TOPIK DAN TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003

Gratis

0
0
125
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TOPIK DAN TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra (S.S.) Program Studi Sastra Indonesia Oleh: Agustinus Kristanto Ari Prayogi NIM: 134114014 Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TOPIK DAN TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra (S.S.) Program Studi Sastra Indonesia Oleh: Agustinus Kristanto Ari Prayogi NIM: 134114014 Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2019 Skripsi i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Penelitian ini saya persembahkan kepada keluarga, rekan-rekan, setiap orang yang saya panggil dengan sebutan „Nona‟, dan orang-orang yang saya sapa dengan tidak hormat. vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTO ... ‫اقرأ‬ Bacalah … vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Penulis mengucap syukur karena telah menyelesaikan studi S-1 dan tugas akhirnya. Atas semua bantuannya, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak. Pertama, keluarga yang telah mendukung studi dan terselesaikannya tugas akhir ini. Tanpa mereka, penulis tidak akan sampai ke posisi ini. Kedua, dosen pembimbing, Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. yang telah bersedia membimbing penulis. Beliau juga memotivasi penulis menyelesaikan tugas akhir ini. Ketiga, dosen pembimbing akademik, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. yang senantiasa membimbing mahasiswa Sasindo 2013. Beliau juga selalu memotivasi setiap ada kesempatan. Keempat, para dosen Program Studi Sastra Indonesia, Drs. B. Rahmanto, M.Hum., (Alm.) Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., (Alm.) Drs. Hery Antono, M.Hum., S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., Drs. FX. Santosa, M.S., Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A., Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A., serta dosen-dosen pengampu mata kuliah lain yang tidak mampu penulis sebutkan; yang telah membimbing dan memberi pengetahuan penulis selama belajar di Program Studi Sastra Indonesia. Kelima, segenap staf sekretariat Fakultas Sastra dan staf BAA yang telah membantu kelancaran studi. Keenam, segenap staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah membantu menyediakan buku-buku referensi. Ketujuh, rekanrekan Sastradimrican dan Linguistics Brotherhood, yang telah memberi inspirasi bagi penulis. Akhirnya, dengan penuh kesadaran, penulis menyadari segala kekurangan yang ada dalam skripsi ini. Segala bentuk kesalahan dan kekurangan yang ada dalam skripsi ini merupakan tanggung jawab penulis. Untuk itu, demi perbaikan tugas akhir ini, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati. Penulis viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Prayogi, Agustinus Kristanto Ari. 2019. “Topik dan Tindak Tutur dalam Lirik Lagu Karya Marjinal dalam Album Termarjinalkan Tahun 2003”. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Objek penelitian ini adalah topik dan tindak tutur dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan (i) topik dan (ii) apa saja tindak tutur yang terdapat dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik mengenai tindak tutur. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat. Metode simak dilakukan dengan menyimak lirik lagu. Selanjutnya, peneliti mengklasifikasi data berupa topik dan tindak tuturnya. Analisis data dilakukan dengan metode padan referensial dan metode padan pragmatis. Metode padan referensial digunakan untuk mendeskripsikan topik dalam lirik lagu. Metode padan pragmatis digunakan untuk menentukan tindak tutur yang terdapat pada lirik lagu. Penelitian ini menghasilkan temuan topik dalam lirik lagu karya Marjinal, yaitu (i) hukum, (ii) pendidikan, (iii) kekerasan, (iv) cinta, dan (v) stigma. Selain itu, penelitian ini menghasilkan temuan berbagai interseksi tindak tutur dalam lirik lagu karya Marjinal. Terdapat 66 tindak tutur langsung literal, 20 tindak tutur tidak langsung literal, 15 tindak tutur langsung tidak literal, dan 17 tindak tutur tidak langsung tidak literal. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Prayogi, Agustinus Kristanto Ari. 2019. “Topics and Speech Act on Marjinal’s Songs in Termarjinalkan on 2003”. Thesis. Yogyakarta: Department of Indonesian Literature Studies, Faculty of Letters, Sanata Dharma University. This research‟s object is what topics and what speech act on Marjinal‟s songs in Termarjinalkan on 2003. This research is proposed to explain (i) what topics and (ii) what speech act that used by Marjinal in their songs on Termarjinalkan. Pragmatic theory about speech act is used on this research. This research‟s datas is gathered by observe attentively method and taking a note technique. Observe attentively method is done by observing songs‟ lyrics. Then, the datas are classified by their topics and speech act. Data analysis is done by referential match method and pragmatic match method. Referential match method is used to describe the topics by Marjinal on their songs. Pragmatic match method is used to decide what kind of speech act they use. This research‟s result is the identified topics on Marjinal‟s songs, they are (i) law, (ii) education, (iii) violence, (iv) love, and (v) stigma. This research also found some intersections speech act on their songs. There are 66 direct literal speech acts, 20 indirect literal speech acts, 15 direct nonliteral speech acts, and 17 indirect nonliteral speech acts. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.6.2 Pragmatik ........................................................................................................ 6 1.6.3 Tindak Tutur ................................................................................................... 6 1.6.3.1 Tindak Lokusi ....................................................................................................... 7 1.6.3.2 Tindak Ilokusi ....................................................................................................... 7 1.6.3.3 Tindak Perlokusi................................................................................................... 7 1.6.4 1.6.4.1 Jenis-Jenis Tindak Tutur ................................................................................. 8 Tindak Tutur Berdasarkan Modus ..................................................................... 8 1.6.4.1.1 Tindak Tutur Langsung ....................................................................................... 8 1.6.4.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung ............................................................................ 8 1.6.4.2 Tindak Tutur Berdasarkan Makna ..................................................................... 9 1.6.4.2.1 Tindak Tutur Literal ............................................................................................. 9 1.6.4.2.2 Tindak Tutur Tidak Literal ................................................................................. 9 1.6.5 Interseksi Berbagai Jenis Tindak Tutur ........................................................ 10 1.6.5.1 Tindak Tutur Langsung Literal ........................................................................ 10 1.6.5.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal ............................................................. 10 1.6.5.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal .............................................................. 10 1.6.5.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal .................................................. 11 1.6.6 Aspek Tutur .................................................................................................. 11 1.7 Metode dan Teknik Penelitian ...................................................................... 12 1.7.1 Metode Pengumpulan Data ........................................................................... 12 1.7.2 Metode Analisis Data .................................................................................... 12 1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ......................................................... 13 1.8 Sumber Data.................................................................................................. 13 1.9 Sistematika Penyajian …………………………………………………………...13 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TOPIK DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003………………………………...….14 2.1 Pengantar………………………………………………………………….14 2.2 Hukum ………………...…………………...……………………………..13 2.3 Pendidikan …...………………………………...………………………....20 2.4 Kekerasan ……...…………………………………...…………………….22 2.5 Cinta …………...……………………………………...………………….36 2.6 Stigma …………...…………………………...………………..…………39 BAB III TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 .........……….….……..43 3.1 Pengantar ..…………………………………………………………………43 3.2 Hukum........................................................................................................... 43 3.2.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum …………………………………………………….......................45 3.2.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum ………………………………….…...45 3.2.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum ………………………………………46 3.2.1.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum….……………………………………47 3.2.1.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum …………………………….47 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.2 3.2.2.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa ..................................................................................................... 48 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa …………………………………………….48 3.2.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa …………………………49 3.2.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa …………………………………...49 3.2.3 3.2.3.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kasus Hukum Tidak Terselesaikan .............................................................................................. 50 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kasus Hukum Tidak Terselesaikan …………………………….50 3.3 3.3.1 Pendidikan..................................................................................................... 51 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat .......................................................................................................... 53 3.3.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal Dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat ……………………………………………………….....53 3.3.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat ……………………………………………..54 3.3.1.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat ………………………………………...…...54 3.3.2 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas................................................................................. 55 3.3.2.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas ………………………………55 3.3.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas ………………………..……..56 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.3.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas …………………………..…..56 3.3.2.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas……………………...…57 3.4 Kekerasan ...................................................................................................... 58 3.4.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan ……………………………………………………………………………...66 3.4.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan …………………………………………………………66 3.4.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan …………………………………..…………….67 3.4.1.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan ………………………………………………...68 3.4.2 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat ……………………………………………………………………………...69 3.4.2.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat …………………………………………………………...…...69 3.4.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat …………………………………………………..70 3.4.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat …………………………………………………..70 3.4.2.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat …………………………………………………...71 3.4.3 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme …………………………………………………………………………………….…….72 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.3.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme …………………………………….72 3.4.3.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme ……………………….73 3.4.3.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme ……….……..73 3.4.4 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah ……………………………………………………………………………...74 3.4.4.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah ……………………………………………………………..74 3.4.4.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah …………………………………………………75 3.4.5 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan ………………………………………………………………………..……75 3.4.5.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan …………………………………………………...………76 3.4.5.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan ………………………………………………76 3.4.6 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman Rumah-Rumah Ibadah ……………………………………………………………………...77 3.4.6.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman Rumah-Rumah Ibadah ……………………………………………………..77 3.4.6.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman Rumah-Rumah Ibadah ………………………………………..78 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.7 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cara-Cara Penguasa Menutupi Persoalan ……………………………………………………….78 3.4.7.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cara-Cara Penguasa Menutupi Persoalan …………………………………………….79 3.4.7.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik CaraCara Penguasa Menutupi Persoalan ………………………………………80 3.4.7.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik CaraCara Penguasa Menutupi Persoalan ………………………………….……80 3.4.8 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani …………………………………………………………81 3.4.8.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani ……………………………………………81 3.4.8.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani ………………………………81 3.4.9 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Konflik Sampit …………..82 3.4.9.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Konflik Sampit ……………………………………………………………………...82 3.4.9.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Konflik Sampit …………………………………………………………….83 3.4.10 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa ……………………………………………..…...84 3.4.10.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa ……..……………84 3.4.10.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa …………………..84 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5 Cinta .............................................................................................................. 85 3.5.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta …………………………………………………………...87 3.5.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta ………………………………...87 3.5.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta ……………………88 3.6 Stigma ........................................................................................................... 89 3.6.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Stigma …..............................90 3.6.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lagu yang Bertopik Stigma ………90 3.6.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lagu yang Bertopik Stigma ……………………………………………………………………………..91 BAB IV PENUTUP …………………………………………………………………93 4.1 KESIMPULAN………………………………………………………………….93 4.2 SARAN ………………………………………………………………………….94 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….96 LAMPIRAN …………………………...……………………………………………98 BIOGRAFI ………………………………………………………………………...105 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1: Penggolongan Tindak Tutur Berdasarkan Modus …………………………..8 Tabel 2: Lirik Bertopik Hukum ………………………………………......................14 Tabel 3: Lirik Bertopik Pendidikan ………………………………………...……….20 Tabel 4: Lirik Bertopik Kekerasan ………………………………………..... …..….23 Tabel 5: Lirik Bertopik Cinta …………………………………………………….....37 Tabel 6: Lirik Bertopik Stigma …………...………………………………………...39 Tabel 7: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Hukum ………………......44 Tabel 8: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan ……………….51 Tabel 9: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan ………………..59 Tabel 10: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cinta ……………………85 Tabel 11: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Stigma ….........................89 xix

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Marjinal berawal dari sebuah forum kebebasan berpendapat dan berekspresi pada masa Soeharto masih menjabat sebagai presiden. Forum tersebut bernama Anti Facist Racist Action (AFRA). Pada tahun 1997, dari forum tersebut, lahirlah sebuah kelompok bermusik bernama Anti Military (AM) atau Anti ABRI (AA). Pada tahun 2001, kelompok bermusik tersebut berganti nama menjadi Marjinal. Sejak awal terbentuk, Marjinal menyuarakan ide antifasisme. Marjinal telah mengeluarkan beberapa album, yaitu Termarjinalkan (2003), “Predator” (2005), “Partai Marjinal” (2009), “Sejajar” (2014), dan “Anti Facist and Racist Action” (2016). Marjinal umumnya mengusung punk sebagai aliran bermusiknya. Marjinal digawangi oleh Mike dan Bob, serta rekan-rekan dari Komunitas Taring Babi. Komunitas Taring Babi adalah komunitas anak-anak punk. Marjinal bersama Komunitas Taring Babi kerap mengadakan gig, diskusi, dan workshop dengan prinsip DIY atau do it yourself. Marjinal lebih kondang di kalangan aktivis ketimbang pecinta musik awam karena beraliran punk dan berada di jalur independen. Selain itu, karena konten kritik sosial yang diangkatnya. Marjinal sering mengangkat isu pelanggaran HAM, perlawanan pada penguasa, korupsi, dan berbagai perjuangan orang tertindas. Berikut disajikan contoh isu yang diangkat: (1) (i) Natal berdarah 25 Desember di akhir tahun 2000 (ii) Banyak rakyat kecil yang jadi korban (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Tuturan (1i-ii) adalah contoh lirik lagu yang mengangkat isu kekerasan yaitu sebuah kejadian pemboman beberapa gereja yang terjadi pada hari Natal tahun 2000 yang menimbulkan banyak korban. Selain topik yang diangkat, penelitian ini juga membahas tindak tutur yang digunakan oleh Marjinal. Berikut disajikan contoh tindak tutur yang digunakan dalam lirik lagu: (2) Ooo Marsinah kau Termarjinalkan (Marjinal, “Marsinah”, 2003) Tuturan (2) adalah tuturan tidak langsung tidak literal. Dengan mempertimbangkan aspek penutur adalah aktivis kemanusiaan dan mitra tutur adalah pejabat hukum; konteksnya adalah kasus Marsinah tidak dilanjutkan sampai selesai; tujuan tuturannya adalah menuntut penyelesaian kasus Marsinah. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh, dalam hal ini pejabat hukum bukan Marsinah. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena kata-kata penyusunnya tidak sama dengan maksud penuturnya. Kata „termarjinalkan‟ yang dimaksudkan penutur adalah „kasus yang tidak terselesaikan‟. Tuturan (2), jika dituturkan secara langsung literal, tuturan ini akan berbunyi, “Selesaikan kasus hukum Marsinah!” Alasan peneliti memilih topik kritik dan tindak tutur dalam empat belas (14) lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan adalah (i) belum ada pembahasan linguistik pragmatik mengenai tindak tutur mengenai karya-karya Marjinal, (ii) penelitian linguistik mengenai lirik lagu masih kurang diperhatikan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalan yang dibahas dalam penelitian ini adalah: 1.2.1. Apa saja topik dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003?

