Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylloccus aureus, Escherechia coli dan Candida albicans - USD Repository

Gratis

0
0
103
6 days ago
Preview
Full text

  

AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM,

ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcus

aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh :

  Hermawan Deny Prasetyo NIM : 098114036

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM,

ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcus

aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans

  

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

  

Oleh

Hermawan Deny Prasetyo

NIM : 098114036

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

30 Mei 2013

  31 Mei 2013

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 11 Maret 2013 Penulis,

  Hermawan Deny Prasetyo

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: nama : Hermawan Deny Prasetyo nomor mahasiswa : 098114036

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI PETROLEUM ETER, KLOROFORM,

ETANOL BUNGA PULU (Chartamus tinctorius L.) TERHADAP Staphylococcus

aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans.

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin kepada saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 23 Mei 2013 Yang Menyatakan Hermawan Deny Prasetyo

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kehadirat Allah atas rahmat dan hidayahNya sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Aktivitas Antimikroba

  Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol Bunga Pulu (Chartamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans ”.

  Penyusunan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi Program Studi Farmasi Universitas Sanata Dharma. Perjuangan panjang dalam penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan dan kerja sama berbagai pihak.

  Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Bapak dan Ibu tercinta, Harya Adi Setiawan dan Sumarsih atas kesabaran dan kepercayaan, tulusnya doa dan kasih sayang, dukungan moral dan materi, serta semangat yang selali mengiringi langkahku.

2. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. Selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  3. Ibu Agustina Setiawati M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, dukungan moril, pengarahan, evaluasi dan saran mulai penyusunan proposal hingga skripsi ini selesai.

  5. Ibu Rini Dwiastuti selaku dosen pembimbing akademik yang telah begitu perhatian, terima kasih atas saran, masukan dan petuah yang sangat berarti baik itu menunjang akademik maupun kepribadian saya.

  6. Ibu Maria Dwi Jumpowati, S.Si yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberi semangat serta masukan kepada penulis.

  7. Teman-teman IA1 SMAN I Kolaka yang telah banyak mengisi cerita hidup.

  8. Teman-teman seperjuanganku : Wanda Indriani W., Johanes Putra W., Bernadeta Arum W., terimaksih untuk doa, kerjasama, dan dukungannya.

  9. Seluruh laboran dari lantai satu sampai empat, terutama Mas Wagiran, Mas Sigit, Pak Mukmin yang telah banyak membantu selama penelitian sampai skripsi dapat diselesaikan.

  10. Teman-teman kelas A FSM 2009 untuk kebersamaan dan dukungannya.

  11. Teman-teman KKN Kelompok 20 XLIV: Victor, Evy Feny Veronika, Maria Sukma, Agustin Nugroho, Fenny, Elsa Ridho terimakasih untuk pelajaran hidup yang berharga, canda tawa dan kebersamaan kita.

  12. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dari awal sampai skripsi ini selesai yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

  Penulis menyadari bahwa penelitian dan penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan dan masih memerlukan kritik dan saran yang membangun dari segi

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL i

  HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii HALAMAN PENGESAHAN iii

  HALAMAN PERSEMBAHAN iv

  LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS vi KATA PENGANTAR vii

  DAFTAR ISI ix

  DAFTAR TABEL xii

  DAFTAR GAMBAR xiii

  DAFTAR LAMPIRAN xiv

  INTISARI xvi

  ABSTRACT

  xvii

  BAB I. PENGANTAR

  1 A.

  1 Latar Belakang 1.

  2 Permasalahan 2.

  3 Keaslian penelitian 3.

  4 Manfaat penelitian B.

  4 Tujuan Peneltian

  BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA

  5 A.

  5 Bunga Pulu 1.

  5 Klasifikasi 2.

  5 Uraian tanaman

  1.

  8 Struktur Antigen 2.

  9 Toksin dan enzim

  3. Patogrnesis dan patologi

  10 C.

  11 Escherechia coli 1.

  11 Struktur antigen 2.

  12 Patogenesis dan tanda klinis D.

  15 Candida albicans 1.

  16 Struktur fisik 2.

  17 Patogenesis E. .

  18 Ekstraksi Bertingkat F.

  18 Maserasi G.

  19 Kromatografi Lapis Tipis H.

  20 Minyak Atsiri I.

  22 Flavonoid J.

  24 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 1.

  24 Metode dilusi 2.

  24 Metode difusi K.

  25 Landasan Teori L.

  25 Hipotesis

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

  26 A.

  26 Jenis dan Rancangan Penelitian B.

  26 Variabel dan Definisi Operasional 1.

  26 Variabel penelitian 2.

  27 Definisi operasional C.

  27 Bahan dan Alat Penelitian 1.

  27 Bahan

  2.

  29 Pengumpulan bahan 3.

  29 Pengeringan dan pembuatan serbuk 4.

  29 Ekstraksi bertingkat serbuk bunga pulu 5.

  30 Pengujian potensi antimikroba 6.

  33 Identifikasi kandungan senyawa bunga pulu dengan uji tabung E.

  36 Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Flavonoid) F.

  36 Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Minyak Atsiri) G.

  37 Analisis Hasil

  BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  38 A.

  38 Determinasi Tanaman B.

  38 Hasil Pengumpulan dan Pembersihan C.

  38 Hasil Pengeringan D.

  40 Hasil Penyarian Serbuk E. Uji Aktivitas Antimikroba Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol

  Bunga Pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan

  Candida albicans dengan Metode Difusi

  41 F.

  45 Skrining Fitokimia 1.

  46 Uji tabung 2.

  51 Uji kualitatif secara kromatografi lapis tipis

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

  58 DAFTAR PUSTAKA

  59 LAMPIRAN

  63 BIOGRAFI PENULIS

  84

  DAFTAR TABEL

  / v dan pembanding terpenoid untuk analisis minyak atsiri Halaman

  53

  46

  44

  43

  43

  40

  39

  31

  v

  Tabel I. Pembuatan variasi konsentrasi uji Tabel II. Hasil maserasi serbuk bunga pulu Tabel III. Kepolaran relatif pelarut organik Tabel IV. Diameter zona hambat fraksi petroleum eter bunga pulu (Carthamus

  / v dan pembanding rutin 0,05% untuk analisis flavonoid Tabel IX. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel dan fase gerak toluen - etil asetat (93:7)

  v

  Tabel VII. Hasil Pengamatan uji tabung terhadap serbuk bunga pulu Tabel VIII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam selulosa dan fase gerak n-butanol - asam asetat glasial - air (4:1:5)

  

tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,Escherechia coli dan

Candida albicans

  Tabel VI. Diameter zona hambat fraksi etanol bunga pulu (Carthamus

  

tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,Escherechia coli dan

Candida albicans

  Tabel V. Diameter Zona Hambat fraksi kloroform bunga pulu (Carthamus

  

tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,Escherechia coli dan

Candida albicans

  55

  DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Bunga Pulu....................................................................................

  21

  54

  52

  52

  50

  48

  22

  15

  Gambar 2. Staphylococcus aureus.................................................................. Gambar 3. Escherecia coli pada media LA, Inkubasi 37 C........................... Gambar 4. Mikrograf Fluoresensi Candida albicans dewasa........................ Gambar 5. Rumus Bangun Carvacrol............................................................ Gambar 6. Rumus Bangun Flavon................................................................. Gambar 7. Reaksi antara NaCl dengan senyawa fenolik................................ Gambar 8. Reaksi antara senyawa fenolik dengan FeCl 3 ............................... Gambar 9. Interaksi Flavonoid dengan CaSO

  11

  7

  5

  Halaman

  Gambar 11. Reaksi Flavonoid dengan NH 3 ................................................... Gambar 12. Hasil Uji KLT Minyak Atsiri......................................................

  4 membentuk kompleks khelat Gambar 10. Hasil Uji KLT Flavonoid.............................................................

  55

DAFTAR LAMPIRAN

  68

  74

  73

  73

  72

  72

  71

  71

  Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melakukan Determinasi Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus aureus ATCC 25923 Lampiran 3. Sertifikat Hasil Uji Escherichia coli ATCC 32518 Lampiran 4. Sertifikat Hasil Uji Candida albicans ATCC 10231 Lampiran 5. Foto Tanaman Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dan Serbuk Bunga

  Pulu Lampiran 6. Foto Maserasi, Penguapan Menggunakan Rotaevaporator, Variasi

  66

  65

  64

  63

  Halaman

  Flavonoid Lampiran 14. Foto Hasil KLT Fraksi Metanol Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.)

  L.) dengan uji tabung Lampiran 8. Foto Hasil Uji Alkaloid Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Uji Tabung Lampiran 9. Foto Hasil Uji Antrakinon Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Uji Tabung Lampiran 10. Foto Hasil Uji Polifenol Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Uji Tabung Lampiran 11. Foto Hasil Uji Tanin Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Uji Tabung Lampiran 12. Foto Hasil Uji Saponin Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Uji Tabung Lampiran 13. Foto Hasil KLT Fraksi Metanol Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan Uap Amonia pada Analisis

  Konsentrasi Fraksi Etanol, Fraksi Kloroform, Fraksi Petroleum eter Lampiran 7. Foto Hasil Uji Pendahuluan Serbuk Bunga Pulu (Carthamus tinctorius

  67 Lampiran 15. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Petroleum Eter terhadap

  Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Difusi Sumuran

  albicans ATCC 10231 dengan Metode Difusi Sumuran

  80

  80

  79

  79

  78

  78

  77

  77

  76

  76

  Lampiran 25. Foto Kemampuan Difusi Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) pada Media Agar

  Escherichia coli, dan Candida albicans

  Lampiran 24. Foto Kontrol Media dan Pertumbuhan Staphylococcus aureus,

  Lampiran 23. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Etanol terhadap Candida

  Lampiran 16. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Kloroform terhadap

  albicans ATCC 10231 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 22. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Kloroform terhadap Candida

  

Candida albicans ATCC 10231 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 21. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Petroleum Eter terhadap

  coli ATCC 32518 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 20. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Etanol terhadap Escherichia

  

Escherichia coli ATCC 32518 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 19. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Kloroform terhadap

  

Escherichia coli ATCC 32518 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 18. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Petroleum Eter terhadap

  aureus ATCC 25923 dengan Metode Difusi Sumuran

  Lampiran 17. Foto Hasil Uji Potensi Antibakteri Fraksi Etanol terhadap Staphylococcus

  Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Difusi Sumuran

  83 INTISARI Bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) merupakan tanaman obat yang secara empiris digunakan untuk mengatasi kolesterol tinggi, angina pectoris, dan berbagai penyakit lainnya. Kandungan dari Carthamus tinctorius L. ialah flavonoid yang terdiri dari

  

chalcones, carthamin, carthamone, lignin , linalool, carvacrol,dan thymol. Profil resistensi

  antibiotik terus berkembang terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan

  

Candida albicans. Perlu dilakukan eksplorasi aktivitas antimikroba dari bunga pulu

  terhadap bakteri atau fungi tersebut untuk menemukan agen antimikroba alternatif yang lebih poten.

  Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental murni rancangan acak lengkap pola satu arah. Ekstraksi bertingkat bunga pulu dilakukan menggunakan pelarut petroleum eter, kloroform, dan etanol menggunakan metode maserasi. Uji aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi sumuran, dilanjutkan metode dilusi padat untuk mengetahui Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Serbuk bunga pulu kemudian diuji secara kualitatif untuk mengidentifikasi kandungan senyawanya. Data zona hambat yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif.

  Hasil penelitian menunjukkan fraksi petroleum eter, kloroform, etanol tidak memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli,

  

Candida albicans . Kandungan senyawa aktif hasil uji KLT diperkirakan adalah

flavonoid, senyawa fenolik dan minyak atsiri.

