PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI(Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung.

Gratis

0
0
47
2 years ago
Preview
Full text

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI

  

(Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung)

SKRIPSI

  Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Sosiologi

  

Oleh

Delilah Nurzaidah

1105714

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2015

  PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTIK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung)

  oleh

  Delilah Nurzaidah 1105714

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi

Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,

  

Universitas Pendidikan Indonesia

  ©Delilah Nurzaidah 2015 Universitas Pendidikan Indonesia

  2015 Hak cipta dilindungi undang-undang

  Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, Dengan di cetak ulang, di fotocopy, atau cara lainnya tanpa izin penulis.

  

PERNYATAAN

  Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul

  “Permisivisme Masyarakat

  terhadap Praktek Prostitusi (Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung)

  ” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya

  sendiri. Saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

  Bandung, Oktober 2015 Yang membuat pengakuan, Delilah Nurzaidah 1105714

  

DELILAH NURZAIDAH

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI

(STUDI KASUS PADA MASYARAKAT JALAN STASIUN BARAT RW 02

KECAMATAN ANDIR KOTA BANDUNG)

  Disetujui dan Disahkan oleh Pembimbing: Pembimbing I

  

Prof. Dr. H. Dasim Budimansyah, M.Si

NIP. 196203161988031003

  Pembimbing II

  

Syaifullah Syam, S.Pd, M.Si

NIP. 197504142005011001

  Mengetahui, Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi

  

Dra. Hj. Siti Komariah, M.Si, Ph.D

NIP. 196804031991032002

SKRIPSI INI DIUJI PADA TANGGAL 26 OKTOBER 2015

  Panitia Ujian Sidang Terdiri Atas: Ketua : Dekan FPIPS UPI Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si NIP. 19700814 199402 1 001 Sekretaris : Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi Dra. Hj. Siti Komariah, M.Si, Ph.D NIP. 19680403 199103 2 002 Penguji :

  PENGUJI I

  Prof. Dr. Achmad Hufad, M.Ed NIP. 19550101 198101 1 001

  PENGUJI II

  Dr. Yadi Ruyadi, M.Si NIP. 19620516 198903 1 002

  PENGUJI III

  Dra. Wilodati, M.Si NIP. 19680114 199203 2 002

  ABSTRAK

Delilah Nurzaidah : Permisivisme Masyarakat terhadap Praktek Prostitusi

(Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat

  RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung)

  Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas sikap masyarakat yang permisif (serba membolehkan/acuh) terhadap praktek prostitusi yang hingga kini terus berkembang di tengah masyarakat kota Bandung. Masalah tersebut merupakan tantangan bagi masyarakat, bangsa dan Negara dalam rangka mencapai tujuan ketertiban umum. Penelitian ini ingin memperoleh jawaban atas pertanyaan mengapa masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir bersifat permisif terhadap praktek prostitusi di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai latar belakang masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir cenderung tampak permisif terhadap keberadaan praktek prostitusi yang ada di lingkungannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode studi kasus. Pendekatan dan metode ini digunakan untuk memahami fenomena sosial mengenai sikap permisif terhadap suatu perilaku menyimpang melalui gambaran menyeluruh. Teknik pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, field note, dan studi literatur. Temuan penelitian ini adalah: (1) Pandangan masyarakat terhadap praktek prostitusi merupakan suatu perilaku menyimpang. Pandangan tersebut menghasilkan suatu sikap yang cenderung acuh atau serba membolehkan. (2) Faktor penyebab adanya sikap permisif masyarakat terdiri dari internal dan eksternal. Faktor internal meliputi bertahan pada sikap acuh hingga kontrol sosial melemah, minimnya pendidikan mengenai hukum, serta adanya hubungan saling menguntungkan antara PSK dan masyarakat. Faktor eksternal meliputi upaya pemberantasan yang tidak serius dari pemerintah dan kepolisian, adanya hubungan saling menguntungkan antara PSK dan pihak kepolisian, serta ketidak percayaan masyarakat terhadap kebijakan maupun aparat keamanan yang bertugas. (3) Dampak yang dihasilkan dari sikap permisif adalah dampak positif dan negatif. Dampak negatif adalah image atau citra jalan Stasiun Barat menjadi buruk, stereotipe negatif kepada masyarakat yang digeneralisasikan seperti PSK (Pekerja Seks Komersial) maupun geremo, psikologi anak terganggu, terimbas dosa dari perzinahan secara agama. Dampak positif bagi masyarakat tertentu adalah penghasilan dari hasil membuka kios, sewa kontrakan, upah ojeg pelacur, dan biaya perizinan. (4) Upaya dalam menangani sikap permisif masyarakat adalah dengan memberlakukan aturan pengecekan buku nikah bagi pendatang yang menginap di lingkungan RW 02 sebagai jaminan atau izin, menyerahkan pada pihak yang lebih berhak dan berwajib, meski sebagian besar memilih untuk tetap pada sikap diam.

  Kata Kunci : Masyarakat, Permisivisme, dan Praktek Prostitusi

  

Delilah Nurzaidah: Permisivisme Society Towards Practice of Prostitution

(Case Stu dy on Stasiun Barat Street’s Community in RW

02, Andir Subdistrict of Bandung City)

  The research was distributed by the permissive attitude of reality permissive/indifferent) towards the practice of prostitution which until today continues to evolve in a community of Bandung city. The issue is a challenge for the community, State and nation in order to achieve the purpose of public order. This research would like to obtain an answer to the question of why Stasiun

  

Barat Street’s Community are permissive towards the practice of prostitution in its

  environment. This research aims to know the background overview of community in Stasiun Barat Street RW 02 tend too seem permissive to the existence of the practice of prostitution in its environment. This research used a qualitative approach and methods used to understand social phenomena the attitude of permissive towards a comprehensive picture through abberant behavior. Engineering data collection and information made through interview, observation, study of documentation, field note, and the study of litelature. The findings of this study are: (1) view of community towards the practice of prostitution is a deviant behavior. This view produces an attitude that tends to be indifferent or permissive. (2) the existence of a permissive attitude cause factor community consists of both internal and external. Internal factors include hang on in difference to social controls weakened, lack of education about the law, as well as the existence of mutually benefical relationships among PSK or Commercial Sex Workers with the community. External factor include the eradication efforts of the Goverment and police are not serious, the presence of mutually benefical relationships among PSK or Commercial Sex Workers with the police, as well as the lack of trust the community against polices or security apparatus responsible. (3) the impact resulting from a permissive attitude is positive and negative impacts. The negative impact is the image of the Stasiun Barat Street is bad, negative stereotype to the

  

generalizable as PSK or Commercial Sex Workers as well as “geremo”, the

  psychology of the child is distracted, probably reflected the sin of adultery in religion. Positive impact for a particular community is the result of revenue from unlock kiosk, rent, wages vehicles of PSK or Commercial Sex Workers, and licensing fees. (4) permissive attitude in dealing with the Efforts of community is to enact rules checking licenses for immigrants who stay in the neighborhood RW 02 as collateral or permission, submit a party more right and authorities, although most choose to remain in the stillness.

  Key words: Community, Permisivisme, and Prostitution

  DAFTAR ISI PERNYATAAN......

  i ………………………………………………………..

  KATA PENGANTAR......

  ii ………………………………………………….

  UCAPAN TERIMA KASIH.......

  iii ………………………………………….

  ABSTRAK.......

  v ……………………………………………………………..

  ABSTRACT......

  vi ……………………………………………………………..

  DAFTAR ISI.......

  vii …………………………………………………………..

  DAFTAR TABEL........

  x ……………………………………………………..

  DAFTAR GAMBAR........

  xi ………………………………………………….

  BAB I PENDAHULUAN......

  1

  ……………………………………………… 1.1.

  1 Latar Belakang Penelitian ……..………………………………… 1.2.

  8 Rumusan Masalah Penelitian ……………………………………… 1.3.

  8 Tujuan Penelitian.....………………………………………………..

  1.4.

  9 Manfaat Penelitian.....……………………………………………… 1.5.

  10 Struktur Organisasi....……………………………………………… BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................

  ……………….…………….. 12 2.1. Tinjauan tentang Permisivisme...........……………….…………….. 12 2.2. Tinjauan tentang Masyarakat...…………………………………..... 16 2.3. Tinjauan tentang Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial... 18 2.4.

  28 Tinjauan tentang Prostitusi ……..…………………………………

  BAB III METODE PENELITIAN …………………………………… 37 3.1.

  37 Desain dan Metode Penelitian…………………………………....

  3.2. Informan, Sample, dan Lokasi…………………………………… 41 3.3.

  Instrumen Penelitian……………………………………………… 43 Delilah Nurzaidah, 2015

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat

jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung) Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

  3.4. Teknik Penelitian………………………………………………..... 45 3.5.

  Validitas Data.........................……………………….…………… 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......

  53 …………….

  4.1. Kondisi Fisik Lokasi Penelitian……………….…………………… 53 4.2.

  Deskripsi Umum Praktek Prostitusi di jalan Stasiun Barat.……...... 56 4.3. Deskripsi Hasil Temuan Penelitian................................................... 57 4.3.1.

  Pandangan dan Sikap Masyarakat terhadap Praktek Prostitusi di jalan Stasiun Barat...............................................................

  57 4.3.2.

  Faktor yang Melatarbelakangi Masyarakat menjadi Permisif

  terhadap Praktek Prostitusi di jalan Stasiun Barat.................... 63 4.3.3.

  Dampak dari Permisivisme Masyarakat terhadap Praktek

  Prostitusi dan bagi Masyarakat jalan Stasiun Barat.................. 68 4.3.4.

  Upaya yang Dilakukan Masyarakat jalan Stasiun Barat untuk

  Mengatasi Sikap Permisif Masyarakat terhadap Praktek Prostitusi.................................................................................... 70 4.4.

  Pembahasan Hasil Penelitian.............................................................. 71 4.4.1.

