Peningkatan minat dan pemahaman belajar siswa kelas IV SD Negeri Keceme 1 terhadap mata pelajaran IPS menggunakan metode Mind Map - USD Repository

296 

Full text

(1)

PENINGKATAN MINAT DAN PEMAHAMAN BELAJAR SISWA KELAS IVA SD NEGERI KECEME 1 TERHADAP MATA PELAJARAN

IPS MENGGUNAKAN METODE MIND MAP

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Eka Budi Hertanto 101134111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penulisan skripsi ini dengan tulus peneliti persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberi limpahan berkat dan karuniaNYA

sehingga skripsi ini dapat selesai.

2. Keluarga yang selalu mendukung dan memberikan kasih sayang dan

nasihat-nasihat yang sangat berarti.

3. Sr. Alexia dan Fendi Nurdiyanto yang selalu memberikan kritik dan saran

ketika penyusunan skripsi.

4. Semua teman-teman PGSD angkatan 2010 yang telah memberikan banyak

cerita tentang pengalaman suka-duka ketika kuliah.

5. Teman-teman kos yang selalu memberikan motivasi bagi saya.

(5)

v

MOTTO

“Apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan

menerimanya” (Matius 21:22)

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan

mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”

(Lukas 11:9)

“Someday you’ll be brighter than the star, just be strong, just be brave, and be

sure…..karena kamu bisa dan mau berusaha” (Fendi)

(6)
(7)
(8)

viii

ABSTRAK

PENINGKATAN MINAT DAN PEMAHAMAN BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI KECEME 1 TERHADAP MATA PELAJARAN IPS

MENGGUNAKAN METODE MIND MAP

Oleh: Eka Budi Hertanto

NIM: 101134111

Hasil observasi dan lembar kuesioner siswa di kelas IVA SD Negeri Keceme 1 menunjukkan minat belajar siswa saat pelajaran IPS termasuk kategori rendah. Peneliti berasumsi bahwa rendahnya minat saat pelajaran IPS mempengaruhi rendahnya pemahaman belajar siswa pada pelajaran tersebut. Hal tersebut diperkuat dari hasil ulangan siswa yang menunjukan 13 dari 30 siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal sebesar 67,00. Rendahnya pemahaman belajar tersebut mendorong peneliti mengadakan penelitian yang bertujuan meningkatkan minat dan pemahaman belajar siswa menggunakan metode mind map.

Jenis penelitian merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah 27 siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 tahun ajaran 2013/2014. Objek penelitian adalah peningkatan minat dan pemahaman belajar siswa menggunakan metode mind map pada pelajaran IPS materi jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia. Peneliti menggunakan instrumen penelitian kuesioner, lembar observasi, post-test dan didukung data wawancara dengan guru. Penelitian dilaksanakan 1 (satu) siklus dan data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif.

Hasil observasi penelitian menunjukkan peningkatan minat ditandai dengan antusiasme siswa saat belajar, banyaknya siswa merespon pertanyaan guru, dan kesiapan siswa sebelum pelajaran. Hasil kuesioner minat menunjukkan rata-rata ekspresi perasaan senang 80,13%, keaktifan dalam pelajaran sebesar 77,19%, partisipasi dalam pelajaran sebesar 79,83%, ketertarikan pada materi pelajaran menjadi 84,48%, dan keinginan mengikuti pelajaran sebesar 83, 87%. Pemusatan perhatian juga mengalami peningkatan menjadi 83,43%. Sedangkan, hasil penelitian terhadap pemahaman belajar menunjukkan peningkatan dari semula 13 (dari 30) siswa tidak lulus KKM sebesar 67, menjadi 2 (dari 26) siswa.

(9)

ix

ABSTRACK

THE ENHANCEMENT OF STUDENTS’ INTEREST AND LEARNING UNDERSTANDING TOWARDS SOCIAL STUDY OF THE IVA IN SD

NEGERI KECEME 1 USING BY MIND MAP METHODS

By:

Eka Budi Hertanto Student Number: 101134111

The results of observations and questionnaires in social study of the IVA grades in SD Negeri Keceme 1 indicated that the studies interest in school study is relatively low. The researchers assumed that the students lack of interest in social studies resulted in the students minimum understanding on the related lesson. This condition encouraged the researcher to conduct a classroom action research to increase the studies interest and understanding in studying social science using mind mapping method.

This classroom action research. The subject was 27 students of Class IVA SD Negeri 1 Keceme the school year 2013/2014. The object of the research is to increase interest and understanding in studying social science using mind maps. To collecting data, the researchers use questionnaires, observation sheets, post-test data and interviews with teachers as research instrument. The classroom action research was conducted 1 (one) cycle and the data were analyzed by descriptive research descriptively.

The results of the study revealed that the students increased marked by the enthusiasm while studying. Many students responded to the teachers' questions, and the readiness of students before class. Results of the questionnaire shows average interest in expression of feelings of pleasure 80,13%, activity when subjects become of 77,19%, participation in become of 79,83%, interest in the subject matter being 84,48%, and the willingness to follow the become of 83, 87%. Concentration also increased to 83,43%. Meanwhile, the results of research on understanding learning shows an improvement from the original 13 (from 30) students do not pass the KKM amounted to 67, becoming the 2nd (out of 26) students.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah

melimpahkan segala berkat dan penyertaan sehingga peneliti dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul “PENINGKATAN MINAT DAN PEMAHAMAN

BELAJAR SISWA KELAS IVA SD NEGERI KECEME 1 TERHADAP MATA

PELAJARAN IPS MENGGUNAKAN METODE MIND MAP” ini dengan baik.

Penelitian skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian skripsi ini, tidak akan terwujud

tanpa bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., SS., BST., MA., Ketua Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Dra. Ignatia Esti S., M.Hum., dosen pembimbing I, yang telah

memberikan arahan, dorongan, semangat serta sumbangan pemikiran yang

peneliti butuhkan dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Eny Winarti, S.Pd., M.Hum., Ph.D., dosen pembimbing II, yang telah

memberikan bantuan ide, saran, masukan, kritik, serta bimbingannya yang

sangat berguna selama penelitian maupun penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Walidi,S.Pd., selaku kepala SD Negeri Keceme 1 yang telah memberi

(11)
(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Rumusan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

1.6 Batasan Masalah ... 8

(13)

xiii

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka ... 10

2.1.1 Teori Perkembangan Anak ... 10

2.1.2 Metode Pembelajaran ... 13

2.1.3 Metode Pembelajaran Mind Map ... 15

2.1.4 Pemahaman ... 18

2.1.5 Minat ... 21

2.1.6 Indikator Minat ... 22

2.1.7 Hakikat Pembelajaran IPS SD ... 24

2.2 Penelitian yang Relevan ... 27

2.2.1 Penelitian Tentang Minat ... 27

2.2.2 Penelitian Tentang Penggunaan Metode Mind Map ... 28

2.2.3 Literatur Map ... 31

3.3.1 Rencana Tindakan Penelitian ... 39

3.3.2 Perencanaan ... 40

3.3.3 Tindakan Pelaksanaan ... 40

3.3.4 Observasi ... 42

3.3.5 Refleksi ... 43

(14)

xiv

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 45

3.5.1 Variabel Penelitian ... 45

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 46

3.6 Instrumen Pengumpulan Data ... 49

3.6.1 Lembar Observasi ... 49

3.6.2 Lembar Kuesioner ... 51

3.6.3 Wawancara ... 53

3.6.4 Instrumen Test ... 54

3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 56

3.7.1 Validitas Penelitian ... 56

3.7.2 Reliabilitas Penelitian ... 68

3.8 Teknik Analisis Data ... 70

3.8.1 Peningkatan Minat Belajar Siswa ... 71

3.8.2 Peningkatan Pemahaman Belajar Siswa ... 73

3.9 Jadwal Penelitian ... 76

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 77

4.1.1 Proses Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ... 77

4.2 Hasil Minat Siswa Dari Kondisi Awal dan Siklus ... 88

4.2.1 Hasil Pemahaman Belajar Siswa dari Kondisi Awal dan Siklus ... 93

4.3. Pembahasan ... 99

4.3.1 Minat Siswa ... 99

4.3.2 Pemahaman Belajar ... 120

(15)