  Kata kunci : Aktivitas antimikroba, Bunga pulu (Carthamus tinctorius L.), Escherichia coli , Staphylococcus aureus, Candida albicans

  

ABSTRACT

  Pulu flower (Carthamus tinctorius L.) is a medicinal plant, that is empirically used to treat high cholesterol, angina pectoris, and other disease. Constituents of

  chalcones, carthamin, carthamone, lignin , Carthamus tinctorius L. is flavonoid such as linalool, carvacrol, and thymol

  Profil of antibiotic resistance is growing among

  

Staphylococcus aureus, Escherechia coli, and Candida albicans. Need some

  exploration of antimicrobial activity Pulu flower towards bacterial or fungi, to discover alternative antimicrobial agents are potently.

  This research is purely experimental, completely randomized design. Terraced extraction pulu flower perfomed using petroleum ether, chloroform, and ethanol using material method. Antimcrobial activity test using diffusion method, followed by dense dilution method to determine the Minimal Inhibitory Concentration (MIC) and Minimal Bactericidal Concentration (MBC). The data then tested qualitatively to identify the content of the active compound. The result was analysed using comparative-descriptive analysing method.

  The result showed petroleum ether, chloroform, and ethanol extract does not have antimicrobial activity againts Staphylococcus aureus, Escherechia coli, and

  

Candida albicans . The content of active compound predicted with TLC assay are

flavonoids and essential oil (Carvacrol).

  

Keyword : Antimcrobial Activity, Pulu Flower (Carthamus tinctorius L.) Escherechia

coli, Candida albicans, Staphylococcus aureus.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan

  yang dari waktu ke waktu dan terus berkembang dan pada tahun 2002, sebanyak 14,9 juta manusia meninggal akibat penyakit infeksi. Penyakit infeksi kulit, demam, dan sakit perut merupakan penyakit yang banyak dijumpai dimasyarakat. Penyakit tersebut antara lain disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (10.460 kasus),

  

Escherichia coli (7.632 kasus) dan jamur. Jamur yang paling menginfeksi manusia

  adalah jamur oportunistik. Salah satu agen jamur yang ditemui dengan frekuensi terbesar adalah Candida albicans dengan jumlah 7.808 kasus di Amerika Serikat (Madigan, Martinko, Dunlap, Clark, 2009).

  Sejak satu dekade terakhir, telah terjadi perubahan profil resistensi antibiotik. Penisilinase menyebabkan resistensi hampir disemua strain

  

Staphylococcus hingga 4,8% pada tahun 2007 (Sudibyo, Rohmawati, Munira,

  Febriana, Radiono, Suswanto, 2008). Resistensi E. coli terjadi peningkatan 0,59 %/tahun pada amoksisilin (Tadesse, Zhao, Tong, Ayers, Singh, Bartholommew, dkk., 2002). Biofilm Candida albicans resisten terhadap delapan senyawa antifungal diantaranya ialah ketokonazol (Safina, 2011). Seiring dengan

  Bunga pulu atau kasumba turatea (Carthamus tinctorius L.) dalam bahasa Bugis digunakan secara empiris untuk menurunkan kolesterol tinggi, mengatasi

  

angina pectoris , tromboangitis, hipertensi, kanker, nyeri haid, dan sakit perut

  setelah melahirkan (Wijayakusama, 2008). Analisis kimia dari ekstrak bunga pulu mengungkapkan senyawa utama ialah chartamin, chartamone, neo-chartamin,

  

nona-cosane , zat warna kuning saflawer, safflomin A, dipalmitin, adenosid, beta-

  sitosterol, dan polisakarida (Wijayakusuma, 2008a). Analisis minyak atsiri bunga pulu ditemukan thymol, carvacrol, linalool, dan eugenol (Ziarati, Asgarpanah, Klanifard, 2012). Beberapa senyawa tersebut berpotensi mempunyai aktivitas antimikroba (Nostro dan Papalia, 2012); (Akroum, Satta, Lalaoui, 2009).

  Sehubungan dengan potensi tersebut, maka perlu dilakukan eksplorasi yang merupakan penelitian pendahuluan, untuk mencari bahan alam yang mempunyai kemampuan sebagai antimikroba dari beberapa penyari untuk mempermudah menyari senyawa-senyawa tersebut diatas, berdasarkan kelarutan dan aktivitasnya terhadap Staphylococcus aureus yang mewakili Gram positif,

  

Escherichia coli yang mewakili Gram negatif dan Candida albicans yang mewakili

  fungi. Setelah diketahui adanya kemampuan sebagai antimikroba pada tanaman ini, tanaman ini dapat dikembangkan sebagai bahan dasar obat antimikroba baru.

1. Permasalahan a.

  Apakah fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan

  Candida albicans ? b.

  Berapa Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap

  Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans? c.

  Golongan senyawa apakah yang terkandung didalam bunga pulu? 2.

   Keaslian penelitian

  Pernah dilakukan penelitian mengenai potensi antibakteri ekstrak tanaman

  

Carthamus tinctorius L. pada Propionibacterium acne and Staphylococcus

epidermidis (Chomnawang, Surassmo, Nukoolkam, Gritsanapan, 2005). Selain itu,

  pernah dilakukan pengujian ekstrak metanol dan air panas pada tanaman

  

Carthamus tinctorius pada beberapa bakteri diantaranya Staphylococcus aureus

  (Mothana, Abdo, Hason, Althawab Fasial, Alaghbari, Lindequist, 2008) dan ekstrak metanol, etanol pada campuran bunga dan daun Carthamus tinctorius pada beberapa bakteri (Akroum, Satta, Lalaoui, 2009). Sejauh penelusuran pustaka oleh penulis, penelitian mengenai aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform,

3. Manfaat penelitian a.

  Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan tentang penggunaan bunga pulu

  (Carthamus tinctorius L.) yang berkhasiat sebagai antimikroba.

  b.

  Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang manfaat bunga pulu sebagai pengobatan alternatif bagi masyarakat terutama untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

  Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap

  Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans.

2. Tujuan khusus a.

  Mengetahui aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida

  albicans .

  

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA A. Bunga Pulu 1. Klasifikasi ( Birla Institute of Scientific Research , 2010). Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Sub Divisio : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) Classis : Dicotyledoneae (Tumbuhan berkeping dua) Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Carthamus Spesies : Carthamus tinctorius Linn.

Gambar 1. Bunga Pulu (Nagaraj dkk., 2012)

  

30 cm kedalam tanah. Batang yang licin, berkayu, silinder dan berwarna kehijauan di

dekat pangkalan. Daun diatur dalam roset dari dasar, panjang 4-20 cm dan luas 1-5 cm,

hijau tua mengkilap, daun atas menanggung banyak duri tajam. Setiap batang beruang

perbungaan terminal. Ini adalah kapitulum bulat, 1,3 -3,5 cm, mengandung 20-80

tabung oranye-merah, bunga menjadi merah tua saat berbunga. Bunga masing-masing

menghasilkan satu buah. Buah safflower adalah achenes, biasanya disebut biji,

dikelilingi oleh lambung fibrosa tebal yang halus, mengkilap dan runcing sekitar 6-9

mm, berwarna putih atau kecoklatan dan putih dengan abu-abu, cokelat atau garis-garis

hitam (Heuze dan Tran, 2011).

3. Kandungan kimia

  Kandungan dari Carthamus tinctorius L. ialah flavonoid yang terdiri dari

chalcones , carthamin, carthamone, dan lignin (Cai, Luo, Sun, Corke, 2003). Analisis

  kimia dari ekstrak bunga pulu mengungkapkan konstituen utama ialah chartamin,

  

chartamone , neo-chartamin, nona-cosane, zat warna kuning saflower, safflomin A,

dipalmitin, adenosid, beta-sitosterol, dan polisakarida (Wijayakusuma, 2008a).

  Sifat kimiawi dan aktivitas farmakologi 4.

  Bunga pulu memiliki rasa pedas dan agak pahit, berbau aromatik, dan bersifat hangat. Bunga pulu dapat meningkatkan sirkulasi darah, mencegah pembekuan darah, peluruh haid (emenagog), pencahar (laxative) dan sebagai stimulan (Wijayakusuma, 2008a).

B. Staphylococcus aureus

  

Gambar 2. Staphylococcus aureus (Stierman, 2012)

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif, anaerob fakultatif

yang tidak membentuk spora, tidak bergerak dinding selnya mengandung

peptidoglikan dan asam teikoat. Selnya berbentuk bola dengan diameter kira-kira 1 µm

tersusun berkelompok menyerupai buah anggur. Tumbuh paling cepat pada suhu 37

  

C. Staphylococcus aureus relatif tahan terhadap panas (50 C selama 30 menit) dan

tahan terhadap natrium klorida 9%, tetapi dapat dihambat zat kimia tertentu (Jawetz,

Melnick, Adelberg, 2005). Sifat patogenesis dapat diamati terhadap kemampuan

memfermentasi materi secara aerob, kemampuan memecah gelatin, dan menghemolisis

darah (Todar, 2012). Staphylococcus aureus membentuk koloni abu-abu hinga kuning

emas, karakteristik pertumbuhan dengan menghasilkan katalase, yang membedakan

dengan streptokokus, bakteri ini memfermentasi karbohidrat, menghasilkan asam laktat

dan tidak menghasilkan gas. Aktifitas proteolitik bervariasi dari satu galur ke galur lain,

menyebabkan penyakit pada hampir semua jaringan tubuh yang terutama adalah abses.

  

beberapa bahan ekstraseluler. Beberapa bahan tersebut adalah enzim, yang lain dapat

berupa toksin, meskipun fungsinya adalah sebagai enzim. Beberapa toksin berada

dibawah kontrol genetik plasmid, beberapa dibawah kontrol kromosom dan yang lain

mekanisme kontrol genetiknya belum ditemukan (Jawetz, Melnick, dan Adelberg,

2005).

1. Struktur antigen

  Staphylococcus mengandung antigen polisakarida dan protein seperti zat lain

yang penting dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida

yang mengandung subunit-subunit yang bergabung memberikan eksoskeleton yang

kaku dari dinding sel. Peptidoglikan dirusak oleh asam kuat atau paparan terhadap

lisozim. Infeksi akan merangsang pembentukan interleukin (pirogen endogen) dan

antibodi opsonin oleh monosit; dan ini dapat menjadi penarik kimiawi bagi leukosit

polimorfonuklear, mempunyai aktivitas seperti endotoksin dan mengaktivasi

komplemen (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

  Protein A merupakan komponen dinding sel kebanyakan galur

Staphylococcus aureus yang bisa mengikat ke bagian Fc molekul IgG kecuali IgG3.

  

Meskipun IgG terikat pada protein A, namun fragmen Fab tetap bisa bebas berikatan

dengan antigen spesifik. Protein A telah menjadi reagen yang penting dalam imunologi

dan teknologi laboratorium diagnostik. Beberapa galur Staphylococcus aureus

mempunyai kapsul yang menghambat fagositosis oleh lekosit polimorfonuklear kecuali

2. Toksin dan enzim

  Staphylococcus aureus menghasilkan katalase, yang mengubah hidrogen

peroksida menjadi air dan oksigen; koagulase, protein yang menyerupai enzim yang

mampu menggumpalkan plasma yang ditambah dengan oksalat atau sitrat dengan

adanya suatu faktor yang terdapat dalam serum. Faktor serum bereaksi dengan

koagulase untuk membentuk esterase dan aktivitas penggumpalan, dengan cara yang

sama ini untuk mengaktivasi protrombin menjadi trombin. Cara kerja koagulase adalah

dalam lingkup kaskade penggumpalan plasma normal. Koagulase dapat membentuk

fibrin pada permukaan Staphylococcus, ini bisa mengubah ingestinya oleh sel fagositik

atau pengrusakannya dalam sel fagosit; eksotoksin, ini meliputi beberapa toksin yang

bersifat letal jika disuntikkan pada binatang, menyebabkan nekrosis pada kulit, dan

berisi larutan hemolisis yang dapat dipisahkan dengan elektroforesis. Aflatoksin

(hemolisin) adalah protein heterogen yang dapat melisiskan eritrosit dan merusak

platelet serta dimungkinkan sama dengan faktor dermonekrotik dari eksotoksin;

Lekosidin , toksin Staphylococcus aureus ini dapat membunuh sel darah putih pada

berbagai binatang. Peran toksin dalam patogenesis tidak jelas, karena Staphylococcus

aureus yang patogenik tidak dapat membunuh sel darah putih dan dapat difagositosis

efektif seperti yang nonpatogenik; enterotoksin, ada sedikitnya enam (A-F) toksin larut

yang dihasilkan oleh hampir 50 % galur Staphylococcus aureus. Seperti TSST-1,

enteroktoksin adalah superantigen yang berikatan dengan molekul MHC kelas II,

3. Patogenesis dan patologi

  Staphylococcus aureus yang patogenik dan bersifat invasif menghasilkan

koagulase dan cenderung untuk menghasilkan pigmen kuning dan menjadi hemolitik.

