Analisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma angkatan 2010 lulusan tahun 2015

Gratis

0
19
277
2 years ago
Preview
Full text

  

ANALISIS PENGGUNAAN KONJUNGTOR

PADA LATAR BELAKANG SKRIPSI MAHASISWA

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA

ANGKATAN 2010 LULUSAN TAHUN 2015

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia

  

Oleh:

Insep Pitomo

NIM. 121224007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

ANALISIS PENGGUNAAN KONJUNGTOR

PADA LATAR BELAKANG SKRIPSI MAHASISWA

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA

ANGKATAN 2010 LULUSAN TAHUN 2015

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia

  

Oleh:

Insep Pitomo

121224007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2017

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Saya persembahkan skripsi ini untuk: 1.

   Tri Tunggal Maha Kudus yang senantiasa memberi berkat-Nya.

  2. Yesus Kristus Guru Sejati.

  3. Kepada kedua orang tua tercinta Sunyoto dan Darwati yang tak pernah lelah berjuang memberi dorongan moral ataupun finansial sampai saat ini dengan penuh cinta kasih.

  4. Pakde, Paman, budhe dan saudara-saudara saya lainnya yang telah memberi semangat dan nasihat serta doa

  5. Para sahabatku yang saling memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi.

  

MOTO

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

  (

1 Petrus 5:7 ) Science without religion is lame. Religion without science is blind.

  (

  

Albert Einstein

  )

  

Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar.....

  Tetapi kita dapat melakukan banyak ha l kecil dengan cinta yang besar”

  ( Mother Teresa )

Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.

  (Soekarno)

  

ABSTRAK

Analisis Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Pitomo, Insep. 2017. Skripsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015

  . Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini membahas penggunaan konjungtor dan kesalahan penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi. Peneliti memilih latar belakang skripsi karena latar belakang skripsi merupakan bahasa asli hasil pemikiran dari penulis skripsi sehingga akan tampak kemampuan asli dalam menggunakan konjungtor. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penggunaan konjungtor dan kesalahan penggunaan konjungtor pada skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015 .

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sumber data penelitian lima belas latar belakang skripsi. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung konjungtor. Tahap analisis data mencakup identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan verifikasi.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lima belas latar belakang skripsi menggunakan 35 jenis konjungtor (konjungsi) dan keseluruhan penggunaan konjungtor ada 404 kali. Data penggunaan konjungtor dapat dikelompokkan menjadi konjungtor koordinatif (150), konjungtor korelatif (7), konjungtor subordinatif (219), dan konjungtor antarkalimat (28). Lima belas latar belakang skripsi mengandung 36 kesalahan penggunaan konjungtor. Jenis kesalahan dalam penelitian ini dapat dikategorikan berdasarkan taksonomi siasat permukaan, yaitu kesalahan penghilangan (5), kesalahan penambahan (4), kesalahan salah formasi (3), dan kesalahan salah susun sebanyak (24). Lima belas latar belakang skripsi sebagian besar menggunakan kalimat majemuk. Mahasiswa Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) menggunakan kalimat majemuk untuk menuangkan ide atau gagasan yang panjang dalam satu kalimat. Kesalahan penggunaan konjungtor masih ditemukan di dalam latar belakang skripsi. Oleh karena itu, karya ilmiah termasuk skripsi, harus mematuhi kaidah penggunaan konjungtor dan tidak boleh ada kesalahan dalam penggunaan konjungtor.

  

ABSTRACT

The Using of Conjunction Analysis in Thesis Background

  Pitomo, Insep. 2017.

  Student of Sanata Dharma University ’s Chatolic Religion Education Study Program 2010th F orce 2015 Years Graduated . Thesis.

  Yogyakarta: Indonesian Language Literature Education, Teacher training and Education Faculty, Sanata Dharma University. This research discusses the use of conjunction and the errors found in the background of several theses. The researcher chose the thesis background because it uses original language style of the researcher

  s’ thoughts that shows

  their ability in using conjuction. The aim of this research is to describe the use of conjuction and the errors found in several theses written by students of Catholic Religion Education Study Program from batch 2010 and graduated in 2015.

  This research belongs to qualitative descriptive research. The instrument was the researcher himself. The sources of this research were fifteen theses backgrounds. The data were sentences which used conjuction. The research procedure consisted of identification, clarification, interpretation, and verification.

  The result of this research showed that those fifteen thesis backgrounds used 35 kinds of conjunction from 404 times of its use. They were classified into coordinative conjunction (150), correlative conjunction (7), subordinative conjunction (219), and conjunction among sentences (28). Besides, those fifteen thesis backgrounds had 36 errors in using conjunction. The kinds of errors were

  taksonomi siasat permukaan

  categorized based on (surface strategy taxonomi), they were omission errors (5), addition errors (4), formation errors (30, and errors in arragement (24). Most of thesis backgrounds used plural sentences. The students of Catholic Religion Education Study Program (IPPAK) used plural sentences to show the ideas in the form of a long sentences. The errors were still found in the thesis backgrounds. Therefore, scientific work including thesis, should obey the rules in using conjunction and the errors are not allowed.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar. Skripsi yang berjudul ANALISIS PENGGUNAAN KONJUNGTOR

  

PADA LATAR BELAKANG SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI

  

ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

UNIVERSITAS SANATA DHARMA ANGKATAN 2010 LULUSAN

TAHUN 2015 ini disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program

Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia.

  Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak di bawah ini.

  1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

  2. Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma.

  3. Dr. Y, Karmin, M.Pd., dosen pembimbing I yang telah membimbing dengan sabar, memotivasi, dan memberi berbagai masukan bagi peneliti mulai dari awal hingga skripsi ini selesai dengan baik.

  4. Galih Kusumo, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing II yang telah membimbing dengan sabar, memotivasi, dan memberi berbagai masukan bagi peneliti mulai dari awal hingga skripsi ini selesai dengan baik.

  5. Dr. B. Widharyanto, M.Pd., sebagai triangulator dalam penelitian ini.

  6. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah mendidik, membimbing, mendukungan, dan membantu serta nasihat yang sangat bermanfaat bagi penulis dari awal kuliah sampai selesai.

  7. Bapak Robertus Marsidiq sebagai karyawan sekretariat PBSI yang selalu

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv

HALAMAN MOTO ............................................................................................. v

LEMBAR PERSYARATAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  

ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ......................................... vi

PERSETUJUAN PUBLIKASI.......................................................................... vii

ABSTRAK ........................................................................................................ viii

ABSTRACT ......................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR ........................................................................................... x

DAFTAR ISI ...................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xv

DAFTAR BAGAN............................................................................................. xvi

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvii

  

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

  1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1

  1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................... 4

  1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 5

  1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 5

  1.5 Definisi Istilah .................................................................................................. 6

  1.6 Sistematika Penyajian ...................................................................................... 8

  

BAB II LANDASAN TEORI .............................................................................. 9

  2.1 Penelitian yang Relevan .................................................................................... 9

  2.2.1.2 Konjungtor dan Preposisi .......................................................................... 13

  2.2.1.3 Jenis-Jenis Konjungtor .............................................................................. 14

  2.2.1.4 Tugas Konjungsi ....................................................................................... 31

  2.2.2 Hubungan Koordinasi dan Subordinasi ....................................................... 32

  2.2.2.1 Hubungan Koordinasi ............................................................................... 32

  2.2.2.2 Hubungan Subordinasi .............................................................................. 34

  2.2.3 Hubungan Atributif ...................................................................................... 39

  2.2.3.1 Hubungan Atributif Restriktif ................................................................... 39

  2.2.3.2 Hubungan Atributif Takrestriktif ............................................................. 41

  2.2.4 Kesalahan Berbahasa ................................................................................... 42

  2.2.4.1 Kesalahan dan Kekeliruan ........................................................................ 42

  2.2.4.2 Kesalahan Penggunaan Konjungtor ......................................................... 44

  2.2.5 Taksonomi Siasat Permukaan ...................................................................... 46

  2.2.6 Kerangka Berpikir ....................................................................................... 50

  

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 51

  3.1 Jenis Penelitian ................................................................................................ 51

  3.2.Sumber Data dan Data Penelitian ................................................................... 52

  3.3 Instrumen Penelitian ....................................................................................... 52

  3.4 Teknik Pengumpulan Data .............................................................................. 53

  3.5 Teknik Analisis Data ....................................................................................... 54

  3.6 Triangulasi ...................................................................................................... 55

  

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 58

  4.1 Deskripsi Data ................................................................................................. 58

  4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan ............................................................. 59

  4.2.1 Konjungtor yang Digunakan pada Latar Belakang Skripsi ......................... 59

  4.2.1.1 Konjungtor Koordinatif............................................................................. 59

  4.2.2 Kesalahan Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Skripsi............... 91

  4.2.2.1 Penghilangan ............................................................................................. 91

  4.2.2.2 Penambahan ............................................................................................. 95

  4.2.2.3 Salah Formasi ......................................................................................... 100

  4.2.2.4 Salah Susun ............................................................................................. 102

  

BAB IV PENUTUP ........................................................................................... 126

  5.1 Simpulan ....................................................................................................... 126

  5.2 Implikasi........................................................................................................ 127

  5.3 Saran.............................................................................................................. 128

  5.3.1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik ......................................................................................... 128

  5.3.2 Dosen atau Guru......................................................................................... 129

  5.3.2 Peneliti Lain ............................................................................................... 129

  

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 130

SUMBER DATA PENELITIAN ..................................................................... 133

LAMPIRAN ....................................................................................................... 135

BIOGRAFI PENULIS ...................................................................................... 259

  

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Kesalahan dan Kekeliruan .................................................. 44Tabel 4.1 Frekuensi Penggunaan Konjungtor ...................................................... 89

  

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Preposisi dan Konjungtor .................................................................... 14Bagan 2.2 Hubungan Antarkalusa Secara Koordinasi ......................................... 33Bagan 2.3 Pembentukan Kalimat Majemuk Setara ............................................. 34Bagan 2.4 Hubungan Antarkalusa secara Subordinasi ........................................ 35Bagan 2.5 Pembentukan Kalimat Majemuk Bertingkat ........................................ 35

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran Surat Permohonan Triangulasi Data ............................................... 135 Lampiran Triangulasi Data ............................................................................. 136

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

  Bahasa adalah suatu sistem lambang yang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Chaer, 2011: 1). Bahasa sebagai alat komunikasi meliputi bahasa tulis dan lisan. Bahasa tulis menuntut kelengkapan unsur tata bahasa, ketepatan pilihan kata, ketepatan penerapan kaidah ejaan, serta pungtuasi untuk membantu kejelasan pengungkapan diri ke dalam bentuk ragam bahasa tulis.

  Sugono (2009: 17-20) mengatakan bahwa bahasa tulis harus memenuhi kriteria, yaitu jelas (bertalian dengan makna yang terkait dengan unsur-unsur gramatikal, seperti subjek, predikat, atau objek/keterangan), tegas (bertalian dengan interpretasi, tidak rancu), tepat (bertalian dengan kata/istilah), dan lugas (tidak bermajas dan tidak berpanjang-panjang). Bahasa tulis berurusan dengan tata cara penulisan, sedangkan bahasa lisan berurusan dengan lafal.

  Penulisan karya ilmiah (secara tertulis) harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Bahasa ilmiah harus sesuai dengan ejaan, diksi, struktur kalimat, dan sebagainya. Skripsi merupakan salah satu karya ilmiah tertulis.

  Pemakaian konjungtor pada wacana tulis termasuk skripsi banyak dan mudah kemampuan asli dalam menggunakan konjungtor. Latar belakang harus memaparkan alasan mengapa menulis suatu judul, memaparkan kesenjangan/ masalah, dan gambaran kegunaan dari hasil penelitian. Oleh sebab itu, seseorang harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah, khususnya bahasa Indonesia kaidah penulisan konjungtor.

  Pemakaian konjungtor yang tepat pada latar belakang skripsi dapat membantu pembaca untuk memahami intisari latar belakang. Akan tetapi, jika latar belakang skripsi menggunakan konjungtor yang kurang tepat, berdampak buruk pada pemahaman pembaca. Contoh dampak penggunaan konjungtor yang salah sebagai berikut.

  Meskipun Bunda Maria hanya manusia biasa yang diberi rahmat dan

  diangkat oleh Allah untuk menjadi bunda Allah dan Bunda bagi keluarga Katolik. (PAK-15-Wuriusadani-Ha06) Bentuk tersebut benar disebut kalimat, tetapi salah jika disebut klausa.

  Kalimat di atas belum selesai sebab tidak mempunyai induk kalimat. Kalimat tersebut membuat pembaca bingung, sebenarnya inti klausa itu atau induk klausa tersebut di mana. Sebagai sebuah sistem, bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah, atau pola tertentu, baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. Bila aturan, kaidah, atau pola ini dilanggar, komunikasi dapat terganggu (Chaer, 2011: 1). Sebenarnya kalimat di atas harus digabungkan dengan kalimat sebelumnya.

  Meskipun Bunda Maria hanya manusia biasa yang diberi rahmat dan Penulisan karya ilmiah harus memperhatikan tata bahasa, dalam hal ini adalah konjungtor. Penghilangan konjungtor bisa mengakibatkan makna dalam kalimat menjadi kurang jelas. Selain itu, penghilangan konjungtor bisa mengakibatkan pembaca kesulitan dalam memahami suatu kalimat.

  Dalam pengamatan sementara, peneliti menemukan bahwa beberapa latar belakang skripsi dari Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma mengandung kesalahan penggunaan konjungtor yang setara yang

  tetapi, menyatakan ‘perlawanan’ atau ‘petentangan’ yang ditandai dengan kata akan tetapi, baik ... maupun, namun, padahal, selanjutnya, sedangkan.

  dan Selain itu, peneliti juga menemukan penggunaan konjungtor yang benar, yaitu konjungtor dengan, selain itu, sehingga, dan karena . Oleh karena itu, peneliti akan menganalisis lebih jauh berkaitan dengan penggunaan dan kesalahan dalam pengunaan konjungtor.

  Penelitian ini akan membahas dua hal, yaitu analisis penggunaan konjungtor dan analisis kesalahan konjungtor dalam latar belakang skripsi mahasiwa IPPAK.

  Alasan peneliti memilih angkatan 2010 karena jumlah skripsi pada angkatan 2010 tersebut lebih banyak daripada jumlah skripsi angkatan lainnya. Oleh karena itu, peneliti memandang bahwa skripsi IPPAK lulusan tahun 2015 angkatan 2010 memberikan data yang cukup untuk penelitian ini. Selain itu, analisis konjungtor pada skripsi memang pernah dilakukan. Namun, pemilihan latar belakang skripsi berdasarkan angkatan yang sama belum ada sejauh pengamatan peneliti. yaitu mahasiswa IPPAK harus bisa membuat buku pegangan pengajaran

  Pendidikan Agama Katolik dan menerbitkan karangan-karangan kateketis

  (misi IPPAK dari website usd.ac.id).

  Dua misi di atas menggambarkan bahwa mahasiswa IPPAK harus memiliki kompetensi menulis sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Untuk menerbitkan buku dan menulis karangan-karangan, tentunya bahasa yang digunakan harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, khususnya penggunaan konjungtor. Oleh karena itu, peneliti akan menganalisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015.

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut.

  1. Konjungtor apa saja yang digunakan pada latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015? 2.

  Kesalahan apa saja yang terdapat dalam penggunaan konjungtor pada latar

  belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015?

1.3 Tujuan Penelitian

  Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, peneliti merumuskan tujuan penelitian sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan penggunaan konjungtor latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015.

  2. Mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015.

1.4 Manfaat Penelitian

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada para pembaca, baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang diharapkan sebagai berikut.

  1. Bagi Mahasiswa Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas kajian mengenai pemakaian konjungsi, terutama pada penulisan karya-karya ilmiah.

  2. Bagi Dosen Pembimbing Skripsi Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan referensi untuk pengajaran

3. Bagi Peneliti lain

  Penelitian ini diharapkan bisa menjadi informasi bagi peneliti-peneliti selanjutnya berkaitan dengan masalah pemakaian konjungtor (konjungsi).

1.5 Definisi Istilah

  Berikut ini dipaparkan batasan istilah untuk menyamakan berbagai konsep yang digunakan.

  1. Kesalahan Kesalahan adalah penyimpangan yang disebabkan oleh faktor kompe- tensi (Tarigan, 2011: 68).

  2. Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku performansi bahasa orang dewasa.

  (Tarigan, 2011: 123).

3. Analisis Kesalahan Berbahasa

  Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti dan para guru bahasa, yang mencakup pengumpulan sampel bahasa pelajar, pengenalan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam sampel tersebut, deskripsi kesalahan-kesalahan itu, klasifikasi berdasarkan sebab-sebabnya yang telah dihipotesiskan, serta

  4. Konjungtor Konjungtor adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat. (Alwi, dkk. 2010:301).

  5. Konjungtor Koordinatif Konjungtor koordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303).

  6. Konjungtor Korelatif Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:304).

  7. Konjungtor Subordinatif Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama.

  (Alwi, dkk. 2010:305).

  8. Konjungtor Antarkalimat Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain (Alwi, dkk. 2010:305).

1.6 Sistematika Penyajian

  Laporan penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II berisi landasan teori. Bab ini memaparkan penelitian yang relevan, kajian teori, dan kerangka berpikir. Bab III berisi tentang metodologi penelitian. Metodologi penelitian menguraikan jenis penelitian, sumber data dan data penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, dan triangulasi data. Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan. BabV berisi penutup. Bab ini menguraikan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran yang diberikan peneliti berdasarkan hasil penelitian yang kiranya bermanfaat bagi pihak lain yang terkait dengan m penelitian m ini m di m masa m mendatang.

BAB II LANDASAN TEORI Pada bab landasan teori ini dibahas penelitian yang relevan dan kajian

  teori. Penelitian yang relevan menguraikan secara singkat dua penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Pada landasan teori akan diuraikan beberapa teori yang digunakan dalam penelitian ini.

2.1 Penelitian yang Relevan

  Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang

  Pemakaian

  dilakukan oleh Anggitasari (2013) dengan skripinya yang berjudul

  

Konjungsi pada Kolom Tajuk Surat Kabar Harian Jogja Bulan Agustus Tahun

2012.

  Penelitian yang dilakukan oleh Anggitasari menemukan sepuluh konjungsi

  yang dan

  yang sering digunakan dalam tajuk Harian Jogja. Konjungsi ada 36,2%,

  

hanya adalah hingga sehingga

  ada 18,31%, ada 3,82%, ada 3,42%, / ada 2,92%,

  bahkan karena

  ada 2,51%, dan ada 2,31%. Selain itu, peneliti juga menemukan 36 kesalahan penggunaan konjungsi. Kesalahan itu adalah 11 kesalahan penggunaan

  tapi/tetapi, dan,

  konjungsi 6 kesalahan penggunaan konjungsi 5 kesalahan

  jika/jikalau

  penggunaan kongjungsi , 5 kesalahan pada penggunaan kongjungsi

  yang sedangkan

  , 4 kesalahan pada pemakaian konjungsi , 3 kesalahan pada

  namun bahkan pemakaian konjungsi , dan 2 kesalahan penggunaan konjungsi .

  Penelitian relevan yang lain dilakukan oleh Yanuarti (2012) bertujuan

  2011/2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 38 karangan terbagi menjadi 827 kalimat yang belum disusun secara teratur dan efektif. Kesalahan penggunaan preposisi dan konjungsi pada karangan siswa kelas X SMA 1 Mojotengah

  di- ke-

  Wonosobo meliputi kesalahan preposisi dan yang sering salah penulisan

  di- ke-

  dengan afiksasi dan , dan kesalahan memilih preposisi dalam membentuk kalimat. Selain itu, terjadi kesalahan penggunaan konjungsi yaitu penggunaan konjungsi yang berlebihan sehingga menyebabkan ketidakefisien, penggunaan konjungsi di awal kalimat, sedangkan penyebab terjadinya kesalahan kalimat adalah ketidaktelitian siswa tentang kaidah penulisan kata, kaidah pemakaian tanda baca, dan faktor kosakata siswa yang belum cukup banyak.

  Kedua penelitian di atas relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Penelitian tentang konjungtor masih layak dilakukan karena kesalahan penggunaan konjungsi masih terus terjadi dan harus dikaji terus-menerus. Kesalahan penggunaan konjungtor pada skripsi mahasiswa masih banyak dijumpai, padahal skripsi merupakan karya ilmiah.

  Peneliti akan meneliti penggunaan konjungtor dan kesalahan penggunaan konjungtor pada kripsi khususnya pada latar belakang skripsi. Penelitian ini tidak hanya menggambarkan kesalahan, tetapi juga memberikan pembenaran. Selain itu, penelitian ini memiliki kelebihan, pertama penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan penggunaan konjungtor dan memperlihatkan frekuensi penggunaannya, tetapi juga menjelaskan frekuensi penggunaan konjungtor yang

  Kelebihan yang kedua, penelitian ini akan membahas penggunaan konjungtor pada 15 latar belakang skripsi Pendidikan Agama Katolik lulusan tahun 2015 angkatan 2010. Peneliti memilih latar belakang skripsi sebagai sumber data supaya berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.

2.2 Kajian teori

  Pada bagian kajian teori diuraikan kerangka teori yang akan digunakan sebagai pedoman dalam menjawah permasalahan dalam penelitian ini. Hal tersebut meliputi konjungtor, pengertian konjungtor, konjungtor dan preposisi, jenis-jenis konjungtor, tugas konjungsi, hubungan koordinasi dan subordinasi, hubungan atributif, kesalahan berbahasa, kesalahan dan kekeliruan, kesalahan penggunaan konjungtor, dan taksonomi siasat permukaan serta kerangka berpikir.

2.2.1 Konjungtor

  Konjungtor berperan penting dalam membantu pembaca memahami kalimat dalam suatu wacana. Berkaitan dengan itu, pengertian konjungtor dibahas oleh banyak sumber.

2.2.1.1 Pengertian Konjungtor

  Konjungtor merupakan kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Alwi, dkk. 2010:301). Alwi, dkk. menyebut konjungsi dengan istilah konjungtor. Ramlan (2008: 39) menyebut istilah konjungsi atau konjungtor dengan kata penghubung, yaitu kata yang berfungsi menghubungkan dua satuan kebahasaan yang memang sejajar atau sederajat (Rahardi, 2009: 14). Selain itu, Chaer (2011: 140) mengatakan bahwa konjungsi merupakan kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat.

  Berdasarkan pendapat ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa konjungtor adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat, kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat. Penelitian ini mengikuti pendapat yang diungkapkan oleh Alwi, dkk. seperti pada definisi istilah. Penelitian ini menggunakan istilah konjungtor untuk menyebut konjungsi seperti pendapat Alwi.

  Di dalam suatu kata, frasa, klausa, dan kalimat bisa terhubung jika ada suatu hal yang menjadi penanda hubung atau konjungsi. Di bawah ini diberikan contoh hubungan tersebut.

  atau

  a. merah yang akan kamu suka?

  Hijau dan b. Jono yang ganteng.

  Anita yang cantik agar c. Bimo mencetak gol.

  Bimo menendang bola Oleh karena itu d.

  , saya sering Yogyakarta bisa menjadi alternatif liburan. berlibur ke Yogyakarta.

  Kalimat di atas memberikan gambaran adanya konjungtor yang menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan

  atau

  kalimat dengan kalimat. Kata pengubung pada kalimat a menghubungkan

  hijau merah dan

  kata dengan kata . Konjungtor pada kalimat b menghubungkan frasa Anita yang cantik dengan frasa Adven yang ganteng. Konjungtor agar pada menghubungkan kalimat Yogyakarta bisa menjadi alternatif liburan dengan saya sering berlibur ke Yogyakarta. kalimat

2.2.1.2 Konjungtor dan Preposisi

  Konjungtor sering sulit dibedakan dengan preposisi atau kata depan. Jika dilihat secara sekilas, konjungsi dan preposisi sering sulit untuk dibedakan.

  Preposisi selalu diikuti oleh kata/frasa, sedangkan konjungtor diikuti oleh klausa, khususnya kata penghubung (konjungsi atau konjungtor yang tidak setara (Ramlan, 2008: 63). Alwi, dkk (2010:302) mengatakan bahwa ada bentuk yang hanya berfungsi sebagai preposisi, ada bentuk yang hanya berfungsi sebagai konjungtor, dan ada juga bentuk yang dapat berfungsi baik sebagai preposisi maupun sebagai konjungtor.

  Perhatikan contoh berikut ini.

  karena a. masalah keuangan.

  Dia tidak kuliah b. sejak bulan Agustus.

  Aminah suah tinggal di sini setelah

  c. pukul 14.00

  Kami boleh menemui dia karena d. uangnya habis.

  Dia tidak kuliah

sejak

e. dia berumur dua puluh tahun.

  Aminah sudah tinggal di sini setelah f. dia salat Jumat.

  Kami boleh menemui dia

karena, sejak, setelah

  Jika diperhatikan, dan pada kalimat a, b, dan c

  karena, sejak, setelah

  berperan sebagai preposisi. Jika diperhatikan, dan pada kalimat d, e, dan f berperan sebagai konjungsi atau konungtor.

Bagan 2.1 Preposisi dan Konjungtor

  Preposisi dan Preposisi Konjungtor Konjungtor

  

Karena

Meskipun

  di

  sesudah kalau

  ke

  sejak walaupun

  dari

  

sebelum

sedangkan

  pada ... bagi ...

2.2.1.3 Jenis-Jenis Konjungtor

  Berbagai ahli bahasa Indonesia mengungkapkan jenis konjungtor. Chaer (2011: 140-141) membedakan konjungtor menjadi dua, yaitu konjungtor yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang kedudukannya sederajat atau setara dan konjungtor yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya tidak sederajat. Konjungsi dibagi menjadi dua, yaitu konjungsi intra-kalimat dan konjungsi ekstra-kalimat (Kridalaksana 2008: 102 —103). Alwi, dkk. (2010:301) membagi konjungtor menjadi empat kelompok berdasarkan perilaku sintaksisnya di dalam kalimat, yaitu konjungtor koordinatif, konjungtor korelatif, konjungtor subordinatif, dan konjungtor antarkalimat.

1) Konjungtor Koordinatif

  Chaer (2014:115) konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang Konjungsi koordinatif atau konjungtor koordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Adapun yang dimaksud

  

“sama” adalah sama antara kata dan kata, antara frasa dan frasa, antara klausa

  dan klausa, dan seterusnya. Konjungsi koordinatif dalam bahasa Indonesia meliputi dan, serta, atau, tetapi, melainkan, padahal, dan sedangkan . Berikut contoh konjungsi koordinatif di dalam kalimat. (1) dan sebagai penanda hubungan penambahan atau

  Konjungtor koordinatif penjumlahan. dan Contoh: a. Dia menangis istrinya pun tersedu-sedu.

  b. dan adik saya.

  Dia mencari saya (2) serta sebagai penanda hubungan pendampingan. Konjungsi koordinatif serta Contoh: a. Suami istri.

serta

b. kertas.

  Dia mencari pensil

  (3) atau sebagai penanda hubungan pemilihan

  Konjungsi koordinatif atau

  `Contoh: a. Saya kamu yang akan menjemput Ibu?

  atau

  b. Aku membeli roti kamu mencuci piring? (4) tetapi sebagai penanda hubungan perlawanan

  Konjungsi koordinatif tetapi Contoh: a. Bimo mendengar radio, Bella mendengar MP3. tetapi b. Sebenarnya anak itu pandai, malas.

  (5) melainkan sebagai penandan hubungan perlawanan

  Konjungsi koordinatif melainkan Contoh: a. Saya tidak menjadi notulis, menjadi moderator. melainkan b. Bukan kota Jakarta, kota Yogyakarta.

  sedangkan

  (7) sebagai penanda hubungan pertentangan

  Konjungsi koordinatif sedangkan Contoh: a. Ibu sedang memasak, Ayah membaca koran.

  b. Anita mengepel, sedangkan Ani tidur. Selain jenis konjungtor koordinatif dari Alwi, dkk. ada juga jenis kata

  

penghubung setara dari Ramlan yang menandai pertalian semantik ‘perurutan’,

yaitu kemudian dan lalu. kemudian a.

  mengenakan

  Aku mandi dengan air dingin dan bercukur, pakaian seragam.

  b.

  lalu keluar.

  Seperti tidak terjadi sesuatu pun, aku menyelami mereka, atau juga mempunyai makna

  Di samping makna ‘pemilihan’, konjungtor atau

  

‘penambahan’. Untuk makna penambahan seperti itu, konjuntor pada

  umumnya dipakai bila makna kalimatnya berkaitan dengan hal-hal yang kurang

  pun atau

  baik. dalam hal itu partikel dapat ditambahkan pada konjungtor ataupun. sehinggga menjadi Perhatikan contoh-contoh berikut.

  a. atau(pun) tidak jujur akan ditindak.

  Karyawan yang malas atau(pun) b.

  yang melakukan pungli akan

  Polisi yang melailaikan tugas dipecat. atau(pun) c.

  meludah di dalam bus!

  Penumpang dilarang merokok

  Pada kalimat a yang akan ditindak tidak hanya karyawan yang malas saja, tetapi juga yang tidak jujur. Demikian pula pada b yang akan dipecat adalah polisi yang melailaikan tugas maupun yang melakukan pungli. Pada c baik merokok maupun meludah di dalam bus tidak diperkenankan.

  Konjungtor koordinatif menandai klausa yang dihubungkan secara koordinasi.

  Perhatikan contoh di bawah ini.

  Apabila klausa yang diawali konjungtor koordinatif diubah posisinya, perubahan itu akan mengakibatkan kalimat-kalimat tersebut tidak berterima.

  Para peserta membuat kerangka karangan dan setelah itu

  c.

  Terdakwa itu tidak menunjukkan penyesalannya dan malah mengancam hakim yang memimpin sidang.

  b.

  Sidang mempertimbangkan usul salah seorang peserta dan kemudian menerimanya dengan suara bulat.

  a.

  c. * Atau menjual rumah Saudara, Saudara harus meminjam uang dari Bank. Sebuah koordinator dapat didahului oleh koordinator lain untuk memperjelas atau mempertegas hubungan antara kedua klausa yang digabungkan. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini.

  hampir-hampir menjadikannya tokoh legendaris, anak itu hanya tiga tahun mengenal neneknya.

  b. *Tetapi

  a. * dan mayatnya dibuang begitu saja, dalam pengusngsian itu saya melihat orang ditembak.

  Saudara harus meminjam uang dari Bank atau menjual rumah Saudara.

  a.

  c.

  hampir-hampir menjadikannya tokoh legendaris.

  Anak itu hanya tiga tahun mengenal neneknya, tetapi

  b.

  Dalam pengungsian itu saya melihat orang ditembak dan mayatnya dibuang begitu saja.

  a.

  Selain itu, pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh konjungtor koordinatif tidak dapat diubah. Jika posisi klausa diubah, akan muncul kalimat majemuk setara yang tidak berterima. Perhatikan contoh di bawah ini.

  serta maksud kedatangannya.

  tidak mengetahui tujuan

  Saya mengetahui kedatangannya, tetapi

  menyusun kalimat utama.

  peristiwa sebelumnya. Pengunaan koordinator malah sesudah dan pada kalimat b untuk lebih menekankan hubungan klausa yang menunjukkan penguatan atau penegasan dari klausa sebelumnya.

  2) Konjungtor Korelatif

  Konjungtor korelatif berbeda dengan konjungsi koordinatif. Konjungtor korelatif harus hadir berpasangan atau berkorelasi. Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:304). Pasangan konjungtor korelatif tidak terlalu banyak dan siapapun tidak boleh mengubah pasangan konjungtor korelatif yang tidak sesuai dengan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bentuk konjungsi ini terbelah, maksudnya unsur yang satu dipisahkan oleh salah satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan (Muslich, 2014: 115). Korelatif berarti mempunyai hubungan timbal balik (KBBI, 2008: 734). Hubungan timbal balik

  baik maupun. Baik

  dapat dilihat seperti contoh, selalu disandingkan dengan Andre

  maupun baik maupun

  Sule memberikan lawakan yang bermutu. Jika kata ataupun diilangkan, tidak ada lagi hubungan timbal balik. Oleh karena itu, bentuk konjungsi korelatif harus ditulis lengkap saat digunakan di dalam karya ilimiah, khususnya latar belakang skripsi. Macam-macam konjungtor korelatif adalah

  

baik ... maupun, tidak hanya ... tetapi juga, bukan hanya ... melainkan juga,

demikian ... sehingga, sedemikian rupa ... sehingga, apa(kah) ... atau, entah

...entah, jangankan ..., ... pun . Di bawah ini contoh-contoh penggunaan

  (1)

  

bukan hanya

  Contoh:

  Konjungtor korelatif sedemikian rupa ... sehingga sebagai penanda hubungan akibat.

  sangau sulit untuk dikejar. (5)

  sehingga

  cepat,

  demikian

  a. Mobil itu larinya demikian cepat, sehingga sangat sukar untuk dipotret. b.Cristiano Ronaldo larinya

  akibat Contoh:

  Konjungtor korelatif demikian ... sehingga ... sebagai penanda hubungan

  (4)

  melainkan juga pacarku.

  temanku,

  sebagai penanda hubungan perlawanan Contoh: a. Banjir bukan hanya membuat kerugian materi, melainkan juga merusak lingkungan. b.Gadis berkacamata itu

  Konjungtor korelatif baik ... maupun ... sebagai penanda hubungan

  Konjungtor korelatif bukan hanya ... melainkan juga ...

  b.Universitas Sanata Dharma tidak hanya terkenal, tetapi juga rindang. (3)

  tetapi juga dermawan.

  ramah,

  tidak hanya

  perlawanan Contoh: a. Pak Ngadi

  Konjungtor korelatif tidak hanya ... tetapi juga ... sebagai penanda

  Paingan merupakan lokasi Universitas Sanata Dharma. (2)

  maupun

  Mrican

  Baik

  b.

  kesetaraan Contoh: a. Baik mas Bimo maupun orangtuanya sudah pernah ke Singapore.

  a. Persiapan panitia Pekan Bahasa 2015 harus dipersiapkan sedemikian rupa, sehingga hasilnya diharapkan bisa maksimal.

  (6) apa(kah) ... atau ... sebagai penanda pemilihan

  Konjungtor korelatif Apa(kah) atau

  Contoh: a. Anda setuju tidak, kami tetap berangkat.

  Apa(kah) atau b. putih hitam, aku tetap akan membeli mobil.

  (7) entah ... entah ... sebagai pemilihan

  Konjungtor korelatif Entah entah

  Contoh:

  a. diterima ditolak, aku tetap akan meyatakan perasaan.

  b. Entah merah entah putih, aku tetap akan membeli Toyota Fortuner.

  jangankan ..., ... pun ...

  (8) sebagai penanda pertentangan

  Konjungtor korelatif

  Contoh:

  a. Jangankan Semarang pun dia

  —Jogja, Semarang—Batam tetap akan berangkat.

  b. Jangankan membuat tugas, berangkat kuliah pun dia jarang.

  3) Konjungtor subordinatif

  Konjungsi Subordinatif menghubungkan dua buah satuan bahasa secara tidak sederajat (Chaer, 2011: 103). Salah satu satuan bahasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari satuan bahasa yang lain. Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:305). Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Jadi, peneliti menyimpulkan bahwa konjungsi subordinatif menghubungkan klausa dengan klausa yang tidak sederajat bukan menghubungkan kalimat dengan kalimat. Konjungsi subordinatif biasanya digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat yang terdapat induk kalimat dan anak kalimat. Konjungsi subordinatif menghubungkan klausa dengan klausa yang

  (1)

  sejak, Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan waktu: semenjak, sedari, sewaktu, ketika, tatkala, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi, setelah, sesudah, sebelum, sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai Ketika

  Contoh: a. paman datang ke rumah, saya sedang tidur.

  b. Bayu belum tidur hingga bapaknya pulang. (2)

  jika, kalau, Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan syarat: jikalau, asal(kan), bila, manakala

  Contoh:

  a. Jika Elia mengacau di rumah, sepedanya akan dijual kepada Ezebel.

  b. Kamu akan ditilang polisi, bila kamu melanggar marka. (3)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan pengandaian: andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya

  Contoh: a. Andaikan saya punya sayap, saya akan terbang ke rumahmu.

  seandainya

  b. Keadaan Dita akan berbeda, Ibunya datang lebih awal.

  agar, supaya,

  (4)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan tujuan: biar Agar

  Contoh:

  a. perutusan dan tugasnya berjalan dengan lancar, guru agama Katolik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan.

  b. Arinta sedang belajar dengan rajin di kamar supaya arinta meraih peringkat satu.

  untuk.

  Hubungan tujuan juga dapat ditandai dengan subordinator Contoh: Anggota DPR itu pergi ke daerah malapetaka untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas.

  (5)

  biarpun, Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan konsesif: meski, meskipun, walau, walaupun, sekalipun, sungguhpun, kendati, kendatipun Meskipun

  Contoh: a. Juna juara satu di kelas, dia tidak sombong.

  walaupun

  b. Aku tetap berangkat ke Jakarta Arinta ikut bersamaku. (6)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan pembandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti seolah-olah

  Contoh: a. Dia terlihat sombong dialah yang paling tahu.

  b. Jono melihat film dengan kacamata 3 dimensi seperti Jono merasa akan ditabrak paus di dalam film itu. (7)

  sebab, karena, Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan sebab: oleh karena, oleh sebab

  Contoh: a. Saya terlambat karena ban mobil mengalami kebocoran.

  b. Arinta dihukum Pak Joko sebab dia tidak mengerjakan PR

  sehingga,

  (8)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan hasil; sampai, sampai-sampai, maka, makanya

  Contoh: a. Ari tidak mengerjakan PR, maka dia dihukum Pak Joko.

  sampai-sampai

  b. Catur sangat mencintai Gladis dia tidak rela berpisah.

  dengan, tanpa

  (9)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan alat: Contoh: a. Saya menggambar wajahmu dengan menggunakan pensil. tanpa b. Saya tidak dapat membuat skripsi meminjam laptopmu. dengan, tanpa

  (10)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan cara:

  Contoh: a. Saya bisa membuat warna abu-abu dengan menggabungkan warna hitam dan putih.

  tanpa b. Anda tidak akan bisa pergi membawa uang.

  (11)

  

Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan komplementasi:

bahwa

  Contoh: a. Pembahasan skripsi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan Katolik di SMP Santo Paulus Jakarta sudaH cukup baik.

  bahwa

  b. Hal ini menunjukkan spiritualitas pelayanan dan persaudaraan mereka sungguh teruji.

  yang

  (12)

  Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan atributif:

  Contoh: a. Abel menyambar laptopku yang memuat semua data untuk bahan penelitian Effendi, dkk (2015: 316).

  yang b. Tina termasuk salah seorang menerima dana penelitian.

  Effendi, dkk (2015: 316).

  c. Buku yang baru terbit itu menarik (Effendi 1995, 55).

  yang

  Konjungsi digunakan untuk menghubungkan subjek dengan keterangannya atau objek dengan keterangannya (Chaer, 1990:101).

  (13) Konjungtor subordinatif yang menunjukkan hubungan perbandingan: sama

  ... dengan, lebih ... dari, lebih ... daripada daripada

  Contoh: a. Konkretnya pendidik (guru) dituntut lebih dewasa siswa.

  Penggunaan konjungtor subordinatif seringkali menimbulkan klausa yang dangling clause. menggantung atau Klausa yang menggantung terjadi jika anak kalimat berdiri tanpa ada induk kalimat yang mendampingi. Klausa yang

  dangling clause

  menggantung atau bisa terjadi karena anak kalimat pada kalimat majemuk tidak memiliki induk kalimat, tetapi berdiri sendiri (Rahardi, 2009:24).

  Kalimat majemuk bertingkat dalam bahasa Indonesia terdiri atas dua klausa atau lebih yang dihubungkan oleh konjungtor, yaitu salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. antaranya merupakan bagian dari klausa yang lain (Alwi, dkk. 2010: 405 —407). Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk. Perhatikan kalimat di bawah ini.

  karena a.

  ternyata

  Ketua partai itu tetap menyatakan kebanggaannya

  partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih

  setelah suara itu dihitung ulang.

  Selain itu, pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Perhatikan kalimat di bawah ini.

  a. selama hayat dikandung badan.

  Para pejuang itu pantang menyerah b. walaupun perusahaannya

  Pengusaha itu harus membayar pajak mengalami kerugian.

  c. sebelum atasan kita mengambil putusan.

