BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Berbasis Masalah - PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS XI MULTIMEDIA DI SMK MIDA PESAWAHAN, MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING TYPE WITHIN SOLUTIO

0
0
16
1 week ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Berbasis Masalah Menurut Arends (Trianto, 2009) pembelajaran berbasis masalah

  merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Menurut Permendikbud No 60 Tahun 2014 pembelajaran berbasis masalah juga merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Pada pembelajaran ini masalah digunakan sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru, dan permasalahan tersebut diselesaikan di dalam kelompok dimana dalam menyelesaikannya memerlukan kerjasama antar anggota kelompok.

  Ciri- ciri pembelajaran berbasis masalah menurut Trianto (2009) adalah sebagai berikut:

  1. Pengajuan pertanyaan atau masalah.

  2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.

  3. Penyelidikan autentik.

  4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.

  5. Kolaborasi.

  9 Berdasarkan ciri- ciri di atas maka pembelajaran berbasis masalah memiliki tujuan:

  1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan menyelesaikan masalah.

  2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.

  3. Menjadi pembelajar yang mandiri.

  Adapun kelebihan dari pembelajaran berbasis masalah menurut Trianto (2009) adalah:

  1. Realistik dengan kehidupan siswa

  2. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa

  3. Memupuk inkuiri siswa

  4. Retensi konsep menjadi kuat

  5. Memupuk kemampuan pemecahan masalah Menurut Trianto (2009) selain kelebihan dari pembelajaran tersebut ada pula kekurangannya yaitu:

  1. Memerlukan persiapan pembelajaran yang kompleks.

  2. Sulit mencari masalah yang relevan

  3. Sering terjadi miss- konsepsi 4. Membutuhkan waktu yang lama.

  Sintaks pembelajaran berbasis masalah menurut Ibrahim (Trianto, 2009) memiliki lima langkah utama sebagai berikut:

  Tabel 3 Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah Tahap Tingkah Laku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,

  Tahap-1

  mengajukan fenomena untuk

  Orientasi siswa pada

  memunculkan masalah, memotivasi siswa

  masalah

  untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih. Guru membantu siswa untuk

  Tahap-2

  mendefinisikan dan mengorganisasikan

  Mengorganisasi siswa

  tugas belajar yang berhubungan dengan

  untuk belajar masalah tersebut.

  Guru mendorong siswa untuk

  Tahap-3

  mengumpulkan informasi yang sesuai,

  Membimbing

  melaksanakan eksperimen untuk

  penyelidikan individual

  mendapatkan penjelasan dan pemecahan

  maupun kelompok masalah.

  Guru membantu siswa dalam

  Tahap-4

  merencanakan dan menyiapkan karya yang

  Mengembangkan dan

  sesuai serta membantu mereka untuk

  menyajikan hasil karya berbagi tugas dengan temannya.

  Guru membantu siswa untuk melakukan

  Tahap-5 Menganalisis dan refleksi atau evaluasi terhadap mengevaluasi proses penyelidikan mereka dan proses- proses pemecahan masalah yang mereka gunakan.

B. Problem Posing

  Problem posing pada dasarnya memiliki kesamaan dengan problem

solving instrinsik yaitu pemecahan masalah yang didasari oleh tuntutan

  dan keinginan siswa itu sendiri. Namun pada problem posing lebih terfokus pada upaya siswa secara sengaja untuk menemukan pengetahuan baru dan pengalaman-pengalaman baru. Dengan kata lain problem posing adalah pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan (Suryosubroto, 2009). Problem Posing merupakan suatu pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa dalam mengajukan/merumuskan masalah (soal) secara mandiri sehingga siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan proses berpikirnya. Problem

  Posing tidak terbatas pada pembentukan soal yang betul-betul baru, tetapi

  juga dapat berarti merumuskan kembali soal-soal yang diberikan (Mahmudi, 2008).

  Pengajuan masalah dalam bentuk pertanyaan oleh siswa dilakukan dengan cara pembuatan soal. Pembentukan soal yang dilakukan mencakup 2 kegiatan yaitu: 1. Pembentukan soal baru dari situasi atau pengalaman siswa.