  Pandangan dan Sikap Masyarakat terhadap Praktek Prostitusi di jalan Stasiun Barat................................................................

  72 4.4.2.

  Faktor yang Melatarbelakangi Masyarakat menjadi Permisif

  terhadap Praktek Prostitusi di jalan Stasiun Barat.................... 82 4.4.3.

  Dampak dari Permisivisme Masyarakat terhadap Praktek

  Prostitusi dan bagi Masyarakat jalan Stasiun Barat................. 85 4.4.4.

  Upaya yang Dilakukan Masyarakat jalan Stasiun Barat untuk

  Mengatasi Sikap Permisif Masyarakat terhadap Praktek Prostitusi.................................................................................. 88 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI........

  …..…………………. 95 Delilah Nurzaidah, 2015 PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung) Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

  5.1. Simpulan.............…………………………………………………… 95 5.2.

  Implikasi............................................................................................. 97 5.3. Rekomendasi..........………………………………………………… 97

  

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 99

LAMPIRAN ............................................................................................. 102

Delilah Nurzaidah, 2015

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat

jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung) Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

  DAFTAR TABEL

Tabel 2.4.1 Perbedaan Perempuan dan Lelaki.................................................. 29Tabel 4.1 Jumlah Penduduk............................................................................55Tabel 4.3.2 Faktor Penyebab Masyarakat Permisif............................................67Tabel 4.3.3 Dampak Permisivisme Masyarakat terhadap

  Praktek Prostitusi............................................................................. 68

Tabel 4.4.4 Upaya yang Dilakukan untuk Mengatasi Sikap Permisif

  Masyarakat.......................................................................................93

  Delilah Nurzaidah, 2015

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat

jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung) Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

  DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian.............................................................. 19

  Delilah Nurzaidah, 2015

PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI (Studi Kasus pada Masyarakat

jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung) Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perilaku manusia kini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Keberagaman bentuk perilaku seseorang, besar kecilnya di pengaruhi oleh

  lingkungan di sekitar, karena pada umumnya masyarakat sebagai agen sekunder pembentuk kepribadian memiliki kontribusi yang besar dalam membentuk perilaku seseorang di masyarakat. Perilaku yang dihasilkan tersebut dapat berupa perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maupun perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma, sesuai dengan pengaruh yang diterima individu tersebut. Dalam berperilaku, manusia atau yang termasuk di dalam masyarakat memiliki batasan-batasan dalam melakukan segala sesuatu. Dibutuhkan pengendalian sosial dalam mengatur segala sesuatu yang terjadi di masyarakat. Pengendalian sosial menurut Maftuh dan Ruyadi (1995, hlm. 107) adalah segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku. Keberadaan dari pengendalian sosial akan membantu masyarakat dalam bertindak, mengetahui batasan-batasan yang dilarang dan mengetahui sejauh mana mereka mendapatkan kebebasan dalam bertindak. Dalam hal ini, masyarakat merupakan subjek serta objek di dalam pengendalian sosial. Dimana, masyarakat yang menentukan suatu aturan dan masyarakat pula yang menjalankan hingga memberikan sanksi. Masyarakat merupakan bagian dari agen pengendali sekaligus yang mesti di kendalikan. Di dalam pengendalian tentunya terdapat aturan, nilai, norma yang diberlakukan. Dibentuk dengan tujuan mencapai ketertiban atau keteraturan bermasyarakat. Serta disisi lain, tujuan dari adanya pengendalian sosial adalah untuk meminimalisir adanya perilaku yang tidak diinginkan atau menyimpang.

  Perilaku menyimpang kerap kali tampak di sekeliling tempat tinggal. Dilakukan secara individu maupun berkelompok. Individu atau kelompok melakukan suatu kegiatan diluar aturan atau nilai dan norma yang berlaku. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sapariah (dalam Willis, 2012, hlm.5) mengartikan perilaku menyimpang sebagai

  „tingkah laku yang menyimpang dari norma- norma sosial.‟

  Perilaku menyimpang tampak diberbagai lapisan masyarakat, terjadi karena

adanya sikap masyarakat yang lari dari aturan, adat dan kebiasaan yang

sebelumnya telah ditetapkan. Perilaku menyimpang dapat dikatakan sebagai

penyimpangan sosial ketika penyimpangan tersebut dilakukan oleh suatu

kelompok bukan lagi dilakukan secara individu. Motif dari individu ataupun

kelompok melakukan suatu penyimpangan pun beragam. Dampak yang dihasilkan

oleh adanya perilaku menyimpang dapat dirasakan oleh dirinya sendiri maupun

orang lain. Perilaku menyimpang merupakan masalah bersama bagi seluruh

masyarakat. Masalah sosial yang tak kunjung henti menerpa masyarakat yang lari

dari aturan dan dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan dan norma

yang berlaku. Seperti yang dikemukakan Setiadi dan Kolip (2011, hlm.187),

menyatakan bahwa “perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga

  masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma

  Salah satu contoh dari perilaku menyimpang yang kerap sosial yang berlaku.”

tampak di sekeliling masyarakat yakni praktek prostitusi. Prostitusi atau pelacuran

menurut Soekanto (2006, hlm.328) merupakan “suatu pekerjaan yang bersifat

menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual

dengan me ndapat upah.” Mereka semata-mata bekerja untuk memperoleh kepuasan financial maupun biologis.

  Praktek prostitusi atau tuna susila dianggap tidak sesuai dengan nilai,

norma, kebiasaan, aturan dan hukum yang ada di masyarakat. Cara yang dapat

digunakan untuk meminimalisir keberadaan praktek prostitusi salah satunya

dengan merealisasikan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Karena keberadaan

prostitusi maupun mereka yang memberikan fasilitas asusila termasuk kedalam

  pelanggaran atas ketertiban umum, yang aturannya tertera dalam Peraturan Daerah Kota Bandung No. 3 Tahun 2005 mengenai Penyelenggaraan Ketertiban,

  

Kebersihan, Keindahan BAB V tentang Larangan, Pasal 38 poin f sampai j, yang bunyinya: f. Dilarang melakukan perbuatan asusila;

  g. Dilarang menyediakan, menghimpun wanita tuna susila untuk

  dipanggil, memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk berbuat asusila;

  h. Dilarang menjajakan cinta atau tingkah lakunya yang patut di duga

  akan berbuat asusila dengan berada di jalan, jalan hijau, taman dan tempat umum lainnya serta tempat-tempat yang dicurigai akan digunakan sebagai tempat perbuatan asusila;

  i. Dilarang menarik keuntungan dari perbuatan asusila sebagai mata

  pencaharian; j. Dilarang menyediakan rumah tempat untuk berbuat asusila.

  Sudah barang tentu mereka yang melakukan dan memberikan fasilitas bagi praktek asusila atau praktek prostitusi merupakan pelaku penyimpangan (deviant) karena melanggar aturan mengenai ketertiban umum yang telah dipaparkan tersebut. Turut serta masyarakat yang memberi fasilitas dan keuntungan dianggap memberi dukungan dan turut serta dalam keberlangsungan praktek prostitusi. Praktek prostitusi pun dianggap sebagai salah satu bentuk kriminalitas di mata hukum yang aturannya tertera di Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 296, 297, dan 506 KUHP (dalam Adang, 2010, hlm. 357), menunjukan bahwa

  „yang diatur adalah mereka yang menjadi penyalur dan yang mencari wanita untuk tujuan prostitusi.

  ‟ Selain itu, upaya lain yang dapat dilakuakan

  dalam meminimalisir keberadaan praktek prostitusi tidak hanya bertitik tolak pada aturan pemerintah saja, namun peran masyarakat sebagai pengendali sosial pun mesti di perhatikan. Seluruh anggota di masyarakat harus mengambil alih atau turut serta dalam pemberantasan penyakit masyarakat itu sendiri. Mengoptimalkan fungsi dari masyarakat sebagai agen pengendali sosial yang menciptakan, menjalankan serta memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar aturan yang telah ditetapkan. Dengan adanya upaya masyarakat yang turut serta dalam pemberantasan perilaku menyimpang khsususnya praktek prostitusi, diharapkan masalah-masalah di masyarakat akan berkurang atau terminimalisir.

  Namun pada kenyataannya, peneliti menemukan suatu kenyataan yang berbeda di lapangan. Dimana adanya masyarakat sebagai agen of social control atau agen pengendali sosial, justru bersikap acuh terhadap keberadaan perilaku yang menyimpang. Peneliti menganggap a danya pengaruh media massa yang

  

merupakan agen dari globalisasi, sedikitnya mempengaruhi pola pikir serta

perilaku masyarakat. Media massa yang mempertontonkan budaya luar yang

berbeda dengan budaya lokal pun kini digandrungi oleh masyarakat. Hingga

  akhirnya eksistensi budaya luar yang tampak di media tersebut pun diikuti oleh masyarakat Indonesia dan pada akhirnya kegandrungan tersebut pun menghasilkan pola pikir serta pola perilaku yang beragam. Media massa kini telah menjadi panutan bagi masyarakat, hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma pun kini dipertontonkan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum. Hasilnya masyarakat akan terbiasa dengan adanya perilaku yang melanggar nilai dan norma, kemudian menghasilkan masyarakat yang permisif terhadap nilai, norma, aturan, kebiasaan itu sendiri. Sikap permisif menurut Solihin (2002, hlm.116) merupakan sikap dan pandangan yang memperbolehkan dan

  “suatu

  mengizinkan segala-

  galanya.” Sikap permisif tersebut merupakan cerminan

  masyarakat yang acuh atau serba membolehkan dalam segala hal, termasuk perilaku yang melanggar norma-norma kemasyarakatan. Masyarakat yang permisif cenderung bertindak serba bebas, berperilaku seolah tidak ada adat, kebiasaan, sopan santun, aturan serta hukum. Hal tersebut muncul karena adanya pembiasaan dari masyarakat itu sendiri, biasa menerima pengaruh modernitas dan tidak menghiraukan moralitas yang dianut sebelumnya. Kebiasaan tersebut pada akhirnya membuat masyarakat berada pada zona nyaman bahkan sampai zona

