Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja - USD Repository

Gratis

0
0
122
10 months ago
Preview
Full text

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PENERIMAAN ORANG TUA DENGAN TINGKAT EMPATI PADA REMAJA

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh : Hetty Yusmaida Barasa

  NIM: 049114047

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009

  

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PENERIMAAN ORANG

TUA DENGAN TINGKAT EMPATI PADA REMAJA

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh : Hetty Yusmaida Barasa

  NIM: 049114047

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2009

  

SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PENERIMAAN ORANG

TUA DENGAN TINGKAT EMPATI PADA REMAJA

  Disusun oleh: Hetty Yusmaida Barasa

  NIM : 049114047 Telah disetujui oleh:

  Dosen Pembimbing, Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M. Si. Tanggal:

  

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun

yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

  

(Yohanes 14:6)

“Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

(Mazmur 16 : 2)

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,

demikianlah firman Tuhan,

yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,

untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan

(Yeremia: 29:11)

  

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu

(mazmur 56:4)

Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan

Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah

firman Tuhan..

(Yeremia 29: 13-14a)

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku!

  

(Mazmur 103 : 1)

Skripsi ini kupersembahkan untuk keluargaku tercinta

  My Beloved Parents

  

M. Barasa - N.Tumanggor

  My Lovely sisters

  

Titin, Liza, Riris, Anna, Mimi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah.

  Yogyakarta, 15 Desember 2008 Penulis Hetty Yusmaida Barasa

  

ABSTRAK

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua Dengan

Tingkat Empati Pada Remaja

  

Hetty Yusmaida Barasa

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

2009

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja. Persepsi terhadap penerimaan orang tua yang dimaksud adalah persepsi remaja terhadap penerimaan kedua orang tua. Empati berarti bereaksi terhadap perasaan orang lain, dimana terjadi proses pengambilalihan perspektif orang lain untuk memahami kondisi dan keadaan pikiran orang lain, sehingga individu seolah mengalami sendiri peristiwa yang dialami orang lain tersebut. Penerimaan orang tua akan mempengaruhi bagaimana empati pada individu.

  Subjek dalam penelitian ini berjumlah 80 individu usia remaja akhir yang diasuh atau bertempat tinggal dengan orang tuanya. Alat yang digunakan sebagai pengumpul data adalah skala persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati. Data dari hasil uji coba diperoleh reliabilitas 0,970 pada skala persepsi terhadap penerimaan orang tua, serta reliabilitas 0,897 untuk skala empati. Hasil analisa data menyatakan bahwa sebaran data normal dan memiliki korelasi linear. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Product

  

Moment dari Pearson dengan taraf signifikansi 0,01 dan menghasilkan koefisien

korelasi sebesar 0,332 dengan probabilitas 0,01 (one-tailed).

  Berdasarkan analisis data tersebut, maka dapat disimpulkan ada hubungan positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja. Dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin tinggi remaja mempersepsi penerimaan orang tua terhadap dirinya, maka semakin tinggi tingkat empati pada remaja tersebut. Semakin rendah remaja mempersepsi penerimaan orang tua, maka semakin rendah pula tingkat empati yang dimilikinya.

  Kata kunci: persepsi terhadap penerimaan orang tua, empati, remaja

  

ABSTRACT

Correlation of Perceived Parental Acceptance and Empathy in Adolescence

Hetty Yusmaida Barasa

  

Sanata Dharma University

Yogyakarta

2009

  The purpose of this research was to know about the correlation of Perceived Parental Acceptance and Empathy in adolescence. Perceived Parental Acceptance in this research was how adolescence perceived about their parent acceptance. Empathy was involves experiencing the same feelings as someone else. Parental acceptance would influence empathic development on a child.

  The subjects of this research were 80 late adolescences who had living with their parents. The method that has been used in this research was scale method. Perceived parental acceptance measured by perceived parental acceptance scale and empathy measured by empathy scale. Those scales were made by researcher. The reliability coefficient of perceived parental acceptance scale was 0,970 and the reliability coefficient of empathy scale was 0,897. The result of data analysis showed that the data distribution is normal and had linear correlation. The data analysis used product moment Pearson with significant standard 0,01 and the resulted correlation coefficient between perceived parental acceptance and empathy 0, 332 with 0, 01 probability.

  Depends from analysis, it can be concluded that there was positive correlation between perceived parental acceptance and empathy in adolescence. The higher perceived parental acceptance, the higher empathy in adolescence was. The lower perceived parental acceptance, the lower empathy in adolescence was.

  Keywords: perceived parental acceptance, empathy, adolescence

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Hetty Yusmaida Barasa Nomor Mahasiswa : 049114047

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul:

  

“Hubungan Antara Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua Dengan

Tingkat Empati Pada Remaja”

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 20 Februari 2009 Yang menyatakan, (Hetty Yusmaida Barasa)

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas setiap kebaikan, kasih karunia, kesetiaan, berkat-berkat, dan mukjisat yang selalu baru sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Skripsi “Hubungan Antara Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua Dengan Tingkat Empati Pada Remaja” dibuat sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Keberhasilan dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Banyak bantuan yang diperoleh selama penulisan skripsi ini, baik yang didapat secara langsung maupun secara tidak langsung. Pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis haturkan terima kasih kepada:

  1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yoygakarta.

  2. Ibu Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M. Si. selaku dosen pembimbing skripsi.

  3. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu dan mengajarkan banyak hal kepada penulis.

  4. Seluruh staf karyawan di Fakultas Psikologi.

  5. Berbagai pihak yang telah membantu penyebaran skala penelitian: bu Yetty, pak Sriyono, bu Kistiyanti, bu Rismiyati, pak Eka, bu Nuraini, Rhenya’, Via, Jessica, dan Anna.

  6. Orang tuaku terkasih yang selalu mendukung dan mendoakan.

  7. My lovely sizta: Kak Titin, Liza, Riris, Anna, dan Mimi.

  8. Teman-teman ‘kelompok diskusi skripsi’ dan juga teman seperjuangan: Frenky, Galih, Yoan, Nico, dan Aji. Juga Ronald dan Nana.

  9. Teman-teman di Psikologi USD dan dimanapun berada yang tidak dapat disebutin satu-satu. Juga teman-teman di kost Chintya yang selalu bersabar dengan waktu tidur penulis yang aneh.

  10. Semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moral maupun material dalam penyelesaian skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan dan masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis dengan senang hati menerima setiap kritik dan masukan yang membangun. Penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya dan semoga berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

  Yogyakarta, 15 Desember 2008 Penulis

  

DAFTAR ISI

  Halaman Halaman Judul ..................................................................................................... i Halaman Persetujuan Pembimbing ....................................................................... ii Halaman Pengesahan............................................................................................ iii Halaman Persembahan.......................................................................................... iv Pernyataan Keaslian Karya ................................................................................... v Abstrak ...............................................................................................................vi Abstract..................................................................................................................vii Pernyataan Persetujuan Publikasi ....................................................................... viii Kata Pengantar ...................................................................................................... ix Daftar Isi ............................................................................................................... xi Daftar Tabel ........................................................................................................ xiv Daftar Lampiran ...................................................................................................xvi

  BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 7 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 8 A. Empati.................................................................................................

  8

  1. Definisi......................................................................................... 8

  2. Aspek Empati............................................................................... 9

  b. Perkembangan Sosial............................................................. 23

  D. Subjek Penelitian .............................................................................. 35

  C. Definisi Operasional Variabel-Variabel Penelitian .......................... 32

  B. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian ......................................... 32

  A. Jenis Penelitian ................................................................................. 32

  31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 32

  E. Hubungan Penerimaan Orang Tua dengan Empati .......................... 28 F. Hipotesis............................................................................................

  D. Persepsi Remaja Terhadap Penerimaan Orang Tua........................... 26

  c. Perkembangan Kognitif......................................................... 24

  a. Perkembangan Fisik............................................................... 22

  3. Proses Pembentukan Empati........................................................ 11

  2. Perkembangan pada Remaja........................................................ 22

  1. Definisi dan Batasan..................................................................... 21

  C. Remaja................................................................................................ 21

  4. Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Orang Tua.................. 20

  3. Pengaruh Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak ...................... 18

  2. Aspek Penerimaan Orang Tua.. ................................................... 16

  1. Definisi......................................................................................... 14

  B. Penerimaan Orang Tua..................... ................................................. 14

  4. Faktor yang Mempengaruhi Empati ............................................ 13

  E. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ........................................... 35

  F. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data .............................. 39

  G. Pelaksanaan Uji Coba Alat Pengumpalan Data ................................. 40

  H. Hasil Uji Coba Alat Pengumpulan Data............................................. 40

  I. Teknik Analisis Data.......................................................................... 49

  BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN................................... 50 A. Pelaksanaan Penelitian ...................................................................... 50 B. Deskripsi Penelitian .......................................................................... 50 C. Analisis Hasil Penelitian ................................................................... 53

  1. Uji Asumsi Penelitian.................................................................. 53

  a. Uji Normalitas....................................................................... 53

  b. Uji Linearitas......................................................................... 54

  2. Uji hipotesis ................................................................................ 55

  D. Pembahasan ....................................................................................... 56

  BAB V PENUTUP.............................................................................................. 60 A. Kesimpulan ....................................................................................... 60 B. Saran ..................................................................................................60 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ xvii LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel 1 Perkembangan Atau Perubahan Empati Secara Alami

  Pada Anak-Anak ................................................................................ 12 Tabel 2 Blue Print Skala Persepsi terhadap Penerimaan Orang Tua .............. 38 Tabel 3 Distribusi Aitem Pra Uji Coba Skala Persepsi terhadap Penerimaan

  Orang Tua Menurut Aspek dan Sifat Favorable / Unfavorable......... 38 Tabel 4 Blue Print Skala Empati .................................................................... 38 Tabel 5 Distribusi Aitem Pra Uji Coba Skala Empati Menurut

  Aspek dan Sifat Favorable / Unfavorable.......................................... 38 Tabel 6 Butir Yang Sahih Dan Gugur Pada Skala Persepsi Terhadap

  Penerimaan Orang Tua ....................................................................... 43 Tabel 7 Distribusi Butir-Butir Pernyataan Skala Persepsi Terhadap

  Penerimaan Orang Tua ....................................................................... 44 Tabel 8 Penomoran Distribusi Item Skala Persepsi Terhadap Penerimaan

  Orang Tua ............................................................................................45 Tabel 9 Butir Yang Sahih Dan Gugur Pada Skala Empati................................ 46 Tabel 10 Distribusi Butir-Butir Pernyataan Skala Empati Setelah Uji Coba.... 47 Tabel 11 Penomoran Distribusi Item Skala Empati.......................................... 47 Tabel 12 Deskripsi Umur dan Jenis Kelamin Subyek...................................... 51 Tabel 13 Deskripsi Tingkat Pendidikan, usia dan Jenis Pekerjaan Orang

  Tua Subyek......................................................................................... 51

  Tabel 14 Deskripsi Statistik Data Penelitian...................................................... 52 Tabel 15 Perbandingan Data Teoritik dan Data Empirik................................... 52 Tabel 16 Hasil Uji Normalitas............................................................................54 Tabel 17 Hasil Uji Linieritas ............................................................................. 55 Tabel 18 Hasil Uji Hipotesis.............................................................................. 55

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Skala Uji coba Lampiran 2 Relibilitas Skala 1 dan Skala 2 Uji coba Lampiran 3 Skala Penelitian Lampiran 4 Analisis Data Skala Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala

  permasalahan yang timbul dalam interaksinya dengan lingkungan sosial dan menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu sebaiknya menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut Combs & Slaby (dalam Cartledge & Milburn, 1995) keterampilan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara-cara khusus yang dapat diterima oleh lingkungan dan pada saat bersamaan dapat menguntungkan individu, atau bersifat saling menguntungkan atau menguntungkan orang lain.

  Namun belakangan ini media pemberitaan justru banyak menyoroti kekerasan yang terjadi di masyarakat. Bahkan beberapa televisi membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Misalnya tawuran antara siswa SMU Negeri 1 dan SMU Negeri 2 Makassar yang menyebabkan dua siswa tewas (www.detikcom.com, 28 November 2006).

  Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita semua. Keterampilan sosial menjadi semakin penting dan krusial manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial menjadi faktor yang sangat menentukan baginya. Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan-keterampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, dan cenderung berperilaku yang kurang normatif.

  Perkembangan keterampilan sosial sendiri dipengaruhi oleh kemampuan sosial kognitifnya, yaitu keterampilan memproses semua informasi yang ada dalam proses sosial. Salah satu kemampuan sosial kognitif yang cukup penting adalah kemampuan melihat dari perspektif orang lain (perspective

  taking ) dan kemampuan berempati (Robinson & Garber, 1995).

  Johnson dkk (1983) mengemukakan bahwa empati berupa kecenderungan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain. Seorang yang empati digambarkan sebagai seorang yang toleran, mampu mengendalikan diri, ramah, mempunyai pengaruh, serta bersifat humanistik. Kemampuan mengindera perasaan seseorang sebelum yang bersangkutan mengatakannya merupakan intisari dari empati. Tanpa kemampuan berempati, seseorang dapat menjadi terasing, salah menafsirkan perasaan sehingga mati rasa atau tumpulnya perasaan yang mengakibatkan rusaknya hubungan dengan orang lain. Hal tersebut tentu saja akan sangat berdampak buruk pada hubungan sosial individu.

  Goleman (2000) mengemukakan prasyarat untuk dapat melakukan empati adalah kesadaran diri dan mengenali sinyal-sinyal perasaan yang tersembunyi dalam reaksi-reaksi tubuh sendiri. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat berempati apabila mereka sudah terlebih dahulu mengenali diri sendiri (Boyatzis. 1998). Dengan demikian, keluarga merupakan faktor penting yang mempengaruhi dalam perkembangan sosial emosi individu. Hal ini dikarenakan, keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat, baik secara fisik maupun sosial. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama ditemui oleh individu dan menjadi tempat yang penting dalam perkembangan hidup seorang manusia. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Seyogyanya, di dalam keluarga seseorang dapat merasakan dirinya dicintai, diinginkan, diterima dan dihargai, yang pada akhirnya membantu dirinya untuk lebih dapat menghargai dirinya sendiri. Namun berlaku juga sebaliknya, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken

  

home dan anak tidak mendapatkan kepuasan psikis akan membuat anak sulit

mengembangkan keterampilan sosialnya.

  Berdasarkan penjabaran diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan dasar sosial emosi individu ada di bawah arahan orang tua.

  Menurut penelitian Henker (1999), segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan orangtua - anak (termasuk emosi, reaksi dan sikap orang tua) akan membekas dan tertanam secara tidak sadar dalam diri seseorang. Kurangnya perhatian orang tua yang konsisten, stabil dan tulus, seringkali menjadi penyebab kurang terpenuhinya kebutuhan anak akan kasih sayang, rasa aman, dan perhatian. Dengan demikian, orang tua juga berperanan dalam pembentukan empati anak, terkait dengan pentingnya penerimaan diri dalam perkembangan empati pada individu (Boyatzis, 1998).

  Ironisnya beberapa tahun belakangan, di media cetak maupun elektronik banyak ditemukan kasus-kasus penganiayaan dan perlakuan yang tidak sewajarnya pada anak. Pada harian Surabaya Post (6 Februari 1997), dikutip penelitian YKAI yang memperlihatkan bahwa hingga Oktober 1996 terdapat 562 kasus perlakuan salah terhadap anak yang terjadi karena adanya konsep kepemilikan yang melihat anak sebagai milik orangtua, sehingga orang lain tidak bisa mencampuri perlakuan orangtua terhadap anaknya.

  Selain itu dalam bentuk non-fisik, di keluarga Indonesia didapati anak mengalami kurang perhatian dan kasih sayang, orang tua yang memarahi anak hampir setiap saat, mengkomersialkan anak sebagai pelacur, sebagai pengamen jalanan, bahkan diusir keluar rumah, dan banyak kasus lainnya.

