Peranan pelajaran komuni pertama bagi peserta terhadap penghayatan ekaristi di lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten.

Gratis

1
50
137
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini mengambil adalah “Peranan Pelajaran Komuni

  

Pertama Bagi Peserta Terhadap Penghayatan Ekaristi di Lingkungan Santo

Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten “.

  Penulis memilih judul ini karena keprihatinan penulis dengan anak-anak usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan juga yang sudah kuliah yang suka di luar Gereja pada saat Perayaan Ekaristi hari Minggu. Dan lebih parahnya lagi anak-anak usia sekolah dasar tersebut bersama orang tua mereka. Padahal untuk usia di atas sekolah dasar, mereka pastinya sudah pernah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama. Mungkinkah pelajaran Komuni Pertama yang telah mereka dapatkan tidak memberikan dampak apa-apa. Begitu juga dengan penghayatan Ekaristi, merekapun tidak dapat merasakannya dan juga melakukannya.

  Komuni Pertama adalah istilah untuk penerimaan komuni yang pertama kalinya oleh seseorang yang telah dibaptis secara Katolik. Penghayatan Ekaristi adalah suatu cara, tindakan dan gaya hidup kita yang menggambarkan semangat kita akan Yesus Kristus yang dijiwai dan dipimpin oleh Roh Kudus di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan adanya pelajaran komuni pertama ini diharapkan pendamping memberikan pengetahuan yang memadahi tentang Perayaan Ekaristi dan bagaimana peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khidmat. Sehingga diharapkan untuk ke depannya peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penghayatan Ekaristi yang mendalam.

  Dalam Gereja Katolik pelajaran komuni pertama berperan penting bagi penghayatan ekaristi umat di dalam Perayaan Ekaristi. Pelajaran komuni pertama merupakan usaha memberikan kesaksian iman guru agama terhadap anak peserta pelajaran komuni pertama, yang bermaksud menghayati imannya, khususnya dalam rangka menyambut komuni untuk pertama kalinya di dalam Perayaan Ekaristi. Pelajaran komuni pertama membantu peserta dan juga umat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Di dalam pelajaran komuni pertama ini banyak hal yang diajarkan seperti tata perayaan ekaristi, susunan liturgi, roti hidup, kitab suci dan sebaginya. Gereja Katolik mewajibkan bagi setiap anak untuk mengikuti pelajaran komuni pertama sebelum menerima Roti dan Anggur untuk pertama kalinya. Tujuan Gereja mewajibkan pelajaran komuni pertama adalah peserta mendapatkan pengathuan tentang Gereja dan tentang agama Katolik secara lebih mendalam. Setelah itu diharapkan supaya semakin menghayatai Perayaan Ekaristi dengan berbagi hal yang diberikan lewat pelajaran komuni pertama.

  Penulis mengusulkan susunan acara rekoleksi untuk peserta pelajaran komuni pertama. Di dalamnya terdapat materi-materi tentang makna Perayaan Ekaristi, Tata Perayan Ekaristi, Sarana dan prasarana di dalam Perayaan Ekaristi. Di dalamnya sudah terdapat satuan pendampingan.

  

ABSTRACT

  The title of this thesis took was " Lessons role First Communion For

  

Participants Of the Eucharist at St. Francis Xavier Parish Environmental

Administrative Santa Maria Queen Bayat, Klaten ". The author chose this title

  because it concerns the author with children of primary school age, junior high school, high school and even college are like outside the church during Sunday Mass. And worse of children of primary school age are with their parents. Whereas for the age of elementary school, they certainly had never received First Communion lessons. Could the First Communion lessons they have learned not to affect anything. So also with living the Eucharist, they would not be able to feel it and also do so. First Communion is a term for the reception of communion first time by someone who has been baptized Catholic. Living the Eucharist is a way, action and lifestyle that we will describe the spirit of Jesus Christ, who inspired and led by the Holy Spirit in the Eucharist. With the lessons of this first communion expected memadahi companion gives knowledge about the Eucharist and how participants can follow the solemn Eucharistic celebration. So expect to future participants can follow the celebration of the Eucharist with a deep appreciation of the Eucharist.

  In the first communion of the Catholic Church plays an important lesson for the appreciation of the people in the Eucharistic celebration of the Eucharist. First Communion is a business lesson testify faith religious teachers of the children who participated in lessons first communion, which intend to live the faith, especially in order to receive communion for the first time in the Eucharist. First communion lessons help participants and also the people to change lives for the better. In the first communion this lesson taught many things like grammar Eucharist, liturgical arrangement, the bread of life, scripture and sebaginya. The Catholic Church requires that for each child to attend classes first before receiving communion bread and wine for the first time. The purpose of the Church requires first communion lesson is that participants get pengathuan of the Church and of the Catholic religion in more depth. After it is expected that more menghayatai Eucharist by sharing things that are given through the lesson first communion. The author proposes arrangement recollection event for participants lesson first communion. In it there are materials about the meaning of the Eucharist, Tata Perayan Eucharist, facilities and infrastructure in the Eucharist. In it is contained

  PERANAN PELAJARAN KOMUNI PERTAMA BAGI PESERTA TERHADAP PENGHAYATAN EKARISTI DI LINGKUNGAN SANTO FANSISCUS XAVERIUS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA RATU BAYAT, KLATEN S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Veronica Demitia Sandhy Parestu NIM: 101124009

  PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Karya skripsi ini dipersembahkan untuk Tuhan Yesus Kristus

  Bapak Ig. Dibya D.T dan Ibu Emiliana Sarwini, Agustina Dewi Kurnia Mahardika,

  Lambertus, K.D.N.S,

  

MOTTO

  “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyedikan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen”

  (Ams 6:6-8)

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini mengambil adalah “Peranan Pelajaran Komuni

  

Pertama bagi pesera Terhadap Penghayatan Ekaristi di Lingkungan Santo

Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat “. Penulis

  memilih judul ini karena keprihatinan penulis dengan anak-anak usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan juga yang sudah kuliah yang suka di luar Gereja pada saat Perayaan Ekaristi hari Minggu. Dan lebih parahnya lagi anak-anak usia sekolah dasar tersebut bersama orang tua mereka. Padahal untuk usia di atas sekolah dasar, mereka pastinya sudah pernah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama. Mungkinkah pelajaran Komuni Pertama yang telah mereka dapatkan tidak memberikan dampak apa-apa. Begitu juga dengan penghayatan Ekaristi, merekapun tidak dapat merasakannya dan juga melakukannya.

  Komuni Pertama adalah istilah untuk penerimaan komuni yang pertama kalinya oleh seseorang yang telah dibaptis secara Katolik. Penghayatan Ekaristi adalah suatu cara, tindakan dan gaya hidup kita yang menggambarkan semangat kita akan Yesus Kristus yang dijiwai dan dipimpin oleh Roh Kudus di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan adanya pelajaran komuni pertama ini diharapkan pendamping memberikan pengetahuan yang memadahi tentang Perayaan Ekaristi dan bagaimana peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khidmat. Sehingga diharapkan untuk ke depannya peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penghayatan Ekaristi yang mendalam.

  Dalam Gereja Katolik pelajaran komuni pertama berperan penting bagi penghayatan ekaristi umat di dalam Perayaan Ekaristi. Pelajaran komuni pertama merupakan usaha memberikan kesaksian iman guru agama terhadap anak peserta pelajaran komuni pertama, yang bermaksud menghayati imannya, khususnya dalam rangka menyambut komuni untuk pertama kalinya di dalam Perayaan Ekaristi. Pelajaran komuni pertama membantu peserta dan juga umat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Di dalam pelajaran komuni pertama ini banyak hal yang diajarkan seperti tata perayaan ekaristi, susunan liturgi, roti hidup, kitab suci dan sebaginya. Gereja Katolik mewajibkan bagi setiap anak untuk mengikuti pelajaran komuni pertama sebelum menerima Roti dan Anggur untuk pertama kalinya. Tujuan Gereja mewajibkan pelajaran komuni pertama adalah peserta mendapatkan pengathuan tentang Gereja dan tentang agama Katolik secara lebih mendalam. Setelah itu diharapkan supaya semakin menghayatai Perayaan Ekaristi dengan berbagi hal yang diberikan lewat pelajaran komuni pertama.

  Penulis mengusulkan susunan acara rekoleksi untuk peserta pelajaran komuni pertama. Di dalamnya terdapat materi-materi tentang makna Perayaan Ekaristi, Tata Perayan Ekaristi, Sarana dan prasarana di dalam Perayaan Ekaristi. Di dalamnya sudah terdapat satuan pendampingan.

  

ABSTRACT

  The title of this thesis took was "The Role of First Communion Lesson Of Living the Eucharist at St. Francis Xavier Parish Environmental Administrative Santa Maria Queen Bayat". The author chose this title because it concerns the author with children of primary school age, junior high school, high school and even college are like outside the church during Sunday Mass. And worse of children of primary school age are with their parents. Whereas for the age of elementary school, they certainly had never received First Communion lessons. Could the First Communion lessons they have learned not to affect anything. So also with living the Eucharist, they would not be able to feel it and also do so.

  First Communion is a term for the reception of communion first time by someone who has been baptized Catholic. Living the Eucharist is a way, action and lifestyle that we will describe the spirit of Jesus Christ, who inspired and led by the Holy Spirit in the Eucharist. With the lessons of this first communion expected memadahi companion gives knowledge about the Eucharist and how participants can follow the solemn Eucharistic celebration. So expect to future participants can follow the celebration of the Eucharist with a deep appreciation of the Eucharist.

  In the first communion of the Catholic Church plays an important lesson for the appreciation of the people in the Eucharistic celebration of the Eucharist. First Communion is a business lesson testify faith religious teachers of the children who participated in lessons first communion, which intend to live the faith, especially in order to receive communion for the first time in the Eucharist. First communion lessons help participants and also the people to change lives for the better. In the first communion this lesson taught many things like grammar Eucharist, liturgical arrangement, the bread of life, scripture and sebaginya. The Catholic Church requires that for each child to attend classes first before receiving communion bread and wine for the first time. The purpose of the Church requires first communion lesson is that participants get pengathuan of the Church and of the Catholic religion in more depth. After it is expected that more menghayatai Eucharist by sharing things that are given through the lesson first communion. The author proposes arrangement recollection event for participants lesson first communion. In it there are materials about the meaning of the Eucharist, Tata Perayan Eucharist, facilities and infrastructure in the Eucharist. In it is contained assistance unit.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Peranan Pelajaran Komuni Pertama Terhadap Penghayatan Ekaristi di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius, Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat “. Penyusunan skripsi ini digunakan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Penulis menyadari banyak hal yang masih kurang dalam penyusunan skripsi ini, baik dari segi tatabahasa ataupun dalam pembahasan materi karena keterbatasan penulis. Kritik dan saran yang membangun diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Dr. C. Putranto, SJ selaku dosen pembimbing utama, yang dengan sabar telah memberikan perhatian, meluangkan waktu dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberikan masukan-masukan dan kritikan-kritikan sehingga penulis dapat lebih termotivasi dan lebih semangat dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal sampai akhir penulisan skripsi.

  2. Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji, yang selalu mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

  3. Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum., selaku dosen penguji, yang terus memberikan semangat, mendampingi, dan memberikan masukan kepada penulis.

  4. Segenap Staf Dosen Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar di prodi IPPAK.

  5. Segenap Staf Sekretariat dan Perpustakaan Prodi IPPAK, dan seluruh karyawan PUSKAT yang telah memberi dukungan dan pelayanan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  6. Bapak Ig Dibya Dwi Tyasnanta dan Ibu Emiliana Sarwini yang memberikan semangat dan dukungan moral, material, dan spiritual selama penulis menempuh studi di Yogyakarta.

  7. Teman-teman seperjuangan angkatan 2010, atas persaudaraan, perhatian, dukungan dan perjuangan selama masa perkuliahan.

  8. Umat lingkungan Santo Fransiscus Xaverius, atas waktu, perhatian, dan kerjasamanya, sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dengan baik.

  9. Untuk semua orang yang belum penulis sebutkan namanya satu persatu, yang telah membantu dalam bentuk semangat.

  Saran dan kritik yang membangun, penulis harapkan guna melengkapi segala kekurangan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan berkontribusi dalam upaya meningkatkan penghayatan ekaristi melalui pelajaran komuni pertama.

  Yogyakarta, 5 Mei 2015 Penulis

  Veronica Demitia Sandhy Parestu

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................... vii

  ABSTRAK ..................................................................................................... viii

  

ABSTRACT ..................................................................................................... ix

  KATA PENGANTAR ................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN ............................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................

  1 A. Latar Belakang .............................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ........................................................................

  4 C. Tujuan Penulisan ..........................................................................

  4 D. Manfaat Penulisan ........................................................................

  5 E. Metode Penulisan .........................................................................

  5 F. Sistematika Penulisan ...................................................................

  6 BAB II KOMUNI PERTAMA ......................................................................

  9 A. Komuni Pertama ...........................................................................

  9 1. Makna Komuni Pertama ..................................................

  8 2. Pelajaran Komuni Pertama ...............................................

  11 3. Unsur – Unsur Pelajaran Komuni Pertama ......................

  14 a. Pendamping Komuni Pertama atau Guru Agama ......

  14

  b. Buku Pegangan dalam Proses Pendampingan Komuni Pertama .........................................................

  16 c. Peserta Pelajaran Komuni Pertama ............................

  18 B. Penghayatan Ekaristi ....................................................................

  18

  1. Makna Penghayatan Ekaristi ............................................

  37

  41

  b. Jumlah Umat Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius

  41

  a. Letak Geografis Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten ..............................................................

  40

  4. Perkembangan Umat Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten................................................................................

  40

  3. Jumlah Umat Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten.....................................................................

  39

  2. Letak Geografis Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten ....................................................................

  37

  1. Sejarah Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten ...............................................................................

  37 A. Gambaran Umum Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten .................

  18

  35 BAB III PERANAN PELAJARAN KOMUNI PERTAMA TERHADAP PENGHAYATA EKARISTI DI LINGKUNGAN SANTO FRANSISCUS XAVERIUS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA RATU BAYAT, KLATEN ..................................................

  31 d. Ritus Penutup .............................................................

  29 c. Liturgi Ekaristi ...........................................................

  27 b. Liturgi Sabda ..............................................................

  27 a. Ritus Pembuka ...........................................................

  3. Bagian-bagian dalam Perayaan Ekaristi dan cara menghayatinya ..................................................................

  25

  24 e. Makna Nyanyian dalam Perayaan Ekaristi ................

  23 d. Saat Hening pada saat Perayaan Ekaristi ...................

  22 c. Tata Gerak dan Sikap Tubuh ......................................

  20 b. Peran dan Tugas Imam ...............................................

  20 a. Diri kita ......................................................................

  2. Faktor – faktor yang mempengaruhi Penghayatan Ekaristi .............................................................................

  c. Kehidupan Menggereja Umat Lingkungan Santo

  Penghayatan Ekaristi di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten .................

  42 1. Tujuan Penelitian ..............................................................

  42 2. Tempat dan Waktu Penelitian ..........................................

  42 3. Metode Penelitian .............................................................

  43 4. Responden Penelitian .......................................................

  43 5. Istrumen Penelitian ...........................................................

  44 a. Skala Likert ................................................................

  44 b. Wawancara .................................................................

  45 6. Variabel Penelitian ...........................................................

  45 C. HASIL PENELITIAN .................................................................

  47

  1. Hasil Penelitian Variabel I (Sudah Komuni) dan Pembahasannya ......................................................................

  47

  a. Pembahasan Tabel Pertama Variabel pertama tentang Penghayatan Ekaristi bagi umat yang sudah menerima Sakramen Ekaristi ......................................

  50

  2. Hasil Penelitian Variabel I (Belum Komuni ) dan Pembahasannya ......................................................................

  58

  a. Pembahasan Tabel Kedua Variabel pertama tentang Penghayatan Ekaristi bagi umat yang belum menerima Sakramen Ekaristi ......................................

  60 3. Hasil Wawancara Variabel II .................................................

  67 4. Kesimpulan Penelitian ............................................................

  70 BAB IV KESIMPULAN, SARAN DAN REFLEKSI PASTORAL .............

  75 A. Kesimpulan .........................................................................................

  75 B. Saran -saran.........................................................................................

  76 C. Refleksi Pastoral..................................................................................

  77 BAB V USULAN PROGRAM ......................................................................

  82 1. Latar belakang ....................................................................................

  82 2. Alasan pelaksanaan program ..............................................................

  82 3. Tujuan pelaksanaan usulan program ..................................................

  83 4. Rundown rekoleksi .............................................................................

  84 5. Satuan pendampingan .........................................................................

  89

  DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 111 LAMPIRAN ................................................................................................... 112 Lampiran 1 : Instrumen Penelitian ..................................................... (1) Lampiran 2 : Instrumen yang telah diisi ............................................. (2) Lampiran 3 : Panduan Wawancara ..................................................... (3) Lampiran 4 : Hasil Wawancara .......................................................... (4) Lampiran 5 : Rundown Rekoleksi .................................................... (5)

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan

  kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departmen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, h. 8.

  B. Singkatan Dokumen Gereja

  SC : Sacrosanctum Concilium, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963

  C. Singkatan Lain

  DSA : Doa Syukur Agung TPE : Tata Perayaan Ekaristi KHK : Kitab Hukum Kanonik Komkat KAS : Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang PUMR : Pedoman Umum Misale Romawi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perayaan Ekaristi merupakan ungkapan iman Gereja. Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, umat disatukan dalam Kristus. Semua umat diajak untuk terlibat

  di dalamnya. Sebagaimana Gereja tak bisa lepas dari dunia, begitu juga Ekaristi tidak bisa terlepas dari dunia dan peran serta umat di dalamnya.

  Bagi kebanyakan anak-anak pergi ke Gereja itu hanya sebagai kewajiban atau semata-mata hanya mentaati perintah orang tua mereka saja. Anak-anak belum memiliki pemahaman bahwa pergi ke Gereja itu suatu kebutuhan yang mendasar untuk perkembangan iman mereka. Selain itu, dalam diri anak-anak tersebut juga belum tertanam sikap perlu untuk mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi. Mereka merasa belum mampu atau takut untuk berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Mereka bahkan senang duduk di barisan paling belakang dan juga berada di halaman Gereja untuk bercerita dengan teman-teman yang lain. Ini merupakan suatu keprihatinan yang besar bagi Gereja. Anak-anak yang menjadi harapan dan tumpuan hidup Gereja ini perlu diarahkan serta didampingi untuk dapat menghayati Perayaan Ekaristi sejak dini sebelum terlambat, karena merekalah generasi penerus Gereja di masa mendatang.

  Anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga katolik, pada umumnya dibaptis ketika masih bayi. Melalui baptisan, yakni pencurahan air Baptis, Tuhan sedang membersihan dan mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita sebagai anak-anak Allah (Martasudjita, 2002:60). Ini merupakan tanggungjawab dari setiap orang tua Katolik untuk membaptiskan anak-anaknya ketika masih bayi. Iman anak mereka selanjutnya harus dibina terus menerus dan jangan dibiarkan begitu saja, supaya anak tersebut semakin bertanggungjawab terhadap imannya. Selain mengajak ke Gereja setiap hari Minggu, orang tua juga harus mendampingi anaknya terus-menerus untuk mempersiapkan lebih matang penghayatan iman anak mereka dari segi-segi yang lain, misalnya dengan mengajari berdoa, menyambut komuni dan menerima Sakramen Krisma.

  Mengajak anak-anak untuk lebih menghayati dan menjaga sikapnya pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi bukanlah hal yang mudah, namun juga bukanlah hal yang sulit untuk diusahakan. Kesulitan yang ditemui oleh para orang tua adalah anak-anak mereka lebih memilih duduk bersama dengan teman-teman ketika mengikuti Perayaan Ekaristsi di Gereja.

  Perayaan Ekaristi mengenangkan Allah yang sedang mempersatukan kita dengan peristiwa penebusan Yesus Kristus dalam bentuk simbol yang amat istimewa, yakni Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur (Martasudjita, 2002:60). Antusiasme anak untuk benar-benar menghayati Perayaan Ekaristi dan menerapkannya dalam sikap ketika mengikuti Misa/Perayaan Ekaristi sangatlah rendah. Langkah awal yang dapat diusahakan supaya anak dapat menghayati Perayaan Ekaristi yakni dengan cara memperkenalkan Perayaan Ekaristi pada anak sejak dini. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengajak anak menghayati Perayaan Ekaristi adalah dengan pendampingan komuni pertama di Gereja. Setiap tahun Gereja mengadakan program pendampingan calon penerima Komuni Pertama.

  Seperti yang telah diungkapkan di atas, salah satu cara memperkenalkan Perayaan Ekaristi adalah dengan mendaftarkan anak untuk ikut pelajaran Komuni Pertama. Biasanya peserta Komuni Pertama adalah anak-anak yang telah dibaptis sejak bayi sehingga mereka dari kecil tidak mengikuti persiapan katekumenat.

  Pelajaran komuni Pertama ini juga berfungsi sebagai katekumenat untuk anak- anak yang sudah dibaptis sejak bayi. Gereja menetapkan usia minimal agar bisa mengikuti Pelajaran Komuni Pertama itu adalah usia sembilan tahun atau sudah duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Karena pada umur tersebut anak telah memiliki kepekaan terhadap kehidupan bersama dengan orang lain serta masa bertumbuh dalam sikap dan tindakan dalam hubungannya dengan orang lain.

  Melihat realitas ini, penulis akan membahas peranan pelajaran Komuni Pertama. Yang melihat dari latar belakang bahwa anak-anak kurang menghayatai Perayaan Ekaristi, padahal mereka sudah mengikuti pelajaran Komuni Pertama.

  Ini menimbulkan pertanyaan, apakah Pelajaran Komuni Pertama itu mempunyai peranan untuk lebih menghayati Perayaan Ekaristi dan bahkan dalam penghayatan Iman selanjutnya? Ini untuk menangkal suatu argumentasi, bahwa mengikuti Pelajaran Komuni Pertama itu hanyalah untuk formalitas saja dan syarat untuk menjadi orang katolik. Argumentasi seperti ini harus diluruskan supaya Perayaan Ekaristi menjadi bagian dari hidup orang katolik. Dengan kata lain, bagaimanapun pelajaran Komuni Pertama memainkan peran yang sangat strategis bagi penghayatan Iman yang lebih lanjut. Kemudian, faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi penghayatan dalam Perayaan Ekaristi, dan apakah pengaruhnya itu langsung atau tidak langsung.

  Berdasarkan gambaran situasi anak-anak dalam penghayatan ekaristi di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, maka penulis tertarik untuk memberi judul karya ilmiah ini “ PERANAN PELAJARAN KOMUNI PERTAMA BAGI PESERTA TERHADAP PENGHAYATAN EKARISTI DI LINGKUNGAN SANTO FRANSISCUS

  XAVERIUS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA RATU, BAYAT, KLATEN”.

  B. Rumusan Masalah

  Setelah melihat permasalaahan di atas yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan pada beberapa hal, antara lain :

  1. Apa saja yang menjadi unsur-unsur dalam pelajaran komuni Pertama?

  2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penghayatan Ekaristi di dalam Perayaan Ekaristi?

  3. Adakah peranan unsur-unsur dalam pelajaran Komuni Pertama terhadap unsur-unsur Penghayatan Ekaristi di dalam Misa Kudus ?