xiii

5.2 Keterbatasan ... 134

5.3 Saran ... 134

DAFTAR REFERENSI ... 136

LAMPIRAN ... 139

CURICULUM VITAE ... 275

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

TABEL 3

3.1 Kondisi awal minat dan pemahaman belajar siswa ... 43

3.2 Variabel penelitian ... 45

3.3 Kisi-kisi rubrik pengamatan minat ... 49

3.4 Lembar observasi minat ... 51

3.5 Lembar kuesioner minat siswa ... 52

3.6 Lembar wawancara ... 53

3.7 Kisi-kisi soal post-test 1 ... 54

3.8 Kisi-kisi soal post-test 2 ... 55

3.9 Hasil validitas instrumen pembelajaran ... 60

3.10 Kriteria validitas instrumen pembelajaran ... 60

3.11 Hasil validasi instrumen minat ... 61

3.12 Kriteria validasi instrumen minat ... 61

3.13 Kisi-kisi butir angket uji coba ... 62

3.14 Item setelah Uji Faktor Analysis ... 63

3.15 Lembar kuesioner siap digunakan ... 65

3.16 Hasil uji validitas soal post-test 1 ... 66

3.17 Hasil uji validitas soal post-test 2 ... 67

3.18 Koefisien reliabilitas ... 69

3.19 Reliabilitas soal post-test pertama ... 69

3.20 Reliabilitas soal post-test kedua ... 69

3.21 Hasil uji reliabilitas kuesioner minat belajar siswa ... 70

(17)

xv

3.23 Jadwal Penelitian ... 76

TABEL IV 4.1 Kuesioner minat awal siswa ... 89

4.2 Kuesioner minat akhir siswa ... 90

4.3 Perbandingan minat minat awal dan akhir siswa ... 91

4.4 Perbandingan hasil nilai post-test 1 dan 2 ... 94

4.5 Peningkatan minat belajar siswa (kuesioner) ... 100

4.6 Pencapaian minat belajar siswa ... 101

4.7 Peningkatan minat belajar siswa (kuesioner) ... 102

4.8 Kriteria minat belajar siswa ... 103

4.9 Peningkatan jumlah ketuntasan belajar siswa ... 122

(18)

xvi 3.1 Skema model penelitian Hopkins ... 36

3.2 Komponen Analisis Data Wawancara dan Dokumentasi ... 75

GAMBAR 4 4.1 Peningkatan minat belajar siswa ... 92

4.2 Peningkatan persentase siswa dengan skor di atas rata-rata ... 93

4.3 Peningkatan rata-rata pemahaman belajar siswa ... 95

4.4 Persentase pencapaian KKM kondisi awal... 96

4.5 Persentase pencapaian KKM post-test 1 ... 97

4.6 Persentase pencapaian KKM post-test 2 ... 98

4.7 Antusiasme siswa saat kegiatan pembelajaran ... 106

4.8 Siswa membaca buku referensi ... 107

4.9 Kosentrasi siswa saat membuat mind map ... 109

4.10 Siswa tertarik saat membuat mind map ... 110

4.11 Siswa aktif mengerjakan tugas kelompok ... 111

4.12 Siswa berdiskusi mengerjakan LKS ... 112

4.13 Suasana saat siswa mengerjakan soal post test 1... 114

4.14 Siswa antusias mengerjakan LKS ... 115

4.15 Siswa kosentrasi membuat mind map ... 116

(19)

xvii

4.17 Kuesioner minat awal dan akhir ... 119

4.18 Kerjasama saat pembuatan mind map ... 124

4.19 Gambar mind map 1 yang dibuat kelompok... 126

4.20 Gambar mind map 2 yang dibuat kelompok... 127

(20)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

1.1 Surat Izin Penelitian ... 141

1.2 Surat Keterangan Telah Mengadakan Penelitian ... 142

LAMPIRAN 2 2.1 Daftar Nilai Siswa Kelas IV Tahun Ajaran 2012/2013 ... 144

2.2 Data Kuesioner Minat Awal Siswa Kelas IV ... 145

2.3 Kuesioner Minat Awal Siswa ... 146

2.4 Data Kuesioner Minat Akhir Siswa Kelas IV TA 2013/2014 ... 149

2.5 Kuesioner Minat Akhir Siswa ... 150

LAMPIRAN 3 3.1 Silabus Pembelajaran ... 153

3.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1 ... 156

3.3 LKS 1 ... 165

3.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 ... 174

3.5 LKS 2 ... 183 5.1 Validasi Kuesioner Guru Kelas ... 201

(21)

ivxx

5.3 Validasi Dosen Ahli ... 207

LAMPIRAN 6 6.1 Validitas dan Reliabilitas Soal Post-test 1(Uji Coba) ... 210

6.2 Uji Validitas Soal Post-test 1 ... 218

6.3 Hasil Uji Validitas Soal Post-test 1 ... 219

6.4 Validitas dan Reliabilitas Soal Post-test 2(Uji Coba) ... 223

6.5 Uji Validitas Soal Post-test 2 ... 233

6.6 Hasil Uji Validitas Soal Post-test 1 ... 234

6.7 Hasil Analisis Faktor (Uji- F Analysis) Kuesioner ... 242

LAMPIRAN 7 7.1 Kisi-kisi Soal Post-test 1 ... 245

7.2 Kisi-kisi Soal Post-test 1 ... 246

LAMPIRAN 8 8.1 Observasi Minat Awal ... 248

8.1 Observasi Minat Siswa Pertemuan Ke-1 ... 249

8.2 Observasi Minat Siswa Pertemuan Ke-3 ... 250

LAMPIRAN 9 9.1 Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertemuan ke-1 ... 252

9.2 Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertemuan ke-2 ... 262

(22)

1

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan definisi oprasional. Latar belakang masalah memuat

alasan-alasan perlunya dilakukan penelitian, rumusan masalah memuat inti

permasalahan yang akan dipecahkan, sedangkan tujuan penelitian memuat

harapan yang ingin dicapai dalam penelitian. Manfaat peelitian memuat kegunaan

yang akan diambil dari permasalahan yang diteliti, dan definisi oprasional

memuat istilah terkait penelitian ini.

1.1 Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran

pokok di jenjang pendidikan (BSNP, 2006: 167). Siswa sekolah dasar sudah

mulai dikenalkan pada ilmu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan budaya

yang menjadi satu kesatuan dalam satu bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial. IPS

digunakan sebagai salah satu mata pelajaran untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan aspek dalam diri siswa

yang berkaitan dengan kehidupan sosial, nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

(BSNP, 2006: 175).

Untuk mewujudkan aspek yang terkait dengan kehidupan sosial, nilai-nilai

sosial dan kemanusiaan, siswa perlu memiliki minat agar dapat mengikuti

pembelajaran yang disajikan oleh guru. Minat menjadi penentu keberhasilan

(23)

mendapatkan yang terbaik dalam pelajaran tersebut namun ketika siswa tidak

mempunyai minat yang baik maka dia tidak akan berusaha maksimal dalam

mendapatkan prestasi belajarnya (Muslich, 2010:118). Minat tidak dapat muncul

begitu saja tanpa ada dorongan dari lingkungan sekitar, guru sebagai pendidik

bertugas memfasilitasi proses kegiatan pembelajaran bagi siswa (Djiwandono, 2006:365-366). Dengan demikian, penciptaan situasi belajar yang dapat

menumbuhkembangkan minat belajar siswa menjadi amat penting pengaruhnya

terhadap prestasi belajar siswa.

Hasil observasi awal peneliti pada tanggal 8 Januari 2014 menunjukan

bahwa minat belajar siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 tergolong rendah.

Hasil observasi menunjukan tiga dari jumlah siswa sebanyak 27 terlambat masuk

kelas saat pelajaran IPS berlangsung. Sedangkan saat guru menyampaikan materi

pembelajaran terdapat 3 orang siswa yang meletakkan kepalanya di atas meja,

siswa yang aktif menjawab pertanyaan yang diberikan guru hanya 7 orang siswa,

8 siswa tidak membawa buku paket IPS, sedangkan 14 siswa sibuk mengobrol

dengan teman sebangku, melamun, dan menganggu teman lain saat pelajaran

berlangsung. Hal tersebut juga didukung dengan kuesioner yang dibagikan

kepada siswa pada tanggal 21 Februari 2014.

