PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 MERDEKA.

Gratis

0
2
47
2 years ago
Preview
Full text
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 MERDEKA TESIS Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika Oleh: UNE DORO SIGOP SIANIPAR 8136172087 PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2015 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan berkatnya-Nya yang memberikan kekuatan, kesehatan dan kesabaran, sehingga dapat menyelesaikan tesis yang berjudul : “ Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Merdeka ” dengan baik. Tesis ini ditulis dan diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) Program Studi Pendidikan Matematika pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan (PPs UNIMED). Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang melibatkan mata pelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pada kesempatan ini penulis meyampaikan terimakasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang membantu baik langsung maupun tidak langsung telah memberikan dorongan, semangat dan bantuan lainnya untuk menyelesaikan tesis ini. Kiranya Tuhan yang Maha Esa memberikan balasan kebaikan yang sepatutnya atas kebaikan tersebut. Penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan khusus kepada : 1. Ibunda tercinta Sariana Purba yang selalu memberikan nasihat terbaik dan wejangan agar penulis lebih semangat dapat menyelesaikan tesis ini. 2. Istri tercinta Hellen Bertha Simorangkir dan Putri yang paling dikasihi Hanna Theresia Manggora Sianipar yang tetap setia dan telah bersusah payah memberikan semangat, dorongan yang tiada hentinya agar tesis ini dapat selesai dengan secepatnya dan sebaik-baiknya. 3. Keluarga St. T. H. Naibaho dan Elsye Carolina Br. Simorangkir beserta anak-anak yang senantiasa mengurus, memberi semangat selama menjalani studi hingga akhir perkuliahan dan penyelesaian penulisan tesis ini dapat diselasaikan. 4. Ibu Dr. Izwita Dewi, M.Pd dan Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan penulisan, semangat, motivasi dan mebukakan wawasan berpikir kepada penulis untuk menyempurnakan kajian ini. 5. Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd selaku Ketua Program studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNIMED serta Bapak Dapot Tua Manullang, M.Si selaku staf Program Studi Pendidikan matematika yang membantu percepatan penulisan tesis ini. 6. Bapak Prof. Edi Syahputra, M.Pd, Prof. Pargaulan Siagian, M.Pd dan Dr. Edy Surya, M.Pd selaku narasumber yang telah banyak memberikan masukan dan dorongan untuk menyempurnakan penulisan tesis ini. 7. Direktur, Asisten I, II, dan III beserta staf Program Pascasarjana UNIMED yang telah memberikan bantuan dan kesempatan untuk prnyelesaian penulisan tesis ini. 8. Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Merdeka, Dinas Pendidikan Kabupaten Karo yang telah memberikan ijin melakukan penelitian di SMK Negeri 1 Merdeka dan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi ke i jenjang yang lebih tinggi sehingga tesis ini dapat diselesaikan penulisannya. 9. Bapak dan Ibu guru SMK Negeri 1 Merdeka terutama guru bidang studi Matematika yang telah banyak membantu penulis pada saat melakukan penelitian di sekolah sehingga penelitian berjalan dengan baik. 10. Seluruh sahabat satu angkatan XXII kelas B tahun 2013 program studi Matematika yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk penyelesaian tesis ini. Dengan segala kerendahan hati, kekurangan dan keterbatasan penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan sumbangan dan manfaat bagi para pembaca, sehingga dapat memperkaya khasanah penelitian sebelumnya dan dapat memberi inspirasi untuk mengembangkan penelitian selanjutnya. Medan, Januari 2016 Penulis ii ABSTRAK UNE DORO SIGOP SIANIPAR. Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Merdeka. Tesis. Medan: Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Medan. 2015. Kata Kunci: Kemampuan Pemahaman Konsep, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1)Apakah peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif tipe jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan melalui pembelajaran konvensional; (2) Apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif tipe jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan melalui pembelajaran konvensional; (3) Apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa; dan (4) Apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Negeri 1 Merdeka. Kemudian dipilihlah siswa kelas X BB sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X GB sebagai kelas kontrol melalui teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan pemahaman konsep dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan dengan ANAVA 2 Jalur. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Peningkatan kemampuan pemahaman konsep yang memperoleh pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih tinggi daripada kemampuan pemahaman konsep yang memperoleh pembelajaran konvensional. (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika yang memperoleh pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih tinggi daripada kemampuan pemecahan masalah matematika yang memperoleh pembelajaran konvensional. (3) Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep. (4) Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan matematika. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan: pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. i ABSTRACT UNE DORO SIGOP SIANIPAR. The Increasing of Students’ Understanding Mathematical of Concept and Mathematics Problem Solving Ability through Cooperative Learning of type Jigsaw Student for X Grade in SMK Negeri 1 Merdeka. Thesis. Medan: Postgraduate of Study Mathematics Education Program, State University of Medan. 