 8 x 1000 xdx , 8 x 1000 x 400 1  2 xmxRn

            x

          1

          1

          ρ = − −   m fy

             

          1  2 x 10 , 29 x , 21 

           

          = 0,00064

          x

          1

          1

          =   − −

          10 , 29 350

              Mu 27336480

          2 f

          A 1 = = = 353,4 mm , 85 x x fy x d , 85 x , 65 x 350 x 400

          φ

          2 A f

          2 = x b w x d = 0,0045 x 400 x 400 = 720 mm ……..(menentukan)

          ρ uc

          Menentukan tulangan untuk menahan gaya normal N N 34170,6 uc 2 An 130 ,

          17 mm

          = = = x fy ,

          75 x 350

          φ

          Menentukan tulangan pokok as

          2 A s1 = ( A f + A n ) = (720 + 130,17) = 850,17 mm …..(menentuka n)

          2 A vf 2 x 464 2

          s2 x A x 130 ,

          17 402 , 65 mm A = = n =

          3

          3

          fc'

          40 '

              2 smin

          A = 0,04 b x d = 0,04 400 x 400 = 731 mm

            fy 350

             

          2 A h = 0,5 (A - A ) = 0,5 ( 402,65 – 130,17 ) = 135,65 mm s n

          Dipasang sepanjang (2/3d) = 266,67 mm (vertical), dipasang 4 D13 dengan spasi (266,67/5) = 50 mm,

          Menetukan luas pelat landasan u

          V = . (0,85) . fc’ .A1

          ∅

          170853

          , 8 x , 75 x

          40

          5.2 Per hitungan Sambungan Balok Kolom Sistem sambungan antara balok dengan kolom pada perencanaan memanfaatkan panjang penyaluran dengan tulangan balok, terutama tulangan pada bagian bawah yang nantinya akan dijangkarkan atau dikaitkan keatas.

          Panjang penyaluran diasumsikan menerima tekan dan juga menerima tarik, sehingga dalam perencanaan dihitung dalam dua kondisi, yaitu dalam kondisi tarik dan tekan.

          Db = 22 mm

          2 As perlu = 1303,56 mm

          2 As terpasang = 3041,06 mm

          a. Panjang Penyaluran Tulangan Doform Dalam Tekan

          Berdasarkan SNI 03-2847-2002 Pasal 14.3

          As perlu

          1 d = 1 db

          As terpasang

          1 d ≥ 200 mm 1 db ≥ 0,04 d b fy

          d x fy b 22 x 350 ≥

          1 db = 304,4 mm

          =

          4 x fc 4 x

          40 1303 , 56 1 d = 304,4 = 130,48 mm 200 mm...OK

          

          3041 ,

          06

          d

          Dipakai 1 = 200 mm

          b. Panjang Penyaluran Kait standar Dalam Tarik

          Berdasarkan SNI 03-2847-2002 Pasal 14.5

          fy dh

          1 = 1 hb 400 1 dh ≥ 8 d b

          1 dh ≥ 150 mm

          db

          22 1 hb = 100 = 100 = 347 mm

          fc '

          40 1 dh ≥ 4 d b = 4 x 22 = 98 mm

          fy 350

          1 dh = 1 hb = 347 = 303,62 310 mm (Dipakai 1 dh = 310 mm)

          ≈

          400 400

          5.3 Per encanaan Reinfor ced Concr ete Bear ing Kemungkinan retak horisontal retak vert ikal Kemungkinan A sh

          A sh + A n Nu w Vu

        Gambar 5.2 Rencana Tulangan Pada Balok Induk

          Perencanaan penulangan ujung balok induk pada tugas akhir ini didasarkan pada buku PCI DESAIGN HANDBOOK ( six edition ) section 6.9 yaitu tentang concrete brackets cobel. Karena dihitung dengan PCI maka satuan yang dipakai adalah :

        • Lb atau kips untuk satuan gaya
        • In untuk besaran panjang
        • Psi untuk fc’
        • Ksi untuk fy

          Hal ini karena berkaitan dengan koefisien – koefisien yang akan dipakai. Menurut SNI 03-2847-2002, bearing streght on plain concrete adalah :

