Hubungan antara karakteristik sosio-demografi terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah - USD Repository

Gratis

0
0
165
9 months ago
Preview
Full text

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

  

PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI KALANGAN

MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO,

KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

  

Oleh:

Swaseli Waskitajani

NIM : 108114178

FAKULTAS FARMASI

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

  

PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI KALANGAN

MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO,

KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

  

Oleh:

Swaseli Waskitajani

NIM : 108114178

FAKULTAS FARMASI

  Persetujuan Pembimbing HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI KALANGAN MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO, KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH Skripsi yang diajukan oleh: Swaseli Waskitajani

  NIM : 108114178 telah disetujui oleh Pembimbing Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. tanggal : ...................................

  

Pengesahan Skripsi Berjudul:

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI

TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI KALANGAN

  

MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO,

KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH

Oleh:

Swaseli Waskitajani

  

NIM : 108114178

Dipertahankan dihadapan Panitia Penguji Skripsi

Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma

  

Pada tanggal: 6 Agustus 2014

Mengetahui Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

  Dekan Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt.

  Panitia Penguji Tanda tangan 1. Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. ......................

HALAMAN PERSEMBAHAN

  “Ketika masa lalumu buruk dan tidak ada mesin waktu untuk kembali dan memperbaikinya, iklaskan dan lepaskan masa lalumu karena kamu punya waktu saat ini untuk membuat masa depanmu menjadi lebih baik” (R. Eka A. S)

  Karyaku kupersembahkan untuk : Tuhan Yesus Kristus Ibu dan Bapak Elwas Ajiwiraka

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasisawa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Swaseli Waskitajani Nomor mahasiswa : 108114178

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan

Universitas Sanata Dharma yang berjudul :

  

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI

TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI KALANGAN

MASYARAKAT DESA BANTIR, KECAMATAN CANDIROTO,

KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH

  

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau

media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya

maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 6 Agustus 2014 Yang menyatakan

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Apabila dikemudian hari ditemukan indikasi plagiarism dalam naskah

ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

  Yogyakarta, 6 Agustus 2014 Penulis Swaseli Waskitajani

  

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

bimbingan, rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul “Hubungan antara Karakteristik Sosio-Demografi terhadap Tingkat

Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep di

Kalangan Masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten

Temanggung, Jawa Tengah

  . Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk

menyelesaikan pendidikan pada program studi Farmasi Universitas Sanata

Dharma.

  Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini telah mendapatkan

dukungan, bimbingan serta bantuan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat

pada waktunya. Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-

besarnya kepada :

  1. Aris Widayati, Msi., Ph.D., Apt. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  2. Aris Widayati, Msi., Ph.D., Apt. selaku dosen pembimbing yang setia dan sabar dalam membantu dan membimbing penyelesaian skripsi

  3. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt dan Dita Maria Virginia, M.Sc., Apt. Selaku

dosen penguji yang membantu dalam menyempurnakan skripsi ini

4. Responden yang memberikan kontribusi di dalam penelitian ini

  7. Eva Ekayanti Pala, Rinda Meita Pangastuti, Sagung Intan Kartika Wardhana, Realita Rosada, Renny Hidayah, Rahadhian Eka Adhi Saputra yang memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini

  8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu Penulis menyadari bahwa apa yang penulis tulis dalam skripsi ini masih

jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran

sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. Semoga apa yang penulis tuliskan dapat

berguna bagi semua pihak yang membutuhkan.

  Penulis

  

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................. i

  HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv PERNYATAAN PUBLIKASI ............................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi PRAKATA .............................................................................................. vii DAFTAR ISI ........................................................................................... ix DAFTAR TABEL ................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xvi

  INTISARI ............................................................................................... xvii .............................................................................................. xviii ABSTRACT BAB I PENGANTAR .............................................................................

  1 A. Latar Belakang................................................................................

  1 1. Permasalahan ............................................................................

  4 2. Keaslian penelitian ...................................................................

  5 3. Manfaat penelitian ....................................................................

  6

  BAB II PENELAAHAN PUSTAKA .....................................................

  9 A. Karakteristik Sosio-Demografi ......................................................

  9 B. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan ................................................

  11 C. Antibiotika .....................................................................................

  16 D. Landasan Teori ...............................................................................

  23 E. Hipotesis .........................................................................................

  25 BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

  26 A. Jenis dan Rancangan Penelitian .....................................................

  26 B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ................................

  26 1. Variabel .....................................................................................

  26 2. Definisi operasional ..................................................................

  27 C. Populasi, Subjek dan Kriteria Inklusi Penelitian ............................

  31 D. Teknik Sampling dan Besar Sampel ..............................................

  31 E. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................

  33 F. Instrumen Penelitian .......................................................................

  34 G. Tata Cara Penelitian .......................................................................

  34 1. Perijinan ....................................................................................

  34 2. Penelusuran data populasi .......................................................

  34 3. Pembuatan kuesioner ...............................................................

  35 H. Tata Cara Analisis Hasil ...............................................................

  38

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................

  41 A. Karakteristik Sosio-Demografi ......................................................

  41 1. Umur responden ........................................................................

  41 2. Jenis kelamin responden ...........................................................

  42 3. Status perkawinan .....................................................................

  43 4. Jenis pekerjaan responden ........................................................

  44 5. Pendapatan keluarga .................................................................

  45 6. Tingkat pendidikan terakhir responden ....................................

  46 B. Tingkat Pengetahuan Mengenai Antibiotika, Sikap dan Tindakan Mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep...........................

  47 1. Tingkat pengetahuan mengenai antibiotika .............................

  47 2. Sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep ...............

  52 3. Tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep .........

  54 C. Pola Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep Responden ................

  56 D. Hubungan antara Karakteristik Sosio-Demografi terhadap Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep ................................................................

  56

  1. Hubungan karakteristik sosio-demografi dengan tingkat

pengetahuan tentang antibiotika ...............................................

  56

  2. Hubungan karakteristik sosio-demografi dengan sikap tentang

  4. Hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai

  64

penggunaan antibiotika tanpa resep ..........................................

  5. Hubungan antara tingkat pengetahuan tanpa resep terhadap

tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep ...........................

  65

  6. Hubungan antara sikap mengenai antibiotika tanpa resep

terhadap tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep ............

  65 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................

  68 A. Kesimpulan ....................................................................................

  68 B. Saran ...............................................................................................

  69 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

  70 LAMPIRAN ............................................................................................

  74 BIOGRAFI PENULIS ............................................................................ 146

  

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel I Daftar Antibiotika yang termasuk dalam Obat Wajib

  Apotek No 1 (KepMenKes

No.347/MENKES/SK/VII/1990) ..................................

  17 Tabel II Antibiotika yang termasuk dalam OWA (KepMenKes No. 924/Menkes/Per/X/1993) ........................................

  18 Tabel III Daftar Antibiotika yang termasuk dalam Obat Wajib Apotek No 3 (KepMenKes No.

  19 1176/Menkes/SK/X/1999 ) .........................................

  Tabel IV Proporsi rumah tangga yang menyimpan antibiotika

tanpa resep .....................................................................

  22 Tabel V Variabel penelitian ........................................................

  27 Tabel VI Hasil uji reliabilitas .......................................................

  37 Tabel VII Hasil uji normalitas .......................................................

  38 Tabel VIII Pengenalan responden tentang antibiotika ....................

  48 Tabel IX Jenis antibiotika yang disebutkan responden ................

  48 Tabel X Tingkat pengetahuan mengenai antibiotika ...................

  52 Tabel XI Sikap responden mengenai penggunaan antibiotika

tanpa resep .....................................................................

  53

  Tabel XIII Tindakan responden terkait penggunaan antibiotika tanpa resep .....................................................................

  55 Tabel XIV Tindakan responden terkait penggunaan antibiotika tanpa resep per responden .............................................

  55 Tabel XV Hubungan karakteristik sosio-demografi dengan pengetahuan tentang antibiotika ....................................

  56 Tabel XVI Hubungan karakteristik sosio-demografi dengan sikap tentang penggunaan antibiotika tanpa resep ..................

  59 Tabel XVII Hubungan karakteristik sosio- demografi dengan tindakan tentang antibiotika tanpa resep .......................

  64 Tabel XVIII

Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan tentang

antibiotika terhadap sikap mengenai penggunaan

antibiotika tanpa resep ...................................................

  64 Tabel XIX Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan tentang

antibiotika terhadap tindakan mengenai antibiotika

tanpa resep .....................................................................

  65 Tabel XX Tabulasi silang antara sikap mengenai antibiotika

tanpa resep dengan tindakan mengenai penggunaan

antibiotika tanpa resep ...................................................

  66

  

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Bagan antara karakteristik sosio

  • – demografi,

    pengetahuan, sikap, dan tindakan .................................

  24 Gambar 2. Cara pembagian pengambilan sampel .........................

  31 Gambar 3. Karakteristik sosio- demografi berdasarkan umur ......

  41 Gambar 4. Karakteristik sosio-demografi berdasarkan jenis

kelamin .........................................................................

  42 Gambar 5. Karakteristik sosio- demografi berdasarkan status

perkawinan ....................................................................

  42 Gambar 6. Karakteristik sosio- demografi berdasarkan pekerjaan.

  43 Gambar 7. Grafik karakteristik sosio-demografi berdasarkan

pendapatan keluarga .....................................................

  44 Gambar 8. Grafik karakteristik sosio-demografi berdasarkan

tingkat pendidikan terakhir .........................................

  46 Gambar 9. Grafik persepsi responden tentang cara memperoleh

antibiotika.....................................................................

  48 Gambar 10. Grafik pengetahuan tentang antibiotika secara umum.

  49 Gambar 11 Hasil hubungan karakteristik sosio-demografi, tingkat

pengetahuan, sikap dan tindakan ...................................

  65

  

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Kuesioner untuk uji bahasa .........................................

  73 Lampiran 2. Contoh kuesioner uji bahasa yang sudah disi responden ....................................................................

  79 Lampiran 3. Hasil expert judgement .............................................

  85 Lampiran 4. Hasil uji reliabilitas .....................................................

  91 Lampiran 5. Contoh kuesioner yang diisi responden ......................

  92 Lampiran 6. Hasil uji kuesioner ...................................................... 101 Lampiran 7. Hasil uji normalitas ..................................................... 115 Lampiran 8. Distribusi karakteristik sosio-demografi, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan ................................ 116 Lampiran 9. Hasil uji korelasi chi - square ..................................... 124 Lampiran 10. Surat ijin penelitian dari KESBANGPOL Kabupaten

  Temanggung ................................................................ 142

  

INTISARI

Antibiotika merupakan obat keras yang harus dibeli dengan resep dokter.

  

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara karakteristik

sosio-demografi tehadap tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan

antibiotika tanpa resep. Penelitian ini dilakukan di Desa Bantir, Candiroto,

Temanggung, Jawa Tengah.

  Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross . Pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling dengan sectional

kriteria responden berumur diatas 18 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan

adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.

  Hasil penelitian menunjukkan responden berumur 22 sampai 40 tahun

(40,3%), perempuan sebesar 81,1%, menikah sebesar 87,4%, ibu rumah tangga

sebesar 30,8%, pendapatan keluarga <Rp. 300.000,00 perbulan sebesar 61,6% dan

lulus SD sebesar 44,7%. Sebesar 97,5 % responden mempunyai tingkat

pengetahuan yang rendah mengenai antibiotika. Sebanyak 52,8 % responden

memiliki sikap netral mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep. Responden

memiliki tindakan netral terkait penggunaan antibiotika tanpa resep (61,6%). Ada

hubungan antara umur dengan sikap mengenai antibiotika tanpa resep. Ada

hubungan antara sikap mengenai antibiotika tanpa resep dengan tindakan

penggunaan antibiotika tanpa resep. Tidak ada hubungan antara tingkat

pengetahuan dengan sikap maupun tindakan terkait dengan penggunaan

antibiotika tanpa resep.

  

Kata kunci : Antibiotika, karakteristik sosio-demografi, tingkat pengetahuan,

sikap, tindakan.

  

ABSTRACT

Antibiotic is a kind of drug that only can be buy with prescribing. The

aim of the study is to identify association between sosio-demografic factor with

knowledge, attitude and practice about nonprescribed antibiotic. This study was

done at Bantir, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah.

  This study using descriptive analitic design and crossectional approach.

Participant were reqruited using cluster random sampling with criteria more

than 18 year old. Data were collected by the list of questionnaires and chi square

test was used to analize data.

  Results of the study show participant in this study 22 until 44 year old

(40,3%), woman 81,1%, married 87,4%, house wife 30,8%, family income less

than Rp. 300.000,00 /month 61,6% dan elementary 44,7%. 97,5 % particiopant

had poor knowledge about antibiotic. 52,8% participant had neutral attitude

about using nonprescribed antibiotic. Participant had neutral practice about

nonprescribed antibiotic (61,6%). There is association between age and attitude

about nonprescribed antibiotic. There is association between attitude and

practice about nonprescribed antibiotic. There is not association between

knowledge with attitude and practice about nonprescribed antibiotic.

  Keywords : Antibiotic, sosio-demographic factor, knowledge, attitude, practice.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Resistensi antimikroba merupakan salah satu masalah global. Resistensi

  

antimikroba bukan hanya masalah bagi negara - negara berkembang tetapi juga

negara maju (WHO, 2001). Resistensi yang cukup terkenal yaitu pada bakteri

Staphylococcus aureus yang telah dilaporkan resisten terhadap metisilin.

  

Presentase dari MRSA (Methicillin-resistant S. Aureus) di Asia cukup tinggi.

Berikut ini presentase MRSA dibeberapa negara Asia yaitu di Taiwan mencapai

60 %, di Hongkong sebesar 70 %, Cina sebesar 20 %, Singapura 60 % dan

Filipina 5% (SENTRY APAC, 2002) Selama 40 tahun terakhir, penggunaan antibiotika secara irasional

menjadi suatu masalah di Indonesia. Dokter sering meresepkan antibiotika tanpa

mengecek jenis kuman yang mengakibatkan infeksi dengan uji laboratorium

(Anna, 2013).

  Seperti kita tahu, undang-undang di Indonesia menyebutkan bahwa

antibiotika merupakan golongan obat keras yang tidak bisa didapatkan tanpa

resep. Namun pada kenyataannya antibiotika dapat dijual bebas tanpa resep dokter

di apotek maupun ditoko obat. Bahkan sebagian masyarakat biasa membeli serta

  

kalangan masyarakat (Anna, 2013). Sebuah studi di Arab Saudi menunjukkan

bahwa 77,6 % antibiotika diberikan dan dapat diterima tanpa resep. Ironisnya

antibiotika ini 90 % digunakan untuk mengobati penyakit dengan gejala ringan

yaitu sakit tenggorokan dan diare (Abdulhak et al., 2011). Widayati, Suryawati,

Crespigny, dan Hiller (2012) dalam penelitiannnya tentang penggunaan

antibiotika sebagai suatu sarana swamedikasi di kota Yogyakarta mengungkapkan

bahwa sebagian besar masyarakat mengkonsumsi antibiotika untuk gejala yang

ringan yaitu batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam dan kebanyakan

penggunaannya selama kurang dari 5 hari. Widayati et al. (2012) juga

menyatakan bahwa lebih dari setengah responden penelitiannnya mempunyai

kehendak menggunakan antibiotika tanpa resep sebagai salah satu pilihan untuk

pengobatan mandiri.

  Berbagai faktor mempengaruhi penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat. Faktor

  • – faktor tersebut diantaranya adalah faktor sosio-

    demografi dan faktor pengetahuan masyarakat tentang antibiotika. Karakter sosio-

    demografi mengambarkan tentang perbedaan usia, jenis kelamin, status, daerah

    asal, pekerjaan serta tingkat pendidikan. Gambaran sosio-demografi akan

    mempengaruhi perilaku dari masyarakat dan outcome dari kesehatan masyarakat

    (Gibney, Margetts, Kearney, dan Arab, 2008). Adanya perbedaan karakteristik

    sosio - demografi akan menghasilkan perilaku pengobatan yang berbeda-beda,

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

suatu perilaku terbuka (overt behavior) atau tindakan nyata (Sunaryo, 2004).

  

Penelitian Al-Dossari (2013) menemukan bahwa orang tua didaerah Saudi Arabia

memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai antibiotika untuk URTI

(Upper Repiratory Tract Infection) . Hal ini mengakibatkan adanya kesalahan

dalam tindakan dan sikap yang kurang tepat dalam menggunakan antibiotika

untuk anak-anak. Hanya separuh dari orang tua tersebut yang berkonsultasi

dengan dokter apabila anaknya mengalami URTI (Upper Repiratory Tract

Infection) . Sehingga banyak orang tua yang memiliki sikap yang kurang baik

dalam penggunaan antibiotika tanpa resep. Bahkan kebanyakan orang tua

cenderung menggunakan antibiotika tanpa resep.

  Desa Bantir merupakan salah satu desa di Kecamatan Candiroto,

Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dengan jumlah penduduk mencapai 2.177

jiwa dan terbagi menjadi 4 RW (rukun warga) serta 14 RT (rukun tetangga). Dari

penelusuran awal, peneliti menemukan adanya beberapa macam antibiotika dan

golongan obat keras lainnya yang dapat dibeli dengan mudah tanpa resep dokter.

Beberapa macam obat seperti metilprednison (biasa disebut SD ijo dalam bahasa

setempat), tetrasiklin dan bahkan ampisilin dapat dijumpai di toko-toko kelontong

desa dan biasa dibeli oleh masyarakat setempat.

  Berdasarkan hal-hal tersebut peneliti terdorong melakukan penelitian

  

Tengah. Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran dan informasi awal

mengenai faktor – faktor perilaku penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan

  • – masyarakat pedesaan sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dan upaya upaya perbaikan.

1. Perumusan masalah

  a. Bagaimana karakteristik sosio - demografi masyarakat Desa Bantir Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah? b. Bagaimana tingkat pengetahuan tentang antibiotika, sikap dan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep masyarakat Desa Bantir

  Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah?

  c. Bagaimana pola penggunaan antibiotika tanpa resep masyarakat Desa Bantir Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah? d. Apakah ada hubungan antara : 1) Karakteristik sosio-demografi dengan tingkat pengetahuan tentang antibiotika? 2) Karakteristik sosio-demografi dengan sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep? 3) Karakteristik sosio-demografi dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep?

  5) Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep? 6) Sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep?

2. Keaslian penelitian

  Penelitian yang mirip dengan ini adalah : a.

