Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylloccus aureus, Escherechia coli dan Candida albicans - USD Repository

Gratis

0
0
103
2 days ago
Preview
Full text

AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM, ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcus

  AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM, ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcusaureus, Escherichia coli, dan Candida albicans SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi FarmasiOleh : Hermawan Deny PrasetyoNIM : 098114036 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM, ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcusaureus, Escherichia coli, dan Candida albicans SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

30 Mei 2013

31 Mei 2013

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftarpustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkandalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau medialain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin kepada saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagaipenulis.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kehadirat Allah atas rahmat dan hidayahNya sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul“Aktivitas Antimikroba Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol Bunga Pulu (Chartamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans”. Bapak dan Ibu tercinta, Harya Adi Setiawan dan Sumarsih atas kesabaran dan kepercayaan, tulusnya doa dan kasih sayang, dukungan moral dan materi, sertasemangat yang selali mengiringi langkahku.

2. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. Selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

  Ibu Rini Dwiastuti selaku dosen pembimbing akademik yang telah begitu perhatian, terima kasih atas saran, masukan dan petuah yang sangat berarti baikitu menunjang akademik maupun kepribadian saya. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dari awal sampai skripsi ini selesai yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

DAFTAR ISI

  Diameter zona hambat fraksi petroleum eter bunga pulu (Carthamus / v dan pembanding rutin 0,05% untuk analisis flavonoidTabel IX. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel dan fase gerak toluen - etil asetat (93:7) v Tabel VII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam selulosa dan fase gerak n-butanol - asam asetat glasial - air (4:1:5) tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,Escherechia coli dan Candida albicans Tabel VI.

DAFTAR LAMPIRAN

  Foto Hasil KLT Fraksi Metanol Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan Uap Amonia pada Analisis Konsentrasi Fraksi Etanol, Fraksi Kloroform, Fraksi Petroleum eterLampiran 7. Foto Hasil Uji Pendahuluan Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius 67 Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Difusi Sumuran albicans ATCC 10231 dengan Metode Difusi Sumuran 80 80 79 79 78 78 77 77 76 76 Lampiran 25. Foto Kemampuan Difusi Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, EtanolBunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) pada Media Agar Escherichia coli, dan Candida albicans Lampiran 24.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan

  yang dari waktu ke waktu dan terus berkembang dan pada tahun 2002, sebanyak14,9 juta manusia meninggal akibat penyakit infeksi. Sehubungan dengan potensi tersebut, maka perlu dilakukan eksplorasi yang merupakan penelitian pendahuluan, untuk mencari bahan alam yangmempunyai kemampuan sebagai antimikroba dari beberapa penyari untuk mempermudah menyari senyawa-senyawa tersebut diatas, berdasarkan kelarutandan aktivitasnya terhadap Staphylococcus aureus yang mewakili Gram positif, Escherichia coli yang mewakili Gram negatif dan Candida albicans yang mewakili fungi.

1. Permasalahan a

  Berapa Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum(KBM) dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans? Selain itu, pernah dilakukan pengujian ekstrak metanol dan air panas pada tanaman Carthamus tinctorius pada beberapa bakteri diantaranya Staphylococcus aureus (Mothana, Abdo, Hason, Althawab Fasial, Alaghbari, Lindequist, 2008) dan ekstrak metanol, etanol pada campuran bunga dan daun Carthamus tinctorius padabeberapa bakteri (Akroum, Satta, Lalaoui, 2009).

3. Manfaat penelitian a

  Manfaat teoritisPenelitian ini diharapkan dapat mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan tentang penggunaan bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) yang berkhasiat sebagai antimikroba. Manfaat praktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang manfaat bunga pulu sebagai pengobatan alternatif bagi masyarakat terutama untukmengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans.

2. Tujuan khusus a

  Mengetahui aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans . Buah safflower adalah achenes, biasanya disebut biji,dikelilingi oleh lambung fibrosa tebal yang halus, mengkilap dan runcing sekitar 6-9 mm, berwarna putih atau kecoklatan dan putih dengan abu-abu, cokelat atau garis-garishitam (Heuze dan Tran, 2011).

3. Kandungan kimia

  Analisis kimia dari ekstrak bunga pulu mengungkapkan konstituen utama ialah chartamin, chartamone , neo-chartamin, nona-cosane, zat warna kuning saflower, safflomin A, dipalmitin, adenosid, beta-sitosterol, dan polisakarida (Wijayakusuma, 2008a). Bunga pulu memiliki rasa pedas dan agak pahit, berbau aromatik, dan bersifat hangat.

