HUBUNGAN ANTARA HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20132014

Gratis

0
0
136
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Margaretha Keke Mayandeta NIM: 101124027 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Karya sederhana ini ku persembahkan untuk keluargaku dan sahabat-sahabatku dimanapun berada. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh 3:1) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Penulisan skripsi dengan judul “HUBUNGAN ANTARA HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014”, dilatarbelakangi oleh keprihatinan akan pentingnya pendampingan orangtua terhadap remaja. Namun, kenyataannya beberapa orangtua kurang mampu mendampingi anaknya pada masa transisi ini. Padahal masa remaja merupakan masa yang strategis untuk pembentukan konsep diri. Konsep diri memiliki peran yang penting bagi manusia karena pikiran dan perilaku manusia digerakkan olehnya. Individu dengan konsep diri positif cenderung memiliki perilaku dan pikiran positif, begitu pula sebaliknya. Konsep diri talidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang dan dipengaruhi oleh banyak hal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri antara lain adalah citra fisik, peranan seksual, peranan perilaku orangtua, peranan faktor sosial, dan agama. Bagi siswa yang menempuh pendidikan formal, sekolah menjadi rumah kedua untuk membantu siswa membentuk konsep diri. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal tidak hanya bertanggung jawab terhadap prestasi akademik siswa, tetapi juga non akademik. Guru dan pihak sekolah ikut ambil bagian dalam pendampingan siswa dalam rangka membangun konsep diri positif dalam diri siswa. Begitu pula dengan PAK di sekolah mendesain materi-materinya agar dapat menjangkau aspek pribadi peserta didik. Melalui materi-materi tersebut peserta didik didampingi dalam mengenali pribadinya. Beberapa ahli yang telah melakukan penelitian, mengungkapkan adanya hubungan antara hasil belajar dengan konsep diri. Para siswa yang memiliki prestasi belajar yang baik cenderung memiliki konsep diri yang baik pula. Hal tersebut selaras dengan hasil penelitian di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta, bahwa ada hubungan antara hasil belajar PAK dengan konsep diri dengan nilai korelasi 0,372. Dalam rangka menindaklanjuti hasil penelitian tersebut, penulis mengusulkan suatu program kateke umat dengan metode Shared Christian Praxis sebagai upaya untuk meningkatkan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Penulis memaparkan beberapa tema yang relevan dengan upaya pengembangan konsep diri siswa. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The background of this thesis “THE RELATIONSHIP BETWEEN THE CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION’S ACHIEVEMENT AND SELFCONCEPT OF STUDENTS OF CLASS VII AND VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA 2013/2014 ACADEMIC YEAR”, is motivated by concerns about the importance of mentoring to teen parents. Nevertheless, the reality is some parents are unable to assist their children during this transition In fact, adolescence is a time that is convenient for the formation of self-concept. The self-concept has an important role to humans because it is driven by their mind and behavior. People who have a positive self-concept tend to have positive behavior and thoughts, and the otherwise. The self-concept does not appear out of nowhere, but through a long process and influenced by many things. Factors that influence the formation of self-concept include physical images, sexual roles, the roles of parental behavior, the role of social factors, and religion. For students who take a formal education, the school becomes a second home to help them establish their self-concept. Schools as institutions of formal education are responsible to students’ academic and non-academic achievements. Teachers and the school take part in mentoring students in order to build a positive self-concept in students. Reciprocally, the materials of PAK (Pendidikan Agama Katolik) at school are designed to reach personal aspects of learners. Through these materials students are assisted in recognizing their personal self-concept. Some experts who have done the research, revealed the existence of a relationship between the self-concept with learning outcomes. The students who have a good learning performance tend to have a good self-concept as well. This is in line with the results of study in SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. The writer finds out that there is a relationship between learning outcomes of PAK with the self-concept correlation value 0,372. In order to follow up on these results, the writer proposes a catechesis program people with Shared Christian Praxis as an attempt to improve students' self-concept of SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. The writer describes some themes that are relevant to students' self-concept development efforts. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih karunia-Nya, sehingga penulisan skripsi dengan judul “HUBUNGAN ANTARA HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014” ini bisa terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik di Universitas Sanata Dharma. Penulisan skripsi ini bertolak dari keprihatinan penulis akan masalah yang dialami remaja pada masa transisi ini. Dimana pada masa transisi ini seorang remaja yang membutuhkan mendapat pendampingan lebih dari orangtuanya, namun tidak semua mendapatkan pendampingan yang memadai. Oleh karena itu Pendidikan Agama Katolik di sekolah berupaya untuk mendampingi siswa untuk semakin mengenali dirinya, sehingga peserta mampu mengambil hal positif dalam dirinya untuk bekal perkembangan konsep dirinya. Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dan terlibat dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu menyertaiku dan mencurahkan karuniaNya. Aku menyadari bahwa ada maksud dan tujuan baik yang ingin Kau sampaikan di kampus IPPAK ini, dan aku tidak akan sampai pada saat ini jika tanpa penyelenggaraan-Mu. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Romo Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ, M.Ed selaku Ketua Prodi IPPAK USD, yang telah memberikan dukungan melalui sapaan-sapaannya. 3. Ibu Dra. Yulia Supriyati, M.Pd. selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan pengarahan dalam skripsi ini. 4. Romo Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A. selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan dukungan-dukungan selama ini, baik dalam perkuliahan maupun dalam penulisan skripsi ini. 5. Bapak Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd., selaku dosen pembimbing ketiga yang telah memberikan dukungan-dukungannya melalui sapaan dan bincangbincangnya dalam berbagai kesempatan. 6. Ibu Anastasia Rukmi Sapto Hastuti, S.Pd., dan segenap keluarga besar SMP Marsudi Luhur Yogyakarta yang telah memberi ijin untuk melakukan penelitian. 7. Segenap keluarga besar IPPAK-USD yang telah memberikan dukungan selama kuliah dan proses penulisan skripsi ini, lewat sapaan dan candatawanya. 8. Untuk keluargaku atas dukungannya dan kebersamaannya yang selalu memberi semangat, karena kalian aku bertahan untuk tetap bisa berjalan meskipun tidak selalu dalam kecepatan yang sama. 9. Untuk siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta, khususnya kelas VII dan VIII atas kerjasama kalian sehingga penelitian ini menjadi lancar. 10. Untuk kawan-kawan JSN yang menjadi tempat sampahku selama penulisan skripsi ini. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………...... ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………..... iii HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………...... iv MOTTO…………………………………………………………………….... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………………...... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………………………...…. vii ABSTRAK…………………………………………………………………… viii ABSTRACK…………………………………………………………………... ix KATA PENGANTAR……………………………………………………...... x DAFTAR ISI……………………………………………………………...…. xiii DAFTAR TABEL……………………………………………………………. xvi DAFTAR DIAGRAM………………………………………………………... xvii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………. xviii DAFTAR SINGKATAN…………………………………………………….. xix BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………... 1 A. Latar Belakang………………………………………………….... 1 B. Identifikasi Masalah…………………………………………….... 7 C. Batasan Masalah…………………………………………………. 9 D. Rumusan Masalah……………………………………………....... 10 E. Tujuan Penulisan…………………………………………………. 10 F. Manfaat Penulisan……………………………………………....... 11 G. Metode…………………………………………………………… 11 H. Sistematika Penulisan……………………………………………. 11 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………. 13 A. Pendidikan Agama Katolik……………………………………… 13 1. Pengertian…………………………………………………….. 13 2. Hakikat Pendidikan Agama Katolik………………………….. 14 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Tujuan Pendidikan Agama Katolik…………………………… 15 4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik………………...... 16 5. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Menengah Pertama...... 17 B. Konsep Diri…………………………………………………….. 21 1. Pengertian……………………………………………………. 21 2. Komponen-komponen Konsep Diri…………………………. 23 3. Dimensi Konsep Diri………………………………………… 24 4. Faktor-faktor Pembentuk Konsep Diri………………………. 27 5. Ciri-ciri Konsep Diri………………………………………… 31 6. Karakteristik Konsep Diri Usia SMP……………………….. 32 C. Penelitian yang Relevan………………………………………... 36 D. Kerangka Pikir…………………………………………………. 36 E. Profil SMP Marsudi Luhur Yogyakarta………………………... 40 F. Definisi Operasional……………………………………………. 42 G. Variabel………………………………………………………… 42 H. Desain Penelitian……………………………………………….. 42 I. Hipotesis………………………………………………………… 43 BAB III. METODOLOGI DAN HASIL PENELITIAN……………………. 44 A. Jenis Penelitian…………………………………………………. 44 B. Metode Penelitian………………………………………………. 44 C. Tempat dan Waktu Penelitian………………………………….. 45 1. Tempat Penelitian……………………………………………. 45 2. Waktu Penelitian…………………………………………….. 45 D. Responden Penelitian…………………………………………... 45 E. Instrumen……………………………………………………….. 46 F. Variabel…………………………………………………………. 47 G. Uji Coba Instrumen…………………………………………….. 48 1. Validitas……………………………………………………… 48 2. Reliabilitas…………………………………………………… 49 3. Uji Asumsi…………………………………………………… 49 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Seleksi Item Instrumen………………………………………. 52 H. Hasil Penelitian………………………………………………… 53 I. Pembahasan……………………………………………………... 57 J. Keterbatasan Penelitian……………………………………….. 61 BAB IV. UPAYA PENINGKATAN KONSEP DIRI SISWA SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA MELALUI PROGRAM KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS………………………………………………………….. 63 A. Latar Belakang Usulan Program……………………………... 63 B. Alasan Pemilihan Tema……………………………………… 64 C. Rumusan Tema dan Tujuan…………………………………... 65 D. Penjabaran Program………………………………………….. 67 E. Petujuk Pelaksanaan Program………………………………... 70 F. Contoh Satuan Program Shared Christian Praxis……………. 72 BAB V. PENUTUP…………………………………………………………... 86 A. Kesimpulan……………………………………………………… 86 B. Saran…………………………………………………………….. 87 1. Untuk Siswa Kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014……………………….. 87 2. Untuk SMP Marsudi Luhur Yogyakarta…………………….. 87 3. Untuk Guru Pendidikan Agama Katolik…………………….. 88 4. Untuk Penelitian Selanjutnya………………………………... 88 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………... 89 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Penilaian Jawaban .................................................................................46 Tabel 2. Variabel Penelitian ................................................................................47 Tabel 3. Validitas Instrumen ...............................................................................48 Tabel 4. Reliabilitas Instrumen ...........................................................................49 Tabel 5. Nilai Normalitas Data ...........................................................................50 Tabel 6. Nilai Homoskedastisitas Data ...............................................................51 Tabel 7. Nilai Autokorelasi Data ........................................................................51 Tabel 8. Seleksi Item Instrumen..........................................................................52 Tabel 9. Deskripsi Data Penelitian ......................................................................53 Tabel 10. Korelasi Nilai Mata Pelajaran PAK terhadap Konsep Diri.................54 Tabel 11. Acuan Patokan Skala Huruf ................................................................55 Tabel 12. Nilai Siswa Dalam Skala Huruf ..........................................................56 Tabel 13. Norma Kategorisasi Konsep Diri ........................................................56 Tabel 14. Kategoriasi Konsep Diri Siswa ...........................................................57 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram 1. Nilai PAK dalam Skala Huruf…………………………………… 58 Diagram 2. Konsep Diri…………………………............................................ 59 Diagram 3. Hasil Belajar PAK dan Konsep Diri…………………………….. 60 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Permohonan Ijin Penelitian…………………….. (1) Lampiran 2 : Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian……………. (2) Lampiran 3 : Sampel Skala Konsep Diri Responden……………….. (3) Lampiran 4 : Kisi-kisi………………………………………………. (7) Lampiran 5 : Instrumen Penelitian………………………………….. (11) Lampiran 6 : Validitas Instrumen…………………………………... (15) Lampiran 7 : Data Penelitian dalam Huruf…………………………. (17) Lampiran 8 : Data Penelitian dalam Angka………………………… (19) Lampiran 9 : Data Kategorial Nilai PAK dan Konsep Diri………… (21) Lampiran 10: Langkah-langkah Permainan ‘Kado untuk Teman’….. (22) xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departmen Agama Katolik Repubik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8. B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965. C. Singkatan Lain Art : Artikel BKKBN : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional DIY : Daerah Istimewa Yogyakarta Humas : Hubungan Masyarakat KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia Menag : Menteri Agama Mendikbud: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan PAK : Pendidikan Agama Katolik SMP : Sekolah Menengah Pertama UU : Undang-undang xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik dan psikologi. Rentang waktu untuk masa remaja menurut Stanley Hall sebagaiman dikutip dalam Santrock (2003: 10) adalah antara usia 12 sampai 23 tahun. Pada masa ini seorang individu mengalami pertumbuhan fisik yang sangat pesat, namun kadangkala pertumbuhan fisik tidak berjalan beriringan dengan pertumbuhan psikologinya. Oleh karena itu, tak jarang remaja kurang bisa menerima kondisi dirinya, seringkali remaja memiliki emosi yang kuat dan meledak-ledak, baik sedih, bahagia, kecewa, ataupun marah. Berkaitan dengan upaya penyesuaian diri ke arah dewasa, para remaja biasanya mengalami kebingungan dalam menemukan konsep dirinya. Hal ini dikarenakan pada usia remaja mereka belum menemukan status dirinya secara utuh. Konsep diri penting dalam diri seseorang karena konsep diri merupakan kerangka acuan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Konsep diri remaja akan mempengaruhi pola perilaku dirinya. Konsep diri yang positif diprediksi akan menghasilkan perilaku dan penyesuaian secara positif. Sebaliknya, konsep diri yang negatif diprediksi akan menghasilkan perilaku yang negatif. Erikson sebagaimana dikutip dalam Agoes Dariyo (2004: 14) berpendapat bahwa sebagai proses menuju masa dewasa, seorang individu akan mengalami

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 masa krisis dalam masa remaja dimana seorang remaja berusaha untuk mencari identitas diri. Identitas diri yang tergambar dalam diri remaja akan sangat mempengaruhi kepribadian dan sikapnya. Identitas diri seorang individu tidaklah muncul begitu saja sejak seorang individu terlahir ke dunia, melainkan dibentuk melalui proses dan pengalaman yang dialami dari kecil. Pernyataan Erikson tersebut diperkuat oleh Kohut sebagaimana dikutip dalam Semiun (2006: 25) yang menyatakan bahwa, konsep diri merupakan pengatur utama perkembangan psikologis, yang membuat proses diri berkembang dari samar-samar sampai kepada suatu perasaan identitas diri yang jelas dan tepat. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan konsep seorang individu. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi konsep diri individu antara lain lingkungan tempat tinggal, baik lingkungan fisik maupun sosial. Ada pepatah mengatakan bahwa “Bersih pangkal Sehat”. Dari pepatah tersebut maka orang terkonsep bahwa kalau mau hidup sehat maka harus menciptakan kebersihan. Begitu pula dengan lingkungan yang bersih dan rapi, dapat membuat individu yang tinggal di dalamnya merasa nyaman, sehat dan terjauh dari bibit penyakit. Faktor yang lainnya adalah pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu, dinamika dalam keluarga, pola asuh orang tua, dan bagaimana orang lain memandang dirinya. Di sisi lain ada pula faktor internal yang dapat mempengaruhi konsep diri seorang individu, yaitu bagaimana individu tersebut memandang dan mengolah pengalaman hidupnya. Coley sebagaimana dikutip dalam Galuh Sekardita Buana Candra Murti (2013: 18) mengibaratkan konsep diri sebagai “looking-glass-self”

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 yang artinya adalah kacamata diri. Dari banyak hal baik dan buruk yang dimiliki oleh individu, hal-hal tersebut akan menjadi kekuatan positif untuk membentuk konsep diri positif jika individu tersebut mampu mengolah dan merefleksikannya dengan baik. Oleh karena itu, individu perlu mendapat pendampingan dalam memaknai dan mengolah hal-hal baik dan buruk, pengalaman baik dan buruk yang dimilikinya. Dalam hal ini keluarga khususnya orangtua merupakan pendamping utamanya. Pendampingan dimaksudkan untuk mengarahkan individu untuk menemukan makna-makna positif yang berguna untuk pembentukan konsep diri positif dalam dirinya. Humas BKKBN (2013: 1) melalui website resmi www.bkkbn.go.id menyatakan berdasarkan sensus penduduk dari BPS pada tahun 2010, jumlah remaja usia 10-24 tahun sekitar 64 juta atau 27.6% dari jumlah penduduk sebanyak 237.6 juta jiwa. Besarnya jumlah kelompok usia remaja ini jelas memerlukan perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak. Perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang, mengkonsumsi alkohol, dan kekerasan di kalangan usia muda, juga menjadi ekses atau dampak lanjutan dari akar permasalahan remaja tersebut yang terjadi karena kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Berkaitan dengan hal tersebut, pada peringatan Hari Kependudukan Dunia BKKBN mengadakan seminar dengan tema “Tahu Masalah Remaja, Peduli Masalah Remaja, dan Stop Galau pada Remaja” pada 11 Juli 2013. Menurut pengakuan Ketua II Yayasan Perlindungan Anak DIY yaitu Nyadi Kasmoredjo sebagaimana ditulis oleh Sugiyarto (2013: 1) dalam suaramerdeka.com berdasarkan data yang ada di lembaganya, kasus kekerasan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 terhadap anak di DIY sudah tinggi. Dikatakan, Bantul menduduki angka cukup tinggi, seperti kasus nikah usia dini. Dijelaskan hingga Februari tahun 2012 terdapat 135 kasus, disusul kemudian Sleman, Kota dan Kulonprogo jauh di bawah Bantul dan Gunung Kidul ada 145 kasus. Sedangkan data kasus kekerasan yang ditangani Lembaga Perlindungan Anak DIY diawal tahun 2012, di DIY angka tertinggi adalah kekerasan pengasuhan sebanyak 13, disusul kekerasan pencurian sebanyak 11, kekerasan seks sebanyak 10, kekerasan fisik sebanyak 8, kekerasan psikis sebanyak 3 dan narkoba sebanyak 1 kasus. Beberapa kasus bunuh diri di kalangan remaja disebabkan oleh permasalahan yang sepele. Mulai dari putus cinta, masalah akademis, broken home, hingga persoalan dengan teman sebaya. Perilaku-perilaku menyimpang pada anak remaja tersebut tentunya sangat berkaitan erat dengan masa-masa krisis yang ia alami serta pengaruh lingkungan tempat tinggalnya baik fisik maupun sosial. Hal tersebut juga terjadi di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan dan wawancara oleh penulis sewaktu mengajar PAK di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta sekitar pada bulan Juli sampai September 2013, terungkap bahwa kebanyakan siswa berasal dari keluarga yang kurang kondusif untuk tempat bertumbuh mereka. Beberapa berasal dari keluarga broken home, keluarga miskin yang menuntut orangtua bekerja sehari penuh, dan ada juga yang berasal dari keluarga yang sangat kurang peduli dengan kehidupan siswa. Namun mereka lebih beruntung karena mereka mendapatkan pendidikan formal di sekolah ketika mereka kurang mendapatkan pendampingan dari keluarga mereka.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Pada masa remaja, seorang anak membutuhkan pendidikan baik secara formal, nonformal maupun informal. Pendidikan dalam keluarga sangat diperlukan untuk menemani seorang anak pada masa krisis dalam proses mengenali dirinya. Ia membutuhkan bantuan pada masa perkembangan itu untuk memahami siapa dirinya, apa tujuan hidupnya. Pemahaman terhadap dirinya sendiri merupakan kunci bagi seorang individu dalam membentuk konsep diri. Namun kenyataannya, tidak semua anak mendapat pendampingan yang semestinya dari orangtua. Masih ada pula anak-anak remaja yang tinggal di dalam keluarga yang kurang kondusif untuk masa perkembangannya. Melihat kenyataan tersebut peran lembaga pendidikan formal bagi seorang remaja menjadi sangat penting. Sekolah ikut bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik secara utuh, baik akademik maupun non-akademik. Masing-masing mata pelajaran dirancang untuk membantu siswa agar berkembang secara utuh sebagai manusia. Pengetahuan dan pembinaan yang ditawarkan dapat membantu seorang anak untuk memiliki pemahaman yang luas dan relasi sosial yang seimbang. Pendidikan diharapkan memberikan pengaruh kuat dalam membentuk konsep diri yang positif seorang remaja. Konsep diri positif sangat penting bagi seorang remaja, karena konsep diri dapat menunjukkan identitas diri serta menjadi dasar aktualisasi diri. Melalui pendidikan seorang remaja diajak untuk berpikir ke depan, mengarahkan diri pada orientasi hidup. Dengan demikian pendidikan menjadi sarana untuk membentuk kepribadian seorang remaja ke arah kedewasaan. Salah satu bagian dari pendidikan yang sangat penting bagi seorang remaja dalam perkembanganya adalah pendidikan agama. Nilai-nilai yang ditawarkan dari pendidikan agama

