Upaya menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria stasi Majenang paroki Santo Stefanus Cilacap melalui katekese umat - USD Repository

Gratis

0
0
137
4 months ago
Preview
Full text

  

UPAYA MENUMBUHKAN HIDUP DOA

DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI UMAT

LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG

PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP

MELALUI KATEKESE UMAT

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  

Oleh :Anastasia Atmi Kurnia

NIM :041124036

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap

  

MOTTO

  Dan Bergembiralah Karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm 37:4)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 04 Februari 2009 Penulis,

  Anastasia Atmi Kurnia

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama: Anastasia AtmiKurnia NIM : 041124036

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

UPAYA MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI LINGKUNGAN

SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP MELALUI KATEKESE

UMAT

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata

  Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam pentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetapmenycantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 4 februari 2009 Yang menyatakan

  Anastasia Atmi Kurnia

  

ABSTRAK

UPAYA MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA

  Judul skripsi

  

KRISTIANI LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS

CILACAP MELALUI KATEKESE UMAT

  dipilih berdasarkan pada fakta bahwa pelaksanaan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap sangat memprihatinkan. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap belum melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Doa dalam keluarga dilaksanakan ketika bulan Novena atau bulan Rosario saja, dan dalam kehidupan sehari-hari keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap tidak melaksanakan kehidupan doa. Pembinaan berangkat dari kenyataan ini, maka skripsi ini dimaksudkan untuk membantu pembinaan keluarga-keluarga kristiani di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga.

  Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana mengupayakan agar keluarga- keluarga kristiani dapat melaksanakan hidup doa dalam keluarga. Untuk mengkaji masalah ini diperlukan data yang otentik. Oleh karena itu penelitian kecil dengan memberikan kuisioner kepada umat dilaksanakan. Disamping itu studi pustaka juga dilakukkan untuk mendapatkan gagasan-gagasan yang dapat dipergunakan sebagai sumbangan dalam membantu membangun hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani di sana.

  Hasil studi kepustakaan menunjukkan bahwa Shared Christian Praxis (SCP) merupakan suatu model katekese yang bersifat dialogis partisipatif. Katekese model ini bertujuan untuk membantu keluarga-keluarga kristiani dalam menumbuhkan hidup doa dalam keluarga. Katekese model ini juga mempunyai lima langkah pokok. Oleh karena itu keluarga- keluarga kristiani perlu kenal dan memahami katekese model ini. Untuk keperluan itu penulis menawarkan suatu program katekese model Shared Christian Praxis.

  

ABSTRACT

  The title of this script is: Expedient the grow of pray together in the Christianity familes in Saint Marie Majenang area, Saint Steven Cilacap parish by Catechism People. The reason I Choose this type is the fact that ritual pray ini the Christianity familes people in Saint Marie Majenang area, Saint Steven Cilacap Parish is very concered the fact look that several the Christianity familes Saint Marie Majenang area Saint Steven Cilacap parish is not to do ritual prayerin their family. Praying in the family to do when Novena mounth or Rosary mounth, and the daily lift the Christianity familes people Saint Marie, Majenang area Saint Steven Cilacap Parish hadn’t been seen there are pray lift.

  This script meant to be a metodological suggestion for Christianity familes Saint Marie Majenang area, Saint Steven Cilacap Parish for grow up ritual prayer in the families. Here are some questions wich I try to answer in this script: How concered the

  Christianity familes could carry out ritual prayer in their families. In order to answer accurately these questions, I had collected information by giving questionnaire answer ror the people Saint Marie Majenang area. I also look library study searching for books paralel on the method. There are some common books for got idea. In this way, I hope that my idea will have an alternative method for grow up ritual prayer in christianity families there.

  Out come a library study searching had seen that Shared Christian Praxis (SCP) is catechism method that partisipated dialoge. These catechism method meant help christian families in ritual prayer in families grow up. The cathecism method have five step. By the way the cristianity families could be introduce and to understood thise catechism method.

  In this script I will show and explain an example of the process of catechism with this method, wich can be use as method.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah karena kasihNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul UPAYA MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-

  

KELUARGA KRISTIANI UMAT LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI

MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP MELALUI KATEKESE

UMAT.

  Skripsi ini dilatarbelakangi oleh situasi hidup doa keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap dalam menumbuhkan hidup doa dalam keluarga. Penyusun ini menawarkan Katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dan sumbangan pemikiran dan diharapkan agar keluarga-keluarga kristiani terbantu dalam upaya menumbuhkan hidup doa dalam keluarga. Selain itu, tersusunnya skripsi initidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dengan setulus hati penulis mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Drs.H.J Suhardiyanto, S.J., selaku dosen pembimbing utama yang dengan penuh kasih membimbing penulisan skripsi ini.

  2. Yoseph Kristianto SFK. Sebagai dosen pendamping akademik sekaligus penguji ketiga yang membimbing dalam penulisan skripsi ini

  3. Dra. J. Sri Murtini, M. Si. Selaku dosen penguji ketiga yang mengarahkan dan membimbing dengan sabar dalam penulisan skripsi ini.

  4. Seluruh dosen, staf dan karyawan IPPAK, yang telah banyak membantu penulis selama studi di IPPAK.

  5. Bapak dan Ibu Yulius Sudarmono dan Theresia Subekti, kakak-kakak Stefanus Bangun

  Dian Rosari sebagai keluarga yang membiayai, menyemangati dan mendukung penulis selama studi di IPPAK

  6. Br Sidharta FIC dan Br. Valentinus Daru Setiaji FIC yang dengan stulus hati memberikan dukungan yang berupa materi serta moral sehingga penulis dapat termotivasi dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  7. Kekasihku Thomas Kelik Haryadi yang selalu memberikan semangat, sehingga penyusun termotivasi dalam penulisan skripsi ini.

  8. Sahabat-sahabat mahasiswa khususnya angkatan 2004, yang telah memberikan semangat sehingga penulis termotivasi.

  9. Rekan-rekan karyawan Rumah Retret Syalom bandungan-Ambarawa yang telah memberikan dukungan pada penulis sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini yang tidak dapat disebut, penulis mengucapkan terima kasih.

  Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sehingga penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

  Yogyakarta, 28Januari 2009 Penulis

  DAFTAR ISI Halaman

  HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PENDAMPING............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... iv MOTTO ............................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ………………. vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR....................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xi DAFTAR SINGKATAN................................................................................... xv

  BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………. 1 A. Latar Belakang Penulisan Skripsi………………………………............ 1 B. Rumusan Permasalahan………………………………………............... 3 C. Tujuan Penulisan………………………………………………….......... 4 D. Manfaat Penulisan…………………………………………………......... 4 E. Metode Penulisan …………………………………………………………. 5 F. Sistematika Penulisan…………………………………………............... 5 BAB II MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA KRISTIANI DAN KATEKESE UMAT…..... 6 A. Doa…………………………………………………………………….... 6 1. Pengertian Doa...................................................................................... 6

  3. Cara Berdoa......................................................................................... 8 4.

  Aneka Bentuk Doa.............................................................................. 8 B. Keluarga Kristiani................................................................................... 9 1.

  Pengertian Keluarga.................................................................... . …. 9 2. Pengertian Keluarga Kristiani…………………………………........ 9 3. Permasalahan dan Tantangan Keluarga Kristiani………................... 10 4. Pendukung dan Pembinaan Iman dalam Keluarga……………......... 13 C. Katekese Umat……………………………………………………......... 15 1.

  Gambaran Umum Tentang Katekese.............................................. … 15 2. Katekese Umat................................................................................... 19

  BAB III PELAKSANAAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP .......................................... 42 A. Pengantar.............................................................................................. .... 42 B. Laporan Hasil Penyebaran Kuisioner di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap ....................................... 43 1. Laporan Hasil Penyebaran Kuisioner Berrupa Tabel .......................... 43 2. Laporan Hasil Penyebaran Kuisioner berupa sharing 3. Pengalaman Hidup Doa Responden ................................................... 51 C. Pembahasan............................................................................................... 53 1. Situasi umum keluarga Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap ................................ 53 2. Doa dalam keluarga di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap................................ 56

  4. Harapan umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap atas hidup doa dalam keluarga………… 60 5.

  Makna Doa dalam Keluarga.................................................................... 61 6. Manfaat Doa............................................................................................. 62 7. Kesimpulan............................................................................................... 63

  BAB IV KATEKESE UMAT UNTUK MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP............ 65 A. Latar Belakang Pemilihan Program…………………………....................... 65 B. Alasan Pemilihan Tema…………………………………............................... 66 C. Usulan Program Katekese……………………………………...................... 69 1. Contoh Persiapan Katekese I Dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)………………………… 74 2. Contoh Persiapan Katekese II Dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)…………………............ 87 3. Contoh Persiapan Katekese III Dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)………………………. ….. 97 BAB V PENUTUP........................................................................................................ 107 A. Kesimpulan........................................................................................................ 107 B. Saran..................................................................................................................... 108 DAFTAR PUSTAKA............................................................................... ............... ..... 110 LAMPIRAN.............................................................................................................. ...... (1)

DAFTAR SINGKATAN

  AA Dokumen Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Kerasulan Awam Art Artikel CT

  Cetechesi Tradendae

  , anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, tentang Katekese masa kini, tanggal 16 Oktober 1979.

  IPPAK Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KB Keluarga Berencana KHK Kitab Hukum Kanonik, (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, tanggal 25 Januari 1983.

  KWI Konferensi Waligereja Indonesia LBI Lembaga Biblika Indonesia

  PKKI Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP Shared Christian Praxis St Santo-Santa USD Universitas Sanata Dharma S.J. Serikat Yesus PR Projo

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidup doa dalam keluarga dapat dilakukan secara sederhana. Doa sungguh

  memberi harapan, kekuatan dan bimbingan anggota keluarga tersebut. Hidup doa yang terbangun sejak dini akan berpengaruh besar bagi pertumbuhan dan perkembangan iman anak serta dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga, menciptakan kedekatan antar anggota keluarga. Kehangatan dalam keluarga akan tercipta berkat hidup doa yang tumbuh dalam keluarga.

  Doa bukanlah semacam pelarian dari tugas sehari-hari, melainkan sumber kekuatan bagi keluarga Kristen, untuk seutuhnya memikul dan memenuhi segala tanggung jawabnya sebagai sel utama dan mendasar bagi masyarakat manusia. Begitulah partisipasi nyata keluarga Kristen dalam kehidupan serta misi Gereja berada dalam proporsi langsung dengan kesetiaan serta intensifnya doa. Ikatan persatuan keluarga dengan pokok anggur yang subur yakni Kristus Tuhan. (AA,

  art 4 )

  Bahan pokok bagi doa dalam keluarga ialah kehidupan keluarga itu sendiri, yang dalam segala situasinya yang silih berganti merupakan panggilan dari Allah dan perlu dihayati sebagai tanggapan manusia selaku putera dan puteriNya terhadap sabda dan kehendakNya. Suka maupun duka dalam kehidupan keluarga menandai campur tangan Allah yang penuh kasih dalam sejarah keluarga itu. Hendaknya peristiwa-peristiwa itu dianggap sebagai saat-saat untuk bersyukur kepada Allah, memohon sesuatu dan menyerahkan keluarga dengan penuh kepercayaan ke dalam tangan Bapa di surga.

  Katekese Umat sebagai usaha menumbuhkan hidup doa dalam keluarga tidak hanya mau mengajarkan teknis dan manfaat dari doa dalam keluarga saja namun mengajak untuk sungguh merasakan dan mengalami serta mau melaksanakannya dalam keluarga. Pengalaman hidup berkeluarga para peserta merupakan unsur penting dalam katekese. Pengalaman dapat menyadarkan manusia akan keberadaannya, dapat membuat seseorang menemukan makna hidup dan menyapa seluruh pribadi serta dapat membuat seseorang berekspresi, berkomunikasi dengan yang lain serta berkreasi dalam hidupnya. Katekese mengolah pengalaman dengan cara jujur terhadap fakta, melihat dampak terhadap dirinya sendiri dan pengalaman yang dipahami sebagai tempat karya Allah yang menyelamatkan.

  Shared Christian Praxis (SCP) dipilih sebagai model Katekese Umat

  dalam menumbuhkan hidup doa pada keluarga-keluarga kristiani. Katekese model ini mengajak peserta mengingat kembali pengalaman hidupnya, mensharingkan pada kelompok dan mengolahnya menjadi pengalaman iman. Atas dasar pengalaman yang telah diolah tersebut, dapat dirumuskan niat-niat serta aktualisasi pada hidup peserta dalam keluarga.

  Penulis mengambil obyek penelitian keluarga-keluarga Kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang, Paroki Cilacap. Keluarga-keluarga di Lingkungan ini sama halnya dengan keluarga-keluarga yang lain di paroki Cilacap, kurang mementingkan hidup doa dalam keluarga.

  Kurang adanya kesadaran hidup doa dalam keluarga yang sebenarnya mempengaruhi kesadaran panggilan hidup berkeluarga sangatlah memprihatinkan, padahal hidup doa yang dibangun dalam keluarga, akan bisa mengurangi kemungkinan tumbuhnya berbagai masalah dalam keluarga karena keluarga tersebut dikuatkan dan diteguhkan oleh doa-doa mereka.

  Berdasarkan gambaran kehidupan doa keluarga-keluarga Kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap serta harapan di atas maka penulis memilih judul skripsi, Upaya Menumbuhkan

  

Hidup Doa dalam Keluarga-keluarga Kristiani Umat Lingkungan Santa

Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap Melalui Katekese

Umat”.

B. Perumusan Masalah 1.

  Bagaimana pelaksanaan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap? 2. Bagaimana peranan Katekese Umat menumbuhkan hidup doa dalam keluarga- keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo

  Stefanus Cilacap? 3. Bagaimana menerapkan Katekese Umat untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang

  Paroki Santo Stefanus Cilacap?

C. Tujuan Penulisan 1.

  Memaparkan pelaksanaan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  2. Menjelaskan peranan Katekese Umat untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  3. Menerapkan program Katekese Umat untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

4. Memenuhi salah satu Syarat kelulusan Sarjana Strata Satu (S1) Prodi IPPAK- USD, Yogyakarta.

D. Manfaat Penulisan 1.

  Memberikan gambaran pelaksanaan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  2. Memberikan sumbangan pemikiran tentang peranan Katekese Umat untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  3. Memberikan sumbangan Katekese Umat untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap bagi para pendamping keluarga-keluarga

  E. Metode Penulisan

  Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu metode yang menggambarkan dan menganalisa data-data yang diperoleh melalui studi pustaka dan penelitian di lapangan dan menindak lanjutinya.

  F. Sistematika Penulisan

  Skripsi ini mengambil judul “Upaya Menumbuhkan Hidup Doa dalam

  

Keluarga-keluarga Kristiani Umat Lingkungan Santa Maria Stasi

Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap Melalui Katekese Umat”. Judul

  tersebut akan diuraikan dalam lima bab sebagai berikut:

  Bab I Pendahuluan yang meliputi : Latar Belakang penulisan, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, Kajian Pustaka dan Sistematika penulisan. Bab II Menumbuhkan hidup doa, bab ini menguraikan gagasan menumbuhkan hidup doa, secara lebih khusus menumbuhkan hidup doa dalam keluarga. Bab III Situasi umum keluarga Katolik di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang, Paroki Santo Stefanus Cilacap. Bab ini menguraikan situasi hidup doa dalam keluarga-keluarga Katolik di mana penelitian dilakukan. Bab IV Usulan Katekese Umat sebagai salah satu cara menumbuhkan hidup doa dalam keluarga di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang, Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  Bab V Penutup, bab ini merupakan kesimpulan dan saran-saran serta kata penutup yang diambil dari hasil penulisan skripsi.

BAB II MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA KRISTIANI DAN KATEKESE UMAT A. Doa 1. Pengertian Doa Doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah

  kata cinta seorang anak pada Bapanya, maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia. Doa tidak membutuhkan banyak kata, tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus, meskipun dapat didukung olehnya (KWI, 1996: 194).

  Doa itu pada hakekatnya perjumpaan dialogis antara Allah dengan manusia. Perjumpaan antara Allah dengan manusia yang merupakan dialogis tersebut memiliki makna yang mendalam. Dialogis atau perjumpaan dengan Allah tersebut menjadikan manusia semakin mengenal Allah bahkan semakin dekat dan mengimani Allah (Green Thomas1988:)

  Sedangkan Breemen ( 1983: 55) menyatakan bahwa berdoa mengarahkan kita kepada hal-hal yang real nyata dan mengarahkan kepada hal-hal yang benar.

  Berdoa berarti memandang dengan mata iman segala kenyataan dengan lebih utuh dan tepat. Tuhan berbicara kepada seseorang pribadi setiap saat, asal masing- masing pribadi belajar untuk mendengarkan. Doa yang asli berakar dan terhadap realitas hidup, mengandaikan sikap penuh prihatin menanti kedatangan Tuhan dan menyongsong Dia masuk kedalam hati. Dalam perjumpaan dengan Tuhan seorang beriman perlu menenangkan sehingga sabda tuhan benar-benar dapat didengarkan. Menyempatkan diri untuk berdoa berarti berusaha tekun mencari Tuhan, baik hati dalam keadaan kosong ataupun terisi.

  Darminta (1982: 49) menguraikan bahwa doa sebagai ungkapan normal dari cinta manusia dalam hadirat Allah, tetapi tidak cukup untuk kehidupan rohani saja, namun yang lebih penting ialah melaksanakan dengan penuh cinta kehendak Allah. Mengenal, mencintai, dan melaksanakan kehendak Allah merupakan pokok hidup iman, harapan dan cinta. Dari segi hubungan antar pribadi kerinduan untuk bertemu dengan Allah dilihat sebagai kepenuhan dan kesempurnaan hidup yang merupakan pendorong untuk menyapa Allah. Doa merupakan gerak Allah menuju kepada manusia dan manusia menuju kepada Allah. Ada ritme pertemuan yang terdiri dari sapaan dan jawaban. Allah memberikan diri agar dilihat, ditemui dan dialami oleh manusia dan dalam doa manusia diajak untuk melihat Allah dalam kemuliaanNya.

2. Manfaat Doa

  Doa membantu untuk lebih mengenal diri yang semakin baik. Doa menghadapkan diri pada pribadi Allah. Doa akan membantu untuk mengenal diri yang lebih objektif dan menyeluruh. Doa yang ditunjukan kepada Allah akan menampakan pribadi melihat diri dengan mata Allah dan disertai dengan terang Allah ( Grun Anselm 1985: 19).

  Doa sebagai penyembuh luka bathin. Melalui doa Allah beserta Roh Kudus hadir untuk menyembuhkan. Doa dapat menyembuhkan luka bathin karena doa dapat mempersatukan pribadi dengan Allah ( Grun Anselm 1985:45).

  Bila orang tekun berpegang pada doa dan berusaha berdoa dengan tiada hentinya, maka ia akan menjadi sembuh sama sekali, lepas dari besar kecilnya kekuatan sendiri untuk melawan hawa nafsunya. Bagi peziarah Rusia itu doa dapat mengganti segala kerja mati raga ( Grun Anselm 1985:46).

  3. Cara Berdoa Berdoa yang merupakan berkomunikasi dengan Allah, diperlukan kesiapan ketika hendak berdoa. St. Ignatius menganjurkan, agar berdiri beberapa langkah dari tempat berdoa, hening sebagai waktu untuk mengenang kembali peristiwa ataupun pengalaman yang ada dan doa yang akan didoakan. Perlunya menyadari betapa agungnya karya ciptaan Allah serta syukur atas anugrah yang diberikan dalam hidup (Green Thomas 1988 : 87).

  4. Aneka Bentuk Doa Puji syukur dan permohonan merupakan dua bentuk doa pokok yang dibedakan oleh Gereja. Puji syukur merupakan merupakan tanggapan manusia atas segala anugerah yang diterima dari Allah. Puji syukur sebagai ungkapan rasa heran dan kagum atas segala kebaikan Allah. Anugrah yang paling agung yakni Allah mengutus putraNya Yesus Kristus dan Roh Kudus ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Puji syukur atas anugerah agung tersebut orang

  Dosa merupakan sumber utama kemalangan bagi manusia. Doa permohonan pertama-tama mohon pengampunan dan memohon belas kasih dari Allah. Manusia sering ditimpa malapetaka yang membuat kehidupannya menjadi gelap. Karena berbagai malapetaka yang dihadapi oleh manusia, yang perlu dimohonkan yakni agar diberi kekuatan untuk berjuang dalam segala peristiwa yang dialami. Permohonan dan puji syukur merupakan dua bentuk doa dari satu kenyataan hidup. Doa dapat diucapkan secara pribadi ataupun bersama-sama, diucapkan dengan mulut ataupun direnungkan dalam hati (KWI 1996: 198).

B. Keluarga Kristiani 1.

  Pengertian Keluarga Keluarga mempunyai banyak arti, salah satunya adalah sebuah komunitas hidup yang terdiri dari ibu, ayah dan saudara-saudara sekandung. Mereka hidup bersama-sama kesehariannya. Keluarga menjadi besar karena hadirnya sanak saudara yang lain. Rasa sebagai saudara tidak mungkin dibatasi pada mereka saja.

  Dalam keluarga besar rasa aman dapat diterima dari semua orang. Kepastian hidup dijamin di dalam keluarga ini (KWI, 1996: 127).

2. Pengertian Keluarga Kristiani

  Keluarga katolik bukanlah melulu organisasi, melainkan persekutuan anggota berdasarkan persaudaraan dan iman. Imanlah yang menentukan warna Gereja. Maka dlm keluarga Katolik, yang pertama-tama harus ada adalah iman untuk menghangatkan semangat kristiani di dalamnya, yaitu semangat pengabdian usaha yang terus menerus untuk kedamaian, kerjasama dan keselamatan keluarga (Budyapranata 1981: 20).

3. Permasalahan dan Tantangan Keluarga Kristiani a.

  Persoalan Keluarga Muda Perkembangan keluarga menuju kepersatuan yang harmonis tidak selalu selancar seperti yang diperkirakan oleh para pasangan kaum muda. Kelompok persoalan yang kerap kali dialami dalam keluarga muda di antaranya kurangnya pengenalan tentang kehidupan emosionil pasangannya, pudarnya cinta pertama, kecemburuan terhadap pasangan, ketegangan dalam keluarga karena suami atau istri lebih dekat dengan keluarganya daripada dengan pasangannya, kedatangan bayi sebelum suami istri cukup saling menyesuaikan diri dalam lingkungan keluarga dan sebagainya (Widyarta 1974:2-4).

  b.