  Belum lagi, tingkat perceraian yang terus meningkat di Indonesia juga membuat banyak anak tidak lagi mendapatkan situasi tumbuh kembang yang ideal. Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Depag Prof. Dr. Nazaruddin Umar, MA mengatakan bahwa setiap tahun ada sekitar dua jutaan orang yang menikah, namun justru dalam kurun waktu yang sama tingkat perceraian bertambah dua kali lipat setiap tahunnya (http://balitbang. depkominfo.go.id, pada Juni 2008).

  Peristiwa-peristiwa di atas memperlihatkan bahwa keluarga yang seharusnya menjadi tempat aman untuk tumbuh kembang seorang individu justru menjadi pembuat dampak buruk pada psikologis individu. Sebuah penelitian yang dilakukan Henker (1999) menemukan bahwa, ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan prasosial si anak. Orang tua yang menggunakan hukuman keras sebagai bagian dari disiplin dalam mendidik anak mereka, memiliki kemungkinan untuk menyebabkan masalah yang lebih dari sekedar hubungan orangtua-anak yang kurang mesra.

  Penelitian tersebut juga menyimpulkan anak-anak akan mengartikan perilaku keras tersebut sebagai tidak adanya kasih sayang dari orang tua mereka. Kebalikannya, para ibu yang bersikap hangat, menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak, akan menumbuhkan rasa empati dalam diri anak-anak mereka. Tampak jelas bahwa anak-anak mulai membangun hubungan psikososial dengan orang tuanya sejak lahir.

  Tracy (1996) mengungkapkan bahwa penerimaan orang lain yang benar- benar kita hormati, hargai dan cintai sangatlah berperanan dalam pembentukan diri kita. Hal serupa juga berlaku dalam proses pembentukan empati dalam diri individu. Hasil penelitian yang dilakukan Trommsdorff (1991) memperlihatkan bahwa perkembangan emosional empati pada individu sangat di dukung oleh keadaan keluarga yang mampu memberikan kehangatan, pengasuhan, kasih sayang, dan dukungan serta penerimaan dari orang tua.

  Sebuah penelitian yang dilakukan pada subjek remaja oleh Henry dkk (1996) menemukan bahwa remaja yang mempersepsikan orang tua mereka mendukung dan menerima mereka memiliki tingkat empatik yang lebih tinggi daripada remaja yang merasakan penolakan dari orang tua mereka. Selain itu, penelitian yang dilakukan Straker dan Jacobson (1981) memperlihatkan bahwa anak yang mengalami kekerasan dari orang tuanya memiliki empati yang lebih rendah bila dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta.

  Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti mencoba mengamati keterkaitan persepsi remaja akan penerimaan orang tua terhadap dirinya dengan tingkat empati yang dimiliki remaja tersebut.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah; apakah ada hubungan yang positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja.

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan yang positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja.

  D. Manfaat Penelitian

  Manfaat Teoritis: Menambah khasanah ilmu psikologi perkembangan dan sosial, khususnya yang terkait dengan peranan penerimaan orang tua dalam perkembangan empati pada individu usia remaja. Manfaat Praktis:

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah tambahan informasi bagi orang tua atau siapapun yang mencoba memahami keterkaitan penerimaan orang tua dalam kemampuan individu untuk berempati.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Empati

1. Definisi

  Merasakan empati (empathy) berarti bereaksi terhadap perasaan orang lain dengan respon emosional yang sama dengan respon orang lain tersebut (Damon; 1988 dalam Santrock, 2003). Empati merupakan respon afektif dan kognitif yang kompleks pada disstres emosional orang lain (Baron Byrne, 1997). Menurut Baron Byrne, empati temasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.

  Menurut APA Dictionary of Psychology (2006: 327), empathy diartikan:

  “Understanding a person from his or her frame of reference rather tahan one’s own, so that one vicariously experiences the person’s feelings, perceptions, and thoughts. Empathy does not, of it self, entail motivation to be of assistance, although it may turn into sympathy or personal disstres, which may result in action.”

  Johnson dkk. (1983) mengemukakan bahwa empati adalah kecenderungan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain.

  Coke dkk. (1978) mendefinisikan empati sebagai suatu keadaan emosional yang dimiliki oleh seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kemampuan merasakan perasaan ini membuat seseorang yang empati seolah mengalami sendiri peristiwa yang dialami orang lain

  (Eisenberg dkk., 1989). Pendapat senada juga dikemukakan oleh Koestner dan Franz (1990) yang mengartikan empati sebagai kemampuan untuk menempatkan diri dalam perasaan atau pikiran orang lain tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan atau tanggapan orang tersebut.

  Jadi dapat disimpulkan berdasarkan penjabaran definisi di atas, empati berarti bereaksi terhadap perasaan orang lain dengan respon emosional yang sama, dimana terjadi proses pengambilalihan perspektif orang lain untuk memahami kondisi dan keadaan pikiran orang lain, sehingga individu seolah mengalami sendiri peristiwa yang dialami orang lain tersebut.

2. Aspek Empati Empati meliputi komponen afektif maupun kognitif (Duan, 1996).

  Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan (Darley, 1973).

  a. Komponen afektif dari empati berupa perasaan yang seolah mengalami sendiri apa yang orang lain rasakan. Menurut Hoffman (2000), ada proses psikologis yang terlibat dalam empati yang afektif. Seseorang akan merasakan perasaan yang kurang lebih sama dengan orang lain walaupun ia tidak mengalami situasi yang dirasakan orang lain tersebut. Empati afektif bukan sebuah penularan emosi semata. Empati afektif mensyaratkan seseorang benar-benar mampu membedakan antara dirinya dengan orang lain. Seseorang yang empati minimal harus menyadari bahwa emosi yang dirasakannya adalah akibat dari dirinya yang mempersepsi emosi orang lain sehingga membuatnya menempatkan diri dalam posisi orang lain tersebut. Misalnya, saat melihat seseorang yang berwajah sedih kita merasakan sedih juga karena kita mempersepsi emosi orang tersebut dan menempatkan diri di posisinya dan kita benar-benar menyadari bahwa rasa sedih yang kita rasakan bukanlah reaksi kita sendiri atas apa yang kita alami sendiri.

  b. Komponen kognitif dari empati merupakan kualitas unik manusia yang berkembang setelah kita melewati masa bayi. Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa (Azar, 1999). Komponen kognitif meliputi; kemampuan melihat keadaan psikologis dalam diri orang lain, atau apa yang disebut

  perspective taking (Santrock, 2003). Mengambil perspektif

  (perspective taking) merupakan kemampuan untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain. Psikolog sosial telah mengidentifikasikan tiga tipe yang berbeda dari pengambilan perspektif (Batson, Early, & Salvarani, 1997; Stotland, 1969), yaitu: (1).Individu dapat membayangkan bagaimana orang lain mempersepsikan suatu kejadian dan bagaimana dia akan merasakan sebagai akibatnya. Dalam hal ini individu tersebut mengambil perspektif “ membayangkan orang lain”

  (2).Individu dapat membayangkan bagaimana rasanya jika dirinya berada dalam situasi tersebut. Dalam hal ini individu mengambil perspektif “membayangkan diri”

  (3).Individu melibatkan fantasi, dimana dia merasa empati terhadap karakter fiktif. Sebagai akibatnya, terdapat reaksi emosional terhadap kegembiraan, kesedihan, dan ketakutan yang dialami oleh seseorang atau tokoh lain dalam sebuah buku, film, atau program televisi.

3. Proses Pembentukan Empati

  Menurut Damon (dalam Santrock, 1990), empati mencakup bagaimana individu bereaksi dalam emosi yang berbeda sebagai respon menyamai perasaan orang lain. Berikut tabel perkembangan atau perubahan empati secara alami pada anak-anak menurut deskripsi Damon:

  Tabel 1

  Perkembangan Atau Perubahan Empati Secara Alami Pada Anak-Anak

  Usia Perkembangan Empati Bayi Masih berupa empati secara global. Respon individu pada usia bayi bercirikan pengertian akan perasaan dan kebutuhan orang lain. 1-2 tahun Individu mulai mampu merasakan ketidaknyamanan orang lain dan mulai memperhatikannya walau belum dapat memahaminya dengan jelas. Namun individu pada usia ini belum dapat menerjemahkan perasaan tersebut

dalam tingkah laku yang afektif.

Masa Anak menjadi sadar akan adanya perspektif orang lain

kanak-kanak awal yang berbeda dan memahami bahwa orang lain mungkin

saja bereaksi berbeda terhadap suatu situasi. Kesadaran ini memungkinkan anak untuk berespon lebih wajar terhadap kesusahan orang lain. Usia 10- 12 tahun Anak sudah membentuk empati terhadap orang lain yang hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

  Bahkan saat remaja, individu sudah memiliki kesensitifan yang memberi pandangan humanistik pada ideologi dan pemahamannya mengenai politik.

  Antara usia satu dan dua tahun, anak-anak masuk ke tahapan empati yang kedua, dimana mereka dapat melihat dengan jelas bahwa kesusahan orang lain bukan kesusahan mereka sendiri. Contohnya, Sarah menunjukkan kebingungan empatik ketika teman bermainnya, Dina, tiba- tiba mulai menangis. Pada mulanya Sarah hampir ikut menangis, tetapi kemudian ia berdiri, meletakkan mainan yang sedang dipegangnya lalu mulai menghibur Dina. Usia enam tahun ditandai dengan dimulainya tahapan empati kognitif, kemampuan memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain dan berbuat sesuatu dengan itu. Keterampilan memahami sesuatu dengan pandangan orang lain ini memungkinkan seorang anak mengetahui kapan bisa mendekati teman yang sedang sedih dan kapan ia harus membiarkannya sendirian. Empati kognitif tidak memerlukan komunikasi emosi (misalnya menangis), karena dalam usia ini seorang anak mengembangkan acuan atau model tentang bagaimana perasaan seseorang yang sedang dalam situasi yang menyusahkan, entah diperlihatkan atau tidak. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, antara usia sepuluh dan dua belas tahun, anak-anak mengembangkan empati mereka tidak hanya kepada orang yang mereka kenal atau mereka lihat secara langsung, namun juga termasuk kelompok orang yang belum pernah mereka jumpai. Dalam tahapan ini, anak-anak sudah bisa mengungkapkan kepeduliannya terhadap orang yang kurang beruntung di banding mereka.

4. Faktor yang Mempengaruhi Empati

  a. Perbedaan genetis. Penelitian Davis, Luce, dan Kraus (1994) menemukan bahwa komponen afektif dalam empati didasari oleh faktor genetik atau keturunan, namun dalam komponen kognitif tidak didapati pengaruh genetik atau keturunan.

  b. Pengalaman spesifik yang dialami individu. Psikolog Jane Strayer (dikutip dalam Azar, 1999 menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan kapasitas biologis dan kognitif untuk merasakan empati, tetapi pengalaman spesifik menentukan apakah potensi bawaan tersebut dihambat atau menjadi bagian penting dari diri. Dapat dikatakan, lingkungan memiliki andil dalam menentukan apakah empati pada seseorang dapat berkembang tinggi atau sebaliknya tidak dipertahankan atau terhambat perkembangannya. Penerimaan orang tua berperanan dalam pengalaman spesifik yang dilami individu selama masa hidupnya.

  c. Perbedaan jenis kelamin. Wanita biasanya mengekspresikan tingkat empati yang lebih tinggi daripada pria, hal ini disebabkan baik oleh perbedaan genetis atau perbedaan pengalaman sosialisasi (Trobst, Collins, & Embree, 1994).

  d. Faktor kemiripan terhadap objek empati sendiri. Umumnya empati yang paling besar ditujukan pada orang lain yang mirip dengan diri sendiri, baik kemiripan secara fisik maupun karakteristik.

B. Penerimaan Orang Tua

1. Definisi

  Penerimaan adalah sikap konsisten dan tidak berpura-pura terhadap kehadiran seseorang. Hal ini ditandai dengan sikap yang tulus dan tanpa harus merasa terpaksa terhadap kehadiran seseorang. Menerima terlihat dalam sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai. Menerima berarti lebih menerima dan memandang orang lain sebagai pribadi (person), bukan sebagai objek (Rakhmad, 1999).

  Seseorang merasa diterima bila ia merasa kepentingannya diperhatikan, serta merasa adanya hubungan yang erat antara dia dengan orang lain (Darajat dalam Andriani, 2001). Tracy (1996) mengungkapkan bahwa penerimaan orang lain apalagi orang yang benar-benar kita hormati, hargai dan kita cintai terhadap diri kita sangatlah berperan dalam proses pembentukkan diri kita.

  Orang tua adalah hubungan pria dan wanita yang saling mencintai dan saling memiliki satu sama lain dalam suatu ikatan resmi secara hukum maupun agama (pernikahan) untuk belajar hidup bersama, belajar mengelola rumah tangga, serta mengasuh dan merawat anak-anak mereka (Kartono, 1992). Orang tua merupakan komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dimana baik ayah maupun ibu memiliki peranan masing-masing dalam merawat dan mengasuh anak-anak mereka.

  Menurut Haditono (dalam Lestari, 1995) penerimaan orang tua terhadap anaknya adalah sikap yang penuh kebahagiaan dalam mengasuh anak. Orang tua yang menerima anaknya mempunyai sikap yang dapat memberi kebebasan dan keamanan psikologis serta mendorong rasa percaya diri anak, sehingga anak tidak akan merasa ragu-ragu untuk menyatakan pendapatnya, rasa ingin tahunya, menghargai kemampuan dirinya dan berani mengambil resiko (Lestari, 1995). Penerimaan orang tua adalah suatu sikap yang dibentuk melalui perhatian yang kuat dan cinta kasih terhadap anak serta sikap yang penuh kebahagiaan dalam mengasuh anak.

  Menurut Hurlock (1993) orang tua yang menerima anaknya tidak hanya menginginkan dan merencanakan satu bagian masa depan anaknya tetapi juga membiarkan anaknya menemui kesulitan di dalam usaha dan pekerjaannya. Mereka meletakkan anak dalam posisi yang penting di dalam rumah dan mengembangkan hubungan dengan anaknya dengan penuh kehangatan. Orang tua yang menerima anaknya biasanya memperhatikan perkembangan kemampuan dan minat anaknya. Penerimaan merupakan suatu sikap yang dibentuk melalui cinta kasih, perhatian yang kuat, dukungan yang besar serta rasa aman dan nyaman serta kebahagiaan dalam mengasuh anak. Hal ini ditandai dengan sikap orang tua yang mengungkapkan perasaannya dengan tulus dan tidak berpura-pura. Sikap penerimaan orang tua tersebut berpengaruh positif terhadap perkembangan anak.

  Jadi dapat disimpulkan berdasarkan definisi-definisi di atas bahwa penerimaan orang tua terhadap anaknya adalah suatu sikap penuh kebahagiaan dalam mengasuh anak. Orang tua memberi kebebasan bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri, memberikan perhatian dan cinta kasih yang kuat, memperhatikan perkembangan anak serta memberikan dukungan dan rasa aman bagi anak untuk dapat berkembang secara positif.

2. Aspek Penerimaan Orang Tua

  Sejak tahun 1890-an, penelitian tentang penerimaan dan penolakan orang tua sudah banyak dilakukan (Stogdill, 1937). Salah satu tokoh yang juga melakukan penelitian mengenai penerimaan dan penolakan orang tua adalah Ronald P. Rohner yang mengemukakan Parental acceptance-

  rejection theory (PARTheory). Menurut Rohner, PARTheory dapat

  menjadi dasar teori dalam melihat proses sosialisasi dan perkembangan masa hidup seseorang, juga dalam memprediksi dan menjelaskan penyebab dan konsekuensi hal-hal yang berkaitan dengan penerimaan dan penolakan pada hubungan interpersonal, khususnya yang terjadi dalam relasi orang tua - anak (Rohner, 1986, 2005; Rohner and Rohner, 1980).

