BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP KELUARGA 1. Pengertian - DITEU JUNI PAMELA BAB II

Gratis

0
0
32
1 month ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP KELUARGA

1. Pengertian

  Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung (Departemen Kesehatan RI, 1988 dalam Ali, 2010).

  Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Ali, 2010).

  Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada tuhan, memiliki hubungan yang selaras,serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya (BKKBN, 1999 dalam Sudiharto, 2010).

  Dari ketiga definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari dua orang atau lebih yang tergabung dalam hubungan darah, perkawinan dan saling ketergantungan yang mempunyai hubungan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari tiap anggota.

2. Fungsi Keluarga

  Menurut Friedman,1999 dalam Sudiharto, 2010 antara lain :

  a. Fungsi Afektif Fungsi ini berhubungan dengan fungsi internal keluarga, untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih serta,saling menerima dan mendukung. Dengan terpenuhinya fungsi ini, maka keluarga akan menjalankan tujuan psikososial yang utama, yaitu membentuk sifat

  • – sifat kemanusiaan dalamdiri mereka, stabilisasi kepribadian dan tingkah laku kemampuan menjalin hubungan secara lebih akrab.

  b. Fungsi sosialisasi Proses perkembangan dan perubahan individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan di lingkungan social.

  c. Fungsi Reproduksi Fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

  d. Fungsi ekonomi Fungsi keluarga untuk memenuhi kebeutuhan keluarga, seperti sandang, pangan, dan papan.

e. Fungsi perawatan kesehatan

  Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu. Tugas

  • – tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan menurut Friedman adalah :

  1) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga 2) Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat 3) Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit 4) Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga 5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara anggota keluarga dan fasilitas kesehatan

3. Tipe dan Bentuk Keluarga

  Tipe dan bentuk keluarga menurut Sudiharto (2007) meliputi:

a. Secara tradisional

  1) Keluarga inti (Nuclear Family)

  Keluarga yang dibenuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak

  • – anak karena dilahirkan (natural) maupun adopsi.

  2) Keluarga asal (Family Of Origin)

  Merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.

3) Keluarga Besar (Extended Family)

  Keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu.

b. Secara modern 1) Tradisional Nuclear

  Keluarga inti yang didalamnya terdapat sangsi

  • – sangsi yang harus dipatuhi oleh anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah.

  2) Reconstituted Nuclear

  Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri yang tinggal dalam satu rumah dengan anak – anaknya.

  3) Niddle Ageanak

  • – Suami sebagai pencari uang, istri dirumah atau kedua duanya bekerja dirumah anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah atau perkawinan.

  4) Dyadic Nuclear

  Suami atau istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang kedua atau salah satunya bekerja diluar.

  5) Singgle Parent

  Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya dan anak

  • – anaknya dapat tinggal dirumah atau diluar rumah.

  6) Dual Carrier

  Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa adanya seorang anak.

  7) Commer Married

  Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu.

  8) Single Adult

  Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendirian yang tidak adanya keinginan untuk menikah.

  9) The Generation

  Tiga generasi atau lebih yang tinggal dalam satu rumah

  10) Comunal

  Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anaknya yang bersama

  • – sama memfasilitasi.

  11) Group Marriage

  Suatu perumahan yang terdiri dari orang tua dan keturunannya didalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu menikah dengan yang lainnya dan semua adalah orang tua dari anak

  • – anak.

  12) Unmaried Parent And Child

  Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, adanya adopsi.

  13) Choibin Couple (kumpul kebo) Dua orang atau pasangan yang tinggal dalam satu rumah tetapi pasangan tersebut tidak menikah.

  14) Gay And Lesbian Family

  Keluarga yang dibentuk dalam pasangan yang berjenis yang kelamin yang sama.

4. Tahap dan Perkembangan Keluarga

  Tahap perkembangan dibagi menurutkurun waktu tertentu yang dianggap stabil. Menurut Rodgerscit Friedman (1998), setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama.

  Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Miller (Friedman, 1998).

1. Tahap 1: Pasangan Baru

  Keluarga baru dimulai saat masing

  • – masing individu laki – laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing
  • – masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena
kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.

  Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi. Masing

  • – masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiridan pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya. Adapun tugas perkembangan, yaitu:

  a. Membina hubungan intim dan memuaskan

  b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial c. Mendiskusikan rencana memiliki anak

  Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga suami, keluarga istri dan keluarga sendiri

2. Tahap II : keluarga “ child bearing” kelahiran anak pertama

  Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun. Tugas perkembangan keluarga yang penting pada tahap ini adalah :

  a. Persiapan menjadi orang tua

  b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexsual dan kegiatan c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

  Peran perawat adalah mengkaji peran orang tua ; bagaimana orang tua berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.

3. Tahap III : Keluarga dengan anak pra sekolah

  Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan: a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman b. Membantu anak untuk bersosialisasi

  c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus terpenuhi d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun denga mmasyarakat e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak

  f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga

  g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang

4. Tahap IV : Keluarga dengan anak sekolah

  Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah) dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahapini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing

  • – masing anak memiliki minat sendiri. Demikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Tugas perkembangan keluarga :
a. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan

b. Mempertahankan keintiman pasangan

  c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga. Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah.

5. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja

  Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.

  Tugas perkembangan :

  a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab

  b. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga

  c. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga

  Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab.

  Sering kali muncul konflik orang tua dan remaja.

6. Tahap VI : Keluarga dengan anak dewasa

  Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan :

  a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

  b. Mempertahankan keintiman pasangan

  c. Membantu orang tua memasuki masa tuanya

  d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat

  e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

7. Tahap VII : Usia pertengahan

  Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meniggal. Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Tugas perkembangan : a. Mempertahankan kesehatan

  b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak

  • – anak

  c. Meningkatkan keakraban pasangan Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olahraga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.

8. Tahap : VIII : keluarga usia lanjut

  Dimulai pada saat pensiun sampai dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya meninggal. Tugas perkembangan : a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan

  b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan c. Mempertahankan keakraban suami / istri dan saling merawat

  d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat

  e. Melakukan life review

  f. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini

5. Struktur Keluarga

a. Struktur peran keluarga

  Terdapat 2 perspektif dasar mengenai peran orientasi struktural yang menekankan pengaruh normatif yaitu pengaruh yang berkaitan dengan status

  • – status tertentu dan peran – peran terkaitnya dan orientasi
interaksi yang menekankan timbulnya kualitas peran yang lahir dari interaksi sosial (Turner, 1970 dalam Friedman, 2010).

  1). Peran formal Keluarga membagi peran secara merata kepada para

  • – anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi peran perannya, bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi suatu sistem. Peran formal yang standar terdapat dalam keluarga (pencari nafkah, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, pengaruh anak, dan manager keuangan) (Friedman, 2003)

  Menenurut gaces (1976, dalam Friedman, 2010) mendefinisikan 6 peran dasar yang membentuk posisi sebagai suami (ayah) dan istri (ibu), peran

  • – peran tersebut adalah peran sebagai provider (penyedia), peran sosialisai anak, peran rekreasi, peran persaudaraan, peran terapeutik, (memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan), peran seksual.

  2). Peran informal Peran informal bersifat implisit biasanya tidak tampak kekuasaan permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan

  • – kebutuhan emosional individu dan untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga (Stir, 1976 dalam Friedman, 2010).
b. Struktur Nilai Nilai adalah sebuah keyakinan abadi yang mempunyai bentuk perilaku spesifik (Rokeach, 1973 dalam Friedman, 2010).

  Sedangkan nilai

  • – nilai keluarga didefinisikan sebagai suatu system ide, sikap, dan kepercayaan tentang nilai suatu keseluruhan atau
  • – konsep yang secara sadar mupun tidak sadar mengikat bersama sama seluruh anggota keluarga dalam suatu budaya lazim.

  c. Struktur kekuatan keluarga Kekuasaan merupakan kemampuan potensial maupun aktul dari seorang individu untuk mengontrol, mempengaruhi, mengubah tingkah laku seseorang (Friedman, 2010).kekuasan keluarga sebagai sebuah karakteristik dari sistem keluarga adalah kemampuan untuk potensial maupun aktual dari seorang anggota individu untuk mengubah tingkah laku anggota keluarga (Olson dan Cromwell, 1975 dalam Friedman, 2010)

  d. Pola dan proses komunikasi

  1. Pola interaksi keluarga yang berfungsi bersifat terbuka dan jujur, selalu menyelesaikan konflik, berfikiran positif, tidak mengulang

  • – ulang isu dn pendapat sendiri

  2. Karakteristik keluarga berfungsi sebagai karakteristik pengirim dan karakteristik penerima. Karakteristik pengirim berfungsi dalam mengemukakan sesuatu pendapat yang disampaikan jelas dan berkualitas, selalu meminta dan menerima umpan balik.