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 1.2.2. Bagaimana tindak tutur yang ada dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah: 1.3.1. Mendeskripsikan topik dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. 1.3.2. Mendeskripsikan tindak tutur yang ada dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. 1.4 Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini adalah deskripsi topik dan tindak tutur pada lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. Hasil penelitian ini memiliki manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis hasil penelitian ini adalah menambah referensi kajian pragmatik mengenai topik dan tindak tutur. Manfaat praktisnya adalah membantu pembaca memahami isi lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. 1.5 Tinjauan Pustaka Nugraha (2015), dalam skripsinya yang berjudul “Hal-Hal yang Dikritik dan Tindak Tutur Mengkritik dalam 16 Lagu Grup Musik Slank”, memaparkan berbagai topik oleh Slank melalui lirik lagunya yang terwujud dan dikelompokkan ke dalam empat jenis tindak tutur. Dalam penelitiannya, Nugraha memperoleh 5 topik dalam lirik-lirik lagu Slank, yaitu (i) kekerasan dan kriminalitas, (ii) kerusakan lingkungan, (iii) korupsi, (iv) prostitusi dan pergaulan bebas, dan (v) terorisme. Selain itu, dia memaparkan interseksi tindak tutur yang terdapat dalam masing-masing topik yang ditemukannya.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Nugroho (2017), dalam skripsinya “Kritik dan Tindak Tutur Mengkritik Dalam Tiga Lagu Iwan Fals Versi Konser” memaparkan berbagai topik dalam lagu Iwan Fals versi konser tahun 1978-2000. Dalam penelitiannya, Nugroho meneliti lagu berjudul “Demokrasi Nasi”, “Semar Mendem”, dan “Kisah Sapi Malam”. Dia menemukan kritik-kritik yang terdapat dalam ketiga lagu tersebut dan mengelompokkannya ke dalam tiga tema, yaitu (i) hukum, (ii) ekonomi, dan (iii) sosial. Dia menemukan sepuluh hal yang dikritik dalam lirik-liriknya, yaitu (i) ketidakadilan pelaksanaan hukum, (ii) lemahnya penegakan hukum, (iii) pencitraan pemerintah, (iv) tekanan oleh pemerintah, (v) intimidasi oleh pemerintah, (vi) penyalahgunaan kekuasaan, (vii) mahalnya harga, (viii) prostitusi, (ix) kesenjangan ekonomi, dan (x) kebohongan. Selain itu, dia memaparkan interseksi tindak tutur yang terdapat dalam masing-masing topik yang ditemukannya. Putra (2017), dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Kritik Sosial Lirik lagu Marjinal – Negeri Ngeri”, meneliti penyampaian makna yang terdapat dalam lagu berjudul Negeri Ngeri. Dia menerapkan teori semiotika menggunakan metode kuantitatif untuk menjelaskan keterkaitan nilai-nilai moral kemasyarakatan dan nilai-nilai ketuhanan yang terdapat dalam lirik lagu tersebut. Harsini (2009), dalam skripsinya yang berjudul “Teknik Propaganda Dalam Lirik Lagu Band Punk Marjinal”, meneliti berbagai teknik propaganda yang digunakan band Marjinal. Dia menjelaskan pengertian dan teknik propaganda dan hubungannya dengan punk. Dalam uraiannya, teknik propaganda yang digunakan band Marjinal adalah teknik name calling, teknik testimonials, teknik plain folk, teknik using all forms of persuations, dan teknik gabungan. Ariesta (2013), dalam skripsinya yang berjudul “Ideologi dan Musik (Studi Kasus Perjuangan Ideologi Anarkisme Melalui Karya Musik Marjinal), memaparkan band Marjinal sebagai penyuara ideologi anarkisme. Dia menjelaskan bagaimana ideologi anarkisme diartikulasikan dalam lagunya. Dia memaparkan penelitianya dengan metode studi kasus. Dalam uraiannya, dia menceritakan subkultur punk dan stigma anarkisme, lalu menjelaskan wacana yang dibentuk oleh Marjinal untuk meluruskan pandangan masyarakat mengenai punk dan anarkisme.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Utomo (2016), dalam skripsinya yang berjudul “Wacana Kritik Sosial Korupsi Dalam Lagu Hukum Rimba dan Kita Perangi Korupsi Karya Grup Musik Marjinal”, menjelaskan musik sebagai media massa. Dia menggunakan critical discourse analysis Norman Fairclough untuk menjelaskan berbagai kritik sosial dalam lagu band Marjinal berjudul Hukum Rimba dan Kita Perangi Korupsi. Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, objek formal penelitian ini terkait dengan penelitian pragmatik mengenai tindak tutur seperti yang telah dilakukan oleh Nugraha dan Nugroho. Selain itu, objek material penelitian ini terkait dengan penelitian kelompok bermusk Marjinal seperti yang telah dilakukan oleh Putra, Harsini, Ariesta, dan Utomo. 1.6 Landasan Teori Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai topik wacana, pragmatik, tindak tutur, dan aspek tutur. 1.6.1 Topik Wacana Baryadi (2002:54) menyatakan topik adalah perihal yang dibicarakan dalam wacana. Hal ini berarti topik menjiwai seluruh bagian wacana dan topik menyebabkan lahirnya wacana. Wacana berfungsi dalam proses komunikasi verbal karena wacana akan lahir jika ada yang dibicarakan dan dapat digunakan sebagai alat komunikasi jika mengandung sesuatu yang dibicarakan. Dalam proses komunikasi, topik dalam wacana memiliki kedudukan yang sangat penting. Kedudukan yang sangat penting ini bersangkutan dengan perannya dalam memperlancar proses komunikasi. Perannya secara potensial dan dalam permukaan tampak baik bagi pembicara atau penulis (pembuat wacana) maupun bagi pendengar atau pembaca (penerima wacana). Bagi pembuat wacana, topik merupakan informasi embrional dan informasi inti yang menjadi pangkal inspirasi untuk mengungkapkannya secara verbal dalam struktur lahir yang berupa jenis wacana tertentu. Bagi penerima wacana, topik adalah sesuatu yang dicari, diinterpretasikan,

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 dan dipahami serta ditanggapi. Topik menjadi arah utama seseorang untuk memahami wacana (Baryadi, 2002:55). Topik wacana yang terdapat dalam lirik lagu Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003 akan dibahas pada Bab II. 1.6.2 Pragmatik Menurut Morris (dalam Schiffrin, 2007), pragmatik adalah studi tentang hubungan tanda-tanda dan interpreter. Dengan demikian, pragmatik adalah studi tentang bagaimana interpreter menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda atau penerima tanda pada saat memaparkan (pengkronstruksian dari interpretan) tanda itu sendiri. Tarigan (1986) memaparkan bahwa pragmatik menelaah ucapanucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial performansi bahasa dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. Menurut Parker (1986:11), pragmatics is the study of how language is used to communicate. Pragmatics is distict from grammar, which is the study of internal structure of language. Pragmatik adalah studi bagaimana bahasa digunakan. Dalam penelitian ini, teori pragmatik digunakan untuk menentuka tindak tutur apa yang digunakan dalam suatu ujaran. 1.6.3 Tindak Tutur Teori tindak tutur bertujuan mengutarakan pada kita, bila kita mengemukakan pertanyaan padahal yang dimaksud adalah menyuruh, atau bila kita mengatakan sesuatu hal dengan intonasi khusus (sarkastis) padahal yang dimaksud justru sebaliknya. (Tarigan, 1986) J. L. Austin membagi tindak tutur menjadi tiga jenis, yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Searle, dalam Wijana (1996:17), mengemukakan tiga jenis tindakan yang diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 1.6.4.1 Tindak Lokusi Tindak lokusi adalah tidak tutur berfungsi menyatakan sesuatu. Wijana (1996:17-18), mengutip Nababan, menyatakan bila diamati, konsep lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Kalimat, dalam hal ini dipandang sebagai satuan yang terdiri dari subjek dan predikat. Berikut contoh tindak lokusi: (3) Jari tangan jumlahnya lima Tuturan (3) diutarakan semata-mata untuk menyampaikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk memengaruhi lawan tuturnya. 1.6.4.2 Tindak Ilokusi Tindak ilokusi terbentuk sebab sebuah tuturan tidak hanya menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh situasi tuturnya dipertimbangkan secara saksama. Tindak ilokusi sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan, di mana dan sebagainya tindak tutur terjadi. Dengan demikian tindak ilokusi merupakan bagian sentral memahami tindak tutur (Wijana. 1996:19). Berikut contoh tindak ilokusi: (4) Ujian sudah dekat. Tuturan (4) mungkin dimaksudkan untuk menasihati agar lawan tutur tidak hanya bepergian menghabiskan waktu sia-sia. 1.6.4.3 Tindak Perlokusi Tindak perlokusi adalah daya pengaruh suatu tuturan bagi yang mendengarnya (Wijana. 1996:19). Efek perlokusi pada tuturan (4) yang mungkin diharapkan mitra tutur mempersiapkan diri menghadapi ujian.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 1.6.4 Jenis-Jenis Tindak Tutur Wijana (1996:29) mengemukakan empat jenis tindak tutur yang dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan modusnya (yaitu langsung dan tidak langsung) dan maknanya (yaitu literal dan tidak literal). 1.6.4.1 Tindak Tutur Berdasarkan Modus Berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Tabel 1: Penggolongan Tindak Tutur Berdasarkan Modus Modus Tindak Tutur Langsung Tidak langsung Berita Memberitakan Menyuruh Tanya Bertanya Menyuruh Perintah Memerintah - 1.6.4.1.1Tindak Tutur Langsung Tindak tutur langsung adalah tuturan yang menggunakan modusnya secara konvensional. Dalam hal ini, kalimat berita digunakan untuk memberi tahu, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, dan permohonan. Contoh tindak tutur langsung: (5) Rambutmu sudah panjang. Tuturan (5) dapat mengandung arti yang sebenarnya, dan berfungsi untuk menyatakan informasi secara langsung karena modusnya adalah kalimat berita. 1.6.4.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang menggunakan modus berita atau tanya untuk memerintah lawan tuturnya. Dalam hal ini, tuturan (5) dapat menjadi tuturan tidak langsung bila diucapkan oleh ibu kepada anaknya. Tuturan (5) merupakan tuturan tidak langsung dari “Potonglah rambutmu itu!” 1.6.4.2 Tindak Tutur Berdasarkan Makna Berdasarkan maknanya, tindak tutur dibedakan menjadi tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal. 1.6.4.2.1 Tindak Tutur Literal Tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Berikut contoh tindak tutur literal: (6) Penyanyi itu suaranya bagus. Tuturan (6) bila diutarakan untuk maksud memuji atau mengagumi suara penyanyi yang dibicarakan merupakan tindak tutur literal. 1.6.4.2.2 Tindak Tutur Tidak Literal Tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Berikut contoh tindak tutur tidak literal: (7) Suaramu bagus, (tapi tak usah menyanyi saja) Maksud yang terkandung dalam tuturan (7) tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Penutur memaksudkan suara mitra tuturnya tidak bagus dengan mengatakan “tak usah menyanyi saja”. Tuturan (8) merupakan tindak tutur tidak literal.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 1.6.5 Interseksi Berbagai Jenis Tindak Tutur Bila tindak tutur langsung dan tidak langsung diinterseksikan (digabungkan) dengan tindak tutur literal dan tidak literal, didapatkan tindak tutur-tindak tutur sebagai berikut: i) tindak tutur langsung literal, ii) tindak tutur tidak langsung literal, iii) tindak tutur langsung tidak literal, iv) tindak tutur tidak langsung tidak literal. 1.6.5.1 Tindak Tutur Langsung Literal Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. (8) Buka mulutmu! Tuturan (8) adalah contoh tindak tutur langsung literal. Modus tuturannya sesuai dan maknanya sama dengan maksud pengutaraannya yaitu menyuruh mitra tuturnya membuka mulut. 1.6.5.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna katakata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur. (9) Lantainya kotor. Tuturan (9) merupakan contoh tindak tutur tidak langsung literal. Modus tuturan (7) adalah berita, sedangkan maksudnya sebagai perintah. Makna kata-katanya sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Dalam konteks ibu rumah tangga berbicara pada pembantunya, tuturan (9) tidak hanya berisi informasi, tetapi juga perintah. 1.6.5.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Tindak tutur langsung tidak literal adalah tidak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak sesuai dengan yang dimaksudkan penutur. (10) Kalau makan biar sopan, buka saja mulutmu! Tuturan (10) adalah contoh tindak tutur langsung tidak literal. Modusnya sama dengan maksud tuturan, sedangkan makna kata-katanya tidak sesuai dengan yang dimaksudkan. Konteks tuturan (10) adalah penutur menyuruh mitra tuturnya menutup mulut agar sopan. 1.6.5.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal Tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan maksud penutur. (11) Lantainya bersih sekali. Modus pada tuturan (11) tidak sesuai dan makna kata-katanya tidak sesuai dengan maksud penutur. Pada tuturan (11) modusnya adalah berita, sedangkan maksudnya sebagai perintah. Konteks tuturan (11) adalah penutur menyuruh pembantunya membersihkan lantai yang kotor. 1.6.6 Aspek Situasi Tutur Menurut Leech (1983:13), since pragmatics studies meaning in relation to speech situation, reference to one or more of the following aspects of the spreech situation will be criterion. Karena pragmatik mempelajari hubungan makna dengan situasi tutur, ada beberapa aspek yang menjadi penentunya. Aspek-aspek tersebut adalah (i) penutur dan lawan tutur, (ii) konteks tuturan, (iii) tujuan tuturan, (iv) tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan (v) tuturan sebagai produk tindak verbal.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Dalam penelitian ini, aspek (i) penutur dan lawan tutur, (ii) konteks tuturan, dan (iii) tujuan tuturan dijadikan sebagai patokan untuk menganalisis tindak tutur yang dibahas pada Bab III. 1.7 Metode dan Teknik Penelitian Dalam bagian ini dijelaskan metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini. Menurut Sudaryanto (2015:9) metode adalah cara yang harus dilaksanakan, sedangkan teknik adalah cara melaksanakan metode. Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. 1.7.1 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik catat (Sudaryanto. 2015:203;205-208). Peneliti menyimak dengan cara mendengarkan dan membaca lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003, kemudian mencatat data yang diperlukan. Dalam penelitian ini, data-data yang diperlukan adalah tuturan kunci yang merujuk pada konteks tertentu. 1.7.2 Metode Analisis Data Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan pragmatis. Menurut Sudaryanto (2015:17-18), metode padan adalah metode analisis yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bahasa yang bersangkutan. Metode padan pragmatis adalah metode padan yang alat penentunya adalah mitra wicara. Bila orang sampai pada penentuan bahwa kalimat perintah ialah kalimat yang bila diucapkan menimbulkan reaksi tindakan tertentu dari mitra wicaranya dan kata afektif ialah kata yang bila diucapkan menimbulkan akibat emosional tertentu pada mitra wicaranya maka orang yang bersangkutan berada dalam jalur kerja metode padan pragmatis. Dalam penelitian ini, tuturan-tuturan kunci yang telah didapat dianalisis dengan teori pragmatik.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data Penyajian hasil analisis data akan dilakukan dengan metode informal dan formal (Sudaryanto. 1993:145). Melalui metode informal, hasil analisis data akan disajikan dengan kata-kata denotatif. Melalui metode formal, hasil analisis akan disajikan dalam tabel. 1.8 Sumber Data Sumber data penelitian ini adalah lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003, yaitu: Marsinah, Cinta Pembodohan, Mahakebo, Godam Rakyat, Manusia Bersenjata, Mayday, Bergerak, Natal Berdarah, Hukum Rimba, Sampit, Lawan Diktator, Belajar Sama-Sama, Anarki Bukan Barbar, dan Politik Kekuasaan. 1.9 Sistematika Penyajian Hasil penelitian ini disusun menjadi lima bab. Bab I adalah pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode dan teknik penelitian, sumber data, dan sistematika penyajian. Bab II berisi klasifikasi dan uraian topik lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003. Bab III berisi uraian tindak tutur dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003 yang dideskripsikan ke dalam tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, tidak langsung literal, dan tidak langsung tidak literal. Bab IV adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan berisi klasifikasi topik dalam lirik lagu karya Marjinal dalam album Termarjinalkan tahun 2003 dan tindak tuturnya.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TOPIK DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 2.1 Pengantar Pada bab ini dibahas topik oleh Marjinal dalam lagu-lagunya. Topik-topik tersebut meliputi: (i) hukum, (ii) pendidikan, (iii) kekerasan, (iv) cinta, dan (v) stigma. Lagu yang bertopik hukum adalah “Hukum Rimba” dan “Marsinah”. Lagu yang bertopik pendidikan adalah “Belajar Sama-Sama” dan “Mahakebo”. Lagu yang bertopik kekerasan adalah “Bergerak”, “Godam Rakyat”, “Lawan Diktator”, “Manusia Bersenjata”, “Marsinah”, “Mayday”, “Natal Berdarah”, “Politik Kekuasaan”, “Sampit”. Lagu yang bertopik cinta adalah “Cinta Pembodohan”. Lagu yang bertopik stigma adalah “Anarki Bukan Barbar”. 2.2 Hukum Hukum adalah undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (Sugono dkk. 2008:531). Lirik bertopik hukum terdapat dalam lagu “Hukum Rimba” dan “Marsinah”. Topik spesifik dalam lagu “Hukum Rimba” adalah ketidakadilan pelaksanaan hukum dan kendali hukum oleh orang berkuasa. Sementara pada lagu “Marsinah”, topik spesifiknya adalah kasus hukum yang tidak terselesaikan. Berikut pemaparannya: Tabel 2: Lirik Bertopik Hukum No. Judul Tuturan Kunci Topik 14

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 12 Hukum Rimba (i) Hukum adalah lembah hitam Ketidakadilan pelaksanaan hukum (ii) Tak mencerminkan keadilan (iii) Maling-maling kecil dihakimi (iv) Maling-maling besar dilindungi (v) Di manakah adanya keadilan bila masih memandang golongan 13 Hukum Rimba (i) Pengacara juri hakim jaksa masih Kendali hukum oleh ternilai dengan angka (uang) orang berkuasa (ii) Hukum telah dikuasai oleh orang-orang beruang (iii) Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan (iv) Hukum adalah komoditas (v) Barangnya para tersangka (vi) Ada uang kau dimenangkan (vii) Ga ada uang you say goodbye (viii) Yang kuat selalu berkuasa (ix) Yang lemah pasti merana 14 Marsinah Ooo Marsinah kau termarjinalkan Kasus hukum terselesaikan tidak

