Analisis jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018 - USD Repository

Gratis

0
0
168
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS JENIS-JENIS KALIMAT DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS VII SMP PANGUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Oleh Petronela Susi 141224055 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS JENIS-JENIS KALIMAT DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS VII SMP PANGUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Oleh Petronela Susi 141224055 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 28:13) “Rahasia kesuksesan adalah melakukan hal yang biasa secara tak biasa” (Jhon D Rockefeller Jr) “Hindari mengeluh dan menyalahkan orang lain. Seburuk apapun keadaan, selalu mecari cara untuk melakukan perbaikan. Orang yang bersikap positif selalu melihat kesulitan sebagai peluang, bukan peluang sebagai kesulitan” (Luh Ketut Suryani) “Jangan suka menunda waktu untuk hal penting karena akan merugikan dirimu sendiri” (Petronela Susi) iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Dengan penuh ucapan syukur kepada-Nya, skripsi ini saya persembahkan kepada: Yesus Kristus Yang Mahakuasa yang selalu menyertaiku dan memampukanku untuk menyelesaikan skripsi ini. Kedua orangtuaku Bapak Lorensius Layang dan Ibu Margareta Manit yang selalu memberi semangat, doa, dan dukungan kepada penulis. Kedua adikku Yulius Medianto dan Fery Piterson yang menjadi penyemangat mengerjakan skripsi ini. Orang terkasih Agustinus Kuncoroyang selalu memberi semangat, mendoakan, tempat berkeluh kesah, dan pemberi motivasi selama mengerjakan skripsi ini. Ibu Yuliana Sridiasih, Bapak Heribertus Sunarta, Andria Slamet Sriutami yang telah mendoakan, memberi dukungan, dan nasihat. Segenap teman-teman PBSI angkatan 2014 atas pengalaman yang diperoleh bersama. Segenap sahabat-sahabatku yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan, semangat, dan menghibur saya dalam proses menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini saya persembahkan sebagai tanda terima kasih atas dukungan dan cinta kasih yang diberikan selama ini kepada penulis. vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Susi, Petronela. 2019. Analisis Jenis-Jenis Kalimat dalam KaranganNarasi Siswa Kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 YogyakartaTahun Ajaran 2017/2018. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, FKIP, USD. Penelitian ini mengkaji tentang jenis kalimat yang dihasilkan oleh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud. Jenis kalimat berdasarkan susunan terbagi menjadi kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal sedangkan kalimat berdasarkan maksud terdiri dari kalimat berita. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif karena penelitian ini mendeskripsikan jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah 32 karangan narasi siswa. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat dalam karangan narasi siswa. Objek penelitian ada dua, yaitu kalimat berdasarkan susunan dan kalimat berdasarkan maksud. Penelitian ini menggunakan teknik tes tertulis berupa uraian. Tes ini terdiri dari sejumlah pertanyaan tertulis untuk memperoleh jawaban dari siswa berupa karangan narasi. Berdasarkan hasi analisis data, dapat diambil kesimpulan bahwa siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 sudah dapat menghasilkan kalimat berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud. Pada karangan narasi yang dihasilkan oleh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 terdapat 9 kalimat majemuk setara, 4 kalimat majemuk bertingkat,119 kalimat tunggal, dan 38 kalimat berita yang dijadikan sebagai data dalam penelitian ini. Kata Kunci: Kalimat, Jenis-jenis Kalimat, dan Karangan Narasi viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Susi, Petronela. 2019.Analysis of Sentence Types on A Student’s Narrative EssayGrade VII in SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta in the Academic Year 2017/2018. Thesis. Yogyakarta: JPBS, FKIP, USD. This research reviewed the sentence types produced by the seventh grade students of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta in the academic year 2017/2018. The purpose of this research described sentence types based on arrangement and meaning. The sentence type based on arrangement divided into equivalent compound sentence, inequivalent compound sentence, and simple sentence. The sentence type based on its meaning divided into news sentence. The kind of this research was qualitative decriptive because this research described sentence types in the student’s narrative essay. Source of data this research are the types of sentences 32 in the student’s narrative essay. The research data are sentence in the student’s narrative essay. There are two research object, sentence types based on arrangement and meaning. This research used written test technique in the form of a description. This test consisted of a number of written questions to get responses from the students in the form of narrative essays. Based on the result of data analysis, it could be concluded that the seventh grade students of Pangudi Luhur 1 Junior High School Yogyakarta in the academic year 2017/2018 had produced sentence types based on arrangement and meaning. The narrative essays had been produced by the seventh grade students of Pangudi Luhur 1 Junior High School Yogyakarta in the academic year 2017/2018 were 9 equivalent compound sentences, 4 inequivalent compund sentences, 119 simple sentences, and 38 news sentences which used as data in this research. Keywords: Sentence, Sentence Types, and Narrative Essay. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas kebaikan dan berkat-Nya sehingga skripsi berjudul Analisis Jenis-Jenis Kalimat dalam KaranganNarasi Siswa Kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 YogyakartaTahun Ajaran 2017/2018diselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena ada doa, dukungan, motivasi serta bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Rishe Purnama Dewi, S.Pd.,M.Hum. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan selaku dosen pembimbing yang telah bersedia membimbing skripsi kepada penulis, memberi saran, mengarahkan, serta memberi masukan kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini. 3. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atas segala kelancaran dan dukungan yang telah diberikan. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. selaku triangulator yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengecek dan menvalidasi hasil analisis data penulis dalam penelitian ini. 5. Segenap dosen Prodi PBSI yang telah mendidik, memberikan ilmu pengetahuan, dan membimbing selama penulis mengikuti proses perkuliahan. 6. Ibu Th. Rusmiyati selaku karyawan sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah memberikan kelancaran, memberikan bantuan bagi penulis hingga pada saat penyusunan skripsi ini. 7. Br. Yosep Utmiyadi, FIC, S.S. selaku kepala sekolah SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta yang telah memberi izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah. 8. Ibu Yuliana Dewi S, S.Pd. selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta yang telah membimbing dan memberi masukan selama melakukan pengambilan data di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. 9. Para siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, khususnya kelas B yang telah bersedia menerima dan berproses bersama untuk kelancaran pengambilan data dalam penulisan skripsi ini. 10. Kedua orangtuaku terkasih, Bapak Lorensius Layang dan Ibu Margareta Manit serta kedua adikku Yulius Medianto dan Fery Piterson yang memberikan dukungan, doa, semangat, serta biaya untuk kebutuhan xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penulis selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 11. Orang terkasih Agustinus Kuncoro yang telah memberikan dukungan, doa, semangat, serta menghibur selama mengerjakan skripsi ini. 12. Ibu Yuliana Sridiasih, Bapak Heribertus Sunarta, dan Andria Slamet Sriutamiyang telah mendoakan, memberi dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. 13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari terhadap adanya kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Maka, penulis meminta maaf apabila dalam penulisan skripsi ini terdapat berbagai kekurangan. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi siapapun yang membacanya. xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................ ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. iii MOTTO ................................................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................... v HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............ vii ABSTRAK ............................................................................................ viii ABSTRACT .......................................................................................... ix KATA PENGANTAR .......................................................................... x DAFTAR ISI ......................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 4 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 4 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 4 1.5 Definisi Istilah ................................................................................. 5 1.6 Sistematika Penulisan ...................................................................... 6 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI .................................................................... 8 2.1 Kajian Teori .................................................................................... 8 2.2 Peneltian Terdahulu yang Relevan ................................................. 8 2.3 Kalimat ........................................................................................... 10 2.4 Unsur-unsur Kalimat ...................................................................... 12 2.4.1 Subjek .............................................................................. 12 2.4.2 Predikat ............................................................................ 15 2.4.3 Objek ............................................................................... 16 2.4.4 Pelengkap ........................................................................ 18 2.4.5 Keterangan ..................................................................... 20 2.5 Jenis-jenis Kalimat ......................................................................... 22 2.5.1 Kalimat Berdasarkan Bentuk .......................................... 23 2.5.1.1 Kalimat Tunggal .............................................. 24 2.5.1.2 Kalimat Majemuk ............................................ 25 2.5.1.3 Kalimat Majemuk Setara ................................. 26 2.5.1.4 Kalimat Majemuk Bertingkat .......................... 26 2.5.1.5 Kalimar Majemuk Campuran .......................... 27 2.5.1.6 Kalimat Majemuk Rapatan .............................. 28 2.5.2 Kalimat Berdasarkan Makna .......................................... 29 2.5.2.1 Kalimat Berita ................................................. 30 2.5.2.2 Kalimat Perintah ............................................. 31 2.5.2.3 Kalimat Seru .................................................... 32 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.5.2.4 Kalimat Penegasan ............................................ 33 2.5.3 Kalimat Berdasarkan Susunan ......................................... 34 2.5.3.1 Kalimat Tak Berklausa ..................................... 34 2.5.3.2 Kalimat Majemuk ............................................. 35 2.5.3.3 Kalimat Majemuk Setara .................................. 36 2.5.3.4 Kalimat Majemuk Bertingkat ........................... 37 2.5.3.5 Kalimat Tunggal ............................................... 38 2.5.4 Kalimat Berdasarkan Maksud ......................................... 39 2.5.4.1 Kalimat Berita .................................................. 39 2.5.4.2 Kalimat Tanya ................................................. 41 2.5.4.3 Kalimat Suruh .................................................. 42 2.5.4.3.1 Kalimat Suruh Sebenarnya ............... 42 2.5.4.3.2 Kalimat Persilahan ........................... 43 2.5.4.3.3 Kalimat Ajakan ................................. 44 2.5.4.3.4 Kalimat Larangan .............................. 45 2.5.5 Kalimat Aktif ................................................................... 45 2.5.6 Kalimat Pasif .................................................................... 46 2.5.7 Kalimat Majemuk Setara .................................................. 47 2.5.8 Kalimat Majemuk Bertingkat ........................................... 48 2.5.9 Kalimat Majemuk Campuran ............................................ 48 2.6 Karangan ......................................................................................... 50 2.7 Narasi .............................................................................................. 51 2.7.1 Prinsip-prinsip Narasi ....................................................... 52 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.7.1.1 Alur .................................................................... 52 2.7.1.2 Penokohan .......................................................... 53 2.7.1.3 Latar ................................................................... 53 2.7.1.4 Sudut Pandang .................................................... 53 2.7.2 Langkah-langkah Pengembangan Narasi ......................... 53 2.7.3 Ciri-ciri Karangan Narasi ................................................. 54 2.7.4 Jenis-jenis Narasi ............................................................. 55 2.7.4.1 Narasi Eskpositoris ........................................... 56 2.7.4.2 Narasi Sugestif .................................................. 56 2.8 Kerangka Berpikir .......................................................................... 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................ 59 3.1 Jenis Penelitian .............................................................................. 59 3.2 Data dan Sumber Data.................................................................... 60 3.3 Objek Penelitian ............................................................................ 61 3.4 Instrumen Penelitian ..................................................................... 62 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 62 3.6 Teknik Analisis Data ....................................................................... 64 3.7 Triangulasi ....................................................................................... 65 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................... 66 4.1 Deskripsi Data ................................................................................. 66 4.2 Analisis Data .................................................................................. 67 4.2.1 Kalimat Berdasarkan Susunan .............................................. 67 4.2.1.1 Kalimat Majemuk Setara .................................................. 68 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1.2 Kalimat MajemukBertingkat ..................................... 68 4.2.1.3 Kalimat Tunggal ................ ....................................... 69 4.2.2 Kalimat Berdasarkan Maksud .................................................... 70 4.2.2.1 Kalimat Berita atau Kalimat Deklaratif ........................ 71 4.3 Pembahasan .................................................................................. 72 4.3.1 Kalimat Berdasarkan Susunan ............................................ 73 4.3.2 Klausa Berdasarkan Maksud................................................ 74 BAB V PENUTUP .......................................................................... 76 5.1 Kesimpulan ................................................................................. 76 5.2 Saran ........................................................................................... 76 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 78 LAMPIRAN .................................................................................... 81 BIOGRAFI PENULIS .................................................................... 147 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Jenis-Jenis Keterangan ..................................................... 20 Tabel 3.1 Nama Siswa dan Judul Karangan ..................................... 60 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Alur Kerangka Berpikir .................................................. xix 58

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Permohoan Izin Penelitian .....................................…. 82 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ........................ 83 Lampiran 3 Daftar Siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Kelas VII B ………………………………….. 92 Lampiran 4 Surat Permohonan triangulator ......................................…... 93 Lampiran 5 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta................................................ 94 Lampiran 6 Karangan Narasi Siswa Kelas VII B SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta ............................................................…......... 95 Lampiran 7 Triangulasi Data dan Hasil Penelitian ................................… 128 xx

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menjalin hubungan dengan manusia lain menggunakan bahasa. Salah satunya komunikasi secara tidak langsung menggunakan salah satu media seperti karangan yang ditulis oleh penulis yang didalamnnya mengandung pesan atau maksud yang hendak disampaikan kepada pembaca. Karangan dapat ditulis oleh setiap orang termasuk siswa. Karangan merupakan salah satu wujud keterampilan menulis yang di dalamnya mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasan seseorang. Menurut Semi (2007: 14), menulis adalah aktivitas kreatif menuangkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Maksudnya, menulis merupakan suatu proses yang dianggap sebagai aktivitas yang memiliki daya cipta yang menuangkan gagasan menjadi lambang-lambang dalam tulisan sehingga tulisan yang dihasilkan dapat dipahami oleh pembaca. Menulis adalah kegiatan menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan untuk menyampaikan maksud kepada pembaca. Menulis merupakan komunikasi secara tidak langsung kepada pembaca. Menurut Kartono (2009:17), menulis adalah aktivitas menuangkan pikiran yang hendak disampaikan kepada khalayak. Maksud pendapat tersebut ialah menulis merupakan aktivitas yang menggunakan pikiran untuk mengungkapkan ide-ide yang hendak dituangkan ke dalam tulisan. Hal tersebut menyebabkan kemampuan menulis memerlukan keterampilan penguasaan bahasa untuk 1

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 menyampaikan ide-ide atau gagasan sehingga menghasilkan sebuah karangan yang padu. Karangan yang padu terdiri dari paragraf-paragraf yang di dalamnya mengandung kalimat-kalimat. Menurut Ramlan (2008: 17), secara fungsional kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Pengetahuan mengenai unsur-unsur kalimat tersebut menjadi dasar seseorang untuk menulis kalimat dan menentukan jenis-jenis kalimat yang akan digunakan dalam sebuah tulisan salah satunya karangan. Kalimat berperan penting dalam komunikasi langsung maupun tidak langsung karena kalimat harus mampu menyampaikan informasi kepada orang lain. Menurut Gie (2002: 3), karangan ialah hasil wujud gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Maksudnya, karangan merupakan karya tulis seseorang untuk mengungkapkan ide-ide dan gagasan dan menyampaikannya dalam bahasa tulis kepada pembaca. Materi mengenai karangan sudah diajarkan kepada siswa sejak berada di sekolah dasar (SD). Dalam menulis karangan, siswa dituntut berpikir kreatif dalam mengungkapkan gagasan-gagasan dan ide-ide dalam bentuk tulisan. Hal tersebut dapat melatih siswa agar terbiasa menulis. Penelitian ini memilih karangan narasi yang ditulis oleh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Pemilihan materi karangan narasi didasarkan pada dua hal. Pertama, sesuai dengan kurikulum yang digunakan oleh SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta menggunakan kurikulum 2013 revisi 2016. Materi karangan narasi terdapat dalam kompetensi dasar 3.1

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 memahami pengertian karangan narasi, prinsip-prinsip narasi, langkah-langkah pengembangan narasi, ciri-ciri narasi, dan jenis-jenis narasi. Kesesuaian dengan kurikulum yang ada diharapkan dapat membantu siswa untuk menulis karangan narasi dengan baik. Kedua, ingin mengajak siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 bercerita melalui tulisan yang siswa tulis dalam sebuah karangan narasi yang nantinya dapat melatih keterampilan menulis siswa. Kelas VII semester 2 dipilih karena dianggap sudah memiliki bekal pengetahuan mengenai materi mengarang. Materi mengarang dan kalimat baku sudah diajarkan kepada siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 pada semester I. Penulis memilih SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta sebagai tempat untuk melakukan penelitian karena belum pernah ada peneliti lain yang melakukan penelitian mengenai jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi di tempat tersebut. Penulis memilih topik ini didasarkan pada dua hal. Pertama, materi yang diajarkan sesuai dengan kurikulum yang digunakan di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, yaitu kurikulum 2013 revisi 2016. Kedua, siswa kelas VII sudah diajarkan materi menulis karangan pada semester I.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang ditemukan sebagai berikut. a. Apa saja jenis-jenis kalimat yang digunakan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta berdasarkan susunannya? b. Apa saja jenis-jenis kalimat yang digunakan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta berdasarkan maksudnya? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini sebagai berikut. a. Mendeskripsikan jenis-jenis kalimat berdasarkan susunan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. b. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan maksud dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. 1.4 Manfaat Penelitian Persoalan yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah jenis-jenis kalimat berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut. a. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya dalam bidang kebahasaan terutama yang berkaitan dengan penggunaan jenis-jenis kalimat.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 b. Manfaat Praktis 1) Bagi peneliti lain Penelitian ini memberi masukan kepada para peneliti dalam bidang kebahasaan yang berkaitan dengan penggunaan jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi. 2) Bagi para guru bahasa Indonesia Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada para guru bahasa Indonesia untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan teliti terutama dalam pemakaian jenis kalimat dalam karangan narasi. 3) Bagi SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi mengenai kemampuan siswa dalam bidang menulis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberi motivasi dan dorongan kepada para siswa agar menghasilkan tulisan yang baik dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 1.5 Definisi Istilah Berikut ini akan dipaparkan mengenai batasan-batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini agar tidak mengalami kesalahan dalam pemahaman. a. Menulis Menulis adalah kegiatan melahirkan ide dan mengemas ide itu ke dalam bentuk lambang-lambang grafis berupa tulisan yang bisa dipahami oleh orang lain (Nurhadi, 2017: 5).