          A 2 Vn = C (0,8.fc’.A ) 2.fc’ A r s

          1 φ φ ≤

          A 1 Dimana :

          = 0,7

          ∅ Nu     Vu  

          Sw

          Cr = = 1 ( bila tidak ada goyangan horizontal yang berarti )

           

          200

            A = luas permukaan beton yang mendukung beton

          2

          V = . 0,85 . fc’ . b

          

        n w

        φ φ

          Jika V > V hasil design bearing strength on plain concrete maka perlu tulangan

          u ∅ n

          end bearing. Penulangan end bearing berdasarkan analisa geser friksi. Prosedur yang digunakan PCI adalah sebagai berikut :

          1. Diasumsikan sudut retak adalah vertical = 0

          θ °

          2. Hitungan tulangan horizontal

          V N u u A A A t vf n = = + +

          . fy . . fy

          φ µ φ

          3. Sudut penanaman adalah 15 seperti yang disarankan pada refrensi

          °

          4. Nilai = 1,4 = 1,4 x 1 = 1,4

          µ λ

          5. Hitung tulangan sengkang

        • A A fy

          ( vf n )

          A =

          sh

          . f

          µ e ys 1000 .. . A .

          λ cr µ

          Dimana e =

          µ

        • A A fy

          ( vf n )

          A = Id . b

          cr

          B = lebar balok Id = panjang penanaman f ys = mutu baja sengkang A sh

          6. Nilai maksimum V n dari PCI design handbook table 6.7.1 untuk beton cor monolit

          2

          1000 . . A = 1,0 max = 3,4

          cr recommended e λ µ λµ

          Perhitungan reinforced concrete bearing U

          V = 170853 N = 38,33 kips N = 0,2 x V = 0,2 x 38,33 = 7,66 kips

          u u

          fy = 350 Mpa = 50723 Psi fc’= 40 Mpa = 5796 Psi

          Sehingga h = 70 = 27,54 in Dipakai pelat landasan : b = 40cm = 15,74 in, w = 15cm = 5,9in

          2 A = b.h = 15,74 x 27,54 = 433,47 in cr

          Cek V dari PCI Design Handbook table 6.7.1

          n max

          2

          2

          1000 A = 1000 (1,0) (433,47)/1000 = 433,47 kips

          λ cr

          Max V u = 0,85 (433,47) = 368,44 kips > V u = 38,33 kips…….OK 1000 A 1000 x 1 x 433 , 47 x 1 , 4 x

          1

          λ µ cr

          = = = 15,83 > 3,5 dipakai 3,5

          µ e

          V u 38 , 33 x 1000

          V

          38 ,

          33 u

          

        2

        A = = = 0,27 in v1 xfyx ,

          8 x 50723 x 3 ,

          5

          φ µ e

          , 71 x 1000

          N w

          2 A = = = 0,017 in n

          , 8 x 50723

          xfy φ

          2 A + A = 0,27 + 0,017 = 0,28 in vf n

          Panjang Id sesuai dengan table design Aid 11.2.8 Untuk = = 1 I = 9,6 =1,3 =1

          α A α B db α C α D AS perlu ,

          28 = = =0,68

          α E

          ,

          41 AS ada

          50723

          fy

          = 1,18 = 1,18 = 0,834

          α MT

          5796

          fc '

          Id = x x x x x 12 in

          α A α B α C α D α E α MT ≥

          = 1 x 1 x 9,6 x 1,3 x 1 x 0,68 x 0,834 = 7,07 in Jadi dipakai Id = 12 in 35 cm

          ≈

          2 A = Id . b = 12 x 15,74 = 188,8 in \ cr

          1000 A

          λ cr µ

          =

          µ e

        • ( A A ) fy vf n 1000 .

