HUBUNGAN ANTARA GAYA KELEKATAN DEWASA DENGAN KONFORMITAS PADA REMAJA Skripsi

Gratis

0
1
142
9 months ago
Preview
Full text

  i

  HUBUNGAN ANTARA GAYA KELEKATAN DEWASA DENGAN KONFORMITAS PADA REMAJA Skripsi

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  Program Studi Psikologi Disusun Oleh :

  Ratna Ayu Pratama 089114140 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 SKRIPSI

  

HUBUNGAN ANTARA GAYA KELEKATAN DEWASA DENGAN

KONFORMITAS PADA REMAJA

Ratna Ayu Pratama

  

ABSTRAK

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui

hubungan antara gaya kelekatan dewasa (adult attachment style) dengan konformitas pada remaja.

Hipotesis pada penelitian ini ada 4 yaitu ada hubungan negatif antara gaya kelekatan secure,

fearful dan dismissing dengan konformitas pada remaja dan ada hubungan positif antara gaya

kelekatan preoccupied dengan konformitas pada remaja. Subjek penelitian ini adalah 153 remaja

di Yogyakarta yang dipilih dengan metode Simple Random Sampling. Data diperoleh dengan skala

gaya kelekatan (Griffin & Bartholomew, 1994) serta skala konformitas oleh peneliti. Analisis data

menggunakan analisis korelasi Spearman Rank dan hasil menunjukkan bahwa terdapat 2 hipotesis

diterima dan 2 hipotesis ditolak. Hipotesis diterima yaitu ada hubungan positif yang signifikan

antara gaya kelekatan preoccupied dan ada hubungan negatif yang signifikan antara gaya

kelekatan dismissing dengan konformitas pada remaja. Hipotesis ditolak yaitu ada hubungan

negatif yang tidak signifikan antara gaya kelekatan secure dengan konformitas pada remaja dan

ada hubungan positif signifikan antara gaya kelekatan fearful dengan konformitas pada remaja. Kata kunci : gaya kelekatan dewasa, konformitas, remaja.

  v

  

CORRELATION BETWEEN ADULT ATTACHMENT STYLE WITH

CONFORMITY IN ADOLESCENT

Ratna Ayu Pratama

ABSTRACT

  The study is a correlational quantitative research aimed to determine the relationship

between adult attachment style and conformity in adolescent. Four hypotheses are negative

correlation between secure, fearful, dismissing attachment style with conformity in adolescent and

positive correlation between preoccupied attachment style with conformity in adolescent. Subjects

were 153 adolescents in Yogyakarta selected by simple random sampling method. Data obtained

with attachment style scale (Griffin & Bartholomew, 1994) and conformity scale. Data analysis

using Spearman Rank correlation analysis and the results showed that 2 hypotheses are accepted

and 2 hypotheses are rejected. Two accepted hypotheses are positive significant correlation

between preoccupied attachment style and conformity in adolescent; and significant negative

correlation between dismissing attachment style and conformity in adolescent. Rejected

hypotheses are insignificant negative correlation between secure attachment style and conformity

in adolescent; and positive significant correlation between fearful attachment style and conformity

in adolescent. Keywords: adult attachment style, conformity, adolescent.

  vi

KATA PENGANTAR

  Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa, Yesus Kristus atas segala rahmat yangdiberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa psikologi. Penulis memiliki keyakinan yang besar kepada Tuhan dan bertekun untuk menyelesaikan tugas akhir ini meskipun banyak halangan dan kesulitas yang telah penulis alami selama proses penyelesaian tugas akhir ini. Dengan semangat dan keyakinan ini, penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul: “Hubungan Antara Gaya Kelekatan Dewasa dengan Konformitas pada Remaja”. penulis juga menyedari bahwa selain keyakinan akan Tuhan, ada banyak orang yang telah membantu penulisan skripsi dan dalam kehidupan penulis selama menimba ilmu di Fakultas Psikologi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memberikan warna-warni untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Mereka adalah:

  1. Bapak Carolus Wijoyo Adinugroho selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan dan kesabarannya

  2. Ibu Sylvia Carolina Yuniarti Murtisari, S.Psi., M.si. selaku dosen pembimbing akademik atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan.

  3. Suster Lidwina TA, FCJ, MA. Selaku dosen Psikologi atas waktu dan tenaga untuk membantu memberikan referensi jurnal, pencetus ide skripsi dan waktu diskusi yang diberikan peneliti dari awal sampai akhir. viii

  4. Semua dosen dan karyawan (mas Gandung, mas Doni, Pak Gik) di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang mendampingi dan membantu selama masa studi.

  5. Keluarga penulis Bapak, Ibu, adikku Bagus Reinaldi atas doa dan semangat yang tidak berhenti sampai kapanpun.

  6. Sahabatku “ Kepompong “ Ndut, Dewi, Patrick, Ayu atas suka dan duka, canda tawa, kebodohan-kebodohan kita dan kenangan-kenangan kita selama 5 tahun ini. 7. 10 years of friendship and still counting, sahabat lamaku Pauline Larissa,

  Indah Kristianti, Metta Wardhani, Dina Kristiana Dewi atas persahabatan yang tidak berhenti.

  8. Sahabat SMA Taviana Pambayun, Arif Wihananto, Septemberia, Cae yang tetap memberikan dukungan untuk cepat menyelesaikan studi.

  9. Teman-teman Psikologi angkatan 2008 khususnya kelas D dan berbagai angkatan atas dinamika yang telah berjalan selama masa studi.

  10. And last but not least, Ndole - Bonavantura Dinar Dwi Putra yang selalu memberikan dukungan dan cinta kasihnya dan tempat untuk berbagi masa- masa sulit selama 4 tahun and forever to go. ix x Penulis juga menyadari ketidaksempurnaan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menerima segala bentuk kritik dan saran untuk melengkapi skripsi ini.

  Yogyakarta, Penulis

  Ratna Ayu Pratama

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ..................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ....................................................................... iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... iv ABSTRAK ..................................................................................................................... v

  

ABSTRACT ...................................................................................................................... vi

  HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ...................... vii KATA PENGANTAR .................................................................................................... viii DAFTAR ISI ................................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ........................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................... xvi

  BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 9 xi

  BAB II LANDASAN TEORI ......................................................................................... 11 A. Remaja .......................................................................................................... 11

  1. Definisi Remaja ...................................................................................... 11

  2. Karakteristik Perkembangan Remaja ...................................................... 12

  B. Konformitas .................................................................................................. 15

  1. Definisi Konformitas .............................................................................. 15

  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas ................................... 16

  3. Alasan-alasan melakukan Konfomitas .................................................... 17

  4. Aspek-aspek Konformitas ....................................................................... 19

  5. Konformitas pada Remaja ....................................................................... 20

  C. Gaya Kelekatan dewasa (Adult Attachment Style) ........................................ 21

  1. Definisi Kelekatan .................................................................................. 21

  2. Definisi Gaya Kelekatan pada orang dewasa .......................................... 23

  3. Macam-macam Gaya Kelekatan ............................................................. 24

  D. Dinamika Hubungan Antara Gaya Kelekatan Dewasa Dengan Konfomitas pada Remaja .............................................................................. 29

  E. Hipotesis ....................................................................................................... 34

  F. Bagan penelitian ............................................................................................ 35

  1. Bagan gaya kelekatan aman (secure attachment) dengan konformitas pada remaja ......................................................................... 36

  2. Bagan gaya kelekatan terpreokupasi (preoccupied attachment) dengan konformitas pada remaja ............................................................ 37 xii

  3. Bagan gaya kelekatan takut-menghindar (fearful attachment) dengan konformitas pada remaja ............................................................ 38

  4. Bagan gaya kelekatan menolak (dismissing attachment) dengan konformitas pada remaja ......................................................................... 39

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................... 40 A. Jenis Penelitian .............................................................................................. 40 B. Identifikasi Variabel ...................................................................................... 40 C. Definisi Operasional ..................................................................................... 41 D. Subjek Penelitian .......................................................................................... 42 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ............................................................ 43 F. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Penelitian ............................................... 48

  1. Uji Validitas ............................................................................................ 48

  2. Pelaksanaan Uji Coba dan Seleksi Item .................................................. 50

  3. Uji Reliabilitas ........................................................................................ 52

  G. Metode Analisis Data .................................................................................... 54

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................ 55 A. Pelaksanaan Penelitian .................................................................................. 55 B. Deskripsi Subjek dan Data Penelitian ........................................................... 56 C. Deskripsi Statistik Data Penelitian ................................................................ 57 D. Hasil penelitian ............................................................................................. 59

  1. Uji Asumsi Penelitian ............................................................................. 59

  a. Uji Normalitas ................................................................................... 59

  b. Uji Linearitas .................................................................................... 60 xiii

  xiv

  2. Uji Hipotesis ........................................................................................... 61

  E. Pembahasan ................................................................................................... 64

  1. Hipotesis diterima ................................................................................... 64

  2. Hipotesis ditolak ..................................................................................... 67

  BAB V PENUTUP ......................................................................................................... 75 A. Kesimpulan ................................................................................................... 75 B. Saran ............................................................................................................. 75 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 77 LAMPIRAN .................................................................................................................... 81

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Bagan 4 model gaya kelekatan menurut Bartholomew& Horowitz (1990) dalam Feeney & Noller (1996) ................................................... 28

  Tabel 2 : Respon dan Skor Item-item pada Gaya Kelekatan .............................. 44 Tabel 3 :Blueprint Skala Gaya Kelekatan Sebelum Uji Coba ............................ 45 Tabel 4 : Respon dan Skor Item-item Favorable pada Skala Konformitas ......... 47 Tabel 5 : Blueprint Skala Konformitas Sebelum Uji Coba .................................. 47 Tabel 6 : Blueprint Skala Gaya Kelekatan Setelah Uji Coba .............................. 51 Tabel 7 : Blueprint Skala Konformitas Setelah Uji Coba .................................... 52 Tabel 8 : Deskripsi Usia dan Pendidikan saat ini pada Subjek ............................ 57 Tabel 9 :Deskripsi Statistik Data Variabel Gaya Kelekatan dan

  Konformitas ......................................................................................... 58 Tabel 10 : Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Test ............................... 59 Tabel 11 : Uji Linearitas

  • Test for Linearity ........................................................ 61 Tabel 12 : Uji Hipotesis dengan Non-Parametrik
  • Spearman’s Rho ................... 62 xv

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 : Skala Gaya Kelekatan Dewasa dan Konformitas sebelum Uji Coba ...................................................................................... 82

  Lampiran 2 : Skala Gaya Kelekatan Dewasa uji coba ketiga ........................ 94 Lampiran 3 : Skala Gaya Kelekatan Dewasa dan Konformitas setelah

  Uji Coba ...................................................................................... 101 Lampiran 4 : Uji Reliabilitas ........................................................................... 109 Lampiran 5 : Hasil Uji Normalitas .................................................................. 120 Lampiran 6 : Hasil Uji Linearitas ................................................................... 123 Lampiran 7 : Hasil Uji Hipotesis .................................................................... 125 xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja pada umumnya meluangkan waktu lebih banyak dengan

  teman. Kebutuhan akan pertemanan membuat remaja mencari teman sebanyak mungkin. Remaja akan membentuk kelompok dengan teman-teman yang sebaya yang berjenis kelamin sama. Pertemanan atau persahabatan menjadi penting dan memotivasi mereka. Relasi ini menjadi tempat bagi remaja untuk menyalurkan pikiran, perasaan dan masalah yang sedang dihadapi. Apalagi masa remaja menjadi masa dimana konflik remaja dengan orangtuanya meningkat. Menjalin relasi dengan teman juga dapat membantu remaja untuk menemukan dirinya dan apa yang dia mau (Bukatko, 2008).

  Kelompok teman sebaya akan membentuk norma-norma atau nilai- nilai yang mereka yakini. Remaja akan merasakan bahwa norma-norma tersebut sangat kuat dan akhirnya menjadi identitas kelompok. Kekuatan mengenai norma-norma ini akan membuat tekanan bagi remaja untuk mengikutinya, misalnya : cara berperilaku, memakai baju yang sama dan tujuan yang sama (Bukatko, 2008).

  Tidak semua norma kelompok sesuai dengan apa yang diinginkan individu. Hal ini akan menimbulkan konflik antara remaja dengan

  2

  kelompoknya. Ketakutan akan penolakan, kebutuhan untuk diterima kelompok, memperoleh rasa percaya diri dan memperoleh rasa aman membuat remaja termotivasi untuk meleburkan diri ke dalam identitas kelompok. Remaja akan melakukan norma kelompok dan mengabaikan nilai-nilai dan tujuan pribadinya. Tekanan kelompok teman sebaya inilah yang akhirnya akan mengontrol perilaku yang dilakukan remaja atau yang lebih dikenal sebagai perilaku konformitas (Powell, 1963).

  Perilaku konformitas tidak selalu buruk, akibat dari konformitas akan baik apabila kelompok teman sebaya juga memiliki perilaku yang baik.

  Misalnya remaja yang mengikuti kegiatan sekolah karena teman-teman sebayanya juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut (Bukatko, 2008).

  Namun pada umumnya konformitas membuat remaja terlibat kedalam hal-hal negatif seperti menggunakan bahasa yang kasar, mencuri, merusak, minum alkohol dan memakai obat-obatan terlarang (Santrock, 2003).

  Menurut penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Fitria, Ibrahim, Aulia (2011), munculnya perilaku merokok pada remaja dipengaruhi oleh perilaku konformitas pada teman sebaya yang juga memiliki perilaku merokok. Hasil penelitian Evangeli (2011) juga membuktikan bahwa meningkatnya perilaku konformitas mempengaruhi meningkatnya perilaku merokok pada remaja perokok di Yogyakarta. Penyebabnya adalah tekanan sosial oleh teman sebaya yang mayoritas memiliki perilaku merokok.

  3

  Realitas lain yang ditemukan melalui observasi peneliti adalah fenomena tawuran antar sekolah pada remaja laki-laki. Beberapa remaja mengikuti tawuran karena mayoritas teman-teman sekolahnya mengikuti tawuran dan juga ada ketakutan ditolak teman-teman sekolahnya apabila tidak mengikuti tawuran. Menurut suarapembaharuan.com yang dihimpun dari Komisi Perlindungan Anak, dari 229 kasus tawuran yang meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu ada 19 remaja meninggal dunia akibat tawuran selama tahun 2013. Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan salah satu faktor penyebab tawuran adalah tradisi senior atau norma yang berlaku di kelompok, dan jika mereka gagal maka mereka akan dikucilkan.

  Menurut Erikson (1950) dalam (Santrock, 2003), remaja harus bisa menemukan siapa dirinya dan mencari keunikan dirinya. Tahap ini meliputi bagaimana remaja bisa mencari tujuan hidupnya dan bisa membuat keputusan secara mandiri tanpa mudah terpengaruh oleh orang lain. Remaja dituntut untuk mampu menjadi dirinya sendiri tanpa menghilangkan identitas diri remaja. Remaja diarahkan menjadi individu yang unik dan mampu membuat serta menemukan siapa dirinya dan apa yang menjadi tujuan hidupnya dari mulai pekerjaan hingga pilihan studi maupun relasi dengan lawan jenis.

  Perilaku konformitas dapat menghambat remaja untuk menemukan identitasnya. Remaja yang meleburkan identitas dirinya ke dalam identitas pasangan atau kelompok sosialnya akan merusak perkembangan identitasnya sendiri (Santrock, 2003). Perilaku konformitas menggambarkan remaja yang akan mematuhi setiap hal yang menjadi norma kelompok hanya karena norma

  4

  tersebut dilakukan oleh seluruh anggota kelompok. Individu tidak secara mandiri membuat keputusan untuk berperilaku. Remaja yang melakukan konformitas tidak menggambarkan remaja yang otonom. (Brown, 2006).

  Untuk mencapai identitas, remaja diharapkan bisa menjadi pribadi yang otonom. Mencapai otonomi membantu remaja untuk menjadi pribadi dewasa yang matang. Menjadi pribadi yang otonom juga melibatkan kemampuan membuat keputusan yang bijaksana. Remaja bisa membuat keputusan-keputusan sulit dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Remaja diharapkan mampu menolak tekanan dan memiliki prinsip- prinsip tentang benar dan salah meskipun tetap menerima saran dari orang lain (Steinberg, 2002).

  Memiliki kemampuan membuat keputusan yang baik membantu remaja mencari tujuan hidup dan kematangan menuju masa dewasa. Remaja yang matang adalah remaja yang mandiri, mampu mengatur hidupnya tanpa bantuan dan bimbingan orang lain. Remaja tersebut harus mampu bersikap jujur pada dirinya sendiri dan bertindak sesuai dengan dirinya, remaja seharusnya realistis terhadap apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan. Remaja mampu untuk mengutarakan opininya tanpa dipengaruhi dan didominasi oleh orang lain. Remaja juga diharapkan bisa melawan pengaruh sosial yang tidak baik menurut dirinya dan melakukan apa yang baik karena remaja yang matang adalah remaja yang percaya terhadap dirinya sendiri (Hurlock, 1995).

  5

  Peran orang tua dalam membentuk perkembangan remaja menuju kedewasaan dan otonomi sangat besar. Peran penting ini tampak dalam pola pangasuhan. Ausubel (1958) dalam Santrock, 2003 mengatakan bahwa kepercayaan orang tua dan rasa sayang membuat remaja yakin bahwa dirinya bisa menghadapi dunia luar sendiri. Gaya pengasuhan orang tua yang tidak membentuk otonomi adalah pengasuhan yang otoriter atau memegang kendali dan yang kedua adalah penolakan. Remaja merasa orang tua tidak mengharapkan keberadaan remaja dan kurang akan penerimaan.

  Pola pengasuhan orang tua tampak melalui kelekatan. Menurut Hetherington (1999) pola pengasuhan yang authoritative mengembangkan gaya kelekatan secure sedangkan pola pengasuhan permissive, authoritarian dan neglectful membuat anak memiliki gaya kelekatan yang insecure. Pada dasarnya, kelekatan merupakan ikatan emosional antara bayi dengan pengasuhnya. Bowlby (1973) percaya bahwa kelekatan merupakan pandangan tentang diri sendiri dan pandangan tentang figur kelekatan. Kedua pandangan tersebut bisa bersifat positif atau negatif. Kombinasi dari model mengenai diri sendiri dan figur kelekatan membentuk gaya kelekatan. Gaya kelekatan seseorang merupakan evaluasi sejauh mana seseorang dicintai dan sejauh mana orang lain bisa dipercaya.

  Berdasarkan teori dari Bowlby (1969, 1979) dalam (Feeney & Noller, 1996), muncul beberapa penelitian tentang penerapan teori kelekatan pada hubungan orang dewasa. Sebagai contoh, Ainsworth (1989) dalam (Feeney & Noller, 1996) mendefinisikan bahwa kelekatan berlangsung hingga dewasa

  6

  bahkan sepanjang hidup. Ainsworth berpendapat bahwa kelekatan merupakan ikatan kasih sayang. Dia berasumsi bahwa setiap orang akan terus mencari kedekatan dan kenyamanan dari orang terdekat demi memperolah kasih sayang. Keinginan untuk mencari kelekatan ini menjadi kebutuhan yang berlangsung seumur hidup. Kelekatan pada orang dewasa ini menjadikan seseorang tidak hanya lekat dengan orang tua tetapi juga dengan pasangan kekasih atau bahkan teman-teman sebaya.