  

ekstasi. Zona dimana menurut Piliang (2010, hlm. 91) “dunia ekstasi adalah dunia

  yang diatur oleh hukum serba terbalik, yang imoral itu adalah yang membanggakan; yang ilusif itu adalah kebenaran; yang rahasia itu adalah

  

selubung penutup.” Sudah tidak menghiraukan sesuatu yang ada di sekelilingnya

  hingga akhirnya kebiasaan tersebut jika dilakukan secara terus menerus akan menjadi suatu gaya hidup. Seperti yang dipaparkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) gaya hidup diartikan sebagai

  “pola tingkah laku sehari-hari

  segolongan manusia di dalam masyarakat

  .” Dilengkapi oleh Chaney (1996,

  hlm.92) gaya hidup (life style

  ) merupakan “pola-pola tindakan dalam

  membedakan antara satu dengan yang lain. Gaya hidup adalah bentuk identitas kolektif yang berkembang seiring waktu. Gaya hidup berfungsi dalam interaksi dengan cara-

  cara yang mungkin tidak dapat dipahami.” Gaya hidup memiliki

  banyak pengertian namun garis besar yang dapat diambil oleh peneliti, gaya hidup merupakan pola tindakan dari seseorang yang mencerminkan suatu identitas individu tersebut dalam berinteraksi dengan orang lain, terbentuk seiring waktu dan diterapkan seseorang untuk memudahkan orang lain menganal dirinya.

  Sikap acuh tersebut dianggap sebagai suatu masalah dalam penelitian ini, terutama sikap acuh masyarakat dalam menangani kasus praktek prostitusi.

  

Perilaku menyimpang berupa prostitusi dapat dilihat di kota-kota besar seperti

kota Bandung yang dijadikan sebagai tempat penelitian oleh peneliti. Umumnya

praktek prostitusi ini berlangsung pada malam hari. Mulai dari berkerumun di

suatu tempat seperti warung, hingga menjajakan kemolekan tubuhnya di

sepanjang jalan hingga melakukan prakteknya di tempat-tempat khusus. Hal

tersebut dikarenakan pelaku prostitusi merupakan wanita yang menjual kecantikan

  dan keindahan tubuh yang dibalut dengan pakaian yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Bandung pada umumnya. Menjual tubuh dan melakukan hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan hanya demi memperoleh upah. Mengutamakan urusan duniawi dan mengkesampingkan moralitas.

  Keberadaan praktek prostitusi merupakan suatu kasus yang sangat disorot di kota-kota besar lain untuk diberantas, karena dianggap mengganggu ketertiban umum, melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat, serta dianggap tidak sesuai dengan nilai yang dianut bagi salah satu agama yang mendominasi di daerahnya. Dimana berdasarkan hasil penelitian, hampir 90% masyarakat Jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir beragama Islam. Keadaan masyarakat di Jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir, cenderung bertolak belakang dengan upaya yang kita lihat beberapa pekan terakhir di media massa, lokalisasi Dolly dianggap meresahkan masyarakat sehingga pada akhirnya terjadinya penutupan lokalisasi oleh pihak pemerintah. Adanya turun tangan dari agen-agen pengendalian sosial yang bertugas dibidangnya. Termasuk di dalamnya turut serta masyarakat yang sadar akan butuhnya ketertiban sosial. Upaya yang dilakukan

  

oleh masyarakat sekitaran Dolly sudah pantasnya dicontoh atau ditiru oleh

masyarakat Indonesia pada umumnya, menunjukan adanya kepedulian dan

  

campur tangan masyarakat sebagai pengendali sosial. Berbeda dengan masyarakat

sekitaran Dolly, upaya tersebut tidaklah mudah untuk direalisasikan pada

masyarakat yang dalam kehidupannya telah banyak dipengaruhi oleh era

globalisasi. Masyarakat yang memiliki sikap yang permisif terhadap praktek

prostitusi seperti hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Breny (2013, hlm.

v) pada masyarakat Sosrowijayan Yogyakarta yang dapat peneliti sarikan bahwa:

  Interaksi sosial yang terjadi antara Pekerja Seks Komersial dan masyarakat Sosrowijayan berlangsung baik, terlihat dengan tidak adanya masalah yang berkenaan dengan proses interaksi antar keduanya. Masyarakat Sosrowijayan menempatkan masyarakat sebagai pihak yang paling diuntungkan secara ekonomi dari praktek prostitusi tersebut, sehingga relasi sosial yang terjalin antara pekerja seks komersial dengan masyarakat merupakan relasi yang berorientasi materi/ekonomi. Doktrin-doktrin agama tidak memberikan pengaruh pada praktek prostitusi yang berlangsung di Sosrowijayan. Interaksi antara Pekerja Seks Komersial dengan masyarakat Sosrowijayan yang terjadi saat ini bersifat asosiatif untuk mempertahankan lumbung perekonomian masyarakat.

  Keberlangsungan dari suatu perilaku menyimpang seperti yang tertera pada hasil penelitian terdahulu di karenakan adanya respon berlebih sehingga menimbulkan relasi yang saling menguntungkan antara Pekerja Seks Komersial dengan masyarakat, namun sebaliknya keberlangsungan dari perilaku menyimpang prostitusi di Jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir kota Bandung disebabkan oleh adanya sikap permisif dari masyarakat sekitarnya. Tempat dari praktek prostitusi tersebut berbeda dengan tempat lokalisasi pada umumnya yang memang dikhususkan bagi Pekerja Seks Komersial, keberadaan praktek prostitusi ini berada di tengah-tengah tempat tinggal masyarakat dan sarana-sarana umum seperti Rumah Sakit, rumah makan, Mall dan Stasiun Kereta Api.

  Keberadaan praktek prostitusi dari tahun ke tahun bertambah. Sebagaimana

  

pernyataan Gunawan dalam penelitian (16 Juni 2015, pukul 17.30 WIB) “tahun

  lalu hanya sekitar 15 hingga 25 Pekerja Seks Komersial yang berjajaran di pinggir jalan, tahun ini tentunya bertambah, tidak hanya pertahun bahkan perbulan

  

mereka bertambah satu hingga tiga orang.” Berdasarkan hasil wawancara yang

  dilakukan peneliti saat melakukan studi pendahuluan dengan salah satu masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir tersebut mengatakan jumlah pekerja seks komersial saat ini diperkirakan bertambah, walau tidak dapat dijumlahkan secara pasti namun hal tersebut terlihat dari keberadaan mereka yang kini tidak hanya menjajakan keseksian tubuh di jalanan, namun ada pula yang dibalik layar seperti di kontrakan atau pergi ketika sudah dihubungi via media sosial. Kontrakan yang digunakan untuk memfasilitasi mereka pun kini bertambah hingga ke jalan Stasiun Timur. Mereka sudah tidak lagi enggan untuk menampakan dirinya di depan masyarakat setempat. Melakukan praktek yang melanggar norma-norma yang berlaku dan mengganggu ketertiban umum. Bahkan dalam momentum Ramadhan pun peneliti melihat adanya praktek prostitusi yang tetap berlangsung, perbedaannya hanya pada pakaian yang digunakanoleh pelaku prostitusi tidak seperti malam-malam biasanya. Peneliti pun melihat dan memperoleh informasi dari warga Jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir bahwa dalam kegiatannya pelaku maupun pengguna dari Pekerja Praktek Prostitusi tersebut tidak hanya dari kalangan masyarakat usia produktif, namun peneliti memperoleh informasi adanya usia pelajar atau remaja yang turut serta dalam kegiatan praktek prostitusi tersebut. Serta pernyataan Gunawan mengenai adanya turun tangan aparat kepolisian dalam melindungi praktek prostitusi pun menarik perhatian peneliti, yang mana Gunawan dalam

  

penelitian (16 Juni 205, pukul 17.35) mengungkapkan “ada polisi yang

melindungi praktek prostitusi ini, jadi kita yang menggunakan diatur oleh mereka

juga. Mereka dapat persenan dari si mamih atau si pelacurnya.” Perbuatan yang

  melanggar nilai dan norma tersebut masih dilakukan di wilayah Jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir, karena menurut penelitian terdapat aturan perizinan bagi mereka yang dibawa keluar zona jalan Stasiun. Secara otomatis, mereka yang menggunakan jasa Pekerja Seks Komersial harus melakukan perbuatan perzinahannya di rumah-rumah kontrakan milik pelaku ataupun yang menghimpunnya. Berdasarkan informasi tersebut peneliti menganggap bahwa masalah sosial tersebut sedikitnya terjadi karena adanya sikap permisif dari masyarakat. Tidak adanya turun tangan dari masyarakat sebagai pengendali sosial.

  Penelitian ini dianggap perlu karena alasan yang telah diutarakan sebelumnya, terutama yang mengundang ketertarikan peneliti adalah tidak adanya kesadaran masyarakat sebagai pengendali sosial untuk memberantas keberadaan praktek prostitusi sementara diketahui jelas lokasi yang digunakan praktek prostitusi tersebut mestinya mengundang banyak penolakan, karena berada di tengah pemukiman masyarakat yang berbeda dengan lokalisasi pada umumnya, serta secara langsung akan mengganggu ketertiban umum. Ditambah masyarakat kota Bandung pada umumnya beragama Muslim yang melarang adanya perzinahan atau praktek prostitusi.

  Berangkat dari latar belakang yang telah dipaparkan, menggugah peneliti untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai sikap permisif yang ada pada masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir terhadap keberadaan praktek prostitusi di lingkungannya tersebut. Maka dari itu, peneliti mengambil judul

  PERMISIVISME MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK

PROSTITUSI DI JALAN STASIUN BARAT RW 02 KECAMATAN ANDIR

KECAMATAN ANDIR KOTA BANDUNG ”.

