Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam Di Taman Nasional Gunung Merbabu Jawa Tengah Dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis

Gratis

7
52
159
2 years ago
Preview
Full text
PERENCANAAN BEBERAPA JALUR INTERPRETASI ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TRI SATYATAMA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi apapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Januari 2008 Tri Satyatama NRP E 051054025 ABSTRAK TRI SATYATAMA. Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Dibimbing oleh E.K.S. HARINI MUNTASIB dan LILIK BUDI PRASETYO. Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan salah satu dari beberapa taman nasional baru di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2004. Kegiatan ekowisata di kawasan ini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh pengelola sebelumnya, yaitu Perum Perhutani, meskipun kawasan ini mempunyai peluang untuk dikembangkan menjadi lokasi interpretasi alam. Dengan perubahan status menjadi taman nasional, maka peluang pengembangan ekowisata menjadi lebih besar mengingat pengelolaan yang lebih intensif oleh sebuah Unit Pelaksana Teknis dan pengembangan ekowisata telah disebutkan dalam Rencana Pengelolaan sebagai salah satu kegiatan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Sebagai bagian dari ekowisata, interpretasi alam merupakan media untuk menjembatani pengunjung suatu kawasan dengan sumber daya alam yang ada pada kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan menyusun perencanaan beberapa jalur interpretasi alam di kawasan TNGMB berdasarkan potensi sumber daya yang ada dan demand penggunanya, dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis. Pemilihan jalur interpretasi alam dengan berdasarkan kriteria potensi sumber daya alam dan kebutuhan (demand) pengguna dilakukan dengan menggunakan sarana Query Builder yang tersedia di dalam ArcView GIS 3.3. Berdasarkan sintesis antara potensi jalur dan kebutuhan (demand) pengguna, terdapat 8 jalur yang memenuhi kriteria, yaitu jalur Selo - puncak, Tekelan - puncak, Selo II dan III, Tekelan IV, TWA - Krinjingan, TWA - Watu Tadah dan TWA - “Dufan”. ABSTRACT TRI SATYATAMA. Various Nature Interpretation Tracks Planning in Mount Merbabu National Park Central Java Using Geographic Information System. Under directions of E.K.S. HARINI MUNTASIB and LILIK BUDI PRASETYO. Mount Merbabu National Park is one among several new national parks in Indonesia which was established in 2004. Ecotourism activities in this area have not been properly developed by Perum Perhutani, as the past management authority, although the area is very potential to be developed as an ecotourism site for activities such as nature interpretation, apart from camping and hiking which are already carried out. With the change of the area status into a national park, the opportunity of ecotourism development is increased as the area is presently managed by a focused management authority, The Mount Merbabu National Park Office. As a part of ecotourism, nature interpretation is a mean to relate visitors to natural resources, which is an urgent need for Mount Merbabu National Park. The objective of this research is to develop an interpretation plan of vaious tracks in the Park, based on the tracks’ resources and users’ demands. The selection of user-oriented nature interpretation tracks done by using the Query Builder tool available in ArcView GIS 3.3. The synthesis of tracks’ resources and users demand resulted in 8 criteriafulfilling tracks, e.g. Selo - summit, Tekelan - summit, Selo II, Selo III, Tekelan IV, TWA - Krinjingan Waterfall, TWA - Watu Tadah Waterfall dan TWA - “Dufan”. The planning of these selected tracks includes mapping and interpretation scenarios. Keywords : nature interpretation, Mount Merbabu National Park, GIS c Hak Cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. PERENCANAAN BEBERAPA JALUR INTERPRETASI ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TRI SATYATAMA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sub Program Studi Konservasi Biodiversitas SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 Judul Penelitian : Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam Nama NIM Program Studi Sub Program Studi : : : : di Taman Nasional Gunung Merbabu Jawa Tengah dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis Tri Satyatama E 051054025 Ilmu Pengetahuan Kehutanan Konservasi Keanekaragaman Hayati Disetujui : Komisi Pembimbing Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib, M.S. Ketua Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc. Anggota Diketahui : Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F NIP. 131760834 Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S. NIP. 130891386 Tanggal Ujian : 19 Desember 2007 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat hidayah, karunia dan petunjuk-Nya maka tesis ini dapat diselesaikan. Tema yang dipilih adalah perencanaan wisata alam, dengan judul Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Merbabu Jawa Tengah mulai bulan Juni hingga Agustus 2007. Terima kasih penulis ucapkan kepada Profesor Dr. E.K.S. Harini Muntasib, M.S. dan Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc. selaku komisi pembimbing. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ir. Untung Suprapto selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu beserta staf, Dr. Ir. H. Yanto Santosa, DEA selaku Ketua Sub Program Studi, dan rekan-rekan Magister Profesi 2006 serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat. Bogor, Januari 2008 Tri Satyatama RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Solo Jawa Tengah pada tanggal 8 April 1973 dari ayah Pararto S.D. (alm.) dan ibu Erlijani Siregar (almh.). Penulis merupakan putra ke-tiga dari tiga bersaudara. Tahun 1992 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Solo jurusan Biologi. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor, mengambil jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan dan lulus pada tahun 1997. Penulis bekerja pada Departemen Kehutanan dan ditempatkan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah sejak tahun 2000 hingga sekarang. