PEMAKNAAN LIRIK LAGU “LINGSIR WENGI” OST KUNTILANAK 2006 (Studi Semiotika Pemaknaan Lirik Lagu “Lingsir Wengi” Ost Kuntilanak 2006).

Gratis

3
26
94
1 year ago
Preview
Full text

  

PEMAKNAAN LIR IK LAGU “LINGSIR WENGI” OST

KUNTILANAK 2006

  (Studi Semiotika Pemaknaan Lir ik Lagu “Lingsir Wengi” Ost Kuntilanak 2006) SKRIPSI

  Oleh : J OKO FEBRIANTO NPM. 0843010266

  

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN

PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL

“VETERAN” J AWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM

  STUDI ILMU KOMUNIKASI SURABAYA

2012

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  

ABSTRAKSI

J OKO FEBRIANTO. PEMAKNAAN LIRIK LAGU ”LINGSIR WENGI” OST KUNTILANAK 2006 (Studi Semiotik Tentang Pemaknaan Lirik Lagu “Lingsir Wengi” Ost Kuntilanak 2006).

  

Penelitian ini didasarkan pada fenomena semakin berkembangnya dunia musik di

Indonesia. Musik merupakan karya seni bunyi dalam bentuk lagu mengungkapkan pikiran dan perasaan si pencipta melalui harmoni, bentuk atau struktur lagu, dan ekspresi sebagai satu

kesatuan yang utuh. Seorang pencipta lagu mengungkapkan perasaannya berdasarkan frame of

reference dan field of experiencenya dalam bentuk lirik lagu. Dalam musik, lirik lagu “Lingsir

Wengi” penuh konotasi bahasa yang menarik untuk dimaknai, dengan timbulnya controversial di

masyarakat. Sehingga timbullah pertanyaan yang menjadi dasar perumusan masalah yaitu apakah pesan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.

  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna pesan yang terkandung dalam lirik lagu “Lingsir Wengi” tersebut. Studi penelitian ini diarahkan pada teori semiotik dan konsep semiologi Roland Barthes. Konsep lain yang dipergunakan adalah mitos dan kultur, pranata sosial dan konstruksi kenyataan sosial, pengaruh lagu terhadap pendengarnya dan intepretasi tanda. Studi analisis yang dilakukan oleh peneliti mengacu pada semiologi Barthessian menggunakan tiga hubungan tanda, yaitu hubungan simbolik, hubungan paradigmatik, dan hubungan sintagmatik sebagai pembacaan atas sebuah tanda, yang nantinya akan melandasi penggunaan lima macam kode, yaitu kode hermeunitik, kode semik, kode simbolik, kode proaeretik dank ode cultural dalam memaknai tanda tersebut. Kemudian proses pemaknaan melalui pembacaan kode-kode tersebut akan diungkap substansi dari pesan dibalik lirik lagu “Lingsir Wengi” dan pada tataran mitos akan diungkapkan sistem penandaan tingkat dua.

  Metode yang digunakan adalah metode deskriptif interpretatif dengan menggunakan

analisis semiologi dengan pendekatan semiotik berdasarkan konsep signifiaksi dua tahap Roland

Barthes. Unit analisis yang digunakan adalah tanda berupa kata-kata dalam lirik lagu “Lingsir Wengi”. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  v Gambaran umum obyek penelitian dijabarkan tentang bagaimana latar belakang dan perkembangan lagu Lingsir Wengi serta pencipta lagu tersebut. Pemaknaan lirik lagu Lingsir Wengi ini hasilnya dikaitkan dengan realitas eksternal yang terjadi di masyarakat Indonesia khususnya. Dari data yang sudah diintepretasi dan dianalisis, disimpulkan bahwa makna yang terkandung dalam lirik lagu Lingsir Wengi adalah mengenai fenomena sosial yang terjadi di sekitar masyarakat. Dan pesan yang terkandung di dalam lirik lagu Lingsir Wengi tersebut

adalah bahwa, pencipta lagu tersebut menceritakan fenomena praktik pesugihan yang masih ada

di dalam masyarakat yang serba modern saat ini. Mulai dari terhimpitnya masalah ekonomi, sampai pada permasalahan pribadi yang menyebabkan orang tersebut menjadi lupa terhadap pedoman agama dengan meminta bantuan kepada makhluk halus atau makhluk gaib untuk

mencukupi kebutuhan ekonominya yang terdesak serta kebutuhan pribadinya. Saran yang dapat

penulis sampaikan adalah agar para pencipta lagu lebih cerdas dalam berkarya, dan tidak seenaknya merubah struktur lagu yang sudah ada. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  v

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Skripsi dengan judul “PEMAKNAAN LIRIK LAGU LINGSIR WENGI OST KUNTILANAK 2006”. Hasil laporan Skripsi ini bukanlah kemampuan dari penulis semata, namun terwujud berkat bantuan dari Ibu Dra. Dyva Claretta, M,Si. selaku Dosen Pembimbing, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Skripsi ini dengan baik.

  Dalam penulisan laporan ini penulis juga banyak mendapatkan pengarahan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada : 1.

  Ibu Dra. Ec. Hj. Suparwati M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur.

  2. Bapak Juwito, S.Sos, M.Si. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur.

  3. Ibu Dyva Claretta M.Si. selaku dosen pembimbing yang senantiasa mencurahkan segala ide dan kritik serta sarannya kepada saya.

  4. Dosen-dosen Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah memberikan ilmu baik secara teori maupun secara praktik.

  5. Bapak, Ibuk dan Keluarga tercinta yang senantiasa memberi dukungan penuh. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

ii

  

ii

6.

  Teman-teman dan sahabat yang sudah membantu saya sampai laporan skripsi ini selesai.

  7. Brenk, abdi, jojo, dan kawan – kawan yang sejawat buntu bareng seneng bareng.

  8. Teman teman dari dunia lelaki, yopie, baweh, ses, bendoel, agung, mas pman, maulana fahira, bos samuel, doel jadoel, kang andik, yang telah mencurahkan kebuntuan dan jalan keluar bagi skripsi saya.

  9. My special one, Shallys Indrianti yang telah memberikan dukungan dan semangatnya, serta kritik dan sarannya.

  Penulis menyadari bahwa Laporan Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah dibutuhkan guna memperbaiki kekurangan yang ada. Akhir kata semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca, khususnya untuk rekan-rekan Program Studi Ilmu Komunikasi.

  Surabaya,4 Juni 2012 Penulis

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

  DAFTAR ISI

HALAMAN J UDUL………………………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………… iii

ABSTRAKSI…………………………………………………………………………… v

  

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………... 1

  1.1 Latar Belakang Masalah…………......................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………… 13

  1.3 Tujuan Penelitian………..……………………………………………… 13

  1.4 Kegunaan penelitian…………………………………………………….. 13

  15 2.1.2 Lirik Lagu Dalam Kajian Semiotik…………………………..

  17 2.1.3 Mistisme………………………………………………………...

  19 2.1.4 Teori Semiorika dan Mitologi Barthes…………………..........

  29 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

  2.1.5.1 Mitos Kuntilanak……………………………………….. 37

  2.1.5.2 Budaya Mistik…………………………………………… 39

  2.1.6 Lagu Dur ma Pemanggil Kuntilanak…………………………... 41

  2.1.6.1 Mitos dan Kultur Masyarakat Indonesia……………… 42

  2.1.7 Pr anata Sosial dan Konstruksi Sosial………………………….. 45

  2.1.8 Interpretasi Tanda dalam Syair Lagu…………………………. 47

  2.1.9 Pengaruh Musik Terhadap Pendengar………………………… 51

  2.1.10 Kerangka Berpikir………………………………………………. 52

  3.1 Metode Penelitian………………………………………………………... 55

  3.2.1 Corpus……………………………………………………………. 56

  3.2.2 Unit Analisis……………………………………………………… 57

  3.4 Teknik Pengumpulan Data……………………………………................ 58

  

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………............................................................... 60

  4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian……………………………………. 60

  4.2.1 Penyajian Data……………………………………………………… 64

  4.2.2 Lir ik Lagu Lingsir Wengi Menur ut Semiologi Barthes…………. 64

  4.2.3 Pemaknaan Lirik Lagu Lingsir Wengi…………………………… 68

  4.2.4 Tiga Macam Hubungan Tanda……………………………………. 74

  4.2.5 Kode-Kode Pembacaan atau Leksia………………………………. 78

  5.2 Sar an………………………………………………………………………….. 85

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...86

LAMPIRAN………………………………………………………………………………..88

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belaka ng Masalah Musik memiliki tata bahasa, ilmu kalimat, dan retorik. Namun musik berbeda dengan bahasa. Elemen “kata” pada bahasa adalah materi yang konkret yang memiliki makna yang tetap, sedangkan “nada” pada music bersifat absurd dan hanya bermakna ketika dia berada diantara nada-nada yang lainnya. Fungsi yang di milikinya sangat besar dalam kehidupan manusia, seperti sebagai bagian dari kegiatan ritual keagamaan, sebagai media hiburan, pendidikan dan kesehatan.

  Musik dibangun oleh elemen-elemen bunyi, melodi, ritme, harmoni, dam ekspresi. Bunyi itu sendiri terdiri dari pitch yang berhubungan dengan ketinggian nada, durasi yang berhubungan dengan kekuatan dengan jangka waktu nada-nada, intensitas yang berhubungan dengan kekuatan bunyi atau nada. Intensitas ini sering pula disebut sebagai bagian dari ekspresi musik yakni sebagai unsur dinamik.

  Satu lagi unsur bunyi yakni timbre atau warna nada/suara yang berkaitan dengan kualitas bunyi yang dihasilkan yang berhubungan dengan jenis materi dan teknik dihasilkannya suara. Musik merupakan hasil budaya manusia yang menarik diantara banyak budaya yang lain, dikatakan menarik karena musik memegang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : peranan yang sangat banyak di berbagai bidang. Seperti jika dilihat dari sisi

  

1 psikologisnya, musik kerap manjadi sarana pemenuhan kebutuhan manusia dalam hasrat akan seni dan berkreasi. Dari sisi sosial musik dapat disebut sebagai cermin tatanan sosial yang ada dalam masyarakat saat musik tersebut diciptakan.

  Berbagai macam jenis musik terdapat di negeri kita, seperti musik jazz, bossanova, keroncong, dangdut, pop, rock, sampai musik tradisional seperti gendhing jawa, atau karawitan. Banyaknya jenis musik tersebut selalu menggunakan instrument yang berbeda beda

  Salah satu contoh musik tradisional yang sampai sekarang masih bertahan adalah Gendhing jawa yang dalam penyajian musikalnya selalu dipenuhi dengan instrumen-instrumen yang bervariasi, seperti gong, gendhang, suling, dan macam- macam alat tradisional lainnya. Tidak lupa dengan sinden atau penyanyi yang melantunkan lagu tersebut.

  Komunikasi sebagai proses penyampaian pesan dapat dikatakan komunikatif apabila para peserta komunikasi dapat memahami makna dari pesan yang dikomunikasikan, hal ini mengacu pada pemikiran bahwa suatu pesan dalam bentuk sistem tanda merupakan hasil penurunan makna dari si pembuat pesan.

  Sebuah lagu, biasanya terdiri dari paduan instrument dan suara vocal penyanyinya. Dari dua paduan inilah terbentuk keutuhan suatu lagu. Dalam suatu lagu, selain kekuatan musik, unsur lirik yang di nyanyikan mempunyai peranan yang sangat penting pula.

  Lewat lirik lagu, seorang pencipta melalui penyanyi yang membawakan Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : lirik lagu tersebut berusaha menyampaikan sebuah pesan kepada pendengarnya.

  Lewat media lirik lagu, seorang pencipta melalui penyanyi yang membawakan lirik lagu tersebut berusaha menyampaikan sebuah pesan kepada pendengarnya.

  Dan dengan melalui lirik lagu tersebut, seseorang (pencipta/penyanyi) berusaha berinteraksi sosial dengan masyarakat yang mendengarkan lirik lagu tersebut. Lewat media lirik lagu, pencipta berusaha menciptakan kesamaan frame

  

of reference dengan pendengarnya sehingga diharapkan pendengar memiliki

  perasaan yang sama dalam interpretasi mereka terhadap suatu lagu. (Liliweri, 1994 : 16-17).

  Pesan yang terkandung dalam sebuah lagu merupakan representasi dari pikiran ataupun perasaan dari si pencipta lagu sebagai orang yang mengirim pesan. Konsep ini dapat berupa ungkapan-ungkapan dari senang, sedih, atau marah, juga dapat berupa pendapat seperti pujian atau bahkan kritik suatu hal.

  Pesan yang disampaikan oleh seorang pencipta melalui lagunya ini tentu tidak akan berasal dari luar diri si pencipta lagu tersebut, dalam artian bahwa pesan tersebut bersumber dari pola pikirnya serta dari frame of reference dan field

  

of experience nya. Sedangkan pola pikir maupun frame of reference dan field of

experience seseorang itu terbentuk dari hasil interaksinya dengan lingkungan

  sosial disekitarnya.

  Dari membaca atau menyanyikan suatu lirik lagu yang dibuat oleh seorang pencipta lagu. Seseorang dapat melihat tanggapan si pencipta lagu terhadap Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : beberapa hal di sekelilingnya. Bila ditelusuri lebih dalam karyanya, dapat dilihat pandangan hidup dan pola pikir si pencipta lagu.

  Proses penciptaan lirik lagu dapat terjadi berdasarkan pengalaman si pencipta dengan dunia di sekitarnya. Dapat pula dari hasil perenungan si pencipta terhadap suatu gejala yang dilihat atau yang dirasakannya. Hasil perenungan itu kemudian dikomunikasikan/disampaikan kepada orang lain dengan cara menuangkannya kedalam bentuk sistem atau tanda komunikasi yang merupakan teks yang berupa lirik lagu, yang merupakan sebuah pesan komunikasi.

  Dengan mengamati hasil karya lirik lagu juga dapat diketahui bagaimana pencipta lagu memandang dan mengungkapkan gejala yang ada di masyarakat.

  Pengungkapan tersebut dengan gaya, cara, dan sudut pandang si pencipta yang bersangkutan.

  Seperti dalam lagu Lingsir Wengi yang termasuk salah satu musik tradisional yakni gendhing jawa dimana dalam menyanyikannya menggunakan instrument-instrumen tertentu. Nama Lingsir Wengi sebenarnya adalah nama lain dari Kidung Rumekso ing Wengi (jaman Walisanga) karya Sunan Kalijaga.

  Dalam sejarahnya di jelaskan bahwa lagu ini adalah lagu untuk pengganti dzikir setelah sholat malam, dimana dalam pesan yang disampaikan melalui lagu ini, Kanjeng Sunan Kalijaga menyebarkan agama islam dengan cara melalui lagu yang ia ciptakan, karena pada masa itu agama islam masih sulit diterima oleh masyarakat jawa yang masih menganut aliran animisme dan dinamisme. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  ( www.yahoo.com//sejarahlingsirwengi )diakses pada tanggal 10 april 2012 pukul 18.0).

  Namun seiring perkembangan jaman, lagu ini pun di aransemen ulang ke berbagai jenis lirik dan instrumen yang berbeda. Setelah terjadi perubahan jaman, Kidung Rumekso Ing Wengi pun mengalami perubahan baik dari segi musikalitas dan lirik. Melalui karya Bossanova Jawa (2001) , sebuah grup musik Bossas asal Semarang Jawa Tengah mencoba merubah lirik dan musiknya menjadi bernuansa romantis dan kekinian, berubah judul menjadi Lingsir Wengi, yakni menceritakan tentang seseorang yang sedang kasmaran atau seseorang yang sedang kangen/rindu terhadap pasangannya namun tidak bisa bertemu, sayangnya lagu ini masih belum diangap populer kala itu.