  Teori ini memiliki beberapa dimensi dan sub teori. Teori penerimaan dan penolakan orang tua (Parental Acceptance-Rejection

  

Theory / PARTheory) pada dimensi kehangatan orang tua (Warmth

Dimension of Parenting ) memilah penerimaan orang tua dalam dua aspek

  (Rohner, 2005), seperti yang terlihat pada diagram dibawah ini.

  Gambar 1. Diagram Aspek Warmth Dimension Of Parenting

  Pada diagram di atas, Warmth Dimension of Parenting memilah penerimaan orang tua dalam aspek fisik dan aspek verbal.

  a. Aspek Fisik dapat berupa perilaku fisik seperti pelukan, senyuman, ciuman, belaian, penghiburan, dsb. b. Aspek Verbal terlihat dalam penggunaan kata seperti pujian, mengatakan hal-hal yang baik tentang anak, ungkapan rasa bangga terhadap anak, mendongeng, dsb.

  Wujud nyata dari kedua aspek tersebut tergantung pada budaya dan konteksnya. Apa yang dimaksudkan oleh peneliti bukanlah budaya dalam arti regional ataupun suku bangsa, melainkan budaya yang dipelajari individu sendiri sepanjang rentang hidupnya. Para antropologi yang meneliti mengenai pengasuhan anak, menemukan bahwa pengasuhan yang secara khas dilakukan orang tua pada anaknya akan dapat diduga berasal dari pengalaman-pengalaman sejak masa anak-anak pada sebagian masyarakat dimana orang tua tersebut dibesarkan (Keontjaraningrat, 2000).

  Oleh karena itu, dalam penerimaan itu sendiri akan didapati wujud ekspresi yang lugas dimana orang tua dapat dengan mudah memperlihatkan rasa sayangnya pada anak, namun ada pula orang tua yang cenderung sungkan dalam mengekspresikan rasa sayangnya terhadap anak. Intinya, baik sikap fisik maupun verbal dari orang tua memperlihatkan perasaan sayang, mendukung, merawat, mencintai dan mengasihi, yang mengekspresikan perasaan penerimaan orang tua terhadap anaknya.

3. Pengaruh Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak

  Menurut Bowly: 1989 (dalam Santrock, 2003), anak yang tidak mengalami pengasuhan yang hangat dan melindungi selama tahun-tahun pertama kehidupannya, perkembangannya tidak akan optimal. Pandangan bahwa perkembangan berkesinambungan (continuity view) menekankan pada peran yang dimainkan dalam hubungan awal orang tua- anak terhadap pembentukan dasar untuk berhubungan dengan orang-orang sepanjang rentang hidup (Santrock, 2003). Ahli psikoanalisa mengatakan bahwa kepribadian individu yang hangat dan bersahabat diperoleh dari hubungan yang berlangsung lama dengan orang tua, terutama pengalaman masa kecil mereka (Santrock, 2003). Hubungan awal orang tua anak akan dibawa terus ke titik lanjut perkembangan, dan mempengaruhi semua hubungan selanjutnya. Dalam bentuknya yang ekstrim, pandangan ini menyatakan bahwa komponen dasar dari hubungan sosial diletakkan dan dibentuk oleh rasa aman atau rasa tidak aman mengenai hubungan orang tua anak (Santrock, 2003).

  Menurut Roger (dalam Schultz, 1998) jika penerimaan orang tua terhadap anak terjadi, maka anak tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan, mereka akan merasa diri berharga dalam semua syarat, anak tidak akan bertingkah defensif, anak mempunyai keharmonisan antara diri dan persepsinya terhadap kenyataan. Hurlock (1993) mengemukakan bahwa semakin mereka merasa diterima maka semakin besar pula kasih sayang yang akan mereka peroleh.

  Gordon (1995) melihat penerimaan orang tua terhadap anaknya mempunyai dampak bagi perkembangan pribadi seorang anak. Bila ada penerimaan, anak dapat tumbuh dan berkembang untuk membuat perubahan-perubahan yang membangun, belajar memecahkan masalah, secara psikologis semakin sehat, semakin produktif dan kreatif serta mampu mengaktualisasikan potensinya sepenuhnya.

  Berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerimaan orang tua memiliki pengaruh yang cukup besar pada kepribadian dan kemampuan sosial seorang anak. Melalui penerimaan sepenuhnya anak akan merasa diterima sebagaimana adanya kemudian merasa bebas dan mulai memikirkan perubahan apa yang akan diinginkannya, bagaimana akan mengembangkan diri, bagaimana ia dapat menjadi berbeda dan bagaimana ia dapat menjadi lebih baik.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Orang Tua

  Ronald P. Rohner (1995) dalam teorinya Parental acceptance-

  rejection theory (PARTheory) mengemukakan beberapa faktor yang

  mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap anak, yaitu:

  a. Karakteristik personal anak. Temperamen dan tingkah laku anak mempengaruhi kualitas perlakuan dan penerimaan orang tua terhadap diri anak. Seorang anak dalam keluarga bisa saja lebih diterima orang tuanya bila dibandingkan saudaranya yang lain.

  b. Lingkungan alami tempat keluarga berada. Sistem sosial yang berlaku di masyarakat memiliki pengaruh terhadap penerimaan orang tua terhadap anak. Hal ini terkait dengan pengekspresian kasih sayang dari orang tua, misalnya budaya yang kaku akan membuat orang tua bersikap dingin atau menjaga jarak dengan anaknya.

  c. Faktor spiritual. Umumnya orang tua yang religius dan memiliki nilai agama yang kuat akan lebih menyayangi anaknya dan memberikan rasa aman serta penerimaan yang lebih besar bila dibandingkan orang tua yang kurang religius.

C. Remaja

1. Definisi dan Batasan

  Istilah remaja diambil dari bahasa Inggris yaitu adolesence, yang berasal dari bahasa latin adorescere, yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Santrock (2003) mengartikan remaja sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18 dan 22 tahun.

  Akan tetapi, semakin banyak ahli perkembangan yang menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir (Santrock, 2003). Masa remaja awal (early adolescence) kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas. Masa remaja akhir (late adolescence) menunjuk pada kira-kira setelah usia 15 tahun.

2. Perkembangan Pada Remaja

  Tugas-tugas perkembangan dalam kehidupan pada masa remaja menurut Havinghurst (dalam Hurlock, 1980) adalah mencapai hubungan baru dan hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial menurut jenis kelaminnya, menerima keadaaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan perkawinan dan keluarga, serta memperolah perangkat sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku. Berikut penjabaran perkembangan remaja dalam aspek fisik, sosial dan kognitif: a. Perkembangan Fisik

  Pada perkembangan fisiknya, remaja mengalami apa yang disebut pubertas (Santrock, 2003). Pubertas adalah perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal yang terutama terjadi selama masa remaja awal. Perubahan berlangsung sangat cepat, meliputi ukuran tubuh baik komposisi maupun proporsinya. Masa remaja juga ditandai dengan mulai berfungsinya alat reproduksi yang ditandai menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki, serta tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder.

  Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1993), yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder penting pada laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remaja putra: tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja putri: pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami menstruasi, dan lain-lain. Hurlock (1995) mengatakan bahwa ciri-ciri seksual sekunder dan perkembangan alat-alat reproduksi berada pada tahap matang pada saat akhir masa remaja.

  b. Perkembangan Sosial Pada aspek sosial, hubungan dengan orang lain merupakan hal yang cukup penting dalam perkembangan selama masa remaja.

  Sepanjang masa kehidupan manusia, tahap remaja merupakan masa yang paling banyak mengalami perubahan dalam segi sosial. Pada masa kanak-kanak individu masih bergantung pada orangtuanya, sementara pada masa remaja mereka berusaha melepaskan dirinya, mencapai otonomi diri dan mendapat pengakuan serta ingin bersikap mandiri. Hal ini ditegaskan oleh Havinghurst (dalam Hurlock, 1980), yang menyatakan bahwa salah satu tugas perkembangan masa remaja adalah mencapai hubungan baru dan hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita. Selain itu remaja juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

  Ciri khas perkembangan sosial remaja adalah kuatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, serta pengelompokkan sosial baru. Hubungan dengan teman sebaya (peer

  group ) menjadi lebih penting. Pada kelompok teman sebaya, remaja

  untuk pertama kalinya menerapkan prinsip-prinsip hidup bersama dan bekerjasama.

  c. Perkembangan Kognitif Teori perkembangan kognitif Piaget menyebutkan bahwa kemampuan kognitif remaja berada pada tahap operasional formal

  (formal operation stage). Menurut Piaget, tahap ini muncul saat individu berusia sekitar 11 sampai 15 tahun (Santrock, 2003).

  Kemudian pada tahun 1972, Piaget menyimpulkan bahwa pemikiran operasional formal baru kan tercapai sepenuhnya di akhir masa remaja, sekitar usia 15 sampai 20 tahun (Santrock, 2003).

  Dalam pandangan Piaget, remaja membangun dunia kognitifnya sendiri; informasi tidak hanya tercurah ke dalam benak mereka dari lingkungan (Santrock, 2003). Untuk memahami dunianya, remaja mengorganisasikan pengalaman mereka. Remaja memisahkan gagasan yang penting dari yang kurang penting, mengaitkan gagasan yang satu dengan yang lainnya. Remaja bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman mereka, tapi juga menyesuaikan cara pikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih dalam.

  Seiring dengan sifat abstrak dari pemikiran operasional formal pada remaja, muncul juga pemikiran yang penuh dengan idealisme dan kemungkinan-kemungkinan. Remaja mulai memikirkan secara lebih luas mengenai karakteristik ideal, kualitas yang ingin dimilikinya sendiri atau yang diinginkan ada pada orang lain (Santrock, 2003). Pemikiran semacam itu sering kali membuat remaja membandingkan dirinya dengan orang lain, berkaitan dengan patokan ideal tersebut.

  Satu hal yag cukup penting perihal perkembangan remaja, secara kognitif remaja sudah bisa melakukan pengambilalihan perspektif (perspective taking) orang lain. Perspective taking adalah kemampuan untuk mempergunakan cara pandang orang lain dan memahami pemikiran serta perasaan orang tersebut (Santrock, 2003). Robert Selman; 1980 (dalam Santrock, 2003) berpendapat bahwa pengambilalihan perspektif merupakan suatu rangkaian sejak masa usia 3 tahun sampai masa remaja. Remaja yang terampil dalam pengambilalihan cara pandang akan lebih memahami kebutuhan teman-temannya sehingga mereka cenderung dapat berkomunikasi secara lebih efektif (Hudson, Forman & Brion-Meisels; 1982 dalam Santrock, 2003). Kemampuan remaja dalam perspective taking juga membantunya untuk bisa berempati terhadap orang lain.

  Menurut Steinberg, pada masa awal remaja merupakan suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui masa anak- anak (Santrock, 2002). Peningkatan ini dapat disebabkan oleh sejumlah faktor yang telah dibahas diatas; perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja. Konflik dengan orang tua seringkali meningkat selama masa awal remaja, agak stabil selama tahun-tahun sekolah menengah atas, dan kemudian berkurang ketika remaja mencapai usia 17 hingga 20 tahun.

D. Persepsi Remaja Terhadap Penerimaan Orang Tua

  Untuk dapat bersikap dan melakukan suatu tindakan tertentu, remaja harus memiliki kesan khusus tentang objek yang dihadapinya. Kesan yang didapatkannya tersebut akhirnya akan dapat mendorong seseorang untuk memberikan penilaian tertentu pula. Proses psikologis ini dikenal dengan istilah persepsi.

  Bagaimana remaja mempersepsi penerimaan orang tua terhadap dirinya sangat tergantung pada bagaimana remaja tersebut melihat. Orang tua dalam hal ini terdiri dari ayah maupun ibu sebagai satu kesatuan. Di dalam sebuah keluarga, ayah dan ibu masing-masing memiliki perannya sendiri-sendiri, namun peran itu sendiri tidak mutlak harus dilakukan oleh ayah atau ibu saja. Di masa modern saat ini dimana emansipasi wanita dan peran gender yang sudah semakin luas, ada kerjasama antara ayah dan ibu dalam menjalankan perannya sebagai orang tua di dalam keluarga.

  Pada proses pembentukan persepsi itu sendiri terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pembentukkannya. Setiap individu memiliki kecenderungan untuk melihat dunia disekitarnya dengan cara yang khusus dan berbeda. Hal tersebut juga berlaku pada persepsi remaja terhadap penerimaan orang tua.

  Persepsi remaja terhadap penerimaan orang tua dilakukan remaja dengan memilih, mengatur dan menafsirkan kedalam gambaran yang berarti dan masuk akal menurutnya tentang penerimaan itu sendiri. Saat mempersepsi, setiap individu memiliki keunikannya sendiri. Dua individu mungkin menerima stimuli yang sama dalam kondisi nyata yang sama, tetapi bagaimana setiap orang mengenal, memilih dan mengatur dan menafsirkannya merupakan proses yang sangat individual berdasarkan kebutuhan, nilai-nilai, dan harapan setiap orang itu sendiri (Schifman dan Kanuk, 2004).

  Persepsi merupakan proses ketika orang menginterpretasi sensasi, dan memberikan urutan dan makna kepada sensasi tersebut. Di samping itu persepsi merupakan proses individu mengatur, menginterpretasi informasi sensoris untuk memberikan makna kepada lingkungannya. Meskipun begitu, objek yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda secara substansial dengan kenyataan yang objektif.

  Realitas bagi seseorang semata-mata merupakan persepsi mereka, tidak berdasarkan realitas yang sebenarnya (Schifman dan Kanuk, 2004). Maka, penerimaan orang tua yang ditinjau dalam penelitian ini adalah penerimaan orang tua yang sudah dipersepsi oleh remaja, jadi bukan semata-mata penerimaan orang tua secara realnya. Apa yang disoroti dalam penelitian ini adalah persepsi remaja sendiri yang dipandang sebagai pengalaman subjektif tiap pribadi. Bagaimana fakta yang sebenarnya mengenai penerimaan orang tua tidak menentukan bagaimana persepsi remaja sendiri. Dengan kata lain, remaja mungkin saja dapat mengalami hal yang sama, namun mempersepsikannya secara berbeda-beda.

E. Hubungan Penerimaan Orang Tua Dengan Empati

  Psikiater Rober Coles (dalam Azar, 1999) menekankan pentingnya orang tua dalam membentuk perilaku prososial anak. Intelegensi moral tidak didasarkan pada ingatan akan aturan atau pembelajaran definisi abstrak, melainkan anak-anak belajar dengan mengobservasi apa yang dilakukan dan dikatakan orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa model dan pengalaman yang tepat, anak-anak dapat dengan mudah bertumbuh menjadi remaja yang egois dan kasar dan kemudian menjadi orang dewasa yang sama tidak menyenangkannya dengan model pembelajarannya.

  Menanamkan rasa kepedulian dan empati kepada anak-anak adalah cara yang baik untuk membantu anak memiliki kemampuan sosial yang memadai.

  Merasakan empati berarti bereaksi terhadap perasaan orang lain dengan respon emosional yang sama dengan respon orang lain tersebut (Damon, 1988).

  Secara afektif orang yang berempati memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa. Jadi, empati berarti saya merasakan penderitaanmu dan saya juga mengerti penderitaanmu. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Saat individu dapat berempati, maka dia memiliki modal yang cukup untuk dapat mengembangkan kemampuan sosialnya dalam masyarakat.

