PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI

Gratis

0
0
210
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Panggih Rucika Sari NIM: 101134047 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada:  Tuhan Yesus Kristus yang mencurahkan berkatNya kepada saya dan telah memberikan perlindungan, kesehatan, selalu menyertai, selalu memberi jalan, serta memberikan jalan yang terbaik.  Bapak Ibuku tercinta, Sumaryo dan Widiartini yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan segala sesuatu yang diberikan kepada saya tanpa pamrih.  Kakak saya Kristian Widi Nugroho dan Paulina Puspita yang selalu memberikan dukungan dan doa selama ini. Tak lupa keponakan tercinta Alvaro Artha Kristanu yang selalu memberikan senyuman manis dan keceriaan.  Teman-teman seperjuangan PGSD 2010.  Pembaca yang budiman. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Dalam perjalanan hidup ini pasti akan banyak masalah yang kita temui, tetapi kita jangan menyerah tetaplah berusaha dan percaya pasti ada jalan.” “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6) “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka” (Pengkotbah 3:11) “Setiap kamu punya mimpi, keingingan atau cita-cita kamu taruh disini, didepan kening kamu. Jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5 cm di depan kening kamu, jadi dia tidak akan pernah lepas dari mata kamu”. (5 Cm, 2013) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI Panggih Rucika Sari Universitas Sanata Dharma 2014 Perkembangan kognitif siswa SD masih dalam tahap operasional konkret. Dalam tahap ini, anak akan lebih senang mempelajari sesuatu secara konkret yaitu menggunakan benda-benda yang nyata. Begitu pula, dalam proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah alangkah baiknya menggunakan alat peraga karena membantu siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru serta memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Subjek pada penelitian ini adalah guru matematika kelas IV dan 3 siswa kelas IVA. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Alat penelitian dalam penelitian kualitatif ini adalah peneliti itu sendiri. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui pengkodean, analisis tematik dan intrepetasi data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Hasil penelitian ini yakni terdapat persepsi guru alat peraga Montessori melatih kemandirian siswa, melalui alat peraga Montessori siswa dapat mengetahui kesalahannya sendiri serta meningkatkan motivasi belajar. Persepsi yang muncul pada siswa bahwa alat peraga Montessori memudahkan dalam menerima materi, serta melalui alat peraga Montessori siswa dapat mengetahui kesalahannya. Guru dan siswa setelah menggunakan alat peraga Montessori memiliki keinginan untuk menggunakan kembali alat peraga tersebut. Penggunaan alat peraga Montessori memberikan pengalaman subjek dan akan membentuk persepsi subjek yang berupa positif maupun negatif. Persepsi akan berkaitan dengan sikap yang di dalamnya terdapat kepercayaan, perasaan dan akan berpengaruh pada tindakan yang akan dilakukan subjek. Penelitian ini memiliki keterbatasan dan diperlukan saran untuk penyempurnaan penelitian ini. Saran dalam penelitian ini antara lain pengambilan subjek penelitian tidak hanya 3 siswa karena belum mewakili persepsi siswa, jumlah alat peraga disesuaikan dengan kebutuhan siswa, dan adanya intrepeter ahli untuk menganalisis data yang diperoleh dan catatan lapangan. Kata kunci; Alat peraga, bilangan bulat, metode Montessori viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT PERCEPTION OF TEACHER AND STUDENTS OF USING ROUND NUMBER BASED ON THE MONTESSORI METHOD By: Panggih Rucika Sari Sanata Dharma University Cognitive development of elementary school student is on the concrete operational stage. Children like to learn something concretely using real objects. The use of model in Elementary School learning eases students to understand the concept. It attracts student so that they will feel happy and enjoy the learning. The previous researches on development which have been done by trial method stated that the use of learning model helps student on understanding the concept and impacting their achievement. This research is in qualitative with phenomenology method. This qualitative research aims to understand the perception of teacher and students on the use of Montessori teaching aid. The subjects for this research are mathematics teacher from grade IV and three students from class IVA. Qualitative research method will be executed by interview and observation as the main data source. Research tool for this research is the researcher itself. This research is uses coding analyze method which means organize and systemize the whole of data in details in order to raise overview about the topic. This research proves that teacher perception towards dakon learning model has auto-education, auto-correction, attractive, and contextual characteristics. Montessori teaching aid impacts on learning process, students are motivated to learn, eases students to learn, and trains them to be independent. Montesorri learning impacts for student to understand their mistake. After using Montessori teaching aid teacher and students will use it again. Using Montessori teaching aid give experience to teacher and students and can build positive or negative perception. Perception will be related to attitude when consist on is belief, response and feeling. Belief, respons, and feeling will impact to the next actions. This research has restrictiveness, so it needs suggestion to complete this research. The researcher suggests not to take three students only because they do not represent all perception, the amount of Montessori teaching aid is appropriate with total student, and it needs intrepeter to check the data. Keyword : Montessori teaching aid, round number, Montessori method. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan berkat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Peneliti menyadari penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dengan hati yang tulus kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus Pembimbing I yang telah membimbing, memberikan saran, mengkritik, serta memberikan ide kepada peneliti sehingga penulisan ini dapat selesai. 3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD. 4. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi. selaku pembimbing II yang telah memberikan saran, memberikan kritikan, memberikan ide, serta membimbing dengan penuh kesabaran. 5. Agus Walidi, S.Pd. selaku Kepala SD Karitas Nandan yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah. 6. Dian Kartika Sabatini, S.Pd. selaku guru kelas IVA sekaligus guru Matematika kelas IV yang telah berpartisipasi dan memberikan bantuan selama melakukan penelitian di sekolah. 7. Siswa Isam, Olive, Tia selaku subjek penelitian serta seluruh siswa kelas IVA tahun ajaran 2013/2014 yang telah bekerja sama dengan peneliti selama penelitian berlangsung. 8. Teman PPL di SD Karitas Nandan yang telah membantu selama penelitian berlangsung. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv HALAMAN MOTTO ................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................. vii ABSTRAK .................................................................................................................. viii ABSTRACT ................................................................................................................. ix PRAKATA .................................................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................................... xii DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 6 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 6 1.5 Definisi Operasional.......................................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI .................................................................................... 8 2.1 Kajian Pustaka................................................................................................. 8 2.1.1 Teori yang mendukung ................................................................................... 8 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Menurut Piaget ................................................... 8 2.1.1 Metode Montessori......................................................................................... 9 2.1.3 Alat Peraga ..................................................................................................... 11 2.1.3.1 Pengertian Alat Peraga ................................................................................... 12 2.1.3.2 Tujuan Penggunaan Alat Peraga .................................................................... 12 2.1.3.3 Pengertian Alat Peraga Montessori ................................................................ 13 2.1.3.4 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori .................................................................... 14 2.1.3.5 Alat Peraga Dakon Bilangan Bulat Montessori ............................................. 17 2.1.4 Persepsi .......................................................................................................... 18 2.1.4.1 Pengertian Persepsi ........................................................................................ 18 2.1.4.2 Persepsi terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori ................................ 20 2.1.5 Matematika ..................................................................................................... 24 2.1.5.1 Hakekat Matematika ...................................................................................... 24 2.1.5.2 Materi Pembelajaran Matematika di SD ........................................................ 25 2.1.5.3 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat kelas IV SD ............. 25 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan ....................................................................... 27 2.1.6.1 Alat Peraga Matematika ................................................................................. 27 2.1.6.2 Persepsi Atas Penggunaan Alat Peraga .......................................................... 27 2.1.6.3 Pembelajaran dengan Metode Montessori ..................................................... 28 2.1.6.4 Skema ............................................................................................................. 30 2.2 Kerangka Berpikir .......................................................................................... 31 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 34 3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................... 34 3.2 Setting Penelitian ........................................................................................... 35 3.2.1 Tempat Penelitian........................................................................................... 35 3.2.2 Waktu Penelitian ............................................................................................ 35 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.3 Narasumber Penelitian ................................................................................... 35 3.2.4 Objek Penelitian ............................................................................................. 37 3.3 Desain Penelitian............................................................................................ 37 3.4 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 43 3.4.1 Wawancara ..................................................................................................... 44 3.4.2 Observasi ........................................................................................................ 46 3.4.3 Dokumentasi .................................................................................................. 48 3.5 Instrumen Penelitian ...................................................................................... 49 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas .................................................................... 51 3.6.1 Kredibilitas ..................................................................................................... 52 3.6.2 Transferabilitas ............................................................................................... 53 3.7 Analisis Data .................................................................................................. 54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................................... 56 4.1 Pelaksanaan Penelitian .................................................................................... 56 4.2 Hasil Penelitian ............................................................................................... 57 4.2.1 Penelitian Sebelum Menggunakan Alat Peraga Montessori ........................... 57 4.2.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................................................ 58 4.2.1.2 Latar Belakang Narasumber ............................................................................ 58 4.2.1.3 Deskripsi Sosio Cultural ................................................................................. 60 4.2.1.4 Pandangan Narasumber terhadap Alat Peraga ................................................ 61 4.2.1.5 Kefamiliaran Narasumber terhadap Alat Peraga............................................. 63 4.2.1.6 Pengalaman Narasumber terhadap Alat Peraga .............................................. 64 4.2.2 Penelitian Setelah Menggunakan Alat Peraga berbasis Montessori ............... 65 4.2.2.1 Perasaan Narasumber Setelah Menggunakan Alat Peraga Montessori .......... 65 4.2.2.2 Kendala Narasumber Menggunakan Alat Peraga berbasis Montessori .......... 69 4.2.2.3 Manfaat Alat Peraga Berbasis Montessori ...................................................... 70 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3 Pembahasan ..................................................................................................... 73 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 77 5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 77 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................... 78 5.3 Saran ................................................................................................................ 78 DAFTAR REFERENSI ............................................................................................. 80 LAMPIRAN ................................................................................................................ 84 CURRICULUM VITAE .............................................................................................. 193 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar bagan persepsi Walgito .............................................................. 21 Gambar 2.2 Gambar persepsi yang sudah dimodifikasi............................................... 22 Gambar 2.3 Literature Map ......................................................................................... 30 Gambar 3.1 Prosedur penelitian ................................................................................... 38 Gambar 3.2 Prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi........................................... 39 DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel Perencanaan Observasi ...................................................................... 40 Tabel 3.2 Tabel Perencanaan Wawancara ................................................................... 41 Tabel 4.1 Tabel Pelaksanaan Observasi ....................................................................... 56 Tabel 4.2 Tabel Pelaksanaan Wawancara .................................................................... 56 DAFTAR LAMPIRAN A. Pedoman Observasi dan Wawancara Lampiran 3.1 Pedoman Kondisi Sosio Cultural .......................................................... 85 Lampiran 3.2 Pedoman Observasi Kegiatan Belajar Mengajar ................................... 86 Lampiran 3.3 Pedoman Observasi guru ketika menggunakan alat peraga .................. 87 Lampiran 3.4 Pedoman Observasi siswa ketika menggunakan alat peraga ................. 88 Lampiran 3.5 Pedoman Wawancara Guru Pra Penggunaan Alat Peraga..................... 90 Lampiran 3.6 Pedoman Wawancara Siswa Pra Penggunaan Alat Peraga .................. 92 Lampiran 3.7 Pedoman Wawancara Guru Pasca Penggunaan Alat Peraga ................. 93 Lampiran 3.8 Pedoman Wawancara Siswa Pasca Penggunaan Alat Peraga ............... 97 B. Observasi Lampiran 4.1 Transkip Sosio Kultural ......................................................................... 99 Lampiran 4.2 Transkip Observasi Kelas Kegiatan Belajar Mengajar 1 ....................... 101 Lampiran 4.3 Transkip Observasi Kelas Kegiatan Belajar Mengajar 2 ....................... 103 Lampiran 4.4 Transkip KBM Menggunakan Alat Peraga Pertemuan-1 ...................... 105 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Transkip KBM Menggunakan Alat Peraga Pertemuan-2 ...................... 121 Lampiran 4.6 Transkip KBM Menggunakan Alat Peraga Pertemuan-3 ...................... 126 C. Wawancara Lampiran 4.7 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Guru.......................................... 135 Lampiran 4.8 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Isam (S2) .................................. 138 Lampiran 4.9 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Pertama Olive (S3) ................... 141 Lampiran 4.10 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Kedua Olive (S3).................... 143 Lampiran 4.11 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Pertama Tia (S4) .................... 145 Lampiran 4.12 Verbatime Wawancara Pra-Penelitian Kedua Tia (S4) ....................... 147 Lampiran 4.13 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Guru .................................... 150 Lampiran 4.14 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Pertama Isam (S2) .............. 155 Lampiran 4.15 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Kedua Isam (S2) ................. 158 Lampiran 4.16 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Pertama Olive (S3) ............. 161 Lampiran 4.17 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Kedua Olive (S3) ................ 164 Lampiran 4.18 Verbatime Wawancara Pasca-Penelitian Tia (S4) ............................... 166 Lampiran 4.19 Lampiran Album Alat Peraga .............................................................. 169 Lampiran 4.20 Dokumentasi ........................................................................................ 186 Lampiran 4.21 Surat Permohonan Ijin Penelitian dari Kampus Lampiran 4.22 Surat Telah Penelitian dari Sekolah xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, dan (5) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan jalan melengkapi sarana dan prasarana, meningkatkan kualitas tenaga mengajar, serta penyempurnaan kurikulum yang menekankan pada pengembangan kecakapan hidup (Life Skills) yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk dapat meyesuaikan diri, dan berhasil di masa yang akan datang. Pembelajaran menurut Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berkaitan dengan pengertian pembelajaran dalam UU Pendidikan No. 20 tahun 2003, pemilihan dan penggunaan komponen yang tepat dapat memfasilitasi proses kegiatan belajar dua arah. Pada proses kegiatan belajar di SD salah satu komponen yang penting untuk mendukung terciptanya interaksi dua arah tersebut adalah media pembelajaran. Media pembelajaran yang dapat diupayakan dalam pembelajaran pada siswa SD adalah alat peraga. Alat peraga memiliki peranan penting terutama untuk level anak Sekolah Dasar (SD). Menurut Suyono, 2011: 17 alat peraga merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan kognitif siswa usia SD masih dalam tahap operasional konkret, menurut Piaget (dalam Santrock, 2007: 48-57). Dalam tahap ini, anak akan lebih senang mempelajari sesuatu secara konkret yaitu menggunakan benda-benda yang riil atau nyata serta berpikir berdasarkan logika atau aturan logis tertentu. Hal lain yang muncul pada anak dalam tahap ini yakni anak telah mampu berkomunikasi dengan teman serta orang lain di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari bahasa anak yang lebih komunikatif serta anak lebih suka melakukan aktivitas motorik. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pembelajaran yang menarik serta adanya benda yang nyata atau riil dalam suatu pembelajaran untuk memberikan pengalaman siswa dan alat bantu 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk membantu siswa dalam menerima informasi. Benda yang nyata serta dapat digunakan dalam pembelajaran yaitu menggunakan alat peraga. Alat peraga dapat membantu siswa dalam menerima informasi dan memberikan pengalaman selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hasil wawancara dengan guru Matematika kelas IV SD Karitas Nandan hari Kamis, 9 Januari 2014 mengatakan bahwa penyampaian materi yang biasanya berlangsung menggunakan ceramah, tanya jawab serta penugasan. Hal ini menurut guru matematika SD Karitas Nandan disebabkan tidak adanya rancangan khusus untuk alat peraga di sekolah, sehingga apabila guru ingin menggunakan alat peraga maka guru hanya menggunakan benda yang terdapat di sekitar kelas. Selain itu, tidak tersedianya dan ketidaklengkapan alat peraga yang terdapat di sekolah tersebut menjadi alasan dalam proses pembelajaran tidak menggunakan alat peraga. Sama halnya dengan hasil tanya jawab yang dilakukan pada 19 April 2014 bersama guru matematika kelas IV SD Loano Purworejo yang mengatakan bahwa selama kegiatan belajar mengajar menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Penggunaan benda di sekitar kelas merupakan cara guru jika dalam proses pembelajaran ingin menggunakan alat peraga. Meskipun demikian guru lebih sering menggunakan papan tulis sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi. Hal senada juga disampaikan oleh guru matematika SD Sidomulyo, Purworejo melalui tanya jawab pada tanggal 19 April 2014. Hasil yang disampaikan oleh guru Matematika tersebut bahwa guru akan menggunakan alat peraga jika pembuatan alat peraga tersebut mudah serta bahan yang digunakan terdapat di sekitarnya. Proses belajar yang berlangsung selama ini beliau lebih sering mengajar tidak menggunakan alat peraga tetapi menggunakan metode ceramah, tanya jawab serta penugasan. Beliau mengatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran lebih sering menggunakan papan tulis sebagai alat untuk membantu siswa dalam menerima materi yang disampaikannya. Hal lain yang menyebabkan guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab serta penugasan dan menggunakan papan tulis karena tidak tersedianya alat peraga di sekolah tersebut. Hasil wawancara dan tanya jawab seperti yang di atas menunjukkan bahwa alat peraga belum sepenuhnya digunakan dalam proses kegiatan belajar 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada siswa dan alat bantu untuk siswa dalam menerima materi. Guru dalam menyampaikan materi biasanya menggunakan papan tulis sebagai alat bantu dalam penyampaian materi serta alat untuk memudahkan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan hasil wawancara dan tanya jawab di atas menunjukkan bahwa tidak tersedianya dan ketidaklengkapan alat peraga yang terdapat di sekolah menyebabkan proses pembelajaran yang berlangsung tidak menggunakan alat peraga. Guru menyampaikan materi menggunakan metode ceramah, tanya jawab, penugasan dan menggunakan alat tulis sebagai alat bantu dalam penyampaian materi. Beberapa data yang dapat peneliti kumpulkan melalui pengamatan di SD Karitas Nandan menunjukkan bahwa setiap kelas di SD Karitas Nandan tidak terdapat alat peraga yang khusus dibuat oleh guru maupun siswa sehingga dalam proses kegiatan belajar pun tidak menggunakan alat peraga. Apabila guru membutuhkan alat peraga dalam kegiatan belajar guru hanya menggunakan benda di sekitar kelas. Begitu pula kondisi di SD Loano Purworejo dan Sidomulyo tidak jauh berbeda dengan kondisi SD Karitas Nandan yang penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran masih terbatas yang karena beberapa hal antara lain tidak tersedianya alat peraga dalam sekolah tersebut serta tidak adanya rancangan khusus untuk pembuatan alat peraga. Meskipun demikian, upaya untuk mengembangkan alat peraga yang dapat membantu pembelajaran di kelas sudah banyak dimulai. Peneliti menemukan beberapa penelitian yang menggunakan metode research and development (R&D) dengan hasil akhir sebuah produk alat peraga yang ditujukan untuk membantu pembelajaran. Penelitian yang peneliti temukan antara lain seperti penelitian yang dilakukan oleh Rukmi (2012) dengan hasil akhir sebuah produk alat peraga perkalian ala Montessori, Pratiwi (2012) dengan hasil akhir produk alat peraga Montessori untuk Ketrampilan Berhitung Matematika, Putri (2012) dengan hasil akhir alat peraga Montessori untuk keterampilan Geometri Matematika, dan Panca (2012) dengan hasil akhir produk alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan kelas I. Hasil penelitian pengembangan alat seperti di atas tidak hanya mengembangkan alat peraganya, akan tetapi alat peraga tersebut juga dapat untuk 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian R&D yang dilakukan oleh Rukmi yaitu terjadi peningkatan skor posstest sebesar 86,44%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi bahwa alat peraga yang dikembangkan menunjukkan hail yang sangat memuaskan dengan rerata skor 4,65% dengan kategori sangat baik. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Mukti memperoleh rerata skor 4,4% dan termasuk kategori sangat baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Panca menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor posttest siswa sebesar 73,44%. Idealnya sebuah penelitian pengembangan itu sebaiknya diimbangi dengan penelitian kualitatif untuk mengupas lebih dalam tentang proses kognitif dan psikologis baik dari siswa dan guru yang terlibat langsung dengan alat peraga tersebut. Hal ini dapat diketahui melalui tanggapan, respons, perasaan, maupun pemikiran dari pihak yang menggunakan alat peraga tersebut. Sayangnya, penelitian pengembangan yang dilakukan selama ini masih terbatas pada uji coba untuk mengetahui bahwa alat ini dapat membantu pemahaman siswa mengenai prestasi belajar siswa melalui penelitian yang berbasis kuantitatif. Penelitian lebih lanjut yang mengungkap proses kognitif maupun psikologis siswa dan guru dalam menggunakan alat peraga tersebut belum pernah dilakukan. Padahal, dengan mengetahui tanggapan, respons, perasaan, maupun pemikiran pihak yang menggunakan alat tersebut dapat memberi konstribusi yang besar dalam pengembangan alat. Observasi secara langsung dan wawancara dengan pihak guru dan siswa dalam pengembangan alat peraga sangat dibutuhkan untuk mengetahui respons, pendapat, perasaan dan pemikiran selama menggunakan alat peraga tersebut. Penelitian mengenai pengembangan alat dengan metode research and development (R&D) seperti yang di atas merupakan contoh pengembangan alat peraga berbasis metode Montessori. Pengembangan alat peraga berbasis metode Montessori didesain secara khusus sesuai dengan perkembangan anak. Karakteristik yang terdapat pada alat peraga Montessori sesuai untuk anak supaya proses pembelajaran yang berlangsung menyenangkan dan anak melakukan kegiatan belajar menggunakan alat peraga tidak secara paksaan namun secara mandiri. Karakteristik khusus yang terdapat pada alat peraga Montessori (Montessori, 2002: 170 – 176) yaitu menarik, bergradasi, auto- 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI education (melatih kemandirian siswa), auto-correction (memiliki pengendali kesalahan), serta kontekstual. Sugiyono, 2011: 5 menjelaskan bahwa suatu penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menemukan data. Begitu pula diperlukannya penelitian kualitatif untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh narasumber penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan sebagainya secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2009: 6). Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian yang lainnya, disebabkan penelitian kualitatif lebih fokus dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan (Sugiyono, 2011: 12). Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud melakukan penelitian kualitatif untuk mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Penelitian kualitatif ini merupakan serangkaian kelanjutan dari penelitian pengembangan yang telah menghasilkan produk berupa alat peraga matematika berbasis Montessori yakni papan dakon untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat kelas IV dan telah diujicobakan oleh penelitian kuantitatif eksperimen untuk mengetahui prestasi belajar siswa menggunakan alat peraga papan dakon. Melalui penelitian kualitatif ini diharapkan dapat mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Penelitian ini dibatasi pada pengungkapan pengalaman penggunaan alat peraga untuk bilangan bulat berbasis metode Montessori di kelas IV SD Karitas Nandan untuk mengetahui kesan, manfaat, kendala, dan persepsi menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori. Terutama karena alat peraga matematika berbasis metode Montessori ini baru dikembangkan dan didasarkan pada karakteristik khusus, yaitu menarik, bergradasi, memiliki pengendali kesalahan (auto-correction), memungkinkan siswa belajar mandiri (auto-education), serta kontekstual (Lilard, 1997: 11). Dari penelitian ini, peneliti berharap mendapatkan data hasil eksplorasi mengenai persepsi narasumber terhadap alat untuk melihat kecenderungan intensitas penggunaan alat dan masukan dalam pengembangan produk alat. 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian ini dibatasi hanya pada persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori dalam pelajaran matematika kelas IV SD. Penelitian ini fokus pada Standar Kompetensi (SK) 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat dan Kompetensi Dasar (KD) 5.2 Menjumlahkan bilangan bulat dan 5.3 Mengurangkan bilangan bulat. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana persepsi guru atas penggunaan alat peraga bilangan bulat berbasis metode Montessori di kelas IV SD Karitas Nandan Yogyakarta Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 ? 1.2.2 Bagaimana persepsi siswa atas penggunaan alat peraga bilangan bulat berbasis metode Montessori di kelas IV SD Karitas Nandan Yogyakarta Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 ? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui persepsi guru atas penggunaan alat peraga bilangan bulat berbasis metode Montessori di kelas IV SD Karitas Nandan Yogyakarta Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014. 1.3.2 Mengetahui persepsi siswa atas penggunaan alat peraga bilangan bulat berbasis metode Montessori di kelas IV SD Karitas Nandan Yogyakarta Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi peneliti, telah mendapatkan pengalaman dan wawasan mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Hasil penelitian ini dapat berguna bagi peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga berbasis Montessori maupun untuk memperbaiki produk yang telah dikembangkan. 1.4.2 Bagi guru, dapat untuk bahan bacaan dan pertimbangan tentang penelitian kualitatif. 1.4.3 Bagi perpustakaan, laporan penelitian ini dapat menambah satu bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Persepsi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai proses diterimanya stimulus, tanggapan, perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir individu 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap suatu objek melalui alat indera sehingga individu dapat menginterpretasikan dan menyimpulkan yang telah didapatkan melalui alat indera. 1.5.2 Alat peraga adalah alat yang diperagakan dalam menyajikan suatu pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. 1.5.3 Alat peraga berbasis Montessori adalah alat yang digunakan untuk membantu siswa dalam memahami materi serta untuk mencapai tujuan pembelajaran. Alat peraga berbasis Montessori memiliki karakteristik khusus yaitu menarik, auto – education (mengajarkan siswa untuk belajar mandiri), auto – correction (alat peraga yang memiliki pengendali kesalahan), bergradasi dan kontekstual. Alat peraga berbasis Montessori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dakon untuk materi pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yang memiliki karakteristik menarik, bergradasi, auto – correction, auto – education, dan kontekstual. Alat peraga berbasis dakon terdiri dari papan dengan 10 lubang yang sama besar dan manik berwarna merah serta biru, dan soal yang disertai kunci jawaban. 1.5.4 Bilangan Bulat adalah materi pada mata pelajaran Matematika SD yang meliputi penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif, penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, dan pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif. 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini, pembahasan tentang landasan teori dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir. 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka membahas tentang teori yang mendukung serta penelitian yang relevan. 2.1.1 Teori yang mendukung Bagian ini membahas beberapa topik yang berkaitan dengan penelitian yang akan dipakai, yaitu teori perkembangan anak menurut Piaget, metode montessori, alat peraga, alat peraga Montessori, persepsi, dan matematika. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Menurut Piaget Teori belajar bermanfaat untuk menjelaskan teori-teori tentang belajar. Siswa memperoleh hasil belajar melalui pengalaman belajar. Begitu pula pada Teori Piaget. Piaget (dalam Santrock, 2007: 48-57) menyatakan ketika anak berusaha membangun pemahaman mengenai dunia, otak berkembang membentuk skema (schema) asimilasi dan akomodasi. Piaget (dalam Komalasari, 2010: 19) mengatakan bahwa seseorang memperoleh kecakapan intelektual, pada umumnya akan berhubungan dengan proses mencari keseimbangan antara apa yang ia rasakan dan ketahui dengan apa yang ia lihat sebagai pengalaman dan persoalan. Proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi,akomodasi dan ekuilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi (assimilation) merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh individu. Proses akomodasi (accommodation) merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Komalasari, 2010: 20 mengatakan teori perkembangan anak, Piaget membagi tahapan – tahapan perkembangan kognitif yang berkaitan dengan usia dan cara pikir yang berbeda-beda, yaitu: 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Tahap Sensorimotor (0 – 2 tahun) Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. 2. Tahap Praoperasional (2 – 7 tahun) Pada tahap ini lebih ke simbolik daripada tahap sensorimotor namun belum melibatkan pemikiran operasional. Perkembangan ini lebih ke simbolik karena penalaran mulai berkembang. Pada tahap ini dimulainya perkembangan kemampuan berbahasa anak dan pengungkapan. 3. Tahap Operasional Konkret (7 – 11 tahun) Pada tahap tahap ini anak akan memperkembangkan kemampuannya menggunakan pemikiran logis melalui benda-benda konkret. Anak menggunakan penalaran logis untuk memecahkan masalah yang konkret. 4. Operasional Formal (11 – 15 tahun) Pada tahap ini dalam menyelesaikan masalah anak sudah menggunakan pemikiran abstrak dan penalaran yang logis. Anak sudah mampu menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesis. Berdasarkan teori yang dikemukan oleh Piaget di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa SD yang berada pada usia 7-12 tahun termasuk di dalamnya anak usia kelas IV berada pada tahap operasional konkret. Pada usia SD anak akan lebih mudah memahami informasi melalui benda atau alat peraga nyata. Oleh karena itu penggunaan alat peraga dibutuhkan dalam proses pembelajaran termasuk pada mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran pokok dalam lingkup sekolah dasar. Selain itu, pelajaran matematika merupakan pelajaran yang membutuhkan alat peraga untuk membantu memahami materi yang disampaikan oleh guru. Proses kegiatan belajar menggunakan alat peraga akan memberikan pengalaman belajar kepada siswa serta memudahkan siswa menerima materi yang disampaikan oleh guru. 2.1.2 Metode Montessori Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870 – 1952) dengan menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak (Holt, 2008: xi). Maria Montessori adalah seorang 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1870 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1952. Saat bekerja beliau menangani anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental seperti debiel dan idiot. Namun, hal tersebut membuat Montessori tertarik pada dunia pendidikan khususnya anak-anak yang beliau tangani. Montessori mencoba mengembangkan metode temuan Itard dan Seguin untuk mengajar membaca dan menulis anak-anak dengan mental keterbelakangan di distrik kumuh di Roma. Menurut Montessori metode Seguin merupakan metode yang menggunakan sistem otot, sistem syaraf, dan panca indera (Montessori, 2002: 28-42). Montessori menerima tawaran dari Edoardo Talamo, seorang Direktur Jenderal Asosiasi Roma untuk mengambil alih organisasi sekolah-sekolah untuk anak usia 3-7 tahun di distrik San Lorenzo. Montessori mendirikan sekolah pertama kali dan diberi nama Casa De Bambini atau Rumah Anak-anak pada tanggal 6 Januari 1907 (Montessori, 2002: 30). Maria Montessori menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didiknya melalui pengamatan yang di lakukan di sekolah Casa De Bambini. Montessori walaupun mengajar pada anak-anak yang intelektualnya kurang, tetapi hasil yang didapatkan lebih bagus daripada anak normal (Montessori, 2002: 5). Montessori menyatakan dua pendapat di dalam bidang pendidikan yaitu pertama, bahwa anak tidak hanya mendapat dan menerima pengetahuan eksak tetapi dengan Montessori ini anak diajarkan untuk mendapatkan pengetahuan dengan melalui dirinya sendiri dengan bebas sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak dipaksa dan anak dapat bergerak bebas. Kedua, pada kondisi anak dapat memperoleh atau tidak memperoleh pengetahuan pendidik tidak boleh memberikan hadiah ataupun hukuman. Hal ini disebabkan karena akan membelenggu jiwa anak dan anak tidak dapat bergerak bebas atau tidak merdeka (Montessori, 2002: 4). Montessori lebih menekankan anak untuk berekpresi dengan bebas mencari pengetahuan tanpa adanya paksaan ataupun dipaksa. Tanpa adanya paksaan, maka anak tidak akan merasa terbebani dan anak melakukan sesuatu berdasarkan keinginan serta ketertarikan terhadap sesuatu tersebut. Montessori menyebut tiga ciri utama pelajaran yang diberikan secara individual (Montessori, 2013: 192). 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Singkat. Pelajaran itu harus singkat. Semakin efisien kata-kata yang diberikan, semakin baik suatu pelajaran. Pendidik harus memilih kata-kata yang dibutuhkan anak dengan tepat. 2. Sederhana. Pelajaran harus sederhana. Pemilihan dan penggunaan katakata yang sederhana dapat membantu anak untuk memahami objek yang sedang dipelajarinya. Selain pemilihan kata-kata yang sederhana, katakatapun harus mengacu pada kebenaran. 3. Objektif. Pelajaran haruslah objektif. Pelajaran harus disampaikan dalam sebuah cara dimana sikap pribadi guru tidak ditampakkan melainkan hanya pada objek yang ingin dia terangkan. Guru tidak boleh memusatkan kepada salah satu objek saja tetapi secara keseluruhan. Penjelasan guru haruslah sesuai dengan objek yang akan dipelajari. Prinsip yang digunakan dalam metode Montessori, yaitu pentingnya keleluasaan anak dalam beraktivitas, kemerdekaan anak dalam memilih sendiri apa yang mau dipelajari, pentingnya minat, pentingnya motivasi intrinsik dengan menghapus hadiah dan hukuman, pentingnya kolaborasi dengan teman sebaya, pentingnya konteks dalam pembelajaran, pentingnya gaya interaksi autoritatif dari orang dewasa, dan pentingnya keteraturan dan kerapian lingkungan belajar (Lillard, 2005: 30-33) Montessori merupakan tokoh pendidikan yang menekankan ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya (Sudono, 2000: 2). Dengan hal ini anak bermain tetapi disisi lain anak melakukan sesuatu tanpa disadari oleh anak. Metode ini sangat menekankan pembelajaran yang dilakukan oleh anak secara mandiri dengan sesedikit mungkin bantuan dari orang dewasa (Montessori, 2002: 33). Berdasarkan pemaparan di atas maka pendidik harus mengerti jiwa mereka, memberikan bombongan, kasih dan hormat kepada mereka (Montessori, 2002: 6). Montessori mengajarkan anak mandiri, tanggung jawab dan konsentrasi dalam melakukan sesuatu. 2.1.3 Alat Peraga Sub bab alat peraga matematika akan membahas tentang 5 bagian tentang pengertian alat peraga, tujuan penggunaan alat peraga, alat peraga Montessori, 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ciri-ciri alat peraga Montessori, alat peraga dakon bilangan bulat Montessori. Hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai pengertian alat peraga matematika. 2.1.3.1 Pengertian Alat Peraga Alat peraga terdiri dari dua suku kata, yaitu alat dan peraga. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kedua kata tersebut sebagai berikut: “alat adalah barang yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu” sedangkan “peraga adalah alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran” (KBBI, 2008). Berdasarkan dua pengertian kata di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan suatu alat media yang berfungsi untuk meragakan sajian pelajaran. Alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran (Smaldino, 2011: 14). Media adalah semua sarana untuk memperlancar proses pembelajaran, sedangkan alat peraga adalah alat atau semua benda dapat berupa manusia ataupun benda mati yang memperagakan konsep materi pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Anitah, 2009: 83 mengatakan media pembelajaran digunakan sebagai media untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Hamalik (dalam Arsyad, 2010: 26) memaparkan media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga anak dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi langsung antara siswa dan lingkungan, dan memberikan kesempatan anak untuk belajar sendiri. Alat peraga merupakan bagian dari media yang memperagakan materi pembelajaran yang akan disampaikan untuk meningkatkan motivasi belajar anak serta mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan alat peraga merupakan hal yang penting untuk mendukung keberhasilan suatu pembelajaran. 2.1.3.2 Tujuan Penggunaan Alat Peraga Alat peraga memiliki empat tujuan yakni satu, memberikan kemampuan berpikir matematika dengan kreatif, dua yaitu mengembangkan sikap percaya diri dalam pembelajaran matematika, tiga untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan pembelajaran matematika pada kehidupan sehari-hari, dan empat yakni meningkatkan motivasi belajar (Sukayati, 2009: 7). 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Pelajaran matematika mencakup tentang dalil-dalil dan simbol yang saling berhubungan. Penggunaan alat peraga akan meningkatkan kreativitas bagi siswa dalam memahami hubungan dalam matematika. 