  Kita jangan bertindakan Urutan klausa dalam contoh kalimat di atas dapat diubah seperti di bawah ini.

  Selama d. hayat dikandung badan, para pejuang itu pantang menyerah.

  e. Walaupun perusahaannya mengalami kerugian, pengusaha itu harus membayar pajak.

  f. Sebelum atasan kita mengambil putusan, kita jangan bertindakan. Pemakaian tanda baca koma dalam bahasa tulis atau jeda panjang dalam bahasa lisan yang diletakkan di antara klausa yang berawal dengan subordinator dan klausa utama seperti pada kalimat d, e, dan f bersifat wajib.

4) Konjungtor Antarkalimat

  Konjungsi antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat kalimat yang lain (Alwi, dkk. 2010:305). Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja.

  Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Peneliti menegaskan bahwa kata penghubung atau konjungsi atau konjungtor antarkalimat harus berada pada kalimat yang berbeda atau pada kalimat baru dan harus menghubungkan kalimat dengan kalimat. Seperti pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Senada dengan pendapat Alwi, dkk, . Muslich (2014: 115) mengatakan bahwa konjungsi antarkalimat selalu mengawali kalimat yang dihubungkan. Tentu saja, ia ditulis dengan huruf kapital. Berikut ini contoh penggunaan konjungtor antarkalimat dalam Bahasa Indonesia.

  (1)

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan pertentangan dengan yang

  dinyatakan pada kalimat sebelumnya. Anggota konjungtor ini: biarpun

  demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu/ sunggguhpun/begitu.

  Meskipun begitu , Contoh: a. Jakarta telah membangun banyak jalan baru.

  Jakarta masih dilanda kemacetan.

  Sekalipun demikian ,

  b. Joni mendapat juara 1 di kelasnya. dia tidak sombong. (2)

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan dari peristiwa atau keadaan pada kemudian, sesudah itu, setelah

  kalimat sebelumnya. Anggota konjungtor ini: itu, selanjutnya.

  (3)

  Konjungsi antarkalimat yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau

  keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya. Anggota konjungtor ini: tambahan pula, lagi pula, selain itu.

  Contoh: a. Yesus sebagai Guru utama para guru akan diteladani dalam

  Selain itu ,

  segala karya-Nya. guru terus mengembangkan inspirasi dalam pelayanan khususnya kepada para murid.

  b. Kami tidak akan berangkat dengan cuaca seperti ini. Lagi pula kami mulai kehabisan bahan bakar. (4)

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya. Anggota konjungtor ini: sebaliknya.

  ,

  Contoh: a.Jakarta mempunyai Monumen Nasional. Sebaliknya Yogyakarta mempunyai Tugu Jogja.

  Sebaliknya ,

  b. Anaknya pergi kuliah mengendarai mobil. orang tuanya justru mengendari sepeda motor saja. (5)

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan keadaan sebenarnya. Anggota sesungguhnya, bahwasanya.

  konjungtor ini:

  Sesungguhnya ,

  Contoh: a. Dia memang tidak banyak omong. dia adalah siswa yang cerdas.

  ,

  b. Bapak X memang terkenal cerewet. Bahwasanya beliau orang yang lumayan bijaksana. (6)

  Konjungtor antarkalimat yang menguatkan keadaan sebelumnya. Anggota konjungtor ini: malah(an), bahkan.

  Bahkan ,

  Contoh: a. Bayu masih mempunyai utang kepadaku. kemarin siang dia meminjam uang lagi kepadaku sebesar Rp50.000,00.

  b. Kakakku meraih nilai Ujian Nasional tertinggi se-kabupaten.

  Malahan , dia memperoleh beasiswa penuh untuk kuliah di suatu universitas.

  (7) Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya.

  (akan) tetapi, namun.

  Anggota konjungtor ini:

  (8)

  b. Indeks prestasi kumulatif saya tidak pernah kurang dari 3,55.

  kata penghubung

  b. Rabu kemarin, saya ditawari beasiswa oleh lembaga X. Sebelum itu , saya ditawari beasiswa oleh Pak Joko untuk 3 tahun kuliah. Alwi membagi jenis konjungsi atau konjungtor menjadi empat. Namun, berdasarkan sifat hubungannya, Ramlan (2008: 39-62). Mengatakan bahwa

  dia juga memperoleh medali emas pada kompetisi tingkat ASEAN.

  Sebelum itu,

  Contoh: a. Taufik Hidayat memperoleh medali emas pada kompetisi tingkat Asia.

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya. Anggota konjungtor ini: sebelum itu.

  (11)

  Oleh sebab itu , saya selalu mendapatkan beasiswa setiap tahun.

  Contoh: a. Ramdani mengalami cedera lutut kanan. Oleh karena itu , dia tidak bisa mengikuti pertandingan minggu depan.

  Konjungsi yang menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan. Anggota

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan akibat. Anggota konjungtor ini: oleh karena itu, oleh sebab itu.

  (10)

  Dengan demikian , minggu depan saya mendaftar ujian pendadaran skripsi.

  b. Pak Joko mengatakan bahwa skripsi saya telah benar.

  demikian , kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

  Contoh: a. Kebakaran kemarin malam meratakan bangunan pasar. Dengan

  Konjungtor antarkalimat yang menyatakan konsekuensi. Anggota konjungtor ini: dengan demikian.

  konjungtor ini: kecuali itu. Contoh: a. Gagal panen padi pada tahun 2015 disebabkan oleh air yang kurang, pupuk yang kurang, dan tanah semakin kering. Kecuali itu , hama tikus yang merajalela menjadi salah satu penyebab. (9)

  dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kata penghubung yang setara atau koordinatif dan kata penghubung yang tidak setara atau subordinatif. menghubungkan klausa atau kalimat yang tidak setara, maksudnya menghubungkan klausa inti dengan klausa bawahan, atau menghubungkan induk kalimat dengan anak kalimat. Kedua jenis konjungsi dapat dillihat secara terperinci di bawah ini.

  Berdasarkan hubungan semantik yang ditandainya, kata penghubung setara dapat dibagi menjadi 5 golongan.

  (1) Kata penghubung setara yang menandai pertalian semantik “Penjumlahan”.

  Contoh kata penghubung ini adalah dan, lagi pula, serta. (2)

  Kata penghubung setara yang menandai pertalian semantik “Pemilihan”, kata

  penghubung ini digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang dipilih. Contoh kata penghuung ini adalah atau.

  (3)

  Kata penghubung setara yang menandai pertalian semantik “Perurutan”, kata

  penghubung ini digunakan untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi secara kemudian, lalu. berurutan. Contoh kata penghubung ini adalah

  (4)

  Kata penghubung setara yang menandai pertalian semantik “Lebih”, maksud

  kata penghubung ini adalah sesuatu yang dinyatakan pada anak kalimat melebihi sesuatu yang dinyatakan pada induk kalimat. contoh kata penghubung

  bahkan.

  ini adalah (5)

  Kata penghubung setara yang menandai pertalian semantik “Perlawanan”, maksud dari “perlawanan adalah sesuatu yang dinyatakan pada satu klausa

  bertentangan atau berlawanan dengan apa yang dinyatakan pada klausa yang Selanjutnya, kata penghubung tidak setara atau disebut juga kata penghubung yang subordinatif dapat dilihat secara terperinci di bawah ini.

  (1)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Waktu”

  menjelaskan waktu terjadinya suatu peristiwa. Contoh kata penghubung ini

  ketika, tatkala, setiap, setiap kali, sebelum, sesudah, setelah, sejak,

  adalah semenjak, hingga.

  (2)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Perbandingan”, kata penghubung ini digunakan untuk membandingkan dua lebih

  hal atau lebih yang disertai kata pada induk kalimat. contoh kata daripada ... lebih. penghubung ini adalah

  (3)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Sebab”

  digunakan untuk menjelaskan sebab terjadinya suatu peristiwa. Contoh kata sebab, karena. penghubung ini adalah

  (4)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik”Akibat”

  digunakan untuk menjelaskan akibat dari suatu peristiwa yang terjadi. Contoh kata penghubung ini adalah sehingga.

  (5)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Syarat”

  digunkan untuk menjelaskan syarat terjadinya suatu peristiwa atau syarat untuk melakukan suatu hal atau perbuatan. Contoh kata penghubung ini

  jika, jikalau, kalau, apabila, bila.

  adalah (6)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik

  (7) Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Penerang”.

  yang.

  Contoh kata penghubung ini adalah Unsur kalimat di belakang kata

  yang digunakan untuk memberikan keterangan bagi unsur kalimat di depan yang.

  kata (8)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Isi”digu8nakan untuk menjelaskan isi dari suatu hal (peristiwa, tindakan). bahwa.

  Contoh kata penghubung ini adalah (9)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Perlawanan” digunakan untuk menjelaskan adanya perlawanan. Apa yang

  dinyatakan pada induk kalimat berlawanan dengan yang dinyatakan pada anak kalimat. Contoh kata penghubung ini adalah meskipun, walaupun.

  (10)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Pengandaian” digunakan untuk menjelaskan pengandaian. Contoh kata

seandainya, andaikata

  penghubung ini adalah . Ada bentuk lain seperti

  sekiranya, seumpama, andaikan

  dan , tetapi tidak lazim digunakan di dalam karya ilmiah seperti pada latar belakang skripsi.

  (11)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Penjumlahan” menjelaskan jumlah atau kuantitas sesuatu. Contoh kata selain, di samping penghubung ini adalah .

  (12)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Perkecualian” digunakan untuk menjelaskan adanya perkecualian untuk

  (13)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Cara”

  digunakan untuk menjelaskan bagaimana melakukan sesuatu dan bagaimana peristiwa bisa terjadi.Contoh kata penghubung ini adalah dengan, sambil,

  tanpa.

  (14)

  Kata penghubung tidak setara yang menandai pertalian semantik “Kegunaan”

  digunakan untuk menjelaskan kegunaan atau manfaat dari sesuatu. Contoh untuk. kata penghubung ini adalah

  Jenis konjungsi yang setara dan yang tidak setara di atas dapat digunakan di dalam wacana resmi atau wacana formal. Penggunaan konjungsi atau kata penghubung tersebut dapat membantu terbentuknya suatu kalimat atau wacana yang mudah dimengerti dan mempunyai gagasan. Karena kata penghubung mempunyai peranan penting dalam sebuah wacana. Jika sebuah wacana menggunakan kata penghubung yang tidak sesuai dengan kaidah, hal itu dapat menurunkan kualitas suatu wacana.

2.2.1.4 Tugas Konjungsi

  Kridalaksana (2008: 104 —105) membagi tugas konjungsi menjadi 18. Sesuai dengan makna satuan-satuan yang dihubungkan oleh konjungsi, konjungsi (konjungtor) dapat dibedakan tugas-tugas konjungsi. Kedelapan belas fungsi konjungsi m sebagai m berikut.

  dan, selain, tambahan lagi,bahkan

  1) ;

  Penambahan, misalnya

  2) lalu, lantas,kemudian ;

  Urutan, misalnya tetapi, hanya, sebaliknya;

  5)

  Perlawanan, misalnya ketika, setelah itu;

  6)

  Temporal, misalnya

  7) sebagaimana, seolah-olah;

  Perbandingan, karena, lantaran;

  8)

  Sebab, misalnya

  9) sehingga, sampai-sampai;

  Akibat, misalnya jikalau, asalkan;

  10)

  Syarat, misalnya meskipun, biarpun;

  11)

  Tak bersyarat, misalnya

  12) andai kata, sekiranya, seumpama;

  Pengandaian, misalnya agar, supaya, biar;

  13)

  Harapan, misalnya

  14) yang, di mana;

  Perluasan, misalnya bahwa, yang;

  15)

  Pengantar Objek, sambil, seraya

  16)

  Cara, misalnya

  17) kecuali; selain;

  Perkecualian, misalnya sebermula adapun maka 18) , , dan .

  Pengantar Wacana, misalnya

2.2.2 Hubungan Koordinasi dan Subordinasi Bagian ini memaparkan hubungan antarklausa secara koordinasi dan subordinasi.

2.2.2.1Hubungan Koordinasi

  Koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat. hubungan antara klausa-klausanya tidak menyangkut satuan yang membentuk hierarki lain (klausa yang satu bukanlah bagian dari klausa yang lain.). Bagan di bawah ini memperlihatkan bahwa konjungtor tidak termasuk dalam klausa mana pun, tetapi merupakan konstituen (bagian penting) tersendiri.

Bagan 2.2 Hubungan AntarKlausa secara Koordinasi

  Kalimat Klausa Klausa Contoh hubungan koordinasi di dalam kalimat.

  a.

  Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan b.

  Mereka memberi penghuninya hadiah c. dan mereka

  Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan memberi penghuninya hadiah.

  Klausa pada a dan b digabungkan dengan cara koordinasi sehingga membentuk kalimat majemuk setara (c). Oleh karena klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara koordinasi mempunyai kedudukan setara atau sama, klausa-klausa itu semuanya merupakan klausa utama. Di bawah ini bagan pembentukan kalimat c.

Bagan 2.3 Pembentukan Kalimat Majemuk Setara

  S P O S P O Pel Pengurus meng- panti mereka mem- peng- hadiah

Dharwa unjungi asuhan dan beri huni-

Wanita nya

  Subordinasi menggabungkan dua klaua atau lebih sehingga terbukti kalimat majemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi klausa-klausanya dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinasi itu tidak mempunyai kedudukan yang setara karena ada klausa yang berfungsi sebagai konstituen atau bagian klausa yang lain. Klausa-klausa itu bersifat hierarkis (Alwi, dkk. 2010: 398). Contoh kalimat dengan penggabungan klausa subordinatif.

  a.

  Orang tua itu mengatakan (sesuatu) b.

  Anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati c. Orang tua itu mengatakan bahwa anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

  Klausa a dan b digabungkan dengan cara subordnatif sehingga terbentuk

  Kalimat Klausa Utama Konjungtor Klausa Utama

2.2.2.2 Hubungan Subordinasi

Bagan 2.4 Hubungan Antarkalusa secara Subordinasi

  Kalimat Klausa 1 Klausa 2

  Alwi, dkk. (2010: 399) mengatakan bahwa pada bagan di atas dapat dilihat bahwa Klausa 2 berkedudukan sebagai konstituen atau bagian dari Klausa 1.

  Klausa 2 disebut klausa subordinatif dan klausa 1 disebut klausa utama. Pembentukan kalimat majemuk bertingkat (1c) dapat dijelaskan pada bagan berikut.

Bagan 2.5 Pembentukan Kalimat Majemuk Bertingkat

  Kalimat 1c Klausa Utama Klausa subordinasi Orang tua itu mengatakan

  Konjungtor S P O Ket

  bahwa anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati orang tua itu mengatakan

  Pada bagan itu dapat dilihat bahwa klausa utama

  anak gadisnya mencintai pemuda itu

  digabung dengan klausa subordinatif

  Kalimat majemuk bertingkat dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan K) dengan klausa (Alwi, dkk. , 2010: 401). Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Perhatikan kalimat- kalimat berikut.

  a. yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

  Paman saya b. yang mengajar di beberapa sekolah .

  Paman saya guru, yang

  c. mengisahkan perjuangan Pangeran

  Saya membaca buku Diponegoro. yang d.

  

Pemerintah membangun jalan raya di daerah transmigrasi

menampung transmigran dari Jawa dan Bali. yang

  Dalam kalimat a fungsi S (paman saya) diperluas dengan klausa tinggal di Bogor.

  yang

  Dalam kalimat b fungsi P diperluas dengan klausa

  

mengajar di beberapa sekolah. Dalam kalimat c fungsi O diperluas dengan klausa

yang mengisahkan perjuangan Pangeran Diponegoro.

  Dalam kalimat d fungsi keterangan diperluas dengan klausa yang menampung transmigran dari Jawa dan

  Bali. yang

  Klausa perluasan dengan yang disematkan dalam klausa utama disebut

  klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaksis tertentu.

  Selain itu, Putrayasa (2012: 71) memberikan contoh perluasan kalimat majemuk,

yaitu “Perhiasan yang dipakai oleh Aminah setiap hari raya digadaikan baru saja”.

  Fungsi S (perhiasan) diperluas dengan klausa relatif yang dipakai oleh Aminah

  setiap hari raya .

  Dalam makalah Mulyono (2001) kalimat-kalimat di bawah ini merupakan contoh penggunaan konjungsi yang yang memperlihatkan hubungan subordinatif. c.

  Paman saya tinggal di Bandung adalah seorang guru.

  d.

  Candi Borobudur terletak tidak jauh dari kota Magelang adalah candi Budha.

  Dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat di atas, maksudnya dapat dipahami, tetapi tidak lazim dan tidak benar. Maksud dari tidak lazim adalah tidak ada penutur bahasa Indonesia yang menggunakannya. Maksud dari tidak benar adalah tidak sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia. Keempat kalimat di atas merupakan kalimat majemuk yang memiliki hubungan antarklausa bersifat subordinatif. Dalam bahasa Indonesia penanda hubungan atributif satu-satunya

  yang.

  adalah Dengan demikian, keempat kalimat di atas secara gramatikal harus menggunakan yang sebagai alat perangkai klausa inti dengan klausa bawahan.

  yang

  Jika keempat kalimat di atas mengabaikan kehadiran konjungsi , kalimat di atas dirasakan tidak padu. Oleh karena itu, pembetulan keempat kalimat di atas dapat dilihat di bawah ini.

  yang a.

  diterbitkan oleh

  Saya mempunyai kamus bahasa Indonesia Gramedia.

  b. yang ditulis oleh Pak Amran sangat bagus.

  Buku bahasa Indonesia c. yang tinggal di Bandung adalah seorang guru. Paman saya yang

  d. terletak tidak jauh dari kota Magelang adalah

  Candi Borobudur candi Budha.

  Selain pendapat dari pada ahli di atas, Widjono Hs. (2008: 157) juga mengemukakan perluasan kalimat majemuk.

  Kami selalu berdiskusi tentang

  a. yang mengharapkan kedamaian di Aceh masalah ini.

  Mereka sedang mendiskusikan tugas kelompok.

  b. rajin belajar itu Pada kalimat di atas kata yang bercetak miring merupakan kalimat dasar atau yang

  yang diikuti klausa perluasan berfungsi memperluas fungsi subjek. Oleh karena itu, kedua kalimat di atas merupakan kalimat majemuk.

  Chaer (2009:170

  —171) juga memberikan penjelasan berkaitan dengan perluasan

  kalimat. Chaer menggunakan istilah klausa sisipan untuk menyebut klausa sematan. Kalimat luas dibentuk dengan menysipkan sebuah klausa pada klausa

  yang.

  lain. Penyisipan dilakukan dengan bantuan konjungsi

  yang a. sedang antre minyak tanah itu bukan kakak saya.

  Orang b.

  Kakak saya yang tinggal di Jakarta yang belum menikah dan yang

  bekerja di Departemen Keuangan tahun depan akan menunaikan ibadah haji.

  Kalimat a terdiri atas dua klausa, yaitu

  Orang sedang antre minyak tanah itu orang itu bukan kakak saya

  sebagai klausa sisipan dan sebagai klausa utama. Kalimat a dibentuk dengan klausa sisipan disisipkan pada klausa utama di antara subjek dan predikat dengan bantuan konjungsi yang.Kalimat b dibentuk dari sebuah klausa utama dan tiga klausa sisipan. Klausa utamanya adalah Kakak saya

  

tahun depan akan menunaikan ibadah haji. kakak saya

  Klausa sisipannya adalah

  

tinggal di Jakarta, kakak saya belum menikah, kakak saya bekerja di

  dan Departemen Keuangan .

2.2.3 Hubungan Atributif

  Menurut Alwi, dkk. (2010, 423) hubungan atributif ditandai oleh subordinator yang. Ada dua macam hubungan atributif, yaitu restriktif dan

  

takrestriktif. Klausa yang dihasilkan disebut “klausa relatif” dengan kedua macam

hubungan di atas.

2.2.3.1 Hubungan Atributif Restriktif

  Dalam hubungan ini, klausa relatif mewatasi atau membatasi makna dari nomina yang diterangkannya. Bila ada suatu nomina yang mendapat keterangan tambahan berupa klausa relatif restriktif, klausa itu merupakan bagian integral dari nomina yang diterangkannya. Penulisan klausa relatif restriktif tidak dibatasi oleh tanda koma, baik di muka maupun di belakanganya. Contoh hubungan atributif restriktif di dalam kalimat di bawah ini.

  a. yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

  Pamannya yang mengunggak lebih dari 35 miliar rupiah b.

  akan

  Para pedagang dicekal. yang kuliah hanya enam bulan c.

  harus

  Pemegang gelar MBA menanggalkan gelarnya. yang tinggal di

  Kalimat pertama memperlihatkan bahwa klausa relatif

  Bogor, pamannya.

  yang tidak ditulis di antara tanda koma, mewatasi makna kata Artinya, si pembicara mempunyai beberapa paman; yang meninggal kemarin adalan yang tinggal di Bogor. Kalimat kedua memperlihatkan bahwa tidak semua pedagang kena cekal; hanya yang menunggak lebih dari 35 miliar rupiah yang dicekal meninggalkan Indonesia. Kalimat ketiga memperlihatkan bahwa hanya pemegang gelar MBA yang kuliahnya sangatlah pendek yang harus menanggalkan gelarnya.

  Selain pendapat Alwi, dkk. Ramlan mengemukakan pendapat seperti alwi yang. berkaitan dengan hubungan atribut dengan penanda Ramlan (2005: 73)

  

menggunakan istilah ‘penerang’ untuk menyebut ‘atribut’. Ramlan (2005: 73)

  mengatakan bahwa ada hubungan makna penerang apabila klausa bawahan (anak kalimat) menerangkan salah satu unsur yang terdapat pada klausa inti (induk kalimat). Ramlan (2005: 74) mengatakan bahwa kata penghubung atau konjungsi yang. yang digunakan untuk menandai hubungan makna penerang adalah Di bawah ini contoh penggunaan yang pada kalimat.

  c.

  Bangunan itu terletak di bagian luar kota, berhadapan dengan gereja yang kecil loncengnya bersuara besar dan nyaring.

  d.

  yang

Di samping itu, hutan pun dihuni oleh jenis-jenis binatang liar

beraneka ragam jenisnya.

  Pada kalimat a di atas klausa loncengnya bersuara besar dan nyaring menerangkan frasa gereja kecil. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa, yaitu

  

Bangunan itu terletak di bagian luar kota berhadapan dengan

  sebagai klausa 1,

  

gereja kecil sebagai klausa 2, dan loncengnya bersuara besar dan nyaring sebagai

  klausa 3 dan sebagai penerang. Pada kalimat b di atas klausa yang ada di belakang

  yang Di samping

  kata menerangkan unsur kalimat yang ada di depannya, yaitu

  itu, hutan pun dihuni oleh jenis-jenis binatang liar

  , dan kata yang sebagai

2.2.3.2 Hubungan Atributif Takrestriktif

  Klausa subordinatif yang takrestriktif hanyalah memberikan sekadar informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, isi informasi tidak mewatasi nomina yang mendahului klausa relatif takterstriktif. Oleh karena itu, dalam penulisannya klausa ini diapit oleh tanda koma. Contoh hubungan atributif restriktif di dalam kalimat di bawah ini.

  yang tinggal di Bogor a. meninggal kemarin.

  Istri saya b. yang tinggal di Bogor , meninggal kemarin.

  Istri saya, yang tinggal di Bogor

  Pada kalimat pertama klausa relatif tidak diapit oleh tanda koma, sedangkan pada kalimat kedua diapit oleh dua tanda koma. Makna dari kedua kalimat tersebut berbeda. Kalimat pertama memperlihatkan bahwa si pembicara mempunyai lebih dari satu istri dan istri yang meninggal adalah yang tinggal di Bogor. Akan tetapi, pada kalimat yang kedua menyiratkan bahwa si

  yang tinggal di

  pembicara hanya mempunyai satu istri. Klausa relatif takrestriktif

  Bogor

  hanya sekadar memberi keterangan tambahan tempat di mana istrinya tinggal. Contoh klausa atributif restriktif dan klausa atributif takrestriktif di dalam kalimat di bawah ini.

  a. yang menyelewengkan dana Inpres, akan ditindak.

  Pegawai kami, b. yang masih kelas dua SMP, berumur 12 tahun.

  Adik saya, yang menjadi pembeli cengkeh di daerah, c.

  sering kehabisan dana.

  KUD,

yang dia nyatakan secara terus terang itu

d.

  menggugah hati

  Pendapat kami. yang ijazahnya dari Boston (itu) e.

  memenuhi persyaratan kami.

  Pelamar

2.2.4 Kesalahan Berbahasa

  Kesalahan berbahasa adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku performansi bahasa orang dewasa.

  Kesalahan merupakan sisi yang mempunyai cacat pada ujaran atau tulisan para pelajar (Tarigan, 2011: 123-126).

2.2.4.1 Kesalahan dan Kekeliruan

  error

  Di dalam dunia bahasa, dikenal pula istilah kesalahan atau dan kekeliruan atau mistake . Dalam dunia pengajaran bahasa, terdapat istilah

  error mistake

  dan kekeliruan atau

  “kesalahan” dan “kekeliruan”. Kesalahan atau

  dalam pengajaran bahasa dibedakan yakni penyimpangan dalam pemakaian bahasa. Kekeliruan pada umumnya disebabkan oleh faktor performansi.

  Keterbatasan mengingat sesuatu menyebabkan kekeliruan dalam melafalkan bunyi bahasa, kata, urutan kata, tekanan kata atau kalimat, dan sebagainya. Kekeliruan bersifat acak, artinya dapat terjadi pada setiap tataran linguistik. Kekeliruan biasanya dapat diperbaiki oleh para siswa sendiri bila yang bersangkutan lebih mawas diri, lebih sadar atau memusatkan perhatian. Siswa sebenarnya sudah mengetahui sistem linguistik bahasa yang digunakannya, karena sesuatu hal dia lupa akan sistem tersebut. Selain itu, kekeliruan biasanya tidak lama (Tarigan, 2011:67- 68). Para siswa atau mahasiswa telah mengetahui dan menguasai kaidah bahasa yang berlaku. Namun, karena faktor perfomansi yang dipengaruhi oleh kekuatan fisik, kekeliruan bisa terjadi dalam tataran linguistik apapun.

  Sebaliknya, kesalahan disebabkan oleh faktor kompetensi. Artinya siswa memang belum memahami sistem linguistik bahasa yang digunakannya.

  Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten, dan sistematis. Kesalahan bisa berlangsung lama jika tidak diperbaiki. Perbaikan bisa dilakukan oleh guru dengan remedial, latihan, praktek dan sebagainya. Kesalahan bisa menggambarkan pemahaman siswa tentang sistem bahasa yang sedang dipelajari.

  Namun, seiring pemahaman siswa terhadap sistem bahasa, kesalahan akan berkurang (Tarigan, 2011: 68).Kesalahan disebabkan oleh siswa atau mahasiswa yang belum menguasai kaidah bahasa yang digunakan. Jika kesalahan terjadi pada A, kesalahan selanjutnya hanya akan berkecimpung di dalam itu saja (A).

  Kesalahan bisa diperbaiki dengan bantuan guru melalui remedial, latihan, praktek, dan sebagainya. Kesalahan itu akan berlangsung lama, jika tidak segera diberi bantuan dari guru. Jadi, kesalahan bukan disebabkan oleh faktor performa siswa atau mahasiswa. Namun, kesalahan disebabkan oleh ketidaktahuan siswa atau mahasiswa terhadap tata bahasa yang digunakan.

Tabel 2.1 Perbedaan Kesalahan dan Kekeliruan

  Sudut Pandang Kategori Kesalahan Kekeliruan

  6. Perbaikan Dibantu oleh guru: latihan, pengajaran remedial Siswa sendiri: pemusatan perhatian

  5. Hasil Perbaikan Penyimpangan Penyimpangan

  Sistem Linguistik Belum dikuasai Sudah dikuasai

  3. Durasi Agak lama Sementara 4.

  2. Sifat Sistematis Tidak sistematis

  1. Sumber Kompetensi Performansi

2.2.4.2 Kesalahan Penggunaan Konjungtor Penggunaan konjungtor harus sesuai dengan kaidah penggunaan konjungtor.

  Penggunaan konjungtor yang salah dapat menyebabkan kerancuan makna. Bahkan, penyimpangan ide bisa terjadi. Namun, kesalahan penggunaan konjungtor masih ditemukan dalam karangan ilmiah. Setyawati (2013: 86-88) membagi kesalahan konjungsi sebagai berikut.

  c.

  Membaca surat Anda, saya sangat kecewa.

  b.

  Sering digunakan untuk kejahatan, komputer ini kini dilengkapi pula dengan alat pengaman.

  a.

  Tulisan-tulisan resmi yang di dalamnya terdapat gejala penghilangan konjungsi pada anak kalimat. Justru penghilangan konjungsi itu menjadikan kalimat tidak efektif. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

  1) Penghilangan

  Dilihat secara keseluruhan, kegiatan usaha koperasi perikanan tampak No. Konjungsi

  

jika, apabila, setelah, sesudah, ketika, karena

  , dan

  sebagainya

  sebagai penanda anak kalimat sering ditanggalkan. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya pengaruh bentuk partisif bahasa inggris. Karena sudah merata gejala tersebut digunakan di berbagai kalangan, mereka tidak sadar lagi kalau bentuk itu salah. Dalam bahasa Indonesia konjungsi pada anak kalimat harus digunakan sehingga ketiga kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi kalimat berikut ini.

  d.

  Karena s

  ering digunakan untuk kejahatan, komputer ini kini dilengkapi pula dengan alat pengaman.

  e. Setelah membaca surat Anda, saya sangat kecewa.

  f. Jika dilihat secara keseluruhan, kegiatan usaha koperasi perikanan tampak meningkat setelah adanya pembinaan yang lebih intensif, terarah, dan terpadu.

2) Penggunaan yang Berlebihan

  a. Walaupun dia belum istirahat seharian , tetapi dia datang juga di pertemuan RT.

  Kurangnya kecermatan pemakai bahasa dapat mengakibatkan penggunaan konjungsi yang berlebihan. Hal itu terjadi kerena dua kaidah bahasa bers dan bergabung dalam sebuah kalimat. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

  Untuk

  penyaluran informasi yang efektif,

  maka

  harus dipergunakan sinar infra merah karena sinar infra merah itu mempunyai dispersi yang kecil.

  c.

  Meskipun

  hukuman sangat berat,

  tetapi

  tampaknya pengedar ganja itu tidak gentar. Penulis tidak menyadari kalau bentuk-bentuk ketiga kalimat di atas menggunakan padanan yang tidak serasi, yaitu penggunaan dua konjungsi sekaligus. Seharusnya konjungsi yang digunakan salah satu saja. Perbaikan

  b.

  Walaupun , a. dia belum istirahat seharian dia datang juga di pertemuan RT.

  ,tetapi b. dia datang juga di pertemuan RT.

  Dia belum istirahat seharian Untuk

  c. penyaluran informasi yang efektif, harus dipergunakan sinar infra merah karena sinar infra merah itu mempunyai dispersi yang kecil.

  Meskipun

  d. hukuman sangat berat, tampaknya pengedar ganja itu tidak gentar.

  e. tetapi tampaknya pengedar ganja itu tidak gentar.

   Hukuman sangat berat,

2.2.5 Taksonomi Siasat Permukaan

  Ada empat taksonomi kesalahan berbahasa yang penting untuk diketahui, yaitu taksonomi kategori linguistik, taksonomi siasat permukaan, taksonomi komparatif, dan taksonomi efek komunikatif (Tarigan, 2011: 123). Penelitian ini menggunakan taksonomi siasat permukaan yang dikemukakan oleh Tarigan untuk mengkaji jenis kesalahan dalam latar belakang skripsi Pendidikan Agama Katolik,

  surface strategy

  Universitas Sanata Dharma. Taksonomi siasat permukaan atau

  

taxonomy menyoroti bagaimana cara-caranya struktur-struktur permukaan

  berubah. Para pelajar mungkin saja mengindarkan atau menghilangkan hal-hal penting, menambahkan sesuatu yang tidak perlu, salah memformasikan hal-hal, dan salah menyusun hal-hal tersebut. Secara garis besar, Tarigan (2011: 133) mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam taksonomi siasat permukaan ini dipaparkan sebagai berikut.

  1) omission) Penghilangan (

  Kesalahan-

  kesalahan yang bersifat “penghilangan” ini ditandai oleh

“ketidakhadiran suatu hal yang seharusnya ada dalam ucapan yang baik dan ketidakjelasan makna dan menyebabkan salah paham. Selain itu, penghilangan dapat menyebabkan suatu kalimat menjadi tidak enak dibaca. Berikut contoh penghilangan berkaitan dengan konjungtor.

  Bentuk salah: Para mahasiswa harus membawa gunting, lem. Mahasiswa semester baru maupun mahasiswa semester atas harus menghadiri seminar tentang Hari Pahlawan.

  Pembenaran: Para mahasiswa harus membawa gunting dan lem. Baik mahasiswa baru maupun mahasiswa semester lama harus menghadiri seminar tentang Hari Pahlawan.

  dan baik

  Kalimat di atas terdapat penghilangan konjungtor dan akat untuk melengkapi kata maupun sebagai konjungtor korelatif . Seharusnya konjungtor

  dan baik

  di dalam kalimat tersebut hadir dan kata harus hadir sehingga menjadi baik .... maupun .... . konjungtor korelatif

2) Penambahan

  Kesalahan penambahan terjadi karena adanya suatu unsur yang muncul (seharusnya tidak muncul) dalam ucapan yang baik dan benar. Penulis merasa baik-baik saja dalam membuat suatu kalimat. Berikut contoh kesalahan penambahan dalam bentuk konjungtor.

  Bentuk salah:

  Karena maka

  larangan dari orang tuanyalah suara-suara dan penglihatannya itu semakin jarang dialaminya. Pembenaran:

  Karena larangan dari orang tuanya, suara-suara dan penglihatannya itu semakin jarang dialaminya.

  Kalimat di atas mempunyai penambahan kata

  maka

  yang tidak benar. Jika dibaca memang enak. Namun, hal itu menyalahi aturan konjungtor dalam bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan partikel lah kurang tepat sehingga lebih baik dihilangkan. Partikel

  lah tersebut menyebabkan ‘keanehan’ jika dibaca dengan saksama.

3) Salah Formasi

  

berpasangan, tetapi pasangannya tidak benar. Berikut contoh ‘salah formasi’

dalam bentuk konjungtor.

  Bentuk salah: Guru

  tidak hanya

  Formasi berarti barisan. Dalam hal ini, barisan unsur kebahasaan yang tidak benar. Unsur kebahasaan pada penelitian ini adalah konjungtor yang hadir

  melainkan

  bertugas juga sebagai saksi murid Kristus di lingkungan sekolah dan di masyarakat. Pembenaran: Guru

  tidak hanya

  menyampaikan tentang pengetahuan agama saja

  tetapi juga

  bertugas sebagai saksi murid Kristus di lingkungan sekolah dan di masyarakat. Konjungtor tidak hanya ... melainkan tidaklah benar. Kalimat tersebut melanggar pasangan konjungtor korelatif di dalam bahasa Indonesia. Konjungtor korelatif tidak hanya bukan berpasangan dengan konjungtor melainkan. Oleh karena itu, konjungtor pada contoh kalimat yang salah di atas dapat diganti dengan konjungtor korelatif

tidak hanya ... tetapi juga...

  .

  menyampaikan tentang pengetahuan agama saja

4) Salah Susun

  Salah susun bisa berarti penempatan yang tidak benar bagi suatu unsur kebahasaan. Salah susun dalam penelitian ini adalah konjungtor yang disusun tidak sesuai tempat (antarkalimat, secara koordinatif

  . Berikut contoh ‘salah susun’ dalam bentuk konjungtor.

  Bentuk salah 1: Pada kenyataannya, lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga

  selain itu

  pengajar agama Katolik sangatlah minim, pendapatan yang diperoleh jika menjadi guru agama Katolik juga tidak sebandingan dengan jasa yang telah diberikan. Pembenaran 2: Pada kenyataannya lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga pengajar agama Katolik sangatlah minim. Selain itu , pendapatan yang diperoleh jika menjadi guru agama Katolik juga tidak sebanding dengan jasa yang telah diberikan.

  Bentuk Salah 2: Menurut pengalaman penulis, ada beberapa fakta mengenai menurunnya motivasi para anggota lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  Padahal

  Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan sarana melalui berbagai macam bentuk kegiatan untuk para anggota lektor tersebut. (PAK-15-Pawestrin-Ha04) Pembenaran 2: Menurut pengalaman penulis, ada beberapa fakta mengenai menurunnya motivasi para anggota lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran,

  padahal

  Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan sarana melalui berbagai macam bentuk kegiatan untuk para anggota lektor tersebut. (PAK-15-Pawestrin-Ha04) Kalimat di atas mengandung kesalahan salah susun berkaitan dengan

  selain itu

  konjungtor antarkalimat. Kata merupakan konjungtor antarkalimat. Alwi (2010, 305) mengatakan bahwa konjungtor selain itu termasuk konjungtor pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Selain itu, Rahardi (2009: 25) menyatakan bahwa konjungtor antarkalimat lazimnya juga cenderung bersifat idiomatis. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Konjungtor padahal merupakan konjungtor koordinatif bukan konjungtor antarkalimat. Oleh karena itu, bentuk salah 2 harus dibenarkan seperti pada pmebenaran 2. Dengan demikian, bentuk kalimat menjadi sesuai dengan kaidah penggunaan konjungtor.

2.2.6 Kerangka Berpikir Kerangka berpikir dalam penelitian ini berguna memperjelas alur pikir peneliti.

  Bagan di bawah ini menjadi bentuk gambaran kerangka berpikir.

  Latar Belakang Skripsi Mahasiswa Konjungtor yang digunakan dalam

  Program Studi Ilmu Pendidikan latar belakang skripsi

  Kekhususan Pendidikan Agama Kesalahan penggunaan konjungstor

  Katolik Universitas Sanata Dharma yang digunakan dalam latar

  Angkatan 2010 Lulusan Tahun belakang skripsi

  2015 Analisis Data Penggunaan konjungtor (Alwi, dkk.:2010) Hasil Analisis Kesalahan penggunaan konjungtor (Alwi, dkk., 2010; Tarigan, 2011)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

  Analisis Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Skripsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015 merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Arikunto (2013: 3) mengatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang benar-benar hanya memaparkan apa yang terdapat atau terjadi dalam sebuah kancah, lapangan, atau wilayah tertentu.

  Moleong (2006: 6) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dikaji secara holistik dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang ilmiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Arikunto (2013: 3) menyatakan bahwa kegiatan penelitian deskriptif hanya memotret apa yang terjadi pada diri objek atau wilayah yang diteliti. Kemudian, memaparkan apa yang terjadi dalam bentuk laporan penelitian secara lugas, seperti apa adanya.

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif karena tidak hanya menganalisis penggunaan konjungtor, tetapi juga menganalisis kesalahan yang kesalahan pengunaan konjungtor yang terdapat pada latar belakang skripsi. Kemudian, fenomena kesalahan penggunaan konjungtor dipaparkan secara menyeluruh (holistik) menggunakan teori mengenai konjungtor.

  Penelitian ini tidak menghubungkan beberapa variabel dan tidak membuat hipotesis. Peneliti hanya akan menggambarkan keadaan sebenarnya, yaitu penggunaan konjungtor dan kesalahan penggunaan konjungtor. Peneliti menambahkan bahwa penggunaan dan kesalahan konjungtor akan dipaparkan atau dideskripsikan dalam bentuk kata-kata secara lugas dan apa adanya. Pada bagian pembahasan penggunaan konjungtor, peneliti akan membahas lebih lanjut frekuensi yang muncul. Peneliti akan memberikan alternatif pembenaran pada kesalahan pengunaan konjungtor.

  3.2 Sumber Data dan Data Penelitian

  Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2013: 172). Sumber data dalam penelitian ini adalah lima belas latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015. Data penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang menggunakan konjungtor pada latar belakang skripsi.

  3.3 Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih

  (Arikunto, 2013: 203). Instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri

  In qualitative studies, the researcher is the instrument (Moleong, 2006: 168).