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 b. Kalimat Kalimat adalah satuan gramatis yang dibatasi oleh intonasi akhir. Dalam bahasa tulis kalimat dibatasi oleh tanda (.), (?), dan tanda (!). Berdasarkan unsurnya, kalimat sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat (Ramlan, 2008: 17). c. Karangan Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca (Gie, 2002 : 3). d. Narasi Narasi merupakan jenis paragraf yang terstruktur disajikan dalam bentuk rangkaian peristiwa atau kisah (Kusmana, 2014: 70-71). 1.6 Sistematika Penulisan Penelitian ini akan dijabarkan dalam lima bab yang diuraikan secara sistematis sebagai berikut Bab I berisi tentang (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) batasan istilah, dan (6) sistematika penelitian. Bab II berisi tentang landasan teori yang akan digunakan untuk menganalisis masalah-masalah yang diteliti. Bab II berisi (1) penelitian yang relevan, (2) kalimat, (3) unsur-unsur kalimat, (4) jenis-jenis kalimat, (5) karangan, (6) narasi, dan (7) kerangka berpikir. Bab III mengenai metode penelitian yang memuat tentang cara dan prosedur yang akan digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data. Dalam bab III akan diuraikan (1) jenis penelitian, (2) sumber data dan data, (3) objek penelitian, (4) instrumen penelitian, (5) teknik analisis data, dan

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 (6) triangulasi. Bab IV berisi pembahasan yang berkaitan dengan data, terdiri dari (1) deskripsi data, (2) analisis data, (3) dan pembahasa. Bab V berisi mengenai (1) kesimpulan, dan (2) saran.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Teori Pada bagian kajian teori diuraikan mengenai penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan saat ini, teori mengenai kalimat, unsur-unsur dalam kalimat, jenis-jenis kalimat, karangan, dan narasi. 2.2 Penelitian yang Relevan Berdasarkan data yang penulis temukan sebagai bahan dalam melakukan penelitian ini, penulis menemukan penelitian mengenai jenis-jenis kalimat yang pernah dilakukan oleh peneliti lain. Penulis menemukan penelitian yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan saat ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Cicilia Primasari Murharjanti (2012) berjudul Jenis Kalimat Bahasa Indonesia dalam Paragraf Deskripsi Siswa Kelas X Semester I SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2011/2012. Penelitian yang dilakukan oleh Cicilia Primasari Murharjanti (2012) memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis saat ini, yaitu sama-sama menganalisis jenis kalimat dalam karangan siswa. Namun, penelitian yang dilakukan oleh penulis saat ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cicilia Primasari Murharjanti (2012). Perbedaannya terletak pada Cicilia Primasari Murharjanti membahas mengenai kalimat berdasarkan kelengkapan unsur dan berdasarkan jumlah klausa. Hasil penelitian yang diperoleh oleh Cicilia, yakni kalimat lengkap berjumlah 208 kalimat dan kalimat tak lengkap berjumlah 61 kalimat. Penelitian yang dilakukan 8

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 oleh peneliti saat ini mengkaji kalimat berdasarkan susunan dan kalimat berdasarkan maksud yang dikemukakan oleh seorang ahli M. Ramlan dalam bukunya yang berjudul Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Penulis menemukan penelitian kedua yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan saat ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Herningdyah Cahyaning Ratri (2017) berjudul Analisis Jenis Kalimat pada Karangan Guruguru SD Mahakam Ulu Kalimantan Timur 2015. Penelitian Herningdyah Cahyaning Ratri (2017) memiliki relevansi dengan penelitian yang penulis lakukan saat ini, yaitu sama-sama mengkaji jenis-jenis kalimat dalam karangan. Namun, perbedaannya terletak pada sumber data dan jenis-jenis kalimat yang dianalisis. Sumber data penelitian yang dilakukan oleh Herningdyah, yaitu karangan guru-guru SD Mahakam Ulu Kalimantan Timur sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis saat ini sumber datanya, yaitu karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Peneliti Herningdyah menganalisis jenis-jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa dan berdasarkan bentuk sintaksis. Hasil yang diperoleh penggunaan kalimat tunggal berjumlah 105 kalimat dan kalimat majemuk berjumlah 83 kalimat, tetapi penelitian yang penulis lakukan saat ini menganalisis jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, kalimat berdasarkan susunan dan kalimat berdasarkan maksudnya. Berdasarkan kedua penelitian relevan di atas, dapat diketahui yang diteliti ialah jenis-jenis kalimat bahasa Indonesia. Namun, belum ada yang meneliti mengenai jenis kalimat berdasarkan susunan dan jenis kalimat berdasarkan

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 maksud yang dikemukakan oleh M. Ramlan dalam bukunya berjudul Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Oleh karena itu, jenis kalimat berdasarkan susunan dan jenis kalimat berdasarkan maksud perlu diteliti untuk menambah informasi dan melengkapi penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Cicilia Primasari Murharjanti dan Herningdyah Cahyaning Ratri. 2.3 Kalimat Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diungkapkan dengan intonasi naik atau turun. Dalam wujud tulisan kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri oleh tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!) ( TBBBI, 2010: 317). Pendapat di atas mengungkapkan kalimat yang digunakan sesuai konteksnya, yaitu kalimat yang digunakan saat berkomunikasi lisan dan kalimat yang digunakan saat berkomunikasi menggunakan tulisan. Menurut Ramlan (2001: 21), kalimat adalah satuan gramatikal dibatasi oleh jeda panjang yang disertai dengan intonasi akhir naik atau turun. Kalimat dibatasi oleh jeda, sehingga kalimat tersebut dapat dikatakan kalimat yang sempurna artinya memilki jeda yang teratur sehingga dalam pengucapan maupun dalam tulisan, tidak membingungkan para pembaca atau pendengar. Pendapat Ramlan, hampir sama dengan yang diungkapkan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, bahwa kalimat dalam wujud lisan memiliki intonasi akhir naik atau turun sedangkan dalam wujud tulisan memiliki jeda agar maksud yang hendak disampaikan tidak membingungkan pembaca.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Kalimat berwujud rentetan kata yang disusun sesuai kaidah yang berlaku. Setiap kata mempunyai fungsi dalam kalimat. Unsur-unsur dalam kalimat meliputi subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Menurut C.A Mess (dalam Suhardi 2013: 62), kalimat adalah rangkaian kata-kata yang terstruktur menyatakan pikiran seseorang dengan jelas dengan mereka yang mengerti bahasanya. Maksudnya, kalimat terdiri dari kata-kata yang menyatakan ide-ide dari seseorang berisi maksud yang hendak disampaikan kepada pembaca dan pendengar. Kalimat merupakan satuan sintaksis yang berupa klausa, dilengkapi dengan kojungsi bila perlu, dalam wujud lisan disertai dengan intonasi final, dalam wujud tulisan diakhiri tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Menurut Chaer (2009: 44), kalimat adalah satuan bahasa yang menjadi inti pembicaraan dalam sintaksis. Kalimat merupakan satuan unsur yang terdiri dari konstituen dasar berupa klausa, dilengkapi oleh konjungsi bila diperlukan dan disertai oleh intonasi final. Maksudnya, pembahasan dalam materi sintaksis yang paling utama ialah mengenai kalimat. Kalimat bahasa Indonesia mengandung unsur klausa, yaitu subjek dan predikat. Kalimat sebagai satuan bahasa dapat berdiri sendiri yang mengungkapkan ide-ide dan gagasan menjadi pikiran yang utuh. Menurut Rahardi (2009: 76), kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat digunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan. Dapat dikatakan sebagai satuan bahasa terkecil karena sesungguhnya di atas tataran kalimat itu masih terdapat satuan kebahasaan lain

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 yang jauh lebih besar. Jadi, kalimat sebagai satuan bahasa terkecil yang digunakan untuk mengutarakan pikiran seseorang. Dari pendapat para ahli di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa kalimat adalah satuan bahasa dalam wujud lisan memiliki intonasi final sedangkan dalam wujud tulisan, diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!). Suatu kalimat dikatakan utuh apabila sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat. 2.4 Unsur-unsur Kalimat Dalam kalimat terdiri dari unsur-unsur yang membangun sebuah kalimat sehingga dapat menjadi suatu kesatuan utuh dan memiliki kelengkapan unsur yang menjadikan kalimat tersebut dikatakan kalimat yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Berikut ini, penulis menguraikan unsur-unsur kalimat dari pendapat beberapa ahli. Kemudian, penulis menyimpulkan pendapat ahli dan penulis menggunakan satu pendapat ahli mengenai unsur-unsur kalimat yang digunakan untuk acuan menganalisis data jenis-jenis kalimat dalam penelitian yang penulis lakukan saat ini. 2.4.1 Subjek Dalam sebuah kalimat, subjek merupakan unsur yang berpotensi sebagai pelaku. Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nomina atau pronomina. Menurut Sukini (2010: 60), subjek pada umumnya berupa nomina, frasa nominal, frasa verbal, atau klausa dan terletak sebelum predikat. Menurut Ramlan (2008: 17), unsur subjek ialah unsur yang dibicarakan oleh unsur predikat. Unsur subjek

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 terletak dimuka predikat. Namun, terdapat pula kalimat yang berstruktur predikatsubjek, hanya terbatas pada verba tertentu, yaitu verba asal seperti ada, tampak, tumbuh, hidup, verba pasif, dan kata terdapat yang didahului oleh keterangan. Menurut Rahardi (2009: 77), dalam kalimat, subjek tidak selalu terletak di depan predikat. Adakalanya, subjek terletak di belakang predikat terutama sekali untuk kalimat yang berdiatesis pasif. Maksudnya, unsur subjek dalam kalimat pada umumnya terletak di depan predikat, tetapi subjek dapat terletak di belakang predikat. Jadi, subjek merupakan unsur kalimat yang sifatnya wajib hadir yang berpotensi sebagai pelaku dalam kalimat. Fungsi subjek berupa nomina, frasa nominal atau klausa. Perhatikan contoh berikut ini. 1) Ayah sedang membaca koran. Dengan menerapkan formula di atas, maka pertanyaannya adalah ‘siapa yang sedang belajar?’ Jawabannya ialah Ayah. Maka subjek kalimat di atas ialah Ayah. Kata sedang membaca menduduki unsur predikat dan kata koran menduduki unsur objek. 2) Gadis itu sangat cantik. Kalimat di atas termasuk contoh kalimat yang di dalamnya mengandung unsur subjek. Subjek kalimat (2) ialah ‘gadis itu’. Jadi, verba atau kata kerja pun bila diberi ‘itu’akan menjadi subjek kalimat 3) Anak yang nakal itu menangis tidak henti-hentinya dari tadi. Pada contoh kalimat (3) subjeknya ialah kata ‘anak yang nakal itu’. Subjek sering juga berupa frasa verbal. Contoh subjek yang berupa frasa verbal dapat dilihat melalui contoh berikut.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 4) Membangun gedung bertingkat mahal sekali. 5) Berjalan kaki menyehatkan badan. Subjek pada kalimat imperatif adalah orang kedua atau orang pertama jamak dan biasanya tidak hadir. Berikut contoh kalimat imperatif yang mempunyai subjek berbentuk orang kedua atau orang pertama jamak. 6) Tolong (kamu) bersihkan meja ini 7) Mari (kita) makan. Kata kamu dan kita ialah subjek dalam kalimat imperatif pada kalimat (6) dan (7). Adapun ciri-ciri subjek yakni jawaban apa atau siapa, didahuli kata bahwa, berupa kata-kata atau frasa benda/nomina, disertai kata ini, itu, disertai pewatas yang, kata sifat didahului kata si dan sang contohnya si manis, sang juara, dan tidak didahului oleh preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan sebagainya dan tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi, dan bukan. Subjek juga dapat berupa kata dan dapat pula berupa frasa. Berupa kata contohnya saya sedang lapar, Adik sudah tertidur lelap. Adapun berupa frasa air sungai kecil itu terus menerus mengericik, pada tepi sungai itu terempas krikilkrikil tajam dan seekor kelinci tiba-tiba keluar dari segerombolan taman dekat rel kereta api (Bahtiar, 2014: 2). Jadi, penulis mengambil kesimpulan bahwa subjek ialah unsur yang wajib hadir dalam kalimat.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 2.4.2 Predikat Predikat merupakan satuan gramatikal yang berperan sebagai pebuatan atau keadaan yang dialami oleh subjek. Predikat pada umumnya terletak setelah subjek. Menurut Rahardi (2009: 80), predikat sebagai unsur pokok dalam kalimat, predikat memiliki karakter yang sama dengan subjek. Akan tetapi, kejadian sebuah predikat menjadi jelas karena ada subjek kalimatnya. Dengan demikian, subjek dan predikat sama-sama menjadi unsur pokok dalam kalimat. Jadi, unsur subjek dan predikat ialah unsur yang wajib hadir dalam kalimat. Menurut Ramlan (2008: 19), predikat ialah unsur yang membicarakan subjek. Predikat terletak di belakang subjek. Maksudnya, predikat merupakan konstituen pokok yang disertai konstituen objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut Sukini (2010: 59), predikat kalimat berupa verba dan adjektif. Pada kalimat berpola subjek-predikat, predikat biasanya berupa frasa nominal, frasa numeral, frasa preposisional, di samping frasa verbal dan frasa adjektival. Jadi, predikat menjadi unsur penjelas perbuatan yang dilakukan oleh subjek. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa predikat adalah unsur kalimat yang terletak di belakang subjek dan berwujud verba. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini. 8) Fitri menangis tersedu-sedu. Kalimat (8) kata ‘menangis tersedu-sedu’ menduduki unsur predikat karena unsur itu memberikan jawaban atas pertanyaan ‘bagaimana Fitri’

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 atau ‘mengapa Fitri’. Pada bagian kalimat (8) kata ‘Fitri’ sebagai subjek dalam kalimat itu. Predikat kalimat juga dapat diidentifikasi dengan cara mencari kata ‘adalah’ atau ‘ialah’ digunakan sebagai predikat pada kalimat nominal. Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya bukan verba atau kata kerja (Rahardi, 2009: 80). Perhatikanlah contoh berikut ini. 9) Jumlah korban gempa di Kota Palu adalah sekitar tiga ribu orang. Pada kalimat yang tidak memiliki verba sebagai predikat seperti di atas itu, kata ‘adalah’ berfungsi sebagai predikatnya. Jadi, dalam menemukan unsur predikat dalam kalimat nominal itu mudah. Menurut Rahardi (2009: 81), ciri lain dari predikat adalah bahwa verba dan adjektiva menjadi predikat itu dapat diawali oleh kata-kata petunjuk aspek dan modalitas seperti ‘telah, sudah, belum, sedang, akan, ingin, hendak, mau’. Dengan demikian, predikat itu adalah bagian yang menyertai kata-kata aspek dan modalitas yang di sebutkan di atas itu. 2.3.3 Objek Dalam sebuah kalimat, unsur objek merupakan unsur yang kehadirannya dituntut oleh predikat. Kehadiran objek dalam kalimat bergatung pada jenis kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. Menurut Rahardi (2009: 82), objek kalimat hanya mungkin hadir apabila predikat kalimat tersebut merupakan verba atau kata kerja yang sifatnya aktif transitif. Dengan demikian, objek kalimat tidak