  Berbagai macam gaya kelekatan telah dikemukakan oleh para peneliti salah satunya adalah gaya kelekatan pada orang dewasa menurut Bartholomew dan Horowitz (1991). Model kelekatan ini berdasarkan teori Bowlby (1969, 1979) yang mengatakan bahwa kelekatan adalah refleksi dari gambaran akan diri sendiri dan figur kelekatan. Menurut Bartholomew & Horowitz kelekatan diasumsikan oleh sejauh mana seseorang menilai dirinya positif (dicintai dan dihargai) atau negatif (tidak dicintai) dan sejauh mana orang lain dianggap positif (dapat dipercaya, mencintai) atau negatif (tidak dapat dipercaya, menolak).

  Gaya kelekatan (Bartholomew & Horowitz, 1991) membagi gaya kelekatan menjadi 4 kategori yaitu: Secure Style, memiliki pandangan positif tentang dirinya dan orang lain. Fearful Style, memiliki pandangan tentang diri sendiri dan orang lain yang negatif.; Preoccupied style, memiliki pandangan yang negatif tentang dirinya sendiri namun memiliki harapan positif bahwa orang lain akan mencintai dan menerima.; Dismissing style, memiliki

  7

  karakteristik positif tentang dirinya dan memiliki pandangan negatif tentang orang lain (Myers, 2012).

  Menurut penelitian yang dilakukan Allen & Moore (1998) dalam (Dykas, Ziv & Cassidy, 2008), kelekatan dapat memprediksi fungsi psikososial remaja misalnya kemampuan remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya, depresi dan kecemasan serta kenakalan remaja. Remaja yang memiliki kelekatan aman dan otonomi terbukti memiliki perilaku prososial misalnya tidak mengalami kekerasan dan penolakan oleh teman sebaya.

  Kelekatan menjadi semakin penting untuk diteliti karena menurut Bowlby (1969) gaya kelekatan seseorang berlanjut hingga dewasa bahkan sepanjang hidupnya. Ketika bayi, pengasuh menjadi sumber rasa aman untuk membentuk anak mengeksplorasi lingkungan. Begitu juga ketika anak menjadi remaja, sumber rasa aman dari pengasuh tetap menjadi dasar bagi remaja untuk menghadapi dunia luar misalnya mengadapi tekanan sebaya, mencapai kemandirian, mengembangkan identitas diri dan merencanakan masa depan mereka. Rasa aman yang didapat dari kelekatan memberikan dukungan dan timbal balik untuk remaja berupa kebutuhan-kebutuhan remaja.

  Kelekatan yang aman membantu penyelesaian masalah yang baik ketika konflik terjadi pada orang tua dan remaja (Bukatko, 2008).

  Kelekatan diasosiasikan tidak hanya mengenai hubungan individu dengan individu yang lain namun juga hubungan atau respon individu dengan kelompok (Smith, Murphy, & Coats, 1999). Peneliti melihat hubungan pada beberapa karakteristik gaya kelekatan dengan karakteristik dan alasan secara

  8

  umum pada orang yang melakukan konformitas. Hal tersebut bisa diprediksi melalui orang-orang dengan gaya kelakatan tertentu cenderung merasa cemas akan penolakan, cemas akan tidak dicintai, rendahnya autonomy (Bartholomew & Horowitz, 1991). Begitu juga dengan alasan orang-orang melakukan konformitas yaitu salah satunya karena orang tersebut takut akan penolakan. Penelitian yang dilakukan oleh Susilowati (2001) membuktikan bahwa perilaku konformitas teman sebaya berkorelasi positif dengan konsep diri dan otonomi.

  Peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara gaya kelekatan dewasa atau adult attachment style dengan konformitas pada remaja. Peneliti menemukan bukti banyaknya remaja yang melakukan konformitas. Dari sisi psikologi perkembangan, konformitas membuat remaja menjadi tidak otonom.

  Peneliti melihat adanya pengaruh orang tua dalam kemampuan sosial remaja terhadap teman sebaya salah satunya melalui kelekatan. Kelekatan dengan pengasuh terjadi dari masa anak-anak sampai dewasa yang lebih dikenal sebagai gaya kelekatan dewasa. Peneliti tertarik karena kelekatan menjadi masa penting di awal perkembangan anak Selain itu munculnya gaya kelekatan dewasa semakin membuktikan bahwa kelekatan bertahan sepanjang hidup dan hal ini semakin membuktikan bahwa gaya kelekatan dewasa memiliki peran dan manfaat yang penting bagi perkembangan seseorang.

  9 B. Rumusan Masalah

  Apakah ada hubungan antara masing-masing gaya kelekatan dewasa dengan konformitas pada remaja?

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui arah hubungan antara masing-masing gaya kelekatan dewasa dengan konformitas pada remaja.

  D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

  Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pengetahuan bagi Psikologi Perkembangan dan Psikologi Sosial khususnya yang berhubungan dengan gaya kelekatan dan konformitas pada remaja.

2. Manfaat Praktis

  a. Bagi calon orang tua Memberikan masukan kepada calon orang tua akan pentingnya membangun gaya kelekatan yang baik yaitu gaya kelekatan aman.

  Membantu calon orang tua untuk mendapatkan wawasan tentang gaya kelekatan karena calon orang tua nantinya akan mendidik dan mengasuh anak. Selain itu, gaya kelekatan merupakan relasi sejak dini

  10

  antara anak dan pengasuh maka hasil penelitian ini akan menjadi referensi untuk mempersiapkan calon orang tua dalam mendidik anak.

  b. Bagi pendidik Memberi informasi kepada pendidik tentang pentingnya mengembangkan otonomi remaja c. Bagi remaja

  Membimbing remaja dalam pengembangan otonomi agar tidak mudah melakukan perilaku konformitas dengan teman sebaya dan memberikan gambaran mengenai konformitas pada remaja.

BAB II LANDASAN TEORI A. Remaja

1. Definisi Remaja

  Masa remaja (Adolescence) adalah masa transisi dari masa anak- anak menuju masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosi. Masa remaja dimulai pada usia sekitar 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia sekitar 18 hingga 22 tahun. Masa ini akan menjadi masa dimana remaja akan mengalami konflik dalam hidupnya. Para ahli membedakan masa remaja menjadi masa Remaja Awal (Early

  adolescence) dan Masa Remaja Akhir (Late Adolescence). Pada masa

  remaja awal ditandai dengan Pubertas dan perubahan fisik, sedangkan saat masa remaja akhir ditandai dengan minat karir, hubungan romantik dengan lawan jenis, dan eksplorasi identitas diri (Santrock, 2003).

  Menurut Papalia, Olds & Feldman (2009), masa remaja adalah masa peralihan masa perkembangan antara masa anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan pada aspek fisik, kognitif, dan psikososial. Masa remaja dimulai dari usia 10 sampai 14 tahun hingga 20 tahun. Secara umum, masa remaja ditandai dengan munculnya Pubertas atau kematangan seksual. Pada masa ini, remaja juga berkembang dalam otonomi, konpetensi sosial dan kognitif, harga diri dan keintiman.

  12 Syamsu Yusuf (2008) mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap ketergantungan ke masa kemandirian, minat seksual, perenungan diri dan isu-isu moral dengan batasan usia yang dimulai dari usia 10 sampai 20 tahun.

  Menurut Hurlock (1999) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa perkembangan satu menuju masa perkembangan lain yang lebih tinggi. Masa remaja adalah masa dimana seseorang mulai mencapai kedewasaan dan meninggalkan masa kanak-kanaknya.

  Marvin Powell (1963) membagi periode usia remaja yang dimulai pada usia 15 tahun dan berakhir pada usia 19 tahun. WHO atau (World Health Organization) tahun 1974 dalam Sarwono (1989) menetapkan batas usia remaja dimulai dari usia 10 tahun hingga 20 tahun. Menurut Luella Cole (1964), masa remaja dimulai dari usia 12 tahun sampai 20 tahun.

  Jadi bisa disimpulkan bahwa remaja adalah masa peralihan perkembangan dari masa anak-anak menuju masa perkembangan dewasa melalui perkembangan fisik, kognitif, emosi dan sosial. Batasan usia remaja dimulai dari usia 13 tahun sampai 20 tahun.

2. Karakteristik Perkembangan Remaja

  Masa remaja adalah masa dimana seseorang mulai membentuk hubungan interpersonal dengan orang lain misalnya dengan lawan jenis atau teman sebaya. Seperti yang dikatakan Luella Cole (1964) mengenai karakteristik remaja dalam hubungan interpersonal adalah:

  13 a. Memiliki perasaan akan penerimaan yang aman terhadap teman sebaya

  b. Bebas dari rasa perasaan diintimidasi dari teman sebaya Carballo (1978:250) dalam Sarwono (1989) mendeskripsikan peran perkembangan remaja yaitu: a. Mencapai kedewasaan, kemandirian, kepercayaan diri dan kemampuan menghadapi masalah.

  b. Mencapai posisi yang diterima masyarakat

  c. Mengembangkan hati nurani, moral dan tanggung jawab serta nilai nilai yang diyakini.

  d. Memecahkan masalah yang nyata dalam pengalamannya sendiri.

  Menurut Robert J. Havighurrst (1961) tugas-tugas perkembangan remaja antara lain: a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya b. Mencapai kemandirian dari orang tua meupun orang lain.

  c. Mencapai tingkah laku yang bertanggungjawab secara sosial

  d. Berperlaku sesuai dengan etika dan nila-nilai yang diyakini Masa remaja merupakan masa berkembangnya identity atau jati diri. Perkembangan identitas merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja. remaja diharapkan mampu memahami dirinya, peran sosial dan nilai hidupnya. Perkembangan identitas merefleksikan kesadaran diri dan kepribadian yang sehat, kemampuan mengidentifikasi

  14 orang lain serta mengetahui tujuan-tujuan agar dapat bertahan dalam lingkungan. Erikson meyakini bahwa masa ini adalah masa dimana remaja tahu tentang keunikan dirinya dan mulai memiliki pandangan tentang masa depan, peran orang dewasa. Selain itu perkembangan identitas mendorong remaja untuk memiliki keyakinan dan nilai-nilai yang mendorong remaja mampu memilih dan mengambil keputusan yang baik menyangkut pekerjaan, orientasi seksual dan nilai hidup (Yusuf, 2008). Dalam perkembangan identitas, keluarga memiliki peran yang penting melalui pola pengasuhan. Orang tua yang demokratis akan mendorong remaja membuat keputusan dan akan cepat mencapai identitasnya (Bernard,1981;Enright dkk., 1980; Marcia, 1980) dalam Santrock (2007).

  Erik Erikson (1963) dalam Steinberg (2002) menyatakan bahwa selain identitas, otonomi atau kemandirian adalah salah satu hal yang penting dalam perkembangan remaja. remaja diharapkan memiliki kemampuan akan kemandirian. Otonomi membantu remaja dalam membuat keputusan. Remaja yang otonom mampu membuat keputusannya sendiri bahkan disaat remaja menghadapi tekanan dan konflik saat harus mendengarkan pendapat orang lain. Remaja yang otonom memiliki prinsip dan pengertian tentang apa yang benar atau salah menurut dirinya.

  15

B. Konformitas 1. Definisi Konformitas

  Konformitas adalah norma sosial yang memengaruhi individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka supaya sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat atau kelompok. Konformitas bisa terjadi karena norma injungtif yaitu norma yang mengharuskan seseorang untuk berperilaku dan yang kedua adalah norma kelompok (Baron & Byrne, 2005).

  Konfomitas adalah keadaan dimana seseorang melakukan perilaku tertentu karena setiap orang lain juga melakukan perilaku tersebut (O’sears, Freedman, Peplau, 2008)

  Santrock (2007) mendefinisikan konformitas adalah keadaan dimana seseorang meniru sikap dan tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata atau yang tidak nyata.

  Sedangkan menurut Solomon Asch (1955) konformitas adalah ketika tekanan kelompok atau kelompok mayoritas mempengaruhi perilaku atau opini seseorang menjadi sama atau seragam dengan perilaku kelompok mayoritas.

  Menurut David Myers (2012), konformitas adalah perubahan perilaku atau keyakinan agar selaras dengan orang lain sebagai hasil dari tekanan kelompok.

  16 Jadi dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah keadaan meniru perilaku orang lain atau kelompok karena adanya tekanan, norma dan harapan dari sosial.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas

  Ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi individu melakukan konformitas. Seperti yang dijelaskan oleh Baron, Branscome, dan Byrne, 2009), faktor yang mempengaruhi konformitas adalah:

  a. Kohesivitas kelompok Kohesivitas adalah sejauh apa kita tertarik pada kelompok tertentu. Seseorang akan mudah untuk melakukan konformitas ketika kelompok mayoritas adalah orang-orang yang disukai atau pada orang- orang yang dekat dan lekat dengan remaja.

  b. Besar kelompok Besar kelompok mengacu pada semakin banyak anggota kelompok maka tekanan untuk melakukan konformitas semakin kuat.

  Solomon Asch (1955) melakukan penelitian dan menemukan bahwa semakin bertambahnya jumlah anggota kelompok maka konformitas meningkat.

  c. Tipe dari norma sosial Tipe norma sosial mengacu pada norma descriptif yang mana orang akan cenderung lebih banyak mengikuti apa yang kebanyakan

  17 orang lakukan atau norma injungtive yaitu norma yang menetapkan apa yang dilakukan.

3. Alasan-alasan orang melakukan Konformitas

  Ada beberapa alasan orang-orang melakukan konformitas menurut Deutsch & Gerard (1995) dalam Baron & Byrney (2005) yaitu:

  a. Keinginan untuk merasa benar Kecenderungan seseorang untuk bergantung pada orang lain sebagai sumber informasi. Opini dan tindakan orang lain digunakan sebagai panduan untuk menentukan perilaku dan opini seseorang.

  b. Keinginan untuk diterima, disukai dan rasa takut atas penolakan Melakukan konformitas membuat seseorang belajar bahwa dengan melakuannya, maka penerimaan dan persetujuan dari kelompok akan diterima. Dengan terjadinya penerimaan, maka seseorang akan merasa disukai dan akhirnya tetap melakukan apa yang dapat diterima kelompok demi menghindari penolakan.

  c. Membenarkan Konformitas Beberapa orang melakukan konformitas dengan penuh kesadaran. Bagi mereka, melakukan konformitas hanya bersifat sementara sehingga beberapa orang melakukan konformitas pada keadaan-keadaan tertentu.

  (Gerard, Wilhelmy & Conolley, 1968) dalam Brown (2006) menambahkan beberapa alasan mengapa seseorang melakukan

  18 konformitas. Selain untuk diterima, disukai dan tidak ditolak, faktor sosiologi juga menjadi alasan mengapa orang melakukan konformitas.

  Faktor ini berkaitan dengan sejarah atau budaya seseorang. Lalu ada faktor

  Group Size, seseorang biasanya melakukan konformitas pada mayoritas

  atau kelompok dengan anggota yang lebih banyak. Lalu apabila seseorang mengalami kesulitan menyelesaikan tugasnya, maka ia juga akan cenderung konform dengan mayoritas. Yang terakhir adalah individual

  differences yaitu meliputi perbedaan gender dan orang-orang dengan self- esteem yang rendah.

  Menurut O’sears, Freedman & Peplau (2008) alasan-alasan seseorang melakukan konformitas antara lain: a. Kurangnya informasi

  Konformitas terjadi ketika seseorang memiliki informasi yang terbatas dan menganggap orang lain sebagai sumber informasi penting yang akhirnya diikuti. Alasan ini dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: i. Kepercayaan terhadap kelompok

  Seseorang melakukan konformitas karena percaya bahwa informasi yang dimiliki kelompok lebih banyak dan dipercaya dibanding dirinya. ii. Kepercayaan yang lemah terhadap diri sendiri

  Konformitas akan turun ketika seseorang merasa percaya diri akan kemampuan yang dimilikinya untuk menampilkan reaksi entah opini maupun perilaku. Seseorang yang seperti ini merasa

  19 bahwa informasi yang dimilikinya lebih rendah daripada orang lain.

  b. Rasa takut terhadap celaan sosial Konformitas dilakukan untuk mendapatkan persetujuan dan menghindari celaan dari kelompok. Menghindari celaan didasarkan pada rasa takut seseorang untuk dipandang menyimpang dari orang lain. Rasa takut ini diperkuat oleh tanggapan kelompok yang memberi

  punishment atau hukuman pada orang yang tidak mengikuti kelompok.

  Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kekuatan kelompok misalnya kekompakan kelompok, kesepakatan pendapat kelompok, ukuran kelompok, keterikatan pada figur otoritas.

4. Aspek-aspek Konformitas

  Deutsch & Gerard dalam Baron & Byrney (2005) membagi 2 aspek konformitas pada remaja yaitu: a. Aspek Informasional (Informational Social Influence)

  Aspek ini didasarkan atas keinginan seseorang untuk merasa benar. Untuk menjadi benar dalam hal-hal yang dilematis, seseorang lalu merujuk pada opini dan perilaku kelompok yang diaplikasikan menjadi opini dan tindakan seseorang. Jika selalu dilakukan maka akan menimbulkan ketergantungan yang akhirnya semakin menguatkan perilaku konformitas bahkan ketika tidak dalam kelompok yang sama.

  20 b. Aspek Normatif (Normative Social Influence)

  Aspek ini didasarkan pada keinginan seseorang untuk sesuai dengan norma di masyarakat dan memenuhi harapan dari orang lain.

  Dalam kehidupan sosial sejak kecil, kita belajar bagaimana mendapat persetujuan dan pujian dari orang yang berarti (significant others).

  Konformitas menjadi salah satu hal yang menguatkan kita untuk mendapatkan persetujuan dan penerimaan oleh figur otoritas dan lingkungan sosial.

5. Konformitas pada remaja

  Menurut teori perkembangan sosial remaja, remaja diharapkan memiliki kemampuan interpersonal yang baik melalui hubungan pertemanan dengan teman sebaya maupun hubungan percintaan dengan lawan jenis. Masa remaja juga menjadi masa dimana remaja banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya (Bukatko, 2008).

  Remaja yang awalnya mencari rasa aman dan keterikatan dengan orang tua mulai memasuki dunia luar dan menjadikan pasangan atau teman sebaya sebagai significant others atau orang yang berharga bagi mereka. Disaaat remaja dekat dengan teman sebaya maka terjadi peleburan norma-norma atau opini yang diyakini oleh kelompok mayoritas. Perilaku remaja yang sama dengan kelompok disebut konformitas. Pada dasarnya, konformitas tidak selalu baik bahkan ada banyak pengaruh buruk yang disebabkan konformitas misalnya kenakalan remaja (Ingram, Patchin,

  21 Huebner, McCluskey, Bynum, 2007) dan terhambatnya perkembangan identitas remaja (Santrock, 2003). Konformitas terjadi ketika remaja meyakini pendapat dan berperilaku seperti kelompok meskipun terjadi konflik dalam dirinya untuk bersikap menurut diri sendiri (Baron & Byrney, 2005).