  Goleman (1995) mengemukakan prasyarat untuk dapat melakukan empati adalah kesadaran diri, mengenali sinyal-sinyal perasaan yang tersembunyi dalam reaksi-reaksi tubuh sendiri. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat berempati apabila mereka sudah terlebih dahulu mengenali diri sendiri (Boyatzis, 1998). Pengenalan diri sendiri ini dapat membantu individu dalam berupaya menempatkan diri pada internal frame of reference orang lain, tanpa kehilangan objektivitasnya. Untuk mencapai pengenalan diri sendiri, seorang anak membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman untuk berlindung dari orang tuanya. Anak membutuhkan penerimaan dari orang tuanya sebagai dasar awal dimana mereka mulai belajar menerima diri sendiri dam mencoba mengenali dirnya. Psikolog Jane Strayer (dalam Azar, 1999) mengemukakan bahwa pengalaman spesifik, dalam hal ini juga penerimaan orang tua yang dirasakan remaja menentukan apakah potensi bawaan empati berkembang atau terhambat perkembangannya.

  Menurut penelitian Henker (1999), segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan orangtua-anak (termasuk emosi, reaksi dan sikap orang tua ) akan membekas dan tertanam secara tidak sadar dalam diri seseorang. Kurangnya perhatian orang tua yang konsisten, stabil dan tulus, seringkali menjadi penyebab kurang terpenuhinya kebutuhan anak akan kasih sayang, rasa aman, dan perhatian. Menurut Roger (dalam Schultz, 1998) jika penerimaan orang tua terhadap anak terjadi, maka anak tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan, mereka akan merasa diri berharga dalam semua syarat, anak tidak akan bertingkah defensif, anak mempunyai kaharmonisan antara diri dan persepsinya terhadap kenyataan. Maka anak dapat dengan aman mulai mencoba mengenali dirinya, sebagai dasar untuk dapat memahami orang lain.

  Dengan demikian orang tua juga berperanan dalam pembentukan empati anak, terkait dengan pentingnya penerimaan diri dalam perkembangan empati pada individu (Boyatzis, 1998).

  Hasil penelitian yang dilakukan Trommsdorff (1991) memperlihatkan bahwa perkembangan emosional empati pada individu sangat didukung oleh keadaan keluarga yang mampu memberi kehangatan, pengasuhan, kasih sayang, dan dukungan serta penerimaan dari orang tua. Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan pada subjek remaja oleh Henry dkk. (1996), menemukan bahwa remaja yang mempersepsikan orang tua mereka mendukung dan menerima mereka memiliki tingkat empatik yang lebih tinggi daripada remaja yang merasakan penolakan dari orang tua mereka. Selain itu, penelitian yang dilakukan Straker dan Jacobson (1981) memperlihatkan bahwa anak yang mengalami kekerasan dari orang tuanya memiliki empati yang lebih rendah bila dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta. Uraian singkat hubungan antara penerimaan orang tua dengan empati pada remaja dapat dilihat pada skema berikut ini:

  Menerima diri Penerimaan Memahami sendiri dan Orang Tua orang lain mengenali diri sendiri (Empati)

Gambar 2. Skema Hubungan Penerimaan Orang Tua dengan Empati

  Dari uraian di atas diperoleh asumsi sementara bahwa terdapat hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja.

F. Hipotesis

  Berdasarkan landasan teori sebagai kajian teoritis terhadap permasalahan yang telah dikemukakan, maka dapat disusun suatu hipotesis terhadap permasalahan yang telah dikemukakan. Maka hipotesis untuk penelitian ini adalah: ada hubungan positif antara persepsi terhadap penerimaan orang

  tua dengan tingkat empati pada remaja. Semakin tinggi remaja

  mempersepsi penerimaan orang tua terhadap dirinya, maka semakin tinggi tingkat empati pada remaja tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah remaja mempersepsi penerimaan orang tua, maka semakin rendah pula tingkat empati yang dimilikinya.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional

  yang bertujuan menyelidiki sejauh mana variasi pada suatu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain (Azwar, 2001). Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua pada seseorang dengan tingkat empati yang dimilikinya.

  B. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian

  Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu persepsi terhadap penerimaan orang tua sebagai variabel bebas (x) dan tingkat empati individu sebagai variabel tergantung/ terikat (y).

  C. Definisi Operasional Variabel-Variabel Penelitian

  Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan dan dapat diamati. Penyusunan definisi ini penting karena digunakan untuk merujuk data yang akan digunakan dalam penelitian (Suryabrata, 2000).

  1. Persepsi terhadap penerimaan orang tua Persepsi terhadap penerimaan orang tua adalah bagaimana individu akan memberi tanggapan terhadap ciri-ciri penerimaan orang tua. Persepsi terhadap penerimaan orang tua dilakukan individu dengan memilih, mengatur dan menafsirkan kedalam gambaran yang berarti dan masuk akal tentang penerimaan menurut individu sendiri. Pada penelitian ini apa yang hendak diukur adalah persepsi remaja terhadap penerimaan orang tua secara umum yang terdiri dari ayah maupun ibu sebagai satu kesatuan. Penerimaan orang tua terhadap anaknya adalah suatu sikap penuh kebahagiaan dalam mengasuh anak. Orang tua memberi kebebasan bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri, memberikan perhatian dan cinta kasih yang kuat, memperhatikan perkembangan anak serta memberikan dukungan dan rasa aman bagi anak untuk dapat berkembang secara positif.

  Persepsi terhadap penerimaan orang tua diukur menggunakan skala yang disusun berdasarkan persepsi terhadap aspek-aspek penerimaan orang tua yang meliputi:

  a. Aspek Fisik, dapat berupa perilaku fisik seperti pelukan, senyuman, ciuman, belaian, penghiburan, dsb.

  b. Aspek Verbal, terlihat dalam penggunaan kata seperti pujian, mengatakan hal-hal yang baik tentang anak, ungkapan rasa bangga terhadap anak, mendongeng, dsb

  Skala ini digunakan untuk mengukur positif atau negatifnya persepsi subjek penelitian terhadap penerimaan orang tua. Semakin tinggi skor total yang diperoleh maka semakin positif persepsi subjek penelitian terhadap penerimaan orang tua, sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin negatif pula persepsi subjek penelitian terhadap penerimaan orang tuanya.

  2. Empati Empati berarti bereaksi terhadap perasaan orang lain dengan respon emosional yang sama, ada proses pengambilalihan perspektif orang lain untuk memahami kondisi dan keadaan pikiran orang lain, serta individu seolah mengalami sendiri peristiwa yang dialami orang lain tersebut.

  Empati diukur menggunakan skala yang disusun berdasarkan aspek-aspek empati yaitu: a. Aspek afektif yakni berupa perasaan yang seolah mengalami sendiri apa yang orang lain rasakan walaupun ia tidak mengalami situasi yang dirasakan orang lain tersebut.

  b. Aspek kognitif yakni memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa.

  Semakin tinggi skor total yang diperoleh dalam skala empati menunjukkan semakin tinggi tingkat empati yang dimiliki subjek penelitian. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor total dalam skala empati, maka dapat diartikan semakin rendahnya tingkat empati yang dimiliki subjek penelitian tersebut.

D. Subjek Penelitian

  Pemilihan subjek ke dalam sampel dilakukan dengan cara purposive

  sampling , yakni memilih sekelompok subjek yang didasarkan atas ciri-ciri

  atau sifat tertentu yang dipandang memiliki sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini:

1. Individu pada usia remaja akhir, yakni pada usia 16 tahun atau 17 tahun

  sampai 18 tahun. Keterampilan sosial dan kemampuan berempati menjadi semakin penting dan krusial manakala individu sudah menginjak masa remaja.

  2. Diasuh atau bertempat tinggal dengan orang tuanya. Baik dengan keduanya maupun dengan salah satu dari orang tuanya.

E. Metode Dan Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode angket atau kuesioner yang diberikan kepada subjek penelitian. Hal ini berkaitan dengan asumsi dasar penggunaan angket, yaitu bahwa responden merupakan orang yang paling mengetahui tentang dirinya sendiri (Azwar, 2001). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik random sampling dalam pengumpulan data. Peneliti dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara acak dalam wilayah tertentu dengan batasan subjek sesuai dengan kategori yang dijabarkan di atas. Alasan penggunaan teknik ini adalah agar hasil yang diperoleh dapat lebih mudah digeneralisasi.

  Alat penelitian berupa penggunaan dua skala, yakni skala persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati. Kedua skala disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan teori yang telah dijabarkan sebelumnya.

  Kedua skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan angket dengan skala Likert, yang pengumpulan datanya dengan menggunakan metode

  

rating yang dijumlahkan (Method of Summated Ratings) yang terdiri dari

  empat kategori pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Pengukuran alat ini dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu:

  1. Aitem-aitem favorable, dengan pilihan jawaban dan skor yaitu: (a) Sangat setuju (SS) : skor

  4 (b) Setuju (S) : skor

  3 (c) Tidak Setuju (TS) : skor

  2 (d) Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1

  2. Aitem-aitem unfavorable, terdiri dari pilihan jawaban dan skor sebagai berikut: (a) Sangat setuju (SS) : skor

  1 (b) Setuju (S) : skor

  2 (c) Tidak Setuju (TS) : skor

  3 (d) Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 4 Pada kedua skala tidak diberikan alternatif jawaban netral. Menurut Hadi

  (1994) hal ini didasarkan atas tiga hal yaitu:

  1. Undecided mempunyai arti ganda, bisa diartikan sebagai belum memutuskan atau memberi jawaban (menurut konsep aslinya), bisa juga diartikan netral, setuju tidak, tidak setuju pun tidak, atau bahkan ragu-ragu. Kategori jawaban yang ganda arti (multi interpretable) ini tentu saja tidak diharapkan dalam suatu instrumen.

  2. Jawaban tengah menimbulkan kecenderungan menjawab ketengah (central

  tendency effect ) terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawabannya, kearah setuju ataukah tidak setuju.

  3. Kategorisasi jawaban SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden, kearah setuju atau kearah tidak setuju.

  Jawaban tengah akan menghilangkan data penelitian sehingga mengurangi banyaknya informasi yang dapat disaring dari responden.

  Banyaknya butir pernyataan dalam skala berjumlah 60 butir di tiap skalanya. Namun pada skala persepsi terhadap penerimaan orang tua, subjek diminta memberikan respon terhadap ayah dan ibu secara terpisah dengan penomoran a untuk respon terhadap ayah dan b untuk respon terhadap ibu.

  Dengan demikian nantinya didapati 120 nomor skala yang penjabarannya 60 nomor pada respon ayah dan 60 nomor pada respon ibu. Berikut tabel blue

  

print serta tabel distribusi aitem pra uji menurut aspek dan sifat favorable dan

unfavorable pada skala persepsi terhadap penerimaan orang tua.

  Tabel 2 Blue Print Skala Persepsi terhadap Penerimaan Orang Tua

  

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  7, 8, 15, 16, 23, 24, 31, 32, 39, 40, 47, 48, 55, 56, 60 30 aitem

  2. Kognitif 3, 4, 11, 12, 19, 20, 27, 28, 35, 36, 43, 44, 51, 52, 58

  5, 6, 13, 14, 21, 22, 29, 30, 37, 38, 45, 46, 53, 54, 59 30 aitem

  1. Afektif 1, 2, 9, 10, 17, 18, 25, 26, 33, 34, 41, 42, 49, 50, 57

  Favorable / Unfavorable

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  Distribusi Aitem Pra Uji Coba Skala Empati Menurut Aspek dan Sifat

  30 aitem (50 %) 30 aitem (50 %) 60 aitem(100 %) Tabel 5

  

2. Kognitif 15 aitem (25 %) 15 aitem (25 %) 30 aitem(50 %)

Total

  

1. Afektif 15 aitem (25 %) 15 aitem (25 %) 30 aitem(50 %)

  Tabel 4 Blue Print Skala Empati

  

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  Total 30 aitem 30 aitem 60 aitem (a dan b)

  7, 8, 15, 16, 23, 24, 31, 32, 39, 40, 47, 48, 55, 56, 60 30 aitem

  2. Verbal 3, 4, 11, 12, 19, 20, 27, 28, 35, 36, 43, 44, 51, 52, 58

  5, 6, 13, 14, 21, 22, 29, 30, 37, 38, 45, 46, 53, 54, 59 30 aitem

  1. Fisik 1, 2, 9, 10, 17, 18, 25, 26, 33, 34, 41, 42, 49, 50, 57

  

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  Distribusi Aitem Pra Uji Coba Skala Persepsi terhadap Penerimaan Orang Tua Menurut Aspek dan Sifat Favorable / Unfavorable

  Tabel 3

  

2. Verbal 15 aitem (25 %) 15 aitem (25 %) 30 aitem(50 %)

Total 30 aitem (50 %) 30 aitem (50 %) 60 aitem(100 %)

  

1. Fisik 15 aitem (25 %) 15 aitem (25 %) 30 aitem(50 %)

  Total 30 aitem 30 aitem 60 aitem

F. Validitas Dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data

  Data hasil penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain aspek validitas dan reliabilitas (Azwar,2001).

  1. Validitas Validitas atau kesahihan adalah seberapa cermat, tepat,dan teliti alat ukur mampu melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2001). Pengukuran terhadap validitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kuesioner mampu mengukur hal yang ingin diukur. Untuk dapat menjaga validitas dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan pendekatan validitas isi (content validity). Penetapan validitas isi dilakukan dengan cara

  profesional judgement atau analisis rasional yaitu validitas isi dikoreksi oleh orang yang sudah ahli yaitu dosen pembimbing (Azwar, 2001).

  2. Reliabilitas Reliabilitas merupakan tingkat kepercayaan terhadap hasil suatu pengukuran (Azwar, 2001). Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif konsisten jika dilakukan pengukuran ulang pada subjek yang sama jika aspek yang akan diukur dalam diri subjek juga masih tetap sama. Suatu angket yang reliabel akan menunjukkan ketepatan, ketelitian, dan keajegan hasil dalam satu atau berbagai pengukuran (Azwar, 2001). Dalam penelitian ini, reliabilitas akan diukur dengan menggunakan teknik Alpa Cronbach dari program SPSS versi 12.00.

  G. Pelaksanaan Uji Coba Alat Pengumpulan Data

  Uji coba alat ukur dilaksanakan pada tanggal 7 November 2008 hingga 13 November 2008. Alat ukur disebarkan kepada 60 orang remaja yang berdomisili di Yogyakarta. Penyebaran dilakukan dengan mendatangi subjek di SMKN 1 Depok, menitipkan kuesioner pada siswa SMU, dan mendatangi kos subjek yang memenuhi kriteria sample. Total sample sebanyak 60 orang yang terdiri dari 20 laki-laki (5 orang berusia 16 tahun, 10 orang berusia 17 tahun, serta 5 orang berusia 18 tahun) dan 40 perempuan (22 orang berusia 16 tahun, 14 orang berusia 17 tahun, serta 4 orang berusia 18 tahun). Pengambilan sampel tersebut dipilih berdasarkan ciri-ciri yang sudah ditetapkan yaitu subyek pada usia remaja akhir, yakni pada usia 16 tahun atau 17 tahun sampai 18 tahun, serta diasuh atau bertempat tinggal dengan orang tuanya. Pada masing-masing subyek tersebut diberikan 2 jenis skala yaitu skala persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati.

  H. Hasil Uji Coba Alat Pengumpulan Data

  Setiap usaha pengukuran senantiasa diarahkan untuk mencapai tingkat obyektifitas hasil yang tinggi. Salah satu upaya penting untuk menempuh hal itu adalah melalui pemilihan atau penyusunan alat ukur yang memiliki daya diskriminasi item, derajat validitas dan reliabilitas yang adekuat. Problem daya diskriminasi item, validitas dan reliabilitas alat ukur ini semakin serius bilamana pengukuran tersebut dikenakan kepada gejala-gejala sosial atau perilaku manusia yang sedemikian kompleks (Hadi, 1994).

  1. Validitas Skala Uji validitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah validitas isi sebagai pengukur validitas skala. Validitas isi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana item-item tersebut relevan dengan tujuan pengukuran dan menunjukkan sejauh mana tes tersebut komprehensif isinya (Azwar, 2001). Validitas isi pada penelitian ini dilakukan dengan jalan mengkonsultasikan item-item skala dengan orang dianggap ahli yaitu dosen pembimbing sebagai profesional judgement untuk memastikan bahwa bahwa item tersebut sudah mencakup keseluruhan kawasan isi dan obyek yang hendak diukur sehingga tidak keluar dari indikator-indikator yang telah ditentukan.