  

Kemampuan patogenik Staphylococcus aureus adalah pengaruh gabungan antara

faktor ektraseluer dan toksin bersama dengan daya sebar invasif (Jawetz, Melnick, dan

Adelberg, 2005).

  Staphylococcus aureus menetap di folikel rambut menyebabkan nekrosis

jaringan (faktor dermonekrotik). Koagulase dihasilkan dan mengkoagulasi fibrin di

sekitar lesi dan di dalam limfatik, membentuk dinding yang menghambat proses

penyebaran dan diperkuat lagi oleh akumulasi sel inflamasi dan kemudian jaringan

fibrosa. Di dalam pusat lesi, terjadi likuefaksi dan nekrosis jaringan (dipacu oleh

hipersensitivitas tipe lambat) pada bagian abses yang lemah. Drainase cairan pusat

jaringan nekrotik diikuti dengan pengisian secara kavitas oleh jaringan granulasi dan

akhirnya terjadilah penyembuhan (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

  Supurasi fokal (abses) adalah khas untuk infeksi stafilokokus. Dari tiap fokus

manapun, organisme dapat menyebar melalui aliran limfatik dan aliran darah ke bagian

lain dalam tubuh. Supurasi yang terjadi dalam pembuluh darah vena, yang berhubungan

dengan trombosis, merupakan gambaran umum proses penyebaran tersebut. Pada

osteomielitis, fokus primer pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah khas di

pembuluh darah tepi dari metafisis menyebabkan pneumonia, meningitis, empiema,

  C. Escherichia coli Gambar 3. Eschericia coli pada SEM (Rogers, 2011) Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang banyak ditemukan pada ileum caudal, berbentuk batang pendek, dan dapat begerak. Pada lingkungan yang kurang baik dapat membentuk spora, dan merupakan kuman aerob fakultatif. Escherichia coli menghasilkan tes positif terhadap indole, lisin dekarboksilase, dan memfermentasi manitol dan menghasilkan gas dari glukosa.

  Bakteri ini merupakan bagian terbesar dari flora usus dan dianggap sebagai bakteri yang tidak patogen dalam saluran pencernaan. Escherichia coli akan bersifat patogen apabila berada terdapat di luar saluran pencernaan dan pada saat kondisi tubuh manusia menurun (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005 ).

1. Struktur antigen a.

  Antigen O merupakan bagian terluar dinding sel lipopolisakarida dan terdiri dari unit berulang polisakarida. Beberapa polisakarida spesifik O dapat berpengaruh pada reaksi aglutinasi dengan antisera O. Antigen K menyebabkan perlekatan bakteri pada sel epitelial yang memungkinkan invasi ke sistem gastrointestinal atau saluran air kemih.

  c.

  Antigen H terletak pada flagella dan didenaturasi oleh panas atau alkohol.

  Antigen H mengadakan aglutinasi dengan antibodi H, biasanya IgG (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

2. Patogenesis dan tanda klinis

  Manifestasi klinis infeksi Escherechia coli tergantung pada tempat infeksi, dan tidak dapat dibedakan dengan gejala atau tanda dari proses-proses yang disebabkan oleh bakteri lain. Berikut beberapa penyakit yang berhubungan dengan Escherechia coli: a.

  Infeksi sistem saluran kencing, Escherechia coli merupakan penyebab paling banyak dari infeksi sistem saluran kencing dari jumlah untuk infeksi saluran kencing. Nefropatogenik Escherechia coli secara khas memproduksi hemolisin. Kebanyakan infeksi disebabkan oleh

  Escherechia coli dari sejumlah antigen O. Antigen K menjadi penting dalam patogenesis infeksi sistem saluran bagian atas.

  b.

  Escherechia coli yang berhubungan dengan penyakit diare. Escherechia

  coli yang umumnya menyebabkan diare ini diklasifikasikan berdasarkan

  sifat karakteristik dari virulensinya dan tiap kelompok menyebabkan berhubungan dengan kromosom mendukung pelekatan yang erat. Terjadi kehilangan microvili (affecement), pembentukan filamentasi

  actin atau struktur seperti cangkir, dan biasanya masuk ke dalam sel mukosa.

  2) Enteroxigenic E. coli (ETEC) merupakan penyebab umum diare pada musafir. Strain ETEC memproduksi sebuah eksotoksin yang sifatnya labil terhadap panas (LT) dibawah kontrol plasmid. Sub unit B melekat dengan Gml gangliosida pada sisi sel epitel dari usus kecil dan memberikan fasilitas sebuah pemasukan dari subunit A ke dalam sel, dimana mengaktivasi adenylyl cyclase. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan konsentrasi lokal dari cyclic adenosine monophosfat (cAMP), yang menghasilkan hiperekskresi yang sering dan lama dari air dan klorid serta menghambat penyerapan natrium. Lumen usus digelembungkan dengan cairan hipermotility dan diare terjadi.

  3) Enterohemorhagic E. coli (EHEC) memproduksi verotoksin, dan dinamakan berdasarkan efek sitotoksik pada sel vero, merupakan biakan sel ginjal dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenik dari toksin. EHEC berhubungan dengan kolitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan sindroma uremia berkembang dan dalam perjalanan ke negara tersebut. Strain EIEC memfermentasi laktosa dengan lambat atau tidak memfermentasi laktosa dan tidak motil. EIEC menyebabkan penyakit dengan menyerang sel epithelial mukosa usus.

5) Enteroagregative E. coli (EAEC) menyebabkan diare akut dan kronis.

  Patogenesis EAEC penyebab diare tidak begitu dipahami dengan baik, meskipun demikian dinyatakan bahwa EAEC melekat pada mukosa intestinal dan menghasilkan enterotoksin dan sitotoksin. Akibatnya adalah kerusakan mukosa, pengeluaran sejumlah besar mukus, dan terjadi diare.

  c.

  Sepsis bila pertahanan inang normal tidak mencukupi. Escherechia coli dapat memasuki aliran darah dan menyebabkan sepsis. Bayi yang baru lahir dapat sangat rentan terhadap sepsis Escherechia coli karena tidak memiliki antibodi IgM. Sepsis dapat terjadi akibat infeksi saluran kemih.

  d.

  Meningitis pada bayi, salah satunya disebabkan oleh Escherechia coli yang mempunyai antigen K1. Antigen ini bereaksi silang dengan grup B kapsular polisakarida dari N meningitidis. Mekanisme virulensi berhubungan dengan antigen KI belum dipahami (Jawetz, Melnick, dan

  Adelberg, 2005).

D. Candida albicans

  

Gambar 4. Mikrograf fluoresensi Candida albicans dewasa. A) sebelum diinkubasi dengan

thymol, biofilm sangat banyak pada jaringan multi-layer sel fungi dan berbentuk serabut. B)

setelah diinkubasi dengan Thymol ½x dari MIC selama 24 jam, terdapat sedikit perubahan

terlihat dibandingkan dengan kontrol. C) setelah diinkubasi dengan Thymol 1x dari MIC

terjadi perubahan struktur biofilm. D) setelah diinkubasi dengan Thymol 2x dari MIC jelas

menghambat semua unsur dan merusak struktur filamen (Braga, Sasso, Culici, Alfieri, 2008)

  Candida albicans termasuk organisme eukariotik dengan bentuk lonjong dan

bertunas, yang menghasilkan pseudomiselium yang terdiri atas pseudohifa yang

membetuk blastokonidia pada nodus-nodus dan kadang-kadang klamidokonidia pada

ujung-ujungnya baik dalam biakan maupun dalam jaringan. Pada agar sabouraud yang

diinkubasi pada suhu kamar atau 37 C selama 24 jam, spesies Candida menghasilkan

koloni-koloni halus berwarna krem yang mempunyai bau seperti ragi. Pertumbuhan

permukaan terdiri atas sel-sel bertunas lonjong. Candida adalah anggota flora normal

selaput lendir saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. Pada

tempat ini Candida albicans menjadi dominan dan cenderung patogen. Candida

  

sebagai faktor penyebab paling umum kandidiasis oral. Candida albicans dapat

ditemukan dalam rongga mulut yang sehat pada konsentrasi rendah (20 sel/cc saliva).

  

Dalam konsentrasi ini, organisme tidak bisa terdeteksi di bawah mikroskop, tetapi

hanya dapat dideteksi melalui kultur dalam media tertentu seperti pada Dextrose

Sabouroud Agar dalam bentuk koloni. Keseimbangan flora rongga mulut dapat

berubah menimbulkan suatu keadaan patologis atau penyakit karena beberapa faktor

seperti kesehatan mulut yang buruk, obat immunosupresan, penyakit sistemik yang

menurunkan daya tahan lokal tubuh (Tanjong cit., Sudiono, 2006).

1. Struktur fisik

  Dinding sel Candida albicans berfungsi sebagai pelindung dan juga sebagai target dari beberapa mikotik. Dinding sel berperan pula dalam proses penempelan dan kolonisasi serta bersifat antigenik. Fungsi utama dinding sel tersebut adalah memberikan bentuk pada sel dan melindungi sel ragi dari lingkungannya. Candida albicans mempunyai struktur dinding sel yang kompleks, tebalnya 100 sampai 400 nm. Komposisi primer terdiri dari glukan, manan, dan khitin. Manan dan protein berjumlah sekitar 15,2

  • – 30% dari berat kering dinding sel, 1,3
  • – D-glukan dan 1,6 – D – glukan sekitar 47-60 %, khitin sekitar 0,6 – 9 %, dan lipid 1-7 %. Dalam bentuk ragi, kecambah dan miselium, komponen-komponen ini menunjukan proporsi yang serupa tetapi bentuk miselium memiliki khitin tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan sel ragi. Dinding sel Candida albicans

2. Patogenesis

  Infeksi Candida albicans berkaitan dengan perubahan bentuk sel-sel

  

Candida albicans dari bentuk yeast menjadi bentuk mycelium. Mycelium berbentuk

  panjang dengan struktur seperti akar yang disebut rhizoid. Rhizoid dapat menembus mukosa, dan dapat juga masuk melalui sel-sel epitel di saluran cerna, invasi ini dapat berlanjut hingga ke pembuluh darah dan menyebabkan septikemia (Riskillah cit., Kayser, Bienz, Eckert, Zinkernage, 2005).

  Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel host menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi. Secara umum diketahui bahwa interaksi antar mikroorganisme dan sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesin dan reseptor. Makanan dan manoprotein merupakan molekul-moleku Candida albicans yang mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang terdapat pada dinding sel Candida albicans juga berperan dalam aktifitas adhesif. Setelah terjadi proses penempelan, Candida

  

albicans berpenetrasi ke dalam sel mukosa. Dalam hal ini enzim yang berperan

  adalah aminopeptidase dan asam fosfatase. Setelah proses penetrasi, semua tergantung dari keadaan imun dari host (Tjampaksari, 2006).

