Feedback

T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Potensi Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Pembelajaran untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA): Study Kasus di SMA Negeri 1 Bergas T1 Full text

Informasi dokumen
POTENSI PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Study Kasus di SMA Negeri 1 Bergas) ARTIKEL ILMIAH Diajukan kepada Fakultas Teknologi Informasi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Komputer Oleh: AGNISA RIA LINDANI NIM: 702012102 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA 2016 2 3 4 5 6 1. Pendahuluan Penemuan di bidang Teknologi Infomasi dan Komunikasi (TIK) dewasa ini berkembang sangat pesat dan jauh melampaui penemuan teknologi-teknologi lainnya. Bahkan sampai awal abad ke-21 ini, dipercaya bahwa bidang TIK masih akan terus pesat berkembang dan belum terlihat titik jenuhnya sampai beberapa dekade mendatang. Kemampuannya dalam mengolah dan menyebarluaskan infomasi tanpa kendala ruang dan waktu, menjadikannya pengaruh besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan. Pembangunan pendidikan berbasis TIK setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan (termasuk guru) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada, yang dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas [1].Salah satu bidang TIK yang berkembang pesat saat ini yaitu Internet. Seperti yang kita ketahui, saat ini, warnet (warung internet) mulai tergeser dengan adanya wifi id corner, yaitu tempat yang memungkinkan pengguna untuk menikmati internet dengan harga yang relatif lebih murah dibanding warnet. Tentunya dengan adanya wifi id corner ini akan lebih memudahkan kita dalam menikmati internet sebagai alat untuk mencari informasi, berbisnis, bersosialisasi lewat dunia maya, bertukar data serta informasi dan masih banyak lagi yang tentunya juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi pengguna itu sendiri. Teknologi internet di kalangan pelajar juga dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi penggunanya. Salah satu dampak positif yang telah pengguna ketahui dari teknologi internet untuk pelajar adalah kesempatan untuk mengeksplor banyak informasi yang menambah wawasan dan pengetahuan mereka. Disisi lain, terdapat dampak negatifnya yakni dengan adanya internet, pelajar dapat menikmati jejaring sosial apa saja yang mereka inginkan dengan waktu yang tak terbatas. Memang sekilas tidak tampak dampak negatifnya, tetapi coba kita analisis kembali. Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa dalam Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA N 1 Bergas, mengenai pembelajaran yang mereka lakukan di rumah, tidak sedikit siswa yang menjawab bahwa mereka hampir tidak pernah belajar di rumah, dan justru lebih sering menggunakan waktu mereka di luar jam sekolah untuk mengakses media sosial dengan kepentingan di luar pendidikan menggunakan smartphone yang telah dimiliki oleh kebanyakan siswa. Salah satu media sosial yang banyak diminati siswa adalah Instagram. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Markplus Insight bertajuk menunjukkan bahwa dari 2.150 Netizen yang disurvei, aplikasi Instagram menjadi aplikasi baru yang cukup popular di kalangan anak muda. Sebanyak 5,9% responden usia 1522 tahun mengakses Instagram yang menjadi tempat bertukar gambar dan juga bisa mengunggah video [2].Media sosial Instagram juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk lebih tertarik 7 belajar menggunakan gambar/video. Gambar/foto merupakan sebuah sarana yang sangat baik untuk situasi dunia luar ke dalam ruang kelas dan memanfaatkan minat untuk melihat gambar-gambar yang menjadikan siswa lebih fokus atau tertarik dalam belajar [3].Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar potensi pemanfaatan media sosial Instagram dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk siswa SMA Negeri 1 Bergas, khususnya media sosial Instagram sebagai media untuk menyajikan materi dan sharing antara guru dengan siswa. Penelitian ini bertujuan agar siswa tidak hanya memanfaatkan media sosial hanya untuk kepentingan-kepentingan pribadi, tetapi juga dapat memanfaatkannya lebih maksimal di dalam bidang pendidikan dengan menjadikannya sebagai media pembelajaran. 