  Penelitian dengan judul “Hubungan antara Karakteristik Masyarakat dengan Penggunaan Antibiotika yang Diperoleh Secara Bebas di Kota Medan” Djuang (2010). Penelitian Djuang (2010) memfokuskan pada karakteristik sosio - ekonomi dan tingkat pendidikan terakhir. Penelitian Djuang (2010) memiliki lokasi didaerah perkotaan Medan sedangkan penelitian ini dilakukan di lingkup pedesaan.

b. Penelitian dengan judul

  “Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Antibiotika dan Penggunaannya di Kalangan Mahasiswa Non Medis Universitas Sumatera Utara” Pulungan (2010). Penelitian Pulungan (2010) memfokuskan pada subjek penelitian yaitu mahasiswa sedangkan penelitian ini menggunakan subjek penelitian masyarakat umum di pedesaan.

  c.

  Penelitian dengan judul “Self-medication with Antibiotics in Yogyakarta dilingkungan kota sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan subjek penelitian dilingkungan pedesaan.

  d.

  Penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Resistensi Antibiotik dengan Perilaku Penggunaan Antibiotik yang Irasional pada Pasien di Puskesmas Rampal Celaket Malang”(Wahyunadi, 2013). Penelitian Wahyunadi (2013) memfokuskan pada tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotika yang irasional serta bahaya resistensi antibiotika. Penelitian ini lebih memfokuskan pada karakteristik sosio-demografi, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang antibiotika tanpa resep.

  Sejauh pengetahuan penulis, penelitian tentang hubungan antara

karakteristik sosio - demografi, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan

penggunaan antibiotika tanpa resep dikalangan masyarakat Desa Bantir,

Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah belum pernah

dilakukan.

3. Manfaat penelitian

  a. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan

ilmu dalam lingkup bidang kefarmasian, kedokteran, dan ilmu kesehatan b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang penggunaan

antibiotika dimasyarakat yang dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil

langkah dalam rangka upaya perbaikan perilaku kesehatan yang kurang tepat di

masyarakat terkait dengan penggunaan antibiotika tanpa resep.

B. Tujuan Penelitian 1.

   Tujuan umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara karakteristik sosio

  • – demografi terhadap tingkat pengetahuan

    tentang antibiotika, sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep dan

    tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat Desa Bantir,

    Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

2. Tujuan khusus

  Penelitian ini memiliki tujuan khusus yaitu :

a. Mengidentifikasi karakteristik sosio - demografi masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

  

b. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang antibiotika, sikap, dan tindakan

mengenai antibiotika tanpa resep masyarakat Desa Bantir, Kecamatan

  

c. Mendeskripsikan pola penggunaan antibiotika tanpa resep dikalangan

masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

  d. Mengidentifikasi hubungan antara : 1) Karakteristik sosio-demografi dengan tingkat pengetahuan tentang antibiotika. 2) Karakteristik sosio-demografi dengan sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  3) Karakteristik sosio-demografi dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  4) Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dengan sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  5) Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  6) Sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Karakteristik Sosio - Demografi Karakter sosio - demografi mengambarkan tentang perbedaan usia, jenis

  

kelamin, status, daerah asal, pekerjaan serta tingkat pendidikan. Gambaran sosio-

demografi akan mempengaruhi perilaku dari masyarakat dan outcome dari

kesehatan masyarakat (Gibney dkk., 2008).

  1. Usia Notoadmojo (2012) menyebutkan seiring dengan bertambahnya umur

maka proses perkembangan mental pada seseorang akan semakin baik. Tetapi

pada umur tertentu perkembangan mental tersebut tidak cepat seperti pada

manusia dengan umur belasan. Bertambahnya umur seseorang dapat

mempengaruhi bertambahnya tingkat pengetahuan tetapi pada umur-umur tertentu

kemampuan seseorang untuk mengingat serta menerima suatu pengetahuan baru

akan berkurang. Suparlan (1995) menyebutkan bahwa semakin tua umur

seseorang, pengalaman yang didapatkan akan semakin banyak pula dan akan

meningkatkan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

  2. Jenis kelamin Jenis kelamin merupakan salah satu variabel penelitian epidemiologi.

  

Responden perempuan akan lebih peduli terhadap kesehatan dibandingkan dengan

laki-laki.

  3. Status perkawinan

  • – Status perkawinan merupakan salah satu variabel karakteristik sosio

    demografi. Status perkawinan adalah salah satu variabel yang penting yang

    kemungkinan dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan outcome kesehatan

    (Gibney dkk., 2008).

  4. Tingkat sosial ekonomi Tingkat sosial ekonomi seseorang merupakan variabel signifikan yang

mempengaruhi status kesehatan dan menentukan perilaku kesehatan. Status sosio-

ekonomi yang dimaksudkan adalah variabel tingkat pendidikan, pendapatan

keluarga dan struktur keluarga yang semuanya itu agaknya berpengaruh pada

keyakinan kesehatan, praktik kesehatan (Bastable, 2002).

  Orang dengan status ekonomi yang tinggi biasanya memiliki tingkat

penghasilan yang tinggi serta memiliki pekerjaan dengan strata yang lebih tinggi

yang dituntut dengan ketrampilan dan profesionalisme yang tinggi pula.

Sebaliknya orang dengan status sosio - ekonomi rendah biasanya memiliki jenis

pekerjaan dengan tingkat penghasilan yang rendah akibatnya beberapa keperluan

seperti biaya kesehatan tidak mampu dipenuhi (Dariyo, 2004).

  Tingkat ekonomi yang baik akan memungkinkan anggota keluarga untuk

  

Keadaaan sosial ekonomi akan memegang peranan penting dalam meningkatkan

status kesehatan keluarga. Dengan tingkat penghasilan yang rendah, akan

berdampak pada pengurangan pemanfaatan pelayanan kesehatan karena dayabeli

obat maupun biaya transportasi mengunjungi pusat pelayanaan (Notoadmojo,

2007).

5. Tingkat pendidikan terakhir

  Tingkat pendidikan akan berpengaruh pada pola pikir dari seseorang

(Azwar, 2007). Hasil penelitian Gaol (2011) juga menemukan bahwa masyarakat

dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung akan memberikan perilaku

kesehatan yang baik.

  Kristina, Prabandani, dan Sudjaswadi (2007) menyebutkan bahwa ada

hubungan secara signifikan yang ditunjukkan dalam karakteristik sosio-demografi

yaitu jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan serta tingkat pendapatan

dengan perilaku pengobatan mandiri yang rasional pada masyarakat.

B. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan

1. Pengetahuan

  Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris

khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt

  

sebelum seseorang mengadopsi perilaku, didalam diri orang tersebut terjadi suatu

proses yang berurutan yaitu :

  1. Awareness (kesadaran), individu menyadari adanya stimulus.

  2. Interest (tertarik), individu mulai tertarik pada stimulus.

  

3. Evaluation (menimbang-nimbang), individu menimbang-nimbang tentang

baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Pada proses ketiga ini subjek sudah memiliki sikap yang lebih baik lagi.

  4. Trial (mencoba), individu sudah mulai mencoba perilaku baru.

  

5. Adoption, individu telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, sikap,

dan kesadarannya terhadap stimulus.

  Green dalam Notoadmojo (2012) menjelaskan pengetahuan adalah salah

satu faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat. Faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu :

  

1. Faktor internal seperti faktor dari dalam diri sendiri misalnya intelegensia,

minat, kondisi fisik.

  

2. Faktor eksternal merupakan faktor dari luar diri sendiri misalnya keluarga,

masyarakat atau sarana

  

3. Faktor pendekatan belajar merupakan faktor upaya belajar mislanya strategi

dan metode pembelajaran.

  Pengukuran tingkat pengetahuan seseorang dapat dikategorikan sebagai

b. Tingkat pengetahuan dikatakan sedang apabila responden dapat menjawab 56%-75% dari seluruh pertanyaan di kuesioner dengan benar.

  c.

   Tingkat pengetahuan dikatakan rendah apabila responden menjawab kurang dari 56 % dari seluruh pertanyaan di kuesioner dengan benar.

  2. Sikap Secord and Backman dalam Notoadmojo (2012) mendefinisikan sikap sebagai : “keteraturan tertentu dalam hal perasaaan (afeksi), pemikiran kognisi dan

predesposisi tindakan konasi seseorang terhadap suatu aspek dilingkungan

seki tarnya”.

  Sikap seseorang terhadap suatu objek selalu berperanan sebagai perantara

antara responnya dan objek yang bersangkutan. Allport dalam Notoadmojo (2012)

menyebutkan bahwa sikap memiliki beberapa komponen pokok yaitu :

  1. Kepercayaan, ide, konsep terhadap suatu objek

  2. Kecenderungan untuk bertindak 3. Kehidupan emosional maupun suatu evaluasi terhadap suatu objek tertentu.

  

Menurut Azwar (2007) sikap memiliki ciri ciri sebagai berikut :

  

a. Sikap merupakan sebuah pemikiran dan perasaan, hasil pemikiran dan

perasaan seseorang atau dapat diartikan sebagai pertimbangan pribadi terhadap objek.

  

b. Sikap memerlukan orang lain yang akan menjadi acuan. Acuan ini merupakan

faktor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi tetap mengacu

  

c. Sumber daya yang tersedia merupakan faktor pendukung untuk bersikap

positif atau negatif terhadap suatu objek maupun stimulus tertentu dengan pertimbangan kenbutuhan terhadap individu tersebut.

d. Sosial budaya berperan besar dalam memengaruhi pola pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek.

  Tingkatan dalam sikap menurut Notoadmojo (2012) :

  

1. Menerima dapat diartikan bahwa subjek dapat menerima serta mau

memperhatikan stimulus yang diberikan oleh objek.

  

2. Merespon, subjek dapat memberikan jawaban, mengerjakan sesuatu. Hal ini

mengindikasikan sebuah sikap terhadap objek tertentu.

  

3. Menghargai, subjek dapat mengajak orang lain dalam melakukan respon

terhadap seuatu merupakan indikasi sikap tingkat tiga.

  

4. Bertanggung jawab, sikap yang paling tinggi adalah dapat bertanggung jawab

atas sesuatu yang dipilih dengan semua resikonya.

  Sikap dapat diukur dengan menanyakan secara langsung pendapat

maupun pertanyaan responden terhadap sesuatu objek tertentu. Selain itu dapat

dilakukan dengan beberapa pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian

menanyakan pendapat responden mengenai pernyataan tersebut (Notoadmojo,

2012).

3. Tindakan

  Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Untuk

mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan faktor

dukungan (Notoadmojo, 2012).

  

Menurut Notoadmojo (2012), tindakan memiliki 4 tingkatan yaitu:

  1. Persepsi yaitu mengenal serta memiliki objek

  

2. Respon terpimpin, jika seseorang dapat melakukan tindakan dengan

berururtan

  3. Mekanisme, seseorang dapat melakukan sesuatu dengan benar

  4. Adaptasi, seseorang dapat memodifikasi suatu tindakan tersebut Menurut Green dalam Noorkasiani (2009) perilaku disebabkan oleh

berbagai macam faktor seperti faktor predisposisi yaitu sikap keyakinan, nilai,

motivasi dan pengetahuan. Kemudian faktor pendukung terjadinya perilaku atau

tindakan seperti sarana prasarana dan fasilitas. Dan faktor penguat seperti

contohnya keluaraga, petugas kesehatan dan lainnya.

  Pengukuran perilaku dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara

langsung dan secara tidak langsung. Teknik pengukuran secara langsung

dilakukan dengan mengobservasi tindakan atau suatu kegiatan yang dijalankan

oleh subjek. Sedangkan pengukuran tidak langsung yaitu dengan wawancara

terhadap kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan (recall) dengan rentang waktu

C. Antibiotika

  1. Definisi dan mekanisme kerja antibiotika Antibiotika adalah zat kimia yang biasanya dihasilkan oleh fungi dan

bakteri yang memilki aktivitas membunuh maupun menghambat pertumbuhan

bakteri. Dewasa ini antibiotika tidak hanya zat yang dihasilkan dari fungi maupun

bakteri tetapi juga dapat dibuat secara semisintesis dan sintesis. Antibiotika

semisintesis dibuat secara biosintesis. Contoh dari antibiotika semisintesis adalah

penisilin V, sedangkan antibiotika sintesis dibuat melalui sintesa kimiawi,

misalnya kloramfenikol (Tjay dan Rahardja, 2007).

  Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat

kuman maupun prevensi infeksi misalnya pada pembedahan besar. Antibiotika

tidak akan aktif terhadap kebanyakan virus karena metabolisme virus tergantung

dari inangnya (Tjay et al., 2007).

  Mekanisme kerja dari antibiotika meliputi : penghambatan sintesa protein

sehingga kuman atau bakteri akan mati (kloramfenikol, tetrasiklin,

aminoglikosida, makrolida dan linkomisin), bekerja pada dinding sel bakteri

(penisilin dan sefalosporin) serta merusak permeabilitas membran sel

(polimiksin, zat-zat polyen dan imidazol) (Tjay et al., 2007).

  2. Penggolongan antibiotika sebagai obat keras Antibiotika merupakan jenis obat yang hanya dapat diperoleh dengan

  Menurut undang-undang ST No 419 tanggal 22 Desember 1949 tentang

obat keras menyebutkan bahwa daftar obat keras terbagi kedalam 2 golongan

yaitu obat keras golongan G serta obat keras golongan W. Antibiotika termasuk

kedalam daftar obat G (obat-obat berbahaya). Pendistribusian serta penjualannya

harus dilakukan dengan resep dokter kecuali untuk pedagang

  • – pedagang besar

    yang diakui, apoteker-apoteker, dokter-dokter gigi dan dokter-dokter Hewan. Hal

    ini tertulis dalam pasal 3 ayat 2 yang menyebutkan bahwa:

  “Penyerahan dari bahan-bahan G, yang menyimpang dari resep Dokter,

Dokter Gigi, Dokter Hewan dilarang, larangan ini tidak berlaku bagi

penyerahan-penyerahan kepada Pedagang

  • – pedagang Besar yang diakui,

    Apoteker-apoteker, Dokter-dokter Gigi dan Dokter-dokter Hewan demikian juga

    tidak terhadap penyerahan- penyerahan menurut ketentuan pada pasal 7 ayat 5”.

  Beberapa jenis antibiotika digolongkan kedalam OWA. OWA (obat

wajib apotek) adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada

pasien tanpa resep dokter di apotek. Obat wajib apotek diatur dalam Keputusan

Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993.

  Berikut adalah daftar antibiotika yang termasuk dalam obat wajib apotek no 1 menurut peraturan menteri kesehatan nomor 347/MENKES/SK/VII/1990 :

Tabel I. Daftar Antibiotika yang termasuk dalam Obat Wajib Apotek No 1

(KepMenKes No.347/MENKES/SK/VII/1990)

  Kelas Jumlah tiap jenis

  

Nama obat Indikasi

terapi obat per pasien Obat kulit

1. Tetrasiklin/oksitetrasiklin Infeksi bakteri Maksimal 1 tube

  topikal pada kulit (lokal)

  2. Kloramfenikol Infeksi bakteri Maksimal 1 tube pada kulit (lokal) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor

924/MENKES/PER/X/1993 tentang obat wajib apotek no 2, ada beberapa

antibiotika yang dimasukkan kedalam obat wajib apotek sebagai berikut :

Tabel II. Antibiotika yang termasuk dalam OWA (KepMenKes No.

  

924/Menkes/Per/X/1993)

No. Nama generik obat Jumlah maksimal tiap Pembatasan

jenis obat per pasien

  Bacitracin 1 tube Sebagai obat luar untuk

  1 infeksi pada Kulit

  

2 Clindamicin 1 tube Sebagai obat luar untuk

obat acne

  

3 Isoconazol 1 tube Sebagai obat luar untuk

infeksi jamur lokal Ketokonazole Kadar < 2%: Sebagai obat luar untuk

  4 infeksi jamur lokal

  • Krim 1 tube
  • Scalp sol. 1 botol Levamizole Tab 50 mg, 3 tab

  5

  

6 Oxiconazole Kadar < 2%, 1 tube Sebagai obat luar untuk

infeksi jamur Lokal

  

7 Polymixin B Sulfate 1 tube Sebagai obat luar untuk

infeksi jamur Silver Sulfadiazin 1 tube Sebagai obat luar untuk

  8 infeksi bakteri pada kulit

  9 Sulfasalazine 20 tablet

  

10 Tioconazole 1 tube Sebagai obat luar untuk

infeksi jamur Lokal

  Berikut adalah daftar antibiotika yang dimasukkan kedalam obat wajib apotek no 3 sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI no 1176/MENKES/SK/X/1999 tentang daftar obat wajib apotek no 3 :

  

Tabel III. Daftar Antibiotika yang termasuk dalam Obat Wajib Apotek No 3

(KepMenKes No. 1176/Menkes/SK/X/1999 )

Jumlah tiap Kelas Nama obat Indikasi jenis obat per terapi pasien

1. Kategori (2HRZE/4H3R3) Antituberkulo Satu paket

  Antiinfeksi umum Kombipak II sa

  a. Isoniazid 300mg

  b. Rifampisin 450 mg

  c. Pirazinamid 1500 mg

  d. Etambutol 750 mg Komnipak III a. Isoniazid 600 mg

  b. Rifampisin 450 mg

  2. Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3) Kombipak II Fase awal a. Isoniazid 300mg

  b. Rifampisin 450 mg

  c. Pirazinamid 1500 mg

  d. Etambutol 750 mg

  e. Streptomisin 0,75 mg Kombipak IV a. Isoniazid 600 mg

  b. Rifampisin 450 mg

  c. Etambutol 1250 mg

  3. Kategori III (2HRZ/4H3R3) Kombipak I Fase awal

  a. Isoniazid 300mg

  b. Rifampisin 450 mg

  c. Pirazinamid 1500 mg Kombipak III Fase lanjutan

  d. Isoniazid 600mg Rifampisin 450 mg Obat kulit

  1. Asam azeleat Antiakne Maksimal

  1

  2. Asam fusidat Antimikroba tube 5 g

  3. Motretinida Antiakne

  4. Tretinoin Antiakne

  3. Penggunaan antibiotika yang rasional Penggunaan antibiotika harus digunakan dengan resep dokter dan tetap

diminum sampai habis walaupun kondisi pasien telah membaik. Selain itu

antibiotika juga harus digunakan sesuai aturan dan dosis yang tepat. Untuk

mencapai penggunaan antibiotika yang rasional, hal lain yang perlu diperhatikan

adalah mengenai sisa antibiotika. Antibiotika yang tidak dihabiskan atau sisa dari

pengobatan penyakit yang sebelumnya tidak boleh digunakan kembali untuk

mengobati penyakit yang dianggap mirip atau bahkan berbeda tanpa persetujuan

dari dokter. Penggunaan antibiotika dengan resep dokter ini bertujuan untuk

mencapai outcome terapi yang optimal, menurunkan resiko terjadinya resistensi

antibiotika (American Academy of Family Physicians, 2009).

  4. Resistensi antibiotika Resistensi merupakan suatu proses tidak terhambatnya pertumbuhan

bakteri pada pemberian antibiotika dengan dosis normal maupun dengan

konsentrasi kadar hambat minimalnya (Tripathi, 2008).