  2. Analisis Butir Analisis butir didefinisikan sebagai sejauh mana item mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2001). Analisis butir disebut juga sebagai konsistensi item total (r ) karena merupakan

  ix

  indikator keselarasan atau konsistensi antara fungsi item dengan fungsi skala secara keseluruhan. Konsep inilah yang dijadikan dasar dalam seleksi item. Item-item yang dipilih adalah item yang mengukur hal yang sama dengan apa yang diukur oleh skala secara keseluruhan.

  Untuk menentukan batasan item yang bagus, biasanya digunakan batasan r 0,30, semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal

  ix

  0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Meskipun demikian menurut Azwar (2001) batasan tersebut hanyalah sebuah konvensi dan peneliti dapat menentukan batasan sendiri dengan mempertimbangkan isi dan tujuan skala yang sedang disusun. Berikut paparan proses analisis butir skala penelitian ini:

  a. Skala Persepsi terhadap Penerimaan Orang tua Hasil analisis skala persepsi orang tua berkisar antara 0,041 sampai dengan 0,759. Kemudian butir item diseleksi dengan cara menggugurkan butir-butir yang memiliki koefisien korelasi antar item yang rendah dengan memperhatikan penyebaran butir pada tiap aspek.

  Hasil seleksi terhadap 120 buah item (60 a dan b) terdapat 19 buah item yang tidak layak untuk digunakan sebagai pertanyaan penelitian dan 101 item yang dianggap layak untuk digunakan dalam pertanyaan penelitian. Dengan melihat penyebaran distribusi item pada tiap aspek, dari 100 item tersebut dikurangi lagi 1 buah item, yakni item 5a sehingga terdapat 100 buah item terbaik dari skala yang akan digunakan. Tabel dibawah ini menunjukkan penyebaran item pada saat uji coba :

  Tabel 6

  Verbal 3a, 3b 4a, 4b

  

Total 60 aitem 60 aitem 3 aitem 17 aitem 57 aitem 43 aitem

  47b 55a, 55b 56a, 56b 60a, 60b

  8a, 8b 15a, 15b 16a, 16b 23a, 23b 24a, 24b 31a 32a, 32b 40a, 40b

  51a, 51b 52a, 52b 58a, 58b 7a, 7b

  35a 36a, 36b 43a, 42b 44a, 44b

  3a, 3b 4a, 4b 11a, 11b 12a, 12b 19a, 19b 20a, 20b 27a, 27b 28a, 28b

  35b 31b 39a, 39b 47a 48a, 48b

  8a, 8b 15a, 15b 16a, 16b 23a, 23b 24a, 24b 31a, 31b 32a, 32b 39a, 39b 40a, 40b 47a, 47b 48a, 48b 55a, 55b 56a, 56b 60a, 60b

  51a, 51b 52a, 52b 58a, 58b 7a, 7b

  11a, 11b 12a, 12b 19a, 19b 20a, 20b 27a, 27b 28a, 28b 35a, 35b 36a, 36b 43a, 42b 44a, 44b

  30a, 30b 37a, 37b 38a, 38b 45a, 45b 53a, 53b 54a, 54b 59a, 59b

  Butir Yang Sahih Dan Gugur Pada Skala Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua

  57b 5b 6a, 6b 13a, 13b

  41a, 41b 42a 49a, 49b 50a, 50b

  17a, 17b 18a, 18b 25a, 25b 26a, 26b 33a, 33b 34a, 34b

  1a, 1b 2a, 2b 9a, 9b 10a, 10

  21a, 21b 22a, 22b 29a, 29b 46a, 46b

  42b 57a 5a 14a, 14b

  6a, 6b 13a, 13b 14a, 14b 21a, 21b 22a, 22b 29a, 29b 30a, 30b 37a, 37b 38a, 38b 45a, 45b 46a, 46b 53a, 53b 54a, 54b 59a, 59b

  41a, 41b 42a, 42b 49a, 49b 50a, 50b 57a, 57b 5a, 5b

  17a, 17b 18a, 18b 25a, 25b 26a, 26b 33a, 33b 34a, 34b

  No. Butir Pernyataan Sebelum Uji Coba Gugur Setelah Uji Coba Aspek Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable Fisik 1a, 1b 2a, 2b 9a, 9b 10a, 10

  Berikut ini menunjukkan penyebaran butir-butir pernyataan dalam skala persepsi orang tua yang akan digunakan dalam pengambilan data:

  Tabel 7

  Distribusi Butir-Butir Pernyataan Skala Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua Pada Respon Ayah

  No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1. Fisik 1a, 1b 2a, 2b 9a, 9b 10a, 10

  17a, 17b 18a, 18b 25a, 25b 26a, 26b 33a, 33b 34a, 34b 41a, 41b 42a 49a, 49b 50a, 50b

  57b 5b 6a, 6b 13a, 13b

  30a, 30b 37a, 37b 38a, 38b 45a, 45b 53a, 53b 54a, 54b 59a, 59b

  47 aitem

  2. Verbal 3a, 3b 4a, 4b

  11a, 11b 12a, 12b 19a, 19b 20a, 20b 27a, 27b 28a, 28b

  35a 36a, 36b 43a, 42b 44a, 44b 51a, 51b 52a, 52b 58a, 58b 7a, 7b

  8a, 8b 15a, 15b 16a, 16b 23a, 23b 24a, 24b 31a 32a, 32b 40a, 40b

  47b 55a, 55b 56a, 56b 60a, 60b

  53 aitem Total 57 aitem 43 aitem 100 aitem

  Berikut penomoran ulang distribusi item pada skala Persepsi Terhadap Penerimaan Orang tua yang digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian:

  Tabel 8

  Penomoran Distribusi Item Skala Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua

  

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

1a, 1b 5b 2a, 2b 6a, 6b 9a, 9b 13a, 13b 10a, 10b 26a, 26b

  16a, 16b 33a, 33b 17a, 17b 34a, 34b 22a, 22b 40a, 40b 23a, 23b 46a, 46b

  1. Fisik 47 aitem

  29a, 29b 47a, 47b 30a, 30b 52a, 52b 36a, 36b 37b 42a, 42b 43a, 43b

  50b 3a, 3b 7a, 7b 4a, 4b 8a, 8b 11a, 11b 14a, 14b

  12a, 12b 15a, 15b 18a, 18b 20a, 20b 19a, 19b 21a, 21b

24a, 24b 27b

25a, 25b 28a, 28b

  2. Verbal 53 aitem

  31b 35a, 35b 32a, 32b 41a, 41b 38a, 38b 48a, 48b 39a, 39b 49a,49b 44a, 44b

  53 45a, 45b 51a, 51b

  Total 57 aitem 43 aitem 100 aitem

  Maka, dari hasil tersebut diketahui bahwa skala persepsi terhadap penerimaan orang tua cukup valid digunakan sebagai alat ukur penelitian ini. Hasil selengkapnya mengenai analisis butir skala b. Skala Empati Hasil analisis terhadap skala empati berkisar antara – 0,005 sampai dengan 0,527. Kemudian butir item diseleksi dengan cara menggugurkan butir-butir yang memiliki koefisien korelasi antar item yang rendah dengan memperhatikan penyebaran butir pada tiap aspek. Hasil seleksi terhadap 60 buah item terdapat 25 buah item yang tidak layak untuk digunakan sebagai pertanyaan penelitian dan 35 item yang dianggap layak untuk digunakan dalam pertanyaan penelitian. Berikut tabel penyebaran item pada saat uji coba :

  Tabel 9

  Butir Yang Sahih Dan Gugur Pada Skala Empati

  No. Butir Pernyataan Aspek Sebelum Uji Coba Gugur Setelah Uji Coba Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable 1, 2, 9, 10, 5, 6, 13, 14, 2, 10, 17, 5, 6, 13, 22, 1, 9, 18, 14, 21, 29, 17, 18, 25, 21, 22, 29, 25, 41, 42, 54, 59 26, 33, 34, 30, 37, 38, 26, 33, 34, 30, 37, 38, 57 49, 50 45, 46, 53,

  Afektif 41, 42, 49, 45, 46, 53, 50, 57 54, 59

  3, 4, 11, 7, 8, 15, 16, 4, 11, 19, 16, 23, 24, 3, 12, 27, 7, 8, 15, 32, 12, 19, 20, 23, 24, 31, 20, 44, 51, 31, 48 28, 35, 36, 39, 40, 47, Kognitif 27, 28, 35, 32, 39, 40, 58 43, 52 55, 56, 60

  36, 43, 44, 47, 48, 55, 51, 52, 58 56, 60

Total 30 aitem 30 aitem 14 aitem 11 aitem 16 aitem 19 aitem

  Kemudian tabel berikut ini menunjukkan penyebaran butir- butir pernyataan dalam skala empati yang akan digunakan dalam pengambilan data :

  Tabel 10

  Distribusi Butir-Butir Pernyataan Skala Empati Setelah Uji Coba

  No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah 1, 9, 18, 26, 33, 34, 14, 21, 29, 30, 37,

  1. Afektif 17 aitem

  49, 50 38, 45, 46, 53, 3, 12, 27, 28, 35, 7, 8, 15, 32, 39, 40,

  2. Kognitif 18 aitem

  36, 43, 52 47, 55, 56, 60 Total 16 aitem 19 aitem 35 aitem

  Berikut penomoran ulang distribusi item pada skala Empati yang digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian:

  Tabel 11

  Penomoran Distribusi Item Skala Empati

  No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah 1, 5, 9, 11, 17, 18, 7, 10, 14, 15, 21, 22,

  1. Afektif 17 aitem

  29, 30 26, 27, 32 2, 6, 12, 13, 19, 20, 3, 4, 8, 16, 23, 24,

  2. Kognitif 18 aitem

  25, 31 28, 33, 34, 35 Total 16 aitem 19 aitem 35 aitem

  Berdasarkan paparan diatas diketahui bahwa skala empati juga valid digunakan sebagai alat ukur penelitian ini. Hasil selengkapnya mengenai analisis butir uji coba skala empati dapat dilihat pada lampiran.

  3. Uji Reliabilitas Alat Ukur Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Azwar, 2001). berkisar antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien korelasi (mendekati 1) berarti alat tes tersebut semakin reliabel.

  Penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal yang diperoleh lewat penyajian satu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subyek dengan prosedur analisis koefisien reliabilitas alpha yang dapat digunakan pada tes yang belahannya tidak paralel satu sama lain (Azwar, 2001).

  Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat taraf kepercayaan atau keajegan hasil pengukuran skala pada penelitian dihitung dengan koefisien Alpha Cronbach (Azwar, 2001). Hasil perhitungan koefisien Alpha Cronbach pada uji coba skala persepsi terhadap penerimaan orang tua adalah sebesar 0,970. Setelah seleksi item, dengan menyingkirkan item yang tidak terpakai, item yang hendak digunakan di uji kembali reliabilitasnya, hasilnya didapat penghitungan koefisien alpha Cronbach sebesar 0,972. Sedangkan hasil perhitungan koefisien pada uji coba skala empati adalah sebesar 0,847. Setelah seleksi item didapat koefisien alpha Cronbach sebesar 0,897.

  Kesepakatan informal menghendaki bahwa koefisien reliabilitas haruslah setinggi mungkin, biasanya suatu koefisien reliabilitas di sekitar 0,900 dapat dianggap memuaskan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa skala persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati dapat menunjukkan daya keterandalan yang tinggi.

I. Teknik Analisis Data

  Sesuai dengan tujuan dan identifikasi variabel, metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati adalah dengan menggunakan korelasi

  pearson product moment. Perhitungan korelasi ini akan dilakukan dengan

  menggunakan program SPSS versi 12.00

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN A. Pelaksanaan Penelitian Pengambilan data penelitian dilakukan dengan membagikan skala

  persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati kepada responden penelitian, sesuai dengan ciri-ciri yang telah ditetapkan sebelumnya. Alat ukur disebarkan kepada 80 orang remaja yang berdomisili di Yogyakarta. Penyebaran dilakukan dengan mendatangi subjek di SMKN 2 Depok, menitipkan kuesioner pada siswa SMU, dan mendatangi kos subjek yang memenuhi kriteria sample. Skala persepsi terhadap penerimaan orang tua dan skala empati tersebut dibagikan bersamaan pada tanggal 26 November sampai 2 Desember 2008. Dengan jumlah masing-masing skala sebanyak 80 eksemplar.

B. Deskripsi Penelitian

  Pengambilan subyek dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pemilihan sekelompok subyek yang didasarkan atas sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Kriteria subyek dalam penelitian ini adalah pria dan wanita pada usia remaja akhir, yakni pada usia 16 tahun atau 17 tahun sampai 18 tahun, diasuh atau bertempat tinggal dengan orang tuanya. Baik dengan keduanya maupun dengan salah satu dari orang tuanya.

80 Total

  7

  7

  15

  14

  2

  1

  Data mengenai subyek penelitian berdasarkan umur, jenis kelamin subyek, serta usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan orang tua dijelaskan sebagai berikut :

  9

  12

  2

  4 Tdk sekolah SD SMP SMA D2 D3 S1

  56

  20

  16

  57

  50 > 50

  21

  52

  Tabel 12

  Deskripsi Umur dan Jenis Kelamin Subyek

  Umur Jumlah Jenis Kelamin Jumlah

  16

  17

  18

  19

  40-

  9 Perempuan Laki-laki

  45

  35 Total

  80 Tabel 13

  Deskripsi Tingkat Pendidikan, usia dan Jenis Pekerjaan Orang Tua Subyek

  Usia Ayah Ibu Tingkat Pendidikan Ayah Ibu Pekerjaan Ayah Ibu < 40

  2

  • 1
  • 3
  • 1
  • 40
  • 5

  4 Buruh Buruh tani Kary. Swasta Pedagang Petani PNS Wiraswasta Sopir Pensiunan Pengangguran Ibu RT Guru Pembantu RT

  1

  Keseluruhan data hasil penelitian dapat dideskripsikan dalam tabel berikut ini :

  1 Total 80 80 Total 80 80 Total 80 80

  6

  16

  3

  6

  3

  1

  4

  1

  29

  9

  7

  2

  40

  1

  51

  Tabel 14

  Deskripsi Statistik Data Penelitian

  

Persepsi Terhadap

Deskripsi Data Empati

Penerimaan Orang tua

Mean 300,29 105,16

  

SD 29,97 10,68

Xmax 365 129

Xmin 234

  72 Tabel di atas menunjukkan jumlah mean keseluruhan dari persepsi

  terhadap penerimaan orang tua sebesar 300,29. Nilai tertinggi yang diperoleh pada persepsi terhadap penerimaan orang tua sebesar 365 sedangkan untuk nilai terendah didapat sebesar 234. Selanjutnya untuk empati diperoleh mean keseluruhan sebesar 105,16. Untuk nilai tertinggi sebesar 129 sedangkan nilai terendah sebesar 72.

  Untuk mengetahui kecenderungan variabel bebas (persepsi terhadap penerimaan orang tua) dan variabel tergantung (empati), maka dilakukan uji signifikasi beda antara mean empirik dan mean teoritik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel :

  Tabel 15

  Perbandingan Data Teoritik dan Data Empirik

  Data Teoritik Data Empirik Variabel Min Max Mean SD Min Max Mean SD Persepsi Terhadap

  Penerimaan 100 400 250 50 234 365 300,29 29,97 Orang tua Empati 35 140 87,5 17,5 72 129 105,16 10,68

  Mean teoritik adalah rata-rata skor alat penelitian dan diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur. Mean empirik sendiri adalah rata- rata skor data penelitian yang hasilnya diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata hasil penelitian. Skala persepsi terhadap penerimaan orang tua mean teoritiknya 250 sedangkan mean empiriknya sebesar 300,29 (mean empirik>mean teoritik). Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan dan jarak perbedaan mean sebesar 50,288. Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa rata-rata persepsi terhadap penerimaan orang tua pada subyek penelitian cenderung tinggi. Mean teoritik empati diperoleh sebesar 87,5 sedangkan untuk mean empirik sebesar 105,16 (mean empirik>mean teoritik). Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan dan jarak perbedaan mean sebesar 17,662. Berdasar data tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata empati subyek penelitian cenderung tinggi.