2. Tinjauan Pustaka Penelitian terdahulu yang membahas mengenai media gambar untuk pembelajaran dilakukan oleh Alkhalim, mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Koperasi dari Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya dengan jurnal yang berjudul “Penerapan Media Gambar atau Foto dengan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X pada Mata Pelajaran Ekonomi Pokok Bahasan Uang di SMA Negeri 4 Sidoarjo” 3].Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti dalam KBM Ekonomi guru di SMA Negeri 4 Sidoarjo lebih banyak berceramah sehingga siswa mengalami kejenuhan dan kurang aktif. Hal ini menyebabkan aktifitas belajar siswa rendah dan menyebabkan hasil belajar siswa rendah pula. Upaya untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan penerapan media gambar atau foto dengan metode diskusi yang diharapkan dapat meningkatan hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mampu menerapkan pembelajaran melalui penerapan media gambar atau foto dengan metode diskusi dengan baik. Penelitian lain dilakukan oleh Isma Afriyanti, Fadillah, dan Sukmawati, mahasiswa PGSD FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak dengan jurnal yang berjudul “Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Dasar Negeri” 4].Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan fakta yang objektif mengenai penggunaan media gambar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mengenal anggota tubuh dan kegunaannya pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 1 Sekolah Dasar Negeri 39 Sungai Raya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan penelitian tindakan kelas, sedangkan teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi dengan alat pengumpulan data berupa lembar observasi bagi guru dan siswa serta tes akhir sebagai evaluasi bagi siswa. Berdasarkan hasil perhitungan statistik menggunakan mean menunjukkan hasil aktivitas dan hasil belajar setelah menggunakan media meningkat. 8 Perbedaan antara kedua penelitian tersebut dengan penelitian ini yaitu terletak pada media sosial Instagram dan metode pembelajaran. Kedua penelitian yang telah dijelaskan tersebut tidak menggunakan media sosial Instagram, melainkan hanya menggunakan media gambar. Selain itu, penelitian ini tidak menggunakan metode penelitian PTK (Penelitian Tindakan Kelas) seperti pada penelitian terdahulu, karena pada penelitian ini hanya ingin mengetahui seberapa besar potensi pemanfaatan media sosial Instagram sebagai media pembelajaran, sehingga tidak memerlukan metode pembelajaran yang digunakan dikelas, seperti pada penelitian terdahulu. Acuan yang digunakan dari kedua penelitian terdahulu yang telah dijelaskan adalah menggunakan media gambar/foto sebagai media pembelajaran. Kedua penelitian terdahulu yang telah dijelaskan membahas mengenai media gambar untuk pembelajaran dan tidak membahas mengenai media sosial, sedangkan penelitian terdahulu yang ketiga ini membahas mengenai media sosial, namun perbedaannya adalah penelitian terdahulu yang ketiga ini membahas mengenai media sosial facebook bukan media sosial instagram. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Rahayuningsih ini berjudul “Potential Use of Facebook as Learning Media for High School Students” 5].Hasil dari penelitian ini yaitu jejaring sosial facebook bukan lagi merupakan hal baru bagi siswa. Rata-rata siswa memiliki facebook lebih dari satu tahun. Facebook merupakan suatu kebutuhan bagi mereka agar dapat memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan sesama. Hasil deskriptif didapatkan bahwa seluruh responden atau 100% responden yang merupakan siswa kelas IPA 3-2 SMA Negeri 1 Salatiga mempunyai facebook. Kegiatan mengakses facebook ini rata-rata mereka online setiap harinya 1 –2 kali, setiap online rata-rata 30 –60 menit. Dari hasil tersebut, dikumulatif satu hari total rata-rata mereka online sekitar 2 jam. Tujuan siswa dalam mengakses facebook paling banyak digunakan sebagai hiburan, bermain game atau quiz serta berkomunikasi