  Sembilan faktor virulen Candida albicans yaitu perubahan fenotip, bentuk dan susunan hifa, thigmotropism, hydrophobicity, kemampuan meniru molekul-

E. Ekstraksi Bertingkat

  Ekstraksi adalah teknik pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan

distribusi zat diantara dua pelarut yang saling bercampur. Pada umumnya zat terlarut

yang diekstrak bersifat tidak larut atau sedikit larut dalam suatu pelarut tetapi mudah

larut dengan pelarut lain. Metode ekstraksi yang tepat ditemukan oleh tekstur

kandungan air bahan-bahan yang akan diekstrak dan senyawa-senyawa yang akan

diisolasi (Harbone,1996). Telah dikembangkan suatu teknik ekstraksi dengan ekstraksi

bertingkat menggunakan pelarut yang berbeda tingkat polaritasnya. Metode ekstraksi

bertingkat memiliki keuntungan karena semua senyawa aktif yang berbeda polaritasnya

dapat diekstraksi sesuai dengan tingkat polaritasnya terhadap pelarut (Damayanti dan

Suparjana, 2007).

F. Maserasi

  Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, maserasi dilakukan

dengan merendam serbuk atau daun segar dalam cairan penyari. Cairan penyari akan

menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat

aktif larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam dengan

diluar sel, maka larutan yang terpekat akan terdesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang

sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara di luar dan di dalam sel (Departemen

Kesehatan RI, 1986).

  

menggunakan pelarut tertentu sesuai dengan sifat senyawa yang akan dipisahkan.

Pemisahan pelarut berdasarkan kaidah like dissolved like artinya suatu senyawa polar

akan larut dalam pelarut polar. Ekstraksi dapat dilakukan dengan bermacam-macam

metode, tergantung dari tujuan ekstraksi, jenis pelarut yang digunakan dan senyawa

yang diinginkan (Pratiwi, 2008).

  Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan,

peralatan sederhana, dan mudah dilakukan. Adapun kerugian cara maserasi adalah

waktu pengerjaan yang lama dan penyarian kurang sempurna. Cara maserasi ini dapat

dipercepat dengan menggunakan mesin pengaduk yang terus-menerus berputar

sehingga mempersingkat waktu maserasi menjadi 6

  • – 24 jam (Departemen Kesehatan RI, 1986).

G. Kromatografi Lapis Tipis

  Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ialah metode pemisahan fisikakimia. Pada

KLT ini menggunakan dua macam fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam

merupakan lapisan berpori dan akan menghasilkan pemisahan pada plat. Fase gerak

atau pelarut pengembang ialah media angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut,

yang bergerak didalam fase diam karena adanya gaya kapiler (Rohman dan Gandjar,

2007).

  Prinsip kerja KLT berupa lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir

  

pengembangan, selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan atau

dideteksi dengan lampu ultraviolet atau dengan pereaksi semprot (Rohman dan

Gandjar, 2007). Pada kromatogram KLT dikenal istilah faktor retardasi (Rf) yang

didefinisikan

  ℎ = ℎ (Rohman dan Gandjar, 2007).

H. Minyak Atsiri

  Minyak atsiri (disebut juga minyak menguap atau minyak etheral) adalah

cairan berwujud minyak yang beraroma yang berasal dari berbagai bagian tumbuhan

(bunga, kuncup, biji, daun, ranting, kulit, batan, dan rempa, kayu, buah, dan akar)(Di

Pasqua, De Feo, Villani, Mauriello cit. Burt., 2004). Minyak atsiri yang bagian

utamanya terpenoid, biasanya terdapat pada fraksi yang tersuling. Zat inilah penyebab

wangi, harum, atau bau yang khas pada banyak tumbuhan minyak atsiri larut alkohol,

eter, dan pelarut lipid lainnya praktis tidak larut air (Kokate, Purohit, Gokhale, 2009).

Zat pengawet alami salah satunya adalah komponen-komponen minyak atsiri dari

ekstrak tumbuhan seperti rempah-rempah, tanaman tahunan, dan rumput-rumputan

(Ardiansyah, 2007).

  Carvacrol, thymol dan eugenol adalah komponen minyak atsiri yang

diketahui memilik aktivitas antibakteri yang tinggi. Ketiga senyawa ini masuk dalam

  Gambar 5. Rumus bangun carvacrol (Nostro dan Papalia, 2012) Carvacrol atau 2-metil- 5-(1 Metiletil)- fenol adalah monoterpen fenol.

  

Dibiosintesis dari -terpinen melewati p-cimen. Aktivitas antibakteri carvacrol telah

dikaitkan dengan efek yang cukup besar terhadap struktur dan fungsi dari membran

sitoplasma (Nostro dan Papalia, 2012).

  Carvacrol berinteraksi dengan lipid bilayer dari membran sitoplasma

menyebabkan perluasan dan destabilisasi struktur membran dan meningkatkan fluiditas

dan permeabilitas membran. Pada konsentrasi subletal carvacrol mengubah komposisi

asam lemak dari sitoplasma yang mengarah terhadap perubahan struktur permukaan sel

membentuk saluran membran untuk ion, materi seluler, asam nukleat, dan ATP

meninggalkan sitoplasma, menyebabkan kerusakan pada kolam ATP intrasel, baik

dengan pengurangan sintesis ATP atau peningkatan hidrolisis ATP (Nostro dan

Papalia, 2012).

I. Flavonoid

  

triketida. Oleh karena itu, flavonoid berasal dari biosintesis gabungan terdiri atas unit-

unit yang diturunkan dari asam sikimat dan jalur poliketida (Heinrich, Barnes, Gibbons,

Williamson, 2010).

  Unit awal triketida mengalami siklisasi oleh enzim kalkon sintase untuk

membentuk gugus kalkon pada flavonoid. Kemudian terjadi siklisasi untuk

menghasilkan cincin piranon yang mengandung inti flavonon, yang memiliki ikatan

C

  2 -C 3 teroksidasi (tak jenuh) untuk menghasilkan gugus flavonol pada flavonoid.

  

Senyawa flavonoid berperan dalam memberikan warna di alam terutama mahkota

kuning dan jingga, bahkan flavonoid yang tidak berwarna mengabsorbsi cahaya pada

spektrum UV (karena banyak gugus kromofor) (Heinrich, Barnes, Gibbons,

Williamson, 2010).

  

Gambar 6. Rumus bangun flavon (Flavonoid) (Cushnie dan Lamb, 2005)

Flavonoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam

pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, dan aseton. Flavonoid merupakan

golongan terbesar dari senyawa fenol, senyawa fenol mempunyai sifat efektif

  

komponen organik dan transpor nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya

efek toksik bagi bakteri (Sabir, 2008).

  J. Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan suatu larutan uji dalam

menghambat atau membunuh mikroba. Metode pengujian antimikroba dapat

dibedakan menjadi dua yaitu: 1.

   Metode dilusi Metode dilusi, pada prinsipnya antibiotik diencerkan sehingga diperoleh

beberapa macam kadar. Pada dilusi cair, tiap-tiap kadar sampel obat ditambahkan pada

suspensi bakteri pada media. Pada dilusi padat setiap kadar obat dicampur dengan

media agar kemudian ditanami bakteri. Pengamatannya adalah ada tidaknya

pertumbuhan bakteri atau bila mungkin tingkat kesuburan bakteri. Metode dilusi ini

dapat digunakan untuk menentukan KHM dan KBM (Jawetz, Melnick, dan Adelberg,

2005).

2. Metode difusi

  Metode difusi merupakan metode yamg digunakan untuk mengukur potensi

antibakteri berdasarkan pengamatan luas zona jernih yang terbentuk disekitar tempat

penginokulasian obat karena berdifusinya obat (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2005).

Dilakukan dengan cara menempatkan senyawa uji pada media padat yang lebih

  

Setelah dilakukan inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya

daerah hambatan di sekeliling lubang (Kusmayanti dan Agustini, 2007).

  Prinsip metode pengenceran adalah senyawa antibakteri diencerkan hingga

diperoleh beberapa macam konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi

ditambahkan suspensi bakteri uji dalam media cair. Perlakuan tersebut akan diinkubasi

dan diamati ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri, yang ditandai dengan terjadinya

kekeruhan. Larutan uji senyawa antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih

tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji, ditetapkan sebagai Kadar Hambat Minimum

(KHM) atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Larutan yang ditetapkan KHM

selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa pertumbuhan bakteri uji ataupun

senyawa antibakteri, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat

jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai Kadar Bunuh Minimum (KBM) atau

Minimal Bactericidal Concentration (MBC) (Pratiwi, 2008).

  K. Landasan Teori Penyakit infeksi terus berkembang disertai dengan profil resistensi antibiotik

yang meningkat oleh beberapa bakteri dan fungi oportunistik diantaranya

  

Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans. Sehubungan dengan

itu perlu dilakukan eksplorasi bahan alam yang mempunyai aktivitas antimikroba yang

memiliki efek samping lebih kecil dan tersedia terus menerus.

  Salah satu senyawa yang terkandung di dalam bunga pulu adalah flavonoid

  

(Cai, Luo, Sun, Corke, 2003). Flavonoid dapat tersari dalam etanol dan memiliki

aktivitas sebagai antibakteri

  (Akroum, Satta, Lalaoui, 2009). Penelitian Ziarati, Asgarpanah, Kianifard (2012) menyebutkan bahwa terdapat 29 konstituen yang dapat diidentifikasi pada minyak atsiri Carthamus tintorius. Dua puluh sembilan konstituen tersebut sebagian besar mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen (Sokovic, Glamoclija, Marin, Brkic, van Griensven, 2010).

  Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu dilakukan dengan metode difusi sumuran yang ditunjukan dengan diameter zona hambat (zona jernih) yang dihasilkan dan metode dilusi untuk menentukan nilai KHM dan KBM. Prinsip metode difusi, yaitu pengamatan luas zona jernih pertumbuhan bakteri karena berdifusinya senyawa uji ke sekitar daerah penginokulasian. Penelitian mengenai adanya aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu terhadap Staphylococcus aureus,

  

Escherechia coli , dan Candia albicans diharapkan dapat memberikan informasi

  kepada masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan mengenai manfaat bunga pulu sebagai salah satu terapi alternatif penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroba di atas.

  L. Hipotesis Fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian rancangan eksperimental murni,

  dengan rancangan penelitian acak lengkap pola satu arah. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia, Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan Laboratorium Mikrobiologi, Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta.

B. Variabel dan Definisi Operasional 1.

  Variabel penelitian a.

   Variabel bebas

  : Fraksi petroleum eter, kloroform, etanol dengan konsentrasi 50 %(b/v) ; 25 %(b/v) ; 12,5 %(b/v) ; 6,25 %(b/v) dan 3,125 %(b/v).

  b.

   Variabel tergantung : Diameter zona hambat, Rf.

  c.

   Variabel terkendali : Waktu inkubasi (24 jam), suhu inkubasi (37

  C), jenis bakteri uji, volume suspensi bakteri uji yang di inokulasikan dalam media (50 µL), konsentrasi suspensi mikroba uji setara dengan larutan standar Mc.

8 CFU/mL), tempat tumbuh tanaman, suhu pengeringan ±

  Farland

  II (6 x 10

  45 C.

2. Definisi operasional a.

  Aktivitas antimikroba adalah kemampuan fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu untuk menghambat atau membunuh mikroba uji

  Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 32518, dan Candida albicans ATCC 10231.

  b.

  Sampel bunga pulu adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan atau satuan bunga yang menyusun bunga majemuk tanpa daun pelindung.

  c.

  Zona hambat adalah zona jernih pada media agar yang telah ditanami bakteri uji, yang terbentuk disekitar lubang sumuran.

C. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan a.

  Bunga pulu (Carthamus tintorius L.) diperoleh dari petani (Bapak Mubarak) pada tanggal 15 Agustus 2012, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

  b.

  Bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta.

  96% (Brataco®), Petroleum eter teknis (Brataco®), Ketoconazole (Indofarma®), Amoksisillin (Hexpharm Jaya®).

