Upaya meningkatkan komunikasi antara suami-istri dalam keluarga kristiani atas dasar iman di lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
143
4 months ago
Preview
Full text

  

UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI

DALAM KELUARGA KRISTIANI ATAS DASAR IMAN

DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL,

PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA

  

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh :

  Ana Rosnani NIM: 051124003

  PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

  

PERSEMBAHAN

  Dengan penuh syukur dan pujian skripsi ini kupersembahkan kepada seluruh anggota Kongregasi Suster Misi Fransiskan Santo Antonius (SMFA)

  

MOTTO

Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,

  sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

  ” (Yoh 15:5)

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI

ANTARA SUAMI-ISTRI DALAM KELUARGA KRISTIANI ATAS DASAR

  Judul ini dipilih berdasarkan keprihatinan penulis terhadap banyaknya persoalan yang dihadapi oleh pasangan suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul seperti : meningkatnya kebutuhan ekonomi, relasi suami-istri yang kurang baik, biaya pendidikan anak yang meningkat, anak harus menghadapi pergaulan jaman sekarang yang serba mencemaskan, komunikasi dengan anak yang kurang baik, tidak memiliki pekerjaan tetap dan maraknya perselingkuhan. Persoalan yang dihadapi oleh suami-istri tersebut adakalanya dapat diselesaikan dengan mudah namun tidak jarang membutuhkan proses yang panjang untuk menyelesaikannya. Persoalan yang mereka hadapi kadangkala bahkan membuat komunikasi antara pribadi suami-istri menjadi tidak efektif dan relasi menjadi tidak baik. Bertitik tolak dari kenyataan ini maka skripsi ini dimaksudkan untuk membantu para pendamping keluarga dalam merancang suatu kegiatan pendampingan bagi pasangan suami-istri Katolik guna meningkatkan komunikasi pribadi suami-istri dalam keluarga mereka.

  Persoalan mendasar yang dibahas dalam skripsi ini adalah, bagaimana dapat membantu para suami-istri dalam meningkatkan komunikasi pribadi mereka sebagai pasangan suami-istri, di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta sehingga persoalan komunikasi yang ada dapat diselesaikan dengan membuka hati dan bersedia saling mendengarkan. Untuk memperoleh gambaran tentang komunikasi yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta penulis mengadakan wawancara dengan pasangan suami-istri di lingkungan ini. Penulis juga memanfaatkan studi pustaka untuk menambah pengetahuan tentang komunikasi pribadi suami-istri yang seharusnya terjadi dalam keluarga kristiani.

  Menjawab persoalan tersebut di atas maka penulis merancang suatu kegiatan pendampingan iman sehari bagi pasangan suami-istri untuk membantu mereka agar semakin siap dalam menghadapi tantangan jaman, membantu memperkembangkan iman mereka dan meningkatkan komunikasi serta relasi pasangan suami-istri ini.

  

ABSTRACT

  The title of this study is THE EFFORT TO IMPROVE THE COUPLE

  COMMUNICATION

IN CHRISTIAN FAMILY ON THE BASIS OF

  The writer chose this topic as her study because she concerned on the issue and problem faced by a couple in Andreas Rasul area, the Parish of Kristus Raja Baciro, Yogyakarta such as: the increasing of economic needs, the bad relation of a couple, the increasing of education cost, the interaction of their children in this new era that disturb them, the bad communication between a parent and their children, impermanent job, and dishonest couple. The problem faced by a couple sometimes could be solved easily. However, sometime there were problems faced by a couple could be solved through a long process. Sometime the communication of a couple become ineffective their relation is not going well. Based on this fact, the purpose of this study was to help and assist the family consultant to design the assistance activity for catholic couple in order to improve their private communication in their family.

  The issue discussed in this study was what method that could help the wives and husbands to improve their private communication as a couple in Andreas Rasul area, the Parish of Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, so the communication problem faced by the couple could be solved by opening their heart and willing to listen and sharing each other. To find out the picture of communication that occurred in the family’s life in Andreas Rasul area, the Parish of Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, the writer conducted the interview with those couples in that area. The writer also used the literature data to increase the knowledge about couple private communication which was supposed to be occurred in a Christian family.

  In this study the writer designed the faith assistance activity for the couple to develop their faith and improve their communication and relation. The writer expected this study will be useful for the other couple consultant or those who concerned on Catholic couple happiness, especially in Andreas Rasul area, the Parish of Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. By conducting the faith assistance dey, it was expected that a couple will be able to open their heart and express their feeling to their spouse, and they were able to experience Christ affection in their life.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rahmat kasih-Nya dan bimbingan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul UPAYA

  

MENINGKATKAN KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI DALAM

KELUARGA KRISTIANI ATAS DASAR IMAN DI LINGKUNGAN ANDREAS

RASUL, PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA

  Penulisan skripsi ini didorong oleh semakin banyaknya persoalan yang dihadapi oleh pasangan suami-istri dalam kehidupan berkeluarga dewasa ini. Tidak semua pasangan suami-istri dapat mengikuti pendampingan yang diselenggarakan oleh pihak paroki. Berangkat dari situasi tersebut maka penulis menyusun skripsi ini dengan maksud membantu para pendamping keluarga menyiapkan pendampingan iman yang sederhana bagi pasangan suami istri, namun menarik dan berkesan, serta bisa bermanfaat untuk mengembangkan komunikasi pribadi pasangan suami-istri.

  Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pendamping suami-istri maupun mereka yang mempunyai hati, minat dan perhatian terhadap pasangan suami- istri katolik, khususnya di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Dengan pendampingan iman sehari diharapkan para suami-istri semakin mampu untuk membuka hati mengungkapkan perasaannya kepada pasangan dan mampu mengalami kasih Kristus dalam hidup mereka.

  Penulisan skripsi ini dibantu dan didukung oleh banyak pihak. Oleh karena itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar- besarnya kepada:

  1. Drs. H.J. Suhardiyanto, S.J., selaku dosen pembimbing utama dan ketua Prodi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) Universitas Sanata Dharma, yang dengan penuh kesabaran dan keterbukaan hati mendukung, mendampingi, dan memberikan sumbangan pemikiran kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  2. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed., selaku dosen penguji kedua dan pembimbing akademik yang selalu memberikan semangat dalam proses penulisan skripsi dan selama menjalani kuliah di Prodi IPPAK.

  3. Y. Kristianto, SFK., M.Pd., selaku dosen pembimbing kedua dan penguji ketiga, yang telah berkenan membantu dalam proses penelitian dan memberikan motivasi kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  4. Segenap staf dosen dan karyawan Prodi IPPAK, yang telah mendampingi dan membimbing serta membekali pengetahuan dan ketrampilan kepada penulis selama studi hingga selesainya penulisan skripsi ini.

  5. Dewan pimpinan Kongregasi SMFA beserta anggotanya yang telah memberi dukungan, perhatian, dorongan dan doa.

  6. Orangtua dan anggota keluarga yang telah mendukung penulis lewat doa, cinta dan perhatiannya selama ini.

7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang selama ini

  telah memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis sejak awal studi di

  

DAFTAR ISI

  7 A. Keluarga Kristiani ........................................................................

  10 c. Ikut serta dalam pengembagan masyarakat.......................

  9 b. Mengabdi kepada kehidupan ............................................

  9 a. Membentuk Persekutuan Pribadi ......................................

  8 3. Peranan Keluarga Kristiani ....................................................

  8 2. Pengertian Keluarga Kristiani ................................................

  7 1. Keluarga Inti...........................................................................

  6 BAB II. PENGERTIAN KELUARGA KRISTIANI DAN KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI ........................................

  HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  5 F. Sistematika Penulisan ..................................................................

  5 E. Metode Penulisan .........................................................................

  4 D. Manfaat Penulisan ........................................................................

  4 C. Tujuan Penulisan..........................................................................

  1 B. Rumusan Permasalahan ..............................................................

  1 A. Latar Belakang Penulisan.............................................................

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ........................................ vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT..................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI.................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................

  10

  4. Tantangan Keluarga Kristiani ................................................

  12 a. Tantangan dari keluarga besar ..........................................

  12 b. Tantangan dari dalam keluarga inti ..................................

  13 5. Kunci Menghadapi Keluarga Kristiani .................................

  14 B. Komunikasi Antara Suami-Istri ..................................................

  16 1. Komunikasi Secara Umum ...................................................

  16 2. Pengertian Komunikasi antar Pribadi ....................................

  17 3. Komunikasi antara Suami-Istri .............................................

  29 4. Bahasa Komunikasi ...............................................................

  21 a. Komunikasi verbal ...........................................................

  21 b. Komunikasi non verbal ....................................................

  22 5. Sikap-sikap dalam Berkomunikasi ........................................

  23

  a. Komunikasi yang m

  24 engena…………………………..... ..

  b. Hambatan komunikasi .......................................................

  27 6. Peranan Komunikasi antara suami-istri .................................

  30 BAB III. GAMBARAN SITUASI KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL, PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA ...........

  31 A. Metodologi Penelitian ................................................................

  32 1. Permasalahan Penelitian ........................................................

  32 2. Tujuan Penelitian ...................................................................

  33 3. Variabel Penelitian .................................................................

  33 4. Pertanyaan Wawancara ..........................................................

  33 5. Manfaat Penelitian ................................................................

  34 6. Pendekatan Penelitian ...........................................................

  34 7. Tempat dan Waktu Penelitian ...............................................

  35 8. Responden Penelitian ............................................................

  35 9. Teknik Pengumpulan Data.....................................................

  35 10. Teknik Analisa Data ..............................................................

  36

  B. Laporan Hasil Penelitian .............................................................

  37 1. Gambaran Umum Tempat Penelitian ....................................

  37 2. Temuan Khusus Hasil Wawancara .......................................

  42 C. Pembahasan Penelitian ...............................................................

  51 D. Kesimpulan Penelitian ...............................................................

  54 BAB IV. PENDAMPINGAN KELUARGA KRISTIANI GUNA MENINGKATKAN KOMUNIKASI DAN RELASI PRIBADI PARA SUAMI-ISTRI KATOLIK DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL, PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA

  ………... 56 A. Pendampingan Keluarga Kristiani ..............................................

  56 1. Pengertian Pendampingan .....................................................

  56 2. Pendampingan Keluarga Kristiani ........................................

  57 B. Program Pendampingan Keluarga Kristiani................................

  58 1. Pengertian Program ...............................................................

  58

  58 2. Pemikiran Dasar Program Pendampinga Keluarga Kristiani ...

  3. Tujuan Program Pendampingan Keluarga Kristiani .............

  60

  4. Tema dan Judul yang Mendukung Tujuan Program Pendampingan Keluarga Kristiani ..........................

  60 C. Penjabaran Program ...................................................................

  62 1. Catatan atas Program Pendampingan .......................................

  65 2. Persiapan Pendampingan Pertama ...........................................

  66 3. Persiapan Pendampingan Kedua ..............................................

  73 4. Persiapan Pendampingan Ketiga ..............................................

  80 5. Persiapan Pendampingan Keempat .........................................

  88 BAB V. PENUTUP .........................................................................................

  95 A. Kesimpulan .................................................................................

  95 B. Saran ............................................................................................

  95 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

  99 LAMPIRAN .................................................................................................... 101 Lampiran 1: Data Mentah Hasil Wawancara dengan Responden ................... (1) Lampiran 2: Hasil Wawancara dengan Bapak Handoko:

  Lampiran 3: Hasil wawancara dengan Bapak Sutris: Sekretaris Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta ................... (22)

  Lampiran 4 : Lagu pendampingan .................................................................. (23)

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang

diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, jakarta,1994.

  B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja FC :

  Familiaris Consortio, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II

  kepada para Uskup, Imam-imam dan seluruh Umat Beriman seluruh Gereja Katolik tentang Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern, 22 November 1981.

  C. Singkatan Lain Art : Artikel CD : Compact Disc D : Data

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KK

  :

  Kepala Keluarga KAS : Keuskupan Agung Semarang

  KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  LAI : Lembaga Alkitab Indonesia MB

  :

  Madah Bakti Mgr : Monseigneur PIA : Pendidikan Iman Anak Pr : Projo (Imam Diocesan) P1

  :

  Pertanyaan Satu P2 : Pertanyaan Dua P3 : Pertanyaan Tiga P4 : Pertanyaan Empat P5 : Pertanyaan Lima P6

  :

  Pertanyaan Enam P7 : Pertanyaan Tujuh P8 : Pertanyaan Delapan P9 : Pertanyaan Sembilan

  R : Responden R1 : Responden Satu R2

  : Responden

  Dua

  R3 : Responden Tiga R4 : Responden Empat R5 : Responden Lima R6 : Responden Enam R7 : Responden Tujuh R8 : Responden Delapan R9 : Responden Sembilan

  SJ : Serikat Jesus

  SMA : Sekolah Menengah Atas

  SMFA : Suster Misi Fransiskan Santo Antonius

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini banyak keluarga mengalami berbagai macam persoalan dalam hidup mereka. Perkembangan jaman merubah perilaku dan cara hidup dalam keluarga seperti cara berkomunikasi, cara beraktivitas, ditambah lagi dengan bertambah banyaknya persoalan hidup yang mereka hadapi di jaman ini. Persoalan hidup yang mereka hadapi seperti kesulitan ekonomi, relasi suami-istri yang kurang baik, biaya pendidikan anak yang meningkat, anak harus menghadapi pergaulan jaman sekarang yang serba mencemaskan, komunikasi dengan anak yang kurang baik, tidak memiliki pekerjaan tetap, persaingan hidup yang makin ketat, pergaulan dengan masyarakat di sekitar atau tetangga yang sering konflik, ditambah lagi dengan maraknya perselingkuhan suami atau istri, atau bahkan dua- duanya. Persoalan tersebut ada kalanya dapat diselesaikan dengan mudah namun tidak jarang persoalan tersebut membutuhkan proses yang panjang untuk menyelesaikannya dan seringkali membuat komunikasi antara suami-istri dalam kehidupan berkeluarga menjadi kurang lancar. Situasi hidup yang mereka alami bahkan membuat anggota keluarga amat jarang bisa duduk bersama berbicara dari hati ke hati secara jujur dan terbuka, baik untuk berbagi pengalaman maupun untuk menyelesaikan persoalan hidup.

  Masalah-masalah seperti ini memang mudah membuat hubungan dengan yang tidak dapat dipecahkan atau diselesaikan karena sulit mengungkapkan masalah yang dialami. Hal semacam ini mudah berakibat stress yang berkepanjangan dan sering juga berpengaruh besar terhadap relasi pribadi dalam keluarga.

  Sementara itu kebahagiaan dalam hidup berkeluarga merupakan cita-cita dan harapan keluarga kristiani yang perlu selalu diperjuangkan. Adanya keakraban dan keharmonisan adalah berkat dari komunikasi yang baik antara pribadi suami- istri, yang menghasilkan rasa damai, rasa dicintai yang memberi kebahagiaan dan menghidupkan kesetiaan. Namun untuk mewujudkan hal tersebut di jaman ini sungguhlah tidak mudah karena berbagai kesibukan orang jaman sekarang pada umumnya. Keluarga kristiani pada jaman ini dihadapkan pada tawaran-tawaran yang menggiurkan, bahkan cenderung merusak kebahagiaan kehidupan berkeluarga, jika tidak hati-hati dalam menanggapi tawaran-tawaran jaman dewasa ini. Yang mengagumkan, dalam kenyataannya banyak pula keluarga kristiani yang tetap setia meskipun mengalami berbagai pergumulan dalam hidup mereka.

  Persoalan yang banyak dialami oleh keluarga jaman sekarang ini pantas mendapat perhatian agar mereka dapat dibantu untuk membangun bahtera rumah tangga yang kokoh dan membahagiakan, sehingga mereka mampu pula mengatasi persoalan mereka berkat terang iman. Hal yang semacam ini bukanlah urusan keluarga saja tetapi perlu mendapat perhatian pula dari Gereja. Gereja perlu lebih memperhatikan jemaatnya termasuk juga yang berkaitan dengan pengalaman hidup sehari-hari dari keluarga-keluarga kristiani. Dalam keluarga yang ada di lingkungan Andreas Rasul tak jarang kegiatan-kegiatan harian yang harus mereka lakukan membuat mereka sulit untuk menjalin relasi dan komunikasi antar pribadi jika kebetulan mereka mengalami pesoalan, entah yang dihadapi orangtua atau anak. Pentinglah dengan demikian keluarga-keluarga kristiani ikut serta dalam kegiatan pendampingan yang diselengarakan oleh paroki. Dengan mengikuti kegiatan atau program kegiatan yang dibuat paroki atau lingkungan, keluarga di Lingkungan Andreas Rasul akan dapat terbantu untuk semakin menghayati imanya dan diharapkan mereka akan semakin terbantu dalam meningkatkan komunikasi mereka dalam keluarga. Dengan adanya komunikasi yang baik, masalah kehidupan yang timbul dalam keluarga akan jauh lebih mudah dipecahkan.

  Beberapa bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh paroki demi meningkatkan komunikasi dalam keluarga adalah misa bagi pasangan suami-istri, baik yang tua maupun yang masih muda, pendampingan bagi keluarga yang bermasalah, dan rekoleksi suami-istri. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak semua dapat diikuti oleh pasangan suami-istri semua itu karena waktu yang kurang cocok dengan kesibukan harian mereka.

  Mengingat situasi yang dialami oleh keluarga kristiani di lingkungan dewasa ini, khususnya di Lingkungan Andreas Rasul, perlulah diupayakan pendampingan mereka ,oleh karena itu penulis mengambil judul UPAYA MENINGKATKAN

  

KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI DALAM KELUARGA

KRISTIANI ATAS DASAR IMAN DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL,

PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA.

  B. Rumusan Permasalahan

  1. Komunikasi macam apakah yang dapat mendukung suami-istri dalam melestarikan kehidupan berkeluarga?

  2. Sikap- sikap komunikasi macam apa yang dapat membantu suami-istri dalam meningkatkan komunikasi yang efektif?

  3. Kondisi komunikasi dalam keluarga kristiani macam apakah yang dapat membantu menciptakan keharmonisan keluarga?

  4.

  ”Bahasa” komunikasi macam apakah yang dapat membantu meningkatkan komunikasi antara suami-istri?

  5. Pendampingan iman macam apakah yang dapat membantu meningkatkan komunikasi antara suami-istri di lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta?

  C. Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui komunikasi macam apakah yang dapat mendukung suami-istri dalam melestarikan kehidupan berkeluarga.

  2. Mengetahui Sikap-sikap komunikasi macam apa yang dapat membantu

4. Mengetahui ”Bahasa” komunikasi macam apakah yang dapat membantu meningkatkan komunikasi antara suami-istri.

  5. Terasedianya pendampingan iman yang dapat membantu meningkatkan komunikasi antara suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

  6. Memenuhi salah satu tugas persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana SI Program Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik.

  D. Manfaat Penulisan

  1. Memberikan masukan kepada para (pendamping) keluarga kristiani di Lingkungan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, akan pentingnya mengusahakan komunikasi yang baik antar mereka dalam membangun hidup berkeluarga.