  2. Pembentukan soal dari soal yang sudah ada.

  Pengajuan soal dapat diaplikasikan dalam 3 bentuk aktivitas kognitif matematika yaitu :

  1. Pre solution posing

  Pre solution posing dilaksanakan dengan cara siswa membuat soal

  dari situasi yang diadakan. Melalui kegiatan tersebut siswa diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan yang dibuat sebelumnya.

  2. Within solution posing

  Within solution posing dilaksanakan dengan cara siswa

  merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya. Jadi siswa diharapkan dapat membuat sub- sub pertanyaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada.

  3. Post solution posing

  Post solution posing dilaksanakan dengan cara siswa memodifikasi

  tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis.

  Pembelajaran dengan Problem Posing menurut Menon (1996) dapat dilakukan dengan tiga cara berikut :

  1. Berikan kepada siswa soal cerita tanpa pertanyaan, tetapi semua informasi yang diperlukan untuk memecahkan soal tersebut ada. Tugas siswa adalah membuat pertanyaan berdasar informasi tadi.

  2. Guru menyeleksi sebuah topik dan meminta siswa untuk membagi kelompok. Tiap kelompok ditugaskan membuat soal cerita sekaligus penyelesaiannya. Kemudian soal-soal tersebut dipecahkan oleh kelompok-kelompok lain.

  3. Siswa diberikan soal dan diminta untuk mendaftar sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah.

C. Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Problem Posing Type

  Within Solution Posing

  Pembelajaran berbasis masalah dengan strategi problem posing

  

type within solution posing merupakan pembelajaran dimana sintaks

  pembelajarannya menggunakan sintaks pembelajaran berbasis masalah sedangkan dalam pengajuan masalahnya menggunakan cara pada pembelajaran problem posing type within solution posing.

  Pembelajaran Berbasis Masalah Tahap-1

  Orientasi siswa pada masalah Siswa menerima soal

  Tahap-2

  Mengorganisasi siswa untuk belajar Siswa mendaftar

  Tahap-3

  sejumlah pertanyaan Membimbing penyelidikan individual yang berhubungan maupun kelompok dengan masalah.

  Tahap-4

  Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

  Tahap-5

  Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

  Gambar 1

Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Problem Posing Type

  Within Solution Posing

  Pada pembelajaran berbasis masalah dengan strategi problem posing

  

type within solution posing ada 5 tahap yang digunakan. Selanjutnya pada

  pengajuan masalahnya pada tahap 2 yaitu mengorganisasi siswa untuk belajar siswa juga diberikan soal berupa LKS selanjutnya pada tahap 3 yaitu membimbing penyelidikan individu maupun kelompok siswa juga diminta untuk mendaftar sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah. Kegiatan tersebut akan membantu siswa memahami masalah sebagai aspek untuk memecahkan masalah.

D. Perbedaan Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pembelajaran

  

Berbasis Masalah Menggunakan Strategi Problem Posing Type Within

Solution Posing

  Dalam Permendikbud No 60 Tahun 2014 pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Dalam pembelajaran ini pemberian masalah dilakukan sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Masalah tersebut selanjutnya dicari pemecahan masalahnya, dalam mencari pemecahan masalah tersebut cara yang dilakukan oleh siswa tidak memiliki aturan khusus sedangkan pada pembelajaran berbasis masalah menggunakan strategi problem posing type within solution posing siswa diminta mendaftar sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah sebagai langkah untuk mencari pemecahan masalah dari masalah yang diberikan.

E. Motivasi Belajar

  Menurut Mc. Donald (Sardiman, 2011) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Hakikat motivasi belajar menurut Hamzah (2006) adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan

  Menurut Hamzah (2006) indikator motivasi belajar adalah sebagai berikut:

  1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil.

  2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.

  3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.

  4. Adanya penghargaan dalam belajar.

  5. Adanya keinginan yang menarik dalam belajar.

  6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.

  Selain hal tersebut menurut Sardiman (2011) indikator motivasi belajar adalah sebagai berikut:

  1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil.

  Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, yaitu:

  6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.

  5. Adanya keinginan yang menarik dalam belajar.

  4. Adanya penghargaan dalam belajar.

  3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.

  2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.

  Dalam penelitian ini indikator motivasi belajar yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Tekun menghadapi tugas.

  8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal- soal.

  7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.

  6. Dapat mempertahankan pendapatnya.

  5. Cepat bosan pada tugas- tugas rutin.

  4. Lebih senang bekerja mandiri.

  3. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah.