  Menurut Utami (2012) penyebab utama resistensi antibiotika adalah

penggunaannya yang meluas dan irasional. Kurang lebih 80% antibiotika

digunakan untuk kepentingan manusia dan sedikitnya 40% untuk indikasi yang

kurang tepat, misalnya infeksi virus. Terdapat beberapa faktor yang mendukung

terjadinya resistensi,antara lain :

  

b. Faktor yang berhubungan dengan pasien. Pasien dengan pengetahuan yang

kurang tepat mengganggap bahwa antibiotika wajib digunakan dalam berbagai macam penyakit misalnya batuk ringan, demam dan bahkan infeksi virus. Pasien dengan latar belakang finansial yang tinggi cenderung akan meminta antibiotika maupun obat lain yang baru dan mahal meskipun sebenarnya tidak diperlukan. Selain itu pasien juga membeli antibiotika

sendiri tanpa resep dokter untuk upaya swamedikasi (Bisht et al., 2009).

  

c. Masalah peresepan, para pembuat resep sering merasa kesulitan dalam

menentukan terapi antibiotika yang tepat karena kurangnya pelatihan dalam hal penyakit infeksi dan tatalaksana antibiotikanya (Bisht et al., 2009).

  

d. Penggunaan monoterapi akan lebih mudah mengakibatkan resistensi.

dibandingkan dengan penggunaan terapi kombinasi (Bisht et al., 2009).

  

e. Penggunaannya untuk hewan dan binatang ternak. Penggunaan sejumlah

besar antibiotika dalam ternak dan dipakai dengan dosis subterapeutik akan meningkatkan terjadinya resistensi. (Bisht et al., 2009).

  

f. Penjualan besar-besaran oleh perusahaan farmasi dan didukung oleh peran

globalisasi akan memudahkan terjadinya pertukaran barang sehingga jumlah antibiotika yang beredar semakin luas. Hal ini akan memudahkan akses masyarakat untuk mendapatkan antibiotika (Bisht et al., 2009).

  

g. Kurangnya penelitian dalam menemukan antibiotika yang baru (Bisht et al.,

  

h. Lemahnya pengawasan pemerintah dalam distribusi dan pemakaian

antibiotika. Misalnya, pasien dapat dengan mudah mendapatkan antibiotika meskipun tanpa peresepan dari dokter (Utami, 2012).

5. Penggunaan antibiotika tanpa resep

  Hasil RISKESDAS (2013) menemukan sebanyak 35,2 % rumah tangga

di Indonesia menyimpan obat yang digunakan untuk pengobatan sendiri yaitu

jenis - jenis obat keras, obat bebas, antibiotika dan obat – obat lain yang tidak

teridentifikasi. Sebanyak 27, 8 % rumah tangga di Indonesia menyimpan

antibiotika dan sebesar 86 % rumah tangga menyimpan antibiotika tanpa resep.

Angka penggunaan antibiotika tanpa resep ini cukup tinggi. Berikut adalah data

RISKESDAS (2013) setiap provinsi untuk penggunaan antibiotika tanpa resep :

  

Tabel IV. Proporsi Rumah Tangga yang Menyimpan Antibiotika Tanpa

Resep

Provinsi Proporsi rumah tangga yang menyimpan antibiotika tanpa resep (%)

  Aceh 85,9 Sumatera Utara 87,0

  Sumatera Barat 85,2 Riau 89,1 Jambi 87,9 Sumatera Selatan 85,6 Bengkulu 89,2 Lampung 92,0 Bangka Belitung 86,7 Kepulauan Riau 87,7 DKI Jakarta 89,0 Jawa Barat 84,9 Jawa Tengah 87,1 DI Yogyakarta 90,2 Lanjutan Kalimantan Barat 90,2 Kalimantan Tengah 93,4 Kalimantan Selatan 90,6 Kalimantan Timur

  87,1 Sulawesi Utara 81,4 Sulawesi Tengah 83,3 Sulawesi Selatan 79,7 Sulawesi Tenggara 84,6 Gorontalo 74,7 Sulawesi Barat 83,2 Maluku 80,1 Maluku Utara 86,1 Papua Barat 85,7 Papua 85,4

D. Landasan Teori

  Antibiotika merupakan obat keras yang hanya boleh diserahkan dengan

resep dokter. Antibiotika juga merupakan obat keras yang penggunaanya harus

berdasarkan indikasi yang tepat, dengan dosis yang tepat, aturan pakai dan cara

pakai yang sesuai dan mewaspadai efek samping yang kemungkinan terjadi. Hal

ini dapat dipenuhi jika antibiotika digunakan berdasarkan instruksi dokter yang

merawat pasien yang bersangkutan melalui sebuah resep. Oleh karena itu,

penggunaan antibiotika tanpa resep merupakan tindakan berisiko. RISKESDAS

(2013) menemukan angka yang cukup tinggi dalam penyimpanan antibiotika

tanpa resep di kalangan rumah tangga provinsi Jawa Tengah.

  Tingkat pengetahuan seseorang merupakan salah satu domain yang

cukup penting dalam terbentuknya sebuah perilaku. Sikap seseorang terhadap

  

sesuatu yang nyata (Notoadmojo, 2012). Al-Dossari (2013) menemukan adanya

hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap dan tindakan orang tua dalam

penggunaan antibiotika pada anak.

  Gambaran sosio-demografi akan mempengaruhi perilaku dari masyarakat

dan outcome dari kesehatan masyarakat (Gibney dkk., 2008). Kristina et al.

  

(2007) menyebutkan bahwa adanya hubungan antara karakteristik sosio-

demografi yaitu jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan serta tingkat

pendapatan dengan perilaku pengobatan mandiri yang rasional pada masyarakat.

  Berdasarkan hal

  • – hal tersebut di atas, disusun landasan teori dalam penelitian ini yang digambarkan seperti bagan berikut ini.

  Pengetahuan Sikap Karakteristik Sosio- demografi

  Tindakan Gambar 1. Bagan antara Karakteristik Sosio – Demografi, Pengetahuan,

  

Sikap dan Tindakan

E. Hipotesis

  

1. Adanya hubungan antara karakteristik sosio-demografi dengan tingkat

pengetahuan tentang antibiotika.

  

2. Adanya hubungan antara karakteristik sosio-demografi dengan sikap

mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  

3. Adanya hubungan antara karakteristik sosio-demografi dengan tindakan

mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  

4. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang antibiotika dengan

sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  

5. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang antibiotika dengan

tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

  

6. Adanya hubungan antara sikap dengan tindakan mengenai penggunaan

antibiotika tanpa resep.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian observasional analitik dengan

  

rancangan cross sectional. Termasuk dalam penelitian observasional karena

dalam penelitian ini tidak terdapat suatu tindakan manipulasi / intervensi/

pemaparan terhadap variabel yang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan variabel. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional

atau potong lintang karena mempelajari dinamika hubungan atau korelasi dua

kelompok variabel dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data

sekaligus pada saat yang sama (Imron, 2010).

B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian

1. Variabel

  a. Variabel bebas (independent) : Karakteristik sosio-demografi responden (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan terakhir).

b. Variabel tergantung (dependent) : Perilaku (tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan).

  

Tabel V. Variabel Penelitian

Variabel bebas Variabel tergantung

  Karakteristik sosio-demografi responden (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan terakhir).

  Tingkat pengetahuan Sikap Tindakan Tingkat pengetahuan Sikap Tindakan Sikap Tindakan

2. Definisi operasional

  a. Karakteristik sosio-demografi meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan, pendapatan keluarga serta tingkat pendidikan terakhir.

b. Tingkat pengetahuan tentang antibiotika (rendah, sedang, tinggi) yaitu :

  1. Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dikatakan tinggi apabila responden dapat menjawab 76-100% dari seluruh pertanyaan tentang „pengetahuan antibiotika” di kuesioner dengan benar.

  2. Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dikatakan sedang apabila responden dapat menjawab 56%-75% dari seluruh pertanyaan tentang „pengetahuan antibiotika” di kuesioner dengan benar.

  3. Tingkat pengetahuan tentang antibiotika dikatakan rendah apabila responden menjawab kurang dari 56 % dari seluruh pertanyaan tentang „pengetahuan antibiotika” di kuesioner dengan benar.

  Cakupan pengetahuan tentang antibiotika meliputi: pengertian

  

c. Antibiotika tanpa resep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

antibiotika sediaan oral yang di peroleh / dibeli tanpa resep dokter selain antibiotika yang dimasukkan kedalam daftar obat wajib apotek no 1, 2 dan 3.

  

d. Sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep adalah respon dan

pendapatresponden untuk menggunakan antibiotika tanpa resep. Penilaian item pernyataan sikap didasarkan pada pernyataan tersebut. Jika pernyataan tersebut merupakan pernyataan negatif maka nilai tertinggi adalah STS (sangat tidak setuju) sebesar 3, TS (tidak setuju) sebesar 2, S (setuju) sebesar 1 dan SS (sangat setuju) sebesar 0. Sebaliknya untuk item pernyataan yang positif digunakan penilaian sebagai berikut STS (sangat tidak setuju) sebesar 0, TS (tidak setuju) sebesar 1, S (setuju) sebesar 2 dan SS (sangat setuju) sebesar 3. Contoh pernyataan negatif yaitu:

  “menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang bermanfaat . Contoh pernyataan positif yaitu:

  “menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang dapat merugikan . Kemudian dihitung mean score dari setiap pernyataan sikap. Range penilaian sikap menggunakan mean score sebagai berikut:

1. Nilai rata-rata antara 0 – 1 termasuk kategori negatif.

  (tidak memihak) mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep. Sikap sedang diartikan bahwa responden memiliki pemikiran yang netral mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep. Sikap negatif diartikan responden memiliki pemikiran yang tidak baik (memihak) mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep.

e. Tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep adalah pengambilan keputusan responden untuk menggunakan antibiotika tanpa resep.

  Penilaian item pernyataan tindakan didasarkan pada pernyataan tersebut. Jika pernyataan tersebut merupakan pernyataan negatif maka nilai tertinggi adalah STS (sangat tidak setuju) sebesar 3, TS (tidak setuju) sebesar 2, S (setuju) sebesar 1 dan SS (sangat setuju) sebesar 0. Sebaliknya untuk item pernyataan yang positif digunakan penilaian sebagai berikut STS (sangat tidak setuju) sebesar 0, TS (tidak setuju) sebesar 1, S (setuju) sebesar 2 dan SS (sangat setuju) sebesar 3. Contoh pernyataan negatif yaitu:

  “saya akan membeli antibiotika tanpa resep jika saya merasa membutuhkannya untuk sakit saya . Contoh pernyataan positif yaitu:”saya akan membeli antibiotika jika dokter meresepkannya . Setelah itu dihitung mean score dari setiap pernyataan tindakan. Penilaian tindakan menggunakan mean score sebagai berikut:

1. Nilai rata-rata antara 0 – 1 termasuk kategori tidak sesuai.

  menggunakan antibiotika tanpa resep. Tindakan sedang diartikan bahwa responden memiliki tindakan yang netral terhadap penggunaan antibiotika tanpa resep. Tindakan tidak sesuai diartikan bahwa responden memutuskan untuk menggunakan antibiotika tanpa resep.

  f. Pola penggunaan antibiotika tanpa resep adalah gambaran pengunaan antibiotika tanpa resep. Cakupan pola penggunaan antibiotika tanpa resep meliputi : pengguna antibiotika tanpa resep, nama antibiotika tanpa resep yang dibeli, jumlah antibiotika tanpa resep yang dibeli, jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membeli antibiotika tanpa resep, sumber perolehan, digunakan untuk indikasi apa, sudah berapa lama penggunaan, alasan menggunakan antibiotika tanpa resep.

  g. Variabel karakteristik sosio – demografi dikategorikan sebagai berikut :

  1. Umur dikategorikan menjadi 3 yaitu dewasa muda (18

  • – 40 tahun), dewasa madya (41 - 60 tahun) dan dewasa lanjut (diatas 60 tahun).

  2. Jenis kelamin dikategorikan menjadi 2 yaitu laki

  • – laki dan perempuan.

  3. Status perkawinan dikategorikan menjadi 2 yaitu belum menikah dan menikah.

  4. Pekerjaan dikategorikan menjadi 2 yaitu bekerja (petani, buruh,

  5. Pendapatan keluarga dikategorikan menjadi 2 yaitu dibawah UMR (kurang dari Rp 1.000.000,00) dan diatas UMR (lebih dari Rp 1.000.000,00). UMR kabupaten Temanggung sebesar Rp Rp 1.000.000,00.

  6. Tingkat pendidikan terakhir dikategorikan menjadi 2 yaitu pendidikan dasar (lulus SD, lulus SMP) dan pendidikan lanjutan (Lulus SMA, Ahli madya D1/D3, sarjana).

C. Populasi, Subjek dan Kriteria Inklusi Penelitian

  Populasi penelitian ini adalah seluruh warga Desa Bantir, Kecamatan

Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Subjek penelitian ini adalah

warga Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

dengan kriteria inklusi yaitu masyarakat yang berusia lebih dari 18 tahun dan

bersedia mengisi kuesioner. Kriteria eksklusi yaitu masyarakat yang menolak

mengisi kuesioner dan sedang atau berada diluar Desa Bantir.

D. Teknik Sampling dan Besar Sampel

  Teknik sampling yang digunakan adalah random cluster sampling. Desa

Bantir yang terdiri dari 4 dusun di pilih secara simple random sampling dengan

cara undian dan diambil 2 dusun. Dari 2 dusun diundi kembali secara random dan

  

Gambar 2. Cara Pembagian Pengambilan Sampel

Sampel penelitian ini adalah sebagian masyarakat yang telah berusia

lebih dari 18 tahun. Dengan perhitungan sampel menggunakan proporsi yaitu

dengan rumus : =

  (

  1 −

  2 )

  2

  × (1 − )

  2 Keterangan: n : Besar sampel.

  Z1-a/2 : Nilai Z pada derajat kemaknaan. P : Proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi, bila tidak

diketahui proporsinya ditetapkan 50%.

d : Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan.

  (Notoadmojo, 2010). Proporsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 %, presisi yang

  Desa Bantir Dusun 1 Rt 1 44 orang Sampel 40 orang Tereksklusi

  2 orang

Rt 2

Rt 3

Rt 4 44 orang

  Sampel 42 orang Terekslusi 2 orang

  Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4

Rt 1

  Rt 2 43 orang Sampel 39 orang Tereksklusi

  4 orang Rt 3 43 orang Sampel 38 orang Tereksklusi 5 orang

  

Rt 4

  

perhitungan sampel dengan desain cluster yang biasanya memiliki variansi yang

besar. Drop out yang digunakan sebesar 20 %. Perhitungannya sebagai berikut :

  2

  1 −

  

( )

(1 − ρ)

  2 =

  2

  2

  1,96 0,5 (1 − 0,5) =

  2

  (0,1) = 96,04 1,5 = 144,06 ≈ 145, dengan menggunakan sistem Drop Out 20 %, maka diperoleh :

  145

  20

=

100 = 29

  Jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini adalah

sebesar 145 orang. Sistem drop out sebesar 20 % digunakan untuk mengantisipasi

terjadinya kekurangan sampel sehingga jumlah sampel maksimal pada penelitian

ini adalah sebesar 174 (145orang + 29 orang). Jumlah sampel pada penelitian ini

adalah 159 orang. Responden masuk kedalam kriteria tereksklusi karena menolak

mengisi kuesioner dikarenakan bekerja diluar kota, menolak mengisi dengan

alasan tidak bisa membaca sebanyak 13 orang.

E. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di Desa Bantir, Kecamatan Candiroto,

  

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

  Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner yang berisi jawaban “ya”,

  

tidak” dan “tidak tahu” untuk variabel tingkat pengetahuan dan kuesioner

dengan skala likert untuk variabel sikap dan tindakan.

  G. Tata Cara Penelitian

  1. Perijinan Perijinan dilakukan dengan memasukkan surat permohonan ijin serta

proposal penelitian kekantor KESBANGPOL Daerah Istimewa Yogyakarta.

  

Kemudian dari KESBANGPOL Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan surat

rekomendasi ke kantor KESBANGPOL Provinsi Jawa Tengah. KESBANGPOL

Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan surat rekomendasi ke kantor

KESBANGPOL Kabupaten Temanggung. KESBANGPOL Kabupaten

Temanggung mengeluarkan surat ijin dengan tembusan ke Bupati Kabupaten

Temanggung, Kecamatan Candiroto dan Desa Bantir.

  2. Penelusuran data populasi Penelusuran data populasi dilakukan di Balai Desa Bantir, Kecamatan

3. Pembuatan kuesioner

  a. Penyusunan dan pembuatan kuesioner Kuesioner yang dibuat terdiri dari 3 bagian utama yaitu bagian pertama

memuat aspek tingkat pengetahuan tentang antibiotika. Tingkat pengetahuan

tentang antibiotika diukur melalui pertanyaan

  • – pertanyaan tentang cara

    memperoleh antibiotika dan tingkat pengetahuan umum tentang antibiotika

    (pengertian umum, cara penggunaan, resistensi antibiotika, efek samping).

    Kuesioner aspek tingkat pengetahuan menggunakaan pertanyaan tertutup dengan

    jawaban “Ya”, “Tidak” dan “Tidak Tahu”. Bagian kedua kuesioner mengenai sikap dan tindakan penggunaan

    antibiotika tanpa resep.Bagian kedua ini menggunakan skala Likert dengan

    pilihan ”1” Sangat Setuju (SS), “2” Setuju (S), “3” Tidak Setuju (TS) dan “4”

    Sangat Tidak Setuju (STS). Item pernyataan pada bagian kedua ini dibuat 2 jenis

    pernyataan yaitu unfavourable dan favourable. Hal ini dilakukan untuk melihat

    konsistensi jawaban setiap responden dalam setiap pernyataan.

  Bagian ketiga mengenai pola penggunaan antibotika tanpa resep dengan

item pertanyaan tentang pengguna antibiotika tanpa resep, nama antibiotika tanpa

resep yang dibeli, jumlah antibiotika tanpa resep yang dibeli, jumlah biaya yang

dikeluarkan untuk membeli antibiotika tanpa resep, sumber perolehan, digunakan

  Bagian keempat mengenai karakteristik responden yang meliputi ; nama,

umur, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan, pendapatan keluarga dan

tingkat pendidikan terakhir.

  b. Uji pemahaman bahasa Uji pemahaman bahasa dilakukan kepada 30 responden yang tidak

termasuk dalam sampel (Umar, 2005). Uji pemahaman bahasa dilakukan dengan

tujuan untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner sudah

dapat dipahami oleh responden atau tidak. Uji pemahaman bahasa penelitian ini

dilakukan di Desa Candiroto.

  c. Uji validitas Uji validitas digunakan untuk menunjukkan tingkat kesahihan instrumen

penelitian (kuesioner). Uji validitas yang digunakan adalah professional

judgement. Instrumen penelitian yang telah dikonstruksi mengenai aspek-aspek

yang diukur berlandaskan teori selanjutnya didiskusikan dengan para ahli di

bidang tersebut. Peneliti melakukan diskusi dengan 2 orang ahli yaitu dosen di

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang mengampu

matakuliah Pengobatan Mandiri dan Farmakoterapi Antibiotika untuk memastikan

bahwa item pertanyaan dalam kuesioner yang digunakan tidak menyimpang dari

konsep yang akan diukur.

d. Uji reliabilitas

  

responden yang sama diminta menjawab alat ukur yang sama (Umar, 2003).