  C. Tujuan Penulisan

  Melihat rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisannya dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Memaparkan unsur-unsur dalam Pelajaran Komuni Pertama.

  2. Memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi penghayatan Ekaristi dalam

  3. Mengetahui peranan unsur-unsur pelajaran Komuni Pertama bagi peserta terhadap penghayatan Ekaristi di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat.

  D. Manfaat Penulisan

  Manfaat dari penelitian yang berjudul “Peranan Pelajaran Komuni Pertama terhadap sikap pada saat Perayaan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat ” adalah sebagai berikut :

  1. Supaya penulis memiliki pengalaman, pengetahuan, dan wawasan baru baik dalam Pelajaran Komuni Pertama maupun penghayatan Ekaristi dalam Misa Kudus.

  2. Memberikan sumbangan pengetahuan tentang pentingnya Peranan Pelajaran Komuni Pertama bagi umat di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat.

  3. Memberikan sumbangan saran untuk para Katekis untuk memberikan Pelajaran Komuni Pertama yang inovatif dan kreatif supaya meningkatkan penghayatan Ekaristi bagi peserta.

  E. Metode Penulisan

  Metode Penulisan yang digunakan adalah deskriptif analitis. Penelitian ini bertujuan untuk membuat menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta serta sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 1983:75). Melalui metode ini penulis akan memaparkan, menguraikan serta menganalisis keadaan peserta pelajaran komuni pertama di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten yang berkaitan dengan peranan pelajaran Komuni Pertama terhadap penghayatan Ekaristi. Data yang dibutuhkan dikumpulkan menggunakan angket berskala yang jawabannya bersifat tertutup. Data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis oleh penulis demi terwujudnya penghayatan ekaristi.

F. Sistematika Penulisan

  Sebagai sebuah gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas di dalam penulisan skripsi ini, berikut adalah sistematika penulisan ini

  BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan ini berisi gambaran umum tentang isi skripsi yang meliputi : latar

  belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, menfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.

  BAB II KOMUNI PERTAMA DAN PENGHAYATAN EKARISTI Bagian ini menguraikan dua hal yaitu yang pertama komuni pertama dan yang

  kedua penghayatan ekaristi. Bagian yang pertama berisi membahas tentang makna Komuni Pertama, pelajaran komuni pertama dan unsur-unsur dalam pelajaran komuni pertama.

  Bagian yang kedua berisi membahas tentang makna penghayatan Ekaristi, faktor-faktor yang mempengaruhi penghayatan Ekaristi dan cara-cara menghayati Ekaristi.

  

BAB III PERANAN PELAJARAN KOMUNI PERTAMA BAGI PESERTA

TERHADAP PENGHAYATAN EKARISTI DI LINGKUNGAN SANTO

FRANSISCUS XAVERIUS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA

RATU BAYAT KLATEN Bab ini terdiri dari dua bagian yaitu gambaran umum Lingkungan Santo

  Penelitian mengenai peranan pelajaran komuni pertama bagi peserta terhadap penghayatan ekaristi. Di dalam bagian yang pertama terdiri dari sejarah Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Letak Geografis paroki, jumlah umat, dan perkembangan umat di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius. Di dalam perkembangan umat di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius sendiri masih ada tiga hal yang dibahas yaitu, letak geografis lingkungan Santo Fransiscus Xaverius, jumlah umat lingkungan, dan kehidupan menggereja umat di lingkungan Santo Fransiscus Xaverius.

  Bagian yang kedua berisi tentang penelitian peranan Komuni Pertama bagi Peserta di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius yang terdiri dari tujuan penelitian, tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, responden penelitian, instrumen penelitian dan variabel penelitian.

  Bagian ketiga berisi hasil penelitian variabel pertama yang sudah komuni dan juga yang belum komuni. Kemudian, juga ada hasil wawancara untuk variabel kedua.

BAB IV KESIMPULAN, SARAN DAN REFLEKSI PASTORAL Di dalam bab ini, penulis akan memaparkan kesimpulan dari skripsi yang penulis

  buat, refleksi pastoral dan juga memaparkan saran untuk pendampingan komuni pertama di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten.

BAB V USULAN PROGRAM Bab ini berisikan tentng usulan program yang sebaiknya dilakukan untuk

  meningkatkan penghayatan Ekaristi pada saat Perayaan Ekaristi dan di kehidupan sehari-hari.

  9 BAB II KOMUNI PERTAMA

  Di dalam Bab II ini penulis akan membahas tentang Komuni Pertama dan penghayatan Ekaristi. Bab II ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Komuni Pertama dan penghayatan Ekaristi. Karena kedua variabel ini saling berkaitan. Dengan adanya pelajaran komuni pertama ini diharapkan pendamping memberikan pengetahuan yang memadahi tentang Perayaan Ekaristi dan bagaimana peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khidmat. Sehingga diharapkan untuk ke depannya peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penghayatan Ekaristi yang mendalam. Pada bagian pertama di dalamnya terdapat makna komuni pertama, pelajaran komuni pertama, dan unsur-unsur dalam pelajaran komuni pertama. Dan kemudian di bagian kedua akan dibahas tentang penghayatan Ekaristi yang di dalamnya terdapat makna penghayatan ekaristi dan faktor-faktor mempengaruhi penghayatan Ekaristi.

A. KOMUNI PERTAMA

  1. Makna Komuni Pertama Komuni pertama diberikan kepada orang dewasa pada Misa Kudus pertama sesudah Pembaptisan. Bagi anak-anak, Komuni Pertama merupakan semacam tahap inisiasi, saat anak yang sudah lama dibaptis, untuk pertama kali dan dengan meriahnya diperbolehkan untuk mengambil bagian secara penuh dan sakramentali dalam Perayaan Ekaristi (Heuken,2005:19). Kemudian dapat diambil

  10

  pertama kalinya yakni roti dan anggur yang telah dikonsekrasi oleh seorang Imam atau Pastor. Menurut peraturan Gereja, Komuni Pertama untuk anak-anak hanya boleh diterima oleh anak-anak yang sudah dibaptis dan dipersiapkan untuk menyambut atau menerima Komuni Kudus. Biasanya dilaksanakan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dan jatuh pada bulan Juni. Di dalam Perayaan Ekaristi, komuni menjadi bagian terpenting di mana umat berpartisipasi dalam peristiwa karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang dikenangkan dan didoakan di dalam Doa Syukur Agung (DSA).

  Istilah komuni sendiri adalah penerimaan roti dan anggur untuk umat di dalam Perayaan Ekaristi sesudah doa berkat atas roti dan piala oleh Imam atau pemimpin perjamuan korban. Di dalam Perayaan Ekaristi, Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur. Makna komuni yang lain adalah partisipasi umat beriman secara sakramental (dalam rupa roti dan atau anggur) dalam peristiwa karya penebusan Kristus yang tadi dikenangkan atau dihadirkan pada saat DSA yang diucapkan Imam atau diamini oleh umat (Martasudjita, 2005:397). Kehadiran nyata Kristus itu menjadi sumber kehidupan Gereja. Umat berpartisipasi penuh dalam Ekaristi dengan menyambut komuni. Tanpa menerima komuni, partisipasi umat belum terungkap secara sakramental. Ekaristi tidak hanya menghubungkan masing-masing orang secara pribadi dengan Allah, tetapi juga menjadi tanda ikatan antar umat sendiri.

  Untuk dapat menerima komuni, anak-anak harus sudah dapat menggunakan akal budinya dan mempunyai cukup pengertian dan telah dipersiapkan dengan

  11

  menyambut komuni dengan iman dan hormat (KHK kan. 914). Sebelum menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya atau yang biasa disebut dengan Komuni Pertama, anak-anak harus selalu didahului dengan pengakuan dosa dan absolusi sakramen. Ini dimaksudkan agar anak-anak itu pada saat menerima Tubuh dan Darah Kristus mereka bersih dari dosa dan siap dengan budi dan hati untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.

  2. Pelajaran Komuni Pertama Persiapan Komuni Pertama adalah masa yang secara khusus untuk membina para calon Komuni Pertama selama beberapa bulan sambil melibatkan orang tua serta seluruh keluarga melalui katekese, latihan dan praktek liturgi beberapa pokok iman dijelaskan secara sistematis dan dirayakan bersama-sama sebelum penerimaan Komuni Pertama (Muller, 2003:7). Dapat diambil kesimpulan Pelajaran Komuni Pertama adalah usaha memberikan kesaksian iman guru agama terhadap anak peserta pelajaran komuni pertama, yang bermaksud menghayati imannya, khususnya dalam rangka menyambut komuni untuk pertama kalinya di dalam Perayaan Ekaristi.

  Sebagai pendidikan iman dan pendidikan nilai, persiapan komuni pertama bertujuan agar anak-anak lebih mengerti dan menghayati Komuni Pertama untuk selanjutnya dapat menerapkan dalam perilaku dan sikapnya sehari-hari. Persiapan Komuni Pertama berfungsi sebagai pengantar. Mempersiapkan kehidupan Kristiani, menginisiasikan dirinya sebagai anggota Gereja, agar anak mengerti bagaimana menjadi orang Katolik yang baik. Pendidikan iman dalam persiapan

  12

  sudah lama dilakukan dalam keluarga sejak awal. Berkaitan dengan tujuan persiapan komuni pertama sebagai persiapan penerimaan Ekaristi supaya akhirnya anak secara sadar mengikuti dan ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi (Sumarno 2009:42).

  Arah yang dituju adalah anak-anak siap untuk menerima Komuni. Dan juga supaya dengan pelajaran Komuni pertama tersebut dapat membantu dalam penghayatan Ekaristi. Di dalam proses ini guru agama yang memiliki peran sangat penting. Karena, guru agama dipercaya oleh Gereja untuk membantu anak-anak mempersiapkan untuk menyambut komuni pertama secara sistematis. Persiapan yang sistematis itu harus mempunyai keterampilan dan kemampuan guru agama untuk dapat mengolah lebih lanjut bahan-bahan yang sudah ada, supaya dapat disampaikan kepada peserta dengan lebih sederhana dan dapat dipahami oleh peserta dengan penuh tanggungjawab.

  Peserta pelajaran komuni pertama kurang lebih berumur 9-10 tahun . Pada umur ini, anak-anak mulai keluar dari lingkungan rumah, lebih menjalin relasi dengan teman sebaya. Pada umur ini Gereja mempunyai pendapat bahwa anak sudah mampu untuk mendapat, menangkap dan mengolah pendidikan iman yang diberikan secara khusus. Tahap selanjutnya peserta diharapkan supaya mampu menghayati kebersamaannya dalam merayakan Ekaristi sebagai peristiwa bersama untuk merayakan cinta kasih yang dianugerahkan oleh Yesus Kristus. Pelajaran komuni pertama pembinaan iman yang penting bagi anak untuk lebih memperdalam pengetahuan iman yang mereka ketahui sebelum menerima Sakramen Ekaristi.

  13 Di dalam setiap pertemuan guru agama berperan sebagai pendamping dan juga teman yang dapat bersahabat dengan peserta pelajaran komuni pertama.

  Sehingga diharapkan peserta dapat dengan mudah menerima pengajaran yang diberikan oleh pendamping. Sebagai seorang pendamping juga harus mempunyai wawasan iman yang luas mengenai pokok-pokok ajaran iman Gereja yang akan diberikan sebagai dasar pengetahuan megenai Gereja Katolik. Pokok-pokok ajaran iman Gereja haruslah diberikan dengan sederhana supaya anak-anak dapat memahaminya dengan mudah. Pendamping adalah seseorang yang beriman dan membantu anak-anak untuk semakin menghayati imannya, mendorong anak-anak untuk mewujudkan suasana doa dalam setiap acara pertemuan. Maka, doa menjadi unsur pokok dalam setiap pertemuan. Doa adalah wujud syukur kita sebagai manusia dari semua anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia.

  Di dalam pelajaran komuni pertama selain seorang pendamping yang mempunyai peran, ada yang lebih penting lagi yaitu peran orang tua. Orang tua adalah pendamping pertama yang dikenal oleh peserta. Di sini orang tua sebagai seorang Katolik wajib mendidik anak-anaknya menjadi Katolik juga, seperti janji perkawinan yang telah diucapkaan sewaktu menerima sakramen perkawinan. Maka dari itu orang tua wajib memberikan motivasi dan mendorong anaknya untuk mendaftar ikut pelajaran komuni pertama dan juga memberi semangat supaya rajin berangkat pertemuan, rajin mengikuti kegiatan lingkungan, dan kegiatan Gereja. Karena itu peran orang tua sangatlah penting di dalam proses anak mengikuti pelajaran komuni pertama.

  14

  3. Unsur-unsur dalam Pelajaran Komuni Pertama Untuk mendukung pelajaran Komuni Pertama, dibutuhkan tenaga-tenaga katekis yang siap untuk memberikan katekese kepada para calon penerima sakramen. Mereka akan mengajar, melatih dan meneguhkan untuk menjadi Katolik. Katekis sendiri juga diharapkan memiliki bekal yang cukup agar mampu mendampingi para calon dengan kesungguhan hati. Yang dimaksudkan mendampingi ialah mengajar, meneguhkan, dan bahkan menjadi saksi serta teladan bagi para calon. Dibutuhkan juga sarana-sarana yang menunjang, diantaranya adalah buku pegangan mengajar. Dengan buku yang ada, diharapkan katekis bisa terbantu baik dalam wawasan pengajaran, metode, maupun isi agar pendampingan menjadi optimal. Dan juga dibutuhkan waktu dan kesetiaan para calon untuk mengikuti pendampingan. Waktu menjadi sarana pengendapan sedangkan kesetiaan calon untuk hadir akan menjadi pertanda keseriusan tersebut untuk menjadi Katolik (Komkat KAS, 2012:11). Dapat diambil kesimpulan bahwa unsur-unsur dalam pelajaran komuni pertama adalah hal-hal yang bersangkutan dengan komuni pertama dan Ekaristi yang dapat mempengaruhi daya tangkap peserta komuni pertama supaya dapat memahami, mengetahui dan menerapkan semua hal yang telah dipelajari dan diberikan oleh guru agama atau pendamping yang berkaitan dengan penghayatan ekaristi.

  a. Pendamping Komuni Pertama atau Guru Agama Di dalam buku “Katekese Inisiasi” yang diterbitkan oleh Komisi Kateketik

  Keuskupan Agung Semarang bahwa pendamping komuni pertama atau yang biasa

  15

  pertama. Pendamping pelajaran komuni pertama ini adalah seorang beriman yang dipercaya oleh Gereja untuk membantu anak-anak mempersiapkan menyambut komuni pertama secara matang dan terorganisir. Persiapan yang matang dan terorganisir ini memerlukan keterampilan dan kemampuan seorang pendamping untuk mengolah lebih lanjut bahan-bahan, sehingga akan terwujud dalam hal penyampaian materi secara sederhana dan mudah dimengerti oleh peserta.

  Seorang pendamping yang bertanggungjawab haruslah mengetahui nilai-nilai strategis dari peserta, supaya dapat masuk dalam pola pikir peserta dengan mudah.

  Seperti dalam hal umur, peserta lebih peka dengan kehidupan bersama dengan teman sebayanya. Pertumbuhan sikap dan tindak dalam hubungannya dengan teman sebaya, tampak lebih dominan. Pendamping dapat membantu peserta untuk mengembangkan pengertian penghayatan tentang cinta kasih yang dapat dilihat dalam kebersamaan dengan teman sebaya. Selanjutnya diharapkan bahwa peserta mampu untuk menghayatai kebersamaannya dalam merayakan Ekaristi itu sebagai peristiwa bersama untuk merayakan cinta kasih yang dihadiahkan oleh Yesus Kristus.

  Seorang pendamping komuni pertama yang kreatif adalah harus dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Dengan cara pada saat memberikan pengajaran dapat disisipkan ayat-ayat Kitab Suci dan juga maknanya. Ini diharapkan supaya peserta mengenal, mengetahui isinya dan juga tahu bagaimana membuka Kitab Suci yang benar sesuai dengan bab dan ayat. Pendamping juga dapat menggunakan berbagai macam metode yang ada dalam mengajar. Seperti bercerita, ceramah, permainan, kuis, lomba cerdas cermat, menggunakan alat

  16

  peraga, menggunakan LCD dan masih banyak yang lain. Dengan berbagai macam metode yang digunakan, peserta tidak mudah bosan dengan materi yang diberikan karena selalu baru dan juga sesuai dengan semangatnya peserta.

  Seorang pendamping mempunyai tugas untuk mempersiapkan dan mendampingi peserta untuk menerima komuni pertama. Setiap peserta pastilah mempunyai orang tua masing-masing, di sini orang tua juga mempunyai peran untuk mendampingi peserta pada saat di rumah. Maka, kerjasama antara pendamping atau guru agama, orang tua dan, peserta sangatlah diperlukan. Misalnya, apabila peserta diberikan tugas oleh pendamping untuk menghafalkan doa orang tua dengan setia membantu untuk mempersiapkannya. Apabila peserta diberi tugas untuk berdoa bersama keluarga, orang tua juga harus mendukung dengan cara mengajak anak-anaknya untuk berdoa bersama. Orang tua juga harus mendorong dan memberi semangat anaknya untuk pergi ke Gereja pada hari Minggu, untuk mengikuti kegiatan di lingkungan bila perlu orang tuanya juga ikut aktif dalam kegiatan di lingkungan tersebut. Usaha-usaha ini semua untuk membantu pendamping komuni pertama mencapai tujuan bersama yaitu mengantarkan peserta untuk menerima komuni pertama dan juga di dalam diri peserta tertanam rasa penghayatan Ekaristi.

  b. Buku Pegangan dalam Proses Pendampingan Komuni Pertama Di dalam setiap pertemuan pastilah menggunakan berbagai buku pegangan yang dipaikai oleh pendamping maupun peserta komuni pertama. Buku pegangan digunakan untuk membantu peserta dan pendamping agar dapat memahami hal-

  17

  untuk mengatur atau membuat jadwal untuk pemberian materi pada pertemuan- pertemuan selanjutnya. Ada berbagai macam buku yang dapat digunakan pendamping untuk memberikan pelajaran komuni pertama. Dari penerbit kanisius ada tiga buah buku diantaranya “Persiapan Komuni Pertama” karangan Drs. Al.

  Amin Susanto, “Aku Menerima Komuni Pertama” karangan L. Prasetya, Pr, dan “Yesus Pokok Anggur” karangan Drs. A. Soenarto S.W dkk. Di dalamnya memuat tentang berbagai macam hal-hal yang diperlukan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta tentang liturgi, roti hidup, tentang Yesus Kristus, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di dalam buku tersebut sudah berisi tentang metode pengajaraan, langkah-langkah pengajaran, berbagai macam nyanyian, permainan, ayat-ayat Kitab Suci dan juga tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh peserta. Ini sangat membantu dalam hal menyampaikan materi. Sebagai pendamping yang bertanggungjawab, sebaiknya memberikan variasi materi yang akan digunakan dalam pendampingan. Mempersiapkan materi dan sarana yang akan dipakai dalam pelajaran komuni pertama itu sifatnya wajib. Supaya pendamping dapat menyampaikan materi dengan lancar dan dapat dimengerti dengan mudah oleh peserta.

  Selain buku pegangan ada juga buku lain yang digunakan dalam pelajaran komuni pertama seperti, Kitab Suci, Madah Bakti, Kidung Adi, Puji Syukur, dll.

  Buku-buku tersebut membantu peserta untuk lebih memahami tentang ayat-ayat Kitab Suci dan juga mengetahui urutan dalam Perayaan Ekaristi dan juga hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat membantu dalam penghayatan ekaristi.

  18

  c. Peserta Pelajaran Komuni Pertama Peserta adalah unsur yang paling penting dalam pelajaran komuni pertama untuk mempersiapkan menerima Sakramen Ekaristi. Karena apabila tidak ada peserta yang mengikuti maka, tidak ada gunanya pendamping atau guru agama yang mempunyai wawasan luas dan mempunyai keterampilan dalam mengajar para calon penerima Sakramen Ekaristi. Dan juga buku-buku yang digunakanpun tidak berguna apa-apa, sebab tidak ada yang menggunakan buku tersebut.

  Semuanya sia-sia belaka tanpa ada partisipasi dari peserta sendiri untuk mengikuti pelajaran komuni pertama.

B. PENGHAYATAN EKARISTI

  1. Makna Penghayatan Ekaristi Penghayatan Ekaristi adalah suatu cara, tindakan dan gaya hidup kita yang menggambarkan semangat kita akan Yesus Kristus yang dijiwai dan dipimpin oleh Roh Kudus di dalam Perayaan Ekaristi. Ketika kita berbicara tentang penghayatan ekaristi, kita akan berbicara mengenai gaya atau cara hidup menghayati liturgi di dalam konteks seluruh hidup menurut pimpinan Roh Kudus sendiri. Penghayatan Ekaristi menunjuk pada penghayatan liturgi yang sungguh menjadi sumber dan puncak seluruh kehidupan umat Kristiani. Hal yang pokok dalam penghayatan ekaristi adalah mengambil bagian dalam perayaan. Komuni berarti ikut serta dalam perayaan secara sakramental atau melalui tanda dan sarana dengan Doa Syukur Agung, yang mengungkapkan iman gereja akan Wafat dan kebangkitan Kristus.

  19 Ekaristi adalah puncak dari semua Sakramen yang merupakan perayaan

  bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur , melainkan Kristus yang karena iman hadir dalam seluruh umat. Penghayatan Ekaristi itu mengacu pada bagimana sikap dan tindakan kita dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Seperti dengan mengikuti Perayaan Ekaristi tidak terlambat datang dan tidak pulang terlebih dahulu sebelum Misanya selesai. Menggunakan baju yang rapi, tidak ngobrol dengan orang lain, tidak boleh menggunakan handphone (HP) untuk SMS maupun BBM, menghafalkan doa-doa yang sering didoakan pada saat Perayaan Ekaristi, berdoa dengan khidmat. Sebenarnya penghayatan ekaristi itu lebih kepada sikap dan tindakan kita dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Apakah itu sadar atau tidak sadar, atau apakah itu dengan paksaan dan hanya ikut-ikutan yang lain saja. Tetapi yang terpenting itu adalah menghayatai Perayaan Ekaristi dengan sadar, tanpa paksaan, sesuai dengan hati nurani diri kita sendiri supaya apa yang kita lakukan dapat membekas di hati kita dan imbas lainnya adalah di kehidupan kita sehari-hari dengan sesama. Kehidupan kita lebih tertata dan tidak mementingkan diri sendir saja dan kita juga dapat menjadi teladan bagi sesama kita.

  Sebenarnya di dalam Perayaan Ekaristi sendiri, kita hanyalah merayakan segala tidakana dan perbuatan Allah di dalam Kristus yang senantiasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Segala suka duka, kesulitan, keberhasilan yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari menjadi bagian yang nyata dari kehidupan kita bersama Allah di dalam Kristus (Martasudjita, 2002:26).

  20 Dengan demikian, hidup kita di dalam Perayaan Ekaristi dan hidup kita

  sehari-hari saling meresapi dan tidak saling terpisahkan. Penghubung antara hidup di dalam Perayaan Ekaristi dan hidup kita sehari-hari adalah hidup iman kita sendiri akan Tuhan yang hadir dan senantiasa menyertai dan bersama dengan kita. Di dalam hidup Perayaan Ekaristi kita, iman akan Tuhan yang hadir dan menyertai hidup kita itu diungkapkan secara nyata dan sadar. Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari itu iman diungkapkan atau diwujudkan dalam tindakan dan aksi nyata dan konkret, walaupun dari kita sendiri tidak menyadari secara sungguh-sungguh iman tersebut.