  2. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis dalam rangka mengenal dan memahami keluarga serta permasalahannya.

  3. Memberikan Sumbangan bagi Gereja terutama, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, dalam hal pendampingan iman keluarga kristiani.

  E. Metode Penulisan

  Metode penulisan yang dipakai adalah deskripstif analitis berdasarkan studi pustaka yang dilengkapi dengan penelitian yang datanya diperoleh melalui

F. Sistematika Penulisan

  Judul skripsi yang dipilih ini adalah UPAYA MENINGKATKAN

KOMUNIKASI ANTARA SUAMI

ISTRI DALAM KELUARGA

  Bab I, merupakan pendahuluan yang menguraikan latar belakang, rumusan pemasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.

  Bab II, berbicara tentang keluarga keluarga kristiani, keluarga inti, pengertian keluarga kristiani, peranan keluarga kristiani, tantangan keluarga kristiani, kunci menghadapi tantangan keluarga kristiani, pengertian komunikasi secara umum, pengertian komunikasi antar pribadi, komunikasi antara suami-istri, bahasa komunikasi, hambatan komunikasi, sikap-sikap dalam berkomunikasi, peranan komunikasi peranan komunikasi antara suami-istri.

  Bab III, berbicara tentang situasi komunikasi antar suami istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, persiapan penelitian, meliputi: Pendekatan penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden, teknik dan pengumpulan data, teknik analisis data, keabsahan data, hasil penelitian, serta kesimpulan penelitian.

  Bab

  IV, merupakan sumbangan pendampingan keluarga dalam meningkatkan komunikasi antar suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki

BAB II PENGERTIAN KELUARGA KRISTIANI DAN KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI Bab II ini berupa kajian pustaka yang akan penulis uraikan dalam dua

  bagian. Bagian pertama bicara tentang pengertian keluarga, pengertian keluarga kristiani, keluarga inti, peranan keluarga kristiani, tantangan keluarga kristiani, Kunci menghadapi tantangan keluarga kristiani. Bagian kedua bicara tentang pengertian komunikasi secara umum, pengertian komunikasi antar pribadi, komuniasi antara suami-istri, peranan komunikasi antara suami-istri, bahasa komunikasi, peranan komunikasi antara suami-istri, serta sikap-sikap dalam berkomunikasi.

A. Keluarga Kristiani

  Dalam kehidupan bermasyarakat ada berbagai macam pengertian tentang keluarga atau berbagai pengertian keluarga. Menurut Poerwadarminta (1988: 552) “Keluarga diartikan sanak saudara, kaum kerabat, orang seisi rumah.” Dengan kata lain keluarga adalah siapa saja yang tinggal di dalam lingkungan rumah tangga. Keluarga merupakan suatu unit masyarakat kecil, yang merupakan kelompok orang sebagai suatu kesatuan, yang berkumpul dan hidup bersama untuk waktu yang relatif panjang, yang terikat oleh pernikahan. Keluarga juga

  1. Keluarga Inti

  Ada dua pengertian keluarga menurut Soelaeman, (1994: 6) yaitu: “keluarga inti dan keluarga besar”. Keluarga inti merupakan persekutuan hidup mereka yang tinggal dan hidup bersama dalam rumah, yang memiliki hubungan darah dan terdiri dari, ayah, ibu, dan anak. Hubungan ini tidak terjadi secara kebetulan belaka tetapi terjadi karena adanya ikatan perkawinan, sedangkan keluarga besar meliputi semua pihak yang ada hubungan darah, yang terdiri dari ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek, nenek, cucu, mertua, ipar, keponakan. Jadi keluarga besar terdiri dari sekelompok orang yang memiliki hubungan darah dan atas dasar keturunan.

  2. Pengertian Keluarga Kristiani

  Keluarga kristiani ada karena panggilan Allah, dibentuk karena kesatuan bebas antara pria dan wanita atas dasar cinta yang melibatkan Allah. Kesatuan antara pria dan wanita bukan terjadi secara kebetulan atau melulu tindakan manusia saja melainkan juga merupakan karya Allah, maka dari itu keluarga kristiani diharapkan mampu mewujudkan cinta kasih dalam hidup berkeluarga sebagaimana cinta kasih yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia lewat Yesus PutraNya. Manusia dalam kehidupan berkeluargapun diharapkan mampu meneladan cinta kasih Allah sendiri (Purwa Hadiwardoyo, 1988: 13).

  Keluarga kristiani ada karena persatuan pribadi-pribadi dalam perkawinan Allah, yaitu Gereja maka dari itu keluarga kristiani sebenarnya turut membangun Gereja dan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari (Familiaris Consortio, 1994: 29. art. 15).

3. Peranan Keluarga Kristiani

  Sinode para uskup di Roma pada tanggal 26 september sampai dengan tanggal 25 Oktober 1980 menyampaikan “pesan kepada keluarga-keluarga kristiani sedunia

  ” bahwa penting bagi keluarga untuk memperhatikan 4 tugas umum keluarga yakni: a. Membentuk persekutuan pribadi

  Keluarga yang dibentuk dan didasarkan pada cinta kasih dan menghidupi cinta kasih merupakan persekutuan pribadi suami-istri, orang tua dan anak, serta sanak saudara. Tugas utama keluarga ialah berusaha mengembangkan, menghayati dan mewujudkan terus menerus kehidupan antar pribadi mereka yang rukun secara tulus (Familiaris Consortio, 1994: 41. art. 18). Maka pentinglah di dalam keluarga ada rasa cinta kasih. Tanpa ada perasaan cinta kasih, keluarga tidak akan dapat hidup dan berkembang sebagai persekutuan pribadi.

  Persekutuan suami-istri secara alamiah mempunyai sifat saling melengkapi, dan dikukuhkan oleh kerelaan pribadi suami-istri untuk bersama-sama mewujudkan rencana hidup mereka, sehingga mampu berbagi dalam hidup yang istri karunia persatuan cinta kasih yang tidak dapat dipisahkan dalam hidup mereka (Familiaris Consortio : 42. art. 19).

  b. Mengabdi kepada kehidupan Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranak- cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi

  ” (Kej 1:28). Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar mereka bersatu dan memanggil mereka untuk bekerjasama secara bebas dan dan bertanggung jawab untuk memelihara kehidupan. Dengan beranak- cucu dan memelihara ciptaan maka manusia yang diciptakan memenuhi panggilan Allah dan menunjukkan cinta kasih persekutuan suami-istri dengan memberikan keturunan melalui kelahiran anak.

  Kesuburan merupakan buah tanda cinta kasih suami-istri yang sejati maka diharapkan bahwa suami-istri mampu memelihara keutuhan cinta kasih itu dengan kasih yang tiada terbatas, membina kasih yang mesra dan menimba kekuatan rohani dan moral yang ditugaskan kepada suami-istri sehingga mereka mampu mengemban tugas sebagai ayah dan ibu dan kemudian diteruskan kepada anak dan melalui anak diteruskan kepada Gereja (Familiaris Consortio. art. 28).

  c. Ikut serta dalam pengembangan masyarakat. berdampingan dengan mereka sambil saling berbagi dan memperhatikan maka ada keterkaitan antara keluarga dan masyarakat karena keluarga tidak dapat hidup sendiri.

  “Karena pencipta alam semesta telah menjadikan persekutuan nikah sebagai awal dan dasar masyarakat manusia keluarga merupakan sel masyarakat yang pertama dan amat penting bagi masyarakat” (Familiaris Consortio. art. 42).

  Kutipan ini mau mengatakan, bagaimana keluarga mempunyai ikatan yang kuat lewat persekutuan suami-istri dan sekaligus merupakan unit terkecil dari masyarakat.

  d. Berperan serta dalam kehidupan menggereja.

  “Keluarga diabdikan untuk membangun Kerajaan Allah dalam sejarah dengan mengambil bagian dalam hidup dan perutusan Gereja” (Familiaris Consortio. art.

  49).

  Atas dasar ini hendaknya suami-istri sebagai pasangan orang tua, beserta anak-anak selaku keluarga, menghayati pelayanan mereka sebagai Gereja dengan memberikan diri dan meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan yang ada di sekitar mereka dengan semangat merasul dengan memberikan pelayanan kasih kepada sesama dalam hidup sehari-hari, dan dengan demikian mereka bersaksi akan imannya.

  Keempat tugas keluarga di atas menyadarkan kembali kepada suami-istri melaksanakan keempat tugas keluarga tersebut suami dan istri diajak untuk menyadari kembali nilai-nilai perkawinan dalam hidup sehari-hari sehingga dalam menjalani kehidupan berumahtangga mereka mengalami kebahagiaan yang dicita- citakan bersama dan melalui keempat tugas pastoral Gereja mereka bisa diutus untuk menghadirkan cintakasih Allah dalam hidup sehari-hari.

4. Tantangan Keluarga Kristiani

  Hidup berkeluarga tidak selamanya berjalan mulus tetapi tentu mengalami berbagai macam tantangan dan tantangan itu tidak hanya dari masyarakat di sekitar tetapi juga berasal dari keluarga inti maupun tantangan dari keluarga besar yang sering mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

  a. Tantangan dari keluarga besar Dalam nota patoral KAS (2007: 14) dikatakan bahwa: “keluarga besar sebenarnya merupakan suatu sumber dukungan dan kesejahteraan bagi keluarga inti.

  ” Maka seluruh keluarga besar dapat memberikan dukungan kepada anggotanya yang sedang berada dalam kondisi lemah secara psikis, maupun finansial dan membutuhkan penguatan dan peneguhan. Namun apa yang menjadi tanggung jawab keluarga besar ini tidaklah selalu dapat terlaksana dengan baik karena kepedulian keluarga besar dalam memberikan perhatian dapat menimbulkan salah pengertian yaitu bahwa keluarga besar dianggap terlalu b. Tantangan dari dalam keluarga inti Berdasarkan angket Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2006 nota patoral KAS (2007:15-16) terdapat tantangan dalam keluarga inti yaitu:

  a. Tantangan dalam relasi antara suami dan istri

  • Kurangnya transparansi antara suami dan istri
  • Kurangnya komunikasi antara suami dan istri
  • Kurangnya kesetiaan suami-istri terhadap pasangannya
  • Adanya kecemburuan dari suami-istri terhadap pasangannya
  • Adanya dominasi suami-istri atas pasangan
  • Adanya tindak kekerasan suami-istri terhadap pasangannya

  b. Tantangan dalam hal penghayatan iman

  • Kurang kuatnya iman semua/sebagian anggota keluarga
  • Kurangnya kemampuan orang tua dalam mengembangkan iman anak- anak mereka
  • Kurangnya kemampuan keluarga meghadapi kemajuan tekhnologi maju

  c. Tantangan dalam hal relasi antara orang tua dan anak-anak

  • Kurangnya keakraban antara orang tua dan anak-anak mereka
  • Ketidakpuasan anak-anak terhadap sikap atau kondisi orang tua mereka *Ketidakpuasan orangtua terhadap sikap atau kondisi anak-anak mereka.

  Berdasarkan tantangan keluarga inti ini maka dapat dilihat bahwa komunikasi suami-istri memegang peran penting dalam menjalin relasi dan membina keluarga yang bahagia. Dengan komunikasi yang baik maka akan tercipta keakraban antara suami-istri dan seluruh anggota keluarga, karena keakraban antara pribadi dalam keluarga turut menentukan juga kebahagiaan keluarga dimana masing-masing pribadi berusaha untuk memiliki kehendak yang kuat dan mencintai dengan tulus segenap anggota keluarga.

  Setiap tantangan dan pergulatan hidup dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis pasti dialami oleh setiap orang dan menjadi pengalaman yang menarik karena melalui pengalaman jatuh bangun menyadarkan setiap pribadi merefleksikan hidupnya untuk berkembang kearah yang lebih baik demi membangun sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera.

  Dalam mengarungi hidup berkeluarga suami-istri sering mengalami pengalaman yang pahit, pengalaman tidak setia, bosan, kekerasan yang dilakukan oleh istri atau suami, perselisihan karena kekurangan ekonomi, pendidikan anak tumpukan pengalaman ini membuat suami istri menjadi sulit untuk berkomunikasi bahkan persoalan dibiarkan menjadi berlarut tanpa ada penyelesaian dan dapat berakhir dengan perceraian. Maka pentinglah bagi suami-istri untuk memupuk sikap saling percaya, saling terbuka, saling melayani, saling setia dan saling meneguhkan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup.

  “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah memberi kesempatan kepada Iblis” (Ef 4:26-27).

  Teks ini dapat menjadi inspirasi bagi suami-istri jika berselisih paham hendaknya jangan membiarkan persoalan sampai berlarut-larut melainkan segeralah berdamai sebelum malam hari tiba. Dalam perjalanan hidup sehari-hari pasti keluarga akan mengalami perselisihan karena setiap pribadi dapat saling menyakiti perasaan namun juga perlu dapat saling menyembuhkan atau saling memaafkan.

5. Kunci Menghadapi Tantangan Keluarga Kristiani

  Untuk menghadapi tantangan dalam hidup berkeluarga diperlukan tiga keutamaan kristen ini bersumber pada penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus yang menjadi kekuatan dan penghiburan bagi keluarga dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan berpusat pada Kristus maka keluarga kristiani akan mampu menghidupi ketiga keutamaan kristiani ini dalam hidup sehari-hari, sehingga dapat menjadikan Kristus sebagai landasan dalam menghadapi tantangan.

  Suatu keluarga yang kokoh beriman kristiani hidupnya berpusat pada Kristus, maka mereka menyadari tanggung jawabnya sebagai orang kristen.

  Berkaitan dengan ini keluarga diharapkan bertindak dan hidup seturut nilai kristiani, yang diperoleh dan diperdalamnya lewat bacaan Kitab Suci dan diamalkannya dalam hidup sehari-hari.

  Pengharapan juga merupakan tanda dari orang yang beriman. Mereka berani berharap sekalipun mengalami berbagai pengalaman yang pahit. Semua itu dapat dilakukan karena kedekatan hati mereka kepada Kristus. Pengharapan akan mampu membuat seseorang bertahan dalam penderitaan, tekanan dan segala rintangan hidup. Dengan kata lain orang beriman mampu bersikap terbuka terhadap kenyataan dan pengalaman hidup yang dialaminya. Orang beriman tidak terlalu mencemaskan hari ini atau hari esok, sebab mereka merasa yakin, bahwa yang berjalan bersama Yesus senantiasa berada dalam naungan kasihNya.

  Pribadi orang beriman akan diubah dengan iman dan harapannya untuk semakin serupa dengan pribadi Kristus Sang Putera Allah. Mereka akan mampu

  Ketiga keutamaan kristiani ini perlu menjadi dasar utama bagi keluarga- keluarga dewasa ini dalam menghadapi berbagai macam tantangan dan ketiga keutamaan kristiani tersebut saling berhubungan karena mempunyai sumber yang sama, yaitu Kristus sendiri. Ketiga keutamaan ini dapat berkembang apabila hidup keluarga kristiani berpusat pada Kristus, melalui hidup doa, pendalaman iman dan pengamalan warta kitab suci, yang merupakan tanggung jawab orang kristen, dengan peduli kepada orang lain yang berkesusahan, sehingga seluruh hidupnya menampakkan tindakan yang penuh kasih. Hanya dengan demikian keluarga kristiani akan dapat menjadi terang dan garam bagi masyarakat karena telah mewujudkannya dalam hidup sehari-hari (Komkel, 1995 : 15-17).

B. Komunikasi Antara Suami-Istri

1. Komunikasi Secara Umum

  Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare,” yang berarti “membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman”(Hardjana, 2003: 10). Dengan demikian komunikasi berawal dari gagasan yang ada pada seseorang kemudian gagasan itu diolah menjadi pesan dan dikirim melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Kemudian yang menerima pesan menanggapinya dan menyampaikannya kepada si pengirim. menerima informasi .” Maka ada keterbukaan hati untuk mengungkapkan dan mendengarkan informasi.

  Lunandi (1989:47) mengatakan bahwa komunikasi adalah: “usaha manusia dalam hidup pergaulan untuk menyampaikan isi hati dan pikirannya dan untuk memahami isi pikiran dan hati orang lain.

  ” Semua pengertian komunikasi di atas mempunyai kesamaan makna yakni, suatu hal yang berhubungan dengan pesan yang dikirim, melalui media tertentu dan ada relasi timbal balik antara dua orang atau lebih. Dalam hal ini komunikasi menjadi sarana yang tepat untuk membangun relasi seseorang dengan orang lain .

  Melalui komunikasi, seseorang dapat mengenal orang lain dan juga dikenal oleh orang lain. Dengan berkomunikasi, seseorang dapat mengungkapkan pikiran-pikiran, isi hati, ide atau pendapat dan keinginannya kepada orang lain (Harjana, 2003:21)

  Adapun fungsi komunikasi bagi hidup pribadi adalah untuk mengungkapkan perasaan, menuangkan pikiran, mengoreksi orang lain, meminta maaf dan mengungkapkan keinginan seseorang pada orang lain. Dalam kaitan dengan orang lain, melalui komunikasi seseorang dapat mengenal orang lain dengan lebih baik, memiliki banyak teman, membangun kerja sama, membantu orang lain dan membagikan kasih kepada orang lain (Hardjana, 2003: 20). menanggapinya secara langsung pula seluruh proses komunikasi antarpribadi ini selalu memperhatikan keadaan lawan bicara maka dibutuhkan kerjasama yang baik dalam mengungkapkan isi hati yang satu mengungkapkan dan yang lain mendengarkan (Hardjana, 2003: 85).

  Menurut Mulyana (2001: 73) Komunikasi antar pribadi adalah “komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain baik secara verbal maupun nonverbal.” Komunikasi antar pribadi terjadi secara langsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka dan ditangkap oleh peserta dengan mengunakan ungkapan langsung maupun dengan bahasa tubuh yang menunjukan reaksi mereka terhadap apa yang diungkapkan. Dan keberhasilan dari komunikasi tersebut di tentukan oleh peserta itu sendiri dimana ada kedekatan dan hubungan yang akrab antara peserta itu sendiri.

  Komunikasi antar pribadi terjadi antara dua orang atau lebih dan terjadi secara langsung dari komunikasi pribadi ini orang dapat saling mengenal lebih dalam dan ada keakraban antara dua orang atau lebih dan diharapkan dalam proses komunikasi antar pribadi setiap pribadi mampu untuk saling mendengarkan dan ada reaksi entah dengan bahasa tubuh atau dengan kata-kata sehingga terjadi hubungan yang timbal-balik. Komunikasi antar pribadi ini melibatkan seluruh perhatian termasuk gerakan tubuh yang semuanya mengandung makna yang dapat ditangkap oleh yang mendengarkan maupun yang berbicara. Karena keberhasilan

3. Komunikasi antara Suami-Istri

  Suami-istri dalam berkomunikasi tidak pernah terlepas dari kesulitan atau kekacauan komunikasi dengan pasangan semua ini dapat terjadi karena kurang mendapat pendampingan bagaimana berkomunikasi dengan benar dan mendapat cara membangun komunikasi yang sehat. Maka, penting untuk memperhatikan prinsip-prinsip di dalam berkomunikasi yang turut menentukan keberhasilan sebuah komunikasi itu sendiri.