  Persoalan Keluarga Kawin Campur Keharmonisan hidup perkawinan dan kelengkapan pendidikan anak sulit dibina jika terjadi perbedaan tata nilai hidup antara suami istri. Untuk mengusahakan pendidikan anak dalam keluarga secara Katolik sangatlah sulit, kalau orang tua kurang dalam menghayati nilai-nilai Kristiani. Bagi pasangan non Katolik melaksanakan janji-janji yang dibebankan tidaklah mudah seperti apa yang disanggupkan pada janji perkawinan (Widyarta 1974:5-6). c.

  Persoalan Keluarga Terpisah Perpisahan dalam sebuah keluarga yang karena adanya tugas-tugas atau perpindahan pekerjan dapat menimbulkan berbagai masalah dalam keluarga misalnya kurangnya perhatian terhadap pendidikan anak-anak, mulai pudarnya kesetiaan suami istri, kurangnya komunikasi dan sebagainya. Apapun alasannya suatu keluarga terpisah, yang terlalu lama ataupun yang telah menunjukkan ketidaklancaran komunikasi antara suami istri dan anak seharusnya diwaspadai (Widyarta 1974:7-8).

  d.

  Persoalan Keluarga Bekerja Meratanya pendidikan dan emansipasi wanita menyebabkan jumlah suami istri yang bekerja semakin meningkat. Namun muncullah persoalan- persoalan baru pada keluarga-keluarga yang orang tuanya sibuk bekerja, diantaranya terlantarnya pendidikan anak, berkurangnya perhatian terhadap keluarga dan sebagainya. Semakin banyaknya dibuka lapangan kerja bagi wanita dalam masyarakat, wajarlah bahwa banyak istri bekerja. Selain untuk menambah penghasilan keluarga namun ada juga yang karena dorongan atau motivasi pengembangan diri (Widyarta 1974: 9-10).

  e.

  Persoalan keluarga pada umumnya 1)

  Komunikasi suami istri Hubungan suami istri dalam keluarga pada umumnya sering terganggu karena kurang adanya saling pengertian dan saling menerima. Suami istri yang suami dan sebagainya. Kesulitan-kesulitan tersebut menunjukkan bahwa kesatuan suami istri memang perlu dijaga terus-menerus. Kesatuan suami istri itu bukan sesuatu yang bisa dicapai tetapi sesuatu yang perlu diusahakan dan dilestarikan selama hidup (Widyarta 1974: 11-12).

  2) Persoalan Pendidikan Anak dalam Keluarga

  Salah satu syarat kebahagiaan terpenting dalam pendidikan keluarga adalah suasana aman, rasa aman itu justru sering kali tidak bisa ditemukan oleh anak dalam keluarga. Mereka tidak menemukan penampungan kesulitan mereka dalam keluarga, mereka kurang krasan di rumah dan sebagainya. Penanaman kesadaran tanggung jawab pribadi walaupun tidak diawasi, kesadaran tanggung jawab akan tugas belajar secara mendalam umumnya masih belum berhasil (Widyarta 1974: 12-13).

  3) Persoalan Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga

  Di lingkungan keluarga para anggota sering tidak mudah mengungkapkan pengalaman batin atau rohaninya. Penghayatan serta pengalaman iman akan bertambah subur, bila komunikasi terpelihara, misalnya berupa “Sharing”, sementara merenungkan Kitab Suci, artinya: dalam renungan bersama setiap peserta mengemukakan apa yang ditemukannya, doa bersama.

  Anak dalam keluarga memiliki hak untuk mengembangkan iman yang telah tumbuh dalam dirinya. Orangtua merupakan yang bertanggung jawab secara penuh dalam mendidik iman anak. Dalam perkawinan Katolik, anak berhak

  4) Ekonomi Rumah Tangga Salah satu urat nadi dari kehidupan rumah tangga yakni perekonomiannya.

  Justru dalam hal ini banyak kesulitan yang harus dialami oleh keluarga pada umumnya. Munculnya permasalahan tersebut diantaranya karena mereka kurang mampu mengatur ekonomi rumah tangga, keluarga yang dibebani kewajiban menanggung penghidupan sanak keluarga, keluarga bertempat tinggal dengan sanak keluarga dan sebagainya. Kesejahteraan keluarga tidak akan lebih baik jika keluarga tidak memiliki cara berfikir ekonomis (Widyarta 1974: 13-14).

  5) Perencanaan Kelahiran Anak

  Dengan adanya kegiatan-kegiatan pemerintah untuk memasyarakatkan Keluarga Berencana (KB) kini di keluarga tertentu, terutama di kota penggunaan sarana-sarana KB telah dilakukan. Sekalipun demikian, bagi kebanyakan keluarga Katolik persoalannya masih belum jelas. Bagi penduduk yang bermukim di desa banyak keluarga yang kurang memperhatikan tentang pengaturan jarak kelahiran anak. Banyak yang lebih cenderung untuk menyerahkan pada kehendak Tuhan. Pemakaian alat-alat pembatasan kelahiran masih diragukan atau bingung karena takut berdosa (Widyarta 1974: 15-16).

  Dari berbagai permasalahan yang umumnya terjadi dalam keluarga seperti diatas, dapat dipahami bahwa permasalahan-permasalahan dalam keluarga tersebut dapat menghambat terbangunnya hidup doa bersama dalam keluarga. Seringkali keluarga-keluarga kurang menyadari bahwa pentingnya doa bersama dalam keluarga terlebih ketika sedang mengalami permasalahan dalam keluarga. berkeluarga dan terlebih demi semakin kuatnya iman serta keharmonisan keluarga.

4. Pendukung dan Pembinaan Iman dalam Keluarga

  Permasalahan penghayatan iman dalam keluarga tidak jarang timbul karena kurangnya pengertian iman sebab seringkali bimbingan iman hanya diterima selama katekumenat. Maka tidak mengherankan juga bila banyak orang tua kurang menyadari tanggungjawabnya untuk menanamkan agama dalam hati anak-anak. Oleh karena itu pengetahuan dan kesadaran orang tua sendiri perlu ditingkatkan, sebagai yang memiliki peranan pada setiap peristiwa penting dalam kehidupan iman anak: misalnya dalam permandiannya, pada pembentukan gambaran Allah ketika anak masuk sekolah, pada persiapan untuk menerima komuni pertama, atau persiapan menerima sakramen tobat, pada persiapan menerima sakramen penguatan dan sebagainya. Keluarga menjadi tempat persemaian adat istiadat dan iman Katolik. Demikianlah dalam hidup sehari-hari tidak hanya ada pengakuan iman melainkan penghayatannya perlu dirasakan juga dalam setiap kegiatan (Budyapranata 1981: 99).

  Penghayatan serta pengalaman iman akan bertambah subur, bila komunikasi terpelihara misalnya dengan sharing, merenungkan Kitab Suci.

  Dalam merenungkan Kitab Suci bersama, setiap peserta mengemukakan apa yang ditemukannya, doa bersama. Anak-anak yang tumbuh berkat pengaruh suasana Katolik dalam keadaan yang meresapi kehidupan keluarga: ada doa besama setiap hari dan dalam keadaan tertentu misalnya bila ada yang sakit menghadapi soal pada hari biasa sebagai wakil keluarga yang dapat memberi teladan bagi anggota keluarga yang lain (Budyapranata 1981: 97).

C. Katekese Umat 1.

  Gambaran Umum Tentang Katekese Dalam hidup menggereja penghayatan iman umat lebih ditekankan daripada sekedar pengetahuan iman, tetapi pengetahuan iman juga amat penting untuk mematangkan iman. Katekese membantu umat untuk dapat meningkatkan penghayatan iman. Iman merupakan dasar kehidupan menggereja bagi umat.

  Kehidupan menggereja kiranya tidak dapat berjalan dengan baik jika iman umat tidak terjaga.

  a.

  Pengertian Katekese Katekese ialah pembinaan terhadap berbagai pihak, anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam hal iman. Pembinaan itu mencakup penyampaian ajaran Kristen yang diberikan secara organis dan sistematis. Pembinaan itu mempunyai maksud untuk mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT, art. 18). Sasaran kegiatan bina iman adalah anak- anak, kaum muda dan orang dewasa. Katekese yang organis dan sistematis membuat pelaksanaan menjadi lebih baik. Katekese memiliki tujuan dalam hal kepenuhan hidup Kristen. Hal ini merupakan sebuah tujuan pembinaan yang tidak berorientasi pada hal duniawi, seperti harta dan kekuasaan. Tujuan ini membedakan masyarakat kelompok agama dengan kelompok lain, seperti

  Katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan Sabda Allah dalam Gereja (CT, art. 17). Seluruh kehidupan Gereja berkaitan erat dengan katekese terutama perkembangan rohani dan keselarasan dalam hidupnya dengan rencana Allah secara hakiki tergantung pada katekese (CT, art. 13). Katekese sebagai salah satu bentuk pelayanan sabda, dapat membantu umat beriman semakin mengimani Yesus dan memperoleh hidup dariNya. Katekese membina serta mendidik umat dalam hidup dan pembangunan Tubuh Kristus (CT, art. 1).

  Katekese dimengerti secara luas sebagai usaha saling tolong menolong dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup menurut pola Kristus demi kedewasaan Kristiani yang penuh (Setyakarjana, 1997: 17). Pengertian ini mengandung prinsip bahwa katekese adalah proses pewartaan sabda Allah melalui komunikasi iman antar anggota orang yang beriman kepada Kristus.

  b.

  Tujuan Katekese Pelaksanaan katekese mempunyai tujuan dan maksud yang hendak dicapai. Tujuan katekese adalah berkat bantuan Allah iman yang baru tumbuh dikembangkan. Katekese bertujuan memekarkan iman yang mulai tumbuh menuju kepenuhannya, memantapkan peri hidup Kristen umat beriman, baik tua ataupun muda (CT, art. 20).

  Misteri Kristus dalam cahaya firman Allah akan meresapi pribadi manusia dan mengubahnya menjadi ciptaan baru. Hal itu juga merupakan tujuan katekese.

  (CT, art. 20). Menjadi ciptaan baru berarti menjadi manusia yang telah mati dari dosa berkat salib Kristus. Iman akan Kristus yang mulai tumbuh dan berkembang berarti menerima hidup baru yakni, kehidupan lama yang diliputi dosa diubah menjadi hidup anak-anak Allah yang mulia. Perubahan hidup dari manusia lama menjadi manusia baru terjadi berkat iman akan Kristus.

  Katekese sungguh diperlukan sebab bertujuan mendampingi jemaat Kristen agar mampu mencapai kesatuan iman dan kedewasaannya dalam hidup beriman (CT, art. 25). Hal ini kiranya mendukung untuk kegiatan pembangunan jemaat atau kegiatan pastoral. Pembangunan jamaat mengokohkan kesatuan iman umat. Banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi. Umat mesti harus mengahadapi tantangan dan dapat membela diri menangkal serangan yang menggoyahkan kekokohan kesatuan umat Allah.

  Katekese menurut Sumarno (2005: 1) dalam Program Pengalaman

  

Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki., memiliki tujuan tergantung dari

  pengertian katekese. Jika katekese dipandang sebagai pengajaran iman maka tujuannya adalah isi iman dapat dimengerti oleh peserta. Katekese jika dimengerti sebagai komunikasi iman maka yang menjadi tujuan katekese adalah berkat terjadinya saling mengungkapan pengalaman iman, iman peserta diteguhkan. Jika katekese dipandang sebagai pendidikan iman maka bertujuan mematangkan dan mendewasaan iman. Secara singkat tujuan katekese adalah perkembangan iman menuju kedewasaan atau kematangan.

  c.

  Isi Katekese Katekese adalah proses pendidikan dan pembinaan iman. Isi katekese adalah isi pewartaan Injil secara menyeluruh demi keselamatan (CT, art. 26). bukan ajaran yang telah diberikan tetapi isi katekese adalah perjumpaan dan pengolahan pengalaman iman Kitab Suci dan pengalaman hidup umat.

  Isi katekese sekarang adalah sejarah keselamatan manusia melalui Kristus. Hal ini berbeda dengan katekese lama yang menitikberatkan pada doktrin. Kristus yang menyelamatkan diwartakan dan setiap orang beriman menerimaNya agar realitas dosa yang menghambat dan membatalkan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dapat dihancurkan (Bataona, 1978: 22).

  d.

  Peserta Peserta katekese adalah orang-orang yang perlu mengalami katekese.

  Peserta yang mengalami katekese antara lain anak-anak, kaum remaja, kaum muda, kaum dewasa, kaum penyandang cacat, dan kaum lanjut usia (CT, art. 35- 45). Pihak-pihak itu disebutkan sebagai penegasan bahwa mereka yang berada di dalam Gereja Kristus wajib menerima katekese.

  Peserta Katekese merupakan sekelompok orang yang beriman Kristiani. Kedewasaan iman hendak dicapai bagi peserta, lingkungan peserta, kelompok umur peserta, kebudayaan dan masalah yang menjadi keprihatinan peserta juga menjadi fokus perhatian katekese yang merupakan bagian keseluruhan dari peserta. Hal itu menjadi perhatian sebab berguna dalam penentuan tema serta metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta. Fokus perhatian terhadap peserta mendukung terwujudnya tujuan katekese (Setyakarjana, 1997: 16). e.

  Pembimbing Katekese Pembimbing Katekese adalah seseorang yang diserahi tugas memberi pendidikan keagamaan dan latihan bagi kehidupan seturut Injil (CT, art. 62).

  Pengertian pendidik secara luas menjadi pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pembinaan iman kristiani. Mereka yang bertanggung jawab antara lain para uskup, para imam, katekis awam, pihak paroki, pihak keluarga, pihak sekolah, organisasi-organisasi, dan pusat-pusat pembinaan (CT, art. 63-71).

  Katekis dalam proses katekese bukan sebagai guru tetapi lebih menunjukan peran sebagai pembimbing, pengarah, atau disebut sebagai fasilitator.

  Kemauan dan kemampuan adalah faktor utama dari seorang pembimbing yang menentukan dalam pelaksanaan katekese. Kemauan untuk mendampingi umat timbul di dalam hati seorang pendamping. Kemampuan untuk mengarahkan umat harus ada di dalam diri seorang pendamping seperti memilih metode dan sarana yang mendukung proses katekese. Kepekaan dituntut juga dalam diri pembimbing untuk memahami apa yang menjadi harapan umat. Seorang Katekis perlu mempunyai sikap tegas dalam mengarahkan umat untuk mencari apa yang dibutuhkan oleh umat (Setyakarjana, 1997: 16).

2. Katekese Umat

  Katekese Umat telah dicetuskan sebagai arah katekese di Indonesia. Para pakar saat itu berhasil merumuskan arah katekese di Indonesia. Sesuai dengan hasil pemikiran mengenai arah katekese di Indonesia, arah katekese di Indonesia adalah Katekese Umat. Katekese Umat dalam perjalanannya mengalami berbagai macam perkembangan. Seiring perkembangan itu berbagai model untuk Katekese Umat dicetuskan.

  a.

  Latar Belakang Munculnya Katekese Umat Berbagai macam hal yang melatarbelakangi munculnya Katekese Umat yakni budaya musyawarah, arus demokrasi zaman itu, majunya ilmu tentang manusia dan gambaran Gereja. Budaya musyawarah terbiasa dengan pembicaraan permasalahan secara bersama. Hal ini membuat segala masalah yang diungkapkan dalam Katekese Umat dibahas bersama-sama. Kesamaan hak bersuara dalam demokrasi kala itu membuat umat dalam Katekese Umat dapat dengan bebas mengungkap segala hal yang menjadi permasalahan untuk dibahas bersama. Perkembangan ilmu tentang menusia tidak memandang manusia sebagai obyek tetapi sebagai subyek yang membuat proses Katekese Umat subyeknya adalah umat sendiri. Gambaran Gereja telah berubah berkat memunculkan Katekese Umat yang tidak terlalu bergantung kepada hirarki. Latar belakang munculnya ketekese umat dipengaruhi oleh arus demokrasi zaman saat itu, kemajuan ilmu tentang manusia, dan gambaran Gereja saat itu.

  1) Budaya musyawarah

  Musyawarah merupakan kegiatan dimana sebuah permasalahan dibicarakan secara bersama-sama. Setiap orang yang ikut serta dalam pembicaraan tersebut memiliki hak yang sama untuk bersuara. Setiap permasalahan diungkapkan oleh setiap peserta. Permasalahan dibicarakan bersama dan keputusan atas permasalahan tersebut diambil secara bersama-sama. dilaksanakan. Musyawarah menunjukan adanya suasana demokratis. Kesamaan hak mendapat tempat yang besar bagi setiap orang. Kebebasan untuk mengeluarkan pendapat diberikan kepada setiap orang (Lalu, 2005: 77). Kebiasaan musyawarah yang ada di dalam masyarakat memberikan pola pada Katekese Umat. Katekese Umat diilhami dari kebiasaan musyawarah masyarakat desa, masyarakat akar rumput atau rakyat jelata. Kebiasan berembuk atau membahas masalah secara bersama-sama dimasukkan di dalam Katekese Umat. Suasana demokratis dibentuk dalam Katekese Umat.

  2) Arus demokrasi zaman saat Katekese Umat dicetuskan

  Sering dikatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat. Kekuasaan berasal dari rakyat, yang menjadi pemimpin adalah rakyat.

  Seluruh rakyat ikut memerintah. Hal ini berarti berbagai elemen masyarakat terlibat dengan berbagai kepentingan di dalamnya. Agar dapat kepemimpinan berjalan baik maka dilakukanlah dengan perwakilan dan musyawarah. Keputusan yang diambil dalam musyawarah itu menjadi konsensus yang ditaati secara bersama. Jaminan atas hak asasi manusia menjadi ciri khas demokrasi. Kedudukan warga negara di mata hukum dan pengadilan sama, diakuinya hak politis seperti berkumpul dan beroposisi. Arus demokrasi zaman itu ialah peranan aktif dari rakyat sebagai sikap budaya yang kemudian memunculkan ide tentang Katekese Umat (Lalu, 2005: 46-47). Peranan aktif umat menjadi sikap budaya sebagai arus demokrasi zaman itu tetap mempertahankan beberapa unsur seperti kedaulatan rakyat, kebebasan, kesamaan hak, konsensus atau kesepakatan

  Katekese Umat. Katekese Umat sangat menekankan peranan umat. Hal ini menjadi sikap budaya yang menggantikan kebiasaan tergantung pada pejabat Gereja. Umat yang berprakarsa dan berperan aktif dalam membangun kehidupan iman.

  3) Kemajuan ilmu-ilmu tentang manusia

  Pandangan dunia mengenai manusia saat ini telah berubah. Perubahan ini dipengaruhi oleh keberadaan ilmu-ilmu tentang manusia. Ilmu tersebut memilki perkembangan yang pesat diantaranya ialah psikologi, pedagogi dan antropologi. Perkembangan itulah yang berakibat pada perubahan pandangan tentang manusia. Manusia dahulu dipandang seperti kertas putih kosang atau seperti sebuah botol kosong. Keberadaannya yang demikian berpengaruh pada pendidikan untuk perkembangan diri manusianya. Seperti sebuah kertas putih kosong atau seperti sebuah botol untuk mendidik manusia tinggal mengisi kekosongan itu. Manusia dianggap belum mengetahui apa-apa dan tidak berbekal suatu apapun. Pengetahuan yang telah dimiliki oleh pendidiknya ditransfer kepada peserta didik. Saat ini berkat perkembangan ilmu tentang manusia pandangan terhadap manusia berubah. Manusia dipandang seperti sebuah tumbuhan yang telah memiliki daya tumbuh di dalam dirinya. Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang seperti pada tumbuhan terdapat di dalam diri manusia. Proses pengembangannya sekedar memberi sarana atau bantuan agar dapat tumbuh lebih subur. Proses belajar manusia bukan pertama-tama menerima bahan tetapi mengasimilasikan dan penemuan makna baru dari bahan yang dipahaminya. Katekese Umat dengan manusia di dalam dirinya. Seseorang yang hadir tidak dianggap tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan. Melainkan sangat diharapkan ia dapat mengungkapkan keberadaan dirinya dengan segala yang dimilikinya. Proses Katekese Umat yang terjadi di dalamnya bukanlah transformasi pengetahuan tetapi sebuah komunikasi iman, saling berbagi atau tukar pengalaman iman yang terjadi dua arah saling memberi dan menerima. Berbeda dengan model transformatif yang membuat peserta menjadi pasif (Lalu, 2005: 49-50).

  4) Gambaran Gereja saat itu

  Gereja kini telah merumuskan kembali gambaran akan dirinya yang sesuai dengan situasi zaman. Ada tiga gambaran tentang Gereja yang melatarbelakangi munculnya Katekese Umat. Tiga gambaran Gereja masa kini adalah Gereja umat Allah, Gereja sebagai sakramen dan Gereja kaum miskin.

  Gereja umat Allah ialah Gereja yang di dalamnya terdiri dari para awam, hirarki dan biarawan-biarawati. Umat Allah yang dimaksud ialah bangsa yang dipanggil dan dipilih Allah. Umat Allah yang dipanggil itu untuk menjadi milik Allah dan menyelamatkan dunia. Gereja dipandang berkembang dari bawah dan segi kharismatis ditekankan. Gereja umat Allah mendapat bentuk di dalam Katekese Umat. Bentuk dari gambaran sebagai umat Allah terlihat peran serta umat yang menonjol, umat menjadi pusat tidak tergantung hanya kepada hirarki.

  Katekese Umat mewujudkan persekutuan umat dengan berbagai macam perbedaan yang ada di dalam diri umat. Peserta Katekese Umat semuanya sederajat saling meneguhkan dan memperkaya lewat komunikasi iman (Lalu,

  Gereja sebagai sakramen berarti sebagai tanda dan sarana karya keselamatan Allah. Gereja bagi dunia yang diselamatkan memiliki fungsi. Fungsi Gereja bagi dunia membantu manusia untuk membangun relasi yang hidup dengan Allah. Dasar dari penyelamatan dunia ialah dunia yang sesuai dengan semangat iman. Dunia disesuaikan dengan semangat Pencipta dan sang Penebusya. Tugas perutusan Gereja ialah membawakan amanat Kristus kepada manusia di dunia. Dunia sebagai tempat tinggal manusia semakin disempurnakan dan diresapi dengan semangat Injili. Membawa amanat ialah tugas Gereja berkait dengan penghayatan iman. Penyempurnaan dunia terarah pada masyarakat yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera (Lalu, 2005: 52-53). Latar belakang yang demikian melahirkan Katekese Umat. Masalah-masalah yang aktual diungkap di dalam Katekese Umat. Katekese Umat juga merupakan usaha transformasi sosial. Hal ini dilatarbelakangi oleh Gereja yang senantiasa membangun dan menyempurnakan dunia sebagai tempat segala aktivitas sosial.