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI ............................................................................................................. x DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiv I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah ................................................................................. 3 1.3. Kerangka Pemikiran .................................................................................. 4 1.4. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 5 1.5. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 5 II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 7 2.1. Interpretasi Alam ....................................................................................... 7 2.2. Perencanaan Interpretasi ........................................................................... 12 2.3. Taman Nasional ........................................................................................ 19 2.4. Sistem Informasi Geografis ....................................................................... 23 III. METODE PENELITIAN........................................................................................ 26 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................... 26 3.2. Bahan dan Alat .......................................................................................... 26 3.3. Jenis Data yang Dikumpulkan ................................................................... 26 3.4. Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 26 3.5. Metode Analisis Data ................................................................................ 30 IV. KEADAAN UMUM LOKASI ................................................................................ 34 4.1. Sejarah Kawasan TN Gunung Merbabu ................................................... 34 4.2. Letak dan Luas TN Gunung Merbabu ....................................................... 34 4.3. Aksesibilitas .............................................................................................. 36 4.4. Keadaan Fisik dan Biologi ......................................................................... 37 4.5. Iklim ........................................................................................................... 38 4.6. Hidrologi ................................................................................................... 39 4.7. Topografi ................................................................................................... 40 4.8. Geologi dan Tanah .................................................................................... 40 4.9. Tata Guna Lahan ...................................................................................... 42 4.10. Sarana dan Prasarana Wisata .................................................................. 43 x Halaman V. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................ 44 5.1. Jalur Verifikasi ......................................................................................... 44 5.2. Sarana dan Prasarana Interpretasi Alam ................................................ 62 5.3. Aksesibilitas Jalur .................................................................................... 65 5.4. Karakteristik dan Demand Pengguna (Pendaki) TN Gunung Merbabu .............................................................................. 5.5. 66 Karakteristik dan Demand Pengguna (Pengunjung) TN Gunung Merbabu .............................................................................. 77 5.6. Aspek Sosial Budaya .............................................................................. 84 5.7. Kebijakan Balai TN Gunung Merbabu ..................................................... 88 5.8. Analisis Potensi Flora dan Fauna ........................................................... 89 5.9. Analisis Pengembangan Interpretasi Alam ............................................. 95 5.10. Sintesis ................................................................................................... 100 5.11. Perencanaan Jalur Interpretasi Alam ...................................................... 106 VI. KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................ 128 6.1. Kesimpulan .............................................................................................. 128 6.2. Saran ....................................................................................................... 128 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 130 xi DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Target responden dan informasi yang ingin didapatkan ........................... 28 Tabel 2 Pengelompokan umur responden pendaki gunung .................................. 29 Tabel 3 Pengelompokan umur responden pengunjung ......................................... 29 Tabel 4 Data yang diperlukan dan metode pengambilannya................................. 30 Tabel 5 Daftar wilayah administrasi yang berbatasan langsung dengan TN Gunung Merbabu ................................................................................ 35 Tabel 6 Daftar jalur pendakian dan non pendakian dilakukannya verifikasi .......... 44 Tabel 7 Rute jalur pendakian Selo......................................................................... 45 Tabel 8 Data rekaman GPS Receiver jalur pendakian Selo .................................. 47 Tabel 9 Rute jalur pendakian Tekelan - Puncak .................................................... 49 Tabel 10 Data rekaman GPS Receiver jalur pendakian Tekelan - Puncak ............ 48 Tabel 11 Rute jalur Selo - Mata Air ......................................................................... 51 Tabel 12 Data rekaman GPS Receiver jalur Selo - Mata Air ................................... 52 Tabel 13 Rute jalur Tekelan - Watu Tadah .............................................................. 53 Tabel 14 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - Watu Tadah ....................... 53 Tabel 15 Rute jalur TWA Tuk Songo - Tekelan ....................................................... 55 Tabel 16 Data rekaman GPS Receiver jalur TWA Tuk Songo - Tekelan ................ 