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 adalah pendidikan moral dan pembinaan mental. Pendidikan moral yang paling baik terdapat dalam agama karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri dan penghayatan tinggi tanpa ada unsur paksaan dari luar berasal dari keyakinan beragama. Melalui pendidikan agama, keyakinan akan kehidupan bermoral dapat dipupuk dan ditanamkan sedari kecil sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadian anak sampai ia dewasa. Oleh karena itu, pendidikan agama di sekolah mendapat beban dan tanggung jawab yang tidak sedikit apalagi jika dikaitkan dengan upaya pembinaan mental remaja. Pentingnya pendidikan agama juga mengingat bahwa pada usia remaja seorang anak mengalami gejolak kejiwaan yang berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi, kesadaran sosial, pertumbuhan kesadaran moral, sikap dan kecenderungan positif serta keberimanannya. Peranan pendidikan agama, dalam hal ini Pendidikan Agama Katolik (PAK), dalam upaya mendampingi perkembangan anak didik usia remaja sungguh penting. PAK, tidak hanya mencakup pengajaran dan pembekalan akal budi ataupun transfer informasi yang sebanyak-banyaknya dari guru kepada murid. Lebih dari itu, PAK membekali, membangun, dan membentuk iman dan spiritualitas anak didik. Iman dan spiritualitas ini tidak saja mencakup pengajaran agama secara teoritis, tetapi juga pembentukan watak, karakter dan moralitas tiaptiap anak. PAK dengan materi yang dikemas sedemikian rupa, membantu siswa untuk mampu mengolah diri sehingga siswa dapat membentuk konsep diri yang positif.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 PAK merupakan salah satu dari mata pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Pada mata pelajaran PAK kelas VII, materi yang diberikan adalah mengenai manusia sebagai citra Allah, kelemahan dan kelebihan, syukur atas hidup, dan hidup sebagai laki-laki atau perempuan. Tema-tema pelajaran PAK tersebut dapat membantu anak didik untuk memahami dirinya secara positif. Materi PAK pada tingkat menengah pertama dirancang sedemikian rupa untuk membantu siswa mengenali serta memahami dirinya sebagai citra Allah. Kej 1:31 menyatakan bahwa “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” Dengan mengenali dan memahami dirinya sebagai ciptaan Allah yang baik adanya, siswa diharapkan mampu membentuk konsep diri yang positif pula. Di saat seorang anak sadar bahwa dirinya adalah citra Allah ia akan lebih menghargai hidupnya dan melihat dirinya secara lebih positif. PAK memberikan pemahaman pada anak tentang betapa Allah menghargai setiap pribadi sebagai ciptaan yang istimewa karena serupa dan segambar dengan Allah sendiri. Bertolak dari latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan judul skripsi sebagai berikut “HUBUNGAN ANTARA HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, penulis menemukan adanya permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep diri pada

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 remaja. Masa remaja merupakan masa transisi yang berpengaruh terhadap aspek fisik dan psikologi pada remaja. Pada masa ini, remaja biasanya mengalami masa krisis karena ia belum mempunyai konsep diri yang jelas. Perkembangan fisik remaja yang pesat kadangkala menimbulkan gejolak-gejolak pada diri remaja. Di sisi lain, perkembangan psikologi pada remaja tidak secepat perkembangan fisiknya. Oleh karena itu, tak jarang jika di kalangan remaja, perasaan cenderung lebih mendominasi setiap perilaku dan keputusan-keputusan yang mereka ambil. Dengan kondisi yang seperti itu, remaja membutuhkan pendampingan terutama dari orangtuanya. Banyak faktor, baik dari lingkungan sekitar maupun dari dalam diri sendiri yang dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri mereka. Jika tidak mendapat pendampingan yang baik dan tepat, dikhawatirkan dapat mengganggu para remaja dalam proses membentuk konsep diri mereka. Kenyataannya, tidak semua anak remaja mendapat pendampingan yang baik dari orangtua. Selain itu, tidak semua anak remaja tinggal dalam lingkungan yang kondusif yang mampu mendukung perkembangan mereka dengan baik. Di Indonesia, khususnya di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih ditemukan kasus-kasus yang kurang baik di kalangan remaja. Menurut Lembaga Perlindungan Anak DIY (Sugiyarto, 2013: 1), kasus kekerasan terhadap anak di DIY pada tahun 2012 cukup tinggi. Mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, narkoba, dan bunuh diri. Beberapa faktor yang menyebabkan remaja melakukan bunuh diri adalah kurangnya pendampingan dari orang tua dan tingkat keimanan yang masih minim. Begitu pula dengan sebagian dari siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta mempunyai latar belakang keluarga dan lingkungan yang kurang kondusif untuk perkembangan kepribadian mereka.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Oleh karena itu, remaja membutuhkan pendidikan baik formal, informal, maupun nonformal untuk keseimbangan perkembangan kepribadiannya. Sekolah menjadi rumah kedua bagi remaja yang bersekolah, untuk menemukan konsep diri dan mengembangkan dirinya. Sekolah hendaknya menciptakan program-program dan situasi yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa untuk memiliki pengalaman-pengalaman positif yang berguna untuk perkembangannya. Begitu pula dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, hendaknya juga mencerminkan hal tersebut. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolah memiliki empat aspek materi pembelajaran, salah satunya adalah aspek pribadi peserta didik. Dalam materi Pendidikan Agama Katolik pada kelas VII semester satu, materi dirancang sedemikian rupa untuk membantu siswa mengenali dan memahami dirinya sebagai citra Allah. Dengan mengenali dan memahami dirinya sebagai ciptaan Allah yang baik adanya, siswa diharapkan mampu membentuk konsep diri yang positif. Berdasarkan uraian tersebut, Pendidikan Agama Katolik diharapkan mampu berperan dalam menjawab masa krisis yang dialami oleh siswa dan mampu mengarahkan siswa dalam membentuk konsep diri yang positif. C. Batasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas, diperoleh gambaran dimensi permasalahan yang begitu luas. Namun menyadari adanya keterbatasan waktu, kemampuan, dana, dan supaya hasil penelitian lebih terfokus, maka penulis memandang perlu memberi batasan masalah secara jelas dan terfokus. Masalah yang menjadi fokus penelitian dibatasi pada materi Pendidikan

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Agama Katolik dalam lingkup sekolah selama semester pertama pada tahun pertama di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta, konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014, dan pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. D. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah yang dimaksud dengan Pendidikan Agama Katolik dan konsep diri? 2. Bagaimana hasil belajar PAK dan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014? 3. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014? E. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah: 1. Mengetahui tentang Pendidikan Agama Katolik dan konsep diri. 2. Mengetahui hasil belajar PAK dan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. 3. Mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 4. Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. F. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan ini adalah untuk memberikan wawasan bagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik khususnya tingkat Sekolah Menengah Pertama, bahwa konsep diri khususnya konsep diri positif sangat penting bagi remaja. Hal tersebut dikarenakan konsep diri dapat mempengaruhi seluruh kepribadian dan sikap siswa. Konsep diri positif dapat dibentuk salah satunya melalui materi-materi pada mata pelajaran PAK di kelas VII pada semester I. G. Metode Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif-analitis. Penulis akan memaparkan teori-teori yang sesuai dengan tema skripsi ini. Kemudian penulis mengumpulkan data-data yang mendukung penulisan skripsi untuk dianalisis dan diolah sehingga dapat menggambarkan jawaban atas permasalahan yang ada. H. Sistematika Penulisan Skripsi ini terdiri dari lima bab. Kelima bab tersebut antara lain sebagi berikut: Bab I adalah pendahuluan yang berisi mengenai latar belakang, identifikasi masalah, pembahasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode, dan sistematika penulisan skripsi ini.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Bab II adalah kajian teori mengenai PAK dan kosep diri. Selain itu, pada bab ini juga dipaparkan mengenai profil SMP Marsudi Luhur Yogyakarta kerangka pikir, hipotesis, desain penelitian, dan variabel penelitian. Bab III adalah metodologi penelitian. Bab ini memaparkan mengenai jenis penelitian, metode penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, instrumen yang digunakan dalam penelitian, variabel penelitian, dan hasil uji coba instrumen penelitian. Pada bab ini juga dipaparkan hasil penelitian dan pembahasannya. Bab IV adalah usulan program. Usulan program merupakan bentuk tindak lanjut dari hasil penelitian yang dipaparkan pada bab III. Bab V adalah penutup. Bab ini memaparkan kesimpulan dari penulisan skripsi ini dan saran yang ditujukan pada pihak-pihak yang terkait dengan penulisan skripsi ini.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Agama Katolik 1. Pengertian Untuk dapat memahami istilah Pendidikan Agama Katolik, perlu adanya pemahaman mengenai katekese. Pendidikan Agama Katolik merupakan bentuk katekese di sekolah. Kata katekese berasal dari bahasa Yunani yaitu “katechein”, yang berarti menyuarakan dengan keras, menggemakan, mengumumkan (Groome, 2010: 39). Kemudian kata tersebut memiliki perkembangan makna yang akhirnya ditempatkan sebagai kegiatan pengajaran sebagai usaha untuk melakukan Pendidikan Kristen secara lebih luas (Groome, 2010: 40). Dari istilah tersebut dapat disimpulkan, bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan bentuk pengajaran iman Katolik yang dilakukan di sekolah. Dalam Silabus Pendidikan Agama Katolik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Komisi Kateketik KWI (2007b: 9) mendefinisikan Pendidikan Agama Katolik sebagai usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Secara operasional, Pendidikan Agama Katolik dapat didefinisikan sebagai kegiatan komunikasi iman antara guru dengan murid dan antara murid dengan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 murid, melalui proses berdasar pendekatan tertentu dengan bantuan materi, metode, dan media yang bertitik tolak dari keadaan awal tertentu menuju tujuan tertentu (Dapiyanta, 2008: 1). 2. Hakikat Pendidikan Agama Katolik Gereja melalui Gravissimum Educationis art. 3, berpandangan bahwa pendidikan bertujuan untuk memperkembangkan dan menyempurnakan hidup manusia di dalam segala aspeknya. Gereja meyakini bahwa pendidikan juga merupakan cara bagi manusia untuk menemukan dan memantabkan identitas atau jati diri seorang individu. Di Indonesia, Pendidikan Agama Katolik sebagai bagian dari pendidikan formal memiliki beberapa ketentuan yang diatur dalam perundang-undangan. Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 37 sebagaimana dikutip dalam Dapiyanta (2008: 3) menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan agama. Mendikbud dan Menag RI No. 0198/U/1985 memutuskan bahwa pendidikan agama yang dimaksudkan adalah pendidikan agama Islam, pendidikan agama Kristen Katolik, pendidikan agama Kristen Protestan, pendidikan agama Hindu, dan pendidikan agama Buddha (Dapiyanta, 2008: 3). Permen No. 22 Th. 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, mendefinisikan Pendidikan Agama Katolik sebagai usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik,

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Di sisi lain, dalam Silabus Pendidikan Agama Katolik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Komisi Kateketik KWI (2007a: 9) menyatakan bahwa agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama merupakan suatu alat penuntun bagi manusia dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang lebih bermakna, damai dan bermartabat. Oleh karena peran agama yang penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi suatu hal yang tidak boleh dilewatkan. Internalisasi agama dapat ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan agama memiliki tujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual meliputi pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual memiliki tujuan akhir untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki manusia dimana aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 3. Tujuan Pendidikan Agama Katolik Tujuan Pendidikan Agama Katolik dirumuskan dalam silabus Komisi

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Kateketik KWI (2007b: 10) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan, situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan. 4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik Ruang lingkup materi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Dalam Silabus Pendidikan Agama Katolik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Komisi Kateketik KWI (2007b: 10) keempat aspek yang dimaksudkan adalah aspek pribadi peserta didik, Yesus Kristus, Gereja, dan kemasyarakatan. a. Pribadi peserta didik Aspek ini membahas tentang pemahaman diri sebagai pria dan wanita yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya. Tujuan akhir dari aspek ini adalah agar peserta didik mampu bersyukur (Komisi Kateketik KWI, 2007b: 10). b. Yesus Kristus Aspek ini membahas tentang bagaimana pribadi Yesus Kristus yang

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah, sehingga peserta didik mampu meneladani-Nya (Komisi Kateketik KWI, 2007b: 10). c. Gereja Aspek ini membahas tentang makna gereja. Gereja merupakan persekutuan murid-murid Yesus yang dipanggil serta diutus untuk menjadi pewarta, saksi, dan pelaksana karya keselamatan Kristus. Oleh karena itu pada aspek ini menekankan pula bagaimana mewujudkan kehidupan menggereja dalam realitas hidup sehari-hari (Komisi Kateketik KWI, 2007b: 10). d. Kemasyarakatan Aspek ini membahas secara mendalam tentang hidup bersama dalam masyarakat sesuai dengan firman Allah atau sabda Tuhan, ajaran Yesus dan ajaran agama. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa Kristus hadir di dunia bukan hanya untuk umat Katolik saja, melainkan untuk semua orang (Komisi Kateketik KWI, 2007b: 10). 5. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Menengah Pertama Sebagai salah satu mata pelajaran, Pendidikan Agama Katolik memiliki materi-materi yang harus dipelajari oleh siswa. Materi-materi tersebut dijabarkan dalam suatu silabus. Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan mengartikan mata pelajaran sebagai satuan pelajaran yang harus diajarkan atau dipelajari untuk sekolah dasar atau lanjutan. Materi mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk kelas VII SMP pada semester I sebagaimana dikutip dalam Silabus

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Pendidikan Agama Katolik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kristianto, 2013: 4) adalah sebagai berikut: Semester I Standard Kompetensi Lulusan Standard Kompetensi Kompetensi Dasar Materi PAK Peserta didik dapat menguraikan pemahaman tentang dirinya sebagai pria dan wanita yang memiliki ruparupa kemampuan dan keterbatasan untuk berelasi dengan sesama dan lingungannya. 1. Memahami diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan agar dapat berelasi dengan sesama dan lingkungannya dengan meneladani Yesus Kristus yang mewartakan Bapa dan Kerajaan-Nya. 1.1. Memahami dan menyadari pribadinya diciptakan sebagai citra Allah yang tumbuh dan berkembang bersama orang lain. 1.2. Menyadari kemampuan dan keterbatasan dirinya sehingga terpanggil untuk mensyukurinya. 1.3. Memahami bahwa manusia diciptakan sebagai laki-laki atau perempuan dan dipanggil untuk mengembangkan kesederajatan dalam kehidupan sehari-hari. 1.4. Memahami bahwa seksualitas sebagai anugerah Allah perlu dihayati secara benar demi kehidupan bersama yang lebih baik. BAB I. MARTABAT LUHUR SEBAGAI CITRA ALLAH A. Manusia diciptakan sebagai citra Allah. B. Kemampuan dan keterbatasank u sebagai citra Allah. C. Syukur sebagai citra Allah. BAB II. AKU DICIPTAKAN SEBAGAI PEREMPUAN ATAU LAKILAKI A. Aku sebagai perempuan atau laki-laki. B. Kesederajatan Perempuan dan laki-laki. C. Panggilan sebagai perempuan atau laki-laki.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Pada materi yang dipaparkan di atas, materi-materi tersebut dirancang untuk membantu siswa mengolah diri, sehingga siswa dapat menerima diri dan sampai pada rasa syukur. Hal tersebut dapat membantu siswa untuk menanamkan pikiran positif akan pribadinya. SMP Marsudi Luhur Yogyakarta merupakan salah satu sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai pedoman kegiatan belajar dan mengajar. Materi pelajaran PAK untuk kelas VII pada semester I yang utama diambil dari buku Persekutuan Murid-murid Yesus-Pendidikan Agama Katolik untuk SMP dengan Tema I yaitu Manusia Makhluk Pribadi dan Sosial. Buku tersebut disusun oleh Komisi Kateketik KWI dan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Keprihatinan yang melandasi tema yang pertama ini menurut Komisi Kateketik KWI (2007a: 13) adalah siswa SMP kelas VII yang sedang memasuki masa peralihan. Di dalam masa peralihan tersebut, siswa mengalami banyak perubahan baik dari segi fisik, psikologi, dan segi-segi yang lain. Perubahanperubahan tersebut dapat menimbulkan kebingungan bagi individu yang mengalami. Mereka mulai mempertanyakan tentang diri mereka. Dengan situasi semacam itu, maka siswa perlu mendapat pendampingan dan pengarahan yang memadai agar siswa mampu memperkembangkan dirinya secara positif. Tema pertama memiliki beberapa bagian yang dijabarkan ke dalam beberapa sub bagian. Tujuannya adalah membantu siswa lebih memahami diri secara jelas dan mendalam. Pada jenjang kelas VII semester I yang menjadi bahan ajar adalah bagian pertama yaitu Aku Diciptakan Sebagai Perempuan atau Lakilaki. Menurut Komisi Kateketik KWI (2007a: 14), topik-topik pada bagian