2. Alat

  Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, yaitu Erlenmeyer, tabung reaksi, corong, labu ukur, pipet tetes, pH meter, cawan petri, batang pengaduk, gelas

  TM

  ukur, sendok, pelubang sumuran, Platform Shaker (Innova 2100), autoclave (Model KT-40, ALP Co. Ltd Hamurasi Tokyo Japan), oven (memmert), rotary evaporator (Janke dan Kunkel, Ika-labotechnik, RV 05-ST), inkubator (Mammert tipe BE 400, GmbH + CoKG-D91126, Swahaban FRG Germany microbiological safety cabinet), neraca analitik (Scaltec Instruments Heiligen stadt Germany), densicheck (Vitek®), bunsen, jarum ose, flakon, tempat pengembangan (Chamber) KLT, mikrokapiler, penyangga lempeng kaca, kertas saring, lempeng kromatografi lapis tipis.

D. Tata Cara Penelitian 1. Determinasi bunga pulu

  Bunga pulu dideterminasi dengan mencocokan ciri-ciri tanaman dengan yang dimiliki tanaman bunga pulu (Carthamus tintorius L.) menggunakan pustaka acuan Idtools (2003).

  2. Pengumpulan bahan

  Bunga pulu didapat dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Bagian yang diambil adalah bagian dasar bunga hingga pucuk bunga. Bunga diambil pada sore hari, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan pengotor kemudian ditiriskan untuk menghilangkan sisa-sisa air cucian.

  3. Pengeringan dan pembuatan serbuk

  Pengeringan dilakukan dengan memasukkan bunga ke dalam oven ± 3 hari dengan suhu 45 C. Pengeringan dilakukan hingga bunga tersebut mudah dipatahkan. Daun diserbuk dengan menggunakan mesin penyerbuk, serbuk yang diperoleh, diayak dengan mengunakan pengayak no. 40 sehingga diperoleh serbuk dengan ukuran partikel yang homogen.

  4. Ekstraksi bertingkat serbuk bunga pulu

  Ditimbang 300 g serbuk bunga pulu, dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambah pelarut petroleum eter sampai serbuk terendam semua. Erlenmeyer ditutup rapat dengan alumunium foil, digojog menggunakan shaker selama 3 hari, kemudian disaring dengan corong Buchner. Filtratnya diuapkan dengan rotary evaporator dan dipekatkan di atas penangas air hingga didapatkan fraksi protelum eter. Ampas I (sisa dengan rotary evaporator dan dipekatkan diatas penangas air hingga didapatkan fraksi kental kloroform. Ampas II dimaserasi dengan etanol 96% kurang lebih 3 hari dengan

  

shaker dan ditutup dengan alumunium foil. Saring dengan corong Buchner hingga

  didapat filtrat etanol dan ampas III (disisihkan). Filtrat etanol diuapkan dengan rotary evaporator dan dipekatkan di atas penangas air hingga didapatkan fraksi etanol.

5. Pengujian potensi antimikroba a.

  Penyiapan stok mikroba uji Diambil dari kultur mikroba simpanan menggunakan jarum ose steril sebanyak 1 hingga 2 koloni tunggal. Diinokulasikan pada 5 mL Nutrien Agar miring dan diinkubasi selama 24 jam dan pada suhu 37 C.

  b.

  Pembuatan suspensi mikroba uji Pembuatan suspensi mikroba dilakukan dengan mengambil 1-2 ose mikroba dari stok yang telah dibuat sebelumnya, diinokulasikan pada 5 mL media Nutrien

  Broth, suspensi tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37

  C, kemudian divortex, diambil 1 mL suspensi tersebut ditambah NB dan disetarakan

  8

  kekeruhannya dengan larutan standar Mc. Farland II (6 x10 CFU/mL) menggunakan alat Densicheck.

  c.

  Pembuatan variasi konsentrasi larutan uji masing dibuat dalam berbagai variasi konsentrasi 50 %(b/v) ; 25 %(b/v) ; 12,5 %(b/v) ; 6,25 %(b/v) dan 3,125 %(b/v).

  Pembuatan masing-masing fraksi dengan konsentrasi 50 % (stok larutan uji) dibuat dengan cara ekstrak kental (hasil penyarian) yang diperoleh ditimbang sejumlah 5 g yang kemudian dilarutkan ke dalam 10 mL DMSO untuk masing- masing fraksi. Stok larutan uji yang dibuat, dapat dibuat variasi konsentrasi larutan uji sebagai berikut:

  

Tabel I. Pembuatan variasi konsentrasi uji

d.

  Uji potensi antimikroba

  Mula-mula dari suspensi mikroba uji diambil sebanyak 0,2 mL, diinokulasikan kedalam 20 mL media NA dalam tabung reaksi dan divortex. NA yang telah bercampur dengan suspensi tersebut dituang kedalam petri steril kemudian digoyang-goyang dan biarkan memadat.

  2) Uji potensi antimikroba dilakukan dengan metode difusi sumuran

  Konsentrasi Larutan Uji ( %b/v )

  Volume yang diambil dari stok larutan uji (mL) Di add dengan DMSO sampai (mL)

  25 5,0

  10 12,5 5,0

  10 6,25 5,0

  10 3,125 5,0

  10

1) Pembiakan suspensi bakteri dan fungi secara pour plate.

  plate , dibuat sumuran dengan menggunakan pelubang sumuran no.4

  (berdiameter 8 mm) sebanyak 7 sumuran. Tiap lubang sumuran masing-masing ditambal dengan 50 µL setelah memadat kemudian diisi 50 µL dengan fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol yang berkonsentrasi 50 %(b/v); 25 %(b/v); 12,5 %(b/v); 6,25 %(b/v) dan 3,125 %(b/v). Amoksisilin 0,0005 mg/mL sebagai kontrol positif untuk Staphylococcus aureus, Escherechia coli dan Ketoconazole 0,1 g/mL untuk Candida albicans. DMSO sebagai kontrol negatif dari fraksi petroleum, kloroform dan etanol. Petri-petri tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 C kemudian diamati ada tidaknya zona hambat disekitar sumuran. Zona hambat yang terbentuk diukur dengan penggaris. Pada uji potensi antimikroba ini direplikasi sebanyak 3 kali untuk masing-masing fraksi.

  e.

  Pengukuran KHM dengan metode dilusi padat Uji potensi antimikroba pada metode difusi didapatkan konsentrasi terkecil dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol yang dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans. Konsentrasi terkecil tersebut dibuat rentang konsentrasi yang lebih rendah sebanyak variasi konsentrasi untuk mengetahui besarnya kadar hambat minimal dari masing- masing fraksi. Fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol dibuat variasi konsentrasi, mula-mula pengujian dilakukan dengan membuat suspensi bakteri yang

  8 cawan petri dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37

  C. Diamati banyak sedikit atau ada tidaknya pertumbuhan bakteri uji pada berbagai variasi konsentrasi dengan ditandai suatu notasi tertentu. Larutan uji untuk fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol dibuat masing-masing dengan cara yang sama.

6. Identifikasi kandungan senyawa bunga pulu dengan uji tabung.

  a.

  Uji pendahuluan Dua gram serbuk bunga pulu dipanaskan dengan 10 mL air selama 30 menit diatas air mendidih. Larutan yang diperoleh disaring menggunakan kapas.

  Jika larutan menjadi berwarna kuning sampai merah dan bila pada saat penambahan KOH warna larutan menjadi lebih intensif berarti menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor dengan gugus hidrofilik.

  b.

  Uji alkaloid Dua gram serbuk dimasukkan dalam tabung reaksi besar, tambahkan asam klorida 1% (10 mL), dipanaskan selama 30 menit dalam penangas air mendidih.

  Suspensi disaring dengan kapas kedalam tabung reaksi A dan tabung reaksi B sama banyak. Larutan A dibagi dua sama banyak, lalu ke dalam tabung reaksi A-1 ditambah pereaksi Dragendorff (3 tetes) dan larutan A-2 ditambah dengan pereaksi Mayer (3 tetes). Terbentuknya endapan dengan kedua pereaksi tersebut c.

  Uji tanin Dua gram serbuk bunga pulu dipanaskan dengan 10 mL air selama 30 menit diatas penangas air. Disaring 5 mL filtrat ditambah 1 mL larutan NaCl 2%, bila terjadi suspensi atau endapan, disaring melalui kertas saring. Filtrat ditambah 5 mL larutan gelatin 1%. Bila terbentuk endapan berarti menunjukan adanya tanin atau zat samak.

  d.

  Uji antrakinon Tiga ratus mg serbuk bunga pulu didihkan 2 menit dengan 10 mL kalium hidroksida 0,5 N dan 1 mL larutan hidrogen peroksida. Setelah dingin suspensi disaring menggunakan kapas. Lima mL filtrat ditambah 10 tetes asam asetat sampai pH 5. Ditambahkan 10 mL toluene. Lima mL lapisan atas dipisahkan dengan dipipet dan dimasukkan dalam tabung reaksi. Ditambah kalium hidroksida 0,5 N, bila didapatkan warna merah pada lapisan air berarti menunjukan adanya senyawa antrakinon.

  e.

  Uji polifenol Dua gram serbuk bunga pulu dipanaskan dengan 10 mL air selama 10 menit dalam penangas air mendidih. Disaring panas-panas, setelah dingin ditambah

  3 tetes pereaksi besi (III) klorida. Bila didapatkan warna hijau-biru menunjukan adanya polifenol. Uji diulang dengan filtrat hasil pendidihan 2 g serbuk dengan 9- f.

  Uji saponin Seratus mg serbuk bunga pulu ditambahkan 10 mL air suling kedalam tabung reaksi, ditutup dan dikocok kuat-kuat selama 30 detik. Tabung dibiarkan dalam posisi tegak selama 30 menit. Apabila terbentuk buih setinggi kurang lebih 3 cm dari permukaan cairan, maka menunjukan adanya saponin, uji lain dilakukan dengan menggunakan pipet kapiler (diameter 1 mm, panjang 12,5 cm). Larutan hasil pemanasan 2 g serbuk bunga pulu dengan 10 mL air dipanaskan selama 30 menit diatas penangas air. Setelah disaring filtrat dimasukkan kedalam pipa kapiler penuh- penuh. Kapiler diletakkan dalam posisi tegak (vertikal), lalu cairan dibiarkan mengalir bebas. Tinggi air suling yang diperlukan sama. Bila didapatkan tinggi cairan yang diuji setengah atau kurang dari tinggi air suling maka menunjukkan adanya saponin.

  g.

  Uji minyak atsiri Sebanyak 10 g serbuk ditambah 20 mL eter, dikocok kemudian disaring, filtrat yang didapat dikeringuapkan. Bila sedikit berbau aromatik, larutan residu ditambahkan dengan sedikit etanol, uapkan lagi sampai kering. Bila terjadi bau aromatik spesifik menunjukan adanya minyak atsiri.

  h.

  Uji flavonoid Sebanyak 0,2 g serbuk dilarutkan kedalam NaOH terjadi pembentukan

E. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Flavonoid)

  Sejumlah 1 gram serbuk diekstrak menggunakan 10 mL metanol, dipanaskan diatas water bath (± 60 C) disaring, kemudian filtrat ditotolkan sebanyak 25 - 30 µL pada plat KLT. Standar rutin dilarutkan dalam metanol 0,05% dan 10 µL ditotolkan pada plat KLT. Fase diam yang digunakan adalah selulosa dengan fase gerak n-butanol : asam asetat glasial : air ( 40:10:50) v/v. Spot dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 366 nm, dan pereaksi uap amonia.

F. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Minyak Atsiri)

  Sejumlah 1 g serbuk diekstrak menggunakan 10 mL heksana, divortex selama 2 menit, kemudian disentrifugasi selama 3 menit. Standar terpenoid dan sampel ditotolkan sebanyak 10 µL pada plat KLT, fase diam yang digunakan adalah silika gel

  60 F 254 dengan fase gerak toluena : etil asetat (93:7) v/v. Spot dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 366 nm, dan pereaksi vanillin asam sulfat.