1.2. Rumusan Masalah

  Dari latar belakang di atas, peneliti mengambil rumusan masalah umum

yaitu “Mengapa masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir bersifat

  permisif terhadap praktek

  prostitusi di lingkungannya?” Agar rumusan masalah

  tersebut menjadi rinci, maka dikembangkan beberapa pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pandangan dan sikap masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung terhadap praktek prostitusi yang ada di lingkungannya?

  2. Apa faktor yang melatarbelakangi masyarakat menjadi permisif terhadap praktek prostitusi di jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung?

  3. Apa dampak dari permisivisme masyarakat terhadap praktek prostitusi dan bagi masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung?

  4. Bagaimana upaya yang dilakukan masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung untuk mengatasi sikap permisif masyarakat terhadap praktek prostitusi di lingkungannya?

1.3. Tujuan Penelitian

  Menurut Locke et al. (dalam Creswell, 2012, hlm.166), tujuan penelitian

  

berarti menunjukkan „mengapa Anda ingin melakukan penelitian dan apa yang

ingin Anda capai.‟ Kemudian Wilkinson yang dikutip oleh Creswell (2012,

  hlm.166) menjelaskan tujuan penelitian dalam konteks rumusan masalah dan sasaran penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mempunyai tujuan, diantaranya:

  1.3.1. Tujuan umum

  Secara umum, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mendapatkan gambaran mengenai latar belakang masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir cenderung tampak permisif terhadap keberadaan praktek prostitusi yang ada di lingkungannya.

  1.3.2. Tujuan khusus

  Tujuan umum tersebut dijabarkan dalam beberapa tujuan khusus sebagai berikut: a. Mengetahui pandangan dan sikap masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02

  Kecamatan Andir Kota Bandung terhadap praktek prostitusi yang ada di lingkungannya.

  b. Mengidentifikasi faktor yang melatarbelakangi masyarakat menjadi permisif terhadap praktek prostitusi di jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung.

  c. Mengidentifikasi dampak dari sikap permisivisme masyarakat terhadap praktek prostitusi dan bagi masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung.

  d. Mendeskripsikan upaya yang dilakukan masyarakat jalan Stasiun Barat RW

  02 Kecamatan Andir Kota Bandung terhadap praktek prostitusi di lingkungannya.

1.4. Manfaat Penelitian

  Suatu penelitian tentunya akan lebih bermakna bila mampu memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan maupun masyarakat pada umumnya. Diperjelas dengan manfaat teoritis dan praktis yang dijabarkan sebagai berikut: 1.4.1.

   Manfaat Teoritis

  Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran, menambah wawasan dan informasi serta berbanfaat untuk perkembangan disiplin ilum sosiologi dan ilmu-ilmu yang terkait lainnya, khususnya mengenai penyimpangan sosial dan pengendalian sosial. Selain itu, peneliti dapat memberikan pemaparan data mengenai peran pengendalian dalam menanggulangi penyimpangan sosial.

1.4.2. Manfaat Praktis

  Kegunaan praktis dari penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya: a. Bagi peneliti, penelitian ini dapat berguna untuk memahami implementasi teori mengenai penyimpangan sosial serta pengendalian sosial. Selain itu, dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam menghadapi fenomena sosial, khususnya sikap permisif masyarakat terhadap suatu penyimpangan.

  b. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan mampu menjadi sarana informasi mengenai prostitusi sebagai bentuk penyimpangan sosial dan dengan adanya penelitian ini pun diharapkan masyarakat mampu menajadi agen pengendali sosial yang baik.

  c. Bagi aparat keamanan, diharap dengan adanya penelitian ini aparat setempat mampu mengambil langkah yang tegas dalam menangani praktek prostitusi, mampu menjalankan tugas semaksimal mungkin untuk menyisir keberadaan pelaku prostitusi serta memasukannya ke panti rehabilitasi.

  d. Bagi aparat pemerintah, penelitian ini diharap mampu menjadi bahan evaluasi, dimana masih adanya kelompok masyarakat menyimpang yang membutuhkan perhatian khusus dari aparat pemerintah. Serta diharap mampu membuat kebijakan yang terbaik dalam meminimalisir perilaku menyimpang di masyarakat demi terwujudnya ketertiban sosial.

2. Struktur Organisasi Skripsi

  Menginduk pada Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah terbitan Universitas Pendidikan Indonesia, struktur organisasi atau sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

  BAB I PENDAHULUAN Bab Pendahuluan merupakan bab awal dalam penyusunan skripsi. Bagian ini berisikan tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta struktur organisasi.

  BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab kajian pustaka membahas mengenai konsep-konsep maupun teori yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Kajian pustaka ini memberikan sumbangan yang besar bagi berjalannya suatu penelitian sebagai landasan teoritis dalam menyusun pertanyaan penelitian, tujuan maupun asumsi dasar penelitian yang sedang dilakukan.

  BAB III METODE PENELITIAN Bab metode penelitian menjelaskan mengenai metodologi yang ingin digunakan dan jenis penelitian apa yang digunakan oleh peneliti, termasuk di dalamnya komponen-komponen seperti lokasi dan subjek penelitian, pendekatan metode penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengelola dan analisis data.

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab hasil penelitian dan pembahasan berisikan mengenai hasil analisis peneliti mengenai temuan data pandangan dan sikap permisivisme masyarakat terhadap keberadaan praktek prostitusi di jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung, faktor penyebab masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 permisif terhadap praktek prostitusi di lingkungannya, dampak yang dihasilkan dari sikap permisif masyarakat terhadap praktek prostitusi maupun masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02, serta upaya yang dilakukan masyarakat dalam menanggulangi sikap permisif masyarakat terhadap keberadaan praktek prostitusi di lingkungan jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung.

  BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI Peneliti dalam bab ini memberikan simpulan, implikasi dan rekomendasi sebagai penutup dari hasil penelitian dan sebagai permasalahan yang telah diidentifikasi dalam skripsi.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Pendekatan Penelitian Di dalam penelitian ini peneliti akan meneliti masalah sikap permisif

  masyarakat terhadap perilaku menyimpang berupa praktik prostitusi, khususnya di Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Oleh karena itu, peneliti memilih untuk menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh gambaran yang alamiah sesuai dengan kondisi dan keadaan yang ada pada objek dan lokasi penelitian. Sebagaimana yang diutarakan Sugiyono (2014,

  

hlm. 14) “metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik

  karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting

  ); ...”

  Penelitian kualitatif pun dilakukan pada objek yang alamiah pula, sebagaimana dijelaskan k

  embali Sugiyono (2014, hlm. 15) “objek yang alamiah adalah objek

  yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran

  

peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika objek tersebut.” Dengan

  menggunakan pendekatan kualitatif peneliti dapat melihat serta terlibat langsung dalam mengetahui latar belakang masyarakat bersifat permisif terhadap praktik prostitusi di lingkungannya. Mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir dengan alami tanpa adanya setting sebelumnya. Selain itu, pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami fenomena sosial mengenai sikap permisif masyarakat yang muncul karena gaya hidup modern melalui gambaran yang menyeluruh. Sehingga peneliti dapat memperoleh hasil mengenai sikap permisif masyarakat dari runtutan proses yang di dalamnya melibatkan peneliti untuk berinteraksi langsung dengan subjek serta stakeholder.

  Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dianggap dapat memberikan kesempatan yang lebih untuk peneliti melakukan interaksi dan memahami lebih dalam mengenai masalah sosial tersebut. Memahami makna yang terdapat dalam masalah sosial atau masalah individu, sebagaimana penelitian kualitatif menurut Creswell (2012, hlm. 256) mengemukakan bahwa:

  Penelitian kualitatif adalah alat untuk memaparkan dan memahami makna yang berasal dari individu dan kelompok mengenai masalah sosial atau yang sudah muncul, yakni dengan mengumpulkan data menurut setting partisipan; menganalisis data secara induktif, mengolah data dari yang spesifik menjadi tema umum, dan membuat penafsiran mengenai makna dibalik data. Report yang berhasil ditulis memiliki struktur penelitian yang fleksibel. Berdasarkan metodologi penelitian kualitatif Moleong (2007, hlm.6) menyatakan bahwa:

  Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

  Sifat kualitatif yang ada dalam penelitian ini mengharuskan peneliti menjadi instrumen utamanya untuk terjun langsung ke lapangan dalam rangka mencari data atau informasi melalui observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti lebih menggunakan pendekatan hubungan akrab antar manusia. Hal ini berarti selama proses penelitian, peneliti akan lebih banyak mengadakan hubungan dengan orang-orang di tempat penelitian.

  Peneliti dapat memaknai bahwa penelitian kualitatif digunakan untuk memperoleh gambaran dan mengambil makna dari suatu fenomena, masalah sosial, dan kondisi yang dialami oleh subjek penelitian baik individu maupun kelompok, dengan melibatkan peneliti sebagai instrumen penelitian, menggunakan berbagai metode yang alamiah serta hasilnya dituangkan dalam bentuk deskripsi. Alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasari dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu permisivisme masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir terhadap praktik prostitusi memerlukan sejumlah data lapangan yang sifatnya aktual dan konseptual yang nantinya dapat di deskripsikan secara sistematis terhadap masalah yang sedang dikaji oleh peneliti, karena masalah tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung alamiah dan kondisi di masa sekarang tidak dapat diukur dengan perhitungan statistik, tetapi jauh dari itu setiap perilaku manusia tentunya memiliki makna dan faktor yang melatarbelakanginya. Selain itu asumsi yang menjadi landasan dalam kualitatif sebagaimana yang dikatakan Merriam (Creswell, 1994, hlm. 145) pun menjadi alasan bagi peneliti. Asumsi-asumsi tersebut ialah sebagai berikut: a.

  Penelitian kualitatif lebih memiliki perhatian pada proses dari pada hasil

  atau produk; b.