B. Staphylococcus aureus

  Staphylococcus aureus membentuk koloni abu-abu hinga kuning emas, karakteristik pertumbuhan dengan menghasilkan katalase, yang membedakandengan streptokokus, bakteri ini memfermentasi karbohidrat, menghasilkan asam laktat dan tidak menghasilkan gas. Beberapa toksin beradadibawah kontrol genetik plasmid, beberapa dibawah kontrol kromosom dan yang lain mekanisme kontrol genetiknya belum ditemukan (Jawetz, Melnick, dan Adelberg,2005).

1. Struktur antigen

  Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida yang mengandung subunit-subunit yang bergabung memberikan eksoskeleton yangkaku dari dinding sel. Infeksi akan merangsang pembentukan interleukin (pirogen endogen) danantibodi opsonin oleh monosit; dan ini dapat menjadi penarik kimiawi bagi leukosit polimorfonuklear, mempunyai aktivitas seperti endotoksin dan mengaktivasikomplemen (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

2. Toksin dan enzim

3. Patogenesis dan patologi

  Staphylococcus aureus menghasilkan katalase, yang mengubah hidrogenperoksida menjadi air dan oksigen; koagulase, protein yang menyerupai enzim yang mampu menggumpalkan plasma yang ditambah dengan oksalat atau sitrat denganadanya suatu faktor yang terdapat dalam serum. Seperti TSST-1,enteroktoksin adalah superantigen yang berikatan dengan molekul MHC kelas II, Staphylococcus aureus yang patogenik dan bersifat invasif menghasilkan koagulase dan cenderung untuk menghasilkan pigmen kuning dan menjadi hemolitik.

1. Struktur antigen a

  Antigen O merupakan bagian terluar dinding sel lipopolisakarida dan terdiri dari unit berulang polisakarida. Antigen H mengadakan aglutinasi dengan antibodi H, biasanya IgG (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

2. Patogenesis dan tanda klinis

  Escherechia coli yang umumnya menyebabkan diare ini diklasifikasikan berdasarkan sifat karakteristik dari virulensinya dan tiap kelompok menyebabkan actin atau struktur seperti cangkir, dan biasanya masuk ke dalam sel mukosa. Hal ini ditandai dengan adanyapeningkatan konsentrasi lokal dari cyclic adenosine monophosfat(cAMP), yang menghasilkan hiperekskresi yang sering dan lama dari air dan klorid serta menghambat penyerapan natrium.

5) Enteroagregative E. coli (EAEC) menyebabkan diare akut dan kronis

  Patogenesis EAEC penyebab diare tidak begitu dipahami dengan baik, meskipun demikian dinyatakan bahwa EAEC melekat pada mukosaintestinal dan menghasilkan enterotoksin dan sitotoksin. Mekanisme virulensi berhubungan dengan antigen KI belum dipahami (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

D. Candida albicans

  D) setelah diinkubasi dengan Thymol 2x dari MIC jelas menghambat semua unsur dan merusak struktur filamen (Braga, Sasso, Culici, Alfieri, 2008) Candida albicans termasuk organisme eukariotik dengan bentuk lonjong danbertunas, yang menghasilkan pseudomiselium yang terdiri atas pseudohifa yang membetuk blastokonidia pada nodus-nodus dan kadang-kadang klamidokonidia padaujung-ujungnya baik dalam biakan maupun dalam jaringan. Pada agar sabouraud yang diinkubasi pada suhu kamar atau 37 C selama 24 jam, spesies Candida menghasilkankoloni-koloni halus berwarna krem yang mempunyai bau seperti ragi.

1. Struktur fisik

2. Patogenesis

  Manan dan protein berjumlah sekitar 15,2 Infeksi Candida albicans berkaitan dengan perubahan bentuk sel-sel Candida albicans dari bentuk yeast menjadi bentuk mycelium. Rhizoid dapat menembus mukosa, dan dapat juga masuk melalui sel-sel epitel di saluran cerna, invasi inidapat berlanjut hingga ke pembuluh darah dan menyebabkan septikemia (Riskillah cit., Kayser, Bienz, Eckert, Zinkernage, 2005).

E. Ekstraksi Bertingkat

F. Maserasi

  Metode ekstraksi yang tepat ditemukan oleh teksturkandungan air bahan-bahan yang akan diekstrak dan senyawa-senyawa yang akan diisolasi (Harbone,1996). Ekstraksi dapat dilakukan dengan bermacam-macammetode, tergantung dari tujuan ekstraksi, jenis pelarut yang digunakan dan senyawa yang diinginkan (Pratiwi, 2008).