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Topik spesifik dalam lagu “Hukum Rimba” adalah ketidakadilan pelaksanaan hukum. Berikut lirik berisi topik ketidakadilan pelaksanaan hukum: (12) (i) Hukum adalah lembah hitam (ii) Tak mencerminkan keadilan (iii) Maling-maling kecil dihakimi (iv) Maling-maling besar dilindungi (v) Di manakah adanya keadilan bila masih memandang golongan (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Pada tuturan (12i), frasa lembah hitam memiliki makna „lembah nista‟ (Sugono, dkk. 2008:809). Tuturan (12i) menggambarkan „hukum sebagai sesuatu yang nista‟. Gambaran kenistaan yang dimaksud dijelaskan pada tuturan selanjutnya (12ii-v). Pada tuturan (12ii), kata mencerminkan memiliki makna „menggambarkan keadaan‟ (Sugono, dkk. 2008:264). Jadi, tuturan (12ii) bermakna „tidak menggambarkan keadilan‟. Pada tuturan (12iii), terdapat frasa maling-maling kecil dan kata dihakimi. Frasa maling-maling kecil mengacu pada „pencuri yang mengambil dalam jumlah sedikit‟. Frasa maling-maling kecil terdiri dari kata maling dan kecil. Kata maling bermakna „pencuri‟ (Sugono, dkk. 2008:868). Kata kecil bermakna „sedikit‟ (Sugono, dkk. 2008:644). Kata dihakimi bermakna „diadili‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:475). Jadi, tuturan (12iii) bermakna „pencuri yang mengambil dalam jumlah sedikit diadili‟. Pada tuturan (12iv), terdapat frasa maling-maling besar dan kata dilindungi. Frasa maling-maling besar mengacu pada „pencuri yang mengambil dalam jumlah banyak‟. Frasa maling-maling besar terdiri dari kata maling dan besar. Kata besar bermakna „lebih dari ukuran sedang; lawan dari kecil‟ (Sugono, dkk. 2008:182). Kata dilindungi bermakna „diselamatkan supaya terhindar dari marabahaya‟ (bdk. Sugono,

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 dkk. 2008:830). Jadi, tuturan (12iv) bermakna „pencuri yang mengambil dalam jumlah banyak diselamatkan dari marabahaya‟. Dalam hal ini, „marabahaya‟ mengacu pada „pengadilan dan hukuman‟. Pada tuturan (12v), terdapat frasa di manakah, kata memandang dan golongan. Frasa di manakah adalah „kata tanya untuk menerangkan tempat‟ (Sugono, dkk. 2008:869). Kata memandang bermakna „melihat dan memperhatikan‟ (Sugono, dkk. 2008:1010). Kata golongan bermakna „kelompok‟ (Sugono, dkk. 2008:457). Tuturan (12v) merupakan pertanyaan „di mana adanya keadilan bila masih memperhatikan kelompok‟. Topik spesifik lain dalam lagu “Hukum Rimba” adalah kendali hukum oleh orang berkuasa. Berikut lirik berisi topik kendali hukum oleh orang berkuasa: (13) (i) Pengacara juri hakim jaksa masih ternilai dengan angka (uang) (ii) Hukum telah dikuasai oleh orang-orang beruang (iii) Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan (iv) Hukum adalah komoditas (v) Barangnya para tersangka (vi) Ada uang kau dimenangkan (vii) Ga ada uang you say goodbye (viii) Yang kuat selalu berkuasa (ix) Yang lemah pasti merana (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (13) berisi lirik bertopik kendali hukum oleh orang yang berkuasa. Pada tuturan (13i), terdapat kata pengacara juri hakim jaksa yang merupakan „para pejabat di bidang hukum‟ (bdk, Sugono, dkk. 2008:6;594;475;558). Jadi, tuturan (13i) bermakna „para pejabat di bidang hukum masih ternilai dengan uang‟.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Pada tuturan (13ii), terdapat kata kunci dikuasai dan beruang. Kata dikuasai bermakna „dipengaruhi oleh seseorang‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:745). Kata beruang bermakna „mempunyai uang‟ (Sugono, dkk. 2008:1513). Jadi, tuturan (13ii) bermakna „hukum telah dipengaruhi oleh orang-orang yang mempunyai uang. Pada tuturan (13iii), terdapat kata kunci permainan dan menjaga. Kata permainan bermakna „barang atau sesuatu yang dipermainkan‟ (Sugono, dkk. 2008:858). Kata menjaga bermakna „mempertahankan keselamatan‟ (Sugono, dkk. 2008:555). Jadi, tuturan (13iii) bermakna „hukum adalah barang yang dipermainkan untuk mempertahankan keselamatan kekuasaan‟. Pada tuturan (13iv), terdapat kata kunci komoditas. Kata komoditas bermakna „barang dagangan utama‟ (Sugono, dkk. 2008:555). Jadi, tuturan (13iv) bermakna „hukum adalah barang dagangan utama‟. Pada tuturan (13v), terdapat kata barangnya dan tersangka. Kata barangnya terdiri dari kata barang (Sugono, dkk. 2008:139) dan imbuhan -nya yang bermakna „varian pronomina ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik, pelaku, atau penerima‟ (Sugono, dkk. 2008:791). Kata barangnya bermakna „barang milik (dia)‟. Kata tersangka bermakna „diduga, dicurigai‟. Kata tersangka mengacu pada „orang yang dicurigai melanggar hukum‟. Jadi, tuturan (13v) bermakna „hukum adalah barang milik orang yang dicurigai melanggar hukum‟. Pada tuturan (13vi), terdapat frasa ada uang, kata kau dan dimenangkan. Frasa ada uang bermakna „mempunyai uang‟. „Mempunyai uang‟ mengacu pada „memberi suap pada para pejabat hukum‟. Kata kau mengacu pada „tersangka‟. Kata dimenangkan (bdk. Sugono, dkk. 2008:898) bermakna „dijadikan menang‟. Dalam hal ini, „menang‟ yang dimaksud adalah „menang dalam pengadilan‟. Jadi, tuturan (13vi) bermakna „tersangka yang memberi suap pada para pejabat hukum akan dimenangkan. Pada tuturan (13vii), terdapat frasa ga ada uang, kata you dan say goodbye. Frasa ga ada uang bermakna „tidak punya uang‟. Kata you mengacu pada

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 „tersangka‟. Sedangkan kata say goodbye mengacu pada „kalah dalam pengadilan‟. Dalam hal ini, „tidak punya uang‟ mengacu pada „tidak memberi uang suap pada para pejabat hukum‟. Jadi, tuturan (13vii) bermakna „tersangka yang tidak memberi uang suap pada para pejabar hukum akan kalah dalam pengadilan‟. Pada tuturan (13viii), terdapat frasa yang kuat dan kata berkuasa. Frasa yang kuat mengacu pada „orang yang memiliki pengaruh‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:746). Pengaruh yang dimaksud adalah jabatan, kuasa, atau uang. Kata berkuasa bermakna „mempunyai kuasa‟ (Sugono, dkk. 2008:746). Jadi, tuturan (13viii) bermakna „orangorang yang memiliki pengaruh selalu mempunyai kuasa‟. Pada tuturan (13ix), terdapat frasa yang lemah dan kata merana. Frasa yang lemah mengacu pada orang yang memiliki pengaruh‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:807). Kata merana bermakna „selalu menderita sedih‟ (Sugono, dkk. 903). Jadi, tuturan (13ix) bermakna „orang-orang yang tidak memiliki pengaruh pasti selalu menderita. Topik spesifik dalam lagu “Marsinah” adalah kasus hukum yang tidak terselesaikan. Berikut lirik berisi topik kasus hukum yang tidak terselesaikan: (14) Ooo Marsinah kau termarjinalkan (Marjinal, “Marsinah”, 2003) Tuturan (14) berisi lirik bertopik tidak diselesaikannya suatu kasus hukum. Pada tuturan (14), terdapat kata kunci termarjinalkan. Termarjinalkan mengacu pada kata termarginalisasikan. Termarginalisasikan bermakna termarginalisasi. Termarginalisasi bermakna „terkena pembatasan‟ (bdk. Sugono, dkk. 879). Termarjinalkan mengacu pada „kasus Marsinah yang tidak diusut sampai selesai‟.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 2.3 Pendidikan Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (bdk. Sugono dkk. 2008:352). Lirik bertopik pendidikan terdapat dalam lagu “Belajar Sama-sama” dan “Mahakebo”. Topik spesifik dalam lagu “Belajar Sama-sama” adalah pendidikan dalam masyarakat. Sementara pada lagu “Mahakebo”, topik spesifiknya adalah gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas. Berikut pemaparannya: Tabel 3: Lirik Bertopik Pendidikan No. Judul 15 Tuturan Kunci Topik Belajar Sama- (i) Semua orang itu guru Pendidikan Sama masyarakat dalam (ii) Alam raya sekolahku 16 Mahakebo (i) Cobalah lihat ada yang wisuda Gelar pendidikan yang hanya (ii) Yang disahkan menjadi seorang sebagai formalitas sarjana (iii) Tuk dapatkan formalitas saja Topik spesifik dalam lagu “Belajar Sama-Sama” adalah kasus pendidikan dalam masyarakat. Berikut lirik berisi topik pendidikan dalam masyarakat: (15) (i) Semua orang itu guru (ii) Alam raya sekolahku

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (15) berisi lirik bertopik pendidikan dalam masyarakat. Pada tuturan (15i), terdapat kata kunci guru. Kata guru bermakna „orang yang pekerjaannya mengajar‟ (Sugono, dkk. 2008:469). Jadi, tuturan (15i) bermakna „semua orang merupakan orang yang mengajar‟. Pada tuturan (15ii), terdapat kata kunci alam raya dan sekolahku. Kata alam raya bermakna „jagat raya‟. Kata sekolahku terdiri dari kata sekolah yang bermakna „bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran‟ (Sugono, dkk. 2008:1244) dan imbuhan -ku yang bermakna „(aku) pemilik‟ (Sugono, dkk. 2008:744). Jadi, tuturan (15ii) bermakna „jagat raya adalah tempat si „aku‟ belajar dan mengajar‟. Topik spesifik dalam lagu “Mahakebo” adalah gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas. Berikut lirik berisi topik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas: (16) (i) Cobalah lihat ada yang wisuda (ii) Yang disahkan menjadi seorang sarjana (iii) Tuk dapatkan formalitas saja (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (16) berisi lirik bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai sebagai formalitas. Pada tuturan (16i), terdapat kata kunci wisuda. Kata wisuda bermakna „peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat‟ (Sugono, dkk. 2008:1563). Pada tuturan (16ii), terdapat kata kunci disahkan dan sarjana. Kata disahkan bermakna „menjadikan (menyatakan, mengakui, dan sebagainya) sah‟ (bdk. Sugono,

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 dkk. 2008:1200). Kata sarjana bermakna „gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi‟. Pada tuturan (16iii), terdapat kata dapatkan dan formalitas. Kata dapatkan mengacu pada kata „memperoleh‟ (Sugono, dkk. 2008:293). Kata formalitas bermakna „bentuk (peraturan, tata cara, prosedur, kebiasaan) yang berlaku‟ atau „sekadar mengikuti tata cara‟ (Sugono, dkk. 2008:396). 2.4 Kekerasan Kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; paksaan (bdk. Sugono dkk. 2008:698). Lirik bertopik kekerasan terdapat dalam lagu “Bergerak”, “Godam Rakyat”, “Lawan Diktator”, “Manusia Bersenjata”, “Marsinah”, “Mayday”, “Natal Berdarah”, “Politik Kekuasaan”, “Sampit”. Topik spesifik dalam lagu “Bergerak” adalah tatanan tanpa penindasan. Pada lagu “Godam Rakyat”, topik spesifiknya adalah pemerasan pada rakyat. Pada lagu “Lawan Diktator”, topik spesifiknya adalah penindasan pada rakyat. Pada lagu “Manusia Bersenjata”, topik spesifiknya adalah penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme. Pada lagu “Marsinah”, topik spesifiknya adalah kekerasan pada Marsinah. Pada lagu “Mayday”, topik spesifiknya adalah perlawanan pada penindasan. Pada lagu “Natal Berdarah”, topik spesifiknya adalah pemboman rumahrumah ibadah dan cara-cara penguasa menutupi persoalan. Pada lagu “Politik Kekuasaan”, topik spesifiknya adalah penindasan pada buruh, rakyat, dan petani. Pada lagu “Sampit”, topik spesifiknya adalah konflik Sampit dan pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa. Berikut pemaparannya:

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Tabel 4: Lirik Bertopik Kekerasan No. Judul Tuturan Kunci 17 (i) Bergerak Topik Bergerak bersama rakyat Tatanan tertindas tanpa penindasan (ii) Membangun tatanan masyarakat adil (iii) Bila penindasan telah dihancurkan 18 Godam Rakyat (i) Banyak sekali rakyat yang jadi Pemerasan pada rakyat korban (ii) Hanya dijadikan sapi-sapi perahan (iii) Tanpa mengenal belas kasihan (iv) Dijadikan alat mesin pengumpul uang 19 Lawan (i) Di bawah kaki penguasa yang Penindasan Diktator selalu menindas kita semua (ii) Pengangguran kriminalitas dan kesenjangan sosial (iii) Pengekangan pembantaian lahir dari penguasa rakyat pada

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 20 Manusia (i) Banyak orang yang menderita Bersenjata (ii) Semuanya telah dikuasai penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme penguasa (iii) Dengan manusia bersenjata (iv) Sompret sistem negara Amerika 21 Marsinah (i) Ada darah rintih caci maki kau Kekerasan hadapi pada Marsinah (ii) Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima (iii) Ooo Marsinah matimu tak siasia 22 Mayday (i) Menghancurkan segala Perlawanan penghisapan (ii) Derap pada penindasan langkah kaum-kaum pekerja (iii) Menolak ditindas 23 Natal Berdarah (i) Natal berdarah 25 Desember di Pemboman akhir tahun 2000 (ii) Pemboman rumah-rumah ibadah bermotifkan adu domba (iii) Banyak rakyat kecil yang jadi rumah ibadah rumah-

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 korban 24 Natal Berdarah (i) Pemboman mengadu domba Cara-cara sudah biasa penguasa menutupi persoalan (ii) Perang SARA rekayasa (iii) Rekayasa para penguasa (iv) Inilah kebiadaban (v) Metode lama selalu dia gunakan menutupi persoalan (vi) Black propaganda doktrinasi rakyat terilusi 25 Politik (i) Buruh ditindas Penindasan Kekuasaan buruh, (ii) Rakyat ditindas rakyat, petani (iii) Petani ditindas (iv) Politik mencari uang (v) Politik tuk kekuasaan 26 Sampit (i) Darah-darah berceceran (ii) Bangkai-bangkai Konflik Sampit hitam berserakan (iii) Kobaran api tangisan jiwa melengkapi jeritan di Sampit pada dan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 (iv) Cobalah lihat di sana mati (v) Pembantaian penjagalan pembakaran (vi) Tetesan air mata tak henti membanjiri tanah di Sampit (vii) Gemuruh genta kematian menghantui tidur mereka 27 Sampit (i) Hentikan pembodohan yang Pembodohan menciptakan banyak korban kekerasan dan yang dilakukan penguasa (ii) Hentikan kekerasan yang telah membunuh saudara-saudara kita (iii) Diadu domba jadi alat tuk penguasa Topik spesifik dalam lagu “Bergerak” adalah tatanan tanpa penindasan. Berikut lirik berisi topik tatanan tanpa penindasan: (17) (i) Bergerak bersama rakyat tertindas (ii) Membangun tatanan masyarakat adil (iii) Bila penindasan telah dihancurkan (Marjinal, “Bergerak”, 2003)