  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penghayatan Ekaristi Hidup iman seseorang amat menetukan dalam seluruh penghayatan liturginya. Meskipun orang menguasai segala teori liturgi, mengerti seluruh makna dan simbol-simbol liturgi, cakap dalam segala urutan dan rangkaian perayaan liturgi, tetapi apabila hidup iman orang itu dangkal dan tidak mendalam, maka sangat mungkin liturginya kurang mengena dan tidak menyapanya (Martasudjita, 2002:10). Di bawah ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penghayatan Ekaristi seseorang : a. Diri Kita

  Salah satu faktor yang penting ialah persiapan diri kita. Kalau orang tidak bisa menikmati perayaan liturgi, janganlah pertama-tama menyalahkan orang lain, petugasnya, imamnya, lagu-lagunya, dan seterusnya. Harus diakui bahwa faktor petugas dan hal-hal macam itu tentu mempengaruhi penghayatan liturgi kita.

  21

  menghayatai liturgi dengan sukacita dan hidup (Martasudjita, 2002:37). Sebaik apapun dekorasinya, seindah apapun baju yang dikenakan oleh petugas liturginya, sebaik apapun petugas kor nya, tapi walaupun diri kita sendiri sebagai umat yang hadir dengan hati yang kacau, bisa dipastikan Perayaan Ekaristi tersebut tidak dapat mengena pada hidup kita.

  Kita sebagai umat beriman diharapkan berpartisipasi secara sadar aktif dan penuh khidmat di dalam seluruh perayaan Ekaristi dari awal persiapan, pada saat pelaksanaan, dan juga pada saat pengalaman iman di dalam kehidupan kita sehari- hari (SC 48). Melalui kehadiran dan partisipasi kita di dalam seluruh perayaan ekaristi itu sendiri, umat beriman berpatisipasi aktif. Umat mengikuti Perayaan Ekaristi dari awal hingga akhir karena Perayaan Ekaristi adalah satu kesatuan dan merupakan tindakan ibadat (SC 56). Keikutsertaan umat secara sadar dan aktif di dalam sebuah Perayaan Ekaristi tersebut dilaksankan menurut tindakan, tugas, serta keikutsertaan mereka (SC 26). Ini mempunyai arti bahwa semua umat itu mempunnyai tugas dan peranan masing-masing. Di dalam “Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR)” dari antara umat dapat diambil untuk mempunyi peran dan tugas seperti, ada yang menjadi prodiakon, misdinar, lektor, pemazmur, petugas kor, koster, petugas musik, kolektan, dan sebagainya (PUMR 100-107).

  Kemudian, partisipasi umat sendiri adalah terdapat pada bagian aklamasi dan jawaban-jawaban umat terhadap salam dan doa-doa imam (PUMR 35), pernyataan tobat, syahadat, doa umat, doa Bapa Kami (PUMR 36). Umat sebaiknya juga ikut terlibat dalam menyanyikan dan mengucapkan sebagai berikut : nyanyian pembuka, kemuliaan, refren Mazmur Tanggapan, bait pengantar injil

  22

  (dengan atau tanpa alleluia), nyanyian persiapan persembahan, kudus, aklamasi anamnese, nyanyian pemecah hosti, madah pujian sesudah komuni, dan nyanyian penutup (PUMR 36).

  b. Peran dan Tugas Imam Dalam Perayaan Ekaristi seorang Imam berperan secara khas untuk membawakan pribadi Kristus atau bertindak in persona Christi, tetapi juga sekaligus menjadi saksi dan pelayan seluruh Gereja. Memimpin Perayaan Ekaristi adalah tugas utama seorang Imam (PUMR 92). Maka para Imam hendaknya merayakan Ekaristi setiap hari sebab itu dapat berguna bagi kehidupan imamat dan rohaninya sendiri tetapi juga demi keselamatan umat (PUMR 19). Di dalam Perayaan Ekaristi, Imam bertugas untuk membawakan doa-doa pemimpin atau

  

doa-doa presidensial. Doa-doa tersebut mencakup pertama-tama dan utama, yaitu

  Doa Syukur Agung (PUMR 31). DSA adalah merupakan puncak dari seluruh ibadat. Kemudian Imam juga membawakan tugas untuk mendoakan doa-doa presidensial yang lain, seperti doa pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa sesudah komuni. Doa tersebut diucapkan oleh imam kepada Allah atas nama semua umat beriman yang hadir, dan melalui imam Kristus sendiri yang memimpin himpunan umat (PUMR 30). Doa presidensial harus didoakan dengan suara yang lantang dan dengan ucapan yang jelas supaya umat mudah mendengar doanya dengan jelas. Selama Imam mendoakan doa-doa presidensial tersebut, tidak diperbolehkan adanya doa atau nyanyian atau juga iringan musik (PUMR 32). Imam juga mempunyai wewenang untuk menyampaikan sejumlah ajakan yang terdapat di dalam TPE (PUMR 31). Di dalam perumusannya, Imam juga

  23

  boleh menyesuaikan dengan daya tangkap umat. Imam juga dipersilahkan untuk memberikan kata pengantar yang singkat pada saat ritus pembuka, sebelum masuk ke liturgi sabda, liturgi Ekaristi, dan sebelum berkat pengutusan pada ritus penutup. Imam juga wajib mendoakan doa-doa pribadi di dalam hati pada bagian tertentu, seperti doa sebelum pemakluman Injil, doa pada persiapan persemabahan, dan doa sebelum serta sesudah Komuni Imam (PUMR 33).

  c. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Di dalam buku PUMR 2000 terdapat pedoman tata gerak dan sikap tubuh untuk para petugas liturgi dan semua umat beriman. Seluruh tata gerak dan sikap tubuh harus dilaksankan menurut tiga patokan : 1). Tata gerak dan sikap tubuh memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari Perayaan Ekaristi.

  2). Tata gerak dan sikap tubuh itu mengungkapkan dengan baik pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka bagian perayaannya.

  3). Tata gerak dan sikap tubuh itu membuat umat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif.

  Tata gerak dan sikap tubuh yang dilakukan oleh umat secara bersama- sama atau serempak akan mengungkapan kesatuan umat. Di dalam PUMR dianjurkan agar umat berdiri pada saat ritus pembuka, yakni dari awal nyanyian pembuka sampai dengan doa pembuka selesai, pada saat bait pengantar Injil, Injil, Syahadat dan doa umat (PUMR 43). PUMR menganjurkan agar umat duduk selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan, selama homili, selama persiapan persembahan, dan selama saat hening sesudah komuni.

  24 Pada saat Doa Syukur Agung umat memang dianjurkan untuk berdiri, namun

  dapat juga berlutut pada saat memasuki kisah dan kata-kata institusi atau berlutut sejak sesudah kudus sampai DSA selesai.

  Dengan ketentuan tata gerak dan sikap badan yang disarankan oleh PUMR tersebut, konferensi Uskup boleh melaksankan penyesuaian atau penyelarasan sesuai dengan keadaan dan ciri khas dari masing-masing daerah di Indosesia atau ciri khas dan tradisi dari masing-masing bangsa (PUMR 43). Pada PUMR bab IX dengan jelas tercantum bahwa Konferensi Uskup diperbolehkan mengadakan penyesuaian terhadap tata gerak dan sikap badan, termasuk masalah duduk, berdiri, berlutut dan soal salam damai. Pemberian wewenang kepada Konferensi Uskup ini dilatarbelakangi dengan situasi Gereja atau Kapel di Indonesia yang sangat beragam sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing.

  d. Saat Hening pada saat Perayaan Ekaristi Saat hening selama Perayaan Ekaristi menjadi bagian yang menjadi perhatian khusus di dalam PUMR. Ini berkaitan dengan situasi dan praktek di berbagai tempat yang kurang diperhatikan pada saat hening selama Perayaan Ekaristi. Misalnya saja, pada saat para petugas sedang mempersiapkan diri suasana di sakristi malahan menjadi gaduh dan ribut, ketika Perayaan Ekaristi belum dimulai ada beberapa umat yang berbisik-bisik dan bercanda di dalam Gereja, ada juga umat yang tidak menon-aktifkan HP-nya dan ketika misa berlangsung HP-nya berbunyi sangat nyaring. Seharusnya ini ditegaskan kembali untuk menciptakan suasana hening, PUMR menganjurkan agar suasana

  25

  keheningan itu tidak hanya diciptakan di dalam gedung Gereja dan sakristi saja, tetapi sudah diterapkan di sekitar gedung gereja (PUMR 45).

  Arti dari suasana hening di dalam Perayaan Ekaristi itu ada banyak dan itu mempunyai makna yang berbeda-beda. Misalnya, hening pada saat sebelum doa pembuka mempunyai makna untuk menyampaikan ujud doa pribadi masing- masing dan nantinya akan dipersatukan dalam doa pembuka yang didoakan oleh Imam. Kemudian, hening pada saat sebelum pernyataan tobat mempunyai makna untuk mawas diri dan merenungkan kasih Allah dan tanggapan kita yang tidak sesuai melalui dosa dan kesalahan kita. Saat hening pada saat sesudah bacaan dan homili ialah untuk merenungkan Firman Tuhan. Kemudian, saat hening sesudah komuni dimaksudkan untuk bersyukur, memuji nama Tuhan, dan mengucapkan doa permohonan pribadi di kala Tuhan sendiri datang dalam wujur Hosti Suci di dalam komuni.

  e. Makna Nyanyian dalam Perayaan Ekaristi Musik mempunyai kedudukan yang amat penting di dalam liturgi.

  Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium pada bab IV yang berbicara tentang musik (bab IV: SC 112-121). Dari dokumen Konstitusi Liturgi Sacrosanctum

  

Concilium tersebut, kita dapat mengambil tiga kesimpulan tentang makna musik

  di dalam Perayaan Ekaristi : 1). Musik merupakan bagian dari liturgi tersendiri. Ini mempunyai arti bahwa musik bukanlah sebuah iringan belaka atau hanya sekedar tambahan saja, melainkan “bagian liturgi meriah yang penting atau integral” (SC 112).

  26

  2). Musik memperjelas misteri Kristus. Karena musik liturgi menjadi sarana untuk memuliakan Allah dan menguduskan umat beriman (SC 112). Melalui kata-kata di dalam nyanyian dan melodinya, umat dibantu untuk mendalami misteri Kristus dan juga menghayati kehadiran Kristus di dalam Perayaan Ekaristi. 3). Musik dan nyanyian dapat membantu umat untuk berpartisipasi secara aktif di dalam Perayaan Ekaristi dengan ikut menyanyikan lagu-lagunya. Di dalam dokumen Konsili Vatikan II meminta partisipasi umat secara sadar dan aktif (SC 14).

  Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium no 116 mengatakan : Gereja memandang nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas bagi Liturgi Romawi. Maka dari itu-bila tiada pertimbangan- pertimbangan yang lebih penting – nyanyian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara Liturgi. Jenis-jenis lain Musik Liturgi, tertutama polifoni, sama sekali tidak dilarang dalam perayaan ibadat suci, asal saja selaras dengan jiwa upacara Liturgi, menurut ketentuan pada art. 30.

  Di dalam PUMR memberikan kemungkinan penggunaan musik yang khas sesuai tradisi dari suatu bangsa dan juga tergantung dari kemampuan bermusik yang dimiliki oleh umat sendiri (PUMR 40). Namun di dalam PUMR disarankan untuk musik dan nyanyian gregorian tetap mempunyai tempat yang utama. PUMR tidak menyarankan untuk selalu menggunakan nyanyian pada setiap Perayaan Ekaristi. Pada saat Perayaan Ekaristi harian, tidak perlu semua nyanyian dinyanyikan. Tetapi, pada saat Perayaan Ekaristi Hari Minggu dan Hari Raya wajib hendaknya nyanyian-nyanyian tersebut diupayakan untuk dinyanyikan. Tim

  27

  wajib dinyanyikan dan tidak wajib dinyanyiakan. Bisa melihat pedomannya di dalam PUMR 37 :  Sebagian merupakan ritus atau kegiatan tersendiri, seperti Kemuliaan, mazmur tanggapan, bait pengantar Injil (dengan atau tanpa alleluya),

  

Kudus, aklamasi anamnesis, madah syukur sesudah komuni;

   Sebagian lagi mengiringi ritus lain, seperti nyanyian pemecahan roti (Anak domba Allah), dan nyanyian komuni.

  PUMR 40 mengatakan bahwa penggunaan nyanyian dalam perayaan Ekaristi harusnya dijunjung tinggi. Maka, nyanyian pembuka ini penting untuk membantu umat dalam mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam Perayaan Ekaristi. Nyanyian pembuka juga dapat membantu membangun kesatuan umat dan mengiringi perarakan masuk para petugas ke panti imam.

  3. Bagian-bagian dalam Perayaan Ekaristi dan cara menghayatinya Kini Tuhan Yesus hadir di dalam Perayaan Ekaristi, yaitu dalam Sabda-

  Nya (Liturgi Sabda) dan dalam rupa roti dan anggur (Liturgi Ekaristi). Maka dari itu, kita harus memahami Perayaan Ekaristi dalam detail-detailnya supaya kita dapat menghayatinya dan Perayaan Ekaristi tersebut menjadi bermakna bagi kita. Kita akan mendalami satu demi satu bagian-bagian Perayaan Ekaristi.

  a. Ritus Pembuka Sikap umat pada saat menyambut perarakan para petuga liturgi serta Imam adalah berdiri. Berdiri merupakan sikap hormat dan penuh perhatian terhadap kehadiran Tuhan. Fungsi lagu pembuka adalah untuk menyatukan pikiran dan suara umat dalam satau kesatuan kata, nada, dan irama. Ketika imam dan para

  28

  menundukan kepala dan berdoa di dalam hati, “Ya Tuhan, aku hadir di sini, memenuhi panggilan-Mu” (Supranto, 2012:5).

  Tanda Salib dalam ritus pembuka pada Perayaan Ekaristi menunjuk pada pengakuan iman. Pengakuan bahwa keselamatan terjadi melalui Salib Kristus.

  Kekutan dan kemenangan orang Kristiani terletak pada Salib Kristus. Tanda Salib dengan mengucapkan seruan Tritunggal menunjuk pada inti iman yang diakui dan dinyatakan pada pembaptisan.

  Pernyataan tobat biasanya menyanyiakan Tuhan Kasihanilah Kami atau menyatakan seruan tobat “Saya Mengaku”. Kata Tuhan dan Kristus dalam pernyataan tobat itu merupakan ungkapan pujian kepada Tuhan Yesus, sedangkan “Kasihanilah Kami” merupakan permohonan akan belas kasih dan kerahiman Allah. Pada saat pernyataan tobat, biasanya kita menebahkan dada sebanyak tiga kali, ini merupakan ungkapan kesedihan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

  Setelah pernyataan tobat, imam akan mengucapkan absolusi dengan tangan terkatup, tanpa memberikan berkat Salib dan umat tidak perlu membuat Tanda Salib karena absolusi ini tidak bersifat sakramental.

  Menyanyiakan madah Kemuliaan dengan sepenuh hati dan dengan sadar. Madah kemuliaan akan terasa agung dengan menyanyikan setulus hati supaya bisa masuk ke dalam relung hati sehingga kita akan merasakan bulu kuduk berdiri.

  Doa Pembuka merupakan peralihan dari ritus pembuka ke liturgi Sabda. Doa pembuka didoakan oleh Imam sendiri. Imam mendoakan doa pembuka dengan merentangkan tangan ini melambangkan bahwa Gereja sedang berdoa.

  Ajakan Imam, yaitu “Marilah Kita berdoa” ini dijiwai oleh umat ketika imam

  29

  melakukannya dengan cara yang simpatik, yaitu dengan membuka tangan dan bahkan dengan senyuman. Saat hening pada doa pembuka, imam dan umat sedang menyadari kehadiran Allah dan mengungkapan doa-doa atau ujud pribadi di dalam hati. Dan pada akhir doa pembuka umat berkata “Amin” ini menunjukan bahwa umat menyetujui. Oleh karena itu, doa pembuka menjadi doa setiap umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi.

  b. Liturgi Sabda Allah sendiri yang berbicara dalam Liturgi Sabda, kita harus mempersiapkan diri sebagai ungkapan hormat kepada Allah. Persiapan sebelum misa adalah disarankan umat untuk membaca dan merenungkan bacaan pada saat Perayaan Ekaristi. Kemudian mengambil satu ayat untuk diucapkan berulang- ulang di dalam hati. Pada saat Perayaan Ekaristi umat duduk/berdiri, ini sebagai ungkapan pendengar yang baik yang memperhatiakan setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Berusaha menangkap pesan Allah lewat homili yang disampaikan imam. Setelah dialog pembacaan Injil, ada pembuatan tanda salib di dahi, mulut dan dada disertai doa sebagai berikut : doa pada waktu membuat tanda salib di dahi “Sucikanlah pikiranku, ya Tuhan, supaya aku dapat memikiran dan merenungkan Sabda-Mu”; doa pada waktu membuat tanda salib di mulut “Sucikanlah mulut-ku, ya Tuhan, supaya aku dapat mewartakan Sabda-Mu”; doa pada waktu membuat tanda salib di dada “Sucikanlah hatiku, ya Tuhan, supaya akau dapat meresapkan Sabda-Mu ke dalam hatiku” (Supranto, 2012:22).

  30 Mazmur Tanggapan dinyanyikan di dalam Perayaan Ekaristi setelah

  mendengarkan bacaan pertama. Makna Mazmur Tanggapan adalah tanggapan umat atas Sabda Allah yang baru saja diwartakan. Hendaknya umat ikut menyanyi pada saat ulangan atau refren. Ini berupa pujian atas karya-karya keselamatan Allah. Mazmur tanggapan harus bersumber pada Kitab Suci, itulah sebabnya mengapa Mazmur Tanggapan tidak bisa diganti dengan lagu-lagu yang lain.

  Sebab belum tentulah lagu tersebut isinya sesuai dengan bacaan saat itu.

  Bait pengantar Injil masih berkaitan dengan isi Injil yang akan dibacakan. Umat juga ikut menyanyikan pada saat antifon Alleluia. Ketika Bait Pengantar Injil dinyanyikan, maka umat harus berdiri. Ini merupakan sikap hormat kepada Kristus yang hadir dan berbicara melalui Injil. Berdiri juga merupakan sikap kesiapan umat untuk menyambut Tuhan yang akan bersabda di dalam Injil.

  Homili merupakan bagian tak terpisahkan dari Liturgi Sabda. Homili merupakan penjelasan dari bacaan pertama, kedua dan Injil. Homili merupakan tugas istimewa Imam, bukan prodiakon, bukan juga frater.

  Syahadat atau Aku Percaya merupakan tanggapan umat terhadap bacaan- bacaan yang baru saja didengarkan. Dengan mengucapkan atau menyanyikan syahadat, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok iman Katolik sebelum merayakan di dalam Liturgi Ekaristi. Ketika mengucapkan “... yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria ...” ; ini mengandung arti bahwa kita menyadari akan kasih Allah yang telah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita (Supranto, 2012:33).

  31 Doa umat mengakhiri liturgi Sabda. Dalam doa umat, umat bersama

  berdoa agar kita mampu mengamalkan Sabda-Nya dan sungguh menjadi serupa dengan Kristus, pembawa damai. Doa umat ditunjukkan untuk kepentingan Gereja dan Dunia, tetapi bukannya untuk kepentingan sendiri. Di siapkan satu kesempatan bagi umat untuk berdoa dalam hati untuk ujub-ujub pribadi. Sebab apabila tidak didokan di dalam hati maka suasana Perayaan Ekaristi menjadi riuh dan tidak khidmat lagi.

  c. Liturgi Ekaristi Sesudah liturgi sabda, kita memasuki liturgi Ekaristi. Di dalamnya sabda

  Allah dihadirkan untuk menjadi pengajaran bagi orang-orang beriman. Dalam liturgi Ekaristi juga Tubuh Kristus dihadirkan untuk menjadi makanan kekal bagi kita. Ada tiga bagian di dalam liturgi Ekaristi yaitu, persiapan persembahan, Doa Syukur Agung, Komuni.

  Waktu persiapan persembahan merupakan saat kolekte dan segala masalah serta kegembiraan kita diserahkan bersama roti dan anggur kepada Imam di Altar.

  Pada saat bahan persembahan diarak, lagu persembahan dinyanyikan sampai bahan persemabahan sampai di Altar. Apabila tidak ada nyanyian persembahan dapat menggunkan iringan instrumen yang lembut untuk mencipatakan suasana yang hening. Perarakan persembahan adalah melambangkan pada saat Yesus diarak menuju kalvari untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban keselamatan.

  Doa Syukur Agung merupakan puncak dari Perayaan Ekaristi. DSA

  32

  berkata : “Tuhan bersamamu/Tuhan besertamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu/dan sertamu juga”. Kemudian imam berkata “Marilah kita mengarahkan hati kepada Tuhan”. Umat menjawab “Sudah kami arahkan”. Kemudian imam bersyukur dengan berkata “Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita”. Umat menjawab “sudah layak dan sepantasnya”. Prefasi diakhiri dengan nyanyian kudus. Ini mempunyai maksud untuk mengungkapkan kegembiraan yang luar biasa atas keajaiban Allah bagi umat-Nya.

  Doa Syukur Agung terdiri dari beberapa bagian penting, yang pertama adalah Epiklese, yaitu doa mohon turunnya Roh Kudus agar mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Umat tidak perlu membuat tanda Salib ketika Imam memberkati atas roti dan anggur tarsebut. Yang kedua adalah Doa

  

Konsekrasi, ini merupakan kata-kata Yesus pada saat perjamuan malam terakhir.

  Dengan kata-kata konsekrasi tersebut, roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sebaiknya umat memandang Tubuh dan Darah Kristus yang diangkat oleh imam dengan sikap menyembah-Nya sambil mengulangi dalam hati pernyataan iman Santo Thomas : “Ya, Tuhanku dan Allahku”. Dan pada saat imam berlutut umat dapat berdoa di dalam hati: “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengasihiku dengan memberikan nyawa-Nya kepadaku”. Yang ketiga Aklamasi / Seruan Anamnese, anamnese merupakan tanggpan umat atas terjadinya mukjizat perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kemudian yang keempat doa persembahan atau doa korban. Gereja mempersembahkan kepada Allah Bapa persembahan Kristus yang mendamaikan kita dengan-Nya. Imam juga berdoa agar yang menerima Tubuh dan Darah

  33 Kristus dipenuhi dengan rahmat dan berkat. Yang kelima adalah Doa

  Permohonan. Di dalam doa permohonan ini yang paling pokok adalah berdoa untuk persatuan. Berdoa juga untuk Paus, Uskup, semua anggota gereja, dan diri kita sendiri. Keenam adalah Doksologi. Imam berkata “Dengan pengantaraan Kristus ...”. umat menjawab “Amin” yang berarti tanda persetujuan serta partisipasinya di dalam rangkaian Doa Syukur Agung (Supranto, 2012: 42-48).