G. Analisis Hasil

  Uji potensi antimikroba ditunjukkan dengan data diameter zona hambat yang diperoleh dengan metode pengujian menggunakan difusi sumuran pada berbagai variasi konsentrasi dibandingkan dengan kontrol positif dan direplikasi sebanyak 3

  Kandungan senyawa dalam serbuk bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) diperoleh dengan uji tabung dan KLT. Analisis hasil KLT bersifat deskriptif dan komparatif, hasilnya dapat dilihat dari warna bercak yang tampak pada sinar UV 254 nm, UV 365 nm dan setelah disemprot dengan pereaksi yang sesuai dan dilihat perolehan harga Rfnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Determinasi Tanaman Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Botani Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma yang diidentifikasi menurut acuan Idtools

  (2003). Identifikasi tanaman ini bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan adalah bunga pulu atau kasumba turate. Hasil determinasi menunjukkan bahwa bunga pulu yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nama ilmiah

  

Carthamus tinctorius L. dengan variasi daun dengan tepi berduri, warna bunga pada

  saat muda kuning

  • – jingga (didominasi oleh jingga), dan warna bunga pada saat tua berwarna jingga.

B. Hasil Pengumpulan dan Pembersihan Sampel berupa bunga pulu diambil dari daerah Soppeng, Sulawesi Selatan.

  Bunga yang diambil adalah bunga yang sudah tua yang berwarna merah karena diharapkan kandungan senyawa yang terkandung berada dalam jumlah yang maksimal. Waktu pengambilan dilakukan pada sore hari, dengan asumsi bahwa pada sore hari, hasil dari metabolisme suatu tanaman mencapai puncaknya, sehingga didapatkan hasil yang maksimal. tanaman dari pencemaran jamur, kapang, atau mikroba. Pengeringan juga berfungsi untuk menginaktifkan enzim-enzim dalam tumbuhan sehingga menekan terjadinya peruraian senyawa kimia dalam bunga atau herba oleh enzim-enzim tersebut. Pengeringan pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu

  45 C sampai didapatkan herba yang dapat dihancurkan dengan tangan. Hasil pengeringan bunga tersebut berwarna jingga. Setelah kering dan dapat dihancurkan dengan tangan, bunga diserbuk dan diayak menggunakan pengayak dengan nomor

  

mesh 40 untuk memperkecil ukuran partikel, sehingga proses penyarian lebih

  efektif dan optimal, dengan memperkecil ukuran partikel (dalam batas optimal) luas partikel yang kontak dengan pelarut semakin besar. Kandungan zat aktif yang didapatkan akan larut lebih cepat dan lebih banyak.

  

Tabel II. Hasil maserasi serbuk bunga pulu

Pelarut Volume filtrat Rendemen

  2100 mL 5,30 g

  Etanol

  2100 mL 6,61 g

  Kloroform Petroleum eter 2100 mL 11,93 g

  Berdasarkan tabel diatas, rendemen fraksi kental etanol lebih besar

D. Hasil Penyarian Serbuk

  Penyarian dilakukan dengan menggunakan pelarut petroleum eter, kloroform, dan etanol. Petroleum eter merupakan pelarut organik yang mampu menarik senyawa nonpolar. Penggunaan kloroform dimaksudkan untuk menarik senyawa yang bersifat non polar sampai semi polar. Etanol digunakan untuk menarik senyawa yang bersifat semi polar sampai polar, sehingga diharapkan zat aktif yang terkandung di dalam tanaman tersebut tersari maksimal sesuai dengan sifat polaritasnya.

  

Tabel III. Kepolaran relatif pelarut organik

Pelarut Formula Kepolaran Relatif

  Petroleum eter C

  

6 H

14 0,009

  CHCl

  3 0,259 Kloroform

  2

  

6

Etanol C H O 0,654 Air H

  

2 O

  1 (Murov, 2002).

  Metode penyarian maserasi digunakan dalam penelitian ini karena tidak memerlukan pemanasan sehingga zat aktif yang terkandung di dalam bahan tidak mudah rusak. Selain itu, maserasi merupakan metode penyarian yang sederhana, mudah dikerjakan, menggunakan peralatan yang sederhana.

  Penyarian secara maserasi dilakukan dengan cara merendam 300 gram serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari menembus dinding sel dan efisiensi dalam mengekstraksi dan untuk mencapai keseimbangan konsentrasi antara cairan di dalam sel dengan cairan di luar sel, dan untuk menarik zat-zat yang diperkirakan masih ada. Pengadukan dimaksudkan untuk meratakan konsentrasi di luar butir simplisia sehingga derajat perbedaan konsentrasi di dalam dan di luar sel tetap terjaga. Hasil maserasi (maserat) kemudian disaring dan diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator, agar hasil maserat lebih pekat, maka harus diuapkan lagi di atas waterbath.

  E.

  

Uji Aktivitas Antimikroba Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol

Bunga Pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,

Escherichia coli, dan Candida albicans dengan Metode Difusi

  Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan secara difusi menggunakan metode sumuran. Prinsip metode difusi yaitu senyawa uji ditempatkan dalam media padat yang sebelumnya telah diinokulasikan bakteri uji. Senyawa uji akan berdifusi ke dalam media dan menghambat pertumbuhan bakteri uji.

  Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu dibuat suspensi menggunakan Staphylococcus aureus, Escherechia coli dan Candida albicans kemudian disetarakan dengan larutam standar Mc. Farland II menggunakan alat

  

Densicheck (vitek®). Penyetaraan ini dilakukan berguna dalam reprodusibilitas

  percobaan. Apabila dilakukan replikasi, dapat diasumsikan jumlah bakteri per sampai pada konsentrasi 50%. DMSO digunakan sebagai kontrol pelarut bertujuan untuk mengetahui apakah pelarut yang digunakan memiliki pengaruh terhadap zona hambat yang terbentuk.

  Dalam penelitian ini digunakan amoksisilin dan ketokonazol sebagai kontrol positif. Amoksisilin merupakan suatu antibiotik golongan beta laktam derivat penisilin dengan spektrum luas. Amoksisilin mempunyai aktivitas bakterisida terhadap bakteri Gram negatif maupun Gram positif dengan mekanisme menghambat pembentukan atau sintesis dinding sel mikroba (Todar, 2012). Ketokonazol merupakan turunan imidazol yang mempunyai aktivitas antifungi, turunan azol bekerja dengan menghambat sintesa ergosterol. Ergosterol adalah komponen lipid pada membran plasma fungi, sehingga permeabilitas membran meningkat, isi sitoplasma keluar, dan sel lisis (Hidayah, 2010). DMSO merupakan pelarut yang bersifat nonpolar tetapi diindikasikan tidak mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri.

  Volume fraksi, kontrol positif, dan kontrol negatif yang dimasukkan dalam sumuran adalah 50 L. Setelah diinkubasi selama 24 jam, maka senyawa uji akan berdifusi dalam media dan menghambat pertumbuhan dan bahkan membunuh bakteri uji. Penghambatan pertumbuhan bakteri uji ini dapat dilihat dari zona hambat yang terbentuk setelah inkubasi selama 24 jam. Setelah diinkubasi selama

  Tabel IV. Diameter zona hambat fraksi petroleum eter bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans

  13

  L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans Diameter zona hambat (mm) terhadap

  Tabel V. Diameter zona hambat fraksi kloroform bunga pulu (Carthamus tinctorius

  aureus, Escherechia coli , dan Candida albicans. Dalam penelitian ini fraksi tidak menunjukkan aktivitas antimikroba.

  negatif tidak menunjukan zona hambat, kontrol positif menunjukan adanya zona jernih disekitar sumuran dengan rata-rata diameternya dari tiga replikasi yaitu 11,3 mm, 11,6 mm untuk amoksisilin dan 8,3 untuk ketokenazol. Hasil uji variasi konsentrasi fraksi tidak menunjukkan adanya zona hambat. Hal ini menunjukan tidak adanya penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji yaitu Staphylococcus

  Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans yaitu kontrol

  Hasil yang diperoleh untuk fraksi petroleum eter terhadap

  Konsentrasi 50% Konsentrasi 25% Konsentrasi 12,5% Konsentrasi 6,25% Konsentrasi 3,125%

  8 DMSO 5%

  7

  7

  12 Ketokonazol

  9

  Senyawa Diameter zona hambat (mm) terhadap

  11

  11

  12

  Amoxicilin

  III

  I II

  III

  I II

  III

  I II

  Staphylococcus aureus Escherichia coli Candida albicans

  Staphylococcus aureus Escherichia coli Candida albicans Senyawa Diameter zona hambat (mm) terhadap

  Staphylococcus aureus Escherichia coli Candida albicans

  I II

  6 DMSO 5%

  6

  7

  12 Ketokonazol

  10

  10

  12

  12

  13

  Amoxicilin

  III

  I II

  III

  III

  I II

  I II

  Staphylococcus aureus Escherichia coli Candida albicans

  L.) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans Senyawa Diameter zona hambat (mm) terhadap

  Tabel VI. Diameter zona hambat fraksi etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius

  Escherechia coli , dan Candida albicans. Dalam penelitian ini fraksi tidak menunjukkan aktivitas antimikroba.

  menunjukan zona hambat, kontrol positif menunjukan adanya zona jernih disekitar sumuran dengan rata-rata diameternya dari tiga replikasi yaitu 13 mm, 11,6 mm untuk amoksisilin dan 8,3 mm untuk ketokenazol. Hasil uji variasi konsentrasi fraksi tidak menunjukkan adanya zona hambat. Hal ini menunjukan tidak adanya penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji yaitu Staphylococcus aureus,

  aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans yaitu kontrol negatif tidak

  Hasil yang diperoleh untuk fraksi kloroform terhadap Staphylococcus

  Konsentrasi 6,25% Konsentrasi 3,125%

  III

  I II

  III

  I II

  III

  Konsentrasi 50% Konsentrasi 25% Konsentrasi 12,5% Konsentrasi 6,25% dengan rata-rata diameternya dari tiga replikasi yaitu 12,3 mm, 10,6 mm untuk amoksisilin dan 6,3 untuk ketokonazol. Hasil uji variasi konsentrasi fraksi tidak menunjukkan adanya zona hambat. Hal ini menunjukan tidak adanya penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji yaitu Staphylococcus aureus,

  

Escherechia coli , dan Candida albicans. Dalam penelitian ini fraksi tidak

menunjukkan aktivitas antimikroba.

  Analisis data keseluruhan menunjukkan bahwa variasi konsentrasi uji fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) hingga konsentrasi 50% tidak mempunyai kemampuan sebagai antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli, dan Candida albicans.

  F.

  

Skrining Fitokimia

  Skrining fitokimia bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan bioaktif pada tumbuhan atau kandungan yang mempunyai aktivitas dalam hal ini sebagai antimikroba. Skrining pada penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidak senyawa yang berpotensi sebagai antimikroba. Sebagai contoh, yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, fenolik, tanin, dan lain-lain. Analisis kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa dalam tumbuhan tersebut dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji tabung dan uji kualitatif secara KLT.

1. Uji tabung

  Uji tabung bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia bunga pulu, yang kemudian dipertegas dengan KLT. Uji tabung meliputi uji pendahuluan, uji alkaloid, uji antrakinon, uji polifenol, uji tanin, uji saponin, dan uji minyak atsiri.