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil

yang relatif tidak berbeda jika dilakukan kembali pada subjek yang sama (Azwar,

2006). Penghitungan reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan

korelasi product moment. Alat ukur dikatakan reliabel apabila nilai korelasi

product moment yang didapatkan dari analisis lebih besar atau sama dengan 0,05

(Notoadmojo, 2010). Uji reliabilitas penelitian ini dilakukan di Desa Candiroto

dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Desa Candiroto dipilih sebagai

tempat uji reliabilitas karena dari segi geografis dan keadaan sosio

  • – demografi

    hampir sama dengan Desa Bantir. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan

    selang waktu 15 hari dalam pengukurannya. Hal ini dilakukan untuk

    memperpendek dan menghemat waktu penelitian yang terbatas. Hasil uji

    reliabilitas menunjukkan bahwa keseluruhan variabel penelitian memiliki

    konsistensi yang tinggi dan dapat digunakan untuk mengukur hal yang sama

    secara berulang seperti terlihat pada tabel VI.

  

Tabel VI. Hasil Uji Reliabilitas

Hasil uji product Variabel Keterangan moment

  

Pengetahuan tentang antibiotika 0,847 Reliabel

Sikap mengenai antibiotika tanpa 0,763 Reliabel resep

  Tindakan mengenai antibiotika tanpa 0,710 Reliabel resep

  

masing-masing dan memberikan kuesioner. Kuesioner akan diisi oleh responden

sendiri dan ditunggu oleh peneliti untuk memastikan kelengkapan pengisian serta

mengurangi kesalah pahaman responden terhadap isi pertanyaan.

H. Tata Cara Analisis Hasil

  Untuk menjamin keakuratan data, dilakukan beberapa kegiatan proses

manajemen data (editing, processing, cleaning) dan analisis data. Analisis data

dilakukan dengan cara :

  1. Uji normalitas data Uji normalitas sebaran ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada

perbedaan distribusi sebaran skor variabel yang dianalisis antara sampel dan

populasi, dengan kata lain sebaran skor suatu variabel sama dengan populasi,

yaitu mengikuti kurva normal. Dalam penelitian ini pengujian normalitas sebaran

dilakukan dengan menggunakan teknik kolmogorov-smirnovtTest. Uji kolmogorov

  • – smirnov digunakan untuk menguji normalitas dengan sampel yang besar (> 50).

  

Kaidah yang digunakan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran adalah

“jika nilai kemaknaan (p) > 0,05 maka sebaran datanya normal, dan jika nilai

kemaknaan (p) < 0,05 maka se baran datanya tidak normal” (Dahlan, 2009). Adapun hasil perhitungan adalah sebagai berikut:

  

Tabel VII. Hasil Uji Normalitas Hasil pengujian menunjukkan bahwa skor pengetahuan memiliki sebaran

yang tidak normal (Z ks = 2,426 dengan p = 0,000 ( p > 0,05), skor sikap (Z ks =

1,498 dengan p = 0,023 ( p > 0,05) memiliki sebaran yang tidak normal dan skor

tindakan (Z ks = 2,309 dengan p = 0,000 ( p > 0,05) memiliki sebaran yang tidak

normal.

  2. Uji chi - square Analisis data karakteristik responden dilakukan dengan uji chi - square

untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara karakteristik sosio-demografi

dengan tingkat pengetahuan tentang antibiotika, sikap dan tindakan penggunaan

antibiotika tanpa resep. Uji chi

  • – square juga digunakan untuk mengetahui ada

  

tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap dan tindakan

penggunaan antibiotika tanpa resep serta ada tidaknya hubungan antara sikap

dengan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep.

  Pengujian data dengan menggunakan uji chi

  • – square dapat dilakukan

  

apabila sel dengan nilai expected count yang kurang dari 5 maksimum sebesar 20

% dari jumlah sel. Apabila nilai tersebut lebih dari 20 % maka digunakan

penggabungan sel untuk tabel selain tabel 2x2 maupun tabel 2xk. Setelah

dilakukan penggabungan kemudian dilakukan uji chi

  • – square kembali. Apabila

  

nilai expected count belum terpenuhi maka digunakan uji alternatifnya yaitu uji

kolmogorov

  • – smirnov untuk tabel 2xk dan uji fisher untuk tabel 2x2 (Dahlan,

I. Keterbatasan Penelitian

  Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mengidentifikasi seberapa kuat

hubungan antara variabel-variabel yang diukur maupun seberapa besar kekuatan

suatu variabel untuk mempengaruhi variabel yang lainnya. Penelitian ini

mengukur sebagian faktor yang kemungkinan dapat berpengaruh atau

berhubungan dengan pengetahuan, sikap maupun tindakan terkait dengan

penggunaan antibiotika. Masih terdapat faktor – faktor pengaruh lain contohnya

sarana dan prasarana yang tidak diteliti di penelitian ini.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari kuesioner melalui penyebaran kuesioner secara langsung. Kuesioner disebarkan kepada masyarakat Desa Bantir yang masuk kedalam kriteria inklusi dan eksklusi pada bulan September 2013-Desember 2013. Responden yang berkontribusi dalam penelitian ini berjumlah 159 dengan respon rate sebesar 91, 4%. A. Karakteristik Sosio-demografi Responden Penelitian ini akan mengkaji beberapa karakteristik sosio

  • – demografi

    seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan, tingkat

    pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan terakhir.

1. Umur responden

  Mayoritas responden dalam penelitian ini berumur 40 sampai dengan 60 tahun yakni sebanyak 47 %.

  Menurut Suparlan (1995) peningkatan usia berbanding lurus dengan

peningkatan pengetahuan seseorang. Semakin tua seseorang maka pengalaman

  

Oh, Hassali, Allhaddad, Sulaiman, Shafie, dan Awaisu (2011) di Malaysia

menggunakan rentang umur 18 – 60 tahun dengan mayoritas responden yang

berpartisipasi dengan rentang umur 41 – 5 tahun.

  

< 22 tahun 22-40 tahun 40-60 tahun > 60 tahun

5%

8%

47%

  40%

Gambar 3. Karakteristik Sosio- Demografi berdasarkan Umur

2. Jenis kelamin responden

  Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini lebih banyak adalah

kelompok perempuan. Sebanyak 81% responden merupakan perempuan dan

sisanya sebesar 19 % adalah responden laki-laki. Responden perempuan lebih

banyak berada dirumah sehingga ketika dilakukan penyebaran kuesioner lebih

mudah ditemui. Responden laki-laki sering kali sulit untuk ditemui karena

biasanya sedang bekerja diluar rumah. Penelitian Anna et al. (2011) menunjukkan

bahwa responden perempuan akan lebih peduli terhadap kesehatan dibandingkan

dengan laki-laki.

  

Laki-laki Perempuan

19% 81%

  

. Gambar 3. Karakteristik Sosio-Demografi berdasarkan Jenis Kelamin

3.

   Status perkawinan Hasil distribusi responden menurut status perkawinan tersaji dalam grafik berikut ini :

  12% BELUM MENIKAH MENIKAH 88%

  

Gambar 4. Karakteristik Sosio- Demografi berdasarkan Status Perkawinan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden

penelitian ini sudah menikah yakni sebanyak 88 % dan yang belum menikah

sebanyak 12 %. Gibney dkk. (2008) mengemukakan bahwa salah satu variabel

4. Jenis pekerjaan responden

  Karakteristik sosio-demografi responden berdasarkan jenis pekerjaan

menunjukkan bahwa 30,8 % responden sebagai ibu rumah tangga, 30,2 %

responden bekerja sebagai petani, 12,6 % responden bekerja sebagai pedagang, 12

% responden bekerja sebagai buruh dan sisanya adalah pegawai swasta,

PNS/TNI/POLRI dan selain pekerjaan yang telah disebutkan. Jenis pekerjaan

dikaitkan dengan tingkat sosio-ekonomi masyarakat. Masyarakat dengan jenis

pekerjaan yang menuntut profesionalisme dan ketrampilan biasanya memiliki

tingkat pengasilan yang lebih tinggi sehingga kebutuhan akan kesehatan akan

lebih terpenuhi. Sebaliknya masyarakat dengan jenis pekerjaan yang tidak

membutuhkan profesionalisme biasanya cenderung memiliki tingkat sosio-

ekonomi yang rendah. Hal ini akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan serta

status kesehatan dari keluarga (Dariyo, 2004; Notoadmojo, 2007). Dalam

penelitian ini responden yang berkontribusi lebih banyak ibu rumah tangga dan

petani yang memiliki tingkat sosio

  • – ekonomi yang rendah. Hal ini mungkin akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan kesehatan dari responden.

  50,0% 30,2% (%)

  30,8% en

  12,0%12,6% nd

  6,3% 2,5% 5,7% 0,0%

  Respo h la um

5. Pendapatan keluarga

  Distribusi responden penelitian ini berdasarkan pendapatan keluarga

dapat dilihat di Gambar 6. Sebesar 61,6 % responden memiliki pendapatan

keluarga kurang dari Rp. 300.000,00 per bulan, 27,0 % responden pendapatan

keluarganya antara Rp. 300.000,00 sampai dengan Rp. 1.000.000,00. Sebesar 6,3

% responden pendapatan keluarganya lebih dari Rp. 2.000.000,00, 3,8 %

responden pendapatan keluarganya antara Rp. 1.000.000,00 sampai dengan Rp.

  

1.500.000,00 dan 1,3 % responden pendapatan keluarganya antara Rp.

1.500.000,00 sampai dengan Rp. 2.000.000,00.

  0,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 60,0% 70,0% 61,6%

  27,0% 3,8% 1,3% 6,3%

  J um la h Respo nd en (%) Pendapatan Keluarga Suaifan, Shehadeh, Darwish, Al-Ijel, Yousef, dan Darwish (2012)

menemukan bahwa salah satu faktor yang dapat memberikan kontribusi pada

maraknya penggunaan antibiotika sebagai obat swamedikasi adalah tingkat

ekonomi. Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah akan cenderung

membeli antibiotika tanpa resep dikarenakan dapat menghemat biaya ke dokter.

6. Tingkat pendidikan terakhir responden

  Karakteristik sosio-demografi responden berdasarkan tingkat pendidikan

terakhir menginformasikan bahwa 45 % responden lulus SD, 25 % responden

telah lulus SMP, 18 % responden telah lulus SMA, 8 % responden tidak tamat SD

dan sisanya telah lulus perguruan tinggi (Ahli madya D1/D3 atau sarjana).

  

Responden dalam penelitian ini cenderung memiliki tingkat pendidikan akhir

yang rendah. Penelitian Widianti, Sriati, dan Hernawaty (2007) tentang

pengetahuan pasien mengenai gangguan psikomatif dan pencegahannya di

Puskesmas Tarogong Garut menemukan pengetahuan akan semakin meningkat

seiring dengan tingginya tingkat pendidikan. Hasil penelitian Gaol (2011) juga

menemukan bahwa masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung

akan memberikan perilaku kesehatan yang baik.

  1% 2%

8%

19%

  45% 25% Tidak Tamat Lulus SD Lulus SMP Lulus SMA Ahli Madya (D1/D3) Lulus Perguruan Tinggi (Sarjana)

  

Gambar 8. Grafik Karakteristik Sosio-Demografi berdasarkan Tingkat

Pendidikan Terakhir

B. Tingkat Pengetahuan mengenai Antibiotika, Sikap dan Tindakan mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

  1. Tingkat pengetahuan mengenai antibiotika Pengukuran tingkat pengetahuan responden dalam penelitian ini awalnya

dilakukan dengan pengisian pertanyaan pengenalan tentang antibiotika. Butir

pertanyaan pengenalan tentang antibiotika terdapat pada butir No 1 dan No 2.

  

Butir pertanyaan tersebut juga disebut pertanyaan screening. Pertanyaan

screening digunakan untuk memastikan apakah responden tersebut mengenal

antibiotika atau tidak. Butir pertanyaan No 1 adalah “Apakah saudara mengenal

antibiotika

  ?”. Butir pertanyaan No 2 adalah “Jika YA, Sebutkan antibiotika yang saudara kenal!

  ”. Sebanyak 116 responden mengaku bahwa mereka mengenal

  

Tabel VIII. Pengenalan Responden tentang Antibiotika

Persentase Pengenalan mengenai antibiotika Jumlah (%)

  Tidak mengenal antibiotika 43 27,0

Mengenal antibiotika 116 73,0

Total 159 100,0

  Adapun jenis antibiotika yang dapat disebutkan oleh 116 responden tersebut dapat dilihat pada Tabel VIII. berikut ini.

  

Tabel IX. Jenis Antibiotika yang Disebutkan Responden

Jumlah Jenis No. Antibiotika Frekuensi Prosentase (%)

  1 Amoksisilin 95 59,7 Tetrasiklin 37 23,3

  2

  3 Penisilin 58 36,5

  4 Sefalosporin 10 6,3 Lainnya 2 1,3

5 Dari 116 responden, jenis antibiotika terbanyak yang dikenal adalah

  

amoksisilin yakni sebanyak 59,7%. Antibiotika lain yang dapat disebutkan

responden adalah tetrasiklin (23,3%), penisilin (36,5%), sefalosforin (6,3%) dan

yang menyebutkan selain antibiotika di atas sebanyak 1,3%. Widayati, Suryawati,

Crespigny, dan Hiller (2011) menemukan hal yang sama bahwa amoksisilin

merupakan antibiotika yang paling banyak digunakan dalam swamedikasi.

Penelitian tersebut menemukan bahwa amoksisilin merupakan antibiotika yang

cukup dikenal masyarakat. Selain itu penelitian Heidarifar, Koohbor, Kazemian,

Kaili, dan Sarahrooti (2013) juga menemukan hal yang sama. Amoksisilin

  Selain pengenalan responden terhadap antibiotika, penelitian ini juga

menanyakan tetang persepsi masyarakat dalam cara memperoleh antibiotika. Hasil

persepsi masyarakat desa Bantir tentang cara memperoleh antibiotika adalah

sebagai berikut:

  

Gambar 9. Grafik Persepsi Responden tentang Cara Memperoleh

Antibiotika

Keterangan gambar: A = Memperoleh antibiotika harus dengan resep dokter B = Antibiotika bisa dibeli tanpa resep dokter C = Antibiotika dijual di apotek D = Antibiotika dijual di toko obat

E =Antibiotika dijual di toko/warung kelontong atau supermarket atau pasar

tradisional F = Antibiotika dijual atau tersedia di praktek dokter

  

G = Antibiotika dijual atau tersedia di praktek bidan, perawat, mantri

kesehatan Sebagian responden pada penelitian ini mengerti bahwa antibiotika harus

  0,0% 20,0% 40,0% 60,0% 80,0% 100,0%

  120,0% A B C D E F G 73,0%

  45,3% 90,6% 58,5% 15,1%

  86,2% 89,3% 20,1% 44,7% 2,5%

  29,6% 72,3% 8,8% 5,7%

  6,9% 10,1% 6,9% 11,9% 12,6%

  5,0% 5,0% P er sent a se J a w a ba n Respo nd en Persepsi Responden tentang Cara Memperoleh Antibiotika

  TIDAK TAHU TIDAK YA

  

farmasi (American Academy of Family Physicians, 2009). Penelitian ini

menemukan bahwa responden memiliki persepsi bahwa antibiotika dijual ditoko

obat (58,5 %) dan antibiotika dijual di toko/warung kelontong atau supermarket

atau pasar tradisional (15,1 %). Responden pada penelitian ini juga memiliki

persepsi bahwa antibiotika tersedia di praktek dokter (86,2 %) maupun praktek

bidan / perawat (89,3 %). Hal ini terjadi kemungkinan karena di kecamatan

tersebut belum terdapat apotek sehingga masyarakat masih memiliki persepsi

bahwa antibiotika dapat diperoleh di toko obat maupun di pasar.

  

Gambar 10. Grafik Pengetahuan tentang Antibiotika secara Umum

Pengetahuan tentang Antibiotika secara Umum : A = Antibiotika harus diminum segera ketika mengalami demam B =Antibiotika dapat mengobati penyakit karena virus, misalnya Influenza

C = Antibiotika dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri,

misalnya TBC (Tuberculosis)

  0,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 60,0%

  A B C D E F 58,5% 59,1% 31,4%

  21,4% 19,5% 17,0%

  Per sen tase R e sp o n d e n y an g M e n jawab B e n ar Pengetahuan tentang Antibiotika Penelitian ini dilanjutkan dengan pengukuran tingkat pengetahuan

responden tentang antibiotika secara umum. Hasil pengukuran terlihat dari

Gambar 9. diatas. Sebesar 58,5% responden mampu menjawab dengan benar

pertanyaan

  “Apakah antibiotika tidak harus diminum segera ketika mengalami demam ”. Sebagian besar responden juga dapat menjawab dengn benar pertanyaan

“Apakah antibiotika dapat mengobati penyakit karena virus, misalnya Influenza”

  

(59,1 %). Namun demikian, responden penelitian ini masih banyak yang

menjawab salah untuk pertanyaan :

  1.

  “Apakah antibiotika dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, misalnya TBC (Tuberculosis) (31.4 %), 2. “Apakah seseorang dapat mengalami alergi terhadap antibiotika (21,4 %), 3. “Apakah penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dapat menyebabkan resistensi atau kekebalan kuman

   (19,5 %) 4. “Apakah penggunaan antibiotika yang tepat dapat mencegah terjadinya resistensi atau kekebalan kuman

   (17,0 %).

  Gambaran yang lebih detail mengenai tingkat pengetahuan responden

tersaji dalam Tabel IX. Pada penelitian ini tingkat pengetahuan mengenai

antibiotika cenderung rendah. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan

rendah sebanyak 139 orang (87,4 %) sedangkan responden yang memiliki tingkat

pengetahuan yang sedang sebanyak 18 orang (11,3 %). Penelitian ini juga

  

beberapa hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang seperti informasi, sosial

budaya, ekonomi, usia dan pengalaman. Penelitian Oh et al. (2011) menemukan

tingkat pengetahuan pada penelitiannya tentang antibiotika di Malaysia sebesar

28,9 % responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah dan 54,7 %

responden memiliki tingkat pengetahuan sedang dan hanya 16,4% responden

memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Widayati et al. (2012) menemukan

bahwa tingkat pengetahuan pada masyarakat kota Yogyakarta cenderung kategori

sedang. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebesar 31% responden memiliki

tingkat pengetahuan yang rendah, 35% memiliki tingkat pengetahuan yang sedang

dan sisanya memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini berbeda dengan

penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2012) pada penelitiannya di kecamatan

Umbulharjo Yogyakarta responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang.