  (Marshall, 2006: 72). Peneliti merupakan orang yang bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis, penafsir data, pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Selain itu, peneliti menggunakan laptop, alat tulis, dan kalkulator untuk membantu penyelesaian penelitian ini.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2014: 62). Data penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang menggunakan konjungtor pada latar belakang skripsi. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

  1. Peneliti mengunduh skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2015).

  2. Peneliti mengamati dan menandai kalimat yang mengandung konjungtor dengan menggarisbawahi.

  3. Peneliti membuat kode pada setiap kalimat yang mengandung konjungsi. Peneliti membuat kode untuk menganalisis data pada setiap konjungtor. Pengkodean tersebut sebagai berikut. Contoh: PAK-15- Mea-Ha20

  15 = Tahun 2015 Mea = Nama Penulis skripsi Ha20 = Halaman 20

3.5 Teknik Analisis Data

  Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain ( Sugiyono, 2014: 89).

  Peneliti melakukan langkah penelitian berdasarkan langkah analisis data Miles and Hubeman di bawah ini.

  1. Analisis Sebelum di Lapangan Model Miles and Huberman. Peneliti menganalisis data dari penelitian terdahulu untuk menentukan fokus penelitian (sementara). Peneliti melakukan analisis pada skripsi dari Anggitasari dan dari Yanuarti.

  2. Analisis selama di Lapangan Model Miles and Huberman.

  1)

Peneliti membaca data yang sudah terkumpul dengan teliti (identifikasi).

2)

  Peneliti mengelompokkan kalimat yang mengandung konjungtor sesuai dengan jenisnya (klasifikasi).

  3)

  Peneliti menganalisis dan membahas kalimat yang mengandung konjungtor (interpretasi).

5) Peneliti mengidentifikasi kesalahan penggunaan konjungtor(identifikasi).

  6)

  Peneliti mengelompokkan kesalahan penggunaan konjungtor yang meliputi penghilangan, penambahan, salah formasi, dan salah susun (klasifikasi)].

  7)

  Peneliti memberikan pembahasan dan pembenaran pada kalimat yang mengandung kesalahan penggunaan konjungtor (interpretasi).

3. Penyajian Data

  Peneliti menyajikan data pada tabel “analisis penggunaan konjungtor” yang berisi penggunaan konjungsi dan kesalahan serta

  pembetulan kesalahan penggunaan konjungsi.

  b.

  Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi.

  Peneliti membuat kesimpulan berdasarkan pembahasan data. Untuk memeriksa keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi dengan salah satu Dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma.

3.6 Triangulasi

  Moleong (2006: 330) mengatakan bahwa triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Patton (2002:556) membedakan empat macam triangulasi.

  3.6.1 Triangulasi metode, terdapat dua strategi, yaitu pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode

3.6.2 Triangulasi sumber, berarti mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono, 2014: 127).

  3.6.3 Triangulasi penyidik atau peneliti, dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data (Moleong, 2006: 331).

  3.6.4 Triangulasi teori, teknik pemeriksaan kredibilitas data yang dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teori untuk memeriksa data temuan penelitian (Prastowo, 2014: 271). Penelitian ini menggunakan triangulasi penyidik atau peneliti lain untuk menguji keabsahan data. Untuk meningkatkan derajat kepercayaan (keabsahan data), peneliti melakukan triangulasi data dengan salah satu Dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Beliau adalah Dr. B. Widharyanto, M.Pd. dengan mempertimbangkan kompetensi dan pengalaman Beliau pada bidang linguistik.

  Tahap dalam proses triangulasi, yaitu peneliti menyerahkan hasil analisis data kepada triangulator. Kemudian, triangulator memeriksa hasil analisis data dengan memberi tanda centang pada kolom setuju dan setuju. Hasil triangulasi data, yaitu peneliti belum menguraikan klausa-klausa pada setiap kalimat yang mengandung

  yang

  konjungtor dan masih ada kesalahan dalam penggunaan konjungtor . Setelah itu, peneliti mengadakan perbaikan dan peneliti menyerahkan hasil perbaikan analisis data kepada triangulator. Selanjutnya, triangulator menandai lagi dengan pemeriksaan data, peneliti menggunakan hasil triangulasi sebagai acuan untuk menyusun n bab n

  IV.

  

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  4.1 Deskripsi Data

  Data penelitian ini berupa penggunaan konjungsi dan kesalahan penggunaan konjungsi pada latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, lima belas latar belakang skripsi menggunakan 35 jenis konjungtor (konjungsi) dan keseluruhan penggunaan konjungtor ada 404 kali. Tiga puluh lima jenis konjungtor tersebut ialah dan (120), serta (6), atau(pun) (13), tetapi/tapi (2),

  

melainkan padahal sedangkan lalu baik ... maupun ... tidak

  (2), (4), (2), (1), (5),

  

hanya ... tetapi juga ... (1), bukan hanya ... melainkan juga (1), ketika (9), jika (2),

kalau agar supaya meskipun walaupun sebab karena

  (2), (6), (3), (2), (2), (1), (7),

  sehingga maka dengan tanpa bahwa yang hingga

  (17), (7), (3), (1), (19), (95), (1),

  

untuk (42), kemudian (5), setelah itu (2), selain itu (7), bahkan (5), dengan

demikian oleh karena itu oleh sebab itu

  (4), (4), dan (1). Data tersebut dapat dikelompokkan menjadi konjungtor koordinatif (150), konjungtor korelatif (7), konjungtor subordinatif (219), dan konjungtor antarkalimat (28).

  Selain itu, peneliti memperoleh data berupa 36 kesalahan penggunaan konjungtor. Jenis kesalahan dalam penelitian ini dapat dikategorikan, yaitu

  kesalahan penghilangan sebanyak 5, penambahan 4, salah formasi 3, dan salah susun sebanyak 24.

4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan

  Analisis data pada penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi untuk menjawab rumusan masalah pertama dan analisis kesalahan penggunaan konjungtor yang terdapat pada latar belakang skripsi untuk menjawab rumusan masalah kedua.

4.2.1 Konjungtor yang Digunakan pada Latar Belakang Skripsi

  Pada bagian ini akan dipaparkan klasifikasi dan penjelasan satu demi satu konjungtor yang digunakan. Kemudian, peneliti membuat tabel yang menggambarkan frekuensi pengunaan konjungtor yang sudah dikelompokkan. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat penggunaan konjungtor dalam latar belakang skripsi beserta frekuensinya. Dari data yang telah diperoleh, diketahui bahwa ada 35 jenis konjungtor (konjungsi) dan keseluruhan penggunaan konjungtor ada 404 kali. Pada bagian di bawah ini dipaparkan setiap jenis penggunaan konjungtor.

4.2.1.1 Konjungtor Koordinatif dan 1) Konjungtor dan

  Konjungtor merupakan konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama. Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan. Berdasarkan data

  Contoh.

  a)

  Ketika guru memberikan tugas yang demikian, siswa-siswi bersemangat untuk mengikuti kegiatan dan` Ekaristi.

  Konjungtor dan pada kalimat tersebut menghubungkan kata dengan kata.

  b) Perayaan Ekaristi sendiri terdiri dari

  Rumusan ini menegaskan bahwa dua bagian pokok, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. dan Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa.

  c)

  Manusia pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari

  orang lain dan merupakan makhluk ciptaan Tuhan. (PAK-15- Haryanto- Ha29)

  dan Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  d)

  dan mereka akan Anak-anak merasa mendapatkan cerita-cerita baru

  merasa terhibur. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04) Konjungtor dan pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  2) serta Konjungtor serta

  Konjungtor merupakan konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang

  serta

  sama. Konjungtor sebagai penanda hubungan pendampingan. Berdasarkan data yang diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor serta , yaitu 6.

  Contoh.

  serta`

  a) bahwa pewartaan penting bagi munculnya iman

  Gereja menyadari

  pengembangan (Dapiyanta, 2013: 12). (PAK-15-Luviasari-Ha04)

  serta Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan kata dengan kata.

  b)

  Kis.1:14 mengungkapkan bahwa “Mereka semua bertekun dengan sehati

  Yesus, dan dengan saudara-

  saudara Yesus”. (PAK-15-Wuriusadani-

  Ha05) Konjungtor serta pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa

  serta (dengan beberapa perempuan [dengan] Maria)). serta`

  c) baik dilakukan bagi orang

  Doa merupakan tindakan positif

  beriman. (PAK-15-Kusuma-Ha03)

  serta Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  d) sekedar untuk tahu, melainkan dengan

  Hal ini berarti belajar bukanlah

  belajar seseorang menjadi tumbuh dan berubah serta` mengubah keadaan. (PAK-15-Suparti-Ha04)

  serta Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa. atau 3) Konjungtor atau

  Konjungtor merupakan konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih- yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama. Konjungtor atau sebagai penanda hubungan pemilihan. Berdasarkan

  atau, data yang diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor yaitu 13.

  Contoh.

  atau`

  a) pengalaman

  Sebab katekese sendiri merupakan komunikasi iman

  antar anggota jemaat (Telaumbanua, 1999: 6). (PAK-15-Bintarti-Ha02)

  atau Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa.

  b)

  Dengan demikian katekese model sotarae merupakan katekese yang

  menekankan aksi atau tindakan nyata untuk meningkatkan keterlibatan hidup menggereja. (PAK-15-Luviasari-Ha09)

  atau

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa (aksi c)

  Padahal melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping ataupun atau

  anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih- Ha04)

  atau

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa

  

dalam melaksanakan kegiatan pendampingan iman anak tersebut atau

  ( [ ] mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut ).

  d. Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus pada dasarnya tidak

  ataupun

  memberikan batasan persyaratan yang terlalu tinggi untuk menjadi anggota lektor. (PAK-15-Pawestrin-Ha03)

  atau

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa

  ataupun (batasan [yang terlalu tinggi] persyaratan yang terlalu tinggi). 4) tetapi Konjungtor tetapi

  Konjungtor konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama.

  tetapi

  Konjungtor sebagai penanda hubungan perlawanan. Berdasarkan data yang

  tetapi , diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor yaitu 2.

  Contoh.

  a. yang

  

Modernisasi dapat menjadi peluang untuk membangun hidup

tetapi lebih baik, juga dapat merusak karakter seseorang.

  (PAK-15-Suparti-Ha02) Konjungtor tetapi pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  melainkan 5) Konjungtor

  Konjungtor melainkan merupakan konjungtor koordinatif yang

  melainkan

  memiliki status yang sama. Konjungtor sebagai penanda hubungan perlawanan. Berdasarkan data yang diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor

  melainkan, yaitu 3.

  Contoh.

  b.

  Menghormati Bunda Maria bukan berarti mengabaikan Tuhan, melainkan mencari cara lain untuk menemukan Tuhan (data terlampir

  no.5). (PAK-15-Wuriusadani-Ha06)

  melainkan

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  melainkan c.

  dengan

  Hal ini berarti belajar bukanlah sekedar untuk tahu, belajar seseorang menjadi tumbuh dan berubah serta mengubah keadaan.

  (PAK-15-Suparti-Ha04)

  melainkan

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  padahal 6) Konjungtor padahal

  Konjungtor merupakan konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau

  padahal

  memiliki status yang sama. Konjungtor sebagai penanda hubungan pertentangan. Berdasarkan data yang diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor

  padahal , yaitu 4.

  Contoh.

  a.

  Di samping itu, para pembinanya juga tidak setiap saat bisa memantau

  1

  gerak-gerik dan perilaku siswa-siswi asrama karena mereka juga

  2

  mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, padahal kesadaran dan semangat

  padahal Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa. Padahal

  b. suatu proses pendampingan iman anak haruslah memiliki ciri- ciri gembira dan mendalam. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05)

  padahal

  Konjungtor pada kalimat tersebut digunakan secara tidak benar atau salah.

  c.

  Padahal melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping ataupun

  anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih- Ha04)

  Konjungtor padahal pada kalimat tersebut digunakan secara tidak benar atau salah.

  sedangkan 7) Konjungtor

  Konjungtor sedangkan merupakan konjungtor koordinatif yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama. Konjungtor sedangkan sebagai penanda hubungan pertentangan. Berdasarkan data yang diperoleh, frekuensi penggunaan konjungtor

  sedangkan , yaitu 2.

  Contoh.

  1 sedangkan a.

  iman dan

  Pada dasarnya pendidikan adalah tindakan

  2 perkembangan dipengaruhi oleh anugerah dan jawaban.

  (PAK-15-Luviasari-Ha07) Konjungtor sedangkan pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  4.2.1.2 Konjungtor Korelatif baik ... maupun ... . 1) Konjungtor

  Konjungtor baik ... maupun ... merupakan konjungtor korelatif yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 5.

  Contoh.

  baik a.

  Pendidikan agama Katolik sudah mengalami banyak perkembangan

  kurikulumnya maupun pengajarnya (guru). (PAK-15-Luchensy-Ha04) baik ... maupun ... Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa.

  baik b.

  itu di sekolah negeri

  Jam pelajaran pendidikan agama Katolik maupun

  swasta Katolik sekitar 2-3 jam selama satu minggu. (PAK-15- Luchensy-Ha04) baik ... maupun ...

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa dengan frasa.

  c.

  Mahasiswa-mahasiswi IPPAK datang dari berbagai macam kalangan, baik maupun`

  `

  itu awam kaum religius (biarawan/biarawati) yang mempunyai motivasi untuk` belajar mengembangkan diri. (PAK-15-Luchensy-Ha05 —06)

  Konjungtor baik ... maupun ... pada kalimat tersebut menghubungkan frasa

  baik maupun dengan frasa [ itu awam kaum religius (biarawan/biarawati)].

  d.

  Kegiatan-kegiatan di kampus IPPAK sangat mendukung bagi

  perkembangan diri pribadi mahasiswa baik itu dari mata kuliahnya

  maupun`

  sendiri di luar mata kuliah. (PAK-15-Luchensy-Ha06)

  baik ... maupun ...

  Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan frasa

  

dengan frasa (“itu dari mata kuliahnya sendiri” dengan frasa “di luar mata

kuliah”). tidak hanya ... tetapi juga ... . 2) Konjungtor

  Konjungtor tidak hanya ... tetapi juga ... merupakan konjungtor korelatif yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Frekuensi kemunculan konjungtor ini, yaitu 1.

  Contoh.

  tidak hanya tetapi juga`

  a. mengurangi konsentrasi membunuh

  Hal ini

  iman secara perlahan-lahan. (PAK-15-Lestari-Ha01) tidak hanya ... tetapi juga ... Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

  3) bukan hanya ... melainkan juga ... Konjungtor bukan hanya ... melainkan juga ...

  Konjungtor merupakan konjungtor korelatif yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama Frekuensi kemunculan konjungtor ini, yaitu 1.

  Contoh.

  bukan hanya a.

  memikirkan hidupnya sendiri

  Keluarga-keluarga Katolik melainkan juga`

  dalam keluarganya masing-masing, mengingat Tuhan

  dan`

  sesama. (PAK-15-Wuriusadani-Ha03) bukan hanya ...melainkan juga ... Konjungtor pada kalimat tersebut menghubungkan klausa dengan klausa.

4.2.1.3 Konjungtor Subordinatif jika a. Konjungtor

  Konjungtor ketika merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya,

  ketika

  sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor menunjukkan hubungan waktu. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 9.

  Contoh penggunaannya di bawah ini.

  ketika a.

  mengikuti Perayaan Ekaristi

  Penulis sendiri pun pernah suatu kali di gereja menggantikan tugas teman lektor yang tidak hadir pada saat itu.

  (PAK-15-Pawestrin-Ha04)

  ketika

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  ketika mengikuti Perayaan Ekaristi

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu di gereja, menggantikan tugas teman lektor yang tidak hadir pada saat itu.

  Ketika

  b. guru memberikan tugas yang demikian, siswa-siswi bersemangat untuk mengikuti kegiatan dan Ekaristi.

  (PAK-15-Luviasari-Ha02)

  ketika

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

   Ketika guru memberikan tugas yang

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu demikian, siswa-siswi bersemangat untuk mengikuti kegiatan dan Ekaristi.

  Ketika

  c. Paulus sedang dalam perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba ia mengalami penghilatan akan Kristus. (PAK-15-Nahak-Ha02)

  ketika

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

   Ketika Paulus sedang dalam

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba ia mengalami penghilatan akan Kristus.

   jika b. Konjungtor

  Konjungtor jika merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama.

  Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor jika menunjukkan hubungan syarat.

  Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 2. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a.

  Bahkan, hal ini ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam jika

  tidak

  

refleksinya bahwa “Gereja merasa bersalah di hadapan Allah

  menggunakan media massa (baca: media digital) untuk mewartakan

   Kabar Gembira!”

(PAK-15-Nahak-Ha01)

jika

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu Gereja merasa bersalah di hadapan

  Allah jika tidak menggunakan media massa untuk mewartakan Kabar Gembira!”.

  Bahkan jika

  b. , ia mengatakan , “Celakalah aku, tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). (PAK-15-Nahak-Ha01

  —02)

  Konjungtor jika pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  ia mengatakan , Celakalah aku, jika

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu tidak memberitakan Injil.

  c. kalau Konjungtor kalau

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor kalau menunjukkan hubungan syarat. Frekuensi penggunn konjungtor ini, yaitu 2. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a.

  , kalau tidak melalui Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa Aku.” (PAK-15-Wuriusadani-Ha06) kalau

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu Tidak ada seorang pun yang datang

  kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

  b.

  kalau hal itu bergantung Rasul Paulus mengatakan: sedapat-dapatnya, padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Rm 12-18).

  (PAK-15-Ulu-Ha03)

  kalau

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  d. agar Konjungtor

  Konjungtor agar merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama.

  Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor agar menunjukkan hubungan tujuan.

  Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 6. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. , perlu usaha menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan

  Oleh karena itu agar kaum muda katolik terlibat langsung membantu kaum miskin.

  (PAK-15-Bintarti-Ha01) Konjungtor agar pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Oleh karena itu, perlu usaha

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan kaum muda katolik agar terlibat

langsung membantu kaum miskin. agar

  b. bisa mengikuti Pelajaran Komuni

  Gereja menetapkan usia minimal

  Pertama itu adalah usia sembilan tahun atau sudah duduk di kelas empat Sekolah Dasar. (PAK-15-Parestu-Ha03)

  agar

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Gereja menetapkan usia minimal

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

agar bisa mengikuti Pelajaran Komuni Pertama itu adalah usia sembilan tahun

atau sudah duduk di kelas empat Sekolah Dasar.

  c. agar dirinya berkembang menjadi

  Artinya, anak dibantu dan distimulasi pribadi yang dewasa secara utuh (Aqib, 2011: 8).

  (PAK-15-Suparti-Ha01

  —02) agar

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu Artinya, anak dibantu dan

  

distimulasi agar dirinya berkembang menjadi pribadi yang dewasa secara utuh

sembilan tahun atau sudah duduk di kelas empat Sekolah Dasar.

  d.

   agar membantu mahasiswa- Spiritualitas Kristiani perlu dikembangkan

  agar

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Spiritualitas Kristiani perlu

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

dikembangkan agar membantu mahasiswa-mahasiswi IPPAK-USD menjadi sosok

guru yang profesional serta berspiritualitas. supaya e. Konjungtor supaya

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  

supaya menunjukkan hubungan tujuan. Frekuensi penggunaan konjungtor ini,

yaitu 3. Contoh penggunaannya di bawah ini. supaya a.

  Perayaan Ekaristi

  Argumentasi seperti ini harus diluruskan

  menjadi bagian dari hidup orang Katolik. (PAK-15-Parestu-Ha03)

  supaya

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Argumentasi seperti ini harus

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu diluruskan supaya Perayaan Ekaristi menjadi bagian dari hidup orang Katolik.

  1

  2

  b. kesadaran diri dalam kegiatan penghayatan dan

  Peduli, peka dan supaya

  pengungkapan iman perlu ditingkatkan, imannya akan Yesus Kristus terwujud melalui perbuatannya (data terlampir no.6). (PAK-15-Wuriusadani-Ha01)

  supaya

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  1 Peduli, peka dan kesadaran diri

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  2

dalam kegiatan penghayatan dan pengungkapan iman perlu ditingkatkan,

  f. meski(pun) Konjungtor meski(pun)

  Konjungtor merupakan merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat.

  meski(pun)

  Konjungtor menunjukkan hubungan konsesif. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 2. Contoh penggunaannya di bawah ini.

a. Meskipun sering mengadakan kegiatan di paroki Kidul Loji Kelompok

  Vinea Dei

  Doa Karismatik Katolik sebenarnya berada dibawah kevikepan Yogyakarta. (PAK-15-Sungtulodo-Ha02)

  meskipun

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Meskipun sering mengadakan

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

kegiatan di paroki Kidul Loji, Kelompok Doa Karismatik Katolik Vinea Dei

sebenarnya berada dibawah kevikepan Yogyakarta. walau(pun) 7) Konjungtor walau(pun)

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  

walau(pun) menunjukkan hubungan konsesif. Frekuensi penggunaan konjungtor

ini, yaitu 2. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  Walaupun

  b. metode bercerita sering digunakan dalam pendampingan iman metode bercerita hanya dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04)

  Konjungtor walaupun pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Walaupun metode bercerita sering

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  digunakan dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup, namun ada kecenderungan bahwa metode bercerita hanya dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif. sebab 8) Konjungtor sebab

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  sebab menunjukkan hubungan sebab. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 1. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  Sebab

  a. katekese sendiri merupakan komunikasi iman atau pengalaman antar anggota jemaat (Telaumbanua, 1999: 6). (PAK-15-Bintarti-Ha02)

   sebab

  Ada penggunaan yang salah, yaitu konjungtor tidak boleh berada di awal kalimat karena bukan merupakan konjungtor antarkalimat dan membuat induk kalimatnya tidak ada.

  9) karena Konjungtor karena

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  karena

  menunjukkan hubungan sebab. Frekuensi kemunculan konjungtor ini, yaitu 7. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  Karena

  a. pada dasarnya katekis adalah seorang Kristen dulu, baru ia menjadi katekis (Goopio, 1984: 07) (PAK-15-Kusuma-Ha02) Konjungtor karena pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Karena pada dasarnya katekis

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu adalah seorang Kristen dulu, baru ia menjadi katekis.

  Karena

  b. berperan serta dalam tugas Kristus sebagai Imam, Nabi Raja, kaum awam berperan aktif dalam kehidupan dan kegiatan Gereja (AA, art. 10) (PAK-15-Luviasari-Ha06)

  Konjungtor karena pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Karena berperan serta dalam tugas

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

Kristus sebagai Imam, Nabi Raja, kaum awam berperan aktif dalam kehidupan

dan kegiatan Gereja

  .

  untuk

  c. menjadi teladan bagi keluarga Katolik,

  Bunda Maria sangat pantas karena Bunda Maria menjadi bagian dalam keluarga kudus Nazaret dan

  menjadi pilihan Allah. (PAK-15-Wuriusadani-Ha05) Konjungtor karena pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Bunda Maria sangat pantas untuk

  menghubungkan klausa dengan klausa, yaitu

  

menjadi teladan bagi keluarga Katolik, karena Bunda Maria menjadi bagian

dalam keluarga kudus Nazaret dan menjadi pilihan Allah.

  d.

  Di samping itu, para pembinanya juga tidak setiap saat bisa memantau

  1 karena

  gerak-gerik dan perilaku siswa-siswi asrama mereka juga

  2 persaudaraan dari siswa-siswi seminari tertanam dalam diri masing- masing. (PAK-15-Ulu-Ha02) Konjungtor karena pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  sehingga 10) Konjungtor

  Konjungtor sehingga merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  sehingga

  menunjukkan hubungan hasil. Frekuensi kemunculan konjungtor ini, yaitu 17. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a.

  Aksi ini akan timbul dari gerakan hatinya sebagai wujud rasa solidaritas sehingga

  pada kaum miskin, dapat meningkatkan kepedulian kaum muda katolik. (PAK-15-Bintarti-Ha03)

  sehingga

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  b.

  Mahasiswa dalam kesehariannya kembali disibukkan dengan tugas-tugas sehingga yang lain mereka kurang menyadari menyapa Tuhan.

  (PAK-15-Kusuma-Ha05)

  sehingga

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  c.

  Biasanya peserta Komuni Pertama adalah anak-anak yang telah dibaptis sehingga

  sejak bayi mereka dari kecil tidak mengikuti persiapan katekumenat. (PAK-15-Parestu-Ha03)

  sehingga

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  d. sangat taat pada

  Masa muda dilaluinya sebagai seorang Farisi yang sehingga

  Hukum Taurat hidup rohaninya dibentuk dengan latar belakang seperti demikian. (PAK-15-Nahak-Ha02) Konjungtor sehingga pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  maka 11) Konjungtor

  Konjungtor maka merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya,

  maka

  sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor menunjukkan hubungan hasil. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 7.

  Contoh penggunaannya di bawah ini.

  maka a.

  

Iman itu sendiri dengan sendirinya akan muncul dalam diri umat,

iman perlu dikembangkan dan diperjuangkan serta membutuhkan proses.

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha01)

  maka

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  b. maka penulis terdorong mengambil judul

  Menanggapi hal tersebut,

  skripsi: UPAYA MENINGKATKAN SEMANGAT

  PERSAUDARAAN SISWA-SISWA SMA SEMINARI SANTA MARIA

  IMMACULATA LALIAN ATAMBUA NUSA TENGGARA TIMUR, MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS. (PAK-15-Ulu-Ha04)

  maka

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  c. Maka` doa tak pernah sia-sia. (PAK-15-Sutaryono-Ha01)

  maka

  Kalimat tersebut menggunakan konjungtor yang salah karena bentuk tersebut hanya anak kalimat tanpa induk kalimat.

  12) dengan Konjungtor dengan

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  dengan

  menunjukkan hubungan cara. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 3. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. pemahaman bagi

  Devosi tersebut membutuhkan kesungguhan dan dengan keluarga Katolik memahami makna dan arti pentingnya.

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha03) Konjungtor dengan pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  b.

  Dalam katekese, para seminaris dimungkinkan dapat meningkatkan

  persaudaraan dengan saling berbagi pengalaman hidup sehingga diantara mereka terjadi komunikasi. (PAK-15-Ulu-Ha03

  —04) dengan

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  c.

  Proses perkembangan hidup beriman bertitik tolak dari pertobatan dengan`

  yang` dan` memiliki tiga komponen: pengetahuan, afeksi perilaku.

  (PAK-15-Luviasari-Ha06) Konjungtor dengan pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  tanpa 13) Konjungtor

  Konjungtor tanpa merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  tanpa

  menunjukkan hubungan cara. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 1. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a.

  Persaudaraan itu dilandasi suatu semangat membina kekerabatan tanpa`

  yang baik dengan siapapun dan` dimanapun ada suatu kepentingan. (PAK-15-Ulu-Ha03)

  tanpa

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  bahwa 14) Konjungtor bahwa

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  

bahwa menunjukkan hubungan komplementasi. Frekuensi penggunaan

  bahwa`

  a. Perayaan Ekaristi sendiri terdiri dari

  Rumusan ini menegaskan dua bagian pokok, yakni Liturgi Sabda dan` Liturgi Ekaristi.

  (PAK-15-Pawestrin-Ha01) Konjungtor bahwa pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  b. bahwa`: Bagi kebanyakan orang

  Griffiths (2010: 18-19) menyatakan ketertarikan untuk menyelami kedalaman diri mereka hampir hilang.

  (PAK-15-Kusuma-Ha02)

  bahwa

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  

bahwa`

  c. Paulus berkebangsaan Roma (Kis

  Santo Lukas menyatakan

  22.28.39). (PAK-15-Nahak-Ha02) Konjungtor bahwa pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  d. bahwa` pertobatan Paulus terjadi di jalan

  Kisah para rasul memaparkan

  menuju Damsyik.(PAK-15-Nahak-Ha02) Konjungtor bahwa pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  yang 15) Konjungtor

  Konjungtor yang merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya,

  yang

  sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor menunjukkan hubungan atributif. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 95. a.

  Keluarga Katolik di Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes yang`

  Sumber memiliki anak dibawah 12 tahun merasa sulit berkumpul dan` berdoa bersama dalam keluarga. (PAK-15-Sutaryono-Ha01) Konjungtor yang pada kalimat tersebut menandai klausa relatif restriktif atau klasua sisipan yang menghubungkan klausa dengan klausa dan memperluas fungsi subjek.

  yang` memiliki anak Klausa perluasan pada kalimat di atas, yaitu “

  dibawah 12 tahun merasa sulit berkumpul dan` berdoa bersama dalam

  yang

  keluarga ”dan sebagai penghubung atau konjungsi. Selain itu, konjungtor

  

yang pada kalimat di atas menandai hubungan makna penerang. Sebagaimana

  pendapat Ramlan (2005: 74), yaitu kata penghubung atau konjungsi yang digunakan untuk menandai hubungan makna penerang adalah yang. Chaer (2009:170) mengatakan bahwa kalimat luas atau kalimat majemuk dibentuk dengan menysipkan sebuah klausa pada klausa lain. Penyisipan dilakukan dengan bantuan konjungsi yang. Klausa bawahan atau klausa sisipan atau anak kalimat

  yang`

  memiliki anak dibawah 12 tahun

  

yang berbunyi “ ” menjadi penerang bagi

induk kalimat atau klausa utama “Keluarga Katolik di Wilayah Juwono, Paroki

  Santa Maria Lourdes Sumber merasa sulit berkumpul dan` berdoa bersama dalam keluarga ”.

  b. yang` merupakan lingkungan pendidikan keutamaan-

  Keluarga

  keutamaan sosial dibutuhkan oleh setiap masyarakat. (PAK-15- Sutaryono-Ha02)

  yang

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa relatif restriktif yang menghubungkan klausa dengan klausa dan memperluas fungsi objek. Klausa

  yang keutamaan- sebagai penghubung atau konjungsi. keutamaan sosial” dan yang

  Selain itu, konjungtor pada kalimat di atas menandai hubungan makna penerang. Sebagaimana pendapat Ramlan (2005: 74), yaitu kata penghubung atau konjungsi yang digunakan untuk menandai hubungan makna penerang adalah

  

yang. Chaer (2009:170) mengatakan bahwa kalimat luas atau kalimat majemuk

  dibentuk dengan menysipkan sebuah klausa pada klausa lain. Penyisipan

yang.

dilakukan dengan bantuan konjungsi Klausa bawahan atau klausa sisipan

  yang` merupakan lingkungan pendidikan atau anak kalimat yang berbunyi “

  keutamaan-keutamaan sosial

  ” menjadi penerang bagi induk kalimat atau klausa

  dibutuhkan oleh setiap masyarakat utama “Keluarga ”.

  yang`

  c. dialami oleh para keluarga di

  Penulis mengetengahkan hal Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah.

  (PAK-15-Sutaryono-Ha03)

  yang

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa relatif restriktif yang menghubungkan klausa dengan klausa dan memperluas fungsi objek. Klausa

  yang`

  perluasan pada kalimat di atas, yaitu dialami oleh para keluarga di

  

yang

  Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah ” dan sebagai penghubung atau konjungsi. Selain itu, konjungtor yang pada kalimat di atas menandai hubungan makna penerang. Sebagaimana pendapat Ramlan (2005: 74), yaitu kata penghubung atau konjungsi yang digunakan untuk menandai yang. hubungan makna penerang adalah Chaer (2009:170) mengatakan bahwa kalimat luas atau kalimat majemuk dibentuk dengan menysipkan sebuah klausa

  yang`

  bawahan atau klausa sisipan dialami oleh

  atau anak kalimat yang berbunyi “

  para keluarga di Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah

  ” menjadi penerang bagi induk kalimat atau klausa utama “Penulis

  mengetengahkan hal ”.

  d. yang` dialami orang tua di Wilayah

  Penulis ingin menanggapi masalah

  Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah. (PAK-15- Sutaryono-Ha03)

  yang

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa relatif restriktif yang menghubungkan klausa dengan klausa dan memperluas fungsi objek. Klausa

  yang`

  perluasan pada kalimat di atas, yaitu dialami orang tua di Wilayah

  

  Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa T yang sebagai

  engah” dan yang

  penghubung atau konjungsi. Selain itu, konjungtor pada kalimat di atas menandai hubungan makna penerang. Sebagaimana pendapat Ramlan (2005: 74), yaitu kata penghubung atau konjungsi yang digunakan untuk menandai hubungan yang. makna penerang adalah Chaer (2009:170) mengatakan bahwa kalimat luas atau kalimat majemuk dibentuk dengan menysipkan sebuah klausa pada klausa

  yang.

  lain. Penyisipan dilakukan dengan bantuan konjungsi Klausa bawahan atau

  yang`

  klausa sisipan atau anak kalimat yang berbunyi “ dialami orang tua di

  

Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah” menjadi

penerang bagi induk kalimat atau klausa utama “Penulis ingin menanggapi

masalah”.

16) Hingga Konjungtor hingga

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  hingga

  menunjukkan hubungan waktu. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 1. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. pula, mereka juga dapat menggunakan daya imajinasi mereka

  Selain itu` hingga`

  akhirnya cerita yang` mereka tangkap dapat diolah pada diri

  ` anak-anak dan akan diingat dengan mudah bagi anak-anak.

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) Konjungtor hingga pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang

  Selain itu` pula, mereka juga dapat

  menghubungkan klausa dengan klausa (

  

menggunakan daya imajinasi mereka hingga` akhirnya cerita yang` mereka

tangkap dapat diolah pada diri anak-anak dan` akan diingat dengan mudah bagi

anak-anak ). untuk 17) Konjungtor untuk

  Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif yang menghubungkan dua buah klausa atau lebih. Klausa-klausa yang dihubungkan tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor

  

untuk menunjukkan hubungan tujuan. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu a.

  Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus pada dasarnya tidak untuk`

  memberikan batasan ataupun` persyaratan yang` terlalu tinggi menjadi anggota lektor. (PAK-15-Pawestrin-Ha03) Konjungtor untuk pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  untuk`

  b. akhirnya malas mengikuti

  Anak-anak merasa bosan dan`

  pendampingan iman. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05)

  untuk

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  c.

  Dengan demikian` katekese model sotarae merupakan katekese yang` untuk`

  menekankan aksi atau` tindakan nyata meningkatkan keterlibatan hidup menggereja. (PAK-15-Luviasari-Ha09)

  untuk

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  d.

  Selain itu`, dalam diri anak-anak tersebut juga belum tertanam sikap untuk` perlu mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi.

  (PAK-15-Parestu-Ha01)

  untuk

  Konjungtor pada kalimat tersebut menandai klausa subordinatif yang menghubungkan klausa dengan klausa.

4.2.1.4 Konjungtor Antarkalimat 1) kemudian Konjungtor

  Konjungtor kemudian merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan

  kemudian

  huruf kapital. Konjungtor menyatakan dari peristiwa atau keadaan

  • –penggunaan yang salah- c.
  • –penggunaan yang salah-

  Group Media merupakan pertemuan kelompok yang`

  selain itu

  Konjungtor

  3) Konjungtor selain itu

  (PAK-15-Luchensy-Ha05)

  Mereka hanya mengikuti pelajaran agama saja di sekolah setelah itu` kurang diperhatikan.

  bertukar pikiran (Olivera, 1989:10). (PAK-15-Bintarti-Ha03)

  dan` setelah itu`

  ` fotocopy, dll)

  dan

  bersama-sama menyaksikan program-program media ukuran kecil (kaset, VCD, CD, foto, slide

  a.

  merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Konjungtor setelah itu menyatakan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 2. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  setelah itu

  Konjungtor

  2) Konjungtor setelah itu

  menentukan tema dan menganalisisnya, kemudian merangkum dan memuat aksi nyata sesuai dengan keprihatinan pada kondisi sosial. (PAK-15-Bintarti-Ha03)

  Peserta diajak untuk menemukan makna dalam dokumen pilihan untuk

  pertanyaan kemudian` dirangkum berupa poin-poin dan` dibuat urutan sesuai prioritas. (PAK-15-Luviasari-Ha09)

  Kedua, peserta diajak menggali dari dokumen melalui pertanyaan-

  a. Kemudian` dalam perkembangan Gereja selanjutnya, ajaran-ajaran Kristus dirumuskan kembali dan` dibakukan dalam sejumlah dogma pokok. (PAK-15-Nahak-Ha03) b.

  pada kalimat sebelumnya. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 5. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  • –penggunaan yang salah- b.
  • –penggunaan yang salah-

  merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan

  selain itu

  huruf kapital. Konjungtor menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 7. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. Selain itu` pula, mereka juga dapat menggunakan daya imajinasi mereka hingga` akhirnya cerita yang ` mereka tangkap dapat diolah pada diri anak-anak dan` akan diingat dengan mudah bagi anak-anak. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05)

  Selain itu`

  b. , dalam diri anak-anak tersebut juga belum tertanam sikap perlu untuk` mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi.

  (PAK-15-Parestu-Ha01)

  Selain itu`

  c. , tindakan pewartaan Injil oleh Gereja tidak lepas dari inspirasi seorang tokoh Gereja atau` pun orang-orang kudus.

  (PAK-15-Nahak-Ha01)

  d. Selain itu` , orang tua juga mempunyai kewajiban dan` hak yang` tidak diganggu untuk` mendidik anak-anak mereka.

  (PAK-15-Luchensy-Ha01)

  bahkan g. Konjungtor

  Konjungtor bahkan merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan

  bahkan

  huruf kapital. Konjungtor menguatkan keadaan sebelumnya. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 5. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  Bahkan`

  a. , hal ini ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam

  `

  refleksinya bahwa` tidak

  “Gereja merasa bersalah di hadapan Allah jika `

  menggunakan media massa (baca: media digital) untuk mewartakan

   Kabar Gembira!”

  (PAK-15-Nahak-Ha01)

  Bahkan` jika` b.

  tidak memberitakan

  , ia mengatakan , “Celakalah aku, c.

  Bahkan`,

  menyatakan konsekuensi. Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 4. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. Oleh karena itu` , hendaknya para orang tua menyadari betapa

  Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 4. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  oleh karena itu menyatakan akibat.

  Konjungtor oleh karena itu merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Konjungtor

  c. Dengan demikian` , peserta didik tidak hanya berkembang dalam satu sisi atau` satu segi saja. (PAK-15-Suparti-Ha04)

  , pendidikan iman mempunyai peran dan` tempat yang utama. (PAK-15-Suparti-Ha03)

  Dengan demikian`

  a. Dengan demikian` katekese model sotarae merupakan katekese yang` menekankan aksi atau` tindakan nyata untuk` meningkatkan keterlibatan hidup menggereja. (PAK-15-Luviasari-Ha09 b.

  dengan demikian

  modernisasi pun merebak

  Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Konjungtor

  merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain.

  dengan demikian

  Konjungtor

   Konjungtor dengan demikian

  peserta didik. (PAK-15-Suparti-Ha02) h.

  dan`

  mematikan perkembangan kaum muda

  dan`

i. Konjungtor oleh karena itu

  b.

  Oleh karena itu` ,

  perlu usaha menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan kaum muda katolik agar` terlibat langsung membantu kaum miskin. (PAK-15-Bintarti-Ha01)

  c. Oleh karena itu` , pendidikan iman bersifat menyeluruh yang` mencakup aspek iman yaitu pengetahuan iman, perayaan iman dan` penghayatan iman. (PAK-15-Luviasari-Ha06) j.

   Konjungtor oleh sebab itu

  Konjungtor

  oleh sebab itu

  merupakan merupakan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Konjungtor oleh sebab itu menyatakan akibat.

  Frekuensi penggunaan konjungtor ini, yaitu 1. Contoh penggunaannya di bawah ini.

  a. Oleh sebab itu` , seluruh keluarga yang` beriman Katolik pun masih mengalami berbagai tantangan untuk

  `

  melanjutkan karya-karya Allah yang` diturunkan bagi seluruh umat Katolik. (PAK-15-Wuriusadani- Ha02)

Tabel 4.1 Frekuensi Penggunaan Konjungsi

  No. Konjungtor Koordinatif Frekuensi

  1. dan 120 2. serta

  6 3. atau(pun)

  13 4. tetapi/tapi

  2 5. melainkan

  2 6. padahal

  4 7. sedangkan

  2 8. lalu

  1

  150 Konjungtor Korelatif 9. baik ... maupun ...

  5 10. tidak hanya ... tetapi juga ...