55 Tabel 17 Rute jalur Tekelan - Krinjingan.................................................................. 56 Tabel 18 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - Krinjingan........................... 57 Tabel 19 Rute jalur Tekelan - “Dufan”...................................................................... 58 Tabel 20 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - “Dufan”............................... 58 Tabel 21 Rute jalur Selo - Jurang Warung............................................................... 60 Tabel 22 Data rekaman GPS Receiver Jalur Selo - Jurang Warung....................... 60 Tabel 23 Data spasial obyek lainnya ....................................................................... 61 Tabel 24 Karakteristik responden pendaki............................................................... 66 Tabel 25 Skoring terhadap nilai-nilai faktor yang mempengaruhi responden dalam memilih jalur pendakian ................................................................. 69 Tabel 26 Matriks hasil kuesioner pendaki................................................................ 75 Tabel 27 Karakteristik responden pengunjung ........................................................ 78 Tabel 28 Matriks hasil kuesioner pengunjung.......................................................... 83 Tabel 29 Jumlah jenis flora fauna hasil verfikasi pada setiap jalur ......................... 90 Tabel 30 Skoring potensi jalur pendakian dan non pendakian ................................ 99 xii Halaman Tabel 31 Modifikasi dan penggabungan jalur ......................................................... 100 Tabel 32 Alternatif jalur interpretasi alam ................................................................ 100 Tabel 33 Karakteristik jalur sesuai keinginan (demand) pengguna ........................ 101 Tabel 34 Preferensi pengguna TNGMB terhadap Interpretasi Alam ....................... 103 Tabel 35 Jalur Interpretasi Alam berdasarkan kriteria preferensi pengguna ........... 104 Tabel 36 Jalur terpilih berdasarkan preferensi penggunanya ................................. 105 Tabel 37 Jalur tidak terpilih ..................................................................................... 105 Tabel 38 Rencana jalur Interpretasi Alam di TN Gunung Merbabu ........................ 105 Tabel 39 Rencana kegiatan Interpretasi Alam di TN Gunung Merbabu ................. 126 Tabel 40 Klasifikasi jalur Interpretasi Alam berdasarkan kelompok umur pengguna ................................................................................................. 126 xiii DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Kerangka pemikiran perencanaan Interpretasi Alam di TNGMB dengan menggunakan SIG................................................................... 6 Gambar 2 Bagan alir tahapan perencanaan interpretasi menurut Sharpe (1982) 17 Gambar 3 Bagan alir proses penelitian Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di TNGMB dengan menggunakan SIG..................... 33 Gambar 4 Peta lokasi penelitian............................................................................ 36 Gambar 5 Peta jalur dilakukannya kegiatan verifikasi........................................... 45 Gambar 6 Profil jalur pendakian Selo - Puncak..................................................... 47 Gambar 7 Profil jalur pendakian Tekelan - Puncak .............................................. 50 Gambar 8 Profil jalur non pendakian Selo - Mata Air ............................................ 52 Gambar 9 Profil jalur non pendakian Tekelan - Watu Tadah ................................ 54 Gambar 10 Profil jalur non pendakian TWA Tuk Songo - Tekelan.......................... 55 Gambar 11 Profil jalur non pendakian Tekelan - Krinjingan .................................... 57 Gambar 12 Profil jalur non pendakian Tekelan - ”Dufan”......................................... 59 Gambar 13 Profil jalur non pendakian Selo - Jurang Warung ................................. 60 Gambar 14 Overlay jalur verifikasi pada kelas lereng TNGMB .............................. 63 Gambar 15 Overlay jalur verifikasi terhadap ketinggian kawasan TNGMB............. 64 Gambar 16 Jalur yang pernah dilewati ................................................................... 67 Gambar 17 Sumber informasi jalur pendakian ....................................................... 68 Gambar 18 Modus pendakian ................................................................................ 68 Gambar 19 Tujuan pendakian ................................................................................. 69 Gambar 20 Faktor yang paling mempengaruhi dalam memilih jalur pendakian ..... 69 Gambar 21 Alasan utama memilih jalur yang sering dilalui .................................... 70 Gambar 22 Jalur yang paling disukai ..................................................................... 70 Gambar 23 Tingkat kemiringan jalur yang disukai ................................................. 71 Gambar 24 Pola beristirahat dalam pendakian ...................................................... 71 Gambar 25 Preferensi tempat beristirahat dalam pendakian ................................. 72 Gambar 26 Kondisi responden ketika melakukan pendakian ................................ 72 Gambar 27 Obyek daya tarik jalur pendakian ........................................................ 72 Gambar 28 Pengetahuan responden pendaki mengenai Interpretasi Alam............ 73 Gambar 29 Preferensi terhadap dasar kegiatan interpretasi alam ......................... 74 Gambar 30 Preferensi durasi jalur Interpretasi Alam .............................................. 74 xiv Halaman Gambar 31 Preferensi kemiringan/slope jalur Interpretasi Alam ............................. 74 Gambar 32 Preferensi posisi jalur Interpretasi Alam ............................................... 75 Gambar 33 Modus kunjungan ................................................................................ 79 Gambar 34 Tujuan kunjungan ................................................................................ 79 Gambar 35 Obyek daya tarik tempat wisata .......................................................... 