  Gereja kaum miskin yakni merupakan Gereja untuk kaum miskin, Gereja kaum miskin menunjukkan hakikat Gereja. Gereja kaum miskin memperlihatkan kehadiran kaum miskin yang nyata masuk dalam cakrawala pemikiran tentang Gereja. Kaum miskin perlu diberdayakan. Keterlibatan mereka mendapat tempat penting. Kaum miskin menjadi pelaku utamanya. Mereka menjadi subyek bukan obyek pelayanan pastoral. Gereja membangun hidup menggerejanya sebagai orang miskin dan tertindas. Gereja kaum miskin melatarbelakangi Katekese Umat.

  Latar belakang demikian yang memunculkan partisipasi umat. Umat yang partisipatif melibatkan diri berfikir, berbicara, menganalisa, merefleksi, dianggap tidak bermartabat. Latar belakang Gereja kaum miskin memunculkan Katekese Umat yang mengangkat martabat mereka yang dianggap tersisih dan tidak bermartabat. Lebih lanjut Katekese Umat berproses untuk memberdayakan mereka dan memerdekakannya (Lalu, 2005: 58-61).

  b.

  Rumusan Katekese Umat Rumusan Katekese Umat ditemukan, setelah berjalan tanpa arah akhirnya kegiatan bina iman di Indonesia menemukan arah yang jelas. Arahan yang jelas berjalannya kegiatan bina iman di Indonesia dapat dilihat dari rumusan yang telah dihasilkan. Rumusan yang memperjelas arah katekese di Indonesia itu di dalamnya mencakup arti dan makna, tujuan, peserta pendamping, dan suasana. Rumusan Katekese Umat disajikan di bawah ini berdasarkan hasil PKKI II yang dipaparkan oleh Huber (1980: 15-16) dalam Katekese Umat.

  1) Arti dan makna Katekese Umat

  Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antara anggota jemaat. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkandan dihayati secara sempurna. Dalam Katekese Umat tekanan terutama diletakkan penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan ada perencanan (Huber, 1980: 15). Katekese adalah komunikasi iman yang dilakukan antar sesama peserta, maka lebih diharapkan sesama peserta yang saling berkomunikasi bukan komunikasi peserta dengan pendamping. Proses komunikasi yang terjadi demi membangunan jemaat. Hal yang dikomunikasikan ialah penghayatan iman akan Kristus bukannya pengetahuan tentang rumusan iman. Rumusan iman tetap

  1980: 18). Komunikasi iman yang dimasud adalah tuar pengalaman iman. Umat saling bertukar pengalaman dalam Katekese Umat. Satu sama lain diantara umat saling membagikan pengalamanya. Umat menceritakan pengalaman hidupnya dimana Tuhan berkarya. Diharapkan pengalaman yang dibagikan dapat memberi inpirasi hidup bagi umat.

  Bidang pembinaan iman mempunyai cakupan yang luas sekali. Arah katekese di Indonesia dirumuskan adalah Katekese Umat. Kegiatan Katekese termasuk salah satu bidang usaha pastoral Gereja. Katekese dalam bidang usaha pastoral Gereja memiliki pengaruh yang benar dalam bidang pembinaan iman.

  Spesifikasi atau kekhasan katekese dalam bidang usaha tersebut ditunjukkan dengan adannya perencanaan dan keteraturan. Rumusan Katekese Umat dicetuskan juga untuk mangungkapkan arah usaha kateketis pada umumnya (Huber, 1980: 18). Perencanaan terhadap Katekese Umat merupakan rancangan untuk pelaksanaannya. Rancangan itu diwujudkan dengan pembuatan program Katekese Umat, yang kemudian diikuti dengan pembuatan persiapan pertemuan Katekese Umat.

  2) Isi Katekese Umat

  Dalam Katekese Umat itu kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menghadapi sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam perjanjian baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja di sepanjang tradisinya (Huber, 1980: 15).

  Bagian ini menegaskan bahwa pola dan penentu Katekese Umat adalah Yesus Kristus. Isi dan cara komunikasi iman yang terjadi ditandai dengan Yesus yang dikomunikasikan dalam Katekese Umat hendaknya di tanggapi dan ditampung serta mendalami satu pokok saja. Pembicaraan yang tidak berkesinambungan dalam Katekese Umat tidak dicita-citakan (Huber, 1980: 19). Sebuah pembicaraan dapat terjadi jika terdapat bahan yang dibicarakan. Sebagai bahan pembicaraan dalam Katekese Umat adalah pengalaman iman yang diambil dari Kitab Suci atau tradisi Gereja dipertemukan dengan pengalaman umat atas peristiwa hidup sehari-hari. Singkatnya pengalaman iman Kitab Suci dan pengalaman hidup umat merupakan isi dari Katekese Umat. Keduanya diolah dan dibahas oleh peserta sendiri dengan dipandu oleh seorang fasilitator.

  3) Peserta Katekese Umat

  Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman, yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus; Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula kehidupan pribadi dan kelompok; jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok basis maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese sekarang. Penekanan pada peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri (Huber, 1980: 15).

  Seluruh Gereja menjadi tujuan kegiatan bina iman yang dibuat. Oleh sebab itu peserta katekese ialah semua orang beriman. Hal ini menegaskan keseluruhan tujuan kegiatan bina iman. Pembinaan iman tidak saja ditujukan bagi sebagian umat namun segenap warga umat terpanggil untuk terus membina dan mendalami imannya akan Yesus (Huber, 1980: 20).

  Umat sebagai peserta katekese ialah mereka yang secara pribadi memilih Kristus. Pilihan akan Kristus dijatuhkan oleh mereka secara mutlak. Baptis sebagai tanda akan pilihan itu yang ditentukan. Secara pribadi mereka yang memilih Kristus dipersiapkan dengan menjadi katekumen (Huber, 1980: 20).

  Mereka sebagai peserta Katekese Umat bebas berkumpul untuk memahami Kristus. Segala paksaan seharusnya tidak dilakukan oleh Gereja kepada setiap orang beriman untuk melakukan suatu hal. Sama halnya dengan melakukan kegiatan bina iman setiap peserta di dalamnya tidak dipaksa untuk mengikutinya. Peserta dengan bebas mengikutinya didasari dengan kerelaan hati (Huber, 1980: 20).

  4) Pendamping Katekese Umat

  Dalam ketekese yang menjemaat ini pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (Fasilitator). Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese Umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese. Tugas mengajar yang dipercayakan kepada hirarki menjamin kekayaan iman berkembang dengan lurus (Huber, 1980: 15-6). Katekese agar dapat berjalan dengan lancar perlu didampingi oleh seorang pemandu. Pendamping katekese mempunyai berbagai macam sebutan seperti katekis, guru umat, vorhanger, guru Minggu, ketua umat, guru agama, dan sebagainya. Menyebutkan keberadaan pendamping katekese hendak menekankan apa yang diharapkan, bagaimana membawa diri dan fokus perhatian seorang pendamping katekese (Huber, 1980: 20). Pendamping Katekese Umat adalah fasilitator. Fasilitator adalah seseorang yang mempermudah peserta berproses dalam Katekese Umat, seperti pendamping membantu peserta untuk dapat berbicara dan pendamping membantu peserta menemukan makna teks Kitab suci

  Pendamping membawa diri tidak sebagai pembesar. Ia tidak mengindoktrinasi, tidak bersikap seakan-akan dirinya paling pandai dan menyampaikan suatu hal pada yang bodoh. Seperti Yesus pemimpin katekese berlaku sebagai pelayan. Pendamping Katekese Umat mengusahakan suasana Kristen dimana ada kepercayaan, ada harapan, dan ada penghargaan. Pembicaraan diarahkan oleh pendamping Katekese Umat kapada salib Kristus. Pendamping Katekese Umat dapat melayani peserta. Input yang diminta diberikan oleh pendamping dan mengenai waktu serta tempat kegiatan biarlah umat yang melakukannnya (Huber, 1980: 22). Pendamping agar dapat melayani umat dengan baik maka perlu membuat program pendalaman iman dan persiapan pendalaman iman.

  5) Suasana Ketekese Umat

  Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses terencana ini berlangsung terus-menerus (Huber, 1980: 16). Suasana yang terjadi dalam Katekese Umat yakni suasana yang sederajat peserta merasa sebagai komunitas yang mempunyai rasa setia kawan. Dalam suasana kesetiakawanan itu bersama-sama menuju kepenuhan Kristus. Kesetiakawanan itu ditunjukkan dengan mengahargai setiap sumbangan yang diberikan oleh peserta (Huber, 1980: 22).

  Suasana terbuka dan dialogis merupakan yang terjadi di dalam Katekese umat. Suasana tersebut adalah terbangunnya keterbukaan satu sama lain. Suasana yang demikian bertentangan dengan nafsu mencari kedudukan dan gengsi serta mementingkan diri sendri melainkan saling menerima satu sama lain. Suasana itu berlawanan dengan kesombongan yang meremehkan orang lain. Suasana Katekese Umat yang terbentuk tidak lagi membedakan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi, antara hamba dan orang bebas, antara laki-laki dan perempuan.

  Suasana itu membuat semua saudara yang hadir satu dalam Kristus (Huber, 1980: 22). Suasana yang diciptakan dalam Katekese Umat menjadi penting, sebab pembinaan iman yang membuat iman sungguh ditumbuhkan dan dikembangkan pertama-tama dapat diwujudkan dengan membangun suasana hidup beriman.

  6) Tujuan Katekese Umat

  Tujuan komunikasi iman itu ialah:

  • Supaya dalam terang injil kita semakin meresapi arti pangalaman- pengalaman kita sehari-hari;
  • Dan kita bertobat kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari;
  • Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup Kristiani kita;
  • Pula kita semakin bersatu dalam Kristus, semakin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tantang Kristus dalam hidup - kita di tengah masyarakat (Huber, 1980: 16).

  Kegiatan katekese yang berjalan mempunyai dua arah tujuan, berkait dengan pengalaman peserta dan pengalaman iman Gereja. Tujuan itu mempunyai sorotan yang berbeda-beda. Tiga tujuan pertama memperhatikan peserta. Dua tujuan berikutnya memperhatikan segi kehidupan menggereja dan segi kehidupan bermasyarakat. Tujuan bagi kehidupan peserta mendewasakan umat, umat dapat memandang hidup sebagai sejarah penyelamatan-Nya, serta menumbuhkan harapan dan cinta kasih dapat diikuti serta Katekese Umat bertujuan membangun Gereja. Serta tujuan bagi kehidupan bermasyarakat Katekese Umat bertujuan mewujdkan iman yang kontekstual (Huber, 1980: 23).

  c.

  Model-model Katekese Umat Model-model Katekese Umat dalam skripsi ini menunjukkan titik awal pendalaman iman. Model-model Katekese Umat terdiri dari model pengalaman hidup, model biblis dan model campuran. Setiap model memiliki langkah-langkah rinci mulai dari pengungkapan pengalaman hidup, pendalaman iman Kitab Suci sampai pada aplikasi dalam situasi konkret hidup peserta.

  1) Model pengalaman hidup

  Katekese Umat dengan model pengalaman hidup bertitik tolak dari pengalaman hidup peserta (Sumarno, 2005: 11). Katekese Umat berangkat dari situasi hidup peserta. Situasi hidup peserta menjadi titik tolak pembicaraan di dalam Katekese Umat. Kemudian situasi hidup itu diterangi oleh pengalaman iman dari Kitab Suci. Untuk lebih jelasnya mengenai model pengalaman hidup berikut ini adalah langkah-langkah Katekese Umat dengan model pengalaman hidup:

  a) Pembukaan

  Langkah ini berisikan lagu dan doa pembukaan yang sesuai dengan tema yang diangkat dalam pertemuan. Pendamping mengingatkan dan menghubungkan

  2005: 11). Kekhasan dari langkah ini adalah sebagai proses pembukaan, memaparkan apa yang akan dilakukan atau sebagai langkah pengenalan terhadap hal yang akan dibicarakan. Tujuan yang hendak dicapai dalam langkah ini adalah untuk mempersiapkan proses agar berjalan dengan baik. Peserta pada langkah ini sudah mulai dikondisikan untuk dapat mengikuti pendalaman iman yang akan berlagsung.

  b) Penyajian suatu pengalaman hidup

  Pengalaman hidup selanjutnya diungkapkan. Pengalaman yang diungkap adalah pengalaman konkret yang sungguh dialami oleh umat. Juga harus ada kesesuaian dengan tema yang diangkat dalam pertemuan. Pengalaman yang disajikan dapat diambil dari surat kabar atau cerita yang relevan bagi peserta (Sumarno, 2005: 11). Yang menjadi kekhasan pada langkah ini adalah mengungkapan pengalaman hidup. Tujuan dari langkah ini adalah dengan pengungkapan pengalaman hidup dapat mengetahui permasalahan dan keprihatinan hidup peserta. Katekekis berperan menciptakan suasana terbuka untuk pengungkapan pengalaman hidup. Katekis membuat peserta berani untuk berbicara saat pertemuan dengan cara bertanya kepada peserta dengan pertanyaan yang mudah untuk dijawab hingga dengan demikian umat menjadi berbicara. Peserta dibuat untuk membuka dirinya mengungkapkan pengalaman hidupnya. Peserta tidak hanya pasif tetapi juga aktif dengan mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh katekis yang memandu jalannya pertemuan. c) Pendalaman pengalaman hidup

  Peserta diajak untuk mangaktualisasikan pengalaman itu dalam situasi hidup nyata. Biasanya terjadi dalam kelompok kecil dengan pertanyaan- pertanyaan pendalaman yang merangsang peserta mengambil bagian dalam sikap moral konkret sesuai dengan tema untuk hidup sehari-hari (Sumarno, 2005: 11).

  Kekhasan pada langkah ini ialah terjadi pengolahan terhadap pengalaman hidup yang aktual. Pengolahan itu menjadi sebuah refleksi atas pengalaman hidup peserta. Tujuan dari langkah ini adalah ditemukannya makna yang lebih baik dari pengalaman hidup yang telah dilalui. Katekis membantu peserta dalam pengolahan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat interpretatif.

  d) Rangkuman pendalaman pengalaman hidup

  Langkah ini menyajikan pandangan umum dari sikap-sikap yang dapat diambil oleh peserta berhubung dengan tema dalam penyajian pengalaman hidup.

  Rangkuman yang disampaikan, Juga disesuaikan dengan teks Kitab Suci atau tradisi yang hendak dipakai dalam langkah berikutnya (Sumarno, 2005: 11).

  Kekhasan pada langkah ini adalah penentuan sikap hidup sesuai dengan iman dan tradisi Kristiani. Tujuan dari langkah ini adalah membentuk sikap hidup ketika seseorang menghadapi suatu permasalahan. Katekis pada langkah ini berperan agar peserta dapat menentukan dan menemukan serta dapat memiliki sikap hidup yang sesuai dengan iman dan tradisi Kristiani. e) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja

  Kepada peserta dibagikan teks Kitab Suci yang digunakan, pertanyaan juga dibagikan kepada peserta, pertanyaan sekitar tema dan hal-hal yang mengesan dari pesan inti teks. Teks dibaca dan direnungkan serta direfleksikan dengan bantuan pertanyaan (Sumarno, 2005: 11). Kekhasan pada langkah ini adalah peserta sungguh menggunakan inderanya mendengar dan melihat. Tujuan dari langkah ini adalah penyampaian tradisi Kristiani. Peran katekis adalah membuat suasana agar penyampaian tradisi Kristiani dapat ditangkap oleh umat dengan baik. Peserta perlu mendengar teks yang dibaca dengan cermat dan juga melihat ayat demi ayat dengan ikut membacanya.

  f) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi

  Peserta mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah direnungkan. Pendamping membantu peserta untuk mencari dan mengungkapkan pesan inti menurut mereka sehubungan dengan tema. Pesan inti teks untuk dapat diungkap dengan baik dan obyektif maka pendamping harus membaca beberapa buku referensi. Suasana terbuka diciptakan oleh pendamping guna pengungkapan tafsiran Kitab Suci dari peserta (Sumarno, 2005: 12). Kekhasan dari langkah ini adalah adanya interpretasi teks Kiitab Suci yang disajikan terhadap pengalaman hidup peserta. Tujuan yang hendak dicapai adalah agar nilai-nilai Kristiani meresap dalam kehidupan umat. g) Rangkuman pendalaman teks Kitab Suci

  Pesan inti yang telah diungkap peserta digabungkan dengan pesan yang disampikan pendamping. Pandamping memberi masukan dari persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. Masukan itu dibatasi pada pesan pokok yang dapat dimengerti oleh peserta sesuai dengan tema (Sumarno, 2005: 12). Yang menjadi kekhasan dari langkah ini adalah penggunaan sarana-sarana buku penunjang agar kekayaan input dapat diberikan kepada peserta. Tujuan dari langkah ini inpirasi yang kaya dari Kitab Suci atau Ajaran Gereja dapat ditimba untuk perjalanan hidup umat.

h) Penerapan dalam hidup konkret.

  Peserta diajak untuk mengambil beberapa kesimpulan praktis sehubungan dengan tema untuk hidup pribadi menggereja dan bermasyarakat. Peserta dengan hening diajak juga merenungkan dan mengumpulkan buah-buah pribadi dari pertemuan itu (Sumarno, 2005: 12). Yang menjadi kekhasan langkah ini adalah praksis kehidupan beriman sungguh disentuh. Tujuannya adalah mengajak peserta untuk berbuat sesuai dengan nilai-nilai dan tradisi Kristiani. i)

  Penutup Penutup pertemuan dimulai dengan mengungkapkan doa-doa spontan sebagai buah-buah pertemuan atau doa umat yang lain. Pandamping mengakhiri dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan tema dan tujuan pertemuan. Selanjutnya diakhiri dengan suatu doa dan nyanyian yang sesuai dengan tema

  (Sumarno, 2005: 12). Kekhasan langkah ini merupakan akhir dari seluruh proses pendalaman iman. Tujuannya adalah menutup seluruh proses pemdalaman iman.

  2) Model Biblis

  Katekese Umat dengan model Biblis bertitik tolak dari pengalaman Kitab Suci atau tradisi (Sumarno, 2005: 11). Katekese Umat berangkat dari pengalaman Kitab Suci dan tradisi, dua hal itu menerangi situasi hidup peserta. Untuk lebih jelasnya mengenai model Biblis berikut ini adalah langkah-langkah Katekese Umat dengan model Biblis:

  a) Pembukaan

  Lagu yang diangkat hendaknya disesuaikan dengan tema Kitab Suci atau tradisi yang ditentukan dalam pertemuan pendalaman iman. Tema yang disajikan dihubungkan dengan tema pertemuan yang sebelumnya (Sumarno, 2005: 12). Kekhasan dari langkah ini adalah memaparkan apa yang akan dilakukan atau sebagai langkah pengenalan terhadap hal yang akan dibicarakan. Tujuan yang hendak dicapai dalam langkah ini adalah untuk membuka proses pendalaman iman agar berjalan dengan baik. Peserta megalami pengkondisian untuk dapat mengikuti pendalaman iman.

  b) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi

  Peserta membacakan kutipan yang dipilih langsung dari Kitab Suci. Agar mempermudah proses selanjutnya teks diperbanyak. Kemudian diluangkan waktu Yang menjadi kekhasan langkah ini adalah terjadi penyampaian teks Kitab Suci dan tradisi Kristiani. Tujuannya, teks Kitab Suci yang menjadi sentral dari model ini sungguh dipahami.

  c) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi

  Di dalam kelompok kecil peserta dapat melakukan hal ini, dengan membagikan hasil jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Pendamping kemudian merangkum hasil yang diungkapkan peserta. Rangkuman jawaban itu dihubungkan dengan apa yang dipersiapkan pendamping. Peserta dengan demikian diperkaya sebab yang disampaikan pendamping berasal dari berbagai sumber. Isi dan pesan teks disampikan dengan relevan oleh pendamping sebagai narasumber (Sumarno, 2005: 12-13). Kekhasan dari langkah ini adalah pengungkapan hasil permenungan sebagai bentuk dari pengolahan terhadap teks Kitab Suci dan tradisi Kristiani. Permenungan yang disampaikan itu diperkaya dengan bahan-bahan dari buku-buku. Tujuan dari langkah ini adalah menampilkan kepada peserta pesan teks Kitab Suci.

  d) Pendalaman Pengalaman Hidup

  Langkah ini memungkinkan peserta menghubungkan pesan teks dengan pengalaman hidupnya sesuai dengan tema seperti yang terdapat dalam peristiwa dalam budaya setempat, dalam hidup bermasyarakat, menggereja, berkeluarga, bekerja dan belajar (Sumarno, 2005: 13). Kekhasan langkah ini adalah aktualisasi nilai dan tradisi Kristiani terhadap hidup umat. e) Penerapan dalam hidup peserta

  Refleksi dan memikirkan langkah konkret dalam hidup sehari-hari merupakan proses yang dilakukan peserta pada langkah ini. Semangat kekuatan dan jiwa dari pesan teks diwujudkan (Sumarno, 2005: 13). Kekhasan langkah ini adalah menyusun sebuah rencana konkret. Tujuannya agar apa yang telah didapatkan dalam pendalaman iman dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari. Pendamping mengarahkan agar peserta dapat menyusun rencana konkretnya, hambatan dan tantangan untuk mewujudkan niat dibicarakan bersama.

  f) Penutup

  Merupakan reflesi pribadi tentang kesulitan untuk mewujudkan pesan teks, sarana apa saja yang diperlukan, dan apa saja yang menunjang perwujudan itu di dalam Gereja dan masyarakat. Kemudian pertemuan ditutup dengan doa-doa spontan dan diakhiri oleh pendamping dengan doa yang merangkum seluruh jalannya pertemuan (Sumarno, 2005: 13).

