Penerapan standar pelayanan kefarmasian pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
167
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERAPAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN ASMA OLEH APOTEKER PADA SEPULUH APOTEK DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Suhartati Mentari Rurubua’ NIM : 108114139 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERAPAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN ASMA OLEH APOTEKER PADA SEPULUH APOTEK DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Suhartati Mentari Rurubua’ NIM : 108114139 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketika dunia berkata “Menyerahlah”, Harapan berkata “Cobalah Sekali Lagi”. . Roma 4 : 1-25, Markus 11 : 24, bahwa hiduplah dalam Iman, Percaya dan Pengharapan Karya sederhana yang kupersembahkan : Kepada Bapa disurga, Tuhan Yesus sang Juruslamatku atas semua berkat dan pernyertaannya dan Bunda Maria Alm. Papa Zeth yang pernah hadir menjadi Ayah yang luar biasa dalam hidupku Bapak dan Mama atas kasih sayang, dukungan, dan Doanya Adek Anne, Tri, Lin, Alex tersayang Orang yang aku sayangi, Sahabat-sahabatku, Almamater kebanggaanku… iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur dan berlimpah terima kasih kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Farmasi (S. Farm), pada Program Studi Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma. Pada awal proses penelitian dan penyusunan skripsi hingga selesainya, penulis telah banyak memperoleh bantuan berupa dukungan, bimbingan, arahan, hingga bantuan sarana dan prasarana dari berbagai pihak. Atas segala bantuan yang diberikan, penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada : 1. Orangtua yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang, yang telah bekerja keras demi membiayai kuliah saya, mendoakan dan selalu mendukung saya 2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma 3. Adek – Adek (Anne, Tri, Lin, Alex) atas segala doa, kasih sayang, dukungan, pengertian yang telah diberikan 4. Aris Widayati, M.Si., Ph. D., Apt. selaku pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bagitu banyak dukungan, bimbingan, ilmu, saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat selesai 5. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, saran dan kritik vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, saran dan kritik 7. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Dinas Perizinan Kota Yogyakarta yang telah memberikan izin dan membantu dalam menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan untuk penelitian 8. Bapak/ Ibu apoteker di apotek-apotek di Kota Yogyakarta yang telah berkenan untuk menjadi responden dalam penelitian ini 9. Mas Narto yang selalu membantu dalam membuat surat pengantar dari kampus untuk kebutuhan pelaksanaan penelitian 10. Ariben yang telah memberikan dukungan, kasih sayang, dan pengertian 11. Tere, Mirsha, Dika yang telah bersama-sama saling mendukung dan berjuang demi menyelesaikan skripsi 12. Teman-teman FKK B 2010 yang telah berdinamika bersama, belajar bersama selama proses perkuliahan. Terima kasih untuk kenangan manis yang kita buat bersama 13. Kak Sandi yang telah memberi semangat dan selalu mendoakan, serta teman-teman Sang-Torayan di Yogyakarta yang selalu memberi dukungan dan telah berjuang bersama untuk study di Yogyakarta. 14. Teman-teman Kost Difa untuk segala dukungan, doa, dan semangat yang diberikan. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................................... vi PRAKATA ................................................................................................... vii DAFTAR ISI................................................................................................. x DAFTAR TABEL......................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. xvii INTISARI...................................................................................................... xviii ABSTRACT.................................................................................................... xix BAB I PENGANTAR ................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 1. Permasalahan..................................................................................... 4 2. Keaslian penelitian ............................................................................ 5 3. Manfaat penelitian............................................................................. 6 B. Tujuan Penelitian .................................................................................... 8 1. Tujuan umum .................................................................................... 8 2. Tujuan khusus ................................................................................... 8 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA............................................................ 9 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Gambaran Umum Asma.......................................................................... 9 1. Pengenalan asma ............................................................................... 9 2. Epidemiologi asma............................................................................ 10 B. Perkembangan Profesi Kefarmasian ....................................................... 12 1. Periode tradisional (sebelum tahun 1940-an).................................... 12 2. Periode transisional (tahun 1960-1970) ............................................ 12 3. Periode masa kini (dimulai tahun 1970) ........................................... 13 C. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care)...................................... 13 D. Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) ............................................................................ 15 1. Pengkajian (assessment).................................................................... 15 2. Penyusunan rencana pelayanan (care plan development)................. 15 3. Tindak lanjut evaluasi (follow-up evaluation) .................................. 16 E. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek............................................. 16 1. Aspek sumber daya ........................................................................... 17 2. Aspek pelayanan ............................................................................... 19 F. Keterangan Empiris................................................................................. 36 BAB III METODE PENELITIAN................................................................ 37 A. Jenis dan Rancangan Penelitian .............................................................. 37 B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ......................................... 37 C. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 38 D. Subjek Penelitian..................................................................................... 39 E. Besar Sampel dan Teknik Sampling ....................................................... 40 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Metode Pengambilan Data ...................................................................... 41 G. Instrumen Penelitian................................................................................ 41 1. Perumusan pertanyaan-pertanyaan.................................................... 42 2. Pengujian panduan wawancara dan proses wawancara .................... 42 H. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data................................................... 43 1. Menentukan jadwal wawancara ........................................................ 44 2. Melaksanakan wawancara................................................................. 44 3. Melakukan analisis data .................................................................... 44 I. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian.................................................... 46 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 48 A. Karakteristik Demografi Responden....................................................... 48 B. Profil Pelaksanaan Pelayanan Resep pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta.............................. 50 1. Skrining administratif ....................................................................... 51 2. Skrining kesesuaian farmasetik......................................................... 54 3. Skrining pengkajian klinis ................................................................ 56 4. Proses penyiapan obat ....................................................................... 58 C. Profil Pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta............ 61 1. Bentuk kegiatan pelayanan informasi obat ....................................... 61 2. Penyampaian informasi obat ............................................................. 65 3. Bentuk persiapan sebelum melakukan informasi dan edukasi.......... 69 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Profil Pelaksanaan Konseling pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta.............................................. 75 1. Kegiatan konseling............................................................................ 75 2. Materi konseling................................................................................ 78 3. Prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling.................................... 79 4. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien terhadap pengobatan yang telah dijelaskan dokter .......................................... 84 5. Bentuk pertanyaan untuk memastikan pengetahuan pasien dan keluarganya ................................................................................ 85 6. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) ...................... 87 E. Profil Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta ...................... 93 1. Bentuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi untuk meningkatkan keberhasilan terapi pasien asma ................................ 93 2. Kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat (ESO) ................................................................................................ 94 F. Profil Pelaksanaan Edukasi dan Promosi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta.............................. 96 1. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan kepada pasien asma dan keluarganya (promosi)................................................................ 96 G. Profil Pelaksanaan Pelayanan Residensial (Home Care) pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta .............................................................................................. xiii 98

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pelayanan residensial (home care).................................................... 98 2. Langkah-langkah pelaksanaan pelayanan residensial (home care) ....................................................................................... 99 H. Ringkasan Pembahasan........................................................................... 101 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 107 A. Kesimpulan ............................................................................................. 107 B. Saran........................................................................................................ 108 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 110 LAMPIRAN.................................................................................................. 115 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................. 147 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Karakteristik demografi responden ....................................... 49 Tabel II. Bentuk skrining administratif................................................ 51 Tabel III. Alasan responden tidak melakukan skrining administratif secara lengkap.................................................. 53 Tabel IV. Ketentuan skrining kesesuaian farmasetik ............................ 54 Tabel V. Alasan responden tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik secara lengkap................................... 55 Tabel VI. Kegiatan skrining pengkajian klinis...................................... 56 Tabel VII. Kegiatan proses penyiapan obat............................................ 59 Tabel VIII. Alasan responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara lengkap ............................................................... 60 Tabel IX. Kegiatan pelayanan informasi obat....................................... 62 Tabel X. Alasan responden tidak melakukan penelusuran literature................................................................................ 64 Tabel XI. Jenis informasi obat............................................................... 66 Tabel XII. Informasi tambahan untuk pasien asma ................................ 67 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel XIII. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi........ 69 Tabel XIV. Sasaran pemberian konseling................................................ 76 Tabel XV. Materi konseling.................................................................... 78 Tabel XVI. Prosedur tetap pelaksanaan konseling................................... 80 Tabel XVII. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien............................. 85 Tabel XVIII. Bentuk pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan”...................... 86 Tabel XIX. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) .......... 87 Tabel XX. Frekuensi pelaksanaan konseling yang dilaksanakan oleh responden ...................................................................... 89 Tabel XXI. Bentuk monitoring dan evaluasi............................................ 93 Tabel XXII. Bentuk kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO ................ 94 Tabel XXIII. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan ............................ 96 Tabel XXIV. Kriteria pelayanan residensial bagi pasien asma................... 98 Tabel XXV. Langkah-langkah dalam pelaksanaan pelayanan residensial.............................................................................. xvi 100

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan Data kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta .................. Lampiran 2. Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ................................................................... Lampiran 3. 116 Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.................................................. Lampiran 4. 115 117 Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan Data (Wawancara) kepada Apoteker Pengelola Apotek di Apotek-Apotek Tempat Meneliti di Kota Yogyakarta ............................................................................ 118 Lampiran 5. Daftar Sampel 10 Apotek di Kota Yogyakarta ..................... 119 Lampiran 6. Panduan Wawancara Terstruktur .......................................... 120 Lampiran 7. Matriks Pertanyaan Wawancara Terstruktur......................... 141 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penyakit asma merupakan masalah kesehatan yang serius. Penderita asma diperkirakan 25,9 juta dan terus meningkat serta menduduki urutan ke tiga penyebab kunjungan pasien ke rumah sakit di Yogyakarta. Salah satu penyebab kekambuhan adalah ketidakpatuhan pengobatan pasien. Apoteker wajib melaksanakan pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) untuk pasien meliputi pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi, edukasi dan promosi, serta pelayanan residensial yang berpengaruh pada kepatuhan pengobatan pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran kesesuian penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Jenis penelitian adalah observasional dengan mengambil data selama periode Februari 2014 - Maret 2014 melalui wawancara terstruktur terkait penerapan Pharmaceutical care kepada apoteker. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif secara thematic dan content analysis dengan melihat acuan standar yang ditetapkan. Pemaparan hasil ditampilkan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian dari 12 responden diketahui bahwa penerapan Pharmaceutical care untuk pasien asma di sepuluh apotek belum dilakukan secara optimal dan belum memenuhi standar pelayanan kefarmasian dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Oleh karena itu perlu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian oleh apoteker dengan melaksanakan standar yang berlaku. Kata kunci : Pelayanan kefarmasian, kualitatif, apoteker, pasien asma, apotek xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Asthma is a serious health problem. An estimated 25.9 million people with asthma and continues to increase also ranks the third leading cause of patient visits to the hospital in Yogyakarta. One cause of relapse is noncompliance treatment of patient. Pharmacist are required to implementing pharmaceutical care for patient include prescriptions, drug information services, counseling, monitoring and evaluation, education and promotion, also home care that affect patient treatment compliance. The purpose of the study was to determine the suitability overview of the application of pharmaceutical care to patient with asthma by pharmacists in ten pharmacies at Yogyakarta City with reference of the standard Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. This research was observational type with taken the data during the period February 2014 - March 2014 through a structured interview related to the implementation of Pharmaceutical care to pharmacist. The data was analized with qualitative approach thematically and content analysis by referring to the established standarts. Exposure results displayed in tabular form. The results of the study from 12 respondents found that the application of pharmaceutical care for patient with asthma in ten pharmacies was not performed optimally and not meet the standard of pharmaceutical care in Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yet. Therefore necessary efforts to improve the quality of pharmaceutical services by pharmacist with implement the applicable standard. Keywords: Pharmaceutical care, qualitative, pharmacist, patient with asthma, pharmacies xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Asma saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data National Health Interview Survey (NHIS) memperkirakan 25,9 juta orang menderita asma dimana 7,1 juta adalah anak-anak (NHIS, 2011). Hasil prediksi Departemen Kesehatan RI, kasus pasien dengan penyakit asma di Indonesia pada tahun 1996 adalah 5% meningkat mencapai 15% pada tahun 2005 (Suryaningnorma, 2009). Khusus daerah Yogyakarta prevalensi penyakit asma sebesar 3,46% (Oemiati, 2010). Beberapa penelitian mengemukakan bahwa peningkatan kejadian serangan kekambuhan pada penderita asma khususnya anak-anak menyebabkan mereka harus absen sekolah. Di Asia anak-anak tersebut kehilangan 16% hari sekolah, 43% hari sekolah untuk anak-anak di Eropa, dan 40% hari sekolah untuk anakanak di Amerika Serikat (Health,2005). Penderita asma dengan derajat kekambuhan sedang hingga besar untuk orang dewasa yang berprofesi sebagai pekerja harus melakukan absen kerja lebih dari 6 hari per tahun sebesar 19,2%, dan pada penderita asma dengan derajat kekambuhan ringan sebesar 4,4% (Sundaru,2007). Tahun 1998 di Amerika serikat menyebutkan bahwa serangan asma merupakan penyebab rawat inap jangka pendek terbesar. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut sebanyak 166.000 pasien asma menjalani rawat inap. Tahun 1995, biaya pengobatan asma mencapai 250 juta dollar AS dan 1,2 milyar dollar AS 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 biaya yang keluar akibat hilangnya hari sekolah anak-anak yang terserang asma, aktifitas atau biaya lain yang berkaitan (ISAAC, 1998). Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta juga menyatakan bahwa asma menduduki peringkat ke-3 penyebab peningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit, bahkan sempat menduduki peringkat pertama pada tahun 2010. Selain itu, survey yang dilakukan oleh Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 menyatakan sebanyak 225.000 orang meninggal dikarenakan asma dan dari jumlah tersebut sebanyak 16,4% kejadiannya terjadi di Kota Yogyakarta (Dinkes D.I Yogyakarta, 2012). Angka kejadian kekambuhan asma pada dasarnya dapat dicegah dan diminimalisir (Lahdensuo, 1999). Pencengahan tersebut dilakukan dengan menerapkan manajemen asma sehingga dapat membantu memperbaiki kualitas hidup dan menurunkan kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD), mengurangi biaya perawatan secara lebih efektif dan mengurangi kekambuhan asma. (Lahdensuo, 1996). Pengobatan Asma dibagi dalam 2 metode yaitu Long-term controller (Pengontrol jangka panjang) dan Quick Reliever (Pereda Jangka Pendek). Dua metode tersebut mutlak memerlukan kepatuhan pengobatan pasien asma (Dipiro, 2005). Pengobatan yang efektif akan tercapai jika terapi dan pengunaan obat dilakukan secara tepat. Namun, menurut survei ditemukan hampir 50% pasien tidak bereaksi secara tepat terhadap kekambuhan asma dan tidak menaati pengobatan asma (Lahdensuo, 1999). Terkait hal tersebut, tenaga kesehatan memiliki peran dalam membantu proses pengobatan pasien asma dengan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 mengetahui hubungan terapi yang baik, keefektifan terapetik dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien (Depkes RI, 2007). Salah satu tenaga kesehatan yang berperan adalah tenaga kefarmasian terutama apoteker sebagai tenaga profesional yang bertugas untuk memberikan pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care). Pharmaceutical care merupakan bentuk pelayanan yang lebih menekankan pada patient oriented dimana apoteker memegang peran penting dan bertanggung jawab untuk mewujudkan tercapainya penggunaan obat yang rasional, aman dan efisien sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat terselenggara dengan memberikan edukasi, mengarahkan pasien terkait pemeriksaan diri, memberikan motivasi kepada pasien agar patuh dalam pengobatan, memberikan informasi, memantau penggunaan obat, memberikan konseling dan membantu pencatatan untuk pelaporan yang tentunya harus disertai dengan bekal pengetahuan yang memadai dan sesuai dengan standar pelayanan Apoteker (Depkes RI, 2007). Mengingat pentingnya pemberian pelayanan kefarmasian yang memiliki pengaruh terhadap kepatuhan dan peningkatan kualitas hidup pasien, maka ditetapkan standar pelaksanaan kefarmasian di apotek dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 sebagai salah satu pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam melaksakan pelayanan kepada pasien (Depkes RI, 2009). Melalui standar yang ditetapkan ini diharapkan apoteker dapat mengaplikasikannya dalam praktek pelayanan kefarmasian yang berjalan di apotek. Terkait hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 mengenai “Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta” dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 . 1. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa tingkat kekambuhan penyakit asma masih menjadi masalah serius di dunia termasuk Indonesia seperti di Kota Yogyakarta. Faktor penyebab tingginya kekambuhan penyakit asma dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah ketidakpatuhan pasien asma terhadap pengobatan. Apoteker memiliki peran penting untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien dengan memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah melihat kesesuaian penerapan standar pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengunakan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Terkait hal tersebut, beberapa hal penting yang akan diidentifikasi adalah : a. Seperti apa pelayanan resep pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? b. Seperti apa pelayanan informasi obat pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? c. Seperti apa pelayanan konseling pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ?

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 d. Seperti apa monitoring dan evaluasi pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? e. Seperti apa edukasi dan promosi pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? f. Seperti apa pelayanan residensial (home care) pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta ? 2. Keaslian penelitian Penelitian yang lain oleh Sukmajati (2008) yang berjudul “Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 di Kota Yogyakarta”. Sukmajati (2008) melakukan penelitian pada semua aspek yang terdapat dalam standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 di Kota Yogyakarta, sedangkan pada penelitian ini lebih ditekankan kesesuaian penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma berdasarkan aspek pelayanan menurut standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. Pernah dilakukan penelitian mengenai “Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek di Kota Medan Tahun 2008” oleh Ginting (2009). Perbedaan dengan penelitian ini ialah pada penelitian Ginting (2009) dilakukan penelitian yang menekankan pada penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek secara umum dan menyeluruh berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004, sedangkan pada penelitian ini lebih ditekankan kesesuaian penerapan Pharmaceutical care oleh apoteker pada pasien asma

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 dengan menggunakan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Selain itu lokasi tempat penelitian berbeda, dimana pada penelitian Ginting (2009) dilakukan di kota Medan sedangkan pada penelitian ini dilakukan sepuluh apotek Kota Yogyakarta. Pernah dilakukan penelitian mengenai “Analisis Aplikasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kota Yogyakarta” oleh Atmini, Gandjar, dan Purnomo (2011). Perbedaan dengan penelitian ini ialah pada penelitian Atmini dkk. (2011) ingin melihat gambaran pelaksanaan standar pelayanan farmasi secara umum dengan responden apoteker, karyawan dan pasien, sedangkan pada penelitian ini ingin melihat penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis. Memberikan gambaran terkait kesesuian maupun hal yang tidak sesuai dalam “Penerapan Pharmaceutical care pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta” menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. b. Manfaat praktis. Hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan sebagai: 1) Bahan evaluasi bagi pihak-pihak yang terkait, berkenaan dengan pelaksanaan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 yang dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi atau Dinas Kesehatan Kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2) Memberikan gambaran bagi mahasiswa farmasi atau calon apoteker yang tertarik dalam pelayanan di apotek terkait penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma yang dilakukan oleh apoteker dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. 3) Sebagai bahan kajian bagi apotek-apotek dalam rangka upaya evaluasi untuk pembinaan kedepan demi peningkatan mutu, efisiensi pelayanan terhadap pasien asma oleh apoteker maupun tenaga kefarmasian lainnya yang bekerja di apotek sehingga dengan demikian diharapkan akan berpengaruh pada tingkat pemahaman dan kepatuhan pasien pasien asma, menurunkan tingkat keparahan serangan asma dan meningkatkan kualitas hidup penderita asma. 4) Sebagai bahan kajian untuk memberikan gambaran terkait penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker di apotek yang baru, mengingat standar yang digunakan adalah Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yang merupakan standar pelayanan kefarmasian di apotek.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui gambaran penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. 2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi pelayanan resep yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. b. Mengidentifikasi pelayanan informasi obat yang diberikan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. c. Mengidentifikasi pelayanan konseling yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. d. Mengidentifikasi monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. e. Mengidentifikasi edukasi dan promosi yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. f. Mengidentifikasi pelayanan residensial (Home care) yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Asma 1. Pengenalan asma a. Pengertian. Asma adalah salah satu penyakit inflamasi kronis pada saluran napas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya mengi episodik, batuk, dan sesak yang terasa di dada disebabkan karena terjadinya penyumbatan saluran napas (GINA,2007 dan Bernstein, 2003). Menurut Nelson (1996), asma didefinisikan sebagai tanda dan gejala Wheezing atau mengi dan atau batuk yang memiliki karakteristik seperti ; timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung terjadi pada malam hari atau dini hari (nocturnal), bersifat musiman, adanya aktivitas fisik sebagai faktor pencetus yang reversibel baik secara spontan maupun karena terjadinya penyumbatan, faktor pencetus lain yaitu adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien atau keluarganya b. Faktor penyebab asma. Faktor yang mempengaruhi terjadinya asma dibagi menjadi 2 faktor yaitu : faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor pemicu antara lain : alergen seperti binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), jamur, kapang, atau pajanan asap rokok. Faktor pemacu 9

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 antara lain adalah : ozon, rinovirus, dan pemakaian β2-agonis (Depkes RI, 2009). c. Tanda dan gejala asma. Pada penderita asma, tanda awal yang bisa dikenali untuk indikasi pasien tersebut mendapat serangan asma adalah pasien akan mengalami perubahan pola pernapasan, mengalami bersinbersin, hidung mampat, tengggorokan terasa gatal, mengalami susah tidur, tidak dapat melakukan olahraga yang berat seperti orang sehat normal lainnya, batuk, terjadi penurunan prestasi dalam penggunaan Peak Flow Meter, dan mudah merasa lelah (Depkes RI, 2007). 2. Epidemiologi asma Penyakit asma diketahui memiliki prevalensi yang tinggi serta tergolong dalam penyakit kronik. Di Negara maju maupun di Negara berkembang, ditemukan sebagian besar penyakit asma diderita oleh anak dan orang dewasa. Penderita asma didunia tercatat mencapai 300 juta manusia yang disertai dengan kejadian kekambuhan pada penderita tersebut dan angka ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pada tahun 2025 hingga mencapai 400 juta manusia (Masoli, 2004). Menurut penelitian, di Indonesia mengalami peningkatan kasus penyakit asma. Penelitian lain menyebutkan, setiap tahunnya hampir separuh dari pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan masuk ke bagian gawat darurat. Penyebab dari hal tersebut adalah manajemen dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang seharusnya (GINA, 2007 dan Bernstein, 2003).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Penelitian yang pernah dilakukan di Australia pada tahun 1982 diketahui sebesar 12,9% masyarakatnya menderita asma pada usia 8-11 tahun, kemudian terjadi peningkatan pada tahun 1992 sebesar 29,7%. Hasil yang bervariasi ditunjukkan di Indonesia, di beberapa Kota besar seperti Yogyakarta prevalensi penderita asma ditemukan sebesar 4,8%, 7,99% di Menado, 8,08% di Palembang, dan 17% di Ujung Pandang (Naning,1991). Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 mengemukakan bahwa tercatat sebanyak 225.000 orang meninggal karena asma dari jumlah tersebut sebanyak 16,4 % kejadiannya terjadi di Kota Yogyakarta. Penelitian oleh Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta menyatakan bahwa asma selalu menduduki peringkat 3 besar penyebab peningkatan kunjungan pasien, bahkan pada tahun 2010 asma bergeser menduduki urutan peringkat pertama (Dinkes D.I Yogyakarta, 2012). Penelitian lain menemukan bahwa akibat terjadinya kekambuhan asma, anak-anak yang bersekolah harus kehilangan 16% hari sekolah, di Eropa kehilangan 43% hari sekolah, di Amerika Serikat 40% kehilangan hari sekolah (Health, 2005). Untuk orang dewasa yang berprofesi sebagai pekerja kehilangan19,2% hari kerja untuk kasus derajat kekambuhan sedang hingga besar dan 4,4% untuk orang dewasa dengan derajat kekambuhan tergolong ringan (Sundaru, 2007).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 B. Perkembangan Profesi Kefarmasian Sebelum tahun 1940-an profesi kefarmasian terus mengalami perubahan. Dalam perkembangan sejarahnya profesi kefarmasian mengalami beberapa tahap perubahan periode. 1. Periode tradisional (sebelum tahun 1940-an) Pada periode ini pekerjaan seorang farmasi masih berorientasi pada penyediaan, pembuatan/peracikan, dan pendistribusian produk yang berkhasiat sebagai obat. Setelah terjadi perkembangan dalam perindustrian, banyak perusahaan-perusahaan yang memproduksi obat dalam skala besar yang menyebabkan profesi farmasis menjadi menyempit dikarenakan peracikan obat menjadi semakin jarang (Ikawati, 2010). 2. Periode transisional (tahun 1960-1970) Pada periode ini adalah masa dimana terjadi perkembangan penemuan- penemuan obat-obat baru. Seiring penemuan obat-obat baru tersebut, jumlah produksi obat pun menjadi semakin besar. Namun demikian, hal ini ternyata menimbulkan masalah baru dimana terjadi peningkatan permasalahan kesehatan di masyarakat terkait penggunaan obat, diantaranya adalah terjadinya efek samping obat, interaksi antar obat, adanya teratogenesis, dll. Pada akhirnya, tuntutan masyarakat terkait mutu pelayanan medis menjadi meningkat yang berdampak pada harapan adanya tenaga profesional yang memiliki pengetahuan mengenai pengobatan terutama pengetahuan terkait masalah-masalah kesehatan yang muncul pada saat itu. Dalam hal ini, tenaga yang dimaksud tidak lain adalah tenaga farmasis (apoteker) sehingga dikenal istilah farmasi klinik (Ikawati, 2010).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 3. Periode masa kini (dimulai tahun 1970) Pada periode ini terjadi perubahan dalam praktek kefarmasian dikarenakan adanya tuntutan pelayanan farmasi yang tidak lagi berorientasi hanya pada produk saja namun bergeser lebih pada pelayanan terhadap pasien. Periode ini juga dikenal dengan periode Pharmaceutical care (Pradipta, 2011). Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) merupakan upaya peningkatan kesehatan yang diberikan dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat dimana pelayanan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan pekerjaan kefarmasian terutama dalam profesinya sebagai Apoteker (Kepmenkes RI, 2008). C. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) Pharmaceutical care adalah rancangan dasar dalam pekerjaan kefarmasian yang menyiratkan suatu tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan dalam pemberian obat pada pasien. Bentuk tanggung jawab itu sendiri antara lain adalah dalam bentuk pelayanan. Pharmaceutical care dapat dijadikan penuntun bagi tenaga kefarmasian untuk menerapkan suatu pelayan terhadap pasien (IAI DIY, 2010). Dalam pekerjaan kefarmasian seseorang dengan profesi apoteker memiliki tanggung jawab dalam bentuk pelayanan demi meningkatkan kualitas hidup pasien, hal ini disebut dengan asuhan kefarmasian (Pharmaceutical care) (Depkes RI, 2009). Tujuan akhir dalam Pharmaceutical care adalah pencapaian hasil terapi yang optimal baik dari segi penyakit yang sembuh, gejala penyakit yang hilang,

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 memperlambat proses penyakit, ataupun pencegahan terhadap suatu penyakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (Trisna, 2007). Pelayanan yang diberikan haruslah dapat dipertanggung jawabkan dan memenuhi aturan yang berlaku, sehingga ditetapkanlah suatu Undang-Undang yang mengatur tentang pelayanan kefarmasian baik itu di Rumah Sakit maupun di apotek. Salah satu keputusan yang dirancang oleh Departemen Kesehatan RI adalah SK Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Kepmenkes RI, 2008). Dalam Pharmaceutical care terdapat 2 hal yang sangat ditekankan, yaitu : 1. Pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien 2. Membuat komitmen untuk dapat meneruskan pelayanan setelah dimulai secara terus-menerus (Lukmanto, 2007). Menurut Hepler and Strand (1990) dalam Pharmaceutical care memiliki 3 fungsi utama yaitu : 1. Mengidentifikasi secara aktual dan potensial terkait masalah yang berkaitan dengan obat 2. Menangani masalah yang berhubungan dengan kejadian Drug Related Problem (DRP) 3. Menghindari kemungkinan terjadinya masalah yang erat kaitannya dengan obat .