  Anna Freud (1958) meyakini bahwa salah satu konflik yang terjadi di masa pubertas adalah akibat dari konflik di dalam keluarga. Freud meyakini bahwa konflik yang terjadi di masa anak-anak terbawa hingga dewasa. Remaja menjadi tidak nyaman dengan orang tua lalu mencari rasa aman melalui teman sebaya atau teman lawan jenis (Santrock ,2007).

  Jadi salah satu alasan mengapa remaja melakukan konformitas adalah remaja kehilangan rasa aman dan rasa ketegantungan di dalam keluarga sehingga remaja mencari rasa aman yang didapatkan dari hubungan remaja dengan teman sebaya. Bisa dikatakan bahwa keluarga memiliki peran dalam terbentuknya perilaku konformitas remaja (Hurlock, 1967).

C. Gaya Kelekatan Orang Dewasa (Adult Attachment Style) 1. Definisi Kelekatan

  Bowlby (1979) dalam Feeney & Noller (1996) mendefinisikan kelekatan adalah suatu ikatan emosional yang kuat antara bayi dan pengasuhnya. Kelekatan terbentuk dari pengalaman bayi dengan pengasuhnya yang diintegrasikan ke dalam kerangka model internal.

  22 Kerangka model tersebut membentuk keyakinan mengenai diri sendiri, orang lain dan dunia luar secara umum yang akan mempengaruhi setiap hubungan sepanjang hidupnya. Pada dasarnya, anak membutuhkan kedekatan dalam hubungan dengan pengasuh secara terus menerus. Figur kelekatan membantu anak untuk terlindung dari hal-hal yang membahayakan baginya. Jadi seharusnya kelekatan membantu anak untuk menbentuk rasa aman. Perasaan aman itu yang membantu anak dalam menghadapi lingkungan sosial.

  Ainsworth (1978) dalam Shaver & Mikulincer (2009) menyatakan bahwa kelekatan merupakan ikatan kasih sayang yang dibentuk oleh seseorang kepada orang tertentu. Kelekatan ini bisa dilihat dari bagaimana respon anak ketika terpisah dengan pengasuh dan respon saat kembali ke pengasuh dalam situasi yang asing. Anak yang merasa aman dengan pengasuh akan merasa cemas ketika berpisah namun akan dengan cepat kembali merasa aman untuk berinteraksi dengan lingkungan.

  Bowlby (1979) meyakini bahwa kelekatan merupakan suatu proses sejak lahir dan bisa berlanjut hingga masa dewasa. Oleh karena itu, Hazan &Shaver, (1987) dalam Shaver & Mikulincer (2009) mengembangkan teori mengenai kelekatan yang merupakan ikatan emosional yang berkembang pada hubungan romantis di masa dewasa awal dan memiliki fungsi yang sama dengan ikatan emosional antara anak dengan pengasuhnya. Karakteristik kelekatan meliputi harapan, kebutuhan, emosi dan perilaku dalam interaksi sosial dan hubungan romantis. Jadi kelekatan

  23 adalah ikatan emosional atau kasih sayang antara seseorang dengan pengasuhnya.

2. Definisi Gaya Kelekatan Orang Dewasa

  Bowlby (1979) mengatakan bahwa gaya kelekatan adalah suatu bentuk ikatan emosional yang bersifat khusus antara dua individu yang merupakan kombinasi dari representasi mental seseorang positif atau negatif dan sejauh mana representasi mental mengenai orang lain positif atau negatif. Kelekatan yang dibentuk oleh pengalaman masa kecil dengan pengasuhnya mempengaruhi perilaku interpersonal individu hingga dewasa. Hubungan emosional yang terjadi antara bayi dengan pengasuh menjadi pengalaman akan sumber rasa aman. Pada dasarnya setiap orang kan selalu mencari sumber rasa aman dari figur kelekatan dan membentuk ikatan. Jadi ikatan emosional antara seseorang dengan figur kelekatan tersebut akan tetap ada seumur hidup (Feeney & Noller, (1996).

  Teori ini dibuktikan oleh Hazan & Shaver (1987) dalam Bartholomew & Horowitz (1991) yang mengatakan bahwa hubungan emosional antara pasangan yang memiliki hubungan romantis memiliki fungsi-fungsi yang sama dengan kelekatan bayi dengan pengasuhnya.

  Kelekatan diasosiasikan tidak hanya mengenai hubungan individu dengan individu yang lain namun juga hubungan atau respon individu dengan kelompok. Bahkan seseorang bisa memiliki figur kelekatan lebih

  24 dari satu misalnya pengasuh, pasangan dan sahabat (Smith, Murphy, & Coats, 1999).

  Jadi gaya kelekatan orang dewasa adalah model atau bentuk ikatan emosional atau kasih sayang antara seseorang dengan figur berharga dalam hidupnya.

3. Macam-macam Gaya Kelekatan

  Berbagai macam gaya kelekatan telah dikemukakan oleh para peneliti salah satunya adalah studi mengenai gaya kelekatan berdasarkan Bartholomew dan Horowitz (1991). Bartholomew & Horowitz memberi penekakan pada sikap dasar yaitu diri sendiri (self) dan orang lain

  (interpersonal), diasumsikan bahwa gaya kelekatan dipengaruhi oleh

  sejauh mana seseorang menilai dirinya positif atau negatif dan sejauh mana orang lain dianggap positif (dapat dipercaya) atau negatif (tidak dapat dipercaya). Berikut adalah macam-macam gaya kelekatan menurut Bartholomew & Horowitz (1991), yaitu:

  a. Gaya kelekatan Aman (Secure Attachment) Individu dengan gaya kelekatan Secure memiliki representasi mental akan diri dan orang lain yang positif. Individu dengan gaya kelekatan aman memiliki ciri-ciri yaitu memiliki self-esteem yang tinggi dan positif, mencari kedekatan interpersonal namun juga memberikan kebebasan pada pasangannya atau tidak cemas ketika jauh dari pasangannya (Baron & Byrne, 2005). Hal ini karena individu

  25 dengan gaya kelekatan ini memiliki kepercayaan yang penuh pada pasangannya. Selain itu, mereka juga mudah merasa nyaman dalam hubungan, memiliki tingkat ketergantungan yang rendah terhadap pasangan, dapat bekerja sama untuk menyelesaikan masalah, bersahabat, dan penuh kasih sayang ( Lopez dkk, 1997), dalam Baron & Byrne (2005).

  Orang dengan gaya kelekatan Secure akan merasa mudah untuk dekat secara emosional dengan orang lain dan merasa nyaman dengan hubungannya. Bisa bergantung pada orang lain namun juga merasa nyaman apabila orang lain bergantung padanya. Orang dengan gaya kelekatan ini juga tidak mudah cemas jika sendiri dan tidak merasa cemas apabila orang lain tidak menerimanya karena meyakini bahwa masih ada orang lain yang mencintai dan menerimanya (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  b. Gaya kelekatan Terpreokupasi (Preoccupied Attachment) Memiliki pandangan yang negatif tentang dirinya sendiri namun memiliki harapan positif tentang orang lain. Dirinya berharap bahwa orang lain akan mencintai dan menerima. Akibatnya, orang dengan gaya kelekatan ini selalu mencari kedekatan dalam hubungan namun juga mengalami kecemasan bahwa dirinya tidak pantas untuk dicintai dan diterima oleh orang lain (Lopez,dkk.,1997). Seseorang dengan gaya kelekatan ini memiliki kecemasan akan penolakan yang

  26 ekstrim dan menimbulkan depresi setiap kali hubungan mengalami masalah (Whiffen dkk,2000) dalam Baron & Byrne (2005). Orang dengan gaya kelekatan ini selalu mencari keintiman dengan orang lain namun merasa bahwa orang lain tidak ingin dekat dengannya. Merasa tidak nyaman tanpa memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain namun selalu merasa cemas akan anggapan bahwa orang lain tidak menghargai dan mencintainya (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  c. Gaya kelekatan Takut-menghindar (Fearful Attachment) Memiliki self-esteem yang rendah, memiliki pandangan negatif tentang dirinya dan juga memiliki pemikiran negatif mengenai orang lain. Orang dengan gaya kelekatan ini meminimalkan hubungan interpersonal dan menghindari hubungan yang dekat dengan orang lain karena takut ditolak. Gaya kelekatan ini diasosiasikan cenderung memiliki hubungan interpersonal yang negatif (Baron & Byrne, 2005).

  Orang dengan gaya kelekatan ini merasa tidak nyaman untuk dekat secara emosional dengan orang lain. Terkadang memiliki keinginan untuk dekat dengan orang lain namun merasa sulit untuk mempercayai orang lain secara penuh dan sulit mempercayai bahwa orang lain bisa diandalkan. Merasa cemas akan disakiti oleh orang lain jika terlalu dekat dengan orang lain (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  27 d. Gaya kelekatan Menolak (Dismissing attachment)

  Memiliki karakteristik self-esteem yang tinggi, memiliki pandangan positif tentang dirinya namun memiliki pandangan negatif tentang orang lain. Individu dengan gaya kelekatan ini merasa dirinya layak untuk dicintai, berharga, diterima, independen dan layak untuk mendapatkan hubungan yang dekat dengan orang lain, namun individu ini memiliki kecenderungan menolak orang lain atau menghindar dari interaski langsung agar dirinya tidak menjadi orang yang ditolak oleh orang lain (Baron & Byrne, 2005). Orang dengan gaya kelekatan ini merasa tidak nyaman jika memiliki hubungan dekat dengan orang lain. Sangat penting bagi dirinya untuk bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dan tidak nyaman apabila orang lain juga bergantung padanya (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  Untuk lebih memahami keempat model kelekatan maka peneliti menggambarkan keempat model kelekatan kedalam bagan berikut ini : Bagan 4 model gaya kelekatan menurut Bartholomew& Horowitz (1990) dalam Feeney & Noller (1996):

  28

  Tabel 1. Bagan 4 model Gaya Kelekatan Bartholomew& Horowitz (1990) dalam Feeney & Noller (1996)

  Model Diri

  Positif Negatif

  Secure Preoccupied

  Memiliki keintiman Sangat Positif dan otonomi tergantung terhadap orang

  Model

  lain

   Orang Lain Dismissing Fearful

  Menolak kedekatan Takut akan dengan orang lain, kedekatan Negatif menolak dengan orang ketergantungan lain, menghindari sosial

  29

  D.

  

Dinamika Hubungan Antara Gaya Kelekatan Dewasa dengan

Konformitas pada Remaja.

  Kesuksesan untuk melewati tugas perkembangan dengan baik merupakan awal bagi setiap orang untuk bisa melewati tugas perkembangan yang selanjutnya. Membangun hubungan baru yang baik dengan lawan jenis atau teman sebaya adalah salah satu tugas perkembangan dimasa remaja.

  Kedekatan remaja dengan teman sebaya membuat remaja menjadi lekat dengan mereka. Teman sebaya memberikan keintiman, penerimaan, informasi dan dukungan bagi remaja untuk menghadapi lingkungan. Hal tersebut diyakini sebagai tahap berkembangnya kelekatan remaja terhadap figur kelekatan yang lain yaitu teman sebaya (Allen & Land dalam Cassidy & shaver 1999).

  Kelekatan remaja dengan teman sebaya tidak selalu berdampak baik. Munculnya harapan-harapan, nilai-nilai, kebiasaan dan keinginan teman sebaya menimbulkan tekanan bagi remaja untuk mengikuti hal-hal tersebut.

  Menurut Hirschi (1969) dalam Warr (1993), perilaku konformitas bisa menimbulkan kenakalan pada remaja yang disebabkan karena perilaku teman sebaya yang tidak baik dan juga kelekatan terhadap teman sebaya yang kuat. Contoh nyata yang ditemukan peneliti dilapangan adalah kenakalan pada anak SMA yang melakukan tawuran antar sekolah. Para remaja yang melakukan tawuran tersebut mengalami tekanan kelompok dan melakukan harapan sosial dari teman-teman sebayanya. tawuran di mana norma sosial khas kelompok

  30 yang menanggap tawuran sebagai sesuatu yang normatif dan dianggap sebagai kebenaran kelompok.

  Disisi lain, remaja diharapkan dapat mencapai kedewasaan, kemandirian, kepercayaan diri dan kemampuan membuat keputusan sendiri tanpa ada tekanan dari orang lain. Masa remaja adalah masa berkembangnya identitas dan mencari jati diri. Perkembangan identitas merefleksikan kesadaran diri akan tujuan-tujuan hidup demi menghadapi masa depan. Hal yang juga penting dalam pencapaian tugas perkembangan remaja adalah pencapaian otonomi atau kemandirian. Jadi dengan melalukan perilaku konformitas maka remaja diyakini kurang mampu untuk melakukan atau mencapai tugas perkembangannya dengan baik.

  Salah satu hal yang menyebabkan kenakalan pada remaja adalah kelekatan pada teman sebaya. Kelekatan pada orang tua, teman sebaya ataupun pada pasangan diyakini dapat menimbulkan perilaku konformitas (Hirschi, 1969) dalam Brownfield & Thompson (1991). Hirschi (1969) juga menyatakan bahwa konformitas dapat timbul melalui interaksi sosial dengan orang lain dan membentuk ikatan antara individu dengan sosial yang terdiri atas 4 aspek besar yaitu: kelekatan, komitmen, keterlibatan dan keyakinan.

  Remaja mengalami kelekatan dengan teman sebaya untuk mencari dukungan di lingkungan sosial dan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak di dapat dari kelekatannya dengan orang tua. Bahkan kualitas kelekatan dengan teman sebaya memiliki peran penting dalam kesehatan psikologis remaja dan

  31 juga berperan banyak dalam membangun self-esteem (Blos, 1979; Coleman, 1961; Douvan & Adelson, 1966) dalam (Wilkinson, 2004).

  Kelekatan memiliki dua sikap dasar yaitu model diri sendiri dan model orang lain. Kedua sikap dasar ini bisa bersifat positif dan negatif. Kombinasi dari kedua sikap dasar kelekatan inilah yang membentuk gaya kelekatan. Gaya kelekatan ini antara lain : gaya kelekatan Secure, gaya kelekatan Fearful, gaya kelekatan Preoccupied dan gaya kelekatan Dismissing.

  Gaya kelekatan Secure memiliki model diri dan orang lain yang positif. Individu ini memiliki kepercayaan penuh , mudah merasa nyaman dan tidak mudah bergantung dengan orang lain namun tetap nyaman apabila orang lain bergantung padanya. (Bartholomew & Horowitz, 1991). Jika dilihat dari alasan orang melakukan konformitas, orang yang melakukan konfromitas adalah karena tekanan dari kelompok, memiliki kepercayaan diri yang kurang dan merasa bahwa orang lain lebih baik darinya. Alasan yang lain adalah kurang memiliki kemandirian. Konformitas menyebabkan ketergantungan pada kelompok dan membuat remaja tidak bebas untuk mengambil keputusannya (Hurlock, 1999). Selain itu, individu yang melakukan konformitas juga memiliki penerimaan diri yang kurang, oleh sebab itu mereka memiliki keinginan untuk diterima, disukai dan takut akan penolakan pada dirinya. Oleh sebab itu, individu dengan gaya kelekatan yang aman dimungkinkan mampu untuk tidak melakukan perilaku konformitas.

  Gaya kelekatan Preoccupied memiliki model diri yang negatif namun memiliki model orang lain yang positif. Individu dengan gaya ini akan

  32 cenderung mencari kedekatan dengan orang lain, merasa orang lain itu baik sedangkan dirinya tidak layak untuk dicintai dan diterima. (Bartholomew & Horowitz, 1991). Individu dengan gaya kelekatan ini akan mencari kedekatan dengan teman sebayanya. Agar dirinya tetap bisa diterima oleh kelompoknya, maka individu ini akan melakukan apapun yang dharapkan kelompok. Hal ini karena dirinya takut akan penolakan dan kehilangan kelompoknya. Jadi individu dengan gaya kelekatan ini dimungkinkan akan melakukan perilaku konformitas.

  Gaya kelekatan Fearful memiliki model diri dan model orang lain yang sama-sama negatif. Gaya kelekatan ini diasosiasikan cenderung memiliki hubungan interpersonal yang negatif (Baron & Byrne, 2005). Individu ini merasa sulit untuk mempercayai orang lain secara penuh dan sulit mempercayai bahwa orang lain bisa diandalkan. Merasa cemas akan disakiti oleh orang lain jika terlalu dekat dengan orang lain (Bartholomew & Horowitz, 1991). Individu dengan gaya kelekatan ini mungkin tidak nyaman dan tidak terlalu mencari kedekatan dengan teman sebayanya. Ada perasaan tidak percaya terhadap orang lain dan perasaan bahwa teman-temannya akan menyakitinya jika dirinya terlalu dekat dengan teman-temannya. Hasil penelitian mengenai memori interaksi dengan kelompok mengatakan bahwa remaja hanya mengingat memori mengenai interaksi yang negatif yang mereka alami dengan kelompok. Hal tersebut hanya terjadi pada remaja dengan Insecure (fearful, preoccupied, dismissing) attachment dan tidak terjadi pada remaja dengan secure attachment. Hal tersebut membuat remaja

  33

  insecure memiliki perilaku menjauhi kelompok atau relatif memiliki

  hubungan yang memiliki banyak konflik dengan kelompok, Kurang melibatkan kegiatan dengan kelompok dan memilih melakukan aktivitas sendiri. (Dykas, Cassidy & Woddhouse, 2012). Oleh sebab itu, individu dengan gaya kelekatan ini akan menghindar dari teman sebayanya atau tidak dekat secara emosional sehingga dimungkinkan individu ini memiliki tingkat konformitas yang rendah.

  Gaya kelekatan Dismissing memiliki pandangan positif tentang dirinya namun memiliki pandangan negatif tentang orang lain. Orang dengan gaya kelekatan ini merasa tidak nyaman jika memiliki hubungan dekat dengan orang lain. Sangat penting bagi dirinya untuk bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dan tidak nyaman apabila orang lain juga bergantung padanya (Bartholomew & Horowitz, 1991). Dalam hubungannya dengan teman sebaya, individu dengan gaya kelekatan ini akan menolak kedekatan dengan teman sebayanya agar tidak mudah disakiti. Kecenderungan untuk menolak kedekatan dengan teman sebayanya ini membuat individu dengan gaya kelekatan menolak membatasi hubungannya dengan orang lain karena merasa dirinya lebih baik dan lebih mampu dari orang lain. Maka, dapat dikatakan bahwa individu dengan gaya kelekatan ini dimungkinkan melakukan perilaku konformitas yang rendah. Dari pemaparan diatas maka dapat dikatakan bahwa gaya kelekatan memiliki peran dalam munculnya perilaku konformitas pada remaja.

  34

E. Hipotesis Penelitian

  Hipotesis yang diajukan peneliti adalah :

  1. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara gaya kelekatan yang aman

  (secure attachment) dengan konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan

  aman yang dimiliki individu maka semakin rendah konformitas pada remaja.

  2. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara gaya kelekatan terpreokupasi (preoccupied attachment) dengan konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan terpreokupasi maka semakin tinggi konfomitas pada remaja.

  3. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara gaya kelekatan takut menghindar (fearful attachment) dengan konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan takut menghindar maka semakin rendah konfomitas pada remaja.