79 Gambar 36 Kegiatan yang dilakukan di tempat wisata .......................................... 80 Gambar 37 Bagian yang disukai dari tempat wisata .............................................. 80 Gambar 38 Tingkat penghasilan responden pengunjung ....................................... 80 Gambar 39 Pengetahuan responden pengunjung mengenai Interpretasi Alam ..... 81 Gambar 40 Preferensi terhadap dasar kegiatan Interpretasi Alam ........................ 81 Gambar 41 Preferensi durasi jalur Interpretasi Alam .............................................. 82 Gambar 42 Preferensi kemiringan/slope jalur Interpretasi Alam ............................ 82 Gambar 43 Preferensi posisi jalur Interpretasi Alam .............................................. 83 Gambar 44 Overlay jalur verifikasi pada zonasi TNGMB ........................................ 91 Gambar 45 Overlay jalur verifikasi terhadap tipe vegetasi kawasan TNGMB......... 92 Gambar 46 Hasil dijitasi manual ............................................................................. 101 Gambar 47 Pengisian atribut masing-masing jalur alternatif .................................. 102 Gambar 48 Pemililihan jalur Interpretasi Alam dengan Query Builder ................... 103 Gambar 49 Pengubahan Vertex hasil dijitasi manual ke dalam bentuk Shapefile .. 106 Gambar 50 Peta obyek interpretasi alam pada jalur pendakian Tekelan-Puncak... 115 Gambar 51 Peta obyek interpretasi alam pada jalur non pendakian di Wilayah Seksi Pengelolaan I TN Gunung Merbabu ............................. 116 Gambar 52 Peta obyek interpretasi alam pada jalur pendakian Selo - Puncak ...... 122 Gambar 53 Peta obyek interpretasi alam pada jalur Selo II dan Selo III................. 123 Gambar 54 Peta pengelompokan jalur Interpretasi Alam berdasarkan Kelompok Umur peserta....................................................................... 127 xv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner untuk pengunjung Lampiran 2 Kuesioner untuk pendaki Lampiran 3 Kuesioner untuk pengelola TNGMB Lampiran 4 Foto-foto Lampiran 5 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Selo - Mata Air Lampiran 6 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Selo - Puncak Lampiran 7 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Tekelan - Puncak Lampiran 8 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Tekelan - Watu Tadah Lampiran 9 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Tekelan - Krinjingan Lampiran 10 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Tekelan - “Dufan” Lampiran 11 Tallysheet verifikasi flora dan fauna jalur Selo - Jurang Warung Lampiran 12 Data jumlah pendaki dan pengunjung Lampiran 13 Hasil pengamatan flora jalur Selo - Mata Air (Non Pendakian) Lampiran 14 Hasil pengamatan flora jalur Selo - Puncak (Pendakian) Lampiran 15 Hasil pengamatan flora jalur Tekelan - Puncak (Pendakian) Lampiran 16 Hasil pengamatan flora jalur Tekelan- Watu Tadah (Non Pendakian) Lampiran 17 Hasil pengamatan flora jalur Tekelan - TWA Tuk 9 (Non Pendakian) Lampiran 18 Hasil pengamatan flora jalur Tekelan - Krinjingan (Non Pendakian) Lampiran 19 Hasil pengamatan flora jalur Tekelan - Dufan (Non Pendakian) Lampiran 20 Hasil pengamatan flora jalur Selo - Jurang Warung (Non Pendakian) Lampiran 21 Hasil pengamatan satwa jalur Selo - Mata Air (Non Pendakian) Lampiran 22 Hasil pengamatan satwa jalur Selo - Puncak (Pendakian) Lampiran 23 Hasil pengamatan satwa jalur Tekelan - Puncak (Pendakian) Lampiran 24 Hasil pengamatan satwa jalur Tekelan - Watu Tadah (Non Pendakian) Lampiran 25 Hasil pengamatan satwa jalur Tekelan - TWA Tuk 9 (Non Pendakian) Lampiran 26 Hasil pengamatan satwa jalur Tekelan - Krinjingan (Non Pendakian) Lampiran 27 Hasil pengamatan satwa jalur Tekelan - Dufan (Non Pendakian) Lampiran 28 Hasil pengamatan satwa jalur Selo - Jurang Warung (Non Pendakian) Lampiran 29 Perbandingan rekapitulasi hasil inventarisasi flora TN G. Merbabu Lampiran 30 Perbandingan rekapitulasi hasil inventarisasi fauna TN G. Merbabu xvi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMB) merupakan salah satu dari taman nasional baru di Indonesia, dengan dasar penunjukkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 135/MENHUT-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 dengan luas 5.725 Ha. Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan alih fungsi kawasan hutan lindung di lereng Gunung Merbabu yang semula dikelola oleh Perum Perhutani serta Taman Wisata Alam (TWA) Tuk Songo Kopeng yang termasuk kawasan konservasi lingkup Balai KSDA Jawa Tengah menjadi sebuah taman nasional. Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu meliputi 3 (tiga) wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang (sebelah Barat), Kabupaten Boyolali (sebelah Timur) dan Kabupaten Semarang (sebelah Utara). Dalam Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Gunung Merbabu (BKSDA Jawa Tengah 2006) disebutkan bahwa kawasan taman nasional ini memiliki nilai-nilai penting seperti keanekaragaman hayati, perlindungan fungsi hidro-orologi, potensi pariwisata alam dan religius, serta potensi pemberdayaan masyarakat. Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Dephut 1990), taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Dengan demikian maka kegiatan ekowisata merupakan salah satu bentuk kegiatan yang diperbolehkan di dalam kawasan konservasi ini. MacKinnon et al. (1993) menyatakan bahwa kawasan yang dilindungi dapat memberikan kontribusi banyak pada pengembangan wilayah dengan menarik wisatawan ke wilayah pedesaan. Kawasan yang dilindungi memiliki daya tarik yang besar di banyak negara tropika, mendatangkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi negara, dan dengan perencanaan yang benar dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Rancangan pengelolaan kawasan yang terdapat di dalam Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Gunung Merbabu (BKSDA Jawa Tengah 2006) memuat pemanfaatan kawasan, yang salah satu kegiatannya adalah pengembangan wisata alam. Sebelum menjadi taman nasional, kawasan Hutan Lindung Gunung Merbabu dan sekitarnya telah dimanfaatkan sebagai tempat 2 melakukan aktivitas di luar ruang seperti berkemah dan mendaki gunung, khususnya oleh para pecinta alam. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bumi perkemahan di TWA Tuk Songo Kopeng dan Wana Wisata Kopeng, serta beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Merbabu. Namun ekowisata di kawasan ini belum dikelola atau dimanfaatkan secara optimal oleh Perum Perhutani selaku pemangku kawasan sebelumnya. Padahal kawasan tersebut mempunyai peluang untuk dikembangkan menjadi lokasi interpretasi alam. Dengan perubahan status menjadi taman nasional, maka peluang pengembangan ekowisata akan menjadi lebih besar mengingat pengelolaan yang lebih intensif oleh sebuah Unit Pelaksana Teknis dan pengembangan ekowisata telah disebutkan dalam Rencana Pengelolaan sebagai salah satu kegiatan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Interpretasi alam walaupun di Indonesia belum banyak dikenal, sebenarnya bukan sesuatu hal yang benar-benar baru, terbukti dengan telah diterbitkannya berbagai publikasi mengenai interpretasi sejak tahun 1950-an. Salah satunya adalah Interpreting Our Heritage yang ditulis oleh Freeman Tilden pada tahun 1957, seseorang yang dianggap sebagai Bapak Interpretasi, yang mendefinisikan interpretasi alam sebagai suatu kegiatan pendidikan yang bertujuan menunjukkan arti dan hubungan antara seseorang dengan alam lingkungannya dengan menggunakan benda-benda aslinya, melalui pengalaman langsung di lapangan dan dengan media ilustratif seperti foto, slide, film dan sebagainya. Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa istilah interpretasi muncul karena keluhan pengunjung yang datang ke suatu kawasan. Semua keindahan, keunikan dan kekhasan kawasan tersebut hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang saja, itupun kalau bertemu dengan orang-orang yang mengerti tentang flora, fauna, sejarah, tanah dan sebagainya. Akhirnya terjadi suatu kesepakatan bahwa pengunjung yang datang ke suatu kawasan memerlukan suatu pelayanan yang dapat mengungkapkan keindahan dan kekhasan kawasan tersebut, sehingga dapat mendatangkan suatu inspirasi sekaligus memenuhi keinginan pengunjung untuk mengetahui keadaan kawasan tersebut. Interpretasi bukan hanya bertujuan untuk menjelaskan tentang alam saja namun juga untuk menjelaskan pengertian dan apresiasi terhadap lingkungan dengan cara menyampaikan nilai-nilai sumber daya alam serta nilai sejarah dan budayanya yang penting. Program interpretasi juga berusaha untuk menjelaskan dasar pembentukan lingkungan (Ditjen PHPA 1988). 3 Di Indonesia, khususnya di kawasan konservasi lingkup Departemen Kehutanan seperti taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan raya, program interpretasi alam masih sangat jarang disediakan oleh pengelola kawasan. Beberapa taman nasional yang telah mempunyai program interpretasi alam antara lain Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Karimunjawa. umumnya Kegiatan wisata alam di Taman Nasional Gunung Merbabu berupa perkemahan dan pendakian gunung, sehingga para penggunanya belum mendapat nilai tambah unsur-unsur wisata minat khusus lainnya, seperti rewarding, enriching dan learning. Interpretasi alam sebagai salah satu kegiatan dalam ekowisata dapat dikembangkan di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu untuk memberikan nilai tambah yang belum didapatkan tersebut. interpretasi alam dilaksanakan dengan Penyusunan perencanaan melakukan identifikasi masalah, inventarisasi, verifikasi, analisis dan sintesis data serta pengambilan keputusan. Penggunaan teknologi informasi, khususnya Sistem Informasi Geografis, dalam perencanaan maupun pengelolaan suatu kawasan konservasi merupakan suatu keharusan pada saat ini. Hal ini dikarenakan dengan Sistem Informasi Geografis dapat dilakukan pemetaan, analisis, pengelolaan atau pengubahan terhadap data kawasan menurut kondisinya yang terkini secara cepat, mudah serta dengan biaya yang relatif rendah. Penggunaan Sistem Informasi Geografis akan sangat membantu pengelola suatu kawasan konservasi dalam merencanakan kebijakan atau keputusan yang akan diambil berkaitan dengan pengelolaan kawasan tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian mengenai perencanaan interpretasi alam di Taman Nasional Gunung Merbabu ini dilaksanakan dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis. 1.2. Perumusan Masalah Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi (Dephut 1990). Hingga saat ini pemanfaatan secara lestari kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu khususnya dalam hal ekowisata baru sebatas perkemahan dan pendakian gunung saja. Kenyataan tersebut merupakan peluang bagi pengelola untuk mengubah persepsi tentang konservasi sekaligus meningkatkan 4 kesadaran masyarakat dan memberikan manfaat atau nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat, khususnya para pengunjung dan pendaki Taman Nasional Gunung Merbabu. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan nilai tambah tersebut adalah dengan interpretasi alam. Hal ini sesuai dengan tujuan interpretasi alam yaitu sebagai media komunikasi antara sumber daya alam dan manusia yang berinteraksi dengannya. Dengan interpretasi alam diharapkan para pengunjung maupun pendaki atau siapapun yang berinteraksi dengan Taman Nasional Gunung Merbabu, kesadaran akan pentingnya pelestarian alam dapat ditingkatkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar interpretasi alam di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu dapat dilaksanakan secara optimal dengan memberikan manfaat, nilai tambah, kepuasan yang maksimal serta meningkatkan kesadaran bagi para pengunjung, maka diperlukan penelitian yang mendalam terlebih dahulu. 1.3. Kerangka Pemikiran Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMB) mempunyai potensi fisik, biologis dan sosial budaya yang menyebar secara spasial di dalamnya. Sebagai implementasi fungsi pemanfaatan kawasan yang tertuang dalam Rencana Pengelolaannya, Taman Nasional Gunung Merbabu perlu melakukan pengembangan lebih lanjut terhadap ekowisata yang sudah berjalan di kawasan tersebut untuk memberikan nilai tambah bagi pengunjung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dan pengambil kebijakan akan pentingnya pelestarian alam dengan program-program interpretasi alam. Suatu perencanaan, termasuk perencanaan interpretasi alam, perlu mengetahui terlebih dahulu sumber daya (supply) yang dimiliki dan kebutuhan (demand) pasarnya terlebih dahulu. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai interpretasi alam di Taman Nasional Gunung Merbabu yang dapat dilaksanakan secara optimal sesuai kondisi, potensi dan karakteristik kawasan yang merupakan sisi supply serta kebutuhan pengunjung dan pendaki yang merupakan sisi demand, sekaligus dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Penelitian dilakukan dengan tahap : inventarisasi data primer maupun sekunder serta survei karakteristik dan kebutuhan pengunjung, verifikasi data dan posisi spasialnya, analisis, sintesis dengan bantuan Sistem Informasi Geografis dan penyusunan perencanaan interpretasi alam. 5 Beberapa data dan survei yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain : kondisi & potensi ekosistem, flora & fauna, jalur pendakian & non pendakian, data spasial kawasan, sarana dan prasarana interpretasi alam, aksesibilitas, karakteristik dan kebutuhan/keinginan pengguna serta potensi sosial budaya di kawasan konservasi ini. Hasil penelitian berupa peta rencana interpretasi alam secara spasial yang dapat digunakan dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu khususnya pengembangan interpretasi alam oleh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Gambar 1 menunjukkan kerangka pemikiran Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. 1.4. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menyusun perencanaan beberapa jalur interpretasi alam di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu Propinsi Jawa Tengah, berdasarkan potensi sumber daya alam yang tersedia dan preferensi dari pengguna dengan menggunakan bantuan aplikasi Sistem Informasi Geografis. 1.5. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini dapat digunakan bagi perencanaan dalam upaya pengembangan ekowisata khususnya interpretasi alam di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. 6 TN GUNUNG MERBABU Potensi Fisik Potensi Biologis Potensi Sosial Budaya SPASIAL - Pemberian nilai tambah bagi pengunjung TNGMB PENGEMBANGAN INTERPRETASI ALAM - Peningkatan kesadaran masyarakat dan pengambil kebijakan PENGELOLAAN PENELITIAN INVENTARISASI DATA & SURVEI VERIFIKASI DATA ANALISIS DATA SINTESA - Kondisi & potensi ekosistem Flora dan fauna Jalur pendakian dan non pendakian Data spasial kawasan Sarana & prasarana interpretasi alam Aksesibilitas Karakteristik dan demand pengguna Sosial budaya kawasan TNGMB PERENCANAAN INTERPRETASI ALAM PETA SPASIAL RENCANA INTERPRETASI ALAM Gambar 1 Kerangka pemikiran Perencanaan Beberapa Jalur Interpretasi Alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Interpretasi Alam Cara paling langsung bagi masyarakat umum untuk mempelajari kawasan yang dilindungi adalah melihatnya sendiri (MacKinnon et al. 1990). Penting artinya bagi mereka untuk mendapat kesan pertama yang baik. Harus selalu diingat bahwa mendidik bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai tujuan akhir. Kawasan konservasi memerlukan dukungan dan penghargaan dari pengunjung, dan pengunjung perlu dibuat senang. Cara untuk menyampaikan hal tersebut pada masyarakat adalah melalu jasa informasi dan interpretasi. Tilden (1975) mendefinisikan interpretasi alam sebagai suatu kegiatan pendidikan yang bertujuan menunjukkan arti dan hubungan antara seseorang dengan alam lingkungannya dengan menggunakan benda-benda aslinya, melalui pengalaman langsung di lapangan dan dengan media ilustratif seperti, foto, slide, film dan sebagainya. Selanjutnya Sharpe (1982) menyatakan interpretasi adalah suatu mata rantai antara pengunjung dan sumber daya alam yang ada. MacKinnon et al. (1990) menyatakan bahwa interpretasi dalam taman nasional berbeda dengan informasi. Interpretasi bukanlah sekedar daftar berisi fakta, melainkan mencoba mengungkapkan konsep, arti dan hubungan keterkaitan gejala alam. Interpretasi berfungsi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan tujuan dan kebijakan taman serta berusaha mengembangkan perhatian bagi keperluan perlindungan. Interpretasi juga harus mendidik pengunjung untuk menghargai kawasan perlindungan bagi wilayah dan bangsa. Menurut Ditjen PHPA (1988), interpretasi konservasi alam adalah suatu kegiatan bina cinta alam yang khusus ditujukan kepada pengunjung kawasan konservasi alam dan merupakan kombinasi dari enam hal, yaitu pelayanan informasi, pelayanan pemanduan, pendidikan, hiburan dan inspirasi serta promosi. bahasa Kegiatan interpretasi itu diselenggarakan dengan menggunakan yang mempertemukan mudah dimengerti pengunjung oleh dengan pengunjung obyek-obyek dan dengan interpretasi, cara sehingga pengunjung dapat memperoleh pengalaman langsung melalui panca inderanya seperti penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman atau perabaan. Muntasib (2003b) menyimpulkan bahwa interpretasi alam adalah suatu seni dalam memberikan penjelasan tentang suatu kawasan wisata alam kepada pengunjung sehingga dapat memberikan inspirasi, menggugah pemikiran untuk 8 mengetahui menyadari, mendidik dan bila mungkin menarik minat pengunjung untuk ikut melakukan konservasi. Kegiatan wisata alam dan ekowisata berkaitan erat dengan pembelajaran dan kesadaran lingkungan. Jika ekowisata dimaksudkan untuk mempromosikan suatu perjalanan yang bertanggung jawab maka penyelenggaraan ekowisata harus mempunyai bekal interpretasi dan pendidikan tentang kawasan yang akan ditawarkan. 2.1.1. Sejarah Perkembangan Interpretasi di Indonesia Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun maka tinjauan sejarah perkembangan interpretasi dapat dibagi ke dalam 3 periode, yaitu (Muntasib 2003b) : 1. Periode 1980 - 1990 Merupakan periode peletakan dasar interpretasi di Indonesia. Usaha pengembangan interpretasi tidak bisa dilepaskan dari pengalaman dan mengikuti mata kuliah dan merasakan langsung bagi para dosen serta para pengelola taman wisata alam dan taman nasional yang sekolah atau berkesempatan mengikuti kursus di negara-negara barat, terutama di Amerika Serikat. Pada periode tersebut mulai dikenalkan mata kuliah di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Pendidikan Konservasi dan Interpretasi. Juga pada periode ini telah diterbitkan buku ”Pedoman Interpretasi Taman Nasional” oleh Direktorat Taman Nasional dan Hutan Wisata (pada tahun 1988). Bahkan dalam struktur organisasi telah terdapat penugasan untuk interpretasi. interpretasi juga mulai diadakan di Pusdiklat Kehutanan. Pelatihan-pelatihan Beberapa taman nasional sudah pula mengembangkan berbagai program interpretasi serta tandatanda interpretasi di lapangan (papan nama, papan interpretasi, media interpretasi dan sebagainya). 