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 akan hadir apabila (1) tidak terdapat dalam kalimat pasif, (2) kalimat itu merupakan kalimat verba intransitif. Unsur objek merupakan unsur yang dikenai oleh predikat. Unsur objek dapat dikenali melalui ciri-ciri (1) jenis predikat yang dilengkapinya, dan (2) ciri khas objek itu sendiri (TBBBI, 2010: 335). Penjelasan berikutnya oleh Sukini (2010: 60) fungsi objek merupakan konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat verba transitif pada kalimat aktif. Maksudnya, unsur objek merupakan unsur yang wajib hadir setelah unsur subjek dan predikat. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa objek merupakan unsur kalimat yang terletak setelah unsur subjek dan predikat. Berikut contoh kalimat yang di dalamnya mengandung unsur objek. 10) Agnes mendapat hadiah. kata ‘hadiah’ pada kalimat (10) ialah unsur objek karena, kata ‘hadiah’ hadir setelah verba berawalan ‘me-‘. Jadi, verba itu bersifat aktif transitif. Ciri terletak lain dari objek adaah bahwa bentuk kebahasaan itu selalu langsung di belakang predikat. Jadi, selain hadir dalam kalimat aktif transitif, objek kalimat juga hadir langsung dibelakang predikat kalimat. Objek biasanya berupa nomina atau frasa nominal. Jika objek tergolong nomina, frasa nominal tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itu dapat diganti dengan pronomina –nya; dan jika berupa pronomina aku atau

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 kamu (tunggal), bentuk –ku dan –mu dapat digunakan. Contohnya Ina mencintai dia/-nya dan Ibu mengasihi aku/ -ku. 11) Petani menanam kacang tanah di sawah. Kalimat (11) mengandung unsur objek. Kata yang menduduki objek, yaitu ‘kacang tanah’. Berdasarkan contoh kalimat di atas dapat diketahui bahwa unsur objek selalu terletak di belakang subjek dan predikat. Unsur objek ialah unsur kalimat yang dikenai perbuatan oleh predikat. 2.4.4 Pelengkap Unsur pelengkap sering disamakan dengan unsur objek. Pengertian mengenai pelengkap dan objek memiliki kemiripan. Menurut Rahardi (2009: 84), unsur pelengkap sering dikacaukan pemahamannya dengan unsur objek kalimat. Dalam kalimat pasif, pelengkap tidak dapat menempati fungsi subjek. Pada posisi sama, objek dapat menempatinya. Maka, inilah perbedaan mendasar objek dan pelengkap. Unsur pelengkap hadir untuk melengkapi kalimat. Dengan demikian unsur pelengkap menjadi bagian yang menentukan makna dalam kalimat. Menurut TBBBI (2010: 336), baik objek maupun pelengkap sering berwujud nomina, dan keduanya sering menduduki tempat yang sama, yakni di belakang verba atau di belakang unsur predikat. Jadi, unsur objek dan pelengkap menduduki tempat yang sama, tetapi makna objek dan pelengkap itu berbeda. Unsur pelengkap menjadi unsur yang melengkapi kalimat sehingga maksud yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca menjadi lebih jelas.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Menurut Muslich (2014: 128), pelengkap selalu berwujud nomina dan sama-sama mengikuti verba. Jadi, pelengkap dalam kalimat berwujud nomina yang mengikuti verba. Hal itu dapat memudahkan pembaca dalam menentukan atau menemukan unsur pelengkap dalam kalimat. Perhatikan contoh kalimat berikut. 12) Ayah membelikan saya sepeda baru. 13) Ibu memberi saya sepeda baru. Pada contoh kalimat (12) dan (13) tampak jelas pada kata ‘sepeda baru’ adalah unsur yang menduduki pelengkap. Kata ‘Ayah’ dan Ibu’ menduduki unsur subjek sedangkan kata ‘membelika’ dan ‘memberi’ menduduki unsur predikat. Akan tetapi, pada kalimat berikut ini, bentuk kebahasaan yang baru ternyata dapat memiliki fungsi yang tidak sama. Perhatikan contoh berikut ini. 14) Gita berjualan bunga mawar. 15) Gita menjual bunga mawar. Dalam kalimat (14) dan (15) kelihatan perbedaan antara unsur objek dan unsur pelengkap. Pada kalimat (14) kata ‘bunga mawar’ adalah pelengkap. Bentuk kebahasaan itu melengkapi verba yang kebetulan berciri aktif intransitif. Dalam kalimat (15) kata ‘bunga mawar’ adalah objek kalimat karena bentuk kebahasaan itu melengkapi verba di dalam kalimat itu, tetapi verba itu bersifat transitif. Jadi, pelengkap memiliki ciri-ciri salah satunya bukan unsur utama dalam kalimat, tetapi tanpa pelengkap, kalimat itu menjadi tidak lengkap informasinya. Pelengkap hadir untuk melengkapi struktur kalimat agar lebih jelas.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 2.4.5 Keterangan Keterangan kalimat berfungsi untuk melengkapi informasi maksud dalam sebuah kalimat. Unsur keterangan bersifat manasuka, artinya boleh hadir boleh tidak atau dapat dikatakan unsur keterangan ialah unsur yang tidak wajib hadir. Menurut Ramlan (2008: 17), keterangan memiliki tempat bebas, mungkin terletak di muka subjek dan predikat, mungkin terletak di belakang subjek dan predikat. Artinya, unsur keterangan bersifat manasuka. Menurut Muslich (2014: 129), keterangan merupakan unsur bukan inti yang memberikan keterangan tambahan kepada unsur inti. Maksudnya, unsur keterangan ialah unsur yang melengkapi unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Menurut Sukini (2010: 63), keterangan terbagi menjadi sembilan macam. Penulis memaparkan sembilan macam keterangan dalam tabel berikut. Tabel 2.1 Jenis-Jenis Keterangan No 1 Jenis Keterangan Tempat Preposisi/Penghubung Contoh di, ke, dari, di (dalam), pada. di rumah, di desa, di kota, ke rumah, ke sekolah, dari bandara, di (dalam pesawat), pada saya. pada hari ini, dalam minggu ini, sebelum mandi, sepanjang jalan, sepanjang hari, selama lima menit. dengan gunting, dengan mobil, dengan motor, dengan pisau dapur. agar/supaya kamu pintar, untuk kemanusiaan, bagi masa depanmu, demi keluarganya. 2 Waktu pada, dalam, sebelum, sesudah, sepanjang, selama, besok, tadi. 3 Alat dengan. 4 Tujuan agar/supaya, untuk, bagi, demi.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 No 6 Jenis Keterangan Penyerta Preposisi/Penghubung 7 Perbandingan kemiripan dengan, bersama, beserta. seperti, bagaikan, laksana. 8 Sebab karena, sebab. 9 Kesalingan - Contoh dengan keluarganya, bersama teman-temannya. seperti angin, bagaikan bulan purnama, laksana bintang film. karena kelalaiannya, sebab tergesa-gesa. saling (mengangumi), satu sama lain Menurut Rahardi (2009: 85), keterangan ialah unsur yang tidak wajib hadir. Berbeda dengan subjek, predikat, objek, dan pelengkap yang sifatnya wajib hadir, keterangan sifatnya mana suka. Fungsi keterangan adalah untuk menambah informasi pada kalimat itu. Informasi yang hendak ditambahkan itu adalah tempat, waktu, cara, syarat, tujuan, dan sebagainya. Ciri yang membedakan unsur keterangan ialah keterangan didahului atau diawali oleh preposisi atau kata depan dan keterangan tidak terikat posisi. Jadi, keterangan itu sifatnya lentur, tidak kaku seperti unsur-unsur kebahasaan lain. Keterangan terbagi menjadi keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan tujuan, keterangan cara, keterangan pewatas, keterangan tambahan, dan keterangan aposisi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa keterangan bersifat manasuka. Artinya, boleh ada boleh tidak dalam suatu kalimat. Keterangan berfungsi untuk menambah informasi, informasi yang ditambahkan itu adalah tempat, waktu, cara, syarat, tujuan, dan sebagainya. Berikut penulis memaparkan contoh kalimat yang di dalamnya mengandung unsur keterangan.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Contoh: 16) Ayah pergi ke Bandung.Kata ‘ke Bandung’ mengandung unsur keterangan tempat. Makna keterangan ditentukan oleh perpaduan makna unsur-unsurnya. Dengan demikian, keterangan ‘ke Bandung’ mengandung makna tempat. Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling mudah berpindah letaknya. Keterangan dapat terletak di awal, di akhir, bahkan di tengah kalimat karena kehadirang unsur keterangan bersifat manasuka. 17) Kemarin, Arni pergi ke Bali. 18) Arni pergi ke Bali kemarin. Jadi, jelas bahwa unsur keterangan bersifat lentur, tidak kaku seperti unsur kebahasaan lain telah ditunjukka pada kalimat (17) dan (18). Unsur keterangan merupakan unsur yang mudah diidentifikasi oleh siapa saja. 2.5 Jenis-jenis Kalimat Jenis-jenis kalimat dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembeda kalimat yang digunakan oleh seseorang dalam menulis sebuah tulisan atau karangan. Seperti halnya kalimat yang digunakan dalam sebuah tulisan, jenis-jenis kalimat merupakan penentu sebuah karangan menarik atau tidaknya untuk dibaca karena dalam sebuah tulisan mengandung ide-ide dan gagasan seseorang menggunakan kalimat yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Pengelompokkan kalimat perlu dipahami oleh seseorang agar informasi yang hendak disampaikan kepada para pembaca menjadi jelas dan menarik. Berikut ini

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 penulis menguraikan jenis-jenis kalimat dari pendapat para ahli. Kemudian, penulis menyimpulkan dan menggunakan satu pendapat ahli mengenai jenis-jenis kalimat yang akan digunakan sebagai pedoman untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Menurut Suhardi (2013: 73-77), kalimat dan jenis-jenis kalimat dibagi menjadi kalimat berdasarkan bentuk dan berdasarkan makna. Berdasarkan bentuk, dibagi menjadi dua, yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk sedangkan, kalimat berdasarkan makna terbagi menjadi lima, yaitu kalimat berita, kalimat perintah, kalimat tanya, kalimat seru, dan kalimat penegasan. Klasifikasi kalimat berdasarkan bentuk diungkpakan oleh Suhardi (2013), bertujuan agar penulis memahami kalimat dari segi bentuknya sedangkan klasifikasi kalimat berdasarkan bertujuan agar penulis mengetahui makna kalimat yang hendak disampaikan kepada para pembaca. Berikut akan dipaparkan mengenai penjelelasan masingmasing jenis kalimat. 2.5.1 Kalimat Berdasarkan Bentuk Klasifikasi kalimat berdasarkan bentuk bertujuan agar penulis mengetahui kalimat dari segi bentuknya. Dalam menulis kalimat, penulis perlu memberhatikan jenis-jenis kalimat yang digunakan untuk menulis sebuah tulisan atau karangan. Pemahaman mengenai jenis kalimat berdasarkan bentuk membantu penulis mengetahui ciri khas yang membedakan dari jenis-jenis kalimat yang dikemukakan oleh ahli-ahli selain Suhardi. Dalam buku yang berjudul Dasardasar Ilmu Sintaksis Bahasa Indonesia, Suhardi (2013: 72-77), kalimat

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 berdasarkan bentuk terbagi menjadi dua, yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Berikut penulis menguraikan jenis-jenis kalimat berdasarkan bentuk menurut pendapat Suhardi (2017). 2.5.1.1 Kalimat Tunggal Kalimat tunggal biasanya disebut dengan kalimat sederhana. Kalimat tunggal terdiri dari unsur subjek dan predikat, bisa juga dilengkapi oleh unsur pelengkap, objek, dan keterangan. Menurut Suhardi (2013: 73), kalimat tunggal ialah kalimat yang bila dilihat dari segi jumlah predikat hanya memiliki satu predikat atau boleh juga disebut kalimat yang memiliki satu klausa. dalam kalimat tunggal, tentu saja unsur yang wajib yang diperluka untuk melengkapi kalimat. Dengan demikian, kalimat tunggal kadang berwujud pendek, tetapi juga dapat berwujud panjang. Kalimat tunggal terdiri dari satu klausa, artinya konstituen untuk tiap unsur kalimat seperti subjek dan predikat hanyalah satu atau merupakan satu kesatuan. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kalimat tunggal ialah kalimat yang terdiri dari satu klausa. Di dalamnya mengandung unsur subjek dan predikat. berikut contoh kalimat tunggal. 19) Ani biasa berjalan kaki. 20) Rosa akan naik haji. Kalimat (19) hubungan antara berjalan dan kaki merupakan hubungan yang padu. Artinya, tidak ada macam berjalan lain kecuali berjala kaki. Demikian pula kalimat (20) hubungan antara naik dan haji. Kedua kata itu telah membentuk makna baru sehingga salah satu dari kata itu tidak dapat digantikan oleh kata lain.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Dengan adanya kenyataan itu, maka kaki dan haji masing-masing merupakan bagian integral dari verba berjalan dan naik sehingga menjadi verba majemuk yang termasuk verba taktransitif. Contoh kalimat taktransitif adalah tingkah lakunya memusingkan kepala. Contoh kalimat itu termasuk kalimat taktransitif dengan verba majemuk sebagai predikat. Perlu diketahui bahwa verba taktrasitif dapat diikuti langsung oleh nomina, atau frasa nominal yang berfungsi sebagai pelengkap. 2.5.1.2 Kalimat Majemuk Kalimat yang di dalamnya mengandung dua klausa dikategorikan dalam kalimat majemuk. Dalam kalimat majemuk biasanya ditandai oleh kata penghubung atau konjungsi sebagai penandanya. Menurut Suhardi (2013: 74), kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki beberapa predikat atau dibangun atas beberapa klausa. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kalimat majemuk adalah kallimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih, ditandai dengan hadirnya kata penghubung atau konjungsi. Kalimat majemuk juga dapat disertai oleh hadirnya unsur kalimat seperti objek pelengkap, dan keterangan. Berdasarkan bentuk klausa yang membangunnya, kalimat majemuk dapat di kelompokkan menjadi empat, yaitu (a) kalimat majemuk setara, (b) kalimat majemuk bertingkat, (c) kalimat majemuk campuran, dan (d) kalimat majemuk rapatan. Berikut penulis menguraikan pengertian kalimat majemuk berdasarkan jenis-jenisnya dan contohcontoh kalimat majemuk.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 2.5.1.3 Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara atau dikenal juga kalimat luas setara terdiri dari dua klausa. Klausa ialah terdiri dari subjek dan predikat. Menurut Suhardi (2013: 73), kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukanya sejajar (setara) di dalam kalimat. Jadi, kalimat majemuk setara terdiri dari dua klausa yang ditandai dengan hadirnya konjungsi seperti dan, lalu, lagi pula, tetapi, dan sebagainya. Berikut penulis memaparkan contoh kalimat majemuk setara. 21) Adi membaca dan Sinta menyapu lantai. Kalimat di atas termasuk kalimat majemuk setara karena kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukannya setara menggunakan kata hubung dan. Klausa pertama Adi membaca dan klausa kedua Sinta menyapu lantai. Kemudian, kata dan untuk menghubungkan klausa pertama dan klausa kedua. Hadirnya kata dan menjadi penanda kalimat di atas termasuk kalimat majemuk setara. 2.5.1.4 Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat atau dikenal juga dengan kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang terdiri dari dua klausa yang hubungan pola-polanya tidak sederajat atau setara. Artinya, terdiri dari dua bagian yang disebut dengan induk kalimat dan anak kalimat. Menurut Suhardi (2013:75), kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Kedua kalimat tunggal tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Biasanya dibagun atas dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Jadi, dalam menentukan kalimat majemuk bertingkat dapat dilihat dari kedudukan dua klausa yang di dalamnya terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat. Berikut penulis memaparkan contoh kalimat majemuk bertingkat agar pembaca lebih mudah mengerti. 22) Ketika saya kembali dari kampus, Adi sudah menunggu di depan rumah anak kalimat induk kalimat Kalimat (22) termasuk kalimat majemuk bertingkat karena kedudukan yang berbeda. Kalimat di atas terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat sehingga dikategorikan dalam kalimat majemuk bertingkat. Di dalam kalimat di atas tidak ditandai dengan konjungsi sehingga kalimat itu termasuk kalimat majemuk bertingkat. 2.5.1.5 Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran atau dikenal juga kalimat luas campuran ialah gabungan dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk campuran biasanya terdiri dari tiga klausa atau lebih. Suhardi (2013: 76), memberi penjelasan bahwa kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang dibangun atas campuran beberapa kalimat majemuk (setara dan bertingkat). Jadi, kalimat majemuk campuran adalah kalimat yang terdiri dari gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Dalam kalimat majemuk campuran terdiri dari tiga klausa. Klausa-klausa tersebut