          1 . 188 , 8 . 1 ,

          4 = = 1094,75 > 3,5

          µ e

          28 , 017 ) 50723 Dipakai = 3,5

        • ( ,

          e µ

        • ( A A ) fy vf n

          A =

          sh

          . f

          µ e ys

          28 , 017 ) 50723 = 3 ,

        • ( ,

          5 . 50723 = 0,084

          2 BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan keseluruhan hasil analisa yang telah dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

          Everbright Hotel akibat beban gravitasi dan beban lateral ini sebagai berikut :

        • Dimensi balok melintang dengan jarak 8 m = 40/70,
        • Dimensi balok melintang dengan jarak 5 m = 30/40,
        • Dimensi balok melintang dengan jarak 4 m = 30/40,
        • Dimensi balok memanjang dengan jarak 6 m = 40/60,
        • Dimensi kolom = 70/70 dengan tulangan longitudinal 20D25, sengkang Ø12,
        • Penulangan Balok Pada lantai 1-10 : dimensi 40/70 dengan tulangan longitudinal D22, sengkang a.

          Ø10.

          b. dimensi 40/60 dan 30/40 dengan tulangan longitudinal D22, sengkang Ø10.

          2. Hasil pendimensian penulangan sambungan balok kolom dan konsol pendek :

        • Hasil perencanaan konsol pendek b = 400 mm, d = 400 mm, h = 450 mm, A h = 4 D13, Menggunakan pelat landasan S = 300x200
        • 2 mm dengan t = 15 mm Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

          126

            127

          • Perencanaan sambungan balok kolom precast menggunakan i d = 200 mm ( panjang penyaluran tulangan deform dalam tekan ), dan i dh = 310 mm ( panjang penyaluran kait standar dalam tarik ).
          • Perencanaan Reinforced Concrete Bearing menggunakan penulangan untuk A vf + A n = 2 D13, sedangkan untuk penulangan A sh = 4 D12.

            3. Perilaku respon struktur saat beban gravitasi dan beban lateral bekerja : Pada gedung Everbright Hotel ini telah mampu memikul beban gravitasi dan beban lateral yang direncanakan dan memenuhi konsep ”kolom kuat balok lemah” sehingga gedung mencapai daktalitas penuh dengan R = 8,3. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

            DAFTAR PUSTAKA Arsip dan Dokumen Proyek Pembangunan Gedung Everbright hotel Surabaya, CV.

            Trikarya Jaya. Budi Hastono, 2003, Analisa Str uktur dengan SAP 2000, UPN “ veteran” Jawa timur, Surabaya.

            Daniel L. Schodek, 1999, Str uktur , Diter jemahkan oleh Bambang Sur yoatmono, PT Eresco, Bandung. Dharma Astawa, Made., 2006, Modul Ajar Str uktur Beton I, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “veteran” Jawa timur, Surabaya. Dharma Astawa, Made., 2009, Bahan Ajar Teknik Gempa, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “veteran” Jawa timur, Surabaya. Dep PU., 2002 Tata Car a Per encanaan Ketaha nan Gempa untuk Bangunan Gedung, (SNI – 03 – 1726 – 2002), Yayasan LPMB, Bandung. Dep PU., 1987 Per atur an Pembebanan Indonesia, Direktorat Jendral Cipta Karya. Dep PU., 1971, Per atur an Beton Ber tulang Indonesia. Dep PU., 2002, Tata Cara Per hitungan str uktur Beton Untuk Bangunan Gedung, (SNI – 03 – 2847 – 2002), Yayasan LPMB, Bandung. Dep PU., 2002, Tata Car a Per hitungan Pembebanan Untuk Bangunan Rumah dan Gedung, (SNI – 03 – 1727 – 1989), Yayasan LPMB, Bandung. Edward G. Nawy, 2001, Beton Pr ategang Suatu Pendekatan Mendasar , Diterjemahkan oleh Bambang Suryoatmono, Erlangga, Jakarta. Gunawan T., Margaret S., 2000, Dik tat Teor i Soal dan Penyelesaian Per encanaan Str uktur Tahan Gempa J ilid 2, Delta Teknik Group, Jakarta. International Conference of Building Officials, 1997, Unifor m Building Code, Whittier, California. Key, David., 1988, Ear thquak e Design Pr actice For Buildings, Thomas Terford, London.