  Peneliti kualitatif tertarik pada makna, yaitu bagaimana orang berusaha

  memahami kehidupan, pengalaman, dan struktur lingkungan mereka; c.

  Peneliti kualitatif merupakan instrumen utama dalam pengumpulan dan

  analisis data. Data diperoleh melalui instrumen manusia daripada melalui inventarisasi (inventories), kuisioner, ataupun melalui mesin; d.

  Penelitian kualitatif sangat berkaitan dengan fieldwork. Artinya, peneliti

  secara fisik terlibat langsung dengan orang, latar (setting), tempat, atau institusi untuk mengamati atau mencatat perilaku dalam latar alamiahnya; e.

  Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, dalam arti peneliti tertarik pada

  proses, makna, dan pemahaman yang diperoleh melalui kata-kata atau gambar-gambar; f.

  Proses penelitian kualitatif bersifat induktif dalam arti peneliti membangun abstraksi, konsep, hipotesis, dan teori.

  Penelitian kualitatif pun memiliki karakteristik, seperti yang dijelasakan Bogdan dan Biklen (dalam Sugiyono, 2014, hlm. 21) sebagai berikut:

  1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci.

  2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekannkan pada angka.

  3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dari pada produk atau outcome.

  4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.

  5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Asumsi dan karakteristik penelitian kualitatif mengenai ketertarikan pada makna, peneliti sebagai instrumen penelitian, dilakukan pada kondisi alamiah, serta keterlibatan penulis secara langsung dalam memperoleh jawaban atas masalah yang peneliti angkat menjadikan peneliti semakin tertarik dalam menggunakan pendekatan kualitatif, dan di dukung oleh penuangan hasil penelitian yang dituangkan dalam bentuk deskriptif. Oleh karena itu, semakin menguatkan peneliti untuk menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitian mengenai permisivisme masyarakat terhadap praktik prostitusi. Penelitian yang bertujuan untuk memperoleh suatu data yang valid (sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan) berupa kata-kata dan gambar tentang suatu fenomena sosial di Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung, yang kemudian hasilnya dianalisis sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan, selanjutnya dideskripsikan berupa kata-kata tertulis sesuai dengan kenyataan di lapangan.

  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus. Hal tersebut dikarenakan, metode studi kasus merupakan metode yang meneliti suatu kasus yang terjadi serta akan memperoleh gambaran kasus secara detail. Kasus yang diangkat dalam penelitian ini mengenai sikap permisif masyarakat terhadap praktik prostitusi di jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir.

  Oleh karena itu, dalam penelitian mengenai pemisivisme masyarakat terhadap praktik prostitusi ini peneliti menggunakan metode studi kasus karena hal tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan di tempat lain. Selain itu, peneliti ingin memperoleh gambaran yang detail mengenai permisivisme masyarakat terhadap praktik prostitusi. Baik itu pandangan masyarakat terhadap keberadaan praktik prostitusi, faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat cenderung permisif, serta dampak yang terjadi karena sikap permisif masyarakat bagi praktik prostitusi maupun masyarakat sendiri.

  Hasil penelitian yang peneliti lakukan mengenai keadaan masyarakat yang permisif terhadap keberadaan praktik prostitusi di lingkungannya, nantinya dituangkan dalam bentuk deskripsi yakni tertulis sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Menurut Lincoln dan Guba (1985, hlm. 201) penggunaan studi kasus sebagai suatu metode penelitian kualitatif memliki beberapa keuntungan, yaitu: a. Studi kasus dapat menyajikan pandangan dari subjek yang diteliti.

  b. Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca kehidupan sehari-hari.

  c. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukan hubungan antara peneliti dan responden.

  d. Studi kasus dapat memberikan uraian yang mendalam yang diperlukan bagi penilaian atau transferabilitas. Berdasarkan uraian keuntungan yang dikemukakan tersebut, sudah barang tentu membuat peneliti semakin yakin untuk menggunakan studi kasus dalam melakukan penelitian di lapangan. Guna dapat memahami secara mendalam mengenai kasus yang ada di lapangan secara alamiah. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus cocok diterapkan dalam penelitian ini. Sebab peneliti suatu fenomena sosial. Banyak makna yang terkandung di dalam suatu fenomena sosial yang tidak bisa dipahami hanya dengan menghitung data secara statistik. Oleh karena itu peneliti harus terlibat langsung dalam mendengarkan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh subjek/informan penelitian secara intensif. Dengan demikian, peneliti akan dapat menemukan makna-makna dibalik sikap permisif masyarakat terhadap keberadaan praktik prostitusi di Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir. Yang kemudian peneliti analisis sesuai dengan langkah- langkah yang telah ditentukan, kemudian digambarkan berupa uraian deskriptif sesuai dengan kenyataan di lapangan secara merinci.

3.2. Informan, Sampel, dan Lokasi 3.2.1. Informan (Nara Sumber)

  Amirin (2009), mengemukakan bahwa informan penelitian adalah

  

“seseorang yang memiliki informasi mengenai objek yang sedang diteliti, dan

dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut”. Di dalam penelitian ini

  terdapat dua jenis informan, yaitu informan kunci dan informan pendukung. Pihak yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini yaitu masyarakat Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung, yang diambil berdasarkan batas lokasi jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir. Informan ini, selain sebagai nara sumber, juga sebagai subjek penelitian. Masyarakat jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir tersebut cenderung tampak permisif dengan adanya praktik prostitusi di depan tempat tinggalnya. Kemudian pihak yang menjadi informan pendukung dalam penelitian ini yaitu pelaku prostitusi, masyarakat temporer dan tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh di lingkungannya. Informan pendukung ini adalah pihak yang sehari-harinya berinteraksi dengan subjek penelitian. Peneliti menetapkan mereka sebagai informan pendukung dengan alasan, peneliti ingin mengetahui pandangan-pandangan informan pendukung untuk memperoleh informasi lebih dalam yang peneliti butuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian.

3.2.2. Sampel

  Sampel dalam penelitian kualitatif berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimal. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  

Purposive sampling adalah teknik pengambilan data dengan pertimbangan-

  pertimb

  angan tertentu dari peneliti. “pertimbangan tertentu, misalnya orang

tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan…” (Sugiyono,

  2014, hlm. 300). Dengan menggunakan teknik purposive sampling akan membatasi peneliti dalam memilih sample penelitian. Artinya, subjek penelitian relatif sedikit dan dipilih menurut tujuan penelitian. Seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono (2013, hlm. 53-54) bahwa:

  Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan

  pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu itu misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.

  Hal ini sepaham dengan yang dikemukakan oleh Lincoln & Guba (1985, hlm. 200) bahwa:

  ...pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan yang dikenali dari rancangan sampel yang muncul, pemilihan sampel secara berurutan, penyesuaian berkelanjutan dari sampel dan pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan.

  Adapun teknik pengambilan subjek dengan teknik snowball sampling dilakukan karena informasi tidak cukup dari satu sumber saja, nantinya informan akan menunjuk sumber-sumber lain yang dapat memberikan informasi begitu pun seterusnya hingga informasi berada pada titik jenuh. Sesuai yang dijelaskan oleh Sugiyono (2013, hlm. 54) yang menyatakan bahwa:

  Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang

  pada awalnya jumlahnya sedikit lama-lama menjadi besar. hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.

  Banyaknya subjek dalam penelitian ini ditentukan oleh adanya pertimbangan perolehan informasi. Penentuan subjek dianggap memadai apabila telah sampai pada titik jenuh yaitu data atau informasi yang diperoleh memiliki kesamaan setelah dilakukan penelitian terhadap beberapa informan yang berbeda. Seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1996, hlm. 32-33) bahwa

  , “untuk memperoleh

  informasi sampai dicapai taraf

  “redundancy” ketentuan atau kejenuhan artinya

  bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang dianggap berarti.

  ”

  Berdasakan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pengumpulan data dari responden didasarkan pada ketentuan atau kejenuhan data dan informasi yang diberikan. Maka peneliti menetapkan 5 orang dari setiap perwakilan keluarga, 3 orang dari tokoh masyarakat yang termasuk dalam masyarakat Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir sebagai inforoman kunci. Dua orang dari masyarakat berjualan di sekitar jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir, dua orang pengguna jalan, ditetapkan sebagai informan pendukung.

3.2.3. Lokasi Penelitian

  Penelitian mengenai permisivisme masyarakat terhadap praktik prostitusi ini dilakukan di jalan Stasiun Barat RW 02 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Dengan alasan, keberadaan praktik prostitusi yang berada di jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir tersebut tidak seperti tempat praktik prostitusi pada umumnya yang memang khusus di peruntukan atau dilokalisasi bagi Pekerja Seks Komersial (PSK) seperti di Dolly, Saritem, dan lain-lain. Keberadaan praktik prostitusi di jalan Stasiun barat RW 02 Kecamatan Andir tersebut justru berada di tengah-tengah permukiman warga, rumah sakit, stasiun, mall, rumah makan, dan lain-lain yang mengundang tanya bagi peneliti mengapa para warganya tampak permisif dengan keberadaan praktik prostitusi yang kini terus berlangsung. Sementara hal itu jelas bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 3 Tahun 2005.

3.3. Instrumen Penelitian

  Instrumen dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri yang menjadi instrumen atau alat penelitian. Menurut Sugiyono (2005, hlm. 59) menyatakan bahwa

  

“dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen penelitian atau alat

  

penelitian adalah peneliti itu sendiri.” Dengan kata lain, peneliti sebagai alat

  utama yang dipergunakan untuk memperolah data dalam penelitian ini. Peneliti selain sebagai perencana juga pelaku atau yang mengeksekusi semua tindakan yang sudah direncanakan. Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh data yang akurat. Selanjutnya Nasution (dalam Sugiyono, 2014, hlm. 306) mengungkapkan bahwa:

  Dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrument penelitian utama. Alasannya ialah bahwa segala sesuatu belum mencapai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepenjang penelitian itu. Ada bebrapa ciri umum manusia sebagai instrument penelitian menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2014, hlm. 307) yang peneliti sarikan sebagai berikut:

  1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat berekasi terhadap stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakana atau tidak bagi peneliti.