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 D. Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) Pada penerapan Pharmaceutical care, apoteker memiliki peranan penting untuk mendidik pasien yang berdampak pada sikap atau perilaku positif pasien dalam berkontribusi untuk mendukung pencapaian terapi pengobatan yang dijalaninya (ASHP, 1993). Terdapat standar perawatan yang ditetapkan bagi apoteker yang berperan sebagai praktisi. Standar yang ditetapkan ini merupakan sekumpulan harapan yang diharapkan dari kinerja seorang praktisi dari segi individual (Cipolle, Strand, and Morley, 2003). 1. Pengkajian ( assessment ) a. Pada kategori ini, praktisi wajib untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk digunakan dalam mengambil keputusan terkait terapi obat yang diberikan kepada pasien. b. Praktisi wajib untuk menganalisis pengkajian data untuk melihat apakah kebutuhan pengobatan pasien telah terpenuhi, sudah tepat, sudah paling efektif, paling aman, dan pasien mampu serta bersedia untuk mengambil obat yang diberikan. c. Praktisi melakukan analisis terhadap pengkajian data untuk menentukan apakah terdapat masalah terkait terapi pengobatan yang dijalani pasien (Cipolle et al, 2003). 2. Penyusunan rencana pelayanan ( care plan development ) Praktisi melakukan identifikasi tujuan terapi yang diberikan kepada pasien, selanjutnya praktisi dapat mengembangkan rencana perawatan yang

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 berguna untuk menyelesaikan masalah terapi pengobatan, mencapai tujuan terapi dan mencegah terjadinya masalah dalam pengobatan, dilanjutkan penentuan jadwal sebagai bentuk tindak lanjut dan evaluasi untuk melihat efektifitas pengobatan dan menilai kejadian efek samping obat yang mungkin dialamin oleh pasien (Cipolle et al, 2003). 3. Tindak lanjut evaluasi ( follow-up evaluation ) Praktisi wajib melakukan evaluasi hasil nyata yang dialami pasien dan menetapkan sejauh mana kemajuan pasien terhadap pencapaian terapi, menentukan jika ada masalah terhadap keamanan atau kepatuhan pasien, dan menilai apakah ada masalah baru yang muncul dari pengobatan pasien (Cipolle et al, 2003). E. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Apotek adalah suatu tempat dilaksanakannya kegiatan dan tugas terkait kefarmasian, penditribusian sediaan farmasi dan pemberian edukasi kepada masyarakat. Apotek berguna sebagai tempat bagi apoteker untuk mengabdikan diri sesuai perannya, memfasilitasi pelaksanaan compounding, pencampuran, dan penyaluran obat maupun sarana perbekalan farmasi kepada masyarakat yang memerlukan tanpa terkecuali (Kepmenkes RI, 2008). Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang dikepalai oleh seorang apoteker. Apoteker sebagai pengelola tentunya harus memenuhi standar pelayanan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 praktek kefarmasian khususnya praktek sebagai apoteker yang berorientasi terhadap pasien atau masyarakat yang membutuhkan (Kemenkes RI, 2008). Tujuan dari penetapan standar pelayanan kefarmasian yaitu sebagai panduan bagi apoteker dalam melaksanakan praktek kerja sesuai dengan profesinya sehingga dapat sekaligus melindungi masyarakat / pasien dari pelayanan yang tidak profesional dan juga sebagai perlindungan bagi profesi dalam rangka menjalankan praktek kerjanya (Kepmenkes RI, 2008). 1. Aspek sumber daya a. Sumber daya manusia. Dari segi sumber daya manusia, pengelolahan apotek yang baik apabila memiliki tenaga apoteker yang handal dan profesional dalam menjalankan pelayanan kefamasian. Apoteker adalah lulusan yang menimbah ilmu dibidang perguruan tinggi Farmasi, telah lulus sarjana, menempuh pendidikan lanjutan untuk gelar profesi apoteker dan telah mengucapkan sumpah profesi apoteker berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tersertifikasi keprofesiannya yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker (Anonim, 2004). b. Sarana dan prasarana. Sumber daya manusia yang memadai untuk melakukan aktifitas pelayanan kesehatan di apotek tidak dapat berjalan apabila tidak didukung dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, sehingga rancangan sarana dan prasarana juga menjadi pendukung berjalannya pelayanan kesehatan yang efektif. Sarana dan

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 prasarana yang diadakan haruslah sesuai dengan kebutuhan apotek dan dapat membantu keefektifan kinerja pelayanan oleh apoteker ataupun tenaga kesehatan lain yang bekerja di apotek serta membantu menfasilitasi kebutuhan pasien atau masyarakat. Kebersihan, kenyamanan, kelengkapan perabotan, susunan dena ruang berdasarkan kepentingan masing- masing khususnya untuk pelayanan, penyimpanan produk kefarmasian menjadi hal yang perlu diperhatikan demi mendukung pelaksanaan pelayanan kefarmasian di Apotek (Anonim, 2004). c. Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan merupakan suatu kegiatan terstruktur. Kegiatan tersebut berupa perencanaan untuk menentukan sediaan ataupun perbekalan kesehatan yang dibutuhkan di apotek, pengadaan untuk menyediakan sediaan ataupun perbekalan farmasi yang telah ditetapkan yang dilakukan melalui prosedur resmi sesuai aturan perundang-undangan, penyimpanan sebagai upaya pemeliharaan sediaan dan perbekalan farmasi dengan tujuan agar kualitas dan keamaannya pun dapat terjaga dengan baik dan penyerahan sediaan atau perbekalan kesehatan kepada yang kegiatan yang membutuhkan (Anonim, 2004). d. Administrasi. Kegiatan administrasi meliputi berhubungan dengan dokumentasi. Kegiatan yang dilakukan berupa pencatatan, pengarsipan seperti pengarsipan untuk catatan pengobatan

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 pasien dan pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat yang merupakan bagian dari administrasi pelayanan, serta pelaporan narkotika dan psikotropika (Anonim, 2004). 2. Aspek Pelayanan Pemberian pelayanan yang berkualitas kepada pasien khususnya di apotek merupakan tanggung jawab yang sangat penting untuk dipegang dan dilaksanakan oleh seorang apoteker. Segala bentuk kegiatan dan tanggung jawab yang wajib dilaksanakan oleh apoteker dalam rangka pelayanan kefarmasian di apotek dituangkan dalam peraturan Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. (Anonim, 2004). Khusus dalam hal pelayanan, dipaparkan bahwa hal penting yang perlu untuk dilaksanakan yaitu terkait pelayanan resep, penyiapan obat, promosi dan edukasi dan pelayan residensial a. Pelayanan resep 1) Skrining resep a) Kegiatan skrining resep meliputi penyidikan terhadap kelengkapan administrasi resep yang meliputi data dokter yaitu : nama dokter yang memberikan resep, nomor ijin praktek, alamat, tanggal penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter bersangkutan. Data pasien yaitu : nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien. Data obat yaitu : nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara penggunaan obat yang jelas (Kepmenkes, 2008).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 b) Kesesuaian memeriksa farmasetik bentuk juga perlu sediaan, dosis, diperhatikan potensi, dengan stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama penggunaan obat (Anonim, 2004). c) Aspek klinis yang penting untuk disidik yaitu melihat ada tidaknya alergi, kemungkinan efek samping obat, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat yang ditulis dalam resep. Apabila terdapat ketidaksesuaian dalam pengkajian aspek klinis, maka apoteker dapat melakukan konsultasi dan memberikan rekomendasi obat lain sebagai alternatif yang sekiranya mendapat persetujuan dari dokter yang menuliskan resep (Kepmenkes RI, 2008). 2) Penyiapan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Pada proses penyiapan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan, penyiapannya haruslah sesuai dengan permintaan resep yang datang. Dari resep yang diterima, kemudian dilakukan perhitungan dosis untuk memastikan ketepatan dan kesesuaiannya agar tidak melebihi dosis maksimum. a) Pada kegiatan peracikan, beberapa langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi penyiapan, penimbangan, pencampuran, pengemasan dan pemberian etiket pada wadah. Hal yang perlu diperhatikan yaitu melihat kesesuaian dosis, jenis dan banyaknya obat (Anonim, 2004).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 b) Penulisan etiket dan warna etiket yang benar (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk obat luar, dan etiket lain sebagai petunjuk penggunaan khususnya untuk sediaan cair) (Anonim, 2004). c) Pengemasan obat, dilakukan dengan memperhatikan kerapian dan kesesuaian kemasan yang digunakan guna menjaga kualitas dari obat yang diberikan kepada pasien (Anonim, 2004). d) Penyerahan obat, diawali dengan melakukan pengecekan ulang obat yang akan diberikan dengan memperhatikan kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep. Pemerikasaan ulang data pasien baik identitas dan alamat perlu dilakukan (Anonim, 2004). e) Ketika menyerahkan obat kepada pasien pun tidak lupa disertai dengan pemberian informasi terkait obat yang diberikan. Setelah itu apoteker memberi paraf pada salinan resep sesuai degan resep aslinya kemudian disimpan dan didokumentasikan (Anonim, 2004). Pada peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pelindungan Konsumen pada Bab III pasal 4 mengenai hak konsumen menyatakan bahwa “hak konsumen adalah : hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa, hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen, hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 serta tidak diskriminatif” (Undang-Undang Perlindungan Konsumen, 1999). Pada pelayanan informasi obat, apoteker wajib untuk memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah untuk dipahami, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan up date. Informasi yang diberikan kepada pasien minimal mencakup : cara penggunaan obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang tidak boleh dikonsumsi selama proses terapi (Kepmenkes RI, 2006). Pada pelayanan informasi obat di apotek, terdapat prosedur tetap yang diputuskan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yaitu : (1) Melihat resep atau kartu pengobatan pasien (medication record) atau kondisi kesehatan pasien untuk menentukan informasi obat seperti apa yang akan diberikan kepada pasien baik itu secara lisan maupun tertulis. (2) Informasi obat yang diberikan kepada pasien dapat didasarkan dengan melakukan penulusuran literature. (3) Informasi yang diberikan untuk menjawab pertanyaan dari pasien dapat dijawab secara lisan ataupun tertulis dan penjelasan yang diberi harus jelas, tidak bias, etis, mudah dipahami, dan bijaksana. (4) Informasi pelayanan obat dapat melalui brosur, leaflet, poster atau majalah.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 (5) Kegiatan pelayanan informasi obat yang diberikan selalu didokumentasikan (Kepmenkes RI, 2008). Keputusan Departemen Kesehatan RI (2007) merancang pedoman Pharmaceutical care untuk penyakit asma, diantaranya adalah : (1) Pedoman bagi apoteker dalam memberian informasi dan edukasi untuk pasien asma : (a) Pengetahuan yang cukup, skill, dan bekal yang dimiliki oleh Apoteker menjadi dasar dalam memberian informasi terhadap pasien asma. Passion dengan rasa empati terhadap pasien akan juga menjadi hal yang penting yang akan mendukung kegiatan pelayanan informasi dan menarik perhatian pasien itu sendiri. (b) Informasi dan edukasi tidak hanya diberikan kepada pasien asma namun juga kepada keluarga pasien guna mendukung keberhasilan penyampaian informasi dan keberhasilan pengobatan yang akan dilakukan. Penyampaian informasi dan edukasi kepada keluarga pasien asma terutama bagi pasien yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi yang memiliki keterbatasan, latar belakang pendidikan yang tidak memadai, atau dengan pertimbangan umur.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 (c) Pengumpulan dan pendokumentasian data-data pasien yang berisi : riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan dan pengobatan yang dijalan oleh pasien baik itu obat asma yang dikonsumsi maupun obat-obat lain yang juga dikonsumsi pasien. (d) Penggunaan alat peraga dalam penyampaian informasi dan edukasi penggunaan seperti inhaler memberikan akan contoh mendukung cara tingkat pemahaman pasien dan keuarga pasien. (e) Pengobatan jangka panjang sebaiknya mempertimbangkan penggunaan jumlah obat yang lebih sedikit, dosis yang lebih sedikit , kejadian efek samping obat yang minimal, adanya pengertian dan kesepakatan antara dokter, pasien dan apoteker untuk mendukung kepatuhan pasien. (f) Menolong pasien dan keluarga pasien dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi terkait penggunaan obat (2) Informasi yang disampaikan kepada pasien dan keluarga : (a) Menyampaikan sejarah penyakit asma, tanda dan gejala, serta faktor-faktor yang menyebabkan asma dan serangan asma. (b) Pemeriksaan yang menunjang untuk pasien asma.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 (c) Cara untuk mengetahui serangan asma dan tingkat keparahannya, kemudian hal yang perlu dilakukan apabila terjadi kekambuhan pada pasien, bahkan bagaimana cara menemukan pertolongan jika diperlukan. (d) Bagaimana mengajarkan untuk menghindari terjadinya serangan kekambuhan dengan memperhatikan faktorfarktor yang dapat menjadi pencetus seperti olah raga yang berat, makanan, alergi, penggunaan obat tertentu, stress, atau polusi. (e) Menjelaskan resiko merokok terhadap penyakit asma. (f) Menyampaikan pengobatan asma dengan pemahaman bahwa pengobatan untuk tiap individu dapat berbeda tergantung tingkat keparahan yang dialami. (g) Menjelaskan 2 golongan besar dalam pengobatan yaitu : Pengobatan simptomatik yang digunakan pada saat terjadi serangan yang kerjanya secara cepat. Pengobatan pencegahan, yaitu obat yang digunakan secara rutin untuk mencegah serangan asma. (h) Menjelaskan jenis-jenis obat asma dengan indikasi dan cara pemakaiannya masing-masing.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 (i) Penggunaan obat yang dapat dilakukan melalui parenteral, oral, dan inhalasi (inhaler, rotahaler dan nebuliser). (j) Menjelaskan waktu penggunaan obat, cara penggunaan, jumlah/frekuensi/lama penggunaan, efek samping obat yang kemungkinan terjadi, serta cara menghindari atau meminimalkan efek samping obat. (k) Mengingatkan pasien setelah penggunaan inhaler terutama yang mengandung obat kortikosteroid untuk melakukan terjadinya kumur-kumur pertumbuhan guna jamur meminimalisir di mulut dan tenggorokan dan absorpsi sistemik. (l) Memberikan penjelasan terkait keamanan penggunaan obat asma untuk kasus wanita hamil atau ibu menyusui. (m)Cara penyimpanan obat asma dan cara mengetahui jumlah obat yang ada dalam aerosol inhaler. (n) Menjelaskan betapa pentingnya kepatuhan pasien dalam menggunakan obat asma. (o) Memberikan pengertian kepada pasien untuk tidak enggan melakukan pelaporan ke dokter ataupun apoteker apabila mengalami suatu keluhan (Depkes RI, 2007).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 f) Konseling merupakan proses terstruktur yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien. Hal yang dapat diidentifikasi yaitu mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan mencegah terjadinya penggunaan obat yang tidak benar (Kepmenkes RI, 2006). Pada dasarnya kegiatan konseling dapat diberikan dengan pertimbangan bahwa pasien diketahui tidak mengkonsumsi obat secara teratur, pasien yang menerima obat dengan indeks terapi sempit sehingga perlu untuk dipantau, pasien dengan multirejimen obat, pasien lansia, pasien pediatric sehingga konseling dapat diberikan kepada pengasuh anak atau langsng kepada orangtua, atau pasien yang mengalami Drug Related Problem (Kepmenkes RI,2008) Konseling pada pasien yang berlangsung di apotek, merupakan kegiatan komunikasi antara apoteker dengan pasien, dimana apoteker berperan sebagai “helper” untuk menerangkan pengenai pengobatan yang akan diberikan kepada pasien terutama menjelaskan dan membantu pasien untuk memperoleh manfaat dari pengobatan tersebut. Konseling diberikan dengan harapan dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien baik itu dari segi pengobatan atau kesehatan dan sekaligus membantu untuk mengatasi masalah yang bisa saja muncul kedepannya saat proses

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 pengobatan seperti efek samping yang bisa saja muncul. Dengan demikian, pasien lebih mudah mengenali efek samping apabila terjadi dan dapat mengatasinya. Melalui diskusi yang dilakukan dalam konseling, akan memudahkan bagi apoteker untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman pasien terkait pengobatan yang diberikan yang kemudian bisa dijadikan sebagai arahan informasi apa yang masih perlu diberikan sebagai tambahan sehingga pengobatan dapat berjalan dengan efektif dan optimal (Rantucci, 2007). Konseling juga dapat membantu untuk meningkatkan rasa kepercayaan pasien terhadap campur tangan apoteker dalam membantu pengobatannya. Adanya rasa percaya tersebut dapat membantu pasien untuk lebih terbuka dalam konseling. Apoteker juga dapat menjadi penengah, apabila terjadi ketidak sepahaman antara dokter dengan pasien terkait pengobatan yang diberikan. Apoteker dapat membantu meluruskan dengan mengajak dokter yang menangani pasien untuk berdiskusi ataupun menjelaskan kepada pasien untuk meluruskan ketidak sepahaman tersebut, sehingga kegiatan konseling ini dapat dikatakan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk membantu sekaligus mengedukasi pasien. Hal yang juga menjadi penting adalah adanya rasa perduli dan sikap perhatian yang tulus dari apoteker dengan demikian akan membantu meningkatkan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 kesadaran pasien bahwa konseling yang diberikan adalah demi kebaikan pasien (Rantucci, 2007). Pada Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 telah ditetapkan prosedur tetap untuk mengadakan proses konseling yang meliputi : (1) Konseling yang dilakukan dengan melihat kondisi penyakit pasien. (2) Menjalankan komunikasi antara apoteker dengan pasien ataupun keluarga pasien (3) Mengajukan pertanyaan Three Prime Questions yang meliputi: (a) Apa yang dokter katakan mengenai obat yang diberikan (b) Bagaimana penjelasan dokter terkait cara pemakaian obat yang diberikan (c) Apa yang dokter katakan terkait harapan dari pengobatan yang dberikan (4) Memberikan peragaan dan menerangkan mengenai pemakaian obat-obat tertentu seperti inhaler, suppositoria, dll (5) Melakukan proses pembuktian akhir yang meliputi : (a) Pengecekan kembali sejauh mana pemahaman pasien

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 (b) Mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan cara penggunaan obat sehingga tujuan terapi dapat tercapai dengan baik (6) Melakukan pendokumentasian berupa pencatatan pada kartu pengobatan terkait hal-hal yang telah dilakukan dalam proses konseling (Kepmenkes RI, 2008). Untuk pasien asma yang mendapat resep dokter ada beberapa yang perlu dilaksanakan secara sistematis dengan mengajukan 3 pertanyaan utama dan dapat dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan, diantaranya : (1) Menanyakan kepada pasien apa yang dikatakan dokter terkait penggunaan pengobatan yang diberikan ?. Pengembangan pertanyaan yaitu : Menanyakan persoalan apa yang bisa dibantu, apa yang bisa dilakukan, dan menanyakan persoalan apa yang menyebabkan pasien datang ke dokter. (2) Bagaimana yang dikatakan dokter menganai cara pakai obat yang diberikan ?. Pengembangan pertanyaan yaitu : Menanyakan berapa kali penggunaan obat yang disarankan oleh dokter, berapa banyak obat yang dianjurkan untuk digunakan, berapa lama penggunaan obat yang dianjurkan, apa yang disampaikan dokter apabila pasien kelewatan satu

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 dosis obat, bagaimana penyimpanan obat, dan menanyakan apa arti “tiga kali sehari” kepada pasien. (3) Apa yang dikatakan dokter terkait harapan terhadap pengobatan yang diberikan ?. Pengembangan pertanyaan yaitu : Pengaruh apa yang diharapkan muncul oleh pasien, bagaimana cara pasien mengetahui bahwa obat tersebut bekerja, pengaruh buruk apa yang disampaikan dokter yang perlu diwaspadai pasien, apa yang harus diperhatikan oleh pasien selama obat tersebut digunakan, apa yang dokter sampaikan apabila pasien merasa kondisinya semakin parah, dan bagaimana pasien tau jika obat yang digunakan tidak bekerja. (4) Pertanyaan tunjukkan dan katakan. Menanyakan tujuan penggunaan obat untuk apa, bagaimana cara pasien menggunakan obatnya, dan gangguan atau penyakit apa yang dialami pasien. (5) Penanganan awal asma mandiri (Self care). Menganjurkan kepada pasien untuk menggunakan obat yang sudah biasa dipakai, tidak panik, segera menghubungi dokter apabila setelah 15 menit penggunaan obat pasien tidak mengalami perbaikan kondisi (Depkes RI, 2007). g) Monitoring dan evaluasi

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang dicapai dari pelaksanaan terapi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan membuat pencatatan data pengobatan pasien (Medication recort) (Kepmenkes, 2006). Melalui monitoring dan evaluasi ini apoteker dapat mengukur sejauh mana tingkat kepuasan pasien dan kepatuhan pasien yang pada akhirnya juga membantu untuk melihat sejauh mana mutu pelayanan yang telah dilakukan selama ini, sehingga dapat ditentukan bentuk evaluasi seperti apa yang perlu untuk dilakukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan kefarmasian yang pada akhirnya juga berpengaruh pada peningkatan kualitas pengobatan / kesehatan pasien atau masyarakat (Kepmenkes RI, 2008). Pentingnya pelaksanaan MESO dikarenakan meskipun obat sebelum diedarkan telah melalui uji baik itu uji preklinik maupun uji klinik dan telah melewati ijin peredaran namun hal tersebut belum dapat sepenuhnya mengungkapkan efek samping obat yang mungkin saja terjadi, terutama efek samping obat yang kemungkinan jarang terjadi atau yang baru akan timbul setelah penggunaan obat dalam jangka waktu lama. Hal ini juga menjadi perhatian penting khususnya bagi pasien yang merupakan kelompok anak-anak, wanita hamil, wanita menyusui, atau usia lanjut. MESO juga dapat dijadikan