Berdasarkan hasil kuesioner tersebut, diketahui bahwa perasaan senang

terhadap pelajaran IPS siswa sebesar 69,33%, keaktifan siswa dalam pelajaran

sebesar 67,77%, partisipasi terhadap pelajaran IPS sebesar 66,83%, ketertarikan

terhadap pelajaran IPS sebesar 67,28%, keinginan mengikuti pelajaran 64,73%,

(24)

observasi dan kuesioner, diketahui bahwa minat belajar siswa saat pelajaran IPS

relatif rendahkarena metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang

variatif. Kurang variatifnya metode pembelajaran yang digunakan guru

berdampak pada rendahnya tingkat pemahaman belajar siswa.

Pemahaman belajar siswa yang rendah terhadap mata pelajaran IPS

terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas IVA SD Negeri

Keceme 1. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa kelas

IVA SD Negeri Keceme1 tahun ajaran 2012/2013 belum bisa dikatakan

memenuhi target. Sebagian nilai IPS siswa masih di bawah kriteria ketuntasan

belajar minimal (KKM) 67. Rata-rata nilai ulangan siswa pada mata pelajaran IPS

tahun ajaran 2012/2013 sebesar 67,3. Sementara hasil ulangan IPS pada materi

perkembangan teknologi tahun ajaran 2012/2013 menunjukan bahwa 13 dari 30

siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran IPS.

Perlu diketahui pemahaman belajar merupakan bagian dari domain proses

kognitif, sehingga dapat diukur melalui tes prestasi (Azwar, 2011:28). Menurut

taksonomi Bloom (dalam Krathwohl dan Anderson, 2010: 105), pemahaman

merupakan dimensi proses kognitif kategori dua. Proses kognitif dalam

pemahaman meliputi kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali materi,

kemampuan menyimpulkan inti dari materi dan kemampuan dalam merangkum

materi. Selain itu, siswa dikatakan memahami materi bila siswa juga mampu

memberikan contoh-contoh nyata dari materi yang baru saja dipelajari.

Berdasarkan dari pemahaman bahwa minat mempengaruhi prestasi belajar

(25)

upaya untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran

IPS. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan metode

pembelajaran inovatif, yaitu cara yang ditempuh oleh seorang guru untuk

menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung

bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang

membanggakan (Sumantri, 2001:115). Berdasarkan pernyataan tersebut peneliti

mengujicobakan sebuah metode yang dapat mengaktifkan minat belajar, serta

membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan imajinasinya.

Peneliti menerapkan sebuah metode pembelajaran dengan menggunakan

mind map. Mind map merupakan salah satu metode yang mampu membantu

siswa dalam menajamkan ingatan (Buzan 2005:12). Mind map dapat digunakan

sebagai alternatif dalam kegiatan pembelajaran, karena mind map mampu

menggunakan kedua pemain utama dalam ingatan, yaitu imajinasi dan asosiasi

Buzan (2005:12). Imajinasi dapat membantu seseorang untuk mengingat karena

imajinasi membuat segala sesuatu tampak lebih menarik. Sedangkan, asosiatif

merupakan cara seseorang menghubung-hubungkan apa yang diketahui dengan

pengetahuan terdahulu. Selain itu, mind map juga disajikan dengan garis

lengkung, warna, kata kunci, dan gambar yang sesuai dengan rangkaian

sederhana, mendasar dan alami sesuai dengan cara kerja otak.

Siswa SD Negeri Keceme 1 kelas IVA berada pada rentang usia 9-11

tahun. Pada rentang usia tersebut menurut tahapan perkembangan kognitif Piaget

(Trianto, 2007:33) siswa memasuki tahap oprasional konkrit. Pada tahap tersebut

(26)

membangun pemikiran tersebut berupa alat bantu nyata/ konkrit. Mind map

berfungsi sebagai alat bantu benda nyata, karena mind map menampilkan materi

dengan perpaduan garis lengkung, warna, simbol, gambar dan kata kunci.

Hasil penelitian Afindra (2011), tentang mind map membuktikan bahwa

teknik mind map dapat meningkatkan prestasi belajar PKn, terlihat dari kondisi

awal nilai rata-rata siswa adalah 58,97. Namun setelah dilaksanakan siklus I nilai

rata-rata siswa mencapai 65,22 dan meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata

siswa mencapai 71,02. Sedangkan penelitian Darmayoga (2013) menunjukan

bahwa teknik mind map berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV SD

dengan, rata-rata skor hasil belajar IPS siswa yang mengikuti pembelajaran

dengan menggunakan metode Mind Mapping adalah 73,05 sementara rata-rata

skor hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran metode konvensional

adalah sebesar 60,63.

Berdasarkan latar belakang di atas tentang keberhasilan penerapan mind

map, peneliti mencoba untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

dengan judul “Peningkatan Minat dan Pemahaman Siswa Kelas IVA SD Negeri Keceme 1Terhadap Mata Pelajaran IPS Menggunakan Metode Mind Map”. Melalui penelitian ini, diharapkan diperoleh hasil bahwa metode mind map

benar-benar mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata

pelajaran IPS yang dibatasi pada standar kompetensi 2 “Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota

(27)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, dapat diidentifikasi

permasalahan-permasalahan yang ada di kelas IVA SD Negeri Keceme 1 adalah

sebagai berikut:

1) Pembelajaran IPS di kelas IVA SD Negeri Keceme 1 belum mampu

mendorong minat belajar siswa.

2) Metode untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran

IPS materi “perkembangan teknologi di Indonesia” belum banyak ditemukan.

3) Kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran IPS sebesar 67 belum

mampu diperoleh siswa kelas IVA tahun ajaran 2012/2013.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian tindakan

kelas ini dirumuskan menjadi :

1) Bagaimana proses menggunakan metode mind map dalam upaya

meningkatkan minat belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1

terhadap mata pelajaran IPS?

2) Bagaimana proses menggunakan metode mind map dalam upaya

meningkatkan pemahaman belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri

(28)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah sebagai berikut;

1) Peneliti dapat mengetahui metode mind map meningkatkan minat belajar

IPS siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 terhadap mata pelajaran IPS.

2) Peneliti dapat mengetahui metode mind map meningkatkan pemahaman

belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 terhadap mata pelajaran

IPS.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari dilakukannya Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai

berikut;

1) Bagi guru

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi guru

dalam menerapkan penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran IPS

untuk meningkatkan minat dan pemahaman belajar siswa.

2) Bagi siswa

Metode Mind map ini diharapkan membantu dalam meningkatkan minat

dan pemahaman belajar pada mata pelajaran IPS.

3) Bagi peneliti

Peneliti dapat menerapkan metode mind map untuk meningkatkan minat

dan pemahaman belajar siswa pada mata pelajaran IPS serta memperluas

wawasan tentang penggunaan metode mind map dalam pembelajaran di

(29)

1.6 Batasan Masalah

Permasalahan pada penelitian ini dibatasi pada peningkatan minat dan

pemahaman belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan

menggunakan metode Mind Map pada siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1

semester 2 tahun ajaran 2013/2014. Standar kompetensi yang dipilih adalah

standar kompetensi 2 “Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi”. Pada

kompetensi dasar 2.3 “Mengenal perkembangan teknologi produksi,

komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya“.

1.7 Definisi Operasional

Berikut ini beberapa definisi operasional yang berguna untuk mengurangi

tingkat keambiguan suatu istilah dalam penelitian ini;

1) Metode merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan

rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah

disusun tercapai secara optimal..

2) Mind Map adalah suatu teknik mencatat secara kreatif dan efektif.

Pencatatan ini dilakukan dengan cara memetakan gagasan sentral di bagian

tengah, topik utama di cabang utama, dan sub-topik di

cabang-cabang kedua.

3) Minat belajar merupakan kecenderungan atau keinginan dan rasa senang

dalam diri seseorang terhadap suatu objek tertentu yang melahirkan

perubahan yang relatif menetap berupa tingkah laku, pengetahuan, sikap

(30)

4) Pemahaman merupakan kemampuan seseorang dalam membangun makna

dari kegiatan pembelajaran yang terlihat melalui kemampuan menjelaskan,

menyimpulkan, merangkum, dan memberikan contoh dari materi yang

telah dipelajari.