2015. Keywords : Understanding Mathematical of Concept, Mathematics Problem Solving Ability, Cooperative Learning of Type Jigsaw. The purpose of this research is to analyze: (1) Is the increase in understanding mathematical of concept ability using cooperative learning of type jigsaw higher than understanding mathematical of concept ability of students who received conventional learning. (2) Is the increase mathematics problem solving of the students who obtain cooperative learning of type jigsaw higher than the ability of mathematics problem solving of students who received conventional learning. (3) Is there an interaction between students’ mathematics ability (high, medium, low) and learning to increase student’s understanding mathematical of concept. (4) Is there an interaction between students’ mathematics ability (high, medium, low) and learning to increase student’s mathematics problem solving ability. This type of research is a quasi experimental research. The population of this research is all students in SMK Negeri 1 Merdeka. Then student in X BB SMK Negeri 1 Merdeka is chosen as the experimental class and students in class X GB is choosen as a control class by using purposive sampling technique. Experimental class was treated by using cooperative learning of type jigsaw and control class was treated by using conventional learning. The instrument used consisted of: a test of mathematical understanding of concept and mathematics problem solving ability. The data in this study were analyzed using Two Ways ANOVA. Based on those analyses, the researcher acquires the result. That are: (1) The increasing of student’s mathematical understanding of concept ability using coopeartive learning of type jigsaw is higher than conventional learning. (2) The increasing of students’ mathematics problem solving ability using coopeartive learning of type jigsaw is higher than conventional learning. (3) There is no interaction between mathematical prerequisite ability and learning on mathematical understanding of concept ability. (4) There is no interaction between mathematical prerequisite ability and learning on mathematics problem solving ability. Based on results of this research suggested that coopeartive learning of type jigsaw could increase student’s mathematical understanding of concept and mathematics problem solving ability. ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ……………………………………………… i DAFTAR ISI ………………………………………………………… iii DAFTAR TABEL …………………………………………………… vii DAFTAR GAMBAR ………………………………………………… x DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………… xii BAB I PENDAHULUAN ……………………………………… 1 1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………….. 1 1.2 Identifikasi Masalah …………………………………….... 14 1.3. Batasan Masalah ………………………………………….. 15 1.4. Rumusan Masalah …………………………………..…….. 15 1.5. Tujuan Penelitian ………………………………………….. 16 1.6. Manfaat Penelitian ……………………………………..….. 17 BAB II KAJIAN PUSTAKA …………………...………………… 19 2.1. Kerangka Teoritis ………………………………………… 19 2.1.1. Hakikat Pembelajaran Matematika ………………… 19 2.1.2. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika …… 20 2.1.3. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika…… 25 2.1.4. Model Pembelajaran Kooperatif ………………… 31 2.1.5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw …… 34 2.1.6. Kelebihan dan Kekurangan Model Jigsaw...... …… 38 2.1.7. Pembelajaran Konvensional ………………………… 39 2.1.8. Teori Belajar Pendukung ………………………..….. 41 2.1.9. Kemampuan Awal Matematika (KAM) ………..... 44 2.2. Materi Pembelajaran …………………………………… 46 2.3. Kerangka Konseptual ……………………………………... 50 2.3.1. Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Jigsaw lebih tinggi daripada Pembelajaran Konvensional……………..……….....… 50 iii 2.3.2. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Jigsaw lebih tinggi daripada Pembelajaran Konvensional……………..………..... 51 2.3.3. Interaksi Antara Model Pembelajaran dan Kemampuan Awal Matematika (KAM) terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika……………..……….....……….....……..... 53 2.3.4. Interaksi Antara Model Pembelajaran dan Kemampuan Awal Matematika (KAM) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ...……..... 55 2.4. Hasil Penelitian yang Relevan……..……….....……….... 56 2.5. Hipotesis Penelitian ……………..……….....………..... 58 BAB III METODE PENELITIAN ………………………………… 60 3.1. Lokasi Penelitian ……………………….…………………..... 60 3.2. Populasi dan Sampel ………………….…………………..... 60 3.3. Variabel Penelitian …………………….………………….... 60 3.4. Desain Penelitian ……………………….…………………... 61 3.5. Definisi Operasional ………………….…………………... 63 3.6. Instrumen Penelitian ………………….…………………... 64 a. Tes Kemampuan Awal Matematika Siswa ………………... 64 b. Tes Kemampuan Pemahaman Konsep .…………………... 66 c. Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ……… 68 3.7. Analisis Instrumen Penelitian/Tes ………………………….. 70 3.7.1. Validitas/Penilaian Ahli terhadap Instrumen Penelitian dan Perangkat Pembelajaran ……………………… 70 3.7.2. Validitas Butir Soal ……………………………… 75 3.7.3. Analisis Indeks Kesukaran ……………………… 77 iv 3.7.4. Uji Daya Beda Tes …………………………………… 77 3.7.5. Uji Reliabilitas ……………………………………… 78 3.8. Prosedur Penelitian …………………………………………. 79 3.9. Teknik Analisis Data………………………………………. 80 3.10. Uji Hipotesis Penelitian………………………………………. 83 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 87 4.1. Hasil Penelitian ……………………….…………………..... 87 4.1.1. Deskripsi Kemampuan Awal Matematika …………… 88 4.1.2. Deskripsi Kemampuan Pemahaman Konsep ………… 92 4.1.2.1. Analisis Data Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemahaman Konsep …………… 93 4.1.2.2. Analisis Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa ………………… 95 4.1.3. Uji Hipotesis Kemampuan Pemahaman Konsep …… 98 4.1.3.1. Uji Hipotesis Pertama ………………………. 