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 sebagai salah satu pedoman dalam mempertimbangkan tindak lanjut yang akan diberikan kepada pasien seperti pembatasan indikasi, pembatasan dosis bahkan hingga ke pembekuan atau penarikan obat dari peredaran yang semata-mata untuk tujuan keselamatan pasien/ masyarakat (Badan POM RI, 2007). Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan data pasien dalam bentuk rekam medis (medication record) yang berisi mengenai identitas pasien, hasil pemeriksaaan, pengobatan, dan pelayanan atau tindakan yang telah diberikan kepada pasien yang dimuat dalam bentuk catatan dan dokumen (Permenkes RI, 2008). Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan menurut PERMENKES No.269/MenKes/PER/111/2008 kurang lebih memuat tentang : Identitas pasien, tanggal dan waktu, hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis, diagnosis, rencana penatalaksanaan, pengobatan dan/atau tindakan, pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien, persetujuan tindakan bila diperlukan (Permenkes, 2008). b. Aspek edukasi dan promosi. Promosi merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga termotivasi dari dalam diri masing-masing untuk meningkatkan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 kualitas hidup dalam hal ini kesehatan masyarakat tersebut. Edukasi merupakan upaya yang dilakukan terhadap masyarakat dengan memberikan pengetahuan terkait obat dan pengobatan, serta bersamasama dengan pasien untuk mengambil suatu keputusan dalam hal pengobatan yang dijalani, sehingga diharapkan hasil pengobatan yang maksimal dan efektif dapat tercapai. Selain memberikan edukasi berupa pemberian informasi secara lisan atau tatap muka langsung, pemberian informasi yang bertujuan sebagai edukasi dapat diberikan melalui penyebaran leaflet, brosur, poster, penyuluhan, dll (Kepmenkes RI, 2008). Pada kasus pasien asma, upaya yang dapat dilakukan sebagai alternatif terkait kegiatan promosi dan edukasi adalah penyuluhan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE). Penyuluhan (KIE) dapat membantu untuk menambah pengetahuan pasien / keluarganya terkait penyakit asma, memberikan semangat agar termotivasi untuk ikut berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyakit asma itu sendiri. Selain itu, penyuluhan (KIE) dapat membantu mempengaruhi sikap dan tindakan pasien dalam menghadapi penyakit asma dan secara mandiri para pasien mampu mengendalikan penyakit asma tersebut (Depkes RI, 2009). Bentuk kegiatan yang dilakukan terkait penyuluhan (KIE) ialah berupa sharing materi berkenaan penyakit asma mulai dari penjelasan mengenai penyakit asma itu sendiri, pengenalan terkait tanda dan

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 gejala dan faktor penyebab penyakit asma serta bagaimana mengatasi atau mengontrol penyakit asma. Apoteker diharapkan dapat memberikan pelatihan terkait cara penggunaan obat asma secara tepat dan benar dan penanganan segera terutama saat terjadi serangan. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pasien asma,namun juga bagi keluarga pasien, tenaga kesehatan lain bahkan masyarakat. Penyuluhan KIE dapat dilaksanakan secara aktif yaitu dengan memberikan informasi secara langsung ataupun secara pasif yaitu melalui brosur, leaflet dan majalah kesehatan (Depkes RI, 2009). c. Aspek pelayanan residensial (home care). Dilakukan di rumah pasien, terutama untuk pasien yang lanjut usia atau dengan penyakit kronis. Kegiatan ini ditujukan apabila pasien tidak memungkinkan untuk memperoleh pelayanan dengan pelaksanaan pelayanan datang ke apotek. residensial adalah dengan Dua cara melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien atau melalui telefon (Kepmenkes RI, 2008). Dalam pelayanan residensial di apotek, ada ketentuan yang ditetapkan sebagai prosedur tetap untuk dilakukan, yaitu : 1) Pelayanan residensial dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan penyeleksian pasien yang dapat diberikan pelayanan tersebut dengan melihat kartu pengobatan.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 2) Pelayanan residensial dapat diberikan dengan melakukan penawaran secara langsung kepada pasien yang dianggap perlu untuk diberi pelayanan tersebut. 3) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan pertimbangan riwayat pengobatan pasien. 4) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan mendatangi rumah / kediaman pasien. 5) Pelayanan residensial dapat dilakukan dengan menggunakan media komunikasi yang ada, seperti telefon, dimana kegiatan ini adalah merupakan lanjutan dari pelayanan residensial sebelumnya, sehingga dengan demikian program residensial dapat berjalan terus. 6) Dalam pelayanan residensial kegiatan pencatatan dan evaluasi pengobatan menjadi hal yang perlu untuk dilakukan (Kepmenkes RI, 2008). F. Keterangan Empiris Pada penelitian ini diperoleh gambaran evaluasi pelaksanaan penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta berdasarkan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan kualitatif. Penelitian observasional adalah penelitian dengan melakukan pengamatan terhadap sejumlah ciri subjek menurut keadaan yang sebenarnya tanpa ada tindakan manipulasi ataupun intervensi peneliti (Jasaputra dan Santosa, 2008 ). Pendekatan kualitatif yang berarti penelitian ini dilakukan dalam memahami suatu fenomena yang terjadi tanpa rekayasa yang dapat memberikan suatu gambaran terhadap realitas yang ada pada objek yang diteliti (Sarosa, 2012). B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah pelayanan kefarmasian oleh apoteker pada pasien asma. Definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut : 1. Pelayanan kefarmasian adalah segala bentuk kegiatan pengobatan diantaranya pelayanan resep, pelayanan informasi obat, monitoring dan evaluasi, promosi dan edukasi, pelayanan residensial yang dilakukan pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi lokasi penelitian dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004. 2. Pelayanan resep dalam penelitian ini mengacu ke Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004 yang meliputi kegiatan skrining resep, 37

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 penyiapan obat dan penyerahan obat kepada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi tempat penelitian. 3. Pelayanan informasi obat mangacu pada Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004 yang meliputi kegiatan penyampaian informasi pengobatan dan konseling kepada pasien asma ataupun keluarga pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta yang menjadi tempat penelitian. 4. Monitoring dan evaluasi adalah kegiatan pencatatan data pengobatan pasien asma (medication record) maupun pemantauan atau pelaporan efek samping obat yang dilakukan dalam upaya pengecekan dan peningkatan keberhasilan terapi oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. 5. Edukasi dan promosi (kegiatan pemberdayaan) dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menginspirasi pasien dan meningkatkan pengetahuan pasien atau keluarga mengenai penyakit asma oleh apoteker dengan cara penyebaran leaflet, brosur, poster atau penyuluhan kesehatan masyarakat terkait penyakit asma. 6. Pelayanan residensial adalah kegiatan pelayanan kefarmasian dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta. C. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di apotek-apotek yang ditetapkan berdasarkan 5 golongan apotek yaitu apotek golongan bintang satu, dua, tiga, empat dan apotek

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 belum berbintang yang berada di Kota Yogyakarta. Di bawah ini merupakan apotek-apotek yang dijadikan sebagai tempat penelitian berdasarkan golongan apotek: Nomor Golongan Apotek 1. Belum Berbintang 2. Bintang 1 3. Bintang 2 4. Bintang 3 5. Bintang 4 Nama Apotek Apotek AM Apotek HF Apotek HR Apotek YF Apotek CH Apotek ME Apotek PF Apotek DF Apotek TF Apotek UG Periode penelitian dimulai dari bulan November 2013- Maret 2014, terdiri dari proses perijinan pada bulan November 2013 - Januari 2014 hingga proses pengambilan data pada bulan Februari – Maret 2014. D. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah apoteker yang bekerja di apotek-apotek yang ditetapkan sebagai tempat penelitian. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah sebagai berikut : 1. Apoteker yang bekerja di apotek sebagai APA (Apoteker Pengelola Apotek) atau Aping (Apoteker Pendamping) yang pernah memberikan pelayanan Pharmaceutical care kepada pasien asma yang datang ke apotek tersebut dalam kurun waktu satu tahun terakhir. 2. Apoteker yang dimaksud tersebut bersedia untuk diwawancarai / atau mengisi sendiri panduan wawancara yang disediakan.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Kriteria eksklusi subyek penelitian yaitu apoteker baik APA maupun Aping yang tidak pernah memberikan pelayanan kefarmasian kepada pasien asma dalam kurun waktu satu tahun terakhir. E. Besar Sampel dan Teknik Sampling Pada dasarnya dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif tidak ada patokan khusus terkait jumlah sampel yang harus diambil. Pemilihan sampel diambil berdasarkan kebutuhan dari penelitian itu sendiri sehingga digunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel responden yang dianggap mengetahui tentang apa yang diharapkan dalam penelitian dan dapat memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan oleh penelitian ini. Oleh karena itu sampel yang diambil sebagai responden merupakan informan yang berperan sebagai key person (Sugiyono, 2008). Penetapan sampel didasarkan pada data terkini hasil labelisasi apotek yang ada di Kota Yogyakarta periode 2013 yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan sebanyak 133 apotek dimana terdapat 118 apotek yang telah dilabelisasi bintang satu untuk kategori apotek cukup, bintang dua untuk kategori apotek lebih dari cukup, bintang tiga untuk kategori apotek baik, dan bintang empat untuk kategori apotek sangat baik sehingga terdapat 15 apotek yang belum terlabelisasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan tersebut, maka ditetapkan masing-masing 2 apotek dari tiap golongan / label yaitu bintang satu, bintang dua, bintang tiga, bintang empat dan ditambah dengan apotek yang belum berbintang. Sehingga terdapat 10 apotek sebagai tempat penelitian dengan 12

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 responden yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dari 12 responden tersebut, sebanyak 10 responden bersedia diwawancarai secara langsung dan 2 responden bersedia berpartisipasi dengan mengisi panduan wawancara secara mandiri. F. Metode Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terstruktur. Wawancara merupakan salah satu alternatif dalam pengumpulan data dimana kegiatannya dilakukan melalui diskusi antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan penelitian (Sarosa, 2012). Pertanyaan - pertanyaan telah disusun secara rinci di dalam panduan wawancara untuk ditanyakan kepada responden. Responden yang tidak bersedia diwawancarai secara langsung diberikan panduan wawancara yang diisi sendiri oleh responden secara tertulis. Data yang diperoleh merupakan data primer yang berarti bahwa data tersebut diperoleh dari sumber asli atau responden berupa katakata atau tindakan dari informan. G. Instrumen Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan wawancara (interview guide) yang digunakan dalam melakukan wawancara. Alat perekam digunakan untuk mendukung proses wawancara terutama pendokumentasian. Langkah – langkah pembuatan panduan wawancara adalah sebagai berikut: untuk

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 1. Perumusan pertanyaan-pertanyaan Panduan wawancara berguna untuk menggali informasi pada subjek penelitian (Adi, 2004). Isi dari panduan wawancara yaitu pertanyaan terstruktur yang didasarkan pada perumusan masalah dari penelitian. Panduan wawancara pada penelitian ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berisi pertanyaanpertanyaan yang mengarah pada penerapan Pharmaceutical care meliputi pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi, edukasi dan promosi, serta pelayanan residensial pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Bagian kedua, berisi data responden yang terdiri dari: jabatan apoteker di apotek tersebut, yaitu APA atau Aping dan lama responden bekerja sebagai apoteker. 2. Pengujian panduan wawancara dan proses wawancara Pengujian ini dilakukan untuk melihat seberapa besar tingkat kepercayaan dan keabsahan dari hasil penelitian yang datanya diambil menggunakan instrumen ini. Pada penelitian ini keabsahan yang dimaksud adalah data atau informasi yang diperoleh dari apoteker yang merupakan responden penelitian melalui wawancara menggunakan panduan wawancara tersebut. Beberapa upaya dilakukan terkait dengan hal ini, yaitu (Sugiyono, 2005) : 1) Melibatkan expert adjustment untuk berdiskusi, memberikan arahan terkait penyusunan panduan wawancara. Expert adjustment yang dimaksud juga sekaligus merupakan apoteker.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 2) Menanyakan pertanyaan – pertanyaan di dalam panduan kepada beberapa mahasiswa farmasi untuk memastikan bahwa pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat dipahami. Idealnya, hal ini dilakukan kepada apoteker yang nantinya tidak digunakan sebagai responden penelitian. Namun, karena expert adjustment yang dilibatkan juga merupakan seorang apoteker dan adanya kesulitan dalam memperoleh kesediaan apoteker lain untuk ikut berpartisipasi dalam penelitian maka dilakukan kepada mahasiswa farmasi. 3) Melakukan observasi awal di apotek tersebut untuk melakukan perkenalan awal terutama kepada responden yang akan diwawancarai guna membangun hubungan yang baik sehingga akan memudahkan dalam proses wawancara nantinya. H. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data Penelitian diawali dengan pengurusan ijin penelitian yaitu pengajuan surat pengantar dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Dinas Perijinan Kota Yogyakarta. Permohonan perizinan juga diajukan kepada apoteker di apotek-apotek yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian guna mendapatkan kesediaan dari para apoteker untuk menjadi responden penelitian dan bersedia untuk diwawancarai. Orientasi berupa pengambilan data jumlah apoteker yang bekerja di apotek sekaligus jumlah apotek di Kota Yogyakarta dari Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya dilakukan penetapan apotek yang akan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 digunakan sebagai tempat penelitian. Analisis situasi dilakukan secara langsung dengan mendatangi apotek-apotek yang ditetapkan menjadi tempat penelitian dan mendata jumlah apoteker dan apotek yang bersedia untuk ikut serta dalam penelitian. Setelah memperoleh perizinan dari pihak terkait, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan dipaparkan secara sistematis dibawah ini : 1. Menentukan jadwal wawancara Setelah memperoleh ijin penelitian dari apotek-apotek, langkah selanjutnya adalah melakukan konfirmasi kepada responden untuk memperoleh kesepakatan bersama terkait waktu dan tempat pelaksanaan wawancara. 2. Melaksanakan wawancara Pada pelaksanaan wawancara digunakan panduan wawancara. Pedoman ini membantu agar proses wawancara dapat berjalan sistematis dan tidak keluar dari topik utama wawancara. 3. Melakukan analisis data Setelah proses wawancara selesai, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Data dianalisis secara thematic dan content analysis. Prinsip dari cara analisis ini adalah mengambil tema – tema dari data sesuai dengan topik – topik yang ditanyakan berdasarkan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ Menkes/ SK/ IX/ 2004 yang meliputi skrining resep, pelayanan informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi, edukasi dan promosi, pelayanan residensial (home care) dan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 mengkuantifikasikannya dalam bentuk persentase untuk setiap topik yang digali. Tahap ini diawali dengan : a. Pencatatan data. Hasil wawancara yang telah dilakukan yaitu berupa catatan dan rekaman, kemudian dipindahkan dalam bentuk pencatatan data dengan membuat salinan atau transkrip. b. Coding. Untuk memudahkan dalam proses analisis, dilakukan pengkodean yang dapat berupa kata atau frase dengan tujuan agar data yang disajikan dapat terorganisir dan tersusun secara sistematis. Pengokodean akan memudahkan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan atau meringkas kalimat dari hasil wawancara yang telah diperoleh. c. Analisis data. Dari pengokodean yang telah dilakukan selanjutnya dianalisis dan disusun secara sistematis sehingga mudah dipahami. Proses yang dilakukan diawali dengan menelaah seluruh data yang diperoleh, kemudian melakukan reduksi data yaitu proses memilah halhal pokok yang menjadi fokus penelitian. Selanjutnya dilakukan penyusunan data dari hasil reduksi, kemudian melakukan pemeriksaan keabsahan data, menafsirkan data dan mengolah data tersebut sehingga diperoleh suatu kesimpulan mengenai gambaran penerapan Pharmaceutical care oleh apoteker pada pasien asma di apotek-apotek yang diteliti.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 I. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian Terdapat beberapa kesulitan dalam penelitian ini, diantaranya : 1. Terdapat beberapa apotek yang pada dasarnya banyak melayani pasien asma namun tidak bersedia untuk dijadikan sebagai tempat penelitian. 2. Pada penelitian ini hanya dilakukan oleh 1 orang sebagai peneliti yang harus berperan sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada responden, mencatat jawaban dari responden dan merekam proses wawancara dalam waktu yang bersamaan sehingga sehingga fokus peneliti dalam melakukan wawancara dan menggali informasi dari responden menjadi terbagi-bagi. Selain beberapa kesulitan yang dialami dalam penelitian ini juga terdapat beberapa keterbatasan, diantaranya : 1. Penelitian dengan pendekatan kualitatif akan lebih baik apabila dalam proses penelitiannya menggunakan jangka waktu yang panjang agar peneliti memiliki lebih banyak waktu untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam. Namun, hal ini tidak terlaksana karena faktor kesibukan dari apoteker yang menjadi responden sehingga waktu untuk melakukan wawancara menjadi terbatas. 2. Informasi yang diperoleh dari responden cenderung bersifat memorial sehingga terdapat kemungkinan informasi yang disampaikan masih kurang lengkap ketika menjawab pertanyaan pada saat wawancara dilakukan atau terjadi recall bias.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 3. Terdapat kemungkinan responden memberikan informasi tidak spesifik terkait penerapan Pharmaceutical care yang telah dilakukan kepada pasien asma saja, meskipun peneliti sebagai pewawancara telah berupaya untuk selalu menegaskan dan mengingatkan kepada responden pada saat wawancara berlangsung untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan pengalaman pelayanan yang telah diberikan khusus kepada pasien asma. 4. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif sehingga hasil yang diperoleh tidak dapat mewakili semua jawaban apoteker di Kota Yogyakarta.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian pelaksanaan Pharmaceutical care yang diberikan oleh apoteker kepada pasien asma pada sepuluh apotek di Kota Yogyakarta menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hasil dari penelitian dikategorikan dalam 6 aspek yang dibagi berdasarkan acuan standar yaitu aspek pelayanan resep, pelayanan informasi obat, pelayanan konseling, monitoring dan evaluasi, promosi dan edukasi, dan pelayanan residensial (Home care). A. Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data terkait karakteristik demografi responden. Karakteristik demografi responden dalam penelitian ini terdiri dari 4 bagian yaitu umur, jenis kelamin, jabatan dan lama masa kerja yang disajikan pada Tabel I. Diketahui bahwa dari 12 responden yang diwawancarai memiliki usia yang berbeda-beda dengan rentang antara usia 25 tahun – 35 tahun dan masih termasuk dalam usia yang produktif. Jumlah responden dengan umur 27 tahun diketahui merupakan yang paling banyak yaitu sebesar 25%, kemudian karakteristik demografi dengan melihat jenis kelamin diketahui sebagian besar apoteker yang bekerja di apotek yang diteliti didominasi oleh perempuan yaitu 11 responden sebesar 91,7%. Apoteker yang bersedia menjadi responden adalah apoteker yang menduduki jabatan sebagai apoteker pengelola apotek (APA) yaitu 48

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 6 responden sebesar 50% dan apoteker pendamping (Aping) yaitu 6 responden sebesar 50%. Lama masa kerja responden sebagian besar adalah 1≥masa kerja ≤ 5 tahun dengan jumlah responden 7 sebesar 58,3%. Tabel I. Karakteristik demografi responden Karakteristik Umur : tahun 23 25 26 27 29 31 32 33 34 35 Jenis kelamin : Laki – laki Perempuan Jabatan : APA APING Lama masa kerja : Masa kerja < 1 tahun 1 ≥masa kerja ≤5 tahun 6≥masa kerja ≤10 tahun Masa kerja >10 tahun Jumlah responden, n = 12 Persentase (%) 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 8,3 8,3 8,3 25 8,3 8,3 8,3 8,3 8,3 8,3 1 11 8,3 91,7 6 6 50 50 1 7 4 0 8,3 58,3 33,3 0 Keterangan : APA (Apoteker Pengelola Apotek), APING (Apoteker Pendamping) Menurut standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004, apotek merupakan suatu tempat dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan kefarmasian dan menyediakan sediaan farmasi ataupun perbekalan kesehatan yang dapat disalurkan ke masyarakat. Suatu apotek harus dikelola oleh tenaga profesional yaitu seorang

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 apoteker yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan profesinya dan memberikan pelayanan yang baik pula (Kepmenkes RI, 2008). Dari data yang disajikan pada Tabel I menunjukkan bahwa apotek yang dijadikan sebagai tempat penelitian memiliki apoteker sebagai tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek tersebut yang dalam penelitian ini juga adalah sebagai responden. Pada beberapa penelitian mengemukakan bahwa usia (umur) memiliki pengaruh terhadap kinerja seseorang. Pada dasarnya umur produktif berkisar antara 20-45 tahun. Usia dan pengalaman kerja dapat dikatakan saling berkaitan, keduanya memiliki pangaruh terhadap kemampuan, pengetahuan, tanggung jawab, pola pikir dalam mengambil suatu keputusan oleh seseorang dalam bekerja (Christiana, 2005). Seiring dengan pertambahan usia dan masa kerja yang lama, akan cenderung meningkatkan kemahiran dan pengalaman yang dimiliki sehingga mempengaruhi kualitas atau kinerja, dalam hal ini adalah apoteker dalam memberikan suatu pelayanan kesehatan. Lama bekerja akan mempengaruhi pengalaman kerja yang tinggi dan pada akhirnya berpengaruh pada keunggulan atau kemampuan dalam mendeteksi kesalahan, memahami kesalahan dan mencari penyebab munculnya kesalahan, misalnya dalam hal pengobatan yang dijalani pasien (Samsi, 2013). B. Profil Pelaksanaan Pelayanan Resep pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta Menurut Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004, pelayanan resep memiliki beberapa hal penting yang wajib untuk dilaksanakan.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Hal yang perlu diawali dalam pelayanan resep adalah melakukan skrining resep. Skrining resep terdiri dari 3 bagian utama yaitu skrining administratif, skrining kesesuaian farmasetik, dan skrining pengkajian klinis (Anonim, 2004). 1. Skrining administratif Pada kegiatan pelayanan resep di apotek, hal pertama yang perlu dilakukan oleh tenaga kefarmasian adalah melakukan skrining dengan memeriksa kelengkapan administratif yang terdapat di resep. Bentuk - bentuk kegiatan yang perlu dilakukan dalam skrining administratif didasarkan pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 (Anonim, 2004). Skrining administratif yang dilakukan oleh responden berdasarkan hasil penelitian ditampilkan pada Tabel II , sebagai berikut : 1. Tabel II. Bentuk skrining administratif Jumlah responden yang Kegiatan pemeriksaan melaksanakan, n=12 nama, SIP, dan alamat dokter 10 2. tanggal penulisan resep 11 3. tanda tangan/paraf dokter penulis resep 9 Nomor 4. 5. nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien cara pemakaian obat 11 11 Keterangan : SIP (Surat Ijin Praktek) Hasil penelitian yang ditampilkan pada Tabel II dapat dilihat bahwa 12 responden yang diwawancarai ternyata tidak semuanya melakukan pemeriksaan administratif secara lengkap. Lima responden melakukan skrining administratif secara lengkap. Tujuh responden tidak melakukan skrining administratif secara lengkap, dimana terdapat 2 responden tidak melakukan 2 kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 melakukan skrining tanda tangan/ paraf dokter penulis resep. Dengan demikian sebagian responden belum memenuhi standar pelaksanaan skrining administratif yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Sukmajati (2008) menemukan bahwa kegiatan skrining administratif dilakukan oleh responden yang merupakan APA dan Aping sebesar 95,65% selalu melakukan skrining administratif dan 4,35% tidak melakukan skrining administratif. Dalam skrining administratif, identitas dokter menjadi penting untuk diperhatikan agar apoteker dapat mengetahui dokter siapa yang menangani pasien tersebut, apabila terdapat ketidakjelasan dalam penulisan resep maka akan mempermudah bagi apoteker untuk menghubungi dokter dan mengkomunikasikan masalah terkait resep dan menjamin keamanan pasien untuk diberikan pengobatan oleh dokter tersebut. Selain itu, paraf dokter juga penting untuk dilihat demi memastikan keresmian resep yang dibawa oleh pasien. Dari segi identitas pasien, apoteker perlu melihat umur, jenis kelamin dan berat badan yang tertera pada resep untuk membantu melihat kesesuaian dengan dosis yang diberikan kepada pasien. Nama dan alamat pasien akan memudahkan untuk menemukan atau menghubungi pasien tersebut apabila sewaktu-waktu apoteker perlu melakukan monitoring pengobatan, ataupun untuk melengkapi dokumentasi di apotek tersebut (Bodhi, Fatimawali, dan Mamarimbing, 2012). Selain tidak lengkapnya skrining administratif yang dilakukan oleh responden juga ditemukan fakta bahwa beberapa responden menyatakan untuk kegiatan nomor 1 dan 3 meskipun dilakukan namun frekuensinya jarang dan bahkan terdapat 2 responden yang sama