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Tuturan (17) berisi lirik bertopik tatanan tanpa penindasan. Pada tuturan (17i), terdapat kata kunci bergerak dan tertindas. Kata bergerak bermakna „(mulai) melakukan suatu usaha‟ (Sugono, dkk. 2008:443). Kata tertindas bermakna „disengsarakan; teraniaya‟. Jadi, tuturan (17i) bermakna „mulai melakukan sesuatu bersama rakyat yang teraniaya‟ (Sugono, dkk. 2008:1467). Pada tuturan (17ii), terdapat kata kunci tatanan. Kata tatanan bermakna „sistem‟ (Sugono, dkk. 2008:1410). Jadi, tuturan (17ii) bermakna „membangun sistem masyarakat yang adil‟. Pada tuturan (17iii), terdapat kata kunci bila dan penindasan. Kata bila bermakna „kata tanya untuk menanyakan waktu‟ (Sugono, dkk. 2008:191). Kata penindasan bermakna „proses, cara, perbuatan menindas‟ (Sugono, dkk. 2008:1467). Jadi, tuturan (17iii) bermakna „sewaktu perbuatan menindas telah dihancurkan‟. Topik spesifik dalam lagu “Godam Rakyat” adalah pemerasan pada rakyat. Berikut lirik berisi topik pemerasan pada rakyat: (18) (i) Banyak sekali rakyat yang jadi korban (ii) Hanya dijadikan sapi-sapi perahan (iii) Tanpa mengenal belas kasihan (iv) Dijadikan alat mesin pengumpul uang (Marjinal, “Godam Rakyat”, 2003) Tuturan (18) berisi lirik bertopik pemerasan pada rakyat. Pada tuturan (18i), terdapat kata kunci korban. Kata korban bermakna „orang, binatang, dan sebagainya yang menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya‟ (Sugono, dkk. 2008:733). Jadi, tuturan (18i) bermakna „banyak sekali rakyat yang menjadi menderita akibat suatu kejadian‟.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Pada tuturan (18ii), terdapat idiom sapi-sapi perahan. Idiom sapi-sapi perahan mengacu pada „orang yang diperas tenaganya (penghasilannya, dan sebagainya) oleh orang lain; orang yang dimanfaatkan secara terus-menerus oleh orang lain‟ (Sugono, dkk. 2008:1225). Jadi, tuturan (18ii) bermakna rakyat hanya dimanfaatkan secara terus-menerus‟. Pada tuturan (18iii), terdapat frasa belas kasihan. Frasa belas kasihan bermakna „rasa belas dan kasihan‟ (Sugono, dkk. 2008:162). Jadi, tuturan (18ii) bermakna „orang yang memanfaatkan rakyat tidak mengenal rasa belas dan kasih‟. Pada tuturan (18iv), terdapat kata kunci alat dan mesin. Kata alat bermakna „benda yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu‟ (Sugono, dkk. 2008:36). Kata mesin bermakna „perkakas untuk menggerakkan atau membuat sesuatu yang dijalankan dengan roda, digerakkan oleh tenaga manusia atau motor penggerak, menggunakan bahan bakar minyak atau tenaga alam‟ (Sugono, dkk. 2008:906). Jadi, tuturan (18iv) bermakna „rakyat dijadikan perkakas untuk mengumpulkan uang‟. Topik spesifik dalam lagu “Lawan Diktator” adalah penindasan pada rakyat. Berikut lirik berisi topik penindasan pada rakyat: (19) (i) Di bawah kaki penguasa yang selalu menindas kita semua (ii) Pengangguran kriminalitas dan kesenjangan sosial (iii) Pengekangan pembantaian lahir dari penguasa (Marjinal, “Lawan Diktator”, 2003) Tuturan (19) berisi lirik bertopik penindasan pada rakyat. Pada tuturan (19i), terdapat kata kunci menindas. Kata menindas bermakna „memperlakukan dengan sewenangwenang (dengan lalim, dengan kekerasan)‟ (Sugono, dkk. 2008:1467). Jadi, tuturan (19i) bermakna „kita berada di bawah kaki penguasa yang selalu berlaku sewenangwenang‟.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Pada tuturan (19ii), terdapat kata kunci pengangguran, kriminalitas, dan kesenjangan. Kata pengangguran bermakna „hal atau perbuatan menganggur‟ (Sugono, dkk. 2008:65). Kata menganggur bermakna „tidak bekerja‟ (Sugono, dkk. 2008:65). Kata kriminalitas bermakna „perbuatan yang melanggar hukum pidana‟ (Sugono, dkk. 2008:741). Kata kesenjangan bermakna „ketidakseimbangan‟ (Sugono, dkk. 2008:1274). Pada tuturan (19iii), terdapat kata kunci pengekangan, pembantaian, dan lahir. Kata pengekangan bermakna „pembatasan kebebasan‟ (Sugono, dkk. 2008:650). Kata pembantaian bermakna „proses, cara, perbuatan membantai‟ (Sugono, dkk. 2008:136). Kata lahir bermakna „keluar dari kandungan‟ atau „muncul di dunia (masyarakat)‟ (Sugono, dkk. 2008:771). Jadi, tuturan (19ii-iii) bermakna „pengangguran, kriminalitas, kesenjangan sosial, pengekangan, dan pembantaian yang muncul dalam masyarakat berasal dari penguasa‟. Topik spesifik dalam lagu “Manusia Bersenjata” adalah penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme. Berikut lirik berisi topik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme: (20) (i) Banyak orang yang menderita (ii) Semuanya telah dikuasai penguasa (iii) Dengan manusia bersenjata (iv) Sompret sistem negara Amerika (Marjinal, “Manusia Bersenjata”, 2003) Tuturan (20) berisi lirik bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme. Pada tuturan (20i), terdapat kata kunci menderita. Kata menderita bermakna „menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan‟ (Sugono, dkk. 2008:317).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Pada tuturan (20ii), terdapat kata kunci semuanya. Kata semuanya bermakna „segala-galanya‟ (Sugono, dkk. 2008:1265). Pada tuturan (20iii), terdapat kata kata kunci dengan dan bersenjata. Kata dengan bermakna „memakai (menggunakan) suatu alat‟ (Sugono, dkk. 2008:312). Kata bersenjata bermakna „berlengkapkan senjata‟ (Sugono, dkk. 2008:1274). Jadi, tuturan (20ii-iii) bermakna „segala-galanya telah dikuasai penguasa menggunakan kekuatan orang-orang berlengkapkan senjata‟. Pada tuturan (20iv), terdapat frasa sistem negara Amerika. Frasa sistem negara Amerika mengacu pada „sistem kapitalisme‟. Topik spesifik dalam lagu “Marsinah” adalah kekerasan pada Marsinah. Berikut lirik berisi topik kekerasan pada Marsinah: (21) (i) Ada darah rintih caci maki kau hadapi (ii) Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima (iii) Ooo Marsinah matimu tak sia-sia (Marjinal, “Marsinah”, 2003) Tuturan (21) berisi lirik bertopik kekerasan pada Marsinah. Pada tuturan (21i), terdapat kata kunci darah, rintih, caci maki, kau, dan hadapi. Kata darah, rintih, dan caci maki mengacu pada „penderitaan‟. Kata kau mengacu pada „Marsinah‟. Kata hadapi mengacu pada kata menghadapi. Kata „menghadapi‟ bermakna „mengalami‟ (Sugono, dkk. 2008:472). Pada tuturan (21ii), terdapat frasa tetes darah dan air mata. Frasa tetes darah dan air mata mengacu pada „penderitaan‟. Jadi, tuturan (21i-ii) bermakna „Marsinah mengalami berbagai macam penderitaan‟. Pada tuturan (21iii), terdapat kata kunci matimu. Kata matimu terdiri dari kata mati yang bermakna „tidak hidup lagi‟ (Sugono, dkk. 2008:888) dan imbuhan -mu yang mengacu pada „Marsinah‟.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Topik spesifik dalam lagu “Mayday” adalah kasus perlawanan pada penindasan. Berikut lirik berisi topik perlawanan pada penindasan: (22) (i) Menghancurkan segala penghisapan (ii) Derap langkah kaum-kaum pekerja (iii) Menolak ditindas (Marjinal, “Mayday”, 2003) Tuturan (22) berisi lirik bertopik perlawanan pada penindasan. Pada tuturan (22i), terdapat kata kunci penghisapan. Kata penghisapan mengacu pada kata pengisapan. Kata pengisapan mengacu pada „pengisapan yang menindas‟ (Sugono, dkk. 2008:548). Jadi, tuturan (22i) bermakna „menghancurkan segala pengisapan yang menindas‟. Pada tuturan (22ii), terdapat idiom derap langkah. Idiom derap langkah mengacu pada „usaha‟. Pada tuturan (22iii), terdapat kata ditindas. Kata ditindas bermakna „diperlakukan dengan sewenang-wenang‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:1467). Jadi, tuturan (22ii-iii) bermakna „usaha kaum-kaum pekerja menolak diperlakukan dengan sewenang-wenang‟. Topik spesifik dalam lagu “Natal Berdarah” adalah pemboman rumah-rumah ibadah. Berikut lirik berisi topik pemboman rumah-rumah ibadah: (23) (i) Natal berdarah 25 Desember di akhir tahun 2000 (ii) Pemboman rumah-rumah ibadah bermotifkan adu domba (iii) Banyak rakyat kecil yang jadi korban (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003)

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Tuturan (23) berisi lirik bertopik pemboman rumah-rumah ibadah. Pada tuturan (23i), terdapat kata kunci berdarah. Kata berdarah bermakna „mengeluarkan darah‟ (Sugono, dkk. 2008:294). Kata berdarah mengacu pada „peristiwa nahas‟. Tuturan (23i) bermakna „sebuah peristiwa nahas terjadi pada hari Natal tanggal 25 Desember 2000‟. Pada tuturan (23ii), terdapat kata kunci pemboman. Kata pemboman mengacu pada kata pengeboman. Kata pengeboman terdiri dari kata bom dan imbuhan penge-an. Kata bom bermakna „senjata peledak yang bentuknya seperti peluru besar yang berisi bahan peledak‟. Imbuhan penge--an bermakna „proses, cara, perbuatan‟ (Sugono, dkk. 2008:1045). Kata pengeboman bermakna „penyerangan (penghancuran dan sebagainya) dengan bom‟. Pada tuturan (23iii), terdapat kata kunci korban. Kata korban bermakna „orang yang menderita akibat suatu kejadian‟ (Sugono, dkk. 2008:733). Topik spesifik lain dalam lagu “Natal Berdarah” adalah cara-cara penguasa menutupi persoalan. Berikut lirik berisi topik cara-cara penguasa menutupi persoalan: (24) (i) Pemboman mengadu domba sudah biasa (ii) Perang SARA rekayasa (iii) Rekayasa para penguasa (iv) Inilah kebiadaban (v) Metode lama selalu dia gunakan menutupi persoalan (vi) Black propaganda doktrinasi rakyat terilusi (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (24) berisi lirik bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan. Pada tuturan (24i), terdapat idiom mengadu domba. Idiom mengadu domba bermakna „menjadikan berselisih di antara pihak yang sepaham‟ (Sugono, dkk. 2008:12).

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Pada tuturan (24ii-iii), terdapat kata kunci rekayasa. Kata rekayasa bermakna „rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan dan sebagainya pihak lain‟ (Sugono, dkk. 2008:1157). Pada tuturan (24iv), terdapat kata kunci inilah dan kebiadaban. Kata inilah mengacu pada „rekayasa yang dilakukan penguasa‟. Kata kebiadaban bermakna „sifat biadab (kejam)‟ (Sugono, dkk. 2008:194) Pada tuturan (24v), terdapat frasa metode lama dan kata menutupi. Frasa metode lama mengacu pada „rekayasa yang dilakukan penguasa‟. Kata menutupi bermakna „menyelubungi‟ (Sugono, dkk. 2008:1510). Pada tuturan (24vi), terdapat frasa black propaganda, kata doktrinasi dan terilusi. Frasa black propaganda mengacu pada propaganda gelap. Propaganda gelap bermakna „propaganda yang dilakukan untuk melemahkan moral‟ (bdk. Sugono, dkk. 1106). Kata doktrinasi bermakna „pengajaran (tentang asas suatu aliran politik)‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:338). Kata terilusi terdiri dari kata ilusi yang bermakna „pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan‟ (Sugono, dkk. 2008:526) dan imbuhan ter- yang bermakna „telah mengalami‟ (Sugono, dkk. 2008:1447). Topik spesifik dalam lagu “Politik Kekuasaan” adalah penindasan pada buruh, rakyat, dan petani. Berikut lirik berisi topik penindasan pada buruh, rakyat, dan petani: (25) (i) Buruh ditindas (ii) Rakyat ditindas (iii) Petani ditindas (iv) Politik mencari uang (v) Politik tuk kekuasaan (Marjinal, “Politik Kekuasaan”, 2003)

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Tuturan (25) berisi topik tentang penindasan pada buruh, rakyat, dan petani. Pada tuturan (25i-iii), terdapat kata ditindas. Kata ditindas bermakna „memperlakukan dengan sewenang-wenang‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:1467). Pada tuturan (25iv), terdapat kata politik dan mencari. Kata politik bermakna „cara bertindak; kebijakan‟ (Sugono, dkk. 2008:1091). Kata mencari bermakna „berusaha mendapatkan‟ (Sugono, dkk. 2008:245). Pada tuturan (25v), terdapat kata kekuasaan. Kata kekuasaan bermakna „kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik (Sugono, dkk. 2008:746). Topik spesifik dalam lagu “Sampit” adalah konflik Sampit. Berikut lirik berisi topik konflik Sampit: (26) (i) Darah-darah berceceran (ii) Bangkai-bangkai hitam berserakan (iii) Kobaran api tangisan jiwa melengkapi jeritan di Sampit (iv) Cobalah lihat di sana mati (v) Pembantaian penjagalan pembakaran (vi) Tetesan air mata tak henti membanjiri tanah di Sampit (vii) Gemuruh genta kematian menghantui tidur mereka (Marjinal, “Sampit”, 2003) Tuturan (26) berisi lirik bertopik konflik Sampit. Pada tuturan (27i), terdapat kata darah dan berceceran. Kata darah bermakna „cairan berwarna merah yang mengalir dalam pembuluh darah manusia atay binatang‟ (Sugono, dkk. 2008:317) Kata berceceran bermakna „berjatuhan sedikit-sedikit dan berhamburan di tanah‟ (Sugono, dkk. 2008:249).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Pada tuturan (26ii), terdapat kata bangkai dan berserakan. Kata bangkai bermakna „tubuh yang sudah mati‟ (Sugono, dkk. 2008:132). Kata berserakan bermakna „berantakan; porak poranda; terletak tidak beraturan‟ (Sugono, dkk. 2008:1282). Pada tuturan (26iii), terdapat frasa kobaran api, tangisan jiwa, dan kata jeritan. Frasa kobaran api mengacu pada „peristiwa konflik yang terjadi di Sampit‟. Frasa tangisan jiwa dan kata jeritan mengacu pada „penderitaan yang dirasakan korban‟. Kata jeritan bermakna „teriakan‟ (Sugono, dkk. 2008:582). Pada tuturan (26iv), terdapat kata mati. Kata mati bermakna „tidak hidup lagi‟ (Sugono, dkk. 2008:888). Pada tuturan (26v), terdapat kata pembantaian, penjagalan, dan pembakaran. Kata pembantaian bermakna „pembunuhan secara kejam dengan korban lebih dari seseorang‟ (Sugono, dkk. 2008:136). Kata penjagalan bermakna „pembantaian‟ (Sugono, dkk. 2008:556). Kata pembakaran bermakna „perbuatan membakar‟ (Sugono, dkk. 2008:121). Pada tuturan (26vi), terdapat kata air mata dan membanjiri. Kata air mata mengacu pada „kesedihan yang dirasakan korban‟. Kata membanjiri bermakna „menggenangi‟ (Sugono, dkk. 2008:135). Tuturan (26vi) bermakna „duka yang dirasakan korban tidak henti-henti‟. Pada tuturan (26vii), terdapat kata gemuruh, idiom genta kematian, dan kata menghantui. Kata gemuruh bermakna „menderu-deru seperti bunyi guruh atau suara ombak besar mengalun menepis pantai‟ (Sugono, dkk. 2008:438). Idiom genta kematian mengacu pada „sesuatu yang mendatangkan maut‟. Kata menghantui bermakna „mengusik‟ (Sugono, dkk. 2008:481). Tuturan (26vii) bermakna „sesuatu yang mendatangkan maut mengusik tidur korban konflik Sampit‟