  Akhirnya setelah lama menghilang, Lingsir Wengi kembali di populerkan melalui film Kuntilanak (2006) dengan bintang utama Julie Estele yang akhirnya mengalami perubahan segi musikalitas, dan lirik menjadi lebih bernuansa mistis, hal ini pula lah yang menyebabkan masyarakat berfikiran negatif atas lagu ini.

  Karena di dalam film tersebut yang Julie Estele sebagai pemeran utama ,menyanyikan lagu ini ketika ia sedang dalam keadaan marah. Dalam scene terakhir di perlihatkan wujud asli dari kuntilanak yang berbentuk wanita dengan rambut putih terurai panjang dan badan yang menyerupai kuda.

  Dari beberapa sumber yang muncul di sebuah forum online, dijelaskan bahwa siapapun yang mendengar atau melantukan Lingsir Wengi (versi Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Kuntilanak) dipercaya bisa mendatangkan sang hantu (alam ghaib) tersebut ke dalam dunia kita (alam nyata). Beberapa kesaksian di sebuah forum online menjelaskan bahwa, mereka yang seusai menonton film Kuntilanak, baik yang menonton filmnya maupun yang mendengar lagunya seakan mengalami kejadian ganjil. Hal ini disebabkan oleh aura yang terkandung di dalam lagu tersebut seakan membawa mereka menuju hal yang gaib. Meskipun ada kesaksian yang membeberkan bahwa beberapa diantara mereka sampai mengalami kesurupan, tetapi hal ini lebih dikarenakan kondisi jiwa dan batinnya yang bertolak belakang saat mendengarkan lagu ini.( www.kaskus.us-lingsirwengi diakses pada tanggal 11 april 2012 pukul 15.20 wib).

  Akhirnya timbul persepsi di masyarakat apabila mendengarkan lagu ini akan mendatangkan maut bagi yang mendengarkannya. Berbagai komentar negatif pun muncul supaya tidak mendengarkan lagu ini. Hingga akhirnya memunculkan histeria massal di tengah kalangan masyarakat kita yang notabene masih percaya dengan adanya hal-hal ghaib, hal ini dikarenakan bahwa mayoritas masyarakat lebih menyukai hal-hal yang berbau mistis dan segalanya yang berkaitan dengan mistis, akan menjadi trend dikalangan masyarakat. Baik itu film, lagu, serta acara-acara baik di televisi maupun radio, pasti akan menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat. Mengingat bahwa bangsa kita memang tidak terlepas dari kebudayaan mistis serta mitos. Hal inilah yang menyebabkan lagu Lingsir Wengi popular di masyarakat.

  Ini merupakan bentuk permasalahan, karena banyaknya tanggapan negatif setelah mendengarkan lagu ini, meskipun ada versi lain yang bertolak belakang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : dengan lagu tersebut, namun sudah banyak masyarakat yang berpersepsi negatif, hingga akhirnya lagu ini seakan menjadi momok atau menjadi paranoid di kalangan masyarakat.

  Semakin banyak yang mengganggap lagu itu sebagai mitos yang menakutkan, maka semakin banyak pula orang yang takut untuk mendengarkan.

  Dikarenakan field of reference dan field of experience yang di miliki oleh masing- masing orang berbeda-beda tergantung bagaimana orang tersebut mengintepretasikannya. Apakah dia hanya sekedar mendengarkan, atau memang ingin mendalami lirik yang terdapat di dalamnya. Namun sangat disayangkan kidung yang fungsinya sebagai pengganti doa ini kemudian dirubah liriknya menjadi lagu untuk mendatangkan makhluk gaib. Banyak orang yang memprotes tentang lagu ini karena efek histeria yang terjadi di masyarakat. Benar atau tidaknya kejadian yang menimpa mereka tergantung bagaimana mereka mempercayai lirik tersebut.

  Namun jika kita masih memiliki pikiran, hati yang bersih, niscaya hal-hal negatif tersebut tidak akan menimpa kita. Berikut ini merupakan petikan bait dari tembang asli Lingsir Wengi yakni Kidung Rumeksa Ing Wengi karya Kanjeng Sunan Kalijaga.

  Kidung Rumekso Ing Wengi (lagu asli kar ya Kanjeng Sunan Kalijaga) :

  Ana kidung rumeksa ing wengi… Teguh hayu luputa ing Lara… Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Luput ing bilahi kabeh…

  Jim setan datan purun… Paneluhan tan ana wani… Miwah panggawe ala… Gunaning wong luput… Geni atemahan tirta… Maling adoh tan ana ngarah ing mami… Guna duduk pan sirna…

  Ter jemahan ke dalam bahasa Indonesia : Kidung Penjaga Keheningan Di Tengah Malam… Ada kidung penjaga keheningan di tengah malam… Kukuh selamat terbebas dari segala malapetaka… Jin dan setan jahat pun tidak berkenan… Segala jenis sihir pun tidak ada yang berani… Apalagi perbuatan jahat ilmu orang yang tidak bersalah… Api dan juga air… Pencuri pun tidak ada yang menuju padaku… Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Guna-guna sakti pun sirna… Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

  ( ht tp:/ / filsafat .kompasiana.com / 2009/ 10/ 18/ kidung-penjaga-di-keheningan- malam/ diakses pada tanggal 12 april 2012 pukul 20.00 wib ).

  Sedangkan yang ber ik ut ini adalah tembang dar i Lingsir Wengi yang dipopulerkan oleh Bossanova J awa :

  Lingsir Wengi… Sepi durung bisa nendra… Kagoda mring wewayah kang ngreridu ati… Kawitane mung sembrono njur kulina… Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresna… Nanging duh tibane… Aku dhewe kang nemahi… Nandang bronto… Kadung loro sambat sambat sopo.. Rina wengi sing tak puji ojo lali… Janjine muga bisa tak ugemi…

  Ter jemahan ke dalam Bahasa Indonesia : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Menjelang malam…

  Sunyi belum bisa terlelap… Tergoda akan saat-saat yang merindukan hati… Awalnya hanya bergurau tetapi jadi kenyataan… Tak kusangka bila akhirnya menjadi cinta… Namun sialnya saya sendiri yang sungguh-sungguh cinta… Merasa resah terlanjur jatuh… mau mengeluh ke siapa… Siang malam yang kupuja janganlah lupa… Janjinya semoga bisa kupercaya…

  

( http://kamusjowo.com/kamus/ diakses pada tanggal 13 april 2012 pukul 05.10

wib).

  Per bedaan lir ik setelah muncul ke dalam film Kuntilanak (ost Kuntilanak

  2006) Lingsir wengi sliramu tumeking sirno… Ojo tangi nggonmu guling… Awas jo ngetoro… Aku lagi bang wingo wingo… Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Jin setan kang tak utusi…

  Dadyo sebarang… Wojo lelayu sebet…

  Ter jemahan kedalam Bahasa Indonesia : Menjelang malam bayangan mu mulai sirna… Jangan bangun dari tempat mu tidur/beranjak… Awas jangan sampai terlihat… Aku sedang dalam keadaan gusar… Jin dan setan telah ku utus… Jadilah apapun namun jangan membawa maut…

  ( ht tp:/ / nabylae.blogspot.com/ 2009/ 04/ t embang-durmo-lingsir- w engi.ht ml ) diakses pada tanggal 13 april pukul 11.10 wib ).

  Apabila kita cermati tiap bait lirik diatas, jelas sekali terlihat perbedaan antara bait lagu yang lama dengan bait lagu yang baru, dimana dalam bait lagu yang baru (lingsir wengi ost kuntilanak) terdapat perbedaan lirik yang menggambarkan suasana seram dan menakutkan.

  Sedangkan dalam bait yang lama hanya berisi tentang pujian atau doa untuk menjaga keselamatan dunia dan akhirat. Begitupun dengan bait yang kedua Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : isinya sama tentang pujian namun untuk seseorang, menggambarkan perasaan seseorang yang sedang kangen atau rindu karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya.

  Sayangnya masyarakat sekarang telah termakan oleh lagu Lingsir Wengi versi Kuntilanak yang sampai detik ini masih ditakuti untuk diperdengarkan, padahal apabila mendengarkan versi aslinya (Kidung ing Rumekso ing Wengi) dan (Lingsir Wengi versi Bossanova Jawa) tidak ada sama sekali hubungannya dengan mendatangkan maut, karena memang lagu ini digunakan sebagai tolak balak atau pelindung bagi kita, selain itu juga dipakai untuk menggambarkan perasaan seseorang yang sedang rindu akan kekasih hatinya.

  Dengan adanya hal tersebut diatas maka peneliti ingin meneliti makna perbedaan antara lirik Lingsir Wengi (versi Bossanova Jawa) dengan lirik Lingsir Wengi (versi ost Kuntilanak).

  Kenapa peneliti menggunakan perbandingan antara lagu yang kedua dengan lagu yang ketiga, karena masyarakat umumnya lebih mudah mencerna kata-kata dalam lagu yang sifatnya easy listening atau enak untuk didengarkan. Meskipun dalam lagu yang pertama juga bisa digunakan, tetapi dari segi kualitas suara masih belum bisa ditangkap, hal ini dikarenakan kualitas suaranya yang sudah lama, jadi ketika seseorang menangkap tiap lirik yang di dengarkan masih kurang jelas.

  Maka dari itu peneliti menggunakan perbandingan makna lirik lagu antara Lingsir Wengi (versi Bossanova Jawa, 2001) dengan Lingsir Wengi (versi ost Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Kuntilanak, 2006).

  Sebuah lirik bukanlah rangkaian kata-kata indah semata, tetapi lebih dari itu lirik lagu merupakan representasi dari realitas yang dilihat atau dirasakan oleh si pencipta. Realitas inilah yang mengilhami seseorang dalam membuat lirik lagu.

  Peneliti menggunakan metode semiotik Roland Barthes untuk memaknai lirik lagu Lingsir Wengi tersebut.

  1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pemaknaan lirik lagu dalam lagu “Lingsir Wengi?”.

  1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan uraian latar belakang masalah serta perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk membongkar makna yang terkandung dalam lirik lagu Lingsir Wengi tersebut melalui analisis semiologi Roland Barthes.

  1.4 Kegunaan Penelitian

  1. Kegunaan Teoritis Menambah literatur penelitian kualitatif dan dapat member sumbangan landasan pemikiran pada ilmu komunikasi berupa lirik lagu dengan menggunakan pendekatan semiotik. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  2. Kegunaan praktis

  Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khalayak pendengar lirik lagu tersebut. Dengan mengetahui makna dan tujuan lirik lagu tersebut setelah dibongkar dengan analisis Semiologi Roland Barthes, diharapkan pendengar lagu tersebut mampu menemukan pesan yang disampaikan oleh si pencipta lagu tersebut, serta menikmati karya tersebut berdasarkan frame of reference dan field of experience. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  BAB II KAJ IAN PUSTAKA

  2.1 Landasan Teor i

  2.1.1 Lir ik Lagu Sebagai Pesan dalam Pr oses Komunikasi Massa Menurut Severin dan Tankard, komunikasi massa adalah sebagian ketrampilan (skill) sebagian seni (art) dan sebagian ilmu (science) (Effendy, 1993

  : 312). Hal ini terutama terlihat dalam cara menata pesan. Dalam cara menata sebuah pesan, diperlukan sebuah ketrampilan tertentu agar pesan tersebut dapat menarik perhatian. Komunikasi adalah ketrampilan dalam menampilkan dimensi seni dalam pesan komunikasi. Dalam penelitian ini, lirik lagu merupakan sebuah bentuk pesan komunikasi yang disampaikan pada khalayak yang ditata dalam dimensi seni (lagu dan musik). Sehingga pesan verbal yang dasarnya adalah bahasa lisan biasa, ditampilkan berbeda dengan memberikan unsur seni, yaitu lagu, pola-pola nada, irama, dan musik dengan tujuan untuk lebih menarik perhatian khalayaknya. Tanpa dimensi seni menata pesan, tidak mungkin media komunikasi dapat memikat perhatian dan memukau khalayak, yang pada gilirannya mengubah sikap, pandangan, dan perilaku mereka.

  Pesan (message) terdiri dari dua aspek, yakni isi atau isi pesan (the content of message) dan lambang (symbol) untuk mengekspresikannya. Sebagai sebuah pesan, lirik lagu juga memiliki dua aspek tersebut. Aspek isi dalam lirik lagu adalah hal apa yang terkandung dalam lirik lagu yang ingin disampaikan si pencipta kepada khalayaknya. Aspek lambang dalam lirik lagu adalag kata-kata yang merupakan bahasa lisan yang disampaikan secara khusus yaitu dengan dinyanyikan mengikuti pola-pola nada dan irama tertentu dengan iringan musik (Effendy, 1993 : 312). Perkembangan musik sendiri di Indonesia mengalami menunjukkan perkembangan yang cepat. Menurut Sawung Jabo hal ini bisa terjadi karena adanya sifat yang lentur dari kebudayaan Indonesia, yang selalu terbuka terhadap sumber-sumber dari luar. Masyarakat Indonesia selalu tanggap dan menghimpun segala sesuatu yang baru dan menciptakan kembali. Sebagai contoh kita temukan adanya adaptasi kata dari lagu pop amerika mengenai cinta yang dicerna oleh komponis Indonesia (sobur, 2003 : 148). Beberapa jenis musik yang ada saat ini adalah :

  1. Musik Klasik : Musik klasik pada umumya terlahir dan terkenal pada masa tahun 1750-1800. Banyak tokoh-tokoh aliran ini yang masih terkenal seperti Beethoven, Tchaisckhovsky, Mozart, dan sebagainya.

  2. Musik Jazz : Musik Jazz dianggap lahir di amerika serikat. Merupakan perpaduan antara teknik dan peralatan musik Eropa, khusunya Perancis. Dalam memainkan musik ini, dibutuhkan perpaduan teknik alat musik yang membutuhkan kekompakan dan saling mengisi antara pemain satu dengan pemain yang lain.

  3. Musik Keroncong : Jenis musik dimana dalam musik ini dipergunakan peralatan dan pernadaan musik Barat, yang dimainkan dan dinyanyikan dengan gaya musik tradisi kita yang sudah ada sebelumnya. Misalnya : permainan alat penumbuk padi, kentongan, angklung, dan lain lain.

  4. Musik Populer : Jenis musik yang selalu memasukkan unsur-unsur ataupun cara-cara baru yang sedang disukai, atau diharapkan akan disukai oleh pendengar dewasa ini. Tujuannya adalah memperoleh ledakan popularitas sebesar mungkin dan secepat mungkin.

  2.1.2 Lir ik Lagu dalam Kajian Semiotik Dalam ilmu komunikasi, pendekatan yang menjelaskan tentang penggunaan lambang-lambang dalam pesan komunikasi adalah pendekatan semiotik, yaitu ilmu yang mempelajari tentang sistem tanda. Pendekatan semiotik, pada perkembangannya digunakan untuk penelitian sistem tanda dalam berbagai bidang studi. Kegiatan manusia seperti musik, periklanan, arsitektur, dan retorika dapat di kaji dengan menggunakan pendekatan ini.

  Lirik lagu merupakan salah satu bentuk komunikasi lisan (yang bisa ditulis untuk didokumentasikan). Makna yang terkandung bisa eksplisit atau implisit tergantung dari tujuan pola pikir penciptanya. Ia dapat merupakan suatu bentuk respon dari kejadian-kejadian yang ada sehingga dalam lirik lagu dapat berisi ungkapan-ungkapan baik pujian, maupun kritik sosial.

  Untuk memahami sebuah lirik lagu, berarti harus memahami maknanya, baik yang eksplisit maupun yang implisit. Lirik lagu pada hakekatnya adalah suatu karya seni yang menggunakan suatu bahasa sebagai medium, khususnya

  poetic speech yang merupakan bagian dari pencipta lirik lagu kedalam bentuk lambang-lambang.