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 sekali tidak melakukan pemeriksaan pada kegiatan tersebut. Kegiatan nomor 4, oleh 7 responden tidak memeriksa secara rinci dimana terdapat 2 responden yang paling banyak tidak melakukan kegiatan nomor 4 secara rinci dengan tidak memeriksa nama, alamat, jenis kelamin dan berat badan pasien. Terdapat beberapa alasan yang dikemukakan oleh responden mengenai pelaksanaan skrining administratif yang dilaksanakan tidak lengkap ataupun jarang dilakukan yang ditampilkan pada Tabel III, sebagai berikut : Tabel III. Alasan responden tidak melakukan skrining administratif secara lengkap Jumlah Nomor Alasan kegiatan tidak dilakukan responden, n=9 Alasan tidak memeriksa indentitas dokter secara lengkap : a. Indentitas dokter bukan menjadi masalah 1 b. Dokter yang menulis resep adalah dokter yang 2 1 praktik di apotek tersebut c. Apoteker yakin akan kelengkapan identitas dokter 1 sehingga tidak perlu dicek lagi d. Faktor kesibukan (efisiensi waktu) 1 e. Tanpa alasan spesifik 2 Alasan responden tidak selalu memeriksa identitas pasien secara lengkap : a. Interaksi obat yang paling penting untuk diperiksa 1 bukan identitas pasien b. Yang paling penting umur pasien saja karena 2 2 berkaitan dengan dosis c. Hanya untuk anak-anak yang perlu diperhatikan 2 d. Kelengkapan administrasi bukan menjadi masalah 1 e. Tanpa alasan yang spesifik 3 Keterangan : mengacu pada kegiatan dalam Tabel II Pada Tabel III, salah satu alasan responden yang mengemukakan bahwa “identitas dokter bukan menjadi masalah” tidak dapat dianggap sepele, karena identitas dokter pada resep merupakan salah satu indikasi untuk melihat legalitas atau keresmian dari resep itu sendiri. Memperhatikan identitas dokter juga perlu

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 dilakukan sebagai upaya menghindari penyalahgunaan resep. Salah satu alasan responden tidak melakukan pemeriksaan indentitas pasien dengan lengkap adalah “yang paling penting umur pasien saja karena berkaitan dengan dosis”, padahal tidak hanya umur yang berkaitan dengan dosis obat, berat badan dan jenis kelamin juga ikut berpengaruh. Selain itu, identitas pasien tidak hanya diperhatikan untuk mengecek kesesuaian dosis, tetapi untuk hal nama dan alamat pasien juga menjadi penting demi kebutuhan dokumentasi (Bodhi dkk, 2012). 2. Skrining kesesuaian farmasetik Hasil penelitian mengenai skrining kesesuaian farmasetik yang dilakukan oleh responden ditampilkan dalam Tabel IV, sebagai berikut : Tabel IV. Ketentuan skrining kesesuaian farmasetik Jumlah responden yang Nomor Kegiatan pemeriksaan melaksanakan, n=12 1. Bentuk sediaan 12 2. Dosis obat 12 3. Potensi 6 4. Stabilitas 6 5. Inkompatibilitas 6 6. Cara pemberian 11 7. Lama pemberian 8 Pada Tabel IV, diketahui hanya terdapat 1 responden yang melakukan skrining kesesuaian farmasetik secara lengkap. Sebelas responden lainnya tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik secara lengkap, dimana terdapat 1 responden tidak melakukan 4 kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah skrining potensi, stabilitas dan inkompatibilitas obat. Selain kegiatan skrining yang tidak dilakukan dengan

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 lengkap oleh beberapa responden, juga diketahui kegiatan nomor 3, 4 dan 5 oleh 3 responden hanya dilakukan jika perlu. Kegiatan skrining nomor 6 dan 7 oleh 4 responden meskipun dilakukan tetapi frekuensinya pelaksanaannya jarang. Beberapa alasan responden tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik secara lengkap ditampilkan pada Tabel V, sebagai berikut : Tabel V. Alasan responden tidak melakukan skrining kesesuaian farmasetik secara lengkap Jumlah responden yang tidak Alasan responden tidak melakukan skrining Nomor memeriksan secara secara lengkap lengkap, n=11 1 2 3 4 5 Potensi : a. Tanpa alasan spesifik Stabilitas : a. Cukup dicek saat pertama kali diterima dari distributor obat b. Tanpa alasan spesifik Inkompatibilitas : a. Tanpa alasan spesifik Cara pemberian : a. Tanpa alasan spesifik Lama pemberian : a. Pasien lebih tau tentang cara pemberian dan lama pemberian obat b. Dokter hanya menulis “prn” yang artinya obat digunakan seperlunya c. Tanpa alasan spesifik 6 1 5 6 1 1 1 2 Keterangan : mengacu pada kegiatan dalam Tabel IV Tabel V memaparkan alasan responden tidak melakukan beberapa hal dalam skrining kesesuaian farmasetik. Skrining potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara pemberian dan lama pemberian merupakan kegiatan yang paling jarang bahkan tidak dilakukan oleh beberapa responden. Dengan demikian dapat dikatakan terdapat 11 responden belum memenuhi pelaksanaan standar

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Penelitian lain oleh Sukmajati (2008), diketahui bahwa 56,52% responden telah melakukan kegiatan skrining farmasetik, selebihnya belum melakukan skrining farmasetik secara rinci. Jika dilihat menurut standar, maka seharusnya dalam skrining kesesuaian farmasetik semua hal perlu diperiksa. Potensi obat penting untuk dilihat karena berkaitan dengan seberapa kuat obat tersebut terutama jika disesuaikan dengan umur dan tingkat keparahan penyakit. Inkompatibilitas juga penting untuk melihat adanya kemungkinan interaksi fisika yang terjadi pada obat. Cara pemberian perlu dilihat untuk memastikan aturan pakai dari obat dalam resep dan yang terakhir adalah lama pemberian yang berkaitan dengan durasi atau sampai kapan penggunaan obat tersebut. 3. Skrining pengkajian klinis Hasil wawancara mengenai skrining pengkajian klinis ditampilkan pada Tabel VI, sebagai berikut : Tabel VI. Kegiatan skrining pengkajian klinis Nomor Bentuk pengkajian klinis Jumlah responden yang melakukan kegiatan, n=12 1. Adanya alergi 10 2. Adanya efek samping 8 3. Adanya interaksi obat 9 4. Kesesuaian obat (dosis, durasi, jumlah obat) 9 Pada Tabel VI diatas, diketahui bahwa untuk kegiatan skrining pengkajian klinis dari 12 responden yang diwawancarai hanya 5 responden yang

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 melaksanakan pengkajian klinis secara lengkap. Tujuh responden tidak melaksanakan pengkajian klinis secara lengkap, dimana terdapat 1 responden tidak melakukan 3 kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah skrining adanya kemungkinan efek samping. Penelitian lain oleh Sukmajati (2008), diketahui terdapat 47,82% responden yang melakukan skrining pengkajian klinis. Jika dilihat dari frekuensi pelaksanaannya, terdapat beberapa kegiatan yang meskipun dilakukan namun frekuensinya masih jarang atau tergantung kondisi yaitu untuk kegiatan skrining nomor 1 dan 2. Hal ini diperkuat dengan beberapa pernyataan responden : “Kalau untuk inhaler gitu efek samping kita nggak cek….. pasien sudah tau sendiri lah….Kalau yang kapsul itu yang baru kita cek, soalnya kan racikan to?............ (Responden 1). “………kalau pasiennya tidak menyampaikan kita nggak ngecek.Kalau pasien nggak ngomong apa-apa ya kita tidak perlu cek……..Jadi untuk pengecekannya kadang-kadang iya, kadang-kadang nggak.”(Responden 5 ). “….jarang ngecek adanya alergi…… tapi akhir-akhir ini…..saya udah mulai ngecek” (Responden 10). “…..efek samping obat… Soalnya pada dasarnya kan pasien yang datang beli obat dengan resep itu memang obat yang dia mau beli adalah obat yang memang sering dia pakai. Jadi nggak mesti kita cek lagi…. (Responden 10)” Kegiatan skrining nomor 3 meskipun pernah dilakukan, namun beberapa responden menyatakan bahwa frekuensi pelaksanaannya jarang. “…..nggak selalu. Jadi kadang kita itu ngecek kalau misalnya pasien pada saat yang bersamaan sedang mengkonsumsi obat lain yang bukan untuk terapi asma…..” (Responden 9). “…..memang pasien dengan obat langganan, jadi nggak perlu dicek lagi” (Responden 10).

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Kegiatan skrining nomor 4 terdapat 1 responden yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan pada kondisi tertentu, yaitu apabila obat yang diresepkan adalah Aminofilin dan Theofilin. Kedua obat ini menurut responden merupakan obat dengan indeks terapi yang sempit sehingga untuk penggunaannya perlu memperhatikan kesesuaian antara dosis, durasi dan jumlah obat tersebut. Skrining pengkajian klinis sangat penting untuk dilakukan, karena berkaitan dengan keselamatan dari pasien. Untuk mengetahui adanya alergi maka apoteker berperan untuk dapat menggali informasi yang luas mengenai kondisi pasien. Kegiatan ini terutama perlu dilakukan apabila dalam resep tidak ada keterangan mengenai alergi. Efek samping juga perlu untuk dilihat agar apoteker nantinya dapat menjelaskan kemungkinan efek samping yang terjadi dan cara penanganannya. Untuk interaksi obat menjadi penting diperhatikan terutama dalam kasus peracikan obat yang dapat menimbulkan interaksi farmasetis (Rini, Swastiwi, dan Piliarta, 2009). Selain fakta-fakta yang dipaparkan diatas, bisa saja tidak lengkapnya pelaksanaan skrining disebabkan oleh apoteker yang tidak menggunakan prosedur tetap sesuai standar di apotek pada saat melayani resep dan hanya melaksanakan pelayanan secara spontan (Atmini dkk. 2011). 4. Proses penyiapan obat Setelah melakukan skrining resep, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian adalah penyiapan obat sesuai dengan permintaan dalam resep. Pada proses penyiapan obat, terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan sebelum obat tersebut diserahkan kepada pasien. Hal-hal yang dimaksud ditampilkan dalam Tabel VII, sebagai berikut :

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Tabel VII. Kegiatan proses penyiapan obat Jumlah responden Nomor Bentuk Kegiatan yang melakukan kegiatan, n=12 Peracikan (menimbang, mencampur, mengemas, memberi etiket, memperhatikan dosis dan jumlah 1. 11 obat) Menulis etiket dengan lengkap (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk obat luar, dan 2. 12 etiket lainnya seperti label kocok dahulu untuk sediaan cair) Menulis nama dan cara pemakaian obat pada 3. 11 etiket sesuai dengan permintaan resep Menyerahkan obat yang dikemasi dengan rapi 4. 10 dan sesuai demi menjaga kualitas obat Melakukan pemeriksaan akhir terhadap 5. 11 kesesuaian antara obat dengan resep sebelum diserahkan ke pasien asma Pada Tabel VII diketahui 2 responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara lengkap dimana terdapat 1 responden yang tidak melakukan 4 kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah menyerahkan obat yang dikemasi dengan rapi dan sesuai demi menjaga kualitas obat. Sepuluh responden lainnya melakukan semua kegiatan proses penyiapan obat secara lengkap namun terdapat beberapa responden diantaranya yang tidak melakukan kegiatan secara terperinci. Hal ini dikarenakan kegiatan penyiapan obat nomor 1 terdapat 5 responden menyatakan tidak semua hal terkait kegiatan peracikan dilakukan secara rinci. Kegiatan nomor 3 oleh 1 responden mengemukakan bahwa meskipun kegiatan menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan permintaan resep telah dilakukan, namun terdapat kasus-kasus tertentu dimana untuk penulisan cara pemakaian di etiket tidak diberi keterangan secara lengkap.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 “….. diresepnya itu untuk signanya dokter cuma nulis “suc” doang……jadi anggapannya si pasien sudah tau cara penggunaan obatnya, biasanya sih itu pasien yang pakai inhaler….. jadi kita juga cuma nulis dietiketnya “Pasien Tau Pakai” (Responden 11). Kegiatan nomor 4 terdapat 2 responden yang tidak melakukan kegiatan tersebut mengemukakan alasan yang kurang lebih sama yaitu bahwa ketika melakukan proses penyiapan obat tidak dilakukan secara terperinci. Terdapat beberapa alasan responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara lengkap yang ditampilkan pada Tabel VIII berikut ini : Tabel VIII. Alasan responden tidak melakukan proses penyiapan obat secara lengkap Jumlah responden yang Nomor Alasan kegiatan tidak dilakukan tidak melakukan, n=7 Alasan tidak melakukan peracikan secara lengkap: a. Belum pernah ada obat resep racikan, 1 sehingga tidak perlu ditimbang 1. b. Penimbangan hanya dilakukan jika perlu 1 c. Selama dosis terapi, tidak perlu ditimbang 1 d. Tidak perlu ditimbang karena kebanyakan 2 permintaan resep sudah dalam bentuk tablet Alasan tidak melakukan pengemasan dengan rapi 2. dan sesuai demi menjaga kualitas obat a. Tidak terlalu menjadi hal yang diperhatikan 2 Keterangan : mengacu pada kegiatan dalam Tabel VII Pada Tabel VIII menunjukkan 7 responden yang mengemukakan alasan tidak melakukan kegiatan peracikan secara lengkap dan tidak memperhatikan pengemasan obat yang rapi sebelum diberikan ke pasien. Dengan demikian dapat dikatakan sebagian responden belum memenuhi pelaksanaan standar penyiapan obat sesuai yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara lengkap.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Jika dilihat dari alasan-alasan responden tidak melakukan melakukan proses penyiapan obat secara lengkap seperti yang ditampilkan pada Tabel VIII maka memang jika sediaan yang diminta dalam resep adalah dalam bentuk tablet sudah tidak perlu lagi dilakukan peracikan. Namun apabila beberapa sediaan obat perlu untuk diracik atau diubah dalam bentuk pulveres maka seharusnya proses peracikan dilakukan secara lengkap yaitu dimulai dari perhitungan, penimbangan, pencampuran hingga pada pengemasan. Dalam proses pengemasan seharusnya kerapian dan kesesuaian kemasan harus diperhatikan sebelum diberikan kepada pasien hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga kualitas obat (Kepmenkes RI, 2008). Standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 mengemukakan bahwa dalam penyiapan obat terdapat beberapa proses yang harus dilakukan secara sistematis seperti yang ditampilkan pada Tabel VII. Hal ini dilakukan agar ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan pasien dapat tercapai hingga pada penyerahan obat tersebut (Kepmenkes RI, 2008) sehingga pelaksanaan proses penyiapan obat seharusnya dilakukan dengan lengkap sesuai prosedur. C. Profil Pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta 1. Bentuk kegiatan pelayanan informasi obat Pada proses penyerahan obat kepada pasien, apoteker memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi terkait obat yang dilakukan berdasarkan

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 prosedur tetap menurut standar. Prosedur tetap yang dilaksanakan oleh responden dari hasil penelitian dipaparkan dalam Tabel IX, sebagai berikut : Tabel IX. Kegiatan pelayanan informasi obat Jumlah responden Nomor Bentuk kegiatan yang melakukan kegiatan, n=12 Melakukan PIO berdasarkan resep atau kartu 1. 10 pengobatan pasien (medication record) Memberikan dan menyebarkan informasi kepada 2. konsumen secara aktif dan pasif, mudah 11 dimengerti, tidak bias, etis dan bijaksana Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga 3. 11 kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka 4. Menyediakan buletin, leaflet, poster 3 Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga 5. 5 farmasi dan tenaga kesehatan lainnya 6. Penelurusan berdasarkan literature 5 Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan 7. 0 kegiatan pelayanan kefarmasian 8. Mendokumentasikan PIO 4 Keterangan : PIO (Pelayanan Informasi Obat) Pada Tabel IX diketahui dari 12 responden yang diwawancarai tidak ditemukan satupun responden yang telah melakukan kegiatan PIO secara lengkap, dimana terdapat 2 responden tidak melakukan 7 kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan PIO yang paling banyak tidak dilakukan adalah mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian. Bahkan terdapat 4 responden mengemukakan dalam pemberian informasi obat hanya diberikan kepada pasien asma yang datang dengan resep saja. Dengan demikian dapat dikatakan 12 responden belum memenuhi pelaksanaan standar PIO yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Kegiatan PIO nomor 3 sebanyak 4 responden menyatakan pelayanan yang pernah diberikan untuk menjawab pertanyaan pasien hanya dilakukan lewat tatap muka dan belum pernah mendapatkan pasien ataupun tenaga kesehatan yang bertanya melalui telefon. Delapan responden lainnya menyatakan telah memberikan pelayanan dengan menjawab pertanyaan pasien baik melalui telefon maupun tatap muka. Kegiatan PIO nomor 5 merupakan kegiatan berupa keikutsertaan responden dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan penyakit asma yang biasanya diselenggarakan oleh pihak Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) ataupun oleh pihak produsen obat berupa product knowledge. Kegiatan ini sangat penting, karena merupakan pemenuhan dalam konsep The Nine Star-Pharmacist yang diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) yaitu salah satunya mencakup Long-life learner dimana sebagai tenaga kefarmasian seorang apoteker tidak hanya berhenti pada ilmu pengetahuan yang diperoleh dari sekolah farmasi, namun wajib untuk terus menimbah ilmu pengetahuan dan keterampilan secara up-date sehingga dibutuhkan sikap dan komitmen untuk mau terus belajar (IAI, 2010). Adanya pelaksanaan kegiatan pelayanan informasi obat yang belum sesuai dengan standar disebabkan oleh beberapa fakta yang ditemukan dari hasil penelitian dimana kegiatan PIO pada Tabel IX nomor 1 sebagian besar dilakukan berdasarkan resep yang datang dan terdapat 2 responden tidak melakukan PIO berdasarkan resep ataupun kartu pengobatan pasien (medication record) dengan mengemukakan alasan sebagai berikut :

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 “……..Kalau memang pasien rutin, nggak dikasih PIO lagi. Kalau untuk inhaler juga diliat dulu pasiennya udah tau cara pakainya atau tidak, baru setelah itu jadi pertimbangan untuk pemberian PIO” (Responden 9) “Kalau yang OTC, kita nggak ngasih PIO, soalnya anggapannya pasiennya memang sudah terbiasa pakai obat itu dan udah tau” (Responden 3). Kegiatan PIO nomor 4 dilakukan responden dengan cara menyediakan leaflet yang diberikan dari produsen obat memang telah dilakukan, namun demikian diakui oleh responden belum ada program yang digalangkan untuk pembuatan brosur, leaflet, atau bulletin secara mandiri dari apotek tersebut untuk penyakit asma. Kegiatan PIO nomor 6 yaitu penelusuran literature tidak dilakukan oleh beberapa responden dengan beberapa alasan yang dikemukakan. Alasan – alasan yang dimaksud, ditampilkan pada Tabel X sebagai berikut : Tabel X. Alasan responden tidak melakukan penelusuran literature Alasan responden tidak melakukan Jumlah responden yang Nomor penelusuran literature tidak melakukan, n=7 Alasan tidak melakukan kegiatan : a. Hanya melihat leaflet atau brosur 2 obat 1 b. Hanya menyampaikan isi resep 1 c. Hanya berdasarkan pengalaman 1 d. Tanpa alasan spesifik 3 Keterangan : mengacu pada kegiatan dalam Tabel IX Pada Tabel X diketahui terdapat 7 responden yang tidak melakukan penelusuran literature pada saat memberikan pelayanan informasi obat kepada pasien asma dengan berbagai alasan seperti apoteker hanya membaca brosur atau leaflet yang disertakan pada kemasan obat, hanya menyampaikan isi resep, hanya berdasarkan pengalaman, bahkan terdapat responden yang tidak memberikan alasan yang spesifik.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Penelusuran literature pada dasarnya penting untuk dilakukan, hal ini akan membantu apoteker untuk menguasai materi terkait informasi obat dan meningkatkan keakuratan dari informasi yang akan disampaikan kepada pasien. Selain itu dapat diperoleh data ter-up date untuk menambah informasi tidak hanya bagi pasien tetapi bagi apoteker itu sendiri. Pelayanan informasi obat sudah seharusnya diberikan kepada semua pasien tanpa terkecuali baik itu dengan resep ataupun non-resep dengan melihat kebutuhan dari pasien itu sendiri. Kegiatan PIO nomor 8 pada Tabel IX yaitu melakukan pendokumentasian PIO dari 4 responden yang melakukan kegiatan tersebut, 1 diantaranya memang menyatakan bentuk pendokumentasian PIO yang dilakukan yaitu berupa Rekam Medis (RM), namun 1 responden lainnya menyatakan bahwa pendokumentasian PIO meskipun dilakukan namun tidak selalu. Hal ini diperkuat dengan pernyataan responden sebagai berikut : “…cuma pendokumentasiannya itu tidak selalu. Jadi kadang-kadang iya, kadang-kadang nggak. Soalnya faktor kesibukan juga sih…….”(Responden 5). 2. Penyampaian informasi obat Pada saat penyerahan obat kepada pasien, terdapat informasi-informasi yang sekurang-kurangnya wajib untuk disampaikan oleh apoteker kepada pasien yang dipaparkan dalam Tabel XI. Diketahui dari 12 responden, terdapat 6 responden yang telah melakukan pemberian informasi obat secara lengkap, namun diantara 6 responden tersebut, 4 diantaranya menyatakan bahwa pemberian informasi obat dilakukan hanya untuk pasien dengan resep dan 1 responden yang memberikan informasi obat kepada pasien dengan resep dan non-resep. Satu responden lainnya meskipun memberikan informasi secara lengkap namun untuk

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 informasi 1,2 dan 3 diakui diberikan tergantung pada kondisi pasien. Enam responden lainnya tidak memberikan infomasi kepada pasien asma secara lengkap dimana terdapat 1 responden tidak memberikan 4 informasi yang seharusnya diberikan kepada pasien asma. Informasi yang paling banyak tidak diberikan adalah aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari. Dengan demikian dapat dikatakan sebagian responden belum memenuhi pelaksanaan standar pemberian informasi obat kepada pasien asma yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Sukmajati (2008), diketahui terdapat 56,52% responden yang memberikan informasi obat secara lengkap dan selebihnya tidak memberikan informasi obat secara lengkap. Tabel XI. Jenis informasi Obat Jumlah responden yang Nomor Informasi yang disampaikan menyampaikan informasi n=12 1. Cara pemakaian obat 12 2. Cara penyimpanan obat 11 3. Jangka waktu pengobatan 10 Aktivitas serta makanan dan minuman yang 4. 7 harus dihindari 5. Pemberi informasi tambahan 9 Selain tidak lengkapnya pemberian informasi obat yang diberikan oleh responden kepada pasien asma juga ditemukan beberapa fakta lain, seperti pada kegiatan dalam Tabel XI nomor 1 terdapat 1 responden menyatakan pemberian informasi mengenai cara pemakaian obat diberikan kepada pasien dengan resep yang bersedia dan baru pertama kali datang. Satu responden lainnya menyatakan pemberian informasi mengenai cara pemakaian obat hanya diberikan bagi pasien