dengan teman. Media yang paling banyak digunakan adalah komputer dan handphone, sedangkan mengenai potensi facebook yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, 70% responden menjawab setuju dan sangat setuju jika facebook dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran TIK, mereka juga sangat setuju jika facebook dijadikan media pembelajaran, karena dengan menggunakan facebook pembelajaran menjadi efektif, materi pembelajaran lebih mudah diterima dan dipahami oleh siswa, dan siswa dapat belajar secara mandiri di rumah dan kapan saja, fleksibilitas waktu dan tempat. Hal-hal yang sering dilakukan oleh guru mata pelajaran TIK dengan facebook adalah untuk diskusi, sharing, komunikasi, chatting, berbagi informasi dan pengetahuan dengan teman maupun siswanya. Potensi facebook sebagai media pembelajaran cukup besar. Jejaring sosial ini dapat digunakan untuk menampilkan tugas-tugas, sharing materi pembelajaran baik berbentuk teks maupun berbentuk video, dan dapat digunakan untuk berkonsultasi dengan guru jika mengalami kesulitan dengan mudah. Perbedaan penelitian terdahulu tersebut 9 dengan penelitian ini adalah terletak pada media sosial yang akan diteliti. Acuan yang digunakan dari penelitian terdahulu adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan instrumen yang akan digunakan untuk penelitian. Media Sosial Di jaman teknologi ini, penggunaan media sosial mulai dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Pada dasarnya media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologi-teknologi perkembangan web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisipasi, saling berbagi dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga dapat menyebar luaskan konten mereka sendiri. Media jejaring sosial adalah situs yang menjadi tempat orang-orang berkomunikasi dengan teman-teman mereka, yang mereka kenal di dunia nyata dan dunia maya [6].Adapun ciri-ciri media sosial yaitu pesan yang disampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa ke berbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet, pesan yang disampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper, pesan yang disampaikan cenderung lebih cepat dibanding media lainnya, serta penerima pesan yang menentukan waktu interaksi. Instagram Nama Instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”,seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “foto instan”.Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata “gram” berasal dari kata “telegram”,dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itulah Instagram berasal dari instan-telegram. Fitur-fitur dalam media sosial Instagram ini adalah indikator yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pendapat Bambang dalam bukunya Instagram Handbook menyatakan indikator dari media sosial Instagram yaitu Hastag, Geotag, follow, share, like, komentar dan mention [6].Para guru dapat menggunakan media sosial instagram untuk mengumumkan pekerjaan rumah secara kreatif, berbagi pengalaman dengan murid di kelas dengan bantuan gambar dan hal lain yang berhubungan dengan pendidikan [7].Terkadang teknologi dapat menjadi sarana kreatif bagi guru untuk menyampaikan materi kepada siswa, namun bukan berarti guru harus meninggalkan buku pelajaran, karena teknologi akan lebih baik digunakan sebagai pendukung kegiatan pengajaran, dan bukan sebagai kendaraan utama [8].10 Media Pembelajaran Media pembelajaran merupakan salah satu faktor yang cukup berperan penting dalam menyampaikan materi pelajaran, karena media inilah yang akan menentukan menyenangkan atau tidaknya proses belajar mengajar, yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan media pengajaran dalam proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan keinginan dan minat murid, membangkitkan motivasi murid, serta memberikan rangsangan dan juga pengaruh psikologis kepada para siswa yang menggunakannya [9].Pendapat lain mengatakan, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik [10].Ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau bentuk stimulus yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran [11].Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan guru dalam bentuk stimulus untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sehingga apa yang menjadi tujuan dari pengajaran akan tercapai. 3. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Alasan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan seberapa besar potensi pemanfaatan media sosial instagram sebagai media pembelajaran untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).Penelitian ini menggunakan sampel 3 kelas dari keseluruhan populasi 30 kelas. Menurut pendapat Gay dan Diehl, sampel minimum untuk penelitian yang bersifat deskriptif yaitu 10% dari populasi [12].Sedangkan populasi di SMA Negeri 1 Bergas yaitu terdapat 30 kelas, sehingga 10% dari keseluruhan populasi yaitu 3 kelas. Total sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 99 siswa, yang diambil pada kelas X IPS 6 sebanyak 32 siswa, kelas XI IPS 5 sebanyak 36 siswa, dan kelas XII IPA 2 sebanyak 31 siswa. 11 Adapun kisi-kisi instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data penelitian dapat dilihat pada table berikut :Tabel 1.Kisi-kisi Uji Kuesioner Penggunaan Jejaring Sosial Instagram Variabel Indikator Sub Indikator No Jumlah Kepemilikan instagram 5,6 2 Tempat mengakses 7 1 instagram Frekuensi mengakses 8,9,10 3 Penggunaan instagram instagram Tujuan mengakses 11,12,13,14 4 instagram Mengakses Media untuk mengakses 15 1 instagram instagram Anggaran yang digunakan 16 1 untuk mengakses instagram Instagram Instagram untuk 17,18,19,20, 8 dalam pembelajaran 23,24,25,26 pembelajaran Pengaruh waktu dan 21,22 2 kebiasaan Jumlah 22 Data-data yang diperoleh dari kuesioner dianalisis untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian. Data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner diolah menjadi bentuk prosentase dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :F P =x 100% N Keterangan: P =Prosentase F =Frekuensi jawaban responden N =Jumlah responden Untuk menentukan kriteria dari prosentase tersebut, perlu adanya langkah-langkah sebagai berikut :a. Menentukan prosentase tertinggi =100% b. Menentukan prosentase terendah =0% c. Menghitung rentang prosentase =100% 0% 100% d. Menentukan kelas interval =5 12 e. Menghitung interval =100% 5 =20 Berdasarkan perhitungan di atas, dihasilkan kriteria pada Tabel 2. Tabel 2.Kriteria Penilaian No 1. 2. 3. 4. 5. Interval 81% 100% 61% 80% 41% 60% 21% 40% 0% 20% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Cukup tinggi Rendah Sangat rendah 4. Hasil Penelitian dan Pembahasan Berikut ini merupakan hasil dari data kuesioner yang telah diperoleh dari penelitian yang berjudul “Potensi Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Pembelajaran untuk Siswa Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Bergas”.Adapun kisi-kisi untuk capaian pada penelitian ini adalah: 1) potensi dari segi karakteristik responden, 2) potensi dari segi aktivitas responden dalam mengakses instagram, dan 3) potensi instagram sebagai media pembelajaran menurut responden. Hasil kuesioner yang pertama adalah berdasarkan potensi dari segi karakteristik responden. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum 99 responden berdasarkan usia dan jenis kelamin yang mendukung dan melengkapi hasil analisis dan penelitian. Tabel 3. Jumlah responden Usia Jumlah Jumlah 14 15 16 17 18 tahun tahun tahun tahun tahun Responden 1 15 24 19 59 orang Putri orang orang orang orang Responden 14 17 7 orang 2 40 orang Putra orang orang orang Total 1 29 41 26 2 99 orang orang orang orang orang orang Berdasarkan hasil kuesioner 99 responden yang terdiri dari 59 responden putri dan 40 responden putra, diperoleh hasil bahwa terdapat 82 responden atau sebesar 82,8% yang memiliki akun instagram, dan hanya 17 responden atau sebesar 17,2% yang tidak memiliki akun instagram. Dari data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas responden telah mengenal bahkan telah 13 menggunakan media sosial instagram. Dengan demikian, jika media sosial instagram digunakan sebagai media pembelajaran, maka guru tidak perlu lagi menjelaskan mengenai cara penggunaan media sosial tersebut. Bagi siswa