C. Analisis Hasil Penelitian

1. Uji Asumsi Penelitian

  Sebelum melaksanakan analisis data untuk menguji hipotesis perlu dilakukan uji normalitas dan linearitas terlebih dahulu.

  a. Uji Normalitas Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah distribusi frekuensi dari gejala yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari frekuensi harapan distribusi normal teoritiknya. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan rumus one sample Kolmogorov Smirnov Test, bantuan SPSS for windows versi 12.0.

  Tabel 16

  Hasil Uji Normalitas Persepsi Terhadap Empati

  Penerimaan Orang tua Kolmogorov-Smirnov Z 0, 545 0,611

  Asymp. Sig. (2-tailed) 0,928 0,850 Asumsi uji normalitas adalah jika nilai p>0,05 maka sebaran skor yang diperoleh adalah normal. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai K-SZ untuk variabel persepsi terhadap penerimaan orang tua 0, 545 dengan probabilitas 0,928 (p>0,05), sedangkan nilai K-SZ variabel empati sebesar 0,611 dengan probabilitas 0,850 (p>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan data subyek memiliki sebaran yang normal.

  b. Uji Linieritas Uji linearitas dilakukan untuk melihat seberapa besar tingkat hubungan yang terjadi antara dua variable yang bersangkutan, memiliki linearitas atau tidak. Garis data skor dinyatakan linear apabila nilai F-nya diikuti oleh p<0,05. Sebaliknya garis data skor dinyatakan tidak linear apabila nilai F yang diperoleh diikuti nilai p>0,05. Teknik yang digunakan untuk pengujian ini adalah Compare-Means yang terdapat dalam program computer SPSS for windows versi 12.0.

  Tabel 17

  Hasil Uji Linieritas F Asymp. Sign.

  Combined 0,862 0,682 Linearity 7,831 0,010

  Skor Persepsi Terhadap

  Penerimaan Orang tua

  • Empati Deviation from

  Linearity 0,737 0,821

  Hasil perhitungan uji linearitas dua variabel penelitian menunjukkan bahwa nilai F sebesar 7,831 dengan probabilitas 0,010 (p<0,05), artinya signifikan. Hal ini berarti hubungan yang antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati bersifat linear.

2. Uji Hipotesis

  Setelah mengetahui bahwa data penelitian didistribusikan normal dan berkorelasi linear, maka dapat dilakukan uji koefisien korelasi

  Product Moment Pearson . Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini

  adalah ada hubungan positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja, yang disebut sebagai hipotesis satu arah (Hadi, 1994). Teknik uji hipotesis ini dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows versi 12.0.

  Tabel 18

  Hasil Uji Hipotesis r r

  2 Skor Persepsi Terhadap Penerimaan Orang Tua * Empati 0,332 0,11 Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi secara keseluruhan (r ) sebesar 0,332 dengan probabilitas 0,01 (one-tailed). Hasil analisis

  xy

  tersebut mempunyai arti bahwa hipotesis yang berbunyi ada hubungan positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat

  2

  empati pada remaja diterima. Koefisien determinasi (r ) adalah sebesar 0,11 berarti variabel bebas (persepsi terhadap penerimaan orang tua) memberikan sumbangan efektif terhadap variabel tergantung (empati) sebesar 11%.

D. Pembahasan

  Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif antara penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja. Hal ini berarti hipotesis yang mengatakan bahwa ada hubungan positif antara penerimaan orang tua dengan empati pada remaja diterima.

  Hubungan positif antara penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja menunjukkan bahwa semakin tinggi remaja mempersepsi penerimaan orang tua terhadap dirinya, maka semakin tinggi tingkat empati pada remaja tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah remaja mempersepsi penerimaan orang tua, maka semakin rendah pula tingkat empati yang dimilikinya. Hal tersebut diketahui dari skor korelasi sebesar 0,332 dengan taraf signifikansi 0,01 (p< 0,05).

  Hubungan positif antara penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja dapat terjadi karena orang tua juga berperanan dalam pembentukan empati anak. Psikiater Rober Coles (dalam Azar, 1999) menekankan pentingnya orang tua dalam membentuk perilaku prososial anak. Goleman (1995) mengemukakan prasyarat untuk dapat melakukan empati adalah kesadaran diri, mengenali sinyal-sinyal perasaan yang tersembunyi dalam reaksi-reaksi tubuh sendiri. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat berempati apabila mereka sudah terlebih dahulu mengenali diri sendiri (Boyatzis, 1998). Untuk mencapai pengenalan diri sendiri tersebut, anak membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman dari orang tua.

  Anak membutuhkan penerimaan dari orang tua sebagai dasar dimana mereka mulai belajar menerima diri sendiri dan mencoba mengenali dirnya.

  Perkembangan emosional empati pada individu sangat didukung oleh keadaan keluarga yang mampu memberi kehangatan, pengasuhan, kasih sayang, dan dukungan serta penerimaan dari orang tua (Trommsdorff, 1991).

  Data lain yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data statistik deskriptif yang menunjukkan bahwa mean empiris pada skala persepsi terhadap penerimaan orang tua lebih besar dari pada mean teoritiknya. Hal ini bisa terjadi karena realitas bagi seseorang semata-mata merupakan persepsi mereka, tidak berdasarkan realitas yang sebenarnya (Schifman dan Kanuk, 2004). Persepsi merupakan proses ketika orang menginterpretasi sensasi, dan memberikan urutan dan makna kepada sensasi tersebut.

  Persepsi remaja sendiri yang dipandang sebagai pengalaman subyektif tiap pribadi. Bagaimana fakta yang sebenarnya mengenai penerimaan orang tua tidak menentukan bagaimana persepsi remaja sendiri. Dalam hal ini, sebagaimana halnya yang dikemukakan oleh Schifman dan Kanuk (2004), ada kemungkinan remaja mengenal, memilih dan mengatur dan menafsirkan penerimaan itu sendiri melalui proses yang sangat individual berdasarkan kebutuhan, nilai-nilai, dan harapan remaja itu sendiri.

  Rata-rata subyek juga memiliki tingkat empati yang cenderung tinggi. Hal ini diketahui dari mean empirik yang lebih besar bila dibandingkan mean teoritik. Secara kognitif remaja sudah bisa melakukan pengambilalihan perspektif (perspective taking) orang lain. Perspective

  

taking adalah kemampuan untuk mempergunakan cara pandang orang lain

dan memahami pemikiran serta perasaan orang tersebut (Santrock, 2003).

  Hal ini sejalan dengan tugas pekembangan sosial remaja sendiri yang mulai memandang penting untuk berhubungan dengan orang lain. Ciri khas pada perkembangan sosial remaja adanya pengaruh yang kuat dari kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, serta munculnya pengelompokkan sosial baru. Hubungan dengan teman sebaya (peer group) menjadi lebih penting. Remaja yang terampil dalam pengambilalihan cara pandang akan lebih memahami kebutuhan teman-temannya sehingga mereka cenderung dapat berkomunikasi secara lebih efektif (Hudson, Forman & Brion-Meisels; 1982 dalam Santrock, 2003).

  Besarnya sumbangan persepsi terhadap penerimaan orang tua terhadap empati adalah sebesar 11% sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi terhadap penerimaan orang tua hanya mempunyai peranan kecil dalam proses pembentukan empati pada remaja. Sedangkan untuk 89 % nya dipengaruhi oleh faktor lain, faktor-faktor lain itu kemungkinan adalah faktor genetik, pengalaman spesifik remaja, perbedaan jenis kelamin, serta faktor kemiripan terhadap objek empati sendiri.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap remaja akhir di Yogyakarta, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan

  positif antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja. Dimana, semakin tinggi remaja mempersepsi penerimaan orang tua terhadap dirinya, maka semakin tinggi tingkat empati pada remaja tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah remaja mempersepsi penerimaan orang tua, maka semakin rendah pula tingkat empati yang dimilikinya.

B. Saran

  1. Mengingat adanya hubungan antara persepsi penerimaan orang tua dengan tingkat empati, yang berarti bahwa seorang anak membutuhkan penerimaan dari orang tua untuk dapat mengembangkan empatinya secara optimal. Disarankan sebaiknya orang tua berusaha memberikan sikap yang penuh kebahagiaan dalam mengasuh anak sehingga anak merasakan perasaan aman dan penerimaan tanpa syarat yang dapat menjadi modal awal pembentukan empati pada diri anak.

  2. Untuk peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema penerimaan orang tua maupun empati, sebaiknya memperhatikan faktor lain yang juga memiliki pengaruh terhadap empati. Misalnya, faktor genetik, pengalaman spesifik remaja, perbedaan jenis kelamin, serta faktor kemiripan terhadap objek empati sendiri.

  

Daftar Pustaka

  American Psychological Association (APA). 2006. Dictionary of Psychology: edt Gary R.V . Washington DC. Andriani, Fitri. 2001. Perbedaan Tingkat Persepsi Penerimaan Sosial Antara Mahasiswa Yang Belajar Psikologi dan Yang Tidak Belajar Psikologi .

  Surabaya: Insan, Media Psikologi. Azar, F., Mullet, E., & Vinsonneau, G. 1999. The Propensity to Forgive: Findings From Lebanon. Journal of Peace Research, vol 36, hal 169-181.

  Azwar, Saifuddin, MA. 2001. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

  • . 2006. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Baron, Robert A. & Donn Byrne. 1997. Social Psychology. Boston: Allyn and Bacan. Batson, C. D., Early, S., & Salvarani, G. 1997. Perspective Taking: Imagining How Another Feels Versus Imagining How You Would Feel.

  

Personality and Social Psychology Bulletin , vol 23, hal 751-758.

  Boyatzis, R. E. 1998. Thematic analysis and code development: Transforming qualitative information . Thousand Oaks, CA: Sage. Cartledge, G. & Milburn, J.F. 1995. Teaching Social Skills to Children & Youth: Innovative Approaches (3rd ed.) . Massachussetts: Allyn and Bacon. Coke, J. S., Batson, C. D., & McDavis, K. 1978. Empathic mediation of helping:

  A two-stage model. Journal of Personality and Social Psychology, vol 36, hal 752-766. Damon, W. & N. Eisenberg. 1988. Handbook of Child Psychology. New York: Wiley. Darley, J. & Batson, C. 1973. From Jerusalem to Jericho: A Study of Situational and Dispositional Variables in Helping Behavior. Journal of Personality

  and Social Psychology , vol 27, hal 100-108. Davis, M., Luce, C., & Kraus, S. J. 1994. The heritability of characteristics associated with dispositional empathy. Journal of Personality, vol 62, hal 369-391. Duan, C., & Hill, C. E. 1996. The current state of empathy research. Journal of Counseling Psychology , vol 43, hal 261-274. Eisenberg, N., Fabes, R.A., Miller, P.A., Fulz, J., Shell, R., Mathy, R.M., & Reno,

  R.R. (1989). Relation of Sympathy and Personal Distress to Prosocial Behavior: A Multimethod Study. Journal of Personality and Social Psychology , vol 57, hal 56-66.

  Empathy. 2008. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Gerungan, W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresko. Gerakan Perlindungan Anak Sudah Saatnya Dicanangkan (1997, 6 Februari).

  Surabaya Post. Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why it Can Matter More than IQ.

  New york: Bantam. Gordon, Robert M. 1995. “Simulation Without Introspection from Me to You.” In

  Mental Simulation , ed. M. Davies and T. Stone. Oxford: Blackwell Publishers.

  Hadi, S. 1994. Metodologi Riset 1. Yogyakarta: Andi Offset. Henker, B. & Whalen, C. K. 1999. The Child With Attention Deficit/Hyperactivity Disorder in Family Contexts. In H. C. Quay, A. E.

  Hogan (Eds.), Handbook of Disruptive Behavior Disorder. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers. Henry, C. S., Sager, D. W., & Plunkett, S. W. 1996. Adolescent’ Perceptions of

  Family System Charateristics, Parent-Adolescent Dyadic Behaviors, Adolescent Qualities, and Adolescent Empathy. Family Relations, vol 45, hal 283-292.

  Hoffman, M.L. 2000. Empathy and Moral Development. New York: Cambridge University Press.

  Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang

  Rentang Kehidupan (terjemahan Iswidayanti dan Soedjarwo). Jakarta: Erlangga.

  • . 1993. Perkembangan anak (Jilid 2, edisi keenam). Alih bahasa: Meitasari Tjandrasa. Jakarta : Penerbit Erlangga.
  • . 1995. Perkembangan anak (Jilid 1, edisi keenam). Ed.: Agus Dharma. Jakarta : Penerbit Erlangga.

  Johnson, J.A., Cheek, J.M., & Smither, R. 1983 The Structure of Empathy.

  Journal of Personality and Social Psychology . Vol 45, No. 6, halaman 1299-1312.

  Kartono, K. 1992. Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta: Rajawali. Kim, Sung-Il & Rohner, Ronald. P. 2003. Perceived Parental Acceptance and

  Emotional Empathy Among University Student in Korea . Journal of Cross-Cultural Psychology. Vol 34, No. 6, hal 723-735.

  Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. PT Rineka Cipta. Jakarta. Koestner, R., Franz, C., & Weinberger, J. 1990. The Family Origins of Empathic

  Concern. Journal of Personality and Social Psychology, vol 58, hal 709- 717. Kohler, Doris Bischof. 1991. The Development of Empathy in Infants. Infant

  Development: Perspectives from German Speaking Countries. Chap. 12, halaman 245-273. Hillsdale: Lawrence Erlbraum.

  Lestari, Sri. 1995. Hubungan Antara Penerimaan Orang Tua dengan Konsep Diri

  Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Pedoman Penulisan Skripsi. 2004. Yogyakarta : USD

  Rachmat, Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Rumah Tangga Kemudi Terciptanya Masyarakat Ideal (2007,15 Agustus).

  Kominfo Newsroom

  (on-line). Diakses pada Juni 2008 dari http://balitbang. depkominfo.go.id. Robinson, N. S., Garber, J., & Hilsman, R. 1995. Cognitions and stress: Direct and moderating effect on depressive and externalizing symptoms during the junior high school transition. Journal of Abnormal Psychology. vol 104, hal 453-463. Rohner, R. P. & Rohner, E. C. 1980. Worldwide tests of parental acceptance- rejection theory. Behavioral Science Research, vol 15, hal 1-21. Rohner, Ronald. P. 1986. The warmth dimension: Foundations of parental acceptance-rejection theory. Beverly Hills, CA: Sage Publications, Inc.

  • . 2005. Glossary of Significant Concepts in Parental Acceptance-Rejection Theory (PARTheory).

  Rohner, Ronald. P, Khaleque A, Cournoyer. D. E. 2007. Introduction To Parental Acceptance-Rejection Theroy, Methods, Avidence, And Implications .

  University of Connecticut. Santrock, J. W. 1990 . Child Development 11th ed. Mc Graw Hill: New York.

  • . 2002. Life-span development : perkembangan masa hidup (Jilid 1,

  edisi kelima) . Alih bahasa : Achmad Chusairi & Juda Damanik. Jakarta : Penerbit Erlangga.

  • . 2003. Adolescence: perkembangan Remaja (edisi keenam). Alih bahasa: Dra. Shinto B. Adelar, M.Sc. & Sherly Saragih, S.Psi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

  Schultz, P. W., & Zelezny, L. C. 1998. Values and Pro-Environmental Behavior: A five-country Survey. Journal of Cross-Cultural Psychology, vol 29 (4), hal 504-558.