  Lagu merupakan sebuah domain budaya pop dimana kita dapat dengan mudah menemukan banyak contoh konkret tentang bagaimana budaya dijalankan.

  (James Lull dalam Sobur, 2003 : 147). Sistem tanda musik adalah auditif, namun untuk mencapai pendengarnya, pencipta musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara pemain musik dalam bentuk sistem tanda. Dalam membuat teks/lirik lagu, pengarang harus bergantung pada seperangkat kode-kode yang menentukan makna ungkapan yang digunakan untuk menjadikannya sangat komunikatif atau menarik untuk disimak. Sang pencipta lagu harus berasumsi bahwa teks lagu harus sama dengan kode yang dimilikinya. Kode dalam hal ini adalah kebudayaan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Kode adalah (perasaan, ide, harapan, sang pencipta lagu, ilusi dan sebagainya) (Piliang, 2004 : 168).

  Penelitian tentang lirik lagu merupakan penelitian tentang makna isi pesan dari lirik lagu tersebut. Lirik lagu merupakan suatu produk yang salah satu sumbernya adalah dalam situasi sosial masyarakat. Dimana pencipta berada di dalamnya. Kemudian di refleksikan dalam sistem tanda berupa lirik lagu. Refleksi tersebut dapat berupa ekspresi pandangan, citra (image) dan perasaan si pencipta sebagai bagian dari anggota masyarakat bahkan lebih jauh lagi, ekspresi tersebut merefleksikan nilai-nilai, norma-norma atau ideologi yang ada dalam suatu masyarakat.

  Proses penciptaan lagu oleh si pencipta lagu dapat dilihat oleh si pencipta lagu dapat diilhami oleh berbagai masalah atau kejadian di sekitar pencipta. Hal tersebut sangat beralasan, karena tidak mungkin seseorang akan mengungkapkan hal yang diluar dari frame of reference atau field of experience nya. Apalagi sebuah lirik lagu adalah produk seni yang memerlukan penghayatan dalam membuat dan membawakannya. Ungkapan dalam lirik lagu akan menjadi nyata, dalam artian menjadi ungkapan yang mewakili ungkapan perasaan umum, ketika lirik lagu tersebut membuat permasalahan yang memang dianggap sebagai masalah oleh masyarakat.

  Bila dilihat melalui pendekatan semiotik akan terlihat bahwa tanda (sign) yang akan dikupas dalam penelitian ini adalah kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat dalam lirik lagu “Lingsir Wengi”. Tanda-tanda tersebut memiliki fungsi- fungsi tanda. Misalnya fungsi emotif yang menunjukkan sikap atau perasaan si pencipta selalu menggunakan tanda, fungsi referensial yang mencerminkan obyeknya secara apa adanya pengaruh subyektif dari diri si pencipta, sedangkan lirik lagu, sistem tanda berfungsi sebagai metalinguistik. Selain itu yang utama dalam lirik lagu adalah terdapat fungsi puitik yang memperindah lagu tersebut berupa teks yang lain.

  2.1.4 Mistisme Harus dimengerti bahwa masih banyak masyarakat diluar sana yang menyalahkaprahkan arti mistis sebagai salah satu yang jahat maupun buruk, seperti santet, susuk, dsb. Sebelum menjelaskan lebih lanjut, peneliti akan memulai menjelaskan terlebih dahulu mengenai Agama karena konsep mistis ini sangat kental dengan pengertian akan agama yang merupakan unsur dari akar terbentuknya konsep mistis.

  Menurut asal katanya, mistisme atau masyarakat kita bisa menyebut mistik dari bahasa yunani mystikos yang artinya rahasia. Serba rahasia, gelap, tersembunyi, atau terselubung dalam kegelapan. Berdasarkan arti kata tersebut, mistik sebagai sebuah paham yaitu mistik atau mistisme. Merupakan pahamyang memberikan ajaran yang serba mistis, atau ajaran yang serba rahasia, tersembunyi, gelap, serta kelam, sehingga hanya bisa dipahami, dikenal, atau diketahui oleh orang-orang tertentu saja terutama penganut atau pengikutnya.

  Menurut buku De Kleone W.P Encyclopedie (1950, Mr, G.B.J Hitlerman dan professor Dr. P Van De Woestjine : 971) kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya mata dan musterion yang artinya suatu rahasia. Adapun beberapa pendapat berbeda tentang paham mistik atau mistisme :

  1. Kepercayaan antara kontak manusia, bumi dan Tuhan (Dr. C.B. Van Haringen, Nederlands Woonderboek, 1948).

  2. Kepercayaan antara persatuan roh manusia dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haringen, Nederlands Woonderboek, 1948).

  3. Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia (geheimnissen) dan hal-hal yang tersembunyi (J.Kramers. Jz).

  4. Kecenderungan hati kepada kepercayaan yang menakjubkan atau kepada ilmu rahasia (Algemeene Kunstwoordentolk, J.Kramers. Jz).

  Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang paham mistik diatas berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham mistik kegamaan (terkait dengan Tuhan dan ke-Tuhanan) dan paham mistik non-keagamaan (tidak terkait dengan Tuhan ataupun ke-Tuhanan). Sedikit penjelasan mengenai mistik yang terkait pada keagamaan kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap adanya kekuatan ghaib luar biasa atau supernatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakaat, bahkan terhadap segala gejala alam.

  Kepercayaan itu menimbulkan perilaku tertentu seperti berdoa,memuja,dsb. Juga menimbulkan sikap mental lain seperti takut, optimis, pasrah, dsb. Kehidupan beragama adalah kenyataan hidup manusia yang ditemukan sepanjang zaman beserta kehidupan pribadinya, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga menimbulkan kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Lalu mengadakan upacara-upacara pada momen-momen tertentu seperti pada saat kawinan, kelahiran, kematian. Dalam agama upacara ini disebut dengan ibadat. Mempercayai suatu benda, tempat, waktu, atau orang sebagai suatu yang suci, sacral, istimewa, dan bertuah juga masih kita jumpai hingga saat ini. Kepercayaan itu dinamakan sakral, dan sakral juga merupakan cirri khas kehidupan beragama.

  Menurut Bergson (1859-1941), seorang pemikir prancis mengemukakan bahwa Agama merupakan gejala universal manusia, sering ditemukan masyarakat tanpa sains, seni maupun filsafat tapi tidak pernah ditemukan masyarakat tanpa agama.

  Di zaman modern ini kehidupan beragama semakin kompleks,makin banyak macam agama yang dianut. Aliran kepercayaan, aliran kebatinan, aliran pemujaan dikalangan masyarakat modern. Hampir setiap agama terpecah menjadi sekte dan aliran tertentu, cara pengahayatan dan penerimaannya pun semakin beragam.

  Agama dan kehidupan beragama demikian kompleks untuk memahami fenomena kehidupan beragama diperlukan pengetahuan tentang aspek apa saja dalam kehidupan beragama. Aspek disini bisa disebut dengan unsur. Kentjoroningrat (1987 : 80) menyebut aspek komponen agama dan religi. Menurutnya ada lima komponen religi :

  1. Emosi dan keagamaan

  4. Peralatan ritus dan upacara

  2. Sistem keyakinan

  5. Umat beragama

  3. Sistem ritus dan upacara Sementara aspek komponen agama terdiri dari :

  1. Aspek kepercayaan pada yang ghaib (supernatural)

  4. Umat beragama

  2. Aspek sakral

  5. Mistisme

  3. Aspek ritual Emosi keagamaan menurut Koentjoroningrat sama dengan aspek rohaniah (mistisme) kepercayaan keagamaan didasarkan kepada kepercayaan pada sesuatu yang ghaib yaitu yang berada diatas ala mini (supernatural), dibalik alam fisik (metafisik), Tuhan, Roh (pewahyuan), mukjizat, dan hal-hal lain diluar alam nyata. Kepercayaan kepada segala hal ghaib inilah yang disebut dengan supernatural.

  Sakral sendiri salah satu unsur kehidupan beragama yang tidak bisa dilepaskan dari perbedaan (barang) Sakral suci, sering kita temui pen-sakralan ada pada benda, tempat, waktu, orang. Menurut Durkheirn, sakral bukan sifat benda itu sendiri, melainkan diberikan oleh manusi atau masyarakat yang mensucikannya sebagai tempat yang disucikan. Seperti Ka’bah di Mekkah, Rosario di gereja Katolik Vatikan, dsb.

  Kepercayaan terhadap kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus, ada tata cara perlakuan khusus terhadap sesuatu yang disakralkan (biasanya berbentuk upacara keagamaan) upacara, persembahan, sesajen ibadah keagamaan ini biasanya tidak bisa dipahami oleh pikiran yang rasionalis, ekonomi, pragmatis. Dalam bahsa inggris upacara ini dinamakan rites, alias kematian, pembabtisan, jamuan suci, dan lainnya (Hornby, 1984 : 733).

  Dalam agama upacara ritual ini biasa disebut dengan ibadat, kebaktian, sembahyang, atau berdoa. Dan tiap agama mengajarkan ritual yang berbeda-beda pula. Ritual ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dalam injil, ritual atau berdoa ini tak lain adalah “komunikasi” kepada Tuhan dan bukan hanya sekedar manusia atau individu yang melakukan ritual memiliki keinginan atau permintaan saja kepada Tuhan.

  Umat beragama sendiri memiliki artian sebagai umat pengikut ajaran (agama) itu. Komunitas pengikut agama terdiri dari beberapa fungsi keagamaan, antara lain penyampai ajaran agama tersebut, baik itu dari misionaris yang mempercayai adanya suatu kekuatan gaib yang berpengaruh dalam kehidupan manusia dimiliki oleh banyak orang. Ada juga pengikut ajaran agama, ataupun pemimpin upacara keagamaan. Adanya kepercyaan terhadap kekuatan gaib tersebut menjadi pemersatu dan penguat para individu atau umat dalam komunitas itu yang mempercayainya. Biasanya para individu atau umat dalam komunitas keagamaan berkumpul bersama untuk melakukan ritual secara khusyuk, seperti persekutuan pemuda Gereja atau Sholat berjamaah bersama.

  Kalau supernatural dan sakral adalah aspek keyakinan, dan ritual adalahaspek perilaku ajaran agama, ketiganya menimbullkan kesan atau penghayatan ruhaniah dalam diri yang mempercayai. Aspek ruhaniah inilah yang disebut dengan Mysticism dalam bahasa inggris, atau Mistis dalam bahasa Indonesia.

  Menurut Hornby (1984 : 559) mysticism merupakan kepercayaan atau pengalam tentang kemistikan. Kemistikan disini ialah makna tersembunyi, kekuatan spiritual yang menimbulkan sifat kagum dan hormat.

  Mistisme juga berarti bahwa kebenaran hakiki mungkin hanya bisa didapatkan dari Tuhan melalui proses meditasi dan spiritual tidak melalui proses berpikir maupun tangkapan panca indera. Mistik adalah aspek esoteric dari penghayatan seseorang atau suatu organisasi yang disebabkan oleh ketaatan spiritual. Perilaku lahiriah dalam peribadatan hanyalah aspek eksoteris.

  Menurut Suyono (1985 : 259), mistik adalah subsistem yang ada hampir disemua ajaran agam dan sistem religi yang ditunjukkan untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan.

  Dalam bahasa Indonesia istilah kebatinan dapat dipakai untuk aspek kerohanian ini. Kebatinan memiliki arti “ yang batin dar i ajar an agama” dalam mistisme, manusia rindu terbang dalam pengembaraan ruhaniah, seperti pengalaman bertemu nabi, bertemu Tuhan dalam mimpi dan Tuhan sebagai cahaya terang, atau disini dalam agama Hindu, Budha, atau masyarakat tradisional dapat dilakukan dengan bertapa.

  Pengalaman terbang meninggalkan alam nyata yang hanya sebatas panca indera dan dibawah kesadaran rasional ini disebut dengan trancedental (transcend) yang artinya melewati batas dan terangkat dari kenyataan. Bagi manusia yang tidak mendapatkan kepuasan dari trance ajaran agama menempuh cara-cara lain untuk mendapatkan kenikmatan sendiri, dan nyaris kesemuanya bukanlah cara yang positif.

  Diantaranya menjadi pecandu narkotika, melakukan hal-hal menyimpang dari norma keTuhanan, susila, hokum, atau bahkan beralih menjadi penganut aliran sesat dan bahkan rela menyerahkan diri kepada kekuatan diluar Tuhan (Setan) agar keinginannya terpuaskan (Norbeck, 1974 : 32-39).

  Dewasa ini perkembangan kelompok occultisme dan spiritual semakin pesat dan menonojol. Saat kebutuhan hidup manusia yang semakin materialisme dan rasionalisme memenuhi kepala individunya dan mengalahkan aspek kerohanian, maka manusia yang tidak bisa mendapatkan kepuasan itu dalam ajaran agama akan berpaling kepada aliran kebatinan dan pemujaan (cults). Menurut ajaran dan sumbernya mistis Non Keagamaan terbagi menjadi :

  1.Subjektif Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obyektif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu dengan yang lain, meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya.

  Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan, bahkan diberhalakan (dimitos- kan,dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan.

  Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh :

  • Pernah melakukan kegiatan yang istimewa. Pernah mengatasi kesulitan,penderitaan,bencana,atau bahaya yang • mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.
  • Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan dan dari orang yang memiliki kharisma.
  • Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar atau penting.

  Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yangdiajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin,pengasingan diri, bertapa,bersemedi,mengheningkan cipta, dll, dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain. Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah diantara kita ada yang menyebutnya paham ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).

  Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah memunculkan cabang baru menajdi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau pencampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya.

  Karena serba mistik maka paham mistik atau kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang ada tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi atau bertentangan dengan opini umum atau hokum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.

  2. Abstrak dan Spekulatif Materinya serba abstrak,artinya tidak konkrit,misal tentang Tuhan (paham

  ,mistik keTuhanan), tentang keruhanian atau kejiwaan, alam di balik alam dunia , dll (paham mistik non-keagamaan). Dengan demikian pembicaraannya serba spekulatif, yaitu serba menduga-duga, mencari-cari, memungkin-mungkinkan (tidak kompulatif). Pembicaraannya serba berpanjang-panjang, serba berlebih-lebihan dalam arti melebihi kewajaran atau melebihi pengetahuan dan pengertiannya sendiri (meski sudah mengakui tidak tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu dikalangan penganut paham mistik tidak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana yang berlaku dalam diskusi.

  Adapun beberapa sebab orang menganut paham mistik :

  • Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama

  secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada Tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.

  • Rasa kecewa yang berlebihan, orang yang hdiupnya kurang bersungguh-

  sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup, malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka “lari” dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.

  • Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat

  hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan di dapat dari pengalaman mistiknya. Diantara mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tergesa-gesa lepas sama sekali dari tuntutan kemajuan zaman ini . (MH Amien Jaiz, Masalah Mistik & Kebatinan, PT Alma’arif, Bandung, Cetakan 1980).

  2.1.5 Teor i Semiotika dan Mitologi Bar thes Secara etismologis, istilah semiotik berasal dari bahasa yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya,dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Eco dalam Sobur, 2006 : 95). Secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco dalam Sobur, 2006 : 95). Dalam hal semiotik, istilah ini sering pula disebut sebagai semiologi. Keduanya kurang lebih dapat saling menggantikan karena sama-sama digunakan untuk mengacu kepada ilmu tentang tanda tadi. Komaruddin Hidayat, misalnya menyebutkan ; semiotika berurusan dengan tanda Semiotika, seperti kata Lechte (2001 : 191), adalah teori tentang tanda dan penanda.