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 yang pertama kali menggunakan inhaler atau aerosol dan tidak diberikan kepada pasien yang membeli obat dengan penggunaan secara oral (Tablet, kapsul,dll). “……kita berikan tergantung kesediaan dari pasiennya……,…….kalau keliatannya nggak buru-buru kita nggak ngejelasin. Atau kalau pasiennya nolak, ya udah kita nggak ngasih informasinya”(Responden 10). “……Kecuali pasiennya datang beli aerosol atau inhaler, na.. itu baru kita berikan informasi. Itupun informasinya diberikan ke pasien yang memang baru awal, yang langganan nggak lagi”(Responden 9). Informasi obat nomor 5 merupakan informasi-informasi tambahan, dimana informasi yang dimaksud dipaparkan dalam Pharmaceutical care untuk pasien asma dan wajib untuk disampaikan kepada pasien asma (Depkes RI, 2007). Dari sekian banyak informasi tambahan yang dapat disampaikan kepada pasien asma, terdapat beberapa informasi yang paling banyak diberikan oleh responden. Informasi yang dimaksud disajikan pada Tabel XII sebagai berikut : Tabel XII. Informasi tambahan untuk pasien asma Jumlah responden Nomor Informasi yang diberikan yang memberikan informasi, n=9 Beberapa informasi tambahan yang diberikan kepada pasien asma : a. Hindari paparan alergi penyebab 5 kambuhnya asma b. Efek samping yang dapat timbul dari 1 1 obat yang digunakan c. Hubungan asma dengan merokok 2 d. Kapan mengunakan obat asma 2 e. Terapi penunjang yang dapat dijalani 1 pasien Keterangan : mengacu kegiatan dalam Tabel XI Pada Tabel XII, diketahui 9 responden yang memberikan informasi tambahan kepada pasien asma terkait pemicu atau alergen yang perlu untuk dihindari oleh pasien agar tingkat kekambuhan pasien tersebut dapat berkurang.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Informasi tersebut merupakan informasi yang paling banyak diberikan oleh responden kepada pasien asma dibandingkan informasi-informasi tambahan lainnya. “….. Kalau pasiennya bilang dia alergi debu, kita biasa sarankan untuk sering memakai masker. Kalau pasiennya alergi dengan cuaca, kita biasa ngasih sarannya pakai jaket atau pakaian yang agak tebal. Atau biasa juga kita ngejelasin hubungan antara asma dengan rokok”(Responden 12) Pelayanan informasi obat adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh apoteker. Apoteker dapat dikatakan sebagai pusat yang berperan dalam memberikan informasi obat. Pemberian informasi obat menjadi hal yang sangat penting untuk diberikan kepada pasien karena dapat berpengaruh pada penggunaan obat yang rasional dan keberhasilan terapi. Pada kasus pasien dengan resep, informasi obat biasanya telah tertera pada etiket. Namun demikian, apoteker harus tetap memberikan informasi secara langsung kepada pasien demi menegaskan instruksi yang telah tertera pada etiket obat. Pemberian informasi juga penting diberikan kepada pasien swamedikasi/non-resep, hal ini dikarenakan pasien swamedikasi biasanya melakukan pemilihan obat secara mandiri dan tidak memperoleh informasi dari dokter atau tenaga kesehatan yang lain layaknya pasien dengan resep. Maka dari itu, apotekerlah yang berkewajiban untuk memberikan informasi yang memadai terutama terkait pemilihan dan penggunaan obat (Setiawan, Hasanmihardja, dan Mahatir, 2010). Sehingga, tidak seharusnya penyampaian informasi obat itu hanya diberikan kepada pasien-pasien tertentu saja.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 3. Bentuk persiapan sebelum melakukan informasi dan edukasi Sebelum memberikan pelayanan informasi dan edukasi kepada pasien, terdapat beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan oleh apoteker sebagai bentuk persiapan. Persiapan yang dilakukan merupakan pedoman sebelum memberikan pelayanan informasi dan edukasi kepada pasien. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi yang dilakukan oleh responden, disajikan dalam Tabel XIII sebagai berikut : Tabel XIII. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi Jumlah responden yang Nomor Bentuk persiapan melakukan persiapan, n=12 Pembekalan diri dengan pengetahuan tentang asma 1. 12 dan pengobatan Pemberian informasi kepada pasien dan juga keluarga terutama untuk pasien yang mengalami 2. masalah dalam berkomunikasi dengan 11 mempertimbangkan latar belakang dan pendidikan pasien dan keluarganya Mengumpulkan dan mendokumentasikan data pasien (riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan, 3. dan pengobatan yang dijalani, obat-obat yang 7 digunakan selain obat asma yang berpengaruh terhadap pengobatan asma) Menggunakan sarana tambahan dalam penyampaian 4. 7 informasi (peragaan inhaler dan rotahaler) Mempertimbangkan pemberian obat dengan jumlah, dosis yang lebih sedikit, kejadian efek samping obat 5. yang lebih jarang terjadi serta adanya pengertian 10 dan kesepakatan antara dokter, pasien dan apoteker untuk meningkatkan kepatuhan pasien Hasil yang dipaparkan pada Tabel XIII, diketahui 5 responden melakukan persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi secara lengkap namun tidak terperinci. Tujuh responden tidak melakukan persiapan sebelum

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 memberikan informasi dan edukasi secara lengkap dimana terdapat 1 responden tidak melakukan 4 kegiatan persiapan yang seharusnya dilakukan. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah mengumpulkan dan mendokumentasikan data pasien (riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan, dan pengobatan yang dijalani, obat-obat yang digunakan selain obat asma yang berpengaruh terhadap pengobatan asma) dan menggunakan sarana tambahan dalam penyampaian informasi (peragaan inhaler dan rotahaler). Dengan demikian dapat dikatakan sebagian responden belum memenuhi standar pelaksanaan persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Diketahui bentuk persiapan nomor 1 pada Tabel XIII merupakan kegiatan pembekalan diri dimana 12 responden tersebut melakukan pembekalan diri melalui pengalaman dan pendidikan yang telah diemban. Satu responden lainnya menyatakan bentuk pembekalan diri tambahan dilakukan dengan menggunakan ebook PC ataupun menggunakan program aplikasi Medscap di internet dan membaca beberapa jurnal kesehatan untuk informasi terbaru. Pembekalan diri yang dimaksud adalah pengetahuan tentang asma dan pengobatan. Hal ini merupakan kegiatan yang penting dilakukan sebelum memberikan informasi dan edukasi kepada pasien. Pembekalan diri tidak hanya berupa pengetahuan yang cukup terkait penyakit asma dan pengobatannya, namun juga berupa adanya rasa kepedulian atau perhatian yang perlu ditumbuhkan dari diri seorang apoteker terhadap pasien. Pembekalan diri akan sangat membantu bagi apoteker untuk menguasai materi-materi terkait asma dan membantu apoteker tersebut untuk

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 mengetahui informasi dan edukasi seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada pasien. Penguasaan materi juga akan sangat membantu untuk meningkatkan rasa percaya diri bagi apoteker dalam memberikan informasi dan juga sekaligus membantu untuk meningkatkan rasa percaya pasien terhadap apoteker sehingga hal ini akan sangat mendukung berjalannya proses pengobatan yang baik (Depkes RI, 2007). Dalam penerapan Pharmaceutical care seorang apoteker sebagai tenaga profesional haruslah mampu memberikan informasi kepada semua pasien, dalam hal ini adalah pasien asma. Pada beberapa kasus asma ditemukan beberapa pasien selain mengidap penyakit asma juga terkadang memiliki masalah terkait adanya keterbatasan dalam berkomunikasi, dengan demikian ketika menghadapi kondisi tersebut seorang apoteker wajib untuk mencari solusi agar pemberian informasi dan edukasi tetap dapat diberikan. Salah satu cara penanganan atau solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan keluarga pasien, sehingga informasi dan edukasi dapat diberikan melalui keluarga pasien yang diharapkan nantinya dapat membantu dan mendukung pasien tersebut dalam proses pengobatan. Pemecahan masalah dengan melibatkan keluarga pasien untuk menyalurkan informasi dan edukasi tidak hanya dilakukan ketika ditemui kasus seperti yang telah disebutkan. Kegiatan melibatkan keluarga juga dapat dilakukan dengan pertimbangan latar belakang atau pendidikan pasien. Latar belakang dan pendidikan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan pasien terhadap informasi dan edukasi penyakit asma serta pengobatan yang diterima. Tingkat pengetahuan ini menurut penelitian terbukti sangat mempengaruhi pemahaman dan kesadaran

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 pasien dalam menjalankan pengobatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan pasien (Suryaningnorma, 2009). Hal inilah yang mendasari mengapa kegiatan nomor 2 pada Tabel XIII perlu untuk dilakukan. Bentuk persiapan pada Tabel XIII nomor 3 adalah pendokumentasian data pasien yang dilakukan untuk membantu apoteker dalam mengkaji secara dalam penyebab dari penyakit dan serangan asma yang dialami pasien serta sangat membantu apoteker untuk menetapkan informasi dan edukasi seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada pasien dan keluarganya demi tercapainya pengobatan yang baik dan peningkatan kualitas hidup pasien karena pada dasarnya data – data yang didokumentasikan sangatlah mempengaruhi pengobatan pasien (Depkes RI, 2007). Meskipun pendokumentasian ini dilakukan oleh beberapa responden, namun tidak secara lengkap sehingga belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Terdapat 4 responden tidak mendokumentasikan gaya hidup dan pekerjaan pasien. Seharusnya menurut penerapan Pharmaceutical care untuk pasien asma, data gaya hidup dan pekerjaan pasien wajib untuk didokumentasikan. Dua hal ini dapat mengidentifikasikan bagaimana aktivitas pasien itu sendiri sehari-harinya dan bisa saja menjadi penyebab terjadinya kekambuhan pada pasien asma (Depkes RI, 2007). Informasi dan edukasi seperti yang dimaksud pada Tabel XIII nomor 4 tidak hanya dapat disampaikan secara lisan, namun juga dapat didukung dengan penggunaan alat peraga, dalam hal ini yaitu terkait peragaan cara penggunaan inhaler, nebulizer, dll yang merupakan alat kesehatan penting untuk pengobatan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 pasien asma. Penyampaian informasi dan edukasi secara lisan dan didukung dengan peragaan secara langsung cara penggunaan alat kesehatan didepan pasien akan sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman pasien dalam menggunakan alat kesehatan tersebut dan membantu untuk meminimalkan kesalahan dalam penggunaannya. Harapannya dengan melakukan peragaan, pasien mampu mencontoh hal tersebut dan dapat dengan telaten menggunakan alat kesehatan yang digunakan dalam pengobatan, sehingga ketika terjadi serangan asma mendadak pasien akan dengan sigap mampu menggunakan alat kesehatan (inhaler, nebulizer, dll) untuk meredahkan sesak yang dirasakan. Meskipun kegiatan ini dilakukan oleh beberapa responden, terdapat 1 responden menyatakan bahwa di apotek tempat responden bekerja memang tidak menyediakan alat kesehatan untuk pengobatan asma seperti inhaler, nebulizer, dll sehingga apoteker tersebut pun tidak pernah memberikan pelayanan kepada pasien asma dengan melakukan peragaan dan hanya melayani pasien yang datang untuk membeli obat yang penggunaannya secara oral. Pertimbangan yang dimaksud pada Tabel XIII nomor 5 merupakan salah satu fungsi utama yang wajib dilakukan dalam Pharmaceutical care menurut Hepler and Strand (1990). Namun, fenomena yang menarik perhatian yaitu terdapat responden yang menyatakan bahwa meskipun kegiatan pertimbangan pemberian obat tersebut dilakukan, tidak jarang obat yang dibeli oleh pasien memiliki risiko terjadinya efek samping yang tinggi. Responden yang berperan sebagai apoteker dalam kasus ini telah menginformasikan hal tersebut kepada pasien dan menyarankan untuk menggunakan obat lain yang risiko efek

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 sampingnya lebih rendah. Namun pada akhirnya obat yang diberikan adalah tetap obat yang ingin dibeli oleh pasien di awal. Fenomena yang sama juga terjadi untuk kasus pasien yang menggunakan lebih dari satu obat asma namun pada dasarnya memiliki indikasi yang sama. “…...kita sudah menyarankan untuk menggunakan obat lain atau mempertimbangkan apakah tetap menggunakan obat tersebut. Pada akhirnya obat yang mau dibeli pasien yang memiliki risiko efek samping yang tinggi tetap kita berikan kepada pasien”(Responden 8). “Kadang ada pasien asma yang beli obat lebih dari satu. Biasanya kedua obat itu indikasinya sama. Cuma pada saat kita sarankan ke pasien untuk pakai salah satunya saja, pasiennya malah nggak mau. Pasien malah ngeyel mau pakai dua-duanya….ya udah mau gimana lagi” (Responden 10). Dari pernyataan yang dipaparkan oleh responden 8 dan 10 dapat dilihat bahwa memang benar responden tersebut sebagai apoteker telah berusaha melakukan pertimbangan dalam pemberian obat ke pasien dengan tujuan tidak lain agar menghindari risiko terjadinya efek samping dan pertimbangan efisiensi penggunaan obat. Hanya saja tujuan tersebut tidak tercapai sepenuhnya karena responden yang pada saat itu berperan sebagai apoteker masih kurang mampu untuk meyakinkan pasien dan meningkatkan rasa percaya pasien terhadap apoteker yang memberikan penjelasan dan nasehat pemilihan obat yang baik. Hal ini bisa saja disebabkan oleh penggunaan bahasa atau cara komunikasi yang kurang efektif sehingga tidak tercapai kesepakatan dan pemahaman bersama antara pasien dan apoteker tersebut sehingga pasien tetap ingin menggunakan obat yang diinginkan untuk dibeli. Tabel IX, XI, dan XIII merupakan rangkaian dari pelaksanaan pelayanan informasi obat, dilihat secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa meskipun

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 pelayanan informasi obat telah dilaksanakan oleh responden namun belum secara optimal dan belum memenuhi pelaksanaan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hal tersebut terlihat dari adanya beberapa kegiatan yang tidak dilakukan oleh responden ataupun dilakukan namun frekuensi pelaksanaannya jarang dan bahkan hanya diberlakukan pada pasien tertentu saja. D. Profil Pelaksanaan Konseling pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta 1. Kegiatan konseling Konseling merupakan proses terstruktur yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien. (Kepmenkes RI, 2006). Terdapat beberapa sasaran pasien yang dapat dijadikan pertimbangan bagi apoteker untuk memberikan konseling. Sasaran pasien yang dimaksud, ditampilkan pada Tabel XIV diketahui bahwa pelaksanaan konseling dilakukan oleh 11 responden namun tidak secara lengkap dimana terdapat 1 responden tidak melakukan konseling terhadap 6 kriteria pasien asma yang seharusnya diberikan. Kriteria pasien asma yang paling banyak tidak diberikan konseling adalah pasien asma dengan multirejimen obat dan yang mengalami drug related problem. Dari 11 responden tersebut hanya 1 responden yang pernah melakukan konseling untuk semua kondisi yang ditampilkan dalam Tabel XIV dan 1 responden lainnya tidak / belum pernah melakukan konseling pada pasien asma. Dengan demikian sebagian responden telah memenuhi pelaksanaan konseling dengan melihat kondisi-kondisi

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 pasien sesuai standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Tabel XIV. Sasaran pemberian konseling Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sasaran pemberian konseling Pasien asma dengan sejarah ketidakpatuhan pengobatan Pasien asma yang menerima obat dengan indeks terapi sempit yang memerlukan pemantauan Pasien asma dengan multirejimen obat Pasien asma usia lansia Pasien asma usia pediatri melalui orang tua atau pengasuhnya Pasien asma yang mengalami Drug Related Problem Pasien asma dan keluarganya yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam penggunaan obat, jika perlu dengan melibatkan tenaga kesehatan lain sepeti dokter Jumlah responden yang melaksanakan, n=11 6 4 2 11 8 2 4 Adapun responden melakukan konseling dengan kriteria seperti yang ditampilkan pada Tabel XIV, dengan berbagai alasan yaitu sebagai berikut : Alasan responden melakukan konseling pada pasien dengan kriteria nomor 1 adalah: “……..biasanya pasien asma yang langganan kan resepnya itu untuk 1 minggu, kalau misalkan minggu berikutnya pasiennya nggak datang, biasanya kita telfon untuk mengingatkan. Pas pasiennya sudah datang, kita kasih konseling”(Responden 2). “Biasanya sih mbak cara tau pasiennya nggak patuh itu, kalau misalkan dia terlalu sering datang buat beli obat asmanya…………”(Responden 8). Alasan responden memberikan konseling dengan kriteria pasien nomor 2 adalah : “…. kalau saya itu ngasihnya terutama pasien yang dia itu pakai obatnya theofilin…….” (Responden 5). Alasan responden memberikan konseling dengan kriteria pasien nomor 3 adalah :

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 “…..ada pasien asma yang pakai obat 3 sekaligus.. SABA, Aminofilin sama Steroid... Terus si pasiennya sering meminta resep obat itu ke dokter tapi untuk pengobatan dengan jangka waktu sekaligus 3 bulan. Ya.. walaupun kebiasaan pasien itu meminta obat 3 sekaligus untuk pengobatan selama 3 bulan tidak pernah mengalami masalah, tapi saya mencoba memberikan pengarahan dalam konseling agar pasiennya itu selalu rajin melakukan kontrol tidak mesti 3 bulan setelah obat habis baru datang control” (Responden 4). Alasan responden memberikan konseling dengan kriteria pasien nomor 4 adalah : “…. Terutama kalau pasien asma itu usia lansia atau anak-anak. Soalnya usia itu erat hubungannya dengan dosis….….”(Responden 9) Alasan responden memberikan konseling dengan kriteria pasien nomor 5 adalah : “Konseling biasanya diberikan untuk pasien yang anak-anak dan obat yang digunakan itu Aminofilin. Biasanya kita kasih konseling melalui orang tuanya atau pengasuhnya. Hanya saja untuk perkembangan si anak tersebut dalam menggunakan aminofilin jarang kita ikuti” (Responden 3). Alasan responden memberikan konseling dengan kriteria pasien nomor 7 adalah : “Terkadang ada pasien asma yang awalnya dia pakai obat asma dengan bentuk sediaan tablet, tapi pada saat pasiennya datang lagi, ternyata sudah meningkat sampai ke penggunaan inhaler. Biasanya itu yang kita kasih konsultasi. Atau kita sarankan ke dokter dulu untuk konsultasi ke dokternya”(Responden 1). Pada dasarnya kegiatan konseling dapat diberikan kepada semua pasien asma, namun dengan beberapa pertimbangan maka untuk membantu apoteker dalam menetapkan pasien mana yang lebih pantas / layak diberikan konseling maka apoteker dapat mempertimbangkan kondisi-kondisi tertentu pada pasien seperti yang ditampilkan pada Tabel XIV. Pada kegiatan konseling seorang apoteker berperan sebagai “helper” yang akan membantu pasien dalam menerangkan pengenai pengobatan yang akan diberikan khususnya menjelaskan dan membantu pasien untuk memperoleh manfaat dari pengobatan tersebut. Kegiatan konseling akan membuka komunikasi antara pasien dan apoteker, sehingga hal ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Satu sisi

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 apoteker akan semakin mudah dalam mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi pasien dalam pengobatan sekaligus mempermudah apoteker untuk membantu pasien dalam menyelesaikan masalah tersebut. Sisi lain, pasien akan sangat terbantu untuk lebih mudah memahami masalah yang sedang dihadapinya, menambah pengetahuan dan pemahaman terkait cara mengatasi masalah yang dihadapi terutama dalam hal pengobatan yang dijalani serta membantu pasien untuk mencegah masalah-masalah lain yang bisa saja muncul dikemudian hari seperti terjadinya drug related problem atau efek samping yang dapat timbul dari pengobatan (Rantucci, 2007). 2. Materi konseling Pada pelaksanaan konseling, terdapat beberapa informasi atau materi yang wajib untuk diberikan oleh apoteker kepada pasien asma. Materi konseling yang diberikan oleh responden selaku apoteker dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XV sebagai berikut : Tabel XV. Materi konseling Nomor Materi konseling yang disampaikan 1. Mengenai sediaan farmasi Mengenai pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan 2. Jumlah responden yang menyampaikan, n=11 11 11 Pada Tabel XV, 11 responden yang melakukan konseling kepada pasien asma telah memberikan informasi terkait sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan sehingga disimpulkan semua apoteker yang pernah memberikan konseling kepada pasien asma telah memberikan materi konseling sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Jenis materi yang ditampilkan dalam Tabel XV yaitu mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan penting diberikan kepada pasien agar pasien dapat terhindar dari penggunaan obat atau alat kesehatan terutama cara penggunaan inhaler atau nebulizer yang tidak tepat atau bahkan salah. Hal ini dikarenakan penggunaan inhaler atau nebulizer membutuhkan keahlian khusus agar dapat digunakan secara tepat dan benar, dengan demikian hal ini akan membantu dalam meningkatkan pengetahuan pasien, memecahkan masalah yang dihadapi oleh pasien bahkan membantu mencegah terjadinya masalah pengobatan dikemudian hari (Kepmenkes RI, 2006). 3. Prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling Pada dasarnya dalam pelaksanaan konseling kepada pasien asma, terdapat prosedur tetap yang wajib untuk dilaksanakan yang akan sangat membantu bagi apoteker untuk mempermudah proses konseling itu sendiri. Hasil penelitian mengenai kegiatan prosedur tetap konseling yang telah dilakukan oleh responden ditampilkan pada Tabel XVI. Pada Tabel diketahui terdapat 3 responden telah melakukan prosedur tetap konseling secara lengkap. Delapan responden tidak melakukan prosedur tetap secara lengkap dimana terdapat 1 responden tidak melakukan 5 prosedur tetap yang seharusnya dilakukan. Satu responden lainnya tidak melakukan semua kegiatan prosedur tetap pada Tabel XVI. Kegiatan prosedur tetap yang paling banyak tidak dilakukan adalah membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien/ keluarga pasien, menanyakan apa yang diharapkan dalam pengobatan yang diberikan dan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 memperagakan dan menjelaskan cara pemakaian obat (rotahaler, inhaler, dll). Dengan demikian sebagian besar responden belum memenuhi pelaksanaan standar prosedur tetap sesuai yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Tabel XVI. Prosedur tetap pelaksanaan konseling Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Prosedur tetap pelaksanaan konseling Melakukan konseling sesuai dengan kondisi penyakit pasien Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien/ keluarga pasien Menanyakan apa yang telah dokter sampaikan terkait kegunaan pengobatan yang diberi Menanyakan bagaimana dokter menerangkan penggunaan obat (cara pakai, jumlah, lama pengobatan, cara penyimpanan, aturan pakai) Menanyakan apa yang diharapkan dalam pengobatan yang diberikan Memperagakan dan menjelaskan cara pemakaian obat (rotahaler, inhaler, dll) Melakukan verifikasi akhir : mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat (inhaler, nebulizer, dll) untuk mengoptimalkan tujuan terapi, melakukan pencatatan konseling pada kartu pengobatan Jumlah responden yang melaksanakan, n=11 10 6 9 7 6 6 11 Pada tabel XVI nomor 1, yang dimaksud dengan melakukan konseling sesuai dengan kondisi pasien pada dasarnya merupakan kondisi yang ditampilkan pada Tabel XIV. Prosedur nomor 2 merupakan kegiatan dimana apoteker melakukan konseling dengan membuka komunikasi antara apoteker itu sendiri dengan pasien. Apoteker berperan untuk memulai perbincangan yang diarahkan ke kegiatan konseling dengan cara menawarkan kepada pasien untuk diberikan

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 konseling terkait sakit dan pengobatan yang dijalani. Terdapat 6 responden yang tidak melakukan prosedur nomor 2 mengemukakan alasan bahwa konsultasi hanya dilakukan apabila pasien yang memulai bertanya dan memerlukan konsultasi. “Kita Cuma lakukan konseling kalau memang ada pasien minta untuk diberikan konseling. …Jadi kita nunggu reaksi dari pasien dulu” (Responden 3) Prosedur nomor 3, 4 dan 5 adalah bagian dari Three Prime Question yang merupakan prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling. Three Prime Question wajib ditanyakan kepada pasien dengan tujuan menolong pasien untuk mengerti rencana pengobatan asma yang diberikan, menghindari terjadi informasi yang tumpang tindih ataupun meluruskan informasi yang kurang jelas dan melengkapi informasi yang belum disampaikan oleh dokter, menggali informasi terkait hubungan antara asma dengan aktivitas kerja pasien, dan membuat alur konseling lebih terarah sehingga konseling yang dilakukan lebih menghemat waktu (Depkes RI, 2007). Dari beberapa responden yang mengajukan pertanyaan Three Prime Question kepada pasien asma, terdapat 2 responden yang menyatakan pertanyaan tersebut tidak selalu diberikan pada saat konseling dan hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja. “…..Tapi cuma kadang-kadang aja mbak. Biasanya sih kalau pasiennya itu enak diajak ngobrol. Kadang kan ada pasien yang kalau diberi konseling asal iya..iya aja, kadang mala ada pasien yang pas konsultasi mala nyolot, jadinya kan males juga ngeladenin pasien gitu” (Responden 10). “……Misalnya pada penulisan di resep kurang jelas, atau apoteker ngerasa ada kejanggalan pada resep yang diberikan…..” (Responden 12). Melihat pernyataan yang dikemukakan oleh responden 10 dan 12 , ternyata meskipun Three Prime Question penting untuk ditanyakan namun pada

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 kenyataannya belum dimanfaatkan oleh responden sebagai apoteker. Pernyataan yang dikemukakan oleh Responden 10 pada hakekatnya tidak bisa dipungkiri merupakan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan. Banyaknya pasien yang dihadapi tentu memiliki karakter, reaksi, dan cara menerima informasi yang apoteker berikan secara berbeda-beda. Namun, pada keadaan seperti inilah profesionalitas seorang apoteker dituntut. Seorang apoteker merupakan bagian tenaga kesehatan yang memiliki peran penting untuk mencapai pengobatan yang rasional dan peningkatan kualitas hidup pasiennya. Sudah seharusnya sebagai apoteker yang profesional tidak hanya berkompetensi dalam bidang akademik namun rasa empati dan perhatian haruslah dimiliki dalam diri apoteker sehingga dapat terwujud pelayanan kefarmasian yang berpusat pada pasien atau patient oriented. Pada ketentuan World Health Organization seorang apoteker haruslah memenuhi 9 kompetensi atau yang dikenal dengan The Nine Stars Pharmacist yang diantaranya memuat kompetensi care giver yang berarti bahwa seorang apoteker harus mampu memberikan pelayanan kepada pasien dengan baik dan memberikan informasi obat. Kompetensi lainnya yaitu communicator yang berarti seorang apoteker harus mampu melakukan komunikasi yang baik dengan pihak pasien ataupun tenaga profesional kesehatan lainnya untuk memberi informasi kesehatan dan obat-obatan baik dengan secara verbal atau non-verbal (Silanas, 2011). Prosedur tetap nomor 6 terdapat 1 responden menyatakan tidak melakukan prosedur ini dikarenakan tidak tersedianya obat dalam bentuk inhaler ataupun nebulizer di apotek tempat responden bekerja. Empat responden lainnya