G. Kromatografi Lapis Tipis

  Fase gerak atau pelarut pengembang ialah media angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut,yang bergerak didalam fase diam karena adanya gaya kapiler (Rohman dan Gandjar, 2007). Prinsip kerja KLT berupa lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir pengembangan, selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan atau dideteksi dengan lampu ultraviolet atau dengan pereaksi semprot (Rohman danGandjar, 2007).

H. Minyak Atsiri

  Minyak atsiri (disebut juga minyak menguap atau minyak etheral) adalah cairan berwujud minyak yang beraroma yang berasal dari berbagai bagian tumbuhan(bunga, kuncup, biji, daun, ranting, kulit, batan, dan rempa, kayu, buah, dan akar)(Di Pasqua, De Feo, Villani, Mauriello cit. Pada konsentrasi subletal carvacrol mengubah komposisiasam lemak dari sitoplasma yang mengarah terhadap perubahan struktur permukaan sel membentuk saluran membran untuk ion, materi seluler, asam nukleat, dan ATPmeninggalkan sitoplasma, menyebabkan kerusakan pada kolam ATP intrasel, baik dengan pengurangan sintesis ATP atau peningkatan hidrolisis ATP (Nostro danPapalia, 2012).

I. Flavonoid

  Rumus bangun flavon (Flavonoid) (Cushnie dan Lamb, 2005)Flavonoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, dan aseton. Flavonoid merupakangolongan terbesar dari senyawa fenol, senyawa fenol mempunyai sifat efektif komponen organik dan transpor nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik bagi bakteri (Sabir, 2008).

2. Metode difusi

  Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu dilakukan dengan metode difusi sumuran yang ditunjukan dengan diameter zonahambat (zona jernih) yang dihasilkan dan metode dilusi untuk menentukan nilaiKHM dan KBM. Penelitian mengenai adanya aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli , dan Candia albicans diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan mengenai manfaat bunga pulu sebagai salah satu terapi alternatif penyakit infeksi yang disebabkan olehmikroba di atas.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian rancangan eksperimental murni

B. Variabel dan Definisi Operasional 1

  Variabel bebas : Fraksi petroleum eter, kloroform, etanol dengan konsentrasi 50 %(b/v) ; 25 %(b/v) ; 12,5 %(b/v) ; 6,25 %(b/v) dan 3,125 %(b/v). Variabel terkendali : Waktu inkubasi (24 jam), suhu inkubasi (37 C), jenis bakteri uji, volume suspensi bakteri uji yang di inokulasikan dalam media (50µL), konsentrasi suspensi mikroba uji setara dengan larutan standar Mc.

8 CFU/mL), tempat tumbuh tanaman, suhu pengeringan ±

Farland II (6 x 10 45 C.

2. Definisi operasional a

  Aktivitas antimikroba adalah kemampuan fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu untuk menghambat atau membunuh mikroba uji Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 32518, dan Candida albicans ATCC 10231. Sampel bunga pulu adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan atau satuan bunga yang menyusun bunga majemuk tanpa daunpelindung.

C. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan a

  Bunga pulu (Carthamus tintorius L.) diperoleh dari petani (Bapak Mubarak) pada tanggal 15 Agustus 2012, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Balai Laboratorium KesehatanYogyakarta.

2. Alat

  Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, yaitu Erlenmeyer, tabung reaksi, corong, labu ukur, pipet tetes, pH meter, cawan petri, batang pengaduk, gelas TM ukur, sendok, pelubang sumuran, Platform Shaker (Innova 2100), autoclave (ModelKT-40, ALP Co. Ltd Hamurasi Tokyo Japan), oven (memmert), rotary evaporator(Janke dan Kunkel, Ika-labotechnik, RV 05-ST), inkubator (Mammert tipe BE 400,GmbH + CoKG-D91126, Swahaban FRG Germany microbiological safety cabinet), neraca analitik (Scaltec Instruments Heiligen stadt Germany), densicheck (Vitek®),bunsen, jarum ose, flakon, tempat pengembangan (Chamber) KLT, mikrokapiler, penyangga lempeng kaca, kertas saring, lempeng kromatografi lapis tipis.

D. Tata Cara Penelitian 1. Determinasi bunga pulu

  Bunga pulu dideterminasi dengan mencocokan ciri-ciri tanaman dengan yang dimiliki tanaman bunga pulu (Carthamus tintorius L.) menggunakan pustaka acuanIdtools (2003). Ampas I (sisa shaker dan ditutup dengan alumunium foil. Saring dengan corong Buchner hingga didapat filtrat etanol dan ampas III (disisihkan).