  2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.

  3. Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia.

  4. Suatu situasi yang melibatkan interkasi manusia, tidak dapat difahami dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya kita perlu merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita.

  5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika.

  6. Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil keesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat.

  7. Dengan manusia sebagai intrumen, respon yang aneh, yang menyimpang justru diberi perhatian. Respon yang lain dari pada yang lain, bahakan yang bertentangan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang diteliti.

  Dari penjelasan di atas maka disimpulkan bahwa yang menjadi instrument penelitian atau alat pengumpul data adalah peneliti sendiri, setelah memperoleh fokus penelitian yang jelas, maka akan kembali ke instrumen penelitian sebagai pelengkap data. Dengan demikian, peneliti harus mampu berkomunikasi secara baik dengan informan atau subjek penelitian dalam situasi apapun, guna mendapatkan data yang dibutuhkan secara mendalam untuk menjawab permasalahan penelitian.

3.4. Teknik Penelitian

  Teknik pengumpulan data merupakan hal yang paling penting dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mengumpulkan dan mengolah data. Dengan teknik pengumpulan data yang benar, maka peneliti akan mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

  Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Adapaun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi dan studi litelatur. Saat melakukan penelitian, peneliti nantinya akan dibantu oleh beberapa pedoman seperti pedoman wawancara dan pedoman observasi yang sebelumnya telah dibuat.

  Menurut Sugiyono (2009, hlm.317) observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap objek penelitian. Dengan observasi, kita dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang kehidupan sosial yang sulit diperoleh dengan metode lainnya. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta mengenai keberadaan sikap permisif masyarakat terhadap keberadaan praktik prostitusi.

  Adanya observasi pasrtisipatif akan membantu peneliti dalam memperoleh makna akan suatu masalah sosial yang terjadi. Creswell (2009, hlm.267) menyebut observasi partisipatif dengan sebutan observasi kualitatif, yaitu

  

“observasi yang didalamnya peneliti langsung turun kelapangan untuk mengamati

  perilaku dan aktifitas individu-

  individu di lokasi penelitian”. Dengan demikian,

  peneliti akan ikut terlibat dalam kegiatan orang yang sedang diamati sebagai sumber data penelitian. Peneliti dalam hal ini mesti merekam, mendokumentasikan, atau mencatat baik dengan cara terstrukur atau pun tidak tentang segala aktifitas-aktifitas di lokasi penelitian yang berhubungan dengan

  

masalah penelitian. “Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh

  akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap

  

prilaku yang tampak” (Sugiyono, 2014, hlm. 308). Memudahkan peneliti dalam

  melakukan penelitian terutama dalam memperoleh jawaban atas masalah yang di angkat.

  Observasi yang dilakukan peneliti disini yaitu dengan datang langsung ke lokasi penelitian di jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung untuk mengamati perilaku masyarakat setempat dalam memandang dan menyikapi keberadaan praktik prostitusi di sekitar lingkungannya, menjadi bagian dari warga masyarakat setempat agar mempermudah peneliti memperoleh data. Melakukan observasi kepada masyarakat yang bertempat tinggal di jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung, tokoh masyarakat yang berpengaruh seperti pemuka agama, masyarakat yang kerap kali datang ke jalan Stasiun Barat (pengguna jasa praktik prostitusi), dan pelaku prostitusi untuk mengetahui faktor yang melatarbelakangi masyarakat menjadi permisif terhadap praktik prostitusi, dampak yang dihasilkan dari sikap permisif masyarakat terhadap masyarakat maupun praktik prostitusi, serta menanyakan upaya yang dilakukan masyarakat dalam menangani sikap permisif terhadap praktik prostitusi di lingkungannya. Demi mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti melakukan interaksi yang intensif dan menjalin silaturahmi berkelanjutan dengan masyarakat setempat dari jauh-jauh hari.

  Selain itu peneliti pun mesti melakukan wawancara, menurut Bungin (2008, hlm. 108) wawancara adalah: memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Pedoman wawancara dan pedoman observasi bertujuan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan. Selain itu pedoman wawancara dan observasi dibuat untuk membantu dan memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian. Karena terkadang saat peneliti berada di lokasi penelitian khususnya sedang melaksanakan wawancara, sering mengalami kesulitan dalam melontarkan pertanyaan yang sistematis. Akan tetapi, setelah proses wawancara berlangsung peneliti akan menyesuaikan sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang diutarakanpun merupakan hasil pengembangan dari pedoman yang sudah dibuat.

  Seperti yang dijelaskan oleh Lincoln & Guba (1985, hlm. 39) bahwa

  

“peneliti berperan sebagai instrument (human instrument) yang utama” yang

  secara penuh mengadaptasikan diri ke dalam situasi yang dimasukinya. Human

  

Instrument ini dibangun atas dasar pengetahuan dan menggunakan metode yang

sesuai dengan tuntutan penelitian.

  Peneliti akan melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan dan sikap masyarakat terhadap praktik prostitusi beserta faktor, dampak dan upaya yang dilakukan untuk menanggulangi sikap permisif kepada masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 Kecamatan Andir Kota Bandung, pelaku prostitusi, tokoh masyarakat yang berpengaruh, serta masyarakat yang datang ke jalan Stasiun Barat (pengguna jasa praktik prostitusi).

  Agar memudahkan peneliti dalam memaknai kejadian yang ada di lapangan, peneliti pun di mudahkan dengan adanya bantuan studi literatur yaitu alat pengumpul data untuk mengungkapkan berbagai teori yang relevan dengan permasalahan yang diteliti sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data teoritis yang dapat mendukung kebenaran data yang diperoleh melalui penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan berbagai literatur baik berupa buku, jurnal, maupun pernyataan- pernyataan yang berkaitan dengan masalah yang di angkat dari berbagai media masa. Guna memperoleh data yang empiris dan relevan dengan masalah yang diangkat oleh peneliti. Dengan menggunakan studi litelatur, peneliti dapat mempelajari informasi-informasi sebagai reverensi dalam mengembangkan hasil penelitian tentang sikap permisif masyarakat terhadap praktik prostitusi.

  Agar lebih memudahkan peneliti dalam mencari data, maka peneliti menggunakan teknik berupa catatan (field note), peneliti akan membuat catatan singkat pengamatan tentang segala peristiwa yang dilihat, dirasakan dan didengar selama penelitian berlangsung sebelum dituangkan kembali ke dalam catatan yang lebih lengkap. Sebagaimana yang dikatakan Bogdan dan Biklen (Moleong, 2010, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan reduksi terhadap data dalam penelitian kualitatif

  ‟. Peneliti akan mempersiapkan buku catatan untuk mencatat setiap kejadian dan peristiwa dalam memperoleh data di lapangan.

  Selain itu untuk memperoleh data yang akurat, peneliti pun menggunakan studi dokumentasi yang merupakan pelengkap dari penggunaan teknik observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Arikunto (1998, hlm.236) mengatakan

  

bahwa “metode dokumentasi merupakan salah satu cara mencari data mengenai

  hal-hal atau variabel berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya

  .” Data yang diperoleh dari studi dokumen dapat menjadi referensi bagi peneliti selain wawancara dan observasi.

  Seperti yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang sedang diangkat mengenai sikap permisif maupun praktiktik protistusi. Penggunaan studi dokumentasi, studi litelatur, wawancara mendalam dan observasi partisipatif membuat peneliti menjadi penentu utama bagaimana penelitian dapat berlangsung. Memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian dan memperoleh data yang akurat untuk di deskripsikan.

3.5. Validitas Data

  Dalam penelitian kualitatif, hal utama yang dilihat dari hasil data penelitian

  

adalah valid. “valid merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada

objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti” (Sugiyono,

  2014, hlm. 363). Artinya data hasil penelitian dianggap valid jika data temuan peneliti (sebagai instrument penelitian) di lapanagn sesuai dengan laporan penelitian. Menurut Gibbs (Creswell, 2012, hlm. 285) bahwa:

  „validitas kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil

  penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu, sementara reliabilitas kualitatif mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain (dan) untuk proyek-

  proyek yang berbeda.‟

  Untuk melakukan validitas terhadap data yang diperoleh dari informan, maka peneliti melakukan cara-cara sebagai berikut:

  1. Perpanjangan Pengamatan

  Perpanjangan pengamatan artinya peneliti turun kembali kelapangan untuk melakukan observasi dan wawancara kembali dengan sumber data yang pernah ditemui. Dengan menggunakan perpanjangan pengamatan ini diharapkan hubungan peneliti dengan informan akan semakin dekat dan informan pun akan semakin terbuka, adanya rasa saling percaya antara peneliti dengan narasumber, ada hubungan yang baik di dalamnya. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi data yang disembunyikan informan. Bungin (2007, hlm. 262)

  

mengungkapkan pendapatnya dengan perpanjangan ini “ peneliti dapat melakukan

  cek ulang setiap informasi yang didapatnya, sehingga kesalahan mendapat informasi, informan berdusta, bahkan kesanjangan informan untuk menipu akan

  

dapat dihindari…” memperoleh data yang memang sesuai dengan hasil yang

diperoleh sebelumnya, tanpa ada setting atau rekayasa.

  2. Meningkatkan Ketekunan Mingkatkan ketekunan berarti peneliti melakukan kembali pengamatan secara lebih cermat, teliti, dan terorganisi. Dengan Meningkatkan ketekunan, peneliti akan dapat memberikan deskripsi yang terinci mengenai hasil pengamatan.

  “meningkatkan ketekunan itu ibarat kita mengecek pengerjaan soal-

  soal ujian, atau meneliti kembali tulisan dalam makalah yang telah dikerjakan, ada yang salah atau tidak” (Sugiyono, 2014, hlm. 368).