  1 11 bukan hanya ... melainkan juga

  1

  7 Konjungtor Subordinatif

  12. ketika

  9 13. jika

  2 14. kalau

  2 15. agar

  6 16. supaya

  3 17. meski(pun)

  2 18. walau(pun)

  2 19. sebab

  1 20. karena

  7 21. sehingga

  17 22. maka

  7 23. dengan

  3 24. tanpa

  1 25. bahwa

  19 26. yang

  95 27. hingga

  1 28 untuk

  42 219

  Konjungtor Antarkalimat

  29. kemudian

  5

  31. selain itu

  7 32. bahkan

  5 33. dengan demikian

  4 34. oleh karena itu

  4 35. oleh sebab itu

  1

  28 Jumlah 404

  Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa lima belas latar belakang skripsi sudah menggunakan konjungtor untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, dan klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Selain itu, beradasarkan tabel frekuensi di atas, konjungtor subordinatif memiliki frekuensi terbanyak. Dengan demikian, peneliti dapat mengatakan bahwa lima belas latar belakang skripsi sebagian besar menggunakan kalimat majemuk. Mahasiswa Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) menggunakan kalimat majemuk untuk menuangkan ide atau gagasan yang panjang dalam satu kalimat. Chaer (2009: 168) mengatakan bahwa dalam praktik berbahasa yang sebenarnya seringkali tidak cukup hanya dengan menggunakan kalimat dasar atau kalimat sederhana.

  Kita harus menggunakan kalimat yang di dalamnya terkandung banyak informasi. Kalimat yang di dalamnya terkandung lebih banyak informasi disebut kalimat luas atau kalimat majemuk.

4.2.2 Kesalahan Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Skripsi.

  Pada bagian ini, akan dipaparkan kesalahan penggunaan konjungtor berdasarkan teroi siasat permukaan. Kalimat yang mengandung kesalahan pengunaan konjungtor akan diberi alternatif perbaikan sehingga menjadi kalimat yang lebih sesuai dengan kaidah. Selain itu, pada bagian akhir subbab 4.2.2 diberi

  .

  penjelasan berkaitan dengan kesalahan atau kekeliruan Pemaparan tersebut sebagai berikut.

4.2.2.1 Penghilangan

  Penghilangan ini ditandai oleh “ketidakhadiran” suatu hal yang seharusnya

  ada dalam ucapan yang baik da

  n benar” Tarigan (2011: 133). Suatu “hal” dalam

  penelitian ini adalah konjungtor. Konjungtor seharusnya hadir atau muncul dalam suatu kalimat, tetapi justru tidak hadir. Konjungtor yang tidak hadir dapat menyebabkan kerancuan dalam suatu kalimat. selain itu, bisa menyebabkan kesulitan memahami suatu kalimat.

  Berdasarkan data yang sudah dianalisis, konjungtor yang mengandung

  bukan hanya .... melainkan juga dan “penghilangan” ialah konjungtor korelatif baik ... maupun .

  Di bawah ini dipaparkan penggunaan konjungtor yang mengandung “penghilangan” beserta perbaikannya.

  a. beriman dapat mengungkapkan harapan

  Melalui doa seseorang yang maupun kerinduannya pada Tuhan. (PAK-15-Kusuma-Ha03) baik

  Kalimat di atas menghilangkan kata sebagai pasangan dari konjungtor

  baik ... maupun korelatif . Setelah kata “mengungkapkan” kata “baik” harus hadir.

  Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:304).

  Pada kalimat tersebut konjungtor korelatif menghubungkan frasa dengan frasa,

  baik maupun

  harapan (pada Tuhan) kerinduannya pada

  yaitu “ Tuhan”. Selain itu,

  bentuk konjungsi ini terbelah, maksudnya unsur yang satu dipisahkan oleh salah satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan (Muslich, 2014: 115). Dengan demikian, konjungtor korelatif, yang berpasangan dan terbelah, tidak boleh diubah oleh siapapun atau dihilangkan pasangannya. Pengubahan atau penggantian dapat melanggar kaidah penggunaan konjungtor (konjungsi). Kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan oleh konjungtor korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Jika dihilangkan, tidak lagi berkaitan dan berpasangan.

  Perbaikan: Melalui doa seseorang yang beriman dapat mengungkapkan baik harapan

  maupun kerinduannya pada Tuhan. (PAK-15-Kusuma-Ha03) b.

  Sekolah Katolik diharapkan mendorong anak dan remaja untuk terlibat

  dalam kegiatan pengembangan iman maupun dalam kegiatan kemasyarakatan (Nota Pastoral KAS, 2008: 46). (PAK-15-Luviasari- Ha01

  —02) baik

  Kalimat di atas menghilangkan kata sebagai pasangan dari konjungtor

  baik ... maupun korelatif . Setelah kata “terlibat” kata “baik” harus hadir.

  Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa,

  Konjungtor korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan. Pada kalimat tersebut konjungtor korelatif

  baik dalam kegiatan pengembangan menghubungkan frasa dengan frasa, yaitu “ maupun

  iman

  dalam kegiatan kemasyarakatan”. Selain itu, bentuk konjungsi ini

  terbelah, maksudnya unsur yang satu dipisahkan oleh salah satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan (Muslich, 2014: 115). Dengan demikian, konjungtor korelatif, yang berpasangan dan terbelah, tidak boleh diubah oleh siapapun atau dihilangkan pasangannya. Pengubahan atau penggantian dapat melanggar kaidah penggunaan konjungtor (konjungsi). Kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan oleh konjungtor korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan.

  Perbaikan:

  baik

  Sekolah Katolik diharapkan mendorong anak dan remaja untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan iman maupun dalam kegiatan kemasyarakatan (Nota Pastoral KAS, 2008: 46). (PAK-15-Luviasari- Ha01

  —02)

  c. bukan hanya semata-mata tugas guru dan lembaga

  Pendidikan pendidikan (sekolah) melainkan tugas dari seluruh warga masyarakat.

  (PAK-15-Luchensy-Ha01)

  juga

  Kalimat di atas menghilangkan kata yang menjadi bagian dari pasangan konjungtor korelatif bukan hanya ... melainkan juga . Walaupun hanya

  

kurang kata “juga” tetap saja salah sebab melanggar aturan kebahasaan di dalam

  tata bahasa baku Bahasa Indonesia. Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis

  Perbaikan: Pendidikan

  bukan hanya semata-mata tugas guru dan lembaga pendidikan

  (sekolah)

  melainkan juga tugas dari seluruh warga masyarakat.

  (PAK-15-Luchensy-Ha01) d.

  Tidak hanya itu saja, siswa-siswa yang duduk di kelas dua maupun kelas

  tiga seringkali menganggap diri sebagai senior dan kurang menunjukkan rasa persaudaraan kepada adik kelasnya. (PAK-15-Ulu-Ha02) Kalimat di atas menghilangkan kata

  baik

  sebagai pasangan dari konjungtor korelatif

  baik ... maupun . Setelah kata “duduk” kata “baik” harus hadir.

  Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:304).

  Selain itu, bentuk konjungsi ini terbelah, maksudnya unsur yang satu dipisahkan oleh salah satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan (Muslich, 2014: 115).

  Dengan demikian, konjungtor korelatif, yang berpasangan dan terbelah, tidak boleh diubah oleh siapapun atau dihilangkan pasangannya. Pengubahan atau penggantian dapat melanggar kaidah penggunaan konjungtor (konjungsi). Kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan oleh konjungtor korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan.

  Perbaikan: Tidak hanya itu saja, siswa-siswa yang duduk baik di kelas dua maupun kelas tiga seringkali menganggap diri sebagai senior dan kurang menunjukkan rasa persaudaraan kepada adik kelasnya. (PAK-15-Ulu- Ha02)

  PAK menambah

  tidak hanya e.

  Hal ini dimaknai secara praktis bahwa tetapi

  wawasan keagamaan bagi peserta didik,

  mengasah “keterampilan

beragama” dan mewujudkan sikap beragama bagi peserta didik.

  (PAK-15-Suparti-Ha04)

  juga

  Kalimat di atas menghilangkan kata yang menjadi bagian dari

  bukan hanya ... melainkan juga

  pasangan konjungtor korelatif . Walaupun hanya

  

kurang kata “juga” tetap saja salah sebab melanggar aturan kebahasaan di dalam

  tata bahasa baku Bahasa Indonesia. Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, dua frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk. 2010:304).

  Perbaikan: Hal ini dimaknai secara praktis bahwa PAK tidak hanya menambah

  tetapi juga

  wawasan keagamaan bagi peserta didik, mengasah mewujudkan sikap beragama bagi peserta

  “keterampilan beragama” dan

  didik. (PAK-15-Suparti-Ha04)

4.2.2.2 Penambahan

  Penambahan ditandai oleh hadirnya suatu hal atau unsur yang seharusnya tidak muncul dalam ucapan yang baik dan benar Tarigan (2011: 135). Hal atau unsur tersebut adalah konjungtor dalam penelititan ini. Suatu konjungtor muncul dalam suatu kalimat, tetapi sudah ada konjungtor. Oleh karena itu, dalam suatu kalimat muncul dua konjungtor yang sebenarnya tidak harus hadir karena menyebabkan konjungtor itu mubazir. Dapat dikatakan penggunaan konjungtor yang berlebihan. Berdasarkan data yang sudah dianalisis, konjungtor yang

  sehingga; walaupun, ketika; maka, dan mengandung “penambahan” ialah

  maka; sehingga meskipun; untuk

  dan . Bagian di bawah ini memaparkan

penggunaan konjungtor yang mengandung “penambahan” beserta perbaikannya.

  a. Ketika kedekatan itu sudah terasa maka tidak jarang segala permasalahan sedikit demi sedikit teratasi. (PAK-15-Kusuma-Ha01) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang berlebihan. Menurut

  Setyawati (2013: 87) kalimat di atas menggunakan padanan yang tidak serasi, yaitu penggunaan dua konjungsi atau konjungtor sekaligus. Seharusnya konjungsi atau konjungtor yang digunakan salah satu saja. Konjungtor ketika dan maka yang hadir sekaligus pada kalimat di atas menyebabkan induk kalimat tidak jelas.

  Sebagaimana pendapat Alwi, dkk. (2010: 305) konjungtor subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor subordinatif membentuk anak kalimat. Penggabungan anak kalimat dengan induk kalimat menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Dengan demikian, hilangnya konjungtor maka menjadikan kalimat tersebut mempunyai anak dan induk kalimat yang jelas. Selain itu, kurangnya kecermatan pemakai bahasa dapat mengakibatkan penggunaan konjungsi yang berlebihan. Hal itu terjadi karena dua kaidah bahasa dan bergabung dalam sebuah kalimat (Setyawati, 2013: 87).

  Perbaikan:

  Ketika kedekatan itu sudah terasa, tidak jarang segala permasalahan sedikit

  demi sedikit teratasi. (PAK-15-Kusuma-Ha01) b.

  Tentunya, lingkungan Yunani dimana ia tinggal pun turut memberi andil sehingga walaupun

  dalam pembentukan hidupnya berlatar belakang Yahudi, ia tetap hidup dalam kebudayaan Yunani. (PAK-15-Nahak- Ha02)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang berlebihan. Menurut Setyawati (2013: 87) kalimat di atas menggunakan padanan yang tidak serasi, yaitu penggunaan dua konjungsi atau konjungtor sekaligus. Seharusnya konjungsi atau konjungtor yang digunakan salah satu saja. Akan tetapi, kalimat tersebut terlalu panjang sehingga kalimat tersebut tidak efektif. Oleh karena itu, kalimat tersebut bisa dibagi menjadi dua kalimat sebab kalimat majemuk bertingkat terdiri atas induk kalimat dan anak kalimat yang dihubungkan oleh konjungtor.

  Selanjutnya, konjungtor sehingga dihilangkan saja. Konjungtor walaupun tetap dipertahankan. Selain itu, kurangnya kecermatan pemakai bahasa dapat mengakibatkan penggunaan konjungsi yang berlebihan. Hal itu terjadi karena dua kaidah bahasa dan bergabung dalam sebuah kalimat (Setyawati, 2013: 87).

  Perbaikan: Tentunya, lingkungan Yunani dimana ia tinggal pun turut memberi andil

  . Walaupun

  dalam pembentukan hidupnya berlatar belakang Yahudi, ia tetap hidup dalam kebudayaan Yunani. (PAK-15-Nahak-Ha02) c. Maka , Bunda Maria dan putera-Nya mempunyai ikatan yang sangat kuat,

  sehingga umat yang melihat penampakan Bunda Maria berarti ia melihat

  kehadiran Tuhan. (PAK-15-Wuriusadani-Ha06) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang berlebihan. Menurut

  Setyawati (2013: 87) kalimat di atas menggunakan padanan yang tidak serasi,

  Seharusnya konjungsi atau konjungtor yang digunakan salah satu saja. Konjungtor

  maka

  bukan konjungtor antarkalimat yang menghubungkan kalimat satu dengan kalimat yang lain. Oleh karena itu konjungtor maka dihilangkan saja.

  Sebagaimana pendapat Alwi, dkk. (2010: 305) konjungtor subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Konjungtor subordinatif membentuk anak kalimat. Penggabungan anak kalimat dengan induk kalimat menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Selain itu, kurangnya kecermatan pemakai bahasa dapat mengakibatkan penggunaan konjungsi yang berlebihan. Hal itu terjadi karena dua kaidah bahasa dan bergabung dalam sebuah kalimat (Setyawati, 2013: 87).

  Perbaikan:

   sehingga

  Bunda Maria dan putera-Nya mempunyai ikatan yang sangat kuat umat yang melihat penampakan Bunda Maria berarti ia melihat kehadiran Tuhan. (PAK-15-Wuriusadani-Ha06)

  Meskipun

  d. Bunda Maria hanya manusia biasa yang diberi rahmat dan diangkat oleh Allah untuk menjadi bunda Allah dan Bunda bagi keluarga Katolik. (PAK-15-Wuriusadani-Ha06)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang berlebihan. Menurut Setyawati (2013: 87) kalimat di atas menggunakan padanan yang tidak serasi,

  maka sehingga Data di atas betul sebagai kalimat, tetapi salah sebagai klausa. Konjungtor

  meskipun untuk

  dan konjungtor pada kalimat tersebut menyebabkan induk kalimat tidak jelas padahal kalimat majemuk bertingkat harus tersusun dari anak kalimat dan induk kalimat. Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk. 2010:305). Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Selain itu, data di atas salah sebagai klausa karena data di atas termasuk klausa yang dangling clause. menggantung atau Rahardi (2009: 24) mengatakan bahwa klausa yang menggantung bisa terjadi karena anak kalimat pada kalimat majemuk tidak memiliki induk kalimat, tetapi berdiri sendiri. Oleh karena itu, klausa tersebut digabungkan dengan kalimat berikutnya untuk membentuk kalimat yang utuh dan tidak menggantung.

  Perbaikan:

  Meskipun Bunda Maria hanya manusia biasa yang diberi rahmat dan

  diangkat oleh Allah untuk menjadi bunda Allah dan Bunda bagi keluarga Katolik, menghormati Bunda Maria bukan berarti mengabaikan Tuhan, melainkan mencari cara lain untuk menemukan Tuhan (data terlampir no.5).

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha06)

  4.2.2.3 Salah Formasi

  Formasi berarti barisan. Salah formasi adalah kesalahan yang berupa

  

misformation atau salah-formasi yang ditandai oleh pemakaian bentuk morfem

  atau struktur yang salah (Tarigan 2011: 139). Dalam hal ini, salah formasi diartikan sebagai barisan unsur kebahasaan yang tidak benar. Unsur kebahasaan itu adalah konjungtor yang hadir berpasangan, tetapi tidak benar. Salah formasi dalam penggunaan konjungtor berupa kesalahan penggunaan konjungtor korelatif.

  

Baik .... maupun .... berbentuk barisan, baik muncul dahulu lalu maupun . Barisan

  itu membentuk pasangan. Akan tetapi, barisan yang berupa pasangan sering disalahgunakan. Contohnya, baik dipasangkan dan, padahal bukan merupakan pasangan.

  Berdasarkan data yang sudah dianalisis, konjungtor yang mengandung

baik ... maupun ... dan baik... dan ... .

  “salah formasi” ialah

  Di bawah ini dipaparkan penggunaan konjungtor yang mengandung “salah formasi” beserta perbaikannya.

  baik ataupun a.

  pendamping

  Padahal melalui penggunaan metode bercerita

  anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih- Ha04)

  Pasangan konjungtor korelatif baik ... ataupun adalah salah. Pasangan yang baik... maupun . benar adalah (Alwi, dkk, 2010: 304) Pasangan konjungtor korelatif tidak boleh diubah oleh penulis atau siapapun sebab pasangan ini mempunyai sifat timbal balik. Korelatif berarti mempunyai hubungan timbal balik

  korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Pasangan konjungtor korelatif yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan konjungtor sama sekali tidak boleh dipakai.

  Perbaikan: Padahal melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping maupun anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04) b.

  Mahasiwa-mahasiswi IPPAK-USD adalah kaum gereja baik itu awam dan juga kaum religiusnya mempunyai motivasi dalam dirinya masing-

  masing. (PAK-15-Luchensy-Ha06)

   baik ... dan

  Pasangan konjungtor korelatif adalah salah. Pasangan yang benar adalah baik... maupun (Alwi, dkk, 2010: 304). Pasangan konjungtor korelatif tidak boleh diubah oleh penulis atau siapapun sebab pasangan ini mempunyai sifat timbal balik. Korelatif berarti mempunyai hubungan timbal balik (KBBI, 2008: 734). Kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan oleh konjungtor korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Pasangan konjungtor korelatif yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan konjungtor sama sekali tidak boleh dipakai.

  Perbaikan: Mahasiwa-mahasiswi IPPAK-USD adalah kaum gereja baik itu awam

  maupun

  juga kaum religiusnya mempunyai motivasi dalam dirinya masing- masing.(PAK-15-Luchensy-Ha06)

  

bukan , tetapi juga

  c. merupakan kepentingan Gereja saja kepentingan

  PAK sehingga

  Negara, pemerintah mengaturnya dalam Undang-Undang No.2

  dan

  Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, Gereja mempertimbangkan dalam rangka perwartaan. (PAK-15-Suparti-Ha04)

  bukan ... tetapi juga ...

  Pasangan adalah salah, pasangan yang benar sebagai bukan hanya ... melainkan juga ... konjungtor korelatif adalah (Alwi, dkk, 2010: 304). Pasangan konjungtor korelatif tidak boleh diubah oleh penulis atau siapapun sebab pasangan ini mempunyai sifat timbal balik (KBBI, 2008: 734). Korelatif berartimempunyai hubungan timbal balik. Kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan oleh konjungtor korelatif mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Pasangan konjungtor korelatif yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan konjungtor sama sekali tidak boleh dipakai.

  Perbaikan: PAK bukan merupakan kepentingan Gereja saja , tetapi juga kepentingan Negara, sehingga pemerintah mengaturnya dalam Undang-Undang No.2

  dan

  Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, Gereja mempertimbangkan dalam rangka perwartaan. (PAK-15-Suparti-Ha04)

4.2.2.4 Salah Susun

  Salah susun merupakan kesalahan-kesalahan yang ditandai oleh penempatan yang tidak benar bagi suatu morfem atau kelompok morfem dalam suatu ucapan atau ujaran (Tarigan, 2011: 141). Salah susun dalam penelitian ini adalah salah susun dalam penggunaan konjungtor. Salah susun pada konjungtor ditandai dengan adanya penempatan yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Sebagian besar berfungsi sebagai konjungtor antarkalimat diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat.

  Bentuk-bentuk penggunaan

  konjungtor yang termasuk “salah susun” adalah

dan, padahal, tetapi/tapi, ketika, sebab, sehingga, bahkan, selain itu, setelah itu,

namun dan kemudian.

  Bagian di bawah ini memaparkan penggunaan konjungtor yang mengandung “salah susun” beserta perbaikannya.

  a.

  Peserta diajak untuk menemukan makna dalam dokumen pilihan untuk kemudian

  menentukan tema dan menganalisisnya, merangkum dan memuat aksi nyata sesuai dengan keprihatinan pada kondisi sosial. (PAK-15-Bintarti-Ha03)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  kemudian

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru.

  Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini.

  Perbaikan: Peserta diajak untuk menemukan makna dalam dokumen pilihan untuk menentukan tema dan menganalisisnya.

  Kemudian , merangkum dan memuat aksi nyata sesuai dengan keprihatinan pada kondisi sosial.

  (PAK-15-Bintarti-Ha03) b.

  Dan

  dalam hal ini kegiatan pembinaan lektor idealnya bertujuan untuk meningkatkan motivasi pelayanan para lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. (PAK-15-Pawestrin-Ha04)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor

  dan

  merupakan konjungtor koordinatif sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Konjungsi koordinatif atau konjungtor koordinatif, adalah konjungtor yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena itu, konjungtor

  dan

  pada kalimat tersebut harus dihilangkan sebab tidak benar dalam bahasa Indonesia.

  Perbaikan: Dalam hal ini kegiatan pembinaan lektor idealnya bertujuan untuk meningkatkan motivasi pelayanan para lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. b(PAK-15-Pawestrin-Ha04) c.

  Menurut pengalaman penulis, ada beberapa fakta mengenai menurunnya

  motivasi para anggota lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus

  Padahal

  Ganjuran. Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan sarana melalui berbagai macam bentuk kegiatan untuk para anggota lektor tersebut. (PAK-15-Pawestrin-Ha04)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor padahal merupakan konjungtor koordinatif bukan konjungtor antarkalimat sehingga

  padahal padahal

  konjungtor tidak boleh di awal kalimat. Konjungtor tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut Chaer (2011: 117)

  padahal

  konjungsi tidak dapat menduduki posisi awal kalimat atau mengawali kalimat karena pengertian atau konsep yang dikemukakan pada klausa yang

  padahal

  dimulai dengan konjungsi

  merupakan ‘pertentangan’ atau ‘kebalikan’

  dari apa yang dikemukakan pada klausa sebelumnya. Selain itu, konjungtor

  

padahal menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya,

  atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena itu, konjungtor padahal pada kalimat tersebut harus digabungkan dengan kalimat

  padahal

  sebelumnya, tanda titik sebelum konjungtor dihilangkan dan diganti tanda koma (,) supaya membentuk kalimat majemuk setara.

  Perbaikan: Menurut pengalaman penulis, ada beberapa fakta mengenai menurunnya motivasi para anggota lektor di Paroki Hati Kudus Tuha Yesus Ganjuran,

  padahal

  Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan sarana melalui berbagai macam bentuk kegiatan untuk para anggota lektor tersebut. (PAK-15-Pawestrin-Ha04) d.

  

Dengan bercerita kita dapat melihat suatu kejadian yangdiceritakan

selain itu

  melalui daya imajinasi yang ada dalam pikiran, kita dapat merasakan cerita itu melalui hati dan perasaan.

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha02) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  setelah itu

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru.

  Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.

  Perbaikan: Dengan bercerita kita dapat melihat suatu kejadian yangdiceritakan melalui daya imajinasi yang ada dalam pikiran. Selain itu, kita dapat merasakan cerita itu melalui hati dan perasaan. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha02)

   namun e.

  Kegiatan ini tidak dilaksanakan secara terpusat di paroki dilaksanakan dalam setiap wilayah yang ada di paroki.

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha03) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor namun merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru. Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini

  Perbaikan: Kegiatan ini tidak dilaksanakan secara terpusat di paroki . Namun, dilaksanakan dalam setiap wilayah yang ada di paroki. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha03) f.

  Walaupun metode bercerita sering digunakan dalam pendampingan iman namun

  anak di Kuasi Paroki Santo Yusup, ada kecenderungan bahwa metode bercerita hanya dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04)

  namun

  Konjungtor merupakan konjungtor antarkalimat sehingga harus mengawali kalimat baru. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Akan tetapi, dalam kasus kebahasaan pada kalimat tersebut, konjungtor namun lebih baik dihilangkan karena jika langsung diberi

  Walaupun

  tanda titik, akan menghilangkan induk kalimat ( metode bercerita sering digunakan dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup.).

  Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini

  Perbaikan: Walaupun metode bercerita sering digunakan dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup, ada kecenderungan bahwa metode bercerita hanya dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04)

  Padahal

  g. melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping ataupun anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih- Ha04)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  padahal

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor koordinatif maka konjungtor

  padahal

  tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Konjungtor tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut Chaer (2011: 117)

  padahal

  konjungsi tidak dapat menduduki posisi awal kalimat atau mengawali kalimat karena pengertian atau konsep yang dikemukakan pada klausa yang dimulai dengan konjungsi padahal

  merupakan ‘pertentangan’ atau ‘kebalikan’

  dari apa yang dikemukakan pada klausa sebelumnya. Selain itu, konjungtor

  

padahal menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya,

  atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena itu,

  padahal

  konjungtor pada kalimat tersebut harus digabungkan dengan kalimat sebelumnya, tanda titik sebelum konjungtor padahal dihilangkan dan diganti tanda koma (,) supaya membentuk kalimat majemuk setara.

  Perbaikan: Selain itu, para pendampingan PIA merasa kurang mampu untuk mengemas

  padahal

  suatu materi yang ada ke dalam suatu bentuk cerita yang menarik, melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping ataupun anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04) h.

  Padahal suatu proses pendampingan iman anak haruslah memiliki ciri-

  ciri gembira dan mendalam. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  padahal

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor koordinatif maka konjungtor

  padahal

  tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Konjungtor tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut Chaer (2011: 117) konjungsi padahal tidak dapat menduduki posisi awal kalimat atau mengawali kalimat karena pengertian atau konsep yang dikemukakan pada klausa yang dimulai dengan konjungsi padahal

  merupakan ‘pertentangan’ atau ‘kebalikan’

  dari apa yang dikemukakan pada klausa sebelumnya. Selain itu, konjungtor koordinatif menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena

  padahal

  itu, konjungtor pada kalimat tersebut harus digabungkan dengan kalimat sebelumnya, tanda titik sebelum konjungtor padahal dihilangkan dan diganti tanda koma (,) supaya membentuk kalimat majemuk setara.

  Perbaikan: Anak-anak merasa bosan dan akhirnya malas untuk mengikuti pendampingan iman, padahal suatu proses pendampingan iman anak haruslah memiliki ciri-ciri gembira dan mendalam. (PAK-15- Wahyuningsih-Ha05)

  Sehingga

  i. doa tersebut tidak menjadi prioritas dalam hidupnya. (PAK-15- Kusuma-Ha03)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  sehingga

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor subordinatif maka konjungtor tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Konjungtor sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat seperti pada kalimat tersebut.

  Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama (Alwi, dkk.

  sehingga

  2010:305). Oleh karena itu, konjungtor pada kalimat tersebut merupakan anak kalimat atau klausa subordinatif dan harus digabung oleh kalimat sebelumnya sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Perbaikan: Keputusan tersebut mengakibatkan dalam diri seseorang bersikap

  sehingga

  mengabaikan doa doa tersebut tidak menjadi prioritas dalam hidupnya. (PAK-15-Kusuma-Ha03)

  Sehingga

  j. memampukan para mahasiswa semakin lebih mengalamai Allah sendiri di dalam dirinya.(PAK-15-Kusuma-Ha04-05)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  sehingga

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor subordinatif maka konjungtor tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Konjungtor sehingga tidak bisa

  Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk.

  2010:305). Oleh karena itu, konjungtor sehingga pada kalimat tersebut merupakan anak kalimat atau klausa subordinatif dan harus digabung oleh kalimat sebelumnya sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Perbaikan: Alangkah baiknya di luar pembinaan kampus, mahasiswa mau melaksanakan doa meditasi dan merasakan dampak dan manfaatnya bagi hidup mereka sehingga memampukan para mahasiswa semakin lebih mengalamai Allah sendiri di dalam dirinya. (PAK-15-Kusuma-Ha04-05) k. bahkan senang duduk di barisan paling belakang dan juga

  Mereka berada di halaman Gereja untuk bercerita dengan teman-teman yang lain.

  (PAK-15-Parestu-Ha01) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  bahkan

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru.

  Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini

  Perbaikan:

  Bahkan , mereka senang duduk di barisan paling belakang dan juga berada di halaman Gereja untuk bercerita dengan teman-teman yang lain.

  (PAK-15-Parestu-Ha01) l.

  

Kedua, peserta diajak menggali dari dokumen melalui pertanyaan-

  pertanyaan kemudian dirangkum berupa poin-poin dan dibuat urutan sesuai prioritas. (PAK-15-Luviasari-Ha09) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  kemudian

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru.

  Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat

  Perbaikan: Kedua, peserta diajak menggali dari dokumen melalui pertanyaan- pertanyaan. Kemudian, dirangkum berupa poin-poin dan dibuat urutan sesuai prioritas. (PAK-15-Luviasari-Ha09) m.

  

Berawal dengan nama lingkungan Maria dari Paroki Kristus Raja

  Karawang (Paroki lama), lalu menjadi wilayah Santa Maria Cikampek

  yang kemudian

  menjadi Stasi Santa Maria dan kini sudah resmi menjadi Paroki mandiri. (PAK-15-Lestari-Ha03) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya.

  yang kemudian

  Konjungtor tidak bisa dihadirkan secara bersamaan dan harus salah satu yang hadir. Konjungtor konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk.

  yang

  2010:305). Konjungtor merupakan konjungtor subordinatif dan konjungtor

  

kemudian merupakan konjungtor antarkalimat, keduanya tidak boleh digunakan

secara bersamaan karena konjungtor antarkalimat harus mengawali kalimat baru.

  Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.

  yang

  Kalimat tersebut terlalu panjang sehingga konjungtor tersebut bisa dihilangkan. Oleh karena itu, dalam kasus kebahasaan tersebut, konjungtor yang lebih baik dihilangkan dan penghubung kemudian lebih baik dipertahankan. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat

  (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini Perbaikan: Berawal dengan nama lingkungan Maria dari Paroki Kristus Raja Karawang (Paroki lama), lalu menjadi wilayah Santa Maria Cikampek.

  Kemudian, menjadi Stasi Santa Maria dan kini sudah resmi menjadi Paroki mandiri.

  (PAK-15-Lestari-Ha03) n.

  Betapa tidak? Ketika kerinduan untuk bertemu dengan Sang Pemberi

  hidup tidak dapat terpenuhi. (PAK-15-Lestari-Ha01) Konjungtor

  ketika

  pada kalimat tersebut menyebabkan induk kalimat tidak jelas padahal kalimat majemuk bertingkat harus tersusun dari anak kalimat dan induk kalimat. Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama.

  (Alwi, dkk. 2010:305). Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Selain itu, klausa tersebut merupakan klausa yang menggantung atau dangling clause. Bentuk kebahasaan seperti itu dikatakan sebagai klausa yang menggantung karena anak kalimat pada kalimat majemuk itu tidak memiliki induk kalimat, tetapi berdiri sendiri (Rahardi, 2009:24). Oleh karena itu, lebih baik konjungtor ketika dihilangkan supaya menjadi kalimat utuh.

  Perbaikan: Betapa tidak? Kerinduan untuk bertemu dengan Sang Pemberi hidup tidak o.

  Ia mengalami perjumpaan dengan Yesus yang kemudian ia menjadi buta untuk beberapa waktu (Kis 9: 1-19, 22:1-16; 26:9-18).

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya.

  yang kemudian

  Konjungtor tidak bisa dihadirkan secara bersamaan dan harus salah satu yang hadir. Konjungtor konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk. 2010:305). Konjungtor yang merupakan konjungtor subordinatif dan konjungtor

  kemudian

  merupakan konjungtor antarkalimat, keduanya tidak boleh digunakan secara bersamaan karena konjungtor antarkalimat harus mengawali kalimat baru.

  Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.

  Kalimat tersebut terlalu panjang sehingga konjungtor yang tersebut bisa

  yang

  dihilangkan. Oleh karena itu, dalam kasus kebahasaan tersebut, konjungtor

  kemudian lebih baik dihilangkan dan penghubung lebih baik dipertahankan.

  Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini.

  Perbaikan: Ia mengalami perjumpaan dengan Yesus. Kemudian, ia menjadi buta untuk beberapa waktu (Kis 9: 1-19, 22:1-16; 26:9-18).

  bahkan p.

  mempengaruhi

  Perkembangan media informasi merubah timbulnya banyak persoalan dalam kehidupan umat beriman.

  (PAK-15-Nahak-Ha04) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya.

  bahkan

  Konjungtor adalah konjungtor antarkalimat, tetapi pada kalimat diletakkan pada posisi yang salah dan bertentangan dengan fungsi konjungtor

  bahkan

  antarkalimat. Konjungtor adalah konjungtor antarkalimat yang menghubungkan dua kalimat dan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya. Seperti pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.

  bahkan

  Dalam kasus kebahasaan ini, konjungtor akan lebih baik diletakkan untuk merngawali kalimat baru. Kemudian, untuk menghubungkan dua klausa

  

yang ditadnaia dengan kata kerja “merubah dan mempengaruhi” disisipkan

dan konjungtor kordinatif . Oleh karena itu, terbentuklah kalimat majemuk setara.

  Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini.

  Perbaikan:

  Bahkan , perkembangan media informasi merubah dan mempengaruhi

  timbulnya banyak persoalan dalam kehidupan umat beriman. (PAK-15- Kalimat di atas sudah menggunakan fungsi konjungtor antarkalimat dan koordinatif. q.

  Misalnya, perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke

  masyarakat global, perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, perubahan dari pertumbuhan, bahkan perubahan dalam dunia pendidikan. (PAK-15-Suparti-Ha01)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor bahkan merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru. Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini

  Perbaikan: Misalnya, perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat global, perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi

  Bahkan,

  Sedangkan r. kompetensi kepribadian dan sosial kurang diperhatikan.

  (PAK-15-Luchensy-Ha03) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor sedangkan bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor koordinatif maka

  sedangkan

  konjungtor tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Konjungtor tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut Chaer (2011:

  sedangkan

  117) konjungsi tidak dapat menduduki posisi awal kalimat atau mengawali kalimat karena pengertian atau konsep yang dikemukakan pada klausa

  

sedangkan

  yang dimulai dengan konjungsi

  merupakan ‘pertentangan’ atau

‘kebalikan’ dari apa yang dikemukakan pada klausa sebelumnya. Selain itu,

  onjungtor sedangkan menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena itu, konjungtor sedangkan pada kalimat tersebut harus digabungkan

  sedangkan

  dengan kalimat sebelumnya, tanda titik sebelum konjungtor dihilangkan dan diganti tanda koma (,) supaya membentuk kalimat majemuk setara.

  Perbaikan: Perhatian guru akan kompetensi yang dimiliki juga semakin berkurang, hanya memperhatikan beberapa kompetensi saja seperti kompetensi pedagogik, sedangkan kompetensi kepribadian dan sosial kurang s. Tapi ada perbedaan seperti jumlah murid yang mengikuti pelajaran agama Katolik. (PAK-15-Luchensy-Ha04) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor tapi/tetapi bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor koordinatif maka konjungtor tersebut tidak boleh mengawali kalimat baru. Jika konjungtor koordinatif mengawali kalimat seperti pada kalimat di atas, kalimat tersebut

  tapi

  menjadi tidak berterima. Konjungtor tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut Chaer (2011: 117) konjungsi tetapi/tapi tidak dapat menduduki posisi awal kalimat atau mengawali kalimat karena pengertian atau konsep yang dikemukakan pada klausa yang dimulai dengan konjungsi tetapi/tapi

  merupakan ‘pertentangan’ atau ‘kebalikan’ dari apa yang dikemukakan tapi/tetapi

  pada klausa sebelumnya. Konjungtor menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama

  tapi

  (Alwi, dkk. 2010:303). Dalam kasus kebahasaan ini, konjungtor diganti dengan konjungtor antarkalimat akan tetapi sebagai konjungtor antarkalimat yang menghubungkan kalimat dengan kalimat. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh

  Perbaikan:

  Akan tetapi,

  ada perbedaan seperti jumlah murid yang mengikuti pelajaran agama Katolik. (PAK-15-Luchensy-Ha04) t.

  Mereka hanya mengikuti pelajaran agama saja di sekolah setelah itu

  kurang diperhatikan. (PAK-15-Luchensy-Ha04) Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor setelah itu merupakan konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru. Konjungtor antarkalimat adalah konjungtor yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Peneliti menegaskan bahwa bentuk konjungtor antarkalimat yang sudah baku tidak boleh diubah begitu saja. Pengubahan yang dilakukan akan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia dalam tulis-menulis dan konteks lisan. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Chaer (2011: 126) juga mengatakan bahwa konjungsi atau konjungtor antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini.

  Perbaikan: Mereka hanya mengikuti pelajaran agama saja di sekolah. Setelah itu,

  Dan

  u. ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai akhir zaman”(Mat 28:19- 20). (PAK-15-Luviasari-Ha04

  

—05)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau

  dan

  penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor merupakan konjungtor koordinatif sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai konjungtor antarkalimat. Konjungsi koordinatif atau konjungtor koordinatif, adalah konjungtor yang menghubungkan dua unsur kebahasaan atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama (Alwi, dkk. 2010:303). Oleh karena

  dan

  itu, konjungtor pada kalimat tersebut harus dihilangkan sebab tidak benar dalam bahasa Indonesia.

  Perbaikan:

Ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai akhir zaman”(Mat 28:19-20).

(PAK-15-Luviasari-Ha04

  —05) v.

  Ketangguhan iman umat Paroki Santa Maria Kota bukit Indah,

  Purwakarta teruji tidak berhenti dalam lingkup wilayah atau lingkungan saja namun dalam lingkup Paroki pun mereka mengalami kendala. (PAK-15-Lestari-Ha02)

  Kalimat di atas menggunakan konjungtor yang salah peletakannya atau penempatannya yang tidak tepat dalam suatu kalimat. Konjungtor namun merupakan konjungtor antarkalimat sehingga harus mengawali kalimat baru. Sebagaimana pendapat Alwi (2010:306) konjungtor antarkalimat selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat (bukan klausa dengan klausa). Oleh karena itu, contoh kalimat yang salah di atas harus diperbaiki seperti di bawah ini.

  Perbaikan: Ketangguhan iman umat Paroki Santa Maria Kota bukit Indah, Purwakarta teruji tidak berhenti dalam lingkup wilayah atau lingkungan saja. Namun, dalam lingkup Paroki pun mereka mengalami kendala. (PAK-15-Lestari- Ha02)

  ketika w.

  

Dalam pelajaran agama Katolik sendiri, guru-guru agama

  mengajar kurang mengayati sebagai guru agama. (PAK-15-Luchensy- Ha04)

  Penempatan konjungtor ketika pada kalimat tersebut tidak tepat ditempatkan di belakang subjek kalimat karena konjungtor tersebut konjungtor subordinatif yang digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau lebih di dalam kalimat majemuk bertingkat bukan untuk menghubungkan subjek dengan predikat. Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk. 2010:305). Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Oleh karena itu, konjungtor ketika tidak tepat jika diletakkan di depan subjek kalimat pada kalimat yang salah di atas. Oleh

  ketika

  karena itu, lebih baik konjungtor pada kalimat tersebut diletakkan di depan kata “guru” dan diberi tanda koma setelah kata “mengajar”.

  Perbaikan: Dalam pelajaran agama Katolik sendiri,

  ketika

  guru-guru agama mengajar, kurang mengayati sebagai guru agama. (PAK-15-Luchensy-Ha04) x.

  Sebab

  katekese sendiri merupakan komunikasi iman

  atau

  pengalaman antar anggota jemaat (Telaumbanua, 1999: 6). (PAK-15-Bintarti-Ha02)

  Konjungtor sebab tidak boleh berada di awal kalimat karena membuat induk kalimatnya tidak ada, maka harus digabung dengan kalimat sebelumnya. Bentuk kalimat di atas tidak merupakan anak kalimat yang, padahal kalimat majemuk bertingkat harus tersusun dari anak kalimat dan induk kalimat. Konjungtor Subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. (Alwi, dkk. 2010:305).

  Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimatnya, sedangkan klausa lainnya merupakan induk kalimat. Selain itu, bentuk kalimat di atas merupakan anak kalimat yang menggantung atau dangling clause.

  Bentuk kebahasaan seperti itu dikatakan sebagai klausa yang menggantung karena anak kalimat pada kalimat majemuk itu tidak memiliki induk kalimat, tetapi berdiri sendiri (Rahardi, 2009:24).