  Schifman, L.G., dan Kanuk, L, Lazar. 2004. Perilaku Konsumen edisi ke-7.

  Jakarta: PT. Indeks Group Gramedia. Stogdill, R. M. 1937. Survey of Experiments on Children’s Attitudes Toward Parents: 1894-1936. Journal of Genetic Psychology, vol 51, hal 293-303.

  Stotland, E. 1969. Exploratory investigations in empathy. In L. Berkowitz (Ed.),

  Advances in experimental social psychology (Vol. 4, hal 271-314). New York: Academic Press.

  Straker, G., & Jacobson, R. S. 1981. Aggression, emotional maladjustment, and empathy in the abused child. Developmental Psychology, vol 17, hal 762-765.

  Suryabrata, S. 2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset. Tracy, Brian. 1996. Keberhasilan Puncak. Alih bahasa: Anton Adiwiyoto. Jakarta: Binarupa Aksara.

  Trobst, K.K., Collins, R. L., & Embree, J. M. 1994. The Role of Emotion in Social Support Provision: Gender, Empathy and Expressions of Distress.

  

Journal of Social and Personal Relationships , vol 11, hal 45-62.

  Trommsdorff, G. (1991). Child rearing and children's empathy. Perceptual and Motor Skills, vol 72, hal 387-390.

  

LAMPIRAN 1

SKALA UJI COBA

  

SALAM SEJ AHTERA

Teman-t eman yang saya hor mat i, per kenankan saya memint a wakt u dan

kesediaan t eman-t eman unt uk mengisi skala pada halaman-halaman selanj ut nya.

  

Kesediaan t eman- t eman akan sangat ber ar t i bagi saya unt uk menyelesaikan

penelit ian t ugas akhir akademik yang saya ker j akan.

  Dat a-dat a j awaban yang sudah dikumpulkan ini nant inya akan dij aga

ker ahasiaannya dan penggunaannya akan diper t anggungj awabkan secar a ilmiah.

  Kesediaan t eman-t eman unt uk mengisi dengan j uj ur sangat saya har gai.

  Saya sangat ber t er ima kasih dan menghar gai par t isipasi t eman-t eman dalam penelit ian ini Hor mat Saya, Het t y Yusmaida Bar asa PSI / USD/ 049114047

  Skala 1 J enis kelamin : ___________ Usia : ___________

  

Pet unj uk Mengerj akan

Ber ikut t er dapat 60 per nyat aan yang t er kait dengan per anan or ang t ua.

  Baca dan pahamilah baik-baik set iap per nyat aan. Kemudian Saudar a dimint a unt uk member i

penilaian t er hadap ayah dan ibu sesuai dengan keadaan yang saudar a alami dan r asakan, dengan car a

member i t anda silang ( X ) pada salah sat u pilihan j awaban pada bagian ayah dan pada bagian ibu. Adapun pilihan j awabannya adalah:

SS : Sangat set uj u (j awaban sangat set uj u ber ar t i semakin menggambar kan

keadaan saudar a) S : Set uj u (per nyat aan menggambar kan dir i saudar a)

  TS : Tidak set uj u (per nyat aan t idak menggambar kan dir i saudar a)

STS : Sangat t idak set uj u (j awaban sangat t idak set uj u ber ar t i semakin t idak

menggambar kan keadaan dir i saudar a) Per lu diper hat ikan bahwa dalam hal ini TI DAK ADA PENI LAI AN BENAR- SALAH

  

MAUPUN BAI K- BURUK . Set iap or ang dapat memiliki j awaban yang ber beda, kar ena it u pilihlah

j awaban yang paling sesuai dengan kondisi Saudar a, dan bukan yang dianggap umum at au waj ar oleh

masyar akat . Semua pilihan j awaban adalah benar selama j awaban t er sebut sesuai dengan keadaan

dir i saudar a sebenar nya.

  Skala 1 Cont oh: AYAH

  I BU STS TS S SS No. PERNYATAAN No. SS S TS STS

1. Or ang t ua saya ser ing mencium saya 1.

  

Selamat mengerj akan !

AYAH

  

Or ang t ua saya kur ang peduli pada hal-hal

yang saya sukai

  

Saya per nah diusir dar i r umah oleh or ang t ua

  7b.

  

Saya j ar ang mengobr ol dengan or ang t ua

saya

  7a.

  

Ter kadang saya mer asa t er bebani dengan

har apan or ang t ua saya yang t er lalu t inggi

t er hadap saya

6b.

  5b. 6a.

  4b. 5a.

  I BU STS TS S SS

No. PERNYATAAN No.

SS S TS STS 1a.

  

Or ang t ua saya suka ber cer it a banyak hal

kepada saya

  Saudar a dihar apkan member i penilaian t er hadap ayah dan ibu. Bila saudar a mer asa ibu saudar a

ser ing mencium anda maka ber i t anda silang pada pilihan [ SS] di bagian ibu. Demikian j uga dengan

ayah, bila saudar a mer asa ayah t idak per nah mencium anda maka ber i t anda silang pada pilihan

[STS] di bagian ayah.

  

Or ang t ua saya suka memuj i saya di depan

or ang lain

  3a.

  

Or ang t ua saya ser ing t er senyum pada saya

2b.

  1b. 2a.

  

Bila saya mer asa mar ah kar ena suat u hal,

or ang t ua saya akan memaklumi saya

  3b. 4a.

  Skala 1 AYAH

  

Ter kadang saya ber keinginan secepat nya

per gi keluar r umah, kar ena saya t idak t ahan

diomeli t er us

16b.

  22a.

  21b.

  

Ter kadang or ang t ua saya t idak t ahu kalau

saya belum makan sehar ian

  20b. 21a.

  

Or ang t ua saya ber kat a bahwa mer eka

menyayangi saya

  19b. 20a.

  

Bila saya melakukan kesalahan, or ang t ua

saya akan menasehat i saya dengan sabar

  19a.

  

Apabila saya memper oleh suat u pr est asi,

or ang t ua saya akan menepuk bahu saya

dengan bangga

18b.

  18a.

  

Saat saya punya masalah, or ang t ua saya

selalu t ahu walaupun saya t idak

member it ahukan mer eka

17b.

  17a.

  16a.

  I BU STS TS S SS

No. PERNYATAAN No.

SS S TS STS 9a.

  

Ter kadang saya mer asa bahwa apapun yang

saya lakukan selalu salah menur ut or ang t ua

saya

15b.

  14b. 15a.

  

Ter kadang saya mer asa ir i bila melihat anak

lain yang dir angkul oleh or ang t ua nya

  13b. 14a.

  

Bila saya naik kelas, or ang t ua saya t idak

t er lalu peduli

  13a.

  

Saya ser ing ber canda dengan or ang t ua saya

12b.

  12a.

  

Saat saya mer asa kecewa, or ang t ua saya

akan member i kat a-kat a yang menguat kan

dan menghibur

11b.

  10b. 11a.

  

Bila saya sakit , or ang t ua saya akan

mengupayakan pengobat an unt uk saya

  10a.

  

Saya ser ing t er t awa ber sama or ang t ua saya

9b.

  

Or ang t ua saya biasanya t idak menyadar i

22b.

  Skala 1 AYAH

  

Or ang t ua saya selalu memandang saya

dengan t at apan t idak suka

  36a.

  35b.

  

Or ang t ua saya ser ing ber kat a bahwa saya

cant ik/ gant eng

  34b. 35a.

  

Saya dan or ang t ua saya suka ber senda

gur au dan ber canda ber sama

  33b. 34a.

  

Bila saya sedih, or ang t ua saya akan memeluk

dan menghibur saya

  33a.

  

Or ang t ua saya t idak memper dulikan

pendapat saya, walaupun hal t er sebut

menyangkut saya sendir i

32b.

  31b. 32a.

  

Or ang t ua saya ser ing ber kat a bahwa

mer eka membenci saya

  30b. 31a.

  29b. 30a.

  I BU STS TS S SS

No. PERNYATAAN No.

SS S TS STS 23a.

  

Seandainya suat u har i saya t idak pulang ke

r umah, or ang t ua saya t idak akan t ahu

  28b. 29a.

  

Or angt ua saya ser ing ber kat a bahwa saya

ber bakat

  28a.

  

Saat ber diskusi mengenai saya, or ang t ua

saya selalu mengij inkan saya yang mengambil

keput usan

27b.

  27a.

  

Or ang t ua saya membebaskan saya

melakukan apapun selama hal t er sebut

posit if

26b.

  25b. 26a.

  

Or ang t ua saya menyukai saya sebagaimana

adanya saya

  24b. 25a.

  

Or ang t ua saya suka membanding-bandingkan

saya dengan anak lain yang seusia saya

  23b. 24a.

  

Saya hanya ber bicar a seper lunya saj a

dengan or ang t ua saya

  

Bila keluar ga menghadapi suat u masalah,

36b.

  Skala 1 AYAH

  43b. 44a.

  50a.

  49a. Or ang t ua saya suka memeluk saya 49b.

  

Bila saya pulang sekolah t er lambat , or ang t ua

saya akan mengomel t anpa ber t anya alasan

saya

48b.

  47b. 48a.

  

Sulit bagi saya unt uk mencer it akan per asaan

saya pada or ang t ua saya

  46b. 47a.

  

Saya j ar ang member it ahu or ang t ua saya

apabila saya sakit

  46a.

  

Ter kadang saya mer asa or ang t ua saya t idak

mengenal bagaimana dir i saya yang

sebenar nya

45b.

  44b. 45a.

  

Or ang t ua saya suka ber cer it a t ent ang

bet apa lucunya saya saat kecil

  

Set iap kali saya ber pr est asi, or ang t ua saya

akan memuj i saya

  I BU STS TS S SS

No. PERNYATAAN No.

SS S TS STS 37a.

  42b. 43a.

  

Saya ser ing ber manj a-manj a pada or ang t ua

saya

  42a.

  

Seandainya saya melanggar per at ur an yang

dit et apkan or ang t ua saya, mer eka akan

ber t anya alasan saya melakukannya

41b.

  40b. 41a.

  

Saya t idak per nah mencer it akan apapun

kepada or ang t ua saya

  39b. 40a.

  

Bila nilai r apor t saya j elek, or ang t ua saya

akan memar ahi saya

  38b. 39a.

  

Biasanya or ang t ua saya t idak t ahu kemana

saya per gi ber main

  37b. 38a.

  

Or ang t ua saya sangat j ar ang t er senyum

kepada saya

  

Hampir set iap har i, or ang t ua saya

50b.

  Skala 1 AYAH

  56b. 57a.

  Or ang t ua lengkap Or ang t ua ber cer ai Ayah/ ibu meninggal* Kedua or ang t ua meninggal

  Suku : _____________ Ur ut an kelahir an : ke ___ dar i ____ ber saudar a

  Dat a t ambahan :

  60b.

  

Ter kadang or ang t ua saya suka mengut uki

saya

  60a.

  

Bila saya sedih, or ang t ua saya akan

memar ahi saya dan menganggap saya mencar i

per hat ian

59b.

  58b. 59a.

  

Saya ser ing ber diskusi dengan or ang t ua

saya mengenai masalah yang saya hadapi

  57b. 58a.

  

Set iap kali ada kesempat an, or ang t ua saya

suka mer angkul saya

  

Ter kadang saya mer asa or ang t ua saya t idak

mer asa puas dengan hasil peker j aan saya

  I BU STS TS S SS

No. PERNYATAAN No.

SS S TS STS 51a.

  56a.

  

Apabila saya ber cer it a mengenai cit a-cit a

saya, or ang t ua saya akan mener t awakan dan

mencemooh saya

55b.

  54b. 55a.

  

Ter kadang saya mer asa or ang t ua saya t idak

suka melihat saya

  53b. 54a.

  

Or ang t ua saya lebih mement ingkan hal lain

dar ipada saya

  53a.

  

Or angt ua saya mer asa bangga akan dir i saya

52b.

  52a.

  51b.

  

Saat saya kecewa, or angt ua saya selalu

menguat kan saya dengan kat a-kat a posit if

misalnya ber cer it a mengenai kelebihan-

kelebihan saya

  Saat ini t inggal dengan (sebut kan) : ____________________________________ Usia ayah : ____ ____t hn Usia ibu : ____ ____t hn Peker j aan ayah : __________ Peker j aan ibu : __________ Pend. t er akhir ayah : __________ Pend. t er akhir ibu : __________

  J enis kelamin : ___________ Usia : ___________

Pet unj uk Menger j akan

Ber ikut t er dapat 60 per nyat aan.

  Baca dan pahamilah baik-baik set iap per nyat aan. Kemudian Saudar a dimint a unt uk

member i penilaian sesuai dengan keadaan yang saudar a alami dan r asakan, dengan car a member i

t anda silang ( X ) pada salah sat u pilihan j awaban. Adapun pilihan j awabannya adalah: SS : Sangat set uj u (j awaban sangat set uj u ber ar t i semakin menggambar kan keadaan saudar a) S : Set uj u (per nyat aan menggambar kan dir i saudar a)

  TS : Tidak set uj u (per nyat aan t idak menggambar kan dir i saudar a) STS : Sangat t idak set uj u (j awaban sangat t idak set uj u ber ar t i semakin t idak menggambar kan keadaan dir i saudar a)

  Per lu diper hat ikan bahwa dalam hal ini TI DAK ADA PENI LAI AN BENAR- SALAH MAUPUN BAI K- BURUK

  . Set iap or ang dapat memiliki j awaban yang ber beda, kar ena it u pilihlah

j awaban yang paling sesuai dengan kondisi Saudar a, dan bukan yang dianggap umum at au waj ar

oleh masyar akat . Semua pilihan j awaban adalah benar selama j awaban t er sebut sesuai dengan

keadaan dir i saudar a sebenar nya.

  Cont oh: No. PERNYATAAN SS S TS STS Saya adalah seor ang yang hebat . SS S TS STS 1.

  J ika Anda mer asa per nyat aan ini menyat akan kondisi Anda, maka ber ilah t anda silang pada pilihan [SS].

  N o. PERNYAT AAN SS S TS STS Saya mer asa t er har u dan ingin menangis bila melihat or ang lain 1.

  SS S TS STS menangis Saya bisa t ahu bahwa seseor ang t engah mar ah hanya dengan

  2. SS S TS STS melihat mimik waj ahnya Kadang kala saya t er har u bahkan menangis j ika menont on f ilm 3.

  SS S TS STS sedih

  4. Saya t idak akan mener t awakan or ang lain di depan umum SS S TS STS

  Saya bisa makan dengan leluasa di depan or ang yang t engah 5.

  SS S TS STS ber puasa Bila seseor ang menangis di depan saya, saya menj adi bingung

  6. SS S TS STS har us ber sikap bagaimana

  7. Menur ut saya or ang yang menangis kar ena bahagia sangat aneh SS S TS STS

  8. Saya suka menj adikan or ang lain sebagai bahan lelucon SS S TS STS

  Ber ada di sekit ar or ang-or ang yang ber bahagia membuat saya 9.

  SS S TS STS mer asa t ur ut ber bahagia

  10. Saya akan ikut menangis bila seseor ang menangis di depan saya SS S TS STS

  

11. Or ang yang t idak punya t eman bukan ber ar t i dia menyebalkan SS S TS STS

Ket ika membaca sebuah kisah yang menyedihkan, saya bisa 12. membayangkan bagaimana r asanya bila kej adian di ki sah

  SS S TS STS t er sebut t er j adi pada dir i saya.

  Menur ut saya pengemis di j alanan t idak semender it a yang 13.

  SS S TS STS diper li hat kannya Bila seseor ang memper malukan saya di depan umum, saya akan

  14. SS S TS STS membalasnya bila ada kesempat an Saya t idak bisa menger t i mengapa seseor ang bisa menangis 15.

  SS S TS STS hanya kar ena menont on sebuah f ilm Apabila saya mer asa benar t ent ang sesuat u hal, saya t idak akan 16.