  2. Ulet menghadapi kesulitan.

  1. Memberi angka

  Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar yang utama justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau raport angkanya baik-baik.

  2. Hadiah Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut.

  3. Saingan/ kompetisi Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individu maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

4. Ego- involvemen

  Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.

  5. Memberi ulangan Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Tetapi yang harus diingat oleh guru adalah jangan terlalu sering karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas.

  6. Mengetahui hasil Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi jika terjadi kemajuan maka akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

  7. Pujian Supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat.

  Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta membangkitkan harga diri.

  8. Hukuman Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip pemberian hukuman.

  9. Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud belajar, memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.

  10. Minat Motivasi muncul karena ada kebutuhan begitu juga minat sehingga merupakan alat motivasi yang pokok.

  11. Tujuan yang diakui

  Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting karena memahami akan menimbulkan gairah untuk terus belajar.

F. Pemahaman Konsep

  Menurut Arikunto (2010) pemahaman adalah bagaimana seorang mempertahankan membedakan, menduga, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Oleh sebab itu dalam belajar harus mengerti secara mental makna dan filosofinya, maksud dan implikasinya serta bagaimana aplikasinya sehingga siswa mampu memahami suatu situasi.

  Konsep merupakan ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengelompokan atau menggolongkan suatu objek atau kejadian. Beberapa konsep merupakan pengertian dasar yang dapat ditangkap secara alami. Beberapa konsep lain diturunkan dari konsep-konsep yang mendahuluinya, sehingga berjenjang (Wardhani, 2008). Konsep juga dapat diartikan sebagai satuan arti yang mewakili objek yang memiliki ciri- ciri yang sama (Winkel, 1996). Selain itu konsep juga merupakan sebutan untuk mendeskripsikan sejumlah ide atau objek.

  Berdasarkan pengertian pemahaman dan konsep di atas maka dapat diartikan bahwa pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menangkap suatu makna dari suatu ide abstrak yang dapat digunakan untuk memahami suatu situasi. Selain itu menurut Jihad dan Haris (2008) pemahaman konsep merupakan kompetensi yang ditunjukan siswa dalam memahami konsep dan dalam melakukan prosedur secara luwes, akurat, efisien dan tepat.

  Indikator pemahaman konsep dalam permendiknas Nomor 506/ PP/ 2004 tanggal 11 november 2004 adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep

  2. Kemampuan mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya.

  3. Kemampuan memberi contoh dan bukan contoh.

  4. Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.

  5. Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup yang terkait dengan suatu materi.

  6. Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu.

  7. Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah.

G. Materi

  Menurut silabus, kompetensi dasar materi komposisi fungsi dan fungsi invers adalah:

  1. Mendeskripsikan konsep fungsi dan menerapkan operasi aljabar (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) pada fungsi.

  2. Menganalisis konsep dan sifat suatu fungsi dan melakukan manipulasi aljabar dalam menentukan invers fungsi dan fungsi invers.

  3. Mendeskripsikan dan menganalisis sifat suatu fungsi sebagai hasil operasi dua atau lebih fungsi yang lain.

  4. Mendeskripsikan konsep komposisi fungsi dengan menggunakan konteks sehari-hari dan menerapkannya.

H. Kerangka Berpikir

  Siswa kelas XI Multimedia di SMK MIDA Pesawahan, Rawalo

  1Cilongok

  MASALAH

  Rendahnya motivasi belajar dan kemampuan pemahaman konsep matematika

  SOLUSI?

  PembelajaranBerbasis Masalah dengan strategi Problem Posing Type

  Within Solution Posing Tahap 1 :

  Orientasi siswa pada masalah Tahap 2 :

  Siswa diberikan soal

  Mengorganisasi siswa untuk belajar Tahap 3 :

  Siswa diminta mendaftar

  Membimbing penyelidikan individual sejumlah pertanyaan

  yang berhubungan

  maupun kelompok dengan masalah.