  4. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara gaya kelekatan menolak

  (dismissing attachment) dengan konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan menolak maka semakin rendah konfomitas pada remaja.

  35

  F.

  

Bagan Hubungan Gaya Kelekatan Dewasa dengan Konformitas pada

Remaja

  1. Bagan gaya kelekatan aman (secure attachment) dengan konformitas pada remaja.

  2. Bagan gaya kelekatan terpreokupasi (preoccupied attachment) dengan konformitas pada remaja.

  3. Bagan gaya kelekatan takut-menghindar (fearful attachment) dengan konformitas pada remaja.

  4. Bagan gaya kelekatan menolak (dismissing attachment) dengan konformitas pada remaja.

  36

  Bagan 1

  Individu dengan gaya kelekatan aman (secure attachment)

  Representasi mental diri positif Representasi mental orang lain positif

  Representasi mental orang lain Representasi mental diri Merasa dirinya layak dicintai,

  Orang lain dipandang sebagai merasa dirinya sama baiknya sosok yang baik, responsif, dengan orang, percaya diri mencintai dan dapat dipercaya dan otonom

  Hubungan sosial Tidak mengikuti tekanan kelompok karena percaya diri dan dan mandiri, tidak takut penolakan karena ciri-ciri konformitas adalah kurang percaya diri, merasa orang lain lebih baik.

  Tingkat kecemasan semakin rendah / tidak konformitas.

  Tidak mudah melakukan Konformitas.

  37

  Bagan 2

  Individu dengan gaya kelekatan terpreokupasi (preoccupeied attachment)

  Representasi mental diri negatif Representasi mental orang lain positif

  Representasi mental orang lain Representasi mental diri Orang lain dipandang lebih Merasa dirinya buruk dan baik dari diri sendiri, orang lain tidak layak dicintai. tidak responsif dan akan menyakiti

  Hubungan sosial Mencari kedekatan dengan teman untuk diterima. Melakukan harapan dan keinginan kelompok supaya tidak ditolak.

  Tingkat kecemasan semakin tinggi Mudah melakukan konformitas.

  38 Tingkat konformitas semakin rendah atau tidak konform.

  Konformitas berhubungan dengan kedekatan interpersonal.

  Hubungan sosial Memiliki hubungan interpersonal yang negatif

  Representasi mental orang lain Orang lain dianggap sebagai sosok yang tidak bisa diandalkan dan akan menyakiti dirinya

  Representasi mental diri Tidak merasa percaya diri dan merasa dirinya tidak layak dicintai oleh orang lain

  Representasi mental diri negatif Representasi mental orang lain negatif

  Individu dengan gaya kelekatan takut menghindar (fearful attachment)

  Bagan 3

  39

  Bagan 4

  Individu dengan gaya kelekatan menolak (dismissing attechment)

  Representasi mental diri positif Representasi mental orang lain negatif

  Representasi mental orang lain Representasi mental diri Merasa bahwa orang lain selalu Merasa dirinya layak untuk menyakiti, menolak dan dicintai dan diterima. cenderung ingin bergantung Merasa percaya diri, mandiri dan tidak ingin padanya. bergantung pada orang lain

  Hubungan sosial Membatasi hubungan dengan orang lain karena dirinya sendiri lebih baik.

  Konformitas mengacu pada mengikuti perilaku kelompok karena merasa tidak percaya diri.

  Tingkat konfomitas semakin rendah atau tidak konform.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif Korelasional dengan

  metode survei yang bertujuan untuk menguji teori yang menghubungkan variabel bebas dengan variabel tergantung (Creswell, 2012). Peneliti menggunakan metode ini karena metode ini sangat cocok untuk mengukur dan memaparkan kecenderungan dari populasi berdasarkan sampel yang telah ditentukan. Selain itu, penelitian survei menggunakan kuisioner sebagai alat pengambilan data pokok sehingga memudahkan penelitian yang melibatkan sampel yang cukup banyak. (Effendi & Tukiran, 2012). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara gaya kelekatan dewasa dengan konformitas pada remaja.

B. Identifikasi Variabel

  Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Variabel Bebas : Gaya Kelekatan dewasa ( Adult Attachment Style)

  1. Gaya kelekatan aman (Secure)

  2. Gaya kelekatan takut-menghindar (Fearful)

  3. Gaya kelekatan terpreokupasi (Preoccupied)

  4. Gaya kelekatan menolak (Dismissing)

  41

  Variabel Tergantung : Konformitas

C. Definisi Operasional

  Definisi operasional dalam penelitian ini terdiri dari definisi gaya kelekatan pada orang dewasa (Adult Attachment Style) dan Konfomitas.

  Definisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Gaya Kelekatan Dewasa

  Gaya kelekatan diukur berdasarkan kecenderungan seseorang dengan orang lain melalui representasi mental subjek positif atau negatif dan sejauh mana representasi mental terhadap orang lain positif atau negatif. Kecenderungan ini dilihat dari skor total pada skala gaya kelekatan yang diukur berdasarkan 4 model gaya kelekatan. Keempat gaya kelekatan yang diukur yaitu: a. Secure : Gaya kelekatan yang diukur melalui skor pada skala gaya kelekatan yang mengungkap representasi mental diri positif dan representasi mental orang lain yang juga positif.

  b. Preoccupied : Gaya kelekatan yang diukur melalui skor pada skala gaya kelekatan yang mengungkap representasi mental diri negatif dan representasi mental orang lain yang positif.

  c. Fearful : Gaya kelekatan yang diukur melalui skor pada skala gaya kelekatan yang mengungkap representasi mental diri negatif dan representasi mental orang lain yang juga negatif.

  42

  d. Dismissing : Gaya kelekatan yang diukur melalui skor pada skala gaya kelekatan yang mengungkap representasi mental diri positif dan representasi mental orang lain yang negatif.

2. Konformitas

  Konformitas diukur melalui skor total yang diperoleh dari respon subjek melalui skala konformitas yang dibuat berdasarkan 2 aspek konformitas yang merujuk pada keadaan dimana seseorang meniru perilaku orang lain atau kelompok karena adanya tekanan, norma dan harapan dari sosial. Kedua aspek konformitas tersebut adalah aspek Normatif dan aspek Informasional.

D. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah Remaja dengan usia 13-20 tahun.

  Pemilihan subjek penelitian ini dilakukan dengan cara Probability Sampling dengan teknik sampling Simple Random Sampling. Teknik ini adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan memilih subjek secara acak dengan memberikan peluang yang sama bagi anggota untuk dipilih menjadi subjek penelitian sampai pada jumlah sampel yang telah ditetapkan (Sangadji & Sopiah, 2010)

  Alasan pemilihan subjek adalah karena remaja merupakan individu yang paling rentan untuk melakukan perilaku konformitas karena di usia remaja, seseorang banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya dan

  43

  teman sebaya memiliki peran yang cukup penting dalam proses perkembangan remaja.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  Metode yang digunakan peneliti untuk pengumpulan data penelitian ini adalah Metode Survei dengan alat ukur berbentuk skala yang diisi oleh subjek. penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala gaya kelekatan dengan skala konformitas.

1. Skala Gaya Kelekatan (Adult Attachment Style)

  Skala ini mengukur gaya kelekatan yang disusun berdasarkan ciri- ciri dari masing-masing empat sub variabel gaya kelekatan yang dibangun oleh Dale Griffin dan Kim Bartholomew (1994) serta Bartholomew & Horowitz (1991). Teori yang dikemukakan oleh tokoh tersebut dipakai dengan alasan lebih menggambarkan kelekatan secara umum dan terperinci tidak seperti beberapa tokoh yang cenderung mengukur kelekatan secara khusus misalnya Hazan & Shaver (1987) mengukur kelekatan tentang romantic relationship, begitu juga dengan Collins and Read (1990).

  Skala gaya kelekatan berisi 24 item yang dirancang untuk mengukur empat model gaya kelekatan dewasa. Masing-masing model kelekatan terdiri dari 6 item. Sebelumnya, skala ini diujicobakan terlebih dahulu. Dari 49 item yang diujicobakan, hanya 8 yang gugur namun peneliti melihat adanya ketidakseimbangan pada jumlah masing-masing

  44

  item yang tersisa. Dengan alasan tersebut maka peneliti mengambil 6 item terbaik untuk masing-masing gaya kelekatan.

  Peneliti juga tidak membuat item-item unfavorable pada skala gaya kelekatan. Pada dasarnya, item unfavorable adalah item berisi penyataan yang tidak mendukung variabel. Dalam skala kelekatan, item-item pada sub variabel saling bertolakbelakang satu sama lain. Jadi bisa dikatakan bahwa item favorable dari Secure merupakan item unfavorable dari

  Dismissing dan item favorable dari Fearful merupakan item unfavorable

  dari Preocupied sehingga tidak diperlukan item unfavorable dalam skala gaya kelekatan.

  Berdasarkan hal tersebut pemberian skor hanya didasarkan pada item favorable saja. Skor tinggi mengindikasikan bahwa subjek memiliki kecenderungan pada gaya kelekatan tertentu dan skor rendah mengindikasikan bahwa subjek tidak memiliki kecenderungan pada gaya kelekatan tersebut. Pemberian skor pada skala gaya kelekatan adalah sebagai berikut:

  Tabel 2. Respon dan skor item-item pada skala gaya kelekatan

  Respon Skor

  Sangat Setuju (SS)

  4 Setuju (S)

  3 Tidak Setuju (TS)

  2 Sangat Tidak Setuju (STS)

  1

  45 Tabel 3. Blueprint skala gaya kelekatan sebelum uji coba

  GAYA

ITEM JUMLAH ITEM KELEKATAN

  Secure 1 ,2 ,3 ,4 ,5 ,6 ,7 ,8 , 9 ,10

  14 ,11 ,12 ,13 ,14 15 ,16 ,17 ,18 ,19 ,20 ,21

  11 Fearful ,22 ,23 ,24 ,25

  Preoccupied 26 ,27 ,28 ,29 ,30 ,31 ,32

  13 ,33 ,34 ,35 ,36 ,37 , 38

  Dismissing 39. 40, 41, 42, 43, 44, 45,

  11 46 ,47, 48, 49 Jumlah

  49 2. Skala Konformitas

  Skala ini mengukur tingkat konformitas yang disusun berdasarkan 2 aspek yang dirangkum oleh Deutsch & Gerard dalam Baron & Byrne (2005). Skala konformitas berisi 60 item yang terdiri dari item-item

  favorable dan unfavorable. Setiap aspek dari konformitas berisi masing-

  masing 30 item. Kedua aspek tersebut adalah:

  46

  a. Aspek sosial informasional i. Memiliki kebutuhan menerima informasi dan keinginan untuk merasa benar ii. Memiliki kecenderungan untuk merujuk opini orang lain atau kelompok jika dalam keadaan dilematis iii. Memiliki kecenderungan menjadikan opini kelompok sebagai acuan opini diri sendiri b. Aspek sosial normatif i. Memiliki keinginan untuk memenuhi harapan orang lain atau kelompok ii. Adanya keinginan untuk disukai, diterima, dan mendapat persetujuan kelompok iii. Memiliki ketakutan akan penolakan dan adanya tekanan kelompok.

  Pemberian skor Konformitas berdasar pada item favorable dan

  unfavorable . Skor didapatkan dari total skor pada skala konformitas yang

  sudah dihitung berdasarkan respon subjek. Semakin tinggi skor konformitas, maka bisa dikatakan bahwa subjek cenderung konform terhadap teman sebaya. Pemberian skor pada skala konformitas adalah sebagai berikut:

  47 Tabel 4. Respon dan skor item-item favorable pada skala konformitas

  Respon Skor favorable Skor unfavorable

  Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS)

  4

  3

  2

  1

  1

  2

  3

  4 Tabel 5.

  Blueprint skala konformitas sebelum uji coba KONFORMITAS

ITEM JUMLAH

  Informasional

  1, 5, 9, 13, 17, 21, 25, 29, 33, 37, 41, 45, 49, 53, 57

  2, 6, 10, 14, 18, 22, 26, 30, 34, 38, 42, 46, 50, 54, 58

  30 Jumlah

  15

  15 Normatif 3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 55, 59

  4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 36, 40, 44, 48, 52, 56, 60

  30 Jumlah

  15

  15 Jumlah total

  60

  ITEM Favorable Unfavorable

  48

F. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Penelitian 1. Uji Validitas

  Validitas mengukur sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat tes dapat diartikan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa validitas adalah kecermatan pengukuran yang mampu mengungkap data dengan tepat dan memberikan gambaran yang cermat (Azwar, 2004). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan validitas isi untuk menguji validitas kedua skala. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau professional

  judgement yang dilakukan oleh dosen pembimbing. Tindakan ini

  dilakukan untuk memastikan bahwa skala yang dibuat telah mencakup keseluruhan isi variabel yang akan diukur

2. Pelaksanaan Uji Coba dan Seleksi item

  Uji coba skala penelitian dilakukan pada tanggal 5 Agustus hingga

  12 Agustus 2013 dengan total sampel 30 orang. Uji coba dilakukan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta kepada remaja yang sesuai dengan dengan kriteria peneliti. Penyebaran dilakukan dengan mendatangi subjek, meminta kesediaan untuk mengisi kemudian memberi instruksi singkat tentang instruksi dan penelitian yang sedang dilakukan.

  49

  Uji seleksi item dilihat melalui korelasi item total dengan pengukuran dengan SPSS for windows 16.00. Tujuan dari seleksi item adalah untuk memilih item-item yang valid dan membuang item-item yang tidak valid. Pemilihan item yang sahih menggunakan batasan

  ≥ 0,30 karena item yang mencapai koefisien minimal 0,30 daya bedanya dianggap memuaskan. Item yang memiliki daya beda kurang dari 0,30 dinyatakan gugur (Azwar, 2012).

  Uji coba skala gaya kelekatan dilakukan sebanyak 3 kali. Uji coba yang pertama tidak menghasilkan skala yang baik dengan koefisien reliabilitas kurang dari 0,600 yang merupakan standar koefisien reliabilitas alat ukur yang memenuhi syarat (Azwar, 2012). Uji coba yang kedua kembali menghasilkan skala yang tidak memenuhi syarat dengan koefisien reliabilitas yang kurang dari 0,600 dengan salah satu aspek gaya kelekatan yang semua dinyatakan gugur. Uji coba yang ketiga menghasilkan skala gaya kelekatan yang memenuhi syarat dengan koefisien reliabilitas lebih dari 0,600.

  Seleksi item pada skala gaya kelekatan menghasilkan 41 item yang sahih dari 49 item. Item-item yang dinyatakan sahih meliputi 13 item sahih dari 14 item secure, 9 item sahih dari 11 item fearful, 13 item sahih dari 13 item preoccupied dan 6 item sahih dari 11 item dismissing. Berdasarkan jumlah item yang sahih, peneliti melihat adanya ketidakseimbangan antara masing-masing jumlah item dari keempat gaya kelekatan. Satu diantaranya bahkan hanya memiliki item sahih setengah jumlah total item. Dengan

  50

  alasan itu peneliti menggugurkan beberapa item pada gaya kelakatan yang lain meskipun item tersebut tidak dianggap gugur dan kurang memuaskan.

  Hal ini dilakukan agar item-item yang terjaring bisa seimbang jumlahnya. Peneliti mengambil masing-masing 6 item terbaik dari keempat gaya kelekatan dengan jumlah total item yang digunakan untuk skala gaya kelekatan adalah 24 item. Item-item tersebut yang digugurkan tersebut adalah 7 item secure, 3 item fearful dan 7 item preoccupied yang diseimbangkan jumlahnya dengan item dismissing yang memiliki item sahih terkecil. Berikut ini dapat dilihat tabel blueprint skala gaya kelekatan setelah dilakukan seleksi item:

  51 Tabel 6. Blueprint skala gaya kelekatan setelah uji coba

GAYA KELEKATAN

  Secure 1 ,2 ,3 ,4 ,5 ,6 ,7 ,8 , 9 ,10

  ,11 ,12 ,13 ,14

  6 Fearful 15 ,16 ,17 ,18 ,19 ,20 ,21 ,22 ,23 ,24 ,25

  6 Preoccupied 26 ,27 ,28 ,29 ,30 ,31 ,32 ,33 ,34 ,35 ,36 ,37 , 38

  6 Dismissing 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45,

  

46 ,47, 48, 49

  6 Jumlah

  24 Ket : angka yang dicetak tebal (Bold) adalah item-item terbaik yang

  diambil Seleksi item pada skala konformitas menghasilkan 36 item yang sahih dari 60 item. Peneliti mengambil 28 item untuk dijadikan skala penelitian untuk menyeimbangkan jumlah item favorable dan unfavorable disetiap aspek karena kedua aspek konformitas memiliki bobot yang sama dan keduanya sama-sama penting. Item-item yang diambil meliputi 8 item

  favorable pada aspek Informasional, 8 item favorable pada aspek

  Normative, 6 item unfavorable pada aspek Informasional dan 6 item

  52

unfavorable pada aspek Normatif. Berikut ini dapat dilihat tabel blueprint

ITEM JUMLAH

  44, 48, 52, 56, 60

  Reliabilitas adalah konsep mengenai sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Reliabilitas meliputi keterpercayaan, kestabilan dan konsistensi alat ukur. Rendahnya reliabilitas ditunjukkan

  diambil

  28 Ket : angka yang dicetak tebal (Bold) adalah item-item terbaik yang

  6 Jumlah total

  8

  14 Jumlah

  4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 36, 40,

  skala gaya kelekatan setelah dilakukan seleksi item: Tabel 7.

  

23, 27, 31, 35, 39,

43, 47, 51, 55, 59

  6 Normatif 3, 7, 11, 15, 19,

  8

  14 Jumlah

  45, 49, 53, 57 2, 6, 10, 14, 18, 22, 26, 30, 34, 38, 42, 46, 50, 54, 58

  

25, 29, 33, 37, 41,

  ITEM Favorable Unfavorable Informasional 1, 5, 9, 13, 17, 21,

  Blueprint skala konformitas setelah uji coba KONFORMITAS

3. Uji Reliabilitas

  53

  oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas (Azwar, 2004). Peneliti menggunakan analisis reliabilitas Alpha Cronbach melalui SPSS

  for windows 16.00. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang 0,00

  sampai 1,00. Jika angka koefisien reliabilitas semakin mendekati 1,00 maka reliabilitas semakin tinggi. Jika angka koefisien reliabilitas semakin mendekati 0,00 maka reliabilitas semakin rendah. Batasan suatu alat ukur bisa dikatakan reliabel adalah jika alat ukur tersebut memiliki koefisien reliabilitas di atas 0, 600 (Azwar, 2012).

  Hasil penghitungan koefisien reliabilitas pada skala gaya kelekatan adalah sebagai berikut: Secure memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,753 sebelum seleksi item kemudian menjadi 0, 745 setelah seleksi item;

  Fearful memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0, 655 sebelum seleksi item

  kemudian menjadi 0, 753 setelah seleksi item; Preoccupied memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0, 873 sebelum seleksi item kemudian menjadi 0, 886 setelah seleksi item dan Dismissing memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,646 sebelum seleksi item kemudian menjadi 0, 793 setelah seleksi item. Dari keempat gaya kelekatan bisa disimpulkan bahwa skala gaya kelekatan tersebut reliabel.