  3) Model campuran

  Katekese dengan model ini merupakan campuran dari model pengalaman hidup dan model Biblis. Langkah-langkah yang terjadi di dalamnya adalah perpaduan antara model biblis dan model pengalaman hidup. Untuk memperjelas tentang model katekese ini berikut penulis sampaikan uraiannya.

  a) Pembukaan

  Mengungkapkan pokok-pokok tema pertemuan dan menghubungkan dengan tema-tema pertemuan yang sebelumnya. Lagu yang diangkat disesuaikan dengan tema pertemuan yang dibahas (Sumarno, 2005: 13). Kekhasan langkah ini sebagai introduksi. Tujuannya untuk memulai pendalaman iman. Peserta diajak oleh katekis untuk masuk dalam suasana pendalaman iman.

  b) Pembacaan teks Kitab Suci dan Tradisi

  Pembacaan teks dilakukan secara langsung dari Kitab Suci. Jika perlu pembacaan dapat dilakukan sekali lagi oleh pendamping. Kemudian disediakan waktu hening untuk merenungkan teks yang dibacakan (Sumarno, 2005: 13). Pembacaan teks Kitab Suci menjadi kekhasan langkah ini. Sabda Allah diperdengarkan kepada peserta. Tujuannya agar peserta mengetahui tentang teks yang dipilih dalam pendalaman iman itu.

  c) Penyajian pengalaman hidup Penyajian dapat dilakukan dengan media komunikasi seperti koran, majalah, slide video dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar peserta terangsang untuk menanggapinya (Sumarno, 2005: 13). Kekhasan langkah ini adalah pengungkapan pengalaman hidup. Tujuannya untuk mengetahui keprihatinan dan permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh umat.

  d) Pendalaman pengalaman hidup dan teks biblis atau Tradisi

  Peserta mengungkapkan kesan dan pesannya. Peserta mencari apa yang pesan pokok dari penyajian tadi. Peserta merefleksikan dan menganalisa pesan itu untuk hidup sehari-hari dalam hubungannya dengan teks. Kesimpulan disampaikan pendamping dan jika mungkin langkah konkret difikirkan bersama. (Sumarno, 2005: 14). Kekhasan pada langkah ini peserta menemukan pesan teks bagi hidupnya, bagi permasalahan yang sedang diadapi. Tujuannya agar peserta dapat memperoleh inspirasi hidup dari teks Kitab Suci.

  e) Penerapan meditatif

  Menghubungkan pengalaman konkret dengan teks Kitab Suci. Diharapkan peserta dapat menarik pelajaran nyata dalam hidup berkeluarga, menggereja dan masyarakat (Sumarno, 2005: 14). Kakhasan langkah ini adalah menerapkan apa yang telah didapatkan dalam pendalaman iman sebagai sebuah pelajaan hidup.

  Peserta dapat menerapkan nilai dan tradisi Kristiani dalam hidupnya.

  f) Evaluasi singkat

  Evaluasi dilakukan terhadap isi, tema, langkah-langkah dan proses yang berlangsung dalam pertemuan. Harapannya ialah pertemuan selanjutnya dapat menjadi lebih baik dan lebih relevan dengan kebutuhan dan aspirasi peserta (Sumarno, 2005: 14). Kekhasan pada langkah ini menjadi proses melihat kembali apa yang telah dibuat.

  g) Penutup

  Suasana hening dibentuk sebagai awal. Kemudian diungkapkan doa-doa merangkum jalannya pertemuan (Sumarno, 2005: 14). Langkah ini bertujuan mengakhiri pertemuan pendalaman iman. diharapkan peserta dengan bagian penutup ini dapat juga merasa diteguhkan dan merasa mendapat tugas perutusan.

BAB III PELAKSANAAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP A. Pengantar Bab III berisi gambaran situasi hidup doa dalam keluarga di lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap. Untuk mengetahui situasi

  hidup doa dalam keluarga maka penulis mengadakan “Penelitian kecil” sebagai sarana dalam penelitian ini penulis membuat kuesioner yang dibagikan dan diisi oleh keluarga-keluarga Kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Cilacap. Maksud dari penelitian ini yakni untuk mendapatkan data yang otentik sehingga sesuai dengan keadaan umat.

  Sebenarnya tidaklah ada suatu ketetapan yang mutlak berapa persen suatu sampel harus diambil dari populasi. Salah satu usaha untuk ”menampung” kesesatan yang mungkin dialami karena kurang besarnya sampel adalah memberikan syarat-syarat yang lebih berat bagi penyelidikan yang menggunakan sampel kecil (Sutrisno Hadi 1973: 87).

  Keluarga-keluarga kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap berjumlah 15 kepala keluarga pada kenyataannya ketika penyebaran kuesioner beberapa kepala keluarga libur ke luar kota sehingga tidak keseluruhan kepala keluarga dapat mengisi kuesioner, namun penulis yakin bahwa 8 responden yang mewakili masing-masing kepala keluarga sudah cukup kristiani umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Setefanus Cilacap.

  Tujuan penelitian ini yakni untuk menggali pelaksanaan hidup doa dalam keluarga-keluarga di lingkungan Santa Maria stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap. Adapun manfaat penelitian ini yakni menemukan gambaran kehidupan doa bersama dalam keluarga-keluarga Kristiani di lingkungan Santa maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  Persiapan yang dibuat sebelum pelaksanaan penelitian ini diantaranya pembuatan kisi-kisi kuesioner. Kisi-kisi kuesioner terdiri dari dua variabel yakni variabel: Doa dan variabel: Keluarga. Dari dua variabel tersebut dibuat 15 butir soal yang menjadi soal kuesioner yang akan disebar dan dibagikan kepada responden. Selain 15 soal tersebut responden juga diminta untuk mensharingkan pengalaman hidup doa yang didahului oleh peneliti yang mensharingkan pengalaman hidup doa sehingga dapat menjadi gambaran atau contoh bagi responden. Sharing responden dapat dilihat pada laporan hasil penyebaran kuesioner.

  B.

  

Laporan Hasil Penyebaran Kuesioner di Lingkungan Santa Maria Stasi

Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  1. Laporan Hasil Penyebaran Kuesioner berupa Tabel, Tabel 1 sampai dengan Tabel 15

  Tabel 1: Jumlah Anggota Keluarga N=8

  Jumlah Responden N % Anggota 1 2 3 4 5 6 7 8

  2 v 1 12.5% 3 v 1 12.5% 4 v v 2 25%

  Dari tabel di atas, terlihat bahwa jumlah anggota keluarga yang lebih dari 5 orang merupakan jawaban tertinggi dari responden dalam keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yakni (50%). Sedangkan responden terendah adalah mereka yang memberikan jawaban anggota keluarga berjumlah 2 orang dan yang memberikan jawaban anggota keluarga berjumlah 3 orang yakni masing-masing (12.5%). Selain itu juga dalam keluarga anggota keluarga berjumlah 4 orang (25%). Tabel 2: Mata Pencaharian Keluarga N=8

  Responden Mata pencaharian 1 2 3 4 5 6 7 8 N %

  Petani v v 2 (25%) Wiraswasta v v v 3 (37.5%) PNS v v v

  3 (37.5%)

  Lain-lain Dari tabel di atas, terlihat bahwa mata pencaharian keluarga-keluarga kristiani diantaranya adalah sebagai Pegawai Negri Sipil (37.5%) dan Wiraswasta

  (37.5%), selain itu ada juga yang bermata pencaharian petani (25%) Tabel 3: Status Perkawinan N=8

  Responden Status Perkawinan 1 2 3 4 5 6 7 8 N %

  Sama-sama Katolik v v v v 4 50% Dengan orang beda Gereja v v 2 0% Dengan orang beda agama

  25% Lain-lain v v 2 25%

  Dari tabel di atas, terlihat bahwa status perkawinan sama-sama Katolik merupakan jawaban tertinggi yang diberikan oleh Responden yakni (50%), sedangkan status perkawinan beda agama yakni (25%) dan perkawinan lainnya (adat) ( 25%) sedangkan perkawinan dengan beda Gereja (0%) . Tabel 4: Hidup Doa (berapa kali berdoa dalam sehari) N=8

  Banyaknya berdoa Responden N % dalam sehari 1 2 3 4 5 6 7 8 1 (x)

  0%

  

2(x) v v v v 4 50%

3(x) v v 2 25%

4 (x) keatas v v 2 25%

  Dari tabel di atas, terlihat bahwa responden yang berdoa 2x dalam sehari yakni merupakan jawaban tertinggi yakni (50%). Sedangkan responden yang berdoa 3x dalam sehari yakni (25%) serta responden yang berdoa lebih dari 4x yakni (25%).

  Tabel 5: Motivasi Berdoa N=8

  Motivasi Berdoa Responden N % 1 2 3 4 5 6 7 8 Permasalahan keluarga 0% Anjuran dari paroki 0% Kerinduan akan v v v v v v v v 8 100% kehadiran allah Lain-lain

  0% Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa motivasi atau yang mendorong untuk melakukan doa bagi seluruh responden yakni adanya kerinduan akan kehadiran Allah yaitu (100%).

  Tabel 6: Tempat Untuk Berdoa N=8

  Tempat Untuk Berdoa Responden N % 1 2 3 4 5 6 7 8 Ruang Tamu

  0%

  Kamar tidur v v v 3 37.5% Ruang doa v v v v v 5 62.5% Lain-lain

  0% Dari tabel di atas, responden yang melakukan doa di ruang doa merupakan jawaban tertinggi yakni (62.5%) dan responden yang lain menjawab melakukan doa di kamar tidur yakni (37.5%). Tabel 7: Anggota Keluarga yang Mengajak Berdoa N=8

  Yang Mengajak Responden N % Berdoa 1 2 3 4 5 6 7 8 Bapak v v 2 25% Ibu v 1 12.5% Kakak

  0%

  Lainnya v v v v v 5 62.5%

  Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa yang mengajak berdoa atau yang berinisiatif melaksanakan doa bersama dalam keluarga adalah bapak/ ayah yakni (25%) serta jawaban terendah yakni menjawab ibu yang mengajak atau berinisiatif melaksanakan doa bersama dalam keluarga yakni (12.5%).

  Tabel 8: Harapan Responden N=8

  

Harapan agar diadakan Responden N %

Katekese Umat 1 2 3 4 5 6 7 8 Mengadakan Retret

  0%

  keluarga Mengadakan Rekoleksi

  0%

  Keluarga

  v v v v v v 6

  75 Mengadakan Katekese Umat

  atau Pendalaman Iman

  %

  Lain-lain (bakti sosial) v v

  2

  25 %

  Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa responden yang memiliki harapan agar diadakan Katekese Umat atau pendalaman Iman secara rutin yang bertujuan menumbuhkan hidup doa dalam keluarga merupakan jawaban tertinggi yakni (75%), sedangkan (25%) responden memiliki harapan mengadakan bakti sosial.

  Tabel 9: Arti Doa N=8 Responden Jawaban Responden Keterangan

  1 Mendekatkan diri pada Tuhan Mendekatkan diri pada Tuhan yang merupakan usaha dari manusia (responden) untuk berrelasi dengan Tuhan

  2 Ucapan pengharapan kepada Kepercayaan kepada Tuhan Allah penyelenggaraan Tuhan sehingga timbul ungkapan

  3 Hubungan diri dengan Tuhan Adanya suatu komunikasi antara manusia dan Tuhan sehingga terjalin hubungan (relasi) yang baik.

  4 Berkomunikasi dengan Tuhan Adanya relasi yang baik antara manusia (responden) dengan Tuhan, relasi tersebut terjaga dengan baik karena adanya saling komunikasi.

  5 Hubungan manusia dengan Tuhan Adanya suatu komunikasi antara manusia dan Tuhan sehingga terjalin hubungan (relasi) yang baik

  6 Komunikasi antara manusia Adanya relasi yang baik antara dengan Tuhan Allah manusia (responden) dengan Tuhan, relasi tersebut terjaga dengan baik karena adanya saling komunikasi.

  7 Ucapan pengharapan kepada Kepercayaan kepada Tuhan Allah penyelenggaraan Tuhan sehingga timbul ungkapan pengharapan dari manusia (responden)

  8 Sebuah pengharapan Kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan sehingga timbul sebuah pengharapan dari manusia (responden)

  Tabel 10: Makna Doa Pribadi N=8 Responden Jawaban Responden Keterangan

  • 1 -

  2 Ucapan pengharapan kepada Kepercayaan kepada Allah penyelenggaraan Tuhan sehingga timbul ungkapan pengharapan dari manusia (responden)

  3 Mendekatkan diri pada Allah Mendekatkan diri pada Tuhan yang merupakan usaha dari manusia (responden) untuk berrelasi dengan Tuhan

  4 Menghadirkan Allah Usaha manusia (responden) untuk berrelasi dengan Tuhan

  5 Mendekatkan diri pada Tuhan Mendekatkan diri pada Tuhan berrelasi dengan Tuhan

  6 Kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan untuk mengungkapkan isi hati dengan permohonan dan pujian

  Adanya relasi yang baik antara manusia (responden) dengan Tuhan, relasi tersebut terjaga dengan baik karena adanya saling komunikasi.

  7 Mendekatkan diri pada Tuhan Yesus dan Allah bapa dan bersyukur atas nikmat yang diberikan

  Mendekatkan diri pada Tuhan yang merupakan usaha dari manusia (responden) untuk berrelasi dengan Tuhan

  8 - - Tabel 11: Makna Doa Bersama N=8

  Responden Jawaban Responden Keterangan

  1 Agar keluarga harmonis dan dekat dengan Allah Adanya suatu kepercayaan dari manusia (responden) pada penyelenggaraan Tuhan bagi keluarga.

  2 Untuk menumbuhkan rasa damai, harmonis, kekeluargaan kompak pada kehidupan

  Adanya suatu kepercayaan dari manusia (responden) pada penyelenggaraan Tuhan bagi keluarga.

  3 Keluarga jadi akrab Adanya suatu kepercayaan dari manusia (responden) pada penyelenggaraan Tuhan bagi keluarga.

  4 Supaya iman keluarga kristiani lestari dan keutuhan keluarga terjaga

  Kehadiran Tuhan dalam keluarga dan adanya upaya dari manusia (responden) untuk mempertahankan iman dan keutuhan keluarga kristiani

  5 Untuk mendekatkan keluarga dengan Tuhan Yesus kristus dan mempertahankan iman tersebut serta mempertahankan keutuhan keluarga

  Kehadiran Tuhan dalam keluarga dan adanya upaya dari manusia (responden) untuk mempertahankan iman dan keutuhan keluarga kristiani

  6 Agar Tuhan Yesus mendampingi dalam kami mempertahankan keutuhan keluarga

  Adanya kepercayaan manusia (responden) pada kasih Tuhan serta adanya usaha dari manusia (responden) dalam mempertahankan keutuhan

  7 Untuk menumbuhkan rasa damai, Adanya suatu kepercayaan dan harmonis dalam keluarga dari manusia (responden) pada penyelenggaraan Tuhan bagi keluarga.

  8 Mempererat tali persaudaraan dan Kehadiran Tuhan dalam mempertahankan keutuhan keluarga dan adanya upaya keluarga kristiani sejati dari manusia (responden) untuk mempertahankan iman dan keutuhan keluarga kristiani

  Tabel 12: Manfaat Doa N=8 Responden Jawaban Responden Keterangan

  • 1 -

  2 Sebagai pengendalian diri Pengendalian diri dalam tingkah laku sehari-hari sebagai usaha dari manusia (responden).

  3 Agar selalu mendapat petunjuk Adanya kepercayaan jalan, sehingga jalan hidup manusia (responden) sesuai dengan jalan Tuhan pada Tuhan sehingga dapat memberikan petunjuk jalan hidup

  4 Hati merasa sejuk, tenang dan Kehadiran Tuhan damai dalam diri manusia (responden) sehinggga merasakan ketenangan dan kedamaian.

  5 Agar jalan hidup dekat dengan Adanya kepercayaan Tuhan manusia (responden) pada Tuhan sehingga dapat memberikan petunjuk jalan hidup

  6 Dengan berdoa dan Adanya kepercayaan menyerahkan diri pada Tuhan pada Tuhan sehingga kita akan hidup lebih tenang timbul sikap berserah serta damai dari manusia

  (responden)

  7 Pengendalian diri dalam Pengendalian diri langkah atau prilaku dan selalu sebagai usaha dari ingat pada Tuhan manusia (responden).

  • 8 -
Responden N % 1 2 3 4 5 6 7 8 S v v v 3 37.5%

  B v v v v v 5 62.5% S= Sudah pernah mengikuti B= Belum pernah mengikuti

  Responden yang sudah pernah mengikuti Retret keluarga secara rutin guna menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah3 orang: 37.5%, responden yang belum pernah mengikuti rekoleksi keluarga secara rutin guna menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah 5 orang: 62.5% Tabel 14: Rekoleksi Keluarga N=8

  Responden N % 1 2 3 4 5 6 7 8 S v v v v 4 50%

  B v v v v 4 50% S= Sudah pernah mengikuti B= Belum pernah mengikuti

  Responden yang sudah pernah mengikuti Rekoleksi keluarga secara rutin guna menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah 4 orang: 50%, responden yang belum pernah mengikuti rekoleksi keluarga secara rutin guna menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah 4 orang: 50% Tabel 15: Katekese Umat N=8

  Responden N % 1 2 3 4 5 6 7 8 S v v v v 4 50%

  B v v v v 4 50% S= Sudah pernah mengikuti B= Belum pernah mengikuti

  Responden yang sudah pernah mengikuti Katekese Umat atau pendalaman iman secara rutin yang bertujuan untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah 4 orang: 50%, responden yang belum pernah mengikuti Katekese Umat atau Pendalaman Iman secara rutin yang bertujuan untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga berjumlah 4 orang: 50%

2. Laporan Hasil Penyebaran Kuesioner berupa sharing Pengalaman Hidup Doa

  Responden Sharing Pengalaman Hidup Doa Responden

  R 1: Saya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga Islam dari kecil saya telah mengikuti pengajian dan melaksanakan shalat 5 waktu juga puasa diwaktu bulan puasa atau romadhon. Tetapi saya rasanya mengikuti agama Islam itu nggak sungguh atau ragu-ragu.Karena saya membaca dan menulis Arab dari kecil sampai SMP sama sekali tidak bisa apa-apa.

  Itulah yang saya ragukan, masa orang Islam kok nggak bisa nulis Arab. Setelah saya menikah masih menjalankan shalat tetapi lama-lama saya bingung, apalagi suamiku tidak mau shalat.

  Terus pada malam hari saya bermimpi melihat orang berkerumun bilang begini ”ayo kalau mau melihat pastur” padahal saya sama sekali belum pernah kayak apa pastur itu.

  Setelah itu ada guru Agama Katolik dari Surabaya, terus saya mengikuti pelajaran sampai saya dibaptis dan sampai sekarang. Perubahan yang kami rasakan dulu hidupku selalu dibayangi keraguan akan tetapi sekarang hidupku merasa yakin apalagi sering berdoa untuk selalu berjumpa Allah. Saat ini aku rutin berdoa, setiap hari aku berdoa baik secara sendiri ataupun bersama dengan suami dan anak-anakku. Kami dalam keluarga sering berdoa bersama khususnya pada bulan Maria atau bulan Novena. Kami berdoa novena bersama. Namun jika hari-hari biasa kami membuat ibadat secara sederhana dan dilanjutkan doa syukur dan permohonan terutama ketika keluarga kami sedang menghadapi masalah kami memohon kekuatan dari Tuhan Yesus agar senantiasa memberikan jalan terang. Denga cara itu saat ini hidupku cukup tentram dan damai. Agar iman yang ada pada keluarga kami semakin kuat kami menghendaki agar Gereja mengadakan retret atau rekoleksi bagi keluarga secara rutin. R 2:

  Pertama-tama aku berrumah tangga tahun 1957 terus punya anak 5 perempuan 4 laki-laki 1. selama berrumah tangga aku mengalami dari tahanan tahun 1975 aku pulang kerumah kumpul bersama keluarga. Sehabis keluar dari tahanan kebingungan dalam menjalankan ibadah. Karena di tempat aku waktu itu belum ada Gereja walaupun ada tapi tempatnya jauh yaitu di Majenang dan mau berangkat ke Majenang tidak punya uang karena tidak bekerja. Lalu tahun 1989 didirikan gereja di desa Karang Jambu, dan seterusnya aku masuk jadi umat Katolik dan dibaptis tahun 1990.

  Pada tahun 1990 kami berusaha dagang sehingga sampai sekarang masih dilakukan dan dikerjakan. Sekarang semua anak-anak sudah berumah tangga dan pisah dengan kami mengikuti suaminya masing-masing tetapi mereka memiliki keyakinan masing-masing. R 3:

  Saya dilahirkan dari keluarga Muslim, namun tidak aktif. Masuk kelas 1-4 SD saya beragama Islam namun setelah tamat masuk sekolah swasta yaitu SMP Sanjaya. Dari situlah saya terpanggil masuk Katolik dan dibaptis tahun 1975. setelah tamat saya masuk SPG Pangudi Luhur Yogyakarta tahun 1977. namun demikian saya masih perlu bimbingan iman. Karena lingkungan tempat tinggal saya masih membaur campur dengan tetangga Muslim. Kadang-kadang iman masih terganggu oleh situasi yang beraneka ragam. Untuk menguatkan iman saya berdoa secara rutin, bahkan saya sering mengajak istri dan anakku untuk berdoa bersama. Kami sering mendoakan Novena atau Rosario pada malam hari menjelang tidur. Dengan cara itu iman keluarga saya sedikit terkuatkan. Kami mengharapkan jika dari Gereja mengadakan kegiatan semacam rekoleksi atau retret bagi keluarga dengan latihan doa agar iman kami semakin kuat dan dapat membantu menumbuhkan hidup doa dalam keluarga kami.

  R 4: Aku lahir dari keluarga Muslim, tetapi bapak dan ibu nasionalis. Sejak kecil tinggal dikomplek militer, tetntunya suku dan agamapun berbeda. Aku disekolahkan di Madrasah Iptidaiyah Cokroaminoto, SMPnya di Marhaenis dan SLTA nya di yayasan Katolik. Sejak usia 16 tahun aku tertarik akan Yesus, dan aku merasa terpanggil sering rajin ke Gereja mengikuti koor dan kegiatan Mudika juga sering mengikuti retret, ziarah ke gua Maria diantaranya gua Maria Sendangsono, Sriningsih, sawer Rahmat dan lainnya. Imanku semakin kuat dan tahun 1980 aku dibaptis di Cilacap, hingga aku mambangun keluarga dan sampai saat ini aku dikaruniai 5 orang anak. Istri dan anak-anakku semua beragama Katolik. Untuk semakin menguatkan iman keluargaku aku sering mengajak istri dan anak-anakku berdoa bersama terutama pada bulan Novena dan bulan Rosario. Kami sekeluarga berdoa pada malam hari setelah makan malam sekitar jam delapan.

  R 5: Pengalaman yang pernah saya alami pada suatu malam saya sakit tapi memohon kesembuhan puji Tuhan seketika itu sakit sya langsung sembuh maka pada saat itu saya selalu berdoa pada keadaan apapun dan dimanapun.

C. Pembahasan 1.

  Situasi umum keluarga Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap a.

  Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga pada keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan

  Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap sebagian besar beranggotakan lebih dari 5 orang dalam keluarga. Keluarga yang dimaksud di sini adalah keluarga inti. Sebagian besar keluarga-keluarga di Lingkungan Santa Maria merupakan keluarga yang sudah lama menjalankan hidup rumah tangga.