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 pertama ini mempunyai fokus tujuan untuk membantu siswa menemukan kesadaran dan kepercayaan diri sebagai pribadi ciptaan Allah, baik sebagai perempuan dan laki-laki, yang mempunyai martabat luhur dan memiliki kelebihan serta keterbatasan. Kesadaran tersebut diharapkan mampu mendorong siswa untuk dapat menerima diri apa adanya, mensyukurinya, sekaligus mengarahkan pengembangan dirinya secara lebih baik. Ada kompetensi dasar yang diharapkan mampu dicapai oleh siswa dalam bagian pertama ini. Menurut Komisi Kateketik KWI (2007a: 14) kompetensi dasar tersebut adalah siswa memahami dan menyadari bahwa dirinya diciptakan sebagai citra Allah, baik sebagai perempuan maupun laki-laki, yang memiliki kemampuan dan keterbatasan dapat menerima diri apa adanya. Bagian pertama dari buku Persekutuan Murid-murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk SMP ini terdiri dari 12 pelajaran. Keduabelas pelajaran itu adalah Martabat Luhur sebagai Citra Allah, Panggilan Manusia sebagai Citra Allah, Aku Memiliki Kemampuan, Kemampuanku Terbatas, Syukur Atas Hidup, Aku Diciptakan Baik Adanya sebagai Perempuan atau Laki-laki, Perempuan dan Laki-laki Sederajat, Seksualitas sebagai Anugerah Allah, Penghayatan Seksualitas yang Benar, Persahabatan, Persahabatan Sejati, dan Pacaran. Oleh karena Pendidikan Agama Katolik sebagai mata pelajaran, maka PAK memiliki tujuan atau kompetensi-kompetensi yang harus dipenuhi oleh siswa. Terpenuhinya tujuan atau kompetensi-kompetensi PAK dapat dilihat dari penilaian yang diberikan guru kepada siswa. Gronlund dan Linn sebagaimana dikutip dalam Kusaeri & Suprananto (2012: 8) mendefinisikan penilaian sebagai suatu proses yang sistematis dan mencakup kegiatan mengumpulkan,

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 menganalisis, serta menginterpretasikan informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang siswa atau sekelompok siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, baik aspek pengetahuan, sikap maupun pengetahuan. Kusaeri & Suprananto (2012: 9) mengungkapkan bahwa salah satu tujuan dari penilaian adalah untuk menyimpulkan apakah siswa telah menguasai seluruh kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum. Maka dari itu, dengan kata lain prestasi atau hasil belajar siswa dalam konteks pendidikan formal atau dalam bidang akademik dilihat dari tinggi atau rendahnya nilai yang dicapai siswa. B. Konsep Diri 1. Pengertian Konsep diri dapat diibaratkan seperti prosesor dalam diri kita. Segala pikiran dan tingkah laku seorang individu digerakkan oleh konsep dirinya. Maka dari itu konsep diri menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi manusia. Konsep diri bukan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari refleksi individu atas pengalamannya dalam berinteraksi dengan orang lain (Pudjijogyanti, 1985: 8). Beberapa ahli psikologi mengungkapkan pandangannya mengenai konsep diri. Konsep diri menurut pandangan Burns sebagaimana dikutip dalam TIM MGBK (2010: 63) adalah gambaran tentang diri individu yang diperoleh atas perpaduan antara apa yang dipikirkan oleh seorang individu dengan pendapat orang lain mengenai dirinya serta apa yang menjadi keinginan dirinya. Eastwood sebagaimana dikutip dalam Hasballah M. Saad (2003: 39) mendefinisikan konsep diri sebagai cara seseorang melihat dirinya yang berpusat pada kesadaran diri

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 pelakunya. Seorang ahli psikologi dari Nesbraska, Luthans sebagaimana dikutip dalam Hasballah M. Saad (2003: 39) mengemukakan bahwa konsep diri adalah bagaimana seseorang melihat kepribadiannya dari sudut pandang dalam diri sendiri. Calhoun dan Cocella sebagaimana dikutip dalam Hasballah M. Saad (2003: 40) mengartikan konsep diri secara sederhana yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya dengan caranya masing-masing. Sebagai tokoh psikologi humanistik, Rogers sebagaimana dikutip dalam Feist & Feist (2011: 9) mengungkapkan bahwa konsep diri bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana „aku‟ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan „apa dan siapa aku sebenarnya‟ dan „apa yang harus saya perbuat‟. Cawagas sebagaimana dikutip dalam Pudjijogyanti (1985: 2) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalannya, dan lain sebagainya. Santrock sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 163) menggunakan istilah konsep diri untuk mengacu pada evaluasi pada bidang tertentu pada diri sendiri. Atwater sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 163) mengartikan konsep diri sebagai keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Selanjutnya, Pemily sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 164)

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 mendefinisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari seorang individu. Berdasarkan pendapat-pendapat tentang konsep diri di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah gambaran yang dimiliki oleh seorang individu mengenai dirinya, dimana gambaran tersebut ia didapatkan dari perpaduan pandangannya sendiri terhadap dirinya serta pandangan orang lain mengenai dirinya. 2. Komponen-komponen Konsep Diri Konsep diri memili tiga komponen. Komponen-komponen tersebut menurut Hurlock (1898: 22) adalah: komponen persepsi, komponen konseptual, dan komponen sikap. a. Komponen persepsi (The perceptual component) Komponen perseptual atau persepsi merupakan gambaran seorang individu terhadap penampilan fisiknya, serta kesan yang ditampilkan individu tersebut kepada orang lain mengenai penampilan dirinya. Setiap individu memiliki fisik yang mempunyai daya tarik bagi orang lain. Daya tarik tersebut muncul karena ada atau tidaknya kesesuaian anggota tubuh yang dimiliki oleh seorang individu dengan pandangan pada umumnya. Misalnya, seorang pria akan kelihatan menarik jika memiliki otot-otot. Kesan yang dimiliki individu tersebut akan mempengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku dan harga dirinya di mata orang lain. Hurlock mengistilahkan komponen persepsi ini dengan istilah physical

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 self-concept, yang berarti konsep diri fisik (Hurlock, 1898: 22). b. Komponen konseptual (The conceptual component) Komponen konseptual adalah konsepsi seorang individu akan karakter khusus yang dimilikinya. Karakter tersebut meliputi kemampuan dan ketidakmampuannya, dan karakter yang muncul karena latar belakang dan asalusulnya, serta kemungkinan masa depannya. Komponen ini sering disebut konsep diri psikologis yang terdiri dari kualitas penyesuaian diri, kejujuran, kepercayaan diri, kemandirian, keberanian, tanggung jawab dan kebalikan dari sifat-sifat tersebut (Hurlock, 1898: 22). c. Komponen sikap (The attitudinal component) Komponen sikap adalah perasaan yang dimiliki seseorang terhadap dirinya, sikapnya tentang statusnya saat ini dan kemungkinan-kemungkinan masa depan yang ia miliki, perasaan tentang kelayakan, dan sikapnya dalam menghargai dirinya sendiri, merasa bersalah, rasa bangga, dan rasa malu. Bagi orang yang mencapai usia dewasa, komponen sikap meliputi kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, cita-cita, aspirasi, dan komitmen, yang membentuk filosofi hidupnya (Hurlock, 1898: 22). 3. Dimensi Konsep Diri Calhoun dan Acocella sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 166) mengungkapkan bahwa ada tiga dimensi konsep diri, yaitu pengetahuan, harapan, dan penilaian.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 a. Pengetahuan (self-image) Dimensi pertama dari konsep diri adalah pengetahuan. Dalam konteks konsep diri, pengetahuan dimaknai sebagai apa yang diketahui mengenai diri sendiri. Dengan kata lain adalah gambaran mengenai “siapa saya.” Gambaran diri tersebut mencakup pandangan mengenai peran, sikap, kepribadian, kelebihan, kekurangan, dan berbagai karakteristik yang ada dalam diri individu tersebut. Dimensi pengetahuan memiliki sifat yang subyektif. Persepsi yang dimiliki seorang individu akan gambaran dirinya seringkali kurang sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain karena ingin mendapat kesan yang baik dari masyarakat. Oleh karena itu, pandangan seorang individu terhadap dirinya bersifat subyektif karena memandang dari versi diri sendiri. Dimensi pengetahuan juga bersifat dinamis, karena gambaran diri hari ini bisa jadi berbeda dengan gambaran diri di masa mendatang. Hal itu disebabkan, gambaran diri diperoleh dari perbandingan antara dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. Perbedaan situasi dan lingkungan dimana individu berada dapat menjadikan konsep diri berbeda. Oleh karena itu, gambaran diri dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang melingkupi individu tersebut (Desmita, 2009: 166). b. Harapan (self-ideal) Dimensi harapan merupakan dimensi kedua dari konsep diri. Dimensi harapan merupakan cita-cita dan harapan yang dimiliki oleh seorang individu terhadap dirinya. Desmita (2009: 167) mengungkapkan bahwa ketika individu mempunyai pandangan tentang siapa ia sebenarnya, pada saat yang sama individu

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 tersebut juga mempunyai sejumlah pandangan lain tentang kemungkinan menjadi apa dirinya di masa mendatang. Misalnya, seorang individu yang menyadari dirinya seorang sarjana ekonomi memiliki harapan untuk menjadi manajer di sebuah perusahaan. Self-ideal dapat meliputi dambaan, aspirasi, harapan, keinginan, dan keyakinan terhadap diri sendiri akan cita-cita dan harapannya. Self-ideal atau citacita diri akan membentuk konsep diri dan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seorang individu, misalnya pantang menyerah. Hal ini disebabkan harapanharapan tersebut akan membuat individu menjadi terdorong untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, setiap individu perlu memiliki cita-cita diri (self-ideal) yang realistis sesuai dengan kondisi dirinya (Desmita, 2009: 167). c. Penilaian (self-evaluation) Dimensi penilaian merupakan dimensi yang ketiga dari konsep diri. Desmita (2009: 168) mendefinisikan penilaian diri sebagai pandangan seorang individu tentang harga diri atau kewajaran dirinya sebagai pribadi. Menurut Calhoun dan Acocella sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 168) menyatakan ada dua hal yang menjadi penilaian seorang individu terhadap dirinya. Pertama, apakah yang ia lakukan sudah sesuai dengan harapan-harapanya atau belum. Kedua, apakah yang ia kerjakan sudah sesuai dengan standard yang ia tetapkan atau belum. Semakin tinggi standar yang dimiliki seorang individu, maka biasanya semakin tinggi pula harga diri yang dimiliki individu tersebut. Penilaian lain juga bisa didapatkan dari bagaimana orang lain menilai individu tersebut. Dari penilaian-penilaian tersebut hasilnya adalah harga diri

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 (self-esteem) yang berarti evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara positif dan negatif. Kemudian hal ini akan mempengaruhi seberapa banggakah seorang individu terhadap dirinya sendiri. Seorang individu yang hidupnya sesuai dengan harapan-harapan dan standar yang sudah ia tetapkan, akan memiliki rasa harga diri yang tinggi. Sebaliknya, seorang individu yang hidupnya tidak sesuai dengan harapan cenderung memiliki rasa harga diri yang rendah (Desmita, 2009: 169). 4. Faktor-faktor Pembentuk Konsep Diri Konsep diri tidaklah terbentuk dengan sendirinya ketika seorang individu terlahir ke dunia, melainkan melalu proses yang panjang serta dipengaruhi oleh beberapa hal. Beberapa hal yang dapat membentuk konsep diri seseorang menurut Pudjijogyanti, yaitu citra fisik, peran seksual, peranan perilaku orangtua, peranan faktor sosial, dan agama. a. Citra fisik Keadaan fisik seorang individu dapat mempengaruhi kepribadian individu tersebut. Dari keadaan fisik, seseorang bisa merasa percaya diri, rendah diri, kecewa, atau puas. Burns sebagaimana dikutip dalam Pudjijogyanti (1985: 10) menyatakan bahwa penilaian positif terhadap kondisi fisik seseorang akan membantu individu tersebut untuk berpikir positif. Seorang individu yang mendapat penilaian fisik yang baik akan merasa puas dan lebih mudah menerima kondisi dirinya. Rasa puas merupakan awal dari sikap positif terhadap dirinya. Citra fisik seorang individu terbentuk melalui refleksi individu yang lain. Tanggapan seorang individu mengenai kondisi fisik individu yang lainnya diukur

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 berdasarkan dimensi tubuh yang ideal. Dimana pandangan tubuh yang ideal mengacu pada pandangan ukuran tubuh ideal dalam masyarakat. Oleh karena itu, agar memiliki citra fisik yang baik, seorang individu mengarahkan dirinya pada bentuk tubuh ideal menurut pandangan masyarakat (Pudjijogyanti 1985: 10). b. Peran seksual Berawal dari perbedaan kondisi biologis antara laki-laki dan perempuan, hal tersebut berdampak pula pada perbedaan peran dan tugas antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran tersebut berdampak terhadap perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut akhirnya juga membentuk pandangan masyarakat mengenai perempuan dan laki-laki. Stigma yang sering muncul di dalam masyarakat kita adalah laki-laki itu dianggap kuat. Hal ini disebabkan lakilaki cenderung memiliki struktur tubuh dan otot-otot yang kekar. Perempuan dengan tubuh yang gemulai dan kelemah lembutannya dipandang sebagai makhluk yang lemah. Stigma-stigma yang ada dalam masyarakat tersebut dapat pula mempengaruhi pemikiran dan penerimaan diri seorang individu sebagai seorang laki-laki atau perempuan (Pudjijogyanti, 1985: 12). c. Peranan perilaku orangtua Keluarga memiliki peran penting dalam terbentuknya konsep diri pada anak. Orangtua merupakan model dan sumber peneguhan bagi perasaan dan pikiran seorang anak. Bagaimana pola asuh yang diterapkan orangtua serta bagaimana orangtua melihat anaknya, akan mempengaruhi bagaimana seorang anak melihat dirinya. Hal ini dikarenakan orangtua merupakan figur yang utama

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 yang memiliki relasi dekat dengan anak (Pudjijogyanti, 1985: 16). Pola seorang anak dalam berinteraksi dengan keluarga menentukan pola anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Coopersmith sebagaimana dikutip dalam Pudjijogyanti (1985: 17) pernah membuat penelitian mengenai peranan kondisi keluarga tehadap konsep diri anak. Dari penelitian tersebut diperoleh suatu kesimpulan, bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri yang rendah pada anak. Yang dimaksud dengan kondisi keluarga yang buruk adalah kurangnya pengertian antara orangtua dengan anak, hubungan antara ayahibu yang kurang serasi, kurangnya sikap penerimaan orangtua terhadap kondisi anaknya, dan tuntutan-tuntutan dari orangtua yang kurang sesuai dengan kondisi anak. Desmita (2009: 223) menyatakan keterikatan orangtua dengan anak di masa remaja, merupakan faktor penting dalam menentukan arah perkembangan anak di masa remaja. Ketika menginjak masa remaja, seorang anak punya kecenderungan untuk mempertanyakan dan menentang orangtua dan lebih dekat dengan teman sebayanya. Mereka mulai memasuki tahap membangun relasi sosial. Dalam hal ini, keterikatan remaja dengan orangtua menyangga remaja dari perasaan-perasaan depresi dan kecemasan. Perasaan-perasaan tersebut muncul karena anak menghadapi masa transisi dan persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan di luar lingkungan keluarga, misalnya kehidupan di sekolah. d. Peranan faktor sosial Interaksi dengan individu lain menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri seorang individu. Melalui interaksi dengan individu

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 lain, maka seorang individu dapat mengetahui persepsi orang lain akan dirinya. Semakin banyak interaksi sosial yang dibangun oleh individu baik di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun komunitasnya, maka seorang individu akan mendapat persepsi yang semakin beragam. Gabriel Marcel sebagaimana dikutp dalam Pudjijogyanti (1985: 16) menyatakan bahwa “the fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others, and only by starting from them.” Disadari atau tidak disadari, orang lain ikut berperan dalam proses memahami diri. Kemudian, bagaimana persepsi orang lain tentang seorang individu biasanya dipengaruhi oleh status sosial, suku, kondisi ekonomi, serta sikap dan perilaku seorang individu yang dilihatnya. Kualitas pergaulan dan interaksi yang dimiliki individu dalam lingkungannya juga dapat mempengaruhi persepsi, pengetahuan, dan sikap individu (Pudjijogyanti, 1985: 16). e. Agama Agama merupakan salah satu hal yang penting bagi manusia. Bagi sebagian orang, agama memberikan inspirasi dan semangat untuk terus meraih kehidupan yang lebih baik. Penelitian oleh mahasiswa Fakultas Psikologi USD dalam skripsi Galuh Sekardita Buana Candra Murti (2013: 41), ditemukan adanya korelasi positif antara kematangan beragama dengan konsep diri. Individu dengan kondisi hidup beragama yang matang, memiliki konsep diri yang tinggi. Santrock (2012: 442) menyatakan bahwa orang yang taat beragama memiliki kecenderungan berperilaku positif dan memiliki kepribadian yang lebih baik. Kurniawan (2000: 215) memaparkan tentang bahwa konsep diri manusia dapat dibangun firman Tuhan. Agama Kristen memiliki sumber-sumber yang

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 menakjubkan bagi pembentukan konsep diri manusia. Paradigma kasih Allah merupakan landasan bagi manusia untuk menyadari dirinya makhluk yang berharga di hadapan Allah. 5. Ciri-ciri Konsep Diri Menurut Burns sebagaimana dikutip dalam Galuh Sekardita Buana Candra Murti (2013: 19), berdasarkan ciri-cirinya konsep diri dibagi menjadi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Masing-masing keduanya memiliki kriteria yang berbanding terbalik. a. Konsep diri positif Seorang individu yang memiliki konsep diri positif mempunyai karakteristik sebagai berikut (Sekardita Buana Candra Murti, 2013: 19):  Merasa dirinya berharga, memiliki kemampuan, kompeten, dan memiliki rasa percaya diri. Tidak merasa rendah diri dan tidak lari dari masalahan, melainkan ia justru mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  Mampu memodifikasi prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup sesuai dengan pengalaman baru yang dihadapi, sehingga hidupnya selalu diperkaya melalui pengalaman-pengalamannya.  Tidak khawatir akan masa lalu dan masa yang akan datang, lebih memfokuskan diri dengan apa yang dihadapinya dalam masa sekarang.  Memiliki kepercayaan bahwa dirinya mampu mengatasi persoalan-persoalan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 yang ia hadapi dan pantang menyerah meskipun pernah gagal.  Memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. b. Konsep diri negatif Seorang individu yang memiliki konsep diri negatif mempunyai karakteristik sebagai berikut (Sekardita Buana Candra Murti, 2013: 20):  Merasa diri tidak berharga, tidak memiliki kemampuan, merasa dirinya tidak dalam kondisi yang aman.  Merasa inferior sehingga menjadi peka terhadap kritik dan menganggapnya sebagai bukti dari inferioritasnya.  Memiliki sifat yang hiperkritis sebagai cara untuk mempertahankan citra diri dan mengalihkan kekurangan yang dimilikinya kepada orang lain.  Lebih suka mengasingkan diri dari orang lain, kurang menyukai persaingan, pesimis dan bersikap malu-malu.  Jika mengalami kegagalan cenderung menyalahkan orang lain, serta merasa sulit untuk mengakui kekurangan dan kelemahannya ketika mengalami kegagalan. 6. Karakteristik Konsep Diri Usia SMP Santrock sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 177) memaparkan karakteristik konsep diri siswa dengan menggolongkannya berdasarkan tingkat pendidikannya. Berikut adalah karakteristik konsep diri pada siswa SMP menurut Santrock: absract and idealistic, differentiated, contradiction within the self, the