5) IPS merupakan mata pelajaran yang dilaksanakan dengan tujuan

membentuk pribadi siswa untuk memiliki kesadaran dan komitmen

terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

6) Siswa SD adalah siswa kelas IVA semester 2 tahun ajaran 2013/2014 di

SD Negri Keceme 1, Sleman Yogyakarta.

7) Ruang lingkup materi mata pelajaran IPS yang digunakan untuk penelitian

dibatasi pada materi perkembangan teknologi di Indonesia Kurikulum

(31)

10

BAB II

LANDASAN TEORI

Bab II membahas kajian pustaka, kerangka berpikir, dan hipotesis. Kajian

pustaka membahas teori-teori yang relevan dan beberapa hasil penelitian

terdahulu. Selanjutnya dirumuskan kerangka berpikir berisi tentang landasan atau

rumusan pemikiran dari umum ke khusus dan hipotesis yang berisi dugaan

sementara atau jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian.

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka memaparkan tentang teori perkembangan anak, beberapa

metode pembelajaran secara umum, metode pembelajaran mind map, proses

kognitif pemahaman, dan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar. Seluruhnya

dibahas secara runtut sebagai berikut.

2.1.1 Teori Perkembangan Anak

Piaget merupakan seorang psikolog berkebangsaan Swiss yang telah

banyak mempengaruhi dunia pendidikan dengan teori konstruktivisme dan teori

perkembangan kognitifnya. Teori perkembangan kognitif Piaget mampu

mempengaruhi dunia pendidikan, terutama dalam bidang pendidikan kognitif

yang hingga saat ini masih bisa diterima. Teori perkembangan kognitif Piaget

(dalam Santrock, 2011:28) membagi tahap perkembangan kognitif anak menjadi

empat tahap: (1) tahap sensorimotor, (2) tahap praoperasional, (3) tahap

operasional konkret, dan (4) tahap operasional formal. Teori konstruktivisme

Piaget (dalam Suparno, 2001:5) menyatakan bahwa pengetahuan seseorang itu

(32)

guru melainkan individu itu sendirilah yang harus memproses dan mengolah

pengetahuan tersebut. Pengetahuan seorang anak sangat berkaitan dengan

kemampuannya dalam bidang kognitif. Seorang anak harus berperan aktif dalam

membangun pengetahuannya. Berikut ini merupakan tahap perkembangan

koknitif menurut Piaget (dalam Santrock, 2011: 28)

Pada tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun) seorang anak memperoleh

pengetahuan melalui interaksi fisik dari orang lain maupun benda yang berada di

sekitar. Menurut Piaget (dalam Suparno, 2001:27) cara perkembangan

sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap

kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan

akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya rangsangan, atau kontak

dengan pengalaman atau situasi yang baru. Proses asimilasi dan akomodasi ini

menunjukkan bahwa seorang anak berperan aktif membentuk pengetahuannya.

Selanjutnya tahap kedua praoperasional (usia 2-6 tahun) merupakan tahap

dimana seorang anak mulai melukiskan dunianya dengan kata-kata dan gambar.

Tahap ini ditandai dengan adanya kemampuan semiotik, yaitu kemampuan untuk

menyatakan atau menjelaskan suatu objek dengan menggunakan simbol atau

tanda. Piaget (dalam Suparno, 2001: 50) membedakan antara simbol dan tanda.

Simbol adalah sesuatu hal yang lebih menyamai dengan yang disimbolkan, seperti

gambaran atau bayangan sedangkan tanda lebih merupakan sesuatu yang

diungkapkan tanpa ada kesamaan dengan yang ditandakan. Bahasa tulis, bahasa

(33)

Tahap ketiga operasional konkret (usia 6-11 tahun) merupakan tahap

dimana anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan

yang mereka miliki. Anak sudah mampu menambah, mengurangi serta mengubah

operasi yang mereka ketahui. Operasi ini memungkinkan untuk dapat

memecahkan masalah secara logis. Tahap terakhir Operasional Formal (usia 11

tahun-dewasa) merupakan operasi mental tingkat tinggi. Pada tahap ini anak

sudah dapat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa hipotesis atau abstrak, tidak

hanya dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir abstrak dan

memecahkan masalah melalui pengujian semua alternatif yang ada. Dari pendapat

Piaget di atas dapat dimengerti bahwa semakin tinggi tahap perkembangan anak,

akan semakin kompleks pula tingkat kemampuan kognitif yang dimiliki oleh

anak.

Penggolongan perkembangan kognitif menurut Piaget di atas dapat

diketahui bahwa anak kelas IV SD berada pada tahap operasional konkret diusia 6

sampai 11 tahun, dimana peserta didik masih membutuhkan hal-hal yang konkret

untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan menggunakan mind map, pemikiran

konkret dari peserta didik dapat diwakilkan dengan gambar-gambar yang

diberikan kata kunci. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya mengenai

hal-hal yang ingin mereka pelajari dengan menggunakan mind map sesuai dengan

(34)

2.1.2 Metode Pembelajaran

Upaya untuk meningkatkan minat dan pemahaman belajar siswa terhadap

mata pelajaran IPS merupakan hal utama yang harus diwujudkan dalam

pembelajaran. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru untuk

meningkatkan minat dan pemahaman adalah dengan menerapkan metode-metode

pembelajaran. Sanjaya (2006:145) mendefinisikan metode sebagai cara yang

digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam

kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Menurut

Sanjaya (2006:145) metode pembelajaran dibedakan menjadi (1) metode ceramah,

(2) metode demonstrasi, (3) metode simulasi, (4) metode diskusi.

Metode yang pertama adalah ceramah. Metode ceramah merupakan

metode paling sering digunakan oleh guru dalam proses kegiatan pembelajaran.

Metode ini menyajikan materi pembelajaran dengan cara menyampaikannya

secara langsung. Keefektifan metode ceramah terletak pada kompetensi guru

dalam bermain kata-kata atau kalimat. Namun kelemahan metode ceramah yaitu

materi yang didapatkan oleh siswa menjadi terbatas. Materi yang didapatkan

peserta didik sebatas apa yang disampaikan guru, peserta didik menjadi pasif dan

mudah kehilangan fokus saat pembelajaran

Metode pembelajaran demonstrasi merupakan metode yang digunakan

untuk memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan

dengan bahan pelajaran. Metode ini membuat guru lebih aktif daripada siswa,

karena gurulah yang memperlihatkan cara kerja benda yang berkenaan dengan

(35)

Metode yang ketiga yaitu simulasi, merupakan metode pembelajaran yang

menyajikan situasi tiruan dari situasi yang sebenarnya. Pengembangan imajinasi

dan penghayatan dilakukan oleh siswa dengan memerankannya sebagai tokoh

hidup atau benda mati. Kegiatan ini membuat siswa lebih meresapi

pengetahuannya serta mendapat pengalaman langsung dari proses kegiatan

pembelajaran.

Metode pembelajaran selanjutnya adalah diskusi. Diskusi merupakan

metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dan

permasalahan itu diselesaikan oleh siswa itu sendiri dengan cara berdiskusi dan

saling bertukar pendapat dengan siswa lain. Metode diskusi ini berfungsi untuk

mengembangkan siswa. Melalui kegiatan diskusi, pemikiran siswa akan menjadi

lebih beragam, karena siswa akan mendapat pengetahuan tambahan dari

kelompok diskusinya. Metode diskusi akan mendorong siswa lebih aktif dan

kreatif bila dihadapkan pada situasi yang problematis untuk memecahkan suatu

masalah.