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 menyatakan bahwa di apotek tempat responden bekerja memang belum disediakan alat peraga, sehingga pada saat menjelaskan cara penggunaan inhaler, nebulizer, dll hanya dengan membacakan petunjuk penggunaan yang tertera pada brosur yang ada pada kemasan obat. Pada dasarnya prosedur ini dilakukan memang hanya untuk pasien asma yang menggunakan alat kesehatan seperti nebulizer, inhaler, dll. Konseling untuk pasien yang mengkonsumsi obat dengan menggunakan nebulizer,inhaler, dll perlu untuk diberikan informasi yang jelas tentang cara penggunaanya dan akan lebih baik jika didukung dengan melakukan peragaan secara langsung didepan pasien. Prosedur nomor 7 merupakan bentuk verifikasi akhir oleh apoteker sebelum mengakhiri konseling. Salah satu kegiatan verifikasi akhir adalah pengecekan pengalaman pasien. Pengecekan pemahaman pasien dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pasien menyerap informasi yang telah diberikan oleh apoteker selama konseling. Salah satu cara untuk memastikan pemahaman pasien adalah apoteker dapat mempersilahkan pasien untuk mengulangi kembali hal-hal penting yang telah dibicarakan sebelumnya terutama terkait penggunaan obat ataupun jawaban atas masalah yang dihadapi pasien (Basuki, 2009). Hal ini hanya dilakukan oleh 6 responden dengan cara mempersilahkan pasien untuk mengulang hal-hal yang sudah dikonselingkan dan satu diantaranya menyatakan bahwa pasien yang dipersilahkan untuk mengulang hanyalah pasien yang menggunakan inhaler atau alat kesehatan lainnya dan tidak untuk pasien dengan obat seperti racikan atau tablet. Semua responden yang menyatakan telah melakukan

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 konseling, hanya terdapat 2 responden yang telah melakukan pencatatan konseling setelah konseling selesai. “…cuma nggak selalu. Kadang iya.. kadang nggak. Biasanya niatnya mau dicatat, cuma kan biasa lagi sibuk, dan tertunda, akhirnya lupa” (Responden 5). “.. Cuma tidak pernah dimonitoring, walaupun ada pencatatan” (Responden 3) 4. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien terhadap pengobatan yang telah dijelaskan dokter Salah satu bagian prosedur tetap yang wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan konseling adalah menanyakan apa yang diharapkan dalam pengobatan yang diberikan (Tabel XVI, Nomor 5). Selain menggunakan pertanyaan nomor 5 pada Tabel XVI, juga dapat diberikan bentuk pertanyaanpertanyaan lain kepada pasien asma sebagai alternatif yang ditampilkan pada Tabel XVII. Disimpulkan bahwa bentuk pertanyaan – pertanyaan terkait harapan pasien hanya diberikan oleh 4 responden namun pertanyaan tersebut belum sepenuhnya diajukan oleh responden kepada pasien asma secara lengkap ketika memberikan konseling. Dua responden tidak mengajukan 5 pertanyaan yang dapat diajukan kepada pasien asma. Pertanyaan yang paling banyak tidak diajukan kepada pasien asma adalah pertanyaan pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter untuk diwaspadai, apa yang dikatakan dokter apabila merasa semakin parah / buruk dan bagaimana mengetahui bahwa obat tidak bekerja. Delapan responden lainnya belum / tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti yang dimaksud pada tabel. Pada dasarnya bentuk pertanyaan yang ditampilkan dalam Tabel XVII memang tidak harus selalu diajukan semuanya pada saat melakukan konseling,

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 pertanyaan ini merupakan alternatif atau salah satu cara untuk membantu responden sebagai apoteker menggali informasi mengenai hal-hal apa saja yang telah dokter sampaikan kepada pasien terkait sakit dan pengobatannya. Tabel XVII. Bentuk pertanyaan terkait harapan pasien Jumlah responden yang Nomor Bentuk pertanyaan menanyakan ke pasien n=4 1. Pengaruh apa yang diharapkan tampak 2 Bagaimana mengetahui bahwa obatnya 2. 3 bekerja Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter 3. 0 untuk diwaspadai Perhatian apa yang harus diberikan selama 4. 1 dalam pengobatan Apa yang dikatakan dokter apabila merasa 5. 0 semakin parah/buruk Bagaimana mengetahui bahwa obat tidak 6. 0 bekerja 5. Bentuk pertanyaan untuk memastikan pengetahuan pasien dan keluarganya Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien terkait sakit dan pengobatannya, tidak hanya dengan mempersilahkan pasien untuk mengulangi hal yang telah diinformasikan oleh apoteker, tetapi juga dapat dilakukan dengan metode “Tunjukkan dan Katakan” dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Metode “Tunjukkan dan Katakan” yang digunakan oleh responden dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XVIII. Diketahui tidak semua responden yang melakukan pengecekan terhadap pengetahuan pasien dan keluarganya terkait sakit dan pengobatan yang dijalani menggunakan item-item pertanyaan seperti yang dimaksud. Hanya terdapat 1 responden yang memberikan pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan” secara lengkap kepada pasien asma. Delapan responden tidak

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 memberikan pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan” secara lengkap dimana terdapat 3 responden tidak mengajukan 2 pertanyaan yang dapat diajukan. Bentuk pertanyaan yang paling banyak tidak diajukan adalah obat yang akan digunakan ditujukkan untuk apa. Tiga responden lainnya yang belum / tidak pernah mengajukan pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan”. Tabel XVIII. Bentuk pertanyaan “Tunjukkan dan Katakan” Jumlah responden Nomor Bentuk pertanyaan yang bertanya,n=9 Obat yang akan digunakan ditujukkan untuk 1. 4 apa? 2. Bagaimana menggunakan obat ? 7 Gangguan atau penyakit apa yang sedang 3. 5 dialami ? Pada dasarnya pertanyaan dalam Tabel XVIII merupakan bentuk pertanyaan yang dapat digunakan oleh apoteker untuk mengecek pemahaman pasien ataupun keluarga yang telah diberikan konseling. Terdapat berbagai alasan mengapa tidak semua responden mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam Tabel XVIII secara lengkap, diantaranya yaitu beberapa responden yang berperan sebagai apoteker ketika melakukan pengecekan pemahaman hanya mengajukan pertanyaan berupa “Apakah pasien telah mengerti?”, pertanyaan demikian cenderung akan membuat pasien untuk menjawab hanya dengan mengatakan “Iya” atau “Tidak”. Beberapa responden juga menyatakan bahwa ketika pasien telah memberikan pernyataan bahwa pasien tersebut telah mengerti, terkadang responden tidak lagi menggali begitu dalam sejauh mana tingkat pemahaman yang dimaksud pasien.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 “…Jadi kita nanya ke pasiennya udah ngerti apa belum. Kalau pasiennya bilang “iya..udah ngerti” ya udah slesai. Kadang mala ada pasien yang asal iya.iya aja……..” (Responden 10). “Kalau pasien ditanya udah paham apa belum? Trus pasienya bilang iya, Ya udah…..Keterbatasan waktu juga kan, kita juga nggak bisa maksa menjelaskan terus”(Responden 4). 6. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) Penanganan awal asma mandiri (self care) merupakan perawatan untuk menangani asma pada saat terjadi serangan, dimana pasien itu sendiri yang berperan penting untuk dapat mengendalikan kondisinya. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) yang diberikan oleh responden kepada pasien asma dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XIX sebagai berikut : Tabel XIX. Informasi penanganan awal asma mandiri (self care) Jumlah responden Nomor Bentuk informasi yang melaksanakan, n=7 1. Gunakan obat yang sudah biasa digunakan 5 2. Tetap tenang jangan panik 2 Segera hubungi dokter bila dalam 15 menit tidak 3. ada perbaikan setelah menggunakan obat dan 5 bila napas pendek dan susah bernapas Pada Tabel XIX diketahui bahwa ternyata terdapat 5 responden yang belum / tidak pernah memberikan informasi penanganan awal asma mandiri (self care) pada pasien asma. Tujuh responden yang telah memberikan informasi self care namun tidak diberikan secara lengkap kepada pasien sesuai pada Tabel XIX dimana terdapat 3 responden tidak memberikan 2 informasi yang seharusnya disampaikan kepada pasien asma. Informasi yang paling banyak tidak diberikan kepada pasien asma adalah tetap tenang dan jangan panik. Informasi terkait cara penangan awal asma mandiri (self care) sangat penting untuk disampaikan oleh

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 apoteker agar pasien asma dapat mengetahui dan dengan sigap menangani kondisinya pada saat terjadi serangan terutama apabila kondisinya sangat urgent atau ketika pasien dalam keadaan sendiri saat terjadi serangan asma. Secara keseluruhan dalam pelaksanaan konseling yang ditampilkan dimulai dari Tabel XIV, XV, XVI, XVII, XVIII dan XIX merupakan rangkaian dari kegiatan konseling dengan melihat standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Melihat hasil wawancara yang disajikan dalam Tabel-Tabel tersebut, diketahui terdapat 1 responden yang sama sekali tidak / belum pernah memberikan konseling pada pasien asma. Sebelas responden lainnya telah memberikan konseling pada pasien asma namun belum memenuhi standar pelaksanaan konseling yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 dan juga pelaksanaannya masih belum optimal. Hal tersebut dikarenakan selain tidak lengkapnya pelaksanaan seluruh kegiatan konseling, juga ditemukan fakta bahwa pelaksanaan konseling diakui oleh 9 responden tidak dilakukan secara berkesinambungan. Hanya terdapat 2 responden yang melakukan konseling secara berkesinambungan. Penelitian lain oleh Sukmajati (2008) memberikan hasil yang sama yaitu masih terdapat responden yang tidak memberikan konseling secara berkesinambungan yaitu sebesar 56,52% responden. Tidak dilakukannya konseling setiap saat pasien asma datang, dipertegas dengan pernyataan beberapa responden sebagai berikut : “Konseling biasanya kalau pasien baru awal datang yang tidak pake resep, trus pasien yang baru awal datang dengan resep” (Responden 2).

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 “Kalau konseling walapun pernah dilakukan, tapi tidak selalu. Apalagi kalau ada pasien asma yang datang beli obat trus pasien tersebut langsung bilang nama obatnya. Na.. biasanya itu tidak dikonseling karena anggapannya pasien itu tau obat yang dia mau beli jadi dianggap pasien memang sudah terbiasa dan tau soal obatnya” (Responden 3). “Kalau konseling ditawarkan sih nggak. Biasanya sih kita nunggu reaksi dari pasiennya dulu. Kalau pasiennya minta konseling baru kita kasih” (Responden 3). “….. jadi yang dilakukan itu cenderung soal Pelayanan Informasi Obat (PIO). Kalaupun konseling itu perlu diberikan ke pasien, paling pelaksanaannya dilakukan nyambi-nyambi…. itupun kalau pasiennya yang minta untuk dikonseling” (Responden 5). “Konseling biasa kita lakukan pada pasien baru pertama kali datang dengan bawah resep racikan. Tapi kalau pasiennya cuma datang beli obat aja, nggak pakai resep.. itu nggak dikasih konseling” (Responden 9). “Konseling dilakukan hanya pada saat apotekernya ada, dan itupun dilakukan kalau memang ada pasien asma yang datang bertanya, jadi bukan kita yang menawarkan” (Responden 9). Berikut merupakan Tabel frekuensi pelaksanaan konseling yang dilakukan oleh responden kepada pasien asma. Tabel XX. Frekuensi pelaksanaan konseling yang dilaksanakan oleh responden Jumlah responden Nomor Frekuensi pelaksanaan konseling yang melaksanakan n=11 Setiap saat dilakukan baik untuk pasien asma 1. 2 dengan resep maupun non-resep Hanya dilakukan di awal, bagi pasien dengan 2. 9 resep/langganan 3. Hanya dilakukan jika pasien yang bertanya 9 4. Tidak diberikan pada pasien non-resep 9 Belum pernah memberikan konseling pada 5. 1 pasien asma Fenomena yang ditemukan dilapangan seperti yang ditampilkan pada Tabel XX ini, jika ditarik secara garis besar mempunyai alasan yang kurang lebih

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 sama, dimana apoteker beranggapan bahwa untuk pasien yang dengan resep maupun non-resep dianggap sudah terbiasa dengan obat yang ingin dibeli sehingga tidak perlu diberi konseling terus-menerus. Hal tersebut mungkin bisa saja dibenarkan, namun apabila dilihat dari kepentingan dan manfaat akan “konseling” itu sendiri, maka akan lebih baik apabila konseling diberikan pada pasien tidak hanya sekali saja dan semua pasien sudah seharusnya mendapatkan konseling meskipun konseling yang diberikan hanya dalam bentuk yang sederhana. Salah satu ciri khas dari kegiatan konseling ialah pelaksanaanya tidak dilakukan hanya sekali saja tetapi seharusnya secara berkesinambungan sehingga dapat dimanfaatkan oleh apoteker untuk memonitoring kondisi pasien. Konseling yang dilakukan secara berkesinambungan pun dapat mendorong agar pasien memiliki inisiatif untuk selalu melaporkan kondisi-kondisinya terutama apabila terjadi kekambuhan dan secara tidak langsung dengan adanya komunikasi yang terus berlanjut, apoteker dapat melihat sejauh mana perkembangan dan keefektifan dari pengobatan yang dijalani oleh pasien mengingat pada dasarnya pasien yang mengidap asma itu tidak bisa disembuhkan secara total dan sebagian besar memang harus menjalani pengobatan dengan jangka waktu yang panjang (Lukmanto, 2011). Anggapan apoteker bahwa pasien telah mengerti akan sakit dan pengobatannya akan lebih akurat apabila apoteker tersebut benar-benar menggali sejauh mana pemahaman yang dimaksud oleh pasien itu sendiri apakah sudah benar, masih keliru atau bahkan salah. Konseling tidak hanya dilakukan pada saat

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 terjadi masalah pada pengobatan pasien saja, tetapi konseling juga penting untuk dapat mengidentifikasi apakah terdapat masalah pada pengobatan pasien atau tidak. “Pasien asma itu pasti lebih peka, karena sebenarnya pasien yang lebih tau kondisinya sendiri seperti apa… anggapannya pasien sudah tau kondisinya sendiri…..” (Responden 1). “……., soalnya pasien asma itu patuh karena anggapannya pasien asma itu sudah tau penggunaan obatnya, sudah tau kalau obatnya habis ya beli lagi atau kedokter lagi” (Responden 9). Terkadang ada pasien yang sifatnya kurang kooperatif dalam melakukan komunikasi dengan tenaga kesehatan, sehingga akan lebih baik apabila apoteker senantiasa lebih peka untuk mengajak pasien agar lebih mudah menceritakan keadaan yang dialami pasien tersebut dan menumbuhkan rasa saling percaya serta mendukung sebagai partner antara pasien dengan apoteker. Tidak bisa dipungkiri bahwa keterbatasan waktu dan kesibukan dalam kegiatan pelayanan yang berlangsung diapotek juga bisa menjadi salah satu faktor tidak dapat dilaksakannya konseling secara optimal dan tidak dapat menjama semua pasien asma yang sebenarnya membutuhkan konseling sehingga mungkin dengan pengelolaan management waktu, management pelaksanaan konseling, dan segala hal yang berkaitan dengan proses kegiatan pelayanan yang berlangsung di apotek sehari-hari perlu dikelolah lebih baik dan sistematis. Pada dasarnya kegiatan konseling memang tidak harus dilakukan untuk semua pasien. Konseling dapat dilakukan pada saat-saat tertentu atau dengan pertimbangan tertentu seperti yang dimaksud pada Tabel XIV. Konseling juga bisa dilakukan tidak hanya secara aktif yaitu dimana apoteker yang memulai

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 komunikasi untuk melaksanakan konseling tetapi juga dapat dilakukan secara pasif dimana pasien yang terlebih dahulu memulai dengan bertanya dan meminta untuk dikonsultasi (Rantucci, 2007). Namun, seperti yang ditetapkan oleh Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun (2008), bahwa keselamatan pasien (patient safety) sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan sehingga apoteker sebaiknya lebih aktif dan peka terhadap kondisi pasien dan melakukan konseling tidak hanya bagi pasien asma yang menggunakan resep atau tidak hanya menunggu pasien yang memulai untuk bertanya. Pasien asma yang membeli obat tanpa resep atau membeli obat golongan OWA juga tetap perlu untuk diberikan konseling. Tidak menutup kemungkinan obat asma golongan OWA dapat memberikan risiko yang tidak baik bagi kondisi kesehatan pasien asma terutama apabila cara penggunaannya tidak tepat sehingga sudah sepatutnya sebagai pasien berhak untuk mendapatkan pelayanan yang sepantasnya. Terkait dengan kasus ini, maka dapat dikatakan bahwa pasien yang dalam hal ini merupakan konsumen belum mendapatkan hak dalam memperoleh pelayanan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pelindungan Konsumen pada Bab III pasal 4 mengenai hak konsumen.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 E. Profil Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta 1. Bentuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi untuk meningkatkan keberhasilan terapi pasien asma Pada penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek, pelaksanaan monitoring dan evaluasi juga merupakan bagian yang harus dilaksanakan oleh tenaga kefarmasian. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh responden dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XXI sebagai berikut : Tabel XXI. Bentuk monitoring dan evaluasi Jumlah responden yang Nomor Bentuk pelaksanaan melaksanakan,n=3 Pencatatan data pengobatan pasien 1. 3 (medication record) Pada Tabel XXI diketahui sebanyak 3 responden telah melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam bentuk pencatatan data pengobatan pasien (medication record). Disimpulkan bahwa terdapat 9 responden yang belum memenuhi pelaksanaan standar monitoring dan evaluasi sesuai yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hasil penelitian lain oleh Supardi, Handayani, Raharni’, Herman dan Susyanty (2011), mengemukakan bahwa sebagian besar apoteker dari total 70 responden belum melakukan monitoring kepada pasien dan hanya beberapa yang melaksanakan motoring dengan melakukan pencatatan. Monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan yang berguna untuk melihat proses terapi yang telah dilaksanakan pada pasien dan dapat digunakan sebagai pedoman untuk meningkatkan keberhasilan terapi. Selain itu, melalui kegiatan

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 evaluasi juga menjadi indikator untuk melihat kepuasan pasien dan kepatuhan pasien. Dari segi pelayanan yang dilakukan oleh apoteker, monitoring dan evaluasi sangat bermanfaat digunakan sebagai bahan atau acuan dalam meningkatkan kinerja apoteker tersebut. Proses monitoring dan evaluasi tidak hanya dilakukan pada saat terjadi interaksi antara pasien dengan apoteker, namun dapat dibantu melalui pencatatan data yang memuat tentang proses kegiatan yang telah dilaksanakan. Salah satu bentuk pencatatan data yaitu melalui data pengobatan pasien atau medication record. Medication record merupakan catatan atau dokumen mengenai data identitas pasien, riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, identitas dokter yang menangani, pengobatan yang dijalani pasien, keluhan penderita serta tindakan dan pelayanan tambahan yang diberikan kepada pasien dalam sarana pelayanan kesehatan yang dapat berupa pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) (Permenkes RI, 2008). 2. Kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat (ESO) Pemantauan dan pelaporan efek samping obat (ESO) juga merupakan salah satu cara untuk memonitoring dan mengevaluasi pengobatan pasien asma. Kegiatan ini dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XXII sebagai berikut : Tabel XXII. Bentuk kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO Jumlah responden Nomor Bentuk kegiatan pemantauan ESO yang melaksanakan, n=3 1. Analisis laporan efek samping obat 0 Identifikasi obat-obatan dan pasien yang 2. 3 mempunyai risiko tinggi mengalami ESO 3. Pengisian Formulir ESO 0 4. Pelaporan ke panitia ESO Nasional 0 Keterangan : ESO (Efek Samping Obat)

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Pada Tabel XXII diketahui sebanyak 3 responden melakukan identifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko tinggi mengalami ESO (nomor 2), namun kegiatan analisis laporan efek samping obat, pengisian formulir ESO dan pelaporan ke panitia ESO Nasional tidak / belum pernah dilakukan oleh 12 responden yang diwawancarai. “Pemantauan efek samping ya….. Tapi biasanya itu dilakukan diawalawal aja sih. …… Tapi kalau udah nggak kambuh nggak dicek lagi….” (Responden 2). “…… paling kita liatnya dari kondisi pasiennya itu sendiri ya,, bukan obatnya…….” (Responden 4). Menjamin keamanan dan mutu obat yang digunakan oleh pasien merupakan bagian yang penting untuk dilakukan demi keselamatan pasien dalam pengobatan. Selain melakukan pencatatan pengobatan pasien atau Medication record sebagai upaya monitoring dan evaluasi, upaya lain yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan pemantauan efek samping obat atau lebih dikenal dengan monitoring efek samping obat (MESO). Pada dasarnya kegiatan MESO dapat dilaksanakan dengan metode peloporan sukarela (Voluntary reporting). Peloporan ini dapat dilakukan secara manual dengan pengisian formulir khusus. Pada proses pelaksanaan pelayanan di apotek, sebagai seorang apoteker salah satu kompetensi yang dituntut adalah melakukan monitoring efek samping obat (Purwanti dkk, 2004).

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 F. Profil Pelaksanaan Edukasi dan Promosi pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta 1. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan kepada pasien asma dan keluarganya (promosi) Pada standar pelayanan kefarmasian di apotek, kegiatan edukasi dan upaya pemberdayaan (promosi), juga merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan oleh apoteker tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada masyarakat. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh apoteker dapat berupa penyebaran leaflet, brosur, poster dan penyuluhan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian mengenai bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang dilakukan responden ditampilkan pada Tabel XXIII, sebagai berikut : Tabel XXIII. Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan Jumlah responden Nomor Bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang melaksanakan, n=3 1. Penyebaran leaflet 3 2. Penyebaran brosur 0 3. Penyebaran poster 0 Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (pemberian 4. motivasi untuk meningkatkan kepatuhan dalam 3 pengobatan dan kualitas hidup pasien) Pada Tabel XXIII diketahui dari 12 responden yang diwawancarai belum ada yang melakukan bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan secara lengkap. Terdapat 3 responden yang pernah melakukan edukasi dan upaya pemberdayaan namun hanya dalam bentuk penyebaran leaflet dan penyuluhan kesehatan masyarakat. Kegiatan yang paling banyak tidak dilakukan adalah penyebaran brosur dan poster. Sembilan responden lainnya belum / tidak pernah melakukan

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 edukasi dan upaya pemberdayaan, sehingga dapat dikatakan pelaksanaan edukasi dan upaya pemberdayaan oleh 12 responden belum memenuhi pelaksanaan standar edukasi dan upaya pemberdayaan yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hasil yang serupa ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh Sukmajati (2008) diketahui hanya terdapat 30, 43% responden yang melakukan penyebaran leaflet, brosur, poster atau penyuluhan. Edukasi yang diberikan oleh apoteker merupakan bentuk kegiatan yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai sakit dan pengobatannya serta membantu masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan terkait cara pengambilan keputusan dalam melakukan pengobatan. Kegiatan pemberdayaan juga membutuhkan peranan dari apoteker, dengan bantuan apoteker akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan secara mandiri. Kegiatan ini menjadi sangat penting terutama bagi masyarakat swamedikasi hal ini dikarenakan kegiatan swamedikasi pada dasarnya merupakan proses pengobatan mandiri dimana pemilihan pengobatan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri tanpa ada penanganan khusus dari pihak dokter atau tenaga kesehatan lainnya, sehingga apoteker berperan dalam membantu masyarakat tersebut bagaimana cara memilih obat yang baik dan sesuai serta cara penggunaan obat tersebut (Purwanti dkk. 2004). Terkait dengan pasien asma yang sebagian besar membutuhkan pengobatan jangka panjang, maka dengan kegiatan edukasi dan promosi ini akan membantu pasien asma untuk bersemangat dalam menjalankan pengobatan.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Selain melakukan edukasi dan upaya pemberdayaan melalui penyebaran leaflet, brosur, poster dan penyuluhan, hal yang dapat dilakukan oleh apoteker adalah melaksanakan prosedur tetap terkait swamedikasi yang telah ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004, hal ini akan sangat membantu dan memudahkan bagi apoteker untuk melakukan edukasi dan upaya pemberdayaan secara tepat, efisien dan efektif (Kepmenkes RI, 2008) G. Profil Pelaksanaan Pelayanan Residensial (Home Care) pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta 1. Pelayanan residensial (home care) Pelayanan residensial (home care) merupakan salah satu bentuk pelayanan yang dapat dilakukan oleh apoteker yang tempat pelaksanaannya tidak dilakukan di apotek dan ditujukan untuk kelompok lanjut usia atau pasien dengan penyakit kronis. Pelayanan residensial yang dilakukan oleh responden dari hasil penelitian ditampilkan pada Tabel XXIV sebagai berikut : Tabel XXIV. Kriteria pelayanan residensial bagi pasien asma Jumlah responden yang Nomor Kriteria pelayanan residensial melaksanakan, n=1 Pasien asma lanjut usia yang tidak mampu 1. memenuhi aktivitas dasar sehari-hari (mandi, 0 makan, minum, dan memakai baju) Pasien asma yang memerlukan perhatian 2. khusus tentang penggunaan obatnya, interaksi 1 obat dan efek samping obat