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 fluctuating self, real and ideal, true and false selves, social comparison, selfconscious, self-protective, unconscious, dan self-integration. a. Absract and idealistic Para remaja pada umumnya menggambarkan dirinya dengan kata-kata yang abstrak. Gambaran diri yang abstrak tersebut misalnya, saya adalah seorang manusia, saya tidak tahu siapa diri saya. Selain itu para remaja pada umumnya juga menggambarkan diri mereka secara idealistik. Gambaran diri yang idealistik dapat dilihat dari pernyataan berikut, misalnya “saya orang yang sensitif, yang sangat peduli terhadap perasaan orang lain, saya juga cukup cantik” (Desmita, 2009: 177). b. Differentiated Dibandingkan dengan anak yang lebih muda, remaja lebih memungkinkan untuk dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan konteks atau situasi tertentu. Para remaja umumnya lebih memahami siapa dirinya dalam suatu peran atau konteks tertentu. Misalnya, hubungannya dalam keluarga, pertemanan, dan relasi dengan lawan jenis (Desmita, 2009: 177). c. Contradiction within the self Susan Harter sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 178) mengungkapkan bahwa remaja awal memiliki gambaran kontradiktif yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa remaja akhir. Para remaja sebagian besar menggunakan istilah yang kontradiktif dalam menggambarkan siapa dirinya.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Misalnya, jelek dan menarik, mudah bosan dan ingin tahu. Hal ini merupakan dampak dari kemampuan remaja yang bisa mendeferensiasikan dirinya ke dalam beberapa peran. d. The fluctuating self Sifat kontradiktif dalam diri remaja dapat memunculkan fluktuasi atau ketidakstabilan dalam diri remaja. Ketidakstabilan merupakan salah satu ciri yang melekat pada individu pada masa remaja. Para remaja biasanya mengalami fluktuasi diri dalam berbagai situasi. Fluktuasi diri ini akan terus dialami remaja sampai ia menemukan teori tentang dirinya secara utuh (Desmita, 2009:178). e. Real and ideal, true and false selves Kemampuan remaja dalam membentuk diri ideal di samping diri yang sebenarnya, dapat memicu kebingungan dalam diri remaja. Namun, remaja mampu membedakannya. Ia cenderung menunjukkan diri ideal jika di lingkungan umum. Hal ini dilakukan agar orang lain mengaguminya. Tetapi ketika sedang bersama dengan teman dekat, mereka cenderung menunjukkan diri mereka yang asli (Desmita, 2009: 178). f. Social comparison Dalam mengevaluasi diri, biasanya para remaja menggunakan perbandingan sosial. Mereka akan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Orang lain menjadi tolak ukur untuk membuat penilain diri (Desmita, 2008: 179).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 g. Self-conscious Remaja mulai mampu menyadari atau memahami dirinya. Dalam situasi normal, remaja akan cenderung instropektif. Hal ini merupakan bagian dari kesadaran diri dan eksplorasi diri mereka. Remaja akan meminta opini dari temantemannya mengenai gambaran diri yang baru muncul (Desmita, 2009: 180). h. Self-protective Para remaja juga mempunyai ciri khas dalam mempertahankan diri ketika menghadapi konflik yang muncul. Hal ini merupakan usaha-usaha instropektif yang mereka lakukan untuk memahami diri. Remaja cenderung menolak karakteristik negatif dalam dirinya. Mereka lebih menonjolkan karakteristik positif yang dimiliki. Para remaja akan menggambarkan diri mereka secara idealistik (Desmita, 2009: 180). i. Unconscious Remaja mulai menyadari akan adanya pengalaman-pengalaman yang berada dalam alam bawah sadar mereka. Pengalaman-pengalaman bawah sadar tersebut merupakan bagian dari peristiwa masa lalu. Mereka juga mengakui bahwa hal tersebut merupakan bagian dari diri mereka (Desmita, 2009: 180). j. Self-integration Pada masa remaja akhir, konsep diri remaja lebih terintegrasi. Remaja mulai bisa menyatukan hal-hal yang berbeda dan menjadikannya sebagai satu kesatuan secara sistemik (Desmita, 2009: 181).

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 C. Penelitian yang Relevan Penulis tidak menemukan penelitian yang relevan secara spesifik mengenai pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri. Oleh karena itu, dalam bagian ini peneliti memaparkan penelitian yang relevan secara umum. Beberapa ahli psikologi dan pendidikan mempercayai adanya hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar. Fink sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 171) mengemukakan hasil penelitiannya mengenai keterkaitan antara tingkat prestasi belajar dengan konsep diri. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa siswa yang memiliki prestasi belajar lebih menunjukkan adanya konsep diri yang lebih positif dibandingkan siswa yang memiliki prestasi belajar lebih rendah. Desmita (2009: 171) juga memaparkan hasil penelitian Walsh yang menyatakan bahwa, siswa-siswa yang masuk dalam kelompok underachiever memiliki konsep diri yang negatif. Konsep diri negatif tersebut terlihat dalam karakteristik kepribadian siswa. Siswa mempunyai perasaan dikritik, ditolak, dan diisolir. Siswa cenderung menghindar dan menentang sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar dengan konsep diri. Penelitian oleh Galuh Sekardita Buana Candra Murti (2013: 41) dalam skripsinya menyatakan bahwa konsep diri dan kematangan beragama memiliki korelasi yang kuat, yang ditunjukkan dengan angka koefisien korelasi sebesar 0,728. D. Kerangka Pikir Konsep diri mempunyai kaitan yang erat dengan perilaku dan prestasi

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 belajar. Bagaimana seseorang memandang dirinya dapat tercermin dari perilakunya. Menurut Felker sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 169) konsep diri memiliki tiga peranan penting dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu: konsep diri berperan dalam mempertahankan keselarasan batin seseorang (self-concept as maintainer of inner consistency), berperan dalam bagaimana seseorang menafsirkan suatu peristiwa (self-concept as an interpretation of experience), dan berperan sebagai penentu harapan individu (self-concept as set of expectations). Beberapa ahli psikologi meyakini bahwa konsep diri juga dapat mempengaruhi prestasi belajar seorang individu. Nylor sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 171) menemukan bahwa siswa yang mempunyai konsep diri positif menunjukkan prestasi yang baik dan memiliki penilaian diri yang tinggi. Fink sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 171) setelah melakukan serangkaian penelitian terhadap sejumlah siswa dengan menggolongkannya berdasarkan prestasi belajar, mengungkapkan bahwa siswa yang tergolong berprestasi lebih (overachievers) menunjukkan konsep diri yang lebih positif. Di sisi lain, Walsh sebagaimana dikutip dalama Desmita (2009: 171) menyatakan bahwa siswa yang prestasinya kurang (underachievers) cenderung memiliki konsep diri yang negatif. Masa remaja merupakan masa yang menjadi sumber perkembangan konsep diri. Pada remaja ini, seorang individu mengalami banyak perubahan terutama perubahan fisik yang bisa menimbulkan rasa kurang puas terhadap diri sendiri. Di saat yang sama, pada masa transisi ini seorang remaja mendapat tuntutan yang lebih dari lingkungannya. Remaja mulai diberikan tugas-tugas yang

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 belum ia terima pada masa kanak-kanak karena mereka tidak dianggap anak kecil lagi. Kondisi seperti ini dapat memicu konflik dan ketegangan dalam diri para remaja. Para remaja berusaha menemukan konsep dirinya dan mencoba hal-hal yang baru. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri seseorang, antara lain adalah citra fisik, peran seksual, perilaku orang tua, interaksi sosial, dan agama. Sekolah merupakan salah satu faktor sosial yang berperan dalam pembentukan konsep diri seorang individu atau siswa. Sekolah merupakan suatu lembaga yang diharapkan dapat melaksanakan dua fungsi, yaitu sebagai pemelihara-pewujud (maintenance-actualization) dan pelatih keterampilanpengalih kebudayaan (skills training-cultural transmission). Sekolah sebagai pemelihara-pewujud, dimaksudkan sebagai tempat dimana seorang siswa dapat memperoleh, meningkatkan, dan mempertahan kemampuan yang dimiliki siswa tersebut. Sekolah sebagai pelatih keterampilan-pengalih kebudayaan, dimaksudkan sebagai tempat bagi siswa untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan dan nilai-nilai budaya, seni, berhitung, agama, dan sebagainya. Kedua fungsi tersebut menekankan sekolah menjadi tempat untuk mewujudkan kemampuan siswa secara optimal serta memberi pengalaman baru yang dapat membentuk konsep diri yang positif dalam diri siswa (Pudjijogyanti, 1985: 26). Pendidikan agama merupakan salah satu bagian dari kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Pendidikan agama juga mempunyai peran dalam membentuk konsep diri para siswa. Dalam agama Katolik, firman Tuhan ikut berperan dalam pembentukan konsep diri. Anthony Hoekema sebagaimana dikutip dalam Kurniawan (2000: 219) menyatakan bahwa Kristen sesungguhnya menyajikan

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 sumber-sumber yang menakjubkan untuk membangun konsep diri yang positif. Berbicara tentang manusia di dalam alkitab sangat erat kaitannya dengan pribadi manusia di hadapan Allah. Allah yang menciptakan manusia sesuai dengan citraNya yang memiliki keunikannya masing-masing. Oleh karena itu, Allah sungguh mengasihi manusia sehingga Ia pun rela menjadi manusia untuk menebus dosadosa manusia. Karya Allah yang sedemikian rupa tersebut menggambarkan betapa Allah mengasihi manusia dan betapa manusia sangat berharga di hadapan Allah. Dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, siswa dihadapkan pada pelajaran agama. SMP Marsudi Luhur Yogyakarta sebagai sekolah menengah yang berada di bawah naungan yayasan katolik, maka siswa pun mendapat Pendidikan Agama Katolik. Ruang lingkup materi PAK dalam silabus PAK (Komisi Kateketik KWI, 2007a: 10) di sekolah meliputi empat aspek, yaitu pribadi peserta didik, Yesus Kristus, Gereja, dan Kemasyarakatan. Pada kelas VII semester I, materi pelajaran PAK memiliki fokus pada aspek pribadi peserta didik. Aspek pribadi peserta didik ini membahas tentang pemahaman diri siswa sebagai pria dan wanita yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya. Dalam materi-materi yang diberikan kepada siswa, guru membantu siswa untuk lebih mengenali keadaan dirinya dengan secara obyektif. Konsep diri akan terbentuk dari bagaimana seorang individu itu mengenali dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pengalaman-pengalamannya baik yang menyenangkan maupun mengecewakan. Oleh karena itu, seorang individu dalam masa remaja yang penuh dengan perubahan dan gejolak pelu mendapat materi dan pendampingan yang dapat

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 membantunya mengolah diri dan pengalaman-pengalamannya. Hal ini bertujuan agar mereka dapat memaknai secara positif dan mengambil pelajaran dari hal-hal itu, sehingga mampu menghargai dan memandang dirinya secara positif. E. Profil SMP Marsudi Luhur Yogyakarta Berawal dari kajian teori yang sudah dipaparkan sebelumnya, selanjutnya akan dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan hasil belajar PAK dengan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Oleh karena itu, perlu kiranya bagi penulis untuk memaparkan profil SMP Marsudi Luhur Yogyakarta sebagai lingkungan yang akan digunakan untuk melakukan penelitian. SMP Marsudi Luhur terletak di Jalan Bintaran Kidul no. 2 Yogyakarta, telepon 0274-378769. Sekolah ini masuk dalam wilayah kota Yogyakarta dan berdiri di tengah lingkungan yang padat penduduk. Lokasi SMP Marsudi Luhur berdampingan dengan SMA Marsudi Luhur dan SMK Marsudi Luhur, selain itu juga berseberangan dengan Gereja Santo Yusup Bintaran. Jarak yang dekat antara sekolah dan gereja sangat mempermudah dan mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan, misalnya misa ataupun pengakuan dosa. Sebagai sekolah yang berada dalam naungan yayasan katolik yang memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan, SMP Marsudi Luhur menyertakan mata pelajaran PAK sebagai bagian dari pendidikan agama. Mata pelajaran PAK diperuntukkan bagi semua siswa SMP Marsudi Luhur, termasuk para siswa yang tidak beragama katolik. Beberapa kegiatan rohani juga dilaksanakan di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta, seperti doa bersama, pengakuan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 dosa, Ekaristi, rekoleksi, dan kegiatan kerohanian lainnya. SMP Marsudi Luhur Yogyakarta memiliki daya tampung tiga kelas, kelas VII ada satu kelas, kelas VIII ada satu kelas, begitu pula dengan kelas IX. Para siswa di SMP Marsudi Luhur mempunyai latar belakang yang sangat beragam. Baik dari segi ekonomi maupun dari segi kehidupan sosial serta situasi keluarga. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang unik. Ada siswa yang sangat menonjol dan dominan, ada pula yang sebaliknya. Seperti halnya, remaja-remaja lainnya, ada pula para siswa yang membentuk peergroup. Begitu pula dengan siswa kelas VII dan VIII, mereka juga berasal dari latar belakang yang berbeda. Baik dari asal daerah, situasi keluarga, tingakat ekonomi, maupun agama. Ada yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun luar kota seperti Jakarta, Purwokerto. Mengenai agama, siswa kelas VII dan VIII mayoritas beragama Katolik. Selain itu ada pula yang beragama Kristen dan Islam. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadikan siswa yang satu dan yang lainnya memiliki keunikan atau keistimewaan yang berbeda-beda pula dalam menapaki masa remajanya. Oleh karena itu, untuk menemukan apakah ada hubungan antara hasil belajar PK dengan konsep diri, penulis memutuskan untuk melakukan penelitian di SMP Marsudi Luhur dengan judul “Hubungan antara Hasil Belajar Pendidikan Agama Katolik dengan Konsep Diri Siswa Kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur tahun ajaran 2013/2014”. Dalam hal ini, yang menjadi subyek penelitian adalah hasil belajar PAK dan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 F. Definisi Operasional 1. Hasil Belajar PAK adalah nilai mata pelajaran PAK oleh guru kepada siswa, sebagai bentuk apresiasi terhadap siswa mengenai sejauh mana siswa menguasai kompetensi mata pelajaran PAK. 2. Konsep diri adalah pandangan siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta mengenai dirinya yang berasal dari gabungan pandangannya sendiri terhadap dirinya, pandangan orang lain mengenai dirinya, harapanharapannya terhadap dirinya sendiri yang diolah dengan bimbingan guru melalui mata pelajaran PAK di sekolah, sehingga individu tersebut dapat menarik kesimpulan tentang bagaimana ia menggambarkan dirinya. G. Variabel Menurut Sugiyono (2012: 61), variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah nilai mata pelajaran PAK, dimana ia merupakan variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah variabel Y, yaitu konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Variabel dependen merupakan variabel yang mendapat pengaruh dari variabel independen. H. Desain Penelitian X Y

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 X adalah nilai mata pelajaran PAK Y adalah konsep diri I. Hipotesis Sugiyono (2012: 96) mendefinisikan hipotesis sebagai jawaban sementara tentang sesuatu hal yang mana kebenarannya belum diketahui. Berdasarkan teoriteori yang sudah dipaparkan, penulis membuat hipotesis atau jawaban sementara sebagai berikut: Ho: Tidak ada hubungan antara hasil belajar PAK dengan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Ha: Ada hubungan antara hasil belajar PAK dengan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI DAN HASIL PENELITIAN Pada bab III ini akan dipaparkan mengenai metodologi penelitian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Adapun metodologi penelitiannya adalah sebagai berikut: A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ini adalah ex-post facto yang berarti setelah kejadian. Menurut Gay sebagaimana dikutip dalam Sevilla & Consuello (1992: 148), penelitian jenis ini digunakan untuk menemukan sebab yang terjadi di masa lampau atas suatu akibat. Sedangkan, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012: 14), pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel dengan cara mengumpulkan data dengan suatu instrumen dan menganalisisnya secara kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. B. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey atau observasi. Nan Lin sebagaimana dikutip dalam Gulo (2000: 117) mendefinisikan metode survey sebagai berikut, “the survey is data-collection method in which an instrumen is used to solicit responses from a sample of respondents.” Oleh karena

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 dalam metode menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data, maka penelitian ini menggunakan skala Likert untuk mengungkap variabel konsep diri, sedangkan untuk variabel mata pelajaran peneliti menggunakan wawancara terhadap guru yang terkait untuk memperoleh data nilai mata pelajaran PAK siswa. C. Tempat dan Waktu Penelitian Adapun tempat dan waktu dilaksanakannya penelitian adalah sebagai berikut: 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta dengan alamat Jalan Bintaran Kidul no. 2 Yogyakarta, telepon 0274-378769. 2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2014 sampai tanggal 6 Agustus 2014. D. Responden Penelitian Responden penelitian dalam penelitian ini adalah populasi siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Menurut Sugiyono (2014: 117), populasi adalah wilayah generalisir yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Jumlah responden dalam

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 penelitian ini adalah 35 siswa. Terdiri dari siswa kelas VII yang berjumlah 20 orang, dan siswa kelas VIII yang berjumlah 15 orang. E. Instrumen Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Dalam penelitian ini, skala Likert digunakan untuk mengungkap variabel konsep diri. Sugiyono (2012: 134) menguraikan bahwa skala Likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi subyek penelitian tentang fenomena yang diangkat oleh peneliti. Pembuatan butir-butir pernyataan dalam skala Likert untuk variabel konsep diri, mengacu pada aspek-aspek konsep diri yang telah dipaparkan dalam bab II. Aspek-aspek tersebut adalah komponen konsep diri, dimensi konsep diri, faktor pembentuk konsep diri. Dalam skala Likert, ada dua macam pernyataan yang diberikan untuk mengungkap konsep diri responden yaitu pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable. Ada empat pilihan jawaban yang diberikan untuk menanggapi pernyataan, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju. Tabel 1. Penilaian Jawaban Jawab Item Sangat Setuju (S) setuju (SS) Tidak Sangat setuju tidak setuju (TS) (STS) Favorable 4 3 2 1 Unfavorable 1 2 3 4