  Tahap 4:

  Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

  Tahap 5:

  Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

  Melalui pembelajaran berbasis masalah dengan metode Problem Posing Type Within Solution Posing diduga dapat meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas XI di SMK MIDA Pesawahan, Rawalo

  Gambar 2 Kerangka Berpikir Masalah

  Dari hasil wawancara dan observasi menunjukan bahwa motivasi belajar dan pemahaman konsep matematika siswa kelas XI Multimedia SMK Mida Pesawahan masih rendah. Untuk mengatasi hal tersebut perlu tindakan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konsep siswa kelas

  XI Multimedia SMK Mida Pesawahan. Oleh karena itu pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konsep ini yaitu pembelajaran berbasis masalah dengan strategi problem posing type within solution posing.

  Pembelajaran berbasis masalah dengan strategi problem posing

  type within solution posing merupakan pembelajaran yang menyajikan

  suatu masalah sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar dengan bentuk permasalahan berupa soal dimana perumusan soal tersebut dijadikan sub-sub soal yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal awal. Dengan menyajikan masalah maka akan merangsang siswa untuk belajar maka hal ini akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain hal tersebut dengan menyelesaikan masalah yang berupa soal dimana soal tersebut dirumuskan menjadi sub-sub soal maka siswa akan berusaha menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan sehingga pemahaman konsep siswa akan ditingkatkan.

  Menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan strategi

  problem posing type within solution posing siswa dapat meningkatkan

  motivasi belajar dan pemahaman konsep yaitu pada tahap orientasi siswa pada masalah akan menimbulkan hasrat dan keinginan berhasil.

  Kemudian langkah berikutnya pada tahap mengorganisasikan siwa untuk belajar dan guru juga memberikan latihan soal, dengan ini siswa dapat mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya dan pada tahap ini ada dorongan dan kebutuhan belajar serta adanya harapan dan cita-cita masa depan.

  Pada tahap ketiga yaitu membimbing penyelidikan individu ataupun kelompok, guru meminta siswa mendaftar sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah maka siswa dapat menyatakan ulang sebuah konsep, mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep, dapat memberi contoh dan bukan contoh dari konsep serta dengan tahap ini maka adanya keinginan yang menarik dalam belajar. Pada tahap keempat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya maka siswa dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk represantasi matematis serta menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu pada tahap ini juga maka akan ada penghargaan dalam belajar. Pada tahap kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah maka akan menyebabkan lingkungan yang kondusif dalam belajar.

  Berdasarkan penjelasan diatas maka diduga pembelajaran berbasis masalah dengan stategi problem posing type within solution

  posing dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar

  siswa

I. Hipotesis Tindakan

  Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakannya adalah motivasi belajar dan pemahaman konsep matematika dapat meningkat melalui pembelajaran berbasis masalah dengan strategi problem posing type within solution posing.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (16 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY DI KELAS X SMK MUHAMMADIYAH 2 BANDAR LAMPUNG
0
15
90
STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DENGAN MEMPERHATIKAN MOTIVASI SISWA TERHADAP MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 2 BANDAR LAMPU
0
3
99
MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG EFEKTIF DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING Evi Nur Ngaeni
0
0
11
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Matematika - PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CONNECTING-ORGANIZING-REFLECTING-EXTENDING (CORE) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VIII PADA MATERI GARIS SINGGUNG LINGKARAN DI SMPN 5
0
0
39
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATERI LOGARITMA MELALUI PEMAHAMAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS X TKJ1 SMK NEGERI 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 20112012
0
0
10
DAMPAK PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING DAN PROBLEM BASED LEARNING DI SMP
0
0
8
KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING DI KELAS IX SMP KRISTEN KANAAN KUBU RAYA
0
0
10
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION SISWA KELAS XI TKR C SMK NEGERI 1 SEDAYU
0
0
8
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI QUANTUM LEARNING TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA
0
0
13
View of PEMBELAJARAN RECIPROCAL DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MATERI BARISAN DAN DERET GEOMETRI DI KELAS XI SMK N 1 NGAWI
0
0
9
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GEOMETRI SISWA KELAS II SD - Repository Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
0
0
8
PERBANDINGAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS XI IPA MAN 1 MAKASSAR
0
0
215
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN ELABORASI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VII SMP GUPPI SAMATA KABUPATEN GOWA
0
0
276
IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS X SMK - repo unpas
0
0
31
BAB II KAJIAN PUSTAKA - PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMA MELALUI PEMBELAJARAN KONFLIK KOGNITIF PADA MATERI TURUNAN FUNGSI - repo unpas
0
0
30
Show more