  Lebih jelasnya lagi, semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana sign ‘tanda-tanda’ dan berdasarkan berdasarkan pada sign system (code) ‘sistem tanda’ (Segers, 2000 : 4. Hjemselv (dalam Christomy , 2001 : 7) mendefinisikan tanda sebagai ‘suatu keterhubungan antara wahana ekspresi (expression plan) dan wahana isi (content plan). Cobley dan Jansz (1994 : 4) menyebutnya sebagai “discipline is simply the analysis of sign or the study

  of the functioning of sign system” (ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana

  sistem tanda berfungsi). Charles Sanders Piercr (dalam Little Jhon, 1994 : 64) mendefinisikan semiosis sebagai “a relationship among a sign, an object and a meaning (suatu hubungan diantara tanda, objek dan makna)”.

  Salah seorang pengikut Saussure, Roland Barthes, membuat sebuah model sistematis dalam menganalisis makna dari sistem tanda-tanda. Fokus perhatian Barthes lebih tertuju pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two orders of signification) seperti terlihat pada gambar berikut

  First order second order

Realit y sign cult ure

connota t ion

  Signifier denot ation signifier myt h

  Sumber : John Fiske , Inroduction to Communication Studies, 1990, hlm. 88

  Gambar I Skema signifikasi dua tahap (two way of signification) Roland Barthes

  Melalui gambar ini, Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan ; signifikasi dua tahap pertama hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subyektif atau paling tidak intersubyektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah obyek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya (Fiske, 1990 : 72).

  Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam dan merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Kita bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti konotasi-konotasi yang terdapat di dalamnya (Van Zoest, 1991 : 70). Salah satu cara adalah member mitologi dalam teks-teks semacam itu. Ideologi adalah sesuatu yang abstrak. Mitologi (kesatuan mitos-mitos yang koheren) menyajikan inkarnasi makna-makna yang mempunyai wadah dalam ideologi, ideologi harus dapat diceritakan. Cerita itulah mitos. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ‘akhir’. Dalam setiap konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotative yang melandasi keberadaanya. Kontasi bekerja dalam tingkat subyetif, sehingga kehadirannya tidak disadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif sebagai fakta denotative. Karena itu salah satu tujuan analisis semiotik adalah untuk menyediakan metode analisis dan kerangka berpikir untuk mengatasi salah baca (misreading).

  Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah seperangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to Communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1998 : 179 ; Kurniawan, 2001 : 53)

  Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau ide dan suatu tanda (Little jhon, 1994 : 64).

  Konsep ini meningkat bersama seperangkar teori yang amat luas berurusan dengan simbol. Bahasa, wacana. dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan bagaimana tanda disusun. Secara umum, studi tentang tanda merujuk pada semiotika.

  Salah satu area penting yang diraambah oleh Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran membaca (the reader). Konotasi, walaupun sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas tentang apa yang disebut sebagai sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun diatas sistem yang lain yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam mythologies-nya secara tegas ia dibedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama. Melanjutkan studi Hjemslev, Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobey & Janz, 1999 : 51).

  1.

  signifier

  2. Signified (penanda) (petanda)

  3. Denotative sign (tanda denotatif)

  4. DENOTATIVE SIGNIFIER

  5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA DENOTATIF

  (PETANDA KONOTATIF ) 6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

  Gambar II Peta Tanda Roland Bartes Sumber : Drs. Alex Sobur Msi, 2004, Semiotika Komunikasi, Remaja Rosdakarya, halaman 69.

  Dari peta Barthes diatas terlihat bahwa denotatif (3) terdiri dari atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material : hanya jika anda mengenal tanda ‘sign’, barulah konotasi seperti harga diri,kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Cobley dan Janz, 1999 : 51).

  Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dimengerti oleh Barthes. Dalam pengertian umum denotasi ‘sesungguhnya’ bahkan kadang kala di rancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, di dalam Semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan keterpurukan makna dan demikian sensor atau represi politis. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan, namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ‘harfiah’ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999 : 22). Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif.

  Ada beberapa konsep dasar yang harus diperhatikan dalam sebuah analisis Semiologi, bentuk hubungan antara unsur satu dengan unsur lainnya, dan makna yang dihasilkan oleh bentuk hubungan-hubungan tersebut. Konsep-konsep dasar ini adalah : (1) tanda, (2) tiga macam hubungan tanda, (3) bahasa-wicara dan budaya dan (4) signification.

  1. Tanda (sign). Dalam pembahasan tentang tanda, Barthes mulai dengan pernyataan Saussurean : “signified dan signifier adalah komponen tanda”. Menurut Saussure, tanda selalu mempunyai tiga wajah : tanda itu berdiri (sign), aspek material (entah berupa suara, huruf, bentuk, gambar, gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan oleh aspek material (signifier) dan aspek mental atau konseptual yang ditunjuk oleh aspek material (signified). Ketiga aspek ini merupakan aspek-aspek konstitutif suatu tanda, tanpa salah satu unsur, tidak ada tanda dan kita tidak bisa membicarakannya bahkan tidak bisa membayangkannya.

  2. Tiga macam hubungan tanda. Makna suatu tanda bukanlah “innate meaning” (makna bawaan, alamiah, tidak berubah) melainkan dihasilkan lewat sistem tanda yang dipakai dalam kelompok orang tertentu (jadi historis). Dalam sistem tanda, perbedaan (difference). Sejalan dengan prinsip perbedaan dan hubungan tersebut, kita bisa melihat tiga macam hubungan serta tiga kesadaran dan tiga corak gejala budaya yang dihasilkan oleh masing-masing hubungan tanda-tanda tersebut adalah :

  a. Hubungan Simbolik. Hubungan Simbolik muncul sebagai hasil dari hubungan tanda dengan dirinya sendiri atau hubungan internal (hubungan signifier dan

  signified). Hubungan simbolik menunjuk status kemandirian tanda untuk diakui

  kebenarannya dan dipakai fungsinya tanpa tergantung pada hubungannya dengan tanda lain. Barthes mengambil contoh salib sebagai simbol Kristianis dan bulan sabit sebagai simbol Islam.

  b. Hubungan Par adigmatik. Hubungan ini menunjuk pada hubungan suatu tanda degan tada lainnya, baik yang mendahului satu mengikutnya. Hubungan sintagmatik mengajak kita untuk mengimajinasikan ke depan atau memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.

  3. Bahasa dan Wicar a.

  a. Bahasa adalah pranta sosial dan nilai. Sebagai pranata sosial, bahasa merupakan ciptaan masyarakat secara bersama dan bukan oleh seorang individu, merupakan kontrak kolektif (harus diterima seluruhnya atau tidak sama sekali), dan otonom (mempunyai aturannya sendiri). Bahasa juga disebut sebagai sistem nilai, karena bahasa terdiri dari unsur-unsur yang dapat dibandingkan dan ditukarkan. Sebagai pranata sosial dan sistem nilai, bahasa merupakan sesuatu yang objektif.

  b. Wicara. Dengan adanya bahasa sebagaimana dijelaskan diatas, orang secara individual dapat memakainya sesuai dengan kebutuhan pribadi. Melalui bahasa, orang mengungkapkan subjektivitasnya. Bahasa sebagaimana dipakai ini disebut wicara yang diciptakan lewat pilihan-pilihan (jadi merupakan kegiatan paradigmatic) dan penggabungan (sintagmatik) dalam sebuah satuan sintaks.

  4. Signification. Kita memakai tanda-tanda (dengan memilih, menggabungkan, dan mengungkapkan) berdasarkan aturan yang sudah diterima oleh umum. Penggunaan tanda-tanda dengan cara ini, tidak lain adalah sebuah praktik kehidupan yang menghasilkan makna dan mengungkapkan diri (communication). Dalam menganalisis suatu sistem tanda atau gejala budaya pada umunya, semiologi tidak terlepas dari keempat macam significations, yaitu : konotasi, mitos, metaphor, dan metomini.

  Dalam sebuah sistem tanda keempat macam siginifications itu mungkin saja terjadi, tapi biasanya ada satu atau dua orang yang menonjol (Sunardi, 2004 : 41-47).

  2.1.5 Mistik yang Ter dapat dalam Film Kuntilanak (2006)

  2.1.5.1 Mitos Kuntilanak Definisi Mitos menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online adalah suatu informasi atau pengetahuan yang sebenarnya salah namun dianggap benar karena telah beredar secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

  Tentang Kuntilanak, ada begitu banyak mitos maupun cerita yang berkembang seputarnya, berbeda daerah maka berbeda pula wujud serta ceritanya.

  Di Pontianak, Kuntilanak (bahasa melayu : puntianak, Pontianak ) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama ‘Kuntilanak’ atau ‘Pontianak’ kemungkinan besar berasal dari gabungan kata ‘bunting’ (hamil) dan ‘anak’. Mitos ini mirip dengan mitos hantu langusir yang dikenal di Asia Tenggara terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara. Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrachman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian Istana.

  Agak berbeda dengan gambaran tradisi Melayu , kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi diatas disebut sebagai sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat ‘bersemayam’ , misalnya pohon waru yang tumbuh condong ke samping (popular disebut ‘waru doyong’).

  Sementara cerita yang berkembang di Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Yogyakarta, kuntilanak adalah makhluk jadi-jadian yang dulunya wanita namun menyerahkan diri pada iblis sehingga separo badan (pinggang ke bawah) adalah kaki kuda, digambarkan rambut kuntilanak amat panjang dan berwarna putih, meskipun demikian anak-anak kuntilanak memiliki tubuh layaknya manusia normal dengan rambut putih panjang. Ada tradisi di jawa mengatakan bila tawa kuntilanak dekat, artinya dia jauh, namun apabila tawanya jauh, berarti ia dekat.

  Kuntilanak sendiri suka bersemayam di pohon-pohon besar dan tua tapi kuat seperti beringin, namun apabila ingin keluar maka kuntilanak akan keluar melalui medium-medium tertentu seperti barang-barang antik yang disakralkan. Dalam cerita Jawa kuntilanak mampu membunuh korbannya dan korbannya kepalanya akan tertarik ke belakang dan meninggal dengan mata terbelalak ketakutan. Di Jawa khususnya Jawa Timur Kuntilanak dipakai sebagai alat untuk mencari pesugihan.

  Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil , bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila ia akan berpergian kemana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting,jarum, dan pisau dekat tempat tidur bayi.

  Menurut kepercayaan masyarakt Melayu, benda tajam seperti paku,bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakanag leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.

  2.1.5.2 Budaya Mistik Budaya adalah sistem gagasan, karya, tindakan yang dihasilkan, manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar

  (Koentjaraningrat, 1996 : 149). Selain itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya diartikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Jadi disini dapat diartikan bahwa budaya adalah sesuatu yang mendarah daging dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu, keberadaannya telah menjadi milik mereka sehingga sukar diubah.

  Kata Mistik menurut De Jong diambil dari bahasa yunani ‘mu-ein’ yang memiliki dua makna. Yang pertama adalah menutup mata dan mulut, kedua arti tersebut adalah mengantarkan seseorang kedalam sebuah upacara. Pada awal penggunaanya pada abad ke 5 di Barat kata ‘mystical’ menunujukkan bahwa segala hal yang jauh diluar kemampuan manusia serta rsionalitas ataupun ilmu pengetahuan. Berdasarkan uraian tersebut budaya mistik adalah upaya untuk melihat sisi mistik (misteri) pada suatu objek.

  Indonesia sendiri tak akan pernah bisa terlepas dari kepercayaan dari kepercayaan terhadap hal-hal mistik. Ditilik dari sejarahnya Nenek Moyang masyarakat kita adalah penganut aliran animism-dinamisme dimana mereka mempercayai serta menyembah kekuatan gaib adalah benda-benda ataupun makhluk hidup yang disakralkan meskipun agama akhirnya telah masuk namun proses akulturasi (pencampuran budaya lama dan baru ) yang dilakukan agar tidak terkesan dipaksakan maka menggunakan aneka media budaya tradisional agar dapat diterima. Contohnya, wali songo melakukan akulturasi agama Islam di pulau Jawa dan sekitarnya dengan menggunakan tembang Jawa, kesenian tradisional berupa wayangn(Niels Mulder. Mistisme Jawa Ideologi di Indonesia).

  Perkembangan aliran pemujaan diluar aliran Agama yang seharusnya dan menyimpang dari ajaran Tuhan telah menimbulkan beragam ritual penyesatan yang tak jarang harus membuat si individu yang melakukannya harus rela membayar dengan nyawa. Diantara sekian banyak yang paling terkenal adalah ritual pesugihan, ritual pembalasan dendam (santet), ataupun ritual keagungan (susuk) dimana si pelaku melakukan ritual tersebut biasanya menginginkan demi kepuasan ego semata serta dilakukan atas paham materialisme dan sekulerisme.

  Dalam komunitas pemujaan yang cenderung ‘sesat’ tersebut terdapat tiga tipe individu. Yang pertama si pelaku upacara (wong pinter) yang merasa memiliki kekuatan dan mampu membantu permasalahan individu yang datang kepadanya namun wong pinter ini diakhir meminta imbalan yang biasanya melampaui apa yang telah dilakukannya. Tipe kedua adalah si peminta yang datang kepada wong pinternya juga termasuk sebagai tipe kedua. Dan terakhir adalah individu-individu pengikut (wong pinter) yang tidak puas terhadap apa yang dimilikinya dan berpaling kepada sesuatu yang lebih lagi yang sayangnya belum tentu baik dan benar. (http:\\ghaib.blogspot.id.html//69 diakses pada tanggal 1 mei 2012 pukul 23.10 wib).

  2.1.6 Lagu Dur ma “Pemanggil Kuntilanak”

  ”Lingsir wengi sliramu tumeking sirno Ojo tangi nggonmu guling Awas jo ngetoro Aku lagi bang wingo-wingo Jin setan kang tak utusi Dadyo sebarang Nanging wojo lelayu sebet”

  Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia

  Menjelang malam bayanganmu mulai sirna Jangan bangun/bangkit dari tidurmu Awas jangan sampai terlihat Aku sedang dalam keadaan marah/gusar Jin dan setan tlah ku utus

  Jadilah apapun namun jangan membawa maut.

  Petikan syair diatas pasti tidak asing lagi bagi yang pernah menonton film Kuntilanak 2006 yang dibintangi Julie Estelle, itu adalah syair durma yang bisa memanggil Kuntilanak seperti yang diceritakan dalam film tersebut.

  Durma itu adalah salah satu pakem dalam Macapat. Macapat adalah kumpulan lagu Jawa yang mencakup 11 pakem (Dandhanggula, Mijil, Pocung, Megatruh, Gambuh, Sinom, Maskumambang, Pangkur, Durma, Asmarandana, dan Kinanthi). Tradisi Macapat ini diperkirakan sudah mulai sejak jaman akhir kerajaan Majapahit.

  2.1.6.1 Mitos dan Kultur Masyar akat Indonesia Kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial, pada hakekatnya adalah jasmani-rohani yang memiliki akal dan makhluk yang berbudaya. Jadi interaksi manusia dan manusia lainnya dalam bermasyarakat adalah wujud pembudayaan manusia. Realisasinya dalam wujud budaya yang berupa nilai-nilai yang sifatnya abstrak tidak dapat ditangkap dengan indera manusia secara sistematik.

  Proses pembudayaan manusia terwujud dalam 3 macam, yaitu : 1. kompleks gagasan, pikiran, konsep, serta ide-ide manusia 2. kompleks aktivitas, yaitu berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi dalam bermasyarakat sebagai makhluk sosial.

  3. wujud sebagai benda budaya, yaitu sebagai wujud dari hasil karya budaya. (Koentjoroningrtat, 1985) Namun sesungguhnya kehidupan manusia dan dengan sendirinya hubungan antar manusia, dikuasai oleh mitos-mitos. Sikap kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita. Mitos ini menyebabkan kita menyukainya atau membencinya.

  Dengan demikian mitos akan menyebabkan kita mempunyai prasangka tertentu terhadap sesuatu hal yang dinyatakan dalam mitos. Dalam pandangan Umar Junus, berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan (Junus, 1981 : 74).