  3. Triangulasi Untuk memperoleh hasil penelitian yang valid maka peneliti akan melakukan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data.

  Triangulasi sumber data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber yang berbeda. Triangulasi teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dengan wawancara maka peneliti akan menguji data tersebut dengan mengobservasi dan mendokumentasikan data di lapangan. Bila dengan teknik tersebut menghasilkan data yang sama berarti data valid. kemudian jika menghasilkan data yang berbeda- beda maka peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

  Diskusi ini dilakuakan dengan teman yang memahami masalah penelitian. dengan demikian, peneliti akan mendapatkan informasi yang berarti. Cara ini akan dilakukan dengan mengekspos hasil sementara atau hasil ahir untuk didiskusikan

  

secara analisis. “diskusi secara analitis bertujuan untuk menyingkapkan kebenaran

  hasil penelitian serta mencari kekeliruan interpretasi dengan klarifikasi penafsiran dari pihak lain” (Bungin, 2010, hlm. 266).

  5. Menggunakan Bahan Referensi Menggunakan bahan referensi artinya adalah, adanya data pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Agar meningkatkan kepercayaan akan kebenaran data, peneliti akan merekam hasil wawancara dengan tidak mengganggu perhatian informan, kemudian peneliti juga akan mendokumentasikan foto-foto hasil wawancara dan temuan peneliti di lapangan.

  

“alat-alat bantu perekam data seperti camera, handycam, alat rekam suara sangat

diperlukan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan oleh peneliti”

  (Sugiyono, 2014, hlm. 375).

6. Member Chek

  Member chek adalah proses mengecek data yang didapatkan dari sumber data atau informan. Sugiyono (2014, hlm. 375) mengungkapkan: Apabila data yang ditemukan disepakati oleh para pemberi data, berarti data tersebut valid, sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka perlu dilakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Demikian dapat dimaknai bahwa tujuan dari member chek adalah agar informasi yang diperoleh sesuai dengan apa yang dimaksud oleh informan. Salah satu hal yang paling penting dalam penelitian adalah mealukan member chek kepada informan di akhir wawancara. Ini dilakukan dengan cara menyebutkan garis besar hasil wawancara kepada informan dengan tujuan agar informan dapat memperbaiki jika terdapat kesalahan atau menambahkan data yang dianggap masih kurang.

  Teknik analisa data yang digunakan peneliti adalah teknik analisa data model interaktif. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014, hlm. 337)

  

mengungkapkan bahwa “aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara

  interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh”.

  Dalam penelitia ini, setelah pengumpulan data, akan dilakukan analisa dengan menggunakan model Miles dan Huberman yaitu reduksi data (data

  

reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (verifikasi).

  1. Data Reduction (Reduksi Data) Reduksi data adalah proses analisis yang dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan hasil penelitian dengan memfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting oleh peneliti, dengan kata lain reduksi data bertujuan untuk memperoleh pemahaman-pemahaman terhadap data yang telah terkumpul dari hasil catatan lapangan dengan cara merangkum mengklasifikasikan sesuai masalah dan aspek-aspek permasalahan yang diteliti. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Sugiyono (2014, hlm. 337) bahwa:

  Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang sudah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan proses analisis atas hasil yang diperoleh, menggolongkan atau mengklasifikasikan hasil-hasil penelitian berdasarkan aspek- aspek permasalahan. Agar dapat dipahami oleh peneliti dalam mengelola hasil penelitian, peneliti perlu menyaring atau memfilter hasil penelitian yang dianggap penting dan yang tidak.

  2. Data Display (Penyajian Data) Penyajian data (data display) adalah sekumpulan informasi tersusun yang akan memberikan gambaran penelitian secara menyeluruh dengan kata lain menyajikan data secara terperinci dan menyeluruh dengan mencari pola hubungannya. Sugiyono (2014, hlm.

  341) mengungkapkan bahwa “dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa digunakan dalam bentuk urain singkat, bagan, hubungan antara katagori, dan sejenisnya

  ”.

  Penyajian data yang disusun secara singkat, jelas dan terperinci namun menyeluruh akan memudahkan dalam memahami gambaran-gambaran terhadap aspek-aspek yang diteliti baik secara keseluruhan maupun bagian demi bagian. Penyajian data selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian atau laporan sesuai dengan data hasil penelitian yang diperoleh. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan disajikan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Data yang diperoleh disaring dan dipilih lalu disajikan. Hasil yang dituangkan atau disajikan sesuai dengan rumusan masalah yang dipertanyakan serta disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dari adanya penelitian tersebut.

  3. Penarikan Kesimpulan (Verification) Setelah penyajian, data maka tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan merupakan upaya peneliti untuk mencari arti atau memaknai data-data yang telah di analisis dengan mencari hal-hal penting. Kesimpulan ini disusun dalam bentuk pernyataan singkat dengan mengacu kepada tujuan penelitian.

  Demikian prosedur analsis data yang akan dilakukan oleh peneliti dalam pelaksanaan penelitian. Dengan melakukan tahapan-tahapan ini diharapkan dapat memperoleh data yang memenuhi kriteria suatu penelitian yaitu data yang valid, kredibel, dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

5.1 Simpulan 5.1.1. Simpulan Umum

  Masyarakat di jalan Stasiun Barat RW 02 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung menyadari bahwa praktek prostitusi yang ada di lingkungannya merupakan salah satu bentuk dari perilaku menyimpang. Sikap yang diperlihatkan masyarakat jalan Stasiun Barat RW 02 terhadap keberadaan praktek prostitusi adalah diam, cenderung serba membolehkan dan tidak peduli.

  Hal tersebut terjadi karena faktor internal dan faktor eksternal tentunya. Faktor internal yang menyebabkan masyarakat permisif adalah bertahan pada zona nyaman yang membiarkan sikap acuh hingga kontrol sosial yang lemah, minimnya pendidikan mengenai hukum, serta adanya hubungan saling menguntungkan antara PSK dan masyarakat. Sementara faktor eksternal yang menyebabkan masyarakat permisif adalah tidak ada upaya pemberantasan yang serius dari pemerintah dan kepolisian, adanya hubungan saling menguntungkan antara PSK dan pihak kepolisian, serta ketidak percayaan masyarakat terhadap kebijakan maupun aparat keamanan yang bertugas.

  Keberadaan praktek prostitusi yang terus berlangsung hingga saat ini memiliki dampak bagi masyarakat. Terlebih dampak tersebut didorong pula oleh sikap permisif masyarakat yang membiarkan praktek prostitusi di lingkungannya berlangsung. Dampak negatif yang dirasakan dari adanya praktek prostitusi dan didorong sikap permisif masyarakat adalah image atau citra jalan Stasiun Barat menjadi buruk, stereotipe negatif kepada masyarakat yang digeneralisasikan seperti PSK (Pekerja Seks Komersial) maupun germo, psikologi anak terganggu, terimbas dosa dari perzinahan secara agama. Selain dampak negatif tersebut, terdapat pula dampak positif atau yang menguntungkan bagi masyarakat tertentu. Dampak positif tersebut dirasakan dalam hal adanya keuntungan karena mendapat penghasilan dari hasil membuka kios, biaya sewa kontrakan, upah ojeg bagi sebagian yang berprofesi sebagai ojeg pelacur, dan biaya perizinan kepada pihak keamanan.

  Berdasarkan dampak yang dirasakan oleh adanya praktek prostitusi dan sikap permisif masyarakat, dalam penelitian ini diungkap pula mengenai upaya yang dilakukan masyarakat. Upaya untuk menanggulangi sikap permisif masyarakat terhadap praktek prostitusi di jalan Stasiun Barat RW 02 dari pihak masyarakat umum adalah memilih pada sikap awal untuk diam (bersikap permisif), serta menyerahkan kasus penanggulangan prostitusi ke pihak yang lebih berwajib seperti PT. KAI, Pemerintah Daerah Kota Bandung, dan aparat Kepolisian. Serta terdapat pula upaya yang akan diberlangsungkan dari pihak RW yakni dengan memberlakukan aturan pengecekan buku nikah bagi pendatang yang menginap di lingkungan RW 02 sebagai jaminan atau izin.

5.1.2. Simpulan Khusus

  Berdasarkan simpulan umum diatas, maka dapat diambil simpulan khusus sebagai berikut:

  1. Seorang yang permisif akan mengambil sikap diam, serba membolehkan, dan tidak mempedulikan keadaan di lingkungan sekitarnya sekalipun itu menyimpang.

  2. Sikap permisif terhadap praktek prostitusi berlangsung sehubungan dengan melemahnya kontrol sosial dari para agen pengendali sosial, simbiosis mutualisme antar pelaku permisif dengan pelaku penyimpangan, serta minimnya pengetahuan masyarakat terhadap hukum.

  3. Ketika sikap permisif terhadap praktek prostitusi terus dipertahankan, maka image dan stereotipe buruk terhadap daerah serta masyarakatnya akan menjadi dampak negatif yang dirasakan.

  4. Pembuatan aturan khusus yang terfokus pada upaya mengatasi praktek prostitusi serta adanya pembenahan kontrol sosial pada agen-agen pengendali sosial dapat dijadikan upaya dalam menanggulangi sikap permisif.