  Hasil perhitungan koefisien reliabilitas pada skala Konformitas adalah sebesar 0,869 sebelum seleksi item kemudian menjadi 0, 887 setelah seleksi item. Nilai koefisien reliabilitas pada skala Konformitas menunjukkan bahwa skala konformitas memiliki reliabilitas yang tinggi.

  54

G. Metode Analisis Data

  Metode analisis data digunakan untuk mengelola data penelitian, menganalisis data penelitian dan melihat hubungan antar variabel penelitian.

  Metode analisis data ditentukan dengan Uji Normalitas dan Uji linearitas. Dari kedua uji tersebut bisa ditentukan metode analisis yang tepat untuk menguji hipotesis. Jika data penelitian normal dan linear maka uji hipotesis bisa dilakukan dengan analisis korelasi Pearson Product Moment. Namun jika data penelitian tidak normal atau tidak linear atau tidak normal dan tidak linear maka analisis korelasi yang digunakan adalah analisis Spearman Rank.

  Penghitungan dilakukan dengan SPSS for windows 16.00. Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara gaya kelekatan dewasa dengan konformitas pada remaja.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Pengambilan data penelitian dilakukan dengan cara membagikan skala

  kepada subjek penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Langkah awal yang dilakukan peneliti adalah memberikan raport kepada subjek dan dilanjutkan dengan memberi sedikit informasi mengenai penelitian dan instruksi singkat mengenai pengerjaan skala agar tidak terjadi kesalahan.

  Pengambilan data penelitian dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan bantuan Lembaga Bimbingan Belajar SSC Intersolusi Yogyakarta dan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Pengambilan data yang pertama dilaksanakan pada tanggal 6 September 2013 pukul 16.00 WIB.

  Pengambilan data yang kedua dilaksanakan pada tanggal 11 September 2013 pukul 13.00 WIB dan pengambilan data yang ketiga dilaksanakan pada tanggal 16 September 2013 pukul 15,00 WIB. Pengambilan data tersebut dilaksanakan di beberapa kelas dari Lembaga Bimbingan Belajar SSC Intersolusi Yogyakarta dan beberapa kelas di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  56

B. Deskripsi Subjek dan Data Penelitian

  Pengambilan subjek penelitian dilakukan dengan cara memilih kelompok subjek yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan yaitu remaja dengan rentang usia 13-20 tahun yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Peneliti meminta ijin secara lisan dan tertulis untuk mengambil data penelitian di kelas. Peneliti memilih lembaga bimbingan karena menurut survei yang dilakukan peneliti, lembaga bimbingan memiliki kelompok belajar siswa remaja SMP dan SMA sehingga mempermudah dan mempercepat proses pengambilan data penelitian. Selain itu peneliti juga melakukan pengambilan data penelitian di kelas Fakultas Psikologi pada mahasiswa semester 1 dan 3 dengan alasan mahasiswa pada semester 1 dan 3 masih memenuhi syarat usia remaja dan data penelitian bisa lengkap karena dari jenjang pendidikan SMP, SMA dan mahasiswa sudah terwakili. Dari 163 skala yang disebarkan peneliti, hanya 153 yang memenuhi syarat untuk digunakan dan dianalisis. Berikut ini adalah tabel deskripsi usia, jenis kelamin dan pendidikan subjek penelitian saat pengambilan data:

  57

  17

  Deskripsi data digunakan untuk memberikan gambaran mengenai skor skala pada kelompok subjek yang diukur. Deskripsi data ini berfungsi sebagai sumber informasi mengenai keadaan subjek pada variabel yang diteliti. Hal tersebut diketahui dengan cara membandingkan Mean Teoritis (MT) dengan Mean empiris atau (ME). Hasil tersebut didapatkan melalui penghitungan rata- rata skor penelitian yang dihitung dengan bantuan SPSS for windows 16.00.

   Deskripsi Statistik Data Penelitian

  46 Jumlah 153 153 153 C.

  107

  88 Perempuan Laki-laki

  33

  32

  15 SMP SMA KULIAH

  32

  37

  19

  3

  Tabel 8. Deskripsi Usia dan Pendidikan saat ini

  17

  13

  20

  19

  18

  17

  16

  15

  14

  13

  Usia Jumlah Pendidikan Jumlah Jenis Kelamin Jumlah

  Hasil perbandingan mean teoritis dan mean empiris adalah sebagai berikut:

  58

  Tabel 9. Deskripsi statistik data variabel Gaya Kelekatan dan Konformitas

  Variabel Mean Teoritis Mean Empiris Secure

  15 15,44

  Preoccupied

  15 15,76

  Fearful

  15 13,35

  Dismissing

  15 11,76 Konformitas 70 67,73

  Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa Mean Empiris pada Secure dan Preoccupied lebih besar daripada Mean Teoritisnya. Hal tersebut menandakan bahwa rata-rata skor secure dan preoccupied tegolong tinggi dan signifikan. Hasil berbeda didapatkan dari Fearful dan Dismissing karena Mean Empirisnya lebih rendah daripada Mean teoritisnya. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor keduanya tergolong rendah signifikan.

  Hasil analisis dari variabel Konformitas menunjukkan bahwa Mean Empiris lebih rendah daripada Mean Teoritis. Dapat disimpulkan bahwa rata- rata skor pada variabel Konformitas tergolong rendah signifikan.

  59

D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Penelitian

  Uji analisis data diawali dengan melalukan Uji Normalitas dan Uji Linearitas yang dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 16.00.

  a. Uji Normalitas Uji Normalitas adalah uji yang dilakukan dengan memeriksa normal atau tidaknya sebaran data yang berasal dari populasi. Uji

  Normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang disimpulkan oleh dua hal yaitu: jika p < 0,05 maka data penelitian memiliki sebaran data yang tidak normal; jika p > 0,05 maka data penelitian memiliki sebaran data normal (Santoso, 2010). Hasil uji normalitas pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 10.

  Uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov test Asymp. Sig (2- Variabel Kolmogorov-Smirnov Z tailed)

  1,693 0,006

  Secure Fearful 1,522 0,019 Preoccupied 1,449 0,030 Dismissing 1,699 0,006

  Konformitas 1,337 0,056

  60 Berdasarkan tabel diatas, hanya variabel Konformitas yang memiliki probabilitas p > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data penelitian pada variabel konformitas memiliki sebaran data yang normal.

  Hasil yang berbeda ditinjukkan oleh variabel gaya kelekatan atau empat sub variabelnya yaitu secure, fearful, preoccupied dan

  dismissing . Keempat variabel tersebut memiliki probabilitas p < 0,05

  dan bisa disimpulkan bahwa data penelitian pada keempat sub variabel Gaya Kelekatan tersebut memiliki sebaran data yang tidak normal.

  b. Uji Linearitas Uji linearitas digunakan untuk mengetahui hubungan antarvariabel yang diteliti memiliki pola garis lurus atau tidak. Pola tersebut dilihat dari peningkatan atau penurunan kuantitas satu variabel yang diikuti oleh peningkatan atau penurunan kuantitas variabel lain (Santoso, 2010). Uji linearitas dilakukan dengan uji Test for Linearity dengan asumsi jika antarvariabel memenuhi syarat probabilitas p <0,05 maka antarvariabel pada penelitian tersebut bersifat linear. Hasil uji linearitas pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  61

  Tabel 11. Uji Linearitas

  • – Test for Linearity

  Variabel F Asymp. Sig Secure * Konformitas 2, 640 0,106 Fearful * Konformitas 6,092 0,015 Preoccupied * Konformitas 28,205 0,000 Dismissing * Konformitas 11,257 0,001

  Dari tabel diatas menunjukkan bahwa tidak semua hubungan antarvariabel bersifat linear atau memiliki taraf signifikansi p < 0,05.

  Dari hasil tersebut dapat dikatan bahwa terdapat 3 hubungan antarvariabel bersifat linear yaitu Fearful, Preoccupied , Dismissing dan ada 1 hubungan antarvariabel yang sifatnya tidak linear yaitu Secure.

2. Uji Hipotesis

  Proses uji hipotesis adalah uji statistik dengan pemodelan data dan pengambilan keputusan berdasarkan data. Setelah dilakukan uji asumsi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua data penelitian terdistribusi normal dan tidak semua hubungan antarvariabel menunjukkan hubungan yang linear. Dari hasil tersebut maka peneliti menggunakan uji statistik Non-Parametrik yaitu uji korelasi Spearman Rho dengan bantuan

  SPSS for windows versi 16.00 . Uji ini memungkinkan peneliti untuk

  62 melakukan uji hipotesis meskipun data penelitian tidak normal atau tidak linear atau tidak memenuhi kedua asumsi tersebut. Hasil analisinya adalah sebagai berikut:

  Tabel 12 Uji Hipotesis dengan Non-Parametrik

  • – Spearman’s Rho

  Variabel r sig

Secure * Konformitas -0,117 0,075

Fearful * Konformitas 0,135 0,048

Preoccupied * Konformitas 0,407 0,000

Dismissing * Konformitas -0,261 0,001

  • P < 0,05 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa tidak semua hubungan antarvariabel memiliki taraf sifnifikansi p < 0,05. Hasil penghitungan tersebut menjukkan bahwa koefisien korelasi (r) antara gaya kelekatan secure dengan konformitas sebesar -0,117. Koefisien korelasinya tergolong lemah dan bernilai negatif (Sarwono, 2006) dengan taraf signifikansi sebesar 0,075 (p < 0,05) yang menujukkan bahwa Ho diterima. Dengan demikian maka ada hubungan negatif yang tidak signifikan antara gaya kelekatan secure dengan konformitas.

  Koefisien korelasi (r) antara Gaya Kelekatan fearful dengan Konformitas sebesar 0,135. Koefisien korelasinya tergolong lemah dan bernilai positif (Sarwono, 2006) dengan taraf signifikansi sebesar 0,048 (p

  63 < 0,05) yang menujukkan bahwa Ho ditolak. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Gaya Kelekatan fearful memiliki korelasi positif yang signifikan dengan Konformitas. Dengan demikian semakin tinggi kecenderungan seseorang memiliki gaya kelekatan fearful, maka semakin tinggi juga konformitasnya.

  Koefisien korelasi (r) antara Gaya Kelekatan preoccupied dengan Konformitas sebesar 0,407. Koefisien korelasinya tergolong sedang dan bernilai positif (Sarwono, 2012) dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) yang menujukkan bahwa Ho ditolak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan seseorang memiliki gaya kelekatan

  preoccupied , maka semakin tinggi juga konformitasnya. Dari hasil

  tersebut bisa dikatakan bahwa gaya kelekatan preoccupied memiliki korelasi positif yang signifikan dengan konformitas.

  Koefisien korelasi (r) antara Gaya Kelekatan dismissing dengan Konformitas sebesar -0,261. Koefisien korelasinya tergolong sedang dan bernilai negatif (Sarwono, 2012) dengan taraf signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05) yang menujukkan bahwa Ho ditolak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan seseorang memiliki gaya kelekatan

  dismissing , maka semakin rendah konformitasnya. Jadi gaya kelekatan dismissing memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan konformitas.

  64

E. Pembahasan 1. Hipotesis Diterima

  Hipotesis 2 mengatakan bahwa ada korelasi positif antara gaya kelekatan preoccupied terhadap konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan

  preoccupied maka semakin tinggi konfomitas pada remaja. Hasil analisis

  menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,407 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) yang artinya kekuatan hubungan antara kedua variabel tergolong cukup kuat dan signifikan sehingga kebenarannya tidak diragukan. Hasil analisis koresional yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara gaya kelekatan

  preoccupied dengan konformitas dan bisa dikatakan bahwa hipotesis 2 diterima.

  Individu dengan gaya ini akan cenderung mencari kedekatan dengan orang lain, merasa orang lain itu baik sedangkan dirinya tidak layak untuk dicintai dan diterima. Oleh sebab itu individu dengan gaya kelekatan ini mudah mengalami kecemasan yang ekstrim akan penolakan.

  Individu dengan gaya kelekatan ini akan mencari kedekatan dengan teman sebayanya. Agar dirinya tetap bisa diterima oleh kelompoknya, maka individu ini akan melakukan apapun yang dharapkan kelompok.

  Hasil ini didukung oleh penelitian yang mengatakan bahwa kelekatan teman sebaya (peer attachment) memiliki dampak negatif jika dihubungkan dengan ketergantungan (dependency) misalnya kecemasan, kesepian, depresi dan self-esteem yang rendah. Hal tersebut membuat

  65 remaja menjadi semakin rentan untuk menjadi korban dari tekanan teman sebaya karena ketakutan akan penolakan yang besar dan kurangnya kepercayaan diri. Kelekatan yang diasosiasikan dengan ketergantungan yang tinggi adalah preoccupied attachment (Zuroff& Fitzpatrick, 1995) dalam Kopala-Sibley, Zuroff, Leybman & Hope (2012). Oleh karena itu gaya kelekatan preoccupied berhubungan dengan munculnya perilaku konformitas.

  Hipotesis 4 menyatakan bahwa terdapat korelasi negatif antara gaya kelekatan dismissing terhadap konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan dismissing maka semakin rendah konfomitas pada remaja. Hasil analisis korelasional menunjukkan nilai sebesar -0,261 yang artinya kekuatan hubungan antar variabel tergolong cukup kuat dengan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05). Jadi hasil analisis korelasional menghasilkan korelasi negatif yang signifikan antara gaya kelekatan dismissing terhadap konformitas pada remaja. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis 4 diterima.

  Individu dengan gaya kelekatan ini merasa dirinya layak untuk dicintai, berharga, diterima, dan layak untuk mendapatkan hubungan yang dekat dengan orang lain, namun individu ini memiliki kecenderungan menolak orang lain atau menghindar dari interaski langsung agar dirinya tidak menjadi orang yang ditolak oleh orang lain (Baron & Byrne, 2005). Orang dengan gaya kelekatan ini merasa tidak nyaman jika memiliki hubungan dekat dengan orang lain. Sangat penting bagi dirinya untuk bisa

  66 mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dan tidak nyaman apabila orang lain juga bergantung padanya (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  Dalam hubungannya dengan teman sebaya, individu dengan gaya kelekatan ini akan menolak kedekatan dengan teman sebayanya agar tidak mudah disakiti. Jadi individu dengan gaya kelekatan ini cenderung tidak akan melakukan konformitas atau kegiatan-kegiatan yang melibatkan kelompok teman sebaya. Alasan ini didukung oleh penelitian yang mengatakan bahwa remaja dismissing sangat idealis dan memiliki harapan yang terlalu tinggi akan penerimaan sosial ( Kobak & Sceery, 1988) dalam McElhaney, Immele, Smith & Allen (2006) dan mengindikasi bahwa remaja dismissing dijauhi dan diabaikan oleh kelompok ketika dirinya berharap kelompok sangat supportive namun pada kenyataannya tidak. (Lasore & Bernier, 2001) dalam McElhaney, Immele, Smith & Allen (2006)

  Insecure/dismissing attachment pada remaja menunjukkan bahwa

  remaja memiliki perilaku prososial namun juga memiliki perilaku agresif sekaligus banyak mengalami tindakan agresif dari kelompok. Semakin kelompok memperlakukannya dengan buruk, maka dirinya juga akanmemperlakukan korbannya dnegan buruk. Penemuan yang lain adalah remaja secure lebih bisa diterima secara sosial dibanding remaja (Dykas, Zir & Cassidy, 2008).

  dismissing

  67

2. Hipotesis Ditolak

  Hipotesis 1 mengatakan bahwa terdapat korelasi negatif antara gaya kelekatan secure dengan konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan secure yang dimiliki individu maka semakin rendah konformitas pada remaja. Hasil analisis koresional yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang tidak signifikan antara gaya kelekatan secure dengan konformitas. Dengan hasil ini maka hipotesis 1 ditolak.

  Hasil diatas menunjukkan bahwa sudah ada kesesuaian arah hubungan antara kedua variabel yaitu ada hubungan positif, namun hubungan antara kedua variabel tersebut tidak signifikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi gaya kelekatan secure adalah - 0,117 dengan taraf signifikansi sebesar 0,075 (p < 0,05). Data tersebut menunjukkan bahwa korelasinya tidak signifikan atau diragukan kebenarannya dan kekuatan hubungan kedua variabel juga tergolong lemah.

  Ada kemungkinan mengapa tidak ada hubungan signifikan antara gaya kelekatan secure dengan konformitas. Gaya kelekatan secure memiliki hubungan interpersonal yang baik. Individu ini memiliki kepercayaan penuh , mudah merasa nyaman dan tidak mudah bergantung dengan orang lain namun tetap nyaman apabila orang lain bergantung padanya. Individu ini tidak merasa cemas bila sendiri dan tidak merasa cemas apabila orang lain tidak menerimanya karena meyakini bahwa

  68 masih ada orang lain yang mencintainya (Bartholomew & Horowitz, 1991).

  Dilihat dari alasan orang melakukan konformitas, orang yang melakukan konformitas adalah karena tekanan dari kelompok, memiliki kepercayaan diri yang kurang dan merasa bahwa orang lain lebih baik darinya. Alasan yang lain adalah kurang memiliki kemandirian.

  Konformitas menyebabkan ketergantungan pada kelompok dan membuat remaja tidak bebas untuk mengambil keputusannya (Hurlock, 1991).

  Namun ada hal lain yang mempengaruhi perilaku konfomitas misalnya Kim dan Markus (1999) berpendapat bahwa, perilaku konformitas yang dilakukan seseorang juga terbentuk oleh budaya atau kultur di lingkungannya. Budaya di Amerika dan Eropa lebih menekankan pada kebebasan individu untuk kreatif dalam mengekspresikan dirinya dan juga mengutamakan kemandirian atau otonomi. Kultur Barat juga sangat menghargai dan menyadari bahwa setiap orang memiliki keunikan pribadi dan bebas untuk mengekspresikannya. Maka tidak heran apabila konformitas dianggap sebagai perilaku yang cenderung negatif.

  Sebaliknya, dalam budaya di asia yang kolektivis, ikatan dan hubungan seseorang dengan kelompok sangat penting dan ditekankan demi kerukunan kelompok. Misalnya, orang tua selalu mengajarkan anaknya akan kepatuhan, perilaku yang sesuai harapan serta menghormati tradisi kelompok (Taylor; Peplav; Sears, 2009). Begitu juga dengan analisis yang dilakukan oleh Rod Bond dan Peter Smith (1996) yang telah menganalisis

  69 133 penelitian dari 17 negara yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi konformitas. Hasilnya pun menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di negara dengan budaya kolektivis lebih responsif terhadap pengaruh orang lain dibandingkan orang-orang yang tinggal di negara dengan budaya individualistis (Myers, 2010). Dari analisis tersebut kemungkinan faktor ikatan sosial budaya cenderung mempengaruhi hubungan antara gaya kelekatan dengan konfomitas sehingga meskipun arah hubungannya sudah sesuai namun hasilnya tidak signifikan. Dari hasil ini maka dapat dilihat bahwa faktor budaya memberi pengaruh terhadap arah hubungan hipotesis penelitian.