  Mitos adalah suatu jenis tuturan, sesuatu yang hampir mirip dengan “representasi kolektif” di dalam sosiologi Durkheim (Budiman , 1999 : 76).

  Barthes mengartikan mitos sebagai “cara berpikir kebudayaan tentang sesuatu, sebuah cara mengkonseptualisasi atau memahami sesuatu hal. Barthes menyebut mitos sebagai rangkaian konsep yang saling berkaitan”. (Sudibyo, 2001 : 245). Mitos adalah sistem komunikasi, sebab ia membawakan pesan. Maka itu mitos bukanlah obyek. Mitos bukan pula konsep ataupun suatu gagasan, melainkan suatu cara signifikasi. Lebih jauh lagi mitos, tidak ditentukan oleh obyek ataupun materi disampaikan. Mitos tidak hanya berupa pesan yang disampaikan dalam bentuk verbal dan non verbal. Misalnya dalam bentuk film, lukisan, fotografi, iklan, dan komik. Semuanya dapat digunakan untuk menyampaikan suatu pesan.

  Dalam lirik lagu Lingsir Wengi, didalamnya terdapat mitos. Dimana mitos ini mempunyai makna yang dianggap ghaib. Hal ini merupakan suatu enigma yang akan diketahui setelah dibedah dengan analisis semiologi. Mitos yang dimaksud adalah mengenal kata Lingsir Wengi sendiri, dimana kata tersebut menjadi suatu teka teki tentang makna lingsir wengi secara harfiah. Hal ini juga berkaitan dengan adanya kultur bangsa Indonesia, khususnya di pulau Jawaa yang masih menganut aliran animisme dan dinamisme. Seperti anggapan dari Umar Junus, mitos hanyalah sebagai anggapan kasar yang digeneralisasikan.

  Sebenarnya Lingsir Wengi adalah sebuah tembang pengganti dzikir setelah sholat malam. Penciptanya sendiri adalah Kanjeng Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama islamnya, dilakukan secara halus, yakni dengan menciptakan lagu-lagu pengganti dzikir, seperti Lir Ilir, hal ini dikarenakan pada waktu itu, agama islam belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Seiring dengan perkembangan jaman, akhirnya lagu ini menjadi popular ketika film kuntilanak 2006 tayang. Dan salah satunya yang menembang lagu ini adalah Samantha yang diperankan oleh Julie Estelle.

  Banyaknya penonton yang melihat dan mendengar lagu ini menjadi phobia. Pada akhirnya timbulah histeria missal di kalangan masyarakat yang mendengarkan lagu ini. Banyak sumber yang mengatakan bahwa lagu ini merupakan lagu untuk mendatangkan kuntilanak. Seperti dalam forum online kaskus, banyak sekali orang yang memposting dan menanggapi secara negatif mengenai lagu ini. ( www.kaskus.us/supranatural/lingirwengi diakses pada tanggal 2 mei 2012 05.00)

  Anggapan ini dinilai benar adanya dikarenakan pada saat film ini muncul, lagu ini seakan menghipnotis masyarakat untuk mendengarnya. Meskipun tidak jarang dari mereka ada yang takut, atau bahkan ada yang mengganggap kebenaran bahwa lagu ini memang digunakan untuk mendatangkan kuntilanak, namun memang kenyataan yang terjadi disekitar kita masyarakat lebih menyukai hal-hal yang berbau mistis dan ghaib.

  Menurut Susilo (2000 : 24) suatu teknik yang menarik titik tolak berpikir idiologis suatu wahana dimana ideologi berwujud. Mitos ini dapat terangkai menjadi mitologi yang memainkan peranan penting dalam kesatuan-kesatuan budaya. Kita bisa menemukan di dalamnya (Van Zoest, 1991 : 70). Salah satu cara adalah mencari mitologi dalam teks-teks semacam itu. Ideologi adalah sesuatu yang abstrak. Mitologi (kesatuan mitos-mitos yang koheren) menyajikan inkarnasi makna-makna yang mempunyai wadah dalam ideologi. Ideologi harus dapat diceritakan. Certia itulah mitos.

  2.1.7 Pr anata Sosia l dan Konstr uksi Sosial dalam Syair Lir ik Lagu Untuk memaknai tanda, tidak bisa terlepas dari masalah latar belakang sosial budaya, sistem nilai termasuk agama, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan serta pengalaman pribadi komunikator maupun komunikan. Karena bagi pemberi pesan (komunikator), masalah-masalah tersebut sebagai sumber improvisasinya, sedangkan bagi komunikan merupakan penyaringan pesan yang diterimanya (Susanto, 1980 : 42-44).

  Analisis sastra dalam hal ini adalah lirik lagu tidak dapat dilepaskan dari unsur sember budaya sebagai latar belakang lahirnya karya tersebut sebagaimana pendapat Gerbstein dalam Darmono (1978 : 4) mengutip intanti (1999 : 22) bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara lengkap apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan dan peradaban yang menghasilkannya. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Hyppolite Taine dalam Darmono (1978 : 19) mengutip Intanti (1999 : 22) bahwa sastra bukanlah sekedar permainan imajinasi yang pribadi perwujudan pikiran tertentu. Sastra tidak dapat lepas dari konteks sosialnya, sehingga pranata yang ada di dalam kehidupan sosial mempunyai pengaruh yang besar. Pranata sosial membentuk pola perilaku masyarakat dengan kokoh dan terpadu untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat tersebut sebagaimana Cohen (1983) dalam Wahyu (1986 : 47) mengutip Intanti (1999: 22) yang mengatakan bahwa : pranata sosial adalah sistem pola-pola sosial yang bersusun rapid an relatif permanen serta mengandung perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu demi memuaskan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat.

  Konstruksi masyarakat sosial (social reality constructin) adalah suatu istilah yang digunakan oleh Berger dan Lukman untuk menggambarkan proses dimana melalui tindakan dan interaksinya orang menciptakan secara terus- menerus suatu kenyataan yang dimiliki bersama, yang dialami secara factual objektif (Johnson, 1994 : 65-66). Proses-proses sosial sangat mempengaruhi pikiran kita atau bentuk-bentuk pengetahuan mengenai kenyataan dan juga struktur kesadaran subyektif kita (Johnson 1994 : 65-66). Tekanan pada sifat simbol sosial ini dan pada kreasi serta pada pertahanannya atau dipertahankannya kenyataan sosial itu melalui komunikasi merupakan tema sentral dalam analisa Duncan mengenai kenyataan sosial. Dia mengemukakan bahwa simbol tidak hanya merupakan cerminan atau manifestasi dari kenyataan yang nonsimbolik.

  Simbol-simbol itu adalah inti kenyataan sosial hakekat dan sifat dasar hubungan sosial dan keteraturan sosial didefinisikan melalui komunikasi simbol (Johnson, 1994 : 67).

  Dalam lirik lagu Lingsir Wengi tersebut tanda-tanda dimana tanda tersebut merupakan suatu simbol tentang kenyataan yang terjadi dimasyarakat yang tentunya mencerminkan adanya kenyataan sosial. Oleh karena itu, lagu Lingsir Wengi ini tetap disukai masyarakat sejak film Kuntilanak 2006 muncul sampai sekarang ini tidak lepas dari konteks sosial masyarakat. Seperti halnya tersebut diatas, bagi Berger dan Lukman, masyarakat itu sendiri dan berbagai intuisinya diciptakan dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia.

  Meskipun masyarakat dan intuisi sosial nampaknya real secara obyektif, namun kenyataan itu didasarkan pada definisi subyektif yang diciptakan dalam proses interaksi.

  Objektifitas yang jelas dari kenyataan sosial merupakan hasil dari penegasan yang berulang-ulang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subyektif yang sama. Pada tingkatan generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia arti simbolik yang universal ( atau pandangan hidup menyeluruh) yang menata dan member legitimasi pada bentuk-bentuk dan memberikan arti pada berbagai bidang pengalaman sehari-hari (Johnson, 1994 : 67).

  2.1.8 Intepr eta si Tanda dalam Syair lagu Untuk memahami makna sebuah syair atau lagu, diperlukan interpretasi.

  Interpretasi dilakukan setelah proses pembacaan heuristic dan hermeneuristic. Interpretasi digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tindakan dan makna. Sebab suatu tindakan dapat berarti banyak, sedangkan makna tindakan dapat dikatakan mudah ‘ditemukan’. Interpretasi definisinya adalah sebuah proses yang aktif, dan merupakan suatu tindakan yang kreatif dari penegasan kemungkinan makna tindakan dan pesan (Littlejhon, 1995 : 94). Charles Osgood dalam Littlejohn mengemukakan sebuah teori tentang bagaimana arti sebuah tanda dipelajari dan hubungannya dengan makna yang diturunkannya. Contohnya ialah jika ada kata ‘jatuh’ maka yang akan terbayang adalah suatu hal yang berhubungan dengan rasa sakit, kekecewaan, pengalaman yang menyakitkan dan sebagainya. Namun di pihak lain bisa pula kata ‘jatuh’ dibayangkan sebagai suatu proses terlemparnya benda dari ketinggian tertentu menuju ke bawah. Apapun arti yang terbentuk dari pikiran seseorang dalam mengintepretasikan kata ‘jatuh’ merupakan hasl belajar merespon dari lingkungan. Disinilah bentukan stimulus dan respon terjadi. Respon dari seseorang tentang suatu obyek akan terbentuk berdasarkan pengalamannya serta dijembatani oleh rujukan yang ada di benaknya.

  Dengan kata lain, seseorang dalam mengintepretasikan suatu tanda berngkat dari

  frame of reference (kerangka berpikirnya) dan field of experience (kerangka

  pengalaman)-nya masing-masing, namun pemaknaan tand tersebut pada masing- masing orang biasanya tidak berbeda jauh, dikarenakan tanda-tanda yang digunakan sifatnya adalah bersifat universal.

  Proses penyampaian persepsi sebagai kegiatan pembelian makna kepada rangsangan atau sensory stimuli atau stimuli indrawi, dalam hal ini stimuli atau rangsangan adalah kejadian atau persoalan yang dimaksudkan dalam model komunikasi umur Gerbner, sangat tergantung pada faktor personal dan faktor situasinoal. Persepsi merupakan salah satu proses yang terjadi dalam komunikasi intrapersonal yang juga melibatkan proses sensasi, memori, dan berpikir. Persepsi ialah proses memberikan makna pada sensasi sehingga sensasi ini kemudian akan berubah menjadi informasi bagi diri sendiri. Memori adalah mengolah dan memanipulasi informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respon (Rakhmat, 1991 : 51).

  Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa dalam menciptakan karya lirik lagu, pencipta lagu (komunikator) melakukan proses persepsi dan interpretasi terhadap fenomena yang dilihatnya, dan disesuaikan dengan apa yang dimiliki. Hal ini dikarenakan proses persepsi dan interpretasi merupakan bagian dari komunikasi interpersonal dan proses komunikasi intrapersonal tidak lain adalah proses berpikir itu sendiri (Susanto, 1997 : 6).

  Dengan demikian, proses komunikasi intrapersonal terjadi dalam proses produksi syair atau lirik lagu. Sebagai hasil dari proses persepsi dan interpretasi ini kemudian penyair atau pencipta lagu (komunikator) menuangkan hasil pemikiran tersebut ke dalam bentuk lirik lagu menggunakan lambang bahasa tertulis yang disesuaikan dengan lambang bahasa komunikannya. Namun itu tidak terlepas dari persepsi dan interpretasi pencipta lagu (komunikator) terhadap persoalan- persoalan yang diangkatnya dengan memperhatikan pola faktor personal dari pencipta lagu (komunikator) itu sendiri seperti kepercayaan, pengalaman masa lalu kebutuhan, kepentingan-kepentingan juga faktor antara lain kehidupan sehari- hari, faktor lingkungan, latar belakang sosial, budaya dan politik. Oleh karena itu, penentu persepsi bukanlah jenis dan bentuk rangsangan atas stimuli dalam hal ini berupa peristiwa atau event sosial, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada rangsangan atau stimuli tersebut (Rakhmat, 1991 : 56).

  Dalam ilmu komunikasi, analisis yang dilakukan terhadap suatu karya dalam hal ini syair atau lirik lagu berarti melakukan analisis dalam tingkat ‘pesan’. Bila dilihat lebih lanjut dari proses produksi, pesan komunikator menyampaikan peristiwa yang ada dalam masyarakat sekelilingnya baik yang dilihat maupun yang dirasakan baik secara langsung atau tidak langsung ke dalam simbol-simbol komunikasi yang sesuai dengan persepsinya terhadap persoalan tersebut. Simbol-simbol itu selanjutnya diteruskan pada komunikan dalam bentuk pesan tertulis dan terdengar berupa lirik lagu sesuai dengan persepsi komunikator yang dipengaruhi oleh faktor politik, sosial dan budaya. Dengan demikian, biasanya untuk peristiwa yang sama ditanggapi lain oleh setiap orang. Hal ini menyebabkan isi pesan yang sama dapat berbeda makna pada komunikan yang berbeda karena perbedaan faktor politik, sosial dan budaya (Herusanto, 1987 : 1).

  2.1.9 Pengar uh Musik Ter hadap Pendengar nya Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony .demikian kata Ev. Andreas

  Christanday dalam suatu ceramah musik. “beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony roh”. Contoh paling nyata bahwa beat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak penonton maupun pemain dalam konser rock yang tubuhnya tidak bergerak.

  Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan “head banger” , suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama musik rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati sedang susah, cobalah mendengar musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur.

  Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horror, selalu terdengar harmoni (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam di sekelilingnya.

  “Musik yang baik bagi manusia adalah musik yang seimbang antara, beat, ritme, dan harmony”, ujar Ev. Andreas Christanday.

  Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan di tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu- lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari perbedaan yang sangat mencolok terlihat. Tanaman yang berada dekat dengan speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati. Sedangkan tanaman yang berada dekat dengan speaker lagu-lagu indah menjadi tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Alam semesta tercipta dengan musik yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia. Wulaningrum Wibisono, S.Psi mengatakan, “Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi” ( www.efekmusik.com , tanggal 9 mei 2012, pukul 22.00).

  Sedangkan lirik lagu sendiri juga mempunyai pengaruh terhadap seseorang yang menyanyikan lagu tersebut. Saat kita menyanyi, secara tidak sadar imajinasi kita muncul mengikuti lirik lagu yang kita bawakan. Jika lirik lagu tersebut bertemakan semangat kehidupan, maka semangat kita akan terbawa seiring lagu tersebut dinyanyikan. Namun jika lagu tersebut bermakna ambigu, atau bermakna ganda, dan salah satu konotasi dari lirik lagu tersbut berbau porno, maka secara tidak sadar, kita lebih membayangkan makna konotasi tersebut daripada makna sesungguhnya.

  2.1.10 Ker angka Berpikir Manusia adalah Homo Semioticus, dimana masing-masing individu mempunyai latar belakang pemikiran yang berbeda dalam memaknai suatu obyek atau peristiwa. Manusia dapat memproklamasikan sesuatu, apa saja sebagai tanda karena hal itu dapat dilakukan oleh semua manusia (Van Zoest, 1993). Selain faktor pengalaman dan tingkat pengetahuan seseorang tersebut yang berbeda-beda satu sama lain.

  Begitu juga manusia tersebut menciptakan sebuah pesan disampaikan dalam sebuah lirik lagu atau dalam sebuah lagu, maka secara otomatis pencipta lagu tidak terlepas dari dua hal tersebut diatas. Berdasarkan obyek penelitian dan yang ada, maka alur pemikiran dari peneliti terhadap lirik lagu “Lingsir Wengi” adalah lirik lagu dalam lagu “Lingsir Wengi” akan diintepretasikan dengan menggunakan pendekatan Semiotik Roland Barthes. Pada penelitian ini tidak menggunakan metode semiotik milik Saussure karena metode Saussure kurang mendalam dalam mengupas lirik lagu “Lingsir Wengi”.