  Budi Abdipatra (2007: 24) m engemukakan bahwa “setiap pasangan penting memperhatikan prinsip dasar berkomunikasi

  ” seperti:

  a. Prinsip dua arah merupakan komunikasi yang sehat yang seharusnya dilakukan dua pribadi yang seorang menyampaikan suatu masalah kepada lawan bicaranya dan lawan bicaranya mengerti maksud yang disampaikan oleh pribadi yang menyampaikan masalah maka komunikasi tersebut dapat dikatakan tidak mengalami kekacauan.

  b. Prinsip sejajar berarti masing-masing pribadi yang berkomunikasi tidak merasa dirinya lebih hebat. Maka dalam komunikasi diperlukan sikap kerendahan hati sebagai kunci keberhasilan komunikasi.

  c. Prinsip mau mendengarkan dan tidak memberikan argumentasi ataupun kuliah singkat, berarti masing-masing pribadi mau memberikan telinganya untuk mendengarkan pendapat lawan bicara.

  Kemampuan dalam menempatkan diri dalam situasi dan kondisi, penting sampaikan, dan penghargaan penting dilakukan agar orang lain merasakan bahwa setiap apa yang dikatakan atau diungkapkan tidak berlalu begitu saja (Donald walters, 2002:11).

  Prinsip-prinsip komunikasi tersebut membantu suami istri bisa berkomunikasi dengan baik karena setiap pribadi diharapkan mampu memberikan diri untuk rela berbagi dan memperhatikan pasangan dalam mengungkapkan isi hatinya dan kerelaan untuk mendengarkan sangat dibutuhkan ketika pasangan mengungkapkan masalah yang dialaminya. Maka, agar mampu melaksanakannya diharapkan setiap pribadi memiliki sikap rendah hati dan kesetiaan untuk mendengarkan pribadi yang berbicara dan tidak terjadi kekacauan dalam berkomunikasi.

  Santo Yakobus mengatakan bahwa: “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata- kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak 1:19).

  Nasehat ini mengajak orang cepat tanggap dan lebih banyak mendengarkan tidak cepat untuk berbicara dan tidak cepat marah. Jadi dalam mendengarkan orang lain yang mengungkapkan isi hatinya perlu memiliki sikap yang tulus dan memberikan perhatian yang sungguh mendengarkan dengan sepenuh hati, tidak memberikan komentar atau memotong pembicaraan ketika lawan bicara sedang berbicara, yang dapat menambah sakit hati atau membakar kemarahan sehingga semakin mempersulit orang yang sedang berbicara. diungkapkan tanpa disengaja dapat membakar hati, padahal yang dibutuhkan orang saat itu adalah telinga yang bersedia mendengarkan dengan tulus, karena mendengarkan dengan tulus mampu melepaskan orang yang mengalami masalah dari rasa tertekan Budi Abdipatra (2007: 26). Jadi dalam mendengarkan lawan bicara mengungkapkan masalah yang dialaminya kehadiran orang yang mendengarkan sangat penting dengan sepenuh hati tanpa harus memberikan tanggapan yang dapat mengakibatkan orang sakit hati apa lagi kalau komentar atau tanggapanya keliru. Dengan mampu mendengarkan sepenuh hati maka seseorang atau lawan bicara dapat menolong orang yang sedang dalam kesulitan dan dapat menghibur orang lain melalui kehadirannya.

4. Bahasa Komunikasi

  Komunikasi antara suami-istri bisa terjalin dengan baik jika mereka mampu memahami bahasa komunikasi dan melaksanakanya dalam hidup berkeluarga.

  Bahasa komunikasi membantu pasangan suami-istri semakin peka terhadap maksud pasangannya dan memampukan mereka untuk menjalin relasi yang intim dengan pasangannya.

  Bahasa komuniksi Menurut Gilarso (1996: 47) ada empat dan dari empat bahasa tubuh dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu komunikasi verbal dan non verbal. hal yang dibicarakan dalam bahasa komunikasi verbal ialah: tentang pengalaman kekecewaan, soal pekerjaan, soal anak, merencanakan sesuatu dan menyelesaikan masalah yang perlu dibahas suami dan istri dengan kata lain saling bertukar pikiran (Gilarso, 1996: 47). Jadi apa yang dibicarakan dalam komunikasi tersebut adalah semua pengalaman yang dialami baik yang menggembirakan, kesulitan yang dialami atau rencana-rancana yang hendak dilakukan serta persoalan yang harus diselesaikan. Maka suami-istri perlu mengambil waktu untuk membicarakan dan mengambil waktu untuk duduk bersama membicarakannya.

  b. Komunikasi non verbal Komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan bahasa badan, bertujuan untuk mengungkapkan cinta, perhatian, dan kasih sayang, melalui: pandangan mata, senyuman, belaian tangan, duduk berdampingan, gandengan tangan, pijit- pijitan, pegang-pegangan, rangkulan, ciuman, termasuk sopan santun biasa.

  Bahasa badan ini menjadi bagian yang sangat penting untuk membangun suasana yang akrab dan mesra lepas dari hubungan seks. Bahasa badan dapat memberikan rasa aman, terlindung, dan menimbulkan rasa akrab (Gilarso, 1996: 50). Komunikasi dengan menggunakan bahasa badan lebih mengungkapkan ekspresi dan mengandung makna sekaligus sebagai ungkapan cinta kasih untuk membangun keakraban antara suami- istri.

  Sedangkan hubungan seks adalah komunikasi yang paling intim dan paling mempersatukan suami-istri dalam kasih mesra. Seks bukanlah sesuatu yang biologis yang dilakukan dengan alat kelamin, melainkan juga psikologis, emosi, semangat, dan menyangkut seluruh kepribadian yang tak dapat dipisahkan dari seluruh keadaan relasi suami-istri.

  Hubungan seks bukan hanya masalah tempat tidur melainkan masalah hubungan sepanjang hari bila hati dekat, hubungan seks juga akan memuaskan, sebaliknya jika hati tidak merasa dekat maka segala macam cara tidak akan membantu untuk mendekatkannya. Maka relasi yang baik antara suami dan istri akan membuat seks menjadi pengalaman yang indah dan membahagiakan (Gilarso, 1996: 51).

  Kedua bagian bahasa komunikasi tersebut sangat membantu suami-istri untuk menjalin relasi antara pribadi mereka dimana mereka dapat saling memahami dan berbagi pangalaman untuk mengungkap pengalaman yang mereka jumpai setiap hari dalam setiap peristiwa hidup mereka dengan ekspresi mereka masing-masing yang mendorong mereka untuk saling menciptakan suasana yang akrab dan menggembirakan maka dapat dikatakan bahwa bahasa komunikasi sangat membantu suami istri dalam berkomunikasi yang baik dan benar.

5. Sikap-sikap dalam Berkomunikasi

  Komunikasi menjadi sangat penting bagi suami-istri karena komunikasi yang baik adalah kunci kebahagiaan suami-istri. Oleh karena itu diperlukan sikap meningkatkan kualitas hubungan pribadi antar suami-istri dan semakin mempererat hubungan mereka sehingga menumbuhkan kebahagiaan (Wignyasumarta, 2000 : 71).

  a. Komunikasi yang mengena Agar komunikasi dapat menjadi lebih baik pentinglah suami-istri mengetahui dan memahami dasar komunikasi itu sendiri. Dengan memahami dasar-dasar dalam berkomunikasi diharapkan komunikasi yang dilakukan orang yang bersangkutan akan bisa terjalin dengan baik dan penuh keakraban.

  Menurut Wignyasumarta (2000: 72) komunikasi yang berhasil ditentukan oleh empat faktor yaitu: 1) Asas Kesamaan

  “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan

  .” (Flp 2 : 1-2 ). Hendaknya suami-istri sehati dan sepikiran yang berarti mempunyai kesamaan maksud dan sependapat dalam menghadapi segala macam masalah sedangkan

  “dalam satu kasih” berarti bersama-sama menghayati kasih yang sama tidak saling marah, ada kesabaran, tidak semaunya, bertindak adil, tidak cemburu, sama- sama mencari kebenaran. ”Dalam satu jiwa” berarti bersama-sama

  2) Asas kesatuam Komunikasi bisa terlaksana jika suami-istri memiliki kesamaan pengertian, kesatuan pikiran, perasaan, kemauan, cita-cita dan hati sebagaimana yang dilakukan oleh manusia pada kitab Kejadian 11 : 1-6 berikut:

  Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

  Teks ini memberi insfirasi bahwa dalam kehidupan berkeluarga pasangan suami-istri perlu mengupayakan tiga hal yakni : Kesatuan bahasa, kesatuan tempat tinggal, kesatuan tindakan. Dari kesatuan bahasa pasangan suami-istri bisa mewujudkan apa yang mereka cita-citakan dalam hidup bersama, dari kesatuan tempat tinggal pasangan suami-istri dapat semakin akrab karena suka duka yang mereka alami dan jalani bersama dalam hidup. Sedangkan dari kesatuan tindakan pasangan suami-istri dapat saling mendukung, saling melengkapi dan saling membutuhkan satu dengan yang lain.

  3) Asas Keterbukaan Salah satu hal yang ikut menentukan keberhasilan komunikasi suami-istri adalah

  ”keterbukaanketerbukaan berasal dari sikap yang tulus dan jujur yang membebaskan dari rasa curiga dan prasangka.

  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. ( Flp 2:5-8).

  Nasihat Santo Paulus ini mendorong suami-istri untuk menyatu dan mengambil sikap terbuka sepenuhnya dan memahami kepentingan pasangannya sebagai manusia dan mengambil sikap rendah hati, mau mengangkat pasangan lebih tinggi dari pada dirinya. Dengan memiliki prinsip keterbukaan maka mereka mampu mendengarkan, menerima saran, koreksi, kesediaan mendengarkan bisikan Roh Kudus, dorongan untuk minta maaf karena telah menyakiti perasaan suami atau istri, mampu menerima kritikan dari pasangan tentang apa yang belum diketahui diri sendiri (Wignyasumarta, 2000: 74).

  4) Asas Mengutamakan Pasangan ”jangan kamu didorong oleh cemburu dan gila hormat, melainkan hendaknya kamu dengan rendah hati memandang sesamamu lebih tinggi dari dirimu” ( Flp 2:3). menomorsatukan kepentingan pasangan, karena yang menjadi pusat adalah pasangannya. Maka, melalui sikap tersebut akan memampukan pasangan suami- istri memiliki cita rasa, kemauan, dan pikiran pasangan sehingga apapun yang diungkapkan dan yang dilakukan oleh pasangan dapat diterima dan dipahami dengan baik sehingga komunikasi dapat berjalan dengan mulus karena tidak mencari kepentingan diri sendiri.

  Di dalam mengembangkan komunikasi yang baik, peran dan tangung jawab suami-istri hendaknya selalu seimbang tidak ada yang saling mendominasi, keduanya saling terlibat dalam membicarakan hal yang mendukung dalam proses komunikasi dengan berusaha memperhatikan dasar-dasar dalam berkomunikasi tersebut sehingga menghasilkan komunikasi yang penuh makna dan membuahkan kegembiraan bagi suami-istri (Wignyasumarta, 2000: 75).

  b. Hambatan komunikasi mengena Di dalam berkomunikasi antara suami-istri seringkali mengalami berbagai macam hambatan namun hambatan itu penting untuk diperhatikan agar suami istri dapat melihatnya secara positif dan tidak lari dari hambatan, sehingga berani menghadapi dan mengatasi hambatan tersebut. Berbagai hambatan yang sering muncul dalam melaksanakan komunikasi yang mengena yaitu: sikap tertutup, egois, sombong, suka mempertahankan kedudukan, tujuan yang tidak searah, perbedaan bahasa, pengetahuan, pengalaman (Wignyasumarta, 2000 : 76).

  Teks ini mengajarkan kepada pasangan suami-istri untuk belajar rendah hati terhadap pasangannya dalam berkomunikasi.

  Ada begitu banyak cara yang dipakai oleh suami-istri dalam berkomunikasi yang dapat membatasi kemungkinan terjalinnya keterbukaan dan keintiman di dalam kehidupan berkeluarga, di mana suami-istri tidak bisa mengkomunikasikan banyak hal di antara mereka. Semua itu disebabkan antara lain karena baik istri maupun suami tidak pernah belajar, bagaimana seharusnya berkomunikasi, atau bisa jadi masing-masing pasangan tidak pernah memberi kesempatan kepada pasangannya untuk sungguh-sungguh berkomunikasi, bahkan cenderung menguasai pembicaraan. Sikap yang demikian sering menjadi penghalang komunikasi yang sehat antar suami-istri (Norman Wright, 2007: 125).

  Cara mengatasi penghalang komunikasi menurut (Norman Wright, 2004: 126-127)

  1) Berusahalah tetap pada topik pembicaraan semula dan menunjukkan sikap bersedia membicarakan topik tersebut pada kesempatan lain.

  ”Baiklah kita bahas masalah itu dua hari lagi, karena sebentar ini saya sudah ada janjian. 2) Jangan mengiyakan usahanya untuk mengalihkan pembicaraan tetapi temanilah dia berbicara bersama untuk mencari jalan keluar atas situasi yang sedang dia hadapi. 3) Tanggapilah sejenak topik pembicaraan yang tiba-tiba dimunculkannya, tetapi kembalilah segera ke topik semula.

  Dengan melakukan hal tersebut di atas menunjukan sikap memperhatikan lawan bicara dan usaha untuk mengerti perasaannya dengan tidak mengabaikan hal yang sebenarnya ingin dibicarakan, sehingga orang yang mengungkapkan

  Gilarso (1996: 44) mengatakan bahwa agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik dalam hidup berkeluarga, maka diperlukan suatu suasana yang mendukung antara lain:

  1) Relasi dengan suami dan istri dinomorsatukan di atas segala-galanya. hal ini terutama soal sikap mau mendengarkan, memperhatikan, menerima, mendengarkan, menyediakan waktu untuk pasangan. 2) Masalah-masalah yang menyangkut kepentingan keluarga mesti dirundingkan bersama, sampai tercapai mufakat, atau paling tidak saling pengertian. Misalnya tentang ekonomi keluarga, hubungan dengan orang tua atau keluarga, pekerjaan, pendidikkan anak, kegiatan dalam masyarakat. 3) Kunci dan syarat mutlak komunikasi adalah kerelaan dan kemampuan untuk mendengarkan, yang berarti tidak hanya membuka telinga untuk apa yang dikatakan, tetapi lebih dari itu yakni membuka hati untuk siapa ia berbicara.

  Menurut Norman Wright (2004: 146) agar komunikasi antar pribadi dalam keluarga berjalan baik, diperlukan beberapa pedoman dalam berkomunikasi antara lain:

  1. Sapalah pasangan anda setelah berpisah (meski beberapa jam) dengan senyum, kata-kata yang menyenangkan, kata-kata pujian, humor, menceritakan pengalaman yang menarik atau keberhasilan yang dicapai dalam sehari itu.

  2. Sisihkan waktu untuk beristirahat, setelah lelah bekerja atau setelah mengadakan kegiatan yang menimbulkan stres.

  3. Jangan sekali-kali mendiskusikan masalah penting atau serius yang bisa menimbulkan ketidak setujuan saat pasangan suami atau istri dalam keadaan sangat lelah, sedang emosi, tertekan, terluka, atau sakit.

  Semua pedoman komunikasi diatas jika dipahami dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari akan membantu pasangan suami-istri dalam melestarikan keharmonisan keluarga dan mencapai kebahagiaan.

6. Peranan Komunikasi antara Suami-Istri

  Peranan komunikasi antara suami-istri membantu menjalin hubungan yang lebih akrab dalam membangun hidup berkeluarga, membantu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dan mencari jalan keluar yang terbaik sehingga persoalan menjadi lebih ringan (Gilarso, 1996: 43).

  Komunikasi dapat membantu suami-istri bersikap terbuka, jujur, dan berani saling mengoreksi kesalahan, sehingga mereka dapat menjalin relasi yang lebih mendalam. Selain itu komunikasi membantu suami-istri untuk meningkatkan keharmonisan keluarga, mendorong mereka untuk peka terhadap pasangan, membantu menata kehidupan menjadi lebih baik (NormanWright, 2004: 238).

  Komunikasi membantu pasangan suami-istri, untuk tetap setia memelihara cinta kasih dan mempertahankan keutuhan perkawinan sehingga mereka mampu melewati berbagai macam tantangan dalam hidupnya (Tim Publikasi Pastoral Redemptoris, 2001: 7 ).

  

BAB III

GAMBARAN SITUASI KOMUNIKASI ANTARA SUAMI-ISTRI DALAM

KEHIDUPAN BERKELUARGA DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL,

PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA

Komunikasi antara suami-istri merupakan hal yang sangat penting

  diperhatikan dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Lewat komunikasi suami- istri akan memberikan tempat untuk saling berbagi pengalaman suka dan duka dalam hidup berkeluarga maupun pengalaman rohaninya, yang kesemuanya itu demi membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera. Komunikasi yang terjadi perlu dilandasi sikap saling terbuka, saling menghormati, mau mendengarkan antar satu dengan yang lainnya.

  Menyadari pentingnya komunikasi antara suami-istri, dalam hidup berkeluarga khususnya, dalam rangka membangun keluarga yang bahagia, maka dalam bab III ini penulis akan melakukan penelitian tentang situasi keluarga dalam menciptakan komunikasi suami-istri. Uraian ini dibagi dalam tiga bagian, pertama mengenai persiapan penelitian, yang meliputi permasalahan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan pertanyaan penelitian. Kedua mengenai metodologi penelitian yang meliputi pendekatan penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, keabsahan data, pembahasan penelitian, dan kesimpulan penelitian.

A. Metodologi Penelitian

  1. Permasalahan Penelitian

  a. Bagaimana pemahaman suami-istri tentang komunikasi antar pribadi dalam keluarga kristiani di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta?

  b. Bagaimana situasi komunikasi suami-istri dalam kehidupan berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta?

  c. Apa faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi antara suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta?

  d. Bagaimana suami-istri kristiani mengatasi persoalan komunikasi antar mereka? e. Apa usaha suami-istri kristiani dalam membangun dan melestarikan hidup berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro,

  Yogyakarta?