  Namun bagi keluarga muda mereka memiliki jumlah anggota lebih sedikit, ini dipengaruhi oleh program pemerintah yakni Keluarga Berencana (Tabel 1).

  Banyaknya jumlah anggota dalam keluarga berpengaruh dalam pelaksanaan hidup doa bersama dalam keluarga. Semakin sedikit jumlah anggota dalam keluarga akan semakin mudah untuk melaksanakan doa bersama dalam keluarga, sebaliknya jika anggota keluarga semakin banyak maka akan semakin sulit untuk dapat melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Rutinitas kehidupan masing- masing anggota keluarga berbeda dalam keluarga maka sangat sulit untuk dapat melaksanakan doa secara bersama dalam keluarga. b.

  Mata Pencaharian Keluarga-keluarga kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang mayoritas bermatapencaharian sebagai pegawai negri sipil (PNS), tidak sedikit pula yang bekerja sebagai wiraswasta dan petani. Menjadi pegawai negri sipil, wiraswasta ataupun petani merupakan penghasilan pokok bagi keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang (Tabel 2).

  Sebagian dari keluarga-keluarga Kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang khususnya kepala rumah tangga ataupun mereka yang telah menyelesaikan studinya sebagai tulang punggung keluarga, bekerja di perantauan sebagai wiraswasta di yayasan-yayasan Katolik. Mereka mencari pekerjaan di perantauan karena di sekitar tempat tinggal kurang memadainya lapangan pekerjaan.

  Gereja dalam hal ini perlu lebih memperhatikan agar umat mendapatkan lapangan pekerjaan yang cukup di sekitar tempat tinggal sehingga umat dapat lebih sejahtera tanpa harus mencari pekerjaan di perantauan sehingga harus terpisah jarak dengan keluarga. Jika tercipta lapangan pekerjaan di sekitar tempat tinggal umat, mereka dapat tetap bekerja dan dapat berkumpul bersama dengan keluarga.

  c.

  Status Perkawinan Masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Islam, mempengaruhi kehidupan keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yang merupakan kelompok minoritas. Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang

  Status perkawinan keluarga-keluarga kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang mayoritas melaksanakan perkawinan Katolik sepenuhnya, beberapa keluarga-keluarga kristiani di lingkungan Santa Maria yang melaksanakan perkawinan Katolik beda agama (Tabel 3).

  Adapun alasan keluarga-kerluarga kristiani lingkungan Santa Maria yang melaksanakan perkawinan Katolik beda agama yang pertama yakni sedikitnya pilihan yang akan dijadikan pendamping hidup yang seiman yang ada di lingkungan sekitar, urusan yang cukup pelik dalam proses perkawinan Gereja Katolik juga yang membuat umat enggan melaksanakan perkawinan Gereja Katolik sehingga terdapat yang mengisi lain-lain sebanyak 25%.

  Proses perkawinan Gereja yang dirasa sulit bagi umat, sehingga banyak umat merasa enggan untuk melaksanakan perkawinan Gereja juga menjadi keprihatinan bersama. Perlukah Gereja lebih mempermudah dalam proses perkawinan, namun tentunya Gereja juga memiliki alasan mengapa proses perkawinan dalam Gereja Katolik seperti yang sekarang yakni di antaranya agar umat dapat menghayati arti dari sebuah perkawinan yang merupakan sakral dan kudus. Jika perkawinan Gereja merupakan sakral dan kudus perlu dipersiapkan dengan sungguh dan harus dijalankan sesuai dengan konsekuensi dan tanggungjawabnya.

  Motivasi larangan nikah campur dan halangan nikah beda agama yakni yang pertama melindungi iman pihak Katolik dari bahaya: kemurtadan yang menolak seluruh kebenaran iman Katolik, bidaah yang menolak sebagian kebenaran iman Katolik, sikap dan paham yang menganggap sama semuar agama, serta kesulitan menghayati dan menghidupi iman dan agama. Yang kedua melindungi dan membela hak anak atas: baptisan dan pendidikan setiap anak yang lahir dari orang tua Katolik berhak atas baptisan dan pendidikan Katolik.

2. Doa dalam keluarga di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki

  Santo Stefanus Cilacap a.

  Pengertian Doa Pengertian doa menurut umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yakni doa sebagai sebuah permohonan akan karunia serta penyertaanNya dalam kehidupan yang dijalani, harapan akan kasih dan cinta dari Allah sehingga dalam perjalanan hidup di dunia selalu dalam tuntunan dan kasih Allah, doa juga sebagai sebuah komunikasi dengan Allah sehingga selalu terjalin hubungan yang harmonis dengan Allah serta menyerahkan seluruh hidup pada rencana Allah sehingga semakin kuat dalam iman dan menjadi umat kristiani yang sejati serta doa merupakan sebuah cara untuk mendekatkan diri pada Allah. (Tabel 9)

  Doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah kata cinta seorang anak pada Bapanya, maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia. Doa semacam di atas tidak membutuhkan banyak kata, tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus, meskipun dapat didukung olehnya (KWI, 1996: 194).

  Sedangkan Breemen ( 1983: 55) menyatakan bahwa berdoa seharusnya yang benar. Berdoa berarti memandang dengan mata iman segala kenyataan dengan lebih utuh dan tepat. Tuhan berbicara kepada seseorang pribadi setiap saat, asal masing-masing pribadi belajar untuk mendengarkan.

  Doa yang dimengerti dan dihayati umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap ternyata pada umumnya hampir serupa dengan teori yang ada. Namun masih ada beberapa kekurangan salah satunya yakni rasa syukur ke pada Tuhan belum nampak dalam diri umat, umat cenderung mengungkapkan permohonan-permohonan pada Tuhan. Ucapan syukur ke pada Tuhan merupakan hal utama yang perlu dilakukan karena Tuhan telah memberikan anugrahNya dalam setiap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

  b.

  Menciptakan Suasana Doa dalam Keluarga 1)

  Cara Berdoa Cara berdoa yang dilakukan oleh keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan

  Santa Maria Stasi Majenang yakni diantaranya dengan mengadakan ibadat bersama dalam keluarga, Novena yang didoakan secara rutin, Rosario bersama dalam keluarga. Berbagai cara berdoa yang dilakukan keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang merupakan cara yang dirasa tepat dan seluruh anggota keluarga dapat mengikutinya (Sharing pengalaman umat: R1 dan R4 halaman 54-55).

  Secara pribadi masing-masing anggota keluarga juga berdoa yakni mengucap syukur atas segala karunia dan kasih Allah serta permohonan agar Allah senantiasa menyertai hidupnya dengan kasih dan cinta Nya sehingga hidupnya

  Berdoa yang merupakan komunikasi dengan Allah, memerlukan kesiapan ketika hendak berdoa. St. Ignatius menganjurkan, agar berdiri beberapa langkah dari tempat berdoa, hening sebagai waktu untuk mengenang kembali peristiwa ataupun pengalaman yang ada dan doa yang akan didoakan. Perlunya menyadari betapa agungnya karya ciptaan Allah serta syukur atas anugrah yang Dia berikan dalam hidup (Green Thomas, 1988 : 87).

  Cara berdoa yang dilakukan oleh umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap lebih-lebih mengarah ke pada metode kurang adanya persiapan sebelum berdoa, padahal berdasarkan teori yang ada diperlukan kesiapan sebelum berdoa. Persiapan sebelum berdoa merupakan hal penting di mana perlu persiapan hati dan pengkondisian diri sehingga dapat masuk dalam keheningan yang merupakan suasana pendukung.

  2) Waktu yang dirasa Nyaman untuk Berdoa Umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang melaksanakan doa setiap hari.

  Namun ada waktu khusus bagi keluarga-keluarga kristiani untuk berdoa. Waktu yang dirasa nyaman untuk berdoa yakni pada malam hari, karena pada malam hari suasana hening tenang dan seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah sehingga dapat mengikuti doa bersama dalam keluarga. (sharing pengalaman umat: R1,R2 hal 54-55)

  Suasana hening dan tenang sangat diperlukan ketika hendak berdoa. Suasana yang hening dan tenang dapat membantu berkosentrasi dalam berkomunikasi dengan Tuhan agar dapat melihat kembali peristiwa hidup yang telah dialami dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat bersyukur serta memuji Tuhan dan memanjatkan permohonan bagi kehidupan yang akan datang . 3)

  Lokasi dalam Rumah untuk Doa Bersama Tempat yang dirasa nyaman untuk melaksanakan doa bersama dalam keluarga di lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yakni ruang doa. Tempat yang dipilih merupakan tempat yang dirasa nyaman dan hening serta luas sehingga seluruh anggota keluarga dapat mengikuti doa bersama. Bagi keluarga yang memiliki ruang doa keluarga tersebut melaksanakan doa bersama di ruang doa. (Tabel 6) 3.

  Motivasi Untuk Berdoa Keluarga-keluarga kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang kerap kali melakukan doa karena merasa ada kerinduan hati untuk berjumpa dengan Allah.

  Mereka sering merasa kekeringan jiwa sehingga kehilangan makna hidup, dan merasa ditinggalkan Allah atau Allah tidak lagi bersemayam di hati. Kerinduan untuk berjumpa dengan Allah timbul dari hati yang terdalam mendorong untuk berdoa sehingga dapat membantu dalam menemukan makna hidup dan menyegarkan jiwa(Tabel 5 ).

  Penulis melihat bahwa kurangnya kesadaran dari umat bahwa sebenarnya banyak permasalahan yang dialami merupakan pendorong untuk melaksanakan doa. Dapat dipahami bahwa permasalahan-permasalahan dalam keluarga tersebut dapat menghambat terbangunnya hidup doa bersama dalam keluarga. Sering kali keluarga-keluarga kurang menyadari bahwa pentingnya doa bersama dalam memiliki peranan yang sangat besar dalam mempertahankan kehidupan berkeluarga dan terlebih demi semakin kuatnya iman serta keharmonisan keluarga Permasalahan dalam keluarga yang terjadi seringkali mendorong keluarga- keluarga kristiani lingkungan Santa Maria Stasi Majenang untuk berdoa.

  Permasalahan yang cukup pelik, sehingga keluarga berdoa bersama memohon agar diberi kekuatan dari Allah serta dapat menghadapi cobaan hidup. Sering kali keluarga merasa gagal dan putus asa, dengan berdoa dan memohon kekuatan dari Allah keluarga berharap lebih bijak dan tenang serta selalu percaya akan tuntunan Roh Kudus sebagai utusan Allah yang hadir dalam setiap keadaan apapun yang dihadapi keluarga.

4. Harapan umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap atas hidup doa bersama dalam keluarga.

  Keluarga-keluarga kristiani lingkungan Santa maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap memiliki harapan atas hidup doa bersama dalam keluarga pada Paroki. Umat mengharapkan diadakan Retret keluarga dengan latihan doa, rekoleksi keluarga guna menumbuhkan hidup doa bersama dalam keluarga serta Katekese Umat atau Pendalaman Iman dengan tema “Doa bersama dalam keluarga”. Dengan kegiatan hidup menggereja tersebut diharapkan keluarga- keluarga kristiani khususnya keluarga-keluarga Kristiani lingkungan santa Maria Stasi Majenang dapat terbantu dalam menumbuhkan hidup doa bersama dalam keluarga dan semakin kuat dalam iman serta dapat membantu dalam mempertahankan keutuhan keluarga-keluarga kristiani (Tabel 8 dan sharing

5. Makna Doa dalam Keluarga a.

  Makna Doa Pribadi Makna doa pribadi menurut umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yakni komunikasi dengan Allah untuk mengungkapkan isi hati dengan permohonan dan bersyukur kepada Allah akan segala karunia yang diterima dalam kehidupan, doa juga merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah agar senantiasa dekat dan selalu dalam bimbingan Allah serta menghadirkan Allah dalam diri ( Tabel 10)

  Penulis melihat bahwa makna doa pribadi menurut umat hampir mirip dengan uraian para ahli tentang doa. Umat lebih melihat dari segi usaha manusia semata yang berusaha agar Tuhan dapat hadir dan berkarya dalam kehidupannya. Namun sesungguhnya Tuhan sudah hadir dan berkarya dalam diri manusia yang nampak dalam segala anugrah-anugrah yang mendahului ( Tabel 11) b.

  Makna Doa Bersama dalam Keluarga Makna doa bersama dalam keluarga menurut umat lingkungan Santa Maria

  Stasi Majenang yakni menumbuhkan rasa damai, harmonis dan tentram, untuk mempertahankan keutuhan keluarga serta atau tali kekeluargaan, melestarikan iman kristiani menyerahkan seluruh hidup keluarga pada Allah serta mengucap syukur atas kasih yang diterima keluarga dan mendekatkan diri kepada Allah.

  Penulis melihat adanya kerja keras serta usaha dari umat agar senantiasa Tuhan hadir dan menyertai kehidupannya. Umat lebih melihat bahwa dengan doa dapat menghadirkan Tuhan dalam kehidupan bersama, seakan hanya dari pihak

  Kehadiran Tuhan dalam kehidupan bersama seakan karna usaha dari manusia yang menghendaki agar Tuhan dapat hadir dalam kehidupan bersama. Namun sesungguhnya Tuhan telah hadir dan berkarya dalam kehidupan bersama (Tabel 11).

6. Manfaat Doa

  Menurut umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang manfaat doa yakni sebagai pengendalian atas segala sikap dan sifat emosional yang ada dalam diri, penyerahan diri secara total kepada Allah, menumbuhkan cinta pada Allah dan sesama, menumbuhkan kesejukan hati serta doa sebagai penuntun jalan hidup (Tabel 12).

  Doa membantu untuk lebih mengenal diri yang semakin baik. Doa menghadapkkan diri pada pribadi Allah. Doa akan membantu untuk mengenal diri yang lebih objektif dan menyeluruh. Doa yang ditunjukan kepada Allah akan menampakan pribadi melihat diri dengan mata Allah dan disertai dengan terang Allah ( Grun Anselm 1985: 19).

  Penulis melihat bahwa manfaat doa menurut umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap sudah sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Grun Anselm. Doa yang membantu untuk mengenal diri semakin baik serta membantu dalam pengenalan diri yang lebih objektif dan menyeluruh.

D. Kesimpulan

  Setelah melihat hasil penelitian sederhana yang dilakukan penulis terhadap keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pada kenyataannya keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap belum seluruhnya melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Sebagian kecil keluarga-keluarga kristiani memang melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Namun keluarga-keluarga yang telah melaksanakan hidup doa bersama dalam keluarga ini masih perlu ditingkatkan hidup doa mereka.

  Ada berbagai alasan mengapa sebagian besar keluarga kristiani tidak melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Berbagai alasan tersebut diantaranya pertama yakni berbagai kegiatan rutin masing-masing anggota keluarga sehingga sulit untuk menentukan waktu untuk dapat melaksanakan doa bersama. Kedua permasalahan ekonomi keluarga yang mengharuskan anggota keluarganya untuk mencari nafkah di perantauan dan berpisah dengan keluarga. Ketiga, karena dalam keluarga tidak adanya anggota keluarga yang dapat mengajak atau memimpin dalam doa bersama karena merasa tidak bisa atau bingung bagaimana cara memimpin doa bersama. Keluarga-keluarga kristiani di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap lebih memilih melaksanakan doa secara pribadi dari pada doa bersama dengan alasan praktis dan dapat menentukan waktu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Serta keempat jumlah anggota dalam keluarga berpengaruh dalam pelaksanaan doa bersama dalam keluarga. bersama dalam keluarga. Sebaliknya semakin banyak jumlah anggota keluarga semakin sulit untuk dapat melaksanakan doa bersama dalam keluarga karena setiap anggota keluarga memiliki rutinitas yang berbeda sehingga untuk menentukan waktu berdoa bersama tidak mudah.

  Doa yang telah dilaksanakan oleh umat merupakan usaha dari umat yang dalam upaya menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya merupakan pertanda kurangnya kesadaran dari umat, berarti yang sesungguhnya Tuhanlah yang mendahului hadir dan berkarya dalam kehidupannya.

  Para katekis ataupun petugas pastoral Gereja dalam hal ini perlu lebih memperhatikan dan bekerja keras dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang dialami oleh keluarga-keluarga kristiani pada umumnya. Bukankah permasalahan yang kecil jika dibiarkan besar kemungkinan dapat menjadi permasalahan yang besar dan dapat berakibat fatal.

BAB IV KATEKESE UMAT UNTUK MENUMBUHKAN HIDUP DOA DALAM KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI LINGKUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis terhadap umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap dan

  mengetahui kebutuhan umat di sana maka penulis akan mengusulkan program Katekese Umat bagi para pendamping keluarga umumnya dan secara khusus bagi pendamping keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

A. Latar Belakang Pemilihan Program

  Berdasarkan kenyataan bahwa di lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap belum terlaksana kegiatan pendalaman iman secara rutin, dan kegiatan di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap yang ada saat ini adalah Pendalaman Kitab Suci yang dilaksanakan saat bulan Kitab Suci, maka itu penulis menyampaikan usulan program Katekese Umat. Diharapkan Katekese Umat dapat membuat peserta aktif mengkomunikasikan pengalaman imannya khususnya pengalaman hidup berkeluarga. Katekese Umat adalah komunikasi iman yang direncanakan. Perencanaan lebih lanjut dari Katekese Umat ini dapat berupa program. Program Katekese Umat yang disampaikan mengandung juga sarana-sarana yang mendukung dalam pelaksanaan pendalaman iman.

  Program Katekese Umat yang dibuat ini dijadikan acuan untuk menentukan tujuan, isi dan urutan pendalaman iman di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap. Program Katekese Umat yang dibuat menekankan unsur Kitab Suci dan keterlibatan umat. Hal ini dipilih karena kasanah kekayaan Kitab Suci jarang digali dan keterlibatan umat juga dirasa kurang. Dengan pemilihan Katekese Umat sebagai model pendalaman iman diharapkan bisa meningkatkan keterlibatan umat.

  Pendalaman Kitab Suci sendiri tidak identik dengan Katekese Umat. Pada bulan Kitab Suci, materi sudah ditentukan dari keuskupan dan tidak boleh diubah.

  Peserta hanya sebagai pendengar dan mengikuti arahan dari pemandu. Sedangkan pada Katekese Umat, materi atau bahan dipilih sesuai situasi dan kebutuhan umat serta menanggapi pengalaman peserta, pendamping sebagai fasilitator atau sebagai pengarah dan peserta diharapkan dapat lebih aktif.

B. Alasan Pemilihan Tema

  Pendalaman Iman di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap biasanya dilaksanakan pada bulan Kitab Suci. Penulis mengharapkan, bahan pendalaman iman dari program ini dapat menjawab kebutuhan umat lingkungan sehingga ketika Pendalaman Iman ini dilaksanakan satu bulan sekali secara rutinpeserta akan setia mengikutiNya karena umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap memiliki mengharapkan penghayatan iman keluarga dapat ditingkatkan. Selain itu semangat atau sepiritualitas hidup sebagai seorang kristiani juga diharapkan oleh umat untuk dapat berkembang.

  Berangkat dari harapan yang demikian penulis menyusun program Katekese Umat dengan beberapa tema. Tema umum dari usulan program ini adalah “Keluarga Kristiani sebagai Komunitas kasih, Hidup dan Iman”. Dari tema umum yang demikian penulis menjabarkan lebih lanjut ke dalam tiga tema yang menyangkut segi pemahaman, spiritualitas dan menyangkut segi praksis dalam hidup beriman kristiani bagi umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  Program pembinaan yang diusulkan dalam tulisan ini akan dilaksanakan selama 1 (satu) tahun dalam 12 (dua belas) kali pertemuan, sesuai dengan jumlah judul pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan sebulan sekali, dengan judul pertemuan yang berurutan, sebab tema yang disajikan merupakan semacam paket pendampingan yang mau mengolah segi pengetahuan, spiritualitas dan praksis hidup. Seksi pewartaan Lingkungan akan melaksanakan program ini.

  Setiap pertemuan dilaksanakan selama satu sampai dua jam. Dalam setiap pertemuan pada awalnya peserta diajak untuk mengungkapkan pengalaman yang seuai dengan tema pertemuan. Kemudian diajak menemukan pesan Kitab Suci untuk menerangi pengalaman hidupnya, dan hal itu disharingkan dalam kelompok kecil dan akhirnya disharingkan dalam kelompok besar. Selanjutnya peserta diajak untuk mewujudkan pesan Kitab Suci yang menerangi pengalaman iman mereka ke dalam hidupnya sehari-hari.

  Peranan pendamping adalah merangkum apa yang diberikan oleh peserta. Pendamping kemudian memberikan masukan dar sarana yang digunakan dan dari pesan Kitab Suci berdasarkan ilmu tafsir Kitab Suci. Pesan teks dicoba untuk diterapkan sesuai pengalaman peserta. Sampai di sini pendamping berperan membantu peserta untuk menemukan makna teks Kitab Suci bagi pengalaman hidupnya. Dengan demikian diharapkan teks Kitab Suci yang dibaca dapat menjadi tuntunan hidup peserta.

  Program yang dibuat berfungsi sebagai panduan arah keseluruhan Katekese Umat bagi para pendamping keluarga-keluarga di Lingkungan untuk menumbuhkan dan mengembangkan hidup doa dalam keluarga. Diharapkan dengan program katekese umat ini, pendampingan iman di lingkungan Santa Maria Stasi Majenang terfokus dalam menumbuhkan hidup doa dalam keluarga sehingga perencanaan setiap pertemuan dapat berjalan dengan lebih baik dan matang.

  Keseluruhan program Katekese Umat yang diusulkan ini menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP). Langkah-langkah di dalamnya yakni sharing pengalaman umat yang kemudian mendapat peneguhan dari pesan Kitab Suci yang sesuai tema, serta selanjutnya diwujudkan dengan aksi konkret dalam hidup sehari-hari.

C. USULAN PROGRAM KATEKESE Matriks Program Katekese

  Tema Umum : Doa demi Terwujudnya Keluarga Kristiani Sebagai Komunitas Kasih, Hidup dan Iman Tujuan Umum : Meningkatkan Hidup Doa dalam Keluarga-keluarga Kristiani demi terwujudnya keluarga sebagai komunitas Kasih, hidup dan iman.

  Bulan Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  Minggu... Hidup Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1. Lukas 18:1- Fotocopy Teks LBI (2002). Tafsir Januari dalam Doa keluarga- 8 cerita “ Doa” Kitab Suci Alkitab Perjanjian 2009 keluarga

  2. Sarasehan

  2. Baru . Yogyakarta: Pengalaman teks cerita ”Doa”

  Kristiani untuk peserta

  3. Kanisius. Halaman Teks lagu menemukan

  4. 148.