  Pendekatan Saussure hanya berhenti pada signifier dan signified dan berujung kepada Signification (upaya member makna terhadap dunia luar), dimana dalam pendekatan Barthes, signifier dan signified termasuk pada tataran pertama yang disebut dengan denotasi (reality eskternal),sedangkan masih ada tataran kedua yang bernama konotasi yang isinya mengandung mitos dan berkaitan dengan budaya sekitar. Metode Roland Barthes menggunakan hubungan tiga tanda yaitu hubungan simbolik, hubungan paradigmatik, dan hubungan sintagmatik, sebagai pembacaan atas sebuah tanda, yaitu nantinya akan melandasi penggunaan lima macam kode hermenuitik, kode semik, kode simbolik, kode proaeretik, dan kode cultural untuk pemaknaan sebuah tanda. Kemudian proses pemaknaan melalui pembacaan dari kode-kode tersebut akan diungkap substansi dari pesan dibalik lirik lagu Lingsir Wengi dan pada tataran mitos akan mengungkapkan sistem penandaan tingkat kedua.

  BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotik yang bersifat deksriptif kualitatif –intepretatif (interpretation). Bogdan dan Taylor mengemukakan metode kualitatif sebagai berikut : metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada individu secara holistic (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu ke dalam variable atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai suatu kebutuhan (Moleong, 1998 : 3).

  Selanjutnya untuk menganalisis suatu sistem tanda komunikasi dalam lirik lagu “Lingsir Wengi”, penulis memandang tepat untuk menggunakan pendekatan semiotika. Penggunaan ini didasarkan pada Littlejohn dalam Semiotika komunikasi yang mengatakan bahwa : semiotika adalah suatu ilmu yang mempelajari tanda. Tanda tersebut menandakan sesuatu selain dirinya sendiri dan makna adalah hubungan suatu objek dengan ide dan suatu tanda (Littlejohn, 1996 : 64).

  Penelitian dengan menggunakan pendekatan semiotika merupakan penelitian pesan komunikasi yang bersifat deskriptif kualitatif. Alasan digunakannya metodologi kualitatif seperti Moleong antara lain metode kualitatif

  55 akan menyesuaikan apabila ditemukannya kenyataan ganda dalam penelitian. Metode ini juga sangat peka dan dapat menyesuaikan diri dengan penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola yang dihadapi. Peniliti menggunakan semiotik milik Barthes. Karena Barthes menganggap pemaknaan sebuah tanda tidak hanya berhenti sampai pada hubungan signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal (denotasi), tetapi juga interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai- nilai dari kebudayaan (konotasi) dan bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami suatu realitas, yang biasa disebut dengan mitos.

  3.2 Ker angka Konseptual Agar konsep ini semakin jelas batasannya, penulis mencoba memberikan batasan judul sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang lain dari judul yang ada. Adapun judul penelitian ini adalah Pemaknaan Lirik Lagu “Lingsir Wengi”. Secara konseptual penulis akan memberikan batasan-batasan dan menjelaskan istilah beberapa pengertian yang terdapat dalam judul skripsi ini. Enigma lirik lagu ini akan dibongkar melalui tiga hubungan tanda dan persilangan dari kelima kode pembacaan seperti yang telah disebutkan diatas.

  3.2.1 Cor pus Corpus merupakan sekumpulan bahan terbatas yang ditentukan pada perkembangannya oleh analisa dengan semacam kesemenaan. Corpus menurut

  Barthes, haruslah cukup luas untuk memberikan harapan yang beralasan bahwa unsur-unsurnya akan memelihara sebuah sistem kemiripan dan perbedaan yang lengkap. Corpus itu juga bersifat sehomogen mungkin, baik homogeny pada taraf substansi maupun homogeny pada taraf waktu (sinkroni) (Barthes, 2000 : 70).

  Corpus pada penelitian ini adalah seluruh kata-kata pada lirik lagu Lingsir Wengi yang ada pada ost film Kuntilanak 2006.

  Adapun lirik lagu Lingsir Wengi adalah sebagai berikut :

  Lingsir Wengi sliramu tumeking sirno Ojo tangi nggonmu guling Awas ojo ngetoro Aku lagi bang wingo-wingo Jin setan kang tak utusi Dadio sebarang Nanging wojo lelayu sebet

  3.2.2 Unit Analisis Unit analisis data dalam penelitian ini adalah tanda-tanda yang melekat pada lirik lagu Lingsir Wengi, yang kemudian di interpretasi dengan menggunakan tiga hubungan tanda yaitu hubungan simbolik, hubungan paradigmatic, dan hubungan sintagmatik sebagai pembacaan atas sebuah tanda, yang nantinya akan melandasi penggunaan lima macam kode menurut Barthes, yaitu kode hermeneuitik, kode semik, kode simbolik, kode proaeretik,dan kode cultural untuk sebuah tanda pemaknaan melaui pembacaan dari kode-kode tersebut akan diungkap substansi dari pesan di balik lirik pada lagu Lingsir Wengi dan pada tataran mitos akan mengungkapkan sistem penandaan tingkat kedua.

  3.3 Tehnik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder yang diperoleh dari : 1) Data Primer : pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mendengarkan secara langsung yang dimuat dalam sebuah format MP3 yang sudah di unduh dari situs www.4shared.com ( diakses pada tanggal 8 mei pukul 00.00) dan membaca serta memahami tiap kata per kata dari lirik lagu Lingsir Wengi yang di dapat datanya dari sebuah situs

  www.kaskus.us/liriklagulingsirwengi/ostkuntilanak2006 (diakses tanggal 9 mei 2012, pukul 02.30 ) sehingga dapat disebut sebagai data primer dalam penelitian.

  Selanjutnya data tersebut akan dianalisis berdasarkan konsep semiotik Roland Barthes. Data primer dari hasil penelitian ini kemudian digunakan untuk mengetahui makna apa yang terkandung dalam lirik lagu Lingsir Wengi tersebut ke dalam sistem tanda komunikasi berupa kata-kata kiasan atau lirik yang ada.

  2) Data sekunder : data yang berasal dari bahan-bahan referensi seperti buku, artikel-artikel, dan internet yang berhubungan dengan objek kajian yang akan diteliti.

  3.4 Metode Analisis dan Inter pr etasi Data Peneliti mengintepretasikan kata-kata atau lirik sebagai tanda yang terdapat pada lirik lagu Lingsir Wengi atau tanda dalam lagu tersebut. Tanda dalam kata per kata syair lirik lagu Lingsir Wengi menjadi corpus, dalam penelitian ini dikategorikan kedalam hubungan tanda dengan acuannya yang dibuat oleh Roland Barthes akan di ketegorikan dalam dua tahapan signifikasi konsep Roland Barthes.

  Langkah berikutnya adalah menganalisa tanda-tanda melalui tiga hubungan tanda yaitu hubungan simbolik, hubungan paradigmatik, dan hubungan sistematik. Melalui ketiga hubungan tanda itulah kemudian kode-kode pembacaan (leksia) akan di fungsikan untuk “membaca” penanda dalam kode-kode budaya yang disampaikan.

  Kemudian pada penggambaran lirik lagu Lingsir Wengi tersebut penanda mempunyai makna konotatif dari kiasan-kiasan yang ada pada baris-baris lirik lagu Lingsir Wengi. Sedangkan petanda mempunyai bentuk konotatif yang mana isi didalamnya berupa mitos, dan kata per kata dalam baris lirik lagu Lingsir Wengi itu sendiri merupakan sebuah tanda.

  Pada tataran pertama makna denotasi oleh penanda melalui hubungan petanda yang terdapat dalam tanda yang mana merupakan sebuah realitas.

  Sedangkan konotasi dari lirik lagu Lingsir Wengi sebagai tataran tahap ke dua merupakan pencerminan dalam sebuah kondisi kehidupan sosial budaya yang ada di dalam masyarakat, yang berupa mitos.

  BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.1 Hasil dan Pembahasan

  4.1.1 Gambar an Umum Obyek Penelitian Lagu Lingsir wengi pada awalnya dibawakan dengan iringan musik

  Gamelan atau gendhingan. Gendingan merupakan musik asli jawa yang biasanya digunakan dalam pagelaran wayang. Beberapa alat pendukungnya terdiri dari : kendhang, demun, saron, peking, gong dan kempul, bonang, slenthem, kethuk dan kenong, gender, gambang, rebab, siter dan suling.

  Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

  Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik

  60 India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya.

  Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

  Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

  Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini. Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

  Namun saat ini gamelan masih digunakan pada acara-acara resmi seperti pernikahan, syukuran, dan lain-lain. tetapi pada saat ini, gamelan hanya digunakan mayoritas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah.

  Kemudian pada era decade 2000an Lingsir Wengi mengalami perubahan musik dan liriknya, berganti menjadi lebih modern, dan kekinian, namun tidak meninggalkan wujud asli dari instrument yang lama. Bossanova Jawa merupakan gabungan musisi asal Semarang, yang kemudian membawakan ulang lagu Lingsir Wengi. Melalui grup ini lah Lingsir Wengi menjadi lagu yang menceritakan orang yang sedang kasmaran atau orang yang sedang rindu dengan pasangannya.

  Bossanova sendiri adalah musik bosas atau juga dikenal dengan bosanova aslinya memang dari latin. Bossa nova artinya adalah"tren baru" yaitu gaya musik Brazil yang diciptakan oleh Joao Gilbert dan dipopulerkan oleh Antonio Carlos Jobim (ingat The Girl form Ipanema) dan Moraes. Bossa nova memperoleh banyak pengikut, awalnya oleh musisi muda dan mahasiswa. Meskipun gerakan bossa nova hanya berlangsung enam tahun (1958–1963), gerakan ini telah menjadi standar musik jazz.

  Di Jawa, dengan kreativitas anak negeri dikawinkanlah Bossanova dengan tembang Jawa yang aslinya diiringi dengan musik keroncong atau campursari, dengan tetap mempertahankan bahasa Jawa, Bossanova mampu dibawakan dengan apik.

  Grup Bossanova Jawa pada tahun 2001, telah mengeluarkan Album Bossanova Jawa 1 yang disusul dengan Album Bossanova Jawa 2 (2003) dan terakhir Album Bossanova Jawa 3. Personil Bossanova Jawa merupakan gabungan musisi Semarang yang di pelopori oleh Wandy Gaotama J dari IMC Duta Record .

  Pipit Lisna adalah penyanyi pada album pertama, sedangkan pada album berikutnya adalah penyanyi Donna, Wening, dan Widya. Personil yang lain adalah Awig sebagai lead-guitar, Anang pada bass guitar, Rifai peniup saksofon, dan Bambang Progressio penggebuk conga dan alat perkusi. Melalui grup ini lah Lingsir Wengi mencoba di populerkan, namun sayangnya masyarakat masih belum banyak yang tahu/mendengar lagu ini, dan lambat laun pun, Lingsir Wengi versi Bossanova Jawa, menghilang.

  Kemudian pada tahun 2006, Lingsir Wengi kembali muncul dalam salah satu Soundtrack film Kuntilanak yang akhirnya dikenal luas oleh masyarakat sekarang. Melalui film ini Lingsir Wengi diubah dari segi musik dan liriknya menjadi lebih seram dan suram, sehingga mampu menciptakan suasana mistis bagi orang yang mendengarnya. Tanpa di iringi alunan musik, hanya seorang pesinden wanita dengan suara yang melengking. Hal ini lah yang membuat masyarakat menjadi yakin bahwa Lingsir Wengi adalah musik untuk memanggil roh Kuntilanak supaya datang kepada kita. Diceritakan pula dalam adegan film Kuntilanak, Julie Estele yang berperan sebagai Samantha, ketika ia mengalami keadaan yang terdesak maka ia akan menembangkan lagu ini dan segera sang Kuntilanak pun datang menghampiri.

  4.2 Penyajian dan Pemaknaan Data

  4.2.1. Penyajian Data Berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan terhadap syair lagu Lingsir

  Wengi, maka hasil pengamatan tersebut kemudian akan disajikan pemaknaannya setelah itu baru diketahui apa pesan yang terkandung di dalamnya.

  Pada lirik lagu Lingsir Wengi akan diintepretasikan dan dianalisis berdasarkan atas landasan Teori Roland Barthes, untuk mengetahui pengungkapan pemaknaan yang nantinya dalam hasil pemaknaan tersebut mengandung sebuah pesan sosial.

  Definisi tanda dari Roland Barthes unsur penanda (signifier) dan petanda (signified). Hubungan antara keduanya terdapat dua tahap yang disebut tataran pertama dan tataran kedua. Pada tataran pertama ini berupa realitas atau juga sebuah kenyataan dan juga tanda yang ada dalam masyarakat. Kemudian pada tataran kedua merupakan suatu pencerminana kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat.

  4.2.2. Lir ik Lagu Lingsir Wengi menur ut Semiologi Roland Bar thes Salah satu area yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Roland Barthes sebagai salah seorang pengikut Saussure membuat model sistematika dalam menganalisa makna dari tanda – tanda. Fokus perhatian Barthes lebih bertujuan pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two

  step of signification).

  Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier didalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah obyek, konotasi adalah bagaimana menggambarkannya.

  Dalam lirik lagu Lingsir Wengi, signifikasi dua tahap (two step of

  signification) yang dikemukakan berdasarkan Barthes yaitu sebagai berikut :

  Tahap I :

  1. Signifier atau penandanya adalah seluruh lirik dan syair yang berupa kata – kata dalam lagu Lingsir Wengi mulai dari lirik pertama sampai lirik terakhir.

  Lingsir Wengi Sliramu Tumeking Sirna Ojo Tangi Nggonmu Ngguling Awas Ojo Ngetoro Aku Lagi Bang Wingo – Wingo Jin Setan Kang tak Utusi Dadyo Sembarang Nanging Ojo Lelayu Sebet

  2. Signified atau Petandanya adalah makna atau konsep tanda yang ada dalam kata – kata yang dipergunakan oleh si pencipta lirik lagu Lingsir Wengi, sehingga tercipta sebuah pesan. Pencipta lagu Lingsir Wengi menggunakan konsep pemujaan dan menggunakan konsep makna konotasi dan denotasi menggunakan simbol kata – kata Lingsir Wengi dalam penyampaian sebuah pesan lewat lirik lagu tersebut.

  3. Denotasi adalah makna yang paling nyata dari tanda yang berupa realitas eksternal. Dalam lirik lagu Lingsir Wengi ini kata – kata yang mengandung makna denotatif antara lain :

  A) Lingsir

  B) Wengi

  C) Ngguling

  D) Lagi

  E) Lelayu

  F) Sebet

  G) Aku Tahap II :

  Konotasi merupakan istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai – nilai dari kebudayaannya. Konotasi adalah bagaimana menggambarkannya, jadi pada lirik Lingsir Wengi ini digambarkan oleh si pencipta lirik berdasar intepretasi penulis yaitu :

  A) Lingsir

  B) Wengi

  C) Ngguling

  D) Lagi

  E) Lelayu

  F) Sebet

  G) Aku Konotasi bekerja dalam tingkat subyektif, sehingga kehadirannya tidak disadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif sebagai tanda fakta denotatif. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah sebagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.

  Mitos dalam penelitian ini adalah menerangkan bahwa kebudayaan yang kita anut adalah budaya timur, dimana masih menganut aliran animisme dan dinamisme. Praktek pemujaan masih dapat kita temui di beberapa daerah pedalaman. Misalnya daerah Jawa Timur, seperti di desa Nganjuk, masih bisa kita temui pemujaan terhadap sesepuh desa yang dulu menyinggahi tempat tersebut. Sedangkan makna dari lirik lagu Lingsir Wengi sangat dalam dan luas untuk dilakukan interpretasi yang menggambarkan fenomena sosial yang terjadi disekitar kita.