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 berperan sebagai induk kalimat dan anak kalimat. Berikut penulis memberikan contoh kalimat majemuk campuran. Contoh: 23) Andi sedang belajar dan Nia sedang menyapu dan kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu. Kalimat di atas adalah gabungan kalimat majemuk campuran dan kalimat majemuk bertingkat. Di dalamnya mengandung unsur subjek, predikat, dan keterangan. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa. Klausa pertama, Ani sedang belajar, klausa kedua Nia sedang menyapu, dan klausa ketiga kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu. 2.5.1.6 Kalimat Majemuk Rapatan Kalimat majemuk rapatan dapat dikatakan gabungan dari kalimat tunggal. Dalam kalimat tunggal hanya terdiri dari satu klausa sedangkan dalam kalimat majemuk rapatan memiliki dua klausa. Menurut Suhardi (2013: 76), kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang salah satu unsurnya (merapat). Artinya, unsur yang ada dalam kalimat itu saling mendekat atau merapat. Berikut penulis memberikan contoh mengenai kalimat majemuk rapatan agar mudah dipahami oleh para pembaca. 24) Bapak membaca surat kabar Batam Post. 25) Adik membaca surat kabar Batam Post.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Kalimat di atas dapat dibentuk menjadi kalimat majemuk rapatan dengan cara menghilangkan salah satu unsur yang sama. Bapak dan Adik membaca surat kabar Batam Post. Kesamaan unsur yang terjadi dalam kalimat majemuk rapatan dapat saja kesamaan subjek, predikat, objek, dan keterangan. 1. Kesamaan subjek a. Kakak memasak gulai kambing. b. Kakak merangkai bunga. Kalimat di atas memiliki kesamaan subjek, yaitu kakak. Namun, memiliki unsur predikat yang berbeda. Kalimat (a) predikat memasak dan kalimat (b) predikat merangkai. Meskipun, predikatnya berbeda, kalimat di atas memiliki kesamaan subjek. 2. Kesamaan predikat a. Bapak menanam pohon. b. Ibu menanam pohon. Pada kalimat (a) dan (b) memiliki kesamaan predikat, yaitu sama-sama menanam. Hanya saja, berbeda subjek, kalimat (a) subjeknya Bapak sedangkan kalimat (b) subjeknya Ibu. 2.5.2 Kalimat Berdasarkan Makna Dalam menulis sebuah karangan, penulis perlu memahami jenis-jenis kalimat berdasarkan maknanya agar penulis mengetahui makna yang terkandung

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 dalam kalimat yang telah ia tulis. Kalimat berdasarkan makna menjadi penentu kejelasan makna dalam sebuah kalimat. Oleh karena itu, kalimat berdasarkan makna perlu dipahami secara lebih mendalam. Menurut Suhardi (2013: 77), kalimat berdasarkan makna dapat dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu (1) kalimat berita, (2) kalimat perintah, (3) kalimat tanya, (4) kalimat seru, dan (5) kalimat penegasan. Berikut penulis menguraikan pengertian jenis-jenis kalimat berdasarkan makna dan contoh-contohnya. 2.5.2.1 Kalimat Berita atau Kalimat Deklaratif Kalimat berita atau lebih dikenal dengan kalimat deklaratif dalam hubungan situasi berfungsi sebagai memberi informasi atau sesuatu kepada orang lain sehingga memerlukan tanggapan berupa perhatian. Menurut Suhardi (2013: 77), kalimat berita adalah kalimat yang di dalamnya berisi berita atau informasi kepada orang lain. Jadi, kalimat berita adalah kalimat yang mengandung informasi. Informasi yang hendak disampaikan dapat berupa kejadian atau situasi yang dialami oleh seseorang kepada orang lain. Berikut contoh-contoh kalimat berita sebagai berikut. 26) Gempa di Palu menyebabkan beberapa keluarga kehilangan tempat tinggal.Dalam kalimat (26) mengandung informasi mengenai kejadian Gempa yang terjadi di Palu sehingga menyebabkan beberapa keluarga kehilangan tempat tinggal. Informasi penting yang hendak disampaikan penulis memerlukan tanggapan dari orang lain agar dapat membantu orang-orang yang ada di Palu.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 27) Sebuah Kapal Super Fery yang mengangkut 964 penumpang tenggelam di perairan Filipina.Dalam kalimat (27) mengandung informasi Kapal Super Fery mengangkut 964 penumpang tenggelam di perairan Filipina. Kejadian yang sedang menimpa para penumpang ini diberitahukan oleh penulis dalam sebuah tulisan sehingga memuat informasi yang memerlukan tanggapan dari orang lain atau para pembaca. 2.5.2.2 Kalimat Perintah Kalimat perintah atau dikenal dengan kalimat imperatif merupakan kalimat yang mengandung makna memerintah atau meminta seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga memerlukan tanggapan dari orang lain. Kalimat perintah isinya menyuruh orang lain sesuai dengan yang kita kehendaki. Kalimat perintah dalam bahasa lisan berintonasi nada naik di awal dan rendah diakhir. Menurut Suhardi (2013: 77), kalimat perintah adalah kalimat di dalamnya berisi perintah dari seseorang kepada orang lain untuk melakukan sesuatu (pekerjaan) sesuai apa yang telah diperintahkan. Berdasarkan pendapat ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa kalimat perintah adalah kalimat yang di dalamnya mengandung makna perintah, suruh, atau meminta bantuan kepada orang lain sehingga memerlukan tanggapan dari orang lain. Berikut contoh kalimat perintah. 28) Ambilkan saya koran itu! 29) Kerjakan soal nomor 1 hingga 10!

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Kalimat di atas termasuk contoh kalimat perintah yang memberi perintah kepada orang lain. Kalimat (23) berisi makna memberi perintah kepada orang lain untuk mengambilkan koran. Kalimat (24) berisi makna perintah atau suruhan untuk mengerjakan sepuluh soal yang telah disediakan sehingga memerlukan sebuah tanggapan berupa jawaban tertulis. 2.5.2.3 Kalimat Seru Kalimat seru sering digunakan oleh seseorang dalam berkomunikasi lisan dan tulisan dalam sebuah karangan. Kalimat seru berisi ungkapan kekaguman seseorang kepada sesuatu baik itu manusia, benda, dan sebagainya yang berhubungan dengan sifat. Menurut Suhardi (2013: 17), kalimat seru adalah kalimat yang di dalamnya terdapat kata seru seperti wah, yah, ih, aduh, dan sebagainya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kalimat seru berisi ungkapan kegaguman seseorang kepada orang lain maupun kepada benda, cuaca, situasi, dan keadaan yang sedang di alami yang berhubungan dengan sifat. Perhatikan contoh kalimat seru di bawah ini. 30) Aduh! Kakiku terantuk batu.Wah! 31) Rapi sekali pakaianmu hari ini. 32) Kamu memakai jam tangan yah! Kalimat di atas termasuk kalimat seru yang di dalamnya isinya mengungkapkan kegaguman perasaan seseorang yang berhubungan dengan sifat serta ditandai dengan kata seru seperti aduh, wah, dan yah.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 2.5.2.4 Kalimat Penegasan Kalimat penegasan adalah kalimat yang di dalamnya mengandung sebuah ide yang ditonjolkan. Dengan kata lain, ide yang ditonjolkan diberi penegasan atau menekanan sehingga maksud yang hendak disampaikan oleh seseorang menjadi jelas. Menurut Suhardi (2013: 78), kalimat penegasan adalah kalimat yang di dalamnya berisi penegasan atau tambahan informasi sehingga informasi yang disampaikan lebih jelas oleh lawan bicara. Dengan adanya penegasan, sesuatu yang diinginkan lawan bicara akan dapat dilaksanakan lebih tepat. Berikut contoh kalimat penegasan. 33) Dari hasil kesepakatan kita ini, maka silahkan para peserta menginformasikan kepada kelompoknya masing-masing. Penjelasan: kata dari hasil kesepakatan kita ini merupakan penegasan untuk kalimat yang mengikutinya. Karena kata yang pertama merupakan pemberian informasi untuk memberi perintah para peserta untuk memberi informasi kepada kelompoknya masing-masing. 34) Sesuai dengan kesepakatan kita hari Sabtu yang lalu, tugas bahasa Indonesia dikumpulkan paling lambat hari ini hari Senin. Penjelasan: Pada kata Sesuai dengan kesepakatan kita hari Sabtu yang lalu merupakan informasi berupa himbauan mengenai sebuah kesepakatan yang telah dilakukan secara bersama-sama untuk mengumpulkan tugas bahasa Indonesia paling lambat hari itu juga.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Selajutnya, jenis-jenis kalimat menurut Ramlan (2001: 23-43), jenis kalimat dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kalimat menurut susunanya dan kalimat menurut maksudnya. Berikut penulis menguraikan jenis-jenis kalimat menurut pendapat ahli, yaitu M. Ramlan (2001). 2.5.3 Kalimat Berdasarkan Susunan Jenis kalimat berdasarkan susunan perlu dipahami oleh seorang penulis atau pembaca untuk mengetahui bahwa dalam kalimat harus memperhatikan dari segi susunan agar kalimat yang dihasilkan dapat terstruktur dan konsisten. Dalam buku yang berjudul Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis, Ramlan (2001: 26), membagi jenis kalimat berdasarkan susunan menjadi kalimat tak berklausa, kalimat majemuk (setara dan bertingkat), dan kalimat tunggal. Penggunaan jenisjenis kalimat berdasarkan susunan dapat ditemukan dalam sebuah karangan. Oleh karena itu, penulis ingin memberika pemahaman mengenai kalimat berdasarkan susunan agar para pembaca dan penulis lain dapat memahami secara mendalam mengenai jenis kalimat berdasarkan susunan. Berikut ini penulis menguraikan dan menjelaskan kalimat berdasarkan susunan menurut Ramlan (2001: 26). 2.5.3.1 Kalimat Tak Berklausa Kedudukan kata atau kelompok kata dalam kalimat itu berbeda-beda. Ada kata atau kelompok kata yang dapat dihilangkan dengan menghasilkan bentuk tetap berupa kalimat dan ada pula tidak. Dalam satuan sintaksis terdapat satuan, yaitu frasa dan klausa. Namun, ada yang terdiri dari frasa dan ada yang terdiri dari klausa. Kalimat tak berklausa digunakan dalam bahasa lisan maupun

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 tulis. Kalimat tak berklausa ini tidak memiliki unsur subjek dan predikat sehingga dikatakan tidak memiliki klausa. Menurut Ramlan (2001: 25), kalimat tak berklausa ialah kalimat yang tidak terdiri dari klausa. Jadi, dalam sebuah kalimat terdapat juga kalimat yang tidak memiliki klausa. kalimat yang tidak memiliki klausa hanya terdiri dari frasa yang membangun kata-kata menjadi sebuah kalimat. Berikut contoh-contoh kalimat yang di dalamnya tidak mengandung unsur klausa. 35) Astaga! 36) Selamat malam! 37) Selamat belajar! Bentuk-bentuk kalimat (35), (36), dan (37) di dalamnya tidak mengandung unsur klausa. Jika tidak terdiri dari klausa, kalimat tersebut tergolong dalam kalimat tak berklausa yang semuanya berujud satuan frasa. 2.5.3.2 Kalimat Majemuk Kalimat majemuk ialah salah satu jenis kalimat bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa lisan maupun tulisan. Dalam kalimat majemuk terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang dihubungkan oleh konjungsi. Kalimat majemuk terdiri dari satuan kalimat, maka kalimat majemuk mempunyai induk kalimat dan anak kalimat, tetapi ada pula yang kalimat penyusunnya memiliki kedudukan yang sama atau sederajat. Jadi, kalimat majemuk memiliki macammacam bentuk, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. Menurut Ramlan (2001: 43), kalimat luas atau

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih. Jadi, untuk mengidentfikasi kalimat majemuk dapat dilihat dari unsur klausa yang ada dalam kalimat. Maka, penulis menyimpulkan bahwa kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri dari dua klausa. Kalimat majemuk ini terbagi menjadi kalimat majemuk setara, dan kalimat majemuk bertingkat yang akan dijelaskan pada subbab berikutnya. Berikut penulis memaparkan contoh-contoh kalimat luas atau kalimat majemuk. 38) Ia pergi ke Surabaya, dan ia bertemu dengan teman lamanya. 39) Ia mengaku, bahwa ia jatuh cinta kepadaku. 40) Rumah itu bagus, tetapi pekarangannya tidak terpelihara. Ketiga contoh kalimat di atas mengandung dua klausa. Kalimat (38) terdiri dari klausa ia pergi ke Surabaya dan klausa kedua ia bertemu dengan teman lamanya. Kalimat (39) klausa pertama, yaitu ia mengaku dan klausa kedua ia jatuh cinta kepadaku. Kalimat (40) terdiri dari dua klausa, klausa pertama ialah rumah itu bagus dan klausa kedua pekarangannya tidak terpelihara. Kalimat (38) dan (39) termasuk kalimat majemuk setara karena di dalamnya mengandung konjungsi dan dan tetapi sedangkan kalimat (40) termasuk kalimat majemuk tak setara karena ditandai dengan kata bahwa. 2.5.3.3 Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara digunakan oleh penutur dan penulis dalam bahasa lisan maupun tulisan. Kalimat majemuk setara ini juga digunakan untuk menulis sebuah karangan. Dalam kalimat majemuk setara klausa satu dan klausa

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 yang lain bediri sendiri dan memiliki kedudukan yang sama seperti yang dikemukakan oleh Ramlan (2001: 46), dalam kalimat majemuk setara klausa satu tidak merupakan bagian dari klausa lainnya; masing-masing berdiri sendiri sebagai klausa inti. Klausa-klausa itu dihubungkan dengan kata penghubung setara terdiri dari dan, dan lagi, lagi pula, kemudian, atau, tetapi, tapi, akan tetapi, dan malahan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kalimat majemuk setara terdiri dari dua klausa yang memiliki kedudukan setara. Beberapa contoh, misalnya: 41) Orang itu miskin, lagi pula sangat malas. 42) Anaknya hidup dengan kemewahan, sedangkan orang tuanya hidup serba kekurangan. 43) Mereka sedang memasak, atau sedang mengobrol. Kalimat (41), (42), dan (43) terdiri dari dua klausa yang masing-masing berdiri sendiri. Di dalam kalimat di atas mengandung konjungsi yang menandakan bahwa kalimat (41), (42), dan (43) tergolong dalam kalimat majemuk setara. 2.5.3.4 Kalimat Majemuk Beringkat Dalam bahasa lisan dan tulisan, kita mengenal berbagai jenis kalimat salah satunya kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk bertingkat memiliki klausa-klausa dengan kedudukan yang tidak setara atau sederajat. Artinya, salah satu kalimat tunggal penyusun kalimat majemuk bertingkat merupakan induk kalimat dan anak kalimat. Menurut Ramlan (2001: 47), kalimat majemuk tak setara terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan. Klausa yang satu merupakan