2. Periode 1991 - 2000 Periode ini merupakan periode dorman dari interpretasi namun menjelang akhir 2000 dengan makin gencarnya pengembangan ekowisata, serta mulai disadarai oleh para pelaku ekowisata bahwa interpretasi merupakan salah satu kunci keberhasilan ekowisata, walaupun saat itu beberapa taman nasional mulai memiliki kegiatan-kegiatan berkaitan dengan interpretasi. 3. Periode 2000 - sekarang Pada periode ini perhatian terhadap interpretasi mulai meluas bukan hanya di lingkungan Departemen Kehutanan dan Perguruan-perguruan Tinggi Kehutanan, namun sudah meluas kepada berbagai kegiatan yang berkaitan 9 dengan wisata alam dan ekowisata. Apalagi dengan Deklarasi Quebec serta Tahun Ekowisata dan Pegunungan Nasional Tahun 2002 dan rekomendasi dari lokakarya tersebut salah satunya interpretasi sebagai prioritas untuk dikembangkan. Diharapkan pada periode ini mulai diteruskan sosialisasi tentang perlunya interpretasi bagi pengembangan wisata alam dan ekowisata. 2.1.2. Unsur-unsur Interpretasi Unsur-unsur interpretasi ada tiga (Ditjen PHPA 1988), yaitu : a). Pengunjung Beberapa hal yang berkaitan dengan pengunjung yang perlu dianalisis dan diperhatikan dalam perencanaan dan pelaksanaan interpretasi antara lain : 1). Tempat-tempat yang paling banyak mendapat perhatian pengunjung 2). Asal sebagian besar pengunjung 3). Distribusi musiman pengunjung 4). Persentase jumlah pengunjung yang melewati pintu utama dan pintu lainnya. Informasi yang harus dikumpulkan untuk mengetahui karakteristik pengunjung dalam rangka penyusunan program interpretasi adalah : 1). Proporsi pengunjung nusantara dan mancanegara 2). Ukuran kelompok, distribusi umur dan tingkat pendidikan 3). Distribusi musiman kunjungan, waktu berkunjung, lama tinggal dan frekuensi kunjungan ulang 4). Jenis transportasi, tema dan media yang paling menarik bagi pengunjung. b). Pemandu Wisata Kualitas tenaga pemandu wisata sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam interpretasi. Syarat pemandu wisata harus mempunyai kemampuan : 1). Menguasai beberapa ilmu atau ahli dalam bidang ilmu tertentu (flora, fauna, sejarah, geologi atau budaya) yang berkaitan dengan obyek wisata 2). Menguasai pengetahuan di bidang pendidikan dan komunikasi masa serta sekaligus mempraktekkannya 3). Menguasai cara-cara melaksanakan interpretasi secara baik dan benar. c). Obyek Interpretasi Obyek bersangkutan interpretasi dan adalah digunakan segala sebagai yang obyek ada dalam di dalam kawasan menyelenggarakan interpretasi. Terdapat dua macam obyek interpretasi yaitu obyek sumberdaya alam, dan obyek sejarah dan budaya (Ditjen PHPA 1988). Agar program 10 interpretasi dapat berlangsung dengan baik, maka pemilihan dan penggunaan serta pemeliharaan obyek interpretasi perlu dilaksanakan. Dalam pemilihan obyek interpretasi harus memperhatikan sifat dan keadaan pengunjung serta sifat sumberdaya alam, sejarah dan budaya yang menjadi obyek interpretasi. Ciri-ciri utama obyek interpretasi yang harus diperhatikan adalah (FAO 1976, diacu dalam Rahmat 1996) : a). Ciri-ciri geologis 1). Strata geologis yang representatif 2). Strata yang menunjukkan asal-usul suatu daerah 3). Tanda-tanda kehidupan prasejarah dan perkembangan evolusi yang berasosiasi dengan geologis 4). Ciri-ciri fisiografis seperti gua, jembatan alam, kawah, air terjun, danau, mata air dan delta sungai. b). Ciri-ciri biologis 1). Flora dan fauna yang khas dan penting 2). Tapak di mana satwa sering terlihat 3). Tanda-tanda yang menunjukkan hubungan ekologis yang penting 4). Spesimen yang menarik/khusus seperti pohon raksasa, pohon berumur ratusan tahun dan tanaman hibrida 5). Tanda-tanda yang menunjukkan hubungan penting antara manusia dengan lingkungan seperti perubahan vegetasi dan artefak (benda-benda sederhana seperti alat atau perhiasan yang menunjukkan keindahan). c). Ciri-ciri Sejarah Manusia 1). Tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan manusia primitif seperti tapak budaya prasejarah, reruntuhan, artefak dan piktograf sistem tulisan kuno 2). Tanda-tanda yang menunjukkan adanya budaya suatu suku 3). Tapak, artefak dan dokumen yang berhubungan dengan sejarah penghuni 4). Tanda-tanda yang menunjukkan penggunaan sumberdaya pada masa lalu seperti perubahan vegetasi, bekas penggergajian, pertambangan dan peternakan. 2.1.3. Tipe Interpretasi Menurut kegiatannya, Aldridge (1972), diacu dalam Muntasib (2003a) membagi interpretasi alam ke dalam empat tipe, yaitu : 11 a). Interpretasi tempat historis (bersejarah) Merupakan seni dalam menjelaskan tempat-tempat yang ada hubungannya dengan masa lampau atau berhubungan dengan keadaan budaya b). Interpretasi tempat alami Menjelaskan karakteristik suatu daerah melalui hubungan antara batubatuan, tanah, flora, fauna dan manusia c). Interpretasi lingkungan hidup Menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya d). Pendidikan pelestarian Mengajarkan tentang tata lingkungan melalui disiplin ilmu bumi, kehidupan dan sosial serta seni. 2.1.4. Metode Interpretasi Metode interpretasi adalah cara-cara yang digunakan untuk melaksanakan interpretasi. Penentuan penggunaan metode interpretasi berdasarkan 2 (dua) faktor yaitu obyek interpretasi dan pengunjung (Ditjen PHPA 1988). Menurut Berkmuller (1981), metode interpretasi terbagi atas : a). Dengan pemandu (Guided Trails/GT), pengunjung mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai obyek-obyek interpretasi dengan bantuan pemandu b). Pemanduan sendiri (Self Guided Trails/SGT), pengunjung mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai obyek-obyek interpretasi dengan bantuan tanda (Sign in Place, Audio Trail, Leaflet dan Marker Trail). Sharpe (1982) menganjurkan agar metode SGT digunakan dalam keadaan frekuensi pengunjung tinggi dan ketersediaan pemandu terbatas. Sedangkan menurut Soedargo et al. (1989), secara garis besar metode interpretasi lingkungan terdiri dari : a). Pelayanan langsung (personal service), yaitu dilakukan langsung oleh petugas interpretasi kepada pengunjung b). Pelayanan tidak langsung (non-personal service), yaitu dilakukan melalui suatu media di mana petugas interpretasi tidak berhubungan langsung dengan pengunjung. 