  4.2.3. Pemaknaan Lir ik lagu Lingsir Wengi Pada lirik pembuka, pemcipta menggunakan kalimat berupa kata – kata kiasan. Pencipta lagu tidak menempatkan dirinya di dalam lirik lagu tersebut, namun pencipta menuliskan lirik lagu Lingsir Wengi secara obyektif dengan kejadian yang sedang terjadi atau akan terjadi. Pemaknaan lirik lagu Lingsir Wengi ini akan dilakukan peneliti dengan penjabaran makna tiap bait per bait.

  Judul lirik lagu ini adalah “Lingsir Wengi”, dimana Lingsir Wengi adalah satu keadaan atau situasi yang menggambarkan suasana sepi dan hening. Makna arti dari Lingsir Wengi adalah Menjelang Malam, yakni menunujukkan perpindahan waktu dari petang menuju tengah malam, antara pukul 19.00 sampai

  00.00. Menurut mitos jawa, terutama yang tinggal di pedesaan, perpindahan waktu inilah yang menyebabkan orang tua selalu melerai anak – anak nya yang masih kecil untuk tidak bermain diluar, karena akan mengundang maut. Selain itu para orang tua terkadang menakuti anak – anak mereka yang saat itu masih bermain di luar. Anggapan ini benar adanya karena bukan tidak mungkin apabila mereka yang masih bermain diluar pada jam – jam diatas takutnya akan membawa celaka kepada diri mereka sendiri.

  Kemudian kaitannya dengan mitos gaib yang beredar di masyarakat, Lingsir Wengi merupakan saat menjelang malam atau mendekati waktu malam, karena pada waktu ini makhluk alam ghaib mulai muncul dan melakukan aktivitasnya tak jauh beda dengan alam kita.

  Banyaknya kasus kesurupan yang sering terjadi akhir – akhir ini mungkin disebabkan kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak mereka yang masih bermain saat menjelang malam tiba. Inilah yang menjadi polemik di masyarakat, karena dunia kita dan dunia gaib berbeda. Maka dari itu, sejak jaman dahulu kala para nenek moyang selalu menyuruh anak - anaknya masuk ke dalam rumah ketika menjelang malam tiba.

  Perpindahan waktu inilah yang menjadi peringatan bagi kita semua, sebab waktu malam bagi mereka adalah waktu untuk beraktivitas. Terlebih masyatrakat jaman sekarang sudah tidak percaya dengan adanya larangan – larangan dari nenek moyang kita untuk tidak mengganggu kehidupan makhluk halus. Seperti kita kencing sembarangan di pohon tanpa permisi terlebih dahulu, atau mainan jalangkung.

  Lir ik Per tama lagu Lingsir Wengi ber bunyi :

  Lingsir wengi Sliramu tumeking sirna Ojo tangi nggonmu ngguling Awas ojo ngetoro

  Bait pertama terdapat kata – kata Lingsir Wengi yang berarti menjelang malam. Lingsir artinya menjelang, Menurut kamus bahasa Indonesia arti kata menjelang,adalah menghadap atau menyongsong. arti denotasi dari menyongsong adalah menemui hari (esok). Makna konotasi dari menjelang adalah keadaan dimana kita tidak akan tahu tentang apa yang akan terjadi esok harinya.

  Wengi artinya malam yang berarti waktu setelah matahari terbenam sampai matahari terbit. Denotasi dari malam adalah keadaan dimana situasi atau keadaan berpindahnya waktu dari sore menuju malam. Sedangkan makna konotasinya adalah waktu bagi para makhluk halus untuk melakukan aktivitasnya.

  sliramu tumeking sirna kata slira artinya bayang, sliramu berarti

  bayangmu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata bayang berarti sesuatu yang seakan – akan nyata, namun sebenarnya tidak ada. Mu merupakan kata ganti dari kamu yang artinya milik. Denotasinya adalah rupa yang terlihat belum jelas atau nampak. Sedangkan makna konotasinya adalah roh yang berwujud bayangan yang seolah ingin menampakkan diri.

  Sedangkan bait kedua yang berbunyi ojo tangi nggonmu ngguling. Ojo berarti jangan Menurut Kamus Bahasa Indonesia kata Ojo berarti jangan,dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya, sesuatu yang artinya melarang, atau tidak boleh. Kata tangi berarti bangun atau bangkit ; menurut kamus Besar Bahasa Indonesia artinya melakukan aktivitas, berdiri (dari duduk/tidur).

  Kata Nggonmu berarti tempatmu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya, ruang atau bidang yang didiami atau ditinggali. Ngguling makna denotasinya berarti sesuatu yang bentuknya bulat atau bundar dan makna konotasinya adalah orang yang sedang tertidur. (biasanya dengan memejamkan mata).

  Kata Awas berarti waspada, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya keadaan dimana kita dapat mengetahui atau melihat segala hal yang gaib (rahasia, dsb). Kata Ojo berarti jangan,dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya, sesuatu yang artinya melarang, atau tidak boleh.

  Kata Ngetoro artinya memperlihatkan atau menampakkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya membuat jadi terlihat atau dapat dilihat. Makna denotasi dari terlihat adalah melakukan sesuatu yang bisa dilihat. Sedangkan makna konotasinya adalah suatu bayangan yang seolah sedang memperlihatkan diri.

  Dari larik pertama sampai keempat pada bait pertama jika digabung menjadi satu akan menghasilkan makna bahwa sosok bayangan sedang berusaha menampakkan dirinya menjelang malam tiba. Namun jangan sampai bayangan itu menghampirimu karena kamu saat ini sedang berada di dalam ruangan, maka dari itu kamu jangan sampai menampakkan diri atau beranjak dari tempatmu tidur dan memperlihatkan dirimu.

  Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa waktu malam adalah waktu dimana kita tidak boleh melakukan aktivitas lainnya, karena malam adalah waktu bagi para makhluk gaib untuk melakukan aktivitasnya, si pencipta mengibaratkan waktu malam sebagai perpindahan waktu dunia nyata dengan waktu dunia gaib. Maka dari itu masyarakat sampai sekarang masih mempercayai bahwa malam merupakan waktu bagi makhlus untuk melakukan aktivitasnya, dan seharusnya kita disarankan untuk tidak mengganggu aktivitas mereka. Lir ik Kedua pada Lir ik Lagu Lingsir Wengi Ber bunyi :

  Aku lagi bang wingo wingo Jin setan kang tak utusi Dadyo sembarang Nanging wojo lelayu sebet

  Pada lirik kedua, bait pertama terdapat kata – kata aku lagi bang wingo –

  wingo. Aku yang berarti saya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya diri sendiri.

  Dalam denotasinya aku merupakan persamaan kata dari saya. Namun makna konotasinya aku disini adalah sang pencipta lagu atau yang menulis lagu.

  Kemudian terdapat kata – kata lagi artinya sedang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sedang berarti baru (akan) melakukan sesuatu. Makna denotasi dari sedang adalah cukup atau tidak terlalu banyak atau sedikit. Sedangkan makna konotasinya adalah keadaan dimana akan melakukan sesuatu. Bang artinya dalam, makna denotasi dari dalam adalah jauh ke bawah (permukaan). Sedangkan makna konotasinya adalah situasi yang menggambarkan seseorang yang tidak tenang.

  Lalu terdapat kata wingo – wingo dalam bahasa Jawa yang berarti Dwilingga atau Pengulangan kata dalam Bahasa Indonesia atau biasa disebut Reduplikasi (Sumarlam, 2004: 143). Wingo – wingo artinya marah atau gusar.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak senang (diperlakukan tidak sepantasnya, dsb).

  Kemudian pada bait selanjutnya terdapat kata – kata jin setan yang artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti makhluk halus. Jin berasal dari api sedangkan setan roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat.

  Kang tak utusi artinya telah ku utus, dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti sudah

  ku perintahkan. Sudah artinya menyatakan perbuatan yang telah terjadi. Ku merupakan kata ganti milik dari aku atau pronimial. Perintahkan artinya perkataan yang bermaksud untuk menyuruh.

  Apabila bait tersebut di gabung maka maknanya adalah bahwa si pencipta sedang dalam keadaan yang marah atau gusar karena sudah diganggu atau diusik, sampai – sampai ia memerintahkan jin dan setan untuk melampiaskan amarahnya.

  Bait selanjutnya terdapat kalimat dadyo sembarang, dadyo artinya jadilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dilakukan atau dikerjakan.

  Sembarang artinya apapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti segala sesuatu.

  Lalu bait selanjutnya terdapat kalimat nanging wojo lelayu sebet nanging artinya namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata penghubung antarkalimat. Wojo merupakan bentuk kata halus dari ojo atau krama

  inggil yang berarti jangan artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sesuatu

  yang tidak boleh dilakukan. Lelayu berarti membawa, makna denotasi dari membawa adalah memegang sesuatu, sedangkan makna konotasinya adalah mendatangkan atau mengakibatkan. Sebet artinya maut, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kematian.

  Apabila bait terakhir ini digabung, maka makna yang ada di dalamnya adalah si pencipta lagu meminta jin dan setan untuk menjadi apapun tapi jangan sampai membawa kematian.

  Bila bait pertama sampai bait ke empat di gabung, maka maknanya si pencipta saat itu sedang dalam keadaan yang marah atau gusar, sehingga ia memerintahkan jin dan setan untuk membalaskan amarahnya namun ia juga meminta kepada jin dan setan untuk menjadi apapun (dalam hal ini bentuk apapun) namun jangan sampai membawa maut atau kematian.

  4.2.4 Tiga Macam Hubungan Tanda

  1. Hubungan Simbolik Daya simbolisasi bertanggung jawab atas kejadian dan kelangsungan pertumbuhan kepribadian manusia dan atas pekerjaan-pekerjaan kreatif umat manusia. Hubungan simbolik muncul sebagai hasil hubungan tanda untuk diakui keberadaannya dan dipakai fungsinya tanpa tergantung pada hubungan dengan tanda yang lain. Kemandirian ini menjadikan tanda tersebut menduduki status simbol.

  Dalam Lirik Lagu Lingsir Wengi, kemandirian tanda atau hubungan simbolik merujuk pada aksi ekspresi seni dengan muatan pesan komunikasi lewat simbol-simbol yang disampaikan pada Lirik Lagu Lingsir Wengi tersebut. Kreasi simbolik nampak jelas pada Lirik Lagu Lingsir Wengi sebagai simbolisasi masyarakat yang multi budaya, khususnya di kalangan suku Jawa. Kesadaran simbolik berarti kesadaran akan tanda yang mengutamakan hubungan simbolik daripada hubungan-hubungan yang lain (paradigmatik dan sintagmatik). Barthes menggunakan istilah “in dept” (ke dalam) untuk mengukur gaung signification tanda tersebut. Kesadaran simbolik juga meliputi kesadaran kita akan “soliter” tanda tersebut karena tidak mempedulikan kedua hubungan tanda yang lain.

  Karya-karya yang mengutamakan hubungan simbolik memprioritaskan signified. Sedangkan apa yang diungkapkan lewat signifiers tidak terlalu penting apabila dibandingkan dengan signified. Konteks hubungan simbolik dalam karya seni tersebut adalah bahwa simbolisasi tanda pada Lirik Lagu Lingsir Wengi ini adalah merupakan representasi dari sebuah realita yang ada di dalam masyarakat.

  2. Hubungan Par adigmatik Hubungan virtual (paradigmatik, sistematik) adalah hubungan eksternal suatu tanda dengan tanda yang lain. Tanda lain yang bisa berhubungan secara paradigmatik adalah tanda – tanda satu kelas atau satu sistem. Hubungan paradigmatik ibarat hubungan saudara. Hubungan ini juga disebut hubungan virtual atau in absentia karena hubungannya benar – benar ada namun “saudara – saudara” yang dihubungkan tidak ada di tempat. Hubungan tanda ini bersifat vertical dan bercabang – cabang. Bahwa suatu tanda mempunyai akar ke atas dan mempengaruhi makna suatu tanda. Kesadaran, imajinasi, dan kreasi paradigmatik mengandalkan adanya tanda – tanda satu kelas. Tanda – tanda itu bisa menjadi satu kelas karena mempunyai “norma” serupa (close) namun tetap memiliki keunikannya (distinct) masing – masing. Hubungan paradigmatik berfungsi sebagai bahasa kebebasan, karena kesadaran yang diperoleh ibarat ujung tombak yang terus mencari – cari kemungkinan yang lain. Suatu tanda yang kental dengan hubungan paradigmatik biasanya tidak terikat oleh hubungan sintagmatik (wacana) dan juga tidak terikat pada signified. Dalam konteks Lirik Lagu Lingsir Wengi ini, tanda tersebut memiliki hubungan secara sistematik dengan tanda – tanda yang lain dalam satu kelas. Lirik lagu Lingsir Wengi ini adalah merupakan representasi seni yang merupakan manifestasi imajinasi dari sang kreator yang memiliki hubungan saudara dengan suatu simbol di kehidupan masyarakat.

  3. Hubungan Sintagmatik Hubungan aktual ini menunjukkan suatu tanda dengan tanda- tanda lainnya, baik yang mendahului atau mengikutinya. Hubungan sintagmatik mengajak untuk mengimajinasikan sesuatu ke depan atau memprediksi apa yang terjadi kemudian. Kesadaran ini meliputi kesadaran logis, kausalitas atau sebab akibat. Kesadaran sintagmatik adalah kesadaran untuk menciptakan struktur dan ini dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai unsur yang ada. Hubungan ini juga disebut dengan hubungan fungsional karena suatu tanda mempunyai hubungan sintagmatik dengan tanda lainnya sejauh tanda – tanda itu mempunyai fungsi satu sama lain. Dalam konteks lirik Lagu Lingsir Wengi ini sebenarnya hal itu adalah suatu tanda dengan pesan yang simbolis. Tidak hanya ekspresi seni dalam karya musik, melainkan merupakan suatu cerminan realitas yang ada tentang kehidupan manusia yang seringkali merasa di kecewakan oleh keadaan yang menimpa kepada dirinya. Pada dasarnya intensitas dan kualitas komunikasi jauh lebih signifikan berpengaruh daripada hal – hal jasmani yang menuntut untuk dipengaruhi dalam penyelesaian sebuah masalah.

  Kesadaran sintagmatik sangat sentral dalam hidup manusia, karena pada dasarnya manusia membutuhkan sesuatu yang masuk akal dan bermakna. Bahkan kalau manusia tidak berhasil menghubung – hubungkan berbagai objek yang yang berserakan, dia masih mengatakan bahwa itu adalah tanda dari ketidakbermaknaan (insignificant). Konteks hubungan sintagmatik dalam karya lirik lagu Lingsir Wengi ini adalah bahwa susunan kata – kata dalam lirik lagu ini merupakan susunan tanda yang terintegrasi. Kata – kata dalam lirik lagu tersebut mengimajinasikan suatu bentuk pesan kepada khalayak yang dapat diintepretasikan sesuai dengan kerangka pikirnya.

  Pendekatan semiologi Roland Barthes secara khusus kepada jenis tuturan (speech) yang disebut sebagai mitos. Mitos berasal dari bahasa Yunani mutos, berarti cerita dan biasanya dipakai untuk menunjuk cerita yang tidak benar, cerita buatan yang tidak mempunyai kebenaran historis. Menurut Barthes, bahasa membutuhkan kondisi tertentu untuk dapat menjadi mitos, yaitu secara semiotik dicirikan oleh hadirnya suatu tataran signifikasi yang disebut sebagai sistem semiologis tingkat dua (the second order semiological system). (Barthes, 1981 dalam budiman , 2004 : 63 – 64).