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Pada Tabel XXIV pelayanan residensial dengan kriteria nomor 1 tidak / belum pernah dilakukan oleh 12 responden, pelaksanaan pelayanan residensial dengan kriteria nomor 2 dilakukan oleh 1 responden. “ …….. Na..biasa kita yang nawarin ke pasiennya. Uda bu’ biar kita aja yang kerumah ibu. Gitu. Biasanya kalau bukan saya yang pergi, AA saya yang pergi “ (Responden 1). Pelayanan residensial merupakan bentuk care giver seorang apoteker yang bersifat kunjungan rumah. Pada dasarnya pelayanan residensial tidak harus diberikan kepada semua pasien asma, sehingga terdapat kriteria untuk melakukan pelayanan residensial kepada pasien asma seperti yang ditampilkan pada Tabel XXIV. 2. Langkah-langkah pelaksanaan pelayanan residensial (home care) Pada pelayanan residensial terdapat prosedur tetap yang harus dilaksanakan oleh apoteker. Prosedur tetap pelayanan residensial yang dilakukan oleh apoteker dari hasil penenelitian ditampilkan pada Tabel XXV dimana 1 responden yang memberikan pelayanan residensial kepada pasien asma hanya melaksanakan prosedur nomor 2, 4 dan 5. Pada dasarnya prosedur tetap yang ditampilkan pada Tabel XXV diatas seharusnya dilaksanakan secara berurutan mulai dari prosedur nomor 1 sampai nomor 7. Namun dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang memberikan pelayanan residensial tidak melaksanakan prosedur tetap secara lengkap dan berurutan. Dapat dikatakan responden tersebut belum melaksanakan pelayanan residensial sesuai dengan standar secara lengkap dan juga 11 responden lainnya yang belum memenuhi standar pelayanan residensial yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 MENKES/ SK/ IX/ 2004. Penelitian serupa dilakukan oleh Atmini dkk. (2011) dimana diketahui pelayanan residensial belum ada yang dilakukan oleh responden bahkan tidak memiliki protap secara tertulis. Tabel XXV. Langkah-langkah dalam pelaksanaan pelayanan residensial Nomor Langkah-langkah dalam pelaksanaan Jumlah responden yang melaksanakan, n=1 1. Menyeleksi pasien melalui kartu pengobatan 0 2. Menawarkan pelayanan residensial 1 3. Mempelajari riwayat pengobatan pasien 0 4. Menyepakati jadwal kunjungan 1 5. 6. 7. Melakukan kunjungan ke rumah pasien atau melalui telepon Melakukan pelayanan informasi obat atau konseling secara berkesinambungan Melakukan pencatatan dan evaluasi pengobatan (pemantauan kondisi dan kepatuhan pasien) 1 0 0 Pada dasarnya kegiatan pelayanan residensial memang tidak harus selalu dilakukan, terdapat beberapa syarat untuk melaksanakan kegiatan ini, seperti pasien yang dilayani merupakan pasien dengan penyakit kronis seperti asma, atau merupakan pasien lanjut usia seperti yang ditampilkan pada Tabel XXIV. Namun, yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah pelayanan residensial tidak dilakukan oleh sebagian besar responden bukan karena tidak ada pasien yang memenuhi kriteria pada Tabel XXIV tetapi karena faktor kesibukan dari responden sebagai apoteker dan juga kurangnya tenaga kerja di apotek yang diteliti. Melihat hal ini, bukan tidak mungkin terdapat pasien yang sebenarnya perlu diberikan pelayanan residensial maka seharusnya dengan pengelolaan

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 apotek dan tenaga kerja yang baik, pelayanan ini bisa dijalankan. Saat ini jumlah kelompok lanjut usia di Indonesia mengalami peningkatan yang disertai peningkatan penyakit kronis, infeksi dan degeneratif yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dan berkesinambungan sehingga apoteker sebagai tenaga kesehatan perlu untuk melaksanakan pelayanan residensial sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan harapan hidup pasien (Depkes RI, 2008). H. Ringkasan Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian penerapan Pharmaceutical care di sepuluh apotek di Kota Yogyakarta dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 diketahui bahwa pelaksanaannya belum lengkap, hal ini dikarenakan terdapat beberapa hal dalam standar yang ditetapkan tidak dilaksanakan oleh responden secara terperinci dan frekuensi pelaksanaannya untuk beberapa kegiatan tidak selalu dilakukan setiap pasien asma datang, serta tidak semua pasien asma mendapatkan pelayanan yang seharusnya sesuai dengan standar. Pelayanan yang diberikan oleh responden sebagian besar lebih banyak diberikan kepada pasien asma dengan resep 1. Pelayanan resep yang dilakukan oleh apoteker pada pasien asma di apotek, dari 12 responden yang diwawancarai sebagian besar telah melakukan kegiatan tersebut sesuai dengan standar dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. a. Skrining administratif : tanggal penulisan resep, data pasien dan cara pemakaian obat merupakan skrining yang paling banyak diperiksa oleh

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 responden. Tanda tangan / paraf dokter penulis resep merupakan kegiatan yang paling banyak tidak diperiksa oleh responden. b. Skrining kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan dan dosis obat merupakan skrining paling banyak diperiksa oleh responden. Potensi, stabilitas dan inkompatibilitas yang paling sedikit diperiksa. c. Skrining pengkajian klinis : adanya alergi merupakan kegiatan pengkajian klinis yang paling banyak diperiksa oleh responden. Adanya efek samping merupakan kegiatan pengkajian klinis yang paling jarang diperiksa dan sedikit dilakukan oleh responden. d. Penyiapan obat : kegiatan menulis etiket dengan lengkap merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh responden. Menyerahkan obat yang dikemasi dengan rapi dan sesuai merupakan kegiatan yang paling jarang diperhatikan dan sedikit dilakukan oleh responden. 2. Pelayanan informasi obat kepada pasien asma telah dilakukan oleh 12 responden namun kegiatan tersebut sebagian hanya pada pasien asma dengan resep atau tergantung pada situasi. a. Kegiatan pelayanan informasi obat : memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif, mudah dimengerti, tidak bias dan bijaksana serta menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telefon, surat atau tatap muka merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh responden. Menyediakan bulletin, leaflet, poster dan mendokumentasikan PIO merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan. Mengkoordinasi

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang tidak pernah dilakukan. b. Penyampaian informasi obat : cara pemakaian obat merupakan informasi yang paling banyak diberikan oleh responden. Aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari merupakan informasi yang paling sedikit diberikan. c. Persiapan sebelum memberikan informasi dan edukasi : pembekalan diri dengan pengetahuan tentang asma dan pengobatan merupakan persiapan yang paling banyak dilakukan responden. Mengumpulkan dan mendokumentasikan data pasien secara lengkap serta menggunakan sarana tambahan dalam penyampaian informasi (peragaan inhaler dan rotahaler) merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan. 3. Pelayanan konseling yang dilakukan oleh apoteker pada pasien asma, dari 12 responden diketahui terdapat 1 responden yang tidak / belum pernah melakukan konseling pada pasien asma. Kegiatan konseling yang dilakukan 11 responden lainnya belum sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara keseluruhan. a. Sasaran pemberian konseling : memberikan konseling pada pasien asma usia lansia merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh responden. Memberikan konseling kepada pasien asma dengan multirejimen obat dan mengalami Drug related problem merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 b. Materi konseling yang disampaikan oleh responden yang pernah melakukan konseling kepada pasien asma berupa informasi terkait sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan. c. Prosedur tetap pelaksanaan konseling : melakukan verifikasi akhir merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh responden. Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien/keluarga pasien, menanyakan apa yang diharapkan pasien dalam pengobatan yang diberikan, memperagakan dan menjelaskan cara pemakaian obat (rataheler, inhaler, dll) serta pencatatan konseling merupakan kegiatan yang paling jarang dan sedikit dilakukan oleh responden. 4. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh apoteker pada pasien asma, hanya dilakukan oleh 3 responden dengan mengadakan medication record. Kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO juga hanya dilakukan oleh 3 responden namun tidak secara lengkap. 5. Pemberian edukasi dan promosi oleh apoteker pada pasien asma hanya dilakukan oleh 3 responden berupa penyebaran leaflet, brosur, poster atau penyuluhan. Pelayanan dalam bentuk swamedikasi pada pasien asma jarang diberikan. 6. Pelayanan residensial (home care) merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan dengan hanya 1 responden yang melaksanakan kegiatan tersebut. 7. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap 12 responden pada 10 apotek, diketahui bahwa tidak terdapat satupun responden yang telah melakukan

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 pelayanan Pharmaceutical care kepada pasien asma secara lengkap. Dari 12 responden terdapat 3 responden yang berasal dari 1 apotek yang sama, namun bentuk kegiatan pelayanan yang tidak dilakukan secara lengkap antara 3 responden tersebut adalah berbeda, sehingga dapat dikatakan meskipun kegiatan yang dilakukan tidak lengkap namun 3 responden tersebut saling melengkapi dalam memberikan pelayanan Pharmaceutical care pada pasien asma. 8. Hasil penelitian, diketahui bahwa secara keseluruhan penerapan Pharmaceutical care oleh apoteker pada pasien asma di sepuluh apotek di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh beberapa fakta yang ditemukan di lapangan, diantaranya : a. Adanya pernyataan dari responden yang menyatakan pelayanan Pharmaceutical care lebih banyak dilakukan pada pasien asma yang baru awal datang dengan resep dan sangat jarang dilakukan pada pasien asma yang non-resep. b. Tidak telaksananya konseling yang berkesinambungan seperti yang seharusnya karena kurangnya komunikasi yang mendalam antara apoteker dengan pasien asma. c. Adanya anggapan sebagian besar apoteker bahwa “pasien asma sudah mengerti akan sakit dan pengobatannya” tanpa mengali terlebih dahulu, yang membuat pelaksanaan Pharmaceutical care terbatas dan hanya dilakukan bagi pasien asma tertentu saja. menjadi

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 d. Sebagian besar responden tidak melakukan pencatatan atau dokumentasi setelah melakukan pelayanan informasi obat, konseling, maupun untuk kepentingan monitoring dan evaluasi. e. Sebagian besar responden tidak melakukan pelayanan residensial (home care) pada pasien asma.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil wawancara mengenai penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma yang dilakukan terhadap apoteker yang merupakan responden diketahui : 1. Kegiatan pelayanan resep yang dilakukan oleh 12 responden belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. 2. Pelayanan informasi obat yang diberikan oleh apoteker kepada pasien asma, dari 12 responden yang diwawancarai sebagian dilakukan hanya pada pasien asma dengan resep atau tergantung situasi sehingga belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara menyeluruh. 3. Pelayanan konseling yang dilakukan oleh apoteker pada pasien asma, dilakukan oleh 11 responden. Namun pelaksanaannya belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara optimal. 4. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh apoteker pada pasien asma, hanya dilakukan oleh 3 responden dengan mengadakan medication record, sehingga terdapat 9 responden yang belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004. 5. Pemberian edukasi dan promosi oleh apoteker pada pasien asma berupa penyebaran leaflet, brosur, poster atau penyuluhan hanya dilakukan oleh 3 107

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 responden dan pelayanan dalam bentuk swamedikasi pada pasien asma jarang diberikan oleh responden sehingga belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara menyeluruh. 6. Pelayanan residensial (home care) oleh apoteker pada pasien asma hanya dilakukan oleh 1 responden namun tidak secara lengkap dan 11 responden lainnya belum / tidak pernah memberikan pelayanan residensial, sehingga pelaksanaannya belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara menyeluruh. 7. Hasil penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa penerapan Pharmaceutical care pada pasien asma pada sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta belum dilaksanakan secara optimal dan belum diberikan kepada semua pasien asma secara merata sehingga belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 secara menyeluruh. B. Saran 1. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi untuk membantu proses revisi standar Kepmenkes RI Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 yang rencananya akan digalangkan oleh pihak berwenang. 2. Perlu dilakukan pembinaan atau pelatihan lebih lanjut bagi tenaga kefarmasian terkait pelayanan kefarmasian yang harus diberikan kepada pasien asma yang dapat dilakukan dengan melibatkan instansi tertentu,

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 atau organisasi tertentu seperti IAI atau Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 3. Akan lebih baik apabila penelitian dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung dengan melihat kegiatan apoteker pada saat memberikan pelayanan Pharmaceutical care pada pasien asma yang datang ke apotek. 4. Perlu dilakukan penelitian kuantitatif dengan lokasi penelitian yang lebih luas ataupun responden yang lebih banyak. 5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan perumusan masalah yang lebih mengerucut sehingga dapat digali informasi secara lebih rinci.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Adi, R., 2004, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Granit, Jakarta, pp.7982. Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Depkes RI, Jakarta. American Society of Hospital Pharmacist, 1993, ASHP Statement on Pharmaceutical Care, American Society of Hospital Pharmacist, Inc, America, pp. 258-260. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,2007, Volume 8 : Monitoring Efek Samping Obat, http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info%20PO M/0507.pdf, diakses tanggal 29 Maret 2014. Basuki, E, S., 2009, Konseling Medik : Kunci Menuju Kepatuhan Pasien, file:///C:/Users/windows/Downloads/625-674-1-PB.pdf, diakses tanggal 27 Maret 2014. Bernstein ,J.A., 2003, Asthma in handbook of allergic disorders, Philadelphia : Lipincott Williams & Wilkins, USA, pp.73-102. Bodhi, W., Fatimawati, Mamarimbing, M., 2012, Evaluasi Kelengkapan Administratif Resep Dari Dokter Spesialis Anak Pada Tiga Apotek Di Kota Manado, file:///C:/Users/windows/Downloads/485-963-1SM.pdf, diakses tanggal 27 Mei 2014. Buletin Sehat.Com, 20014, Obat Penyakit Asma yang Alami Aman, dan Tanpa Efek Samping, http://buletinsehat.com/obat-penyakit-asma-yang-alamiaman-dan-tanpa-efek-samping, diakses tanggal 29 Maret 2014. Christiana, H., 2005, Pengaruh Aspek Tanggung Jawab, Status Jabatan, Wewenang dan Kompensasi dalam Pengembangan Karis Terhadap Kinerja Karyawan Etnis Jawa dan Etnis Cina, Tesis, 48, Universitas Diponegoro , Semarang. Cipolle ,R.J., Strand ,L.M., and Morley ,P.C., 2003, Standars of Practice for Pharmaceutical Care, http://www.pharmacy.umn.edu/img/assets/10745/Standards_of_Care.p df, diakses tanggal 18 April 2014. Depkes RI, 2007, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat 110

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Kesehatan Departemen Kesehatan RI, ilmufarmasis.files.wordpress.com/2011/03/ph-care-asma.pdf, tanggal 24 September 2013. p.5, diakses Depkes RI, 2008, Pedoman Pelayanan Kefarmasian Di Rumah (Home Pharmacy Care, Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesiam Jakarta. Depkes RI, 2009, Pedoman Pengendalian Penyakit Asma, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1023/MENKES/SK/XI/2008, http://www.depkes.go.id, diakses tanggal 24 September 2013. Dinkes D.I Yogyakarta, 2012, Hari Asma Sedunia di BP4 Yogyakarta, http://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detil_berita/337-hari-asma-seduniadi-bp4-yogyakarta, diakses tanggal 9 Maret 2014. Dipiro, J.T., Talbert R.L., Yee G.C., Matzke G.R., Wells B.G., Posey L.M., 2005, Pharmacotherapy A Patophysiologic Approach, 5th ed. McGraw Hill Companies Inc. p. 475-510. FIP, 1999, Joint Statement By The International Pharmaceutical Federation and The World Self- Medication Industry: Responsible Self-Medication. GINA, 2007, Global strategy for asthma management and prevention. National Institutes of Health, (indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/.../5 97), diakses tanggal 22 September 2013. Ginting, A.BR., 2009, Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Di Kota Medan Tahun 2008, Skripsi¸ 44, Universita Sumatera Utara, Medan. Hepler and Strand, 1990, Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical Care, American Journal of Hospital Pharmacy, 47. Ikatan Apoteker Indonesia, 2010, Perkembangan Praktek Kefarmasian, http://www.ikatanapotekerindonesia.net/pharmacy-news/32pharmaceutical-information/36-perkembangan-praktekkefarmasian.html, diakses tanggal 13 April 2014. Ikatan Apoteker Indonesia DIY (IAI), 2010, Sistem Informasi Data Apoteker, www.sim-apoteker.000space.com/profil.php, diakses tanggal 31 November 2013.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Ikawati Z, 2010, Pelayanan Farmasi Kinik pada Era Genomik: Sebuah Tantangan dan Peluang, Disampaikan pada Pengukuhan Guru Besar ISAAC Steering Committee, 1998, Worldwide variations in prevalence of asthma symptoms: The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC). Eur Respir J, pp. 12,315. Jasaputra, D.K., dan Santosa, S., 2008, Metodologi Penelitian Biomedis, Edisi 2, Danamartha Sejahtera Utama, Bandung, pp. 43. Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2006, Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2008, Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004), Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Lahdensuo, A., Hahtela, T., Herrala, J., Kava, T., Kiranta, K., Kursisto,P., Peramaki, E., Poussa, T. 1996. Randomized Comparison of Guided Self Management and Traditional Treatment of Asthma Over One Year. British Medical Journal . Vol 312; 748-752. Lahdensuo, A. 1999b. Clinical Review . Guided Self Management of Asthma : How To Do It. British Medical Journal. Vol 319; 759-760. Lukmanto, B., 2007, Peran Apoteker, http://www.budilukmanto.org/index.php/perawatan-hepatitis/177, diakses tanggal 27 Maret 2014. Masoli M. Fabian D, Holt S, Beasley R., 2004, The global burden of asthma: Executive summary of the GINA., http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/?term=%22Global+Initiative+fo r+Asthma+%28GINA%29+Program%22[Corporate+Author], diakses tanggal 16 Februari 2014. Mutahir, A., Hasanmihardja, M., Setiawan, D., 2010, Pengaruh Pelayanan Kefarmasian Terhadap Kepuasan Konsumen Apotek Di Kabupaten Tegal, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(2), 103. National Health Interview Survey (NHIS) Data, 2011 , 2011 Lifetime Asthma, Current Asthma, Asthma Attacks Among Those with Current Asthma. http://www.cdc.gov/asthma/nhis/2011/data.htm, diakses pada tanggal 10 September 2013.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Naning ,R., 1991, Prevalensi Asma pada murid Sekolah Dasar di Kotamadya Yogyakarta, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK UGM, RSUP Dr. Sarjito, Yogyakarta. Nawawi, H., 1998, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Nelson, W.E., 1996, Ilmu Kesehatan Anak, Vol. I, diterjemahkan oleh Wahab,S., hal. 775, Penerbit EGC, Jakarta. Oemiati, R., 2010, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma Di Indonesia,ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/downlo ad/.../1729, diakses tanggal 10 September 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis, Menteri Keserhatan Republik Indonesia, Jakarta. Pradipta, I.S., 2011, Pendekatan Ilmiah Dalam Praktek Farmasi Klinik, http://farmasi.unpad.ac.id/padi/pendekatan-ilmiah-dalam-praktekfarmasi-klinik/, diakses tanggal 17 Februari 2014. Purwanti, A., Harianto, Supardi, S., 2004, Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi di Apotek DKI Jakarta Tahun 2003, 1 (2), 102115. Rantucci, M.J., 2007, Pharmacists Talking With Patients : A Guide to Patient Couseling, diterjemahkan oleh Sani, Dra.A.N., hal. 20-24, 136-145. Rini, N., Swastiwi, D.A., Piliarta, I.N.G., 2009, Kajian Kelengkapan Resep Pediatri Rawat Jalan Yang Berpotensi Menimbulkan Medication Error Di Rumah Sakit Swasta Di Kabupaten Gianyar, file:///C:/Users/windows/Downloads/4927-7683-1-PB.pdf, diakses tanggal 27 Mei 2014. Samsi, N., 2013, Pengaruh Pengalaman Kerja, Indepedensi, dan Kompetensi Terhadap Kualitas Audit : Etika Auditor Sebagai Variabel Pemoderasi, Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 1 (2), 214. Sarosa, S., 2012, Penelitian Kualitatif Dasar- Dasar, PT Indeks, Jakarta Barat, pp. 45-47. Setiawan, D., Hasanmihardja,M., Mahatir, A., 2010, Pengaruh Pelayanan Kefarmasian Terhadap Kepuasan Konsumen Apotek Di Kabupaten Tegal, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(2), 104-105.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Silanas, I., 2011, Peranan, Fungsi, dan Tugas Apoteker di Apotek, http://ilmanapt.blogspot.com/2011/11/peranan-fungsi-dan-tugasapoteker-di.html, diakses tanggal 27 Maret 2014. Sugiyono, 2005, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, pp. 117131. Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung,pp. 366-368. Sundaru, Heru ,2007, Kontrol Asma Sebagai Tujuan Pengobtan Asma Masa Kini, http://staff.ui.ac.id/internal/140053451/publikasi/PidatopengukuhanPro fHeruRingkasan.pdf, diakses tanggal 20 September 2013. Suriana, 2011, Pharmacist Healtcare : Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Rumah Sakit, http://healthcarepharmacist.blogspot.com/2011/08/pelayanan-informasi-obat-pio-dirumah.html, diakses tanggal 29 Maret 2014. Susyanty, A.L., Herman, M.I., Raharni, Handayani,R.S.,Supardi, S., 2011, Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Dan Kebutuhan Pelatihan Bagi Apotekernya, http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/viewFile/44 /35, diakses tanggal 27 Mei 2014 Trisna, Y., 2007, Perkembangan dan Penerapan Pharmaceutical Care, Pharmaceutical Care, 1-13. Undang-Undang Perlindungan Konsumen, 1999, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pelindungan Konsumen, Presiden Republik Indonesia, Jakarta. Vita Health, 2005, Asma Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. WHO,1998, The Role of The Pharmacist in Self-Care and Self-Medication, The Hague, The Netherlands:WHO, p. 1-11. Yansin, N.M., Endang K., Effendi M.I., Prayitno A., Sari S.P., Azwinar, et al, 2006, Pedoman Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit, Depkes RI, Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan Data kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Lampiran 2. Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Lampiran 3. Surat Keputusan Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Lampiran 4. Surat Permohonan Izin Penelitian dan Pengambilan Data (Wawancara) kepada Apoteker Pengelola Apotek di Apotek-Apotek Tempat Meneliti di Kota Yogyakarta

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Lampiran 5. Daftar Sampel 10 Apotek di Kota Yogyakarta Waktu Pelaksanaan NO Nama Apotek Kelurahan Jabatan Responden Wawancara 1. 14 Maret 2014 Apotek ME Suryatmajan APA 2. 14 Maret 2014 Apotek DF Karangwaru APING 3. 14 Maret 2014 Apotek TF Kaparakan APA 4. 15 Maret 2014 Apotek AM Mantrijeron APING 5. 15 Maret 2014 Apotek HF Suryatmajan APING 6. 17 Maret 2014 Apotek HR Prawirodirjan APA 7. 17 Maret 2014 Apotek YF Pringgokusuman APA 8. 18 Maret 2014 Apotek CH Wirobrajan APA 9. 18 Maret 2014 Apotek UG Terban APING 10. 19 Maret 2014 Apotek PF Brontokusuman APA

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA Lampiran 6. Panduan Wawancara Terstruktur PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA Kepada : Yth. Saudara yang berpartisipasi Dengan hormat, saya : Nama : Suhartati Mentari Rurubua’ Fakultas : Farmasi Universitas : Sanata Dharma Yogyakarta Dalam rangka penyusunan tugas akhir sebagai mahasiswa Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, maka saya memohon kesediaan dan partisipasi Saudara/i untuk memberikan tanggapan jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan dalam panduan wawancara ini. Tanggapan yang Saudara/i berikan akan terjaga kerahasiaannya. Oleh karena itu, Saudara/i dimohon untuk menjawab sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Atas kesediaan dan partisipasi Saudara/i, diucapkan terima kasih. Yogyakarta, Maret 2014 Peneliti