  2. Tujuan Penelitian

  a. Untuk mengetahui pemahaman suami-istri tentang komunikasi dalam keluarga kristiani b. Mengetahui situasi komunikasi suami-istri kristiani dalam keluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. d. Untuk mengetahui bagaimana cara suami-istri kristiani mengatasi persoalan komunikasi antar mereka.

  e. Untuk mengetahui cara suami-istri kristiani membangun dan melestarikan hidup berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

  3. Variabel Penelitian

  a. Pemahaman suami-istri tentang komunikasi

  b. Makna pentingnya komunikasi suami-istri dalam keluarga

  c. Bentuk komunikasi suami-istri

  d. Factor pendukung dan penghambat dalam berkomunikasi

  e. Usaha suami-istri mengatasi komunikasi

  f. Bentuk Pandampingan suami-istri

  4. Pertanyaan Wawancara

  a. Menurut pemahaman anda apa yang dimaksud komunikasi pribadi antara suami-istri? b. Mengapa komunikasi antara suami-istri menjadi sangat penting dalam membangun hidup berkeluarga? Apa peranannya? c. Komunikasi macam apa yang diperlukan dalam menciptakan keharmonisan keluarga? e. Menurut pengalaman anda, apakah faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi antara suami-istri? f. Bagaimana pengalaman anda mengatasi persoalan komunikasi yang terjadi antara suami-istri selama ini? g. Apa Usaha anda sebagai suami-istri kristiani dalam membangun dan melestarikan hidup berkeluarga? h. Bentuk pendampingan suami-istri macam apakah yang pernah anda ikuti selama ini? i. Pendampingan suami-istri macam apakah yang anda inginkan atau yang anda butuhkan dalam rangka meningkatkan keharmonisan dan kebahagiaan hidup berkeluarga?

  5. Manfaat Penelitian

  Memperoleh masukan guna merancang suatu program pendampingan iman untuk meningkatkan komunikasi antar suami-istri dalam hidup berkeluarga.

  6. Pendekatan Penelitian

  Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang datanya diperoleh dengan wawancara langsung dengan responden.

  Pendekatan kualitatif membantu untuk memahami perasaan orang lain, dan untuk memperoleh data dengan melaksanakan observasi serta wawancara yang

  7. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian dilaksanakan pada tanggal, 26 September -28 Oktober 2010 di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

  8. Responden penelitian

  Responden penelitian adalah suami-istri muda yang masih produktif di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta yang berjumlah 10 pasang. Alasan memilih pasangan ini adalah karena sepuluh pasangan suami-istri tersebut masih tergolong muda, yakni sekitar usia perkawinan 3, 5, 10, 13, 15, tahun yang belum banyak pengalaman dalam kehidupan berkeluarga dan rentan terhadap masalah dalam komunikasi suami- istri serta perlu mendapat pendampingan.

  9. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah dengan studi dokumen, observasi, dan wawancara. Studi dokumen yaitu suatu cara untuk memperoleh informasi bukan dari orang sebagai nara sumber tetapi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada informan dalam bentuk budaya, karya seni dan karya pikir ( Djam’an Satori, 2009: 148). Observasi ialah pengamatan langsung kepada suatu obyek yang akan diteliti (Gorys Keraf, 1980: 162). Wawancara ialah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan cara menanyakan langsung kepada orang yang akan memberikan data wawancara, dan yang berkontak langsung dengan responden atau pemberi data (Nasution, 2003: 9).

  10. Teknik Analisa Data

  Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk uraian kemudian dianalisa atau dibuat dalam laporan yang tertulis. Namun dalam membuat laporan tersebut penulis akan merangkumnya, menulis hal-hal yang penting untuk memberi gambaran yang lebih tajam agar penulis semakin memahami masalah yang sedang diteliti (Nasution, 1988: 129).

  11. Keabsahan Data

  Penelitian dinyatakan absah apabila memiliki derajat kepercayaan (credibility), maka penulis menggunakan validitas dan memberchek. Validitas adalah ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008: 267). Penulis mengusahakan agar data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh responden.

  

Memberchek adalah, proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada

  pemberi data, dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data kepada penulis. Setelah disepakati bersama para pemberi data dapat diminta untuk menandatangani sebagai bukti, bahwa peneliti telah melakukan memberchek. Apabila data yang

B. Laporan Hasil Penelitian

  1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

  a. Sejarah Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta Berdasarkan Buku Rencana Induk Strategik Pengembangan Paroki Gereja

  Kristus Raja Baciro, Yogyakarta (2004: 4-6), dapat digambarkan sejarah Paroki Kristus Raja Baciro sebagai berikut:

  Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta merupakan salah satu paroki yang berada di bawah naungan Keuskupan Agung Semarang. Pada tahun 1953 Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta merupakan salah satu kring bagian dari Paroki Santo Antonius Kota Baru, Yogyakarta. Sehubungan dengan bertambahnya jumlah umat, dan gedung gereja sudah tidak memadai lagi untuk menampung umat yang datang merayakan Ekaristi, maka kring Baciro berusaha mencari dan memiliki tempat ibadat sendiri. Kring Baciro akhirnya mendapatkan tempat di Pabrik Cerutu Taru Martani, dan diijinkan untuk merayakan Ekaristi setiap hari Minggu dan hari Raya, umat yang hadir pada saat itu sebanyak 3000 orang. Mulai saat itu kring Baciro berkembang menjadi stasi, dan yang menjadi Romo Stasi adalah Rm. De Quay, SJ.

  Pada tahun 1956 jumlah umat stasi Baciro semakin bertambah maka Rm. De Quay, SJ berinisiatif mendirikan bangunan gereja untuk menampung umat dan menjadikan Stasi Baciro sebagai paroki, dibentuklah panitia pembangunan gedung gereja dan umat mulai mengumpulkan dana. Panitia inipun disyahkan penyelenggaraan sumbangan berhadiah, pertunjukan wayang orang “Tjiptokawedar”. Dari penggalangan dana tersebut panitia memperoleh dana untuk membeli sebidang tanah di daerah Gendeng Cantel, namun karena lokasi dinilai kurang strategis, akhirnya tanah di Gendeng Cantel dijual. Pada tahun 1961 diputuskan untuk membeli tanah persawahan di Jl. Melati Wetan No.9, dan membangun gedung gereja dengan ukuran 16 x 28 m². Pada 1962 bangunan gereja tersebut selesai dibangun, dan tahun tersebut oleh beberapa tokoh pendiri disepakati sebagai tahun berdirinya paroki Baciro. Sejak saat itulah perayaan Ekaristi yang semula dilaksanakan di aula Taru Martani, pindah ke gereja Baciro dengan jumlah umat 2500 jiwa, berdasarkan data kartu paroki Desember 1962.

  Pastor Paroki Kristus Raja Baciro yang pertama ialah: Rm. JG. Stormmesand.SJ.

  Pada tanggal 27 Oktober 1963, Paroki Kristus Raja Baciro diresmikan bersamaan dengan selesainya pembangunan panti paroki. Paroki Kristus Raja Baciro berupaya memperhatikan masyarakat sekitarnya sebagai bentuk pengabdian bagi masyarakat, maka pada tahun 1964 didirikanlah sekolah Dasar Katolik Sorowajan dan di Kolombo. Setelah menjadi paroki, Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta mengalami banyak perubahan dan perkembangan, seperti: bertambahnya jumlah kring, komunitas biara, kelompok minat bakat, dan adanya pertemuan kelompok “purnaman” di kring-kring. Tidak lama kemudian nama kring diganti menjadi “lingkungan” berdasarkan pedoman keuskupan Agung Semarang (KAS) 1987. Pada tahun 2004 jumlah lingkungan paroki induk 37

  Berdasarkan pengamatan penulis dan penuturan salah satu tokoh umat di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta diperoleh keterangan tentang peristiwa mengenai renovasi gereja dan situasi umat, pasca bencana gempa bumi tanggal

  27 Mei 2006 sebagai berikut: Pada tanggal 27 Mei 2006 bangunan gereja mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan lagi. Perayaan Ekaristi maupun kegiatan peribadatan diselenggarakan di tenda selama setahun. Kegiatan-kegiatan baik di paroki maupun di lingkungan tidak berjalan dengan lancar karena umat berkonsentrasi pada perbaikan rumah masing-masing. Pada Tahun 2007 dewan paroki mulai menata kembali administrasi, laporan-laporan keuangan, pembangunan gedung gereja (relokasi), pengembangan tanah dan perintisan Stasi Florentinus Babarsari, pemekaran lingkungan dan wilayah, memperhatikan kaum muda, karyawan serta pelayanan dewan paroki dan pengurus stasi. Setelah renovasi gereja selesai, dilanjutkan dengan pembangunan pastoran dan pengembangan karya pastoral, sedangkan gedung gereja yang direnovasi akan menjadi panti paroki. Saat ini Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta sedang membangun gedung gereja yang baru, dan diharapkan gedung yang baru ini akan cukup untuk menampung umat.

  Perkembangan pembangunan gereja yang baru ini sudah mencapai 60%. Jumlah umat sampai dengan akhir 2009 adalah: 4289 jiwa berdasarkan data yang diperoleh dari sekretariat paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Pada tahun 2009 karena perkembangan umat dan luasnya wilayah paroki maka Paroki Kristus Raja

  Gregorius Kriswanto, Pr. Paroki St. Mikael Pangkalan, dengan pastor paroki Rm.Yosep Maria Bintoro, Pr.

  b. Visi dan Misi Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta Dalam Buku Rencana Induk Strategik Pengembangan Paroki Kristus Raja Baciro, (2004: 9), terdapat Visi Misi dan cita-cita paroki sebagai berikut: Visi-Misi Paroki Kristus Raja Baciro

  ”Visi Paroki Terwujudnya Paroki Kristus Raja Baciro yang inovatif dan memiliki semangat berliturgi, bersaudara dan melayani dengan menjadi saksi Kristus.”

  ”Misi Paroki Kristus Raja Baciro yaitu umat Paroki Kristus Raja Baciro semakin inovatif dalam melaksanakan panggilan dan perutusan untuk berliturgi, membangun paguyuban yang hidup dan berkembang dalam pelayanan sejati, baik dalam gereja maupun masyarakat.”

  Cita-cita Paroki Kristus Raja Baciro

  1. Umat semakin banyak yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan menggereja.

  2. Umat semakin sadar perlunya membangun hidup bersama sehingga tidak merasa sendiri dan berkembang dalam semangat persekutuan (paguyuban) serta saling meneguhkan.

  3. Umat semakin meningkat mutu dan kwalitas hidup berimannya, hingga lebih berarti bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

  4. Umat semakin peka dan peduli serta memberi perhatian serius bagi mereka yang lemah, papa, miskin, terlantar, menderita dan tersingkirkan.

  5. Umat semakin banyak yang terdorong untuk bertindak nyata seperti Tuhan Yesus sendiri dengan berbagai cara, antara lain: berdoa, mengajar, memberi makan, menyembuhkan serta menghidupkan.

  c. Gambaran Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta

  Pada awalnya Miliran merupakan satu lingkungan, namun mulai tahun 1996 pada saat Pastor FX. Wiyono, Pr menjabat sebagai pastor paroki Baciro, lingkungan ini dimekarkan menjadi tiga lingkungan dengan nama Miliran Timur, Miliran Barat dan Miliran Selatan. Pemekaran ini dilakukan karena jumlah umat semakin besar. Kemudian umat lingkungan memberi nama dengan nama pelindung Santo Andreas Rasul untuk Miliran Timur dengan jumlah umat 42 KK, 176 jiwa, Santo Simon Zelot untuk Miliran Barat jumlah umat 43 KK, 178 jiwa dan Santo Don Bosco untuk Miliran Selatan 43 KK, 182 jiwa. Ketiga lingkungan ini meskipun telah dimekarkan namun jika ada kegiatan yang diselenggarakan disalah satu lingkungan tetap saling mendukung dan umat selalu diundang untuk hadir dalam kegiatan atau misa lingkungan. Umat cukup berkembang dari tahun ketahun dengan jumlah umat akhir tahun 2009, 59 KK dengan anggota sebanyak 209 jiwa.

  Berbagai kegiatan yang bersifat rutin sudah terjadwal seperti: Pertemuan Adven, Pertemuan Prapaskah, Pertemuan Bulan Kitab Suci dan Doa Rosario pada bulan Mei dan Oktober, Sembahyangan bulanan dilakukan setiap tanggal 13, PIA setiap hari Minggu jam 16.00 sore, Ulang Tahun Lingkungan setiap tanggal 30 November, misa arwah di makam Miliran setiap bulan November yang dihadiri oleh tiga lingkungan yaitu Miliran Timur, Miliran Barat dan Miliran Selatan.

  Adapun kegiatan yang bersifat insidental di antaranya adalah: latihan koor untuk tugas gereja, sembahyangan atas permintaan keluarga, ziarah ke gua Maria. terjadwal dengan baik, namun masih banyak yang belum terlibat aktif untuk hadir dalam kegiatan karena mereka belum menyadari betapa pentingnya kegiatan tersebut untuk membina kehidupan beriman mereka. Oleh karena itu perlu kesadaran dari umat untuk terlibat dan berpartisipasi mendukung dan mewujudkan kegiatan tersebut ditingkatkan.

2. Temuan Khusus Hasil Wawancara

  Dari wawancara dengan sepuluh pasang responden diperoleh informasi sebagai berikut: a. Pemahaman keluarga tentang komunikasi antar pribadi suami-istri

  Ketika ditanya pemahaman mereka tentang komunikasi antar pribadi suami- istri, mereka mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi suami-istri merupakan ungkapan batin masing-masing yang harus diungkapkan dalam hidup sehari-hari baik itu pengalaman hidup maupun beban hidup, namun dalam mengungkapkan dibutuhkan kesediaan pasangan untuk mau mendengarkan, pernyataan dari R1 ini didukung oleh R2 , R3, R9, R10, [Lampiran : (1), (3), (5), (17), (19)]

  Lima pasang responden lain berpendapat bahwa komunikasi antar pribadi suami-istri adalah suatu proses timbal balik dimana mereka dapat saling terbuka dalam masalah rumah-tangga, masalah anak-anak, baik kekurangan maupun kelebihan. Supaya hal tersebut dapat dilakukan perlulah kerelaan hati yang mau terbuka dan berani mengungkapkan isi hati masing-masing. Pernyataan ini b. Pentingnya komunikasi dan peranannya dalam membangun hidup berkeluarga Berikut jawaban dari sepuluh pasangan responden, atas pertanyaan tentang, pentingya komunikasi dan perananya dalam membangun hidup berkeluarga. Lima responden pertama, R1, R2, R4, R6,

  R8,” mengungkapkan bahwa komunikasi itu penting karena segala sesuatu harus dibicarakan bersama dan ditanggung bersama, dicari bersama dan tidak dipikirkan sendiri, tanpa komunikasi segala sesuatu tidak lancar, dan menjadi suatu hal yang pokok dalam keluarga mereka, dan dengan komunikasi banyak hal yang dapat dibicarakan.

  Ketika ditanya apa peranan komunikasi dalam membangun hidup berkeluarga? Jawaban mereka adalah sebagai berikut: Peranan komunikasi bagi mereka adalah, membantu mengurangi beban pikiran, memampukan mereka mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka, membuat hubungan semakin erat dan membuat kokoh keluarga, semakin setia, sebagai jembatan untuk menjalin relasi yang akrab dalam hidup berkeluarga, [Lampiran : (1), (3), (7), (11), 15)] Apa yang diungkapkan oleh kelima responden pertama di atas dipertegas oleh lima responden berikut:

  R3, R5, R7, R9, R10, berpendapat bahwa bagi mereka komunikasi sangat penting karena dengan komunikasi segala permasalahan lebih mudah diselesaikan, dan membantu untuk lebih mengerti apa yang menjadi keinginan pasangan. Selain itu komunikasi memampukan mereka untuk menjaga keutuhan keluarga, bisa saling terbuka berbagi pengalaman masing-masing, dan dapat mempererat keharmonisan keluarga. Komunikasi yang terbuka dan efektif dapat menghilangkan kecurigaan dan membantu meningkatkan keakraban suami-istri, [Lampiran : (5), (9), (13), (17), (19)] c. Komunikasi yang diperlukan untuk menciptakan keharmonisan keluarga.

  Untuk menciptakan keharmonisan keluarga sepuluh responden berpendapat bahwa komunikasi yang mereka perlukan ialah: komunikasi untuk bisa saling mengerti, untuk bisa saling membantu dalam berbagai hal, karena adanya kerinduan untuk selalu bertemu dan berbicara, dapat menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Selain dari hal tersebut diatas mereka juga mengharapkan adanya komunikasi yang jujur dan terbuka yang dilandasi oleh kasih sayang, saling menghargai, setia untuk menciptakan keharmonisan dalam keluarga, [Lampiran : (1), (3), (5), (7), (9), (11), (13), (15), (17), (19)] d. Pengalaman Tentang komunikasi suami-istri yang terjadi selama ini dalam kehidupan berkeluarga.

  Ketika ditanya tentang bagaimana pengalaman komunikasi suami-istri yang terjadi selama ini dalam kehidupan berkeluarga diperoleh keterangan sebagai berikut: R1 megatakan bahwa komunikasi suami-istri yang terjadi selama ini mulai dari bangun pagi, berangkat kerja hingga pulang kerja, dan terkadang tidak bisa berkomunikasi dengan baik bergantung situasi yang sedang mereka alami

  ”Komunikasi yang kami lakukan selama ini mulai dari bangun pagi, berangkat kerja hingga pulang kerja banyak hal yang bisa kami bicarakan dan to pik pembicaraan tergantung situasi yang kami hadapi” [ Lampiran : (1), ( 5)]

  R2, R4, R5, R6, R8, R9, mengatakan bahwa komunikasi mereka selama ini tidak ada masalah, komunikasi dapat terjalin dengan baik, saling mengingatkan diantara mereka, berusaha menjaga dan mendidik anak dengan penuh perhatian, dan tanggungjawab, mereka juga berusaha untuk saling mengasihi, saling mendengarkan keluh kesah masing-masing pasangan. Bagi mereka meskipun mengalami berbagai kesulitan dalam hidup namun kalau bisa disharingkan dengan hati yang terbuka maka semua akan menjadi ringan, [Lampiran : (3), (7 ), (9), (11), (15), (17)]

  Berikut pernyataan dari R7 yang menegaskan kembali apa yang diungkapkan beberapa responden tersebut di atas tentang bagaimana pengalaman komunikasi selama ini.