Sanjaya (2006:145) telah mengemukakan beberapa metode yang sering

diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Namun, belum ada penjelasan yang

membahas mengenai metode mind map. Padahal mind map termasuk salah satu

metode yang dapat digunakan pada proses pembelajaran. Maka dari itu peneliti

akan membahas metode mind map agar metode mind map dapatdimengerti lebih

(36)

2.1.3 Metode Pembelajaran Mind Map

Buzan (2008:4) menjelaskan mind map merupakan peta rute bagi ingatan

yang mewakili pikiran-pikiran utama dalam proses pemikiran dan mewakili ide

penting yang dapat membantu mempermudah dalam mengingat suatu

pengetahuan. Mind map akan membuat pembelajaran tetap fokus pada ide utama

dan semua ide tambahan lainnya. Mind map juga membantu dalam menggunakan

otak kanan maupun otak kiri sehingga berkembang dengan baik. Senada dengan

hal tersebut, Windura (2008:16) mengatakan bahwa mind map adalah suatu cara

untuk mencatat informasi dengan cara menggunakan teknik grafis yang

memungkinkan kita untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan otak kita dalam

berpikir dan belajar. Dari pendapat kedua tokoh tersebut, dapat disimpulkan

bahwa mind map adalah suatu cara untuk memasukkan informasi ke dalam otak

dengan cara yang kreatif dan efektif sehingga memungkinkan kita untuk

mengeluarkan kembali informasi tersebut dengan cara yang efektif. Mind map

juga memungkinkan otak untuk bereksplorasi dalam berpikir dan belajar.

Mind map memiliki beberapa keunggulan (Buzan 2008:6): (1) mind map

membantu mengaktifkan seluruh otak, (2) mind map dapat membuat orang

berfokus pada pokok bahasan, (3) membantu mengelompokkan konsep yang ada,

(4) Mind map membantu untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang

membantu mengalihkan informasinya dari ingatan jangka pendek ke ingatan

jangka panjang, (5) mampu memunculkan ide-ide baru yang kreatif, dan (6)

(37)

Mind Map merupakan kumpulan informasi yang dibuat berdasarkan

kreatifitas dan logika. Kreatifitas diwakili dengan gambar dan simbol-simbol pada

mind map, sedangkan pemikiran logika diwakili dengan kata kunci yang terdapat

dalam setiap cabang. Ketika menggunakan mind map, kita dapat melihat seluruh

kesatuan dan keterkaitan antara informasi yang telah kita buat. Kita dapat

mengetahui alur pengetahuan yang akan kita pelajari dengan melihat setiap

cabang-cabang yang terdapat dalam mind map. Informasi/ pengetahuan yang

dipelajari akan terlihat lebih menyenangkan dibandingkan dengan informasi yang

hanya berupa tulisan yang rapi.

Terdapat tujuh langkah dalam membuat mind map (Buzan, 2008:15).

Langkah pertama yaitu dimulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi

panjangnya diletakkan mendatar. Memulai langkah dari tengah dapat memberikan

kebebasan kepada otak dalam mengungkapkan diri dengan lebih bebas dan alami.

Kedua gunakan gambar atau foto sentral yang sesuai dengan topik. Gambar

sentral akan lebih menarik, membuat tetap terfokus, membantu berkonsentrasi dan

mengaktifkan otak. Siswa akan lebih mudah mengingat tema atau topik materi

yang telah dipelajari melalui gambar. Ketiga gunakan berbagai macam warna

untuk membuat gambar dan garis lengkung. Warna akan membuat mind map

tampak lebih hidup dan dapat menambah energi kepada pemikiran kreatif dan

menyenangkan. Keempat menghubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat

dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga, ke tingkat satu dan dua,

hingga seterusnya. Hal tersebut bertujuan untuk membimbing otak dalam

(38)

Langkah kelima yaitu membuat garis hubung yang melengkung, bukan

garis lurus karena garis lurus akan membosankan otak. Garis lengkung akan

memudahkan untuk mengarahkan cabang yang dibuat keberbagai arah. Keenam

gunakan satu kata kunci utuk setiap garis karena kata kunci tunggal memberi lebih

banyak daya dan fleksibilitas kepada mind map. Misalnya sifat, cabang yang

dibuat selanjutnya adalah sifat dari isu sentral yang ditulis; fungsi, cabang yang

dibuat selanjutnya adalah tentang fungsi dari isu sentral yang telah dibuat, dan

langkah ketujuh, gunakan gambar. Seperti pada gambar sentral, setiap gambar

bermakna seribu kata. Dengan demikian menggunakan tujuh langkah tersebut

proses mencatat akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan dengan tingkat

recall (mengingat) yang sangat baik (Sujanto, 2011:65).

Gambar 2.1 contoh mind map

(39)

2.1.4 Pemahaman

Dimensi proses kognitif dibagi menjadi beberapa kategori dengan

pengklasifikasian proses-proses kognitif yang dimiliki oleh siswa secara

komprehensif yang terdapat dalam tujuan di bidang pendidikan berdasarkan 6

tahapan taksonomi Bloom (Krathwohl dan Andersoon, 2010:43). Proses kognitif

Bloom (Krathwohl dan Anderson, 2010:99) menyatakan bahwa 6 tahapan dalam

proses kognitif tersebut diawali dengan mengingat, memahami, mengaplikasi,

menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Krathwohl dan Anderson (2010:105) mengatakan proses memahami

merupakan mengkonstruksi makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang

diucapkan, dituliskan, dan disampaikan oleh pengajar atau guru, buku atau layar

komputer. Tujuan pembelajaran di sini adalah untuk transfer pengetahuan.

Pembelajar sudah mengerti sesuatu kalau dapat menghubungkan pengetahuan

baru yang dipelajari dengan pengetahuan lama yang sudah didapat, sehingga

dapat mengintegrasikan pengetahuan yang baru itu dalam skema kognitif yang

sudah dimiliki sebelumnya. Proses tersebut meliputi: menafsirkan, mencontoh

atau meniru, mengklasifikasi, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan

menjelaskan. Namun peneliti hanya mengambil 5 kata kerja operasional yang

paling sederhana dengan pertimbangan bahwa siswa kelas IVA SDN Keceme 1

berada direntang usia 9-11 tahun dan berada pada tahapan operasional konkret

(dalam Suparno, 2001). Kata kerja operasional tersebut diantaranya: memberikan

contoh atau mencontohkan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan

(40)

Hamalik (2003:48) mengatakan pemahaman merupakan kemampuan siswa

dalam melihat hubungan dari berbagai situasi yang penuh dengan permasalahan

yang timbul di sekitar lingkungannya. Hal senada juga disampaikan Suharsimi

(2009:118), pemahaman dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang atau siswa

dalam mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memberikan

contoh, menuliskan kembali dan menyimpulkan suatu materi yang disampaikan

dalam pengajaran. Berdasarkan pengertian tentang pemahaman di atas dapat

disimpulkan bahwa pemahaman belajar siswa merupakan kemampuan siswa

dalam membangun makna dari mata pelajaran, melihat hubungan antar berbagai

situasi serta mampu menuliskan kembali dan menyimpulkan suatu materi yang

disampaikan selama proses pengajaran dalam sebuah situasi yang membutuhkan

pemecahan masalah.

2.1.4.1 Proses kognitif Taksonomi Bloom tahap pemahaman

Memahami menurut Krathwohl dan Anderson (2010:105) merupakan

suatu proses kognitif yang berkaitan dengan kemampuan mentransfer suatu

pengetahuan. Siswa dikatakan memahami suatu materi pelajaran jika siswa

mampu mengkonstruksi atau membangun makna dari pesan pembelajaran baik

secara lisan maupun tertulis. Tahap memahami dikategorikan menjadi tujuh

kegiatan antara lain menafsirkan, memberi contoh, mengklasifikasikan,

merangkum, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan. Namun karena

subyek penelitian merupakan siswa SD dengan rentang usia 9-11 tahun, maka

peneliti mengambil 5 kata kerja operasional yang paling sederhana, diantaranya;

(41)

menjelaskan. Pemilihan lima kata kerja tersebut didasarkan pada tahapan

perkembangan kognitif Piaget yaitu operasional konkret.

Kata kerja memberikan contoh dideskripsikan dengan memberikan contoh

tertentu untuk menjelaskan suatu konsep atau prinsip (Krathwohl dan Anderson,

2010: 109). Misalnya siswa dapat memilih dengan benar dari jawaban-jawaban

yang tersedia dari contoh konkret tentang alat-alat transportasi tradisional atau

siswa di dalam kelas dituntut untuk mampu memberikan contoh alat transportasi

tradisional yang masih digunakan sampai dengan saat ini.

Kata kerja merangkum yaitu membuat abstraksi tentang suatu tema umum

(Krathwohl dan Anderson, 2010: 111). Misalkan, setelah membaca buku materi,

siswa diminta menulis ringkasan dari apa yang telah dibaca dalam buku.