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 F. Variabel Penelitian Pada skala konsep diri ada 100 item yang digunakan peneliti untuk mengungkap konsep diri siswa. 100 item tersebut terdiri dari 30 item pada aspek komponen konsep diri, 30 item pada aspek dimensi konsep diri, dan 40 item pada aspek faktor pembentuk konsep diri. Maing-masing aspek terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable. Berikut adalah tabel variabel penelitian konsep diri yang akan digunakan untuk mengungkap konsep diri responden. Tabel 2. Variabel Penelitian Item Aspek yang diungkap Jumlah Favorable Unfavorable Komponen konsep diri a. Komponen persepsi 1, 2, 4, 5, 8 3, 6, 7, 9, 10 10 b. Komponen konsepsi 11, 12, 13, 14, 15 16, 17, 18, 19, 20 10 c. Komponen sikap 21, 22, 23, 24, 25 26, 27, 28, 29, 30 10 a. Self-image 31, 32, 33, 34, 35 36, 37, 38, 39, 40 10 b. Self-ideal 41, 42, 43, 44, 45 46, 47, 48, 49, 50 10 c. Self-evaluation 51, 52, 54, 55, 60 53, 56, 57, 58, 59 10 a. Citra fisik 61, 62, 64, 69, 70 63, 65, 66, 67, 68 10 b. Peran seksual 71, 74, 76, 77, 80 72, 73, 75, 78, 79 10 c. Peranan perilaku orangtua 81, 82, 83, 85, 88 84, 86, 87, 89, 90 10 d. Peranan faktor sosial 91, 92, 93, 94, 100 95, 96, 97, 98, 99 10 Dimensi konsep diri Faktor pembentuk konsep diri Jumlah 50 50 100

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 G. Uji Coba Instrumen Uji coba instrumen dilakukan terhadap siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Setelah melalui serangkaian uji coba soal, diperoleh hasil sebagai berikut. 1. Validitas Lodico dkk (2006: 87) mengungkapkan bahwa validitas menyatakan apakah suatu instrumen benar-benar mengukur apa yang hendak diukur, dengan istilah lain validitas merupakan ketepatan suatu instrumen dalam mengukur sesuatu yang hendak diukur. Sugiyono (2012: 178) menyatakan bahwa instrumen memiliki validitas yang baik jika koefisien validitasnya lebih dari 0,3. Perhitungan koefisien validitas diperoleh dari perhitungan menggunakan software Excel 2007 for Windows. Berdasarkan tabel hasil analisis item instrumen situasi kepemimpinan, jumlah item instrumen konsep diri yang valid ada 53 item, dan jumlah item instrumen konsep diri yang tidak valid ada 47 item [Lampiran 6: (16)-(17)]. Tabel 3. Daftar Instrumen yang Valid dan Tidak Valid Instrumen Valid Instrumen Tidak Valid 1, 2, 3, 11, 13, 14, 19, 21, 22, 23, 27, 31, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 15, 16, 17, 32, 33, 35, 36, 37, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 18, 20, 24, 25, 26, 28, 29, 30, 34, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 54, 55, 56, 57, 58, 39, 51, 52, 53, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 67, 68, 69, 70, 71, 73, 75, 76, 77, 81, 65, 66, 72, 74, 78, 79, 80, 84, 85, 82, 83, 89, 92, 93, 94, 95, 96. Jumlah: 53 86, 87, 88, 90, 91, 97, 98, 99, 100. Jumlah: 47

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 2. Reliabilitas Menurut Lodico dkk (2006: 87) reliabilitas mengacu pada konsistensi skor, yaitu kemampuan instrumen untuk menghasilkan kurang lebih skor yang sama bagi seorang individu meskipun diujikan berulang-ulang. Dalam penelitian ini, penghitungan reliabilitas instrumen menggunakan software SPSS 20 for windows. Tabel 4. Reliabilitas Instrumen Part 1 Cronbach's Alpha Part 2 Value N of Items Value N of Items Total N of Items Correlation Between Forms Spearman-Brown Equal Length Coefficient Unequal Length Guttman Split-Half Coefficient .821 a 50 .744 b 50 100 .737 .849 .849 .846 Dari tabel tersebut terlihat bahwa instrumen dalam penelitian ini memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,846. Koefisien validitas memiliki rentang angka dari 0,00 sampai 1,00. Lodico dkk (2006: 91) mengungkapkan jika koefisien reliabilitas semakin mendekati angka 1,00 maka instrumen tersebut semakin reliabel. Dari kriteria tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi. 3. Uji Asumsi Uji asumsi bertujuan untuk mengetahui normalitas, homoskedastisitas, dan autokorelasi data hasil uji coba.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 a. Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak (Singgih Santoso, 2010: 43). Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan analisis Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengujiannya adalah jika angka signifikansi (Sig) > 0,05 maka data berdistribusi normal. Jika angka signifikansi (Sig) < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. Berdasarkan tabel hasil uji normalitas, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,463. Tabel 5. Nilai Normalitas Data Ymutlak N Normal Parameters 35 a,b Mean Std. Deviation Most Extreme Differences 13.7718 12.17586 Absolute .144 Positive Negative .144 -.131 Kolmogorov-Smirnov Z .852 Asymp. Sig. (2-tailed) .463 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. b. Homoskedastisitas Uji homoskedastisitas berfungsi untuk menguji apakah sebuah grup (data kategori) mempunyai varians yang sama diantara anggota grup tersebut (Singgih Santoso, 2010:47).

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Tabel 6. Nilai Homoskedastisitas Data Model Unstandardized Coefficients B 1 Std. Error (Cons tant) 291.58 4 4.922 Ymutl ak .597 .269 Standar dized Coeffici ents t Sig. Beta .360 95.0% Confidence Interval for B Lower Bound Upper Bound 59.2 44 .000 281.570 301.597 2.21 4 .034 .048 Collinearity Statistics Toler ance 1.145 1.000 VIF 1.00 0 a. Dependent Variable: Y Kriteria pengujiannya adalah jika probabilitas (SIG) > 0,05 maka varians populasi identik. Jika probabilitas (SIG) < 0,05 maka varians populasi tidak identik. Dari tabel di nilai homokedastisitas data, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas adalah 0,034. c. Autokorelasi Tabel 7. Nilai Autokorelasi Data Ymutlak Test Value a 11.89 Cases < Test Value 17 Cases >= Test Value 18 Total Cases 35 Number of Runs 13 Z -1.712 Asymp. Sig. (2-tailed) .087 a. Median Autokorelasi adalah terjadinya kesalahan pengganggu ke-i (Ɛ i) dengan kesalahan pengganggu (Ɛ i-1). Adanya korelasi tersebut akan menyebabkan covarian dari (Ɛ i Ɛ i-1) tidak sama dengan nol. Oleh karena itu model yang baik

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 harus bebas autokorelasi (Nawari, 2010: 222). Kriteria pengujiannya adalah jika probabilitas (Sig) > 0,05 maka data bebas autokorelasi. Jika probabilitas (Sig) < 0,05 maka data autokorelasi. Dari tabel Runs Test dapat dilihat bahwa nilai signifikansinya adalah 0,087 yang berarti data bebas autokorelasi. 4. Seleksi Item Instrumen Berdasarkan koefisien validitas dan reliabilitas hasil uji coba instrumen, maka peneliti melakukan seleksi item. Seleksi item dilakukan dengan cara menyaring instrumen yang valid untuk diujikan lagi sebagai penelitian. Berikut adalah item instrumen yang sudah diseleksi: Tabel 8. Seleksi Item Instrumen Item Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Komponen konsep diri: a. Komponen persepsi 1, 2 3 3 b. Komponen konsepsi 11, 13, 14 19 4 c. Komponen sikap 21, 22, 23 27 4 a. Self-image 31, 32, 33, 35 36, 37, 38, 40 8 b. Self-ideal 41, 42, 43, 44, 45 46, 47, 48, 49, 50 10 c. Self-evaluation 54, 55 56, 57, 58 5 64, 69, 70 67, 68 6 Dimensi konsep diri: Faktor pembentuk konsep diri: a. Citra fisik

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Item Aspek Jumlah Favorable b. Peran seksual 71, 76, 77 Unfavorable 73, 75 5 c. Peranan perilaku orangtua 81, 82, 83 89 4 d. Peranan faktor sosial 95, 96 5 92, 93, 94 Jumlah 31 22 53 Selanjutnya, hasil seleksi item akan diujikan kepada responden dalam penelitian ini. Data dari hasil uji tersebut yang kemudian menjadi data yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Adapun responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 35 siswa. H. Hasil Penelitian Setelah melalui serangkaian proses uji coba, analisis validitas dan reliabilitas, serta uji asumsi, maka diperoleh data final untuk dilakukan analisis untuk menjawab hipotesis yang telah dipaparkan pada Bab II. Pada tahap pertama, penulis memapaparkan deskripsi penelitian yang terdiri dari nilai minimum, nilai maksimum, mean, dan standar deviasi. Berikut adalah deskripsi data penelitian: Tabel 9. Deskripsi Data Penelitian N Minimum Maximum Mean Std. Deviation X 35 74.00 86.00 77.8857 2.92827 Y 35 130.00 206.00 168.0857 16.59796 Valid N (listwise) 35

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Dalam tabel di atas, dapat dilihat bahwa data pada variabel X (hasil belajar PAK) berjumlah 35. Nilai PAK tertinggi yang dicapai oleh siswa adalah 86, sedangkan nilai PAK terendah yang didapat siswa adalah 74. Untuk data pada variabel Y (konsep diri) yang berjumlah 35, memiliki nilai tertinggi 206 dan nilai terendah 130. Mean atau nilai tengah data penelitian adalah 77. 88, sedangkan standar deviasi data penelitian ini adalah 2, 92. Selanjutnya, analisis dilakukan dengan menggunakan software SPSS 20.00 for Windows untuk menghitung korelasi antara variabel X (hasil belajar PAK) dengan variabel Y (konsep diri). I. Tabel 10. Korelasi Hasil Belajar PAK terhadap Konsep Diri X Y Pearson Correlation 1 .372 Sig. (2-tailed) N 35 .028 35 Pearson Correlation .372 * X * 1 Y Sig. (2-tailed) .028 N 35 35 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Nilai korelasi yang terdapat pada tabel Correlations didapat dari perhitungan dengan menggunakan analisis Pearson. Nilai kritikal korelasi Pearson untuk ɑ = 0,05 pada data yang berjumlah 35 adalah 0.325 (Suparno, 2010:194). Bila nilai robs ≥ rcrit maka data dinyatakan signifikan secara statistik. Dari analisis Pearson, diperoleh angka korelasi sebesar 0,372. Nilai 0,372 lebih besar dari

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 0,325, maka data dinyatakan signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif antara variabel X ( hasil belajar PAK) terhadap variabel Y (konsep diri). Berdasarkan output perhitungan analisis yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif antara hasil belajar PAK terhadap konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Dalam penelitian ini, peneliti membuat kategorisasi data penelitian untuk menempatkan subjek penelitian ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti melihat sebuah nilai masuk dalam kategori seperti apa. Untuk variabel hasil belajar PAK, peneliti membuat kategorisasi nilai dengan menggunakan skala huruf, yaitu A, B, C, D, dan E. Menurut Dapiyanta (2011: 74) batas acuan patokan antara titik skala pada skala huruf pada umumnya adalah sebagai berikut: Tabel 11. Acuan Patokan Skala Huruf Kategori A Rentang Nilai 76% - 100% B 66% - 75% C 56% - 65% D 46% - 55% E 0% - 45% Berdasarkan tabel acuan patokan untuk skala huruf di atas, selanjutnya peneliti menggolongkan nilai hasil belajar PAK responden ke dalam skala huruf. Dari perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut:

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Tabel 12. Nilai Siswa dalam Skala Huruf Kategori A Rentang Nilai 76 - 100 Jumlah 26 B 66 - 75 9 C 56 - 65 - D 46 - 55 - E 0 - 45 - Jumlah 35 Untuk variabel konsep diri, data dikategorikan ke dalam tiga bagian yaitu tinggi, rendah, dan sedang. Azwar (2009: 109) mengemukakan bahwa bila diinginkan penggolongan subjek ke dalam tiga kategori, norma kategori skornya adalah sebagai berikut: Tabel 13. Norma Kategorisasi Konsep Diri Norma Kategori (µ+1,0σ) < X Tinggi (µ-1,0σ) ≤ X < (µ+1,0σ) Sedang X < (µ-1,0σ) Rendah Keterangan: µ: nilai mean teoretik σ: nilai standar deviasi teoretik Nilai mean teoretik data adalah 132,5. Nilai tersebut diperoleh dari perhitungan dari µ= ½(skor maksimum+skor minimum). Jika diaplikasikan dalam data skala konsep diri maka µ=½((4x53)+(1x53)) maka diperoleh hasil 132,5. Untuk nilai standar deviasi konsep diri dihitung dengan rumus σ=1/6(skor maksimum-skor minimun). Jika diaplikasikan dalam data konsep diri maka

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 σ=1/6((4x53)-(1x53)) dan hasilnya adalah 26,5. Tabel 14. Kategorisasi Konsep Diri Siswa Norma Kategori Jumlah 132,5 < X Tinggi 25 26,5 ≤ X < 132,5 Sedang 10 X < 26,5 Rendah - Dari tabel kategorisasi konsep diri, diketahui bahwa dari 35 siswa yang memiliki konsep diri tinggi ada 25 orang, siswa yang memiliki kategori konsep diri sedang ada 10 orang, dan siswa yang masuk dalam kategori konsep diri rendah tidak ada. I. Pembahasan Pada bagian hasil penelitian, peneliti membuat pengelompokan nilai hasil belajar ke dalam skala huruf yaitu A, B, C, D dan E. Untuk kategori A memiliki rentang nilai dari 76 sampai 100 (76 ≤ X ≤100). Kategori B memiliki rentang nilai antara 66 sampai dengan 75 (66 ≤ X ≤75). Kategori C memiliki rentang nilai antara 56 sampai dengan 65 (56 ≤ X ≤65). Kategori D memiliki rentang nilai 46 sampai dengan 55 (46 ≤ X ≤55). Kategori E memiliki rentang nilai dari 0 sampai dengan 45 (0 ≤ X ≤45). Berdasarkan kategorisasi nilai dengan skala huruf tersebut, secara keseluruhan siswa dengan nilai kategori A jumlahnya 26 orang (74,29%), siswa dengan kategori nilai B jumlahnya 9 orang (25,71%), sedangkan siswa dengan

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 kategori nilai C, D, dan E tidak ada (0%). Jika data dipisahkan berdasarkan kelas, maka siswa kelas VII dengan kategori nilai A ada 15 siswa dan siswa dengan nilai B ada 5 siswa. Pada siswa kelas VIII, siswa dengan kategori nilai A ada 11 siswa dan siswa dengan kategori nilai B ada 4 siswa. Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan, bahwa siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 telah berhasil mencapai atau melampaui kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran PAK yaitu 70 pada tahun pertama pada semester pertama. Pencapaian hasil belajar para siswa memiliki predikat Amat Baik dan Baik. Diagram 1. Nilai PAK dalam Skala Huruf A B C D E Selain memiliki pencapaian hasil belajar dengan predikat baik, para siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 juga memiliki konsep diri yang baik. Hal ini terlihat dari hasil analisis data yang telah dipaparkan pada sub bab analisis data. Peneliti membagi konsep diri responden ke dalam tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Konsep diri dengan kategori tinggi memiliki skor di atas 132,5 (132,5 < X), kategori sedang memiliki rentang skor dari 26,5 sampai 132,5 (26,5 ≤ X < 132,5), sedangkan kategori rendah memiki skor di bawah 26,5 (X < 26,5).

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Berdasarkan kategori tersebut, pada konsep diri kategori tinggi terdapat 25 siswa (71,43%), pada konsep diri kategori sedang terdapat 10 siswa (28,57%), dan siswa dengan kategori konsep diri rendah tidak ada (0%). Jika data diurai berdasarkan kelas, siswa kelas VII yang memiliki konsep diri tinggi ada 15 siswa, dan siswa dengan konsep diri sedang ada 5 siswa. Pada kelas VIII, siswa dengan konsep diri tinggi ada 10 siswa dan siswa dengan konsep diri rendah ada 5 siswa. Dari angka yang terdapat dalam kategori tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar siswa kelas VII dan kelas VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta memiliki konsep diri yang tinggi. Diagram 2. Konsep Diri Tinggi Sedang Rendah Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Dari hasil analisis korelasi ditemukan adanya pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014, dengan koefisien korelasi sebesar 0,372 dan signifikansi sebesar 0,05. Meskipun ada pengaruh mata pelajaran PAK terhadap konsep diri, namun

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 korelasinya kecil. Berikut adalah tabel hubungan hasil belajar PAK dan konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 Diagram 3. Hasil Belajar PAK dan Konsep Diri 25 20 15 Tinggi Sedang 10 Rendah 5 0 A B C D E Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa tidak semua siswa dengan kategori nilai A memiliki konsep diri tinggi. Begitu juga pada siswa dengan kategori nilai B ada pula yang memiliki konsep diri yang tinggi. Siswa dengan nilai A yang memiliki konsep diri tinggi ada 22 orang, dan siswa dengan nilai A yang memiliki konsep diri sedang ada 4 orang. Siswa dengan nilai B yang memiliki konsep diri tinggi ada 3 orang, dan siswa dengan nilai B yang konsep dirinya sedang ada 6 orang. Dengan melihat hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PAK yang baik, juga melihat konsep diri siswa yang baik menunjukkan bahwa mata pelajaran PAK berpengaruh terhadap konsep diri siswa.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Dalam penelitian yang dilakukan Fink sebagaimana dikutip dalam Desmita (2009: 171), mengungkapkan adanya korelasi antara prestasi belajar dengan konsep diri siswa. Meskipun begitu, mengingat konsep diri yangbegitukompleks tentu kita perlu mempertimbangkan faktor lain yang juga dapat mempengaruhi konsep diri seorang individu. Pudjijogyanti (1985:9) mengungkapkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri seorang individu. Faktor-faktor tersebut antara lain citra diri, peranan seksual, pola asuh orangtua, dan interaksi sosial. Pada keempat siswa dengan nilai A dalam mata pelajaran PAK namun memiliki konsep diri sedang, kiranya mereka merasa kurang percaya diri dengan kondisi fisiknya. Hal ini terlihat dari jawaban responden dalam skala konsep diri. Sebagai salah satu contoh yaitu, responden menyatakan setuju dengan pernyataan bahwa orang lain lebih menarik. Secara tidak langsung responden merasa dirinya kurang percaya diri. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa ada faktor lain yang juga dapat mempengaruhi konsep diri seorang individu. Dari hasil analisis dan penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada hubungan antara hasil belajar PAK dengan konsep diri. Tetapi karena konsep diri seorang individu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, maka PAK kurang memberikan pengaruh yang kuat terhadap konsep diri siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. J. Keterbatasan Penelitian Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, ditemukan adanya faktor lain selain mata pelajaran PAK yang dapat mempengaruhi konsep diri siswa kelas