  

Tabel X. Tingkat Pengetahuan mengenai Antibiotika

Tingkat pengetahuan Jumlah Presentase (%)

  139 87,4 % Rendah Sedang

  18 11,3 % 2 1,3 % Tinggi

  2. Sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep Gambaran sikap responden mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep

dianalisis dengan melihat mean score tiap item pernyataan. Penelitian ini

menemukan bahwa nilai rata-rata sikap responden yang paling tinggi adalah pada

  

tanpa resep pada saat merasa membutuhkannya adalah tindakan yang berguna

yaitu sebesar 1,4. Sikap responden dalam penelitian ini dapat dikatakan sedang

dengan nilai rata-rata sebesar 1,6. Hal ini diartikan bahwa responden pada

penelitian ini cenderung memiliki sikap yang netral terhadap penggunaan

antibiotika tanpa resep.

  

Tabel XI. Sikap Responden mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

Sikap responden terhadap penggunaan antibiotika tanpa resep Rata-rata

  Penggunaan antibiotika tanpa resep pada saat membutuhkan adalah tindakan yang bermanfaat 1,7 Penggunaan antibiotika tanpa resep pada saat membutuhkan adalah tindakan yang dapat merugikan 1,6 Penggunaan antibiotika tanpa resep pada saat merasa membutuhkannya adalah tindakan yang berguna.

  1,4 Penggunaan antibiotika tanpa resep pada saat merasa membutuhkan adalah tindakan yang dapat membahayakan 1,6

  Total Nilai Kategori Sikap 1,6 Selanjutnya, untuk melihat gambaran secara lebih detail sikap responden mengenai antibiotika tanpa resep adalah sebagai berikut:

  

Tabel XII. Sikap Responden mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

per Responden

Sikap responden mengenai antibiotika tanpa resep Frekuensi Persentase (%)

  Negatif 44 27,7 Sedang 83 52,2 Positif 32 20,1

  Total 159 100,0

  

berarti responden mempunyai pemikiran bahwa penggunaan antibiotika tanpa

resep berisiko adalah sebesar 20,1 %. Sebesar 27,7 % memiliki sikap negatif

berkaitan dengan penggunaan antibiotika tanpa resep, yaitu bahwa penggunaan

antibiotika tanpa resep tidak berisiko. Penelitian Yosi (2012) mengenai

pengetahuan dan sikap orang tua terhadap perilaku pemberian antibiotika di

puskesmas Depok Jaya menemukan responden dengan sikap yang positif sebesar

11 orang, sikap yang sedang sebanyak 52 dan 3 orang memiliki sikap yang

negatif. Hasil temuan pada penelitian Sun, Seogmi, dan Jung (2011) yang

menemukan bahwa mayoritas responden memiliki sikap negatif pada

penelitiannya di Korea. Azwar (2007) menyebutkan ada banyak faktor yang akan

mempengaruhi sikap seseorang seperti kebudayaan, media masa, institusi, emosi

dan pengalaman pribadi. Apabila faktor-faktor tersebut cukup kuat maka akan

memberikan dasar afektif dalam menilai suatu objek dan terbentuklah suatu sikap.

  3. Tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep Dari tabel XII, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata tindakan responden

terkait penggunaan antibiotika tanpa resep memperoleh nilai rata-rata sebesar 1,9.

Hal ini termasuk dalam kategori sedang yang dapat diartikan bahwa responden

dalam penelitian ini memiliki tindakan yang netral terhadap penggunaan

antibiot ika tanpa resep. Nilai tertinggi terdapat pada pernyataan “saya akan

membeli antibiotika jika dokter meresepkannya ” (2,2) dan nilai terendah terdapat

  

Tabel XIII. Tindakan Responden terkait Penggunaan Antibiotika Tanpa

Resep

Tindakan responden terhadap penggunaan antibiotika tanpa resep Rata-rata

  Apabila saya sakit yang menurut saya membutuhkan antibiotika, saya akan memeriksakan diri saya ke dokter terlebih dahulu.

  1,7 Apabila saya sakit yang menurut saya membutuhkan antibiotika, saya akan membeli antibiotika langsung tanpa resep 1,9 Saya akan membeli antibiotika jika dokter meresepkannya.

  2,2 Saya akan membeli antibiotika tanpa resep jika saya merasa membutuhkannya untuk sakit saya.

  1,9 Total Nilai Kategori Tindakan 1,9

  Selanjutnya, untuk melihat gambaran secara lebih detail tentang tindakan responden mengenai antibiotika tanpa resep adalah sebagai berikut:

Tabel XIV. Tindakan Responden terkait Penggunaan Antibiotika Tanpa

Resep per Responden

  Tindakan responden mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep Jumlah Persentase (%) Tidak sesuai 12 7,5 Sedang

  87 54,7 Sesuai 60 37,7

  Total 159 100,0 Tabel XIII. di atas menunjukkan bahwa tindakan responden terkait

penggunaan antibiotika tanpa resep sebagian besar termasuk dalam kategori

sedang (54,7 %). Hal ini diartikan bahwa responden memiliki tindakan yang

netral tentang penggunaan antibiotika tanpa resep. Sebesar 37,7 % termasuk

kedalam kategori tindakan yang sesuai yaitu responden memutuskan untuk tidak

  

pengetahuan dan sikap orang tua terhadap perilaku pemberian antibiotika di

puskesmas Depok Jaya menemukan sebanyak 2 orang tua memiliki perilaku yang

kurang, 23 orang memiliki perilaku sedang dan sebanyak 41 orang memiliki

perilaku yang baik. Penelitian Yosi (2012) melihat perilaku sebagai

kecenderungan tindakan orang tua yang salah pada saat pemberian antibiotika.

C. Pola Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep Responden

  Penelitian ini tidak menemukan penggunaan antibiotika tanpa resep di

kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten

Temanggung. Tidak terdapat responden yang menggunakan antibiotika tanpa

resep dalam kurun waktu 1 bulan terakhir.

D. Hubungan antara Karakteristik Sosio-Demografi terhadap Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

1. Hubungan karakteristik sosio - demografi dengan tingkat pengetahuan

  tentang antibiotika Nilai hubungan antara setiap variabel karakteristik sosio - demografi dengan tingkat pengetahuan tentang antibiotika dapat dilihat pada tabel XV.

  

Tabel XV. Hubungan Karakteristik Sosio-demografi dengan Pengetahuan

tentang Antibiotika

No Variabel Sosio-demografi Nilai probabilitas

  Probabilitas antara variabel umur dengan tingkat pengetahuan didapatkan

nilai sebesar 1,000 (sig. > 0,05). Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara

umur terhadap pengetahuan tentang antibiotika. Kondisi ini menggambarkan

bahwa tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan ditinjau dari perbedaan usia

responden. Nilai probabilitas pada variabel umur ini didapatkan dari uji

kolmogorov smirnov dikarenakan syarat uji chi

  • – square tidak terpenuhi. Lim dan

  

Teh (2012) menemukan bahwa perbedaan usia tidak akan memberikan perbedaan

pada tingkat pengetahuan mengenai antibiotika dengan nilai p value sebesar

0,329.

  Nilai signifikansi kolmogorov - smirnov untuk variabel jenis kelamin

yang ditemukan adalah sebesar 0,987. Nilai ini lebih besar 0,05 (sig. > 0,05) dan

dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin terhadap

pengetahuan tentang antibiotika. Kondisi ini menggambarkan bahwa tidak ada

perbedaan tingkat pengetahuan ditinjau dari perbedaan jenis kelamin responden.

Chaudhary, Bahl dan Kumar (2014) menemukan pada penelitiannya di rumah

sakit Gurgaon India bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan

tingkat pengetahuan mengenai antibiotika (p=0,13). Penelitian Lim et al. (2012)

menemukan hal yang berbeda. Lim et al. (2012) menemukan bahwa ada

perbedaan tingkat pengetahuan mengenai antibiotika ditinjau dari jenis kelamin (p

= 0,012).

  

Kondisi ini menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan

ditinjau dari perbedaan status perkawinan responden. Suaifan et al. (2012)

menemukan bahwa tidak ada hubungan antara status perkawinan dengan

pengetahuan.

  Hasil uji kolmogorov - smirnov untuk variabel pekerjaan responden pada

Tabel XV. adalah sebesar 1,000. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa tidak ada

hubungan antara pekerjaan terhadap pengetahuan tentang antibiotika. Kondisi ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan ditinjau dari

perbedaan pekerjaan responden. Penelitian Lim et al. (2012) yang menemukan

bahwa tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan tingkat pengetahuan

tentang antibiotika. Perbedaan ini dapat dikarenakan lokasi penelitian yang

berbeda menyebabkan keberagaman hasil uji.

  Nilai signifikansi kolmogorov

  • – smirnov sebesar 1,000, (sig. > 0,05) pada

  

variabel tingkat pendapatan keluarga berarti tidak ada hubungan antara

pendapatan keluarga terhadap pengetahuan tentang antibiotika. Kondisi ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan ditinjau dari

perbedaan pendapatan keluarga responden. Widayati et al. (2011) juga

menemukan hal yang sama yaitu bahwa tidak ada hubungan antara sosio-ekonomi

dengan tingkat pengetahuan mengenai antibiotika. Chaudhary et al. (2014)

menemukan hal yang berbeda yaitu terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan

  

antibiotika (sig. > 0,05). Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara tingkat

pendidikan terakhir terhadap pengetahuan tentang antibiotika. Kondisi ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan ditinjau dari

perbedaan pendidikan responden. Sun et al. (2011) menemukan tidak adanya

hubungan antara tingkat pendidikan terakhir dengan pengetahuan tentang

antibiotika. Lim et al. (2012) menemukan hal yang berbeda yaitu menemukan

bahwa tingkat pendidikan terakhir di negara Malaysia memberikan perbedaan

dalam tingkat pengetahuan tentang antibiotika.

2. Hubungan karakteristik sosio - demografi dengan sikap tentang

  penggunaan antibiotika tanpa resep Nilai hubungan antara karakteristik sosio - demografi dengan sikap tentang antibiotika tanpa resep tersaji dalam tabel XVI. sebagai berikut :

  

Tabel XVI. Hubungan Karakteristik Sosio-demografi dengan Sikap tentang

Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

No Variabel sosio-demografi Nilai probabilitas

  1 Umur 0,012

  2 Jenis Kelamin 0,210 Status perkawinan 0,295

  3

  4 Pekerjaan 0,851

  5 Pendapatan Keluarga 0,264 Tingkat pendidikan terakhir 0,890

  6 Hasil nilai signifikansi chi-square untuk variabel umur pada tabel XVI.

sebesar 0,012 (sig. < 0,05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan antara umur

terhadap sikap responden mengenai antibiotika tanpa resep. Kondisi ini sikap yang sedang (netral). Responden dengan umur dewasa madya (40

  • – 60

    tahun) meiliki sikap yang netral tetapi responden dewasa lanjut (> 60 tahun)

    memiliki kecenderungan sikap yang negatif terkait penggunaan antibiotika tanpa

    resep. Responden Heidarifar et al. (2013) menemukan bahwa tidak ada hubungan

    antara faktor umur dengan swamedikasi menggunakan antibiotika. Lim et al.

    (2012) menemukan hal yang berbeda dengan menemukan p value sebesar 0,062.

    Nilai tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan antara umur dengan sikap

    responden mengenai antibiotika.

  Variabel jenis kelamin pada penelitian ini tidak memiliki hubungan

terhadap sikap responden mengenai antibiotika tanpa resep (0,210). Hal ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan sikap ditinjau dari perbedaan jenis

kelamin responden. Berbeda dengan Lim et al. (2012) yang menemukan bahwa

ada hubungan antara jenis kelamin dengan sikap responden mengenai antibiotika

(0,002).

  Penelitian ini menemukan tidak ada hubungan antara status perkawinan

dengan sikap responden tentang antibiotika tanpa resep (0,295). Kondisi ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan sikap ditinjau dari perbedaan status

perkawinan responden.

  Hal yang sama terdapat pada variabel pekerjaan. Nilai signifikansi chi- sebesar 0,851 (sig. > 0,05). Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan square

  

Berbeda dengan Lim et al. (2012) yang menemukan adanya perbedaan antara

jenis pekerjaan dengan sikap responden mengenai antibiotika (0,031).

  Hasil uji kolmogorov - smirnov untuk variabel pendapatan keluarga

adalah sebesar 0,264, berarti tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga

terhadap sikap pada antibiotika tanpa resep. Hal ini menggambarkan bahwa tidak

ada perbedaan sikap ditinjau dari perbedaan pendapatan keluarga responden.

  

Heidarifar et al. (2013) juga menemukan bahwa tidak ada hubungan antara faktor

pendapatan keluarga dengan swamedikasi dengan antibiotika di penelitiannya di

Iran.

  Hasil analisis variabel tingkat pendidikan terakhir adalah sebesar 0,890.

Peneliti menemukan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan terakhir

terhadap sikap pada antibiotika tanpa resep. Kondisi ini menggambarkan bahwa

tidak ada perbedaan sikap ditinjau dari perbedaan pendidikan responden.

Penelitian Heidarifar et al. (2013) menemukan bahwa tidak ada hubungan antara

tingkat pendidikan terkahir responden dengan swamedikasi dengan antibiotika.

  

Berbeda dengan Lim et al. (2012) yang menemukan hubungan antara tingkat

pendidikan terakhir dengan sikap mengenai antibiotika (0,000).

3. Hubungan karakteristik sosio- demografi dengan tindakan penggunaan

  antibiotika tanpa resep Hasil uji chi-square penelitian ini tentang hubungan karakteristik sosio -

  

terhadap tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep. Hal ini menggambarkan

bahwa tidak ada perbedaan tindakan ditinjau dari perbedaan usia responden.

  

Widayati et al. (2011) juga menemukan hal yang sama. Ia menyatakan dalam

penelitiannya di kota Yogyakarta bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan

swamedikasi antibiotika dengan nilai p=0,907.

  Selain variabel umur, pengukuran juga dilakukan untuk variabel jenis

kelamin. Nilai signifikansi chi-square yang diperoleh sebesar 0,139. Nilai

signifikansi yang ditemukan lebih besar dari 0,05 sehingga dikatakan bahwa tidak

ada hubungan antara jenis kelamin terhadap tindakan penggunaan antibiotika

tanpa resep. Keadaan ini dapat dikatakan tidak ada perbedaan tindakan ditinjau

dari perbedaan jenis kelamin responden. Hasil yang sama ditemukan oleh Djuang

(2010). Dalam penelitiannya Djuang (2010) menemukan bahwa tidak ada

hubungan antara jenis kelamin dengan penggunaan antibiotika tanpa resep di kota

medan (p = 0,832).

  Variabel berikutnya yang diukur adalah status perkawinan. Untuk

variabel status perkawinan mendapatkan hasil nilai signifikansi chi-square sebesar

0,392. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara status perkawinan

terhadap tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep. Kondisi tersebut

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tindakan ditinjau dari perbedaan

status perkawinan responden. Widayati et al. (2011) menemukan bahwa tidak ada

  Hasil nilai signifikansi chi-square untuk variabel jenis pekerjaan pada

tabel sebesar 0,375 (sig. > 0,05). Hal ini mengambarkan bahwa tidak ada

perbedaan tindakan dilihat dari perbedaan jenis pekerjaan responden. Widayati et

al. (2011) menemukan bahwa status pekerja tidak ada hubungannya dengan

perilaku penggunaan antibiotika.

  Tabel XVII. menyajikan hasil uji chi-square pada variabel tingkat

pendapatan adalah sebesar 0,834. Nilai ini lebih besar 0,05 (sig. > 0,05) dan

berarti bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga terhadap tindakan

penggunaan antibiotika tanpa resep. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa

tidak ada perbedaan tindakan ditinjau dari perbedaan pendapatan keluarga

responden. Djuang (2010) (p=0,845) dan Widayati et al. (2011) (p=0,425) juga

menemukan hal yang sama yaitu tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga

dengan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep.

  Variabel terakhir yang diukur adalah tingkat pendidikan terakhir yang

mendapatkan hasil sebesar 0,877, karena nilai ini lebih besar 0,05 (sig. > 0,05)

maka diartikan tidak ada hubungan antara pendidikan terhadap tindakan

penggunaan antibiotika tanpa resep. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa

tidak ada perbedaan tindakan ditinjau dari perbedaan pendidikan responden.

Penelitian Djuang (2010) (p=0,180) dan Widayati et al. (2011) (p=0,404)

menemukan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan terakhir dengan

  

Tabel XVII. Hubungan Karakteristik Sosio- Demografi dengan Tindakan

tentang AntibiotikaTanpa Resep

No Variabel Sosio-demografi Nilai probabilitas

  1 Umur 0,510 Jenis Kelamin 0,139

  2

  3 Status perkawinan 0,392

  4 Pekerjaan 0,375 Pendapatan Keluarga 0,834

  5

  6 Tingkat pendidikan terakhir 0,877

  4. Hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep

  Nilai signifikansi chi square untuk hubungan tingkat pengetahuan

dengan sikap tentang antibiotika dalam penelitian ini adalah sebesar 0,505 (sig. >

0,05). Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap

sikap mengenai antibiotika tanpa resep. Kondisi ini menggambarkan bahwa tidak

ada perbedaan sikap ditinjau dari perbedaan tingkat pengetahuan responden.

Pengetahuan, secara teori merupakan suatu domain penting sebagai pembentuk

perilaku, tetapi dalam penelitian ini ternyata tidak terbukti. Azwar (2007)

menyebutkan tentang teori disonansi kognitif yang menunjukkan bahwa

pengetahuan yang tinggi tidak menunjukkan perilaku yang baik.

  

Tabel XVIII. Tabulasi Silang antara Tingkat Pengetahuan tentang

Antibiotika terhadap Sikap mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

Sikap Pengetahuan

  P Negatif Sedang Positif

  Rendah

  37

  75

  27 Sedang + 0,505

  7

  8

  5 Tinggi

  5. Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep

  Nilai signifikansi chi-square untuk tingkat pengetahuan tentang

antibiotika terhadap tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep adalah sebesar

0,836 (sig. > 0,05). Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan

terhadap tindakan tentang penggunaan antibiotika tanpa resep.Kondisi ini

menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan tindakan ditinjau dari perbedaan

tingkat pengetahuan responden. Ngatimin (2003) mengungkapkan bahwa tindakan

ataupun perilaku dari seseorang dapat terjadi tanpa seseorang tersebut mengetahui

maknanya lebih dulu. Hal ini dapat diartikan bahwa sebuah tindakan dari

seseorang tidak harus didasari dari sebuah pengetahuan yang bersifat langgeng.