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Topik spesifik lain dalam lagu “Sampit” adalah pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa. Berikut lirik berisi topik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa: (27) (i) Hentikan pembodohan yang menciptakan banyak korban (ii) Hentikan kekerasan yang telah membunuh saudara-saudara kita (iii) Diadu domba jadi alat tuk penguasa (Marjinal, “Sampit”, 2003) Tuturan (27) berisi lirik bertopik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa. Pada tuturan (27i), terdapat kata pembodohan. Kata pembodohan bermakna „proses, cara, perbuatan membodohkan‟ (Sugono, dkk. 2008:203). Pada tuturan (27ii), terdapat kata kekerasan. Kata kekerasan bermakna „perbuatan seseorang atau kelompok orang uang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain‟ (Sugono, dkk. 2008:677). Pada tuturan (27iii), terdapat idiom diadu domba. Idiom diadu domba bermakna „dijadikan berselisih di antara pihak yang sepaham‟ (bdk. Sugono, dkk. 2008:12). 2.5 Cinta Cinta adalah suka sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan) (Sugono dkk. 2008:288). Lirik bertopik cinta terdapat dalam lagu “Cinta Pembodohan”. Topik spesifik dalam lagu “Cinta Pembodohan” adalah ketidakmatangan dalam menyikapi cinta. Berikut pemaparannya:

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Tabel 5: Lirik Bertopik Cinta No. Judul Tuturan Kunci Topik 28 Cinta (i) Mati karena cinta stres karena Ketidakmatangan dalam Pembodohan cinta menyikapi cinta (ii) Sedikit-dikit cinta (iii) Cinta pembodohan (iv) Karena cinta membuat manusia tak karuan (v) Karena cinta itu berlebihan (vi) Cinta itu rancu (vii) Cinta adalah alat untuk gapai keinginan (viii) Mau ML atau mau jadi presiden (ix) Membunuh karena cinta cinta cinta cinta ta Topik spesifik dalam lagu “Cinta Pembodohan” adalah ketidakmatangan dalam menyikapi cinta. Berikut lirik berisi topik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta: (28) (i) Mati karena cinta stres karena cinta

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 (ii) Sedikit-dikit cinta (iii) Cinta pembodohan (iv) Karena cinta membuat manusia tak karuan (v) Karena cinta itu berlebihan (vi) Cinta itu rancu (vii) Cinta adalah alat untuk gapai keinginan (viii) Mau ML atau mau jadi presiden (ix) Membunuh karena cinta cinta cinta cinta ta (Marjinal, “Cinta Pembodohan”, 2003) Tuturan (28) berisi lirik bertopik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta. Pada tuturan (28i), terdapat kata kunci mati, stres, dan cinta. Kata mati bermakna „tidak hidup lagi‟ (Sugono, dkk. 2008:888). Kata stres bermakna „gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar‟ (Sugono, dkk. 2008:1341). Kata cinta bermakna „suka sekali‟ atau „terpikat‟ (Sugono, dkk. 2008:268). Jadi, tuturan (28i) bermakna „kondisi mati dan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh cinta‟. Pada tuturan (28ii), terdapat kata sedikit-dikit. Kata sedikit-dikit mengacu pada kata sedikit-sedikit. Kata sedikit-sedikit bermakna „setiap kali sedikit‟ atau „barang sedikit‟ (Sugono, dkk. 2008:1239). Pada tuturan (28iii), terdapat kata pembodohan. Kata pembodohan bermakna „proses, cara, perbuatan membodohkan‟ (Sugono, dkk. 2008:203). Jadi, tuturan (28iii) bermakna „cinta adalah cara membodohkan‟. Pada tuturan (28iv), terdapat kata karuan. Kata karuan bermakna „pasti; tentu‟ (Sugono, dkk. 2008:629). Jadi, tuturan (28iv) bermakna „karena cinta membuat manusia tidak tentu‟.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Pada tuturan (28v), terdapat kata berlebihan. Kata berlebihan bermakna „anehaneh atau tidak sewajarnya (tentang tingkah laku)‟ (Sugono, dkk. 2008:801). Jadi, tuturan (28v) bermakna „karena cinta itu tidak sewajarnya‟. Pada tuturan (28vi), terdapat kata rancu. Kata rancu bermakna „tidak teratur; campur aduk; kacau (tentang berpikir, berbahasa)‟ (Sugono, dkk. 2008:1139). Jadi, tuturan (28vi) bermakna „cinta itu tidak teratur‟. Pada tuturan (28vii), terdapat kata alat. Kata alat bermakna „yang dipakai untuk mencapai maksud‟ (Sugono, dkk. 2008:36). Jadi, tuturan (28vii) bermakna „cinta adalah sesuatu yang dipakai untuk mencapai keinginan‟. Pada tuturan (28viii), terdapat kata ML dan presiden. Kata ML adalah singkatan dari „making love‟ atau „bersanggama‟. Kata presiden mengacu pada kata „pejabat‟. Jadi, tuturan (28viii) bermakna „cinta dapat dipakai untuk mencapai keinginan bersanggama atau menjadi pejabat‟. Pada tuturan (28ix), terdapat kata membunuh. Kata membunuh bermakna „menghilangkan (menghabisi; mencabut) nyawa‟ (Sugono, dkk. 2008:225). Jadi, tuturan (28ix) bermakna „cinta dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa‟. 2.6 Stigma Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya (Badudu. 2003:332). Lirik bertopik stigma terdapat dalam lagu “Anarki Bukan Barbar”. Topik spesifik dalam lagu “Anarki Bukan Barbar” adalah stigma mengenai „anarki‟. Berikut pemaparannya: Tabel 6: Lirik Bertopik Stigma No. Judul Tuturan Kunci Topik

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 29 Anarki Bukan (i) Sering kita mendengar Stigma Barbar „anarki‟ mengenai (ii) Anarkisme adalah suatu yang menakutkan (iii) Sebuah ancaman, bayangan ketakutan (iv) Anarkisme adalah suatu kerusuhan (v) Gerakan tak terorgan biang kekerasan (vi) Anarki bukan barbar (vii) Anarki bukan vandal (viii) Anarki adalah persamaan hak (ix) Anarki adalah tanpa paksaan (x) Penyamarataan hak sejahtera bersama Topik spesifik dalam lagu “Anarki Bukan Barbar” adalah stigma mengenai „anarki‟. Berikut lirik berisi topik stigma mengenai „anarki‟: (29) (i) Sering kita mendengar (ii) Anarkisme adalah suatu yang menakutkan (iii) Sebuah ancaman, bayangan ketakutan

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 (iv) Anarkisme adalah suatu kerusuhan (v) Gerakan tak terorgan biang kekerasan (vi) Anarki bukan barbar (vii) Anarki bukan vandal (viii) Anarki adalah persamaan hak (ix) Anarki adalah tanpa paksaan (x) Penyamarataan hak sejahtera bersama (Marjinal, “Anarki bukan Babar”, 2003) Tuturan (29) berisi lirik bertopik stigma mengenai „anarki‟. Tuturan tersebut terbagi menjadi 2 bagian, (29i-v) menceritakan stigma yang sering ditemui mengenai „anarki yang rusuh dan kacau‟ dan (29vi-x) menceritakan „seperti apa seharusnya anarki itu‟. Pada tuturan (29i), terdapat kata kunci mendengar. Kata mendengar bermakna „mendapat kabar‟ (Sugono, dkk. 2008:312). Jadi, tuturan (29i) bermakna „kita sering mendapat kabar‟. Pada tuturan (29ii), terdapat kata kunci anarkisme dan menakutkan. Kata anarkisme bermakna „ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang‟ (Sugono, dkk. 2008:59). Kata menakutkan bermakna „menjadikan takut akan‟ (Sugono, dkk. 2008:1382). Jadi, tuturan (29ii) bermakna „anarkisme adalah sesuatu yang menjadikan seseorang takut‟. Pada tuturan (29iii), terdapat kata ancaman, bayangan, dan ketakutan. Kata ancaman bermakna „usaha yang dilaksanakan secara konsepsional melalui tindak politik dan atau kejahatan yang diperkirakan dapat membahayakan tatanan serta kepentingan negara dan bangsa‟ (Sugono, dkk. 2008:60). Kata bayangan bermakna bayang-bayang. Kata bayang-bayang bermakna „rupa (wujud) yang kurang jelas dalam gelap‟ (Sugono, dkk. 2008:152). Kata ketakutan bermakna „kekhawatiran‟ (Sugono, dkk. 2008:1382). Jadi, tuturan (29iii) bermakna „anarkisme adalah sebuah usaha yang membahayakan tatanan dan merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan‟.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Pada tuturan (29iv), terdapat kata kerusuhan. Kata kerusuhan bermakna „huruhara‟. Jadi, tuturan (29iv) bermakna „anarkisme adalah suatu huru-hara‟ (Sugono, dkk. 2008:1194). Pada tuturan (29v), terdapat kata terorgan dan biang. Kata terorgan mengacu pada kata terorganisasi. Kata terorganisasi bermakna „telah disusun dan diatur dalam suatu kesatuan‟ (Sugono, dkk. 2008:988). Kata biang bermakna „asal mula‟. Jadi, tuturan (29v) bermakna „anarkisme adalah gerakan yang tidak disusun dan diatur dalam suatu kesatuan; anarkisme merupakan asal mula kekerasan‟ (Sugono, dkk. 2008:185). Pada tuturan (29vi), terdapat kata barbar. Kata barbar bermakna „tidak beradab‟ (Sugono, dkk. 2008:140). Jadi, tuturan (29vi) bermakna „anarki bukan tidak beradab‟. Pada tuturan (29vii), terdapat kata vandal. Kata vandal bermakna „orang yang suka merusak dan menghancurkan secara kasar dan ganas‟ (Sugono, dkk. 2008:1544). Jadi, tuturan (29vii) bermakna „anarki bukan orang atau sesuatu yang suka merusak dan menghancurkan secara kasar dan ganas‟. Pada tuturan (29viii), terdapat kata persamaan. Kata persamaan bermakna „perihal mempersamakan (tingginya, tingkatnya, dan sebagainya)‟ (Sugono, dkk. 2008:1212). Jadi, tuturan (29viii) bermakna „anarki adala perihal mempersamakan hak‟. Pada tuturan (29ix), terdapat kata paksaan. Kata paksaan bermakna „desakan‟ (Sugono, dkk. 2008:1002). Jadi, tuturan (29ix) bermakna „anarki adalah tanpa desakan‟. Pada tuturan (29x), terdapat kata penyamarataan. Kata penyamarataan bermakna „proses, cara, perbuatan menyamaratakan (menganggap sama rata)‟. Jadi, tuturan (29x) bermakna „anarki adalah perbuatan menyamaratakan hak demi kesejahteraan bersama‟.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 3.1 Pengantar Pada bab ini dibahas tindak tutur yang terdapat dalam lirik lagu karya Marjinal. Setiap interseksi tindak tutur dibahas dengan pengelompokan berdasar topik umum sebagaimana telah dibahas pada Bab II. Interseksi yang dibahas adalah langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung tidak literal. Sedangkan kelompok topik umum yang akan dibahas adalah (i) hukum, (ii) pendidikan, (iii) kekerasan, (iv) cinta, dan (v) stigma. 3.2 Hukum Lagu “Hukum Rimba” yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum ditujukan kepada pejabat hukum. Tindak tutur yang terdapat dalam “Hukum Rimba” tersebut adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung tidak literal. Lagu “Hukum Rimba” juga bertopik kendali hukum oleh orang berkuasa yang ditujukan untuk pejabat hukum. Tindak tutur yang terdapat dalam “Hukum Rimba” adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan langsung tidak literal. Lagu “Marsinah” yang bertopik kasus hukum yang tidak terselesaikan ditujukan kepada pejabat hukum. Dalam “Marsinah” terdapat tindak tutur tidak langsung tidak literal. 43

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Tabel 7: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Hukum No. 30 Judul Persoalan Tuturan Kunci Hukum Ketidakadilan (i) Di manakah adanya Rimba pelaksanaan keadilan bila masih hukum memandang Tindak Tutur Langsung literal golongan? (ii) Tak mencerminkan keadilan (iii) Hukum adalah lembah hitam (iv) Maling-maling kecil dihakimi Tidak langsung literal Langsung tidak literal Tidak langsung tidak literal (v) Maling-maling besar dilindungi 31 Hukum Kendali (i) Pengacara juri Rimba hukum oleh hakim jaksa masih orang ternilai dengan berkuasa angka (uang) (ii) Hukum adalah komoditas (iii) Yang kuat selalu berkuasa Langsung literal

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 (iv) Yang lemah pasti merana (v) Hukum telah dikuasai oleh Tidak langsung literal orang-orang beruang (vi) Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan (vii) Barangnya para tersangka 32 Marsinah Langsung tidak literal Kasus hukum Ooo Marsinah kau Tidak langsung tidak termarjinalkan tidak literal terselesaikan 3.2.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penuntut ketegasan hukum dengan mitra tuturnya adalah pejabat hukum. Kedua, konteksnya hukum tidak ditegakkan semestinya. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menuntut tegaknya hukum. 3.2.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Berikut lirik yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum secara langsung literal: (30) (i) Di manakah adanya keadilan bila masih memandang golongan? (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (30i) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus tanya untuk menanyakan sesuatu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penuturnya. 3.2.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum Berikut lirik yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum secara tidak langsung literal: (30) (ii) Tak mencerminkan keadilan (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (30ii) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penuturnya. Dalam hal ini, tuturan ini bermaksud menyuruh „hukum mencerminkan keadilan‟.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 3.2.1.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum Berikut lirik yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum secara langsung tidak literal: (30) (iii) Hukum adalah lembah hitam (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (30iii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk menyatakan sesuatu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena frasa „lembah hitam‟ tidak sesuai dengan maksud penuturnya. Frasa „lembah hitam‟ yang dimaksud penutur adalah „keadaan hukum yang tidak adil‟. 3.2.1.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakadilan Pelaksanaan Hukum Berikut lirik yang bertopik ketidakadilan pelaksanaan hukum secara tidak langsung tidak literal: (30) (i) (ii) Maling-maling kecil dihakimi Maling-maling besar dilindungi (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (30iv-v) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena frasa „maling-maling kecil‟

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 dan „maling-maling besar‟ tidak sesuai dengan makna yang dimaksudkan penutur. Frasa „maling-maling kecil‟ yang dimaksud penutur adalah „pelanggar hukum ringan‟. Frasa „maling-maling besar‟ yang dimaksud penutur adalah „pelanggar hukum berat‟. Jika tuturan ini disampaikan secara langsung literal, tuturan ini akan berbunyi, “Perlakukan secara adil pelanggar hukum baik ringan maupun berat!” 3.2.2 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik kendali hukum oleh orang berkuasa berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penuntut ketegasan hukum dengan mitra tuturnya adalah pejabat hukum. Kedua, konteksnya pejabat hukum telah disuap agar menguntungkan tersangka. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menuntut tegaknya hukum. 3.2.2.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa Berikut lirik yang bertopik kendali hukum oleh orang berkuasa secara langsung literal: (31) (i) Pengacara juri hakim jaksa masih ternilai dengan angka (uang) (ii) Hukum adalah komoditas (iii) Yang kuat selalu berkuasa (iv) Yang lemah pasti merana (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (31i-iv) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk menyampaikan sesuatu.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Tuturan tersebut dikatakan literal karena kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.2.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa Berikut lirik yang bertopik kendali hukum oleh orang berkuasa secara tidak langsung tidak literal: (31) (v) Hukum telah dikuasai oleh orang-orang beruang (vi) Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tindak tutur (31v-vi) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan (31v) disampaikan secara langsung literal, tuturannya akan menjadi „jangan biarkan hukum dikuasai orang-orang beruang‟. Sedangkan, jika tuturan (31vi) disampaikan secara langsung, tuturannya akan berbunyi, “Jangan biarkan hukum menjadi permainan untuk menjaga kekuasaan!” 3.2.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kendali Hukum oleh Orang Berkuasa Berikut lirik yang bertopik kendali hukum oleh orang berkuasa secara langsung tidak literal: (31) (vii) Barangnya para tersangka

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 (Marjinal, “Hukum Rimba”, 2003) Tuturan (31vii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk menyampaikan sesuatu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena kata-kata penyusunnya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „barangnya‟ yang dimaksud penutur adalah „hukum yang telah dikuasai‟. Kata „para tersangka‟ yang dimaksud penutur adalah „orangorang yang telah menyuap pejabat hukum‟. 3.2.3 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kasus Hukum Tidak Terselesaikan Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik kasus hukum tidak terselesaikan berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penuntut ketegasan hukum dengan mitra tuturnya adalah pejabat hukum. Kedua, konteksnya kasus Marsinah tidak dilanjutkan sampai selesai. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menuntut penyelesaian kasus Marsinah. 3.2.3.1 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kasus Hukum Tidak Terselesaikan Berikut lirik yang bertopik kasus hukum tidak terselesaikan secara tidak langsung tidak literal: (32) Ooo Marsinah kau termarjinalkan (Marjinal, “Marsinah”, 2003)