  SS S TS STS ambil pusi ng dengan pendapat or ang lain yang ber beda Saya t idak bisa mengabaikan or ang yang memint a-mi nt a di

  17. SS S TS STS j alanan Apabila saya melihat seseor ang kecewa, saya mudah mer asa 18.

  SS S TS STS sedih kar enanya Saya mer asa sangat mudah unt uk menger t i bagaimana seseor ang

  19. SS S TS STS akan memper sepsi sesuat u J i ka saya mar ah pada seseor ang, saya akan ber usaha unt uk 20.

  SS S TS STS t idak mengucapkan kat a-kat a yang dapat menyinggungnya Menur ut saya or ang yang ber cer it a panj ang lebar t ent ang

  21. SS S TS STS kesuksesannya sangat menyebalkan Rasanya sulit unt uk t idak t er t awa bila melihat seseor ang 22.

  SS S TS STS melakukan hal memalukan di depan umum Saya mer asa j engkel dan t idak sabar bila ber hadapan dengan

  23. SS S TS STS or ang yang bodoh Ter kadang saya t idak bisa memahami mengapa seseor ang mar ah 24.

  SS S TS STS kar ena alasan sepele Sehar usnya, saat sedih kit a t idak per lu memper lihat kannya

  25. SS S TS STS kepada or ang lain Ser ingkali saya mer asa sangat sedih melihat anak-anak j alanan 26.

  SS S TS STS yang memint a-mi nt a dilampu mer ah Ket ika or ang lain sedang gusar , saya cender ung dapat

  27. SS S TS STS memahaminya Saya mer asa sangat mar ah bila menget ahui seseor ang menipu 28.

  SS S TS STS or ang lain dengan sesukanya Saya akan ber sikap t idak peduli saat melihat seseor ang t er lihat

  29. SS S TS STS sedih Or ang cacat memiliki nasibnya sendir i, kit a t idak per lu mer asa 30.

  SS S TS STS sedih kar enanya Bagi saya, sulit unt uk memaaf kan t eman yang t elah ber buat 31.

  SS S TS STS salah t er hadap saya

  

32. Saya t idak suka mendengar cur hat an or ang lain SS S TS STS

  33. Melihat seseor ang t er t awa membuat saya bahagia SS S TS STS

  Saya mer asa sedih bila melihat seor ang bapak t ua mengemis di 34.

  SS S TS STS j alanan Kadang kala, saat saya ber usaha memahami t eman saya dengan

  35. lebih baik, saya mencoba membayangkan bagaimana sesuat u hal SS S TS STS bila dilihat dar i per spekt if dir inya

  36. Saya suka mendengar or ang lain mencer it akan per asaannya SS S TS STS

  Ter kadang saya t idak bisa menahan senyum bila meli hat 37.

  SS S TS STS seseor ang menangis

  

38. Saya t idak per duli bila seseor ang mer asa mar ah at as sikap saya SS S TS STS

  

39. Saya sulit unt uk simpat i pada t eman yang sedang ber sedih SS S TS STS

  40. Bila melihat seseor ang di copet , saya akan ber sikap t idak peduli SS S TS STS

  Saya mer asa mar ah set iap kali melihat seseor ang ber laku j ahat 41.

  SS S TS STS at au t idak adil t er hadap or ang lain

  

42. Melihat or ang lain kesakit an membuat saya mer asa t idak nyaman SS S TS STS

Saya sangat mudah t er bawa per asaan bila seseor ang ber cer it a

  43. SS S TS STS t ent ang kisah hidupnya Saya akan menj auh bila saya melihat seseor ang t engah ingin 44.

  SS S TS STS sendir i Sulit bagi saya unt uk ber simpat i pada seseor ang yang mer asa

  45. SS S TS STS kecewa

  46. Menangis hanyalah peker j aan or ang cengeng SS S TS STS

  

47. Rasanya menyenangkan membuat lelucon t ent ang or ang lain SS S TS STS

  48. Seor ang pembohong memang sehar usnya dij auhi oleh or ang lain SS S TS STS

  Set iap kali saya ber kat a kasar pada or ang lain, saya akan 49.

  SS S TS STS mer asa t idak enak Apabila saya melihat seseor ang t er luka, saya akan mer asa sedih

  50. SS S TS STS dan ber keinginan menolong mer eka Sebelum mengkr it ik seseor ang, saya akan mencoba 51. membayangkan bagaimana seandainya saya yang ber ada di

  SS S TS STS posisinya Saat melihat or ang lain sedih, saya sebisa mungkin mencoba

  52. SS S TS STS menghibur nya Boleh-boleh saj a kit a t er t awa di depan or ang yang sedang 53.

  SS S TS STS ber sedih, bila kit a memang mer asa bahagia Tidak mudah bagi saya unt uk mer asa t er har u saat mendengar

  54. SS S TS STS kisah sedih Saya malas membant u t eman yang mengalami kesulit an dalam 55.

  SS S TS STS memahami pelaj ar an

  

56. Melihat seseor ang yang sangat bahagia membuat saya kesal SS S TS STS

Saya ser ing kali ber sikap lunak, khususnya pada mer eka yang

  57. SS S TS STS t idak seber unt ung saya

  

58. Saya bisa menger t i mengapa seseor ang dapat ber t indak kr iminal SS S TS STS

Ter kadang saya mer asa or ang-or ang disekit ar saya ser ing mar ah

  59. SS S TS STS t anpa alasan

  

60. Saya t idak suka menghibur or ang yang t engah ber duka SS S TS STS

  

LAMPIRAN 2

RELIABILITAS

SKALA 1 dan SKALA 2

UJI COBA

  Reliability Uji Coba Skala Penerimaan Orang Tua Case Processing Summary N % Valid

  60 100.0 Excluded (a) .0

  Cases Total 60 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .970 120 Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item1a

  

342.15 2139.757 .641 .969 item2a

341.92 2141.366 .579 .969 item3a

342.57 2134.792 .641 .969 item4a

342.22 2153.291 .388 .970 item5a

342.17 2161.429 .313 .970 item6a

342.52 2150.254 .449 .970 item7a

341.92 2155.196 .404 .970 item8a

341.32 2165.610 .315 .970 item9a

341.80 2143.858 .552 .969 item10a

341.43 2154.860 .506 .969 item11a

342.25 2146.225 .465 .969 item12a

341.93 2147.318 .566 .969 item13a

341.58 2147.569 .535 .969 item14a

342.00 2162.847 .296 .970 item15a

342.40 2136.041 .566 .969 item16a

342.23 2140.351 .497 .969 item17a

342.78 2149.223 .492 .969 item18a

342.30 2141.366 .535 .969 item19a

342.07 2142.470 .573 .969 item20a

342.02 2142.220 .542 .969 item21a

342.35 2173.350 .157 .970 item22a

342.03 2168.101 .258 .970 item23a

342.00 2152.475 .478 .969 item24a

342.58 2144.925 .468 .969 item25a

341.70 2151.908 .478 .969

item26a

341.45 2153.133 .514 .969

item27a

342.37 2141.897 .476 .969

item28a

342.35 2133.994 .615 .969

item29a

341.25 2178.021 .174 .970

item30a

341.28 2156.444 .573 .969

item31a

341.17 2168.887 .406 .970

item32a

341.62 2156.783 .438 .970

item33a

342.72 2138.105 .635 .969

item34a

341.87 2132.931 .716 .969

item35a

342.30 2160.790 .314 .970

item36a

342.62 2143.020 .544 .969

item37a

341.72 2162.817 .377 .970

item38a

342.13 2151.982 .435 .970

item39a

342.72 2183.834 .044 .970

item40a

342.23 2146.080 .598 .969

item41a

341.97 2160.101 .363 .970

item42a

342.72 2150.681 .391 .970

item43a

342.18 2136.796 .623 .969

item44a

342.38 2147.393 .467 .969

item45a

342.42 2145.230 .550 .969

item46a

342.42 2163.400 .284 .970

item47a

342.85 2161.757 .285 .970

item48a

342.10 2167.651 .216 .970

item49a

343.03 2152.745 .410 .970

item50a

343.15 2150.672 .507 .969

item51a

342.52 2130.627 .661 .969

item52a

342.12 2131.596 .727 .969

item53a

341.73 2147.521 .577 .969

item54a

341.62 2152.308 .536 .969

item55a

341.60 2153.736 .466 .969

item56a

342.37 2142.575 .604 .969

item57a

342.92 2173.603 .199 .970

item58a

342.57 2152.521 .433 .970

item59a

341.62 2156.342 .431 .970

item60a

341.43 2160.046 .375 .970

item1b

342.18 2156.491 .475 .969

item2b

341.85 2145.926 .585 .969

item3b

342.52 2137.779 .589 .969

item4b

342.27 2160.402 .336 .970

item5b

342.23 2155.606 .392 .970

item6b

342.50 2151.475 .425 .970

item7b

341.75 2149.750 .478 .969

item8b

341.35 2159.960 .393 .970

item9b

341.65 2162.164 .404 .970

item10b

341.35 2162.096 .477 .970

item11b

item12b

341.87 2147.338 .631 .969

item13b

341.63 2147.287 .530 .969

item14b

342.03 2165.626 .263 .970

item15b

342.43 2141.233 .516 .969

item16b

342.30 2133.332 .564 .969

item17b

342.63 2151.287 .465 .969

item18b

342.32 2138.051 .572 .969

item19b

342.05 2139.472 .633 .969

item20b

341.88 2149.630 .500 .969

item21b

342.42 2169.942 .190 .970

item22b

341.93 2183.182 .060 .970

item23b

341.85 2155.384 .427 .970

item24b

342.80 2153.892 .405 .970

item25b

341.67 2157.887 .443 .970

item26b

341.60 2144.854 .545 .969

item27b

342.35 2145.655 .470 .969

item28b

342.43 2131.979 .659 .969

item29b

341.22 2182.139 .109 .970

item30b

341.23 2170.690 .426 .970

item31b

341.08 2182.179 .210 .970

item32b

341.68 2149.644 .506 .969

item33b

342.57 2140.012 .590 .969

item34b

341.85 2132.164 .759 .969

item35b

342.28 2166.783 .250 .970

item36b

342.62 2140.071 .545 .969

item37b

341.60 2157.532 .471 .969

item38b

342.07 2149.656 .480 .969

item39b

342.70 2184.383 .041 .970

item40b

342.15 2153.587 .496 .969

item41b

341.93 2152.809 .474 .969

item42b

342.60 2164.210 .276 .970

item43b

342.20 2136.705 .666 .969

item44b

342.32 2155.779 .408 .970

item45b

342.45 2143.099 .591 .969

item46b

341.85 2167.825 .285 .970

item47b

342.75 2157.411 .341 .970

item48b

342.20 2161.247 .272 .970

item49b

342.93 2146.741 .504 .969

item50b

342.87 2145.236 .527 .969

item51b

342.30 2135.366 .661 .969

item52b

342.07 2138.809 .711 .969

item53b

341.70 2157.434 .490 .969

item54b

341.65 2158.570 .430 .970

item55b

341.60 2160.583 .371 .970

item56b

342.47 2150.626 .503 .969

item57b

342.80 2161.078 .382 .970

item58b

item59b

341.68 2150.762 .478 .969

item60b

341.50 2156.864 .386 .970

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 344.98 2188.220 46.778 120

  Reliability Uji coba Skala Empati Case Processing Summary N % Valid

  60 100.0 Excluded (a) .0

  Cases Total 60 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .852

  60 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item1

169.40 191.905 .343 .849 item2

169.00 196.203 .208 .851 item3

169.32 191.881 .307 .850 item4

169.47 197.880 .096 .854 item5

168.73 194.538 .252 .851 item6

170.08 196.044 .178 .852 item7

169.30 192.315 .354 .849 item8

169.43 189.572 .408 .847 item9

168.72 193.257 .454 .848 item10

169.57 196.046 .147 .853 item11

169.05 201.574 -.066 .857 item12

168.98 192.457 .416 .848 item13

169.82 200.254 -.005 .855 item14

169.73 191.453 .336 .849 item15

169.62 193.088 .309 .850 item16

170.18 201.271 -.053 .856 item17

169.42 197.603 .146 .852 item18

169.58 193.535 .321 .849 item19

169.52 200.627 -.019 .855 item20

169.33 197.006 .141 .853 item21

169.73 189.656 .466 .847 item22

170.23 195.097 .248 .851 item23

169.62 201.901 -.085 .856 item24

169.93 200.233 -.003 .855 item25

169.28 198.071 .088 .854 item26

169.15 191.045 .427 .847

item27

169.25 193.343 .388 .848

item28

168.58 194.620 .349 .849

item29

169.03 192.812 .482 .848

item30

169.08 191.908 .388 .848

item31

169.53 196.151 .133 .854

item32

169.00 191.458 .458 .847

item33

168.83 192.785 .507 .847

item34

168.95 192.794 .494 .847

item35

169.07 194.436 .423 .849

item36

168.92 192.518 .527 .847

item37

169.08 191.230 .435 .847

item38

169.30 190.485 .440 .847

item39

169.08 190.925 .484 .847

item40

169.05 193.269 .415 .848

item41

168.95 197.404 .128 .853

item42

169.22 198.037 .106 .853

item43

169.15 191.926 .427 .848

item44

169.28 197.664 .133 .852

item45

169.45 192.726 .377 .848

item46

169.52 189.406 .447 .847

item47

169.50 189.000 .492 .846

item48

169.88 198.918 .060 .854

item49

169.12 191.088 .492 .847

item50

168.88 191.732 .507 .847

item51

169.07 195.284 .273 .850

item52

168.92 192.823 .477 .848

item53

169.13 192.389 .412 .848

item54

169.50 198.186 .102 .853

item55

168.97 193.694 .376 .849

item56

168.98 190.084 .489 .846

item57

169.40 197.498 .122 .853

item58

169.35 201.587 -.066 .857

item59

169.77 198.860 .063 .854

item60

168.83 192.548 .392 .848

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 172.17 200.718 14.167

  60

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara pengetahuan orang tua tentang autismedengan sikap penerimaan orang tua terhadap anak penyandang autistik
0
3
141
Hubungan antara pola komunikasi orang tua - remaja dengan konsep diri remaja
4
11
129
Hubungan antara persepsi dan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pengobatan tuberkulosis pada anak di kabupaten Sragen
0
3
94
Hubungan antarakelekatan remaja dengan orang tua dan perilaku merokok pada remaja di Yogyakarta.
0
1
130
Hubungan antara persepsi pengawasan orang tua bekerja dan perilaku seksual remaja di Batam.
0
2
151
Hubungan antara intensitas penggunaan smartphone pada orang tua dengan persepsi kualitas komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak pada masa kanak-kanak awal.
12
38
137
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan asertivitas remaja akhir.
0
2
134
Hubungan antara persepsi terhadap keterlibatan orang tua (ibu) dalam pendidikan dengan prestasi matematika pada siswa kelas V Sekolah Dasar
2
17
136
Hubungan antarakelekatan remaja dengan orang tua dan perilaku merokok pada remaja di Yogyakarta
2
6
128
Hubungan antara gaya atribusi orang tua dan remaja dengan depresi pada remaja - Ubaya Repository
0
0
1
BABI PENDAHULUAN - Hubungan antara persepsi remaja terhadap harapan orang tua dengan prestasi belajar matematika - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
10
BAB V - Hubungan antara persepsi remaja terhadap harapan orang tua dengan prestasi belajar matematika - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
13
Hubungan antara persepsi remaja terhadap harapan orang tua dengan prestasi belajar matematika - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
37
Hubungan antara persepsi terhadap dukungan sosial orangtua dengan penerimaan diri pada remaja penderita Thalassemia - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
38
Hubungan antara persepsi pola asuh orang tua demokratis dengan prestasi akademik pada remaja siswa SMP Negeri 3 Depok Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Show more