2. Penggunaan alat peraga dalam keadaan yang kondusif akan mempengaruhi kepercayaan diri siswa akan kemampuannya dalam belajar matematika. 3. Matematika erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan alat peraga akan membantu siswa menghubungkan pengalaman belajar dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan menggunakan keterampilannya anak dapat memecahkan suatu masalah. 4. Proses belajar menggunakan alat peraga diharapkan memperoleh pembelajaran yang menyenangkan bagi guru maupun siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa. 2.1.3.3 Pengertian Alat Peraga Montessori Alat peraga Montessori dikembangkan dan diproduksi oleh Maria Montessori yang mengacu pada teori Itard dan Seguin. Alat peraga yang dirancang oleh Montessori sesuai dengan keterampilan yang ada pada peserta didiknya. Alat peraga Montessori merupakan salah satu alat yang digunakan dalam metode Montessori yang bertujuan untuk menyampaian pesan dalam pembelajaran. Montessori, 2002: 169-175 memaparkan alat peraga yang digunakan di dalam pembelajaran Montessori memiliki karakteristik yaitu menarik, memiliki gradasi, memiliki pengendali kesalahan (auto-correction), membelajarkan siswa secara mandiri (auto-education). Peneliti juga menambahkan karakteristik kontekstual pada alat peraga Montessori. Karakteristik kontekstual pada alat peraga memiliki makna penelitian ini merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar daerah sehingga pembuatan alat peraga menggunakan bahan di sekitar. Alat peraga montesssori dirancang untuk mengembangkan kemandirian dan pengetahuan akademik anak, mengandung unsur seni, mengembangkan rasa tanggung jawab, dan bangga terhadap alat yang dimiliki. Dengan demikian alat peraga Montessori sangat erat hubungan dengan tingkat perkembangan anak dan tanggung jawab. Alat peraga Montessori didesain dengan mengembangkan unsur kesederhanaan dan kemungkinan anak belajar 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI secara kreatif dan belajar dari penemuan, dan memungkinkan anak dapat memperbaiki kesalahan mereka sendiri (Lillard, 1997: 11). Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan keterampilan yang ada dalam tahap perkembangan anak, yaitu keterampilan hidup sehari-hari, bahasa, matematika, geografi, kesenian, pengetahuan alam, dan budaya. Alat peraga yang diciptakan oleh Montessori untuk pembelajaran matematika dan bahasa antara lain papan pasir, kartu huruf, kartu angka, tongkat asta merah-biru, menara pink, manik-manik (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan), dan kartu gambar. Alat yang digunakan di sekolah Montessori didesain bukan untuk “mengajarkan matematika” tetapi untuk membantu mengembangkan kemampuan matematikanya untuk kemampuan dalam memahami perintah, urutan, sesuatu yang abstrak, dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi konsep-konsep baru sebagai pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran (Lillard, 1997: 137). 2.1.3.4 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang diciptakan dan dikembangkan oleh Montessori melalui pengamatan yang dilakukan terhadap anak didiknya di Casa Dei Bambini. Alat peraga Montessori di desain berdasarkan tingkat kognitif dan usia anak. Setiap alat peraga Montessori memiliki tujuan dan kegunaan yang berbeda-beda. Montessori, 2002: 170–176 memaparkan karakteristik alat peraga Montesssori sebagai berikut : 1. Menarik (memiliki unsur keindahan) Alat peraga harus memiliki keindahan baik dari segi warna yang menarik maupun kecerahannya sehingga mampu mengundang minat siswa untuk menyentuh, melihat dan mempelajarinya. Pembelajaran didesain untuk menarik perhatian siswa supaya siswa dapat mengikuti pembelajaran tersebut dengan cara meraba, menyentuh, memegang, merasakan dan menggunakannya suatu alat. Pembelajaran yang didesain dengan menggunakan alat peraga yang menarik akan menimbulkan rasa keinginantahuan bagi siswa untuk mempelajari alat peraga tersebut. Alat peraga Montessori mengkombinasikan warna yang cerah dan lembut (Montessori, 2002: 174). 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Memiliki gradasi Alat peraga yang baik seharusnya bergradasi. Ada dua jenis gradasi menurut Montessori yaitu gradasi umur dan gradasi rangsangan yang rasional. Gradasi umur dapat ditunjukkan berdasarkan tingkatan kelas. Gradasi rangsangan yang rasional tampak pada penggunaan alat yang melibatkan beberapa indera. Alat peraga Montessori memiliki gradasi karena disesuaikan dengan fungsi alat indera dan sesuai dengan umur anak. Misalnya untuk memperkenalkan gradasi warna biru dapat menggunakan kartu. Gradasi warna pada kartu dari warna biru sangat tua sampai kartu berwarna biru sangat muda. Alat Montessori tidak hanya gradasi pada warna tetapi terdapat gradasi ukuran. Misalnya untuk gradasi bentuk dapat menggunakan silindris yang berjumlah 10 bentuk. Sepuluh silindris tersebut memiliki ukuran diameter yang berbeda yakni dimulai dari ukuran diameter yang paling besar sampai ukuran diameter terkecil (Montessori, 2002: 174). 3. Memiliki pengendali kesalahan (auto correction) Alat peraga harus memiliki pengendali kesalahan, yang berarti melalui alat peraga ini anak dapat mengetahui sendiri kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan dan anak akan segera mencoba untuk melakukan pembenaran. Setiap campur tangan dari pendidik untuk membantu atau mengoreksi akan merusak seluruh proses pembelajaran yang berlangsung (Montessori, 2002: 172). Montessori memiliki beberapa alat, sebagai contoh adalah papan balok yang berlubang-lubang (papan silindris). Papan balok yang berlubang ini memiliki silindris kayu dengan diameternya dan milimeternya berbeda pada setiap lubangnya. Semua silindris dilepas dan diletakkan di atas meja, selanjutnya anak diminta untuk memasukkan silindris sesuai dengan lubangnya. Silinder yang ukurannya lebih kecil dari lubang bisa masuk, tetapi yang lebih besar tidak bisa masuk. Anak akan mengetahui kesalahannya dan mengulang berkali-kali jika silinder yang mereka masukkan tidak tepat pada lubangnya. Hal ini akan diulang berkali-kali bahkan hingga 20 kali sampai anak berhasil memasukkan silindersilinder itu pada lubang yang tepat (Montessori, 2002: 172). Alat peraga Montessori lainnya yaitu dakon untuk bilangan bulat. Alat ini memiliki pengendali kesalahan yang terletak pada lembar kunci jawaban. Saat siswa 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengambil soal dari kotak dan mengerjakannya, apabila jawaban siswa salah maka dapat melihat kunci jawaban yang di balik soal dan mencobanya kembali. 4. Membelajarkan siswa secara mandiri (auto education) Seluruh alat peraga Montessori dibuat sedemikian rupa dengan tujuan anak dapat melakukan pendidikan diri (auto-education). Alat peraga didesain untuk mudah dipindahkan dan dibawa sehingga anak nyaman terhadap alat peraganya selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal ini melalui alat peraga Montessori dapat melatih kemandirian. Tujuan dari hal ini anak dapat bekerja menggunakan alat peraga dengan sendiri. Menurut Montessori alat peraga Montessori memiliki empat ciri seperti yang dipaparkan di atas, tetapi peneliti menambahkan satu ciri yaitu kontekstual. Kontekstual memiliki arti bahwa pengembangan alat Montessori terbuat dari bahan-bahan sederhana yang terdapat di sekitar lingkungan anak. Latar belakang Montesssori yang mengajarkan kepada anak kesulitan belajar dengan menggunakan alat peraga yang terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti pasir dan kayu. Sehubungan dengan hal itu, maka ciri kontekstual ini merupakan ciri yang dekat dengan kehidupan siswa yang berkaitan dengan bahan yang digunakan untuk alat peraga Montessori. Menurut Johnson (dalam Komalasari, 2010: 6) mengatakan bahwa kontesktual tersebut merupakan pembelajaran yang mengkaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa seharihari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya. Unsur menarik yang dikembangkan pada alat peraga Montessori terletak pada warna yang digunakan sesuai dengan keinginan anak. Gradasi terdapat pada penggunaan alat peraga yang melibatkan alat indera serta alat peraga dapat digunakan untuk materi pada kompetensi dasar lebih dari satu atau kompetensi dasar selanjutnya. Unsur auto-correction atau pengendali kesalahan terletak pada sesuatu yang membuat anak mampu mengetahui kesalahannya dan mencoba memperbaikinya, seperti pada kunci jawaban, bingkai yang dimiliki setiap dari bangun datar. Alat peraga dapat membelajarkan siswa secara mandiri, siswa dapat belajar menggunakan alat peraga tersebut sendiri atau bersama dengan temannya sesuai dengan keinginannya tanpa adanya paksaan dari siapapun. Unsur 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kontekstual mengenai bahan pembuatan alat peraga yang menggunakan bahan di sekitarnya. Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga pada penelitian ini adalah kayu. 2.1.3.5 Alat Peraga Dakon Bilangan Bulat Montessori Alat peraga memiliki berbagai fungsi, salah satunya memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa Arsyad (dalam Hamalik, 1994: 15). Penggunaan alat peraga memberikan pengalaman belajar bagi siswa dan diharapkan dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Alat peraga dapat digunakan mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dimana dapat menghadirkan objek yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya. Alat peraga papan dakon merupakan salah satu alat peraga matematika berbasis Montessori yang digunakan untuk membantu pembelajaran pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV. Alat peraga papan dakon berbasis Montessori mengandung lima karakteristik menurut Montessori yakni menarik, bergradasi, auto-correction (memiliki pengendali kesalahan) dan auto-education (membelajarkan siswa secara mandiri) dan kontekstual. Karakteristik menarik atau nilai keindahan tampak dari warna yang digunakan pada alat peraga papan dakon yaitu warna coklat untuk papan dakon, warna biru untuk manik negatif serta warna merah untuk manik postif. Nilai gradasi terletak pada rangsangan indera serta keefektifan alat peraga yang dapat digunakan untuk dua kompetensi dasar pada penelitian ini yaitu penjumlahan dan pengurangan. Nilai pengendali kesalahan terdapat pada kunci jawaban terletak di belakang soal. Melalui kunci jawaban anak akan mengetahui kesalahannya dan akan mencoba untuk memperbaikinya. Nilai kemandirian pada alat peraga papan dakon yakni alat peraga dapat digunakan siswa secara mandiri atau bersama dengan temannya serta melalui alat peraga ini dapat melatih kemampuan siswa untuk berhitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Nilai kontekstual terdapat pada pemanfaatan potensi lokal di lingkungan sekolah, dekat dengan kehidupan siswa, mudah ditemukan dan sederhana sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga yaitu kayu. 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Komponen alat peraga papan dakon untuk materi bilangan bulat berupa papan dakon, manik, dan kunci jawaban dan soal. Papan dakon terdiri dari dua lajur yaitu lajur atas yang digunakan untuk menempatkan biji dakon positif dan lajur bawah yang digunakan untuk menempatkan biji dakon negatif. Manik dakon dibedakan ke dalam dua warna, yaitu warna merah untuk bilangan positif dan warna biru untuk bilangan negatif. Di dalam alat peraga Montessori juga terdapat soal untuk latihan serta kunci jawaban yang digunakan untuk mencocokkan jawabannya. Langkah menggunakan alat peraga papan dakon (lihat Lampiran 4.19). Sebagai contoh soal adalah 6 + 3. Pertama yang dilakukan adalah memasukkan enam manik berwarna merah ke lajur papan dakon bagian atas selanjutnya ditambah tiga biji manik warna merah ke lajur papan dakon bagian atas. Hasil yang diperoleh terdapat sembilan manik merah di lajur papan dakon bagian atas. 2.1.4 Persepsi Sub bab persepsi akan membahas tentang 2 bagian tentang pengertian persepsi, persepsi terhadap penggunaan alat peraga Montessori. Hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai pengertian persepsi. 2.1.4.1 Pengertian Persepsi Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam menanggapi berbagai situasi dan gejala yang muncul di sekitarnya. Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu (KBBI, 2008). Persepsi merupakan tahap paling awal dari serangkaian proses informasi. Matlin (dalam Suharnan, 2005: 23) mengatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterprestasikan stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera. Hal senada diungkapkan oleh (Ling, 2012: 5) persepsi merupakan serangkaian proses rumit yang melalui indera kita, sehingga kita memperoleh dan menginterpretasikan informasi yang telah diperolehnya. Menginterpretasikan ini memungkinkan kita menyerap lingkungan kita secara bermakna. Jalaluddin (dalam Hadiwijaja, 2011: 221-236) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan kegiatan penyimpulan dan penafsiran atas berbagai pengalaman, informasi, dan objek yang dihadapi seseorang. 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Desmita, 2006: 108 mengatakan bahwa persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap idividu dalam memahami informasi yang datang dari lingkungan melalui inderanya. Suharnan 2005: 23 mengatakan persepsi mencakup dua proses yang berlangsung secara serempak antara keterlibatan aspek-aspek dunia luar (stimulus informasi) dengan dunia di dalam diri seseorang (pengetahuan yang telah disimpan di dalam ingatan). Dua proses dalam persepsi itu disebut bottom-up atau data driven processing (aspek stimulus), dan top-down atau conceptually driven processing (aspek pengetahuan seseorang). Slameto, 2010: 102 berpendapat persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Hasil persepsi dari suatu obyek dapat berbeda karena dapat disebabkan pada penampilan obyek dan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang tersebut. Terdapat tiga aspek di dalam persepsi yang sangat relevan dengan kognisi manusia (Suharnan, 2005: 24) yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian. Kedua proses ini berjalan secara bersama-sama di dalam seseorang. Lebih rinci, Toha (dalam Susanto, 2003: 154), menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang yang meliputi (1) faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi dari individu; dan (2) faktor ekstern, antara lain latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebudayaan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanaan, pengulangan gerakan, halhal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek. Walgito, 2004: 88 memaparkan bahwa persepsi adalah stimulus yang diindera itu kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu. Davidoff dalam (Walgito, 2004: 88) mengatakan bahwa persepsi adalah proses yang disintegrated dalam diri individu terhadap stimulus yang diterimanya. Berbeda dengan yang dipaparkan oleh Moskowitz dan Orgel (dalam Walgito, 2004: 88) mengatakan bahwa persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sesuatu yang berarti, dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Persepsi dapat dikemukan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalamanpengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi akan berbeda antara satu dengan individu yang lainnya menurut Davidoff dalam (Walgito, 2004: 89). Dengan demikian persepsi adalah suatu proses individu menerima stimulus, tanggapan, perasaan, respons, dan kemampuan berpikir melalui alat indera yang dimilikinya sehingga dapat mengorganisasikan dan menginterpretasikan yang telah diterimanya. Stimulus, tanggapan, perasaan dan kemampuan berpikir yang diterimanya merupakan pengalaman bagi individu. Pengalaman tersebut akan mempengaruhi persepsi positif maupun negatif bagi individu yang berkaitan erat dengan sikap individu. Sikap inilah yang akan berpengaruh terhadap intensi terjadinya perilaku individu selanjutnya. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bagaimana seseorang memaknai pengalaman yang ia peroleh terutama pengalaman menggunakan alat peraga berbasis Montessori sebagai hal yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang yaitu meliputi perasaan, sikap, prasangka, keingintahuan, proses belajar, minat atau motivasi yang diperoleh dan pemikiran terhadap objek. 2.1.4.2 Persepsi terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori Transfer pengetahuan akan dapat berjalan efektif bilamana memperhatikan faktor-faktor psikologis yang ada pada siswa dan guru, salah satunya meliputi aspek kognitif. Salah satu aktivitas dari aspek kognitif yang paling penting adalah persepsi. Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan tindakan selanjutnya. Persepsi juga dipengaruhi oleh sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos Ewoldsen, 1995). Aspek kognitif yang berupa persepsi untuk memaknai berbagai fenomena, informasi atau data di sekitarnya. Hal ini disebabkan persepsi merupakan suatu proses masuknya informasi ke dalam otak yang diterimanya melalui indera dan individu mempretasikannya apa yang telah diterimanya. Persepsi juga dipengaruhi oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mempengaruhi perilakunya (Suharnan, 2005: 51). Oleh karena itu sikap yang akan 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terbentuk berhubungan dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Persepsi dibagi menjadi dua bentuk yaitu persepsi positif dan persepsi negatif. Apabila objek yang dipersepsi sesuai dengan penghayatan dan dapat diterima secara rasional dan emosional maka manusia akan mempersepsikan positif atau cenderung menyukai dan menanggapi sesuai dengan objek yang dipersepsikan. Apabila tidak sesuai dengan penghayatan maka persepsinya negatif atau cenderung menjauhi, menolak dan menanggapinya secara berlawanan terhadap objek persepsi tersebut Rahmat (dalam Muchtar, 2012: 13-14). Persepsi positif atau negatif yang muncul pada individu berawal dari pengalaman yang diperolehnya dan akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut. Melalui sikap yang muncul maka akan berpengaruh terhadap tindakan selanjutnya. Dengan demikian, persepsi dapat mempengaruhi intensitas seseorang dalam melakukan tindakan selanjutnya. Berikut ini adalah gambar bagan persepsi yang dikutip (Walgito, 2013: 116) : keyakinan proses belajar pengalaman pengetahuan persepsi objek faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh evaluasi kognisi Kepribadian afeksi senang/tidaksenang bertindak Sikap Gambar 2.1 Gambar bagan persepsi Selanjutnya peneliti memodifikasi bagan persepsi tersebut sesuai dengan persepsi penelitian ini. Di dalam gambar persepsi yang telah dimodifikasi terdapat 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perbedaan yaitu terdapat empat tahapan yang saling berhubungan untuk mendapatkan persepsi terhadap objek yang diterima melalui indera. Tahapan yang pertama di mulai dari pengamalan narasumber. Pengalaman narasumber dapat berupa hasil belajar, pemikiran dan perasaan yang dialami oleh narasumber. Tahap selanjutnya persepsi narasumber dapat berupa persepsi positif maupun negatif. Tahap berikutnya yakni sikap narasumber setelah mempersepsi suatu objek. Tahap terakhir pada gambar persepsi yang telah dimodifikasi yakni tindakan narasumber yang telah dipengaruhi oleh pengalaman, persepsi dan sikap. Keempat tahapan di atas saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Berikut adalah gambar persepsi yang telah dimodifikasi sebagai berikut : Persepsi hasil belajar kepercayaan pemikiran Pengalaman Sikap perilaku perasaan perasaan Tindakan Gambar 2.2 Gambar persepsi yang sudah dimodifikasi Peneliti mencoba menjabarkan gambar persepsi (Walgito, 2013: 116) yang telah dimodifikasi sebagai berikut : 1. Pengalaman Pengalaman merupakan tahap awal dalam tahapan persepsi. Pengalaman dalam penelitian ini dapat berupa pengalaman belajar narasumber menggunakan alat peraga. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar akan memberikan pengalaman bagi narasumber guru maupun siswa. Pengalaman diperoleh dari hasil belajar narasumber, pemikiran serta perasaan yang dialami oleh narasumber. 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Persepsi Pada tahap ini, setelah narasumber mendapat pengalaman belajar menggunakan alat peraga maka akan muncul tanggapan, respons serta perasaan narasumber terhadap alat peraga tersebut. Perasaan, tanggapan, dan respons narasumber terhadap alat peraga tersebut dapat mempengaruhi persepsi individu. Berbagai macam persepsi dari narasumber yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar narasumber menggunakan alat peraga dapat berupa persepsi positif maupun persepsi negatif. 3. Sikap Pada awalnya, setelah narasumber memperoleh pengalaman belajar menggunakan alat peraga selanjutnya akan muncul persepsi dari narasumber berupa persepsi positif maupun persepsi negatif. Persepsi yang muncul dari narasumber akan membentuk sikap yang di dalamnya terdapat kepercayaan, perasaan, dan perilaku. Sikap dan persepsi saling berkaitan serta saling mempengaruhi. 4. Tindakan Tindakan merupakan rangkaian tahapan yang terbentuk setelah narasumber mendapat pengalaman belajar, mempersepsi yang telah diterima serta membentuk sikap yang di dalamnya terdapat kepercayaan, perasaan, dan perilaku. Persepsi yang berupa positif maupun negatif akan mempengaruhi sikap narasumber dan mempengaruhi tindakan narasumber selanjutnya. Proses kegiatan belajar menggunakan alat peraga dapat memberikan pengalaman bagi guru maupun siswa. Pengalaman yang dimiliki oleh guru maupun siswa inilah akan membentuk persepsi yang positif maupun negatif. Dalam hal ini guru maupun siswa akan mempretasikan apa yang telah diterima melalui alat inderanya yang selanjutnya akan muncul sikap. Di dalam munculnya sikap terdapat kepercayaan, perasaan, dan perilaku. Oleh karena itu, persepsi berkaitan erat dengan sikap dan akan berpengaruh terhadap tindakan selanjutnya bagi guru maupun siswa. Di dalam penelitian ini, diharapkan guru dan siswa mendapatkan pengalaman selama menggunakan alat peraga Montessori berupa 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dakon. Setelah mendapatkan pengalaman, guru dan siswa akan mempretasikan apa yang telah diperolehnya secara positif maupun negatif. Salah satu contoh persepsi dari guru maupun siswa setelah mendapatkan pengalaman belajar menggunakan alat peraga yakni alat peraga tidak hanya sekedar alat tetapi narasumber memiliki pemikiran bahwa menggunakan alat peraga dapat membantu memahami materi serta alat peraga Montessori memiliki karakteristik khusus dibanding alat peraga lainnya. Kemunculan persepsi dari guru maupun siswa akan berpengaruh terhadap sikap yang di dalamnya terdapat kepercayaan, perasaan dan perilaku. Sebagai contohnya sikap yang muncul dari guru maupun siswa yakni kepercayaan bahwa menggunakan alat peraga dapat membantu memahami materi sehingga narasumber dapat mengembangkan sikap matematisnya. Persepsi yang positif akan menimbulkan kepercayaan dan perasaan yang positif juga sehingga akan berpengaruh terhadap tindakan selanjutnya. Hal yang berpengaruh apabila muncul persepsi yang positif maka intensitas menggunakan alat peraga Montessori pun tinggi. Begitupun sebaliknya, jika guru maupun siswa memiliki persepsi negatif setelah mendapatkan pengalaman menggunakan alat peraga Montessori maka akan berpengaruh pada sikap dan tindakan. Akibat yang akan muncul yakni intensitas guru maupun siswa dalam menggunakan alat peraga Montessori rendah. Sehubungan dengan hal ini persepsi itu mulai berperan dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat pembelajaran yang baru. 2.1.5 Matematika Sub bab matematika akan membahas tentang 2 bagian.. Dua bagian yang akan dibahas tersebut adalah hakekat matematika, materi pembelajaran matematika di SD, materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat kelas IV SD. Hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai pengertian alat peraga matematika. 2.1.5.1 Hakekat Matematika Matematika merupakan mata pelajaran pokok yang perlu diberikan kepada semua siswa dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif (Daryanto, 2012: 240). Kata matematika berasal dari bahasa Latin manthematica 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan akar bahasa Yunani mathematike yang berasal dari kata kerja manthanein yang berarti belajar (Oxford Dictionary Of English, 2011), matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran keterkaitan antar konsep, mengaplikasikan matematika dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari yang logis, kritis dan kreatif Depdiknas (dalam Susanto 2013: 184). Tujuan dari mata pelajaran matematika adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama (Depdiknas, 2008: 135) 2.1.5.2 Materi Pembelajaran Matematika di SD Matematika merupakan mata pelajaran yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan menerapkan pemikiran yang kritis, logis, sistematis dan analitis. Ruang lingkup mata pelajaran matematika meliputi bilangan, geometri, pengukuran dan pengolahan data (Depdiknas, 2008: 134-135). Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006, standar kompetensi lulusan pada mata pelajaran Matematika SD/MI meliputi kemampuan memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya; memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifatnya; memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, serta debit; memahami konsep koordinat; memahami konsep pengumpulan data dan penyajiannya; memiliki sikap menghargai matematika; serta memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif (Depdiknas, 2008: 147). 2.1.5.3 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat kelas IV SD Materi operasi hitung bilangan bulat terdapat di kelas IV dan kelas V Sekolah Dasar. Materi bilangan bulat pada kelas V meliputi arti bilangan bulat, berbagai operasi hitung bilangan bulat dan sifatnya masing-masing, membulatkan dan menaksir secara tepat hasil operasi hitung, menyebutkan dan menentukan bilangan prima, mencari faktor prima suatu bilangan, menentukan KPK dan FPB, serta menghitung dan memahami perpangkatan dan akar sederhana (Sunaryo, 2007: 2-67). Berbeda dengan materi bilangan bulat di kelas IV SD yang meliputi pengenalan bilangan bulat, mengurutkan bilangan bulat, penjumlahan bilangan bulat, pengurangan bilangan bulat, dan operasi hitung bilangan bulat (Mustaqim, 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2008: 137-154). Pada penelitian ini, peneliti memfokuskan pada materi penjumlahan bilangan bulat dan pengurangan bilangan bulat. 1. Bilangan Bulat Bilangan bulat merupakan merupakan bilangan yang terdiri dari bilangan cacah (termasuk bilangan asli) dan bilangan bulat negatif (Sutopo, 2009: 4). Bilangan cacah yaitu bilangan yang dimulai dari 1, 2, 3, 4 …dst, sedangkan bilangan asli yaitu bilangan yang dimulai dari 0, 1, 2, 3,…dst. Bilangan bulat gabungan merupakan bilangan nol, bilangan asli, dan lawan bilangan asli (Mustaqim, 2008: 137). Materi penjumlahan bilangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga berupa garis bilangan yang disertai anak panah dan bilangan. Jika panah menuju ke arah kanan, maka panah tersebut menunjukkan bilangan bulat positif. Jika panah menuju ke kiri, maka panah tersebut menunjukkan bilangan bulat negatif. 2. Penjumlahan Bilangan Bulat Penjumlahan bilangan bulat adalah mencacah lanjutannya. Misalnya untuk penambahan bilangan cacah 2 dan 3 (Sumantri, 1988: 235). Dimulai dengan sebuah panah dari 0 ke 2, dan kemudian diikuti dengan panah dari 2 tiga satuan ke sebelah kanan. Penjumlahan bilangan bulat terdiri dari: Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif Misalnya: 5 + 5 = 10 Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif Misalnya: 5 + (-5) = 0 Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif Misalnya: -5 + 5 = 0 Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif Misalnya: -5 + (-5) = -10 3. Pengurangan Bilangan Bulat Definisi Sumantri, 1988: 236 pengurangan bilangan bulat yaitu jika a, b, dan c adalah bilangan bulat dan a – b = c, maka a = c + b. Dan ini ternyata dikenali murid sebagai definisi pengurangan yang digunakan untuk bilangan cacah. Pengurangan bilangan cacah terdiri dari : Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Misalnya: 5 - 5 = 0 Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif Misalnya: 5 - (-5) = 10 Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif Misalnya: -5 - 5 = -10 Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif Misalnya: -5 - (-5) = 0 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan 2.1.6.1 Alat Peraga Matematika Pertama, penelitian ini dilakukan oleh Rahmawati (2009) meneliti pengaruh penggunaan alat peraga perkalian model matriks terhadap kemampuan menghitung hasil kali pada siswa kelas IIIB SD N Balun 3 Cepu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi hasil belajar matematika menggunakan alat peraga perkalian model matriks lebih baik daripada hasil prestasi belajar matematika menggunakan alat peraga pada pokok bahasan perkalian. Kedua, penelitian ini dilakukan oleh Latifa (2013) meneliti penggunaan alat peraga meteran untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan jumlah narasumber 2 siswa. Materi pada penelitian ini merupakan materi kelas III mengenai perkalian. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dan analisis kritis. Hasil yang diperoleh bahwa penggunaan alat peraga meteran dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa berkesulitan belajar matematika. 2.1.6.2 Persepsi Atas Penggunaan Alat Peraga Penelitian yang dilakukan oleh Alimohammad (2011) meneliti tentang persepsi penggunaan media digital di dalam pembelajaran formal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah 48 mahasiswa fakultas ekonomi dan komunikasi di Universitas Karlstad Swedia. Instrumen penelitian ini menggunakan wawancara kepada subyek yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan pada Januari-Juni 2010 dengan jumlah 56 sesi pertanyaan wawancara. Tema yang muncul pada pembelajaran ini adalah kepentingan individu, motivasi 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sosial, pandangan professional, peralatan, komunikasi virtual dan peralatan digital. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan media digital memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi, lebih mudah memperoleh informasi dan memudahkan untuk melakukan diskusi. Penelitian kedua dilakukan oleh Febianto (2012) meneliti hubungan antara penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia. Pada penelitian ini menggunakan metode survey dengan populasi 30 orang diambil dengan random sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang penggunaan media pembelajaran ini adalah dengan menggunakan kuesioner model korelasi point biserial. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat hubungan positif antara penggunaan media pembelajaran dengan hasil belajar Bahasa Indonesia, selanjutnya adanya peningkatan hasil pembelajaran yang disebabkan oleh penggunaan media pembelajaran. 2.1.6.3 Pembelajaran dengan Metode Montessori Penelitian yang dilakukan oleh Kevin (2006) membandingkan prestasi akademis, motivasi, dan konteks sosial sekolah Montessori dengan sekolah tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Siswa di sekolah Montessori dalam hal motivasi lebih baik dibandingkan dengan siswa di sekolah tradisonal. Prestasi belajar siswa di dalam sekolah Montessori lebih memperhatikan kualitas pengalaman siswa. Proses dari pengalaman siswa tersebut menjadi motivasi intrinsik siswa untuk belajar. Selain pengalaman siswa, hal lain yang memiliki kekuatan besar di dalam sekolah Montessori adalah konsentrasi. Sebagai pendidik, setelah siswa mendapat pengalaman belajar maka guru harus mendukung siswa dalam mengembangkan pengalaman belajar tersebut dan menjadikan pembelajaran menyenangkan bagi siswa supaya siswa tidak merasa bosan namun tetap dengan konsentrasi yang stabil. Penelitian yang kedua dilakukan oleh Manner (2006) membandingkan pencapaian akademis sekolah Montessori dengan sekolah Tradisional. Dalam hal ini menguji hubungan antara pendidikan berbasis Montessori yang ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Stanford dalam aspek membaca dan matematika dibandingkan dengan skor yang sama di sekolah tradisional. Hasil penelitian pada tahun pertama belum signifikan antara kelas tradisional dengan kelas Montessori. 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada tahun kedua dan ketiga muncul peningkatan pada sekolah Montessori unggul dalam aspek membaca, dan untuk aspek Matematika sekolah Montessori juga mengungguli rata-rata kelas Tradisional. Dalam penelitian ini, Montessori menunjukkan peningkatan pada aspek matematika dibandingkan dengan kelas tradisional. Berdasarkan hasil penelitian yang relevan seperti di atas menunjukkan bahwa terdapat beberapa penelitian tentang penggunaan alat peraga dalam kegiatan belajar, penelitian mengenai metode Montessori yang digunakan dalam kegiatan belajar serta penelitian mengenai persepsi atas penggunaan alat peraga. Hasil penelitian tentang penggunaan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran seperti yang di atas mendapatkan hasil bahwa dengan menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar akan lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Begitu juga terdapat penelitian tentang metode Montessori yang digunakan dalam kegiatan belajar seperti pada penelitian yang di atas. Hasil penelitian tentang penerapan metode Montessori dalam pembelajaran seperti pada penelitian yang di atas menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Montessori dapat mengajarkan tentang kemandirian siswa dalam belajar, melatih konsentrasi siswa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa tidak merasa bosan serta memotivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan prestasi akademis siswa. Hasil penelitian yang selanjutnya yakni mengenai penelitian tentang persepsi penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Hasil yang diperolehnya melalui penelitian-penelitian mengenai persepsi penggunaan alat peraga yang di atas menunjukkan bahwa muncul persepsi dari mahasiswa guru. Persepsi yang muncul dari mahasiswa yaitu dengan adanya media digital dalam pembelajaran sangat memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi, memudahkan mahasiswa mendapatkan informasi, memudahkan mahasiswa untuk melakukan diskusi. Senada dengan penelitian yang kedua mengenai persepsi penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di SMP. Hasil yang diperoleh melalui penelitian tersebut yakni munculnya persepsi dari guru bahwa dengan menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta meningkatkan motivasi belajar siswa. 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian yang telah dilakukan tersebut menggunakan metode Montessori dalam pembelajaran, persepsi atas penggunaan alat peraga, serta penelitian mengenai pembelajaran menggunakan alat peraga. Namun, dalam penelitian tersebut belum terdapat penelitian untuk mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori berupa dakon. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian yaitu ingin mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga berbasis Montessori pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV. Penelitian di atas terangkum dalam literature map pada gambar 2.3. 2.1.6.4 Skema Literature Map Hasil Penelitian yang Relevan sebagai berikut: Alat Peraga Matematika Pembelajaran Montessori Persepsi penggunaan alat peraga Rahmawati (2009) meneliti hasil belajar menggunakan alat peraga perkalian model matriks Kevin (2003) prestasi akademis , motivasi, dan konteks sosial sekolah Montessori dengan sekolah tradisional. Alimohammad (2011) persepsi penggunaan media digital di dalam pembelajaran formal Latifa (2013). penggunaan alat peraga meteran meningkatkan hasil belajar siswa kesulitan belajar. Manner (2006). pencapaian akademis sekolah Montessori dengan sekolah Tradisional. Febianto (2012) Persepsi Penggunaan Media Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Matematika Papan Dakon berbasis Montessori pada Pembelajaran Operasi Hitung dengan Menggunakan Pendekatan Kualitatif Gambar 2.3 Literature Map Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Anak SD pada umumnya berusia 7 – 12 tahun dan telah memasuki tahap operasional konkret. Kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran akan lebih mudah dan paham dalam menerima informasi apabila menggunakan objek yang nyata. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan benda konkret dalam pembelajaran, sehingga memudahkan anak dalam menerima informasi dan mendapatkan pengalaman. Salah satu benda konkret yang dapat mendukung pembelajaran disebut alat peraga. Alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran yang berfungsi sebagai perantara penyampaian informasi di dalam proses belajar mengajar serta memudahkan siswa dalam menerima informasi dan makna informasi yang dipelajari, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu alat peraga dapat memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa selama pembelajaran berlangsung. Alat peraga seringkali digunakan pada pelajaran matematika. Matematika adalah mata pelajaran pokok di tingkat SD. Proses pembelajaran matematika diperlukan alat peraga demi mendukung siswa dalam memahami materi serta menyelesaikan masalah matematika. Alat peraga dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa dalam berhitung. Peneliti beranggapan bahwa pembelajaran matematika khususnya untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat masih kurang menggunakan alat peraga yang mendukung. Hal ini didukung dengan hasil wawancara dengan guru matematika kelas IV SD Karitas Nandan yang menyebutkan bahwa untuk proses pembelajaran mengenai materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat guru biasanya hanya menggunakan garis bilangan yang di gambar di papan tulis. Hal inilah menurut beliau menyebabkan siswa kesulitan memahami materi yang disampaikan. Hal lain yang mendukung yaitu hasil wawancara dengan siswa yang mengatakan bahwa materi mengenai penjumlahan dan bilangan bulat dianggap materi yang sulit karena siswa tidak dapat membayangkan materi tersebut serta memahami materi yang disampaikan oleh guru. Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dengan menggunakan konsep belajar sambil 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bermain untuk anak-anak (Holt, 2008: xi). Metode Montessori mengajarkan siswa untuk belajar secara mandiri atau bersama dengan temannya dan belajar tanpa paksaan dari siapapun. Pembelajaran menggunakan metode Montessori didukung dengan alat peraga Montessori yang memiliki karakteristik khusus yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) memiliki pengendali kesalahan atau auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual. Alat peraga yang digunakan bersifat kontekstual dan memiliki ciri dari alat peraga Montessori yakni adanya pengendali kesalahan sehingga dapat menumbuhkembangkan kemandirian belajar anak serta menarik bagi siswa. Persepsi dapat dikemukan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi akan berbeda antara satu dengan individu yang lainnya menurut Davidoff dalam (Walgito, 2004: 89). Alat peraga matematika berbasis Montessori merupakan hal yang baru untuk guru dan siswa yang belum pernah menggunakan sebelumnya. Oleh karena itu, penggunaan alat peraga Montessori akan memberikan pengalaman belajar bagi guru maupun siswa. Melalui pengalaman, maka akan muncul persepsi dari narasumber yang dapat berupa persepsi positif maupun persepsi negatif. Selanjutnya persepsi akan mempengaruhi tebentuknya sikap pada guru maupun siswa. Di dalam sikap yang terbentuk terdapat perasaan, perilaku dan kepercayaan narasumber dalam menggunakan alat peraga. Perasaan, perilaku dan kepercayaan yang dimiliki narasumber akan berpengaruh terhadap tindakan yang akan dilakukan narasumber selanjutnya. Tindakan ini dapat berupa intensi individu dalam menggunakan alat peraga. Jika seseorang memiliki persepsi yang positif terhadap alat peraga, maka seseorang akan memiliki intensi yang tinggi terhadap objek tersebut, namun jika seseorang memiliki persepsi yang negatif terhadap alat peraga maka seseorang akan memiliki intensi yang lemah terhadap alat peraga tersebut. Proses inilah akan saling berkaitan secara terus menerus yang di mulai dari pengalaman yang dilanjutkan dengan terbentuknya persepsi dan akan mempengaruhi sikap individu untuk melakukan tindakan selanjutnya. Berdasarkan alasan di atas diperlukan penelitian mengenai persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori untuk 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV. Penelitian ini akan mengetahui persepsi guru dan siswa apakah dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori akan memudahkan siswa dalam menerima materi, siswa lebih tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan, dan dengan adanya pengendali kesalahan pada alat peraga papan dakon dapat mengembangkan kemandirian dalam belajar serta dapat mengetahui kesalahannya. 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) desain penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) instrumen penelitian, (6) kredibilitas dan tranferabilitas, dan (7) teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kualitatif. Penelitian kualitatif yakni penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh narasumber penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan sebagainya, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata–kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2009: 6). Jenis penelitian ini menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data dengan menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikannya. Penelitian kualitatif adalah metode-metode untuk memahami maknanya oleh sejumlah individu atau sekelompok orang berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2007: 4). Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan sebagainya (Poerwandari, 1998: 42). Hal ini merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi – interpretasi dunia (Moleong, 2009: 15). Dalam penelitian ini, peneliti berusaha masuk ke dalam konseptual narasumber yang diteliti sehingga mengerti apa dan bagaimana yang dikembangkan oleh narasumber ketika proses wawancara dan pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori berlangsung. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI makna data (Creswell, 2007: 4-5). Dalam penelitian ini data akan disajikan secara deskriptif sesuai dengan pengalaman yang dialami oleh narasumber. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di SD Karitas Nandan yang digunakan untuk penelitian eksperimen serta penelitian evaluatif kepuasan atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori. Sekolah Dasar Karitas Nandan merupakan sekolah yang terletak di Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta. Pemilihan sekolah ini karena memiliki dua kelas paralel dan merupakan salah satu sekolah yang digunakan untuk penelitian kuantitatif (eksperimen) dan penelitian evaluatif kepuasan terhadap penggunaan alat peraga. Narasumber dalam penelitian ini berjumlah tiga siswa diambil dari siswa kelas kelompok eksperimen yang mengikuti penelitian eksperimen. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2013/2014, yaitu pada bulan Januari – April 2014. 3.2.3 Narasumber Penelitian Sampel adalah bagian dari populasi yang merupakan hasil dari pemilihan dengan metode tertentu (Nazir, 2005: 273). Sampel pada penelitian ini yaitu semua siswa kelas IVA dan siswa kelas IVB. Proses untuk menentukan sampel dinamakan sampling. Pemilihan kelas yang digunakan untuk penelitian atas persetujuan wali kelas. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling purposive berdasarkan karakteristik narasumber yang mampu bekerja sama dengan peneliti, komunikatif, dan narasumber yang mendapatkan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matematika rendah, sedang dan tinggi. Langkah untuk pemilihan narasumber yakni peneliti menemui guru kelas selanjutnya bertanya tentang siswa yang dapat digunakan untuk penelitian sesuai dengan kriteria. Setelah itu peneliti menemui narasumber yang telah disarankan oleh guru. Narasumber penelitian terdiri dari empat yakni 1 guru matematika dan 3 siswa kelas IVA. Narasumber 1 yaitu guru matematika sekaligus wali kelas IVA yang sudah delapan bulan mengajar di SD Karitas Nandan. Dalam kesehariannya guru 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyampaikan materi kepada siswa tidak menggunakan alat peraga, tetapi hanya menggunakan papan tulis sebagai media untuk penyampaian materi. Narasumber 2 dengan inisial (I) merupakan siswa kelas IV A yang memiliki nilai matematika di bawah KKM. Siswa ini mempunyai kesulitan dalam belajar khususnya mata pelajaran matematika dengan ditunjukkan nilai kadang di bawah KKM. Narasumber 2 termasuk siswa yang pendiam, di saat mengikuti pelajaran matematika di kelas siswa tersebut sulit berkonsentrasi karena lebih fokus pada permainan yang dibawa, bercanda dengan teman sebelahnya atau mengotak atik benda di sekitarnya. Narasumber 3 dengan inisial (T) merupakan siswa kelas IV A yang termasuk memiliki prestasi matematika sedang. Narasumber 3 termasuk siswa yang aktif di kelasnya. Pada waktu observasi tanggal 11 Januari 2014 siswa tersebut tidak memperhatikan guru saat menjelaskan materi namun siswa tersebut lebih banyak bicara bahkan mengajak bicara teman di sampingnya. Selain sering mengajak bicara dengan teman sebelahnya narasumber 3 ini termasuk siswa yang mudah berkomunikasi dengan orang yang baru dikenali walaupun pada awalnya malu. Selama observasi proses kegiatan belajar mengajar narasumber 3 mengalami kesulitan pada materi bilangan bulat bulat. Hal yang masih dibingungkan oleh narasumber 3 yaitu kebingungan menentukan arah dalam penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif-positif, bilangan bulat negatif-negatif dan bilangan bulat positifnegatif. Data yang dijelaskan oleh guru matematika perolehan nilai narasumber 3 tidak selalu di bawah KKM yang artinya siswa tersebut mendapat nilai yang tuntas. Prestasi narasumber 3 pada mata pelajaran yang lain memiliki nilai yang tuntas. Guru matematika kelas IV mengatakan walaupun siswa tersebut aktif tetapi masih bisa mengikuti pelajaran. Narasumber yang keempat yaitu narasumber 4 dengan inisial (O) merupakan siswa kelas IV A yang selalu menduduki peringkat 1 di kelasnya. Pada waktu peneliti melakukan observasi proses kegiatan belajar narasumber 4 aktif dalam mengikuti pelajaran dan menyimak penjelasan dari guru selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan narasumber 4 paham materi yang telah disampaikan oleh guru walaupun masih sedikit bingung namun narasumber 4 dapat 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengerjakan soal dengan benar. Hasil tanya jawab dengan guru matematika sekaligus wali kelas mengatakan bahwa ketiga narasumber dengan nilai KKM yang beragam namun termasuk siswa yang aktif di dalam kelas. 3.2.4 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah persepsi guru dan siswa tentang penggunaan alat peraga berbasis Montessori. 3.3 Desain Penelitian Langkah – langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif untuk sampai pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan adalah sebagai berikut : 1. Menyusun kerangka penelitian. Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk mengetahui pemikiran peneliti, alur pemikiran peneliti, alasan peneliti melakukan penelitian dan desain penelitian yang digunakan untuk pengambilan data. 2. Menyusun fokus penelitian dari narasumber supaya peneliti memiliki pedoman wawancara ketika pengambilan data. 3. Melakukan pengambilan data. Setelah menemukan narasumber penelitian yang sesuai dengan prosedur pengambilan data, selanjutnya peneliti melakukan wawancara dan melakukan pengamatan terhadap narasumber penelitian secara berkelanjutan. 4. Melakukan pencatatan hasil yang diperoleh selama pengambilan data. 5. Setelah melakukan pencatatan hasil penelitian, peneliti mengolah semua data hasil wawancara dan pengamatan dari narasumber penelitian. Hal ini bertujuan untuk mempermudah peneliti dan pihak lain memeriksa ketepatan langkah-langkah yang telah diambil dan memungkinkan data tersusun rapi, sistematis, dan lengkap. 6. Melakukan analisis data yang telah diperoleh. Pada penelitian ini prosedur penelitian tentu saja dibutuhkan sebagai acuan dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu peneliti menggunakan langkahlangkah penelitian untuk sampai pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian berawal dari studi kasus dan sampai pada 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tahap terakhir yaitu menyimpulkan hasil penelitian. Di bawah ini merupakan gambar prosedur penelitian menurut (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400) Studi awal Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Analisis Temuan Simpulan hasil peneltian, rekomendasi, dalil-dalil Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Pengecekan keabsahan data Model hipotenik personalisasi nilai bela gham Gambar 3.1 Prosedur penelitian menurut Patton Selanjutnya peneliti memodifikasi bagan menurut (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400) sesuai dengan prosedur penelitian yang dilakukan. Modifikasi ini dilakukan oleh peneliti karena menyesuaikan dengan prosedur penelitian yang peneliti lakukan. Di dalam prosedur penelitian yang telah dimodifikasi tidak terdapat model hipotetik personalisasi nilai Bela Gham. Prosedur penelitian yang digunakan oleh peneliti dimulai dengan observasi sosio cultural untuk mengetahui secara umum serta metode yang digunakan guru dalam mengajar, fasilitas yang digunakan dalam proses belajar, media pembelajaran yang berguna, serta sarana dan prasarana. Tahap selanjutnya selanjutnya menyusun perencanaan observasi dan wawancara dan mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian. Tahap berikutnya yakni melakukan observasi sosio cultural, proses kegiatan belajar mengajar serta wawancara dengan narasumber penelitian. Tahap selanjutnya setelah menganalisis data dan menguji keabsahan data yang diperolehnya. Tahap terakhir pada prosedur penelitian yang telah dimodifikasi yakni temuan yang berarti menemukan tujuan melakukan penelitian ini. Berikut adalah gambar prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi sebagai berikut : 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Observasi Tahap perencanaan Analisis Temuan Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Pengecekan keabsahan data Gambar 3.2 Prosedur penelitian menurut Patton yang sudah dimodifikasi Peneliti mencoba menjabarkan prosedur penelitian (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400) yang telah dimodifikasi sebagai berikut : 1. Observasi Tahap awal, peneliti melakukan observasi proses pembelajaran secara umum yang berlangsung di kelas IVA. Observasi ini meliputi metode yang digunakan guru dalam mengajar, fasilitas yang digunakan dalam proses belajar, media pembelajaran yang berguna, serta sarana dan prasarana yang tersedia di kelas IVA. 2. Tahap Perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyusun tabel perencanaan wawancara dan tabel perencanaan observasi. 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.1 Perencanaan Observasi N o Kegiatan Tujuan 1 Observasi kondisi sosio cultural Untuk mengetah ui kondisi sosial sekolah 2 Observasi I proses pembelaja ran 3 Observasi II proses pembelaja ran 4 Observasi I ketika pelaksana an 5 Observasi II ketika pelaksana an Untuk mengetah ui proses pembelaja ran di kelas Untuk mengetah ui respon guru dan siswa terhadap pengaplik asian alat peraga Montessor i Narasumber Objek Jenis observasi Instrumen Ruang kelas Anecdotal record Panduan observasi (lampiran 3.1 halaman Guru Siswa Pelaksanaa n (tempat, waktu, tanggal)  tempat  waktu  tanggal  tempat  waktu  tanggal Guru Siswa Guru Siswa Ruang kelas Ruang kelas Anecdotal record Anecdotal record Panduan observasi (lampiran 3.2 halaman Panduan observasi guru (lampiran 3.3 halaman  tempat  waktu  tanggal Panduan observasi siswa (lampiran 3.4 halaman  tempat  waktu  tanggal 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Perencanaan Wawancara N Kegiatan Tujuan Narasumber o Bentuk Instrumen Pelaksanaan (tempat,waktu, Wawancara tanggal ) 1 Wawancar Untuk . a pra mengetah penelitian ui kondisi pra awal penelitian sebelum (lampiran penelitian 3.5 Guru Semi Panduan terstruktur wawancara halaman Siswa 2,3,4 Semi Panduan terstruktur wawancara tempat waktu tanggal pra penelitian (lampiran 3.6 halaman 2 Wawancar Untuk . a pasca mengetah penelitian ui kondisi pasca akhir penelitian setelah (lampiran penelitian 3.7 Guru Semi Panduan terstruktur wawancara halaman Siswa 2,3,4 Semi Panduan terstruktur wawancara tempat waktu tanggal pasca penelitian (lampiran 3.8 halaman 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Pada awalnya, peneliti melakukan observasi atau pengamatan tentang proses pembelajaran secara menyeluruh. Untuk dapat memahami lebih dalam, diperlukan pemilihan fokus penelitian. Peneliti memfokuskan penelitian menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah merupakan penelitian yang bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan. 4. Pelaksanaan (observasi, wawancara, dokumen). Pada tahap ini, peneliti terjun langsung ke lapangan. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan pada tiga narasumber siswa dan satu narasumber guru matematika. Wawancara dilaksanakan sebelum narasumber menggunakan alat peraga berbasis Montessori pada materi luas dan keliling bangun datar serta setelah narasumber menggunakan alat peraga berbasis Montessori pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Jenis wawancara yang digunakan yaitu wawancara semi terstruktur. Observasi dilaksanakan selama pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga serta proses pembelajaran selama menggunakan alat peraga Montessori. Dalam melakukan wawancara dan observasi, peneliti menngunakan pedoman wawancara dan observasi yang telah dibuat. Tujuan menggunakan pedoman ini agar tidak keluar dari fokus penelitian. 5. Analisis Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah di lapangan (Sugiyono, 2011: 226). Penelitian kualitatif yang dilakukan ini, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Setelah melakukan waawancara dan observasi, peneliti mengolah semua data yang telah diperoleh untuk mempermudah peneliti atau pihak lain memeriksa data yang telah diambil dan supaya data tersusun dengan rapi. Analisis data dalam penelitian ini dengan melakukan coding. Peneliti membuat kodekode untuk mendeskripsikan semua informasi yang dikumpulkan, lalu peneliti menganalisisnya. 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Pengecekan keabsahan data. Uji keabsahan penelitian kualitatif dapat melalui kredibilitas dan tranferabilitas (Sugiyono 2011: 364). Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman, analisis kasus negatif serta member check. Uji transferabilitas merupakan derajat ketepatan atau dapat diterapkan hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil. 7. Temuan Dalam penelitian kualitatif, tujuan utama yaitu pada temuan. Temuan dapat berupa deskripsi suatu objek yang masih remang-remang atau belum jelas menjadi lebih jelas. Temuan merupakan hasil akhir dari penelitian ini dan akan mengetahui tujuan penelitian yang dilakukan yaitu ingin mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Menurut Lofland (dalam Moleong, 2009: 157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini melibatkan 4 teknik yaitu (Sugiyono 2011: 309) : 1. Observasi kualitatif. Merupakan observasi yang di dalamnya peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas narasumber di lokasi penelitian. Dalam pengamatan ini, peneliti merekam atau mencatat aktivitas dalam lokasi penelitian. 2. Wawancara (wawancara kualitatif. Peneliti berhadap-hadapan) melakukan dengan face-to-face narasumber. interview Wawancara memerlukan pertanyaan-pertanyaan yang secara umum tidak terstruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (open-ended) yang dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari narasumber. 3. Dokumen kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan dokumen-dokumen kualitatif. Dokumen ini dapat berupa dokumen publik 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (seperti, laporan kantor dan sebagainya) ataupun dokumen privat (seperti, buku harian, diary dan sebagainya) 4. Materi audio dan visual. Mengumpulkan data dapat berupa foto, videotape dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan di SD Karitas Nandan peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, di antaranya adalah wawancara dan observasi (pengamatan) sebagai alat utama dalam pengumpulan data. 3.4.1 Wawancara Wawancara merupakan usaha untuk mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan diminta memberikan jawaban secara lisan terhadap pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Wawancara dilakukan karena memberikan kesempatan sebebas-bebasnya kepada informan untuk memberikan jawaban berupa ungkapan pendapat, sikap, atau perasaan, masing-masing bisa disertai penjelasan maupun alasan-alasan. Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2009: 132). Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data oleh peneliti untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti (Sugiyono, 2011: 188). Jawaban dapat bersifat open – ended atau terbuka berupa jawaban bebas, atau bersifat terstruktur atau tertutup berupa jawaban ya atau tidak, atau memberikan jawaban lisan singkat (Supratiknya, 2012: 53). Di dalam penelitian yang menggunakan wawancara Sutrisno Hadi (dalam Sugiyono, 2011: 188) berpendapat bahwa terdapat beberapa anggapan yang perlu diketahui oleh peneliti yakni bahwa narasumber adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri, bahwa apa yang dinyatakan oleh narasumber kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya, serta interpretasi narasumber tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara karena wawancara akan memberi informasi lebih banyak dan dapat digali informasi lebih dalam kepada narasumber. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu wawancara tersruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada narasumber dengan cara peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan dan alternatif jawabannya (Sugiyono, 2011: 188). Berbeda dengan wawancara tidak terstruktur yakni wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian mengenai persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori menggunakan wawancara semi terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan menggunakan pertanyaan terbuka namun tetap ada batasan tema dan alur pembicaraan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat. Peneliti melakukan wawancara sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat. Pembuatan pedoman wawancara bertujuan agar wawancara lebih terfokus pada permasalahan dan menghindari hal-hal yang kemungkinan tidak diungkap. Selain itu pedoman wawancara dijadikan patokan dalam mengatur alur pembicaraan. Selama proses wawancara, pertanyaan akan berkembang sesuai dengan alur jawaban yang diberikan oleh narasumber. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk membatasi jawaban yang diberikan oleh narasumber dengan sebebas-bebasnya. Namun, tentu saja jawaban yang diberikan oleh narasumber tidak keluar dari konteks pembicaraan tetapi masih dalam konteks pembicaraan sesuai dengan pertanyaan mengenai penelitiannya. Selain itu, dalam wawancara semi terstruktur bersifat fleksibel tetapi terkontrol. Hal ini dimaksudkan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada informan bersifat fleksibel atau disesuaikan dengan jawaban yang mengalir dari informan tetapi peneliti masih tetap mengkontrol yaitu melalui tema wawancara. Peneliti dapat mengembangkan pertanyaannya sesuai dengan alur pembicaraan bersama informan. Hasil wawancara akan dikumpulkan menjadi informasi yang akan digunakan sebagai bahan kajian penelitian. Wawancara dilakukan kepada empat narasumber yaitu satu narasumber guru matematika dan tiga narasumber siswa. Wawancara dilakukan sebelum narasumber menggunakan alat peraga berbasis Montessori dan wawancara setelah narasumber menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Penentuan narasumber 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam penelitian ini menggunakan sampling purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011: 126). Pertimbangan dalam pemilihan narasumber yaitu dengan mempertimbangkan prestasi matematika yang dilihat dari nilai KKM, mampu bekerja sama dengan peneliti dan komunikatif. Guru matematika kelas IV mengatakan bahwa kelas IV A dan IV B memiliki kemampuan yang sama, dan guru memutuskan kelas IV A sebagai kelas eksperimen dan kelas IV B sebagai kelas kontrol. Pada penelitian ini, peneliti mengambil narasumber di kelas eksperimen sebanyak tiga siswa atas persetujuan guru matematika yakni narasumber dengan nilai mata pelajaran matematika di atas KKM, nilai KKM sedang, serta nilai di bawah KKM. Selain pemilihan narasumber berdasarkan nilai KKM pada mata pelajaran matematika, hal lain yang mendukung yaitu narasumber dapat bekerja sama dan komunikatif dengan peneliti. Hal yang dilakukan oleh peneliti untuk mencari narasumber penelitian sebagai berikut : a. Menghubungi secara langsung guru matematika sekaligus wali kelas IV A yang akan dimintai kesediannya untuk diwawancara. b. Mencari tiga siswa kelas IV A SD Karitas Nandan yang akan menjadi narasumber penelitian sesuai saran guru matematika. Guru menggunakan sampling purposive untuk memilih narasumber didasarkan pada KKM matematika dan komunikatif c. Mengadakan janji waktu dan tempat untuk melakukan wawancara kepada narasumber guru dan siswa. 3.4.2 Observasi Pengumpulan data pada penelitian ini selain dengan wawancara, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data yang berupa observasi atau pengamatan untuk mendapatkan jawaban yang lebih lengkap. Pada observasi data yang dikumpulkan melalui pengamatan sehingga melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut (Sugiyono, 2011: 309). Teknik pengumpulan data melalui observasi berbeda dengan pengumpulan data melalui wawancara. Pengumpulan data melalui wawancara selalu berkomunikasi 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan narasumber, namun pengumpulan data melalui observasi tidak terbatas pada orang tetapi juga pada objek-objek alam yang lain. Observasi (pengamatan) merupakan metode yang paling dasar dari ilmu sosial karena dalam cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati (Creswell, 2012: 134). Patton (dalam Creswell, 2012: 135) menegaskan bahwa observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Dengan demikian observasi adalah data yang dikumpulkan melalui pengamatan secara langsung untuk mengetahui dan mencapai makna yang akan dituju. Pengumpulan data melalui observasi, peneliti terlibat dengan kegiatan narasumber yang sedang diamati yakni peneliti membantu narasumber mengerjakan soal apabila narasumber mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Metode yang digunakan ketika melakukan observasi dalam penelitian ini yakni menggunakan anecdotal record. Anecdotal record atau catatan anekdot adalah deskripsi atau catatan rekaman tentang peristiwa yang berlangsung dalam situasi natural (Supratiknya, 2010: 47). Anecdotal record yang digunakan dalam penelitian ini peneliti menggunakan anecdotal record tematik, sehingga peneliti mencatat hal-hal penting yang sesuai dengan tema. Catatan anekdot yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut Nehrens dan Lehman (dalam Supratiknya, 2010: 47): 1. Berupa diskripsi singkat peristiwa faktual. 2. Catatan tersebut tidak boleh mengandung inferensi atau kesimpulan, pendapat, atau penilaian dari pihak pengamat. Oleh karena itu peneliti harus benar-benar menuliskan apa yang terjadi 3. Catatan tersebut harus berisi rekaman critical incident atau kejadian penting terkait si murid. 4. Setelah peneliti memperoleh rekaman peristiwa dalam jumlah yang dipandang memadai, peneliti boleh membuat kesimpulan tentang pola perilaku pada narasumber yang menjadi sasaran Observasi yang dilakukan pada penelitian ini antara lain observasi sosio cultural, dan observasi selama kegiatan belajar mengajar. Observasi sosio cultural dilakukan sebanyak satu kali. Observasi selama kegiatan belajar sebelum 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan alat peraga berbasis Montessori dilakukan sebanyak dua kali untuk mendapatkan data yang lengkap dan observasi selama kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Observasi kegiatan pembelajaran yang sebelum menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori bertujuan untuk bekal persiapan bagi peneliti agar lebih mengenal kelas yang hendak diamati sekaligus mempermudah dalam penyusunan instrumen pengamatan. Langkah awal sebelum melakukan observasi, peneliti membuat tabel perencanaan observasi untuk mempermudah dalam membuat pedoman observasi yang akan digunakan. Langkah selanjutnya yakni peneliti membuat kisi-kisi observasi yang akan digunakan untuk observasi guru dan siswa. Observasi ini dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung kepada empat narasumber yakni satu guru kelas dan tiga siswa. Observasi pembelajaran selama menggunakan alat peraga berbasis Montessori dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Observasi pada pertemuan pertama difokuskan pada pengenalan alat peraga dan materi penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif serta penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif. Selanjutnya pada pertemuan kedua observasi mengenai materi penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan positif, penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif dan pengurangan bilangan bulat positif dengan positif. Pertemuan ketiga mengenai materi pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif dan permainan mengenai pengulangan materi. 3.4.3 Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2011: 326). Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian kualitatif ini akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto atau video. Dalam penelitian ini, dokumentasi berupa video pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori dan rekaman wawancara. Tujuan peneliti menggunakan dokumentasi video dan wawancara yaitu bukti bahwa peneliti melakukan observasi serta wawancara. Alat 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang digunakan untuk merekam wawancara peneliti menggunakan handphone, sedangkan untuk merekam video pembelajaran peneliti menggunakan camera digital dengan durasi yang berbeda-beda. 3.5 Instrumen Penelitian Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas intrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2011: 305). Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi“ seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Dalam penelitian kualititaif yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori, dan wawasan terhadap bidang yang akan diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan. Moleong (2009: 168) mengemukakan bahwa peneliti merupakan perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis, penafsiran data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Peneliti adalah satu-satunya alat bagaimana data yang terkumpul tersebut diinterpretasikan (Glesne 2006; Patton, 2002). Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai observer dan juga interviewer untuk memperoleh data. Instrumen penelitian pada penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu yang berupa pedoman wawancara dan observasi. Wawancara digunakan untuk mengetahui pendapat guru dan siswa atas penggunaan alat peraga, sedangkan observasi digunakan untuk mendapatkan pemahaman guru dan siswa selama menggunakan alat peraga Montessori. Melalui observasi memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data yang lebih lengkap serta melengkapi data apabila terdapat beberapa hal yang belum diungkapkan narasumber dalam wawancara. Peneliti merekam kegiatan pembelajaran selama menggunakan alat peraga Montessori menggunakan camera digital. Kegiatan merekam ini difokuskan pada narasumber yang digunakan oleh peneliti pada penelitian ini. Selain itu, peneliti merekam hasil wawancara dengan narasumber menggunakan handphone. Dalam penelitian kualitatif yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri maka perlu 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengalaman-pengalaman peneliti untuk bekal saat terjun ke lapangan. Peneliti mendapatkan pengalaman untuk bekal peneliti terjun ke lapangan antara lain pada semester II peneliti pernah mengajar pramuka di SD Samirono selama satu semester. Kegiatan pramuka dilaksanakan satu minggu sekali pada hari Sabtu selama 2 x 35 menit setelah proses kegiatan belajar berakhir. Pada semester III peneliti pernah melakukan bimbingan belajar (bimbel) kelas bawah di SD Karangwuni. Bimbingan belajar dilaksanakan setiap hari Sabtu pada 09.00 – 10.30. Bimbingan belajar kelas bawah ini dilaksanakan di kelas II. Kegiatan dari kampus selanjutnya pada semester IV yakni peneliti melakukan bimbingan belajar kelas atas di lingkungan masyarakat Timoho. Pelaksanaan bimbingan belajar kelas atas setiap hari sabtu pukul 10.00 sampai selesai yang diikuti anak-anak dari berbagai sekolah. Tujuan dari bimbingan belajar kelas bawah dan kelas atas adalah mendekatkan mahasiswa dengan siswa SD dan memberikan pengalaman untuk menyampaikan materi secara langsung kepada anak serta membimbing anak dalam belajarnya. Kegiatan pada semester V peneliti mengikuti Program Pengakraban Lingkungan (Probaling) guru di SD Tarakanita Bumijo selama satu semester. Pelaksanaan Probaling guru ini setiap hari Sabtu selama satu hari penuh. Dalam Probaling ini salah satu programnya yaitu mengajar di kelas. Hal ini bermanfaat bagi peneliti untuk mendapatkan pengalaman terkait dengan tugas dan kewajiban guru serta mahasiswa lebih dekat dengan siswa. Kegiatan selanjutnya pada semester VI, peneliti mengikuti Program Pengakraban Lingkungan (Probaling) Kepala Sekolah di SD Gayam selama satu semester. Probaling Kepala Sekolah dilaksanakan pada hari Kamis selama satu hari penuh. Dalam Probaling Kepala Sekolah ini mahasiswa mendapat banyak informasi tentang tugas dan wewenang Kepala Sekolah. Tujuan Probaling Kepala Sekolah supaya mahasiswa mengetahui tugas dan wewenang Kepala Sekolah. Kegiatan pada semester VII peneliti mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SD Karitas Nandan. Kegiatan PPL ini berlangsung selama 3 bulan atau 12 minggu dan dilaksanakan mulai hari senin sampai sabtu sesuai dengan jam kerja sekolah. Tujuan PPL adalah memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk semakin memiliki kecakapan guru secara professional dan 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bertanggungjawab. Selain kegiatan pelatihan pengakraban di lingkungan sekolah yang peneliti laksanakan, peneliti pernah mengikuti seminar tentang Montessori untuk usia 3-6 tahun pada 5 Agustus 2011. Melalui pengalaman kegiatan di atas dapat memberikan sumbangan bagi peneliti untuk mengetahui pola pikir anak serta mengetahui bahasa yang sering digunakan anak. Selain itu, peneliti pernah belajar melakukan simulasi observasi dengan melihat sebuah video dan diobservasi bersama dengan rekan-rekan peneliti untuk mengetahui cara-cara memandang perilaku dan cara mendeskripsikannya. Pengalaman-pengalaman peneliti di atas dapat menjadi bekal bagi peneliti untuk terjun ke lapangan dalam melakukan penelitian. 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan realibilitas. Susan (dalam Sugiyono, 2011: 363) menjelaskan pada penelitian kualitatif lebih pada aspek validitas karena di dalam penelitian kualitatif yang diuji adalah datanya. Terdapat dua macam validitas penelitian yaitu validitas internal dan validitas eskternal. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai, sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut diambil (Sugiyono, 2011: 361). Uji realibilitas dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif karena realitas dalam penelitian kualitatif itu bersifat selalu berubah dan tidak selalu konsisten sehingga sistem laporan antar individu saling berbeda sesuai dengan bahasa dan pikiran sendiri. Moleong, 2009: 324 menetapkan keabsahan data dalam penelitian kualitatif diperlukan teknik pemerikasaan. Pelaksaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan yaitu, meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (realibilitas), dan confirmability (objektivitas). Di dalam penelitian ini, peneliti menetapkan keabsahan data dengan teknik kredibilitas dan tranferabilitas. 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6.1 Uji Kredibilitas Lincoln & Guba (dalam Poerwandari, 1998: 207) mengatakan istilah kredibilitas untuk mengganti konsep validitas. Kredibilitas studi kualitatif dapat dilihat dari keberhasilannya dalam mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Kredibilitas merupakan validitas internal yang berfungsi mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan gandan yang sedang diteliti (Moleong, 2009: 324). Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait dan interaksi dari berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif. Untuk dapat menilai keakuratan hasil penelitian seperti yang dijelaskan oleh Moleong 2009, 324 disebutkan adanya beberapa cara yang dapat dilakukan diantaranya melalui uji kredibilitas triangulasi. Uji kredibilitas triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2009: 330). Denzim (dalam Moleong, 2009: 330) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber data, metode, peneliti dan teori. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian Patton (dalam Moleong, 2009: 330). Berbeda dengan triangulasi metode yakni pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama (Moleong, 2009: 331). Teknik triangulasi peneliti yaitu memanfaatkan peneliti lainnya untuk mengecek kembali derajat kepercayaan data. Triangulasi teori merupakan fakta yang tidak dapat diperiksa derajat kepercayaan dengan satu atau lebih teori (Lincoln & Guba dalam Moleong, 2009: 331). Jadi triangulasi merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian (Moleong, 2009: 332). Uji kredibilitas lainnya yang peneliti lakukan yaitu menggunakan bahan referensi. Bahan referensi berarti adanya pendukung untuk membuktikan data 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang telah ditemukan oleh peneliti sehingga data menjadi lebih dapat dipercaya (Sugiyono, 2011: 372). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji kredibilitas data dengan menggunakan triangulasi. Triangulasi yang digunakan oleh peneliti triangulasi sumber data dan triangulasi peneliti. Triangulasi sumber data dilakukan dengan cara membandingkan data hasil wawancara dengan hasil observasi kegiatan belajar menggunakan video. Hasil wawancara yang diperoleh akan dibandingkan dengan video pembelajaran selama alat peraga Montessori. Hal ini bertujuan untuk mengecek kesamaan atau perbedaan antara hasil wawancara narasumber dengan hasil yang terjadi ketika melakukan pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori. Apabila terjadi perbedaan maka dapat mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut dan memastikan kebenaran data kepada narasumber. Triangulasi yang digunakan oleh peneliti di dalam penelitian ini selain sumber data yaitu triangulasi peneliti. Triangulasi peneliti dalam penelitian ini adalah memanfaatkan pengamat lain yaitu sesama mahasiswa untuk meneliti tema sejenis dan membandingkan hasil pekerjaan peneliti dengan hasil pekerjaan peneliti lainnya melalui diskusi serta melibatkan mereka dalam proses analisis data. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi ketidaktepatan dalam pengumpulan data. Uji kredibilitas yang telah dilakukan dengan tiga cara oleh peneliti ini bertujuan supaya data yang diperoleh dapat dipercaya. 3.6.2 Uji Transferabilitas Transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuatitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil. Selain itu nilai transferabilitas bergantung pada pemakai hingga manakala hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain (Sugiyono, 2011: 373). Hasil penelitian yang diperoleh dapat ditransfer atau diaplikasikan pada kelompok lain. Meskipun penelitian yang diperoleh dapat ditransferkan pada kelompok lain tetapi harus relevan atau memiliki kesamaan dengan setting di mana penelitian dilakukan. Kemungkinan hasil yang akan muncul apabila hasil penelitian ditransferkan pada kelompok lain yang memiliki kesamaan setting di 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mana penelitian ini dilakukan akan diperoleh tidak sama persis dengan hasil penelitian yang telah dilakukan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan persepsi setiap individu. 3.7 Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus-menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis, dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian (Creswell, 2007: 274). Sehubungan dengan hal itu analisis data kualitatif bisa hanya melibatkan proses pengumpulan data, interpretasi, dan pelaporan hasil secara serentak dan bersama–sama. Teknik analisis data dibagi menjadi tiga (Supratiknya, 2012: 113-119) yakni 1. Tahap pengodean Inti kegiatan pada tahap ini adalah membubuhkan kode pada materi atau data mentah yang diperoleh Poerwandari (dalam Supratiknya, 2012: 113). Tahap pengodean terdiri dari tiga tahap yaitu pertama, mentranskipsi verbatim atau kata demi kata dari hasil wawancara dan hasil observasi diketik dalam format yang terdiri dari tiga kolom. Kedua, menomori masing-masing baris transkip data mentah secara urut dan kontinyu dari atas ke bawah. Ketiga, keseluruhan transkip sebagai satuan berkas data mentah diberi indentitas secara jelas. Peneliti melakukan pengodean setelah melakukan observasi wawancara selama pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Untuk proses koding observasi, peneliti membuat 3 baris yang berisi kolom pertama baris, kolom kedua berisi hasil transkip verbatim, dan kolom ketiga untuk kode (observasi ke/ nomor baris kalimat yang dikutip). Selanjutnya untuk proses koding wawancara, peneliti membuat 2 baris yang berisi kolom pertama untuk penomoran yang menunjukkan nomor baris kalimat, dan kolom kedua berisi daftar pertanyaan yang dicetak tebal beserta jawaban dengan tidak dicetak tebal. Tahap selanjutnya, yaitu pemberian identitas yang meliputi nama, tanggal, dan waktu pelaksanaan, serta keterangan. 2. Analisis tematik 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tahap ini melakukan open coding atau pengodean terbuka, yaitu menemukan kata kunci atau tema dalam data mentah berupa transkip narasi hasil wawancara dan observasi Poerwandari (dalam Supratiknya, 2012: 115). Upaya menemukan kata kunci atau tema dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif. Pencarian tema secara deduktif adalah peneliti sudah memiliki kata kunci atau tema yang akan dicarinya dalam narasi berpegang pada teori yang sudah disiapkan sebelumnya. Pencarian tema secara induktif adalah peneliti belum memiliki kata kunci atau tema apapun dalam benaknya saat membaca transkip data mentah (Supratiknya, 2012: 116). Pada tahap analisis tematik dalam penelitian ini, peneliti menemukan kata kunci atau tema yang dilakukan secara deduktif karena kategori-kategori telah ditentukan sebelum pengodean. Kategori-kategori yang telah ditemukan akan menjadi hasil dalam penelitian ini. Kategori-kategori tersebut meliputi pertama latar belakang narasumber, pandangan, kefamiliaran narasumber dan pengalaman narasumber terhadap alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori, kedua pengalaman narasumber setelah menggunakan alat peraga, terkait dari apa yang dirasakan, kendala dan manfaat yang diperoleh dikaitkan dengan karakteristik alat peraga Montessori. Selanjutnya peneliti memberikan kode pada transkip verbatim sesuai dengan kataegori-kategori review, new coment, dan akan muncul kotak komentar yang berguna untuk membuat kode (narasumber ke- / wawancara ke - / nomor baris kalimat yang dikutip). 3. Interpretasi. Inti dari tahap interpretasi adalah memahami data yang sudah diperas ke dalam kata-kata kunci atau tema secara lebih mendalam. Tahap interpretasi ini peneliti memaknai hasil penelitian yang diperoleh ke dalam pembahasan yang lebih lanjut. Pada pembahasan, peneliti menyertakan teori-teori yang mendukung dalam memaknai data tersebut. 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas (1) pelaksanaan penelitian, (2) hasil penelitian, dan (3) pembahasan. 4.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2013/2014, yaitu pada bulan Januari – April 2014. Di bawah ini adalah tabel pelaksanaan pengambilan data wawancara dan observasi selama penelitian berlangsung Tabel 4.1 Pelaksanaaan Observasi No 1. Narasumber Observasi kondisi sosiocultural 2. Tanggal Rabu, Waktu Tempat 09.00-09.30 Ruang kelas 8 Januari 9 Januari 08.10-09.30 2014 Kamis, 2014 3. Observasi pembelajaran secara umum Kamis, 11 Januari 5. Observasi ketika menggunakan alat peraga 6. Senin, 13 Januari 2014 Rabu, 15 Januari 2014 Jumat, 17 Januari 2014 Mengetahui keadaan sekolah dan ruang kelas Ruang kelas Untuk IVA mengetahui proses pembelajaran di kelas 09.00 – 10.10 Ruang kelas Untuk IVA mengetahui proses pembelajaran di kelas 08.10-09.15 Ruang kelas IVA Pertemuan ke-1 09.00-10.10 Ruang kelas IVA Pertemuan ke-2 08.10-09.00 Ruang kelas IVA Pertemuan ke-3 2014 4. Keterangan Tabel 4.2 Pelaksanaan Wawancara No 1. 2. Narasumber Guru (G) I (siswa I) Tanggal Kamis, 9 Januari 2014 Jam: 12.45 – 13.00 Waktu 12.45 – 13.00 Tempat Ruang guru Keterangan Sabtu, 11 Januari 2014 10.00 – 10.10 Ruang Wawancara sebelum menggunakan alat peraga perpustakaan 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. O (siswa II) 4. T (siswa III) 5. Guru (G) 6. I (siswa I) 7. O (siswa II) 8. 4.2 T (siswa III) Rabu, 9 Januari 2014 11.50 – 12.15 Ruang perpustakaan Sabtu, 11 Januari 2014 09.30 – 09.40 Ruang perpustakaan Sabtu, 9 Januari 2014 12.20 – 12.35 Ruang perpustakaan Sabtu, 11 Januari 2014 09. 45 – 09.55 Ruang perpustakaan Sabtu, 25 Januari 2014 12.30 – 13.50 Ruang guru Sabtu, 1 Februari 2014 Sabtu, 3 Februari 2014 11.30 – 11.50 Senin, 20 Januari 2014 11.45 – 11.55 Ruang kelas IVA Rabu, 29 Januari 2014 12.10-12.25 Perpustakaan Senin, 20 Januari 2014 12.56 – 12. 14 Ruang kelas IVA 12.15 – 12.25 Montessori Wawancara Ruang kelas setelah menggunakan VA perga Ruang kelas alat Montessori VA Hasil Penelitian Dalam pembahasan bab IV ini peneliti akan menjelaskan ke dalam tiga poin penting yaitu pertama latar belakang narasumber, pandangan, kefamiliaran narasumber dan pengalaman narasumber terhadap alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori, kedua pengalaman narasumber setelah menggunakan alat peraga, terkait dari apa yang dirasakan, kendala dan manfaat yang diperoleh dikaitkan dengan karakteristik alat peraga Montessori 4.2.1 Penelitian Sebelum Menggunakan Alat Peraga Montessori Peneliti akan menjelaskan poin pertama sebelum menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori yaitu latar belakang narasumber, pandangan, kefamiliaran narasumber dan pengalaman narasumber terhadap alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori. 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian Sekolah Dasar (SD) Karitas Nandan berlokasi di Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta. Kondisi sekolah yang jauh dari keramaian jalan raya dan tempat umum, terletak di tengah pemukiman penduduk yang tidak terlalu banyak menjadi salah satu kenyamanan sekolah SD Karitas Nandan sebagai tempat untuk melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar (OSC/B1-4). Sekolah Dasar SD Karitas Nandan diampu oleh 1 Kepala Sekolah, 11 guru kelas, dan 5 karyawan. Sekolah Dasar Karitas Nandan memiliki dua kelas paralel yakni A dan B. Semua kelas dari kelas I-VI memiliki dua kelas paralel A dan B terkecuali di kelas II hanya memiliki satu kelas saja. Setiap kelasnya memiliki ruangan yang cukup luas dan bersih sehingga mendukung untuk kegiatan belajar mengajar (OSC/B5-7). Selain terdapat ruangan kelas yang cukup luas dan bersih, SD Karitas Nandan memiliki beberapa fasilitas sekolah yang berguna dalam mendukung kelangsungan proses kegiatan belajar (OSC/B24-26). Fasilitas-fasilitas tersebut dapat digunakan ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung maupun setelah proses kegiatan belajar selesai. Hal ini SD Karitas Nandan selain nyaman digunakan untuk belajar, selain itu memiliki fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan belajar. Penelitian dilaksanakan di kelas IV A terletak di tengah yang dibatasi oleh kelas IIIB dan ruangan serbaguna dengan jumlah 19 siswa. Ruang kelas IVA yang luas serta bersih mendukung proses kegiatan belajar. Di dalam ruang kelas IVA terdapat 12 meja serta 22 kursi, 1 almari, 1 papan tulis, papan jadwal, dan papan absen. Selain itu dinding kelas dihiasi dengan gambar pakaian tradisional, peta Indonesia serta hasil karya siswa yang ditempel di dinding. Semua fasilitas yang terdapat di kelas tertata dengan rapi. 4.2.1.2 Latar Belakang Narasumber Penelitian tentang persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori difokuskan pada kelas IVA dengan jumlah narasumber empat yaitu tiga siswa kelas IVA dan satu guru matematika sekaligus wali kelas IVA. Pemilihan ketiga narasumber siswa atas persetujuan wali kelas dan pemilihan dilakukan dengan teknik sampling purposive. Kegiatan yang dilakukan sebelum 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelaksanaan penelitian yaitu peneliti melakukan tanya jawab dengan wali kelas mengenai narasumber untuk penelitian. Pemilihan narasumber didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matematika yang memiliki nilai KKM tinggi, nilai KKM sedang dan nilai KKM rendah serta siswa yang komunikatif. Pada akhirnya wali kelas menyarankan narasumber yang digunakan dalam penelitian ini siswa kelas IVA yaitu I, O dan T. Wali kelas IVA mengatakan bahwa siswa kelas IVA memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Adanya karakteristik siswa yang berbeda, prestasi siswa pun juga berbeda-beda. Hal ini dapat dibuktikan pada saat guru menyampaikan materi yaitu terdapat siswa yang langsung bisa memahami materi yang disampaikan tetapi ada siswa yang harus berulang kali untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru (W1/S1/B2728). Hal ini juga terjadi pada narasumber penelitian seperti yang diungkapkan dalam wawancara dengan guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, beliau mengatakan bahwa ketiga narasumber yaitu I, O dan T memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengikuti proses kegiatan belajar. Narasumber I termasuk siswa yang aktif di dalam kelas tetapi terkadang narasumber I tidak melakukan sesuai dengan perintah guru (OK1/B24). Saat semester satu narasumber I tidak mendapat peringkat di dalam kelasnya. Narasumber I termasuk siswa yang pemalu. Narasumber kedua adalah T yang termasuk siswa aktif di dalam kelas tetapi memiliki sifat mudah marah karena narasumber sering diejek oleh teman sekelasnya (OK1/B18-22). Pada saat semester satu narasumber T mendapat peringkat di sepuluh besar dalam kelasnya meskipun terjadi penurunan nilai. Narasumber T termasuk siswa yang mudah berteman dengan orang lain. Narasumber ketiga adalah O termasuk siswa yang aktif dalam kegiatan belajar dan selalu berpartisipasi dalam kegiatan di kelas, seperti saat ini menjadi sekretaris di kelasnya (OK1/B16-17). Narasumber O termasuk siswa yang ceria serta mudah berteman dengan orang lain. Prestasi yang dimiliki narasumber O termasuk bagus karena narasumber selalu peringkat 1 di kelasnya. Alasan memilih ketiga narasumber siswa I, O dan T karena ketiga narasumber memiliki prestasi yang berbeda khususnya pada nilai matematika dan ketiga narasumber termasuk siswa yang komunikatif. 