yang belum menggunakan media sosial instagram, guru dapat meminta siswa yang telah menggunakannya untuk menjelaskan cara penggunaan media sosial instagram, sehingga dapat memungkinkan terjadinya pembelajaran secara mandiri antar siswa. Kepemilikan jumlah akun instagram dari 99 responden akan dipaparkan dalam tabel 4. Tabel 4. Jumlah Akun Instagram yang Dimiliki oleh Responden Jumlah akun yang dimiliki Keterangan 0 1 2 >2 Jumlah Responden 17 64 10 8 Dari tabel 4, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki 1 (satu) akun instagram dan minoritas responden memiliki akun instagram lebih dari 2 (dua).Sedangkan tempat yang paling sering digunakan responden untuk mengakses instagram dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel 5. Tempat Mengakses Instagram No Alternatif Jawaban N F %1 a. Rumah atau Kos 82 73 89% b. Sekolah 5 6,1% c. Warnet 0 0% d. Public Hot Spot 4 4,9% Jumlah 82 82 100% Dari tabel 5, dapat diketahui bahwa tempat yang paling sering digunakan responden untuk mengakses instagram adalah di rumah atau kos, dengan rincian sebagai berikut :responden yang mengakses instagram di rumah atau kos sebesar 89%,responden yang mengakses instagram di sekolah sebesar 6,1%,responden yang mengakses instagram di warnet 0%,dan responden yang mengakses instagram di Public Hot Spot sebanyak 4,9%.Disini dapat ditarik kesimpulan bahwa instagram dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di rumah. Untuk jangka waktu kepemilikan akun instagram dapat dilihat pada tabel berikut: No 1 Tabel 6. Jangka Waktu Menggunakan Instagram Alternatif Jawaban N F a. 1 minggu 82 2 b. 1 bulan 16 c. 1 tahun 23 d. 1 tahun 41 Jumlah 82 82 14 2,4% 19,5% 28,1% 50% 100 %Berdasarkan tabel 6, dapat dilihat bahwa jangka waktu responden memiliki akun instagram rata-rata lebih dari 1 (satu) tahun adalah sebanyak 41 orang atau sebesar 50% dari keseluruhan responden yang memiliki akun instagram, sedangkan responden yang memiliki akun instagram selama 1 minggu sebesar 2,4%,responden yang memiliki akun instagram selama 1 bulan sebesar 19,5%,dan responden yang memiliki akun instagram selama 1 tahun sebesar 28,1%.Dengan melihat jawaban responden mengenai jangka waktu menggunakan instagram tersebut, dapat disimpulkan bahwa instagram bukan lagi hal baru bagi responden, dengan demikian, tentunya bukanlah hal yang sulit untuk menjelaskan kepada responden mengenai fitur-fitur instagram yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Untuk banyaknya frekuensi mengakses instagram dalam sehari dapat dilihat pada tabel 7. No 1 Tabel 7. Frekuensi Kegiatan Mengakses Instagram Alternatif Jawaban N F a. 1 –2 kali 82 37 b. 3 –4 kali 21 c. 5 –6 kali 10 d. 6 kali 14 Jumlah 82 30 45,1% 25,6% 12,2% 17,1% 100 %Dari tabel 7, dapat dilihat bahwa frekuensi responden dalam mengakses instagram dalam sehari mayoritas menjawab sebanyak 1-2 kali adalah terdapat 37 orang atau sebesar 45,1%,selanjutnya yang menjawab 3-4 kali sebesar 25,6%,56 kali sebesar 12,2%,dan lebih dari 6 kali sebesar 17,1%.Melihat hasil dari tabel 5 dan 7, dapat disimpulkan bahwa jika instagram dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, maka potensi responden belajar di rumah dalam sehari adalah 1-2 kali. Adapun frekuensi mengakses instagram dalam setiap online dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel 8. Frekuensi Kegiatan Mengakses Instagram Setiap Online No Alternatif Jawaban N F 1 a. 15 menit 82 38 b. 15 –30 menit 24 c. 30 –60 menit 11 d. 1-3 jam 4 e. selalu conect 5 Jumlah 82 82 46,4% 29,3% 13,4% 4,8% 6,1% 100% Berdasarkan tabel 8, dapat dilihat bahwa frekuensi responden mengakses instagram dalam setiap online mayoritas responden menjawab
T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Potensi Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Pembelajaran untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA): Study Kasus di SMA Negeri 1 Bergas T1 Full text
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Potensi Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Pembelajaran untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA): Study Kasus di SMA Negeri 1 Bergas T1 Full text

Gratis