  “Komunikasi antar kami suami-istri dapat berjalan dengan baik karena waktu kami masih pacaran betul-betul kami gunakan untuk saling mengenal dan memahami keunikan pribadi kami masing-masing dan itu kami gunakan sebagai modal dalam membina hidup berkeluarga saat ini, masing-masing dari kami memiliki sikap jujur, saling pengertian, sikap-sikap inilah yang kemudian kami kawinkan dan kami jadikan sebagai modal untuk membina hubungan kami. Setiap permasalahan yang kami jumpai baik itu masalah anak, sosial, ekonomi, iman, relasi dengan teman, pekerjaan selalu kami bicarakan sampai menemukan titik yang terbaik. Pengalamn-pengalaman kecil yang kami jumpai sehari-hari selalu menjadi obrolan hangat di waktu senggang kami sehingga kami yang tadinya kurang terampil dalam bercerita akhirnya menjadi suka bercerita. Itulah yang kami lakukan selama ini

  ” [Lampiran : (13)] bertengkar, semua berjalan dengan baik namun mereka belum bisa berkomunikasi sesuai dengan apa yang mereka harapkan yaitu, bisa duduk bersama dan berdiskusi, sedangkan yang mereka lakukan selama ini hanya sebatas seperlunya saja [Lampiran : (19)] e. Faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi antara suami- istri

  Menanggapi pertanyaan tentang faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi suami-istri sepuluh pasang responden memberi keterangan sebagai berikut: 1) Faktor pendukung dalam menjalin komunikasi

  Menurut pengalaman mereka faktor yang mendukung mereka dalam menjalin komunikasi ialah sikap saling terbuka diantara mereka, adanya kesabaran dari masing-masing pribadi, saling percaya, adanya cinta di antara suami-istri, saling membutuhkan, saling menerima dan mau mendengarkan saat pasangan mengungkapkan keluh kesahnya, ingat akan janji pernikahan yang pernah diucapkan, tidak egois, adanya alat komunikasi handphone yang mendukung untuk menjalin komunikasi, saling pengertian terhadap pasangan, dan saling menerima pasangan apa adanya, [Lampiran : (2), (3), (5), (8), (10), (11), (14), (16), (17), (20)] kurang efektif adalah: sikap kurang terbuka terhadap pasangan jika ada persoalan, kelelahan karena bekerja, sikap cemburu yang berlebihan, meningkatnya kebutuhan ekonomi sementara penghasilan kurang, adanya turut campur saudara dalam rumah-tangga mereka, mudah tersinggung, semua hal tersebut dapat menjadi penghambat bagi mereka untuk menjalin komunikasi yang efektif, [Lampiran : ( 2), (3), (5), (8), (10), (11), (14),(16), (17), (20)]

  Berikut ungkapan responden R3 dan R5 yang mendukung apa yang dikatakan beberapa responden di atas tentang faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi antara suami-istri

  R3 ”Pengalaman kami dalam berkomunikasi Yang mendukung kami adalah sikap sabar, mau menyapa, perhatian, ekonomi keluarga yang cukup, cinta kasih diantara kami adanya keterbukaan di antara kami dan doa menguatkan kami berdua, ingat akan janji perkawinan kami setia dalam untung dan malang. Sedangkan yang dapat menjadi penghambat yaitu sikap egois, kurang terbuka dengan pasangan jika ada persoalan, ekonomi rumah tangga yang kurang mencukupi, dan cemburu yang berlebihan

  ” [ Lampiran : (5)] R5” Pengalaman kami selama ini yang dapat menjadi pendukung kami dalam berkomunikasi adanya saling terbuka di antara kami, saling menerima, tidak saling egois, saling mendengarkan keluh kesah, sedangkan hal yang dapat menjadi penghambat bagi kami dalam berkomunikasi ialah masalah ekonomi yang membuat kami diam tidak bicara sebelum menemukan solusi ” [Lampiran : (9)] f. Pengalaman dalam mengatasi persoalan komunikasi yang terjadi antara suami- istri selamai ini.

  Tanggapan 10 pasang responden atas pertanyaan tentang bagaimana R1, R8, R9, mengatakan bahwa, jika ada persoalan yang terjadi mereka tidak langsung menyelesaikan namun setelah keadaan tenang baru salah satu di antara mereka lebih dahulu menyapa dan bertanya tentang persoalan yang terjadi, setelah mendapat jawaban atau penjelasan dari salah satu di antara mereka barulah satunya merasa lega, karena mereka telah mengetahui penyebabnya, [Lampiran : (2), (16), (18)]

  R2 berpendapat bahwa yang mereka lakukan selama ini, salah satu dari antara mereka biasanya ada yang selalu mengalah, dan menyadari kembali apa yang baru saja terjadi, [ Lampiran : (4) ] Pendapat R2 ini didukung oleh R6, Yang mengatakan bahwa:

  R6 “Yang telah kami lakukan selama ini, berusaha saling mengerti, kekurangan masing-masing, diam sebentar untuk mengoreksi diri, kemudian kami mulai bicara dan memahami keinginan masing-masing kami berusaha saling memaafkan, dan selalu ada yang mengalah di antara ka mi berdua”

  [Lampiran :(12)] R3 dan R7 mengungkapkan pengalaman mereka dalam mengatasi persoalan sebagai berikut: R3 ” Hal yang kami lakukan dalam mengatasi persoalan komunikasi selama ini ialah dengan berusaha untuk tebuka mengungkapkan perasaan kami masing-masing, berusaha untuk saling memahami, dan salah satu berusaha u ntuk menyapa pasangan.” [ Lampiran : (6)]

  R7 “ Yang kami lakukan selama ini dalam mengatasi persoalan komunikasi dengan cara mengkomunikasikan apa yang kami alami masing-masing meskipun bagi kami hal ini tidak mudah, karena kami memiliki pribadi yang berbeda, yang satu mudah berbicara yang satu pendiam, berusaha untuk peka melihat wajah pasangan, berusaha untuk saling terbuka dan pasrah dengan keadaan kami dan menyerahkanya segala sesuatu kepada campur

  R4, R5, R10 berpendapat bahwa untuk mengatasi komunikasi biasanya mereka lebih banyak diam daripada ribut atau bertengkar, tidak membiarkanya berlarut-larut, melainkan berusaha menyelesaikanya dengan segera, salah satu dari mereka berusaha untuk mendahului berbicara, dan menyadari kembali akan cinta kasih yang telah mereka bangun selama ini, [Lampiran : (8), (10), (20)]

  g. Usaha yang dilakukan sebagai suami-istri kristiani dalam membangun dan melestarikan hidup berkeluarga.

  Berikut Ungkapan 10 pasang responden ketika ditanya pengalaman mereka tentang membangun dan melestarikan hidup berkeluarga, R1, R2, R3, mereka berusaha untuk menciptakan suasana damai, masih bisa bersyukur meskipun hidup sederhana, bisa saling membantu dalam mencari nafkah, ke gereja bersama pada hari Minggu, ziarah bersama anggota keluarga, bersikap bijaksana, turut terlibat dalam kegiatan Gereja baik di lingkungan maupun di paroki, [ Lampiran : (2), (4), (6)]

  R4, R5, R6, R7, R8, R9, R10, berpendapat bahwa untuk membangun dan melestarikan hidup berkeluarga mereka berusaha untuk selalu sabar dalam hidup sehari-hari, berusaha untuk saling mengasihi, berusaha untuk saling mengingatkan, berserah satu kepada Tuhan dan setia pada janji pernikahan yang pernah mereka ucapkan dan meluangkan waktu bagi anak dan pasangan meskipun sedang dalam keadaan lelah, [Lampiran: (8), (10), (12), (14), (16), h. Bentuk pendampingan suami-istri yang pernah diikuti selama ini Dari sepuluh pasang responden yang diwawancarai tujuh responden mengatakan bahwa mereka selama ini belum pernah mengikuti pendampingan keluarga. Mereka hanya pernah mengikuti misa pasutri yang diadakan pada hari Minggu ke III, bagi mereka misa tersebut sangat berarti karena mampu meneguhkan mereka untuk tetap setia pada janji pernikahan yang pernah mereka ucapkan, [Lampiran: (2), (4), (6), (8), (10), (12), (18)] Sedangkan R7, R8, R10 mengatakan bahwa pendampingan yang pernah mereka ikuti yaitu, sharing pengalaman antara pasangan suami-istri tentang suka dan duka dalam hidup berkeluarga, sarasehan tentang kekerasan dalam rumah-tangga (KDRT) dan tentang hukum perkawinan, [Lampiran : (14), (16, (20)] i. Pendampingan suami-istri yang diperlukan dalam rangka meningkatkan keharmonisan dan kebahagiaan hidup berkeluarga.

  Menanggapi pertanyaan tentang pendampingan yang mereka perlukan dalam membangun hidup berkeluarga berikut jawaban 10 pasang responden.

  Pendampingan yang mereka butuhkan ialah pendampingan yang dapat mendengarkan keluh-kesah mereka, pendampingan yang jujur dan bijaksana.

  Selain itu mereka mengharapkan pendampingan yang dapat mengembangkan iman keluarga, pendampingan yang dapat menolong mereka untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Mereka juga berharap ada suatu kegiatan yang ringan-

C. Pembahasan Penelitian

  Pembahasan penelitian ini memberikan uraian tentang komunikasi antar pribadi suami-istri dalam keluarga kristiani, situasi komunikasi suami-istri dalam keluarga kristiani, faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi antar suami-istri, cara suami-istri kristiani mengatasi persoalan komunikasi antar mereka, cara suami-istri kristiani membangun dan melestarikan hidup berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

  1. Pemahaman suami-istri tentang komunikasi antar pribadi dalam keluarga kristiani.

  Dari data temuan diketahui bahwa, pasangan suami-istri telah memahami arti komunikasi antar pribadi yang merupakan suatu proses timbal balik antara dua orang dimana mereka dapat saling memberi informasi atau isyarat sehingga, keduanya saling mengerti apa yang menjadi keinginan masing-masing. Dan syarat agar komunikasi itu dapat terjalin dengan baik hanyalah apa bila mereka dapat saling terbuka mengungkapkan isi hatinya. (Gilarso, 1996 : 44). Apa yang diungkapkan oleh pasangan suami-istri tersebut telah mereka laksanakan dalam hidup sehari-hari.

  2. Situasi komunikasi suami-istri kristiani dalam keluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. kenyataan mereka telah berusaha untuk mengatasi berbagai persoalan dengan cara saling mengasihi, saling menyapa, saling menerima apa adanya, saling berbagi pengalaman suka dan duka yang dialami, berusaha untuk saling memaafkan, dan berusaha setia terhadap pasangan. Namun tidak jarang pula mereka saling mendiamkan jika tidak menemukan jalan keluar.

  3. Faktor yang mendukung dan menghambat dalam menjalin komunikasi antar suami-istri dalam keluarga kristiani di Lingkungan Andreas Rasul Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta

  Dari hasil temuan diketahui faktor yang mendukung mereka dalam menjalin komunikasi antar pribadi suami-istri, yakni sikap saling terbuka, saling percaya, adanya cinta antara suami-istri, tidak egois, mau mendengarkan pasangan, memahami pasangan dan mengkomunikasikan segala sesuatu kepada pasangannya. Apa yang diungkapkan oleh pasangan suami-istri diatas telah dilakukan dalam hidup sehari-hari sesuai dengan situasi yang mereka alami.

  Diketahui dari hasil temuan data, bahwa faktor yang menghambat dan sering terjadi dalam hidup sehari-hari adalah: Adanya kurang percaya terhadap pasangan, egois, kurang perhatian terhadap pasangan, cemburu yang berlebihan serta kelelahan karena bekerja. Mereka menyadari, bahwa pemahaman akan apa yang diketahui sebagai penghambat dapat membantu mereka untuk merefleksikan sikap-sikap mereka sebelumnya sebagai usaha untuk selalu memberikan yang

  4. Cara suami-istri kristiani mengatasi persoalan komunikasi antar mereka.

  Hasil temuan menunjukan bahwa, pasangan suami-istri telah berusaha mengatasi persoalan komunikasi sebisa mereka. Mereka selalu berusaha menciptakan suasana yang damai, berusaha mengalah terhadap pasangan, mencoba memahami pasangan, saling memaafkan, berusaha untuk selalu menyapa pasangan dan mensharingkan pengalaman yang dialami kepada pasangannya. Mereka sadar bahwa hidup berkeluarga tidaklah selalu mengalami hal yang baik-baik saja, tentulah akan mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan juga. Mereka yakin bahwa pengalaman suka duka yang mereka alami dalam hidup sehari semakin memampukan mereka untuk berusaha membina keluarga yang lebih baik lagi, dan setiap pasangan mempunyai cara dan keunikan mereka masing-masing dalam mengatasi persoalan komunikasi.

  5. Cara suami-istri kristiani membangun dan melestarikan hidup berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta

  Cara yang dilakukan oleh pasangan suami-istri dalam membangun dan melestarikan hidup berkeluarga di Lingkungan Andreas Rasul adalah: Berusaha untuk menciptakan suasana damai dalam keluarga, bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang mereka jalani dan berusaha untuk dapat terlibat dalam kegiatan yang ada di lingkungan maupun di paroki serta dapat menghadiri perayaan Ekaristi pada hari minggu bersama-sama dan, menyerahkan keluarga kepada

  6. Pendampingan iman yang diharapkan oleh responden.

  Dari hasil temuan data diketahui bahwa, setelah mereka menikah hanya tiga responden yang pernah mengikuti pendampingan suami-istri. Pendampingan yang mereka ikuti itu dalam bentuk sarasehan yang diselenggarakan oleh paroki sedangkan tujuh responden lain mengungkapkan bahwa, mereka belum pernah mendapat pendampingan lagi setelah menikah. Mereka hanya mengikuti misa pasutri setiap bulan pada Jumat ketiga di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.

  Mereka berusaha untuk bisa hadir dalam misa tersebut karena, melalui misa tersebut mereka merasa diteguhkan kembali.

  Dari temuan data diketahui bahwa pasangan suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta membutuhkan suatu pendampingan yang dapat mendengarkan keluh-kesah mereka, serta pendampingan yang jujur dan bijaksana. Selain itu mereka mengharapkan adanya pendampingan yang dapat mengembangkan iman keluarga, pendampingan yang dapat menolong mereka dalam mengatasi persoalan dalam hidup sehari-hari. Sehingga dari kegiatan Pendampingan Iman tersebut pasangan suami-istri semakin mampu menciptakan keluarga yang bahagia.

D. Kesimpulan Penelitian

  Para suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta telah berusaha menjalin komunikasi antar pribadi suami-istri dalam

  Meskipun dalam keseharian mereka sibuk bekerja namun mereka tetap berusaha meluangkan waktu untuk menyapa, membicarakan segala sesuatu yang akan dilakukan, saling berbagi pengalaman yang dialami masing-masing baik itu di tempat kerja maupun di rumah sehingga apa yang dirasakan berat dapat menjadi ringan dan mampu mengalami kebahagiaan bersama.

  Bagi pasangan suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta persoalan yang dialami tidak akan selesai jika dibiarkan berlarut atau saling mendiamkan. Untuk itu suami-istri perlu saling membuka hati, berani bertanya dan menyapa supaya menemukan jalan keluar bagi persoalan yang mereka hadapi dalam hidup sehari-hari. Meskipun pasangan suami-istri telah berusaha mengupayakan berbagai macam cara agar komunikasi bisa efektif namun mereka masih membutuhkan pendampingan agar mereka dapat menyadari kembali komunikasi yang telah mereka lakukan selama ini dan mampu melaksanakanya dalam hidup sehari-hari.

  Pendampingan yang mereka perlukan adalah pendampingan dengan pendekatan personal maupun bersama demi terciptanya keluarga yang harmonis.

  Untuk itu mereka perlu orang yang dapat membimbing, mendengarkan keluh kesah dan menolong mereka jika mereka mengalami kesulitan dalam mengatasi berbagai macam tantangan yang dihadapi. Lewat pendampingan iman akan membantu mereka semakin menemukan makna dari komunikasi yang telah mereka bangun selama ini sehingga mereka semakin mampu untuk meningkatkan

  

BAB IV

PENDAMPINGAN KELUARGA KRISTIANI GUNA MENINGKATKAN

KOMUNIKASI DAN RELASI PRIBADI PARA SUAMI-ISTRI KATOLIK

DI LINGKUNGAN ANDREAS RASUL,

PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO, YOGYAKARTA

Dalam bab IV ini penulis membuat usulan program pendampingan bagi

  pasangan suami-istri katolik di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta berdasarkan hasil penelitian untuk membantu mereka lewat kegiatan pendampingan ini. Bab IV ini terdiri dari 5 bagian meliputi: Pendampingan keluarga kristiani, Program pendampingan keluarga kristiani, Catatan untuk pelaksanaan Pendampingan keluarga kristiani, Penjabaran pendampingan keluarga kristiani dan Contoh persiapan pendampingan keluarga kristiani.

A. Pendampingan Keluarga Kristiani

1. Pengertian Pendampingan

  Poerwadarminta (2006:261) mengungkapakan kata pendampingan berasal dari kata ”damping” yang berarti dekat, rapat, karib, kata pendampingan juga berasal dari kata kerja “mendampingi”. Mendampingi merupakan suatu kegiatan menolong orang lain yang karena sesuatu sebab perlu didampingi sedangkan proses dari kegiatan pendampingan ini saling berbagi, saling membuka diri dan saling meneguhkan (Van Beek, 2006: 7).

2. Pendampingan Keluarga Kristiani

  Pendampingan keluarga kristiani merupakan usaha yang dilakukan oleh Gereja untuk menyertai keluarga dalam mengemban tugas mereka sebagai “garam dunia” di tengah arus jaman ini. Menjadi garam dunia berarti keluarga menghadirkan cinta kasih, damai sejahtera, saling mengasihi dalam keluarga, rela berkorban dan berbagi kasih dengan anggota keluarga maupun dengan sesama (Purwa Hadiwardoyo, 2002: 50).

  Pendampingan keluarga kristiani menurut Nota Pastoral 2007: 3 adalah usaha Gereja untuk membantu keluarga-keluarga kristiani dalam menghadapi tantangan-tantangan jaman ini dan mampu mengalami kasih Kristus dalam hidup mereka. Pada Tahun 2007 secara khusus Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang memberi himbauan untuk lebih memperhatikan kehidupan beriman keluarga-keluarga kristiani. Himbauan dalam Arah Dasar keuskupan Agung Semarang Tahun 2006-2010 tersebut berbunyi:

  “, Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang berjuang mengatasi korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan hidup, umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil (bdk.Mat 5-7). Habitus baru dibangun bersama-sama; dalam keluarga dengan menjadikannya basis hidup beriman; dalam diri anak, remaja, dan kaum muda dengan melibatkan mereka untuk mengembangkan umat; dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan memberdayakannya”. pertama-tama perlu dibangun di dalam keluarga, agar kemudian juga dapat terbangun di lingkungan-lingkungan, di wilayah, dan di paroki.

B. Program Pendampingan Keluarga Kristiani

  1. Pengertian Program

  Menurut kamus besar bahasa Indonesia, program dimengerti sebagai rancangan mengenai asas-asas dengan usaha-usaha (dalam perekonomian, ketatanegaraan, dan sebagainya) yang akan dijalankan (Poerwadarminta 2006: 261). Maka dalam menyusun suatu program pendampingan iman penulis perlu memperhatikan hal-hal pokok seperti tujuan pokok pendampingan, materi yang akan disampaikan, bentuk pendampingan yang akan dilaksanakan, serta metode pemrosesannya. Selain itu dalam menyusun program perlu juga memperhitungkan tempat pelaksanaan, waktu pendampingan, kebutuhan peserta, keadaan peserta. Perhitungan ini semua akan memudahkan pendamping dalam menyusun program dan melaksanakan program itu sendiri (Suhardiyanto, 2008: 1-2).

  2. Pemikiran dasar Program Pendampingan Keluarga Kristiani

  Dari hasil penelitian, penulis menemukan kenyataan bahwa suami-istri telah cukup memahami arti komunikasi antara suami-istri, dan telah melakukanya dalam hidup sehari-sehari dengan cara menceritakan pengalaman yang mereka alami, meluangkan waktu untuk saling mendengarkan pasangan.

  Suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja, Baciro, Yogyakarta menyadari bahwa mereka juga berusaha menciptakan kebahagiaan untuk mulai menyapa jika terjadi kesalahpahaman. Semua ini menjadi pendukung dalam menjalin komunikasi dan relasi yang akrab antar pribadi mereka. Apa yang telah diusahakan oleh pasangan suami-istri tersebut di atas tidak selalu mudah untuk dilakukan mereka mengalami juga kesulitan-kesulitan untuk melaksanakannya

  Mereka menyadari, bahwa hidup di tengah arus jaman yang menantang ini tidak cukup hanya berbekal kekuatan materi dan menghadapi persoalan itu sendirian. Masih perlu teman yang dapat diajak untuk bisa berbagi pengalaman yaitu dengan pasangan suami-istri masing-masing. Oleh karena itu, mereka memerlukan pendampingan yang memungkinkan mereka mengungkapkan keluh kesah mereka, pendampingan dimana pasangan dapat saling terbuka untuk mendengarkan dan mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Setelah kegiatan pendampingan diharapkan mereka semakin mampu menjalin komunikasi dan mengembangkan relasi akrab mereka dengan pasangan masing-masing dalam membangun keluarga yang membahagiakan dan sejahtera serta melestarikannya dalam hidup sehari-hari mereka.

  Selama ini tidak semua suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja, Baciro, Yogyakarta dapat mengikuti pendampingan yang diselenggarakan oleh paroki, bahkan ada juga yang setelah menikah tidak pernah mengikuti kegiatan pendampingan sama sekali. Adapun alasan yang dikemukakan adalah waktunya kurang cocok dan kesibukan harian yang sulit untuk dengan kegiatan para keluarga kristiani di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja, Baciro, Yogyakarta.

3. Tujuan Program Pendampingan Keluarga Kristiani

  Peserta mengharapkan adanya pendampingan yang dapat menolong mereka menemukan solusi dalam menghadapi persoalan komunikasi suami-istri, sehingga mereka dapat saling berbagi perasaan dan pengalaman dalam hidup berkeluarga guna menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera, serta pendampingan yang dapat mengembangkan iman mereka.

  Menanggapi kebutuhan mereka untuk didengarkan saling bisa membuka hati dan mengungkapkan perasaan (Masalah mereka masing-masing dalam hidup sehari-hari), maka tujuan Program Pendampingan ini adalah, peserta mendapatkan kelegaan dan mengalami rasa lebih ringan dari beban hidupnya, sehingga mereka lebih siap menerima masukan baru untuk dapat memperkembangkan iman dan pribadi suami-istri dalam komunikasi dan relasi.

  

4. Tema dan Judul yang Mendukung Tujuan Program Pendampingan

Keluarga Kristiani

  Tema yang akan disajikan penulis pada program pendampingan keluarga kristiani nanti ialah: Membangun komunikasi yang mendalam antar pribadi suami-istri. Tema ini merupakan tema umum yang akan dijabarkan lagi menjadi empat judul pertemuan yaitu: Judul yang pertama, Suka duka suami-istri dalam masing-masing sebagai citra Allah yang diciptakan sebagai citra Allah yang diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, dan judul yang keempat, Menjadi suami-istri yang komunikatif dan intim. Waktu pelaksanaan pendampingan ini akan dilaksanakan dalam satu hari yang waktunya dapat disesuaikan dengan kegiatan yang ada di Lingkungan Andreas Rasul Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Kegiatan ini akan dimasukkan ke dalam agenda kegiatan lingkungan dan baru pertama kali akan dilaksanakan di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Penjabaran program pendampingan keluarga ini adalah sebagai berikut:

C. Penjabaran Program

  TEMA : Membangun komunikasi yang mendalam antar pribadi suami-istri TUJUAN : Melalui pendampingan ini para suami isteri bias mendapatkan kelegaan dan mengalami rasa lebih ringan dari beban hidupnya, sehinga mereka lebih siap menerima masukan baru untuk dapat memperkembangkan iman dan pribadi suami-istri dalam komunikasi dan relasi.

  No Tujuan

  Pertemuan Tujuan

  Pertemuan Materi Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

  1 Suka duka suami-istri dalam melestarikan keharmonisan keluarga

  Peserta mampu mengungkapkan perasaannya kepada pasangan masing-masing sehingga mendapat kelegaan dan semakin siap untuk membuka hati dan pikiran untuk menerima masukan pendampingan.

   Pengalaman berkomunikasi dan berelasi narasumber dalam upayanya melestarikan keharmonisan keluarganya.

   Pengalaman berkomunikasi dan berelasi peserta sebagai pasangan suami istri dalam upaya mereka melestarikan keharmonisan keluarga masing- masing  Usaha masing- masing narasumber sebagai pasangan suami istri dalam menciptakan keharmonisan dalam keluarga  Cara pasangan suami-istri dalam menciptakan keharmonisan dalam keluarga  Perlunya untuk selalu saling menyesuaikan diri terus menerus kepada pasangan masing-masing.

   Nyayi  Sharing narasumber  Sharing pasangan suami-istri  Tanya jawab  Pleno  Peneguhan  Text Lagu “Hari ini kurasa Bahagia”

   Teks Petayaan penuntun  Kertas hvs  Kertas flep,  spidol

   Pengalaman Narasumber  Pengalaman peserta  Kumpulan lagu-lagu, 1986 no.38. Pankat Keuskupan SIntang

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

  3 Menyadari diri dan pasangan masing- masing sebagai citra Allah yang diciptakan sebagai laki- laki dan perempuan.

  69  Pengalaman peserta

  “Pada awal mula dunia”  Jakarta: 1994.

   Ceramah  Sharing masing- masing pasangan tentang kegemaran serta yang tidak disukai oleh masing-masing  Peneguhan  Teks Kitab Suci  Teks lagu

   Manusia diciptakan sebagai citra Allah  Memelihara ciptaan dalam memelihara dan mendidik anak  Memelihara keutuhan ciptaan dengan melestarikan dan mengembangkan keluarga

   Ciri laki-laki dan perempuan  Sifat dan kegemaran pasangan, (hal-hal disukai), dan yang tidak disukai oleh pasangan masing- masing

   Kejadian 1:26- 27, 2:15

  Peserta mampu saling memahami kekhasan masing-masing, termasuk juga perbedaannya, sehingga masing-masing bias lebih saling menerima dan saling melengkapi sebagai laki-laki ataupun perempuan

  Suhardiyanto, SJ. Tentang gurunya di SMA

  2 Saling menghadirkan kembali pengalaman sebagai kekasih

  65  CD lagu nostalgia  Cerita dari Rm.

   Teks petanyaan penuntun  Teks cerita  Tape recorder  PML. MB. No.

   Teks lagu “Balada hidup berdua”

   Sharing hasil refleksi tiap pasangan suami- istri kepada pasangan-pasangan lain dalam kelompok  peneguhan

   Bernyayi  Penyajian Kisah  Pendalaman kisah dengan pertanyaan penuntun  Refleksi pasangan.

  Kisah pasangan suami-istri Subiyat, yang setiap tahun selalu mengupayakan rekreasi hanya berdua sebagai kekasih dan sengaja tidak mengajak anak-anaknya, agar masing-masing, dapat mengalami kembali satu sama lain sebagai kekasih.

  Kisah pasangan suami-istri Subiyat dalam melestarikan keakraban mereka sebagai kekasih.

  Peserta mampu menciptakan keakraban mereka sebagai kekasih.

LAI  PML. MB. NO.

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)  Kertas Flep  Hand out  Spidol  Norman Wright.

   Kesediaan mendengarkan pasangan  Perhatian kepadamimik pasangan, yang mungkin butuh untuk didengarkan.

  66  Jakarta: 1994

   Teks lagu “Madah Kasih”  PML. MB. No.

  1Kor 13:4-7

   Peneguhan  Teks Kitab Suci

  1Kor 13:4-7  Refleksi pribadi  Diskusi dalam kelompok para pasangan suami- istri.

   Pembacaan kutipan teks Kitab Suci 1Kor 13:4-7  Pendalaman teks

   Kesediaan untuk selalu menyapa pasangan dengan ramah.

  2004: 151-160  Wignyasumarta. 2000:127-136

   Pendalaman teks Kitab SUci

   Ciri-ciri kasih menurut 1Kor 13:4-7  Menemukan upaya bersama guna menjaga komunikasi, guna melestarikan keintiman relasi antar mereka sebagai suami- istri

  1Kor 13:4-7

   Teks

  Peserta mampu majaga dan melestarikan komunikasi antar mereka yang semakin membaik sehingga hubungan merekapun semakin intim

  4 Menjadi suami-istri yang komunikatif dan intim

  LAI  Pengalaman peserta

1. Catatan Atas Program Pendampingan

  Pendampingan keluarga kristiani ini akan dilaksanakan bagi pasangan suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Keseluruhan pendampingan iman ini akan dilaksanakan dalam satu hari pada suatu hari Minggu. Diharapkan berkat pertemuan pendampingan ini, para suami-istri mendapat penyegaran dan mampu menjalin komunikasi dan relasi dengan lebih baik, lebih akrab dan semakin termotivasi untuk selalu berusaha menjaga dan melestarikan komunikasi yang harmonis sesuai dengan situasi hidup masing-masing.

  Diharapkan dengan program pendampingan keluarga kristiani dan penjabarannya ini, para pengurus Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta terbantu dalam melaksanakan pendampingan sehari ini. Diharapkan proses pendampingan dapat berjalan dengan lancar dan bisa menjawab kebutuhan peserta. Pendampingan ini akan ditutup dengan pendalaman iman bersama, guna merefleksikan seluruh proses pendampingan, agar apa yang telah dialami dalam proses pendampingan bisa mengendap pada diri peserta dan tidak berlalu begitu saja, sehingga dari pendampingan keluarga kristiani sehari ini para peserta dapat benar-benar makin menemukan makna yang sungguh berkesan dan dapat mewujudkan niat-niat baru dalam membangun kehidupan berkeluarga serta mampu membina kehidupan beriman dengan lebih baik. Pendampingan keluarga kristiani semacam ini hanya diadakan sekali dalam setahun mengingat

  2. Persiapan pendampingan pertama Judul Pertemuan : Suka duka suami-istri dalam melestarikan keharmonisan keluarga Tujuan Pertemuan : Peserta mampu mengungkapkan perasaannya kepada pasangan masing-masing sehingga mendapatkan kelegaan dan semakin siap untuk membuka hati dan pikiran untuk menerima masukan dari pendampingan

  Pelaksanaan : Pada suatu hari Minggu Waktu : 8.00-10-30. WIB Materi : Pengalaman berkomunikasi dan berrelasi nara sumber dalam upayanya melestarikan keharmonisan keluarganya

  : Pengalaman berkomunikasi dan berrelasi peserta sebagai pasangan suami-istri dalam upaya mereka melestarikan keharmonisan keluarga masing-masing keluarga.

  : Cara para pasagan suami-istri dalam menciptakan keharmonisan dalam keluarga.

  : Perlunya untuk saling menyesuaikan diri terus menerus kepada pasangan masing-masing.

  Metode Nyanyi, sharing nara sumber, sharing pasangan suami- istri, sharing pasangan-pasangan suami-istri, tanya jawab pleno, peneguhan.

  Sarana : Teks lagu “ Hari ini kurasa bahagia” teks pertanyaan penuntun, kertas hvs, kertas flep, spidol

  Sumber Bahan Pengalaman nara sumber, pengalaman peserta, buku kumpulan lagu-lagu Pankat Keuskupan Sintang.1986.no.36

  a. Pemikiran Dasar Suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro persoalan yang dihadapi, kurangnya kesediaan untuk mendengarkan pasangan masing-masing sehingga persoalan-persoalan sulit untuk diselesaikan dan akhirnya bahkan menjadi tambahan beban dalam hidup mereka. Maka pentinglah pasangan suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta meluangkan waktunya untuk menimba pengalaman dari pasangan dari luar Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro dalam usahanya untuk bisa mengungkapkan perasaan masing-masing kepada pasangannya.

  Dengan memanfaatkan pengalaman pasangan suami-istri nara sumber, diharapkan pertemuan ini dapat membantu pasangan suami-istri Lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta untuk dapat belajar lebih terbuka, bisa saling mengungkapkan perasaannya, saling mendengarkan, sehingga mereka dapat merasa lega, merasa ringan, dan lebih siap menerima masukan baru dari pendampingan selanjutnya.

  b. Proses pendampingan 1) Pengantar

  Selamat pagi Bapak-Ibu, selamat datang semuanya dan terima kasih atas kesediaan Bapak-Ibu, yang telah meluangkan waktunya untuk hadir dalam kegiatan pendampingan ini. Dalam proses kegiatan ini nanti Bapak-Ibu, akan mendengarkan sharing nara sumber, suka duka mereka dalam melestarikan keharmonisan keluarga. Selanjutnya Bapak-Ibu juga akan mendapat kesempatam

  2) Doa Pembukaan Terima kasih ya Bapa, berkat kemurahan rahmat-Mu, kami dapat berkumpul di sini untuk saling membuka hati dan berbagi pengalaman yang berguna bagi kehidupan berkeluarga kami. Bapa yang baik, pertemuan ini hanya dapat berhasil dengan baik bila mendapat rahmat-Mu. Bimbinglah kami ya Bapa, agar kami dapat mengikuti kegiatan ini sebaik mungkin. Semua ini kami mohon demi PuteraMu, Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

  3) Sharing pengalaman nara sumber Bapak, ibu pada kesempatan ini kita akan mendengarkan sharing dari nara sumber tentang usaha masing-masing nara sumber sebagai pasangan suami-istri dalam menciptakan keharmonisan dalam keluarga mereka. Namun sebelum kita mendengarkan sharing dari nara sumber marilah kita menyan yikan lagu “ Hari ini kurasa bahagia” bersama-sama.

  Bapak, ibu kita telah bernyanyi bersama dan sekarang saatnya kita mendengarkan pasangan nara sumber untuk membagikan pengalamannya. Baik saya perkenalkan Bapak-Ibu nara sumber ini, yang telah sudi hadir bersama kita. Nama Bapak-Ibu nara sumber ini : Heribertus Sukimin dan Margaretha Mardiyanti HUT perkawinan mereka : 15 Agustus

  Kegiatan sehari-hari: Bapak pensiunan dan kegiatan harian mengurus rumah membantu ibu dan sebagai ketua Lingkungan Don Bosco, Ibu sehari-harinya sebagai ibu rumahtangga dan aktif dalam kegiatan di Lingkungan maupun di Paroki kedua-duanya sama-sama aktif dalam kegiatan baik di lingkungan maupun di paroki demikian perkenalan singkat waktu dan tempat saya serahkan kepada Bapak-Ibu nara sumber.

  a) Kisi-kisi/ butir-butir pokok sharing (1) Pengalaman nara sumber sebagai pasangan suami-istri menjalani kehidupan pada tahun pertama perkawinan (2) Pengalaman komunikasi nara sumber sebagai pasangan suami-istri setelah melewati tahun pertama, kedua, ketiga dalam perkawinan (3) Pada usia perkawinan nara sumber yang ke berapa, nara sumber mulai mendapat persoalan serius dalam kehidupan bersama sebagai suami istri dan cara nara sumber mengatasi persoalan dalam hidup bersama tersebut. (4) Upaya yang telah dilakukan oleh nara sumber sebagai pasangan suami-istri agar hubungan dalam keluarga mereka tetap harmonis.

  (5) Pengalaman nara sumber sebagai pasangan suami-istri dalam upaya mengembangkan dan melestarikan iman kristiani dalam keluarga.

  (6) Pengalaman nara sumber sebagai pasangan suami-istri menghadapi kebosanan dalam kehidupan berkeluarga. Cara nara sumber sebagai pasangan suami-istri untuk dapat bertahan dalam situasi seperti itu dan hal-

  4) Tanya jawab peserta dan nara sumber Bapak-Ibu tadi kita telah mendengarkan sharing pengalaman nara sumber tentang usaha masing-masing nara sumber sebagai pasangan suami-istri dalam menciptakan keharmonisan dalam keluarga, mungkin setelah mendengarkan sharing tadi ada sesuatu yang ingin ditanyakan yang semakin membantu bapak, ibu semua untuk semakin diperkaya oleh pengalaman kedua nara sumber kita ini untuk itu kami persilahkan untuk bertanya 5) Sharing pengalaman peserta dengan pasangannya

  Bapak-Ibu yang terkasih setelah kita mendengarkan sharing dari nara sumber, dan mendapat kesempatan bertanya berbagai macam hal maka Bapak-Ibu akan bersama dalam pasangan suami-istri masing-masing. Sebelum Bapak-Ibu masuk ke dalam sharing, akan dibagikan pertanyaan penuntun yang diharapkan dapat membantu Bapak-Ibu dalam proses sharing tersebut, baik itu dengan pasangan sendiri maupun nanti dalam kelompok yang lebih besar bersama pasangan-pasangan yang lain. Hal pokok yang Bapak-Ibu sharingkan dengan pasangan itulah yang nantinya akan disharingkan dalam kelompok yang lebih besar kepada pasangan-pasangan yang lain.

  6) Pertanyaan penuntun (1) Sejauhmana Bapak-Ibu masing-masing telah berusaha menciptakan keharmonisan dalam keluarga?

  (3) Hal-hal apa sajakah yang Bapak-Ibu lakukan dalam meyesuaikan diri dengan pasangan ? 7) Sharing pangalaman pasangan-pasangan suami-istri

  Bapak-Ibu setelah kita menggali pertanyaan dengan pasangan kita masing- masing, maka pada kesempatan ini pula kita akan sharing kepada pasangan- pasangan lain dalam kelompok yang lebih besar. Bapak-Ibu akan dikelompokkan menjadi dua kelompok yang anggotanya terdiri dari lima pasang suami-istri dan harap pokok-pokok dari sharing Bapak-Ibu nantinya ditulis dalam kertas flep, silahkan salah satu dari anggota kelompok membacakan pokok-pokok penting dari sharing tadi.

  8) Gagasan peneguhan Bapak-Ibu yang terkasih kita telah bersama-sama saling membuka diri dan hati untuk berbagi pengalaman, baik itu pengalaman dari nara sumber, pengalaman pasangan masing-masing maupun pangalaman dari pasangan- pasangan yang hadir. Bapak-Ibu telah berusaha untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup berkeluarga dengan cara masing-masing, meskipun upaya yang dilakukan tidak selalu berhasil namun keinginan untuk selalu berusaha dan mencoba selalu Bapak-Ibu lakukan. Hal ini menunjukkan, betapa Bapak-Ibu sangat menginginkan kebahagiaan dalam keluarga. Kita berharap agar

  3. Persiapan pendampingan kedua Judul Pertemuan : Saling menghadirkan kembali pengalaman sebagai kekasih Tujuan Pertemuan : Peserta mampu menciptakan keakraban dengan pasanganya Waktu : 10.30 - 12.30. WIB.