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1.3 Deskripsi Sosio Cultural Sekolah Dasar SD Karitas Nandan termasuk sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar serta memiliki fasilitas yang mendukung kegiatan belajar. Namun, berbanding terbalik dengan tersedianya alat peraga yang terdapat di sekolah. Di setiap kelasnya, peneliti tidak menemukan alat peraga terkecuali di kelas dua menemukan alat peraga berupa puzzle bangun datar (OSC/B31-32). Peneliti tidak menemukan alat peraga di kelas, namun peneliti menemukan beberapa alat peraga di ruang UKS dan Perpustakaan dengan kondisi alat peraga yang kotor dan tidak terawat (OSC/B28). Hasil observasi yang diperoleh peneliti bahwa proses kegiatan belajar yang berlangsung di SD Karitas Nandan tidak menggunakan alat peraga (OSK/B35-38). Kebiasaan yang muncul di SD Karitas Nandan selama kegiatan belajar mengajar guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab serta penugasan. Guru matematika kelas IVA mengatakan ketika menjelaskan dengan ceramah, siswa kesulitan untuk membayangkan dan memahami materi yang disampaikan, jadi harus diulang-ulang penyampaian materinya. Apabila siswa kesulitan dalam memahami materi, guru biasanya menggunakan papan tulis sebagai alat bantu untuk menjelaskan materi yang disampaikan. Hasil yang peneliti peroleh ketika melakukan observasi kelas pemahaman materi yang diterima siswa ketika tidak menggunakan alat peraga pun tidak secara maksimal (OK2/B13). Hal ini juga terjadi ketika guru menjelaskan materi tentang bilangan bulat tanpa alat peraga harus berulang-ulang menjelaskan materinya. Guru pada saat itu menggunakan papan tulis sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi namun beberapa siswa mengeluh karena tidak dapat memahami materi yang disampaikan. Keseluruhan berlangsungnya kegiatan pembelajaran di SD Karitas Nandan masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab serta penugasan. Selain itu guru hanya menggunakan papan tulis sebagai media untuk membantu dalam menyampaikan materi kepada siswa. Padahal menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran akan memberi banyak manfaat baik dari pihak guru maupun siswa. 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1.4 Pandangan Narasumber terhadap Alat Peraga Narasumber penelitian difokuskan pada siswa kelas IVA yang berjumlah tiga siswa. Tema wawancara yang dilakukan kepada ketiga narasumber salah satunya mengenai pendapat narasumber terhadap alat peraga. Langkah awal peneliti melakukan wawancara terhadap narasumber mengenai suka atau tidak suka pelajaran matematika. Wawancara dilakukan kepada ketiga narasumber dan narasumber I mengatakan “Seneng banget matematika” (W1/S1/B14). Sama halnya dengan narasumber O yang melaporkan bahwa narasumber “senang terhadap matematika” (W2/S3/B8). Berbeda dengan narasumber T yang mengungkapkan “tidak terlalu suka matematika” (W2/S4/B4) karena narasumber mengangap matematika itu “sulit” (W2/S4/B12) Terlepas dari pandangan narasumber mengenai suka atau tidak suka terhadap pelajaran matematika, berikut merupakan pandangan narasumber mengenai suka atau tidak suka menggunakan alat peraga pada saat pelajaran matematika. Awalnya peneliti melakukan wawancara mengenai suka atau tidaknya pelajaran matematika, lebih lanjut peneliti menanyakan kepada narasumber tentang suka atau tidak suka menggunakan alat peraga pada saat pelajaran. Hasil yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan ketiga narasumber mengenai suka atau tidak suka menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu narasumber I mengatakan “enggak” yang berarti tidak suka menggunakan alat peraga pada saat pelajaran matematika (W1/S2/B107). Hal yang sama diungkapkan oleh narasumber T yang mengaku tidak suka menggunakan alat peraga saat pelajaran matematika (W2/S4/B65). Alasan narasumber T tidak suka menggunakan alat peraga pada saat pelajaran matematika karena ketika menggunakan alat peraga narasumber merasakan kebingungan dan kesulitan dalam menggunakannya (W2/S4/B67-71). Hal senada juga diungkapkan oleh narasumber O yang mengaku tidak suka menggunakan alat peraga dengan alasan menggunakan alat peraga menyebabkan kebingungan bagi narasumber (W2/S3/B66). Berbeda dengan yang diungkapkan oleh guru jika menggunakan alat peraga akan menanamkan konsep lebih dalam kepada siswa. Keadaan karena terbatasnya alat peraga serta tidak adanya rancangan khusus untuk alat peraga menjadi kendala bagi guru apabila 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam kegiatan belajar akan menggunakan alat peraga. Hasil wawancara dengan guru matematika kelas IV “Yaa.. untuk alat peraga memang jarang digunakan tapi apabila di situ ada alat peraga yang bisa digunakan misalnya seperti jaring – jaring kubus itu di situ kan di kelas itu kan ada kotak berbagi. Nah dengan kotak itu kita digunakan untuk alat peraga. Jadi memang alat peraga di sini tidak dii..rancang secara khusus tapi hanya (W1/S1/B31-37) menggunakan yang ada di sekitar” (W1/S1/B39). Oleh karena itu apabila guru membutuhkan alat peraga dalam proses belajar, guru hanya menggunakan benda di sekitar kelas. Pandangan atas penggunaan alat peraga menurut guru sangat baik karena siswa akan tertarik dan memudahkan siswa menerima materi seperti wawancara yang telah diungkapkan oleh guru “Perasaan siswa yaa senang..karena bisa langsung melihat” (W1/S1/B44). Pengalaman guru ketika mengajar IPA menggunakan video “jadi dengan adanya film kayak metamorfosis gitu mereka lebih tertanemnya lebih dalem daripada kita cuma ceramah” (W1/S1/B65-66). Pendapat guru dengan adanya alat peraga di dalam kegiatan belajar mengajar selain membantu siswa dalam memahami materi, hal lain yaitu mendukung pemahaman siswa tertanam lebih dalam. Ketidaktertarikan ketiga narasumber terhadap alat peraga disebabkan ketika narasumber menggunakan alat peraga mereka mengalami kesulitan dalam menggunakan serta merasa bingung cara menggunakan alat peraganya. Ketiga narasumber mengungkapkan selama ini guru pernah menggunakan alat peraga ketika semester satu dan itu menjadi pengalaman pertama kali bagi narasumber. Narasumber T mengatakan “pecahan pernah,,pernah”(W2/S4/B38). Hasil yang sama diungkapkan oleh narasumber O bahwa “Udah. Matematika pertama kali” guru menggunakan alat peraga pertama kali pada pelajaran pecahan (W1/S3/B2729). Begitu pula yang disampaikan narasumber I jika guru menggunakan alat peraga matematika pertama kali (W1/S2/B65). Berdasarkan hasil di atas bahwa siswa tidak tertarik pada alat peraga karena narasumber akan mengalami kesulitan dalam menggunakan alat peraga tersebut sehingga narasumber merasa kesulitan dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu guru perlu mengganti pemikiran narasumber terhadap alat peraga dimana narasumber akan mengalami kesulitan 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan kebingungan dalam menggunakannya alat peraga tersebut. Hasil wawancara kepada guru, beliau mengatakan dengan menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar akan membantu siswa dalam memahami materi serta menanamkan konsep lebih dalam kepada siswa daripada menggunakan metode ceramah (W1/S1/B65-66). Selain mengubah pemikiran narasumber terhadap alat peraga maka diperlukan adanya rancangan khusus untuk alat peraga sehingga dapat mengubah kondisi keterbatasan alat peraga menjadi tersedianya alat peraga di sekolah. 4.2.1.5 Kefamiliaran Narasumber terhadap Alat Peraga Sekolah Dasar Karitas Nandan memiliki beberapa fasilitas yang mendukung proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah, namun berbanding terbalik dengan tersedianya alat peraga yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Hasil yang diperoleh ketika peneliti melakukan observasi yaitu tidak terdapat alat peraga dalam setiap kelasnya terkecuali di kelas dua terdapat alat peraga berupa puzzle bangun datar. Meskipun demikian, peneliti menemukan beberapa alat peraga di ruang UKS dan Perpustakaan dengan kondisi berdebu dan rusak (OSK/B27-28). Hal ini membuktikan bahwa alat peraga yang berada di ruang UKS dan Perpustakaan tidak digunakan dalam kegiatan belajar. Dalam kesehariannya guru mengajar dengan metode ceramah serta penugasan. Proses kegiatan belajar tidak menggunakan alat peraga mengidentifikasikan bahwa narasumber kurang familiar dengan alat peraga. Hasil wawancara dengan ketiga narasumber mendapatkan hasil yang sama yaitu guru pernah satu kali menggunakan alat peraga ketika semester satu. Data di atas mengidentifikasi bahwa narasumber kurang familiar dengan alat peraga. Guru berpendapat jika keterbatasan alat peraga yang dimiliki di sekolah menjadi salah satu penyebab tidak menggunakan alat peraga ketika proses belajar di kelas. Guru mengatakan jika ingin menggunakan alat peraga, guru mencari alternatif lain yaitu menggunakan benda di sekitar kelas sebagai alat peraganya. Keterbatasan dan tidak tersedianya alat peraga yang dimiliki sekolah menyebabkan kesehariannya proses belajar yang berlangsung hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan. Dengan kondisi ini, diperlukan adanya alat peraga untuk 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegiatan belajar siswa di sekolah supaya siswa lebih memahami materi serta penanaman konsep menjadi lebih dalam. 4.2.1.6 Pengalaman Narasumber terhadap Alat Peraga Pengalaman narasumber atas penggunaan alat peraga masih terbatas karena selama ini narasumber menggunakan alat peraga ketika pada semester satu dan itu menjadi pengalaman pertama kali narasumber menggunakan alat peraga pada pelajaran matematika. Mengenai penggunaan alat peraga pertama kali pada pelajaran matematika narasumber O mengatakan “enggak suka menggunakan alat peraga” (W2/S3/B45) dengan alasan narasumber O merasa lebih sulit dalam memahami materi jika menggunakan alat peraga. Begitu pula dengan narasumber T yang mengatakan bahwa “enggak suka pake alat peraga” (W2/S4/B65) karena menurut narasumber lebih mudah memahami materi ketika guru menjelaskan menggunakan ceramah dan narasumber merasa kebingungan cara menggunakan alat peraganya (W2/S4/B67-71). Ketiga narasumber memaparkan hal yang sama mengenai penggunaan alat peraga dalam kegiatan belajar, jika narasumber merasa kebingungan dalam menggunakan alat peraganya (W2/S3/B66) serta kesulitan menggunakan alat peraganya (W2/S4/B65). Hasil wawancara dengan guru mengenai pengalaman menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar, beliau mengatakan pernah menggunakan video pembelajaran pada pelajaran IPA serta alat peraga pada pelajaran Matematika. Guru mengatakan dengan menggunakan alat peraga, penanaman konsep pada anak lebih dalam daripada menggunakan ceramah. Hal ini dapat dibuktikan ketika guru menggunakan video pada saat pelajaran IPA dan hasilnya siswa lebih memahami karena siswa melihat secara langsung serta konsep yang diterima siswa lebih dalam (W1/S1/B65-66). Begitu pula ketika guru menggunakan alat peraga pada saat pelajaran matematika mengungkapkan penanaman konsep anak lebih dalam tentang materi yang disampaikan walaupun beberapa siswa kebingungan dengan cara penggunaan alat peraga tersebut. Sayangnya, di SD Karitas Nandan setiap pelajaran yang berlangsung tidak selalu menggunakan alat peraga. Hal ini menjadi kemungkinan bahwa narasumber tidak berpengalaman dalam menggunakan alat peraga. 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil wawancara dengan siswa mengatakan pengalaman menggunakan alat peraga pertama kali pada saat semester satu pada pelajaran matematika. Sama halnya yang disampaikan oleh guru bahwa beliau pernah menggunakan alat peraga pada saat materi pecahan dan video pembelajaran tentang metamorfosis. Menurut beliau memang dalam kegiatan belajar di kelas tidak selalu menggunakan alat peraga karena tidak tersedianya alat peraga di sekolah, tidak ada rancangan khusus untuk alat peraga sehingga guru menggunakan ceramah. Pengalaman menggunakan alat peraga baik dari guru dan siswa kemungkinan masih terbatas. Hal yang diungkapkan guru mengenai hasil evaluasi ketika menggunakan alat peraga yakni mengatakan hasil evaluasinya lebih bagus menggunakan alat peraga “Yaaa…memang baik kalo ada alat peraganya ya”(W1/S1/B60). Guru mengatakan bahwa “Yaa…kalo saya sendiri sebenarnya lebih baik kalo ada alat peraga selalu digunakan, tapi karena memang kondisinya alat peraga sangat minim” (W1/S1/53-55). Hal ini mengidentifikasi bahwa guru memilih dan mendukung penggunaan alat peraga dalam kegiatan belajar di kelas tetapi karena keterbatasan dan tidak tersedianya alat peraga di sekolah maka guru tidak menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini perlu adanya rancangan khusus pengadaan alat peraga di sekolah untuk proses pembelajaran yang berlangsung. 4.2.2 Penelitian Setelah Menggunakan Alat Peraga Berbasis Montessori Peneliti akan menjelaskan poin kedua yaitu mengenai pengalaman narasumber setelah menggunakan alat peraga, terkait dari apa yang dirasakan, kendala dan manfaat yang diperoleh dikaitkan dengan karakteristik alat peraga Montessori 4.2.2.1 Perasaan Narasumber Setelah Menggunakan Alat Peraga Berbasis Montessori Pengalaman narasumber menggunakan alat peraga terjadi ketika semester satu pada pelajaran matematika. Guru menggunakan roti dipecah-pecah sebagai alat peraganya (W1/S3/B33). Pada penelitian ini, narasumber akan menggunakan alat peraga Montessori selama 3 kali pertemuan untuk materi bilangan bulat. Kemunculan alat peraga Montessori merupakan hal yang baru bagi siswa karena 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI belum pernah melihat dan menggunakan alat peraga tersebut. Peneliti melakukan wawancara kepada narasumber O mengenai kesan pertama kali melihat alat peraga Montessori dan narasumber mengatakan bahwa “pingin” (W4/S3/B28) menggunakan alat peraga Montessori ketika pertama kali melihatnya. Berbeda dengan yang diungkapkan oleh narasumber I bahwa “enggak mempunyai keinginan untuk menggunakan alat peraga tersebut ketika pertama kali melihat” (W3/S2/B24). Sama halnya yang disampaikan oleh narasumber T yang mengatakan “enggak pingin karena bingung yang make” (W3/S4/B39-41). Alasan narasumber T mengatakan tidak memiliki keinginan untuk menggunakan alat peraga Montessori ketika pertama kali melihat karena narasumber merasa kebingungan dengan cara menggunakan alat peraga tersebut. Walaupun wawancara terhadap tiga narasumber menghasilkan jawaban yang berbeda yaitu dua narasumber tidak memiliki keinginan untuk menggunakan alat peraga dan hanya satu narasumber yang memiliki keinginan untuk menggunakan alat peraga Montessori, ketika peneliti melakukan observasi pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori ketiga narasumber tertarik menggunakan alat peraga tersebut ditunjukkan dengan ketiga narasumber mengambil manik-manik (O1/S2,S3,S4/B19) serta menempelkan (O1/S2,S3,S4/B21-22) sesuai dengan perintah guru. Hal lain yang ditunjukkan ialah narasumber T mencoba kembali menempelkan manik-maniknya dengan sendiri dan memahami maksud yang ia lakukan (O1/S4/B28-29). Kedua narasumber I dan O juga melakukan hal yang sama yaitu mencoba menempelkan manik-manik dan melakukan tanya jawab mengenai maksud yang narasumber lakukan. Pembelajaran berlangsung dengan lancar karena guru menjelaskan materi disertai dengan memberikan contoh kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh guru serta guru mengecek apa yang telah dikerjakan oleh siswa. Selain itu guru selalu mengecek pemahaman siswa (O1/S1/B48 serta melakukan pembenaran apabila terjadi kesalahan kepada siswa (O1/S1/B55). Perasaan siswa akan senang apabila cara penggunaan alat peraga tersebut mudah serta siswa dapat menggunakannya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh guru bahwa “Yaaa…untuk penggunaan alatnyaaa….ee…..termasuknya mudah” 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (W2/S1/B44-46) sehingga memudahkan siswa dalam pemakaiannya. Hal yang sama diungkapkan oleh siswa jika alat peraga tersebut sederhana serta cara pemakaiannya yang mudah sehingga siswa senang menggunakan alat peraga tersebut. Narasumber I mengatakan cara penggunaan alat peraga “Yaa lumayan si” (W2/S2/B63). Begitu pula yang disampaikan oleh narasumber O mengatakan bahwa “yang pertama bingung, tapi makin lama makin bisa” (W3/S3/B37). Narasumber O merasa kebingungan ketika pertama kali menggunakan alat peraga Montessori, seiring berjalannya waktu narasumber O merasa lancar dan bisa menggunakan alat peraga tersebut. Berbeda dengan yang diungkapkan oleh narasumber T “enggak paham pake dakon” (W3/S4/B45). Narasumber T mengalami kebingungan cara penggunaan alat peraga Montessori sehingga narasumber tidak memahami apa yang dipelajari. Terlepas dari mudah atau tidak mudah cara penggunaan alat peraga Montessori penelitian ini juga membahas tentang perasaan narasumber saat menggunakan alat peraga. Hasil wawancara dengan narasumber O mengatakan bahwa “Gampang kok dakonnya, ya enak aja daripada pake tangan bingung, salah-salah” (W4/S3/B10-12). Narasumber O merasa senang menggunakan dakon karena selain bisa menggunakannya, narasumber juga lebih terbantu dengan adanya alat peraga Montessori ditunjukkan dengan narasumber memilih menggunakan alat peraga daripada menggunakan tangan. Walaupun pada awalnya narasumber T tidak bisa cara menggunakan alat peraga Montessori namun ketika peneliti melakukan wawancara mengenai perasaan selama menggunakan alat peraga Montessori, narasumber T mengatakan “Seneng lah.he’em. hahahaha“ (W3/S4/B65-67) ketika menggunakan alat peraga. Sama dengan yang diungkapkan oleh narasumber I yang mengatakan senang menggunakan alat peraga Montessori. Narasumber O juga merasakan hal yang sama yaitu senang menggunakan alat peraga dapat dilihat ketika narasumber O mengikuti kegiatan belajar mengajar (O3/S3/41-42). Perasaan senang yang dialami narasumber O terlihat pada keaktifan narasumber dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori yang selalu mencoba mengerjakan soal menggunakan alat peraga tersebut (O3/S3/B54). Perasaan senang terhadap alat peraga akan lebih lengkap jika disertai dengan keinginan kembali menggunakan alat peraga tersebut. Narasumber O 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengatakan ”enggak mau pake lagi” (W3/S4/B99). Narasumber O mengaku tidak memiliki keinginan untuk menggunakan kembali alat peraga tersebut karena narasumber merasa malas (W4/S3/B69). Berbeda dengan narasumber I yang mengungkapkan bahwa narasumber memiliki keinginan untuk menggunakan kembali alat peraga tersebut dengan anggota kelompoknya (W3/S2/B107). Narasumber I memiliki keinginan untuk menggunakan kembali alat peraga tersebut karena menurut narasumber selain belajar narasumber dapat bermain dakon (W3/S2/B36-38). Senada dengan yang guru ungkapkan yaitu “Iyaa…itu alat peraganya memang benar-benar sudah dirancang dengan baik menurut saya dan anak-anak langsung tertarik” (W2/S1/B11-12). Guru mengatakan senang menggunakan alat peraganya, selain itu menurut beliau anak-anak langsung tertarik dengan alat peraga Montessori karena pengalaman pertama kali melihat serta memiliki keinginan untuk menggunakannya. Guru mengungkapkan ketertarikan siswa terhadap alat peraga Montessori disebabkan siswa memiliki konsep tidak langsung ke belajarnya akan tetapi ke bermainnya. “Jadi mereka nggak langsung mau pelajaran Matematika taaapiii……mau bermain”(W2/S1/B14-15). Perasaan senang narasumber terhadap alat peraga Montessori terlihat ketika narasumber O selalu mencoba mengerjakan soal menggunakan alat peraga (O2/S3/B68-72). Sama yang dilakukan oleh narasumber I yang menggunakan alat peraga Montessori untuk mengerjakan soal (O1/S2/B69-70). Begitu pula dilakukan oleh narasumber T yang mencoba mengerjakan soal menggunakan alat peraga dan mencoba menjawab. Apabila jawaban T benar, ia akan terlihat lebih senang dan bertepuk tangan (O3/S4/B15). Data diatas menunjukkan bahwa alat peraga Montessori yang digunakan memiliki karakteristik auto-education dan auto-correction. Karakteristik auto-education ditunjukkan pada narasumber yang mencoba mengerjakan soal menggunakan alat peraga Montessori secara mandiri. Karakteristik auto-correction ditunjukkan ketika narasumber selesai mengerjakan soal menggunakan alat peraga Montessori, selanjutnya narasumber mencocokan jawaban dengan kunci jawaban yang telah tersedia. Alat peraga Montessori memberikan pengalaman belajar bagi guru maupun siswa karena alat peraga tersebut merupakan hal yang baru bagi narasumber. Manfaat alat peraga 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Montessori antara lain memudahkan anak memahami materi yang sedang dipelajari, serta memotivasi siswa untuk belajar. 4.2.2.2 Kendala Narasumber Menggunakan Alat Peraga Berbasis Montessori Alat peraga bertujuan untuk mempermudah memahami materi supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Alat peraga dapat digunakan dengan baik bilamana dirancang dan tepat sasaran. Seperti halnya alat peraga Montessori berupa dakon untuk kelas IV telah dirancang dengan baik oleh kelompok pengembangan alat. Proses perancangan dan pembuatan alat peraga alangkah baiknya jika dilanjutkan dengan pengujian alat peraga kepada narasumber. Suatu produk alat peraga berhasil jika dapat digunakan dengan baik serta memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Hal yang sangat dibutuhkan selama mengujicobakan alat peraga yaitu saran dari narasumber yang menggunakan alat peraga tersebut. Saran ini berguna untuk penyempurnaan sebuah produk alat peraga. Keberhasilan suatu produk alat peraga tidak hanya dilihat dari perasaan senang atau tidak senangnya narasumber menggunakan alat peraganya namun termasuk kendala yang dialami narasumber selama menggunakan alat peraga. Kendala narasumber selama menggunakan alat peraga diawali dengan wawancara guru yang mengatakan ”Iyaa, mungkin pas mengerjakan pas eee…..bermain itu mereka bener-bener bermain, makanya mereka nggak, nggak, nggak paham dalam materinya tapi cuman cenderung ke bermainannya” (W2/S1/B63-65). Menurut beliau, siswa awalnya cenderung ke konsep bermain karena mereka pertama kali melihat alat peraga yang berbentuk seperti dakon, namun setelah itu mereka mengerti bahwa alat tersebut digunakan untuk belajar. Penggunaan alat peraga tidak selalu membuat narasumber paham dengan materi yang dipelajari. Hal ini diungkapkan oleh narasumber I mengatakan bahwa “Sedikit paham, ada yang belum.Yang apa namanya pas itunya lho pas yang ngambilnya itu lho” (W3/S2/B52-59). Narasumber mengatakan bahwa kepahaman narasumber terhadap materi masih sedikit. Begitu pula yang diungkapkan oleh narasumber T yang mengatakan bahwa “bingung” (W3/S4/B90) yang dimaksud ialah narasumber mengalami kebingungan menerima materi yang disampaikan oleh guru menggunakan alat peraga meskipun narasumber senang menggunakan 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI alat peraga tersebut. Selain itu, narasumber T kesulitan menjawab soal menggunakan alat peraga (O3/S4/B376-377). Kendala tidak hanya pada kegunaan dan cara penggunaan alat peraga namun tentang ukuran alat peraga tersebut. Guru memaparkan jika “ kayunya agak berat ya” (W2/S1/B178). Keadaan ini menurut guru merupakan kendala karena dengan kayu yang berat siswa akan merasa keberatan ketika mengangkat alat peraganya. Tak lupa beliau memberi masukan “alangkah lebih baik jika pembuatan alat peraga menggunakan bahan yang lebih ringan” (W2/S1/B129-130) sehingga siswa tidak keberatan dalam membawanya. Penampilan luar alat peraga yang bagus menjadi daya tarik narasumber untuk menggunakan alat peraga tersebut. Berdasarkan pengamatan narasumber O senang menggunakan alat peraga Montessori, namun ketika peneliti melakukan wawancara mengenai penampilan alat peraga, narasumber O mengatakan “Biasa aja alatnya” (W3/S3/B45) “serta enggak menarik warnanya” (W3/S3/B50). Hal ini sekaligus menjadi saran bagi tim pengembangan alat untuk pemilihan warna alat peraga sehingga siswa lebih tertarik dengan alat peraga tersebut. Walaupun alat peraga Montessori merupakan hal yang baru bagi siswa serta guru namun alat peraga Montessori memberikan dampak yang baik bagi guru maupun siswa dalam kegiatan belajar di kelas. Kendala-kendala yang disampaikan guru maupun siswa dapat menjadi masukan untuk penyempurnaan alat peraga. 4.2.2.3 Manfaat Alat Peraga Berbasis Montessori Alat yang diperagakan dalam proses pembelajaran dinamakan alat peraga. Alat peraga bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar anak serta mencapai tujuan pembelajaran. Alat peraga digunakan dalam kegiatan belajar mengajar karena memiliki banyak manfaat. Begitu pula alat peraga berbasis Montessori memiliki berbagai manfaat dalam kegiatan belajar mengajar. Alat peraga Montessori memiliki karakteristik khusus seperti menarik, memiliki autocorrection, memiliki auto-education, kontekstual, bergradasi. Alat peraga berbasis Montessori berupa dakon yang telah digunakan dalam pembelajaran di kelas IV memiliki karakteristik menarik, bergradasi, autocorrection, auto-education, serta kontekstual. Hal yang diungkapkan oleh guru mengenai manfaat bahwa ”alat peraganya memudahkan siswa” dalam menerima materi (W2/S1/B42-43) serta ”alat peraga sangat membantu menanamkan konsep 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada anak” (W2/S1/B72-76). Begitu pula yang diungkapkan oleh narasumber O yang mengatakan bahwa “dengan alat peraga ia lebih paham dengan materi” (W4/S3/B30-32) serta lebih mudah menggunakan alat peraga dalam mengerjakan soal (W3/S3/B43). Narasumber O dengan menggunakan alat peraga dapat memahami materi, namun narasumber O memaparkan lebih memilih membayangkan menggunakan alat peraga daripada menghitung menggunakan tangan, jika guru menjelaskan tidak menggunakan alat peraga (W4/S3/B55). Meskipun demikian, narasumber O terbantu dengan menggunakan alat peraga. Tidak berbeda dengan pendapat narasumber I yang mengatakan bahwa lebih memahami materi menggunakan alat peraga (W2/S2/B91). Berbeda dengan pendapat narasumber T mengatakan bahwa “sedikit memahami materi menggunakan alat peraga dan merasa menggunakan alat peraga itu lebih susah” (W3/S4/B57-58). Narasumber T mengungkapkan ketika menggunakan alat peraga, ia mengalami kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan. Hal yang dilakukan oleh ketiga narasumber ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung yakni saling mengkoreksi pemahaman (O1/S4/B212-213). Ini mengidentifikasi bahwa dengan menggunakan alat peraga narasumber dapat terbantu terkait dengan pemahaman materi yang diterimanya. Selain memudahkan dalam memahami materi, alat peraga dakon memiliki karakteristik seperti pengendali kesalahan atau auto-correction. Pengendali kesalahan pada alat peraga dakon terletak di kunci jawaban. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh guru mengatakan bahwa “kunci jawaban. Nahhh…sehingga dibuka seperti itu lalu mereka cocokkan dengan alat peraganya” (W2/S1/B94-95). Kunci jawaban dalam alat peraga dakon membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri sehingga siswa dapat mencoba kembali mengerjakan soal tersebut. Kunci jawaban membantu narasumber untuk mencocokan jawaban bilamana terjadi kesalahan (W3/S2/B95-96). Kunci jawaban berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar sehingga guru selalu meminta siswa melihat kunci jawaban untuk mengecek jawaban yang diperoleh setelah mengerjakannya (O1/S1/B559-561). Karakteristik alat peraga Montessori tentang pengendali kesalahan muncul pada saat kegiatan belajar menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Hal ini 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan oleh narasumber O dan T yang mengembalikan kembali manik ketika jawaban yang didapatkan tidak benar (O2/S3/S4/B43-44). Hal lain yang menunjukkan bahwa alat peraga berbasis Montessori memiliki pengendali kesalahan ketika narasumber mengembalikan manik karena manik yang diambil tidak sesuai dengan soal dan hal yang dilakukan oleh narasumber yaitu mengecek kembali soal dan mengambil manik sesuai dengan soalnya (O2/S4/B49-50). Karakteristik alat peraga Montessori yang lain yaitu auto-education. Hasil wawancara dengan guru mengatakan “alat peraga dakon (W2/S1/B90-91) serta soal-soal dalam kartu”(W2/S1/B91) dapat melatih kemandirian siswa. Guru mengatakan melalui soal yang terdapat pada alat peraga dapat melatih kemandirian siswa karena siswa akan selalu mencoba mengerjakan soal yang terdapat di dalam kotak menggunakan alat peraga. Penggunaan alat peraga berbasis Montessori melatih kemandirian siswa seperti yang ditunjukkan oleh narasumber O yang mencoba mengerjakan soal sendiri menggunakan alat peraga berbasis Montessori (O3/S3/B77-78). Hal yang sama dilakukan pada pertemuan kedua dimana narasumber mencoba mengerjakan soal sendiri (O2/S3/B68-72). Karakteristik lain pada alat peraga dakon untuk materi bilangan bulat yaitu kontekstual. Karakteristik kontekstual meliputi bahan untuk pembuatan alat peraga yang sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh guru bahwa “kesederhanaan dari alat peraga” (W2/S1/B102) terdiri dari bahan pembuatan alat peraga yang berasal dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar siswa (W2/S1/B176). Begitu juga dengan narasumber T yang mengatakan bahan untuk pembuatan alat peraga yaitu “kayu” (W3/S4/B85). Hal ini menunjukkan bahwa narasumber T mengetahui bahan dasar pembuatan alat peraga. Sama dengan narasumber I (W3/S2/B80-82) serta narasumber O (W4/S3/B50) yang mengetahui bahan untuk pembuatan alat peraga. Terlepas dari pendapat mengenai bahan pembuatan alat peraga, guru menyampaikan bahwa alat peraga dapat digunakan untuk kelas I sampai kelas VI. Hal ini merupakan kelebihan dari alat peraga dakon, karena dapat digunakan untuk semua kelas tingkat SD (W2/S1/B154-157). Manfaat dakon dapat digunakan untuk materi kelas I sampai dengan kelas IV merupakan karakteristik alat peraga Montessori yaitu bergradasi. Karakteristik bergradasi dalam alat 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peraga dakon karena alat peraga tersebut dapat digunakan lebih dari satu kompetensi dasar. Hal lain yang diungkapkan oleh guru adalah karakteristik menarik terletak pada warna alat peraga dakon yang berwarna-warni. Beliau mengatakan dengan adanya warna yang berwarna warni menimbulkan ketertarikan bagi siswa untuk menggunakan alat peraga tersebut. Begitu juga yang diungkapkan oleh ketiga narasumber merasa senang terhadap alat peraganya karena terdiri lebih dari satu warna. Meskipun demikian, kedua narasumber yakni narasumber T dan O menyarankan warna yang digunakan untuk alat peraga tersebut menggunakan warna yang cerah. 4.3 Pembahasan Pembelajaran menurut Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berkaitan dengan pengertian pembelajaran dalam UU Pendidikan No. 20 tahun 2003, pemilihan dan penggunaan komponen yang tepat dapat memfasilitasi proses kegiatan belajar dua arah. Pada proses kegiatan belajar di SD salah satu komponen yang penting untuk mendukung terciptanya interaksi dua arah tersebut adalah media pembelajaran. Media pembelajaran yang dapat diupayakan dalam pembelajaran pada siswa SD adalah alat peraga. Sayangnya, tersedianya alat peraga di SD Karitas Nandan masih terbatas. Guru mengatakan jika pembelajaran menggunakan alat peraga maka pemahaman dan penanaman konsep siswa lebih mendalam. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga anak dapat mengembangkan motivasi belajar, interaksi langsung antara siswa dan lingkungan, dan memberikan kesempatan anak untuk belajar sendiri (Hamalik dalam Arsyad, 2010: 26). Proses belajar mengajar tidak dapat terlepas dengan alat peraga. Alat peraga merupakan bagian dari media belajar. Alat peraga berbasis Montessori memiliki empat karakteristik, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction (Montessori, 2002: 170-176). Peneliti menambahkan satu karakteristik alat peraga Montessori yaitu kontekstual. Karakteristik menarik dapat dilihat dari warna, dan bentuk pada alat peraga sehingga membuat siswa memiliki keinginan untuk menggunakannya. Karakteristik yang kedua yaitu bergradasi. Bergradasi dalam alat peraga 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Montesssori terdiri dari gradasi warna dan bentuk. Selain itu gradasi dapat dilihat dari keefektifan alat peraga yang dapat digunakan untuk lebih dari satu kompetensi dasar. Karakteristik ketiga yaitu auto-education yang memiliki arti bahwa alat peraga berbasis Montessori melatih siswa dalam kemandirian sehingga siswa dapat melakukannya sendiri tanpa adanya paksaan dari siapapun. Karakteristik auto-correction memiliki arti bahwa melalui alat peraga Montessori siswa dapat mengetahui kesalahannya sehingga siswa dapat melakukan pembenaran. Karakteristik kontestual merupakan karakteristik yang ditambahkan oleh peneliti yang memiliki arti bahwa alat peraga Montessori terbuat dari bahan yang dekat dengan kehidupan siswa. Hal ini sesuai dengan sejarah Montessori yang mengajarkan kesederhanaan dalam pembelajaran. Kesederhanaan yang diajarkan oleh Maria Montessori disebabkan sekolah yang didirikan terdiri dari kaum menengah ke bawah. Alat peraga berbasis Montessori berupa dakon yang digunakan dalam penelitian ini memiliki karakteristik menarik, bergradasi, auto education, auto correction, serta kontekstual. Penggunaan alat peraga Montessori pada pelajaran matematika di SD Karitas Nandan merupakan pengalaman pertama kali bagi siswa dan guru. Hasil pengamatan pertama kali ketika proses kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori, narasumber memiliki keinginan untuk menggunakan alat peraga tersebut, serta merasa senang ketika menggunakan alat peraga. Guru mengungkapkan siswa dapat menggunakan alat peraga Montessori serta dapat memahami materi melalui alat peraga tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi siswa yang lebih bagus dibandingkan tidak menggunakan alat peraga. Hal lain yang disampaikan yaitu penanaman konsep pada anak lebih dalam serta melatih kemandirian siswa serta memotivasi siswa untuk terus belajar menggunakan alat peraga Montessori. Terlepas dari manfaat menggunakan alat peraga seperti yang telah dijelaskan di atas, kemunculan hal yang baru bagi guru dan siswa seperti penggunaan alat peraga kemungkinan akan menimbulkan perasaan, tanggapan, respons dari guru dan siswa. Matlin (dalam Suharnan, 2005: 23) mengatakan proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasikan stimulus (rangsangan), tanggapan dan respon yang diterimanya melalui alat indera disebut persepsi. Begitu pula Walgito, 2004: 88 memaparkan bahwa persepsi merupakan stimulus yang diindera kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera. Persepsi diperoleh ketika individu mendapatkan stimulus, respon, tanggapan melalui alat indera dan individu tersebut mengintrepretasikan yang diperolehnya. Melalui alat peraga Montessori yang digunakan dalam proses pembelajaran, akan menjadi pengalaman baru bagi guru maupun siswa. Pengalaman tersebut akan menimbulkan persepsi narasumber terhadap apa yang telah diterimanya melalui alat indera. Persepsi yang dapat muncul yaitu persepsi positif maupun persepsi negatif. Kemunculan persepsi pada diri inidividu akan membentuk sikap yang di dalamnya berupa kepercayaan, perilaku serta perasaan. Apabila memiliki persepsi positif terhadap apa yang diterima melalui indera maka sikap yang akan dibentuk juga akan menjadi positif. Begitupun sebaliknya, jika muncul persepsi negatif dari individu maka sikap yang akan dibentuk pun akan menjadi negatif. Terbentuknya sikap tersebut akan berpengaruh terhadap tindakan selanjutnya bagi individu. Tindakan selanjutnya dapat berkaitan dengan intensi penggunaan alat peraga. Apabila sikap yang dibentuk positif maka intensitas penggunaan alat peraga tinggi, tetapi apabila muncul persepsi negatif terhadap alat peraga maka intensitas penggunaan alat peraga rendah. Hasil observasi bahwa alat peraga membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Selain itu, intensitas penggunaan alat peraga Montessori tinggi dengan ditunjukkan hasil wawancara bersama narasumber yang ingin menggunakan kembali alat peraga tersebut dan partisipasi narasumber menggunakan alat peraga tersebut pada kegiatan belajar. Menurut guru, penyampaian materi menggunakan alat peraga memudahkan siswa dalam memahami materi serta menanamkan konsep pada anak lebih mendalam. Oleh karena itu, untuk menanamkan konsep lebih mendalam serta siswa lebih memahami materi yang disampaikan, guru diharapkan menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar sebagai alat untuk menyampaikan materi kepada siswa. 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sikap yang mucul dari narasumber dan akan mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh narasumber dapat diketahui dari keinginan narasumber menggunakan kembali alat peraga Montessori. Empat narasumber yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat dua narasumber yaitu guru (S1) dan S2 yang memiliki keinginan untuk menggunakan kembali alat peraga Montessori. Guru menyampaikan selain dapat memudahkan siswa dalam menerima materi, alat peraga Montessori dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Narasumber S2 mengatakan ingin menggunakan kembali alat peraga tersebut karena selain dapat belajar, ia merasa dapat bermain juga. Alat peraga dapat digunakan dengan baik jika memiliki kontribusi pada kegiatan belajar serta pada pihak guru dan siswa. Sama halnya dengan alat peraga berbasis Montessori berupa dakon memiliki karakteristik auto-correction, autoeducation, bergradasi, menarik serta kontekstual. Karakteristik yang pertama adalah auto-correction yang terdapat pada kunci jawaban. Melalui kunci jawaban siswa dapat mencocokkan jawaban serta mengetahui kesalahannya. Nilai gradasi dapat dilihat dari keefektifan alat peraga yang dapat digunakan untuk lebih dari satu kompetensi dasar. Karakteristik yang kedua yaitu auto-education untuk melatih kemandirian siswa. Hal ini terlihat pada siswa secara mandiri mencoba menggunakan alat peraga serta mencoba mengerjakan soal yang terdapat pada alat peraga tersebut. Karakteristik selanjutnya menarik yakni ketika pertama kali siswa melihat alat peraga tersebut mereka langsung tertarik untuk mencoba menggunakannya serta selama kegiatan belajar mengajar berlangsung siswa selalu menggunakan alat peraga tersebut. Karakteristik yang terakhir kontekstual yaitu bahan untuk pembuatan alat peraga berbasis Montessori mudah ditemukan siswa di sekitarnya serta dekat dengan kehidupan siswa. 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bagian ini akan dibahas (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran. 5.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 5.1.1 Penggunaan alat peraga Montessori merupakan pengalaman yang baru bagi guru. Pengalaman ini akan membentuk persepsi guru terhadap alat peraga. Pada awalnya guru telah memiliki pandangan bahwa dengan menggunakan alat peraga dapat membantu dalam menyampaikan materi, tetapi setelah menggunakan alat peraga Montessori guru memiliki pandangan yang lebih baik terhadap alat peraga. Hal ini disebabkan oleh karakteristik yang terdapat pada alat peraga Montessori yang digunakan yakni auto-education yang dapat melatih kemandirian siswa dalam belajar, auto-correction (siswa dapat mengkoreksi kesalahannya), dan mengembangkan motivasi belajar siswa. Persepsi pada guru akan berkaitan erat dengan sikap guru. Sikap yang muncul yaitu kepercayaan guru bahwa dengan menggunakan alat peraga dapat membantu dalam menyampaikan materi kepada siswa serta terjadi peningkatan nilai siswa. Sikap yang muncul tersebut akan berpengaruh terhadap tindakan guru selanjutnya yaitu intensitas yang tinggi untuk menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar. Guru juga beranggapan bahwa alat peraga Montessori ini dapat digunakan dalam pembelajaran untuk kelas I hingga kelas VI. 5.1.2 Penggunaan alat peraga di dalam kegiatan belajar tidak hanya memberikan pengalaman bagi guru saja, namun begitu juga bagi siswa. Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang baru bagi siswa. Hal ini akan menimbulkan pengalaman yang baru bagi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori dalam kegiatan belajar. Pengalaman yang baru pada siswa akan membentuk persepsi terhadap penggunaan alat peraga. Persepsi yang terbentuk dapat berupa persepsi positif dan persepsi negatif. Pengalaman yang diperoleh ketiga narasumber ketika menggunakan alat peraga Montessori dalam penelitian ini yaitu kedua narasumber merasakan kemudahan memahami materi menggunakan alat peraga tersebut, namun berbeda dengan pengalaman salah satu narasumber bahwa 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan menggunakan alat peraga Montessori merasa kebingungan dan kesulitan dalam menggunakannya. Persepsi yang terbentuk ini akan berkaitan dengan sikap narasumber terhadap penggunaan alat peraga. Kedua narasumber yang memiliki persepsi positif terhadap alat peraga akan memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan alat peraga. Kedua narasumber tersebut selama menggunakan alat peraga dapat mengetahui kesalahannya dengan adanya kunci jawaban serta kegiatan mencoba mengerjakan soal secara berkelompok. Hal ini sesuai dengan karakteristik alat peraga Montessori yaitu auto-education dan auto correction. Sikap yang terbentuk pada ketiga narasumber tersebut akan berpengaruh terhadap intensi narasumber dalam tindakan menggunakan alat peraga. Intensitas menggunakan kembali alat peraga yang muncul dari ketiga narasumber yakni dua narasumber ingin menggunakan kembali alat peraga Montessori dan satu narasumber tidak ingin menggunakan kembali alat peraga Montessori. Narasumber tampak familiar dengan bahan yang digunakan untuk pembuatan alat peraga. Meskipun demikian, mereka menginginkan penambahan jumlah alat peraga sehingga tidak menimbulkan saling berebut antar siswa. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Hanya mengambil 3 dari 19 siswa di kelas IVA. Hal ini belum mewakili persepsi dari keseluruhan sehingga harus berhati-hati dalam menggeneralisasikannya. 