  4.2.5 Kode-Kode Pembacaan atau Lek sia

  1. Kode Semik (kode konotasi) yaitu kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda – penanda tertentu.

  Atau disebut dengan “tema”. Lirik lagu Lingsir Wengi merupakan penanda konotatif dan denotatif. Makna konotatif dari Lingsir Wengi adalah menjelang malam, dimana pada waktu itu merupakan waktu bagi para makhluk halus untuk beraktivitas. Makna denotatif Lirik lagu Lingsir Wengi tersebut telah membentuk persepsi masyarakat selaku komunikan sebagai waktu dimana kita mengistirahatkan badan atau tidur pada malam hari, setelah lelah beraktivitas.

  Makna konotatif dalam korpus lirik lagu Lingsir Wengi ini merupakan kode semik dari sebuah pesan yang merupakan simbolisasi dari sebuah situasi atau keadaan. Meskipun tanpa dijelaskan secara detail, kilasan makna lirik tersebut telah menarik perhatian orang yang mendengarkan lagu tersebut. Dalam konteks konotasi Lirik lagu Lingsir Wengi ini sekilas mengisyaratkan suatu keadaan dimana pada malam hari merupakan waktu yang dilarang bagi semua orang untuk melakukan aktivitasnya diluar, dan disarankan untuk tetap berada di dalam rumahnya. Secara konotatif makna situasi Lingsir Wengi tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah lambang atau simbol yang tidak boleh dilanggar.

  Pada dasarnya masyarakat memang menyukai hal – hal yang bersifat mistis atau gaib, karena memang sebagian dari masyarakat kita masih menganut beberapa aliran kepercayaan seperti contohnya aliran kejawen. Kebebasan mengeluarkan ide sangat tampak dalam lirik – lirik lagu ini, sehingga aliran konotatif dapat dimaknai bahwa jaman sekarang yang lebih modern justru membawa sebagian masyarakat untuk tetap bertindak aneh – aneh dengan men- Tuhankan atau menyekutui setan sebagai tempat untuk menambah rejeki atau mencari uang. Ketakutan yang muncul dalam lirik lagu ini adalah merupakan manifestasi rasa kecewa seseorang dalam menjalani kehidupan sehari – hari yang tidak kunjung usai diterpa berbagai cobaan hidup.

  Seperti yang kita tahu, semakin hari kebutuhan manusia semakin meningkat, perekonomian pun semakin tinggi, masyarakat yang tidak mampu bersaing maka akan tetap berada dibawah, atau tetap menjadi miskin. Maka dari itu sebagian dari masyarakat merasa kecewa sehingga mereka mencari alternatif lain guna menambah pengahasilannya yakni dengan memakai jalan pesugihan atau menyembah setan sebagai cara paling ampuh untuk mendapatkan uang dengan cepat.

  2. Kode Refer ensial, lirik Lagu Lingsir Wengi ini selain sebagai kode semik juga sebagai kode referensial atau kode kebudayaan. Kode ini bisa berupa pengetahuan atau kearifan (wisdom) yang terus menerus dirujuk oleh teks, atau yang menyediakan semacam autoritas moral dan ilmiah sebagai suatu wacana (Barthes dalam Budiman, 2004 : 57). Dari lirik lagu Lingsir Wengi, dapat diketahui tentang eksistensi sebuah tanda yang merujuk pada satu ikon tertentu. Menjelang Malam yang dimaksud tersebut diatas menunjukkan kepada khalayak bahwa waktu malam hendaknya dipakai untuk berkumpul atau bersantai bersama keluarga atau digunakan untuk beristirahat dari lelahnya aktivitas sehari penuh. Menjelang malam merupakan simbol dari perpindahan waktu. Dari pagi, sore, hingga menuju malam.

  3. Kode Her meunitik (kode teka – teki), adalah satuan – satuan yang dengan berbagai cara berfungsi untuk mengartikulasikan suatu persoalan, penyelesaiannya, serta aneka peristiwa yang dapat memformulasi persoalan tersebut, atau yang justru menunda – nunda penyelesaiannya, atau bahkan menyusun semacam teka – teki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaiannya (Barthes dalam Budiman , 2004 : 55). Lirik Lagu Lingsir Wengi mengandun banyak teka – teki yang baru dapat dimaknai setelah kita mengetahui dengan menyilangkan penanda – penanda lainnya. Leksia tersebut menunjukkan kepada khalayak tentang makna dibalik lirik lagu yang dianggap seakan – akan berbau mistis untuk dibicarakan karena lirik – lirik yang lugas diucapkan dan vulgar untuk menyampaikan suatu maksud tertentu. Padahal makna teka – teki dibalik lagu tersebut adalah bahwa sebagai orang Jawa, hendaknya kita tetap menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan tersulit sekalipun. Dan jangan pernah menTuhankan yang lain, ketika kita sedang dalam keadaan yang terhimpit dari berbagai macam persoalan hidup sehari – hari. Signifier tidak terlalu penting apabila dibandingkan dengan signified. Konteks hubungan simbolik dalam karya seni tersebut adalah bahwa simbolisasi tanda pada lirik lagu Lingsir Wengi ini adalah merupakan representasi dari sebuah realita yang ada di dalam masyarakat.

  4. Kode Pr oaer etik, merupakan kode tindakan “action”. Kode ini didasarkan atas konsep proaerisis, yakni “kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat dari suatu tindakan secara rasional”, yang mengimplikasikan suatu logika perilaku manusia. Pada Lirik Lagu Lingsir Wengi ini tersaji secara jelas bahwa setiap malam tiba, seseorang sedang berusaha untuk tidur terlelap dan tidak beranjak dari tempat tidurnya dikarenakan ketika menjelang malam tiba, merupakan waktu bagi para makhluk halus untuk beraktivitas. Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang menyuruh anak-anak mereka untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak melakukan aktivitasnya diluar rumah ketika malam tiba.

  5. Kode Simbolik, adalah “pengelompokan” atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya berulang-ulang atau secara teratur melalui berbagai cara dan sarana tekstual misalnya berupa serangkaian antithesis : hidup dan mati, di luar dan di dalam, dingin dan panas, dan seterusnya. Dalam konteks ini terdapat antithesis tentang perasaan “marah” atau gusar dan perasaan tentang ketakutan atau kecemasan yang ditandai dengan kata-kata maut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mengarungi kehidupan kita tidak akan pernah terlepas dari kematian atau maut yang setiap saat mengintai kita. Hidup dan mati hanyalah Tuhan yang tahu, kita sebagai masyarakat Jawa hendaknya selalu memanjatkan doa kita kepada Tuhan agar dijauhi dari hal-hal yang buruk.

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Kesimpulan Hasil pemaknaan Lirik Lagu Lingsir Wengi dengan menggunakan semiologi Barthes dengan menggunakan tataran kode-kode pembacaan, tiga macam hubungan tanda dan mitos pada korpus penelitian ini, maka peneliti memaknai Lirik Lagu Lingsir Wengi adalah sebagai berikut :

  1. Lirik Lagu Lingsir Wengi secara denotatif berbicara tentang situasi atau keadaan seseorang dimana pada saat menjelang malam tiba dia tidak melakukan aktivitas apapun kecuali sedang beristirahat dari lelahnya aktivitas seharian.

  2. Makna secara konotatif adalah menunjukkan kepada khalayak secara terbuka bahwa Lirik Lagu Lingsir Wengi ini disampaikan seseorang yang sedang dalam keadaan marah atau gusar, mencoba memanggil makhluk halus pada saat menjelang malam tiba. Dipanggilnya makhluk halus ini bertujuan untuk mencelakai siapapun yang sudah membuat ia marah, namun jangan sampai membawa kematian. Terhimpitnya kebutuhan ekonomi mendorong ia melakukan hal apa saja untuk mencukupi kebutuhan kehidupannya sehari – hari. Bukan tidak mungkin melalui jalan pesugihan yakni dengan memanggil makhluk halus dan mengorbankan orang lain untuk mendapatkan kepuasan baginya.

  82

  3. Sebagai teks, Lirik Lagu Lingsir Wengi mengacu pada pengetahuan kolektif atau pendapat umum tentang sesuatu kondisi moralitas manusia yang berorientasi kepada kebutuhan hidup secara jasmaniah.

  4. Pemaknaan dari kode referensial Lirik Lagu Lingsir Wengi yaitu cerminan realitas bahwa seseorang akan melakukan apapun dalam mencukupi kehidupannya sehari – hari. Merasa kecewa karena doa nya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan , maka ia menempuh jalan lain yakni dengan menyekutukan Tuhan dan berbalik menyembah setan dan jin sebagai permintaan pertolongan atas rasa kecewanya selama ini.

  5. Pada tataran mitos karya Lirik Lagu Lingsir Wengi adalah merupakan suatu bentuk cerminan kehidupan sosial dalam masyarakat. Dalam konsep gender, mitos tentang lagu pemanggil kuntilanak ini telah menjadi aspek yang tidak bisa diubah dalam kehidupan sehari – hari. Mitos tentang lagu ini menjadi ide transedental yang bersifat abadi dan tidak dapat diperdebatkan. Budaya kita yang masih menganut aliran kepercayaan telah menciptakan mitos tentang kodratnya manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, selalu meminta pertolongan kepadaNya bukan malah menyekutukan Tuhan dan berbalik menyembah jin dan setan sebagai alat untuk membantu kita dalam memecahkan kehidupan akan kebutuhan sehari – hari. Di dalam budaya yang masih menganut

  animisme dan dinamisme kekecewaan atas kehidupannya di dunia telah merubah

  cara pandang seseorang mengenai tataran bagaimana ia memandang Tuhan sebagai dzat yang seharusnya dimintai pertolongan dan petunjuk, selalu menyembah kepadaNya dan senantiasa berdoa kepadaNya agar kita tahu betapa hebat dan menakjubkannya pertolongan Tuhan yang diberikan kepada kita, bukan sebaliknya dengan meminta pertolongan kepada jin dan setan yang malah membuat ia semakin jauh dari pedoman agama. Sedangkan kaitannya dengan karya Lirik Lagu Lingsir Wengi tersebut adalah bahwa telah tersirat dan tersurat suatu pesan tentang ketidakberdayaan seseorang dalam menjalani kehidupannya selama ini telah membuktikan adanya kebenaran mitos yang telah beredar ditengah – tengah masyarakat tentang keberadaan makhluk halus, sebagai alat untuk membantu seseorang dalam mencukupi kebutuhan sehari – harinya yang semakin sulit karena tingkatan ekonomi yang semakin tinggi.

  Makna karya Lirik Lagu Lingsir Wengi pasti telah menimbulkan suatu enigma tersendiri dan menimbulkan intepretasi yang berbeda – beda pada setiap individu. Sifatnya yang subjektif membutuhkan kerangka dan referensi pengalaman yang cukup untuk memaknainya.

  5.2 Sar an Adapun saran yang dapat peneliti ajukan adalah :

  1. Supaya lebih terbukanya kajian semiologi terhadap objek penelitian dibalik tanda – tanda yang ada dalam masyarakat yang terwakili melalui karya- karya yang kreatif. Beragam tanda selalu menerpa manusia baik secara verbal maupun nonverbal, oleh karena itu untuk mengetahui makna yang terpendam diperlukan kajian yang lebih ilmiah untuk dikaji.

  2. Lirik lagu merupakan unsur penting dalam sebuah lagu. Oleh karena itu, para pencipta lagu kiranya dapat menciptakan lirik lagu yang tidak menimbulkan makna yang ganda atau ambigu dan mudah diintepretasikan secara negatif oleh khalayak yang ada.

  3. Para pencipta lagu agar labih berhati – hati dalam memilih kata-kata ataupun memilih penggunaan simbol dalam lirik lagu, karena pada masa sekarang, baik orang dewasa maupun remaja sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan dunia gaib, meskipun mereka tidak mengetahui secara jelas apa makna yang ada di dalam lirik tersebut.

  4. Himbauan kepada orang tua agar lebih memperhatikan anak-anaknya yang masih remaja dalam memilah-milah berbagai macam informasi yang masuk, dalam hal ini adalah masalah makna dalam lirik lagu.

  5. Bagi produser atau sutradara film sebaiknya mulai sekarang menciptakan lagu yang memiliki segmen khusus untuk bisa dikonsumsi oleh berbagai kalangan, jangan sampai membuat lagu yang sifatnya orang tersebut tidak mau mendengar atau takut untuk mendengarkan lagunya dan jangan pernah merubah tataran lagu yang sudah pakem baik dalam bentuk arti dan makna supaya tidak terjadi histeria di masyarakat.

  Daftar Pustaka Sumber Buku : Meleong, lexy, 2002. Metode Penelitian K ualitatif,Bandung : Penerbit, Remaja Rosdakarya.

  Koentjaraningrat, 1980. Beber apa Pokok Antr opologi Sosial, Jakarta : PT. Dian Rakyat. Para Pakar Budaya dari Lembaga Javanologi, 2007. Menggali Filsafat dan Budaya J awa, Jakarta : Penerbit. Prestasi Pustaka.

  Bustanudin, Agus, 2006. Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama, Jakarta : penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Effendi, Onong Uchjana, 2003. Ilmu Teor i dan Filsafat Komunikasi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Sobur, Alex, 2006. Semiotika Komunikasi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Terjemahan Indonesia-Jawa, Jawa-Indonesia, Yogyakarta : Penerbit Pustaka Mahardika. Mulyana, Dedy, 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar , Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

  Sumber Non Buku : Prameswari, P, 2007. Repr esentasi Budaya dalam Film Kuntilanak 2006, Skripsi UPN “Veteran” Jawa Timur Surabaya.

  Handayani, Tri, 2007. Pemaknaan Lir ik Lagu Cucak Rowo, Skripsi UPN “Veteran” Jawa Timur Surabaya. Sumber Inter net :

  http://indonesiaindonesia.com/f/46681-sugesti/ http://yahoo.com/f/49541-pengen-manggil-kuntilanak-lir ik-lagunya/ http://www.supr anatur al.com/ar tikel_mitos_Kuntilanak www.kaskus.us/lingsir wengi www.aksar ajawa.com www.ar tikata.com

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (94 Halaman)
Gratis

Tags

Analisis Semiotika Lirik Lagu Analisis Semiotika Dalam Lirik Lagu Contoh Analisis Semiotika Lirik Lagu Analisis Semiotika Pada Lirik Lagu

Dokumen yang terkait

ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
197
16
MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)
29
198
2
ANALISIS ISI LIRIK LAGU-LAGU BIP DALAM ALBUM TURUN DARI LANGIT
22
182
2
APRESIASI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN CERIWIS DI TRANS TV (Studi Pada Ibu Rumah Tangga RW 6 Kelurahan Lemah Putro Sidoarjo)
8
110
2
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
36
223
2
DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon", dan "BuKrim"
130
596
21
PEMAKNAAN MAHASISWA TENTANG DAKWAH USTADZ FELIX SIAUW MELALUI TWITTER ( Studi Resepsi Pada Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2011)
59
321
21
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
495
26
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
104
418
24
PEMAKNAAN BERITA PERKEMBANGAN KOMODITI BERJANGKA PADA PROGRAM ACARA KABAR PASAR DI TV ONE (Analisis Resepsi Pada Karyawan PT Victory International Futures Malang)
18
207
45
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2012 DI KOTA BATU (Studi Kasus Tim Pemenangan Pemilu Eddy Rumpoko-Punjul Santoso)
117
444
25
KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik dan Kontemporer)
4
94
24
Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)
8
82
57
DAMPAK INVESTASI ASET TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP INOVASI DENGAN LINGKUNGAN INDUSTRI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2012)
11
123
22
EFEKTIVITAS PENGAJARAN BAHASA INGGRIS MELALUI MEDIA LAGU BAGI SISWA PROGRAM EARLY LEARNERS DI EF ENGLISH FIRST NUSANTARA JEMBER
10
143
10
Show more