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA Petunjuk Bagian : I Berilah tanda √ sebagai jawaban pada kolom keadaan Saudara/i yang sebenarnya sesuai dengan 1. Mohon dijelaskan seperti apa bentuk skrining/pemeriksaan administratif resep yang dilakukan terhadap pasien asma. Misalnya: □ Nama, SIP dan alamat dokter □ Tanggal penulisan resep □ Tanda tangan/ paraf dokter penulis resep □ Nama, alamat,jenis kelamin,umur, dan pasien □ Cara pemakaian obat □ Lainnya………… berat badan bentuk Mohon penjelasan lebih lanjut terkait skrining/pemeriksaan administratif resep yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 2. Mohon dijelaskan seperti apa bentuk skrining resep dalam hal pemeriksaan kesesuaian farmasetik yang telah dilakukan kepada pasien asma. Misalnya: □ □ □ □ □ □ □ □ Bentuk sediaan Dosis obat Potensi Stabilitas Inkompatibilitas Cara pemberian Lama pemberian Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait bentuk skrining resep dalam hal pemeriksaan kesesuaian farmasetik yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 3. Mohon dijelaskan seperti apa pengkajian klinis yang dilakukan dalam skrining resep terhadap pasien asma. Misalnya : □ □ □ □ □ Adanya alergi Adanya efek samping Adanya interaksi obat Kesesuaian obat (dosis, durasi, jumlah obat) Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait pengkajian klinis dalam skrining resep yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 4. Mohon dijelaskan seperti apa proses penyiapan obat untuk pasien asma baik untuk resep racikan maupun non-racikan. Misalnya : □ □ □ □ □ □ Peracikan (menimbang, mencampur, mengemas, memberi etiket, memperhatikan dosis dan jumlah obat) Menulis etiket dengan lengkap (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk obat luar, dan etiket lainnya seperti label kocok dahulu untuk sediaan cair) Menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan permintaan resep Menyerahkan obat yang dikemasi dengan rapi dan sesuai demi menjaga kualitas obat Melakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep sebelum diserahkan ke pasien asma Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait proses penyiapan obat racikan maupun non-racikan yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 5. Mohon dijelaskan bagaimana kegiatan Pelayanan Informasi Obat yang telah dilaksanakan terhadap pasien asma atau keluarganya. Misalnya: □ Melakukan PIO berdasarkan resep atau kartu pengobatan pasien (medication record) □ Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif, mudah dimengerti, tidak bias, etis dan bijaksana □ Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka □ Menyediakan buletin, leaflet, label obat □ Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga farmasi dan tenaga kesehatan lainnya □ Penelurusan berdasarkan literature □ Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian □ Mendokumentasikan PIO □ Lainnya………. Mohon penjelasan lebih lanjut terkait kegiatan Pelayanan Informasi Obat yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 6. Mohon dijelaskan informasi obat seperti apa yang sekurang-kurangnya Anda sampaikan kepada pasien asma. Misalnya : □ Cara pemakaian obat □ Cara penyimpanan obat □ Jangka waktu pengobatan □ Aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari □ Pemberian informasi tambahan □ Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait informasi obat yang sekurang-kurangnya sudah atau tidak/belum Anda sampaikan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 7. Mohon dijelaskan seperti apa persiapan yang Anda lakukan sebelum memberikan informasi dan edukasi kepada pasien asma. Misalnya : □ Pembekalan diri dengan pengetahuan tentang asma dan pengobatan □ Pemberian informasi kepada pasien dan juga keluarga terutama untuk pasien yang mengalami masalah dalam berkomunikasi dengan mempertimbangkan latar belakang dan pendidikan pasien dan keluarganya □ Mengumpulkan dan mendokumentasikan data pasien (riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan, dan pengobatan yang dijalani, obat-obat yang digunakan selain obat asma yang berpengaruh terhadap pengobatan asma) □ Menggunakan sarana tambahan dalam penyampaian informasi (peragaan inhaler dan rotahaler) □ Mempertimbangkan pemberian obat dengan jumlah, dosis yang lebih sedikit, kejadian efek samping obat yang lebih jarang terjadi serta adanya pengertian dan kesepakatan antara dokter, pasien dan apoteker untuk meningkatkan kepatuhan pasien □ Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait persiapan yang dilakukan sebelum memberikan informasi dan edukasi yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma. Penjelasan :

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 8. Mohon dijelaskan bagaimana bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang diberikan kepada pasien asma ataupun keluarganya. Misalnya : □ Penyebaran leaflet □ Penyebaran brosur □ Penyebaran poster □ Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (pemberian motivasi untuk meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan dan kualitas hidup pasien) □ Lainnya……… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan terhadap pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 9. Mohon dijelaskan pada kondisi seperti apa kegiatan konseling diberikan kepada pasien asma atau keluarganya. Misalnya : □ □ □ □ □ □ □ □ Pasien asma dengan sejarah ketidakpatuhan pengobatan Pasien asma yang menerima obat dengan indeks terapi sempit yang memerlukan pemantauan Pasien asma dengan multirejimen obat Pasien asma usia lansia Pasien asma usia pediatri melalui orang tua atau pengasuhnya Pasien asma yang mengalami Drug Related Problem Pasien asma dan keluarganya yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam penggunaan obat, jika perlu dengan melibatkan tenaga kesehatan lain seperti dokter Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait pada kondisi seperti apa kegiatan konseling yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan terhadap pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 10. Mohon dijelaskan materi apa saja yang Anda berikan dalam rangka kegiatan konseling terhadap pasien asma atau keluarganya. Misalnya : □ □ □ Mengenai sediaan farmasi Mengenai pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait materi apa saja yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan terhadap pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 11. Mohon dijelaskan bagaimana bentuk prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling yang Anda lakukan terhadap pasien asma atau keluarganya. Misalnya : □ Melakukan konseling sesuai dengan kondisi penyakit pasien □ Membuka komunikasi antara pasien/ keluarga pasien apoteker dengan □ Menanyakan apa yang telah dokter sampaikan terkait kegunaan pengobatan yang diberi □ Menanyakan bagaimana dokter menerangkan penggunaan obat (cara pakai, jumlah, lama pengobatan, cara penyimpanan, aturan pakai) □ Menanyakan apa yang diharapkan dalam pengobatan yang diberikan □ Memperagakan dan menjelaskan cara pemakaian obat (rotahaler, inhaler, dll) □ Melakukan verifikasi akhir : mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat (inhaler, nebulizer, dll) untuk mengoptimalkan tujuan terapi, melakukan pencatatan konseling pada kartu pengobatan □ Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait bagaimana bentuk prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan terhadap pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 12. Mohon dijelaskan bentuk pertanyaan – pertanyaan seperti apa yang biasanya diajukan kepada pasien asma atau keluarganya terkait harapan dari obat yang diberikan yang sebelumnya telah diterangkan oleh Dokter. Misalnya : □ □ □ □ □ □ □ Pengaruh apa yang diharapkan tampak Bagaimana bekerja mengetahui bahwa obatnya Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter untuk diwaspadai Perhatian apa yang harus diberikan selama dalam pengobatan Apa yang dikatakan dokter apabila merasa semakin parah/buruk Bagaimana mengetahui bahwa obat tidak bekerja Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk pertanyaan – pertanyaan yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan terhadap pasien asma atau keluarganya terkait harapan dari obat yang diberikan yang sebelumnya telah diterangkan oleh Dokter. Penjelasan :

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 13. Mohon dijelaskan bentuk pertanyaan– pertanyaan seperti apa yang biasanya diajukan untuk memastikan pengetahuan pasien atau keluarganya mengenai kondisi yang dialami dan kegunaan obat yang akan diberikan. Misalnya : □ □ □ □ Obat yang akan digunakan ditujukan untuk apa Bagaimana menggunakan obat Gangguan atau penyakit apa yang sedang dialami Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait bentuk pertanyaan– pertanyaan seperti apa yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan untuk memastikan pengetahuan pasien atau keluarganya mengenai kondisi yang dialami dan kegunaan obat yang akan diberikan. Penjelasan :

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 14. Mohon dijelaskan informasi apa yang Anda berikan sebagai penanganan awal asma mandiri (self care) yang harus dilakukan oleh pasien atau keluarganya pada saat terjadi serangan asma. Misalnya : □ Gunakan obat yang sudah biasa digunakan □ Tetap tenang jangan panik □ Segera hubungi dokter bila dalam 15 menit tidak ada perbaikan setelah menggunakan obat dan bila napas pendek dan susah bernapas □ Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait informasi penanganan awal asma mandiri (self care) pada saat terjadi serangan asma yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan kepada pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 15. Mohon dijelaskan bentuk monitoring dan evaluasi yang Anda lakukan untuk melihat dan meningkatkan keberhasilan terapi pasien asma Misalnya: □ □ Pencatatan data (medication record) Lainnya………… pengobatan pasien Mohon penjelasan lebih lanjut terkait bentuk monitoring dan evaluasi yang sudah atau yang tidak/belum Anda berikan kepada pasien asma atau keluarganya. Penjelasan :

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 16. Mohon dijelaskan bagaimana kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat yang dilakukan untuk pasien asma. Misalnya: □ Analisis laporan efek samping obat. □ Identifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami ESO □ Pengisian Formulir ESO □ Pelaporan ke panitia ESO Nasional Mohon penjelasan lebih lanjut terkait kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan untuk pasien asma. Penjelasan :

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 17. Mohon dijelaskan kriteria untuk pelayanan residensial bagi pasien asma Misalnya : □ □ □ Pasien asma lanjut usia yang tidak mampu memenuhi aktivitas dasar sehari-hari (mandi, makan, minum, dan memakai baju) Pasien asma yang memerlukan perhatian khusus tentang penggunaan obatnya, interaksi obat dan efek samping obat Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait kriteria pelayanan residensial yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan bagi pasien asma. Penjelasan :

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA 18. Mohon dijelaskan langkah – langkah yang Anda lakukan dalam pelayanan residensial (Home Care) bagi pasien asma. Misalnya : □ □ □ □ □ □ □ □ Menyeleksi pasien melalui kartu pengobatan Menawarkan pelayanan residensial Mempelajari riwayat pengobatan pasien Menyepakati jadwal kunjungan Melakukan kunjungan ke rumah pasien atau melalui telepon Melakukan pelayanan informasi obat atau konseling secara berkesinambungan Melakukan pencatatan dan evaluasi pengobatan (pemantauan kondisi dan kepatuhan pasien) Lainnya………… Mohon penjelasan lebih lanjut terkait langkah-langkah yang dilakukan dalam pelayanan residensial (Home care) yang sudah atau yang tidak/belum Anda lakukan bagi pasien asma. Penjelasan :

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 PANDUAN WAWANCARA TERSTRUKTUR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA PASIEN ASMA Petunjuk Bagian II: a. Berilah tanda (x) pada pilihan Jawaban yang menunjukkan profil diri Anda dan tuliskan jawaban yang sesuai jika pilihan berupa titiktitik. II. Data Responden No. Pertanyaan 1. Apakah jabatan Anda saat ini 2. Berapa lama anda bekerja sebagai Apoteker / Asisten Apoteker Jawaban a. APA b. Apoteker di bagian............... a. b. c. d. DATA DIRI Nama (optional) : Umur : Jenis Kelamin (L/P) : Pendidikan terakhir : < 1 tahun 1- 5 tahun 5-10 tahun >10 tahun

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Lampiran 7. Matriks Pertanyaan Wawancara Terstruktur PERTANYAAN RESPONDEN A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN X X X X X X X X X - - X 10 Tanggal penulisan resep X - X X X X X X X X X X 11 Tanda tangan/ paraf dokter penulis resep X X X - X X - X X - X X 9 Nama, alamat,jenis kelamin,umur, dan berat badan pasien X X X - X X X X X X X X 11 Cara pemakaian obat X X X X X X X X X X X - 11 2. Mohon dijelaskan seperti apa bentuk skrining resep dalam hal pemeriksaan kesesuaian farmasetik yang telah dilakukan kepada pasien asma. A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN Bentuk sediaan X X X X X X X X X X X X 12 Dosis obat X X X X X X X X X X X X 12 Potensi X X - X - X - - - - X X 6 Stabilitas X - - - X X - X - - X X 6 Inkompatibilitas X - - X X X - X - - - X 6 Cara pemberian X X X X X X X X X X X - 11 Lama pemberian - X - X X X - X X X X - A B C D E F G H I J K L X X X X X X X - - X X X 8 TOTAL PELAKSANAAN 10 Adanya efek samping X - X - X X - X X - X X 8 Adanya interaksi obat X X - X X X X X X X X - X X X - X X X X X 9 9 1. Mohon dijelaskan seperti apa bentuk skrining/pemeriksaan administratif resep yang dilakukan terhadap pasien asma. Nama, SIP dan alamat dokter 3. Mohon dijelaskan seperti apa pengkajian klinis yang dilakukan dalam skrining resep terhadap pasien asma Adanya alergi Kesesuaian obat (dosis, durasi, jumlah obat)

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 4. Mohon dijelaskan seperti apa proses penyiapan obat untuk pasien asma baik untuk resep racikan maupun non-racikan. J K L TOTAL PELAKSANAAN X X X X X 11 X X X X X X X 12 X X X - X X X X X 11 X X X X - X X X X X 10 X X X X X X - X X X X X 11 A B C D E F G H J K L TOTAL PELAKSANAAN X X X X X - - X X X X X 10 X X X X X X - X X X X X 11 X X X X X - X X X X X X 11 X X - - X - - - - - - - 3 X - - X X - - - - - X X 5 X - - X - - - - X - X X 5 Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian - - - - - - - - - - - - 0 Mendokumentasikan PIO - X X - X - - - - - - X A B C D E F G H I J K L X X X X X X X X X X X X 4 TOTAL PELAKSANAAN 12 X X X X X X - X X 11 Peracikan (menimbang, mencampur, mengemas, memberi etiket, memperhatikan dosis dan jumlah obat) Menulis etiket dengan lengkap (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk obat luar, dan etiket lainnya seperti label kocok dahulu untuk sediaan cair) Menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan permintaan resep Menyerahkan obat yang dikemasi dengan rapi dan sesuai demi menjaga kualitas obat Melakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep sebelum diserahkan ke pasien asma 5. Mohon dijelaskan bagaimana kegiatan Pelayanan Informasi Obat yang telah dilaksanakan terhadap pasien asma atau keluarganya. Melakukan PIO berdasarkan resep atau kartu pengobatan pasien (medication record) Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif, mudah dimengerti, tidak bias, etis dan bijaksana Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka Menyediakan buletin, leaflet, poster Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga farmasi dan tenaga kesehatan lainnya Penelurusan berdasarkan literature 6. Mohon dijelaskan informasi obat seperti apa yang sekurang-kurangnya Anda sampaikan kepada pasien asma. Cara pemakaian obat Cara penyimpanan obat A B C D E F G H X X X X X X - X X X X X X X X X - I I X X X

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Jangka waktu pengobatan X X X X X X - X X X X - 10 Aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari X - - X X X - X X - - X 7 Pemberian informasi tambahan X X - X X X - X X - X X 9 7. Mohon dijelaskan seperti apa persiapan yang Anda lakukan sebelum memberikan informasi dan edukasi kepada pasien asma. A B C D E F G H J K L TOTAL PELAKSANAAN Pembekalan diri dengan pengetahuan tentang asma dan pengobatan X X X X X X X X X X X X 12 X X X X X X - X X X X X 11 X X - - X X - - - X X X 7 - - - X X X - - X X X X 7 X X - X X X - X X X X X 10 A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN Penyebaran leaflet X X - - X - - - - - - - 3 Penyebaran brosur - - - - - - - - - - - - 0 Penyebaran poster - - - - - - - - - - - - 0 Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (pemberian motivasi untuk meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan dan kualitas hidup pasien) X X - - X - - - - - - - 3 A B C D E F G H I J K L - X - X - - - X - X X X TOTAL PELAKSANAAN 6 - - X X X - - - - - X - 4 Pemberian informasi kepada pasien dan juga keluarga terutama untuk pasien yang mengalami masalah dalam berkomunikasi dengan mempertimbangkan latar belakang dan pendidikan pasien dan keluarganya Mengumpulkan dan mendokumentasikan data pasien (riwayat keluarga, gaya hidup, pekerjaan, dan pengobatan yang dijalani, obat-obat yang digunakan selain obat asma yang berpengaruh terhadap pengobatan asma) Menggunakan sarana tambahan dalam penyampaian informasi (peragaan inhaler dan rotahaler) Mempertimbangkan pemberian obat dengan jumlah, dosis yang lebih sedikit, kejadian efek samping obat yang lebih jarang terjadi serta adanya pengertian dan kesepakatan antara dokter, pasien dan apoteker untuk meningkatkan kepatuhan pasien 8. Mohon dijelaskan bagaimana bentuk edukasi dan upaya pemberdayaan yang diberikan kepada pasien asma ataupun keluarganya. 9. Mohon dijelaskan pada kondisi seperti apa kegiatan konseling diberikan kepada pasien asma atau keluarganya. Pasien asma dengan sejarah ketidakpatuhan pengobatan Pasien asma yang menerima obat dengan indeks terapi sempit yang memerlukan pemantauan I

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 Pasien asma dengan multirejimen obat - X - X - - - - - - 2 Pasien asma usia lansia X X X X X - X X X X X X 11 Pasien asma usia pediatri melalui orang tua atau pengasuhnya - - X X X - X - X X X X 8 Pasien asma yang mengalami Drug Related Problem - - - X - - - - - - - X 2 - - - X - - - - X X X - 4 10. Mohon dijelaskan materi apa saja yang Anda berikan dalam rangka kegiatan konseling terhadap pasien asma atau keluarganya. A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN Mengenai sediaan farmasi X X X X X - X X X X X X 11 X X X X X - X X X X X X 11 11. Mohon dijelaskan bagaimana bentuk prosedur tetap dalam pelaksanaan konseling yang Anda lakukan terhadap pasien asma atau keluarganya. A B C D E F G H J K L TOTAL PELAKSANAAN Melakukan konseling sesuai dengan kondisi penyakit pasien - X X X X - X X X X X X 10 Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien/ keluarga pasien X X - X - - - X X X 6 X X - X X - X X X X - X 9 X X - X X - - - X X - X 7 Menanyakan apa yang diharapkan dalam pengobatan yang diberikan X - - X X - X - - X - X 6 Memperagakan dan menjelaskan cara pemakaian obat (rotahaler, inhaler, dll) - - - X X - - - X X X X 6 X X X X X - X X X X X X 11 Pasien asma dan keluarganya yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam penggunaan obat, jika perlu dengan melibatkan tenaga kesehatan lain sepeti dokter Mengenai pengobatan dan perbekalan kesehatan yang dapat digunakan Menanyakan apa yang telah dokter sampaikan terkait kegunaan pengobatan yang diberi Menanyakan bagaimana dokter menerangkan penggunaan obat (cara pakai, jumlah, lama pengobatan, cara penyimpanan, aturan pakai) Melakukan verifikasi akhir : mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat (inhaler, nebulizer, dll) untuk mengoptimalkan tujuan terapi, melakukan pencatatan konseling pada kartu pengobatan - - - I -

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 12. Mohon dijelaskan bentuk pertanyaan – pertanyaan seperti apa yang biasanya diajukan kepada pasien asma atau keluarganya terkait harapan dari obat yang diberikan yang sebelumnya telah diterangkan oleh Dokter. Pengaruh apa yang diharapkan tampak A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN X - - - - - - - - - - X 2 Bagaimana mengetahui bahwa obatnya bekerja - - - - - - X - - X - X 3 Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter untuk diwaspadai - - - - - - - - - - - - 0 Perhatian apa yang harus diberikan selama dalam pengobatan X - - - - - - - - - - - 1 Apa yang dikatakan dokter apabila merasa semakin parah/buruk - - - - - - - - - - - - 0 - - - - - - - - - - - - 0 A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN - - - X X - - - X - - X 4 X X X - X - X - - X - X 7 - X X - - - - - X X - X 5 A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN - - X X X X - - - - X - 5 Tetap tenang jangan panik - - - - X X - - - - - - 2 Segera hubungi dokter bila dalam 15 menit tidak ada perbaikan setelah menggunakan obat dan bila napas pendek dan susah bernapas - - - X - X X - - X X 5 15. Mohon dijelaskan bentuk monitoring dan evaluasi yang Anda lakukan untuk melihat dan meningkatkan keberhasilan terapi pasien asma A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN - X - - - - - - - X X 3 Bagaimana mengetahui bahwa obat tidak bekerja 13. Mohon dijelaskan bentuk pertanyaan– pertanyaan seperti apa yang biasanya diajukan untuk memastikan pengetahuan pasien atau keluarganya mengenai kondisi yang dialami dan kegunaan obat yang akan diberikan. Obat yang akan digunakan ditujukan untuk apa Bagaimana menggunakan obat Gangguan atau penyakit apa yang sedang dialami 14. Mohon dijelaskan informasi apa yang Anda berikan sebagai penanganan awal asma mandiri (self care) yang harus dilakukan oleh pasien atau keluarganya pada saat terjadi serangan asma. Gunakan obat yang sudah biasa digunakan Pencatatan data pengobatan pasien (medication record) -

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 16. Mohon dijelaskan bagaimana kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat yang dilakukan untuk pasien asma. A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN Analisis laporan efek samping obat. - - - - - - - - - - - - 0 - X X X - - - - - - - - 3 - - - - - - - - - - - - 0 - - - - - - - - - - - - 0 A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN - - - - - - - - - - - - 0 X - - - - - - - - - - - 1 A B C D E F G H I J K L TOTAL PELAKSANAAN Menyeleksi pasien melalui kartu pengobatan - - - - - - - - - - - - 0 Menawarkan pelayanan residensial X - - - - - - - - - - - 1 Mempelajari riwayat pengobatan pasien - - - - - - - - - - - - 0 Menyepakati jadwal kunjungan X - - - - - - - - - - - 1 Melakukan kunjungan ke rumah pasien atau melalui telepon X - - - - - - - - - - - 1 Melakukan pelayanan informasi obat atau konseling secara berkesinambungan - - - - - - - - - - - - 0 - - - - - - - 0 Identifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami ESO Pengisian Formulir ESO Pelaporan ke panitia ESO Nasional 17. Mohon dijelaskan kriteria untuk pelayanan residensial bagi pasien asma Pasien asma lanjut usia yang tidak mampu memenuhi aktivitas dasar sehari-hari (mandi, makan, minum, dan memakai baju) Pasien asma yang memerlukan perhatian khusus tentang penggunaan obatnya, interaksi obat dan efek samping obat 18. Mohon dijelaskan langkah – langkah yang Anda lakukan dalam pelayanan residensial (Home Care) bagi pasien asma. Melakukan pencatatan dan evaluasi pengobatan (pemantauan kondisi dan - - - - kepatuhan pasien) Keterangan : x = responden yang melakukan kegiatan yang dimaksud dalam pertanyaan - = responden yang tidak melakukan kegiatan yang dimaksud dalam pertanyaan Sumber : Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Kefarmasian Di Apotek (SK Nomor 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004)

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS Suhartati Mentari Rurubua’, penulis skripsi berjudul Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Pasien Asma oleh Apoteker pada Sepuluh Apotek di Kota Yogyakarta. Merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Yuspina Rurubua’ Kende’ dan Alm. Zeth Toding Bua’. Lahir di Rantepao 7 Juni 1992 Toraja Utara. Pendidikan awal ditempuh di TK St. Theresia Rantepao (1996-1998), SD Katolik III Rantepao (1998-2004), SMP Negeri 2 Rantepao (2004-2007), SMA Negeri 1 Rantepao (2007-2010), kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2010 – 2014). Selama menjalani pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, penulis pernah berpartisipasi dalam pengabdian masyarakat untuk pemeriksaan gratis desa mitra (2012), menjadi tim medis dalam kepanitiaan Inisiasi Sanata Dharma (2012), dan juga aktif dalam kepengurusan Keluarga Toraja Yogyakarta (2010-2014), serta aktif dalam sanggar tari Toraja Yogyakarta (2011-2013). 147

(168)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Perbandingan hasil wawancara kegiatan pelayanan informasi obat terhadap apoteker pengelola apotek pada dua apotek swasta di Yogyakarta.
0
0
2
Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek berdasarkan Kepmenkes RI nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di Kabupaten Sleman periode Oktober-Desember 2006.
0
8
127
Persepsi apoteker pengelola apotek di Kota Yogyakarta terhadap perannya dalam pelayanan resep selama di apotek.
5
30
139
Gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker di-25 apotek di Kota Yogyakarta periode Juli-September 2004.
0
0
92
Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di Kota Yogyakarta.
0
0
133
Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Kerjasama apotek di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menurut persepsi apoteker pengelola apotek yang tergabung dalam apotek jaringan dalam rangka peningkatan pelayanan kefarmasian - USD Repository
0
0
111
Gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker di-25 apotek di Kota Yogyakarta periode Juli-September 2004 - USD Repository
0
0
90
Kajian pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di apotek-apotek Kabupaten Kulon Progo - USD Repository
0
1
131
Persepsi apoteker pengelola apotek di Kota Yogyakarta terhadap perannya dalam pelayanan resep selama di apotek - USD Repository
0
0
137
Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek berdasarkan Kepmenkes RI nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di Kabupaten Sleman periode Oktober-Desember 2006 - USD Repository
0
0
125
Kajian pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan Kepmenkes RI nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di apotek-apotek Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
157
Kajian pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan Kepmenkes RI nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 di apotek-apotek Kabupaten Gunungkidul - USD Repository
0
0
173
Analisis kepuasan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat jalan peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) di Puskesmas Ngemplak I Sleman periode Februari 2013 - USD Repository
0
0
123
Evaluasi pemberian informasi obat dalam pelayanan kefarmasian di apotek di desa Catur Tunggal, Depok, Sleman tahun 2014 - USD Repository
0
0
100
Show more