5.2.2 Tidak ada interpreter ahli yang memberikan judgment pada interpretasi data verbatim wawancara dan catatan lapangan. 5.2.3 Jumlah alat peraga yang tersedia hanya 5 buah. Setiap 1 alat peraga digunakan untuk 4-5 siswa. Cara kerja alat peraga dakon lebih efektif minimal dipakai oleh 2-3 siswa, jadi siswa dapat lebih lama mencoba dan menggunakan alat tersebut, tidak terburu-buru karena akan dipakai teman lainnya. 5.3 Saran Dengan melihat hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti merekomendasikan beberapa saran yang mungkin dapat dipakai bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Beberapa saran yang peneliti berikan adalah sebagai berikut: 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.3.1 Untuk Peneliti Selanjutnya 1. Pemilihan narasumber penelitian tidak hanya mengambil 3 dari jumlah siswa namun dapat mengambil lebih banyak supaya data yang diperoleh lebih lengkap dan dapat mewakili persepsi dari keseluruhan. 2. Adanya interpreter ahli untuk memberikan judgment pada interpretasi verbatim dan catatan lapangan. 5.3.2 Untuk Tim Pengembangan alat 1. Menyediakan alat peraga yang disesuaikan dengan jumlah siswa sehingga tidak menimbulkan siswa saling berebut dan siswa menggunakan dengan tidak terburu-buru. 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Aghazamani, A. (2011). A qualitative study of swedish university students’ perceptions and experience of using digital media in informal learning. Sweden: Department of Economy, Communication and IT Karlstad University. Volume 8. Anitah, S. (2009). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Arsyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Cresswell, J. (2007). Research design pendekatan kualitatif, kuantitaif, dan mixed. Pustaka Pelajar. Daryanto. (2012). Model pembelajaran inovatif. Yogyakarta: Gava Media. Desmita. (2006). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Fazio. R. I-L, & Roskos-Ewoidsen, D.R. (1994). Acting as we feel: When and how attitudes guide behavior. In S. Shaviti & T.C. Brock (Eds), Persuasion. Boston: Allyn & Bacon. Febianto. (2012). Persepsi penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas viii smp islam as-shofa pekanbaru. Jurnal Bahas. Volume , Nomor 2. Hadiwijaya, H. (2011). Persepsi terhadap pelayanan jasa pendidikan pada lembaga pendidikan el rahma palembang. Jurnal ekonomi akuntansi, I (3), 221-236. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Komalasari, K. (2010). Pembelajaran kontekstual konsep dan aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama. Latifa. (2013). Penggunaan alat peraga meteran untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi perkalian pada berkesulitan belajar matematika kelas iii sdn kartodipuran tahun ajaran 2012/2013. Skripsi. Surakarta: Universitas Negeri Surakarta. Ling, J. (2012). Psikologi kognitif. Jakarta : Erlangga. Lilard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Lillard, A. S. (2005). Montessori the science behind the genius. United States: Oxford University Press. 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lopata, C. (2005). Comparison of academic achievement between montessori and traditional education programs. Journal of Research in Childhood Education. Volume.20, No 1. Marks, dkk. (1988). Metode Jakarta: Erlangga. pengajaran matematika untuk sekolah dasar. Manner, J.C. (2007). Montessori vs tradisional education in the public sector: seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum on public policy: a journal of the oxford round table. gale education, religion and humanities lite package. Diakses tanggal 4 Mei 2014, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA191817971&v=2.1&u=kpt 05011&it=r&p=GPS&sw=w McMillan, J.H., Schumacher., Sally. (2001). Research in education a conceptual introduction. (Fifth Edition). New York: Longman. Muchtar, D.Y. (2012). Gambaran persepsi masyarakat kota medan terhadap pendidikan inklusi studi terhadap beberapa kecamatan di kota medan. Skripsi: Universitas Sumatera Utara. Moleong. (2009). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Montessori. M. (2002). The Montessori method. New York: Schocken Books. Montessori, M. (2013). Metode Montessori panduan wajib untuk guru dan orangtua didik paud ( pendidikan anak usia dini). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mustaqim, B dan Ary A. (2008). Ayo belajar matematika untuk sd dan mi kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nazir, M.(2005). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Poerwandari,K. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi ( LPSP3). Panca, T.K. (2012). Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas 1 sd krekah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Pratiwi, P. (2012). Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas iv sdn tamanan 1 yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Putri, M.S. (2012). Pengembangan alat peraga ala montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas 3 sd tamanan 1 yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Rahmawati, L. (2009). Kemampuan menghitung hasil kali pada siswa kelas III sdn 3 cepu. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Rakmat .J. (2008). Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rathunde, K. (2003). A comparison of montessori and traditional middle schools: motivation, quality of experience, and social context. Volume 28, No 3. Rukmi, D.A. (2012). Pengembangan alat peraga perkalian ala montessori untuk siswa kelas 2 sd krekah yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santrock, W. John. (2007). Psikologi pendidikan edisi kedua. Jakarta: Salemba. Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Smaldino, S.E., Lowter, D.L., Russell, J.D. (2011). Instructional technology and media for learning (9th edition). (Arif Rahman, Trans.). New Jersey” Pearson Education Inc. Sudono, A. (2010). Sumber belajar dan alat permainan: untuk pendidikan anak usia dini. Jakarta: Grasindo. Sugiyono. (2011). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabeta. Suharnan. (2005). Psikologi kognitif. Surabaya: Srikandi Sukayati. (2009). Modul matematika SD program bermutu: Pemanfaatan alat peraga matematika dalam pembelajaran di SD. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika. Sumantri, B. (1988). Metode pengajaran matematika untuk sekolah dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga. Sunaryo. (2007). Matematika 5: untuk sd/mi kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Univiersitas Sanata Dharma. 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sutopo, A. (2009). Ayo belajar matematika Kelas V SD. Yogyakarta : Kanisius. Suyadi (2009). Permainan edukatif yang mencerdaskan. Jogjakarta : Power Books. Tim Penyusun. (2008). Standar kompetensi dan kompetensi dasar sd/mi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. Tim Penyusun. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat BahasaDepartemen Pendidikan Nasional. Undang-Undang (UU) Republik Indonesia No 20.tahun 2003. Diunduh tanggal 2 Juli 2014. http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/UU20-2003Sisdiknas.pdf Walgito, B. (2013). Psikologi sosial: suatu pengantar edisi revisi. Yogyakarta: Percetakan Andi Offside Walgito,B (2004). Pengantar psikologi. Jogjakarta : Percetakan Andi Offside. 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Pedoman Kondisi Sosio Cultural No 1. Kegiatan Observasi kondisi sosio cultural Tujuan Untuk mengetahui kondisi sosio cultural Subjek Guru Siswa Hal yang Diamati a. Organisasi sekolah - Kepala sekolah - Jumlah guru - Jumlah karyawan b. Kondisi lingkungan sekolah - letak sekolah - keadaan sekolah c. Kondisi kelas - ruangan kelas - fasilitas di dalam kelas - tersedianya alat peraga di dalam kelas d. Metode mengajar guru di kelas - cara guru menyampaikan materi - metode yang digunakan e. Fasilitas umum - fasilitas yang mendukung kegiatan belajar - kegiatan ektrakulikuler Pelaksanaan Rabu,8Januari 2014 Jam : 09.00-09.30 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2. Pedoman Observasi Kegiatan Belajar Mengajar No Tujuan Untuk mengetahui proses kegiatan belajar Subjek Guru Siswa a. b. c. d. a. b. c. d. e. Hal yang diamati Guru Metode yang digunakan guru dalam penyampaian materi Peran guru selama kegiatan belajar berlangsung Sikap guru dalam menanggapi pertanyaan siswa Cara guru menyampaikan materi Siswa Sikap siswa selama mengikuti pelajaran Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran Kemampuan memberi tangggapan materi yang disampaikan Kemampuan bekerjasama dengan teman Kemampuan memahami materi yang disampaikan Pelaksanaan 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.8 Panduan Wawancara Untuk Siswa setelah Menggunakan Alat Peraga Montessori Pertemuan ke : Hari/Tanggal : Waktu : No 1 Karakteristik Perasaan siswa Deskripsi Perasaan dan pemikiran siswa mengenai alat yang telah digunakan Fokus Pertanyaan Pemikiran dan perasaan subyek terhadap alat peraga berbasis Montessori Pertanyaan a. Bagaimana pendapatmu ketika melihat alat peraga tersebut? - Alasan? b. Bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga tersebut? - Alasan? c. Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga? - Alasan? 2 Auto-education Siswa mampu mengetahui konsep matematika yang diajarkan dengan menggunakan alat tersebut secara mandiri Pemahaman konsep setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori a. b. c. Siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada tanpa bantuan guru 3 Menarik Ketertarikan siswa dalam menggunakan alat peraga Konstribusi alat peraga terhadap cara berfikir siswa a. Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori Ketertarikan siswa dengan bentuk alat peraga berbasis a. Bagaimana pemahamanmu mengenai materi pembagian menggunakan alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana jika guru tidak menjelaskan cara penggunaan alat peraga? - Alasan? Bagaimana penggunaan alat peraga di dalam kelompokmu? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai kegunaan alat peraga tersebut dalam materi pembagian? - Alasan? Bagaimana pendapatmu saat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga? - Alasan? a. Ketika pertama kali melihat alat peraga, apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Karakteristik Deskripsi berbasis Montessori Fokus Pertanyaan Montessori b. b. c. Ketertarikan siswa terhadap cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori a. b. c. 4 Bergradasi 5 Auto- Correction 6 Kontekstual Ukuran yang ada pada alat Kemampuan alat dalam membantu siswa belajar Bahan yang digunakan dalam alat peraga Alat tersebut dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan yang dilakukan dan memperbaiki dengan sendirinya Alat peraga mempunyai pengendali kesalahan Alat dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dikenal atau dekat dengan kehidupan siswa a. a. Pertanyaan itu? - Alasan? Bagaimana pengalamanmu setelah menggunakan alat peraga? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai warna alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapatmu cara guru menjelaskan penggunaan alat peraga? - Alasan? Bagaimana pendapatmu tentang cara penggunaan alat peraga tersebut? - Alasan? Jika kamu diperbolehkan menggunakan alat tersebut, apakah kamu akan menggunakannya di luar jam pelajaran? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana kontrisbusi alat peraga tersebut dalam menjawab soal? - Alasan? a. Bagaimana pendapatmu dengan adanya pengendali kesalahan pada alat peraga? - Alasan? a. Bagaimana pendapatmu dengan bahan yang digunakan dalam membuat alat peraga tersebut? - Alasan? 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Transkip Sosio Kultural OBSERVASI SOSIO CULTURAL (OSC) SD KARITAS NANDAN Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Hari/tanggal : Rabu, 8 Januari 2014 Jam : 09.00-09.30 Tujuan : Untuk mengetahui kondisi sosial kultural Hal yang diamati : Kondisi lingkungan sekolah, kondisi kelas Subjek : Guru dan Siswa Tempat : Sekolah SD Karitas Nandan Hasil Observasi Sekolah Dasar yang berada di Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta berada satu komplek dengan TK Nandan bernama SD Karitas Nandan. Sekolah yang jauh dari keramaian jalan raya serta tempat umum dan keadaan lingkungan yang rindang menjadi kelebihan dari SD Karitas Nandan nyaman digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang memiliki 2 kelas paralel A dan B dari kelas 1 sampai 6 terkecuali kelas dua hanya terdiri dari 1 kelas. Ruang kelas di SD Karitas Nandan yang cukup luas serta rindang menyebabkan ruangan nyaman digunakan dalam proses pembelajaran. SD Karitas Nandan diampu oleh 1 Kepala Sekolah, 11 wali kelas, 3 guru ekstrakulikuler, dan 5 karyawan sangat mendukung untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di SD Karitas Nandan. Jumlah siswa yang efektif karena jumlah siswa tidak terlalu banyak dalam setiap kelasnya sehingga guru dapat menguasai kelas dengan baik. Berbeda dengan kelas 2 berjumlah 38 siswa menyebabkan guru kesulitan dalam menguasai kelas. Kelebihan lain yaitu SD Karitas Nandan yaitu melakukan kerjasama dengan pemerintahan Merauke sehingga SD Karitas Nandan mendapat kiriman beberapa siswa kelas V dari Pemerintahan Merauke. Penerimaan siswa dari pemerintahan Merauke di SD Karitas Nandan tidak disertai dengan pemisahan antara siswa Merauke dengan siswa jawa sehingga siswa dari Merauke kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru serta dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar. Kabar menggembirakan lainnya yaitu SD Karitas Nandan termasuk sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK). Terdapat beberapa siswa ABK di SD Karitas Nandan yang didampingi oleh guru pendampingnya. Tak hanya dari sisi pendidik dan siswa tetapi SD Karitas Nandan memiliki fasilitas-fasilitas yang mendukung dalam proses pembelajaran antara lain perpustakaan, ruang laboratorium, lapangan, UKS dan ruang musik. Sayangnya di SD Karitas Nandan tidak ada ruang khusus untuk alat peraga. Berdasarkan pengamatan, peneliti menemukan beberapa alat peraga di ruang UKS dan di Perpustakaan tetapi alat peraga tersebut tidak digunakan dengan baik sehingga kondisi alat peraga sudah tidak layak pakai. Peneliti menemukan fakta bahwa keberadaan alat peraga tidak ditemukan di semua kelas. Hanya satu alat peraga ditemukan di kelas 2 berupa sebuah puzzle bangun datar sedangkan di kelas 3 menemukan gambar pakaian tradisional, rumah adat, senjata adat serta peta. Selain peneliti melakukan penelitian terhadap keberadaan alat peraga di dalam kelas, hal lain yang peneliti dapatkan adalah kebiasaan saat guru mengajar di dalam kelas hanya menggunakan metode ceramah serta tanya jawab dilengkapi dengan menulis di papan tulis. Proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas 1 sampai kelas VI tidak menggunakan alat peraga. Guru dalam menyampaikan materi menggunakan papan tulis untuk membantu siswa Kode OSK/B1-4 OSK/B5-7 OSK/B24-26 OSK/B28 OSK/B31-32 OSK/B35-38 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 memahami materi yang disampaikan. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan guru setelah menyampaikan materi, guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang dipelajari dan melakukan penyimpulan materi. Selanjutnya guru memberikan latihan soal yang diambil dari LKS ataupun buku paket. Latihan soal ini bertujuan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Hal yang dilakukan oleh guru selanjutnya adalah membahas latihan soal dan melakukan pembenaran secara bersama dengan siswa. Hal yang menyenangkan yaitu SD Karitas Nandan aktif mengikutilomba-lomba dalam bidang akademis maupun non akdemis. SD Karitas Nandan tidak hanya sebagai peserta lomba, tetapi beberapa kejuaraan didapat. Selain bidang akademik yang dimunculkan di SD Karitas Nandan, kabar menggembirakan pada bidang non akademik yang mengalami kamajuan dari tahun sebelumnya. Kejuaraan – kejuaraan diperoleh melalui kegiatan non akademik, misalnya juara futsal, juara menyanyi, juara menari dll. Beberapa kegiatan ekstrakulikuler yang diadakan di sekolah ini antara lain drumband, seni tari, seni musik, taekondo, simpoa dan pramuka. Pihak SD Karitas Nandan memanggil beberapa guru dari luar sekolah untuk mengampu jalannya kegiatan ektrakuliker. Kegiatan ekstrakulikuler berjalan dengan lancar dan siswa mengikuti dengan senang hati. Selain hal proses kegiatan belajar mengajar serta kegiatan-kegiatan yang diadakan di SD Karitas Nandan, hal lain yang peneliti dapatkan ialah komunikasi antara guru dengan guru dan karyawan, guru dengan siswa, guru dengan orang tua murid berlangsung dengan baik. Satu sama lain saling menghormati dan bertingkah laku dengan sopan. Keadaan siswa SD Karitas Nandan yang termasuk menengah ke atas menyebabkan pihak dari orang tua siswa mendukung dalam kegiatan akademik maupun kegiatan non akademik. Keseluruhan dari SD Karitas Nandan cukup baik, hanya yang disayangkan yaitu kebiasaan proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung tidak menggunakan alat peraga. Padahal dengan menggunakan alat peraga terdapat beberapa manfaat antara lain mempermudah siswa dalam menerima materi yang disampaikan guru serta mempermudah bagi guru menyampaikan materi kepada siswa. 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Transkip Observasi Kelas Kegiatan Belajar Mengajar 1 a. OBSERVASI KELAS (OK) KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PERTAMA Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Hari/tanggal : Kamis, 9 Januari 2014 Jam : 08.10-09.30 Tujuan : Untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas Hal yang diamati : Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung Tempat : Ruang kelas IVA Subjek : Guru dan siswa Hasil Observasi Observasi kelas IVA dilaksanakan pada Kamis, 9 Januari 2014 jam 08.10 09.30 WIB. Ruang kelas yang cukup luas dan merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk belajar, sayangnya di dalam kelas tersebut tidak terdapat satupun jenis alat peraga hanya terdapat peta Indonesia, gambar pakaian adat, gambar rumah adat, kotak berbagi, dan beberapa kata bijak. Proses kegiatan belajar mengajar berlangsung selama 2 jam pelajaran kepotong istirahat. Awalnya, guru masuk ke dalam kelas dan memberikan salam kepada siswa. Siswa pun membalas dengan memberikan salam kepada guru. Selanjutnya guru mengecek kehadiran siswa dan menanyakan tentang pekerjaan rumah (PR). Guru meminta siswa untuk menyiapkan PR dan membahas secara bersama. Waktu untuk membahas PR 1 jam pelajaran (35menit) dan 1 jam pelajaran berikutnya digunakan untuk mengisi materi. Siswa mengikuti kegiatan ketika membahas PR dengan baik, dan berlangsung dengan lancar. Pekerjaan rumah yang dibahas yaitu mengenai luas dan keliling segitiga serta jajargenjang. Pembahasan PR dilakukan dengan beberapa siswa maju menulis jawaban di papan tulis. Pada membahas PR ini subjek O mengikuti dengan baik. Subjek O berpartisipasi aktif dan merupakan salah satu siswa yang diminta untuk menulis hasil pekerjaannya di depan. Hal yang sama seperti subjek T mengikuti dengan baik, walaupun subjek T diminta untuk menulis hasil pekerjaan di depan tetapi tidak mau karena diejek oleh teman-temannya. Subjek T di kelas IVA sering menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Hal ini yang menyebabkan subjek T sering marah dan menangis. Berbeda dengan subjek I pada waktu membahas PR ia tidak banyak berpendapat, lebih cenderung asyik mainan bolpoin. Guru meminta subjek I untuk menulis hasil pekerjaan di depan tetapi I tidak mau. Peneliti mencoba melakukan tanya jawab dengan guru setelah pelajaran selesai tentang ketiga subjek tersebut, beliau mengatakan bahwa subjek O termasuk siswa yang aktif di dalam kelas dan prestasi yang ia peroleh memuaskan karena O menjadi siswa peringkat satu di kelas IVA. Sama halnya dengan subjek T yang termasuk siswa aktif saat pelajaran. Akan tetapi subjek T cenderung lebih suka berbicara dengan temannya dan aktif dalam perilaku, misalnya T sering jalan-jalan di dalam kelas. Kejadian tersebut terjadi pada waktu peneliti melakukan observasi di kelas IVA bahwa subjek T jalan-jalan di dalam kelas. Hal lain yang disampaikan guru yaitu T ketika mengikuti pelajaran ataupun di luar jam pelajaran sering menangis atau marah secara tiba-tiba karena sering menjadi bahan ejekan teman – temannya di kelas IVA. Hal ini yang terkadang membuat T tidak mau maju atau berpendapat karena setiap maju ataupun berpendapat T diejek oleh teman-temannya. Berbeda dengan subjek I ketika mengikuti pelajaran terkadang tidak mengikuti dengan baik tetapi terkadang Kode OK1/B3-4 OK1/B1617 OK1/B1822 OK1/B24 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 dapat mengikuti dengan baik. Alasan I tidak mengikuti pelajaran dengan baik karena asyik bermain dengan sesuatu yang ia bawa, misalnya mainan, bolpoin, buku dll. Selain itu, subjek I memang sudah seperti biasanya misalnya diminta untuk menjawab ke depan terkadang tidak mau . Setelah membahas PR selesai, kegiatan selanjutnya ialah melanjutkan materi. Guru meminta siswa untuk membuka buku pket tentang materi bilangan bulat.Subjek O membuka buka paket dan mencari materi yang disampaikan guru. Subjek O bertanya kepada guru “ Bu, ini caranya kayak gimana ? Aku nggak bisa.” Guru bertanya kepada siswa “ Apakah kalian sudah pernah belajar tentang ini ?”, “ siapa yang sudah tau ?”. Semua menjawb “ Belum”. Berbeda yang dilakukan subjek I, ia hanya mengambil buku dari tas dan meletakkan buku paket di atas tanpa membuka materi yang disampaikan guru. Hal yang disayangkan dari I yaitu ia kembali asyik dengan mainan dan menggambar sebuah mobil. Berbeda dengan yang dilakukan subjek T, ia membuka buku paket kemudian membuka materi yang akan dipelajari. Tak lama kemudian subjek T menanyakan tentang materi tersebut katanya” Bu, ini gimana ?” . Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari selama 3 pertemuan ke depan. Beliau menyampaikan materi dengan ceramah dan tanya jawab. Selain hal itu, guru menggunakan gambar garis bilangan untuk menjelaskan materi bilangan bulat. Situasi inilah yang menimbulkan banyak pertanyaan dari siswa karena siswa tidak paham dan kebingungan dengan materi yang disampaikan. Siswa sulit membayangkan materi dengan garis bilangan. Hal ini juga disampaikan guru mengingat bahwa siswa masih sulit menerima dan membayangkan materi tentang bilangan bulat. Selama pelajaran berlangsung, subjek T selalu memperhatikan guru saat menyampaikan materi sehingga ketika guru tanya jawab soal, subjek T bisa menjawab. Berbeda dengan yang dilakukan subjek O yang sering bercanda dengan teman sampingnya sehingga tidak memperhatikan guru. Tak jauh berbeda seperti yang dilakukan subjek I yang bergurau dengan teman sebelahnya dan ketika guru memberikan pertanyaan, subjek I tidak bisa menjawab. Guru memberikan beberapa soal tentang bilangan bulat menggunakan garis bilangan. Satu jam pelajaran berakhir, hal inilah membuktikan pelajaran hari ini sudah selesai. Guru selanjutnya menutup pelajaran dengan doa dan memberi salam. Peneliti kembali bertanya kepada guru setalah pelajaran selesai tentang kebiasaan pembelajaran menggunakan alat peraga. Beliau mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar jarang menggunakan alat peraga karena memang tidak adanya alat peraga dan hanya menggunakan alat peraga seadanya yang di dalam ruang kelas. 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Transkip Observasi Kelas Kegiatan Belajar Mengajar 2 a. OBSERVASI KELAS (OK) KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR KEDUA Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Hari/tanggal : Kamis, 11 Januari 2014 Jam : 09.00 – 10.10 Tujuan : Untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas Hal yang diamati : Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung Tempat : Ruang kelas IVA Subjek : Guru dan siswa Hasil Observasi ke II Observasi II dilaksanakan pada 11 Januari 2014 di kelas IV A SD Karitas Nandan pada jam 09.00 – 10.10 mata pelajaran Matematika. Kegiatan pembelajaran diawali dengan siswa melakukan baris berbaris masuk kelas karena setelah istirahat, serta guru yang berada di depan pintu untuk menyalami siswa masuk kelas. Kegiatan selanjutnya yaitu siswa berdoa memulai pelajaran serta memberikan salam kepada guru. Begitu pula guru membalas memberi salam untuk siswa. Tak lupa guru menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini yaitu guru kembali menjelaskan materi sebelumnya tentang bilangan bulat serta membagikan soal pre-test tentang bilangan bulat. Hal ini menyebabkan siswa kembali bertanya tentang hal yang belum diketahui bilangan bulat. Kejadian yang terjadi ketika subjek O bertanya “ Bu, yang kemarin aja nggak bisa malah disuruh ngerjain soal”. Hal yang serupa juga dialami oleh beberapa siswa untuk menanyakan sama seperti subjek O. Guru membalas pertanyaan tersebut dengan “ Iya, nanti Ibu jelaskan lagi.” Guru meminta siswa membuka buku paket tentang materi bilangan bulat. Hal yang dilakukan ketiga subjek yaitu membuka buku paket serta mencari materi tentang bilangan bulat. Subjek T menyela pembicaraan guru berkata”Bu, yang kemarin diulangi aja”. Jawab guru” Iya nanti diulangi”. Guru kembali menyampaikan materi bilangan bulat dengan ceramah serta tanya jawab. Hal yang ditanyakan oleh guru “ Siapa yang sudah paham apa itu bilangan bulat ?” dan semua siswa menjawab ” Nggak tau Bu”. Guru kembali menjelaskan konsep awal bilangan bulat menggunakan garis bilangan yang telah digambar di papan tulis. Semua siswa memperhatikan ke depan. Hal ini sama seperti yang dilakukan ketiga subjek. Subjek I mencatat materi yang disampaikan guru di papan tulis. Tak terasa satu jam pelajaran telah berakhir, dan satu jam pelajaran berikutnya ialah mengerjakan soal pre-test yang telah guru bagikan. Banyak keluhan dari semua siswa dan guru mengatakan “ tidak apa-apa besok kita masih belajar tentang bilangan bulat”. Lanjut yang disampaikan guru ialah “ ini soal dikerjakan semampu kalian saja ya”. Subjek T merespon guru dengan bertanya “ aku nggak bisa caranya berarti nggak tak kerjain ya Bu.” Jawab guru, “ kalian coba dulu, jangan langsung menyerah gitu”. Peneliti mendekati subjek I yang hanya menulis nama serta kelas tanpa mengerjakan satu soal pun lalu berkata” ayo dikerjakan sebisamu Kode OK2/B13 OK2/B34 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 dek.” Jawabnya dengan lirih “ lha aku nggak bisa kok mbak” sambil tangan memutar-mutar pensil yang dibawanya. Peneliti menghampiri subjek O dan ia langsung berkata “ Aku ngerjainnya ngawur aja. Lha aku nggak bisa”. Peneliti berkata” Lha kok ngawur Liv, nanti kalau nilainya jelek gimana ?” Jawabnya “ Gak papa jelek” dengan nada ketus. Hal yang sama diungkapkan oleh subjek T yang mengatakan bahwa mengerjakan soal pre-test dengan ngawur karena memang belum paham. Begitu pula, saat peneliti mengamati kepada siswa yang lain hal yang dirasakan pun sama jika mereka tidak dapat mengerjakan soal pre-test karena memang belum paham tentang materinya. Hal yang kurang menggembirakan adalah beberapa siswa tidak mengerjakan soal pre-test melainkan asyik bercanda dengan temannya. Sama halnya yang dilakukan oleh subjek I dengan asyik bercanda bersama teman sebelahnya padahal belum selesai mengerjakan. Waktu mengerjakan kurang 15 menit tetapi belum ada siswa yang menyelesaikannya. Alhasil siswa menyelesaikannya dengan ngawur (asal mengerjakan) tanpa dihitung terlebih dahulu. Kabar menggembirakan ketika subjek T dan O mencoba menghitung menggunakan tangan ketika waktu hampir selesai, walaupun jawaban belum benar. Bel pergantian pelajaran berbunyi, hal ini merupakan tanda jika pelajaran matematika berakhir. Guru meminta siswa untuk mengumpulkan lembar pre-test. Tanpa banyak komentar siswapun mengumpulkan lembar pre-test yang telah dikerjakan. Guru sebelum menutup menanyakan tentang soal pre-test, secara serentak siswa menjawab “susah Bu”. Guru tersenyum dan berkata” Ya sudah nggak papa, besok kita belajar lagi ya.” Guru menutup pelajaran dengan doa dan memberikan salam kepada siswa. Begitu pula siswa memberikan salam kepada guru. OK2/B39 OK2/B41 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.4 Transkip Kegiatan Belajar Mengajar Menggunakan Alat Peraga Pertemuan Pertama Hari/tanggal : 13 Januari 2014 Keterangan Subyek 1 : Guru ( G ) Subyek 2 : Isam ( I ) Subyek 3 : Olive ( O ) Subyek 4 : Tia ( T ) BS : Beberapa siswa SS : Semua siswa Xn : nama siswa ke-n, n = 1,2,3,4,5,… Guru 2 / mahasiswa : G2 Guru masuk kelas dan meminta salah satu siswa memimpin doa. Siswa duduk di tempat masingmasing. Guru memulai pelajaran. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Subjek G SS G SS G SS G SS G G2 G SS G I,O,T G I,O,T BS G Percakapan dan Kegiatan ” Sekarang ini kita mau belajar tentang penambahan bilangan positif sama bilangan. Halo… ” Hai..” ” Bisa mendengarkan Bu Dian ?” ” Bisa” ” Nah nanti kalo kalian nggak mendengarkan nggak tau cara mainnya gimana. ” Iya Bu. “ ” Ini ada biru sama ..” ” Merah” ( secara serentak) ” Merah. Namanya apa Mbak ? (sambil berbisik ) ” Manik” ” Ooo ya manik biru dan manik merah. Namanya apa ?” ” Manik biru dan manik merah.” ” Coba masing-masing anak pegang manic biru dan manic merah (segera mengambil manik di dalam kotak) Satu – satu aja. ( setelah mengambil kemudian mereka mencoba menempelkan ) Udah Bu. Terus kita tempelkan. ( menempelkan manik merah dan manik biru ) Comment [wa1]: S1 mengenalkan alat peraga ke anak-anak. O1/S1/B7-8 Comment [wa2]: Guru meminta siswa memegang manik. O1/S1/B17-18 Comment [wa3]: Ketiga subyek penasaran dan mengambil manik. O1/S2,S3,S4/B19 Comment [wa4]: Siswa memegang manik dan mencoba menempelkan.O1/S2,S3,S4/B21-22 Comment [wa5]: Comment [wa6]: S1 meminta maniknya ditempelkan. O1/S1/B24-25 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 I G T O I G T O BS G BS O T I G BS O T G T BS I O I G BS G SS O I G SS G BS I G O G O I BS G Tempelkan !!. ( sambil menempelkan ) Nah nanti kalo ditempelkan itu maksudnya 0. ( asyik ngobrol dengan teman di depannya). Udah jadi. Kamu kaya apa Del ? Memegang dan menempelkan manic ) ( Asyik bermain kartu di kotak ) Manik merah itu berarti bilangan positif. Apa ? Kamu tu ambil banyak banget e Sam. ( sambil mengibaskan rambut ) Ho’oh Sam. ( sambil memegang manic ) ” Manik merah bilangan positif ” Brati kalo yang biru apa ? ” Negatif ( diam dan memutar-mutarkan manic) (diam dan memegang manic) (diam dan mengotak atik manic ) Kalo negative . Pinka dengarkan dulu !. Tadi yang biru positif atau negative ? Negatif. Negatif ( memutar manic ) Positif.( dengan suara lantang dan membalikkan tubuh menghadap ke depan ) Negatif apa positif ? ” Positif. ( dengan suara keras ) Negatif..negatif..negatif.. Negatif ( suara lirih dan sambil berdiri ) Negatif……( sambil menghadap ke Tia ) Negatiiiiiiif…( sambil menyodorkan mukanya ke Tia ) Manik biru itu ne… Negatif Kalo merah ? Positif. Positif Positif ( masih dalam posisi berdiri dan mengotak atik manic yang di tangannya) Kalo negative satu ditambah satu jadinya berapa ? Positif. Negatif satu ditambah positif satu jadinya ? Positif satu ditambah negative satu sama dengan …( sambil menuliskan di papan tulis ) Satu Nol ..nol..nol..(dengan posisi duduk dan mainan manic ) Berapa ? Nol Nol. Nah ini juga seperti itu nah jadi kalo ditambah lagi jadinya berapa ? Kok bisa ya ? ( sambil Tanya ke Isam ) Ya bisa lah ! ( dengan nada yang keras ) 0 Iya 0. Nah misalnya , terus yang ini dakonnya ada 2 jalur. Yang satu jalurnya untuk jalur positif, brati yang satu untuk ? (sambil menunjukkan jalur dakon di depan kelas ) Comment [wa7]: Mencoba sendiri. O1/S4/B2829 Comment [wa8]: Perasaan senng.O1/S2/B31 Comment [wa9]: S1 memberikan pengertian maksud manik merah. O1/S1/B 32 Comment [wa10]: S1 memancing pengetahuan siswa dengan bertanya. O1/S1/B37 Comment [wa11]: Terjadi salah paham.O1/S4/B46-47 Comment [wa12]: S1 kembali mengecek pemahaman siswa. O1/S1/B48 Comment [wa13]: Guru memberikan pembetulan jika ada yang salah. O1/S1/B55 Comment [wa14]: Menjelaskan dengan menulis di papan tulis. O1/S1/B65-67 Comment [wa15]: Mencoba menjawab. O1/S2/B69-70 Comment [wa16]: Penasarn kenapa bisa. Subyek ingin tahu.O1/S3/B75 Comment [wa17]: S1 menjelaskan tentang jalur dakon. O1/S1/B78-81 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 BS I G X1 G O X2 T O I,O,T G O I O T O T X1 G O G T G T G O I G O T I G O I T G O G T Negatif. Nggak boleh ( sambil menutup kamera dengan tutup kotak ) Negatif. Yang positif yang atas. ( sambil menunjukkan jalur dakon di depan kelas ) Positif atas Yang positif yang atas , negative yang di bawah. Coba kita mau, disitu ada kartu di sebelah kiri. Silahkan buka A1. ( mencari kartu A1 ) Ini positif, ini negative ( sambil menunjukkan jalur pada dakon ) Bentar to Sam ! ( memukul tangan Isam ) Hahahahahaha Hahahahahaha (mencari kartu A1) Jejernya biru Jejernya biru ..jejernya biru ( melihat Tia dan Isam mencari kartu ) ( mengangkat kartu yang telah ditemukan ) A1 betul Sam. ( memegang kartu yang didapat Isam ) A1 ( mengangkat kartu yang didapatnya ) ( memegang kartu yang diperoleh Tia ) A1 ! ( membentak Isam ) Ini lho A1 ( suara keras ) A1 ya. Nih . ( tersenyum , memegang kartu dan mengahadap ke kamera ) Itu lho kita ee..disitu ada bilangan positif berapa ?” ” Satu ! Brati tanda gambarnya seperti apa ? ( menunjukkan kartu A1 ke murid ) Merah..merah lingkaran ( memegang buku dan mainan ) Lingkaran merah satu. Yang merah ato yang biru ? Merah. ( tetap memegang kartu ) Merah ( mengambil kotak dan melihat-lihat ) Brati itu maksudnya ne ee..positif ? 1 1 ( sambil memegang manic merah ) (Sibuk mengotak atik kotak kartu) Kalo mau cari positif satu brati ditulis. Ee..diberikan di dakonnya ( sambil meletakkan manic merah ke dakon ) ( memegang kartu dan mencari manic ) Sing merah ngene wae, ben ra ketok ( Yang meletakkan seperti ini aja biar nggak kelihatan sambil meletakkan kotak di atas papan dakon ). 1 ato 2 ( bertanya ke guru ) Satu aja ( meletakkan manic ke papan dakon ) Kalo ini satu brati berapa ? ( sambil menunjukkan manic ke siswa ) Satu aja. Comment [wa18]: Mengulagi yang dismpaikan guru.O1/S3/B91-92 Comment [wa19]: Ketiga subyek ingin tahu isi kartu.O1/S2,S3,S4/B96 Comment [wa20]: S4 Mencoba menjawab.O1/S4/B115 Comment [wa21]: S2 mencoba menjawab. 01/S2/B120 Comment [wa22]: S3 Kembali menjawab pertanyaan guru. O1/S3/B122 Comment [wa23]: Subjek T mencoba bertanya untuk meminta kejelasan. O1/S4/B132 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 G I G T O I T G T O G BS T G T G T I G O I O X2 T O T O T G I X1 O I X2 G I T G I Terus coba yang lainnya. Yo ayo. ( sambil mencoba – coba memasukkan manic ke dakon dan diambil lagi ) A3. Coba sekarang cari A3. (sambil mencari A3 di kotak ) ( mencari A3 di kotak ) ( diam dan memegang kartu ) ( sibuk dengan meletakkan manic di papan dakon ). A3 A3. Ini lho. ( sambil menunjukkan kartu ) Berapa ? Lima belas. ( meminta kartu yang dipegang Tia ). Hah !! ( menunjukkan kartu ke kamera ) Berapa ? Lima belas Lima belas. Coba kalian masukkan What ? ( sambil melihat kartu yang dibawa Olive ) Manik Yang merah ato yang biru brati ? ( berdiri dan mengambil manic ) ( mengambil manic sambil berdiri ) Yang merah berapa ? lima Lima belas ( mengambil manic dan meletakkan ) meletakkan manic ke masing-masing lubang ) Dua-dua Sam ! sampai lima kali ( sambil menunjukkan di papan dakon ) Dua – dua Sam. ( memegang Isam ) ( sibuk mengambil manic dan ikut meletakkan di papan dakon ) Satu, dua, tiga, empat, lima. Udah ! ( menunjukkan ke papan dakon yang telah diisi manic) satu, dua, tiga. ( megulang menghitung manic di papan dakon ) ( menghitung kembali ). Ini kurang satu Sam. ( menunjukkan papan dakon yang masih kurang maniknya ). Ini lho. satu, satu, satu, satu, satu, satu ( sambil menunjukkan kartu soal ) ( ikut mengamati kartu soal ). Brati ditambah satu lagi. ( sambil mengambil manic di papan) Manik merah ya ( memasukkan manic satu lagi ) Nah..gitu Dah. Entek ( habis, sambil meletakkan sisa manic ke dalam kotak ). ( mengamati manic di papan dakon ) Sekarang udah bener ? Jumlah maniknya ada berapa ? Lima belas ( mengetok-ngetok manic di meja sambil berdiri ) Lima belas ( dengan suara lantang dan berdiri ) Lima belas. Yoo main yo. Pie carane ? ( Yuk main yuk. Comment [wa24]: S2 mencari kartu. O1/S2/B145-146 Comment [wa25]: S1 kembli mengecek pemahaman siswa. O1/S1/B158 Comment [wa26]: Ingin tahu dan mencoba menjawab.O1/S3/B162 Comment [wa27]: Subjek paham maksud soal dan bisa memberi tahu temannya supaya tidak terjadi kesalahan. O1/S3/B164-165 Comment [wa28]: Subjek mengecek kembali jawaban. O1/S3/B169-171 Comment [wa29]: S3 teliti dan mengerti kesalahannya. O1/S3/B176-177 Comment [wa30]: Mengeluarkan pendapat dengan mencoba menjawab. O1/S4/B178-179 Comment [wa31]: Subjek mencoba menjawab karena tadi sudah mengerjakan. O1/S2/B189-190 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 O X2 T X2 I O G BS G I G O BS G T I O I T X2 T G I X2 O Gimana caranya ?, sambil mengambil manic di papan dakon ) Yukk…( tersenyum ) Mosok nggak tau carane ( masa nggak tau caranya). Gampang banget. Ho’oh. Tinggal maniknya dimasukkan disini ( sambil menunjukkan ke lubang papan dakon ) Brati bulatnya disini ( menunjukkan lubang papan dakon paling pinggir) Lha kan ada sepuluh. ( sambil menghitung lubang dakon ) Sama – sama yuk . Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. ( memasukkan manic ke lubang papan dakon ). Kalo disini bener atau salah ? ( sambil menunjukkan ke lubang papan dakon di bawahnya) ( secara serentak ) Salah. Brati di ? Yang ini positif atao negative ? ( menunjukkan lubang dakon yang atas ) Positif Brati sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas, limabelas. ( meletakkan manic di lubang papan dakon ) ( mengambil manic dengan bolpoint / dibuat seperti sumpit ). Ini buat mama ( sambil mengangkat manic dengan sumpit bolpoin ) Sama nggak dengan gambarnya ? Sama. ( mengangkat buku ) Sama ( secara serentak ) Oke. Sekarang coba yang manic negative. ( sambil mengembalikkan manic positif di kotak ). Coba A5 ( mengambil manic negative dan diletakkan di meja dan mencari kartu A5 ) (mengambil manic negatif dan diletakkan di tangan ) A5 ( sambil memegang kartu yang sudah ditemukan ) Berapa tu ? ( bertanya ke Olive ) Sini birunya dua. ( sambil menunjukkan ke lubang papan dakon ). Satu, dua, tiga, empat. ( menghitung di kartu ). ini dikembaliin nggak ? ( sambil menunjukkan manic merah yang masih di lubang dakon ) ( berjalan ke depan melihat papan dakon Guru ) Ooo..iya ini dikembaliin dulu. ( sambil mengambil manic merah dan dikembalikan ) Negatif lima. Kalo negative lima dimana ? ( sambil berjalan ke kelompok Alan ) satu, dua, tiga ( meletakkan manic biru di sembarang lubang papan dakon ). Ngawur !! ( ngasal , sambil mengambil manic yang barusan dimasukkan oleh Isam ) He ngawur..ngawur..ngawur. Tempatnya mana ? Comment [wa32]: Subjek mengajak bermain menggunakan dakon. O1/S2/B193-195 Comment [wa33]: Subjek menerima ajakan S1. O1/S3/B196 Comment [wa34]: Berpendapat tentang cara peletakan manik. O1/S2/B202-203 Comment [wa35]: Subjek bingung. O1/S3/B204-205 Comment [wa36]: Subjek menjawab dan member tahu manik yang dipakai. O1/S4/B235-237 Comment [wa37]: Subjek ingin mengecek jawaban guru dengan melihat dan berjalan ke arah meja guru. O1/S4/B40-242 Comment [wa38]: Subjek salah meletakkan. O1/S2/B245-246 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 I T O G O T I O G T X3 G O T I G T I X2 T O G T G X1 I G X2 O I O X2 I G ( sambil memandang Isam ) Lha tempatnya mana ? Ini lho disini ( dengan suara keras dan ngotot sambil menunjukkan ke papan dakon negative ) Kamu sok tau e ( sambil memandang Isam ) Inget ya, kalo habis menggunakan manic langsung dikembalikan ke kotaknya biar nggak bingung. Negatif lima lho Sam ( memegang kartu A5 ) Ini gimana Bu Deta ? ( memandang Bu Deta) ini Udah gini ? ( menunjukkan papan dakon ) Enak Nina dhewe ( enak itu Nina sendiri ) ( menengok ke belakang/ ke kelompok Nina) Dah, bisa negative lima ? ( mengangkat kotak ) Belum ( dengan suara keras ) Kalo negative lima brati ada di lajur yang ? atas atau yang bawah ? ( menunjukkan papan dakon ) Bawah ( sambil mainan manic dan melihat ke depan ) Bawah. ( mengangkat manic biru dan manic merah dan menjawab dengan suara yang keras ) Nek aku asal si ( sambil mainan manic ) Yang bawah. Coba ( mengambil kartu di papan ) Gantian Ti. ( sambil mainan manic ) ( memegang kartu ). Kalo kamu ngambil kartu, kita yang masukin ini ke sini ( sambil menunjukkan manic dan papan dakon ) Aku nggak ngambil kok. Gakpapa. Iya gantian Ti. ( cemberut ) Ini sama dengan ini nggak gambarnya nggak ? ( bertanya ke kelompok Resa ) Ini harusnya ? Nggak ada. ( sambil menujukkan jumlah manic yang lebih ) ( berjalan ke kelompok Olive ). Ya bener. Udah bener Bu. ( berjalan ke kelompok Alan ). Yak. Sekarang semua dah bisa ya ?. Sekarang udah bisa ? Dah. ( mengambil manic dengan sumpit bolpoin ) Sekarang masukkan lagi ke kotaknya. Halah kesuwen ( halah kelamaan. Sambil mengambil manic di meja dengan tangan dan dimasukkan ke kotak ) ( mengambil manic yang di papan dakon dan dikembalikan ) Ni ( sambil meletakkan manic dengan sumpit sambil tersenyum ) Hmm..hmm..( seolah –olah makan dengan sumpit ) Nanti kalo ilang tanggung jawab Kartunya juga dimasukkan Ti ( sambil menunjukkan kartu yang di meja ). Tu Bu Dian juga. Gantian Ti Sekarang kalian buka B2. Comment [wa39]: Subjek salah meletakkan ternyata masih bingung. O1/S2/B251 Comment [wa40]: Subjek member tahu tempat yang benar. O1/S4/B252-253 Comment [wa41]: Guru mengingatkan supaya anak-anak mengembalikan manik jika sudah dipakai. O1/S1/B255-257 Comment [wa42]: S1 kembali mengecek pemahaman siswa tentang jalur dakon. O1/S1/B266-267 Comment [wa43]: Menjawab bukti kalau subjek sudah paham. O1/S3/B268-269 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 T G I I,O,T T O G O X1 G T O G T G SS O G O T O T O T O T I O T O T O T O I T Apa ? B2 ( tersenyum dan menghadap ke kamera ) ( mencari di kotak ) Ini. ( sambil menunjukkan kartu ) Bukan. ( mencari kartu yang benar) B2 Ni. ( sambil mengambil kartu B2) Lima belas ditambah ( dengan suara keras ) Ssstttt Lima belas atau berapa ni ? Lima belas ditambah tiga. ( sambil menunjukkan kartu ke Isam ) Lima belas ditambah tiga. Berapa ? Delapan belas. Kalo dengan manic-maniknya ? Yang postif tadi yang merah atau yang biru ? Yang merah. Yang merah ( sambil memegang kartu ) Coba kalian hitung di dakonnya. Satu ( memasukkan manic satu ke papan dakon ) Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Udah sampai delapan aja. ( menunjukkan lubang dakon yang ke delapan ) Sembilan, sepuluh ( sambil menunjukkan lubang dakon yang ke Sembilan, sepuluh ) Lhoh ? kan ini nanti delapan lagi. ( memandang Olive dan menunjukkan lubang dakon untuk yang kedua kalinya nanti ). Emangnya berapa ? Lha kan delapan belas. ( sambil menunjukkan kartu ) Oiya..berarti sepuluh. ( menambah manic ke lubang Sembilan ) .Dah. Lho ? ( bingung ) Udah. Nanti Sembilan dikali dua. ( kembali menunjuk ke lubang dakon Sembilan ). Ya udah segini aja. Ditambahi satu lagi to ? ( bertanya ke olive ) Ya berarti ditambah satu lagi to. Kan delapan belas. Oiya. ( menambah manic satu lagi lubang sepuluh ). Nah gitu maksudku ( sambil menunjukkan ke lubang papan dakon ). Lha iya maksudku itu Olive. ( sambil memandang ke Olive ) Iya. Ditambahin kesini Liv ( sambil menunjukkan ke lubang sepuluh ) Satu, dua, tiga, empat..