  Daftar makna dan pertanyaan J. Wharton, Paul. manfaat doa

  111 Cerita dan

  dalam hidup

  Perumpama-an bagi

  berkeluarga

  Para Pengkhotbah dan Guru . (1994)

  Yogyakarta: Kanisius, halaman 53-54

  Minggu... Doa Menyadarkan

  1. Pembacaan Yohanes 8:

  Februari bersama Pentingnya Doa 12-20 cerita 2009 dalam Bersama dalam 2. “Memberi pengalaman

  Keluarga Keluarga peserta Waktu Untuk Berdoa” sarasehan

  Bulan Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  Minggu... Berbagi Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1. Lukas Fotocopy Teks 1500 cerita Maret kasih keluarga- 21:34-38 cerita Kitab Suci Bermakna jilid

  2 2009 dengan keluarga kristiani 2. “Kesibukan 2. (1997) Jakarta:

  Pengalaman teks cerita sesama untuk peduli peserta dalam “Kesibukan OBOR halaman 90 sebagai dengan sesama Keluarga” dalam Keluarga” LBI (2002). Tafsir buah dari sebagai wujud Sarasehan

  3. Alkitab Perjanjian Teks lagu doa kasih yang

  4. Baru . Yogyakarta: Daftar berdasar pada pertanyaan Kanisius. doa yang telah Halaman.... dilaksanakannya

  Minggu... Doa sebagai Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1. Kolose Fotocopy Teks Tangan Paling April sarana keluarga- 3:18-25 cerita Kitab Suci Cantik (2004). 2009 komunikasi keluarga kristiani 2. “Mengubah

  2. Yogyakarta: Pengalaman Teks cerita iman untuk peserta dengan Doa” “Mengubah Kanisius, halaman keluarga menciptakan Sarasehan dengan Doa”

  59 dengan komunikasi yang

  3.

  2. Teks lagu Green Thomas, H, Allah baik antar 4. SJ (1988).

  Daftar anggota keluarga pertanyaan Bimbingan Doa , sebagai model

  Yogyakarta : komunikasinya Kanisius dengan Allah. halaman....

  Bulan Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  Minggu... Mengenal Membantu

  1. Pemutaran lagu

  1. LBI (2002). Tafsir

1 Korentus Fotocopy Teks

  Juni Allah lebih keluarga- 2: 9-12 dari Chrisye Kitab Suci Alkitab Perjanjian 2009 dekat keluarga kristiani 2. “Damai

  2. Baru . Yogyakarta: Pengalaman Tape recorder melalui doa untuk mengolah peserta BersamaMu” kaset lagu Kanisius. Halaman keluarga hidup doanya Sarasehan “Damai 260-261 sehari-hari untuk BersamaMu” mendekatkan 3.

  Teks lagu hubungan dengan “Damai Allah .

  BersamaMu” 4. Daftar pertanyaan

  Minggu... Menjadi Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1. Matius 6: 5- Fotocopy Teks 1500 Cerita Juli manusia keluarga- 15 cerita “Doa Kitab Suci Bermakna jilid

  3 2009 pendoa keluarga kristiani

  2. Tanpa Teks” 2. (1998).

  Pengalaman teks Cerita “Doa untuk rutin peserta Sarasehan Tanpa Teks” LBI (2002). Tafsir berdoa sehingga

  3. Alkitab Perjanjian Teks lagu semakin tanggap

  4. Baru . Yogyakarta: Daftar pada sapaan pertanyaan Kanisius. Halaman

  Allah dalam 43-44 hidupnya

  Bulan Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  Minggu... Doa sebagai Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1.

1 Korentus Fotocopy Teks Chicken Soup For Agustus cara keluarga- 2:10-16 cerita Kitab Suci The Couple’s Soul .

  2009 mengenal keluarga kristiani 2. “Seseorang 2. (2003). Jakarta: pengalaman teks Cerita diri untuk dapat peserta Untuk “Seseorang Gramedia Halaman mengenal diri Dimiliki” Untuk dimiliki” 199-2002. lebih dalam Sarasehan 3.

  2. Teks lagu Grun Anselm. (...) melalui doa

  4. Doa dan Mengenal Daftar pertanyaa Diri . Yogyakarta:

  Kanisius. Halaman 49-50

  Minggu... Hidup Doa Membantu

  1. Menonton

  1. LBI (2002). Tafsir Yohanes 17: Fotocopy Teks

  September Yesus keluarga- 1-19 Slide “ Kisah Kitab Suci Alkitab Perjanjian 2009 keluarga kristiani

  2. Hidup Doa

  2. Baru . Yogyakarta: pengalaman Slide “Kisah untuk dapat peserta Yesus” Hidup Doa Kanisius. Halaman mengenal hidup Sarasehan Yesus” 192-193 doa Yesus untuk 3.

  Teks lagu diteladani

  4. Daftar pertanyaan

  Bulan Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  Minggu... Permasalaha Membantu

  1. Pembacaan 1.

  1. Amsal 21: Fotocopy Teks Dahaga Akan Allah Oktober n dalam keluarga- 1-31 cerita “Rasa Kitab Suci (1986). 2009 berdoa keluarga kristiani

  2. Lapar yang

  2. Yogyakarta: Pentingnya Teks cerita untuk ketekunan Bisu dan Buta” “Rasa Lapar Kanisius halaman menemukan dalam Sarasehan yang Bisu dan 14-16 kesulitan- berdoa Buta”

  2. LBI (2002). Tafsir kesulitan yang

  3.

  3. Alkitab Perjanjian Latihan Teks lagu dihadapi dalam ketekunan

  4. Baru . Yogyakarta: Daftar berdoa serta dalam pertanyaan Kanisius. Halaman tekun berdoa

  55-56 mengupayakanny a

  Minggu... Menjaga Membantu

  1. Pemutaran

  1. J. Darminta SJ. (...) Matius 8: Fotocopy Teks

  November dan keluarga- 19-22 Film” Sister– Kitab Suci Berbagai segi 2009 mengemban keluarga kristiani

  2. Act”

  2. Penghayatan Hidup Pengalaman Player gkan agar mampu peserta Sarasehan

  3. Religius.

  CD/ DVD Film semangat menjaga dan “Sister Act” Yogyakarta: doa memupuk hidup

  4. Kanisius. Halaman Teks lagu doanya dalam

  5. 56-59 Daftar hidup sehari-hari pertanyaan

  Minggu... Bentuk- Membantu

  1. Diskusi

  1. J. Darminta SJ. (...) Yohanes Fotocopy Teks

  Desember bentuk keluarga- 17:20-26 kelompok Kitab Suci

  Berbagai segi

  2009 praktek doa keluarga kristiani

  2. Sarasehan

  2. Penghayatan Hidup Pengalaman Teks lagu dalam menambah peserta

  3. Religius.

  Daftar pengetahuan dan pertanyaan Yogyakarta: wawasan

  Kanisius. Halaman mengenai doa 59-66

  Contoh Persiapan 1

CONTOH PERSIAPAN KATEKESE

DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)

  1. Identitas Satuan Persiapan

  a. Tema Hidup Dalam Doa

  b. Tujuan Bersama-sama pendamping peserta semakin menyadari pentingnya doa dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari dan tidak pernah jemu untuk berdoa.

  c. Peserta Orang tua

  d. Tempat Di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang

  e. Waktu 19.00 – 21.00 WIB f . Metode Sharing pengalaman, Informasi, tanya-jawab.

  g. Sarana Kitab Suci, cerita ”Doa”, kertas flep, alat tulis, daftar pertanyaan h. Sumber Bahan Lukas 18: 1-8

  LBI. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hal.148.

  J. Wharton, Paul. 111 Cerita dan Perumpamaan bagi Para

  Pengkhotbah dan Guru . Yogyakarta: Kanisius, 1994. hal 53-54.

  2. Pemikiran Dasar Kenyataan hidup sehari-hari dalam kehidupan berkeluarga menunjukan, keluarga-keluarga kristiani ini kurang menyadari campur tangan Allah dalam hidupnya. Allah sebagai penuntun hidupnya tidak mendapat tempat yang baik dalam hidupnya. Sebaliknya kepentingan lain yang bersifat materi lebih mendapat tempat penting dalam hidupnya. Pemahaman akan doa juga sering masih kurang.

  Dalam kesehariannya hidup doa kurang mendapat perhatian bahkan terkadang tidak pernah dilakukan. Berdoa mereka hanya sebatas pada waktu kesempatan- kesempatan khusus seperti: hanya pada waktu ke Gereja, pendalaman iman, rosario dan lain sebagainya. Dalam keseharian patutlah mereka lakukan sebagai orang beriman, berdoa kepadaNya.

  Dalam Injil Lukas 18: 1-8 dikatakan bahwa Allah selalu menuntun umatNya yang selalu berseru kepadaNya. Dengan berdoa seseorang semakin menyadari ketergantungan dan campur tangan Allah dalam hidup sehari-hari. Yesus mengajak mengikutiNya untuk berdoa, supaya hidup mereka selalu mengalami kedamaian dan sukacita. Yesus mengajar kepada murid-muridNya untuk selalu menjalin relasi dengan Allah seperti yang telah dilakukan Yesus sendiri. Manusia berharap supaya Ia akan mendengarkan segala doa yang diucapakan dengan tulus, tanpa henti-hentinya dilaksanakan sehingga kita semakin mampu menyadari bahwa Allah hadir dalam diri manusia dan merasakan campur tangan Allah serta kebaikanNya.

  Lewat pertemuan ini, keluarga-keluarga Kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang paroki Santo Stefanus Cilacap diajak menyadari pentingnya doa dalam kehidupan sehari-hari sehingga dari situ mereka semakin mampu merasakan manfaat doa yang dijalani dalam kehidupannya dan mereka tidak pernah bosan untuk berdoa, dengan demikian kehidupan doa mereka semakin berkembang dan mereka semakin tumbuh menjadi dewasa dalam iman.

  3. Pengembangan Langkah-langkah

  a. Pembukaan 1)

  Kata pengantar Bapak ibu warga Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang yang dikasihi

  Tuhan kita berkumpul di sini sebagai satu saudara yang dikasihi Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengabaikan doa. Kita kurang menyadari pentingnya hidup doa yang sebenarnya membantu untuk membangun relasi yang erat dengan Allah. Dari situasi tersebut, kita ingin berbagi pengalaman mengenai hidup doa kita selama ini. Kita mau melihat relasi kita dengan Allah, apakah doa sudah mendapatkan tempat yang baik dalam hidup kita? 2)

  Lagu pembukaan

  ”Bapa Surgawi”

  Bapa surgawi ajarku mengenal betapa dalamNya kasihMu Bapa surgawi buatku mengerti betapa kasihMu padaku Semua yang terjadi di dalam hidupku ajarku menyadari Kau slalu sertaku B’ri hatiku slalu bersyukur padaMu Karna rencanaMu indah bagiku

  3) Doa pembukaan

  Ya Allah bapa yang baik. Kami bersyukur dan berterimakasih karena Kau kumpulkan kembali di tempat ini. UmatMu berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama berbicara tentang pentingnya doa bagi kehidupan dalam keluarga kami. Kami bersama-sama ingin membangun hidup doa yang baik dalam keluarga kami dan lebih mengetahui serta memahami iman kami agar penghayatan iman kami dalam hidup sehari-hari dapat semakin diteguhkan dan dikembangkan.

  Utuslah Roh KudusMu ya Tuhan agar menerangi budi dan hati kami hingga kami dapat lebih mengetahui dan memahami iman kami akan Dikau dengan lebih dalam Amin.

  b.

  Langkah I : Mengungkapkan Pengalaman Hidup Doa Peserta Pendamping membagikan teks cerita dengan judul ”Doa”. Peserta diberi waktu untuk membaca cerita yang telah dibagikan secara pribadi

  1) Penceritaan kembali isi cerita:

  Pendamping minta salah satu peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat isi pokok cerita ”Doa”.

  Cerita: ”DOA’

  Seorang putri kecil sangat senang akan bonekanya. Pada suatu hari karena kurang hati-hati boneka itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Saudaranya yang melihat itu tertawa. Putri kecil itu mengatakan kepada saudaranya, ”Tertawalah sepuasmu, tetapi saya akan berdoa supaya Tuhan dapat memperbaiki boneka saya.” mendengar itu saudaranya malah tambah mengejeknya dengan mengatakan, ”Tuhan tidak akan memenuhi permohonanmu.” Gadis itu menjawab dengan penuh keyakinan, ”Mari kita bertaruh, Tuhan akan menjawab permohonanku.” Gadis itu mulai berdoa sedangkan saudaranya keluar untuk bermain. Beberapa jam kemudian saudaranya masuk lagi ke dalam rumah dan boneka itu masih tetap dalam kepingan-kepingan. Lalu saudaranya itu berkata, ”Nampaknya engkau kalah taruhan. Tuhan sama sekali tidak menjawab doamu.” Gadis itu menjawab, ”Tuhan menjawab doa saya, tetapi Dia mengatakan tidak.” 2)

  Intisari Cerita Seorang putri kecil yang senang dengan boneka, suatu ketika tanpa hati-hati bonekanya terjatuh dan pecah. Putri kecil itu hanya membiarkan saudaranya yang mentertawakannya. Putri kecil itu berdoa supaya bonekanya yang pecah berkeping-keping dapat diperbaiki oleh Tuhan. Putri kecil itu dengan penuh keyakinan menjawab taruhan dari saudaranya bahwa Tuhan pasti akan mendengarkan permintaannya itu. Putri kecil kemudian berdoa dan saudaranya pergi bermain, saudaranya melihat kekamar dan didapati bahwa bonekanya itu masih tetap masih berkeping-keping. Saudaranya mengatakan pada putri kecil bahwa dia kalah taruhan, saudaranya itu tidak melihat perubahan apa-apa. Putri kecil itu mengatakan pada saudaranya bahwa ”Tuhan menjawab doanya tetapi Tuhan mengatakan tidak.”

  3) Pengungkapan pengalaman. Peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a)

  Hal apa yang membuat putri kecil itu berdoa dalam cerita tersebut?

  b) Ceritakanlah kesulitan-kesulitan bapak-ibu dalam berdoa!

  4) Arah rangkuman

  Dalam cerita tersebut digambarkan seorang putri kecil yang menyerahkan segala kejadian dalam hidupnya kepada Tuhan, dia percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan doanya. Tidak seperti saudaranya yang hanya mentertawakannya karena dia tidak percaya Tuhan akan mengabulkan permintaan putri kecil itu.

  Putri kecil mengatakan kepada saudaranya bahwa doanya dijawab oleh Tuhan, tetapi Tuhan mengatakan ”tidak” padanya.

  Dalam hal berdoa, kita sering mengungkapkan kerinduan dan menjalin relasi denganNya tetapi kita kurang menyadari kehadiran dan campur tanganNya dalam hidup kita. Kita terkadang hanya mempunyai pemahaman bahwa doa sebatas pada waktu mengikuti Ekaristi maupun ibadat-ibadat, di luar itu sulit kita lakukan.

  Untuk berdoapun kita terkadang mempunyai hambatan-hambatan yang pada akhirnya kita tidak jadi untuk berdoa. Terkadang juga kita berdoa hanya untuk meminta serta memohon hasil yang nyata dari Tuhan tanpa perlunya usaha dari kita sendiri. Hidup kita di dunia ini selain hidup jasmani sangat dibutuhkan juga hiduprohani.. hidup rohani salah satunya terbentuk lewat doa, dengan doa semakin menambah penghayatan iman serta kita semakin mampu merasakan kebaikan Allah dan campur tangan Allah dalam hidup sehari-hari.

  1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita di atas dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: a)

  Mengapa saudara putri kecil dalam cerita tadi mengejeknya?

  b) Bagaimana cara bapak ibu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam berdoa?

  2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping mencoba memberikan rangkuman.

  3) Arah Rangkuman

  Setiap orang tentunya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam berdoa, sehingga kehadiran Allah masih sulit disadari. Kesulitan yang kita hadapi tersebut terkadang merupakan hambatan bahkan sebagai penghalang bagi kita untuk dapat merasakan kehadiran Allah dalam diri kita. Secara khusus kita memberikan waktu untuk mengikuti perayaan Ekaristi atau ibadat-ibadat, tetapi terkadang untuk dapat berdoa secara pribadi ataupun bersama dalam keluarga masih sulit untuk kita lakukan. Dengan menyadari campur tangan Allah dalam hidup kita, kita semakin mampu untuk menyadari kehadiranNya melalui sesama kita. Dengan kurangnya kesadaran kita untuk berdoa, akan berkurang pula penghayatan iman kita. Berdoa hanya sebagai rutinitas tanpa sungguh-sungguh menghayati arti doa itu sendiri.

  Kepentingan-kepentingan duniawi terkadang menjadikan kita lalai akan kebutuhan rohani kita. Dengan kesibukan yang ada membuat kita lupa untuk berkomunikasi dengan Allah.

  d.

  Langkah III : Menggali Pengalaman Iman Kristiani 1)

  Salah satu peserta diminta untuk membacakan perikop Kitab Suci, dari Injil Lukas 18: 1-8 :”Perumpamaan Tentang Hakim Yang Tak Benar” Ayat

  1. Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

  2. KataNya: ” Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.

  3. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: belalah hakku terhadap lawanku.

  4. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,

  5. Namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku akan membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

  6. Kata Tuhan: ” Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!

  7. Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya? Dan adakah ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?

  8. Aku berkata kepadamu: ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika anak manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? 2)

  Peserta diberi waktu untuk hening sejenak, secara pribadi membaca kembali bacaan tersebut.

  3) Pendamping mengajak peserta untuk merenungkan dan menanggapi bacaan

  Kitab Suci dengan tuntunan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  a) Menurut bapak ibu ayat mana yang merupakan ajakan atau himbauan untuk selalu berdoa? b)

  Sikap mana yang ingin ditanamkan oleh Yesus dalam berdoa? 4)

  Pendamping memberikan tafsir dari bacaan Kitab Suci Injil Lukas 18: 1-8 dan menghubungkannya dengan tema dan tujuan pertemuan.

  Pada kisah Injil Lukas 18:1-8, memperlihatkan suatu perumpamaan tentang Allah yang memberi hidup ini. Yesus sendiripun dengan rendah hati menyadari ketergantungan dan kebersamaanNya dengan Allah Bapa di surga. Dengan berdoa, Yesus selalu meminta petunjuk untuk menjalankan misiNya sehingga segala sesuatu yang Yesus lakukan memperoleh kekuatan dari BapaNya.

  Yesus menyadari bahwa diriNya tidak dapat hidup tanpa Allah. Hal ini mendorong Yesus untuk terus menerus berkomunikasi dengan bapaNya melalui doa.

  Yesus selalu mengajarkan kepada muridNya untuk berdoa tanpa jemu, sehingga relasi mereka dengan Allah semakin tumbuh dan berkembang. Sikap berdoa yang ingin Yesus ajarkan kepada mereka yaitu berdoa dengan sikap rendah hati. Sejenak melepaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal duniawi, dan lebih memusatkan pada tujuan utama kita dalam doa yaitu Allah sendiri. Para murid mengakui keslahan mereka di hadapan Allah dan dari doa itu mereka memperoleh sesuatu yang dapat menjadi semangat untuk semakin hidup dalam jalan-Nya, serta dapat melaksanakan perintahNya.

  Sebagai murid Kristus dan sebagai orang beriman perlu membangun relasi yang akrab dengan Allah salah atunya berkomunikasi dengan lewat doa.

  Hubungan yang dibangun dengan Allah pertama-tama terjadi secara batin. Dengan iman maka seseorang akan tergerak hatinya untuk berdoa kepada Allah. Doa yang dilaksanakan dalam hidup sehari-hari perlu dilaksanakan untuk menghayati hidup seturut dengan sikap Yesus, dimana Yesus sendiri telah mengajarkan bagaimana seharusnya berdoa. Kehidupan yang dibangun harus mencerminkan penyerahan diri yang utuh kepada Allah.

  1) Pengantar

  Dari pertemuan ini kita btelah mendengarkan sharing pengalaman mengenai hidup doa dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebagai umat yang beriman kepadaNya sekiranya dapat selalu berdoa tanpa jemu dan selalu memuliakan Allah. Hidup dalam doa akan membawa kedamaian dalam diri kita yang pada akhirnya kita sebagai umat beriman dapat menyadari kehadiran Allah serta campur tangan Allah dalam langkah hidup kita. Kita berharap supaya dalam hidup kita, Allah yang selalu turut serta di dalamnya. Oleh karena itu kitapun semakin menghayati iman kita akan Yesus Kristus serta kita mempunyai semangat untuk menjadi pengikutNya yang setia.

  2) Sebagai bahan refleksi akan pengalaman hidup doa kita selama ini, serta supaya kita semakin dapat menghayati bahwa hidup doa sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan melihat situasi konkret di dalam kehidupan sehari-hari kita berkaitan dengan hidup doa dengan tuntunan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  a) Apakah lewat Kitab Suci ini kita dapat semakin disadarkan akan pentingnya doa sebagai orang Kristiani? Mengapa? b)

  Sikap-sikap mana yang bisa kita tumbuhkan dalam berdoa? 3)

  Rangkuman Yesus telah banyak mengajarkan kepada kita tentang doa. Semua yang diajarkan Yesus kepada kita menuntut supaya kita menanggapi dengan cara mewujudkan doa dalam hidup sehari-hari. Sebagai pengikut Kristus kita harus tanpa bosannya kita ingin selalu berkomunikasi denganNya. Kita meninggalkan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan doa kita merasakan Allah sungguh memberikan kedamaian dan kesejukan dalam hidup kita. Karena itulah untuk semakin menumbuhkan iman dalam diri kita, relasi yang dekat dengan Allah dapat membantu kita untuk semakin menghayati serta memperkuat iman kita kepadaNya. Dengan hal itu juga kita semakin menyadari bahwa Allah berkarya dalam diri kita.

  f.

  Langkah V : Mengusahakan Suatu Aksi Konkret 1)

  Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus. Kita telah menggali pengalaman tentang hidup doa yang kita laksanakan dalam hidup sehari-hari lewat cerita doa, sehingga dari pelaksanaan doa itu kita semakin mampu merasakan campur tangan Allah dalam kehidupan kita, diharapkan kita semakin mampu menyadari bahwa dalam situasi apapun Allah selalu turut campur tangan dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami.

  Kita sebagai orang beriman dapat selalu mengikuti teladan Yesus. Yesus memberi waktu khusus dan meninggalkan kepentingan serta serta kesibukanNya dan pergi untuk berdoa. Lewat doa, Yesus selalu meminta petunjuk dalam melaksanakanpekerjaanNya dan dalam berelasi dengan Bapa. Lewat doa, Yesus memperoleh kekuatan untuk menjalankan misiNya di dunia.

  Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyadari kebaikan Allah lewat sesama dan campur tanganNya dalam setiap perjalanan hidup kita. Dengan itu kita semakin tanggap dan peka menyadari kehadiran Allah di sekitar kita dan khususnya di dalam hati kita sendiri.

  2) Pertanyaaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat:

  Niat apa yang hendak kita lakukan supaya hidup doa kita semakin berkembang? 3)

  Perwujudan Aksi Konkret

  a) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut? b)

  Apa yang akan anda perbuat setelah pulang dari tempat ini berkait dengan tema Katekese Umat kita? c)

  Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat itu? g.

  Penutup 1)

  Setelah merumuskan niat pribadi dan bersama, peserta diajak untuk membicarakan niat-niat pribadi atau kelompok 2)

  Kesempatanm doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dan dilanjutkan oleh peserta, kemudian dari doa permohonan disatukan dengan doa Bapa Kami.

  3) Doa penutup

  Tuhan Yesus yang penuh kasih, terimakasih atas kasih dan cintaMu karena berkat rahmatMu dan lewat pengalaman bapak ibu yang telah kami dengarkan doa, kami mampu menyadari dan merasakan kebaikan Allah dalam hidup kami sehari-hari. Kami mohon juga penyertaanMu, supaya kami tetap bersandar dan mengandalkan Allah sebagai sumber hidup kami. Bantulah kami supaya niat-niat kami dapat kami wujudkan dalam kehidupan di tengah masyarakat sehingga kami semakin mampu meraskan campur tanganMu dalam kehidupan sehari-hari kami. Akhirnya ya bapa, semoga lewat hidup doa, kami semakin menghayati iman kami akan Yesus Kristus. Amin.

  4) Sesudah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan lagu penutup dari Kidung Ekaristi No. 42 ” Keheningan Hati”

  ”Keheningan Hati”

  Di sela hening hati ini kudengar sabdaMu ya Tuhan Menggema lembut dalam kalbu membuka mata hatiku. Refren.

  Ajarku tuk selalu setia menjadi saksi dan pewarta, Hingga di seluruh dunia memujiMu Alleluia. Refren.

  Refren Kuingin melangkah sturut sabdaMu Agar kuselalu dekat denganMu Kan kuwartakan sabdaMu Tuhan ke seluruh penjuru dunia.

  Contoh Persiapan 2

CONTOH PERSIAPAN KATEKESE

DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)

  1. Identitas Satuan Persiapan

  a. Tema Doa Bersama dalam Keluarga

  b. Tujuan Bersama-sama pendamping peserta diajak untuk semakin menyadari nilai doa bersama dalam keluarga, sehingga mereka semakin sering melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari keluarga.

  c. Peserta Orang tua

  d. Tempat Di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang

  e. Waktu 19.00 – 21.00 WIB f . Metode Sharing pengalaman, Informasi, tanya-jawab.

  g. Sarana Kitab Suci, kertas flep, alat tulis, daftar pertanyaan

  h. Sumber bahan Matius 7: 7- 11 LBI. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.

  1500 Cerita bermakna jilid 2 (1997) Jakarta: OBOR 2.

  Pemikiran Dasar Pada kenyataannya hidup doa dalam keluarga kristiani kurang mendapat perhatian. Kesibukan masing-masing anggota keluarga menjadi salah satu penyebab tidak terlaksananya doa bersama dalam keluarga. Sebab lain kurang adanya kesadaran dari keluarga-keluarga kristiani bahwa Allah hadir dan berkarya dalam kehidupan mereka.

  Pengertian doa yang minim pada keluarga-keluargasering juga menghambat untuk semakin menghayati iman serta tumbuhnya hidup doa dalam keluarga.

  Keluarga-keluarga kristiani pada umumnya merasa bahwa berdoa ketika ke Gereja di hari Minggu sudah cukup. Namun yang memprihatinkan adanya anggapan dari keluarga-keluarga kristiani bahwa ke gereja setiap hari Minggu hanyalah kewajiban dan himbauan dari Gereja dan tidak ada kesadaran bahwa berdoa merupakan hal yang penting demi kemajuan kehidupan rohani.

  Dalam Injil Matius 7:7-11 memperlihatkan kebaikan Allah pada umatNya. Allah akan memberikan apapun yang diminta dan bagi siapapun yang meminta akan diberi.

  Melalui pertemuan ini, keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap disadarkan akan pentingnya doa bersama dalam keluarga sehingga termotivasi untuk membiasakan doa bersama dalam keluarga tanpa rasa terpaksa.

3. Pengembangan Langkah-langkah a.

  Pembukaan 1)

  Kata Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, kita berkumpul disini sebagai saudara seiman yang dikasihi Allah. Dalam kehidupan berkeluarga, kita sering kurang menyadari akan pentingnya doa bersama dalam keluarga. Doa bersama dalam keluarga merupakan sebuah komunikasi iman keluarga dengan Allah agar keluarga semakin dekat dan mengenal Allah.

  Dari situasi tersebut kita ingin saling berbagi pengalaman melaksanakan doa bersama dalam keluarga. Apakah relasi keluarga dengan Allah sudah tercipta dengan baik dan apakah kita dapat mengenal Allah lebih dekat? 2)

  Lagu Pembukaan “Hanya PadaMu Tuhan” Madah Bakti No 317 3)

  Doa pembukaan Allah Bapa yang penuh kasih, kami mengucap syukur atas Anugrah yang

  Kau limpahkan kepada kami khususnya melalui keluarga kami. umatMu berkumpul di tempat ini untuk berbicara tentang pentingnya doa bersama dalam keluarga, guna semakin kuatnya iman keluarga kami serta semakin mengenal dan dekat denganMu. Utuslah Roh KudusMu untuk hadir di tengah kami, agar apa yang kami bicarakan bersama memberikan semangat dalam mewujudkan rencana dan cita-cita kami yakni membiasakan doa bersama dalam keluarga. Amin.

  b.

  Langkah I : Mengungkapkan Pengalaman Hidup Doa Bersama dalam Keluarga

  1) Pendamping membegikan teks cerita dengan judul ” Memberi Waktu Untuk

  Berdoa.” Peserta diberi waktu untuk membaca cerita yang telah dibagikan oleh pendamping. Cerita: ” Memberi Waktu Untuk Berdoa.” Ketika pastor sedang melakukan sensus umat di parokinya, dia bertanya kepada salah satu keluarga: ” Apakah kalian doa bersama?” ”oh.. pastor.” jawab kepala keluarga itu,” Kami tidak punya waktu untuk itu.” Pastor itu berkata lagi,” Seandainya kamu tahu bahwa salah seorang anakmu akan sakit jika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam suatu kecelakaan, apakah kamu tidak berdoa bersama?” Sekali lagi jawabnya adalah,” Kami pasti melakukannya,” ”seandainya, pastor itu mejanjutkan,” bahwa setiap hari di mana kamu lupa berdoa, kamu akan dihukum lima dolar, apakah kamu akan berdoa?” ”Tentu, pastor. Tapi apakah maksud dari pertanyaan-pertanyaan ini? ”Begini,” jawab pastor itu. ”Masalahmu bukanlah waktu. Kamu bisa mencari waktu. Masalahnya adalah bahwa kamu tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting sebagaimana membayar denda atau menjaga agar anak-anakmu tetap sehat. rahmat Allah yang diperoleh melalui doa adalah lebih penting dari pada hal-hal lain yang bisa kamu bayangkan.” 2)

  Pengungkapan Pengalaman Peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a)

  Dari cerita tersebut apa pertanyaan pertama yang dilontarkan pastor kepada keluarga tersebut? b)

  Menurut bapak ibu apa motivasi pastor datang mengujungi keluarga tersebut

  3) Arah rangkuman

  Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang menghambat dalam mewujudkan niat untuk melaksanakan hidup doa bersama dalam keluarga.

  Dengan adanya hambatan-hambatan tersebut terkadang membuat keluarga- keluarga pada umumnya enggan melaksanakan doa bersama dalam keluarga.

  Rutinitas anggota keluarga yang menyita banyak waktu, pikiran serta tenaga sehingga lupa menyisakan waktu untuk melaksanakan doa bersama dalam keluarga.

  Sebagai keluarga kristiani, perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup doa bersama dalam keluarga. Doa bersama keluarga bukan sekedar sebagai kewajiban namun perlu disadari doa bersama merupakan suatu kebutuhan serta kepenuhan hidup rohani.

  c.

  Langkah II : Mendalami Pengalaman Hidup Peserta Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut:

  1) Apa yang menjadi kendala bagi bapak ibu dalam melaksanakan doa bersama dalam keluarga?

  2) Bagaimana bapak ibu dalam mengatasi kesulitan pada pelaksanaaan doa bersama dalam keluarga?

  3) Arah Rangkuman

  Doa bersama dalam keluarga, dalam kenyataannya masih kurang mendapat perhatian dari keluarga-keluarga kristiani. Kesibukan masing-masing anggota keluarga. Kesulitan-kesulitan ketika hendak melaksanakan doa bersama dalam keluarga yang terkadang membuat keluarga enggan melaksanakannya. Perlu ketekunan dan kesabaran untuk dapat melaksanakan doa bersama dalam keluarga sehingga tujuan untuk mengenal Allah lebih dekat dapat tercapai.

  d.

  Langkah III : Menggali pengalaman Iman Kristiani 1)

  Salah satu peserta diminta untuk membacakan perikop Kitab Suci, dari Injil Matius 7:7-11 dari teks yang dibagikan.

  Matius 7:7-11: ”Hal Pengabulan Doa”

  

7 ” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan

mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

  

8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari

mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

  

9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia

meminta roti.

  10 Atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

  

11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-

  anakmu, apalagi bapamu yang di Sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang minta kepadaNya.

  2) Peserta diberi waktu untuk hening sejenak, secara pribadi membaca kembali bacaan tersebut.

  3) Pendamping mengajak peserta untuk merenungkan dan menanggapi bacaan

  Kitab Suci dengan tuntunan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  a) Ditujukan pada siapa kata-kata tersebut dalam Kitab Suci?

  b) Menurut bapak ibu, ayat mana yang menunjukan sikap kebaikan Allah pada umatNya? Mengapa?

  4) Pendamping memberi tafsir dari bacan Kitab Suci dan menghubungkannya dengan tema dan tujuan pertemuan.

  Kisah Injil Matius 7:7-11, memperlihatkan akan kebaikan Allah pada umatNya. Allah akan memberikan apapun yang diminta dan bagi siapapun yang meminta dengan disertai iman.

  Agar relasi manusia dengan Allah dapat lebih dekat maka umatNya perlu meningkatkan komunikasi yang baik dengan Allah yakni melalui doa.

  Komunikasi yang dibangun melalui doa, akan membantu terjadinya hubungan yang lebih dekat denganNya. Agar iman keluarga-keluarga kristiani semakin kuat serta mereka dekat dengan Allah, mereka perlu mengupayakan komunikasi yang baik dengan Allah melalui doa bersama dalam keluarga.

  e.

  Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani Dalam Siutuasi Konkret Peserta 1)

  Pengantar Dari pertemuan ini kita telah mendengarkan sharing pengalaman mengenai hidup doa bersama dalam keluarga pada kehidupan sehari-hari. Kita sebagai umat yang beriman kepada Allah sekiranya dapat perlu banyak berdoa dan memuliakan kita akan kehadiran Allah serta campur tanganNya dalam kehidupan sehari-hari di keluarga kita.

  2) Sebagai bahan refleksi akan pengalaman hidup doa dalam keluarga, serta supaya kita semakin menyadari bahwa doa bersama dalam keluarga sangat bernilai dalam kehidupan sehari-hari kita, beberapa pertanyaan berikut dapat membantu.

  a) Apakah berkat Kitab Suci, kita semakin sadar akan pentingnya doa dalam keluarga? Mengapa? b)

  Sikap-sikap mana yang perlu ada saat akan melaksanakan doa dalam keluarga? c)

  Apa yang anda alami setelah melakukan doa bersama dalam keluarga? 3)

  Arah rangkuman Sebagai pengikut Kristus, kita harus memberi tempat serta waktu yang utama untuk berkomunikasi denganNya lewat doa dalam keluarga. Dengan doa dalam keluarga khususnya doa bersama, dapat dirasakan bahwa Allah memberikan kedamaian dalam mkeluarga dan kasih Allah yang sungguh besar kepada umatNya semakin disadari. Karena itulah untuk semakin menumbuhkan iman keluarga, relasi yang yang dekat dengan Allah akan membantu memperkuat iman kepadaNya. f.

  Langkah V : Mengusahakan Aksi Konkret 1)

  Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, kita telah menggali pengalaman tentang hidup doa bersama dalam keluarga pada kehidupan sehari-hari lewat cerita ”Memberi Waktu Untuk Berdoa”, sehingga dari pelaksanaan doa bersama dalam keluarga itu semakin mampu merasakan campur tangan Allah dalam kehiupan kita. Doa bersama dalam keluarga merupakan upaya agar iman keluarga kita semakin kuat dan dapat lebih dekat dengan Allah.

  2) Pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat:

  Supaya kebiasaan doa bersama dalam keluarga semakin tumbuh, apa yang menjadi niat anda? 3)

  Rencana aksi konkret

  a) Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan niat-niat itu?

  b) Apa yang akan anda perbuat setelah pulang dari tempat ini berkait dengan tema Katekese kita ini?

  Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, setelah kita bersama-sama membicarakan apa yang menjadi rencana sebagai wujud aksi konkret marilah kita mohon berkat pada Allah agar apa yang menjadi cita-cita kita bersama dapat terlaksana.

  Setelah merumuskan niat pribadi, peserta diajak untuk membicarakan niat-niat pribadi dan diberi waktu 10 menit masuk dalam kelompok. Setelah peserta dan diberi kesempatan doa umat atau doa spontan yang diawali oleh pendamping dan dilanjutkan peserta, dan disatukan dengan doa Bapa Kami.

  Contoh persiapan 3

CONTOH PERSIAPAN KATEKESE

DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)

  1. Identitas Satuan Persiapan

  a. Tema Mengenal Allah Lebih Dekat Melalui Doa

  b. Tujuan Bersama-sama pendamping peserta diajak untuk melaksanakan doa dalam kehidupan sehari-hari agar dapat mengenal Allah lebih dekat.

  c. Peserta Orang tua

  d. Tempat Di Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang

  e. Waktu 19.00 – 21.00 WIB f . Metode Sharing pengalaman, Informasi, tanya-jawab.

  g. Sarana Kitab Suci, kertas flep, alat tulis, daftar pertanyaan, kaset lagu, tape recorder h. Sumber bahan 1 Korintus 2:9-12

  LBI. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.

2. Pemikiran Dasar Melalui doa, manusia dapat terbantu untuk mengenal Allah lebih dekat.

  Allah yang hadir dalam kehidupan manusia terkadang kurang dapat dirasakan oleh manusia. Kurang dekatnya pengenalan akan Allah penyebabya yakni diantaranya manusia kurang terbuka dan kurang mendengarkan sabda Allah.

  Doa menjadi salah satu cara untuk dapat berkomunikasi dengan Allah. Semakin sering seseorang berkomunikasi dengan Allah, maka akan semaikin dekatlah seseorang tersebut dengan Allah, atau semakin ia mengetahui yang menjadi kehendakNya Allah tidak pernah menutup pintu bagi umatNya yang ingin dekat denganNya. Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenalNya. Allah akan terbuka bagi siapapun yang ingin dekat denganNya bahkan bagi umatNya yang berdosa sekalipun.

  Dalam 1 Korintus 2: 9-12 dikatakan bahwa besarlah kasih Allah kepada umatNya. Allah memberi karunia serta anugerah yang begitu agung pada umat manusia yang dicintaiNya. Dibutuhkan kepekaan hati dari manusia agar dapat mengenal dan dekat dengan Allah.

  Melalui pertemuan ini, keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap dapat melaksanakan doa dalam kehidupan sehari-hari, agar dapat lebih mengenal Allah, sehingga semakin siap pula melaksanakan kehendakNya sehingga akan semakin dekat denganNya..

3. Pengembangan Langkah-langkah a.

  Pembukaan 1)

  Kata Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, kita berkumpul di sini sebagai saudara seiman. Dalam kehidupan sehari-hari, kurang memberikan waktu untuk doa. Doa yang merupakan komunikasi dengan Allah jika sering dilaksanakan,Allah akan membuat kita semakin dekat denganNya. Membuka hati

  Oleh sebab itu, kita ingin saling berbagi pengalaman pengolahan hidup doa sehari-hari. Apakah kita sudah terbuka terhadap kehadiran Allah yang bersabda? Allah yang memiliki kehendak dan rencanaNya bagi kita? 2)

  Lagu pembukaan

  ”Keheningan Hati”

  Di sela hening hati ini kudengar sabdaMu ya Tuhan Menggema lembut dalam kalbu membuka mata hatiku. Refren.

  Ajarku tuk selalu setia menjadi saksi dan pewarta, Hingga di seluruh dunia memujiMu Alleluia. Refren.

  Refren Kuingin melangkah sturut sabdaMu Agar kuselalu dekat denganMu Kan kuwartakan sabdaMu Tuhan ke seluruh penjuru dunia.

  3) Doa pembukaan

  Allah bapa yang penuh kasih, syukur dan terima kasih atas cinta dan kasih yang Kau anugrahkan dalam kehidupan sehari-hari kami. umatMu berkumpul di tempat ini untuk berbicara tentang bagaimana agar kami dapat dekat denganMu. Utuslah Roh KudusMu untuk hadir di tengah-tengah kami, agar apa yang kami bicarakan bersama dapat mendukung rencana dan niat-niat kami yakni supaya lebih dekat denganMu dan mengetahui kehendakMu. Dikau kami puji kini dan sepanjang masa .Amin. b.

  Langkah I : Mengungkapkan Pengalaman Pengolahan Hidup Doa Sehari-hari. 1)

  Pendamping membagikan teks lagu dari Chrisye ”Damai BersamaMu” serta pemutaran lagu tersebut. Peserta diberi waktu untuk menyimaknya.

  2) Pengungkapan Pengalaman

  Peserta diajak untuk mendalami syair lagu tersebut dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut: a)

  Menurut bapak ibu, dari syair lagu di atas ayat mana yang menyatakan keinginan untuk dekat dengan Tuhan? b)

  Apakah bapak ibu pernah merasakan ingin dekat dengan Allah? Kapan? 3)

  Arah rangkuman Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kurang menyadari perlunya memberi waktu untuk berkomunikasi dengan Allah agar tahu kehendak Allah agar dapat dekat dengan Allah. Allah yang senantiasa mengasihi umatNya dengan mencurahkan anugrah keagungan karyaNya.

  Allah sesungguhnya telah hadir dalam kehidupan umatNya, namun terkadang kehadiranNya kurang disadari, kasih Allah yang tak berkesudahaan yang mengisyaratkan betapa cintanya pada umatnya sungguh besar juga kurang disadari.

  Melalui lagu tersebut kita diajak untuk menyadari akan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. c.

  Langkah II : Mendalami pengalaman Hidup Peserta 4)

  Peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: a)

  Bagaimana cara yang ditempuh bapak ibu dalam mengusahakan untuk dekat dengan Allah? b)

  Apakah bapak ibu pernah merasa ingin mengenal Allah lebih dekat,kapan? Dari jawaban peserta , pendamping mencoba memberikan rangkuman

  c) Arah Rangkuman

  Berbagai cara yang dapat ditempuh dalam mengupayakan untuk dekat dengan Allah. Namun terkadang keluarga-keluarga kristiani kurang peka atau kurang menyadari bahwa Allah senantiasa hadir dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Allah yang hadir dalam kehidupan berkeluarga dapat dirasakan, jika ada kepekaan atau kesadaran dari keluarga tersebut. Iman yang telah tumbuh dalam keluarga akan semakin terkikis jika tanpa upaya untuk merawatnya.

  Keinginan untuk dekat denga Allah merupakan awal dari cinta anak pada bapa yang mengasihinya. Kedekatan hati dengan Allah akan mendorong kita untuk menggali kehendakNya dan melaksanakan kehendakNya.

  d.

  Langkah III : Menggali Pengalaman Iman Kristiani 1)

  Salah satu peserta diminta untuk membacakan perikop Kitab Suci, dari Injil 1Korintus 2: 9-12 dari teks yang dibagikan.

  1Korintus 2: 9-12: 9.

  Tetapi seperti ada tertulis: ” Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 10. Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh roh, sebab roh menyelidiki segala sesuatu , bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri

  Allah 11. Siapa gerangan diantara manusia, yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada yang tahu, apa yang terdapat dalam diri Allah selain roh Allah 12. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasl dari Alah, supaya kita tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.

  2) Peserta diberi waktu untuk hening sejenak, secara pribadi membaca kembali bacaan tersebut.

  3) Pendamping mengajak peserta untuk merenungkan dan menanggapi bacaan Kitab Suci dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut:

  Menurut bapak ibu ayat mana yang menunjukan bahwa Allah memberikan karunia dalam kehidupan manusia? 4)

  Pendamping memberi tafsir dari bacaan Kitab Suci 1 Korintus 2:9-12 dan menghubungkannya dengan tema serta tujuan pertemuan.

  Kisah dalam 1 Korinus 2:9-12, memperlihatkan bahwa Allah hadir dalam kehidupan umatNya. Allah selalu hadir dan berkarya dalam kehidupan manusia dalam pengembaraannya di dunia. Manusia menerima roh yang berasal dari Allah, dikaruniakan Allah padaNya, termasuk juga cintaNya kepada manusia ciptaanNya. Serta yang menjadi kehendakNya yaitu agar cintaNya semakin dirasakan oleh banyak manusia ciptaanNya.

  Allah mengaruniakan segala anugrah dengan penuh kasih pada umatnya. Kasih Allah pada manusia dapat dirasakan jika manusia mengenal Allah lebih dekat, mencoba mendengarkan sabdanya serta kehendakNya.

  Manusia dapat dekat dengan Allah, jika manusia itu sendiri berusaha untuk dapat dekat denganNya dengan mendengarkan sabdaNya dan dengan melaksanakan yang menjadi kehendakNya.. Cinta Allah sungguh besar pada umatNya. Kecintaan Allah pada umatNya selayaknya kecintaan bapa pada anaknya.

  e.

  Langkah IV 1)

  Pengantar Dari pertemuan ini kita telah mendengarkan sharing pengalaman mengenai bagaimana mengupayakan agar dekat dengan Allah melalui doa bersama dalam keluarga dan upaya melaksanakan kehendakNya. Kita sebagai umat beriman sekiranya dapat tidak lupa melaksanakan doa dalam kehidupan sehari-hari agar semakin peka pada kehendakNya dan mendapat kekuatan untuk melaksanakan kehendakNya..