  

Tabel XIX. Tabulasi Silang antara Tingkat Pengetahuan tentang Antibiotika

terhadap Tindakan mengenai Antibiotika Tanpa Resep

Tindakan Pengetahuan p

  

Tidak sesuai Sedang Sesuai

Rendah

  11

  75

  53 Sedang + 0,836

  1

  12

  7 Tinggi

  6. Hubungan antara sikap mengenai antibiotika tanpa resep terhadap tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep Penelitian ini menemukan nilai signifikansi chi-square sebesar 0,000.

  

Nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0,003 (sig. < 0,05). Hal ini berarti bahwa ada

hubungan antara sikap mengenai antibiotika tanpa resep dengan tindakan tentang

  

Notoadmojo (2010) sebuah perilaku maupun terbentuknya sebuah perilaku di

pengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah sikap dari seseorang.

  

Tabel XX. Tabulasi Silang antara Sikap mengenai Antibiotika Tanpa Resep

dengan Tindakan mengenai Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep

Tindakan Sikap

  P

Tidak sesuai Sedang Sesuai

  Negatif

  8

  25

  11 Sedang + 0,003

  4

  62

  49 Tinggi Berdasarkan hasil analisis antara karakteristik sosio-demografi tentang

antibiotika terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan responden tentang

penggunaan antibiotika tanpa resep serta hubungan antara pengetahuan, sikap dan

tindakan tentang penggunaan atibiotika tanpa resep di atas, dapat diringkas

sebagai berikut:

  Umur Pengetahuan Jenis kelamin Status perkawinan

  Sikap Pekerjaan Pendapatan Tindakan Pendidikan

  

Gambar 11. Hasil hubungan karakteristik sosio-demografi, tingkat

  Sesuai dari hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap

responden ditinjau dari umur responden. Ada hubungan antara sikap terhadap

tindakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata tingkat pengetahuan

tidak berhubungan terhadap sikap maupun tindakan terkait dengan penggunaan

antibiotika tanpa resep.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  

1. Mayoritas responden dalam penelitian ini berumur 22 sampai dengan 40

tahun (40,2%), dengan jenis kelamin perempuan (81,1%), sudah menikah (87,4%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (30,8%), memiliki pendapan keluarga kurang dari Rp. 300.000,00 per bulan (61,6%) dan sebagian besar responden lulus SD (44,6%).

  

2. Tingkat pengetahuan responden dalam penelitian ini tergolong rendah yaitu

sebesar 87,4%. Mayoritas responden memiliki sikap yang netral mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep yakni sebanyak 52,8% responden. Tindakan responden terkait penggunaan antibiotika tanpa resep dalam penelitian ini termasuk dalam kategori netral (61,6%).

3. Penelitian ini tidak menemukan pola penggunaan antibiotika tanpa resep.

  

4. Terdapat perbedaan sikap responden ditinjau dari umur responden. Terdapat

hubungan antara sikap dengan tindakan mengenai penggunaan antibiotika tanpa resep. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap maupun tindakan terkait dengan penggunaan antibiotika tanpa resep.

B. Saran

  

1. Perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan mengenai antibiotika dan

penggunaannya bagi masyarakat Desa Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor

  • – faktor lain seperti aspek fasilitas atau sarana prasarana yang kemungkinan mempengaruhi sikap

    dan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat

    periode Januari – Juni 2014.

DAFTAR PUSTAKA

  

AAFP, 2009, Controlling Anttibiotic Aresistance : Will We Someday See Limited

Prescribing Autonomy? , American Academy Of Family Physicians, http : www. aafp.orgg/afp/2001/0315/P1034.html, diakses tanggal 3 April 2014.

  

Abdulhak, A., A.,B., Tannir, M.,A.,A, Almansor,M.,A., Almahaya, M., S., Onazi,

A., S., Marei, M., A., et., al., 2011, Nonprescribed Sale of Antibiotics in Riyadh, Saudi Arabia ; A Cross Sectional Study, BMC Public Health, Vol.

   11. (538), 4,5.

  

Al-Dossari, K., 2013, Parental Knowledge, Attitude and Practice on Antibiotic

Use for Upper Respiratory Tract Infections in Children, Majmaah J.

  Helath Science, Vol. 1. (1) 42.

  

Anna, L., K., 2012, Penggunaan Antibiotik Memprihatinkan ,

s Tanggal 12 April 2013.

  

Anna, L., K., Chandra, A., 2011, Kaum Lelaki Kurang Peduli Kesehatan,

  , diakses tanggal 3 April 2014.

Arikunto, S., 2003, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta,

Jakarta, pp.25. Azwar, S., 2006, Reliabilitas dan Validitas, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp.44.

Azwar, S., 2007, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Pustaka Pelajar,

Yogyakarta, pp 3-5, 14-15.

Bastable, S., B., 2002, Perawat sebagai Pendidik: Prisnip-Prinsip Pengajaran

dan Pembelajaran , EGC, Jakarta, pp.197.

Bisht, R., Katiyar, A., Singh, R., Mittal, P., 2009, Antibiotic Resistance-a Global

Issue of Concern, Asian Journal Of Pharmaceuticals and Clinical

   Research , Vol. 2. (2), 35.

  

Chaudhary, P., Bahl, A., Kumar. A., 2014, Trends of Prescribing and Utilisation

of Antibiotics in Pediatrics Out Patient Population of a Seconday Care Hospital In Gurgaon India, Indian Journal Of Medical Specialities, Vol.

  21. (3), 173-175.

  

Djuang, M., H., 2012, Hubungan antara Karakteristik Masyarakat dengan

Penggunaan Antibiotik yang Diperoleh Secara Bebas Dikota Medan, Skripsi , Universitas Sumatera Utara, Medan.

  

Gaol, L., T., 2013, Pengaruh Faktor Sosiodemografi, Sosio Ekonomi dan

Kebutuhan terhadap Perilaku Masyarakat dalam Pencarian Pengobatan di Kecamatan Medan Kota Tahun 2013, Tesis, Universitas Sumatera Utara, Medan, 67-75.

  

Gibney, M., J., Margetts, B., M., Kearney, J., M., Arab, L., 2008, Public Health

Nutrition , Balckwell Publishing Ltd, Oxford, pp.49.

Grigoryan, L., Ruskamp, F., M., H., Burgerhor, J., G., M., Metchtler, R.,

Deshcepper, R., Andresevic, A., T., et., al., 2006, Selfmedication with

  Antimicrobials Drugs in Europe, Emerging Infections Disease, Vol. 121. (3), 458.

  

Heidarifar, R., Koohbor, M., Kazemian. M., M., M., Kaili, P., Sarahrooti, S.,

2013, Self-Medication with Antibiotics among Iranian Opulation in QOM- State, Journal Of Scientifc And Innovative Research, Vol. 2. (4) 786-787.

Imron, M, 2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Sagung Seto Jakarta,

pp. 107.

  

Kristina, S., A., Prabandani, Y.,S., Sudjaswadi, R., 2007, Perilaku Pengobatan

Sendiri yang Rasional pada Masyarakat, Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 23. (4), 178,180-181.

  

Kusuma, M., A., 2012, Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat

Pengetahuan Masyarakat mengenai Antibiotika di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta tahun 2011, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  

Lim, K., K., Teh, C.,C.,C, 2012, A Cross Sectional Study of Public Knowledge

and Attitude Towards Antibiotics in Putrajaya Malaysia, Southern Med Review, Vol. 5. (2) 27-31.

  Ngatimin, 2003, Ilmu Perilaku Kesehatan, Yayasan Pk-3, Makasar, pp.55.

Noorkasiani, Heryati, Isnani, R., 2009, Sosiologi Keperawatan, EGC, Jakarta , pp.

  28-29.

Notoadmojo, S,., 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta,

  

Oh, A., L., Hassali, M., A., Allhaddad, M.,S., Sulaiman S.,A.,S., Shafie, A., A.,

Awaisu, A., 2011, Public Knowledge and Attitudes towards Antibiotics Usage : Crossectional Study among General Public in The State of Penang Malaysia, J Infect, Vol. 5. (5), 340-347.

  

Peraturan Menteri Kesehatan, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan no 347/

MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek no 1 , Depkes RI, Jakarta.

  

Peraturan Menteri Kesehatan, 1993, Peraturan Menteri Kesehatan no 924/

Menkes/per/X/1993 tentang Obat Wajib Apotek no 2 , Depkes RI, Jakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan, 1999, Peraturan Menteri Kesehatan no 1176/

MENKES/SK/X/1999 tentang Obat Wajib Apotek no 3 , Depkes RI, Jakarta.

Pulungan, S., 2010, Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Antibiotika dan

Penggunaannya Dikalangan Mahasiswa Non Medis, Skripsi, Universitas

  Sumatera Utara, Medan.

SENTRY APAC, 2002, High Prevalence of Oxacillin- Resistant Staphylococcus

Aureus Isolates from Hospitalized Patients in Asia-Pacific and South

  Africa, Antimicrob Agents Chemother, Vol. 46. (879), 81.

Suaifan, G., A., R., Y., Shehadeh, M., Darwish, D.,A., Al-Ijel, H., Yousef, A., M.,

M., Darwish, R., M., 2012, A Cross Sectional Study on Knowledge,

  Attitude and Behaviour Related to Antibiotic Use and Resistance Among Medical and Non Medical University Students In Jordan, African Journal Of Pharmacy And Pharmacology , Vol. 10. (10), 325.

  

Sun, K., S., Seongmi, M., Jung, K., E., 2011, Public Knowledge and Attitudes

Regarding Antibiotics Use in South Korea, J Korean Acadnurs, Vol. 41.

  (6), 744-747. Sunaryo, 2004, Psikologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta, pp.25.

Suparlan, P., 1995, Masyarakat Terasing Dalam Masyarakat Indonesia, Edisi 1

Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, pp. 214.

  

Tjay, T., H., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan

dan Efek-Efek Sampingnya , Gramedia Pustaka, Jakarta, pp. 65,66.

  th

  

Tripathi, K., D., 2008, Essensials Of Medical Pharmacology, 6 Edition, Jaypee

Brothers Medical Publisher, pp. 671-672.

  

Undang-Undang Obat Keras St. No.419, Tanggal 22 Desember 1949, Undang-

Undang Obat Keras , Depkes RI, Jakarta.

Utami, E., R., 2012, Antibiotika, Resistensi dan Rasionalitas Terapi, Saintis, Vol.

  1. (1), 129.

  

Wahyunadi, N., M., D., 2013, Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya

Resistensi Antibiotik dengan Perilaku Penggunaan Antibiotik yang Irasional pada Pasien Dipuskesmas Rampal Celaket Malang, Tugas Akhir, Universitas Brawijaya, Malang, 1-7.

  

Widayati, A., Suryawati, S., Crespigny, C., Hiller, J., E., 2011, Self Medication

with Antibiotics in Yogyakarta City Indonesia : A Cross Sectional Population Based Survey, BMC Research, Vol. 4. (491), 7,8.

Widayati, A., Suryawati, S., Crespigny, C., Hiller, J., E., 2012, Knowledge and

Beliefs about Antibiotics among People in Yogyakarta City Indonesia : A

  Cross Sectional Population Based Survey, Antimicrobial Resistance And Infection Control , Vol. 1. (38), 3-6.

Widianti, E., Sriati, A., Hernawaty, T., 2007, Pengetahuan Pasien Mengenai

Gangguan Psikomatik Dan Pencegahannya Di Puskesmas Tarogong Garut,

  Laporan Penelitian , Universitas Padjajaran, Bandung.

  

World Health Organization, 2001, Who Global Startegy For Containment Of

Antimicrobial

  Resistence ,

diakses Tanggal 12 April 2013.

  

Yosi, R., 2012, Hubungan Pengetahuan dan Sikap Orang Tua terhadap Perilaku

Pemberian Antibiotik pada Anakk Balita Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas di Puskesmas Depok Jaya, Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta.

  

LAMPIRAN

  Lampiran 1. Kuesioner untuk uji bahasa

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Penelitian Tentang Penggunaan Antibiotika

  Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Alamat :

telah menerima penjelasan mengenai tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh :

Nama : Swaseli Waskitajani NIM : 108114178

Saya bersedia menjadi responden dan bersedia mengisi kuesioner dengan lengkap

berdasarkan keadaan yang saya alami.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan kesadaran saya tanpa paksaan daru

pihak manapun.

  Yogyakarta ……………….2013 Responden; (______________________) KUESIONER BAGIAN A Berilah pendapat Anda terhadap pernyataan-pernyataan dibawah ini dengan memberi tanda centang( ) pada salah kotak yang telah disediakan.

  1. Apakah Anda mengenal antibiotika? Ya Tidak

2. Jika ya, sebutkan antibiotika yang Anda ketahui! (jawaban dapat lebih

  dari satu) Amoksisilin Tetrasiklin Penisilin Sefalosforin Lainnya, Sebutkan …………

  3. Menurut Anda, apakah untuk memperoleh antibiotika harus dengan resep dokter? Ya Tidak Tidak tahu

  

4. Menurut Anda apakah antibiotika bisa dibeli tanpa resep dokter?

Ya Tidak Tidak tahu

  5. Menurut Anda, apakah antibiotika dijual di apotek? Ya Tidak Tidak tahu

  6. Menurut Anda, apakah antibiotika dijual di toko obat? Ya Tidak Tidak tahu

  7. Menurut Anda, apakah antibiotika dijual di toko/warung kelontong atau supermarket atau pasar tradisional? Ya Tidak Tidak tahu

  Ya Tidak Tidak tahu

  10. Jika Anda bermaksud membeli antibiotika, dimanakah anda akan membelinya? (jawaban dapat lebih dari satu) Toko obat Apotek Praktek dokter Praktek bidan, perawat, mantri kesehatan Toko/warung kelontong, supermarket Pasar tradisional Lainnya, Sebutkan …………

  11. Apakah menurut Anda antibiotika harus diminum segera ketika mengalami demam? Ya Tidak Tidak tahu

  12. Apakah menurut Anda antibiotika dapat mengobati penyakit karena virus, misalnya Influenza? Ya Tidak Tidak tahu

  13. Apakah menurut Anda antibiotika dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, misalnya TBC (Tuberculosis)? Ya Tidak Tidak tahu

  14. Apakah menurut Anda, seseorang dapat mengalami alergi terhadap antibiotika? Ya Tidak Tidak tahu

  15. Apakah penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dapat menyebabkan resistensi atau kekebalan kuman? Ya Tidak Tidak tahu

  16. Apakah penggunaan antibiotika yang tepat dapat mencegah terjadinya resistensi atau kekebalan kuman? Ya Tidak Tidak tahu BAGIAN B Berilah pendapat Anda terhadap pernyataan-pernyataan dibawah ini dengan member tandacentang ( ) pada salah satu nilai dari angka1 sampai angka4. Angka1 = Sangat tidak setuju, Angka2 = Tidak setuju, Angka3 = Setuju, Angka4 = Sangat setuju

  JAWABAN No. PERNYATAAN

  1

  2

  3

  4 Menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep 17 pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang bermanfaat

  Menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep 18 pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang dapat merugikan Menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep

  19 pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang berguna Menurut saya menggunakan antibiotika tanpa resep 20 pada saat saya merasa membutuhkannya adalah tindakan yang dapat membahayakan Apabila saya sakit yang menurut saya membutuhkan

  21 antibiotika, saya akan memeriksakan diri saya ke dokter terlebih dahulu Apabila saya sakit yang menurut saya membutuhkan 22 antibiotika, saya akan membeli antibiotika langsung tanpa resep Saya akan membeli antibiotika jika dokter

  23 meresepkannya Saya akan membeli antibiotika tanpa resep jika saya

  24 merasa membutuhkannya untuk sakit saya

  BAGIAN C

  25. Pernahkah Anda membeli antibiotika tanpa resep dalam waktu satu bulan terakhir ini? Ya Tidak Jika TIDAK, mohon langsung ke BAGIAN D

  26. Untuk siapa antibiotika yang Anda beli tanpa resep tersebut? ..................................................................................................................

  27. Apa nama antibiotika apa yang Anda beli? ..................................................................................................................

  28. Berapa banyak jumlah antibiotika yang Anda beli? ..................................................................................................................

  

28. Berapa jumlah biaya yang Anda keluarkan untuk membeli antibiotika

tersebut? <Rp. 5.000,00 Rp. 5.000,00

  • – Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00
  • – Rp. 20.000,00

    Rp. 20.000,00
  • – Rp. 50.000,00

    >Rp. 50.000,00 Gratis (dari teman, keluarga, sisa obat sebelumnya)

  29. DimanakahAnda memperoleh antibiotika tersebut? ..................................................................................................................

  

30. Untuk gejala atau penyakit apakah antibiotika tersebut Anda gunakan?

..................................................................................................................

  

31. Apakah sudah pernah menggunakan antibiotika tersebut sebelumnya?

Pernah Tidak

Jika PERNAH, bagaimana antibiotika yang sebelumnya digunakan tersebut diperoleh?

  Dengan resep dokter Tanpa resep dokter

  

32. Mengapa Anda membeli antibiotika tanpa resep dokter ? (jawaban dapat

lebih dari satu).