99 4.1.3.2. Uji Hipotesis Ketiga ……………………..…. 100 4.1.4. Analisis Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Setiap Indikator ………… 105 4.1.5. Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ……………………………………. 107 4.1.5.1. Analisis Data Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah …………… 108 4.1.5.2. Analisis Peningkatan Kemampuan Kemampuan Pemecahan Masalah …………… 110 4.1.6. Uji Hipotesis Kemampuan Pemecahan Masalah ……… 113 4.1.6.3. Uji Hipotesis Kedua ………………………. 113 4.1.4.4. Uji Hipotesis Keempat ………………………. 115 4.1.5. Rangkuman Hipotesis ……………………….……… 4.2. Pembahasan Hasil Penelitian ……………………….……… v 121 122 4.2.1. Faktor Pembelajaran ……………………….……… 122 4.2.2. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika ……… 124 4.2.3. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ……… 125 4.2.4. Interaksi Antara Faktor Pembelajaran dan Faktor Kemampuan Awal Matematika Siswa terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa … 126 4.2.5. Keterbatasan Penelitian ……………………….……… 131 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ………………… 140 5.1. Simpulan …………………………….…………………..... 140 5.2. Implikasi ……………………………………….…………… 142 5.3. Saran …………………………………………….…………… 143 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. vi 147 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif …….… 33 Tabel 3.1. Rancangan Penelitian …….…………………………… .… 61 Tabel 3.2. Tabel Weiner tentang Keterkaitan antara Variabel Bebas, Variabel Terikat dan Variabel Penyerta ….……………… 62 Tabel 3.3. Kriteria Pengelompokkan Kemampuan Siswa Berdasarkan KAM …….…….………………………………….……. 65 Tabel 3.4. Kisi-Kisi Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika… 66 Tabel 3.5. Pemberian Skor Kemampuan Pemahaman Konsep ... …… 67 Tabel 3.6. Kisi-Kisi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika… 68 Tabel 3.7. Kriteria Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah ... …… 69 Tabel 3.8. Format Perhitungan Validasi …….…….…….…….…….…… 72 Tabel 3.9. Hasil Validasi RPP …….…….…….…….…….…….……. 73 Tabel 3.10. Hasil Validasi LKS…….…….…….…….…….…….……. 74 Tabel 3.11. Rangkuman Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran ……. 74 Tabel 3.12. Interpretasi Koefisien Korelasi Validitas ….………………… 76 Tabel 3.13. Hasil Validasi Pre Test/Post Test Kemampuan Pemahaman 76 Tabel 3.14. Hasil Validasi Pre Test/Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika …….…….…….…….…….…….……. 76 Tabel 3.15 Klasifikasi Derajat Reliabilitas……….……………………… 79 Tabel 3.16 Kriteria Skor Gain Ternormalisasi….……………………… Tabel 3.17. Keterkaitan antara Rumusan Masalah, Hipotesis, Data, Alat vii 83 Uji dan Uji Statistik ….………………………………………. 85 Tabel 4.1. Deskripsi Kemampuan Matematika Siswa Tiap Kelas Sampel Berdasarkan Nilai Tes Kemampuan Awal Matematika ……… 88 Tabel 4.2. Hasil Uji Normalitas Nilai Kemampuan Awal Matematika 89 Tabel 4.3. Hasil Uji Homogenitas Nilai Kemampuan Awal Matematika 90 Tabel 4.4. Hasil Uji-t Data KAM Kelompok Eksperimen dan Kontrol 91 Tabel 4.5. Sebaran Sampe Penelitian ….…….….……………………… 92 Tabel 4.6. Data Hasil Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika ….…….…….…….…….…….…….… 93 Tabel 4.7. Data Hasil Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep 96 Tabel 4.8. Hasil Uji Normalitas Peningkatan Kemampuan Pemahaman 97 Tabel 4.9. Hasil Uji Homogenitas Peningkatan Kemampuan Pemahaman 98 Tabel 4.10. Data Hasil Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ….…….…….…….…….…….…….… 101 Tabel 4.11. Data Hasil Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah 102 Tabel 4.12. Hasil Uji Normalitas Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ….…….…….…….…….…….…….… 103 Tabel 4.13. Hasil Uji Homogenitas Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ….…….…….…….…….…….…….… 104 Tabel 4.14. Hasil Uji ANAVA terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Berdasarkan Pembelajaran….… Tabel 4.15. Hasil Uji ANAVA terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Berdasarkan Pembelajaran viii 106 Tabel 4.16. Hasil Uji Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika 107 Tabel 4.17. Hasil Uji Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika 111 Tabel 4.18. Rangkuman Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian ….…….… 115 ix DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Hubungan Kelompok Asal dan Kelompok Ahli dalam Pembelajaran Kooperatif Jenis Jigsaw ….………… 37 Gambar 3.1. Prosedur Penelitian ………………….…….………… 80 Gambar 4.1. Diagram Rerata Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika ………………….……. 94 Gambar 4.2. Diagram Rerata N-Gain Kemampuan Pemahaman Konsep 96 Gambar 4.3. Diagram Rerata Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ………………….……. 99 Gambar 4.4. Diagram Rerata N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah 101 Gambar 4.5. Tidak Terdapat Interaksi antara Pembelajaran dengan KAM Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep 108 Gambar 4.6.a. Grafik Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Skor Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika pada Kelas Eksperimen …………… 109 Gambar 4.6.b. Grafik Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Skor Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika pada Kelas Kontrol …………… Gambar 4.7. 