5. Pengujian potensi antimikroba a

  Pembuatan suspensi mikroba ujiPembuatan suspensi mikroba dilakukan dengan mengambil 1-2 ose mikroba dari stok yang telah dibuat sebelumnya, diinokulasikan pada 5 mL media Nutrien Broth, suspensi tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 C, kemudian divortex, diambil 1 mL suspensi tersebut ditambah NB dan disetarakan 8 kekeruhannya dengan larutan standar Mc. Pembuatan variasi konsentrasi larutan uji Pembuatan masing-masing fraksi dengan konsentrasi 50 % (stok larutan uji) dibuat dengan cara ekstrak kental (hasil penyarian) yang diperoleh ditimbangsejumlah 5 g yang kemudian dilarutkan ke dalam 10 mL DMSO untuk masing- masing fraksi.

1) Pembiakan suspensi bakteri dan fungi secara pour plate

  Tiap lubang sumuran masing-masing ditambal dengan 50 µL setelah memadat kemudian diisi 50 µL dengan fraksipetroleum eter, kloroform, dan etanol yang berkonsentrasi 50 %(b/v); 25 %(b/v);12,5 %(b/v); 6,25 %(b/v) dan 3,125 %(b/v). Pengukuran KHM dengan metode dilusi padatUji potensi antimikroba pada metode difusi didapatkan konsentrasi terkecil dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol yang dapat menghambatpertumbuhan Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans.

6. Identifikasi kandungan senyawa bunga pulu dengan uji tabung

  Jika larutan menjadi berwarna kuning sampai merah dan bila pada saat penambahanKOH warna larutan menjadi lebih intensif berarti menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor dengan gugus hidrofilik. Uji diulang dengan filtrat hasil pendidihan 2 g serbuk dengan 9- Uji saponinSeratus mg serbuk bunga pulu ditambahkan 10 mL air suling kedalam tabung reaksi, ditutup dan dikocok kuat-kuat selama 30 detik.

E. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Flavonoid)

F. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Minyak Atsiri)

  Fase diam yang digunakan adalah selulosa dengan fase gerak n-butanol: asam asetat glasial : air ( 40:10:50) v/v. Standar terpenoid dan sampelditotolkan sebanyak 10 µL pada plat KLT, fase diam yang digunakan adalah silika gel 60 F 254 dengan fase gerak toluena : etil asetat (93:7) v/v.

G. Analisis Hasil

  Uji potensi antimikroba ditunjukkan dengan data diameter zona hambat yang diperoleh dengan metode pengujian menggunakan difusi sumuran pada berbagaivariasi konsentrasi dibandingkan dengan kontrol positif dan direplikasi sebanyak 3 Kandungan senyawa dalam serbuk bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) diperoleh dengan uji tabung dan KLT. Analisis hasil KLT bersifat deskriptif dankomparatif, hasilnya dapat dilihat dari warna bercak yang tampak pada sinar UV 254 nm, UV 365 nm dan setelah disemprot dengan pereaksi yang sesuai dan dilihatperolehan harga Rfnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Determinasi Tanaman Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Botani Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma yang diidentifikasi menurut acuan Idtools

  Identifikasi tanaman ini bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan adalah bunga pulu atau kasumba turate. Hasil determinasi menunjukkanbahwa bunga pulu yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nama ilmiah Carthamus tinctorius L.

B. Hasil Pengumpulan dan Pembersihan Sampel berupa bunga pulu diambil dari daerah Soppeng, Sulawesi Selatan

  Bunga yang diambil adalah bunga yang sudah tua yang berwarna merah karena diharapkan kandungan senyawa yang terkandung berada dalam jumlah yangmaksimal. Setelah kering dan dapat dihancurkandengan tangan, bunga diserbuk dan diayak menggunakan pengayak dengan nomor mesh 40 untuk memperkecil ukuran partikel, sehingga proses penyarian lebih efektif dan optimal, dengan memperkecil ukuran partikel (dalam batas optimal) luas partikel yang kontak dengan pelarut semakin besar.

D. Hasil Penyarian Serbuk

  Diameter zona hambat fraksi petroleum eter bunga pulu (Carthamustinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans 13 L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicansDiameter zona hambat (mm) terhadap Tabel V. Hal ini menunjukan tidak adanyapenghambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji yaitu Staphylococcus aureus, aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans yaitu kontrol negatif tidak Hasil yang diperoleh untuk fraksi kloroform terhadap Staphylococcus Konsentrasi 6,25% Konsentrasi 3,125% III I II III I II III Konsentrasi 50% Konsentrasi 25%Konsentrasi 12,5% Konsentrasi 6,25% Escherechia coli , dan Candida albicans.