  Hipotesis 3 menyatakan bahwa terdapat korelasi negatif antara gaya kelekatan fearful terhadap konformitas. Semakin kuat gaya kelekatan

  fearful maka semakin rendah konfomitas pada remaja. Namun hal ini tidak

  sejalan dengan hasil analisis korelasional yang sudah dilakukan. Analisis yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara gaya kelekatan fearful dengan konformitas pada remaja. Maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3 ditolak. Hasil analisis korelasional pada hipotesis 3 menunjukkan arah hubungan yang berlawanan antara hipotesis penelitian dengan hasil penelitian dan diperkuat dengan hasil korelasi yang signifikan. Jadi hasil analisisnya menunjukkan bahwa semakin kuat gaya kelekatan fearful maka semakin tinggi perilaku konformitas pada remaja.

  70 Menurut Feeney & Noller (1996), individu dengan gaya kelekatan

  fearful sebenarnya sangat menginginkan kedekatan dengan orang lain namun juga memiliki ketakutan yang tinggi akan penolakan dan disakiti.

  Saat menjalin hubungan dengan orang lain, ketakutan ini membuat mereka tidak nyaman. Gaya kelekatan ini diasosiasikan cenderung memiliki hubungan interpersonal yang negatif (Baron & Byrne, 2005). Individu dengan gaya kelekatan ini mungkin tidak nyaman dan tidak terlalu mencari kedekatan dengan teman sebayanya. Ada perasaan tidak percaya terhadap orang lain dan perasaan bahwa teman-temannya akan menyakitinya jika dirinya terlalu dekat dengan teman-temannya meskipun individu ini juga tidak merasa percaya terhadap dirinya.

  Disisi lain, Hasil penelitian mengenai memori interaksi dengan kelompok mengatakan bahwa remaja hanya mengingat memori mengenai interaksi yang negatif yang mereka alami dengan kelompok. Hal tersebut hanya terjadi pada remaja dengan Insecure (fearful, preoccupied,

  dismissing) attachment dan tidak terjadi pada remaja dengan secure attachment . Hal tersebut membuat remaja insecure memiliki perilaku

  menjauhi kelompok atau relatif memiliki hubungan yang memiliki banyak konflik dengan kelompok, Kurang melibatkan kegiatan dengan kelompok dan memilih melakukan aktivitas sendiri. (Dykas, Cassidy & Woddhouse, 2012).

  Kelompok fearful cenderung menghindari hubungan yang dekat dengan orang lain, namun juga memiliki ketergantungan terhadap

  71 penerimaan orang lain. sebenarnya kelompok fearful menginginkan keintiman dengan orang lain namun pengalaman mengenai ketidakpercayaan dan ketakutan akan penolakan membuat dirinya memilih untuk menghindari hubungan dekat agar tidak ditolak dan merasa kehilangan. ( Bartholomew, 1990; Bartholomew & Horowitz, 1991) dalam (Feeney & Noller, 1996).

  Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa seharusnya individu ini akan cenderung tidak melakukan perilaku konfomitas karena ketidaknyamanan untuk berhubungan dekat dengan orang lain dan dijauhi oleh kelompok teman sebaya dan akhirnya terhidar dari tekanan sosial teman sebaya. Bisa dikatakan juga akibat pengalaman-pengalaman negatif yang diingat dan dialami dengan kelompok, membuat individu ini enggan untuk berhubungan dekat dengan orang lain. Akan tetapi, hasil analisis menunjukkan hasil yang berlawanan. Individu dengan gaya kelekatan

  fearful justru cederung melakukan perilaku konformitas.

  Peneliti juga melihat faktor budaya menjadi kemungkinan penyebab hipotesis 3 ditolak. Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan hipotesis 1, faktor ikatan sosial budaya sangat mempengaruhi terjadinya perilaku konformitas. Individu dengan gaya kelekatan fearful yang cenderung melakukan perilaku konformitas kemungkinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Pengaruh budaya pada penelitian ini cenderung lebih dominan dan mempengaruhi perilaku seseorang untuk

  72 melakukan perilaku konformitas dibanding menjauhi komunitas sosial seperti halnya individu dengan kecenderungan fearful.

  Individu dengan kecenderungan fearful memiliki kondisi dimana dirinya tidak percaya dengan orang lain atau lingkungan namun juga memiliki ketakutan bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Pada penelitian ini, individu fearful cenderung berperilaku konform karena mungkin individu ini mengikuti kebiasaan atau tuntutan di lingkungan sosial dan budayanya. Hal tersebut disebabkan karena jika dilihat pada budaya kolektivis, misalnya dalam penelitian Rothbaum, Weisz, Pott, Miyake dan Morelli (2000), budaya kolektivis di Jepang membuat individu cenderung menyimpan pendapat dan emosi yang bertentangan dengan orang lain, enggan untuk menyampaikan ekspresi secara langsung demi keharmonisan sosial. Berbeda dengan individu dengan budaya individualistis seperti di Amerika yang lebih terbuka terhadap perasaan dan bisa mengekspresikan perasaan secara spontan.

  Kemudian penelitian yang dilakukan Fukushima, Sharp dan Kobayashi (2009) juga mengulas tentang nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat dengan budaya individualis dan kolektivis. Individu dengan budaya individualis meyakini nilai-nilai yang lebih mengutamakan identitas diri sendiri daripada identitas kelompok, mengutamakan kebutuhan sendiri dan kebahagiaan diri sendiri dibanding orang lain atau demi menaati norma masyaralat. Budaya kolektivis meyakini nilai

  73 identitas kelompok menjadi prioritas karena baik untuk mengembangkan diri sendiri.

  Pada budaya Jawa yang cenderung kolektivis, ada nilai-nilai yang diyakini masyarakat untuk lebih bersikap prososial dan mementingkan kerukunan kelompok. Menurut Suseno (1984), pada budaya Jawa kerukunan kelompok menjadi nilai yang sangat penting bagi masyarakat.

  Menjaga kerukunan dan ikatan sosial harus diutamakan demi menghindari konflik dan menjaga keharmonisan sosial. Kerukunan menjadi keadaan ideal yang menjadi tugas dari setiap orang untuk menjaga dan menjalankannya. Bahkan untuk menghindari konflik, setiap orang harus lebih mengutamakan kepentingan masyarakat bersama dibanding kepentingan sendiri. Hal tersebut menjadi tuntutan masyarakat kolektivis khususnya masyarakat Jawa untuk berperilaku sesuai dengan norma kelompok sosial.

  Jadi pembahasan diatas mungkin menjadi kemungkinan penyebab mengapa individu dengan gaya kelekatan fearful cenderung melakukan perilaku konformitas akibat dari tuntutan sosial. Hal tersebut terjadi bukan karena individu percaya terhadap kelompok atau sosial dan cenderung kurang percaya diri, namun dikarenakan tuntutan sosial memaksa individu untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini kelompok.

  Keadaan yang dilematis dan tidak pasti ini juga tampak dari hasil analisis statistik yang menunjukkan kekuatan hubungan dua variabel yang mendekati 0 atau tergolong lemah yaitu 0,135. Begitu juga dengan taraf

  74 signifikansi yang hampir mendekati nilai (p) yaitu sebesar 0,048 (p < 0,05). Dengan demikian meskipun dari hasil menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan namun kekuatan hubungan dari kedua variabel tersebut tergolong lemah dan hampir tidak signifikan.

  

75

BAB V PENUTUP

  A. Kesimpulan

  Hasil analisis data penelitian menghasilkan empat kesimpulan dari hipotesis. Terdapat tiga hubungan yang mendukung hipotesis dan satu hubungan yang tidak mendukung hipotesis. Kesimpulan hasil analisis penelitian masing-masing variabel adalah sebagai berikut:

  1. Gaya Kelekatan Aman (Secure Attachment) memiliki hubungan negatif yang tidak signifikan dengan konformitas pada remaja.

  2. Gaya Kelekatan Terpreokupasi (Preoccupied Attachment) memiliki hubungan positif yang signifikan dengan konformitas pada remaja.

  3. Gaya Kelekatan Menolak (Dismissing Attachment) memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan konformitas pada remaja.

  4. Gaya Kelekatan takut-menghindar (Fearful Attachment) memiliki hubungan positif yang signifikan dengan konformitas pada remaja.

  B. Saran

  1. Bagi calon orang tua hendaknya berhati-hati dalam menerapkan gaya kelekatan yang baik menurut budaya seperti yang terjadi pada budaya kolektivis di negara-negara Asia. Budaya kolektivis yang terjadi di masyarakat mengkondisikan remaja untuk melakukan konformitas. Selain itu, gaya kelekatan sendiri ternyata juga diterapkan secara berbeda di

  76 negara dan budaya yang berbeda. Jadi penerapan gaya kelekatan pada anak harus dikembangkan dengan hati-hati agar anak bisa menghadapi usia remaja, dirinya bisa mandiri dalam menyelesaikan masalahnya dan memiliki hubungan yang sehat dengan teman sebayanya.

  2. Bagi Remaja, sebaiknya mampu menyadari gaya kelekatannya sendiri untuk mengantisipasi dan mempertimbangkan dalam memilih teman sebaya. Jika remaja mudah lekat dan bergantung pada orang lain sedangkan kurang percaya diri, maka ada baiknya memilih kelompok teman sebaya yang baik sehingga pengaruh yang diberikan juga baik.

  3. Bagi peneliti selanjutnya dapat memperluas sampel sehingga semakin membuktikan peran dan pengaruh budaya pada gaya kelekatan secure dan gaya kelekatan fearful. Memperluas sampel yang dimaksud meliputi jumlah subjek dan variasi deskripsi subjek seperti tempat tinggal atau suku (demografi). Selain itu peneliti selanjutnya juga sebaiknya mengkaji faktor lain yang perlu dikontrol yang mungkin bisa mempengaruhi gaya kelekatan dan konformitas seperti faktor budaya.

  4. Peneliti selanjutnya yang hendak melakukan penelitian tentang Gaya Kelekatan menyarankan agar dalam membuat format skala yang akan disebar, urutan dari skala variabel penelitian diacak sehingga kedua skala penelitian bisa diisi dengan seimbang agar subjek tidak merasa lelah ketika mengisi skala kedua. Hal tersebut dikarenakan seringkali skala kedua gagal dalam uji coba sedangkan skala satu memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

  Asch, S. E. (1955). Opinion and social pressure. Scientific American, 193 (5), 31-

  35 Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Baron, R. A & Byrne. D. (2005). Psikologi Sosial (edisi ke-10 jilid 2). Jakarta: Penerbit Erlangga. Baron, R. A., Branscombe, N. R., & Byrne, D. (2009).(12th ed.). Boston, MA: Pearson/Allyn and Bacon. Bartholomew, K. & Horowitz, L. M. (1991). Attachment style among young adults: A test of four-category model. Journal of personality and social

  psychology , 61 (2), 226-224.

  Bowlby, J. (1973). Attachment and loss: Vol. 2. Separation, anxiety and anger.

  New York: Basic Books. Brown. C., (2006). Social psychology. London: Sage Publication Brownfield, D & Thompson, K. (1991). Attachment to peer and delinquent behavior. Canadian Journal of Criminology, 45-60.

  Bukatko, D. (2008). Child and adolescent development : A cronological approach . Boston: Houghton Mifflin Company. Cassidy, J. & Shaver, P. R. (1999). Handbook of attachment: Theory, research, and clinical applications . New York: Guilford Publication INC. Cole, L. (1964). Psychology of adolencence (6

  th ed) . United States of America: Holt, Rinehart and Winston, INC.

  Collins, N. L., & Read, S. J. (1990). Adult attachment, working model, and relationship quality in dating couples. Journal of Personality and Social

  Psychology , 58, 644-663.

  Creswell, J. W. (2012). Research design: pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan mixed . Alih bahasa: Ahmad Fauzi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dykas, M. J., Woodhouse, S. S., Erlich, K. B., Cassidy, J. (2012). Attachment- related differences in perceptions of an initial peer interaction emerge over time: Evidence of reconstructive memory processes in adolescents.

  Developmental Psychology , 48, 1381-1389.

  78 Dykas, M. J., Zir, Y., Cassidy, J. (2008). Attachment and peer relations in adolescence. Attachment & Human Development, 10 (2), 123-141. Effendi. S., Tukiran (2012). Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Evangeli, M. (2011). Hubungan antara Konformitas dengan Perilaku Merokok pada Remaja Perokok di Yogyakarta. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas

  Psikologi Universitas Sanata Dharma. Fenney, J. A., & Noller, P. (1996). Adult attachment. United States of America: Sage publication, Inc.

  Fitria, W., Ibrahim, I., Aulia, F. (2011). Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya Perokok dengan Perilaku Merokok pada Siswa “M” di Rao Pasaman. Jurnal RAP UNP, 96.

  Fukushima, M., Sharp, S. F., Kobayashi, E. (2009). Bond to society, collectivism, and conformity: a comparativestudy of Japaneseand American college students. Deviant Behavior, 30: 434-466. Griffin, D., & Bartholomew, K. (1994). Model of self and other: Fundamental dimention underlying measure of adult attachment. Journal of Personality

  and Social Psychology , 67, 430-445

  Havighurst. R. J., Taba. H. (1961). Adolescent Character and Personality. New York; London: Wiley. Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52, 511-524. Hetherington, E., Parke, R. D (Eds). (1999). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint (5th Ed). McGraw- Hill. http://komnaspa.wordpress.com/?s=tawuran http://www.suarapembaruan.com/home/selama-2013-19-pelajar-tewas- tawuran/45225 Hurlock, E. B. (1995). Adolescent development. New York: McGraw-hill Book Company. Hurlock, E. B. (1999).Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan

  . Edisi kelima. Jakarta: Erlangga Ingram. J. R., Patchin. J. W., Huebner. B.M., McCluesky. J.D., Bynum.T. S. (2007). Parents, friends, and serious delinquency : an examination of direct and indirect effects among at risk early adolescents. Criminal Justice Review. Vol 32 , no.4 380-400.

  Styles. M. R. Leary & R. H. Hoyle (Eds.). Handbook of individual differences (pp, 62-81). New York. Guilford Press.

  Psychological Association, vol.55 no.10, 1093-1044.

  Jakarta: Penerbit Erlangga. Shaver, P. R., & Mikulincer, M. (2009). Attachment Theory and Attachment

  Sarwono. S. W.. (1989). Psikologi Remaja (edisi 1). Jakarta: Rajawali. Sears, D. O dkk. (2008). Psikologi sosial jilid II. Alih Bahasa: Michael Andrianto.

  Adelar & Sherly Saragih. Jakarta: Penerbit Erlangga. Santrock, J. W. (2007). Remaja (edisi 2 jilid 1). Jakarta: Erlangga. Sarwono, J. (2006). Mengenal SPSS STATISTIC 20: Aplikasi untuk Riset Eksperimental. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santrock, J. W. (2003). Perkembangan Remaja (edisi ke6) Alih bahasa : Shinto B.

  Santoso, A. (2010). Statistik untuk Psikologi: dari Blog menjadi Buku.

  Sangadji, E. M, Sopiah, MM. (2010). Metodologi Penelitian

  Powell. M., (1963). The Psychology of adolescent. New York. The Bobbs-Merrill Company, Inc. Rothbaum, F., Weisz, J., Pott. M., Miyake. K., Morelli. G. (2000). Attachment and Culture: Security in the United States and Japan. American

  79 Kopala-sibley, D. C., Zuroff, D. C., Leybman, M.J., Hope, N. (2012). The developmental origins of dependency-related vulnerabilities to depression:

  Ke-10) Perkembangan manusia . Jakarta: Salemba Humanika.

  Humanika Myers, D. G. (2012). Psikologi Sosial (Edisi 10). Jakarta: Salemba Humanika Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development (ed.

  McElhaney, K. B., Immele, A., Smith, F. D., Allen, J. P. (2006). Attachment organization as a moderator of the link between friendship quality and adolescent delinquency. Attachment & Human Development, 8 (1), 33-46. Myers, D. G. (2010). Psikologi Sosial (Edisi 10 jilid 1). Jakarta: Salemba

  A handbook of models and measures . Washington , DC: American Psychological Association.

  Ed.). (2003). Positive psychological asssessment :

  st

  Recalled peer attachment and current levels of neediness and connectedness. Canadian Journal of Behavioral Science, 44 (4), 264-271. Lopez, S.J.& Snyder, C.R. (1

  • – Pendekatan Praktis dalam Penelitian. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.

  80 Smith, E. R., Murphy, J., & Coats, S. (1999). Attachment to groups: Theory and measurement. Journal of Personality and Social Psychology, 77, 94-110. Steinberg, L D., (2002). Adolescence (6

  th Edition). New York: McGraw-Hill.

  Suseno SJ. F. M. (1984). Etika Jawa: sebuah analisis Faksafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Jakarta: Gramedia. Susilowati, K. (2001). Hubungan antara konformitas teman sebaya dan konsep diri dengan kemandirian pada remaja panti asuhan muhammadiyah karanganyar. Skripsi. Fakultas Psikologi: Universitas Sebelas Maret Surakarta. Yusuf, Syamsu, (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya. Taylor. S. E., Peplau. L. A., Sears. D. O. (2009). Psikologi Sosial (edisi 12).

  Jakarta: Prenada Media Group. Wilkinson, R. B. (2004). The role of parental and peer attachment in the psychological health and self-esteem of adolescents. Journal of Youth and

  Adolescence , 33 (6), 479-493.

  Warr. M. (1993). Parents, peers and delinquency. Social Forces, 72: 347-264.

  

LAMPIRAN

  82

  LAMPIRAN 1 Skala Gaya Kelekatan Dewasa dan Konformitas sebelum Uji Coba

SKALA PENELITIAN

  Usia : Jenis Kelamin : L/P Pendidikan : Tanggal pengisian :

PROGRAM STUDI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  83

  Salam sejahtera, Teman-teman yang saya hormati, perkenankanlah saya meminta

waktu dan kesediaan teman-teman untuk mengisi pernyataan dalam skala

yang saya lampirkan berikut.

  Kesediaan teman-teman dalam penelitian ini sangat saya butuhkan

dalam penyusunan tugas akhir saya. Saya sangat mengharapkan kesediaan

teman-teman untuk mengisi skala ini dengan lengkap pada setiap

pernyataan sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran teman-teman

yang sebenarnya sebab tidak ada jawaban yang benar atau salah maupun

baik atau buruk. Semua jawaban yang teman-teman berikan adalah baik

apabila sesuai dengan keadaan teman-teman yang sebenarnya.

  Semua jawaban dan identitas teman-teman akan dijamin

kerahasiaannya. Oleh karena itu, teman-teman tidak perlu khawatir dengan

kejujuran jawaban teman-teman. Saya berharap tidak ada pertanyaan yang

terlewat atau tidak terjawab.