110 Tidak Terdapat Interaksi antara Pembelajaran dengan KAM Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Gambar 4.8.a. Grafik Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Skor Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan x 112 Masalah Matematika pada Kelas Eksperimen …………… 113 Gambar 4.8.b. Grafik Interaksi antara Pembelajaran dan KAM terhadap Skor Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika pada Kelas Kontrol …………… xi 114 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah menengah yang terdiri dari berbagai bidang keahlian. Salah satu bidang keahlian di SMK adalah keahlian teknik rekayasa. Untuk setiap bidang keahlian terdapat beberapa program studi keahlian yang terdiri atas tiga kelompok yakni kelompok normatif, adaptif dan produktif. Mata pelajaran kelompok normatif adalah pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa indonesia, pendidikan jasmani dan keolahragaan, serta seni budaya. Mata pelajaran kelompok adaptif adalah bahasa inggris, matematika, IPA, Fisika, Kimia, IPS dan kewirausahaan, serta mata pelajaran kelompok produktif disesuaikan dengan kejuruan setiap sekolah menengah kejuruan. Dalam proses pembelajaran matematika di SMK, siswa merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan. Siswa hanya mengisi lembar jawaban saja, tanpa menunjukkan prosedur yang benar dalam menyelesaikan soal tersebut menurut konsep yang dituntut oleh kompetensi dasar. Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika merupakan hal yang selalu dijumpai oleh guru dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini sangat menyita perhatian dan pikiran guru untuk mencari solusi bagaimana meningkatkan kepedulian siswa dan kemauan serta kemampuan siswa untuk mencoba tantangan soal yang diberikan oleh guru. Tujuan pertama pembelajaran matematika (Depdiknas,dalam Nizarwati 2009: 57) adalah siswa dapat memahami konsep matematika, menjelaskan 1 2 keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat. Sejalan dengan tujuan di atas, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan konsep matematika yang telah mereka dapatkan dalam menghadapi soal-soal matematika yang disajikan. National Council of Teacher Mathematics (NCTM dalam Bistari, 2010: 15) memaparkan bahwa salah satu kemampuan dasar berpikir matematika yang diharapkan dimiliki oleh siswa yaitu kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan pemecahan masalah merupakan satu dari kemampuan matematis yang penting untuk pengembangan kemampuan matematika para siswa, khususnya siswa sekolah menengah. Selain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan pemahaman konsep juga merupakan kemampuan matematika yang sangat diperlukan siswa dalam memecahkan soal-soal yang disajikan oleh guru, khususnya soal-soal yang non rutin. Pentingnya kemampuan pemahaman konsep matematika siswa juga dikemukaan oleh Nirmala (dalam Purwosusilo, 2014: 32), bahwa membangun pemahaman pada setiap kegiatan belajar matematika akan mengembangkan pengetahuan matematika yang dimiliki oleh seseorang. Artinya, semakin luas pemahaman tentang ide atau gagasan matematika yang dimiliki oleh seorang siswa, maka akan semakin bermanfaat dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapinya. Sehingga dengan pemahaman diharapkan tumbuh kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan konsep yang telah dipahami dengan baik dan benar setiap kali ia menghadapi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Kemampuan pemahaman matematika siswa adalah kemampuan yang dimiliki 3 siswa dalam memahami konsep, memahami rumus dan mampu menggunakan konsep dan rumus tersebut dalam perhitungan, serta pemahaman siswa tentang skema atau struktur yang dapat digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas dan sifat pemakaiannya lebih bermakna (Purwosusilo, 2014: 34). Selain kemampuan pemahaman, doing math yang erat kaitannya dengan karakteristik Pentingnya matematika adalah kemampuan kemampuan pemecahan masalah pemecahan masalah. matematika sebagaimana dikemukakan Branca (dalam Purwosusilo, 2014: 32) sebagai berikut: (a) pemecahan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, (b) pemecahan masalah yang meliputi metoda, prosedur dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika, dan (c) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika. Kemampuan pemecahan masalah sebagai salah satu aspek penting dalam matematika sangat diperlukan untuk kesuksesan siswa pada berbagai level pendidikan. Kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan memperhatikan proses menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah (memahami masalah; merencanakan pemecahan masalah; menyelesaikan masalah; dan melakukan pengecekan kembali) yang dikemukakan oleh polya (Nurdalilah, 2013: 117). Wilson menambahkan bahwa (dalam Setiawati, 2005: 7) dalam kemampuan pemecahan masalah matematika siswa harus mengembangkan proses kognitif dan metakognitifnya dengan memakai ide, contoh sebelumnya untuk memahami masalah yang sedang dihadapi, mengeneralisasi pendekatan yang mungkin dapat 4 dilakukan dan memilihnya, memonitor sendiri kemajuan yang dicapainya dan menyeleksi masalah dengan cukup hati-hati. Selanjutnya, Russefendi (dalam Effendi, 2012: 3) juga mengemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah sangat penting dalam matematika, bukan saja bagi mereka yang di kemudian hari akan mendalami atau mempelajari matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya dalam bidang studi lain dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki siswa untuk melatih agar terbiasa menghadapi berbagai permasalahan, baik masalah dalam matematika, masalah dalam bidang studi lain, ataupun masalah dalam kehidupan sehari-hari yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematis perlu terus dilatih sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Kemampuan pemecahan masalah ini erat kaitannya dengan komponen pemahaman siswa dalam bermatematika. Polya (dalam Fauziah, 2010: 2) menyatakan bahwa tahapan pertama dalam memecahkan masalah matematika