  

Tabel VII. Hasil pengamatan uji tabung terhadap serbuk bunga pulu

  No Pengujian Pengamatan Hasil

  1. Uji Pendahuluan

  • Larutan hasil penyaringan Warna merah Filtrat + KOH Warna merah semakin intensif

  2 Uji Alkaloid

  Filtrat A1 + Dragendorf Larutan berwarna hitam _ Filtrat A2 + Mayers Larutan berwarna kecoklatan

  3 Uji Antrakinon

  _ Filtrat + KOH 0,5 N Lapisan atas(air) bening

  4 Uji Polifenol

  

3 Larutan berwarna hijau biru

  • Filtrat + FeCl

  5 Uji Tanin

  Filtrat + NaCl 2% + Tidak terdapat endapan _ Gelatin 1%

  6 Uji Saponin

  _ Pembentukan buih ≥3 cm dari tinggi larutan Kurang dari 3 cm

  7 Uji Flavanoid

  • Serbuk + NaOH Merah bata Serbuk + NaOH + HCl Jingga kemerah-merahan

  8 Uji Minyak Atsiri

  Filtrat

  • Bau khas Residu + etanol Bau khas a.

  Uji pendahuluan Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa di dalam beberapa tetes kalium hidroksida. Kesimpulan sementara yang diperoleh, yaitu serbuk diduga mengandung senyawa yang mempunyai gugus kromofor dan gugus hidrofilik.

  b.

  Uji alkaloid Alkaloid adalah senyawa yang mengandung atom N dan kebanyakan bersifat basa. Identifikasi alkaloid dapat dilakukan dengan cara reaksi pengendapan dan reaksi warna, yaitu dengan cara melarutkan 2 g serbuk bunga pulu dengan HCl. Penambahan HCl bertujuan untuk mengubah alkaloid yang bersifat basa menjadi garam alkaloid, agar bisa larut dalam air. Pemanasan di atas penangas air dilakukan untuk mempercepat reaksi pembentukan garam alkaloid. Setelah dingin, kemudian disaring dan direaksikan dengan larutan Dragendorff (gabungan bismut (III) dalam nitrat pekat dan kalium iodida) dan Mayer (gabungan raksa (II) klorida dan kalium iodida). Reaksi positif terjadi jika terbentuk endapan endapan coklat pada penambahan Dragendorf dan endapan putih pada penambahan Mayer. Hasil penelitian tidak diperoleh endapan dari kedua tabung uji yang menunjukkan kemungkinan tidak terdapat alkaloid pada sampel. c.

  Uji tanin Serbuk bunga pulu dilarutkan dalam air dan dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi. Penambahan larutan natrium klorida 2% dimaksudkan untuk membentuk endapan garam Na asam dari tanin. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

  

Gambar 7. Reaksi antara NaCl dengan senyawa fenolik (Herlianawati, 2003)

  Penambahan gelatin dimaksudkan untuk mengendapan tanin yang terlarut dalam air. Gelatin merupakan senyawa yang bisa menarik air, selain itu gelatin mengandung protein dimana tanin mengendapkan protein dan NaCl akan bereaksi semakin cepat dengan tanin untuk membentuk endapan garam Na asam.

  Hasil penelitian dari serbuk bunga pulu adalah negatif yaitu tidak terjadi endapan.

  d.

  Uji antrakinon Uji ini dilakukan dengan mendidihkan serbuk dengan KOH dan larutan oksantron, dan diantron menjadi antrakinon. Penambahan asam asetat sampai pH 5 dan toluen bertujuan untuk memisahkan lapisan air (basa) dengan fase pelarut organik. Setelah dingin, larutan disaring kemudian filtrat ditambah asam asetat glasial yang berfungsi untuk menghidrolisis antrakinon menjadi komponen gula dan aglikonnya. Hasil hidrolisis ini akan diekstraksi dalam pelarut toluen yang bersifat nonpolar. Lapisan air berwarna merah yang menunjukan adanya antrakinon. Hasil dari penelitian ini negatif dimana tidak terjadi warna merah pada lapisan air.

  e.

  Uji saponin Uji saponin dilakukan dengan menggojog kuat serbuk yang dilarutkan dengan aquadest, sehingga terbentuk buih setinggi 3 cm. Buih ini akan tahan dalam jangka waktu yang relatif lama. Buih yang terbentuk disebabkan karena terbentuknya sabun pada saat penggojogan dengan aquadest. Saponin merupakan suatu senyawa yang mempunyai gugus hidrofob dan gugus hidrofil. Sifat ini menyerupai surfaktan/sabun yang dapat menurunkan tegangan permukaan antara udara/gas dengan air berupa emulsi gas dalam air (buih). Hasil dari uji diperkirakan bahwa serbuk bunga pulu tidak mengandung saponin, disebabkan buih yang terbentuk kurang dari 3 cm. mengionisasi hampir diseluruh gugus hidroksi pada inti flavonoid yang menyebabkan terjadinya pergeseran batokromik (Markham, 1988). Pergeseran batokromik tersebut menyebabkan intensitas warna pada flavonoid menjadi lebih besar. Larutan HCl berfungsi sebagai agen yang menghentikan reaksi tersebut (kembali pada warna asli) (Packer,2001).

  g.

  Uji polifenol Serbuk bunga pulu dilarutkan ke dalam air dan dipanaskan dengan penangas air selama 10 menit, karena polifenol merupakan senyawa yang larut dalam air panas. Penambahan pereaksi besi (III) klorida mengindikasikan adanya gugus fenol. Reaksi senyawa polifenol dengan FeCl

  3 akan membentuk kompleks warna. Terjadinya warna hijau-biru menunjukan adanya polifenol.

  Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: h.

  Uji minyak atsiri Uji minyak atsiri dilakukan dengan cara menggojog 10 gram serbuk simplisia dengan 20 mL eter kemudian disaring. Minyak atsiri adalah zat berbau yang pada suhu kamar, mudah menguap di udara, dan pada umumnya larut pada pelarut organik. Hasil pengujian didapatkan bau aromatik yang menunjukan bahwa serbuk simplisia yang diuji mengandung minyak atsiri.

  Filtrat yang didapat dipisahkan, kemudian residu dilarutkan dengan sedikit etanol kemudian diuapkan hingga kering. Hasil pengujian tersebut diperoleh bau khas aromatik serbuk bunga pulu, dari kedua uji tersebut dapat disimpulkan bahwa simplisia yang diteliti mengandung minyak atsiri. Hasil yang didapatkan sesuai dengan penelitian.

  Dari hasil uji tabung serbuk bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) yang telah dilakukan dapat diperkirakan adanya kandungan senyawa flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri.

2. Uji Kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis

  Identifikasi kualitatif serbuk bunga pulu dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Analisis dengan KLT memiliki beberapa keuntungan diantaranya ialah penanganannya sederhana dan cuplikan serta pelarut yang digunakan sedikit. khelat antara salah satu gugus yang terdapat pada flavonoid dengan gypsum

  4

  (CaSO ). Kompleks khelat tersebut terikat kuat pada fase diam yang dapat menyebabkan tidak terjadinya elusi. Reaksinya adalah sebagai berikut:

2 CaSO

  4 Gambar 9. Interaksi flavonoid dengan CaSO 4 membentuk kompleks khelat (Herlianawati,

2003)

cm

  10  Fase gerak n-butanol – asam asetat- air (4:1:5) v/v  Fase diam selulosa  Deteksi uap amoniak

  Rutin sampel sampel

  (10 cm). Elusi dilakukan sepanjang 10 cm di dalam bejana yang sudah jenuh. Bejana yang berisi larutan pengembang harus dijenuhkan telebih dahulu agar proses elusi dapat berlangsung dengan baik.

  

Tabel VIII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam selulosa

  dan fase gerak butanol : asam asetat glasial : air (4:1:5) dan pembanding rutin 0,05% untuk analisis flavonoid

  Bercak No Deteksi UV 254 UV 365 Uap amoniak

  Rf Warna Rf Warna Rf Warna Sampel 1 0,64 Kuning 0,64 Ungu 0,64 Kuning 2 0,64 Kuning 0,64 Ungu 0,64 Kuning Pembanding 1 0,61 Kuning 0,61 Ungu 0,61 Kuning

  Dilihat dari hasil yang dapat dilihat dari tabel, maka dapat disimpulkan mengandung flavonoid. Hal ini terbukti dengan terdapatnya bercak dengan warna bercak yang mirip dengan bercak pembanding. Jika dilihat dari Rf-nya diperkirakan yang terjadi adalah flavonoid yang terdapat pada sampel berbeda dengan pembanding.

  Flavonoid mempunyai gugus auksokrom OH yang terikat pada atom karbon nomor 4 pada cincin B. Flavonoid juga mempunyai gugus O yang bersifat elektrofil (senang menarik elektron). Adanya basa (NH

  3 ), OH akan

  mudah melepaskan H yang kemudian diikat oleh NH

  3 , setelah itu terjadi reaksi

  penyusunan kembali yang menyebabkan O akan memiliki pasangan elektron

  Reaksi yang terjadi sebagai berikut:

  Gambar 11. Reaksi flavonoid dengan NH 3 (Herlianawati, 2003)

  Warna kuning yang terjadi dapat dengan cepat hilang karena di udara terdapat banyak uap air (H-OH) sehingga H dari uap air akan berikatan dengan O yang kelebihan elektron, sehingga struktur senyawa tersebut akan kembali seperti semula. Warna yang terbentuk merupakan warna yang reversibel.

  b.

  Uji KLT minyak atsiri Fase diam yang digunakan yaitu silika gel GF 254 . Silika gel GF 254 merupakan fase diam yang bersifat polar. Silika gel merupakan adsorben yang paling banyak digunakan dalam Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang berupa silika gel yang direkatkan dengan CaSO

  4 dan yang berfluoresensi pada panjang gelombang 254 nm. Fase gerak yang digunakan adalah benzena : metanol (10:1).

  Pembanding yang digunakan adalah terpenoid. Penotolan bercak dan pembanding pada fase diam dilakukan dengan mikropipet 5 µL. Sampel dan

  

Tabel IX. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel

254

  F dan fase gerak toluen : etil asetat (93:7) dan pembanding terpenoid untuk analisis minyak atsiri Bercak No Deteksi

  UV 254 UV 365 Vanilin-Asam Sulfat Rf Warna Rf Warna Rf Warna 1 0,25 Ungu Merah muda - 0,25

  • Sampel - - Pembanding 1 0,21 Ungu 0,21 Merah Muda Berdasarkan hasil yang terlihat pada tabel diatas, dapat diasumsikan bahwa sampel mengandung minyak atsiri. Hal ini terbukti dengan adanya profil bercak dengan profil bercak yang mirip dengan pembanding.

  10 cm  Fase gerak toluen : etil asetat (93:7) v/v  Fase diam silika gel F 254  Deteksi vanilin asam sulfat Terpenoid sampel Warna violet yang terdeteksi pada plat KLT diakibatkan oleh reaksi

  

Liebermann-Burchard , yaitu salah satu reaksi warna yang paling umum pada

  senyawa atsiri (terpenoid, fenilpropan, fenol dan turunannya) dengan mekanisme

  • abstraksi H sehingga terbentuk senyawa ikatan rangkap terkonjugasi. Ikatan rangkap dua pada struktur kimia terpenoid memiliki spektrum serapan pada sinar ultraviolet dan sinar visibel, sehingga di daerah cahaya tampak terlihat berwarna violet.

  Jika ditinjau ulang pada uji KLT, diketahui bahwa serbuk mengandung senyawa flavonoid dan minyak atsiri yang merupakan senyawa antimikroba. Ketika diuji, fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) hingga konsentrasi 50% tidak mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi uji. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh: 1.