1. Uji tabung

  Identifikasi alkaloid dapat dilakukan dengan cara reaksipengendapan dan reaksi warna, yaitu dengan cara melarutkan 2 g serbuk bunga pulu dengan HCl. Uji polifenolSerbuk bunga pulu dilarutkan ke dalam air dan dipanaskan dengan penangas air selama 10 menit, karena polifenol merupakan senyawa yang larutdalam air panas.

2. Uji Kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis

  Analisis dengan KLT memiliki beberapa keuntungan diantaranya ialah penanganannya sederhana dan cuplikan serta pelarutyang digunakan sedikit. Kompleks khelat tersebut terikat kuat pada fase diam yang dapat menyebabkan tidak terjadinya elusi.

2 CaSO

  Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam selulosa dan fase gerak butanol : asam asetat glasial : air (4:1:5) dan pembanding rutin0,05% untuk analisis flavonoid Bercak No DeteksiUV 254 UV 365 Uap amoniak Rf Warna Rf Warna Rf WarnaSampel 1 0,64 Kuning 0,64 Ungu 0,64 Kuning 2 0,64 Kuning 0,64 Ungu 0,64 KuningPembanding 1 0,61 Kuning 0,61 Ungu 0,61 Kuning Dilihat dari hasil yang dapat dilihat dari tabel, maka dapat disimpulkan mengandung flavonoid. Silika gel merupakan adsorben yangpaling banyak digunakan dalam Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang berupa silika gel yang direkatkan dengan CaSO 4 dan yang berfluoresensi pada panjang gelombang 254 nm.

2. SEES ( Side Effect Eliminating Substances/ Secondary Efficacy Enhancing

  Subtances) Ekstraksi bertingkat dalam penelitian ini bertujuan untuk menyari atau mengisolasi senyawa aktif yang berbeda polaritasnya. SEES (Secondary Efficacy Enhancing Subtances) juga menjelaskan bahwa terdapat zat-zat yang ketika dalam keadaan senyawa tunggaltidak berefek, sehingga zat yang diisolasi efeknya dalam hal ini sebagai antimikroba diperkirakan bisa menurun karena tidak terdapat zat sekunder.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) tidak mempunyai aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli , dan Candida albicans

  Tidak diketahui seberapa besar Kadar Hambat Minimum (KHM) danKonsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans. Berdasarkan uji tabung yang dilakukan, serbuk bunga pulu diduga mengandung flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri.

DAFTAR PUSTAKA

  A05-2 Herlianawati, M., 2003, Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Umbi Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Staphylococcus aureus ATCC25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, Skripsi, Universitas Sanata Dharma. Jamal, Y., Agusta, A., dan Praptiwi, 2003, Kompisisi Kimia dan Efek AntibakteriMinyak Atsiri Buah Gedebong (Piper aduncum L.), Majalah Famasi Indonesia , 14 (1), pp.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (103 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Isolasi, Seleksi, dan Uji Aktivitas Antimikroba Kapang Endofit dari Daun Tanaman Jamblang (Syzygium cumini L.) terhadap Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Candida albicans dan Aspergillus niger.
1
17
110
Aktivitas Antifungi Air Perasan Lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Candida albicans Secara in Vitro.
2
4
19
Aktivitas Antimikroba Metode Ozonisasi Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans Secara In Vitro.
0
0
25
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin.
0
2
8
Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylloccus aureus, Escherechia coli dan Candida albicans.
2
7
105
Uji aktivitas antibakteri fraksi n heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin
0
0
6
Antimikroba Gel Daun Lidah Buaya (Aloa barbadensia Mill.) terhadap Candida albicans dan Escherichia coli Secara Molekular - Ubaya Repository
0
0
1
Uji daya antimikroba ekstrak etanol saga (Abrus precatorius Linn) terhadap jamur candida albicans dan bakteri escherichia coli ATTC 35218 serta kesetaraannya dengan ketokonazol dan kloramfenikol - Ubaya Repository
1
4
1
ISOLASI SENYAWA KIMIA DARI BUNGA KASUMBA TURATE (Carthamus tinctorius L.)
0
0
61
Uji daya antimikroba dari destilat caryophylli flos terhadap streptococcus pyogenes dan Candida albicans - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Uji aktivitas antimikroba ekstrak etanol daun cayratia trifolia terhadap staphylococcus aureus dan candida albicans - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
Perbandingan antibakteri dari ekstrak etanol dan fraksi ekstrak etanol tanaman ceguk (Quisqualis indica L.) terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
16
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
18
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Aktivitas sitotoksik fraksi etil asetat daun mulwo (Annona reticulata L.) terhadap sel kanker kolon WiDr - USD Repository
0
0
86
Show more