  Perbaikan: Salah satu cara yang dapat dilakukan Gereja dalam mengambil peran yakni lewat suatu proses katekese, sebab katekese sendiri merupakan komunikasi iman atau pengalaman antar anggota jemaat (Telaumbanua, 1999: 6)”. Berdasarkan analisis data di atas, kasus-kasus penulisan konjungtor yang salah sering terjadi dalam skripsi mahasiswa Pendidikan Agama Katolik. Peneliti

  

menyimpulkan kasus tersebut termasuk “kesalahan” yang disebabkan oleh faktor

  ketidaktahuan (kompetensi) penulis skripsi tentang tata penulisan konjungtor n dalam n bahasa n Indonesia. Selain itu, pada penelitian ini kesalahan terbanyak dalam taksonomi siasat permukaan adalah salah susun. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa IPPAK belum mempunyai kompetensi yang baik dalam menggunakan konjungtor, khususnya benar dalam menempatkan konjungtor antarkalimat, konjungtor koordinatif dan konjungtor subordinatif.

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan

  Analisis penggunaan konjungtor pada skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma tahun 2015 mencakup dua pembahasan, yaitu analisis penggunaan konjungtor dan analisis kesalahan penggunaan konjungtor. Pembahasan yang telah dilakukan menghasilkan dua macam kesimpulan. Kesimpulan pertama, yaitu lima belas latar belakang skripsi menggunakan 35 jenis konjungtor (konjungsi) dan keseluruhan penggunaan konjungtor ada 404 kali. Data penggunaan konjungtor dapat dikategorikan, yaitu konjungtor koordinatif (150), konjungtor korelatif (7), konjungtor subordinatif (219), dan konjungtor antarkalimat (28). Lima belas latar belakang skripsi menggunakan konjungtor untuk menghubungkan kata, frasa, klausa, kalimat dengan kata, frasa, klausa, kalimat lainnya. beradasarkan tabel frekuensi di atas, konjungtor subordinatif memiliki frekuensi terbanyak. Berdasarkan frekuensi pada BAB IV, peneliti mengatakan bahwa lima belas latar belakang skripsi sebagian besar menggunakan kalimat majemuk. Mahasiswa Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) menggunakan kalimat majemuk untuk menuangkan ide atau gagasan yang panjang dalam satu kalimat. Chaer (2009: 168) mengatakan bahwa dalam praktik berbahasa yang sebenarnya seringkali

  Kita harus menggunakan kalimat yang di dalamnya terkandung banyak informasi. Kalimat yang di dalamnya terkandung lebih banyak informasi disebut kalimat luas atau kalimat majemuk.

  Kemudian, kesimpulan kedua, yaitu lima belas latar belakang skripsi mengandung 36 kesalahan penggunaan konjungtor. Jenis kesalahan dalam penelitian ini dapat dikategorikan menjadi kesalahan penghilangan sebanyak 5, penambahan 4, salah formasi 3, dan salah susun sebanyak 24. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa latar belakang skripsi masih ditemukan kesalahan penggunaan konjungtor. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa IPPAK belum mempunyai kompetensi yang baik dalam menggunakan konjungtor, khususnya benar dalam menempatkan konjungtor antarkalimat, konjungtor koordinatif dan konjungtor subordinatif.

5.2 Implikasi

  Hasil penelitian terhadap 15 latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma tahun 2015 menunjukkan bahwa konjungtor yang digunakan sebanyak 35 jenis. Latar belakang skripsi tersebut sudah menerapkan konjungtor untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat. Latar belakang skripsi memiliki implikasi berupa informasi, yaitu variasi penggunaan konjungsi atau konjungtor pada latar belakang skripsi dapat memberi tambahan pengetahuan bagi mahasiswa dan terdapat kesalahan penggunaan konjungtor. Oleh karena itu, sangat penting penulis skripsi menguasai pemahaman kaidah penggunaan konjungtor. Hal itu menjadi penting karena skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang harus disusun dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, termasuk penggunaan konjungtor. Selain itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi untuk pengajaran tentang konjungtor.

5.3 Saran

5.3.1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  Dalam kegiatan menulis karya ilimiah dan dalam ragam formal, setiap mahasiswa, pendidik, dan calon pendidik diharapkan dapat mematuhi dan menerapkan kaidah penulisan konjungtor. Peneliti telah melihat bahwa profil lulusan IPPAK, yaitu mahasiswa IPPAK harus bisa membuat buku pegangan

  

pengajaran Pendidikan Agama Katolik dan menerbitkan karangan-karangan

kateketis (misi IPPAK dari website usd.ac.id). Hal itu menjadi alasan bahwa

  mahasiswa IPPAK tetap harus memperhatikan kaidah penggunaan konjungtor.

  Dua misi di atas menuntut mahasiswa IPPAK harus memiliki kompetensi menulis sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. oleh karena itu, tentunya bahasa yang digunakan harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, khususnya penggunaan konjungtor. Meskipun bukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, tetap harus memperhatikan kaidah penulisan karya ilmiah, khususnya penggunaan konjungtor. Dengan demikian, hal itu meminimalkan kesalahan penulisan konjungtor.

  5.3.2 Dosen atau Guru

  Dalam menulis karya ilmiah para mahasiswa atau siswa harus memperhatikan tata bahasa, termasuk penggunaan konjungsi. Para mahasiswa dan siswa tentu belum memiliki penguasaan mendalam terhadap kaidah tata bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Peran dosen dan guru sangat penting dalam membina kelangsungan bahasa Indonesia melalui pelajaran dan mata kuliah. Mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi sarana untuk pengajaran tata bahasa baku.

  Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengajaran konjungtor (konjungsi). Dalam dunia perkuliahan, penerapan pengajaran konjungtor melalui mata kuliah sintaksis, analisis kesalahan berbahasa, penyuntingan, dan analisis wacana.

  5.3.3 Peneliti Lain

  Penelitian ini masih terbatas pada penelitian penggunaan konjungtor dalam latar belakang skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Angkatan 2010 Lulusan 2015. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan bahwa peneliti lainnya dapat melakukan penelitian yang sejenis dengan penelitian ini dan menganalisis lebih terperinci penggunaan konjungtor dan kesalahan penggunaan konjungtor.

  

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2010.

  Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.

  Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi

  YKPN: Yogyakarta. Hs., Widjono. 2008.

  Karya Ilmiah, Artikel Ilmiah & Hasil Penelitian Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen

  Bandung: Remaja Rosdakarya. Fatihudin, Didin dan Iis Holisin. 2011.

  Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar.

  Bandung: Remaja Rosdakarya. Effendi, S. 1995.

  Tata Bahasa Dasar Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Gramedia. Effendi, S., dkk. 2015.

  Jakarta: Rineka Cipta. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

  ___________. 2011.

  Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.

  Jakarta: Rineka Cipta. ___________. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.

  Ragam Bahasa Ilmiah.

  Ende: Nusa Indah. ___________. 2011.

  Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul. 1990. P enggunaan Preposisi dan Konjungsi Bahasa Indonesia.

  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

  Yogyakarta: PBSID Universitas Sanat Dharma. Arikunto, Suharsimi. 2013.

  Skripsi.

  

Anggitasari, Aloysia Yuanita. 2013. “Pemakaian Konjungsi pada Kolom Tajuk

Surat Kabar Harian Jogja Bulan Agustus Tahun 2012”.

  Jakarta: Balai Pustaka.

  . Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. http:www.usd.ac.id (diakses pada 22 Maret 2016) Marshall, Catherine and Gretchen B. Rossman. 2006.

  Designing Qualitative Research

  Tata Kalimat Bahasa Indonesia

  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 2011. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.

  Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar.

  Surakarta: Yuma Pustaka. Sugiyono. 2014. Memahami Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sugono, Dendy. 2009.

  Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik.

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. ______. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono. Setyawati, Ninik. 2013.

  Kalimat, Konjungsi, dan Preposisi Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karangan Ilmiah.

  . Bandung: Refika Aditama. Rahardi, Kunjana. 2009. Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang- Mengarang. Jakarta: Erlangga. Ramlan. 2008.

  Putrayasa, Ida Bagus. 2012.

  . California: Sage Publications. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  Metode Peneletian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

  California: Sage Publications. Prastowo, Andi. 2014.

  .Bandung: PT Refika Aditama. Patton, Michael Quinn. 2002. Qualitative Research and Evaluation Methods.

  Garis-garis Besar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

  Muslich, Masnur. 2014.

  . Makalah pada Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing IV (KIPBIPA), Denpasar.

  Hubungan Subordinatif Atributif sebagai Bahan Ajar Kemahiran Berbicara BIPA Tingkat Lanjut (Advanced)

  Mulyono, Iyo. 2001.

  Bandung: Angkasa.

  

Yanuarti, Afriyani. 2012. “Analisis Kesalahan Penggunaan Preposisi dan

  Konjungsi pada Karangan Narasi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Skripsi.

  Mojotengah Wonosobo Tahun Pelajaran 2011/2012”. Yogyakarta: PBSID Universitas Sanata Dharma.

  

Sumber Data Penelitian

Bintarti, Vincentius.2015. “Katekese Model Group Media sebagai Upaya untuk

  Meningkatkan Rasa Solidaritas Kaum Muda Katolik Paroki Administratif Skripsi. Santa Maria Ratu, Bayat, Klaten Terhadap Kaum Miskin ”. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  Kusuma, Fransisca Anida Dyan. 2015.

  “Peranan Doa Meditasi bagi Peningkatan

  Hidup Rohani para Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Skripsi.

  Yogyakarta”. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  Lestari, Veronica Dwi. 2015.

  “Penghayatan Spiritualitas Keterlibatan Umat

  Berinspirasi pada Santa Maria dalam Hidup Menggereja di Paroki Santa Skripsi.

  Yogyakarta: IPPAK Maria Kota Bukit Indah Purwakarta”. Universitas Sanata Dharma.

  Luchensy, Nicanus Andrey Wuddy. 2015.

  “Upaya Pengembangan Spiritualitas

  Kristiani Mahasiswa-Mahasiswi IPPAK-USD sebagai Calon Guru Skripsi.

  

Pendidikan Agama Katolik yang Profesional dan Berspiritual”.

  Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma. Luviasari, Yohana. 2015.

  “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Hidup Menggereja

  Melalui Katekese Model Sotarae dalam Pendalaman Iman Siswa-Siswi di Skripsi.

  Yogyakarta: IPPAK Universitas SMP Pangudi Luhur Cawas”. Sanata Dharma.

  Nahak, Maria Herlina. 2015.

  “Usaha Memahami Pewartaan Santo Paulus Rasul Skripsi.

untuk Meningkatkan Pelayanan para Katekis Zaman Sekarang”.

  Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma. Nugraha, Alfonsus Adi. 2015. “Peranan Lagu Rohani Ekaristi bagi Kaum Katolik

  Skripsi. Yogyakarta: di Paroki Santo Antonius KotaBaru Yogyakarta”.

  IPPAK Universitas Sanata Dharma. Parestu, Veronica Demitia Sandhy. 2015. “Peranan Pelajaran Komuni Pertama bagi Peserta Terhadap Penghayatan Ekaristi di Linkungan Santo

  Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Skripsi. Kla Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  ten”.

  Skripsi.

  Yogyakarta: IPPAK Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta”. Universitas Sanata Dharma.

  Sungtulodo, Paulinus Arso.2015.

  “Pengaruh Kelompok Doa Karismatik Katolik ‘Vinea Dei’ di Kevikepan Yogyakarta Terhadap Perkembangan Hidup Doa Pribadi Anggota”. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  Suparti, Kristina. 2015. “Peranan Pendidikan Agama Katolik bagi Penghayatan Nilai-nilai Kecharitasan Siswa Kelas VII Tahun Pelajaran 2014/2015 SMP

  Skripsi. Yogyakarta: IPPAK Charitas Lebak Bulus, Jakarta Selatan”.

  Universitas Sanata Dharma. Sutaryono. 201 5. “Peranan Doa Bersama dalam Keluarga Katolik Terhadap

  Pendidikan Iman Anak di Wilayah Juwono, PAROKI Santa Maria Lourdes Sumber, Magelang, Jawa Tengah Skripsi. Yogyakarta: IPPAK ”. Universitas Sanata Dharma.

  Ulu, Yunita Sumiati. 2015. “Upaya Meningkatkan Semangat Persaudaraan Siswa- Siswi SMA Seminari Santa Maria Immaculata Lalian Atambua Nusa .

  Tenggara Timur, Melalui Katekese Model ‘Shared Christian Praxis” Skripsi.

  Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma. Wahyuningsih, Franciska Arindikha. 2015. “Manfaat Metode Bercerita dalam

  Pendampingan Iman Anak di Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Skripsi. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  GunungKidul”.

  Wuriusadani, Maria. 2015.

  “Menggali Wawasan tentang Makna Devosi kepada Skripsi.

  Bunda Maria untuk Mengemban gkan Iman Katolik Keluarga”. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  

LAMPIRAN Lampiran 1

  Surat Permohonan Triangulasi Data Lampiran 2 Triangulasi Data

TRIANGULASI DATA

  Di bawah ini merupakan tabel triangulasi data dari penelitian yang berjudul “Analisis Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Skripsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan

  

2010 Lulusan Tahun 2015” . Berilah tanda √ pada kolom setuju apabila Anda setuju dengan analisis penggunaan konjungtor yang

  sudah dibuat atau berilah tanda X pada kolom tidak setuju apabila Anda tidak setuju dengan analisis penggunaan konjungtor yang sudah dibuat.

  Data Penelitian dan Analisis Data

  Setuju Tidak No Kalimat yang Menggunakan Konjungtor Analisis Penggunaan Konjungtor Setuju

  1. Kita sebagai anak-anak Allah yakin Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ bahwa bahwa

  kebaikan Ilahi itulah yang akan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan kita peroleh. (PAK-15-Sutaryono- komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk Ha01) bertingkat.

  Maka

  2. doa tak pernah sia-sia. (PAK- -penggunaan salah-~

  √

  15-Sutaryono-Ha01)

  doa tak Kalimat tersebut mengandung satu klausa, yaitu “ pernah sia-sia

  Akan tetapi, bentuk itu merupakan anak ”. kalimat atau klausa subordinatif dan harus digabung oleh kalimat sebelumnya.

  137

  138 Pembetulan: Kita sebagai anak-anak Allah yakin bahwa kebaikan Ilahi itulah yang akan kita peroleh, maka doa tak pernah sia-sia.

  3. Keluarga Katolik di Wilayah Juwono, Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ yang

  Paroki Santa Maria Lourdes Sumber oleh konjungtor yang menyatakan hubungan atributif

  yang

  memiliki anak dibawah 12 tahun sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Klausa merasa sulit berkumpul dan berdoa yang memiliki anak dibawah 12

  relatif restriktif, yaitu “

  bersama dalam keluarga. (PAK-15-

  tahun” memperluas fungsi subjek dan membatasi subjek dan

  Sutaryono-Ha01) maknanya, yaitu ada keluarga yang tidak memiliki anak di bawah 12 tahun dan yang memiliki anak 12 tahun yang sulit

  berkumpul dan berdoa. Klausa utama, yaitu “Keluarga

  Katolik di Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber merasa sulit berkumpul dan berdoa bersama dalam

  dan sebagai penanda hubungan keluarga”. Konjungtor penambahan yang menghubungkan frasa dengan frasa.

  4. Keluarga yang merupakan lingkungan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang

  pendidikan keutamaan-keutamaan sosial oleh konjungtor yang menyatakan hubungan atributif dibutuhkan oleh setiap masyarakat. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Sutaryono-Ha02) Klausa relatif yang merupakan lingkungan

  restriktif, yaitu “

  139 pendidikan keutamaan- keutamaan sosial” memperluas

  fungsi subjek dan membatasi nomina “keluarga”. Klausa utama, yaitu “Keluarga dibutuhkan oleh setiap masyarakat”. Makna klausa relatif restriktif, yaitu semua

  keluarga memang sebagai lingkungan keutamaan sosial dan dibutuhkan masyarakat.

  5. Oleh karena itu , hendaknya para orang Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan

  √ tua menyadari betapa pentingnya penambahan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  Oleh karena itu

  keluarga yang sungguh Kristiani untuk merupakan konjungtor antarkalimat

   dan kehidupan kemajuan umat Allah menyatakan akibat dari kalimat sebelumnya. sendiri”. (PAK-15-Sutaryono-Ha02)

  6. Penulis mengetengahkan hal yang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ yang

  dialami oleh para keluarga di Wilayah oleh konjungtor yang menyatakan hubungan atributif Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Klausa Sumber, Jawa Tengah. (PAK-15- yang dialami oleh para keluarga di

  relatif restriktif, yaitu “

  Sutaryono-Ha03) Wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa

  Tengah” memperluas fungsi objek dan membatasi nomina “hal”. Klausa utama, yaitu “Penulis mengetengahkan hal”.

  Makna klausa relatif restriktif : banyak keluarga di wilayah

  140 Juwono yang mengalami suatu peristiwa.

  yang

  7. Orang tua berlatarbelakang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang

  mayoritas sebagai petani masih belum oleh konjungtor yang menyatakan hubungan atributif bisa meluangkan waktu menemani sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Klausa

  yang

  anak-anaknya dalam hidup rohani berlatarbelakang mayoritas

  relatif restriktif, yaitu “

  khususnya dalam hal doa. (PAK-15- sebagai petani” memperluas fungsi subjek dan membatasi Sutaryono-Ha03) nomina “orang tua”.

  Klausa utama, yaitu “Orang tua masih belum bisa

  meluangkan waktu menemani anak-anaknya dalam hidup

rohani khususnya dalam hal doa”.

Makna klausa relatif restriktif: ada orang tua yang tidak berlatar belakang petani dan hanya yang berlatar belakang petani yang belum bisa meluangkan waktu.

  yang

  8. Penulis ingin menangapi masalah Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ dialami orang tua di Wilayah Juwono, oleh konjungtor yang yang menyatakan hubunagn atribut if Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, ehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Klausa

  yang

  Jawa Tengah. (PAK-15-Sutaryono- dialami orang tua di Wilayah

  relatif restriktif, yaitu “

  Ha03) Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Jawa Tengah” memperluas fungsi objek dan membatasi nomina “masalah”.

  141 Klausa utama, yaitu “Penulis ingin menangapi masalah”.

  Makna klausa relatif restriktif: ada orang tua yang mengalami masalah di wilayah Juwono dan ada yang tidak mengalami masalah.

  9. Manusia pada dasarnya tidak dapat Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  dan

  hidup sendiri tanpa bantuan dari orang oleh konjungtor sehingga menghasilkan dalam kalimat lain dan merupakan makhluk ciptaan majemuk setara. Tuhan. (PAK-15-Bintarti-Ha01) Klausa 1= Manusia pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain

  Klausa 2= Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan

  Karena itu

  10. manusia disebut juga Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ makhluk sosial yang berhubungan satu oleh konjungtor yang sehingga menghasilkan kalimat dengan yang lain. majemuk bertingkat.

  Karena itu manusia disebut juga makhluk

  (PAK-15-Bintarti-Ha01)

  Klausa utama= “ sosial

  ” yang berhubungan satu dengan

  Klausa relatif restriktif= “ yang lain

  ” karena itu

  Konjungtor merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan akibat dari kalimat sebelumnya.

  142 11.

  merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan akibat dari kalimat sebelumnya. Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor agar yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga kalimat majemuk bertingkat.

  yang menyatakan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  yang

  dihimpun dalam lingkup paroki. (PAK-15-Bintarti- Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang dihubungkan oleh dua konjungtor untuk yang menyatakan hubungan tujuan dan konjungtor

  yang

  13. Namun untuk membentuk basis tersebut diperlukan kegiatan untuk mengumpulkan kaum muda katolik lewat katekese

  √

  Klausa subordinatif= “ agar terlibat langsung membantu kaum miskin”

  Klausa utama= “ perlu usaha menumbuhkan rasa solidaritas

di kalangan kaum muda katolik”.

  oleh karena itu

  Akan tetapi ,

  Pada kalimat tersebut konjungtor

  perlu usaha menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan kaum muda katolik agar terlibat langsung membantu kaum miskin. (PAK-15-Bintarti-Ha01)

  Oleh karena itu ,

  √ 12.

  yang merupakan konjungtor antarkalimat, yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya.

  akan tetapi

  Kalimat tersebut mengandung konjungtor

  masih ada keprihatinan yakni masih ada kaum muda katolik kurang peduli terhadap kaum miskin. (PAK-15-Bintarti-Ha01)

  √

  143 Ha02) Klausa utama= “diperlukan kegiatan”

  untuk membentuk basis tersebut Klausa subordinatif 1= “ ” untuk mengumpulkan kaum muda

  Klausa subordinatif 1= “ katolik lewat katekese

  ” yang dihimpun dalam lingkup

  Klausa relatif restriktif= “ paroki

  ” maknanya adalah hanya katekese yang dihimpun

  dalam lingkup paroki untuk mengumpulkan kaum muda katolik dan membentuk basis. Konjungtor namun menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya dan harus mengawali kalimat baru.

  14. Sebab katekese sendiri merupakan Kalimat tersebut mengandung satu klausa, yaitu katekese √

  atau sendiri merupakan komunikasi iman atau pengalaman antar

  komunikasi iman pengalaman

  anggota jemaat

  antar anggota jemaat (Telaumbanua, . Ada penggunaan yang salah, yaitu 1999: 6). konjungtor sebab, yang termasuk konjungtor subordinatif.

   sebab

  (PAK-15-Bintarti-Ha02) Konjungtor tidak boleh berada di awal kalimat karena bukan merupakan konjungtor antarkalimat dan membuat induk kalimatnya tidak ada, harus digabung dengan kalimat sebelumnya. Bentuk tersebut disebut klausa yang

  dangling clause. atau

  menggantung atau Konjungtor

  144 digunakan sebagai penanda hubungan pemilihan menghubungkan frasa dengan frasa (komunikasi iman atau pengalaman antar anggota jemaat).

  Salah satu cara yang dapat dilakukan Gereja

  Pembetulan

  = “ dalam mengambil peran yakni lewat suatu proses katekese, sebab katekese sendiri merupakan komunikasi iman atau pengalaman antar anggota jemaat (Telaumbanua, 1999: 6)”.

  15. Katekese ini memprioritaskan pada Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  Katekese ini

  bidang kemanusiaan perihal rendahnya menghasilkan kalimat tunggal. Klausa=

  memprioritaskan pada bidang kemanusiaan perihal

  penghargaan terhadap martabat pribadi manusia dan kemiskinan. (PAK-15- rendahnya penghargaan terhadap martabat pribadi manusia

  kemiskinan dan

  Bintarti-Ha02) dan . Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan menghubungkan frasa dan frasa (terhadap martabat manusia [terhadap] kemiskinan).

  16 Komunikasi iman yang terjalin antara Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  sesama peserta dan pendamping oleh konjuntor yang sehingga menghasilkan kalimat (katekese umat) berujung pada aksi majemuk bertingkat.

  yang

  nyata. (PAK-15-Bintarti-Ha02) Klausa relatif restriktif, yaitu “ terjalin antara sesama peserta dan

  pendamping (katekese umat)” memperluas

  145 fungsi subjek dan membatasi “komunikasi iman”.

  Makna klausa relatif restriktif: hanya komunikasi iman yang terjalin di antara peserta dan pendamping bukan komubikasi yang lain yang berujung pada aksi nyata.

  Klausa utama, yaitu “komunikasi iman berujung pada aksi nyata”. dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  17. Group Media merupakan pertemuan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa. √

  yang

  kelompok bersama-sama Klausa 1= “Group Media merupakan pertemuan kelompok” menyaksikan program-program media Klausa 2 klausa relatif restriktif=

  “yang bersama-sama

  ukuran kecil (kaset, VCD, CD, foto, menyaksikan program-

  program media ukuran kecil”

  1 dan dan setelah itu

  slide fotocopy, dll) Klausa 3= “bertukar pikiran” bertukar pikiran (Olivera, 1989:10). Konjungtor yang

  menghubungkan “pertemuan kelompok”

  (PAK-15-Bintarti-Ha03) d

  engan klausa relatif restriktif dan membatasi “pertemuan kelompok”.

  Konjungtor dan (konjungtor koordinatif) dan konjungtor

  setelah itu sebagai konjungtor antarkalimat boleh digunakan

  secara bersamaan berfungsi untuk mempertegas atau

  146 memperjelas klausa yang dihubungkan.

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata.

  18. Dasar pemikiran dari Group Media ini Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ yang

  berasal dari melihat-menilai-bertindak oleh konjjungtor yang menunjukkan hubungan

  yang diperkaya dengan bahasa audio- atributif.

  visual dan teknik belajar berkelompok Dasar pemikiran dari Group Media ini

  Klausa utama= “ berasal dari melihat-menilai-bertindak (Olivera, 1989:13).

  ” yang diperkaya dengan bahasa

  (PAK-15-Bintarti-Ha03) Klausa relatif restriktif= “

  audio-visual teknik belajar berkelompok

  dan ” memperluas

  fungsi pelengkap dan membatasi “dari melihat-menilai- bertindak”. dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  19. Katekese model Group Media ini Kalimat tersebut mengandung satu klausacsehingga

  √

  melibatkan unsur-unsur pokok yaitu menghasilkan kalmat tunggal. Konjungtor dan sebagai sekelompok orang, tempat, penanda hubungan penambahan, menghubungkan kata

  dan perlengkapan, dokumen, metode, dengan kata.

  fasilitator. (PAK-15-Bintarti-Ha03)

  147

  20. Aksi ini akan timbul dari gerakan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ hatinya sebagai wujud rasa solidaritas oleh konjungtor sehingga yang menunjukkan makna

  sehingga

  pada kaum miskin, dapat hubungan hasil sehingga menghasilkan kalimat majemuk meningkatkan kepedulian kaum muda bertingkat. katolik. (PAK-15-Bintarti-Ha03)

   yang

  21. PDKK merupakan kelompok doa Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ berdevosi kepada Roh kudus dan oleh konjungtor yang yang menyatakan hubungan atributif karunia-karunianya. sehingga menghasilkan kalimat majemuk. (PAK-15-Sungtulodo-Ha01) Klausa utama, yaitu “PDKK merupakan kelompok doa”.

  yang Klausa relatif restriktif, yaitu “ berdevosi kepada Roh

  kudus dan karunia-

  karunianya” memperluas fungsi pelengkap dan membatasi “kelompok doa” .

  Makna klausa relatif restriktif: menyiratkan ada kelompok doa yang lain yang berbeda fokus devosinya (berdevosi kepada Bunda Maria dan lain-lain).

  

dan

”Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  22. Paroki Fransiskus Xaverius Kidulloji Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ memiliki Kelompok doa Vineai Dei oleh konjungtor yang sehingga menghasilkan kalimat

  148

  yang yang

  merupakan bagian dari majemuk bertingkat. Klausa relatif restriktif, yaitu “ persekutuan doa Karismatik Katolik di merupakan bagian dari persekutuan doa Karismatik Katolik paroki Kidul Loji. (PAK-15-

  di paroki Kidul Loji” memperluas fungsi objek dan Vineai Dei

  Sungtulodo-Ha02)

  membatasi “Kelompok doa ”. Klausa utama, yaitu “Paroki Fransiskus Xaverius Kidulloji memiliki Kelompok

  doa Vineai Dei

”.

  vineai

  Makna klausa relatif restriktif: hanya kelompok doa

  dei

  saja yang merupakan bagian paroki Kidul Loji dan dimiliki oleh paroki Fransiskus Kidul Loji.

  23. Kelompok doa Karismatik Katolik Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  Vineai Dei merupakan kelompok oleh konjungtor yang sehingga menghasilkan kalimat yang Karismatik Katolik berisi kaum majemuk.

  muda dari beberapa paroki di Klausa utama, yaitu “Kelompok doa Karismatik Katolik Yoyakarta. (PAK-15-Sungtulodo-Ha02) Vineai Dei merupakan kelompok Karismatik Katolik”.

  yang

  berisi kaum muda dari

  

Klausa relatif restriktif, yaitu “

beberapa paroki di Yoyakarta” memperluas fungsi pelengkap dan membatasi “kelompok Karismatik Katolik”.

  Makna klausa relatif restriktif: hanya kelompok doa vineai

  dei yang berisi kaum muda bukan kelompok yang lain.

  149 24.

  Makna klausa relatif restriktif: kelompok doa

  Klausa utama= “ Anak-anak muda memerlukan adanya cara

  yang menyatakan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

   yang

  support yang positif saat mereka jauh dari Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh kinjungtor

  dan

  kuliah di Jogja ini memerlukan adanya cara

  atau

  26. Anak-anak muda yang merantau bekerja

  √

  memang khusus bagi kaum muda yang belum menikah dan ada kaum muda yang sudah menikah tapi tidak tergabung dalam kelompok itu.

  vineai dei

  bahwa unsur atribut “ yang belum menikah” , merupakan penerang bagi unur pusat “kaum muda”.

  Meskipun

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Yang di dalam kalimat tersebut menunjukkan hubungan makna penerang,

  belum menikah. (PAK-15- Sungtulodo-Ha02)

  yang

  merupakan persekutuan doa karismatik khusus bagi kaum muda

  Vinea Dei

  25. Kelompok Doa Karismatik Katolik

  √

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor meskipun yang menunjukkan makna hubungan konsesif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  sebenarnya berada dibawah kevikepan Yogyakarta. (PAK-15-Sungtulodo- Ha02)

  Vinea Dei

  sering mengadakan kegiatan di paroki Kidul Loji Kelompok Doa Karismatik Katolik

  √

  150

  dan dan support yang positif saat mereka jauh dari rumah dan rumah keluarga mereka.

  (PAK-15-Sungtulodo-Ha02) keluarga mereka ”.

  yang merantau bekerja atau Klausa relatif restriktif= “ kuliah di Jogja ini

  ” memperluas fungsi subjek, membatasi “anak-anak muda, dan maknanya adalah hanya anak-anak

  muda yang merantau kuliah atau bekerja di Jogja yang

  support

  memerlukan adanya cara dan

  yang positif.”

  27. Liturgi Sabda dalam Gereja adalah Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  salah satu bidang liturgi tidak bisa oleh konjungtor yang menyatakan hubungan dihilangkan begitu saja dalam Perayaan komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk Ekaristi. (PAK-15-Pawestrin-Ha01) bertingkat.

  Sabda dalam Gereja adalah salah satu

  Kl

  ausa utama= “ bidang liturgi

  ” yang tidak bisa dihilangkan begitu

  Klausa relatif restriktif= “

saja dalam Perayaan Ekaristi

  ” membatasi “salah satu bidang liturgi”, memperluas fungsi predikat dan maknanya

  adalah masih ada liturgi lain dalam perayaan ekaristi yang tidak bisa dihilangkan.

  151

  28. Konsili Vatikan II dalam dokumen Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  Konstitusi tentang Liturgi Suci (SC, art. oleh konjungtor bahwa yang menyatakan hubungan bahwa

  56) menyatakan : Misa suci dapat komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni bertingkat. Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Konsili Vatikan II dalam dokumen

  Klausa utama= “

  (PAK-15-Pawestrin-Ha01) Konstitusi tentang Liturgi Suci (SC, art. 56) menyatakan

  ” bahwa: Misa suci dapat dikatakan

  Klausa subordinatif= “ terdiri dari dua bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi

  ” dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang menghubungkan frasa dengan frasa (Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi).

  bahwa

  29. Rumusan ini menegaskan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ Perayaan Ekaristi sendiri terdiri dari dua oleh konjungtor bahwa yang menyatakan hubungan

  dan

  bagian pokok, yakni Liturgi Sabda komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk Liturgi Ekaristi. bertingkat. (PAK-15-Pawestrin-Ha01) Rumusan ini menegaskan

  Klausa utama= “ ” bahwa Perayaan Ekaristi sendiri

  Klausa subordinatif= “ terdiri dari dua bagian pokok, yakni Liturgi Sabda dan

  152

  Liturgi Ekaristi

  Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang menghubungkan frasa dengan frasa (Liturgi Sabda danLiturgi Ekaristi)..

  30. Setiap umat dalam Gereja Katolik bisa Kalimat tersebut mengandung dua klausa sehingga √ menjadi seorang lektor, asalkan umat membentuk kalimat majemuk setara. tersebut mempunyai kemauan dan Setiap umat dalam Gereja Katolik bisa menjadi

  Klausa 1= “

  kemampuan. (PAK-15-Pawestrin-

  seorang lektor” dan

  Ha02) Klausa 2

  = “asalkan umat tersebut mempunyai kemauan kemampuan”

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan kata dengan kata (kemauan dan kemampuan).

  bahwa

  31. Jadi jelaslah untuk menjadi Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ seorang lektor harus didukung dengan oleh konjungtor bahwa yang menyatakan hubungan adanya suatu niat yang kuat dan komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk motivasi yang tinggi. bertingkat.

  jelaslah

  (PAK-15-Pawestrin-Ha02) Klausa utama= “ ”

  bahwa untuk menjadi seorang lektor Klausa subordinatif= “

  153

  harus didukung dengan adanya suatu niat yang kuat dan motivasi yang tinggi ”. dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  

yang

  32. Dalam pelaksanaannya, sebagian umat Konjungtor pada kalimat tersebut menunjukkan √

  1 yang beriman Katolik ada belum hubungan atributif yang membentuk klausa relatif restriktif.

  1

  mengetahui tentang persyaratan yang yang belum mengetahui

  

Klausa relatif restrikfif, yaitu “

harus dipenuhi sebagai seorang lektor. tentang persyaratan” membatasi nomina “umat”. yang

  (PAK-15-Pawestrin-Ha02) Klausa relatif restriktif, yaitu harus dipenuhi sebagai seorang lektor.

  Makna klausa relatif restriktif: menyiratkan bahwa ada umat yang sudah mengetahui persyaratan sebagai lektor.

  33. Di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  Ganjuran, persyaratan harus oleh konjungtor sehingga menghasilkan kalimat dipenuhi untuk menjadi seorang lektor majemuk bertingkat. tidaklah sulit. (PAK-15-Pawestrin- yang harus dipenuhi

  Klausa relatif restriktif, yaitu “ ”

  Ha02) memperluas fungsi subjek dan membatasi nomina “persyaratan”.

  Klausa utama, yaitu “persyaratan tidaklah sulit”

  154 Makna klausa relatif restriktif: semua syaratnya gampang dan harus dipenuhi untuk menjadi seorang lektor

  34. Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ Yesus pada dasarnya tidak memberikan oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan

  ataupun yang batasan persyaratan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. untuk

  terlalu tinggi menjadi anggota Klausa utama= “Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus lektor. pada dasarnya tidak memberikan batasan ataupun (PAK-15-Pawestrin-Ha03) persyaratan yang terlalu tinggi”.

  untuk Klausa subordinatif= “ menjadi angg ota lektor”.

ataupun

  Konjungtor sebagai penanda hubungan pemilihan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa

  ataupun

  (batasan [yang terlalu tinggi] persyaratan yang terlalu tinggi).

  35. Dalam pelaksanaannya, setiap anggota Kalimat tersebut mengandung tiga klausa. √

  1

  1 yang telah tergabung dalam Paguyuban Klausa relatif yang telah tergabung dalam restriktif, yaitu “

  Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

  ” setiap anggota

  Ganjuran diwajibkan untuk mengikuti

  memperluas fungsi subjek dan membatasi “ ”

  2

  2 yang yang

  segala macam bentuk kegiatan Klausa relatif restriktif, yaitu “ telah disiapkan oleh telah disiapkan oleh paguyuban memperluas fungsi keterangan dan

  paguyuban tersebut”

  155 tersebut. membatasi “segala macam bentuk kegiatan”.

  (PAK-15-Pawestrin-Ha03)

  Klausa utama= “setiap anggota diwajibkan”

  Makna klausa relatif restriktif: hanya umat yang sudah tergabung dalam paguyuban yang harus mengikuti segala kegiatan serta hanya kegiatan yang disiapkan oleh paguyuban saja yang harus diikuti oleh anggota.

  36. Padahal Paguyuban Lektor Hati Kudus -penggunaan yang salah-~ Konjungtor padahal merupakan

  √

  Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan konjungtor koordinatif bukan konjungtor antarkalimat

  padahal sarana melalui berbagai macam bentuk sehingga konjungtor tidak boleh di awal kalimat.

  kegiatan untuk para anggota lektor Pembetulan: Menurut pengalaman penulis, ada beberapa tersebut.(PAK-15-Pawestrin-Ha04) fakta mengenai menurunnya motivasi para anggota lektor di

  padahal

  Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Paguyuban Lektor Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri telah menyediakan sarana melalui berbagai macam bentuk kegiatan untuk para anggota lektor tersebut.

  37. Dan dalam hal ini kegiatan pembinaan -penggunaan yang salah-~ Konjungtor dan merupakan √ lektor idealnya bertujuan untuk konjungtor koordinatif bukan konjungtor antarkalimat meningkatkan motivasi pelayanan para sehingga konjungtor tersebut tidak boleh mengawali kalimat lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Pembetulan: Dalam hal ini kegiatan pembinaan lektor

  156 Yesus Ganjuran.(PAK-15-Pawestrin- idealnya bertujuan untuk meningkatkan motivasi pelayanan Ha04) para lektor di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  dan dan

  38. Dalam pertemuan rutin evaluasi Konjungtor dalam kalimat tersebut sebagai penanda √ lektor, penulis mendengar sharing dari hubungan penambahan untuk menghubungkan frasa dengan

  yang yang yang

  beberapa teman lektor frasa. Konjungtor menceritakan

  pada “

  menceritakan pengalamannya saat pengalamannya saat bertugas ” merupakan klausa relatif bertugas. restriktif yang memperluas fungsi objek dan membatasi frasa

  

dari beberapa teman lektor

  (PAK-15-Pawestrin-Ha04)

  “ ”. Klausa utamanya= “penulis

  mendengar sharing dari beberapa teman lektor ” Makna klausa relatif restriktif: penulis hanya mendengarkan sharing dari teman lektor yang menceritakan.

  39. Penulis sendiri pun pernah suatu kali Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ ketika ketika

  mengikuti Perayaan Ekaristi di oleh konjungtor konjungtor yang menunjukkan gereja menggantikan tugas teman lektor makna hubungan waktu sehingga menghasilkan kaliomat

  yang tidak hadir pada saat itu. majemuk bertingkat. Konjungtor yang yang tidak pada “

  (PAK-15-Pawestrin-Ha04) hadir pada saat itu

  ” merupakan klausa relatif restriktif yang teman memperluas fungsi pelengkap dan membatasi frasa “ lektor

  ” dan maknanya bahwa hanya teman lektor yang telat

  yang tugasnya digantikan oleh orang lain dan menyiratkan

  157 bawha ada teman lain yang tidak telat.

  yang menunjukkan hubungan hasil sehingga memnghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Klausa 1= Cerita merupakan hal yang sangat menyenangkan Klausa 2= dapat menghibur banyak orang (Agus. 2013 17). Namun, masih ada klausa lain sebagai atribut, yaitu Klausa

  dan

  Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan oleh konjungtor

  dapat menghibur banyak orang (Agus. 2013 17). (PAK-15-Wahyuningsih-Ha01)

  dan

  42. Cerita merupakan hal yang sangat menyenangkan

  √

  

maka

  40. Penulis

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan konjungtor

  41. Mengingat pentingnya tugas pelayanan sebagai lektor bukanlah sekedar tugas yang ringan saja, maka sebagai lektor penulis juga ingin memperdalam pengetahuan mengenai lektor dalam penelitian ini.(PAK-15-Pawestrin- Ha08)

  √

  sebagai penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (penulis [lainnya] dan anggota lektor lainnya juga)

  dan

  Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor

  anggota lektor lainnya juga telah mengikuti kegiatan pendampingan tersebut.(PAK-15-Pawestrin-Ha06)

  dan

  √

  158

  yang relatif restriktif, yakni “ sangat menyenangkan ” memperluas fungsi pelengkap dan membatasi nomina “hal”.

  Klausa utama, yaitu “Cerita merupakan hal” dan maknanya

  bahwa semua cerita bernuansa suka merupakan hal yang menyenangkan.

  43. Cerita juga dapat menjadi salah satu Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √ media untuk berkumpul dan belajar. menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dan sebagai (PAK-15-Wahyuningsih-Ha01) penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan frasa

  dan denga frasa (untuk berkumpul [untuk] belajar).