  Doa Bapa Kami merupakan persiapan dalam penyambutan komuni. Ada hubungan antara doa Bapa Kami dengan komuni. Karena di dalam doa Bapa Kami terdapat kata-kata “Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami”. Rezeki bagi orang Kristiani adalah Tubuh Kristus sendiri. Permohonan pengampunan dan damai merupakan persiapan yang paling pantas untuk menyambut Tubuh Kristus, sehingga doa Bapa Kami berhubungan erat dengan “Doa Damai”. Di dalam Doa Damai umat mempunyai niat untuk mengampuni orang lain yang bersalah terhadap kita dan meminta ampun kepada orang lain terhadap kesalahan yang telah kita perbuat. Pada saat Doa Damai ingatlah siapa saja yang membutuhkan pengampunan kita dan kepada siapa saja kita akan meminta ampun. Setelah Doa Damai kita kemudian memberikan salam damai dengan saling bersalaman dengan orang di kiri, kanan, depan dan belakang kita sebagai tanda persatuan dan pengampunan sebelum menerima komuni.

  Pemecahan Roti dan Persiapan Komuni, Imam memecahkan Hosti dengan diiringi lagu atau mendaraskan Anak Domba Allah. Anak Domba Allah menggambarkan sengsara dan kemenengan Kristus sebab Dialah Anak Domba

  34 Paskah yang baru. Setelah memecahkan Hosti, Imam memperlihatkan-Nya

  kepada umat dan berkata “Inilah Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia. Berbahagialah kita yang diundang dalam Perjamuan Tuhan”. Bersama dengan Imam, umat menjawab : “Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”. Jawaban tersebut di ambil dari perikop Kitab Suci tentang seorang perwira yang meminta Yesus untuk menyembuhkan hambanya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat, 8:8).

  Setelah Imam meletakkan Hostinya kembali, umat dapat berdoa di dalam hati :”Semoga Tuhan melihat iman dalam hatiku sehingga mengabulkan permohonanku”. Dan kemudian disambung dengan berdoa secara pribadi di dalam hati.

  Pada saat kita akan menyambut komuni atau berjalan menuju Tubuh Kristus kita dapat berdoa: “Tuhan, ini aku, datang menyambut-Mu ...” atau “Tuhan, mari masuklah ke dalam hatiku ...”. Pada saat menerima Tubuh Kristus, umat menjawab Amin. Artinya adalah bersyukur telah menyambut Tuhan Yesus sendiri sebagai tamu Agung yang masuk ke dalam diri kita dan bersatu dengan tubuh dan jiwa kita. Setelah menerima komuni umat dapat berdoa di dalam hati dengan berkata: “Engkaulah Tuhanku, Enagkaulah Rajaku, aku menyembah-Mu, Tuhan. Aku mengasihi Engkau”. Kemudian kita bersyukur kepada Tuhan sebab Ia telah datang dan masuk di dalam diri kita melalui Komuni Suci. Kita juga memohon ampun untuk semua dosa dan kesalahan kita: “Tuhan ajarilah aku untuk menghindari dosa demi kasiku kepada-Mu”. Kita juga meminta kepada Tuhan

  35

  untuk menguduskan kita dan semua manusia serta agar kita dapat mengasihi. Dan yang terakhir kita juga berdoa agar Tuhan Yesus dapat dikenal dan dikasihi oleh sebanyak mungkin orang.

  Liturgi Ekaristi diakhiri dengan Doa sesudah komuni. Imam mendoakan Doa sesudah komuni dan umat menjawab Amin. Inti dari doa sesudah komuni adalah bersyukur atas Ekariati yang telah dirayakan, memohon berkat agar kita dapat bertekun dalam perutusan dan memohon agar nantinya diperkenankan mengikuti perjamuan di Surga.

  d. Ritus Penutup Ritus penutup mempunyai fungsi untuk menutup semua rangkaian

  Perayaan Ekaristi dan juga menghantar umat untuk melaksakan perutusannya di dalam kehidupan sehari-hari yang menyucikan dunia di mana umat berada. Ritus penutup terdiri dari pengumuman, berkat dan pengutusan, serta perarakan keluar.

  Yang pertama adalah mendengarkan pengumuman. Di dalam pengumuman berisikan hal-hal penting, kegiatan-kegiatan umat di suatu paroki.

  Pengumuman tidak perlu panjang-panjang, hanya hal-hal yang perlu diumumkan saja menyangkut kepentingan bersama.

  Yang kedua adalah Berkat dan Pengutusan, ini dimulai dengan sapaan Imam kepada umat “Tuhan sertamu” dan umat menjawab “dan setamu juga”.

  Kemudian Imam memberkati umat dengan menyebut nama Allah Tritunggal, maknanya adalah kehadiran dan penyertaan Allah merupakan berkat yang

  36

  nyata. Ada tiga bentuk pengutusan yaitu, bertumbuh di dalam iman, bertumbuh di dalam persaudaraan, bertumbuh dalam pelayanan kasih.

  Setelah memberikan hormat dan mencium Altar, Imam dan semua petugas liturgi keluar dari panti imam menuju sakristi dengan diiringi lagu penutup. Perarakan keluar ini mempunyai maka bahwa kita pulang dan meninggalkan Gereja dengan membawa sebuah tugas bersama, yaitu memberi arti kehidupan kita sehari-hari.

  Inilah tadi beberapa cara untuk dapat menghayati ekaristi di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan cara-cara tersebut diharapkan kita semakin mencintai Tuhan melalui Perayaan Ekaristi. Dengan adanya pelajaran komuni pertama pendamping dapat memberikan pengetahuan tentang cara-cara menghayati Perayaan Ekaristi. Sehingga anak-anak akan dapat menghayatai Perayaan Ekaristi sesuai dengan usianya. Fokus pembahasannya adalah apakah pelajaran komuni pertama mempunyai peranan terhadap penghayatan ekaristi pada saat Misa Kudus.

  Kemudian, nantinya penulis dapat mempunyai batasan-batasan permasalahan yang akan di teliti. Pertama-tama adalah apa saja yang menjadi unsur-unsur dalam pelajaran Komuni Pertama. Selanjutnya adalah menemukan ada tidaknya peranan Pelajaran Komuni Pertama terhadap penghayatan ekaristi dan yang terakhir faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi dalam penghayatan ekaristi.

  

BAB III

PERANAN PELAJARAN KOMUNI PERTAMA BAGI PESERTA

TERHADAP PENGHAYATAN EKARISTI DI PAROKI ADMINISTRATIF

SANTA MARIA RATU BAYAT, KLATEN

Di dalam bab III ini, akan dibahas mengenai gambaran umum Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat seperti sejarah, lekat geografis, jumlah

  umat, dan perkembangan umat di Lingkungan St. Fransiscus Xaverius. Kemudian akan dibahas juga rancangan penelitian tentang pelajaran Komuni Pertama dan penghayatan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat. Di dalam rancangan tersebut akan dibahas Tujuan Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian, Metode Penelitian, Responden Penelitian, Instrumen Penelitian dan Variabel Penelitian.

  

A. Gambaran umum Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki

Administratif Santa Maria Ratu Bayat

1. Sejarah Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, bersumber dari wawancara dengan Bp PC. Suwarno dan R. Purwanto.

  Hidupnya Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat dimulai dengan adanya baptisan yang pertama kalinya, yaitu Ibu Elisabeth Ngadinah yang dibaptis oleh Romo Van Driessche, SJ pada tanggal 7 Juli 1935. Gereja Bayat tumbuh berkembang dimulai dari beberapa keluarga yaitu keluarga Bp. Max.

  Somawiharja, keluarga Bp. C. Doyo Sumarto, keluarga Bp. LYS. Mardi Susiswo, keluarga Bp. Manto Sumitro, keluarga Bp. Suto dan keluarga Bp. Atmo Sipung. Dahulu pada tahun 1964, Gereja Bayat terletak di SD Kanisius Bayat. Kemudian Bayat menjadi bagian dari Paroki Wedi dan menjadi Stasi Bayat yang terdiri dari tiga wilayah yaitu wilayah Barat dengan ketua wilayahnya adalah Bp. Max.

  Somawiharjo, wilayah Tengah dengan ketua wilayahnya adalah Bp. Mardi Subroto, dan wilayah Timur dengan ketua wilayahnya adalah Bp. C. Doyo Sumarto.

  Pada tanggal 17 Agustus 1966, Rm. FX. Purwowidiono di dalam kotbahnya di pendopo kecamatan yang sekarang adalah bank BRI, memunculkan ide untuk membangun Gereja dengan meminta bantuan kepada Bapak Camat yaitu Bapak Umar Singgih. Dan kemudian beliau memberikan tanah di daerah Sekarkalam, tetapi Romo Tan Kiong Hwat menganggap tanah tersebut terlalu ke barat dan tidak setrategis. Pada tahun 1968 Romo Tan Kiong Hwat meminta tanah kepada Yayasan Pangudi Luhur untuk menjadi kapel sementara dan Misa yang pada awalnya di SD Kanisius dipindahkan ke SMP Pangudi Luhur. Kemudian, pada tahun 1979, pemberian nama wilayah Barat menjadi St.Bernadeta, wilayah Tengah menjadi St.Fransiscus Xaverius dan wilayah Timur menjadi St. Petrus dan Paulus. Pada tahun 1980 Stasi Bayat membeli tanah di depan SMP Pangudi Luhur Bayat dari Bp. Darmini Dolon dan lima tahun kemudian tepatnya tahun 1985 mulailah pembangunan Gereja Bayat.

  Umat Katolik di Stasi Bayat mengalami perkembangan kemudian wilayah- wilayah mulai dimekarkan. Wilayah Bernadeta menjadi lingkungan Bernadeta dan Yohanes Pemandi, Wilayah Fransiscus Xaverius menjadi lingkungan Fransiscus Xaverius dan Yusup, dan Wilayah Petrus Paulus menjadi lingkungan Petrus, Paulus, Nicolaus. Gereja Bayat diberkati pada tanggal 30 Juni 1990 oleh Vikep Surakarta yaitu Rm. Purwo Hartono pada tanggal 22 Agustus adalah peringatan St. Maria Ratuning Katentreman yang sekarang menjadi St. Maria Ratu. Kemudian lingkungan Bernadeta dimekarkan lagi menjadi lingkungan Bernadeta dan lingkungan Andreas Rasul.

2. Letak Geografis Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat

  Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat terletak di Kabupaten Klaten dan terletak di desa Lemah Miring, kelurahan Paseban. Secara geografis Kabupaten Klaten, terletak di 7°32’19” LS - 7°48’33” LS 110°26’14” BT - 110°47’51” BT, Pusat pemerintahan berada di Kota Klaten. Luas wilayah kabupaten Klaten mencapai 665,56 km2. Di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo. Di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan di sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Boyolali.

  Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas 53 desa dan 103 kelurahan. Dan Gereja Bayat terletak di Kecamatan Bayat yang berjarak kurang lebih 20 km dari pusat kota klaten. Gereja Bayat sendiri terletak di kota kecamatan. Dari jalan raya Bayat-Cawas setelah pasar bayat ada pertigaan ke kanan samping koramil, lurus kira-kira 100 m Gereja Bayat di kiri jalan di depan SMP Pangudi Luhur Bayat. Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat salah satu paroki yang berada di Kevikepan Surakarta. Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat beralamat di desa Lemah Miring, Paseban, Bayat, Klaten.

  Kemudian dalam pembagian teritorial paroki-paroki di Kevikepan Surakarta, Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat menjadi bagian dari Paroki Rayon Barat Utara atau biasa disebut Barut. Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat berbatasan dengan Paroki Administratif St. Maria Assumpta Cawas untuk sebelah timur, sebelah barat berbatasan dengan Paroki St. Maria Bunda Kristus Wedi, sebelah utara Paroki St. Theresia Jombor, sebelah selatan Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor Gunung Kidul.

3. Jumlah umat Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat

  Menurut sensus umat yang diadakan oleh bidang Litbang Paroki Administratif Santa Maria Ratu pada tahun 2012 jumlah umat sekitar 1260 jiwa.

  Jumlah tersebut tersebar di 8 lingkungan, yaitu sebagai berikut : NO LINGKUNGAN JUMLAH UMAT

  1. St. ANA 85 jiwa

  2. St. BERNADETA 218 jiwa

  3. St. PETRUS 110 jiwa

  4. St. PAULUS 123 jiwa

  5. St. FX 228 jiwa

  6. St. YOHANES PEMBAPTIS 109 jiwa

  7. St. ANDREAS 168 jiwa

  8. St. YUSUP 219 jiwa Jumlah 1260 jiwa

  

4. Perkembangan umat di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki

Administratif Santa Maria Ratu Bayat

  

a. Letak geografis Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius di Paroki

Administratif Santa Maria Ratu Bayat

  Letak Lingkungan St. Fransiscus Xaverius adalah di kota kecamatan Bayat dan termasuk lingkungan yang paling dekat letaknya dengan Gereja Bayat.

  Lingkungan ini mencakup tiga desa yaitu desa beluk, desa kalicangak, dan desa babadan. Dan juga jumlah umatnya yang paling banyak dan belum mengalami pemekaran. Di sebelah barat berbatasan dengan lingkungan andreas, sebelah timut dengan lingkungan petrus, sebelah utara dengan lingkungan St. Yusup dan sebelah selatan dengan lingkungan St. Yohanes Pembaptis. Di lingkungan St.Fransiscus Xaverius ini medannya sangat landai di tengah kota kecamatan dan juga tidak ada gunung dan bukit. Jalannya semua sudah halus.

b. Jumlah umat Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius

  Umat di lingkungan St. Fransiscus Xaverius ini bisa dibilang paling banyak dan potensi Orang Muda Katolik (OMK) cukup banyak.

  Anak- anak OMK Orang dewasa Lansia 12 orang 118 orang 50 orang 42 orang Namun yang sekarang ada di rumah hanya beberapa umat saja, kebanyakan bekerja di luar kota. Tetapi umat yang ikut terlibat di lingkungan dan di gereja cukup banyak. Banyak umat yang mempunyai potensi untuk berkarya di paroki.

c. Kehidupan menggereja umat lingkungan Santo Fransiscus Xaverius

  Umat yang aktif di paroki cukup banyak. Ada yang menjadi prodiakon, menjadi ketua lingkungan, menjadi ketua dewan harian, menjadi anggota dewan harian, menjadi koster Gereja, menjadi pengurus Gua Maria, menjadi ketua OMK, menjadi ketua Misdinar. Masih banyak yang belum disebutkan. Ini merupakan potensi yang dimiliki oleh lingkungan St. Fransiscus Xaverius. Dengan ikut terlibat di lingkungan maupun di Gereja umat menjadi rajin untuk mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan maupun di Gereja seperti, renungan, sembayangan, misa harian, misa lingkungan, rapat dewan, kegiatan OMK, kegiatan Misdinar, dll. Sehingga iman umat semakin tumbuh dengan mengikuti berbagai kegiatan di Paroki.

  

B. Penelitian Peranan Pelajaran Komuni Pertama Di Lingkungan Santo

Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat

  1. Tujuan Penelitian

  a. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor dalam Penghayatan Ekaristi di dalam Misa Kudus.

  b. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi unsur-unsur dalam Pelajaran Komuni Pertama.

  c. Untuk mengetahui peranan unsur-unsur dalam Pelajaran Komuni Pertama terhadap unsur-unsur Penghayatan Ekaristi.

  2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksankan pada bulan November 2014 di Lingkungan St.

  Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat.

  3. Metode Penelitian

  Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah mencari peranan unsur- unsur dalam Pelajaran Komuni Pertama terhadap unsur-unsur Penghayatan Ekaristi. Jenis penelitian yang dipakai adalah kualitatif. Cara memperoleh datanya dengan penyebaran skala Likert yang diberikan kepada umat yang ditunjuk sebagai responden untuk variabel Penghayatan Ekaristi di Lingkungan St. Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat dan juga didukung dengan wawancara untuk variabel Pelajaran Komuni Pertama, yang ditujukan kepada katekis yang mengajar Komuni Pertama di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat. Kemudian, barulah hasil dari kedua penelitian tersebut dicari hubungannya. Supaya lebih menyakinkan lagi dipakailah dokumentasi setiap kegiatan yang dilakukan selama penelitian berlangsung.

  4. Responden Penelitian

  Pengambilan sample pada penelitian ini menggunkan Quota Sampling yaitu jumlah subyek yang akan diteliti harus ditetapkan terlebih dahulu (Sutrisno, 2000:92). Jumlah subjek yang akan diteliti sebanyak 60 orang. Ini dibagi menjadi dua kriteria yaitu umat yang belum mengikuti pelajaran Komuni Pertama dan umat yang sudah pernah mengikuti pelajaran Komuni Pertama. Supaya hasilnya dapat dibandingkan antara yang pernah mengikuti pelajaran Komuni Pertama dan yang belum pernah mengikuti pelajaran Komuni Pertama. Apakah ada peningkatan dalam hal pemaknaan Ekaristi, makna Komuni, tata gerak dalam Perayaan Ekaristi.

  Masalah yang diteliti adalah mengenai peranan pelajaran komuni pertama terhadap penghayatan ekaristi di lingkungan St. Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat. Sampel yang digunakan adalah umat lingkungan St.Fransiscus Xaverius yang bisa membaca dan menulis sehingga dapat diminta untuk mengisi Skala Likert yang diberikan oleh penulis.

5. Instrumen Penelitian Instrumen Penelitian adalah alat pengumpul data (Moleong, 2012:168).

  Penelitian ini menggunakan instrumen nontes berupa Skala Likert dan dokumentasi.

a. Skala Likert Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Likert.

  Jawaban akan diukur dengan skala Likert. Adapun skala Likert adalah skala yang terdiri dari lima tingkat, dengan lima alternatif pilihan yakni Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-Ragu (RR), Kurang Setuju (KR) dan Sangat Tidak Setuju (STS) (Sutrisno Hardi. 1973: 177). Jawaban-jawaban yang ada berupa pernyataan- pernyataan yang berbeda dari masing-masing jawaban. Penilaian akhir dari skala Likert tersebut dilakukan dengan menjumlahkan seluruh skor tiap butir pernyataan.

  Peneliti akan membagikan lembar skala Likert dengan jawaban yang terdiri dari emapat tingkatan pada subjek penelitian yang terdiri dari 60 orang responden yang terdiri dari beberapa golongan yaitu orang dewasa, orang tua, OMK dan remaja. Peneliti menghilangkan pilihan RR (Ragu-ragu) untuk menghindari ketidakvalidan jawaban. Karena kecenderungan responden akan menjawab RR (ragu-ragu) untuk pernyataan yang tidak diketahuinya. Skala Likert ini terdiri dari 25 pertanyaan yang mencakup variabel pertama yaitu “Penghayatan Ekaristi”.

b. Wawancara

  Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara (Moleong 2012:186).

  Jenis wawancara yang akan digunakan adalah wawancara pembicaraan informal. Pada jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan sangat tergantung pada pewawancara, jadi bergantung pada spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan kepada terwawancara. Ini bertujuan supaya terwawancara merasa nyaman dalam menjawab pertanyaan, mungkin juga terwawancara tidak mengetahui kalau sedang diwawancarai.

  Jenis penelitian yang kedua adalah wawancara dengan menggunakan variabel yang kedua adalah “Pelajaran Komuni Pertama”. Penelitian ini hanya diperuntukan bagi pendamping Komuni Pertama saja. Supaya jelas materi, metode, doa-doa pokok, dll yang dapat mempengaruhi variabel pertama yaitu “Penghayatan Ekaristi”.

6. Variabel Penelitian

  Variabel yang akan diungkap dalam penelitian ini ada dua yaitu “Pelajaran Komuni Pertama” dan “Penghayatan Ekaristi”. Berikut ini adalah kisi-kisi Skala Likert untuk variabel yang pertama yaitu “Penghayatan Ekaristi”.

  

Tabel : 1. Variabel penelitian Penghayatan Ekaristi

  NO Variabel Variabel yang Nomor Jumlah Diungkap Item Soal

  1. Penghayatan 1). Pemahaman tentang 2 1, 2 ekaristi makna komuni pertama. 2). Dapat memahami 2 3, 4 tata cara dalam Perayaan Ekaristi. 3). Aktif di dalam tata 5 5, 6, 7, laksana Perayaan 8, 9 Ekaristi. 4). Memahami 10, 11, kedudukan Bacaan I, II

  4 12, 13 dan Injil di dalam Perayaan Ekaristi. 5). Memahami makna 14, 15, penyambutan Komuni. 4 16, 17 6). Memahami makna 4 18, 19, Doa Syukur Agung. 20, 21 7). Dapat merenungkan 22, 23, dampak Ekaristi di

  4 24, 25 dalam kehidupan sehari-hari.

  Berikut adalah kisi-kisi dari variabel kedua yaitu “Pelajaran Komuni Pertama” yang ditujikan untuk pendamping pelajaran komuni pertama atau katekis paroki.

  Tabel : 2. Variabel Pelajaran Komuni Pertama

  No Variabel Variabel yang Nomor item Jumlah diungkap soal

  1. Pelajaran 1). Materi yang 5 1,2,6,7,8 Komuni Pertama diberikan kepada peserta.

  2). Tujuan konkret 2 5,9 pelajaran komuni pertama. 3). Doa-doa pokok apa

  1

  3 yang harus dihafal. 4). Silabus.

  1

  4 C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  

1. HASIL PENELITIAN VARIABEL I (SUDAH KOMUNI) DAN

PEMBAHASANNYA

  Untuk mengetahui besarnya peranan pelajaran komuni pertama terhadap penghayatan Ekaristi, penulis mengadakan penyebaran Skala Likert di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat. Kegiatan penyebarkan Skala Likert ini bertujuan untuk mengatahui atau menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu/ sekelompok orang. Umat diharapkan dapat mengerti, mengatahui dan memahami sejauh mana peranan pelajaran Komuni Pertama di dalam proses Perayaan Ekaristi, sehingga dapat mempengaruhi penghayatan Ekaristi. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat hasil Skala Likert pada tabel di bawah ini.

  Tabel : 1. Penghayatan Ekaristi (sudah Komuni) (N : 30)

  No Pernyataan SS S KS TS

  1. Komuni Pertama adalah tahap 100% 0% 0% 0% wajib bagi seorang Katolik.

  2. Komuni Pertama membuat kita 76,6% 23,3% 0% 0% lebih penuh ikut serta dalam Perayaan Ekaristi.

  3. Tata cara di dalam Perayaan 1,3 % 83,3% 3,3% 0% Ekaristi sangat mudah dipahami bagi umat.

  4. Semua tata cara Perayaan Ekaristi 0% 3,3% 16,6% 80%

  dari ritus pembuka sampai penutup sebaiknya tidak harus diikuti oleh umat yang hadir.

  5. Setelah menerima Komuni Pertama 43,3% 0% 0%

  56,6%

  saya diwajibkan untuk aktif sebagai petugas liturgi di dalam Perayaan Ekaristi.

  6. Saya merasa sangat bangga, apabila 33,3% 0% 0%

  66,6%

  menjadi petugas liturgi seperti misdinar, kor, lektor, dll.

  7. Semakin mengenal Yesus dengan 70% 30% 0% 0% terlibat langsung menjadi petugas liturgi pada waktu Perayaan Ekaristi.

  8. Menjadi petugas liturgi pada saat 0% 3,3% 33,3% 63,3%

  Perayaan Ekaristi itu sangat melelahkan.

  9. Saya merasa kurang pantas untuk 3,3% 16,6% 43,3% 36,6%

  menjadi salah satu petugas liturgi, karena saya kurang siap untuk menjadi petugas liturgi.

  10. Saya lebih senang membaca teks 33,3% 40% 13,3%

  13,3%

  misa pada saat bacaan I, II dan Injil sedang dibacakan.