Selanjutnya kata kerja menyimpulkan diartikan sebagai membuat kesimpulan,

menginterpolasi, dan menyarikan informasi yang baru diterima secara logis.

Contohnya, setelah siswa belajar mengenai perkembangan teknologi di Indonesia,

siswa selanjutnya diminta untuk membuat kesimpulan tentang materi tersebut.

Kata kerja membandingkan merupakan hubungan atau persamaan dan

perbedaan antara dua gagasan dan objek. Misalnya adalah membandingkan

jenis-jenis alat transportasi yang digunakan pada jaman dulu dan saat ini. Sedangkan

kata kerja menjelaskan merupakan hubungan sebab-akibat dari sesuatu. Misalnya

menjelaskan sebab dan akibat dari munculnya perbukitan. Beberapa model

pertanyaan bisa dilontarkan kepada pembelajar, misalnya; (1) menjelaskan alasan

terjadinya perkembangan teknologi di Indonesia, (2) menyelidiki permasalahan,

(42)

misalnya siswa diminta menjelaskan sebab-sebab terjadinya perkembangan

teknologi di Indonesia.

2.1.5 Minat

Menurut Surya (2004: 67) siswa yang mempunyai minat dapat dilihat

melalui rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek. Dalam hal

ini prinsip dasarnya adalah motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila

yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya,

sehingga motivasi dan minat akan menjadi dua hal yang saling berhubungan

bahwa motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengembangkan

minat siswa dalam melakukan kegaitan belajarnya.

Slameto (2010:55) mengemukakan minat merupakan salah satu faktor

psikologis yang mempengaruhi proses belajar. Beliau juga mengatakan bahwa

minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau

aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan

suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau

dekat hubungan tersebut, maka semakin besar minat seorang siswa terhadap

materi yang dipelajari. Gie (2002:28-29) berpendapat minat bearti terpusat,

tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan. Beliau juga

mengartikan minat sebagai kemauan siswa dengan segenap kegiatan pikiran

secara penuh untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman dalam

kegiatan pembelajaran.

Menurut Hilgard (dalam Slameto, 2010:57) “interest is persisting tendeucy

(43)

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa

kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang

disertai dengan rasa senang dan akan memperoleh kepuasan. Berdasarkan uraian

di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan suatu rasa suka dan rasa

keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa adanya paksaan. Minat pada

dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan

sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar

minat serta minat erat hubungannya dengan perasaan, individu, obyek, aktivitas,

dan situasi.

2.1.6 Indikator Minat

Pada umumnya minat seseorang terhadap sesuatu akan diekspresikan

melalui kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan minatnya. “Keinginan atau

minat dan kehendak atau kemauan sangat mempengaruhi corak perbuatan yang

akan diperlihatkan oleh seseorang” (Sobur, 2003:246). Berdasarkan pendapat

tersebut maka dalam menentukan indikator minat dilakukan dengan menganalisa

kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu.

Slameto (2010:180) berpendapat bahwa minat dapat diekspresikan melalui

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan terus-menerus disertai rasa

senang, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas.

Djamarah (2002:132) juga mengungkapkan hal yang sama bahwa minat

diekspresikan siswa melalui pernyataan lebih menyukai sesuatu daripada lainnya,

partisipasi dalam suatu kegiatan, dan memberikan perhatian yang lebih besar

(44)

dikemukakan Marpadi (2008: 112), siswa yang mempunyai minat belajar dapat

dilihat melalui beberapa indikator diantaranya, berusaha menyiapkan buku sesuai

dengan materi pelajaran, antusias mengikuti pelajaran, mengerjakan soal yang

diberikan oleh guru, memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru saat

merasa kurang paham, mengerjakan tugas yang diberikan guru, membaca buku

pelajaran dan, mencari sumber belajar yang lain.

Berdasarkan uraian tentang indikator minat menurut Marpadi (2008: 113)

dan beberapa pengertian minat belajar siswa yang telah dijelaskan pada bagian

sebelumnya, maka peneliti melakukan klasifikasi indikator-indikator minat terkait

dengan peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS sebagai berikut:

Perasaan senang, meliputi: Siswa antusias mengikuti pelajaran IPS, siswa

tidak mengeluh ketika diberi tugas oleh guru, siswa mempersiapkan buku IPS,

siswa datang tepat waktu sebelum pelajaran dimulai, dan siswa duduk dengan

tenang siap untuk belajar. Sedangkan, indikator keaktifan siswa dalam pelajaran,

meliputi: Siswa aktif bertanya saat pelajaran IPS berlangsung, siswa aktif

menjawab pertanyaan, siswa menyimak penjelasan guru dengan seksama, siswa

tidak melamun saat pelajaran IPS berlangsung, dan siswa tidak mengerjakan

aktivitas lain saat pelajaran IPS.

Sementara, indikator partisipasi siswa dalam pelajaran, meliputi: Siswa

bertanya kepada guru saat pelajaran IPS, siswa aktif menyampaikan pendapat

dalam diskusi, siswa bekerjasama dalam kelompok, siswa menjawab pertanyaan

yang diberikan oleh guru, dan siswa mampu mengerjakan tugas dalam kelompok.

(45)

meliputi: Siswa membaca buku pelajaran sesuai dengan materi yang diberikan

guru, siswa mencari sumber belajar lain yang berkaitan dengan materi, siswa

mengerjakan tugas dari guru terkait dengan materi IPS, siswa membawa buku

atau sumber lain untuk belajar, dan siswa mencatat bagian penting materi yang

diajarkan oleh guru.

2.1.7 Hakikat Pembelajarn IPS SD

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan integrasi dari berbagai cabang

ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan

budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena

sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dari aspek dan

cabang-cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,

hukum dan budaya (Kurikulum, 2006: 5).

Soemantri (dalam Sapriya, 2009:11) menjelaskan bahwa IPS merupakan

seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia

yang disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Sedangkan

menurut Banks (dalam Sapriya, 2009:10) definisi IPS sebagai berikut:

“The social studies is that part of the elementary and high school

curriculum which has the primary responsibility for helping students to

develop the knowledge, skills, attitudes, and values needed to participate

in the civic life of their local communities, the nation, and the world”.

Berdasarkan kutipan di atas diartikan bahwa, IPS merupakan bagian dari

kurikulum sekolah dan perguruan tinggi dengan tujuan utama untuk membantu

(46)

dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan dimasyarakat sekitarnya, di

negara dan di dunia.

Berdasarkan tiga pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa IPS adalah

studi tentang fenomena-fenomena sosial masyarakat yang merupakan dampak dari

hubungan dan interaksi antar sesama manusia yang meninjau dari berbagai aspek

kehidupan. Maksud dari berbagai aspek mencakup sosiologi (mempelajari

masyarakat dan hubungan antar manusia ), sejarah (mempelajari peristiwa penting

masa lampau), geografi (mempelajari berbagai fenomena fisik muka bumi),

politik (mempelajari ilmu tanegaraan), hukum (mempelajari sistem aturan yang

diberlakukan dalam suatu negara), budaya/antropologi (mempelajari manusia dari

segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan masing-masing daerah).

2.1.7.1 Ruang lingkup

Trianto (2010: 172) mengungkapkan bahwa IPS merupakan integrasi dari

berbagai ilmu sosial yang meliputi sosiologi, sejarah, antropologi, geografi,

hukum, politik dan ekonomi. Sama halnya dengan, BSNP (2006: 176) yang

mengatakan bahwa mata pelajaran IPS memuat materi sosiologi, geografi,

ekonomi dan sejarah. Materi sosiologi mempelajari hubungan antar individu

dengan individu atau kelompok lain dalam suatu komunitas. Sosiologi merupakan

ilmu yang berasumsi bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup

sendiri. Berbeda dengan materi sosiologi, materi ekonomi mempunyai ruang

lingkup sebagai segala aktivitas manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya

(47)

peristiwa atau kejadian-kejadian masa lampau yang mempunyai pengaruh besar

terhadap kehidupan dimasa mendatang.