adalah memahami masalah matematika itu sendiri. Kaitan antara kemampuan pemahaman dengan pemecahan masalah dapat dipertegas bahwa, jika seseorang telah memiliki kemampuan pemahaman terhadap konsep-konsep matematika, maka ia mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah. Sebaliknya, jika seseorang dapat memecahkan suatu masalah, maka orang tersebut harus memiliki kemampuan pemahaman terhadap konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya. 5 Berdasarkan karakteristiknya, matematika merupakan ilmu yang bernilai guna, yang tercermin dalam peran matematika sebagai bahasa simbolik serta alat komunikasi yang tangguh, singkat, padat, cermat, tepat, dan tidak memiliki makna ganda (Wahyudin dalam Yonandi, 2011: 133). Oleh sebab itu untuk menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, maka guru selayaknya mengupayakan pembelajaran dengan model-model pembelajaran yang dapat memberikan peluang dan mendorong siswa untuk melatih kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematika. Dalam pembelajaran matematika juga harus memperhatikan salah satu faktor internal dari siswa yaitu kemampuan awal. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebelum proses belajar-mengajar. Namun, pembelajaran tidak akan dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa. Hal itu dikarenakan kemampuan awal siswa hanya berdasar pada kemampuan matematis siswa, dan tidak ada kaitannya dengan kemampuan pemecahan masalah serta pemahaman konsep siswa terhadap materi yang akan dipelajari. Pada proses pembelajaran matematika, siswa memang memiliki kemampuan awal yang berbeda-beda, namun siswa memulai proses memahami pembelajaran hingga memecahkan masalah matematika dari start yang sama. Artinya, tidak ada siswa yang memahami konsep materi yang akan diajarkan terlebih dahulu. Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa, kemampuan awal matematika hanya berperan untuk memetakan kemampuan siswa dalam bermatematika, sehingga dalam proses pembentukan kelompok ahli dan kelompok 6 asal tidak terjadi penumpukan kelompok Kemampuan Awal Matematika (KAM) yang tinggi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah menengah masih rendah. Laporan Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 1999 (Herman dalam Fauziah, 2010: 2) menunjukkan kemampuan pemecahan masalah siswa sekolah menengah relatif lebih baik dalam menyelesaikan soal-soal tentang prosedur, tetapi sangat lemah dalam menyelesaikan soal-soal tidak rutin dan pemecahan masalah. Hasil survey yang dilakukan oleh Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project (IMSTEP) bekerja sama dengan Japan International Coooperation Agency (JICA) pada tahun 1999 (Herman dalam Fauziah, 2010: 2) di kota Bandung juga menyatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya kualitas pemahaman matematika siswa di sekolah menengah. Hal itu dikarenakan proses pembelajaran matematika umumnya berkonsentrasi pada latihan soal yang bersifat prosedural dan mekanistik daripada pengertian. Dalam kegiatan pembelajaran, guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif, memberikan contoh soal, dan memberikan soal-soal latihan. Hal ini juga diperkuat oleh Wahyuddin (dalam Fauziah, 2010: 2) yang menemukan bahwa Guru matematika pada umumnya mengajar dengan metode ceramah dan ekspositori. Pada kondisi seperti itu, kesempatan siswa untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri tidak ada. Sebagian besar siswa tampak mengerti dengan baik setiap penjelasan atau informasi dari guru, siswa jarang mengajukan pertanyaan pada guru sehingga guru aktif sendiri menjelaskan apa yang telah disiapkannya. Siswa hanya menerima saja apa yang telah disiapkan oleh guru. 7 Selain kemampuan pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah dan kompetensi strategis siswa juga tidak berkembang sebagaimana mestinya. Bukti ini diperkuat lagi oleh hasil yang diperoleh TIMSS bahwa siswa sekolah menengah di Indonesia sangat lemah dalam kemampuan pemecahan masalah namun cukup baik dalam keterampilan prosedural (Mullis, Martin, Gonzales, Gregory, Garden, O Connor, Chrostowski, & Smith dalam Sari, 2014: 48). Peneliti melakukan penelitian pendahuluan untuk melihat rendahnya pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Peneliti melakukan pengamatan dan test awal pada kelas XI Teknik Bangunan di SMK Negeri 1 Merdeka. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa rendahnya kemampuan pemahaman konsep serta kemampuan pemecahan masalah matematika siswa salah satunya diakibatkan oleh model pembelajaran yang masih konvensional, keaktifan bertanya siswa di kelas terbatas, sehingga siswa tidak banyak mengeluarkan pendapat atau bertanya terhadap guru maupun terhadap sesama teman dan pada pembelajaran ini komunikasi terjadi satu arah dari guru ke siswa. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan dan merekontruksi konsep-konsep atau pengetahuan matematika secara formal seolah-olah pemahaman konsep dan prosedur pemecahan masalah tidak penting hal ini berakibat motivasi belajar siswa rendah. Hal ini didukung oleh pendapat Ratumanan (2004: 18) yakni: Siswa hampir tidak pernah dituntut mencoba strategi sendiri atau cara alternatif dalam memecahkan masalah, siswa pada umumnya duduk sepanjang waktu di atas kursi dan siswa jarang berinteraksi sesama siswa selama pelajaran berlangsung. Siswa cenderung pasif menerima pengetahuan tanpa ada kesempatan untuk mengolah sendiri pengetahuan yang diperoleh, aktifitas siswa seolah terprogram mengikuti algoritma yang dibuat guru. 8 Untuk pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, peneliti melakukan penelitian pendahuluan dengan memberikan tes pada siswa kelas XI Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Merdeka