  Materi pertemuan Kisah Pasangan Suami-istri Subiyat dalam melestarikan keakraban mereka sebagai kekasih Uraian Materi : Kisah Pasangan Suami-istri Subiyat, yang setiap tahun selalu mengupayakan rekreasi hanya berdua sebagai kekasih dan sengaja tidak mengajak anak-anaknya, agar masing-masing dapat mengalami kembali satu sama lain sebagai kekasih.

  Metode : Bernyanyi, penyajian kisah, pedalaman kisah dengan pertanyaan penuntun, refleksi pasangan, sharing hasil

  Sarana : Teks lagu, teks pertanyaan penuntun, teks cerita, tape recorder Sumber Bahan :PPML. MB. N0. 65, CD lagu Nostalgia, Cerita dari Rm.

  Suhardiyanto, SJ. tentang gurunya di SMA

  a. Pemikiran Dasar Para suami-istri di Lingkungan Andreas Rasul paroki Kristus Raja

  Baciro,Yogyakarta telah menjalani kehidupan berkeluarga selama 3, 5, 8, 10 dan 15 tahun. Tentunya mereka pernah melewati saat indah sebagai kekasih, namun setelah sekian tahun mereka menjadi pasangan suami-istri pengalaman sebagai kekasih sangat jarang mereka alami kembali seperti pergi ketempat dimana mereka pernah menjalin kasih dan hal itu semua karena pekerjaan rutin yang seringkali sulit untuk ditinggalkan. Waktu terus berlalu, kesibukan demi kesibukan membuat mereka tidak lagi mengalami yang lain sebagai kekasih, padahal itu dambaan mereka dulu ketika akan membina rumah tangga.

  Pengalaman indah dalam hidup bersama akan membuat hidup semakin menggairahkan, dan memberi semangat baru untuk menata kehidupan berkeluarga persoalan yang sulit diungkapkan yang membuat hidup berkeluarga terasa semakin membosankan.

  Diharapkan dari pertemuan ini peserta dapat menghadirkan suasana indah yang pernah dialami dan menemukan cara untuk membuat hidup berkeluarga terasa menyenangkan dan menggairahkan kembali, dan selanjutnya dapat melestarikan hidup berkeluarga mereka yang membahagiakan dan mampu meluangkan waktu untuk melestarikan kedekatan, komunikasi dan relasi yang akrab dengan pasangan masing-masing.

  b. Proses pendampingan 1) Pengantar

  Bapak-Ibu sekalian, tadi kita telah bersama-sama mendengarkan pengalaman dari nara sumber dan kita juga telah saling berbagi pengalaman baik dengan pasangan sendiri maupun dengan pasangan-pasangan yang lain dalam kelompok. Pada pertemuan yang kedua ini, Bapak-Ibu akan mendapat kesempatan mendengarkan kisah Pasangan Suami-istri Biat dalam melestarikan keakraban mereka. Namun sebelum bapak, ibu mendengarkan kisah tersebut marilah kita menyanyikan lagu “ Balada hidup berdua” dari Madah Bakti No. 66 2) Penyajian cerita

  ( Pendamping membacakan kisah ) murid itu dengan adik keponakannya yang berusia 5 tahun sungguh menikmati situasi dan suasana kebun binatang ini. Tidak lama kemudian murid tersebut pun merasa lelah dan akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat sejenak duduk-duduk di dekat telaga di tengah Gembira Loka sambil menikmati alam. Sungguh menggembirakan hari itu baginya dan adik keponakannya itu. Mereka berdua beli es lilin dan menikmatinya di terik matahari siang itu. Tidak lama kemudian matanya tertuju pada suatu pemandangan yang baginya aneh dan sulit untuk dipercaya. Ia melihat gurunya, Pak Subiyat yang sudah tua dan beruban itu dengan mesra berjalan disamping istrinya, bahkan ia merangkul pinggang istrinya di keramaian Gembira Loka itu. Di mata murid tersebut hal itu dirasa amatlah tidak cocok karena gurunya itu sudah tua beruban dan di tempat yang ada banyak orang.

  Setelah cukup puas dengan rekreasi mereka, murid dengan adik keponakannya itu pulang kerumah. Keesokkan harinya kembali murid ini masuk sekolah. Saat itu temannya sekelas, yang kebetulan anak dari Pak Subiyat gurunya itu datang hampir terlambat. Ia mengejeknya temannya itu dengan mengatakan: ”Kemarin aku melihat bapakmu bermesraan dengan ibumu. Tak tahu malu bapak mu itu, sudah tua-tua masih mesra-mesraan dengan ibumu di tempat umum”. Anehnya, temannya tersebut tidak marah, malah tersenyum sambil berkata, “Nanti kalau istirahat kuberitahu alasannya”. Saat istirahat, anak dari Bapak Subiyat ini menjelaskan apa yang ada di balik semua hal yang dilihat oleh sudah diberitahu alasannya, sehingga kami bisa memahami sehingga juga berusaha ikut. Mereka pergi hanya berdua saja itu dengan tujuan, mengulangi dan menghadirkan masa-masa indah pacaran mereka dulu. Biasanya setelah itu, kalau kedua orang tuaku telah kembali kerumah, wajah mereka berseri-seri, ada kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka berdua, dan kami senang menyaksikan dan mengalami hal itu. Untuk selanjutnya biasanya mereka juga lebih ramah terhadap kami. Aku juga ingin melakukan yang semacam itu kelak, bila sudah berkeluarga”, sambung anak Bapak Subiyat ini.

  Setelah mendengar penjelasan dari temannya yang adalah anak Bapak Subiyat ini, terheran-heranlah murid dan bahkan kemudian mengagumi, mengapa gurunya, melakukan hal semacam itu, yaitu menghadirkan kembali saat-saat indah hidup mereka di saat sebelum pernikahan. Ketika Bapak-Ibu Subiyat ini sampai di rumah, ternyata mereka juga membawa kegembiraan dan semangat baru serta lebih ramah terhadap anak-anaknya. Begitulah cara hebat Pasangan Suami-istri Subiyat melestarikan keakraban mereka sebagai pasangan suami istri.

  3) Pendalaman kisah dengan tanya jawab Bapak, ibu yang terkasih tadi kita telah mendengarkan kisah, bagaimana kiat Pasangan Siami-istri Subiyat melestarikan kedekatan hati mereka. Pada kesempatan ini kita akan mendalami bersama kisah tersebut. c) Mengapa kiranya Pak Biat melakukan hal itu? 5) Rangkuman

  Dari kisah tadi hal yang dapat dirasakan adalah senang, kagum, karena seseorang yang sudah berusia lanjut, tetapi mampu melakukan sesuatu dengan cara menyediakan waktu khusus untuk pasangan, dengan pergi hanya berdua saja, untuk dapat saling mengalami kembali sebagai pasangan kekasih. Keluarga Biat layak untuk dicontoh karena berani melakukan kiat khusus yang tidak biasa dalam melestarikan keakraban mereka di usia tua mereka.

  6) Refleksi dalam pasangan Pada kesempatan ini Bapak-Ibu diberi kesempatan merefleksikan bersama, bagaimana usaha Bapak-Ibu dalam melestarikan keakraban sebagai pasangan suami istri. Berikut ini disajikan sejumlah pertanyaan pembantu untuk refleksi:

  a) Bagaimana kesan dan perasaan anda masing-masing sebagai pasangan suami-istri, setelah mendengar kisah Bapak Subiat tadi? b) Bagaimanakah cara anda berdua melestarikan keakraban suami-istri?

  c) Apa yang ingin anda lakukan berdua dalam melestarikan keakraban sebagai suami-istri? d) Apa saja yang anda rindukan dari pasangan anda yang jarang dia lakukan, khususnya agar anda mengalami keakraban dari dia sebagai pasangan

  7) Sharing hasil refleksi pasangan-pasangan suami-istri kepada kelompok pasangan suami-istri yang hadir.

  Bapak-Ibu yang terkasih setelah tadi Bapak-Ibu berefleksi dalam pasangan masing-masing, pada kesempatan ini Bapak-Ibu diajak untuk membagikannya dengan pasangan-pasangan yang lain di dalam kelompok. 8) Peneguhan, dalam kelompok

  Bapak-Ibu yang terkasih, apa yang telah direfleksikan bersama menyadarkan kita semua untuk kadang-kadang berusaha bisa meluangkan waktu bagi pasangan, dengan menarik diri dari kesibukan yang seringkali membuat sulitnya menciptakan suasana yang bisa membahagiakan pasangan. Ada banyak hal yang selama ini belum sempat terpikirkan apalagi dilakukan, namun berangkat dari pengalaman dan refleksi bersama, Bapak-Ibu dapat berusaha untuk mulai menciptakan keakraban di dalam keluarga masing-masing. Perlulah merencanakan bersama hal-hal yang bisa diwujudkan bersama dalam melestarikan kedekatan hubungan agar komunikasi selalu berjalan dengan baik. Menghadirkan kembali pengalaman sebagai kekasih dalam kehidupan berkeluarga perlu dilakukan karena pengalaman itu bisa menumbuhkan kembali rasa cinta, memberikan kelegaan dan rasa ringan kepada masing-masing pasangan dan bisa memberikan semangat baru untuk menata keidupan berkeluarga agar lebih baik lagi.

  80

4. Persiapan pendampingan ketiga

  Judul Pertemuan : Menyadari diri dan pasangan masing-masing sebagai citra Allah yang diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan

  Tujuan Pertemuan : Peserta mampu saling memahami kekhasan masing- masing, termasuk juga perbedaannya, sehingga masing-masing bisa lebih saling menerima dan saling melengkapi, sebagai laki-laki ataupun perempuan.

  Waktu : 12.30-15.30. WIB.

  Materi : Kej 1: 26-27, 2:15 : Ciri laki-laki dan perempuan : Sifat dan kegemaran pasangan (hal-hal yang disukai ), dan yang tak disukai oleh pasangan masing-masing.

  Uraian Materi : Manusia diciptakan sebagai citra Allah

  81 : Memelihara keutuhan ciptaan dengan melestarikan dan mengembangkan keluarga

  Metode Ceramah, sharing masing-masing pasangan tentang kegemaran serta yang tidak disukai oleh masing- masing, peneguhan.

  Sarana Teks Kitab Suci, teks lagu “Pada awal mula dunia”, hand out, kertas flep, spidol.

  Sumber Bahan Jakarta :1994. LAI, PML. MB. N0. 69, pengalaman peserta, Norman Wright. 2004:151-160, Wignyasumarta, 2000 : 119.

  a. Pemikiran Dasar Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan secitra dengan-Nya dan masing-masing memiliki ciri-ciri yang berbeda sebagai laki-laki dan perempuan, seperti cara berpikir, bertindak, serta perasaan mereka. Dengan adanya perbedaan yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan itu mereka dapat saling melengkapi dengan membentuk keluarga, sehingga mereka dapat saling membahagiakan dan menyejahterakan. Selain itu, sifat-sifat masing-masing

  82 Para suami-istri dalam hidup bersama mereka tentu akan menemukan sejumlah perbedaan pada masing-masing pasangannya. Perbedaan yang dimiliki oleh pribadi pasangan bila tidak diterima seringkali menjadi penghambat dalam menjalin komunikasi dan relasi agar lebih akrab. Pentinglah, bahwa masing- masing pasangan suami-istri ini semakin memahami dan menerima perbedaan yang dimiliki pasangan masing-masing, selain itu juga apa yang menjadi kegemaran, dan hal-hal yang tidak disukai pasangan masing-masing.

  Lewat pertemuan ini diharapkan peserta mampu saling memahami kekhasan masing-masing, termasuk perbedaannya sehingga masing-masing bisa lebih saling menerima dan saling melengkapi sebagai laki-laki ataupun perempuan, serta semakin mampu memperkembangkan diri masing-masing dalam menciptakan keharmonisan dan keakraban dalam hidup berkeluarga mereka.

  b. Proses pendampingan 1) Pendalaman materi

  a) Lagu “ Pada awal mula dunia”

  b) Manusia diciptakan sebagai citra Allah Bapak, ibu yang terkasih sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia diciptakan Tuhan secitra dengan-Nya. Sebelum Tuhan menciptakan manusia, lebih dahulu Tuhan menciptakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, langit, air, dan bumi seisinya, yaitu tumbuh-tumbuhan dan binatang serta banyak

  83 Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas ternak an atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap dibumi” (Kej 1:26). Dari teks tersebut di atas kita diajak mengetahui dan menyadari, bahwa manusia paling dicintai oleh Tuhan. Inilah keyakinan pertama, sebagai ciptaan

  Tuhan, yang perlu disadari dan diresapkan dalam hati kita sebagai orang kristiani, baik ia laki-laki ataupun perempuan. Tuhan menciptakan manusia sebagai laki- laki dan perempuan yang setara dan sederajat, tetapi masing-masing manusia itu juga unik. Manusia dianugerahi jiwa dan raga, pikiran dan kehendak serta perasaan atau emosi. Dalam perkembangan menuju kedewasaan, manusia dibentuk oleh orang tua, kondisi hidup, lingkungan, budaya, pendidikan, dan masih banyak lagi yang lain. Oleh sebab itu perlulah manusia saling memahami satu dengan yang lainnya, termasuk juga suami terhadap isteri dan sebaliknya istri terhadap suami ( Wignyasumarta, 2000: 119).

  Pada teks Kej 1:27 dikatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nyalah mereka”. Dari teks ini dapat dipahami, bahwa laki-laki dan perempuan itu sama martabatnya karena mereka diciptakan sama-sama secitra dengan Allah meskipun demikian, masing-masing tetap memiliki perbedaan-perbedaan masing-masing.

  Di bawah ini dapat dilihat beberapa perbedaan laki-laki dan perempuan pada umumnya yang sudah banyak diketahui untuk sejenak diingat dan disadari.

  84 Laki-laki Perempuan

  1. Pandangan luas 1. Pandangan sempit.

  2. Mementingkan rasio(pikiran) 2. Mementingkan perasaan.

  3. Menyembuyikan perasaanyang

  3. Mudah menunjukan apa yang sesungguhnya. dirasakan.

  4. Tak banyak bicara dan kurang 4. Banyak bicara dan suka mengamati. pengamatan

  5. Mementingkan hal-hal kecil (detail)

  5. Mementingkan hal-hal yang

  6. Suka bicara tidak langsung (samar) besar

  7. Cendrung hanya melihat tujuan

  6. Suka bicara langsung (terus

  8. Dalam hal rohani lebih detail terang)

  9. Seperti computer, pikiran terus

  7. Dalam hal materi ingin tahu menerus berjalan sampai persoalan lebih detail bagaimana selesai. mencapainya

  10.Rumah adalah tempat ia

  8. Lebih melihat tujuannya mengembangkan kepribadian

  9. Terhadap persoalan seperti

  11.Memiliki kebutuhan besar untuk rasa lemari arsip. Menerima aman persoalan, memasukkannya

  12. Cendrung merasa bersalah kedalam map, dan mengunci lacinya.

  10. Pekerjaan tempat ia

  13. Lebih mudah berubah mengembangkan diri

  11. Lebih berjiwa petualang.

  14. Cepat melibatkan diri

  12. Candrung mengungkapakan

  15. Tak mudah melupakan apa yang amarah telah dikatakan kepadanya.

  13. Lebih stabil dan mantap

  14. Cendrung berpikir dan

  16. Cendrung mengingat menimbang-menimbang. penjabarandan mengembangkan

  15. Harus diberi tahu berulang kali persoalannya

  16. Cendrung hanya mengingat inti persoalan (NormanWright, 2004: 152-153)

  Perbedaan laki-laki dan perempuan tersebut di atas mau mengungkapkan adanya kebutuhan yang diperlukan satu sama lain sehingga dapat saling melengkapi, memperkaya, dan suami-istri dapat mengalami kebahagiaan dalam perkawinannya.

  85

  c) Memelihara ciptaan dengan memelihara dan mendidik anak “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15).

  Tugas pasangan suami-istri tidak hanya menghadirkan cinta kasih bagi pasangannya tetapi juga menghadirkan kasih bagi anak sebagai buah dari cinta mereka. Mereka harus memelihara, menjaga, memberikan perhatian dan juga melakukan pendidikan iman bagi anak-anak mereka serta teladan hidup yang dapat membuat anak-anak mereka ini bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang dewasa, baik dalam sikap dan iman, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merugikan mereka sendiri.

  d) Memelihara keutuhan ciptaan dengan melestarikan dan mengembangkan keluarga Pada Teks Kej 2:15, diceritakan, bahwa manusia ditempatkan di taman dan diberi tugas untuk mengolah dan menjaga taman Eden. Dari kutipan ini dapat diambil hikmah, bahwa kehidupan berkeluarga lewat alam ciptaan pasangan suami-istri lewat pekerjaan masing-masing harus dapat memberikan kesejahteraan bagi pasangan masing-masing dan anggota keluarga mereka. Berkaitan dengan ini, perlulah suami-istri juga terlibat aktif mengembangkan diri dengan ikut serta dalam kegiatan yang ada di lingkungan maupun di paroki, agar kehidupan rohani mereka serta keluarga mereka dapat terpelihara dengan baik. Selain itu pasangan

  86

  e) Sharing masing-masing pasangan suami-istri tentang kegemaran serta hal-hal yang tidak sukai oleh masing-masing.

  Bapak-Ibu, setelah kita bersama-sama menyadari diri kita masing-masing sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan Allah, maka Bapak-Ibu akan mendapat kesempatan untuk mensharingkan hal-hal yang disukai, serta hal-hal tidak disukai oleh masing-masing. Pertanyaan penuntun berikut kiranya dapat membantu Bapak-Ibu dalam sharing anda dengan pasangan masing-masing.

  f) Pertanyaan penuntun (1) Hal-hal apa yang anda suka? Ungkapkanlah hal-hal yang anda suka dalam keluarga kepada pasangan anda! (2) Hal-hal apa yang tidak anda suka? Ungkapkanlah hal-hal yang tidak anda suka dalam keluarga kepada pasangan anda!

  Ungkapkanlah semua itu dengan jujur dan sungguh saling terbuka kepada pasangan anda masing-masing! g. Peneguhan 2) Dalam kehidupan berkeluarga pasangan suami-istri hendaknya berusaha memahami perbedaan sebagai peluang saling memenuhi kebutuhan dalam hidup berpasangan. 3) Belajar untuk memahami dan menerima, apabila perbedaan itu muncul dalam

  87 4) Apa yang menjadi kesukaan pasangan hendaknya diketahui, diupayakan dan dijaga dengan baik, sedangkan hal-hal yang tidak disukai oleh pasangan hendaknya menjadi pelajaran untuk saling memperbaiki diri dan saling membantu berkembang bersama serta juga demi kebahagiaan pasangan masing-masing. 5) Dalam menciptakan keharmonisan keluarga perlu selalu berusaha dan bersedia mengembangkan hal-hal positif yang disukai oleh pasangan, yang kiranya belum dimiliki masing-masing, demi keserasian hidup bersama dalam berpasangan.