( sambil menghitung kembali manic yang di lubang dakon ) Kok kamu jadi ngitung. Sepuluh, duabelas, empatbelas, lima belas, enambelas, delapanbelas. Pas ! ( menghitung kembali ) Iya..iya ( sambil mengangguk ) ( kembali usil dengan manic-manik dan menutup papan dakon dengan tangan ) Tinggal dihitung gini aja bisa. Satu, dua, tiga, Comment [wa44]: Subjek langsung menjawab menggunakan tangan. O1/S4/B320 Comment [wa45]: Subjek langsung menjawab lubang dakon yang akan digunakan. O1/S4/B27-329 Comment [wa46]: Subjek bingung dan ternyata subjek salah.O1/S4/B332-334 Comment [wa47]: S3 memberikan jawaban yang benar.O1/S3/B335-336 Comment [wa48]: S4 tetap berpendapat dan meminta yang lain mengikutinya. O1/S4/B340-342 Comment [wa49]: Mengeluarkan pendapat dengan menjawab. O1/S2/B343 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 G SS G X3 G X3 G G2 I T I T X2 G BS G I O G T G T O T G I T I O G2 T O I empat, lima, enam, tujuh, delapan dikali dua berapa ? delapan belas. Jadi deh. ( mennunjukkan papan dakon ) Nah sekarang cocokkan. Positif lima belas. Brati merah ato biru ? ( mengambil manic di papan ) Merah Lima belas ya. ( meletakkan manic ke lubang papan dakon ). Satu, dua, tiga.. Bu Dian Yaa… Timo kemana e? Sakit ( Membagikan lembar soal ke setiap kelompok ) ( Asik dengan manic-manik ) Nama kelompok ? ( membaca lembar soal yang telah dibagi) Nah tu pake . ( memandang kamera dan selanjutnya menutupi papan dakon dengan tangan ) Heh..nggak boleh dilihat. ( tersenyum ). Nggak boleh dilihat. Sini liat Ti ( meminta lembar soal yang dipegang Tia ) Jawabannya berapa ? Empatbelas. Iya. empatbelas. Nah ngene wae ( nah gini aja sambil menutupi kamera dengan buku ) ( menata kartu di dalam kotak ) Trus kalo kalian sudah bisa, kalian kerjakan kegiatan 1. Ya Bu. Kelompoknya jadinya 5 – 5 ya. Ada yang 4 juga. Balikin lagi aja Liv ( sambil memegang manic di lubang dakon ) ( kipasan menggunakan tutup kotak ) Bu, ini dikembaliin lagi nggak ? ( sambil memegang manic di dalam lubang dakon ) Iya. maniknya dikembaliin lagi ke kotaknya. Trus 3 ditambah 6 Eee durung. Malah wis ditutup ( E belum, malah sudah ditutup . Sambil memasukkan manic di kotak ). Tak panah ( gaya memanah menggunakan pensil ke arah kamera ) Sini aku tau caranya ( meminta lembar soal yang dipegang Adele ). Sam bawa sini pensilnya ! ( meminta pensil warna yang dipegang Isam ). Sik nama kelompok ditulis dulu. Aku yang kedua ( melempar pensil warna biru ke tempat Tia ) oo..namanya Ardeta ( sambil membaca tulisan nama yang ditempel di pensil warna ). Terus diapain ? ( bertanya ke G2 ) Dikerjakan. Liv.. Ini gimana ? Mbak bisa nggak mbak ? ( sambil menunjukkan Comment [wa50]: Bertanya ke guru tentang pengembalian manik ke kotak. O1/S4/B397-398 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 T G2 O G2 I G X2 T O G2 O G2 X2 T G2 I G2 T G2 I G2 T G2 T G2 O G2 T G2 I O T O I T I matanya). Bisa nggak mbak ? Pie carane mbak ? ( gimana caranya mbak ? Tanya ke G2) Diwarnai bullet-buletnya. Bulet kecil atau besar ? Terserah. Bulet kecil aja Bulatnya dipenuhin aja. ( sambil menunjuk ke kegiatan 1) Boleh ada yang mainin boleh ada yang gambar gitu. Aku mainin ( mengambil kotak dan dibawa di depannya ). Soalnya berapa Liv ? 3 ditambah 6. Ini diapaiin ? ( sambil membuka lembar soal berikutnya ) Itu nanti kok. Sekarang dikerjaian kegiatan 1 dulu. 3 ditambah 6 Dihitung berapa ? 1,2,3,4,5,6,7,8,9 ( sambil menunjuk ke manic di lubang papan dakon ) 9 Liv 6 nya taruh mana ? Hayoo… ( menunjuk letak manic 6 ) Nahh ya. Dilanjut to ? Lha iya. Lha ini . ( sambil menunjuk ke papan dakon ) Itu titik – titiknya belum. ( sambil menunjuk lembar kegiatan 1 yang belum diisi ). Ini kan udah to, trus sekarang kamu nambah disini. Nah jadinya berapa ( sambil menunjuk ke papan dakon ) Ooo..ini sama dengan jumlah yang di dakon ya ? Iya. Brati kalo biru naruhnya di bawah ? Iya. Itunya kalo warna biru ininya soalnya pake negative dalam kurung ? ( sambil memperagakan tangannya ). Kayak gitu ? ( menunjuk tulisan yang di papan tulis ) Iya kaya gitu. Dah ( memperlihatkan hasilnya ) Terus ? Udah. Lagi. lanjut no berikutnya. Gantian Ti, ora kowe terus ( Gantian Ti, jangan kamu terus ) Dah biarin gak papa. Cepet ! ( mengambil manic merah dan diletakkan di tangan kemudian Isam diminta untuk mengambil ) 8 ditambah 9 Satu ( melatakkan manic merah di lubang dakon ) Dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. ( meletakkan manic di lubang dakon ) Nah to kowe Ti terus ( nah to kamu terus ) Comment [wa51]: S4 bingung cara mengerjakannya dan bertanya ke guru. O1/S4/B419-420 Comment [wa52]: Guru memberikan instruksi dalam mengerjakan latihan. O1/S1/B426-427 Comment [wa53]: S4 memiliki rasa ingin tahu sehingga subjek bertanya ke guru. O1/S4/B458 Comment [wa54]: S2 jengkel karena S4 memainkan dakon terus. O1/S2/B473 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 T I T O T X2 O T I T O T G S I,T O X2 T O T X2 T I T O X2 I T I O T Itu lho Sam. ( sambil menunjuk manic yang di depannya Isam ) ( meletakkan manic yang ditambah ke lubang dakon berikutnya ) satu, Sini lho ( menunjuk lubang dakon awal untuk diulang ) dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan. Stop ! ( menutup lubang ke sepuluh dengan tangan ). Dah. Itu Liv ( sambil menunjuk hasil di papan dakon ) Dua,dua,dua,dua,dua,dua,dua ( sambil menunjuk papan dakon ) Dihitung totalnya juga Liv. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17. Tujuh belas. 1,2,3,4,5,6,7 ( menghitung jumlah manik 2 dalam setiap lubang dakon kemudian menggambar di lembar kegiatan1) 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17 ( menghitung menggunakan tangan ). Yeee ( melempar tutup kotak ke atas ) Jangan sampe salah Liv. 1,2,3,4,5,6,7 Liv yang lingkarannya 2. ( menghitung kembali manik yang di lubang dakon ) sisanya satu ya ? Sisanya satu semua. Yuukk,,udah selesai ? Belum ( secara serentak ) ( mengambil manik yang di dalam lubang dan dikembalikan di kotak ) Belum Buk ( suara keras ) Aku ( meminta manik yang di tangan Tia ) ini ni ( memberikan manik ke Adele ) 4 ditambah 13 4 dulu Sam. Kamu nanti yang 13. 1,2,3,4 ( meletakkan manik merah ke 4 lubang ) Stop ! ( menutup lubang kelima dengan tangan ). Kamu Sam ! 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 ( meletakkan manik ke lubang ) Stop !! ( menutup lubang selanjutnya dengan tangan ) 1,2,3,4,5,6,7 ( menghitung jumlah 2 manik dalam setiap lubang ) 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 17 Totalnya 17 ( menghitung dengan tangan ). Ditulis Liv ( sambil berputar – putar keliling ke kelompok yang lain ) Habisin dua lagi Sam. Tiga dua e Sam. Akeh banget. ( sambil mengeluarkan manik merah dari kotak untuk diletakkan di meja dan tersenyum ). ( melihat perlakuan Tia dan tersenyum ) ( memegang lubang papan dakon ) Dah..dah..dah..capek aku. ( setelah mengeluarkan semua manik merah ke meja dan Comment [wa55]: Bertanya ke S3 tentang jawabannya. O1/S4/B495-497 Comment [wa56]: Subjek bertanggungjawab dengan alatnya. O1/O2/04/B502-503 Comment [wa57]: S4 lebih suka menghitung mneggunkn tangan. O1/S4/B520 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 O X2 I T I T X2 O I T O T O T O T X2 T O T I T I T X2 O I X2 G2 X1 G langsung duduk ). Kerjain sendiri. Huh ( memalingkan kepala dan menghadap ke Olive ) ( sibuk menulis ) ini 4 ato berapa to ? ( sambil menunjuk ke papan dakon ) Gini wae ya Ti. Gini wae ya Ti ( sambil memindah posisi papan dakon ke arah Isam ) Yawis ( berjalan ke arah Isam ). Brati pada di sana. Ho’oh we Del. Sini kan gronjal-gronjal ( menunjukkan meja yang tidak rata) Ehh…buat Olive diginike. ( sambil memutar papan dakon kearah Olive ) Udah ! ini tu 4 ada 4 kecuali 1. ( sambil mengambil papan dakon dan mengembalikan ke posisi semula ) Tiga ( mengangguk dan kembali menulis ) Yang benar sepuluh Liv ( sambil menujuk ke jawaban yang ditulis Olive ) Lha yang di bawah mana ? ( menunjuk jawaban yang ditulis Olive ) Dah ! ( selesai mengerjakan latihan ) Dah ! Lagi ! ( memegang papan dakon ). Berapa ? ( bertanya ke Olive ) Hmmm…..( sambil mikir ) Tiga Sembilan Tiga sembilan ( sambil menulis jawaban ) Tiga sembilan. Dah ! Sekarang tiga dua..tiga dua..tiga dua dulu. Tiga dua, ntar kamu nanti Sam. Yang dua belas kamu nanti. Adele yang tiga dua. ( mengisi manik merah ke papan dakon ) Dua puluh..dua puluh..cepet ! Soalnya masih banyak ( memegang kepala ) Dua lagi..dua lagi. Sampai sini ( menutup lubang dakon yang kedua ). Nah 1, 2. Sekarang kamu Sam dua belas. ( meminta Isam mengisi manik sebanyak 12 ) Disini ? ( bertanya ke Tia ) Ho’oh. ( mengisi manik ke papan dakon ) ( menghitung manik yang dimasukkan Isam ) 1,2,3,4,5,6,7,8. Ooo…tiga dua ? ( bertanya ke Adele ) Ho’oh. Tiga puluh ditambahin dua Yang mana ..yang mana ( bingung ) Yaudah mendingan dikurangi lagi. Kamu tiga puluh dulu. ( mengambil kembali manik merah yang diletakkan di papan dakon ) Udah ! Ini tadi kan dua puluh (menunjuk jumlah manik yang di papan dakon ) Yuk dimasukkan dulu maniknya dimana ? ( bertanya ke siswa ) Di bawah Iya di bawah Negatif lima ya ? 1,2,3,4,5. Coba Comment [wa58]: S3 mengeluh karena soalnya masih banyak. O1/S3/B563 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 X4 G I G X4 G I G X5 G X6 T G T G X6 G O G O T G X1 G X1 G SS G X1 G T I O I O T I G punya kalian seperti ini nggak ? ( guru mengangkat papan dakon yang telah diisi manik 5) Aku yang maju. Disitu aja. semua siswa maju ke depan untuk melihat papan dakon yang ditunjukkan oleh guru Satu kelompok aja yang maju. Aku Bu. ( angkat tangan dan maju ke depan ) Satu kelompok satu aja yang maju. * perwakilan satu orang dalam 1 kelompok maju* Sama Be ? Sama Sama Sam ? Sama Sama Lan ? Sama Sama Ces ? Sama Olive !! Semua sama ya ? Sama Sekarang ditambah. Ditambah berapa tadi ?. Haloo….tadi ditambah berapa ? 2 + ( -5) Iya 2 + ( -5). Kalo ini disatukan jadinya berapa ? ( guru menunjukkan manik merah dan manik biru jika disatukan) Nol Nol. Brati yang nol ada berapa ? Dua Dua Dua. Disitu tinggal manik apa ? ( menunjuk ke papan dakon ) -3 Manik apa ? Biru. Nah 3 manik biru. Yang artinya negative 3. Coba kalian lihat di kunci jawabannya. Apakah betul ? ( mengambil kunci jawaban ) Betul ( secara serentak ) Nah OK. Coba Nina dilihat kunci jawabannya. Bener nggak ? Bener bu Coba lagi, cari C2. C2 ( mencari kartu C2 ) Ini dikembaliin dulu ( sambil mengambil manik yang masih di papan dakon ) Ini C berapa Liv ? ( bertanya ke Olive ) C2 Coba lihat dulu ( mengambil kartu yang ditangan Isam ). Lihat soalnya ! Nyoh lah ( memberikan kartu ke Tia ) 12 + ( - 14 ). Coba kalian kerjakan bersama kelompok. Comment [wa59]: S1 mengecek jawaban siswa. O1/S1/B585-588 Comment [wa60]: S2 semangat untuk maju ke depan. O1/S2/B594 Comment [wa61]: S3 menjawab menyimak penjelasan dan menjawab pertanyaan guru. O1/S3/B641 Comment [wa62]: S1 meminta siswa untuk mengecek jawaban di kunci jawaban. O1/S1/B623625 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 T O G T O G T O X2 T O G T G O T G T G X5 G O G O G BS G BS G X2 G BS O G X2 Ohhhh.. - 4 Buk ( dengan suara keras ) Oiya -4. Jadi 12 + (-4). Coba kerjakan dengan manik-maniknya. Apakah jawabannya negative 8 ( memasukkan manik ke papan dakon bersama Olive ). 12. Dah. Sekarang – 4. ( memasukkan manik negative ) Satria sama Rama bantu temannya. Udah. ( menghitung manik maerah dan biru yang digabung ) 4. 1,2,3,4,5,6,7,8. Delapan. Iya 8..8..8.. Yeeee…… ( tepuk tangan ). 1,2,3,4,5,6,7,8 ( menghitung kembali manik yang di papan dakon ) ( menutup dakon warna merah dan biru jika digabungkan 0 ). 1,2,3,4,,6,7,8. ( mencoba menghitung kembali ). Olive coba dihitung lagi deh. Bukan kaya gitu Tia. Coba ya. +12 itu yang merah ato yang biru ? Merah Iya merah. Berarti kita ambil 12 ya. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12 ( memasukkan manik ke papan dakon ). Lalu -4. Brati manik birunya ada berapa ? ( mengambil manik biru dan memasukkan ke papan dakon ) 4 ( Jalan maju ke depan lihat guru ) Lalu kita akan ambil yang sama lalu digabungkan ( menunjukkan manik merah dan manik biru yang digabungkan ) Gini ya Bu ? ( sambil menunjukkan manik yang telah digabungkan ) Iya. Ini tadi berapa maksudnya ? 0 Iya 0. Terus diambil semua yang jumlahnya 0. Brati yang bisa dipasangkan ada berapa ? 4 Terus tinggal berapa maniknya ? 8 Manik apa ? Merah Brati jawabannya ? Positif 8 Brati jawabannya positif 8. Iya sama ni di kuncinya Ini bukan negative 8 Desi tapi positif 8 ( sambil menunjukkan papan dakon ke Desi ). Sudah bisa ? Sudah ( mengembalikan manik ke dalam kotak ). Sudah Kalo kalian sudah bisa, coba kalian kerjakan yang kegiatan 2. Bolpen biru sama merahnya mana ? ( mencari bolpen merah dan biru ) Comment [wa63]: Subjek membetulkan soal yang dibaca oleh guru. O1/S3/B643 Comment [wa64]: S4 langsung memasukkan manik ke dakon. O1/S4/B646-647 Comment [wa65]: S3 memasukkan manik. O1/S3/B648 Comment [wa66]: S3 berpendapat bahwa jawaban S4 salah. O1/S3/B671 Comment [wa67]: S1 memberikan cara mengerjakan . O1/S1/B674-678 Comment [wa68]: S4 mencoba menggabungkan manik merah dan manik biru. O1/S4/B684-685 Comment [wa69]: S3 menjawab pertanyaan guru. O1/S3/B692 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 T I T I T O I O T X2 O I T O I T X2 O T I T O I T O T O I T O G G2 I G O Delapan..delapan mana ? ( mengambil manik di dalam kotak ) Ehh tujuh ni. Tinggal satu. ( sambil menyodorkan 7 manik merah dan tujuh manik biru ke Tia ) Delapan. 1,2,3,4,5,6,7,8 ( memasukkan manik merah ke papan dakon ) ( memasukkan manik biru ke papan dakon ) 1,2,3,4,5,6,7 Udah Liv Minggir..minggir. Coba aku aja. ( sambil mengambil papan dakon ). Udah ! ( selesai menggabungkan manik merah dan manik biru ). Jawabannya 1. Oh..digambar dulu Del ( meminta Adele untuk menggambar ) Nggambar Del Ini to 8. Kamu nggambar sampe 8. Warnanya..warnanya merah..merah..merah.. ( ngasih tau ke Adele ). Ini ni merahnya ( memberikan bolpen merah untuk menggambar ). Ini ni biru buat gambar ntar. Berapa ? Delapan..delapan.. Gambar apa ? ( menghadap ke kamera dengan dibentuk seperti burung ) Burung Nah ini 8. Ini apa Ti ? ( bertanya ke Tia untuk menebak bentuk yang dibuat di tangannya ) Nggak tau. ( menjawab dengan ketus ) Bawahnya ? ( bertanya ke Olive ) Sini ( menggambil kertas untuk menggambar ). Tujuh Tujuh ( bermain dengan kamera ) Trus selanjutnya yang merah jumlahnya ? Sebelas. Sama negative 15. ( tambahi siji = ditambahi satu ) hehehe Yang merah berapa ? ( sambil memasukkan manik merah ke papan dakon ) Tambah 3. ( menunjuk ke papan dakon ) Dah Dahhhh… ( bermain di depan kamera ) Bu Isam malah mainan lho ( menunjuk ke Isam ) 1,2,3,4,5,6,7 ( menghitung manik yang bisa digabungkan ) Anak – anak itu jawaban yang terakhir harus di gambar lho ya. ( sambil berjalan mengecek jawaban tiap kelompok ) (berjalan ke kelompok ).Udah digambar belum ? Di gambar dulu. Ini kalo digabung nggambarnya kaya gini ( memberi contoh di kegiatan 2 ) ( melempar manik ke kotak ) Ngene mbak = gini mbak. Gambarnya yang paling akhir ya Ini dah terlanjur Mbak. Nggak usah di hapus ya ? Comment [wa70]: S3 mengecek pekerjaan teman. O1/S3/B717-719 Comment [wa71]: S3 memberi tahu yang harus digambar. O1/S3/B723 Comment [wa72]: S4 memberi tahu yang harus digambar. O1/S4/B724-727 Comment [wa73]: S2 asyik bermain sendiri dengan manik-maniknya. O1/S2/B730-731 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 764 765 766 767 768 769 770 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 G2 O T I O T O X2 O T I O T O T O T O T O G2 O T O G2 T G T O G2 X2 I O T O O,T T ( menunjukkan gambar manik yang telah di gambar di kegiatan 2 ) Ya udah gak papa. Tinggal di silang – silang aja. ( menyilang yang brati tanda kalo manik digabung ) Rucikasari ( melihat nametag guru ). Beda amat sama yang disitu ( sambil menunjuk ke guru ). Masih cantikkan yang ini. ( memegang nametag ). Ya iyalah putih – putih kok ini . hehehe 1,2,3 (mengotak atik manik yang di papan dakon) Ulangi aja ini 13 + 9. ( menunjuk ke soal yang di lembar kegiatan 2 ) Ooo…ya udah. ( mengambil manik yang di papan dakon ). Ya Udah ni 1,2,3,4 ada 9. Sisanya 4. Ya udah. Ditulis Liv. ( malah asyik bermain manik-manik ) 4 Mbak ? ( bertanya ke guru ) Nah sekarang. ( mengambil manik yang di papan dakon ). Berapa tu ? 9 ( meletakkan manik merah ke papan dakon ) 1,2,3,4,5,6,7,8,9 Hop !. Ditambah manik birunya. 1,2,3,4,5,6,7 ( meletakkan manik biru sebanyak 17 ). Terus gimana ? ( setelah selesai meletakkan maniknya ) Ya udah gini. ( menggabungkan manik merah dan manik biru ) ( ikut menggabungkan manik biru dan manik merah kemudian diletakkan di meja ). Udah Sam. Itu enggak ! ( memarahi Isam karena salah mengambil manik ) Brati tinggal berapa ? Dua. Lha ini gimana ? ( menunjuk manik yang masih sisa di papan dakon ) Isam ini tu udah betul. ( mengambil manik yang ditanggannya Isam dan meletakkan kembali ke papan dakon ) Ini sisa berapa ? ( menunjuk ke papan dakon ) Dua. Brati birunya bawah 2. ( menunjuk ke lembar kegiatan 2 ) Negatif apa positif ? Positif Negatif..negatif.. Iya negative Dah ( sibuk dengan mainannya dan tidak ikut mengerjakan ) Trus 31 sama 7 Berapa ? ( bertanya ke Olive ) 31 sama 7 ( meletakkan manik ke papan dakon ) Dah ! Trus sekarang ? Comment [wa74]: S4 kembali bingung meletakkan maniknya. O1/S4/B730-731 Comment [wa75]: S2 mencoba menggabungkan manik. O1/S2/B732-733 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 O T O X2 O T O G BS G SS G SS ( menggabungkan manik merah dan biru selanjutnya di letakkan di meja ) Ini..ini..( memberkan manik ke Olive ) Ditaruh situ aja ( menunjuk ke meja ). Dah selesai. Berapa Liv ? 24. Ini di gambar Del Kok bisa ? Bisa lah. Coba diitung sendiri. Sudah ya ? Sudah Yukk sekarang semua dirapikan dan lembar kegiatnnya dikumpul di depan Ya Bu. Yuk kita berdoa dulu. Selamat siang… Selamat siang Bu 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Transkip Kegiatan Belajar Mengajar Menggunakan Alat Peraga Pertemuan Kedua TRANSKIP PENELITIAN PERTEMUAN KEDUA Hari/tanggal : 15 Januari 2014 Keterangan Subyek 1 : Guru ( G ) Subyek 2 : Isam ( I ) Subyek 3 : Olive ( O ) Subyek 4 : Tia ( T ) BS : Beberapa siswa SS : Semua siswa Xn : nama siswa ke-n, n = 1,2,3,4,5,… Guru 2 / mahasiswa : G2 Guru dan siswa tanya jawab mengenai pelajaran sebelumnya serta guru mengecek pemahaman siswa dengan meminta siswa secara berkelompok mengerjakan soal di dalam kotak dengan dimainkan menggunakan dakon. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Subjek G T G O T O G T I G SS G BS G BS I G Percakapan dan Kegiatan Sekarang kita akan belajar bilangan negative ditambah bilangan positif. Caranya sama. Coba kalian ambil J1. D1..D1( sambil mencari kartu di kotak ) Sudah ketemu ? Terus kalian mainkan dengan dakonnya -8+7 ( memainkan dakon bersama O ). Negatif 1. Negatif 1 Coba dibalik. Betul. Negatif 1 ( sambil dinyanyikan ) Negatif 1. Negatif 8 brati yang dimainkan manik apa ? Manik biru Iya manik biru. Terus kalo positif 7 ? Merah Iya merah. Kira-kira itu yang lebih banyak negatifnya atau positifnya ? Negatifnya (melihat – lihat soal di kotak ) Negatifnya. Kalo banyak negatifnya nanti jawabannya ? Comment [wa1]: S1 menjelaskan materi yang akan dipelajari. S1 meminta siswa untuk mengambil kartu. O2/S1/B1-3 Comment [wa2]: S4 langsung mencari kartu. O2/S4/B4 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 BS X7 G I T O T G BS G BS G O T O T X2 T O G SS G SS G SS G I O X1 G SS T O Negatif Klo banyak positifnya berarti positif ya Bu ? Iya. Sekarang kalian coba cari D2. ( mencari kartu D2 dan setelah ditemukan diberikan ke T ) Negatif 15 ditambah positif 15. Negatif 15..negatif 15 ( sambil mengambil 15 manik biru dan dimasukkan ke dakon ) ( memasukkan 15 manik biru ke papan dakon ) ( angggota kelompok menggabungkan manik merah dan manik biru ). 0 bu. 0 ..0..0 ( dengan suara keras ) Apakah betul 0 ? Silahkan dibali, lihat jawabannya. Betul bu. Iya bener. Brati kalo jumlah negatifnya sama dengan jumlah positifnya hasilnya berapa ? Nol. ( O dan T mengembalikan manik ke kotak. Isam sibuk membuat mainan dari kertas.) Sekarang coba D7 ( mencari kartu D7 ). -5 + (15) ( meletakkan 5 manik merah di dakon ) Negatif 5 Tia. ( mengembalikan manik dan mengambil 5 manik biru ) ( memasukkan 15 manik merah dan menggabungkan dengan manik biru) 10 buk 10 bu. Positif Bu Yang negative itu lebih kecil atau lebih besar ? Lebih kecil Jadi jawabannya ? Positif Iya positif. Sudah bisa ya ? Sudah bu. ( anggota kelompok bermain dengan papan dakonnya sendiri ) Sekarang kalo bilangannya semuanya negative. Coba E1. (anggota kelompok membereskan semua manik yang di papan dakon dan I mencari soal E1 ) Ni. ( sambil memberikan soal ke O ) - 12 + (-13 ) ( diam sejenak dan memikirkan caranya bagaimana ). Brati sama aja 12 ditambah 13 tapi itu negative. ( sambil mengambil manik biru dan diletakkan di papan dakon ) Gimana caranya Bu ? Sekarang Bu Dian Tanya, yang dimainkan manik biru atau merah ? Biru ( mengambil manik merah dan diletakkan di papan dakon) Yang merah enggak Ti Comment [wa3]: S2 mencari kartu yang diinginkan S1. O2/S2/B27-28 Comment [wa4]: S3 dan S4 mengembalikan manik, S2 sibuk mainan. O2/S3/S4/B43-44 Comment [wa5]: S4 mengembalikan manik karena tidak sesuai dengan soal. O2/S4/B49-50 Comment [wa6]: S3 mencoba mengerjakan sendiri. O2/S3/B68-72 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 G SS G SS G SS G BS G O G T G O G T G O T O I O T T O G O G O T O T Yang merah iya nggak ? Enggak Kalo 12 manik biru ditambah 13 manik biru. Jadi ? Dua puluh lima. Brati jawabannya berapa ? Negatif 25 Coba dibalik, jawabannya bener atau nggak ? Bener Bu… ( anggota kelompok mengembalikan manik yang di papan dakon ) Coba sekarang – 3 + (-2). Kira – kira berapa ? ( anggota kelompok memainkan manik di papan dakon ) Negatif 5 Iya . Negatif 5. Coba sekarang kelompoknya Rama – 7 + (-4). Berapa ? ( Tia, Adele, Olive menghitung pake tangan ) - 11 Negatif 11. Kalian sudah bisa ya. ( suasana kelas sudah mulai ramai ) Kamu tu yang tugasnya ngambil-ngambil kartu soalnya aja. ( meminta I untuk tidak memegang manik-manik ) Kalo sudah coba kalian kerjakan lembar kegiatan yang dibagikan. Yang kemarin Bu ? Iya. Pensilnya mana Bu ? Semua dibereskan dulu. ( anggota kelompok membereskan ) Jawabannya digambar ya. Jadi yang terakhir itu yang digambar. Jangan semuanya digambar. ( setiap kelompok mengerjakan soal di lembar kegiatan menggunakan papan dakon . Ada yang mendapat tugas meletakkan manik di papan dakon, dan ada yang mendapat tugas menulis jawaban di lembar kegiatan ) Berapa Ti ? -6 + 8 Sam..sini kasih manik merahnya 8. (menyuruh Isam meletakkan manik ke lubang papan dakon ) Yaa..( meletakkan manik merah ) ( meletakkan manik biru ke papan dakon ) 1,2,3,4,5,6. Sekarang digabung 1,2,3,4,5,6 Nah ini sisa 2. Trus gimana ? Ini taruh sini aja Jangan lah. (menghampiri guru dan berkata ) Bu ini gimana ? Ya udah to ini sisa 2. Positif ato negative ? Positif. Jadi positif 2. Iya. Dah digambar Ti. Sini positif 2. Positif itu merah ato biru ? Kalo postif itu merah. ( menggambar hasilnya di lembar jawab ) Comment [wa7]: S3 mengerjakan soal kegiatan sendiri. O2/S3/B123-124 Comment [wa8]: S4 bingung karena masih terdapat siswa manik. O2/S4/B125 Comment [wa9]: S3 bertanya kepada guru. O2/S3/B127-128 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 O T O T O T G O I O I O I I I T I T I O T O T O I O T I T G O T Sekarang -25 + 12 13..13..13.. ( menghitung pake tangan) Bentar to Ti. Ini naruhnya kebalik Sam ( membalik papan dakon ) Ya udah tinggal di balik aja Adele negative itu biru. ( memarahi Adele karena salah meletakkan manik ) Negatif itu biru ato merah ( bertanya ke guru ) Biru Negatif tu biru Ini berapa Liv ? ( menunjuk ke dakon ) 25 Sam maniknya biru. Negatif tu yang sini Sam ! ( menunjuk ke papan dakon jalur bawah ). Ini kurang 5 1,2,3,4,5,6 ( meletakkan manik biru ke papan dakon ) Sam, ini itu cuma kurang 5. Ya udah tinggal diambil. hehehe ( mengambil satu manik biru ) Ini bener nggak si 25 ? Hitung aja ( menggabungkan manik merah dan manik biru ). 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12 Sisanya berapa ? 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 Manik biru. Brati pake pensil biru. ( menggambar di lembar kegiatan ) ( bermain dengan manik-manik ) ( Membereskan manik yang di papan dakon ). Sekarang -34 + 18. ( meletakkan manik di papan dakon ) Langsung 3 Liv. ( menunjuk ke papan dakon untuk – 34 ) Gak papa gini aja. Merahnya mana ? ( dengan nada tinggi ) Sabar to. Kamu kan jatahnya ngerjain. Gantian ni ! ( meletakkan pensil ke meja dan meminta Isam untuk menggantikan ) Kamu kan kemarin udah to. Gantian lah Ti. Ho’oh. Dah sekarang digabung. ( menggabungkan manik merah dan biru dibantu Isam). Negatif 17. ( menghitung pake tangan ). 16..16 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17 ( menghitung sisa manik yang di papan dakon). Iya negative 17 ( menggambar hasil di lembar kegiatan ). Hasilnya 16 kan ? ( bertanya ke guru ) Iya. Harusnya 16. Kelebihan 1 itu jawabannya. Coba dicek lagi jawabannya. ( kembali meletakkan manik merah dan biru dari awal serta menggabungkan kembali ). Oiya jawabannya 16. Bener to. Aku ngitung sendiri pake tangan. Sekarang – 19 + 8 . Jawabannya negative 11 ( menghitung pake tangan ) Comment [wa10]: S3 mengecek manik yang diletakkan oleh X2. O2/S3/B141-142 Comment [wa11]: S2 ingin tahu hasilnya. O2/S1/B160 Comment [wa12]: S3 mengecek jawaban kembali. O2/S3/B186-188 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 O T O I T O G SS G BS G T G T G O G O I G BS O G SS G SS G SS ( meletakkan manik ke papan dakon ). Ya bentar to Ti. Ya udah diitung dulu aja. Udah belum ? Belum. Digabung dulu. ( menggabungkan manik merah dan manik biru ). Sisanya 11. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11 ( menghitung sisa manik ) Bener kan. ( menulis jawaban di lembar kegiatan) Suasana kelas sudah mulai ramai ( membereskan manik yang sudah dipake dan memasukkan ke dalam kotak ) Yuk sekarang dicocokkan. No 1 jawabannya berapa ? Negatif 11. Ada yang salah ? Ada Coba sekarang -54 + 43 itu berapa ? Negatif 11 Lebih banyak yang positif ato negative ? Negatif Jadi hasilnya ? Negatif 11. Yuk semuanya maniknya dimasukkan dulu Udahhh.. ( menggambar kartun di buku tulis ) Suasana semakin ramai Selanjutnya -21 + 35 hasilnya ? 16 16 Iya 16. Lebih banyak postif ato negative ? Positif Lalu hasilnya ? Positif Sekarang diberesin semua. Waktunya sudah selesai. Lembar kegiatannya dikumpulkan ke depan. Ya Bu Suasana kelas semakin ramai karena pergantian jam pelajaran 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.6 Transkip Kegiatan Belajar Mengajar Menggunakan Alat Peraga Pertemuan Ketiga TRANSKIP PENELITIAN PERTEMUAN KETIGA Hari/tanggal : 17 Januari 2014 Keterangan Subyek 1 : Guru ( G ) Subyek 2 : Isam ( I ) Subyek 3 : Olive ( O ) Subyek 4 : Tia ( T ) BS : Beberapa siswa SS : Semua siswa Xn : nama siswa ke-n, n = 1,2,3,4,5,… Guru 2 / mahasiswa : G2 Guru membuka pelajaran dengan salam dan tanya jawab materi yang telah dipelajari Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Subjek G SS G BS G SS G O T I G T G O G O BS G Percakapan dan Kegiatan Selamat pagi anak-anak. Pagi Bu.. Masih ingat pelajaran yang kemarin ? Masih Kalo negative ditambah negative hasilnya apa ? Negatif Negatif ditambah positif. Yang positifnya lebih besar. Hasilnya apa ? Positif ( mengotak atik dakon yang di meja ) ( Ngobrol dengan sebelahnya ) Hasilnya apa Penta ? Kevin ?. Kalo negative ditambah positif tapi postifnya lebih banyak. Hasilnya positif ato negative ? Positif ( dengan suara yang keras ) Positif. Kalo yang negatifnya lebih banyak ? Negatif Nah sekarang kita mau belajar pengurangan. Coba kalian pasangkan 12 – 4. Kalo sudah hitung manik merah 12 lalu berikan ke papan seperti biasanya. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12. Sudah ? Sudah ( meletakkan manik merah ke papan dakon ) Sudah Lalu dikurangi 4. Berarti diambil 4. Kita ambil 4 Comment [wa1]: S3 masih ingat materi dan menjawab pertanyaan guru. O3/S3/B9 Comment [wa2]: S4 mencoba menjawab dan hasilnya benar. O3/S4/B15 Comment [wa3]: S3 aktif menjawab. O3/S3/B17 Comment [wa4]: S3 langsung meletakkan manik yang diperintahkan guru. O3/S3/B22-23 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 T BS G O G BS G BS G O G SS G X8 G O G X8 G G X8 G X8 G X8 G O X8 G T O X2 G manik positif ( mengambil 4 manik postif ) ( mengambil 4 manik positif ). Delapan Delapan Iya delapan. Sekarang coba kalian pasangkan 12 – (-3) manik merah. Trus dikurangi -3. Brati situ ada manik birunya nggak ? Ada ( sambil mencoba memasangkan manik biru ) Negatif 3 ada manik birunya nggak ? . Ada Kan diambil negative 3. Ada manik birunya nggak ? Ada Diambil negative 3. Disitu kan nggak ada manik birunya. Jadi kita harus member manik biru ( menghitung kembali manik yang di papan dakon dan membuka kunci jawaban ) Sekarang coba Satria maju. Yang lain melihat yang di depan ya. Coba kerjakan -9 + 2. Kalo sudah sekarang dipasangkan. Dipasangkan berapa Satria ? 2. Dipasangkan 2 manik yang mana Satria ? Ini ( sambil memasangkan manik merah dan manik biru ) Lho salah..kalo memberikan di sini berarti harus mengambil manik pasangan dulu. ( memberikan contoh ) Negatif 7 Nah coba sekarang dimainkan Gini Bu ? ( memasangkan manik merah dan manik biru ) Iya. Trus dimasukkan ke dalam dakon. ( memasukkan manik ) Nah sekarang baru bisa dibuang. Diambil positif 2. ( mengambil manik negative ) Positif 2 Satria. ( mengambil manik postif ) Nah bener. Setelah itu diitung sisanya berapa. Sisanya berapa ? Semua siswa memperhatikan ke depan 1,2,3,4,5,6,7 ( menghitung manik ) 7. Positif ato negative ? Negatif 7 Negatif Nah gitu ya Satria. Jadi kalo mau memasukkan harus 1 pasang. Yuk Abe maju. Coba Be -9 – 3 berapa ? Aku mau ( mencoba mengerjakan dengan tangan ) Aku Bu..aku Bu..( sambil mencoba mengerjakan menggunakan manik) ( mulai meletakkan manik ke dakon ). Iya bener dimasukkan negative 9 nya. Terus dipasangkan ke berapa Be ? Comment [wa5]: S4 langsung mengambil manik dan langsung dihitung. O3/S3/B27 Comment [wa6]: S3 memastikan jawaban dengan membuka kunci jawaban. 03/S3/41-42 Comment [wa7]: S3 memberikan jawaban setelah menghitung menggunakan tangan. O3/S3/B54 Comment [wa8]: S3 menjawab karena sudah menghitung. O3/S3/B70 Comment [wa9]: S4 ingin mencoba mengerjakan menggunakan tangan. 03/S4/B75-76 Comment [wa10]: S3 ingin mencoba mengerjakan juga. O3/S3/B77-78 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 X2 G X2 G O G X2 G X2 G O I G X9 G X9 G X9 G X9 G X9 G I O T G T G X9 G X9 G X9 G X9 G I G BS G Positif 3 Iya bener ( memasangkan manik merah dan manik biru kemudian diletakkan ke dakon sebelumnya ). Iya betul. Terus bisa diambil ? Tiga Iya bener. Sisanya berapa Be ? 12 Negatif ato positif ? Negatif Iya bener. Bener ya anak-anak. Sekarang Kevin maju ke depan. Aku maju Bu ( sibuk main dakon dan ngobrol dengan teman sebelahnya) Coba Kevin kerjakan -10 – 5 hasilnya berapa ? ( memasukkan 10 manik biru ) Disitu ada berapa negatifnya Vin ? 10 Dikurangi berarti diambil. Disitu ada yang bisa diambil nggak positifnya ? Nggak ada ( menggelengkan kepala ) Nggak ada. Berarti harus dipasangkan dulu baru dimasukkan. Berapa pasangannya ? 5. 5. Itu baru merah tok. Pasangannya mana ? Pasangannya dengan biru ( menunjuk ke manik biru yang di dalam kotak ) ( mengambil manik merah dan biru yang di dalam kotak ) Merahnya ada 5 birunya ada 5 Aku mau nggambar ah. ( mengambil buku tulis ) Ini disini Ti ( mengambil manik untuk mencoba mengerjakan ) Oiya. ( sambil garuk kepala ) Suasana kelas menjadi ramai dan beberapa siswa tidak mendengarkan Nah baru dimasukkan Itu lho 5 Sam. Mbok dilihat soalnya di papan tulis tu Birunya dimana ? ( meletakkan di jalur dakon positif ) Birunya diletakkan dimana Vin ? ( meletakkan di jalur dakon negative ). Nah iya bener. Nah sekarang baru bisa merahnya yang diambil. ( mengambil manik merah ) Nah sisanya berapa ? Negatif 15 Iya negative 15. ( menuliskan jawaban di papan tulis ) Tepuk tangan buat Kevin Gitu ya. Semua sudah bisa. Sudah Bu….( menjawab serentak ) Yuk semua sekarang dikerjakan I1. Disitu ada -5 – (- 5 ). Coba semua -5 dimasukkan ke dakonnya. Comment [wa11]: S2 tidak memperhatikan malah subjek ingin menggambar.O3/S2/B113 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 T I O T G T G T G I G BS G SS G T G T O G X2 G BS G BS G G BS G BS G I T G O T G T I ( tidak mau mengerjakan dengan temannya malah bermain dengan tali sepatunya ) ( mencari kartu I1 ) ( memasukkan manik ke dakonnya ) Berapa Bu soalnya ? -5 – (-5) 0 Bu jawabannya. -5 dikurangi diambil ato ditambahkan ? Dikurangi Dikurangi ato ditambahkan ? Diambil Disitu ada – 5 ? Ada Lalu diambil 5 ( mengambil manik yang di dakon ). Lalu hasilnya ? 0 Iya 0. Sekarang I4. Soalnya apa Buk ? ( dengan nada keras ) Main sama temenmu. Ayo bareng-bareng sama temenmu ( meminta T untuk bermain dengan teman kelompoknya ) ( membalikkan badan dan bermain dengan teman kelompoknya ). -3 Bu -6 – (-3 ) hasilnya berapa ? - 3 ( dengan suara yang keras ) Berapa ? -3 Kita buktikan. Manik birunya ada berapa ? 6 Yuk semuanya dakonnya dimainkan ( sambil meletakkan manik ke dakon ). Semua kelompok memainkan dengan dakonnya Selanjutnya diapakan ? Diambil berapa ? -3 Berarti tinggal berapa ? ( mengambil manik biru ) -3 Iya bener. Aduh jatuh maniknya Ambil lah Sam ( meminta I mengambil manik yang jatuh) Sekarang coba Reza maju. Kamu mainkan I8. ( beberapa menit mengerjakan soal dengan menggunakan dakon ) - 12 Bu Iya. Aku ngitung pake tangan ( Beberapa menit kemudian setelah selesai menghitung ) Dah ya bisa. Kalo sudah kalian kerjakan soal latihan yang Bu Dian bagi. Sekarang kamu Sam gantian nulisnya Nggak mau ah ( Semua kelompok mengerjakan soal yang telah dibagikan dan suasana kelas masih dalam keadaan ramai ) Comment [wa12]: S4 sudah mulai bosan sehingga subjek bermain dengan tali sepatu. O3/S4/B138-139 Comment [wa13]: S4 langsung menjawab krena sudah menghitung dengan tangan. 03/S4/B144 Comment [wa14]: S2 mencoba menjawab dan jawaban benar. O3/S2/B148 Comment [wa15]: S1 meminta semua siswa membuktikan jawaban. 03/S1/B166 Comment [wa16]: S1 mengecek pemahaman siswa dengan meminta siswa mnegrjakan soal di depan. 03/S1/B180-182 Comment [wa17]: S3 dan S4 saling menjawab karena sudah menghitung. O3/S3/S4/B183-184 Comment [wa18]: S4 sudah mulai bosan mengerjakan soal. O3/S4/B189 Comment [wa19]: S2 tidak mau menggantikan posisi S4 sebagai penulis jawaban. O3/S2/B190 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 G SS G BS G T BS G SS G T G T I G T G BS G G SS G BS G G O G SS 15 menit kemudian…. Sudah selesai belum ? Sudah Coba sekarang semua memperhatikan ke depan. ( menuliskan beberapa soal di papan tulis ). 9-(-9) hasilnya berapa ? 18 Nah pinter. Kalo 11-(-1) berapa hasilnya ? 12 12 Bu Oke. Kalo 1-(-11) berapa ? 12 Ini yang terakhir, kalo 13 – (-13 ) berapakah hasilnya ? 26 ( dengan suara yang lantang ) Iya benar ( menulis jawaban di papan tulis ). Dah jelas ya. Pokoknya kalo disini positif terus ada tanda (-) tinggal dijadikan tambah. ( Guru memberikan penyimpulan dengan menulis poin penting di papan tulis ). Nah coba sekarang setiap perwakilan kelompok kursinya 1 ditaruh sini. Dibuat kotak ya. 1,2,3,4 ( meminta siswa meletakkan 1 kursi ke depan membentuk kotak ) Ayo dibantu Sam ( sambil mengankat kursi ) Iya..iyaa 3 menit kemudian kursi yang di depan sudah membentuk kotak dan guru meminta dakonnya diletakkan di atas kursi Yuk dakonnya diletakkan di atas kursi . Nanti mainnya 2 orang- 2 orang Perwakilan setiap kelompok meletakkan dakon di atas kursi Bel istirahat berbunyi Bel Bu.. Diteruskan nanti ya ( sambil mengangkat tangan ) Oke Bu Yuk berdoa dulu sebelum istirahat 15 menit kemudian bel masuk berbunyi. Siswa baris di depan kelas dan masuk ke kelas. Guru pun telah datang Selamat siang anak - anak Siang Bu.. Sudah berdoa belum ? Belum Sekarang berdoa dulu Setelah selesai berdoa….. ( menuliskan beberapa nama di papan tulis sebagai tanda siswa yang maju bertanding ) Olive, Pinka, Nina, Reza. Pokoknya nanti dimainkan dulu baru jawab. Kalo yananti yang langsung menjawab kena skor / gugur. Oke. Jadi nggak boleh ikut Bu ? Nanti ganti yang main. Kalian kan kelompoknya ada 2-2. Nanti kalian berkelompok memainkannya. Jadi kalian kerjasama. Paham ya. Paham Comment [wa20]: S1 menulis soal di depan dan semua siswa memperhatikan ke depan. O3/S1/B197-199 Comment [wa21]: S1 memberikan kesimpulan materi yang telah dipelajari dan membuat permainan supaya siswa tidak bosan. O3/S1/B209216 Comment [wa22]: S1 menjelaskan aturan permainan. O3/S1/B240-244 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 G O X2 O X2 O X11 G X1 G X12 O G T G O G X11 O T G X2 O G O X2 O X2 O G X10 G O G O G O Coba 9 – 15 sama dengan berapa 9 – 15. ( meletakkan manik merah ke dakon ) Manik 9 nya mana Liv ? ( meletakkan manik biru ke dakon ) 9 Liv. Kamu naruh berapa ? Oiya. Trus gimana ? ( dengan wajah bingung ) Bu udah ( mengangkat tangan ) Berapa ? 6 6 ?. Salah. Gugur ya kelompoknya N Lhoh. Berarti udah nggak boleh main lagi dong Buk Apa e Ti ( dengan nada jengkel ke Tia ) Nanti Maksudnya nggak bolehnya sekarang Ho’oh ( memasangkan manik merah dan biru, serta menghitung sisa manik ). Bu udah. Negatif 5 ( sambil mengangkat tangan pertanda kalau sudah selesai ) Berapa P ? karena kelompok P sudah mengangkat tangan terlebih dulu Negatif 6 Yahh. ( dan mencoba menghitung kembali sisa manik pada papan dakonnya ) Harusnya negative 6 Oke STOP. Yak betul . Nanti kalo udah 5 kali maen gantian sama temennya ya. Coba sekarang carilah soal D3. ( mencari soal D3 ) ( mencari soal D3 di kotak ) D3. Langsung dikerjakan ya. D3 ya..D3 (menjelaskan kembali no soal yang harus dikerjakan ) ( mengambil manik biru dan langsung diletakkan di papan dakon ) 23 ( melengkapi manik biru yang kurang ) 21 maniknya A ( mengambil manik biru yang sudah diletakkan A ). 15 manik merah ( mengambil manik merah dan diletakkan di papan dakon ) Digabung ( menggabungkan manik merah dan manik biru) ( membantu menggabungkan manik merah dan biru ) P berapa jawabannya ? Negatif 6 Coba kita lihat jawabannya. Negatif 6. Yah padahal kita udah benar jawabannya ( sambil membereskan manik yang di papan dakon ) Jangan curang ya. Yang lain boleh melihat, kalo udah melihat bilang aja wow udah lihat. Gitu ya. Oke (membereskan manik yang di dakon ) Sudah belum ? Bentar Bu ( memasukkan manik ke kotak ) Comment [wa23]: S3 tiba-tiba bingung ketika mengerjakan soal pada waktu bermain. O3/S3/B255 Comment [wa24]: S3 salah menghitung. O3/S3/B273-274 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 T O X2 T O G O G X2 O X2 G O G O X2 I G BS G BS G G O X2 T O X2 I O I Bentar Bu..bentar Bu ini belum selesai beresinnya. Aduhh…aduh kecampur ( panik salah meletakkan manik biru dan merah. Kedua manik tersebut tercampur menjadi satu ) Bentar-bentar Liv. ( memisahkan manik yang tercampur ) Bentar Bu ( dengan suara lantang ) Bentar lagi Bu ( memisahkan manik yang tercampur ). Udah-udah Bu Coba D4 D ato G ? G4 14 ( berbisik ke O karena menghitung menggunakan tangan ) ( mengerjakan dengan manik ) ( mengangkat tangan ) Bu Coba A jawabannya berapa ? 0 Coba dibuka jawabannya 14 ( membuka jawaban di kartu soal ) Ya salah lagi. Tu kan bener yang aku bilang tadi Ini jadi tambah Bu ( mengambil kartu soal dan menunjukkan ke guru ) Coba 7 yang pertama merah ato biru ? ( sambil memegang kartu soal ) Merah Merah. Terus dicari pasangannya 7 dulu barulah diambil. Jadi jawabannya 14. Coba ulangi ya ( menunjukkan dengan menggunakan dakon ). Positif 7 itu kan yang merah kan. 1,2,3,4,5,6,7. Dikurangi berarti diambil negative 7, ada yang birunya nggak ? Nggak ada Nggak ada. Makanya harus cari pasangan 7. ( dibantu dengan siswa mencari pasangan 7). 1,2,3,4,5,6,7. Nah terus diambil pasangannya berapa ? Diambil negative 7 Suasana kelas agak ramai karena sebagain siswa tidak menyimak penjelasan guru di depan Yuk sekarang cari F3 Ini 5 A ( mengambil manik sisa manik di papan dakon ). Sekarang menggabungkan ( menggabungkan manik merah dan manik biru sebanyak 15 dan diletakkan di bangku ) (membantu menggabungkan manik merah dan manik biru ) Belum Bu (meletakkan 15 manik merah ke papan dakon dan digabungkan dengan 5 manik merah yang sudah di papan dakon ). Kamu yang biru A ( meletakkan 15 manik biru ke papan dakon ) ( mengambil manik merah di tangan O ) Kamu nggak boleh ( mengambil manik yang di tangannya I ) Bantu-bantu 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 X14 G X14 I G O G G I G T I O T O I T I T X14 G X14 G BS G T I O T G I T G I T I T O T ( mengankat tangan tanda kalau sudah selesai ) Ya P berapa ? Positif 10 Kebalik ( mengomentari jawaban P ) Negatif 10. Ininya udah bener , merah itu positif . Kamu kebalik malah yang biru. ( menghitung sisa manik yang di papan dakon ). Benar jawabannya. Dah sekarang gantian dengan teman yang lainnya. Pergantian pemain Coba sekarang cari kartu I10. ( mecari kartu I10 ) Pemainnya gantian ya Kalo negative itu maniknya apa ? merah ato biru ? ( merasa kebingungan ) Negatif tu biru ( mengambil dan meletakkan manik merah di jalur bawah ) Kebalik ( sambil menunjuk papan dakon ) Kebalik ? (memutar papan dakon ) ( kembali meletakkan manik biru ) Merah tu buat apa ya ? ( bingung dan tengok kanan kiri ). Merah..merah..merah..(sambil memukul bangku ). Ini negative apa positif ( bertanya ke I sambil menunjuk kartu soal ) Positif ( sambil meletakkan manik ke papan dakon ) ( meletakkan manik ke papan dan menghitung sisa manik yang telah digabungkan ) Udah Bu Berapa Ab ? Negatif 15 Coba dilihat jawabannya Salah..salah..salah..