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Namun karena keterbatasan peneliti dalam penelitian ini, maka peneliti tidak mengungkap lebih jauh faktor-faktor lain di luar nilai mata pelajaran PAK. Hal-hal lain selain mata pelajaran PAK yang bisa mempengaruhi konsep diri, kemungkinan bisa dibahas pada penelitian selanjutnya.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV UPAYA PENINGKATAN KONSEP DIRI SISWA SMP MARSUDI LUHUR YOGYAKARTA MELALUI PROGRAM KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, penulis mencoba untuk memberikan usulan program. Usulan program ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian, dan sebagai upaya untuk meningkatkan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Program yang diusulkan oleh penulis adalah pendalaman iman dengan katekese umat model Shared Christian Praxis. A. Latar Belakang Usulan Program Usulan program ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan yang telah dipaparkan pada bab I mengenai pentingnya pembentukan konsep diri positif pada remaja. Pola perilaku, pola interaksi, dan pola pikir seorang manusia dipengaruhi oleh konsep diri yang ada dalam diri individu yang bersangkutan. Individu dengan konsep diri negatif cenderung berpikir dan berperilaku buruk, sedangkan individu dengan konsep diri positif cenderung berpikir dan berperilaku baik. Oleh karena itu, untuk dapat menghasilkan pola perilaku, pola interaksi, dan pola pikir yang baik, diperlukan adanya konsep diri yang positif. Masa remaja yang merupakan masa transisi menjadi waktu yang strategis untuk dapat membentuk konsep diri positif. Oleh karena para remaja masih merasa bingung tentang siapa dirinya, maka akan menjadi mudah bagi guru atau

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 orangtua untuk mengarahkannya ke konsep diri positif. Bagi remaja, masa remaja ibaratkan kertas kosong yang masih bingung untuk diisi dengan gambar seperti apa. Pada masa ini mudah bagi guru maupun orangtua untuk mengajarkan pada remaja untuk menulis hal-hal positif pada kertas kosong tersebut. Selain itu, hasil penelitian yang telah dipaparkan pada Bab III menyatakan bahwa hasil belajar PAK memiliki hubungan positif dengan konsep diri. Dengan kata lain PAK memiliki peran yang dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa membangun konsep diri positif. Dari hal tersebut munculah gagasan untuk memberikan suatu usulan program untuk meningkatkan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Alasan katekese umat model Shared Christian Praxis dipilih sebagai alternatif program adalah karena katekese ini lebih menekankan proses dan aksi nyata yang dapat dilakukan oleh peserta. Katekese umat model Shared Christian Praxis memiliki banyak manfaat peserta. Selain menekankan adanya aksi nyata sebagai bentuk pertobatan, katekese ini juga menekankan proses dialog antar peserta katekese. Melaui dialog antar peserta, siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta juga dapat belajar pola komunikasi yang baik. Komunikasi yang memungkinkan peserta untuk memupuk rasa percaya diri untuk mengeluarkan pendapat melalui sharing, juga belajar mendengarkan pendapat orang lain. Masih banyak kelebihanlain yang dapat diperoleh melalui proses Shared Christian Praxis. B. Alasan Pemilihan Tema Tema yang diusung dalam satuan pertemuan katekese merupakan pengembangan dari materi ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Sekolah Menengah Pertama yaitu ‘Aku Diciptakan sebagai Perempuan atau Lakilaki’. Alasan dari pemilihan tema ini adalah agar peserta mendapat kesempatan untuk semakin mendalami materi ajar di luar proses belajar-mengajar di kelas. Adanya keterbatasan waktu kegiatan belajar-mengajar di kelas dapat menyebabkan peserta kurang mendalami materi ajar dan cenderung menyentuh sisi kognitif siswa saja. Selain itu, pemilihan tema yang sama dengan materi ajar Pendidikan Agama Katolik dimaksudkan untuk membentuk keselarasan tema materi ajar di kelas dengan materi katekese.Selain itu, materi ini berpusat pada pribadi peserta didik yang bertujuan untuk perkembangan peserta didik secara lebih baik. Oleh karena itu, materi ini dirasa cocok untuk dijadikan tema dalam program ini sebagai upaya meningkatkan konsep diri peserta didik. C. Rumusan Tema dan Tujuan Adapun rumusan tema dan tujuan dari program Shared Christian Praxis yang diusulkan dalam usulan program adalah sebagai berikut: Tema Umum : Syukur atas hidup sebagai perempuan atau laki-laki dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang secitra Allah. Tujuan Umum : Peserta memahami dan menyadari bahwa dirinya diciptakan sebagai citra Allah, baik sebagai perempuan maupun laki-laki yang memiliki kelebihan dan keterbatasan, sehingga mampu mensyukuri hidupnya demi pengembangan diri secara lebih baik.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66  Tema 1 : Menyadari anugerah Tuhan yang berupa talenta-talenta yang ada dalam diri. Tujuan 1 : Bersama pendamping, peserta semakin peka akan talenta-talenta yang dimiliki sebagai anugerah dari Tuhan, sehingga peserta semakin terdorong untuk menggunakan kemampuannya untuk menolong sesama.  Tema 2 : Menyadari bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dalam dirinya. Tujuan 2 : Bersama pendamping, peserta semakin mampu menyadari dan menerima keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam dirinya, sehingga mampu mawas diri.  Tema 3 : Menyadari bahwa setiap manusia diciptakan menurut citra Allah yang memiliki martabat luhur. Tujuan 3 : Bersama pendamping, peserta menyadari bahwa dirinya diciptakan secitra dengan Allah yang bermartabat luhur, sehingga peserta mampu memandang positif terhadap dirinya.  Tema 4 : Menyadari akan makna hidup sebagai anugerah dari Allah. Tujuan 4 : Bersama pendamping, peserta mampu menyadari bahwa kehidupan yang diterimanya sampai saat ini adalah anugerah dari Allah, sehingga peserta dengan rendah hati mau mengembangkan sikap syukur pada Allah.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 D. Petunjuk Pelaksanaan Program Ada satu tema umum yang diangkat yaitu ‘Syukur atas hidup sebagai perempuan atau laki-laki dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang secitra Allah’. Tema tersebut memiliki tujuan agar peserta memahami dan menyadari bahwa dirinya diciptakan sebagai citra Allah, baik sebagai perempuan maupun laki-laki yang memiliki kelebihan dan keterbatasan, sehingga mampu mensyukuri hidupnya demi pengembangan diri secara lebih baik. Untuk memudahkan terlaksananya tema dan tujuan umum, penulis menjabarkannya ke dalam empat tema dan tujuan yang lebih spesifik. Harapannya, dengan tema yang lebih spesifik maka peserta akan lebih memahami dan memahami tema dan tujuan umum. Selain itu, dengan tema dan tujuan yang spesifik maka peserta terbantu untuk membuat bentuk pertobatan dan pelaksanaan aksi yang lebih konkrit. Keempat tema tersebut hendaknya habis untuk dilaksanakan dalam satu semester dengan jarak waktu yang sama, misalnya sebulan sekali dan satu pertemuan hanya mendalami satu tema. Pelaksanaan program ini hendaknya dilakukan di luar proses belajar mengajar di kelas, agar tidak mengganggu proses kegiatan belajar-mengajar mata pelajaran PAK. Agar terjadi kesinambungan, maka keeempat tema tersebut alangkah baiknya dilaksanakan secara berurutan. Katekese umat model Shared Christian Praxis merupakan katekese yang menekankan dialog dan partisipasi aktif dari peserta. Oleh karena itu penting kiranya bagi pendamping untuk dapat menjadi fasilitator yang baik, sehingga proses katekese tidak hanya didominasi oleh sedikit peserta. Ada lima langkah yang harus dilalui dalam proses katekese model Shared Christian Praxis, yaitu

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 mengungkap pengalaman iman peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman kristiani, menerapkan iman kristiani dalam situasi peserta konkrit, dan mengusahakan aksi konkrit. Kelima langkah tersebut harus dilakukan secara berurutan, tidak boleh dibolak-balik karena merupakan satu rangkaian yang bekesinambungan. Durasi waktu yang ideal bagi sebuah satuan program Shared Christian Praxis kurang lebih 60 hingga 90 menit. Tujuannya adalah agar proses katekese berjalan efektif. Durasi waktu yang terlalu lama dapat membuat peserta bosan dan tidak fokus. Oleh karena itu, pendamping diperbolehkan untuk menggunakan sarana-sarana pembantu seperti cerita, video, lagu, puisi, dan sebagainya. Saranasarana tersebut digunakan untuk membantu menarik perhatian dan pemahaman peserta. Namun, pendamping harus mempertimbangkan lama waktu yang akan terjadi jika menggunakan sarana-sarana tersebut. Hal yang tak kalah penting dari katekese model Shared Christian Praxis adalah pendamping harus mampu membuat peserta berkomitmen untuk membuat aksi nyata yang akan dilakukan setelah proses katekese. Aksi nyata tersebut harus sesuai dengan tema dan tujuan katekese. Secara keseluruhan, katekese umat model Shared Christian Praxis merupakan model katekese yang menarik. Kreatifitas dan kemampuan pendamping sebagai fasilitator sangat menentukan kualitas proses katekese. Pendamping harus peka terhadap situasi, jika peserta sudah mulai tidak fokus maka pendamping boleh melakukan improvisasi. Oleh karena itu, penting kiranya bagi pendamping untuk mempersiapkan secara matang dan baik. Hal ini perlu dilakukan agar pendamping dapat memandu jalannya katekese dengan baik.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 E. Contoh Satuan Program Shared Christian Praxis 1. Identitas Satuan Program Shared Christian Praxis a. Tema : Menyadari anugerah Tuhan yang berupa talenta-talenta yang ada dalam diri. b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta semakin peka akan talentatalenta yang dimiliki sebagai anugerah dari Tuhan, sehingga peserta semakin terdorong untuk menggunakan kemampuannya untuk menolong sesama. c. Peserta : Siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta d. Tempat : SMP Marsudi Luhur Yogyakarta e. Hari/tanggal : Jumat, 9 Januari 2015 f. Waktu : Pukul 13.00-14.30 WIB g. Metode : - Sharing - Refleksi Pribadi - Tanya Jawab - Informasi - Permainan h. Model : Shared Christian Praxis i. Sarana : - Permainan ‘Kado untuk Teman’ - Teks fotocopy kutipan Mat 25:14-30 - Kitab Suci Perjanjian Baru - Kertas - Rafia - Spidol

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 j. Sumber bahan : - Mat 25:14-30 - Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius. Hal 520-528. 2. Pemikiran Dasar Dalam kehidupan kita sehari-hari kadang kita merasa bingung dengan diri kita sendiri, kita tidak memahami diri kita sendiri, juga ada pula yang tidak menyadari talenta yang ada dalam diri sendiri. Di sisi lain, ada pula orang-orang yang sudah mampu mengetahui talenta yang dimiliki, namun ia tidak mengembangkannya, tidak menggunakannya untuk menolong sesama, tetapi justru menyembunyikannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain ada yang merasa takut orang lain akan lebih unggul darinya dan menjadi pesaingnya, namun ada pula yang merasa kurang percaya diri untuk mengaplikasikan talenta yang dimilikinya. Tanpa disadari, ketakutan-ketakutan tersebut dapat menyebabkan talenta yang kita miliki menjadi padam. Talenta yang kita miliki justru akan berkembang jika digunakan untuk menolong sesama. Dalam Mat 25:14-30 menceritakan sebuah perumpamaan mengenai talenta. Perikop tersebut menguraikan cerita tentang seorang tuan yang mempercayakan beberapa talenta kepada hambanya dengan jumlah yang berbedabeda. Dari beberapa hamba yang menerima talenta tersebut, ada yang mengembangkannya dan ada pula yang memendamnya. Perikop tersebut menyampaikan bahwa barangsiapa mengembangkan talentanya maka akan ditambahkan lagi secara lebih, sedangkan barangsiapa yang memendamnya maka diambil semua daripadanya. Hal tersebut dilakukan agar hamba-hamba tersebut

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 melakukan pengabdian dengan talentanya. Sabda Tuhan dapat dan semestinyalah menjadi teguran bagi kita agar kita mau mengembangkan dan kemampuan atau potensi kita untuk hal yang baik. Dari pertemuan ini, harapannya siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta dapat menemukan kemampuan dan potensi yang ada dalam diri. Kita juga berharap bahwa siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tidak akan ragu lagi untuk menggunakan kemampuan atau potensi yang kita miliki untuk membantu sesama kita seperti yang diajarkan Tuhan dalam perumpaannya di Kitab Suci. Kita biarkan Sabda Tuhan ikut memperbarui hidup kita dengan memuliakan Allah setiap hari. 3. Pengembangan Langkah-langkah a. Pembukaan 1) Pengantar Siswa-siswi SMP Marsudi Luhur yang terkasih dalam Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali tidak menyadari akan talenta-talenta yang kita miliki. Kadang kita juga enggan untuk menolong orang lain dengan telenta-talenta yang kita miliki. Kita terlalu takut akan banyak hal, tidak percaya diri, takut jika orang yang kita bantu akan menjadi lebih pintar dari kita. Pada siang ini kita bersama-sama akan mendalami sabda Tuhan dalam Mat 25:14-30 yang di dalamnya terdapat perumpamaan tentang hamba-hamba yang menerima talenta. Ada yang mengembangkannya namun ada pula yang memendamnya. Melalui perumpaan tersebut Tuhan ingin mengingatkan kita tentang talenta-talenta yang kita miliki. Sehingga pada akhirnya siswa-siswi

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 SMP Marsudi Luhur Yogyakarta semakin mampu menyadari talenta-talenta yang ada dalam diri dan mau menggunkannya untuk menolong sesama kita. 2) Lagu Pembuka: Lagu ‘Burung Pipit yang Kecil’ 3) Doa Pembuka: Tuhan Yesus yang baik, kami berterima kasih kepada-Mu karena siang hari ini kami dapat berkumpul bersama di sini. Ampuni kami ya Tuhan karena kami seringkali tidak menyadari talenta-talenta yang kami miliki. Kami bahkan urung untuk membantu orang-orang yang membutuhkan kami dengan talenta-talenta yang kami miliki. Saat ini melalui sabda-Mu dalam Mat 25:1430 kami ingin menggali dan merefleksikan sejauh mana kami menyadari bahwa kami memiliki talenta yang harus kami kembangkan dan gunakan untuk menolong sesama kami. Bimbinglah kami ya Tuhan, agar kami para siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta semakin semakin tergugah untuk mengembangkan talenta yang dimilikinya untuk menolong sesama kami. Kami persembahkan segala pembicaraan kami saat ini kepada-Mu, semoga Engkau berkenan memberkati dan menyemangati kami agar pendalaman iman ini menjadi lebih hidup, karena Engkaulah sang tuan yang empunya talenta dalam diri kami. Amin. b. Langkah I: Mengungkap pengalaman iman peserta 1) Game: ‘Kado untuk Teman’ [Lampiran 10: (1)]  Pendamping mengumpulkan peserta di aula/taman/tempat yang luas  Pendamping membagikan kertas yang diikat dengan tali rafia sehingga bisa dikalungkan dan spidol. Pendamping memaparkan aturan permainan: Peserta

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 diminta mengalungkan kertas di leher, lalu kertasnya ditaruh di punggung. Setelah itu mintalah teman-temanmu untuk menulis talenta-talenta yang ada pada dirimu tanpa menyebutkan siapa nama yang menulis. 2) Intisari permainan tersebut adalah untuk menyadari talenta-talenta yang kita miliki dengan bantuan teman lain. Kadang kita tidak yakin dan kuran percaya diri akan kemampuan-kemampuan yang kita miliki, oleh karena itu kita saling membantu dengan teman kita untuk menemukan talenta-talenta yang dimilikinya. 3) Pengungkapan pengalaman: Peserta diajak mensharingkan hasil permainan. - Talenta-talenta apa saja yang kamu miliki berdasarkan pendapat temanmu yang tertulis di kertasmu? Berapa jumlahnya? 4) Suatu contoh arah rangkuman: Dalam permainan tadi kita saling membantu dengan teman kita untuk menemukan ktalenta-talenta yang kita miliki. Dengan bantuan teman, kita jadi lebih memahami diri kita. Antara teman yang satu dan yang lainnya ada yang memiliki talenta-talenta yang sama, namun ada pula yang berbeda. Ada yang memiliki talenta di bidang seni, mata pelajaran, karakter, dan lain-lain. Antara teman yang satu dan yang lainnya pun jumlahnya berbeda-beda. Ada yang banyak, dan ada pula yang merasa sedikit. Tentu kita semua merasa senang, bangga, dengan kemampuan-kemampuan yang kita miliki. c. Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta 1) Peserta diajak merefleksikan sharing pengalaman hidup yang telah diungkapkan dalam langkah I dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut:

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 - Apakah selama ini kamu sudah mengembangkan, menggunakan talenta-talentamu dengan? Mengapa? 2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arahan rangkuman singkat, misalnya: Dari bermacam-macam talenta kita yang telah disebutkan oleh teman kita, ternyata ada teman kita yang sudah mengembangkan talentatalentanya untuk menolong orang lain namun ada pula yang belum. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi mengapa kita masih enggan menggunakan talenta kita untuk menolong teman kita. Diantara kita masih ada yang merasa tidak percaya diri, adapula yang merasa takut tersaingi. Misalnya, ada yang pintar pelajaran matematika tetapi tidak mau membantu temannya yang kurang pandai dalam pelajaran matematika karena takut tersaingi kepandaiannya. d. Langkah III: Menggali pengalaman kristiani 1) Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan perikope langsung dari Kitab Suci Injil Mat 25:14-30, sedangkan peserta lain menyimak. 2) Peserta diberi waktu hening sejenak untuk secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut: - Ayat mana yang mengesan bagi kalian berkaitan dengan berkaitan dengan talenta? Apa maksud dari ayat tersebut? - Manakah pesan inti yang mau disampaikan oleh Yesus dari teks Mat 25:14-30 sehubungan dengan talenta?

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 3) Peserta diajak untuk terlebih dahulu mengungkapkan dalam pleno hasil renungan pribadi sehubungan dengan dua pertanyaan diatas. Dalam perikop ini, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpaan tentang talenta. Ada seorang tuan akan menempuh perjalanan yang jauh. Tuan tersebut mempercayakan talenta-talenta kepada ketiga hambanya. Oleh karena talenta tersebut dipercayakan dan bukan diberikan, maka yang menerima wajib mengolahnya dan memeliharanya dengan baik (ay. 14). Masing-masing hamba mendapatkan jumlah talenta yang berbeda-beda. Hamba pertama mendapat lima talenta, hamba kedua mendapat dua talenta, dan hamba ketiga mendapat satu talenta. Perbedaan jumlah pemberian talenta tidak dimaksudkan untuk memperlakukan secara tidak adil, melainkan perbedaan jumlah tersebut terjadi karena kesanggupan/kekuatan masing-masing hamba berbeda. Ada yang mampu memelihara banyak, ada yang mampu memlihra sedikit (ay. 15). Setelah mendapat talenta-talenta tersebut, hamba yang menerima lima talenta tersebut menjalankan talentanya dan mendapat laba lima talenta. Begitu pula dengan hamba yang menerima dua talenta juga menjalankan talentanya dan memperoleh laba dua talenta. Namun, pada hamba yang menerima satu talenta justru menguburkan talentanya sehingga tidak berbuah. Masing-masing hamba memiliki pilihan ingin berbuat apa terhadap talenta yang diterimanya. Ada yang memilih untuk mengembangkannya sehingga beroleh laba, namun ada yang memilih untuk menguburnya dan tidak mendapat laba sama sekali (ay. 16-18).