dengan soal berikut: Jika sudut kemiringan atap α dan lebar lisplang W. Berapa panjang E, jika diketahui W = 250 mm, α = 22º seperti pada gambar (1) potongan lisplang berikut ini. Gambar 1.1.Potongan lisplang Dari hasil test awal matematika jurusan bangunan, dengan soal penerapan trigonometri pada pemasangan lisplang atap rumah, teridentifikasi rendahnya pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil penyelesaian siswa sebagai berikut: Tidak dapat menyatakan ulang sebuah konsep tangens 22º. Tidak dapat mengklasifikasikan obyek-obyek letak sudut 22º, pada segitiga siku-siku tidak bisa menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika 9 Membuat algoritma pemecahan masalah, tapi belum dapat menyatakan ulang sebuah konsep tidak bisa menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika Pola Jawaban Dua Orang Siswa dengan Prosedur yang Berbeda Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) tahun 2006 (dalam Kesumawati, 2008: 234) indikator siswa dikatakan memahami suatu konsep adalah: (1) Menyatakan ulang konsep; (2) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu; (3) Memberi contoh dan non contoh dari konsep; (4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika; (5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; (6) Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu; dan (7) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Dari jawaban siswa dapat dilihat bahwa: 1) siswa tidak siswa tidak dapat menyatakan ulang konsep segitiga siku-siku pada lembar jawabannya; 2) Tidak dapat mengklasifikasi objek-objek menurut soal yaitu letak sudut 22º pada lembar jawaban; 3) Tidak dapat memberikan contoh dan non contoh dari konsep soal yang diberikan pada saat menggambar ulang segitiga siku-siku; 4) Tidak bisa menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika pada saat menggambar ulang segitiga siku-siku; 5) Tidak dapat mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep pada saat menentukan nilai; 6)Tidak dapat 10 menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu ketika menuliskan Tangens 22º; 7) Tidak bisa mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah sesuai prosedur yang seharusnya. Dari hasil survei peneliti (tanggal 11 Oktober 2014) berupa pemberian tes pemecahan masalah kepada siswa SMK Negeri 1 Merdeka di kelas XI BB (Bangunan Beton), pada pokok bahasan materi trigonometri. Dari 23 siswa yang mengikuti tes, diperoleh skor rata-rata siswa 22,21 (dalam hal ini penskoran menggunakan skala 0-60) dengan mengubah nilai tes menjadi standar berskala lima (Stanfive) diperoleh gambaran tingkat kemampuan siswa sebagai berikut: Tabel 1.1. Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Tes Pendahuluan Interval Penilaian 35 – 60 27 – 34 19– 26 11 – 18 0 - 10 Nilai Huruf Tingkat Kemampuan A Sangat Tinggi B Tinggi C Sedang D Rendah E Sangat Rendah Jumlah Banyak Siswa 2 4 6 10 1 23 Persentase Jumlah Siswa 8,69% 17,39% 26,08% 43,49% 4,35% 100% Presentase Kumulatif 8,69% 26,08% 52,16% 95,65% 100% Dari keseluruhan siswa berjumlah 23 orang hanya 6 orang siswa yang tingkat kemampuan pemacahan masalah matematikanya tinggi atau sangat tinggi dengan presentase hanya 26,08% dari jumlah keseluruhan siswa, hal inilah yang menjadi salah satu landasan penelitian ini. Kondisi saat ini teridentifikasi bahwa proses pembelajaran belum mencapai hasil yang diharapkan dan perlu dikembangkan. Upaya perbaikan mutu pendidikan melalui peningkatan kualitas proses belajar mengajar harus diarahkan kepada peningkatan kemampuan guru yang banyak berhubungan dengan usaha 11 meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematika siswa. Hal ini terungkap dalam hasil observasi awal melalui diskusi dengan guru matematika di SMK Negeri 1 Merdeka, bahwa yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa adalah proses pembelajaran sarat dengan materi, metode pembelajaran konvensional, media pembelajaran yang masih kurang, sarana pendukung proses pembelajaran lainnya belum memadai, dan kesiapan siswa sendiri dalam menerima materi pelajaran serta rendahnya kemampuan berpikir siswa. Peneliti juga memberikan angket kepada siswa untuk mengetahui pandangan siswa terhadap pemebelajaran matematika, model pembelajaran yang biasa dilakukan guru dan alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dari 23 orang siswa hanya 5 orang meminati matematika, yang lainnya tidak menyukai matematika dengan alasan sulit dipahami. Dari hasil angket diketahui bahwa proses pembelajaran masih jarang menggunakan model kooperatif. Hal ini didukung dengan hasil angket kepada 25 guru di SMKN 1 Merdeka, Kabupaten Karo bahwa diperoleh sebanyak 58% guru jarang menerapkan modelmodel pembelajaran kooperatif untuk kegiatan proses belajar mengajar dan 14% tidak pernah mengaplikasikannya. Persentasenya dapat dilihat melalui gambar 1.4 dibawah ini. Selalu 14% Sering 14% Tidak Pernah 14% Tidak Pernah Jarang Sering Jarang 58% Selalu Gambar 1.2. Persentase Hasil Angket dalam Menerapkan Model Pembelajaran 12 Musfah (2011: 7) menyatakan ada empat hal yang membuat kompetensi guru rendah yaitu: Pertama, guru tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengelola siswa. Misalnya, banyak kasus guru memberikan hukuman yang berlebihan terhadap siswanya, bahkan sampai melukai. Kedua, keperibadian guru masih labil. Misalnya, guru menodai siswanya sendiri, sehingga guru semacam ini sulit dijadikan teladan para siswa dan masyarakat. Ketiga, kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat masih rendah. Misalnya, buruknya hubungan guru dan siswa serta masyarakat, sehingga guru tidak mengetahui problem yang dihadapi oleh siswanya, apalagi terhadap masyarakat sekitarnya. Keempat, penguasaan guru