  11. Bacaan I, II dan Injil mempunyai 40% 6,6% 0%

  43,3%

  makna yang saling berkaitan satu sama lain.

  12. Bacaan I, II dan Injil memang 33,3% 3,3% 0%

  63,3%

  wajib dibacakan di dalam Perayaan Ekaristi. No Pernyataan S KS TS

  SS

  dan Injil sebelum Perayaan Ekaristi dimulai supaya dapat memahami maknanya.

  14. Saya merasa lebih menghargai dan 80% 20% 0% 0% menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang saya terima setelah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama.

  15. Saya selalu berdoa sebelum dan 13,3% 0% 0%

  86,6% sesudah menerima Komuni.

  16. Dengan menyambut Komuni, saya 20% 0% 0%

  80%

  merasakan kehadiran Tuhan sendiri di dalam jiwa dan ragaku.

  17. Saya lebih senang bergurau dengan 6,6% 36,6% 56,6%

  0% teman sebelum menerima Tubuh Kristus.

  18. Doa Syukur Agung (DSA) adalah 60% 36,6% 3,3% 0% tahap perubahan Roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

  19. Ketika Doa Syukur Agung (DSA) 40% 46,6% 13,3% 0% didoakan saya selalu khusuk mendoakannya.

  20. Saya tahu bahwa Doa Syukur 53,3% 43,3% 3,3% 0% Agung (DSA) adalah puncak dari Perayaan Ekaristi.

  21. Saya selalu membawa buku Tata 3,3% 30% 43,3% 23,3% Perayaan Ekaristi (TPE) dan ikut membaca pada saat Doa Syukur Agung (DSA) didoakan.

  22. Dengan mengikuti Perayaan 60% 3,3% 10%

  26,6%

  Ekaristi, saya selalu mengambil makna di dalam bacaan Injil untuk saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari.

  23. Apabila saya tidak mengikuti 66,6% 30% 3,3% 0% Perayaan Ekaristi pada hari minggu, saya merasa ada yang kurang di dalam diri saya.

  24. Perayaan Ekaristi membawa damai 86,6% 13,3% 0% 0% di dalam hidup saya.

  25. Saya selalu merasa rindu untuk 73,3% 26,6% 0% 0% mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu.

  

a. Pembahasan Tabel Pertama Variabel pertama tentang Penghayatan

Ekaristi bagi umat yang sudah menerima Sakramen Ekaristi.

  Di dalam tabel yang pertama tersebut semua responden menjawab sangat setuju (100%). Jawaban tersebut dapat bersifat representatif yang berarti mewakili pertanyaan secara keseluruhan. Ini dapat diartikan bahwa semua umat setuju kalau komuni pertama adalah tahap wajib bagi seorang Katolik.

  “Komuni Pertama membuat kita lebih penuh ikut serta dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (76,6%) dan yang menjawab setuju (23,3%). Ini berarti bahwa semua responden setuju kalau sudah menerima Komuni Pertama mereka mengikuti Perayaan Ekaristi bersama Yesus sendiri secara penuh dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Berbeda kalau belum menerima Komuni Pertama, umat hanya mengikuti Misa saja tanpa dibarengi dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus sendiri.

  “Tata cara Perayaan Ekaristi sangat mudah dipahami bagi semua umat”. Responden yang menjawab sangat setuju (13,3%) dan yang menjawab setuju (83,3%). Ini berarti hanya beberapa umat yang benar-benar memahami tata cara Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Kemudian sebagian besar umat itu hanya tahu saja tata cara Perayaan Ekaristi itu seperti apa dan tidak memahami secara mendalam. Dan juga ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%), berarti bahwa masih ada umat yang tidak mengetahui dan memahami tata cara Perayaan Ekaristi yang benar.

  “Semua tata cara Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai ritus menjawab tidak setuju (80%) dan yang menjawab kurang setuju (16,6%). Ini berarti bahwa sebagian besar umat setuju kalau tata cara Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai ritus penutup wajib diikuti oleh semua umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi. Karena ritus pembuka sampai ritus penutup tersebut adalah sebuah kesatuan dari Perayaan Ekaristi. Tetapi ada responden yang menjawab setuju (3,3%). Ini berarti bahwa masih ada sebagian kecil umat tidak mengetahui dan memahami kalau Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai penutup tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh.

  “Setelah menerima Komuni Pertama saya diwajibkan untuk aktif sebagai petugas liturgi di dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (56,6%) dan yang menjawab setuju (43,3%). Ini berarti umat setuju kalau setelah menerima Sakramen Ekaristi haruslah aktif menjadi petugas liturgi seperti misdinar, kor, lektor dll.

  “Saya merasa sangat bangga, apabila menjadi petugas liturgi seperti misdinar, kor, lektor, dll”. Responden menjawab sangat setuju (66,6%) sedangkan yang lainnya menjawab setuju (33,3%). Dengan jawaban tersebut, berarti semua umat merasa bangga apabila bisa menjadi salah satu petugas liturgi. Dengan menjadi petugas liturgi kita belajar untuk bertanggung jawab dan juga bisa dikenal oleh orang banyak.

  “Semakin mengenal Yesus dengan terlibat langsung menjadi petugas liturgi pada waktu Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (70%) dan yang menjawab setuju (30%). Umat merasa apabila telah terlibat aktif menjadi petugas liturgi, maka mereka merasa semakin kenal dengan Yesus sendiri. Ini dikarenakan di dalam Perayaan Ekaristi itu sendiri ada berbagai tata cara yang diberlakukan dan dituntut untuk konsentrasi, tenang dan khusyuk terhadap tugas kita sebagai petugas liturgi. Inilah yang membuat semakin mengenal Yesus.

  “Menjadi petugas liturgi itu sangat melelahkan”. Responden menjawab tidak setuju (63,3%) dan yang menjawab kurang setuju (33,3%). Ini berarti sebagian responden telah merasakan menjadi petugas liturgi itu tidaklah melelahkan, melainkan sangat membanggakan dan menyenangkan bisa terlibat secara langsung. Karena menjadi seorang petugas liturgi itu sangatlah diinginkan oleh anak-anak yang telah selesai dalam mengikuti pelajaran Komuni Pertama.

  Tetapi ada juga responden yang menjawab setuju (3,3%). Berarti responden tersebut mungkin belum pernah merasakan menjadi petugas liturgi. Jadi, mereka lebih memilih setuju.

  “Saya merasa kurang pantas untuk menjadi salah satu petugas liturgi, karena saya kurang siap untuk menjadi petugas liturgi”. Reponden menjawab tidak setuju (36,6%) ini berarti sebagian umat sudah merasa siap untuk menjadi petugas liturgi dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang mereka peroleh. Kemudian yang menjawab kurang setuju (43,3%) ini yang paling banyak. Berarti umat tersebut merasa pantas untuk menjadi petugas liturgi, tetapi mungkin mereka belum berani untuk mengajukan diri menjadi petugas liturgi. Yang menjawab setuju (16,6%) dan sangat setuju (3,3%). Ini berarti masih ada sebagian kecil umat merasa kalau mereka kurang pantas untuk menjadi petugas liturgi.

  Entah itu alasan tidak hafal tata caranya, belum pernah jadi petugas liturgi, dan juga malu, dll.

  “Saya lebih senang membaca teks misa pada saat bacaan I, II dan Injil sedang dibacakan”. Responden menjawab sangat setuju (13,3%) dan setuju (33,3%), berarti umat lebih senang menatap teks misa daripada mendengarkan lektor dan Romo membacakan bacaan. Mungkin mereka dapat lebih memahami makna bacaan teks misa dengan membacanya. Dan responden yang menjawab kurang setuju (40%), yang menjawab tidak setuju (13,3%). Dapat disimpulkan bahwa lebih dari separuh responden, lebih senang mendengarkan bacaan. Mereka lebih memahmi makna dari bacaan yang sedang dibacakan dengan mendengarkan.

  Dan bacaan yang dibacakan dengan baik itu tidaklah kalah daya sentuhnya dengan membaca bacaan.

  “Bacaan I, II dan Injil mempunyai makna yang saling berkaitan satu sama lain”. Responden menjawab sangat setuju (43,3%) dan menjawab setuju (40%).

  Dapat diartikan bahwa sebagian besar umat dapat memahami makna dari bacaan di dalam Perayaan Ekaristi dan memahami bahwa bacaan di dalam Perayaan Ekaristi itu saling berkaitan melalui homili yang disampaikan Romo. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (6,6%), berarti mereka belum mengetahui makna dari setiap bacaan yang dibacakan di dalam Perayaan Ekaristi.

  “Bacaan I, II dan Injil memang wajib dibacakan di dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (63,3%) dan yang menjawab setuju (33,3%). Berarti umat setuju kalau semua bacaan wajib dibacakan pada waktu Perayaan Ekaristi dan ini merupakan satu kesatuan dalam Perayaan Ekaristi.

  Apalagi kalau Misa hari Minggu semua bacaan memang wajib dibacakan.

  “Saya selalu membaca bacaan I, II dan Injil sebelum Perayaan Ekaristi dimulai supaya dapat memahami maknanya”. Responden yang menjawab sangat setuju (6,6%) hanya sedikit yang selalu membaca terlebih dahulu sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Responden yang menjawab setuju (40%), berarti masih ada sebagian umat yang membaca terlebih dahulu sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Tetapi masih ada respondengn yang menjawab kurang setuju (40%) dan menjawab tidak setuju (13,3%). Berarti lebih banyak umat yang tidak pernah membaca terlebih dahulu bacaan yang akan dibacakan. Mereka lebih suka membaca pada saat dibacakan.

  “Saya merasa lebih menghargai dan menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang saya terima setelah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama”.

  Responden menjawab sangat setuju (80%) dan yang menjawab setuju (20%). Ini berarti bahwa semua umat merasa lebih menghargai Tubuh dan Darah Kristus, karena mereka telah memperoleh pengetahuan dan memperoleh pengalaman iman dari pelajaran Komuni Pertama.

  “Saya selalu berdoa sebelum dan sesudah menerima Komuni”. Responden menjawab sangat setuju (86,6%) dan yang menjawab setuju (13,3%). Berarti semua responden selau berdoa sebelum dan sesudah menerima Komuni. Karena mereka sadar bahwa sebelum menerima Komuni haruslah menyiapkan batin, jiwa dan raga supaya siap menerima Tubuh Kristus sendiri. Dan juga setelah menerima Komuni kita pun wajib berdoa. Karena Tuhan sendiri telah merelakan diri hadir dan bersemayam di dalam diri kita yang penuh dosa ini.

  “Dengan menyambut komuni, saya merasakan kehadiran Tuhan Yesus sendiri di dalam jiwa dan ragaku”. Responden yang menjawab sangat setuju (80%) dan yang menjawab setuju (20%). Ini menunjukkan bahwa umat benar- benar memahami makna Tubuh Tuhan Yesus sendiri yang kita santap. Dan setelah itu merasakan kehadiran Tuhan Yesus sendiri di dalam Tubuh kita.

  “Saya lebih senang bergurau dengan teman sebelum menerima Tubuh Kristus”. Responden yang menjawab tidak setuju (80%) dan yang menjawab kurang setuju (36,6%). Ini berarti umat selalu khusyuk dikala akan menerima Tubuh Kristus, karena kita harus mempersiapkan jiwa dan raga kita untuk menerima Tubuh Kristus yang Suci. Tetapi responden juga ada yang menjawab setuju (6,6%), berarti mereka tetap saja bergurau, berbicara dengan orang/ teman di sebelahnya dan tidak khusyuk waktu menerima Tubuh Kristus. Sehingga mereka tidak bisa benar-benar merasakan kehadiran Tuhan sendiri.

  “Doa Syukur Agung (DSA) adalah tahap perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus”. Responden menjawab sangat setuju (60%) dan yang menjawab setuju (36,6%). Ini menandakan bahwa tidak semua umat mengetahui tentang perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

  Seharusnya umat dapat menjawab sangat setuju semua karena telah mengikuti pelajaran Komuni Pertama. Tetapi masih juga ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%). Berarti mereka mempunyai pendapat sendiri tentang perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

  “Ketika Doa Syukur Agung (DSA) didoakan saya selalu khusyuk mendoakannya”. Responden menjawab sangat setuju (40%) dan yang menjawab setuju (46,6%). Sebagian besar umat mendoakan Doa Syukur Agung dengan khusyuk, supaya dapat merasakan kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah Jemaat yang sedang merayakan Perayaan Ekaristi. Ada juga responden yang menjawab kurang setuju (13,3%), berarti masih ada sebagian umat yang tidak khusyuk ketika mendokan Doa Syukur Agung. Ini menandakan iman mereka belum cukup berkembang.

  “Saya tahu bahwa Doa Syukur Agung adalah puncak dari Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (53,3%), yang menjawab setuju (43,3%) dan ada juga yang menjawab kurang setuju (3,3%). Dapat diartikan bahwa sebagian besar umat mengetahui bahwa Doa Syukur Agung merupakan puncak dari Perayaan Ekaristi, tetapi masih juga ada umat yang belum mengetahui hal tersebut.

  “Saya selalu membawa buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dan ikut membaca pada saat Doa Syukur Agung didoakan”. Responden menjawab sangat setuju (3,3%). Ini berarti yang membawa TPE hanya sedikit sekali. Padahal urutan, panduan Perayaan Ekaristi, doa-doa semua ada di buku tersebut.

  Responden yang menjawab setuju (30%), berarti mereka tidak selalu membawa buku tersebut. Kemudian sebagian besar responden menjawab kurang setuju (43,3%) dan yang menjawab tidak setuju (23,3%). Ini berarti kesadaaran umat untuk membawa buku TPE sangatlah rendah.

  “Dengan mengikuti Perayaan Ekaristi, saya selalu mengambil makna di dalam bacaan Injil untuk saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari”.

  Responden menjawab sangat setuju (26,6%) dan yang menjawab setuju (60%). Ini berarti umat dapat mengambil makna di dalam bacaan kemudian menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari dan menunjukan jati diri seorang Katolik.

  Responden menjawab kurang setuju (3,3%) dan tidak setuju (10%). Hanya sebagian kecil umat yang tidak mengambi makna dari bacaan.

  “Apabila saya tidak mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu, saya merasa ada yang kurang di dalam diri saya”. Responden menjawab sangat setuju (66,6%) dan yang menjawab setuju (30%). Ini berarti bahwa umat benar-benar merasakan kehadiran Tuhan Yesus di dalam Perayaan Ekaristi. Tetapi ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%), ini menandai bahwa mereka belum dapat merasakan kehadiran Tuhan di dalam dirinya.

  “Perayaan Ekaristi membawa damai di dalam hidup saya”. Responden menjawab sangat setuju (86,6%), yang menjawab setuju (13,3%) dan tidak ada yang menjawab kurang setuju atau tidak setuju. Ini berarti memang Perayaan Ekaristi membawa damai bagi kita yang datang untuk merayakannya.

  “Saya selalu merasa rindu untuk mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu”. Responden menjawab sangat setuju (73,3%), yang menjawab setuju (26,6%) dan tidak ada yang menjawab kurang setuju ataupun tidak setuju. Ini berarti kehadiran Tuhan di dalam diri kita membawa perubahan pada kehidupan sehari-hari kita. Maka, bila kita tidak mengikuti Misa hari Minggu, terasa ada yang kurang di dalam diri kita masing-masing. Berarti Tuhan benar-benar bersemayam di dalam diri umat masing-masing.

2. HASIL PENELITIAN

  VARIABEL I (BELUM KOMUNI) DAN PEMBAHASANNYA

  Untuk tabel berikut ini adalah hasil dari penyebaran Skala Likert untuk responden yang belum menerima Sakramen Ekaristi.

  Tabel 2 : Penghayatan Ekaristi (Belum Komuni) (N : 30)

  No Pernyataan S KS TS

  SS

  1. Komuni Pertama adalah tahap 80% 20% 0% 0% wajib bagi seorang Katolik.

  2. Komuni Pertama membuat kita 66,6% 23,3% 10% 0% lebih penuh ikut serta dalam Perayaan Ekaristi.

  3. Tata cara di dalam Perayaan 53,3 33,3% 6,6% 6,6% Ekaristi sangat mudah dipahami % bagi umat.

  4. Semua tata cara Perayaan Ekaristi 13,3% 6,6% 16,6% 63,3%

  dari ritus pembuka sampai penutup sebaiknya tidak harus diikuti oleh umat yang hadir.

  5. Setelah menerima Komuni Pertama 33,3% 0% 0%

  66,6%

  saya diwajibkan untuk aktif sebagai petugas liturgi di dalam Perayaan Ekaristi.

  6. Saya merasa sangat bangga, apabila 70% 26,6% 3,3% 0% menjadi petugas liturgi seperti misdinar, kor, lektor, dll.

  7. Semakin mengenal Yesus dengan 50% 36,6% 13,3% 0% terlibat langsung menjadi petugas liturgi pada waktu Perayaan Ekaristi.

  8. Menjadi petugas liturgi pada saat 3,3% 10% 83,3%

  3,3% Perayaan Ekaristi itu sangat melelahkan.

  9. Saya merasa kurang pantas untuk 6,6% 23,3% 23,3%

  46,6% menjadi salah satu petugas liturgi, karena saya kurang siap untuk menjadi petugas liturgi. No Pernyataan S KS TS

  SS sedang dibacakan.

  11. Bacaan I, II dan Injil mempunyai 50% 50% 0% 0% makna yang saling berkaitan satu sama lain.

  12. Bacaan I, II dan Injil memang 73,3% 26,6% 0% 0% wajib dibacakan di dalam Perayaan Ekaristi.

  13. Saya selalu membaca Bacaan I, II 16,6% 13,3% 10% 60% dan Injil sebelum Perayaan Ekaristi dimulai supaya dapat memahami maknanya.

  14. Saya merasa lebih menghargai dan 20% 3,3% 0%

  76,6%

  menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang saya terima setelah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama.

  15. Saya selalu berdoa sebelum dan 73,3% 26,6% 0% 0% sesudah menerima Komuni.

  16. Dengan menyambut Komuni, saya 83,3% 16,6% 0% 0% merasakan kehadiran Tuhan sendiri di dalam jiwa dan ragaku.

  17. Saya lebih senang bergurau dengan 0% 10% 3,3% 86,%

  teman sebelum menerima Tubuh Kristus.

  18. Doa Syukur Agung (DSA) adalah 66,6% 30% 3,3% 0% tahap perubahan Roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

  19. Ketika Doa Syukur Agung (DSA) 56,6% 40% 3,3% 0% didoakan saya selalu khusuk mendoakannya.

  20. Saya tahu bahwa Doa Syukur 76,6% 16,6% 6,6% 0% Agung (DSA) adalah puncak dari Perayaan Ekaristi.

  21. Saya selalu membawa buku Tata 33,3% 16,6% 0% 50% Perayaan Ekaristi (TPE) dan ikut membaca pada saat Doa Syukur Agung (DSA) didoakan.

  22. Dengan mengikuti Perayaan 40% 3,3% 3,3%

  53,3%

  Ekaristi, saya selalu mengambil makna di dalam bacaan Injil untuk saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari.

  23. Apabila saya tidak mengikuti 70% 23,3% 3,3% 3,3%

  No Pernyataan S KS TS

  SS kurang di dalam diri saya.

  24. Perayaan Ekaristi membawa damai 66,6% 33,3% 0% 0% di dalam hidup saya.

  25. Saya selalu merasa rindu untuk 30% 3,3% 0%

  66,6%

  mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu.

a. Pembahasan tabel kedua variabel pertama tentang Penghayatan Ekaristi bagi umat yang belum menerima Komuni Pertama.

  “Komuni Pertama adalah tahap wajib bagi seorang Katolik”. Responden menjawab sangat setuju (80%) dan yang menjawab setuju (20%). Responden berarti sudah mengetahui bahwa untuk menjadi seorang Katolik haruslah melalui berbagai tahapan salah satunya adalah Komuni Pertama. Mereka juga tahu bahwa setelah berumur delapan tahun atau kelas tiga Sekolah Dasar, mereka harus mengikuti Pelajaran Komuni Pertama.

  “Komuni Pertama membuat kita lebih penuh ikut serta dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (66,6%) dan yang menjawab setuju (23,3%). Umat merasakan apabila mereka belum menerima Komuni Pertama, yang mereka rasakan adalah keinginan untuk segera menerima Tubuh dan Darah Kristus untuk yang pertama kalinya layaknya umat lain yang sudah menerima- Nya. Tetapi ada juga yang menjawab kurang setuju (10%), mengkin saja mereka belum mengerti sepenuhnya tentang Komuni Pertama dan Perayaan Ekaristi.

  “Tata cara di dalam Perayaan Ekaristi sangat mudah dipahami bagi umat”. Responden menjawab sangat setuju (53,3%) dan yang menjawab setuju (53,3%). Ini berarti sebagian responden sudah mengerti dan memahami apa saja yang dilakukan pada saat Perayaan Ekaristi. Mereka juga sudah sering mengikuti Perayaan Ekaristi. Ada juga responden yang menjawab kurang setuju (6,6%) dan ada juga yang menjawab tidak setuju (6,6%). Ini dapat berarti bahwa responden tidak selalu berkonsentrasi apabila mengikuti Perayaan Ekaristi. Sehingga mereka belum memahami tentang tata cara di dalam Perayaan Ekaristi.

  “Semua tata cara Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai penutup sebaiknya tidak harus diikuti oleh umat yang hadir”. Responden menjawab tidak setuju (63,3%) dan yang menjawab kurang setuju (16,6%). Ini berarti bahwa sebagian umat yang belum menerima Komuni Pertama telah memahami tata cara Perayaan Ekaristi dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Mereka juga tahu bahwa semua itu adalah merupakan satu kesatuan. Kemudian ada juga responden yang menjawab setuju (6,6%) dan yang menjawab sangat setuju lebih besar (13,3%). Mereka beranggapan bahwa Perayaan Ekaristi itu bisa dihilangkan salah satu ritusnya yang tidak penting.

  “Setelah menerima Komuni Pertama saya diwajibkan untuk aktif sebagai petugas liturgi di dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (66,6%) dan juga menjawab setuju (33,3%). Ini berarti bahwa semua umat beranggapan memang seharusnya setelah menerima Komuni Pertama, mereka harus aktif untuk menjadi petugas liturgi seperti menjadi misdinar.

  “Saya merasa sangat bangga, apabila menjadi petugas liturgi seperti misdinar, kor, lektor, dll”. Responden menjawab sangat setuju (70%) dan yang menjawab setuju (26,6%). Ini berarti bahwa umat mendambakan kelak kalau telah menerima Komuni Pertama dan menjadi petugas liturgi akan merasa bangga. Tetapi ada juga responden menjawab kurang setuju (3,3%), berarti umat tidak menginginkan menjadi petugas liturgi dan walaupun menjadi petugas liturgi mereka tidak merasa bangga.

  “Semakin mengenal Yesus dengan terlibat langsung menjadi petugas liturgi pada waktu Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (50%) dan yang menjawab setuju (36,6%). Umat merasakan bahwa setelah terlibat langsung menjadi petugas liturgi akan semakin mengenal Yesus. Ikut membantu Imam/ Romo di dalam Perayaan Ekaristi. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (13,3%), mungkin mereka berpendapat kalau mengenal Yesus itu tidak hanya dengan menjadi petugas liturgi tetapi dengan cara-cara yang lain.