  Mudah diperoleh atau dibeli Lebih murah karena tidak harus membayar biaya periksa Sudah pernah menggunakan antibiotika tersebut

  BAGIAN D Data diri responden Nama : Umur : Jenis kelamin : Perempuan / laki-laki *(coret yang tidak perlu) Status perkawinan : Menikah / Belum Menikah *(coret yang tidak perlu) Isilah dengan memberi tanda centang () pada kotak yang telah disediakan ! Pekerjaan :

  Petani Buruh Pedagang Pegawai swasta PNS/TNI/POLRI Lain-lain, sebutkan.................. Pendapatan keluarga : <Rp300.000,00

  Rp300.000,00-Rp1.000.000,00 Rp1.000.000,00-Rp1.500.000,00 Rp1.500.000,00-Rp2.000.000,00 >Rp2.000.000,00

  Tingkat pendidikan terakhir : Tidak tamat Lulus SD Lulus SMP Lulus SMA Ahli Madya (D1/D3)

  Lampiran 2. Contoh kuesioner uji bahasa yang sudah disi responden

  Lampiran 3. Hasil Expert Judgement

  Lampiran 4. Hasil uji reliabilitas

Correlations

  Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan tentang antibiotika tentang antibiotika2

  • Tingkat pengetahuan tentang Pearson Correlation 1 .847 antibiotika Sig. (2-tailed)

  .000 N

  30

  30

  • Tingkat pengetahuan tentang Pearson Correlation .847

  1 antibiotika 2 Sig. (2-tailed) .000 N

  30

  30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  Correlations tindakan tindakan2

  • tindakan Pearson Correlation 1 .710 Sig. (2-tailed) .000 N

  30

  30

  • tindakan2 Pearson Correlation .710

  1 Sig. (2-tailed) .000 N

  30

  30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  Correlations sikap sikap2

  • sikap Pearson Correlation

  1 .763 Sig. (2-tailed) .000 N

  30

  30

  • sikap2 Pearson Correlation .763

  1

  Lampiran 5. Contoh kuesioner yang diisi responden

  Lampiran 6. Hasil uji kuesioner

No Nama A1 A2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 D11 D12 D13 D14 D15 D16 E17 E18 E19

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  0.0

  15 Nunung Ferawati tidak menyebutkan 2

  2

  2

  2

  2

  1

  1.0

  1

  2

  2

  1

  0.0

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  16 Ernawati

  2

  2

  14 Klinem 1 tetrasiklin

  0.0

  1

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin

  12 Yanti

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  13 Tumar Tidak Menyebutkan

  2

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  3

  1

  21 Sutini Tidak menyebutkan

  1

  1

  1.0

  20 Budiyan Tidak menyebutkan

  2

  1

  2

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  22 Jumaeni Tidak menyebutkan

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  3

  3

  2.0

  1

  1

  1

  18 Sukokadariyah Tidak menyebutkan

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  17 Asiah Tidak menyebutkan

  1

  1

  3

  1

  1

  2

  2

  2.0

  1

  1

  1

  2.0

  1

  19 Susanti Tidak menyebutkan

  1

  1

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin

  1 Puji Rahayu tidak menyebutkan 1

  2

  2

  1

  1

  4 Misni tidak menyebutkan 1

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  5 Lina Dwi

  1

  1

  2

  1

  2 Tri Wiyati 1 tetrasiklin

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1.0

  1

  1

  2

  1

  3 Trimah A tidak menyebutkan 1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  2

  1

  11 Suprihati

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  1

  9 Tentrem rahayu

  1

  3

  3

  1

  1

  2

  3

  1

  1

  3

  3

  1

  1

  1

  1.0

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  10 Riamah

  1

  1.0

  6 Aminah Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  7 AAn Mulyani

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  3 8 siti

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  2

  2.0

  3

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  23 Suwalmi

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  36 Sulastri

  37 Eni Setyowati Tidak menyebutkan

  2

  2

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  38 Sri Agustinah Tidak menyebutkan

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  2

  2

  0.0

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  1

  1

  1

  1

  1

  Sefalosporin

  34 Nanik

  0.0

  3

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  35 Jeki

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  42 Stioningsih Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  3

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2.0

  43 Wuryati

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  2

  1

  1 Penisilin

  39 Hidayatul

  1

  1

  1

  1

  3

  2

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  41 Siti Rohayati

  3

  1

  1

  40 Rusmiyati

  1

  1

  1

  1

  1

  Lainnya

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin,

  1

  1

  1 Amoksisilin

  1.0

  2

  3

  2

  1

  2

  1

  1

  27 Supartinah Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  2

  26 Suratmi Tidak menyebutkan

  2

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  28 Puji Rahayu Tidak menyebutkan

  3

  3

  2

  1

  2

  1

  2

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  2

  1

  1 Amoksisilin

  24 Sarminah

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  25 Bandiyah Tidak menyebutkan

  1.0

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  1

  1

  1

  1

  Sefalosporin

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  31 Islakhul khasanah

  32 Yaminah

  Sefalosporin

  3

  1

  Sefalosporin

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  33 Tumpuk

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  3

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  29 Sri Rejeki

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1.0

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  30 Sri Ambarwati

  3

  3

  3

  2

  1

  2

  44 Mudrikah

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  61 Lilah

  3

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  2

  1

  1.0

  1

  1 Penisilin

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  1.0

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  62 Mustakimah

  1

  1

  3

  1

  1

  60 Suryati

  63 Tri UJiyanti

  2

  1

  2

  1

  1

  2

  1

  1 Penisilin

  58 Islamiyah

  2

  2

  1.0

  2

  2

  1

  2

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1 Penisilin

  59 Tarmi

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  57 Lestarianah Tidak menyebutkan

  2

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  67 Ani sutami

  3

  2

  2

  2

  1

  1.0

  2

  2

  2.0

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  66 Sri supadmi

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  68 Sudaryani

  2

  1

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  64 Sumarti

  2

  2

  1

  2

  1

  2

  2

  2

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  2

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  65 Mindarti

  2

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  49 Ihfa Listiyana

  2

  2

  1 Amoksisilin

  48 Sri Daryati

  3

  1

  1

  1

  1

  2

  1 Penisilin

  1.0

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  50 Siti Zumaroh

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1

  3

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  45 Rochimah

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  47 Supiyati

  3

  1

  2

  1

  1

  3

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  46 Fitriyani

  1

  3

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  55 Lutgati

  2

  2

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  2.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  54 Muslikah

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1.0

  1 Amoksisilin, Penisilin

  56 Widayati

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  3

  2

  2

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  52 Sudi Rahayu

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  51 Naimatul Janah

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  53 Laila Lutfiyana

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  2.0

  1

  69 Ida Widaningsih

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  84 Suwarni

  3

  3

  3

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  2.0

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1

  1

  2.0

  2

  1

  2

  1

  1

  85 Sriwahyuni Tidak menyebutkan

  3

  3

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  83 Siti Arofah

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  81 Puji Rahayu Tidak menyebutkan

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1 Tetrasiklin, Penisilin, Sefalosporin, Lainnya

  82 Dian

  2

  2

  2

  2

  1

  3

  1.0

  1

  1

  2

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1

  2

  89 Rini Wijayanti Tidak menyebutkan

  1

  3

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  2.0

  2.0

  2

  3

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  1

  2

  1

  2

  2

  2

  90 Surati Tidak menyebutkan

  2

  1

  2

  3

  0.0

  87 Diana Widayati

  3

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  Sefalosporin

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  86 Anisa Fitriyni

  3

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  1

  1

  3

  2

  1

  1

  1

  1

  88 Jujuk Tidak menyebutkan

  3

  2

  1

  1

  1

  2

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1 Amoksisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  Sefalosporin

  1 Amosksiilin, Taetrasiklin, Penisilin,

  72 Tumin

  1

  2

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  2

  1 Amoksisilin

  74 Isnani

  1

  2

  2

  73 Mardiyah

  1

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  2

  2

  1

  2

  70 JUmi Tidak menyebutkan

  2

  2

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  71 Samini

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2.0

  1

  2

  1

  1.0

  2

  1

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1

  78 Mulyati Tidak menyebutkan

  1

  1

  2

  2

  79 Sumarni Tidak menyebutkan

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  80 Seni Slamet

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1.0

  1

  2

  1

  2.0

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  2

  2.0

  1

  2

  1

  2

  2

  75 Siyami

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  1

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  77 Kusrini Tidak menyebutkan

  1

  1

  2

  1

  1

  2

  2.0

  1

  1

  2

  1

  76 Walmiyati Tidak menyebutkan

  1

  1

  91 Sundariyati

  1

  1

  1

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1 Amoksisilin, Penisilin

  2 107 Tarmi

  2

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  2 109 Mahmud

  2

  1

  2 108 Jariyah

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  3 104 Roisatul M

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1 103 Zumrotun

  1

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  2 106 Wahmi

  2

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1.0

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1 105 Sugiyati

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  1.0

  1 114 Suruadi

  1

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  2 113 Amina

  2

  2

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1 115 Faizin

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  3

  1

  1 Penisilin

  2 110 Purjito

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2 111 Parwadi Tidak menyebutkan

  1

  3

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  3 112 Sugeng Riyadi

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  2

  1

  1 Amoksisilin

  1

  1

  1 Penisilin

  95 Yatmini

  2

  2

  3

  1

  2

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  94 Supriyati

  1

  1

  2

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  2

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1

  96 Muntazanah

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  2

  2

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Penisilin

  92 Sutriyani

  3

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2.0

  1

  1

  1

  1 Penisilin

  1

  93 Wahyu Tri S

  3

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  3 100 Suyati

  2

  1

  1

  1

  1 101 Tatik

  1

  1

  2 102 Sakdiyah

  2

  0.0

  1

  1

  1

  2

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  2

  1.0

  2

  1.0

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Penisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  97 Waljinah

  2

  98 Sarminah

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  99 Walhimah

  2

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  116 Prayitno

  1

  1 131 Agus

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  Sefalosporin

  1 Amosksiilin, Taetrasiklin, Penisilin,

  1 Amoksisilin

  2

  1

  1 Amoksisilin

  0.0

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  2 132 Iksan

  1

  3

  3

  1

  1

  1

  1.0

  1

  2 130 Prayitno

  1

  1

  2

  1

  1

  1 Amoksisilin

  2 128 Yopie

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  0.0

  1

  1

  1

  2

  1.0

  2

  1 129 Aminah Tidak menyebutkan

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  1 127 Fahlul I Tidak menyebutkan

  1

  1 Tetrasiklin

  2 137 Suyaeni

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1 136 Rizky

  1

  2

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Tetrasiklin

  1.0

  2 138 Sri Maemunah

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  2

  2

  2.0

  1 134 Raminten Tidak menyebutkan

  3

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  1 133 Darmiyati Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  0.0

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2 135 Bendul Tidak menyebutkan

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  1

  1 Amosksiilin, Taetrasiklin, Penisilin,

  1.0

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2 120 Mundaris

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  1 119 Watoro

  2

  1 Penisilin

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1 121 Rumbaka

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1 Tetrasiklin, penisilin 1

  1 117 Munaryo

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  Sefalosporin

  1

  1

  1

  2 118 Muchibatul khasanah

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Tetrasiklin, penisilin 1

  2

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  2.0

  1

  1

  2

  3

  1

  1

  1

  2

  2

  1 Tetrasiklin

  3 125 Udiyanto

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  0.0

  1

  1

  0.0

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  2

  3 126 Khoirun Tidak menyebutkan

  3

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1 Penisilin

  1

  1

  2

  2.0

  1

  1

  1

  2 122 Kurniawan

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  1

  1

  2

  1

  1

  2

  2

  1 Tetrasiklin

  2 124 Andriyanto

  2

  2

  1

  1

  2

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin

  1 123 Makasin

  1

  139 Supami

  1

  1

  1

  1

  0.0

  3

  2

  3 153 Purwaningsh Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  2

  3

  3 154 Solehah

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  2

  2

  2

  2

  1.0

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2 151 Muslihah

  1

  1 152 Juwariyah

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1.0

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  2

  1

  1 155 Arbaiyah

  1 150 Sariyono Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2 158 Mutilah

  1 Amoksisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 159 Partini

  1 Amosksiilin, Taetrasiklin, Penisilin,

  Sefalosporin

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2 156 Rodiyah Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  2.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 157 Zuni