terhadap materi pelajaran masih dangkal. Misalnya, guru kesulitan dalam menerapkan materi yang diajarkan dengan kehidupan siswanya sehari-hari. Melihat fenomena yang terjadi di sekolah, perlu dilakukan sebuah upaya langkah pengembangan kemampuan guru dalam menguasai model-model pembelajaran dan penerapannya. Salah satu model pembelajaran matematika adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah pengembangan teknik belajar bersama. Dalam hal ini belajar bersama berarti melakukan sesuatu secara bersama, saling membantu dan bekerja sebagai sebuah tim atau kelompok (Suwarno, 2007: 139). Jadi pembelajaran kooperatif berarti belajar bersama, saling membantu dalam pembelajaran agar setiap anggota kelompok dapat mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik. 13 Pembelajaran kooperatif jenis Jigsaw adalah satu jenis pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Suwarno, 2007: 140). Suwarno menambahkan (2007: 140), Jigsaw menggabungkan konsep pengajaran pada teman sekelompok atau teman sebaya dalam usaha membantu belajar. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Untuk dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif, seorang guru haruslah menguasai model-model pembelajaran dan juga mengetahui bagaimana menerapkannya dalam pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007 bahwa salah satu karakteristik kompetensi pedagogis guru adalah menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Senada dengan yang diutarakan oleh Mahdiansyah (2010: 12) bahwa guru sebagai tenaga profesional profesionalitasnya seharusnya melalui secara keiukutsertaan terus-menerus dalam seminar mengembangkan atau lokakarya kependidikan, kegiatan profesi guru-guru mata pelajaran. Hal itu sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 20, dalam melaksanakan tugas keprofesional, guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 14 Dari pengamatan di lapangan rendahnya pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam pembelajaran merupakan satu masalah yang mendapat perhatian khusus untuk diteliti. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa SMK Negeri 1 Merdeka. 1.2. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah yang ada dapat dikemukakan beberapa identifikasi permasalahan sebagai berikut: 1. Hasil belajar matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 Merdeka rendah. 2. Kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 rendah. 3. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 rendah. 4. Siswa kelas X SMK Negeri 1 terbiasa belajar secara konvensional. 5. Guru belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran kooperatif pada proses pembelajaran matematika. 6. Guru lebih banyak mendominasi proses belajar mengajar. 1.3. Batasan Masalah Dengan identifikasi masalah yang diperoleh begitu luas dan dengan keterbatasan penulis maka penelitian ini diberi batasan agar lebih terarah kepada tujuan: 15 1. Kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 Merdeka rendah. 2. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 Merdeka rendah. 3. Guru belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran kooperatif pada proses pembelajaran matematika. 1.4. Rumusan Masalah Untuk memberikan arahan yang menjadi acuan dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah maka dibuat pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Apakah peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif tipe jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan melalui pembelajaran konvensional? 2. Apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif tipe jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan melalui pembelajaran konvensional? 3. Apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa? 4. Apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa? 16 1.5. Tujuan Penelitian Dengan adanya permasalahan yang diperoleh, penulis berharap akan mendapat hasil dengan tujuan: 1. Mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. 2. Mengetahui apakah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran koopertif jigsaw lebih tinggi dari pada siswa kelas X SMK Negeri 1 yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. 3. Mengetahui apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. 4. Mengetahui apakah terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa kelas X SMK Negeri 1 terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. 1.6. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang pentingnya penerapan model pembelajaran kooperatif, menambah khasanah bacaan ilmiah dan rujukan bagi peneliti lain dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses pembelajaran. 17 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini dapat digunakan berbagai pihak, diantaranya: a. Bagi guru, tindakan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan Kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan siswa memecahkan masalah matematika siswa dan tindakan penelitian ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif kepada siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. b. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk merancang program peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kualitas mutu proses belajar mengajar di sekolah. c. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lanjutan yang relevan di kemudian hari. d. Dari hasil penelitian yang diperoleh diharapkan jelasnya gambaran yang dapat dilihat apakah model pembelajaran ini dapat diterapkan dengan diberlakukannya kurikulum 2013, sekaligus mendapat gambaran apakah model pembelajaran ini layak dipakai untuk setiap 18 kompetensi yang akan diajarkan oleh guru atau yang akan dipelajari oleh siswa sehinga terjadi peningkatan pada pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada umumnya. 