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 bagian dari klausa yang lainnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kalimat majemuk bertingkat terdiri dari dua klausa yang memiliki kedudukan tidak setara. Perhatikan contoh kalimat majemuk bertingkat berikut ini. 44) Seksi khusus itu sesungguhnya sudah dibentuk di Tokyo sebelum bagian intelijen berangkat ke Indonesia. Kalimat di atas terdiri dari dua klausa. Klausa pertama ‘seksi khusus itu sesungguhnya sudah dibentuk di Tokyo’ dan klausa kedua ‘bagian intelijen berangkat ke Indonesia’. Klausa pertama merupakan klausa inti dan klausa kedua merupakan klausa bawahan. Jadi, jelas kelihatan bahwa kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan. 2.5.3.5 Kalimat Tunggal Kalimat tunggal atau lebih dikenal dengan kalimat sederhana terdiri dari satu klausa. Dengan kata lain, kalimat tunggal hanya terdiri dari satu struktur penyusun kalimat yang terdiri dari subjek dan predikat dan di dalamnya tidak mengandung konjungsi. Menurut Ramlan (2001: 43), kalimat sederhana atau kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa. Jadi, dapat disimpulkan kalimat tunggal hanya terdiri dari satu klausa yang mengandung unsur subjek dan predikat. Berikut contoh-contoh kalimat sederhana. 45) Kisah ini sungguh-sungguh terjadi. 46) Fendi sedang bermain bola. 47) Ani menonton TV.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Keempat kalimat di atas terdiri satu klausa. Kalimat (45) terdiri dari unsur subjek ‘kisah ini’ dan predikat ‘sunguh-sungguh terjadi’. Kalimat (46) terdiri dari ‘Fendi’ menduduki fungsi subjek, ‘sedang bermain’ menduduki fungsi predikat dan ‘bola’ menduduki fungsi objek. Kalimat (47) ‘Ani’ menduduki fungsi subjek, ‘menonton’ menduduki fungsi predikat, dan ‘TV’ menduduki fungsi objek. Ketiga contoh kalimat di atas masing-masing terdiri dari satu klausa, yaitu subjek dan predikat. 2.5.4 Kalimat Berdasarkan Maksud Jenis kalimat berdasarkan maksud perlu dipahami oleh setiap orang agar ide-ide dan gagasan-gagasan yang hendak disampaikan dapat dimengerti dengan jelas oleh pendengar dan pembaca. Maksud yang disampaikan dapat berupa informasi, perintah, dan pernyataan. Kalimat berdasarkan maksud membutuhkan tanggapan dari orang lain. Tanggapan dapat berupa kata ya, dapat berupa tindakan, dan dapat berupa anggukan. Ramlan (2001: 26), membagi kalimat berdasarkan maksud menjadi tiga, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. 2.5.4.1 Kalimat Berita atau Kalimat Deklaratif Kalimat berita disebut juga kalimat deklaratif yang berfungsi memberikan informasi kepada orang lain. Di dalam kalimat berita mengandung informasi mengenai peristiwa atau kejadian yang dialami oleh seseorang. Misalnya, setelah kita mengalami atau melihat suatu kejadian lalu menyampaikan kepada orang lain, maka informasi yang kita sampaikan termasuk dalam kalimat

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 berita. Informasi yang disampaikan memerlukan tanggapan khusus. Namun, kalimat berita berbeda dari kalimat suruh dan kalimat tanya walaupun sama-sama memerlukan tanggapan dari orang lain. Menurut Ramlan (2001: 27), kalimat berita adalah kalimat yang berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang disampaikan berupa informasi. Jadi, ciri yang menunjukkan suatu kalimat dikatakan kalimat berita adalah kalimat itu berisi informasi yang hendak disampaikan kepada orang lain sehingga memerlukan tanggapan khusus dari orang lain. Berikut contoh kalimat berita atau kalimat deklaratif. 48) Jalan itu sangat gelap. 49) Pagi tadi terjadi gempa di Palu. 50) Mobil Dimas menabrak seorang pejalan kaki yang sedang melintas di jalan. Ketiga kalimat di atas tergolong kalimat berita karena di dalamnya mengandung informasi. Kalimat (48) mengandung informasi jalan yang tidak memiliki penerangan. Kalimat (49) mengandung informasi suatu kejadian, yaitu gempa yang terjadi di Palu. Kalimat (50) mengandung informasi seorang pengendara mobil bernama Dimas mengalami kecelakaan menabrak seorang pejalan kaki.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 2.5.4.2 Kalimat Tanya Kalimat tanya disebut juga dengan kalimat introgatif berisi pertanyaan untuk menanyakan sesuatu kepada orang lain. Kalimat tanya meminta pengakuan dan tanggapan dari orang lain. Ciri kalimat tanya ditandai dengan penggunaan tanda tanya (?) dalam kalimat dalam bahasa tulis dan kata tanya dalam bahasa lisan. Menurut Ramlan (2001: 27), kalimat berita berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Kadang-kadang perhatian itu disertai anggukan. Kalimat tanya berpola intonasi bernada akhir naik. Pola intonasi kalimat tanya digambarkan dengan tanda tanya. Misalnya : 51) Ayah membaca buku apa? 52) Ibu menyaksikan pertandingan apa? 53) Itu kucing apa? Dalam kalimat (51-53) di atas, kata tanya apa menanyakan identitas. Dalam kalimat (51) menanyakan identitas buku, dalam kalimat (52) menanyakan identitas pertandingan, dalam kalimat (53) menanyakan identitas kucing. Kata apa di situ tidak dapat dipindahkan ke awal kalimat karena kata itu membentuk satu frasa dengan kata-kata buku apa, pertandingan apa, dan kucing apa, dan berfungsi sebagai atribut yang mempunyai letak yang tetap di belakang pusatnya. Di samping itu, terdapat kalimat tanya yang memerlukan jawaban yang memberi penjelasan. Kalimat tanya golongan ini ditandai oleh kata tanya yang bersifat

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 menggantikan kata atau kata-kata yang ditanyakan. Kata-kata itu adalah apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, mana, bilamana, kapani, bila, dan berapa. 2.5.4.3 Kalimat Suruh Kalimat suruh dikatakan juga kalimat perintah. Di dalamnya mengandung ungkapan dengan menggunakan kata suruh sehingga memerlukan tanggapan dari orang lain. Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kaimat suruh mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak bicara. Pola intonasi kalimat suruh itu ditandai dengan tanda /!/. Berdasarkan strukturnya kalimat suruh dapat digolongkan menjadi empat, yaitu kalimat suruh sebenarnya, kalimat persilahan, kalimat ajakan, dan kalimat larangan (Ramlan, 2001: 39). Jadi, kalimat suruh adalah kalimat yang di dalamnya mengandung perintah dari seseorang kepada orang lain sehingga membutuhkan tanggapan. 2.5.4.3.1 Kalimat Suruh Sebenarnya Kalimat suruh sebenarnya sering digunakan oleh seseorang saat berbicara dengan orang lain. Kalimat suruh menyatakan maksud kepada orang lain sehingga memerlukan tanggapan dari orang lain. Menurut Ramlan (2001: 40), kalimat suruh sebenarnya ditandai dengan pola intonasi suruh. Selain itu, apabila predikat terdiri dari kata verba intransitif, bentuk kata verba itu tetap, hanya partikel lah dan kata tolong dapat ditambahkan pada kata verba untuk menghaluskan perintah. Kalimat suruh sebenarnya sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan digunakan dalam bahasa tulis dalam sebuah karangan.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Jadi, kalimat suruh sebenarnya berisi perintah yang memerlukan tanggapan dari orang lain. Berikut ini penulis memberikan contoh kalimat suruh sebenarnya. 54) Datanglah engkau ke rumahku! 55) Tolong ambilkan saya tas Apabila predikatnya terdiri dari kata verbal transitif, kalimat suruh yang sebenarnya itu, selain ditandai oleh pola intonasi suruh, juga oleh tidak adanya prefiks meN- pada kata verba intransitif. Partikel lah ditambahkan untuk menghaluskan suruhan. 2.5.4.3.2 Kalimat Persilahan Kalimat persilahan digunakan untuk meminta seseorang untuk melakukan sesuatu menggunakan bahasa yang sopan. Kalimat persilahan ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam melakukan komunikasi menggunakan bahasa seseorang dengan orang lain. Kalimat persilahan bermakna memberikan persilahan atau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai yang telah dikatakan oleh penutur atau penulis. Menurut Ramlan (2001: 42), kalimat persilahan ditandai oleh pola intonasi suruh dan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat (Ramlan, 2001: 42). Subjek boleh dibuang, boleh juga tidak. Jadi, kalimat persilahan adalah kalimat yang berisi perminntaan dari seseorang kepada orang lain dan membutuhkan tanggapan dari orang lain. Berikut ini penulis memaparakan contoh-contoh kalimat persilahan. 56) Silakan Ibu duduk di sini!

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 57) Silakan berkunjung ke rumahku! 58) Silakan beristirhat! Ketiga contoh di atas (56), (57), dan (58) menggunakan kata silakan dalam kalimat persilahan. Ketiga contoh di atas termasuk dalam kalimat persilahan karena berisi perintah menggunakan bahasa yang sopan dan membutuhkan tanggapan atau respon dari orang lain. 2.5.4.3.3 Kalimat Ajakan Kalimat ajakan digunakan dalam percakapan sehari hari dan dalam sebuah tulisan. Kalimat ajakan berfungsi dalam hubungan situasi mengharapkan tanggapan dari orang lain. Menurut Ramlan (2001: 42), kalimat ajakan berfungsi mengharapkan suatu tanggapan berupa tindakan, hanya bedanya tindakan di sini bukan hanya dilakukan oleh orang yang diajak bicara, melainkan oleh orang yang berbicara. Kalimat ajakan juga ditandai oleh kata mari dan ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata mari dan ayo menjadi marilah dan ayolah. Kata-kata seperti mari dan ayo digunakan sebagai kata yang memiliki makna mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi, kalimat ajakan adalah kalimat yang berisi ajakan untuk melakukan sesuatu dan membutuhkan tanggapan dari orang lain. Misalnya: 59) Marilah belajar di rumahku! 60) Ayolah duduk di sampingku!

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 2.5.4.3.4 Kalimat Larangan Kalimat larangan sama halnya dengan kalimat suruh, kalimat persilahan, dan kalimat ajakan di dalamnya ditandai dengan pola intonasi suruh dan mengharapkan tanggapan dari orang lain. Menurut Ramlan (2001: 43), kalimat larangan ditandai oleh intonasi suruh dan ditandai oleh adaya kata jangan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperhalus larangan. Jadi, kalimat larangan ditandai oleh kata jangan di awal kalimat digunakan untuk memberikan larangan kepada orang lain dan memerlukan tanggapan dari orang lain. 61) Janganlah engkau pergi sendiri! 62) Janganlah suka menyakiti hati orang lain! Kemudian menurut Sugono (2009: 98- 195), membagi jenis-jenis kalimat menjadi kalimat dasar, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. Berikut penulis memaparkan penjelasan mengenai kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. 2.5.5 Kalimat Aktif Kalimat aktif merupakan kalimat yang ditandai dengan hadirnya verba aktif. Kalimat aktif mengandung unsur subjek sebagai pelaku yang melakukan tindakan melalui predikat terhadap objek. Menurut Sugono (2009: 118), kalimat aktif adalah kalimat yang subjek suatu kalimat merupakan pelaku perbuatan yang yang dinyatakan pada predikat. Dengan kata lain, kalimat aktif hanya terdapat

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 pada kalimat yang predikatnya berupa verba aktif atau verba perbuatan. Jadi, dalam kalimat aktif terdiri dari verba aktif. Misalnya: 63) Febi mengirimkan surat lamaran ke perusahaan kelapa sawit. 64) Ayah membelikan Tono mobil. Kalimat (63) terdiri dari unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. Kalimat (64) terdiri dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Kedua kalimat di atas memiliki unsur predikat yang mengandung verba aktif. Kalimat (63) kata mengirimkan menduduki unsur verba aktif dan kalimat (64) kata membelikan menduduki unsur verba aktif sehingga tergolong kalimat aktif. 2.5.6 Kalimat Pasif Berbeda dengan kalimat aktif, kalimat pasif di dalamnya terdiri dari subjek yang dikenai perbuatan oleh predikat. Menurut Sugono (2009: 122), kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya tidak berperan sebagai pelaku, tetapi sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. jadi, untuk menetukan sebuah kalimat dikatakan kalimat pasif ditandai dengan predikat yang dipasifkan. Selain itu, ciri kalimat pasif subjek pada kalimat pasif berubah menjadi objek, dan predikat diawali dengan kata di, ke-an. Berikut ini penulis menguraikan contoh kalimat pasif. 65) Berta dipinjami uang oleh Sekar. 66) Saya dibawakan oleh-oleh dari Malang.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Kedua kalimat di atas tergolong kalimat pasif karena terdiri dari verba pasif. Kalimat (65) terdiri dari verba pasif kata dipinjami dan kalimat (66) kata dibawakan mengandung predikat atau verba pasif. 2.5.7 Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara atau dikenal juga kalimat luas setara terdiri dari dua klausa. Menurut Sugono (2009: 158), kalimat majemuk setara adalah kalimat yang struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal. Jadi, kalimat majemuk setara terdiri dari dua klausa yang ditandai dengan hadirnya konjungsi seperti dan, lalu, lagi pula, tetapi, dan sebagainya untuk menunjukkan kesetaraan dari dua klausa yang ada dalam satu kalimat. Berikut contoh kalimat majemuk setara. 67) Saya datang, tetapi dia pergi. 68) Anak-anak itu meniup seruling dan teman-temannya menyanyi bersama. 69) Tini ingin melanjutkan kuliah ke Universitas Terbuka, atau kuliah di perguruan tinggi swasta terbaik. Kalimat (67), (68), dan (69) mengandung konjungsi antar kalimat yang menghubungkan klausa satu dengan klausa lain sehingga tergolong dalam kalimat majemuk setara. Konjungsi yang digunakan, yaitu ‘tetapi’, ‘dan’, dan ‘atau’. Jadi, kalimat majemuk setara ditandai oleh hadirnya konjungsi dalam sebuah kalimat.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 2.5.8 Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari dua klausa. Namun, berbeda dengan kalimat majemuk setara yang ditandai oleh konjungsi. Kalimat majemuk bertingkat salah satu cirinya ditandai oleh kata bahwa. Menurut Sugino (2009: 175), kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas satu induk kalimatn dan satu anak kalimat atau lebih. Ada sebagian kalimat yang berisi informasi atau keterangan yang lebih lengkap, terkadang sampai terperinci. Kalimat itu mengandung kalimat dasar yang merupakan inti utama dan satu atau kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu, misalnya keterangan subjek atau objek. Diantara kedua unsur itu digunakan konujungsi. Konjungsi itulah yang membedakan struktur kalimat majemuk bertingkat dari kalimat majemuk setara. Berikut contoh kalimat majemuk bertingkat. 70) Saya masuk ketika mereka diam. Kalimat di atas terdiri dari anak kalimat ketika mereka diam mempunyai kedudukan lebih rendah (bawahan) daripada induk kalimat saya masuk. Jadi, kalimat (70) termasuk kalimat majemuk bertingkat yang di dalamnya mengandung unsur anak kalimat dan induk kalimat. 2.5.9 Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran ialah kalimat majemuk campuran dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Menurut Sugono (2009: 195), kalimat majemuk campuran adalah kalimat campuran dari kalimat majemuk

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 setara dan kalimat majemuk bertingkat. Jadi, dalam kalimat majemuk campuran terdiri dari sekurang-kurangnya tiga klausa atau tiga kalimat tunggal yang di dalamnya terdiri dari subjek dan predikat. Dalam kalimat majemuk campuran, terdapat juga unsur kalimat seperti pelengkap, objek, dan keterangan untuk melengkapi struktur kalimat itu. 71) Karena ingin membebaskan para penumpang, pasukan komando terpaksa menyerbu pesawat dan berakhirlah drama pembajakan yang telah berlangsung selama dua hari itu. Pada kalimat di atas terdapat tiga konjungsi. Konjungsi karena menghubungkan anak kalimat ingin membebaskan para penumpang dan induk kalimat pasukan komando terpaksa menyerbu pesawat. Konjungsi yang menghubungkan anak kalimat pewatas telah berlangsung selama dua hari itu dengan frasa nomina drama pembajakan. Kesemua unsur itu merupakan subjek dan predikat berakhirlah. Konjungsi dan menghubungkan kalimat yang mendahuluinya dan kalimat yang menyertainya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas mengenai jenis-jenis kalimat, peneliti akan menggunakan jenis-jenis kalimat menurut pendapat Ramlan (2001), dalam bukunya berjudul Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Jenis-jenis kalimat terbagi menjadi jenis kalimat berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud. Jenis kalimat berdasarkan susunan terbagi menjadi kalimat tak berklausa, kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal. Jenis kalimat

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 berdasarkan maksud menjadi tiga, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. 2.6 Karangan Karangan adalah wujud gagasan atau ide seseorang dalam tulisan yang dapat dimengerti oleh pembaca (Gie, 2002 : 3). Maksudnya, karangan merupakan wujud dari gagasan seseorang yang kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan untuk dibaca oleh orang lain. Karangan adalah suatu tulisan yang berisi gagasan atau ungkapan perasaan seseorang dalam bentuk tulisan. Salah satu manfaat menulis karangan bagi seorang penulis ialah penulis dapat mengembangkan gagasan dan ide-ide yang ditulis sehingga menjadi lebih menarik untuk dibaca. Menurut Slamet (2014: 111), karangan bersifat tetap, artinya bahasa yang dituangkan dalam tulisan harus mencerminkan maksud penulisnya. Jadi, apa yang ingin dikatakan atau diceritakan oleh penulis harus dapat dipahami oleh pembaca. Maka, penulis harus membuat karangan dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca, sehingga tidak menyulitkan pembaca untuk memahami setiap kalimat yang ditulis oleh penulis.Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa karangan adalah sebuah tulisan yang di dalamnya mengungkapkan ide-ide atau gagasan seseorang. Dalam membuat suatu karangan, tentu harus memilih topik yang hendak dijadikan sebagai karangan, setelah topik dipilih maka langkah selanjutnya harus membuat kerangka karangan untuk memudahkan penulis menulis secara teratur dan dapat tersusun secara sistematis