  44. Melalui cerita anak-anak akan lebih Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  yang

  mudah memahami suatu proses kegiatan oleh konjungtor sehingga mengahsilkan kalimat yang sedang mereka ikuti.(PAK-15- majemuk bertingkat. Wahyuningsih-Ha01)

  Klausa keterangan= “melalui cerita”

  Klausa utama= Anak-anak akan lebih mudah memahami suatu proses kegiatan. Klausa relatif rest yang sedang mereka ikuti

  riktif, yaitu “ ” memperluas fungsi objek dan membatasi frasa “suatu proses

  kegiatan ” dan maknanya, yaitu hanya melalui cerita, anak bisa memahami proses kegiatan serta menyiratkan bahwa

  159 anak-anak hanya mengikuti satu kegiatan .

  45. Dalam hal ini pendamping berperan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang sebagai motivator bagi anak-anak oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif.

  ingin mengembangkan iman mereka. Klausa yang ingin

  relatif restriktif, yaitu “anak

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha03) mengembangkan iman mereka

  ” memperluas fungsi

  pelengkap dan membatasi “anak-anak” serta maknanya, yaitu hanya anak-anak yang ingin mengembangkan iman

  mereka saja yang mendapat kontribusi “peran” dari pendamping.

  46. Anak-anak merasa mendapatkan cerita- Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  dan dan

  cerita baru mereka akan merasa oleh konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan terhibur. (PAK-15-Wahyuningsih- sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara. Ha04)

  Klausa 1= “Anak-anak merasa mendapatkan cerita-cerita baru” Klausa 2= “mereka akan merasa terhibur”. dan

  47. Anak-anak merasa bosan akhirnya Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ malas untuk mengikuti pendampingan oleh kojungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan iman. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) dan konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  160

  dan Klausa utama= “anak merasa bosan akhirnya malas” ter diri atas dua klausa yang ditandai oleh konjungtor dan. untuk

  Klausa subordinatif=- mengikuti pendampingan

  “ iman” Padahal padahal

  48. suatu proses pendampingan -Penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan √ iman anak haruslah memiliki ciri-ciri konjungtor koordinatif bukan konjungtor antarkalimat gembira dan mendalam. sehingga tidak boleh berada di awal kalimat seperti itu. (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) Konjungtor padahal pada kalimat tersebut harus dihilangkan.

  Suatu proses pendampingan iman anak

  Pembetulan: haruslah memiliki ciri-ciri gembira dan mendalam.

  

dan

  Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  49. Selain itu pula, mereka juga dapat Kalimat tersebut terdapat konjungtor selain itu yang

  √

  menggunakan daya imajinasi mereka menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar

  hingga yang

  akhirnya cerita mereka dari yang telah dinyatakan merupakan konjungtor

  hingga

  tangkap dapat diolah pada diri anak- antarkalimat. Konjungtor menyatakan hubungan anak dan akan diingat dengan mudah waktu yang menghubungkan dua klausa, yaitu klausa utama

  161

  dan

  bagi anak-anak. dan klausa subordinatif. Konjungtor digunakan sebagai (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan klausa itu dengan klausa sebelumnya di

  cerita yang mereka tangkap

  dalam klausa subordinatif (

  dapat diolah pada diri anak-anak dan akan diingat dengan mudah bagi anak-anak ).

  Klausa utama= “mereka juga dapat menggunakan daya imajinasi mereka” hingga akhirnya cerita yang mereka

  Klausa subordinatif= “ dan

  tangkap dapat diolah pada diri anak-anak akan diingat dengan mudah bagi anak- anak.”

  yang Klausa relatif restriktif= “ mereka tangkap” memperluas fungsi subjek dan membatasi “cerita”.

  50. Oleh karena itu penulis mengambil Kaimat tersebut mengandung satu klausa sehingga

  √ oleh karena itu

  judul skripsi ini membentuk kalimat tunggal. Konjungtor

  “MANFAAT METODE BERCERITA DALAM merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan akibat. PENDAMPINGAN IMAN ANAK DI KUASI PAROKI SANTO YUSUP BANDUNG GUNUNG

  162 KIDUL”.

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05)

  51. Dengan judul ini, penulis ingin Kalimat tersebut mengandung tiga klusa yang dihubungkan √ mengetahui dan pada akhirnya ingin oleh konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

   yang

  mengembangkan kembali dan konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

   yang pendampingan iman anak ada di sehingga menghasilkan klausa kalimat majemuk bertingkat.

  Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung

  Klausa 1= “penulis ingin mengetahui” Gunung Kidul. Klausa 2= “pada akhirnya ingin mengembangkan kembali (PAK-15-Wahyuningsih-Ha05) pendampingan iman anak”. yang

  Klausa relatif restriktif, yaitu ada di Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunung Kidul, membatasi

  “pendampingan iman anak dan memperluas fungsi pelengkap” serta maknanya, yaitu hanya pendampingan

  iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunung Kidul yang dikembangkan kembali.

  52. Ketika kedekatan itu sudah terasa maka penggunaan yang salah-~ Ada penggunaan konjungtor √ ketika maka. tidak jarang segala permasalahan sedikit ganda, yaitu konjungtor dan Dalam kalimat demi sedikit teratasi. majemuk bertingkat tidak boleh terdapat dua konjungtor (PAK-15-Kusuma-Ha01) karena menyebabkan keberadaan induk kalimat dan anak

  163

  maka

  kalimat tidak jelas. Oleh karena itu, konjungtor dihilangkan.

  Ketika kedekatan itu sudah terasa, tidak jarang

  Pembetulan: segala permasalahan sedikit demi sedikit teratasi.

  Karena

  53. pada dasarnya katekis adalah Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  karena

  seorang Kristen dulu, baru ia menjadi oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan sebab katekis (Goopio, 1984: 07) sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Kusuma-Ha02)

  Klausa utama= “baru ia menjadi katekis” Karena

  Klausa subordinatif= “ pada dasarnya katekis adalah seorang Kristen dulu”

  54. Griffiths (2010: 18-19) menyatakan Klausa utama dan klausa subordinatif pada kalimat tersebut √

  bahwa: dihubungkan oleh konjungtor bahwa yang menyatakna

  Bagi kebanyakan orang ketertarikan hubungan komplementasi sehingga membentuk kalimat untuk menyelami kedalaman diri majemuk bertingkat. mereka hampir hilang. Di dalam klausa subordinatif ada lagi klausa, yaitu untuk (PAK-15-Kusuma-Ha02) menyelami kedalaman diri mereka.

  55. Ketertarikan untuk menyelami Klausa utama dan klausa subordinatif pada kalimat tersebut

  √

  kedalaman diri sudah begitu kabur dihubungkan oleh konjungtor sehingga yang menyatakan

  sehingga

  mereka tidak lagi hubungan hasil sehingga membentuk kalimat majemuk

  164 menyadarinya. (PAK-15-Kusuma- bertingkat.

  Ha02) Di dalam klausa subordinatif ada lagi klausa, yaitu untuk menyelami kedalaman diri.

  56. Secara khusus dalam dunia sekarang ini, Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkam

  √ yang yang

  dalam dunia mementingkan harta oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif benda, orang telah kehilangan dimensi sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. ini dalam kehidupan mereka.

  Klausa utama= “Secara khusus dalam dunia sekarang ini

  (PAK-15-Kusuma-Ha02) orang telah kehilangan dimensi ini dalam kehidupan

  mereka”memperluas fungsi keterangan, sebagai sekedar tambahan informasi untuk “dalam dunia”.

  57. Menjalin hubungan dengan Allah Kalimat tersebut mengandung dua klausa sehingga √ sangatlah tidak mudah dengan segala membentuk kalimat majemuk bertingkat. Konjungtor yang

  yang

  tantangan ada saat ini. menunjukkan hubungan atributif dan klausa relatif

  yang

  (PAK-15-Kusuma-Ha02)

  restriktifnya, yaitu “ ada saat ini” memperluas fungsi keterangan dan membatasi “dengan segala tantangan”. serta

  58. Doa merupakan tindakan positif Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungka √ baik dilakukan bagi orang beriman. oleh konjungtor serta sebagai penanda hubungan (PAK-15-Kusuma-Ha03) pendampingan sehingga mengahasilkan kalimat majemuk setara.

  165

  Namun ketika

  59. , tidak jarang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkam √ permohonan dalam doanya tidak oleh konjungtor ketika yang menunjukkan makna hubungan kunjung dikabulkan orang menjadi waktu sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  namun

  putus asa. Konjungtor merupakan konjungtor antarkalimat (PAK-15-Kusuma-Ha03) yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya

  Sehingga

  doa tersebut tidak menjadi -penggunaan salah-~

  √ prioritas dalam hidupnya. doa

  Kalimat tersebut mengandung satu klausa, yaitu “ tersebut tidak menjadi prioritas dalam hidupnya.

  (PAK-15-Kusuma-Ha03) Akan ”. tetapi, bentuk itu merupakan anak kalimat atau klausa subordinatif dan harus digabung oleh kalimat sebelumnya.

  Pembetulan: keputusan tersebut mengakibatkan dalam diri

  sehingga

  seseorang bersikap mengabaikan doa doa tersebut tidak menjadi prioritas dalam hidupnya. Melalui keheningan Allah kembali Kalimat tersebut mangandung tiga klausa yang dihubungkan √ dihadirkan dalam doa yang disebutkan oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif. doa meditasi. (PAK-15-Kusuma-Ha03)

  Klausa utama= “Allah kembali dihadirkan” Klausa keterangan= “melalui keheningan” yang

  Klausa relatif restriktif= disebutkan doa meditasi”dan klausa relatif memperluas fungsi keterangan dan membatasi

  166

  “doa”serta maknanya, yaitu hanya doa meditasi saja tidak ada doa yang lain.

  60. Pada program matakuliah Pembinaan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ Spiritualitas diberikan waktu untuk oleh konjungtor agar yang menunjukkan makna hubungan

  agar untuk

  lebih mengalami kehadiran Allah tujuan dan subordinator yang menyatakan hubungan lebih mampu memperkuat hidup rohani tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. para mahasiswa. Klausa utama= Pada program matakuliah Pembinaan (PAK-15-Kusuma-Ha04) Spiritualitas diberikan waktu untuk lebih mengalami kehadiran Allah

  agar

  Klausa subordinatif= lebih mampu memperkuat hidup rohani para mahasiswa. Di dalam klausa utama terkandung satu klausa lagi yang menduduki fungsi keterangan yang berbentuk klausa, yakni

  “untuk lebih mengalami kehadiran Allah”.

  61. Salah satu materi yang dilatihkan dalam Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungka

  √

  pembinaan Spiritualitas adalah doa oleh konjungtor yang sehingga menghasilkan kalimat meditasi. (PAK-15-Kusuma-Ha04) majemuk bertingkat.

  Klausa utama= Salah satu materi dalam pembinaan Spiritualitas adalah doa meditasi.

  167

  yang yang

  Klausa relatif restriktif= dilatihkan [ (materi)

  dilatihkan]. Klausa relatif membatasi “salah satu materi” dan

  memperluas fungsi subjek serta maknanya adalah hanya materi tentang doa meditasi sebagai salah materi yang diajarkan da;am pembinaan spiritualitas.

  62. Mahasiswa dalam kesehariannya Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ kembali disibukkan dengan tugas-tugas oleh konjungtor sehingga yang menunjukkan makna yang lain sehingga mereka kurang hubungan sehingga menghasilkan kalimat majemuk menyadari menyapa Tuhan. bertingkat. (PAK-15-Kusuma-Ha05) Klausa utama= Mahasiswa dalam kesehariannya kembali disibukkan dengan tugas-tugas yang lain.

  ehingga

  Klausa subordinatif= s mereka kurang menyadari menyapa Tuhan.

  63. Penghayatan rohani secara lebih khusus Kalimat tersebut mengandung satu klaua sehingga √ diperlukan oleh para mahasiswa di menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dan digunakan prodi IPPAK sebagai para calon guru sebagai penanda hubungan penambahan dan digunakan

  dan

  agama Katolik Katekis. (PAK-15-

  untuk menghubungkan frasa dengan frasa, yaitu “sebagai

  Kusuma-Ha05) para calon guru a gama Katolik” dan “(sebagai para calon) Katekis”.

  168

  64. Bagi banyak anak-anak pergi ke Gereja Kalimat tersebut mengansung dua klausa yang dihubungkan √ itu hanya sebagai kewajiban atau oleh konjungtor atau sebagai penanda hubungan pemilihan semata-mata hanya mentaati perintah sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara. orang tua mereka saja. (PAK-15- Klausa 1= Bagi banyak anak-anak pergi ke Gereja itu hanya Parestu-Ha01) sebagai kewajiban.

  Klausa 2= semata-mata hanya mentaati perintah orang tua mereka saja.

  65. Selain itu , dalam diri anak-anak Kalimat tersebut mengandung konjungtor selain itu yang √ tersebut juga belum tertanam sikap menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar

  untuk

  perlu mengambil bagian dalam dari yang telah dinyatakan sebelumnya dan harus mengawali Perayaan Ekaristi. kalimat baru serta merupakan konjungtor antarkalimat. (PAK-15-Parestu-Ha01) Kalimat tetrsebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  untuk

  oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  66. Mereka bahkan senang duduk di -penggunaan yang salah-~Konjungtor bahkan merupakan √

  dan

  barisan paling belakang juga berada konjungtor antarkalimat sehingga harus mengawali kalimat

  untuk

  di halaman Gereja bercerita tidak boleh di tengah kalimat atau setelah subjek seperti dengan teman-teman yang lain. pada kalimat tersebut. Konjungtor bahkan harus mengawali

  169 (PAK-15-Parestu-Ha01) kalimat baru. Konjungtor tersebut harus di ubah letaknya di awal kalimat sebagaimana fungsi dari konjungtor antarkalimat.

  Bahkan, mereka senang duduk di barisan

  Pembetulan:

  paling belakang dan juga berada di halaman Gereja untuk bercerita dengan teman-teman yang lain.

dan

  Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan klausa dengan klausa. Kalimat tetrsebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan oleh konjungtor dan sebagai penanda

  untuk

  hubungan penambahan dan konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  67. Kesulitan yang ditemui oleh para orang Kalimat tersebut menandung tiga klusa yang dihubungkan

  √

  tua adalah adalah anak-anak mereka oleh konjungtor ketika yang menunjukkan makna hubungan

  yang

  lebih memilih duduk bersama dengan waktu dan konjungtor yang menunjukkan hubungan

  170

   ketika

  teman-teman mengikuti Perayaan atributif sehingga mengahsilkan kalimat majemuk Ekaristi di Gereja. bertingkat.

  kesulitan yang ditemui oleh para orang tua

  (PAK-15-Parestu-Ha02)

  Klausa utama= “ adalah adalah anak-anak mereka lebih memilih duduk

bersama dengan teman-teman

  ” ada dua klausa.

  Klausa subordinatif= mengikuti Perayaan Ekaristi di

  “ketika Gereja

  ” yang

  Klausa relatif restriktif= yaitu “ ditemui oleh para orang tua” memperluas fungsi subjek dan membatasi nomina “kesulitan” serta makna klausa relatifnya, yaitu hanya satu

  kesulitan yang ditemui oleh orang tua tidak ada yang lain, yaitu anak-anak memilih duduk dengan teman-teman.

  68. Biasanya peserta Komuni Pertama Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ adalah anak-anak yang telah dibaptis oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  sehingga sehingga

  sejak bayi mereka dari kecil dan konjungtor yang menunjukkan hubungan hasil tidak mengikuti persiapan katekumenat. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Parestu-Ha03) Biasanya peserta Komuni Pertama adalah

  Klausa utama= “ anak-anak

  ” sehingga mereka dari kecil tidak

  Klausa subordinatif= “

  171

  

mengikuti persiapan katekumenat

yang telah dibaptis sejak bayi

  Klausa relatif restriktif= “ ” membatasi “anak-anak”, memperluas predikat dan

  maknanya adalah hanya anakanak yang sudah dibaptis yang menjadi peserta komuni pertama.

  69. Pelajaran komuni Pertama ini juga Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ berfungsi sebagai katekumenat untuk oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif. yang yang anak-anak sudah dibaptis sejak Klausa relatif restriktifnya = sudah dibaptis sejak bayi.

  bayi. (PAK-15-Parestu-Ha03) Klausa utama= Pelajaran komuni Pertama ini juga berfungsi sebagai katekumenat untuk anak-anak.

  Klausa relatif tersebut memperluas fungsi keterangan dan membatasi nomina anak-anak serta maknanya, yaitu hanya anak-anak yang sudah dibaptis sejak bayi bukan yang lain.

  70. Gereja menetapkan usia minimal agar Kalimat tersebut terdiri dari dua klausa yang dihubungkan

  √

  bisa mengikuti Pelajaran Komuni oleh konjungtor agar yang menunjukkan hubungan tujuan Pertama itu adalah usia sembilan tahun sehingga menghasilkan kalimat mejemuk bertingkat. Di

  atau

  sudah duduk di kelas empat dalam klausa subordinatif itu terdapat klausa yang berupa Sekolah Dasar. kalimat majemuk dengan ditandai oleh konjungtor atau

  172 (PAK-15-Parestu-Ha03) sebagai penanda hubungan pemilihan.

  Klausa utama= “Gereja menetapkan usia minimal” agar

  Klausa subordinatif= bisa mengikuti Pelajaran Komuni Pertama itu adalah usia sembilan tahun atau sudah duduk di kelas empat Sekolah Dasar.

  71. Argumentasi seperti ini harus Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ diluruskan supaya Perayaan Ekaristi oleh konjungtor supaya yang menunjukkan hubungan tujuan menjadi bagian dari hidup orang sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Katolik. (PAK-15-Parestu-Ha03) Klausa utama= “Argumentasi seperti ini harus diluruskan”

  supaya Klausa subordinatif= “ Perayaan Ekaristi menjadi

bagian dari hidup orang Katolik”.

  72. Berdasarkan gambaran situasi anak- Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  maka

  anak dalam penghayatan ekaristi di oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan hasil Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius dan subordinator untuk yang menyatakan hubungan tujuan Paroki Administrasi Santa Maria Ratu sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  maka untuk

  Bayat, penulis tertarik

  Klausa utama= “Berdasarkan gambaran situasi anak-anak

  memberi judul karya ilmiah dalam penghayatan ekaristi di Lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administrasi Santa Maria

  ini”PERANAN PELAJARAN Ratu Bayat”

  173

  maka

  KOMUNI PETAMA BAGI Klausa subordinatif= penulis tertarik untuk memberi PERSERTA TERHADAP

  judul karya ilmiah ini”PERANAN PELAJARAN KOMUNI

  PENGHAYATAN EKARISTI DI PETAMA BAGI PERSERTA TERHADAP LINGKUNGAN SANTO PENGHAYATAN EKARISTI DI LINGKUNGAN SANTO FRANSISCUS XAVERIUS PAROKI FRANSISCUS XAVERIUS PAROKI ADMINISTRASI ADMINISTRASI SANTA MARIA

  SANTA MARIA RATU BAYAT, KLATEN”

  Dalam klausa subordinatif masih ada klausa lagi, yaitu

  RATU BAYAT, KLATEN”.(PAK-15- untuk Parestu-Ha04) “ memberi judul karya ilmiah ini”.

  73. Kaum muda dikenal sebagai kelompok Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  manusia hidup antara masa anak- oleh konjungtor sehingga menghasilkan kalimat anak dan masa dewasa. majemuk bertingkat. (PAK-15-Nugraha-Ha01)

  Klaua utama= “Kaum muda dikenal sebagai kelompok manusia” yang hidup antara masa anak-anak

  Klausa relatif restriktif= “ dan masa dewasa” ({kelompok manusia} hidup antara masa

  anak-anak dan masa dewasa. ) membatasi “sebagai kelompok

  manusia” dan memperluas fungsi pelengkap serta maknanya,

  yaitu hanya kaum muda yang hidup antara masa anak-anak dan masa dewasa, tidak ada yang lain.

  174 74.

  A. M. Mangunharjana dalam bukunya Kalima tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  Pendampingan Kaum Muda (1986: 11- oleh konjungtor bahwa (menunjukkan hubungan bahwa yang

  12), berpendapat komplementasi) dan konjungtor (menunjukkan

  :“Kaum muda yang

  adalah muda-mudi berumur 15 hubungan atributif) sehingga membentuk kalimat majemuk sampai 12 tahun. (PAK-15-Nugraha- bertingkat. Konjungtor yang dan klausa relatif restriktifnya, Ha01)

  yang berumur 15 sampai 12 tahun membatasi muda- yaitu “ mudi” dan memperluas fungsi predikat serta makna klausa

  relatif restriktifnya adalah hanya kaum muda yang berumur berumur 15 sampai 12 tahun tidak ada kaum yang lain.

  Klausa utama= “M. Mangunharjana dalam bukunya Pendampingan Kaum Muda

  (1986: 11- 12), berpendapat”

  bahwa Klausa subordinatif= “ :“Kaum muda adalah muda-

  mudi yang berumur 15 samp

  ai 12 tahun”

  75. Dapat dikatakan bahwa arah kehidupan Kalima tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √ bahwa

  manusia ditentukan oleh generasi muda oleh konjungtor (menunjukkan hubungan

  yang yang

  menggantikan tugas kaum tua. komplementasi) dan konjungtor (menunjukkan (PAK-15-Nugraha-Ha01) hubungan atributif) sehingga membentuk kalimat majemuk bertingkat.

  yang

  menggantikan tugas kaum

  Klausa relatif restriktif= “

  175

  tua” memperluas fungsi predikat dan membatasi “generasi muda” serta maknanya adalah hanya generasi muda yang

  menggantikan generasi tua tidak ada generasi yang lain.

  Klausa utama= “M. Mangunharjana dalam bukunya Pendampingan Kaum Muda (1986: 11-

  12), berpendapat” bahwa

  Klausa subordinatif= “ :“Kaum muda adalah muda- yang

  mudi

  berumur 15 sampai 12 tahun”

  76. Namun dalam lingkup umat Katolik Konjungtor namun merupakan konjungtor antarkalimat √ sendiri, sering kali kaum muda yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya dipandang memiliki masalah dengan dan harus mengawali kalimat baru. liturgi. (PAK-15-Nugraha-Ha02)

  77. Kaum muda merupakan kumpulan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ yang yang

  pribadi dari keluarga-keluarga oleh konjungtor menunjukkan hubungan atributif sering disebut sebagai Gereja kecil. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Nugraha-Ha03) kaum muda merupakan kumpulan pribadi

  Klausa utama= “ dari keluarga-keluarga

  ” yang sering disebut sebagai

  Klausa relatif restrik

  tif= “ Gereja kecil

  ” yang memperluas fungsi pelengkap dan

  maknanya adalah hanya keluarga yang disebut sebagai

  176 gereja kecil.

  

dan

  78. Hal ini dapat diwujudkan dalam doa, Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan √

  dan

  permohonan, pujian, sembah sujud yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa semacamnya. (PAK-15-Nugraha-Ha03) (sembah sujud dan semacamnya).

  79. Dalam masa peralihan ini mereka Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  mengalami permasalahan tentang oleh lonjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan

  1 dan kepribadian perkembangannya sehingga mengahsilkan kalimat majemuk bertingkat.

  2

  

1

untuk dan dan

  mencari menemukan jati Konjungtor yang pertama sebagai penanda hubungan diri. (PAK-15-Luviasari-Ha01) penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (permasalahan tentang kepribadian dan [permasalahan tentang] perkembangannya), yang kedua

  2 dan untuk menghubungkan kata dengan kata.

  Dalam masa peralihan ini mereka Klausa utama= “

  1 mengalami permasala han tentang kepriba dian dan perkembangannya

  ”

  2 untuk mencari dan menemukan jati

  Klausa subordintaif= “ diri

  ”

  80. Masa peralihan membuat mereka sulit Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  memilih nilai kehidupan bermakna oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  177

  dan berguna bagi mereka. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  (PAK-15-Luviasari-Ha01)

  Klausa utama= “Masa peralihan membuat mereka sulit memilih nilai kehidupan” yang

  bermakna dan berguna bagi

  Klausa relatif restriktif= “ mereka.”

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakanuntuk menghubungkan kata dengan kata.

  81. Sekolah Katolik diharapkan mendorong Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ anak dan remaja untuk terlibat dalam oleh konjungtor untuk sehingga menghasilkan kalimat

  maupun kegiatan pengembangan iman majemuk bertingkat.

  dalam kegiatan kemasyarakatan (Nota Sekola h Katolik diharapkan mendorong

  Klausa utama= “ anak dan remaja

  Pastoral KAS, 2008: 46). (PAK-15-

  ” terlibat dalam kegiatan

  Luviasari-Ha01 —02) penghilangan Klau sa subordinatif= “untuk

  pengembangan iman maupun dalam kegiatan kemasyarakatan ”

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata (anak dan remaja).

  • penggunaan yang salah- ~ Kalimat di atas menghilangkan

  178

  baik baik ...

  kata sebagai pasangan dari konjungtor korelatif

  maupun Sekolah Katolik diharapkan mendorong anak

  Pembetulan= “ dan remaja untuk terlibat baik dalam kegiatan pengembangan iman maupun dalam kegiatan kemasyarakatan (N ota Pastoral KAS, 2008: 46)”.

  82. Dalam pengembangan iman siswa- Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang

  √

  siswa, sekolah mewajibkan siswa-siswi dihubungkan oleh konjungtor sehingga menunjukkan

   untuk untuk

  Katolik mengikuti pendalaman hubungan waktu dan dua konjuungtor sehingga

  sehingga iman diharapkan dapat menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  memberikan dampak kepada siswa untuk mengikuti pendalaman

  Klausa subordinatif 1 = “ untuk iman

  mewujudkan imannya secara

  ” sehingga diharapkan dapat

  nyata dalam perbuatan sehari- Klausa subordinatif 2 = “ hari.(PAK-15-Luviasari-Ha02) memberikan dampak kepada siswa

  ” untuk mewujudkan imannya secara

  Klausa subordinatif 3= “ nyata dalam perbuatan sehari-hari

  .”

  Klausa

  utama= “Dalam pengembangan iman siswa-siswa,

  sekolah mewajibkan siswa-

  siswi Katolik”

  179

  Ketika

  83. guru memberikan tugas yang Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ demikian, siswa-siswi bersemangat oleh konjungtor ketika menunjukkan hubungan waktu dan

  untuk dan untuk

  mengikuti kegiatan Ekaristi. konjungtor sehingga menghasilkan kalimat majemuk (PAK-15-Luviasari-Ha02) bertingkat.

  Klausa utama= “siswa-siswi bersemangat” Ketika guru memberikan tugas yang

  Klausa subordinatif 1= “ demikian” untuk dan

  Klausa subordinatif 2= “ mengikuti kegiatan Ekaristi.” dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan kata dengan kata (kegiatan dan Ekristi).

  84. Sebagai seorang yang telah dibaptis kita Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √ dan untuk yang

  semua dipanggil diutus oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  untuk

  mengambil bagian dalam karya dan konjungtor yang menyatakan hubungan tujuan keselamatan Allah. menghubung sehingga menghasilkan kalimat majemuk (PAK-15-Luviasari-Ha03) bertingkat. Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata

  180 dengan kata (dipanggil dan diutus).

  Sebagai seorang yang telah dibaptis kita Klausa utama= “ semua dipanggil dan diutus

  ” mengandung dua klausa (yang telah dibaptis; kita semua dipanggil dan diutus).

  Klausa relatif restriktif, yaitu yang telah dibaptis membatasi

  “sebagai seseorang”, memperluas fungsi subjek dan

  maknanya dalah hanya orang yang sudah dibaptis akan diutus dan dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

  untuk

  mengambil bagian dalam karya

  Klausa subordinatif= “ keselamatan Allah”.

  85. Dalam konteks itulah kedasaran Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang

  mengenai wujud baru hidup menggereja oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif juga semakin kuat, yakni hidup sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  yang dan

  menggereja mempunyai ciri Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan

  dan

  dialogal transformatif yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (Banawiratma, 1992: 9). (PAK-15- (ciri diagonal dan [ciri] transformatif). Luviasari-Ha04)

  Dalam konteks itulah kedasaran mengenai Klausa utama= “ wujud baru hidup menggereja juga semakin kuat, yakni

  181

  hidup menggereja ” yang mempunyai ciri dialogal dan

  Klausa relatif restriktif= “ transformatif (Banawiratma, 1992: 9)”.

  Akan tetapi

  86. pada kenyataannya siswa- Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  bahwa

  siswi SMP Pangudi Luhur Cawas belum oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan sepenuhnya menyadari bahwa terlibat komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk dalam kehidupan menggereja sebagai bertingkat.

  pada kenyataannya siswa-siswi SMP

  panggilan yang istimewa. Klausa utama= “

  Pangudi Luhur Cawas belum sepenuhnya menyadari

  (PAK-15-Luviasari-Ha04)

  ” bahwa terlibat dalam kehidupan

  Klausa subordinatif= “ menggereja sebagai panggilan yang istimewa

  ” akan tetapi

  Konjungtor merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya dan harus mengawali kalimat baru.

  87. Gereja menyadari bahwa pewartaan Pada kalimat tersebut mengandung dua klausa yang √

  

serta bahwa

  penting bagi munculnya iman dihubungkan oleh konjungtor yang menunjukkan pengembangan (Dapiyanta, 2013: 12). hubungan komplementasi sehingga menghasilkan kalimat (PAK-15-Luviasari-Ha04) majemuk bertingkat.

  182

  Gereja menyadari Klausautama= “ ” bahwa pewartaan penting bagi

  Klausa subordinatif= “ munculnya iman serta pengembangan

  (Dapiyanta, 2013:

  12)”

  Konjungtor serta sebagai penanda hubungan pemilihan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata.

  88. Oleh karena itu , pendidikan iman Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  bersifat menyeluruh yang mencakup oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif aspek iman yaitu pengetahuan iman, sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

   dan pendidikan iman bersifat menyeluruh

  perayaan iman penghayatan iman. Klausa utama= “ ” (PAK-15-Luviasari-Ha06)

  yang mencakup aspek iman yaitu Klausa relatif restriktif= “ pengetahuan iman, perayaan iman dan penghayatan iman

  ”

  memperluas fungsi fungsi pelengkap, membatasi

  “menyeluruh” dan maknanya adalah hanya pendidikan iman yang mencakup tiga aspek iman. oleh karena itu

  Konjungtor merupakan kinjungtor antarkalimat yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya dan harus mengawali kalimat baru. Konjungtor

  dan

  digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang

  183 digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  89. Proses perkembangan hidup beriman Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  dengan

  bertitik tolak dari pertobatan menuju oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan cara kematangan iman dengan melalui dan konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  yang perkembangan sikap iman, sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

dan

  memiliki tiga komponen: pengetahuan, Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan afeksi dan perilaku. penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata (PAK-15-Luviasari-Ha06) dengan kata.

  Proses perkembangan hidup beriman Klausa utama= “ bertitik tolak dari pertobatan menuju kematangan iman

  ” dengan melalui perkembangan sikap

  Klausa subordinatif= “ iman, yang memiliki tiga komponen: pengetahuan, afeksi dan perilaku” mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor yang .

  90. Semuanya merupakan kesaksian hidup Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  Gereja tentang Allah yang oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif menyelamatkan umat manusia sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  martyria ).

  (

  Klausa utama= “Semuanya merupakan kesaksian hidup

  (PAK-15-Luviasari-Ha06)

  Gereja tentang Allah”

  184

  yang Klausa relatif restriktif= “ menyelamatkan umat

  manusia ( martyria )

  ” memperluas fungsi pelengkap, membatasi “kesaksian hidup Gereja tentang Allah” dan

  maknanya adalah hanya kesaksian hidup Gereja tentang Allah yang menyelamatkan manusia.

  Karena

  91. berperan serta dalam tugas Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ Kristus sebagai Imam, Nabi Raja, kaum oleh konjungtor karena yang menunjukkan hubungan sebab awam berperan aktif dalam kehidupan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  dan

dan

  kegiatan Gereja (AA, art. 10) Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan (PAK-15-Luviasari-Ha06) penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  Karena berperan serta dalam tugas Kristus Klausa utama= “ sebagai Imam, Nabi Raja

  ,” kaum awam berperan aktif dalam

  Klausa subordinatif= “

kehidupan dan kegiatan Gereja

  ”

  92. Pada dasarnya pendidikan adalah Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  1 sedangkan dan sedangkan

  tindakan iman oleh konjungtor sebagai penanda hubungan perkembangan dipengaruhi oleh pertentangan sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  2

  1

  anugerah dan jawaban. setara. Konjungtor dan sebagai penanda hubungan

  185 (PAK-15-Luviasari-Ha07) penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata

  2

  dengan kata. Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untk menghubungkan frasa dengan frasa (oleh anugerah dan [oleh] jawaban).

  Pada dasarnya pendidikan adalah tindakan Klausa 1= “

  ”

  1 iman dan perkembangan dipengaruhi oleh

  Klausa 2= “

  2 anugerah dan jawaban

  ”

  93. Penyebab dari rendahnya keterlibatan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  karena

  dalam hidup mengereja dari faktor oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan hasil

  karena dan

  internal kurangnya motivasi, dan konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan kurangnya kemauan dan kurangnya sehingga menghasilkan kalimat maemuk bertingkat.

  Penyebab dari rendahnya keterlibatan

  menanggapi rahmat Allah. (PAK-15-

  Klausa utama= “ dalam hidup mengereja dari faktor internal

  Luviasari-Ha07)

  ”

  Klausa subo karena kurangnya motivasi,

  rdinatif= “ kurangnya kemauan dan kurangnya menanggapi rahmat Allah

  ” terdiri atas dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor dan.

  94. Dari langkah-langkah sotarae, pertama Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ memilih dokumen terlebih dahulu yang oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  186 akan didalami sehubungan dengan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. tema. (PAK-15-Luviasari-Ha09) langkah-langkah sotarae, pertama memilih

  Klausa utama= “ dokumen terlebih dahulu

  ” yang akan didalami

  Klausa relatif restriktif relatif= “ sehubungan dengan tema

  ”memperluas fungsi objek dan membatasi “dokumen” hanya suatu dokumen yang akan

  didalami sehubungan dengan tema dan bukan dokumen yang lain.

  95. Kedua, peserta diajak menggali dari -penggunaan yang salah-~ Pada kalimat tersebut konjungtor √

  kemudian

  dokumen melalui pertanyaan- merupakan konjungtor antarkalimat yang harus pertanyaan kemudian dirangkum mengawali kalimat baru. Konjungtor dan digunakan sebagai

  dan

  berupa poin-poin dibuat urutan penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk sesuai prioritas. menghubungkan klausa dengan klausa. (PA K-15-Luviasari-Ha09) Kedua, peserta diajak menggali dari dokumen

  Pembetulan: “ melalui pertanyaan-pertanyaan. Kemudian, dirangkum berupa poin-poin dan dibuat urutan sesuai prioritas

  ”. yang

  96. Ketiga menentukan tema disusun Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihbungkan √

   yang

  menurut prioritas. oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif (PAK-15-Luviasari-Ha09) sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  187

  Klausa utama= “Ketiga menentukan tema” yang

  Klausa relatif restriktif= “ disusun menurut prioritas” membatasi “tema” dan memperluas fungsi objek. yang

  97. Langkah keenam adalah aksi Kalimat trsebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

   yang yang

  berupa usulan konkret diwujudkan oleh dua konjungtor yang menunjukkan hbungan dalam tindakan nyata. atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk (PAK-15-Luviasari-Ha09) bertingkat.

  Klausa utama= “Langkah keenam adalah aksi” yang

  Klausa relatif restriktif 1= “ berupa usulan konkret” yang diwujudkan dalam tindakan

  Klausa relatif restriktif 2= “ nyata”.

  Dengan demikian

  98. katekese model Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  sotarae merupakan katekese oleh konjungtor menunjukkan hubungan atributif dan menekankan aksi atau tindakan nyata konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan.

  untuk meningkatkan keterlibatan hidup Konjungtor dengan demikian merupakan konjungtor

  menggereja. antarkalimat yang menyatakan konsekuensi dan harus

  atau

  (PAK-15-Luviasari-Ha09) mengawali kalimat yang baru. Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan pemilihan yang digunakan untuk

  188 menghubungkan frasa dengan frasa (aksi [nyata] atau tindakan nyata).

  Klausa utama= “katekese model sotarae merupakan katekese” yang menekankan aksi atau

  

Klausa relatif restriktif= “

tindakan nyata” untuk

  meningkatkan keterlibatan

  Klausa subordinatif= “ hidup menggereja.”

  99. Kebutuhan akan perkembangan iman di Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

   yang

  tempat yang minoritas menjadi sebuah oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif keprihatinan yang menyayat hati. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Kebutuhan akan perkembangan iman di

  (PAK-15-Lestari-Ha01)

  Klausa utama= “ tempat yang minoritas menjadi sebuah keprihatinan

  ” yang menyayat hati

  Klausa relatif restriktif = “ ” memperluas fungsi objek dan membatasi “sebuah keprihatinan” serta

  maknanya adalah hanya sebuah keprihatinan di tempat yang minoritas yang menyayat hati.

  Ketika ketika

  100. Betapa tidak? kerinduan untuk -penggunaan yang salah-~ Konjungtor pada kalimat √ bertemu dengan Sang Pemberi hidup tersebut masih merupakan klausa yang menggantung atau

  189

  dangling clause

  tidak dapat terpenuhi. . Klausa tersebut menggantung karena tidak (PAK-15-Lestari-Ha01) memiliki induk kalimat dan lebih baik konjungtor ketika dihilangkan supaya menjadi kalimat utuh.

  101. Ketika iman akan Sang Pemberi hidup Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √ yang ketika

  tidak kokoh, jalan pintas diambil oleh konjungtor menunjukkan makna hubungan

   yang

  pindah agama. waktu dan konjungtor menunjukkan hubungan (PAK-15-Lestari-Ha01) atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

   yang Klausa utama= “jalan pintas diambil pindah agama.”

  Ketika Klausa subordinatif= “ iman akan Sang Pemberi hidup tidak kokoh” yang

  Klausa relatif restriktif= “ diambil” memperluas fungsi

  subje k dan membatasi “jalan pintas” serta maknanya adalah masih ada banyak jalan dan salah satu jalan yang diambil adalah pindah agamalah. 102. Hal ini semata-mata untuk pemenuhan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  agar agar

  kerinduan dapat bertemu dengan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan

  dan Sang Pemberi hidup dengan tenang sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  nyaman. (PAK-15-Lestari-Ha01) Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan

  190 penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (dengan tenang dan [dengan] nyaman).

  Klausa utama= “ini semata-mata untuk pemenuhan kerinduan” agar dapat bertemu dengan Sang

  Klausa subordinatif= “

  Pemberi hidup dengan tenang dan nyaman”. 103. Hal ini tidak hanya mengurangi Konjungtor pada kalimat

  tidak hanya… tetapi juga …

  konsentrasi tetapi juga membunuh iman tersebut digunakan untuk menghubungkan klausa dengan secara perlahan-lahan. (PAK-15- klausa. Lestari-Ha01)

  yang

  104. Situasi inilah dialami oleh umat Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah, oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif Purwakarta dalam beribadat. (PAK-15- sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  yang

  Lestari-Ha01)

   dialami oleh umat Paroki klausa relatif restriktif= “ Santa Maria Kota Bukit Indah, Purwakarta dalam beribadat”.

atau

  105. Ketangguhan iman umat Paroki Santa Konjungtor pada kalimat tersebut sebagai penanda √ Maria Kota bukit Indah, Purwakarta hubungan pemilihan yang digunakan untuk menghubungkan teruji tidak berhenti dalam lingkup frasa dengan frasa.

  atau namun namun

  wilayah lingkungan saja –penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan

  191 dalam lingkup Paroki pun mereka konjungtor antarkalimat yang harus mengawali kalimat baru. mengalami kendala. Ketangguhan iman umat Paroki Santa Maria

  Pembetulan: “ Kota bukit Indah, Purwakarta teruji tidak berhenti dalam

  (PAK-15-Lestari-Ha02)

  lingkup wilayah atau lingkungan saja. Namun, dalam lingkup Paroki pun mereka mengalami kendala ” dan

  106. Tumbuh berkembang umat Paroki Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √ Santa Maria Kota Bukit Indah, mengahasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dan sebagai Purwakarta tidak terlepas dari penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk perkembangan sentra-sentra di sekitar menghubungkan kata dengan kata.

  Cikampek. (PAK-15-Lestari-Ha02) 107. Umat benar-benar memanfaatkan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ dengan baik gudang yang kala itu oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan beralih fungsi menjadi sebuah Gereja. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Lestari-Ha02)

  Klausa utama= “benar-benar memanfaatkan dengan baik gudang” yang kala itu beralih fungsi

  Klausa relatif restriktif= “ menjadi sebuah Gereja” memperluas fungsi objek dan membatasi “gudang”.