( tepuk tangan ) Bener ya. Sekarang lanjut. Belum Bu ( sambil mengembalikan manik ke kotak ) Baru diberesin ( mengembalikan kartu ke kotak ) Tu ada yang jatuh ( menunjuk manik yang di bawah bangku ) Sini..sini ( mengambil manik yang jatuh ) Sekarang cari H5 ( mencari kartu soal di kotak ) (ikut mencari kartu sambil memegang manik ) H5 ya. Caranya gimana ? Kalo dikurangi itu diambil. ( meletakkan manik biru ke dakon ) Heh !! kok merah ? Kamu tu biru ( mengambil manik merah yang sudah diletakkan dan meletakkan 15 manik biru ) ( meletakkan manik merah ) Kebalik itu tu Kebalik ? ( membalik papan dakon dan melanjutkan meletakkan manik merah ke papan dakon ) Comment [wa25]: S4 merasa bingung saat mengerjakan soal. O3/S4/B376-377 Comment [wa26]: S2 menjawab pertanyaan S4. O3/S2/B378-378 Comment [wa27]: S4 panik dan bingung saat mengerjakan soal. O3/S4/B384-387 Comment [wa28]: S2 selalu mencoba mengerjakan walaupun jawaban salah. O3/S2/B405 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 I G T G T G I BS G T G BS G BS G BS G T I G BS G BS G (menggabungkan manik merah dan manik biru ) Ayo..ayo..ayo.. ( ikut membantu menggabungkan manik merah dan manik biru ). Bu..Bu..Bu.. ( sambil mengangkat tangan sebagai tanda kalau sudah selesai ) Tia berapa ? Negatif 5 Coba dilihat jawabannya ( membuka kunci jawaban ). Negatif 25 Negatif 25 Iya negative 25. ( mengambil dan membereskan manik yang di papan dakon ) Sekarang Tia coba diperhatikan ( menjelaskan menggunakan dakon). Negatif 15 berati yang diambil manik merah atau biru ? Biru Terus gimana ? dikurangi negative 10 berarti cari pasangan 10 terus digabungkan. Hasilnya berapa ? Negatif 25 Iya negative 25. Sudah paham ya ? Sudah Suasana menjadi ramai karena jam pelajaran hamper selesai Sekarang bangkunya dikembalikan dan alatnya diberesin semua. (membereskan dakon dibantu I ) ( setelah selesai membereskan, mengembalikan bangku ke tempat semula ) Dakonnya dikumpulkan ke depan Beberapa siswa mengumpulkan dakon ke depan . Bel pergantian pelajaran berbunyi Bel Bu..bel Bu.. ya sebentar. Hari ini yang kita pelajari, kalian sudah paham atau belum ? Sudah …. Oke kalo gitu. Sekarang ketua kelas memanggil gurunya Dan guru menutup pelajaran Comment [wa29]: S4 mencoba menjawab dan jawaban salah. O3/S4/B420-423 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.7 Verbatime Wawancara Guru Sebelum Menggunakan Alat Peraga Montessori Hari/tanggal : Kamis, 9 Januari 2014 Jam : 12.45 – 13.00 Keterangan : Wawancara sebelum menggunakan alat peraga kepada guru dilaksanakan ketika guru selesai mengajar dan dilaksanakan di ruang guru Subyek 1 : Guru ( G ) Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Baris Hasil Wawancara 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Selamat Pagi Bu Selamat pagi Eee..maaf mengganggu waktu ibu Iyaa.. Nama lengkap Bu Dian siapa ya ? Nama lengkap saya Dian Kartika Sabatini Oooo iya. Bu Dian sudah lama mengajar di SD Karitas ini ? Saya kurang lebih dalam 8 bulan ini Hmmm….sebelumnya mengajar dimana Bu ? Saya belum pernah mengajar. Baru lulus kemarin. hehehe Lulusan dari mana Bu ? Sanata Dharma” PGSD? PGSD Sanata Dharma iyaakkk..Eee…waktu mengajar di SD Karitas, mengajar kelas berapa Bu ? Langsung ke kelas IV. Menjadi ? Menjadi guru kelas Oooo…guru kelas. Berarti semua mata pelajaran ? Iyaaa…pas semester pertama itu awal-awalnya semua mata pelajaran, laluuuu diiiiidiskusikan lagi sehingga saya hanya mengajar Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Jawa dan PLH. Hmmmmm….Okkeee.. Nah untuk matematika biasanya perasaan ibu bagaimana saat mengajar ? Yaaa…karena saya sendiri senang matematika, yaa…..enjoy gitu aja. Enjoy. Dengan anak-anaknya ? Anak-anaknya yaa relative ya. Ada yang langsung bisa mengerti, ada yang…harus berulang kali Oooo… Gitu Untuk pembelajaran matematikanya sendiri apakah ibu sering menggunakan alat peraga atau hanya menggunakan metode ceramah ? Yaa.. untuk alat peraga memang jarang digunakan tapi apabila disitu ada alat peraga yang bisa digunakan misalnya seperti jaring – jaring kubus itu disitu kan di kelas itu kan ada kotak berbagi. Nah dengan kotak itu kita digunakan untuk alat peraga. Jadi memang alat peraga disini tidak dii..rancang secara khusus tapi hanya…. Menggunakan.. Comment [wa1]: Nama lengkap subyek. W1/S1/B6 Comment [wa2]: Pengalaman subyek mengajar. W1/S1/B8 Comment [wa3]: Pengalaman kuliah subyek.W1/S1/B12-14 Comment [wa4]: Subyek langsung mengajar kelas IV. W1/S1/B16 Comment [wa5]: Subyek langsung menjadi wali kelas.W1/S1/B18 Comment [wa6]: Mata pelajaran yang diampu mulai semester 1 dan 2.W1/S1/B20-22 Comment [wa7]: Perasaan Guru senang saat mengajar Matematika. W1/S1/B23-25 Comment [wa8]: Pemahaman anak berbedabeda. W1/S1/B27-28 Comment [wa9]: S1 menatakan tidak ada rancangan khusus untuk alat peraga. W1/S1/B36 Comment [wa10]: Saat KBM guru menggunakan alat peraga yang di sekitar. W1/S1/B31-37 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Menggunakan yang ada di sekitar. Iyaa…terus bagaimana pendapat siswa dengan alat peraga yang ibu gunakan itu ? Ya kalooo… Mereka lebih tertarik atau gimana perasaannya ?” “ Perasaan siswa yaa senang..karena bisa langsung melihat. Oooo…ini yang dimaksud kubus, ooo ini bedanya kubus dengan persegi. Kadang mereka kan bingung antara bangun ruang dengan bangun datar. Bangun ruang dan bangun datar . Jadi siswa lebih senang menggunakan ? Menggunakan alat peraga. Yakk betul. Nah terus bagaimana pendapat ibu tentang penggunaan alat peraga itu. Apakah akan terus digunakan ato yaaa Cuma kalo ada alat peraga ya menggunakan kalo tidak ya tidak menggunakan ? Yaa…kalo saya sendiri sebenarnya lebih baik kalo ada alat peraga selalu digunakan, tapi karena memang kondisinya alat peraga sangat minim jadi kalo ada ya baru digunakan, kalo gak ada ya bagaimana caranya kita. Ooo iya Bu. Kalo ada ya digunakan kalo tidak ya dengan cara lain. Truss..bagaimana pendapat Ibu terhadap latihan soal yang anak-anak kerjakan ? Pas mereka menggunakan alat peraga atau tidak menggunakan alat peraga ? Yaaa…memang baik kalo ada alat peraganya ya. Nyata gitu ya Bu .. Iyaa betul. Seperti dulu waktu IPA itu saya menggunakan media video. Oooo…pake media video.” Iya..kalo pake media itu keinget pas film apa. Jadi kalo cuma…IPA kan banyak mengahafal , jadi dengan adanya film kayak metemorfosis gitu mereka lebih tertanemnya lebih dalem daripada kita cuma ceramah. Baikk bu..berarti lbu lebih memilih ? Menggunakan alat peraga. Hehehe Apakah Ibu sudah pernah mendengar tentang alat peraga berbasis Montessori ? Iya saya sudah pernah mendengar. Di PGSD Sanata Dharma kan ada programnya juga. Kalo melihat alatnya saya belum pernah, tapi kalo konsepnya ada. Bagaimana pendapat Ibu tentang alat peraga Montessori ? Yaa…kalo menurut saya si bagus tapi selama ini saya belum pernah mengajar memakai alat peraga tersebut. Menurut Ibu apakah materi bilangan bulat bisa menggunakan alat peraga berbasis Montessori ? Ya bisa-bisa aja sih mbak. Tapi saya tidak tahu alatnya seperti apa. hehehe Menurut Ibu apakah menggunakan alat peraga Montessori itu ribet atau susah ? Ya setau saya siii…..dulu pas saya kuliah tu denger-denger kalo alat peraga Montessori itu ribet karena harus teliti dan kata teman saya itu harus sabar. Hehehehe. Saya sendiri juga belum pernah menggunakan si. hehehe Untuk guru-guru di SD Karitas ini apakah sudah ada yang pernah pakai alat peraga Montessori untuk mengajar Bu ? Saya rasa belum ada ya Mbak. Disini kan gurunya dari berbagai jurusan tidak hanya dari PGSD saja jadi saya rasa belum ada. Ooo..gitu Bu. Emang dari jurusan apa saja Bu ? Ya ada yang dari PGSD tapi belum pernah pakai alat peraga Montessori, dari pendidikan Matematika, dari pendidikan akuntansi dan apa ya aku lupa mbak. hehehe. Berarti baru besok ini ya Bu anak-anak menggunakan alat peraga Montessori ? Comment [wa11]: Guru menggunakan alat peraga di sekitar kelas. W1/S1/B39 Comment [wa12]: Perasaan siswa senang jika menggunakan alat peraga. W1/S1/B44 Comment [wa13]: Siswa lebih senang menggunakan alat peraga. W1/S1/B48-49 Comment [wa14]: Lebih baik menggunakan alat peraga tapi karena minimnya alat peraga. W1/S1/53-55 Comment [wa15]: Latihan soal lebih baik menggunakan alat peraga. W1/S1/B60 Comment [wa16]: Pengalaman guru menggunakan media. W1/S1/B62 Comment [wa17]: Menurut subyek tentang kelebihan menggunakan alat peraga yaitu penanaman konsep lebih. W1/S1/B65-66 Comment [wa18]: Guru memilih menggunakan alat peraga. W1/S1/B67-68 Comment [wa19]: Belum pernah melihat alatnya tetapi sudah memiliki konsepnya. W1/S1/B72-73 Comment [wa20]: Guru belum pernah menggunakan alat peraga berbasis Montessori sebelumnya. W1/S1/B75-76 Comment [wa21]: Menurut subjek bilangan bulat bisa menggunakan alat peraga Montessori. W1/S1/B79 Comment [wa22]: Subjek mendapat informasi kalau alat peraga Montessori itu ribet. W1/S1/B83 Comment [wa23]: Menurut subjek menggunakan alat peraga Montessori harus teliti. W1/S1/B83 Comment [wa24]: Selain teliti, subjek mengatakan harus sabar jika menggunakan alat peraga Montessori.W1/S1/B83 Comment [wa25]: Subjek berpendapat jika guru di SD ini belum pernah ada yang menggunakan alat peraga Montessori. W1/S1/B87 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 Iya mbak baru pertama kali. Sebelumnya belum pernah. Kalo menurut Ibu rumit nggak alat peraga Montessori itu ? Yaaa karena saya belum pernah memakainya dan saya hanya dengar dari temanteman kalo alat peraga Montessori itu rumit dan biayanya pasti mahal kalo buat alatnya Mbak. Kan alatnya macem-macem to. Ooo..gitu ya Bu. Apakah Ibu sudah pernah mengikuti program / seminar Montessori pas dulu masih kuliah ? Belum mbak. hehehe Kira-kira menurut Ibu apakah nantiny siswa akan senang dengan adanya alat peraga Montessori pas materi bilangan bulat ? Ya menurut saya si pasti anak-anak senang karena ada alat peraga. Seperti yang sudah saya katakana di atas. Ooyya Bu. Besok semoga anak-anak senang menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Iya Mbak pasti seneng kok. Oooo..gitu ya Bu. Hehehe. Terimakasih Bu atas waktunya Iya sama-sama Mbak. Comment [wa26]: Siswa baru akan pertama kali menggunakan alat peraga Montessori. W1/S1/B95 Comment [wa27]: Menurut subjek alat peraga Montessori itu rumit.W1/S1/B98 Comment [wa28]: Menurut subjek alat peraga Montessori harganya mahal. W1/S1/B98 Comment [wa29]: Subjek belum pernah mengikuti program/seminar tentang Montessori. W1/S1/B102 Comment [wa30]: Menurut subjek anak-anak akan senang. W1/S1/B105 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.8 Verbatime Wawancara Isam (S2) Sebelum Menggunakan Alat Peraga Hari/tanggal : Sabtu, 11 Januari 2014 Jam : 10.00 – 10.10 Keterangan : Wawancara dilakukan ketika subjek mengerjakan soal pre-test di kelas Subyek 2 :I Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Baris Hasil Wawancara 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Sini dek,,udah selesai po ? namanya siapa ? Samuel ( dengan nada lirih) Siapa dek ? (Tanya kembali untuk menegaskan nama) Samuel ( dengan senyum) Oooo….Samuel. Panggilannya ? Isam Yang keras donggg…( sambil meyodorkan alat perekam) . Kamu kelas berapa to ? Empat to ? Rumahnya mana ? Nandan ( dengan nada lirih ) Yang keras dongg.. Nandan Oooo….Nandan. Seneng Matematika nggak ? Seneng bangettt ( sambil senyum ) Seneng banget ??? ( meyakinkan ) , juara pow ? Ikut olimpiade ? Enggak ( nada lirih ) Haahhhh ????? ( tidak mendengar ) Enggak Ooo..enggak. Senengnya kenapa ? Gurunya cantik ( sambil senyum dan mengutak – utik bolpoin ) Ooooo…gurunya cantik ( sambil senyum).Senengnya kenapa lagi ? ( dengan ketawa ) Yaaaaaa…..seneng aja Seneng aja. Pelajaran apa yang seneng ? , pelajaran matematika pas materi apa ? Hmmmmmmmm……( sambil berpikir ) tik tok tik tok ( sambil senyum ). apa ? pas semester satu materi yang apa ? Pembulatannnnn… Terus ? Cuma itu ? Perkalian, pembagian, penjumlahan Ooo..Perkalian, pembagian, penjumlahan Iya..( mengangguk ) Pengurangan suka nggak ? Hmmmmm….. Cumaa itu ?( antusias bertanya ) Iya. ( Mengangguk ) Yang semester dua apa ? Comment [wa1]: Subjek senang Matematika. W1/S1/B14 Comment [wa2]: Materi yang disenangi subjek W1/S2/B28-30 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 ( nanannananannana dengan nada lirih ) Yang keras dong Ini ( sambil menunjukkan soal pre-test) Apa ?, bilangan bulat mudah bagimu ? Mudah po ? Yaaaaaaa…..( sambil ketawa) Udah belajar po di rumah ? Udah ( mengangguk dengan suara lirih ) Pinter bangettt, udah belajar po di rumah ? Udahhh ( senyum ) Belajar sama siapa di rumah ? Hmmm…sama ibuk, kadang-kadang sama bapak,kadang-kadang sama kakak (garuk-garuk kepala ) Pinter yaa…ibukmu guru kah ? Enggak kok Kakakmu kelas berapa ? ya tergantung. Yang disini SMP Oooo…SMP. Kalo penjumlahan dan pengurangan itu pake alat gak ? ( malu-malu dan ingin menghindar) Ehhh…gakpapa. Nanti kamu terkenal lho. Kalo penjumlahan dan pengurangan pake alat gak bu gurunya ? ( Diam sejenak ) Hahhh ??? Pake alat nggak gurunya ? Kadang-kadang (dengan suara lirih) Kalo pas matematika gurumu ngajarnya udah pernah pake alat peraga belum ? Eeee…..udh. Pas semester berapa ? Semester 1 Pake apa ? Eee…apa ya ? Apa hayo ? Pake roti, trus dikasih selai dan dimakan. Hehehehe. Brati tentang pecahan ya ? Iya kayaknya. hehe Lho kok kayaknya. Gimana e Sam Hehehe Setelah itu trus dah pernah pake alat peraga lagi belum ? Hmmm…lupa. ( sambil menggaruk-garuk kepala ) Kok lupa ? Belum. Kamu kan tadi bilang kalo suka penjumlahan dan pengurangan . Nah itu pake alat gak ? (malu-malu dan ingin menghindar) Ehhh…gakpapa. Nanti kamu terkenal lho. Kalo penjumlahan dan pengurangan pake alat gak bu gurunya ? ( Diam sejenak ) Hahhh ??? Pake alat nggak gurunya ? Kadang-kadang” (dengan suara lirih) Hah ?? ( mengulang jawaban karena tidak jelas) Kadang-kadang . Yaaaa paliiiing Alatnya apa ? ( Diam dan tidak menjawab ) Apa alatnya ? Kaya…kaya…dikasih kaya apa tuh ? Permen ? Bukan. Comment [wa3]: Materi semester 2 yang disenangi subjek . W1/S2/B40 Comment [wa4]: Subjek sudah belajar sebelumnya di rumah.W1/S2/B44 Comment [wa5]: Guru menggunakan alat peraga hanya kadang-kadang.W1/S2/B60 Comment [wa6]: Guru menggunakan alat peraga saat semester 1.W1/S2/B65 Comment [wa7]: Menurut subjek, guru belum pernah menggunkn alat peraga lagi. W1/S2/B77 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 Hah ?, Sedotan ? Bukan Apa to ? Pake itu lho kaya hemmhemmmhemm Hah ??? Apa ? Hmmm…. Penjumlahan itu pake alat yang kaya gimana gituuu ( sambil menjelaskan ke temannya) Pas dulu semester satu itu lho Apa e ? Pas penjumlahan,pengurangan itu lho. Bukan makanan !”( dengan nada keras) hahahahahaha ( ketawa). Pake alat nggak ? Kamu kalo matematika lebih suka pake alat ato nggak ? Enggak ! ( dengan suara jelas ) Kenapa enggak ? ( jawaban nggak jelas ) grrgrgrgrgr Aku lebih suka pake alat ( Teman subyek menyela pembicaraan ) Kalo kamu lebih suka pake alat ato enggak ? Yaaaa….dua-duanya”( tertawa ) Dua-duanya. Kamu tau nggak ini nanti pake alatnya apa ? ( sambil menunjukkan soal pre test ), pake alat apa kira-kira bilangan bulat ? ( hmmmm…. ngomong sendiri) Pake alat nggak ? Pake ! Apa ? hahahaha…taaangan ( dengan nada lirih ) Hah ? apa ? ( memastikan jawabannya kembali ) Tangan…( sambil tertawa ) hahahaha Lha kalo dua puluh jari gimana ?, kamu pinjem punya temennya jarinya ? ( sambil ketawa ) Enggak . ( tertawa ). Pesawat ! Ya bukan. Lainnya apa hayo ? Kotak ?? ( Sambil menunjuk temannya ) Hayoo apa ?, pake alat nggak ? kamu lebih suka pake alat ato enggak to ? Pake ( teman menyela pembicaraan) Kenapa to ? Ya..ya..ya..lebih mudah Ooo..lebih mudah. Suka alatnya yang kaya gimana ? Yang nggak warna-warni Kenapa kok yang nggak warna – warni ? Nggak suka ( sambil tersenyum ) Kaya anak kecil ya ? Hmmmm… Brati lebih suka pake alat ya ? Iya Matematika susah nggak si ? Yaaa….kadang-kadang ada yang sulit, kadang ada yang nggak Nek nilaimu gimana ?, bagus ato nggak matematika ? Yaaa…kadang-kadang ada yang bagus, yaa..kadang-kadang kalo kesusahan yaaaaa ( tengok kanan kiri ) Kemarin dia dapat 80 bu ( Teman subyek menyela dengan memberi informasi tentang nilain yang didapat subyek) Iya ??? Tertinggi ? Comment [wa8]: Subyek tidak suka menggunakan alat peraga. W1/S2/B107 Comment [wa9]: Pendapat subyek tentang penggunaan alat peraga untuk materi yang akan dipelajari.W1/S2/B117 Comment [wa10]: Subjek tidak suka alat yang warna-warni.W1/S2/B132 Comment [wa11]: Pendapat siswa tentang matematika. W1/S2/B140 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9 Verbatime Wawancara Pertama Olive (S3) Sebelum Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Rabu, 9 Januari 2014 Jam : 11.50 – 12.15 Keterangan : Wawancara pertama dilaksanakan pada subjek O ketika pulang sekolah di ruang Perpustakaan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Subyek 3 :O Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “Siang Olive” “Iya Bu.” “Sudah makan ?” “Belum. Iya ni ada nasi .” ( sambil menunjukkan nasi yang di tangannya ) “Lhoh…Siapa yang ulang tahun ?” “Alan.” “Oowww…ulang tahun yang ke berapa ?” “Sepuluh.” “Dikasih apa aja ?” “Cuma ini.” “Olive.” “Iya. “ “Olive makan Olive. hehehe. Hehehe..bener. Tadi pelajaran apa si ? Matematika kan ?” “Bilangan bulat. “ “Iya bilangan bulat. Bu Dian jelasinnya pake apa?” “Pake tangan.” “Paham nggak ?” “Enggak. “ “Enggak. Kenapa enggak ?” “Bingung.” “Ehmm..kalo pas belajar Matematika kamu seneng nggak ?” “Seneng aku. Seneng sama basa inggris juga.” “Oooww..sama bahasa Inggris. Sama Bruder Robet ya ?” “Iya.” “Oww…….Bu Dian udah pernah ngajar pake alat peraga belum ?” “Udah.” “Pas pelajaran apa ?” “Matematika pertama kali”. “Materi apa ?” “Pecahan” “Pake alat apa ?” “Roti tawar dipecah-pecah terus dikasih selai terus dibagi-bagi. “Enak ya. Hehehehe. Terus perasaanmu pas belajar Matematika pake alat peraga seneng nggak ?” “Seneng. Gampang.” “Gampang. Ooo iya. Kalo menurut kalian belajar bilangan bulat lebih enak Comment [wa1]: Guru mengajarkan bilangan bult menggunakan tangan W1/S3/B17 Comment [wa2]: Subyek bingung dan tidak paham ketika menjelaskan menggunakan tangan. W1/S3/B19-21 Comment [wa3]: Seneng belajar matematika.W1/S3/B23 Comment [wa4]: Guru sudah pernah menggunakan alat peraga pertama kali.W1/S3/B2729 Comment [wa5]: Tanggapan subyek senang ketika menggunakan alat peraga.W1/S3/B386 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 pake alat peraga ato enggak ?” “Enggak. “ “Hah ?” “Enggak. Biasanya kalo di rumah enggak.” “Kalo di rumah enggak. “ “Kalo di sekolah seneng.” “Kalo di sekolah seneng pake alat peraga. Suka pake tangan ?” “Enggak. Kalo aku bayangin.” “Ooo..brati pake tangan kalo enggak bayangin. Eee…terus ee pinginnya alat peraga yang seperti apa kalo bilangan bulat ?” “Mirip dakon. “ “Ooo…sama mirip dakon.” “Biar nggak usah merhatiin. Maen-maen aja.” (sambil tersenyum ) “Biar apa ?” “Biar nggak usah merhatiin. Maen-maen aja. “ “Tadi udah ngerjain soal ?” “Udah.” “Salah berapa ?” “Semua.” “Ya ampun semua ?” “Iya. “ “Kamu soalnya ?” “ 5” “Salah semua. Ya ampun. Kamu itu. Brati susah ya kalo pake tangan ?”. “Iya. “ “Brati kamu pinginnya pake ?” “Alat peraga.” “Habis ini kalian ngapain ?” “Puuuulaaang.” “Udah dijemput po ?” “Paling dah ditungguin.” Ooo ya udah makasih ya. Dada Olive …” Comment [wa6]: Subyek senang menggunkan alat peraga di sekolah.W1/S3/B43 Comment [wa7]: Subyek lebih suka membayangkan daripada menggunakan tangan.W1/S3/B45 Comment [wa8]: Pingin alat peraga seperti dakon.W1/S3/B48 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.10 Verbatime Wawancara Kedua Olive (S3) Sebelum Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Sabtu, 11 Januari 2014 Jam : 09.30 – 09.40 Keterangan : Wawancara kedua dilaksanakan di dalam kelas ketika subjek sedang mengerjakan pre-test Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Subyek 3 :O Peneliti : P ( tulisan ditulis dengan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara Namamu siapa ? hehehe ( sambil bertanya ke samping subyek ) Gak tau Kamu aja deh . Namamu siapa ? hehehe Olive. Empat apa to ini ? Empat A. Empat A. Suka matematika nggak ? Suka ! Suka ?. Sukanya kenapa ? Hmmm…nggak tau. Nanti aku juga direkam ya ( teman subyek menyela pembicaraan) Iyaa…nanti. Yeeeee……( teman subyek tepuk tangan dan ngasih tau temannya kalo mau direkam ) Sukanya kenapa ? Nggak tau. Kok nggak tau ? Seruuuu gituuuuu. Seru gimana ?. Gurunya enak ? Enak banget. Cantik ya ? Iya. Trus suka Matematikanya pas materi apa ? pas semester satu materi apa ? Lupa. ( sambil tersenyum ) Kok lupa sii . Kalo semester satu sama semester dua susah mana ? Susah semester dua. Brati semester satu nilainya bagus-bagus. Iya. Pinter. Semester dua yang susah materi apa ? Bilangan bulat. Bilangan bulat ?. Bilangan bulat kenapa ? Dari penjumlahannya susah. Oooo….kamu mintanya apa ? mintanya angkanya yang kecil ? ( sambil ketawa ) Iya. Comment [wa1]: Subyek suka pelajaran Matematika.W2/S3/B8 Comment [wa2]: Alasana subjek suka matematika karena seru. W2/S3/B18 Comment [wa3]: Menurut subjek materi bilangan bulat susah.W2/S3/B30 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 Kalo angkanya yang kecil kamu bisa ? Bisa Kalo yang besar nggak bisa ? Susah ! Nah kalo angkanya yang besar ngitungnya pake alat apa ? Ngawur aja. hahaha Ngawur ? Ya ampun. . Kalo yang kecil pake jari ya ? Iya. Kalo kamu matematika senengnya pake alat nggak ? Enggak. Kenapa emangnya ? Aku senengnya jaritmatika. Ooo…kamu senengnya jaritmatika. Diajari siapa ?. Ooo…gini ya. ( sambil menunjukkan jari tangan ) satu, dua, tiga, Aku bisanya enam sampai sepuluh. Oooo…enam sampai sepuluh. Les ato gimana ? Diajarin mamah. Ooo…brati mamahmu pinter ya. hehe Sama basa inggris. Ooo…sama basa inggris. Brati basa inggrismu bagus ? Yaaa….”( sambil tersenyum ) Nilainya berapa ? Ada yang seratus, ada yang Sembilan enam. Kalo di semester ini kamu belajar Matematikanya pingin pake alat peraga nggak ? Ehhhmmm….enggak ah. Ribet ! Ribet gimana ? Ya ribet aja Ooooo….Suka pake alat nggak ? Enggak ! Dulu pas semester satu nggak ada alatnya ? Semester satu simpoa. Simpoa ? Kalo pas materi yang ee..brati nggak suka pake alat ? Nggak tau. Kalo pake alat senengnya yang warna – warni ato enggak ? Enggak. Biasa aja. Kenapa ? Nanti dikira anak kecil Kaya anak TK ya ?. Kamu suka warna apa ? Ungu. Ungu ? Sama dong. Comment [wa4]: Biasanya subyek mengerjakan soal bilangan bulat dengan ngawur. W2/S3/B41 Comment [wa5]: Subjek tidak suka pakai alat peraga ketika pelajaran matematika. W2/S3/B45 Comment [wa6]: Subyek tidak pingin pakai alat peraga karena ribet.W2/S3/B62 Comment [wa7]: Subyek tidak suka pakai alat peraga.W2/S3/B66 Comment [wa8]: Subyek tidak suka alat peraga warna-warni.W2/S3/B72 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11 Verbatime Wawancara Pertama Tia (S4) Sebelum Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Sabtu, 9 Januari 2014 Jam : 12.20 – 12.35 Keterangan : Wawancara pertama sebelum menggunakan alat peraga dilaksanakan setelah jam pelajaran berakhir dan dilaksanakan di ruang Perpustakaan. Awalnya subjek tidak mau diwawancarai tetapi melihat subjek O diwawancarai, akhirnya subjek T mau diwawancarai. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Subyek 4 :T Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “ Tia.” “Apa ?” “ Sudah makan ?” “ Belum ni nasi ni ( sambil menunjukkan nasi yang dibawanya ) “ Lhoh…Siapa yang ulang tahun ?” “Alan.” “Oowww…ulang tahun yang ke berapa ?” “Sepuluh.” “ Dikasih apa aja ?” “Olive.” “Tadi pelajaran apa si ? Matematika kan ?” “Iya.” “Tentang apa ?” “Bilangan bulat. “ “Iya bilangan bulat. Bu Dian jelasinnya pake apa ?” “Pake tangan sama garis bilangan” “Paham nggak ?” “Enggak.” “Enggak. Kenapa enggak ?” “Bingung.” “Ehmm..kalo pas belajar Matematika kamu seneng nggak ?” “Seneng.” Oww…Bu Dian udah pernah ngajar pake alat peraga belum ?” “Udah.” “Pas pelajaran apa ?” “Matematika” “Materi apa ?” “Pecahan” “Alat peraganya apa ?” “Roti tawar” “Terus perasaanmu pas belajar Matematika pake alat peraga seneng nggak ?” “Seneng.” “Gampang . Ooo iya. Kalo menurut kalian belajar bilangan bulat lebih enak Comment [wa1]: Subyek mengatakan bingung dan tidak paham ketika guru menjelaskan menggunakan garis bilangan dan tangan. W1/S4/B16-20 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 pake alat peraga ato enggak ?” “Sama saja. “ “Sama sajanya apa ?. Suka pake tangan ?” “Ho’oh. “ “Ooo..brati pake tangan kalo enggak bayangin. Eee…terus ee pinginnya alat peraga yang seperti apa kalo bilangan bulat ?. Kamu apa Tia ?” “Sama kaya Olive” “Ooo…sama mirip dakon. Tadi udah ngerjain soal ?” “Udah.” “Salah berapa ?” “Semua.” “Ya ampun semua ?” “Iya. “ “Kalo Tia soalnya berapa ?” “10” “Salah semua. Brati kamu pinginnya pake ?” ( Menganguk.) “Habis ini kalian ngapain ?” “Pulang.” “Udah dijemput po ?” “Dah.” “Ooo ya udah makasih ya. Dada Tia….. Comment [wa2]: Menurut subjek materi bilangan bulat lebih suka menggunakan tangan W1/S4/B38 Comment [wa3]: Subyek pingin alat peraga seperti dakon. W1/S4/B41 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.12 Verbatime Wawancara Kedua Tia (S4) Sebelum Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Sabtu, 11 Januari 2014 Jam : 09. 45 – 09.55 Keterangan : Wawancara kedua sebelum menggunakan alat peraga dilaksanakan setelah jam pelajaran berakhir dan wawancara dilakukan di ruang Pepustakaan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Subyek 4 :T Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “Tia….” ( dengan tersenyum ) “Iya Bu..” “Senang Matematika nggak ?” “Nggak terlalu.” “Nggak terlalu. Kenapa nggak suka ?” “herrrrrrrrrrrrrr…( dengan nada tidak jelas ) “Kenapa nggak suka ?” “Hmmmmm…..” “Hmmmm….” “Eheemmmmmm…..” “Susah ?” “He’em.” “Gurunya siapa dek ?” “Bu Dian.” “Ngajarnya gimana ?” “Enak.” “Enak banget ya ?” “He’em. “ “Kalo Matematika sukanya pelajaran bagian yang mana ?” “( diam sejenak ) dulu pas semester 1.” “Apa ?” “komunitatif, distributif, gitu-gitu lah ( suara tidak jelas ) “Gampang po ?” “iya gampang banget. Kalo semester 2 Aku suka pecahan juga “ “Pecahan yang mana ?, Ngitung penjumlahan , pengurangan itu ?” “Iyaa itu juga. “ “Selain itu ?” “( geleng kepala ). udah “ “Nggak ada selain itu ?” “Yang perkalian, pembagian gitu lah.” “Pecahan malah gampang ?” “Iyaa ( sambil mengangguk kepala )” “Pinter ya kamu (sambil mengacungkan jempol )” Hahahhahahahaha …( ketawa ) Kalo semester 2 ngitung perkalian pake tangan gitu ?” “Iya pake tangan. Bingung tapi. Belum diajarke ( dengan nada ketus )” Comment [wa1]: Subyek tidak terlalu suka matematika.W2/S4/B4 Comment [wa2]: Alasan tidak suka matematika karena susah.W2/S4/B12 Comment [wa3]: Menurut subjek guru mengajar dengan enak . W2/S4/B16 Comment [wa4]: Materi yang dianggap mudah oleh subjek pada semester 1. W2/S4/B22-24 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 “Pas pecahan Bu Dian pake alat peraga nggak ?” “Pecahan pernah,,pernah.” “Alatnya apa ?” “Roti tawar yang dibagi-bagi itu lho. Iya ..rotinya dibagi-bagi sama Bu Dian. Kan bawa selai trus ngemil-ngemil. “ “Brati senengnya karna dibagi – bagi roti ya ?” “Hahahaha ..biasa ja. Dulu pas sama Bu Ninda juga enak. Tapi kan udah punya anak.(sambil mengerjakan soal ) hhmmmm…ini gimana kalo dikurangi ?” “ Kalo dikurangi hayoo berapa jadinya?. Misal kamu punya hutang terus ditambah, brati ?” “Brati ditambah ya ?” “Kamu punya hutang 23 trus kamu hutang lagi 19, brati hutangmu ?” “Ditambah” “Nah..ditambah tapi tetap sama dengan negative to ? “ “Negatif to ?” “Iya ..” “Huuuuu……( mengejek teman karena salah menjawab ) “Selain pecahan apa ?, udah ? nggak ada lagi ?” “Hhhmmmmm apa lagi……ohhh KPK, FPB.” “Brati pake pohon faktor itu ya ?” “Iyaa…gampang itu” “Brati klo pake alat peraga gampang ya ?” “Hhhmmmmmm…..ya.” “Mudeng pake alat atau nggak ?” “Aku kalau pake alat malah bingung.” ( sambil manyun) “Lha bingungnya kenapa ?” “Gak tau.”( cuek ) “Hahhhh ?. Lha kamu lebih suka pake alat ato nggak ?” “Enggak. “ “Kenapa ?” “Gampang yang njelasin.” “Kalo nggak pake alat kenapa ?” “Iya.” “Kalo pake alat kenapa ?” “Bingung !. Malah nggak bisa apa ya ” “Kamu malah lebih merhatiin ke alatnya ?” “Cuma buat mainan gitu. Hahahaha” “Wooowww…mainan ?” hehehe. Brati malah buat mainan.” Brati kamu lebih sukanya kalo pelajaran Matematika ?” “Mainan. Hhahaha “Hah ?” “Main sambil belajar” “Brati pake alat senengnya ?” “Enggak. “Nggak suka pake alat ?” “Enggak. Dulu semester 1 nggak suka pake alat, tapi semester 2 kayaknya pake alat. “ “Kenapa ?” “Karena kan dah susah-susah” “Pelajaran ini gampang nggak menurutmu ? ( sambil menunjuk ke soal yang di kerjakan ) “Sedikit !” “Sedikit susah apa sedikit gampang ?” “Yaa sedikit susah sedikit gampang. hehehe “ “Brati tengah-tengah ya ?” “Iyaa…sedang” Comment [wa5]: Menurut subjek guru pernah menggunakan alat peraga pada semester 1. W2/S4/B38 Comment [wa6]: Subjek merasa biasa saja ketika guru menggunakan alat peraga. W2/S4/B43 Comment [wa7]: Subyek malah bingung ketika pakai alat peraga.W2/S4/B61 Comment [wa8]: Subyek tidak suka pakai alat peraga.W2/S4/B65 Comment [wa9]: Lebih suka dijelasin guru daripada menggunakan alat peraga.W2/S4/B67-71 Comment [wa10]: Jika menggunakan alat malah dibuat mainan subyek.W2/S4/B76 Comment [wa11]: Menurut subyek di semester 2 harus pakai alat peraga karena materi susah.W2/S4/B86-89 Comment [wa12]: Menurut subjek materi bilangan bulat sedikit susah sedikit gampang. W2/S4/B90 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 “Udah pernah belajar ini belum ?” “Belum “ “ Tau pelajaran ini. Kalo pelajaran ini lebih suka pake alat atau enggak ? Besok mintanya pake alat atau enggak ?” “Hhhmmmm….nggak tau.” “Lhoo…kok gak tau. Pake alat atau enggak ? Katanya kamu kalo pake alat lebih susah. Ho’oh to ?. Trus pinginnya ?’ “Nggak tau. “ ( sambil ketawa ) “Rumahmu mana e ?” “Popongan.” “Hahhh ?” “Popongan ! “ “Jauh dari sini ?” “Enggak.” “Brangkatnya dianter ?” “Iyaa.” “Pulangnya dijemput ?” ( Mengangguk kepala ) “Pas dulu pake alat peraga itu, alatnya menarik nggak ?” “Gak. Susah !” “Susah ?. Susahe kenapa ?” “Hmmmm…nggak tau !” “Bagus nggak alatnya ?” “Enggak !” “Cuma pake roti tawar itu ?” “Hu.um.” “Brati biasa aja ato gimana ?” “Apanya ?” “Alatnya yang kemarin” “Hmmmm….biasa aja. “ “Biasa aja “ “Udah ah mau ngerjain “ Comment [wa13]: Subjek belum pernah belajar materi bilangan bulat. W2/S4/B94 Comment [wa14]: Subjek tidak tahu materi bilangan bulat menggunakan alat peraga atau tidak. W2/S4/B97 Comment [wa15]: Menurut subjek alat peraga yang pernah dipakai guru tidak menarik. W2/S4/B112 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.13 Verbatime Wawancara Guru Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari/tanggal : Sabtu, 25 Januari 2014 Jam : 12.30 – 13.50 Keterangan di ruang guru : Wawancara dilaksanakan ketika guru selesai mengajar dan dilaksanakan Subyek 1 : Guru ( G ) Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 Hasil Wawancara Selamat siang Ibu… Selamat siang juga Mbak.. Maaf mengganggu waktunya sebentar Bu.. Iya gakpapa kok Mbak. Langsung saja ya Bu.. Iya mbak.. Kemarin kan kita sudah belajar Matematika tentang apa itu Buk ? Bilangan bulat Huumm…bilangan bulat. Nahhh…bagaimana perasaan Ibu setelah melihat kegiatan pembelajaran yang menggunakan alat peraga itu ? Iyaa…itu alat peraganya memang benar-benar sudah dirancang dengan baik menurut saya dan anak-anak langsung tertarik. Mereka bilang “waahhhhh….apa itu buk ?”, “ apa kita mau maen – maen ?” kaya gitu itu. Jadi mereka konsepnya nggak langsung mau pelajaran Matematika taaapiii……mau bermain. heeemmmm… ( sambil mengangguk kepala ) Kaya gitu . Teruss…bagaimana pendapat ibu terhadap siswanya itu ? Apakah mereka aktif, apakah mereka seneng diajak belajar ? Yaa anak-anak cenderungnya senang karena mereka eee……mempunyai mainan baru, seperti itu. Hmmm…Laluu….eee…Sebelumnya belum pernah ya Bu ? Yaappp…belum pernah. Biasanya kalo materi bilangan bulat menggunakan media apa Bu ? Kalo bilangan bulat itu saya menggunakan video. Jadi dengan video kan anak ndak langsung pegang alatnya. Nahh… Garis bilangan ? Yakk…garis bilangan seperti itu. Selanjutnya sikap siswanya itu bagaimana ?, semangat ? iyaakkk… anak – anak semangat mengikuti pelajaran, laluu…..mereka cenderung mencoba sendiri. Penasaran. Penasaran Apakah bener jawaban mereka . Ohhhh iya... Terus bagaimana pendapat Ibu tentang alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran kemarin ? Ya. eeeee…..menurut saya tepat sekali alat peraga itu. Dari…konsep awal materi bilangan bulat hingga yang terakhir itu dapat langsung menggunakan alat itu. Memang eee……untuk angka-angkanya tidak bisa banyak namun dengan alat itu, mereka bisa me…ngetahui konsep awal Konsep awal, lalu mereka mengetahui kalo negativenya lebih banyak kalo ditambah itu hasilnya jadi negative. Seperti itu Oooo… berarti memudahkan anak ya ? Memudahkan anak – anak Iyaa..terus ee…..bagaimana pendapat ibu tentang cara penggunaan alat peraga itu ? Yaaa…untuk penggunaan alatnyaaa….ee…..termasuknya mudah Mudahhh Yaa…karena disitu hanya ada dua kolom, kolom negative dan kolom positif. Seperti itu. Jadi anak-anak sudah tau yang mana” Bisa membedakan ya Bu ? Iya bisa membedakan lalu….. Menerapkannya ? Meletakkannya ada yang merah ee..ada yang merah ada yang biru. Jadi mereka tau o…yang merah itu postif yang biru itu negative Hmmm… Comment [wa1]: Menurut guru alat peraga memang sudah dirancang dan anak-anak langsung tertarik. W2/S1/B11-12 Comment [wa2]: Konsep anak-anak pada awalnya langsung mau bermain bukan belajar. W2/S1/B14-15 Comment [wa3]: Anak – anak senang dengan alat peraga karena mempunyai mainan baru. W2/S1/B20 Comment [wa4]: Belum pernah menggunakan alat peraga seperti ini. W2/S1/B22-23 Comment [wa5]: Alat peraga yang digunakan sebelumnya. W2/S1/B24-28 Comment [wa6]: Anak-anak semangat mengikuti pelajaran menggunakan alat peraga. W2/S1/B29-30 Comment [wa7]: Subyek mengatakan siswa penasaran.W2/S1/B30-31 Comment [wa8]: Alat peraga Montessori tepat digunakan karena mencakup konsep dari awal sampai akhir materi. W2/S1/B34-38 Comment [wa9]: Angka dalam alat peraga tidak bisa banyak tetapi siswa dapat mengetahui konsep awal. W2/S1/B38-39 Comment [wa10]: Alat peraga berbasis Montessori memudahkan siswa. W2/S1/B42-43 Comment [wa11]: Penggunaan alat peraga termasuk mudah.W2/S1/B44-46 Comment [wa12]: Anak-anak sudah tau peletakan negative dan positif. W2/S1/B48-49 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 Yaa seperti itu.” Terus setelah eeeeeeeeeeee….menggunakan alat peraga kan pasti ada evaluasinya Buk. Bagaimana pendapat ibu tentang soal evaluasi yang dikerjakan siswa ? Mereka bisa mengerjakan atau masih bingung ? Iyaa……kebanyakan siswa memang sudah tau dan bisa mengerjakannya tapi memang ada beberapa siswa yang kurang Kurangg… Iyaa. Mungkin pas mengerjakan pas eee…..bermain itu mereka bener-bener bermain. Makanya mereka nggak,nggak,nggak paham dalam materinya tapi cuman cenderung kebermainnya. Nahh itu. Bagaimana cara Ibu untuk mengatasi anak yang seperti di atas ? Ehhmmm…ya cara mengatasinya langsung kita ke tempat ke tempat anak itu lalu diberikan soal. Kan disitu juga sudah disediakan soal-soal jadi nanti kita matcingkan dengan lomba jadi anak terrrr…kondisi lagi dan fokus lagi dalam materi. Dalam materi. Oooo yaa…Terus eee….bagaimana perasaan ibu setelah menggunakan alat peraga itu ? Yaa… Cukup membantu ato gimana ? Alat peraga itu sangat membantu dalam menanamkan konsep pada anak dan … Bilangan bulat ya Bu Iyaa…bilangan bulat jadi itu memang satu rangkaian bilangan bulat yang dalam satu alat peraga gitu. hmmm…ya Jadi memang menurut saya sudah efektif alat peraga itu cuma beratnya itu agak.. Oooo ya beratnya itu Bu. Berat ya Bu ? Iya e. Nah terus bagaiamaa kesan Ibu dengan cara penggunaan alat peraga itu terkait dengan kemandirian siswa. Apakah alat peraga itu bisa melatih kemandirian siswa ? Yakkk…eee…..dengan alat peraga itu kita sebagai guru tidak langsung ee……memberi contoh seperti itu, tapi anak bisa mennn…cari sendiri jawaban karena disitu sudah diberikan soal-soal. Jadi mereka eee…..me….ngambil soal sendiri tanpa diperintah lalu meeee……mainkan alat peraga itu dan dibuktikan karena disitu juga ada kunci jawaban. Nahhh…sehingga dibuka seperti itu lalu mereka cocokkan dengan alat peraganya. Iya Bu ada kunci jawabnnya. Lalu ee….menurut Ibu apakah anak kesulitan dalam menggunakan alat peraga itu ? E……menurut saya tidak merasa kesulitan yaa karena memang alat peraganya itu cukup see…. Sederhana Iya sederhana. hehehe Terus eee…setelah menggunakan alat itu apakah hasil evaluasinya lebih bagus dibandingkan pas hanya menggunakan garis bilangan. Kalau menurut Ibu gimana ? Eeeee….kalo menurut saya memang lebih baik dengan alat peraga itu Hmmm yaa. Trus nah kemarin kan ada bermacam – macam warna di alat itu ya Bu. Iyaa… Merah, biru, menurut Ibu apakah menarik warna yang ada di alat peraga itu ? Comment [wa13]: Untuk evaluasi kebanyakan siswa sudah tau tetapi beberapa masih kurang. W2/S1/B58-61 Comment [wa14]: Kurang paham karena beberapa siswa cenderung bermain. W2/S1/B63-65 Comment [wa15]: Cara guru mengatasi anak yang kurang paham. W2/S1/B68-69 Comment [wa16]: Alat peraga membantu menanamkan konsep pada anak. W2/S1/B72-76 Comment [wa17]: Alat peraga berat. W2/S1/B82-85 Comment [wa18]: Guru mengatakan bahwa alat peraga melatih kemandirian siswa. W2/S1/B9091 Comment [wa19]: Soal-soal melatih kemandirian siswa.W2/S1/B91 Comment [wa20]: Guru mengatakan bahwa alat peraga memiliki auto-correction. W2/S1/B94-95 Comment [wa21]: Anak tidak kesulitan dalam menggunakan alat peraga dakon. W2/S1/B97-99 Comment [wa22]: Alat peraga DAKON sederhana sehingga siswa tidak kesulitan. W2/S1/B102 Comment [wa23]: Hasil evaluasi lebih bagus menggunakan dakon daripada garis bilangan.W2/S1/B106 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 Ya menurut saya…….sudah menarik ya karena memang dibedakan antara bilangan positif dan negatifnya. Apakah pendapat ibu juga ee…..apakah siswa juga tertarik dengan alatnya itu ? Iyaa….eeee……..menurut saya juga tertarik yaa. Namun memang karena materinya agak banyakkkk……yang terakhir – terakhir itu anak sudah mulai bosan. Hehehe Ohh iyaa. Berapa kali pertemuan kemarin ya ? 3 atau 4 ya ? Kurang lebih 3 kali Iya 3 kali. 3 kali 2 jp jadi yaa memang…istilahnya kalo hanya dengan alat peraga itu thok mereka bosan. Nah seperti itu. Bagaimana pendapat ibu tentang ukuran alatnya itu ? Ukuran alatnya itu …..menurut saya apa ya ? Memang segitu udah pas namun mungkin materi untuk ………pem..membuat alatnya itu lho jadi bisa menggunakan kayu-kayu yang agak Ringan ? Iya ringan. Ato menggunakan apa agar anak tidak kesulitan dalam membawanya ataupun me………… Membawanya ? Iya membawanya. Hhehehehe. Nah seperti itu. Kalo untuk ukuran dakonnya itu apakah kekecilan ato enggak ? Enggak menurut saya. Dakon sebesar itu …… Nahh…tadi kan sudah ukurannya. Sekarang apakah …anak tertarik dengan alat peraganya itu ? Iyaa….seperti yang saya katakan tadi, anak –anak awalnya itu memang tertarik tapi ….memang terlalu sering dipake sehingga anak-anak bosan. Gituuuu Ooo iya Bu. hehehe. Apakah ibu sudah pernah melihat alat peraga itu sebelumnya ? Mungkin waktu di kampus ato di sekolah lain ? Kalo alat peraganya enggak, tapi kalo konsepnya sudah ada. ooo gitu ya Bu. Iya .. Nahhh terus bagaimana pendapat Ibu mengenai tingkat pemahaman siswa dengan penggunaan alat peraga berbasis Montessori itu ? Yaa…pemahaman siswa memang lebih…memang lebih baik ya. Iya Dari….19 siswa saya lihat sudah ada sekitar 12 yang … Yang paham Iya yang paham tentang materi itu. Nah apakah alat peraga itu bisa digunakan untuk kelas laen, misalnya kelas 1 sampai kelas 6 untuk materi apa gitu. Menurut Ibu bagaimana ? Menurut saya bisa digunakan. Untuk kelas 1 itu kan ada penambahan…pengurangan…itu bisa digunakan dengan alat itu. Kalo yang untuk kelas atas itu juga masih bisa karena bilangan negatif itu sampai kelas 6 masih dipake. Iyaaa…Nah waktu mengerjakan soal itu kan pasti siswa ada yang salah ya Bu ? Iyaa…. Bagaimana pendapat Ibu tentang kemandirian siswa dalam menemukan jawaban ketika menggunakan alat peraga itu ? Yaa…..mereka biasanya kan disitu udah ada kuncinya. Kok beda ? Mereka mencocokan kuncinya kok beda dengan…hasil dari mereka bermain. Lalu mereka kembali mengulang lagi. Ohh yaayayaya Bu. Jadi mereka terbantu dengan adanya kunci jawaban ya ? Comment [wa24]: Warna pada dakon menarik. W2/S1/B112-113 Comment [wa25]: Waktu terakhir-terakhir anak sudah mulai bosan. W2/S1/B116-118 Comment [wa26]: Anak merasa bosan karena alatnya cuma itu aja. W1/S1/B122-123 Comment [wa27]: Ukuran alat peraga sudah pas. W2/S1/B125 Comment [wa28]: Lebih baik menggunakan kayu/bahan yang ringan. W2/S1/B129-130 Comment [wa29]: Awalnya anak tertarik.W2/S1/B137-138 Comment [wa30]: Anak bosan karena sering dipake. W2/S1/B138 Comment [wa31]: Guru belum pernah melihat alat peraga sebelumnya tetapi sudah memiliki konsep.W2/S1/B142 Comment [wa32]: Tingkat pemahaman siswa menjadi lebih baik. W2/S1/B147 Comment [wa33]: Alat peraga bisa digunakan dari kelas 1-6. W2/S1/B154-157 Comment [wa34]: Terdapat auto-correction pada alat peraga.W2/S1/B163-165 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 Iyaa betul Nahhh…menurut Ibu apakah sudah cocok adanya pengendali kesalahan dalam alat peraga itu dengan adanya kunci jawaban ? Iyaa sudah cocok Berarti membantu siswa ya ? Iyaa…. Terus …bagaimana kesan guru tentang bahan untuk membuat alat peraga itu ? Yaa…bahannya dari kayu kan itu ya ? Iya Bu Eeee…memang dari kayunya itu agak berat ya. Jadi untuk anak kelas 4 khususnya karena anak –anak saya itu porsinya masih kecil-kecil ya . hehehehe Hehehehehe …. Jadiii mereka keberatan. Tapi alat peraganya itu terbuat dari bahan yang mudah ditemukan atau gimana Bu ? Ya karena kayu itu mudah ditemukan ya..jadi mudah dibuat istilahnya gitu. Trimakasih Bu atas waktunya, sudah diselakke. Hehehehe Iya Mbak sama- sama . hehehe Comment [wa35]: Menurut guru pengendali kesalahannya sudah cocok untuk alat peraga dakon. W2/S1/B171 Comment [wa36]: Bahan pembuatan dari kayu.W2/S1/B176 Comment [wa37]: Alat peraga berat. W2/S1/B178 Comment [wa38]: Bahan pembuatan mudah ditemukan.W2/S1/B185 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.14 Verbatime Wawancara Pertama Isam (S2) Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari/tanggal : Sabtu, 1 Februari 2014 Jam : 11.30 – 11.50 Keterangan : Wawancara dilaksanakan di ruang kelas VA pada jam pelajaran selesai. Peneliti melihat subjek sedang bermain dengan temannya karena sedang menunggu dijemput dan peneliti mewawancarai subjek. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Subyek 2 :I Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara Isammmm …( menyapa dengan senyum ) Iyaa…( tersenyum ) Udah pulang ya ? Udah Dijemput jam berapa ? Nggak tau Kok nggak tau ?, Udah sms belum ? Belum. Kok belum ?, Lha nanti kamu dijemput nggak ? Iya. Jam berapa ? Nggak tau juga si. Kalo nggak dijemput gimana ? Pulang dhewe. Brani ? Brani Naek apa ? Jalan kaki Ooo..jalan kaki. Deket po rumahmu ? Deket Mana rumahnya ? Nandan Ehh tadi pelajaran terakhir apa ? Mate..eeehhhhh agama Mate ato agama ? Mate ding Pelajaran yang kamu suka apa ? IPA. Lha ngapa ? Suka Lha ya kenapa ? Ya seneng aja Senengnya ? Hmmmmm… Kenapa ? Ya..buat-buat gitu lah 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 Ohh…itu pake alat peraga ya ? Enggak. Trus apa ? Ya buat kayak apa gitu lhoo.Semua kakakku IPS jadi aku mau IPA aja. Mau jadi apa si kamu ? Kalo nggak jadi…hihihihi Jadi apa ? Yaa…kalo nggak jadi……. pelari ya jadi sepak bola. hehehe. Oalah. Bagus..bagus. Matematika suka kan ? Hah ? Matematika suka kan ? Suka. Sukanya kenapa ? Yaaa….enak aja si Enak aja.Kamu kemarin kan diajari Bu Dian tentang bilangan bulat itu to ? Masih ingat ? Itu pake alat apa ? Pake…..kotak ! Kotak ?. Yang alat peraga itu lho.Kan ada alat peraganya to ? Ada. Nah namanya apa ? Dakon. Dakon. Bisa nggak pake itu ? Bisa Bisa ? Yakin ? Bisa. Iya yakin. Seneng nggak pake alat itu ? Yaa lumayan si. Kok lumayan ? Kenapa ? Hmmm….. Kenapa lumayan ? Ya kadang-kadang si susah ama nggak susah. Susah ama nggak susah. Terus ee… lebih mudah nggak pake alat itu pake dakon kemarin ? Yaa mudah lah. Mudah ? Iya Bu Nilaimu berapa si kemarin pas pake dakon ? Eeee……..lupa. Hehehehehe Kamu udah pernah alat itu sebelumnya belum ? Uuudaahhhh… Dimana ? Di perpustakaan Pas Bu Deta bawa itu ya ? Iya. Pas pertama main dakon di perpus tau caranya nggak ? Enggak Selain itu ? Mungkin di rumah ato dimana udah pernah liat belum ? Belum. Kotak dingin udah lewat. Hihihihi Apa ? Itu udah lewat. hihihi. Tut..tut..tut.. Yaa….suaranya melaju dengan kecepatan tinggi. Trus kamu lebih paham nggak pake alat itu ? Ya..iya si. Iya. Biasanya Bu Dian kan pake garis bilangan itu to ? lebih paham pake garis bilangan atau pake alat peraga yang dakon itu ?” Dua-duanya Comment [wa1]: Subyek (I) suka matematika. W2/S2/B48-50 Comment [wa2]: Subjek ingat kalau alat peraga yang dipakai kotak. W2/S2/B53 Comment [wa3]: Subyek menyebutkan alat peraga yang pernah digunakan. W2/S2/B57 Comment [wa4]: Subyek bisa menggunakan dakon. W2/S2/B61 Comment [wa5]: Subjek lumayan menggunakan alat peraganya. W2/S2/B63 Comment [wa6]: Subjek merasa susah dan kadang tidak susah menggunakan dakon.W2/S2/B67 Comment [wa7]: Subyek lebih mudah pakai dakon.W2/S2/B70 Comment [wa8]: Subjek sudah pernah melihat tapi tidak bisa menggunakan.W2/S2/B76-82 Comment [wa9]: Subjek lebih paham pakai dakon.W2/S2/B91 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 Dua-dua. Lebih mudah yang mana ? Dua-duanya Dua-duanya juga. Repot nggak pake dakon ? eee……….enggak Repot nggak ? Enggak Beneran ? Enggak Coba tak tes, kalau yang kayu yang warna biru itu buat bilangan yang apa ? Negatif. Kalo merah ? Yaa…..biasa Positif ? He’em Kalo yang lubang atas buat apa ? Negatif. Yang bawah ? Yaa biasa. Pas guru jelasin pake alat itu kamu mudah memahami nggak ? Iya. Iya. Brati enak pake dakon ya ? Iya. Kamu satu kelompok sama siapa si kemarin ? Olive, Tia, Aku, udah Enggak ah satu lagi cowok. Alan Enak nggak kelompokan sama mereka ? Iya. Enak ya. Pinter-pinter. Pas kamu ngerjain soal yang kemarin kamu pake alat peraga ato enggak ? Pake alat peraga ada yang enggak Enak yang mana ? Dua-duanya sii Dua-duanya. Coba kalo negative 2 ditambah 1 berapa ? 