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 sehingga tulisan yang dihasilkan dapat tersusun dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. 2.7 Narasi Menurut Darma (2014: 34), narasi adalah jenis wacana yang bercerita tentang kejadian suatu peristiwa yang dialami oleh para tokoh. Jadi, narasi merupakan bagian wacana yang menceritakan proses dari suatu kejadian. Kejadian yang dialami oleh tokoh dalam cerita itu diceritakan berdasarkan urutan waktu melalui alur cerita. Narasi merupakan karangan yang dirangkai sesuai kronologinya dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Narasi bertujuan memperluas wawasan dan menghibur pembaca. Menurut Dalman (2016: 105), narasi adalah cerita yang disusun berdasarkan urutan waktu di dalam cerita terdapat tokoh yang mengalami berbagai konflik. Maksudnya, dalam sebuah narasi, cerita mengalir melalui lintasan alur berdasarkan urutan waktu. Konflik dalam narasi mengacu pada perbedaan karakter tokoh. Ada dua karakter tokoh yang sering digunakan dalam sebuah cerita, yaitu tokoh antagonis dan protagonis. Konflik hadir untuk menjadikan alur cerita lebih menarik untuk dibaca. Narasi merupakan jenis paragraf yang terstruktur disajikan dalam bentuk rangkaian peristiwa atau kisah (Kusmana, 2014: 70-71). Maksudnya, narasi dibangun oleh sebuah alur. Peristiwa atau kejadian yang diceritakan dalam karangan narasi dialami oleh tokoh dalam cerita itu. Karangan narasi berisi cerita atau peristiwa yang disajikan dengan urutan waktu yang jelas yang dikemas

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menarik baik itu bersifat fiksi maupun nonfiksi. Cerita dalam karangan narasi disampaikan secara kronologis. Berdasarkan pandangan tiga ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa narasi adalah sebuah rangkaian peristiwa yang dituangkan dalam sebuah tulisan untuk membuat pembaca mendapat informasi yang hendak disampaikan oleh penulis. Cerita yang disampaikan dapat berupa fakta atau fiksi yang disampaikan dalam urutan waktu secara kronologis. Karangan narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. 2.7.1 Prinsip-prinsip Narasi Prinsip-prinsip narasi perlu dipahami oleh seorang penulis maupun pembaca agar dalam mengembangkan narasi, mencangkup berbagai prinsip agar menghasilkan sebuah karangan yang padu. Menurut Suparno dan Yunus (2008) dalam Dalman (2016: 107), menulis karangan narasi perlu diperhatikan prinsipprinsip dasar narasi sebagai tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi sebagai berikut. 2.7.1.1 Alur Alur merupakan rangkaian cerita yang berusaha mempertemukan konflik yang terdapat dalam narasi. Alur bersembunyi dibalik jalan cerita. Alur tidak dapat dipisahkan dari jalan cerita, tetapi keduanya berbeda. Jalan cerita memuat kejadian, tetapi suatu kejadian ada karena sebabnya, dan alasan. Alur bertugas menggerakkan cerita, kejadian dikatakan narasi apabila didalamnya terdapat perkembangan kejadian. Penyebab terjadinya suatu perkembangan, yaitu konflik.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Suatu konflik dalam narasi terdiri dari lima, yaitu: (1) pengenalan, (2) timbulnya konflik, (3) konflik memuncak, (4) klimaks, dan (5) pemecahan masalah. 2.7.1.2 Penokohan Salah satu ciri khas narasi ialah mengisahkan tokoh cerita dalam suatu rangkaian peristiwa dan kejadian. Tindakan, peristiwa, kejadian, itu tersusun sehingga mendapatkan kesan atau efek tunggal. Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat masing-masing tokoh itu. 2.7.1.3 Latar Latar ialah tempat dan waktu terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh. Dalam karangan narasi terkadang tidak disebutkan secara jelas tempat tokoh berbuat atau mengalami peristiwa tertentu. Sering kita jumpai cerita hanya mengisahkan latar secara umum. 2.7.1.4 Sudut Pandang Sudut pandang dalam narasi menjawab pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah ini. Apa pun sudut pandang yang dipilih pengarang akan menentukan gaya dan corak cerita. Sebab, watak dan pribadi si pencerita akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. 2.7.2 Langkah-langkah Pengembangan Narasi Langkah-langkah menulis karangan narasi digunakan sebagai pedoman untuk menghasilkan sebuah karangan narasi yang padu. Dalam menulis sebuah

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 karangan narasi, menggunakan beberapa tahap agar dapat memudahkan seorang penulis menulis secara terstruktur dan konsisten dalam mengarang. Berikut ini langkah-langkah mengembangkan narasi menurut pendapat Dalman (2016: 110), sebagai berikut: a. Menentukan tema dan amanat yang hendak disampaikan. b. Menentukan sasaran pembaca. c. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur. d. Bagi peristiwa utama ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita. e. Rincian peritiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita. f. Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang. 2.7.3 Ciri-ciri karangan Narasi Setelah mengetahui langkah-langkah pengembangan narasi. Penulis dan pembaca perlu mengetahui ciri-ciri yang terdapat dalam karangan narasi. Ciri-ciri ini berguna untuk membedakan karangan narasi dengan karangan yang lainnya. Setiap karangan memiliki ciri-ciri atau kekhasan masing-masing. Karangan narasi memiliki berbagai keunikan yang membedakan dari jenis karangan lain. Adapun ciri-ciri karangan narasi sebagai berikut. Menurut Keraf (dalam Dalman 2016: 110), ciri-ciri karangan narasi, yaitu:

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 a. Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan. b. Dirangkai dalam urutan waktu. c. Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?Ada konflik. Berdasarkan pendapat ahli di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa ciri-ciri narasi berisi mengenai peristiwa atau kejadian yang diceritakan menurut urutan waktu, di dalam narasi terdapat perbuatan yang digambarkan melalui watak para tokoh. Peristiwa atau kejadian yang dipaparkan dapat berupa imajinasi maupun berdasarkan pengalaman penulis itu sendiri, tergantung pada jenis narasi yang digunakan dalam mengarang. Setiap karangan memiliki ciri-ciri atau kekhasan masing-masing. Karangan narasi memiliki berbagai keunikan yang membedakan dari jenis karangan lain. 2.7.4 Jenis-jenis Narasi Jenis-jenis narasi ini perlu dipahami guna membedakan karangan narasi dari segi isinya. Pemahaman mengenai jenis-jenis narasi akan membantu para pembaca mengerti mengenai jenis-jenis karangan narasi yang akan dibaca. Berdasarkan jenisnya karangan narasi dibuat berdasarkan fakta dan ada yang berdasarkan sugestif para penulis. Maka, untuk membedakannya perlu memahami teori menurut Dalman (2016: 111-114), narasi terbagi menjadi dua, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif sebagai berikut:

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 2.7.4.1 Narasi Ekspositoris Narasi ekspositoris adalah narasi yang berisi informasi dengan tujuan memperluas pengetahuan orang lain mengenai kisah seseorang. Dalam narasi ekspositoris, penulis menceritaka suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil hingga saat terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Narasi ekspositoris termasuk jenis karangan narasi yang mengutamakan kisah yang sebenarnya dari tokoh yang diceritakan. Jadi, karangan tersebut tidak boleh fiktif dan tidak boleh bercampur dengan daya khayal atau daya imajinasi pengarangnya. Bahasa yang digunakan mengandung informasi dengan kata-kata yang denotatif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, kisah perjalanan seseorang, kisah kepahlawanan, catatan harian, dan lain-lain. 2.7.4.2 Narasi Sugestif Narasi sugestif adalah narasi yang berisi tentang maksud tertentu dari penulis, menyampaikan amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga seolah-olah pembaca atau pendengar mengalami peristiwa tersebut. Dalam hal ini seorang penulis harus mampu menggambarkan perwatakan para tokoh dan menggambarkan kejadian atau peristiwa yang dialami para tokoh serta tempat terjadinya peristiwa tersebut secara detail sehingga pembaca seolah-olah mengalaminya sendiri. Oleh karena itu, dalam menulis narasi sugestif, seorang

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 pengarang harus membangkitkan daya imajinasi si pembaca. Dalam narasi sugestif ini diizinkan menggunakan daya khayal atau daya imajinasinya untuk menghidupkan sebuah cerita. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan juga bahasa konotatif, yaitu bahasa yang mengandung makna kias. Makna yang disampaikan dalam bentuk tersirat bukan tersurat. Contoh narasi sugestif adalah roman, novel, cerpen, naskah drama, dan lain-lain. 2.8 Kerangka Berpikir Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menjalin hubungan dengan manusia lain menggunakan bahasa. Salah satunya komunikasi secara tidak langsung menggunakan salah satu media seperti karangan yang ditulis oleh penulis yang didalamnnya mengandung pesan atau maksud yang hendak disampaikan kepada pembaca. Karangan dapat ditulis oleh setiap orang termasuk siswa. Karangan merupakan salah satu wujud keterampilan menulis yang di dalamnya mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasan seseorang. Penelitian ini memilih karangan narasi yang ditulis oleh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Pemilihan materi karangan narasi didasarkan pada dua hal. Pertama, sesuai dengan kurikulum yang digunakan oleh SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta menggunakan kurikulum 2013 revisi 2016. Kedua, ingin mengajak siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 bercerita melalui tulisan yang siswa tulis dalam sebuah karangan narasi yang nantinya dapat melatih keterampilan menulis siswa.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Penelitian ini mengkaji mengenai jenis-jenis kalimat yang terdapat dalam karangan narasi siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Berikut diuraikan mengenai alur kerangka berpikir dalam penelitian ini. Bagan 2.1 Alur Kerangka Berpikir Sumber gambar: www.google.co.id Karangan narasi siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Kesimpulan Analisis Hasil Analisis Jenis Kalimat Klasifikasi

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini mendeskripsikan jenis-jenis kalimat dalam karangan narasi siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Hal ini dapat dipahami melalui pendapat Moleong (2006: 11), penelitian deskriptif berupa kata-kata dan gambar, bukan angka-angka. Dengan demikian, laporan penelitian berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran dalam penyajian laporan. Menurut Strauss & Corbin (2003:4-5), penelitian kualitatif adalah penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Prosedur ini menghasilkan temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana. Sarana itu meliputi pengamatan dan wawancara, namun bisa juga mencakup dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya data sensus. Penelitian ini menggunakan sarana dokumen berupa karangan, data yang dihasilkan berupa kalimat dari karangan narasi siswa. Karangan narasi yang terkumpul berjumlah 32 karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Data yang dihasilkan berupa kalimat-kalimat dan akan dideskripsikan dalam bentuk uraian. 59

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 3.2 Data dan Sumber Data Menurut Lofland dan Lofland (dalam Moleong, 2006: 157), sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dari penelitian ini adalah 32 karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Data yang dianalisis berupa kalimat-kalimat yang ada dalam karangan narasi siswa. Berikut akan dipaparkan, nama siswa, nomor induk siswa (NIS), dan judul karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Tabel 3.1 Nama Siswa dan Judul Karangan No 1 2 3 NIS 14271 14271 14273 Nama Siswa Agrian Damar R. Akskarel Widya A. Allesandro Christian 4 14274 Amanda Lorensia Putri 5 6 7 8 9 10 14275 14276 14277 14279 14282 14283 Andina Junita Z. A. Angela Reika M.K. Anne Alodia Sucita Benedicta Gracia V.S. Cecilia Shanna Dela G. Christina Marella N. 11 12 13 14 15 16 14284 14285 18287 14290 14291 14292 Cristian Salomo D.M. Daniel Bara S. Elisabeth Yunita A. Fransisca Xaveria H.K. GabrielCallyandra S.Y. Gabriella Carina Ara A. Judul Karangan Waspada Kecelakaan Liburan Ke Solo Liburan Natal dan Tahun Baru Masuk SMP PL 1 Yogyakarta Liburan Bersama Cerita tentang Novelku Jalan-jalan ke Kota Ambon Liburan ke Pantai Liburan ke Malang Memenangkan Kejuaraan Taekwondo Natal Liburan ke Pulau Bali Berlibur ke Yogyakarta Liburan ke Rumah Nenek Pergi ke Gunung Berlibur ke Malang, Jawa Timur

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 No NIS 17 18 14293 14294 Grace Livearta P. Gregorius David R. P. 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 14297 14298 14299 14300 14301 14302 14303 14304 14305 14306 14307 14308 14309 14311 I Putu Gede Krisna P.W. Ignasius Bramantya W. Inosesia Amaraduhita P. Keenan Putra N. A. Kezia Dwina Nathania Leonardo Andrean Lidwina Ruth R.D.S. Lucetta Amarakamini Maria Albertina D.V.S.S. Patricia Devina H. Raden Nicolas A.D.L. Samuel Ivan K. Saverinus Adrian Maitri Vincentius Jevon D.D. 3.3 Nama Siswa Judul Karangan Liburan Natal Tahun 2017 Liburan ke Disneland Hongkong Ke Malang Berlibur ke Bali Liburan di Hari Sabtu Pergi ke Kulon Progo Liburan Bersama Keluarga Liburan ke Malang Terjebak di Lift Hotel Terjebak di Emergeny Exit Berlibur ke Kota Ambon Berlibur ke Bali Liburan Hari Minggu Liburan ke Jakarta Patah Tulang di Kaki Kiri Liburan ke West Lake Objek Penelitian Objek penelitian terbagi menjad dua, yaitu kalimat berdasarkan susunan dan kalimat berdasarkan maksud. Jenis kalimat berdasarkan susunan terbagi menjadi empat, yaitu kalimat tak berklausa, kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal. Jenis kalimat berdasarkan maksud menjadi tiga, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. Kalimat dalam karangan narasi siswa akan dianalisis berdasarkan jenis-jenis kalimat yang dikemukakan oleh Ramlan (2005: 23-39 dalam bukunya yang berjudul Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 3.4 Instrumen Penelitian Instrumen dalam melakukan penelitian ini adalah peneliti sendiri. Hal tersebut dapat dipahami melalui pendapat Basrowi dan Suwandi (2008: 34), instrumen adalah pencari tahu alamiah dalam mengumpulkan data lebih banyak bergantung pada dirinya sendiri sebagai alat pengumpul data. Jadi, peneliti berperan penting dalam melakukan penelitian deskripif kualitatif. Menurut (Moleong, 2006: 168), kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Penulis di sini berperan sangat penting mengingat penulis sebagai orang yang melaksanakan dan melaporkan hasil penelitiannya. Penulis dalam menjalankan penelitian memerlukan adanya bantuan. Penulis membutuhkan alat bantuan yakni, instrumen tes berupa uraian, yakni tes subjektif yang digunakan untuk mengumpulkan bahan dalam penelitian berupa karangan narasi siswa. Tes subjektif adalah teks yang berbentuk esai (uraian) untuk mengetahui kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang sifatnya pembahasan atau uraian kata-kata (Arikunto, 2012: 177). Penulis menggunakan tes subjektif untuk meminta siswa membuat karangan narasi yang akan digunakan sebagai bahan dalam penelitian ini. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini, peneliti mengamati penggunaan bahasa dalam bentuk kalimat pada karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 ajaran 2017/2018. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik dokumen pribadi. Menurut Moleong (2006: 217), dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Dalam penelitian ini, penulis akan meneliti dokumen pribadi berupa karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan delapan tahap pengumpulan data yang diuraikan sebagai berikut. 1) Peneliti memberikan materi mengenai pengertian karangan, narasi, prinsipprinsip narasi, langkah-langkah pengembangan narasi, ciri-ciri karangan narasi, jenis-jenis narasi, dan contoh karangan narasi; 2) Peneliti membertikan tes menulis karangan narasi kepada siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018; 3) Peneliti mengumpulkan hasil karangan narasi siswa; 4) Peneliti membaca kalimat hasil karangan narasi siswa; 5) Peneliti memberi garis bawah untuk menandai di kertas, dalam karangan narasi siswa; 6) Peneliti memberi kode yang telah peneliti tentukan, kode tersebut peneliti gunakan untuk menandai masing-masing data kalimat; 7) Dilanjutkan dengan klasifikasi; 8) Peneliti mencatat data dalam word laptop;