2.1.5. Sarana Interpretasi Menurut Muntasib (2003a), sarana interpretasi terdiri dari : a). Jalan setapak interpretasi 12 1) Jalan setapak yang memerlukan kehadiran pemandu wisata alam 2) Jalan setapak yang tidak memerlukan kehadiran pemandu wisata alam tetapi lengkap dengan petunjuk-petunjuk (guided trails) b). Wisma cinta alam, yang merupakan tempat transit terprenting dari suatu kawasan karena disini pengunjung mendapat sambutan dan mendapat bekal informasi yang dibutuhkan c). Pusat informasi, yang sebenarnya merupakan tempat transit kedua dari pengunjung untuk lebih memperjelas atau melengkapi informasi yang sudah didapatkan di wisma cinta alam d). Jalur interpretasi, yang merupakan jalur khusus yang digunakan untuk orangorang yang memeasuki kawasan dengan lingkungan yang sangat menarik untuk tujuan menghargai nilai-nilai kawasan yang dipandu oleh petugas kawasan tersebut e). Bumi Perkemahan, yaitu tempat menikmati alam dengan santai, bermalam dalam tenda di tempat terbuka. 2.1.6. Program Interpretasi Menurut Sharpe (1982), program interpretasi adalah pengetahuan dari seluruh usaha interpretasi, yaitu mencakup personil, fasilitas dan seluruh kegiatan interpretasi, kelembagaan serta tempat rekreasi itu sendiri. Intinya, bahwa program interpretasi menghubungkan sumberdaya alam atau budaya suatu areal dengan pengunjung yang menggunakan berbagai macam variasi. Sedangkan menurut Ditjen PHPA (1988), program interpretasi merupakan suatu pola pelaksanaan interpretasi menurut waktu tertentu dan skenario cerita tertentu pula. Skenario cerita interpretasi adalah garis-garis besar cerita yang akan menjadi tuntunan dalam pelaksanaan interpretasi. Demikian pula dijelaskan bahwa “materi interpretasi” adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyusun suatu program interpretasi dan yang akan menjadi isi dan maksud interpretasi yang diprogramkan tersebut. Selain itu dijelaskan pula bahwa media interpretasi adalah alat untuk berkomunikasi dengan pengunjung dalam rangka penyelenggaraan interpretasi seperti foto, poster, slide, video, brosur, booklet dan leaflet. 2.2. Perencanaan Interpretasi 2.2.1. Sasaran Perencanaan Agar perencanaan sesuai dengan kondisi, situasi dan kemampuan dari 13 lokasi yang ada, maka menurut Bradley, diacu dalam Sharpe (1982) seharusnya suatu perencanaan memiliki ciri-ciri berikut : a. Dapat dipergunakan Program yang direncanakan terutama perkembangan fasilitas interpretasi, harus dapat dilaksanakan oleh semua orang. Perhatian utama ditujukan pada keselamatan pengunjung dan pemisahan penggunaan jalan angkutan umum dengan yang bukan angkutan umum, terutama dalam hal interaksi dengan subyek interpretasinya. b. Efisien Fasilitas yang dipergunakan seharusnya efisien dari segi pelayanan, penggunaan dan pembiayaan serta penggunaannya dapat membantu program interpretasi. c. Dapat mengungkapkan keindahan Menyediakan suatu paket yang bervariasi tetapi kompak pada sebuah karakteristik yang ada, indah dan sensitif serta menimbulkan bayangan atau gambaran dari subyek interpretasinya. d. Fleksibel (lentur) dan selektif Perencanaan interpretasi merupakan suatu proses dinamis, maka diperlukan kesederhanaan, fleksibilitas dan pemilihan sasaran dari perencanaan interpretasi. Fasilitas yang mendukung dapat dipilih sesuai dengan program yang disusun, tema yang baru atau teknik-teknik yang baru, bisa dikembangkan apabila fasilitas yang mendukung sudah tersedia. Pesan interpretasi sebaiknya berkembang, sehingga pengunjung dapat lebih tertarik, mengerti, merenungkan dan mengevaluasi sesuai dengan apa yang harus didapatnya. Program yang bagus akan selalu dipilih oleh pengunjung. e. Kerugian atau kerusakan yang sekecil mungkin pada komunitas dan kebudayaan Dilema dari pengembangan

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kajian K dan Na tanah pada Beberapa Sistem Agroforestry di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser
0
34
60
Kajian pH dan KTK Tanah pada Beberapa Sistem Agroforestry di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser
1
33
74
Kajian P20 5 dan Mg Tanah Pada Beberapa Sistem Agrforestri di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Lauser
0
39
60
Pemetaan Potensi Wisata Alam Di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser BTN Wilayah III Langkat
21
126
98
Perencanaan Lokasi Pendidikan Slta Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kota Tanjungbalai
1
40
103
Perancangan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web menggunakan MapServer
4
70
56
Pemetaan Daerah Rawan Konflik Gajah Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di Taman Nasional Gunung Leuser (Studi Kasus di Resort Tangkahan, Resort Cinta Raja dan Resort Sei Lepan)
4
62
83
Hubungan Ketinggian Dan Kelerengan Dengan Tingkat Kerapatan Vegetasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di Taman Nasional Gunung Leuser
0
43
72
Studi Perencanaan Program Interpretasi Alam Pada Jalur Trekking Hutan Pendidikan USU, Taman Hutan Raya Bukit Barisan Kabupaten Karo
5
89
82
Sistem Informasi Geografis Jalur Penerbangan Di Indonesia
0
7
3
Perancangan Sistem Informasi pendaftaran Online Pengunjung Di Taman Nasional Gunung Papandayan Garut Berbasis Web
0
22
21
Sistem Informasi Geografis Perencanaan Ruas Jalan Nasional Metropolitan Bandung
2
7
50
Sistem Informasi Geografis Pariwisata Berbasis Web Dan Pencarian Jalur Terpendek Dengan Algoritma Dijkstra
0
2
6
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Pemetaan Tanaman pada Balai Taman Nasional Gn. Merbabu Desa Tajuk Berbasis Web (Studi Kasus :Komunitas TUK(Tanam Untuk Kehidupan))
0
0
26
Keanekaragaman jenis burung di Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada jalur pendakian Tekelan Kopeng Jawa Tengah
1
1
43
Show more