  Sedangkan karakteristik penerima berfungsi siap mendengarkan, memberikan umpan balik, melakukan validasi (Setiyowati dan Murwani, 2008)

6. Proses Dan Strategi Koping Keluarga

  Menurut Fridman (2010) dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga ada beberapa peran yang dapat dilakukan oleh perawat diantaranya :

  a. Memeberikan asuhan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit b. Koordinator atau menjasdi pelayan kesehatan dan perawatan keluarga

  c. Menjadi fasilitator dalam pelayanan kesehatan

  d. Menjadi penyuluh, pendidikan dan konsultan kesehatan

7. Keluarga Sebagai Pasien

  Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan keluarga menurut Friedman (1998, dalam Friedman, 2010) yang membagikeluarga kedalam bidang kesehatan yang dapat dilakukan, yaitu : a. Dapat mengenal masalah kesehatan disetiap anggota keluarga yang mengalami masalah b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga yang bermasalah dengan kesehantannya c. Memberikan keperawatan untuk melakukan terhadap anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan dan dapat membantu dirinya sendiri yang cacat atau usianya yang terlalu masiih muda d. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan untuk kesehatan anggota keluarga yang lainnya e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan

8. Proses Perawat Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan Kesehatan

  Keluarga

  Menurut Friedman (2010) sesuai dengan fiungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas tugas dalam bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, yaitu:

  a. Mengenal masalah kesehatan keluarga

  Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis.Ketidaksanggupan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan pada keluarga salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan . Kurangnya pengetahuan keluarga tentang pengertian, tanda dan gejala, perawatan dan pencegahan hipertensi.

  b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga

  Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga,dengan pertimbangkan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan menentukan tindakan.keluarga.Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi bahkan teratasi.Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat,disebabkan karena keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah serta tidak merasakan menonjolnya masalah.

  c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan.

  Keluarga dapat mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki keterbatasan.Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit dikarenakan tidak mengetahui cara perawatan pada penyakitnya.Jika demikian ,anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatanperlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan.

  

d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan

  keluarga Pemeliharaan lingkungan yang baik akan meningkatkan kesehatan keluarga dan membantu penyembuhan. Ketidakmampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan bisa di sebabkan karena terbatasnya sumber-sumber keluarga diantaranya keuangan, kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat.

e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi

  keluarga Kemampuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan akan membantu anggota keluarga yang sakit memperoleh pertolongan dan mendapat perawatan segera agar masalah teratasi.

B. Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Dermatitis Atopik

  Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktek keperawatan kepada keluarga, untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. (Setiyowati dan Murwani, 2008).

1. Pengertian Dermatitis

  Dermatitis adalah peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan (Mitchel dan Hepplewhite. 2005)

  Dermatitis adalah peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respon terhadap pengaruh factor eksogen atau factor endogen, menimbulkan kelainan klinis berubah eflo

  • – resensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, dan keluhan gatal) (Adhi Juanda, 2005)

  Dermatitis atopik merupakan suatu penyakit peradangan kulit kronik, ditandai dengan rasa gatal, eritema, edema, vesikel, dan luka pada stadium akut. Pada stadium kronik ditandai dengan penebalan kulit (likenifikasi) dan distribusi lesi spesifik sesuai dengan fase dermatitis atopik, keadaan ini juga berhubungan dengan kondisi atopik lain pada penderita ataupun keluarganya (Djuanda, 2007).

2. Anatomi dan Fisiologi

a. Bagian – Bagian Kulit Manusia

  Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis.