  “Menjadi petugas liturgi pada saat Perayaan Ekaristi itu sangat melelahkan”. Responden menjawab tidak setuju (83,3%) dan yang menjawab kurang setuju (10%). Ini berarti umat telah membayangkan bahwa ketika menjadi petugas liturgi itu tidaklah melelahkan. Karena itu kita melayani Tuhan sendiri dengan niat kita yang tulus. Tetapi masih ada responden yang menjawab setuju (3,3%) dan juga ada yang menjawab sangat setuju (3,3%). Maklum ada yang menjawab seperti itu, karena mereka belum pernah merasakannya.

  “Saya merasa kurang pantas untuk menjadi salah satu petugas liturgi, karena saya kurang siap untuk menjadi petugas liturgi”. Responden menjawab tidak setuju (23,3%) dan yang menjawab setuju (23,3%). Kurang dari separuh umat merasakan sudah pantas untuk menjadi seorang petugas liturgi. Dan juga ada yang menjawab setuju (6,6%) dan sangat setuju (46,6%). Ini berarti umat merasa bahwa mereka belum siap mental, pengetahuan, dan juga tidak percaya diri.

  “Saya lebih senang membaca teks misa pada saat bacaan I, II dan Injil sedang dibacakan”. Responden menjawab sangat setuju sebesar (46,6%) dan yang menjawab setuju sebesar (26,6%). Ini berarti sebagian besar umat lebih senang membaca bacaan ketika sedang dibacakan. Umat merasa lebih mantap apabila membaca bacaan daripada hanya mendengarkan saja. Tetapi sebagian responden menjawab kurang setuju (16,6%) dan yang menjawab tidak setuju (10%). Umat mempunyai kebiasaan lebih senang mendengarkan bacaan dan memperhatikan Imam atau lektor yang sedang membacakan bacaan.

  “Bacaan I, II dan Injil mempunyai makna yang saling berkaitan satu sama lain”. Responden menjawab sangat setuju (50%) dan yang menjawab setuju (50%). Ini berarti semua umat mempunyai pemahaman bahwa semua bacaan itu mempunyai makna yang berkaitan satu sama lain.

  “Bacaan I, II dan Injil memang wajib dibacakan di dalam Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (73,3%) dan menjawab setuju (26,6%). Ini berarti memang umat setuju kalau semua bacaan dibacakan.

  Khususnya pada Misa hari Minggu.

  “Saya selalu membaca Bacaan I, II dan Injil sebelum Perayaan Ekaristi dimulai supaya dapat memahami maknanya”. Responden menjawab sangat setuju (16,6%) dan yang menjawab setuju (13,3%). Ini berarti umat yang selalu membaca terlebih dahulu bacaan sebelum Perayaan Ekaristi itu hanya sedikit.

  Kemudian responden yang menjawab kurang setuju (10%) dan yang menjawab tidak setuju (60%). Dapat dilihat kalau lebih banyak umat yang tidak pernah membaca bacaan di dalam teks terlebih dahulu. Mungkin karena dirasa tidak penting, karena nanti pada saat Perayaan Ekaristi akan dibacakan juga.

  “Saya merasa lebih menghargai dan menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang saya terima setelah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama”.

  Responden menjawab sangat setuju (76,6%) dan yang menjawab setuju (20%). Ini berarti sebagian besar umat merasakan bahwa mereka mungkin akan lebih menghargai dan menghormati Tubuh dan Darah Kristus, karena mempunyai keinginan yang kuat untuk segera menerima-Nya. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%). Karena umat merasa bahwa tidak hanya rasa keinginan yang kuat dapat meningkatkan rasa hormat dan menghargai Tubuh dan Darah Kristus.

  “Saya selalu berdoa sebelum dan sesudah menerima Komuni”. Responden menjawab sangat setuju (73,3%) dan yang menjawab setuju (26,6%). Ini berarti umat yang belum menerima Komuni sudah melatihnya pada saat akan menerimakan Berkat lewat Imam. Mereka selalu berdoa sebelum menerima Berkat dan setelah meneria Berkat.

  “Dengan menyambut Komuni, saya merasakan kehadiran Tuhan sendiri di dalam jiwa dan ragaku”. Responden menjawab sangat setuju (83,3%) dan yang menjawab setuju (16,6%). Ini berarti umat walaupun belum menerima Komuni Pertama, tetapi mereka merasakan betapa keinginan mereka untuk segera menerima Komuni Pertama sangat besar.

  “Saya lebih senang bergurau dengan teman sebelum menerima Tubuh Kristus”. Responden yang menjawab sangat setuju (86,6%) dan responden yang menjawab setuju (3,3%). Ini berarti bahwa walaupun mereka tidak menerima Tubuh Kristus, mereka tetap khusyuk berdoa di tempat duduk. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (10%). Ini berarti sebagian kecil umat lebih memilih untuk mengobrol dengan teman sebelahnya.

  “Doa Syukur Agung (DSA) adalah tahap perubahan Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus”. Responden menjawab sangat setuju (66,6%) dan yang menjawab setuju (30%). Ini berarti bahwa umat telah mengerti kalau Doa Syukur Agung merupakan tahapan pada saat perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Masih ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%). Berarti umat tidak mengetahui kalau yang didoakan roti dan anggur tersebut akan berubah sendiri menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

  “Ketika Doa Syukur Agung (DSA) didoakan saya selalu khusyuk mendoakannya”. Responden menjawab sangat setuju (56,6%) dan yang menjawab setuju (40%). Ini berati umat banyak yang ikut berdoa Doa Syukur Agung walaupun mereka belum menerima Komuni Pertama. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%), ini berarti masih ada umat yang tidak ikut mendokannya karena mungkin mereka merasa kalau belum Komuni itu tidak wajib untuk mendoakan DSA.

  “Saya tahu bahwa Doa Syukur Agung (DSA) adalah puncak dari Perayaan Ekaristi”. Responden menjawab sangat setuju (76,6%) dan yang menjawab setuju (16,6%). Ini berarti bahwa umat mengatahui dengan pasti bahwa Doa Syukur Agung adalah puncak dari Perayaan Ekaristi. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (6,6%), ini berarti umat beranggapan bahwa bukanlah Doa Syukur Agung yang menjadi puncak dari Perayaan Ekaristi.

  “Saya selalu membawa buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dan ikut membaca pada saat Doa Syukur Agung (DSA) didoakan”. Responden yang menjawab sangat setuju (33,3%) dan yang menjawab setuju (16,6%). Ini berati hanya sedikit umat yang selalu membawa buku TPE pada saat Perayaan Ekaristi.

  Dan responden yang menjawab tidak setuju (50%), berarti lebih banyak umat yang tidak membawa buku TPE.

  “Dengan mengikuti Perayaan Ekaristi, saya selalu mengambil makna di dalam bacaan Injil untuk saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari”.

  Responden yang menjawab sangat setuju (53,3%) dan yang menjawab setuju (40%). Ini berarti sebagian umat selalu dapat mengambil hikmah dari setiap bacaan yang dibacakan pada saat Perayaan Ekaristi dan dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi masih ada reaponden yang menjawab kurang setuju (3,3%) dan menjawab tidak setuju (3,3%). Ini berati sebagian kecil umat tidak bisa mengambil hikmah dan diterapkan di dalam kehidupan sehari-harinya.

  “Apabila saya tidak mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu, saya merasa ada yang kurang di dalam diri saya”. Responden menjawab sangat setuju (70%) dan yang menjawab setuju (23,3%). Ini berati walaupun umat belum menerima Tubuh Kristus pada saat Perayaan Ekarissti, mereka merasakan adanya kerinduan untuk melihat lagi Tubuh dan Darah Kristus. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%) dan yang menjawab tidak setuju

  (3,3%), ini berarti bahwa masih ada umat yang pergi ke gereja karena hanya ingin bertemu dengan teman-teman dan mengobrol saja.

  “Perayaan Ekaristi membawa damai di dalam hidup saya”. Responden yang menjawab sangat setuju (66,6%) dan yang menjawab setuju (33,3%). Ini berati semua umat merasakan kedamaian setelah mengikuti Perayaan Ekaristi.

  “Saya selalu merasa rindu untuk mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu”. Responden yang menjawab sangat setuju (66,6%) dan yang menjawab setuju (30%). Ini berarti sebagian besar umat merasakan kerinduan untuk ikut Perayaan Ekaristi walupun belum menerima Tubuh Kristus. Tetapi masih ada responden yang menjawab kurang setuju (3,3%). Ini berarti sebagian kecil umat tidak merasakan kerinduan untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.

3. HASIL WAWANCARA VARIABEL II

  Materi pokok apa yang harus dikuasi oleh masing-masing peserta untuk dapat memenuhi kriteria sebagai calon penerima Komuni pertama adalah Yang pertama adalah peserta benar-benar tahu makna Tubuh dan Darah Kristus. Dengan cara meresapi maknya pada saat Konsekrasi di waktu Perayaan Ekaristi. Supaya peserta ketika sudah menerima Tubuh dan Darah Kristus, mereka tidak main-main lagi. Yang kedua adalah Doa. Ini menjadi penting karena pada setiap Perayaan Ekaristi harus mendoakan doa-doa dasar, yaitu Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Doa Tobat, Sepuluh Perintah Allah. Baik yang bahasa indonesia dan juga bahasa jawa.Yang ketiga, peserta harus tahu siapa yang membaptis mereka, harus tahu siapa emban Baptisnya, dan juga diharapkan para orang tua mempunyai mereka itu dibaptis dan menjadi bagian dari warga Gereja.Yang keempat, peserta harus tahu alasan mengapa mereka di Baptis. Jadi, tidak mudah untuk menyangkal bahwa mereka itu adalah warga Gereja.

  Materi apa saja yang diberikan kepada peserta adalah Syukur atas pesta ulang tahun nama pelindung/ pesta pelindung, Kebersamaan dengan orang lain di sekitanya. Bagaimana orang itu kalau hidupnya hanya sendirian saja, tidak ada orang lain. Kesendirian itu bagaimana. Kemudian, Murid-murid Yesus. Yesus memanggil ke duabelas murid-Nya. Ekaristi, Sakramen-sakramen yang akan diterimakan oleh umat. Nabi-nabi perjanjian lama. Mengucapkan terima kasih/ syukur. Karena anak-anak zaman ssekarang kurang dapat bersyukur terhadap dirinya sendiri dan anugerah yang Allah berikan. Seperti yang ada dalam buku “Persiapan Komuni Pertama” terbitan kanisius.

  Doa-doa apa saja yang wajib dihafalkan oleh masing-masing peserta adalah doa-doa yang biasa didoakan sehari-hari : Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Doa Tobat, Sepuluh Perintah Allah dengan bahasa Indonesia dan juga bahasa jawa.

  Meski pun tidak ada silabus yang dibuat secara khusus tetapi guru agama menggunakan catatan pada setiap pertemuannya dirancang akan memasuki materi yang mana. Pelajarannya dimulai bulan Agustus sampai juni dirancang untuk tiga puluh eman kali pertemuan.

  Tujuan konkret apa yang harus dicapai dalam pelajaran komuni pertama adalah Menerima Sakramen Ekaristi itu sungguh-sungguh dihayati bahwa Tuhan sendiri itu hadir di dalam rupa Hosti Suci. Kemudian ibu guru agama juga menceritakan pula bahwa ada suatu pengalaman Iman yang pernah benar-benar terjadi di Paroki Santa Maria Ratu Bayat. Yaitu ada salah satu ibu yang sedang hamil, tetapi beliau tidak percaya bahwa Hosti Suci itu adalah Tuhan Yesus sendiri yang hadir melalui Konsekarasi. Kemudian janin yang ada di dalam kandungan tiba-tiba menjadi kering. Janin tersebut bisa dikeluarkan hanya melalui operasi. Kemudian ibu tersebut di teguhkan iman nya oleh Ibu Guru yang mengajar komuni pertama dan menjadi percaya. Pada saat akan dioperasi seperti mukjizat, janin yang kering tersebut keluar dengan sendirinya. Dan tidak jadi dioperasi. Dengan menceritakan pengalaman Iman kepada peserta calon penerima komuni Pertama ini bisa membantu anak untuk percaya.

  Ada tugas-tugas wajib yang diberikan kepada setiap peserta, seperti mengikuti kegiatan di gereja dan lingkungan dengan meminta tanda tangan kepada yang bersangkutan. Dan juga selalu ada tugas dan wajib dikerjakan oleh setiap peserta. Dan juga selalu ada pekerjaan rumah (PR).

  Buku yang digunakan untuk menunjang materi yang diberikan oleh pendamping komuni pertama adalah buku pegangan guru, buku pegangan anak, Kitab Suci. Penggunaan Kitab Suci adalah untuk memperkenalkan kepada peserta dan juga peserta dapat belajar untuk membuka Kitab Suci dengan baik dan benar.

  Ada berbagai macam metode pengajaran yang digunakan dalam setiap pertemuannya antara lain Bercerita, Tanya jawab, Peragaan, Tes lisan dan pretes.

  Supaya anak-anak tidak bosan dengan metode yang hanya monoton saja.

  Tidak ada hukuman untuk peserta pelajaran komuni pertama yang tidak mengerjakan tugas, mengumpulkan tugas tepat waktu dan tidak dapat menghafalkan doa tepat waktu. Tetapi apabila peserta belum dapat menghafal dengan baik doa-doa yang wajib dihafalkan maka diminta untuk menghafalkan lagi sampai hafal dengan lancar.Guru menghukum dengan sifat pedagogik.

4. KESIMPULAN PENELITIAN

  Pertanyaan point kestu dan kedua ini mengenai pemahaman Komuni Pertama di dalam Gereja Katolik. Di sini terdapat perbedaan untuk yang sudah menerima Komuni dengan yang belum menerima Komuni. Untuk yang sudah menerima komuni semuanya atau 100% menjawab sangat setuju, ini berarti bahwa yang telah menerima Komuni benar-benar mengetahui kalau Komuni Pertama merupakan tahap wajib untuk menjadi seorang Katolik. Kemudian untuk yang belum komuni hanya 80% yang menjawab sangat setuju dan yang lain menjawab setuju saja. Ini berarti bahwa memang yang belum komuni itu kurang tahu bahwa Komuni Pertama adalah tahap wajib bagi seorang Katolik.

  Di dalam point yang keempat “Semua tata cara Perayaan Ekaristi dari

  

ritus pembuka samapi penutup sebaiknya tidak harus diikuti oleh umat yang

hadir”. Di sini terdapat perbedaan yaitu untuk responden yang sudah komuni

  menjawab sangat setuju sebesar 0% dan untuk responden yang belum komuni menjawab sangat setuju sebesar 13,3%. Ini menandakan bahwa responden yang belum komuni memang belum mengetahui kalau semua tata cara Perayaan Ekaristi dari pembuka sampai penutup memang sebaiknya harus diikuti oleh umat yang hadir.

  Pada point kedelapan “Menjadi petugas liturgi pada saat Perayaan

  

Ekaristi itu sangat melelahkan”. Untuk responden yang sudah komuni menjawab

  sangat setuju sebesar 0%. Ini memungkinkan bahwa mereka yang sudah komuni pasti sudah pernah merasakan menjadi petugas liturgi jadi, mereka tidak merasakan lelah dalam menjalankan tugasnya sebagai petugas liturgi. Dan responden yang belum komuni menjawab sangat setuju sebesar 3,3%. Ini berarti memang yang belum komuni itu beranggapan bahwa melelahkan menjadi petugas liturgi karena belum pernah mnejadi petugas liturgi.

  Di dalam point kesembilan “Saya merasa kurang pantas untuk menjadi

  

salah satu petugas liturgi, karena saya kurang siap untuk menjadi petugas

liturgi”. Untuk responden yang sudah komuni menjawab sangat setuju sebesar

  3,3% dan untuk responden yang belum komuni menjawab sangat setuju sebesar 46,6%. Ini berarti bahwa yang sudah komuni memang sudah siap untuk menjadi petugas liturgi, karena sudah dibekali pada saat pelajaran komuni pertama. Dan untuk yang belum komuni memang merasakan belum siap untuk menjadi petugas liturgi karena belum mendapatkan bekal apa-apa.

  Pada point keempat belas “Saya merasa lebih menghargai dan menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang saya terima setelah mendapatkan pelajaran Komuni Pertama.” Ini terdapat perbedaan untuk yang sudah komuni menjawab sangat setuju sebesar 80% dan untuk yang belum komuni menjawab sangat setuju sebesar 76,6%. Dapat diartikan bahwa yang sudah menerima komuni itu lebih menghargai Tubuh dan Darah Kristus, tetapi yang belum menerima itu sudah dapat menghargai tetapi belum mengerti benar-benar makna Tubuh dan Darah Kritus itu sendiri hakikatnya seperti apa.

  Untuk point kedua puluh empat “Perayaan Ekaristi membawa damai di dalam hidup saya.” Point ini menunjukkan pernyataan untuk yang sudah komuni menjawab sangat setuju sebesar 86,6%. Ini berarti untuk yang sudah komuni, mereka benar-benar merasakan bahwa mengikuti Perayaan Ekaristi dan menyambut Komuni itu memang menbawa damai bagi hidup kesehariannya. Dan untuk yang belum komuni menjawab sebesar 66,6% mereka belum dapat merasakan kedamaian di dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Karena hanya sekedar mengikuti Perayaan Ekaristi saja.

  Pada point terakhir kedua puluh lima “Saya selalu merasa rindu untuk mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu.” Untuk yang sudah komuni menjawab sangat setuju sebesar 73,3% dan untuk yang belum komuni menjawab sangat setuju sebesar 66,6%. Ini menunjukkan bahwa yang sudah menerima komuni lebih merasakan kerinduan untuk menerima kembali Tubuh Kristus dalam Perayaan Ekaristi. Ini menunjukkan bahwa Tubuh Kristus sendiri membawa manfaat bagi seseorang yang menerimanya. Untuk yang belum komuni, mereka sudah merasakan kerinduan untuk segera dapat menerima Komuni seperti umat- umat yang lain.

  Dapat ditarik kesimpulan bahwa pelajaran persiapan komuni pertama itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam penghayatan ekaristi untuk umat di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat. Seperti dalam materi-materi yang diajarkan oleh guru agama tentang Ekaristi dan tata caranya, ini membuat umat lebih-lebih peserta yang telah menerima Komuni Pertama menjadi semakin tahu bagaimana tata cara di dalam Perayaan Ekaristi tersebut seperti apa. Dan juga doa- doa harian yang wajib bagi peserta untuk dihafalkan. Karena ini juga penting, bahwa doa-doa harian tersebut selalu didoakan pada waktu Perayaan Ekaristi.

  Apabila tidak hafal maka kita tidak dapat ikut serta mengucapkan doa bersama- sama dengan umat yang lainnya.

  Disini tidak kalah pentingnya dengan Pelajaran Komuni Pertama sendiri yaitu pendidikan iman di dalam keluarga. Ini penting karena anak-anak sudah diajarkan sejak dini yang menjadi dasar iman Katolik itu seperti apa. Jadi pada saat mengikuti pelajaran komuni pertama mereka langsung dapat mengikuti dengan baik karena telah mendapatkan bekal di dalam keluarga.

  Dapat dilihat juga bahwa penelitian yang ditujukan untuk responden yang belum menerima Komuni Pertama tersebut ada point yang dapat diambil ada pada bagian yang kurang siap untuk menjadi petugas liturgi. Mungkin karena mereka merasa kalau belum bisa mennerima Komuni Pertama dan belum mampu untuk menjadi petugas liturgi. Walaupun seperti itu tetapi mereka mempunyai semangat untuk segera ikut pelajaran komuni pertama.

  Untuk sebagian besar umat apabila ke gereja itu tidak membawa buku apapun, seperti Kidung Adi, Puji Syukur ataupun TPE. Ini yang membuat umat tidak tahu tentang tata cara dalam Perayaan Ekaristi. Sehingga terkadang salah sendiri dalam pengucapan doa-doa atupun hanya Imam saja yang menjawab doa tersebut. Ini menjadi perhatian khusus. Sudah sering diberitahukan untuk membawa TPE maupun buku-buku yang lain yang dapat membantu umat untuk ikut dalam Perayaan Ekaristi.

  Dari semua umat yang menjawab setuju dan sangat setuju, tetap saja ada umat yang menjawab kurang setuju dan tidak setuju. Ini menandakan bahwa pandangan mereka tentang Perayaan Ekarist itu berbeda-beda. Dan pada intinya semua umat Paroki Administrtif Santa Maria Ratu Bayat telah mengetahui apa itu Perayaan Ekaristi dan penghayatannya, pelajaran komuni pertama dan peranannya.

  Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa pelajaran komuni pertama itu penting. Materi tentang pemahaman tentang Ekaristi itu menentukan bagaimana peserta menghayati Perayaan Ekaristi. Sehingga perlu ditambah lagi materi-materi yang sekiranya belum ada seperti arti Ekaristi, Tata Perayaan Ekaristi, sikap batin dan tata gerak Ekaristi, Petugas Ekaristi, Sarana Ekaristi dan juga pemahaman tetang sakramen tobat. Materi tersebut memang penting untuk membantu peserta dalam memahami tentang Ekaristi.

  75

BAB IV KESIMPULAN, SARAN DAN REFLEKSI PASTORAL Pada bagian ini, penulis akan mengungkapkan kesimpulan, saran dan

  refleksi pastoral yang berkaitan dengan peranan pelajaran komuni pertama terhadap penghayati ekaristi bagi peserta di Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten. Kesimpulan ini penulis rumuskan berdasarkan kajian pustaka pada bab II dan hasil penelitian dalam bab III. Saran dikemukakan berdasarkan kesimpulan dan ditujukan kepada keluarga Katolik, para peserta dan Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten.

A. KESIMPULAN Anak-anak beranggapan bahwa ke Gereja adalah menuruti orang tua saja.

  Itulah sebabnya di dalam diri mereka belum tertanam tentang pentingnya mengikuti Perayaan Ekaristi. Ketika seorang anak dilahirkan di tengah-tengah keluarga Katolik maka ini menjadi tanggungjawab orangtua untuk mendidiknya secara Katolik juga, dengan cara di Baptiskan sejak bayi. Dan orangtua lah yang bertanggungjawab akan perkembangan iman anaknya. Langkah awal yang dapat diusahakan supaya anak dapat menghayati perayaan ekaristi adalah dengan cara memperkenalkan Perayaan Ekaristi sejak dini. Seperti mengajak anak untuk mengikuti pelajaran komuni pertama.

  Berdasarkan hasil penelitian, pelajaran komuni pertama itu memang

  76

  setiap pertemuannya mengandung banyak unsur yang dapat mempengaruhi dalam penghayatan ekaristi. Seperti doa, baptis, sakramen, tata perayaan ekaristi, Kitab Suci, nabi perjanjian lama dan baru, pengalaman iman, dll. Tetapi masih ada materi yang perlu ditekankan untuk lebih mendalami tentang materi tersebut.

  Melihat dari kenyataan bahwa masih ada materi yang perlu ditambah lagi, maka penulis menyumbangkan suatu program rekoleksi untuk menambah pengetahuan tentang materi yang dirasa kurang. Dan dapat membantu menambah pengatahuan dan dapat memperdalam penghayatan ekaristi bagi peserta pelajaran komuni pertama.

B. SARAN – SARAN

  Tiada manusia yang sempurna di dunia ini tetapi ada seorang manusia yang berusaha menjadi lebih baik. Oleh karena itu, manusia perlu memberi masukkan kepada orang lain dan bersedia menerima masukan dari orang lain.