Pendidikan IPS untuk tingkat sekolah berhubungan dengan disiplin

ilmu-ilmu sosial yang terintegrasi dengan humaniora dan ilmu-ilmu pengetahuan alam yang

dikemas sedemikian rupa untuk kepentingan pembelajaran di sekolah (Pusat

Kurikulum 2006:6). Tujuan pendidikan IPS sendiri, yaitu untuk mempersiapkan

peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge),

ketrampilan (skill), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan

sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta

kemampuan mengambil keputusan (Pusat Kurikulum 2006:6).

2.1.7.2 Tujuan

Tujuan pembelajaran IPS tercantum dalam Pusat Kurikulum (2006:7) yang

menyatakan IPS merupakan pembelajaran yang mengembangkan potensi peserta

didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki

sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan

terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa

dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Sedangkan pembelajaran IPS

di SD diselenggarakan dengan tujuan sebagai berikut BSNP (2006: 175): (1)

mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan

lingkungannya, (2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,

rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan

sosial, (3) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi

(48)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan tujuan IPS adalah untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang

terjadi serta diharapkan mampu berpikir kritis dan terampil mengatasi masalah

yang terjadi di lingkungan masyarakat.

2.1.7.3 Kompetensi dasar mata pelajaran IPS kelas IV semester 2

Kompetensi IPS kelas IV yang digunakan penelitian ini adalah standar

kompetensi 2 “Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan

teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi” pada kompetensi dasar 2.3

“Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta

pengalaman menggunakannya” (Depdikbud, 2007).

2.2 Penelitian yang Relevan 2.2.1 Penelitian Tentang Minat

Penelitian oleh Febriana, dkk (2013) yang berjudul Pengaruh Model

Pembelajaran ARIAS Berbantuan Mind Mapping Terhadap Minat Dan Motivasi

Belajar IPS Siswa Kelas V SD di Gugus Semeru. Penelitian ini menggunakan

penelitian eksperimen. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh data minat belajar

IPS sebesar 7,274. Sedangkan t tabel dengan dk = (n1 + n2) – k adalah 2,0003 yang

berada pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti, t hitung data minat belajar IPS

lebih besar dari t tabel (t hitung > t tabel), sehingga H01 ditolak dan H11 diterima.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa adanya perbedaan yang signifikan

dalam penerapan model pembelajaran ARIAS berbantuan mind mapping dalam

(49)

siswa kelas V SD di Gugus Semeru, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana,

Tahun Pelajaran 2012/2013.

Wahyudin dan Sutikno (2010) meneliti tentang penggunaan metode inkuiri

terbimbing untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa pada pembelajaran

berbantuan multimedia siswa SMA Negeri 14 Semarang kelas X. Hasil penelitian

ini menunjukan bahwa peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus II cukup

signifikan karena secara individu siswa yang mencapai ketuntasan belajar

meningkat dari 13 siswa menjadi 38 siswa. Pemahaman siswa meningkat dari

60% siswa yang dinyatakan tidak paham pada siklus I menjadi 5% siswa yang

dinyatakan tidak paham pada siklus II, hasil analisis tanggapan siswa terhadap

pengajaran diperoleh rata-rata tanggapan siswa sebelum tindakan sebesar 72,90%.

Setelah tindakan, nilai rata-rata tanggapan siswa meningkat menjadi 76,81%.

2.2.2 Penelitian Tentang Penggunaan Metode Mind Map

Darmayoga, dkk (2013) meneliti pengaruh metode mind map terhadap

prestasi belajar yang ditinjau dari minat pada mata pelajaran IPS. Populasi dan

sampel dari penelitian adalah siswa kelas Kelas IV SD Sathya Sai Denpasar.

Hasil menunjukan bahwa kontribusi minat terhadap hasil belajar IPS pada siswa

yang mengikuti metode pembelajaran Mind Mapping sebesar 21,44%. Sedangkan

kontribusi minat terhadap hasil belajar IPS pada siswa yang mengikuti metode

pembelajaran konvensional sebesar 20,65%. Kecilnya kontribusi minat terhadap

hasil belajar IPS karena selama ini pelajaran IPS hanya disajikan dengan metode

yang kurang inovatif kepada siswa. Namun demikian, hasil pengujian ini

(50)

belajar IPS baik pada siswa yang mengikuti metode mind mapping ataupun pada

siswa yang mengikuti metode pembelajaran konvesional.

Penelitian Afindra (2011) yang berjudul Peningkatan Prestasi Belajar

Dengan Teknik Pembelajaran Mind Map Mata Pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan Siswa Kelas IVA SDN Glagahombo 1 Sleman Semester Genap

Tahun Pelajaran 2010/2011. Hasil penelitian ini menunjukan peningkatan prestasi

belajar siswa. Pada kondisi awal nilai rata-rata siswa adalah 58,97 dengan jumlah

siswa yang tuntas KKM hanya 34,38%. Setelah dilakukan pembelajaran dengan

teknik mind map nilai rata-rata siswa mencapai 65,22 dengan jumlah siswa yang

tuntas KKM 47.83%. Pada siklus II dengan nilai rata-rata siswa mencapai 71.02

dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai KKM 78,26%. Hasil penelitian dapat

disimpulkan bahwa teknik mind map mampu meningkatkan prestasi belajar mata

pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IVA SDN Glagahombo 1

Sleman Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.

Maryudani (2010) melakukan penelitian dengan judul “peningkatan

prestasi belajar dalam mata pelajaran IPS dengan teknik mind mapping siswa

kelas V SD Kanisius Kintelan 1 Yogyakarta tahun pelajaran 2009/2010”. Populasi

dan sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas V SDK Kintelan I Yogyakarta.

Hasil dari 21 siswa 18 diantaranya mendapatkan hasil yang kurang dari KKM dan

nilai rata-rata yang diperoleh 21 siswa adalah 50,42.

Berdasarkan pada penelitian minat dan mind map di atas, peneliti

menyimpulkan bahwa menciptakan situasi belajar yang mengundang minat

(51)

model yang ditawarkan di atas merupakan bagian dari upaya meningkatkan minat

belajar siswa di kelas. Mind map merupakan salah satu metode yang dapat

dijadikan alternatif dalam menciptakan minat belajar siswa. Hal tersebut terlihat

dari beberapa hasil penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa mind map dapat

meningkatkan minat belajar siswa. Mind map merupakan sebuah metode yang

memadukan garis lengkung, gambar, warna, dan kata kunci. Karena tersusun dari

perpaduan unsur, siswa diharapkan akan tertarik dengan kegiatan pembelajaran

(52)

2.2.3 Literature Map

Berikut ini literatur map dari penelitian-penelitian terdahulu

Gambar 2.2. Literature Map dari Penelitian-penelitian Terdahulu

2.3 Kerangka Berpikir

Minat seorang anak dalam mengikuti pelajaran sangatlah berpengaruh

terhadap tingkat pemahaman pada mata pelajaran. Minat adalah suatu dorongan

atau rasa tertarik yang muncul secara sadar dari dalam diri individu terhadap suatu

Penelitian tentang Minat

Penelitian tentang metode Mind Map

Darmayoga (2013)

Implementasi mind map terhadap hasil belajar ditinjau dari minat

Pembelajaran dengan teknik mind map untuk meningkatkan prestasi belajar.

Maryudani (2010)

Teknik mind map untuk meningkatkan prestasi belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti

(53)

obyek, dan individu tersebut tidak ada yang menyuruh. Beberapa siswa memiliki

masalah dengan prestasi belajarnya karena minat mereka terhadap mata pelajaran

tersebut rendah. Salah satu penyebab rendahnya minat seorang anak dalam

mengikuti pembelajaran yaitu disebabkan oleh metode yang digunakan guru saat

melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pemilihan metode pembelajaran yang

tepat dan sesuai dengan anak akan menimbulkan minat dalam diri anak tersebut

terhadap suatu mata pelajaran.

Metode pembelajaran mind map dipilih sebagai salah satu metode yang

efektif meningkatkan kemampuan belajar peserta didik. Penggunaan unsur-unsur

mind map yang meliputi gambar, warna, simbol, kata dan garis dapat menarik

perhatian siswa. Perhatian siswa yang terbentuk mencegah siswa terpengaruh

gangguan dari luar. Perhatian dalam pembelajaran juga akan menumbuhkan

keinginan siswa untuk mengembangkan diri. Keterlibatan siswa dalam

pembelajaran dibangun dengan aktifitas pembuatan mind map. Aktivitas

pembuatan mind map memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan dirinya

dan menumbuhkan kreasi siswa. Siswa mempergunakan gambar, warna, simbol,

kata kunci dan garis dalam pembuatan kreasi mind mapnya. Kegiatan yang

dilakukan dengan mind map serta unsur-unsurnya menumbuhkan perasaan senang

siswa dalam pembelajaran IPS.