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Suatu ketika tuan tersebut kembali dari perjalanannya, dan ia mengajak para hamba untuk melakukan perhitungan akan talenta-talenta yang telah ia percayakan pada mereka (ay. 19). Dari ayat 20-26 menggambarkan adanya dua sikap berbeda terhadap talenta tersebut. Ada hamba yang bertanggungjawab dan mengembangkannya sehingga menghasilkan laba, namun ada pula yang tidak berbuat apa-apa sehingga tidak beroleh laba. Hamba yang pertama melaporkan kepada tuannya bahwa ia telah mengelola lima talenta yang dipercayakan padanya menjadi sepuluh talenta. Melihat hal tersebut, tuan pun merasa senang. Hamba yang pertama tersebut pun diberi tanggungjawab yang lebih besar karena telah berhasil dipercaya dalam perkara kecil. Keberanian hamba pertama untuk mengembangkan lima talenta yang dimilikinya menjadi sepuluh talenta merupakan hal yang baik, sehingga ia pun dipercaya untuk menerima yang lebih besar. Oleh karena perbuatan baiknya, maka hamba tersebut beroleh kebahagiaan (ay. 20-21). Selanjutnya hamba kedua yang melaporkan laba yang ia peroleh. Dari dua talenta yang dipercayakan kepadanya, ia mengelolanya dan beroleh laba dua talenta. Maka sang tuan pun mengapresiasi hambanya tersebut, ia mengatakan bahwa hamba tersebut adalah hamba yang baik dan setia. Ayat 22 dan 23 ini menggambarkan bahwa kebaikan dan kesetiaan seseorang akan talenta yang dipercayakan padanya adalah dengan mengelolanya sehingga beroleh laba. Hamba tersebut pun diajak ikut serta dalam kebahagiaannya tuannya serta dipercayakan kepadanya perkara yang lebih besar. Hal ini tak lain oleh karena jerih payah yang telah dilakukannya dalam mengelola talenta yang dipercayakan padanya.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Pada hamba yang ketiga, terjadi perbedaan sikap begitu mencolok dari hamba pertama dan kedua. Hamba yang ketiga hanya menyerahkan satu talenta saja, tanpa laba. Ia justru menilai bahwa tuannya itu kejam karena sudah menuai tanpa menabur, dan memungut tanpa menanam. Dari pernyataan hamba ketiga, rupanya hamba ketiga tidak memahami maksud tuannya mempercayakan satu talenta itu padanya (ay. 24). Oleh karena itu ia pun hanya menguburkan talenta yang diberikan kepadanya. Kemudian ia menyerahkan kembali talenta tersebut sesuai dengan jumlah yang diberikan oleh tuannya. Hal tersebut mengundang kemarahan dan kekecewaan tuannya. Sikap hamba yang ketiga tersebut menunjukkan bahwa ia malas, ia tidak mampu dipercaya dalam perkara yang kecil (ay. 25-26). Secara keseluruhan, perikop ini menceritakan tentang seorang tuan yang mempercayakan talenta-talenta kepada ketiga hambanya. Hamba yang pertama dan kedua mampu mengembangkan talentanya, sehingga tuannya pun merasa senang dan kedua hamba tersebut beroleh kebahagiaan dan dipercaya untuk perkara yang lebih besar. Di sisi lain, hamba yang ketiga justru mengubur talentanya sehingga talentanya tidak berkembang. Perbuatan hamba ketiga ini membuat sang tuan marah dan kecewa. Sang tuan mengatakan bahwa hamba ketiga malas lalu mengambil seluruh talenta yang dimiliki hamba ketiga. Inti dari perikop ini terdapat pada ayat 29, ayat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa barangsiapa yang punya dari padanya akan ditambahkan, sedangkan barangsiapa tidak mempunyai maka dari padanya akan diambil. Hal itulah yang terjadi pada ketiga hamba dalam perumpaan. Hamba pertama

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 yang memiliki laba lima talenta pada akhirnya diberi kepercayaan yang lebih oleh tuannya, begitu pula pada hamba yang kedua. Kedua hamba tersebut mampu mengelola dan mengembangkan apa yang ia miliki. Pada hamba ketiga yang malas dan takut rugi justru diambilah talentanya. Hamba ketiga menunjukkan sikapnya yang tidak mampu dipercaya dan malas untuk mengembangkan apa yang ia miliki. Perikop ini memuat pengajaran bahwa Tuhan menganugerahkan talenta kepada setiap manusia. Perbedaan jumlah talenta antara manusia yang satu dengan yang lain disebabkan oleh kesanggupan masing-masing orang yang berbeda. Ini merupakan gambaran bahwa Tuhan sangat mengenal manusia. Bagi orang yang mau mengembangkan talentanya maka talentanya pun akan bertambah. Sedangkan bagi orang yang malas dan takut rugi, yang tidak mau mengembangkan talentanya maka akan hilanglah talenta yang dimilikinya. Pada akhirnya itu adalah pilihan manusia untuk terus mengembangkan talentanya atau tidak, dengan konsekuensi bekal talenta itu akan bertambah atau justru hilang. Berbagi kemampuan, menolong orang lain dengan talenta yang dimiliki akan membuat talenta yang sudah dimiliki semakin berkembang. e. Langkah IV: Menerapkan iman kristiani dalam situasi peserta konkrit 1) Pendamping mulai mengawali langkah ini dengan menempatkan peserta dalam konteks dan situasi pertemuan, serta menerapkan pesan inti Kitab Suci dalam pengalaman, kebutuhan dan situasi konkrit peserta sesuai dengan tema dan tujuan katekese ini, misalnya sebagai berikut:

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Pada siang hari ini kita diingatkan lagi oleh perumpamaan Yesus tentang talenta dalam Injil Matius. Kita diingatkan bahwa Tuhan mempercayakan talenta pada masing-masing dari kita. Dimana talenta yang dipercayakan pada kita adalah untuk kita kembangkan agar memperoleh laba, yang mana laba tersebut adalah untuk diri kita sendiri. Bagi orang yang malas dan tidak mau mengembangkan talentanya, maka akan diambilah talenta tersebut dari kita. Pada awal pertemuan, kita sudah sama-sama saling menunjukkan talenta yang dimiliki oleh teman kita maupun diri kita sendiri. Siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta ternyata juga diberi talenta oleh Tuhan. Namun, ternyata kita masih bersikap seperti hamba yang ketiga. Kita bukannya mengembangkan talenta yang kita miliki, tetapi justru menguburnya, mendiamkannya. 2) Sebagai bahan refleksi untuk semakin menghayati bahwa kita mempunyai talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk kita kembangkan, dalam suasana hening secara pribadi mari kita renungkan pertanyaan berikut: - Sikap apa yang ingin kalian ambil atas talenta-talenta yang Tuhan percayakan pada kalian guna menolong sesama? 3) Contoh suatu arah rangkuman penerapan pada situasi peserta: Pada siang hari ini, Yesus melalui sabda-Nya sungguh ingin mengingatkan kepada kita bahwa Ia mempercayakan talenta-talenta pada kita. Menerima anugerah talenta memang tidak mudah, karena kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkannya. Meskipun begitu, para siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta adalah pribadi yang hebat karena kalian mampu untuk memilih memilih mengembangkan talenta kalian dengan cara menolong

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 sesama. Misalnya untuk mengajari teman yang kesulitan dalam pelajar. Dengan menggunakan talenta yang kita miliki untuk menolong sesama, maka secara tidak langsung talenta kita pun akan berkembang. f. Langkah V: Mengusahakan aksi konkrit 1) Pengantar Siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta yang dikasihi Tuhan, pada awal pertemuan kita telah bermain ‘Kado untuk Teman’, saling menunjukkan talenta-talenta yang ada dalam diri kita semua. Sekarang kita bersama-sama menjadi tahu talenta yang kita miliki. Ada yang talentanya sama, ada pula yang berbeda. Namun tidak semua dari kita menggunakan talenta yang dimilikinya untuk menolong sesama. Padahal, Yesus melalui sabda-Nya dalam Mat 25:14-30 mengajarkan kita untuk mengembangkan talenta yang kita miliki. Kisah dari hamba-hamba tadi bisa menjadi gambaran bahwa sebagai manusia yang baik dan setia hendaklah mengembangkan talentanya, bukan menguburkannya. Menggunakan talenta yang kita miliki untuk menolong orang lain merupakan salah satu cara untuk mengembangkan talenta yang kita miliki. Untuk itu, marilah kita memikirkan niat-niat yang dapat kita lakukan sebagai siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta untuk semakin mengembangkan telenta yang dimiliki terutama dengan cara menolong sesama kita yang membutuhkan. 2) Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibata kita yang baru (pribadi, kelompok, atau bersama) untuk semakin mengembangkan talenta-talenta siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Berikut pertanyaan panduan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 untuk membantu peserta membuat niat-niat: - Tindakan konkrit apa yang hendak diperbuat agar kamu dapat menolong sesamamu yang membutuhkan dengan talenta-talenta yang sudah dipercayakan Tuhan kepada siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta? 3) Peserta diberi kesempatan memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan dalam suasana hening. 4) Niat-niat pribadi diungkapkan dalam kelompok maupun sendiri-sendiri untuk saling meneguhkan. Kemudian pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama guna menentukan niat bersama yang konkrit, yang dapat segera diwujudkan agar mereka semakin memperbarui sikap bersama/kelompok untuk mengembangkan talenta yang dimiliki. g. Penutup 1) Pendamping menempatkan salib dan lilin di tengah-tengah peserta sehingga semua orang dapat melihatnya, lalu lilin dinyalakan. 2) Kesempatan doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan dengan situasi yang ada di SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh peserta lain dan ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan langkah dalam Shared Christian Praxis ini. 3) Doa penutup: Tuhan Yesus yang baik, hari ini kami siswa-siswi SMP Marsudi Luhur Yogyakarta telah menyadari bahwa kami memiliki talenta dalam diri kami.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Kami bersyukur kepada-Mu karena Kau mempercayakan talenta-talenta kepada kami. Namun kami memohon ampun ya Tuhan, karena kami masih belum menggunakan talenta yang kami miliki untuk menolong sesama kami yang membutuhkan. Kami berterimakasih pada-Mu Tuhan karena melalui sabda-Mu dalam Injil Matius 25:14-30, Kau ketuk hati kami agar kami mau mengembangkan talenta yang kami miliki. Dampingilah hidup kami ya Tuhan, agar kami selalu ingin menggunakan talenta yang kami miliki untuk menolong sesama kami. Berkatilah dan restuilah niat-niat kami dalam menggunakan talenta kami untuk menolong sesama kami. Doa ini kami haturkan kepada-Mu karena Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin. 4) Lagu penutup: Lagu ‘Hatiku Bersukaria’ (Puji Syukur No. 674)

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dimana seorang remaja mulai diarahkan untuk membentuk konsep diri. Konsep diri merupakan pandangan individu mengenai dirinya. Oleh karena itu, pada masa ini, seorang remaja sangat membutuhkan pendampingan dari orangtuanya. Namun yang terjadi tidak semua remaja mendapat pendampingan yang memadai dari orangtuanya. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal selain mengembangkan aspek akademik ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan kepribadian peserta didik. Pengembangan kepribadian peserta didik salah satunya ditempuh melalui Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Katolik memiliki empat aspek pembelajaran yaitu, pribadi peserta didik, Yesus Kristus, Gereja, dan masyarakat. Pada aspek peserta didik, kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah agar siswa mengenali dirinya dan menyadari kelebihan serta kelemahannya, sehingga siswa mampu mensyukuri hidupnya. Rasa puas dan bersyukur merupakan modal awal yang baik bagi pembentukan konsep diri positif. Seorang individu akan mampu memandang dirinya secara positif jika ia merasa puas dan bersyukur terhadap kondisi dirinya. Ukuran pencapaian kompetensi dasar mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik bagi siswa adalah hasil belajar yang berupa nilai. Nilai yang diperoleh siswa menggambarkan tingkat keberberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi dasar.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Berdasarkan data penelitian, hasil belajar siswa kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 memiliki predikat amat baik dan baik. Selain itu, mereka juga memiliki konsep diri dengan kualifikasi tinggi dan sedang. Setelah dilakukan analisis data penelitian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar PAK memiliki korelasi positif dengan konsep diri siswa. Nilai korelasi hasil belajar PAK dengan konsep diri dalam penelitian ini adalah 0,372. Dari hasil penelitian tersebut, penulis memberikan usulan program sebagai upaya peningkatan konsep diri siswa SMP Marsudi Luhur Yogyakarta. Program yang diusulkan berupa katekese umat model Shared Christian Praxis. Tema dan tujuan yang diusung merupakan pengembangan dari materi ajar PAK Sekolah Menengah Pertama pada kelas VII semester I. Tema ini dipilih karena sesuai untuk diterapkan dalam usaha pembentukan konsep diri positif. B. Saran 1. Untuk Siswa Kelas VII dan VIII SMP Marsudi Luhur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Para siswa diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasinya, khususnya dalam mata pelajaran PAK. Selain itu, para siswa juga diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan konsep diri positif yang sudah tertanam dalam diri masing-masing siswa. 2. Untuk SMP Marsudi Luhur Yogyakarta Oleh karena ada faktor lain yang mempengaruhi konsep diri siswa, maka perlu kiranya pihak sekolah meningkatkan kerjasama terhadap pihak-pihak terkait

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 baik di dalam maupun luar sekolah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pihak-pihak terkait, sehingga para siswa mendapat pendampingan yang semakin utuh. 3. Untuk Guru Pendidikan Agama Katolik Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara hasil belajar PAK dengan konsep diri, maka perlu kiranya bagi guru-guru PAK untuk meningkatkan efektivitas proses belajar-mengajar PAK. Harapannya kualitas proses belajar-mengajar yang semakin baik dan mendalam dapat semakin efektif untuk membangun konsep diri siswa. 4. Untuk Penelitian Selanjutnya Penelitian ini tidak melakukan penelitian mengenai faktor-faktor lain selain pengaruh mata pelajaran PAK, misalnya faktor keluarga, agama, dan sosial. Hal tersebut menjadikan penelitian ini kurang mendalam dan komprehensif. Oleh karena itu, perlu kiranya untuk penelitian yang selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor yang lainnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil penelitian yang semakin mendalam.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agoes Dariyo. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia. Dapiyanta, FX. (2008). Pendidikan Agama Katolik pada Tingkat Pendidikan Dasar. Diktat Mata Kuliah PAK Pendidikan Dasar untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Feist, J. & Feist, G.J. (2011). Teori Kepribadian: Theories of Personality (Handriatno, Penerjemah). Jakarta: Salemba Humanika. (Buku asli diterbitkan pada tahun 2006). Galuh Sekardita Buana Candra Murti. (2013). Hubungan antara Kematangan Beragama dengan Konsep Diri Para Remaja yang Menjadi Narapidana. Skripsi Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Groome, Thomas H. (2010). Christian Religious Education-Pendidikan Agama Kristen: Berbagi Cerita dan Visi Kita (Daniel Stefanus, Penerjemah). Jakarta: Gunung Mulia. Gulo, W. (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta: Grasindo. Hasballah M. Saad. (2003). Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU DKI Jakarta. Yogyakarta: Galang Press. Humas BKKBN. http:// www.bkkbn.go.id/ ViewSiaranPers.aspx? SiaranPersID= 36. accessed on November 10, 2013 Hurlock, Elizabeth B. (1898). Personality Development. New York: McGrawHill, Inc. Komisi Kateketik KWI. (2007a). Buku Guru 1: Persekutuan Murid-murid Yesus Pendidikan Agama Katolik SMP. Yogyakarta: Kanisius. . (2007b). Silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Liturgi KWI. (1992). Puji Syukur. Jakarta: Penerbit Obor. Kristianto, Yoseph. (2013). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Diktat Mata Kuliah PAK Pendidikan Menengah untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kurniawan, Nicholas. (2000). Membangun Konsep Diri Berdasarkan Firman Tuhan. Malang: Veritas. Kusaeri. & Suprananto. (2012). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius. Lodico, Marguerite D., Spaulding, Dean T., Voegtle, Katherine H. (2006). Methods in Educational Research. San Fransisco: John Willer & Sons. Inc.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Nawari. (2010). Analisis Regresi dengan Ms. Excel 2007 dan SPSS 17. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Pudjijogyanti, Clara R. (1985). Konsep Diri dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penelitian Unika Atma Jaya. Pusat Bahasa Kemdiknas. http://www.bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. accessed on July 1, 2014. Saifuddin Azwar. (2007). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Santrock, John W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (Shinto B. Adelar & Sherly Saragih, Penerjemah). Jakarta: Erlangga. (Buku asli diterbitkan pada tahun 1996). . (2012). Life-Span Development - Perkembangan Masa Hidup: Jilid I, Edisi ketigabelas. (Benedictine Widyasinta, Penerjemah). Jakarta: Erlangga. (Buku asli diterbitkan pada tahun 2011). Semiun, Yustinus. (2006). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius. Sevilla & Consuelo D. (1992). Research Method: Revised Edition. Philippine: Rex Book Store, Inc. Singgih Santoso. (2010). Statistik Multivariat. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Sugiyarto. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/07/13/ 124082/ Kenakalan-Remaja-di-Indonesia-Sudah-Sangat-Parah. Accessed on November 10, 2013. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sumarno. (2013). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah PPL PAK Paroki untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suparno, Paul. (2010). Pengantar Statistika untuk Pendidikan dan Psikologi. Diktat Mata Kuliah Statistika untuk Mahasiswa Semester II, Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tim MGBK. (2010). Bahan Dasar untuk Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Menengah Jilid 1. Jakarta: Grasindo.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4: Kisi-kisi KISI-KISI No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Pernyataan Saya merasa diri saya menarik. Orang lain memberikan kesan yang baik terhadap penampilan saya. Saya lebih menginginkan penampilan yang menarik daripada kesehatan dan kenyamanan. Saya berpenampilan baik supaya orang lain memperhatikan saya. Saya merasa puas dengan penampilan saya. Saya merasa marah ketika orang lain mengejek penampilan saya. Saya kurang percaya diri jika tidak mengikuti perkembangan gaya baju, rambut, sepatu, dan lainlainnya. Penampilan yang baik membuat saya lebih percaya diri. Saya rela tidak jajan karena uang saku saya gunakan untuk membeli aksesoris. Saya tidak yakin jika orang lain akan tertarik dengan penampilan saya. Saya menggunakan kemampuan yang saya miliki secara maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di sekitar saya. Saya akan meminta bantuan orang lain jika saya merasa sudah tidak mampu. Saya lebih suka mengerjakan tugas secara individu daripada berkelompok. Saya berani menegur orang lain yang melanggar peraturan. Saya biasanya menyerah ketika berhadapan dengan kesulitan. Kegagalan yang saya alami membuat saya takut untuk mencoba lagi. Saya bisa saja berbohong supaya tidak mendapatkan hukuman. Saya tidak peduli dengan kesalahan orang sejauh itu tidak merugikan saya. Saya bisa membatalkan janji yang saya buat ketika saya menemukan hal lain yang lebih menarik bagi saya. Saya merasa bangga dengan keadaan diri saya. 7 Keterangan KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. c