  1 Amoksisilin, Penisilin

  1

  1

  1

  1 Tetrasiklin

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  1

  2

  2 143 Munarti

  1 Amoksisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  3

  2 144 Wahyu Lestari

  1 Amoksisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  0.0

  2.0

  1

  1

  1

  1

  1

  1.0

  2

  2

  1 140 Muridayati Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  2

  2

  2

  1 141 Kholimah Tidak menyebutkan

  1

  1

  1

  1

  1

  2.0

  1

  1

  2

  1 142 Lasmi

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  1

  1

  1

  1

  1 148 Nugrahanto

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  1

  1

  3 147 Karini Tidak menyebutkan

  0.0

  1

  1

  2

  2

  1 149 Gunawan

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin, Penisilin

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1 145 Suyitno

  1 Amoksisilin

  1

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  1.0

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  2 146 Nurwanto

  1 Amoksisilin, Tetrasiklin

  1

  1

  1

  1

  1

  0.0

  1

  1

  1

  No Nama E20 F21 F22 F23 F24 G25 G26 G27 G28 G29 G30 G32 G33 H34 H35 H36 H37 H38 H39

  1

  3

  25

  1

  1

  6

  2

  4

  17 Asiah

  1

  2

  2

  34

  1

  6

  3

  1

  2

  18 Sukokadariyah

  3

  3

  3

  30

  1

  1

  1

  2

  2

  19 Susanti 3

  3

  3

  3

  1

  1

  3

  1

  67

  1

  1

  2

  1

  2

  14 Klinem

  1

  2

  55

  1

  16 Ernawati

  2

  2

  1

  15 Nunung Ferawati 0

  2

  3

  2

  20

  1

  1

  6

  1

  3

  1

  1

  13 Tumar

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  23 Suwalmi

  3

  2

  2

  2

  2

  48

  1

  1

  3

  1

  2

  24 Sarminah

  3

  3

  2

  2

  2

  44

  1

  1

  6

  3

  55

  3

  28

  1

  1

  1

  6

  1

  2

  20 Budiyan

  2

  3

  3

  3

  3

  47

  1

  1

  22 Jumaeni

  1

  3

  21 Sutini

  2

  3

  2

  3

  50

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1 Puji Rahayu

  2

  2

  1

  2

  60

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Lina Dwi

  3

  3

  2

  2

  4 Misni

  22

  1

  1

  3

  2

  3

  6 Aminah

  1

  3

  3

  3

  55

  1

  1

  3

  1

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  46

  1

  1

  6

  1

  4

  2 Tri Wiyati 3

  2

  2

  1

  45

  1

  1

  6

  1

  4

  3 Trimah A

  3

  3

  43

  1

  1

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  29

  1

  1

  6

  1

  3

  11 Suprihati

  3

  3

  3

  43

  2

  1

  1

  6

  2

  3

  12 Yanti 0

  1

  3

  1

  44

  1

  1

  6

  10 Riamah

  2

  7 AAn Mulyani

  1

  3

  3

  3

  3

  57

  1

  1

  6

  1

  2 8 siti

  3

  1

  3

  33

  6

  1

  1

  6

  1

  2

  9 Tentrem rahayu

  3

  3

  3

  3

  33

  1

  1

  2

  25 Bandiyah

  3

  7

  3

  4

  39 Hidayatul 2

  1

  2

  1

  20

  1

  1

  3

  2

  40 Rusmiyati

  1

  3

  3

  3

  3

  44

  1

  1

  6

  2

  2

  41 Siti Rohayati

  3

  1

  57

  3

  37 Eni Setyowati

  36 Sulastri

  2

  3

  2

  3

  2

  30

  1

  1

  6

  2

  3

  1

  1

  1

  2

  1

  34

  1

  1

  3

  2

  4

  38 Sri Agustinah

  1

  1

  2

  3

  3

  2

  57

  2

  2

  49

  1

  1

  3

  1

  3

  45 Rochimah

  1

  1

  3

  1

  2

  1

  6

  1

  2

  46 Fitriyani 1

  2

  1

  1

  27

  1

  1

  6

  1

  2

  44 Mudrikah 1

  3

  1

  1

  50

  1

  1

  6

  1

  3

  42 Stioningsih

  3

  3

  36

  1

  4

  2

  2

  4

  43 Wuryati

  2

  2

  2

  2

  2

  31

  1

  1

  3

  2

  4

  6

  2

  1

  1

  3

  28 Puji Rahayu

  2

  2

  2

  2

  2

  18

  1

  1

  7

  3

  1

  29 Sri Rejeki

  3

  3

  2

  3

  2

  35

  1

  1

  6

  2

  4

  30 Sri Ambarwati

  1

  1

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  45

  1

  1

  3

  2

  2

  26 Suratmi

  3

  2

  40

  1

  38

  1

  1

  3

  2

  2

  27 Supartinah

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  1

  1

  3

  2

  41

  1

  1

  2

  1

  3

  34 Nanik 1

  1

  1

  1

  43

  33 Tumpuk

  1

  1

  1

  1

  3

  35 Jeki

  2

  3

  2

  3

  3

  26

  1

  1

  2

  3

  47

  2

  45

  1

  1

  7

  5

  4

  31 Islakhul khasanah 1

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  5

  5

  6

  32 Yaminah

  2

  1

  1

  1

  42

  1

  1

  1

  3

  47 Supiyati

  1

  3

  1

  64 Sumarti

  4

  1

  1

  1

  3

  32

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  1

  2

  3

  1

  41

  2

  3

  2

  3

  65 Mindarti

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  35

  63 Tri UJiyanti

  1

  1

  1

  2

  61 Lilah

  3

  1

  1

  1

  41

  1

  2

  2

  2

  3

  2

  60 Suryati

  2

  1

  1

  1

  1

  42

  2

  2

  2

  3

  62 Mustakimah

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  50

  1

  2

  1

  6

  2

  1

  1

  70 JUmi 1

  4

  2

  1

  40

  1

  36

  2

  2

  2

  3

  1

  1

  69 Ida Widaningsih

  2

  5

  1

  1

  1

  57

  3

  2

  1

  2

  1

  71 Samini

  1

  1

  1

  3

  3

  66 Sri supadmi

  1

  3

  2

  67 Ani sutami

  2

  1

  2

  1

  3

  38

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  1

  3

  1

  1

  1

  44

  3

  2

  2

  42

  1

  68 Sudaryani

  3

  2

  1

  1

  1

  2

  1

  3

  51 Naimatul Janah

  19

  1

  3

  1

  3

  1

  3

  7

  2

  3

  1

  1

  31

  2

  1

  1

  2

  1

  1

  53 Laila Lutfiyana 1

  3

  3

  3

  1

  42

  4

  1

  2

  1

  3

  1

  52 Sudi Rahayu

  3

  3

  3

  2

  2

  1

  2

  48 Sri Daryati

  2

  5

  1

  3

  1

  46

  2

  3

  2

  3

  2

  60

  1

  2

  50 Siti Zumaroh

  3

  1

  7

  1

  18

  2

  1

  2

  3

  49 Ihfa Listiyana

  4

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  56

  2

  2

  2

  2

  2

  57 Lestarianah

  4

  2

  6

  58 Islamiyah 1

  2

  1

  59 Tarmi 1

  1

  45

  2

  2

  2

  2

  4

  2

  1

  1

  1

  1

  28

  2

  1

  35

  45

  2

  6

  1

  1

  50

  2

  2

  3

  2

  2

  54 Muslikah

  5

  5

  5

  1

  2

  55 Lutgati

  2

  1

  3

  2

  3

  3

  56 Widayati

  2

  3

  2

  1

  1

  38

  2

  2

  2

  2

  2

  72 Tumin

  1

  2

  33

  1

  1

  6

  1

  4

  88 Jujuk

  2

  2

  1

  2

  1

  20

  1

  3

  2

  3

  1

  6

  1

  1

  26

  2

  6

  2

  3

  3

  89 Rini Wijayanti

  3

  1

  2

  3

  2

  1

  58

  1

  1

  1

  1

  2

  85 Sriwahyuni

  2

  3

  2

  2

  2

  46

  1

  1

  3

  20

  87 Diana Widayati

  3

  1

  6

  1

  1

  2

  1

  2

  3

  3

  3

  86 Anisa Fitriyni

  2

  90 Surati

  3

  2

  32

  2

  2

  29

  1

  1

  1

  2

  3

  94 Supriyati

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  44

  2

  2

  1

  2

  2

  95 Yatmini

  2

  1

  6

  2

  2

  2

  28

  3

  3

  49

  1

  1

  6

  1

  2

  91 Sundariyati

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  93 Wahyu Tri S

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  50

  1

  1

  2

  1

  92 Sutriyani 1

  3

  1

  2

  2

  2

  1

  37

  1

  1

  2

  54

  1

  1

  1

  1

  1

  76 Walmiyati 2

  2

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  23

  2

  2

  1

  2

  2

  77 Kusrini

  2

  1

  1

  1

  75 Siyami

  78 Mulyati

  2

  2

  1

  2

  1

  44

  1

  1

  6

  1

  2

  73 Mardiyah

  1

  1

  2

  3

  2

  2

  1

  6

  1

  1

  28

  1

  2

  65

  74 Isnani 3

  2

  5

  1

  1

  1

  2

  2

  3

  1

  2

  2

  2

  38

  1

  1

  6

  2

  2

  82 Dian 2

  3

  2

  1

  18

  7

  2

  1

  2

  84 Suwarni

  4

  2

  3

  1

  29

  1

  2

  2

  2

  3

  83 Siti Arofah 2

  3

  2

  81 Puji Rahayu

  2

  1

  2

  2

  2

  2

  79 Sumarni

  3

  1

  50

  1

  1

  29

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  1

  1

  45

  1

  2

  1

  1

  2

  80 Seni Slamet

  2

  2

  1

  2

  96 Muntazanah 2

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  53

  1

  1

  1

  2 112 Sugeng Riyadi

  1

  2

  2

  2

  2

  37

  1

  4

  2

  2 113 Amina 2

  2

  1

  1

  1

  26

  1

  1

  4 111 Parwadi

  1

  1

  3

  2 108 Jariyah

  1

  2

  2

  2

  2

  35

  1

  1

  6

  1

  2 109 Mahmud

  1

  2

  1

  3

  1

  36

  1

  1

  1

  2 110 Purjito

  2

  2

  2

  2

  2

  46

  1

  2 114 Suruadi

  1

  26

  2

  53

  1

  3

  2

  3 118

  Muchibatul khasanah

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  2

  1

  6

  3

  6 119 Watoro

  2

  2

  2

  2

  2

  49

  1

  1

  1

  2

  3

  1

  37

  1

  1

  2

  1

  40

  1

  4

  1

  2 115 Faizin

  2

  3

  1

  1

  1

  2

  3

  1

  2 116 Prayitno

  1

  3

  1

  1

  1

  45

  1

  4

  2

  4 117 Munaryo

  1

  1

  3

  2

  1

  99 Walhimah

  2

  1

  2

  3

  50

  1

  1

  6

  1

  1 100 Suyati

  2

  6

  2

  2

  1

  61

  1

  1

  1

  1

  2 101 Tatik

  2

  3

  2

  2

  1

  1

  35

  2

  2

  3

  2

  35

  1

  1

  6

  2

  2

  97 Waljinah

  2

  2

  2

  2

  1

  31

  1

  1

  6

  1

  4

  98 Sarminah

  1

  2

  2

  2

  2

  50

  3

  1

  1

  2

  1

  1

  4 105 Sugiyati

  2

  2

  2

  2

  2

  35

  1

  1

  1

  2 106 Wahmi 2

  2

  1

  2

  2

  40

  1

  1

  6

  1

  2 107 Tarmi 1

  1

  1

  2

  3

  50

  1

  46

  1

  3

  1

  1

  2 102 Sakdiyah 2

  3

  2

  3

  3

  54

  1

  1

  1

  1

  2 103 Zumrotun

  3

  1

  1

  2

  1

  39

  1

  1

  1

  1

  3 104 Roisatul M

  2

  2

  1

  2

  2

  120 Mundaris

  2

  1

  3

  1

  46

  2

  1

  1 136 Rizky

  2

  2

  2

  2

  2 135 Bendul

  21

  4

  3

  4 137 Suyaeni

  3

  2

  3

  2

  35

  2

  2

  1

  2 138 Sri Maemunah

  50

  3

  2

  2

  20

  2

  3

  3 133 Darmiyati

  2

  3

  1

  1

  6

  1

  6

  1

  2 134 Raminten

  1

  3

  1

  65

  1

  1

  1

  3

  3

  6

  1

  3

  2

  2 142 Lasmi

  3

  3

  3

  29

  1

  1

  1

  55

  3 143 Munarti 3

  3

  2

  2

  2

  52

  1

  1

  3

  2

  1

  3

  61

  1

  1

  1

  2

  1

  2 139 Supami

  3

  50

  1

  1

  2

  1 140 Muridayati 1

  3

  3

  3

  3

  67

  1

  1

  6

  1

  1 141 Kholimah

  1

  3

  3

  4 132 Iksan

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  35

  1

  4

  1

  3 124 Andriyanto

  3

  3

  1

  22

  4

  1

  3 125 Udiyanto 0

  3

  3

  3

  53

  1

  4

  3 123 Makasin 2

  2

  2 126 Khoirun

  2

  3

  2

  3

  60

  1

  2

  1

  1 121 Rumbaka

  2

  2

  2

  23

  2

  42

  1

  1

  1

  3 122 Kurniawan 2

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  2

  49

  1

  1

  6

  1

  2 130 Prayitno

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  4

  4

  4 131 Agus

  2

  2

  2

  3

  2

  21

  3

  52

  4 129 Aminah 0

  2

  2

  1

  2

  1

  18

  7

  1

  3 127 Fahlul I

  2

  3

  1

  2

  5

  18

  7

  4

  3 128 Yopie 2

  2

  2

  2

  2

  22

  1

  7

  4

  144 Wahyu Lestari

  5 155 Arbaiyah 1

  1

  3

  2

  70

  1

  5

  5

  2

  1

  3

  3

  30

  1

  4

  2

  4 156 Rodiyah

  2 154 Solehah 0

  2

  3

  1

  2

  3

  2

  48

  1

  1

  2

  2 153 Purwaningsh

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  54

  1

  1

  3

  1

  3

  34

  1

  1

  6

  2

  2 159 Partini

  3

  3

  2

  3

  3

  46

  1

  1

  5

  5

  2

  3

  60

  1

  1

  1

  6

  5

  2 157 Zuni

  2

  1

  2

  4 158 Mutilah

  2

  1

  30

  1

  1

  6

  2

  1

  4 152 Juwariyah

  1

  1

  2 146 Nurwanto

  3

  1

  3

  3

  3

  55

  3

  2

  2

  2 147 Karini

  1

  3

  3

  50

  1

  2

  1

  3

  1

  2

  1

  2

  1

  1

  36

  1

  6

  39

  2

  2 145 Suyitno

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  2 151 Muslihah

  2

  2

  2

  44

  1

  1

  2

  1

  2

  3

  3

  3

  32

  1

  1

  6

  2

  3 150 Sariyono

  1 148 Nugrahanto 2

  4 149 Gunawan

  3

  2

  3

  2

  25

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  3

  2

  27

  1

  2

  5

  Lampiran 7. Hasil Uji normalitas NPar Tests

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  159 159 159 3.8239 1.6195 1.9292 1.57325 .66551 .51950 .192 .119 .183

  .110 .101 .099

  a,b Absolute Positive Negative Most Extreme

  Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Pengetahuan Sikap Tindakan

  • .192 -.119 -.183 2.426 1.498 2.309 .000 .023 .000 N Mean Std. Deviation Normal Parameters

  Test distribution is Normal.

  a.

  

Lampiran 8. Distribusi karakteristik sosio-demografi, tingkat pengetahuan,

sikap dan tindakan Frequencies UMUR

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid < 22 tahun

  13

  8.2

  8.2

  8.2 22 - 40 tahun

  64

  40.3

  40.3

  48.4 < 40 - 60 tahun

  75

  47.2

  47.2

  95.6 < 60 tahun

  7

  4.4 4.4 100.0 Total 159 100.0 100.0

JENIS KELAMIN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Laki-laki

  30

  

18.9

  18.9

  18.9 Perempuan 129

  

81.1

81.1 100.0 Total 159 100.0 100.0

STATUS PERKAWINAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Belum Menikah

  20

  12.6

  12.6

  12.6 Menikah 139 87.4 87.4 100.0 Total 159 100.0 100.0

  

PEKERJAAN

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Petani

  48

  30.2

  30.2

  30.2 Buruh

  19

  11.9

  11.9

  42.1 Pedagang

  20

  12.6

  12.6

  54.7 Pegawai Swasta

  10

  6.3

  6.3

  61.0 PNS/TNI/POLRI

  4

  2.5

  2.5

  63.5

PENDAPATAN KELUARGA

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid < Rp 300.000,00

  98

  61.6

  61.6

  61.6 Rp 300.000,00-Rp

  43

  27.0

  27.0

  88.7 1.000.000,00 Rp 1.000.000,00-Rp

  6

  3.8

  3.8

  92.5 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00-Rp

  2

  1.3

  1.3

  93.7 2.000.000,00 > Rp 2.000.000,00

  10

  6.3 6.3 100.0 Total 159 100.0 100.0

TINGKAT PENDIDIKAN TERAKHIR

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Tidak Tamat

  13

  8.2

  8.2

  8.2 Lulus SD

  71

  44.7

  44.7

  52.8 Lulus SMP

  40

  25.2

  25.2

  78.0 Lulus SMA

  30

  18.9

  18.9

  96.9 Ahli madya (D1/D3)

  3

  1.9

  1.9

  98.7 Lulus Perguruan

  2

  1.3 1.3 100.0 Tinggi (Sarjana) Total 159 100.0 100.0

  Frequencies PENGENALAN RESPONDEN TENTANG ANTIBIOTIKA Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid tidak

  43

  27.0

  27.0

  27.0 ya 116

  73.0 73.0 100.0 Total 159 100.0 100.0

  

nama antibiotika

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Amoksisilin

  

37

  23.3

  23.3

  23.3 Amoksisilin, Penisilin

  

29

  18.2

  18.2

  41.5 Amoksisilin, Tetrasiklin

  9

  5.7

  5.7

  47.2 Amoksisilin, Tetrasiklin,

  9

  5.7

  5.7

  52.8 Penisilin Amoksisilin, Tetrasiklin, 1 .6 .6

  53.5 Penisilin, Lainnya Amoksisilin, Tetrasiklin,

  5

  3.1

  3.1

  56.6 Sefalosporin Amosksiilin, Taetrasiklin,

  4

  2.5

  2.5

  59.1 Penisilin, Sefalosporin Penisilin

  

12

  7.5

  7.5

  66.7 tetrasiklin

  2

  1.3

  1.3

  67.9 Tetrasiklin

  5

  3.1

  3.1

  71.1 Tetrasiklin, penisilin

  2

  1.3

  1.3

  72.3 Tetrasiklin, Penisilin, 1 .6 .6

  73.0 Sefalosporin, Lainnya tidak menyebutkan

  4

  2.5

  2.5

  75.5 Tidak menyebutkan

  

38

  23.9

  23.9

  99.4 Tidak Menyebutkan 1 .6 .6 100.0 Total 159 100.0 100.0

  

Jumlah atibiotika contoh y ang disebutkan

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid tidak menyebutkan

  43

  27.0

  27.0

  27.0 1 macam antibiotika

  56

  35.2

  35.2

  62.3 2 macam antibiotika

  40

  25.2

  25.2

  87.4 3 macam antibiotika

  14

  8.8

  8.8

  96.2 4 macam antibiotika

  6

  3.8 3.8 100.0 Total 159 100.0 100.0 Amoksisilin

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  te trasiklin Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid tidak menyebutkan 122

  76.7

  76.7

  76.7 Tetrasiklin

  37

  23.3 23.3 100.0 Total 159 100.0 100.0

penisilin

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak menyebutkan 101

  63.5

  63.5

  63.5 Penisilin

  58

  36.5 36.5 100.0 Total 159 100.0 100.0 se falosporin

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak menyebutkan 149

  93.7

  93.7

  93.7 sefalosporin

  10

  6.3 6.3 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Lainnya Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid tidak menyebutkan 157

  98.7

  98.7

  98.7 lainnya

  2

  1.3 1.3 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Frequencies B3 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak

  32

  20.1

  20.1

  20.1 Ya 116

  73.0

  73.0

  93.1

  B4 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak

  71

  44.7

  44.7

  44.7 Ya

  72

  45.3

  45.3

  89.9 tidak tahu

  16

  10.1 10.1 100.0 Total

159 100.0 100.0

  B5 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak

  4

  2.5

  2.5

  2.5 Ya 144

  90.6

  90.6

  93.1 tidak tahu

  11

  6.9 6.9 100.0 Total

159 100.0 100.0

  B6 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak

  47

  29.6

  29.6

  29.6 Ya

  93

  58.5

  58.5

  88.1 tidak tahu

  19

  11.9 11.9 100.0 Total

159 100.0 100.0

  B7 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak 115

  72.3

  72.3

  72.3 Ya

  24

  15.1

  15.1

  87.4 tidak tahu

  20

  12.6 12.6 100.0 Total 159 100.0 100.0 B8

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  B9 Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak

  9

  5.7

  5.7

  5.7 Ya 142

  89.3

  89.3

  95.0 tidak tahu

  8

  5.0 5.0 100.0 Total

159 100.0 100.0

  Skoring D111 Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Salah

  66

  41.5

  41.5

  41.5 Benar

  93

  58.5 58.5 100.0 Total 159 100.0 100.0 Skoring D121

  Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah

  65

  40.9

  40.9

  40.9 Benar

  94

  59.1 59.1 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Skoring D131 Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Salah 109

  68.6

  68.6

  68.6 Benar

  50

  31.4 31.4 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Skoring D141 Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Salah 125

  78.6

  78.6

  78.6 Benar

  34

  21.4 21.4 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Skoring D151 Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Salah 128

  80.5

  80.5

  80.5 Benar

  31

  19.5 19.5 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Skoring D161 Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Salah 132

  83.0

  83.0

  83.0 Benar

  27

  17.0 17.0 100.0 Total 159 100.0 100.0

  Frequencies Descriptives Descriptiv e Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation e17

  159 .00 3.00 1.7547 .82460 e18 159 .00 3.00 1.6541 .93448 e19 159 .00

  3.00 1.4403 .95858 e20 159 .00 3.00 1.6289 .97794 Sikap 159 .00 3.00 1.6195 .66551 Valid N (listwise) 159

  Descriptives Frequencies Descriptiv e Statistics 159 .00 3.00 1.7484 1.14720 159 .00

  3.00 1.8868 .77933 159 .00 3.00 2.2201 .73474 159 .00 3.00 1.8616 .86036 159 .25 3.00 1.9292 .51950 159

  F21 F22 F23 F24 Tindakan Valid N (listwise)

  N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

  Lampiran 9. Hasil uji chi square

  

1. Hasi uji chi square antara karakteristik sosio-demografi dengan pengetahuan

tentang antibiotika

a. Umur

b. Jenis kelamin

c. Status perkawinan

d. Jenis pekerjaan

e. Pendapatan keluarga

f. Tingkat pendidikan terakhir

  

2. Hasi uji chi square antara karakteristik sosio-demografi dengan sikap tentang

penggunaan antibiotika tanpa resep

a. Umur

  b. Jenis kelamin

  c. Status perkawinan d. Jenis pekerjaan

  e. Pendapatan keluarga

f. Tingkat pendidikan terakhir

  3. Hasi uji chi square antara karakteristik sosio-demografi dengan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep

a. Umur

  b. Jenis kelamin

  c. Status perkawinan d. Jenis pekerjaan

  e. Pendapatan keluarga

f. Tingkat pendidikan terakhir

  4. Hasil uji chi square antara tingkat pengetahuan dengan sikap tentang penggunaan antibiotika tanpa resep

  5. Hasil uji chi square antara tingkat pengetahuan dengan tindakan tentang penggunaan antibiotika tanpa resep

  6. Hasil uji chi square antara sikap dengan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep

  Lampiran 10. Surat ijin penelitian dari KESBANGPOL Kabupaten Temanggung

BIOGRAFI PENULIS

  Penulis memiliki nama lengkap Swaseli Waskitajani yang merupakan anak pertama dari 2 bersaudara pasangan Jonet Prabowo, S.Pd. dan Partini, Am.Keb. penulis lahir di Temanggung, 22 januari 1992. Penulis menempuh pendiikan di TK Dharma Wanita Bantir pada tahun 1996-1998, SD Negeri 2 Candiroto pada tahun 1998-2004, SMP Negeri 1

Ngadirejo pada tahun 2004-2007, SMA Negeri 1 Temanggung pada tahun 2007-

  

2010 dan kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010. Semasa kuliah penulis

aktif dengan beberapa kegiatan mahasiswa seperti sebagai koordinator seksi

publikasi dekorasi dan dokumentasi Pelepasan Wisuda Fakultas Farmasi “Jejakku

Peristiwaku”, turut serta dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi karyawan,

dosen dan masyarakat sekitar dilingkungan Paingan dan Mrican dalam rangka

Dies Natalis ke 56 sebagai anggota seksi dan sebagai anggota seksi Aksi Hari

Kesehatan Dan Lingkungan Hidup. Sebagai peserta dalam Penyuluhan dengan

Leaflet Deteksi Dini Kanker Payudara dengan SADARI.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh muzaraah terhadap tingkat pendapatan masyarakat Desa Kalisapu Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
6
45
103
Tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat mengenai pencegahan penyakit demam berdarah dengue di kelurahan aur kuning bukittinggi.
0
1
74
Pengembangan instrumen pengukuran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat terkait penyakit hipertensi.
0
0
2
Pola dan motivasi penggunaan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonoso Jawa Tengah.
0
13
111
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat tradisional untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
8
19
105
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
0
0
90
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki di SMK Negeri 4 Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta tentang antibiotika dengan metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif).
1
11
148
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan siswi SMK di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman tentang diabetes melitus melalui metode CBIA.
0
0
127
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Dusun Krodan tentang antibiotika dengan metode seminar.
0
0
115
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan pria dewasa tentang antibiotika dengan metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.
0
6
137
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan remaja wanita di Kecamatan Umbulharjo tentang antibiotika dengan metode CBIA.
0
2
122
Evaluasi pemilihan dan penggunaan obat selesma tanpa resep di kalangan orang tua murid kelompok bermain dan taman kanak-kanak di Kecamatan Umbulharjo.
1
13
105
Evaluasi pemilihan dan penggunaan obat selesma tanpa resep di kalangan orang tua murid kelompok bermain dan taman kanak-kanak di Kecamatan Umbulharjo - USD Repository
0
0
103
Hubungan antara pengetahuan dan tingkat ekonomi dengan tindakan pengobatan mandiri pada penyakit batuk di Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - USD Repository
0
0
168
Pengetahuan mengenai antibiotika di kalangan mahasiswa ilmu-ilmu kesehatan - USD Repository
0
0
10
Show more