Berdasarkan pemaparan tersebut, diharapkan penggunaan teknik mind map

dalam pembelajaran akan menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran.

Penerapan mind map dalam pembelajaran IPS yang dirancang secara menarik

(54)

belajar siswa. Hal tersebut dikarnakan mind map dirancang untuk membantu

siswa dalam mengartikan materi pembelajaran yang bersifat abstrak menjadi

materi yang lebih kongkrit dengan perpaduan dalam mind map.

Pemahaman belajar terbentuk dari aspek kognitif, sikap dan keterampilan

sehingga pembelajaran dengan metode mind map juga melibatkan 3 aspek

tersebut. Siswa menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memahami materi

kemudian menuliskanya dalam mind map. Aspek sikap terlihat saat siswa

bekerjasama dalam kelompok untuk membuat mind map. Melalui kerjasama

dalam kelompok akan melatih siswa untuk bertanggung jawab. Sedangkan aspek

keterampilan dilakukan dengan kegiatan membuat mind map dan presentasi hasil

mind map.

2.4 Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah

1. Proses penggunaan metode mind map yang mengandung unsur garis

lengkung, simbol, gambar dan kata kunci mampu meningkatkan minat

belajar siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 terhadap mata pelajaran IPS

Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.

2. Proses penggunaan metode mind map yang mengandung unsur garis

lengkung, simbol, gambar dan kata kunci mampu meningkatkan

pemahaman belajar siswa kelas IVA SD Negeri Keceme 1 terhadap mata

(55)

34

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini membahas mengenai jenis penelitian, setting penelitian, rencana

penelitian, teknik dan alat pengumpul data, analisis data, indikator keberhasilan

serta jadwal penelitian. Jenis penelitian memuat dengan cara apa masalah

dipecahkan, sedangkan setting penelitian memuat subjek, objek, waktu dan tempat

penelitian. Rencana penelitian memuat gambaran kegiatan penelitian yang

dilakukan, teknik dan alat pengumpul data memuat cara peneliti untuk

memperoleh data penelitian. Analisis data memuat cara peneliti dalam

menganalisis dan menginterpretasikan data dari lapangan, indikator keberhasilan

memuat batas keberhasilan dalam penelitian dan jadwal penelitian memuat

tahapan pelaksanaan kegiatan.

3.1 Jenis Penelitian

Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian tindakan kelas

(PTK) untuk meningkatkan sikap dan minat belajar siswa. Penelitian tindakan

kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara

(1) merencanakan, (2) melaksanakan, (3) merefleksikan tindakan secara

kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerja sebagai guru,

sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat (Kusumah dan Dwitagama, 2009:9).

Penelitain Tindakan Kelas (PTK) merupakan cara yang strategis bagi guru

untuk memperbaiki layanan kependidikan dalam lingkup pembelajaran di kelas

dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan (Aqib, 2006: 18).

Gambar

TABEL 3 3.1   Kondisi awal minat dan pemahaman belajar siswa ..................................
TABEL 3 3 1 Kondisi awal minat dan pemahaman belajar siswa . View in document p.16
TABEL IV 4.1   Kuesioner minat awal siswa .....................................................................
TABEL IV 4 1 Kuesioner minat awal siswa . View in document p.17
GAMBAR 2 2.1  Contoh mind map ......................................................................................
GAMBAR 2 2 1 Contoh mind map . View in document p.18
Gambar 2.1 contoh  mind map
Gambar 2 1 contoh mind map . View in document p.38
Gambar 2.2.  Literature Map dari Penelitian-penelitian Terdahulu
Gambar 2 2 Literature Map dari Penelitian penelitian Terdahulu . View in document p.52
Gambar 3.1 Skema model penelitian dari Hopkins dalam Aqib, 2007: 31
Gambar 3 1 Skema model penelitian dari Hopkins dalam Aqib 2007 31 . View in document p.57
Tabel 3.7. Kisi-kisi soal post test 1 (Sebelum uji coba)
Tabel 3 7 Kisi kisi soal post test 1 Sebelum uji coba . View in document p.75
Tabel 3.21. Hasil uji reliabilitas angket minat belajar siswa
Tabel 3 21 Hasil uji reliabilitas angket minat belajar siswa . View in document p.91
Tabel 3.22. Kriteria penilaian (Sukardijo 2008:10)
Tabel 3 22 Kriteria penilaian Sukardijo 2008 10 . View in document p.93
Gambar 3.2. Komponen analisis data wawancara dan dokumentasi
Gambar 3 2 Komponen analisis data wawancara dan dokumentasi . View in document p.96
Tabel 3.23. Jadwal Penelitian
Tabel 3 23 Jadwal Penelitian . View in document p.97
Tabel 4.2. Kuesioner minat akhir siswa
Tabel 4 2 Kuesioner minat akhir siswa . View in document p.111
Tabel 4.3. Perbandingan minat minat awal dan akhir siswa
Tabel 4 3 Perbandingan minat minat awal dan akhir siswa . View in document p.112
Gambar 4.1. Peningkatan minat belajar siswa
Gambar 4 1 Peningkatan minat belajar siswa . View in document p.113
Gambar 4.2. Peningkatan persentase siswa dengan skor di atas rata-rata
Gambar 4 2 Peningkatan persentase siswa dengan skor di atas rata rata . View in document p.114
gambar diagram di bawah ini.
gambar diagram di bawah ini. . View in document p.116
Gambar 4.4. Persentase pencapaian KKM kondisi awal
Gambar 4 4 Persentase pencapaian KKM kondisi awal . View in document p.117
Gambar 4.5. Persentase pencapaian KKM post-test 1
Gambar 4 5 Persentase pencapaian KKM post test 1 . View in document p.118
Gambar 4.6. Persentase pencapaian KKM post-test 2
Gambar 4 6 Persentase pencapaian KKM post test 2 . View in document p.119
Tabel 4.5. Peningkatan minat belajar siswa (kuesioner)
Tabel 4 5 Peningkatan minat belajar siswa kuesioner . View in document p.121
Tabel 4.6. Pencapaian minat belajar siswa
Tabel 4 6 Pencapaian minat belajar siswa . View in document p.122
Tabel 4.7. Peningkatan minat belajar siswa (lembar observasi)
Tabel 4 7 Peningkatan minat belajar siswa lembar observasi . View in document p.123
Tabel 4.8. Kriteria Minat Belajar Siswa (Sukardijo 2008:10)
Tabel 4 8 Kriteria Minat Belajar Siswa Sukardijo 2008 10 . View in document p.124
Gambar 4.7. Antusiasme mendengarkan penjelasan singkat melalui mind map
Gambar 4 7 Antusiasme mendengarkan penjelasan singkat melalui mind map . View in document p.127
Gambar 4.9. Konsentrasi siswa saat membuat mind map
Gambar 4 9 Konsentrasi siswa saat membuat mind map . View in document p.130
Gambar 4.10 Siswa tampak tertarik saat membuat mind map
Gambar 4 10 Siswa tampak tertarik saat membuat mind map . View in document p.131
Gambar 4.11. Siswa tampak aktif saat mengerjakan tugas kelompok
Gambar 4 11 Siswa tampak aktif saat mengerjakan tugas kelompok . View in document p.132
Gambar 4.14. Siswa antusias saat mengerjakan LKS kelompok
Gambar 4 14 Siswa antusias saat mengerjakan LKS kelompok . View in document p.136
Gambar 4.16. Antusias saat mengikuti kegiatan pembelajaran
Gambar 4 16 Antusias saat mengikuti kegiatan pembelajaran . View in document p.138
Gambar 4.17. Kuesioner minat awal dan kuesioner minat akhir
Gambar 4 17 Kuesioner minat awal dan kuesioner minat akhir . View in document p.140

Referensi

Memperbarui...

Download now (296 pages)