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 3.6 Teknik Analisis Data Penelitian ini menganalisis menggunakan metode perbandingan tetap (dalam Moleong, 2014: 287-298) bahwa secara umum proses analisis datanya mencangkup: reduksi data, kategorisasi data, sintensisasi, dan menyusun hipotesis kerja. Teknik analisis data digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan tahap-tahap analisis data yang diuraikan sebagai berikut. 1) Penulis mengidentifikasi data yang kemudian dikaitkan dengan fokus masalah penelitian. 2) Penulis memberi kode atau koding pada kalimat dalam karangan narasi siswa, berdasarkan jenis kalimat yang ingin peneliti analisis. Berikut dipaparkan kode yang akan peneliti gunakan untuk menganalisis data berdasarkan jenis kalimat menurut susunan dan menurut maksud. a. b. Jenis kalimat menurut susunan (1) Kalimat Tak Berklausa : KTB (2) Kalimat Majemuk Setara : KMS (3) Kalimat Majemuk Bertingkat : KMB (4) Kalimat Tunggal : KT Jenis kalimat menurut maksud (1) Kalimat Berita : KB (2) Kalimat Tanya : KT (3) Kalimat Suruh : KS

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 3) Data yang diperoleh melalui proses kode atau koding dimasukkan ke dalam tabel untuk dikategorikan berdasarkan jenis kalimat. 4) Penulis mendeskripsikan hasil analisis data berdasarkan jenis kalimat, yaitu jenis kalimat menurut susunan dan jenis data menurut maksud. 5) Penulis mengambil kesimpulan berdasarkan tahap (3) dan (4). 6) Penulis meminta triangulasi hasil analisis data kepada ahli yang telah ditentukan. 3.7 Triangulasi Setelah penulis melakukan analisis data, selanjutnya penulis melakukan Triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006: 330). Triangulasi berguna untuk mengecek keabsahan data dalam penelitian ini data berupa kalimat. Setelah peneliti membaca karangan narasi siwa dan menganalisis data, peneliti melakukan triangulasi kepada ahli, yaitu Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. Triangulasi data dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Februari 2018. Setelah peneliti menemukan data yang valid, peneliti menyajikan data berupa uraian deskripsi kalimat.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab IV penulis menguraikan tiga bagian, (1) deskripsi data, (2) analisis data, dan (3) pembahasan hasil. Bagian pertama, peneliti menguraikan deskripsi data penelitian. Bagian kedua, penulis menjelaskan hasil temuan dari analisis data berdasarkan dua rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni (1) jenis-jenis kalimat berdasarkan susunannya, dan (2) jenis-jenis kalimat berdasarkan maksudnya yang ada di dalam karangan para siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Bagian ketiga, peneliti membahas temuan dalam penelitian dengan konteks teori yang dianut. 4.1 Deskripsi Data Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat yang dihasilkan oleh para siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Kalimat dianalisis berdasarkan susunan terbagi menjadi kalimat tak berklausa, kalimat luas atau kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal. Jenis kalimat berdasarkan maksud terbagi menjadi tiga, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. Namun, berdasarkan hasil analisis data tidak ditemukan kalimat tak berklausa, kalimat tanya, dan kalimat suruh. Karangan narasi terkumpul sejumlah 32 karangan. Hal tersebut disebabkan saat pengambilan data hari kedua tanggal 02 Februari 2018, ada sepuluh orang tidak mengumpulkan karangan narasi karena enam orang siswa dipanggil ke ruang BK, tiga orang tidak mau mengumpulkan karangannya dengan alasan tidak mengerjakan 66

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 tugas menulis karangan, dan satu orang sudah pindah sekolah ke luar kota. Dari 32 karangan narasi siswa ditemukan 170 kalimat yang diambil sebagai data penelitian. Data penelitian yang diperoleh digolongkan berdasarkan jenis kalimat berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud. Kalimat berdasarkan susunan terbagi menjadi majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal. Dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, ditemukan 9 kalimat majemuk setara, 4 kalimat majemuk bertingkat, dan 119 kalimat tunggal. Kalimat berdasarkan maksud juga ditemukan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, yaitu 38 kalimat berita atau kalimat deklaratif. 4.2 Analisis Data Analisis data dilakukan berdasarkan susunan dan berdasarkan maksud. Berikut ini penulis menguraikan analisis data beserta contohnya yang terdapat dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. 4.2.1 Kalimat Berdasarkan Susunan Jenis kalimat berdasarkan susunan perlu dipahami karena menulis kalimat harus memperhatikan susunan kalimat agar terstruktur dan konsisten. Menurut pendapat Ramlan (2001: 23-24) kalimat berdasarkan susunan terbagi menjadi kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat tunggal (Ramlan, 2001: 23-43). Berikut penulis menguraikan hasil analisis data.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 4.2.1.1 Kalimat Majemuk Setara Kalimat luas setara atau kalimat majemuk setara adalah klausa yang satu tidak merupakan klausa lainnya; masing-masing berdiri sendiri sebagai klausa setara, yaitu sebagai klausa inti semua (Ramlan, 2001: 46). Kalimat luas setara atau kalimat majemuk setara ditemukan dalam karangan narasi siswa berjumlah 9 kalimat. Dalam kalimat majemuk setara terdiri dari dua kalimat tunggal yang digabungkan dengan kata penghubung. Klausa-klausa itu dihubungkan dengan kata penghubung setara terdiri dari kata dan, dan lagi, lagi pula, kemudian, atau, tetapi, tapi, akan tetapi, dan malahan. Berikut penulis memaparkan kalimat majemuk setara yang digunakan dalam karangan narasi yang telah mereka buat. 72) Akhirnya, pintu itu dibukakan dan kami keluar. (karangan 26) 73) Saat itu aku memang ingin liburan, tetapi aku sangat malas bepergian sangat jauh ke pantai. (karangan 6) 74) Esok harinya kami pulang dan dalam perjalanan pulang kami membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga di jogja. (karangan 16) Ketiga contoh kutipan kalimat di atas tergolong kalimat luas setara atau kalimat majemuk setara. Kalimat majemuk setara ditandai dengan hadirnya konsungsi. Konjungsi terdapat dalam ketiga kalimat di atas seperti konjungsi dan dan tetapi. 4.2.1.2 Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat luas bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan (Ramlan, 2001: 47). Kalimat majemuk bertingkat dibangun oleh

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 dua klausa verba, yaitu klausa induk kalimat dan klausa anak kalimat. Kalimat luas bertingkat ditemukan dalam karangan narasi siswa berjumlah 4 kalimat. Dalam kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan. Berikut penulis menguraikan contoh kutipan penggunaan kalimat majemuk bertingkat yang terdapat dalam karangan narasi siswa. 75) Saat itulah kita melihat emergency exit, Keenan memasuki emergency exit diikuti oleh kami (karangan 26). 76) Aku mengelilingi halaman sekitar 3-6 kali dan pada putaran ke-6 aku terjatuh (karangan karangan 31). Keempat kalimat di atas masing-masing terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan. Klausa inti yang terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat sehingga keempat kalimat tersebut tergolong kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk bertingkat termasuk kalimat yang paling sedikit digunakan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Hal ini disebabkan karena siswa cenderung menggunakan kalimat sederhana atau kalimat tunggal, di dalamnya hanya mengandung satu klausa aja, yaitu subjek dan predikat. 4.2.1.3 Kalimat Tunggal Kalimat sederhana atau lebih dikenal dengan kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa (Ramlan, 2001: 43). Kalimat yang terdiri dari satu klausa, yaitu kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. Unsur-unsur subjek dan predikat dapat diikuti oleh unsur-unsur kalimat seperti objek, pelengkap, dan keterangan.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Kalimat sederhana Berdasarkan hasil valisasi data, penulis menemukan data kalimat sederhana atau kalimat tunggal berjumlah 119 kalimat. Kalimat sederhana atau kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa. Dalam kalimat tunggal, unsur yang wajib hadir ialah subjek dan predikat sehingga kalimat tersebut tergolong kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Berikut penulis menguraikan kalimat tunggal yang digunakan oleh siswa dalam karangan narasinya. 77) Saya pernah jatuh naik motor. (karangan 1) 78) Saya berjanji agar selalu waspada. (karangan 1) 79) Saya merasa kedinginan. (karangan 3) 80) Kami memesan tiket melalu internet. (keterangan 5) Keempat contoh kutipan kalimat di atas tergolong dalam kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Hal ini dapat dipahami di dalam kalimat di atas mengandung unsur subjek dan predikat. Kalimat sederhana atau kalimat tunggal ialah jenis kalimat yang paling sering digunakan siswa dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Hal ini disebabkan kalimat-kalimat yang ditulis oleh siswa, cenderung menghadirkan unsur subjek dan predikat dalam karangan narasi. 4.2.2 Kalimat Berdasarkan Maksud Berdasarkan hasil analisis data karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, penulis menemukan penggunaan kalimat berdasarkan maksud, yaitu kalimat berita. Berikut ini penulis menguraikan berupa

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 kutipan penggunaan kalimat berita atau kalimat deklaratif dalam karangan narasi siswa. 4.2.1.1 Kalimat Berita atau Kalimat Deklaratif Kalimat berita adalah kalimat yang berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain (Ramlan, 2001: 27). Sesuatu yang hendak disampaikan kepada orang lain itu berupa informasi. Penulis menemukan 38 kalimat berita atau kalimat deklaratif dalam karangan siswa. Penggunaan kalimat berita atau kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk menyampaikan pesan yang di dalamnya mengandung informasi penting sehingga memerlukan tanggapan dari pendengar atau pembaca. Informasi penting tersebut dapat berupa keadaan atau situasi yang sedang dialami oleh penutur atau penulis. Berikut ini penulis menguraikan penggunaan kalimat berita atau kalimat deklaratif dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. 81) Hujan semakin deras. (karangan 1) 82) Di saat malam Natal, lingkungan di sekitar hotel sangat ramai. (karangan 2) 83) Di langit terlihat banyak kembang api. (karangan 2) 84) Saya terkena gejala tifus. (karangan 3) 85) Air lautnya berwarna biru, kemudian biru muda, kemudian biru tua (karangan 7) Kelima contoh kutipan di atas termasuk jenis kalimat berita atau kalimat deklaratif. Kalimat (81) termasuk kalimat berita di dalamnya mengandung

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 informasi mengenai cuaca yang dirasakan oleh seseorang dan disampaikan kepada orang lain. Kalimat (82) juga termasuk kalimat berita. Dalam kalimat tersebut memuat informasi suasana yang ada di lingkungan penulis saat malam Natal. Kalimat (83) tergolong kalimat berita di dalamnya mengandung informasi suasana saat malam hari yang dialami oleh seorang penulis yang belum diketahui oleh pembaca. Kalimat (84) tergolong kalimat berita di dalamnya mengandung informasi seseorang sedang mengalami keadaan atau situasi darurat dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kalimat (85) termasuk jenis kalimat berita di dalamnya mengandung informasi yang belum diketahui oleh orang lain tentang warna air laut yang berubah-ubah.Kalimat-kalimat berita ini termasuk kalimat yang paling dominan digunakan oleh siswa setelah kalimat tunggal. Karangan narasi berisi informasi mengenai peristiwa atau kejadian yang dialami oleh seseorang sehingga memunculkan penggunaan kalimat berita atau kalimat deklaratif. 4.3 Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data, rumusan masalah yang sudah penulis buat umumnya sudah terjawab. Hal ini dapat dilihat pada jenis-jenis kalimat yang terdapat dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Herningdyah Cahyaning Ratri (2017) mendeskripsikan penggunaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk sesuai dengan kaidah sintaksis dalam karangan guru-guru Sd Mahakam Ulu Kalimantan Timur. Penelitian yang dilakukan oleh Herningdyah Cahyaning Ratri menunjukkan berbagai faktor penyebab penggunaan klausa dan kalimat yang belum sepenuhnya digunakan oleh siswa. Hal tersebut menyebabkan maksud yang

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 hendak disampaikan oleh penulis belum tersampaikan dengan baik kepada para pembaca. Penelitian kedua dilakukan oleh Cicilia Primasari Murharjanti (2012) mendeskripsikan jenis kalimat lengkap dan tak lengkap dalam paragraf deskripsi siswa. Hal tersebut menunjukkan penggunaan kalimat dalam paragraf deskripsi siswa memiliki kelengkapan unsur dalam bahasa Indonesia, yakni subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. 4.3.1 Kalimat Berdasarkan Susunan Jenis kalimat yang digunakan oleh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada karangannya, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat luas bertingkat, dan kalimat tunggal. Kalimat luas setara atau kalimat majemuk setara ditemukan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Menurut Ramlan (2001: 46), dalam kalimat majemuk setara klausa satu tidak merupakan bagian dari klausa lainnya; masing-masing berdiri sendiri sebagai klausa inti. Klausa-klausa itu dihubungkan dengan kata penghubung setara terdiri dari dan, dan lagi, lagi pula, kemudian, atau, tetapi, tapi, akan tetapi, dan malahan. Unsur-unsur kalimat yang ditemukan dalam karangan narasi siswa terdiri dari subjek (S) – predikat (P) – objek (O) – subjek (S) – predikat (P) – objek (O) – keterangan (Ket) dan keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P) – pelengkap (Pel) – subjek (S) – predikat (P) – keterangan (Ket). Kalimat luas tak setara atau kalimat majemuk tak setara ditemukan dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Menurut

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Ramlan (2001: 47) kalimat luas tak setara terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan Unsur-unsur kalimat yang ditemukan dalam karangan narasi siswa terdiri dari keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P) – objek (O) – subjek (S) – predikat (P) dan subjek (S) – predikat (P) – objek (O) – subjek (S) – predikat (P) – objek (O) – keterangan (Ket). Kalimat sederhana atau kalimat tunggal ditemukan dalam karagan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Menurut Ramlan (2001: 43), kalimat sederhana adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa. Jenis kalimat ini terdiri dari unsur subjek (S) dan predikat (P). Unsur-unsur kalimat yang ditemukan dalam karangan narasi siswa terdiri dari subjek (S) – predikat (P) keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P) – keterangan (Ket), keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P), dan subjek (S) – predikat (P) – pelengkap (Pel). 4.3.2 Kalimat Berdasarkan Maksud Jenis kalimat berdasarkan maksud terdapat dalam karangan narasi siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018. Penulis menemukan jenis kalimat berdasarkan maksud, yaitu kalimat berita atau kalimat deklaratif. Kalimat berita ditandai dari segi isinya mengandung informasi atau kalimat yang ingin menyampaikan sesuatu kepada pembaca (tulis) dan pendengar (lisan). Menurut Ramlan (2001: 27) kalimat berita dalam hubungan situasi berfungsi memberitahukan sesuatu atau informasi kepada orang lain sehingga tanggapannya berupa perhatian, kadang-kadang disertai anggukan maupun ucapan ya. Unsur-unsur kalimat yang ditemukan dalam karangan narasi siswa terdiri dari

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P) – objek (O) dan keterangan (Ket) – subjek (S) – predikat (P) – keterangan (Ket). Unsur-unsur kalimat tersebut menjadi dasar penulis menganalisis data. Kalimat berita atau kalimat deklaratif merupakan jenis kalimat yang sering digunakan setelah kalimat sederhana atau tunggal oleh para siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Para siswa menulis karangan narasi yang berisi mengenai informasi-informasi kegiatan yang mereka lakukan pada saat libur semester gasal sehingga banyak ditemukan jenis kalimat deklaratif pada karangan siswa. Hal tersebut dapat dipahami melalui karangan narasi adalah karangan yang berisi tentang kejadian atau peristiwa yang dialami oleh penulis sehingga di dalamnya mengandung informasi.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN Pada bagian penutup, penulis menguraikan mengenai dua hal, yakni (1) kesimpulan, dan (2) saran. Berikut dipaparkan masing-masing subbab: 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan dua hal sebagai berikut. a. Siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 sudah dapat menghasilkan jenis kalimat berdasarkan susunan, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat kalimat tunggal. b. Siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 sudah dapat menghasilkan jenis kalimat berdasarkan maksud, yaitu kalimat berita atau kalimat deklaratif. 5.2 Saran Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, penulis memberi saran bagi guru bahasa Indonesia, calon pendidik, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, dan bagi para peneliti selanjutnya. Saran yang dapat dikemukakan sebagai berikut. a. Bagi Guru Bahasa Indonesia Guru bahasa Indonesia dapat meningkatkan pemberian teori-teori tentang kalimat, unsur-unsur kalimat, dan jenis-jenis kalimat serta latihan-latihan 76