  1. Bagi Keluarga Katolik

  a). Perlunya kesadaran bagi keluarga katolik untuk mendidik anak-anaknya mendalami iman katolik. Dengan mendorong anaknya untuk ikut dalam pelajaran komuni pertama. Karena pelajaran komuni pertama adalah tahap katekumenat yang pertama bagi anak yang dibaptis sejak bayi.

  b). Orang tua hendaknya menyadari tugasnya sebagai pendidik yang utama dengan mengadakan pendekatan dan komunikasi dengan anak-anaknya sehingga dapat mengenal kehidupan anaknya dengan baik.

  77

  a). Peserta perlu menyadari dan mengikuti pelajaran komuni pertama, karena pelajaran komuni pertama adalah tahap katekumenat yang pertama dalam perkembangan imannya sebagai orang katolik.

  b). Peserta juga perlu mengintrospeksi diri dengan sikap diri sendiri pada saat mengikuti perayaan ekaristi.

  3. Bagi Gereja

  a). Gereja perlu membantu keluarga-keluarga muda dengan mengadakan pendampingan tentang bagimana menjadi keluarga katolik yang beriman dalam Yesus Kristus. Supaya dapat mendidik anak-anaknya secara katolik sesuai janji perkawinan.

  b). Gereja alangkah baiknya kalau mengadakan kunjungan keluarga untuk mengatahui suka dukanya menjadi keluarga katolik, khusunya dalam hal mendidik anaknya untuk beriman katolik.

C. REFLEKSI PASTORAL

  Pendidikan dan perkembangan seorang anak dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Pendidikan tersebut ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Lingkungan tersebut antara lain yang pertama dan utama adalah keluarga, kemudian sekolah, lingkungan masyarakat, dan gereja.

  Di dalam keluarga katolik yang berlandaskan pada perkawinan katolik yang satu dan tak terceraikan ini, kiranya tidak kurang penting juga adalah

  78

  yang akan lahir di tengah keluarga. Berdasarkan hal tersebut maka sebagai keluarga katolik tentu tidak hanya mengarahkan anak-anak untuk mengetahui pengetahuan-pengetahuan seputar agama Katolik dan tentang Gereja. Di dalam keluarga sebaiknya melakukan hal-hal yang dapat menjalin kebersamaan dengan anggota keluarga yang lain. Seperti makan bersama, doa bersama, merayakan ulang tahun anggota keluarga. Inilah pendidikan yang pertama di dalam keluarga.

  Pendidikan iman yang pertama di luar keluarga adalah pelajaran Komuni Pertama yang diadakan di paroki masing-masing. Salah satu materi yang dipelajari tentang Ekaristi. Ekaristi itu bukan hanya salah satu sakramen. Ekaristi adalah ungkapan iman Gereja sebagai Gereja. Di dalam pelajaran komuni pertama materi yang diajarkan seputaran Ekaristi itu hanya sekedar kulit luarnya saja belum sampai yang mendalam. Karena pemahaman anak-anak SD itu belum mendalam. Seperti di dalam buku “Persiapan Komuni Pertama” yang ditulis oleh Drs. Al. Amin Susanto pada pokok lima belas itu isinya bagian-bagian Perayaan Ekaristi. Di dalamnya dijelaskan tentang makna doa pembuka/ doa tobat, pembacaan Kitab Suci, Homili, doa umat, persembahan, doa syukur agung, komuni, berkat penutup. Bagian-bagian dalam Ekaristi tersebut dijelaskan dengan bahasa yang sederhana supaya anak-anak dapat langsung memahami maknanya.

  Calon diajak untuk memahami bahwa Ekaristi itu adalah ungkapan syukur, yang diwujudkan dalam doa dan perayaan atau perjamuan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak kehidupan kristiani. Ekaristi menjadi sebuah perayaan kenangan dan syukur atas keselamatan karya Allah yang menyelamatkan manusia di dalam Kristus, kenangan akan peristiwa penyelamatan Yesus melalui sengsara,

  79

  wafat dan kebangkitan-Nya. Semua itu dilambangkan dengan berbgai roti yang sudah dipecah-pecah dan piala yang sudah diberkati. Di dalam berbgai roti dan anggur Ekaristi itulah, jati diri Gereja menjadi lebih tampak sebagai Tubuh Kristu di dunia. Dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus tersebut, umat beriman menyatakan kesatuannya dengan Allah dan kesatuannya antarumat beriman juga.

  Setelah diajak untuk memahami arti dan makna Ekaristi, peserta diajak untuk lebih memahami Tata Liturgi Ekaristi sebagai salah satu dari ungkapan iman Gereja. Susunan liturgi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian tersebut didahului dengan Ritus Pembuka dan diakhiri dengan Ritus Penutup. Peserta diajak untuk diajak untuk dapat memahami kekhasan masing-masing bagian Liturgi Ekaristi. Di dalam Liturgi Sabda, peserta diajak untuk menyadari bahwa di dalam Liturgi itu hadirlah Allah di dalam sabda-Nya. Sedangkan liturgi Ekaristi merupakan liturgi puncak, di mana iman Gereja diungkapkan dalam bentuk Doa Syukur Agung, iman diungkapkan dalam bentuk syukur, sedangkan aktualisasi karya keselamatan Allah dalam kurban Kristus sebagai bentuk “anamnese” atau pengenangan akan peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus. Doa Syukur tidak hanya berarti mengenangkan sengsara perjamuan terakhir Yesus semata, tetapi juga mengungkapkan iman akan arti wafat dan kebangkitan Kristus bagi hidup umat melelui penyambutan komuni, sebagai pernyataan kesatuan dengan Kristus. Sedangkan dalam Liturgi Pembuka, umat diajak semakain berpartisipasi dalam undangan Allah dan menyongsong rahmat dengan mengakui segala kesalahan

  80

  (pertobatan). Pada Liturgi Penutup, umat diutus untuk mewujudkan karya keselamatan dan karya penebusan Kristus yang telah diterima dalam Ekaristi.

  Peserta pelajaran komuni pertama diajak untuk memahami tata gerak dalam liturgi Ekaristi yang meliputi duduk tenang, mendengarkan, berdiri, berlutut, dan membuat tanda salib. Tata gerak ini tentu juga didasari sikap hati yang mendukung. Ekaristi merupakan juga ekspresi iman, untuk itu perlu mendapatkan pengalaman iman akan Kristus, bukan sekedar urainan tentang pengertian Ekaristi. Perlu juga dihadirkan kesan yang memperlihatkan Ekaristi sebagai kewajiban.

  Agar peserta semakin mengenal seluk-beluk dari Ekaristi ini, maka mereka juga perlu diperkenalkan dengan sarana seputar altar dan sakristi yang meliputi roti/hosti dan anggur, buku-buku pedoman tata perayaan : TPE; busana liturgi dan juga alat-alat yang digunakan di dalam Perayaan Ekaristi seperti piala, patena, sibori. Pengenalan itu baik juga jika para peserta diajak langsung mengamati dan menghadiri perayaan Ekaristi di gereja atau di lingkungan, dan diajak mempersiapkan latihan-latihan untuk perayaan Ekaristi.

  Hal yang tidak kalah pentingnya untuk disampaikan adalah para pelayan dan petugas liturgi dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi dipimpin oleh seorang iman atu uskup dengan dibantu oleh petugas-petugas yang lain, seperti prodiakon, misdinar, lektor, koor, pemazmur, dan petugas-petugas yang lain. Semua umat diharapkan keterlibatannya secara sadar dan aktif sesuai dengan peran masing- masing. Para calon komuni pertama, sangat baik kalau dianjurkan melibatan diri

  81

  setelah menerima komuni pertama, misalnya menjadi misdinar, lektor atau petugas-petugas yang lain.

  Sebenarnya pengetahuan – pengetahuan dasar mengenai Perayaan Ekaristi itu wajib diajarkan. Karena itulah landasannya untuk memahami Perayaan Ekaristi. Dan juga tidak kalah pentingnya adalah Sakramen Tobat. Sebelum menerima Tubuh dan Darah Kristus untuk pertama kalinya, setiap peserta wajib menerima Sakramen Tobat. Sakramen ini mempunyai tujuan untuk mendamaikan diri dengan Allah supaya memperoleh Rahmat. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mewajibkan peserta untuk ikut Misa hari Minggu dan harus duduk di barisan paling depan dengan didampingi oleh guru agamanya. Ini bertujuan supaya peserta belajar untuk tidak ribut pada waktu Misa dan melatih peserta untuk berkonsentrasi. Selain itu peserta juga diberikan tugas seperti mengingat isi homili yang dibicarakan oleh Romo, mengamati peralatan yang dipakai romo, warna liturgi dan lain-lain.

  82

BAB V USULAN PROGRAM Pada bagian ini, penulis akan menyampaikan usulan program untuk Rekoleksi peserta penerimaan Komuni Pertama. Diharapkan dapat menambah

  informasi pengetahuan yang dapat meningkatkan penghayatan Ekaristi di Paroki Adminstratif Santa Maria Ratu Bayat.

  1. LATAR BELAKANG

  Usulan program yang dibuat ini berdasarkan kebutuhan peserta calon penerima Komuni Pertama. Di dalam penelitian yang dilaksakan oleh penulis dapat diambil kesimpulan memang dirasakan ada beberapa materi pendampingan dalam pelajaran Komuni Pertama yang diadakan setiap minggunya kurang terperinci maka, penulis memberikan penekanan dibeberapa materi yang dirasa kurang. Untuk menambah pengetahuan pada diri peserta pelajaran Komuni Pertama.

  2. ALASAN PENYUSUNAN PROGRAM

  Penulis membuat program berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka penyusunan skripsi. Ditemukan keprihatinan bahwa peserta pelajaran Komuni Pertama tidak tahu nama alat-alat atau sarana prasarana yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi, tetang tata perayaan ekaristi, dan juga tentang makna Perayaan Ekaristi.

  83

3. TUJUAN PELAKSANAAN USULAN PROGRAM

  Tujuan dari pelaksanaan usulan program ini adalah supaya peserta pelajaran komuni pertama dapat memahami dan mengerti materi-materi tentang makna perayaan ekaristi, tata perayaan ekaristi dan sarana prasarana dalam Perayaan Ekaristi. Peserta pelajaran komuni pertama dibimbing untuk menjadi orang Katolik yang dapat menghayatai Perayaan Ekaristi dengan khidmat.

  RUNDOWN REKOLEKSI KOMUNI PERTAMA

  Tema : Menjadiremaja katolik yang memahami Perayaan Ekaristi Tujuan :Pesertadapatmemahamidan mendalami setiap bagian dalam Perayaan Ekaristi serta mengerti akan makna Perayaan Ekaristi.

  

No WaktuPelaksa Judul Tujuan Uraian Metode Sarana SumberBahan Pelaksana

naan Pertemuan Pertemuan Materi

  1 Minggu, 22 Pembukaan ï‚· Peserta dapat ï‚· Menyanyikanl ï‚· Menyanyi ï‚· LCD Februari 2015

  ï‚· Pengantar mengetahui agu ï‚· Informasi ï‚· Laptop 10.00 – 10.15 proses rekoleksi “SrengengeNy

  ï‚· Speake dari awal sampai umunar” r akhir. ï‚· Penjelasanlatar belakang : kurangnya perhatian pada penghayatan Ekaristi.

  ï‚· Tujuanrekolek si : memberikan informasi tentang Ekaristi secara mendetail, memberikan penjelasan tentang tata cara Perayaan Ekaristi, 2 10.15 – 11.15 Sesi I

  ï‚· Pesertadapatmem ï‚· Ekaristi ï‚· Informasi ï‚· LCD ï‚· Iman Katolik ahami dan sebagai ï‚· Tanya Jawab ï‚· Laptop ï‚· Bina – Iman Makna Perayaan mengerti makna ungkapan

  ï‚· Speake

  Sakramen

  Ekaristi dari Perayaan syukur, yang r

  Ekaristi

  Ekaristi sehingga diwujudkan peserta dapat dalam doa dan mengikuti perayaan Perayaan Ekaristi

  ï‚· Ekaristi dengan khidmat. sebagai kenangan perjamuan Kristus, puncak perayaan dan kesatuan Gereja.

  3. 11. 15 – 11.30

  Ice Breaking

  4. 11.30 – 12.30

  Sesi II

  ï‚· Pesertadapatmem ï‚· Pengalamanpe ï‚· Sharing ï‚· LCD ï‚· Tata ahamidanmemak sertatentangme pengalaman ï‚· Laptop

  Perayaan

  Tata Perayaan naitentang urutan ngamati ï‚· Informasi ï‚· Handout Ekaristi Perayaan Perayaan

  Ekaristi

  ï‚· Tanya Jawab Ekaristi. Ekaristi pada ï‚· Katekese hari minggu. ï‚· Urutan

  Inisiasi

  Perayaan ï‚· Iman Katolik Ekaristi.

  5. 12.30 – 13.00

  ISTIRAHAT

  6. 13.00 – 14.00 Sesi III ï‚· Agar ï‚· Hal-hal yang ï‚· Sharing ï‚· LCD ï‚·Iman Katolik pesertadapatmem digunakan pengalaman

  ï‚· Laptop Sarana dan ahamidandapatm sebagai sarana ï‚· Informasi ï‚· Hand prasarana dalam enyebutkannamas Ekaristi. ï‚· Tanya jawab out ertaalatdan sarana

  ï‚· Memperlihatka Perayaan Ekaristi yang digunakan n kepada dalam Perayaan peserta seperti Ekaristi. apa bentuk dan wujud dari alat-alat dan pakaian yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  7. 14.00 penutup

  88 SATUAN PENDAMPINGAN I

  A. IDENTITAS

  1. Judul Pertemuan : Pembuka

  2. Tujuan Pertemuan : Peserta dapat mengetahui proses rekoleksi komuni pertama dari awal sampai akhir.

  3. Peserta : Peserta pendampingan komuni pertama

  4. Tempat : Aula Gereja

  5. Hari/Tanggal : Minggu, 22 Februari 2015

  6. Waktu : 10.00 – 10.15

  B. PEMIKIRAN DASAR

  Di dalam pelajaran Komuni Pertama yang dilaksankan setiap minggunya, pendamping biasanya mengikuti buku panduan yang telah disediakan. Di dalam buku tersebut materi yang disampaikan belum terlalu mendalam mengenai Ekaristi. Hanya sebatas pengetahuan tentang murid-murid Yesus, Roti Hidup, Kitab Suci, Tata Perayaan Ekaristi dll. Ini dirasakan kurang mendalam pada bagian Penghayatan Ekaristi. Kemudian, dibuatlah Rekoleksi Komuni Pertama.

  Yang di dalamnya terdapat materi-materi tentang Perayaan Ekaristi seperti Makna Perayaan Ekaristi, Tata Perayaan Ekaristi, dan sarana prasarana yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi. Ini dirasakan sebagai materi tambahan untuk membantu peserta pelajaran Komuni Pertama lebih memahami tentang Perayaan Ekaristi dan bagian-bagiannya.

  Lewat sesi pembuka ini, peserta diberikan informasi tentang rekoleksi yang akan dilaksanakan dari awal hingga selesai. Diharapkan supaya peserta

  89

  menyebutkan apa saja yang menjadi urutan Perayaan Ekaristi, makna Perayaan Ekaristi dan sarana prasarana yang dibunakan di dalam Perayaan Ekaristi.

  C. TUJUAN PERTEMUAN

  Peserta dapat mengetahui proses rekoleksi komuni pertama dari awal sampai akhir.

  D. MATERI 1. Latar Belakang dan tujuan diadakan rekoleksi.

  E. METODE

  1. Informasi

  2. Tanya Jawab

  F. SARANA

  1. LCD

  2. Laptop

  3. Spiker

  G. PROSES PENDAMPINGAN

1. Pengantar Selamat siang teman-teman yang terkasih dalam Tuhan Yesus dan Berkah Dalem.

  Hari ini kita berkumpul di tempat ini untuk berbicara tentang Perayaan Ekaristi. Apa sebenranya Perayaan Ekaristi itu, kemudian sarananya apa saja, urut- urutannya apa saja. Apakah sudah ada yang tahu? Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, marilah kita buka rekoleksi ini dengan doa pembuka.

  90

  2. Langkah I : Doa Pembuka

  “Selamat datang Yesus, Sang Gembala Baik. Kami semua mengucapkan terima kasih atas perlindungan dan berkatmu yang begitu melimpah atas kami semua.

  Berkatilah semoga rekoleksi ini dapat berjalan dengan lancar dan kami semua semakin belajar menjadi seorang Katolik yang sejati. Dengan mempelajari tentang Sakramen Ekaristi, ajarilah kami untuk semakin mengerti makna Sakramen Ekaristi dan semakin dapat menghayatinya dari hari ke hari. Doa ini kami serahkan ke dalam tangan kasih-Mu sebab kami percaya Engkaulah sumber semangat kami kini dan sepanjang masa. Amin.”

  3. Langkah 2 : Menyanyikan lagu “Srengenge Nyumunar” Pendamping mengajak peserta untuk bersama-sama bernyanyi.

  4. Langkah 3 : Penjelasan latar belakang dan tujuan rekoleksi

  Alasan mengapa diadakan rekoleksi komui pertama ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih khususnya kepada peserta pelajaran komuni pertama. Pengetahuan tersebut mengenai Makna Perayaan Ekaristi. Karena dirasakan bahwa kebanyakan umat hanya mengikuti Perayaan Ekaristi / Misa saja, dan tidak memahmi maksud dari Perayaan Ekaristi itu seperti apa. Kemudian ada beberapa umat yang tidak mengetahi urutan dari Perayaan Ekaristi. Sehingga ini menjadi keprihatinan pendamping komuni pertama. Maka diangkatlah materi ini untuk memantapkan peserta calon penerima Komuni Pertama. Kemudian yang terakhir adalah mengenai sarana- sarana yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi. Ini menyangkut alat-alat yang digunakan Imam dalam Konsekarasi dan juga nama-nama pakaian yang digunakan petugas liturgi.

  91

  Terkadang banyak umat yang tidak tahu nama-nama dari alat-alat dan pakaian yang dipakai.

  Tujuan dari rekoleksi itu sendiri adalah untuk memberikan informasi tentang Ekaristi secara mendetail, memberikan penjelasan tentang tata cara Perayaan Ekaristi, serta sarana prasarana yang digunakan selama Perayaan Ekaristi.

  92

SATUAN PENDAMPINGAN II

  

( SESI I )

A. IDENTITAS

  1. Judul Pertemuan : Makna Perayaan Ekaristi

  2. Tujuan Pertemuan : Peserta dapat memahami dan mengerti makna dari Perayaan Ekaristi sehingga peserta dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khidmat.

  3. Peserta : Peserta pendampingan komuni pertama

  4. Tempat : Aula Gereja

  5. Hari/Tanggal : Minggu, 22 Februari 2015

  6. Waktu : 10.15 – 11.15

  B. PEMIKIRAN DASAR

  Ada sebagian umat yang tidak mengerti makna dari Perayaan Ekaristi itu sendiri. Dari keprihatinan tersebut kami mengangkat tema ini untuk lebih memberikan informasi kepada peserta pelajaran Komuni Pertama. Seperti apakah sebenarnya Makna dari Perayaan Ekaristi itu sendiri.

  Lewat sesi yang pertama ini, peserta diberikan informasi tentang makna Perayaan Ekaristi. Diharapkan supaya peserta benar-benar mengetahui Makna Perayaan Ekaristi. Tidak hanya biasa mengikuti Perayaan Ekaristi / Misa saja tetapi benar-benar mengetahui Makna dari Perayaan Ekaristi yang selama ini telah diikuti.

  C. TUJUAN PERTEMUAN

  Peserta dapat memahami dan mengerti makna dari Perayaan Ekaristi sehingga

  93 D. MATERI

  1. Ekaristi sebagai ungkapan syukur, yang diwujudkan dalam doa dan perayaan

  2. Ekaristi sebagai kenangan perjamuan Kristus, puncak perayaan dan kesatuan Gereja.

  E. METODE

  1. Sharing

  2. Informasi

  3. Tanya jawab

F. SARANA

  1. LCD

  2. Laptop

  3. Spiker

G. PROSES PENDAMPINGAN

  

a. Langkah I : Peserta diajak untuk sharing tentang Makna Perayaan

Ekaristi

  Sekarang teman-teman mensharingkan pemahaman kalian tentang Makna Perayaan Ekaristi dengan menggunakan kata-kata sendiri.

b. Langkah II : Informasi Makna Perayaan Ekaristi

  Sakramen adalah perbuatan manusiawi atau gerejawi yang melambngkan atau lebih baik melaksanakan secara simbolis suatu tindakan Allah terhadap kita, maka ritus-ritus sakramen harus dilaksankan secara sungguh-sungguh penuh sehingga bisa dirasakan (Iman Katolik : 401). Dengan kata lain Sakramen adalah tanda dan sarana dari Allah yang dilakukan oleh umat Allah dengan berbagai

  94

  macam cara. Seperti Sakramen Ekaristi, yang menggunakan Anggur dan Roti sebagai tanda dan sarana.

  Ekaristi merupakan tanda dan sarana, artinya sakramen merupakan persatuan dengan Allah dan kesatuan antar manusia. Ekaristi adalah perayaan umat. Suatu perayaan yang di dalamnya mengandung sebuah tanda akan kehadiran Tuhan dalam umat.

  Perayaan Ekaristi adalah sebagai Perayaan Syukur. Perayaan Ekaristi bukanlah sembarang perayaan, tetapi Perayaan Syukur. Syukur tidak berarti berterimakasih, tetapi pernyataan rasa kagum, hormat, kegembiraan dan kebahagiaan. Syukur pertama-tama bukan karena anugerah yang telah diterima, tetapi karena kebaikan Tuhan.

  Ekaristi itu juga Perayaan Sakramental. Dalam tradisi Yahudi dikenal adanya Perayaan Perjamuan. Perayaan Perjamuan adalah Perjamuan makan bersama- sama keluarga dalam satu meja besar. Perjamuan makan ini sering diadakan untuk merayakan Paska. Bentuk perjamuan Yahudi itu adalah perjamuan makan yang di dalamnya terdiri dari doa sebelum makan (di dalam DSA disebut pemecahan roti), makan, dan doa sesudah makan (di dalam DSA disebut pemberkatan piala). Doa tersebut selalu dibawakan oleh seorang pemimpin (Kepala Keluarga). Anggota keluarga (sekarang menjadi Umat) yang lain ikut terlibat dan ambil bagian dengan menjawab “Amin” serta dengan makan roti dan minum anggur dari piala. Pada zaman sekarang dibubah dengan menghilangkan tradisi makan bersama dengan hidangan yang banyak, kemudian doanya sekarang dinamakan Doa Syukur Agung (DSA), dan makanannya daiganti dengan Anggur

  95

  dan Hosti. Di dalam Perayaan Ekaristi Roti dan Anggur bukanlah termasuk unsur atau bagian makan, tetapi termasuk unsur doa (Ibadah). Roti dan Anggur mempunyai makna sebagai “alat penghubung”. Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menggunakan bentuk perjamuan tradisi Yahudi (lih Luk 22:19-20). Umat Kristiani perdana kerap kali berkumpul dan melaksankan perjamuan sesuai dengan pesan Yesus, sebagai kenangan akan karya keselamatan. Umat Gereja Perdana mengadakan perjamuan dengan memakai bentu yang sudah ada. Tetapi dalam perkambangannya pada bagian makan dihilangkan. Yang ada sampai sekarang hanya doa saja, dengan mengambil bentuk doa sesudah makan. Doa tersebut sekarang disebut dengan “Doa Syukur Agung”. Roti dan Anggur tetap dipertahankan sebagai “alat penghubung”. Atau lebih tepatnya sebagai tanda sakramental yang diimani sebagai Tubuh dan Darah Kristus.