  1). Epidermis Epidermis terbagi atas lima lapisan antara lain :

  a) Lapisan tanduk atau stratum korneum yaitu lapisan kulit yang paling luar yang terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi kreatin (zat tanduk) b) Stratum Lusidum yaitu lapisan sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma berubah menjadi eleidin (protein). Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki

  c) Lapisan granular atau stratum granulosum yaitu 2 atau 3 lapisan sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya, mukosa biasanya tidak memiliki lapisan ini d) Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Nama lainnya adalah pickle cell layer (lapisan akanta). Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk poligonal dengan besar berbeda

  • – bea karena adanya proses mitosis. Protoplasma jernih
karena mengandung banyak glikogen dan inti terletak ditengah

  • – tengah. Makin dekat letaknya ke permukaan bentuk sel semakin gepeng.

  e) Lapisan basal atau stratum germinativium terdiri dari sel berbentuk kubus tersusun vertikel pada perbatasan dermoepidermal, berbaris seperti pagar (palisade)

  2). Dermis Dermis atau korium merupakan lapisan bawah epidermis dan diatas jaringan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dialapisan atas terjalin rapat (pars papillaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih longgar (pars reticularis).

  a) . Jaringan subkutan (subkutis atau hipodermis) Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung dari bawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel

  • – sel yang terbanyak adalah liposit yang menghasilkan banyak lemak. Jaringan subkutan mengandung saraf, pembuluh darah dan limfe, kandungan rambut dan lapisan atas jaringan subkutan terdapat kelenjar keringat. Fungsi dari jaringan subkutan adalah peneykat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi.

b. Fungsi kulit

  Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut : 1) Fungsi proteksi

  Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan

  • – jaringan tubuh disebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh
  • – pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman.

  2) Proteksi rangsangan Terjadi karena sifat stratum korenum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air. Disamping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit berbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum yang menyebabkan keasamaan kulit anntara Ph 5-6,5.

3) Pengatur panas atau thermoregulasi

  Kulit mengatur suhu tubug melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap

  o

  kira C.

  • – kira 98,6 deraja Farenheit atau sekitar 36,5 4) Pengeluaran (ekskresi)

  Kulit mengeluarkan zat

  • – zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar
  • – kelenjar yang dikeluarkan melalui pori – pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang
dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari. 5) Fungsi persepsi

  Kulit megandung ujung

  • – ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respon terhadap rangsangan panas diperankan oleh drmis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, perabaan diperankan oleh epidermis. Serabut saraf sensorik lebih banyak jumlahnya didaerah yang erotik.

  6) Fungsi absorbsi Kulit dapat menyerap zat

  • – zat tertentu, terutama zat – zat yang larut dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis.

7) Penunjang penampilan

  Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan. Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun kontraksi otot penegak rambut.

3. Etiologi

  Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia (contoh : detergen, oli, semen), fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme (contohnya : bakteri, jamur) dapat pula dari dalam (endogen), misalnya dermatitis atopic. (Adhi Djuanda, 2005)

  Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, factor genetic, fisik, stress dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Seringkali, kulit yang pecah- pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit infeksi bakteri yang terjadi dibawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas seseorang yang system kekebalan tubuhnya tidak bagus, segera periksa ke dokter jika kita mengalami selulit dan eksim.

  4. Patofisiologi Dermatitis melalui dua fase yaitu fase induksi dan fase elisitasi.

  Fase induksi yaitu saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit memberi respon, fase ini memerlukan waktu 2-3 minggu. Fase elisitasi yaitu saat terjadi perjalanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbul gejala klinis. Pada dermatitis atopik histamin dianggap sebagai zat penting yang memberi reaksi dan menyebabkan priuritus. Histamin menghambat kemotaksis dan menekan produksi sel T, sel must meningkat pada lesi dermatitis atopik kronis.

  5. Tanda dan Gejala

  Kelainan kulit setiap orang sangat beragam, tergantung pada sifat iritan. Iritan sangat menyebabkan gejala akut, sedang iritan lemah menjadi gejala kronis. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi dermatitis yaitu faktor individu (misalnya ras, usia, lokasi, atopi, dan penyakit kulit lainnya), faktor lingkungan (misalnya suhu, kelembaban udara, okulasi)

  Menurut Mansjoer (2000) dan Djuanda (2007) menyatakan macam

  • – macam bentuk dermatitis :

  a. Dermatitis kontak merupakan dermatitis karena kronik eksternal, yang menimbulkan fenomen sensitisasi (alergen) atau toksis (iritan), penyebabnya adalah bahan kimia, zat detergen, disinfektan dan zat warna (untuk pakaian dan sepatu) (Mansjoer, 2000).

  b. Dermatitis atopik merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi, anak

  • – anak, dan dewasa sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada penderita atau kelurga. Tandanya yaitu bercak- bercak merah yang berbatas tidak tegas dan gatal, entoma, edema, eksudat serum. (Djuanda, 2007).