  6) Suami-istri perlu terus menerus berusaha memahami diri masing-masing lewat ungkapan-ungkapan pasangan, sebagai titik tolak menjalin komunikasi dan relasi secara lebih baik. 7) Perbedaan yang ada dalam diri pribadi pasangan hendaknya dicoba untuk dapat dilihat secara positif yaitu untuk bisa saling melengkapi dan saling memperkaya.

  88

  5. Persiapan pendampingan keempat Judul Pertemuan : Menjadi suami-istri yang komunikatif dan intim Tujuan Pertemuan : Peserta mampu menjaga/melestarikan komunikasi antar mereka yang semakin membaik, sehingga hubungan merekapun semakin intim Waktu : 15.30-17.30. WIB.

  Materi : Teks 1Kor 13:4-7 : Ciri- ciri kasih menurut 1Kor 13:4-7 : Menemukan upaya bersama guna menjaga komunikasi, guna melestarikan keintiman relasi antar mereka sebagai suami istri.

  Uraian Materi : Pendalaman teks Kitab Suci : Kesediaan untuk selalu menyapa pasangan dengan ramah : Kesediaan mendengarkan pasangan : Perhatian kepada mimik pasangan, yang mungkin

  89 Metode : Pembacaan kutiban Kitab Suci

  1Kor 13:4- 7, pendalaman teks 1Kor 13:4-7, refeksi pribadi, diskusi dalam kelompok pasangan para suami-istri, peneguhan.

  Sarana : Teks Kitab Suci 1Kor 13:4- 7, teks lagu” Madah kasih.

  ” Sumber bahan : PML. MB. No. 6, Kitab Suci

  1Kor 13:4-7, Jakarta:1994. LAI, pengalaman peserta.

  a. Pemikiran Dasar Pasangan suami-istri dipanggil untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera. Mereka dipanggil untuk saling mengasihi satu dengan yang lain. Kebahagiaan hanya dapat tercapai jika pasangan suami-istri mampu menghadirkan cinta kasih yang mesra dan keakraban di antara mereka. Maka sangatlah penting, bahwa pasangan suami-istri peka terhadap keinginan/ kebutuhan pasangan dan berusaha rela memberikan perhatian kepada pasangan dengan hati yang tulus, dengan meluangkan waktu bagi pasangan untuk mendengarkan keluh kesahnya dengan penuh perhatian.

  Diharapkan dengan mengikuti pertemuan ini para pasangan suami-istri semakin mampu menjaga/melestarikan komunikasi yang telah tercipta dan dapat

  90

  b. Proses pendampingan 1) Pengantar

  Bapak-Ibu yang terkasih, pada akhir pertemuan ini kita akan mendalami Sabda Tuhan dan berusaha menemukan upaya bersama guna menjaga dan melestarikan keintiman hubungan anda sebagai suami-istri. Untuk itu marilah kita mengawalinya dengan menyanyikan lagu dari teks dengan judul “ Madah kasih” 2) Doa Pembukaan

  Bapa yang penuh kasih, pada kesempatan ini kami akan mendalami Sabda- Mu, yang menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi kami untuk membangun kehidupan berkeluarga yang membahagiakan. Bimbinglah kami dalam mendalami Sabda-Mu sehingga sabda-Mu dapat benar-benar mengerti dan kami hayati serta amalkan dalam kehidupan ini dan sebagai sumber kasih bagi kami untuk mejaga dan melestarikan hidup berkeluarga kami. Semuanya ini kami mohon demi Kristus Tuhan kami. Amin 3) Pembacaan kutipan Kitab Suci 1Kor 13: 4-7

  (Pendamping meminta salah satu peserta untuk membacakan teks Kitab Suci)

  4) Pendalaman teks Kitab Suci 1Kor 13:4-7 Bapak-Ibu setelah kita mendengarkan teks Kitab Suci, sekarang marilah kita

  91

  a) Ayat manakah yang menarik dari teks yang telah anda dengar?

  b) Manakah ayat yang paling berkesan bagi anda sebagai pasangan suami-istri? Mengapa ?

  c) Manakah ayat yang menambah semangat anda?

  d) Manakah ayat yang memberi inspirasi kepada anda ?

  e) Manakah ayat yang terasa menegur anda ?

  f) Manakah ayat yang terasa mengoreksi anda ? 6) Pertanyaan untuk refleksi pribadi

  Bapak-Ibu sekalian setelah kita mendalami teks bersama-sama maka selanjutnya Bapak-Ibu akan secara pribadi diberi kesempatan merefleksikan teks tersebut dan perannya dalam kehidupan berkeluarga Bapak-Ibu dengan bantuan pertanyaan penuntun berikut.

  a) Apakah pesan ayat tersebut bagi hidup anda sebagai pasangan suami-istri?

  b) Dari ciri- ciri ”kasih” menurut 1Kor 13:4-7, manakah yang telah anda laksanakan dalam hidup sehari-hari dan yang manakah yang belum anda laksanakan? c) Sejauh mana sabda ini berperan dalam kehidupan anda sebagai pasangan suami-istri? d) Hal-hal apa sajakah yang akan diupayakan bersama, agar hubungan anda sebagai pasangan suami-istri semakin intim?

  92 Setelah Bapak-Ibu masing-masing merefleksikan teks yang baru saja kita dengar bersama, sekarang ada kesempatan bagi Bapak-Ibu untuk membagikan kepada pasangan masing-masing hasil refleksinya.

  8) Diskusi dalam kelompok pasangan-pasangan suami-istri ( Pasangan-pasangan dikelompokkan menjadi 2 kelompok pasangan- pasangan suami-stri untuk memikirkan bersama hal-hal yang akan diwujudkan untuk menjaga/melestarikan keharmonian keluarga mereka.)

  Setelah Bapak-Ibu sharing dengan pasangan masing-masing, sekarang silahkan Bapak-Ibu kembali masuk ke dalam kelompok masing-masing untuk membicarakan bersama apakah upaya yang akan dilakukan guna menjaga/melestarikan keharmonisan keluarga Bapak-Ibu masing-masing.

  Silahkan menulis hasil sharing nanti ke dalam kertas flep yang telah disediakan, salah satu bisa ditugasi menulis hasil sharing dan satu lagi dipercaya untuk melaporkannya. Berikut ini adalah pertanyaan penuntun diskusi bersama:

  a) Apa sajakah yang akan anda lakukan dalam menampakkan kasih kepada pasangan anda masing-masing? b) Apa sajakah yang akan anda lakukan untuk menjaga/melestarikan komunikasi yang baik dalam keluarga anda masing-masing? 9) Peneguhan

  93 Bapak-Ibu, tadi tiap kelompok telah mengungkapkan hal-hal yang akan dilakukan dalam menjaga/melestarikan komunikasi antar pasangan masing- masing. Dari diskusi, terasa bahwa bapak ibu berusaha akan meluangkan waktu bagi pasangan masing-masing, akan berusaha mengkomunikasikan apa yang dialami kepada pasangan, akan berusaha untuk lebih manampakkan kasihnya kepada pasangan masing-masing, akan menyapa pasangan dengan lebih ramah, akan lebih peka memperhatikan ekspresi di wajah pasangan masing-masing.

  Apa yang telah bapak ibu ungkapkan merupakan hal yang penting untuk diwujudkan dalam kehidupan anda sehari-hari guna menjaga/melestarikan komunikasi dan relasi yang harmonis suami dengan istri, serta istri dengan suami. Diharapkan apa yang telah kita peroleh bersama disini bisa benar-benar memperkaya kita dalam upaya melestarikan dengan lebih baik lagi kehidupan berkeluarga. Semoga kegiatan ini semakin mendorong Bapak-Ibu untuk selalu sadar akan pentingnya berbagi pengalaman dan menimba pengalaman dari orang lain, serta meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan yang berguna demi melestarikan keharmonisan keluarga, sehingga kasih yang kita wujudkan dalam keluarga dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Sangatlah cocok teks ini menjadi bantuan bagi kita untuk menjaga komunikasi pribadi suami-istri dan mewujudkan cinta kasih dalam melestarikan kehidupan berkeluarga.

  “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati: ia tidak cemburu” “Ia tidak megahkan diri dan tidak sombong”

  “Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri ”

  94 10) Doa permohonan

  Bapak-Ibu marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita, untuk itu Bapak-Ibu dipersilahkan.

  (Pendamping memberi kesempatan kepada pasangan suami-istri yang telah disiapkan untuk mengungkapkan doa permohonan yang mereka buat) 11) Doa Penutup

  Allah Bapa sumber kasih, terima kasih atas penyertaan-Mu kepada kami sepanjang hari ini. Kami bersyukur atas rahmat kasih-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada kami dalam acara pendampingan hari ini. Engkau telah menghadirkan kasih yang membuat kami semakin bisa merasakan kebahagiaan sebagai suami-istri. Jelas-jelas kami rasakan, bahwa Engkau telah memelihara dan mendampingi hidup berkeluarga kami. Banyak hal yang telah kami peroleh dalam pendampingan hari ini yang membuat kami semakin sadar akan pentingnya menjalin komunikai dan relasi yang intim dengan pasangan kami masing-masing.

  Kami percaya, bahwa berkat penyertaan-Mu kami akan mampu mewujudkan yang kami rencanakan bersama dalam pendampingan hari ini ke dalam hidup berkeluarga kami masing-masing. Semua ini kami mohon demi Putera-Mu, Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

  

BAB V

PENUTUP Pada bab V yang merupakan bagian terakhir skripsi ini, penulis

  mengemukakan hal pokok yang perlu ditegaskan kembali berkaitan dengan upaya meningkatkan komunikasi antar pribadi suami-istri dalam keluarga kristiani atas dasar iman. Pokok-pokok tersebut merupakan kesimpulan yang dirumuskan oleh penulis dan menjadi inti dari keseluruhan skripsi ini. Dalam bab ini penulis juga mengemukakan beberapa saran yang ditujukan kepada pendamping keluarga kristiani, dan kepada para pengurus lingkungan serta pastor paroki. Diharapkan saran-saran tersebut dapat menjadi masukkan bagi para pendamping keluarga kristiani itu untuk membantu pasangan suami-istri katolik dalam upaya meningkatkan komunikasi pribadi suami-istri dalam keluarga mereka.

A. Kesimpulan

  Suami-istri dipanggil untuk saling mencintai dan membentuk suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera. Semua ini dapat terwujud di dalam hidup sehari-hari jika mereka berusaha memeliara/menjaga komunikasi dan relasi yang akrab antar pribadi pasangan suami-istri atas dasar iman. Untuk bisa melaksanakan komunikasi antar pribadi suami-istri ini diperlukanlah kejujuran dan sikap yang terbuka untuk mengkomunikasikan segala sesuatu yang mereka alami dalam sendiri, maka diperlukanlah keterlibatan para pemerhati keluarga untuk bersama- sama membantu keluarga-keluarga dengan terang iman agar mereka dapat menghadapi beban hidup, kesulitan-kesulitan lain serta masalah komunikasi secara bijak sehingga akhirnya mampu menghadapi kehidupan sebagai keluarga kristiani.

  Meningkatkan komunikasi dalam keluarga kristiani tidaklah mudah, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat seperti: egoisme, cemburu yang berlebihan, kurangnnya pengertian terhadap pasangan, kesulitan ekonomi, tidak terbuka terhadap pasangan, dan kebiasaan suka mendiamkan sesuatu. Semua hal ini merupakan penghambat untuk menjalin komunikasi yang efektif dalam kehidupan berkeluarga suami-istri. Disisi lain banyak juga yang merupakan pelancar komunikasi yang dapat diupayakan untuk meningkatkan komunikasi antara pribadi suami-istri, seperti saling pengertian, perhatian, keterbukaan, mau mendengarkan. Sukses dalam pekerjaan atau ekonomi juga bisa menjadi pendukung dalam meningkatkan komunikasi yang baik antara suami dengan istri dalam upaya menciptakan keluarga yang bahagia dan harmonis.

  Diharapkan dengan menyadari kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri masing-masing pasangan, mereka ini semakin mampu menjalin komunikasi yang lebih akrab lagi sebagai suami-istri, sehingga persoalan yang mereka hadapi pun dapat diatasi dan diselesaikan dengan damai.

  Dalam usaha membangun dan melestarikan keluarga yang harmonis dan kegiatan yang diadakan di lingkungan maupun di paroki, dapat menyegarkan para pasangan suami-istri dan mereka semakin mampu memberikan diri bagi sesama.

  Sebagai buah dari pertemuan pendampingan keluarga kristiani diharapkan mereka dapat kembali menyadari hal-hal yang telah dilakukan dalam memperbaiki komunikasi pribadi dengan pasangan mereka sehingga pendampingan yang mereka ikuti semakin menyegarkan hidup rohani mereka untuk mampu mengahadapi berbagai tantangan jaman dengan terang iman sehingga tidak mudah putus asa.

  B. Saran

  1. Pasangan suami-istri perlu dibantu untuk rela membuka hati, meluangkan waktu untuk menimba masukan dari pengalaman pasangan lain maupun mengikuti pendampingan yang diselenggarakan oleh pendamping keluarga kristiani di lingkungan maupun di paroki. Suami istri perlu menyediakan diri untuk datang ke pertemuan pendampingan bersama-sama jika ada pertemuan pendampingan di lingkungan ataupun paroki sehingga mereka mendengar dan mendapat yang sama untuk menghindarkan konflik, selain itu juga karena keharmonisan keluarga mustahil dapat diwujudkan oleh satu orang saja tanpa pasangannya, walaupun ia telah melakukannya dengan sebaik mungkin.

  2. Para pendamping keluarga diharapkan mampu menyiapkan pendampingan bagi pasangan suami-istri yang sederhana, menarik dan berkesan, serta

  3. Dewan pastoral paroki yang bergerak di bidang pendampingan keluarga perlu memikirkan dan menyiapkan tenaga konseling yang dapat membantu pasangan suami-istri dalam menghadapi persoalan kehidupan berkeluarga.

  4. Dewan pastoral paroki yang bergerak di bidang pendampingan keluarga perlu memikirkan dan menyiapkan tenaga konseling yang dapat membantu pasangan suami-istri dalam menghadapi persoalan kehidupan berkeluarga.

  5. Pastor Paroki diharapkan dapat mendukung perjuangan para suami-istri dalam hidup sehari-hari mereka, dapat meluangkan waktu bagi mereka yang datang kepadanya untuk berkonsultasi.

  6. Pengurus lingkungan atau paroki diharapkan dapat mengusahakan adanya pendampingan berkesinambungan bagi pasangan suami-istri sehingga kegiatan pendampingan yang pernah dilaksanakan terasa manfaatnya untuk membangun keluarga yang bahagia, sehingga ada ketertarikan para pasangan suami-istri untuk mengikuti, baik di lingkungan atau paroki.

DAFTAR PUSTAKA

  Beek, Aart.Van. (2007). Pendampingan Pastoral. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Budi Abdipatra. (2007). Love Never Fail. Yogyakarta: Andi. Deddy Mulyana. (2001). Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Djam’an Setori. & Kamariah Aan. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif.

  Bandung: Alfabeta Gilarso, T. (1996). Membangun Keluarga Kristiani. Jakarta: Kanisius. Hardjana, Agus. M. (2003). Komunikasi intrapersonal dan interpersonal.

  Yogyakarta : Kanisius. Keraf, Gorys. (1980). Komposisi. Yogyakarta: Kanisius. Komkel, Edisi. April.(1995). Penananman Nilai-Nilai Kristiani Dalam Keluarga.

  Yogyakarta: Wisma Nazareth. Lembaga Biblika Indonesia. (1994). Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselengarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika, yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Jakarta.

  Lunadi, A.G. (1989). Komunikasi Mengena Meningkatkan Efektivitas Komunikasi Antar Pibadi .Yogyakarta: Kanisius. Nasution, S. (1998). Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung:

  Tarsito Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang. (2007). Menjadi keluarga Basis

  Hidup Beriman . Muntilan: Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang.

  Pankat Keuskupan Sintang. (1986). Kumpulan lagu-lagu Pujian. Sintang: Pankat Keuskupan sintang. Paroki Kristus Raja Baciro. (2004). Rencana Induk Strategik Pengembangan

  Paroki Prier, Karl Edmun. S.J. (1993). Madah Bakti. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi. Purwo Hadiwardoyo, AL., MSF (1988). Perkawinan dalam Tradisi Katolik.

  Yogyakarta: Kanisius.

  _____. (2002). Surat untuk suami istri Katolik. Yogyakarta: Kanisius.

  Poerwadarminta, W.J.S. (2006). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Kristus Raja Baciro Yogyakarta. RINSTRA 2003-2008.

  Soelaeman, M.I. (1994). Pendidikan dalam Keluarga. CV Alfabeta. Bandung: Anggota Ikatan Penerbit Indonesia. Sugiyono. (2008). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.

  Bandung: Alfabeta. Suhardiyanto, H.J., S.J. (2008). Prosedur Menyusun Program Pendampingan. Tim Publikasi Pastoral Redemtorist. (2001). Menjadi Keluarga Katolik Sejati.

  Yogyakarta: Kanisius. Walters, Donald. J. (2002). Expansive Marriage 13 Kiat Menunju Kepenuhan Diri . Yogyakarta: Kanisius.

  Wignyasumarta, MSF. dkk. (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Wraigth, Norman. H. (2004). Komunikasi Kunci Pernikahan Harmonis.

  Yogyakarta: PT Gloria Usaha Mulia. Yohanes Paulus II. Amanat Apostolik Familiaris Concortio. (1994). Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern . Yogyakarta: Kanisius.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta.
3
19
162
Pendampingan iman orang muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja orang muda Katolik Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kalimantan Timur.
0
1
113
Deskripsi pendidikan iman anak dalam keluarga bagi perkembangan iman anak di Stasi Maria Putri Murni Sejati Cisantana, Paroki Kristus Raja Cigugur, Keuskupan Bandung.
1
20
153
Peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
15
123
222
Upaya peningkatan hidup rohani keluarga kristiani di Lingkungan Santo Paulus Maguwoharjo Paroki Marganingsih Yogyakarta melalui katekese keluarga.
0
1
150
Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta
0
15
207
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta
0
12
160
Pendampingan iman orang muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja orang muda Katolik Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kalimantan Timur
1
1
111
Belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis - Yogyakarta - USD Repository
0
0
144
Rekoleksi untuk melengkapi pembinaan katekumen di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta - USD Repository
0
2
251
Bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Upaya meningkatkan dialog antar umat beriman dalam masyarakat yang plural di Stasi St. Maria Cikampek Paroki Kristus Raja Karawang Jawa Barat melalui katekese - USD Repository
0
0
180
Hubungan pendidikan iman dalam keluarga kristiani dengan kecerdasan spiritual siswa/siswi SMP Santo Fransiskus Assisi Samarinda - USD Repository
0
0
124
Pendampingan iman keluarga kawin campur beda agama dalam menghayati hidup perkawinan kristiani di Paroki Santo Paulus, Palu, Sulawesi Tengah, melalui katekese umat model shared christian praxis - USD Repository
0
0
144
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Show more