  192

  yang

  108. Berawal dengan nama lingkungan -penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan √ Maria dari Paroki Kristus Raja konjungtor subordinatif dan konjungtor kemudian

  lalu

  Karawang (Paroki lama), menjadi merupakan konjungtor antarkalimat, keduanya tidak boleh

  yang

  wilayah Santa Maria Cikampek digunakan secara bersamaan karena konjungtor antarkalimat

  kemudian menjadi Stasi Santa Maria harus mengawali kalimat baru. Konjungtor yang tersebut dan kini sudah resmi menjadi Paroki bisa dihilangkan sebab kalimat tersebut terlalu panjang.

  Berawal dengan nama lingkungan Maria dari mandiri.

  Pembetulan: “ Paroki Kristus Raja Karawang (Paroki lama), lalu menjadi

  (PAK-15-Lestari-Ha03)

  wilayah Santa Maria Cikampek . Kemudian, menjadi Stasi Santa Maria dan kini sudah resmi menjadi Paroki mandiri ”

  Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan klausa

  lalu

  dengan klausa. Konjungtor menandai pertalian

  semantik ‘perurutan’ yang menghubungkan klausa dengan klausa.

  109. Hingga saat ini Paroki Santa Maria Kota Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  Bukit Indah, Purwakarta tetap oleh konjungtor dan sehingga membentuk kalimat majemuk

  dan mempertahankan nama pelindung setara.

  193

  Hingga saat ini Paroki Santa Maria Kota Bukit

  tidak menggantinya. (PAK-15-Lestari- Klausa 1= “ Ha03) Indah, Purwakarta tetap mempertahankan nama pelindung

  ” tidak menggantinya

  

Klausa 2= “ ”

  110. Umat perlu terlibat aktif dalam Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ yang yang

  kegiatan-kegiatan diselenggarakan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif oleh Gereja. (PAK-15-Wuriusadani- sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. Ha01)

  Umat perlu terlibat aktif dalam kegiatan- Klausa utama= “ kegiatan

  ” yang diselenggarakan oleh

  

Klausa relatif restriktif= “

Gereja” memperluas fungsi keterangan dan membatasi “dalam kegiatan-kegiatan” serta maknanya adalah hanya yang

  kegiatan-kegiatan diselenggarakan oleh Gereja yang perlu aktif diikuti oleh umat.

   yang

  111. Maka dari itu, iman dimiliki oleh Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ umat Katolik semakin bertumbuh dan oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif berkembang dalam dirinya. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  

dan

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha01) Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (semakin bertumbuh dan [semakin] berkembang).

  194

  Maka dari itu, iman semakin bertumbuh Klausa utama= “

dan berkembang dalam dirinya

  ” yang dimiliki oleh umat Katolik

  Klausa relatif restriktif= “ ” memperluas fungsi subjek dan membatasi “iman” serta

  maknanya adalah hanya iman yang dimiliki oleh umat Katolik akan semakin bertumbuh dan berkembang.

  1

  112. Peduli, peka dan kesadaran diri dalam Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  2 dan supaya

  kegiatan penghayatan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan pengungkapan iman perlu ditingkatkan, sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  1 supaya imannya akan Yesus Kristus Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan terwujud melalui perbuatannya (data yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata.

  2 dan

  terlampir no.6). Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan (PAK-15-Wuriusadani-Ha01) yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  1 dan

  kesadaran diri dalam

  

Klausa utama= “Peduli, peka

  2 dan

  kegiatan penghayatan pengungkapan iman perlu ditingkatkan”.

   supaya imannya akan Yesus Kristus Klausa subordinatif= “, terwujud melalui perbuatannya”.

  195 113. Iman itu sendiri dengan sendirinya akan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  maka maka

  muncul dalam diri umat, iman oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan hasil perlu dikembangkan dan diperjuangkan dan konjungtor serta sebagai penanda hubungan

  serta

  membutuhkan proses. pendampingan sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  dan

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha01) bertingkat. Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (perlu dikembangkan dan [perlu] diperjuangkan).

  1 dan

  114. Iman muncul sesuai rencana, tujuan Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan √

  1 dan kehendak Tuhan, umat perlu yang untuk menghubungkan frasa dengan frasa (tujuan

  menjalin keakraban dengan Tuhan [Tuhan] dan kehendak Tuhan.. Kalimat tersebut

  supaya

  imannya semakin meningkat mengandung empat klausa yang dihubungkan oleh

  2 dan

supaya

  mengalami perubahan dalam konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan dan

  

2

  bersikap. konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan (PAK-15-Wuriusadani-Ha01) sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  1 Iman muncul sesuai rencana, tujuan dan Klausa utama= “ kehendak Tuhan, umat perlu menjalin keakraban dengan Tuhan

  ” mengandung 2 klausa (iman muncul sesuai rencana,

  196 tujuan dan kehendak Tuhan; umat perlu menjalin keakraban dengan Tuhan).

  supaya imannya semakin meningkat Klausa subordinatif= “

  2 dan mengalami perubahan dalam bersikap

  ” mengandung

  dua klausa (imannya semakin meningkat; mengalami perubahan sikap).

  115. Untuk itu, dalam surat Ibrani Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

   untuk

  menganjurkan kepada keluarga Katolik oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan

  untuk selalu taat mengikuti petunjuk- dan konjungtor sehingga yang menunjukkan hubungan hasil petunjuk dari Tuhan dengan kekuatan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  iman demi keselamatan bersama, Klausa utama= “Untuk itu, dalam surat Ibrani menganjurkan

  sehingga perlu meluangkan waktu kepada keluarga Katolik” untuk

  untuk taat dengan ajaran-nya (data selalu taat mengikuti

  

Klausa subordinatif 1 = “

  terlampir no.3). (PAK-15-Wuriusadani- petunjuk-petunjuk dari Tuhan dengan kekuatan iman demi Ha01

  —02)2 keselamatan bersama” sehingga perlu meluangkan waktu

  Klausa subordinatif 2 = “

  untuk taat dengan ajaran-

  nya”

  197 Salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk.

  1

  116. Oleh sebab itu , seluruh keluarga yang Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang

  √ untuk

  beriman Katolik pun masih mengalami dihubungkan oleh konjungtor yang menunjukkan

   untuk oleh sebab itu

  berbagai tantangan melanjutkan hubungan tujuan, konjungtor menyatakan

  2

  karya-karya Allah yang diturunkan akibat dan harus mengawali kalimat, dan konjungtor yang bagi seluruh umat Katolik. baik pertama maupun kedua yang menunjukkan hubungan (PAK-15-Wuriusadani-Ha02) sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  1 Oleh sebab itu , seluruh keluarga yang Klausa utama= “ beriman Katolik pun masih mengalami berbagai tantangan

  ”

  terdiri dari dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor

  1 yang yang = klausa telatif restriktif “ beriman Katolik pun” memperluas fungsi subjek dan membatasi “seluruh keluarga” serta maknanya adalah hanya keluarga yang beriman Katolik yang masih mengalami berbagai tantangan. untuk melanjutkan karya-karya

  Klausa subordinatif = “

2 Allah yang diturunkan bagi seluruh umat Katolik

  ” terdiri yang

  dari dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor =

  198

  yang klausa telatif restriktif “ diturunkan” memperluas fungsi objek dan membatasi “karya-karya Allah” serta maknanya

  adalah hanya karya-karya Allah yang diturunkan bagi seluruh umat Katolik.

  117. Devosi tersebut membutuhkan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ kesungguhan dan pemahaman bagi oleh konjungtor dengan yang menunjukkan hubungan cara keluarga Katolik dengan memahami sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  1 dan dan

  makna arti pentingnya. Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan (PAK-15-Wuriusadani-Ha03) digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata dan

  

2

  konjungtor dan digunakan untuk menghubungkan frasa

  dan denga frasa (makna [pentingnya] arti pentingnya). bukan

  118. Keluarga-keluarga Katolik Konjungtor

  √ bukan hanya… melainkan juga … digunakan hanya

  memikirkan hidupnya sendiri untuk menghubungkan klausa dengan klausa. Konjungtor dalam keluarganya masing-masing, dan digunakan sebagai penanda hubungan penambahan

  melainkan juga mengingat Tuhan dan digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. Kalimat sesama. (PAK-15-Wuriusadani-Ha03) tersebut mengandung dua klausa.

  119. Bunda Maria sangat pantas untuk Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang √

  untuk

  menjadi teladan bagi keluarga Katolik, dihubungkan oleh konjungtor yang menunjukkan

  199

  karena karena

  Bunda Maria menjadi bagian hubungan tujuan, konjungtor yang menunjukkan dalam keluarga kudus Nazaret dan hubungan sebab dan konjungtor dan sebagai penanda menjadi pilihan Allah. (PAK-15- hubungan penambahan sehingga menghasilkan kalimat Wuriusadani-Ha05) majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “Bunda Maria sangat pantas” untuk menjadi teladan bagi

  Klausa subordintaif 1= “ keluarga Katolik” karena

  Klausa subordintaif 2= “ Bunda Maria menjadi

  bagian dalam keluarga kudus Nazaret dan menjadi pilihan

Allah” terdiri dari dua klausa.

120. Kis.1:14 mengungkapkan bahwa Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  bahwa

  oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan

  “Mereka semua bertekun dengan sehati

  dalam doa bersama-sama, dengan komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk beberapa perempuan serta Maria, ibu bertingkat. Konjungtor serta sebagai penanda hubungan

  dan

  Yesus, dengan saudara-saudara penyertaan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan

  serta Yesus”. frasa (dengan beberapa perempuan [dengan] Maria).

  (PAK-15-Wuriusadani-Ha05) Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa

  dan (ibu Yesus, dengan saudara-saudara Yesus).

  200

  atau

  121. Bentuk devosi penghormatan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ kepada Bunda Maria merupakan suatu oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan

  untuk karena

  jalan semakin menghormati dan konjungtor yang menunjukkan hubungan sebab kehadiran Tuhan sekaligus bentuk sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. penghormatan kepada-Nya, karena Konjungtor atau sebagai penanda hubungan pemilihan Bunda Maria mempunyai ikatan khusus digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  atau

  dengan Yesus putera-Nya. (PAK-15- penghormatan kepada

  

Klausa utama= “Bentuk devosi

  Wuriusadani-Ha06) Bunda Maria merupakan suatu jalan”

  untuk semakin menghormati Klausa subordinatif 1= “

  kehadiran Tuhan sekaligus bentuk penghormatan kepada-

  Nya” karena Bunda Maria mempunyai

  Klausa subordinatif 2= “

  ikatan khusus dengan Yesus putera- Nya”. 122. Meskipun Bunda Maria hanya manusia -penggunaan yang salah-~ Kalimat tersebut tidak

  √ yang dan

  biasa diberi rahmat diangkat mempunyai induk kalimat atau klausa utama sebab kalimat

   untuk

  oleh Allah menjadi bunda Allah tersebut terdiri atas dua klausa subordinatif. Data di tersebut dan Bunda bagi keluarga Katolik. betul sebagai kalimat, tetapi salah sebagai klausa. (PAK-15-Wuriusadani-Ha06) Konjungtor meskipun dan untuk pada kalimat tersebut menyebabkan induk kalimat tidak jelas sehingga klausa

  201

  dangling

  tersebut merupakan klausa yang menggantung atau

  clause. Maka, klausa tersebut digabungkan dengan kalimat setelahnya.

  Meskipun

  Pembetulan: Bunda Maria hanya manusia biasa yang diberi rahmat dan diangkat oleh Allah untuk menjadi bunda Allah dan Bunda bagi keluarga Katolik, menghormati Bunda Maria bukan berarti mengabaikan Tuhan, melainkan mencari cara lain untuk menemukan Tuhan Konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif yang

  yang

  diberi rahmat

  menghasilkan klausa relatif restriktif: “ dan

diangkat oleh Allah”.

  2 Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

  yang pertama digunakan untuk menghubungkan frasa

  1 dan

  dengan frasa serta menghubungkan klausa dengan klausa ( yang diberi rahmat dan [ yang ] diangkat oleh Allah). Konjungtor untuk menyatakan hubungan tujuan yang menghubungkan frasa dengan frasa. 123. Menghormati Bunda Maria bukan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  melainkan melainkan

  berarti mengabaikan Tuhan, oleh konjungtor sebagai penanda hubungan

  202

  untuk untuk

  mencari cara lain menemukan perlawanan dan konjungtor yang menunjukkan Tuhan (data terlampir no.5). (PAK-15- hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk Wuriusadani-Ha06) bertingkat.

  Klausa utama= “Menghormati Bunda Maria bukan berarti

  mengabaikan Tuhan, melainkan

  mencari cara lain” terdiri

  dari dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor melainkan.

  untuk

  Kla usa subordinatif= “ menemukan Tuhan”

  yang

  124. Tidak ada seorang pun datang Kalimat tersebut tiga klausa yang dihubungkan oleh √

  , kalau yang

  kepada Bapa tidak melalui Aku.” konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif dan (PAK-15-Wuriusadani-Ha06) konjungtor kalau yang menunjukkan hubungan syarat sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “Tidak ada seorang pun” lau

  Klausa subordinatif= “ tidak melalui Aku” yang

  Klausa relatif restriktif= “ datang kepada Bapa” memperluas fungsi subjek dan membatasi “seorang pun”

  serta maknanya adalah tidak ada orang atau manusia yang bisa datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku (Yesus).

  203 125. Perkembangan ilmu pengetahuan

  bahwa “Gereja merasa bersalah di

  yang menunjukkan hubungan dan konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  jika

  yang menunjukkan hubungan komplementasi, konjungtor

  bahwa

  merupakan konjungtor antarkalimat yang menguatkan keadaan sebelumnya. Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang dihubungkan oleh konjungtor

  bahkan

  Nahak-Ha01) Konjungtor

   (PAK-15-

  

  untuk mewartakan Kabar Gembira!”

  tidak menggunakan media massa (baca: media digital)

  jika

  hadapan Allah

  , hal ini ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam refleksinya

  dan

  Bahkan

  127

  √

  digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa [bagi karya pewartaan dan (bagi karya) kesaksian]. ]

  

dan

sebagai penanda hubungan penambahan

  Konjungtor

  126. Media digital adalah saluran kreatif bagi karya pewartaan dan kesaksian. (PAK- 15-Nahak-Ha01)

  √

  perkembangan) teknologi modern].

  dan

  digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa [Perkembangan ilmu pengetahuan

  

dan

sebagai penanda hubungan penambahan

  Konjungtor

  teknologi modern senantiasa menjadi bagian dari kehidupan setiap orang. (PAK-15-Nahak-Ha01)

  Klausa utama= “hal ini ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam refleksinya” √

  204

  bahwa Klausa subordinatif 1= “ “Gereja merasa bersalah di hadapan Allah” jika

  tidak menggunakan

  Klausa subordinatif 2= “Allah media massa (baca: media digital)” untuk mewartakan Kabar

  

Klausa subordinatif 3= “

Gembira!”

  128. Selain itu , tindakan pewartaan Injil oleh Kalimat tersebut mengandung satu klaua sehingga

  √

  Gereja tidak lepas dari inspirasi seorang menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor selain itu

   atau

  tokoh Gereja pun orang-orang merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan kudus. adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang (PAK-15-Nahak-Ha01) telah dinyatakan sebelumnya. Konjungtor atau sebagai penanda hubungan pemilihan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  yang

  129. Salah satu tokoh perlu menjadi Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ inspirasi para pewarta Injil adalah Santo oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif Paulus Rasul. (PAK-15-Nahak-Ha01) sehingga menhasilkan kalimat majemuk bertingkat. adalah Santo Paulus

  

Klausa utama= “Salah satu tokoh

Rasul” yang perlu menjadi inspirasi para

  Klausa relatif restriktif= “

  205

  pewarta Injil” memperluas fungsi subjek dan membatasi “salah satu tokoh” serta maknanya adalah hanya Santo

  Paulus Rasul yang perlu menjadi inspirasi para pewarta injil. 130. Paulus dikenal sebagai orang yang Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √ untuk yang

  berkarya mewartakan Injil oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  untuk

  kepada segala bangsa. (PAK-15-Nahak- dan konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan Ha01) sehingga menghasilkan kalimat majemjk bertingkat.

  Klausa utama= “Paulus dikenal sebagai orang” untuk

  Klausa subordinatif = “ mewartakan Injil kepada segala bangsa” yang

  Klausa relatif restriktif= “ berkarya” memperluas fungsi pelengkap dan membatasi “sebagai orang” serta maknanya

  adalah hanya Paulus yang dikenal sebagai orang yang berkarya (menghasilkan sesuatu yang berguna bagi banyak orang). 131. Ia dipandang sebagai inspirator dan Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan √ teladan dalam penyebaran Kerajaan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa

  dan Allah. [sebagai inspirator (sebagai) teladan].

  (PAK-15-Nahak-Ha01)

  206

  dan

  132. Ia menjadi contoh bagi pewarta Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √ pelayan iman. membentuk kalimat tunggal. Konjungtor dan sebagai (PAK-15-Nahak-Ha01) penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  Bahkan 133.

  Kalimat tersebut mengandung tiga klausa (fungsi objek √

  , ia mengatakan , “Celakalah jika jika

  aku, tidak memberitakan Injil” (1 merupakan klausa yang dihubungkan oleh konjungtor Kor 9:16). yang menunjukkan hubungan syarat) sehingga menghasilkan (PAK-15-Nahak-Ha01 kalimat majemuk bertingkat. Konjungtor bahkan merupakan

  —02)

  konjungtor antarkalimat yang menguatkan keadaan sebelumnya.

  jika tidak Klausa1= “ia mengatakan , “Celakalah aku, memberitakan Injil”

Klausa utama= “Celakalah aku”

jika

  Klausa subordinatif= “ tidak memberitakan Injil”

  134. Ia dilahirkan di kota Tarsus dan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  dibesarkan di Yerusalem. oleh konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan (PAK-15-Nahak-Ha01) sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara. 135. Santo Lukas menyatakan bahwa Paulus Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  bahwa

  berkebangsaan Roma (Kis 22.28.39). oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan

  207 (PAK-15-Nahak-Ha02) komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “Santo Lukas menyatakan” bahwa

  Klausa subordinatif= “ Paulus berkebangsaan Roma”

  136. Masa muda dilaluinya sebagai seorang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  sehingga

  Farisi yang sangat taat pada Hukum oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan Taurat sehingga hidup rohaninya hasil sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. dibentuk dengan latar belakang seperti Klausa

  utama= “Masa muda dilaluinya sebagai seorang

  demikian. Farisi yang sangat taat pada Hukum Taurat”

  sehingga

  (PAK-15-Nahak-Ha02) Klausa subordinatif= “ hidup rohaninya dibentuk dengan latar belakang seperti demikian.

  ”

  137. Tentunya, lingkungan Yunani dimana ia -penggunaan yang salah-~ konjungtor walaupun dan √ tinggal pun turut memberi andil dalam sehingga lebih baik digunakan salah satu karena itu pembentukan hidupnya sehingga merupakan penggunaan konjungtor yang berlebihan. Selain

  walaupun berlatarbelakang Yahudi, ia itu, kalimat tersebut bisa dibagi menjadi dua kalimat sebab tetap hidup dalam kebudayaan Yunani. kalimat tersebut tidak efektif karena terlalu panjang.

  Tentunya, lingkungan Yunani dimana ia tinggal

  (PAK-15-Nahak-Ha02) Pembetulan: pun turut memberi andil dalam pembentukan hidupnya.

  208

  ke Damsyik, tiba-tiba ia mengalami penghilatan akan Kristus. (PAK-15-Nahak-Ha02)

  pada kalimat tersebut sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  

dan

  Konjungtor

  140. Pengalaman ini mempuyai konsekuensi mengubah seluruh hidupnya, pemahaman dirinya, pandangan teologis, dan tujuan hidup. (PAK-15- Nahak-Ha02)

  √

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor ketika yang menunjukkan hubungan waktu sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Ketika Paulus sedang dalam perjalanan

  Walaupun berlatarbelakang Yahudi, ia tetap hidup dalam kebudayaan Yunani.

  jalan menuju Damsyik” √ 139.

  pertobatan Paulus terjadi di

  Klausa utama= “Kisah para rasul memaparkan” Klausa subordinatif= “ bahwa

  yang menunjukkan hubungan komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  bahwa

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor

  138. Kisah para rasul memaparkan bahwa pertobatan Paulus terjadi di jalan menuju Damsyik.(PAK-15-Nahak- Ha02)

  √

  209 141. Pertobatan Paulus membawa Paulus Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ pada pengalaman iman akan Kristus oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif dan

  yang dan untuk

  mengasihi mengutusnya konjungtor yang menyatakan hubungan tujuan

  untuk mewartakan Injil bagi bangsa- sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  bangsa.

  P ertobatan Paulus membawa P aulus pada Klausat utama= “

  (PAK-15-Nahak-Ha02)

  

pengalaman iman akan Kristus”

yang mengasihi dan

  Klausa relatif restriktif= “ mengutusnya” (terdiri dari dua klausa.) untuk mewartakan Injil bagi bangsa-

  Klausa subordinatif= “ bangsa”

dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (mengasihi[nya] dan mengutusnya).

  untuk

  142. Kristus sendiri mengurusnya Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  untuk

  memaklumkan Injil di antara orang oleh konjungtor yang menyatakan hubungan tujuan bukan Yahudi (Kor 9:1; 15:8. 9-11; dan konjungtor karena yang menunjukkan hubungan sebab Rm1:5) karena bagi Rasul Paulus sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  “Kristus Hidup dalam aku” (Gal 2:20). Klausa utama= “Kristus sendiri mengurusnya”

  210

  untu

  (PAK-15-Nahak-Ha03) Klausa subrdinatif= “ k memaklumkan Injil di antara orang bukan Yahudi (Kor 9:1; 15:8. 9-

  11; Rm1:5)” karena

  Klausa subordinatif= “ bagi Rasul Paulus “Kristus Hidup dalam aku” (Gal 2:20).” Salah satu klausa yang

  dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat berupa kalimat majemuk seperti pada kalimat tersebut yang ditandai

  karena oleh konjungtor .

  143. Kemudian dalam perkembangan Gereja Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  dan

  selanjutnya, ajaran-ajaran Kristus oleh konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan

  dan dirumuskan kembali dibakukan sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara.

  dalam sejumlah dogma pokok. dalam perkembangan Gereja

  Klausa 1= “Kemudian selanjutnya, ajaran-

  (PAK-15-Nahak-Ha03)

  ajaran Kristus dirumuskan kembali” Klausa 2= “dibakukan dalam sejumlah dogma pokok”

  Konjungtor kemudian merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat

   kemudian,

  sebelumnya dan diberi tanda koma ([,] ) 144. Pelayanan katekis pada zaman sekarang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  dihadapkan pada situasi dunia oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif berkembang dan mengalami perubahan dan konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

  211 secara cepat. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  (PAK-15-Nahak-Ha04)

  Klausa utama= “Pelayanan katekis pada zaman sekarang

dihadapkan pada situasi dunia”.

yang dan

  berkembang mengalami

  Klausa relatif restriktif= “ perubahan secara cepat”. Di dalam klausa relatif restriktifnya

  mengandung dua klausa. Klausa relatif memperluas fungsi

  pelengkap dan membatasi fungsi “pada situasi dunia”

  145. Kegiatan berkatekese menjadi suatu Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  dan dan

  kegiatan yang penting strategis menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor sebagai dalam pembinaan iman umat zaman penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk sekarang. menghubungkan frasa dengan frasa (suatu kegiatan yang (PAK-15-Nahak-Ha04) penting [[suatu kegiatan yang] strategis).

  yang dan

  146. Segala diungkapkan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ dirayakan sungguh menjadi kesaksian oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif iman bagi orang lain. sehingga mengahasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Nahak-Ha04

  —05) Klausa utama= “Segala sungguh menjadi kesaksian iman bagi orang lain” yang diungkapkan dan

  Klausa relatif restriktif= “ dirayakan”

  212

  memperluas fungsi subjek dan membatasi kata “segala” serta

  maknanya adalah hanya segala hal yang diungkapkan dan dirayakan yang menjadi iman bagi orang lain.

  dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata.

  yang

  147. Akhirnya, iman telah diyakini Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ menjadi iman yang otentik bagi dirinya oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif dan

  dan mampu diwujudkan dalam konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan perjumpaan hidupnya bersama orang sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. yang

  lain. Klausa1= “iman telah diyakini menjadi iman yang (PAK-15-Nahak-Ha05)

  otentik bagi dirinya” Klausa 2= “mampu diwujudkan dalam perjumpaan hidupnya bersama orang lain” yang

  Klausa relatif restriktif= “ telah diyakini” memperluas

  fungsi

  subjek dan membatasi nomina “iman” serta

  maknanya adalah hanya iman yang diyakini yang bisa menjadi iman yang otentik bagi dirinya.

  213

  atau atau

  148. Artinya, masalah visi wawasan Kalimat tersebut mengandung konjungtor sebagai √ beriman, pengetahuan iman, masalah penanda hubungan pemilihan yang digunakan untuk

  dan dan

  keterampilan mendampingi, menghubungkan farsa dengan frasa. Konjungtor sebagai masalah spiritualitas pelayanan. penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk (PAK-15-Nahak-Ha05) menghubungkan frasa dengan frasa. 149. Paulus Rasul adalah sosok katekis Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ sepanjang masa yang patut menjadi oleh konjungtor yang yang menyatakan hubungan atributif inspirasi para katekis zaman sekarang. sehingga membentuk kalimat majemuk bertingkat.

  yang sungguh Kristiani untuk

  (PAK-15-Nahak-Ha05) Klausa relatif restriktif= “

  kehidupan dan kemajuan umat Allah sendiri ” memperluas fungsi objek dan membatasi nomina “sosok katekis sepanjang masa”.

  P aulus Rasul adalah sosok katekis

  K lausa utama, yaitu “

  sepanjang masa ”.

  Makna klausa relatif restriktif, yaitu hanya Paulus Rasul yang patut menjadi inspirasi para katekis zaman sekarang. 150. Gagsan tersebut mendorong penulis Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  1 untuk untuk memilih topik “Pewartaan Santo oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan Paulus Rasul dan relevansinya bagi sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  214

  pelayanan katekis di zaman sekarang”, Klausa utama= “Gagasan tersebut mendorong penulis” untuk dengan judul “Usaha Memahami Klausa subordinatif= “ memilih topik “Pewartaan

  2 untuk

  Pewartaan Santo Paulus Rasul Santo Paulus Rasul dan relevansinya bagi pelayanan katekis Meningkatkan Pelayanan Para Katekis

  di zaman sekarang”, dengan judul “Usaha Memahami

  Pewartaan Santo Paulus Rasul untuk Meningkatkan Zaman Sekarang ”. (PAK-15-Nahak-Ha06) Pelayanan Para Katekis Zaman Sekarang ”. ” .

  untuk

  Dalam petikan judul pada kalimat tersebut konjungtor menunjukkan hubungan tujuan yang menghubungkan klausa dengan klausa. 151. Kehidupan dalam era globalisasi Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ menuntut berbagai perubahan oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  yang pendidikan bersifat mendasar. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  (PAK-15-Suparti-Ha01) Klausa utama= “Kehidupan dalam era globalisasi menuntut

  

berbagai perubahan pendidikan”

yang

  Klausa

  relatif restriktif= “ bersifat mendasar” memperluas fungsi objek dan membatasi “berbagai perubahan pendidikan”. bahkan

  152. Misalnya, perubahan dari pandangan -penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan √ kehidupan masyarakat lokal ke konjungtor antarkalimat sehingga harus berada di awal

  215 masyarakat global, perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, perubahan dari pertumbuhan,

  untuk memajukan bertumbuhnya budi

  Klausa utama= “Ki Hajar Dewantara menegaskan (sesuatu)” Klausa subordinatif= “ bahwa pendidikan merupakan daya

  yang menunjukkan hubungan komplementasi dan konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan sehingga menghasilkan kaimat majemuk bertingkat.

  bahwa

  (PAK-15-Suparti-Ha01) Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan oleh konjungtor

  dan tubuh anak.

  )

  intellect

  pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (

  pendidikan merupakan daya upaya

  bahkan

  bahwa

  154. Ki Hajar Dewantara menegaskan

  √

  merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya.

  selain itu

  Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor

  153. Selain itu , pendidikan juga dimaknai sebagai suatu proses belajar seumur hidup. (PAK-15-Suparti-Ha01)

  Pembetulan= “ Misalnya, perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat global, perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, perubahan dari pertumbuhan. Bahkan, perubahan dalam dunia pendidikan”.

  perubahan dalam dunia pendidikan. (PAK-15-Suparti- Ha01) kalimat sebab tugasnya dalah mengawali kalimat yang baru.

  √

  216

  untuk

  upaya memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran ( intellect ) dan tubuh

  anak” dan klausa ini terdiri atas dua klausa yang berupa kalimat majemuk.

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan

  frasa“pikiran (anak)” dengan “tubuh anak”.

  155. Jadi, dalam kehidupan anak, pendidikan Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  dan dan

  mempunyai tempat peranan yang menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor sebagai sangat strategis. penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk (PAK-15-Suparti-Ha01 menghubungkan kata dengan kata.

  —02)

  156. Artinya, anak dibantu dan distimulasi Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √ agar agar

  dirinya berkembang menjadi oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan

  dan

  pribadi yang dewasa secara utuh (Aqib, dan konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan 2011: 8). sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Suparti-Ha01

  dan —02) Klausa utama= “Artinya, anak dibantu distimulasi” dan anak dibantu

  klausa utama terdiri atas dua klausa [(klausa

  (anak)distimulasi dan klausa ]. agar dirinya berkembang menjadi

  Klausa subordinatif= “

  217 pribadi y ang dewasa secara utuh”.

  157. Modernisasi dapat menjadi peluang Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  untuk untuk

  membangun hidup yang lebih oleh konjungtor yang menyatakan hubungan tujuan baik, tetapi juga dapat merusak karakter dan konjungtor tetapi sebagai penanda hubungan perlawanan seseorang. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Suparti-Ha02) Klausa utama= “Modernisasi dapat menjadi peluang”

  untuk membangun hidup yang lebih Klausa subordinatif= “

  baik, tetapi

  juga dapat merusak karakter seseorang” dan klausa subordinatif terdiri dari dua klausa.

1 Bahkan, dan

  158. modernisasi pun merebak Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  1 dan

  mematikan perkembangan kaum muda oleh konjnungtor konjungtor sebagai penanda

  2 dan peserta didik. (PAK-15-Suparti- hubungan penambahan sehingga menghasilkan kalimat Ha02) majemuk setara.

  Klausa 1= “modernisasi pun merebak” Klausa 2= “mematikan perkembangan kaum muda dan peserta didik”.

bahkan

  Konjungtor merupakan konjungtor antarkalimat

  dan

  yang menguatkan keadaan. Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan

  218 frasa dengan frasa.

  159. Berbagai permasalahan di atas, tentunya Kalimat tersebut mengandung dua klausa sehingga √ mengancam perkembangan hidup menghasilkan kalimat majemuk setara.

  dan

  masyarakat pada umumnya anak-

  Klausa 1 = “Berbagai permasalahan di atas”

  anak pada khususnya. (PAK-15-Suparti- Klausa 2= “tentunya mengancam perkembangan hidup Ha02) masyarakat pada umumnya dan anak- anak pada khususnya”.

  Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  160. Pendidikan nilai adalah pengenalan, Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehinga √ penanaman, dan pengembangan nilai- menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dan sebagai nilai dalam diri seseorang. penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk (PAK-15-Suparti-Ha03) menghubungkan frasa dengan frasa (pengenalan [nilai-nilai], penanaman [nilai-nilai], dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang). 161. Dengan demikian , pendidikan iman Kalimat tersebut mengandung satu klaua sehingga

  √

  mempunyai peran dan tempat yang menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dengan

  demikian utama.

  merupakan konjungtor antarkalimat yang

  219

  dan

  (PAK-15-Suparti-Ha03) menyatakan konsekuensi. Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (peran [yang utama] dan tempay yang utama). 162. PAK merupakan salah satu realisasi Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  1 dan untuk untuk

  tugas perutusan menjadi oleh konjungtor yang menyatakan hubungan tujuan

  2 pewarta dan saksi kabar Gembira sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Yesus Kristus.

  Klausa utama= “PAK merupakan salah satu realisasi tugas dan

  (PAK-15-Suparti-Ha04) perutusan”

  untuk dan Klausa subordinatif= “ menjadi pewarta saksi

kabar Gembira Yesus Kristus”.

  1 dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan, yang pertama digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (salah satu realisasi tugas dan [salah satu realisasi] perutusan)

  2

dan

  Konjungtor menghubungkan frasa dengan frasa (pewarta [kabar Gembira Yesus Kristus] dansaksi kabar Gembira Yesus Kristus).

  220 163. PAK di sekolah sering dirumuskan Kalimat tersebut mengandung dua klausa sehingga √ dengan perkembangan pengetahuan, membentuk kalimat majemuk setara. Konjungtor dan

  dan

  sikap, tindakan berpegang pada sebagai penanda hubungan digunakan untuk nilai-nilai dan moral. (PAK-15-Suparti- menghubungkan kata dengan kata. Ha04)

  bukan bukan ... tetapi juga ...

  164. PAK merupakan kepentingan -penggunaan yang salah-~ pasangan √ Gereja saja , tetapi juga kepentingan adalah salah, pasangan yang benar sebagai konjungtor Negara, sehingga pemerintah korelatif adalah bukan hanya ... melainkan juga ... . mengaturnya dalam Undang-Undang Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang

  sehingga

  No.2 Tahun 1989 tentang sistem dihubungkan oleh konjungtor yang menunjukkan Pendidikan Nasional, dan Gereja hubungan hasil, konjungtor tetapi sebagai penanda

  dan

  mempertimbangkan dalam rangka hubungan perlawanan dan konjungtor sebagai penanda perwartaan. hubungan penambahan sehingga membentuk kalimat (PAK-15-Suparti-Ha04) majemuk setara.

  Klaua utama = “PAK bukan merupakan kepentingan Gereja , tetapi

  saja (PAK merupakan) juga kepentingan Negara” terdiri atas dua klausa .

  sehingga pemerintah mengaturnya Klausa subordinatif = “

  dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang sistem

  221

  dan

  Pendidikan Nasional, Gereja mempertimbangkan dalam rangka perwartaa” terdiri atas dua klausa.

  bahwa

  165. Hal ini dimaknai secara praktis Kalimat tersebut mengandung empat klausa yang √ PAK tidak hanya menambah wawasan dihubungkan oleh konjungtor bahwa yang menunjukkan

  tetapi tidak

  keagamaan bagi peserta didik, hubungan komplementasi, konjungtor korelatif hanya... tetapi (juga)....

  mengasah “keterampilan beragama” sebagai penanda hubungan dan mewujudkan sikap beragama bagi perlawanan dan konjungtor dan sebagai penanda hubungan

  peserta didik. penambahan sehingga membentuk kalimat majemuk (PAK-15-Suparti-Ha04) bertingkat.

  Klaua utama = “Hal ini dimaknai secara praktis” bahwa PAK tidak hanya menambah

  Klausa subordinatif = “

  wawasan keagamaan bagi peserta didik, tetapi mengasah

  “keterampilan beragama” dan mewujudkan sikap beragama bagi peserta didik” terdiri atas tiga klausa.

  • penggunaan yang salah-~ pasangan Kalimat di atas

  juga

  menghilangkan kata yang menjadi bagian dari pasangan konjungtor korelatif tidak hanya ... tetapi juga . Walaupun hanya

  kurang kata “juga” tetap saja salah sebab

  melanggar aturan kebahasaan di dalam tata bahasa baku

  222 Bahasa Indonesia.

  Dengan demikian

  166. , peserta didik tidak Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  atau dengan

  hanya berkembang dalam satu sisi menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor satu segi saja. demikian merupakan konjungtor antarkalimat yang

  atau

  (PAK-15-Suparti-Ha04) menyatakan konsekuensi. Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan pemilihan yang digunakan untk menghubungkan frasa dengan frasa. 167. Hal ini berarti belajar bukanlah sekedar Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ untuk tahu, melainkan dengan belajar oleh konjungtor serta sebagai pendanda hubungan

  dan melainkan

  seseorang menjadi tumbuh berubah pendampingan dan konjungtor sebagai penanda

  serta

  mengubah keadaan. hubungan perlawanan sehingga sehingga menghasilkan (PAK-15-Suparti-Ha04) kalimat majemuk setara. Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. Salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor koordinatif dalam kalimat majemuk setara berupa kalimat majemuk (seperti pada kalimat tersebut).

  Klausa 1= “Hal ini berarti belajar bukanlah sekedar untuk

  tahu”

  223

  dan Klausa 2= “dengan belajar seseorang menjadi tumbuh berubah”

Klausa 3= “mengubah keadaan”

  Dengan demikian

  168. , tingkah laku, sikap, Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  1 dan nilai-nilai ke Charitasan seperti menghasilkan kalimat majemuk setara. Konjungtor dengan

  kegembiraan, sederhana, cintakasih demikian merupakan konjungtor antarkalimatyang

  2 1 dan dan

  persaudaraan sesungguhnya menyatakan konsekuensi. Konjungtor digunakan mencerminkan hadirnya Kerajaan Allah sebagai penanda hubungan penambahan untuk

  2

  di dunia. menghubungkan kata dengan kata. Konjungtor dan (PAK-15-Suparti-Ha05) digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata.

   bukan hanya bukan hanya ...

  169. Pendidikan semata-mata -Penggunaan yang salah-~ Konjungtor √ tugas guru dan lembaga pendidikan melainkan adalah pasangan konnjngtor korelatif yang salah (sekolah) melainkan tugas dari seluruh dan pasangan yang benar adalah bukan hanya ... melainkan

  juga dan

  warga masyarakat. . Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan (PAK-15-Luchensy-Ha01) penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  224 170. Orang tua adalah pendidik yang utama Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √

  dan pertama bagi anak-anak mereka. menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor dan sebagai

  (PAK-15-Luchensy-Ha01) penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (pendidik yang utama

  

dan [pendidik yang] pertama).

Selain itu

  171. , orang tua juga mempunyai Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ kewajiban dan hak yang tidak diganggu oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan waktu

  untuk mendidik anak-anak mereka. dan konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif (PAK-15-Luchensy-Ha01) sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. dan

  Klausa utama= “orang tua juga mempunyai kewajiban hak” untuk

  mendidik anak-

  Klausa subordinatif = “ anak mereka” yang

  Klausa relatif restriktif = “ tidak diganggu” memperluas fungsi objek dan membatsi “kewajiban dan hak” serta maknanya adalah ada berbagai macam hak dan

  kewajiban dan salah satunya hanya hak dan kewajiban orang tua yang tidak diganggu. Konjungtor selain itu merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di

  225

  dan

  luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya. Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata (hak dan kewajiban).

  bahwa

  172. Penulis melihat peran orang tua Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  bahwa

  sangat vital dalam perkembangan oleh konjungtor yang menunjukkan makna hubungan kepribadian anak. (PAK-15-Luchensy- komplementasi sehingga menghasilkan kalimat majemuk Ha01) bertingkat. 173. Ini salah satu penyebab anak-anak Kalimat tersebut mengandung konjungtor dan yang √

  dan

  kurang diperhatikan oleh orang tua digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang beranggapan orang tua tidak digunakan untuk menghubungkan dua klausa di dalam memberikan teladan yang baik. kalimat majemuk setara. (PAK-15-Luchensy-Ha02)

  174. Dalam dunia pendidikan peran guru Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √ untuk untuk

  menjadi sangatlah vital oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan mengajarkan hal-hal yang baru kepada sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. para murid.

  Klausa utama= “Dalam dunia pendidikan peran guru

  (PAK-15-Luchensy-Ha02) menjadi sangatlah vital”.

  untuk Klaua subordinatif= “ mengajarkan hal-hal yang baru

  226 kepada para murid.”.

  yang

  175. Siswa membutuhkan sosok Kalmat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

   yang

  memberikan teladan yang baik dalam oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif kehidupannya. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. (PAK-15-Luchensy-Ha03) Klausa utama= “Siswa membutuhkan sosok”.

  yang Klausa relatif restriktif= “ memberikan teladan yang baik dalam kehidupannya” memperluas fungsi objek dan membatasi nomina “sosok” serta maknanya adalah banyak

  sosok yang memberikan teladan yang baik dalam kehidupan yang dibutuhkan oleh siswa. 176. Sigit Setyawan (2013:88) mengatakan Kalimat tersebut mengandung tiga klausa sehingga √ yang disertai tindakan menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  “keteladanan dan

  verball dilakukan secara konsisten Klausa utama

  = “Sigit Setyawan (2013:88) mengatakan akan meningkatkan kredibelitas guru”. “keteladanan akan meningkatkan kredibelitas guru”.”.