  Penyebab dermatitis atopik menurut Mansjoer (2000) adalah rhinitis alergik, alergi terhadap protein, reaksi abnormal terhadap perubahan suhu, sensitif terhadap serum, obat, dan bakteri.

  c. Dermatitis statis/hifostatis merupakan salah satu jenis dermatitis sirkulatorius. Dermatitis statis merupakan dermatitis varikosum. Penyebab dari dermatitis statis adalah semua keadaan yang menyebabkan statis peredaran darah ditungkai bawah atau juga bisa karena insufisiensi ven (Mansjoer, 2000)

  d. Dermatitis autosensitisasi merupakan dermatitis akut yang timbul pada tempat jauh dari fokus inflamasi lokal. Penyebabdari dermatitis ini adalah tidak berhubungan langsung dengan penyebab fokus inflamasi (Djuanda, 2007)

e. Dermatitis numularis

  Dermatitis numularis tidak diketahui. Penyakit dermatitis timbul pada pasien yang mempunyai kulit kering, serta mempunyai kepribadian yang tense dan anxious, subyektif sangat gatal, obyektif terlihat dermatitis sebesar uang logam, terditi atas eritema, edema, kadang – kadang ada vesikel, kusta atau papul (Mansjoer, 2000).

6. Penatalaksanaan

a. Pencegahaan

  Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik. Dilingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tngan plastic, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan detergen.

b. Pengobatan

1) Pengobatan topical

  Obat-obatan yang topical diberikan sesuai dengan prinsip- prinsip umum pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka). Bila kering berikan terapi kering, makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila sub akut diberi losio, pasta, krim / linimentum (pasta pendingin), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim / pasta, bila kering didalam dibeli salep.

2) Pengobatan sistemik

  Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan / edema juga pada kasus sedang dan berat pada keadaan akut / kronik. Jenis-jenisnya adalah :

  a) Antihistamin Maksud pemberian antihistamin adalah untuk memperoleh efek sedatifnya. Ada yang berpendapat pada stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin.

  b) Kortikosteroid Diberikan pada kasus yang sedang / berat secara peroral, intramuscular / intravena. Pilihan terbaik adalah prednisone dan prednisolone. Steroid lain lebih mahal dan memiliki kekurangan karena berdaya kerja lama. Bila diberikan dalam waktu singkat maka efek sampingnya akan minimal. Perlu perhatian khusus pada penderita ulkus peptikum, diabetes dan hipertensi.

7. Pencegahan Hindari sabun mandi yang bersifat alkalis/basa.

  Hindari penggunaan air terlalu panas saat mandi, untuk mencegah terjadinya kulit kering.

  Hindari pemakaian baju yang berserat kasar Hindari terik matahari dan udara yang panas.

  Hindari makanan yang dicurigai menyebabkan kekambuhan dan alergi makanan.

8. Pathways

  • bahan kimia
  • protein
  • bakteri
  • pungus tidak

  ketidakmampuan ditangani/ dermatitis atopic, eritema, keluarga mengenal tahu pruritus, bengkak, bersisik. pencegahan masalah kesehatan ketidakmampuan upaya perawatan: memodifikasi lingkungan: keluarga mengambil - cuci daerah luka - menjaga kebersihan dengan air hangat rumah keputusan

  • tidak menggaruk
  • terdapat daerah yang sakit pembuangan tempat sa
  • beri salep di area yang luka tidak tahu tidak dilakukan tidak dilakukan ketidakmampuan keluarga merawat gangguan rasa anggota keluarga nyaman: gatal yang sakit kerusakan gangguan integritas kulit konsep

  tidak tahu

  resiko penularan infeksi

  tidak tahu

  ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan tidak tahu ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan

  9. Diagnosa Keperawatan menurut NANDA (2012)

  Diagnosa keperawatan yang muncul pada penyakit dermatitis

  1. Ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

  2. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan Ketidaktahuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan dermatitis atopik

  3. kurangefektifnya koping keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

  4. Resiko bahaya lingkungan

  5. Fokus Intervensi

A. Fokus intervensi

  1. Diagnosa 1 : Ketidakmampuan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

  a. Tujuan : setelah dilakukan pertemuan selam 3 kali tatap muka diharapkan masalah Ketidakmampuan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit teratasi kriteria hasil : keluarga dan penderita mampu merawat anggota keluarga dengan masalah stroke.

a) Mengenal masalah gatal Menjelaskan pada keluarga mengenai stroke.