1 Negatif 2 ditambah 1 Yaa satu. Kan negative ditambah 1. Negatif 2 ditambah satu Negatif 1 Iya bener Dahh ya besok lagi Yaa…kok besok lagi si. Ya udah deh. Comment [wa10]: Menurut subjek menggunakan dakon tidak repot.W2/S2/B96 Comment [wa11]: Subjek mudah memahami menggunakan dakon. W2/S2/B113 Comment [wa12]: Subjek mengerjakan soal menggunakan alat peraga ada yang tidak. W2/S2/B124 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.15 Verbatime Wawancara Kedua Isam (S2) Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari/tanggal : Sabtu, 3 Februari 2014 Jam : 12.15 – 12.25 Keterangan : Wawancara dilaksanakan di ruang kelas VA pada jam pelajaran selesai. Peneliti melihat subjek sedang bermain dengan temannya karena sedang menunggu dijemput dan peneliti mewawancarai subjek. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Subyek 2 :I Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara Isam… Apa Buk ? Lagi apa ? Lagi maen. Maen apa ya ? Kasih tau nggak ya ? Ahhhh…kasih tau dong. Yaa…lagi maen nananina lah. Hahahahaha. Kamu belum dijemput po ? Belum. Dijemput siapa ? Biasanya si dijemput mama. Mama. Jam berapa ? Ya paling habis ini. Wong nggak ada les. Nanti paling aku liat kesana. oo….ehh……masih ingat yang permainan dakon itu ? Iyaa Nahh kamu baru pertama kali liat itu ya ? Enggak. Udah pernah liat dimana ? Di jalan. Di jalan ? Emang ada papan dakon di jalan ? Ada. Pas kamu liat papan dakon itu kamu langsung pingin maen nggak ? Enggak. Penasaran nggak ? Dikit. Kenapa kok dikit ? Yaa…dah punya di rumah. Kan dakonnya beda Tapi sama-sama dakon. hehehe Apa yang kamu pikirkan tentang alat dakon itu? Gak ada. Tidak ada. Aduuuhhhh. Pas kamu pake alat itu seneng nggak ? Yaa… Senengnya kenapa ? Comment [wa1]: Subjek masih ingat alat peraga dakon. W3/S2/B16 Comment [wa2]: Subjek pertama kali melihat dakon di pinggir jalan tapi pingin main. W3/S2/B24 Comment [wa3]: Subjek penasarannya hanya sedikit terhadap dakon.W3/S2/B26 Comment [wa4]: Tidak ada yang dipikirkan subjek tentang dakon. W3/S2/B32 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Ya seneng aja. Pasti kamu maen –maen kan ? Nggak ada yang bantu kok, ya udah ikut maen aja. Trus kamu ikut maen ? He’em. Woo dasar Isam..Isam (sambil ketawa ) Warnanya kira-kira gimana ? Ya bagus. Bagus ? Ya. Warna apa aja si kemarin ? Biru sama merah. Papannya warnanya apa ? Coklat. Yee…pinter. 100 buat kamu. Trus Bu Dian pas njelasin materinya jelas nggak ? Iya. Kamu paham ? Sedikit. Ada yang belum. Yang belum yang mana ? Yang apa namanya pas itunya lho Apa ? Pas yang ngambilnya itu lho. Yang apa ? Ngambilnya. Ooo…pas yang mengambilnya. Kamu belum paham ? Kemarin si udah paham tetapi sekarang dah agak lupa. Aduuhhh. hehehe. Sekarang agak lupa. Maen lagi dong. Besok maen lagi ya. Iya. Terus ee…..mudah nggak pake alat itu ? Cara memakainya mudah nggak ? nanti kalo ne..kalo biru itu buat negative. Mudah si. Mudah ? Iya. Yakin ? Iya yakin. Trus kamu udah pernah maen dakon setelah pulang sekolah belum ? Belum. Belum. Nggak boleh ya ?. Brati pulang sekolah langsung pulang ya ? Punya’e di rumah. Kan beda. Beda sama yang ini to ?. Dakonnya berat nggak ? Udah pernah ngangkat dakonnya belum ? Udah. Berat nggak ? Enggak. Enggak. Kamu tau nggak itu terbuat dari apa ? Kayu. Kalo manik-maniknya yang biru sama merah ? Kayu juga. Ehh…di dakonnya ada apa aja si ? Balok, kartu . Kartu apa ? Kartu penjelas. Isinya apa aja ? Nomer . Terus ? Nomer sama soal. Terus apa lagi ? Dibaliknya soal itu ada apa ? Comment [wa5]: Subjek seneng maen dakon. W3/S2/B36-38 Comment [wa6]: Menurut subjek warna dakon bagus . W3/S2/B42 Comment [wa7]: Masih belum paham tentang bagian ambil mengambil manik. W3/S2/B52-59 Comment [wa8]: Menurut subjek cara pemakaian dakon mudah.W3/S2/B65 Comment [wa9]: Subjek belum pernah menggunakan dakon setelah pulang sekolah.W3/S2/B71 Comment [wa10]: Menurut subjek dakonnya tidak berat.W3/S2/B78 Comment [wa11]: Subyek tahu bahan pembuatan dakon.W3/S2/B80-82 Comment [wa12]: Subjek masih ingat bagianbagian dari dakon.W3/S2/B84 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 Apa namanya tu. Eeeee……kunci. Nah kunci jawaban. Pas kamu ngerjain liat kuncinya nggak ? Kadang-kadang. hehehehe. eee…..mesti kamu liat kuncinya to ? Ya kan pas kalo udah selesainya. Ooo…pas udah selesainya. Kan olive pegangnya kaya gini to jadi ya keliatan belakangnya. ( sambil memperagakan cara memegang kartu ) Brati kamu ngintip. hehehe Enggak. Aku liat. Hehehe..kirain. Lebih enak pake mana, alat peraga atau enggak ? Dua-duanya. Sekarang enak pake alat peraga. Kenapa ? Yaa enak aja. Mau nggak belajar pake alat peraga lagi ? Ya tapi kelompoknya masih kaya dulu. Oke. Kamu ditungguin Kevin po ?. Kevin rumahnya deket sama Isam ? Enggak. Tapi temen TK. TKnya disini juga ? Iya. ( pergi bersama temannya untuk bermain ) Comment [wa13]: Subjek menyebutkan kunci jawaban merupakan bagian dari dakon. W3/S2/B92 Comment [wa14]: Subyek melihat kunci setelah mengerjakan dengan dakon.W3/S2/B95-96 Comment [wa15]: Pada akhirnya subyek lebih senang memakai alat peraga. W3/S2/B103 Comment [wa16]: Subjek mau belajar lagi tetapi kelompoknya seperti yang dahulu. W3/S2/B107 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.16 Verbatime Wawancara Pertama Olive (S3) Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Senin, 20 Januari 2014 Jam : 11.45 – 11.55 Keterangan : Wawancara pertama setelah menggunakan alat peraga dilaksanakan di ruang kelas IVA ketika jam istirahat. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Subyek 3 :O Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “Olive” “Iya.” “Lagi apa ?” “Lagi makan. “ “Makan apa ?” “Makan bakso sama es krim.” “Aaahhh pingin deh. hehe. Beli dimana ?” “Beli di deketnya Mbah Mud.” “Uang sakunya berapa e Liv ?” “Kadang-kadang 10ribu , kadang-kadang 5ribu.” “Banyak banget. Bu Ucik aja nggak nyampe segitu.” “Hah ???? “ “Iya. “ “Bohong.” “Cuma seribu.” (sambil tersenyum ) “Bohong.” “hahahaha. Tadi pelajaran apa aja ?” “Tadi Basa Jawa, IPS, Olahraga, seni musik, seni tari. Seni tari dulu ding.” “Kamu masih ingat alat peraga buat matematika ? “ “Masih.” “Apa namanya ?” “Dakon.” “Dakon.Pinter . 100. Masih ingat bentuk – bentuknya ?” “Masih.” “Apa aja ?” “Bulet-bulet gitu kaya dakon.” “Itu kan papannya. Trus yang kecil-kecil itu ?” “Biji.” “Iya biji. Bijinya warna apa ?” “Warna biru sama merah. “ “Biru itu buat apa ?” “Biru itu buat kalo negative. “ “Negatif. Kalo merah ?” “Nggak negative. “ “Positif. Iya pinter. Pas Bu Dian jelasin pelajaran pake alat peraga itu kamu paham nggak ?” “Yang pertama bingung. Tapi makin lama makin bisa. “ Comment [wa1]: Subyek masih ingat alat peraga yang pernah digunakan. W3/S3/B20 Comment [wa2]: Subjek masih ingat bagianbagian dakon. W3/S3/B25-33 Comment [wa3]: Siswa masih ingat bentuk,warna,bagian dakon. W13S3/B25-34 Comment [wa4]: Pertama kali menggunakan bingung. W3/S3/B37 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 “Ooo..gitu. Pertama bingung. Brati kamu lebih suka pake itu ?” “Iya.” “Bu Dian sebelumnya pake apa biasanya ?” “Cuma pake tangan.” “Lebih enak pake mana ?” “Pake alat peraga.” “Bagus nggak alatnya ?” “Biasa aja. Hahaha” “Hahahaha…Cuma biasa aja ? Ya ampun kasian.” Yang bikin siapa Bu ?” “Yang bikin kelompoknya temennya Bu Ucik. Terus warnanya pie ? Menarik nggak buat kamu ?” “Enggak. “ “Harusnya warnanya apa ?” “Warna – warni.” “hih..nggak bisa.” “Warna cerah.” “Itu nggak cerah po ?” “Enggak.” “Kemarin biru sama merah ya ? Brati nggak menarik ?” “Enggak. Warnanya nggak menarik.” “Harusnya apa ?” “Aku pink” “Ooo..pink. Bagus-bagus. Perasaanmu pake alat itu pie ?” “Seneng. “ “Senengnya kenapa ?” “Lebih gampang soale.” “Bisa maen-maen juga to ?.” “Hehehe.” “Kemarin kamu satu kelompok sama siapa aja Liv ?” “Isam, Tia, Adele, Alan, Aku.” “oo……..pinter-pinter ya.Bu Dian jelasinnya juga gampang ya ? Kamu ngerti ?” “Kalo nggak pake alat peraga bingung.” “Jadi kangen sama Bu Dian ya ?” “Iya. “ “Di kelompokmu semua ikut kerja nggak ?” “Ada yang enggak. “ “Nggak papa.Terus bentuk alat peraganya gimana ?” “Nggak menarik. “ “Nggak menarik. Berat nggak ? Kamu udah pernah ngangkat belum ?” “Enggak. Kalo satu enggak.” “Ooo…kalo satu enggak. Kemarin kan ada soal to ?” “Iya.” “Nahh..kamu ngerjainnya pake tangan ato alat peraga ?” “Alat peraga.” “Bisa semua ?” “Bisa.Tapi ada yang salah. Hhahaha. Harusnya itu bisa pake tangan tapi “ “Tapi apa ? “Hmmm….” “Di alat peraganya itu ada bijinya selain itu trus apa lagi ?” “Ada kartu.” “ Nahh..kartunya apa isinya ?” “Isinya..misalnya negative berapa dikurangi positif “ “Soal brati.” “Iya soal sama kunci jawabannya. “ Comment [wa5]: Subyek lebih memilih pakai dakon.W3/S3/B43 Comment [wa6]: Subyek mengatakan kalau dakon bagusnya biasa. W3/S3/B45 Comment [wa7]: Warna pada dakon tidak menarik. W3/S3/B50 Comment [wa8]: Subyek pingin warna dakon yang cerah.W3/S3/B54-56 Comment [wa9]: Subyek seneng pakai dakon karena lebih gampang.W3/S3/B62-64 Comment [wa10]: Subyek mengatakan kalau tidak pakai alat peraga bingung.W3/S3/B71 Comment [wa11]: Menurut subjek bentuk alat peraga tidak menarik. W3/S3/B77 Comment [wa12]: Menurut subjek alat peraga tidak berat. W3/S3/B79 Comment [wa13]: Subjek mengerjakan soal menggunakan alat peraga. W3/S3/B83 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 “Oiya ada kunci jawabannya. Brati lebih enak ya ada kunci jawabannya.” “Iya.” “Pas pertama kali lihat alatnya itu, kamu langsung pingin nyoba pake alatnya nggak ?” “Pingin” “Misalnya ee….dapet nilai berapa kamu pas kemarin itu ?” “Dapet 10.” “Brati bener semua ?” “Enggak Bu. Salah 4. “ “Ya ampun. Kasian ya Nak. hehe. Dah pernah nggunain itu pas di luar jam pelajaran belum ?” “Enggak. Masalahnya nanti kalo asal ambil dimarahi.” “Iya si emang nggak boleh. Terus kalo, coba deh Bu Ucik kasih soal negative 5 ditambah 3 berapa ?” “Negatif 2. “ “Pinter. Negatif 7 ditambah neggatif 3 berapa ?” “ee…negative 4.” “Negatif 7 ditambah negative 3 “ “Negatif 10. “ “Iya pinter. Negatif 5 ditambah positif 4 ?” “Negatif 9.” “Negatif 5 ditambah positif 4 ?” “Negatif 1. “ “Iya bener. Brati kamu lebih suka pake ?” “Alat peraga.” “Alat peraga.Dibandingkan menggunakan ?” “Tangan.” “Tangan. Kamu paham letak-letaknya ?” “Paham.” “Yakin ?” “Yakin. “ “Bagus. Makasih ya Olive.” “Iya Bu.” Comment [wa14]: Subyek mengatakan enak karena ada kunci jawaban. W3/S3/B95 Comment [wa15]: Subyek pertama kali melihat dakon langsung ingin mencoba.W3/S3/B98 Comment [wa16]: Subyek belum pernah menggunakan di luar jam pelajaran. W3/S3/B105 Comment [wa17]: Subjek lebih suka menggunakan alat peraga. W3/S3/B118 Comment [wa18]: Subjek dapat memahami materi dan paham letak-letaknya menggunakan alat peraga. W3/S3/B122 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.17 Verbatime Wawancara Kedua Olive (S3) Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Rabu, 29 Januari 2014 Jam : 12.10-12.25 Keterangan : Wawancara kedua setelah menggunakan alat peraga dilaksanakan setelah jam pelajaran berakhir dan dilaksanakan di Ruang Perpustakaan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Subyek 3 :O Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “Halo Liv” “Halo Bu” “Lagi apa ?” “Habis pulang sekolah.” “Udah dijemputkah ?” “Nggak tau.” “heh..judes banget e Liv. Marah po kamu ?” ( sambil tersenyum ) “Enggak. ( sambil tersenyum )” “Nah pas dulu Matematika itu perasaan setelah pake alat peraga gimana ?” “Gampang kok.” “Ooo.. gampang. Senengnya nggak ? kenapa ?” “Ya enak aja daripada pake tangan bingung. Salah-salah.” “Brati lebih seneng pake alat peraga ?” “Iya.” “Terus pas kamu ngerjain soal lebih seneng pake alat peraga ato enggak ?” “Pake alat peraga.” “ooww…trus mengenai warnanya bagus nggak ?” “Jelek. “ ( sambil memegang rambut ) “Terus cara menggunakannya mudah nggak ?” “Mudah.” “Paham ?” “Paham. “ “Kalo yang koin biru buat apa ?” “Eehhmmm…buat negative.” ( sambil menengok kanan kiri ) “Pinter. Cara mainnya bisa ?” “Bisa.” “Eee…pas kamu pertama kali lihat dakon kamu pingin mencoba nggak ?” “Pingin .” “Terus kamu lebih suka pake alat nggak ?” “Lebih.” “Lebih suka ?, Lebih paham pake alat ?” “Iyaa.” “Nah yuk sekarang misalnya soalnya (+2) + 1 berapa ?” “3” “Iya caranya gimana ?” “Ehmm…dua tambah satu. “ Comment [wa1]: Subyek lebih gampang dan senang pakai dakon. W4/S3/B10-12 Comment [wa2]: Subyek mengerjakan soal lebih suka pakai dakon.W4/S3/B16 Comment [wa3]: Menurut subyek warna dakon jelek.W4/S3/B18 Comment [wa4]: Subyek paham dan mudah menggunakan dakon.W4/S3/B20-22 Comment [wa5]: Saat pertama kali melihat subjek memiliki keingininan mencoba. W4/S3/B28 Comment [wa6]: Subyek lebih paham dan senang pakai dakon.W4/S3/B30-32 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 38 39 40 41 4 52 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 “Enggak. Yang apa yang dimasukkan. “ “Yang merah dimasukkan dua terus ditambah satu.” “Nah, 3 berarti ya. Bisa ya ?. Nah, sekarang (-2) + 2 berapa ?. Yang pertama apa ?” “Yang biru.” “Yang biru dimasukkan “ “Dua.” “Terus gimana ?” “Dimasukkan yang merah dua. “ “Terus di ?” “Digabungkan.” “Terus hasilnya berapa ?” “0” “Kalian tahu itu dibuat dari apa ?” “Kayu.” “Ooohh ya menurut kalian bagaimana jika Bu Dian njelasinnya nggak pake alat bisa nggak ?” “Enggak. Bingung.” “Kamu lebih suka pake tangan ato alat ?” “Kalo aku pake alat. Jadi tu di otak kaya ada alat jadi di……” ( sambil pegangan meja ) “Dimasuk-masukkan ?” “He’eh..he’eh..jadi…” “Bayangke ?” “Hu’um. “ “Eeee….itu kan alatnya di perpus kamu pingin mainan itu nggak ?” “Enggak. “ “Kenapa ?” “Gak mirip dakon.” “Kenapa ?” “Nggak mirip dakon.” “Ooo…Nggak mirip dakon. Kalo dakonnya di Perpus pas kamu pulang sekolah kmu pingin maen nggak ?” “Males.” ( dengan nada ketus ) Comment [wa7]: Subyek menyebutkan bahan dasar pembuatan dakon.W4/S3/B50 Comment [wa8]: Subjek bingung ketika guru tidak menggunakan alat peraga. W4/S3/B53 Comment [wa9]: Subjek lebih suka membayangkan alat di dalam pikiran daripada menggunakan tangan ketika mengerjakan soal. W4/S3/B55 Comment [wa10]: Subyek tidak ingin mainan dakon setelah pulang sekolah.W4/S3/B69 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.18 Verbatime Wawancara Tia (S4) Setelah Menggunakan Alat Peraga Hari / Tanggal : Senin, 20 Januari 2014 Jam : 12.56 – 12. 14 Keterangan : Wawancara pertama setelah menggunakan alat peraga dilaksanakan di ruang kelas IVA ketika jam istirahat Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Subyek 4 :T Peneliti : P ( ditulis dengan tulisan tebal ) Teman Subyek : TS Hasil Wawancara “Tia..” “Halo apa ?” “Lagi apa ?” “Makan.” “Makan apa itu ?” “Tempura.” “Tempura. Beli dimana ?” “Tempatnya Pak Giat.” “Hmm…beli berapa tadi ?” “Seribu.” “Dapet berapa ?” “Dua.” “Hmm…Tadi pelajaran apa, barusan ?” “Seni musik.” “Ooo…seni music. Enak nggak ? Nyanyi apa tadi ?” “Ooo…aku anak Indonesia. “Terus kamu masih ingat pelajaran Matematika yang pake alat peraga itu nggak ?” “Nggak terlalu.” “Kenapa nggak terlalu ?. Pake apa kemarin itu ?” “Dakon.” “Dakon. Bisa makenya nggak ?” “Enggak.” “Lha kok enggak ?” “Sulit kalo pake alat peraga.” “Lha biasanya, ehh enak pake apa ?” “Pake tangan biasa enak.” “oohh…lebih mudah pake tangan biasa ?” “He’em” “Brati kamu kemarin ?” “Bingung.” “Bingung. Ya ampun. Terus, kamu pertama kali lihat alat peraga itu ya ?” “He’em.” “Belum pernah liat alat peraga itu ya ?” “Belum. “ “Ehhmmm….Perasaane pie pas liat alat peraganya ?” “Lebih bingung.” Comment [wa1]: Subyek sudah lupa dengan materi yang menggunakan dakon.W3/S4/B19 Comment [wa2]: Subyek kesulitan menggunakan dakon. Lebih gampang menggunakan tangan. W3/S4/B23-27 Comment [wa3]: Subjek kebingungan ketika menggunakan alat peraga. W3/S4/B31 Comment [wa4]: Subyek belum pernah lihat alat peraga sebelumnya.W3/S4/B34-36 Comment [wa5]: Perasaan subyek lebih bingung ketika pertama kali melihat dakon . W3/S4/B37 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 “Pas pertama kali kamu lihat terus kamu pingin nggunain itu nggak ?” “Enggak. “ “Lha kenapa ?” “Bingung yang make.” “oo..bingung yang make. Terus ? Bu Dian pas ngajarin itu apa penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat itu kamu paham nggak pake alat peraganya itu ?” “Enggak.” “Hah ? Nggak paham ?” “Enggak.” “Oalah. Brati lebih enak pake ?” “Tangan biasa.” “Tangan biasa. Ooowww….Bu Dian njelasinnya enak nggak ?” “Enak si.” “Tapi kamu paham ?” “Sedikit.” Ooo…sedikit. Lha pas kamu ngerjain soal itu nilainya berapa ?” “Nggak tau.” “Bisa ngerjain nggak ?” “Itu yang ngerjain Adele sama Olive. Aku Cuma pake tangan. Nggak pake alat peraga karna menurutku susah. “ “Kalo pake alat peraga kenapa ?” “Kalo yang dulu itu pas pake alat peraga yang ngerjain soal Adele sama Olive, Aku pake tangan. Jadi cepet ketauan. “ Ooo…brati lebih enak pake tangan ?” “Cepet ketemu.” “ooyaayaya…terus perasaanmu pake alat peraga itu gimana ?” “Seneng lah.” “Seneng. Bisa maen-maen ya ?” “he’em. hahahaha.” “haaaa….kalo warnanya alat peraga itu pie ? Bagus nggak menurutmu ?” “Bagus.” “Kemarin warna apa aja si ? Coba diingat.” “Biru sama merah.” “Trus dakonnya ee..papannya itu warna apa ?” “Coklat.” “Nah kalo warna yang merah itu untuk apa ?” “Positif.” “Kalo yang biru ?” “Negatif.” “Nahh pinter. “ “Udah lupa. hehehe” “Ukuranne pie si Tia ?” “Ukuran apa ?” “Ukuran alat peraganya.” “Besar. Kalo diangkat terus ngenain kaki sakit.” “Oiya. Kamu tahu nggak alat peraganya itu dibuat dari apa ?” “Kayu.” “Iya kayu bener. Terus ?” “Banyak amat.” “Pendapatmu tentang penggunaan alat peraga itu pie ? Mudah atau enggak ?Bingung atau enggak ?” “Bingung.” “Bingung ?. Lha bingunge pie ?” “Ya bingung. “ “Bingungnya dimana ?” Comment [wa6]: Subyek tidak ingin langsung menggunakan dakon karena bingung cara pemakaiannya.W3/S4/B39-41 Comment [wa7]: Subyek tidak paham ketika guru menjelaskan menggunakan dakon.W3/S4/B45 Comment [wa8]: Subjek tidak sepenuhnya memahami materi menggunakan alat peraga. W3/S4/B53 Comment [wa9]: Subyek saat mengerjakan soal menggunakan tangan karena menggunakan dakon dianggap susah.W3/S4/B57-58 Comment [wa10]: Subyek merasa menggunakan tangan hasilnya cepat ditemukan. W3/S4/B63 Comment [wa11]: Perasaan subyek seneng saat pakai dakon karena bisa bermain.W3/S4/B65-67 Comment [wa12]: Menurut subyek warna dakon bagus.W3/S4/B69 Comment [wa13]: Menurut subyek ukuran dakon besar. W3/S4/B83 Comment [wa14]: Subyek tahu bahan pembuatan dakon.W3/S4/B85 Comment [wa15]: subyek merasa kebingungan saat menggunakan dakon.W3/S4/B90 167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 “Nggak tau.” “Kok nggak tau.Kamu udah pernah pake alat peraga itu di luar jam sekolah belum ? Misalnya setelah kamu pulang sekolah. “Nggak suka.” “Nggak suka ?. Kamu pingin pake itu lagi nggak ?” “Enggak.” “Kenapa ?” “Susah yang make.” “Ooo…susah yang make. “ “Ribet Bu” “Kamu juga ribet ?” “He’em. “ “Coba deh, negative 3 ditambah 2” “Negatif 1. (menghitung memakai tangan ) “Terus sekarang kalo 5 ditambah negative 2 “ “5 ditambah negative 2 ?. Negatif 3. “Negatif 3. Iya betul. Kalo negative 2 ditambah negative 7.” “Negatif 9. “ “ Negatif 9. Lebih mudah pake tangan ya kamu, lebih lancar juga. Kalo pake dakon bingung.” “Iya.” “Bingungnya pas apa ?” “Pas ngletakinnya.” “Ngletakinnya ?” “Diambil gitu merah sama biru.” “oo…ngambil merah biru itu, bilangan positif negatifnya ?” “Iya.” “Kemarin ada apa aja to di dakonnya itu ?” “Eee…ada manik merah sama biru.” “Iya bener. Terus ada apa lagi ?” “ E… soal sama apa itu namane ? ( sambil minum ). Kunci jawaban” “Iya kunci jawaban. Ada kunci jawabannya enak nggak ?” “Ya enak.” “Enaknya kenapa ?” “Buat nyocokin.” “Oke. Kamu ngerjain soalnya liat kunci nggak ?” “Kadang-kadang. Hehehe” “oo…gitu. Makasih ya Tia. Selamat istirahat.” Iya.” Comment [wa16]: Subyek tidak pingin menggunakan dakon di luar jam sekolah. W3/S4/B99 Comment [wa17]: Menurut subyek pakai dakon itu ribet . W3/S4/B100-103 Comment [wa18]: Subyek menyebutkan bagian-bagian yang ada di kotak. W3/S4/124 Comment [wa19]: Menurut subjek enak dengan adanya kunci jawaban. W3/S4/B126-128 168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.19 Album pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat Album pembelajaran penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 2.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 2.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 2.3 Usia : 9-10 tahun 2.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal B1- B2 - Kertas dan pensil 2.5 Presentasi: 2.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 2.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 2.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 2.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 2.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 2.5.6 Direktris mengambil kartu soal B1 kemudian meletakkan di atas karpet. 6+8 2.5.7 Direktris meminta anak untuk meletakkan biji bilangan positif delapan (8) kemudian biji bilangan positif enam (6) pada papan bilangan bulat. 2.5.8 Anak mengambil delapan (8) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. (ada gambarnya) 2.5.9 Anak mengambil enam (6) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu kelanjutan dari delapan (8) biji yang telah diletakkan. 2.5.10 Anak menghitung jumlah biji yang telah diletakkan pada papan bilangan bilat. 2.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 2.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya. 2.5.13 Anak diminta untuk mengambil kartu soal B2. 2.5.14 Direktris meminta anak untuk meletakkan biji positif lima belas (15) kemudian biji positif tiga (3) pada papan bilangan bulat. 15 + 3 2.5.15 Anak mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 2.5.16 Anak mengambil tiga (3) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama melanjutkan biji yang telah diletakkan semula. 2.5.17 Anak menghitung jumlah biji yang diletakkan pada papan bilangan bulat. 2.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 18 2.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 2.5.20 Anak diminta untuk mengulang kartu soal B1 dan B2 secara mandiri. 2.5.21 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Album pembelajaran penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif 3.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif 3.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 3.3 Usia : 9-10 tahun 3.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal B3-B4 - Kertas dan pensil 3.5 Presentasi 3.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 3.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 3.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 3.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 3.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 3.5.6 Direktris mengambil kartu soal B3 kemudian meletakkan di atas karpet. 2 + (-5) 3.5.7 Direktris mengambil dua (2) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. (ada gambarnya) 3.5.8 Direktris mengambil lima (5) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris kedua. 3.5.9 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet. 3.5.10 Direktris berkata, “Jadi, dua ditambah negatif lima sama dengan negatif tiga ditunjukkan oleh tiga biji negatif yang tidak mempunyai pasangan di lubang baris kedua. 3.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. -3 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal B4. 12 + (-4) 3.5.13 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 3.5.14 Direktris mengambil empat (4) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 3.5.15 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet. 3.5.16 Direktris berkata, “Jadi, dua belas ditambah negatif empat sama dengan delapan ditunjukkan oleh delapan biji positif yang tidak mempunyai pasangan di lubang baris pertama. 3.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8 3.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 3.5.19 Anak diminta untuk mengulang kartu soal B3 dan B4 secara mandiri. 3.5.20 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. 172

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Album pembelajaran penjumlahan negatif bilangan bulat dengan positif 4.1 Tujuan langsung: Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif 4.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 4.3 Usia : 9-10 tahun 4.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal B5-B7 - Kertas dan pensil 4.5 Presentasi: 4.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 4.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 4.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 4.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 4.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 4.5.6 Direktris mengambil kartu soal B5 kemudian meletakkan di atas karpet. -8 + 7 4.5.7 Direktris mengambil delapan (8) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. (ada gambarnya) 4.5.8 Direktris mengambil tujuh (7) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. 4.5.9 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet. 4.5.10 Direktris berkata, “Jadi, negatif delapan ditambah tujuh sama dengan negatif satu ditunjukkan oleh satu biji negatif yang masih ada di papan”. 4.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. -1 173

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal B6. -15 + 15 4.5.13 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 4.5.14 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 4.5.15 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet. 4.5.16 Direktris berkata, “Jadi negatif lema belas ditambah lima belas sama dengan nol ditunjukkan oleh tidak ada biji yang tersisa di papan”. 4.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 0 4.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal B7. -21 + 15 4.5.19 Direktris mengambil dua puluh satu biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 4.5.20 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 4.5.21 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet, kemudian berkata, “ Jadi, negatif dua puluh satu ditambah lima belas sama dengan negatif enam ditunjukkan oleh biji yang tersisa di papan ada enam biji negatif”. 4.5.22 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 174

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 4.5.23 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 4.5.24 Anak diminta untuk mengulang kartu soal B5 –B7 secara mandiri. 4.5.25 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. Album pembelajaran penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif 5.1 Tujuan langsung: Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif 5.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 5.3 Usia : 9-10 tahun 5.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal B8-B10 - Kertas dan pensil 5.5 Presentasi: 5.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 5.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 5.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 5.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 5.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 5.5.6 Direktris mengambil kartu soal B8 kemudian meletakkan di atas karpet. -12 + (-13) 5.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. (ada gambarnya) 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.5.8 Direktris mengambil tiga belas (13) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu pada lubang beris kedua melanjutkan biji yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.9 Direktris menghitung jumlah biji yang ada pada lubang baris kedua. 5.5.10 Direktris berkata, “Jadi, negatif dua belas ditambah negatif tiga belas sama dengan negatif dua puluh lima”. 5.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 25 5.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal B9. -25 + (-5) 5.5.13 Direktris mengambil dua puluh lima (25) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 5.5.14 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua melanjutkan biji yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.15 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet. 5.5.16 Direktris berkata, “Jadi negatif dua puluh lima ditambah negatif lima sama dengan negatif tiga puluh”. 5.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. -30 5.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal B10. -30 + (-20) 5.5.19 Direktris mengambil tiga puluh (30) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.5.20 Direktris mengambil dua puluh biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua melanjutkan biji bilangan yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.21 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada karpet, kemudian berkata, “ Jadi, negatif tiga puluh ditambah negatif dua puluh sama dengan negatif lima puluh”. 5.5.22 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. -50 5.5.23 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 5.5.24 Anak diminta untuk mengulang kartu soal B8 –B10 secara mandiri. 5.5.25 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. Album pembelajaran pengurangan bilangan bulat positif dengan positif 6.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan positif 6.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 6.3 Usia : 9-10 tahun 6.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal C1-C2 - Kertas dan pensil 6.5 Presentasi: 6.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 6.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 6.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 6.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 6.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 6.5.6 Direktris mengambil kartu soal C1 kemudian meletakkan di depan anak. 12 - 4 = 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 6.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi dua belas (12) dengan empat (4), maka kita ambil empat (4) biji dari dua belas (12) biji yang sudah diletakkan. Jadi dua belas (12) dikurangi empat (4) sama dengan delapan (8). 6.5.9 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 6.5.10 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 6.5.11 Direktris mengambil kartu soal C2 kemudian meletakkan di depan siswa. 17 - 20 = 6.5.12 Direktris mengambil tujuh belas (17) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 6.5.13 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi tujuh belas (17) dengan dua puluh (20), maka kita harus mengambil dua puluh (20) biji bilangan positif warna merah. 6.5.14 Direktris berkata, “Lihat! Kita sudah mempunyai tujuh belas (17) biji warna merah, maka kita harus menambahkan tiga (3) pasang biji bilangan yaitu tiga biji warna merah dan tiga biji warna biru.” 6.5.15 Direktris berkata, “Setelah itu, kita dapat mengambil dua puluh (20) biji positif warna merah.” 6.5.16 Jadi tujuh belas (17) dikurangi dua puluh (20) sama dengan negatif tiga (-3). 6.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 6.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 6.5.19 Anak diminta untuk mengulang C1 dan C2 secara mandiri. 6.5.20 Jika anak sudah paham mengenai pengurangan bilangan bulat positif dengan positif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Album pembelajaran pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif 7.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif 7.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 7.3 Usia : 9-10 tahun 7.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal C3-C4 - Kertas dan pensil 7.5 Presentasi: 7.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 7.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 7.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 7.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 7.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 7.5.6 Direktris mengambil kartu soal C3 kemudian meletakkan di depan anak. 12 – (-3) = 7.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 7.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi dua belas (12) dengan negatif tiga (-3), tetapi belum ada biji bilangan negatif pada papan maka kita belum bisa mengambil tiga (3) biji bilangan negatif. 7.5.9 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan tiga pasang biji bilangan yaitu tiga (3) biji bilangan warna merah dan tiga (3) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 7.5.10 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil biji tiga (3) biji bilangan warna biru. Jadi, dua belas (12) dikurangi negatif tiga (-3) sama dengan lima belas (15). 7.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7.5.12 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 7.5.13 Direktris mengambil kartu soal C4 kemudian meletakkan di depan siswa. 30 – (-15) = 7.5.14 Direktris mengambil tiga puluh (30) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 7.5.15 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi tiga puluh (30) dengan negatif lima belas (-15), tetapi belum ada biji bilangan negatif pada papan maka kita belum bisa mengambil lima belas (15) biji bilangan negatif. 7.5.16 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan lima belas (15) pasang biji bilangan yaitu lima belas (15) biji bilangan warna merah dan lima belas (15) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 7.5.17 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil biji lima belas (15) biji bilangan warna biru. Jadi, tiga puluh (30) dikurangi negatif lima belas (15) sama dengan empat puluh lima (45). 7.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 7.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 7.5.20 Anak diminta untuk mengulang C3 dan C4 secara mandiri. 7.5.21 Jika anak sudah paham mengenai pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Album pembelajaran pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif 8.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif 8.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 8.3 Usia : 9-10 tahun 8.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal C5-C7 - Kertas dan pensil 8.5 Presentasi: 8.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 8.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 8.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 8.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 8.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 8.5.6 Direktris mengambil kartu soal C5 kemudian meletakkan di depan anak. -16 – 7 = 8.5.7 Direktris mengambil enam belas (16) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif enam belas (-16) dengan positif tujuh (7), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil tujuh (7) biji bilangan positif. 8.5.9 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan tujuh pasang biji bilangan yaitu tujuh (7) biji bilangan warna merah dan tujuh (7) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 8.5.10 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil tujuh (7) biji bilangan warna merah. Jadi, negatif enam belas (-16) dikurangi tujuh (7) sama dengan negatif dua puluh tiga (-23). 8.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8.5.12 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.13 Direktris mengambil kartu soal C6 kemudian meletakkan di depan anak. -18 - 12 = 8.5.14 Direktris mengambil delapan belas (18) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.15 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif delapan belas (-18) dengan positif dua belas (12), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil dua belas (12) biji bilangan positif. 8.5.16 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan dua belas (12) pasang biji bilangan yaitu dua belas (12) biji bilangan warna merah dan dua belas (12) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 8.5.17 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil dua belas (12) biji bilangan positif warna merah. Jadi, negatif delapan belas (-18) dikurangi dua belas (12) sama dengan negatif tiga puluh (-30). 8.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.20 Direktris mengambil kartu soal C5 kemudian meletakkan di depan anak. -20 – 2 = 8.5.21 Direktris mengambil dua puluh (20) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.22 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif dua puluh (-20) dengan positif dua (2), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil dua (2) biji bilangan positif. 8.5.23 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan dua pasang biji bilangan yaitu dua (2) biji bilangan warna merah dan dua (2) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 8.5.24 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil dua (2) biji bilangan warna merah. Jadi, negatif dua puluh (-20) dikurangi dua (2) sama dengan negatif dua puluh dua (-22). 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8.5.25 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8.5.26 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.27 Anak diminta untuk mengulang melakukan kegiatan untuk C5-C7 secara mandiri. 8.5.28 Jika anak sudah memahami cara melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif, anak diminta untuk merapikan alat peraga dan mengambalikan ke tampat semula. Album pembelajaran pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif 9.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif 9.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 9.3 Usia : 9-10 tahun 9.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal C8-C10 - Kertas dan pensil 9.5 Presentasi: 9.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 9.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 9.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 9.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 9.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 9.5.6 Direktris mengambil kartu soal C8 kemudian meletakkan di depan anak. -5– (-5) = 9.5.7 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima (-5) dengan negatif lima (-5), maka kita dapat mengambil lima (5) biji warna biru. 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9.5.9 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima (-5) dikurangi negatif lima (-5) sama dengan nol (0). 9.5.10 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.11 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 9.5.12 Direktris mengambil kartu soal C9 kemudian meletakkan di depan anak. -15– (-10) = 9.5.13 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.14 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima belas (-15) dengan negatif sepuluh (-10), maka kita dapat mengambil sepuluh (10) biji warna biru. 9.5.15 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima belas (-15) dikurangi negatif sepuluh (-10) sama dengan lima (5). 9.5.16 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.17 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 9.5.18 Direktris mengambil kartu soal C8 kemudian meletakkan di depan anak. -5– (-15) = 9.5.19 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.20 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima (-5) dengan negatif lima belas (15), maka kita harus mengambil lima belas (15) biji negatif warna biru. 9.5.21 Direktris berkata, “Kita sudah mempunyai lima (5) biji negatif berarti kurang 10 biji pada lubang biji negatif, maka kita perlu menambahkan sepuluh (10) pasang biji bilangan, yaitu sepuluh (10) biji warna merah dan sepuluh (10) biji warna biru.” 9.5.22 Direktris berkata, “ Setelah itu kita dapat mengambil lima belas (15) biji bilangan negatif warna biru.” 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9.5.23 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima (-5) dikurangi negatif lima belas (-15) sama dengan sepuluh (10). 9.5.24 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.25 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 9.5.26 Anak diminta untuk mengulang kegiatan untuk C8-C10 secara mandiri. 9.5.27 Jika anak sudah memahami cara melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif, anak diminta untuk merapikan alat peraga dan mengembalikan ke tempat semula. 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dokumentasi Wawancara 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dokumentasi Kegiatan Belajar Mengajar Menggunakan Alat Peraga berbasis Montessori Guru memperkenalkan alat peraga Siswa mencoba memegang alat peraga 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Guru meminta siswa untuk memasangkan manik merah dan manik biru Siswa mengerjakan soal secara berkelompok 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Guru 2 membimbing siswa dalam mengerjakan soal Siswa mengerjakan soal sesuai dengan perintah guru 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siswa mengerjakan soal evaluasi menggunakan alat peraga 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Curriculum Vitae Panggih Rucika Sari lahir di Sidomulyo Rt 01/Rw 03 Kec Purworejo Kab Purworejo pada 25 Januari 1993. Mempunyai orang tua bernama Sumaryo dan Widiartini. Memiliki satu kakak bernama Kristian Widi Nugroho. Pendidikan dasar di SDN Sidomulyo dari tahun 1998 dan tamat pada tahun 2004. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri 4 Purworejo dari tahun 2004, tamat pada tahun 2007. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA 3 Purworejo, dari tahun 2007 dan tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti kegiatan di luar perkuliahan. Kegiatan tersebut meliputi, Pendamping Kelompok Inisiasi Sanata Dharma, mengisi acara dalam pertunjukkan Malam Kreativitas PGSD, mengikuti workshop Montessori yang digelar di PGSD. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “ Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori pada Pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat di Kelas IV SD Karitas Nandan”

(211)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
19
BAB 1 PENDAHULUAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
4
6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
5
33
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
7
BAB 4 DATA RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
3
20
BAB 5 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
9
67
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
9
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGERJAAN HITUNG BILANGAN BULAT DENGAN ALAT PERAGA BOLA DUA WARNA PADA PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGERJAAN HITUNG BILANGAN BULAT DENGAN ALAT PERAGA BOLA DUA WARNA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS 4 SDN 1 KALIGAYAM, WEDI, KLATEN.
0
0
11
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA KELERENG.
0
0
14
BILANGAN BULAT DAN PECAHAN
0
3
38
PROGRAM LINEAR BILANGAN BULAT DUAL SKRIPSI
0
1
96
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA KARTU BILANGAN BULAT DI KELAS IV SDN 2 GUNUNGKARUNG KECAMATAN LURAGUNG KABUPATEN KUNINGAN - I
0
0
20
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
183
Show more