            Eka Agus Heriani., 2010, Modifikasi Gedung Palangkaraya Town Squar e Dengan Beton Pr acetak (pr ecast) Menggunaka n Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM), ITS, Surabaya.

            Muto, Kiyoshi., 1987, Analisa Per ancangan Gedung Tahan Gempa, Penerbit Erlangga, Jakarta. Purwono, Rahmat., 2005, Per encanaan Str uk tur Beton Ber tulang Tahan Gempa, ITS Press, Surabaya. Purwono, Rahmat., Tavio., 2007, Evaluasi Cepat Sistem Rangka Pemik ul Momen Tahan Gempa, cetakan pertama, ITS press, Surabaya. R. Park, T. Pauly, 1975, Reinfor ced Concr ete Str uctur es, A Wiley Interscience Publication, New Zealand. Rudy Gunawan, dengan petunjuk Morisco., 1988, Tabel Pr ofil Konstr uksi Baja, Kanisius, Yogyakarta. T. Pauly, M. J. N Priestly, Seismic Design of Reinfor ced Concr ete and Masonr y Building, A Wiley Interscience Publication, New Zealand. WC Vis & Kusuma, Gideon., 1993, Dasar -dasar Per encanaan Beton Bertulang, Erlangga, Jakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS KAPASITAS SAMBUNGAN BALOK – KOLOM DENGAN SISTEM PLATCON PRECAST 07 TERHADAP GAYA GEMPA BERDASARKAN SNI 1726 : 2012 (STUDI KASUS : RUSUNAWA WONOSARI, GUNUNG KIDUL, DIY)
0
22
16
PERENCANAAN ULANG PORTAL (BALOK-KOLOM) STRUKTUR GEDUNG HOTEL CITY HUB YOGYAKARTA MENGGUNAKAN SNI 03-2847-2002 DAN SNI 2847:2013
3
7
171
PERENCANAAN TYPE PONDASI TIANG PANCANG HOTEL RICH PALACE SURABAYA DENGAN ZONA GEMPA KUAT.
6
10
182
PERILAKU HUBUNGAN DINDING STRUKTUR DENGAN BALOK PADA STRUKTUR SISTEM GANDA GEDUNG D’SOYA HOTEL TUGAS AKHIR - PERILAKU HUBUNGAN DINDING STRUKTUR DENGAN BALOK PADA STRUKTUR SISTEM GANDA GEDUNG D’SOYA HOTEL
0
2
16
MODIFIKASI GEDUNG EVERBRIGHT HOTEL MENGGUNAKAN SISTEM PRECAST BALOK KOLOM PADA ZONA GEMPA KUAT TUGAS AKHIR Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik Sipil (S-1)
0
0
14
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Office Biliton Surabaya dengan Menggunakan Kolom Rectangular Concrete Filled Steel Tube (RCFT) dan Balok Octagonal Castellated - ITS Repository
0
8
288
MODIFIKASI STRUKTUR DERMAGA PLTU KOTABARU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PRACETAK (PRECAST)
0
1
263
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL DAFAM SURABAYA MENGGUNAKAN SISTEM GANDA DAN BALOK PRATEKAN PADA LANTAI ATAP
0
2
365
MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4
0
2
175
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PRIME BIZ HOTEL MENGGUNAKAN METODE BETON PRACETAK DENGAN SISTEM
0
1
274
DESAIN MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG APARTEMEN ELPIS RESIDENCE JAKARTA MENGGUNAKAN SISTEM GANDA DAN BALOK BETON PRATEGANG
0
0
300
DESAIN MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG STAR HOTEL DAN APARTEMEN LOMBOK BARAT DENGAN SISTEM GANDA DAN SEBAGIAN BALOK PRATEKAN
0
3
229
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG GOLDEN TULIP ESSENSIAL HOTEL DENGAN METODE BALOK BETON PRATEKAN POST-TENSION
0
0
268
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL POP PADANG MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA BRESING EKSENTRIK - ITS Repository
0
0
308
DESAIN MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG HARPER PASTEUR HOTEL BANDUNG MENGGUNAKAN SISTEM GANDA DENGAN METODE PRACETAK PADA BALOK DAN PELAT
0
0
342
Show more