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Tuturan (32) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh, dalam hal ini pejabat hukum bukan Marsinah. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena kata-kata penyusunnya tidak sama dengan maksud penuturnya. Kata „termarjinalkan‟ yang dimaksudkan penutur adalah „kasus yang tidak terselesaikan‟. Tuturan (32), jika dituturkan secara langsung literal, tuturan ini akan berbunyi, “Selesaikan kasus hukum Marsinah!” 3.3 Pendidikan Lagu “Belajar Sama-Sama” yang bertopik pendidikan dalam masyarakat ditujukan kepada orang yang fanatik pada sekolah formal. Tindak tutur yang terdapat dalam “Belajar Sama-Sama” adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan tidak langsung tidak literal. Lagu “Mahakebo” yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas ditujukan kepada orang yang menjalani pendidikan hanya untuk formalitas. Tindak tutur yang terdapat dalam “Mahakebo” adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung tidak literal. Tabel 8: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan No. Judul Persoalan 33 Belajar Sama- Pendidikan Sama dalam masyarakat Tuturan Kunci (i) Belajar sama-sama (ii) Bertanya sama-sama (iii) Kerja sama-sama Tindak Tutur Langsung literal

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 (iv) Sejahteralah bangsaku (v) Semua orang itu guru Tidak langsung literal (vi) Alam raya sekolahku Tidak langsung tidak literal 34 Mahakebo Gelar pendidikan (i) Cobalah lihat ada Langsung literal yang wisuda yang hanya sebagai formalitas (ii) Yang disahkan menjadi seorang sarjana (iii) Tolong kau jelaskan beri penjelasan (iv) Kau tak boleh begini kau tak boleh begitu (v) Kau harus begini kau harus begitu (vi) Tuk dapatkan formalitas saja (vii) Cobalah lihat ada seekor kerbau (viii) Yang ditarik Tidak langsung literal Langsung tidak literal

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dicucuk hidungnya (ix) Dia hanya menurut saja 3.3.1 Tidak langsung tidak literal Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik pendidikan dalam masyarakat berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah pemerhati pendidikan dengan mitra tuturnya adalah pelajar. Kedua, konteksnya pendidikan hanya dipahami sebagai belajar di sekolah formal dengan guru yang juga formal. Ketiga, tujuan tuturannya adalah memperluas pemahaman mengenai pendidikan bahwa tempat belajar adalah di segala tempat dan semua orang bisa mengajarkan ilmu dan pengalamannya sehingga bisa juga disebut guru. 3.3.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal Dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat Berikut lirik yang bertopik pendidikan dalam masyarakat secara langsung literal: (33) (i) Belajar sama-sama (ii) Bertanya sama-sama (iii) Kerja sama-sama (iv) Sejahteralah bangsaku (Marjinal, “Belajar Sama-Sama”, 2003)

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tuturan (33i-iv) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk menyampaikan sesuatu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.3.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat Berikut lirik yang bertopik pendidikan dalam masyarakat secara tidak langsung literal: (33) (v) Semua orang itu guru (Marjinal, “Belajar Sama-Sama”, 2003) Tuturan (33v) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Tuturan (33v) dimaksudkan penutur untuk menyuruh orang menganggap semua orang adalah guru. Jika tuturan (33v) disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Anggap semua orang itu guru!” 3.3.1.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pendidikan dalam Masyarakat Berikut lirik yang bertopik pendidikan dalam masyarakat secara tidak langsung tidak literal: (33) (vi) Alam raya sekolahku

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 (Marjinal, “Belajar Sama-Sama”, 2003) Tuturan (33vi) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-kata penyusunnya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „sekolah‟ yang dimaksud penutur adalah „tempat belajar‟ bukan „bangunan atau lembaga yang secara formal digunakan untuk belajar-mengajar‟. 3.3.2 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah pemerhati pendidikan dengan mitra tuturnya adalah pelajar. Kedua, konteksnya gelar dianggap hanya formalitas. Ketiga, tujuan tuturannya adalah memperluas pemahaman mengenai pendidikan bukan hanya untuk memenuhi formalias saja. 3.3.2.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas Berikut lirik yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas secara langsung literal: (34) (i) Cobalah lihat ada yang wisuda (ii) Yang disahkan menjadi seorang sarjana (iii) Tolong kau jelaskan beri penjelasan (iv) Kau tak boleh begini kau tak boleh begitu

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 (v) Kau harus begini kau harus begitu (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (34i-v) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus perintah untuk menyuruh dan modus berita untuk menyampaikan sesuatu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.3.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas Berikut lirik yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas secara tidak langsung literal: (34) (vi) Tuk dapatkan formalitas saja (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (34vi) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan (34vi) disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Jangan hanya untuk mendapat formalitas saja!” 3.3.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Berikut lirik yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas secara tidak langsung tidak literal: (34) (vii) Cobalah lihat ada seekor kerbau (viii) Yang ditarik dicucuk hidungnya (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (34vii-viii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus perintah untuk menyuruh dan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-kata penyusunnya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „kerbau yang ditarik dicucuk hidungnya‟ yang dimaksudkan penutur adalah „orang yang mendapat gelar hanya untuk fomalitas‟. 3.3.2.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Gelar Pendidikan yang Hanya Sebagai Formalitas Berikut lirik yang bertopik gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas secara tidak langsung tidak literal: (34) (ix) Dia hanya menurut saja (Marjinal, “Mahakebo”, 2003) Tuturan (34ix) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 sama dengan maksud penutur. Kata „dia‟ pada lirik lagu mengacu pada „kerbau‟, sedangkan „dia‟ yang dimaksud penutur adalah „orang yang mendapat gelar hanya untuk fomalitas‟. Jika tuturan (34ix) disampaikan secara langsung literal, tuturannya akan berbunyi, “Jangan hanya menuruti formalitas saja!” 3.4 Kekerasan Lagu “Bergerak” yang bertopik tatanan tanpa penindasan ditujukan kepada penggerak tatanan adil dan sejahtera. Tindak tutur yang terdapat dalam “Bergerak” adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal dan tidak langsung tidak literal. Lagu “Godam Rakyat” yang bertopik penindasan pada rakyat ditujukan kepada pengumpul uang yang menindas rakyat. Tindak tutur yang terdapat dalam “Godam Rakyat” adalah tindak tutur langsung literal dan tidak langsung tidak literal. Lagu “Lawan Diktator” yang bertopik penindasan pada rakyat ditujukan kepada penggerak perlawanan penindasan. Tindak tutur yang terdapat dalam “Lawan Diktator” adalah tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Manusia Bersenjata” yang bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme ditujukan kepada tiran kapitalis. Tindak tutur yang terdapat dalam “Manusia Bersenjata” adalah tindak tutur langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung tidak literal Lagu “Marsinah” yang bertopik kekerasan pada Marsinah ditujukan kepada masyarakat umum. Tindak tutur yang terdapat dalam “Marsinah” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Mayday” yang bertopik perlawanan pada penindasan ditujukan kepada penggerak kaum pekerja. Tindak tutur yang terdapat dalam “Mayday” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Lagu “Natal Berdarah” yang bertopik pemboman rumah-rumah ibadah ditujukan kepada masyarakat umum. Tindak tutur yang terdapat dalam “Natal Berdarah” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Natal Berdarah” yang bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan ditujukan kepada pengadu domba. Tindak tutur yang terdapat dalam “Natal Berdarah” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Politik Kekuasaan” yang bertopik penindasan pada buruh, rakyat, dan petani ditujukan kepada penindas rakyat. Tindak tutur yang terdapat dalam “Politik Kekuasaan” adalah tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Lagu “Sampit” yang bertopik konflik Sampit ditujukan kepada masyarakat umum. Tindak tutur yang terdapat dalam “Sampit” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Sampit” yang bertopik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa ditujukan kepada pengadu domba. Tindak tutur yang terdapat dalam “Sampit” adalah tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Tabel 9: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan No. 35 Judul Bergerak Persoalan Tatanan tanpa Tuturan Kunci Tindak Tutur (i) Rakyat menang Langsung literal semua pasti senang penindasan (ii) Bila penindasan telah dihancurkan (iii) Buruh senang petani juga senang (iv) Mahasiswa dan kaum

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 miskin kota (v) Bergerak bersama rakyat tertindas Tidak langsung literal (vi) Bergerak bersama (vii) Membangun tatanan masyarakat yang adil (viii) Sejahtera bersama (ix) Untuk kita semua (x) Menunaikan tugas suci yang mulia 36 Godam Penindasan Rakyat pada rakyat (i) Banyak sekali rakyat Tidak langsung tidak literal Langsung literal yang jadi korban (ii) Tanpa mengenal belas kasihan (iii) Hanya dijadikan sapisapi perahan Tidak langsung tidak literal (iv) Dijadikan alat mesin pengumpul uang 37 Lawan Penindasan (i) Pengangguran kriminalitas dan Langsung literal

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Diktator pada rakyat kesenjangan sosial (ii) Pengekangan pembantaian lahir dari penguasa (iii) Bangkitlah wahai kau pemuda (iv) Jangan lagi dibodohi penguasa (v) Kobarkan semangat perlawanan demi semua cita-cita mulia (vi) Pembebasan rakyat tertindas dari belenggu penguasa (vii) Rapatkan barisan kepalkan tangan yakinkan satu tujuan (viii) Sadarkah wahai kau pemuda? (ix) Lawan diktator lawan penghisap (x) Lawan pemeras lawan perampas Tidak langsung literal Langsung tidak literal

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 lawan (xi) Bahwa jiwa kita terpenjara Tidak langsung tidak literal (xii) Di bawah kaki penguasa yang selalu menindas kita semua 38 Manusia Penderitaan Bersenjata yang (i) Aku liat di sini Langsung literal menyaksikan tirani disebabkan sistem kapitalisme (ii) Yang selalu mengekang rakyat di sini (iii) Coba lihat di kota di pabrik dan di desa (iv) Banyak orang yang menderita (v) Semuanya telah dikuasai penguasa (vi) Dengan manusia bersenjata (vii) Sompret Langsung tidak literal sistem Tidak langsung negara Amerika tidak literal

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 39 Marsinah Kekerasan pada (i) Ooo Marsinah Langsung literal matimu tak sia-sia Marsinah (ii) Ada darah rintih caci maki kau hadapi Langsung tidak literal (iii) Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima 40 Mayday Perlawanan (i) Bergerak bersama Langsung literal pada penindasan (ii) Menghancurkan segala penghisapan (iii) Sejahtera bersama (iv) Bergerak bersama bergerak skala dunia (v) Derap langkah kaumkaum pekerja (vi) Menolak ditindas (vii) Gegap gempita (viii) Mayday (ix) Semangat membara serasa bersama Langsung tidak literal

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 41 Natal Pemboman Berdarah rumah-rumah (i) Banyak rakyat kecil Langsung literal yang jadi korban ibadah (ii) Natal berdarah 25 Langsung tidak Desember di akhir literal tahun 2000 (iii) Pemboman rumah rumahibadah bermotifkan adu domba 42 Natal Cara-cara Berdarah penguasa (i) Perang SARA Langsung literal rekayasa menutupi persoalan (ii) Rekayasa para penguasa (iii) Black propaganda doktrinasi rakyat terilusi (iv) Inilah kebiadaban Tidak langsung literal (v) Pemboman mengadu Langsung tidak domba sudah biasa (vi) Metode lama selalu dia gunakan menutupi persoalan literal

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 43 Politik Penindasan Kekuasaan pada buruh, rakyat, dan (i) Politik mencari uang Langsung literal (ii) Politik tuk kekuasaan petani (iii) Buruh ditindas Tidak langsung literal (iv) Rakyat ditindas (v) Petani ditindas 44 Sampit Konflik (i) Darah-darah Sampit berceceran Langsung literal (ii) Bangkai-bangkai hitam berserakan (iii) Cobalah lihat di sana mati (iv) Pembantaian penjagalan pembakaran (v) Kobaran api tangisan Langsung tidak jiwa melengkapi literal jeritan di Sampit (vi) Tetesan air mata tak henti membanjiri tanah di Sampit (vii) Gemuruh kematian genta

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 menghantui tidur mereka 45 Sampit Pembodohan (i) Hentikan Langsung literal dan pembodohan yang kekerasan menciptakan banyak yang korban dilakukan penguasa (ii) Hentikan kekerasan Langsung tidak yang telah literal membunuh saudarasaudara kita (iii) Diadu domba jadi alat tuk penguasa 3.4.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik tatanan tanpa penindasan berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penuntut penganjur tatanan adil dengan mitra tuturnya adalah rakyat tertindas. Kedua, konteksnya rakyat, petani, dan buruh ditindas oleh penguasa. Ketiga, tujuan tuturannya adalah mengajak rakyat tertindas membangun tatanan adil tanpa penindasan. 3.4.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Berikut lirik yang bertopik tatanan tanpa penindasan cinta secara langsung literal: (35) (i) Rakyat menang semua pasti senang (ii) Bila penindasan telah dihancurkan (iii) Buruh senang petani juga senang (iv) Mahasiswa dan kaum miskin kota (Marjinal, “Bergerak”, 2003) Tuturan (35i-iv) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan Berikut lirik yang bertopik tatanan tanpa penindasan secara tidak langsung literal: (35) (v) Bergerak bersama rakyat tertindas (vi) Bergerak bersama (vii) Membangun tatanan masyarakat yang adil (viii) Sejahtera bersama (ix) Untuk kita semua

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 (Marjinal, “Bergerak”, 2003) Tuturan (35v-ix) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut berbunyi, “Bergeraklah bersama rakyat tertindas untuk membangun tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera untuk kita semua.” 3.4.1.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Tatanan Tanpa Penindasan Berikut lirik yang bertopik tatanan tanpa penindasan secara tidak langsung tidak literal: (35) (x) Menunaikan tugas suci yang mulia (Marjinal, “Bergerak”, 2003) Tuturan (35x) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Frasa „tugas suci yang mulia‟ yang dimaksud adalah „membuat tatanan tanpa penindasan‟. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Tunaikan tugas membuat tatanan tanpa penindasan!”

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 3.4.2 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik penindasan pada rakyat berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penuntut pelawan penindasan dengan mitra tuturnya adalah penindas. Kedua, konteksnya rakyat dijadikan alat pengumpul uang oleh penguasa. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menyuruh penindas berhenti menjadikan rakyat sebagai alat pengumpul uang. 3.4.2.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat Berikut lirik yang bertopik penindasan pada rakyat secara langsung literal: (36) (i) (ii) Banyak sekali rakyat yang jadi korban Tanpa mengenal belas kasihan (Marjinal, “Godam Rakyat”, 2003) (37) (i) Pengangguran kriminalitas dan kesenjangan sosial (ii) Pengekangan pembantaian lahir dari penguasa (iii) Bangkitlah wahai kau pemuda (iv) Jangan lagi dibodohi penguasa (v) Kobarkan semangat perlawanan demi semua cita-cita mulia (vi) Pembebasan rakyat tertindas dari belenggu penguasa (vii) Rapatkan barisan kepalkan tangan yakinkan satu tujuan (Marjinal, “Lawan Diktator”, 2003) Tuturan (36i-ii) dan (37i-vii) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 dan modus perintah untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.2.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat Berikut lirik yang bertopik penindasan pada rakyat secara tidak langsung literal: (37) (viii) Sadarkah wahai kau pemuda? (Marjinal, “Lawan Diktator”, 2003) Tuturan (37viii) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus tanya dan berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-katanya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Sadarlah wahai kau pemuda!” 3.4.2.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat Berikut lirik yang bertopik penindasan pada rakyat secara langsung tidak literal: (37) (ix) (x) Lawan diktator lawan penghisap Lawan pemeras lawan perampas lawan (Marjinal, “Lawan Diktator”, 2003)

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tuturan (37ix-x) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus perintah untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „penghisap‟, „pemeras‟, dan „perampas‟ yang dimaksud adalah „penindas‟ atau „pembuat susah‟. 3.4.2.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Rakyat Berikut lirik yang bertopik penindasan pada rakyat secara tidak langsung tidak literal: (36) (iii) (iv) Hanya dijadikan sapi-sapi perahan Dijadikan alat mesin pengumpul uang (Marjinal, “Godam Rakyat”, 2003) (37) (xi) (xii) Bahwa jiwa kita terpenjara Di bawah kaki penguasa yang selalu menindas kita semua (Marjinal, “Lawan Diktator”, 2003) Tuturan (36iii-iv) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Idiom „sapi-sapi perahan‟ dan frasa „alat mesin pengumpul uang‟ yang dimaksud adalah „alat penguasa untuk mengumpulkan uang‟. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Hentikan menjadikan rakyat sebagai alat pengumpul uang!”