  (PAK-15-Luchensy-Ha03) Klausa 2

  = “keteladanan akan meningkatkan kredibelitas guru”

yang

  Konjungtor pada kalimat tersebut menunjukkan hubungan atributif yang membentuk klausa relatif restriktif ,

  yang disertai tindakan verball dan dilakukan secara yaitu “

  227

  konsisten ” memperluas fungsi subjek dan membatasi “keteladanan” serta maknanya adalah hanya leteladanan

  yang disertai tindakan verbal dan dilakukan secara konsisten akan meningkatkan kredibilitas guru. Konjungtor dan digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan dua klausa di dalam kalimat majemuk setara. 177. Guru menghayati perannya sebagai pendidik bagi siswanya,

  sehingga

  guru kurang memotivasi siswa untuk semakin berkembang dalam belajar. (PAK-15-Luchensy-Ha03)

  Konjungtor sehingga menunjukkan makna hubungan hasil yang mengawali anak kalimat di dalam kalimat majemuk bertingkat.

  √

  178. Sigit Setyawan (2013:127) mengatakan

  “seorang guru sebaiknya menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi

  untuk memengaruhi siswa. (PAK-15- Luchensy-Ha03)

  Konjungtor

  bahwa

  menunjukkan makna hubungan komplementasi dalam kalimat dan mendahului anak kalimat.

  √

  179. Guru sebagai awam Katolik di sekolah mempunyai tugas Konjungtor sehingga menunjukkan makna hubungan hasil yang mengawali anak kalimat di dalam kalimat majemuk

  √

  √

  Konjungtor baik … maupun … pada kalimat tersebut digunakan untuk menghubungkan

  , ada perbedaan seperti jumlah murid yang mengikuti pelajaran agama Katolik .”

  Pembetulan= “ Akan tetapi

  akan tetapi sebagai konjungtor antarkalimat.

  adalah bentuk tidak formal atau tidak resmi dan tidak boleh digunakan di dalam karya ilmiah (skripsi) serta tidak boleh mengawali kalimat. Oleh karena itu, bentuk itu diganti dengan

  tapi

  murid yang mengikuti pelajaran agama Katolik. (PAK-15-Luchensy-Ha04)

  Tapi ada perbedaan seperti jumlah

  √ 182.

  Kaimat itu terdiri dari satu klausa sehingga menghasilkan kalimat tunggal.

  frasa “itu di sekolah negeri” dengan frasa “swasta Katolik”.

  swasta Katolik sekitar 2-3 jam selama satu minggu. (PAK-15- Luchensy-Ha04)

  228 membantu/memperlancar iman siswa

  maupun

  181. Jam pelajaran pendidikan agama Katolik baik itu di sekolah negeri

  √

  digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  baik … maupun

  (guru). (PAK-15-Luchensy-Ha04) Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor

  maupun pengajarnya

  kurikulumnya

  baik

  itu. (PAK-15-Luchensy-Ha03) bertingkat. 180. Pendidikan agama Katolik sudah mengalami banyak perkembangan

  sehingga siswa bangga akan imannya

  • penggunaan yang salah-~ Konjungtor

  229 Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “ada perbedaan seperti jumlah murid” yang mengikuti pelajaran agama

  Klausa relatif restriktif= “ Katolik” memperluas fungsi keterangan dan membatasi “jumlah murid” serta maknanya adalah hanya murid yang

  mengikuti pelajaran agama Katolik yang mempunyai perbedaan jumlah.

  setelah itu

  183. Mereka hanya mengikuti pelajaran -penggunaan yang salah-~ Konjungtor √ agama saja di sekolah setelah itu merupakan konjungtor antarkalimat sehingga harus kurang diperhatikan. mengawali kalimat, tidak bisa ditempatkan dalam posisi (PAK-15-Luchensy-Ha05) intrakalimat.

  Pembetulan= “Mereka hanya mengikuti pelajaran agama Setelah itu, saja di sekolah. kurang diperhatikan”.

  184. Selain menjawab banyak keprihatinan Kaliat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  ada, prodi IPPAK juga memberi oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  baik inovasi itu dalam bentuk pemikiran sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. maupun tenaga. Konjungtor digunakan untuk baik … maupun …

  230 (PAK-15-Luchensy-Ha05) menghubungkan frasa dengan frasa (baik itu dalam bentuk pemikiran maupun [dalam bentuk] tenaga).

  yang

  185. Selain katekis berperan penting di Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ paroki, ada guru agama yang oleh dua konjungtor yang yang menunjukkan hubungan mempunyai peran penting juga di atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk sekolah. bertingkat. (PAK-15-Luchensy-Ha05)

  Klausa utama= “Selain katekis, ada guru agama” yang

  Klausa relatif restriktif 1= “ berperan penting di paroki”

  maknanya adalah ada katekis yang berperan penting di paroki, ada juga yang berperan di tempat yang lain, yaitu guru agama berperan di sekolah.

   yang

  mempunyai peran

  Klausa relatif restriktif 2= “agama penting juga di sekolah” memperlaus fungsi subjek, membatasi “guru agama” dan maknanya adalah hanya guru agama yang mempunyai peran penting di sekolah.

  186. Mahasiswa-mahasiswi IPPAK sebagai Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang √

  dan untuk

  calon guru agama Katolik ditempa diuhubungkan oleh konjungtor yang menunjukkan

  untuk dan

  benar-benar dipersiapkan hubungan tujuan dan konjungtor sebagai penanda menjadi guru agama yang hubungan penambahan sehingga menghasilkan kalimat

  231 berspiritualitas. majemuk bertingkat.

  (PAK-15-Luchensy-Ha05)

  Klausa utama= “Mahasiswa-mahasiswi IPPAK sebagai dan

  calon guru agama Katolik ditempa benar-benar

  dipersiapkan” terdiri atas dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor dan . untuk menjadi guru agama yang

  Klausa subordinatif= “ berspiritualitas”.

  187. Mahasiswa-mahasiswi IPPAK datang Pada kalimat tersebut konjungtor

  baik … maupun … baik baik

  dari berbagai macam kalangan, itu digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa [

  maupun maupun awam kaum religius itu awam kaum religius (biarawan/biarawati)].

  (biarawan/biarawati) yang mempunyai Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  untuk yang

  motivasi belajar mengembangkan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  untuk

  diri. dan konjungtor (subordinator) yang menunjukkan (PAK-15-Luchensy-Ha05 hubungan tujuan sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  —06) bertingkat.

  Klausa utama= “Mahasiswa-mahasiswi IPPAK datang dari

  berbagai macam kalangan, baik itu awam maupun kaum

  

religius (biarawan/biarawati)”

yang

  Klausa relatif restriktif= “ mempunyai motivasi” hanya

  232 mahasiswa-mahasiswi yang datang dari berbagai tempat yang mempunyai motivasi untuk belajar mengembangkan diri.

  untuk Klausa keterangan= “ belajar mengembangkan diri”. yang

  188. Utuh dimaksud berkembang Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  head, heart, dan yang

  dalam 3 hal yaitu oleh konjungtor yang menunjukkan makna hubungan hands. (PAK-15-Luchensy-Ha06) atributif sehingga menghasilkan kalimat majemk bertingkat.

  head, Klausa utama= “Utuh berkembang dalam 3 hal yaitu heart, hands dan ”. yang

  Klausa relatif restriktif= “ dimaksud” memperluas fungsi subjek dan membatasi “utuh” serta maknanya yaitu utuh head,

  arti hanya hanya berkembang dalam tigal hal itu (

  heart, hands dan

  dan ). Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. 189. Kegiatan-kegiatan di kampus IPPAK Kalimat tersebut mengandung satu klausa sehingga √ sangat mendukung bagi perkembangan menghasilkan kalimat tunggal. Konjungtor

  baik … maupun baik

  diri pribadi mahasiswa itu dari digunakan untuk menghubungkan frasa “itu dari mata mata kuliahnya sendiri maupun di luar

  kuliahnya sendiri” dengan frasa “di luar mata kuliah”.

  233 mata kuliah. (PAK-15-Luchensy-Ha06) 190. Mahasiwa-mahasiswi

  IPPAK-USD -penggunaan yang salah-~ Pasangan konjungtor korelatif √

  baik dan baik ... dan

  adalah kaum gereja itu awam adalah salah. Pasangan konjungtor korelatif juga kaum religiusnya yang mempunyai tidak boleh diubah-ubah dan pasangan yang benar adalah

  baik ... maupun .

  motivasi dalam dirinya masing-masing.

  Mahasiwa-mahasiswi IPPAK-USD adalah

  (PAK-15-Luchensy-Ha06) Pembetulan= “

  kaum gereja baik itu awam maupun juga kaum religiusnya yang mempunyai motivasi dalam dirinya masing-masing ”.

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  yang

  oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat mejemuk bertingkat.

  mahasiswi IPPAK-USD adalah kaum Klausa utama= “ gereja baik itu awam dan juga kaum religiusnya

  ” yang mempunyai motivasi dalam

  Klausa relatif restriktif= “ dirinya masing-masing

  ” memperluas fungsi predikat dan membatasi “kaum gereja”serta maknanya adalah setiap

  mahasiswa-mahasiswi IPPAK mempunyai motivasi masing- masing.

  234 191. Maka itu prodi IPPAK-USD dalam Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ perkuliahannya mempersiapkan oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan

  untuk mahasiswa-mahasiswi menjadi sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  seorang agama Katolik. (PAK-15-

  Klausa utama= “prodi IPPAK-USD dalam perkuliahannya

  Luchensy-Ha06) mempersiapkan mahasiswa-

  mahasiswi” untuk menjadi seorang agama

  Klausa subordinatif= “ Katolik”

  192. Dalam perkuliahan ada beberapa mata Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  yang yang

  kuliah mendukung dalam oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif

  1 pelaksanaan PPL PAK PD dan PPL sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Dalam perkuliahan ada beberapa mata

  PAK PM, seperti Pembinaan

  Klausa utama= “

  2

  1 dan kuliah dalam pelaksanaan PPL PAK PD dan PPL PAK

  Spiritualitas persiapan PPL

  2

  sekolah. PM, seperti Pembinaan Spiritualitas dan persiapan PPL (PAK-15-Luchensy-Ha06) sekolah”.

  yang

  Klausa relatif restriktif=

   mendukung” memperluas fungsi subjek dan membatasi “beberapa mata kuliah” serta

  maknanya adalah hanya ada beberapa mata kuliah yang mendukung PPL PAK PD/PM dan tidak semua mata kuliah

  235 mendukung kegiatan itu”.

  1 Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

  yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (dalam pelaksanaan PPL PAK PD dan [dalam pelaksanaan] PPL PAK PM).

  2 Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

  yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (Pembinaan Spiritualitas dan persiapan PPL sekolah).

  yang

  193. Keutamaan mendasar adalah Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ memasukkan pribadi para muridnya ke oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  dan

  dalam jantung hatinya, dan dibawa dan konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan kedalam doanya. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat kalimat (PAK-15-Luchensy-Ha07) majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “Keutamaan adalah memasukkan pribadi

  para muridnya ke dalam jantung hatinya, dan dibawa kedalam doanya”. Klausa relatif yang

  restriktif= “ mendasar” Klausa 3= “dibawa kedalam doanya”

  236 194. Prodi IPPAK telah menyelenggarakan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ pendidikan untuk calon-calon guru oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  yang agama Katolik siap diutus. (PAK- sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  15-Luchensy-Ha07)

  Klausa utama= “Prodi IPPAK telah menyelenggarakan

  pendidikan untuk calon-

  calon guru agama Katolik” yang

  Klausa relatif restriktif= “ siap diutus” memperluas fungsi keterangan dan membatasi “calon-calon guru agama Katolik” serta maknanya adalah pendidikan di IPPAK hanya untuk calon-calon guru yang siap diutus. untuk

  195. Prodi meyakini Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ membina/mendidik calon guru agama oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan.

  Prodi meyakini masih mempunyai banyak

  Katolik masih mempunyai banyak

  Klausa utama= “ peluang yang besar

  peluang yang besar. (PAK-15- ” Luchensy-Ha07)

  untuk membina/mendidik calon guru Klausa subordinatif= “ agama Katolik

  

  196 Berdasarkan uraian di atas tampak Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  bahwa bahwa

  spiritualitas Kristiani oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan

  yang

  dikembangkan dalam diri mahasiswa- komplementasi dan konjungtor yang menunjukkan mahasiswi IPPAK-USD yang akan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  237 menjadi guru agama Katolik. bertingkat. Salah satu klausa yang dihubungkan oleh (PAK-15-Luchensy-Ha07) konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk.

  

yang

  Konjungtor sebagai tanda kalimat majemuk pada kalimat tersebut. 197. Spiritualitas Kristiani perlu Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  agar agar

  dikembangkan membantu oleh konjungtor sehingga menghasilkan kalimat mahasiswa-mahasiswi

  IPPAK-USD majemuk bertingkat. menjadi sosok guru yang profesional Klaus

  a utama= “Spiritualitas Kristiani perlu dikembangkan” serta

  berspiritualitas. Klausa subordinatif= “membantu mahasiswa-mahasiswi

  serta

  (PAK-15-Luchensy-Ha07)

  IPPAK-USD menjadi sosok guru yang profesional berspiritualitas”.

  

serta

  Konjungtor sebagai penanda hubungan pendampingan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (sosok guru yang profesional serta [sosok guru yang] berspiritualitas.). 198. Orang lebih banyak mementingkan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  dan dan

  kepentingan sendiri-sendiri kurang oleh konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan memperdulikan kepentingan orang lain. sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara. (PAK-15-Ulu-Ha01)

  Klausa 1= “Orang lebih banyak mementingkan kepentingan

  238 sendiri- sendiri”

  Klausa 2= “kurang memperdulikan kepentingan orang lain.” untuk

  199. Gereja mengajak umat manusia Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ membangun persaudaraan yang oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan atributif

  untuk

  didasarkan pada cinta kasih terhadap dan konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan

  dan

  Tuhan sesama. (PAK-15-Ulu- sehingga menghasilkan kalimat majemk bertingkat. Kalimat Ha01) tersebut mengandung konjungtor dan yang digunakan sebagai penanda hubungan penambahan untuk

  dan

  menghubungkan fr asa “terhadap Tuhan” dengan frasa (terhadap) sesama”.

  yang

  200. Tidak hanya itu saja, siswa-siswa -penggunaan yang salah-~ Kalimat di atas menghilangkan √ duduk di kelas dua maupun kelas tiga kata baik sebagai pasangan dari konjungtor korelatif baik ... seringkali menganggap diri sebagai maupun.

  dan Tidak hanya itu saja, siswa-siswa yang duduk

  senior kurang menunjukkan rasa

  Pembetulan= “

  persaudaraan kepada adik kelasnya. baik di kelas dua maupun kelas tiga seringkali menganggap (PAK-15-Ulu-Ha02) diri sebagai senior dan kurang menunjukkan rasa persaudaraan kepada adik kelasnya”.

  Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  239

  dan

  oleh konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan dan konjungtor yang yang menunjukkan makna hubungan atributif sehingga menghasilkan kaimat mejemuk bertingkat.

  yang

  duduk di kelas dua maupun

  Klausa relatif restriktif= “ kelas tiga”

  Klausa utama atau induk kalimat = siswa-siswa seringkali

  dan

  menganggap diri sebagai senior kurang menunjukkan rasa persaudaraan kepada adik kelasnya.Induk kalimat terdiri dari dua klausa yang dihubungkan oleh konjugtor dan sehingga kalimat tersebut mengandung tiga klausa.

  

dan

  Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menggabungkan klausa di dalam kalimat majemuk setara. Makna klausa relatif restriktif= hanya siswa kelas dua dan tiga yang menganggap dirinya sebagai senior.

  dan

  201 Mereka ingin dihormati disegani Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ oleh adik-adik kelasnya sehingga sikap oleh konjugtor dan sebagai penanda hubungan penambahan mereka terhadap adik-adik kelas suka dan konjungtor sehingga yang menunjukkan makna

   atau

  main suruh perintah. hubungan hasil sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  240

  atau

  (PAK-15-Ulu-Ha02) bertingkat. Konjungtor sebagai penanda hubungan pemilihan yang digunakan untuk menghubungkan frasa

  “suka main suruh” dengan frasa “[suka main] perintah”. dan disegani oleh

  Klausa utama=

  “Mereka ingin dihormati adik-

  • adik

  adik kelasnya” (Mereka ingin dihormati oleh adik kelasnya dan {mereka ingin} disegani oleh adik-adik kelasnya). sehingga sikap mereka terhadap

  Klausa subordinatif=

   adik-adik kelas suka main suruh atau perintah”. untuk

  202 Upaya meningkatkan semangat Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ persaudaraan sudah terjadi di dalam oleh konjungtor untuk yang menyatakan hubungan tujuan

  dan

  asrama secara umum cukup dan konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan berjalan baik. (PAK-15-Ulu-Ha02) sehingga membentuk kalimat majemuk bertingkat.

  Kalimat tersebut akan lebih baik jika disusun sebagai berikut.

  untuk

  (upaya sudah terjadi di dalam asrama meningkatkan semangat persaudaraan dan {upaya itu }secara umum sudah berjalan baik)

  241

  Klausa utama= “upaya sudah terjadi di dalam asrama” Klausa subordinatif= “untuk meningkatkan semangat persaudaraan” Klausa 3= “(upaya itu )secara umum sudah berjalan baik”

  Konjungtor untuk menyatakan hubungan waktu yang menghubungkan anak kalimat atau klausa subordinatif

  dan

  dengan klausa utama. Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan klausa 3 dengan klausa subordinatif. 203 Di samping itu, para pembinanya juga Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ tidak setiap saat bisa memantau gerak- oleh konjungtor karena yang menunjukkan hubungan sebab

  1 dan padahal

  gerik perilaku siswa-siswi asrama dan konjungtor sebagai penanda hubungan

  karena

  mereka juga mempunyai pertentangan sehingga menghasilkan kalimat majemuk kesibukan sendiri-sendiri, padahal bertingkat.

  2 dan

  kesadaran semangat persaudaraan

  Klausa utama= “Di samping itu, para pembinanya juga tidak

  dari siswa-siswi seminari tertanam setiap saat bisa memantau gerak-gerik dan perilaku siswa- dalam diri masing-masing.

  siswi asrama”

  (PAK-15-Ulu-Ha02)

  Klausa subordinatif= “karena mereka juga mempunyai

  kesibukan sendiri-sendiri, padahal kesadaran dan semangat

  242 persaudaraan dari siswa-siswi seminari tertanam dalam diri masing-

  masing”. Klausa subordinatif mengandung dua padahal.

  klausa yang dihubungakan oleh konjungtor

  

1

dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (gerak- gerik [siswa-siswi asrama] dan perilaku siswa-siswi asrama).

  

2

dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (kesadaran [dari siswa-siswi seminari] dan semangat persaudaraan dari siswa-siswi seminari). 204 Persaudaraan membuat menjadi lebih Kalimat tersebut mengandung konjungtor dan sebagai √ lebih berwarna, tidak ada permusuhan, penanda hubungan penambahan untuk menghubungkan

  dan

  tidak ada rasa sakit hati hidup klausa dengan klausa menghasilkan kalimat majemuk menjadi lebih berarti. (PAK-15-Ulu- setara. Ha03)

  1

  205 Tuhan memanggil dan menghendaki Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √

  1 untuk dan

  manusia saling membangun oleh konjungtor sebagai penanda hubungan

  dan untuk

  persaudaraan persahabatan di dunia penambahan dan subordinator sehingga menghasilkan ini. kalimat majemuk bertingkat.

  243 (PAK-15-Ulu-Ha03) Klausa 1 dan klausa dua merupakan klausa utama.

  Klausa 1= Tuhan memanggil Klausa 2= menghendaki manusia

  

untuk

  Klausa 3= saling membangun persaudaraan dan persahabatan di dunia ini. Konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. 206 Jangan hakimi dan jangan hina Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √

  dan

  saudaramu (Rm 14:10-13). oleh konjungtor sebagai penanda hubungan (PAK-15-Ulu-Ha03) penambahan sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara.

  Klausa 1= Jangan hakimi Klausa 2= jangan hina saudaramu 207 Rasul Paulus mengatakan: sedapat- Kalimat tersebut mengandung tiga klausa sehingga √ dapatnya, kalau hal itu bergantung menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. padamu, hiduplah dalam perdamaian Konjungtor kalau menunjukkan hubungan syarat untuk dengan semua orang (Rm 12-18). menghubungkan klausa anak dengan klausa induk.

  kalau

  (PAK-15-Ulu-Ha03) “Rasul Paulus mengatakan: sedapat-dapatnya, hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan

  244 semua orang ” unsur objek(digarisbawahi) pada kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh

kalau.

konjungtor 208 Persaudaraan itu dilandasi suatu Kalimat tersebut menandung dua klausa yang dihubungkan √

  tanpa

  semangat membina kekerabatan yang oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan cara baik dengan siapapun dan dimanapun sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  tanpa ada suatu kepentingan.

  Klausa utama= “Persaudaraan itu dilandasi suatu semangat

  (PAK-15-Ulu-Ha03) membina kekerabatan yang baik dengan siapapun dan

  dimanapun” tanpa

  Klausa subordintaif= “ ada suatu kepentingan”

dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (kekerabatan yang baik dengan siapapun dan [kekerabatan yang baik] dimanapun)

  209 Berbagai usaha dibuat oleh pihak Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihuhungkan √

  untuk untuk

  seminari meningkatkan oleh konjungtor yang menunjukkan hubungan tujuan

  yang

  persaudaraan diantara para seminaris dan konjungtor yang menunjukkan hubungan atributif antara lain lewat kegiatan-kegiatan yang sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  245 ada di seminari. Klausa utama= “Berbagai usaha dibuat oleh pihak seminar” (PAK-15-Ulu-Ha03)

  untuk meningkatkan persaudaraan Klauisa subordinatif= “

  diantara para seminaris antara lain lewat kegiatan-

  kegiatan” yang

  Klausa relatif restriktif= “ ada di seminari” maknanya

  adalah hanya kegiatan-kegiatan di seminari yang bisa meningkat persaudaraan diantara seminaris. 210 Dalam katekese, para seminaris Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √

  dimungkinkan dapat meningkatkan oleh konjungtor dengan yang menunjukkan hubungan cara

  dengan sehingga

  persaudaraan saling berbagi dan konjungtor yang menunjukkan hubungan

  sehingga pengalaman hidup diantara hasil sehingga menghasilkan kalimat majuemuk bertingkat.

  mereka terjadi komunikasi. Dalam katekese, para seminaris

  Klausa utama= “ dimungkinkan dapat meningkatkan persaudaraan

  (PAK-15-Ulu-Ha03

  —04) ” dengan saling berbagi pengalaman

  Klausa subordinatif 1= “ hidup

  ” sehingga diantara mereka terjadi

  Klausa subordinatif 2= “ komunikasi

  ”

  211 Komunikasi berlangsung dalam suasana Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ bebas, akrab dan mempunyai tujuan. oleh konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan

  246 (PAK-15-Ulu-Ha04) sehingga menghasilkan kalimat majemuk setara.

  Klausa 1= Komunikasi berlangsung dalam suasana bebas, akrab Klausa 2= mempunyai tujuan.

  212 Masing-masing para seminaris bebas Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan

  √

  mengungkapkan pengalamannya dalam oleh konjungtor sehingga yang menunjukkan makna

  sehingga yang

  suasana kekeluargaan sampai hubungan hasil dan konjungtor yang menunjukkan

  yang

  pada persaudaraan mendalam. hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk (PAK-15-Ulu-Ha04) bertingkat.

  Klausa utama= “Masing-masing para seminaris bebas

  mengungkapkan pengalamannya dalam suasana

  kekeluargaan” sehingga

  Klausa subordinatif= “ sampai pada persaudaraan yang mendalam” yang

  Klausa relatif restriktif= “ mendalam” membatasi “pada persaudaraan” dan memperluas fungsi keterangan.

  247

  maka

  213 Menanggapi hal tersebut, penulis Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ terdorong mengambil judul skripsi: oleh konjungtor maka yang menunjukkan hubungan hasil

  UPAYA MENINGKATKAN sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat. SEMANGAT PERSAUDARAAN SISWA-SISWA SMA SEMINARI SANTA MARIA IMMACULATA LALIAN ATAMBUA NUSA TENGGARA TIMUR, MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS.

  (PAK-15-Ulu-Ha04)

  Dan dan

  214 ketahuilah, Aku menyertai kamu -penggunaan yang salah-~ Konjungtor tidak boleh √ sampai akhir zaman”(Mat 28:19-20). mengawali kalimat karena tugas pokoknya bukan mengawali (PAK-15-Luviasari-Ha04 kalimat dan tidak boleh diperlakukan seperti konjungtor

  —05) antarkalimat sehinga dihilangkan saja. masukkan ke dalam “data kesalahan”

  Ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai akhir

  Pembetulan=

  zaman

”(Mat 28:19-20).

  248

  yang

  215 PDKK merupakan kelompok doa Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ berdevosi kepada Roh kudus dan oleh konjungtor yang yang menunjukkan hubungan karunia-karunianya. atributif, sehingga menghasilkan kalimat majemuk (PAK-15-Sungtulodo-Ha01) bertingkat.

  Klausa utama= “PDKK merupakan kelompok doa” yang berdevosi kepada Roh kudus

  Klausa relatif restriktif= “ dan

  karunia-

  karunianya” memperluas fungsi pelengkap membatasi “kelompok doa” maknanya adalah hanya PDKK

  yang berdevosi kepada Roh Kudus dan karunia-karunianya bukan kelompok doa yang lain.

  

dan

  Konjungtor sebagai penanda hubungan penambahan yang digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (kepada Roh Kudus dan [kepada] karunia-karunianya). 216. Peserta diajak untuk menemukan makna -penggunaan yang salah-~ Konjungtor kemudian merupakan

  √ dalam dokumen pilihan untuk konjungtor antarkaimat yang harus mengawali kalimat baru.

  Peserta diajak untuk menemukan makna dalam

  menentukan tema dan menganalisisnya, Pembetulan:

  kemudian merangkum dan memuat dokumen pilihan untuk menentukan tema dan

  aksi nyata sesuai dengan keprihatinan menganalisisnya. Kemudian, merangkum dan memuat aksi nyata sesuai dengan keprihatinan pada kondisi sosial. pada kondisi sosial.

  249 (PAK-15-Bintarti-Ha03) `

  Walaupun namun

  217. metode bercerita sering -penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan √ digunakan dalam pendampingan iman konjungtor antarkalimat sehingga harus mengawali kalimat anak di Kuasi Paroki Santo Yusup, baru. Dalam kalimat tersebut konjungtor namun lebih baik

  namun ada kecenderungan bahwa dihilangkan karena jika langsung diberi tanda titik, akan Walaupun

  metode bercerita hanya dilaksanakan menghilangkan induk kalimat ( metode bercerita secara monoton dan kurang kreatif. sering digunakan dalam pendampingan iman anak di Kuasi (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04) Paroki Santo Yusup.).

  Walaupun metode bercerita sering digunakan

  Pemebetulan:

  dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup, ada kecenderungan bahwa metode bercerita hanya dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif. Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungka oleh konjungtor walaupun dan konjungtor bahwa sehingga

  menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “ada kecenderungan”

  Klausa subordinat Walaupun metode bercerita sering

  if= “

  digunaan dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki

  Santo Yusup”

  250

  Klausa subordinatif= “bahwa metode bercerita hanya

  dilaksanakan secara monoton dan kurang kreatif”. 218. Dengan bercerita kita dapat melihat -penggunaan yangsa salah-~ Konjungtor selain itu

  √

  suatu kejadian yangdiceritakan melalui merupakan konjungtor antarkalimat sehingga harus daya imajinasi yang ada dalam pikiran, mengawali kalimat baru.

  selain itu kita dapat merasakan cerita Dengan bercerita kita dapat melihat suatu itu melalui hati dan perasaan.

  Pembetulan= “ kejadian yangdiceritakan melalui daya imajinasi yang ada

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha02)

  dalam pikiran. Selain itu, kita dapat merasakan cerita itu melalui hati dan perasaan ”.

  219. Kegiatan ini tidak dilaksanakan secara -penggunaan yang salah-~ Konjungtor namun merupakan

  √

  terpusat di paroki namun dilaksanakan konjungtor antarkalimat sehingga harus mengawali kalimat

   yang dalam setiap wilayah ada di baru.

  paroki.

  Kegiatan ini tidak dilaksanakan secara Pembetulan= “

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha03) terpusat di paroki. Namun, dilaksanakan dalam setiap

wilayah yang ada di paroki”.

  

yang

  Konjungtor menghasilkan klausa relatif restriktif sehingga menghubungkan klausa dengan klausa.

  251

  yang Klausa relatif restriktif= “ ada di paroki” memperluas

  fungsi keterangan dan maknanya adalah kegiatan dilaksanakan di dalam setiap wilayah yang tergabung di suatu paroki.

  Selain itu

  220. , para pendampingan PIA Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang dihubungkan √ merasa kurang mampu untuk oleh konjungtor untuk yang menunjukkan hubungan tujuan mengemas suatu materi yang ada ke dan konjungtor yang yang menyatakan hubungan atriutif dalam suatu bentuk cerita yang menarik. sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “para pendampingan PIA merasa kurang mampu” untuk yang

  mengemas suatu materi

  Klausa subordinatif= “

  ada ke dalam suatu bentuk cerita yang menarik” terdiri atas

  untuk mengemas suatu materi dan klausa dua klausa, yaitu “ yang “ ada ke dalam suatu bentuk cerita yang menarik”. padahal

  221. Padahal melalui penggunaan metode -penggunaan yang salah-~ konjungtor bukan √

   baik ataupun

  bercerita pendamping konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor koordinatif anak-anak akan dimudahkan dalam maka tidak boleh mengawali kalimat baru. Selain itu,

  252

  atau

  melaksanakan mengikuti kegiatan kalimat tersebut vmengandung kesalahan penggunaan pendampingan iman anak tersebut. konjungtor korelatif, yaitu baik ... ataupun ... dan pasangan

  baik ... maupun ...

  (PAK-15-Wahyuningsih-Ha04) yang benar adalah . Oleh karena itu, kalimat tersebut harus digabung dengan kalimat sebelumnya.

  Selain itu, para pendampingan PIA merasa Pembetulan= “ kurang mampu untuk mengemas suatu materi yang ada ke dalam suatu bentuk cerita yang menarik, padahal melalui penggunaan metode bercerita baik pendamping maupun anak-anak akan dimudahkan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak tersebut ”. atau

  Konjungtor sebagai penanda hubungan pemilihan digunakan untuk menghubungkan klausa dengan klausa

  dalam melaksanakan kegiatan pendampingan iman anak

  ( [

  tersebut atau mengikuti kegiatan pendampingan iman anak

  ]

  tersebut )

  222. Alangkah baiknya di luar pembinaan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan

  √

  1

  kampus, mahasiswa mau melaksanakan oleh konjungtor dan sebagai penanda hubungan

  1 dan

  doa meditasi merasakan dampak penambahan sehingga menghasilkan kalimat majemuk

  253

  2 dan manfaatnya bagi hidup mereka. setara.

  (PAK-15-Kusuma-Ha05)

  Klausa 1= “baiknya di luar pembinaan kampus, mahasiswa mau melaksanakan doa meditasi” dan

  manfaatnya bagi hidup

  

Klausa 2= “merasakan dampak

mereka”.

  

2

  konjungtor dan sebagai penanda hubungan penambahan digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa (dampak [bagi hidup mereka] dan manfaatnya bagi hidup mereka ).

  Sehingga sehingga

  223. memampukan para -penggunan yang salah-~konjungtor bukan √ mahasiswa semakin lebih mengalamai konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor subordinatif Allah sendiri di dalam dirinya. (PAK- maka tidak boleh mengawali kalimat baru. Oleh karena itu, 15-Kusuma-Ha05) kalimat tersebut harus digabung dengan kalimat sebelumnya.

  Alangkah baiknya di luar pembinaan kampus, Pembetulan= “ mahasiswa mau melaksanakan doa meditasi dan merasakan dampak dan manfaatnya bagi hidup mereka sehingga memampukan para mahasiswa semakin lebih mengalamai

  254

  

Allah sendiri di dalam dirinya

”.

  224. Sekolah Katolik diharapkan mendorong -penggunaan yang salah-~ kalimat tersebut menghilangkan √ anak dan remaja untuk terlibat dalam pasangan konjungtor baik ... maupun ... yang digunakan kegiatan pengembangan iman maupun untuk menghubungkan frasa dengan frasa.

  Sekolah Katolik diharapkan mendorong anak

  dalam kegiatan kemasyarakatan (Nota Pembetulan= “ Pastoral KAS, 2008: 46). (PAK-15- dan remaja untuk terlibat baik dalam kegiatan

  pengembangan iman dalam kegiatan

  Luviasari-Ha01

  maupun —02) kemasyarakatan

  (Nota Pastoral KAS, 2008: 46).”

  Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor untuk yang menyatakan hubungan tujuan sehingga mengahsilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Klausa utama= “Sekolah Katolik diharapkan mendorong

  anak dan

  remaja” untuk

  terlibat dalam kegiatan

  Klausa subordinatif= “

  pengembangan iman maupun dalam kegiatan kemasyarakatan (Nota Pastoral KAS, 2008: 46)”.

  255

  yang

  225. Ia mengalami perjumpaan dengan -penggunaan yang salah-~ Konjungtor merupakan √ Yesus yang kemudian ia menjadi buta konjungtor subordinatif dan konjungtor kemudian untuk beberapa waktu (Kis 9: 1-19, merupakan konjungtor antarkalimat, keduanya tidak boleh 22:1-16; 26:9-18). (PAK-15-Nahak- digunakan secara bersamaan karena konjungtor antarkalimat Ha02) harus mengawali kalimat baru. Konjungtor yang tersebut bisa dihilangkan sebab kalimat tersebut terlalu panjang.

  Ia mengalami perjumpaan dengan Yesus.

  Pembetulan= “ Kemudian, ia menjadi buta untuk beberapa waktu

  (Kis 9: 1- 19, 22:1-16; 26:9-

  18).”

  Konjungtor kemudian merupakan konjungtor antarkalimat yang menyatakan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya.

  ketika

  226. Dalam pelajaran agama Katolik sendiri, -penggunaan yag salah-~ Penempatan konjungtor √ guru-guru agama ketika mengajar pada kalimat tersebut tidak boleh ditempatkan di depan kurang mengayati sebagai guru agama. subjek kalimat karena konjungtor tersebut konjungtor (PAK-15-Luchensy-Ha04) subordinatif yang digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau lebih di dalam kalimat majemuk bertingkat bukan untuk menghubungkan subjek dengan predikat.

  Dalam pelajaran agama Katolik sendiri, Pembetulan= “

  256

  ketika guru-guru agama mengajar, kurang mengayati sebagai guru agama ”. yang

  227. Salah satu cara dapat dilakukan Kalimat tersebut mengandung dua klausa yang dihubungkan √ Gereja dalam mengambil peran yakni oleh konjungtor yang yang menyatakan hubungan atributif lewat suatu proses katekese. (PAK-15- sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  Salah satu cara yakni lewat suatu proses

  Bintarti-Ha02) Klausa utama= “

  katekese ” yang dapat dilakukan Gereja

  Klausa relatif restriktif= “ dalam mengambil peran ”. yang

  228. Melalui doa seseorang beriman -penggunaan yang salah-~Kalimat di atas menghilangkan √

  maupun baik baik ...

  dapat mengungkapkan harapan kata sebagai pasangan dari konjungtor korelatif kerinduannya pada Tuhan. (PAK-15- maupun .

  Melalui doa seseorang yang beriman dapat

  Kusuma-Ha03)

  Pembetulan= “ mengungkapkan baik harapan maupun kerinduannya pada Tuhan

  ”.

  Konjungtor yang pada

  klausa relatif restriktif “yang beriman” sehingga kalimat tersebut mengandung tiga klausa. Klausa = “melalui doa” Klausa utama= “seseorang dapat mengungkapkan harapan

  257

  maupun kerinduannya pada Tuhan”. Maka dan maka

  229. , Bunda Maria putera-Nya -penggunaan yang salah-~ Konjungtor bukan √ mempunyai ikatan yang sangat kuat, konjungtor antarkalimat yang menghubungkan kalimat satu

  sehingga umat yang melihat dengan kalimat yang lain.

  Bunda Maria dan putera-Nya mempunyai

  penampakan Bunda Maria berarti ia Pembetulan:

  ikatan yang sangat kuat, umat yang melihat

  melihat kehadiran Tuhan. (PAK-15- sehingga Wuriusadani-Ha06) penampakan Bunda Maria berarti ia melihat kehadiran Tuhan.

  Kalimat tersebut mengandung tiga klausa yang

  sehingga

  dihubungkan oleh konjungtor yang menyatakan

  yang

  hubungan hasil dan konjungtor yang menyatakan hubungan atributif sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

  dan Klausa utama= “Bunda Maria putera-Nya mempunyai

  ikatan yang sangat k sehingga

  uat”. Klausa subordinatif= “ yang

  umat melihat penampakan Bunda Maria berarti ia

  melihat kehadiran Tuhan.” Terdiri dari dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor yang .

  Sedangkan sedangkan

  230. kompetensi kepribadian -penggunaan yang salah-~ Kata penghubung √

  dan sosial kurang diperhatikan. bukan konjungtor antarkalimat melainkan konjungtor

  258 (PAK-15-Luchensy-Ha03) koordinatif sehingga tidak bisa diperlakukan seperti kata penghubung antarkalimat yang mengawali kalimat baru.

  dan

  Konjungtor digunakan sebagai penanda hubungan penambahan, digunakan untuk menghubungkn frasa dengan frasa (kompetensi kepribadian dan [kompetensi] sosial).

  Yogyakarta, 6 Januari 2017 Triangulator Dr. B. Widharyanto, M.Pd.

BIOGRAFI PENULIS

  Insep Pitomo merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir di Kabupaten Semarang, 1 September 1994. Pada tahun ajaran 2005/2006 Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Bedono 01. Kemudian, pada tahun ajaran 2008/2009 Ia menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Theresiana Bedono dan pada tahun ajaran 2011/2012 menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Sedes Sapientiae Bedono. Pada tahun 2012 Ia melanjutkan studi di Program

  Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Selama menjadi mahasiswa PBSI, penulis aktif mengikuti dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan baik di dalam prodi maupun di luar prodi. Pada tahun 2017. Ia

  menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis

  Penggunaan Konjungtor pada Latar Belakang Skripsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 Lulusan Tahun 2015”.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java
19
802
7
Analisis komparatif rasio finansial ditinjau dari aturan depkop dengan standar akuntansi Indonesia pada laporan keuanagn tahun 1999 pusat koperasi pegawai
14
342
84
FREKWENSI PESAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM IKLAN LAYANAN MASYARAKAT Analisis Isi pada Empat Versi ILM Televisi Tanggap Flu Burung Milik Komnas FBPI
10
149
3
SENSUALITAS DALAM FILM HOROR DI INDONESIA(Analisis Isi pada Film Tali Pocong Perawan karya Arie Azis)
33
236
2
Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik. (Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)
136
609
18
DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon", dan "BuKrim"
132
615
21
PEMAKNAAN MAHASISWA TENTANG DAKWAH USTADZ FELIX SIAUW MELALUI TWITTER ( Studi Resepsi Pada Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2011)
59
322
21
Representasi Nasionalisme Melalui Karya Fotografi (Analisis Semiotik pada Buku "Ketika Indonesia Dipertanyakan")
53
303
50
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
496
26
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
105
431
24
Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kerajinan Tangan Di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember.
7
69
65
Analisis Pertumbuhan Antar Sektor di Wilayah Kabupaten Magetan dan Sekitarnya Tahun 1996-2005
3
55
17
Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)
8
84
57
Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
84
63
DAMPAK INVESTASI ASET TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP INOVASI DENGAN LINGKUNGAN INDUSTRI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2012)
11
127
22
Show more