  1). Mendiskusikan dengan keluarga tentang dermatitis.

  (a). Diskusi dengan keluarga tentang pengertian dermatitis. (b). Anjurkan keluarga untuk menyebutkan kembali tentang pengertian.

  2). menyebutkan tanda dan gejala dermatitis atopik (a). Jelaskam kepada keluarga tentang tanda dan gejala dermatitis (b). Evaluasi penjelasan yang telah diberikan. (c). Beri reinforcment positif.

  b) Mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kulit dermatitis 1). mengambil keputusan untuk menanganai dermatitis agar tidak bertambah

  (a). Diskusikan dengan keluarga bagaimana mengatasi dermatitis untuk mengambil keputusan selanjutnya (b). Motivasi keluarga untuk memutuskan menangani dermatitis secara tepat (c). Beri pujian positif atas keputusan yang diambil keluarga

  c) merawat keluarga dengan dermatitis atropi 1) gali pengetahuan keluarga dalam mengatasi dermatitis 2) diskusikan dengan keluarga cara perawatan dermatitis

  3) motivasi keluarga untuk mengungkapkan kembali apa yang telah disampaikan d) mendemonstrasikan cara perawatan dermatitis

  1) demonstrasikan cara perawatan dermatitis 2) motivasi keluarga untuk mendemonstrasikan 3) beri pujian atas upaya keluarga dalam menilai keberhasilan yang dilakukan.

  e) memanfaatkan fasilitas kesehatan 1) menjelaskan manfaat fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk mengatasi dermatitis

  2. Diagnosa 2 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan Ketidaktahuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan dermatitis atopik

  Tujuan : setelah dilakukan pertemuan selam 3 kali tatap muka diharapkan masalah Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan Kurang pengetahuan tentang penyakit teratasi dengan kriteria hasil : a. keluarga dan penderita tahu tentang dermatitis dan dapat merawat anggota keluarga yang terkena dermatitis

  1). Menjelaskan tentang dermatitis (a). Diskusi dengan keluarga tentang pengertian dermatitis.

  (b). Anjurkan keluarga untuk menyebutkan kembali tentang pengertian.

  2). penyebab Dermatitis (a). Evaluasi penjelasan tentang penyebab Dermatitis (b). Motivasi kembali keluarga untuk mengulang penjelasan yang sudah diberikan.

  3). menyebutkan tanda dan gejala dermatitis atopik (a). Evaluasi penjelasan tentang tanda dan gejala dermatitis (b). Motivasi kembali keluarga untuk mengulang penjelasan yang sudah diberikan.

  (c). beri pujian 4). menjelaskan tentang pengobatan dermatitis

  (a). Evaluasi penjelasan tentang tanda dan gejala dermatitis atopik (b). Motivasi kembali keluarga untuk mengulang penjelasan yang sudah diberikan.

  3. Diagnosa 3 kurang efektifnya koping keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit Tujuan : setelah dilakukan pertemuan selam 3 kali tatap muka diharapkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah koping keluarga berkurang dengan kriteria hasil:

  a. keluarga mampu mengenal masalah: 1) pengelolaan stress 2) pengelolaan dermatitis 3) pencegahan dermatitis

  4) regimen pengobatan interevensi a) setelah dilakukan intervensi keperawatan, keluarga mampu mengenal masalah:

  (1). teaching individual (2). teaching grup

  b. keluarga mampu memutuskan untuk meningkatkan atau memperbaiki kesehatan: 1) berpartisipasi dalam memutuskan perawatan kesehatan intervensi: a) keluarga mampu memutuskan dukungan membuat keputusan membangun harapan c. keluarga mampu perawat

  1) koping keluarga 2) fungsi keluarga 3) status kesehatan keluarga 4) suasana lingkungan keluarga intervensi: a) keluarga mampu merawat:

  (1). peningkatan koping (2). konseling (3). krisis intervensi

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (32 Halaman)
Gratis

Tags