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Pernyataan Saya merasa puas dengan pencapaian saya selama ini. Saya menyaring pendapat orang lain yang menjelekjelekkan saya. Saya merasa orang lain layak untuk menghargai saya. Saya menanggapi pujian dari orang lain tanpa rasa malu. Saya merasa malu jika membicarakan kekurangan yang saya miliki. Saya merasa kesulitan untuk menerima kondisi saya saat ini. Saya merasa kurang nyaman jika ada orang lain mengetahui kelemahan saya. Kritikan dari orang lain mengenai diri saya membuat saya kurang percaya diri. Saya tidak merasa bersalah jika saya tidak bisa mencapai target yang sudah saya tetapkan. Saya menyadari kelebihan yang ada dalam diri saya. Saya yakin saya memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita saya. Saya menyadari kekurangan yang ada dalam diri saya. Saya merasa saya adalah pribadi yang unik. Saya percaya diri ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Rintangan yang saya hadapi dalam mewujudkan cita-cita membuat saya ingin menyerah. Saya merasa kesulitan untuk menemukan kelebihan yang ada dalam diri saya. Saya merasa diri saya buruk jika tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain. Saya merasa apa yang terdapat pada orang lain lebih baik dari saya. Saya berlarut-larut memikirkan kesalahan yang saya lakukan. Saya melakukan saran yang diberikan orang lain yang berguna untuk perbaikan diri saya. Saya memiliki cita-cita/impian/harapan yang harus saya perjuangkan. Saya yakin bisa menjadi lebih baik dari diri saya saat ini. Kekurangan saya tidak menghalangi saya untuk bercitacita setinggi mungkin. Cita-cita yang saya miliki memotivasi saya dalam hidup sehari-hari. Saya merasa terbebani akan target-target dalam hidup saya. Saya merasa akan gagal dalam meraih cita-cita saya. Kekurangan saya menghambat saya untuk berpikir maju. 8 Keterangan KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Pernyataan Saya merasa tidak percaya diri dalam menentukan harapan/cita-cita saya di masa depan. Saya merasa ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Saya tidak membiarkan orang lain meragukan kemampuan saya. Saya menerima kritikan dari orang lain sebagai sarana untuk membangun diri saya. Penilaian orang lain tentang diri saya sangat mempengaruhi penilaian saya terhadap diri saya sendiri. Saya mampu menghargai apa yang ada pada diri saya. Saya mensyukuri hidup saya sekarang. Saya merasa apa yang saya lakukan serba salah. Saya merasa saya tidak berguna. Saya tidak merasa menyesal ketika saya tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya merasa belum menggunakan kemampuan saya secara maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Saya merasa gelisah jika apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan diri saya. Saya merasa puas dengan penampilan saya. Saya memberikan penilaian positif terhadap diri saya. Saya berusaha untuk mencapai bentuk tubuh ideal yang sesuai pandangan masyarakat. Saya merasa memiliki badan yang sehat dan kuat. Keadaan fisik saya sangat menentukan tingkat kepercayaan diri saya. Saya tidak tahu apa yang menarik dari fisik saya. Saya merasa orang lain lebih menarik dari saya. Saya berlarut-larut memikirkan kekurangan fisik saya. Saya menyukai setiap hal yang ada dalam diri saya. Saya merasa penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Saya merasa puas akan diri saya sebagai lakilaki/perempuan. Bagaimana pendapatmu tentang anggapan bahwa lakilaki itu kuat? Bagaimana pendapatmu tentang anggapan bahwa perempuan itu lemah? Baik laki-laki maupun perempuan itu sederajat. Saya menyesali jenis kelamin saya sekarang ini. Saya merasa bangga menjadi perempuan/laki-laki. Saya menyukai peran saya sebagai laki-laki/perempuan. Saya tidak peduli dengan pandangan orang lain mengenai kesetaraan laki-laki dan perempuan. Bagi saya diciptakan sebagai laki-laki/perempuan itu 9 Keterangan KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Pernyataan sama saja, tidak ada yang istimewa. Jenis kelamin tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya mendapat pujian/hadiah dari orangtua saya ketika saya berprestasi, melakukan suatu hal yang baik. Saya dan orangtua saya meluangkan waktu bersama untuk saling berbicara dan mengeluarkan pendapat. Orangtua memberikan saya pengarahan/pendampingan ketika saya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar, dan sebagainya. Saya menemukan hal-hal yang kurang patut dicontoh dari orangtua saya (misal: bicara kasar, memukul, dan sebagainya). Orangtua saya ikut ambil bagian dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya alami. Orangtua saya kurang memberikan kepercayaan pada apa yang saya kerjakan. Saya akan dipukul/dihukum jika saya mengabaikan/melanggar tata tertib di rumah. Orangtua saya tidak menanyakan jadwal kegiatan saya dan ingin tahu aktivitas yang saya lakukan. Orangtua saya kurang peduli dengan pendidikan/sekolah saya. Saya dibiarkan melakukan apa saja yang saya suka oleh orangtua saya. Saya ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat (misal: gotong royong, kerja bakti). Saya menjalin hubungan akrab dengan teman, guru, dan tetangga. Saya mendapat teguran/kritikan dari orang-orang di sekitar saya saat saya melakukan perbuatan yang tidak baik. Saya mendapat contoh perilaku baik dari orang-orang di sekitar saya. Saya menghindar dari teman, tetangga, guru yang membutuhkan pertolongan saya. Teman-teman saya memberikan dukungan terhadap apapun yang saya lakukan baik itu benar maupun salah. Saya merasa kurang nyaman berada di antara banyak orang. Saya merasa belum layak untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat. Saya ikut terlibat kegiatan di masyarakat karena saya tidak enak dengan orang lain. Saya menjaga sikap saya di hadapan orang lain untuk menghindari penilaian buruk. 10 Keterangan KD. 4. b KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4: Kisi-kisi KISI-KISI No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Pernyataan Saya merasa diri saya menarik. Orang lain memberikan kesan yang baik terhadap penampilan saya. Saya lebih menginginkan penampilan yang menarik daripada kesehatan dan kenyamanan. Saya berpenampilan baik supaya orang lain memperhatikan saya. Saya merasa puas dengan penampilan saya. Saya merasa marah ketika orang lain mengejek penampilan saya. Saya kurang percaya diri jika tidak mengikuti perkembangan gaya baju, rambut, sepatu, dan lainlainnya. Penampilan yang baik membuat saya lebih percaya diri. Saya rela tidak jajan karena uang saku saya gunakan untuk membeli aksesoris. Saya tidak yakin jika orang lain akan tertarik dengan penampilan saya. Saya menggunakan kemampuan yang saya miliki secara maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di sekitar saya. Saya akan meminta bantuan orang lain jika saya merasa sudah tidak mampu. Saya lebih suka mengerjakan tugas secara individu daripada berkelompok. Saya berani menegur orang lain yang melanggar peraturan. Saya biasanya menyerah ketika berhadapan dengan kesulitan. Kegagalan yang saya alami membuat saya takut untuk mencoba lagi. Saya bisa saja berbohong supaya tidak mendapatkan hukuman. Saya tidak peduli dengan kesalahan orang sejauh itu tidak merugikan saya. Saya bisa membatalkan janji yang saya buat ketika saya menemukan hal lain yang lebih menarik bagi saya. Saya merasa bangga dengan keadaan diri saya. (7) Keterangan KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. a KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. b KD. 2. c

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Pernyataan Saya merasa puas dengan pencapaian saya selama ini. Saya menyaring pendapat orang lain yang menjelekjelekkan saya. Saya merasa orang lain layak untuk menghargai saya. Saya menanggapi pujian dari orang lain tanpa rasa malu. Saya merasa malu jika membicarakan kekurangan yang saya miliki. Saya merasa kesulitan untuk menerima kondisi saya saat ini. Saya merasa kurang nyaman jika ada orang lain mengetahui kelemahan saya. Kritikan dari orang lain mengenai diri saya membuat saya kurang percaya diri. Saya tidak merasa bersalah jika saya tidak bisa mencapai target yang sudah saya tetapkan. Saya menyadari kelebihan yang ada dalam diri saya. Saya yakin saya memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita saya. Saya menyadari kekurangan yang ada dalam diri saya. Saya merasa saya adalah pribadi yang unik. Saya percaya diri ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Rintangan yang saya hadapi dalam mewujudkan cita-cita membuat saya ingin menyerah. Saya merasa kesulitan untuk menemukan kelebihan yang ada dalam diri saya. Saya merasa diri saya buruk jika tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain. Saya merasa apa yang terdapat pada orang lain lebih baik dari saya. Saya berlarut-larut memikirkan kesalahan yang saya lakukan. Saya melakukan saran yang diberikan orang lain yang berguna untuk perbaikan diri saya. Saya memiliki cita-cita/impian/harapan yang harus saya perjuangkan. Saya yakin bisa menjadi lebih baik dari diri saya saat ini. Kekurangan saya tidak menghalangi saya untuk bercitacita setinggi mungkin. Cita-cita yang saya miliki memotivasi saya dalam hidup sehari-hari. Saya merasa terbebani akan target-target dalam hidup saya. Saya merasa akan gagal dalam meraih cita-cita saya. Kekurangan saya menghambat saya untuk berpikir maju. (8) Keterangan KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 2. c KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. a KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. b

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Pernyataan Saya merasa tidak percaya diri dalam menentukan harapan/cita-cita saya di masa depan. Saya merasa ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Saya tidak membiarkan orang lain meragukan kemampuan saya. Saya menerima kritikan dari orang lain sebagai sarana untuk membangun diri saya. Penilaian orang lain tentang diri saya sangat mempengaruhi penilaian saya terhadap diri saya sendiri. Saya mampu menghargai apa yang ada pada diri saya. Saya mensyukuri hidup saya sekarang. Saya merasa apa yang saya lakukan serba salah. Saya merasa saya tidak berguna. Saya tidak merasa menyesal ketika saya tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya merasa belum menggunakan kemampuan saya secara maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Saya merasa gelisah jika apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan diri saya. Saya merasa puas dengan penampilan saya. Saya memberikan penilaian positif terhadap diri saya. Saya berusaha untuk mencapai bentuk tubuh ideal yang sesuai pandangan masyarakat. Saya merasa memiliki badan yang sehat dan kuat. Keadaan fisik saya sangat menentukan tingkat kepercayaan diri saya. Saya tidak tahu apa yang menarik dari fisik saya. Saya merasa orang lain lebih menarik dari saya. Saya berlarut-larut memikirkan kekurangan fisik saya. Saya menyukai setiap hal yang ada dalam diri saya. Saya merasa penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Saya merasa puas akan diri saya sebagai lakilaki/perempuan. Bagaimana pendapatmu tentang anggapan bahwa lakilaki itu kuat? Bagaimana pendapatmu tentang anggapan bahwa perempuan itu lemah? Baik laki-laki maupun perempuan itu sederajat. Saya menyesali jenis kelamin saya sekarang ini. Saya merasa bangga menjadi perempuan/laki-laki. Saya menyukai peran saya sebagai laki-laki/perempuan. Saya tidak peduli dengan pandangan orang lain mengenai kesetaraan laki-laki dan perempuan. Bagi saya diciptakan sebagai laki-laki/perempuan itu (9) Keterangan KD. 3. b KD. 3. b KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 3. c KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. a KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b KD. 4. b

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Pernyataan sama saja, tidak ada yang istimewa. Jenis kelamin tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya mendapat pujian/hadiah dari orangtua saya ketika saya berprestasi, melakukan suatu hal yang baik. Saya dan orangtua saya meluangkan waktu bersama untuk saling berbicara dan mengeluarkan pendapat. Orangtua memberikan saya pengarahan/pendampingan ketika saya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar, dan sebagainya. Saya menemukan hal-hal yang kurang patut dicontoh dari orangtua saya (misal: bicara kasar, memukul, dan sebagainya). Orangtua saya ikut ambil bagian dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya alami. Orangtua saya kurang memberikan kepercayaan pada apa yang saya kerjakan. Saya akan dipukul/dihukum jika saya mengabaikan/melanggar tata tertib di rumah. Orangtua saya tidak menanyakan jadwal kegiatan saya dan ingin tahu aktivitas yang saya lakukan. Orangtua saya kurang peduli dengan pendidikan/sekolah saya. Saya dibiarkan melakukan apa saja yang saya suka oleh orangtua saya. Saya ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat (misal: gotong royong, kerja bakti). Saya menjalin hubungan akrab dengan teman, guru, dan tetangga. Saya mendapat teguran/kritikan dari orang-orang di sekitar saya saat saya melakukan perbuatan yang tidak baik. Saya mendapat contoh perilaku baik dari orang-orang di sekitar saya. Saya menghindar dari teman, tetangga, guru yang membutuhkan pertolongan saya. Teman-teman saya memberikan dukungan terhadap apapun yang saya lakukan baik itu benar maupun salah. Saya merasa kurang nyaman berada di antara banyak orang. Saya merasa belum layak untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat. Saya ikut terlibat kegiatan di masyarakat karena saya tidak enak dengan orang lain. Saya menjaga sikap saya di hadapan orang lain untuk menghindari penilaian buruk. (10) Keterangan KD. 4. b KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. c KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d KD. 4. d

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6: Validitas Instrumen VALIDITAS INSTRUMEN No. Butir Koefisien No. Butir Koefisien Instrumen Korelasi Instrumen Korelasi 1 0.361 Valid 24 0.285 Tidak valid 2 0.351 Valid 25 0.278 Tidak valid 3 0.441 Valid 26 0.141 Tidak valid 4 0.029 Tidak valid 27 0.319 Valid 5 0.164 Tidak valid 28 0.258 Tidak valid 6 -0.04 Tidak valid 29 0.177 Tidak valid 7 0.128 Tidak valid 30 0.116 Tidak valid 8 0.148 Tidak valid 31 0.391 Valid 9 0.155 Tidak valid 32 0.515 Valid 10 0.212 Tidak valid 33 0.343 Valid 11 0.485 Valid 34 0.293 Tidak valid 12 0.281 Tidak valid 35 0.349 Valid 13 0.359 Valid 36 0.572 Valid 14 0.36 Valid 37 0.364 Valid 15 0.256 Tidak valid 38 0.604 Valid 16 0.211 Tidak valid 39 0.247 Tidak valid 17 0.153 Tidak valid 40 0.31 Valid 18 0.158 Tidak valid 41 0.433 Valid 19 0.541 Valid 42 0.491 Valid 20 0.219 Tidak valid 43 0.577 Valid 21 0.527 Valid 44 0.513 Valid 22 0.365 Valid 45 0.556 Valid 23 0.411 Valid 46 0.414 Valid Keterangan (15) Keterangan

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Butir Koefisien No. Butir Koefisien Instrumen Korelasi Instrumen Korelasi 47 0.54 Valid 74 0.195 Tidak valid 48 0.37 Valid 75 0.415 Valid 49 0.443 Valid 76 0.509 Valid 50 0.325 Valid 77 0.49 Valid 51 0.057 Tidak valid 78 0.029 Tidak valid 52 0.221 Tidak valid 79 0.287 Tidak valid 53 -0.09 Tidak valid 80 -0.16 Tidak valid 54 0.334 Valid 81 0.478 Valid 55 0.369 Valid 82 0.352 Valid 56 0.678 Valid 83 0.32 Valid 57 0.424 Valid 84 0.155 Tidak valid 58 0.381 Valid 85 0.232 Tidak valid 59 0.168 Tidak valid 86 0.041 Tidak valid 60 0.259 Tidak valid 87 0.243 Tidak valid 61 0.243 Tidak valid 88 -0.13 Tidak valid 62 0.148 Tidak valid 89 0.521 Valid 63 -0.01 Tidak valid 90 0.296 Tidak valid 64 0.489 Valid 91 0.107 Tidak valid 65 -0.26 Tidak valid 92 0.453 Valid 66 0.08 Tidak valid 93 0.336 Valid 67 0.682 Valid 94 0.639 Valid 68 0.529 Valid 95 0.3 Valid 69 0.601 Valid 96 0.321 Valid 70 0.322 Valid 97 0.189 Tidak valid 71 0.456 Valid 98 0.01 Tidak valid 72 -0 Tidak valid 99 0.037 Tidak valid 73 0.443 Valid 100 0.223 Tidak valid Keterangan (16) Keterangan

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 10: Langkah-langkah Permainan ‘Kado untuk Teman’ PERMAINAN ‘KADO UNTUK TEMAN’ Tujuan : Saling membantu menemukan kelebihan yang ada dalam diri sendiri dengan teman yang lain. Alat dan bahan: Kertas, rafia, spidol Langkah-langkah: 1. Peserta dikumpulkan dalam suatu tempat yang luas untuk memungkinkan kenyamanan dalam bergerak. 2. Masing-masing peserta membawa rafia, kertas, dan spidol 3. Kertas dilubangi agar dapat dibuat kalung dengan rafia untuk dipakai peserta, posisi kertas ada di punggung masing-masing peserta. 4. Peserta diminta untuk menuliskan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh temannya di kertas yang ada dipunggungnya tanpa menyebutkan identitas penulis. 5. Hal itu dilakukan secara bergiliran sehingga masing-masing peserta mendapat kesempatan menulis dan ditulisi. (22)

(137)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 JATIBARANG BREBES TAHUN AJARAN 2010 2011
5
74
186
HUBUNGAN ANTARA MINAT MEMBACA BUKU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS IV SD NETRAL DI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012
0
3
74
(ABSTRAK) HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 JATIBARANG BREBES TAHUN AJARAN 2010/2011.
0
0
2
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN SOSIAL PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 KALASAN TAHUN AJARAN 2015-2016.
2
11
192
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN SIKAP DISIPLIN DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI BIDANG KEAHLIAN TEKNIK OTOMOTIF SMK MARSUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016.
0
0
103
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KONFORMITAS PADA SISWA KELAS VIII DI SMP N 2 BANTUL TAHUN AJARAN 2013/2014.
0
0
161
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 15 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014.
0
2
171
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 11 SEMARANG TAHUN AJARAN 20172018
0
1
65
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN SISWA, MOTIVASI BELAJAR DAN GAYA BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP SE-KECAMATAN PIYUNGAN TAHUN AJARAN 20132014
0
0
8
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN SISWA DAN PERSEPSI SISWA TENTANG CARA MENGAJAR GURU DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI SE-KECAMATAN WONOSARI GUNUNGKIDUL TAHUN AJARAN 20132014
0
1
8
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN NUMBERED HEADS TOGETHER SISWA KELAS VII B SMP MUHAMMADIYAH 9 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20132014
0
0
8
TINGKAT KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009 SKRIPSI
0
1
96
TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS VIII SMP BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20092010
0
0
113
DESKRIPSI KONSEP DIRI SISWA KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20122013 DAN IMPLIKASINYA PADA USULAN PROGRAM BIMBINGAN KLASIKAL UNTUK PENGEMBANGAN KONSEP DIRI SISWA SKRIPSI
0
0
98
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20132014 TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
0
2
123
Show more