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Tuturan (37xi-xii) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus tanya dan berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „terpenjara‟ yang dimaksud adalah „terbatasi kebebasannya‟. Frasa „di bawah kaki penguasa‟ yang dimaksud adalah „di bawah kendali penguasa‟. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Bebaskan jiwa kita dari kendali penguasa yang selalu menindas kita semua!” 3.4.3 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penggerak perlawanan dengan mitra tuturnya adalah penguasa. Kedua, konteksnya kapitalisme membuat rakyat menderita. Ketiga, tujuan tuturannya adalah memberi tahu penderitaan rakyat dan menyuruh penguasa menghentikan penderitaan itu. 3.4.3.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme Berikut lirik yang bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme secara langsung literal: (38) (i) Aku liat di sini menyaksikan tirani (ii) Yang selalu mengekang rakyat di sini (iii) Coba lihat di kota di pabrik dan di desa (iv) Banyak orang yang menderita

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 (v) Semuanya telah dikuasai penguasa (Marjinal, “Manusia Bersenjata”, 2003) Tuturan (38i-v) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.3.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme Berikut lirik yang bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme secara langsung tidak literal: (38) (vi) Dengan manusia bersenjata (Marjinal, “Manusia Bersenjata”, 2003) Tuturan (38vi) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Frasa „manusia bersenjata‟ yang dimaksud adalah „tentara‟. 3.4.3.3 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penderitaan yang Disebabkan Sistem Kapitalisme Berikut lirik yang bertopik penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme secara tidak langsung tidak literal:

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 (38) (vii) Sompret sistem negara Amerika (Marjinal, “Manusia Bersenjata”, 2003) Tuturan (38vii) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Frasa „sistem negara Amerika‟ yang dimaksud adalah „kapitalisme‟. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Hentikan kapitalisme!” 3.4.4 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik kekerasan pada Marsinah berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah aktivis kemanusiaan dengan mitra tuturnya adalah korban (Marsinah). Kedua, konteksnya Marsinah telah mengalami kekerasan. Ketiga, tujuan tuturannya adalah mengabarkan kematiannya tidak sia-sia. 3.4.4.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah Berikut lirik yang bertopik kekerasan pada Marsinah cinta secara langsung literal: (39) (i) Ooo Marsinah matimu tak sia-sia (Marjinal, “Marsinah”, 2003)

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tuturan (39i) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.4.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Kekerasan pada Marsinah Berikut lirik yang bertopik kekerasan pada Marsinah cinta secara langsung tidak literal: (39) (ii) (iii) Ada darah rintih caci maki kau hadapi Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima (Marjinal, “Marsinah”, 2003) Tuturan (39ii-iii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „darah, „rintih‟, „caci maki‟, „tetes darah‟, dan „air mata‟ yang dimaksud adalah „penderitaan‟. 3.4.5 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik perlawanan pada penindasan berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah penggerak massa dengan mitra tuturnya adalah kaum pekerja. Kedua, konteksnya pekerja

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 dihisap dan ditindas penguasa. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menggerakkan pekerja untuk melawan penindasan. 3.4.5.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan Berikut lirik yang bertopik perlawanan pada penindasan secara langsung literal: (40) (i) Bergerak bersama (ii) Menghancurkan segala penghisapan (iii) Sejahtera bersama (iv) Bergerak bersama bergerak skala dunia (v) Derap langkah kaum-kaum pekerja (vi) Menolak ditindas (vii) Gegap gempita (viii) Mayday (Marjinal, “Mayday”, 2003) Tuturan (40i-viii) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.5.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Perlawanan pada Penindasan Berikut lirik yang bertopik perlawanan pada penindasan secara langsung tidak literal:

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 (40) (ix) Semangat membara serasa bersama (Marjinal, “Mayday”, 2003) Tuturan (40ix) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „membara‟ yang dimaksud penutur adalah „bergelora‟. 3.4.6 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman RumahRumah Ibadah Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik pemboman rumahrumah ibadah berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah aktivis kemanusiaan dengan mitra tuturnya adalah masyarakat. Kedua, konteksnya telah terjadi pengeboman beberapa gereja pada hari Natal tahun 2000. Ketiga, tujuan tuturannya adalah mengabarkan tragedi yang terjadi. 3.4.6.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman Rumah-Rumah Ibadah Berikut lirik yang bertopik pemboman rumah-rumah ibadah secara langsung literal: (41) (i) Banyak rakyat kecil yang jadi korban (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (41i) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.6.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pemboman Rumah-Rumah Ibadah Berikut lirik yang bertopik pemboman rumah-rumah ibadah secara langsung tidak literal: (41) (i) (ii) Natal berdarah 25 Desember di akhir tahun 2000 Pemboman rumah-rumah ibadah bermotifkan adu domba (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (41ii-iii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Kata „berdarah‟ yang dimaksud penutur adalah „tragedi‟. Idiom „adu domba‟ yang dimaksud penutur adalah „perselisihan pihak sepaham‟. 3.4.7 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cara-Cara Penguasa Menutupi Persoalan Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah aktivis kemanusiaan dengan mitra tuturnya adalah penguasa. Kedua, konteksnya beberapa gereja mengalami pengeboman pada hari Natal tahun 2000. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menyuruh penguasa menghentikan propaganda.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 3.4.7.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik CaraCara Penguasa Menutupi Persoalan Berikut lirik yang bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan secara langsung literal: (42) (i) Perang SARA rekayasa (ii) Rekayasa para penguasa (iii) Black propaganda doktrinasi rakyat terilusi (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (42i-iii) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.7.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cara-Cara Penguasa Menutupi Persoalan Berikut lirik yang bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan secara tidak langsung literal: (42) (iv) Inilah kebiadaban (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (42iv) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Hentikan kebiadaban ini!” 3.4.7.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cara-Cara Penguasa Menutupi Persoalan Berikut lirik yang bertopik cara-cara penguasa menutupi persoalan secara langsung tidak literal: (42) (v) (vi) Pemboman mengadu domba sudah biasa Metode lama selalu dia gunakan menutupi persoalan (Marjinal, “Natal Berdarah”, 2003) Tuturan (42v-vi) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Idiom „mengadu domba‟ yang dimaksud adalah „menjadikan pihak sepaham menjadi berselisih‟. Frasa „metode lama‟ yang dimaksud penutur adalah idiom „mengadu domba‟. 3.4.8 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik penindasan pada buruh, rakyat, dan petani berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah aktivis pergerakan dengan mitra tuturnya adalah penguasa. Kedua, konteksnya buruh,

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 rakyat, dan petani ditindas demi uang dan kekuasaan. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menyuruh penguasa menghentikan penindasan. 3.4.8.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani Berikut lirik yang bertopik penindasan pada buruh, rakyat, dan petani secara langsung literal: (43) (i) Politik mencari uang (ii) Politik tuk kekuasaan (Marjinal, “Politik Kekuasaan”, 2003) Tuturan (43i-ii) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.8.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Penindasan pada Buruh, Rakyat, dan Petani Berikut lirik yang bertopik penindasan pada buruh, rakyat, dan petani secara tidak langsung literal: (43) (iii) Buruh ditindas (iv) Rakyat ditindas (v) Petani ditindas

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 (Marjinal, “Politik Kekuasaan”, 2003) Tuturan (43iii-v) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. Jika tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturan tersebut akan berbunyi, “Hentikan penindasan pada buruh, rakyat, dan petani!” 3.4.9 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Konflik Sampit Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik konflik Sampit berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah aktivis kemanusiaan dengan mitra tuturnya adalah masyarakat. Kedua, konteksnya telah terjadi konflik antaretnis di Sampit. Ketiga, tujuan tuturannya adalah mengabarkan tragedi. 3.4.9.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu Yang Bertopik Konflik Sampit Berikut lirik yang bertopik konflik sampit secara langsung literal: (44) (i) Darah-darah berceceran (ii) Bangkai-bangkai hitam berserakan (iii) Cobalah lihat di sana mati (iv) Pembantaian penjagalan pembakaran (Marjinal, “Sampit”, 2003)

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Tuturan (44i-iv) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu dan modus perintah untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.9.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Konflik Sampit Berikut lirik yang bertopik konflik sampit secara langsung tidak literal: (44) (v) Kobaran api tangisan jiwa melengkapi jeritan di Sampit (vi) Tetesan air mata tak henti membanjiri tanah di Sampit (vii) Gemuruh genta kematian menghantui tidur mereka (Marjinal, “Sampit”, 2003) Tuturan (44v-vii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Frasa „kobaran api‟, „tangisan jiwa‟, „jeritan‟, dan „tetesan air mata‟ yang dimaksud penutur adalah „penderitaan‟. Kata „membanjiri‟ yang dimaksud adalah „memenuhi‟. Idiom „gemuruh genta kematian‟ yang dimaksud adalah „teror‟. Kata „menghantui‟ yang dimaksud adalah „mengusik‟. 3.4.10 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama,

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 penutur adalah aktivis kemanusiaan dengan mitra tuturnya adalah penguasa. Kedua, konteksnya telah terjadi kondlik antaretnis di Sampit. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menyuruh penguasa menghentikan pembodohan, kekerasan, dan adu domba yang terjadi. 3.4.10.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa Berikut lirik yang bertopik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa secara langsung literal: (45) (i) Hentikan pembodohan yang menciptakan banyak korban (Marjinal, “Sampit”, 2003) Tuturan (45i) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus perintah untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sama dengan maksud penutur. 3.4.10.2 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Pembodohan dan Kekerasan yang Dilakukan Penguasa Berikut lirik yang bertopik pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa secara langsung tidak literal: (45) (i) (ii) Hentikan kekerasan yang telah membunuh saudara-saudara kita Diadu domba jadi alat tuk penguasa

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 (Marjinal, “Sampit”, 2003) Tuturan (45ii-iii) merupakan tindak tutur langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus perintah untuk menyuruh dan modus berita untuk memberi tahu. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya tidak sama dengan maksud penutur. Pada tuturan (45ii), frasa „kekerasan yang telah membunuh‟ yang dimaksud penutur adalah „tindak kekerasan yang menyebabkan terbunuhnya‟, karena „kekerasan‟ bukan pelaku melainkan tindakan. Pada tuturan (46iii), idiom „adu domba‟ yang dimaksud penutur adalah „perselisihan pihak sepaham‟. Jika kedua tuturan tersebut disampaikan secara langsung literal, tuturannya akan berbunyi, “Hentikan kekerasan yang telah menyebabkan terbunuhnya saudara kita!” dan “Dijadikan berselisih sebagai alat untuk penguasa.” 3.5 Cinta Lagu “Cinta Pembodohan” yang bertopik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta ditujukan kepada orang yang tidak berpikir matang dalam menyikapi cinta. Tindak tutur yang terdapat dalam lirik lagu tersebut adalah tindak tutur langsung literal dan tidak langsung tidak literal. Tabel 10: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Cinta No. 46 Judul Cinta Pembodohan Persoalan Ketidakmatangan dalam menyikapi cinta Tuturan Kunci (i) Dunia punya cerita cerita tentang cinta (ii) Mati karena cinta Tindak Tutur Langsung literal

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 stress karena cinta (iii) Sedikit-dikit cinta, buat film tentang cinta (iv) Mengarang lagu cinta cinta cinta cinta ta (v) Mau ML atau mau jadi presiden (vi) Mau kau ngomong cinta, mau manis ngomong cinta (vii) Membunuh karena cinta cinta cinta cinta ta (viii) Cinta pembodohan (ix) Karena cinta membuat manusia tak karuan (x) Cinta pembodohan (xi) Karena cinta itu Tidak langsung tidak literal

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 berlebihan (xii) Cinta itu rancu (xiii) Cinta adalah alat untuk gapai keinginan 3.5.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur adalah orang yang sudah matang dalam menyikapi cinta dengan mitra tuturnya adalah pemuda-pemudi yang sedang jatuh cinta. Kedua, konteksnya cinta dijadikan alasan untuk mencapai suatu tujuan. Ketiga, tujuan tuturannya adalah menasihati orang agar lebih dewasa menyikapi cinta. 3.5.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta Berikut lirik yang bertopik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta secara langsung literal: (46) (i) (ii) Dunia punya cerita cerita tentang cinta Mati karena cinta stress karena cinta (iii) Sedikit-dikit cinta, buat film tentang cinta (iv) Mengarang lagu cinta cinta cinta cinta ta (v) Mau ML atau mau jadi presiden (vi) Mau kau ngomong cinta, mau manis ngomong cinta

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 (vii) Membunuh karena cinta cinta cinta cinta ta (Marjinal, “Cinta Pembodohan”, 2003) Tuturan (46i-vii) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberitakan berbagai persoalan perihal cinta. Tuturan tersebut menggunakan modus yang sesuai dengan maksud penuturnya. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna kata-kata penyusunnya sesuai dengan maksud penuturnya. 3.5.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal dalam Lirik Lagu yang Bertopik Ketidakmatangan dalam Menyikapi Cinta Berikut lirik yang bertopik ketidakmatangan dalam menyikapi cinta secara tidak langsung tidak literal: (46) (viii) Cinta pembodohan (ix) Karena cinta membuat manusia tak karuan (x) Cinta pembodohan (xi) Karena cinta itu berlebihan (xii) Cinta itu rancu (xii) Cinta adalah alat untuk gapai keinginan (Marjinal, “Cinta Pembodohan”, 2003) Tuturan (46viii-ix) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Tuturan tersebut dikatakan tidak literal karena makna kata-katanya penyusunnya tidak sesuai dengan maksud penuturnya. Secara tidak literal tuturan ini bermakna „orang harus berpikir lebih dewasa menghadapi cinta karena cinta yang

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 berlebihan itu rancu dan karena cinta digunakan sebagai alasan untuk mencapai keinginan-keinginan yang mungkin merugikan‟. Tuturan ini dimaksudkan penuturnya untuk menyuruh orang berpikir lebih matang menghadapi cinta. 3.6 Stigma Lagu “Anarki Bukan Barbar” yang bertopik ketidaktepatan stigma „anarki‟ ditujukan kepada pengguna istilah „anarki‟. Tindak tutur yang terdapat dalam lirik lagu tersebut adalah tindak tutur langsung literal dan tindak tutur tidak langsung literal. Tabel 11: Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Stigma No. 47 Judul Persoalan Anarki stigma Bukan mengenai Barbar „anarki‟ Tuturan Kunci (i) Sering kita mendengar (ii) Anarkisme adalah suatu yang menakutkan (iii) Sebuah ancaman, bayangan ketakutan (iv) Sering kita mendengar (v) Anarkisme adalah suatu kerusuhan Tindak Tutur Langsung literal

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 (vi) Gerakan tak terorgan, biang kekerasan (vii) Anarki bukan barbar Tidak langsung literal (viii) Anarki bukan vandal (ix) Anarki adalah persamaan hak (x) Anarki adalah tanpa paksaan (xi) Penyamarataan hak, sejahtera bersama 3.6.1 Tindak Tutur dalam Lirik Lagu yang Bertopik Stigma Pemaparan tindak tutur dalam lirik lagu yang bertopik stigma berikut dibatasi dengan 3 aspek. Pertama, penutur dari kelompok anarki dengan mitra tuturnya adalah masyarakat. Kedua, konteksnya stigma anarki sebagai kerusuhan dan kekerasan. Ketiga, tujuan tuturannya adalah membongkar stigma anarki dan membetulkan pemahaman masyarakat mengenai anarki. 3.6.1.1 Tindak Tutur Langsung Literal dalam Lagu yang Bertopik Stigma Berikut lirik yang bertopik stigma secara langsung literal: (47) (i) (ii) Sering kita mendengar Anarkisme adalah suatu yang menakutkan