  Akhir kata, saya sangat berterima kasih dan menghargai partisipasi teman-teman dalam penelitian ini Ratna Ayu Pratama PSI/USD/089114140

  84

  SKALA A

Petunjuk Pengerjaan

  Berikut ini terdapat 60 pernyataan pada skala A dan 40 pernyataan

pada skala B. Teman-teman dimohon untuk menjawab pernyataan tersebut

dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban

persetujuan atau ketidaksetujuan yang menggambarkan diri teman-teman

dalam rentangan pilihan jawaban. Pilihan jawaban tersebut adalah :

  SS : Sangat Setuju pada pernyataan tersebut S : Setuju pada pernyataan tersebut TS : Tidak Setuju pada penyataan tersebut STS : Sangat Tidak Setuju pada penyataan tersebut Setiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda karena tidak ada

jawaban yang benar maupun salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang

sesuai dengan kondisi teman-teman. Contoh :

  Jawaban Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya akan melakukan apa yang teman saya lakukan

  X meskipun tidak sesuai dengan diri saya

  

Jika teman-teman merasa pernyataan ini sesuai dengan kondisi teman-

teman maka jawablah SS.

  

Selamat Mengerjakan

  85

  Jawaban No Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya menjadi semakin yakin ketika banyak teman setuju dengan pendapat saya.

  2. Saya tidak akan mengikuti pendapat kelompok sebelum pendapat mereka saya yakini benar

  3. Saya akan melakukan apa yang teman saya lakukan meskipun tidak sesuai dengan diri saya

  4. Saya merasa nyaman untuk menolak keinginan orang lain

  5. Saya yakin bertindak karena apa yang saya lakukan bisasanya dilakukan oleh banyak teman

  6. Saya berani berbeda pendapat dengan teman- teman jika saya yakin pendapat saya benar

  7. Saya menyetujui keputusan teman agar teman saya tidak kecewa

  8. Saya merasa terkekang jika mengikuti keinginan teman

  9. Saya menjadi ragu ketika tindakan saya berbeda dengan apa yang biasanya dilakukan teman-teman

  10 Pendapat saya ada kalanya lebih akurat daripada pendapat teman-teman dalam kelompok

  11. Keinginan teman lebih penting daripada keinginan saya

  12. Saya berani berbeda pendapat dengan teman

  13. Saya akan meminta pendapat teman untuk meyakinkan tindakan yang akan saya lakukan

  86

  14. Saya akan tetap melakukan hal yang saya anggap benar meskipun hal tersebut tidak dianggap benar oleh kelompok

  15. Saya merasa bersalah jika tidak mengikuti keinginan teman

  16. Saya akan bertindak sesuai dengan pendapat saya meskipun berbeda dengan pendapat teman

  17. Saya merasa ide kelompok lebih benar daripada ide saya

  18. Jika menurut saya pendapat kelompok salah, maka saya tidak akan melakukannya

  19. Saya takut menolak keinginan teman

  20. Saya merasa tidak harus memenuhi keinginan teman

  21. Ketika saya merasa bingung, saya akan melakukan apa yang disarankan oleh teman

  22. Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri meskipun merasa kesulitan

  23. Saya melakukan keinginan teman-teman agar mereka menyukai saya

  24. Saya tidak perduli pada apa yang orang pikirkan tentang saya

  25. Saat saya mengalami masalah, saya membutuhkan saran dari teman

  26. Ketika dalam situasi dilematis dan banyak teman menyampaikan pendapat kepada saya, keputusan tetap ada di tangan saya

  27. Saya merasa senang apabila teman-teman menyukai saya

  28. Saya melakukan hal-hal yang saya inginkan meskipun resikonya saya tidak akan disukai

  87 teman-teman dalam kelompok

  29. Saya merasa nyaman jika bertanya terlebih dahulu pada teman dalam kelompok sebelum membuat keputusan yang besar

  30. Dalam situasi yang dilematis, saya tetap bisa mengambil keputusan sendiri dan mengabaikan pendapat teman-teman

  31. Saya ingin diterima oleh teman-teman saya

  32. Saya merasa orang lain tidak perlu menerima saya

  33. Ketika saya merasa bingung, saya cenderung menyetujui pendapat teman

  34. Saya akan mengolah saran dari teman terlebih dahulu meskipun saya dihadapkan pada pilihan yang sulit

  35. Saya merasa teman-teman lebih menyukai saya ketika saya mengikuti pendapat mereka

  36. Saya tidak membutuhkan pujian dari orang lain

  37. Saya melibatkan teman saya saat saya harus mengambil keputusan

  38. Saya yakin bisa mengambil keputusan yang sulit tanpa meminta saran dari teman

  39. Saya berharap akan mendapat pujian dengan mengikuti keinginan teman

  40. Saya akan menolak pendapat teman jika saya tidak suka

  41. Saya menggunakan argumentasi teman sebagai dasar saya berpendapat

  42. Saya berpendapat berdasarkan pertimbangan yang sudah saya pikir

  88

  43. Saya takut teman-teman akan meninggalkan saya jika saya tidak memenuhi harapan mereka

  44. Saya tidak takut dijauhi oleh teman-teman karena tindakan saya

  45. Pendapat yang akan saya gunakan adalah pendapat yang pernah diungkapkan teman saya

  46. Saya akan menyampaikan pendapat yang saya yakini meskipun pendapat saya berbeda dengan pendapat teman

  47. Saya takut kehilangan dukungan dari teman apabila saya tidak mengikuti mereka

  48. Saya tetap bertindak sesuai dengan apa yang saya yakini meskipun teman-teman memaksa saya bertindak sesuai prinsip mereka.

  49. Saya menggunakan argumentasi teman unyuk mendukung argumentasi saya

  50. Lebih baik berpendapat sendiri daripada menggunakan pendapat orang lain

  51. Saya merasa terpaksa untuk mengikuti tindakan teman-teman saya

  52. Saya tidak takut akan ditinggalkan jika saya menolak permintaan teman

  53. Saya mengacu pada pertanyaan teman ketika menjawab suatu pertanyaan

  54. Saya berpendapat atas dasar pemikiran saya sendiri

  55. Saya takut dicela oleh teman saya jika saya mengungkapkan pendapat yang berbeda

  56. Saya merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang saya inginkan di dalam kelompok

  57. Saya tidak akan berkata bohong karena agama mengajarkan saya untuk berkata jujur

  89

  58. Saya tidak merasa takut jika pendapat saya dianggap tidak sesuai dengan pendapat teman- teman

  59. Saya merasa dituntut oleh teman-teman saya untuk mengikuti tindakan mereka

  60. Saya tetap merasa nyaman meskipun teman- teman tidak mendukung keputusan saya

  90

  SKALA B

Petunjuk Pengerjaan

  Berikut ini adalah skala B yang berisi 40 pernyataan. Teman-teman

dimohon untuk menjawab pernyataan tersebut dengan cara memberikan

tanda silang (X) pada salah satu jawaban persetujuan atau ketidaksetujuan

yang menggambarkan diri teman-teman dalam rentangan pilihan jawaban.

Pilihan jawaban tersebut adalah :

  SS : Sangat Setuju pada pernyataan tersebut S : Setuju pada pernyataan tersebut TS : Tidak Setuju pada penyataan tersebut STS : Sangat Tidak Setuju pada penyataan tersebut Setiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda karena tidak ada

jawaban yang benar maupun salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang

sesuai dengan kondisi teman-teman. Contoh :

  Jawaban Pernyataan SS S TS STS

  1. Mudah bagi saya untuk dekat dan akrab dengan

  X orang lain

  

Jika teman-teman merasa pernyataan ini sesuai dengan kondisi teman-

teman maka jawablah SS.

  

Selamat Mengerjakan

  91

  Jawaban No Pernyataan SS S TS STS

  1. Mudah bagi saya untuk dekat dan akrab dengan orang lain

  2. Saya tidak nyaman memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  3. Sebenarnya saya menginginkan hubungan yang akrab, namun saya cemas jangan-jangan orang lain enggan untuk dekat dengan saya

  4. Saya tetap merasa nyaman meskipun tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  5. Saya nyaman untuk bergantung pada orang lain dan nyaman jika orang-orang juga bergantung pada saya

  6. Sebenarnya saya menginginkan hubungan yang akrab, namun saya tidak bisa mempercayai orang lain sepenuhnya

  7. Saya tidak nyaman jika tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  8. Saya nyaman ketika tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  9. Saya tidak khawatir untuk merasa sendiri

  10. Saya sulit untuk bisa bergantung dengan orang lain

  11. Saya khawatir orang lain tidak akan menghargai saya seperti saya menghargai mereka

  12. Penting bagi saya untuk menjadi mandiri

  13. Saya nyaman jika ada orang lain tidak menerima saya

  92

  14. Saya khawatir akan tersakiti jika saya terlalu dekat dengan orang lain

  15. Saya ingin tahu apakah orang lain menyukai saya

  16. Saya memilih untuk tidak bergantung dengan orang lain

  17. Saya percaya bahwa orang lain akan ada untuk saya ketika saya membutuhkan mereka

  18. Saya ingin terbuka kepada orang lain, tetapi saya merasa mereka tidak bisa dipercaya

  19. Saya merasa orang lain lebih menarik daripada saya

  20. Saya nyaman jika orang lain tidak bergantung kepada saya

  21. Penting bagi saya untuk bisa percaya kepada orang lain

  22. Saya khawatir saya akan dikhianati jika saya terlalu percaya dan dekat dengan orang lain

  23. Saya merasa bahwa orang lain tidak menyukai saya seperti saya menyukai dia

  24. Saya tidak membutuhkan orang lain

  25. Saya nyaman dan ingin menciptakan hubungan yang akrab dengan orang lain

  26. Saya merasa cemas menjadi akrab dengan orang lain karena saya takut akan disakiti

  27. Saya mudah merasa takut orang lain tidak akan menyukai saya

  28. Saya tidak khawatir untuk merasa sendiri

  29. Saya memandang diri saya buruk, begitu juga dengan orang lain

  30. Penting bagi saya untuk tahu apakah orang lain

  93 menyukai saya atau tidak

  31. Lebih penting untuk membuat saya nyaman dibandingkan membuat orang lain nyaman

  32. Saya khawatir orang lain tidak mencintai saya

  33. Saya tidak nyaman ketika orang lain mulai akrab dengan saya

  34. Saya ragu orang lain akan ada untuk saya disaat saya membutuhkan mereka

  35. Saya merasa keinginan saya untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain membuat orang lain merasa tidak nyaman

  36. Saya merasa orang lain akan menyakiti saya

  37. Saya khawatir orang lain tidak mau bersama saya

  38. Saya tidak menginginkan keintiman

  39. Saya khawatir saya akan ditinggalkan orang- orang disekitar saya

  40. Saya nyaman tidak memiliki banyak teman

  41. Saya takut orang lain tidak menerima saya

  • -TERIMA KASIH-

  94

  LAMPIRAN 2 Skala Gaya Kelekatan Dewasa uji coba ketiga SKALA PENELITIAN

  IDENTITAS

  Usia : Jenis Kelamin : L/P Pendidikan : Tanggal pengisian :

PROGRAM STUDI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  95

  Salam sejahtera, Teman-teman yang saya hormati, perkenankanlah saya meminta waktu

dan kesediaan teman-teman untuk mengisi pernyataan dalam skala yang saya

lampirkan berikut.

  Kesediaan teman-teman dalam penelitian ini sangat saya butuhkan dalam

penyusunan tugas akhir saya. Saya sangat mengharapkan kesediaan teman-

teman untuk mengisi skala ini dengan lengkap pada setiap pernyataan sesuai

dengan keadaan, perasaan dan pikiran teman-teman yang sebenarnya sebab

tidak ada jawaban yang benar atau salah maupun baik atau buruk. Semua

jawaban yang teman-teman berikan adalah baik apabila sesuai dengan keadaan

teman-teman yang sebenarnya.

  Semua jawaban dan identitas teman-teman akan dijamin kerahasiaannya.

Oleh karena itu, teman-teman tidak perlu khawatir dengan kejujuran jawaban

teman-teman. Saya berharap tidak ada pertanyaan yang terlewat atau tidak

terjawab.

  Akhir kata, saya sangat berterima kasih dan menghargai partisipasi teman-teman dalam penelitian ini Ratna Ayu Pratama PSI/USD/089114140

  96

  SKALA B

Petunjuk Pengerjaan

  Berikut ini adalah skala B yang berisi 41 pernyataan tentang perasaan anda mengenai hubungan pribadi anda dengan orang lain (misalnya: orang-orang dalam komunitas, keluarga dan pasangan). Anda dimohon untuk menjawab pernyataan tersebut dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban persetujuan atau ketidaksetujuan yang menggambarkan diri anda dalam rentangan pilihan jawaban. Pilihan jawaban tersebut adalah:

  SS : Sangat Setuju pada pernyataan tersebut jika anda sepakat bahwa pernyataan

  tersebut sesuai dengan diri anda

  S : Setuju pada pernyataan tersebut jika anda merasa pernyataan tersebut ada

  kalanya sesuai dengan diri anda namun sesekali tidak sesuai

  TS : Tidak Setuju pada penyataan tersebut jika anda merasa pernyataan tersebut

  tidak sesuai dengan diri anda namun ada kalanya masih bisa diterima

  STS : Sangat Tidak Setuju pada penyataan tersebut jika anda merasa pernyataan

  tersebut sama sekali tidak menggambarkan diri anda Setiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda karena tidak ada jawaban yang benar maupun salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi anda.

  Contoh :

  Pernyataan Jawaban SS S TS STS

  1. Mudah bagi saya untuk dekat dan akrab dengan orang lain

  X Jika anda memilih jawaban SS, artinya anda mudah untuk dekat dan akrab dengan orang lain

  Selamat Mengerjakan

  97

  Jawaban No Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya mudah menjadi akrab dengan orang lain

  2. Saya nyaman bergantung pada orang lain

  3. Saya nyaman jika orang lain bergantung pada saya

  4. Saya nyaman meskipun saya sendiri

  5. Saya nyaman meskipun orang lain menolak saya

  6. Saya percaya bahwa orang lain aka nada untuk saya ketika saya membutuhkan mereka

  7. Saya mudah untuk bisa percaya pada orang lain

  8. Saya nyaman dan ingin menciptakan hubungan yang akrab dengan orang lain

  9. Saya percaya bahwa orang lain tidak akan menyakiti saya

  10. Saya merasa orang lain bisa mempercayai saya

  11. Saya merasa orang lain bisa dipercaya

  12. Saya nyaman jika orang lain mengetahui kelemahan saya

  13. Saya tidak khawatir meskipun saya jauh dari orang-orang terdekat saya

  14. Saya nyaman memiliki hubungan yang akrab dengan orang lain

  15. Sebenarnya saya menginginkan hubungan yang akrab, namun saya tidak bisa mempercayai orang lain sepenuhnya

  98

  16. Saya tidak suka bergantung pada orang lain

  17. Saya khawatir akan tersakiti jika saya terlalu dekat dengan orang lain

  18. Saya ingin terbuka kepada orang lain, tetapi saya merasa mereka tidak bisa dipercaya

  19. Saya tidak nyaman memiliki hubungan yang akrab dengan orang lain

  20. Saya khawatir saya akan dikhianati jika saya terlalu percaya dan dekat dengan orang lain

  21. Saya merasa cemas menjadi akrab dengan orang lain karena saya takut akan disakiti

  22. Saya merasa orang lain sama buruknya dengan saya

  23. Saya tidak nyaman ketika orang lain mulai akrab dengan saya

  24. Saya merasa orang lain akan menyakiti saya

  25. Saya merasa memiliki banyak kelemahan

  26. Sebenarnya saya menginginkan hubungan yang akrab, namun saya cemas jangan-jangan orang lain enggan untuk dekat dengan saya

  27. Saya khawatir jika tidak memiliki hubungan yang akrab dengan orang lain

  28. Saya khawatir orang lain tidak akan menghargai saya seperti saya menghargai mereka

  29. Saya ingin tahu apakah orang lain menyukai saya

  30. Saya merasa bahwa orang lain tidak menyukai saya seperti saya menyukai dia

  31. Saya mudah merasa takut jangan-jangan orang lain tidak menyukai saya

  99

  32. Saya merasa orang lain lebih menarik dibanding saya

  33. Penting bagi saya untuk tahu apakah orang lain menyukai saya atau tidak

  34. Saya khawatir orang lain tidak mencintai saya

  35. Saya merasa keinginan saya untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain membuat orang lain merasa tidak nyaman

  36. Saya khawatir orang lain tidak mau bersama saya

  37. Saya khawatir saya akan ditinggalkan orang-orang disekitar saya

  38. Saya takut orang lain tidak menerima saya

  39. Saya tetap merasa nyaman meskipun tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  40. Saya nyaman ketika tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  41. Saya adalah orang yang mandiri

  42. Saya tidak nyaman jika bergantung pada orang lain

  43. Saya nyaman jik aorang lain tidak bergantung kepada saya

  44. Saya tidak membutuhkan orang lain

  45. Saya merasa orang lain lebih buruk daripada saya

  46. Lebih penting untuk membuat saya nyaman dibandingkan membuat orang lain nyaman

  47. Saya tidak yakin orang lain akan menolong saya disaat saya membutuhkan

  100

  48. Saya tidak menginginkan keintiman

  49. Saya nyaman tidak memiliki banyak teman

  101

  LAMPIRAN 3 Skala Gaya Kelekatan Dewasa dan Konformitas setelah Uji Coba

SKALA PENELITIAN

  Usia : Jenis Kelamin : L/P Pendidikan : Tanggal pengisian :

PROGRAM STUDI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  102

  Salam sejahtera, Teman-teman yang saya hormati, perkenankanlah saya meminta

waktu dan kesediaan teman-teman untuk mengisi pernyataan dalam

skala yang saya lampirkan berikut.

  Kesediaan teman-teman dalam penelitian ini sangat saya

butuhkan dalam penyusunan tugas akhir saya. Saya sangat

mengharapkan kesediaan teman-teman untuk mengisi skala ini

dengan lengkap pada setiap pernyataan sesuai dengan keadaan,

perasaan dan pikiran teman-teman yang sebenarnya sebab tidak ada

jawaban yang benar atau salah maupun baik atau buruk. Semua

jawaban yang teman-teman berikan adalah baik apabila sesuai dengan

keadaan teman-teman yang sebenarnya.

  Semua jawaban dan identitas teman-teman akan dijamin

kerahasiaannya. Oleh karena itu, teman-teman tidak perlu khawatir

dengan kejujuran jawaban teman-teman. Saya berharap tidak ada

pertanyaan yang terlewat atau tidak terjawab.

  Akhir kata, saya sangat berterima kasih dan menghargai partisipasi teman-teman dalam penelitian ini Ratna Ayu Pratama PSI/USD/089114140

  103

  

SKALA A

Petunjuk Pengerjaan

  Berikut ini terdapat 28 pernyataan pada skala A dan 24 pernyataan pada skala B. Teman-teman dimohon untuk menjawab pernyataan tersebut dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban persetujuan atau ketidaksetujuan yang menggambarkan diri teman-teman dalam rentangan pilihan jawaban. Pilihan jawaban tersebut adalah :

  SS

  : Sangat Setuju pada pernyataan tersebut

  S : Setuju pada pernyataan tersebut TS : Tidak Setuju pada penyataan tersebut STS : Sangat Tidak Setuju pada penyataan tersebut

  Setiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda karena tidak ada jawaban yang benar maupun salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi teman- teman. Contoh :

  Jawaban Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya akan melakukan apa yang teman saya lakukan meskipun

  X

  tidak sesuai dengan diri saya Jika teman-teman merasa pernyataan ini sesuai dengan kondisi teman-teman maka jawablah SS.