   Jumlah komponen senyawa antimikroba

  Beberapa jenis komponen kimia yang terkandung pada serbuk bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) memiliki sifat sebagai antimikroba seperti flavonoid dan minyak atsiri. Walaupun demikian, jelas terlihat bahwa fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu secara keseluruhan tidak memiliki kemampuan untuk menghalangi pertumbuhan mikroba uji. Hal ini dapat diperkirakan terjadi karena komponen yang bersifat sebagai antimikroba hanyalah sebagai komponen

2. SEES ( Side Effect Eliminating Substances/ Secondary Efficacy Enhancing

  Subtances)

  Ekstraksi bertingkat dalam penelitian ini bertujuan untuk menyari atau mengisolasi senyawa aktif yang berbeda polaritasnya. Teori SEES (Side Effect

  

Elimnating Substances ) menjelaskan adanya zat yang meniadakan efek samping/

  utama oleh zat-zat yang lain. SEES (Secondary Efficacy Enhancing Subtances) juga menjelaskan bahwa terdapat zat-zat yang ketika dalam keadaan senyawa tunggal tidak berefek, sehingga zat yang diisolasi efeknya dalam hal ini sebagai antimikroba diperkirakan bisa menurun karena tidak terdapat zat sekunder.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) tidak mempunyai aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherechia coli , dan Candida albicans.

  2. Tidak diketahui seberapa besar Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari fraksi petroleum eter, kloroform, dan etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylococcus aureus,

  Escherichia coli, dan Candida albicans.

  3. Berdasarkan uji tabung yang dilakukan, serbuk bunga pulu diduga mengandung flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Uji KLT menunjukan ada profil bercak yang mirip dengan profil bercak flavonoid dan minyak atsiri.

  B.

  

Saran

1.

  Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan kimia dari bunga pulu secara kuantitatif sehingga dapat diketahui berapa kadar senyawa-senyawa yang terkandung di dalam bunga pulu.

  2. Perlu diteliti mengenai potensi antimikroba dari batang, daun atau bagian

DAFTAR PUSTAKA

  Akroum, S., Satta, D., Lalaoui, K., 2009, Antimicrobial, Antioxidant, Cytotoxic Activities and Phytochemical Screening of Some Algerian Plant, EJSR, Vol 31 (2), p. 291.

  Ardiansyah, 2007, Antibakteri dari Tumbuhan (bagian pertama) , www.beritaiptek.com, diakses 15 Januari 2013 pukul 16.03. Arenas, R., Estrada, R., 2001, Tropical Dermatology, Landes Bioscience, Georgetown, p. 106-9. Birla Institute of Scientific Research, 2010, Database of Medicinal and Aromatic

  Plants in Rajasthan ,

  http://bioinfo.bisr.res.in/project/domap/plant_details.php?plantid=0014& bname=Carthamus%20tinctorius, diakses 11 Januari 2013 pukul 16.30. Bouhdid, S., Skali, S.N., Idaomar, M., Zhid, A., Baudoux, D., Amensour, M., dkk.,

  2008, Antibacterial and antioxidant activities of origanum compactum essential oil, AJB, Vol 7 (10), pp. 1563-1570. Braga, P.C., Sasso, M.D., Culici, M., Alfieri, M., 2008, Thymol inhibits mature

  Candida albicans biofilm Scaning electron miccroscopy (SEM) study, 13 World Congress of Ginaecological Endrocrinology. Florence, Italia. Burt, S.A., 2004, Essential oil : Their bacterial properties and potential application in food, a review int. Journal Food microbiology, Vol. 94, pp. 223-253.

  

Cai, Y., Luo, Q., Sun, M., Corke, H., 2003, Antioxidant activity and phenoloc

compound of 112 traditionla Chines medicinal plants asociated with anticancer, Life Science, p. 2161.

  Chomnawang, M.T., Surassmo, S., Nukoolkam, V.S., Gritsanapan, W., 2005, Antomicrobial effects of Thai Medicinal Plants against Acne-Inducing Bacteria, Journal of Ethnopharmacology, pp. 1-4.

  

Damayanti, E., Suparjana, T.,B., 2007, Efek Penghambatan Beberapa Fraksi Ekstrak

Buah Mengkudu Terhadap Shigella dysenteria, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kajuangan”, UPT BPPTK LIPI, Yogyakarta, p. A05-2

  

Herlianawati, M., 2003, Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Umbi Binahong

(Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, Skripsi, Universitas Sanata Dharma.

  

Heuze, V., Tran, G., 2011, Safflower (Carthamus tinctorius)forage, feepedia.org &

programe by INRA,CIRAD,AFZ and FAO, www.feepedia.org/node/173 , diakses 25 September 2011 pukul 17.12.

Hidayah, A.N., 2010, Efektifitas Air Perasan Jeruk Lemon (Citrus Lion Burm) 25 %

diabndingkan ketokonazol 2% terhadap pertumbuhan Malassezia Sp. Pada ketombe, Artikel Karya Tulis Ilmiah, Universitas Diponegoro, Semarang.

  Idtools, 2013, Cut Flower Exports of Africa : Carthamus L., http://idtools.org/id/cutflowers/key/Cut_Flower_Exports_of_Africa/Medi a/Html/Fact_sheets/Carthamus.htm, diakses pada tanggal 24 Januari 2013 pukul 22.03 WIB.

  Jamal, Y., Agusta, A., dan Praptiwi, 2003, Kompisisi Kimia dan Efek Antibakteri Minyak Atsiri Buah Gedebong (Piper aduncum L.), Majalah Famasi

  Indonesia , 14 (1), pp. 284 – 289.

  Jawetz, E., Melnick, J.L., dan Adelberg, E.A., 2005, Mikrobiologi Kedokteran

  (Medical Microbiology) , diterjemahkan oleh bagian mikrobiologi fakultas

  Kedokteran Universitas Airlangga,pp. 100-101, 235, 318-319, 352, EGC, Jakarta. Kayser, F.H., Bienz, K.A., Eckert, J., Zinkernage, R.M., 2005, Medical Microbiology, Ed.10, Stuttgart : Thieme, p. 362-4. Khunaifi, M., 2010, Uji AktivitasAntibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera

  cordifolia (Ten.) Steenis ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa , Skripsi, 30, Universitas Islam Negeri (UIN)

  Maulana Malik Ibrahim, Malang.

  

Kokate, Purohit, Gokhale, 2009, Pharmacognosi, Nirali Prakashan, Bangalore, p.11.7.

Kusmayati, Agustini, N.W.R., 2007, Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari Mikroalga

(Porphyridium cruentum), Biodiversitas, Vol. 8 (1), pp. 48-53.

  Murov, S., 2002, Properties of Organik Solvent, www.murov.info/orgachem.htm, diakses 2 Agustus 2012 pukul 21:59. Mothana, R.A.A., Abdo S.A.A., Hason, S., Althawab, F.M.N., Alaghbari, A.Z.,

  Lindequist, U., 2008, Antimicrobial,Antioxidant and Cytotoxic Activities and Phytochemical Screening of Some Yemeni Medicinal Plants, eCam Vol. 7 (3), pp. 324-326. Nostro, A., Papalia, T., 2012, Antimicrobial Activity of Carvacrol : Current Progress and Future Prospectives, RPADD, Vol. 7, No. 1, pp. 28-35.

  Nagaraj, B., Malakar, B., Divya, T.K., Krisnhamurthy, N.B., Liny, P., Dinesh, R., Iconaru, S.L., Ciobanu, C.S., 2012, Synthesis of plant mediated gold nanoparticle using flower extracts of Carthamus tinctorius (Safflower) and evaluation of their biological activities, Digest Journal of Nanomaterials and Biostructure , Vol. 7 (3), p.1290.

  Packer, L., 2001, Flavonoids Ana Other Polyphenols, Acedemic Press, USA, p. 55. Pratiwi, S.,T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp.136-147. Rogers, K., 2011, Evil E.Coli , Encyclopedia Britanica, http://www.britannica.com/blogs/2011/06/evil-coli, diakses 11 Januari

  2013 pukul 15:11. Rohman, A. dan Gandjar, I.G., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 354-356.

  Sabir, A., 2005, Aktivitas antibakteri flavonoid propolis Trigona sp terhadap bakteri Streptococcus mutans (in vitro), Majalah Kedokteran Gigi (Dent.

  J.) , Vol. 38, pp. 135-141.

  Simatupang, M.M., 2009, Candida albicans, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran USU, Sumatera Utara.

  

Sokovic, M., Glamoclija, J., Marin, P.D., Brkic, D., van Griensven, L.J.L.D., 2010,

Antibacterial effect of the essential oil of commonly consumed medicinal

herbs using an In Vitro model, Molecules 2010, 15, pp.7532-7546

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya,

  Sudibyo, E.S., Rohmawati, E., Munira., Febriana, S.A., Radiono, S., Suswanto, 2008, Profil Resistensi Antibiotik pad Staphylococcus aureus dan

  Pseudomonas aeruginosa , Berkala Kesehatan Klinik, Vol XIV, No. 2, p.100.

  Sudiono, J., 2001, Peran Candida albicans di dalam rongga mulut, MI Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Usakti , 44 (16), p.96. Tadesse, D.A., Zhao, S., Tong, E., Ayers, S., Singh, A., Bartholommew, M.,J.,

  McDermott, P.,F., 2012, Antimiccrobial Drug Resistance in Escherichia

  coli from Humans and Food Animals, United States, 1950-2002, EIDJ, Vol. 18, No. 5, p. 744.

  Tjampaksari, C.R., 2006, Karakteristik Candida albicans, http://www.kalbe.ci.id/files/cdk/files/13_15_karakteristikbiologicandidaa lbicans.pdf., diakses 11 Januari 2013.

  Todar, K., 2012, Staphylococcus aureus and Staphylococcal Disease, Todar’s Online Textbook of Bacteriology

  , http://textbookofbacteriology.net/staph.html, diakses 11 Januari pukul 15.11.

Wijayakusuma, H., 2008, Ramuan Herbal Penurun Kolesterol, Perpustakaan Bunda

(Grup Puspa Swara), Jakarta, p. 61.

Wijayakusuma, H., 2008a, Atasi Kanker Dengan Tanaman Obat, Puspa Swara, Jakarta,

pp.45-46.

Ziarati, P., Asgarpanah, J., Kianifard, M., 2012, The essential oil composition of

L. Flower growing in Iran,

  Carthamus tintoris AJB Vol. 11 (65), pp. 12921- 12924.

  

LAMPIRAN

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (103 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Isolasi, Seleksi, dan Uji Aktivitas Antimikroba Kapang Endofit dari Daun Tanaman Jamblang (Syzygium cumini L.) terhadap Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Candida albicans dan Aspergillus niger.
1
17
110
Aktivitas Antifungi Air Perasan Lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Candida albicans Secara in Vitro.
2
4
19
Aktivitas Antimikroba Metode Ozonisasi Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans Secara In Vitro.
0
0
25
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin.
0
2
8
Aktivitas antimikroba fraksi petroleum eter, kloroform, etanol bunga pulu (Carthamus tinctorius L.) terhadap Staphylloccus aureus, Escherechia coli dan Candida albicans.
2
7
105
Uji aktivitas antibakteri fraksi n heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin
0
0
6
Antimikroba Gel Daun Lidah Buaya (Aloa barbadensia Mill.) terhadap Candida albicans dan Escherichia coli Secara Molekular - Ubaya Repository
0
0
1
Uji daya antimikroba ekstrak etanol saga (Abrus precatorius Linn) terhadap jamur candida albicans dan bakteri escherichia coli ATTC 35218 serta kesetaraannya dengan ketokonazol dan kloramfenikol - Ubaya Repository
1
4
1
ISOLASI SENYAWA KIMIA DARI BUNGA KASUMBA TURATE (Carthamus tinctorius L.)
0
0
61
Uji daya antimikroba dari destilat caryophylli flos terhadap streptococcus pyogenes dan Candida albicans - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Uji aktivitas antimikroba ekstrak etanol daun cayratia trifolia terhadap staphylococcus aureus dan candida albicans - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
Perbandingan antibakteri dari ekstrak etanol dan fraksi ekstrak etanol tanaman ceguk (Quisqualis indica L.) terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
16
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
18
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Aktivitas sitotoksik fraksi etil asetat daun mulwo (Annona reticulata L.) terhadap sel kanker kolon WiDr - USD Repository
0
0
86
Show more