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 (iii) Sebuah ancaman, bayangan ketakutan (iv) Sering kita mendengar (v) Anarkisme adalah suatu kerusuhan (vi) Gerakan tak terorgan, biang kekerasan (Marjinal, “Anarki Bukan Barbar”, 2003) Tuturan (47i-vi) merupakan tindak tutur langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan langsung karena menggunakan modus berita untuk memberi tahu konsep „anarki‟ yang sering terdengar. Tuturan tersebut menggunakan modus yang sesuai dengan maksud penuturnya. Tuturan tersebut dikatakan literal karena makna katakata penyusunnya sesuai dengan maksud penuturnya. 3.6.1.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal dalam Lagu yang Bertopik Stigma Berikut lirik yang bertopik stigma secara tidak langsung literal: (47) (vii) Anarki bukan barbar (viii) Anarki bukan vandal (ix) Anarki adalah persamaan hak (x) Anarki adalah tanpa paksaan (xi) Penyamarataan hak, sejahtera bersama (Marjinal, “Anarki Bukan Barbar”, 2003) Tuturan (47vii-xi) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Tuturan tersebut dikatakan tidak langsung karena menggunakan modus berita untuk menyuruh. Dalam hal ini, penutur bermaksud menyuruh pengguna istilah „anarki‟ untuk membetulkan konsep „anarki‟ yang selama ini tidak tepat. Sedangkan ditinjau

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 dari maknanya, tuturan tersebut merupakan tindak tutur literal karena makna katakatanya penyusunnya sesuai dengan maksud penuturnya. Jadi, dengan tuturan (47vii-xi), penutur bermaksud menyuruh orang membetulkan konsep „anarki‟ yang selama ini salah (bdk. tuturan 47i-vi) dengan konsep „anarki‟ yang diketahui penutur yaitu „anarki bukan barbar, anarki bukan vandal, anarki adalah persamaan hak, anarki adalah tanpa paksaan, penyamarataan hak, dan sejahtera bersama‟.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa lirik lagu karya Marjinal dalam album “Termarjinalkan” tahun 2003 berisi topik mengenai (i) hukum, (ii) pendidikan, (iii) kekerasan, (iv) cinta, dan (v) stigma. Topik dalam lagu Marjinal tersebut dipaparkan pada Bab II. Pada Bab III dipaparkan berbagai interseksi tindak tutur dalam lirik lagu Marjinal. Terdapat 66 tindak tutur langsung literal, 20 tindak tutur tidak langsung literal, 15 tindak tutur langsung tidak literal, dan 17 tindak tutur tidak langsung literal. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa pada lagu “Hukum Rimba” berfokus pada ketidakadilan pelaksanaan hukum menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Hukum Rimba” berfokus pada kendali hukum oleh orang berkuasa menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan tidak langsung tidak literal. Lagu “Marsinah” berfokus pada kasus hukum tidak terselesaikan hanya menggunakan tindak tutur tidak langsung literal. Lagu “Belajar Sama-Sama” berfokus pada pendidikan dalam masyarakat menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Mahakebo” berfokus pada gelar pendidikan yang hanya sebagai formalitas menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Bergerak” berfokus pada tatanan tanpa penindasan menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Godam Rakyat” berfokus pada penindasan pada rakyat menggunakan tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Lagu “Lawan Diktator” berfokus pada penindasan pada rakyat menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak 93

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 langsung literal. Lagu “Manusia Bersenjata” berfokus pada penderitaan yang disebabkan sistem kapitalisme menggunakan tindak tutur langsung literal, langsung tidak literal, dan tidak langsung literal. Lagu “Marsinah” berfokus pada kekerasan pada Marsinah menggunakan tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Mayday” berfokus pada perlawanan pada penindasan menggunakan tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Natal Berdarah” berfokus pada pemboman rumah-rumah ibadah menggunakan tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Natal Berdarah” berfokus pada cara-cara penguasa menutupi persoalan menggunakan tindak tutur langsung literal, tidak langsung literal, dan langsung tidak literal. Lagu “Politik Kekuasaan” berfokus pada penindasan pada buruh, rakyat, dan petani menggunakan tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Lagu “Sampit” berfokus pada konflik Sampit menggunakan tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Sampit” berfokus pada pembodohan dan kekerasan yang dilakukan penguasa menggunakan tindak tutur langsung literal dan langsung tidak literal. Lagu “Cinta Pembodohan” berfokus pada ketidakmatangan dalam menyikapi cinta menggunakan tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Lagu “Anarki Bukan Barbar” berfokus pada ketidaktepatan menggunakan istilah „anarki‟ menggunakan tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. 4.2 Saran Setiap lagu masih sangat mungkin dibahas dengan pendekatan dan teori lain, baik dengan teori linguistik atau musikologi. Teori linguistik yang dapat digunakan, misalnya critical discourse analysis untuk menganalisis kepentingan dan keberpihakan yang sering diajukan dalam suatu komunitas punk. Mengenai penelitian ini, dalam hal ini peneliti meneliti sebuah kelompok musik beraliran punk, kurang banyak ditemukan. Ada banyak hal menarik yang

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 mungkin bisa didapat dari penelitian mengenai punk di Indonesia, misalnya penelitian penelitian linguistik mengenai wacana yang sering diangkat dalam komunitas punk, penelitian fashion yang terinspirasi dari kultur punk, dan penelitian antropologi kultur punk.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 DAFTAR PUSTAKA Ariesta, Eka Ayu. 2013. “Ideologi dan Musik (Studi Kasus Perjuangan Ideologi Anarkisme Melalui Karya Musik Marjinal)”. Skripsi. Fakultas Politik dan Pemerintahan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Badudu, J.S. 2003. Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Kompas. Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-dasar dalam Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli. Harsini, Diyah Musri. 2009. “Teknik Propaganda dalam Lirik Lagu Band Punk Marjinal”. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Leech, G. 1983. Principles of Pragmatics. New York: Longman. Nugraha, Stefanus Kendra Dwi. 2015. “Hal-Hal yang Dikritik dan Tindak Tutur Mengkritik dalam 16 Lagu Grup Musik Slank”. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Nugroho , Beto Adhi. 2017. “Kritik dan Tindak Tutur Mengkritik dalam Tiga Lagu Iwan Fals Versi Konser”. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Parker, Frank. 1986. Linguistics for Non-Linguists. Boston: College-Hill Press. Putra, Aldan Pradana. 2017. “Analisis Wacana Kritik Sosial Lirik Lagu Marjinal – Negeri Ngeri” Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pasundan Bandung. Sciffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Sudaryanto, 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. -----. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sugono, Dendy dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, edisi keempat. Jakarta: Gramedia. Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa. Utomo, Debby Riesnasari. 2016. “Wacana Kritik Sosial Korupsi dalam Lagu “Hukum Rimba” dan “Kita Perangi Korupsi” Karya Grup Musik Marjinal”. Skripsi. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 LAMPIRAN Sumber Data Band : Marjinal Album : Termarjinalkan Format : Kaset Tahun : 2003 Label : Tempequality Rekot Konten : 14 tracks Tracklist : 1. Marsinah 2. Cinta pembodohan 3. Mahakebo 4. Godam rakyat 5. Manusia bersenjata 6. Mayday 7. Bergerak 8. Natal berdarah 9. Hukum rimba 10. Sampit 11. Lawan diktator 12. Belajar sama-sama 13. Anarki bukan barbar 14. Politik kekuasaan Lirik Lagu 1. Marsinah Kulihat buruh perempuan berkeringat Membasahi bumi yang gemerlap

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Energi yang kau curahkan begitu besar tak kurasakan Terhanyut dalam kesombongan terlupakan Gemerlap cahayamu membentangi garis kehidupan Ada darah rintih caci maki kau hadapi Keringat dan ketegaranmu mengalir deras tak ternilai Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima Ooo Marsinah kau termarjinalkan Ooo Marsinah matimu tak sia-sia 2. Cinta Pembodohan Dunia punya cerita cerita tentang cinta Mati karena cinta stress karena cinta Sedikit-dikit cinta, buat film tentang cinta Mengarang lagu cinta cinta cinta cinta ta Cinta pembodohan Karena cinta membuat manusia tak karuan Cinta pembodohan Karena cinta itu berlebihan Cinta itu rancu Cinta adalah alat untuk gapai keinginan Mau ML atau mau jadi presiden Mau kau ngomong cinta, mau manis ngomong cinta Membunuh karena cinta cinta cinta cinta ta 3. Mahakebo Cobalah lihat ada seekor kerbau Yang ditarik dicucuk hidungnya Dia hanya menurut saja Cobalah lihat ada yang wisuda Yang disahkan menjadi seorang sarjana

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Tuk dapatkan formalitas saja Tolong kau jelaskan beri penjelasan Kau tak boleh begini kau tak boleh begitu Kau harus begini kau harus begitu 4. Godam Rakyat Kita bersatu untuk satu tujuan Kita bersatu rebut kedaulatan Kita bersatu lawan sistem penindasan Kita bersatu yakin rakyat akan menang Godam rakyat parlemen jalanan Banyak sekali rakyat yang jadi korban Hanya dijadikan sapi-sapi perahan Tanpa mengenal belas kasihan Dijadikan alat mesin pengumpul uang 5. Manusia Bersenjata Aku liat di sini menyaksikan tirani Yang selalu mengekang rakyat di sini Coba lihat di kota di pabrik dan di desa Banyak orang yang menderita Semuanya telah dikuasai penguasa Dengan manusia bersenjata Sompret sistem negara Amerika 6. Mayday Satu bumi tanpa mengenal batas Bergerak bersama Menghancurkan segala penghisapan Sejahtera bersama

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Bergerak bersama bergerak skala dunia Derap langkah kaum-kaum pekerja Menolak ditindas Semangat membara serasa bersama Gegap gempita Mayday 7. Bergerak Bergerak bersama rakyat tertindas Bergerak bersama Membangun tatanan masyarakat yang adil Sejahtera bersama Menunaikan tugas suci yang mulia Untuk kita semua Rakyat menang semua pasti senang Bula penindasan telah dihancurkan Buruh senang petani juga senang Mahasiswa dan kaum miskin kota 8. Natal Berdarah Natal berdarah 25 Desember di akhir tahun 2000 Pemboman rumah-rumah ibadah bermotifkan adu domba Segala cara coba dia halalkan Rakyat jadi korban Pemboman mengadu domba sudah biasa Perang sara rekayasa Rekayasa para penguasa Natal berdarah 25 Desember di akhir tahun 2000 Banyak rakyat kecil yang jadi korban Inilah kebiadaban

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Metode lama selalu dia gunakan menutupi persoalan Black propaganda doktrinisasi rakyat terilusi Kami rakyat menolak jadi korban Kami rakyat menolak jadi domba 9. Hukum Rimba Hukum adalah lembah hitam Tak mencerminkan keadilan Pengacara juri hakim jaksa Masih ternilai dengan angka (uang) Hukum telah dikuasai oleh orang-orang beruang Hukum adalah permainan Tuk menjaga kekuasaan Maling-maling kecil dihakimi Maling-maling besar dilindungi Maling-maling kecil dihakimi Maling-maling besar dilindungi Hukum adalah komoditas Barangnya para tersangka Ada uang kau dimenangkan Ga ada uang you say goodbye Dimanakah adanya keadila Bila masih memandang golongan Yang kuat selalu berkuasa Yang lemah pasti merana Maling-maling kecil dihakimi Maling-maling besar dilindungi Maling-maling kecil dihakimi Maling-maling besar dilindungi

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 10. Sampit Darah-darah berceceran Bangkai-bangkai hitam berserakan Kobaran api tangisan jiwa melengkapi jeritan di Sampit Cobalah lihat di sana mati Pembantaian penjagalan pembakaran Tetesan air mata tak henti membanjiri tanah di Sampit Gemuruh genta kematian menghantui tidur mereka Hentikan pembodohan yang menciptakan banyak korban Hentikan kekerasan yang telah membunuh saudara-saudara kita Diadu domba jadi alat tuk penguasa 11. Lawan Diktator Sadarkah wahai kau pemuda Bahwa jiwa kita terpenjara Di bawah kaki penguasa yang selalu menindas kita semua Pengangguran kriminalitas dan kesenjangan sosial Pengekangan pembantaian lahir dari penguasa Lawan diktator lawan penghisap Lawan pemeras lawan perampas lawan Bangkitlah wahai kau pemuda Jangan lagi dibodohi penguasa Kobarkan semangat perlawanan demi semua cita-cita mulia Pembebasan rakyat tertindas dari belenggu penguasa Rapatkan barisan kepalkan tangan yakinkan satu tujuan 12. Belajar Sama-sama Belajar sama-sama Bertanya sama-sama Kerja sama-sama

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Semua orang itu guru Alam raya sekolahku Sejahteralah bangsaku 13. Anarki Bukan Bsarbar Sering kita mendengar Anarkisme adalah suatu yang menakutkan Sebuah ancaman, bayangan ketakutan Sering kita mendengar Anarkisme adalah suatu kerusuhan Gerakan tak terorgan, biang kekerasan Anarki bukan barbar Anarki bukan vandal Anarki adalah persamaan hak Anarki adalah tanpa paksaan Penyamarataan hak, sejahtera bersama 14. Politik Kekuasaan Buruh ditindas Rakyat ditindas Petani ditindas Uang uang uang uang Politik mencari uang Politik tuk kekuasaan

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 BIOGRAFI Agustinus Kristanto Ari Prayogi lahir di Wonosobo, 24 Agustus 1994. Setelah tamat dari SMA 2 Wonosobo di kelas Bahasa, masuk Prodi Sastra Indonesia USD. Selama menjadi mahasiswa, aktif di Bengkel Sastra dan HMPS Sasindo pada 2013-2015. Pada tahun 2016, berhasil menjadi juara 3 lomba menulis artikel bahasa Jawa yang diselenggarakan Wikimedia Indonesia.

(126)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS ISI LIRIK LAGU MELLY GUSLOW DALAM ALBUM MIND&SOUL
0
6
2
DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU ADA BAND PADA ALBUM ROMANTIC RHAPSODY
0
6
17
DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU ADA BAND PADA ALBUM ROMANTIC RHAPSODY
0
4
16
KAJIAN DIKSI DAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN PADA LIRIK LAGU IWAN FALS DALAM ALBUM “ KAJIAN DIKSI DAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN PADA LIRIK LAGU IWAN FALS DALAM ALBUM “ SARJANA MUDA”.
1
4
11
ANALISIS AFIKSASI DAN PENGHILANGAN BUNYI PADA LIRIK LAGU SHEILA ON 7 DALAM ALBUM ANALISIS AFIKSASI DAN PENGHILANGAN BUNYI PADA LIRIK LAGU SHEILA ON 7 DALAM ALBUM KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN.
0
1
10
GAYA BAHASA DAN PESAN MORAL DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS ALBUM KESEIMBANGAN 2010 GAYA BAHASA DAN PESAN MORAL DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS ALBUM KESEIMBANGAN 2010 (TINJAUAN SEMIOTIK).
0
1
13
KOHESI LEKSIKAL DAN GRAMATIKAL LIRIK LAGU WALI DALAM ALBUM CARI JODOH KOHESI LEKSIKAL DAN GRAMATIKAL LIRIK LAGU WALI DALAM ALBUM CARI JODOH.
0
1
16
PENDAHULUAN KOHESI LEKSIKAL DAN GRAMATIKAL LIRIK LAGU WALI DALAM ALBUM CARI JODOH.
0
1
7
KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA PADA LIRIK LAGU KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA PADA LIRIK LAGU PETERPAN DALAM ALBUM “BINTANG DI SURGA”.
0
1
12
GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DALAM LIRIK LAGU ALBUM ROMANTIC RHAPSODY GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DALAM LIRIK LAGU ALBUM ROMANTIC RHAPSODY PADA GRUP MUSIK ADA BAND.
0
0
11
ANALISIS HIYU HYOUGEN DALAM LIRIK LAGU GACKT ALBUM CRESCENT.
5
16
29
METAFORA DALAM ALBUM LAGU UNTER DEM EIS KARYA EISBLUME.
0
3
127
LIRIK LAGU RELIGI GRUP BAND UNGU DALAM ALBUM AKU DAN TUHANKU: Sebuah Pendekatan Stilistika
0
0
16
ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL PADA LIRIK LAGU RELIGI JAWA DALAM ALBUM PENYEJUK KALBU KARYA BUGIAKSO
0
1
22
GAYA BAHASA REPETISI DALAM LIRIK LAGU SLANK ALBUM SUIT-SUIT HE..HE..(GADIS SEXY)
0
0
216
Show more