  5.2. Implikasi

  Sehubungan dengan faktor terjadinya sikap permisif masyarakat terhadap praktek prostitusi di lingkungannya, maka implikasi yang mestinya dilakukan adalah dengan adanya perubahan pada sistem pendidikan dan pembenahan kontrol sosial bagi para pengendali sosial. Pendidikan yang dimaksud tentunya pada pendidikan hukum, dimana masyarakat seharusnya memiliki pengetahuan terhadap hukum. Hal tersebut ditujukan guna masyarakat mengetahui bahwa dalam kehidupan terdapat aturan dan adanya hukuman bagi setiap yang melanggar aturan tersebut. Masyarakat menjadikan aturan hukum sebagai dasar berperilaku khususnya dalam menangani kasus praktek prostitusi. Masyrakat mestinya melakukan penolakan terhadap praktek prostitusi yang aturannya tertulis secara jelas pada Peraturan Daerah maupun Undang-undang KUHP mengenai pelanggaran praktek prostitusi. Selain itu, bagi seluruh masyarakat sekaligus pihak-pihak yang memiliki wewenang dalam menangani kasus praktek prostitusi, mesti melakukan evaluasi pada tugas dan fungsinya di masyarakat. Dapat menjadi agen pengendali sosial yang baik, demi terciptanya ketertiban bermasyarakat. Melakukan pembenahan terhadap aturan dan kinerja dari peranan pihak-pihak berwenang serta masyarakat terkait. Adanya upaya pemberantasan yang dilakukan secara bersama-sama agar tujuan yang ingin dicapai dengan mudah dicapai. Berjalan beriringan dan saling mengendalikan disaat terjadinya suatu penyimpangan.

  5.3. Rekomendasi

  Praktek prostitusi sebagai bentuk penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, mestinya mendapat penanganan yang serius. Upaya penanggulangan tersebut mesti dilakukan oleh agen-agen pengendali sosial seperti dalam hal ini adalah pemerintah, aparat keamanan atau kepolisian, tokoh masyarakat, maupun seluruh masyarakat yang berada di sekeliling praktek prostitusi tersebut. Adanya keselarasan dalam mewujudkan tujuan bermasyarakat yang sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kota Bandung nomer 3 tahun 2005 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan kota. Masyarakat dalam hal ini mestinya mampu menciptakan kondisi yang taat kepada peraturan. Tidak hanya bagi pelaku keberlangsungan praktek prostitusi di lingkungan itu sendiri. Melakukan peran dan fungsi sebagai agen pengendali sosial bagi lingkungan tempat tinggalnya. Guna tidak ada kontrol sosial yang melemah. Menjadikan hukum, agama, maupun adat kebiasaan sebagai dasar terciptanya ketertiban dan menumbuhkan kepedulian dalam bermasyarakat. Masyarakat mestinya mampu mengendalikan diri untuk tidak bersifat permisif terhadap praktek prostitusi yang ada di lingkungannya. Mampu berenantas suatu perilaku yang menyimpang karena tidak sesuai dengan aturan hukum, agama maupun kebiasaan. Karena bagaimanapun, sikap masyarakat terutama warga merupakan bagian dari penunjang keberlangsungan praktek prostitusi selama ini. Mesti adanya pengendalian yang terfokus pada pelaku maupun pemelihara dengan dasar pendidikan, agama, dan hukum.

  Selain itu, pihak terkait yang berpengaruh terhadap keberlangsungan praktek prostitusi lain seperti aparat pemerintah dan keamanan, dalam hal ini mesti melakukan evaluasi terhadap kinerja dan penegakan hukum yang setegak- tegaknya, merealisasikan setiap aturan yang diberlakukan secara maksimal tanpa adanya pengecualian, guna dapat dijadikan panutan bagi masyarakat umum lainnya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Adang, Y. A. (2010). Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.

  Amirin, T. M. (2009). Subjek penelitian, responden penelitian, dan informan

  (narasumber) penelitian. [Online] Tersedia:

   Anonim. (2012). Hakikat Masyarakat dan Teori Pembentukan Masyarakat.

  [Online]. Tersedia: Oktober 2012]. Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

  Astyana, B. A. (2013). Permisivisme Remaja Terhadap Kehamilan Pranikah pada

  Siswa-Siswi SMK Komputer Karanganyar, Kebumen. Tesis, Universitas Negeri Semarang.

  Bungin, B. H. M. (2007). Penelitian kualitatif. Jakarta: Kencana Perdana Media Group. Bungin, B. H. M. (2008). Analisis Data Penelitian Kualitatif : Pemahaman

  Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Grafindo Persada.

  Breny, B. S. (2013). Prostitusi di Sosrowijayan Yogyakarta (Studi Interaksi

  Pekerja Seks Komersial Pasar Kembang dengan Masyarakat Sosrowijayan). (Skripsi). Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Universitas

  Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Chaney, D. (2003). Lifestyles Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung : Jalasutra.

  Creswell, J. W. (1994). Research Design Qualitative & Quantitative Approach.

  London: Publication. Creswell, J.W. (2009). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. yogyakarta: Pustaka Belajar.

  Creswell, J. W. (2012). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Dirdjoesisworo, Soedjono. (1990). Konsepsi Kriminologi dalam Penaggulangan Kejahatan. Alumni: Bandung.

  Djubaedah, N. (2003). Pornografi dan Pornoaksi Ditinjai dari Hukum Islam.

  Jakarta: Kencana. Effendi, R dan Setiadi, E. (2011). Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi (PLSBT). Bandung: CV Maulana Media Grafika.

  Hull, T. H, Sulistyaningsih, E, & Jones, G. W. (1997). Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Gunawan, A. H. (2010). Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Ibrahim, I. S. (1997). Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat

  Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra

  Ilminaida. (2013). Sosiologi : Masyarakat dalam Perspektif Sosiologi. [Online] Tersedia: 5 Agustus 2015]

  Kadir, H. A. (2007). Tangan Kuasa dalam Kelamin. Yogyakarta: INSISTPRESS. Kartono, K. (2009). Patologi Sosial Jilid 1. Jakarta: Rajawali Pers. Kartono, K. (2013). Patologi Sosial Jilid 1. Jakarta: Rajawali Pers. Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

  Lincoln, Y. S & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. Baverly Hills: Sage Publication. Maftuh, B dan Ruyadi, Y. (1995). Sosiologi 1. Bandung: CV Pionir Group. Mayasari, Y. R. (2011). Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Sikap Permisif

  Masyarakat Terhadap Postitusi Liar. (Skripsi). Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember: Jember.

  Moleong, J. L. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya. Muin, I. (2014). Sosiologi SMA/MA. Jakarta: Erlangga. Narwoko, J. D dan Suyanto, B. (2004). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.

  Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Narwoko, J. D dan Suyanto, B. (2011). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.

  Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Nasution. (1996). Metode Penelitian Kualitatif Naturalistik. Jakarta: Sinar Grafika. Nasution. (2004). Sosiologi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta. Pemerintah Daerah Kota Bandung. (2005). Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan.

  Bandung: Pemda Kota Bandung. Piliang, Y. A. (2010). Dunia yang Dilipat. Ygyakarta: Jalasutra. Pusat Pembangunan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. (1997). Kamus Besar

Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  Setiadi, E. M dan Usman K. (2011). Pengantar Sosiologi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Soekanto, S. (1983). Beberapa Aspek Sosio Yuridis Masyarakat. Bandung: Alumni. Soekanto, S. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Soekanto, S. (2007). Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Rajawali Pers: Jakarta. Solihin, O dan Iwan J. (2002). Jangan Jadi Bebek. Gema Isnani Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

  Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuntitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuntitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Willis, S. (2012). Remaja dan Masalahnya. Bandung : Alfabeta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN MANAJEMEN KECEMASAN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN LANSIA DI POSYANDU LANSIA RW 02 TLOGOMAS
0
8
27
PENGARUH INTENSITAS MENONTON FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN TERHADAP SIKAP MASYARAKAT TENTANG HAK­-HAK PEREMPUAN (Studi pada Masyarakat RW 04 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen Kota Malang)
0
5
3
DAMPAK PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI KARIANGAU (KIK) TERHADAP PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (Studi di Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Barat Kota Balikpapan)
0
5
3
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG LIMBAHPT. INSAN BONAFIDE(Studi pada Masyarakat RT.13 Kelurahan Plambuan, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
0
5
2
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Persepsi Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Oro-Oro Ombo Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun Terhadap Kualitas Pelayanan KesehatanTahun 2010)
0
24
30
PEMAKNAAN AUDIENS TENTANG REALITY SHOW 86 DI NET. TV (Studi Resepsi Pada Warga RW 02 di Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Sukun Kota Malang)
3
21
22
MOTIF PEREMPUAN MENONTON TAYANGAN SINETRON PUTRI YANG DITUKAR DI RCTI (Studi Pada Kalangan Perempuan di RW 02 Kelurahan Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang)
1
24
47
KORELASI ANTARA PENGGUNAAN BAHASA MADURA DI POJOK MEDHUROAN JTV DENGAN MINAT MENONTON (Studi pada Masyarakat Madura di RT 06 RW 02 Kelurahan Kota Lama Kecamatan Kedung kandang Malang)
0
9
2
HUBUNGAN MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL DALAM SATU RUMAH (Studi Kasus pada Mertua Perempuan dan Menantu Perempuan yang Tinggal dalam Satu Rumah Penelitian pada 3 Keluarga di Desa Ketapang RT 02 RW 02 Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi )
5
37
76
Peranan Majlis Ta'lim al-Furqon terhadap perilaku remaja di wilayah RW 02 Kelurahan Jelambar Baru Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat
1
6
46
Pengaruh Minat Remaja dalam Kegiatan Keagamaan : Studi Kasus di RW 02 Kelurahan Cipinang Besar Utara Jak-Tim
16
417
86
Hubungan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Praktik Pencegahan Demam Berdarah Dengue Pada Masyarakat di RW 022 kelurahan Pamulang Barat
2
15
129
Sistem Informasi Simpan Pinjam Di Koperasi Warga Guru Dan Karyawan Dinas Pendidikan Kecamatan Andir Kota Bandung
0
10
119
ANALISIS PREFERENSI MASYARAKAT PESANTREN TERHADAP BANK SYARIAH (Studi Kasus Kecamatan Tampan)
0
0
18
ANALISIS PERSEPSI DAN PREFERENSI MASYARAKAT PESANTREN TERHADAP BANK SYARIAH (Studi pada Masyarakat Pesantren di Kota Pekanbaru)
0
0
18
Show more