  Di dalam Perayaan Ekaristi, umat mengenangkan karya Penyelamatan Allah. Dalam perjamuan malam terakhir, setelah mengucapkan berkat atas Roti dan Anggur dan membagi-bagikannya, Yesus berpesan: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku” (lih. Luk 22:19-20 1Kor 11:23-25). Karya Penyelamatan sudah mencapai kepenuhannya pada Yesus Kristus. Kristus yang menyerahkan diri di kayu Salib dan wafat telah dibangkitakan oleh Allah Bapa. Umat pun telah diselamatkan tetapi belum sampai pada kepenuhannya. Karya Allah ini belum selesai dan juga belum lewat. “Kepenuhannya” , kedatangan-Nya kita rindukan.

  Kerinduan hati umat ini menjadi dasar pengenangan akan karya penyelamatan Allah.

  96

SATUAN PENDAMPINGAN III

  

( SESI II )

A. IDENTITAS

  1. Judul Pertemuan : Tata Perayaan Ekaristi

  2. Tujuan Pertemuan : Peserta dapat memahami dan memaknai tentang urutan Perayaan Ekaristi. Sehingga dapat menyebutkan urutan Perayaan Ekaristi yang lengkap.

  3. Peserta : Peserta pendampingan komuni pertama

  4. Tempat : Aula Gereja

  5. Hari/Tanggal : Minggu, 22 Februari 2015

  6. Waktu : 11.15 – 12.15

B. PEMIKIRAN DASAR Ada sebagian umat yang tidak mengetahui urutan dari Perayaan Ekaristi.

  Dimulai dengan apa kemudian diakhiri dengan bagaian yang mana. Sebenarnya di dalam teks misa biasanya sudah dicantumkan urutan dari Perayaan Ekaristi, tetapi umat tidak begitu memperhatikan. Kalaupun ditanya jawabannya hanya sekedarnya, tidak menjawab dengan detail.

  Lewat sesi yang kedua ini, peserta diberikan informasi tentang Urutan Perayaan Ekaristi. Diharapkan peserta dapat mengatahui secara jelas bagimana urutan Perayaan Ekaristi dan dapat menyebutkan dengan lengkap bagimana urutannya.

C. TUJUAN PERTEMUAN Peserta dapat memahami dan memaknai tentang urutan Perayaan Ekaristi.

  Sehingga dapat menyebutkan urutan Perayaan Ekaristi yang lengkap.

  97

D. MATERI 1. Pengalaman peserta tentang Perayaan Ekaristi.

  2. Urutan Perayaan Ekaristi.

  E. METODE

  1. Sharing

  2. Informasi

  3. Tanya jawab

  F. SARANA

  1. LCD

  2. Laptop

  3. Spiker

  G. PROSES PENDAMPINGAN

a. Langkah I : Peserta diajak untuk mendiskusikan tentang Tata Perayaan Ekaristi pada hari minggu.

  Sebelum mengetahui lebih lanjut tetang apa saja urutan dalam Tata Perayaan Ekaristi, marilah kita berdiskusi dalam kelompok dengan berhitung satu sampai tiga. Diskusikan di dalam kelompok, bagimana urutan Tata Perayaan Ekaristi yang benar.

b. Langkah II : Mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok.

  Marilah kita simak bersama pendapat masing – masing kelompok. Dimulai dari kelompok satu, dua dan yang terakhir tiga.

c. Langkah III : Peneguhan tentang Tata Perayaan Ekaristi.

  Urutan Tata Perayaan Ekaristi :

  98

  RITUS PEMBUKA : ï‚· Perarakan masuk ï‚· Tanda Salib ï‚· Salam ï‚· Pengantar ï‚· Seruan Tobat ï‚· Tuhan Kasihanilah ï‚· Madah Kemuliaan ï‚· Doa Pembuka LITURGI SABDA : ï‚· Bacaan Pertama ï‚· Mazmur Tanggapan ï‚· Bacaan Kedua ï‚· Alleluya / Bait Pengantar Injil ï‚· Injil ï‚· Aklamasi Sesudah Injil ï‚· Homili ï‚· Syahadat Para Rasul ï‚· Doa Umat LITURGI EKARISTI : ï‚· Persiapan Persembahan ï‚· Doa Persiapan Persembahan

  99

  • Dialog Pembuka  Prefasi  Kudus  Doa Syukur Agung ï‚· Bapa Kami ï‚· Doa Damai ï‚· Pemecahan Roti ï‚· Persiapan Komuni ï‚· Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus ï‚· Doa Sesudah Komuni RITUS PENUTUP

  ï‚· Pengumuman ï‚· Amanat Perutusan ï‚· Berkat Penutup ï‚· Pengutusan ï‚· Perarakan Keluar Di dalam Perayaan Ekaristi ada dua bagian pokok, yatitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian tersebut dimulai dengan Ritus Pembuka dsn diakhiri Ritus Penutup. Di setiap bagian tersebut mempunyai kekhasan masing- masing. Di dalam Liturgi Sabda, sebenarnya Allah hadir di dalam sabda-Nya melalui bacaan yang dibacakan. Melalui pembacaan Sabda di dalam perayaan Ekaristi, karya keselamatan Allah kepada manusia sebagimana yang dirayakan

  100

  Mazmur, dan Injil. Sedangkan Liturgi Ekaristi merupakan Liturgi puncak, di mana iman Gereja diungkapkan dalam bentuk Doa Syukur Agung dan Komuni.

  Dalam Doa Syukur Agung, iman diungkapkan dalam bentuk syukur, sebagai aktualisasi karya keselamatan Allah dalam kurban Kristus sebagai bentuk “anamnese” atau pengenangan akan peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus. Doa Syukur tidak hanya berarti mengenangkan sengsara pada saat Perjamuan Malam Terakhir, tetapi juga mengungkapkan iman akan arti wafat dan kebangkitan Kristus bagi seluruh umat dengan menyambut komuni, sebagai pernyataan kesatuan dengan Kristus. Sedangkan dalam Liturgi Pembuka, umat diajak semakin berpastisipasi dalam undangan Allah dan menyongsong rahmat dengan mengakui segala kesalahan dan dosa (pertobatan). Pada Liturgi Penutup, umat diutus untuk mewujudkan karya keselamatan dan karya penebusan Kristus yang telah di terima dalam Ekaristi.

  Peserta harus memahami bahwa di dalam Perayaan Ekaristi itu ada juga tata gerak seperti, duduk tenang, mendengarkan, berdiri, berlutut, dan membuat tanda salib. Tata gerak tersebut juga didasari dengan sikap hati yang mendukungnya. Ekaristi merupakan ekspresi iman, untuk itu perlu dihayati secara mendalam. Dasarnya ialah pengalaman iman akan Kristus. Bukan sekedar uraian tentang pengertian Ekaristi. Untuk itu diperkelankan juga seluk – beluk dari Ekaristi itu sendiri. Maka diperkenalkanlah dengan sarana seputar altar dan sakristi yang meliputi roti / hosti dan anggur (material), buku pedoman tata perayaan seperti, TPE, busana liturgi (alba, kasula), alat – alat perayaan (piala, patena, sibori). Pengenalan tersebut dilakukan dengan langsung mengamatinya

  101

  pada saat pelajaran atau bisa dengan mengikuti misa hari minggu di Gereja atau Misa di lingkungan.

  Hal yang penting untuk diketahui juga adalah para petugas liturgi dan pelayan dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh seorang imam / romo atau uskup dengan dibantu oleh petugas-petugas yang lain, seperti prodiakon, misdinar, lektor, koor, pemazmur, dan petugas yang lain. Untuk lebih baiknya setelah menerima komuni pertama, para peserta dianjurkan untuk menjadi petugas liturgi seperti misdinar, lektor, atau petugas lainnya.

  ISTIRAHAT MAKAN SIANG JAM 12.30 – 13.00

  102

SATUAN PENDAMPINGAN IV

( SESI III )

  A. IDENTITAS

  1. Judul Pertemuan : Sarana dan prasarana dalam Perayaan Ekaristi

  2. Tujuan Pertemuan : Agar peserta dapat memahami dan dapat menyebutkan nama serta alat dan sarana yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  3. Peserta : Peserta pendampingan komuni pertama

  4. Tempat : Aula Gereja

  5. Hari/Tanggal : Minggu, 22 Februari 2015

  6. Waktu : 13.00 – 14.00

  B. PEMIKIRAN DASAR

  Masih banyak umat awam yang bisa menyebutkan nama-nama dari alat- alat yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi. Bahkan lebih parahnya lagi anggota misdinarpun tidak tahu nama-nama alat-alat dan juga pakaian yang di pakai dalam Perayaan Ekaristi. Seharusnya sebelum menjadi anggota misdinar sudah harus diajarkan dan dihafalkan.

  Lewat sesi yang ketiga ini, peserta diberikan informasi tentang nama-nama alat yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi dan juga nama-nama pakaian yang dipakai para petugas liturgi. Ini bertujuan supaya peserta dapat mengenal dan mengatahui seperti apa bentuk dan rupanya. Dan apabila lain waktu diminta mengembilkan maka tidak bingung lagi dan langsung tahu barang mana yang dimaksud tersebut.

  103 C. TUJUAN PERTEMUAN

  Agar peserta dapat memahami dan dapat menyebutkan nama serta alat dan sarana yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  D. MATERI 1. Hal-hal yang digunakan sebagai sarana Ekaristi.

  2. Memperlihatkan kepada peserta seperti apa bentuk dan wujud dari alat-alat dan pakaian yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  E. METODE

  1. Sharing

  2. Informasi

  3. Tanya jawab

  F. SARANA

  1. LCD

  2. Laptop

  3. Spiker

G. PROSES PENDAMPINGAN

a. Langkah I : Pendamping memperlihatkan perlengkapan yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  Pengenalan Alat-alat dalam Perayaan Ekaristi :

  ï‚· PIALA Dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”, adalah yang tersuci diantara bejana. Piala adalah menjadi wadah amggur untuk dikonsekrasikan dan

  104

  sesudah konsekrasi menjadi wadah wadah darah Mahasuci Kristus. Piala harus dibuat dari logam mulia. Piala melambangkan cawan yang dipergunakan Tuhan kita pada perjamuan malam terakhir dimana ia untuk pertama kalinya mempersembahkan darahnya; piala melambangkan cawan sengsara Kristus (“Ya

  

Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-

Ku” mrk 14:36); dan yang terakhir, piala melambangkan hati Yesus, dari mana

  pengaliran Darah-Nya demi penebusan. ï‚· PURIFIKATORIUM Berasal dari bahasa Latin “purificatorium” adalah sehelai kain lenan putih berbentuk segi empat untuk membersihkan piala, sibori dan patena. Sesudah dipergunakan, pufikatorium dilipat tiga memanjang dan diletakkan di atas piala.

  ï‚· PATENA Berasal dari bahasa Latin “patena” yanga berarti “piring”, adalah piring dimana hosti diletakkan. Patena, yang sekarang berbentuk bundar, datar, dan dirancang untuk roti pemimpin Perayaan Ekaristi, aslinya sungguh sebuah piring. Dengan munculnya roti-riti kecil yang dibuat khusus untuk umat yang biasanya disimpan dalam sibori, fungsi dari patena sebagai piring menghilang; maka bentuknya menjadi lebih kecil dan sejak abad kesebelas sudah dalam ukuran seperti sekarang. Menurut Pedoman Umum Misale Romawi (2000), untuk konsekrasi hosti, baik untuk imam dan diakon, maupun untuk para pelayan dan umat (No. 331). Patena, yang biasa diletakkan diatas piala, hendaknya dibuat serasi dengan pialanya, dari bahan yang sama dengan piala yaitu dari emas atau setidak-tidaknya disepu emas.

  105

  ï‚· PALLA Berasal dari bahasa Latin “palla corporalis” yang berarti “kain untuk Tubuh Tuhan” adalah kain lenan putih yang diperkeras, sehingga menjadi kaku sperti papan, bentuknya bujursangkar dipoergunakan untuk menutup piala. Palla melambangkan batu makam yang diguling para prajurit Romawi untuk menutup pintu masuk kedalam makam Yesus.

  ï‚· KORPORALE Berasal dari bahasa Latin “corporale” adalah sehelai kain lenan putih yang berbentuk bujursangkar dengan gambar salib kecil di tengahnya; seringkali di pinggir korporale dihiasi dengan renda. Korporale adalah yang terpenting dianta kain-kain suci. Dalam perayaan Ekaristi, imam membentang korporale diatas altar sebagai alas untruk bejana-bejana suci roti dan anggur. Stelah selesai digunakan, korporale dilipat menjadi tiga memanjang, lalu dilipat menjadi tiga lagi dari samping dan ditempatkan diatas piala.

  ï‚· SIBORI Berasal dari bahasa Latin “cyborium” yang berarti “piala dari logam” adala bejana serupa piala, tetapi dengan tutup di atasnya. Sibori adalah wadah untuk roti-roti kecil yang akan dibagikan dalam Komuni kepada umat beriman. Sibori dibuat dari logam mulia, bagaian dalamnya biasa dibuat dari emas atau sepuhan emas.

  ï‚· PIKSIS

  106

  Berasal dari bahasa Latin “pyx” yang berati “kotak” adalah sebuah wadah kecil berbentuk bundar dengan engsel penutup, serupa wadah jam kuno. Piksis biasa dibuat dari emas. Piksis dipergunakan untuk menyimpan Sakramen Mahakudus, yang dihantar kepada mereka yang sakit, atau akan ditahktakan dalam kepada kebaktian Sakramen Mahakudus. ï‚· MONSTRAN Berasal dari bahasa Latin “monstrans, mostrare” yang berarti “mempertontonkan” adalah bejan suci tempat Sakramen Mahakudus dotahktakan atau dibawa dalam prosesi.

  ï‚· AMPUL Adalah dua bejana yang dibuat dari kaca atau logam, bentuknya seperti buyung kecil dengan tutup di atasnya. Ampul adalah bejana-bejana dari imam atau diakon menuangkan air dan anggur kedalam piala. Selalu ada dua ampul di meja kredens dalam setiap misa.

  ï‚· LAVABO Berasal dari bahasa Latin “lavare” yang berarti “membasuh” adalah bajana seperti buyung kecil atau dapat juga berupa mangkuk, tempat menampung air bersih yang dipergunakan imam untuk membasuh tangan sesudah persiapan persembahan. Sebuah lap biasanya menyertai lavabo untuk dipergunkan mengeringkan tangan imam.

  ï‚· TURIBULUM (disebut juga Pendupaan) Berasal dari bahasa Latin “thuris” yang berarti “dupa” adlah bejana dimana dupa dibakar untuk pendupaan liturgis. Turibulum terdiri dari suatu badan dari logam

  107

  dengan tutup terpisah yang menudungi suatu wadah untuk arang dan dupa; turibulum diwa dan diayung-ayungkan dengan tiga ranet yang dipasang pada badannya, sementara rante keempat digunakan untuk mengerak-gerakan tutupnya. Pada turibulum dipasang bara api, lalu di atasnya ditaburkan serbuk dupa sehingga asap dupa membubung dan menyebarkan bau harum. Dupa adalah harum-haruman yang dibakar pada kesempatan-kesempatan istimewa, seperti pada misa yang meriah dan pujian kepada Sakramen Mahakudus.

  ï‚· NAVIKULA (disebut juga Wadah Dupa) Adalah bejana tempat menyimpan serbuk dupa. Dupa adalah getah yang harum dan rempah-rempah yang diambil dari tanam-tanaman, biasanya dibakar dengan campuran tambahan menjadikan asapnya lebih tebal dan aromanya lebih harum. Asap dupa yang dibakar naik ke atas melambangkan naikya doa-doa umat beriman kepada Tuhan. Ada pada kita catatan mengenai pengunaan dupa bahkan sejak awal kisah Perjanjian Lama. Secara simbolis dupa melambangkan semangat umat Kristiani yang berkobar-kobar harum mewangi keutamaan-keutamaan dan naiknya doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik kepada Tuhan.

  ï‚· ASPERGILUM Berasal dari bahasa Latin “aspergere” yang berarti “mereciki” adalah sebatang tongkat pendek, diujungnya terdapat sebuah bola logam yang berlubang-lubang, dipergunakan untuk merecikkan air suci pada orang atau benda dalam Asperges dan pemeberkatan. Bejana Air Suci adalah wadah yang dipergunakan untuk menampung air suci; ke dalamnya aspergilum dicelupkan.

  ï‚· SACRAMENTARIUM atau Buku Misa

  108

  Adalah buku pegangan imam pada waktu memimpin perayaan Ekaristi, berisi tata perayaan Ekaristi. LECTIONARIUM atau Buku Bacaan Misa adalah buku berisi bacaan-bacaan Misa dari Kitab Suci. EVANGELIARIUM adalah Buku Injil.

  Pakaian Liturgi :

  a. Pakaian Imam

  ï‚· Jubah : pakaian resmi biarawan/biarawati. Bentuk dan warna jubah berbeda- beda menurut masing-masing ordi/konggregasi.

  ï‚· Alba : semacam jubah yang terbuat dari kain lenan putih. Jika imam yang tidak berjubah hendak merayakan Ekaristi maka imam memakai Alba sebagai ganti jubah.

  ï‚· Singel : tali pengikat Alba. ï‚· Kasula : semacam mantol lebar yang dikenakan imam saat merayakan Ekaristi. Warnanya sesuai dengan warna liturgi.

  ï‚· Stola : semacam selendang yang dikenakan imam saat merayakan Ekaristi.

  Warnaya sesuai dengan warna liturgi.

  b. Pakaian putera-puteri Altar ï‚· Jubah misdinar & kerah lebar : warnanya sesuai dengan warna liturgi.

  ï‚· Superpli : alba yang panjangnya sebatas pinggang.

  c. Pakaian Uskup

  ï‚· Jubah Uskup : berwarna hitam atau putih dengan kombinasi ungu ï‚· Salib Dada

  109

  ï‚· Topi Merah ï‚· Mitra : topi yang dikenakan uskup saat memimpin Liturgi ï‚· Tongkat Uskup : melambangkan wewenang sebagai gembala umat ï‚· Mantol Uskup

DOA PENUTUP

  111

DAFTAR PUSTAKA

  Bambang, hendarto (2006). Pedoman Penulisan Skripsi . Yogyakarta: Program Studi IPPAK Universitas Sanata Dharma

  Heuken, A.(1978).Ensiklopedi populer tentang Gereja. Yogyakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka Komisi Kateketik KAS. (2012). Katekese Inisiasi : Gagasan Dasar dan Silabus.

  Yogyakarta: Kanisius Komkat KAS. (1997). Mengikuti Yesus Kristus 2. Yogyakarta: Kanisius Komkat KAS. (2012). Katekese Inisiasi. Yogyakarta: Kanisius Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan

  Referensi. Yogyakarta: Kanisius

  Konsili Vatikan II. (1990). Sacrosanctum Concilium (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

  KWI. (1995). Katekismus Gereja Katolik.Ende:Arnoldus. Remaja Rosdakarya Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI Martasudjita, Pr. (2005). Ekaristi . Yogyakarta: Kanisius Martasudjita, Pr. (2006). Yuk, bersama-sama merayakan Ekaristi. Yogyakarta:

  Kanisius ______________(2002). Spiritualitas Liturgi. Yogyakarta: Kanisius ______________(2006). Apa beda Liturgi, Ibadat dan Doa?. Yogyakarta:

  Kanisius Maryanto, Ernest. (1987). Persiapan Krisma Suci . Yogyakarta: Kanisius Moleong, M.A. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT Muller, Bernhard.(2003).Yesus Roti Kehidupan:Persiapan Pangakuan dan

  komuni partama.Ende:Arnoldus Pedoman Umum Misale Romawi. (2002). Pedoman Umum Misale Romawi .

  Flores: Nusa Indah (PUMR) Prasetya, Pr. L.(2009). Aku Menerima Komuni Pertama . Yogyakarta: Kanisius Prastyantha, Y.B. (2008). Ekaristi dalam hidup kita. Yogyakarta: Kanisius Seri Puskat no. 22 Soenarto, A.(2005). Yesus Pokok Anggur . Yogyakarta: Kanisius Styakarjana.(1997). Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Kateketik Sumarno Ds, M. SJ. M. A. (2009). Diktat PAK Paroki. Yogyakarta: IPPAK Supranto, Felix. (2012). Cara Menghayati Ekaristi . Jakarta: Obor Sutrisno Hadi. (2004). Metodologi Research 1. Yogyakarta: ANDI ___________. (2004). Metodologi Research 2. Yogyakarta: ANDI ___________. (2004). Metodologi Research 3. Yogyakarta: ANDI Wibowo Ardi, FX.(1993). Sakramen Ekaristi . Yogyakarta: Kanisius _______. http://id.wikipedia.org/wiki/Komuni. Accessed on September 14, 2014

  112

LAMPIRAN

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Gambaran Pola Makan dalam Terjadinya Gastritis pada Biarawati di Yayasan Santa Maria
17
130
89
Fungsi Dan Peranan Gondang Dalam Penerimaan Sakramen Krisma Di Gereja Katolik Santo Diego Martoba Paroki Pasar Merah Medan: Sebuah Kajian Deskriptif
1
69
73
Problematika penyelenggaraan program literasi informasi bagi sivitas akademika di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
0
3
18
Devosi Marial Kebaktian Santa Perawan Maria dalam Gereja Roma Katolik
0
19
81
Pentingnya interaksi edukatif pendidik (guru) dalam upaya pembentukan akhlak peserta didik di sekolah: study mata pelajaran akidah akhlak di MTS Miftahul Amal
0
25
0
Buku panduan tafsir bahasa Inggris bagi peserta DKI pada MTQ ke-25 di Kepri tahun 2014
0
16
17
Aplikasi Pengolahan Arsip pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang terkandung Tak Bernoda Garut
0
17
199
Sistem Informasi Penilaian Akademik di Sekolah Menengah Pertama Strada Santa Maria I Tangerang Berbasis Website
0
6
1
Perancangan Sistem Informasi Pendaftaran Dan Penilaian Siswa DI SMA Santa Maria 2 Bandung Secara Online
2
53
158
Sistem distribusi obat di Rumah Sakit Umum Santa Maria Pemalang
4
16
28
Sistem Informasi Perpustakaan Terintegraasi SMS Gateway Di SMA Santa Maria 3 Cimahi
0
4
1
Perancangan sistem informasi peminjaman dan pengembalian buku pada SMA Santa Maria 2 Bandung
0
8
1
Pengaruh strategi pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division (stad) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ipa kelas iv materi perubahan lingkungan di mis islamiyah Londut tahun pelajaran 2017/2018 - Repository UIN Sumatera U
0
0
143
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1. Gastritis - Gambaran Pola Makan dalam Terjadinya Gastritis pada Biarawati di Yayasan Santa Maria
0
0
34
Hasil seleksi bagi peserta yang memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi selanjutnya akan diumumkan melalui website Kementerian PPNBappenas di
0
0
6
Show more