134 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis, temuan dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya diperoleh beberapa simpulan yang berkaitan dengan faktor pembelajaran, kemampuan awal matematika, kemampuan pemahaman konsep matematika dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Simpulan tersebut sebagai berikut: 1. Peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw lebih tinggi daripada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pada kelas eksperimen, peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika tertinggi terletak pada indikator menyatakan ulang suatu konsep. Sedangkan pada kelas kontrol, peningkatan kemampuan pemahaman konsep terbesar terletak pada indikator memberikan contoh dan non contoh. 2. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw lebih tinggi daripada kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pada kelas eksperimen, peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika terbesar terletak pada indikator memahami masalah. Sedangkan pada kelas kontrol, 134 135 peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik terbesar juga terletak pada indikator memahami masalah. 3. Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan kemampuan awal matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Hal ini juga diartikan bahwa interaksi antara pembelajaran (pembelajaran koperatif tipe jigsaw dan Pembelajaran konvensional) dan kemampuan awal matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah) tidak memberikan pengaruh secara bersama-sama yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa disebabkan oleh perbedaan pembelajaran yang digunakan bukan karena kemampuan awal matematika siswa. 4. Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan kemampuan awal matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hal ini juga diartikan bahwa interaksi antara pembelajaran (pembelajaran koperatif tipe jigsaw dan Pembelajaran konvensional) dan kemampuan awal matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah) tidak memberikan pengaruh secara bersama-sama yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa disebabkan oleh perbedaan pembelajaran yang digunakan bukan karena kemampuan awal matematika siswa. 136 5.2 Implikasi Penelitian ini berfokus pada peningkatan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui pembelajaran koperatif tipe jigsaw. Karakteristik pembelajaran koperatif tipa jigsaw yang dilakukan mengacu pada keaktifan siswa untuk saling bertukar pendapat pada kegiatan kelompok belajar. Hasil penelitian ini sangat sesuai untuk digunakan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan matematika. Oleh karena itu, kepada guru matematika di Sekolah Menengah Kejuruan maupun Sekolah Menengah Atas, diharapkan memiliki pengetahuan teoritis maupun keterampikan menggunakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw dalam proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran koperatif tipe jigsaw yang terjadi di kelas berlangsung antara lain melalui: sajian LKS berupa sekumpulan tugas yang diambil dari masalah kontekstual di dalam kelas sehingga dapat memberikan motivasi dan semangat siswa dalam belajar, memaksimalkan kontribusi siswa, interaksi antar siswa dan kelompok belajar. Beberapa implikasi yang perlu diperhatikan bagi guru sebagai akibat dari pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw, antara lain: 1. Diskusi dalam penerapan pembelajaran koperatif tipe jigsaw merupakan salah satu sarana bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang mampu menumbuhkembangkan suasana kelas m

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 1 SIPIROK MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK.
0
2
45
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Posing (PTK Siswa Kelas X AP 2 SMK Prawira Marta Kartas
0
2
18
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STRATEGI KOOPERATIF TIPE Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Matematika Melalui Strategi Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) Pada Siswa Kelas VII Semes
0
2
21
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KELAS X SMA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN METAKOGNITIF.
0
5
50
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pendekatan Scientific Learning (PTK Bagi Siswa Kelas VIIG Semester Gasal SMP Negeri 1 Tawangharjo Tahun
2
8
18
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pendekatan Scientific Learning (PTK Bagi Siswa Kelas VIIG Semester Gasal SMP Negeri 1 Tawangharjo Tahun
0
2
15
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Komunikasi Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VII ASMP Muhammadiyah 7 Suraka
0
1
17
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Komunikasi Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VII ASMP Muhammadiyah 7 Suraka
0
2
13
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together Pada Bangun Ruang (Kubus Dan Balok) (
0
0
17
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW:Studi Eksperimen di SMA Negeri 1 Rengat.
0
2
63
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW.
0
0
66
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas V SDN 2 Gemiringlor Jepara Tahun Ajaran 2008/2009.
0
0
2
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS X DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 PALEMBANG
0
0
115
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS X B TPHP SMK NEGERI 1 KALIBAGOR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION
0
1
15
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS X TKR 3 SMK N 1 PUNGGELAN
0
0
15
Show more