  Selamat Mengerjakan

  104

  Jawaban No Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya yakin bertindak karena apa yang saya lakukan bisasanya dilakukan oleh banyak teman

  2. Saya berani berbeda pendapat dengan teman-teman jika saya yakin pendapat saya benar

  3. Saya menyetujui keputusan teman agar teman saya tidak kecewa

  4. Saya menjadi ragu ketika tindakan saya berbeda dengan apa yang biasanya dilakukan teman-teman

  5. Saya berani berbeda pendapat dengan teman

  6. Saya akan meminta pendapat teman untuk meyakinkan tindakan yang akan saya lakukan

  7. Saya merasa bersalah jika tidak mengikuti keinginan teman

  8. Saya akan bertindak sesuai dengan pendapat saya meskipun berbeda dengan pendapat teman

  9. Saya merasa ide kelompok lebih benar daripada ide saya

  10. Ketika saya merasa bingung, saya akan melakukan apa yang disarankan oleh teman

  11. Saya melakukan keinginan teman-teman agar mereka menyukai saya

  12. Saat saya mengalami masalah, saya membutuhkan saran dari teman

  13. Saya melakukan hal-hal yang saya inginkan meskipun resikonya saya tidak akan disukai teman-teman dalam kelompok

  14. Saya merasa nyaman jika bertanya terlebih dahulu pada teman dalam kelompok sebelum membuat keputusan yang besar

  15. Dalam situasi yang dilematis, saya tetap bisa mengambil keputusan sendiri dan mengabaikan pendapat teman-teman

  16. Saya merasa orang lain tidak perlu menerima saya

  105

  17. Saya melibatkan teman saya saat saya harus mengambil keputusan

  18. Saya yakin bisa mengambil keputusan yang sulit tanpa meminta saran dari teman

  19. Saya takut teman-teman akan meninggalkan saya jika saya tidak memenuhi harapan mereka

  20. Saya tidak takut dijauhi oleh teman-teman karena tindakan saya

  21. Saya akan menyampaikan pendapat yang saya yakini meskipun pendapat saya berbeda dengan pendapat teman

  22. Saya takut kehilangan dukungan dari teman apabila saya tidak mengikuti mereka

  23. Saya tetap bertindak sesuai dengan apa yang saya yakini meskipun teman-teman memaksa saya bertindak sesuai prinsip mereka.

  24. Saya mengacu pada pernyataan teman ketika menjawab suatu pertanyaan

  25. Saya berpendapat atas dasar pemikiran saya sendiri

  26. Saya takut dicela oleh teman saya jika saya mengungkapkan pendapat yang berbeda

  27. Saya tidak merasa takut jika pendapat saya dianggap tidak sesuai dengan pendapat teman-teman

  28. Saya merasa dituntut oleh teman-teman saya untuk mengikuti tindakan mereka

  106

  

SKALA B

Petunjuk Pengerjaan

  Berikut ini adalah skala B yang berisi 24 pernyataan. Teman-teman dimohon untuk menjawab pernyataan tersebut dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban persetujuan atau ketidaksetujuan yang menggambarkan diri teman-teman dalam rentangan pilihan jawaban. Pilihan jawaban tersebut adalah :

  SS

  : Sangat Setuju pada pernyataan tersebut

  S : Setuju pada pernyataan tersebut TS : Tidak Setuju pada penyataan tersebut STS : Sangat Tidak Setuju pada penyataan tersebut

  Setiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda karena tidak ada jawaban yang benar maupun salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi teman- teman. Contoh :

  Jawaban Pernyataan SS S TS STS

  1. Mudah bagi saya untuk dekat dan akrab dengan orang lain

  X Jika teman-teman merasa pernyataan ini sesuai dengan kondisi teman-teman maka jawablah SS.

  Selamat Mengerjakan

  107

  Jawaban No Pernyataan SS S TS STS

  1. Saya mudah menjadi akrab dengan orang lain

  2. Saya nyaman meskipun saya sendiri

  3. Saya nyaman meskipun orang lain menolak saya

  4. Saya percaya bahwa orang lain tidak akan menyakiti saya

  5. Saya nyaman jika orang lain mengetahui kelemahan saya

  6. Saya tidak khawatir meskipun saya jauh dari orang-orang terdekat saya

  7. Saya khawatir akan tersakiti jika saya terlalu dekat dengan orang lain

  8. Saya ingin terbuka kepada orang lain, tetapi saya merasa mereka tidak bisa dipercaya

  9. Saya khawatir saya akan dikhianati jika saya terlalu percaya dan dekat dengan orang lain

  10. Saya merasa cemas menjadi akrab dengan orang lain karena saya takut akan disakiti

  11. Saya merasa orang lain sama buruknya dengan saya

  12. Saya merasa orang lain akan menyakiti saya

  13. Saya khawatir jika tidak memiliki hubungan yang akrab dengan orang lain

  14. Penting bagi saya untuk tahu apakah orang lain menyukai saya atau tidak

  15. Saya khawatir orang lain tidak mencintai saya

  16. Saya khawatir orang lain tidak mau bersama saya

  17. Saya khawatir saya akan ditinggalkan orang-orang disekitar saya

  18. Saya takut orang lain tidak menerima saya

  108

  19. Saya tetap merasa nyaman meskipun tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  20. Saya nyaman ketika tidak memiliki hubungan akrab dengan orang lain

  21. Saya tidak membutuhkan orang lain

  22. Lebih penting untuk membuat saya nyaman dibandingkan membuat orang lain nyaman

  23. Saya tidak yakin orang lain akan menolong saya disaat saya membutuhkan

  24. Saya nyaman tidak memiliki banyak teman

  109

  LAMPIRAN 4 Uji Reliabilitas

1. Reliabilitas konformitas sebelum seleksi item

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  50

  98.0 Excluded a

  1

  2.0 Total

51 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .869

  60 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted kf1 143.7400 229.829 .235 .868 ku2 145.2400 229.696 .174 .869 kf3 145.2800 226.247 .337 .867 ku4 144.2800 234.083 .034 .871 kf5 144.7000 222.500 .515 .864 ku6 145.7600 228.635 .310 .867 kf7 144.9600 223.958 .539 .864 ku8 144.8200 229.947 .181 .869 kf9 145.0000 224.245 .464 .865 ku10 145.0800 231.585 .163 .869 kf11 144.9800 230.265 .208 .869 ku12 145.5600 227.027 .366 .866 kf13 144.1800 223.457 .454 .865 ku14 144.7800 228.257 .260 .868 kf15 145.2200 225.277 .459 .865 ku16 145.1200 224.230 .421 .865 kf17 144.8800 227.210 .347 .867

  110

  ku18 145.0600 233.119 .042 .872 kf19 144.5000 231.316 .118 .870 ku20 144.9400 227.200 .336 .867 kf21 144.4000 222.776 .597 .863 ku22 144.7000 231.398 .130 .870 kf23 145.2600 225.053 .427 .865 ku24 145.1800 233.212 .043 .872 kf25 143.9800 225.693 .453 .865 ku26 145.4800 228.051 .279 .868 kf27 143.7000 231.439 .158 .869 ku28 144.7800 224.012 .427 .865 kf29 144.0200 226.714 .432 .866 ku30 144.5600 224.374 .350 .866 kf31 143.7200 228.859 .271 .868 ku32 143.8200 226.722 .353 .867 kf33 144.5400 228.866 .280 .868 ku34 145.7200 232.573 .101 .870 kf35 144.6800 223.691 .448 .865 ku36 144.4200 228.575 .229 .868 kf37 144.4600 224.866 .463 .865 ku38 144.4000 225.592 .380 .866

  VAR00001 145.4800 225.438 .379 .866 ku40 145.2800 227.063 .314 .867 kf41 144.8200 230.028 .251 .868 ku42 145.6400 232.766 .110 .870 kf43 145.1600 221.198 .544 .863 ku44 144.6400 222.807 .432 .865 kf45 145.2000 230.694 .187 .869 ku46 145.6200 228.077 .380 .867 kf47 145.1000 221.806 .502 .864 ku48 145.1600 223.443 .524 .864 kf49 144.7000 233.806 .023 .872 ku50 145.2000 226.776 .307 .867 kf51 145.2000 227.673 .270 .868 ku52 144.3200 242.059 -.331 .876 kf53 144.7800 225.685 .371 .866

  111

2. Reliabilitas konformitas setelah seleksi item

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  50

  98.0 Excluded a

  1

  2.0 Total

51 100.0

  ku54 145.4800 227.316 .374 .866 kf55 145.5000 222.582 .464 .865 ku56 145.0000 225.306 .358 .866 kf57 144.0400 242.284 -.291 .877 ku58 145.3800 226.608 .372 .866 kf59 145.4000 227.102 .342 .867 ku60 144.8800 227.659 .311 .867

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .887

  28 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted kf5 65.2600 99.992 .497 .882 ku6 66.3200 103.855 .311 .886 kf7 65.5200 101.193 .504 .882 kf9 65.5600 100.211 .512 .882 ku12 66.1200 102.842 .362 .885 kf13 64.7400 99.829 .487 .882 kf15 65.7800 101.196 .491 .882 ku16 65.6800 101.202 .400 .884 kf21 64.9600 99.753 .614 .880 kf23 65.8200 100.844 .468 .883 kf25 64.5400 102.009 .445 .883 ku28 65.3400 100.719 .427 .884

  112

  3. Reliabilitas gaya kelekatan sebelum seleksi item

  Secure Case Processing Summary

  N % Cases Valid 41 100.0 Excluded a .0 Total

  41 100.0

  kf29 64.5800 101.881 .491 .883 ku30 65.1200 100.883 .350 .886 ku32 64.3800 101.914 .397 .884 kf35 65.2400 100.064 .476 .882 kf37 65.0200 101.204 .473 .883 ku38 64.9600 102.202 .352 .885 kf43 65.7200 98.002 .599 .879 ku44 65.2000 101.306 .349 .886 ku46 66.1800 104.314 .312 .886 kf47 65.6600 98.392 .555 .880 ku48 65.7200 100.573 .511 .882 kf53 65.3400 100.719 .443 .883 ku54 66.0400 103.182 .359 .885 kf55 66.0600 99.486 .480 .882 ku58 65.9400 102.874 .344 .885 kf59 65.9600 102.202 .384 .885

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .753

  14

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  113

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected Item- Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted S1 33.3415 20.230 .495 .725

  S2 34.4390 22.852 .249 .749 S3 34.4634 23.555 .028 .767 S4 33.7317 20.251 .397 .735 S5 34.0732 19.670 .455 .728 S6 33.4390 22.052 .234 .751 S7 34.0488 21.298 .370 .738 S8 32.8780 22.360 .307 .745 S9 34.0244 19.574 .557 .717 S10 33.2683 21.551 .351 .740 S11 33.8537 21.178 .426 .733 S12 34.1707 19.495 .424 .733 S13 33.7805 20.026 .447 .729 S14 32.9268 22.120 .323 .743

  114

  Fearful Case Processing Summary

  N % Cases Valid

41 100.0

Excluded a .0 Total

  

41 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .655

  11 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted F15 24.7805 11.576 .282 .638 F16 24.5366 12.355 .041 .683 F17 24.9268 9.870 .470 .596 F18 25.0000 11.450 .261 .642 F19 25.7073 11.512 .280 .638 F20 24.8293 9.545 .651 .559 F21 25.2927 10.362 .495 .596 F22 25.5610 10.552 .401 .614 F23 25.8293 12.045 .228 .646 F24 25.6098 11.044 .404 .617

F25 25.0000 13.000 -.078 .702

  115

  Preoccupied Case Processing Summary

  N % Cases Valid 41 100.0 Excluded a .0 Total

  41 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .873

  13 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Item Deleted

Corrected Item-

Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted P26 31.4878 32.556 .257 .878 P27 31.3902 29.444 .622 .860 P28 31.3659 30.588 .420 .872 P29 30.7561 31.639 .436 .870 P30 31.7073 31.212 .494 .867 P31 31.5854 29.999 .586 .862 P32 31.5610 29.902 .532 .865 P33 31.1951 27.761 .758 .851 P34 31.5854 28.999 .652 .858 P35 31.8537 31.928 .324 .876 P36 31.5610 27.152 .792 .848 P37 31.5610 28.352 .614 .861 P38 31.5610 29.902 .601 .862

  116

  Dismissing Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted

  Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted D39 23.8780 10.460 .465 .592 D40 23.8780 10.110 .552 .574 D41 23.1463 13.128 -.111 .692 D42 23.0732 12.770 -.028 .677 D43 23.2927 12.462 .080 .656 D44 24.5122 9.606 .615 .555 D45 24.2683 12.051 .132 .653 D46 23.7805 10.726 .334 .617 D47 23.8780 10.010 .505 .579 D48 24.0244 11.974 .126 .656 D49 24.4634 9.305 .569 .558

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  41 100.0 Excluded a .0 Total 41 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .646

  11

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  117

4. Reliabilitas gaya kelekatan setelah seleksi item

  Secure Case Processing Summary Reliability Statistics

  N % Cronbach's Alpha N of Items Cases Valid a 41 100.0 .744

  7 Excluded .0 Total 41 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item

  Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted S1 15.3415 10.530 .374 .731 S4 15.7317 9.601 .474 .710 S5 16.0732 8.970 .580 .683 S9 16.0244 10.124 .425 .721 S12 16.1707 9.045 .494 .707 S13 15.7805 9.276 .569 .688 S14 14.9268 11.520 .286 .745

  118

  Fearful Case Processing Summary

  N % Cases Valid 41 100.0 Excluded a .0 Total

  41 100.0

  a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Preoccupied Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items .750

  7 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted F15 15.0244 8.624 .295 .753 F17 15.1707 6.845 .556 .699 F18 15.2439 8.039 .401 .734 F20 15.0732 6.870 .668 .672 F21 15.5366 7.155 .634 .683 F22 15.8049 7.861 .377 .741 F24 15.8537 8.428 .339 .745

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  41 100.0 Excluded a .0 Total 41 100.0

  a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .887

  7

  119

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected Item- Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted P27 15.4146 12.599 .679 .871

  P30 15.7317 13.851 .542 .886 P33 15.2195 11.826 .744 .862 P34 15.6098 12.194 .732 .864 P36 15.5854 11.449 .776 .858 P37 15.5854 11.649 .701 .869 P38 15.5854 13.199 .593 .881 Dismissing

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  

41 100.0

Excluded a .0 Total

41 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .771

  7 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted D39 12.7805 8.576 .604 .721 D40 12.7805 8.676 .576 .726 D44 13.4146 8.199 .640 .711 D46 12.6829 9.472 .300 .781 D47 12.7805 8.976 .428 .755 D48 12.9268 10.170 .203 .793 D49 13.3659 7.388 .724 .686

  120

  LAMPIRAN 5 Hasil Uji Normalitas

  1. Uji normalitas konformitas

  One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Konformitas N

  153 Normal Parameters a Mean

  67.73 Std. Deviation 6.399 Most Extreme Differences Absolute .108 Positive .056 Negative -.108

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.337 Asymp. Sig. (2-tailed) .056

a. Test distribution is Normal.

  2. Uji normalitas gaya kelekatan secure

  One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test secure N

  153 Normal Parameters a Mean

  15.44 Std. Deviation 2.155 Most Extreme Differences Absolute .137

Positive .137

Negative -.094

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.693 Asymp. Sig. (2-tailed) .006

a. Test distribution is Normal.

  121

  3. Uji normalitas gaya kelekatan fearful

  4. Uji normalitas gaya kelekatan preoccupied

  One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test fearful N

  153 Normal Parameters a Mean

  13.35 Std. Deviation 2.388 Most Extreme Differences Absolute .123

Positive .107

Negative -.123

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.522 Asymp. Sig. (2-tailed) .019

a. Test distribution is Normal.

  One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test preoccupied N

  153 Normal Parameters a Mean

  15.76 Std. Deviation 3.002 Most Extreme Differences Absolute .117 Positive .098 Negative -.117

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.449 Asymp. Sig. (2-tailed) .030

a. Test distribution is Normal.

  122

  5. Uji normalitas gaya kelekatan dismissing

  One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dismissing N

  153 Normal Parameters a Mean

  11.76 Std. Deviation 2.688 Most Extreme Differences Absolute .137 Positive .137 Negative -.100

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.699 Asymp. Sig. (2-tailed) .006

a. Test distribution is Normal.

  123

  LAMPIRAN 6 Hasil Uji Linearitas

  1. Uji linearitas konformitas*secure

  2. Uji linearitas konformitas*fearful

  

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Konformitas * fearful Between Groups

  (Combined) 1085.511 12 90.459 2.465 .006 Linearity 223.597 1 223.597 6.092 .015 Deviation from Linearity 861.914

  11 78.356 2.135 .021

Within Groups 5138.502 140 36.704

Total 6224.013 152

  \

  ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Konformitas * secure Between Groups

  (Combined) 835.724 12 69.644 1.810 .052 Linearity 101.597

  1 101.597 2.640 .106 Deviation from Linearity 734.127 11 66.739 1.734 .072 Within Groups 5388.289 140 38.488

  Total 6224.013 152

  124

  3. Uji linearitas konformitas*preoccupied

  

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Konformitas * preoccupied Between Groups

  (Combined) 1734.765 17 102.045 3.069 .000 Linearity 957.872

  1 957.872 28.805 .000 Deviation from Linearity 776.893 16 48.556 1.460 .124 Within Groups 4489.248 135 33.254

  Total 6224.013 152

  4. Uji linearitas konformitas*dismissing

  

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Konformitas * dismissing Between Groups

  (Combined) 1071.291 13 82.407 2.223 .011 Linearity 417.297

  1 417.297 11.257 .001 Deviation from Linearity 653.994 12 54.500 1.470 .142

Within Groups 5152.722 139 37.070

  Total 6224.013 152

  125

  LAMPIRAN 7 Hasil Uji Hipotesis

  1. Uji hipotesis konformitas*secure

  2. Uji hipotesis konformitas*fearful

  

Correlations

Konformitas fearful

Spearman's rho Konformitas Correlation Coefficient 1.000 .135

  • * Sig. (1-tailed) . .048 N 153 153 fearful Correlation Coefficient .135 *

  1.000 Sig. (1-tailed) .048 . N 153 153 *. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).

  Correlations Konformitas secure Spearman's rho Konformitas Correlation Coefficient 1.000 -.117

  Sig. (1-tailed) . .075 N 153 153 secure Correlation Coefficient -.117 1.000 Sig. (1-tailed) .075 .

  N 153 153

  126

  3. Uji hipotesis konformitas*preoccupied

  

Correlations

Konformitas preoccupied

Spearman's rho Konformitas Correlation Coefficient 1.000 .407

  • ** Sig. (1-tailed) . .000 N 153 153

    preoccupied Correlation Coefficient .407

    **

  1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 153 153 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

  4. Uji hipotesis konformitas*dismissing

  

Correlations

Konformitas dismissing

Spearman's rho Konformitas Correlation Coefficient 1.000 -.261

  • ** Sig. (1-tailed) . .001 N 153 153 dismissing Correlation Coefficient -.261 **

  1.000 Sig. (1-tailed) .001 . N 153 153 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Dokumen baru