  2) Sebagai bahan refleksi akan pengalaman dalam pengolahan hidup doa yang bertujuan supaya mengenal Allah lebih dekat, dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut: a) Apakah lewat Kitab Suci ini kita dapat semakin disadarkan akan pentingnya memberikan waktu untuk berkomunikasi dengan Allah? b)

  Sikap-sikap mana yang perlu ada saat hendak berkomunikasi dengan Allah, sehingga kita tahu kehendakNya? c)

  Setelah kita tahu sabdaNya, kehendakNya, apa yang perlu kita lakukan? 3)

  Arah rangkuman Dekat dengan Allah dapat diupayakan melalui doa bersama dalam keluarga. Namun tidak berhenti sampai di situ saja. Perlu adanya pengolahan terhadap doa dalam kehidupan sehari-hari serta tindak lanjut dari doa bersama itu.

  Allah yang penuh kasih selalu peduli akan kehidupan umatNya. Allah menganugrahkan Cinta lewat sesama. Sebagai umat yang dikasihi hendaknya bersyukur atas kelimpahan kasihNya f.

  Langkah V : Mengusahakan Aksi Konkret 1)

  Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus. Kita telah menggali pengalaman tentang bagaimana untuk dekat dengan Allah lewat lagu damai bersamaMu, sehingga dari pengolahan doa itu kita dapat lebih dekat dengan Allah dan dapat merasakan campur tangan Allah dalam kehidupan kita, diharapkan kita semakin mampu menyadari bahwa dalam situasi apapun Allah selalu turut campur tangan dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami.

  Kita sebagai orang beriman dapat selalu mengikuti teladan Yesus. Yesus dan pergi untuk berdoa. Lewat doa, Yesus selalu meminta petunjuk dalam melaksanakanpekerjaanNya dan dalam berelasi dengan Bapa. Lewat doa, Yesus memperoleh kekuatan untuk menjalankan misiNya di dunia.

  Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyadari kebaikan Allah lewat sesama dan campur tanganNya dalam setiap perjalanan hidup kita. Dengan itu kita semakin tanggap dan peka menyadari kehadiran Allah di sekitar kita dan khususnya di dalam hati kita sendiri.

  2) Pertanyaaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat:

  Apa niat kita supaya hidup doa kita semakin berkembang? Apa niat kita agar doa kita berbuah baik dalam hidup sehari-hari sehingga kita semakin dekat dengan Allah? 3)

  Perwujudan Aksi Konkret

  a) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut? b)

  Apa yang akan anda perbuat setelah pulang dari tempat ini berkait dengan tema Katekese Umat kita? Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, setelah kita bersama-sama membicarakan apa yang menjadi rencana sebagai wujud aksi konkret marilah kita mohon berkat pada Allah agar apa yang menjadi cita-cita kita bersama dapat terlaksana.

  4) Setelah merumuskan niat pribadi dan bersama, peserta diajak untuk

  5) Kesempatan doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dan dilanjutkan oleh peserta, kemudian dari doa permohonan disatukan dengan doa Bapa

  Kami. 6)

  Doa penutup Tuhan Yesus yang penuh kasih, terimakasih atas kasih dan cintaMu karena berkat rahmatMu dan lewat pengalaman bapak ibu yang telah kami dengarkan bersama, kami disadarkan betapa pentingnya berdoa. Bantulah kami supaya lewat doa dan tindak lanjut doa itu dalam hidup sehari-hari kami, dapat dekat dengan Allah. Kami mohon juga penyertaanMu, supaya kami tetap bersandar dan mengandalkan Allah sebagai sumber hidup kami. Bantulah kami supaya niat-niat kami dapat kami wujudkan dalam kehidupan di tengah masyarakat sehingga kami semakin mampu meraskan campur tanganMu dalam kehidupan sehari-hari kami.

  Akhirnya ya bapa, semoga lewat hidup doa, kami semakin menghayati iman kami akan Yesus Kristus. Amin.

BAB V PENUTUP Pada bagian ini, penulis akan mengungkapkan kesimpulan dan saran

  barkaitan dengan upaya menumbuhkan kehidupan doa bersama dalam keluarga- keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria, Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus, Cilacap. Kesimpulan dirumuskan berdasarkan hasil penelitian sederhana dalam BAB III dan dengan mempertimbangkan landasan teori pada BAB II sedangkan saran dikemukaakan berdasarkan kesimpulan.

A. Kesimpulan

  Setelah melihat hasil penelitian sederhana yang dilakukan penulis terhadap keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang, Paroki Santo Stefanus, Cilacap, penulis mengambil kesimpulan, bahwa pada kenyataannya beberapa keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap sudah melaksanakan doa dalam keluarga, namun doa yang dilakukan dalam keluarga-keluarga yakni doa pribadi sedangkan doa bersama dalam keluarga belum dilaksanakan. Doa yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga kiranya dapat memberikan semangat dalam menjalani kehidupan bersama dalam keluarga. Doa menjadi suatu hal yang perlu yang sebaiknya tidak ditunda-tunda lagi dalam pelaksanaanya.

  Doa yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari, memampukan mereka kristiani perlu menyadari panggilannya dalam hidup berkeluarga yang perlu terbuka terhadap Sabda Allah. Diharapkan Sabda Allah dapat menjadi pedoman hidup berkeluarga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

B. Saran

  Keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang, Paroki Santo Stefanus, Cilacap hendaknya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya doa bersama dalam keluarga mengingat, doa bersama dalam keluarga yang mereka laksanakan baru disadari sebagai suatu keharusan.

  Keluarga-keluarga kristiani diharapkan mampu mewujudkan prilaku yang baik dan diharapkan pula kehidupan doa bersama dalam keluarga yang telah dilaksanakan dalam kehidupannya sehari-hari memampukan mereka untuk semakin menghayati panggilan hidup berkeluarga Dari doa mereka bisa semakin tumbuh dan kuat dalam iman, bukan hanya dari sisi kehidupan doanya saja, namun juga pada seluruh kepribadian serta prilaku yang dimiliki oleh anggota keluarga yang bersangkutan. Untuk itu penulis memberikan saran bagi keluarga- keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap untuk: 1.

  Meningkatkan kehidupan doa bersama dalam keluarga dengan cara menyediakan waktu khusus secara rutin untuk berdoa bersama dan berkomunikasi dengan Allah.

2. Melaksanakan doa bersama secara rutin pada waktu yang disepakati bersama dalam keluarga.

  3. Mengembangkan komunikasi dengan anggota keluarga serta masyarakat lewat keterlibatan dirinya dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam lingkungan masyarakat sekitar, sebagai buah dari doa yang dilaksanakannya. Sehingga kendati pekerjaan yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari tetap dapat semakin menghidupkan doa yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga merekapun juga semakin peka terhadap keadaan atau situasi yang ada di masyarakat.

  Demikian kesimpulan dan saran yang penulis. Semoga kesimpulan dan saran ini bisa bermanfaat. Untuk membantu menumbuhkan dan melestarikan hidup doa keluarga-keluarga kristiani umat Lingkungan Santa Maria, Stasi Majenang, Paroki Santo Stefanus, Cilacap.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ballester Mariano, SJ (1986) Dahaga Akan Allah. Yogyakarta : Kanisius.

  Breemen, Van,P, SJ (1983). KU Panggil Engkau Dengan Namamu. Yogyakarta : Kanisius. Darminta, J, SJ (1981). Berbagai segi penghayatan Hidup Religius Sehari-hari, Yogyakarta : Kanisius. Green Thomas, H, SJ (1988). Bimbingan Doa, Yogyakarta : Kanisius. Grun Anselm, OSB (1985). Doa Dan Mengenal Diri. Yogyakarta : Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi . Yogyakarta: Kanisius. Simons Lidia. (---) Bagaimana Aku Harus Berdoa: Seri Puskat 81. Yogyakarta. Lalu Yoseph, (2005) Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Soejitno. A (1961). Keluarga Bahagia. Jakarta: Obor Sugiyo Teha. (1996). Keluarga Sebagai Sekolah Cinta. Bandung: Yayasan Baptis Indonesia Sumarno Ds., M (2005) Bahan Kuliah Mahasiswa IPPAK Mata Kuliah

   Pendidikan Agama Katolik Paroki : Yogyakarta

  Sutrisno Hadi. (1982). Metodologi Research 3. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Widyarta. B (1974) Suatu Pendekatan Terhadap Masalah Keluarga Katolik Dewasa Ini. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Pusat Kateketik. Yohanes Paulus II, , Familiaris Consortio (Dokumen Gerejawi). Yogyakarta: Kanisius. Yohanes Paulus II, (1983). Kitab Hukum Kanonic (Codex Iuris Canonic) Yogyakarta: Kanisius. Yohanes Paulus II, (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawirjana, penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1997). …… 1500 Cerita Bermakna jilid 2 (1997) Jakarta: OBOR

  L A M P I RAN

  Lampiran 1 Kisi-kisi kuisioner

  ƒ Penciptaan suasana doa dalam keluarga

  8 Jumlah soal

  12 5,6,7,13,14,15

  4 8,9

  11

  10

  9

  ƒ Harapan keluarga untukmenumbuhkan hidup doa dalamkeluarg- keluargakristiani khususnya lingkungan Santa MariaStasi Majenang Paroki Cilacap

  ƒ Motivasi untuk berdoa

  ƒ Manfaat doa

  ƒ Doa dalam keluarga

  KISI-KISI KUISIONER Variabel Soal No Soal

  ƒ Makna doa bersama dalam keluarga

  ƒ Makna doa pribadi

  3 Doa ƒ Pengertian doa

  2

  1

  Status perkawinan

  Mata Pencaharian ƒ

  Jumlah anggota keluarga ƒ

  Keluarga ƒ

  15

  Lampiran 2 Pengantar Kuisioner

  PENGANTAR Bapak ibu dan saudara saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus,

  Saya Anastasia Atmi Kurnia masih dalam proses study di Uneversitas Sanata Dharma. Sebagai salah satu syarat meraih gelar SI mahasiswa diwajibkan membuat karya ilmiah skripsi sebagai tugas akhir.

  “Upaya Menumbuhkan Hidup Doa Dalam Keluarga-keluarga Kristiani Lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap melalui Katekese Umat”, ini merupakan judul skripsi saya. Dengan skripsi saya tersebut saya juga bermaksud untuk membantu umat lingkungan Santa Maria Stasi Majenang Paroki Santo Stefanus Cilacap khususnya dalam menumbuhkan hidup doa dalam keluarga. Saya mengharapkan dukungan dari bapak ibu serta saudara saudari, agar skripsi saya dapat terselesaikan dan semoga bermanfaat bagi umat lingkungan santa Maria dalam membantu menumbuhkan hidup doa dalam keluarga.

  Agar saya dapat mengetahui bagaimana situasi hidup doa dalam keluarga di lingkungan santa Maria ini, maka saya mohon agar bapak ibu serta saudara- saudari berkenan untuk mengisi Kuisioner yang saya bagikan. Saya ucapkan terimakasih atas dukungan dan peran sertanya. Semoga kasih Tuhan melimpah bagi keluarga bapak ibu sekalian.

  Lampiran 3 Soal Kuisioner

  SOAL KUISIONER Umur ....................tahun Jenis kelamin ....................

  Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan melingkari huruf di depan jawaban yang paling tepat!

  1. Berapa jumlah anggota keluarga? a.

  2 b.

  3 c.

  4 d. .......

  2. Apa mata pencaharian keluarga? a.

  Petani b. Wiraswasta c. PNS d. ....................

  3. Apa status perkawinan keluarga? a.

  Perkawinan Gereja Katolik b. Perkawinan beda agama c. Perkawinan beda Gereja d. ............................................

  4. Anda berdoa setiap hari ....... kali? a.

  1

  c.

  3 d. ......

  5. Apa yang mendorong keluarga untuk berdoa? a.

  Permasalahan keluarga b. Anjuran dari Paroki c. Kerinduan akan kehadiran Allah d. ........................................................

  6. Dimana tempat yang dirasa nyaman untuk melakukan doa dalam keluarga? a.

  Ruang tamu b. Kamar tidur c. Ruang Doa d. ..................

  7. Siapa anggota keluarga yang mengajak berdoa? a.

  Bapak b. Ibu c. Kakak d. .................

  8. Untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga Kristiani di Lingkungan santa Maria apa harapan anda dari Paroki Santo Stefanus Cilacap? a.

  Mengadakan Retret keluarga dengan latihan doa yang memadai bagi keluarga- keluarga kristiani Paroki Santo Stefanus Cilacap.

  b.

  Mengadakan Rekoleksi Keluarga secara rutin bagi keluarga-keluarga Kristiani Paroki Santo Stefanus Cilacap guna menumbuhkan hidup doa dalam keluarga.

  c.

  Mengadakan Katekese Umat atau Pendalaman Iman secara rutin bagi keluarga- keluarga Kristiani paroki Santo Stefanus Cilacap yang bertujuan untuk menumbuhkan hidup doa dalam keluarga

  Jawablah pertanyaan dan pernyataan dibawah inidengan singkat dan jelas! 9.

  Menurut anda doa adalah .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  10. Apa makna doa pribadi bagi anda? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  11. Apa makna doa bersama dalam keluarga bagi anda? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  12. Apa manfaat doa bagi anda? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  13. Apakah anda pernah mengikuti retret keluarga dengan latihan doa yang memadai, jika pernah kapan dan dimana? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  14. Apakah anda pernah mengikuti rekoleksi keluarga guna menumbuhkan hidup doa, jika pernah kapan dan dimana? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  15. Apakah anda pernah mengikuti Katekese Umat atau pendalaman iman dengan tema doa dalam keluarga, jika pernah kapan dan dimana? .................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

  Lampiran 4 Sharing Pengalaman hidup doa

  SECUIL KISAH KEHIDUPAN DOA DALAM HIDUPKU Aku terlahir dan dibesarkan dalam keluarga katolik. Semenjak bayi aku telah dibaptis dan orang tuaku mendidik imanku secara katolik. Kehidupan keluargaku cukup sederhana, namun ada hal yang sungguh membuatku bangga dalam keluargaku. Aku sungguh bersyukur memiliki bapak ibu serta keluargaku dengan penuh kasih sayangdan kehangatan dalam mendidik aku. Lebih dari itu aku bangga dengan orang tuaku, bapakku sebagai pengurus lingkungan, prodiakon, serta aktif dalam kegiatan menggereja. Sedangkan ibuku tidak kalah aktif dalam kegiatan lingkungan dan menggereja. Banyak hal yang aku dapatkan dari orang tuaku, walau keluargaku aktif berkegiatan namun aku masih merasakan adanya kekeringan jiwa.

  Hidup doa kurang dapat kurasakan dalam keluargaku. Doa bersama dikeluargaku dilakukan paling kalau bulan rosario saja. Tetapi aku sendiri walau hanya dengan tanda salib sebelum dan bangun tidur, sebelum dan sesudah makan selalu aku lakukan.doa yang kurang aku alami dalam keluargaku memberiku motivasi bagaimana caranya supaya hidup doa dapat ditumbuhkan sehingga setidaknya untuk diriku tidak mengalami kekeringan jiwa. Puji Tuhan setelah menyelesaikan sekolah aku berkesempatan untuk kuliah, yang sungguh tidak kubayangkan aku kuliah di pendidikan Agama. Kuliah pendidikan agama menuntutku untuk selalu menyiram iiman yang telah ditanamkan oleh orang tua pada diriku sejak kecil. Saat ini doa sungguh hidup dalam hidupku.

  Perubahan hidup doa dalam hidupku dipengaruhi oleh lingkungan tempat aku kuliah. Perubahan yang dapat aku rasakan sekarang bukanlah sekedar membuat tanda salib sebagai rutinitas yang kulakukan namun yang saat ini aku rasakan yakni adanya kerinduan untuk selalu berjumpa dengan Allah. Doa dan renungan malam selalu kulakukan menjelang tidur. Aku selalu mengucap syukur hari ini serta mohon penyertaanNya di hari Esok. Dengan berdoa yang menjadi penyegar jiwa memberikanku kesejukan dan semakin tumbuh kuatnya imanku.

  Lampiran 5 Laporan hasil penyebaran kuisioner

  LAPORAN HASIL PENYEBARAN KUISIONER DI LINKGUNGAN SANTA MARIA STASI MAJENANG PAROKI SANTO STEFANUS CILACAP Pertanyaan pertama: Yang menjawab a tidak ada Yang menjawab b 2 (dua) orang Yang menjawab c 2 (dua) orang Yang menjawab d 4 (empat) orang Pertanyaan kedua: Yang menjawab a 2 (dua) orang Yang menjawab b 3 (tiga) orang Yang menjawab c 3 (tiga) orang Yang menjawab d tidak ada Pertanyaan ketiga: Yang menjawab a 5 (lima) orang Yang menjawab b 3 (tiga) orang Yang menjawab c tidak ada Yang menjawab d tidak ada Pertanyaan keempat: Yang menjawab a tidak ada Yang menjawab b 4 (empat) orang Yang menjawab c 2 (dua) orang Yang menjawab d 2 (dua) orang Pertanyaan kelima: Yang menjawab a tidak ada Yang menjawab b tidak ada Yang menjawab c 8 (delapan) orang Yang menjawab d tidak ada Pertanyaan keenam: Yang menjawab a tidak ada Yang menjawab b 3 (tiga) orang Yang menjawab c 5 (lima) orang Yang menjawab d tidak ada Pertanyaan ketujuh: Yang menjawab a 3 (tiga) orang Yang menjawab b 1 (satu) orang Yang menjawab c tidak ada Yang menjawab d 4 (empat) orang Pertanyaan kedelapan: Yang menjawab a tidak ada Yang menjawab b tidak ada Yang menjawab c 6 (enam) orang Yang menjawab d 2 (dua) orang Pertanyaan kesembilan: Doa adalah sebuah pengharapan dijawab oleh 2 (dua) orang Doa adalah mendekatkan diri kepada Allah dijawab oleh 1 (satu) orang Doa adalah komunikasi manusia dengan Allah dijawab oleh 4 (empat) orang Doa adalah sebuah permohonan dijawab oleh 1 (satu) orang

  Pertanyaan kesepuluh: 4 (empat) orang menjawab makna doa pribadi adalah mendekatkan diri dan bersyukur pada Allah 1 (satu) orang menjawab makna doa pribadi adalah komunikasi dengan Allah untuk mengungkapkan isi hati dengan permohonan 1 (satu) orang menjawab makna doa pribadi adalah menghadirkan Allah 2 (dua) orang tidak menjawab makna doa pribadi Pertanyaan kesebelas: 3 (tiga) orang menjawab makna doa bersama adalah menumbuhkan rasa damai, harmonis dan tentram 1 (satu) orang menjawab makna doa bersama adalah untuk mempertahankan keutuhan keluarga 1 (satu) orang menjawab makna doa bersama adalah mempererat tali kekeluargaan 1 (satu) orang menjawab makna doa bersama adalah untuk melestarikan iman Kristiani 1 (satu) orang menjawab makna doa bersama adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan 1 (satu) orang tidak menjawab makna doa bersama Pertanyaan keduabelas: 2 (dua) orang menjawab manfaat doa adalah pengendalian diri 1 (satu) orang menjawab manfaat doa adalah penyerahan diri kepada Tuhan 1 (satu) orang menjawab manfaat doa adalah menumbuhkan cinta 1 (satu) orang menjawab manfaat doa adalah menumbuhkan kesejukan hati 1 (satu) orang menjawab manfaat doa adalah penuntun jalan hidup 2 (dua) orang tidak menjawab manfaat doa

  Pertanyaan ketigabelas: 6 (enam) orang menjawab belum pernah mengikuti retret keluarga dengan latihan doa 2 (dua) orang menjawab sudah pernah mengikuti retret keluarga dengan latihan doa Pertanyaan keempatbelas: 7 (tujuh) orang menjawab belum pernah mengikuti rekoleksi keluarga guna menumbuhkan hidup doa 1 (satu) orang menjawab pernah mengikuti rekoleksi keluarga guna menumbuhkan hidup doa pertanyaan kelimabelas: 6 (enam) oeang menjawab belum pernah mengikuti Katekese Umat atau pendalaman iman dengan tema doa dalam keluarga 2 (dua) orang menjawab menjawab belum pernah mengikuti Katekese Umat atau pendalaman iman dengan tema doa dalam keluarga pernah mengikuti Katekese Umat atau pendalaman iman dengan tema doa dalam keluarga Sharing pengalaman hidup doa 7 (tujuh) orang bersedia memberikan pengalaman hidup doa 1 (satu) orang tidak memberikan pengalaman hidup doa

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Manfaat video siaran penyejuk imani katolik indosiar sebagai media audio-visual dalam katekese umat di lingkungan Santo Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.
1
12
178
Katekese model SCP sebagai salah satu usaha peningkatan pelaksanaan pembinaan iman umat lingkungan Santo Yohanes Stasi Santo Yusup Balong Paroki Santa Theresia Lisieux Boro.
1
7
158
Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.
22
221
137
Penghayatan spiritualitas keterlibatan umat berinspirasi pada Santa Maria dalam hidup menggereja di Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah Purwakarta.
0
0
189
Sumbangan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Mansalong Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong Kabupaten Nunukan.
1
13
158
Sumbangan katekese umat dalam rangka meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan Santo Yusuf, Berut, Wilayah Santa Marta, Sumber, Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Magelang, Jawa Tengah melalui Shared Christian Praxis.
8
67
209
Upaya peningkatan hidup rohani keluarga kristiani di Lingkungan Santo Paulus Maguwoharjo Paroki Marganingsih Yogyakarta melalui katekese keluarga.
0
1
150
Upaya meningkatkan semangat persaudaraan siswa-siswa SMA Seminari Santa Maria Immaculata Lalian Atambua Nusa Tenggara Timur, melalui katekese umat model shared Christian Praxis.
0
6
198
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta.
0
1
173
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.
6
35
156
Pengaruh perayaan ekaristi terhadap keterlibatan umat dalam hidup menggereja di stasi pusat Paroki Salib Suci Nanga Tebidah Kalimantan Barat
1
1
122
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda
2
2
154
Upaya meningkatkan pendampingan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, Keuskupan Agung Kupang melalui katekese umat model shared christian praxis - USD Repository
0
0
138
Belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis - Yogyakarta - USD Repository
0
0
144
Upaya memajukan hidup doa bagi para suster Jesus, Maria, Joseph demi meningkatkan karya kerasulan melalui katekese - USD Repository
0
0
141
Show more