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 soal kepada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa dalam menguasai teori mengenai kalimat. Guru hendaknya memberikan bimbingan dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Dengan demikian, siswa dapat menghasilkan tulisan yang menarik dan bervariasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. b. Bagi Pendidik Perlu memahami teori sintaksis mengenai kalimat, unsur-unsur kalimat, dan jenis-jenis kalimat. Hal ini dapat menjadi bekal bagi pendidik saat mengajar siswa di sekolah. Pendidik dapat meningkatkan pemahaman kalimat dan jenis-jenisnya melalui pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. c. Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia melalui mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa dan Sintaksis perlu menekankan penggunaan jenis-jenis kalimat dalam tulisan khususnya dalam karangan sehingga mahasiswa benar-benar memahami penggunaan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar. Melalui mata kuliah ini membantu para mahasiswa dalam memahami kalimat, unsur-unsur kalimat dan penggunaan jenis-jenis kalimat dalam menulis sebuah karangan. d. Bagi peneliti selanjutnya Penulis mengharapkan adanya kebaruan topik untuk penelitian selanjutnya, misalnya tentang penggunaan jenis-jenis kalimat dalam karangan eksposisi. Dengan demikian, penelitian selanjutnya dapat memperkuat hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis saat ini.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku: Alwi, dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia: Edisi Kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan: Edisi Kedua. Jakarta: Bumi Aksara Bahtiar, Ahmad & Fatimah. 2014. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: IN MEDIA. Basrowi & Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Darma, Yoce Aliah. 2014. Analisis Wacana Kritis. Bandung: PT Refika Aditama. Dalman, H. 2016. Keterampilan Menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi. Kartono, St. 2009. Menulis Tanpa Rasa Takut. Yogyakarta: Kanisius. Kusmana, Suherli. 2014 Kreativitas Menulis. Yogyakarta: Ombak. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Murharjanti, Cicilia Primasari. 2012. Jenis Kalimat Bahasa Indonesia Dalam Paragraf Deskripsi Siswa Kelas X Semester 1 SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan 78

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma. Muslich, Masnur. 2014. Garis-Garis Besar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Putrayasa, Bagus Ida. 2017. Sintaksis Memahami Kalimat Tunggal. Bandung: Refika Aditama. Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Peguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Ratri, Herningdyah Cahyaning. 2017. Analisis Jenis Kalimat Pada Karangan Guru-guru SD Mahakam Ulu Kalimantan Timur 2015. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Semi, M. Atar. 2007. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa. Sukini. 2010. Sintaksis Sebuah Paduan Praktisi. Surakarta: Yuma Pustaka. Suhardi. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Sintaksis Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Arruzz Media. Strauss. Anselm & Corbin, Juliet. 2013. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif Tata Langkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Sumber Internet: Anonim. Gambar Menulis Buku (https://www.google.co.id).Di akses hari Kamis, 21 Desember 2017 pukul 18.17 WIB. Latifah.2015.ModulSintaksis.(latifah.dosen.stkipsiliwangi.ac.id/files/2015/11/Mod ul-Sintaksis.pdf). Diakses Selasa, 10 April 2018 pukul 20.10 WIB.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 LAMPIRAN 81

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Lampiran 1

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Lampiran 2 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : VII / 2 (Dua) Sub Materi : Karangan Narasi Alokasi Waktu : 2 pertemuan (2 x 40 menit) Tahun Ajaran : 2017/2018 A. Kompetensi Inti 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong-royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan. 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi No 1 Kompetensi Dasar 3.1 Memahami Indikator pengertian 3.1.1 Siswa mampu memahami karangan, pengertian narasi, pengertian karangan, narasi, prinsip-prinsip prinsip-prinsip narasi, narasi, langkah-langkah langkah-langkah pengembangan narasi, ciri-ciri pengembangan narasi, ciri- narasi, dan jenis-jenis narasi ciri narasi, dan jenis-jenis yang dibaca dan didengar. narasi 4.2 Menulis gagasan kreatif dalam bentuk karangan dengan judul narasi 4.2.1 yang dibaca dan didengar. Siswa mampu menulis (liburan dan karangan narasi dengan tema pengalaman pribadi) secara liburan dan pengalaman pribadi tulis dengan memperhatikan secara struktur memperhatikan struktur dan dan penggunaan bahasa. tulis dengan penggunaan bahasa. C. Tujuan Pembelajaran Pertemuan Pertama Setelah pemberian materi, peserta didik dapat: 1) Memahami memahami pengertian karangan, narasi, prinsipprinsip narasi, langkah-langkah pengembangan narasi, ciri-ciri narasi, dan jenis-jenis narasi. 2) Menentukan jenis teks deskripsi yang digunakan dalam menulis karangan. 3) Menentukan judul karangan narasi berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh peneliti.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Pertemuan Kedua Setelah pemberian materi, peserta didik dapat: 1) Menulis karangan narasi sesuai dengan judul yang telah dipilih oleh peserta didik secara individu. 2) Mengumpulkan hasil menulis karangan narasi peserta didik. D. Materi Pembelajaran a. Fakta 1) Contoh teks narasi Gunung Merapi Meletus Pada hari rabu tanggal 4 November 2010 Gunung Merapi memperlihatkan peningkatan aktivitasnya yang sangat signifikan. Petugas pun sudah mengumumkan kepada warga bahwa status gunung merapi saat itu sudah siaga satu sehingga warga diharuskan harus segera dievakuasi. Peningkatan itu ditandai oleh semakin seringnya suara gemuruh dari gunung serta awan panas yang semakin pekat. Namun, diluar perkiraan erupsi gunung merapi terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan pada hari jumat sehingga pada rabu malam pukul 23.30 wib, petugan BPPTK dan petugas gabungan melakukan diskusi hingga pada akhirnya disimpulkan bahwa warga yang berada pada radius 20 km harus segera dievakuasi. Pada Jumat dini hari pukul 00.00 wib terdengar suara gemuruh yang sangat hebat dari gunung merapi. Gempa pun menggunacang daerah sekitar wilayah erupsi. Sekitar 5 menit setelah gempa erupsi merapi sirine tanda bahaya bersahut-sahutan sehingga warga berlari-lari keluar dari rumahnya untuk mengevakuasi diri. Ribuan orang keluar dari rumah menuju tempat evakuasi yang terletak di GOR UII dan Stadion Waguharjo. Awan panas pun sampai pada Desa Cangkringan sekitar 30 menit setelah seluruh warga dievakuasi. 3 orang dilaporkan tewas akibat awan panas. Korban diketahui berasal dari Desa Kranggan, Cangkringan. Ketiganya tewas di dalam rumahnya yang disergap si awan panas. Satu korban lainnya luka parah akibat kecelakaan saat evakuasi.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 b. Konsep 1) Karangan 2) Narasi 3) Prinsip-prinsip narasi 4) Langkah-langkah pengembangan narasi 5) Ciri-ciri karangan narasi c. Prosedur 1) Memahami materi karangan narasi, prinsip-prinsip narasi, langkah-langkah pengembangan narasi, dan ciri-ciri karangan narasi 2) Pemberian tes berupa uraian menulis karangan narasi secara individu. E. Metode Pembelajaran dan Pendekatan  Saintifik  Diskusi  Tanya jawab  Penugasan F. Media, Alat, dan Sumber Belajar  Media : Power Point.  Alat : LCD, laptop, buku referensi, dan alat tulis  Sumber belajar : 1. Gie, The Liang. 1992. Pengantar Dunia Karang-Mengarang. Yogyakarta: Liberty bekerja sama dengan Balai Bimbingan. 2. Slamet. St. Y. 2014. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah dan Kelas Tinggi Sekolah Dasar. Surakarta: UNS Press. 3. Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia. 4. Darma, Yoce Aliah. 2014. Analisis Wacana Kritis. Bandung: PT Refika Aditama. 5. Dalman, H. 2016. Keterampilan Menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 6. Anonim. Jenis Contoh Karangan Narasi Terbaru. 2016. (dalam www.bimbelbahasaindonesia.com). Di akses hari Sabtu, 27 Januari 2018 pukul 22.54 WIB. 7. Anonim. Contoh Paragraf Narasi. (dalam https://hidupsimpel.com). Di akses hari Sabtu, 27 Januari 2018 pukul 22.54 WIB. G. Kegiatan Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Waktu Pertemuan Pertama Pendahuluan  Orientasi - Guru memberi salam kepada siswa . - Guru mempresensi siswa.  Apersepsi - Guru memberikan pertanyaan mengenai materi karangan narasi.  Motivasi - Guru menyampaikan informasi mengenai fungsi pembelajaran dan kaitannya dengan konteks kehidupan.  Pemberian acuan - Guru menyampaikan kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi pembelajaran. - Guru menyampaikan langkah-langkah pembelajaran yang dilalui siswa. Inti  Mengamati - Guru menjelaskan materi mengenai karangan, narasi, prinsip-prinsip narasi, langkah-langkah pengembangan narasi, ciri-ciri karangan narasi, dan jenis-jenis karangan narasi, dan contoh karangan narasi.  Menanya - Guru dan siswa melakukan tanya jawab tentang materi mengenai karangan, narasi, prinsip-prinsip narasi, langkahlangkah pengembangan narasi, ciri-ciri karangan narasi, dan jenis-jenis karangan narasi. 5 menit 70 menit

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88  Mengumpulkan Informasi - Guru meminta siswa membuat kerangka karangan sesuai dengan tema yang disediakan dan dipilih oleh siswa pada kertas folio yang telah disediakan  Mengasosiasi - Setelah siswa membuat kerangka karangan, siswa diminta untuk memahami hasil kerangka karangan yang telah dibuat.  Mengomunikasikan - Siswa diminta menyampaikan secara lisan hasil kerangka karangan yang telah di buat. Penutup - Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. - Guru bersama siswa bertanya jawab untuk memperjelas materi yang telah dipelajari bersama mengenai karangan narasi. - Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua. - Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. Pertemuan Kedua Deskripsi Kegiatan Pendahuluan  Orientasi - Guru memberi salam kepada siswa . - Guru mempresensi siswa.  Apersepsi - Guru memberikan pertanyaan mengenai materi pembelajaran sebelumnya.  Motivasi - Guru menyampaikan informasi mengenai fungsi pembelajaran dan kaitannya dengan konteks kehidupan.  Pemberian acuan - Guru menyampaikan kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi pembelajaran. - Guru menyampaikan langkah-langkah pembelajaran yang dilalui siswa. 5 menit Waktu 5 menit

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Inti  Mengamati - Guru menjelaskan contoh teks deskripsi melalui contoh “Gunung Merapi Meletus” dan “Pertarungan di Pagi Buta”.  Menanya - Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai contoh teks deskripsi “Gunung Merapi Meletus” dan “Pertarungan di Pagi Buta” yang belum dipahami oleh siswa.  Mengumpulkan Informasi - Guru memberi tugas menulis karangan narasi pada kertas folio secara individu.  Mengasosiasi - Siswa diminta mengumpulkan hasil karangan narasi yang telah dibuat secara individu.  Mengomunikasikan - Beberapa siswa ditunjuk untuk membacakan hasil karangan narasi di depan kelas. Penutup - Siswa mengumpulkan tugas menulis karangan narasi secara individu. - Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. 70 menit 5 menit H. Penilaian Hasil Belajar Jenis tagihan : tugas individu Bentuk soal : uraian Jenis soal : tes 1. Buatlah karangan narasi dengan memilih satu di antara tema yang disebutkan berikut. (a) Liburan (b) Pengalaman pribadi Karangan terdiri dari 3—4 paragraf dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar salah satunya seperti ejaan dan tanda baca!

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 2. Buatlah kerangka karangan! 3. Tulislah karangan narasi dalam kertas yang sudah disediakan! Dalam menulis karangan narasi, perhatikan ketentuan berikut. (1) Buatlah karangan narasi dalam waktu 75 menit! (2) Tuliskan nama lengkap, nomor urut, dan kelas di sudut kiri atas pada kertas yang telah disediakan! Rubrik Penilaian Menulis Karangan Narasi No Aspek yang Deskripsi Skor dinilai 1 Kualitas isi maksimum   2 Bahasa    3 Tanda baca Skor    Jumlah Skor Maksimum Dapat menulis karangan narasi sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Karangan narasi terdiri dari 3—4 paragraf (tiap kalimat terdiri dari 4-5 paragraf). 5 Pilihan kata tepat, baku, dan mudah dipahami. Terdapat pilihan kata yang tidak baku dan sulit dipahami. Tidak menggunakan bahasa yang baku. 4 Tidak terdapat kesalahan penggunaan tanda baca Terdapat kesalahan tanda baca Penggunaan tanda baca salah semua 5 4 10 5 2 3 5 2 1 20

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Lampiran 3

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Lampiran 4

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Lampiran 5

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Lampiran 6 Karangan 1

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Karangan 2

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Karangan 3

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Karangan 4

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Karangan 5

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Karangan 6

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Karangan 7

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Karangan 8

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Karangan 9

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Karangan 10

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Karangan 11

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Karangan 12

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Karangan 13

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Karangan 14

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Karangan 15

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Karangan 16

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Karangan 17

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Karangan 18

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Karangan 19

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Karangan 20

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Karangan 21

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Karangan 22

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 Karangan 23

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 Sambungan karangan 23

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Karangan 24

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Karangan 25

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Karangan 26

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Karangan 27

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Karangan 28

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Karangan 29

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Karangan 30

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 Karangan 31

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 Karangan 32

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BIOGRAFI PENULIS Petronela Susi lahir tanggal 18 Januari 1997, di Nanga Tubuk, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan suami istri Lorensius Layang dan Margareta Manit. Penulis menempuh pendidikan di SD Negeri 18 Nanga Tubuk pada tahun 20022008. Penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kalis pada tahun 2008-2011. Penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Kalis pada tahun 2011-2014. Pada tahun 2014 penulis tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyelesaikan pendidikan dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir dengan judul “Analisis Jenis-jenis Kalimat dalam Karangan Narasi Siswa Kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018.” 147

(169)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis kesalahan siswa kelas VII B SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang tahun ajaran 2015/2016 dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan rotasi.
0
1
412
Analisis kesalahan siswa kelas VIIC SMP Pangudi Luhur Sedayu dalam menyelesaikan soal materi segitiga tahun ajaran 2013/2014.
0
0
282
Analisis kesalahan siswa kelas VII B SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang tahun ajaran 2015 2016 dalam menyelesaikan soal soal pada pokok bahasan rotasi
0
0
408
Kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Pataman Tanggamus - Lampung tahun ajaran 2006/2007 : sebuah studi kasus - USD Repository
0
0
137
Hubungan kebiasaan belajar siswi dan hasil akademik siswa dalam mata pelajaran bahasa inggris para siswa kelas II SMP Pangudi Luhur Sedayu Yogyakarta tahun ajaran 2006/2007 - USD Repository
0
0
71
Kesalahan ejaan dalam karangan narasi siswa kelas V, SD Kanisius Demangan Baru dan SD Kanisius Klepu, Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
189
Teknik pembelajaran keterampilan menulis pada siswa kelas satu semester 1 SMP Pangudi Luhur Kalibawang tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
0
0
87
Interferensi sintaksis Bahasa Jawa dalam karangan narasi siswa kelas V dan VI SD Negeri Merdikorejo Tempel Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
93
Analisis jenis paragraf dalam karangan siswa kelas VIII SMP Kanisius Gayam Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
0
1
113
Hubungan kesiapan akademik dan kegiatan akademik para siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
1
1
78
Diagnosis kesulitan belajar siswa dalam pokok bahasan bentuk akar di kelas X4 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2011/2012 - USD Repository
0
0
105
Analisis kesalahan ejaan dalam karangan narasi siswa kelas V SD Kanisius Duwet dan SD Negeri Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tahun ajaran 2009/2010 - USD Repository
0
1
181
Kemampuan siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur Moyudan, Sleman, Yogyakarta dalam memahami puisi``Karawang Bekasi`` karya Chairil Anwar tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
0
0
95
Peningkatan kemampuan menulis teks berita menggunakan teknik simulasi pada siswa kelas VIII-e, SMP Pangudi Luhur 1, Yogyakarta tahun ajaran 2011/2012 - USD Repository
0
0
233
Peningkatan kemampuan menulis puisi berdasarkan pendekatan Multiple Intelligences pada siswa kelas VIII F SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 - USD Repository
0
0
191
Show more